Jilid 16
BARULAH DI GARDU pertama kedua prajurit itu dapat
meyakinkan diri mereka. Dari pemimpin prajurit yang bertugas di
regol, kedua prajurit itu mendapat beberapa penjelasan tentang
kedatangan Mahisa Agni. Diberitahukannya pula bahwa Mahisa Agni
datang bersama dua orang prajurit yang sudah mereka kenal dan
yang mereka ketahui tugas-tugasnya pula.
“Maafkan kami,” berkata kedua prajurit itu, “kami bertugas di
dalam halaman istana sehingga kami tidak mengetahui kehadiran
Tuan. Apabila demikian, marilah Tuan kami antarkan ke serambi
belakang istana di samping regol itu tadi. Namun terpaksa Tuan
masih harus menunggu, sampai Tuan mendapatkan izin masuk ke
istana. Hal itu adalah di luar wewenang kami.”
Tetapi Mahisa Agni sudah kehilangan kesabaran. Kegelisahan dan
kerisauan perasaannya sudah demikian pepatnya. Apalagi Mahisa
Agni sendiri tidak yakin apakah ia dapat berhadapan dengan Ken
Dedes sebagai seorang kakak? Sehingga ia menjadi semakin jemu
untuk menunggu di samping regol, di dekat pintu serambi belakang.
Maka jawabnya, “Aku sudah terlalu lama menunggu. Aku datang
kemari bukan atas kehendakku, dan sekarang aku harus menunggu
terlampau lama. Apabila nanti ada petugas lain yang melihat aku,
pasti aku harus menjawab berbagai pertanyaan pula.”
“Mungkin Tuan sudah tidak akan terlalu lama menunggu.”
“Aku sudah terlalu lama berdiri di samping regol di dekat serambi
itu.”
“Mungkin Akuwu sedang bersantap, sehingga beberapa emban
yang melayaninya tidak berani menyampaikan permohonan kedua
prajurit itu. Mereka harus menunggu beberapa saat.”
“Aku sama sekali tidak memerlukan mereka,” desis Mahisa Agni
perlahan-lahan sehingga kedua prajurit itu tidak mendengarnya
dengan jelas. Namun kemudian Agni itu berkata, “Aku akan kembali
ke Panawijen. Tolong sampaikan kepada mereka, bahwa aku sudah
kembali.”
“Tuan,” berkata salah seorang dari kedua prajurit itu cemas,
“kami minta maaf bahwa kami telah mengganggu Tuan. Mungkin
Tuan kecewa atas perbuatan kami. Kami benar-benar tidak tahu
siapakah Tuan.”
“Tidak,” sahut Agni, “aku tidak menyalahkan kalian. Kalian
benarbenar
sedang melakukan kewajiban kalian. Tetapi aku sudah jemu
untuk menunggu.”
Kedua prajurit itu menjadi bingung. Para penjaga regol pun tidak
tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap Mahisa Agni. Mereka
tidak mempunyai wewenang untuk mencegahnya, sebab mereka
tidak tahu, sampai seberapa jauh kepentingan Mahisa Agni hadir di
Istana Tumapel.
Namun kedua prajurit yang merasa menjadi penyebab langsung
dari kejemuan Mahisa Agni itulah yang kini menjadi bertambah
gelisah. Sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Apakah Tuan
ingin menunggu di regol ini. Tuan dapat duduk dengan tenang.
Biarlah kami berdua saja yang menunggu di samping regol di dekat
serambi belakang. Nanti kami akan memanggil Tuan apabila izin itu
telah Tuan dapatkan.”
Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Terima kasih. Aku akan
pulang saja ke Panawijen.”
Ternyata prajurit-prajurit itu tidak lagi mampu mencegah, mereka
tidak berani menahan Mahisa Agni dengan kekerasan, sebab mereka
tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Sehingga mereka kemudian
hanya dapat memandangi debu yang mengepul di belakang derap
kuda Mahisa Agni. Sesaat kemudian, hilanglah ia di belakang tabir
kegelapan malam.
Prajurit-prajurit itu menjadi gelisah. Mereka tidak tahu pasti,
apakah mereka tidak bersalah karena melepaskan anak muda itu
pulang. Namun apakah mereka dibenarkan seandainya mereka
terpaksa menahan Mahisa Agni dengan kekerasan.
Dalam serba ketidaktentuan itu, mereka kemudian melihat tiga
bayangan berjalan tergesa-gesa ke regol pertama. Sepintas, para
penjaga itu segera dapat mengenal, langkah kedua kawannya yang
datang bersama Mahisa Agni sore tadi, beserta seorang emban tua.
Hati para penjaga dan kedua prajurit yang menyalakan lampu di
regol tempat Mahisa Agni menunggu, menjadi berdebar-debar.
Kedua prajurit itu merasa, seakan-akan merekalah yang
menyebabkan Mahisa Agni itu kembali ke Panawijen. Kalau anak
muda itu benar-benar diperlukan, maka mereka pasti akan
mendapat marah dari Akuwu Tunggul Ametung.
“Sial benar kita kali ini,” desis salah seorang daripada mereka,
“kalau saja kita tidak bertugas menyalakan lampu-lampu sambil
meronda keliling, kita tidak akan menemui soal yang
menggelisahkan ini.”
Kawannya tidak menjawab. Tetapi debar jantungnya tidak kalah
cepatnya dengan kawannya yang lain.
Ketika ketiga orang, kedua prajurit dan emban tua telah sampai
di regol pertama, maka dengan serta-merta terdengar emban tua itu
bertanya, “Di manakah Mahisa Agni? Apakah kalian melihatnya?”
Sesaat para penjaga regol itu saling berpandangan. Kemudian
prajurit yang membawa. Agni ke regol ini menjawab, “Aku melihat
Tuan Mahisa Agni itu. Kini ia telah kembali ke Panawijen.”
“He,” suara itu meledak bersama-sama dari ketiga orang yang
baru datang, “kenapa tidak kalian cegah?”
“Kami telah mencobanya,” sahut pemimpin penjaga, “tetapi ia
tetap pada pendiriannya. Menurut pesannya anak muda itu telah
jemu menunggu.”
“Oh,” desis emban tua itu sambil menekan dadanya. Nafasnya
tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir.
“Agni. Agni. Bukan main. Hati yang telah lapuk ini masih juga kau
lukai. Oh, alangkah besar dosa yang aku tanggungkan,” perempuan
itu mengeluh. Namun keluhan di hatinya jauh lebih pedih dari yang
diucapkannya, seolah-olah Agni sengaja menyakiti hatinya.
“Hem,” perempuan tua itu menarik nafas panjang.
“Salahku,” keluhnya di dalam hati, “anak itu tidak pernah
merasakan betapa kasih sayang seorang ibu mengusap keningnya.
Bagaimana ia kini harus mencintai ibunya? Apalagi mematuhi
permintaannya? Bukan salah Mahisa Agni. Permintaanku terlalu
berat, sedang aku belum pernah memberinya sesuatu.”
Sesaat regol itu menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam
angan-angannya. Namun wajah-wajah mereka kini benar-benar
membayangkan kegelisahan hati.
Sejenak kemudian emban tua itu berkata kepada kedua prajurit
yang mengantarnya ke Panawijen, “Bagaimana?”
“Terserah kepada Bibi,” sahut keduanya.
Sekali lagi emban tua itu mengeluh, katanya, “Apakah yang harus
aku katakan kepada Tuanku Akuwu?”
Semuanya masih terbungkam. Dan semuanya masih juga
berdebar-debar. Sementara itu terdengar emban itu berkata,
“Akuwu sendiri telah menyambutnya di ruang dalam. Dengan
tergesa-gesa beliau berkemas sehabis makan malam. Tetapi anak
itu telah pergi.”
Yang mendengar keterangan itu menjadi semakin berdebardebar.
Demikian pentingnyakah anak muda itu sehingga Akuwu
sendiri akan menyambutnya di ruang dalam?
Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Bibi emban,
apakah sebaiknya kami, salah seorang atau dua orang pergi
menyusulnya?”
Emban itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
menggeleng sambil berkata, “Jangan.”
“Kenapa? Bukankah kami akan dapat membawanya kemari,
menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”
“Anak itu keras hati. Mungkin ia tidak akan bersedia kembali.”
“Kalau memang perlu sekali, kami akan mencoba memaksanya.”
Sekali lagi emban itu menggeleng. Emban yang sudah mengenal
Mahisa Agni itu dengan baik berkata di dalam hatinya, “Jangankan
satu atau dua orang. Empat orang penjaga bersama empat orang
prajurit yang lain itu pun tak akan dapat memaksanya dengan
kekerasan. Bahkan apabila kemudian Mahisa Agni menjadi marah
dan menjadi gelap hati, maka ia akan dapat membuat cedera
beberapa di antara para prajurit itu. Dengan demikian maka anak
itu akan terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih dalam.”
Namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Akulah yang
bersalah. Aku memang membiarkan anak muda itu terlampau lama
menunggu.”
“Lalu apakah yang akan Bibi kerjakan?”
Emban itu terdiam sesaat. Namun sesaat itu telah ditemukannya
sikap atas peristiwa kembalinya Mahisa Agni ke Panawijen.
“Biarlah aku mempertanggungjawabkannya,” katanya di dalam
hati. Ternyata perempuan tua itu telah menimpakan semua
kesalahan pada dirinya sendiri. Karena itu ia telah bertekad untuk
melindungi anaknya. Satu-satunya anaknya. Lebih baik semua
kesalahan dibebankan kepadanya daripada harus menyentuh
anaknya itu.
“Kita menghadap Akuwu,” berkata emban itu kemudian.
“Tanpa Mahisa Agni?” bertanya kedua prajurit yang
mengantarkannya ke Panawijen.
Perempuan itu menggeleng, “Mahisa Agni telah pergi.”
Kedua prajurit itu tidak menjawab. Mereka kemudian berjalan di
belakang perempuan itu sambil menundukkan wajahnya. Mereka
sudah membayangkan apa yang akan terjadi di ruang dalam. Akuwu
adalah seorang yang aneh. Seorang yang dapat bertindak menurut
kehendaknya sendiri. Hampir dalam sekejap akuwu dapat berbuat
hal-hal di luar dugaan. Karena itu, semakin berdebar-debar.
Sementara itu akuwu ternyata telah memanggil Ken Dedes pula
untuk datang ke ruang dalam. Akuwu itu menjadi sangat gembira
ketika ia mendengar Mahisa Agni telah bersedia datang. Selain ia
akan dapat bertemu dengan salah seorang keluarga Ken Dedes,
sehingga jalan yang ditempuhnya tidak akan terasa terlampau kasar
dan melanggar adat, juga Akuwu menganggap bahwa apabila
Mahisa Agni bersedia, maka ia akan dapat memperkuat kesatuan
pengawal istana di samping Witantra, setelah ia melihat sendiri,
betapa anak muda itu mampu bertempur melawan Ken Arok dengan
baik.
Sebagai seorang akuwu maka kepentingannya dengan Mahisa
Agni langsung tersangkut dengan kepentingan kedudukannya. Telah
terbayangkan olehnya, bahwa di samping Witantra, pasukan
pengawal istana akan diperkuat dengan Ken Arok yang akan
dipindahkannya dari seorang pelayan dalam langsung ke dalam
lingkungan keprajuritan, dan Mahisa Agni.
Dalam kesempatan inilah akuwu akan memanfaatkan
pertemuannya dengan Mahisa Agni. Yang pertama, dengan resmi
minta supaya keluarga Ken Dedes tidak merasa tersinggung dengan
caranya mengambil Ken Dedes, dalam hal ini akan dicobanya untuk
menjelaskan, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung pada
waktu itu terseret oleh ketamakan Kuda Sempana, dan yang kedua
akan ditawarkan kepada Mahisa Agni sebuah kedudukan yang cukup
baik di bawah pimpinan Witantra bersama-sama dengan Ken Arok,
setelah akuwu menerima Kebo Ijo masuk pula ke dalam lingkungan
itu.
Setaat kemudian Akuwu Tunggul Ametunglah yang menjadi
gelisah menunggu di serambi di muka biliknya. Belum ada seorang
pun yang datang kepadanya dan memberitahukan, bahwa Mahisa
Agni telah menunggunya di ruang dalam, sekali Akuwu Tunggul
Ametung itu berdiri, dan sesaat kemudian ia pun terhenyak duduk di
atas sebuah tempat duduk yang rendah. Sekali-sekali dipandanginya
pintu ke ruang di sebelah, namun belum juga seorang emban pun
yang datang kepadanya.
“Gila!” gumamnya, “Apakah aku dibiarkan jemu menunggu di
sini?”
Tetapi ketika teringat olehnya, gadis bakal permaisurinya, maka
ia mencoba menekan perasaannya. Kembali ia duduk sambil
membelai kumisnya, namun ia menjadi gelisah kembali, seperti
nyala pelita minyak yang tergantung pada dinding papan tertiup
angin yang silir.
“Heh,” Akuwu itu mengeluh, “terlalu lama.”
Akhirnya Akuwu itu tidak sabar lagi. Hampir saja ia berteriak
memanggil pelayannya yang duduk di atas tangga serambi, namun
niatnya itu diurungkannya ketika ia mendengar beberapa langkah
mendekatinya.
“Ha,” Akuwu itu tersenyum, “agaknya anak muda itu telah
datang dan menunggu aku di ruang dalam.”
Tunggul Ametung kemudian berdiri. Sekali lagi ia membelai
kumisnya, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati pintu. Tetapi ia
menjadi terkejut ketika ia melihat, yang datang kepadanya, di
serambi sebelah adalah emban tua, dua orang prajurit, dan yang
lebih mengejutkan lagi, Ken Dedes beserta dengan mereka pula.
“He,” teriak Akuwu kepada seorang pelayan yang mengantar
mereka, “kenapa kalian datang kemari?”
Pelayan itu menjadi bingung.
“Kenapa?” bentak Akuwu pula.
“Bibi dan Tuanku Putri minta aku membawa kemari.”
Akuwu mengerutkan keningnya, kemudian katanya, “Masuk ke
ruang dalam. Di sana aku akan menemui kalian.”
Dada emban tua itu menjadi semakin cepat bergetar. Namun
kembali ia membulatkan niatnya untuk memikul semua kesalahan di
atas pundaknya. Karena itu maka segera, setelah mereka itu
bersimpuh duduk di lantai di luar pintu menyembah sambil berkata,
“Ampun Tuanku. Hamba ingin memberitahukan sesuatu ke bawah
duli Tuanku.”
Tunggul Ametung mengernyitkan alisnya.
“Apa?” ia bertanya.
“Tentang anak muda yang bernama Mahisa Agni.”
“Ke ruang dalam,” berkata Akuwu lantang. Seandainya tidak ada
Ken Dedes pada saat itu, pasti ia sudah berteriak keras sekali.
“Hamba Tuanku, tetapi apa yang hamba katakan semula ternyata
keliru.”
“He,” kini Tanggul Ametung benar-benar berteriak sambil
membelalakkan matanya, “Apa yang keliru?”
Bagaimanapun juga maka hati emban tua itu pun berdebar-debar
pula. Ketika ia mencoba memandang wajah Akuwu, maka segera ia
menundukkan kepalanya. Dari sepasang matanya, seakan-akan
memancar api yang menyala dari dadanya.
Karena emban tua itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi
Akuwu itu membentak keras-keras, “Apa yang keliru he, apa?”
“Ampun Tuanku,” emban tua itu menyembah. Dicobanya
mengatur hatinya supaya ia mampu mengatakannya dengan jelas,
“Hamba bertiga telah benar-benar datang bersama Mahisa Agni ke
istana ini.”
“Sudah kau katakan, sudah kau katakan,” potong Akuwu Tunggul
Ametung, “aku tidak menyangkal. Lalu kau katakan bahwa apa yang
kau katakan itu keliru.”
Debar di dada emban tua itu menjadi semakin keras. Wajahnya
yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dengan nafas yang terengahengah
ia berkata, “Ampun Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Aku
telah terlampau lama membiarkan anak itu menunggu di luar regol.
Aku tidak berpesan supaya ia tetap menunggu hamba meskipun
lama, sehingga anak itu kini telah kembali ke Panawijen.”
Wajah Akuwu Tunggul Ametung benar-benar telah membara.
Dadanya seolah-olah pecah mendengar keterangan itu. Namun
justru karena itu, maka akuwu itu seperti terbungkam. Yang
terdengar hanyalah gemeretak giginya beradu.
Sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Mereka saling berdiam diri
dalam keadaan yang berbeda-beda. Akuwu terdiam justru karena
kemarahan menghentak-hentak dadanya, sedang orang-orang yang
lain menundukkan wajahnya karena ketakutan.
Tetapi emban tua itu, setelah kata-kata yang seakan-akan
menyumbat kerongkongannya itu terloncat keluar, maka hatinya kini
justru menjadi bertambah tenang, sehingga karena itu, sehingga ia
dapat mempergunakan pikirannya kembali. Bagaimana ia dapat
melepaskan Mahisa Agni dari kesalahan.
Maka dengan penuh kesungguhan untuk kepentingan anaknya,
emban tua itu berkata, “Namun Tuanku, bukan salah anak muda itu.
Akulah yang salah berpesan kepadanya. Aku minta ia menunggu di
regol, tetapi kalau aku terlalu lama tidak kembali, berarti ia
tidak
mendapat izin untuk menghadap. Karena itu ia dapat pulang
kembali ke Panawijen untuk lain kali menghadap kembali.”
Akuwu memandangi wajah emban tua yang tunduk itu dengan
mata yang menyala-nyala. Betapa kemarahan menghentak-hentak
dadanya sehingga seakan-akan dadanya itu akan meledak. Dengan
gemetar Akuwu Tunggul Ametung berkata terpatah-patah justru
karena kemarahannya, “Jadi Mahisa Agni itu telah kembali?”
“Hamba, Tuanku”
“Hanya karena terlalu lama menunggu?”
“Hamba, Tuanku.”
“Dan kesalahan itu terletak padamu, karena kau sengaja
berpesan kepadanya supaya ia pulang saja kalau terlampau lama
menunggu di luar.”
“Hamba, Tuanku.”
“Gila!” teriak Akuwu, “Kau sudah gila dan Mahisa Agni sudah gila
pula. Kenapa ia tidak mau menunggu hanya selama aku makan?
Akulah Akuwu Tumapel. Semua orang harus menunggu perintahku.
Jangankan selama aku makan, sehari ia harus menunggu,
seminggu, sebulan, bahkan aku dapat memaksanya menunggu
bertahun-tahun dan selama hidupnya.”
Desir di dada emban tua itu menjadi semakin tajam. Tetapi
tekadnya benar-benar telah bulat. Agni tidak bersalah.
“Kenapa anak itu tidak mau menunggu aku selesai makan,
kenapa? Apakah disangkanya bahwa ia berhak memutuskan
waktuku, apa saja yang sedang aku kerjakan? Itu adalah perbuatan
gila. Aku tidak dapat memaafkannya lagi. Beberapa waktu yang
lampau aku telah dihinakannya dengan menolak perintahku
menghadap ke istana. Sekarang ia menghina aku lagi dengan cara
lain.”
“Bukan salahnya, Tuanku,” potong emban tua itu, “Bukan salah
Mahisa Agni. Hambalah yang salah. Pesan hambalah yang keliru.
Hamba sangka Tuanku belum pasti dapat mengizinkan anak itu,
sehingga hamba berpesan demikian.”
“Itu adalah sangkamu saja bukan?” teriak Akuwu semakin keras,
“tetapi ketika telingamu sudah mendengar, bahwa aku sedang
bersantap, bukankah mulutmu dapat mengatakannya kepada anak
muda itu supaya ia menunggu?”
“Hamba, Tuanku. Itulah kesalahan hamba.”
“Tutup mulutmu!” teriak Akuwu itu pula, sehingga seolah-olah
dinding-dinding ruangan itu turut bergetar. “Sekali kau membuka
mulutmu, aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”
Emban tua itu terdiam. Ia tidak berani berkata sepatah kata pun
lagi. Meskipun demikian ia masih tetap dalam tekadnya, melindungi
anaknya dan mengambil segala kesalahan di pundaknya.
Kedua prajurit yang ikut menghadap saat itu, sama sekali tidak
berani mengangkat wajahnya. Wajah yang keras karena pekerjaan
berat, terik matahari di siang hari dan tetesan embun di malam
hari,
kini terhujam dalam-dalam. Debar dada mereka terasa menjadi
semakin cepat dan keras, serasa jantung mereka akan pecah
menahan arus darah mereka yang seolah-olah semakin kencang.
Namun meskipun demikian, kedua prajurit itu tidak habisnya
menjadi heran. Kenapa emban itu meletakkan kesalahan pada
dirinya. Kedua prajurit itu melihat dan mendengar apa yang
dipesankan oleh emban tua itu kepada Mahisa Agni. Kedua prajurit
itu mendengar dengan telinganya bahwa Mahisa Agni memang telah
mengancam sebelumnya, bahwa ia akan kembali ke Panawijen
apabila ia harus terlalu lama menunggu di luar regol. Ternyata anak
muda itu benar-benar kembali. Tetapi tiba-tiba emban itu
membebankan kesalahan itu kepada dirinya.
Dalam pada itu terdengar kata-kata lantang dari Akuwu yang
sedang marah itu, kali ini tidak terpatah-patah lagi, tetapi
mengalir
seperti banjir, “He, emban tua. Kalau bukan karena kesanggupanmu
membawa anak itu kemari, maka aku pasti sudah memerintahkan
menangkapnya dan membawa kemari dengan paksa. Aku dapat
berbuat apa saja di Tumapel ini tanpa persetujuannya. Apalagi Ken
Dedes telah menyatakan perasaan. Sebagai seorang gadis yang
telah dewasa, ia bukan lagi sebuah golek kayu yang hanya dapat
mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan seandainya
keluarganya tidak dapat membenarkan, aku dapat juga
mempergunakan cara seperti yang dilakukan Kuda Sempana,
melarikannya. Bahkan aku dapat mempergunakan kekuasaanku
sebagai seorang Akuwu.”
“Tetapi aku mencoba mencari jalan lain. Jalan yang sebaikbaiknya.
Jalan yang lumrah, yang dapat ditempuh tanpa
menimbulkan geseran perasaan. Tetapi kemauanku yang baik itu
telah dihinakannya. Dianggapnya aku terlampau lemah dan tidak
sanggup berbuat lebih baik dari apa yang aku kerjakan.”
“Dan sekarang aku tidak dapat memaafkannya lagi. Aku juga
tidak dapat memaafkanmu. Kau juga telah menghinaku. Bahkan
Kaulah sumber dari kesalahan itu setelah kau mencoba memperbaiki
kesalahan Mahisa Agni.”
Emban tua itu tidak menjawab. Kepalanya menjadi semakin
tunduk. Namun emban tua itu sama sekali sudah tidak gelisah lagi.
Justru ia menjadi tenang. Ia bergembira karena sebagian terbesar
kesalahan itu telah dituduhkan kepadanya, ialah sumber kesalahan
itu.
“Setiap hukuman yang aku terima, adalah cara sebaiknya untuk
mengurangi tali yang membelenggu diriku selama ini. Dengan
demikian barulah aku seorang ibu bagi anakku itu. Seorang ibu yang
dapat memberinya sesuatu,” katanya di dalam hati, “bukankah
selama ini aku belum pernah berbuat sesuatu atas anakku itu?”
Kata-kata itu selalu berulang-ulang bergema di dalam dadanya.
Kenangan masa lampaunya setiap saat tumbuh dan berkembang di
dalam angan-angannya. Dan emban tua itu dengan demikian selalu
dikejar oleh perasaan bersalah.
Akuwu yang marah itu seolah-olah menjadi kian marah. Katakatanya
masih membanjir terus, “Kini, aku harus segera mengambil
sikap. Baik kepadamu, he emban yang bodoh, mau pun kepada
Mahisa Agni. Tetapi kaulah yang harus menerima hukuman yang
terberat. Mahisa Agni telah bersedia datang, tetapi karena
kebodohanmu maka anak itu pergi. Aku sudah tidak dapat
memberimu kesempatan lagi.”
Tiba-tiba emban tua itu mengangkat wajahnya. Wajah yang sayu
dipenuhi oleh berbagai derita hidup yang pernah dialaminya.
Dengan tenang dipandanginya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang
bagaikan bara yang sedang menyala itu.
Tetapi sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung itu justru
berpaling. Dengan serta-merta ia berdiri dan melangkah beberapa
langkah menjauhi orang-orang yang menghadapnya. Dengan
gemetar Akuwu Tunggul Ametung berdiri membelakangi mereka.
Seandainya pada saat itu tidak ada Ken Dedes di antara mereka,
maka tingkah laku Akuwu Tunggul Ametung pasti sudah tidak
terkekang lagi. Mungkin ia berteriak-teriak memanggil beberapa
orang prajurit dan memerintahkannya agar emban itu disekap
dalam tahanan, atau mendapat hukuman-hukuman lain yang berat.
Tetapi demikian besar pengaruh kehadiran Ken Dedes itu
sehingga Akuwu Tunggul Ametung masih mencoba untuk menekan
perasaannya meskipun dadanya serasa akan meledak.
Tiba-tiba sambil membelakangi mereka, Akuwu itu berkata
dengan suara bergetar, “Aku tidak akan memerintahkan menangkap
Mahisa Agni dan memaksanya membawa kemari. Aku sudah tidak
memerlukannya lagi. Kalian berdua akan dibuang dari telatah
Tumapel ke dalam hutan. Itu adalah hukuman yang paling ringan
yang dapat aku berikan kepada kalian.”
Emban tua itu menyembah meskipun Akuwu Tunggul Ametung
tidak melihatnya. Dengan tenang ia menjawab, “Hamba
menyatakan terima kasih hamba tiada taranya atas kemurahan
Tuanku. Namun sebenarnyalah Mahisa Agni tidak bersalah. Biarlah
hamba menerima hukuman hamba dua lipat ganda, asal Tuanku
sudi mempertimbangkan hukuman yang Tuanku berikan kepada
Mahisa Agni.”
“Tutup mulutmu!” kembali Tunggul Ametung itu berteriak sambil
memutar tubuhnya. Hampir saja ia meloncat dan menampar mulut
perempuan yang berani menjawab kata-katanya, “Akulah Akuwu
Tumapel. Bukan kau. Akulah yang menentukan hukuman itu. Bukan
kau. Kau dengar, he?”
Emban tua itu tidak menjawab. Kini kembali wajahnya
menghunjam ke tanah. Tetapi ia masih tetap dalam ketenangan.
Akuwu yang marah menjadi kian marah. Tubuhnya bergetar
seperti orang yang menggigil kedinginan. Wajah merah membara
dan kakinya menghentak-hentak lantai.
“Besok sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir
kalinya, kalian harus sudah tidak berada di dalam wilayahku. Kalau
aku masih melihat kalian di daerah ini, maka kalian akan mendapat
hukuman mati. Kau dengar?”
Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian
berarti malam ini ia harus meninggalkan Tumapel menuju ke
Panawijen dan membawa Mahisa Agni meninggalkan Panawijen,
sebab Panawijen pun masih termasuk daerah Tumapel.
Dada emban tua itu menjadi berdebar-debar. Baginya hukuman
itu sama sekali tidak terlalu berat. Ia dapat berada di mana saja.
Tetapi anaknya adalah tunas yang menghadap ke hari depan yang
panjang. Kecuali untuk dirinya sendiri lalu bagaimanakah dengan
bendungan yang akan dibangun itu? Padang Karautan pun termasuk
daerah Tumapel pula, sehingga Mahisa Agni pasti tidak akan dapat
membangun bendungan di daerah itu.
Dalam pada itu terdengar perintah Akuwu itu kembali kepada
kedua orang prajurit yang semula mengantarkan perempuan tua itu
menjemput Mahisa Agni, “He kedua prajurit yang bodoh pula.
Karena kau tersangkut pula dalam kebodohan ini, maka untuk
menyingkirkan kedua orang yang menghina Akuwu Tunggul
Ametung dari Tumapel ini adalah kewajibanmu. Kewajiban itu harus
selesai sebelum ayam jantan berkokok menjelang fajar. Kalian harus
sudah melaporkan pelaksanaan perintah ini sebelum tengah hari,
kau dengar?”
Kedua prajurit itu menyembah sambil membungkuk dalamdalam.
Mereka sudah tahu benar sifat-sifat akuwunya, sehingga
mereka sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Dalam keadaan yang demikian, maka mereka hanya dapat
menyembah dan membungkuk dalam-dalam. Melakukan apa yang
diperintahkan kepadanya dan melaporkan hasilnya.
Kini mereka mendapat perintah untuk menyingkirkan emban tua
itu bersama Mahisa Agni dari wilayah Tumapel. Untuk itu mereka
harus menyembah dan siap melakukannya.
Ruangan itu sesaat menjadi sunyi. Tak seorang pun yang berani
mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya menundukkan wajahnya
dalam-dalam pula.
Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu itu membentak keraskeras,
“Ayo pergi! Apa yang kalian tunggu di sini? Pergi dari
halaman istana dan pergi dari Tumapel. Kalian orang yang tidak
pantas tinggal di daerah kekuasaanku. Kalau kalian berada di
Tumapel kembali, maka kalian adalah orang buruan.”
Emban yang telah bersedia menghadapi segala bentuk hukuman
itu sama sekali tidak menjadi cemas tentang dirinya sendiri, tetapi
yang digelisahkan adalah Mahisa Agni beserta rencana yang telah
disiapkannya. Namun ia tidak sempat untuk berpikir saat itu. Sekali
lagi ia mendengar Akuwu Tumapel membentak, “Pergi! Pergi
sebelum aku memaksamu pergi.”
Emban tua itu menyembah kembali. Ketika kemudian ia berpaling
kepada kedua prajurit yang bertugas menyingkirkannya, ia melihat
kedua prajurit itu masih juga ragu-ragu. Meskipun demikian kedua
prajurit itu pun menyembah sambil berkata, “Hamba akan
menjalankan perintah Tuanku.”
Kemudian kepada emban tua, kedua prajurit itu berkata dengan
bimbang, “Marilah Bibi, aku harus menjalankan perintah Tuanku
Akuwu.”
Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya
sama sekali tidak dibebani oleh perasaan takut, cemas dan pedih.
Apa yang harus dilakukan itu dihadapinya dengan penuh ketabahan
seorang yang telah, mengendapkan hatinya.
Tetapi ketika emban tua itu bergerak sambil berbisik kepada Ken
Dedes, “Sudahlah Nini. Tinggallah di sini. Semoga kau bahagia
untuk seterusnya.”
Maka gadis itu pun tak dapat menahan perasaannya. Emban itu
adalah pemomongnya. Pemomongnya sejak ia masih kanak-kanak.
Pemomongnya yang seakan-akan telah menggantikan ibunya yang
hampir-hampir belum pernah dikenalnya.
Emban itu adalah seorang perempuan tua yang sangat baik
baginya. Yang mendukung pada saat ia masih seorang anak-anak,
menyuapinya dan membelainya menjelang tidur. Melagukan
tembang yang sejuk dan bercerita tentang burung podang yang
berdendang dipupus pisang dalam cerita Kirana pada masa yang
baru saja silam.
Kini ia melihat perempuan itu mendapat bencana karena
usahanya untuk melapangkan jalannya menuju ke tempat yang tak
pernah diimpikan di saat kanak-kanaknya, bahkan sampai saat
terakhir sebelum ia berada di istana ini pun, Ken Dedes tidak
pernah
membayangkan bahwa suatu ketika ia akan menjadi seorang
permaisuri Akuwu Tumapel.
Karena itulah maka betapa perasaannya tidak rela melihat
embannya harus meninggalkan istana, bahkan meninggalkan
Tumapel dalam buangan. Merantau dari satu tempat ke lain tempat.
Berjalan terbungkuk-bungkuk karena umurnya yang telah menjadi
semakin tua tanpa tempat untuk hinggap. Siang hari kepalanya
akan dibakar oleh terik matahari, sedang di malam hari, kulitnya
yang telah berkeriput akan digigit oleh dinginnya embun malam.
Ken Dedes yang dilanda oleh luapan keharuan itu tiba-tiba
menangis sambil memeluk emban tua itu. Terdengarlah suaranya
terbata-bata, “Bibi, aku ikut kau Bibi. Tak ada tempat yang paling
baik bagiku daripada kelembutan pelukanmu.”
“Jangan putri,” jawab emban itu cepat-cepat, “jangan. Kau telah
menemukan tempat berpijak yang mantap. Ayahmu adalah seorang
yang baik dan tekun dalam pengabdiannya kepada yang Maha
Agung serta kepada sesama. Kini karunia telah melimpah
kepadanya, lewat putrinya yang tunggal.”
“Tidak. Tidak Bibi. Aku tidak dapat hidup dalam kesepian. Aku
tidak dapat terpisah dari orang-orang yang baik kepadaku. Bibi dan
Kakang Mahisa Agni. Kalau kalian berdua hidup dalam pembuangan,
apakah aku dapat hidup tenteram di dalam istana ini.”
“Nini,” potong emban tua itu, “jangan seperti kanak-kanak lagi.
Kau sudah dewasa. Pandanglah ke depan. Hari-hari yang
mendatang masih panjang.”
“Tidak Bibi, tidak,” Ken Dedes itu menangis semakin keras.
Pelukannya pun menjadi semakin kuat.
Dalam pada itu Akuwu Tumapel yang sedang marah, berdiri
tegak di hadapan mereka seperti patung. Betapa keras hatinya,
sekeras batu akik, namun ketika ia melihat Ken Dedes menangis
memeluk emban tua yang dianggapnya berdosa itu pun hatinya
menjadi luluh. Sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi Akuwu
Tumapel, ia hanya bergaul dengan para prajurit dan para pimpinan
pemerintahan. Berlatih dalam olah keprajuritan, jaya kawijayan dan
kanuragan. Berbicara tentang Tumapel dan apabila ia jemu
menghadapi suatu keadaan, maka segera ia membawa beberapa
orangnya keluar istana, pergi berburu. Itulah sebabnya, maka
Akuwu Tunggul Ametung jauh dari pengenalan watak seorang
perempuan. Karena itu, ketika ia melihat seorang gadis menangis di
hadapannya, maka ia menjadi bingung. Kemarahannya yang telah
memuncak, tiba-tiba seperti dihanyutkan oleh arus air mata Ken
Dedes.
Terdengar Tunggul Ametung itu menggeram perlahan-lahan.
Gadis itu tidak boleh berduka. Gadis yang telah menjerat hatinya,
bukan saja karena wajahnya dan tubuhnya, namun juga terasa
seakan-akan gadis itu memiliki sesuatu yang dikaruniakan oleh Yang
Maha Agung. Ketika seakan-akan ia melihat sinar yang memancar
dari jantung gadis itu telah tebersit di hatinya, gadis ini adalah
gadis
pilihan untuk melaksanakan sesuatu maksud dari Yang Maha Agung
bagi tanah tempat kelahirannya.
Dalam kebingungan itu, Akuwu masih mendengar emban Ken
Dedes itu berkata, “Nini, jangan dihanyutkan oleh perasaan
kekanak-kanakan. Kau harus melihat kepentingan yang lebih besar.
Kepentingan yang jauh lebih berharga dari perempuan tua ini.”
“Tidak, tidak,” Ken Dedes masih menangis. Ia seakan-akan sudah
tidak dapat mendengar apapun lagi. Hatinya meronta melihat
peristiwa yang menggores perasaannya itu.
Emban tua itu pun menjadi bingung. Tangis momongannya telah
menyentuh perasaan harunya pula. Ternyata gadis itu adalah gadis
yang dapat menghargai sikap orang lain kepadanya. Menghargai
apa yang pernah dilakukannya. Namun karena itu, maka ia pun
terdiam pula. Bahkan terasa sesuatu memanasi kerongkongannya.
Kembali ruangan itu menjadi sepi. Tangis Ken Dedeslah yang
seolah-olah memenuhi ruangan. Tangis yang tulus, yang memancar
dari dasar hatinya.
“Hem,” sekali lagi terdengar Tunggul Ametung menggeram
perlahan-lahan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak
tahu, bagaimana ia harus menghibur Ken Dedes supaya ia tidak
menangis lagi. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah berjalan
mondar-mandir sambil berdesah berkali-kali.
Kedua prajurit yang duduk di belakang emban tua itu pun
menjadi bingung. Sejak semula mereka telah ragu-ragu untuk
melakukan perintah akuwu. Mereka sama sekali tidak dapat
mengerti, kenapa emban tua itu telah menyalahkan dirinya sendiri,
dan bahkan dengan tabah dan tenang mendengarkan hukuman
yang harus di jalankan. Apalagi kini ia melihat putri bakal
permaisuri
akuwu itu menangis memeluknya dan bahkan seolah-olah hukuman
yang diberikan kepada perempuan tua itu harus diberikan kepada
dirinya pula.
Orang-orang yang duduk di dalam ruangan itu, benar-benar telah
dicengkam oleh kebingungan. Kebingungan menghadapi persoalan
masing-masing. Persoalan yang berbeda-beda, namun mempunyai
titik singgungan yang sama. Bahkan pelayan yang telah membawa
mereka menghadap pun duduk dengan mulut ternganga sehingga ia
menjadi kehilangan kesempatan untuk menanggapi peristiwa itu
dengan kesadarannya.
Akuwu yang berjalan mondar-mandir masih saja berjalan
mondar-mandir dengan gelisahnya. Sekali-sekali ia berhenti,
berpaling memandangi Ken Dedes yang masih menangis, namun
kemudian kembali ia menundukkan kepalanya sambil menarik nafas
dalam-dalam. Persoalan yang dihadapi saat ini baginya terasa jauh
lebih berat, daripada ia harus menghadapi musuh yang datang
dengan prajurit segelar sepapan.
Kesepian yang tegang, tangis Ken Dedes dan desah nafas
perempuan itu, terasa sangat menyesakkan nafas Akuwu Tunggul
Ametung. Bahkan kemudian kepalanya terasa menjadi pening, dan
kemudian kehilangan akal untuk mengatasi keadaan.
Tangis Ken Dedeslah yang semakin lama menjadi kian surut.
Gadis itu kemudian mencoba menenangkan hatinya, ketika dengan
lembut pemomongnya berkata, “Jangan menangis putri. Kau bukan
lagi seorang anak kecil yang hanya pandai menangis. Aku sekarang
sudah tidak kuat lagi mendukungmu sambil berdendang kidung
yang luruh supaya kau tertidur. Aku tidak lagi dapat membelai
rambutmu sambil bercerita tentang seekor kancil yang cerdik. Cerita
untukmu kini harus sudah berbeda, Nini. Cerita yang baik bagimu
adalah cerita tentang Arjuna dan Sumbadra. Dan aku tidak akan
mampu menceritakan kepadamu. Karena itu, jangan menangis.
Angkatlah wajahmu. Pandang hari depan dengan penuh gairah
untuk menyongsongnya.”
Tangis Ken Dedes kemudian benar-benar mereda. Gadis itu
benar-benar mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak memandang hari
depannya dalam lingkungan yang sempit. Peristiwa yang telah
terjadi atasnya, benar-benar telah membentuknya menjadi dewasa.
Karena itu tiba-tiba timbullah pikiran di dalam hatinya, “Akulah
yang
akan menemui Kakang Mahisa Agni.”
Pikiran itu kemudian membulat di dalam hatinya. Dengan tatag
kemudian ia menyembah sambil berkata kepada Akuwu Tunggul
Ametung, “Ampun Tuanku, apakah hamba diperkenankan untuk
menyampaikan perasaan hamba?”
Tunggul Ametung terkejut mendengar suara Ken Dedes. Gadis
itu kini sudah tidak menangis lagi, meskipun sekali-sekali
tangannya
masih sibuk mengusap air matanya.
“Berkatalah,” sahut Tunggul Ametung sambil menganggukanggukkan
kepalanya. Namun kepalanya itu masih terasa pening.
Gadis itu sudah tidak menangis dengan sendirinya, sebelum ia dapat
berbuat sesuatu untuk menenangkannya.
“Tuanku, yang pertama-tama hamba mohon maaf bagi Bibi
Emban dan Kakang Mahisa Agni.”
Dahi Tunggul Ametung berkerut. Ia harus mempertimbangkan
kembali keputusannya. Terasa dadanya bergetar. Untuk pertama
kali ia mendapat tekanan dari seseorang dalam pertimbangannya
untuk menjatuhkan hukuman. Meskipun pada saat ia mengucapkan
hukuman terhadap emban tua serta Mahisa Agni telah memerlukan
suatu perjuangan di dalam dadanya, supaya ia sedikit dapat
mengendalikan dirinya, namun kini tekanan itu menjadi sangat sulit
untuk dihindarkan. Hukuman yang sudah terlampau ringan itu masih
harus dipertimbangkannya kembali.
Tetapi permohonan itu dilontarkan lewat mulut Ken Dedes.
Apalagi permohonan ampun bagi seorang emban tua dan Mahisa
Ani, bahkan apapun yang akan dimintanya, Akuwu itu pasti tidak
akan kuasa menolaknya.
Tetapi ia adalah seorang Akuwu Tumapel. Di hadapannya duduk
bersimpuh beberapa orang dan dua orang prajurit. Karena itu, maka
bagaimanapun juga, namun ia masih harus tetap mempertahankan
kewibawaan seorang akuwu.
Karena itu, maka untuk tidak melepaskan kekuasaan yang ada di
tangannya, maka Akuwu itu berkata, “Kenapa kau mohon ampun
untuk mereka itu Ken Dedes? Aku telah menjatuhkan hukuman atas
mereka, karena mereka telah menghina Akuwu Tunggul Ametung.
Apakah pertimbanganmu tentang itu?”
Sikap Ken Dedes pun kemudian benar-benar mengagumkan.
Meskipun ia tetap dalam sikap yang sangat hormat, sambil
menyembah ia berkata, “Tuanku, kesalahan yang mereka lakukan
sama sekali tidak mereka sengaja. Mereka sama sekali tidak ingin
menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi keadaan telah
mendorong mereka, sehingga mereka mengabaikan perintah dan
keinginan Akuwu. Kesalahan yang demikian menurut pendapat
hamba, bukanlah kesalahan yang harus mendapat hukuman. Tetapi
kesalahan yang demikian, adalah kesalahan yang terjadi bukan atas
kehendak mereka sendiri.”
“Tidak!” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “Mereka tetap bersalah.
Mahisa Agni telah menolak mewakili ayahmu dan telah menolak
datang ke Tumapel beberapa waktu yang lampau. Bukankah itu
suatu sikap yang menentang?”
“Tuanku,” jawab Ken Dedes, “Tuanku tidak dapat mengerti
hubungan yang ada antara hamba dan Kakang Mahisa Agni. Hamba
adalah saudara muda, sehingga memang kurang pantaslah apabila
hamba memanggil Kakang Mahisa Agni. Menurut sopan santun
keluarga, hambalah yang harus datang kepadanya.”
“Tetapi kedudukanmu dapat kau pergunakan sebagai alasan
untuk memanggilnya. Kau adalah bakal permaisuri Tumapel.”
“Kedudukan itu datang kemudian. Tetapi susunan keluargaku itu
sudah ada sejak aku lahir. Karena itu Tuanku, hamba mohon izin
sekali untuk menemui Kakang Mahisa Agni. Apabila hamba dapat
bertemu, maka semuanya akan menjadi baik. Tidak ada sedikit pun
geseran perasaan di antara kita. Hamba, Kakang Mahisa Agni dan
Tuanku, sehingga Tuanku tidak perlu mempergunakan cara yang
lain yang seolah-olah Tuanku mempergunakan kekuasaan Tuanku
untuk kepentingan ini.”
Sekali lagi Tunggul Ametung itu berpikir. Ia tidak dapat menolak
permohonan itu, tetapi ia harus bijaksana untuk meluluskannya.
Karena itulah maka Akuwu Tunggul Ametung, yang biasanya
berbuat apa saja sesuka hatinya, bahkan selalu menuruti
perasaannya yang meledak-ledak setiap saat, kini harus
mempertimbangkan perbuatannya.
Akhirnya Akuwu itu pun menemukan jawaban pula, katanya,
“Ken Dedes. Meskipun kau belum seorang permaisuri, namun kau
sudah aku anggap memiliki kesempatan seperti seorang permaisuri.
Seorang permaisuri dapat mengajukan beberapa permohonan yang
akan dipertimbangkan oleh Akuwu. Kalau saat ini kau mohon aku
mengampuni emban tua serta Mahisa Agni, maka aku pun akan
melakukannya, namun aku mempunyai syarat untuk itu.”
Sekilas wajah Ken Dedes menjadi cerah mendengar keputusan
Akuwu Tunggul Ametung. Kalau benar Akuwu mengampuni mereka,
maka emban tua itu tidak akan pergi dari sisinya, dan Mahisa Agni
pun tidak akan lenyap dari keluarganya.
Namun sesaat kemudian kening Ken Dedes berkerut kembali.
Akuwu memberikan pengampunan, namun Akuwu mempunyai
syarat untuk itu.
Tetapi Ken Dedes tidak bertanya, apakah syarat yang di
kehendaki oleh Tunggul Ametung. Ia menunggu sampai Akuwu itu
mengatakannya.
Ternyata sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung
menyambung kata-katanya, “Ken Dedes. Syarat itu sama sekali
tidak berarti. Aku ampuni kesalahan emban tua itu beserta Mahisa
Agni, apabila Mahisa Agni bersedia datang menyelesaikan segala
persoalan ini dan segera kita dapat memasuki suatu dunia baru
tanpa kerikil-kerikil tajam dan batu-batu yang dapat menjadi
hambatan-hambatan kecil bagi perasaan kita.”
Mendengar syarat yang diajukan oleh Tunggul Ametung itu Ken
Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia telah mendengar dari
pemomongnya apa yang sebenarnya terjadi. Syarat itu sebenarnya
sama sekali tidak terlampau berat. Syarat yang tidak
berlebihlebihan,
bahkan hanyalah sekedar pelengkap dari pengampunan
yang diberikan oleh Tunggul Ametung karena ia telah terlanjur
menjatuhkan putusan untuk menghukum emban tua dan Mahisa
Agni.
Tetapi bagi Ken Dedes dan pemomongnya, syarat itu benarbenar
telah membebani perasaan mereka. Emban tua itu merasa,
bahwa baginya sama sekali sudah tidak ada jalan lagi untuk dapat
membawa Mahisa Agni ke Tumapel. Tidak ada gunanya lagi apabila
ia datang dan dengan pengaruh seorang ibu, minta Mahisa Agni
datang ke Tumapel menyelesaikan persoalan yang masih
menyangkut perasaan Akuwu Tunggul Ametung sebelum ia
mengambil keputusan untuk mengambil cara lain, cara yang kasar,
dan cara yang tidak terpuji.
Tanpa dikehendakinya sendiri emban tua itu menggeleng lemah,
sedang Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Aku minta syarat itu dipenuhi, seperti aku mencoba memenuhi
permohonan pengampunan itu.”
Sejenak mereka kemudian terdiam. Mereka mencoba untuk
menemukan jawab atas persoalan yang membelit hati masingmasing.
Dalam keheningan itu maka tiba-tiba Ken Dedes mengangkat
wajahnya. Dengan takzimnya ia menyembah sambil berkata,
“Tuanku. Biarlah hamba mencoba untuk memenuhi syarat yang
Tuanku berikan. Hamba mohon izin, untuk pergi ke Panawijen
menemui Kakang Mahisa Agni.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetap
kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Bukan
maksudku supaya kau menemui Mahisa Agni. Pembicaraan itu tidak
hanya sekedar memuaskan perasaanmu saja, tetapi aku juga ingin
mendengar dan mendapat ketenteraman dari pembicaraan itu.”
“Maka hamba Tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba ingin
mencoba membawa Kakang Mahisa Agni kemari.”
Sekali lagi Akuwu itu berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak rela
untuk melepaskan Ken Dedes itu pergi. Ken Dedes baginya seakanakan
barang yang paling berharga di muka bumi, sehingga apabila
ia kehilangan gadis itu, maka hidupnya pasti akan menjadi
terlampau sunyi.
Karena itu Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menjawab.
Sebenarnya ia sangat berkeberatan untuk mengizinkannya, tetapi
sekali lagi ia tidak ingin menyakitkan hati gadis itu. Sehingga
dengan demikian, Akuwu itu kembali dihadapkan pada keraguraguan.
Namun Akuwu itu tidak dapat menduga, bahwa Ken Dedes
sebenarnya telah membuat rencana sendiri pula untuk itu. Sejak
Mahisa Agni menolak mewakili ayahnya untuk menemui Tunggul
Ametung, hatinya telah merasa kecewa. Apalagi kejadian-kejadian
yang kemudian susul menyusul. Ken Dedes merasa bahwa Mahisa
Agni marah kepadanya Tetapi Ken Dedes tidak dapat meraba
dengan tepat, alasan yang telah menahan Mahisa Agni untuk
memenuhi permintaannya. Ken Dedes hanya dapat menyangka,
bahwa Mahisa Agni merasa bahwa ia telah melampauinya. Bahwa ia
tidak minta pertimbangannya sebelum ia menerima lamaran Akuwu
Tunggul Ametung. Ken Dedes kecewa atas sikap itu. Harga diri yang
berlebihan. Seakan-akan Mahisa Agnilah yang berhak mengambil
keputusan untuk menerima atau menolak lamaran Akuwu Tunggul
Ametung sepeninggal ayahnya. Bahkan setelah Mahisa Agni sampai
di dalam istana, ia masih juga merajuk. Meninggalkan istana hanya
karena merasa terlampau lama menunggu.
Di dalam hati Ken Dedes itu tumbuh juga keinginannya untuk
menunjukkan kedewasaannya kepada kakaknya. Ia ingin
melepaskan kejengkelannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia
memiliki juga sesuatu yang memberinya wewenang untuk
mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bahkan Ken Dedes itu
ingin menunjukkan beberapa kelebihan yang dimilikinya kini.
Kesempatan yang tak akan datang lagi sepanjang hidupnya. Kalau
kakaknya marah kepadanya, karena ia seakan-akan hanya menuruti
kehendaknya sendiri, maka ia akan menunjukkan unsur-unsur yang
telah memaksanya untuk mengambil sikap.
Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni dianggapnya masih saja
mengenangkan sahabatnya, Wiraprana. Ken Dedes merasa bahwa
ia sama sekali tidak mengkhianati Wiraprana. Ia mencintai
Wiraprana sedalam-dalamnya. Bahkan pada saat Wiraprana itu
terbunuh, ia rela seandainya ia mati sama sekali. Tetapi ketika
saatsaat
itu telah berlalu, maka apakah ia masih juga harus selalu
dibayangi oleh duka hatinya itu? Seandainya Wiraprana itu kini
sedang pergi merantau, maka beberapa puluh tahun lagi ia akan
menunggunya dengan setia. Bahkan sampai matinya sekalipun.
Tetapi Wiraprana itu sudah tidak akan kembali. Tidak akan, sampai
kapan pun. Namun ia harus mempunyai alasan yang cukup untuk
memenuhi rencananya itu, dan Ken Dedes telah menemukan alasan
itu.
Karena itu selagi Akuwu Tunggul Ametung bimbang hati untuk
mengambil keputusan atas permohonan Ken Dedes itu, tiba-tiba ia
mendengar gadis itu berkata, “Tuanku. Meskipun hamba akan
mencoba untuk memanggil Kakang Mahisa Agni, namun hamba
mohon agar Tuanku mengizinkan hamba datang ke Panawijen tidak
sebagai seorang gadis pedesaan. Hamba mohon Tuanku
mengizinkan hamba datang ke Panawijen sebagai seorang calon
permaisuri. Ada berbagai pertimbangan yang dapat hamba berikan.
Di antaranya hamba takut kalau hamba akan bertemu dengan Kuda
Sempana yang melarikan diri itu.”
Tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berpaling, bahkan kemudian
memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Sesaat ia termenung,
namun kemudian wajah Akuwu yang tegang itu mengendur.
Tunggul Ametung itu bahkan kemudian tersenyum, katanya,
“Ken Dedes, apa yang kau minta itu justru telah ada di dalam
kepalaku. Aku tidak ingin melepaskan kau sendiri, sedang aku tidak
akan dapat mengantarmu ke Panawijen karena aku seorang
Akuwu.”
Tunggul Ametung itu berhenti sejenak. Di dalam hatinya ia
berkata untuk yang pertama kali, “Kalau aku bukan seorang
Akuwu.”
Namun ketika ia meneruskan berkatalah ia, “Ken Dedes, aku
akan memenuhi permintaanmu. Kau akan datang ke Panawijen
bukan saja sebagai seorang bakal permaisuri, tetapi kau akan
datang sebagai seorang permaisuri. Prajurit pengawal akan
mengantarmu di bawah pimpinan Witantra sendiri. Witantra akan
membawa pasukannya seperti ia mengawal aku, dalam barisan
kebesaran Tumapel.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban Akuwu itu atas
permintaannya. Ternyata Akuwu memberikan lebih banyak dari
yang diharapkan. Namun Ken Dedes menjadi berbesar hati
karenanya. Ia ingin menebus kejengkelannya atas Mahisa Agni. Ia
ingin menunjukkan kepada Mahisa Agni, apa yang dapat dicapainya,
apa yang tersedia untuknya, sehingga Mahisa Agni akan menyadari,
bahwa kesempatan ini memang tidak boleh dilewatkan. Kesempatan
yang datang sepeninggal Wiraprana, bukan kesempatan yang
memaksanya untuk berkhianat.
Karena itu maka Ken Dedes segera menyembah, “Ampun
Tuanku, apabila berkenan di hati Tuanku, hamba mengucapkan
beribu terima kasih untuk kemurahan Tuanku.”
“Itu adalah hakmu Ken Dedes, hakmu sebagai seorang
permaisuri.”
Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi kini wajahnya kembali
terhunjam ke lantai istana yang mengkilap. Ia menjadi sangat
terharu atas kesempatan yang didapatnya kini. Namun karena itulah
maka ia kembali terkenang kepada ayahnya. Katanya di dalam hati,
“Seandainya ayah masih ada di Panawijen. Ayah akan ikut serta
menikmati karunia yang besar ini. Tetapi ayah itu telah pergi,
justru
karena aku meninggalkannya, mendaki kesempatan yang
diperuntukkan kepadaku ini.”
Tiba-tiba air mata gadis itu berlinang. Ketika air matanya tetes
satu-satu, Akuwu Tunggul Ametung terkejut. Kenapa Ken Dedes itu
tiba-tiba menangis lagi? Tetapi Akuwu itu sama sekali tidak dapat
mengerti perasaan haru yang mencengkam hati Ken Dedes,
sehingga karena itu, maka kembali Akuwu itu menjadi gelisah.
Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi
gelisah. Meskipun alasannya berbeda, namun emban tua pemomong
Ken Dedes itu pun tidak kalah gelisahnya. Kalau benar Ken Dedes
akan datang dengan upacara kebesaran seorang permaisuri,
alangkah pedihnya hati Mahisa Agni.
“Kasihan anak itu,” desah ibu Mahisa Agni di dalam hatinya.
Tetapi ia tidak mempunyai alasan yang cukup untuk mencegah Ken
Dedes yang akan mendapat pengawalan menurut upacara
kebesaran. Apalagi alasan Ken Dedes benar-benar dapat diterima
oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kuda Sempana. Bahkan mungkin
Akuwu telah memperhitungkan bahwa mungkin sekali Kuda
Sempana telah bergabung dengan orang-orang yang tidak disukai,
sehingga merupakan sekelompok kecil bencana yang dapat
menghadang di tengah jalan.
Dengan demikian, maka emban tua itu hanya dapat menekan
perasaannya. Alangkah mahalnya tebusan bagi pengampunan ini.
Kalau ia bukan ibu Mahisa Agni, maka ia akan dengan senang hati
mengikuti upacara kebesaran momongannya, dalam iringan yang
megah, berjalan ke Panawijen. Tetapi ia tahu benar, bahwa di
Panawijen sebuah hati akan terpecah-belah. Hati itu adalah hati
anaknya.
Ken Dedes sama sekali tidak tahu, apa yang tersimpan rapatrapat
di dalam hati Mahisa Agni. Menurut keluhan gadis itu yang
telah didengarnya, Ken Dedes menganggap bahwa Mahisa Agni
terlampau tinggi hati. Hanya karena ia tidak diajak berbincang
mengenai lamaran Akuwu, maka Mahisa Agni, sebagai seorang
saudara tua, merasa tersinggung.
“Bukan sekedar itu,” teriak emban itu di dalam hatinya, “bukan
sekedar karena ia tersinggung. Betapa Mahisa Agni merelakan
dirinya sendiri terhempas ke tepi, tetapi ia adalah seorang anak
muda. Anak muda, bukan anak yang turun dari langit, sehingga
dapat menjadikan dirinya luar biasa dalam ketahanan tubuh dan
perasaannya. Ia adalah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu.
Apalagi seorang ibu yang hina seperti aku ini.”
Namun kembali emban itu hanya dapat menarik nafas dalamdalam.
Ia tidak mampu mencegah Ken Dedes menunjukkan
kesempatan yang telah memaksanya menerima lamaran Tunggul
Ametung. Emban itu tahu benar bahwa Ken Dedes bermaksud
mengatakan kepada Mahisa Agni, “Kakang, aku bukan orang gila
yang dapat melepaskan kesempatan ini. Lihat, aku datang dengan
upacara kebesaran. Aku harus menerima ini, dan kau pun harus
bangga atas kesempatan yang diperoleh oleh adikmu ini. Panawijen
harus bangga, karena pilihan Akuwu jatuh kepada gadis dari
Padukuhan ini.”
Tetapi emban itu tidak berkata sepatah kata pun. Yang kemudian
didengarnya adalah kata-kata Ken Dedes parau, “Tuanku, Akuwu.
Kalau Tuanku telah berkenan, maka biarlah hamba segera akan
berangkat untuk mencoba memenuhi keinginan Tuanku. Hamba
akan mencoba membawa Kakang Mahisa Agni. Apabila hamba
gagal, maka terserahlah kepada Tuanku untuk melakukan apa yang
baik untuk Tuanku.”
“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Tunggul Ametung.
“Secepatnya Tuanku.”
“Baik. Besok aku akan mengadakan persiapan. Lusa kau sudah
dapat pergi.”
“Terima kasih Tuanku. Hamba akan melakukan perintah Tuanku
untuk seterusnya.”
Akuwu itu pun tersenyum pula. Ia telah melupakan segala
persoalan-persoalan lain. Ia telah melupakan hukuman yang
diucapkan. Ia telah melupakan Mahisa Agni yang pergi
meninggalkan istana hanya karena terlampau lama menunggu. Kini
ia hanya berpikir tentang kesempatan yang akan diberikannya
kepada Ken Dedes. Besok lusa.
Demikianlah maka sejenak kemudian Ken Dedes, emban tua dan
para prajurit itu pun bermohon diri dari hadapan Akuwu Tunggul
Ametung, setelah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan.
Akuwu telah menyanggupi Ken Dedes untuk menyiapkan
pengawalan dalam waktu dua atau tiga hari. Namun secepat itu
selesai, secepat itu pula Ken Dedes harus berangkat. Besok Akuwu
akan memanggil Witantra dan mendengar pendapatnya. Seterusnya
persiapan itu akan banyak tergantung pada Witantra itu sendiri.
Ketika ruangan itu telah sepi, Akuwu masih saja berjalan
mondar-mandir. Ia menjadi riang tanpa disadarinya. Meskipun
Mahisa Agni tidak menghadapnya malam ini, tetapi ia senang bahwa
Ken Dedes telah memajukan permohonan kepadanya. Permohonan
tentang sesuatu yang segera dapat diberikannya. Bagi Akuwu
Tunggul Ametung, hal itu telah merupakan suatu kepuasan
tersendiri. Memberikan sesuatu kepada seorang gadis yang
dicintainya.
“Apalagi permintaan-permintaan kecil itu, Ken Dedes,” katanya di
dalam hati, “Tumapel ini adalah milikmu. Cahaya yang memancar
dari pusat jantungmu adalah pertanda, bahwa kau seorang gadis
yang akan mampu memberikan sesuatu kepada tanah ini.”
Tiba-tiba Akuwu itu berteriak memanggil pelayan yang
menunggui pintu ruang itu. Dengan tergesa-gesa pelayan itu
berjalan tersuruk-suruk, kemudian setelah ia melihat Akuwu di
dalam biliknya, pelayan itu pun berjalan jongkok perlahan-lahan.
Ketika ia sedang menyembah, ia hampir terloncat karena terkejut.
Didengarnya Akuwu itu membentaknya, “Cepat, panggil Daksina!
Bawa kemari kakawin Barathayuda.”
“Hamba Tuanku,” sembah pelayan itu sambil bergeser surut.
“Cepat!” teriak Akuwu itu pula.
Pelayan itu pun cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Dengan
berlari-lari kecil ia pergi ke halaman belakang mencari Daksina.
Tetapi anak itu tidak berada di dalam rumahnya. Karena itu maka
dengan gelisah pelayan itu bertanya kepada orang di rumahnya, “Di
mana Daksina?”
“Kenapa? Ia baru keluar.”
“Malam-malam begini?”
“Ya. Mungkin di gardu-gardu penjaga.”
“Apa kerjanya?”
“Bercerita. Ia terlampau banyak membaca sehingga kepalanya
menjadi penuh. Karena itu kadang-kadang ia memerlukan tempat
penuangan cerita-cerita yang tersimpan di kepalanya.”
“Omong kosong!” sahut pelayan itu, “Daksina tahu betul kalau
para peronda sering membawa jenang alot atau ketan serundeng.
Nah, untuk itu ia melayap ke gardu-gardu.”
“Mungkin. Tetapi apakah ada sesuatu yang penting.”
“Oh. Akuwu memanggilnya.”
Orang serumah itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Setiap kali
Akuwu memerlukan anak itu harus ada. Meskipun demikian orang
itu bertanya juga, “Malam-malam begini?”
“Ya.”
Orang itu segera menjadi gelisah, “Baiklah, aku akan
mencarinya.”
“Aku juga harus mencarinya,” berkata pelayan itu, “sebelum
Akuwu menjadi marah.”
Keduanya segera pergi untuk mencari Daksina. Ternyata benar
dugaan mereka, Daksina berada di gardu belakang, menunggui para
peronda sambil ikut serta menghabiskan bekal mereka. Ketan
serundeng. Tetapi para peronda itu senang juga apabila Daksina
ada di antara mereka. Banyak sekali cerita yang dapat
disampaikannya kepada para peronda untuk mencegah kantuk.
Ketika ia mendengar bahwa Akuwu memanggilnya, segera ia
berlari. Untunglah bahwa lontar kakawin Barathayuda berada di
rumahnya sehingga ia tidak perlu mencarinya di bilik perpustakaan.
Dengan tergesa-gesa ia membawa lontar itu menghadap ke bilik
Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi alangkah kecewanya ketika ia
sampai di muka bilik, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung sudah
tertidur masih dalam pakaiannya. Bahkan pintunya pun masih juga
terbuka.
Daksina menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bingung. Kalau
ia pergi, dan kemudian Akuwu itu terbangun, maka segera Akuwu
itu akan teringat bahwa ia telah memerintahkan memanggilnya.
Tetapi apakah kemudian ia harus menunggui Akuwu itu tidur?
Bagaimana kalau Akuwu itu kemudian tidak terbangun lagi sampai
pagi?
Tetapi kemudian Daksina tidak berani meninggalkan bilik itu.
Dengan terkantuk-kantuk ia duduk di muka pintu. Bahkan kemudian
anak itu pun tertidur pula sambil memeluk lontarnya.
Di bilik lain, di sentong tengen, Ken Dedes masih duduk
berbincang dengan embannya. Ia kini sudah tidak dalam perawatan
Nyai Puroni lagi. Perempuan yang banyak menyimpan perasaan iri
terhadap gadis yang menurut pendapatnya sedang menyimpan
wahyu di dalam tubuhnya.
“Bagaimana Bibi, menurut pendapatmu,” bertanya Ken Dedes
kepada pemomongnya, “apakah kau tidak keberatan dengan
rencanaku? Bukankah kau telah mengenal Kakang Agni seperti
mengenal aku?”
Orang tua itu mengangguk. Tetapi wajahnya tampak menjadi
semakin suram.
“Apakah kau mempunyai pendapat lain?”
Emban itu tidak segera menjawab. Kalau ada cara lain, maka ia
akan mengusulkannya. Tetapi ia tidak segera menemukan. Ia tidak
dapat minta Ken Dedes pergi sendiri, atau dengan seorang dua
orang prajurit. Akuwu pasti tidak akan melepaskannya. Sebab
adalah masuk akal apabila Kuda Sempana yang mendendamnya itu
dapat berbuat hal-hal di luar perhitungan apabila anak muda itu
tahu, bahwa Ken Dedes sedang berada di Panawijen.
Meskipun demikian emban tua itu berkata, “Nini, apakah kau
perlu datang dengan segala macam kehormatan dan kebesaran
itu?”
“Ya, Bibi, itu adalah satu kebanggaan bagiku, bagi Kakang
Mahisa Agni dan bagi Panawijen. Dan kebanggaan ini harus
membuka hati Kakang Mahisa Agni bahwa ia telah salah sangka
selama ini. Ia tidak mendalami maksud Akuwu yang sebenarnya
atas aku dan keluargaku.”
Emban tua itu menundukkan wajahnya. Kembali ia menyalahkan
diri sendiri. Kalau ia mempunyai pengaruh sebagai seorang ibu atas
Mahisa Agni dan membawa Mahisa Agni menghadap Akuwu
Tumapel, maka Mahisa Agni pasti tidak akan mengalami kepahitan
yang lebih parah lagi.
Tetapi semuanya itu berada di luar kemampuannya. Mahisa Agni
telah berhasil dibawanya ke Tumapel, tetapi belum lagi Mahisa Agni
menghadap, apalagi menghadap Akuwu, bertemu dengan Ken
Dedes saja pun belum.
Dalam pada itu terdengar Ken Dedes berkata, “Bibi, apabila
benar Akuwu akan memperkenankan permohonanku, maka kau
akan ikut serta. Bukankah kau telah rindu pula kepada padukuhan
itu?”
Dada emban tua itu berdesir. Meskipun sebelumnya ia sudah
menduga, bahwa ia pasti akan diminta untuk mengantarkan Ken
Dedes itu pula. Tetapi gambaran-gambaran tentang anaknya,
tentang Mahisa Agni telah sangat mempengaruhinya. Apakah ia
harus menyaksikan betapa hati anaknya seperti diiris dengan
sembilu. Apakah ia harus menyaksikan Mahisa Agni semakin parah
ketika ia melihat Ken Dedes datang kepadanya dengan kebesaran
seorang permaisuri? Apabila Mahisa Agni itu benar-benar kakak
kandung Ken Dedes, maka kemarahan Mahisa Agni pasti akan
sangat terbatas. Mungkin dugaan Ken Dedes benar, bahwa Mahisa
Agni marah karena tersinggung perasaannya sebagai seorang
saudara tua. Tetapi Mahisa Agni tidak sekedar tersinggung
perasaannya. Tidak sekedar karena tidak diajaknya berbincang
mengenai lamaran Tunggul Ametung. Tidak.
Ketika emban tua itu tidak segera menjawab, maka Ken Dedes
mendesaknya sekali lagi, “Bagaimana Bibi, bukankah kau ingin juga
melihat kampung halaman itu? Sungainya yang jernih, bendungan
yang megung, sawah ladang yang hijau. Alangkah segarnya setelah
aku sekian lama terkurung di dalam bilik yang sempit ini.”
Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar
ia menjawab perlahan-lahan sambil menggeleng, “Tidak, Nini.”
“He,” Ken Dedes benar-benar terkejut mendengar jawaban yang
sama sekali tak disangka-sangka, “kau tidak ingin ikut ke
Panawijen?”
Sekali lagi emban itu menjawab, “Tidak, Nini. Biarlah aku
menunggumu di sini.”
“Bibi,” bertanya Ken Dedes dengan herannya, “kenapa Bibi tidak
ingin turut ke Panawijen?”
Emban tua itu tidak segera menjawab. Wajahnya yang suram
tertunduk ke lantai. Alangkah berat hatinya mendengar pertanyaan
itu. Sebenarnya ia tidak ingin terpisah dari momongannya.
Momongan yang sejak kecil selalu dalam dukungannya. Sebenarnya
sepotong hatinya ingin mengajaknya serta dalam satu arak-arakan
yang meriah, mengunjungi kampung halaman yang sudah sejak
bertahun-tahun didiaminya. Namun belahan hatinya yang lain
menahannya. Ia tidak akan sampai hati menyaksikan anaknya,
anaknya sendiri, meskipun tidak pernah dibelainya di saat-saat
menjelang tidur, mengalami guncangan-guncangan perasaan.
Tetapi emban itu merasa, bahwa ia tidak akan dapat berdiam diri
saja. Ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes, sehingga dengan
ragu-ragu dijawabnya saja dengan alasan-alasan yang dicaricarinya,
“Nini, aku tidak dapat pergi ke Panawijen. Perjalanan itu
akan memerlukan waktu. Aku akan terlampau lelah. Mungkin Nini
akan mempergunakan tandu dalam perjalanan itu. Tetapi aku akan
berjalan kaki. Aku sudah terlampau tua Nini.”
“Tidak bibi,” potong Ken Dedes, “apabila disediakan tandu
untukku, maka Bibi akan berada di dalam tandu itu pula.”
“Ah,” sahut emban itu, “tandu itu akan terlampau berat.”
“Aku akan minta disediakan tandu yang lain.”
Emban itu menggeleng, “Tidak Nini. Banyak yang memberati
hatiku. Aku adalah seorang perempuan cengeng. Perempuan
perasa. Mungkin aku tidak akan tahan lagi melihat padepokan yang
sepi itu. Mungkin hatiku akan menjadi pedih.”
“Oh,” Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Aku juga pasti akan mengalami perasaan semacam itu
bibi. Tetapi marilah kita melihat kenyataan. Kepahitan hidup adalah
sesuatu yang sama sekali tidak kita ingini. Tetapi apabila hal itu
datang kepada kita sebagai suatu kenyataan, kita tidak akan dapat
memejamkan mata kita. Kita tidak harus lari daripadanya, mencari
kepuasan-kepuasan lain yang mungkin akan menjerumuskan kita
kepada kesulitan-kesulitan baru. Padepokan yang kosong itu jangan
menjadi hantu bagi kita bibi. Marilah kita lihat, apakah kita masih
mungkin untuk mengisinya kembali, menyegarkannya seperti masamasa
lampau, setidaknya mendekati masa-masa itu?”
Emban tua itu mengangkat wajahnya Ketika terpandang olehnya
wajah gadis momongannya itu, maka emban tua itu tertunduk
kembali. Dalam sekilat, teraba oleh orang tua itu, bahwa Ken Dedes
sebenarnya tidak sedang menasihatinya. Tetapi gadis itu lebih
banyak berbicara kepada dirinya sendiri. Gadis itu sedang mencoba
memperteguh perasaannya sebelum ia sendiri melihat Panawijen.
Sebelum ia melihat Padepokan ayahnya yang kini telah hampirhampir
menjadi kosong.
Emban itu tidak akan mengecewakan hati Ken Dedes atas
nasihatnya yang lebih banyak diperuntukkan bagi diri gadis itu
sendiri. Tetapi ia tidak dapat mempercayai dirinya, apakah hatinya
yang telah lapuk karena umurnya itu masih akan mampu bertahan
melihat hati yang terpecah belah.
Karena itu maka emban tua berkata, “Maafkan aku Nini. Aku
terpaksa tidak dapat ikut serta ke Panawijen. Mudah-mudahan lain
kali aku akan pergi. Baru kemarin aku melihat padukuhan itu. Baru
kemarin hatiku menjadi sedih. Apakah besok atau lusa aku akan
melukai hati ini kembali? Nini, biarlah aku agak memperpanjang
umurku dengan melepaskan diri dari setiap kemungkinan yang
dapat mendukakan hati.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Emban tua itu agaknya
benar-benar tidak ingin pergi ke Panawijen, sehingga karena itu,
maka Ken Dedes tidak dapat memaksanya meskipun ia menjadi
kecewa karenanya.
Meskipun demikian Ken Dedes itu tidak habis-habisnya dikejar
oleh pertanyaan-pertanyaan yang melingkar di dalam hatinya.
Emban itu hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tetapi
tibatiba
kini ia mengelak ajakannya justru dalam kesempatan yang
dapat dibanggakan.
“Apakah emban tua ini sependapat dengan Kakang Mahisa Agni,”
pikir gadis itu. Tetapi ia tidak berani meyakinkan dirinya. Emban
itu
masih tetap terlampau baik kepadanya selama ini.
“Mungkin emban itu berkata dengan jujur. Hatinya sedih melihat
Panawijen yang sepi,” berkata Ken Dedes pula di dalam hatinya.
Bahkan kemudian ia sendiri menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan aku
akan mengalami kesedihan seperti emban itu pula.”
Tetapi akhirnya Ken Dedes menemukan kemantapan, ia harus
pergi. Bukan saja untuk meyakinkan Mahisa Agni bahwa sebenarnya
maksud Tunggul Ametung cukup baik, tetapi juga untuk
membebaskan Mahisa Agni dan emban tua itu dari hukuman Akuwu
Tunggul Ametung.
Ternyata kemudian Akuwu Tunggul Ametung memenuhi janjinya.
Akuwu Tumapel itu telah memerintahkan kepada Witantra untuk
mempersiapkan sebuah pengawalan yang cukup kuat dan megah
bagi Ken Dedes yang akan pergi sendiri ke Panawijen untuk
berbagai keperluan. Akuwu pun menyadari, bahwa Ken Dedes
bukan saja ingin bertemu dengan Mahisa Agni, tetapi juga karena
Ken Dedes telah merindukan kampung halamannya.
Dua hari diperlukan oleh Witantra untuk mempersiapkan diri
beserta pasukannya. pasukan khusus pengawal Tunggul Ametung di
bawah pimpinan Witantra sendiri. Di samping persiapan para
prajurit, telah dipersiapkannya pula sebuah tandu yang megah.
Tandu yang akan dipergunakan oleh Ken Dedes.
Pada hari yang ditentukan, maka semua persiapan itu pun telah
selesai. Witantra sendiri melihat semuanya dengan cermat. Sejak
para pelayan, yang akan memanggul tandu sampai para perwira
prajurit yang akan menjadi paruh dari perjalanan ini.
Arak-arakan ini adalah arak-arakan yang terbesar yang pernah
diadakan di Tumapel sejak ibunda Akuwu Tunggul Ametung
meninggal dunia. Tumapel sejak itu tak pernah dimeriahkan dengan
sebuah arakan-arakan seperti ini. Sejak itu akuwu seakan-akan
hidup dalam kemurungan. Sekali-sekali akuwu keluar juga dari
istana. Tetapi tidak pernah dalam suatu bentuk arakan. Kalau
akuwu ingin menikmati udara di luar istana, maka akuwu akan pergi
berkuda dengan beberapa orang pengawal berburu ke hutan-hutan.
Sekali-sekali akuwu sering pula melihat-lihat kotanya, Tumapel,
namun selalu dalam sikap seorang prajurit.
Kini sejak seorang gadis Panawijen tinggal di dalam istana, maka
seakan-akan Istana Tumapel menemukan kembali kesegarannya.
Meskipun kebesaran Tumapel tidak pernah surut, namun
kebesarannya selama ini seolah-olah menjadi kering. Kini, gadis
Panawijen itu seperti embun yang menetes di malam hari dan
seperti gerimis yang jatuh di siang hari. Tumapel menjadi segar
oleh
kemeriahan.
Tiga hari kemudian sejak akuwu menjanjikan pengawalan itu
kepada Ken Dedes, maka arak-arakan itu benar-benar telah
terwujud. Di halaman dalam Akuwu Tunggul Ametung sendiri
melepas arak-arakan itu.
Ken Dedes yang saat itu telah berada di dalam tandu
menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah,
“Hamba akan segera kembali, Tuanku.”
Akuwu tersenyum. Katanya, “Aku telah memerintahkan kepada
Witantra. Mereka harus segera kembali. Dan kau pun akan terbawa
kembali pula.”
Sekali lagi Ken Dedes menyembah, “Tentu, Tuanku.”
Akuwu menganggukkan kepalanya. Ternyata anak Panawijen itu
benar-benar telah memesonanya. Bahkan telah memesona segenap
rakyat Tumapel. Dalam pakaian yang indah, Ken Dedes benar-benar
tampak bercahaya, seperti bintang pagi di tenggara.
Tetapi hati Ken Dedes itu berdesir ketika ia melihat emban
pemomongnya berdiri di samping tandunya. Dengan serta-merta ia
bertanya, “Apakah kau benar-benar tidak dapat mengubah
pendirianmu, Bibi?”
Emban tua itu menarik nafas. Sambil menggeleng ia menjawab,
“Maafkan, Tuan putri.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Panggilan itu terasa janggal
di telinganya apabila emban tua itulah yang mengucapkannya.
Emban tua itu telah mengenalnya sejak kecil sebagai seorang gadis
pedesaan. Bagaimana mungkin kini ia harus memanggilnya Tuan
putri. Tetapi Ken Dedes sendiri tidak berani menegurnya. Akuwu
menghendaki panggilan itu bagi semua hamba Tumapel. Namun
demikian pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam hati Ken
Dedes masih belum dapat disingkirkannya. Apakah sebab yang
sebenarnya emban itu tidak mau pergi bersamanya. Apakah ia
berkata jujur, atau sekedar samudana.
Bahkan tiba-tiba Ken Dedes teringat kepada dukun tua yang
merawatnya saat pertama kali ia masuk ke dalam istana ini. Jelas
terbayang dan terungkapkan dalam kata dan perbuatan, dukun tua
itu menjadi dengki atas karunia yang diterimanya. Apakah emban
tua itu menjadi dengki pula.
“Tidak. Tidak mungkin,” terdengar suara di dalam dada Ken
Dedes demikian tegasnya. Apalagi ketika kemudian ia melihat
setitik-setitik air mata menetes dari mata yang cekung itu.
Ken Dedes menjadi terharu pula karenanya. Tetapi ia tidak pula
dapat mengerti, apakah arti air mata itu?
Akhirnya arakan itu pun mulai bergerak. Emban tua, pemomong
Ken Dedes, mencium momongannya pada punggung telapak
tangannya. Terasa tangan itu menjadi basah.
“Selamat jalan Tuan putri. Hamba menunggu sampai Tuanku
kembali.”
Ken Dedes mengangguk. Tetapi ia tidak dapat menjawab dengan
kata-kata, karena tenggorokannya terasa tersumbat karenanya.
Ketika arak-arakan itu semakin lama menjadi semakin jauh, maka
air mata emban tua itu pun mengalir semakin deras. Air mata yang
menitikkan berbagai arti. Seperti bunga, maka air mata dapat
berarti gembira, namun dapat pula berarti duka. Setitik air mata
emban itu diperuntukkan bagi momongannya. Ia, emban tua itu,
berbahagia dan bangga karenanya. Sedang setitik lainnya
diperuntukkannya bagi anaknya. Alangkah pedih hati anaknya itu.
Akhirnya, ketika pangkal dari arak-arakan itu telah hilang di balik
regol halaman dalam, maka emban tua itu pun segera menyadari
keadaannya. Ketika ia berpaling, ternyata akuwu yang semula
berdiri di atas tangga telah masuk pula ke dalam istana. Di
sana-sini
tinggal beberapa orang saja yang masih membenahi beberapa
peralatan yang tinggal. Beberapa orang penjaga dilihatnya hilir
mudik di muka regol halaman dalam itu.
Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan
ia berjalan sambil menundukkan wajahnya, pergi ke biliknya di
halaman belakang. Di situlah ia telah mendapatkan sebuah bilik
tersendiri, sejak ia mengikuti Ken Dedes di Istana Tumapel. Dari
muka bilik itu ia mendengar lamat-lamat suara Daksina berdendang.
Ketika emban tua itu berpaling ke arah suara Daksina itu,
dilihatnya
anak itu duduk di bawah sebatang pohon kemuning. Di tangannya
tergenggam sepotong kayu watu dan sebilah pisau yang tajam.
Anak itu ternyata lagi membuat sebuah patung ukiran.
“Seorang anak muda periang,” desis emban tua itu. Dalam pada
itu dikenangnya anaknya yang murung. Mahisa Agni bukan
termasuk seorang anak muda periang seperti Daksina, meskipun
bukan pula seorang pemurung. Namun tusukan perasaan yang
dalam telah menjadikannya semakin kehilangan keriangannya.
“Pengaruh yang membentuknya menjadikannya demikian,”
berkata emban itu di dalam hatinya, “Mahisa Agni berada di
pengengeran sejak kanak-kanak. Ia harus selalu tekun belajar dan
bekerja.”
Suara Daksina masih saja mengumandang di sela-sela gemeresik
dedaunan di pagi yang bening. Seperti siul burung yang riang
menyambar hari yang baru, suara Daksina terdengar semakin lama
semakin segar.
Emban tua itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Betapa ia
mencoba menyenangkan hatinya dengan mendengarkan dendang
Daksina, namun wajah orang tua itu pun masih juga disaput oleh
kesuraman hatinya.
Sementara itu iring-iringan yang membawa Ken Dedes menuju ke
Panawijen telah menelusuri jalan-jalan kota. Berbondong-bondong
penduduk Tumapel, tua muda keluar dari rumah masing-masing.
Mereka telah mendengar bahwa hari itu Ken Dedes, seorang gadis
dari padepokan di Panawijen akan keluar dari istana dalam sebuah
iring-iringan kebesaran. Gadis yang bakal menjadi permaisuri
Tumapel itu akan pergi mengunjungi kampung halamannya,
Panawijen.
Setiap mata yang memandang gadis yang berada di atas tandu
itu menjadi terpesona. Alangkah cantiknya gadis itu. Sama sekali
tidak berkesan pada wajah yang cerah itu, bahwa Ken Dedes adalah
seorang gadis pedesaan. Wajah itu benar-benar membayangkan
seorang yang sangat pantas untuk menjadi seorang permaisuri.
Demikianlah maka setiap mulut telah bergumam memuji keserasian
tubuh gadis yang berada di atas tandu itu. Betapa bahagianya
seorang gadis yang memiliki kecantikan yang hampir sempurna itu.
Adalah sudah sewajarnya apabila Akuwu Tunggul Ametung telah
memilihnya untuk menjadi seorang permaisuri.
Apalagi kini gadis itu berada di dalam sebuah iringan kebesaran
yang sudah cukup lama tidak dilihat oleh penduduk Tumapel.
Sehingga dengan demikian, maka hampir setiap rumah menjadi
kosong karena penghuninya berlari-lari ke pinggir jalan untuk
melihat wajah bakal permaisuri Akuwunya.
Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan
mendapat sambutan yang sedemikian riuhnya dari penduduk
Tumapel. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi bingung.
Ketika para penduduk ingin memandangi wajahnya yang cerah itu,
maka Ken Dedes malahan berusaha bersembunyi dibalik tirai-tirai
tandunya. Beberapa orang menjadi kecewa, namun beberapa orang
lain yang sempat memandang wajah itu, memujinya tak kunjung
habis.
Di muka sekali, di ujung iring-iringan itu, seorang yang tegap
mendahului di atas punggung kuda bersama beberapa orang
prajurit. Orang itu adalah pemimpin pasukan pengawal. Witantra. Di
sampingnya adalah dua orang perwira bawahannya. Sedang di
belakangnya berkuda seorang anak muda, namun ia tidak
mengenakan pakaian keprajuritan meskipun di lambungnya
tergantung sebilah pedang. Anak muda itu adalah Mahendra. Ia
telah dibawa oleh kakak seperguruannya. Tanpa sepengetahuan
Akuwu dan Ken Dedes, Witantra telah mempunyai perhitungan
tersendiri. Ia mengenal beberapa sifat Mahisa Agni yang keras.
Karena itu ia mempunyai perhitungan, bahwa apabila Mahisa Agni
tidak dapat ditemukan di Panawijen, ia pasti telah berada di padang
Karautan. Karena itu maka dibawanya Mahendra yang akan dapat
menjadi penunjuk jalan menemui Mahisa Agni, dengan tidak usah
mencari-cari.
Di belakang Mahendra, berkuda seorang prajurit muda.
Wajahnya riang namun garis-garis mulutnya menunjukkan kepicikan
perhitungannya. Prajurit itu adalah Kebo Ijo. Ia mendapat tugas
pula dari Witantra, kakak seperguruannya untuk mengawal panjipanji
Tumapel yang berada di muka tandu Ken Dedes dibawa oleh
seorang prajurit pula.
Ketika iring-iringan itu telah sampai ke batas kota, maka Kebo Ijo
mempercepat jalan kudanya, mendekati Mahendra.
Ketika ia telah berada di sampingnya, terdengar ia berbisik,
“Berapa lama kita berada di Panawijen?”
Mahendra menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”
“Tiga hari atau sepasar?”
Sekali lagi Mahendra menggeleng, “Aku tidak tahu.”
“Dalam sepuluh hari ini aku harus berada di rumah,” gumam
Kebo Ijo.
“Kenapa?”
Kebo Ijo itu tertawa. Namun ketika Witantra berpaling kepadanya
segera ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata
kepada Mahendra, “Aku akan kawin Kakang.”
“Oh,” Mahendra terkejut. Tetapi ia pun tertawa pula. Sahutnya.
“Kau berkata sebenarnya?”
Kebo Ijo mengangguk, “Ya. Sebenarnya aku akan kawin tengah
bulan ini.”
Mahendra menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian
agaknya ia masih meragukan kata-kata adik seperguruannya itu,
sehingga Kebo Ijo merasa perlu untuk menegaskan, “Kakang
Mahendra. Sebenarnya aku pun masih belum ingin untuk kawin.
Tetapi beberapa orang keluargaku selalu saja mendesakku.”
Mahendra tertawa berkepanjangan. Dilihatnya wajah Kebo Ijo
yang tersipu-sipu,
“Kenapa kau akhirnya bersedia pula?” bertanya Mahendra.
“Ah,” Kebo Ijo tersenyum, tetapi ia tidak menjawab.
“Gadis manakah yang akan kau ambil?” bertanya kakak
seperguruannya.
“Tetangga sendiri. Masih ada sangkut paut kekeluargaan.”
“Siapa namanya?”
“Bukan Ken Dedes,” jawab Kebo Ijo.
Keduanya tertawa, sehingga sekali lagi Witantra berpaling. Tetapi
perwira itu tidak banyak menaruh perhatian atas percakapan kedua
adik seperguruannya itu.
Iring-iringan itu masih berjalan dengan tenangnya. Kini mereka
telah meninggalkan kota Tumapel. Meskipun demikian, orang-orang
yang tinggal di desa-desa, di tepi jalan pun berjejal-jejal untuk
menyaksikan arak-arakan yang megah itu. Bahkan dari desa-desa
yang jauh sekalipun, apabila orang-orangnya mendengar berita
tentang perjalanan bakal permaisuri itu, berbondong-bondong
mereka pergi ke tepi-tepi jalan yang akan dilampaui oleh arakarakan
itu.
Matahari yang tergantung di langit, semakin lama merayap
semakin tinggi pula. Sinarnya yang cerah berserakan di atas dataran
sawah-sawah dan memantul di permukaan air. Namun terasa bagi
para prajurit yang sedang berjalan dalam arak-arakan itu seperti
serangga yang merayap di seluruh permukaan kulit punggungnya.
Gatal.
Ken Dedes yang duduk di dalam tandu, memandangi sawah,
ladang dan pedesaan dengan wajah yang segar. Penandangan yang
telah lama tidak dilihatnya Warna hijau segar yang memancarkan
harapan pada hari-hari mendatang. Apabila padi yang menghijau di
sawah itu telah bunting, maka berkembanglah hati para petani.
Sebentar kemudian, maka hutan yang menghijau akan berganti
warna seperti lembaran emas yang terbentang dari ujung ke ujung
bumi. Apabila padi telah menguning, maka berdendanglah setiap
hati, disertai dengan doa semoga mereka diperkenankan memetik
buah dari jerih payah mereka.
Perjalanan itu terasa bagi Ken Dedes, alangkah lambatnya.
Langkah-langkah kaki para prajurit yang berderap di atas tanah
berdebu, seolah-olah langkah seorang anak-anak yang malas lagi
belajar berjalan. Terlampau lambat. Tetapi Ken Dedes yang duduk
di atas tandu tidak dapat mempercepat perjalanan itu. Ia hanya
dapat mengikuti kecepatan para pemanggulnya. Namun ketika Ken
Dedes sempat memandangi orang-orang yang mengangkat
tandunya itu, timbullah rasa ibanya. Peluh telah membasahi
segenap tubuh mereka. Sebentar-sebentar orang-orang yang
memanggul tandu itu saling berganti. Namun meskipun demikian,
tampak juga, bahwa mereka menjadi sangat letih karenanya.
Demikianlah maka perjalanan itu pun merambat setapak demi
setapak. Di tengah hari mereka memerlukan beristirahat di
pinggirpinggir
belukar. Para prajurit dan para pelayan bahkan semua orang
di dalam iring-iringan itu memerlukan makan dan minum. Mereka
masih harus berjalan dalam jarak yang cukup jauh.
Namun untuk seterusnya Witantra telah mengambil
kebijaksanaan bahwa mereka tidak akan melintas padang Karautan.
Mereka lebih baik berjalan lewat hutan Karautan. Di tengah-tengah
padang itu nanti, panas matahari pasti akan membakar mereka.
Apalagi padang itu terlampau panjang, sehingga mungkin mereka
akan kehabisan air di tengah-tengah jalan. Tetapi apabila mereka
menyusuri hutan, maka mereka akan menjadi sejuk. Apalagi hutan
Karautan bukanlah hutan rimba belantara yang pepat padat. Hutan
Karautan termasuk hutan yang agak jarang, sehingga merupakan
hutan perburuan yang cukup baik.
Tetapi mereka tidak akan dapat sampai di Panawijen hari itu
juga. Mereka pasti akan bermalam di perjalanan apabila mereka
ingin tetap segar sampai di Panawijen besok. Sebab apabila mereka
berjalan terus, maka mereka pasti akan kemalaman dan kelelahan.
Apalagi mereka yang memanggul tandu meskipun bergantian.
Ken Dedes sama sekali tidak berkeberatan atas kebijaksanaan
itu. Ia dapat mengerti, bahwa padang Karautan pasti akan sepanas
bara di siang hari. Karena itu, maka perjalanan seterusnya,
iringiringan
itu akan masuk menyusur jalan di dalam hutan Karautan.
Demikianlah ketika iring-iringan itu berjalan kembali, maka tidak
beberapa lama, mulailah ujungnya menusuk masuk ke dalam hutan.
Seperti seekor naga yang masuk ke dalam liangnya, maka semakin
lama iring-iringan itu menjadi semakin dalam, sehingga kemudian
ekornya pun lenyap ditelan rimbunnya dedaunan.
Betapa lambatnya perjalanan itu, namun mereka pun semakin
lama menjadi semakin dekat pula dengan Panawijen. Ketika
matahari kemudian hinggap di punggung bukit di ujung barat, maka
mulailah para prajurit mencari tempat yang sebaik-baiknya untuk
berkemah. Di tengah-tengah hutan yang tidak terlampau pepat, di
antara batang-batang kayu yang besar, iring-iringan itu bermalam.
Apabila kemudian gelap malam mencengkam hutan itu,
dibuatnya oleh para prajurit, beberapa onggok api yang menyalanyala
seperti obor-obor raksasa, menerangi tempat mereka
bermalam.
Witantra yang bertanggung jawab atas keselamatan Ken Dedes
dan segenap iring-iringan itu, sekali-sekali berjalan pula
mengitari
perkemahan dengan Mahendra dan Kebo Ijo. Sekali-sekali mereka
berkelakar untuk menghilangkan kejemuan mereka. Witantra yang
mendengar bahwa Kebo Ijo akan segera kawin, tertawa pula
berkepanjangan. Anak itu masih terlampau muda, dan baru saja ia
bekerja di istana.
Tetapi tiba-tiba suara tertawa Witantra itu terhenti. Hampir
bersamaan mereka bertiga mendengar desir dedaunan di sekitar
mereka. Ketika mereka memandangi perkemahan, maka agaknya
para prajurit masih tetap berada di tempat masing-masing.
Sesaat mereka saling berpandangan. Tetapi Witantra tidak ingin
membuat keributan di antara para prajuritnya, apalagi membuat
Ken Dedes menjadi cemas. Karena itu maka katanya kepada Kebo
Ijo, “Kebo Ijo, kembalilah ke lingkungan para prajurit yang lain.
Hati-hatilah. Tetapi jangan mengatakan sesuatu kepada mereka.
Apabila terjadi sesuatu, beri tahukan para perwira supaya mereka
dapat mengambil tindakan. Aku akan melihat suara apakah yang
terdengar itu bersama Mahendra.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya, jawabnya, “Biarlah aku ikut
Kakang Witantra. Sebaiknya Kakang Mahendra saja yang kembali ke
perkemahan.”
“Mahendra bukan seorang prajurit,” sahut Witantra, “tetapi kau
adalah salah seorang dari mereka, sehingga hubunganmu dengan
mereka lebih baik daripada Mahendra.”
Kebo Ijo tidak menjawab. Ia dapat mengerti kata-kata itu,
apalagi ketika Witantra berkata, “Apalagi kau sedang menjelang hari
perkawinanmu Kebo Ijo, jadi lebih baik kau tidak berbuat hal-hal
yang berbahaya.”
Kebo Ijo tersenyum. Jawabnya, “Baiklah kalau itu perintah
Kakang.”
Witantra berkata pula, “Nah cepat kembalilah.”
Tetapi kembali mereka bertiga terkejut ketika terdengar suara di
belakang mereka. Suara itu perlahan-lahan saja namun jelas, “He,
apakah Angger Kebo Ijo akan kawin?”
Telinga Witantra menjadi merah seperti tersentuh bara. Ia
benarbenar
merasa mendapat tantangan langsung dari suara itu.
Demikian dekatnya suara itu darinya, sehingga semua
pembicaraannya dapat didengar, tetapi ia sendiri bertiga tidak
mengetahui kehadiran orang itu. Karena itu sekali lagi ia berkata
kepada Kebo Ijo, “Cepat kembali. Langsung sampaikan kepada
Sidatta apa yang terjadi di sini. Tetapi ingat, jangan menimbulkan
kegelisahan. Hanya Sidatta yang boleh mengetahuinya. Ia harus
mengambil alih pimpinan selama aku tidak ada.”
“Baik Kakang,” sahut Kebo Ijo.
Namun kembali Kebo Ijo itu tertegun. Kembali mereka
mendengar suara tertawa dekat di belakang mereka. Betapa
marahnya mereka bertiga, apalagi Kebo Ijo. Hampir saja ia
meloncat ke arah suara itu, namun terdengar Witantra berkata,
“Cepat!”
Kebo Ijo menggeram. Tetapi ia segera pergi meninggalkan
tempat itu karena perintah kakak seperguruannya sekaligus
pimpinannya.
Kini Witantra dan Mahendra berdiri berdua. Sejenak mereka
saling berdiam diri memperhatikan setiap keadaan di sekitarnya.
Perlahan-lahan Witantra memutar tubuhnya sambil bertanya lirih,
“Siapa kau?”
Yang terdengar adalah gemeresik dedaunan di dalam gerumbul
di sampingnya.
“Siapa kau?” ulang Witantra.
Yang terdengar adalah suara tertawa. Juga perlahan-lahan.
Ternyata Mahendra menjadi tidak bersabar karenanya. Tetapi
ketika ia meloncat maju, terasa tangan kakaknya mencegahnya.
“Jangan,” bisik Witantra. Witantra adalah seorang yang telah
jauh lebih banyak berpengalaman daripada Mahendra. Karena itu
maka segera ia mengetahui, bahwa orang yang tertawa itu bukan
orang kebanyakan. Bahkan bukan pula orang yang sekedar memiliki
keberanian.
Mahendra pun sebenarnya menyadari pula, dengan siapa ia
berhadapan. Tetapi darah mudanya ternyata masih terlampau cepat
terbakar. Karena itu kadang-kadang ia kehilangan kewaspadaannya.
Suara tertawa itu masih saja terdengar. Bahkan kini suara itu
berkata, “Hem, kau benar-benar anak yang berani Mahendra.”
“Kau mengenal aku?” desis Mahendra.
“Aku mengenal kalian bertiga. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo.
Bukankah begitu?”
Mahendra menggeram. Tetapi Witantra tertawa.
Mahendra menjadi heran melihat kakak seperguruannya itu
tertawa. Tetapi ia tidak bertanya. Yang terdengar kemudian adalah
kata-kata Witantra, “Tidak aneh apabila kau mengenal kami.
Bukankah kau telah bersembunyi dan mengikuti kami sejak tadi?
Dari percakapan kami kau tahu, siapa aku, siapa kedua adikku ini.
Apakah itu termasuk kelebihan bagimu?”
“Hem, kau cerdik Witantra,” sahut suara itu.
“Tidak. Itu persoalan yang terlampau sederhana.”
“Ternyata kau melampaui dugaanku,” berkata suara itu, “kalau
begitu biarlah aku pergi.”
“Tunggu!” cegah Witantra, “Aku ingin tahu, siapakah kau ini?”
“Tak ada gunanya.”
Dan sesaat kemudian Witantra dan Mahendra mendengar suara
daun tersibak. Cepat mereka maju. Namun suara itu pun menjadi
semakin cepat menjauh pula.
“Jangan lari!” desis Witantra.
Tetapi tak ada yang menyahut. Yang terdengar hanyalah suara
ranting-ranting patah dan gemeresik dedaunan.
Mahendra yang hatinya sudah meluap-luap segera berlari. Tetapi
kembali Witantra menahannya, “Jangan tergesa-gesa, Mahendra.”
Mahendra menjadi kecewa, katanya, “Orang itu sudah semakin
jauh.”
“Hati-hatilah.”
Mahendra mengangguk. Tetapi hampir-hampir ia tidak mampu
menahan dirinya. Kini ia terpaksa maju bersama kakaknya. Tidak
terlampau cepat, karena Witantra menyadari siapakah yang sedang
dikejarnya itu. Orang itu adalah pasti orang yang cukup berilmu.
“Biarlah aku mencoba menangkapnya, Kakang,” minta Mahendra.
Witantra menggeleng, jawabnya, “Kau belum tahu siapa orang
itu. Hutan ini terlampau gelap. Sadarilah, bahwa orang itu hanya
sekedar memancing kita menjauhi para prajurit yang sedang
berjaga-jaga.”
Mahendra menarik nafas. Ia sadar akan ketergesa-gesaannya.
Ternyata apa yang dikatakan kakak seperguruannya itu benar-benar
masuk di akalnya.
Karena itu pun kini Mahendra menjadi semakin berhati-hati pula.
Setiap tapak ia maju, ia tidak kehilangan kewaspadaan. Orang yang
dicarinya itu dapat saja tiba-tiba berada di sisinya atau bahkan di
belakangnya.
Namun setiap kali Mahendra mendengar desir dedaunan di
depannya, maka dadanya pun berdesir pula.
Akhirnya Witantra menggamit Mahendra sekali lagi sambil
berkata, “Kita sampai di sini saja Mahendra. Ternyata orang itu
tidak
ingin menemui kita.”
Mahendra berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata,
“Tetapi pasti ada suatu maksud yang dikandungnya.”
“Ya. Dan maksud yang sesungguhnya aku tidak tahu. Karena itu,
jangan pedulikan lagi orang itu.”
Ketika Mahendra akan menjawab, Witantra memberi isyarat
dengan menggelengkan kepalanya. Mahendra menjadi ragu-ragu
sejenak. Namun ia pun berdiam diri.
Perlahan-lahan kemudian mereka mendengar orang di dalam
gerumbul itu berkata, “Kau benar-benar cerdik Witantra. Kau dapat
mengetahui bahwa ada terkandung maksud di dalam hatiku.”
“Ah,” Witantra kemudian tertawa kecil, “aku bukan anak-anak
yang menari-nari karena sanjungan-sanjungan kecil. Aku tidak
sebodoh yang kau sangka Ki Sanak. Kalau aku mengatakan bahwa
kau pasti mempunyai maksud tertentu maka sama sekali tidak
diperlukan suatu kecakapan khusus untuk itu. Setiap orang, bahkan
anak-anak pun akan dapat mengatakan, kalau kau pasti mempunyai
suatu maksud dengan mengintai rombonganku dan bahkan
memancing kami berdua supaya kau dapat memisahkan kami dari
rombonganku. Juga anak-anak akan dapat membuat perhitungan
dengan itu. Dengan memisahkan aku dari rombonganku, maka ada
dua kemungkinan yang kau kehendaki. Aku dan Mahendra, atau
segenap rombongan yang lain. Atau kau sudah mempersiapkan dua
gerombolan pula untuk menghadapi kami berdua dan rombongan
yang lain.”
Terdengar orang yang bersembunyi itu tertawa, “Hebat! Hebat!”
“Tidak hebat. Bukan hal yang sulit ditebak. Yang sulit diketahui
adalah maksudmu yang sebenarnya. Apakah maksud itu baik atau
jahat. Itulah yang tidak kami ketahui.”
“Apakah kau tidak dapat merabanya, Witantra.”
“Tentu tidak.”
“Oh,” terdengar nada kecewa dari orang yang bersembunyi itu,
“ternyata benar yang kau katakan. Otakmu tidak secerdas yang aku
sangka.”
Mahendra sama sekali tidak telaten mendengar percakapan yang
seakan tidak berpangkal tidak berujung itu. Dengan serta-merta ia
berteriak, “Aku tahu maksudmu yang sebenarnya. Kalau kau
bermaksud baik, maka kau tidak akan melakukannya dengan
bersembunyi. Ayo, tampakkan dirimu!”
Witantra mengerutkan keningnya. Adiknya masih terlampau
muda sehingga amat sulit baginya untuk mengendalikan
perasaannya. Yang dihadapinya kini bukan saja seorang yang
berilmu, tetapi juga seorang yang licik. Namun ia tidak mencegah
adiknya kali ini Asal adiknya itu tidak meloncat menyerang orang
yang masih saja bersembunyi itu.
“Ternyata adikmu lebih cerdas darimu Witantra,” terdengar suara
itu pula.
“Ya,” sahut Witantra, “sebenarnya demikian.”
“Baik. Kalau demikian aku tidak akan bertemu kau lagi. Kau
terlampau bodoh untuk diajak berbincang mengenai masalahmasalah
yang terlampau penting.”
“Jangan banyak bicara,” potong Mahendra, “tunjukkanlah
dirimu.”
“Tidak perlu. Aku akan pergi.”
“Kau tidak akan dapat melepaskan diri,” sahut Mahendra.
Tetapi Mahendra menjadi heran ketika kakaknya berkata,
“Biarlah Mahendra. Biarlah orang itu pergi. Ia menganggap bahwa
kita kurang mampu untuk diajaknya berbincang. ternyata orang itu
mempunyai suatu keperluan khusus yang memerlukan kecerdasan
otak. Sedang syarat itu tidak kita penuhi.”
“Apakah kita biarkan orang itu pergi?”
“Ya. Biar saja orang itu pergi.”
Tiba-tiba Mahendra dan Witantra mendengar orang yang
bersembunyi itu menggeram. Katanya, “Ternyata dugaanku benar
pula kali ini. Witantra, pemimpin pengawal istana dan Akuwu
Tumapel bukan saja orang yang tumpul otaknya, tetapi juga
seorang penakut.”
“Gila kau!” teriak Mahendra. Sekali lagi Mahendra siap untuk
meloncat. Dan sekali lagi Witantra menahannya.
Bahkan Witantra itu berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku
barangkali tidak dapat memenuhi harapanmu. Aku memang berotak
tumpul dan seorang penakut pula. Karena itu aku tidak berani
mengejarmu. Namun betapa aku seorang penakut, tetapi aku tidak
bersembunyi seperti kau, Ki Sanak.”
Sekali lagi terdengar orang itu menggeram.
“Ayo, tangkap aku!” katanya.
Mahendra menggeretakkan giginya. Tetapi Witantra masih
tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan menangkapmu. Betapa otakku
tumpul, namun aku masih mampu membuat perhitungan. Kau ingin
memisahkan dan memecah kekuatan rombonganku dengan
memisahkan kami berdua daripadanya. Dalam jarak ini, aku masih
dapat memanggil setiap orang yang aku perlukan. Sebaliknya aku
masih akan dapat mendengar apa yang terjadi di dalam
rombonganku.”
Mendengar kata-kata itu Mahendra menggigit bibinya. Sekali lagi
ia menyadari, bahwa ternyata ia kurang mempertimbangkan
berbagai masalah yang dihadapinya. Untunglah bahwa kakaknya
dapat berpikir setenang itu.
“Witantra,” tiba-tiba terdengar suara dibalik gerumbul itu,
“sebenarnya bagiku tidak terlampau banyak bedanya. Apakah kau
berada di situ, atau kau berada di tempat lain yang lebih jauh.
Dengan sekali sentuh, kalian berdua pasti sudah tidak akan dapat
berteriak memanggil siapa pun. Jarak ini telah cukup memenuhi
harapanku. Karena itu, bersiaplah untuk mati.”
Bagaimanapun juga keberanian kedua saudara seperguruan itu,
namun hati mereka berdesir pula mendengar ancaman itu. Ancaman
yang seakan-akan terlampau meyakinkan. karena itu, maka
keduanya segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan.
Sesaat kemudian mereka mendengar gemeresik di samping
mereka. Serentak mereka berdua memutar diri menghadapi orang
yang datang itu.
Dalam keremangan malam, mereka melihat sesosok tubuh
muncul dari balik dedaunan. Yang mula mereka lihat adalah
kepalanya, baru kemudian segenap tubuhnya.
“Aku sekarang sudah berdiri di sini,” desis orang itu, “nah,
apakah kalian akan melawan?”
Dada Mahendra berdesir mendengar suaranya yang semakin
jelas, melihat sikapnya dan bentuk tubuhnya. Dan yang
meyakinkannya adalah bahwa orang itu membawa tongkat hampir
sepanjang tubuhnya. Karena itu dengan serta-merta ia bergumam,
“Empu Sada.”
Witantra terkejut pula mendengar nama itu. Ia pernah
mendengar nama itu dari Mahendra. Dan ia tahu apa yang pernah
dilakukan pula oleh orang itu. Karena itu, maka hatinya menjadi
berdebar-debar.
Orang yang baru datang itu menganggukkan kepalanya. Katanya,
“Kau masih mengenal aku, Mahendra?”
Mahendra tidak menjawab. Tetapi tanpa dikehendakinya
tangannya meraba hulu pedangnya.
“Kau memang anak muda yang berani dan keras kepala,”
katanya kepada Mahendra, “dan kakakmu itu adalah seorang
perwira yang sabar, cerdas dan bertindak atas dasar perhitungan
yang masak.”
“Jangan memuji Empu,” potong Witantra yang sudah bersiapsiap
pula. Ia tidak dapat berbuat lain daripada mempersiapkan diri
menghadapi setiap kemungkinan. Banyak kemungkinan yang dapat
terjadi. Empu Sada itu datang seorang diri, atau bersama-sama
dengan kedua muridnya, Kuda Sempana dan orang yang menyebut
dirinya Bahu Reksa Kali Elo, atau malahan telah datang pula
bersama dengan Empu Sada itu orang-orang yang disebutnya
bernama Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Tetapi siapa pun yang
datang, Witantra harus menghadapinya. Ia membawa beberapa
orang prajurit pilihan. Mungkin mereka harus bertempur matimatian
menghadapi hantu-hantu itu.
Meskipun demikian kecemasan merambat pula di dalam hati
Witantra. Bagaimana kalau lawan yang dihadapinya berada di luar
kemampuan orang-orangnya. Witantra tidak mencemaskan dirinya
sendiri. Bahkan dalam tugas ini, nyawanya menjadi taruhan. Tetapi
bagaimana dengan Ken Dedes, bakal permaisuri Tunggul Ametung?
Witantra tahu benar bahwa Empu Sada adalah guru Kuda Sempana.
Witantra dapat menyangka bahwa Empu Sada telah berbuat karena
tangis muridnya.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Witantra, apakah
kau masih akan memanggil satu dua orang lain untuk bersamasama
melawan aku? Kesempatan masih ada. Berteriaklah
memanggil adikmu Kebo Ijo, atau perwira yang kau sebut namanya
Sidatta, atau ada orang lain yang lebih sakti lagi? Atau barangkali
kau akan berteriak memanggil segenap pasukanmu?”
Kejantanan kedua anak muda itu benar-benar tersinggung.
Namun mereka harus memperhitungkan pula keadaan. Kini mereka
tidak sekedar mempertahankan harga diri, tetapi mereka harus
mempertanggung jawabkan bakal permaisuri raja itu. Karena itu
maka mereka harus membuat pertimbangan-pertimbangan.
Mungkin mereka harus mengorbankan harga diri mereka untuk
kepentingan yang lebih besar. Harga diri dalam pengertian yang
terlampau luas. Sebab di dalam pertempuran yang bukan perang
tanding, maka tidak ada keharusan untuk melawan musuh
seorangseorang,
meskipun untuk kepentingan apa yang disebut harga diri
itu.
Namun Witantra masih harus juga mempunyai pertimbangan
lain. Kalau ia memanggil beberapa orang yang cukup tangguh
bersama dengan Kebo Ijo apakah itu tidak berarti memberi peluang
kepada orang lain untuk mengambil Ken Dedes? Kuda Sempana
bersama saudara-saudara seperguruannya misalnya? Karena itu
sesaat Witantra menjadi ragu-ragu.
Dalam keragu-raguan itulah ia mendengar Empu Sada berkata,
“Jangan mematung. Ambil sikap secepatnya sebelum aku menyobek
lehermu dengan tongkatku ini.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia menarik pedangnya.
Mahendra yang berdiri di sampingnya, segera menarik pedangnya
pula. Kini sepasang kakak beradik seperguruan itu telah bersiap
menghadapi segenap kemungkinan.
Empu Sada yang masih tegak di depan gerumbul itu tertawa.
Katanya, “Kalian memang anak muda yang gagah berani. Aku iri
melihat ketangkasan, keberanian dan keteguhan hati kalian.
Mungkin murid-muridku masih harus mendapat didikan khusus
mengenai keteguhan hati. Aku menyesal bahwa aku memelihara
muridku dengan acuh tak acuh sampai kini, asal mereka mencukupi
keperluanku, kebutuhanku, bagiku sudah cukup. Sebagai
keseimbangan aku memberi mereka beberapa jenis ilmu. Ternyata
sekarang aku menyesal. Aku harus membentuk muridku seperti
kalian ini.”
Witantra dan Mahendra masih tegak di tempatnya. Witantra
sendiri yang sedang sibuk dengan berbagai pertimbangan,
hampirhampir
tak mendengar kata-kata Empu Sada itu. Ia masih tetap
ragu-ragu, apakah ia harus memanggil kawan-kawannya atau
membiarkan mereka menjaga Ken Dedes dengan kekuatan
sepenuhnya.
Dalam pada itu Witantra dan Mahendra melihat Empu Sada itu
melangkah maju sambil berkata, “Kalian tidak memanggil seorang
pun di antara anak buah Witantra. Baik, mari kita lihat, sampai di
mana selisih kemampuanmu dengan murid-muridku.”
Sebelum Witantra menyahut, dilihatnya Empu Sada menjulurkan
tongkatnya. Ujung tongkat itu bergetar dengan cepatnya. Di dalam
gelap malam, maka mereka harus benar-benar memusatkan
segenap kemampuan mereka untuk melawan tongkat Empu Sada
itu.
Witantra dan Mahendra adalah dua bersaudara dari satu
perguruan. Karena itu, mereka segera dapat menyesuaikan dirinya.
Ketika ternyata Empu Sada telah mulai, maka mereka pun
berloncatan ke arah yang berlawanan. Pedang-pedang mereka
segera bergerak dalam gerak ilmu pedang yang mereka terima dari
guru mereka.
Sepasang anak-anak muda itu tidak membiarkan dirinya
diserang, sehingga merekalah yang melancarkan serangan beruntun
berganti-ganti. Tetapi lawannya adalah seorang guru yang namanya
cukup dikenal, meskipun kurang sedap. Sehingga karena itu, maka
serangan-serangan mereka berdua, seolah-olah tidak lebih dari
suatu permainan yang menjemukan bagi Empu Sada.
Tetapi kedua anak muda itu pun tidak terlampau mengecewakan.
Sekali-sekali serangan mereka berbahaya juga, sehingga kadangkadang
Empu Sada pun terpaksa berloncatan ke samping.
Demikianlah, maka Witantra dan Mahendra bertempur
berpasangan dengan serasi. Mereka dapat isi mengisi dan benarbenar
menggabungkan kekuatan mereka dalam suatu kesatuan
seolah-olah Empu Sada kini berhadapan dengan seorang lawan
yang memiliki kemampuan dua kali lipat dari apabila harus
dilawannya seorang demi seorang.
Namun Empu Sada itu masih juga sempat tertawa sambil
berkata, “Huh, aku benar-benar iri melihat cara kalian bertempur.
Serasi benar seperti otak kalian dihubungkan dengan satu perintah,
sehingga gerak dari yang seorang merupakan rangkaian gerak dari
yang lain.”
Witantra dan Mahendra sama sekali tidak menjawab. Tetapi
mereka merasa bahwa Empu Sada belum benar-benar hendak
menjatuhkan mereka. Mereka sadar, bahwa kini Empu Sada sedang
mencoba menjajaki, sampai di mana kemampuan mereka berdua
dibandingkan dengan murid-muridnya sendiri.
Sementara itu terdengar Empu Sada berkata pula, “Di manakah
saudara seperguruanmu yang satu lagi? Apabila kalian bertempur
bertiga alangkah dahsyatnya. Mungkin kalian bertiga akan
merupakan pasangan yang paling serasi yang pernah aku lihat.”
Witantra dan Mahendra masih tetap berdiam diri. Namun di
dalam dada Witantra bergolaklah kebimbangan hatinya. Apakah ia
harus memanggil beberapa orang untuk menemaninya bertempur,
atau ia harus menghadapi setan itu berdua. Masing-masing
mempunyai bahayanya sendiri-sendiri.
Dalam pada itu, Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra
kepada perwira bawahannya, Sidatta. Perwira itu mengerutkan
keningnya sambil bertanya perlahan-lahan, “Di mana Kakang
Witantra sekarang?”
“Masih di tempatnya. Mungkin Kakang Witantra ingin menangkap
orang itu.”
“Bukankah itu cukup berbahaya? Orang itu mungkin sengaja
memancing Kakang Witantra untuk menjauhkannya dari rombongan
ini.”
“Mungkin.”
“Kalau demikian, apakah kita perlu datang menolongnya?”
Kebo Ijo terdiam sejenak, otaknya pun tidak terlalu tumpul
betapapun bengalnya anak itu. Karena itu maka ia pun bertanya
kembali, “Apakah kita akan meninggalkan Ken Dedes itu bersamasama?”
Sidatta terdiam. Tentu ia tidak dapat melepaskan prajurit ini
tanpa pimpinan. Namun di antara mereka masih ada seorang lagi
yang dapat diserahinya. Tetapi Sidatta kini menjadi ragu-ragu.
Ketika ia menengadahkan wajahnya dan memandang berkeliling,
dilihatnya hutan di sekitarnya terlampau sepi. Dilihatnya beberapa
orang prajurit berbaring di tempat yang berserakan. Sedang
beberapa orang yang lain, masih berjaga-jaga di tempat yang sudah
ditentukan. Adalah lebih baik demikian daripada mereka berkumpul
menjadi satu. Dalam keadaan yang demikian, maka apabila mereka
harus menghadapi bahaya, maka kesempatan akan menjadi lebih
banyak.
Sementara itu Kebo Ijo pun menjadi gelisah pula. Witantra dan
Mahendra tidak segera kembali membawa atau tidak membawa
orang yang akan ditangkapnya itu.
Karena itu maka tiba-tiba ia berkata kepada Sidatta, “Aku akan
melihat Kakang Witantra dan Mahendra. Kenapa ia terlampau lama
tidak juga kembali.”
“Lalu bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Sidatta,
“apakah aku ikut serta pula?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah perwira itu.
Sebenarnya perwira itulah yang harus mengambil keputusan. Tetapi
karena Kebo Ijo yang dianggapnya lebih mengetahui persoalannya,
maka Sidatta merasa perlu mendengar pertimbangannya.
Sejenak kemudian Kebo Ijo itu menjawab, “Aku akan pergi
sendiri lebih dahulu. Ken Dedes masih perlu mendapat pengawalan
yang kuat.”
“Baiklah,” sahut Sidatta, “tetapi hati-hatilah.”
Kebo Ijo pun kemudian melangkah pergi. Tidak tergesa-gesa,
seakan-akan tidak ada suatu keperluan apapun, sehingga
langkahnya tidak menimbulkan kesan apa-apa bagi para prajurit
yang lain dan bagi Ken Dedes yang duduk di samping tandunya.
Ketika Kebo Ijo telah menghilang dibalik dedaunan, maka Sidatta
pun berdiri pula dan berjalan mendekati perwira yang lain. Mereka
bercakap-cakap sebentar. Kemudian kembali Sidatta meninggalkan
kawannya. Tetapi Sidatta tidak kembali ke tempatnya, namun ia
pergi menemui Ken Dedes. Katanya, “Tuan Putri, apakah Tuan Putri
tidak ingin beristirahat? Mungkin Tuan Putri dapat berbaring
melepaskan lelah, meskipun barangkali tempat ini sama sekali tidak
menyenangkan bagi Tuan Putri.”
Ken Dedes mengangguk, katanya, “Aku belum mengantuk
Kakang Sidatta.”
Sidatta mengangguk kepalanya, kemudian katanya, “Sebaiknya
Tuan putri beristirahat sebaik-baiknya, supaya besok tidak
terlampau lelah. Perjalanan ke Panawijen sebenarnya sudah tidak
begitu jauh lagi. Sebelum matahari sepenggalah, kita besok pasti
sudah sampai. Meskipun begitu, perjalanan yang sehari ini
barangkali terlampau melelahkan.”
“Terima kasih,” sahut Ken Dedes.
Tetapi Ken Dedes tidak segera berbaring atau bersandaran diri
pada tandunya. Ia masih saja duduk bersimpuh memandangi nyala
perapian di hadapannya.
Sidatta tidak mempersilakannya lagi. Namun ia segera bergeser
dan duduk tidak terlampau jauh dari gadis itu.
Di sisi yang lain tanpa setahu Ken Dedes, dan bahkan hampir
tidak mendapat perhatian dari siapa pun juga, perwira yang seorang
lagi bergeser pula mendekati Ken Dedes. mereka berdua harus
selalu berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat
terjadi. Titik puncak dari pertanggungjawaban mereka kali ini
adalah
bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.
Kebo Ijo yang telah hilang dibalik dedaunan, segera meloncat
dengan tangkasnya mencari kedua kakak seperguruannya. Dengan
hati-hati dicarinya kembali jalan yang dilampauinya ketika ia
meninggalkan kedua kakak seperguruannya. Tetapi ketika ia sampai
ke tempat yang dicarinya, Witantra dan Mahendra telah tidak ada di
tempat itu.
Kebo Ijo menjadi ragu-ragu sejenak. Dipasangnya telinganya
baik-baik, barangkali ia mendengar sesuatu. Dan ternyata ia
memang mendengar sesuatu. Tidak terlampau jauh, karena itu
segera ia meloncat ke arah suara itu.
Suara itu adalah suara batang-batang perdu yang terinjak kakikaki
mereka yang sedang bertempur. Ranting-ranting yang patah
dan kadang-kadang diselingi dentang senjata beradu. Pedang
Witantra dan Mahendra, berbenturan dengan tongkat Empu Sada.
Tongkat itu tampaknya terlampau kecil dan panjang, namun
ternyata tongkat itu pun mempunyai kekuatan yang mengagumkan.
Ketika Kebo Ijo muncul di dekat perkelahian itu, terdengar suara
Empu Sada tertawa. Katanya, “Nah, ternyata adikmu datang pula
Witantra. Ayo, jadilah pasangan yang manis.”
Kebo Ijo menggeram. Sekali ia meloncat maju langsung
menerkam Empu Sada dengan pedangnya.
Kini Witantra bertempur bertiga dengan adik-adik
seperguruannya. Kekuatan mereka pun bertambah pula dengan
Kebo Ijo. Namun mereka bertiga hampir-hampir tidak berdaya
menghadapi Empu Sada yang jauh terlampau sakti daripada
mereka. Empu Sada adalah seorang guru yang setingkat dengan
guru mereka sendiri.
Yang tertua dari mereka adalah Witantra kecuali tertua dalam
perguruannya, umurnya pun tertua pula di antara mereka bertiga.
Pengalamannya pun yang terbanyak pula. Sehingga otak daripada
ketiga bersaudara seperguruan itu terletak padanya. Ialah yang
mengambil sikap dari pasangan mereka bertiga, dan ialah yang
mengatur serangan dan perlawanan mereka terhadap Empu Sada
yang sakti itu. Dengan berbagai tanda Witantra berusaha untuk
berbuat sebaik-baiknya, memberikan perintah-perintah kepada
kedua adik seperguruannya.
Empu Sada heran melihat kerapihan kerja sama di antara
mereka. Ketiganya benar-benar murid yang sangat baik. Murid yang
mempunyai ikatan yang cukup dalam berbagai segi. Bahkan saja
dan segi ilmu mereka, Tetapi juga ikatan ketaatan yang muda
terhadap yang lebih tua. Sehingga dengan demikian, maka mereka
bertiga benar merupakan satu gabungan kekuatan yang dahsyat.
Meskipun demikian Empu Sada masih juga sempat tertawa
sambil berkata, “Bukan main. Aku sudah menyangka, bahwa kalian
bertiga akan merupakan kekuatan yang tangguh. Aku juga akan
membuat murid-muridku menjadi sebaik kalian. Aku juga ingin
melihat murid-muridku dapat bertempur berpasangan dengan rapi
seperti murid Panji Bojong Santi ini. Alangkah baik cara Panji
kurus
itu mengajari muridnya.”
Witantra dan kedua adiknya sama sekali tidak menyahut. Mereka
berusaha untuk memperketat serangan mereka terhadap lawannya.
Namun usaha mereka itu seakan-akan sia-sia saja. Empu Sada
setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan mereka. Setiap
kali orang tua itu sudah berada di belakang mereka, menyerang
dengan tongkatnya yang panjang.
Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin
sengit. Tetapi Empu Sada agaknya masih belum ingin mengakhiri
pertempuran itu. Bahkan ia masih berkata, “Witantra, kalau kau
memanggil bawahanmu yang bernama Sidatta dan barangkali ada
beberapa kawan lain yang cukup bernilai untuk bertempur, kau
masih mempunyai kesempatan untuk melarikan dirimu, untuk
menyelamatkan nyawamu. Nah, apakah kau tidak akan mencoba
memanggilnya?”
Witantra menggeretakkan giginya. Kini semakin jelas baginya,
bahwa Empu Sada berusaha untuk melepaskan Ken Dedes dari
pengawasan yang baik. Mungkin Empu Sada saat itu datang
bersama dengan Kuda Sempana dan murid-muridnya yang lain,
namun mereka masih tetap bersembunyi. Apabila pengawasan atas
Ken Dedes telah menjadi kian lemah, baru mereka akan berbuat
sesuatu. Menculik gadis itu.
Karena itu Witantra pun segera menjawab, “Aku tidak akan
mengumpankan orang lain untuk keselamatanku. Empu, jangan
mencoba mengelabui kami. Aku tidak akan memanggil seorang pun
lagi dari rombonganku meskipun nyawaku terancam. Bukankah
dengan demikian muridmu akan mendapat kesempatan menculik
gadis itu.”
Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Ternyata otakmu tidak setumpul
otak udang. Tetapi meskipun kau tidak memanggil orang-orangmu,
maka akhir daripada cerita ini akan sama saja. Kalian bertiga akan
mati aku bunuh. Aku dan murid-muridku kemudian akan mengambil
gadis itu. Bukankah sama saja? Karena itu lebih baik bagimu untuk
mencoba menyelamatkan dirimu.”
Witantra sekali lagi menggeram. Tetapi ia tidak menjawab.
Bahkan serangannya menjadi bertambah garang. Kini Witantra itu
menyadari benar-benar, apakah yang sedang dihadapi. Karena itu,
semuanya akan tergantung kepadanya, kepada kemampuannya
melawan Empu Sada itu.
Dengan demikian maka seakan-akan Witantra menjadi semakin
tangguh. Kini ia semakin didorong oleh tekadnya. Tekad memeluk
tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Melihat tandang Witantra, Empu Sada mengumpat di dalam hati.
Perwira prajurit pengawal Akuwu itu benar-benar memiliki
kemampuan jasmaniah yang luar biasa. Bukan saja Witantra, tetapi
kedua saudaranya yang lain pun segera mengerahkan segenap
kemampuan mereka. Mereka harus mencoba bertahan sejauh
mungkin. Mereka tidak ingin gagal dalam tugasnya. Ken Dedes itu
benar-benar telah dipercayakan kepada mereka oleh Akuwu
Tunggul Ametung. Tetapi kalau mereka tidak mampu melawan
Empu Sada, maka berarti mereka gagal menjalankan tugas mereka.
Karena itu, maka hanya mautlah yang dapat menghentikan
perjuangan mereka, melakukan tugas mereka dengan penuh
tanggung jawab.
Witantra bertiga dengan kedua saudara seperguruannya itu pun
kemudian menyerang Empu Sada seperti angin pusaran. Mereka
berputaran dalam satu lingkaran mengelilingi orang tua itu. Setiap
kali mereka melontarkan serangan berganti-ganti.
Namun berkali-kali mereka menjadi kecewa. Apabila mereka
menekan orang tua itu dengan segenap kemampuan mereka, tibatiba
Empu Sada itu melenting, dan sesaat kemudian orang itu telah
berada di luar lingkaran mereka. Bahkan kemudian Empu Sadalah
yang mengambil sikap, menyerang ketiganya dalam gerak yang
beruntun.
Tetapi betapa tekanan Empu Sada atas mereka bertiga, namun
Witantra sama sekali tidak berhasrat memanggil seorang atau dua
orang bawahannya. Ia yakin, bahwa di dalam semak-semak itu
masih bersembunyi beberapa orang yang siap untuk bertindak.
Bahkan Witantra yakin, bahwa Kuda Sempana ada di antara
mereka. Apabila para pengawal lengah, Kuda Sempana sendiri akan
mengambil Ken Dedes. Sikap itu adalah sikap yang dapat
memberinya kepuasan, seakan-akan ia sendirilah yang berhasil
menyergap rombongan bakal permaisuri itu. Sedang apabila ada
satu dua orang yang berhasil menyampaikan kejadian ini kepada
akuwu, maka Kuda Sempana sendirilah yang harus bertanggung
jawab. Bagi Kuda Sempana yang telah melarikan diri dari istana itu,
maka baginya hampir tak ada bedanya. Memberontak seperti
keadaannya sekarang, atau memberontak karena melarikan Ken
Dedes. Ia pasti telah mempunyai perhitungannya sendiri. Ke mana
ia harus bersembunyi.
Ternyata perhitungan Witantra itu sebagian besar adalah benar,
Empu Sada sengaja memperlambat serangan-serangannya, supaya
Witantra berusaha untuk memanggil orang-orangnya, atau
orangorangnyalah
yang akan bertebaran mencarinya. Tetapi agaknya
Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra dan para perwira
berhasil membuat perhitungan pula, sehingga mereka sama sekali
tidak berusaha mencari Witantra dan kedua saudara
seperguruannya. Karena itu, maka segera Empu Sada membuat
cara lain untuk memancing orang-orang Witantra yang hampir tidak
tahu sama sekali apa yang telah terjadi selain kedua perwiranya.
Empu Sada akan berusaha menekan Witantra dan kedua
saudaranya justru mendekati perkemahan rombongannya.
Demikianlah maka sesaat kemudian gerak Empu Sada itu pun
menjadi semakin lincah. Dengan tongkat panjangnya ia menyerang
ketiga bersaudara seperguruan itu semakin sengit.
Tongkat panjangnya berputar dari satu arah, seolah-olah ia
sedang menggembalakan itik dan membawanya ke dalam air yang
tergenang.
Apabila orang-orang di dalam rombongan itu melihat
pemimpinnya bertempur, maka mau tidak mau, mereka pasti akan
tergerak dengan sendirinya. Pada saat itulah Kuda Sempana dan
kawan-kawannya harus bertindak. Setelah mereka berhasil
membawa Ken Dedes, maka rombongan prajurit itu harus segera
ditinggalkan. Apabila mungkin jangan ada korban satu pun yang
jatuh. Dengan demikian, maka peristiwa itu pasti akan
menggemparkan Tumapel. Peristiwa itu bagi Empu Sada dan
muridmuridnya
akan merupakan suatu permainan yang sangat
menggembirakan. Sebab yang akan terjadi kemudian adalah,
Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kawan-kawannya pasti
dinyatakan bersalah, dan kemungkinan yang terbesar adalah,
dihukum gantung di alun-alun. Hukuman itu pasti lebih baik
daripada apabila Witantra dan kawan-kawannya mati di dalam
pertempuran ini. Sebab dengan demikian, maka Witantra masih
akan mendapat kehormatan, sebagai seorang yang gugur dalam
melakukan tugasnya.
Tetapi Witantra yang cukup berpengalaman itu dapat menebak
maksud Empu Sada, sehingga dengan demikian, ia berusaha
sekuat-kuatnya, untuk menghindari tekanan Empu Sada itu. Apabila
mungkin Witantra berusaha untuk mengelak dan meloncat ke arah
yang lain. Tidak ke arah rombongannya.
Namun Empu Sada ternyata benar-benar sakti. Dengan berbagai
macam unsur gerak dan serangan-serangan, tanpa dikehendakinya,
bahkan tanpa disadarinya, Witantra semakin lama menjadi semakin
dekat dengan perkemahan Ken Dedes. Bahkan Witantra itu pun
terkejut bukan buatan, ketika di ujung pepohonan, sekali-sekali ia
melihat sinar api yang menyentuh dedaunan. Dengan demikian,
Witantra segera mengerti bahwa ia telah berada semakin dekat
dengan rombongannya.
Dengan marahnya Witantra menggeram. Tetapi yang terdengar
adalah suara Empu Sada, “Nah, aku sekarang mempunyai rencana
yang lain. Aku tidak memancingmu menjauhi rombonganmu, supaya
kawan-kawanmu mencarimu, tetapi justru aku mendekatkan kalian
kepada rombongan kalian. Apabila ada di antara mereka yang
mendengar suara pertempuran pasti mereka akan menjadi ribut dan
mau tidak mau mereka pasti akan mencoba membantumu.
Witantra tidak menjawab. Namun ia masih berusaha menjauhi
rombongannya sebelum seorang pun dari mereka mengetahui.
Tetapi alangkah marahnya perwira prajurit itu. Ternyata Empu Sada
benar-benar licik. Dengan lantangnya ia berkata, “Ha, Witantra,
apakah kau masih mengharap untuk dapat hidup?”
Suara Empu Sada itu menggema seakan-akan memenuhi seluruh
hutan. Sehingga dengan demikian, maka suara itu telah
mengejutkan para prajurit yang berada di perkemahan. beberapa di
antara mereka segera berloncatan bangun dengan menggenggam
senjata mereka, sedang beberapa orang yang lain, masih mencoba
mendengarkan dari mana arah suara itu.
Sidatta yang telah mendengar pesan Witantra lewat Kebo Ijo,
terkejut pula mendengar suara itu. Suara itu sama sekali bukan
suara Witantra. Karena itu, maka ia pun berdiri pula sambil
memperhatikan perkembangan keadaan dengan seksama. Demikian
pula perwira yang seorang lagi. Segera ia pun berdiri pula, dan
tanpa sesadarnya tangannya telah hinggap di hulu-hulu pedangnya.
Ken Dedes mendengar pula suara Empu Sada itu. Terasa
dadanya bergetar. Namun kemudian dilihatnya para pengawalnya
yang telah bersiap menghadapi kemungkinan. Karena itu hatinya
menjadi agak tenteram.
Witantra yang tahu benar maksud Empu Sada mengumpat di
dalam hatinya. Apabila pancingan itu berhasil maka akan lemahlah
pengawalan atas Ken Dedes, sehingga akan memberi kesempatan
kepada Kuda Sempana untuk menculiknya.
Dalam pada itu sekali lagi terdengar Empu Sada berkata sambil
tertawa, “Jangan lari Witantra. Di sinilah gelanggang untuk
mengadu tenaga. Bukan di situ.”
“Setan!” Witantra tidak dapat lagi menahan hati. Untuk
mencegah anak buahnya berlarian ke pertempuran itu segera ia pun
berteriak, “Tetap di tempatmu Sidatta. Aku hanya menangkap
kelinci tua. Aku tidak perlu orang-orang lain.”
Empu Sada tertawa terkekeh-kekeh. Namun tongkatnya masih
saja berputar, bahkan melanda ketiga saudara seperguruan itu
seperti badai. Tekanan Empu Sada benar-benar terasa sangat
ketatnya, sehingga pertempuran itu pun setapak demi setapak
beringsut ke tempat yang tidak dikehendaki oleh Witantra.
Betapa marahnya hati perwira tertinggi pasukan pengawal istana
itu. Tetapi betapa ia telah mencurahkan segenap kemampuannya
bersama kedua adik seperguruannya, namun ia sama sekali tidak
berhasil mendorong Empu Sada masuk ke dalam hutan yang lebih
dalam. Bahkan Empu Sada itu pun menjadi semakin cepat bergerak,
seperti sebuah bayangan yang meloncat-loncat mengitari ketiga
bersaudara itu.
Tetapi Witantra dan kedua saudaranya tidak berputus asa.
Mereka masih tetap dalam perlawanan yang rapi. Betapa saktinya
Empu Sada, tetapi melawan ketiga anak-anak muda itu, diperlukan
pula hampir segenap kemampuannya.
Para prajurit di perkemahan menjadi gelisah. Apalagi ketika
mereka menunggu beberapa saat, Witantra masih belum muncul di
antara mereka. Berbagai pertimbangan melingkar di dalam kepala
Sidatta.
Apalagi ketika terdengar kembali suara tertawa Empu Sada
semakin dekat. “Lihat Witantra. Betapa buruk perangaimu. Tak,
seorang pun di antara anak buahmu, yang bukan seperguruan
denganmu, bersedia membantumu. Betapa luka hampir memenuhi
tubuhmu, namun mereka akan bergembira, apabila kau mati di
hutan ini. Sidatta akan segera mendapat pengangkatan,
menggantikan kedudukanmu, sedang yang lain pun akan desak
mendesak setingkat ke atas.
“Jangan berputus asa,” tiba-tiba terdengar Witantra memotong,
“Bertempurlah dengan senjata, jangan dengan kata. Mungkin kau
kecewa setelah kau melihat cara Witantra mempertahankan dirinya.
Kau semula pasti menyangka bahwa pasukan pengawal Akuwu
adalah semacam pasukan kehormatan, yang hanya mampu
memanggul panji-panji dan tunggul. Tetapi sekarang kau
menghadapi salah seorang daripadanya dalam suatu perkelahian.”
Empu Sada menggeram. Kemarahannya semakin lama semakin
menyala membakar ubun-ubunnya.
“Kau jangan gila Witantra,” katanya, “kalau aku menjadi benarbenar
marah, maka kau benar-benar akan aku bunuh bertiga.”
Kini Witantralah yang tertawa, “Kalau kau mampu membunuh
kami, maka pasti sudah kau lakukan.”
Tetapi suara Witantra itu terputus, ketika tongkat Empu Sada
menyambar keningnya. Untunglah bahwa ia masih sempat
menghindar meskipun tergesa-gesa. Dalam keadaan itu, hampirhampir
saja ia kehilangan keseimbangannya.
Empu Sada yang sudah menjadi semakin marah, melihat
kesempatan terbuka baginya. Kalau ia ingin membunuh Witantra,
itulah saat yang sebaik-baiknya. Ia dapat menusuk dada Witantra
dengan ujung tongkatnya yang meskipun tidak terlampau runcing.
Namun kekuatannya cukup untuk melubangi dada panglima
pasukan pengawal itu. Tetapi sesaat Empu Sada ragu-ragu. Ia ingin
Witantra mati di tiang gantungan sebagai seorang pengkhianat yang
tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik, tidak di medan
peperangan. Namun kalau kesempatan ini tidak dipergunakan,
apakah akan datang kesempatan yang sama, dan apakah benar
Witantra dianggap bersalah nanti oleh Akuwu.
Tiba-tiba Empu Sada menggeram. Ternyata kemarahannya telah
menggelapkan perhitungannya. Witantra, apakah perlu akan
dibunuhnya saat itu juga.
Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata telah menyelamatkan
Witantra. Ketika Empu Sada sedang diragukan oleh perasaannya
sendiri. Witantra sudah sempat memperbaiki keadaannya. Apalagi
demikian Empu Sada mengambil sikap, Mahendra dan Kebo Ijo
datang bersama-sama dalam sebuah serangan berpasangan yang
berbahaya. Sehingga Empu Sada terpaksa meloncat menghindar.
Namun demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melenting
sambil mengayunkan tongkatnya. Sekali lagi pelipis Witantra hampir
disambar oleh tongkat itu. Sekali lagi Witantra meloncat surut
beberapa langkah untuk menghindari tongkat itu. Namun Empu
Sada pun kemudian menyerangnya seperti banjir bandang.
Witantra menjadi kesulitan pula menghindari serangan-serangan
itu. Serangan yang semakin cepat dan berbahaya. Tetapi kembali
Mahendra dan Kebo Ijo mencoba memotong setiap serangan Empu
Sada dengan serangan-serangan yang cukup berbahaya pula. Kedua
anak muda itu bertempur seperti sepasang alap-alap di udara.
Sedang Witantra itu pun kemudian memimpin kembali perlawanan
atas Empu Sada sebagai seekor rajawali.
Namun yang tidak dikehendaki oleh Witantra adalah, mereka
menjadi semakin dekat dengan perkemahannya. ketika sekali lagi ia
terdorong surut bersama Mahendra, maka mereka ternyata telah
meloncat ke dalam daerah cahaya perapian dari kawan-kawan
mereka.
Para prajurit Tumapel terkejut melihat perkelahian itu. Apalagi
mereka melihat Witantra dan Mahendra berada dalam bahaya.
Namun mereka segera melihat, Kebo Ijo melontarkan diri seperti
tatit menyambar di langit, menusuk langsung lambung Empu Sada.
Meskipun serangan Kebo Ijo itu dapat dielakkan, namun saat yang
pendek itu telah memberi kesempatan kepada Witantra dan
Mahendra untuk memperbaiki kedudukannya.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada tertawa kembali dengan
lantangnya ia berkata, “He para prajurit Tumapel yang perkasa.
Inilah pemimpin yang sedang menangkap kelinci tua itu. Lihatlah,
apakah ia mampu melawan Empu Sada yang sudah tua ini. Tidak
hanya seorang diri, tetapi bertiga dengan kedua saudara
seperguruannya.”
Semua mata melihat perkelahian itu. Semua hati menjadi
berdebar-debar pula karenanya.
Ken Dedes pun kemudian dengan serta-merta berdiri. dengan
penuh kekhawatiran ia melihat perkelahian yang kemudian berkobar
kembali dengan sengitnya.
Sidatta masih berdiri terpaku di tempatnya. Sesaat ia dicengkam
oleh keragu-raguan. Ingin ia meloncat membantu Witantra melawan
Empu Sada, Tetapi segera teringat olehnya, Ken Dedes yang berdiri
gemetar. Gadis itu harus mendapat pengawalan yang baik menurut
pesan Witantra.
Namun sekian lama ia menjadi semakin cemas melihat
perkelahian yang berlangsung. Ia membiarkan beberapa orang
prajurit mencoba membantu, Witantra. Namun Witantra sendiri
berkata, “Jangan mempersulit pekerjaan kami. Minggir, jangan
dekati orang tua gila ini.”
Empu Sada tertawa, katanya, “Mari, marilah beramai-ramai
menangkap kelinci.”
Witantra menggeram, namun Empu Sada mendesaknya terus.
Akhirnya Sidatta tidak tahan lagi melihat pertempuran itu.
Dengan lantang ia berkata kepada perwira yang seorang lagi, “Bawa
beberapa orang prajurit pilihan kemari. Pagari Tuan putri dengan
pedang dan tombak. Aku akan ikut serta dalam perkelahian itu.”
Perwira yang satu itu pun segera mengatur beberapa orang
prajurit, berdiri rapat melingkari Ken Dedes dengan senjata
telanjang di tangannya. Mereka telah bersiap menghadapi setiap
kemungkinan. Beberapa orang prajurit yang lain dengan ragu-ragu
berlari-lari kian kemari, mencoba membantu Witantra menghadapi
Empu Sada. Tetapi apa yang mereka lakukan, hampir tak berarti
sama sekali.
Setelah Sidatta melihat persiapan yang dapat dipercaya dalam
pengawalan Ken Dedes, barulah ia meloncat mendekati Empu Sada.
Dengan garangnya segera ia menerjunkan diri ke dalam
pertempuran itu. Dengan tenaganya yang masih segar, Sidatta
berusaha untuk berjuang sekuat-kuat tenaganya.
Witantra yang juga melihat cara Sidatta memagari Ken Dedes
tidak menolak bantuan Sidatta itu. Bagaimanapun juga ia harus
mengakui, betapa mereka bertiga mengalami banyak kesulitan
untuk melawan Empu Sada.
Dengan kehadiran Sidatta, maka tekanan-tekanan Empu Sada
pun menjadi berkurang. Meskipun Sidatta bukan saudara
seperguruan Witantra, namun karena keterampilannya, segera ia
berhasil menyesuaikan dirinya dalam pertempuran bersama itu.
Meskipun beberapa, orang prajurit yang mencoba membantu
mereka melawan Empu Sada hampir tak berarti, namun ternyata
mereka telah mempengaruhi gerak orang tua itu, sehingga dengan
geramnya ia berkata, “Hem, apakah cucurut-cucurut ini juga ingin
melawan Empu Sada. Pergilah sebelum ada di antara kalian yang
mati terinjak-injak kaki.”
Tetapi para prajurit itu tidak meninggalkan perkelahian. mereka
tetap berlari berputaran, mencari kesempatan. Namun kesempatan
itu seakan-akan tidak pernah datang kepada mereka. Bahkan ada di
antara mereka yang saling berbenturan dan saling berdesakdesakan.
Apabila salah seorang dari mereka mencoba menghindari
ayunan tongkat Empu Sada maka tanpa disengaja ia telah
mendorong kawannya sehingga mereka berdua jatuh bergulingguling.
Sekali Empu Sada melihat juga seluruh daerah perkemahan itu.
Dilihatnya beberapa orang prajurit siap rapat mengelilingi Ken
Dedes hanya di bawah pimpinan seorang perwira. Sedang yang lain,
yang tidak ikut dalam perkelahian ini, mencoba menjaga setiap
sudut perkemahan itu.
Tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Perwira yang menjaga Ken
Dedes adalah perwira bawahan Sidatta, sehingga setinggi-tinggi
ilmunya, masih belum melampaui Kuda Sempana atau muridmuridnya
yang lain. Karena itu Empu Sada itu menganggap bahwa
waktunya telah cukup masak untuk memanggil Kuda Sempana dan
kawan-kawannya, untuk bertindak. Mereka akan datang dari jurusan
yang berbeda. Beberapa orang murid dari murid-muridnya, di
antaranya murid-murid orang yang menamakan Bahu Reksa Kali
Elo, dan murid-murid dari seorang saudara seperguruannya yang
lain, Sungsang.
Murid-murid itu tidak perlu bertempur mati-matian untuk
membinasakan prajurit-prajurit Tumapel itu. Mereka hanya
berkewajiban untuk memancing perhatian para prajurit. Apabila
mereka telah terlibat dalam satu pertempuran, maka adalah
kewajiban Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang untuk mengambil
Ken Dedes.
“Semuanya akan berjalan dengan lancar,” berkata Empu Sada di
dalam hatinya, “perhitunganku tidak terlampau jauh dari keadaan
kini. Tiga orang muridku telah cukup. Aku tidak perlu memanggil
mereka yang bertempat tinggal terlampau jauh. Dan murid-muridku
itu telah membawa murid-muridnya cukup banyak untuk keperluan
ini.”
Empu Sada itu tersenyum. Kuda Sempana akan mendapatkan
Ken Dedes, sedang muridnya yang lain akan mendapatkan
perhiasan gadis itu yang tidak ternilai harganya. Perhiasan yang
dikenakan oleh seorang bakal permaisuri.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada itu berteriak nyaring
melontarkan aba-aba untuk segera melakukan rencana mereka.
Beberapa orang terkejut mendengar teriakan itu, tetapi setiap
orang segera menyadari, bahwa bahaya yang lebih besar lagi segera
akan menimpa rombongan itu.
Perwira yang satu, yang bertugas mengamankan Ken Dedes
menangkap pula isyarat itu sebagai suatu perintah kepadanya,
untuk menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. karena itu,
maka segera ia meloncat semakin dekat di samping tandu Ken
Dedes sambil berbisik, “Tuan putri, jangan cemas. Namun Tuan
putri pun sebaiknya bersiap-siap di samping tandu. Mungkin Tuan
putri harus segera naik dan melakukan perjalanan yang tergesagesa
di malam hari ini.”
Wajah Ken Dedes pun segera menjadi pucat. Peringatan itu
baginya justru suatu berita, bahwa bahaya yang sebenarnya adalah
cukup besar. Namun gadis itu tidak menjawab. Setapak ia beringsut
mendekati tandunya, sedang para pengusung pun segera bersiap
pula di sampingnya. Setiap saat para pengusung itu harus
memanggul tandu Ken Dedes, mungkin dengan berlari-lari, bahkan
mungkin mereka harus memegangi tandu dengan sebelah tangan,
sedang tangan yang lain harus menggenggam senjata mereka.
Apa yang mereka tunggu-tunggu itu pun segera datang. Dari
dalam semak-semak di sekitar mereka, segera berloncatan beberapa
orang dengan pedang di tangan. Mereka berteriak-teriak dengan
riuhnya seperti kanak-kanak sedang mengejar tupai.
Sidatta yang sedang bertempur bersama-sama dengan Witantra
dan kedua saudara seperguruannya menjadi bimbang. Apakah ia
harus meninggalkan perkelahian itu, atau ia harus tetap berkelahi
bersama dengan Witantra. kedua-duanya baginya sama beratnya.
Tetapi segera ia mengambil keputusan di dalam hatinya, “Aku
akan melihat apa yang terjadi. Apabila prajurit Tumapel tidak
berdaya menghadapi orang-orang itu, maka aku harus segera
membantu mereka.”
Dalam pada itu, para pengawal segera berloncatan pula
menyongsong penyerangnya. Beberapa orang benar-benar telah
bersiap di sudut-sudut perkemahan, sedang yang lain masih tetap
dalam lingkaran di sekitar Ken Dedes bersama seorang perwiranya.
Wajah Ken Dedes menjadi bertambah pucat melihat orang-orang
yang ganas dan kasar itu menyerang para pengawalnya sambil
berteriak mengerikan. Dengan pedang yang terayun-ayun di atas
kepalanya, mereka benar-benar telah menggemparkan hati para
prajurit Tumapel. Untunglah bahwa sebagian dari para prajurit itu
pun telah cukup berpengalaman, sehingga sesaat kemudian mereka
telah menemukan keseimbangan mereka kembali. Dengan demikian
maka mereka kemudian dapat bertempur dalam sikap yang wajar.
Segera terjadi hiruk-pikuk di perkemahan itu. Hampir di segala
sudut terjadi perkelahian-perkelahian yang ribut. Orang yang
menyerang perkemahan itu benar bertempur menurut kehendak
mereka sendiri. Di manapun dan dalam sikap yang bagaimana pun
juga.
Tetapi ketika perkelahian telah berlangsung beberapa lama
segera Witantra melihat, bahwa orang-orang itu sengaja memancing
perkelahian menjauhi gadis bakal permaisuri Akuwu Tumapel itu.
Witantra menjadi semakin cemas menghadapi gerombolan yang
tampaknya benar-benar liar. Tetapi Witantra menyadari, bahwa
sebenarnya orang-orang yang menyerang rombongannya bukanlah
orang-orang yang terlampau liar, namun sengaja mereka membuat
kesan, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat sekehendak
hati mereka tanpa ada orang lain yang dapat mencegahnya. Liar,
kasar dan ganas.
Ternyata bukan saja Witantra yang menjadi cemas, tetapi juga
Mahendra dan Sidatta, bahkan Kebo Ijo yang hampir tidak menaruh
perhatian apapun terhadap Ken Dedes, bahkan kadang-kadang ia
menghina di dalam hatinya, namun kali ini hatinya dicengkam oleh
kecemasan juga. Cemas bahwa akuwu pasti akan menimpakan
kesalahan kepada Witantra, dan cemas bahwa nilainya sebagai
seorang laki-laki dan prajurit, apalagi dalam satu rombongan,
benarbenar
dibinasakan oleh sebuah gerombolan dari orang-orang yang
tidak mempunyai kedudukan dan nama.
Perwira yang masih tetap berdiri di samping Ken Dedes
menyadari pula atas apa yang sedang terjadi. Karena itu, ia sama
sekali tidak bergeser dari tempatnya. Di tangan kanannya
tergenggam sebuah pedang yang mengkilap, sedang di tangan
kirinya sebuah pisau belati panjang. Sesuatu pasangan senjata yang
selama ini diandalkannya di medan-medan perang.
Beberapa orang yang berdiri memagari Ken Dedes pun
diperintahkannya untuk tetap berada di tempatnya. Selama keadaan
mereka yang bertempur tidak terlampau jelek, maka setiap orang
yang berjaga-jaga di sekitar Ken Dedes masih harus tetap di
tempatnya.
Dalam pada itu pertempuran di sekitar tempat itu semakin lama
menjadi semakin ribut. Orang-orang Empu Sada bertempur tanpa
mengingat nilai-nilai yang biasanya menjadi pegangan bagi setiap
orang yang merasa dirinya cukup jantan. Mereka bertempur sambil
berlari-lari, berteriak-teriak dan kadang-kadang mempergunakan
senjata-senjata yang kotor. Batu dan pasir.
Witantra mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia sama sekali
tidak dapat melepaskan Empu Sada. Orang itu bertempur semakin
lama justru menjadi semakin dahsyat, meskipun kini ia harus
berhadapan melawan empat orang terbaik dari rombongan
pengawal Ken Dedes.
Bahkan orang tua itu masih sempat tertawa dan berkata, “Nah.
Apakah yang dapat kalian lakukan untuk melawan orang-orangku?”
“Orang-orang seliar serigala,” bentak Witantra, “mereka tidak
menghormati sama sekali nilai-nilai perseorangan.”
“Apa pedulimu,” sahut Empu Sada, “tetapi sadarilah, bahwa
apabila kau tidak memerintahkan menghentikan perlawanan, maka
semua orang-orangmu akan tertumpas habis.”
“Persetan!” teriak Witantra.
Empu Sada itu pun masih saja tertawa. Tiba-tiba sekali lagi ia
berteriak, “Jangan terlampau lama bersembunyi. Nah, kini sudah
waktunya bagi kalian untuk memetik bunga itu. Di sampingnya
hanya ada seorang yang perlu kalian perhatikan, yang lain adalah
semudah mematahkan ranting-ranting kering.”
Kata-kata Empu Sada itu terdengar benar-benar seperti petir
menyambar di atas kepala Witantra, Mahendra, Kebo Ijo, Sidatta
dan para prajurit Tumapel yang lain. Dengan demikian, segera
mereka menyadari bahwa lawan mereka segera akan bertambah.
Dan yang akan datang pasti bukan sekedar gerombolan liar yang
hanya mampu berlari-lari dan berteriak-teriak, tetapi pasti
orangorang
terpilih dari antara orang-orang Empu Sada itu.
Perwira yang berdiri di samping Ken Dedes pun menyadarinya,
sehingga karena itu segera pula keluar perintahnya, “Hadapi setiap
kemungkinan tanpa ada kesempatan meninggalkan tempat ini bagi
kalian dan kami semuanya.”
Perintah itu tegas dan jelas bagi setiap prajurit Tumapel. Perintah
itu sama bunyinya dengan, “Bertempur sampai mati!”
Setiap prajurit Tumapel mengatupkan mulutnya rapat-rapat,
namun gigi mereka bergemeretak. Mereka menyadari sepenuhnya
apa yang harus mereka lakukan demi tugas mereka. Ken Dedes bagi
mereka hampir sama nilainya dengan akuwu sendiri, sebab gadis itu
kini dalam sikap kebesaran seorang permaisuri.
Orang-orang Empu Sada yang lain, yang mendengar perintah itu,
segera bersorak semakin riuh. Mereka berteriak-teriak seperti
serigala kelaparan. Namun dalam pada itu, serangan-serangan
mereka pun meningkat semakin garang pula.
Dari dalam semak-semak segera muncul beberapa orang
berloncatan menerjunkan diri ke dalam pertempuran itu. Seperti
orang-orang yang terdahulu, segera mereka pun berteriak-teriak
dan memutar senjata-senjata mereka. Namun belum seorang pun
dari mereka yang menyerang para prajurit Tumapel yang berdiri
melingkari Ken Dedes.
Witantra dan para prajurit Tumapel yang melihat datangnya
orang-orang baru itu menjadi heran. Tidak ada tanda-tanda bahwa
mereka adalah orang-orang yang terpilih. Gerak, tandang serta cara
mereka bertempur tak ubahnya dengan cara-cara yang
dipergunakan oleh kawan-kawan mereka sebelumnya. Namun
karena itu, maka Witantra dan para prajurit yang lain itu masih
harus menunggu, bahwa akan datang saatnya, lawan-lawan yang
lebih berat akan berdatangan.
Tetapi pertempuran itu sudah berjalan beberapa saat. Sedang
keadaan medan masih belum berubah. Empu Sada masih harus
menghadapi keempat lawannya yang tidak dapat dianggap seperti
sedang bermain kucing-kucingan, sedang orang-orang lain masih
bertempur dengan riuhnya. Namun prajurit yang bertugas khusus di
sekitar Ken Dedes beserta pimpinannya, sama sekali belum
tersentuh oleh lawan. Mereka masih tetap berdiri kaku tegang.
Bahkan mereka hampir tidak tahan lagi menunggu terlampau lama,
siapakah yang harus menjadi lawan-lawan mereka.
Dalam kegelisahan Witantra sempat memperhatikan sikap Empu
Sada yang gelisah pula. Sekali-sekali orang tua itu memerlukan
waktu untuk menjauhi lawannya, dan menebarkan matanya
berkeliling. Kesimpulan Witantra adalah, Empu Sada masih
menunggu orang-orangnya yang lain.
Sebenarnyalah bahwa Empu Sada menjadi gelisah. Seharusnya
orang-orangnya yang terpenting dalam rencana ini, sudah mulai
berbuat sesuatu. Mungkin mereka segera akan berhasil.
Tetapi orang yang ditunggunya itu sama sekali belum
menampakkan dirinya.
“Apakah perubahan kecil ini telah mempengaruhi mereka?”
pertanyaan itu menyentuh dinding hati Empu. Sada. Tetapi
kemudian dijawabnya sendiri, “Perubahan itu tidak terlalu sulit.
Orang-orang lain, bahkan orang-orang yang lebih bodoh dari
mereka, dapat mengerti keadaan yang tidak tepat mengerti keadaan
yang tidak tepat seperti rencana semula ini, dan mereka dapat
segera menyesuaikan dirinya pula. Orang-orang ini dapat mengerti,
bahwa aku tidak jadi membawa Witantra dan orang-orang penting
lainnya meninggalkan perkemahan, justru aku membawa mereka
masuk ke dalamnya namun mengikat mereka dalam suatu
pertempuran. Mustahil, mustahil kalau perubahan kecil ini
menjadikan mereka kebingungan.”
(bersambung )
Jilid 17
NAMUN SESAAT kemudian kembali timbul pertanyaan. Tetapi
kenapa Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang belum juga
menampakkan dirinya? Kalau para prajurit Tumapel ini dibiarkan
terlampau lama menunggu, maka mereka akan berhasil menguasai
keadaan. Tetapi kalau sekarang ketiganya datang dan menyerang
beberapa orang prajurit yang mengawal Ken Dedes itu, maka
agaknya Kuda Sempana akan berhasil membawa gadis itu. Sebab
Empu Sada yakin, bahwa ketiga muridnya akan dapat mengalahkan
beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga di sekitar Ken Dedes.
Tetapi Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang yang ditunggutunggunya
tidak juga segera datang. Apakah mereka tidak
mendengar segala macam keributan ini karena mereka terlampau
jauh bersembunyi, atau tiba-tiba mereka tertidur di tempat
persembunyian mereka?
Dalam kegelisahan itu maka terdengar Empu Sada berteriak
nyaring, “Kuda Sempana. Telah sampai saatnya kau melakukan
tugasmu.”
Suara Empu Sada itu menggelora seolah-olah memenuhi hutan
itu. Daun-daunan bergetaran dan ranting-ranting bergoyang-goyang
karena gelombang suara orang tua itu. Gemanya memukul setiap
pepohonan dan membuat bunyi ulangan yang serupa melingkari
sampai jarak yang sangat jauh.
Tetapi Empu Sada tidak segera melihat ketiga muridnya. Bahkan
yang dilihatnya, para prajurit Tumapel semakin lama semakin
menguasai keadaan. Apalagi ketika Empu Sada kemudian melihat,
bahwa orang-orangnya telah mulai lelah karena gerak dan tandang
mereka yang berlebih-lebihan. Sebab menurut perhitungan mereka,
apa yang terjadi dengan mereka, tidak akan berlangsung lama.
Witantra dan kawan-kawannya pun menjadi heran. Kenapa Kuda
Sempana yang telah dipanggil oleh gurunya itu tidak juga muncul.
Namun dengan demikian timbullah berbagai dugaan di antara
mereka. Di antaranya menyangka bahwa Kuda Sempana sengaja
menunggu sampai orang-orang Tumapel menjadi lengah benarbenar,
sedang yang lain menganggap bahwa apa yang terjadi itu
telah berubah dari rencana semula.
Tetapi bagi Ken Dedes sendiri, nama Kuda Sempana itu telah
hampir membuatnya pingsan. Kuda Sempana bagi Ken Dedes
sungguh menakutkan, melampaui hantu yang paling mengerikan
sekalipun.
Ternyata kini orang yang menakutkan itu datang kembali
kepadanya, bahkan kali ini dengan membawa sejumlah kawan yang
bersedia membantunya.
Meskipun Ken Dedes merasa, bahwa para prajurit Tumapel telah
berusaha melindunginya sejauh mungkin, namun melihat keributan
perkelahian itu, hati Ken Dedes pun menjadi sangat cemas
karenanya. Ia menyesal bahwa ia telah menyebut Kuda Sempana
sebagai alasan untuk memohon kepada akuwu sejumlah pengawal
yang akan mengantarnya. Ternyata ucapannya itu kini terjadi,
seperti sebuah mimpi daradasih.
Karena itu maka kini Ken Dedes telah berpegangan erat-erat
pada tandunya, seolah-olah ia ingin segera meloncat masuk dan
dengan cepat-cepat berjalan ke Panawijen.
Dalam keadaan yang demikian, teringat olehnya murid ayahnya,
Mahisa Agni yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya
sendiri. Telah beberapa kali Mahisa Agni melepaskannya dari tangan
Kuda Sempana. Meskipun kemudian Kuda Sempana berhasil
membawanya, namun yang terjadi itu adalah benar-benar di luar
kemampuan Mahisa Agni. Kini Kuda Sempana itu kembali
menghantuinya. Dan di sini tidak ada Mahisa Agni. Justru ia sedang
berjalan ke padukuhan Mahisa Agni, untuk menunjukkan
kebesarannya, supaya Mahisa Agni menyadari, bahwa ia telah salah
menafsirkan maksud Akuwu Tunggul Ametung.
Pertempuran yang hiruk-pikuk masih terjadi. Orang-orang Empu
Sada masih saja bertempur sambil berteriak-teriak. Namun Kuda
Sempana dan kedua saudara seperguruannya masih belum
menampakkan dirinya.
Empu Sada yang gelisah, sekali lagi berseru, “He, Kuda
Sempana! Apakah kau tertidur? Cepat bangunlah, pertempuran
telah hampir selesai. Pintu telah terbuka bagimu.”
Suara Empu Sada itu pun melontar memenuhi hutan. Di kejauhan
terdengar suara anjing hutan menggonggong berkepanjangan,
seakan-akan menyahut seruan orang tua bertongkat panjang itu.
Namun Kuda Sempana belum juga tampil ke medan peperangan.
Empu Sada pun menjadi semakin gelisah. Namun dengan
demikian kemarahannya pun semakin menyala di dalam dadanya.
Dalam kegelisahan itu Empu Sada mencoba membuat perhitungan
atas anak buahnya dan para prajurit Tumapel. Ketika ia mendengar
salah seorang dari orangnya memekik tinggi dan kemudian jatuh
terguling karena dadanya tersobek oleh ujung tombak, maka
matanya yang cekung, tiba-tiba seperti memancarkan api. Korban
telah jatuh di pihaknya, sedang Kuda Sempana belum juga
menampakkan dirinya. Di samping kemarahannya, orang tua itu pun
menjadi jengkel pula kepada Kuda Sempana.
Tetapi tempat yang paling baik untuk menumpahkan
kemarahannya itu adalah Witantra dan kawan-kawannya. Karena
itu, maka segera ia mengambil keputusan, untuk secepat-cepatnya
membinasakan Witantra dan kawan-kawannya, kemudian
membinasakan segenap prajurit Tumapel sebelum orang-orangnya
menjadi punah. Bersama-sama dengan orang-orangnya itu, maka ia
pasti segera akan dapat melumpuhkan pasukan Tumapel itu, untuk
seterusnya dengan kasar mengambil gadis bakal Permaisuri Akuwu
Tumapel untuk muridnya. Tetapi apabila diingatnya, bahwa
muridnya kini sama sekali tidak menampakkan dirinya, maka Empu
Sada pun menjadi ragu-ragu untuk melakukan keputusannya dan
bahkan menjadi acuh tak acuh akan gadis itu. Namun berbagai
pertimbangan yang lain telah mendorongnya untuk meneruskan
rencananya.
“Kalau Kuda Sempana tidak meneruskan rencananya, biarlah.
Aku sudah terlanjur melawan pemimpin prajurit Tumapel ini. Mau
tidak mau aku harus mengambil alih pertanggungjawabannya.
Sehingga wajarlah kalau aku yang akan mengambil kentungan dari
pencegatan ini. Bukankah bakal permaisuri itu memiliki perhiasan
yang tiada tara nilai harganya.”
Dengan ketetapan hati, Empu Sada itu pun kemudian bertempur
dengan hampir segenap kemampuannya supaya pekerjaannya cepat
selesai sebelum orang-orangnya semakin banyak menjadi korban.
Meskipun orang-orang itu adalah murid-murid dari murid-muridnya,
namun ia tidak dapat membiarkan korban berjatuhan apabila hal itu
masih mungkin dihindari.
Demikianlah pertempuran antara Empu Sada dan keempat
lawannya menjadi semakin dahsyat. Terasa bagi keempat lawannya,
bahwa Empu Sada telah benar-benar hampir sampai puncak
kewajaran ilmunya, meskipun ia belum mempergunakan ilmu
pemungkasnya, seperti yang telah diturunkannya kepada
muridmuridnya,
Kuda Sempana, Cundaka dan beberapa orang yang lain.
Witantra dan ketiga kawannya terpaksa memeras tenaganya
pula. Namun bagaimanapun juga, terasa bahwa suatu ketika
mereka pasti akan dibinasakan oleh Empu Sada itu Kemudian akan
lenyap pulalah gadis yang harus dipertanggungjawabkan.
Witantra itu pun kemudian menggeram. Alangkah sial namanya.
Ketika ia bertugas untuk mengawal Ken Dedes, seorang bakal
permaisuri Tumapel, hanya dalam jarak antar. Tumapel dan
Panawijen, ia telah gagal. Kematiannya bukanlah hal yang
dicemaskannya. Tetapi dengan hilangnya Ken Dedes, maka
namanya akan menjadi buah pembicaraan setiap prajurit dan
bahkan setiap orang Tumapel, bahwa hilangnya Ken Dedes, adalah
karena tidak kemampuan Witantra, pimpinan pasukan pengawal
istana.
Tetapi ternyata bahwa kegelisahan Empu Sada berpengaruh juga
dalam pertempuran itu. Sekali-sekali orang tua itu masih mencoba
mencari Kuda Sempana di antara orang-orang yang sedang
bertempur hiruk-pikuk itu. Namun setiap kali orang itu menjadi
kecewa dan menggeram marah. Dalam hal demikian, kembali orang
tua itu memperketat serangannya.
Sehingga akhirnya tenaga Kebo Ijo semakin lama semakin
menjadi surut. Nafas Mahendra pun menjadi semakin terengahengah,
bahkan seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Tangkai
pedangnya pun menjadi basah pula, dan terasa seolah-olah pedang
itu ingin meloncat dari genggamannya. Sidatta pun tidak kalah
cemasnya ketika tangannya seakan menjadi semakin lemah.
Tetapi Empu Sada pun tidak pula kalah cemasnya. Ia pun dapat
menduga bahwa sebentar lagi, korban akan berjatuhan di pihaknya
apabila Kuda Sempana dan kawan-kawannya tidak segera tampil ke
medan. Betapa ia mengerahkan kemampuannya untuk membunuh
Witantra dan kawan-kawannya sebelum ia berhasil membantu
orang-orangnya, namun ia memerlukan waktu pula.
Karena itu dengan nada penuh kejengkelan sekali lagi ia
berteriak, “He, Kuda Sempana, di mana kau?”
Pertanyaan itu telah menimbulkan pikiran baru bagi para perwira
yang berdiri di samping Ken Dedes. Pertanyaan itu meyakinkannya
bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Sehingga karena
itu ia telah mengambil suatu sikap untung-untungan. Kepada
seorang prajurit yang dipercayainya ia berkata, “Gantikan tempatku.
Berdua, sebelah menyebelah. Aku akan membantu Kakang Witantra
dan Kakang Sidatta, kalau terjadi sesuatu, cepat, panggil aku
kemari.”
“Baik,” sahut prajurit itu yang kemudian berdua dengan seorang
kawannya mereka berdiri sebelah menyebelah tandu Ken Dedes di
dalam lingkaran beberapa kawannya yang lain. Di tangan prajurit itu
tergenggam sebatang tombak pendek dan prajurit yang lain
menggenggam pedang yang panjang.
Ketika kedua Prajurit itu telah bersiap di kedua sisi tandu itu,
maka berkatalah perwira itu kepada Ken Dedes, “Tuan Putri, hamba
mohon izin untuk membantu Kakang Witantra yang agaknya
mengalami kesulitan. Apabila terjadi sesuatu di sini, biarlah hamba
segera datang kemari.”
Ken Dedes ragu-ragu sesaat, tetapi ketika ia melihat kedua
prajurit yang bertubuh besar kekar dan berwajah keras berdiri di
kedua sisi tandunya ia mengangguk sambil berkata, “Tetapi kau
harus segera kembali apabila kami di sini memerlukan.”
“Hamba Tuan Putri,” jawab perwira itu. Dan tanpa menunggu
lagi segera ia meloncat menembus lingkaran prajurit yang
dibuatnya. Dengan tangkasnya segera ia terjun dalam pertempuran
bersama dengan Witantra dengan kawan-kawannya. Sepasang
senjatanya segera berputaran. Dengan kesegaran tenaganya cepat
ia dapat mempengaruhi keadaan.
Witantra terkejut melihat kehadirannya. Karena itu dengan
sertamerta
ia bertanya, “Kau datang juga kemari?”
“Aku telah menyerahkannya kepada para prajurit pilihan. Aku
akan segera kembali ke sana kalau diperlukan.”
Witantra tidak menjawab. Ia memang memerlukan bantuan itu.
Dan ia sependapat, apabila diperlukan, biarlah ia meninggalkan
arena ini.
Dengan kehadiran lawan barunya, maka pekerjaan Empu Sada
menjadi kian berat. Namun dengan demikian ia menjadi semakin
marah. Orang baru itu hanya akan mampu memperpanjang waktu,
tetapi tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari bencana.
Tetapi memperpanjang waktu itu pun benar-benar telah
mencemaskan hati Empu Sada. Di sekitarnya ia melihat bahwa
orang-orangnya pun telah menjadi kian sulit. Kalau semua mereka
sengaja membuat kegaduhan dengan serangan-serangan yang tidak
teratur, maka semakin lama mereka benar-benar menjadi tidak
teratur bukan karena kesengajaan. Ternyata prajurit Tumapel lebih
berpengalaman dalam pertempuran bersama. Mungkin orang-orang
Empu Sada itu seorang-seorang tidak kalah dari para prajurit
Tumapel, tetapi kerja sama dan bertempur dalam pasanganpasangan
yang serasi, ternyata para prajurit Tumapel telah
melampaui mereka.
Orang tua bertongkat panjang itu pun menggeram.
Kemarahannya kini telah memuncak. Dengan demikian maka tidak
lagi dapat mengekang dirinya dalam pertempuran itu. Namun
melawan lima orang perwira prajurit pengawal Akuwu Tumapel,
ternyata Empu Sada memerlukan waktu pula.
Sampai demikian jauh, ternyata Kuda Sempana dan kawankawannya
masih belum menampakkan dirinya pula. Bahkan sampai
saat-saat yang sangat mencemaskan Empu Sada, sehingga akhirnya
Empu Sada mengambil keputusan untuk menyelesaikan perkelahian
itu menurut seleranya sendiri. Ia tidak tertarik lagi kepada
rencananya yang telah disusunnya bersama Kuda Sempana.
“Aku musnahkan saja semua orang Tumapel ini,” katanya di
dalam hati. Dan ia benar-benar ingin melaksanakannya.
Ken Dedes yang melihat perkelahian itu, hatinya benar-benar
menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang sedang berlangsung antara
Empu Sada dan kelima lawannya. Namun menurut penilaian Ken
Dedes, apabila lawan Witantra bukan benar-benar orang yang
sangat sakti, maka ia pasti tidak memerlukan tiga orang untuk
mencoba melawannya. Bahkan lima orang pun tidak segera dapat
mengatasi keadaan. Mereka seakan-akan hanya mampu berlari-lari
melingkari Empu Sada, untuk kemudian berloncatan menjauh
bersama-sama sebelum satu dua orang menyerangnya dari arah
yang berbeda.
Tetapi apabila Ken Dedes melihat pertempuran di sudut-sudut
yang lain, ia melihat para prajurit Tumapel selalu berusaha
mendesak dan bahkan mengejar orang-orang liar itu berlari-lari
melingkar-lingkar. Tetapi para penyerang itu masih saja
berteriakteriak
tak menentu dengan nada yang menyakitkan telinga,
meskipun suara teriakan-teriakan itu tidak sekeras pada saat-saat
mereka datang.
Ketika mereka kemudian telah sampai ke puncak yang paling
gawat dari pertempuran itu, baik bagi Witantra dan kawankawannya,
maupun bagi orang Empu Sada, yang masing-masing
selalu terdesak oleh lawan-lawan mereka, di kejauhan terdengar
sebuah suitan nyaring. Sekali, dua kali dan kemudian diulangi lagi
sekali, sehingga menjadi tiga kali. Suara itu seperti suara seekor
burung yang melengking memecah gelap malam.
Ternyata suara itu telah mengejutkan semua orang yang berada
di arena pertempuran itu.
Bagi Witantra dan para prajurit Tumapel suara itu seakan-akan
suara hantu yang telah siap menerkam mereka dan sikap yang
sangat mengerikan. Dalam kesulitan itu, maka mereka masih harus
menunggu bencana yang bakal datang.
Para prajurit yang berada di sekitar Ken Dedes pun segera
merapatkan diri, seakan-akan mereka mendapat perintah untuk
menghadapi kemungkinan yang paling akhir dari perjuangan
mereka.
Tetapi Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kedua perwira bawahan
Witantra menjadi semakin terkejut melihat sikap Empu Sada.
Ternyata orang tua itu pun terkejut bukan buatan mendengar suara
suitan tiga kali berturut-turut. Seperti disengat seribu lebah biru
Empu Sada itu melontar surut beberapa langkah. Diangkatnya
wajahnya sambil memanjangkan lehernya.
Witantra dan kawan-kawannya yang menjadi keheranan, justru
berdiri saja tegak di tempatnya. Seolah-olah mereka melihat sesuatu
yang bukan seharusnya. Mereka menyangka bahwa suara suitan itu
adalah pertanda kehadiran Kuda Sempana dan kawan-kawannya
yang mungkin bukan saja tiga orang, tapi dengan beberapa orang
lain. Namun menilik sikap Empu Sada, maka kemungkinan itu pasti
berbeda dari peristiwa yang akan mereka hadapi.
Terdengar Empu Sada itu menggeram. Sekali dilayangkannya
pandangan matanya kepada orang-orangnya yang masih bertempur
melawan prajurit-prajurit Tumapel. Ternyata mereka semakin lama
menjadi semakin terdesak.
Dalam ketegangan itu sekali lagi di kejauhan terdengar suara itu.
Suara suitan tiga kali berturut-turut.
“Setan!” geram Empu Sada, “Apa pula yang terjadi dengan anak
cengeng itu?”
Witantra masih tegak di tempatnya. Kawannya pun masih belum
berbuat sesuatu. Namun di dalam dada mereka berdetaklah
berbagai pertanyaan tentang sikap orang tua yang mengerikan itu.
Tiba-tiba Witantra dan kawan-kawannya dikejutkan oleh suitan
Empu Sada itu. Mirip dengan sebuah siulan panjang. Suaranya
menyusup menembus gelap malam melingkar-lingkar di dalam
hutan.
Witantra dan kawan-kawannya tidak tahu sama sekali sasmita
sandi semacam itu. Karena itu, mereka harus mempersiapkan diri
mereka menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.
Mungkin siulan Empu Sada itu memperdengarkan kidung kematian
bagi mereka dan para prajurit Tumapel.
Tetapi yang terjadi adalah berbeda dengan dugaan mereka.
Mendengar suara siulan itu. maka serentak orang-orang Empu Sada
berteriak semakin keras, namun apa yang mereka lakukan justru
sebaliknya. Mereka berlari-larian di arena itu untuk sesaat,
kemudian dengan cepatnya mereka meloncat menyusup ke dalam
gerumbul-gerumbul yang gelap dibalik rimbunnya hutan.
Beberapa orang prajurit Tumapel berusaha mengejar mereka,
namun terdengar Witantra memberi aba-aba, “Biarkan mereka!”
Para prajurit Tumapel terhenti di tempatnya. Terasa pula oleh
mereka itu, suasana yang seolah-olah menyimpan rahasia. Suarasuara
suitan dan siulan, kegelapan malam di antara batang-batang
pepohonan, Empu Sada yang masih berdiri di tempatnya dan suara
teriakan-teriakan orang-orang yang berbuat seakan-akan orangorang
liar itu yang semakin lama menjadi semakin lemah. Keadaan
itu pulalah yang memaksa Witantra mencegah anak buahnya
terjerumus di dalam keadaan yang tak mereka kenal.
Sesaat setiap orang di perkemahan itu berdiri tegak di
tempatnya. Wajah-wajah mereka menjadi semakin tegang, namun
mulut mereka terkatup rapat-rapat. Witantra, Mahendra, Kebo Ijo,
kedua perwira bawahan Witantra. Para prajurit, Ken Dedes dan
bahkan Empu Sada sendiri.
Mereka seakan-akan sedang menunggu suatu peristiwa yang
akan meledak setiap saat.
Tetapi yang terdengar kemudian sekali lagi suara suitan kini
menjadi kian dekat. Tiga kali berturut-turut. Bahkan kini tidak
saja
dilontarkan oleh seseorang, tetapi dua orang hampir bersamaan.
Sekali lagi terdengar Empu Sada menggeram. Di antara suaranya
yang berat terdengar ia mengumpat, “Setan manakah yang berani
mengganggu Empu Sada dan murid-muridnya?”
Kata-kata Empu Sada itu pun mengejutkan Witantra dan kawankawannya.
Terasa bahwa Empu Sada merasa terganggu karena
suara-suara suitan itu. Karena itu maka Witantra dan kawankawannya
menjadi semakin tidak mengerti, apakah yang sedang
terjadi.
Namun mereka terkejut ketika Empu Sada itu berteriak lantang,
“He, Kuda Sempana. Di mana kau? Siapakah yang telah berani
mencoba menghalangi rencana kita itu?”
Suara Empu Sada menggelegar seperti suara guruh di musim
kesanga.
Tetapi suara Empu Sada itu tidak segera mendapat jawaban.
Sejenak mereka terpaku menunggu, apakah yang bakal terjadi, dan
apakah jawaban yang akan mereka dengar atas pertanyaan Empu
Sada itu. Namun jawaban itu tidak segera mereka dengar.
Empu Sada yang masih berdiri tegak itu sekali lagi menggeram.
Wajahnya menjadi semakin tegang dan tubuhnya gemetar menahan
marah. Tetapi dengan demikian, Witantra dan kawan-kawannya
perlahan-lahan dapat mengurai keadaan. Ternyata dugaan mereka
benar, ada sesuatu yang tidak wajar menurut rencana Empu Sada.
Ketika sejenak kemudian masih juga tidak ada jawaban, maka
sekali lagi terdengar Empu Sada berteriak, “Kuda Sempana, sekali
lagi aku beri tanda. Aku akan segera datang.”
Alangkah terkejut mereka bersama-sama ketika sekali lagi
terdengar suara tidak begitu jauh dari tempat mereka. Meskipun
suara itu tidak jelas, namun terdengar juga lamat-lamat, “Aku di
sini
guru. Ada orang gila yang menghalang aku.”
Empu Sada tidak menunggu lebih lama lagi. Cepat-cepat ia
meloncat meninggalkan Witantra dan kawan-kawannya. Hilang di
dalam semak-semak. Adalah pasti bahwa Empu Sada berusaha
untuk menolong muridnya. Agaknya suitan-suitan itu adalah tanda
dari murid-murid Empu Sada untuk menyatakan, bahwa mereka
berada dalam bahaya.
Witantra masih berdiri sejenak di tempatnya. Tetapi
tanggapannya atas peristiwa itu telah memaksanya untuk mencoba
mengikuti Empu Sada. Karena itu maka katanya, “Sidatta, tetaplah
di sini berdua. Aku, Mahendra dan Kebo Ijo akan mencoba melihat
apa yang terjadi dengan orang tua itu.”
Wajah Sidatta yang masih tegang tampak berkerut. Ia masih lihat
peristiwa ini diliputi oleh suatu keragu-raguan yang tidak menentu.
Karena itu katanya, “Kakang Witantra, apakah tidak terlampau
berbahaya bagi Kakang untuk pergi ke dalam semak-semak yang
tidak Kakang kenal.”
“Aku tidak akan pergi terlampau jauh. Kalau Kuda Sempana
dapat kami dengar dari sini, maka suaraku pun pasti akan kalian
dengar apabila kalau aku memerlukan kalian.” jawab Witantra.
Sidatta menganggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya
sendiri terpancar keinginannya untuk melihat, kenapa Kuda
Sempana tidak dapat menyelesaikan rencananya dengan baik.
Tetapi ia tidak dapat meninggalkan perkemahan itu tanpa
penjagaan. Karena itu maka katanya, “Silakan Kakang. Tetapi
Kakang, kita akan saling memberikan tanda apabila kita saling
memerlukan.”
“Baik,” sahut Witantra, yang kemudian bersama dengan kedua
adik seperguruannya, menyusup ke dalam semak-semak dan hilang
dibalik rimbunnya dedaunan.
Tetapi mereka bertiga tidak segera dapat menemukan arah, ke
mana mereka harus pergi. Mereka hanya mampu membuat ancarancar
arah suara Kuda Sempana. Tetapi suara itu pun tidak begitu
jelas bagi mereka. Karena itu untuk sesaat mereka berjalan dengan
hati-hati ke arah itu.
Mereka menyibak dedaunan dan menyusup di bawah akar-akar
pepohonan. Mereka tidak dapat mencari jalan lain. Mereka hanya
dapat memintas lurus ke tempat yang mereka sangka akan
didatangi oleh Empu Sada pula. Namun dalam pada itu, mereka
tetap dalam kewaspadaan, sebab mereka masih belum dapat
menentukan apa yang sebenarnya telah terjadi. Mungkin mereka
masih tetap berada dalam jebakan Empu Sada yang membuat
rencana demikian berbelit-belit.
Tetapi setelah mereka berjalan beberapa lama, mereka sama
sekali belum menemukan apa-apa. Mereka tidak mendengar suara
apapun dan bahkan mereka seolah-olah terkurung dalam sebuah
gua yang gelap pepat. Hitam dan kelam di sekeliling mereka. Yang
dapat mereka lihat hanyalah bayangan dedaunan yang menggapaigapai
ditiup angin malam, seperti tangan-tangan hantu raksasa
yang akan menerkam mereka.
Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang
seakan-akan meledak-ledak tidak begitu jauh dari tempat mereka.
Suara itu adalah suara Empu Sada dalam nada yang tinggi
menyakitkan telinga. Di antara suara tertawa itu terdengar ia
berkata, “He, rupanya kau yang datang kelinci kurus.”
Tak ada suara menyahut. Yang terdengar masih saja suara
tertawa Empu Sada. Bukan karena orang tua itu menjadi
bergembira, atau menemukan permainan yang menyenangkan,
tetapi nada suaranya melontarkan keheranan dan kebencian yang
melonjak-lonjak di dalam dadanya.
Witantra memasang telinganya baik-baik. Perlahan-lahan ia
menemukan arah yang harus dianutnya. Karena itu maka segera ia
berbisik kepada adik-adik seperguruannya, “Kita menerobos ke
utara.”
Mahendra dan Kebo Ijo tidak menjawab. Dengan pedang
terhunus mereka berjalan terbungkuk-bungkuk menghindari sulursulur
yang bergayutan pada pepohonan. Tetapi kini mereka
melangkah dengan pasti. Mereka telah menemukan arah.
Semakin dekat mereka dengan arah suara tertawa Empu Sada,
mereka menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi kemudian suara
tertawa itu tidak mereka dengar lagi. Meskipun demikian mereka
berjalan terus.
Tiba-tiba mereka tertegun ketika beberapa puluh langkah lagi di
hadapan mereka, terdengar suara Empu Sada, “Kuda Sempana,
kenapa tidak kau bunuh saja kelinci ini he? Kenapa kau dan kedua
saudara seperguruanmu itu berteriak-teriak memanggil aku?
Bukankah membunuhnya tidak lebih sulit daripada membantai ayam
sakit-sakitan.”
Tidak terdengar jawaban. Seolah-olah yang berada di tempat itu
hanyalah Empu Sada seorang diri. Setiap kali ia berbicara, maka tak
ada suara yang menyahut. Kali ini Kuda Sempana itu pun tidak
menjawab.
Kembali tumbuh keragu-raguan di dalam hati Witantra. Apakah
ini bukan salah satu pokal Empu Sada untuk memisahkannya dari
para prajurit yang lain, ataukah memang ada tujuan tersembunyi
yang tidak dimengertinya? Tetapi jarak itu sudah dekat, sehingga
Witantra pun memutuskan untuk maju beberapa langkah lagi.
Ketika mereka maju meloncati beberapa dahan-dahan yang
rontok dan melintang di hadapan mereka, maka segera mereka
melihat, bagian yang luang dari hutan itu. Bagian yang meskipun
sempit namun cukup memberikan tempat untuk bertempur seperti
tempat yang mereka pergunakan untuk berkemah.
Dengan hati-hati Witantra melangkah lagi beberapa langkah. Dari
sela-sela rimbunnya dedaunan ia mencoba melihat, apa yang ada di
tempat yang agak longgar itu.
Namun malam gelapnya bukan kepalang. Tetapi di tempat yang
longgar itu, kepekatan malam seakan-akan menipis. Sinar
bintangbintang
di langit tidak tertutup oleh dedaunan dan dahan-dahan
kayu yang rimbun di atasnya.
Dan apa yang dilihatnya benar-benar menggetarkan hatinya,
meskipun seakan-akan hanyalah bayangan-bayangan hantu yang
hitam legam.
Mereka terdiri dari lima orang. Namun Witantra dapat
memastikan, bahwa seorang di antaranya adalah Empu Sada. yang
tiga adalah murid-murid Empu Sada sendiri. Namun yang satu,
berdiri agak terlampau ke sudut, sehingga Witantra hampir tidak
dapat melihatnya, seandainya bayangan itu tidak bergerak. Yang
tampak hanya hitam. Bahkan garis-garis bentuknya pun tak dapat
dikenalnya.
Namun betapa terkejut Witantra yang tiba-tiba mendengar Empu
Sada berteriak, “He, siapa yang mencoba mengintip pertemuan ini?”
Sebelum Witantra menjawab, ia melihat salah seorang dari
kelima bayangan itu memutar tubuhnya dan maju selangkah, tepat
ke arah Witantra dan adik-adik seperguruannya bersembunyi.
Tetapi Witantra lebih terkejut lagi ketika ia mendengar bayangan
yang di sudut itu berkata, “Biarkan mereka berada di sana.”
Sesaat Witantra terpaku di tempatnya. Bukan saja Witantra,
namun kedua saudara seperguruannya pun terkejut pula
mendengar suara itu. Bahkan Kebo Ijo, yang termuda di antara
mereka bertiga tidak dapat menahan perasaannya. Setelah sekian
lama mereka berjuang melawan Empu Sada, dan bahkan hampir
saja mereka mengalami bencana, tiba-tiba mereka melihat
kehadiran orang itu. Karena itu, meledaklah kegembiraan Kebo Ijo.
Hampir berteriak ia memanggil orang yang berdiri di dalam
bayangan yang kelam itu, “Guru! Gurukah itu?”
Witantra menggamit tangan Kebo Ijo, tetapi anak muda itu tidak
memperhatikannya. Bahkan selangkah ia meloncat maju dan sekali
lagi memanggil, “Guru. Kami bertiga dengan Kakang Witantra dan
Kakang Mahendra.”
Orang yang berdiri di sudut yang gelap itu menyahut,
“Kemarilah!”
Kebo Ijo menjadi ragu-ragu. Dilihatnya Empu Sada berdiri tegak
seperti patung. Kalau ia berjalan ke tempat gurunya berdiri, Empu
Sada itu dapat dengan tiba-tiba memotong jalannya, dan dengan
sebuah serangan mungkin ia telah terpelanting untuk tidak bangun
lagi. Tongkat yang panjang itu pasti mampu mematahkan tulangtulang
rusuknya. Sehingga dengan demikian, anak muda itu
berpaling kepada kedua saudaranya. Kalau mereka berjalan
bersama-sama, maka kemungkinan untuk mempertahankan diri
menjadi lebih besar.
Agaknya gurunya melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya
mengulangi, “Kemarilah. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo. Jangan
hiraukan Empu Sada. Ia orang yang baik hati. Ia pasti tidak akan
berbuat sesuatu.”
Empu Sada menggeram. Selangkah ia maju sambil bergumam,
“Kalau kalian bergerak selangkah, maka kalian akan berkubur di
hutan ini.”
“Kita akan terlampau banyak pekerjaan Empu,” berkata
bayangan di kegelapan, yang ternyata adalah guru Witantra yang
kekurus-kurusan dan bernama Panji Bojong Santi, “Kalau kau
membunuh murid-muridku, maka sedikitnya kita harus mengubur
enam orang sekaligus di sini.”
“Kenapa enam?” teriak Empu Sada.
“Apakah kau tidak mengerti hitungan sama sekali? Bukankah tiga
ditambah dengan tiga itu berjumlah enam?”
“Kenapa enam?” sekali lagi Empu Sada berteriak, “aku hanya
membunuh tiga orang.”
“Kau membunuh muridku tiga orang dan aku membunuh
muridmu tiga orang. Bukankah jumlahnya enam.”
Sekali lagi Empu Sada menggeram. Kali ini lebih keras lagi. Tetapi
ia tidak menyahut.
“Nah, Witantra, kemarilah!” ulang Panji Bojong Santi.
Witantra, Mahendra, dan Kebo Ijo kemudian melangkah
bersama-sama. Pedang-pedang mereka masih erat di dalam
genggaman tangan mereka. Dengan penuh kesiapsiagaan mereka
berjalan beberapa langkah di samping Empu Sada. Tetapi Empu
Sada itu berdiri saja seperti tonggak.
Ketika mereka telah berada di samping guru mereka, maka Kebo
Ijo menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Untung guru segera
datang. Kalau tidak, maka kami pasti akan ditelan oleh anak-anak
Empu Sada.”
Panji Bojong Santi tidak menjawab. Tetapi ia berkata kepada
Empu Sada, “Anak-anak ayam kini telah kembali ke induk
masingmasing.
Nah, Empu yang baik. Apakah sebenarnya yang kau
kehendaki?”
Empu Sada memutar tubuhnya. Ditatapnya Panji Bojong Santi
dengan penuh kebencian. Namun ia tidak segera menjawab. Ketika
kemudian ia berpaling, dilihatnya ketiga murid-muridnya, Kuda
Sempana, Cundaka yang lebih senang disebut Bahu Reksa Kali Elo
dan Sungsang pun masih menggenggam pedangnya masingmasing.
Sesaat suasana menjadi sepi tegang. Mereka berdiri berhadapan
di dalam kelompok masing-masing, seolah-olah mereka telah
berjanji untuk mengadakan perang tanding. Seorang guru dengan
tiga orang murid masing-masing.
Yang terdengar kemudian adalah suara angin malam yang
mengalir di antara dedaunan. Suara burung malam di kejauhan dan
suara anjing-anjing liar berebutan makan.
Dalam keheningan itulah maka Empu Sada mencoba membuat
perimbangan dari dua kekuatan yang sudah berhadap-hadapan.
Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Orang-orangnya tidak
akan mampu menghadapi para prajurit Tumapel yang lebih banyak
berpengalaman dan terlatih cukup baik. Apalagi kini ia tidak sempat
mengikat para pemimpinnya dalam satu perkelahian, karena
kehadiran Panji Bojong Santi. Karena itu, yang terdengar kemudian
adalah suara giginya yang gemeretak.
Yang berbicara kemudian adalah Panji Bojong Santi, “Bagaimana
Empu, apakah kita masih sempat untuk melihat anak-anak kita
berkelahi, atau kau mempunyai keputusan lain?”
Empu Sada menggelengkan kepalanya.
“Tidak,” katanya dalam nada yang keras, “Kali ini rencanaku
telah kau rusakkan. Aku tidak dapat berkata lain daripada itu.
Tetapi
kesalahan yang telah kau lakukan ini membuat aku mendendammu,
seperti aku mendendam Empu Gandring yang mengganggu aku
pula.”
“Aku telah mendengar dari Mahendra,” sahut Panji Bojong Santi,
“tetapi seperti Empu Gandring aku ingin memperingatkanmu, jangan
bermain-main bersama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kau akan
dapat ditelannya Empu. Seperti Empu Gandring, menurut Mahendra,
aku menganggapmu lain dari kedua orang-orang liar itu.”
Sekali lagi Empu Sada berteriak, “Apa pedulimu?”
“Aku hanya memperingatkan. Aku masih mengharap kau
lepaskan segala macam keinginanmu yang aneh-aneh itu. Jangan
terlampau kau manjakan muridmu yang bernama Kuda Sempana.
Seandainya Mahendra yang berbuat seperti Kuda Sempana, maka ia
akan aku lepaskan untuk berbuat sendiri, atas tanggung jawabnya
sendiri. Tetapi Mahendra tidak berbuat demikian. Ia menyadari
keadaannya.”
Empu Sada tertawa, meskipun nadanya pahit. Katanya, “Kau
menjadi ketakutan seperti Empu Gandring itu juga.”
Panji Bojong Santi tidak segera menjawab. Dilihatnya Empu Sada
berdiri dengan gemetar menahan marah. Tetapi kemarahan itu
benar-benar tidak mampu dilepaskannya, karena ia berhadapan
dengan Panji yang kurus itu. Kalau ia memaksa diri untuk
bertempur, maka pasti tidak akan mencapai penyelesaian.
Perkelahian itu tidak akan berkesudahan. Tetapi apakah
muridmuridnya
mampu melawan ketiga murid Bojong Santi itu?
Empu Sada menggeram. Ia menyesal bahwa selama ini ia tidak
benar-benar menempa muridnya dengan kesadaran. Ia memberikan
ilmunya dengan acuh tak acuh. Meskipun murid-muridnya menjadi
orang-orang yang melampaui orang kebanyakan, namun mereka
tidak dapat menyamai murid-murid Bojong Santi dan murid Empu
Purwa yang bernama Mahisa Agni. Empu Sada menyesal. Namun
waktu telah berjalan terlampau jauh. Saat-saat itu ia hanya sekedar
menjual ilmunya. Dengan sedikit harta dan benda, Empu Sada telah
dengan mudahnya menerima seseorang menjadi muridnya. Tetapi
murid-murid itu pun tidak mempunyai tingkatan yang serasi
menurut urutan-urutannya. Siapa yang lebih banyak memberinya
sesuatu, ialah yang lebih banyak menerima ilmu.
Tetapi ketika ia harus berhadapan dengan perguruan lain, terasa
bahwa apa yang dilakukannya itu keliru. Kini harga dirinya langsung
tersentuh, ketika ia berhadapan dalam jumlah yang sama. Namun
sudah pasti, bahwa ketiga muridnya tidak akan mampu berhadapan
dengan ketiga murid Panji Bojong Santi.
Untuk menenteramkan dirinya sendiri, Empu Sada itu berkata di
dalam hatinya. “Belum terlambat. Aku masih dapat menempa
beberapa orang di antara murid-muridku untuk menyamai ketiga
murid Panji yang gila ini. Mungkin ketiga muridku ini, mungkin yang
lain lagi. Namun kelebihanku adalah, aku mempunyai banyak murid,
sedang Panji yang gila ini hanya tiga dan Empu Purwa hanya satu.
Apalagi Gandring tukang membuat keris itu. Ia hampir tidak pernah
memedulikan apa-apa selain keris-kerisnya.”
Keheningan yang sejenak itu kemudian dipecahkan oleh suara
Panji Bojong Santi, “Empu Sada, apakah kau masih tetap
berkeinginan bekerja bersama-sama dengan kedua orang liar itu?”
“Tentu,” jawab Empu Sada, “aku sudah melihat kalian menjadi
ketakutan. Kau dan Empu Gandring.”
“Ya, aku memang takut,” sahut Bojong Santi.
“Nah. Kau sudah mengaku. Karena itu, jangan menghalangi aku.”
“Kau belum tahu apa yang aku takutkan. Bukan Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat.”
“Apa yang kau takutkan?”
“Kau.”
“Kenapa aku?” Empu Sada menjadi heran.
“Aku takut kalau kau akan menjadi korban ketamakanmu. Aku
takut kalau kau akan lenyap ditelan oleh kedua orang itu setelah
kau mencoba menghubunginya.”
Sekali lagi Empu Sada tertawa. Tetapi tiba-tiba terdengar ia
bersiul panjang.
Apa yang terjadi kemudian adalah terlampau cepat sehingga
Witantra dan saudara-saudara seperguruannya berdiri saja
memandangi mereka yang tiba-tiba meloncat dan menghilang ke
dalam semak-semak. Baru sejenak kemudian Witantra menyadari
keadaan. Dengan serta-merta ia berkata, “Apakah kita biarkan
mereka lari?”
“Jangan hiraukan mereka kini,” jawab gurunya, “bukankah kalian
mempunyai tanggungan? Kalau kalian berhasil menyelamatkan
gadis itu, kalian harus sudah mengucap syukur atas lindungan Yang
Maha Agung.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Ya,
Guru.”
Tetapi Kebo Ijolah yang kemudian bertanya, “Kenapa Guru tibatiba
saja berada di tempat ini?”
Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,
“Aku sudah menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Sejak aku
mendengar cerita Mahendra yang bertemu dengan Empu Sada di
padang Karautan. Berita tentang perjalanan Ken Dedes ini sudah
didengar oleh hampir setiap orang Tumapel yang pasti telah
didengar pula oleh salah seorang saudara seperguruan Kuda
Sempana yang tersebar di mana-mana. Aku sudah menyangka
bahwa Empu Sada akan melakukan pencegatan ini. Karena itu, aku
memerlukan mengikuti arak-arakan sejak dari Tumapel.”
“Kenapa Guru tidak berjalan saja bersama-sama kami dalam satu
rombongan?”
“Aku lebih senang berjalan sendiri. Aku tidak biasa berjalan
menurut irama yang ditentukan oleh Witantra.”
Witantra tersenyum. Katanya, “Terima kasih, Guru. Kalau Guru
tidak hadir di sini, maka aku dan semua anak buahku akan musnah.
Bukan saja itu, tetapi namaku akan hancur pula bersama lenyapnya
bakal permaisuri.”
Tiba-tiba Bojong Santi menggeleng, “Tidak. Kau salah sangka.”
“Kenapa?” bertanya ketiga muridnya hampir serentak.
“Ketika aku menahan Kuda Sempana dan kedua kawankawannya,
aku melihat seseorang di sekitar tempat itu. Aku sudah
mengenalnya meskipun belum terlampau akrab.”
“Siapa?”
“Ayah gadis itu.”
“Empu Purwa?”
“Ya. Ia berada di tempat ini juga sekarang. Mungkin Empu Purwa
mendengar pula percakapan ini. Kalau aku tidak ada di tempat ini,
orang tua itu tidak akan sampai hati membiarkan gadisnya diambil
oleh Kuda Sempana.”
“Tetapi kenapa Empu Purwa itu tidak menampakkan dirinya di
hadapan putrinya.”
Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba
dilayangkan pandangan matanya berkeliling, seakan-akan mencari
seseorang di dalam gelapnya malam. Tetapi yang dikatakan adalah,
“Kembalilah kepada tugasmu. Cepat! Sebelum Empu Sada
mendahuluimu. Kalau orang itu datang, beri aku tanda. Panggil saja
namaku keras, tanpa siul-siulan atau segala macam tanda sandi.
Aku tetap di sini.”
Witantra segera menyadari keadaannya. Saat itu ia masih harus
mempertanggung jawabkan seorang gadis bakal permaisuri Akuwu
Tunggul Ametung, Karena itu tiba-tiba ia menyahut, “Ya, Guru. Aku
akan segera kembali ke perkemahan.”
“Pergilah.”
Witantra pun kemudian segera mohon diri bersama saudarasaudara
seperguruannya. Dengan tergesa-gesa mereka menyusuri
dedaunan dan ranting-ranting perdu, kembali ke tempat para
prajurit Tumapel menunggu dengan cemas.
Ternyata jalan kembali itu agak lebih mudah ditempuhnya
daripada saat mereka mencari Empu Sada. Mereka kini dapat
melihat bayangan api di ujung pepohonan sebagai penunjuk arah,
meskipun kadang-kadang bayangan itu sama sekali tidak dapat
mereka lihat karena rimbunnya batang-batang kayu. Tetapi
sekalisekali
cahaya yang kemerah-merahan dapat menunjukkan ke mana
mereka harus pergi. Agaknya beberapa orang prajurit tetap
memelihara supaya api tidak padam, sehingga mereka dapat lebih
cermat mengawasi keadaan.
Sepeninggal Witantra dan kedua saudara seperguruannya. Panji
Bojong Santi masih saja berdiri tegak seperti patung, seakan-akan
sengaja ia membiarkan dirinya tidak bergerak dan tidak dikenal di
antara batang-batang kayu. Tetapi Panji Bojong Santi itu agaknya
sedang menunggu seseorang, ia yakin bahwa orang yang
ditunggunya itu pasti akan datang.
Ternyata Bojong Santi tidak menjadi kecewa karenanya. Sejenak
kemudian ia mendengar gemeresik halus di sampingnya. Namun
orang tua yang kurus itu sama sekali tidak bergeser dari tempatnya.
Ketika dari semak-semak muncul seseorang, maka dengan sertamerta
Panji Bojong Santi itu memutar tubuhnya sambil mengangguk
dalam-dalam, katanya, “Selamat malam Empu.”
“Terpujilah Tuan, karena Tuan telah menolong anakku dari
bencana. Langsung atau tidak langsung.”
Panji Bojong Santi tersenyum. Jawabnya, “Empu terlampau
merendahkan diri. Apakah artinya tenagaku dibanding dengan Empu
sendiri. Kalau aku tahu bahwa Tuan ada di sini, maka aku tidak
akan bersombong diri, mencegah perbuatan Kuda Sempana. Sebab
pasti Tuan sendiri akan berbuat jauh lebih baik dari yang aku
lakukan. Aku melihat kehadiran Tuan setelah aku terlanjur mengikat
Kuda Sempana dalam perkelahian.”
Orang yang baru datang itu, yang ternyata adalah Empu Purwa,
kini tersenyum pula. Katanya, “Tetapi aku memang tidak dapat
berbuat secepat Tuan. Tuan telah mendahuluiku. Namun adalah
lucu sekali, bahwa agaknya maksud kita bersamaan. Aku pun
sebenarnya ingin memanggil Empu Sada dan ketiga muridnya
seperti yang Tuan lakukan.”
Panji Bojong Santi tertawa.
“Aku sudah menyangka,” jawabnya, “kalau tidak Tuan pasti
langsung menolong putri Tuan di perkemahan. Dan inilah yang tidak
aku ketahui. Ketika Witantra bertanya kepadaku, kenapa Tuan tidak
menampakkan diri, bahkan langsung di arena, maka aku tidak dapat
menjawabnya.”
Empu Purwa kini tidak tersenyum lagi. Bahkan kemudian ia
menarik nafas dalam. Namun segera ia berusaha menghilangkan
segala macam kesan yang mencengkam perasaannya. Katanya,
“Aku mendengarkan percakapan Tuan dengan murid-murid Tuan.
Aku sebenarnya ingin tahu, apakah jawab Tuan atas pertanyaan
itu.”
“Tentu aku tidak akan dapat menjawab,” sahut Panji Bojong
Santi.
Sekali lagi Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Katanya,
“Aku hanya ingin bermain-main sembunyi-sembunyian seperti
Tuan.”
Panji Bojong Santi menangkap kesan yang suram dalam katakata
Empu Purwa. Terasa sebuah sentuhan halus pada perasaan
orang tua itu. Sehingga karena itu, maka berkata Panji kurus itu,
“Maaf Empu. Mungkin pertanyaan itu tidak berkenan di hati Tuan.”
“Oh, tidak,” jawab Empu Purwa tergesa-gesa, “tidak. Tidak apaapa.
Mungkin ada baiknya aku mengatakan kepada Tuan supaya
beban yang menyumbat dadaku dapat melimpah keluar. Selama ini
tak ada seorang pun yang dapat membantu meringankan
perasaanku.”
Panji Bojong Santi sama sekali tidak menyahut. Ia menyesal
bahwa pertanyaannya agaknya telah mengungkap kepahitan
perasaan Empu Purwa. Tetapi pertanyaan itu sudah terlanjur
diucapkan.
“Tuan,” berkata Empu Purwa kemudian, “pertanyaan adalah
pertanyaan yang wajar. Kadang-kadang aku sendiri bertanya
demikian. Kenapa aku tidak langsung menemui anakku yang
mungkin sangat mengharap hal itu terjadi.”
Panji Bojong Santi hanya menganggukkan kepalanya saja. Tetapi
ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Tetapi aku tidak dapat melakukannya,” berkata Empu Purwa
seterusnya, “meskipun sebenarnya keinginan yang demikian
melonjak-lonjak pula di dalam dadaku.”
Empu Purwa terdiam sesaat, sehingga suasana menjadi sepi
hening. Di kejauhan lamat-lamat terdengar suara burung engkak
menusuk-nusuk telinga dengan suaranya yang parau menyakitkan.
“Tuan,” berkata Empu Purwa kemudian, “betapa rinduku kepada
putriku, namun betapa kecewanya aku terhadapnya. Sejak anak itu
hilang, aku sudah tidak mengharap dapat bertemu lagi. Aku tidak
mau kehilangan, tetapi apakah aku harus melawan Akuwu Tunggul
Ametung? Bukan karena Tunggul Ametung mempunyai kesaktian
tanpa batas, tetapi ia adalah pemimpin pemerintahan.
Perlawananku akan dapat menimbulkan malapetaka bagi Tumapel.
Tiba-tiba aku mendengar kemudian, bahwa anak itu telah menjadi
seorang bakal Permaisuri. Alangkah kecewanya hatiku. Tetapi aku
tidak ingin mengecewakan hati putriku. Kalau telah berkenan di
hatinya, biarlah ia menemukan kebahagiaan. Tetapi kekecewaanku
terhadap tingkah laku Tunggul Ametung yang melindungi Kuda
Sempana mengambil anakku, tidak akan dapat terhapus dari dinding
hatiku. Karena itu, lebih baik aku tidak bertemu lagi dengan
putriku.
Biarlah ia menemukan kebahagiaan yang dikehendakinya, aku
adalah orang tua. Hari depannya masih jauh lebih panjang dari hari
depanku.”
Bojong Santi tidak berkata sepatah kata pun. Ia dapat merasakan
betapa pedih hati orang tua itu. Ia dihadapkan kepada keadaan
yang serba salah.
Betapa rindunya orang tua itu kepada putrinya, tetapi betapa
kecewanya ia menghadapi perkembangan keadaan putrinya itu.
Mungkin ia dapat melepaskan perasaan rindunya dengan menemui
gadis itu, memeluknya seperti masa-masa lampau sambil menghibur
dan membesarkan hati gadis itu. Tetapi apabila disadarinya bahwa
di sisi gadis itu kelak akan berdiri Tunggul Ametung, maka dadanya
pasti segera akan menyala kembali.
Sesaat kedua orang tua itu saling berdiam diri. Dibiarkannya
angin malam membelai tubuh-tubuh yang sudah mulai dihiasi
lengan keriput-keriput kulit. Betapa mereka sakti tiada tandingnya,
namun mereka tidak dapat melawan kekuasaan tangan Penciptanya.
Mereka tidak akan mampu melawan umur mereka sendiri yang
semakin lama menjadi semakin tua. Meskipun mereka mampu
bertempur melawan setiap orang sakti, namun mereka tidak dapat
melawan kekuasaan maut yang semakin tua menjadi semakin
mendekat.
Empu Purwa pun menyadari hal itu pula. Apabila orang tua itu
sedang merenungi kepahitan hidupnya, maka kelak ia kembali
kepada Sumber hidup itu sendiri. Dicarinya ketenteraman dan
hiburan yang sejati. Sehingga dengan demikian, maka hatinya pun
menjadi mengendap. Ia tidak lagi bernafsu membiarkan dirinya
dikuasai oleh kemarahan dan kekecewaan. Sehingga dengan
demikian, kemudian ia dapat menempatkan kepentingan anaknya
yang masih muda itu di atas kepentingannya sendiri.
Tetapi sebagai manusia, Empu Purwa adalah manusia perasa.
Manusia yang kadang-kadang hanyut dilanda perasaannya sendiri.
Perasaan yang tersinggung oleh sentuhan-sentuhan yang kadangkadang
dapat mengguncangkan keseimbangan berpikir.
Empu Purwa pun menyadari pula. Ia menyesal bahwa karena
guncangan perasaan, ia telah mengutuk orang-orang Panawijen,
bahkan memecahkan bendungannya pula. Ia kini menyesal bahwa
ia mengutuk setiap orang yang turut melarikan anaknya, bahwa
mereka akan mati dengan keris.
Tetapi semuanya telah terjadi. Dan orang tua itu tidak mau
terjadi pula peristiwa-peristiwa serupa. Karena itu, lebih baik ia
tidak
bertemu dengan putrinya, supaya ia tidak mengalami guncangan
perasaan, dan berbuat di luar keseimbangan berpikir.
Malam yang sunyi itu pun menjadi semakin malam. Di langit
bintang-bintang yang gemerlapan seolah-olah ditaburkan di atas
layar yang hitam legam. Suara-suara burung engkak yang parau
sekali-sekali masih terdengar, menjerit-jerit.
Dalam kesunyian itu, kembali terdengar Empu Purwa berkata,
“Aku lebih baik menemani Tuan di sini.”
Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa
betapa dalam luka di hati Empu Purwa. Karena itu maka jawabnya
kemudian, “Terima kasih Tuan. Aku akan senang sekali apabila Tuan
bersedia menemani aku di sini.”
“Bukankah kita tidak lagi mempunyai pekerjaan?” berkata Empu
Purwa, “dan bukankah Tuan berjanji kepada murid-murid Tuan,
bahwa Tuan akan tetap berada di sini.”
Bojong Santi menjawab, “Ya. Itulah sebabnya, aku bergembira
bahwa Tuan sudi menemani aku.”
Empu Purwa tersenyum. Tetapi senyumnya terasa hambar.
Katanya kemudian, “Aku akan beristirahat. Mungkin Tuan juga lelah
setelah bermain kejar-kejaran dengan murid-murid Empu Sada.”
Panji Bojong Santi pun tersenyum. Jawabnya, “Ya. Aku juga ingin
duduk.”
Keduanya kemudian duduk berhadapan di atas rumput-rumput
kering. Namun sejenak mereka tidak berbicara apapun. Empu Purwa
masih mencoba menenangkan perasaannya yang terasa mulai
bergolak. Sedang Panji Bojong Santi mencoba memahami
sepenuhnya semua kata-kata Empu Purwa.
“Bersyukurlah aku, bahwa gadisku tidak mengalami banyak
persoalan seperti gadis Empu Purwa,” berkata Bojong Santi itu di
dalam hatinya. Ia berdoa semoga anaknya kelak akan mendapatkan
jalan yang baik, meskipun tidak usah menjadi seorang permaisuri
akuwu. Karena Panji Bojong Santi itu pun mempunyai seorang anak
gadis pula, maka apa yang dirasakan Empu Purwa, seolah-olah
dapat dirasakannya pula. Namun di samping itu, Panji Bojong Santi
itu pun menyimpan perasaan iba terhadap Ken Dedes yang malang.
Garis hidupnya seakan-akan selalu diliputi oleh duka dan derita.
Mudah-mudahan, seperti Empu Purwa menginginkan, berbahagialah
gadis itu kelak setelah ia menjadi seorang permaisuri.
Sejenak kemudian barulah mereka mulai berbicara kembali.
Tetapi mereka sudah tidak membincangkan Ken Dedes lagi. Apa
yang mereka percakapkan adalah soal-soal yang tidak berarti,
menjelang hari-hari tua mereka. Tetapi akhirnya pembicaraan itu
sampai pula kepada Empu Sada, yang akan mencoba
mempergunakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Kasihan Empu Sada,” gumam Empu Purwa, “ia akan terjerumus
ke dalam kesulitan yang besar.”
“Mudah-mudahan ia mengurungkan niatnya,” sahut Panji Bojong
Santi.
Kembali mereka berdiam sejenak. Kembali Bojong Santi mencoba
merasakan perasakan Empu Purwa. Betapapun kekecewaan
membakar hati seorang ayah, namun ternyata ia tidak sampai hati
melihat anaknya mengalami bencana. Empu Purwa, meskipun tidak
mau menemui gadisnya, namun ia berada hampir di segala tempat
untuk mengawasi anaknya. demikianlah cinta orang tua terhadap
anaknya, dan adakah demikian pula sebaliknya?
Dalam pada itu Witantra dan kedua saudara seperguruannya
telah berada kembali di antara anak buahnya. Sidatta segera
menanyakan apakah yang sebenarnya terjadi dengan Kuda
Sempana.
Sebelum Witantra menjawab, maka Kebo Ijo telah menyahut
dengan lantangnya. Diceritakannya apa yang dilihatnya dan apa
yang dialaminya. Lancar dan penuh tekanan, sehingga setiap orang
menjadi sangat asyik mendengarnya. Tidak terkecuali Ken Dedes
sendiri.
Gadis bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu
mendengarkan dengan hati yang berdebar-debar. Ia tidak dapat
membayangkan, apa yang akan terjadi dengan dirinya, apabila Kuda
Sempana berhasil dengan rencananya. Mungkin ia telah mengambil
keputusan untuk membunuh diri.
“Untunglah bahwa Guru datang,” berkata Kebo Ijo, “kalau tidak,
kita semua pasti akan musnah dibakar oleh kemarahan Empu Sada.”
Yang mendengar cerita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka pun mengucapkan terima kasih di dalam hati mereka.
“Guruku adalah seorang yang bijaksana, yang dapat
memperhitungkan apa yang kira-kira akan terjadi dengan kita di
perjalanan ini,” berkata Kebo Ijo pula. Dan setiap orang pun
menjadi semakin kagum.
Tetapi dalam pada itu Witantra berkata, “Sudahlah kebo Ijo
jangan membual.”
“Bukankah sebenarnya demikian Kakang?” sahut Kebo Ijo,
“Langsung apa tidak langsung, bukankah Guru kita yang telah
menyelamatkan putri? Guru berbuat demikian tanpa pamrih. Kita
adalah prajurit-prajurit Tumapel. Adalah kewajiban kita untuk
mempertahankan Tuan Putri, tetapi Guru, sama sekali tidak
mempunyai kepentingan apa-apa. Namun ia telah berbuat, dan
bahkan menentukan.”
“Kau sendiri telah mengurangi nilai dari perbuatan Guru kita,
Kebo Ijo,” berkata Witantra.
“Kenapa?”
“Hanya orang-orang yang ingin menerima pujian, ingin menerima
balas jasa sajalah yang dengan bangganya memamerkan jasa itu
kepada orang lain,” potong Mahendra, “Apakah Guru akan senang
mendengar kau bercerita semacam itu?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi
murung, tetapi ia tidak berkata apapun lagi.
“Bukankah guru berkata, “Mahendra meneruskan, “bahwa
seandainya Guru tidak hadir, maka ada orang lain yang dapat
berbuat serupa. Bahkan orang itu adalah ayah Tuan Putri sendiri.”
“Mahendra,” potong Witantra.
Mahendra terkejut mendengar suara kakak seperguruannya.
Sesaat ia tidak mengerti maksud kakaknya, kenapa ia memotong
kata-katanya. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa ia telah
terdorong menyebut ayah Ken Dedes, sedangkan orang tua itu
sengaja tidak mau menunjukkan dirinya. Meskipun Witantra dan
Mahendra tidak tahu sebabnya, kenapa orang tua itu tidak hadir di
perkemahan ini, namun pastilah ada sesuatu sebab, kenapa orang
tua itu lebih baik bersembunyi di belakang rumpun-rumpun liar.
Tetapi segera Mahendra terkejut ketika didengarnya suara Ken
Dedes dengan serta-merta, “Mahendra, apakah kau bertemu
dengan Ayah?”
Mahendra memandang Ken Dedes sesaat. Hanya sesaat,
kemudian ia menundukkan wajahnya. Hatinya menjadi berdebardebar.
Bukan saja karena pertanyaan Ken Dedes itu, tetapi sesaat ia
melihat wajah yang pernah mengguncangkan hatinya itu, maka
jantungnya seakan-akan semakin cepat berdenyut.
Sementara itu, yang menjawab adalah Witantra, “Tidak Tuan
Putri. Kami tidak bertemu dengan ayah Tuan Putri. Kami hanya
membayangkan dan menduga, bahwa ayah Tuan Putri tidak akan
sampai hati apabila bencana menimpa diri Tuan Putri.”
“Kakang Witantra,” berkata Ken Dedes kemudian,” berkatalah
sebenarnya.”
“Hamba berkata sebenarnya Tuan Putri,” sahut Witantra sambil
membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Guru hambalah yang
berkata kepada kami bertiga, bahwa kemungkinan besar adalah
ayah Tuan Putri akan selalu membayangi ke mana Tuan Putri pergi.
Namun itu hanyalah dugaan semata-mata.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Wajahnya yang pucat
karena peristiwa yang mendebarkan jantung itu kini menjadi
semakin suram, perlahan-lahan gadis itu duduk di sisi tandunya.
Sesaat ia memandangi api yang masih menyala, namun kemudian
tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dan mengusap matanya
dengan selendangnya. Hati Ken Dedes itu tiba-tiba serasa tersayat
ketika ia mengenangkan keadaan ayahnya dibandingkan dengan
keadaannya sendiri, “Apakah Ayah bergembira melihat keadaanku?”
katanya di dalam hati, “atau Ayah kini telah membenciku?”
Perkemahan itu kini menjadi sunyi senyap. Mahendra yang
menundukkan wajahnya, mencoba untuk menguasai perasaannya.
Ia tidak mau menjadi gila seperti Kuda Sempana. Ketika sekali ia
memandang Ken Dedes dengan sudut matanya, ia terkejut. Gadis
itu menangis meskipun ditahannya.
Mahendra menyesal bukan kepalang. Perkataannyalah yang telah
menuntun gadis itu ke dalam suatu kenangan yang pahit. Ia
kehilangan ayahnya.
Tak seorang pun yang kemudian berbicara di antara mereka.
Para prajurit itu pun kemudian beristirahat di dekat perapian,
berkelompok-kelompok. Beberapa orang telah menyingkirkan
beberapa korban dari orang-orang Empu Sada. Seorang dari mereka
yang terluka, telah dicoba oleh para prajurit Tumapel untuk
mengobatinya dengan reramuan yang memang telah tersedia.
Namun karena lukanya terlampau parah, maka orang itu pun tidak
tertolong pula. Tiga orang yang terbunuh dalam pertempuran itu.
Sedang dua orang prajurit Tumapel mendapat luka-luka. Tetapi
untunglah bahwa luka itu tidak terlampau parah sehingga keadaan
mereka tidak berbahaya.
Semalam itu hampir tak seorang pun yang dapat memejamkan
matanya. Meskipun Ken Dedes berusaha sambil bersandar pada sisi
tandunya, namun semua yang pernah terjadi seakan-akan selalu
membayang. Bahkan menjadi sedemikian jelasnya, sehingga terasa
seolah-olah baru siang tadi terjadi. berturut-turut sehingga saat
yang terakhir, yang baru saja terjadi. Kuda Sempana baginya
benarbenar
seperti hantu yang selalu menakut-nakutinya ke mana ia
pergi dan di mana saja ia berada.
Tetapi Witantra sendiri saat itu dapat beristirahat dengan
tenangnya meskipun tidak juga sempat tertidur. Ia tahu benar
bahwa gurunya berada tidak terlampau jauh daripadanya, bahkan ia
pun percaya bahwa ayah gadis itu pun berada di sana pula.
Meskipun demikian, perasaan Witantra masih juga diganggu oleh
pembicaraan antara gurunya dengan Empu Sada. Gurunya telah
menyebut-nyebut nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Witantra
pernah mendengar nama-nama itu disebut gurunya sebelumnya
sebagai nama-nama yang telah dilumuri oleh noda-noda hitam. Jauh
lebih kotor dari nama Empu Sada. Tetapi Witantra belum pernah
mendengar, apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang itu.
Tidak bedanya dengan Witantra, Mahendra pun selalu
digelisahkan oleh nama-nama yang belum banyak dikenalnya itu.
ketika ia mendengar nama itu dipercakapkan oleh Empu Sada dan
Empu Gandring, ia tidak begitu menghiraukannya. Tetapi gurunya
telah menyebut nama itu pula. Bahkan ketika ia menceritakan
nama-nama itu kepada gurunya, tampak kerut-kerut kening orang
tua itu.
Di sebelah lain, Kebo Ijo berbaring di atas rerumputan kering. Ia
sama sekali tidak memikirkan apa yang akan dilakukan Empu Sada
kemudian. Ia sama sekali tidak memedulikan nama-nama Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Anak muda itu sedang mengenangkan
apa yang telah terjadi. Bahkan tiba-tiba bulu-bulu tengkuknya
berdiri. Apakah jadinya seandainya gurunya tidak datang menolong
mereka?
“Hem,” desahnya di dalam hati, “hampir aku menjadi daging.
Alangkah kecewanya bakal istriku nanti. Ayah dan ibunya pasti
menjadi pingsan. Mereka urung mendapat seorang menantu seperti
aku. Seorang prajurit pengawal Akuwu Tumapel.”
Kebo Ijo itu tersenyum sendiri. Diamatinya bayangan nyala api
yang bermain-main di dedaunan. Ketika angin menghembus
tubuhnya disertai dengan suara gemeresik di sela-sela pepohonan,
Kebo Ijo mencoba memejamkan matanya. Tetapi ia tidak berhasil.
Yang bermain-main di rongga angan-angannya adalah, beberapa
hari lagi ia menjadi seorang mempelai. Namun dengan demikian, ia
selalu digelisahkan oleh kekhawatiran tentang dirinya. Katanya
kemudian di dalam hatinya, “Kalau aku harus bertempur kembali,
sebaiknya kelak, apabila aku telah melampaui hari-hari perkawinan
itu. Mudah-mudahan Empu Sada tidak mencegat perjalanan ini
sekali lagi. Apalagi bersama-sama dengan orang-orang yang
disebutnya bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
Berbeda dengan mereka. Sidatta dan para prajurit yang lain
masih selalu dibayangi oleh kegelisahan. Mereka belum dapat
memastikan bahwa bencana tidak akan kembali malam nanti.
Meskipun Kebo Ijo telah mengatakan bahwa gurunya akan selalu
mengawasi iring-iringan itu, namun hatinya masih juga dicemaskan
oleh bayangan-bayangan yang selalu mendebarkan jantungnya.
Sebagai seorang prajurit ia merasa bahwa seluruh pasukan itu
bertanggung jawab atas keselamatan Ken Dedes.
Malam berjalan menurut iramanya yang ajeg. Sesaat demi
sesaat, menjelang ujung hari berikutnya. Meskipun betapa
lambatnya, namun pagi hari yang mereka tunggu itu pun pasti akan
datang. Meskipun demikian, terasa bahwa tubuh-tubuh mereka
menjadi sangat penat. Bukan karena mereka baru saja bertempur,
justru karena mereka harus menunggu. Menunggu bagi mereka
adalah pekerjaan yang menjemukan. Mereka tidak dapat berjalan di
malam yang gelap. Akibatnya akan lebih berbahaya. Di belakang
dedaunan dan di belakang pepohonan, mungkin bersembunyi
bahaya yang telah siap menerkam mereka.
Namun akhirnya langit pun menjadi semburat merah. Bintangbintang
semakin lama menjadi semakin kabur, satu demi satu
bersembunyi dibalik cahaya yang semakin cerah di langit.
Demikian cahaya fajar menyentuh hutan itu, maka segera
Witantra mempersiapkan diri beserta seluruh iring-iringan. Setelah
mereka mengemasi semua perlengkapan dan membenahi diri, maka
segera iring-iringan itu berangkat meninggalkan hutan.
Perlahanlahan
mereka maju menyusup di antara pepohonan dan akar-akar
yang bergayutan dari cabang-cabang pohon yang besar.
Sekali-sekali Witantra yang kemudian berjalan di paling depan
bersama Sidatta, mencoba memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Bahkan sekali-sekali Witantra mencoba mengetahui, apakah
gurunya ikut juga berangkat ke Panawijen meskipun tidak berada di
dalam rombongan itu.
Meskipun kemudian mereka berjalan dalam limpahan cahaya
matahari, namun bahaya masih juga dapat datang setiap saat.
Empu Sada mungkin akan menganggap bahwa di siang hari mereka
akan dapat lebih berhasil daripada di malam hari. Mungkin mereka
telah berhasil menghubungi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk
kemudian mereka datang bersama-sama untuk menebus kekalahan
semalam.
Tetapi ternyata mereka tidak lagi bertemu dengan Empu Sada.
Hutan itu pun semakin lama menjadi semakin tipis. Perjalanan
mereka sebenarnya termasuk perjalanan yang sulit. Namun daerah
yang paling pepat telah mereka lampaui.
Bahkan sekali-sekali mereka sempat melihat binatang-binatang
buruan yang berlari-lari ketakutan melihat barisan itu menerobos
sarang-sarang mereka.
Apabila mereka nanti meninggalkan hutan itu, mereka masih juga
harus melewati padang Karautan, meskipun tidak terlampau
panjang. Mereka akan melewati desa Talrampak untuk kemudian
sampai pada sebuah bulak panjang. Bulak itulah bulak yang terakhir
harus mereka lalui. Di ujung bulak itulah terletak padukuhan
Panawijen.
Ken Dedes yang duduk di atas tandu, merasa betapa penatnya
pula. Tandu itu bergetar apabila para pengusungnya harus
meloncati batang-batang yang roboh melintang perjalanan.
Kadangkadang
bergoyang demikian kerasnya apabila mereka harus
menyusup dan kemudian mendaki batu-batu padas. Bahkan sekalisekali
kepala gadis itu terpaksa terantuk pada tiang-tiang tandunya
sehingga terdengar ia memekik kecil.
Kebo Ijo, yang kadang-kadang mendengar pula pekik itu
tersenyum di dalam hati. Kadang-kadang bahkan ia mengumpat,
“Anak itu seolah kurang saja yang dikerjakan. Kenapa ia ingin
menempuh perjalanan yang sesulit ini.”
Namun lepas dari bahaya yang datang dari Empu Sada, berjalan
lewat hutan ini agak lebih baik daripada apabila mereka dibakar
terik matahari di padang Karautan.
Kini, padang yang harus mereka lewati hanyalah beberapa
tonggak saja. Sebelum matahari naik terlampau tinggi, mereka pasti
sudah meninggalkan padang itu sampai di sebuah padang perdu
yang agak dingin. Seterusnya mereka akan memasuki daerah
persawahan dari padukuhan Talrampak
Ketika iring-iringan itu lewat daerah padukuhan Talrampak, maka
seperti dihisap oleh sebuah tenaga gaib, seluruh penduduk
padukuhan kecil itu, keluar dari rumah-rumah mereka. Dengan
kagumnya mereka melihat iring-iringan itu. Iring-iringan yang belum
pernah dilihatnya. Hanya satu dua orang tua-tua yang pernah
mengunjungi Tumapel berkata, “Aku dahulu pernah melihat pula di
Tumapel. Tetapi sudah terlalu lama.”
“Tetapi waktu itu iring-iringan yang megah semacam ini tidak
pernah keluar dari dinding kota,” sahut orang tua yang lain.
Orang pertama menganggukkan kepalanya sambil menyahut,
“Ya. Iring-iringan itu hanya berkeliling kota.”
Kemudian tak seorang pun yang dapat memberi penjelasan,
kenapa kali ini iring-iringan yang megah dikawal oleh
prajuritprajurit
yang perkasa lewat dekat dengan padukuhan mereka.
Ketika orang-orang Talrampak melihat iring-iringan itu memasuki
jalan di tengah-tengah bulak, maka segera mereka tahu bahwa
iring-iringan itu akan menuju ke Panawijen.
“Mereka pergi ke Panawijen,” berkata salah seorang dari mereka.
Yang lain mengangguk. Katanya, “Apakah iring-iringan itu datang
dari Tumapel untuk melihat keadaan Panawijen sekarang?”
Tetapi iring-iringan itu seakan-akan tidak memedulikannya.
Iringiringan
itu berjalan terus dalam irama yang tetap. Langkah para
prajurit masih juga berderap dengan gagahnya. Satu dua ekor kuda
yang turut dalam barisan itu pun kadang-kadang terdengar
meringkik.
Ken Dedes yang sudah cukup lama tidak melihat kampung
halamannya, semakin dekat dengan Panawijen, terasa justru
semakin rindu. Seakan-akan ia ingin meloncat mendahului
iringiringan
yang dirasanya terlampau lambat. Namun ia berada di atas
tandu, sehingga ia tidak akan dapat mempercepat perjalanan
menurut kehendaknya.
Kini iring-iringan itu sudah memasuki sebuah bulak yang
panjang. Bulak terakhir yang harus mereka lalui, di sana-sini masih
terbentang lapangan-lapangan rumput dan perdu yang belum
diusahakan tangan. Sawah-sawah dari padukuhan Talrampak
ternyata tidak terlampau luas. Kemampuan penduduknya untuk
menggarap sawah sangat terbatas. Namun Ken Dedes tahu, bahwa
di sebelah yang lain, akan terbentanglah sawah-sawah yang subur,
pategalan yang hijau segar dan kemudian padukuhan yang aman
damai.
Tetapi gadis itu mengeluh di dalam hatinya. Padukuhan yang
damai itu pernah diguncangkan oleh peristiwa yang mengerikan.
Peristiwa yang berkisar pada dirinya.
“Mudah-mudahan Panawijen tidak kehilangan sifat-sifatnya,”
desahnya di dalam hati.
Matahari yang beredar di langit semakin lama menjadi semakin
tinggi, dan iring-iringan itu pun menjadi semakin mendekati
Panawijen. Lapangan-lapangan rumput dan perdu itu pun semakin
lama menjadi semakin tipis. Beberapa tonggak lagi, mereka akan
sampai ke daerah garapan orang-orang Panawijen. Tegalan dan
sawah-sawah yang mendapat saluran air yang dibuat oleh orangorang
Panawijen. Sawah-sawah yang lebih subur dan baik daripada
sawah dan tegalan orang-orang Talrampak.
Tetapi semakin lama mereka berjalan, timbullah berbagai
pertanyaan di hati Ken Dedes. Lapangan rumput itu pun semakin
lama menjadi semakin tipis dan kering. Gerumbul-gerumbul perdu
liar yang rimbun yang hijau semakin lama menjadi semakin jarang.
“Apakah orang-orang Panawijen kini mampu untuk mencoba
menjadikan daerah ini sebuah tegalan,” berkata Ken Dedes di dalam
hatinya, “apakah orang-orang Panawijen sudah mencoba merambah
pepohonan liar di lapangan perdu ini?”
Tetapi Ken Dedes tidak segera dapat menjawab. Namun yang
dilihatnya kemudian adalah sebuah lapangan yang kering.
Hati Ken Dedes menjadi berdebar-debar. Jauh-jauh ia
memandang ke depan, tetapi ia belum melihat warna-warna hijau
segar yang dirindukan. Bahkan yang terbentang di hadapannya
seolah-olah padang rumput Karautan yang kering.
Ken Dedes menjadi gelisah. Apakah jalan yang ditempuhnya ini
keliru? Tidak mungkin. Ia adalah seorang gadis Panawijen. Witantra,
Mahendra dan beberapa prajurit Tumapel yang lain pasti mengenal
Panawijen pula. Namun apa yang dilihatnya benar-benar bukan
yang diangan-angankannya.
Gadis itu melihat Witantra kini berjalan kaki saja di ujung
barisannya. Di sampingnya berjalan Sidatta. Di belakang tandu Ken
Dedes beberapa orang pemanggul tandunya berjalan berurutan
untuk saling berganti. Dan di belakang lagi, para prajurit berjalan
dengan tegapnya. Di sisi tandu itu masih berkibar panji-panji
kebesaran dipanggul oleh para prajurit pula, tersangkut pada
tunggul-tunggul yang megah, dengan landaan kayu berlian.
Tetapi ternyata bukan saja Ken Dedes yang menjadi heran
melihat alam yang terbentang di hadapannya. Witantra yang
berjalan di ujung barisan itu pun menjadi ragu-ragu. Tetapi ia
tidak
segera melihat, apakah yang tampak lain daripada masa-masa
sebelumnya. Yang segera dilihat oleh Witantra adalah tanah yang
kering di sisi-sisi jalan. Debu yang berhamburan dan panas matahari
yang menjadi semakin terik.
“Kenapa parit-parit itu tidak disalurkan kemari,” katanya di dalam
hati, “apabila demikian, maka tanah ini akan dapat dijadikan tanah
persawahan pula.”
Namun segera dijawabnya sendiri, “Agaknya tanah masih
berlebihan di sini. Tanah ini mungkin merupakan tanah cadangan.
Baik orang Talrampak maupun orang-orang Panawijen tidak cukup
tenaga untuk mengubah tanah ini menjadi tanah yang ditanami.”
Tetapi semakin jauh mereka berjalan, tanah di sekitar itu pun
masih tetap tanah yang kering berdebu.
Di langit matahari merayap semakin tinggi. Meskipun masih
belum terlampau siang, namun terasa panasnya bukan main.
Meskipun mereka tidak berjalan di tengah-tengah padang rumput
Karautan, tetapi sinar matahari terasa menyengat tubuh mereka.
Angin yang kering terasa mengusap wajah yang berkeringat,
memberikan sedikit kesejukan. Tetapi kembali terasa panas
matahari, seperti membakar kulit.
Ken Dedes semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Satusatu
dilihatnya juga pepohonan yang masih hijau. Namun seolah
betapa lesunya. Daunnya menunduk rendah tanpa pucuk-pucuk
baru di ujung-ujung rantingnya.
Tetapi iring-iringan itu berjalan terus. Panji-panji kebesaran
Tumapel berkibar dengan megahnya. Beberapa umbul-umbul dan
rontek berkibaran pula di sekitar tandu gadis Panawijen. Namun
rumput-rumput kering dan pohon-pohon perdu yang layu, sama
sekali tidak tertarik untuk menatap kemegahan itu. Seandainya
mereka dapat berbisik, maka akan terdengarlah bisikan sayu, “Air,
air.”
Meskipun rerumputan dan pepohonan itu tidak meneriakkannya,
tetapi apa yang tampak oleh mata Ken Dedes dan para prajurit
Tumapel itu ada ungkapan dari jerit tumbuh-tumbuhan itu. Dan hati
Ken Dedes pun menjerit pula, “Kenapa daerah ini menjadi kering
kerontang?”
Di kejauhan Ken Dedes melihat lamat-lamat sebuah pedesaan
yang hijau. Ya. Ia masih melihat warna itu. Hijau. Dan pedesaan itu
adalah Panawijen.
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Mudah-mudahan
penglihatannya bukan sekedar sebuah khayalan. Karena itu, maka
kepada seorang prajurit yang berjalan di sisinya. Ken Dedes minta
untuk memanggil panglima dari pasukan pengawalnya.
Dengan tergesa-gesa Witantra berjalan menyongsong barisannya
mendekati tandu Ken Dedes. Kemudian dengan hormatnya ia
bertanya, “Apakah perintah Tuan Putri?”
Meskipun sudah berpuluh bahkan beratus kali Ken Dedes
mendengar sebutan yang diberikan kepadanya oleh Akuwu Tunggul
Ametung, namun kadang-kadang masih terdengar aneh di
telinganya. Apalagi kini ia berada dekat dari desanya. Sehingga
sebutan tuan putri itu pun menjadi semakin janggal. Ia tidak ingin
sebutan itu, tetapi ia tidak berani melawan kehendak Akuwu
Tunggul Ametung.
“Kakang,” berkata Ken Dedes itu kemudian, “aku menjadi sangat
bimbang atas penglihatanku. Bukankah kita telah hampir sampai ke
Panawijen?”
Witantra menganggukkan kepalanya, “Hamba, Tuan Putri.”
“Bukankah yang tampak itu padukuhan Panawijen?”
“Kalau hamba tidak salah, Tuan Putri.”
“Bukankah kau pernah mengunjungi Panawijen?”
“Hamba, Tuan Putri.”
“Seharusnya kau tahu pasti, apakah itu Panawijen?”
“Tuan Putri adalah gadis Panawijen sejak kecil. Agaknya Tuan
Putri menjadi ragu-ragu pula atas daerah ini.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dengan
demikian ia mendapat kesimpulan bahwa bukan saja dirinya yang
menjadi bimbang atas pengamatannya, tetapi juga Witantra.
Sejenak Ken Dedes berdiam diri. Tetapi ia tidak dapat menahan
diri. Sehingga kembali ia bertanya, “Kakang Witantra, penglihatan
atas daerah ini sangat mencemaskan sekali.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi hatinya mengiakannya. Bahkan
ia menambahkan di dalam hatinya, “Daerah ini seperti hutan yang
terbakar.”
Karena Witantra tidak segera menjawab, kembali Ken Dedes
berkata, “Kakang, bagaimana menurut pendapatmu. Seharusnya
sebelum kita sampai ke Panawijen yang sudah tampak itu, kita
melalui suatu bulak persawahan yang panjang dan subur. Tetapi
yang kita lihat adalah sebuah lapangan yang kering.”
Witantra menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tuan Putri, aku
pun menjadi sangat cemas melihat keadaan daerah ini.”
Tiba-tiba teringatlah Ken Dedes kepada embannya. Embannya itu
tidak bersedia mengikutinya ke Panawijen. Apakah karena emban
itu tidak akan tahan melihat keadaan ini setelah ia menyaksikannya
beberapa hari yang lalu, pada saat ia menjemput Mahisa Agni.
Tetapi kenapa emban tua itu sama sekali tidak mengatakan
kepadanya tentang kampung halamannya.
Tetapi hari Ken Dedes masih cukup tenang ketika semakin lama
Panawijen menjadi semakin jelas. Warna-warna hijau yang
memancar dari padukuhan itu telah menenteramkan hatinya.
Meskipun ia tidak lagi melihat batang-batang padi yang hijau subur,
serta tidak lagi melihat air yang tergenang melimpah-limpah dan
mengalir di parit-parit, namun Panawijen masih hijau seperti
Panawijen pada saat ditinggalkannya.
Yang ada di sawah-sawah kini hanyalah tanaman palawija.
Tanaman-tanaman itu pun tampak betapa hausnya. Daun-daunnya
yang kecil dan kekuning-kuningan. Batangnya yang kerdil dan tanah
yang berbongkah-bongkah seperti akan pecah.
Ken Dedes menjadi semakin ingin lebih cepat sampai. Tetapi ia
harus menahan dirinya. Ia harus bersikap tenang. Kini ia menjadi
pusat perhatian setiap prajurit Tumapel. Ia tidak lagi dapat
berbuat
menuruti luapan-luapan perasaannya. Seandainya Ken Dedes yang
duduk di dalam tandu itu adalah Ken Dedes yang masih tinggal di
Panawijen beberapa waktu yang lalu, maka gadis itu pasti akan
meloncat dan berlari mendahului. Tetapi Ken Dedes yang sekarang
tidak berbuat demikian. Betapa perasaannya menjadi berdebardebar,
namun ia duduk saja di dalam tandunya.
Yang mendebarkan hati Ken Dedes bukan saja Panawijen yang
lain dari Panawijen yang ditinggalkan, tetapi apakah nanti yang
akan dikatakannya kepada kakak angkatnya? Apakah yang akan
diucapkannya dan bagaimanakah kira-kira tanggapan kakak
angkatnya itu? Ken Dedes sama sekali tidak berpikir tentang
gadisgadis
kawan-kawannya bermain. Juga tidak tentang tetangganya.
apapun yang akan dikatakan oleh mereka. Tetapi bagaimana
dengan Mahisa Agni?
Semakin dekat dengan padukuhan Panawijen hati Ken Dedes
menjadi semakin berdebar-debar. Debu yang putih menghambur
dari belakang kaki-kaki para prajurit Tumapel mengepul di bawa
angin yang lemah. Kampung halaman, tempat Ken Dedes
dibesarkan, tempat gadis itu bermain-main setiap hari, kini terasa
sangat asing baginya.
Sejenak ia mereka-reka, bagaimana ia harus bersikap.
Bagaimana ia harus meyakinkan Mahisa Agni, bahwa ia tidak dapat
berbuat lain daripada menerima kesempatan yang datang.
Bagaimana ia akan mengatakan, bahwa Mahisa Agni tidak perlu
merasa tersinggung, bahwa ia menerima Akuwu Tunggul Ametung
sebelum minta izinnya karena keadaan yang hampir tak dapat
dikuasainya. Bukankah kemudian akuwu telah ingin mendapat
kesempatan menemuinya untuk menjelaskan persoalannya dan
memenuhi adat tata cara?
Tetapi angan-angan Ken Dedes selalu saja diganggu oleh
panasnya udara, teriknya matahari dan parit-parit yang kering.
Bahkan sampai beberapa tonggak di muka padukuhan Panawijen,
sawah-sawahnya juga sama sekali tidak berair. Tidak ada
batangbatang
padi yang hijau, tidak ada tanam-tanaman yang subur.
Witantra masih juga berjalan di samping tandu Ken Dedes.
Namun hatinya juga selalu dililiti oleh berbagai pertanyaan tentang
Panawijen yang kering.
Padukuhan di hadapannya masih nampak hijau gelap. Pepohonan
masih juga berdaun rimbun. Tetapi semakin dekat mereka dengan
padukuhan itu, semakin jelas bagi mereka, bahwa di antara daundaun
yang hijau itu, bertebaranlah daun-daun yang mulai
mengering.
Dengan dada yang berdebar-debar maka iring-iringan itu kini
telah mendekati Panawijen. Beberapa ratus langkah lagi mereka
akan menginjakkan kaki-kaki mereka, di atas jalan induk padukuhan
yang terasa sangat asing itu.
Beberapa orang anak-anak yang sedang bermain-main, telah
melihat iringan yang hampir memasuki desa mereka. Dengan
tergesa-gesa anak itu berlarian, berteriak-teriak memanggil ibu-ibu
mereka. Tetapi sebagian dari mereka menjadi ketakutan. Mereka
masih ingat beberapa waktu yang lampau, ketika beberapa ekor
kuda membawa Kuda Sempana datang ke padukuhan itu untuk
merampas seorang gadis putri Empu Purwa.
Tetapi beberapa orang tua-tua melihat bahwa iringan itu
bukanlah iring-iringan orang berkuda. Bahkan mereka melihat, di
dalam iring-iringan itu terdapat sebuah tandu. Karena itu maka
orang-orang tua mencoba membicarakan di antara mereka, apakah
sebenarnya yang mereka saksikan itu.
“Panji itu adalah panji-panji kebesaran Tumapel,” berkata salah
seorang yang berambut putih seperti kapas.
Di sampingnya, seorang laki-laki kurus yang berjanggut panjang
dan telah memutih pula menyahut, “Ya. Hanya Akuwulah yang
berhak mendapat kehormatan dengan rontek, umbul-umbul dan
panji kebesaran itu.”
“Apakah Akuwu akan datang sekali lagi ke padukuhan ini seperti
pada saat Akuwu itu merampas Ken Dedes, putri Empu Purwa,”
desis laki-laki yang pertama.
Laki-laki berjanggut putih menggelengkan kepalanya. Katanya,
“Akuwu yang sekarang tidak akan telaten bepergian sejauh ini
dengan naik tandu. Kalau yang datang itu Akuwu Tunggul Ametung,
maka Akuwu itu pasti naik kuda.”
“Kalau begitu siapakah yang datang? Tanda-tanda itu
mengatakan bahwa di dalam tandu itu adalah Akuwu, atau ayah
bundanya. Tetapi ayah bundanya sudah tidak ada. Mungkin pula
permaisurinya. Tetapi Akuwu belum bepermaisuri.”
Keduanya kemudian berdiam diri. Anak-anak sudah berlari-lari
bersembunyi ke dalam rumah masing-masing. Tetapi kedua orang
tua itu mendapat firasat yang lain. Iring-iringan itu sama sekali
tidak
mencemaskan mereka.
Karena itu maka kepada seorang perempuan yang mengintip dari
balik pagar batu halamannya ia berkata, “Tidak apa-apa. Keluarlah,
dan sambutlah iring-iringan itu. Mungkin sesuatu yang akan
mendatangkan kebaikan bagi padukuhan kita ini.”
Perempuan itu menjadi ragu-ragu. Tetapi orang tua itu
menjelaskan, “Kalau mereka ingin berbuat jahat, mereka tidak akan
membawa tandu itu. Mereka pasti datang berkuda dengan pedang
terhunus.”
Tetapi perempuan itu tidak mau keluar seorang diri. Segera ia
berlari ke rumah tetangganya. Ajakannya itu pun kemudian tertebar
dari pintu ke pintu, sehingga beberapa orang, walau pun dengan
ragu-ragu, keluar dari rumah-rumah mereka, berdiri di tepi-tepi
jalan menyambut kedatangan iring-iringan itu.
Iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Lakilaki
tua dan perempuan berdiri berjajar di mulut padukuhan.
Semakin lama semakin banyak. Ketika biyung-biyung mereka berani
melihat iring-iringan itu, maka anak-anak pun bermunculan pula,
meskipun mereka tidak berani terlampau dekat dengan orang tua
mereka.
Ken Dedes melihat beberapa orang di mulut lorong
padukuhannya. Semakin lama semakin jelas. Ia melihat dua orang
tua yang pernah dikenalnya. Di dekatnya adalah perempuanperempuan
dan agak ke belakang beberapa anak-anak kecil dengan
ragu-ragu berdiri di regol-regol halaman rumah.
Tetapi sekali lagi Ken Dedes menjadi heran. Ia tidak melihat
anak-anak muda yang biasanya berkeliaran di sawah-sawah dan
tegalan.
Hati Ken Dedes menjadi semakin gelisah. Panawijen benar-benar
terasa asing baginya.
Ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka orang-orang
itu pun menepi, memberi kesempatan yang sebaiknya. Mereka
menyangka bahwa iring-iringan itu pasti akan langsung menuju ke
rumah Ki Buyut Panawijen, atau hanya sekedar lewat di padukuhan
ini untuk tujuan yang lebih jauh.
Ketika ujung dari iring-iringan itu hampir menginjakkan kakinya
di pedesaan itu, maka orang-orang Panawijen segera membungkuk
dalam-dalam. Mereka mencoba menghormat orang-orang besar dari
Tumapel yang datang dalam sikap kebesaran.
Sidatta yang berjalan di ujung iring-iringan itu menganggukkan
kepalanya pula. Namun segera ia berhenti dan berpaling ke arah
Witantra. Ia belum tahu ke mana iring-iringan itu harus dibawa.
Witantra menangkap pertanyaan itu, tetapi karena ia sendiri
belum mendapat perintah, maka segera ia bertanya, “Ke mana kita
akan pergi Tuan Putri. Apakah kita akan pergi ke padepokan
ayahanda Tuan Putri?”
Ken Dedes mengangguk, jawabnya, “Ya Kakang. Aku akan terus
langsung menemui Kakang Mahisa Agni.”
Kini Witantra segera maju mendampingi Sidatta. Ia telah
mengenal jalan, menuju ke padepokan di ujung desa Panawijen.
Ketika iring-iringan itu kemudian masuk ke dalam padukuhan dan
orang-orang yang berdiri di pinggir jalan itu melihat tandu di
antara
derap para prajurit menjadi semakin dekat, maka hati mereka pun
tiba-tiba berdesir. Darah mereka serasa akan berhenti mengalir
ketika mereka melihat siapakah yang duduk di dalam tandu itu.
Tiba-tiba seorang perempuan tua berdesis, “Apakah aku
bermimpi?”
Perempuan lain yang berdiri di sampingnya mengusap matanya
sambil bergumam, “Kita semuanya sedang bermimpi. Arak-arakan
ini hanya dapat terjadi di dalam mimpi.”
Seorang perempuan yang lebih tua lagi mencubit perempuan
yang mengusap matanya itu. Ketika yang dicubit berjingkat, maka
katanya, “Kau tidak bermimpi. Kalau kau merasakan sentuhan orang
lain maka kau tidak sedang tidur.”
Tandu itu menjadi kian dekat. Iringan rontek dan umbul-umbul
telah melewati mulut jalan, kini sebuah panji-panji berkibar
dihembus angin. Kemudian beberapa orang prajurit di sisi jalan, dan
di antara mereka adalah tandu itu. Tandu yang sangat bagus dan
berukir. Di dalamnya duduk seorang gadis muda yang cantik seperti
patung terindah di candi-candi. Kulitnya yang kuning sekuning
temugiring, dengan pakaian kebesaran yang berwarna cemerlang,
seperti golek yang diwarnai oleh juru sungging yang sempurna.
Tetapi bukan kecantikan gadis itu yang telah memesona mereka,
bukan pakaiannya yang cemerlang dan bukan keperkasaan para
prajurit Tumapel yang memandu panji-panji, tetapi yang telah
mencengkam jantung mereka adalah, bahwa wajah gadis itu pernah
dilihatnya. Gadis itu adalah gadis yang pernah menjadi buah bibir
rakyat Panawijen. Gadis yang pernah meruntuhkan air mata dari
setiap mata perempuan Panawijen.
Seorang perempuan yang sudah ubanan berdiri dengan mulut
ternganga memandangi gadis di dalam tandu itu. Bahkan dengan
serta-merta terloncat dari sela-sela bibirnya, “Ken Dedes, adakah
kau Ken Dedes putri Empu Purwa.”
Ken Dedes yang duduk di dalam tandu itu pun tergetar dadanya.
Dijulurkannya kepalanya sambil menjawab terbata-bata, “Ya, Bibi.
Aku Ken Dedes.”
Perempuan-perempuan itu pun seakan-akan menjadi terpaku
diam. Hati mereka benar-benar bergelora, dan jantung mereka
berdegupan semakin keras. Tetapi iring-iringan itu berjalan terus.
Ken Dedes hanya dapat menjulurkan sebagian dari badannya dan
melambaikan tangannya. Ia sebenarnya ingin meloncat turun dan
memeluk perempuan-perempuan yang telah dikenalnya dengan baik
itu. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Apakah hal itu tidak akan di
anggap menyalahi kedudukannya? Ken Dedes sendiri sebenarnya
tidak ingin mendapat penghormatan yang terlampau berlebihlebihan.
Tetapi ia sendiri masih belum tahu benar batas-batas yang
dapat dilakukan dan yang sebaiknya tidak dilakukan sebagai
seorang calon permaisuri. Karena itu, dengan ragu-ragu ia hanya
sempat melambaikan tangannya dari atas tandunya. Kalau kali ini ia
keras hati datang ke Panawijen dengan sebuah iring-iringan
kebesaran, hanyalah karena hatinya terlampau kecewa atas sikap
Mahisa Agni yang dirasakannya terlampau keras. Terlampau
menghargai diri sendiri tanpa melihat kepentingannya sebagai
seorang adik.
Iring-iringan dari Tumapel itu kini telah memasuki Panawijen
lebih dalam lagi. Sejenak kemudian Ken Dedes melihat gadis-gadis
Panawijen berlarian menyambut iring-iringan itu. Beberapa orang
yang dikenalnya baik-baik hampir-hampir tak dapat mengendalikan
diri mereka. Bahkan ada pula di antara mereka yang berteriakteriak,
“Ken Dedes. Ken Dedes.”
Ken Dedes masih melambaikan tangannya. Tidak disadarinya
bahwa dari sepasang matanya mengalir butiran-butiran air yang
menetes satu dua di pangkuannya. Ken Dedes benar-benar terharu
melihat kampung halamannya. Sejenak ia dapat melupakan daundaun
kuning yang berguguran semakin lama semakin banyak tanpa
ada pupus-pupus hijau yang tumbuh dari ujung-ujung ranting
pepohonan.
Gadis-gadis Panawijen itu pun menjadi sangat terharu melihat
Ken Dedes yang pernah hilang dari kampung halamannya. Mereka
menyangka bahwa mereka tidak akan pernah dapat melihat gadis
itu lagi. Namun tiba-tiba gadis itu datang dalam suatu
iring-iringan
yang megah, iring-iringan yang belum pernah dibayangkan akan
dapat dilihatnya.
“Apakah Kuda Sempana itu kini menjadi orang yang sangat kaya
raya, sehingga mampu memelihara prajurit dan perlengkapan
sebanyak dan semewah itu,” desis seorang gadis yang bertubuh
tinggi semampai.
Kawannya yang agak lebih pendek daripadanya berdiri di atas
ujung kakinya sambil memanjangkan lehernya, “Aku tidak melihat
Kuda Sempana.”
“Ya. Aku pun tidak,” sahut gadis yang tinggi.
Keduanya kemudian terdiam. Mereka tidak dapat menebak
apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan Ken Dedes itu.
Tetapi Ken Dedes pun sejak memasuki padukuhannya selalu
diliputi oleh sebuah pertanyaan yang belum terjawab pula. Ia tidak
melihat seorang laki-laki muda dan bahkan hampir tidak dilihatnya
laki-laki selain orang-orang tua. Hal itu telah menambah
kegelisahannya di samping keharuan yang menusuk-nusuk hati.
Namun ia masih belum sempat untuk bertanya kepada seseorang,
ke mana gerangan setiap laki-laki dari padukuhannya. Apakah
Mahisa Agni pun tidak ada di padepokannya? Dan apakah karena
laki-laki Panawijen menjadi ketakutan akan sesuatu, sehingga
mereka pergi meninggalkan Padukuhan ini.
Kedatangan Ken Dedes telah benar menimbulkan berbagai
tanggapan bagi para penduduk Panawijen yang melihatnya. Mereka
belum pernah mendengar kabar yang meyakinkan sampai ke
kampung halamannya, bahwa Ken Dedes kini justru seorang bakal
permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Mahisa Agni yang mengetahui
dengan pasti akan hal itu, sama sekali tidak mengatakannya kepada
kawan-kawannya atau kepada siapa pun, karena hatinya sendiri
yang menjadi resah.
Orang-orang Panawijen itu pun kemudian berbondong ikut pula
di belakang iring-iringan itu, sehingga semakin lama menjadi
semakin panjang. Perempuan-perempuan tua, gadis-gadis anakanak
dan laki-laki tua. Hampir semua penghuni yang tinggal,
mengikuti iringan itu sepanjang jalan padukuhan mereka.
Tetapi Ken Dedes masih belum melihat seorang anak muda pun.
Ia belum melihat Ki Buyut Panawijen. Belum melihat laki-laki yang
pernah dikenalnya selain yang sudah terlampau tua dan sudah
dipenuhi oleh uban di atas kepalanya.
Witantra yang kini berjalan di samping Sidatta pun melihat
keganjilan itu. Tetapi disimpannya pertanyaan yang serupa dengan
pertanyaan yang mengetuk hati Ken Dedes itu di dalam hatinya.
Sekali-sekali ia berpaling memandangi wajah Sidatta. Tetapi perwira
itu agaknya tidak sempat memperhatikan para penyambutnya.
Matahari semakin tinggi mendaki langit, maka iring-iringan itu
pun menjadi semakin dalam memasuki padukuhan Panawijen.
Iringiringan
itu langsung menuju ke padepokan di ujung padukuhan itu.
Padepokan Empu Purwa.
Ketika orang-orang Panawijen mengetahui arah dari iring-iringan
itu segera mereka berbisik di antara sesama. Seorang perempuan
yang kurus berdesis, “Apakah gadis itu akan pulang kembali?”
Perempuan yang berjalan di sisinya menyahut, “Mungkin gadis
itu belum tahu bahwa ayahnya telah pergi meninggalkan
padukuhannya karena hatinya yang sedih kehilangan gadis
satusatunya.”
Keduanya terdiam. Namun mereka menjadi iba di dalam hati.
Ken Dedes sendiri, merasa bahwa sesuatu yang tidak wajar telah
terjadi di padukuhannya. Tanah yang kering, anak-anak muda yang
seakan-akan lenyap dari padukuhannya adalah pertanda yang
pertama-tama dapat dilihatnya.
Untuk menghibur diri sendiri ia berkata di dalam hatinya,
“Mungkin anak-anak muda Panawijen yang bukan anak-anak muda
yang cukup berani. Mungkin mereka menjadi ketakutan melihat
iring-iringan ini sehingga mereka bersembunyi. Nanti apabila mereka
menyadari bahwa kami tidak akan berbuat sesuatu, mereka pasti
akan datang kembali. Tetapi Kakang Mahisa Agni pasti berpendirian
lain. Kakang Mahisa Agni adalah bukan seorang penakut sehingga ia
pasti tidak akan turut bersembunyi dengan anak-anak muda yang
lain.”
Karena pikiran itulah, maka Ken Dedes berjalan terus menuju ke
padepokannya.
Ketika iringan itu membelok pada tikungan terakhir, hati Ken
Dedes berdesir keras. Di kejauhan ia melihat ujung lorong yang
dilalui itu. Di sisi lorong itulah terletak padepokannya. Padepokan
Empu Purwa.
Dengan gelora yang semakin cepat di dalam dada gadis itu,
maka iring-iringan itu menjadi semakin dekat dengan regol halaman
Padepokan Empu Purwa.
Yang mula-mula sampai di regol itu adalah Sidatta dan Witantra.
Sejenak mereka berdiri tegak sambil memandangi halaman
padepokan itu. Sidatta belum pernah melihatnya, karena itu ia tidak
melihat perubahan yang terjadi. Meskipun demikian ia berkata di
dalam hatinya, “Padepokan ini agaknya kurang terpelihara.
Tamantamannya
menjadi layu dan rerumputannya menjadi kering. Tetapi
ia tidak berkata sepatah kata pun tentang tanggapannya itu.”
Berbeda dengan Witantra. Ia pernah melihat halaman yang
dahulu sejuk segar. Halaman yang diwarnai oleh kehijauan
dedaunan dan bunga yang beraneka warna. Kini yang dilihatnya
adalah daun-daun kering, rumput-rumput kering dan bunga-bunga
yang layu. Kuning gersang. Dilumuri oleh debu yang putih.
Meskipun Witantra seorang prajurit yang hampir tidak sempat
menikmati warna-warna tetumbuhan, namun hatinya serasa dilanda
oleh suatu perasaan yang aneh. Halaman ini sekarang seperti
padang rumput yang kering.
Sementara itu tandu Ken Dedes berjalan semakin maju. Di
mukanya berjalan Mahendra dan kemudian Kebo Ijo dengan
beberapa orang prajurit. Mereka pun kemudian berhenti pula di
belakang Witantra dan Sidatta.
Para prajurit itu pun kemudian menyibak, memberi jalan kepada
para pengusung tandu untuk maju mendekati regol halaman itu.
Demikian tandu itu sampai di depan regol, terdengarlah Ken
Dedes memekik kecil. Tanpa ada sesadarnya kedua belah
tangannya menutupi mulutnya. Matanya tiba-tiba terbeliak dan
jantungnya memukul terlampau keras. Apa yang dilihatnya tentang
halaman rumahnya benar-benar telah menghentak dadanya
sehingga serasa akan pecah.
Sejenak para pengusung tandu itu tertegun. Mereka mendengar
Ken Dedes memekik kecil, sehingga mereka tidak segera
melangkahkan kaki-kaki mereka memasuki halaman.
Dalam pada itu, dari sisi pendapa rumah di padepokan itu,
muncullah beberapa emban. Emban yang telah dikenal oleh Ken
Dedes. Emban kawannya bermain sejak kanak-kanak. Betapa
hatinya tergetar ketika ia melihat emban-emban itu berdiri tegak
dengan wajah yang pucat. Bukan saja pucat karena ketakutan
melihat iring-iringan prajurit itu, namun wajah itu memang pucat
dan sayu. Tubuh-tubuh mereka tiba-tiba telah menjadi semakin
kurus. Sekurus tanaman di halaman padepokan itu.
Sesaat Ken Dedes terpaku diam. Bagaimana mungkin semuanya
segera berubah dalam waktu yang tidak terlampau lama. Bagaimana
mungkin emban-emban itu menjadi cepat bertambah kurus dan
sayu. Wajah-wajah yang dahulu memancar gembira, kini menjadi
seolah-olah pelita yang kehabisan minyak. Wajah emban-emban itu
demikian suramnya sehingga hampir-hampir Ken Dedes tak percaya,
bahwa emban itulah yang dahulu pernah dikenalnya.
Ken Dedes kemudian, setelah melihat keadaan padepokannya,
benar-benar tidak lagi dapat menguasai dirinya. Ia tidak lagi
teringat
akan kedudukannya. Ia tidak peduli apakah yang seharusnya dan
sebaiknya dilakukan sebagai seorang bakal permaisuri. Dengan
serta-merta ia berteriak, “Aku akan turun. Aku akan turun.”
Para pengusungnya terkejut mendengar teriakan itu, mereka
menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa mereka meletakkan
tandu.
Ken Dedes pun segera meloncat turun dari tandu itu. Sesaat ia
memandangi para emban yang berdiri di sisi pendapa. Tampaklah
betapa wajah para emban itu menjadi tegang. Hampir tidak percaya
mereka melihat, bahwa yang turun dari tandu dalam pakaian yang
cerah itu adalah Ken Dedes.
Ken Dedes yang tidak dapat lagi menahan diri segera berlari-lari
mendapatkan emban-emban itu. Seorang emban yang sebaya benar
dengan Ken Dedes, yang hampir setiap hari bermain bersama,
berkumpul dalam setiap saat, mengerjakan pekerjaan mereka
bersama, ternyata menjadi sangat terharu. Seperti Ken Dedes ia
pun tidak dapat mengendalikan dirinya. Sambil berlari pula ia
menyongsong gadis yang pernah dianggapnya hilang itu.
Sejenak kemudian keduanya saling berpelukan dan bertangisan.
Para emban yang lain pun segera berkumpul, mengelilingi kedua
gadis itu.
Witantra, Sidatta, Mahendra dan para prajurit yang lain melihat
pertemuan itu dengan hati yang tersentuh-sentuh pula. Tetapi
mereka kini berdiri saja mematung, menunggu perintah apa yang
harus mereka lakukan.
Tetapi rupanya Ken Dedes yang sedang meluapkan rasa rindunya
kepada orang-orang yang pernah dikenalnya baik-baik dan seolaholah
tidak akan bertemu lagi itu, tidak lagi memedulikan para
pengiringnya. Dengan air mata yang satu-satu menetes, maka gadis
itu kemudian berjalan diiringkan oleh beberapa orang emban
memasuki pendapa rumahnya dan hilang dibalik pintu di belakang
pendapa.
Witantra menggigit bibirnya. Ketika berpaling ke arah Sidatta,
perwira itu mengangkat bahunya.
“Kita tidak mendapat perintah apapun,” desis Witantra.
Sidatta mengangguk.
Kemudian Witantra harus mengambil sikap sendiri untuk
melindungi keamanan bakal permaisuri. Maka katanya kepada
Sidatta, “Kau di sini bersama para prajurit, aku akan berada di
halaman belakang supaya tidak seorang pun yang tidak kita
kehendaki memasuki halaman ini dari belakang.”
“Apakah ada regol butulan di halaman belakang?” bertanya
Sidatta.
Witantra tersenyum, jawabnya, “Aku belum pernah melihat
halaman belakang. Tetapi adalah berbahaya sekali kalau kita tidak
sempat mengawasinya. Seandainya tidak ada regol butulan
sekalipun agaknya untuk meloncati dinding batu setinggi ini tidak
terlampau sulit.”
“Mungkin seseorang atau beberapa orang akan dapat memasuki
tempat ini lewat belakang Kakang, tetapi apakah mereka akan dapat
membawa Tuan Putri meloncat dinding ini?”
“Adi Sidatta.” Sahut Witantra, “Seseorang yang menjadi kecewa,
bahkan merasa bahwa usahanya telah gagal, akan dapat berbuat
hal-hal di luar dugaan. Orang yang demikian akan dapat menjadi
berputus asa dan berpendirian, lebih baik dihancurkan sama sekali
daripada tidak berhasil memiliki.”
“Hanya orang yang berputus asa yang berbuat demikian.”
“Ternyata Kuda Sempana dan Empu Sada pun telah menjadi
putus asa. Apa yang dilakukan sekarang sebenarnya adalah luapan
dendam yang tak dapat diendapkan. Aku sangka Kuda Sempana
sudah tidak lagi mengharap akan memiliki Ken Dedes seperti
impiannya masa-masa lampau. Apa yang dilakukan sekarang
adalah, pancaran dari hati yang gelap.”
Sidatta menganggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan
Witantra. Bukan saja dalam persoalan ini, persoalan seorang gadis,
namun dalam persoalan-persoalan yang akan terjadi pula perbuatan
serupa. Keinginan yang gagal memang dapat menimbulkan
perbuatan yang tidak terduga-duga.
Kisah-kisah kidung dan kakawin-kakawin mengatakan, betapa
kadang-kadang orang mengorbankan dirinya, keluarganya dan
bahkan negerinya untuk mendapatkan suatu cita-cita. Kalau cita-cita
itu menjadi kabur, maka yang tinggal hanyalah bentuk
keputusasaan. Demikian pulalah yang terjadi dalam pemerintahan.
Seorang gadis akan sama bentuknya dengan sebuah pusaka dan
jabatan. Seseorang yang gagal mendapatkan gadis idaman, atau
sebuah pusaka keramat atau sebuah keinginan untuk memangku
jabatan agung, maka akibatnya dapat mengerikan sekali. Kegagalan
itu akan dikorbankan tanpa kesadaran bahkan kadang-kadang
timbullah malapetaka apabila kegagalan itu dibakar oleh pandangan
yang mengerikan, yang bertekad untuk hancur bersama, gagal
bersama. Karena pendirian yang demikian itu, akan terjadi,
membakar perahu yang sedang berlayar di tengah lautan, hanya
karena orang itu tidak tahan melihat orang lain menjadi nakhoda,
bukan dirinya sendiri.
Betapa indahnya sebuah cita-cita, namun apabila dilandasi oleh
hati yang hitam, pikiran yang kelam dan cara-cara yang sesat, maka
akan lenyaplah keindahan yang hakiki. Dan manusia akan menjadi
korban dari ketamakan mereka sendiri. Manusia akan menggali liang
di mana ia sendiri akan terperosok ke dalamnya.
Hanya mereka yang menyadari dirinya, menyadari
kemanusiaannya yang lahir dari sebuah kekuasaan yang Maha
Kuasa, akan dapat membuat neraca yang seimbang dari usaha,
perjuangan dan cita-cita lahiriahnya dengan kewajiban yang
membebaninya akibat dari adanya, atas kuasa dari Yang Maha
Kuasa itu, sehingga akan terpenuhilah Kebaktian yang utuh kepada
Yang Maha Esa dan pengabdian yang tulus kepada kemanusiaannya
sebagai suatu sikap rohaniah dan badaniah.
Tetapi ternyata bahwa Kuda Sempana telah menjadi bureng,
menjadi kehilangan keseimbangan, sehingga apa yang akan
dilakukan mungkin sekali di luar perhitungan.
Karena itu, maka Witantra tidak dapat membiarkan halaman
belakang tanpa pengawasan. Bersama saudara seperguruannya,
dan dua orang prajurit ia pergi ke halaman belakang dan duduk di
bawah sebatang pohon kemuning. Namun alangkah memelasnya.
Pohon yang rindang itu, selalu meruntuhkan daun-daunnya yang
telah menjadi kekuning-kuningan. Apabila hujan tidak segera turun,
maka padukuhan Panawijen pasti akan dilanda kekeringan yang
dahsyat.
“Apakah sebabnya?” pikir Witantra. Tetapi ia tidak bertanya
kepada siapa pun.
Mahendra dan Kebo Ijo pun kemudian duduk beristirahat di
bawah rimbunnya dedaunan pula. Di sudut lain tampak kedua
prajurit Tumapel duduk pula bersandar dinding halaman. Udara di
padepokan itu terasa panas sekali.
“Pohon bunga-bungaan dan taman sudah menjadi kering,” pikir
Witantra di dalam hatinya, “lalu apakah kerja para emban yang
menunggui padepokan ini, apabila untuk menyiram tanamantanaman
itu saja tidak dapat dilakukan?”
Tetapi Witantra itu berpikir lain ketika ia melihat kolam-kolam
yang kering. Kolam-kolam yang tidak berair.
Di halaman depan, Sidatta segera mengatur para prajuritnya.
Beberapa orang segera dapat beristirahat, sedang dua orang
bergantian harus tetap berada di regol halaman. Mereka harus
mengawasi setiap keadaan yang mungkin dapat berakibat tidak
seperti yang diharapkan.
Perempuan dan orang-orang tua, anak-anak dan gadis-gadis
yang mengikuti iring-iringan itu pun kemudian berdiri
berjejal-jejal
di luar regol.
Mereka kini yakin benar, bahwa yang berada di atas tandu itu
memang Ken Dedes yang pernah dilarikan orang. Tetapi alangkah
mengherankan, bahwa gadis itu kini kembali dalam keadaan yang
sama sekali tidak disangka-sangka. Tetapi orang-orang Panawijen
itu tidak berani memasuki regol halaman karena di dalam halaman
itu dilihatnya para prajurit Tumapel bertebaran dan dua orang
penjaga yang berdiri di sisi sebelah menyebelah regol halaman.
Witantra yang di halaman belakang dan Sidatta kini tinggal
duduk menunggu, apa yang seharusnya mereka lakukan. Dalam
pada itu, Sidatta memerintahkan kepada para prajurit yang
berkewajiban untuk menyiapkan perbekalan mereka.
“Kita akan tinggal di sini sampai kapan Kakang?” bertanya
perwira bawahan Sidatta.
Sidatta menggeleng sambil tersenyum, “Aku tidak tahu. Tetapi
menurut pesan Akuwu, Tuan Putri harus segara kembali, sesudah
bertemu dengan kakaknya, Mahisa Agni. Bahkan Tuan Putri diharap
untuk kembali bersama-sama dengan kakaknya itu.”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ken Dedes yang
masuk ke dalam rumahnya tanpa memberikan pesan apapun itu,
masih saja belum menampakkan dirinya.
Sementara itu Ken Dedes yang berada di dalam rumah, segera
dikerumuni oleh para endang. Betapa banyak pertanyaan yang
harus dijawab oleh Ken Dedes dari para endang itu, tetapi betapa
pula banyak pertanyaan yang tersimpan di dalam hatinya sendiri.
Karena itu, sebelum ia mengatakan tentang dirinya, maka yang
pertama-tama ditanyakannya adalah “Di mana Kakang Mahisa
Agni?”
Para endang itu saling berpandangan sejenak, seolah-olah
mereka menjadi ragu-ragu untuk menjawab, sehingga Ken Dedes
mendesaknya, “Di mana Kakang Agni?”
Salah seorang endang mencoba untuk mengatakan jawabnya,
“Ke padang rumput Karautan.”
“Ke padang Karautan? Apa kerjanya di sana?”
“Membuat bendungan,” sahut endang yang lain.
Dahi Ken Dedes tampak berkerut-kerut. Tiba-tiba ia pun teringat
akan semua penglihatannya di sepanjang jalan. Kering kerontang.
Sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Endang, kenapa sawahsawah
di Panawijen menjadi kering. Halaman padepokan ini pun
menjadi kering dan bahkan Panawijen tampak begini gersang?”
Kembali para endang menjadi ragu-ragu. Namun Ken Dedes
mendesaknya lagi, sehingga seorang endang terpaksa menjawab,
“Bendungan kita itu pecah.”
“Pecah?” Ken Dedes terkejut bukan buatan. Umur bendungan itu
sudah melampaui umurnya. Musim hujan dan banjir telah berpuluh
kali dilalui hanya dengan kerusakan-kerusakan kecil yang segera
dapat diperbaiki. Tetapi kenapa tiba-tiba bendungan itu pecah.
Endang yang mengatakannya bendungan itu berkata pula, “Empu
Purwalah yang memecahkan bendungan itu.”
“Ayah? Jadi ayah yang memecah bendungan itu?”
Endang itu mengangguk. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Ia
menyesal bahwa ia telah mengatakannya. Tetapi kata-kata itu telah
terlanjur meloncat dari mulutnya.
Keringat Ken Dedes segera mengalir membasahi pakaiannya
yang cemerlang. Ia tidak dapat mengerti kenapa ayahnya memecah
bendungan itu. Sehingga karena itu maka ia bertanya pula, “Kenapa
Ayah memecahkan bendungan itu?”
Endang itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin
Kakang Mahisa Agni dapat menjawab pertanyaan itu.”
Hati Ken Dedes menjadi kian berdebar-debar. Sekali lagi ia
bertanya, “Di mana Kakang Agni.”
“Ke padang Karautan. Setiap laki-laki dan anak-anak muda pergi
ke padang Karautan untuk membangun bendungan itu.”
“Beberapa hari yang lampau Kakang Agni telah datang ke
Tumapel,” sahut Ken Dedes.
“Ya, pada saat itu semua orang telah berangkat ke padang
Karautan. Tinggal Kakang Agni dan beberapa orang yang masih
menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini. membuat tampar ijuk
dan patok-patok. Begitu Kakang Agni datang dari Tumapel, segera
mereka berangkat menyusul yang telah berangkat lebih dahulu
bersama Ki Buyut Panawijen.”
Terasa sesuatu bergolak di dalam Dada Ken Dedes. Banyak benar
yang telah terjadi sepeninggalnya di kampung halamannya ini.
Namun keterangan emban itu bagi Ken Dedes merupakan jawaban
pula atas pertanyaan yang selalu mengganggunya sejak ia
memasuki padukuhan Panawijen. Sejak ia memasuki padukuhan ini,
ia tidak melihat seorang pun laki-laki dan anak-anak muda
Panawijen. Itulah agaknya, maka setiap laki-laki kecuali
orang-orang
tua tidak ada di rumah. Ternyata mereka sedang berada di padang
rumput Karautan untuk membuat bendungan yang baru.
Tetapi keinginan Ken Dedes untuk segera bertemu dengan
Mahisa Agni rasa-rasanya tak dapat ditunda-tunda. Apalagi ia
memang mendapat pesan dari Akuwu Tunggul Ametung, supaya
segera kembali bersama-sama dengan Mahisa Agni sebagai tebusan
atas hukuman yang telah dijatuhkannya kepada Mahisa Agni dan
emban pemomongnya. Tetapi Mahisa Agni kini tidak ada di rumah.
Tiba-tiba Ken Dedes menyadari keadaannya. Ia datang sebagai
seorang calon permaisuri yang disertai oleh serombongan prajurit.
Karena itu, maka katanya, “Biarlah aku minta seseorang memanggil
Kakang Mahisa Agni.”
Para endang itu pun saling berpandangan. Alangkah besarnya
kekuasaan Ken Dedes kini. Ia dapat memerintahkan seseorang
untuk kepentingannya.
Dan para endang itu pun kemudian melihat bahwa hal itu benar
terjadi. Ketika Ken Dedes keluar dari rumahnya dan berdiri di
pendapa sambil melambaikan tangannya, maka segera
menghadaplah Sidatta. Sambil mengangguk dalam-dalam Sidatta
bertanya, “Apakah ada perintah Tuan Putri.”
“Oh,” dada setiap endang yang berdiri di belakangnya melonjak.
Serasa mereka berada di dalam mimpi. Ken Dedes datang dengan
pakaian yang cemerlang. Memanggil seorang perwira yang gagah
hanya dengan lambaian tangannya. Kini perwira itu membungkuk
hormat di hadapannya sambil menyebutnya Tuan Putri.
“Di manakah Kakang Witantra?” bertanya Ken Dedes.
“Di halaman belakang Tuan Putri,” jawab Sidatta.
“Panggillah,” perintah Ken Dedes.
Sekali lagi Sidatta menganggukkan kepalanya. Kemudian ia
meninggalkan Ken Dedes yang masih berdiri saja di pendapa.
Seorang endang yang tidak dapat menahan diri tiba-tiba berbisik,
“Siapakah orang itu?”
Ken Dedes berpaling. Betapapun hatinya sedang risau, namun
ketika terpandang mata endang yang aneh itu, ia tersenyum.
Jawabnya, “Namanya Sidatta. Ia adalah seorang perwira dari
prajurit pengawal Akuwu.”
“He,” endang itu terkejut. Pandang matanya menjadi semakin
aneh. Kawan-kawannya pun terkejut pula. Hampir tidak percaya
endang itu bertanya pula, “Kenapa ia begitu hormat kepadamu?”
Senyum Ken Dedes menjadi semakin lebar. Namun kemudian ia
bertanya, “Apakah yang dikatakan oleh emban pemomongku
beberapa hari yang lalu atau oleh Kakang Mahisa Agni?”
Endang itu menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tak ada yang
dikatakan selain berita keselamatan.”
“Tidak dikatakan di mana aku berada?”
Endang itu berpikir sejenak, jawabnya, “Di Tumapel.”
“Maksudku, di Tumapel aku tinggal di rumah siapa?”
Para endang itu pun saling berpandangan. Tetapi mereka benarbenar
tidak banyak mengerti tentang keadaan Ken Dedes, sehingga
kemudian mereka itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba seorang endang yang lain, yang agak lebih muda dari
Ken Dedes berkata, “Kau belum menjawab pertanyaan-pertanyaan
kami tentang dirimu. Kamilah yang selalu menjawab
pertanyaanmu.”
Sekali lagi Ken Dedes tersenyum, tetapi ia tidak sempat
menjawabnya, karena Witantra dan Sidatta kini telah naik ke
pendapa.
“Kakang Witantra,” berkata Ken Dedes kemudian, “ternyata
Kakang Mahisa Agni tidak berada di rumah.”
Witantra mengangguk, katanya, “Menurut pertimbangan Tuan
Putri apakah yang sebaiknya kami lakukan?”
Sejenak Ken Dedes berdiam diri. Ketika ia memandang ke
halaman dilihatnya beberapa orang prajurit sedang beristirahat
sambil mencari tempat untuk berteduh. Karena itu, tiba-tiba ia
menjadi ragu-ragu. Apakah mereka tidak terlampau lelah, apabila
beberapa di antaranya harus langsung menuju ke padang
Karautan?”
Dalam keragu-raguan itu terdengar Witantra bertanya,
“Barangkali seseorang tahu ke mana ia pergi?”
Ken Dedes mengangguk sambil menjawab, “Ya. Menurut para
endang, Kakang Mahisa Agni pergi ke padang rumput Karautan
untuk membuat bendungan.”
Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata,
“Apakah menurut pertimbangan Tuan Putri, salah seorang dari kami
perlu memanggilnya?”
Ken Dedes masih ragu-ragu. Ia melihat betapa tubuh para
prajurit itu telah dilumuri oleh keringat mereka yang seperti
diperas
dari dalam tubuh mereka.
Tetapi Witantra berkata, “Apabila demikian, maka biarlah salah
seorang dari kami pergi menyusulnya. Mahendralah satunya orang
yang pernah melihat tempat di mana bendungan itu akan
dibangun.”
“Bagaimana menurut pendapatmu Kakang Witantra?”
“Apabila berkenan di hati Tuan Putri.”
“Apakah Mahendra tidak terlampau lelah?”
“Ia akan pergi berkuda.”
“Sendiri?”
“Ia sudah mengenal padang Karautan. Ia sudah mengenal hantu
padang. Meskipun demikian biarlah Adi Sidatta pergi bersamanya.”
“Hamba akan melakukannya,” berkata Sidatta.
“Apabila kalian tidak terlampau lelah, terserahlah kepada Kakang
Witantra. Tetapi, pesanku Kakang, jangan menimbulkan kesan yang
dapat membuat keadaanku lebih sulit. Kakang Agni hatinya
terlampau keras.”
Sidatta mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling memandangi
wajah Witantra dilihatnya orang itu menganggukkan kepalanya
sambil menjawab, “Ya Tuan Putri. Hamba telah mengenal serba
sedikit tentang kakak Tuan. Memang kakak Tuan Putri berhati keras,
namun jujur. Karena itu, biarlah nanti Adi Sidatta dan Mahendra
dapat menyesuaikan dirinya menghadapi kakak Tuan Putri.”
Hati Sidatta menjadi bertanya-tanya. Bukankah kakak Ken Dedes
itu juga seorang anak muda Panawijen. Seorang anak pedesaan?
Tetapi pertanyaan itu dibiarkannya melingkar-lingkar di dalam
dadanya.
Sementara itu Ken Dedes berkata pula, “Apabila terdapat
kesulitan, jangan mencoba memaksa. Aku ingin Kakang Mahisa Agni
datang kemari. Tetapi kalau terpaksa, aku akan menjemputnya
sendiri ke Padang Karautan.”
Witantra menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik Tuan
Putri. Biarlah Mahendra dan Adi Sidatta berangkat sekarang.”
“Terserah kepadamu Kakang.”
Keduanya kemudian mengundurkan diri dari pendapa. Namun
tampak betapa wajah Sidatta memancarkan beberapa macam
pertanyaan. Meskipun pertanyaan itu tetap disimpannya, tetapi
Witantra dapat merasakannya, sehingga katanya, “Mahisa Agni
adalah seorang anak muda yang berhati keras. Telah beberapa kali
ia berkelahi melawan Mahendra, tetapi Mahendra selalu dikalahkan.”
“Adi Mahendra dikalahkannya?” bertanya Sidatta yang menjadi
keheran-heranan.
“Ya,” sahut Witantra, “anak itu melampaui Mahendra dalam
banyak hal.”
Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia
bertanya, “Apakah nanti kalau anak muda itu bertemu dengan Adi
Mahendra tidak akan terjadi sesuatu?”
Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Mahendra
telah minta maaf kepadanya.”
“Minta maaf?” Sidatta menjadi bingung.
“Ya. Mahendra selalu di pihak yang bersalah.”
Sidatta tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu benar sifat
pemimpinnya itu. Ia tidak pernah berkata lain daripada menurut
tanggapannya yang sewajarnya. Meskipun orang itu saudara
seperguruannya, kalau ia berbuat salah, maka Witantra akan
berkata demikian.
Witantra pun kemudian segera memanggil Mahendra dari
halaman belakang, sementara perwira yang seorang lagi
ditugaskannya mengawasi halaman belakang itu. Dalam pada itu
Ken Dedes telah kembali masuk ke dalam rumahnya.
Orang-orang yang masih berkerumun di luar regol menjadi
kecewa ketika mereka melihat Ken Dedes tidak memberi
kesempatan kepada mereka untuk menemuinya. Tetapi mereka
tidak segera pergi.
Sejenak kemudian Mahendra dan Kebo Ijo pun telah datang
menemui Witantra. Dengan berbagai macam pesan, maka Witantra
minta kepada Mahendra untuk memanggil Mahisa Agni di padang
Karautan bersama dengan Sidatta.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar, bahwa
Mahisa Agni seolah-olah tidak mau lagi mempersoalkan hubungan
antara adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung. Mahendra mengerti
betapa perasaan Mahisa Agni tersinggung. Ia merasa
dikesampingkan oleh adiknya sebelum ia mengambil keputusan. Ia
tidak mau menerima keadaan adiknya itu, sebagai sesuatu yang
telah terlanjur.
Tetapi ia tidak mau menolak perintah kakaknya. Sehingga karena
itu maka jawabnya, “Baik Kakang, Aku akan mencoba bersama
Kakang Sidatta.”
Setelah keduanya berkemas, sedikit mengisi perut mereka
dengan bekal yang mereka bawa, maka segera mereka
meninggalkan halaman padepokan menuju ke padang Karautan.
Demikian mereka meninggalkan pedesaan, maka segera terasa,
sinar matahari menyengat tubuh mereka.
“Bukan main panasnya,” desis Mahendra.
Sidatta tersenyum. Jawabnya, “Sebuah perjalanan yang hangat.”
Mahendra mengangguk. Kemudian katanya pula, “Kita akan
menyusur tidak jauh sepanjang sungai yang mengalir lewat padang
itu. Pada sungai itulah bendungan akan dibangun. Tetapi bukan itu
soalnya. Kalau kita kehausan, kita akan segera mendapatkan air.”
Sekali lagi Sidatta tersenyum. Kemudian mereka memacu kuda
mereka meninggalkan kepulan debu yang putih. Mereka meluncur di
jalan-jalan di antara sawah-sawah yang mengering menuju ke
padang rumput Karautan yang panasnya bukan main.
Tetapi perjalanan dengan kuda adalah jauh lebih cepat daripada
berjalan dengan kaki. Meskipun sekali-sekali mereka beristirahat di
tebing-tebing sungai untuk mengambil air, dan memberi kuda
mereka minum, namun waktu yang mereka perlukan tidak
terlampau panjang. Sebelum matahari terbenam, mereka telah
sampai ke tempat yang pernah dikenal oleh Mahendra.
“Kita hampir sampai,” desis Mahendra sambil mengusap
peluhnya.
Sidatta mengangguk. Wajahnya menjadi merah kehitaman
dibakar oleh terik matahari.
“Kuda kita terlampau lelah,” berkata Sidatta.
“Kita berjalan perlahan-lahan,” sahut Mahendra, “mudahmudahan
di tempat mereka bekerja terdapat sisa makanan hari ini.
Perutku terlampau lapar.”
Sidatta tertawa. Tetapi tertawanya masam sekali, sebab
sebenarnya perutnya pun telah menjadi lapar.
Tetapi saat itu udara telah menjadi sejuk. Matahari telah
terlampau rendah, bahkan sejenak kemudian warna merah di langit
selapis demi selapis menjadi semakin hitam.
Mahendra dan Sidatta berjalan terus. Kuda-kuda mereka kini
tidak lagi berpacu terlampau cepat. Sebentar lagi mereka sudah
akan sampai di tempat yang mereka tuju.
Dalam pada itu, langit pun semakin lama menjadi semakin pekat.
Satu-satu bintang seakan muncul dari balik tirai yang hitam.
Sidatta
sekali-sekali melayangkan pandangan matanya jauh ke garis
cakrawala. Padang rumput ini seolah-olah tidak bertepi.
“Adi Mahendra,” berkata Sidatta kemudian, “apakah orang
Panawijen akan membangun di tengah padang yang seluas ini?”
“Ya,” sahut Mahendra sambil mengangguk.
“Mereka harus membuat saluran-saluran baru.”
“Tetapi kalau mereka berhasil,” sahut Mahendra, “maka mereka
akan dengan leluasa membuat suatu perencanaan menurut selera
mereka. Mereka dapat mengatur sekehendak hati, sawah-sawah,
ladang dan saluran-saluran air.”
“Kenapa mereka tidak memilih tempat lain. Menebas hutan
misalnya? Mereka akan langsung mendapat suatu daerah yang tidak
seterik padang ini.”
Mahendra menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin
mereka merasa bahwa dengan membuka padang rumput ini,
pekerjaan mereka jauh lebih ringan daripada menebas hutan. Kalau
mereka berhasil membuat susukan yang besar dan mengalirkan
airnya ke tengah-tengah padang rumput ini, maka padang ini pasti
akan menjadi daerah yang subur.”
“Tebing ini terlampau dalam,” desis Sidatta, “untuk menaikkan air
dari dalam sungai itu, pasti diperlukan pekerjaan yang maha berat.”
Mahendra tersenyum. Kemudian katanya, “Kau dengar suara
gemuruh.”
Sidatta memasang telinganya baik-baik, “Ya, lamat-lamat dibawa
angin.”
“Suara yang hilang timbul itu adalah suara jeram-jeram.”
“Oh,” sahut Sidatta, “kalau demikian, maka orang-orang
Panawijen pasti membuat bendungan di atas jeram-jeram itu.”
Mahendra mengangguk.
“Kalau begitu kita sudah dekat,” berkata Sidatta, “mari kita
percepat perjalanan ini.”
Tanpa menjawab ajakan itu, Mahendra menggerakkan kendali
kudanya sehingga kudanya berjalan lebih cepat lagi. Suara jeram itu
ternyata telah menjadi semakin jelas, dan membawa mereka ke
arah yang dikehendaki.
Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka disela-sela semaksemak
yang tumbuh sepanjang tepi sungai, mereka telah melihat
beberapa perapian yang menyala. Itu adalah perkemahan orangorang
Panawijen yang sedang bekerja membuat sebuah bendungan.
Mahendra dan Sidatta semakin mempercepat kudanya. Langit
kini telah menjadi hitam. Namun bintang-bintang berdesakan
memenuhi wajah yang kelam itu.
Ternyata suara derap kudanya telah mendahului mereka.
Beberapa orang yang mendengar derap kuda itu terkejut. Dengan
tergesa-gesa mereka ingin menyampaikannya kepada Mahisa Agni
yang ada di antara mereka. Tetapi Mahisa Agni sendiri telah
mendengar derap itu pula.
“Aku mendengar derap kuda, Paman,” desisnya.
Pamannya Empu Gandring yang duduk memeluk lututnya
mengangkat wajahnya. Kemudian sambil menganggukkan
kepalanya ia menjawab, “Ya. Aku mendengar.”
Mahisa Agni kemudian berdiri. Katanya, “Aku akan melihatnya.”
“Hati-hatilah,” pesan pamannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian melangkah di antara kawankawannya
yang sedang beristirahat setelah hampir sehari penuh
mereka melakukan pekerjaan mereka, membangun sebuah
bendungan. Dengan kemauan yang bulat mereka bekerja dengan
sepenuh tenaga. Tak ada tempat bagi mereka yang hanya mampu
berbicara dan berteriak-teriak tentang bendungan yang rusak.
Tentang kesulitan dan tentang kelaparan yang mungkin akan
melanda mereka. Yang penting bagi penduduk Panawijen kini
adalah bekerja. Bekerja. Bendungan itu harus segera jadi, sebelum
persediaan di dalam lumbung-lumbung mereka terkuras habis.
Anak-anak muda Panawijen menyadari, bahwa kini bukan
masanya lagi untuk berbaring-baring di pasir tepian sungai sambil
berdendang dan bergurau. Bukan masanya lagi untuk bersenangsenang
dan mengadakan jamuan makan di antara mereka. Yang
harus mereka lakukan kini adalah bekerja dan prihatin.
Mahisa Agni kini telah berdiri di luar batas perkemahan orangorang
Panawijen. Beberapa langkah ia maju lagi untuk
menyongsong dua bayangan orang-orang berkuda yang sudah
semakin dekat.
Tetapi melihat derap dan langkah kuda itu, Mahisa Agni menduga
bahwa mereka bukanlah orang-orang yang ingin berbuat jahat
terhadap mereka yang sedang membuat bendungan itu. Meskipun
demikian beberapa orang kawan-kawannya telah menjadi cemas
dan berdebar-debar, meskipun kecemasan itu disimpannya saja di
dalam hati.
Salah seorang dari mereka yang duduk di samping Sinung Sari
berbisik, “Sinung Sari. Siapakah yang datang itu?”
Sinung Sari menggelengkan kepalanya sambil berbisik pula, “Aku
tidak tahu.”
“Bukankah kau dahulu pernah datang bersama dengan Mahisa
Agni kemari? Dan bukankah kau berhasil mengalahkan hantu
Karautan atau siapa yang kau katakan dahulu? Kuda Sempana
barangkali? Mungkin orang itu datang kembali. Apakah kau tidak
akan melawannya.”
Dada Sinung Sari berdesir. Memang ia pernah menyombongkan
dirinya terhadap kawan-kawannya. Kalau benar yang datang itu
Kuda Sempana atau siapa pun yang akan mengganggu mereka,
apakah yang akan dilakukan? Ternyata Jinan dan Patalan yang
mendengar pertanyaan itu menjadi berdebar-debar pula.
Tetapi mereka menjadi lega ketika mereka mendengar suara
Mahisa Agni menyambut orang yang datang itu, “Kau Mahendra.”
Tetapi segera Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika ia
melihat seorang prajurit datang bersama Mahendra itu.
Sebelum Mahendra menjawab, maka keduanya telah berloncatan
turun dari kuda mereka. Dengan akrabnya Mahendra kemudian
bertanya, “Bagaimana bendunganmu Agni?”
Mahisa Agni tersenyum kosong. Bendungan itu belum lagi
dimulai. Yang mereka kerjakan selama ini barulah persiapanpersiapan
untuk bendungan itu. Menancapkan patok-patok, mengisi
brunjung-brunjung dengan batu-batu dan membuat barak-barak
untuk berteduh di siang hari apabila mereka sedang beristirahat.
Maka jawab Agni kemudian, “Bendunganku sudah hampir siap.
Siap untuk dimulai.”
Mahendra tertawa. Katanya kemudian, “Kau mungkin belum
mengenal kawan seperjalananku. Namanya Sidatta, adalah salah
seorang perwira dari pasukan Kakang Witantra.”
Mahisa Agni mengangguk hormat dan Sidatta pun pula.
“Marilah Tuan,” Mahisa Agni mempersilakan, “tetapi alangkah
jeleknya tempat yang dapat kami pakai untuk menerima Tuan.”
“Terima kasih,” sahut Sidatta, “Kami dapat mengerti, bahwa
Tuan berada di tempat pekerjaan yang sedang Tuan lakukan
dengan tekad yang luar biasa. Membuat sebuah bendungan,
membuat susukan dan menggali parit-parit adalah pekerjaan
raksasa bagi padukuhan Tuan.”
“Mudah-mudahan kami berhasil,” gumam Mahisa Agni.
Maka mereka pun kemudian dibawa oleh Mahisa Agni duduk di
antara anak-anak muda Panawijen. Tetapi atas permintaan
Mahendra maka mereka mengambil tempat agak terpisah.
“Ada yang akan aku katakan,” bisik Mahendra.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga apa
yang akan dikatakan oleh Mahendra. Apalagi ia datang beserta
seorang perwira dari Tumapel.
Mahendra yang melihat perubahan wajah Mahisa Agni segera
berkata, “Tetapi soalnya sama sekali tidak penting.”
Mahisa Agni menggigit bibinya. Ia tahu bahwa Mahendra hanya
ingin menenangkannya sebelum mereka membicarakan persoalan
yang sebenarnya. Tetapi bagi Mahisa Agni, persoalan yang
menyangkut dirinya sendiri dengan istana Tunggul Ametung adalah
menjemukan sekali. berkali-kali persoalan itu selalu
membayanginya. Mengganggu ketenangannya dan pasti akan dapat
mengganggu rencana kerja yang telah masak dan kini telah dimulai
dilakukan bersama-sama dengan seluruh rakyat Panawijen. Tidak
ada bedanya dengan Kuda Sempana dan Empu Sada. Orang-orang
itu pasti akan mengganggu pekerjaannya pula dengan caranya.
Mungkin dengan orang-orang yang disebutnya bernama Wong
Sarimpat dan mungkin dengan orang-orang lain lagi. Meskipun
bentuknya berbeda, tetapi akibatnya akan sama saja.
Memperlambat pekerjaan itu. Bahkan mungkin dengan kekuasaan
yang ada pada Akuwu Tunggul Ametung, gangguan yang datang
daripadanya akan justru lebih besar.
Tetapi Mahisa Agni mencoba menahan perasaannya. Ia tidak
segera menyahut. Ia menunggu apalagi yang akan di katakan oleh
Mahendra.
Mahendra itu pun kemudian bergeser maju. Ditatapnya wajah
Mahisa Agni. Sekali ia memandang berkeliling. Dan sambil berbisik
ia berkata, “Agni. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak
ingin mengganggumu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Sambil mengangguk ia berkata,
“Katakanlah Mahendra.”
“Baik,” sahut Mahendra. Kemudian sekali lagi ia bergeser maju.
Katanya, “Agni. Pagi-pagi benar aku sudah berjalan dari
perkemahan di tengah-tengah hutan. Hampir tengah hari aku
sampai ke padepokanmu di Panawijen. Baru sekejap aku
beristirahat, aku harus berjalan kembali kemari. Aku ingin berterus
terang Agni.”
Mahendra berhenti sesaat, dan dada Mahisa. Agni pun menjadi
kian berdebar-debar. bahkan Sidatta pun menjadi berdebar-debar
pula. Dalam pada itu Mahendra meneruskan, “Aku ingin berterus
terang kepadamu, tetapi tidak kepada orang lain. Agni, aku agak
terlampau lapar.”
“He?” mata Mahisa Agni terbelalak. Getar di dadanya bertambah
cepat, namun kemudian anak muda itu tertawa.
“Hem,” gumamnya, “segenap otot-ototku menjadi tegang.”
Sidatta pun kemudian menggamit Mahendra sambil bertata, “Ah,
terlampau berterus terang Adi. Seorang ksatria tidak akan kelaparan
meskipun tidak makan empat puluh hari empat puluh malam.”
Mahendra tertawa pula, “Aku tidak malu kepada Mahisa Agni.
Tetapi mungkin aku malu kepada orang lain.”
“Kalau hanya itu keperluanmu, maka aku akan memenuhinya
dengan senang hati,” berkata Mahisa Agni sambil tertawa.
Kemudian ia pun bangkit dan berjalan ke barak, mengambil bekal
yang diminta oleh Mahendra. Nasi jagung dan sambal kacang.
“Apakah anak muda itu mau juga makan makanan seperti ini,”
gumamnya, “tetapi apa boleh buat. Aku tidak mempunyai yang
lain.”
Dengan menjinjing sebuah bungkusan kecil Mahisa Agni berjalan
kembali ke tempat Mahendra dan Sidatta menunggu. Semula ia
tidak menaruh perhatian apa-apa atas cerita Mahendra tentang
perjalanannya. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya.
Mahendra itu pagi-pagi benar sudah harus berangkat dari sebuah
perkemahan di tengah hutan. Kenapa dari sebuah perkemahan.
Kalau ia hanya pergi berdua, kenapa mereka terpaksa berkemah di
tengah hutan. Kenapa mereka tidak menempuh jalan lain,
sepanjang padang rumput atau langsung menemuinya seperti yang
pernah dilakukan oleh Mahendra dahulu di padang ini. Tetapi anak
muda itu telah pergi ke padepokannya, padepokan Empu Purwa.
Kini dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar kembali. Bukan
karena kebetulan Mahendra menyebut semuanya itu. Pasti
tersembunyi sesuatu maksud di belakangnya. Karena itu langkah
Mahisa Agni menjadi semakin panjang. Ia ingin segera mengetahui,
apa yang sudah dilakukan oleh Mahendra berdua dengan Sidatta.
Ketika Mahisa Agni sudah duduk di samping Mahendra kembali,
maka segera ia bertanya, “Mahendra, dari manakah kau
sebenarnya? Apakah kau baru saja menempuh perjalanan yang
panjang sehingga kau terpaksa bermalam di perjalanan?”
Tetapi Mahendra telah mengecewakan Mahisa Agni, sebab ia
menyahut, “Bungkusan apakah yang kau bawa ini?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia segera
ingin tahu, dari mana dan untuk apa Mahendra datang ke
padepokannya dan kemudian setelah beristirahat hanya sesaat yang
pendek ia harus dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu
dan datang ke padang ini, sehingga anak muda itu menjadi sangat
lapar.
Meskipun sebenarnya Mahendra lapar, tetapi ia tidak perlu
dengan tergesa-gesa dan berterus terang mengatakannya kepada
Mahisa Agni. Maksud Mahendra adalah untuk mengurangi
ketegangan yang tampak di wajah Mahisa Agni. Tetap dalam pada
itu, setelah wajah Agni membayangkan senyum tiba-tiba kini wajah
itu menjadi tegang kembali.
Mahendra menjadi ragu-ragu. Apakah caranya itu dapat berhasil
untuk berbicara dengan Mahisa Agni tanpa sikap yang tegang kaku.
Mahisa Agni yang sudah menjadi tegang kembali itu,
menyerahkan bungkusannya sambil menjawab, “Nasi jagung.
Apakah kau dan Tuan Sidatta biasa makan nasi jagung?”
“Oh tentu,” sahut Mahendra, “di Tumapel kami juga makan nasi
jagung. Bukankah begitu Kakang Sidatta?”
Sidatta mengangguk sambil tersenyum, “Ya. Aku juga biasa
makan nasi jagung.”
“Apalagi sambal kacang,” sela Mahendra setelah melihat isi
bungkusan itu, “Apakah kau sendiri tidak makan Agni?”
“Baru saja,” sahut Agni dengan dada yang berdebar-debar. Ia
seakan-akan menjadi tidak bersabar menunggu Mahendra
menyelesaikan makan. Seolah-olah terasa Mahendra sengaja makan
terlalu lambat seperti juga Sidatta. Bahkan kemudian Mahendra itu
berkata, “Maaf Agni. Aku perlu air. Aku terlampau haus.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdiri juga
untuk mengambil bumbung berisi air.
Dalam pada itu ketika Mahisa Agni sedang meninggalkan
Mahendra berdua dengan Sidatta, terdengar Mahendra berbisik,
“Kau lihat Kakang. Baru melihat wajah-wajah kita, Mahisa Agni telah
menjadi tegang. Aku tahu, ia sudah jemu membicarakan masalah
adiknya yang satu itu. berkali-kali ia selalu diganggu oleh
persoalan
itu.”
Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desahnya, “Melihat
sikapnya maka anak muda itu benar-benar keras hati.”
“Sebenarnya tidak. Ia anak muda yang baik. Ia tidak mendendam
seseorang. Aku pernah berkelahi melawannya karena kesalahanku.
Tetapi aku selalu saja dikalahkan. Meskipun ia menang atasku,
namun ia tidak berbuat apa-apa atasku ketika aku minta maaf. Ia
tidak menghina aku dan tidak ingin membalas dendam. Aku tidak
tahu kenapa ia bersikap terlampau keras terhadap adiknya. Mungkin
karena ia menjadi banyak kehilangan karena hilangnya adiknya itu.
Ayah angkatnya yang juga menjadi gurunya, bendungan,
sahabatnya yang juga bakal iparnya yang bernama Wiraprana yang
dibunuh oleh Kuda Sempana, dan ia sendiri hampir terbunuh untuk
mempertahankan adiknya. Tiba-tiba ia mendengar adiknya
menerima lamaran Tunggul Ametung yang turut melarikan gadis
itu.”
“Perasaannya tersinggung karenanya,” desis Sidatta.
“Tersinggung agak terlampau parah,” sambung Mahendra. Tetapi
percakapan itu terhenti ketika Mahisa Agni datang sambil membawa
bumbung air.
Mahisa Agni menjadi semakin kecewa ketika ia melihat nasi
jagung Mahendra masih hampir utuh. Karena itu maka katanya,
“Nasi itu sama sekali tidak memenuhi seleramu Mahendra?”
“Oh, tidak,” sahut Mahendra, “aku senang sekali makan nasi
jagung dan sambal kacang.”
Mahisa Agni tidak menyahut. Ia mencoba menyabarkan diri
menunggu sampai mereka selesai makan. Tetapi hatinya yang selalu
bergolak itu tidak dapat ditahannya. Maka terloncatlah
pertanyaannya, “Dari manakah kalian berdua Mahendra?”
Mahendra berhenti menyuapi mulutnya. Tetapi ia masih raguragu
untuk menjawab. Namun di luar kehendaknya Sidattalah yang
menjawab, “Kami baru saja menempuh sebuah perjalanan.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia menunggu Sidatta
meneruskan, tetapi orang itu berdiam diri sambil meneguk setebuk
air dari bumbung. Karena Sidatta tidak meneruskan kata-katanya
maka kembali Agni bertanya, “Perjalanan jauh? Tetapi apakah kalian
telah singgah ke padepokanku di Panawijen?”
“Ya,” sahut Mahendra. Ia tidak dapat menyembunyikan persoalan
yang sebenarnya. Tetapi ia ingin mengatakannya dengan cara yang
lain, “Kami berjalan-jalan bersama Kakang Witantra.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin curiga.
Katanya, “Apakah Witantra sekarang berada di padepokanku di
Panawijen?”
“Ya,” sahut Mahendra acuh tak acuh sambil menyuapi mulutnya,
“perjalanan yang sama sekali tidak menarik. Kami harus berjalan
kaki dari Tumapel, lewat tengah hutan, untuk menghindari terik
matahari.”
“Kenapa?”
Seolah-olah tidak ada soal yang penting sama sekali, Mahendra
menjawab, “Kami mengantarkan adikmu.”
“Ken Dedes?” desis Mahisa Agni.
“Ya. Ia sedemikian rindunya kepadamu sehingga ia memaksa
untuk menemuimu. Tetapi setelah kami sampai di padukuhanmu,
kau tidak ada. Dengan serta-merta aku harus berjalan lagi ke
padang rumput Karautan.”
“Bohong!” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Agni semakin tegang.
Sidatta mengerutkan keningnya. Benar juga pesan Witantra dan Ken
Dedes. Mahisa Agni bersikap agak terlampau keras.
Tetapi Mahendra sama sekali tidak terkejut. Ia masih tetap
menyuapi mulutnya. Bahkan kemudian sambil tertawa ia berkata,
“Ah, nasimu benar-benar luar biasa. Enak dan cepat menjadi
kenyang.”
“Aku tidak percaya Mahendra,” berkata Agni tanpa menghiraukan
kata Mahendra, “kalian datang untuk menangkap aku dan
membawa aku menghadap Akuwu Tumapel karena aku pernah
meninggalkan Tumapel sebelum aku menghadap.”
Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi wajahnya masih tetap
tenang, dan mulutnya masih tetap mengunyah makanannya.
Meskipun demikian, degup jantung Mahendra tidaklah setenang
wajahnya. Bahkan ia kemudian menjadi cemas, bahwa caranya itu
pun tidak akan menyenangkan Mahisa Agni.
Sidatta yang duduk di samping Mahendra sudah tidak lagi dapat
menelan makanannya dengan lancar. Ia tidak pula bersabar
mendengarkan cara Mahendra mengatakan maksudnya.
Dalam pada itu terdengar Mahendra menjawab, “Ah. Kenapa
kami harus menangkapmu? Bukankah tidak ada alasan? Jangan
berprasangka Mahisa Agni.”
Mahisa Agni terdiam. Ia melihat Mahendra itu masih saja sibuk
dengan nasi jagung dan sambal kacang, seolah-olah memang tidak
ada sesuatu yang penting. Tetapi kenapa ia begitu tergesa-gesa
mencarinya. Apakah benar hanya karena Ken Dedes segera ingin
menemuinya?
Tetapi menilik cara Mahendra makan dan ketenangannya
menyampaikan cerita perjalanannya, terasa bahwa Mahendra
memang tidak sedang mengemban tugas yang terlampau penting.
Sidatta sekali menggeser duduknya dengan gelisah. Tetapi ia
memahami cara Mahendra menyampaikan maksudnya, sehingga
karena itu, ia mencoba untuk menahan perasaannya.
Tiba-tiba terdengar Mahendra berkata, “Adikmu ada di Panawijen
sekarang Mahisa Agni.”
“Biar sajalah,” jawab Mahisa Agni kosong.
Mendengar jawaban itu dahi Mahendra berkerut dan terasa dada
Sidatta berdesir.
“Ia sangat rindu kepadamu,” Mahendra meneruskan.
“Anak itu telah menjadi seorang besar di Tumapel. Apalagi yang
diharapkan dariku?”
“Bukankah ia adikmu?”
“Pada masa kita masih kanak-kanak ia adikku. Tetapi sekarang
kami menempuh jalan hidup kami masing-masing. Ia tidak
memerlukan aku lagi, dan aku tidak memerlukannya.”
Mahendra tersenyum. Senyum yang aneh. Namun ia hampir
kehabisan akal untuk mencari jalan supaya ia dapat mengajak
Mahisa Agni pergi ke Panawijen. Kalau ia tidak dapat membawa
Mahisa Agni ke Panawijen, maka kemungkinan terbesar adalah Ken
Dedes sendiri akan datang ke padang Karautan untuk mengambil
Mahisa Agni dan membawanya ke Tumapel. Dalam keadaan yang
demikian segalanya akan dapat terjadi. Ken Dedes membawa
serombongan prajurit yang sedang mengemban tugas dan di sini
banyak anak-anak muda yang pasti akan berpihak kepada Mahisa
Agni. Tetapi Mahendra tidak mengetahui bahwa anak-anak muda
yang berada di padang ini sebagian terbesar adalah anak-anak
muda seperti Sinung Sari, Jinan dan Patalan.
Meskipun demikian Mahendra masih mencoba berkata, “Aku tadi
belum mendapat hidangan apa-apa di padukuhanmu Agni.
Seharusnya aku besok pagi-pagi harus sudah sampai di sana pula.
Tetapi aku kira aku tidak akan kembali ke Panawijen.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Bukan saja Mahisa
Agni, tetapi juga Sidatta. Tetapi agaknya Mahendra memang sedang
memutar otaknya untuk memancing Mahisa Agni ke Panawijen.
“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.
“Kau tahu perasaanku Agni,” berkata Mahendra tiba-tiba dengan
wajah yang bersungguh-sungguh, “Aku sudah menerima keadaan
yang aku hadapi sebagai suatu kenyataan yang tak dapat aku
ingkari. Tetapi meskipun demikian, aku tidak akan dapat melihat
gadis itu bersedih dan menangis terus menerus.”
“Kenapa?”
“Gadis itu merasa bahwa hidupnya kini benar-benar tinggal
sebatang kara. Seolah-olah semua orang yang dikenalnya pada
masa kanak-kanaknya, semua orang yang pernah dikasihinya sejak
ia masih kanak-kanak telah meninggalkannya. Ayahnya dan kau.”
(bersambung )
Jilid 18
MAHISA AGNI menundukkan wajahnya. Terasa dadanya berdesir.
Ia lebih senang mendengar bahwa Ken Dedes itu mengumpatumpat
dan mengutuknya. Ia akan menghadapi dengan dada
tengadah seandainya Ken Dedes itu mengirimkan beberapa orang
untuk menangkap dan menghukumnya. Tetapi Ken Dedes itu
menangis.
Mahendra melihat wajah Mahisa Agni tertunduk. Sekilas ia
memandang wajah Sidatta yang tegang. Di dalam hati perwira itu
berkata, “Anak muda yang keras hati. Tetapi hatinya adalah hati
malam. Hatinya mudah sekali menjadi luluh karena haru, bukan
karena cemas dan takut.”
Tetapi kini Mahendralah yang menjadi cemas. Ia telah
mengatakan sikap Ken Dedes yang belum pasti benar terjadi. Kalau
kemudian kedatangan Mahisa Agni disambut dengan wajah yang
merah tegang karena marah, kalau kedatangan Mahisa Agni
kemudian disambut oleh sikap yang sama sekali berlawanan dengan
apa yang dikatakan, maka Mahisa Agni pasti akan merasa ditipunya.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia harus dapat
mengajak Mahisa Agni ke Panawijen.
Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Mahisa Agni sekali-sekali
terdengar menarik nafas dalam-dalam. Mahendra masih saja
menghadapi sisa-sisa makanannya dan sekali-sekali tangannya
masih menyentuh sambal kacang. Tetapi debar di hatinya terasa
menjadi semakin cepat. Dalam pada itu Sidatta merenungi perapian
tidak jauh daripadanya. Apinya menjilat-jilat seperti sedang
menarinari.
Di kejauhan dilihatnya beberapa anak muda terbaring di atas
alas rerumputan kering. Dingin padang mulai merayap tubuhnya.
Mahisa Agni yang tertunduk itu masih juga tertunduk. Kalau
benar kata Mahendra, maka anak itu akan mengalami siksaan batin
meskipun ia akan menjadi seorang permaisuri. Dalam pada itu
tibatiba
diingatnya kata-kata ibunya. Kata-kata emban pemomong Ken
Dedes yang sudah semakin tua. Sebenarnya hatinya sedang dibakar
oleh sebuah perasaan yang mementingkan dirinya sendiri. Bukan
sekedar perasaannya tersinggung karena keputusan Ken Dedes di
luar persetujuannya. Tetapi jauh lebih dalam daripada itu.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah
udara padang rumput itu menjadi sedemikian tipisnya.
Mahendra memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi
pada Mahisa Agni dengan seksama. Tetapi ia masih belum
mendapat kesimpulan apakah Mahisa Agni akan bersedia datang
memenuhi undangan adiknya.
Sejenak mereka masih berdiam diri. Sidatta berusaha untuk
menahan diri, dan memberi kesempatan kepada Mahendra untuk
membujuk Mahisa Agni.
Dalam pada itu Mahendra pun kemudian berkata, “Bagaimana
Agni. Apakah kau besok pagi-pagi benar bersedia datang ke
Panawijen?”
Mahendra menjadi kecewa ketika Mahisa Agni menggeleng,
“Tidak Mahendra. Aku tidak sempat meninggalkan pekerjaan ini.
Aku harus selalu berada di antara kawan-kawanku yang sedang
membangun bendungan ini.”
Tanpa dikehendakinya sendiri Mahendra menggeleng-gelengkan
kepalanya. Ia tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan untuk
melunakkan hati Mahisa Agni.
Namun dalam pada itu terdengar Sidatta berkata, “Sebaiknya kau
datang Adi Mahisa Agni.”
Mahisa Agni memandangi wajah perwira itu. Wajahnya tenang
dan dalam. Perwira itu adalah seorang perwira yang bermata
cekung. Bibirnya banyak membayangkan senyum, tetapi wajah itu
berkesan sebuah tekanan yang pernah membebani hidupnya. Tetapi
Mahisa Agni tidak ingin menilai perwira itu, dan perwira itu pun
tidak
ingin bercerita tentang dirinya, tentang penderitaan hidup yang
pernah dialaminya, sehingga meskipun ia masih muda, tetapi
perasaannya telah cukup mengendap.
Bahkan Mahisa Agni menjadi bertanya-tanya di dalam hati.
“Apakah perwira ini yang sebenarnya bertugas untuk
menangkapnya?”
Mahendra pun menjadi berdebar-debar pula. Ia tidak
mengharapkan bahwa karena kejengkelan, kekecewaan dan
ketidaksabaran Sidatta, maka perwira itu akan dapat menimbulkan
salah paham.
Tetapi Sidatta itu berkata sekali lagi, “Tuan Putri sangat
mengharap kedatanganmu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Sebutan untuk Ken Dedes itu benarbenar
telah menggelitik telinganya. Tetapi ia tidak segera
menjawab. Keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat telah
mengganggu perasaannya. Ada keinginannya untuk memenuhi
permintaan Ken Dedes oleh dorongan berbagai perasaan. Ingatan
tentang ibunya, tentang pergaulan masa kanak-kanaknya dan
tentang berbagai macam kenangan masa silam. Tetapi apabila tibatiba
ia terantuk pada dirinya sendiri, hatinya meronta, “Persetan
dengan anak itu!”
“Maaf Kakang Sidatta,” sahut Mahisa Agni, “aku tidak dapat
datang.”
Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mahendra
memandanginya dengan cemas. Sudah tentu ia tidak dapat
melarang Sidatta mengucapkan perasaannya. Dengan demikian ia
akan menyinggung perasaan perwira.
Tetapi yang diucapkan oleh Sidatta kemudian adalah, “Sayang
sekali.”
Kemudian kepada Mahendra Sidatta itu berkata, “Adi Mahendra,
kalau Adi Mahisa Agni tidak bersedia menemui adiknya, Tuan Putri
Ken Dedes, maka adalah salah kami semua para pengawal.”
Sekarang Mahendralah yang tidak tahu maksud Sidatta
mengucapkan kata-kata itu Mereka memang tidak mengadakan
persetujuan apa yang harus mereka katakan, sehingga mereka telah
membuat cara masing-masing untuk memancing kesediaan Mahisa
Agni. Tetapi Mahendra menyadari, agaknya Sidatta pun sedang
mencoba melunakkan hati Mahisa Agni.
Dengan ragu-ragu Mahendra menjawab, “Ya Kakang, kitalah
yang bersalah.”
Mahendra sama sekali tidak mengerti, kesalahan apa yang telah
dilakukannya, namun ia merasa wajib untuk mengiakan, supaya
cara Sidatta tidak terganggu.
Tetapi Sidatta benar-benar menjadi kecewa. Ia ingin Mahendra
bertanya, kenapa kesalahan itu diletakkan kepadanya dan
kawankawannya
supaya ia mendapat jalan untuk menjelaskan. Sebuah
persoalan yang telah dikarangnya. Karena itu dengan menggigit
bibirnya Sidatta menarik nafas dalam-dalam.
Melihat wajah Sidatta yang berkerut-kerut Mahendra menjadi
heran. Kemudian timbullah kekhawatirannya, bahwa ia telah
membuat tanggapan yang salah.
Tetapi tidak dengan sengaja, Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa
kalian yang bersalah?”
Sekali lagi Sidatta menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semula
Tuan Putri telah menyangka bahwa Adi Mahisa Agni berada di
padang ini. Tuan putri telah memerintahkan kepada kami untuk
langsung datang kemari karena betapa rindunya Tuan Putri kepada
satu-satunya kadang yang masih ada. Tetapi kamilah yang
menasihatkannya, supaya Tuan Putri datang lebih dahulu ke
Panawijen. Mungkin Adi masih berada di padepokan, dan
kemungkinan yang lain adalah, Tuan Putri akan tidak tahan panas
matahari yang terik. Tetapi ketika kami sampai di padepokan Adi,
ternyata padepokan itu kosong. Yang ada hanyalah para cantrik dan
endang. Betapa kecewa hati Tuan Putri. Yang dilakukan pertamatama
adalah menangis. Memanggil kami dan betapa Tuan Putri
marah kepada kami. Sebelum kami sempat duduk, aku dan Adi
Mahendra harus berangkat lagi menebus kesalahan kami. Tetapi
kalau Adi Mahisa Agni tidak bersedia datang, makan apabila
kesalahan ini didengar oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka
kedudukan kami akan terancam. Lebih daripada itu, Tuan Putri akan
menjadi sangat bersedih. Adalah pasti Tuan Putri akan menjadi
berangkat kemari betapapun alam menghalang-halanginya dengan
terik matahari, haus dan mungkin gangguan-gangguan yang lain.”
Kata-kata itu serasa menusuk-nusuk ulu hati Mahisa Agni.
Kalimat demi kalimat menghunjam ke dalam dadanya seperti pisau
yang sejari demi sejari menembus semakin dalam. Tiba-tiba dalam
kepedihan itu Mahisa Agni memotong dengan kasarnya, “Cukup!
Cukup!”
Sidatta terdiam mendengar Mahisa Agni tiba-tiba membentakbentak.
Tetapi perwira itu tidak menunjukkan sikap apapun. Ia
masih tetap duduk dengan tenangnya sambil memandangi nyala api
yang sedang menjilat udara.
Dalam pada itu, Mahendralah yang menjadi semakin cemas.
Tetapi ia menjadi agak tenang ketika ia melihat Sidatta tetap dalam
sikapnya.
Sidatta yang meskipun umurnya tidak terlampau jauh terpaut
dari umur Mahendra dan Mahisa Agni, namun karena pengalaman
hidupnya yang luas, segera dapat merasakan, bahwa di dalam hati
Mahisa Agni kini terjadi suatu pergolakan. Ia mengharap
mudahmudahan
pergolakan di dalam dada Mahisa Agni itu akan
mendorong Agni untuk dapat memenuhi maksud kedatangan
mereka.
Kembali suasa menjadi kian sepi. Beberapa anak-anak muda
Panawijen telah tertidur nyenyak. Namun beberapa yang lain
mendengar lamat-lamat Mahisa Agni memotong kata-kata tamunya
dengan keras. Terasa dada mereka berdesir. Tetapi mereka tidak
melihat sikap-sikap yang menegangkan hati. Karena itu, maka
kembali mereka menikmati masa-masa istirahat mereka.
Sidatta kini membiarkan Mahisa Agni berbicara dengan diri
sendiri. Dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya, namun
sekali-sekali tangannya tampak memegangi keningnya yang menjadi
berat dan pening.
Tiba-tiba kesepian suasana itu dipecahkan oleh kata-kata Agni.
“Kau membingungkan aku, Kakang Sidatta.”
Sidatta berpura-pura terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya,
“Kenapa?”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Kembali wajahnya menunduk dan
terdengar sekali-sekali ia berdesah. Namun kembali dengan tiba-tiba
Mahisa Agni berkata sambil meremas tangannya, “Tidak. Aku tidak
akan pergi. Biar anak itu marah, mengumpat-umpat atau
mengutukku sekali. Aku tidak ada sangkut paut lagi dengan Ken
Dedes. Hidupku lebih penting bagi rakyat Panawijen daripada
untuknya. Seandainya ia akan datang kemari biarlah ia datang.
Biarlah ia dibakar terik matahari, biar ia kalap ditelan hantu
sekalipun.”
Sidatta menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Adi. Tuan
putri tidak akan mengumpat-umpat, memaki atau mengutuk
seandainya Adi Mahisa Agni tidak mau datang ke Panawijen. Tetapi
Tuan Putri itu pasti hanya akan dapat menangis dan merasa dirinya
tidak berharga di mata saudara tuanya. Ia tidak akan
memerintahkan menangkap tuan, tetapi ia akan meratap dan
merasa dirinya dikejar-kejar oleh dosa karena telah melukai hati
kakaknya.”
“Oh,” terdengar Mahisa Agni berdesah. Kini kedua tangannya
memegang kepalanya erat-erat seperti ia takut kepala itu akan
terlepas dari lehernya.
Kembali Sidatta membiarkan Mahisa Agni bertengkar dengan
perasaan sendiri. Ia dihadapkan pada dua kemungkinan yang saling
bertentangan. Dalam keraguan itu kembali terdengar suara ibunya
terngiang di telinganya. Suara yang seakan-akan telah mendorong
untuk pergi ke Tumapel beberapa hari yang lampau. Kini ia
dihadapkan lagi pada keadaan yang serupa. Ragu-ragu.
Malam yang kelam menjadi semakin kelam. Di kejauhan
terdengar burung malam melagukan lagu yang sayu.
Tiba-tiba dalam keheningan itu Mahisa Agni berkata lemah,
“Baiklah aku besok akan pergi bersama kalian.”
Mahendra terkejut mendengar kesediaan yang terasa terlampau
tiba-tiba itu, sehingga ia bergeser maju sambil mengulangi
kata-kata
Agni, “Kau bersedia?”
Mahisa Agni mengangguk.
Sidatta tersenyum. Katanya, “Tuan putri akan sangat bergembira
karena kesediaan Adi Mahisa Agni.”
Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi kembali wajahnya terhunjam
ke tanah. Sedang Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Meskipun ia merasa bersyukur karena kesediaan Mahisa Agni itu,
tetapi ia menjadi iba pula. Bahkan ia kini menjadi cemas. Mereka
berdua, Mahendra dan Sidatta ternyata telah mempergunakan
kelemahan hati Mahisa Agni untuk memaksanya pergi ke Panawijen.
Tetapi apabila kedatangan besok disambut oleh adiknya dengan
sikap yang bertentangan dengan yang dikatakannya, maka dapat
dibayangkan, betapa terpecah-belah hati anak muda itu.
Tetapi Mahendra tidak dapat berbuat lain, seperti juga Sidatta
tidak mempunyai cara lain untuk memaksa Agni datang ke
Panawijen, meskipun seperti Mahendra, Sidatta pun menjadi cemas.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalian telah
menyulitkan perasaanku. Tetapi biarlah aku sekali ini menuruti
kehendak Ken Dedes. Mungkin pertemuan ini adalah pertemuan
yang terakhir. Mungkin ia akan memberikan pesan atau mungkin ia
akan memaki-maki aku. Mudah-mudahan perasaanku sendiri tidak
menjadi tersiksa karenanya setelah aku, melihat anak itu. Anak yang
tidak tahu diri.”
Sidatta dan Mahendra tidak menyahut. Terbayang di dalam
kepalanya, betapa hati Mahisa Agni telah benar-benar terluka. Luka
karena tersinggung perasaan. Namun dugaan itu kurang tepat
seperti apa yang sesungguhnya terjadi. Tak seorang pun selain ibu
Mahisa Agni sendiri yang tahu, apakah yang sebenarnya bergolak di
dalam dada Mahisa Agni.
Malam yang menjadi semakin malam telah menelan perkemahan
itu. Hampir semua orang telah tertidur. Mahisa Agni pun kemudian
mempersilakan kedua tamunya beristirahat di atas sehelai tikar
pandan. Ketika kemudian ia kembali ke tengah-tengah perkemahan
itu dilihatnya Ki Buyut Panawijen pun telah tertidur. Tetapi ia
melihat pamannya duduk memeluk lututnya, masih seperti ketika
ditinggalkannya seolah-olah orang itu sama sekali tidak bergerak.
“Siapakah mereka Agni?” bertanya gurunya.
“Mereka adalah orang-orang Ken Dedes yang datang untuk
memanggil aku ke Panawijen besok,” sahut Mahisa Agni.
Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah
mendengar persoalan antara Agni dan anak gurunya itu. Namun
belum seluruhnya. Empu Gandring belum mengetahui sedalamdalamnya
persoalan yang seolah-olah selalu menghantui perasaan
kemenakannya itu. Karena itu maka dengan hati-hati ia bertanya,
“Apakah kau besok akan pergi juga ke Panawijen.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya lirih, “Ya,
Paman. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa aku akan
datang memenuhi panggilan itu. Apakah Paman tidak setuju?”
“Kenapa aku tidak setuju, Agni? Aku mengharap segala sesuatu
menjadi baik. Kalau kau tidak bertemu dengan adikmu, maka kau
tidak akan mendengar keterangan yang langsung diucapkan.
Mungkin dengan demikian kalau telah salah paham, akan segera
dapat diakhiri. Yang tidak dapat kau mengerti dapat langsung kau
tanyakan kepadanya, yang tidak kau setujui kau langsung dapat
menyampaikannya. Hanya persoalan menjadi baik dengan
pembicaraan yang baik. Tetapi kalau salah paham itu kau simpan
saja di hatimu, maka untuk seterusnya tidak akan ditemukan
pengertian di antara kalian.”
Mahisa Agni menganggukkan, kepalanya. Desisnya, “Mudahmudahan,
Paman. Sebenarnya aku sudah jemu mengurus soal Ken
Dedes yang akan kawin dengan Tunggul Ametung. Ketika mereka
mulai dengan persoalan itu, mereka sama sekali tidak membawa
aku dalam pembicaraan, tetapi kemudian persoalan itu selalu
mengganggu aku ke mana aku pergi.”
“Karena itu,” sahut pamannya, “segera kau selesaikan soal itu.
Apakah keberatannya? Untuk seterusnya kau tidak akan terganggu
lagi.”
Mahisa Agni terdiam. Namun debar jantungnya menjadi semakin
cepat.
“Beristirahatlah Agni,” desis pamannya kemudian.
Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Ya, Paman.”
Perlahan-lahan anak muda itu bangkit dan berjalan ke sebuah
gubuk dengan atap anyaman daun kelapa. perlahan-lahan pula ia
membaringkan dirinya pada sehelai tikar. Namun untuk seterusnya
Mahisa Agni tidak segera dapat memejamkan matanya. Bahkan
seolah-olah semua peristiwa yang pernah dialami, kembali membelit
angan-angannya. Seruling, amben bambu, teritisan. Kemudian
tangis Ken Dedes, dan ibunya yang mencoba menghibur gadis itu,
kemudian betapa dadanya serasa pecah, ketika ia mendengar Ken
Dedes menyebut nama Wiraprana.
Mahisa Agni memejamkan matanya sambil menggelenggelengkan
kepalanya. Ia mencoba mengusir kenangan yang pahit
itu. Tetapi kenangan itu selalu datang mengganggunya.
Betapa tubuhnya sehari-harian diperas oleh kerja membuat
bendungan, namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat tidur
sekejap pun.
Ia terkejut ketika tanpa disengaja, ia memandang langit di timur
telah dilapisi oleh warna semburat merah.
Bahkan sejenak kemudian beberapa orang kawannya telah
bangun dan satu dua di antaranya telah pergi ke sungai untuk
mengambil air.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian ia
bangkit dan pergi ke tempat Sidatta dan Mahendra beristirahat,
ternyata mereka pun telah bangun pula.
Pagi itu, Mahisa Agni terpaksa meninggalkan kawan-kawan
mereka. Meskipun hatinya masih saja dikejar oleh keragu-raguan,
namun ia tidak membatalkan niatnya untuk pergi ke Panawijen.
Setelah minta diri kepada Ki Buyut dan pamannya Empu Gandring
beserta kawannya, maka Mahisa Agni pun kemudian pergi ke
Panawijen bersama dengan Sidatta dan Mahendra.
Di sepanjang jalan, Mahendra menceritakannya serba sedikit apa
yang dilihat dan dialaminya di perjalanan. Diceritakannya pula,
bahwa Empu Sada telah mencoba membantu muridnya merampas
Ken Dedes. Untunglah bahwa gurunya, Panji Bojong Santi, dalam
saat yang tepat telah menolong mereka.
“Seandainya Guru tidak ada, maka Empu Sada pun tidak akan
berhasil membawa Tuan Putri,” berkata Mahendra.
Mahisa Agni yang mendengarkan cerita itu dengan getar di
dadanya, menarik nafas dalam-dalam. Betapa bencinya kepada
Kuda Sempana yang masih saja ingin mendapatkan gadis itu tanpa
menghiraukan keadaan dan kenyataan. Tetapi Mahisa Agni tertarik
pada cerita terakhir Mahendra, sehingga ia bertanya, “Kenapa Empu
Sada tidak juga akan berhasil apabila Panji Bojong Santi tidak
menolong kalian.”
“Ada orang lain yang telah siap menolong pula.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
“Siapa?” ia bertanya.
“Empu Purwa.”
“He,” Mahisa Agni terkejut, tetapi kemudian katanya, “apakah
kau sedang bergurau?”
Mahendra menggeleng, “Tidak. Aku tidak sedang bergurau.
Empu Purwa benar-benar hadir menurut guruku.”
Mahisa Agni memandang wajah Mahendra dengan tajamnya.
Namun kemudian kembali wajahnya merenungi padang yang luas
terbentang di hadapannya. Kembali angan-angannya melambung
pada masa-masa yang silam dan pada masa-masa yang tak pernah
dialaminya. Terasa suatu dunia yang aneh melingkar-lingkar di
dalam benaknya. Dunia kenyataan yang tak dapat diingkarinya,
bercampur baur dengan dunia angan-angannya yang berbenturan
dengan segala macam kekecewaan dan penyesalan. Tetapi Mahisa
Agni tidak menumpahkannya kepada siapa pun. Dunia itu tetap
menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.
Sementara itu di Panawijen, Ken Dedes menunggu Mahendra dan
Sidatta dengan gelisah. Menurut perhitungan Witantra, lewat tengah
hari secepat-cepatnya Mahendra baru akan datang. Dengan atau
tidak dengan Mahisa Agni. Namun Ken Dedes yang hampir tidak
sabar menunggu itu pun telah memerintahkan kepada Witantra
untuk mengatur para prajuritnya, supaya Mahisa Agni melihat,
bahwa yang hadir di Panawijen kini adalah seorang bakal
permaisuri. Seorang yang mempunyai kesempatan dan
kemungkinan yang gemilang di hari depan.
Hampir semalam penuh Ken Dedes mereka-reka, bagaimana ia
harus bersikap nanti apabila Mahisa Agni datang. Kadang-kadang
kekecewaannya kepada kakak angkatnya itu sedemikian menyembul
dari permukaan pertimbangannya, sehingga kadang-kadang
timbullah keinginannya untuk memperlihatkan kebesarannya.
Namun kadang-kadang timbul pula perasaannya yang lain. Perasaan
seorang gadis yang memerlukan perlindungan dari saudara
lakilakinya.
Tetapi bagaimanapun juga, ia harus menunjukkan kepada Mahisa
Agni, bahwa ia bukan seorang gadis kecil lagi. Bukan seorang gadis
yang dapat merengek seperti pada saat-saat ia masih tinggal di
padepokan ini. Bukan lagi Ken Dedes yang hanya pantas melayani
Mahisa Agni makan di dapur, menuangkan sayur dan menyediakan
kendi untuk minum. Bukan lagi anak-anak yang berlari-lari mencari
Mahisa Agni, apabila dilihatnya sesuatu yang mencemaskan hatinya,
berteriak-teriak hanya karena seekor kambing yang lepas dari
ikatannya masuk dan mengucak dedaunan dalam pertamanannya.
“Tidak,” katanya di dalam hati, “aku sudah dewasa. Kakang
Mahisa Agni pun harus bersikap dewasa dalam persoalanku. Aku
harus dapat menunjukkan kepadanya, bahwa dalam keadaan ini aku
mempunyai pertimbangan yang benar. Bukan sekedar karena
berputus asa. Kebesaranku akan melimpah kepada Kakang Mahisa
Agni dan seluruh padukuhan Panawijen.”
Ken Dedes itu pun kemudian hatinya menjadi tetap. Ia akan
menyambut Mahisa Agni dalam sikap kedewasaan. Berbicara
dengan sikap yang dewasa.
Karena itu, ketika kemudian matahari mencapai puncak langit,
maka Ken Dedes pun telah bersedia duduk di pendapa
padepokannya. Ia telah memerintahkan kepada Witantra untuk
menjaga regol halamannya dan beberapa petugas lain di sudutsudut
pendapa. Witantra sendiri duduk bersila di pendapa itu
bersama-sama Kebo Ijo.
Namun betapa Kebo Ijo mengumpat-umpat di dalam hatinya.
Katanya, “Gadis Panawijen ini terlalu banyak bertingkah. Apa pula
perlunya tata cara resmi yang tidak dilakukan di istana ini.
Bukankah
ia belum seorang permaisuri? Hem, apalagi nanti, apabila Ken Dedes
itu telah resmi menjadi seorang permaisuri. Kami setiap hari masih
harus mencium telapak kakinya.”
Tetapi ketika ia melihat kakak seperguruannya duduk tepekur
dengan khidmatnya, maka ia pun menundukkan kepalanya.
Ken Dedes sendiri, duduk di tengah-tengah pendapa, di depan
pintu masuk ke ruang dalam. Di atas sehelai tikar yang putih.
Di belakangnya duduk beberapa endang yang berumur
sebayanya. Para endang itu sendiri tidak tahu, kenapa ia harus
duduk pula di belakang Ken Dedes. Tetapi ketika mereka melihat
para prajurit yang dengan sikapnya yang garang berada di sekitar
halaman dan di sekeliling pendapa, bahkan panji-panji dan
umbulumbul
pun dipasang pula, mereka sama sekali tidak berani
menanyakannya. Terasa pula, bahwa Ken Dedes kini bukan lagi Ken
Dedes yang dahulu. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa Ken
Dedes adalah seorang gadis yang bakal menjadi permaisuri Akuwu
Tunggul Ametung. Meskipun mereka tidak dapat mengerti
hubungan peristiwa yang telah terjadi atas Ken Dedes itu, namun
mereka kini melihat suatu kenyataan, bahwa Ken Dedes mendapat
kesempatan yang tidak pernah diimpikan.
Kalau semula mereka meratap dan menangisi gadis yang
dilarikan oleh Kuda Sempana, namun kini mereka melihat kebesaran
gadis itu. Dan mereka pun menjadi ikut bangga pula karenanya.
Ken Dedes yang duduk di tengah-tengah pendapa itu merasa,
betapa ia sudah terlampau lama menunggu, namun Mahendra
masih belum juga datang. Dengan gelisahnya ia berkali-kali
mengingsar tubuhnya. Sekali ke sisi kemudian kembali ke tempat
semula. Pandangan matanya seolah-olah tersangkut di regol
halaman. Dari sana nanti Mahendra akan datang bersama Sidatta
dan Mahisa Agni.
“Bagaimana kalau Kakang Mahisa Agni tidak mau datang?”
desahnya di dalam hati.
Kekecewaan Ken Dedes menjadi semakin bertambah-tambah.
Mahisa Agni benar-benar seorang yang tinggi hati. Seorang yang
tidak mau melihat kepentingan orang lain. Seorang yang hanya
dapat berpikir menurut kepentingan dan keinginan diri sendiri.
Seorang yang diperbudak oleh ledakan-ledakan perasaan tanpa
disertai dengan nalar dan pikiran. Semua peristiwa selalu
ditanggapinya dengan hati yang gelap.
“Alangkah menjemukan,” geramnya di dalam hatinya, “Kakang
Mahisa Agni benar-benar menjemukan. Sekali-sekali ia harus
mendapat pelajaran bahwa sikapnya sama sekali bukan sikap yang
baik. Bukan sikap yang dapat dibanggakan. Baik bagi dirinya
sendiri,
maupun oleh keluarga di sekitarnya. Aku kira, ayah tidak pernah
mengajarinya demikian.”
Kemudian perasaannya pun meledak-ledak pula. Katanya di
dalam hatinya, “Ia harus datang. Ia harus datang. Ia harus bersedia
pergi ke Tumapel, menemui Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah
seandainya ia tidak mau merestui perkawinanku. Tetapi ia harus
belajar menghormati orang lain. Menghormati mereka yang
seharusnya mendapat kehormatan yang sepantasnya. Apabila ia
datang, ia harus melihat kebesaran Akuwu Tumapel. Maksud baik
yang terkandung di dalamnya dan kewajibannya sebagai seorang
saudara tua terhadap adiknya.”
Dengan demikian sikap Ken Dedes pun menjadi semakin garang.
Dipaksanya dirinya untuk dapat menunjukkan kebesaran yang
diwakilinya dari Istana Tumapel. Ia ingin membuat Mahisa Agni
tunduk karena wibawa kebesaran Akuwu Tunggul Ametung. Baru
kemudian, anak muda itu akan mudah menerima keterangannya
setelah ia dicengkam oleh kewibawaan itu.
Tetapi Mahisa Agni tidak juga segera datang.
Dalam pada itu, Mahendra, Sidatta dan Mahisa Agni masih
berada di perjalanan. Perjalanan yang seolah-olah menyusur
sepanjang tepi neraka. Betapa panasnya udara dan betapa
panasnya terik matahari. Berkali-kali mereka terpaksa berhenti.
Mengambil air ke sungai dan membiarkan kuda-kuda mereka minum
dan sekedar beristirahat. Sejenak kemudian barulah mereka
berjalan kembali.
“Alangkah beratnya pekerjaanmu, Agni, “gumam Mahendra,
“membuat bendungan di bawah terik matahari yang seakan-akan
membakar punggung.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Pekerjaannya memang
pekerjaan yang cukup berat. Apalagi bagi penduduk Panawijen yang
selama ini seolah-olah dimanjakan oleh keadaan alam di
sekelilingnya. Rakyat Panawijen merasa bahwa apapun yang
diletakkan di tanah, pasti akan tumbuh dan memberikan hasil bagi
mereka. Makanan mereka seolah-olah begitu saja meloncat dari
dalam bumi tanpa banyak kesulitan. Air yang melimpah dan jenis
tanah yang subur.
Tetapi kini mereka harus bekerja keras. Tidak ada pilihan lain
daripada bekerja keras. Kerja yang mula-mula terasa betapa
beratnya. Namun kemudian meresap ke dalam setiap diri rakyat
Panawijen, bahwa adalah menjadi kewajiban mereka untuk
mengerjakan pekerjaan itu apabila mereka tidak ingin menjadi
kelaparan. Apabila mereka tidak ingin dikutuk oleh anak cucu
mereka karena mereka telah menyia-nyiakan saat-saat hidup
mereka yang berharga.
Karena itu apabila bendungan itu kemudian dapat berwujud,
maka bendungan itu akan menjadi kebanggaan rakyat Panawijen
pada masanya. Akan menjadi kenangan bagi anak cucu, bahwa
pada masanya, rakyat Panawijen telah bekerja keras membuat
peninggalan yang berharga bagi mereka.
“Adalah suatu kebanggaan bagimu Agni, bahwa kau mampu
menggerakkan seluruh isi padukuhan Panawijen untuk melakukan
pekerjaan yang pasti akan sangat bermanfaat itu,” berkaca
Mahendra pula.
“Kerja itu didorong oleh suatu kesadaran, bahwa kami bersamasama
memerlukannya, Mahendra. Akan berbeda apabila pekerjaan
itu hanya akan bermanfaat bagiku saja. Apabila aku dapat
menggerakkan seluruh rakyat Panawijen untuk kepentinganku
sendiri, barulah aku merasa bangga. Aku akan merasa, bahwa aku
mempunyai pengaruh yang kuat atas mereka. Kecuali apabila aku
menipu mereka. Menipu rakyat. Seolah-olah aku membawa mereka
dalam satu kerja yang besar untuk kepentingan bersama, tetapi
sebenarnya kerja itu hanya untuk kepentinganku atau beberapa
orang yang dekat dengan aku.”
“Untunglah bahwa yang kini terjadi tidak demikian. Tidak
keduaduanya.
Tidak untuk aku sendiri karena kekuasaan atau pengaruhku
atas mereka, juga bukan suatu penipuan atas rakyat itu.
Mudahmudahan
aku dan para pamong padukuhan Panawijen serta Ki
Buyut akan selalu mendapat tuntunan dari Yang Maha Agung,
bahwa kerja ini adalah kerja kita untuk kita. Bendungan itu kami
bangun untuk kepentingan kami. Bukan kami yang dikorbankan
untuk bendungan itu.”
Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Di sampingnya
Sidatta mendengar kata-kata Mahisa Agni itu dengan seksama.
Sama sekali tak disangkanya, bahwa di Panawijen, seorang anak
pedesaan akan dapat berkata demikian. Alangkah bahagianya
Panawijen memiliki sepasang kakak beradik Mahisa Agni dan Ken
Dedes. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang bertekad
keras, memandang setiap kesulitan sebagai tantangan yang harus
diatasinya. Sedang adiknya, adalah seorang gadis yang cantik. Yang
tanpa disangka-sangka, setelah mengalami kepahitan perasaan
yang mencengkam jantungnya, maka ia telah dituntun memasuki
bilik kanan istana Tumapel.
Demikianlah perjalanan itu menjadi semakin dekat dengan
padukuhan Panawijen. Matahari di langit kini telah melampaui
puncak ketinggian. Panas yang dilontarkannya seolah-olah
menghunjam di ubun-ubun.
Namun semakin dekat perjalanan itu, hati Mahendra dan Sidatta
menjadi semakin berdebar-debar. Apakah benar Ken Dedes akan
bersikap demikian mengharukan. Bagaimanakah sakit hati Mahisa
Agni, apabila sikap yang ditemui akan berbeda. Bagaimanakah kalau
benar Ken Dedes itu akan menyambut dengan wajah yang merah
karena marah, dengan kata-kata yang keras yang melontarkan
kekecewaan hatinya.
Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak berbuat lain. Meskipun
mereka tidak saling berjanji, tetapi apa yang bergolak di dalam
hati
mereka adalah serupa.
Agni sendiri kemudian menjadi risau pula. Tiba-tiba jantungnya
segera menjadi semakin cepat berdetak. Sekali-sekali ia menarik
nafas panjang untuk mencoba menenangkan gelora di dalam
dadanya. Apabila dipandangnya wajah Mahendra, ia menjadi iri.
Anak muda itu justru lebih dahulu daripadanya, dapat menguasai
diri dan melihat kenyataan, meskipun Mahendra ini dahulu pernah
menjadi hampir gila dan hampir saja membunuh Wiraprana. Pada
saat itu, ia berdiri di pihak, bahkan menjadikan dirinya Wiraprana
itu
untuk melawan Mahendra. Tetapi di hati Mahendra itu kini seolaholah
sama sekali tidak berbekas lagi. Ia dapat melihat,
mengantarkan, bahwa menerima perintah-perintah Ken Dedes
dengan hati yang sama sekali tidak membayangkan apa yang
pernah terjadi.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas, kemudian di dalam hatinya ia
berkata, “aku berkumpul dengan gadis itu sejak kanak-kanak.
Gambaran-gambaran tentang dirinya, jauh lebih dalam terpahat di
dinding hatiku daripada Mahendra.”
Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu mengumpat-umpat sendiri di
dalam hati. Katanya, “Persetan! Aku tidak peduli lagi dengan gadis
itu. Aku tidak mempunyai kepentingan sama sekali. Kalau aku kini
datang kepadanya, adalah karena aku menjadi iba kepadanya. ini
adalah suatu sikap yang baik.”
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa sendiri kepada anganangannya.
Seolah-olah ia adalah seorang yang sangat baik hati.
Yang mementingkan kepentingan orang lain jauh lebih dahulu dari
kepentingannya. Apalagi anggapan itu tumbuh di dalam anganangannya
sendiri.
Untuk seterusnya, mereka bertiga seolah-olah telah kehilangan
kesempatan untuk saling berbicara. Mereka masing-masing
dicengkam oleh kegelisahan mereka sendiri-sendiri. Apalagi ketika
kemudian tampak di kejauhan, padukuhan Panawijen yang masih
cukup hijau, seperti segerombol gerumbul yang tumbuh di antara
padang yang kering kerontang.
Yang terdengar kemudian adalah derap kuda-kuda mereka.
Tanpa mereka kehendaki, maka kuda-kuda itu pun berjalan semakin
cepat, seakan-akan terasa oleh binatang-binatang itu, bahwa
perjalanan yang panas itu hampir berakhir.
Ladang dan sawah-sawah telah mereka lalui. Hampir tak ada
bedanya dengan padang rumput Karautan. Panas.
Namun sejenak lagi mereka telah sampai ke ujung lorong yang
memasuki padukuhan Panawijen. Terasa angin yang sejuk tiba-tiba
menampar wajah-wajah mereka, sehingga dengan serta-merta
mereka menarik nafas dalam-dalam. Lindungan dedaunan dan
silirnya angin di padukuhan telah membuat kuda-kuda mereka
bertambah tegar.
Tetapi hati merekalah yang kini tidak menjadi semakin sejuk.
Bahkan terasa dada mereka bertambah panas oleh kegelisahan
masing-masing. Sidatta dan Mahendra berdoa, mudah-mudahan
Ken Dedes itu tidak terlampau mengecewakan kakaknya. Apabila
demikian, maka hati Mahisa Agni yang keras itu pun akan menjadi
semakin membatu.
Beberapa gadis-gadis muda dari Panawijen ketika melihat Mahisa
Agni dan kedua orang kawan seperjalanan memasuki padukuhan,
dengan serta-merta berteriak hampir bersamaan, “Agni, adikmu
telah kembali.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum sambil
menyahut, “Ya. Aku kembali karena Ken Dedes.”
Namun jawabannya itu tidak melontar dari dasar hatinya yang
tulus. Ia telah mencoba memulas perasaannya.
Mendengar jawaban itu gadis-gadis Panawijen itu pun menyahut,
“Berbahagialah adikmu Agni. Aku dengar, kau akan beripar dengan
Sang Akuwu Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia mencoba tersenyum
pula sambil menjawab, “Adalah karunia bagi keluarga kami.”
Gadis-gadis itu tidak lagi berteriak-teriak ketika Mahisa Agni dan
kawan-kawannya menjadi semakin jauh. Yang tinggal adalah
kepulan debu yang putih.
Sidatta mencoba memandang wajah Mahisa Agni. Tetapi terasa
olehnya, bahwa apa yang diucapkan bukanlah yang dirasakannya.
Ia tersenyum, meskipun hatinya pedih. Tetapi untuk mencoba
menghilangkan kejemuannya Sidatta berkata, “Adi Mahendra,
ternyata gadis-gadis Panawijen cantik-cantik. Apakah Adi Mahendra
tidak ingin meniru Akuwu Tunggul Ametung, mengambil satu dari
mereka.”
Dada Mahendra berdesir. Tetapi segera ia menjawab, “Tentu
Kakang. Aku akan melamar salah seorang dari mereka. Biarlah
Mahisa Agni memilih untukku. Bukan begitu Agni.”
Mahisa Agni mengangguk kaku. Ia tahu bahwa Mahendra
tersentuh pula perasaannya. Namun sekali ia mengagumi kebenaran
hati anak muda itu, sehingga sama sekali tak berkesan pada wajah
dan sikapnya.
“Sayang, anak laki-lakiku masih terlampau kecil. Kalau aku kelak
akan memilih menantu, maka aku akan selalu ingat pada gadisgadis
Panawijen,” berkata Sidatta kemudian.
Mahendra tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut, sehingga
kembali mereka terlempar dalam kediaman.
Kuda-kuda mereka kini telah menelusuri jalan Padukuhan
Panawijen. Derap kaki-kaki kuda mereka di atas tanah berbatu-batu
terdengar seperti derap jantung mereka sendiri. Semakin ia
mendengar semakin keras. Bahkan ketika mereka telah menjadi
demikian dekatnya, derap kuda mereka telah tidak mereka dengar
lagi. Mereka disibukkan oleh suara yang riuh di dalam hati
masingmasing.
Ketika itu, maka para penjaga regol di halaman rumah Ken Dedes
telah melihat kedatangan mereka bertiga. karena itu, maka salah
seorang daripadanya segera masuk ke halaman dan melaporkannya
kepada Witantra.
“Benarkah Adi Sidatta?” bertanya Witantra.
“Menurut penilikan kami, sebenarnyalah demikian. Berapa ekor
kuda yang kau lihat? Tiga.”
Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada Ken
Dedes ia berkata, “Tuan Putri, agaknya Adi Mahisa Agni bersedia
datang. Ternyata yang datang adalah tiga ekor kuda.”
Dada Ken Dedes berdesir. Bahkan kemudian menjadi berdebardebar
semakin lama semakin cepat.
Dicobanya kemudian menenangkan hatinya dan bersikap seperti
yang telah direncanakan. Kalau Mahisa Agni nanti datang, maka ia
akan menyambutnya dengan sikap seorang yang cukup dewasa. Ia
akan memandangi Mahisa Agni itu sesaat. Tidak perlu dengan
tersenyum atau tertawa. Kemudian mempersilakan Mahisa Agni itu
duduk. Ditanyakannya bagaimana keadaannya selama ini, apakah ia
selalu sehat-sehat saja. Pertanyaan-pertanyaan itu harus
pendekpendek
dan hanya beberapa masalah yang paling penting.
Seterusnya ia harus bertanya kenapa bendungan itu pecah,
bagaimana mereka sekarang membuat bendungan yang baru. Yang
terakhir ia harus mengajak Mahisa Agni pergi ke Tumapel. Jangan
ditanyakan kesediaannya, tetapi lebih condong pada suatu perintah
yang harus ditaati. Perintah dari seorang Akuwu yang berkuasa di
Tumapel dan sekitarnya.
Ketika Ken Dedes itu kemudian mendengar derap kuda-kuda itu,
maka terasa jantungnya mengembang. Bukan oleh kebanggaan,
tetapi oleh suatu perasaan yang aneh. Tiba-tiba darahnya mendidih
dibakar oleh kegelisahan.
Namun darah itu kemudian serasa membeku ketika ia melihat
para penjaga regol menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Tentu
mereka memberikan hormat kepada perwiranya Sidatta.
Dan benarlah. Sesaat kemudian dilihatnya seekor kuda muncul
dari regol itu, kemudian disusul yang lain, kuda Mahendra. Yang
terakhir dengan penuh keragu-raguan adalah kuda Mahisa Agni.
Mahisa Agni sendiri telah turun dari punggung kudanya.
Dituntunnya kuda itu memasuki halaman. Halaman rumah yang
didiaminya sejak kanak-kanak. Tetapi ketika ia melihat beberapa
orang prajurit, umbul-umbul dan panji-panji, maka terasa bahwa ia
telah terdampar ke suatu daerah yang asing.
Sejenak Mahisa Agni tegak seperti patung. Ketika matanya
beredar di sekeliling halaman itu, maka hatinya berguncang. Rumah
yang didiaminya sejak kanak-kanak, padepokan gurunya itu,
seolaholah
kini telah diduduki oleh orang asing yang tak dikenalnya.
Hampir saja perasaannya meledak melihat keadaan itu,
seandainya matanya tidak segera terbentur pada seorang gadis
yang duduk di tengah-tengah pendapa, dihadapi oleh Witantra dan
Kebo Ijo.
Hati Mahisa Agni berdesir. Gadis itu adalah putri Empu Purwa.
Putri satu-satunya dari pemilik padepokan ini, sehingga
bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus merasa, bahwa Ken Dedes
lebih berhak atas padepokan ini daripada dirinya.
Tetapi lebih daripada itu dadanya pun berguncang pula.
Dilihatnya Ken Dedes seolah-olah bintang yang bercahaya
cemerlang di tengah-tengah langit yang gelap pekat. Seorang gadis
dalam pakaian kebesaran di antara para endang yang sederhana,
pendapa padepokan yang sederhana pula, di tengah-tengah
halaman yang hampir menjadi kering.
Dalam guncangan-guncangan perasaan itu, Mahisa Agni berdiri
tegak seperti patung. Kakinya serasa menjadi beku dan seluruh
aliran darahnya seolah-olah berhenti. Ia tidak tahu apa yang harus
dikerjakan. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan
dihadapkan pada suatu kelompok orang-orang yang berada dalam
sikap-sikap resmi. Ia tidak menyangka, bahwa di padepokan itu
seolah-olah telah terjadi suatu sidang pasewakan.
Mahendra dan Sidatta melihat perubahan yang terjadi pada
wajah Mahisa Agni. Wajah yang mula-mula menjadi tegang, namun
kemudian wajah itu telah berubah menjadi beku. Namun mereka
berdua pun selalu diliputi oleh kecemasan akan sikap Ken Dedes
terhadap kakaknya. Apakah sikap itu akan menyayat hati Mahisa
Agni, atau akan meluluhkannya? Kalau Ken Dedes bersikap keras
maka Mahendra dan Sidatta yakin, bahwa Mahisa Agni tidak akan
dapat ditundukkan. Tetapi kalau Ken Dedes bersikap seperti yang
telah dibayangkan kepada Mahisa Agni, maka hati anak muda itu
pun akan cair.
Dalam pada itu, Ken Dedes yang duduk di pendapa pun tidak
kalah tegangnya ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri mematung.
Dengan sekuat tenaganya Ken Dedes mencoba mempertahankan
perasaannya supaya ia dapat bersikap seperti yang dikehendakinya.
Tetapi yang dilihat adalah Mahisa Agni yang telah berubah dari
Mahisa Agni yang dulu Mahisa Agni itu, setelah tidak bertemu
beberapa lama, menjadi demikian kurus, dan wajahnya menjadi
merah kehitam-hitaman terbakar sinar matahari. Matanya menjadi
cekung terlindung di bawah alisnya yang tebal.
Melihat kenyataan itu dada Ken Dedes seperti tertimpa
reruntuhan Gunung Kawi. Alangkah mengharukan. Mahisa Agni
yang kekar itu tiba-tiba menjadi sangat berubah. Apakah
sebenarnya yang telah terjadi padanya? Mungkin Panawijen yang
kering ini, mungkin kerja yang dilakukannya tanpa mengenal
istirahat untuk membangun bendungan.
Dada Ken Dedes itu serasa menjadi terguncang-guncang.
Sejenak ia masih mencoba untuk tetap dalam sikapnya.
“Biarlah ia tahu,” katanya di dalam hati, “bahwa ia harus melihat
kenyataan. Kenyataan yang ada padaku dan kenyataan bagi dirinya
sendiri. Bahwa ia tidak akan dapat mengingkari kewajibannya.
Kewajiban untuk memenuhi panggilan Akuwu Tunggul Ametung
sebagai penguasa tertinggi di Tumapel dan kewajiban sebagai
saudara tua.”
Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba Ken Dedes itu merasa dirinya
menjadi terlampau kecil ketika ia melihat sinar mata Mahisa Agni
yang menyorotkan kebesaran pribadinya. Wibawa yang justru
menyengsara dirinya. Bukan Mahisa Agni yang jatuh ke dalam
pengaruh wibawa yang diangan-angankan. Sorot mata yang cekung
itu adalah sorot mata Mahisa Agni yang dahulu juga, meskipun
tubuhnya kini menjadi kurus, dan wajahnya telah menjadi hitam
kemerah-merahan dibakar oleh terik matahari.
Ken Dedes itu seolah-olah melihat, betapa dirinya sendiri sedang
berusaha untuk meluruskan jalan mendaki ke tingkat tertinggi bagi
seorang gadis Tumapel. Permaisuri adalah kesempatan yang tidak
akan ditemui oleh gadis yang lain. Tetapi apa yang dilakukannya itu
adalah untuk dirinya sendiri. Tidak untuk orang lain. Sedang Mahisa
Agni yang telah menjemur dirinya sendiri di padang Karautan adalah
bekerja keras untuk kepentingan bersama. Kepentingan rakyat
Panawijen yang mengalami kekeringan. Terasa betapa rakyat
Panawijen telah memeras keringat mereka untuk mengatasi
kesulitan yang telah merasa melanda padukuhan itu. Seolah-olah
terbayang betapa mereka bekerja, memecah batu, menggulung
brunjung-brunjung dan kemudian bersama-sama seperti semut
mengangkat brunjung-brunjung raksasa dan menjatuhkannya ke
dalam air. Dalam pada itu terik matahari dengan panasnya
menyengat punggung-punggung mereka yang telanjang. Sebagian
yang lain telah bekerja membuat parit-parit induk, mencangkul
tanah terbungkuk-bungkuk sambil bermandikan keringat.
Tiba-tiba Ken Dedes itu tersentak. Ia kini benar-benar telah
dicengkam oleh suatu perasaan yang tidak dimengertinya. Ketika
sekali lagi terpandang olehnya sorot mata Mahisa Agni, maka
dadanya serasa telah meledak. Mahisa Agni yang kurus, yang
wajahnya terbakar oleh sinar matahari namun yang sorot matanya
masih setajam sorot mata yang dahulu, bahkan sorot mata itu kini
menjadi semakin bercahaya, seperti cahaya yang memancar dari
tekadnya yang bulat menghadapi kerja.
Ken Dedes kini telah kehilangan segala macam pertimbangan.
Ken Dedes sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia telah
berdiri
dan dengan serta-merta berlari turun ke halaman. Terdengar
suaranya serak terloncat dari tenggorokannya, “Kakang! Kakang
Mahisa Agni!”
Mahisa Agni masih berdiri seperti patung. Tetapi kemudian kedua
tangannya pun bergerak, ketika terasa gadis itu mendekapnya
sambil menangis sejadi-jadinya.
“Kakang,” suara Ken Dedes tenggelam dalam tangisnya.
Halaman padepokan itu kini benar-benar dicengkam oleh
kesepian. Justru karena itu, maka suara tangis Ken Dedes pun
terdengar semakin keras. Tangis yang seolah-olah sebuah ledakan
yang dahsyat dari segenap pergolakan yang terjadi di dalam
dadanya.
Mahisa Agni, yang berdiri tegak, seakan-akan terpukau oleh
sebuah peristiwa yang tak dapat dimengertinya sendiri. Namun
didengarnya suara tangis Ken Dedes, dan dirasakannya kehangatan
air matanya menetes di tangannya.
Tiba-tiba mulut Mahisa Agni itu pun bergerak, dan meluncurlah
kata-katanya, “Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.”
Kata-kata itu benar-benar telah memberi kesejukan pada hati
Ken Dedes. Seperti kata-kata yang dahulu selalu didengarnya pada
masa kanak-kanak. Kalau Ken Dedes menangis karena bermacammacam
sebab, mungkin karena kakinya terantuk batu, mungkin
karena gadis itu terjatuh, mungkin karena ayahnya telah
memberinya sekedar peringatan atas kenakalannya, maka selalu
didengarnya apabila ia menangis kata-kata Mahisa Agni
“Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.”
Kini kata-kata itu didengarnya lagi.
Ken Dedes masih juga mendekap tubuh Mahisa Agni seolah-olah
tidak akan dilepaskannya lagi. Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni adalah
satu-satunya keluarganya. Mahisa Agni kini bukan saja kakaknya,
tetapi Mahisa Agni adalah ayahnya, bahkan Mahisa Agni adalah
ibunya. Karena itu, maka kini Ken Dedes seakan-akan mendapat
naungan dari terik panas yang membakar tubuhnya.
Sekali lagi Ken Dedes mendengar Mahisa Agni berkata, “Jangan
menangis, Ken Dedes.”
Tangis Ken Dedes itu pun kemudian mereda, perlahan-lahan
tangannya terlepas, dan diusapnya air matanya. Tetapi semua
rencana yang telah disusunnya telah lenyap dari kepalanya.
Uruturutan
pertanyaan yang sudah dianyamnya dengan penuh
pertimbangan hampir semalam suntuk, kini telah tidak diingatnya
lagi. Ken Dedes sama sekali tidak mampu untuk menanyakan
keselamatan Agni, kemudian keadaan padukuhan ini dan
bendungan yang dibangunnya. Ken Dedes sudah tidak dapat lagi
mengucapkannya, berurutan seperti yang dikehendakinya. Apalagi
minta supaya Mahisa Agni pergi ke Tumapel bukan sebagai suatu
permintaan, tetapi harus dinyatakannya sebagai suatu perintah.
Yang pertama-tama diucapkan oleh Ken Dedes adalah, “Kakang,
kenapa kau menjadi kurus dan kulitmu menjadi merah kehitamhitaman
dibakar oleh terik matahari?”
“Aku tidak apa-apa Ken Dedes. Aku sehat.”
“Tetapi kau menjadi kurus.”
“Mungkin,” sahut Mahisa Agni kemudian, “tetapi bukan karena
suatu kesulitan. Tetapi karena kerja yang menyenangkan di padang
Karautan.”
Ken Dedes terdiam sesaat. Dipandanginya tubuh Mahisa Agni
yang semakin lama tampak semakin hitam. Namun sorot matanya
masih juga menyala seperti sorot mata Agni dahulu.
Para prajurit yang berdiri di sekitar halaman itu terpaku diam.
Mereka menyaksikan pertemuan yang mengharukan dari dua orang
kakak beradik. Perpisahan yang terjadi sebenarnya belum terlampau
lama. Namun selama ini mereka telah dirisaukan oleh perasaan
masing-masing, sehingga ketika mereka mendapat kesempatan
untuk bertemu maka meledaklah segala yang tersimpan di dalam
hati.
Sidatta dan Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa
yang mereka katakan tentang gadis itu benar-benar terjadi. Karena
itu maka Sidatta dan Mahendra mengharap, bahwa hati Mahisa Agni
akan dapat dicairkan.
Sejenak kemudian Mahisa Agni telah mendapatkan kesadarannya
sepenuhnya kembali. Disadarinya bahwa berpasang-pasang mata
memandanginya. Karena itu maka katanya kepada Ken Dedes, “Ken
Dedes, kembalilah ke pendapa.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi para prajurit yang
berdiri di sekitar pendapa, Witantra dan Kebo Ijo yang duduk di
pendapa serta segala macam umbul-umbul dan panji-panji, kini
telah tidak menarik lagi baginya. Ia telah kehilangan segala macam
rencananya yang telah direka-rekanya tidak saja semalam suntuk,
tetapi sejak ia masih berada di Istana Tumapel.
Mahisa Agni pun kemudian membawa Ken Dedes naik ke
pendapa. Dipersilakannya Ken Dedes duduk di tempatnya semula, di
antara para endang yang duduk dengan wajah yang aneh. Mereka
menjadi bingung apa yang mesti mereka lakukan. Ketika mereka
melihat Ken Dedes menangis maka apabila mereka berada dalam
keadaan seperti biasa, seperti yang pernah dialaminya dahulu, maka
mereka pasti sudah berlari-lari mendatangi. Menghibur dan
menggandengnya masuk ke dalam biliknya. Tetapi mereka kini
berada dalam keadaan yang tak mereka kenal, sehingga mereka
tidak berani beranjak dari tempatnya.
Ketika Ken Dedes telah duduk kembali, maka setiap prajurit di
halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Witantra dan Kebo Ijo pun
menganggukkan kepala mereka, seakan-akan mereka telah terlepas
dari cengkaman keadaan yang menegangkan urat syaraf mereka.
Namun dalam pada itu, Ken Dedes menjadi seolah-olah
membisu. Ditundukkannya kepalanya dan sekali-sekali jari-jari
tangannya mengusap air matanya yang masih menetes satu-satu.
Sehingga kembali pendapa itu menjadi sunyi. Beberapa orang duduk
dengan kaku, seperti tiang-tiang pendapa itu sendiri.
Witantralah yang kemudian memecah kesunyian itu. Perlahanlahan
ia bertanya kepada Mahisa Agni, “Mahisa Agni. Bukankah kau
selamat selama ini?”
Mahisa Agni berpaling. Seakan-akan ia baru bangun dari
tidurnya. Tergagap ia menjawab, “Ya Witantra. Aku selamat.”
Witantra menarik nafas, katanya, “Syukurlah. Mudah-mudahan
padukuhanmu tidak mengalami sesuatu.”
“Kita berharap demikian. Tetapi kau telah melihat sendiri apa
yang terjadi.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia
memang ingin tahu, apa yang telah terjadi di Panawijen dan di
padang Karautan.
Meskipun sebagian daripada apa yang terjadi di Panawijen dan di
padang Karautan telah diketahuinya, namun Witantra itu bertanya
pula, “Mahisa Agni. Aku hampir tidak dapat mengenal lagi daerah
ini. Panawijen dengan cepatnya telah berubah.”
“Ya,” sahut Agni dengan nada datar, “Panawijen telah berubah.
Segalanya berubah.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali
ia bertanya, “Panawijen agaknya telah mengalami masa kering yang
dahsyat, sehingga tumbuh-tumbuhan cepat kehilangan
kesegarannya.”
Kembali Mahisa Agni menyahut dengan nada datar, “Ya.
Panawijen telah menjadi kering sejak bendungan itu pecah.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika
mulutnya bergerak untuk mengucapkan pertanyaan-pertanyaan
berikutnya, tiba-tiba ia terkejut. Ken Dedes dengan serta-merta
memotongnya, “Cukup, cukup Kakang Witantra.”
Sejenak Witantra terpaku, namun kemudian ditundukkannya
kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Ampun Tuan Putri, kalau
pertanyaan-pertanyaan hamba tidak berkenan di hati.”
“Aku tidak mau mendengar, Kakang,” jawab Ken Dedes. Tetapi ia
tidak dapat meneruskan kata-katanya. Terasa kerongkongannya
seolah-olah tersumbat.
Kembali pendapa itu terdampar dalam suatu kesenyapan. Sekalisekali
para prajurit saling berpandangan. Namun kembali mereka
menundukkan kepala-kepala mereka. Mereka di hadapan pada
suatu keadaan yang sama sekali asing bagi mereka. Bagi para
prajurit itu, ujung pedang dan tombak tidak akan menggelisahkan
mereka seperti saat itu. Mereka dihadapkan pada suatu keadaan
yang tidak dapat dimengerti.
Tetapi Witantra, Sidatta dan Mahendra mempunyai perasaan
yang lebih tajam dari para prajurit itu. Mereka mengerti, bahwa Ken
Dedes tiba-tiba dilanda oleh suatu ketakutan mendengar
jawabanjawaban
Mahisa Agni. Mahisa Agni pada saatnya pasti akan
mengatakan bahwa bendungan itu telah pecah. Dan Mahisa Agni
pasti akan mengatakan, seperti berita yang telah mereka dengar,
dan yang Ken Dedes telah pula mendengarnya, bahwa ayah Ken
Dedes, Empu Purwalah yang memecahkan bendungan itu, sebagai
suatu kutukan atas padukuhan Panawijen. Panawijen akan menjadi
kering, karena penduduknya tidak melindungi anak gadisnya yang
dilarikan orang.
Kebo Ijo pun dapat merasakan ketakutan itu pula. Tetapi
tanggapannya agak berbeda dengan kedua saudara
seperguruannya. Bahkan seluruh isi pendapa itu terkejut ketika
tibatiba
terdengar Kebo Ijo itu tertawa tertahan-tahan, sehingga
suaranya mirip dengan ringkik kuda.
“Kebo Ijo,” bentak Witantra sambil memandangi wajah anak
muda itu dengan tajamnya, “kenapa kau tertawa?”
Dengan susah payah Kebo Ijo menahan tawanya. Jawabnya,
“Menurut kata orang-orang tua, Kakang. Kalau pembicaraan tibatiba
terhenti, maka pada saat itu di sekitar tempat pembicaraan itu
ada setan yang sedang lewat.”
Witantra menggeram. Hampir saja tangannya bergerak
menampar kening Kebo Ijo seandainya tidak segera disadarinya,
bahwa di hadapannya duduk seorang gadis yang pasti akan menjadi
ngeri melihat perbuatannya. Tetapi karena itu, maka terdengar
Witantra itu membentak betapapun ia mencoba menahan-nahan,
“Kebo Ijo. Pergi ke halaman belakang. Kawani perwira dan prajurit
yang berjaga-jaga di sana.”
Kebo Ijo pun kemudian menundukkan wajahnya. Ia menjadi
takut juga kepada kakak seperguruannya. Perlahan-lahan ia
beringsut mundur. Akhirnya ia pun turun dari pendapa dan berjalan
ke halaman belakang. Tetapi Mahisa Agni yang memandangi wajah
anak muda itu masih melihat bibir Kebo Ijo tertarik ke sisi. Betapa
hati Mahisa Agni menjadi panas melihatnya. Namun ia tidak berbuat
sesuatu. Bahkan kembali Mahisa Agni mengagumi, betapa Witantra
selalu berbuat dengan tepat, meskipun terhadap adik
seperguruannya sendiri.
Ken Dedes pun menjadi tidak senang melihat tingkah laku Kebo
Ijo. Namun gadis itu pun tidak mengatakan sesuatu. Bahkan
kemudian kembali dadanya dilanda oleh perasaan takut dan cemas.
Ia memang tidak mau mendengar lagi cerita tentang pecahnya
bendungan Panawijen. Cerita itu merupakan sebuah cerita yang
akan dapat selalu menghantuinya. Bagaimana ayahnya menderita,
sehingga kehilangan keseimbangan berpikir karena kehilangan
dirinya. Namun tiba-tiba ia telah menyerahkan diri kepada orang
yang melindungi melarikannya pada saat itu.
“Apakah aku telah mengkhianati ayahku pula?” tiba-tiba
terdengar sebuah pertanyaan mengguntur di dalam dadanya.
“Dan apakah karena hal-hal yang demikian ini pula, maka Kakang
Mahisa Agni telah melepaskan aku?”
Tiba-tiba dada Ken Dedes menjadi sesak. Ia menjadi semakin
ketakutan apabila tiba-tiba saja Mahisa Agni dengan kehendak
sendiri, bahkan mungkin dengan sengaja akan menceritakan segala
macam peristiwa yang pernah dialami di hadapan para perwira dan
prajurit Tumapel.
Karena itu, karena kegelisahan, kecemasan dan perasaan yang
lain yang mendesaknya, maka Ken Dedes merasa seolah-olah
dikejar-kejar oleh bayangan tentang masa-masa lampau itu,
sehingga dengan serta-merta ia berkata lantang, “Kakang Mahisa
Agni. Kedatanganku ke Panawijen didorong oleh keinginanku
bertemu dengan Kakang Mahisa Agni. Karena itu, biarlah aku
berbicara dengan Kakang tanpa orang-orang lain yang
mendengarkannya.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia sendiri tidak tahu, apa yang
sebaiknya dilakukan dalam keadaan serupa itu. Tetapi dengan
tibatiba
ia menjadi sangat iba kepada gadis itu. Sama sekali bukan
karena pengaruh kewibawaannya, tetapi karena air mata yang telah
membasahi wajah Ken Dedes. Dengan demikian maka tidak ada
pilihan lain baginya daripada memenuhi permintaan itu, seperti pada
masa kanak-kanak mereka. Mahisa Agni tidak pernah menolak
permintaan Ken Dedes apabila ia mampu melakukannya.
Ken Dedes tidak menunggu jawaban Mahisa Agni. Segera ia
bangkit sambil berkata, “Marilah, Kakang.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia
menjawab, Ken Dedes sudah mendahuluinya berjalan memasuki
ruang dalam rumahnya.
Mahisa Agni pun kemudian bangkit pula. Kepada Witantra,
Mahendra dan Sidatta ia berkata, “Baiklah aku mengikutinya.
Mungkin ada persoalan-persoalan penting yang akan dikatakannya.”
“Silakan,” jawab mereka hampir serentak.
Mahisa Agni pun kemudian berjalan dengan langkah yang berat
mengikuti Ken Dedes menghilang dibalik pintu, masuk ke ruang
dalam rumah gurunya. Rumah yang sudah didiaminya sejak masa
kanak-kanaknya.
Sepeninggal Ken Dedes para emban pun menjadi gelisah. Mereka
belum pernah melakukan upacara seperti itu. Karena itu mereka
tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sama sekali tidak
berani beranjak dari tempatnya. Meskipun mereka menjadi penat
dan jemu, namun mereka masih saja duduk di tempatnya. Apalagi
mereka ketahui bahwa Witantra, Sidatta, Mahendra dan para
prajurit yang lain pun sama sekali tidak berajak dari tempat
mereka.
Ketika Mahisa Agni menutup pintu dinding yang memisahkan
ruang dalam dan pendapa rumah itu, dadanya kembali bergelora. Ia
tidak segera melihat Ken Dedes di ruang itu. Karena itu maka
Mahisa Agni pun melangkah lagi, semakin dalam. Telah beratus,
bahkan beribu kali ia menginjak lantai yang kini diinjaknya, telah
beratus bahkan beribu kali ia lewat ruangan itu, dan berapa ribu
kali
pula ia melangkahi tlundak dinding penyekat ruang dalam, namun
terasa kini semuanya itu asing baginya. Ia tidak segera menemukan
Ken Dedes di dalam ruangan-ruangan itu. Kini Mahisa Agni berjalan
lagi ke ruang belakang. Ruang itu pun kosong sama sekali.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang
olehnya selintru yang menutup bilik Ken Dedes, Mahisa Agni
menjadi ragu-ragu. Apakah gadis itu berada di dalam biliknya. Bilik
yang telah lama ditinggalkannya. Namun Ken Dedes harus
menemuinya. Mungkin gadis itu ingin mengatakan sesuatu yang
penting kepadanya.
Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah ke pintu bilik itu,
perlahan-lahan tangannya berpegangan pada uger-uger pintu.
Namun kembali ia menjadi ragu-ragu. Perasaan yang dahulu tidak
pernah dimilikinya apabila ia ingin memasuki ruangan itu, meskipun
seandainya Ken Dedes baru tidur sekalipun.
Tetapi sesuatu mendesak dadanya. Ia harus menemui gadis itu.
Dengan penuh kebimbangan Mahisa Agni beringsut maju. Perlahanlahan
ia menjengukkan kepalanya lewat pintu bilik yang menganga
lebar. Tetapi kembali ia menarik nafas dalam-dalam. Bilik itu pun
ternyata kosong.
“Di manakah gadis itu?” desisnya.
Mahisa Agni pun melangkahkan kakinya kembali. Sekarang ia
menuju ke serambi belakang. Ruang satu-satunya yang tinggal dari
rumah induk itu selain tiga sentong yang hampir tak pernah
dipergunakan. Kalau di serambi itu Ken Dedes tidak ada, maka ia
pasti berada di dapur atau di bilik di belakang serambi itu. Bilik
itu
adalah biliknya.
Sekali lagi Mahisa Agni melompati tlundak pintu samping. Lewat
serambi gandok Mahisa Agni berjalan ke belakang. Tiba-tiba
langkahnya tertegun ketika ia melihat bahwa Ken Dedes memang
berada di serambi itu. Serambi yang terbuka ke arah belakang.
“Kakang,” desisnya ketika ia melihat Mahisa Agni.
Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi ia berjalan mendekati gadis
itu. Ketika ia duduk di tikar di depan Ken Dedes, hatinya berdesir.
Dibalik dinding inilah, terletak balai-balai bambu. Kalau bulan
terang, maka kadang-kadang ia berbaring-baring di tempat itu
sambil meniup serulingnya dahulu. Tetapi sekarang seruling itu
hampir tak pernah disentuhnya.
“Kakang,” ulang Ken Dedes ketika Mahisa Agni telah duduk,
“banyak sekali yang sebenarnya ingin aku katakan, tetapi tiba-tiba
semuanya itu lenyap dari kepalaku. Meskipun demikian Kakang, aku
mengharap Kakang sudah dapat mengetahui maksud kedatanganku.
Sebab sebelum aku telah datang pula Bibi emban pemomongku
yang bahkan telah datang bersamamu ke Tumapel. Tetapi kau tidak
sempat menemui siapa pun sampai kau kembali ke Panawijen.”
Terasa kata-kata itu meluncur seperti tanpa dapat dikendalikan.
Simpang siur, karena Ken Dedes telah kehilangan ketenangannya,
apalagi rencana yang telah disusunnya semalam suntuk.
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditunggunya Ken Dedes
berkata terus, “Kakang, apakah Kakang dapat memenuhi
permintaan itu?”
Pertanyaan yang terlalu langsung itu sama sekali tidak
disangkanya. Mahisa Agni menduga bahwa Ken Dedes akan
mengucapkan berbagai alasan-alasan, baru kemudian minta
kepadanya untuk pergi ke Tumapel, sehingga dugaan itu sama
sekali bertentangan dengan rencana Ken Dedes sendiri. Untunglah
bahwa Ken Dedes menjadi gelisah dan kehilangan ketenangannya,
sehingga semua rencana itu tidak dapat dilakukan. Sebab dengan
demikian, maka akibatnya pasti akan berlawanan dari yang
dikehendakinya. Mahisa Agni sama sekali tidak akan dapat
disilaukan oleh sikap dan keadaan Ken Dedes karena goresangoresan
yang telah membekas terlampau dalam pada dinding
hatinya.
Tetapi kini Ken Dedes itu berkata terbata-bata tanpa dapat
menyusun urutan yang teratur sehingga justru karena itu Mahisa
Agni tidak menjadi semakin tersinggung karenanya.
Meskipun demikian, permintaan itu sendiri bukanlah permintaan
yang menyenangkan bagi Mahisa Agni. Permintaan itu adalah
permintaan yang menjemukan.
Sesaat kemudian mereka saling berdiam diri. Serambi itu seakanakan
dicengkam oleh suasana yang terlampau sepi. Betapa degup
jantung Ken Dedes menunggu Mahisa Agni mengucapkan jawaban
atas permintaannya itu.
Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Bahkan kemudian
anak muda itu seolah-olah membeku. Sorot matanya jauh hinggap
pada dedaunan di luar yang bergerak-gerak disentuh angin. Tetapi
dedaunan itu sudah tidak sesegar dahulu.
Dan daun-daun yang kekuning-kuningan itu telah mengingatkan
Mahisa Agni kepada gurunya, kepada bendungan yang pecah dan
kepada kerja yang sedang dilakukan.
Ia berpaling ketika ia mendengar Ken Dedes bertanya mendesak,
“Bagaimana Kakang?”
Tetapi Ken Dedes telah menjadi semakin kehilangan
ketenangannya. Sekali lagi ia mendesak, “Bagaimana Kakang,
bukankah kau akan pergi ke Tumapel?”
Mahisa Agni merasakan kegelisahan yang melonjak-lonjak di
dada Ken Dedes. Tetapi ia merasakan gejolak di dalam dadanya
sendiri pula. Dalam benturan-benturan perasaan yang terjadi di
dalam dirinya. Mahisa Agni menarik nafas berulang kali. Ia mencoba
menenangkan hatinya dan mencoba mendapatkan kesimpulan yang
sebaik-baiknya.
Akhirnya Mahisa Agni itu berkata, “Ken Dedes. Apakah
sebenarnya keperluanku pergi ke Tumapel? Bukankah kita telah
bertemu di sini? Tak ada persoalan lagi dengan saat-saat kawinmu
nanti. Kalau aku dapat kau anggap sebagai ganti ayahmu, maka aku
telah merestuimu.”
Mahisa Agni berhenti sesaat. Terasa nafasnya menjadi semakin
cepat mengalir seperti katanya yang mengalir semakin cepat pula,
seakan-akan sengaja dikatakannya terlampau cepat agar dirinya
sendiri tidak mendengarnya. Lalu dilanjutkannya, “Yang penting
bagimu, bahwa kau telah mendapat restu itu. Dengan demikian kau
tidak meninggalkan adat yang lazim berlaku.”
“Tidak, tidak, Kakang,” potong Ken Dedes, “itu tidak cukup. Adat
kita mengatakan, bahwa perkawinan ditentukan oleh orang-orang
tua. Apalagi bagi gadis-gadis. Karena itu, biarlah Kakang
menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menunjukkan bahwa
tak ada persoalan apa-apa di dalam keluargaku. Satu-satunya orang
yang ada sekarang adalah kau Kakang. Kepadamu aku menangis.
Tidak kepada orang lain.”
Mahisa Agni kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak
tahu perasaan apakah sebenarnya yang bergetar di dalam dirinya.
Tetapi terasa keringat dinginnya mengalir di seluruh wajah
kulitnya.
“Kau harus pergi Kakang. Kau harus pergi.”
Ternyata Ken Dedes tidak dapat bersikap lain daripada sikapnya
itu. Sikap seperti sikapnya pada masa kanak-kanak apabila ia
menginginkan sesuatu dan Mahisa Agni mencoba mencegahnya.
Namun apabila demikian, maka biasanya Mahisa Agni tidak akan
dapat menolak lagi, meskipun seandainya ia harus memanjat
sebatang pohon jambe yang tinggi sekali hanya sekedar mengambil
sebutir buahnya yang berwarna jambu.
Tetapi yang dihadapinya kini bukan sekedar sebutir buah jambe
yang berwarna jambu. Bukan sekedar seuntai bunga manggar yang
sedang mekar di atas pelepah kelapa.
Yang kini harus dipetiknya untuk gadis itu adalah jantungnya
sendiri.
Tetapi kembali hati Mahisa Agni luluh apabila ia melihat Ken
Dedes menangis. Ia ingin memenuhi permintaan itu, tetapi ia tidak
mempunyai keberanian untuk melakukannya. Sehingga dengan
demikian, hati Mahisa Agni itu pun terasa seperti diremas-remas
oleh suara tangis Ken Dedes.
“Ken Dedes,” berkata Mahisa Agni kemudian, “bukankah sudah
aku katakan. Kalau kau menganggap aku wakil dari bapa guru,
Empu Purwa, maka aku sudah merestuimu. Apakah keuntungannya
kalau aku datang ke Tumapel. Bukankah restuku akan sama saja
nilainya? Kalau persoalannya adalah persoalan adat yang harus
ditempuh, kenapa Akuwu Tunggul Ametung tidak memerintahkan
dua atau tiga orang tua-tua untuk datang melamarmu kemari?”
Ken Dedes tersentak mendengar jawab itu, sehingga tangisnya
terhenti. Dalam kata-kata itu benar-benar terasa olehnya, menurut
tangkapannya, bahwa Mahisa Agni merasa dirinya terlampaui. Harga
diri kakaknya itu agaknya telah melampaui segala macam
pertimbangan tentang kedudukan Akuwu Tunggul Ametung, tentang
kekuasaan yang ada di tangannya.
“Kakang,” berkata Ken Dedes masih dalam isak tangisnya yang
terputus, “apakah kau menyadari kata-katamu itu?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk ia
menjawab, “Ya. Aku menyadari kata-kataku.”
“Apakah Kakang menyadari kedudukan dan kekuasaan Akuwu
Tunggul Ametung?”
“Ya, aku menyadari,” sahut Agni pula.
“Kenapa Kakang masih menganggap bahwa Akuwu Tunggul
Ametunglah yang harus datang melamar kemari? Ke padepokan
terpencil yang justru berada di dalam wilayah kekuasaan Akuwu
Tunggul Ametung?”
Kini dada Mahisa Agnilah yang berdesir. Ternyata maksudnya
untuk membuat alasan supaya ia tidak harus datang ke Tumapel
telah menimbulkan salah paham. Namun ia masih mencoba untuk
memperbaikinya, “Bukan maksudku demikian Ken Dedes. Aku hanya
memperbandingkan adat yang kau sebut-sebut. Kalau disadari atas
kekuasaan, kedudukan dan wewenang Akuwu Tunggul Ametung,
maka aku kira aku sudah tidak diperlukan lagi. Semua keputusan
dapat diambil oleh Akuwu Tunggul Ametung tanpa pertimbangan
orang lain. Tanpa pertimbanganku dan bahkan seandainya kau
menolak sekalipun, Akuwu akan dapat berbuat di dalam lindungan
kekuasaannya. Tetapi maksudku ingin mengatakan, bahwa aku
tidak sempat pergi ke Tumapel karena pekerjaanku yang terlampau
banyak di padukuhan ini.”
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa karena Ken Dedes justru
menangkap kata-katanya semakin jauh dari maksudnya. Ken Dedes
yang sejak dari Tumapel sudah dibekali dengan kekecewaan atas
sikap Mahisa Agni, kini seakan-akan dengan tiba-tiba mendapatkan
saluran untuk meledak.
Sesaat Ken Dedes menatap wajah Mahisa Agni dengan tajam,
dan sesaat kemudian terdengar ia berkata, “Pekerjaan apakah yang
telah mengikat Kakang di sini?”
“Bendungan itu Ken Dedes?”
“Apakah Kakang tidak dapat meninggalkannya sepekan atau dua
pekan?”
“Aku bertanggung jawab atas pembuatan bendungan itu di
samping Ki Buyut Panawijen sendiri.”
“Jadi kau memberatkan bendungan itu?”
Mahisa Agni terdiam sejenak, seolah-olah memberi kesempatan
kepada Ken Dedes untuk menumpahkan segala macam kekecewaan
hatinya. Mengalir seperti saat bendungan Panawijen yang pecah
karena tangan Empu Purwa, “Kakang, jadi apakah Kakang lebih
menaruh perhatian atas bendungan itu daripada perintah Akuwu
Tunggul Ametung? Juga lebih mementingkan bendungan itu
daripada memenuhi panggilannya? Kakang, bendungan adalah
barang mati yang tidak akan dapat menuntut apapun kepadamu,
apalagi seandainya pekerjaan itu hanya tertunda seminggu atau dua
minggu. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu.
Seorang yang memiliki berbagai macam perasaan. Ia dapat menjadi
kecewa, marah dan bahkan dapat menentukan sikap apapun yang
dikehendakinya di seluruh daerah Tumapel. Karena itu, Kakang,
perhitungkanlah sebaik-baiknya. Bendungan itu, atau Akuwu
Tunggul Ametung atas permintaanku.”
Mahisa Agni benar-benar tersinggung mendengar kata-kata Ken
Dedes yang seperti banjir melanda dinding jantungnya. Tetapi ia
masih berusaha untuk berkata setenang-tenangnya, “Ken Dedes,
ternyata kau salah mengerti tentang bendungan itu. Memang
bendungan adalah benda mati, yang terdiri tidak lebih dari
batubatu,
kayu dan tali-tali ijuk serta brunjung-brunjung bambu. Tetapi
dibalik benda-benda yang mati itu bernaung kehidupan yang besar.
Kehidupan yang meliputi seluruh segi kehidupan di Panawijen. Ken
Dedes, benda-benda mati itu adalah perlambang dari hidup matinya
penduduk Padukuhan kita ini. Karena bersumber pada benda-benda
mati itu kita akan membuat suatu kehidupan baru. Padukuhan baru.
Sepekan bagi kami adalah sangat penting artinya. Kalau kami
terlambat sepekan, maka keadaan kami akan menjadi terlampau
parah. Juga bukan maksudmu mengabaikan Akuwu Tunggul
Ametung. Tetapi aku mengharap Akuwu Tunggul Ametung dapat
mengerti keadaanku.”
“Kakang,” potong Ken Dedes, “Akuwu Tunggul Ametung adalah
orang yang paling berkuasa di Tumapel. Kenapa Akuwu yang harus
menunggumu? Tidak Kakang, kau harus mendengarkan perintah ini.
Akuwu Tunggul Ametung akan dapat berbuat hal-hal di luar
dugaanmu. Meskipun bendungan itu telah jadi, tetapi Akuwu akan
dapat memerintahkan untuk memecahnya kembali apabila ia
menjadi marah.”
“Jangankah memecah bendungan itu Ken Dedes,” sahut Mahisa
Agni yang menjadi semakin kecewa pula kepada adik angkatnya itu,
“Akuwu Tumapel dapat memerintahkan membunuh kita sekalian
sekaligus tanpa menunggu kita semua di sini mati kelaparan. Adalah
lebih baik lagi kami Ken Dedes, sebab kami tidak perlu menderita
terlampau lama.”
“Kakang,” wajah Ken Dedes menjadi merah. Kini ia tidak saja
dibakar oleh kekecewaan hatinya yang memuncak, tetapi Ken Dedes
itu telah dijalari oleh perasaan marah, “Kau jangan berkata
demikian
Kakang. Kau menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi ketahuilah,
bahwa Akuwu Tunggul Ametung pasti akan tahu, bahwa bendungan
itu hanyalah sekedar alasanmu yang tak berarti. Apa kau sangka
bahwa kau adalah seorang pahlawan besar di Panawijen yang tak
ada duanya? Mungkin kau seorang yang paling pandai berkelahi di
Panawijen Kakang, tetapi bukan seorang yang paling mengetahui
tentang bendungan. Apa kau sangka bahwa tanpa kau bendungan
itu tidak akan jadi? Apakah kau sangka bahwa Ki Buyut Panawijen
dan orang-orang tua di sini adalah sedemikian bodohnya, sehingga
hanya Mahisa Agnilah yang mampu membuat bendungan itu?”
“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni.
Tetapi Ken Dedes berkata terus, “Jangan ingkar. Semua itu telah
diketahui.”
“Tetapi aku bertanggung jawab atas pekerjaan itu. Aku harus
mengawasi dan memberikan beberapa petunjuk. Mungkin aku
bukan seorang yang paling cakap untuk pekerjaan ini, dan aku
memang tidak ingin menjadi seorang pahlawan bagi penduduk
Panawijen, Ken Dedes. Tetapi aku tidak dapat melepaskan
kepercayaan yang diberikan kepadaku. Itu bukan maksudku sendiri.
Bukan kehendakku. Aku tidak pernah berteriak-teriak di perapatan
dan mengatakan bahwa akulah satu-satunya orang yang pantas
memimpin mereka membuat bendung itu. Tidak. Tetapi mereka
percaya kepadaku. Mereka mengharap aku bertanggung jawab.
Apakah aku dapat melepaskan kepercayaan ini?”
“Itu pun hanya perasaanmu sendiri Kakang,” sahut Ken Dedes,
“kalau seseorang telah melakukan pekerjaan, betapapun orang lain
tidak menyukainya, maka adalah segan bagi mereka untuk
mengatakan langsung kepada yang berkepentingan. itu adalah
watak dari tetangga-tetangga kita di sini. Kalau kau telah
menjajakan tenagamu, maka tak seorang pun yang akan sampai
hati mengatakan bahwa sebenarnya kau tidak diperlukan.”
“Ken Dedes,” Mahisa Agni pun kemudian kehilangan
kesabarannya. Kata-kata Ken Dedes ternyata terlampau tajam
baginya, yang seolah-olah langsung menghunjam ke pusat
jantungnya. Bahkan kemudian dadanya menjadi gemetar. Dan
dengan suara yang gemetar pula ia berkata, “Memang Ken Dedes.
Aku telah menjajakan tenagaku. Diterima atau tidak diterima oleh
penduduk Panawijen. Aku ingin menebus kesalahan yang telah
terjadi, benar atau tidak benar langkah ini. Tetapi hatiku telah
didesak oleh suatu keinginan untuk menebus kesalahan yang
dilakukan oleh keluarga padepokan ini. Ketahuilah, bahwa yang
memecah bendungan itu adalah ayahmu. Guruku. Mungkin ini telah
kau dengar. Nah, apa kata rakyat Panawijen tentang Empu Purwa.
Tentang penghuni padepokan yang selama ini berlindung di dalam
wilayah padukuhan Panawijen? Itulah alasannya kenapa aku
menjajakan tenagaku, diterima atau tidak diterima, karena
kesetiaanku kepada Guru dan keinginanku membersihkan
sekurangkurangnya
memperkecil kesalahan guruku itu.”
Jawaban Mahisa Agni itu terdengar seperti petir yang meledak di
dalam dada Ken Dedes. Betapa dahsyatnya, serasa dada itu akan
menjadi pecah. Jawaban itu adalah jawaban yang telah
menghempaskan Ken Dedes ke dalam suatu suasana yang
menakutkan. Ia takut mendengar keterangan itu. Namun karena
kemarahan yang telah mendidihkan darahnya, maka ia berusaha
untuk lari dari ketakutan itu. Ia berusaha untuk tetap bertahan
pada
pendiriannya.
Karena itu katanya, “Aku tidak peduli siapa yang memecahkan
bendungan itu. Meskipun hantu-hantu dari padang Karautan
sekalipun. Tetapi kau tidak perlu merasa dirimu pemimpin yang tak
papat beranjak dari tempatmu seolah-olah kau adalah seorang yang
sangat penting. Seolah-olah bendungan itu tidak akan jadi kalau
tidak ada Mahisa Agni. Kakang Mahisa Agni. Jangan kau sangka
bahwa aku tidak tahu, apakah alasan sebenarnya yang mencegah
kau pergi ke Tumapel.”
Kini dada Mahisa Agnilah yang bergelora. Apakah benar Ken
Dedes mengetahui dorongan yang paling kuat yang tersimpan di
dalam dadanya, kenapa ia menjadi keras hati untuk selalu
menghindari permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu? Sejenak
Mahisa Agni tidak menjawab. Bahkan terasa di dalam hatinya,
goresan-goresan yang tajam menyentuh-nyentuhnya.
“Ya, kenapa aku tidak mau pergi ke Tumapel?” pertanyaan itu
berkejaran di dalam dirinya, “Kalau aku memenuhi permintaan ini
sejak saat itu, maka aku tidak akan dikejar-kejar lagi oleh
persoalan
yang menjemukan ini.”
Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar suara Ken Dedes
kembali, “Kakang, bagaimana? Kenapa kau berdiam diri? Jangan
kau sangka bahwa aku tidak mengetahui alasanmu. Alasanmu yang
sebenarnya kenapa kau tidak mau pergi ke Tumapel.”
Kini Mahisa Agnilah yang terdorong dalam suatu suasana yang
ditakutinya. Kalau Ken Dedes itu benar mengetahui perasaannya
maka alangkah malunya. Alangkah kecilnya nilai hati Mahisa Agni.
Ketika terdengar suara Ken Dedes sekali lagi berkata, “Kau ingin
mendengar alasan itu Kakang?”
Maka Mahisa Agni dengan serta-merta memotongnya, “Tidak.
Tidak. Jangan kau katakan Ken Dedes.”
“Kenapa?” desak Ken Dedes, “kenapa kau takut mendengarnya?
Bukankah kau sendiri yang telah menumbuhkan alasan itu di dalam
dirimu. Alasan yang sebenarnya terlampau dibuat-buat.”
“Jangan, jangan,” potong Mahisa Agni pula. Wajahnya yang
tenang kini telah dilumuri oleh peluh dingin yang mengalir dari
kening. Wajah Ken Dedes yang cantik dalam pakaian yang
cemerlang itu, seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang
mengerikan dari hantu padang Karautan yang pernah dikenalnya.
“Aku akan mengatakannya,” berkata Ken Dedes tegas, “aku akan
mengatakannya alasan yang telah menahanmu untuk tidak pergi ke
Tumapel.”
Sebelum Mahisa Agni sempat memotongnya, maka Ken Dedes
pun telah berkata pula, “Kakang, ternyata kau memang menilai
dirimu terlampau berlebih-lebihan. Mungkin karena kau satusatunya
anak muda di Panawijen yang mampu mengalahkan Kuda
Sempana.”
“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni.
Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak memedulikan. Dengan
lantangnya ia berkata keras, “Dengan demikian kau merasa bahwa
dirimu terlampau berharga. Mungkin kau memang sangat berharga
dan dikagumi oleh anak-anak muda Panawijen, tetapi jangan
menilai Tumapel yang luas ini sepicik kau menilai Panawijen Kakang.
Sehingga terhadap Akuwu Tumapel pun kau masih juga
menganggap dirimu terlampau berharga. Aku tahu alasanmu,
kepada kau tidak mau datang ke Tumapel.”
Ken Dedes berhenti sesaat dan peluh yang menetes dari dahi
Mahisa Agni menjadi semakin deras. Namun kini justru mulutnya
serasa terkunci dan dibiarkannya Ken Dedes berkata terus, “Alasan
itu adalah, bahkan kau merasa tersinggung karena aku tidak minta
pertimbanganmu pada saat aku menerima lamaran Akuwu Tunggul
Ametung. Kau merasa bahwa sepeninggal ayah, kau berhak
menentukan jalan hidupku. Kau merasa bahwa kaulah yang harus
mengatakan, apakah aku dapat menerima lamaran itu atau tidak.
Bahkan mungkin kau berpikir, bahwa kau boleh dan berhak
menerima atau menolak lamaran itu. Nah, apa katamu Kakang?
Bukankah dengan demikian kau menganggap dirimu terlampau
penting, tidak saja dalam persoalan bendungan itu, tetapi juga
dalam persoalanku. Ayahku dahulu memberi kesempatan kepadaku
untuk memilih. Sekarang ayahku tidak ada, dan kau menjadi
wakilnya. Apakah kau dapat berbuat lebih keras dari ayahku
terhadap aku?”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini
telah mendengar apa yang dikatakan Ken Dedes alasan yang
tersimpan di dalam dirinya.
Dada Mahisa Agni itu bahkan kini serasa menjadi lapang. Sangat
lapang setelah ia mendengar sendiri betapa Ken Dedes menilai
dirinya.
“Syukurlah,” desisnya di dalam hati. “Kalau hanya itu yang
ditimpakan kepadaku.”
Tiba-tiba hati Mahisa Agni pun menjadi dingin. Ia tidak lagi
dicengkam oleh kemarahan dan kecemasan. Kini yang dilihatnya
duduk di hadapannya bukan lagi wajah hantu betina yang
mengerikan, tetapi yang duduk di hadapannya adalah seorang gadis
cantik yang sedang dicemaskan oleh keadaan dirinya sendiri,
bahkan hampir dibayangi oleh perasaan putus asa.
Selanjutnya Mahisa Agni kini dapat mendengarkan kata-kata Ken
Dedes dengan tenang.
“Kakang,” berkata Ken Dedes yang masih saja membanjir,
“karena kekecewaanmu itu, maka kini kau menolak meneruskan
persoalan yang kau anggap dirimu tidak perlu mencampuri karena
sejak semula kau tidak dibawa berbincang. Karena persoalan harga
dirimu yang berlebih-lebihan itu, kau telah menolak perintah Akuwu
Tunggul Ametung. Kakang, apakah yang kau lakukan itu bukan
suatu pemberontakan terhadap pimpinan pemerintahan, seperti
yang dilakukan oleh Kuda Sempana?”
Betapapun Mahisa Agni telah berhasil menguasai perasaannya,
namun ia terkejut juga mendengar tuduhan itu. Sehingga dengan
serta-merta ia bertanya, “Ken Dedes, kenapa kau menuduh aku
sedemikian jauhnya, sehingga kau telah menganggap aku
memberontak terhadap Akuwu Tunggul Ametung?”
“Bukankah yang terjadi demikian Kakang?” berkata Ken Dedes
dengan lantangnya, “Kau menolak mematuhi perintahnya. Perintah
seorang Akuwu. Apakah itu sebenarnya, bukan suatu
pemberontakan? Seperti Kuda Sempana telah menolak mematuhi
perintah Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Dedes berhenti sejenak. Seakan-akan ia memberi
kesempatan kepada Mahisa Agni untuk mencernakan kata-katanya.
Sejenak kemudian ia meneruskan, “Tetapi Kakang, aku masih kecil
untuk dapat menghormati Kuda Sempana lebih daripadamu. Kuda
Sempana memberontak karena ia kehilangan cita-cita. Kehilangan
sesuatu yang telah diperjuangkannya dengan gigih. Tiba-tiba yang
seakan-akan telah dicapainya itu telah direnggutkan oleh Akuwu
Tunggul Ametung dari tangannya. Tegasnya, Kuda Sempana tidak
dapat mencapai maksudnya karena Akuwu Tunggul Ametung. Maka
ia pun telah meninggalkan istana dan melakukan perlawanan. Tetapi
kau, apakah yang kau lakukan? Sama sekali bukan karena suatu
cita-cita. Bukan karena kau kehilangan yang telah pernah kau miliki
karena dirampas oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kau
memberontak hanya karena kau merasa tersinggung. Tersinggung
karena kau mempunyai harga diri yang berlebih-lebihan. Nah apa
katamu Kakang?”
Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Alangkah sakitnya tuduhan
itu menggores dinding jantungnya, seperti tergores sembilu. Namun
Mahisa Agni benar-benar telah berhasil menguasai dirinya sejak ia
mendengar tuduhan Ken Dedes atas alasan yang dianggapnya
bermukim di dalam dadanya. Ia menjadi tenang, ketika ia merasa
bahwa Ken Dedes tidak melihat apa yang sebenarnya tersimpan
rapat di dalam relung hatinya yang paling dalam.
“Kakang,” terdengar suara Ken Dedes, “katakan, katakan bahwa
kau tidak memberontak hanya karena alasan yang tidak masuk akal
itu?”
Mahisa Agni perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang suram.
Betapa suram wajah itu. Ia merasa bahwa Ken Dedes kini telah
menganggap dirinya sama sekali tidak berharga. Jauh lebih tidak
berharga dari Kuda Sempana yang dianggapnya berjuang untuk
suatu cita-cita.
Namun Mahisa Agni itu pun menjawab dengan hati-hati, “Ken
Dedes. Kenapa kau menganggap bahwa aku telah memberontak?
Aku tidak sebodoh itu, Ken Dedes. Bahkan betapa bodohnya aku,
anak pedesaan, namun aku masih mempunyai kesadaran bahwa
tanah ini adalah tanah yang memberi aku makan dan minum. Tanah
ini adalah tanah di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Di mana
aku bermain-main dan mengalami masa-masa lampauku. Dan tanah
ini adalah tanah Tumapel.”
“Ken Dedes. Kau tahu apa yang telah dilakukan oleh ayahmu?
Betapa orang tua itu menjadi kecewa dan marah karena kehilangan
putri satu-satunya. Putri itu adalah kau Ken Dedes. Tetapi apa yang
dilakukan oleh ayahmu? Ayahmu tahu benar, bahwa di antara
mereka yang datang ke padepokan ini adalah Akuwu Tunggul
Ametung. Ayahmu tahu benar bahwa benar-benar Tunggul Ametung
telah melindungi Kuda Sempana mengambil anak satu-satunya.
Anak itu adalah miliknya yang paling berharga di dunia ini.”
“Tetapi Ken Dedes, ayahmu itu tidak memberontak.
Memberontak dalam pengertian yang sebenarnya. Memang ayahmu
untuk sejenak kehilangan keseimbangan dengan memecah
bendungan itu. Tetapi setelah itu ayahmu tidak berbuat apa-apa
lagi. Ia lebih baik membuang dirinya dengan hati yang pedih. Kalau
ia mau Ken Dedes, kalau ia ingin merebut kau kembali dengan
kekerasan, maka tidak mustahil bahwa itu akan dapat dilakukan.
Empu Purwa adalah seorang yang baik hati. Kawan-kawannya
tersebar di seluruh Tumapel. Kawan-kawan sebayanya. Kawankawannya
yang mampu memecah bendungan dengan tangan
seperti yang dilakukan oleh ayahmu.”
“Tetapi Empu Purwa tidak berbuat demikian. Empu Purwa tidak
memberontak, karena ia menyadari keadaannya. Menyadari akibat
yang dapat terjadi. Pertumpahan darah dan penderitaan. Mungkin
Empu Purwa berhasil mendapatkan anaknya kembali, tetapi ia akan
mendapatkannya di atas tumpukan mayat sesama. Bukan itu saja.
Kalau terjadi peperangan di Tumapel, perang saudara, maka akan
hancurlah peradaban. Akan terinjak-injaklah segala macam
ketentuan dan peraturan oleh kekerasan dan kekuatan.”
“Karena itu Empu Purwa tidak merebutmu dengan kekerasan
meskipun mungkin ia mampu. Tetapi ia tidak sebodoh itu. Orang tua
itu pun merasa bahwa tanah ini adalah tanah yang memberinya
makan dan minum. Tanah tempat ia bernaung di bawah rimbun
tetumbuhannya. Tanah tempat ia hidup dalam lingkungan yang
serasi. Tanah ini adalah tanah tumpah darah yang tidak
sepantasnya dihancurkannya sendiri, hanya karena kepentingan
pribadi, kepentingan seorang saja dari seluruh Tumapel ini.”
Mahisa Agni berhenti sejenak untuk menelan ludahnya. Seolaholah
mulutnya telah menjadi kering. Tetapi matanya yang suram
masih juga memandangi wajah Ken Dedes yang kini tunduk. Sesaat
kemudian Mahisa Agni meneruskan, “Ken Dedes. Empu Purwa
adalah guruku. Guruku tidak mau melihat pertentangan terjadi di
antara kita di Tumapel. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh
muridnya?”
“Ken Dedes. Aku bukan seorang pengkhianat yang sampai hati
berkhianat terhadap tanah ini. Dan aku pun telah mencoba tidak
melenyapkan diri seperti Empu Purwa yang benar-benar telah
kehilangan segala-galanya, karena kau hilang. Tetapi aku mencoba
berbuat lain. Aku tidak akan berbuat sesuatu karena kau. Baik
karena harga diriku maupun karena sebab-sebab lain. Tetapi lebih
baik bagiku untuk berbuat sesuatu yang dapat memberikan manfaat
bagi rakyat Panawijen, sebagian dari tanah Tumapel. Karena itu,
aku bekerja keras membuat bendungan. Tidak ada gunanya bagiku
untuk berbuat sebodoh Kuda Sempana, berkhianat karena
kepentingan pribadi, dan aku juga tidak ingin menghilang tanpa
tujuan, sebab dengan demikian hidupku tidak akan berarti lagi
meskipun umurku masih cukup muda. Tidak. Aku membuat jalan
sendiri. Bekerja untuk kepentingan sesama, untuk kepentingan
tanah ini. Panawijen sebagian dari Tumapel yang besar.”
Setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni serasa menyusup
langsung ke pusat jantung Ken Dedes. Las-lasan. Tak ada satu pun
yang terlampaui. Kata-kata yang memberinya kesadaran tentang
dirinya, tentang orang yang dihadapinya dan tentang semua
peristiwa yang telah terjadi.
Hati Ken Dedes itu pun kemudian bergolak. Belum lagi
sepemakan sirih, hatinya digetarkan oleh kenyataan yang tampak
pada diri Mahisa Agni. Meskipun Ken Dedes telah merencanakan
segala sesuatu untuk menyambut kakak angkatnya, namun ketika ia
melihat tubuh Mahisa Agni yang kurus dan kulitnya yang terbakar
oleh terik matahari, maka air matanya telah runtuh. Saat itu ia
telah
menemukan nilai yang wajar atas kerja yang dilakukan oleh Mahisa
Agni itu. Tetapi karena kemudian hatinya sendiri dibakar oleh
perasaannya yang meluap-luap tentang hubungannya dengan
Mahisa Agni, maka seolah-olah penilaiannya yang wajar atas Mahisa
Agni itu telah dilupakan.
Kini kembali ia menemukan penilaian itu. Kini kembali ia melihat
apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni, dan apa yang telah
dilakukannya. Bahwa kerja Mahisa Agni mencakup suatu kebutuhan
yang luas, yang akan memberi sumber bagi kehidupan rakyat
Panawijen di hari kemudian, bahkan sampai pada anak cucu.
Sedang yang terjadi pada dirinya adalah, perjuangan untuk diri
sendiri.
Tiba-tiba wajah Ken Dedes yang tunduk menjadi semakin dalam
menghunjam lantai. Dan tiba-tiba pula Mahisa Agni melihat
butiranbutiran
air menetes satu-satu. Karena itu Mahisa Agni berhenti
berbicara. Tetesan air mata itu telah menyentuh hatinya, dan ia
menjadi iba karenanya.
“Maafkan aku Kakang,” terdengar suara Ken Dedes sangat
perlahan, hampir tidak kedengaran.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Kau mengerti Ken Dedes?” bertanya Mahisa Agni.
Ken Dedes mengangguk perlahan-lahan ia menyahut, “Ya aku
mengerti.”
“Nah, kalau begitu, bagaimana seterusnya?” bertanya Mahisa
Agni.
“Kau benar Kakang. Kau telah berbuat untuk orang banyak. Kau
telah berjuang untuk sesama. Dalam pada itu aku sedang bekerja
keras untuk diriku sendiri, untuk kepentinganku seorang.”
Ken Dedes berhenti sejenak. Kemudian kata-katanya telah
mengejutkan Mahisa Agni, “Kakang, aku akan berbuat seperti kau.
Tak ada gunanya aku kembali ke Tumapel. Aku akan duduk di atas
singgasana permaisuri Tumapel, namun kakiku akan beralaskan
kebahagiaan ayah, kau dan rakyat Panawijen.”
“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni. Tiba-tiba dadanya menjadi
berdebar-debar.
“Aku akan kembali ke padukuhan ini. Bekerja seperti orang lain
bekerja. Menderita seperti orang lain menderita.”
Mahisa Agni terbungkam untuk sesaat. Terasa dadanya menjadi
bergelora. Ia tidak tahu pasti, perasaan apakah yang sedang
melanda jantungnya.
Sekilas terbayang gadis itu datang kembali ke padepokan ini.
Seperti bunga yang layu, maka padepokan ini akan menemukan
kesegarannya kembali karena hujan yang turun semalam. Hati yang
kering akan kembali bersemi. Gadis itu akan dapat menumbuhkan
gairah yang dahsyat menghadapi kerja. Dan hidupnya sendiri tidak
akan menjadi gersang seperti sawah yang terentang di sekitar
padukuhan ini. Kehadiran Ken Dedes pasti akan menjadi sumber
tenaga yang tak akan kering-keringnya, seperti bendungan yang
sedang dibangunnya itu.
Tetapi ketika Mahisa Agni melihat gadis itu, Ken Dedes dalam
pakaian yang cemerlang, namun tetesan-tetesan air mata masih
juga berjatuhan, hatinya memekik tinggi.
“Tidak!” teriak hatinya, “Tidak! Itu juga semacam kebutuhan
pribadi. Aku ternyata juga mementingkan diriku sendiri dari
kepentingannya.”
Mahisa Agni itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak sampai hati
membiarkan Ken Dedes melepaskan pakaian kebesaran yang telah
pernah dikenakannya, hanya karena kerakusannya.
Terdengar Mahisa Agni berdesah. Namun kemudian ia berkata,
“Tidak, Ken Dedes. Kau jangan terlampau banyak mengorbankan
dirimu, salah seorang dari kita, dari keluarga ini telah cukup. Aku
telah menebus semua hutang yang telah dibuat oleh keluarga kita.
Pergunakanlah kesempatanmu baik-baik. Mudah-mudahan kau tidak
akan mengalami kepahitan lagi seperti masa-masa lampaumu.”
Ken Dedes mengangkat wajahnya. Matanya yang basah berkacakaca
memandangi wajah Mahisa Agni yang merah kehitam-hitaman
oleh terik matahari. Namun dari mata yang cekung itu masih terasa
sinar mata yang dahulu, meskipun mata itu kini menjadi suram.
“Kakang, aku adalah sebagian dari padepokan ini.”
“Ya,” sahut Agni, “tetapi kau berhak menentukan hari depanmu
seperti ayahmu pernah mengatakan. Bukankah Empu Purwa pernah
membuat sebuah permainan yang disebutnya sayembara pilih
meskipun para pengikut sayembara itu tidak hadir?”
Ken Dedes menundukkan wajahnya kembali. Tetapi ia tidak
dapat melupakan permintaan Akuwu Tunggul Ametung untuk
bertemu dengan Mahisa Agni.
Tiba-tiba Mahisa Agni menangkap kebimbangan di dalam diri Ken
Dedes. Kebimbangan yang telah memeras air matanya semakin
banyak mengalir.
Kini kembali terjadi pergolakan d:dalam dada Mahisa Agni. Ia
tidak dapat melihat kepedihan itu. Seperti pada masa kanak-kanak
mereka, Mahisa Agni tidak dapat melihat dan membiarkan Ken
Dedes menangis. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Ken Dedes,
biarlah
aku besok mengantarmu ke Tumapel. Biarlah aku mematuhi
perintah Akuwu Tunggul Ametung untuk kepentinganmu. Mudahmudahan
kau akan dapat menemukan kebahagiaan.”
Hati Ken Dedes tergetar mendengar kesediaan Mahisa Agni itu.
Tetapi tidak seperti pada saat-saat Mahisa Agni bersedia memetik
sebuah jambe yang berwarna merah jambu, kali ini Ken Dedes tidak
memekik kegirangan. Gadis itu tidak melonjak dan menari-nari.
Bahkan Ken Dedes itu masih saja menundukkan wajahnya. Terasa
betapa Mahisa Agni mencoba untuk membuatnya berbesar hati,
namun terasa pula bahwa Mahisa Agni memenuhi permintaannya
dengan hati yang berat.
Ken Dedes kini menganggap bahwa Mahisa Agni telah bersedia
melepaskan perasaan harga dirinya, karena perasaan iba dan belas
kasihan.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Sudahlah, Ken
Dedes. Jangan risaukan lagi semua peristiwa yang terjadi. Yang
pernah terjadi biarlah terjadi. Jadikanlah semuanya sebagai
pangilon
di mana setiap kali kita dapat becermin. Kemudian marilah kita
memandang masa depan kita. Kau dengan masa depanmu yang
cemerlang, seperti kecemerlangan pakaianmu itu, dan Panawijen
akan menjadi segar dan hijau kembali, meskipun kami terpaksa
bergeser beberapa tonggak dari tempat ini.”
Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi
gadis itu belum mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Yang berkata kemudian adalah Mahisa Agni pula, “Ken Dedes,
kembalilah ke pendapa. Bukankah kau tidak datang sendiri ke
padepokan ini? Para prajurit pasti sudah menunggumu. Mereka pasti
bertanya-tanya apa saja yang dipercakapkan oleh Ken Dedes dan
Mahisa Agni selama ini.”
Ken Dedes mengusap air matanya dengan ujung kainnya.
Kemudian gadis itu mengangguk kecil sambil berkata, “Ya, Kakang.”
“Kau sekarang bukan Ken Dedes yang dahulu. Bukan lagi putri
Empu Purwa, seorang pendeta yang tinggal di padepokan kecil di
Panawijen. Tetapi kau sekarang adalah seorang calon permaisuri.
Kau harus bersikap lain dan bertingkah laku lain. Sebab ternyata
meskipun kau telah berpakaian seindah itu, dikawal oleh sejumlah
prajurit, namun kau masih saja suka menangis.”
“Ah,” desah Ken Dedes.
Tetapi Mahisa Agni berkata terus untuk memecahkan ketegangan
yang selama ini menghimpit hatinya, “Kau tidak dapat bersikap
demikian terhadap Akuwu Tunggul Ametung nanti. Kau dapat
menangis, merengek terhadap kakakmu, tetapi tidak terhadap
suamimu. Suamimu akan bersedih melihat kau menangis. Kalau ia
sedang dirisaukan oleh pekerjaannya sebagai seorang Akuwu, maka
mungkin sekali akalnya akan buntu. Tetapi hatinya akan segar
apabila ia selalu melihat kau tertawa. Wajah yang cerah bagi
seorang suami jauh lebih berharga dari apapun juga.”
“Ah,” sekali lagi Ken Dedes berdesah.
“Sekarang kembalilah ke pendapa. Aku akan segera menyusul.”
“Apakah kau akan lari lagi, Kakang?” bertanya Ken Dedes tibatiba.
Kali ini Mahisa Agni tersenyum. Ia mencoba untuk melenyapkan
segala macam perasaan yang sebenarnya masih bersilang tindih di
hatinya. Katanya, “Jangan takut, Ken Dedes. Aku tidak akan lari
kali
ini. Aku hanya akan mempersiapkan hidangan yang pantas untuk
tamu-tamu kita.”
“Para endang telah melakukannya dengan baik, Kakang.”
“Oh, baiklah,” sahut Mahisa Agni, “tetapi pergilah dahulu ke
pendapa.”
Ken Dedes tidak membantah. Perlahan-lahan ia bangkit dan
membenahi pakaiannya yang agak kusut. Kemudian ia pun pergi
meninggalkan Mahisa Agni ke pendapa.
Mahisa Agni pun kemudian berdiri pula. Sepeninggal Ken Dedes,
kembali wajahnya menjadi suram. Tetapi kali ini ia tidak lagi
berniat
ingkar, “Aku akan segera menyelesaikan saja persoalan ini, supaya
aku tidak selalu terganggu. Pekerjaanku masih banyak dan
memerlukan waktu yang cukup panjang.”
Ketika Mahisa Agni kemudian pergi ke halaman belakang untuk
mencuci mukanya yang serasa menjadi panas, tiba-tiba ia
mendengar suara tertawa di sudut halamannya. Ketika ia berpaling
dilihatnya Kebo Ijo duduk di atas rumput-rumput kering bersama
seorang perwira lainnya.
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ternyata kemudian ia
melihat beberapa orang prajurit yang lain berdiri berjaga-jaga di
sudut-sudut yang lain.
“Hem,” desahnya, “rumah ini seperti istana seorang bangsawan
yang memerlukan penjagaan demikian kuatnya.”
Tetapi kemudian disadarinya, bahwa yang kini berada di dalam
rumah itu, justru orang kedua sesudah Akuwu Tunggul Ametung
sendiri. Seorang gadis yang bakal menjadi permaisurinya.
Sekali lagi Mahisa Agni berpaling ke arah Kebo Ijo ketika ia masih
saja mendengar anak muda itu tertawa. Bahkan kemudian ia
bertanya kepada Mahisa Agni, “He Mahisa Agni. Rupa-rupanya
nasibmu memang terlampau baik. Untunglah bakal iparmu yang
bernama Wiraprana itu mati, sehingga kau akan mendapat ipar
seorang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia melihat perwira yang
seorang lagi itu pun memandangi wajah Kebo Ijo dengan herannya.
“Bukankah begitu Mahisa Agni?”
Betapa perasaan Mahisa Agni bergetar, namun ia
menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Kebo Ijo.”
Kebo Ijo menjadi kecewa mendengar jawaban itu. Ternyata
Mahisa Agni menurut tangkapannya tidak menjadi jengkel. Karena
itu maka justru ia terdiam. Apalagi ketika Mahisa Agni kemudian
berkata, “Kalau tidak terjadi demikian, maka kau tidak akan sudi
berkunjung kemari, meskipun kali ini kau datang bukan atas
kehendakmu sendiri.”
Kebo Ijo menggigit bibinya. Tetapi ia tidak menjawab. Ditatapnya
saja Mahisa Agni yang pergi ke pakiwan dengan mata yang merah.
Ketika Mahisa Agni sudah tidak tampak lagi, maka Kebo Ijo itu
bergumam, “Anak itu akan menjadi semakin sombong dan besar
kepala apabila nanti adiknya menjadi seorang permaisuri.”
Perwira yang duduk di samping Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi
menurut kesannya, Mahisa Agni sama sekali bukan anak muda yang
sombong.
Dalam pada itu, para endang di pendapa telah hampir menjadi
pingsan. Mereka duduk kaku tanpa berani menggerakkan ujung
jarinya sekalipun. Mereka duduk dalam kebingungan. Hanya sekali
hitam matanya saja yang bergerak-gerak.
Ketika mereka melihat Ken Dedes keluar dari pendapa, maka
hampir berbareng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali
mereka menjadi tegang ketika mereka melihat Witantra, Sidatta dan
Mahendra membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
Ken Dedes kemudian duduk kembali di tempatnya. Meskipun ia
tersenyum, namun setiap orang yang melihatnya, dapat
mengetahuinya, bahwa ia baru saja menangis.
“Kakang,” berkata Ken Dedes, “Kakang kini dapat beristirahat.
Besok kita akan kembali ke Tumapel.”
Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba
Tuan Putri. Tetapi apakah kakanda Tuan Putri akan beserta kita?”
“Ya.”
Sekali lagi Witantra mengangguk. Kemudian katanya, “Kami
mohon diri untuk beristirahat Tuan Putri.”
“Silakan Kakang.”
Witantra, Sidatta dan Mahendra pun kemudian turun dari
pendapa. Mereka berjalan perlahan-lahan ke gandok kanan, tempat
yang telah disediakan untuk mereka. Sedang para prajurit yang
bertugas, masih juga berdiri dengan senjata di tangan.
Kini para endang pun saling berpandangan. Para perwira itu
tampaknya sama sekali tidak menjadi lelah, pening atau pun gelisah
selama mereka duduk diam di pendapa. Para endang itu tidak dapat
membayangkan, bahwa dalam pasewakan-pasewakan yang
sebenarnya di Istana Tumapel, maka para prajurit, para pimpinan
pemerintahan harus duduk lebih lama lagi untuk memperbincangkan
berbagai masalah yang penting.
Tetapi bagi para endang itu, yang tidak pernah mengalami
peristiwa-peristiwa semacam itu, merasa seolah-olah duduk di atas
bara api. Kini satu-satunya harapan mereka di dalam hati adalah,
meninggalkan pendapa itu secepatnya.
Ketika Ken Dedes tidak juga bangkit, maka salah seorang endang
yang tidak lagi dapat menahan diri bertanya terbata-bata, “Ken
Dedes, sampai kapan kita akan duduk di sini? Bukankah para
prajurit itu telah pergi, dan kau dapat meninggalkan tempatmu
pula?”
Ken Dedes berpaling. Tiba-tiba ia tersenyum melihat wajah para
endang yang tegang, “Kenapa kalian menjadi seolah-olah
kebingungan?”
“Kami hampir pingsan, Ken Dedes,” sahut endang yang lain.
Ken Dedes tidak dapat menahan tawanya. Katanya, “Biasakan
dirimu duduk tenang. Mungkin akan berguna bagi saat-saat
mendatang.”
“Apakah kalau kau menjadi seorang permaisuri kami harus duduk
sedemikian lamanya?”
“Kalau kalian berada di istana, maka kalian harus duduk
bersimpuh lebih lama lagi daripada kali ini.”
“Lebih baik aku tinggal di padepokan. Aku tidak akan terikat
berbagai peraturan yang mengurangi kebebasanku,” gerutu seorang
endang yang masih sangat muda.
Ken Dedes tersenyum. Tetapi terasa sesuatu berdesir di dalam
dadanya. Endang itu lebih senang tinggal di padepokan. Istana
baginya adalah perlambang dari suatu lingkungan yang akan
mengikatnya dengan berbagai aturan yang menjemukan.
“Marilah, kita meninggalkan pula tempat ini. Di istana, para
prajurit dan para pemimpin pemerintah baru dapat meninggalkan
pendapa, apabila Akuwu telah masuk ke dalam istana. Tetapi aku
tidak perlu berbuat demikian di istana terhadap para prajurit.”
Para endang itu pun kemudian berdiri dengan serta-merta.
Mereka tidak menunggu Ken Dedes berdiri lebih dahulu. Bahkan ada
di antara mereka yang dengan tanpa segan-segan berdiri di
hadapan Ken Dedes sambil mengibas-ngibaskan kakinya yang
semutan. Namun Ken Dedes menyadari, bahwa mereka belum
mengenal tata cara istana yang sebenarnya harus dilakukan.
Hari itu bagi Ken Dedes terasa terlampau lama. Dengan
tegangnya ia menunggu matahari terbenam. Namun malam yang
kemudian turun dengan malasnya terasa bertambah-tambah
panjang pula. Ketika ia terbangun, maka yang terdengar adalah
bunyi kentongan dara muluk.
“Aku merasa telah terlampau lama tidur, tetapi ternyata baru
tengah malam,” desisnya. Gadis itu seolah-olah tidak sabar lagi
menunggu esok. “Jangan-jangan Kakang Mahisa Agni malam ini
mengambil keputusan lain dan pergi meninggalkan padepokan.”
Tetapi akhirnya fajar pecah di timur. Para prajurit pun segera
berkemas-kemas. Pagi itu mereka akan meninggalkan Panawijen
kembali ke Tumapel bersama Mahisa Agni.
Orang-orang Panawijen yang meskipun hanya sejenak telah
sempat bertemu dengan Ken Dedes, pagi itu berdiri di sepanjang
jalan melihat iring-iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali
ke Tumapel. Seperti pada saat datang, Ken Dedes kali ini pun
mengenakan pakaian kebesarannya. Pakaian dalam warna-warna
yang cemerlang, sehingga perempuan-perempuan, gadis-gadis
kawannya bermain-main, memandanginya dengan mulut ternganga.
“Gadis itu benar-benar cantik,” gumam seorang perempuan tua.
Tetapi seorang gadis yang menjadi iri berkata, “Yang cantik
adalah pakaiannya, bukan orangnya.”
Iring-iringan itu pun kemudian berjalan perlahan-lahan
meninggalkan Panawijen, diantar lambaian tangan orang-orang
Panawijen yang menyaksikannya.
Tetapi ketika iring-iringan itu telah sampai di bulak yang kering,
maka tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata yang tajam,
setajam mata burung hantu mengawasi dengan penuh dendam dan
benci.
Tetapi orang-orang yang sambil bersembunyi-sembunyi
mengintai iring-iringan itu tidak dapat berada di tempat yang
terlampau dekat, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas,
siapa-siapa saja yang berada di dalam iring-iringan itu.
Mereka itu adalah Empu Sada dan kedua muridnya yang
terdekat, Kuda Sempana yang pernah menjadi seorang hamba
istana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo,
yang menurut pengakuannya adalah seorang pedagang keliling.
“Kita tidak dapat mengulangi kesalahan kita,” gumam Empu
Sada.
Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Panji yang kurus itu pasti masih selalu mengawasi mereka,”
sambungnya.
Kembali kedua muridnya menganggukkan kepalanya.
Kini untuk sejenak mereka berdiam diri. Mereka mencoba untuk
mengenal orang-orang di dalam iring-iringan itu. Tetapi jarak
mereka terlampau jauh. Karena itu maka mereka tidak melihat
bahwa Mahisa Agni berada di dalam barisan itu.
“Guru,” berkata Kuda Sempana kemudian, “apakah guru benarbenar
ingin berhubungan dengan Paman Kebo Sindet dan Paman
Wong Sarimpat?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sendiri sampai
saat itu masih diliputi oleh keragu-raguan. Ia tahu benar bahwa
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat adalah orang-orang yang tidak
mengenal tata tertib pergaulan. Mereka ingin berbuat apa saja yang
dikehendakinya, sehingga mereka sampai saat ini menjadi orangorang
yang sama sekali tidak disukai, baik oleh rakyat Tumapel
maupun oleh pimpinan pemerintahan.
“Bagaimana guru?” desak Kuda Sempana.
Empu Sada masih memandangi iring-iringan yang meninggalkan
debu yang putih mengepul ke udara.
“Kuda Sempana,” terdengar suara Empu Sada tiba-tiba menjadi
berat, “apakah kau masih inginkan gadis itu?”
Pertanyaan itu benar-benar menggetarkan dada Kuda Sempana.
Terasa nada pertanyaan gurunya seolah-olah tidak lagi mengandung
gairah perjuangan. Bahkan seolah-olah nada pertanyaan itu
melemahkan semangatnya.
Karena itu, maka Kuda Sempana ingin menunjukkan bahwa
tekad di dalam dadanya telah bulat. Katanya, “Tentu guru. Kalau
aku tidak berhasil, maka sudah aku katakan, bahwa aku akan
menghancurkannya. Semua orang yang menghalang-halangi
kehendakku ini akan aku anggap telah berbuat salah dan harus
dihancur lumatkan.”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian desahnya,
“Kau terlalu keras hati. Bukankah kau telah melihat, bahwa di
sekitar Ken Dedes berdiri para prajurit pengawal istana.”
“Apakah guru dapat digetarkan hanya oleh Witantra.”
“Tak ada orang yang dapat menggetarkan hatiku, Kuda
Sempana,” sahut gurunya, “tetapi marilah kita perhitungkan
kekuatan yang ada. Witantra tidak berdiri sendiri. Bukankah kau
telah mengenal gurunya, Panji Bojong Santi? Sedang Mahisa Agni
pun kini mendapat kawan baru yang katanya adalah pamannya,
Empu Gandring, tukang keris itu.”
“Karena itu Guru dapat berhubungan dengan Wong Sarimpat dan
Kebo Sindet,” sahut Kuda Sempana pula.
Gurunya kembali terdiam. Ia melihat kekerasan hati muridnya.
Tetapi sebagai seorang yang telah berumur lanjut, maka hatinya
jauh lebih mengendap dari Kuda Sempana, sehingga Empu Sada itu
mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dihadapinya.
Katanya, “Kuda Sempana, pekerjaan ini terlampau berat.”
“Guru, aku tidak akan menyentuh apa saja yang dimiliki oleh Ken
Dedes. Perhiasan, pakaian dan kekayaannya. Aku hanya
memerlukan orangnya.”
Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menelan
ludahnya. Kekayaan itu pasti berlimpah-limpah. Tetapi di dalam
dirinya tersembunyi pula pengertian bahwa merebut Ken Dedes
akan sama sulitnya dengan merebut tahta Akuwu Tunggul Ametung.
Karena itu, maka ia sama sekali tidak mengemukakan lagi
pendapatnya.
“Kuda Sempana,” berkata Empu Sada, “kau tahu bahwa merebut
Ken Dedes kini tidak semudah pada saat ia masih berada di
Panawijen. Ia kini berada dalam istana yang mempunyai prajurit
yang tidak saja cukup banyak, dan mereka adalah prajurit-prajurit
yang tangguh.”
Kuda Sempana telah mengenal pula keadaan istana Tumapel
dengan baik. Ia tahu benar, bahwa ia tidak akan mendapat
kemungkinan untuk merebut Ken Dedes dalam keadaannya kini.
Karena itu, maka sekali lagi ia berkata, “Guru, sekali lagi aku
ingin
bertanya bagaimana dengan Paman Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat?”
“Kau belum mengenal mereka sebaik aku mengenal, Kuda
Sempana. Mereka adalah orang-orang yang dapat disebut orangorang
liar. Orang-orang yang berada di luar lingkungan masyarakat
yang beradab. Mereka adalah orang-orang buruan.”
Empu Sada terkejut ketika ia mendengar jawaban Kuda Sempana
yang tidak disangka-sangkanya, “Kita pun orang-orang buruan,
Guru.”
“He?”
“Kita sudah mulai. Apalagi aku. Guru pun telah melakukan
perlawanan atas Witantra yang membawa kekuasaan Tunggul
Ametung di hutan di dekat padang Karautan.”
Wajah Empu Sada menjadi berkerut-kerut. Kata-kata Kuda
Sempana itu benar. Ia telah terdorong pula ke dalam suatu keadaan
yang sulit. Apabila Witantra nanti sampai di Tumapel, dan Akuwu
mendengar laporannya tentang dirinya, maka Empu Sada dan
murid-muridnya adalah orang-orang buruan seperti Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat.
Sejenak Empu Sada berdiam diri. Direnungkannya dirinya dan
apa saja yang telah dilakukannya. Tetapi bagaimanapun juga ia
masih melihat perbedaan yang tajam antara dirinya dan kedua
orang-orang liar itu. Bahkan apabila ia dapat menarik dirinya
kembali, ia masih belum terjerumus terlampau jauh.
Tetapi muridnya yang bernama Kuda Sempana itu agaknya
benar-benar telah keras hati. Ketika ia melihat gurunya ragu-ragu
maka katanya, “Guru. Kita sudah terjun ke tengah-tengah sungai.
Terus atau kembali, kita sudah terlanjur basah kuyup.”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas. Katanya masih dalam nada
yang rendah, “Kuda Sempana, kau pernah menjadi seorang hamba
Tunggul Ametung. Apa kau sangka kita meskipun bersama dengan
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mampu mengalahkannya?”
“Aku sama sekali tidak ingin merebut kedudukan Tunggul
Ametung, Guru.”
“Menginginkan seorang permaisuri akan sama artinya dengan
menginginkan kedudukannya.”
“Tidak. Kalau aku sudah mendapatkan Ken Dedes, aku akan
pergi jauh sekali keluar Tumapel, bahkan mungkin keluar Kediri.”
“Alangkah bodohnya kau,” gurunya menggerutu, “kau sendiri
pernah menjadi pelayan dalam. Kau sangka bahwa merebut Ken
Dedes tidak berarti perang melawan Tunggul Ametung. Meskipun
kau tidak menginginkan kedudukannya, tetapi perang itu sudah
terjadi.”
Kuda Sempana terdiam. Hatinya gelap telah menutup segenap
kemauannya untuk berpikir. Tetapi kali ini ia mendengar kata-kata
gurunya. Dan kata-kata itu mampu menyelusup ke dalam hatinya
yang gelap.
Tetapi meskipun demikian ia menjawab, “Guru, bukan maksudku
untuk berbuat demikian. Bagaimana kalau gadis itu diculik?”
“Pekerjaan itu pun bukan pekerjaan yang mudah, Kuda
Sempana.”
Kembali Kuda Sempana terdiam. Namun gejolak di dalam
dadanya sama sekali tidak mereda. Ketika ia mengangkat wajahnya,
ia melihat ekor dari iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh,
dan hampir lenyap di tikungan. Yang tampak kemudian hanyalah
tanaman-tanaman yang kering kekuning-kuningan.
“Persetan dengan bencana yang menimpa Panawijen,” tiba-tiba
Kuda Sempana menggeram. Dendamnya kepada Panawijen menjadi
semakin memuncak. Panawijen tempat ia dilahirkan, tempat ia
dibesarkan dan tempat orang tuanya bergelut dengan hidup
keluarganya, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan
baginya Panawijen adalah mereka yang telah membakarnya selama
ini. Apalagi anak muda yang bernama Mahisa Agni, benar-benar
telah menyalakan segala macam kebencian di dalam dadanya.
Dalam pada itu, tiba-tiba Kuda Sempana itu bergumam, “Guru,
bagaimanapun juga, sebaiknya kita coba. Berhasil atau tidak
berhasil, sebaiknya guru menghubungi Wong Sarimpat dan Kebo
Sindet. Kalau aku tidak berhasil mendapatkan Ken Dedes, maka aku
akan membuat pembalasan dengan caraku. Menghancurkan
bendungan yang sedang dibangun, menangkap dan membunuh
Mahisa Agni sehingga akibatnya pasti akan menyiksa perasaan Ken
Dedes. Biarlah hatinya tersiksa seperti hatiku.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau hanya itu
yang dikehendaki dan dapat memberinya kepuasan, maka kiranya
tidak terlalu sulit untuk dilakukannya. Karena itu maka jawabnya,
“Kuda Sempana, mungkin kita akan dapat berbuat demikian.
Memecah rencana yang tengah dibuat oleh Mahisa Agni itu, bahkan
membinasakan. Tetapi seterusnya, untuk mendapatkan Ken Dedes
adalah terlampau sulit bagimu kini.”
“Mahisa Agni adalah sumber dari kegagalan itu guru.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak
kemudian ia menjadi bimbang hati. Kalau ia melakukan perbuatan
itu, apakah keuntungan yang didapatkannya, selain diburu dan di
kejar-kejar oleh Akuwu Tunggul Ametung? Tetapi dalam pada itu
kini menyelusup perasaan lain pula di dalam dadanya, Empu Sada
itu sendiri tidak mengetahuinya, kenapa tiba-tiba ia ingin membela
muridnya dengan kemauan yang berbeda dari saat-saat lampaunya.
Pada masa-masa yang lampau, setiap perbuatannya pasti
diperhitungkannya, upah apakah yang akan diterima dari muridnya
yang dibantunya. Tetapi setelah ia melihat beberapa perguruan lain,
melihat, bagaimana sikap Panji Bojong Santi terhadap muridnya,
maka pendirian itu tanpa dikehendakinya sendiri telah bergeser pula
karena harga dirinya yang tampil ke depan. Empu Sada tidak mau
perguruannya menjadi bahan ejekan dari perguruan-perguruan lain
karena setiap usaha dan kemauan murid-muridnya selalu tidak
pernah terpenuhi.
Tetapi Empu Sada itu terkejut ketika tiba-tiba muridnya berkata,
“Kalau demikian, mengapa tidak malam ini saja kita menghancurkan
rencana Mahisa Agni dan menangkapnya?”
“Sudah aku katakan,” sahut gurunya, “di samping Mahisa Agni
kini ada pamannya Empu Gandring. Karena itu kita tidak boleh
terlampau tergesa-gesa.”
Namun terasa Kuda Sempana tidak bersabar lagi. Tetapi ketika ia
ingin menyatakan perasaannya itu, terdengar orang yang
menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo berkata, “Aku mempunyai cara
yang baik untuk menyiksa perasaan Mahisa Agni.”
Kuda Sempana dan Empu Sada itu pun berpaling kepadanya.
Hampir bersamaan mereka berkata, “Apakah cara itu?”
“Kita biarkan Mahisa Agni membuat bendungan itu sampai saat
hampir selesai. Nah, ketika mereka merasa bahwa mereka pasti
akan menikmati hasil usahanya itu, maka bendungan itu kita
pecahkan. Kita hanyutkan Mahisa Agni di dalam arusnya yang
keras.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,
“Terlampau lama. Berapa bulan lagi hal itu terjadi?”
“Tetapi peristiwa itu akan menyenangkan sekali. Bukan saja
Mahisa Agni, alangkah kecewanya orang-orang Panawijen yang lain.
Kalau bendungan itu kau rusakkan sekarang, maka kerugian mereka
tidak seberapa banyaknya. Dalam pada itu, Guru masih mempunyai
kesempatan untuk bertemu dengan paman Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat.”
Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi katanya kemudian, “Aku
sependapat, tetapi kita tidak perlu menunggu bendungan itu selesai.
Aku tidak ingin pembalasan ini datang terlampau lama.”
Empu Sada pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.
Pendapat muridnya yang seorang itu memang menyenangkan
sekali. Sebagai suatu cara untuk melepaskan sakit hati, maka cara
itu pasti akan mencapai maksudnya. Bahkan Empu Sada itu
menyambung, “Pendapat itu baik sekali. Kalau Mahisa Agni dapat
ditangkap, maka jangan tergesa-gesa dimasukkan ke dalam arus
air. Berilah kesempatan kepadanya melihat bendungan yang telah
dikerjakannya itu pecah. Beri kesempatan ia menjadi kecewa.
Sangat kecewa. Biarlah ia melihat parit-parit yang sudah digalinya
menjadi kering kembali. Dengan demikian ia dapat membayangkan,
penduduk Panawijen segera akan ditimpa bencana. Bahkan
seandainya Mahisa Agni tidak dibunuh sekalipun, maka siksaan yang
akan dialaminya akan jauh lebih sakit daripada sakit hatimu, Kuda
Sempana.”
“Tidak, Guru,” sahut Kuda Sempana tiba, “tidak ada sakit hati
yang melampaui sakit hatiku.”
“Ya, ya,” jawab Empu Sada cepat-cepat, “aku tahu. Maksudku,
pembalasan itu akan cukup memadai dengan perbuatannya.”
Kuda Sempana terdiam sejenak. Kini mereka sudah tidak melihat
lagi iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali ke Tumapel.
“Sekarang bagaimana?” bertanya orang yang menyebut dirinya
Bahu Reksa Kali Elo.
“Sudah tentu kita tidak akan dapat pulang ke rumah, ke
padepokanku. Kalau sakit hati Witantra belum sembuh benar, ia
pasti akan datang mencoba menangkapku,” berkata Empu Sada,
“tetapi aku kira anak itu tidak akan membuat sesuatu kerusakan.
Biar sajalah para cantrik menerima kedatangannya. Kini kita akan
pergi ke Kemundungan, memberitahukan kepada setiap muridmurid
yang ada, supaya mereka menghindari benturan-benturan
dengan orang-orang Witantra. Lebih baik mereka menyingkir untuk
sementara.”
Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang itu memang
harus disingkirkan pula. Tetapi dengan demikian, mereka harus
membuat tempat penampungan bagi mereka. Namun saudarasaudara
seperguruan yang lain pasti akan bersedia membantu
mereka.
“Setelah itu,” berkata Empu Sada seterusnya, “kita mencari Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Mungkin kita akan dapat menemaninya
di Sampadan. Setidak-tidaknya salah seorang dari mereka.”
“Apakah kita tidak melihat bendungan itu guru? Supaya kita
dapat menentukan kapan kita akan datang kembali?” bertanya Kuda
Sempana.
“Kau terlalu bernafsu Kuda Sempana,” sahut gurunya, “kita harus
berlomba dengan Witantra. Kita harus lebih dahulu sampai di
Kemundungan. Biarlah mereka yang membuat bendungan itu
sekarang tidak terganggu, supaya mereka tidak menyiapkan dirinya
menghadapi kehadiran kita kelak. Tidak sampai sebulan kita akan
kembali membawa orang-orang yang cukup banyak untuk
menghancurkan bendungan dan apabila perlu, serta mereka yang
mengadakan perlawanan. Adalah lebih baik kalau Empu Gandring
sudah meninggalkan tempat itu dan Empu Purwa tidak lagi
berkeliaran. Apalagi Panji yang kurus itu.”
Kuda Sempana kali ini terpaksa menurut kehendak gurunya.
Mereka kemudian meninggalkan telatah Panawijen tanpa berbuat
sesuatu untuk dengan tergesa-gesa pergi ke Kemundungan. Namun
di sepanjang jalan, kepala Kuda Sempana selalu dipenuhi oleh
gambaran-gambaran tentang pembalasan sakit hati yang akan
dilakukan. Namun bagaimanapun juga, gambaran tentang Ken
Dedes tidak juga dapat lenyap dari kepalanya.
Sementara itu iringan yang membawa Ken Dedes semakin lama
menjadi semakin jauh meninggalkan Panawijen. Terasa matahari di
langit semakin panas menyengat kulit mereka. Seperti pada saat
mereka berangkat, maka mereka memilih jalan di sepanjang hutan
daripada menyeberang padang rumput Karautan untuk menghindari
panas yang tak tertahankan di padang itu. Lebih-lebih bagi seorang
gadis seperti Ken Dedes.
Apabila mereka berkuda cepat-cepat, maka masih juga terasa
silirnya angin karena kecepatan perjalanannya. Tetapi berjalan kaki
di padang itu, adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan.
Berdasarkan pengalaman mereka, pada saat mereka berangkat,
maka dalam perjalanan kembali itu mereka selalu diliputi oleh
kewaspadaan yang setinggi-tingginya. Bahaya setiap saat dapat
mengancam, bahkan mungkin menjadi lebih berat daripada saat
mereka berangkat.
Tetapi seandainya mereka tahu, bahwa dalam saat yang
bersamaan Kuda Sempana dan gurunya sedang berjalan menuju ke
Kemundungan, maka mereka pasti tidak akan setegang itu. Bahkan
mungkin mereka sempat berkelakar di sepanjang jalan. Namun kali
ini perjalanan itu seolah-olah diselubungi oleh kecemasan dan
kekhawatiran sehingga hampir tidak terdengar suara mereka
bercakap-cakap. Kecuali sekali dua kali terdengar suara tawa Kebo
Ijo yang berjalan agak di muka tandu.
Tidak seperti pada saat mereka berangkat, maka dalam
perjalanan kembali ini, mereka tidak memerlukan bermalam di
perjalanan. Seakan-akan mereka demikian ingin melihat kota
Tumapel kembali. Meskipun hari telah malam, namun mereka
meneruskan perjalanan. Mereka tidak takut kalau mereka akan jatuh
terjerumus karena kaki-kaki mereka terantuk batang-batang yang
roboh atau tersangkut sulur-sulur pepohonan, sebab ketika itu,
mereka telah meninggalkan hutan di sepanjang tepi padang
Karautan yang panas.
Kehadiran mereka di kota, hampir di tengah malam buta,
mengejutkan para peronda. Tetapi Witantra yang berjalan di muka,
selalu mencoba mencegah mereka membuat keributan.
“Jangan ribut. Biarlah mereka yang tidur tidak terganggu. Mereka
tidak perlu melihat iring-iringan ini, sebab mereka telah melihat
pada saat kami berangkat,” berkata Witantra kepada para peronda.
Meskipun demikian, ada juga di antara mereka yang sempat
membangunkan anak istrinya, dan membawa mereka ke tepi jalan
raya untuk menyambut iringkan bakal permaisuri. Bahkan iringiringan
itu tampak lebih megah lagi di bawah cahaya beberapa buah
obor yang menyala berkobar-kobar.
Tetapi para prajurit Tumapel yang lelah itu sama sekali tidak lagi
sempat memperhatikan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan.
terkantuk-kantuk mereka berjalan dengan langkah yang panjangpanjang
supaya mereka segera dapat beristirahat. Di dalam tandu,
Ken Dedes sekali-sekali tersandar dengan mata terpejam.
Kadangkadang
ia kehilangan kesadaran karena kantuknya yang
mencengkam. Tetapi apabila tandunya tergoyang karena para
pemanggulnya bergantian, Ken Dedes itu kembali mencoba
membelalakkan matanya. Terasa pula bahwa badannya menjadi
semakin penat.
“Hem,” desahnya di dalam hati, “apalagi mereka yang berjalan
kaki. Lebih-lebih yang harus memanggul tandu ini.”
Di belakang ada pula prajurit yang berjalan tersuruk-suruk.
Hampir tidak lagi ia kuat menarik kakinya. Tombaknya terayun-ayun
bukan karena lawan berdiri di hadapannya. Tetapi tangannya telah
terlampau letih memegang senjata itu. Keringat di telapak
tangannya telah membuat landean tombaknya menjadi licin.
Ternyata bahwa rasa kantuk mereka jauh lebih mengganggu dari
perasaan lelah, meskipun keduanya saling mempengaruhi. Mereka
menjadi sangat kantuk karena lelah.
Ketika iring-iringan itu kemudian memasuki alun-alun, dan
kemudian terpaksa berhenti di muka regol untuk menanti sejenak
para penjaga membuka palang pintu yang besar, maka beberapa
orang di antara mereka dengan serta menjatuhkan dirinya duduk
bersandar pada dinding halaman istana.
“He,” terdengar suara Kebo Ijo perlahan-lahan, “apakah kalian
tidak lagi mampu berdiri?”
Seorang prajurit yang bertubuh tinggi, berdada bidang dan
berkumis tebal menjawab, “Lebih baik aku pergi bertempur malam
ini, daripada disiksa oleh perasaan lelah dan kantuk.”
Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kalau kau bertempur saat ini, maka
perutmu pasti akan segera berlubang karena kau tidak lagi dapat
melihat ujung senjata lawanmu.”
Prajurit yang berkumis itu tidak menjawab. Bahkan
dipejamkannya matanya sambil menguap. Katanya, “Hem, alangkah
segarnya duduk sambil terkantuk-kantuk di bawah pohon beringin
setelah hampir sehari penuh berjalan menyusur daerah yang kering
kerontang.”
“Apakah kau mimpi?” bertanya Kebo Ijo, “bukankah kita baru
saja meninggalkan daerah yang hijau segar. Bukankah Panawijen
daerah yang paling subur daripada daerah Tumapel?”
“Hu,” prajurit itu mencibirkan bibirnya. Tetapi matanya masih
terpejam, “daerah itu adalah daerah mati. Aku heran, kenapa di
daerah itu masih juga ada penghuninya?”
Mahisa Agni yang mendengar percakapan itu mengerutkan
keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya Kebo Ijo memandanginya
pula sambil tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata kepada prajurit
yang terkantuk-kantuk itu, “Kini baru dibuat sebuah bendungan
untuk mengairi padukuhan itu supaya menjadi bertambah subur.”
“Alangkah bodohnya,” sahut prajurit itu antara sadar dan tiada,
“lebih baik menjadi pekatik di kota daripada membuat bendungan.”
Terdengar Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak sambil memandangi
wajah Mahisa Agni yang berkerut-kerut, sehingga beberapa orang
berpaling ke arahnya. Witantra yang berdiri di muka regol. untuk
menunggu para penjaga membuka palang pintu pun berpaling pula.
Namun tiba-tiba suara tertawa Kebo Ijo itu terputus. Semula
memang ada maksud Mahisa Agni untuk menjawab kata-kata itu,
sebab ia merasa benar bahwa kelakar itu sengaja dilontarkan oleh
Kebo Ijo untuk menyindirnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Karena
itu, maka Mahisa Agni itu pun menggigit bibirnya, seolah-olah ia
ingin menahan agar mulutnya tidak melontarkan kata-kata.
Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara halus dari dalam
tandu, “Kau benar Kebo Ijo. Karena itu aku pun mengungsi ke
kota.”
Bukan saja Kebo Ijo. Bahkan prajurit yang terkantuk-kantuk itu
pun tersentak seperti disengat lebah. Sejenak ia mencoba
menyadari apa yang terjadi. Tetapi ketika ia yakin bahwa
katakatanya
telah terdorong terlampau jauh, dan bahwa yang
didengarnya adalah suara putri calon permaisuri itu, maka dengan
serta-merta ia meloncat. Tandu itu memang tidak terlampau jauh
daripadanya. Dengan tubuh gemetar ia duduk bersimpuh di tanah
sambil berkata, “Ampun Tuan Putri. Bukan maksud hamba
mengatakan demikian, tetapi hamba seakan-akan terbius oleh
pertanyaan-pertanyaan Kebo Ijo, sehingga jawaban hamba pun
tidak lagi dapat hamba kendalikan.”
Ken Dedes tidak menjawab. Bahkan memandang wajah prajurit
itu pun tidak. Dengan jarinya ia menunjuk gerbang yang telah
terbuka sambil berkata kepada para pengusung tandunya, “Gerbang
telah terbuka. Marilah.”
Tandu itu pun kemudian bergerak. Beberapa orang prajurit yang
semula sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu,
percakapan antara Kebo Ijo dan prajurit berkumis itu pun terpaksa
bertanya-tanya, apakah yang sudah dikatakannya. Tetapi para
pengusung dan satu dua orang prajurit yang mendengarnya berkata
di dalam hatinya, “Salahmu, mulutmu terlampau lancang.”
Tetapi Ken Dedes tidak meletakkan kesalahan pada prajurit itu.
Prajurit itu hanya sekedar ingin melepaskan perasaannya yang
diganggu oleh lelah dan kantuk. Tetapi kejengkelannya
ditumpahkannya kepada Kebo Ijo. Sejak di Panawijen sikap anak
muda itu tidak menyenangkan hatinya. Tetapi ia tahu bahwa Kebo
Ijo adalah orang terdekat dari Witantra di samping Mahendra yang
sampai saat ini tidak juga mau menjadi seorang prajurit.
Ketika tandu itu kemudian berjalan, Witantra, Mahendra dan para
perwira berdiri tegak di sisi pintu gerbang itu. Ketika tandu itu
telah
melampauinya, maka barulah mereka melangkah memasuki
halaman. Namun sekali-sekali Witantra memalingkan wajahnya
mencari Kebo Ijo. Ia ingin tahu, apa saja yang dipercakapkannya
dengan prajurit yang duduk bersimpuh di samping tandu Ken
Dedes.
Kesan Ken Dedes dan Mahisa Agni atas Kebo Ijo menjadi
semakin kurang sedap. Anak itu benar-benar anak yang bengal dan
bahkan kurang dapat mengendalikan dan menempatkan diri dalam
suatu keadaan tertentu.
Tunggul Ametung yang telah tidur nyenyak di dalam biliknya
terkejut ketika ia mendengar suara ribut di luar. Ia mendengar
beberapa orang berjalan hilir mudik. Ia mendengar langkah
mendekati pintu biliknya, tetapi kemudian berhenti dan kembali
langkah itu menjauh.
“Bagaimana?” terdengar seseorang berbisik.
“Aku kira Akuwu tidak perlu dibangunkan,” sahut yang lain.
“Apa begitu?” berkata suara yang pertama.
“Bukankah tidak ada soal yang perlu diselesaikan malam ini,”
terdengar suara kedua, “sebenarnya aku takut membangunkan
Akuwu.”
Suara-suara itu pun kemudian terdiam. Namun kedua orang itu
seakan-akan terlonjak ketika tiba-tiba saja mereka melihat Akuwu
Tunggul Ametung sudah berdiri di muka pintu biliknya.
“Apakah yang kalian lakukan di sini?” bertanya Akuwu Tunggul
Ametung itu.
Kedua prajurit itu dengan serta-merta menjatuhkan dirinya dan
seorang pelayan istana hampir terperosok di tangga ketika dengan
tergesa-gesa ia bersimpuh.
“Ampun Tuanku,” sahut pelayan juru penebah itu, “hamba takut
membangunkan Tuanku ketika kedua prajurit ini memintanya.”
Dipandanginya wajah kedua prajurit yang tunduk itu. Yang
seorang dari mereka adalah Sidatta.
“Apa perlunya kau menghadap malam-malam, Sidatta?”
“Ampun Tuanku,” sahut Sidatta sambil membungkuk dalamdalam,
“hamba ingin menyampaikan berita kehadiran kembali Tuan
Putri Ken Dedes setelah Tuan Putri mengunjungi Panawijen.”
“He,” wajah Tunggul Ametung yang gelap itu tiba-tiba menjadi
cerah, “Ken Dedes datang kembali?”
“Hamba Tuanku.”
“Bagus,” berkata Tunggul Ametung itu, “suruh ia menghadap.”
“Baik Tuanku,” jawab Sidatta, “tetapi Tuan Putri lelah sekali.
Sekarang Tuan Putri sedang membersihkan diri di pakiwan dilayani
oleh beberapa emban.”
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya
kemudian, “Baik, baik. Biarlah ia beristirahat. Besok pagi-pagi
kalian
harus menghadap bersama-sama. Apakah kalian datang bersama
Mahisa Agni?”
“Hamba Tuanku,” jawab Sidatta.
“Baik-baik,” Tunggul Ametung itu mengangguk-angguk pula,
“sekarang kalian boleh beristirahat. Ken Dedes boleh beristirahat
pula. Besok pagi-pagi kalian harus datang menghadap. Tempatkan
Mahisa Agni sebaik-baiknya. Biarkanlah tempat yang pantas. Ia
adalah Kakang Ken Dedes itu.”
“Hamba Tuanku,” sahut Sidatta.
Setelah mengangguk dalam-dalam, Sidatta itu pun kemudian
mengundurkan dirinya membawa pesan Akuwu Tunggul Ametung
kepada Ken Dedes, Mahisa Agni dan para prajurit. Mereka
diperkenankan beristirahat, sedang para perwira besok pagi-pagi
harus menghadap Akuwu Tunggul Ametung bersama dengan Ken
Dedes.
Sepeninggal Sidatta kembali Tunggul Ametung membaringkan
dirinya. Tetapi kini matanya sudah tidak dapat dipejamkannya lagi.
Terata malam terlampau lamban baginya seakan-akan waktu
berhenti beredar.
Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun mendengar
ayam jantan berkokok untuk ketiga kalinya. Perlahan-lahan ia
bangkit dari pembaringannya, menggeliat dan kemudian melangkah
keluar dari biliknya. Ia masih melihat pelita yang menyala di
segala
penjuru istananya. Ia masih melihat seorang pelayan duduk
terkantuk-kantuk di tangga serambi belakang.
“He, siapa yang duduk di situ?” panggil Akuwu Tunggul Ametung.
Pelayan itu berjingkat. Dan dengan tergesa-gesa ia menyuruk
merangkak-rangkak mendekati Akuwu Tunggul Ametung.
“Aku akan mandi,” berkata Tunggul Ametung itu.
Pelayan itu heran. Hari masih terlampau pagi. Tetapi ia tidak
berani bertanya. Terdengar jawabnya, “Hamba Tuanku. Akan
hamba sediakan untuk keperluan itu.”
Ketika kembali pelayan itu berjalan jongkok meninggalkan Akuwu
Tunggul Ametung, terdengar Tunggul Ametung membentaknya,
“Cepat, jangan bekerja seperti siput sakit-sakitan.”
Orang itu pun kemudian mempercepat geraknya, kemudian
meloncat turun ke halaman dan berlari-lari ke belakang mengambil
air hangat. Tetapi air itu baru saja diletakkan di atas api.
Ketika matahari muncul dari balik punggung-punggung bukit,
maka para perwira telah siap di paseban dalam. Sebentar kemudian
Ken Dedes pun telah hadir pula. Mereka menundukkan kepalakepala
mereka ketika Akuwu memasuki ruangan itu.
Ternyata Akuwu Tunggul Ametung hampir tidak sabar untuk
berbicara tentang dirinya sendiri ketika dilihatnya Mahisa Agni pun
berada di dalam ruangan itu. Hampir tak ada yang dipersoalkannya
dengan para perwira. Akuwu hanya bertanya tentang keselamatan
mereka, perjalanan mereka dan sekedar berterima kasih. Kemudian
katanya, “Kalian pasti sangat lelah. Karena itu kalian tidak perlu
terlampau lama duduk di sini. Kalian aku perbolehkan segera
meninggalkan tempat ini untuk beristirahat.”
Witantra menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sambil
tersenyum ia berkata, “Terima kasih Tuanku. Lain kali hamba akan
menyampaikan cerita tentang perjalanan ini lebih banyak lagi.”
“Baik. Baik,” berkata Tunggul Ametung, “sampaikan lain kali.”
Witantra yang melihat kegembiraan yang membayang di wajah
Akuwu Tunggul Ametung tidak sampai hati untuk mengganggunya
dengan laporan-laporan yang dapat menggelisahkannya tentang
Empu Sada dan Kuda Sempana. Karena itu disimpannya laporan itu
untuk disampaikannya pada kesempatan yang lain.
Sepeninggal mereka, maka kini Akuwu tinggal duduk bersama
Ken Dedes, Mahisa Agni dan beberapa emban. Di antaranya adalah
emban tua pemomong Ken Dedes yang dibawanya dari Panawijen.
Namun, menghadapi persoalan yang selama ini tersimpan di
dalam dirinya, Akuwu Tunggul Ametung merasa canggung. Ia tidak
tahu bagaimana ia harus memulainya.
Sejenak mereka yang berada di dalam ruangan itu saling berdiam
diri, sehingga ruangan itu menjadi sepi. Hanya tarikan nafas
merekalah yang terdengar berkejar-kejaran. Sekali-sekali Akuwu
mengedarkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya Ken Dedes
duduk bersimpuh sambil menekurkan kepalanya, emban tua di
belakang dan kemudian Mahisa Agni dengan wajah menungkul.
Tunggul Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Semua
kemarahan kejengkelan dan hukuman yang pernah diberikannya
kepada Mahisa Agni kini telah dilupakannya sama sekali. Yang
berjejal-jejal di dalam dadanya kini adalah persoalannya sendiri.
Akuwu Tunggul Ametung itu ingin mendapat kesan, setidaktidaknya
untuk meringankan perasaan sendiri, bahwa ia telah
mengambil Ken Dedes menurut adat yang seharusnya. Meminang
kepada keluarganya untuk mengambil anak gadisnya. Dan
mendengar keluarganya atau salah seorang daripadanya dengan
ikhlas memberikannya.
Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi
gelisah. Ken Dedes pun sebenarnya sejak menghadap selalu diliputi
oleh kegelisahan pula. Ia ragu-ragu akan kakaknya. Apakah nanti
yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni? Apakah kakak angkatnya itu
akan menjawab pertanyaan dan pernyataan Akuwu Tunggul
Ametung seperti yang diharapkannya.
Sekali-sekali Ken Dedes mencoba memandang wajah Mahisa Agni
dengan sudut matanya. Namun ia sama sekali tidak mendapat
kesan apapun dari wajah yang tertunduk itu.
Dalam pada itu Tunggul Ametung yang perkasa, rajawali dalam
setiap peperangan, yang selama ini selalu menuruti perasaan sendiri
yang kadang-kadang meledak-ledak, tiba-tiba merasa bahwa
seolah-olah mulutnya menjadi terbungkam.
Namun setelah berjuang beberapa lama, setelah tubuhnya basah
oleh keringat dingin yang mengalir dari segenap lubang kulitnya,
barulah Akuwu yang perkasa itu berkata, “Mahisa Agni. Apakah kau
sudah tahu, apakah sebabnya aku memanggilmu?”
Jantung Mahisa Agni berdesir. Apakah yang harus dikatakannya?
Kalau Akuwu itu akan melamar Ken Dedes, maka ialah yang harus
datang kepadanya, bukan memanggilnya. Tetapi ketika ia sudah
berhadapan dengan Tunggul Ametung di muka Ken Dedes itu
sendiri, ia tidak sampai hati untuk mengatakannya. Ia tahu, hati
Ken
Dedes pasti akan hancur. Karena itu maka ia menjawab, “Hamba
Tuanku. Hamba dapat mengira-ngirakan, apakah sebabnya maka
Tuanku memanggil hamba menghadap.”
“Bagus,” sahut Tunggul Ametung, “nah, sekarang katakan,
apakah keperluan itu?”
Kening Mahisa Agni menjadi berkerut-kerut. Ken Dedes pun
terkejut mendengar kata-kata Tunggul Ametung itu. Bahkan
kegelisahannya pun menjadi semakin mencengkam hatinya.
Ketika sesaat Mahisa Agni belum menjawab, maka Akuwu itu pun
berkata pula, “Bukankah kau sudah tahu, apa sebabnya aku
memanggilmu?”
Kini Mahisa Agnilah yang menarik nafas. Sambil membungkukkan
kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Ampun Tuanku. Hamba
hanya dapat mengira-ngirakan. Tetapi kepastian dari persoalan ini
ada pada Tuanku. Karena itu, maka hamba tiada berani mendahului
titah Tuanku.”
Ken Dedes pun menarik nafas pula mendengar jawaban Mahisa
Agni. Ternyata sampai sekian Mahisa Agni telah menunjukkan sikap
dan kata-kata yang baik. Meskipun demikian, kegelisahan gadis itu
masih saja mencengkamnya.
Sejenak kembali mereka berdiam diri. Ken Dedes sekali masih
berusaha untuk mendapat kesan dari wajah kakaknya, namun
Mahisa Agni kini menjadi semakin tertunduk.
Pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar tidak
menyenangkan Mahisa Agni. Ia merasa bahwa dalam hubungan ini
ia sama sekali berada dalam keadaan yang sulit. Sulit karena
perasaan sendiri yang bergolak, sulit karena kedudukan yang tidak
seimbang dari pihak-pihak keduanya, sulit karena sikap Akuwu itu.
Bahkan seandainya Ken Dedes itu adiknya sendiri, yang tanpa
membekali persoalan-persoalan di dalam hatinya pun, ia merasa
kecewa mendengar pertanyaan Tunggul Ametung itu. Seolah-olah
menurut tanggapan Mahisa Agni, ia harus datang menawarkan
gadis itu kepada Akuwu Tunggul Ametung.
Namun ketika kemudian sekilas Mahisa Agni melihat Tunggul
Ametung itu mengusap keringat di wajahnya, serta duduknya yang
tidak tenang, timbullah dugaannya yang lain. Mungkin Akuwu
Tunggul Ametung menyimpan sesuatu di dalam hatinya sebelum ia
dengan berterus terang ingin menyampaikan maksudnya.
Tetapi Akuwu itu tidak segera berkata apapun. Ketika ia
mendengar jawaban Mahisa Agni, maka keringatnya menjadi
semakin deras mengucur. Sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu
tidak menyimpan apapun di dalam dadanya. Bahkan ia ingin segera
sampai kepada persoalan dirinya sendiri. Tetapi ia kurang mampu
untuk mengatakannya. Ia mengharap Mahisa Agni dapat membuka
jalan dari pembicaraan itu. Tetapi ketika Mahisa mengembalikan
persoalannya kepadanya, maka ia menjadi semakin gelisah.
Karena kesenyapan dan kegelisahan yang menyelubungi ruangan
itu, maka suasana pun menjadi tegang. Akuwu Tunggul Ametung
masih belum menemukan cara untuk menyatakan maksudnya,
sedang Mahisa Agni menjadi jemu untuk duduk menunggu dalam
ketegangan. Baginya apapun yang akan dihadapinya, lebih baik
segera didengarnya. Apakah Akuwu lebih dahulu akan memarahinya
karena sikapnya di saat-saat lampau, atau bahkan akan
menghukumnya. Namun baginya, duduk berdiam diri sambil
menundukkan wajahnya terlampau lama adalah menjemukan sekali.
Lebih baik baginya duduk di terik panas matahari yang membakar
punggungnya di padang Karautan.
Ken Dedes dan emban pemomongnya yang duduk di belakang,
merasakan pula ketegangan itu. Mereka melihat dengan hati yang
berdebar-debar kegelisahan yang semakin mencemaskan pada
Akuwu Tunggul Ametung dan pada Mahisa Agni. kegelisahan itu
telah menambah-nambah pula kecemasan dan kegelisahan Ken
Dedes sendiri. Serasa tangannya ingin mendorong Akuwu untuk
segera mengatakan maksudnya sebelum ketegangan itu meledak
tanpa terkendali.
(bersambung )
Jilid 19
AKUWU YANG GELISAH ITU PUN sebenarnya ingin pula lekaslekas
dapat mengatakan persoalannya. Tetapi kata-kata itu seakanakan
tersangkut di kerongkongannya.
Sedang Mahisa Agni telah bertekad untuk tidak akan mengatakan
lebih dahulu apakah sebabnya ia menghadap. Kalau Akuwu itu
sekali lagi bertanya maka ia sudah menyediakan jawabnya, bahwa
ia hanyalah sekedar dipanggil.
Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun menyadari
bahwa lambat atau cepat ia harus mengatakannya. Ia menyesal
bahwa ia tidak memanggil beberapa orang tua untuk menghadap
dan dapat menyampaikan maksudnya tanpa kesulitan apa-apa.
Tetapi semalam pikirannya tak sempat meloncat sampai sejauh itu.
Ia demikian tergesa-gesa dan berdebar-debar.
Lambat laun maka Akuwu Tunggul Ametung itu mampu
menguasai perasaannya. Lambat laun hatinya menjadi tenang.
Sehingga akhirnya, meskipun tidak teratur dan hampir tak terdengar
ia berkata, “Agni. Aku kira kau sudah tahu maksudku, kenapa aku
keras memanggilmu. Kalau aku bukan Akuwu Agni, mungkin aku
tidak berkeberatan untuk datang kepadamu sebagai lazimnya lakilaki
menginginkan seorang istri. Sayang aku adalah seorang Akuwu
yang terikat oleh ketentuan-ketentuan yang tak kalah erat seperti
ikatan adat itu sendiri.”
Tunggul Ametung berhenti sejenak untuk menelan ludahnya.
Terasa kerongkongannya menjadi kering. Dan tiba-tiba Akuwu
Tunggul Ametung menjadi haus sekali. Namun ia kemudian berkata
pula, “Sekarang kau sudah datang memenuhi panggilanku meskipun
harus dilakukan berulang kali. Tetapi tak apalah. Yang penting kau
dapat mendengar dari mulutku, bahwa aku ingin mengambil Ken
Dedes, adikmu untuk menjadi permaisuriku.”
Mahisa Agni mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh
Akuwu Tunggul Ametung itu seperti ia mendengarkan keputusan
hukuman gantung untuk dirinya. Betapa ia berusaha menekan
perasaannya, bahkan betapa ia berjuang untuk menindasnya,
namun detak jantungnya menjadi semakin keras. Tak dapat lagi ia
kini memungkiri perasaannya itu. Ia harus melepaskan dan
menyerahkan kepada orang lain, apa yang diinginkannya untuk
dirinya sendiri.
Sesaat Mahisa Agni duduk mematung. Kepalanya dalam-dalam
terhunjam seakan-akan ingin dilihatnya pusar bumi. Nafasnya
menjadi semakin cepat mengalir seperti saling berebutan ingin
meloncat keluar dari rongga dadanya yang panas.
Akuwu Tunggul Ametung, Ken Dedes dan pemomongnya melihat
perubahan yang terjadi dalam diri Mahisa Agni itu. Tetapi tanggapan
mereka berbeda-beda.
Tunggul Ametung sudah merasa melepaskan semua yang
menyumbat dadanya dengan cara yang dianggapnya sebaikbaiknya.
Karena itu ia mengharap bahwa gejolak di dalam dada
Mahisa Agni adalah gejolak perasaan seorang kakak yang
berbahagia karena adiknya menemukan kebahagiaannya. Meskipun
Tunggul Ametung menduga pula bahwa pasti ada sesuatu perasaan
yang masih belum dapat diatasi oleh Mahisa Agni. Pasti ada sesuatu
yang kurang menyenangkan kakak gadis itu, ternyata dengan
beberapa kali ia menolak panggilannya. Tetapi kini Tunggul
Ametung itu merasa telah menyampaikan dengan sebaik yang dapat
dilakukannya.
“Mudah-mudahan perasaan anak muda itu sedang berkisar ke
arah yang aku harapkan,” desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam
hatinya. Namun kadang-kadang timbul pula sifat-sifatnya yang
sekeras batu, katanya di dalam hati itu pula, “supaya aku tidak
perlu
mempergunakan kekuasaanku atasnya.”
Sedang Ken Dedes sendiri terkejut mendengar kata-kata Akuwu
yang sama sekali tidak diduganya. Ternyata Akuwu yang terlalu
menuruti perasaan sendiri itu, mampu menguasai diri sehingga kali
ini ia telah bersedia merendahkan dirinya dalam batas kemungkinan
yang dapat dilakukan. Karena itu, ketika Ken Dedes mendengar cara
Akuwu Tunggul Ametung menyampaikan maksudnya, meskipun
katanya tidak tersusun sebaik-baiknya, namun isi dari kata-kata itu
telah membuatnya terharu.
Tetapi dalam pada itu, kegelisahannya tiba-tiba memuncak ketika
ia melihat bagaimana Mahisa Agni sama sekali masih belum
menjawab permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu. Ia melihat
Mahisa Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam, tetapi beberapa
kali Mahisa Agni menggeser diri seolah-olah ia duduk di atas bara
api. Yang mula-mula terungkit di dalam perasaan Ken Dedes adalah
kejengkelannya kepada kakaknya itu. Ia menganggap bahwa Mahisa
Agni masih belum dapat melepaskan harga dirinya yang
berlebihlebihan.
Sikap akuwu yang lunak dan merendahkan diri itu, pasti
dianggapnya suatu kekalahan dari Akuwu Tunggul Ametung yang
akan mendorong Mahisa Agni untuk menjadi lebih membanggakan
diri. Mahisa Agni pasti menganggap bahwa akhirnya akuwu itu harus
datang untuk menyembahnya memohon agar ia diperkenankan
memperistri adiknya.
“Tidak,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya, “sekarang aku
telah melihat sendiri, betapa Kakang Mahisa Agni mempunyai sikap
yang tidak aku sukai. Ia sama sekali tidak mencerminkan watak
ayah yang juga menjadi gurunya. Kakang Mahisa Agni ternyata
terlalu sombong, terlalu menilai dirinya terlampau tinggi dan
berharga, seolah-olah ia benar-benar berhak menerima
penghormatan yang berlebih-lebihan karena aku, karena Akuwu
akan mengambil aku tidak segera menyadari dirinya, maka aku akan
mengatakan kepada Akuwu Tunggul Ametung bahwa Kakang
Mahisa Agni, kakak angkatku itu sama sekali bukan orang yang
cukup penting untuk menentukan sikap. Bahkan apabila ia menjadi
terlampau sombong, biarlah ia diabaikan saja. Tidak dengan Mahisa
Agni semuanya akan dapat berlangsung.”
Tetapi Mahisa Agni masih juga belum menjawab. Ia harus
mengulangi keadaannya yang pedih seperti pada saat ia harus
menyampaikan persoalan yang serupa kepada Wiraprana. Namun
karena kini ia harus berhadapan dengan orang yang tidak seimbang
dalam segenap seginya, terasa dirinya menjadi semakin kecil dan
tidak berarti apa-apa.
Ruang paseban dalam yang sepi menjadi bertambah sepi. Mahisa
Agni masih belum mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan keringat
dingin mengalir memenuhi tubuhnya.
Dalam pada itu, emban tua, pemomong Ken Dedes itu pun
menjadi semakin gelisah pula. Hanya perempuan tua itulah yang
dapat meraba perasaan Mahisa Agni mendekati kebenaran. Ia
melihat betapa hati anak itu tergores kembali pada lukanya yang
lama. Luka yang sudah hampir tidak terasa pedihnya, kini tiba-tiba
luka itu kembali menyakitinya.
Tetapi emban tua itu tidak dapat melihat segalanya akan
berkembang semakin buruk. Ia tidak ingin melihat semuanya akan
menjadi korban keadaan yang sama-sama tidak dikehendaki. Karena
itu, maka tiba-tiba terdengar emban itu berdesah. Bukan saja
berdesah, tetapi perempuan tua itu tidak dapat menahan
perasaannya pula, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak.
Tangis itu mengejutkan semua orang yang berada di dalam
ruangan itu. Dengan serta-merta semuanya berpaling ke arah
perempuan tua yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak
tangannya.
“Bibi,” terdengar Ken Dedes bertanya dalam kecemasan, “kenapa
kau menangis bibi?”
Perempuan itu mencoba mengusap air matanya dan menahan
isaknya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya Ken Dedes
berkisar mendekatinya, sedang Mahisa Agni memandanginya
dengan penuh kecemasan pula.
Tetapi kemudian mereka melihat perempuan tua itu
menggelengkan kepalanya. Dicobanya untuk tersenyum dan
menjawab, “Hamba tidak apa-apa, Tuan Putri.”
“Tetapi kenapa kau menangis?”
“Hamba menangis karena kebahagiaan yang mendesak di dalam
hati hamba,” sahut perempuan tua itu.
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Mahisa Agni pun
memandanginya dengan pertanyaan yang bergolak di dalam rongga
dadanya. Sedang Akuwu Tunggul Ametung duduk di tempatnya
seperti patung.
“Hamba tidak dapat menahan rasa haru,” berkata perempuan tua
itu pula, “hamba melihat bahwa kedua momonganku di sini berada
dalam keadaan yang tak pernah dapat dibayangkan sebelumnya.
Tuan putri akan menjadi seorang permaisuri, sedang Angger Mahisa
Agni akan menemukan dirinya sebagai seorang saudara tua yang
melepas adiknya dalam kebahagiaan. Bukankah dengan demikian
Angger Mahisa Agni sendiri akan menemukan kebahagiaan itu pula,
ia akan melihat salah seorang dari tunas di dalam keluarganya,
mekar berkembang dalam taman yang indah. Dijagai oleh seorang
juru taman yang perkasa dan bijaksana.”
Emban tua itu berhenti sejenak. Raut mukanya yang berkeriput
itu masih dibasahi oleh air matanya yang menetes satu-satu.
Ken Dedes tidak menyahut. Ia tertunduk pula dengan rasa haru
yang mendalam. Namun perasaan kecewanya terhadap Mahisa Agni
masih saja selalu mengganggunya.
Namun kata-kata emban tua itu bagi Mahisa Agni terasa seolaholah
sebuah sentuhan yang tajam pada luka di hatinya. Karena itu,
maka terasa dadanya menjadi nyeri bukan buatan. Ia tahu benar
maksud kata-kata perempuan tua itu. Perempuan tua yang tidak
lain adalah ibunya. Ibunya yang pasti akan berkata kepadanya,
“Agni, berbuatlah sebaiknya. Jangan kau ingat kepentingan yang
mencengkam dirimu sendiri.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pengorbanan yang
diberikannya terasa terlampau berat. Tetapi ia tidak dapat berbuat
lain. Apalagi setelah ia mendengar ibunya mengucapkan katakatanya
yang diketahuinya benar, bahwa kata-kata itu diucapkan
kepadanya sebagai suatu permintaan untuk melepaskan Ken Dedes
dengan dada yang lapang. Tetapi dadanya tidak selapang seperti
yang dikehendakinya.
Namun demikian, dalam keheningan yang semakin mencengkam,
Mahisa Agni bergeser setapak. Sekali ia menelan ludahnya,
kemudian dengan tangannya ia mengusap lehernya yang seolaholah
tersumbat. Perlahan-lahan terdengar suaranya parau dalam
nada yang rendah.
“Akuwu,” katanya, “tiada yang dapat hamba sampaikan, kecuali
perasaan bahagia yang setinggi-tingginya, bahwa Akuwu telah
berkenan memungut adik hamba yang hina, anak pedesaan yang
tidak berharga, untuk tinggal di dalam istana. Bahkan bukan sebagai
hamba sahaya, tetapi untuk menjadi seorang permaisuri.”
Kata-kata Mahisa Agni terputus oleh gejolak di dalam dadanya.
Dicobanya untuk menekan perasaannya sedalam-dalamnya. Baru
sesaat kemudian ia mampu meneruskan, “Karenanya maka tiada
lain yang dapat hamba lakukan, kecuali menyerahkannya dengan
kedua belah tangan.”
Bukan main pengaruh kata-kata yang meluncur dari mulutnya itu.
Pengaruh atas orang-orang yang mendengarnya. Ken Dedes hampir
tidak percaya atas pendengarannya. Namun ketika disadarinya
bahwa Mahisa Agni benar-benar telah menyerahkannya kepada
Akuwu Tunggul Ametung, maka meledaklah kegembiraan dan
harunya, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak, seperti
embannya yang menangis pula. Namun apa yang bergolak di dalam
hati emban itu adalah sangat berbeda dengan kelegaan dan
keharuan yang bergolak di dalam hati Ken Dedes. Keharuan di
dalam hati emban tua itu terdorong oleh keikhlasan Mahisa Agni
mengucapkan kata-katanya yang diketahuinya dengan pasti, bahwa
setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni itu sama tajamnya
seperti ujung-ujung tombak yang menusuk menghunjam ke jantung
sendiri. Tetapi Mahisa Agni telah mengucapkannya.
Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung pun menjadi
bergembira sekali. Meskipun dengan cara apapun ia pasti akan
dapat memiliki Ken Dedes, namun cara yang dipakainya kini adalah
cara yang sebaik-baiknya. Cara yang masih dapat menolong
namanya dari berbagai sebutan yang kurang menyenangkan.
Demikian gembiranya maka Akuwu itu pun dengan serta-merta
berkata, “Bagus. Aku sangat berterima kasih padamu, Agni. Sebagai
tanda terima kasihku, maka aku akan menyediakan jabatan yang
pantas untukmu di dalam istanaku. Aku telah melihat bagaimana
kau mampu bertempur melawan Ken Arok. Karena itu aku dapat
memberimu jabatan yang sesuai dengan kemampuanmu itu.”
Ken Dedes yang bergembira itu menjadi semakin bergembira.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan mendapat kesempatan
pula untuk kenikmatan hidup yang baik di dalam istana. Apalagi
dengan demikian, anak muda itu tidak terpisah daripadanya seperti
pada masa kanak-kanak mereka.
“Agni,” berkata Akuwu Tunggul Ametung kemudian, “Aku dapat
menjadikan kau seorang prajurit. Kau tinggal melatih diri dalam
beberapa segi, terutama dalam hal tata tertib dan
ketentuanketentuan
yang harus ditaati oleh setiap prajurit. Kau akan dapat
menjadi seorang prajurit pengawal istana yang baik di dalam
lingkungan pimpinan Witantra. Kau akan mendapat tugas khusus
daripadanya, sebagai pimpinan pengawal permaisuri. Bukankah
jabatan itu akan menyenangkan kau dan adikmu?”
Kegembiraan di hati Ken Dedes kini telah memuncak. Dengan
serta-merta ia menjawab, “Terima kasih Tuanku Akuwu Tunggul
Ametung. Dengan demikian maka kakak hamba akan selalu berada
di dekat hamba seperti pada masa-masa yang lampau, pada masa
kami tinggal bersama-sama di padepokan.”
Tetapi kegembiraan mereka itu pun kemudian terganggu ketika
mereka melihat wajah Mahisa Agni yang masih saja tertunduk
dalam-dalam. Tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu menyentuh
juga jantung Mahisa Agni. Namun secepat itu pula tumbuhlah
berbagai pertimbangan yang memberati hatinya. Di dalam
lingkungan prajurit pengawal itu ada seorang anak muda yang sama
sekali tidak menyenangkan baginya. Anak muda itu bernama Kebo
Ijo yang justru adalah adik seperguruan Witantra. Kecuali daripada
itu ia masih mempunyai kewajiban yang tidak akan dapat
ditinggalkan. Ia tidak tahu, berapa hari, berapa minggu bahkan
berapa bulan bendungannya akan selesai. Ia tidak dapat
mengingkari tanggung jawabnya hanya karena ia telah mendapat
kedudukan yang baik.
“Aku harus selalu berada di antara mereka,” berkata Mahisa Agni
di dalam hatinya, “kedudukan ini harus tidak menggeser tanggung
jawabku.”
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, tersembunyi alasan yang
jauh lebih tajam dari segala alasan itu. Mahisa Agni tidak akan
dapat
tinggal di dalam istana itu, melihat setiap hari Ken Dedes yang
menjadi seorang permaisuri. Ia tidak yakin, apakah hatinya akan
dapat dikendalikannya? Meskipun ia selalu memaksa dirinya
memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menemukan
kebahagiaan lahir dan batin, namun sebagai manusia maka Mahisa
Agni menyadari dirinya, bahwa suatu ketika ia akan dapat menjadi
khilaf dan berbuat kesalahan. Itulah sebabnya maka ia harus
mempertimbangkan tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu masakmasak.
Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka terdengar
Akuwu Tunggul Ametung bertanya, “Bagaimana Agni? Apakah kau
tidak bergembira mendengar kesempatan yang aku berikan
kepadamu?”
Perlahan-lahan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tanpa
disengaja ia berpaling, dipandanginya wajah emban tua yang duduk
di belakang. Kemudian pandangannya itu berkesan kepada Ken
Dedes yang wajahnya seolah-olah kini tersaput oleh keragu-raguan
atas sikapnya.
Tetapi wajah Ken Dedes itu bahkan telah meyakinkan bahwa ia
tidak akan dapat tinggal di istana bersama-sama dengan Ken Dedes
yang akan menjadi permaisuri Akuwu Tunggul Ametung, Karena itu,
maka dengan nada datar Mahisa Agni menjawab, “Tuanku.
Anugerah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang tidak hamba
sangka-sangka itu benar-benar telah menggetarkan hati hamba.
Hamba menjadi sangat bergembira dan berterima kasih karenanya.
Tetapi Tuanku, mungkin Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah
mengetahuinya, bahwa kini hamba sedang disibukkan oleh suatu
tugas yang tidak dapat hamba tinggalkan.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Terasa bahwa
ia menjadi kecewa karenanya. Akuwu itu mengharap bahwa Mahisa
Agni akan terkejut dan dengan gemetar menyatakan kegembiraan
hatinya. Ia mengharap Mahisa Agni dengan serta-merta akan
menerima jabatan yang diberikannya itu. Bahkan Mahisa Agni akan
mengucapkan beribu-ribu terima kasih yang tidak henti-hentinya.
Sebagai seorang anak pedesaan, maka kedudukan yang sedemikian
baiknya itu pasti akan membuatnya berangan-angan. Tetapi Mahisa
Agni tidak berbuat demikian. Mahisa Agni itu mendengar segala
katanya itu dengan hati yang dingin dan dengan wajah yang tidak
berkesan apapun meskipun mulutnya mengucap terima kasih dan
bergembira karenanya.
Apalagi kemudian, jawab anak muda itu menjadikan dada Akuwu
Tunggul Ametung berdebar-debar. Anugerah pangkat itu masih juga
diperbandingkan dengan kewajiban yang lain.
Yang tidak kalah kecewa daripada Akuwu Tunggul Ametung
adalah Ken Dedes. Segera ia mengetahui maksud Mahisa Agni
tentang kewajiban yang dikatakannya itu. Sehingga hampir tanpa
disadarinya gadis itu berkata mendahului Akuwu Tunggul Ametung,
“Kakang, agaknya akan selalu terikat dengan pekerjaan itu.
Bukankah tugas yang kau maksud adalah bendungan itu. Setiap kali
kau menyebutnya. Setiap kali kau mengatakan, bahwa kau terikat
pada bendungan itu. Sekarang, pada saat Kakang menerima
anugerah yang tidak disangka-sangka dari Akuwu Tunggul
Ametung, Kakang telah memperbandingkannya pula dengan
pekerjaan Kakang untuk bendungan itu pula. Kakang, sebenarnya
alasan-alasan yang pernah Kakang katakan itu sangat
menjemukan.”
Ken Dedes itu pun tiba-tiba terdiam ketika ia melihat Mahisa Agni
menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap lehernya yang
menjadi panas. Bahkan Ken Dedes itu pun kemudian merasa bahwa
ia telah terdorong terlampau jauh oleh kekecewaan yang bergelora
di dalam dadanya.
Namun Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia masih menunggu
apakah masih ada lagi kata-kata yang akan diucapkan oleh Ken
Dedes. Tetapi Ken Dedes itu pun kemudian menundukkan wajahnya
pula sambil bergumam lirih, “Maafkan hamba, Tuanku Akuwu.”
Akuwu Tunggul Ametung itu mengerutkan keningnya. Betapa ia
menjadi kecewa namun ia masih bertanya, “Benarkah yang kau
maksud dengan tugas yang tak dapat kau tinggalkan itu adalah
bendungan itu?”
Mendengar pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu hati Mahisa
Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak ingin mengingkari tugas
yang telah dibebankannya sendiri di atas pundaknya. Sehingga
karena itu maka kemudian ia menjawab lirih sambil menundukkan
wajahnya, “Ya Tuanku. Tugas hamba adalah menyelesaikan
bendungan itu.”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Terdengar
kemudian ia bertanya kembali, “Apakah pamrihmu Agni, bahwa kau
lebih mementingkan bendungan itu daripada jabatan yang aku
berikan?”
Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Ia harus mengatakan
menurut kata hatinya. Ia akan membuka dadanya tanpa selembar
aling-aling. Sambil menengadahkan wajahnya Mahisa Agni itu pun
kemudian menjawab, “Tuanku. Seperti yang hamba katakan, hamba
menjadi sangat bergembira dan berterima kasih atas anugerah
jabatan yang tiada hamba sangka-sangka. Tetapi Tuanku, hamba
mohon maaf yang sebesar-besarnya, bahwa hamba pada saat ini
belum dapat menerima anugerah itu, sebab hamba masih terikat
oleh tanggung jawab atas bendungan itu. Dengan jabatan yang
Tuanku anugerahkan itu, mungkin hamba akan dapat hidup senang
tanpa memikirkan lagi kesulitan seperti yang sedang dialami oleh
rakyat Panawijen. Hamba tidak lagi harus menunggu air di selokan
dan hamba tidak lagi harus prihatin apabila sawah-sawah menjadi
kering. Tetapi Tuanku, maafkan hamba, bahwa hati hamba tidak
sampai untuk melakukannya. Sejak kecil hamba hidup dalam satu
lingkungan suka dan duka bersama-sama rakyat Panawijen. Itulah
sebabnya hamba masih mohon waktu untuk menerima anugerah
Tuanku. Hamba ingin berada di antara rakyat Panawijen yang kini
sedang menderita kekeringan. Hamba ingin ikut merasakan, betapa
kami harus memeras keringat kami untuk masa depan padukuhan
kami. Apabila semua telah selesai, apabila rakyat Panawijen telah
hidup dalam keadaan yang baik, maka hamba akan menghadap
Tuanku kembali. Jangankah sebuah jabatan yang tidak hamba
impikan itu, bahkan menjadi juru taman atau juru pakatik pun akan
hamba lakukan.”
Yang mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun tertegun diam.
Kata-kata itu benar-benar telah menyentuh hati mereka. Akuwu pun
sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dipandanginya
wajah Mahisa Agni yang memancarkan kebulatan tekadnya, bahwa
ia telah menyerahkan seluruh dirinya kepada pekerjaan yang berat
itu.
Namun Ken Dedes, yang betapa ia sendiri merasa dihadapkan
pada sebuah cermin, tetapi ia merasa cemas, bahwa Akuwu
Tunggul Ametung tidak akan senang mendengar jawaban Mahisa
Agni itu. Meskipun kini Ken Dedes tidak lagi dapat berteriak
memaki-maki Mahisa Agni, tetapi justru ia mencemaskah nasib
Mahisa Agni, apabila Akuwu Tunggul Ametung merasa terhina
karenanya.
Tetapi Akuwu Tunggui Ametung dapat mengerti pendirian Mahisa
Agni, ternyata dengan jawabannya, “Mahisa Agni. Aku bangga. Aku
bangga mendengar pendirianmu. Satu dari seratus pasti akan
menerima anugerah itu tanpa memikirkan orang lain. Tetapi kau
berpendapat lain. Kau masih mementingkan kepentingan bersama
dari kepentinganmu itu adalah suatu sikap yang jarang terjadi pada
saat ini. Pada saat setiap orang menginginkan gelar duniawi. Karena
itu Mahisa Agni, aku mengucapkan selamat atas pendirianmu itu,
mudah-mudahan bendunganmu akan segera dapat kau selesaikan.”
Jawaban Akuwu itu pun sama sekali tidak disangka oleh Mahisa
Agni dan oleh Ken Dedes pula. Karena itu, sambil membungkukkan
kepalanya dalam-dalam Mahisa Agni menyahut, “Tiada anugerah
yang lebih membahagiakan hamba Tuanku, selain pengertian
Tuanku tentang diri hamba.”
“Mudah-mudahan pendirianmu itu akan tetap teguh sehingga
orang-orang Panawijen yang lain pun akan berpendirian seteguh
pendirianmu. Kemakmuran Panawijen adalah sebagian dari
kemakmuran Tumapel.”
Betapa besar hati Mahisa Agni menerima pujian itu. Bukan
karena ia mendapat penghargaan, tetapi bahwa Akuwu Tunggul
Ametung dapat mengerti sepenuhnya tentang dirinya. Bahkan
dengan hati yang berdebar-debar ia mendengar Akuwu Tunggul
Ametung berkata, “Mahisa Agni. Sepeninggalmu aku akan
memerintahkan beberapa orang untuk menyusulmu. Aku akan
mengirimkan sekelompok prajurit. Aku akan menyuruh seorang
pelayan dalam yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya
menyusulmu. Orang itu adalah Ken Arok. Ia akan membawa dua
puluh lima pedati yang ditarik oleh dua puluh lima pasang kerbau,
alat-alat lain yang kau perlukan, dua puluh waluku dengan dua
puluh pasang lembu untuk melunakkan tanah yang akan digali
menjadi parit-parit dan keperluan-keperluan yang dapat aku
berikan.”
Dada Mahisa Agni terasa hampir meledak mendengar janji itu.
Meledak karena kegembiraan yang mendesak. Dengan serta-merta
ia membungkuk lebih dalam lagi sambil menjawab dengan suara
parau, “Tuanku, betapa besar terima kasih yang hamba sampaikan.
Hamba tidak tahu, bagaimana hamba akan mengatakannya.”
Mahisa Agni terdiam sesaat untuk menelan ludahnya. Terasa
tenggorokannya menjadi seolah-olah tersumbat. Namun dipaksanya
juga ia berkata, “Hamba beserta seluruh rakyat Panawijen akan
menanti kedatangan anugerah dan kemurahan Tuanku itu dengan
sepenuh hati.”
Kini Mahisa Agni merasa, bahwa pengorbanannya tidak lagi siasia.
Ia telah meremas jantungnya sendiri pada saat ia menyerahkan
Ken Dedes itu kepada Akuwu karena persoalan-persoalan yang
berlaga di dalam dadanya. Namun tanpa diharapkannya, ia
mendapatkan sesuatu yang sangat berharga tidak saja bagi dirinya
sendiri, tetapi bagi seluruh rakyat Panawijen. Dua puluh lima
pedati
yang ditarik oleh dua puluh lima pasang kerbau. Dua puluh waluku
dengan dua puluh pasang lembu. Bukan main. Seluruh Panawijen
tidak memiliki perlengkapan sebanyak itu. Ia hanya mampu
mengumpulkan empat pedati untuk mengangkut batu-batu dan
keperluan-keperluan lain di samping dua belas waluku. Namun kini
ia akan mendapat tambahan dua puluh lima pedati kerbau dan dua
puluh waluku.
Justru karena itulah maka Mahisa Agni kemudian menjadi
tergesa-gesa untuk kembali. Ia ingin segera menyampaikan kabar
yang menggembirakan itu kepada kawan-kawannya.
Dengan wajah yang berseri karena kegembiraan Mahisa Agni
berkata, “Tuanku, biarlah hamba mohon izin untuk kembali ke
Panawijen. Anugerah Tuanku itu pasti akan menambah gairah bagi
rakyat. Mudah-mudahan bendungan itu akan lekas selesai.”
“Jangan sekarang,” jawab Akuwu, “kau harus tinggal di dalam
istana ini sedikitnya sepekan. Aku ingin menjamumu supaya kau
mendapat kesan yang menyenangkan selama kau berada di dalam
istanaku.”
“Terima kasih Tuanku, terima kasih,” sahut Mahisa Agni.
Anak muda itu telah melupakan kepedihan luka di hati sendiri.
Yang menguasai jantungnya kini hanyalah pedati, alat-alat dan
apapun yang akan sangat berguna bagi bendungannya, “Hamba
ingin lekas berada di antara rakyat Panawijen kembali.”
Tunggul Ametung tertawa. Katanya, “Bagus. Tetapi aku tidak
memberimu izin sekarang. Tinggallah di dalam istanaku sehari dua
hari kalau kau tidak mau tinggal selama sepekan.”
Mahisa Agni akhirnya tidak dapat menolak permintaan Akuwu
Tunggul Ametung. Betapa ia ingin segera pulang kembali, namun ia
memenuhi juga permintaan itu untuk tinggal dua hari di istana
Tumapel.
Namun betapa makanan yang lezat-lezat ditelannya, tetapi ia
lebih senang segera berada di antara kawan-kawannya. Meskipun
demikian, ia tidak mau mengecewakan Akuwu dan Ken Dedes.
Dimakannya setiap hidangan yang diberikan kepadanya dengan
wajah yang terang, meskipun sekali-sekali terasa juga seolah-olah
jantungnya tertusuk duri. Tetapi dalam waktu yang pendek itu, ia
tahu benar, betapa Akuwu Tunggul Ametung menghargai Ken
Dedes benar-benar sebagai seorang gadis yang pantas untuk
menjadi permaisurinya. Karena itu, maka ia mengharap bahwa Ken
Dedes akan benar-benar menemukan kebahagiaan di hari-hari
depannya.
Namun akhirnya Mahisa Agni mohon diri pula kepada Akuwu
Tanggul Ametung. Waktu yang hanya dua hari itu terasa sudah
terlampau lama. Bendungan yang ditinggalkannya seakan-akan
selalu memanggil-manggilnya untuk segera kembali ke padang
Karautan yang panas terik di siang hari dan dingin yang menggigit
tulang belulang di malam hari. Tetapi ia lebih senang tinggal di
padang itu daripada di dalam istana.
“Aku kira kau telah memilih jalan yang benar, Agni,” bisik emban
tua kepada anak muda itu, ketika Agni akan meninggalkan istana
Tumapel.
“Aku mohon restu Ibu, mudah-mudahan aku dapat berhasil
membangun padukuhan yang tidak kalah suburnya dengan
Panawijen,” sahut Mahisa Agni.
“Kalau kau bekerja dengan sungguh-sungguh Ngger, serta tanpa
kendat mohon tuntunan kepada Yang Maha Agung, maka
pekerjaanmu pasti akan direstuiNya.”
Pesan itu merupakan bekal yang tidak kalah pentingnya dengan
dua puluh lima pedati dan dua puluh waluku. Dengan sungguhsungguh
Mahisa Agni akan mencoba memenuhinya. Sebab segala
sesuatu, usaha yang dilakukan oleh manusia, maka akhirnya Yang
Maha Agunglah yang akan menentukan. Namun Yang Maha Agung
akan mendengarkan, menyaksikan dan memenuhi permohonan
manusia yang dengan sungguh-sungguh berjalan sepanjang jalan
yang dikeheadakiNya.
Demikianlah maka akhirnya Mahisa Agni meninggalkan istana
Tumapel. Ken Dedes kini tidak lagi kecewa terhadapnya, bahkan
terasa kebanggaan menjalari dadanya pula. Setidak-tidaknya satu
dari keluarganya telah ikut membina padukuhan baru yang akan
dapat menampung seluruh penghidupan dan kehidupan Panawijen
yang kini telah menjadi kering.
Mahisa Agni sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah memacu
kudanya terlampau cepat. Ia merasa begitu tergesa-gesa, seolaholah
hari-harinya yang akan datang akan menjadi terlampau
pendek.
“Aku akan singgah ke Panawijen dahulu,” katanya di dalam hati,
“mungkin ada beberapa hal yang perlu aku pesankan kepada para
cantrik di padepokan atau kepada orang-orang tua yang menunggui
desa. Mungkin pedati-pedati dari Tumapel akan lebih dahulu
singgah di Panawijen, sebab aku lupa berpesan, supaya pedatipedati
itu langsung saja dikirim ke padang Karautan.”
Dalam pada itu, di bagian lain dari ujung wilayah pemerintahan
Akuwu Tunggul Ametung, Empu Sada dan kedua muridnya berjalan
tergesa-gesa ke Kemundungan. Mereka telah berpesan agar
beberapa orang murid-muridnya dan murid-murid orang yang
menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo menyingkir sejenak dari
padepokan Empu Sada, sebab mungkin Witantra akan berbuat
sesuatu atas mereka dengan sepasukan prajurit dalam jumlah yang
besar. Mereka harus bersembunyi di tempat-tempat yang tidak
begitu dikenal untuk sementara.
Sementara itu Empu Sada dan kedua muridnya langsung mencari
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bagi Kuda Sempana perjalanan itu
seakan-akan terasa terlampau lama.
“Apakah kita masih harus bermalam lagi guru?” bertanya Kuda
Sempana.
“Tidak,” sahut gurunya, “kita cukup bermalam di perjalanan satu
malam. Hari ini kita akan sampai meskipun menjelang senja.”
Kuda Sempana tidak bertanya lagi. Merela berjalan semakin
cepat, seolah-olah mereka takut terlambat.
Di sepanjang jalan, kadang-kadang Empu Sada sempat juga
bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah yang telah mendorongnya
berjalan demikian jauhnya mencari orang-orang yang hampir tak
dapat diajak bergaul menurut adab yang berlaku?
“Hem,” desisnya. Ia mulai ragu-ragu sendiri, “apakah aku akan
dapat mempergunakannya? Mereka berdua adalah orang-orang
yang liar, sebenarnya liar. Mudah-mudahan aku akan mampu
mengendalikannya.”
Tetapi orang tua itu tidak mengatakannya kepada muridnya.
Meskipun Kuda Sempana kadang-kadang melihat keragu-raguan itu,
namun ternyata gurunya masih juga melangkahkan kakinya menuju
ke desa Kemundungan. Tongkatnya yang panjang di tanah yang
berdebu.
Bagi Kuda Sempana keraguan gurunya itu telah benar-benar
mengecewakan. Ia tahu benar sifat gurunya. Gurunya hanya mau
berbuat sesuatu apabila ada pamrih yang dapat memberinya
keuntungan. Karena itu, maka berkali-kali ia menjanjikan kepada
gurunya, bahwa apabila ada keuntungan yang akan didapatnya
berupa benda-benda maka ia sama sekali tidak menginginkannya.
“Apakah yang akan aku dapatkan dari bendungan itu apabila kita
kelak akan merusak bendungan dan membunuh Mahisa Agni?”
suatu kali Empu Sada bertanya.
Kuda Sempana tidak dapat menjawab. Memang ia tidak melihat
keuntungan yang berwujud benda-benda berharga dari perbuatan
itu. Perbuatan itu hanyalah sekedar pelepasan dendam yang
membara di dada Kuda Sempana.
“Kuda Sempana,” berkata gurunya, “kali ini kau jangan menilai
tenagaku dengan upah yang dapat kau berikan. Kalau kau ingin
berbuat demikian, maka harta seluruh istana Tunggul Ametung di
Tumapel tidak cukup bernilai dibandingkan dengan apa yang telah
dan akan aku lakukan untukmu. Tetapi aku benar-benar terdorong
oleh suatu rasa bertanggung jawab dari seorang guru terhadap
muridnya. Aku malu melihat sikap Panji Bojong Santi yang selalu
melindungi murid-muridnya apabila benar-benar dihadapkan pada
suatu bahaya.”
“Terima kasih, Guru,” sahut Kuda Sempana dalam nada yang
datar. Tetapi hatinya berkata, “Omong kosong! Aku kenal kau sejak
lama. Betapa kau dicengkam oleh ketamakanmu atas harta dan
benda.”
Bahu Reksa Kali Elo yang ikut dalam perjalanan itu, hampir tidak
ikut serta dalam setiap pembicaraan. Namun semakin lama ia pun
menjadi semakin jemu atas sikap Kuda Sempana. Semakin lama,
setelah ditimbangnya, maka ia tidak akan mendapat apapun dari
perbuatan-perbuatannya yang berbahaya itu. Ketika ia bersama
Kuda Sempana mencoba menculik Ken Dedes dari tengah-tengah
hutan, maka ia masih mengharap, mungkin calon permaisuri Akuwu
Tunggul Ametung itu membawa perhiasan yang sangat berharga,
yang dapat menebus lelah dan bahaya yang telah dilakukannya.
Tetapi kini harapan itu hampir tidak dilihatnya. Meskipun demikian,
ia masih juga berjalan mengikuti gurunya. Siapa tahu, bahwa suatu
ketika ia melihat persoalan yang dapat memberinya banyak
keuntungan. Mungkin ia akan mendapat lubang-lubang yang dapat
membuka hubungan lain yang justru lebih baik, hubungan
perdagangan dengan orang-orang yang ditemuinya.
Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin mendekati
padukuhan Kemundungan. Perjalanan itu kini menembus hutanhutan
perdu yang tipis. Kemudian mereka sampai pada tanah
berbatu-batu yang gundul. di sana sini tampak tanah yang berwarna
cokelat keputih-putihan. Di sebelah bukit-bukit gundul itulah
terletak
desa terpencil yang bernama Kemundungan. Desa yang jauh lebih
kecil dan terpencil dari padukuhan Panawijen. Tak banyak yang
dapat diketahui orang tentang desa terpencil itu.
Melihat daerah yang gundul tandus dan pohon-pohon cemara
yang kurus menjulang tinggi, hati Kuda Sempana menjadi berdebar.
Belum pernah ia melihat daerah yang segersang itu. Ia pernah
melihat daerah Panawijen yang kering. Tetapi tidak segarang alam
yang dihadapinya. Tanah yang berbatu-batu, berwarna cokelat
keputihan.
Empu Sada yang berjalan di paling depan, berpaling sambil
berkata, “Inilah padukuhan kecil itu Kuda Sempana.”
“Pegunungan batu, Guru.”
Empu Sada tersenyum.
“Ya,” jawabnya, “pegunungan yang keras ini agaknya telah
membantu membuat Kebo Sindet dan Wong Sarimpat memiliki
kelakuannya sekarang.”
“Apakah mereka tinggal di daerah ini sejak kecilnya?” tanya
orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.
“Aku tidak tahu,” sahut Empu Sada, “tetapi di sini dahulu tinggal
seorang sakti. Orang itu adalah guru Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat.
“Siapakah orang sakti itu?”
“Aku baru melihatnya dua kali. Orang itu adalah kawan guruku.
Tetapi mereka mempunyai sifat yang jauh berbeda.”
“Apakah perbedaan itu?”
Empu Sada menelan ludahnya. Ia tidak dapat mengatakannya,
sebab selama ini sikap dan kelakuannya sendiri tidak dapat
dibanggakannya seperti ia ingin membanggakan gurunya. Karena
itu maka orang tua itu pun terdiam.
“Bagaimana, Guru,” desak Kuda Sempana.
“Aku tidak tahu,” jawab Empu Sada akhirnya, “aku tidak tahu
perbedaan di antara keduanya. Tetapi yang aku dengar, orang sakti
yang tinggal di dalam gua di dekat Kemundungan itu adalah
seorang bangsawan dari Daha. Tetapi bangsawan itu merasa dirinya
terhina dan terbuang dari lingkungannya karena kesalahan yang tak
dapat diampuni lagi. Beruntunglah bangsawan itu tidak mendapat
hukuman sapu sampai mati seperti yang berlaku bagi kesalahan
serupa.”
“Apakah kesalahan itu?”
Empu Sada terdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata pala,
“Aku tidak tahu pasti. Menurut guruku, bangsawan itu telah
melanggar hubungan kekeluargaan.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya, katanya, “Kesalahan
yang dicari-cari.”
Empu Sada memandang wajah muridnya itu. Wajah yang merah
hitam dibakar oleh sinar matahari seperti wajahnya sendiri. Tetapi
Empu Sada tidak menyahut. Seperti Kuda Sempana sendiri yang
saat ini sedang mencoba melanggar hubungan kekeluargaan
meskipun sedang dijalin. Justru keluarga Akuwu Tunggul Ametung.
Karena itu, maka adalah wajar bahwa Kuda Sempana tidak senang
mendengar jenis kesalahan itu.
Kini sejenak mereka berdiam diri. Di hadapan mereka tampak
segerombol pepohonan yang hijau. Itulah desa Kemundungan.
Setapak-setapak mereka berjalan maju menyusuri jalan sempit di
lambung bukit-bukit gundul. Sekali-sekali kaki-kaki mereka
menginjak ujung-ujung batu yang runcing dan sekali-sekali duri-duri
liar yang tumbuh di sisi-sisi jalan.
Tiba-tiba Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Desisnya,
“Jangan terkejut apabila kau nanti melihat keanehan-keanehan
kedua orang itu.”
“Macam apakah keanehan itu guru?” bertanya Kuda Sempana.
“Sifat dan wataknya yang dapat kau lihat pada gerak-gerik
mereka.”
Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi
semakin bimbang. Tanpa disangka-sangka ia berkata, “Apakah kita
tidak dapat berbuat lain tanpa mereka?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah
saudara seperguruannya itu dengan tajamnya.
“Kenapa?” desisnya.
“Apakah kita tidak berusaha mencari jalan lain?” katanya pula.
“Kau melemahkan hatiku,” sahut Kuda Sempana cepat-cepat,
“tak ada jalan lain. Yang kita hadapi adalah Empu Purwa, Panji
Bojong Santi dan tukang keris yang gila itu. Apakah guru sendiri
bersama kita mampu menghadapinya, seperti yang pernah terjadi di
hutan dekat padang Karautan itu?”
Cundaka tidak menjawab. Ia tahu benar betapa keras hati
saudara seperguruannya. Tetapi gurunyalah yang berkata, “Aku
melihat jalan lain, Kuda Sempana.”
“Apa itu guru?”
“Kita tidak ingin membunuh Mahisa Agni atau mengambil Ken
Dedes.”
“Tidak!” teriak Kuda Sempana, “Itu harus terjadi! Dendam telah
membakar jantungku. Sedangkan tidak ada orang lain yang akan
dapat membantu aku selain guru dan kedua orang itu.”
Empu Sada menarik nafas panjang. Ia sudah terlanjur terlibat
sehingga sulit baginya untuk melepaskan dirinya. Kuda Sempana
adalah muridnya yang telah cukup lama berada di dalam
asuhannya. Bagaimanapun juga terasa adanya suatu ikatan di
antara mereka yang memaksa Empu Sada kali ini mencoba
memenuhi permintaan muridnya itu.
“Aku kenal keduanya,” gumamnya seperti kepada diri sendiri,
“mudah-mudahan aku dapat mengendalikannya.”
Belum lagi Empu Sada mengatupkan mulutnya, mereka
dikejutkan oleh suara lecutan yang keras, disusul oleh sebuah
teriakan nyaring, “He, siapa itu?”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Katanya
sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke sebuah ngarai yang
agak dalam. “Itu adalah salah seorang dari mereka. Agaknya
mereka tidak sedang mengembara.”
“Siapakah ia?” bertanya Cundaka yang menyebut dirinya Bahu
Reksa Kali Elo.
“Menilik bentuk tubuhnya yang pendek, ia adalah saudara yang
muda, Wong Sarimpat,” jawab gurunya.
Karena Empu Sada belum menjawab maka kembali terdengar
teriakan dari bawah kaki mereka, “He siapa kalian? Kalau kalian
tidak menjawab, aku dapat membunuh kalian dari sini.”
Sambutan itu telah membuat dada Cundaka berdesir. Sambil
mengerutkan keningnya ia berdesis, “Sambutan yang kasar.”
Empu Sada tersenyum.
“Itulah mereka,” katanya sambil mengangkat tongkat
panjangnya.
Tiba-tiba meledaklah tawa yang riuh dari bawah tebing itu.
Orang yang bertubuh pendek namun berdada lebar itu kemudian
berlari-lari ke arah seekor kuda yang sedang makan rumput.
Dengan gerak yang sangat lincah ia dengan serta-merta meloncat
ke atas punggung kuda tanpa pelana itu. Dengan satu sentakan
pada kendalinya, maka kuda itu pun berlari kencang sekali.
Mereka bertiga berdiri terpaku melihat ketangkasan Wong
Sarimpat bermain-main dengan kuda. Meskipun kuda itu sama
sekali tidak berpelana, namun Wong Sarimpat sama sekali tidak
mendapat kesulitan apapun ketika kuda itu berpacu mendaki tebing
menyongsong mereka.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
bergumam, “Mereka berdua adalah orang-orang yang cekatan. Aku
belum pernah melihat orang mampu menunggang kuda seperti
mereka berdua.”
Cundaka dan Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya
pula. Namun wajah mereka mengungkapkan perasaan yang
berbeda yang merayap di dalam dada masing-masing.
Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama
sekali tidak senang melihat sambutan yang kasar dan sombong itu,
namun Kuda Sempana menjadi kagum karenanya. Ia mengharap
bahwa orang itu benar-benar akan dapat membantu melepaskan,
sakit hatinya, membunuh Mahisa Agni dan menggagalkan usahanya
dan membuat bendungan. Bahkan kalau mungkin mendapatkan Ken
Dedes. Menculiknya dari istana Tumapel.
Kuda yang ditunggangi oleh Wong Sarimpat itu seperti merayap
tebing bukit gundul itu. Melingkar-lingkar menyusur dalam yang
sempit berbatu-batu. Namun Wong Sarimpat memacu kudanya
seperti dikejar setan.
“Mendebarkan,” gumam Kuda Sempana, “orang itu benar-benar
cakap menunggang kuda. Kalau tidak, maka ia pasti sudah
terpelanting masuk jurang.”
Empu Sada tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk.
Jarak itu sebenarnya tidak terlampau jauh, tetapi kuda itu tidak
dapat langsung meloncat mencapai mereka. Kuda itu harus
melingkari beberapa puntuk. Menghilang kemudian muncul kembali.
Namun di sepanjang perjalanan itu Wong Sarimpat telah berteriak
keras-keras, “He, Empu yang bertongkat panjang, apa kerjamu di
situ?”
Empu Sada tidak menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat
berteriak-teriak sendiri.
Akhirnya kuda itu muncul dari balik seonggok batu pada di
hadapan mereka. Seorang yang berwajah keras sekeras batu-batu
padas di bukit gundul, berbulu lebat dan berkumis melintang duduk
di atas punggungnya sambil bertanya, “Apakah kau sekarang bisu?”
Cundaka, yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo adalah
seorang yang kasar. Tetapi ketika ia mendengar pertanyaan Wong
Sarimpat terhadap gurunya, keningnya berkerut. Jantungnya serasa
berdentingan karena perasaan tidak senang mendengar sambutan
Wong Sarimpat yang sangat kasar.
Tetapi ia menjadi heran. Gurunya sama sekali tidak marah
mendengar sapa itu. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab, “Wong
Sarimpat. Aku tidak biasa berteriak seperti monyet kepanasan.”
Sekali lagi terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.
Katanya, “Ha, masih juga kau bisa berbicara. Apa maumu datang
kemari, he?”
“Apakah aku tidak kau ajak singgah ke rumahmu?”
Wong Sarimpat membelalakkan matanya. Jawabnya, “Kau jangan
menghina Empu tua. Kau tahu aku tidak mempunyai rumah.”
“Apakah yang kau maksudkan dengan rumah Wong Sarimpat?”
bertanya Empu Sada, “rumah bukan berarti sebuah bangunan.
Rumahmu adalah tempat kau tidur, tempat kau tinggal bersama
saudaramu dan tempat kau menyembunyikan kekayaan hasil
rampokanmu.”
Kali ini suara tertawa Wong Sarimpat benar-benar memenuhi
lereng-lereng bukit gundul. Ia senang mendengar kata-kata Empu
Sada yang berusaha menyesuaikan dirinya dengan watak orang itu.
Setelah suara tertawa itu mereda maka orang itu menjawab, “Hem,
kau ingin melihat tempat aku menyimpan kekayaanku, he? Kau
suatu ketika akan merampok aku?”
“Tidak,” sahut Empu Sada, “aku akan berdosa dua kali lipat.
Kekayaanmu kau dapatkan dengan jalan yang tidak seharusnya.
Kalau aku merampokmu, maka dosamu akan ikut serta bersama
harta benda itu di samping dosaku sendiri.”
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan tajam
dipandanginya wajah Empu Sada. Kemudian katanya, “Apakah kau
tidak pernah merampok?”
“Tentu tidak,” sahut Empu Sada, “aku mendapatkan kekayaanku
dengan menjual tenaga. Terjadilah jual beli. Bukankah itu bukan
suatu perampokan.”
Wong Sarimpat terdiam sejenak. Kemudian jawabnya, “Sama
saja. Hampir sama,” orang itu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia
menunjuk kepada Kuda Sempana dan Cundaka sambil bertanya,
“Kenapa kau bawa tikus-tikus ini. Inikah pengikut-pengikutmu atau
orang-orang yang telah membeli tenagamu itu?”
Cundaka menjadi semakin tidak senang. Wajahnya menjadi
berkerut-merut. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika Wong Sarimpat
membentaknya, “He kenapa kau memandang aku seperti itu. Kau
belum pernah mengenal Wong Sarimpat, he tikus busuk?”
Bagaimanapun juga pertanyaan itu benar-benar menyakitkan
hati. Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pun
termasuk orang yang kasar. Hampir-hampir ia lupa dengan siapa ia
berhadapan. Namun ketika mulutnya hampir menjawab sekali lagi
Wong Sarimpat membentaknya, “Jangan buka mulutmu itu. Kalau
kau mencoba juga, paling sedikit empat gigimu akan terlepas.”
Sesuatu terasa menghentak dada Cundaka yang menyebut
dirinya Bahu Resa Kali Elo. Perasaannya sama sekali tidak mau
menerima teguran serupa itu. Tetapi ia tahu benar bahwa Wong
Sarimpat adalah orang yang sejajar dengan gurunya. Karena itu
bagaimanapun juga hatinya menjadi sakit, namun ia mencoba untuk
menahan mulutnya.
Yang menjawab kemudian adalah Empu Sada, “Jangan terlampau
kasar Wong Sarimpat. Anak-anak bisa mati ketakutan melihat
tingkah lakumu.”
“Huh, hanya anak-anak cengeng seperti anak-anakmu inilah yang
pasti akan mati ketakutan.”
Empu Sada tersenyum kepada kedua muridnya ia berkata, “Inilah
Pamanmu Wong Sarimpat. Jangan takut dan jangan sakit hati.
Sudah menjadi watak dan kebiasaannya, ia berbuat demikian.”
Wong Sarimpat tiba-tiba memotong, “Tidak ini bukan sekedar
watak dan sekedar kebiasaannya. Tetapi aku berkata sebenarnya.
Ayo, suruh murid-muridmu membuka mulutnya sebelum aku beri
kesempatan. Kau akan tahu akibatnya.”
“Mungkin akan terjadi demikian Wong Sarimpat,” sahut Empu
Sada, “Tetapi kalau tidak ada Empu Sada berdiri di sini.”
Tiba-tiba sekali lagi Wong Sarimpat itu tertawa terbahak-bahak.
Katanya di antara suatu tertawanya, “Aku percaya. Kalau begitu aku
percaya bahwa kau akan mampu mencegah yang akan aku lakukan.
Tetapi aku pun jadi yakin kalau murid-muridmu ini tidak lebih dari
tikus cengeng yang tidak dapat berdiri tegak tanpa gurunya.”
Cundaka telah benar-benar menjadi muak mendengar sambutan
itu, namun sebelum ia menyahut, terdengar Empu Sada berkata,
“Ayo, bawa aku ke sarangmu. Mungkin kau lebih senang aku
menyebut sarang daripada rumah.”
“Hem,” Wong Sarimpat menarik nafas, “kau akan merampok?”
“Tidak. Aku ingin bertemu kau berdua dengan kakakmu.”
“Apa keperluanmu?”
“Nanti aku katakan.”
“Katakan sekarang.”
“Tidak pantas. Sebelum aku memasuki rumahmu aku tidak akan
mengatakan keperluan itu.”
“He. Apa yang tidak pantas? Aku tidak terikat pada adat atau
cara apapun. Tak ada yang tidak pantas bagiku apabila aku
kehendaki. Tetapi kalau kau ingin bertemu dengan Kakang Kebo
Sindet. Ikutilah aku.”
Tetapi Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Sada.
Dengan serta-merta digerakkan kendali kudanya dan segera kuda
itu pun berputar dan berlari menuruni tebing.
Demikian orang itu menghilang dibalik sebuah puntuk yang
menjorok, maka terdengarlah Empu Sada menarik nafas dalamdalam.
“Itu salah seorang dari mereka,” desisnya. Kemudian
dilanjutkannya, “Apakah kau masih bernafsu Kuda Sempana?”
Kuda Sempana terkejut mendengar pertanyaan gurunya. Tetapi
yang lebih dahulu menjawab adalah orang yang menamakan dirinya
Bahu Reksa Kali Elo, “Huh, aku menjadi muak melihatnya.”
Tetapi ternyata Kuda Sempana segera menyahut, “Aku
mengaguminya. Orang yang demikian adalah orang yang berhati
terbuka. Apapun yang dipikirkannya itulah yang dikatakan dan
diperbuatnya. Orang yang berwatak demikian adalah sahabat yang
sebaik-baiknya. Ia tidak akan berbuat curang dan menyembunyikan
persoalan-persoalan yang seharusnya diketahui bersama.”
Cundaka mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Kuda
Sempana dengan tajamnya. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Kuda
Sempana mempunyai penilaian demikian terhadap orang yang
terlampau kasar itu. Tetapi Cundaka tidak mau bertengkar dengan
saudara seperguruannya. Karena itu, maka ia pun kemudian
berdiam diri.
Empu Sada sendiri sama sekali tidak memihak keduanya.
Dibiarkannya kedua muridnya itu mempunyai tanggapan sendirisendiri.
Tetapi Empu Sada yang tua itu dapat mengerti sikap
keduanya. Cundaka menjadi semakin tidak senang kepada Wong
Sarimpat karena orang itu telah membentak-bentaknya. Sedang
Kuda Sempana menganggapnya orang yang paling baik untuk
seorang sahabat, karena Kuda Sempana sedang memerlukan kawan
untuk memuaskan nafsu dendamnya.
Namun betapa Empu Sada hidupnya selalu dipengaruhi oleh
keinginannya mendapat harta benda, bahkan sampai dilakukannya
menjual tenaga mengajar puluhan murid hanya sekedar untuk
mendapatkan upah tanpa tujuan apa-apa itu, kali ini merasa bahwa
ia telah terdorong dalam suatu sikap yang kurang bijaksana. Tetapi
semuanya telah terlanjur. Mulutnyalah yang pernah menyebut nama
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk mempengaruhi lawannya
waktu itu, Empu Gandring dan kemudian diulanginya pula di
hadapan Bojong Santi. Murid-muridnya itu pun mendengar namanama
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat darinya pula.
Empu Sada itu berpaling ketika ia mendengar suara Kuda
Sempana, “Guru, apakah kita akan berdiri saja di sini?”
“Oh,” desis Empu Sada, “jadi kita teruskan perjalanan ke rumah
Wong Sarimpat?”
“Tentu,” sahut Kuda Sempana, “aku senang melihat dadanya
yang terbuka. Mudah-mudahan kita mendapat kawan yang dapat
bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini.”
Empu Sada tidak berkata-kata lagi. Segera ia melangkahkan
kakinya meneruskan perjalanan ke rumah Wong Sarimpat.
Perjalanan itu sudah tidak begitu jauh lagi. Tetapi mereka harus
berjalan melingkar-lingkar di tebing pegunungan gundul.
Sekali-sekali mereka harus menuruni tebing yang curam, namun
sekali-sekali mereka harus berjalan sepanjang jalan yang beranak
tangga.
“Apakah Paman Wong Sarimpat tadi juga lewat jalan ini, Guru?”
bertanya Kuda Sempana.
Gurunya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berpaling.
Dengan tongkatnya ia mencoba menahan tubuhnya pada sebuah
tebing yang rendah.
“Bukan main, bukan main,” gumam Kuda Sempana. Ia menjadi
semakin kagum melihat jalan yang harus dilewati pula oleh Wong
Sarimpat, “Alangkah tangkasnya.”
Tetapi baik gurunya, maupun Cundaka sama sekali tidak
menyahut. Dengan hati-hati mereka melangkahkan kaki-kaki
mereka menuruni pegunungan gundul itu.
Setelah berjalan melingkar-lingkar akhirnya mereka sampai juga
di kaki bukit gundul itu. Sebuah ngarai yang dikelilingi oleh
bukitbukit
serupa. Di tengah-tengah ngarai itu tampak sebuah gerumbul
yang kecil. Padukuhan Kemundungan.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak tinggal di
padukuhan itu. Mereka berada di lereng bukit gundul ini. Mereka
ternyata telah membuat sebuah gubuk kecil di muka mulut sebuah
gua yang cukup luas. Tak seorang pun tahu, apakah yang mereka
simpan di dalam gua itu, selain mereka berdua, kakak beradik dan
mereka pun seperguruan pula. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Dengan ragu-ragu Empu Sada berjalan di sepanjang kaki bukit.
Ia pernah mengunjungi kedua laki-laki kakak beradik ini dahulu
bersama kakak seperguruannya untuk suatu keperluan. Ia kenal
keduanya karena kakak seperguruannya itu pula. Tetapi kakak
seperguruannya itu kini telah tidak ada lagi. Mati terbunuh. Tetapi
itu adalah akibat yang sudah diketahuinya lebih dahulu. Orang yang
bermain-main dengan maut, maka maut itu akan datang
menghampirinya setiap saat. Saat itu Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat telah dimintanya pula membantu mencari pembunuh
kakaknya itu. Tetapi bukan main besar upah yang dimintanya.
Hampir semua kekayaan kakaknya habis dijualnya untuk memenuhi
permintaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi seperti Kuda
Sempana pada saat ini, maka dendamnya kepada pembunuh kakak
seperguruannya itu telah menutup segala macam akal dan
pikirannya. apapun yang harus diberikannya, namun pembunuh itu
harus dibunuhnya.
Ternyata usahanya saat itu berhasil. Pembunuh kakaknya adalah
seorang Empu sakti yang tidak pernah menetap di suatu tempat.
Ternyata keduanya bertemu pada suatu tempat yang tidak
menyenangkan. Tempat yang dipenuhi oleh bau tuak dan dikelilingi
oleh nafsu-nafsu lahiriah yang lain.
Dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu Empu Sada
mendengar, bahwa keduanya bertengkar dan kemudian berkelahi
hampir semalam suntuk. Namun akhirnya kakak seperguruannya itu
terbunuh. Empu Sakti yang bernama Empu Galeh itu menjadi buas
dan mencuci tangannya dengan darah kakak seperguruannya itu.
Tetapi cerita ini tidak pernah diceritakannya kepada muridmuridnya.
Empu Sada menyimpan cerita itu di dalam hatinya.
Bagaimana ia bertiga dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
mencari Empu Galeh. Ternyata Empu Galeh itu mereka temui di
tempat yang serupa. Dan perkelahian pun segera terjadi pula.
“Kami telah mengeroyoknya,” gumam Empu Sada di dalam hati.
Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika teringat olehnya
bagaimana Kebo Sindet mencincang Empu yang telah mati itu.
“Mengerikan,” desisnya di dalam hati, “Ternyata Kebo Sindet
tidak kalah buasnya dengan Empu Galeh yang sakti itu.”
Sekali-sekali Empu Sada itu berdesis. Kenangan tentang Empu
Galeh selalu mengganggunya. Ia telah berjanji dengan Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat, bahwa tak seorang pun boleh mengetahui
rahasia itu. Murid-murid mereka pun tidak, supaya apabila ada
keluarga, saudara seperguruan Empu Galeh, maka berita tentang
kematiannya tidak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan.
Mereka bertiga, Empu Sada dan kedua muridnya kini berjalan
menelusuri kaki bukit gundul itu. Ketika agak jauh di hadapan
mereka tampak sebuah gubuk kecil di lereng bukit gundul itu, maka
berkata Empu Sada kepada kedua muridnya itu, “Itulah rumahnya.
Di dalam rumah itu terdapat sebuah mulut gua.”
Bulu-bulu kuduk Cundaka berdesir. Hampir-hampir ia
memutuskan untuk kembali sebelum ia sampai ke rumah itu.
Perlahan-lahan ia berkata kepada gurunya, “Guru, aku kira, aku
tidak lagi mempunyai banyak kepentingan. Kalau Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat bersedia membantu Guru dan Kuda Sempana, maka
tenagaku pasti sudah tidak berguna lagi. Karena itu, apakah aku
boleh mendahului kembali ke rumahku?”
Empu Sada tiba-tiba menjadi tegang. Ditatapnya wajah muridnya
itu. Dengan suara parau ia menjawab, “Jangan. Jangan pergi
sebelum kau menginjakkan kakimu ke rumah itu. Dengan demikian
akan dapat timbul salah sangka. Dan umurmu tidak akan mencapai
fajar besok. Kau tahu, bahwa aku tidak akan dapat melindungimu.
Mungkin aku mampu melawan salah seorang dari mereka tetapi
yang seorang akan dengan leluasa berbuat atasmu, seperti seekor
kucing terhadap seekor tikus yang malang.”
Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menggeram.
Tetapi ia tidak berkata apapun. Sekali disambarnya wajah Kuda
Sempana dengan sudut matanya. Tetapi wajah itu disaput oleh
harapan untuk melepaskan dendamnya.
Kembali mereka berjalan perlahan-lahan menuju ke rumah gubuk
di lereng bukit itu.
“Dari mana mereka mendapat makan guru?” bertanya Kuda
Sempana tiba-tiba.
“Desa itu telah memberinya makan. Setiap orang yang tinggal di
Kemundungan adalah orang-orang yang seolah-olah terikat kaki dan
tangannya. Mereka bekerja keras, namun mereka tidak dapat
berbuat banyak atas hasil jerih payahnya. Hasil tanah mereka,
sebagian harus mereka pergunakan untuk memberi kedua orang itu
makan sekenyang-kenyang mereka.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kini
tidak bertanya-tanya lagi. Namun dalam pada itu, timbullah
berbagai pertanyaan di dalam kepala Cundaka. Ia pernah pula
melakukan pemerasan, bahkan perampokan. Hampir setiap kali ia
mendapat bermacam-macam barang dari murid-muridnya. Ia tahu
benar, bahwa barang-barang itu adalah barang-barang yang
didapatnya dengan jalan yang tidak wajar. Tetapi sekali-sekali ia
sempat menikmati hasil dari benda-benda itu. Sekali-sekali ia makan
seenak-enaknya, bersuka ria dan berjalan di jalan-jalan kota dengan
pakaian yang sebaiknya. Bahkan seolah-olah segala nafsunya telah
dimanjakannya. Kini ia berhadapan dengan dua orang laki-laki kakak
beradik yang aneh. Mereka merampok, memeras dan segala macam
cara untuk mendapatkan kekayaan. Tetapi mereka hidup terpencil,
di dalam gubuk kecil di lereng sebuah bukit gundul. Mereka hidup
seperti seorang yang semiskin-miskinnya di dunia ini. Pakaian yang
kumal, badan tidak terpelihara dan rumah yang terlampau jelek.
“Untuk apakah kekayaan yang ditimbunnya itu,” katanya di
dalam hati. Tiba-tiba tanpa sesadarnya ia bertanya, “Guru, apakah
kedua orang itu mempunyai anak?”
Empu Sada berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia
menjawab, “Sepanjang yang aku ketahui, kedua orang itu sama
sekali tidak pernah kawin.”
Begitu besar desakan pertanyaan di dalam dadanya, maka
Cundaka itu berkata, “Hem. Untuk apakah kiranya kekayaan yang
disimpannya selama ini? Tak akan ada keturunan yang akan
mewarisinya.”
Empu Sada tidak menjawab, dan orang yang menyebut dirinya
Bahu Reksa Kali Elo yang menganggap dirinya seorang pedagang
keliling itu tidak bertanya lagi.
Gubuk itu kini sudah dekat dihadap mereka. Seekor kuda berdiri
lepas di hadapan gubuk itu.
Dari dalam gubuk itu pun kemudian muncul kembali Wong
Sarimpat. Dengan berteriak ia berkata, “Cepat sedikit. Kami sudah
gelisah menunggumu. Apakah kau sudah kelaparan?”
Empu Sada tidak menjawab. Beberapa kerut tergores di
keningnya. Namun ia harus mencoba menyesuaikan dirinya.
Sebelum mereka sampai di gubuk itu, maka Wong Sarimpat pun
telah menghilang ke dalam rumahnya. Namun suaranya masih
terdengar, “Orang-orang malas itu tertidur di jalan, Kakang.”
Semakin dekat mereka ke mulut gubuk yang kecil itu, maka hati
mereka menjadi semakin berdebar-debar. Bukan saja Cundaka,
namun juga Kuda Sempana dan bahkan Empu Sada sendiri. Ia
mengharap bahwa kedua orang itu masih bersikap seperti terhadap
kakak seperguruannya dulu dan seperti sikapnya pada saat mereka
bersama-sama membalas dendam atas kematian kakak seperguruan
Empu Sada.
Ketika mereka sampai di muka pintu, segera mereka melihat
bahwa gubuk itu seolah-olah kosong sama sekali. Yang ada di
dalamnya hanyalah sebuah amben bambu rendah. Selainnya tidak
ada apa-apa lagi. Di atas amben itu duduk seorang yang berwajah
gelap, bertubuh kecil dan tinggi. Itulah Kebo Sindet.
Kembali bulu-bulu duduk Cundaka meremang. Ketika ia menatap
sorot mata orang yang bernama Kebo Sindet itu, darahnya seolaholah
jadi membeku. Berbeda dengan Wong Sarimpat, maka orang
ini seolah-olah segan untuk berbicara.
“Masuklah,” Wong Sarimpat mempersilakan mereka. Tetapi ia
masih saja duduk di amben itu pula.
Empu Sada melangkah memasuki ruangan gubuk itu diikuti oleh
kedua muridnya. Mereka pun kemudian duduk pula pada amben itu
juga.
Ketika amben itu bergerit, maka terdengar Kebo Sindet
menggeram, “Kau datang lagi kemari?”
Pertanyaan itu pun bukanlah pertanyaan yang lazim bagi dua
orang yang telah lama tidak bertemu. Sekali lagi terasa di dada
Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, bahwa
kedatangan mereka ke Kemundungan adalah suatu perbuatan yang
tidak menyenangkan. Sikap kedua orang itu benar-benar membuat
kepalanya pening.
Empu Sada yang mendapat pertanyaan itu menjawab, “Bukankah
kau melihat bahwa aku datang lagi kemari.”
“Hem,” Kebo Sindet menggeram. Tetapi kemudian ia terdiam
untuk sesaat. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sikap
apapun. Dingin, bahkan wajah yang gelap itu seolah-olah membeku.
Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Hanya nafas-nafas merekalah
yang terdengar berkejaran lewat lubang-lubang hidung mereka.
Matahari yang lesu semakin lama menjadi semakin rendah.
Ruangan itu pun semakin lama menjadi semakin suram pula. Ketika
sesaat kemudian matahari menyentuh punggung bukit di sebelah
barat, maka cahayanya yang kemerah-merahan bertebaran di atas
bukit gundul yang keputihan.
Mereka yang berada di ruangan gubuk Kebo Sindet masih saja
berdiam diri. Sekali-sekali terdengar amben itu bergerit. Dan
Cundaka pun menjadi semakin gelisah pula karenanya. ketika tidak
disengaja matanya menatap dinding gubuk itu, dilihatnya sebuah
pintu ereg yang tidak tertutup rapat. Dari celah-celah pintu itu ia
melihat sebuah ruangan yang hitam kelam.
“Hem,” gumamnya di dalam hati, “itulah mulut gua yang
dikatakan oleh Guru.”
Tiba-tiba Cundaka itu terkejut ketika ia mendengar sutra Kebo
Sindet datar, “Ya. Itu adalah mulut gua tempat aku menyimpan
semua kekayaanku. Apakah kau mau masuk?”
Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menjadi
bingung, bagaimana ia harus menjawab.
Dipalingkannya wajahnya memandangi wajah gurunya, seolaholah
ia ingin mendapat pertolongan untuk membebaskan dirinya
dari pertanyaan yang tak dapat dijawabnya itu.
Empu Sada itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Hem, kau
sangat baik Kebo Sindet. Tetapi biarlah lain kali saja kami
melihatlihat
kekayaan yang tersimpan di dalam gua itu?”
“Lain kali kalau aku sedang pergi?”
“Tentu tidak, adalah tidak sopan untuk melihat rumah seseorang
pada saat orang itu pergi.”
“Jangan berbicara tentang kesopanan. Kau juga tidak sopan
dengan membunuh Empu Galeh bertiga bersama kami. Tak ada
yang sopan di dalam hidup kami dan hidupmu. Nah, jangan
menyangkal bahwa suatu ketika kau akan merampok aku apabila
kau merasa telah mampu mengalahkan kami. Mungkin sekarang kau
sedang memperhitungkan apakah kedua orang ini dapat
mengalahkan salah seorang dari kami. Tetapi adalah perbuatan
yang sangat gila apabila kau dapat keluar dari dalam gua itu,
meskipun kami berdua tidak ada di rumah.”
“Kau terlalu berprasangka. Tetapi aku pun tidak segila yang kau
sangka. Aku tidak akan percaya kalau kau menyimpan semua
kekayaanmu di dalam gua itu. Gua yang hanya kau tutup dengan
sebuah pintu bambu leregan. Kalau benar kekayaanmu kau simpan
dalam gua itu, maka gua itu pasti sudah kau tutup dengan batu
sebesar mulut gua itu sendiri.”
“Itu urusanmu. Percaya atau tidak percaya. Tetapi di dalam gua
itu terdapat banyak sekali kerangka manusia yang mencoba mencari
kekayaanku pada saat aku pergi. Tetapi mereka tidak pernah dapat
keluar lagi.”
Tiba-tiba Empu Sada tertawa, “Kau memang pandai membual.
Wajahmu yang beku itu sama sekali tidak pantas bagi seorang
pembual. Apakah aku dapat mempercayainya, bahwa ada orang
yang berani memasuki gua milik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”
Kebo Sindet terdiam sesaat. Wajahnya masih gelap dan beku,
seolah-olah tidak ada gerak apapun di dalam hatinya yang mampu
menggerakkan kulit wajahnya.
Tetapi wajah yang beku itu bagi Cundaka jauh lebih mengerikan
dari wajah yang keras sekeras batu padas dengan kumis yang
melintang dari Wong Sarimpat. Nada yang datar dari kalimat-kalimat
yang meluncur dari mulut Kebo Sindet terasa lebih menyeramkan
dari teriakan-teriakan yang kasar yang diucapkan oleh Wong
Sarimpat.
Kini ruangan itu telah menjadi semakin gelap. Tetapi tak seorang
pun dari kedua laki-laki itu yang berdiri untuk menyalakan pelita,
sehingga mereka kini seolah-olah telah duduk di dalam gua.
Dalam ruang yang menjadi semakin hitam itu terdengar Kebo
Sindet berkata, “Katakan apa keperluanmu.”
“Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Empu Sada, “aku akan
bermalam di sini. Besok aku akan mengatakan keperluanku. Kau
tidak keberatan?”
“Terserah kepadamu,” sahut Kebo Sindet, “tetapi jangan tidur di
rumah ini.”
“Kenapa? Dan di mana aku harus tidur.”
“Terserah kepadamu.”
“Kenapa aku tidak boleh bermalam di rumah ini.”
“Kalian akan menyesal. Kadang-kadang penyakitku kambuh. Aku
selalu ingin membunuh dengan mencekik leher seseorang apabila
aku melihatnya tidur.”
“Gila!” geram Empu Sada.
Wong Sarimpat pun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai
amben itu berguncang. Katanya, “Kau benar-benar penakut. Di bukit
gundul itu tidak ada binatang yang perlu kau takuti. Yang ada
hanyalah harimau kumbang dan anjing hutan. Lebih baik bagi kalian
melawan harimau kumbang dan anjing-anjing hutan itu daripada
mati dicekik Kakang Kebo Sindet selagi kalian tidur.”
“Kami tidak akan tidur,” sahut Empu Sada menyentak, “kami
akan duduk di sini sampai pagi.”
“Kami yang akan tidur,” berkata Wong Sarimpat. Meskipun
mereka duduk berhadapan, tetapi suaranya menggelegar seperti
guntur mangsa kesanga.
“Dan kau pasti akan berkata bahwa kami telah berbuat tidak
sopan. Tidur dan membiarkan semuanya duduk semalam suntuk.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Ternyata Wong Sarimpat
telah membuatnya sangat jengkel. Tetapi Empu Sada masih tetap
menyadari keadaannya. Karena itu, sekali lagi ia mencoba
menyesuaikan dirinya, jawabnya, “Tak ada kesopanan di dalam
hidup kita, bukankah begitu Kebo Sindet. Kalau kalian mau tidur
tidurlah.”
“Itulah pula sebabnya kami tidak mempersilakan kau tidur di
gubuk ini,” sahut Wong Sarimpat pula.
Dada Empu Sada serasa menjadi sesak. Sambutan ini benar tidak
diharapkannya. Dahulu ketika ia datang dengan kakak
seperguruannya ia masih mendapat kesempatan tidur di dalam
rumah ini. Tetapi sekarang, kedua orang itu ternyata telah menjadi
bertambah liar.
Pada saat Empu Sada hampir saja membuka mulutnya,
menjawab kata-kata Wong Sarimpat, terdengar Kebo Sindet
mendahului, “Empu Sada, tak ada persoalan yang perlu
diperbincangkan tentang itu. Aku tidak mau kau bermalam di rumah
ini. Cukup. Sekarang kau mengatakan keperluanmu atau pergi dari
rumah ini. Kembalilah besok atau kapan saja apabila kau sudah
bersedia untuk mengucapkan kepentinganmu mencari kami
berdua.”
Terdengar gigi Empu tua itu gemeretak. Tetapi ketika ia
berpaling dan melihat Kuda Sempana, maka kembali ia menekan
perasaannya. Ia datang ke tempat itu untuk memenuhi permintaan
muridnya itu.
“Baik,” berkata Empu Sada, “aku akan mengatakan
kepentinganku datang kemari. Sesudah itu akan pergi.”
“Kalau kau mau mengatakannya, lekas katakan,” desak Kebo
Sindet. Wajahnya masih tetap membeku. Sinar matanya seakanakan
tanpa memacarkan sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya.
Beku seperti mata sesosok mayat.
Sekali Empu Sada berpaling kepada murid-muridnya. Tetapi
dalam sekejap itu Empu Sada tidak berhasil melihat sorot mata
mereka masing-masing. Ruangan itu menjadi semakin lama semakin
gelap. Namun tak seorang pun di antara kedua laki-laki kakak
beradik itu yang pergi menyalakan api.
Dalam kegelapan dan dalam tatapan yang hanya sepintas itu
Empu Sada tidak melihat betapa wajah orang yang menamakan
dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi berkerut-merut menahan
dadanya yang hampir meledak. Tetapi orang itu pun menyadari,
bahwa dirinya sendiri hampir tak berarti apapun bagi kedua orang
itu.
“Kebo Sindet,” berkata Empu Sada kemudian, “baiklah aku
katakan saja langsung. Aku datang untuk memenuhi permintaan
muridku. Ia mempunyai dendam di dalam hatinya. Mungkin kau
akan dapat membantunya.”
Tiba-tiba ruangan itu seperti meledak karena suara tertawa
Wong Sarimpat. Suara itu bergetar melingkar-lingkar di dalam
ruangan yang sempit. Namun Kebo Sindet masih tetap duduk
dengan pandangan yang kosong membeku. Seolah-olah tidak terjadi
sesuatu pada dirinya, meskipun adiknya tiba-tiba tersentak tertawa.
Suara tertawa Wong Sarimpat itu benar-benar menyakitkan
telinga Empu Sada, apalagi Cundaka. Sehingga Empu Sada itu pun
berkata, “He, Wong Sarimpat. Suara tertawamu sangat menyakitkan
telinga. Kenapa kau tiba-tiba tertawa ,he?”
Suara tertawa itu masih berkepanjangan. disela-sela suara
tertawa itu terdengar Wong Sarimpat berkata, “Kau rupa-rupanya
sudah menjadi gila Empu Sada. Kenapa kau pergi kemari hanya
karena dendam salah seorang muridmu. Apalah kau sekarang telah
berubah menjadi seekor kelinci jinak yang tidak berani berbuat
sesuatu. Apalagi atas lawan muridmu?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat
tertawa sepuasnya. Baru ketika tertawa itu mereda ia berkata,
“Apakah kalian masih akan mendengarkan keteranganku?”
Yang menjawab adalah Kebo Sindet, “Berkatalah.”
“Muridku, Kuda Sempana menyimpan dendam di hatinya. Tetapi
lawannya adalah seorang yang dilingkari oleh beberapa orang sakti
meskipun tidak secara langsung. Orang-orang itu adalah Panji
Bojong Santi, Empu Purwa dan Empu Gandring. Itulah sebabnya
aku datang kemari. Aku mengharap bahwa kalian masih mempunyai
cukup keberanian untuk berbuat bersama aku.”
Wong Sarimpat kini tidak tertawa lagi. Bahkan sekali-sekali
dipandangnya wajah kakaknya yang membeku itu. Namun Kebo
Sindet tidak segera menjawab. Lebih-lebih dalam kegelapan, tak
terlihat sama sekali kesan pada wajah yang mati itu.
Tiba-tiba dari sela-sela bibir Kebo Sindet terdengar suaranya
datar, “Kenapa kau kemari?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku
memerlukan kalian untuk membantu kami. Kalian tidak usah
berbuat apapun atas lawan Kuda Sempana. Biarlah anak itu
diselesaikan sendiri oleh Kuda Sempana. Tetapi kalian kami minta
untuk melindunginya apabila orang-orang gila itu tiba-tiba saja
hadir.”
Kebo Sindet kembali terdiam. Kembali ruangan itu dicengkeram
kesenyapan, yang terdengar adalah nafas-nafas mereka yang
kembang kempis bergantian. Namun suara nafas Cundakalah yang
terdengar paling keras dan paling cepat, meskipun dadanya sendiri
terasa kian menjadi sesak.
Yang kemudian terdengar adalah suara Kebo Sindet memecah
kesepian, “Apa tawaranmu kepada kami untuk melakukan pekerjaan
itu?”
“Apa permintaanmu?” bertanya Empu Sada.
“Siapakah lawan itu?”
“Murid Empu Purwa.”
“Untuk menilai pertolongan yang dapat aku berikan, apakah kau
dapat mengatakan sedikit tentang murid Empu Purwa itu?”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tawar menawar
dalam jual beli tenaga itu telah berlangsung. Sekarang ia harus
mengatakan persoalannya kepada kedua orang liar itu, supaya
mendapat tawaran yang sewajarnya.
“Katakanlah Kuda Sempana,” berkata Empu Sada kepada Kuda
Sempana.
Kuda Sempana menggeser dirinya sejengkal maju. Ia ingin
melihat wajah-wajah dari kedua laki-laki kakak beradik itu. Tetapi
malam menjadi semakin kelam. Apa yang dilihatnya kemudian
hanyalah dua buah bayangan hitam yang seolah-olah membeku.
Namun gambaran wajah dari kedua orang itu membuat Kuda
Sempana harus bersikap hati-hati.
Tetapi sebelum Kuda Sempana mengucapkan sepatah kata pun,
terdengar suara Kebo Sindet, “Empu Sada, muridmu yang inikah
yang berkepentingan dengan pertolonganku.”
“Ya,” jawab Empu Sada, “kau akan dapat bertanya langsung
kepadanya, kenapa ia mendendam.”
“Pantaslah,” gumam Kebo Sindet, “anak yang berwajah seperti
muridmu ini pasti seorang pengecut yang hanya berani mencari
pertolongan orang lain. Tetapi katakanlah.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Bagaimanapun juga
terasa dadanya berdesir. Tetapi ia kemudian tidak memedulikannya
lagi. Dendamnya kepada Mahisa Agni bukanlah dendam yang biasa.
Dendam itu adalah dendam yang paling dalam. Seandainya Mahisa
Agni membakar rumahnya. merampas segala miliknya, maka
dendamnya tidak akan sedalam dendam yang tersimpan di hatinya
kini.
Karena itu maka setelah mengatur derak jantungnya Kuda
Sempana berkata perlahan-lahan dan hati-hati.
“Paman,” suaranya dalam dan parau, “aku mendendamnya
karena anak muda yang bernama Mahisa Agni itu telah
menggagalkan usahaku mendapatkan seorang gadis.”
Tiba-tiba suara Kuda Sempana terputus oleh suara tertawa Wong
Sarimpat. Suara itu benar-benar menyesakkan dada. Ruangan yang
sempit dan gelap itu terasa menjadi semakin pepat karena
gemuruhnya suara Wong Sarimpat.
“Oh, anak cengeng,” katanya, “kenapa kau menjadi hampir gila
karena seorang gadis?”
Kuda Sempana tidak menyahut. Tetapi jantungnya menjadi
semakin berdebar-debar. Dalam pada itu kecemasan merambati
dinding-dinding hatinya pula. Apakah mereka berdua hanya sekedar
akan menertawakannya dan tidak bersedia membantunya.
Di antara suara tertawa Wong Sarimpat terdengar Kebo Sindet
bertanya, “Apakah gadis itu kemudian diperistrikan oleh Mahisa
Agni.”
“Tidak,” sahut Kuda Sempana,” gadis itu adalah adik Mahisa
Agni.”
“Mudah sekali,” potong Wong Sarimpat, “kau bunuh Mahisa Agni.
Kemudian ambil gadis itu.”
Kuda Sempana terdiam. Memang jalan itu adalah jalan yang
termudah. Tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk
membunuh Mahisa Agni. Gurunya pun tidak mampu berbuat
demikian, karena setiap kali hadir orang-orang yang tidak
dikehendakinya.
Empu Sada melihat sikap Wong Sarimpat yang memuakkan itu
dengan dahi yang berkerut-merut. Dengan serta-merta
disambungnya kata-kata Kuda Sempana, “Gadis itu adalah anak
Empu Purwa.”
Mendengar kata-kata Empu Sada itu, tiba-tiba Wong Sarimpat
yang masih saja menahan suara tertawanya itu terdiam. Ternyata
nama itu telah mempengaruhi perasaannya. Nama yang pernah
didengarnya dan diketahuinya, bahwa Empu Purwa adalah seorang
yang melampaui kebanyakan orang.
Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Kebo Sindet masih duduk
membeku di tempatnya, sedang Wong Sarimpat yang selalu gelisah
itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Empu Purwa,” terdengar orang itu mengulangi.
Cundaka yang duduk diam kini seolah-olah tidak lagi
memedulikan percakapan itu. Ia telah kehilangan minat untuk
mengikutinya. Bahkan diam-diam ia berharap di dalam hatinya,
mudah-mudahan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bersedia
membantu Kuda Sempana, menyingkirkan Mahisa Agni. Tiba-tiba ia
merasa jemu untuk ikut serta dalam persoalan itu. Lebih baik
baginya mengembara seorang diri atau bersama satu dua orang
muridnya ke padukuhan-padukuhan terpencil, padukuhan asal dari
murid-muridnya itu Meskipun sedikit demi sedikit ia akan dapat
mengumpulkan beberapa macam benda-benda berharga yang dapat
dijualnya di tempat-tempat lain. Itu adalah cara yang telah lama
ditempuhnya dengan menamakan dirinya pedagang keliling.
Meskipun beberapa kali ia mengalami kegagalan karena berbagai
sebab, tetapi pada umumnya ia mendapatkan dagangannya.
“Tetapi Mahisa Agni pernah menghalangi aku,” katanya di dalam
hati, “Ia pernah mencegah aku berbuat demikian di pedesaan salah
seorang muridku yang menyebut dirinya Waraha sebelum Mahisa
Agni mengenalku. Apalagi kini.”
“Hem,” Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu
mengeluh di dalam hati, “kalau Mahisa Agni itu telah mati, maka aku
tidak akan terganggu lagi.”
Tiba-tiba Cundaka itu tersenyum, timbullah pikiran di dalam
kepalanya, “Biarlah Kuda Sempana dan orang-orang gila itu
menyelesaikannya. Aku akan mendapat keuntungan daripadanya.”
Kesunyian yang mencengkam ruangan itu kemudian dipecahkan
oleh suara Kebo Sindet datar, “Apakah kau tiba-tiba telah mati Kuda
Sempana?”
“Oh, kenapa?” bertanya Kuda Sempana dengan serta-merta.
“Oh,” Kuda Sempana tergagap, tetapi ia kemudian bercerita
tentang Mahisa Agni, tentang Ken Dedes dan tentang dirinya
sendiri. Demikian besar keinginannya untuk mendapatkan bantuan
dari Kebo Sindet, sehingga ceritanya menjadi berkepanjangan.
Dikatakannya apa yang diketahuinya tentang Mahisa Agni, tentang
Ken Dedes, dan bahkan tentang Tunggul Ametung yang ingin
memperistri Ken Dedes dan dengan sungguh-sungguh ingin
menemui Mahisa Agni.
Tiba-tiba suara Kuda Sempana itu terputus ketika Wong Sarimpat
yang menjadi jemu berteriak, “Jangan mengigau. Katakan yang
perlu saja. Atau aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”
Dada Kuda Sempana itu pun menjadi berdebar-debar, ternyata ia
telah bercerita terlampau panjang, sehingga Wong Sarimpat
menjadi tidak telaten mendengarnya. Orang yang kasar itu tidak
biasa mendengarkan orang lain berbicara terlampau panjang.
Tetapi kembali mereka terkejut ketika kemudian Kebo Sindet
berkata datar, “Biarlah Wong Sarimpat. Biarlah ia bercerita tentang
musuhnya itu. Terasa dalam kata-katanya, alangkah besar
dendamnya kepada anak muda yang bernama Mahisa Agni itu.”
Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Empu Sada. Kalimatkalimat
itu bukanlah kalimat-kalimat yang biasa diucapkan oleh
Kebo Sindet. Kalimat-kalimat itu adalah kalimat-kalimat yang
tersusun dan seolah-olah mengandung suatu sikap persahabatan
yang sangat baik. Namun justru karena itulah maka Empu Sada
yang telah kenyang makan asin manisnya penghidupan, menjadi
curiga karenanya. Meskipun demikian orang tua itu sama sekali
tidak berkata sepatah kata pun.
Berbeda dengan Kuda Sempana sendiri. Tiba-tiba ia merasa
bahwa Kebo Sindet benar-benar dapat mengerti perasaan dan
keadaannya. Karena itu maka dengan penuh pengharapan ia
berkata, “Terima kasih, Paman. Terima kasih. Ceritaku tidak
terlampau panjang lagi. Aku hanya tinggal akan mengatakan bahwa
aku ingin Mahisa Agni tertangkap hidup. Aku ingin ia melihat
bendungan yang telah dibuatnya itu pecah dan aku ingin melihat ia
menjadi sakit hati dan kecewa sekali. Ia harus mengalami
penderitaan batin sebelum tanganku mencabut nyawanya.”
“Bagus, bagus,” sahut Kebo Sindet, “tetapi aku ingin tahu lebih
banyak, hubungan antara Mahisa Agni dan Ken Dedes. Menurut
katamu keduanya adalah bukan saudara sekandung. Keduanya
adalah saudara angkat meskipun tak ubahnya dengan saudara
kandung sendiri. Menurut katamu, kalau Mahisa Agni terbunuh,
maka Ken Dedes akan mengalami tekanan batin yang tidak akan
teratasi. Apakah kau yakin?”
“Aku yakin,” jawab Kuda Sempana, “kalau Mahisa Agni terbunuh,
maka Ken Dedes akan menjadi sedih sakit dan ia tentu akan mati.
Kecuali keduanya adalah saudara angkat yang rukun. Mahisa Agni
telah menyelamatkan gadis itu beberapa kali dari tanganku. Dengan
demikian, maka ikatan di antara keduanya menjadi semakin erat.”
Tiba-tiba Kebo Sindet itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tak
seorang pun yang melihat di dalam kegelapan itu, bahwa wajah
yang beku itu tiba-tiba tersenyum, meskipun senyumnya hanya
sebuah senyuman yang sangat kecil.
Kemudian terdengar Kebo Sindet itu bertanya pula, “Apakah
Tunggul Ametung benar-benar akan mengambil Ken Dedes menjadi
permaisurinya?”
“Demikianlah,” jawab Kuda Sempana,” tetapi apabila mungkin,
maka gadis itu pun sebaiknya dipisahkan dari Akuwu Tunggul
Ametung.”
“Kau masih menghendaki?”
Kuda Sempana diam sejenak. Namun kemudian terdengar ia
menjawab perlahan-lahan, “Ya.”
Sekali lagi wajah yang mati itu tersenyum di dalam gelap. Tak
seorang pun yang melihatnya. Tetapi perasaan Empu Sada seolaholah
mempunyai mata. Ia melihat sesuatu yang tidak wajar, dan
seolah-olah ia melihat senyum di bibir Kebo Sindet itu.
Apalagi ketika Kebo Sindet itu kemudian bertanya, “Di manakah
dapat kami jumpai Mahisa Agni?”
“Ia sedang membuat bendungan di padang Karautan.”
“Apakah ia sering meninggalkan padang itu untuk sesuatu
keperluan?”
“Mungkin. Tak seorang pun dari anak-anak muda Panawijen yang
berani meninggalkan kelompok mereka. Aku kira, Mahisa Agnilah
yang selalu mondar-mandir antara Panawijen dan padang Karautan
itu apabila diperlukan sesuatu.”
Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam
kepalanya itu berputar suatu rencana yang tak diketahui oleh siapa
pun juga. Rencana yang lain dengan rencana Kuda Sempana
sendiri.
“Jalan manakah yang biasa ditempuh oleh Mahisa Agni apabila ia
pergi atau kembali ke Panawijen.”
Namun sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Empu
Sada mendahuluinya, “Marilah kita pergi bersama-sama. Aku sudah
mengetahui dengan pasti. Jalan manakah yang selalu dilaluinya.”
Kebo Sindet tertegun sejenak, tetapi kemudian ia berkata, “Empu
Sada, apakah kau akan memerlukan ikut bersama kami?”
“Kamilah yang berkepentingan. Kalian berdua membantu kami.”
“Kalian akan mengganggu kami,” berkata Kebo Sindet, “kalau
kau percaya kepadaku, serahkan semua persoalan ini kepada kami
berdua.”
“Kau berdua akan berhadapan dengan lawan yang terlampau
kuat. Mungkin kalian berdua akan bertemu dengan Empu Gandring,
Empu Purwa dan Panji Bojong Santi bersama-sama.”
Kembali Kebo Sindet terdiam. Ia mencoba memecahkan
persoalan itu di dalam kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Akan aku
pikirkan. Tetapi kapankah kira-kira Ken Dedes akan kawin?”
“Kami tidak tahu,” sahut Kuda Sempana, “tetapi aku kira segera
akan dilakukannya.”
Kembali ruangan itu menjadi sepi. Kembali Empu Sada
menimbang-nimbang sikap Kebo Sindet yang meragukannya itu.
Tetapi ia tidak dapat menduga, apakah kira-kira yang akan
dilakukannya.
Namun dalam pada itu, harapan di dalam dada Kuda Sempana
telah menyala berkobar-kobar. Hampir dapat dipastikan, ia akan
dapat mengikat Mahisa Agni pada sebuah tonggak kayu. Melecutnya
sesuka hati. Meludahi mukanya dan menggurat tubuhnya dengan
pedangnya. Melumurinya dengan air asam dan garam.
“Hem,” Kuda Sempana itu tersenyum sendiri. Musuhnya yang
paling dibencinya itu sebentar lagi akan jatuh ke tangannya. Ia
tidak
peduli apakah ia harus menjual segala miliknya yang telah
dikumpulkan selama ia menghambakan diri di istana. Timang emas
tretes berlian, pendok emas, binggel dan apa saja, asal dendam dan
sakit hatinya dapat terbalas atas Mahisa Agni dan beruntunglah ia
kalau kedua orang itu berhasil mengambil Ken Dedes dari istana.
Dan angan-angan yang membubung tinggi itulah yang kemudian
mendorong Kuda Sempana untuk kemudian berkata kepada
gurunya, “Guru, bagiku, apakah kedua paman ini akan pergi tanpa
kami, ataukah kami harus pergi bersama mereka, bukanlah soal
bagiku. Yang penting adalah Mahisa Agni jatuh ke tanganku.”
“Anak bodoh,” desis Empu Sada di dalam hatinya. Tetapi yang
diucapkannya adalah, “Kita tidak dapat mengumpankan kedua
pamanmu tanpa kami. Kamilah yang tahu, bahwa di sekeliling
Mahisa Agni berdiri beberapa kekuatan. Bahkan mungkin Witantra,
murid Bojong Santi akan menyerahkan prajurit-prajuritnya yang
cukup memiliki kekuatan untuk menangkap kami dan kedua
pamanmu sekaligus. Betapa kemampuan kami seorang, tetapi
apakah kami masing-masing mampu melawan seratus orang
Witantra sekaligus? Kau harus tahu Kuda Sempana, bahwa di istana
mempunyai banyak kekuatan yang tersimpan. Banyaklah orangorang
yang sekuat kau. Meskipun aku gurumu, namun aku tidak
akan mampu melawan kau dalam jumlah yang cukup. Sebab
kekuatan seseorang itu suatu ketika akan mencapai titik puncaknya.
Dan orang itu tidak akan mampu berbuat melampaui titik puncak
itu.”
Kuda Sempana tidak dapat menjawab kata-kata gurunya. Karena
itu ia pun terdiam. Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara
Kebo Sindet, “Baiklah. Kami akan berpikir malam ini. Besok pagi
kami akan mengatakan sesuatu kepada kalian tentang rencana ini.
Malam ini kalian dapat tidur di rumah ini.”
Sekali lagi dada Empu Sada berdesir. Kini ia sudah yakin
seyakinyakinnya,
bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam hati Kebo
Sindet. Orang semacam itu sudah tentu tidak akan bersedia
mengubah keputusannya apabila tidak ada hal yang penting terjadi
pada dirinya. Karena itu maka Empu Sada menjawab, “Tidak. Aku
tidak akan tidur di rumahmu ini. Kau akan membunuh kami selagi
kami tidur.”
“Tidak,” sahut Kebo Sindet, “aku tidak akan berbuat demikian.
Aku tadi hanya menakutimu.”
“Mungkin. Mungkin tadi kalian hanya ingin menakuti kami. Tetapi
sekarang mungkin rencana itu benar-benar akan kalian lakukan. Aku
ingin tidur di bukit gundul itu. Mungkin aku akan dapat menangkap
harimau kumbang.”
Tak ada jawaban. Dan sekali lagi Empu Sada menjadi heran. Ia
tidak mendengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.
“Marilah Kuda Sempana dan Cundaka,” ajak Empu Sada, “kita
pergi ke bukit gundul itu.”
Empu Sada tidak menunggu apapun lagi. Terdengar amben itu
bergerit dan empu tua itu pun segera turun dan melangkah ke
pintu. Ternyata di luar tampak sedikit lebih terang daripada di
dalam
gubuk yang sempit itu.
“Tunggu!” terdengar suara Kebo Sindet.
Empu Sada tertegun sejenak. Ia mencoba berpaling, tetapi yang
dilihatnya hanyalah hitam yang pekat dan bayangan-bayangan yang
wajahnya tidak jelas dari orang-orang yang duduk di amben itu.
Tetapi ia mendengar Kebo Sindet berkata pula, “Empu Sada,
kalau kau tidak mau bermalam di gubuk yang jelek ini, terserahlah
kepadamu. Tetapi aku ingin Kuda Sempana tinggal di sini. Aku
masih memerlukan beberapa keterangan daripadanya.”
Empu Sada itu menggelengkan kepalanya meskipun ia tahu,
bahwa di dalam ruangan itu gelapnya bukan main, “Tidak. Kuda
Sempana pergi bersama aku.”
“Kenapa kau terlalu keras hatimu?” bertanya Kebo Sindet,
“bukankah kau datang untuk suatu usaha bekerja bersama? Karena
itu maka kau pun harus mempunyai kepercayaan kepada kami.”
“Tidak,” jawab Empu Sada tegas, “Kedua muridku harus bersama
aku.”
Tetapi Empu Sada tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar Kuda
Sempana yang seolah-olah sedang terbius oleh angan-angannya
untuk segera menangkap Mahisa Agni itu berkata, “Guru apakah
keberatannya apabila aku tinggal di sini? Aku percaya kepada kedua
paman ini, bahwa tidak akan membunuh kami. Seandainya guru
keberatan, maka akulah yang akan tinggal selama ini untuk
memberikan beberapa penjelasan yang perlu.”
Terdengar Empu Sada menggeram. Ia tidak menyangka bahwa
Kuda Sempana akan berbuat demikian. Maka jawabnya, “Kuda
Sempana. Kau adalah muridku. Kau harus menurut segala
petunjukku. Kau pergi bersama aku. Besok kita kembali kemari
untuk mendengarkan penjelasan apakah kedua pamanmu bersedia
membantu kami atau tidak.”
Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri tiba-tiba
menyela, “Baiklah. Bawalah Kuda Sempana. Beri aku kesempatan
malam ini. Besok aku mengharap kalian datang lagi kemari.”
Empu Sada tidak menjawab. Hatinya bergetar menahan segala
macam perasaan. Apalagi Kuda Sempana yang telah menyeretnya
ke bukit gundul ini telah mengecewakannya pula.
Kuda Sempana kemudian berkata kepada Kebo Sindet, “Baiklah,
Paman, biarlah aku malam ini mengikuti guru. Besok kami pasti
akan kembali.”
“Baiklah,” sahut Kebo Sindet. Keramahannya itu pun telah
semakin meyakinkan Empu Sada bahwa sesuatu yang tidak
menyenangkan telah direncanakan oleh Kebo Sindet itu.
Cundaka pun kemudian berjalan di belakang gurunya. Seperti
gurunya ia tidak minta diri kepada sepasang kakak beradik yang
baginya sangat memuakkan tetapi juga mengerikan.
Dengan tergesa-gesa Empu Sada berjalan meninggalkan gubuk
itu sambil bersungut-sungut. Cundaka berjalan terloncat-loncat di
belakangnya. Malam yang gelap semakin lama menjadi semakin
dalam. Tetapi di langit bergayutan jutaan bintang yang bercahaya.
Ternyata di luar tidak terlalu pepat seperti di dalam gubuk yang
sempit.
Beberapa langkah di belakang mereka, Kuda Sempana berlari-lari
kecil menyusul guru dan saudara seperguruannya. Ketika jarak
mereka sudah menjadi semakin dekat, terdengar Kuda Sempana
bertanya, “Ke mana kita pergi guru?”
Empu Sada berpaling, tetapi ia tidak mengurangi kecepatan
langkahnya. Diloncatinya batu-batu padas dan lubang-lubang di
sepanjang jalan yang sempit itu.
Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka kembali Kuda
Sempana mendesaknya, “Ke mana kita pergi guru?”
“Ke mana saja,” jawab Empu Sada, “kita jauhi rumah kedua
orang gila itu.”
“Tetapi,” potong Kuda Sempana, “bukankah mereka telah
menyatakan keinginannya untuk membantu kami.”
Empu Sada tidak menjawab. Langkahnya bahkan menjadi
semakin panjang dan cepat.
Kuda Sempana menjadi heran. Agaknya ada yang tidak berkenan
di hati gurunya. Namun ia tidak segera menanyakannya. Diikutinya
saja ke mana gurunya itu pergi.
Dalam pada itu Empu Sada menyusur jalan sempit di kaki lereng
bukit gundul. Kemudian dengan susah payah mereka mendaki naik.
Meskipun malam menjadi bertambah malam, namun mereka seolaholah
tidak memedulikannya.
Tiba-tiba mereka mendengar Empu Sada bergumam, “Kita
bermalam di bukit gundul itu.”
“Pasti terlampau dingin,” sahut Kuda Sempana.
“Kita tidak akan membeku seperti minyak di musim bediding.
Darah kita cukup panas dan hati kita pun cukup panas.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ia menjadi semakin yakin bahwa
ada yang tidak menyenangkan hati gurunya itu.
Cundaka berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak mau
tergelincir dan terbanting ke dalam jurang. Ia hampir-hampir tidak
memperhatikan sama sekali percakapan Kuda Sempana dengan
gurunya. Tetapi ketika terasa bahwa gurunya menjadi tidak begitu
senang terhadap kedua laki-laki kakak beradik itu, maka tergugah
kembalilah perasaan muaknya. Tetapi ia masih saja tetap berdiam
diri. apapun yang akan terjadi, maka ia harus pandai mengambil
keuntungan. Seandainya orang-orang liar itu benar-benar akan
membunuh Mahisa Agni, maka ia pun akan mengambil keuntungan
pula daripadanya. Seandainya niat itu diurungkan maka ia tidak
terlampau banyak berkepentingan. Bahkan dengan demikian ia akan
terhindar dari kemungkinan yang lebih parah. Apabila kemudian
Akuwu Tunggul Ametung mengetahuinya, maka sasaran yang
pertama-tama dari kemarahannya adalah gurunya, Kuda Sempana
dan murid-murid Empu Sada yang lain.
Demikianlah mereka bertiga memanjat tebing gunung gundul itu
sambil berdiam diri. Kuda Sempana pun tidak lagi bertanya-tanya.
Sedang Empu Sada sama sekali tidak bernafsu untuk berbicara.
Meskipun demikian orang tua itu berkata, “Siapkan senjata kalian.
Di gunung gundul ini terdapat beberapa jenis binatang. Mungkin
kalian akan bertemu dengan harimau kumbang yang mendaki dari
hutan-hutan di sekitar bukit ini untuk mencari anjing-anjing liar.
Tetapi anjing-anjing liar itu sendiri tidak kalah berbahayanya dari
harimau-harimau kumbang. Tetapi yang lebih berbahaya adalah
kedua orang liar itu. Mereka akan mampu menerkam kalian lebih
cepat dari harimau yang betapapun buasnya.”
Kedua muridnya terkejut mendengar kata-kata itu. Tetapi yang
lebih terkejut di antara mereka adalah Kuda Sempana, sehingga
dengan serta-merta ia menjawab, “Guru. Apakah guru
berprasangka? Ketika aku menjumpai Paman Wong Sarimpat di
lereng gunung gundul ini, maka kesan yang aku dapatkan memang
tidak begitu baik. Tetapi bukankah Paman Kebo Sindet tidak sekasar
paman Wong Sarimpat. Bahkan Paman Kebo Sindet ternyata jauh
lebih baik dari yang pernah guru katakan tentang kedua orang yang
guru sebut sebagai orang-orang liar itu. Paman Kebo Sindet cukup
ramah dan baik.”
“Hem,” Empu Sada menggeram, “kau memang terlampau bodoh
Kuda Sempana. Aku mengenal mereka berdua sejak lama. Sejak
kakak seperguruanku masih hidup. Mereka adalah orang-orang liar
yang tak dapat bersikap baik. Tetapi dahulu aku masih
mempercayainya. Mereka waktu itu tidak mempunyai
pertimbanganpertimbangan
lain kecuali berapa banyak kita akan memberinya
upah. Tetapi sekarang aku melihat beberapa perbedaan. Mungkin
mereka telah terlampau banyak menyimpan kekayaan, sehingga
mereka mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan keadaan
lebih seksama. Dan adalah karena kebodohanmu, bahwa kau
terlampau banyak bercerita tentang lawanmu itu.”
Kuda Sempana menjadi semakin tidak mengerti. kembali ia
bertanya, “Apakah keberatannya guru? Bukankah kita akan bekerja
bersama dengan mereka?”
“Kita akan bekerja bersama dengan mereka,” jawab Empu Sada,
“tetapi apakah kau yakin bahwa mereka akan bekerja bersama
dengan kita?”
“Mereka tidak mempunyai kepentingan apapun dengan Mahisa
Agni,” sahut Kuda Sempana.
“Mahisa Agni adalah calon kakak ipar Akuwu Tunggul Ametung
yang kaya raya. Yang mampu menyediakan emas sebongkah dan
berlian segenggam. Alangkah bodohnya kau.”
Kuda Sempana masih belum dapat mengerti maksud gurunya
dengan pasti. Namun menurut perasaannya, apapun yang akan
dilakukan atas Mahisa Agni kemudian ia tidak perlu
mempertimbangkan. Baginya asalkan dendamnya terbalas, maka
tak ada lagi alasan untuk membuat perhitungan-perhitungan lain. Ia
harus dapat melihat Mahisa Agni terikat pada tonggak kayu tanpa
dapat berbuat apapun. Kemudian ia harus melihat, betapa anak
muda itu menjadi sangat kecewa karena bendungannya gagal. Yang
terakhir ia harus mendengar kabar bahwa Ken Dedes menangis
setiap saat menangisi kakaknya yang mati. Kemudian Ken Dedes itu
pun akan mati pula. Adalah lebih baik baginya daripada setiap kali
ia
mendengar dan melihat gadis itu sebagai seorang permaisuri Akuwu
Tunggul Ametung.
“Gila!” gumamnya di dalam hati, “Bahkan kalau mungkin Tunggul
Ametung harus aku bunuh pula.”
Tetapi Kuda Sempana itu kini berdiam diri. Ia berbicara dalam
angan-angannya. Berbicara kepada diri sendiri tentang kemenangan
yang akan dicapainya untuk melepaskan dendamnya.
Tanpa mereka sadari, maka mereka bertiga kini telah berada di
punggung bukit gundul itu. Mereka berjalan di atas batu-batu padas
yang keputih-putihan mengandung kapur. Di sana-sini bertebaran
gerumbul-gerumbul liar seperti seonggok batu yang berserak-serak.
Tetapi Empu Sada itu masih berjalan terus. Langkahnya masih
tetap panjang-panjang dan cepat.
Kuda Sempana yang mempunyai kepentingan langsung dengan
kedua laki-laki kakak beradik itu bertanya kembali, “Guru, di mana
kita bermalam?”
“Sejauh-jauhnya dari rumah hantu-hantu liar itu.”
“Kenapa sejauh-jauhnya? Besok kita akan terlalu payah.
Bukankah kita besok akan kembali lagi kepada mereka?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Hatinya kini dicengkam
oleh keragu-raguan yang tajam. Sebagai seorang tua yang memiliki
pengamatan yang jauh, terasa bahwa kedatangannya sama sekali
tidak menguntungkannya. Juga tidak bagi murid-muridnya. Tetapi ia
masih tidak pasti atas pengamatan perasaannya itu. Apalagi ketika
didengarnya Kuda Sempana bertanya tentang apa yang akan
dilakukan kini.
Sejenak orang tua itu tidak menjawab. Tetapi langkahnya sama
sekali tidak mengendur, meskipun malam menjadi semakin dalam
dan angin yang dingin berhembus dari selatan mengusap kulit
mereka yang dilumuri oleh keringat. Keringat yang mengalir karena
ketegangan yang menghentak-hentak dada.
Karena Empu Sada tidak menjawab, maka kembali terdengar
Kuda Sempana bertanya, “Guru, ke mana kita bermalam. Bukankah
kita dapat bermalam di tempat ini, tempat yang menurut
pendapatku telah terlampau jauh?”
“Tidak Kuda Sempana,” jawab gurunya. Akhirnya Empu Sada
tidak dapat menyembunyikan perasaannya, ia ingin menyelamatkan
kedua muridnya itu dari bencana meskipun bencana itu belum pasti
datang, “Terus terang aku katakan sekarang kepadamu berdua,
bahwa sebenarnya aku menaruh curiga kepada kedua orang itu.”
Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata gurunya, dengan
serta-merta ia bertanya, “Kenapa guru curiga? Memang keduanya
tampaknya terlampau kasar dan liar, tetapi menurut anggapanku
mereka mempunyai dada terbuka. Dan bukankah mereka telah
menanyakan banyak hal tentang Mahisa Agni?”
“Terlampau banyak,” sahut gurunya.
“Guru, aku tidak tahu, kenapa guru berkeberatan?”
Kembali Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia
menjawab terdengar Cundaka berkata, “Ya, aku pun curiga kepada
mereka.”
Kuda Sempana segera merasa tersinggung mendengar kata-kata
saudara seperguruannya itu, sehingga cepat-cepat ia menyahut,
“Kenapa kau pun curiga? Sebenarnya kau tidak berkepentingan
sama sekali dengan kedua orang itu. Lebih baik kau tidak usah turut
menilainya.”
Cundaka mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar
teguran Kuda Sempana yang kasar itu. Sehingga kembali ia berkata,
“Demikianlah tanggapanku atas kedua orang itu. Berkepentingan
atau tidak berkepentingan. Tetapi bagiku mereka berdua adalah
orang-orang yang kasar dan memuakkan.”
“Kalau kau tidak mau bekerja bersama dengan mereka, pergilah,”
sahut Kuda Sempana, “tetapi jangan mencoba mengendurkan
tekadku untuk membalas sakit hatiku atas Mahisa Agni.”
Tiba-tiba Cundaka itu pun berhenti. Wajahnya menjadi merah
karena marah. Dengan tajamnya ia menjawab, “Baik. Aku akan
pergi. Aku tidak mau turut campur dalam urusan yang sama sekali
tidak ada sangkut pautnya dengan kepentinganku sendiri secara
langsung. Aku memang pernah mendendam Mahisa Agni. Tetapi
aku akan tekun menambah ilmuku sendiri. Kalau kau tak berhasil
membinasakannya, maka akan sampai saatnya akulah yang
berbuat. Tetapi dengan tanganku sendiri.”
“Jangan terlalu sombong!” bentak Kuda Sempana yang, tidak
kalah marahnya pula.
Tetapi ketika ia akan mengumpat-umpat lebih banyak lagi,
terdengar Empu Sada berkata, “Apakah yang kalian kerjakan itu.
Apakah kalian akan berkelahi di antara kalian sendiri, sedang
kalian
masing-masing mendendam anak muda yang bernama Mahisa
Agni?”
Kedua muridnya itu terdiam. Mereka sekali berpaling,
memandangi gurunya yang telah berhenti pula.
Beberapa langkah Empu Sada itu mendekati mereka yang sudah
berdiri berhadapan. Bahkan Kuda Sempana telah meraba hulu
pedangnya.
“Ternyata kalian telah menjadi gila,” berkata Empu Sada, “apa
kau sangka bahwa setelah kalian berkelahi, maka urusan kalian
dengan Mahisa Agni itu dapat selesai.”
“Tetapi ia menghina kedua paman kakak beradik itu, Guru.”
“Aku mengatakan tanggapan perasaanku atas mereka berdua.”
“Cukup!” bentak Empu Sada keras-keras. Betapa marahnya orang
tua itu karena murid-muridnya bertengkar di antara mereka,
sehingga tongkat panjangnya terayun-ayun hampir menyentuh
wajah kedua muridnya berganti-ganti, “Ayo. Siapa yang masih
membuka mulutnya, maka mulut itu pasti akan pecah oleh
tongkatku ini. Ayo. Siapa yang masih akan mencoba?”
Kedua muridnya menjadi takut melihat gurunya benar-benar
marah. Kuda Sempana dan Cundaka segera menundukkan
wajahnya dan menyembunyikan perasaannya. Tetapi bukan saja
mereka berdua yang mencoba menyembunyikan perasaan yang
menghentak-hentak dada masing-masing, tetapi Empu Sada pun
mencoba menyembunyikan perasaannya dibalik kemarahannya.
Orang tua itu pun kemudian merasa, bahwa apa yang telah
dilakukan selama ini terhadap murid-muridnya adalah keliru.
Muridnya itu satu sama lain sama sekali tidak mempunyai ikatan
persaudaraan yang kokoh. Sekali lagi Empu Sada menjadi iri melihat
murid-murid Panji Bojong Santi. Mereka seakan-akan mempunyai
suatu tataran yang teratur menurut urutan kakak beradik dalam
perguruannya.
Tetapi semuanya itu telah terlanjur. Empu Sada hanya dapat
menyesali diri sendiri. Ia tidak dapat membentuk murid-muridnya
menjadi suatu lingkungan yang terikat oleh perasaan senasib
sepenanggungan. Namun itu bukanlah salah murid-muridnya. Empu
Sada sendiri memperlakukan mereka tidak Adil sebagai murid yang
baik. Empu Sada lebih memperhatikan muridnya yang
berkedudukan baik dan yang mampu memberinya banyak uang dan
harta benda. Tetapi murid-muridnya yang tidak mampu memberinya
banyak dan tidak mempunyai kebanggaan apapun tentang dirinya,
maka murid-murid itu hanya sedikit sekali mendapat perhatiannya.
Sehingga dengan demikian, Empu Sada tidak mempunyai tanggung
jawab yang sepenuhnya atas murid-muridnya, dan murid-muridnya
pun tidak mempunyai kewajiban yang wajar atas gurunya itu.
Murid-muridnya tidak menganggap gurunya sebagai seorang yang
wajib dihormati dan disegani sepenuhnya, tetapi sebagai seseorang
yang telah memberi mereka itu kepandaian setelah ia menerima
upahnya.
Kini Empu Sada menyadarinya. Tak seorang pun dari muridmuridnya
yang mempunyai wibawa atas murid-muridnya yang lain
sebagai seorang kakak seperguruan terhadap adiknya. Muridmuridnya
merasa, bahwa mereka satu sama lain terlepas dari ikatan
semacam itu. Kalau ikatan itu ada, maka ikatan itu terlampau
lemah.
Namun kesadaran orang tua itu agaknya telah terlampau lambat.
Kini ia dihadapkan pada keadaan serba sulit, ia tahu benar bahwa
kedua muridnya itu kini berada dalam keadaan yang berlawanan.
Yang seorang ingin pergi meninggalkan tempat ini sedang yang lain
ingin tinggal untuk mendapatkan orang-orang yang sanggup
membantunya.
Empu Sada itu tersadar ketika dikejutkan terdengar suara anjing
liar menggonggong bersahut-sahutan.
“Hem,” desahnya sambil memandangi kedua muridnya itu
berganti-ganti. “Sekarang bagaimana?”
Kedua muridnya itu mengangkat wajahnya. Tetapi mereka masih
ragu-ragu untuk menjawab. Namun sekali lagi mereka mendengar
Empu Sada bertanya, “Sekarang bagaimana?”
Yang mula-mula menjawab adalah orang yang menyebut dirinya
Bahu Reksa Kali Elo, “Kita pergi saja meninggalkan tempat ini.”
“Tidak,” potong Kuda Sempana cepat-cepat, “kita kembali ke
rumah paman Kebo Sindet. Kita telah mengambil keputusan untuk
memohon bantuan mereka. Dan agaknya mereka telah membuka
pintu selebar-lebarnya.”
“Ya,” sahut Empu Sada, “mereka telah membuka pintu selebarlebarnya.
Tidak saja untuk memasukkan Mahisa Agni ke dalamnya,
tetapi kita sendiri akan berkubur di dalam gua itu, apabila malam
ini
kita kembali.”
“Guru terlampau berprasangka,” jawab Kuda Sempana dengan
tegangnya sehingga urat-urat lehernya seolah-olah akan mencuat
keluar.
Empu Sada benar-benar menjadi bingung. Ia tahu, bahwa ia
berprasangka, tetapi perasaannya dengan kuatnya memaksanya
untuk tidak kembali ke rumah itu. Malam ini, dan bahkan besok
pagi.
Tetapi ia tidak sampai hati untuk mengecewakan Kuda Sempana
yang telah menyimpan pengharapan di dalam hatinya sejak
dijumpainya Wong Sarimpat.
Dalam pada itu terdengar Cundaka yang menyebut dirinya Bahu
Reksa Kali Elo itu berdesis, “Aku akan meneruskan perjalanan ini,
Guru. Malam ini aku tidak akan bermalam di bukit gandul ini. Aku
akan berjalan terus sejauhnya.”
Belum lagi kalimat itu habis, Kuda Sempana telah memotongnya,
“Aku akan kembali ke rumah paman Kebo Sindet dan Paman Wong
Sarimpat. Aku tidak akan melepaskan kesempatan ini. Mahisa Agni
harus tertangkap hidup-hidup. Bukankah guru seorang diri tidak
sanggup melakukannya.”
“Kuda Sempana!” bentak Empu Sada, “Apakah kau sudah
kehilangan kepercayaan atas gurumu?”
“Maksudku,” sahut Kuda Sempana cepat-cepat, “maksudku, guru
tidak dapat menyelesaikannya sendiri karena ada orang-orang lain
yang ternyata telah terlibat pula, seperti Panji Bojong Santi
seperti
yang pernah guru katakan, dan mungkin Empu Purwa, ayah gadis
itu yang sepengetahuanku selama aku tinggal di Panawijen pada
masa kecilku, tidak lebih dari seorang tua yang sakit-sakitan.
Namun
ternyata guru telah memperhitungkannya pula.”
“Tentang Empu Purwa bertanyalah kepada Kebo Sindet. Ia
mengenal orang tua sakit-sakitan itu dengan baik.”
“Jadi guru akan kembali ke gubuk itu?”
Kembali Empu Sada diamuk oleh kebimbangan. Sekali-sekali di
kejauhan terdengar anjing liar menggonggong bersahutan.
Empu Sada memasang telinganya baik-baik. Anjing itu telah
menimbulkan kecurigaannya pula. Terdengar suaranya
berkepanjangan dan berputar-putar di lereng bukit gundul ini.
“Apakah anjing itu melihat harimau, atau mereka melihat
seseorang mendaki bukit ini?” katanya di dalam hati. Tetapi ia
tidak
mengatakannya kepada kedua orang muridnya itu.
“Bagaimana guru?” desak Kuda Sempana.
“Aku tidak akan kembali, setidak-tidaknya malam ini,” sahut
Empu Sada, “entahlah besok pagi-pagi. Mungkin malam ini aku
dapat mempertimbangkannya. Tetapi malam ini aku akan bermalam
di seberang bukit gundul ini.”
“Kenapa terlampau jauh?”
“Banyak bahayanya di bukit gundul ini. Harimau, anjing-anjing
liar dan orang-orang liar itu. Tetapi anggaplah kita tidak
berprasangka apapun terhadap kedua laki-laki itu. Maka yang perlu
kita perhatikan adalah anjing-anjing liar itu. Anjing-anjing liar
itu
datang dalam jumlah yang terlampau banyak. Lebih baik melawan
dua atau tiga ekor harimau daripada lima puluh ekor anjing yang
menyergap dari segenap penjuru.”
Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Cundaka
mendahuluinya, “Aku akan pergi. Aku akan pergi.”
“Tunggu,” cegah Empu Sada, “akulah yang mengambil
keputusan.”
Namun kembali orang tua itu mendengar gonggong anjing. Sahut
menyahut melingkar-lingkar, sehingga orang tua itu terpaksa
mempertimbangkannya.
Cundaka yang hampir melangkahkan kakinya tertegun diam. Ia
tidak berani melanggar kata-kata gurunya itu. Ia tahu, bahwa kali
ini Empu Sada berkata sebenarnya. Dan ia harus tunduk kepadanya.
Wajah orang tua itu kini diliputi oleh ketegangan yang
mencengkam hatinya. Di kejauhan ia masih mendengar gonggong
anjing-anjing liar. Kadang-kadang menghilang, namun kadangkadang
serasa menjadi amat dekatnya.
Dengan nada datar orang tua itu berkata, “Tidak, kita tidak boleh
terpisah-pisah. Kalian dengar gonggong anjing liar itu?”
Kedua muridnya menganggukkan kepalanya mereka.
“Berapa jumlah anjing-anjing liar itu menurut dugaanmu?”
Kedua muridnya terdiam. Namun tiba-tiba mereka merasa ngeri
juga mendengar suara anjing itu. Terlampau banyak. Betapapun
tangkas mereka mempermainkan pedang, tetapi mereka satu-satu
tidak akan dapat melawan sejumlah anjing-anjing liar itu.
Anjinganjing
liar itu dapat menyerang dari segenap penjuru. Selagi
seseorang mengayunkan senjatanya membunuh seekor di antara
mereka, maka seekor yang lain telah menerkam tubuhnya dari arah
yang lain. Disusul yang lain lagi, yang lain dan berpuluh-puluh
banyaknya. Apalagi mereka sama sekali belum mengenal watak dan
tabiat anjing-anjing hutan yang liar itu.
“Turutlah nasihatku,” berkata Empu Sada kemudian, “anjinganjing
liar dan harimau-harimau kumbang akan merupakan bahaya
yang besar bagi kalian. Alangkah malangnya apabila kalian mati
dikoyak oleh anjing-anjing liar itu. Bukankah lebih baik kalian
mati
dibunuh oleh Mahisa Agni.”
Kedua muridnya tidak menjawab. Mereka kini mencoba
memperhatikan suara anjing-anjing liar. bersahut-sahutan tak
hentihentinya.
Semakin lama menjadi semakin riuh.
Tetapi kemudian mereka terkejut ketika mereka melihat
bayangan yang kemerah-merahan bergerak-gerak di sisi tebing.
Cahaya yang bertebaran memancar dari balik gerumbul dan
batu-batu yang menjorok di permukaan bukit gundul itu.
Empu Sada mengerutkan keningnya. Ditatapnya cahaya yang
kemerahan itu dengan tajamnya, perlahan-lahan ia bergumam,
“Obor. Apakah kalian melihat sinar obor itu?”
Kedua muridnya mengangguk.
“Siapa menurut dugaanmu?”
Cundakalah yang menjawab, “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Mereka tidak memerlukan obor,” potong Kuda Sempana.
“Lalu siapa menurut dugaanmu Kuda Sempana?” bertanya Empu
Sada.
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu
guru.”
“Siapkan senjata kalian. Mungkin kita bertemu dengan orangorang
yang tidak bermaksud baik terhadap kita.”
“Aku sudah pasti,” sela Cundaka yang menyebut dirinya Bahu
Reksa Kali Elo, “mereka adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”
“Persetan!” potong Kuda Sempana pula, “Kau menghina mereka
berdua. Kau sangka bahwa mata mereka telah menjadi buta, atau
setidak-tidaknya rabun? Mereka adalah orang-orang sakti. Apakah
matamu lebih baik dari mata mereka?”
“Aku tidak peduli. Di sini tidak ada orang lain kecuali mereka
berdua,” sahut Cundaka.
“Kalau begitu kaulah yang buta,” jawab Kuda Sempana, “kau
tidak melihat padukuhan di sebelah rumah Paman Kebo Sindet dan
Paman Wong Sarimpat.”
“Orang-orang padukuhan itu tidak lebih dari mayat-mayat yang
hidup. Yang berbuat tidak atas kesadaran diri. Mereka adalah
alatalat
yang bernyawa dari kedua orang-orang liar itu.”
“Omong kosong! Kau tidak tahu apa-apa tentang kedua orang
itu. Kau menjadi iri, ketika kau melihat ada orang yang bersedia
membantuku. Kau iri bahwa upah yang akan mereka terima tidak
lagi akan aku berikan kepadamu.”
“Kuda Sempana,” potong Cundaka, “aku masih sanggup
menampar mulutmu.”
“Aku bukan tonggak mati Cundaka, yang menyebut dirinya Bahu
Reksa Kali Elo.”
Tiba-tiba keduanya memutar diri masing-masing. Kini Kuda
Sempana dan Cundaka telah berhadapan. Namun tiba-tiba pula
mereka terkejut. Mereka menyadari diri mereka masing-masing
ketika mereka berdua telah terpelanting jatuh berguling-guling di
atas batu-batu padas yang keputih-putihan.
“Setan!” terdengar guru mereka itu menggeram, “Kalau kalian
masih bertengkar, maka biarlah kalian aku bunuh bersama-sama.
Biarlah tubuh kalian hancur disayat oleh anjing-anjing liar itu
atau
oleh harimau kumbang.”
Kuda Sempana dan Cundaka tertatih-tatih berdiri. Wajah-wajah
mereka menjadi merah membara. Tetapi mereka tidak berani
berbuat apapun terhadap gurunya.
“Lihatlah,” berkata Empu Sada, “obor itu menjadi semakin dekat.
Sebentar lagi kalian akan melihat seseorang atau dua orang muncul
dari balik batu-batu yang menjorok itu. Atau kalian akan melihat,
apakah yang datang itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atau
bukan. Mereka berdua atau bukan, kita harus menerima mereka
dengan penuh kewaspadaan. Kita harus mencoba menyatukan
kekuatan kita, bukan kita hancurkan sendiri.”
Kuda Sempana dan Cundaka tidak menjawab. Tetapi mereka pun
berpaling ke arah yang ditunjuk oleh Empu Sada.
Di kejauhan mereka melihat cahaya yang kemerahan bertebaran,
semakin lama semakin dekat. Gonggong anjing liar pun semakin
lama menjadi semakin hilang pula.
Tatapi dengan demikian hati mereka bertiga menjadi semakin
berdebar-debar. Dengan mulut terkunci dan mata tidak berkedip
mereka menatap ke arah nyala yang memancar kemerah-merahan
itu. Bayangannya bergerak di bebatuan dan tebing-tebing bukit
gundul di sisi yang menjorok ke atas, seperti bayangan hantu yang
menari-nari mengerikan menarikan tarian maut.
Empu Sada dan kedua muridnya berdiri tegak seperti patung.
Bahkan kadang-kadang nafas mereka tertahan karena ketegangan
yang semakin memuncak. Obor itu menjadi semakin dekat.
Darah mereka serasa terhenti ketika dari balik batu yang
menjorok, mereka melihat sepasang obor seolah-olah mendaki
lereng bukit gundul dan muncul tidak terlampau jauh di hadapan
mereka. Sepasang obor yang dibawa oleh sepasang laki-laki.
Dalam pada itu terdengarlah Cundaka menggeram perlahanlahan,
“Apa katamu Kuda Sempana. Mereka berdua pasti Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Ayo, katakanlah sekarang, bahwa aku
telah menghina mereka. Nanti kau akan dapat mengamati sendiri
pada wajah yang kasar sekasar batu padas dan wajah yang beku
seperti wajah mayat.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Yang terdengar adalah suara
giginya gemeretak menahan marah. Namun yang dilihatnya adalah
benar-benar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka masingmasing
membawa sebuah obor. Dan apa yang dilihatnya itu benarbenar
tidak masuk di dalam akalnya. Kenapa orang seperti Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat masih memerlukan obor untuk
mendekati gunung gundul yang hampir setiap hari dilewatinya.
Tetapi ia telah membawa dengan mata kepalanya sendiri. Keduanya
benar-benar telah membawa obor di tangan.
Empu Sada masih berdiri diam. Dengan penuh kecurigaan
dipandanginya kedua orang itu berjalan ke arah mereka.
Setapaksetapak
kedua laki-laki kakak beradik itu maju semakin dekat. Dan
hati Empu Sada bersama dua orang muridnya menjadi semakin
berdebar-debar. Mereka sama sekali belum tahu, apakah yang akan
dilakukan oleh kedua orang itu.
Tiba-tiba bukit gundul yang kini telah menjadi sepi karena suara
anjing-anjing liar sudah tidak terdengar lagi itu digetarkan oleh
suara Wong Sarimpat keras-keras, “Ha, itulah mereka, Kakang.”
Tak terdengar jawaban. Namun kedua orang itu melangkah
semakin cepat.
“Hati-hatilah,” terdengar Empu Sada berdesis.
Tetapi ketika Cundaka meraba hulu pedangnya Empu Sada itu
berkata perlahan-lahan, “Jangan!”
Kuda Sempana benar-benar tidak senang melihat sikap Cundaka
yang seakan-akan memusuhi kedua orang yang telah menyatakan
diri untuk membantunya. Tetapi ia tidak berkata apapun. Namun
berbeda dengan gurunya dan saudara seperguruannya, ia sama
sekali tidak menaruh kecurigaan apa-apa kepada mereka berdua.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat kembali,
“He, Empu Sada, apakah kau telah menemukan tempat yang baik
untuk bermalam?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Ia menunggu kedua orang
itu menjadi semakin dekat. Tetapi Wong Sarimpat itu telah berteriak
lagi, “He, apakah kau sudah menjadi bisu?”
Namun Empu Sada masih membiarkannya berteriak sesuka
hatinya meskipun ia menjadi sangat jengkel pula karenanya, apalagi
muridnya yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Dengan
geramnya ia berdesis, “Orang itu benar-benar seperti orang gila.”
“Sekali lagi kau menghinanya,” sahut Kuda Sempana, “apakah
mulutmu ingin disobeknya?”
“Diam!” potong Empu Sada, “Kalian berdualah yang membuat
aku hampir menjadi gila.”
Keduanya kini terdiam. Kedua laki-laki kakak beradik itu kini telah
menjadi semakin dekat. Hanya beberapa langkah lagi. Dan
terdengarlah suara tertawa Wong Sarimpat, “Ha, ternyata kalian
masih hidup. Apakah kalian tidak menjumpai gerombolan anjinganjing
liar itu?”
“Tidak,” sahut Empu Sada.
“Beruntunglah kalian. Kalau kalian bertemu dengan serombongan
anjing-anjing itu, maka kalian harus bertempur mati-matian.
Mungkin kalian bertiga akan memenangkan pertempuran itu, tetapi
kalian akan kehabisan tenaga. Apabila kemudian datang rombongan
yang lain atau harimau kumbang, maka kalian akan disantap
mereka itu dengan nyamannya.”
“Lebih baik bagi kami bertiga,” sahut Empu Sada.
“He,” Wong Sarimpat terkejut, “lebih baik dari apa?”
“Lebih baik berkelahi melawan anjing-anjing liar itu daripada
kami harus mati di dalam gubukmu.”
“Kenapa?”
“Kalian akan mencekik kami selagi kami tidur.”
Kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat seolah-olah
akan membelah gelap malam. Demikian kerasnya sehingga
perutnya terguncang. Namun dalam pada itu wajah Kebo Sindet
yang beku itu sama sekali tidak bergerak. Wajah itu masih juga
beku sebeku wajah sesosok mayat.
Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang rendah,
“Aku datang karena aku menjadi cemas atas nasib kalian.”
“Apa yang kau cemaskan?” bertanya Empu Sada.
“Kalian belum mengenal bukit ini. Kalian belum mengenal
penghuni bukit ini dan kalian belum mengenal siapa yang merajai
bukit ini di malam hari.”
Empu Sada tertegun mendengar kata-kata Kebo Sindet itu. Katakata
bersahabat yang terasa menyejukkan hati. Tetapi perasaan
orang tua itu telah dicengkam oleh kecurigaan, sehingga setiap
kalimat yang diucapkan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat terasa
bagaikan sebuah jebakan untuk menjeratnya. Tetapi Empu Sada
tidak segera menjawab. Dibiarkannya Kebo Sindet berkata terus.
“Karena itu kami datang kemari. Kami akan mempersilakan kalian
sekali lagi. Tidurlah di rumah kami. Tetapi agaknya kalian telah
benar-benar menganggap sikap kami terlampau menyakitkan
hatimu sehingga kalian sama sekali tidak mau mendengarkan
permintaan kami lagi.”
“Terima kasih,” sahut Empu Sada, “aku akan tidur di sini.”
“Sekali lagi aku memperingatkanmu. Bagaimana dengan anjing
liar dan harimau-harimau yang berkeliaran di malam hari?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Disambarnya wajah kedua
muridnya dengan sudut pandangannya. Empu tua itu melihat, kesan
yang berlawanan pada kedua wajah itu. Sekali lagi ia menyesal. Ia
telah menyalakan kecurigaannya terlampau berterus terang di
hadapan muridnya, sehingga Cundaka pun menjadi sangat curiga
dan seolah-olah tidak akan dapat mempercayai apa saja yang
dikatakan oleh kedua orang itu seperti perasaannya sendiri. Tetapi
dengan demikian, ia telah membuat garis batas antara kedua
muridmuridnya
itu. Kuda Sempana sangat bernafsu untuk mendapat
bantuan melepaskan dendamnya, sedang Cundaka yang tidak
terlampau banyak berkepentingan lebih senang meninggalkan
tempat itu karena sejak pertama kali ia melihat salah seorang dari
kedua orang itu hatinya telah kecewa. Menurut anggapannya kedua
orang itu benar-benar memuakkannya
“Bagaimana Empu Sada,” desak Kebo Sindet, “aku hanya sekedar
memberimu peringatan. Aku adalah orang di bukit gundul ini. Aku
telah memahami watak daerah ini siang dan malam. Aku tahu apa
yang dapat terjadi di siang hari dan apa yang dapat terjadi di
malam
hari. Karena itu, maka kali ini aku membawa obor. Kau tahu, apakah
gunanya obor ini bagi kami?”
Empu Sada tidak menjawab. Tetapi pertanyaan itu telah menarik
perhatian Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka memang ingin tahu,
kenapa kedua orang itu membawa obor.
“Di malam hari,” berkata Kebo Sindet lebih lanjut, “anjing-anjing
itu menjadi semakin liar. Di malam hari gerombolan anjing-anjing
itu
menjadi semakin banyak. Tetapi mereka tidak begitu berani melihat
api. Itulah sebabnya kami membawa obor. Dengan obor di tangan
kami tidak usah susah payah berkelahi melawan anjing yang
jumlahnya tidak terhitung. Kami hanya cukup menggerak-gerakkan
obor kami dan anjing-anjing itu tidak berani mendekat. Mereka
hanya menyalak dan menggonggong tak habis-habisnya. Tetapi
akhirnya mereka pergi. Beruntunglah kalian bahwa kalian belum
bertemu dengan gerombolan anjing-anjing itu. Kalau demikian,
maka kalian harus berjuangan sekuat tenaga kalian. Tetapi anjing
itu akan datang semakin banyak dan semalam suntuk kalian akan
berkelahi. Apabila kalian kehabisan tenaga, maka kalian akan
menjadi kerangka di bukit gundul ini.”
Di telinga Kuda Sempana kata-kata itu benar-benar sebagai suatu
sikap bersahabat yang pantas dihargai. Ia sama sekali tidak melihat
sikap yang pantas dicurigai. Karena itu Kuda Sempana tidak dapat
mengerti, kenapa gurunya bersikap aneh terhadap kedua orang itu.
Mungkin sikap Kebo Sindet agak berlebihan, tetapi bukankah orang
itu mengharap upah daripadanya, sehingga ia bersedia sedikit
merendahkan dirinya. Bahkan menyayangkan jiwanya bersama guru
dan saudara seperguruannya? Sebab apabila mereka bertiga binasa
di bukit gundul itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan
dapat menerima upah lagi dari mereka.
Tetapi Empu Sada menangkap semua itu pun dengan sikap yang
berbeda. Seolah-olah terasa padanya, bahwa dibalik sikap itu
tersembunyi maksud-maksud yang sama sekali tidak
menguntungkannya. Karena itu maka jawabnya, “Terima kasih Kebo
Sindet. Kalau kau baik hati kepada kami, maka biarkan kami tidur di
sini. Berikan saja obormu itu kepada kami, supaya kami dapat
terhindar dari gerombolan anjing-anjing liar itu.”
“Obor ini tidak akan dapat menyala terus menerus semalam
suntuk Empu Sada,” sahut Kebo Sindet.
“Kami akan dapat mencari daun-daun kering dan ranting-ranting
perdu di gerumbul-gerumbul itu untuk membuat perapian.”
Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling
memandangi wajah adiknya, tampaklah wajah itu disaput oleh
kegelisahan. Agaknya Wong Sarimpat sedang menahan hati.
Dalam pada itu Empu Sada pun sekali lagi mencoba memahami
perasaan kedua muridnya. Kuda Sempana menjadi sangat kecewa
mendengar sikap gurunya, sedang Cundaka bersikap acuh tak acuh
saja atas pembicaraan itu. Namun sekali-sekali tampaklah wajahnya
menjadi tegang dan sekali-sekali tampak jelas bahwa orang yang
menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak senang
mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet. Meskipun
demikian ia mencoba menahan dirinya.
Tetapi mata Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang tajam, melihat
wajah Cundaka seperti mereka melihat warna hati murid Empu Sada
yang seorang itu, sebagaimana mereka dapat membaca hati Kuda
Sempana pula. Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri
masih juga membiarkannya berbuat sesuka hati. Wajahnya masih
saja membeku sebeku wajah batu-batu di pegunungan gundul itu.
Tetapi berbedalah dengan Wong Sarimpat. Wajahnya yang sekeras
batu-batu padas menjadi semakin kasar. Sekali-sekali mulutnya
berkomat-kamit, namun tak sepatah kata pun yang melontar dari
mulutnya.
“Bagaimana Empu?” terdengar suara Kebo Sindet datar.
“Berikan obormu. Satu kau tinggal di sini dan satu kau bawa
kembali.”
Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak menunjukkan perasaan
apapun di dalam dadanya, tetapi Empu Sada yang cukup matang
menghadapinya, melihat bahwa mata orang itu seolah-olah menjadi
semakin tajam memandanginya. Dari mata itulah Empu Sada kini
mencoba membaca perasaan Kebo Sindet.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Gunung gundul itu menjadi
sunyi kembali. Sunyi namun tegang. Dalam pada itu, hati Empu
Sadalah yang menjadi gemuruh karena berbagai perasaan yang
bergumul di dalamnya. Seakan-akan terdengarlah suara Empu
Gandring berkata, ‘Hati-hatilah menghadapi kedua orang itu Empu.
Mungkin kau akan ditelannya’. Kemudian suara Panji Bojong Santi,
‘Bagaimanapun juga, kau masih jauh lebih baik dari kedua orangorang
liar itu Empu Sada’.
Baru kini Empu tua itu menyadari, bahwa ternyata saat itu
hatinya sendiri telah dibakar oleh kemarahan dan dendam atas
kekalahan dan kegagalan murid-muridnya meskipun ia sendiri telah
ikut merencanakan dan menangani usaha itu.
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih juga berdiri tegang di
tempatnya. Sekali-sekali Wong Sarimpat mengeratkan keningnya
dan mencoba memandangi wajah kakaknya. Tetapi wajah itu masih
sekosong wajah sesosok mayat.
Kuda Sempana dan Cundaka pun terpaku seperti sebatang
tonggak mati. Namun pada wajahnya terpancar kesan yang
berbeda-beda. Kuda Sempana mengumpat-umpat di dalam hatinya
atas sikap gurunya, sedang Cundaka pun tidak senang mendengar
jawaban gurunya itu. Cundaka ingin gurunya berkata, “Kita tidak
mempunyai urusan lagi. Kami akan pergi. Kami akan kembali ke
rumah kami.”
Tetapi gurunya masih saja menuruti nafsu Kuda Sempana yang
baginya sama sekali tidak akan memberikan keuntungan apa-apa.
Membunuh Mahisa Agni atau mendapatkan Ken Dedes, Cundaka
tidak akan mendapat apapun juga. Mahisa Agni bukan seorang
pangeran yang kaya raya, yang pada mayatnya terdapat jamrud,
mirah, intan dan berlian. Anak muda itu sama sekali tidak bertimang
dan tidak berkelat bahu emas murni. Apakah sepeninggal Mahisa
Agni ia akan mendapat bagian batu-batu bendungan, atau
brunjung-brunjung bambu?”
Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Kebo Sindet,
“Empu, apakah kau akan keras kepala?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Kini ia melihat sikap yang
agak wajar dari Kebo Sindet. Orang itu adalah orang yang kasar.
Setiap ucapan dan kata-katanya yang baik, sopan dan teratur
pastilah menyimpan sesuatu maksud tertentu. Tetapi apabila ia
mulai berkata wajar menurut keadaan, sifat dan wataknya, maka
agaknya ia akan mulai berterus terang.
“Jangan hiraukan aku,” sahut Empu Sada, “kau tidak
berkepentingan apapun juga seandainya kami dicincang oleh
anjinganjing
liar atau oleh macan kumbang sekalipun.”
“Tetapi kalian adalah tamuku. Aku bertanggung jawab akan
keselamatan sekalian.”
Tiba-tiba Empu Sada tertawa mendengar jawaban itu. Katanya,
“Sejak kapan kau menjadi terlampau baik hati? Sejak kapan kau
merasa, bahwa kau adalah tuan rumah di rumahmu sendiri?”
Kebo Sindet terdiam. Ketika ia berpaling melihat wajah adiknya,
maka wajah itu telah memerah darah. Namun dada Kebo Sindet itu
berdesir ketika ia melihat wajah Cundaka yang seperti Wong
Sarimpat, memancarkan kemarahan yang menyala-nyala di dalam
hatinya. Meskipun demikian wajahnya yang beku masih juga
membeku. Tetapi terdengar ia bertanya, “He tikus kecil. Kenapa
matamu menyorotkan kemarahan? Wajahmu yang jelek menjadi
bertambah jelek.”
Cundaka hampir saja menjawab pertanyaan itu degan kasar pula,
seandainya Empu Sada tidak menggamitnya. Dan Empu Sadalah
yang kemudian menjawab, “Jangan hiraukan anak itu, dan jangan
hiraukan kami semuanya. Kalau kau baik hati, berikan salah satu
obormu. Kalau tidak, tinggalkan kami di sini. Kami akan menjaga
diri
kami sendiri.”
“Tetapi,” sahut Kebo Sindet, yang kata-katanya amat
mengejutkan, apalagi bagi Cundaka, “mata muridmu yang seorang
itu amat menarik. Bagaimana kalau aku mengambilnya sebelah
Empu.”
Dada Cundaka seakan-akan hampir meledak mendengar
penghinaan itu. Tetapi sekali lagi terasa tangan Empu Sada
menggamitnya, sehingga kembali ia menyadari dirinya, dengan
siapa ia berhadapan. Namun sakit di dalam dadanya, terasa menjadi
sangat pedih.
Yang menjawab adalah Empu Sada pula, katanya, “Mata itu
masih sangat berguna baginya. Kau tidak akan dapat
mempergunakannya. Karena itu jangan bersusah payah. Aku akan
menasihatinya, supaya ia dapat mempergunakan sebaik-baiknya.
Tetapi kau jangan membuang waktu untuk urusan-urusan yang
tidak berarti. Sekarang bagaimana dengan obormu? Kalau perlu,
maka obor itu akan dapat diperhitungkan sama sekali dengan upah
yang kau kehendaki atas bantuanmu menangkap Mahisa Agni.”
“Aku belum membicarakan tentang upah yang ingin aku minta
darimu,” sahut Kebo Sindet, “tetapi kalau kau sudah
menyebutnyebutnya,
maka biarlah aku mengatakannya. Upah itu tidak
terlampau banyak. Beberapa kerat emas dan sebelah mata muridmu
itu.”
Cundaka hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya
mendengar kata-kata Kebo Sindet. Namun sebelum ia menjawab,
terdengar Empu Sada mendahului, “Bagus. Itu permintaanmu.
Tetapi bukankah kami dapat menawarnya? Kalau ternyata tawaran
kami tidak sesuai, maka permintaan kami akan dapat kami
batalkan.”
“Bagaimana tawaranmu?”
“Anak itu tidak berkepentingan,” sahut Empu Sada, “karena itu,
maka ia tidak akan dapat turut membayar upah yang kau kehendaki
itu. Semuanya akan dibayar oleh Kuda Sempana. Tetapi sudah tentu
tidak sebelah matanya.”
“Tetapi mata Kuda Sempana tidak segarang mata muridmu yang
satu itu Empu. Mata itu seperti mata burung hantu.”
Sebelum Empu Sada menyahut terdengar suara Wong Sarimpat
seperti akan memecahkan selaput telinga, “Mata yang demikian
itulah Empu, yang dapat kami pergunakan untuk tumbal
keselamatan pekerjaan kami.”
Kemudian terdengar suara Wong Sarimpat tertawa.
berkepanjangan. Jauh lebih mengerikan dari suara anjing liar yang
menggonggong bersahut-sahutan.
Cundaka kini tidak lagi dapat menahan diri. Betapapun ia merasa
kecil, namun di dalam jiwanya membara pula sifat-sifatnya yang
keras dan dendam. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram.
“He, kenapa kau menggeram tikus,” bertanya Wong Sarimpat,
“apa kau sangka bahwa seekor tikus akan dapat menjadi seekor
harimau.”
Mata Cundaka menjadi semakin menyala. Tetapi Wong Sarimpat
itu bahkan menertawakannya semakin keras.
“Cukup!” tiba Cundaka itu membentak.
Wong Sarimpat benar-benar terkejut mendengar bentakan itu
sehingga suara tertawanya terputus. Bukan saja Wong Sarimpat
tetapi juga Kebo Sindet dan bahkan Empu Sada sendiri.
Segera Empu Sada merasa bahwa perbuatan Cundaka yang
menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak
bijaksana. Seandainya Empu Sada sendirilah yang membentakbentaknya,
maka kedua orang itu tidak akan segera merasa
tersinggung, karena Empu Sada adalah orang yang mereka anggap
setingkat dengan mereka. Tetapi Cundaka adalah seorang murid
yang masih berada jauh di bawah tingkat kedua orang itu, sehingga
bentakan itu akan sangat menyinggung harga dari mereka, kedua
orang liar dan kasar itu. Dengan demikian maka hal-hal yang tidak
diharapkan akan dapat terjadi.
Karena itu maka dengan serta-merta Empu Sada berteriak,
“Cundaka apakah kau sudah menjadi gila. Ayo mintalah maaf
kepada kedua pamanmu.”
Sebenarnya Cundaka sendiri pun terkejut mendengar suaranya.
Suaranya itu seakan-akan demikian saja meloncat dari mulutnya.
Sehingga ketika ia menyadarinya, maka mau tidak mau dadanya
pun menjadi berdebar-debar. Tetapi semuanya sudah terlanjur.
Ketika gurunya memerintahkannya untuk segera minta maaf
kepada kedua laki-laki kakak beradik itu, terjadilah keragu-raguan
di
dalam hatinya. Ingin ia menurut perintah itu, namun betapa ia
terlampau merendahkan dirinya sendiri. Karena keragu-raguan itu,
maka sejenak ia berdiam diri.
“Ayo,” perintah gurunya, “mintalah maaf kepada kedua
pamanmu. Segera!”
Tak ada pilihan lain bagi Cundaka untuk mematuhi perintah itu.
Tetapi selagi ia hampir berhasil mengatasi keragu-raguannya, dan
hampir saja ia mengucapkan permintaan maaf itu, terdengar Kuda
Sempana berkata, “Jangan terlalu sombong Cundaka. Kau adalah
sumber dari kericuhan. Sebenarnya lebih baik apabila kau tidak ada
di antara kami. Tetapi kau telah terlanjur membuat suatu kesalahan
yang gila. Sekarang kau harus memohon maaf.”
Kata-kata itu benar-benar menyakitkan hati Cundaka, sehingga
kembali ia kehilangan kesadaran dan menjawab kasar. “Itu adalah
urusanku Kuda Sempana. Kau tidak usah mengatur, apa yang
sebaiknya aku kerjakan.”
“Cundaka!” potong Empu Sada, “Jangan hiraukan Kuda
Sempana!”
“Tetapi ia menghina aku guru.”
“Sekarang kau minta maaf.”
“Aku sudah ingin melakukannya, tetapi Kuda Sempana membuat
dadaku terbakar.”
Percakapan itu terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara tertawa
Wong Sarimpat. Suara tertawa itu menggeletar lebih keras lagi dari
yang pernah mereka dengar. Namun wajah orang itu sama sekali
tidak menunjukkan kegembiraan hatinya. Meskipun ia tertawa tetapi
matanya memancarkan kemarahan yang membakar jantungnya
Disela-sela suara tertawa itu terdengar ia berkata, “Tidak ada
gunanya. Tidak ada gunanya kau minta maaf kepada kami, he
orang gila. Kalau kau kemudian minta maaf juga maka itu sama
sekali bukan karena kau ingin minta maaf, tetapi itu hanya karena
gurumu menyuruhmu. Nah, yang paling baik bagimu adalah
mempertanggung jawabkan kesombonganmu itu.”
Kening Empu Sada berkerut-merut karenanya. Ia melihat wajah
Cundaka menjadi tegang. Sekilas muridnya itu pun menatap
wajahnya, namun kemudian tampaklah Cundaka menjadi bingung.
Empu Sada sendiri tidak segera dapat menemukan cara yang
sebaiknya untuk mengatasi keadaan, sehingga sejenak ia pun
terdiam mematung.
“Nah,” berkata Wong Sarimpat kepada Kuda Sempana, “kini kami
telah pasti. Apakah yang harus kau bayar kepada kami atas
pertolongan yang kau harapkan itu Kuda Sempana. Beberapa kerat
emas murni dan sebelah mata saudara seperguruanmu. Kalau kau
mampu menyediakannya, maka selambat-lambatnya lima hari kami
akan membawa Mahisa Agni itu kepadamu. Setuju?”
(bersambung )
Jilid 20
NAFAS Kuda Sempana tiba-tiba menjadi sendat. Upah itu
terlampau mahal baginya. Bagaimanapun juga, Cundaka adalah
saudara seperguruannya. Apakah ia sampai hati untuk berbuat
dengan demikian, bahkan seandainya gurunya mengizinkannya
pula. Sejenak Kuda Sempana pun seakan-akan menjadi beku. Dan
suasana tercengkam oleh kesenyapan yang tegang. Tiba-tiba di
kejauhan terdengar sebuah auman yang keras, disusul oleh jerit
yang melengking. Jerit seekor anjing hutan yang karena kurang
hati-hati telah diterkam oleh seekor harimau kumbang. Itulah
kehidupan di dalam rimba. Siapa yang kuat, maka ialah yang
menguasai segenap keadaan tanpa memperhitungkan keadilan dan
kebenaran.
Dan di bukit gundul itu pun agaknya akan berlaku pula keadaan
yang serupa.
Ketika Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka terdengar
Wong Sarimpat mendesak “Bagaimana Kuda Sempana?”
Dada Kuda Sempana terasa menjadi pepat. Ia dihadapkan pada
keadaan yang sangat sulit. Dendamnya kepada Mahisa Agni dan
Ken Dedes terasa terlampau sakit menghimpit hatinya, tetapi untuk
melepaskan himpitan itu ia harus mengorbankan saudara
seperguruannya Alangkah mahalnya.
Dalam pada itu, Empu Sada pun menjadi bimbang. Tetapi
akhirnya ia tidak dapat memilih, kecuali mencoba melindungi
muridnya. Meskipun hatinya mengumpat-umpat atas ketelanjuran
Cundaka itu, tetapi adalah gila juga apabila dibiarkannya seorang
muridnya kehilangan sebelah matanya di hadapannya. Namun sekali
lagi ia kecewa atas muridnya itu, kecewa kepada diri sendiri. Bahwa
ia tidak dapat menempatkan muridnya dalam satu ikatan yang
kokoh seperti murid-murid Bojong Santi.
Kuda Sempana pun tidak kurang mengumpat-umpat di dalam
hati. “Cundaka memang gila. Ia tidak tahu perasaanku, sehingga ia
malahan seolah-olah menghalang-halangiku. Kini akulah yang
dihadapkan pada suatu kesulitan. Kalau ia tidak berbuat gila, maka
aku pun tidak akan berdiri di persimpangan jalan yang sulit ini.”
Mereka yang berdiri di atas bukit gundul itu kini benar dilanda
oleh ketegangan yang semakin memuncak. Kuda Sempana tegak
seperti patung. Namun nafasnya menjadi terengah-engah. Sekalikali
dipandangnya wajah gurunya. Ia ingin mendapat nasihat
daripadanya, tetapi gurunya masih juga tetap berdiam diri.
Cundaka sendiri sejenak kehilangan kemampuan menimbang dan
memperhitungkan keadaan yang dihadapinya. Tetapi kemudian ia
berhasil menenangkan dirinya. Kini ia telah pasti bahwa
ketelanjurannya akan mendatangkan bencana kepadanya. Namun
tiba-tiba ia menjadi tabah menghadapi bencana yang betapapun
juga. Kalau ia sudah mampu menghindarkan dirinya, maka ia harus
berani menanggung segala akibat dari perbuatannya. Di dalam hati
ia berkata “Terserah kepadamu Kuda Sempana. Tetapi namaku
hanya dapat lepas bersama nyawaku.”
Ketika Kuda Sempana tidak segera berbuat sesuatu, maka
kembali terdengar Wong Sarimpat berkata “He Kuda Sempana,
apakah kau juga menjadi bisu? Ayo, jawablah!”
Kuda Sempana benar-benar menjadi bingung. Kembali ia
memandangi wajah gurunya mencari jawab atas pertanyaan Wong
Sarimpat itu.
Empu Sada melihat kebingungan di hati Kuda Sempana. Ia
menjadi sedikit bersenang hati, bahwa Kuda Sempana masih
memerlukan untuk berpikir ketika ia harus melakukan sesuatu yang
dapat lebih menyakitkan hatinya, yaitu berkelahi sesama muridnya.
Karena itu, maka Empu Sadalah yang menjawab “Wong Sarimpat.
Permintaanmu memang tidak masuk akal. Nah, kalau demikian
maka biarlah aku memberikan tawaran. Beberapa potong emas itu
saja. Mungkin Kuda Sempana mempunyai mata yang bagus, tetapi
bukan mata orang. Mungkin ia mempunyai mata cincin batu akik
yang berharga. Akik mata kucing barangkali atau akik Wukir Gading
yang kekuningan. Kalau kau tidak senang mata batu akik, mungkin
kau senang permata intan atau berlian.”
Suara Empu Sada patah ketika kembali terdengar suara tertawa
Wong Sarimpat. Katanya “Harga Mahisa Agni yang aku berikan tidak
dapat ditawar-tawar. Ayo, kau tinggal sanggup atau tidak.”
Tiba-tiba Wong Sarimpat terkejut sehingga suara tertawanya
terputus. Bukan saja Wong Sarimpat, tetapi juga Kuda Sempana.
Dengan tegas Empu Sada menjawab singkat “Tidak. Aku tidak mau.
Kita batalkan pembicaraan kita.”
“Guru,” dengan serta-merta Kuda Sempana memotong
“Bagaimana mungkin, Guru. Aku sudah memutuskan, Mahisa Agni
harus tertangkap. Hidup atau mati. Aku lebih senang kalau ia dapat
tertangkap hidup-hidup.”
“Tetapi harga itu terlampau mahal. Kalau kau masih keras hati
untuk membunuh Mahisa Agni, maka berarti kau telah membunuh
dua orang sekaligus. Mahisa Agni dan saudara seperguruanmu
sendiri. Nah. Pertimbangkan. Kecuali Wong Sarimpat memberikan
penawaran lain.”
Kembali Kuda Sempana terbungkam. Terasa sesuatu bergolak di
dalam dadanya Dan kembali ia mengumpat-umpat di dalam hati.
Kejengkelannya terhadap Cundaka semakin meningkat dan
bahkan kemudian ia menjadi muak melihat orang itu. Orang yang
selama ini telah memperlemah tekadnya membalas dendam. Adalah
omong kosong kalau Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa
Kali Elo itu kelak akan mampu melepaskan dendamnya terhadap
Mahisa Agni dengan tangannya sendiri.
“Kenapa orang itu tidak mati saja diterkam macan?” desisnya di
dalam hati. Namun dengan demikian tiba-tiba jantungnya serasa
akan meledak ketika tumbuh pikiran di dalam benaknya, kenapa
orang itu tidak dibiarkannya mati saja? Kenapa gurunya
menganggap Cundaka sebagai tebusan yang terlampau mahal?
Cundaka itu pun kini tidak berguna lagi baginya, sehingga
seandainya anak itu mati. maka ia tidak akan merasa kehilangan.
Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada gurunya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat.
“Kakang Kebo Sindet, bagaimana sebaiknya? Permintaan Kakang
terlampau murah. Sebelah mata. Aku sekarang ingin menaikkan
harga itu. Tidak hanya sebelah tetapi sepasang mata anak setan ini.
Apakah Kakang setuju?”
Wajah yang beku itu tetap membeku, seolah-olah Kebo Sindet
tidak mendengar suara adiknya. Namun Wong Sarimpat itu berkata
“Nah, ternyata Kakang Kebo Sindet telah menyetujui. Sepasang
mata.”
Kemudian kepada Kuda Sempana, “Kau dengar kenaikan harga
itu? Karena kau terlampau lama berpikir, maka kami terpaksa
menaikkan harga. Kalau kemudian kau tidak segera memutuskan
maka harga itu akan naik lagi. Kau tinggal menyetujui atau tidak.
Kalau ternyata kau tidak mampu, maka biarlah harga itu kami ambil
sendiri.”
Kata-kata itu benar-benar menggetarkan hati. Dan udara di
gunung gandul itu pun tergetar ketika Empu Sada menjawab tegas
“Tidak. Muridku adalah milikku. Aku tidak akan menjerahkannya.
Aku belum gila segila kalian berdua.”
Kembali mereka terdiam. Wong Sarimpat memandang wajah
Empu Sada dengan mata yang menyala-nyala. Kemudian sekali ia
berpaling kepada kakaknya sambil berkata “Apa pula yang kita
tunggu, Kakang?”
Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet datar, “Empu Sada.
Kenapa kau tidak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri? Kenapa
kau tidak dapat menangkap Mahisa Agni? Apakah orang-orang
yang pernah kau sebutkan itu selalu mengawaninya? Empu Purwa,
Empu Gandring dan Panji Bojong Santi?”
Empu Sada tidak segera menjawab, tetapi yang menjawab
adalah Kuda Sempana, “Salah seorang dari mereka pasti ada di
sekitar Mahisa Agni atau Ken Dedes. Dan Guru hanyalah seorang
diri.”
“Tidak,” potong Empu Sada, “ada sebab-sebab lain. Sebab-sebab
yang tidak dapat aku katakan di sini.”
Tiba-tiba wajah Kebo Sindet yang beku itu bergerak. Matanya
tiba-tiba menjadi redup. Dan sejenak kemudian terdengar ia berkata
“Kami berdua cukup kuat untuk melakukannya Empu, kau tidak
kami perlukan lagi.”
Kata-kata Kebo Sindet itu bagaikan petir yang meledak di dalam
dada Kuda Sempana. ia tidak tahu pasti maksud orang berwajah
beku itu, namun terasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar akan
terjadi.
Bukan saja Kuda Sempana, namun juga Cundaka terkejut sekali
mendengarnya. Meskipun ia juga kurang menyadari arti kata-kata
itu seperti Kuda Sempana, namun ia menjadi semakin muak melihat
kedua orang liar itu.
Empu Sada sendiri mengerutkan keningnya. Ia terkejut juga
mendengarnya, namun ia telah merabanya lebih dahulu, bahwa ia
akan berhadapan dengan kemungkinan itu. Kemungkinan yang
timbul karena kebodohan Kuda Sempana. Kuda Sempana telah
mengatakan banyak sekali, bahkan terlampau banyak tentang
Mahisa Agni, sehingga kedua orang itu telah mendapat gambaran
yang hampir sempurna tentang anak muda itu.
Cepat Empu Sada dapat mengikuti jalan pikiran Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat. Mereka pasti akan berbuat untuk kepentingan
mereka sendiri. Mereka mengetahui dari Kuda Sempana bahwa
Mahisa Agni selalu mondar-mandir antara padang rumput Karautan
dan padukuhan Panawijen untuk setiap persoalan. Mahisa Agni
adalah satu-satunya anak muda yang berani melakukannya. Dari
Kuda Sempana pun, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mendengar
hubungan yang terlampau rapat, terlampau rukun antara kedua
saudara itu, Mahisa Agni dan Ken Dedes, meskipun Kuda Sempana
tahu bahwa keduanya adalah bukan saudara kandung. Kedua orang
itu mendengar pula betapa Akuwu Tunggul Ametung sangat
bernafsu untuk memperistri Ken Dedes, bahkan mengambilnya
sebagai permaisuri.
“Hem,” Empu Sada menarik nafas dalam. Kemudian terdengar ia
bertanya “Kebo Sindet, apakah maksudmu sebenarnya?”
“Cukup jelas bagi seorang seperti kau Empu.”
“Tidak!” sahut Empu Sada, “Kurang jelas bagiku, sebab aku tidak
biasa berpikir seperti kalian.”
Kini wajah Kebo Sindet telah membeku kembali. Dengan nada
datar ia berkata, “Cukup jelas. Aku tidak memerlukan kau. Tetapi
aku juga tidak mau kau ganggu.”
“Kau keliru. Kau tak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa
aku.”
“Kau berusaha menyelamatkan dirimu?”
“Kenapa aku menyelamatkan diri? Apakah ada bahaya yang
mengancam aku?”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak memerlukan kau dan
aku tidak mau kau mengganggu untuk seterusnya. Jelas?”
Tiba-tiba Empu Sada tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya ia berkata “Kau akan membunuh aku?”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ditatapnya mata Empu Sada
dengan tatapan mata semakin lama menjadi semakin tajam. Hanya
tatapan mata itulah yang dapat dibaca oleh Empu Sada, bahwa
Kebo Sindet benar-benar berusaha akan melakukannya.
Percakapan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Kuda
Sempana. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya ia akan
menghadapi keadaan yang sama sekali tidak disangkanya. Ia tidak
dapat mengerti kenapa Kebo Sindet tiba-tiba ingin menyingkirkan
gurunya. Seandainya persoalan itu dapat dilakukan oleh mereka
sendiri, kenapa gurunya mesti harus disingkirkan? Dengan demikian
maka bergolaklah dada Kuda Sempana itu, seperti bergolaknya
perut gunung berapi.
Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat
menyambar telinga mereka seperti guruh di langit, “He, Empu Sada!
Kami telah cukup mengerti apa yang harus kami lakukan. Karena itu
kau bagi kami pasti hanya akan menjadi perintang yang
memuakkan. Mungkin kau akan berkhianat dan bahkan mungkin
kau sempat membunuh kami. Karena itu, maka kaulah yang harus
kami singkirkan dahulu.”
“Kenapa?” bertanya Empu Sada. Orang tua itu masih tetap saja
berdiri dengan tenang “bukankah aku yang memerlukan kalian
untuk pekerjaan ini? Kenapa akulah yang mungkin
mengkhianatinya?”
“Kami bukan orang yang kau sangka berotak batu,” sahut Wong
Sarimpat “aku tahu rencanamu. Kami akan kau jerumuskan dalam
persoalan yang tak tanggung-tanggung. Berhadapan dengan Akuwu
Tunggul Ametung. Kemudian kalau rencana itu berhasil, menangkap
Mahisa Agni, maka kau akan menghadap Akuwu dan menunjukkan
siapakah yang telah melakukan perbuatan itu. Dengan demikian
maka kau akan bersih dari segenap tuduhan, karena sebelumnya
kaulah yang telah membuat persoalan dengan Mahisa Agni karena
muridmu, dan keuntungan yang lain, kalau kami kemudian
tertangkap maka kau tidak perlu melepaskan sepotong emas pun
untuk kami.”
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sekarang
disadarinya bahwa apa yang dikatakan Empu Gandring dan Panji
Bojong Santi itu bukanlah suatu usaha untuk menakut-nakutinya
saja. Meskipun di antara mereka, Empu Sada sendirilah yang paling
mengenal kedua orang itu karena ia pernah berhubungan
sebelumnya. Tetapi kini, ia tidak berhasil mempergunakan kedua
orang itu.
Empu Sada itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan
tenang ia menjawab “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jangan kau
sangka bahwa aku pun tidak tahu apa yang kalian rencanakan.
Bukankah kalian telah merasa cukup mengetahui persoalan Mahisa
Agni? itu adalah kesalahan Kuda Sempana. Dan bukankah kalian
berdua ingin menangkap Mahisa Agni untuk tujuan pemerasan?
Mungkin kalian menyangka bahwa dengan menyembunyikan Mahisa
Agni, maka akulah yang akan menjadi sasaran tuduhan itu.
Sementara itu kau akan menjual jasa, mengembalikan Mahisa Agni
dan mengatakan bahwa kau telah membunuh Empu Sada. Kau
mengharap Ken Dedes akan memberi kalian segerobak emas dan
berlian, karena ia seorang permaisuri?” Empu Sada itu berhenti
sejenak. Tiba-tiba ia tertawa sambil berkata, “Cobalah. Kau kelak
pasti akan digantung di alun-alun. Mahisa Agni tidak pernah
terpisah
dari orang-orang yang tak akan dapat kau kalahkan.”
Tetapi kata-kata Empu Sada itu disambut oleh suara tertawa
pula. Suara Wong Sarimpat. Jauh lebih keras dari suara tertawa
Empu Sada. Di antara suara tertawanya yang menggelegar itu
terdengar ia berkata “Oh, apakah kau mengharap kami menjadi
ketakutan dan mengurungkan niat kami? Kau salah Empu. Tekad
kami telah bulat. Empu Sada harus disingkirkan. Mungkin dugaanmu
mengenai rencana kami benar.”
Empu Sada masih mencoba menguasai perasaannya. Katanya
“Kau akui bahwa kau telah merencanakan membunuh aku dan
mencoba melakukan pemerasan?”
Sebelum Wong Sarimpat menjawab, terdengar suara Kebo
Sindet, “Otakmu memang cemerlang Empu. Namun karena itu maka
kau harus kami tiadakan.”
Empu Sada kini sudah tidak melihat kemungkinan lain. Meskipun
ia masih kelihatan tenang-tenang saja, namun hatinya benar-benar
menjadi gelisah. Murid-muridnyalah yang paling terancam jiwanya.
Apa lagi Cundaka. Agaknya kedua orang itu sama sekali tidak
senang kepada muridnya yang seorang ini, seperti juga muridnya itu
sama sekali tidak senang kepada kedua orang-orang liar itu.
Kini suasana Tiba-tiba menjadi tegang. Empu Sada mencoba
untuk memusatkan segenap daya pikirannya untuk menemukan
jalan keluar dari kesulitan ini. Tetapi jalan itu tidak dilihatnya.
Satusatunya
jalan adalah bertempur.
Tanpa disengajanya orang tua itu berpaling memandangi kedua
muridnya berganti-ganti. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.
Lebih-lebih lagi. Ketika ia melihat Cundaka yang berdiri tegak
dengan tegangnya.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Kasihan anak ini. Meskipun ia
anak yang bengal, tetapi aku telah menyeretnya ke dalam kesulitan
yang tak mungkin padat dihindarinya.”
Tetapi ketika kemudian ia melihat sinar mata muridnya yang
menyala itu, hatinya menjadi bangga. Katanya pula di dalam hati
“Kalau kau mati anakku, matilah dengan wajah tengadah.”
Empu Sada itu pun kemudian terkejut ketika terdengar suara
Kebo Sindet, “Empu Sada. Kita sudah cukup lama berkenalan. Kita
sudah pernah bekerja bersama dan berhasil dengan baik. Karena itu
marilah kita saling berbaik hati. Janganlah kita menyusahkan satu
sama lain. Aku harap kau pun mengenal terima kasih kepadaku atas
pertolonganmu dahulu, dan sekarang kau bersikap baik terhadap
kami. Karena itu, maka sebaiknya kau tidak perlu mempersulit
usaha kami membunuhmu dan mengambil sepasang mata muridmu
itu.”
Darah di dalam tubuh Empu Sada terasa menggelegak. Di
kejauhan terdengar suara anjing liar menyalak bersahut-sahutan.
Tetapi rupa-rupa h kita saling berbaik hati. Ja nya perasaan
Cundakalah yang lebih dahulu meluap, sehingga tanpa
dikehendakinya kembali ia menggeram.
Wong Sarimpat yang mendengar geram itu, berkata kasar,
“Jangan tergesa-gesa. Waktu masih cukup. Apakah terlampau
terburu oleh keinginan untuk mencoba hidup tanpa mata?”
Alangkah sakit hati orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali
Elo itu. Namun setelah beberapa kali gurunya selalu menggamitnya,
maka kali ini pun ia menahan mulutnya sekuat-kuatnya. Apalagi
setelah ia mendengar pembicaraan gurunya dengan kedua orang
liar itu, maka kebenciannya menjadi semakin memuncak. Meskipun
demikian ia menjadi berdebar-debar pula. Agaknya ia tidak akan
dapat keluar dari bencana yang sudah membayang di depan
matanya.
Dalam pada itu kembali terdengar suara Kebo Sindet,
“Bagaimana dengan permintaanku, Empu?”
Empu Sada tidak menjawab. Ia tahu benar, bahwa ia tidak dapat
mencari jalan untuk melepaskan dirinya. Ia tahu benar, bahwa yang
seorang dari kakak beradik itu akan melawannya, dan yang seorang
dengan mudahnya akan membunuh kedua muridnya. Sesudah itu,
maka kedua orang itu ber-sama-sama akan membunuhnya pula.
“Licik!” geramnya di dalam hati. Tetapi Tiba-tiba di dalam hati
Empu Sada itu pun timbul pula tekadnya untuk melawan kedua
orang itu dengan cara seperti yang ditempuh oleh mereka. Karena
itu maka, meskipun Empu Sada itu masih saja berdiri sambil
menundukkan kepalanya, namun kepalanya itu bergelora dengan
dahsyatnya.
“Kebo Sindet,” berkata Empu Sada, “apakah tidak ada tawaran
lain? Bagaimana kalau kau sebut saja misalnya kami harus
membayar lebih dahulu supaya kami tidak menipumu?”
Wong Sarimpat tertawa. Jawabnya, “Berapakah besar
kemampuan mau membayar kami, Empu Sada. Ken Dedes adalah
seorang permaisuri Akuwu yang kaya raya. Beberapa potong emas
bagi mereka pasti tidak akan berarti apa-apa. Bahkan setelah kami
berhasil merebut Mahisa Agni dan membunuh Empu Sada yang
telah menculik Mahisa Agni itu, kami akan mendapat kedudukan
yang baik. Kami akan mendapat hadiah tanah perdikan dan kami
akan dapat hidup dengan tenteram untuk seterusnya. Tidak seperti
hidup kami saat ini.”
Empu Sada menganggukkan kepalanya, “Jadi kau ingin
kedudukan dan harta itu dengan beralaskan kepalaku?”
Wong Sarimpat tertawa terus. “Ya,” jawabnya.
Kepala Empu Sada menjadi semakin tunduk. Kakinya tiba-tiba
menjadi gemetar seperti suaranya yang gemetar pula.
“Aku masih ingin hidup Wong Sarimpat. Apakah kau tidak
kasihan melihat umurku yang sudah menjadi semakin tua. Kau
biarkanlah aku beberapa tahun lagi, pasti akan mati sendiri.”
Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras.
“He, Empu Sada yang garang. Kenapa kau tiba-tiba menjadi
ketakutan he? Di mana namamu yang besar selama ini, yang
mempunyai puluhan murid tersebar di segenap penjuru Tumapel,
bahkan di setiap sudut Kerajaan Kediri?”
Empu Sada melihat kegembiraan itu Wong Sarimpat agaknya
menjadi sangat bersenang hati, seperti melihat permainan yang
baru pertama kali dimilikinya. Namun Tiba-tiba suara tertawa itu
terhenti. Terdengar sebuah keluhan pendek terloncat dari mulutnya.
Wong Sarimpat yang bertubuh besar kekar meskipun tidak terlalu
tinggi itu terdorong ke belakang dan terlempar jatuh.
Betapa terkejutnya semua orang yang berdiri di atas gunung
gundul itu. Peristiwa itu sama sekali tidak mereka sangka. Kebo
Sindet, orang yang berwajah mayat itu pun terkejut bukan buatan,
sehingga justru karena itu sejenak ia terpaku diam. Ia melihat Empu
Sada dengan kecepatan yang hampir tidak kasatmata, meloncat,
menghantam dada Wong Sarimpat yang sedang tertawa terbahakbahak.
Ternyata Empu Sada telah melanggar kehormatan diri
sebagai seorang sakti yang disegani. Ia telah mulai menyerang
sebelum musuhnya bersiap.
Dalam pada itu, Wong Sarimpat yang sama sekali tidak
menyangka bahwa Empu Sada akan berbuat demikian, tidak sempat
untuk mengelakkan diri atau menangkis serangan itu. Selagi ia
terlena oleh kegembiraan hatinya yang seakan-akan membakar
segenap dadanya ketika ia melihat Empu Sada ketakutan. Namun
tiba-tiba terasa seakan-akan Gunung Kawi runtuh menimpa
dadanya.
Kalau yang melakukan serangan itu Kuda Sempana atau
Cundaka, bahkan keduanya sekaligus, maka Wong Sarimpat tidak
akan dapat digeser setapak pun dari tempatnya. Bahkan ia akan
tertawa semakin keras. Tetapi yang menyerang dengan tiba-tiba
sebelum ia bersiap itu adalah Empu Sada. Orang yang setingkat
dengan Wong Sarimpat itu sendiri.
Dengan demikian maka Wong Sarimpat tidak dapat mencegah
ketika dirinya sendiri terbanting jatuh. Bahkan kemudian serasa
dadanya menjadi pecah. Sekali ia menggeliat dan mencoba untuk
segera bangkit, namun ia memerlukan waktu untuk melakukannya.
Tetapi Empu Sada yang telah merendahkan dirinya dengan licik
itu tidak berhenti dengan serangan itu. Selagi Kebo Sindet masih
tercengkam oleh perasaan terkejut, maka tongkatnya telah terayun
deras sekali. Hampir tidak ada senggang waktu dengan
serangannya atas Wong Sarimpat.
Kebo Sindet yang terkejut itu pun tidak sempat menghindar.
Tetapi ia mampu bergerak cepat pula. Dengan tangannya ia
menahan serangan Empu Sada yang menyambarnya secepat tatit.
Tetapi ternyata tongkat Empu Sada masih lebih keras dari tubuh
Kebo Sindet yang hampir sekeras batu padas. Tongkat itu adalah
tongkat Empu Sada. Tongkat seorang yang pilih tanding, sehingga
tongkat itu bukan sekedar tongkat untuk mencari jalan di malam
yang gelap.
Terasa perasaan sakit yang sangat telah menyengat tangan Kebo
Sindet. Seperti Wong Sarimpat ia mengeluh pendek. Tetapi yang
terasa sakit pada Kebo Sindet hanyalah sebelah tangannya, tangan
kirinya, bukan dadanya seperti Wong Sarimpat yang bahkan
nafasnya menjadi semakin sesak.
Dengan demikian, maka perkelahian di antara mereka telah
dimulai. Dimulai oleh sebuah serangan yang licik, sehingga Kebo
Sindet yang kemudian menyadari keadaan berteriak marah sekali,
“He Empu yang gila. Kau ternyata tidak lagi merasa dirimu berharga
untuk menjaga kehormatanmu. Kau mulai dengan sebuah serangan
yang licik dan hina. Apakah kau tidak mengenal tata kehormatan
dalam setiap perselisihan?”
Empu Sada kembali memutar tongkatnya, dan meluncurlah
sebuah serangan yang dahsyat mengarah ke dada Kebo Sindet.
Kebo Sindet yang belum dapat menyesuaikan diri sepenuhnya itu
segera meloncat mundur, namun tongkat Empu Sada mengejarnya.
Sekali lagi Kebo Sindet terpaksa menangkis serangan itu dengan
tangannya, dan sekali lagi terasa tongkat itu seperti menggigit
tulangnya.
“Gila kau, Empu Sada!”
“Tidak ada tata kehormatan yang mengikat aku seperti tidak ada
kebiasaan dan adat yang dapat mengikat kalian!” teriak Empu Sada
tidak kalah kerasnya. Suaranya bergetar dalam nada yang tinggi.
Ternyata Empu Sada itu pun telah dibakar oleh kemarahan yang
akhirnya meledak, “Mungkin aku berbuat curang dan licik. Tetapi
maaf, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau menjadi bangkai
makanan anjing-anjing liar.”
Dalam pada itu Wong Sarimpat telah berdiri di atas kedua
kakinya. Tetapi dadanya serasa akan pecah dan nafasnya seakanakan
telah menyumbat lubang-lubang hidungnya. Sekali ia
terhuyung-huyung, namun kemudian ia dapat menguasai
keseimbangannya dengan mantap.
Cundaka yang terkejut pun kini telah menyadari apa yang terjadi.
Ternyata gurunya telah mulai. Sudah tentu ia tidak akan dapat
berpangku tangan. Meskipun ia bukan lawan yang berarti bagi
Wong Sarimpat itu telah terluka di dalam. Wong Sarimpat itu
seolah-olah telah menjadi sangat lemah dan tidak lagi mampu
berbuat sesuatu. Karena maka nafsunya untuk melawan Wong
Sarimpat yang kasar itu segera berkembang di dalam dadanya.
Dengan serta-merta ia menarik pedangnya dan siap menghadapi
setiap kemungkinan.
Ia terkejut ketika ia mendengar Empu Sada berteriak, “Cundaka
dan Kuda Sempana. Tinggalkan tempat ini! Cepat! Kau hanya
memenangkan perlombaan lari dengan Wong Sarimpat. Jangan
mencoba melawan!”
Tetapi Cundaka menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat
telah hampir mati. Apakah ia tidak akan dapat membunuhnya
dengan pedangnya itu. Ia tinggal menghunjamkan pedang itu ke
dada orang yang berdiri pun hampir tidak mampu itu berdiri kaku di
tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang
harus dilakukannya?
“Jangan gila!” kembali Empu Sada terdengar berteriak.
Tetapi Cundaka tidak segera pergi. Sekali ia memandang Kuda
Sempana dengan sudut matanya. Namun Kuda Sempana masih
berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal.
Apakah yang harus dilakukannya?
Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet yang sedang berkelahi
dengan Empu Sada berkata, “Wong Sarimpat, jangan kau bunuh
Kuda Sempana. Ia adalah arak muda yang baik hati, jujur dan
mengerti apa sebabnya dilakukan. Sayang jika jatuh ke tangan
Empu Sada yang licik. Yang lain itu terserahlah kepadamu. Aku
hanya memerlukan sepasang matanya saja.”
Empu Sada tidak tahu pasti maksud Kebo Sindet dengan katakatanya
itu. Mungkin ia benar-benar ingin menangkap Kuda
Sempana hidup-hidup sebagai orang yang dianggapnya cukup
mengerti tentang Mahisa Agni dan Ken Dedes. Apalagi Kuda
Sempana dan Empu Sada tidak sempat berbicara terlampau banyak,
telah mengaku bahwa ia adalah pelayan dalam istana Tumapel,
yang banyak mengetahui seluk beluk istana itu. Tetapi mungkin
juga dengan demikian Kebo Sindet hanya ingin mencegah Kuda
Sempana supaya tidak melawan adiknya yang terluka itu bersamasama
dengan Cundaka dengan cara yang licik pula. Kebo Sindet
berpura-pura membiarkan Kuda Sempana akan tetap hidup, namun
apabila lawan yang lain telah binasa, maka akan datang giliran pada
anak muda itu. Karena itu maka Empu Sada itu pun segera berteriak
pula, “Kuda Sempana, jangan terpengaruh. Kebo Sindet hanya ingin
mencegah kalian bertempur berpasangan melawan Wong Sarimpat
yang hampir mampus itu. Kalau kau ingin melawan lawanlah
bersama-sama. Kalau sempat, lebih baik tinggalkan tempat ini.
Semakin cepat semakin baik.”
Kini Kebo Sindet telah benar-benar berada dalam keadaan yang
mantap untuk melawannya. Namun tangan kirinya telah terluka.
Terasa setiap kali tulang-tulangnya seperti menjadi retak karena
pukulan tongkat Empu Sada.
Kebo Sindet itu pun kemudian tidak membiarkan dirinya hancur
dan tulang-tulangnya patah oleh tongkat empu tua itu. Maka
dengan tangkasnya ia menarik goloknya yang besar dari rangkanya
yang tergantung di pinggang.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian kedua orang itu telah
terlihat dalam perkelahian yang sengit. Masing-masing adalah
orang-orang sakti yang sukar dicari keseimbangannya.
Dalam pada itu Kuda Sempana masih berdiri dengan ragu-ragu.
Tiba-tiba ia teringat pada saat-saat ia harus berkelahi melawan
Mahisa Agni di bendungan, kemudian di Panawijen. Namun
keduanya ia terusir karena kekalahan yang dialaminya. Kemudian ia
berhasil membunuh Wiraprana dan membawa Ken Dedes, tetapi ia
harus berhadapan dengan Witantra. Sekali lagi ia gagal. Dan ia
kemudian terlempar dengan hinanya ke atas tangga serambi istana
atas permintaan Ken Dedes yang ingin melepaskan sakit hatinya.
Dengan demikian maka ia adalah seorang buruan.
Kuda Sempana itu berdiri membeku di tempatnya. Ia melihat
Cundaka telah siap dengan pedangnya. Namun sekali lagi ia
mendengar kembali suara hatinya pada saat ia berkelahi melawan
Witantra, “Ken Dedes bagiku adalah lambang keteguhan tekadku.
Kalau aku tidak mampu mempertahankannya maka dalam
persoalan-persoalan yang lain aku pun akan selalu gagal.”
Kuda Sempana menjadi semakin ragu-ragu. Apakah ia akan tetap
dalam pendiriannya itu meskipun dengan perubahan? Kini ia telah
bertekad, kalau ia gagal maka lambang keteguhan tekadnya itu
akan dihancurkannya sama sekali lewat kehancuran yang akan
dialami oleh Mahisa Agni. Orang yang paling dibencinya.
Kuda Sempana tersadar ketika ia melihat gurunya dan Kebo
Sindet tiba-tiba meloncat dekat di mukanya. Dengan serta-merta ia
meloncat mundur. Namun ketika ia telah tegak kembali di atas
kedua kakinya, maka ia masih saja dicengkam oleh kebimbangan.
Kalau ia membiarkan perkelahian itu, maka berarti ia telah
mengkhianati gurunya. Tetapi kalau ia memihak gurunya dan
bersama-sama dengan Cundaka mencoba membunuh Wong
Sarimpat, maka kembali ia akan mengalami kegagalan menghadapi
Mahisa Agni.
Dadanya berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gurunya
berteriak, “Cundaka. Jangan gila! Tinggalkan orang itu, atau berdua
melawan ber-sama-sama. Jangan berbuat sendiri!”
Cundaka pun menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat
berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Sekali-kali orang itu meraba
dadanya yang serasa pecah. Namun matanya masih memancarkan
kemarahan yang membara. Dengan ujung jari tangan kirinya ia
menunjuk wajah Cundaka sambil berkata serak tersendat-sendat,
“Jangan lari tikus kecil aku masih mampu membunuhmu.”
Cundaka mundur selangkah. Tetapi pedangnya kini telah terjulur
lurus mengarah ke dada Wong Sarimpat. Dada yang telah berhasil
dilukai oleh Empu Sada.
Namun ketika Wong Sarimpat maju selangkah lagi, Cundaka itu
pun surut pula selangkah sambil berpaling memandangi saudara
seperguruannya, Kuda Sempana.
Tetapi Kuda Sempana itu pun masih juga berangan-angan.
“Apakah kematian Cundaka dan guru sendiri, akan merupakan
korban yang harus aku relakan untuk melakukan rencanaku?”
Sekali lagi Kuda Sempana mendengar gurunya berteriak, “Kau
sudah terpengaruh oleh suara iblis ini Kuda Sempana. Jangan kau
sangka bahwa kau akan mendapatkan apa yang telah mereka
janjikan.”
Kebo Sindet yang tangan kirinya telah terluka itu sempat juga
berkata, “Kasihan kau Kuda Sempana. Mungkin kau tidak mengerti
kenapa kami ingin membunuh gurumu. Sebelum gurumu ini aku
singkirkan, maka kau tidak akan dapat mengingkari rencana itu,
sebab di belakang semua perbuatannya, tersembunyi pamrih yang
tidak kau ketahui. Aku akan mengatakannya kelak, apabila gurumu
telah menjadi bangkai.”
Kata-kata Kebo Sindet terputus oleh serangan Empu Sada yang
semakin dahsyat. Tongkatnya sekali-kali berhasil menyusup ke
dalam lingkaran gerakan pedang Kebo Sindet. Bahkan sekali-kali
tongkat itu berhasil pula menyentuh tangannya yang sakit, sehingga
tulang-tulangnya semakin lama terasa seolah-olah menjadi semakin
remuk.
“Gila!” katanya di dalam hati “Empu tua itu tahu benar, bahwa
tanganku hampir patah.”
Namun betapapun juga, akhirnya Kuda Sempana menyadari,
bahwa ia tidak dapat membiarkan guru dan saudara
seperguruannya. Betapapun ia menjadi ragu-ragu tetapi terdengar
kata-kata hatinya melonjak-lonjak.
“Itu adalah gurumu.”
Dengan mata yang tidak berkedip Kuda Sempana melihat
gurunya bertempur. Hilanglah segala kesan ketuaan Empu Sada.
Kini Empu Sada itu seolah-olah menjadi seekor burung sriti yang
sedang menari-nari di udara,
Namun Kebo Sindet melawannya dengan tangkas. Goloknya
berputar dan terayun-ayun dengan dahsyatnya. Kekuatan orang itu
benar-benar mengagumkan. Golok yang besar itu di tangannya,
seolah-olah tidak lebih dari sebatang gelagah alang-alang
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru, seperti
pertempuran di dalam dada Kuda Sempana. Dalam ke-ragu-raguan
ia mendengar gurunya berteriak dengan penuh kecemasan,
“Cundaka! He, Cundaka! Apa kau sudah benar-benar gila. Lari! Lari
cepat!”
Tetapi Cundaka melihat Wong Sarimpat sudah hampir mati,
Dengan sebuah sentuhan yang tidak berarti orang itu pasti sudah
akan jatuh telentang. Dan ia segera akan menghunjamkan
pedangnya di dada orang liar itu. Betapa gurunya berteriak-teriak
namun perasaan sombong di dalam dadanya telah memaksanya
untuk tetap berada di tempatnya, bahkan ia sesumbar di dalam
hatinya, “He Wong Sarimpat. Betapa nistanya Cundaka yang
bergelar Bahu Reksa Kali Elo, namun aku adalah laki-laki juga
seperti kau. Sekarang, kenapa aku harus menghindarkan diri sedang
kau sudah hampir menjadi bangkai?”
Wong Sarimpat menjadi semakin dekat. Dan Cundaka masih
mendengar gurunya berteriak. Tetapi ia ingin, ya, ia ingin, bahwa
ia
berhasil membunuh Wong Sarimpat itu. Karena itu, tiba-tiba
Cundaka itu pun memekik tinggi. Dengan satu loncatan yang garang
ia menyerang Wong Sarimpat dengan pedangnya mengarah dada.
“Oh,” terdengar Empu Sada mengeluh, kemudian katanya,
“Nasibmu memang terlampau jelek Cundaka.”
Tetapi Cundaka tidak mendengar. Ia sedang dimabukkan oleh
keinginannya membunuh Wong Sarimpat yang di sangkanya hampir
mati karena luka di dadanya.
Kuda Sempana melihat serangan itu. Ia mendengar gurunya
memerintahkan kepadanya untuk bersama-sama dengan Cundaka
menghadapi Wong Sarimpat. Betapa ia masih dikuasai oleh
kebimbangan, namun tangannya telah menarik pedangnya pula.
Sekali ia melangkah maju, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
Matanya seakan-akan meloncat dari pelupuknya. Dengan mulut
ternganga ia meneriakkan sesuatu, tetapi kata-katanya tidak lagi
dapat dimengerti.
“Sudah nasibmu Cundaka,” geram Empu Sada sambil bertempur.
Yang terdengar adalah suara parau Wong Sarimpat. Betapa luka
menghentak-hentak dadanya, namun ia tertawa terbahak-bahak.
Ternyata Cundaka yang mencoba menusuk dada Wong Sarimpat
telah mengalami nasib malang. Dengan kecepatan yang tidak
disangka-sangka oleh Cundaka, Wong Sarimpat berhasil
menghindarkan dirinya. Cundaka yang memastikan bahwa
pedangnya akan menyentuh lawannya yang disangkanya sudah
tidak mampu bergerak itu, terdorong oleh tenaganya sendiri.
Tibatiba
terasa sebuah tangan yang kuat menangkap lehernya.
Demikian kuatnya, sehingga terasa lehernya hampir terputus
karenanya. Ketika sekali ia mencoba meronta, maka terasa jari-jari
tangan itu seolah-olah menghunjam ke dalam kulitnya dan
berangsur-angsur tenaganya menjadi kian lemah.
Dengan sisa tenaganya Cundaka segera menggerakkan pedang
yang masih berada di tangannya. Ia melihat sepasang kaki yang
renggang di sampingnya. Tetapi demikian pedangnya terayun,
terasa kaki Wong Sarimpat mengenai pergelangannya sehingga
pedangnya pun terlepas dan jatuh di tanah.
“Kuda Sempana, cepat berbuatlah sesuatu!” teriak Empu Sada.
Kuda Sempana maju pula selangkah. Kini ia telah mencabut
pedangnya. Ketika ia melihat Cundaka tidak berdaya maka timbullah
perabaan iba di dalam hatinya. Cundaka itu telah pernah berusaha
membantunya pula. Namun tiba-tiba kembali Kuda Sempana
tertegun. Ia melihat Cundaka yang tidak berhasil melepaskan
tangan Wong Sarimpat itu mencoba menghimpun kekuatan lahir
dan batinnya. Dalam keadaannya itu ia masih mencoba
membangunkan kekuatan aji Kala Bama. Demikian ia merasa siap
dengan kekuatannya itu, maka sambil membungkuk karena tekanan
tangan Wong Sarimpat, pada lehernya Cundaka mengayunkan
tangannya memukul lambung Wong Sarimpat. Namun Wong
Sarimpat menyadari apa yang akan terjadi. Dengan kekuatan yang
ada padanya, maka terkaman jarinya itu pun diperketat. Suatu
kekuatan yang tiada taranya telah menjalar di jarinya, sehingga
Cundaka itu pun tiba-tiba menjadi lemah seperti dilepasi seluruh
tulang belulangnya.
Empu Sada yang melihat muridnya mencoba membangun
kekuatan terakhir itu pun berdesah “Tak ada gunanya.”
Dan sebenarnyalah, ketika Wong Sarimpat melepaskan
tangannya, maka Cundaka itu pun jatuh dengan lemahnya di tanah.
Kekuatan yang telah mulai tumbuh dan menjalari tangannya, tibatiba
seperti dihisap oleh kekuatan yang tak dimengertinya. Bahkan
segenap kekuatan yang ada padanya.
Kini Cundaka tidak lebih dari sehelai daun yang laju. Terasa
betapa sakit segenap tubuhnya, dan betapa nafasnya menjadi
sesak. Sekejap ia menyesal bahwa ia tidak menuruti nasihat
gurunya, namun sekejap kemudian ia telah menemukan kekuatan
batinnya kembali. Adalah wajar, bahwa dalam setiap perkelahian itu,
salah satu pihak akan mengalami kekalahan. Mati adalah akibat
yang telah dimengertinya sejak pertama-tama ia menggantungkan
pedang di lambungnya. Dan mati itu kini menghampirinya. Karena
itu, dalam kelemahan, Cundaka bahkan menjadi tenang. Meskipun
tenaganya telah habis, namun ia masih sempat melihat gurunya
bertempur dan melihat Kuda Sempana berdiri termangu-mangu
dengan pedang di tangan.
“Mudah-mudahan guru dapat membalaskan dendamku,”
desisnya. Suaranya perlahan-lahan dalam nada yang sangat rendah.
Tetapi Empu Sada mendengar kata-kata itu. Hati orang tua itu pun
menjadi sangat terharu ketika ia melihat muridnya pasrah kepada
maut yang telah siap untuk memeluknya
Kuda Sempana yang berdiri dalam kebingungan tiba-tiba tersadar
bahwa ia sedang menghadapi bahaya yang sama besarnya dengan
bahaya yang telah menelan Cundaka. Karena itu, maka segera ia
mencoba memusatkan perhatiannya ke pada ujung pedangnya dan
kepada Wong Sarimpat. Ditindasnya setiap perasaan ragu-ragu dan
disingkirkannya setiap harapan akan membalas dendam terhadap
Mahisa Agni dengan alat kedua orang liar itu. Meskipun harapan itu
selalu saja menyentuh-nyentuh hatinya.
Kuda Sempana itu pun kemudian menggeretakkan giginya. Ia
masih melihat saudaranya seperguruannya menggeliat. Dan sekali
lagi Cundaka itu mencoba berkata, “Aku sudah tidak dapat
membantu guru lagi.”
Sekali lagi dada Empu Sada tersentuh. Murid itu diambilnya,
karena Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu
dapat memenuhi permintaannya. Dapat memberinya berbagai
macam barang dan uang. Bukan karena suatu keyakinan bahwa
muridnya itu akan dapat meneruskan cabang perguruannya. Namun
ketika ia melihat anak itu hampir sampai pada ajalnya, maka hatinya
melonjak. Kemarahannya pun menjadi semakin menyala di dalam
dadanya. Tiba-tiba hati orang tua itu berkata “Ya, aku akan
mencoba membalaskan dendammu, Anakku.”
Tiba-tiba Empu Sada itu pun melenting meninggalkan lawannya.
Gerak yang tiba-tiba dan hampir secepat tatit meloncat di udara
itu,
tidak segera dapat diikuti oleh Kebo Sindet. Namun sebagai seorang
yang telah dipenuhi oleh pengalaman maka segera Kebo Sindet
dapat menangkap maksud Empu Sada. Dengan loncatan yang
panjang Kebo Sindet mengejarnya. Tetapi Kebo Sindet terlambat
sekejap. Tongkat Empu Sada telah terjulur lurus ke dada Wong
Sarimpat. Alangkah terkejutnya Wong Sarimpat yang sedang
menikmati kemenangannya itu. Ketika ia melihat Empu Sada
meloncat ke arahnya, dan ketika ia melihat tongkat orang tua itu
terjulur lurus ke dadanya, maka ia menjadi gugup. Kalau dadanya
tidak sedang terluka maka serangan itu sama sekali tidak akan
membingungkannya. Ia mampu bergerak secepat Empu Sada.
Tetapi kini betapa sakit tulang-tulang iganya. Setiap geraknya
pasti
menumbuhkan rasa pedih pada isi dadanya itu. Namun ia tidak mau
mati karena serangan itu. Betapapun sakitnya, tetapi ia harus
mengerahkan segenap kemampuannya. Karena ia tidak mendapat
kesempatan untuk meloncat, maka satu-satunya cara yang dapat
menolongnya adalah menjatuhkan diri. Sementara itu ia mengharap
kakaknya akan datang menolongnya.
Demikianlah dengan serta-merta Wong Sarimpat mencoba
menjatuhkan dirinya mendahului tongkat Empu Sada. Meskipun
dadanya terluka, namun ia masih juga mampu bergerak cepat,
sehingga dadanya terlepas dari dorongan tongkat orang tua itu.
Tetapi Empu Sada tidak membiarkannya bebas sama sekali dari
serangannya, dengan satu putaran ia menghantamkan tongkatnya
pada punggung lawannya. Sekali lagi Wong Sarimpat terpaksa
mencoba menghindarkan diri dengan berguling di tanah. Namun kali
ini Wong Sarimpat yang sudah tidak mampu mempergunakan
segenap kekuatannya itu tidak berhasil membebaskan dirinya sama
sekali. Sekali lagi ia terpaksa mengalami cedera. Kali ini
lengannya
telah terkena tongkat Empu Sada yang sedang menjadi sangat
marah itu.
Terdengar Wong Sarimpat mengumpat pendek. Perasaan nyeri
telah menusuk tulangnya, serasa tulangnya telah menjadi retak pula
karenanya.
Namun dengan demikian, karena nafsu Empu Sada untuk
membunuh Wong Sarimpat terlampau menguasai perasaannya,
maka sejenak ia menjadi lengah, bahwa Kebo Sindet sedang
mengejarnya. Empu tua itu mendengar Kuda Sempana berteriak
pendek dan terasa sebuah getaran menyentuh punggungnya. Cepat
ia meloncat ke samping sambil merendahkan dirinya. Kali ini ia
berhasil menghindari sambaran golok Kebo Sindet, tetapi ketika
golok itu terayun melampaui tubuhnya yang sedang merendah,
terasa telinganya seakan-akan menjadi pecah. Ternyata kaki Kebo
Sindet berhasil menyambar kepalanya, menyentuh telinga
kanannya. Untunglah bahwa Kebo Sindet tidak berhasil
mempergunakan sepenuh kekuatannya karena tarikan goloknya
sendiri. Meskipun demikian Empu Sada itu pun terdorong selangkah
dan jatuh terguling di tanah. Namun seperti singgat, orang tua itu
segera melenting berdiri. Tongkatnya masih tergenggam erat di
tangannya. Tetapi kini kepalanya menjadi pening. Bahkan serasa
dunia ini berputar di sekelilingnya.
“Gila!” orang itu mengumpat di dalam hati. Ketika ia melihat
Kebo Sindet menyerangnya kembali, maka sementara orang tua itu
hanya berhati menghindar sambil mencoba menenangkan dadanya.
Sementara itu Wong Sarimpat pun telah duduk kembali. Tepat di
samping Cundaka yang terbaring lemah. Betapa kemarahan Wong
Sarimpat itu menghunjam jantungnya. Maka ketika tiba-tiba
dilihatnya Cundaka di sampingnya, dengan serta-merta ia
merangkak dan menangkap leher orang yang sudah tidak berdaya
itu. Dengan gigi gemeretak ia menekankan sepuluh jari-jari
tangannya ke leher Cundaka yang tidak dapat melawannya sama
sekali.
Kuda Sempana yang meloncat dengan pedang di tangan ternyata
terlambat. Cundaka sudah benar-benar mati dicekik oleh Wong
Sarimpat.
Ketika Kuda Sempana kemudian siap menyerang orang yang
masih terduduk itu terdengar Empu Sada memperingatkannya,
“Jangan kau ulangi kesalahan saudaramu. Orang yang hampir mati
itu masih cukup berbahaya bagimu.”
Tetapi suara itu disusul oleh suara Kebo Sindet, “Wong Sarimpat,
jangan kau bunuh Kuda Sempana. Aku bahkan ingin menolongnya,
menangkap Mahisa Agni.”
“Setan!” geram Empu Sada. Kini kepalanya sudah tidak
terlampau pening lagi. Namun telinganyalah yang terata sakit bukan
buatan. Bahkan hatinya pun menjadi sangat pedih. Satu muridnya
meninggal di hadapan hidungnya. Tetapi muridnya itu telah menjadi
korban kesombongan sendiri. Ia tidak mau mendengarkan
nasihatnya.
Seruan gurunya, serta suara Kebo Sindet, kembali telah
mengganggu perasaan Kuda Sempana. Ia kini kembali berdiri tegak
seperti patung. Ia melihat Cundaka terbunuh karena tidak mau
mendengar nasihat gurunya. Dan kini gurunya itu melarangnya pula
untuk melawan Wong Sarimpat yang tampaknya sudah terlampau
lemah. Tetapi dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet mencegah
adiknya untuk tidak membunuhnya.
Kuda Sempana menjadi bingung. Tetapi bahwa Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat tidak berlaku jujur kini mulai terbayang di dalam
benaknya, Karena itu maka Kuda Sempana pun kini mulai
menyadari betapa bodohnya dirinya sendiri. Dan ia ingin mencoba
menebus kebodohannya. Ia ingin memanfaatkan sikap Kebo Sindet
atas adiknya Wong Sarimpat. Apabila ia menyerang Wong Sarimpat,
maka Wong Sarimpat pasti tidak akan berani membunuhnya karena
kakaknya tidak menghendakinya. Tidak seperti saudara
seperguruannya itu. Kedua orang liar itu agaknya benar-benar
membencinya meskipun mereka belum mengenalnya dengan baik.
Apalagi kini Wong Sarimpat telah menjadi semakin parah.
Karena itu maka Kuda Sempana tidak segera meninggalkan
tempat itu. Dari cahaya obor yang masih menyala meskipun kini
tergolek di atas batu-batu padas, ia melihat betapa wajah Wong
Sarimpat yang tegang. Agaknya orang itu berusaha untuk menahan
perasaan sakitnya.
Ketika api obor itu menyala semakin besar, maka Kuda Sempana
melihat, betapa wajah itu menjadi sangat mengerikan. Wong
Sarimpat itu menatap seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Tekad Kuda Sempana telah bulat di dalam dadanya. Ia
mempunyai kedudukan yang berbeda dengan saudara
seperguruannya di mata kedua orang-orang liar itu. Betapa Wong
Sarimpat marah kepadanya, namun Kebo Sindet agaknya masih
memerlukannya.
Namun kembali ia mendengar gurunya berteriak, “Apakah kau
juga akan membunuh dirimu Kuda Sempana?”
Kuda Sempana menggeram. Terasa dadanya bergolak. Apakah
sudah sepantasnya ia melarikan dirinya selagi gurunya bertempur
matian dan sesudah saudara seperguruannya itu mati?
Dalam keragu-raguan itu ia melihat Wong Sarimpat berusaha
untuk berdiri. Beberapa kali ia berusaha, namun setiap kali ia
berhenti, mengatur pernafasannya dan mengusap dadanya.
Agaknya dadanya masih terasa sangat parah, di samping lengannya
yang serasa menjadi retak.
“Setan licik!” geramnya. Kemudian ditatapnya wajah Kuda
Sempana sambil mengumpat “Kau setan pula. Ternyata kakakku
berbaik hati kepadamu. Kalau tidak, maka nyawamu akan meloncat
dari ubun-ubunmu seperti demit kecil ini.”
Namun terdengar suara Kebo Sindet, “Jangan kau takut-takuti
anak itu, Wong Sarimpat. Ia tidak bersalah. Gurunyalah yang gila
dan saudara seperguruannya itu pula.”
Dada Kuda Sempana berdesir. Namun ia sependapat dengan
gurunya ketika ia mendengar gurunya berkata, “Apakah kau dapat
mempercayainya Kuda Sempana?”
Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk
lemahSementara
itu Wong Sarimpat telah berhasil berdiri tegak.
Ditelekankan kedua tangannya di dadanya, dan dihisapnya nafas
dalam-dalam beberapa kali. Sejenak ia memusatkan segenap sisasisa
kekuatannya. Dan kemudian terdengarlah ia berdesis.
Kebo Sindet dan Empu Sada masih juga bertempur dengan
sengitnya. Keduanya adalah orang-orang yang jarang tandingannya.
Masing-masing mempunyai kekhususannya sendiri- sendiri. Namun
terasa bahwa tangan Kebo Sindet yang terluka agak
mengganggunya. Meskipun demikian goloknya masih dapat
berputar seperti baling-baling.
Empu Sada tidak kalah lincahnya pula. Meskipun telinganya
menjadi sakit, namun kekuatannya seolah-olah sama sekali tidak
terpengaruh olehnya. Tongkatnya masih menyambar-nyambar dan
sekali-kali mematuk ke titik-titik berbahaya pada tubuh Kebo
Sindet.
Kuda Sempana kemudian melihat Wong Sarimpat mengangkat
kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menghisap udara
sebanyakbanyaknya.
Seakan-akan seluruh udara di atas bukit gundul itu akan
dihisapnya. Ber-kali-kali dan kemudian terdengar ia berdesah lirih,
“Hem. Setan tua itu harus binasa.”
Dengan penenangan itu ternyata Wong Sarimpat berhasil
mengurangi perasaan sakitnya meskipun hanya sedikit. Namun
karena kemarahan yang membara di dadanya, maka ia tidak dapat
membiarkan melihat kakaknya bertempur sendiri melawan Empu
Sada. Bagi Wong Sarimpat Kuda Sempana sama sekali sudah tidak
berarti lagi. Karena itu dibiarkannya saja ia berdiri tegak dengan
pedang di tangan.
Tetapi Kebo Sindet tidak ingin membiarkan Kuda Sempana itu. Ia
tidak menghendaki anak itu dilepaskan. Ia tidak akan membiarkan
anak itu lari. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya kepada
adiknya, sebab dengan demikian, maka Empu Sada pasti segera
mengetahui maksudnya pula.
Karena itu, maka Kebo Sindet itu pun menjadi gelisah. Tetapi
ketika ia melihat Wong Sarimpat telah siap untuk ikut serta dalam
perkelahian itu, maka tumbuhlah harapannya untuk dapat
menangkap Kuda Sempana hidup-hidup. Ia mengharap anak muda
itu bukan seorang pengecut yang licik. Ia mengharap setidaktidaknya
Kuda Sempana mempunyai keberanian seperti saudara
seperguruannya.
Maka Tiba-tiba berkatalah Kebo Sindet, “He, apa yang akan kau
lakukan Wong Sarimpat?”
Wong Sarimpat menggeram. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya
itu bertanya. Namun dijawabnya pula pertanyaan itu, “Aku ingin
memecahkan dada Empu tua itu seperti ia melukai dadaku. Tetapi
aku bukan pengecut seperti orang itu.”
Empu Sada tidak merasa perlu untuk menjawab. Bahkan
serangannyalah yang menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak
menjadi cemas melawan keduanya telah dilukainya sehingga
mereka tidak dapat mempergunakan teraga mereka sepenuhpenuhnya.
Meskipun demikian Empu Sada tidak dapat memperingan
lawannya. Apalagi Kebo Sindet. Meskipun sebelah tangannya telah
terluka namun tandangnya hampir tidak berbeda. Tetapi Empu Sada
yang telah mengetahui luka di tangan itu, selalu berusaha untuk
menyentuhnya dengan tongkatnya. Empu tua itu tahu betul,
sentuhan yang kecil telah cukup untuk membangkitkan perasaan
sakit yang membakar seluruh tubuh Kebo Sindet itu.
Karena itu ketika Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih
mendekatinya, maka Empu Sada itu menjadi semakin berhati-hati.
Kuda Sempana yang masih tegak seperti tonggak, melihat Wong
Sarimpat semakin lama menjadi semakin dekat dengan kedua orang
yang sedang bertempur itu. Meskipun tataran ilmu gurunya serta
Kebo Sindet di atas ilmunya, namun Kuda Sempana dapat melihat
bahwa Kebo Sindet yang terluka tangannya itu selalu terdesak oleh
gurunya. Betapa besar golok orang itu, dan betapa kuatnya ia
menggerakkannya, namun setiap kali ia melihat orang itu
menyeringai menahan sakit dan sekali dua kali meloncat surut untuk
menghindari serangan Empu Sada yang selalu berusaha menyarang
titik kelemahan lawannya.
Sesaat kemudian Kuda Sempana itu pun melihat Wong Sarimpat
meloncat menerjunkan diri ke dalam perkelahian itu. Alangkah
terkejutnya ketika ia melihat orang yang di sangkanya sudah hampir
mati itu mampu meloncat dengan kecepatan yang luar biasa.
Serangannya datang seperti kilat menyambar di langit. Tetapi ketika
lawannya mampu menghindari serangan itu, maka kembali Wong
Sarimpat berdiri terbungkuk-bungkuk. Kedua tangannya menekan
dadanya dan nafasnya seakan-akan hampir putus.
Ternyata orang itu telah mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk
tetap dapat mengimbangi lawannya. Meskipun kemudian luka di
dalam dadanya terasa sakit kembali, namun pada saat tertentu,
karena nafsu dan kemarahan yang meluap-luap, Wong Sarimpat
telah berhasil meluapkannya. Sehingga serangan yang demikian itu
tidak hanya satu kali dilakukan oleh Wong Sarimpat. Setiap kali ia
menyerang dan setiap kali pula ia menyingkir dari titik perkelahian
untuk menenangkan dirinya.
Meskipun demikian, namun serangan-serangan Wong Sarimpat
itu cukup mengganggu Empu Sada. Setiap kali ia harus membagi
perhatiannya. Bahkan serangan-serangan orang tampaknya telah
hampir lumpuh itu pun masih cukup berbahaya.
Akhirnya Empu Sada pun menyadari, bahwa tidak ada gunanya
lagi ia bertempur seterusnya. Kini ia tinggal mencoba bertahan dan
memberikan kesempatan Kuda Sempana untuk menyingkir sebelum
ia sendiri meninggalkan bukit gundul itu. Tetapi alangkah
jengkelnya
Empu tua itu ketika ia masih melihat Kuda Sempana berdiri saja
seperti patung,
“Kuda Sempana, pergilah!” berkata Empu Sada.
Tetapi yang menyahut adalah Kebo Sindet, “Wong Sarimpat.
Jangan putus asa karena luka-lukamu. Marilah kita bunuh Empu tua
yang gila ini. Ia telah banyak berbuat kesalahan tidak saja atas
kita.
Namun lihatlah. Apakah ia telah membentuk muridnya itu dengan
baik? Menurut pendapatku Kuda Sempana adalah seorang anak
muda yang cukup berani. Tetapi gurunyalah yang mengajarinya
menjadi pengecut. Bagi laki-laki, lari dari arena perkelahian
adalah
sifat yang sehina-hinanya. Lebih hina dari serangan yang licik yang
dilakukan oleh Empu Sada itu sendiri.”
“Jangan hiraukan!” teriak Empu Sada sambil bertempur, “Jangan
hiraukan. Lari tinggalkan tempat ini!”
“Kalau kau yang lari, Wong Sarimpat, meskipun kau sudah akan
mati, maka kau akan aku bunuh sendiri,” geram Kebo Sindet.
Tiba-tiba Wong Sarimpat yang terluka di dadanya itu melepaskan
diri dari perkelahian. Terdengar ia mencoba tertawa keras-keras.
Tetapi suara itu pun patah karena perasaan sakit yang menekan
dadanya. Namun ia masih sempat berkata “Empu Sada telah
mendidiknya berbuat demikian. Ternyata murid yang gila, yang kau
kehendaki sepasang matanya itu lebih berani daripada Kuda
Sempana.”
Baik Empu Sada maupun Kuda Sempana menyadari maksud
kata-kata itu. Mereka tidak menghendaki Kuda Sempana
meninggalkan perkelahian. Namun meskipun demikian, harga diri
Kuda Sempana tersinggung juga. Itulah sebabnya ia masih juga
berdiri termangu-mangu meskipun beberapa kali gurunya
berteriakteriak
mengusirnya.
Dalam perkelahian yang kemudian menjadi semakin sengit, Kebo
Sindet sempat berkata kepada Wong Sarimpat perlahan-lahan,
“Tangkap anak itu. Jangan sampai ia lari. Kau tidak akan dapat
mengejarnya karena lukamu.”
Betapa Kebo Sindet mencoba berbisik perlahan-lahan sekali,
tetapi telinga Empu Sada yang tajam dapat mendengarnya. Karena
itu sekali lagi ia berteriak “Lari Kuda Sempana lari. Kau akan
ditangkap hidup-hidup untuk permainan mereka ini. Permainan
orang-orang liar.”
Karena perhatian yang terpecah-pecah itulah maka Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat berhasil menekan Empu Sada mendekati Kuda
Sempana. Wong Sarimpat yang terluka itu kadang-kadang sama
sekali tidak mampu meloncat menyerang karena perasaan sakitnya,
namun kadang-kadang apabila ia berhasil mengatasi perasaan sakit
dan berhasil menghimpun tenaganya maka luka di dadanya itu
seakan-akan sudah tidak berbekas.
Ketika titik perkelahian itu menjadi semakin mendekatinya, maka
Kuda Sempana pun menjadi semakin menyadari apa yang akan
dihadapinya. Ia benar-benar tidak dapat ikut dalam perkelahian itu,
tetapi untuk meninggalkan gurunya, hatinya masih ragu-ragu.
Meskipun demikian, akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan, “Lebih
baik aku menyingkir. Aku harap Guru berhasil melarikan dirinya pula
kemudian.”
Ternyata gurunya yang benar-benar menginginkan Kuda
Sempana pergi telah mencoba merendahkan dirinya agar muridnya
tidak terlampau terikat pada harga diri pula, katanya “Kuda
Sempana, larilah selagi aku mampu menahan kedua orang liar itu,
sesudah itu aku pun akan melarikan diri pala. Tak ada gunanya lagi
berurusan dengan orang-orang liar ini.”
Tak ada pilihan lain bagi Kuda Sempana selain meninggalkan
pertempuran itu. Ia harus segera pergi, tidak tahu ke mana, asal
saja menjauhi kedua orang-orang yang aneh itu.
Tetapi betapa terkejut Kuda Sempana ketika ia seolah-olah
melihat kilat yang menyambar di hadapannya. Demikian cepatnya
sehingga ia tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Ketika ia
telah mengambil keputusan untuk lari, maka ia telah terlambat.
Wong Sarimpat yang terluka itu tiba-tiba telah berdiri di
hadapannya. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terasa tangannya
yang memegang pedang bergetar, dan pedangnya pun terpelanting
jatuh di tanah.
Kuda Sempana benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk
berbuat sesuatu. Yang terasa olehnya adalah sebuah tekanan yang
keras pada lengan kanannya. Ketika ia terputar, maka Wong
Sarimpat telah menangkap tengkuknya. Sebuah tekanan yang keras
di tengkuknya serasa sebagai daya yang kuat, yang telah
menghisap seluruh tenaganya. Seperti Cundaka, maka Tiba-tiba
Kuda Sempana itu menjadi lemah. Semakin lama semakin lemah.
“Gila!” terdengar Empu Sada berteriak. Tetapi ia tidak dapat
berbuat sesuatu. Kebo Sindet yang telah bersiap untuk menghadapi
tindakan adiknya itu dengan garangnya mencoba melibat Empu
Sada, sehingga orang itu tidak mendapat kesempatan berbuat
sesuatu.
Betapa jantung orang tua itu dicengkam oleh kemarahan yang
memuncak. Betapa dadanya serasa akan pecah. Tetapi semuanya
itu sudah terjadi. Ia menyesal tak habisnya atas kedua muridnya
yang sama sekali tidak mau mendengarkan nasihatnya. Cundaka
telah hangus dibakar kesombongannya sendiri, sedang Kuda
Sempana telah dibelit oleh keragu-raguannya. Namun kedua-duanya
kini tidak dapat diharapkannya lagi.
Empu Sada itu masih melihat Kuda Sempana jatuh dengan
lemahnya. Sedang Wong Sarimpat, yang terpaksa mengerahkan
sisa-sisa tenaganya yang telah lemah pula, berdiri sambil menekan
dadanya Sekali ia batuk sambil terbungkuk-bungkuk, namun
kemudian orang itu pun jatuh terduduk di tanah.
“Kau akan mati pula!” geram Empu Sada.
Tetapi Kebo Sindet menjawab, “Tidak. Kami menyimpan obatobatan
yang dapat menyembuhkannya dalam waktu singkat.
Sayang obat-obatan itu tidak kami bawa. Tetapi ia tidak akan mati.
Besok ia telah sanggup bertempur melawanmu seorang diri
seandainya kau masih hidup. Tetapi sayang pula, bahwa kau akan
mati malam ini seperti muridmu yang sombong. Sedang muridmu
yang baik itu, biarlah aku mencoba merawatnya. Menjadikannya
seorang jantan yang tidak akan dapat kau kalahkan seandainya kau
sempat bertemu lagi.”
Empu Sada tidak menjawab. Ia melihat kesempatan untuk
mencoba menjatuhkan Kebo Sindet, selagi Wong Sarimpat sedang
dicengkam oleh perasaan sakit. Dengan mengerahkan segenap
kemampuannya ia menyerang seperti seekor burung elang di udara.
Menyambar dengan tongkatnya, tangannya dan kakinya. Namun
Kebo Sindet masih mampu untuk menghindarkan dirinya dari setiap
serangan yang betapapun berbahayanya.
Perlahan-lahan Wong Sarimpat mulai dapat mengatasi perasaan
sakitnya kembali. Perlahan-lahan pula ia mencoba berdiri. Dengan
mata yang menyala ia memandangi Empu Sada yang sedang
bertempur dengan kakaknya. Kemudian terdengar ia menggeram,
“Tinggal kau sekarang Empu tua. Ayo, menyerahlah supaya
kemarahan kami tidak menyebabkan kami membunuhmu dengan
cara yang tidak menyenangkan.”
Empu Sada masih berdiam diri. Bahkan serangannya menjadi
semakin kuat. Namun ia bergumam di dalam hatinya, “Setan
manakah yang telah bersembunyi di dalam tubuh Wong Sarimpat
itu? Meskipun ia sudah hampir mampus, namun ia masih juga kuat
untuk berdiri dan bahkan bertempur meskipun ia telah memeras
tenaganya melampaui kemampuannya yang sewajarnya.”
Dan Empu Sada itu menjadi semakin geram, ketika ia melihat
Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih ke arah mereka yang sedang
bertempur mati-matian itu. Kini goloknya, yang mirip dengan golok
kakaknya telah digenggamnya pula. Meskipun nafasnya tersendatsendat
namun nampaknya orang itu masih garang juga.
Sekali lagi Empu Sada membuat perhitungan. Ia juga tidak akan
mampu mengalahkan keduanya dalam keadaan serupa itu. Ternyata
kekuatan tubuh Wong Sarimpat benar-benar berada di luar
dugaannya. Dalam keadaan serupa itu, ia masih juga mampu
mengganggu perkelahiannya dengan Kebo Sindet. Karena itu, maka
tidak ada jalan lain baginya daripada menghindarkan diri dari
perkelahian itu. Kalau ia berhasil maka ia masih mempunyai
kemungkinan untuk berusaha membebaskan Kuda Sempana.
Menurut perhitungan Empu Sada kemudian, Kuda Sempana
memang tidak akan dibunuh, sebab kedua orang itu masih
memerlukannya. Mereka mengharap Kuda Sempana memberinya
beberapa petunjuk tentang Mahisa Agni, Ken Dedes dan Tunggul
Ametung.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat pun telah dapat menebak
pula maksud Empu Sada itu. Karena itu maka terdengar Kebo Sindet
menggeram “Jangan mimpi kau berhasil melepaskan diri Empu.
Meskipun Wong Sarimpat telah kau lukai dengan curang, tetapi ia
masih mampu berbuat sesuatu. Mungkin kau dapat mengalahkan
kami satu-satu karena kecuranganmu. Tetapi mengalahkan kami
berdua, atau mencoba melepaskan diri dari kami berdua adalah
sangat mustahil.”
Empu Sada sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia memang
melihat kesulitan itu. Wong Sarimpat yang lemah itu masih juga
dapat berbuat banyak untuk mencegahnya meninggalkan
perkelahian. Namun bagaimanapun juga Empu Sada berusaha untuk
melakukannya. Sedikit demi sedikit ia menarik perkelahian itu ke
sisi
dataran gunung gundul yang tidak terlampau lebar. Namun setiap
kali kedua laki-laki liar kakak beradik itu, selalu berusaha
mendesaknya kembali ke tengah.
Semakin dalam malam memeluk permukaan bukit gundul itu,
perkelahian mereka menjadi semakin sengit. Wong Sarimpat yang
dibakar oleh kemarahannya, ternyata mampu melupakan lukanya
pada saat-saat tertentu, meskipun sekali-sekali ia terpaksa
menyingkir untuk sesaat, memperbaiki keadaannya dan mengatur
pernafasannya.
Tetapi keadaan Empu Sadalah yang semakin lama menjadi
semakin sulit. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berusaha dengan
sekuat tenaga untuk membinasakan Empu tua itu. Orang itu akan
dapat mengganggu usahanya. Rencananya tentang Mahisa Agni
telah matang di dalam kepala Kebo Sindet, seperti yang ditebak oleh
Empu Sada. Karena itu maka Empu Sada harus tidak ada lagi,
supaya rencananya dapat berlangsung. Tetapi sudah tentu bahwa
Empu Sada tidak akan menjerahkan kepadanya, sehingga
bagaimanapun juga, dengan segenap kekuatan dan kemampuan
yang ada orang tua itu berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
Namun jumlah kekuatan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang
luka itu, ternyata masih lebih besar dari kekuatan Empu Sada,
sehingga sekali terasa serangan-serangan kedua orang itu
hampirhampir
dapat mencapai maksudnya. Bahkan sekali-sekali terasa
pada pakaian Empu Sada, sentuhan-sentuhan ujung-ujung golok
Kebo Sindet atau Wong Sarimpat.
“Setan belang!” orang tua itu mengumpat di dalam hati. Ia kini
benar-benar sedang berusaha untuk melepaskan dirinya.
Namun ternyata bahwa serangan-serangan kedua lawannya
semakin lama menjadi semakin garang. Batu-batu padas di bukit
gundul itu benar-benar tidak menyenangkan bagi kaki Empu Sada.
Bahkan terasa beberapa kali kakinya terantuk oleh ujung-ujung
padas yang menjorok. Tetapi bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
tanah itu merupakan tanah tempat mereka bermain setiap hari
sehingga ujung-ujung batu yang runcing tajam sama sekali tidak
mempengaruhinya.
Ketika Empu Sada sekali lagi mencoba meloncat surut, maka
tanpa disangka-sangkanya kakinya tergores oleh sebuah ujung batu
padas sehingga sesaat ia terhuyung-huyung. Namun dengan
tangkasnya ia meloncat dan memperbaiki keseimbangannya. Tetapi
yang sesaat itu benar-benar dapat dipergunakan oleh Kebo Sindet.
Dengan garangnya ia meloncat menjulurkan senjatanya lurus-lurus
ke dada lawannya Tetapi sekali ini Empu Sada masih mampu
menghindarinya. Dengan lincahnya ia mengelak ke samping sambil
merendahkan diri. Namun sayang, bahwa Wong Sarimpat dengan
mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya masih mampu
menyusulnya. Sebuah ayunan yang keras mengarah ke lambung
Empu Sada.
Orang tua itu terkejut. Tak ada jalan lain daripada menjatuhkan
dirinya. Dengan demikian maka dengan serta-merta ia menjatuhkan
diri dan berguling beberapa kali. Terasa ujung-ujung batu padas
telah melukai kulitnya. Namun sama sekali tidak dihiraukannya.
Yang mengejutkannya pula adalah, ketika ia melenting berdiri, Kebo
Sindet telah siap menyerangnya dengan sebuah tebasan langsung
ke lehernya.
Empu Sada tidak dapat menghindarkan dirinya. Yang dapat
dilakukan adalah melawan serangan itu dengan tongkatnya. Tetapi
ia tidak dapat menangkis tajam golok lawannya dengan tongkatnya.
Untunglah bahwa tongkat orang tua itu cukup panjang, sehingga
dengan serta-merta dijulurkannya tongkatnya mengarah ke
pergelangan tangan Kebo Sindet.
Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Benturan yang tidak
langsung di antara kedua senjata mereka. Ujung tongkat Empu
Sada ternyata berhasil mengenai pergelangan tangan Kebo Sindet
yang sedang terayun dengan derasnya. Terdengar Kebo Sindet
berteriak pendek. Tulang pergelangannya terdengar gemeretak
seakan-akan terpatahkan. Goloknya yang terayun itu pun terlepas
dari genggamannya. Namun karena itu, karena golok yang terlepas
itu, maka Empu Sada pun tidak dapat menghindarkan dirinya lagi.
Golok itu dengan cepat menyambarnya. Untunglah bahwa sambaran
golok itu tidak tepat mengenai lehernya. Tetapi terasa sebuah
goresan yang pedih menyilang dadanya, sehingga orang tua itu pun
terdorong beberapa langkah surut dan kemudian jatuh terguling di
tanah.
Tetapi Kebo Sindet tidak dapat segera mengejarnya. Tangannya
yang terkena tongkat Empu Sada itu benar-benar telah
melumpuhkan segenap kemampuannya. Sambil berdesis menahan
sakit ia berjongkok dan mencoba menahan sakit itu dengan
tangannya yang lain. Tetapi lengannya yang lain pun telah terluka.
“Gila!” geramnya. Hampir-hampir ia berteriak kepada Wong
Sarimpat supaya ia berbuat sesuatu atas Empu Sada. Tetapi
dilihatnya kemudian, Wong Sarimpat itu sedang terbatuk-batuk
sambil menekan dadanya. Ternyata setelah ia memeras tenaganya
pada saat-saat terakhir, menyerang Empu Sada dengan sisa-sisa
kemampuannya yang berlebih-lebihan, terasa dadanya seakan-akan
meledak. Betapa sakitnya.
Kebo Sindet yang sudah bertekad untuk membunuh Empu Sada
itu tidak dapat berdiam diri. Betapa perasaan nyeri membakar
segenap tubuhnya, namun dengan kemampuan yang menyala-nyala
ia berusaha untuk melupakan perasaan sakitnya. Dengan gigi
terkatup rapat-rapat ia berdiri. Tangan kirinya yang terluka pada
lengannya, masih memegangi pergelangan tangan kanannya yang
retak. Tetapi Empu Sada pun telah terluka. Dengan geramnya Kebo
Sindet berkata, “Aku masih mempunyai sepasang kaki yang utuh.
Aku akan membunuhmu dengan kakiku.”
Namun Empu Sada itu pun tidak pingsan. Ia masih tetap sadar
betapapun pedih luka di dadanya. Ia masih juga melihat samarsamar
di dalam cahaya obor yang hampir padam, Kebo Sindet
datang mendekatinya.
Tetapi untuk melawan, agaknya Empu Sada sudah tidak mungkin
lagi. Karena itu, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri
adalah pergi meninggalkan kedua lawannya.
Meskipun tulang-tulang tua di dalam tubuh Empu Sada itu serasa
telah habis dilolosi, namun ia masih mampu merangkak agak cepat
menjauhi bayangan Kebo Sindet yang samar-samar maju setapak
demi setapak.
“He, kau akan lari Empu tua?” geram Kebo Sindet.
Empu Sada tidak menjawab. Ter-tatih-tatih ia mencoba berdiri,
untuk melarikan diri. Tetapi tubuhnya serasa seratus kali lebih
berat
dari tubuhnya yang biasa. Karena itu kembali Empu Sada itu
merangkak secepat ia dapat menghindarkan diri dari tangan Kebo
Sindet yang telah dilukainya.
Kebo Sindet menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kini ia
benar-benar menahan segenap rasa sakitnya. Ia harus dapat
menangkap Empu Sada. Keadaan telah terlanjur menjadi sangat
buruk, sehingga apabila orang itu terlepas dari tangannya, maka
rencananya pasti akan terancam, meskipun belum tentu Empu Sada
segera berani menghubungi Mahisa Agni apalagi Tunggul Ametung
karena pertentangan mereka di saat-saat yang lampau. Belum pasti
pula Mahisa Agni atau Tunggul Ametung mempercayainya,
seandainya Empu tua itu mencoba mengatakan apa yang
sebenarnya telah terjadi. Namun meskipun demikian, maka sudah
tentu Mahisa Agni akan menjadi lebih ber-hati-hati. Orang-orang
yang dapat menjadi pelindungnya pun akan semakin ketat
mengawasinya.
Tetapi seperti juga Kebo Sindet, Empu Sada telah mencoba
memeras segenap sisa-sisa kekuatannya untuk hidup. Apabila ia
tetap hidup, maka ia akan dapat membuat perhitungan di saat-saat
yang akan datang dengan kedua orang itu. Tetapi kalau ia gagal
mempertahankan hidupnya, maka ia akan menjadi kerangka di bukit
gundul ini. Dagingnya pasti akan habis dikoyak-koyak oleh
anjinganjing
liar.
Karena itu, betapapun ia tetap berusaha untuk merang kak pergi.
Sekali-kali ia mencoba berdiri bersandar pada tongkatnya dan
berjalan tertatih-tatih. Namun kembali ia harus merangkak karena
luka di dadanya. Luka karena goresan pedang pada kulit dan daging
dadanya. Luka yang berbeda dengan luka yang diderita oleh Wong
Sarimpat. Meskipun akibatnya hampir bersamaan. Namun dari luka
Empu Sada itu darah mengalir tak henti-hentinya. Meskipun orang
tua itu mencoba sekali-kali menahannya dengan kainnya. Ditambah
pula rasa sakit pada telinganya.
Ketika sekali ia berpaling, dilihatnya Kebo Sindet telah menjadi
semakin dekat. Dan bahkan ia mendengar orang liar itu berdesis
dalam nada yang berat parau “He, ke manakah kau akan lari Empu
tua? Jangan membuang tenaga di saat-saat menjelang mati.
Tenangkan hatimu, supaya nyawamu tidak tersendat-sendat di
ujung ubun-ubunmu.”
Kebo Sindet itu sudah semakin dekat. Beberapa langkah lagi
orang itu akan dapat mencapainya. Tetapi seperti Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat, Empu Sada bukan orang yang mudah menyerah
pada keadaan. Ketika ia melihat Kebo Sindet menggeram dan
meloncat menerkamnya, maka Empu Sada itu pun seakan-akan
telah dapat melupakan perasaan sakitnya. Dengan serta-merta
orang tua yang terluka itu tegak berdiri. Disambutnya serangan
Kebo Sindet dengan ayunan tongkatnya. Kebo Sindet tidak
menyangka bahwa Empu Sada mampu berbuat demikian. Karena
itu, selagi ia meluncur dengan derasnya, menyerang Empu yang
terluka itu dengan kakinya, ia tidak dapat lagi menghindari tongkat
itu. Sekali lagi terjadi benturan di antara mereka. Kaki Kebo
Sindet
benar-benar telah mengenai sasarannya, menghantam lambung
Empu Sada. Tetapi Kebo Sindet pun kemudian terpelanting jatuh,
karena tongkat Empu Sada telah menghantam pelipisnya. Namun
untunglah bahwa kekuatan Empu Sada tidaklah sepenuh
kekuatannya, sehingga pelipis Kebo Sindet tidak menjadi retak
karenanya.
Tetapi Empu Sada yang lemah itu ternyata terdorong tidak saja
satu dua langkah. Beberapa langkah ia terlempar surut dan bahkan
kemudian jatuh terguling.
Empu Sada yang terluka itu sama sekali tidak mampu menahan
dirinya ketika tiba-tiba terasa, seakan-akan tanah tempat ia
terguling itu runtuh. Terasa olehnya seakan-akan ia terlempar ke
tempat yang tidak diketahuinya. Betapa derasnya ia meluncur.
Barulah kemudian ia menyadari bahwa ia telah terguling ke dalam
jurang. Barulah kemudian ia merasa, bahwa ia telah tergores-gores
oleh batu-batu padat di lereng bukit gundul itu. Namun beberapa
saat kemudian, terasa tubuh itu tersentuh dedaunan dan kemudian
ranting-ranting perdu. Dengan demikian maka laju tubuh orang tua
itu menjadi berkurang. Di lereng bagian bawah dari bukit gundul itu
terdapat berbagai tumbuh-tumbuhan yang dapat menahan tubuh itu
sehingga tidak terbanting pada batu-batu padas yang menjorok
tajam.
Empu Sada itu masih tetap menyadari keadaannya. Tongkatnya
masih belum terpisah dari tangannya, sedang tangannya yang lain
berusaha untuk mencapai apa saja yang dapat memperlambat
tubuhnya. Namun meskipun demikian, ketika terasa seakan-akan
tubuhnya itu membentur sesuatu, pandangan mata orang tua itu
menjadi berkunang-kunang. Sekejap ia kehilangan kesadaran. Yang
dilihatnya seolah-olah seluruh bintang gemintang di langit meluncur
menimpa dadanya. Kemudian gelap pekat.
Di atas bukit gundul itu Wong Sarimpat berjalan terbungkukbungkuk
ke arah sesosok tubuh yang terbaring diam. Ternyata Kebo
Sindet yang tertimpa tongkat pada pelipisnya itu pun menjadi
pingsan. Betapa perasaan sakit telah melenyapkan segenap
kesadarannya. Perasaan sakit pada pelipisnya itu dan perasaan sakit
pada kedua belah tangannya yang tertimpa tubuhnya sendiri ketika
ia terpelanting jatuh.
“Empu gila!” Wong Sarimpat mengumpat-umpat. Sambil
terbatuk-batuk ia meraba-raba tubuh kakaknya. Ia tahu bahwa
kakaknya hanya sekedar pingsan. Karena itu kemudian dibiarkannya
saja tubuh itu terbaring diam. Wong Sarimpat itu yakin, bahwa
kakaknya itu pasti akan sadar dengan sendirinya.
Tetapi bagaimana dengan Empu Sada yang terlempar ke dalam
jurang itu?
“Orang itu sudah terluka. Ia pasti akan mampus terbanting di
atas batu-batu padas,” gumamnya seorang diri.
Ketika ia melihat Kuda Sempana maka sekali lagi ia menggeram,
“Hem, buat apa Kakang Kebo Sindet memelihara tikus pengecut
itu?”
“He,” teriaknya kemudian “Kuda Sempana, apakah kau sudah
mampus pula?”
Kuda Sempana mendengar suara itu. Tetapi tubuhnya yang
lemah masih saja belum dapat diajaknya berdiri, meskipun kini telah
mulai terasa dijalari oleh beberapa bagian dari kekuatannya
kembali.
Namun Kuda Sempana itu menjadi heran pula. Kenapa ia tidak
saja dibunuh seperti Cundaka atau seperti gurunya. Kenapa ia masih
saja dibiarkan hidup?
Wong Sarimpat yang. masih ingin melepaskan kemarahannya itu
pun berteriak-teriak “He, Kuda Sempana. Kenapa kau tidak mampus
saja sama sekali? Sayang Kakang Kebo Sindet masih membiarkan
kau hidup. Meskipun aku tidak tahu apa gunanya lagi kau hidup,
tetapi aku tidak berani melanggar keinginan Kakang Kebo Sindet,
dan kau boleh bersenang hati karenanya.”
Kuda Sempana masih belum menjawab teriakan-teriakan itu.
Badannya masih sangat lemah, dan ia sama sekali tidak bernafsu
berteriak seperti Wong Sarimpat.
Ketika Wong Sarimpat itu merasa dadanya seperti tertusuk jarum
karena ia berteriak-teriak maka ia pun berhenti. Kini ditekuninya
kakaknya yang masih terbaring diam. Perlahan-lahan ia mencoba
menggoyangkan tubuh itu. Mengangkat tangannya dan
menggerakkannya dengan hati-hati.
Lambat laun Kebo Sindet pun mulai menggerakkan tubuhnya.
Perlahan-lahan ia menarik nafas, kemudian menggerakkan ujungujung
kakinya.
“Kakang,” panggil Wong Sarimpat.
Lamat-lamat Kebo Sindet mendengar panggilan itu. Perlahanlahan
ingatannya pun bangkit kembali merayapi otaknya. Diingatnya
peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Yang terakhir dari peristiwa
itu adalah pukulan tongkat yang mengenai pelipisnya, sementara
kakinya menghantam tubuh orang tua itu.
Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Dengan serta-merta ia
mencoba bangkit. Tetapi terasa betapa kepalanya masih sangat
pening dan gunung gundul itu serasa berputar. Tubuhnya serasa
berada pada poros pusaran itu.
Kebo Sindet memegangi kepalanya yang pening dan sakit. Tetapi
ia telah memiliki segenap kesadarannya kembali. Karena itu maka
kemudian ia berkata parau “He, di mana Empu Sada?”
Wong Sarimpat mencoba menolong kakaknya. Tetapi dadanya
sendiri terasa sakit bukan buatan. Dengan tegasnya ia menjawab,
“Empu itu terlempar ke dalam jurang.”
“He? Orang itu terlempar ke dalam jurang?” ulang Kebo Sindet.
“Ya.”
“Orang itu harus kita cari. Kita harus yakin bahwa ia telah mati.”
“Kenapa Kakang masih ragu-ragu. Dadanya terluka karena
goresan golok Kakang. Tubuhnya terlempar karena tendangan
Kakang yang keras, kemudian terbanting ke atas batu-batu padas.
Apakah masih mungkin seseorang dapat hidup mengalami hal itu
semuanya? Meskipun seandainya Empu Sada itu empu yang turun
dari langit sekalipun, namun ia pasti hancur.”
“Aku ingin melihat mayat dengan mata kepalaku sendiri.”
“Kakang terluka. Sepasang tangan Kakang dan agaknya pelipis
Kakang telah menyebabkan Kakang tidak sadar lagi.”
“Persetan! Aku sudah baik,” sambil menggeretakkan giginya Kebo
Sindet berusaha untuk berdiri. Alangkah besar tekad yang
membakar jantungnya, sehingga betapapun juga ia masih mampu
berdiri tegak.
Kebo Sindet menengadahkan wajahnya yang beku. Dan wajah
yang beku itu kini tampak menjadi semakin mengerikan. Lewat
matanya memancarlah perasaannya yang meluap-luap. Kebencian,
kemarahan dan nafsu untuk membinasakan Empu Sada itu. Apalagi
kini, ia sudah terlanjur memulainya.
“Kita akan turun dan mencari orang itu,” desis Kebo Sindet.
Wong Sarimpat kenal betul tabiat kakaknya. Karena itu ia tidak
menyahut. Ia tahu betul bahwa ia akan turut serta turun lereng
gunung gundul itu untuk mencari Empu Sada. Betapa sakit dadanya,
tetapi ia harus berbuat seperti kakaknya.
“Bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Kebo Sindet.
“Itu,” jawab adiknya sambil menunjuk ke arah Kuda Sempana,
“aku beri tekanan pada urat lehernya, sehingga ia kehilangan
kekuatannya. Tetapi agaknya ia telah mulai di jalari oleh
kekuatannya kembali.”
“Jangan biarkan ia pergi. Biarlah ia beristirahat di sini sebentar.
Kita akan pergi. Mudah-mudahan cahaya obor itu akan
membantunya, menjauhkan dari anjing-anjing liar.”
“Baik Kakang,” sahut Wong Sarimpat.
Perlahan-lahan ia berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati Kuda
Sempana. Dengan kakinya ia melemparkan obor yang satu ke arah
yang lain, sehingga kedua obor yang telah mulai redup itu menjadi
agak besar kembali, setelah bergabung menjadi satu.
Kemudian setapak demi setapak ia mendekati Kuda Sempana.
Terdengar orang itu menggeram mengerikan, “Kuda Sempana.
Kakang Kebo Sindet menghendaki kau tetap di sini. Karena itu aku
akan menolongmu supaya kau dapat beristirahat dan tidak pergi
meninggalkan tempat ini.”
Sebelum Kuda Sempana menyahut, terasa telapak tangan orang
itu pada lehernya. Betapapun ia berusaha melawan, namun ia tidak
mampu menahan ketika terasa jari-jari orang itu sekali lagi menekan
tengkuk.
Kuda Sempana berdesis pendek. Kekuatannya yang telah mulai
terasa merambat di urat-urat nadinya, kembali kini seolah-olah
terhisap habis. Kembali ia menjadi lemah dan terbaring diam di atas
bukit gundul itu.
“Gila!” ia mengumpat dalam hati. Terasa tubuhnya seperti tidak
bertulang. Ia hanya mampu menggerakkan tangan dan kakinya
dengan mengerahkan segenap sisa-sisa yang ada bergerak sekedar
bergerak. Namun tangan dan kakinya sudah tidak mampu lagi
berbuat sesuai dengan tugas anggota-anggota badan itu.
“Sudah Kakang,” berkata Wong Sarimpat kemudian.
“Bagus, marilah kita cari orang tua itu. Biarlah ia mampus, dan
aku ingin melihat bangkainya dan melemparkannya kepada anjinganjing
liar.”
Wong Sarimpat berjalan kembali mendekati kakaknya. Kemudian
mereka berjalan perlahan-lahan mencari jalan yang dapat dilaluinya
untuk menuruni lereng bukit gundul itu. Tetapi Kebo Sindet selalu
mengumpat-umpat. Agak lama mereka berjalan menyusuri
pinggiran bukit, tetapi mereka tidak segera menemukan tempat
yang memungkinkan mereka merayap turun.
“Gila!” Kebo Sindet menggeram “Bagaimana kita turun Wong
Sarimpat?”
Wong Sarimpat tidak segera menjawab. Dicobanya untuk
memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi malam menjadi
semakin pekat dan cahaya obor mereka di dekat Kuda Sempana
terbaring tidak dapat mencapai tempat-tempat yang dicarinya.
“Seandainya Empu yang gila itu tidak berbuat curang,” gerutu
Wong Sarimpat.
“Kenapa? “ bertanya kakaknya.
“Kalau kita tidak terluka, maka kita akan dapat terjun di setiap
tempat. Di sini pun dapat kita lakukan.”
“Jangan mengigau. Keadaan ini telah kita alami. Sekarang
bagaimana kita mengatasinya.”
Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi matanya masih dengan
nanar mencoba mencari lereng yang agak landai.
“Apabila terpaksa kita melingkar, lewat jalan pendakian yang
biasa,” gumam Kebo Sindet,
“Terlampau jauh.”
“Habis, apa yang dapat kita lakukan?”
Kembali Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya masih saja
mengumpat-umpat. Seandainya mereka tidak terluka, maka mereka
tidak perlu bingung tentang jalan turun. Tetapi seperti kata
kakaknya. Luka itu kini sudah mereka derita, sehingga mereka tidak
dapat melangkah surut.
Kedua orang itu berjalan kembali tertatih-tatih di atas bukit-bukit
gundul itu. Kebo Sindet tidak dapat mundur. Ia harus turun dan
menemukan Empu Sada. Hidup atau mati. Kalau orang tua itu masih
hidup, maka hidup itu harus segera diakhiri.
Dalam pada itu, di bawah bukit gundul itu telentang seorang tua
yang sudah menjadi sangat lemah. Empu Sada yang pingsan itu
terperosok ke dalam semak-semak yang rimbun.
Ketika angin malam yang sejuk perlahan-lahan mengusap
wajahnya, maka terasa udara yang segar menjalar di segenap
uraturatnya.
Perlahan-lahan orang tua itu menjadi sadar kembali. Yang
pertama-tama dirasakannya adalah nyeri yang menyengat-nyengat
dadanya.
“Hem,” orang tua itu mengeluh. Tetapi segera ia menyadari
keadaannya. Karena itu, maka segera dipusatkannya segenap
kekuatan lahir dan batinnya.
Namun darah telah terlampau banyak mengalir, sehingga tubuh
yang tua itu terasa menjadi betapa lemahnya.
Tetapi Empu Sada adalah seorang yang telah banyak menelan
pengalaman yang pahit dan yang manis. Itulah sebabnya maka
dalam perjalanannya kali ini orang tua itu sudah membawa bekal
yang cukup. Sejak ia berangkat dari rumahnya mencegat perjalanan
Ken Dedes, ia telah memperhitungkan apa saja yang dapat terjadi
atas dirinya. Di antaranya luka seperti yang dialaminya saat itu.
Karena itu, maka Empu Sada itu pun telah membawa reramuan obat
di dalam kantong ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit
kerbau.
Dengan tangan yang lemah orang tua itu mencoba mengambil
reramuan obatnya. Dan dengan tangan sendiri yang lemah itu,
maka ditaburkannya obat itu pada luka dadanya.
Obat itu pun adalah obat yang dibuatnya sendiri berdasarkan
pengalamannya yang masak, sehingga obat itu pun dapat
dipercayanya, setidak-tidaknya menahan arus darah yang masih
saja mengalir.
Ternyata taburan obat itu menolongnya. Perlahan-lahan darah di
lukanya itu mengental, dan menyumbat alirannya. Namun tubuh
Empu Sada sudah terlampau lemah.
Orang tua itu menggeram. Tubuhnya sendiri terluka. Dan ia
kehilangan kedua muridnya. Ia tidak pernah menduga, bahwa
hatinya menjadi pedih juga atas hilangnya kedua muridnya itu. Ia
mencoba mengembalikan pikirannya kepada masa lampaunya.
Bagaimana ia menerima kedua anak-anak muda itu menjadi
muridnya.
“Ah, bukankah aku akan dapat mencari yang lain dengan mudah.
Bukankah kedua orang itu pada saat-saat terakhir juga tidak
memberi aku upah seperti masa-masa lalu? Persetan dengan
keduanya. Mereka bukan sanak bukan kadang. Aku menemukan
mereka dalam pengembaraan hidupku. Dan kini biarlah mereka
meninggalkan aku di tengah jalan.”
Tetapi ia tidak berhasil mengusir kata-kata hatinya sendiri.
Bahkan kemudian ia bergumam “Kasihan anak-anak itu.”
Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak tak
henti-hentinya, maka hati orang tua itu pun menjadi berdebardebar.
Ia tidak dapat berbaring terus di semak-semak itu. Ada
bermacam-macam bahaya yang dapat mengancamnya. Anjinganjing
liar itu dan orang-orang yang seliar anjing itu pula.
“Aku harus membuat sesuatu kalau aku ingin hidup terus,”
gumamnya.
Empu Sada pun menarik nafas. Dicobanya untuk menenangkan
debar jantungnya. Ketika sekali lagi ia mendengar anjing-anjing
menyalak di kejauhan, maka dicobanya pula untuk bangkit dengan
perlahan-lahan.
Orang tua itu menyeringai menahan sakit. Tetapi betapa lemah
tubuhnya, namun kemauannya yang menjala di dalam dadanya
telah menghangatkan darahnya. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri
bersandar pada tongkatnya. Sambil memusatkan segenap
kekuatannya, serta menyesuaikan jalan pernafasannya, maka Empu
Sada itu pun mendapatkan sebagian kecil dari kekuatannya kembali.
Namun dengan kekuatan yang kecil dibantu oleh tongkatnya, Empu
yang tua itu berhasil menggerakkan kakinya.
Empu Sada tidak tahu benar, apakah yang telah terjadi dengan
Kebo Sindet. Ia merasa, bahwa tongkatnya berhasil mengenai orang
itu. Tetapi akibat daripadanya, Empu Sada tidak dapat
mengetahuinya. Karena itu maka sekarang ia harus
memperhitungkan setiap kemungkinan. Kalau Kebo Sindet tidak
mengalami cedera, maka ia bersama adiknya yang meskipun telah
terluka, pasti akan mencarinya. Dalam keadaannya, mustahillah ia
dapat menyelamatkan diri dari kejaran kedua orang-orang liar itu.
Dengan demikian, berdasarkan atas perhitungannya, Empu Sada
segera meninggalkan tempat itu. Ia berjalan saja ke arah yang tidak
diketahuinya, namun segera menjauhi bukit gundul itu.
Tertatih-tatih orang tua itu berjalan. Sekali-kali ia masih harus
beristirahat mengatur pernafasannya. Kadang-kadang matanya
terasa seakan-akan menjadi gelap dan pandangannya menjadi
kekuning-kuningan. Namun ia tidak mau mati. Ia harus berjuang
untuk menyelamatkan dirinya. Kemauan yang kuat itulah yang telah
membawanya meninggalkan tempat yang celaka itu.
Di kejauhan masih terdengar anjing-anjing liar menggonggong
dan menyalak bersahut-sahutan. Anjing-anjing itu akan sama
berbahayanya dengan kedua orang-orang liar yang memuakkan itu.
Tetapi alangkah terkejutnya Empu Sada ketika agak jauh di
sisinya ia mendengar tiba-tiba saja suara menyentak, “Aku
menandainya Kakang. Di samping batu padas yang menjorok itulah
ia terpelanting jatuh. Pasti ia berada di sekitar tempat di bawah
batu
itu pula. Ia pasti terbaring di sana, apakah ia mati atau pingsan.
Bahkan seandainya ia masih hidup pun ia akan mati pula karena
darahnya yang mengalir dari lukanya.”
“Tetapi aku harus melihat bangkainya. Harus. Aku tidak puas
dengan dugaan-dugaan serupa itu.”
Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar. Seolah-olah luka di
dadanya menjadi bertambah pedih.
“Setan itu masih mampu berjalan begitu cepatnya,” desahnya
dalam hati. Meskipun suara itu masih belum terlampau dekat,
namun ia harus memperhitungkan keadaan. Ia tahu, bahwa Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat masih berada di tempat yang agak jauh.
Di malam hari, di lereng bukit pula, maka suara itu kedengarannya
menjadi semakin jelas.
“Aku harus segera menjauhinya,” katanya di dalam hati pula.
Empu Sada mencoba mempercepat langkahnya. Tetapi nafasnya
dan sakit di dada dan telinganya benar-benar telah
mengganggunya, bahkan hampir-hampir ia tidak mampu lagi untuk
bergerak. Meskipun darah tidak lagi mengalir dari luka di dadanya
karena reramuan obat-obatnya namun sakitnya masih juga
menusuk-nusuk sampai ke pusat jantung.
Di kejauhan ia mendengar suara pula, “Mudah-mudahan bau
darahnya memanggil anjing-anjing liar kemari. Seandainya ia masih
hidup, maka ia akan menjadi hidangan malam ini.”
“Bagaimana kalau ia lari?”
“Tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin. Seandainya ia masih
mampu berjalan, maka ia pasti hanya dapat melangkahkan
beberapa langkah. Kemudian ia akan jatuh terbaring. Mati atau
hanya menunggu saat untuk mati. Mati lemas karena kehabisan
darah, atau mati karena anjing-anjing liar.”
“Mungkin. Mungkin. Tetapi aku harus melihatnya, harus.”
“Baik. Lihatlah bayangan batu padas yang mencorong itu. Kita
lihat di bawahnya.”
Suara itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dada Empu Sada
pun menjadi semakin berdebar-debar. Dicoba mengamati daerah
sekitarnya. Gerumbul-gerumbul kecil dan ilalang liar yang
bertebaran hampir di sepanjang lereng itu.
“Aku tidak dapat bersembunyi di dalam gerumbul-gerumbul
kecil,” katanya di dalam hati, “dan tidak pula melalui ilalang liar
itu.
Dengan demikian, maka jejakku akan segera dapat mereka ikuti.”
Empu Sada menjadi bingung sejenak. Kali ini ia masih terlindung
dari beberapa gerumbul semak-semak dan ilalang liar. Tetapi kalau
Kebo Sindet dapat menemukan bekas tempat ia terjatuh, maka
mereka pasti akan dapat menemukan jejaknya di alang-alang.
Tetapi kalau ia keluar dari daerah alang-alang, maka ia akan berada
di tempat terbuka. Kemungkinan akan menjadi besar pula, kedua
orang itu melihatnya, meskipun di dalam gelap malam.
Dalam keragu-raguan, tiba-tiba Empu Sada melihat dataran yang
berkilat di sebelah gerumbul-gerumbul liar beberapa puluh langkah
daripadanya memantulkan cahaya bintang yang bergayutan di
langit. Dan tiba-tiba pula mulutnya berdesis, “Air. Air. itu adalah
sebuah sendang yang agak luar. Tetapi bagaimana aku dapat
menyeberangi sendang itu? Kalau sendang itu cukup dalam, maka
aku pasti akan tenggelam. Keadaanku tidak memungkinkan aku
untuk berenang sampai ke sisi yang lain.”
Kembali Empu Sada menjadi termangu-mangu. Seakan-akan
tidak ada jalan yang dapat ditempuhnya untuk menyingkirkan diri.
Ilalang akan memberi jejak kepada kedua orang yang mengejarnya.
Gerumbul-gerumbul yang bertebaran terlampau kecil untuk
tempatnya bersembunyi. Di tempat terbuka sama sekali tidak
menguntungkannya. Dan salah satu arah yang lain adalah air
sendang yang luas. Sendang yang tidak akan mampu direnanginya
karena keadaan tubuhnya. Bahkan sendang itu justru menjadi
dinding yang mengungkungnya dalam satu lingkaran yang serasa
terlampau sempat menempatkan tubuhnya yang kecil itu.
Kembali Empu Sada mendengar suara semakin dekat, “Batu
padas itu yang kau maksud?”
“Ya, Kakang.”
“Kita hampir sampai. Kita akan segera melihat tubuhnya yang
terbaring. Aku mengharap ia masih hidup. Aku ingin melihat ia
menjadi sangat kecewa menghadapi akhir hayatnya. Aku ingin
melihat ia menyesali perbuatannya, tetapi aku ingin melihat orang
itu tidak melihat jalan yang dapat membebaskannya meskipun
penyesalan itu merobek-robek dadanya.
Terdengar Wong Sarimpat tertawa. Tetapi segera suara itu
terputus. Yang terdengar adalah suaranya terbatuk-batuk.
Empu Sada merasa bahwa ia tidak dapat terlalu lama berdiri
termangu-mangu. Ia harus menentukan sikap. Melarikan diri atau
melawan sama sekali, yang keduanya sulit dilakukan.
Tiba-tiba orang tua itu bergumam kepada diri sendiri, “Marilah.
Marilah orang tua yang celaka. Marilah kita terjun ke dalam air.
Lebih baik ditempuh jalan itu daripada jatuh ke tangan kedua
setansetan
liar itu. Kalau aku mampu keluar dari sendang itu, maka aku
akan hidup. Tetapi apabila sendang itu sendang lendut, atau kalau
aku tidak lagi mampu berenang maka aku akan mati di dalamnya.
Mati tenggelam adalah jauh lebih baik daripada mati di tangan
orang-orang liar yang mengerikan itu.”
Empu Sada pun kemudian menjadi bulat bertekad untuk terjun
ke dalam sendang. Ia tidak tahu apakah kira-kira yang akan terjadi.
Mungkin ia akan tenggelam karena tubuhnya telah lemah. Mungkin
pula ia akan terbenam ke dalam lumpur dan tidak berdaya untuk
melepaskan diri, sehingga ia pun akan mati berkubur di bawah
lumpur sendang itu.
“Tetapi itu lebih baik. Itu lebih baik. Aku gagal setelah berusaha,
sehingga aku tidak menyerahkan kepalaku begitu saja kepada Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat.”
Empu Sada itu pun kemudian berjalan tertatih-tatih
meninggalkan persembunyiannya, batang-batang ilalang di lereng
gunung gundul. Meskipun ia harus berjalan beberapa langkah di
tempat terbuka, tetapi ia mengharap, bahwa ia masih tetap
terlindung dari arah pandangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
oleh batang-batang ilalang yang rimbun di belakangnya.
Tetapi ketika ia sampai ke ujung rimbunnya batang-batang
ilalang, tiba-tiba ia melihat beberapa batang gelagah ilalang
mencuat dari ujung batangnya. Ujung gelagah yang berumbai itu
bergerak-gerak ditiup angin malam, seperti rambut yang jarangjarang
dan telah memutih pula. Seperti rambut Empu Sada sendiri.
Empu Sada itu termenung sejenak. Ia sangat tertarik pada
gelagah ilalang itu. Dengan serta-merta ia meraih dan
mengambilnya sebatang. Dipotongnya umbai pada ujungnya, dan
ketika ia meniup gelagah ilalang itu, maka ia bersorak di dalam
hati.
Gelagah ilalang itu berlubang di tengah seperti sebatang sumpit
yang panjang.
“Hem,” gumamnya, “mudah-mudahan aku berhasil.”
Dijinjingnya kemudian tiga batang gelagah ilalang di tangan
kanannya, sedang tangan kirinya menggenggam tongkatnya eraterat.
Ia kini berusaha tidak lagi berjalan bersandar pada tongkatnya,
supaya ujung tongkatnya tidak melukiskan jejak di tanah yang
semakin gembur.
Ketika Empu Sada hampir mencapai tepi sendang itu, ia masih
mendengar suara Wong Sarimpat, “Di sini, Kakang. Orang itu pasti
berada di sini. Lihatlah batu padas yang menjorok itu. Di sebelah
batu itu ia jatuh terpelanting. Kepalanya mungkin telah pecah
menimpa batu-batu yang keras dan runcing ini.”
Kebo Sindet menjawab keras, “Kau selalu puas dengan angananganmu.
Mungkin orang itu mati. Mungkin kepalanya pecah.
Mungkin dimakan anjing. Tetapi mungkin pula ia masih hidup.
Mengintai kita, dan dengan curang pula ia menyerang kita dengan
tongkatnya.”
“Uh,” bantah adiknya, “tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin ia
masih tetap hidup. Apabila ia tidak sedang terluka, memang hal itu
mungkin terjadi.”
“Kau lihat berbagai semak-semak di lereng bukit gundul itu?”
bertanya kakaknya.
“Ya, kenapa?”
“Semak-semak itu dapat menolongnya. Menahan atau
memperlambat.”
“Mungkin. Tetapi kemungkinan itu terjadi satu dari seratus
kejadian.”
“Kalau Empu Sada termasuk yang satu itu?”
Wong Sarimpat terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Kebo
Sindet, “Cari. Kita cari sampai ketemu. Aku mengharap ia masih
tetap hidup. Membunuhnya dengan tangan sendiri pasti lebih
menyenangkan.”
Wong Sarimpat tidak menyahut. Kini keduanya terdiam untuk
sejenak. Mereka melangkah lebih mendekat lereng bukit gundul itu.
Meskipun hampir dapat dipastikan bahwa orang yang jatuh
terpelanting dari atas bukit gundul itu akan mati, namun ternyata
keduanya cukup berhati-hati. Seperti dugaan Kebo Sindet, demikian
pula tumbuh, meskipun sangat tipis, keragu-raguan di dalam hati
Wong Sarimpat. Jangan-jangan Empu Sada kini sedang mengintai
mereka, dan akan menerkam mereka dengan curang seperti
serangannya yang pertama.
Tetapi mereka tidak segera menemukan Empu Sada. Betapa pun
mereka mencari, namun mereka tidak melihat sesosok tubuh yang
terbaring diam di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul kecil atau di
antara batang-batang ilalang liar.
Mula-mula mereka menyangka, bahwa mungkin Empu Sada
terpelanting agak jauh dari tempatnya terguling. Mungkin tubuhnya
terantuk sebuah batu yang menjorok dan melemparkannya
beberapa langkah. Tetapi setelah mereka berputar-putar beberapa
langkah dari tempat itu, tubuh Empu Sada tidak mereka temukan.
“Apakah orang tua itu anak demit?” geram Kebo Sindet, yang
kemudian berkata kepada Wong Sarimpat, “He, Sarimpat. Apa
katamu sekarang?”
Keringat dingin mulai mengaliri punggung orang itu. Bahkan
kemudian dadanya yang sakit terasa menjadi semakin pedih.
“Ia tidak akan dapat meninggalkan tempat ini Kakang,” katanya.
Tetapi ia sudah tidak yakin lagi akan kata-katanya sendiri,
“Mungkin
ia berhasil merangkak beberapa langkah. Tetapi tidak akan
terlampau jauh.”
“Orang itu harus kita temukan,” teriak Kebo Sindet yang benarbenar
dibakar oleh kemarahannya.
Namun tiba-tiba terdengar orang itu hampir memekik, “Lihat.
Bukankah ini jejak setan itu?”
Tertatih-tatih Wong Sarimpat mendatangi kakaknya. Hatinya
menjadi semakin berdebar-debar, Apakah Empu Sada benar-benar
mampu melarikan diri dari tangan mereka?”
Demikian ia berdiri di samping kakaknya, segera ia melihat apa
yang dikatakan oleh Kebo Sindet. Di antara batang-batang ilalang
mereka melibat seolah-olah sebuah jaluran yang memanjang.
Ilalang yang terinjak-injak kaki Empu Sada menjadi roboh dan
seakan-akan membelah kedua sisinya. Dengan demikian, maka
jejaknya akan terlampau mudah diikuti. Apabila Empu Sada yang
terluka, yang berjalan terhuyung-huyung bersandar pada
tongkatnya.
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
berkata, “Inilah jejak orang sekarat itu. Kita pasti akan
menemukannya Kakang. Orang itu pasti belum terlampau jauh.”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ternyata ia terpaksa
berpikir menghadapi orang aneh itu. Orang yang ternyata memiliki
ketahanan tubuh yang luar biasa.
“Mari Kakang,” ajak Wong Sarimpat tidak sabar.
“Mari,” sahut Kebo Sindet sambil melangkah maju. Tetapi dalam
pada itu Kebo Sindet terpaksa memperhitungkan keadaan dirinya.
Kedua tangannya yang telah terluka. Pelipisnya yang serasa telah
menjadi retak. Ia tinggal mempercayakan dirinya pada ketangkasan
dan kekuatan kakinya. Sedang adiknya pun telah hampir mati pula
karena luka di dada.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Apakah Empu Sada masih mampu
bertempur?”
Tetapi kembali nafsunya mencengkam dadanya. Empu Sada
harus ditangkapnya. Kini ia yakin bahwa orang itu masih hidup, dan
ia akan dapat membunuh dengan caranya. Mungkin dengan cara
yang belum pernah dilakukannya.
Karena itu maka Kebo Sindet pun segera berjalan tergesa-gesa.
Meskipun kedua tangannya dan pelipisnya serasa pecah, tetapi
kedua kakinya masih cukup mampu untuk berjalan agak cepat.
Tetapi Wong Sarimpat tidak mampu berjalan secepat kakaknya.
Sambil terbungkuk-bungkuk ia melangkah maju semakin lama
semakin jauh dari Kebo Sindet.
Dengan seksama Kebo Sindet mengikuti jejak Empu Sada di
antara batang-batang ilalang. Namun ia sama sekali tidak
meninggalkan kewaspadaan. Setiap kali ia mendengar gemeresik di
sekitarnya, segera ia berhenti dan mempersiapkan diri. Tetapi
ternyata suara itu adalah suara kelinci-kelinci liar yang berlari
karena
ketakutan.
“Bekas ini cukup panjang,” desisnya.
Tetapi Kebo Sindet tidak mendengar jawaban. Ketika ia
berpaling, maka dilihatnya adiknya samar-samar agak jauh di
belakangnya.
Tetapi Kebo Sindet tidak memedulikan. Ia tidak mau kehilangan
buruannya, sehingga justru ia mempercepat langkahnya. Namun ia
tidak dapat terlampau cepat. Ia harus mengamati setiap langkah
supaya ia tidak kehilangan jejak.
Ternyata jejak yang harus ditelusur oleh Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat cukup panjang. Kadang-kadang ia kehilangan jejak untuk
sesaat. Seolah-olah jalur yang menjelujur itu menghilang ke dalam
semak-semak. Apabila demikian, maka Kebo Sindet harus menjadi
sangat berhati-hati. Orang itu menyangka bahwa Empu Sada
bersembunyi ke dalam semak-semak itu. Tetapi kemudian ternyata,
bahwa di sebelah semak-semak itu, ditemukan kembali jejak Empu
Sada yang memanjang. Dan kembali Kebo Sindet berjalan
menyusurinya.
Tetapi jejak itu cukup panjang. Bahkan terlalu panjang. Apa lagi
Wong Sarimpat yang berjalan agak jauh di belakang Kebo Sindet.
Orang itu mengumpat tak habis-habisnya. Namun di samping
kemarahan yang semakin dalam, ia pun menjadi heran. Apakah
orang yang sudah terluka dan terpelanting ke dalam jurang itu
masih mampu berjalan sedemikian, ia tetap yakin, bahwa suatu
ketika ia akan menjumpai tubuh itu terbaring di t as ah dengan
lemahnya.
Wong Sarimpat itu terkejut ketika ia mendengar kakaknya
berteriak menggigilnya, “He Sarimpat. Lihat ini. Di sini jejak itu
lenyap.”
Dada Wong Sarimpat berdesir. Segera ia berusaha mempercepat
langkahnya. Kata-kata kakaknya benar-benar telah membuatnya
menjadi sangat cemas.
Ketika ia sampai ke dekat Kebo Sindet ia melihat batang-batang
ilalang menjadi sangat tipis, bahkan kemudian hampir lenyap. Yang
terbentang kemudian adalah sebuah lapangan rumput yang sempit
dengan gerumbul-gerumbul liar di sana-sini. Kemudian di hadapan
padang rumput itu mereka melihat sebuah sendang yang agak luas.
Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah mengenal tempat itu baikbaik.
Mereka telah mengetahui bahwa sandang itu cukup luas.
Bahkan di tengah-tengah sendang itu tumbuh semacam tumbuhan
air yang berbahaya. Ganggeng. Yang menurut cerita ganggeng itu
sering menelan binatang atau manusia sebagai makanannya. Tetapi
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak meyakininya. Yang mereka
ketahui adalah, bahwa ganggeng itu berakar banyak dan panjang,
sehingga apabila seseorang berenang melampaui sekelompok
tumbuh-tumbuhan ganggeng, maka tubuhnya pasti akan terbelit.
Apabila seseorang menjadi bingung dan kehilangan akal, maka
mustahil ia dapat melepaskan diri dari belitan akar ganggeng yang
sangat banyak dan panjang-panjang.
“Ia meninggalkan gerumbul alang-alang ini, Kakang. Ia pergi ke
tempat terbuka.”
Kebo Sindet meng-angguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar
bahwa lapangan rumput itu terlampau sempit. Di ujung, lereng bukit
gundul itu bertemu dengan sisi sendang, sehingga tak seorang pun
yang akan mampu melampauinya. Yang dapat dilakukan adalah,
terjun ke dalam sendang atau mendaki tebing yang curam, yang
keduanya sangat sulit. Tak seorang pun yang dapat mendaki tebing
yang sangat curam itu dan tak seorang pun yang akan dapat
melampaui tebaran tumbuhan ganggeng di tengah-tengah sendang
itu. Apabila seseorang masuk ke dalam sendang, maka satu-satunya
kemungkinan untuk hidup adalah kembali sisi ini.
Apabila seseorang tidak mendaki tebing dan tidak terjun ke
dalam sendang, maka satu-satunya jalan adalah kembali
meninggalkan tempat yang terbuka, masuk ke dalam semak-semak
batang-batang ilalang bertebaran memenuhi sisi bukit gundul itu.
Karena itu maka Kebo Sindet itu menggeram “Tidak ada
kemungkinan lain.”
Wong Sarimpat yang mengenal tempat itu sebaik kakaknya, tahu
benar maksud kata-kata itu, sehingga dengan serta-merta ia
menjawab “Ya, tidak ada kemungkinan lain. Marilah kita lihat
batang-batang ilalang di sekitar tempat ini. Kalau tidak ada bekas
kakinya meninggalkan tempat ini, maka orang itu pasti mencoba
melarikan diri menyeberang sendang itu.”
Kebo Sindet tidak menjawab. Segera ia berjalan menyusur
pinggiran semak-semak ilalang yang memagari tempat terbuka itu.
Dicobanya untuk menemukan jejak apabila Empu Sada mencoba
meninggalkan tempat itu. Wong Sarimpat pun kemudian berbuat
serupa. Dengan seksama ia meneliti setiap langkah. Diamatinya
dengan penuh kewaspadaan. Bukan saja jejak kaki, tetapi apabila
tiba-tiba dari balik semak-semak dan batang-batang ilalang itu
mematuk sebatang tongkat panjang. Tongkat Empu Sada.
Tetapi sampai ke ujung, sampai semak-semak ilalang itu bertaut
dengan sisi sendang di sebelah yang lain, mereka sama sekali tidak
menemukan jejak itu. Tak ada tanda-tanda pada semak-semak
ilalang itu seperti yang pernah mereka lihat. Tak ada batang-batang
ilalang yang roboh karena terinjak kaki.
Kebo Sindet itu menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi
pepat karena kemarahannya.
“Setan itu telah lenyap,” umpatnya “bagaimana mungkin ia bisa
lari?”
“Tidak mungkin!” sahut Wong Sarimpat, “Tidak mungkin! Orang
itu aku kira telah terjun ke dalam Sendang. Ia tidak tahu sama
sekali bahaya yang telah menunggunya. Selain tubuhnya yang
lemah, maka ganggang itu pasti akan menelannya.”
“Aku belum yakin,” sahut kakaknya, “ia adalah orang yang sangat
cerdik. Otaknya tajam tidak seperti otakmu. Mungkin ia masuk ke
dalam sendang di sepanjang tepi semak-semak ini sekedar
menghilangkan jejak. Kemudian ia masuk kembali di antara batang
ilalang beberapa langkah dari tempat ini.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu pun
memang mungkin terjadi. Tetapi Empu Sada tidak akan dapat
terlampau jauh menyusur tepi sendang ini, sebab di sebelah yang
agak dalam, tepi sendang ini menjadi curam. Karena itu maka ia
sependapat ketika kakaknya berkata, “Kita telusuri tepi sendang
ini.
Apabila kita sampai di tempat yang curam itu, kita belum
menemukan jejaknya, maka baru kita yakin bahwa orang tua itu
terjun ke dalam sendang.”
Keduanya pun kemudian dengan hati-hati masuk ke dalam
pinggiran sendang yang landai dan tidak terlampau dalam.
Perlahan-lahan mereka berjalan sambil mengamati semak-semak
ilalang di pinggir sendang itu. Setiap ada tanda-tanda yang
mencurigakan maka segera mereka berdua mengamatinya dengan
seksama.
Tetapi kembali mereka menjadi kecewa. Mereka sama sekali
tidak menemukan jejak apapun sehingga mereka sampai ke sisi
sendang yang curam.
Kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin memuncak. Dadanya
serasa akan meledak karena kemarahannya itu. Wong Sarimpat pun
mengumpat tidak habis-habisnya sehingga kakaknya membentaknya
“He, tutup mulutmu! Sekarang terbukti bahwa kau masih saja selalu
menuruti angan-anganmu yang bodoh. Coba katakan sekarang, di
mana Empu Sada itu.”
Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram.
“Ayo, sekarang kita menyusuri tepi sendang ini. Mungkin Empu
Sada hanya sekedar masuk ke dalam air merendamkan tubuhnya,
untuk nanti menepi kembali.”
“Marilah,” sahut adiknya.
Kembali keduanya berjalan menyusuri tepi sendang itu. Sekalikali
mereka berhenti agak lama dan memperhatikan permukaan
sendang itu, seandainya mereka melihat sesuatu. Tetapi permukaan
air yang datar itu, sama sekali tidak dinodai oleh sesuatu apapun.
Mereka sama sekali tidak melihat wajah air beriak, atau sebuah
kepala yang muncul ke permukaan air.
“Tak ada orang yang mampu merendam diri sekian lama
bersama seluruh tubuhnya. Sekali-kali ia harus muncul ke atas
permukaan air untuk mengambil nafas,” geram Kebo Sindet.
“Mungkin ia telah berenang agak ke tengah dan lenyap ditelan
ganggeng.”
“Kau masih juga berangan-angan. Mungkin dan mungkin lagi.”
Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya bergumam, “Lalu apakah
orang itu dapat lenyap menjadi asap?”
Beberapa lama mereka menunggui sendang itu. Bahkan
kemudian Kebo Sindet melihat sesuatu di tepi sendang itu.
Sepotong kain kecil berwarna ungu.
“Kacu, kau lihat?” teriak Kebo Sindet.
“Ya, kacu,” sahut Wong Sarimpat dengan serta-merta
“Pasti seseorang telah datang kemari. Lihat, apakah yang
dibendeli dalam kacu itu.”
Wong Sarimpat segera memungut sepotong kain berwarna ungu,
yang ternyata di dalamnya ada sesuatu benda yang terbalut. Ketika
Kebo Sindet membuka sepotong kain berwarna ungu itu, maka tibatiba
ia berkata, “Ini pasti milik Empu Sada.”
“Pasti. Kau lihat bumbung kecil ini? Isinya adalah sebuah
reramuan obat-obatan. Mungkin obat-obatan ini pulalah yang telah
membuatnya menjadi kuat dan dapat menempuh jarak ini.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
mengumpat tak habis-habisnya. Sambil membanting potongan kain
itu di tanah ia berkata lantang, “Ia pasti terjun ke dalam sendang
ini. Pasti. Tetapi dengan demikian ia pasti menemui ajalnya pula,
berkubur di dalam perut pelus yang menunggui sendang ini.”
Kebo Sindet yang berwajah beku itu berdiri mematung di tepi
sendang. Tetapi matanyalah yang memancarkan gejolak di dalam
dadanya. Apabila Empu Sada itu lepas dari tangannya, maka orang
itu akan menjadi orang yang paling berbahaya baginya. Orang itu
pasti mendendamnya pula. Tetapi untuk sementara, Empu Sada
pasti masih harus menyembuhkan luka-lukanya yang pasti lebih
berat dari lukanya sendiri. Empu Sada itu pun pasti tidak akan
segera dapat berhubungan dengan Mahisa Agni atau Tunggul
Ametung. Dengan demikian masih akan timbul salah paham di
antara mereka karena hubungan mereka yang terlampau jelek di
masa-masa yang lampau.
Dalam pada itu Wong Sarimpat masih juga berteriak, “He Empu
yang gila. Jangan bersembunyi di dalam air. Kau akan mampus
ditelan ganggeng. Ayo keluarlah!”
Namun suaranya yang melontar itu hanya disahut oleh gemanya
sendiri. Gema yang memantul dari lereng-lereng bukit gundul.
“Tak ada orang yang dapat hidup di dalam air,” berkata Kebo
Sindet kemudian. Kita tunggu di sini untuk sejenak. Kalau kita
sudah
yakin, bahwa Empu Sada tidak sekedar merendam diri, maka kita
akan mendapat kesimpulan, bahwa orang itu telah mencoba
melarikan diri, menyeberangi sendang ini.”
“Dan ia akan mampus di antara ganggeng-ganggeng itu.”
Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dengan gelisah.
Dengan dada yang menghentak-hentak ia berjalan mondar-mandir.
Ia mengharap melihat sebuah kepala tersembul di permukaan air.
Tetapi ia tidak melihatnya, meskipun cukup lama ia berada di
pinggir sendang itu. Ia tidak melihat sebuah kepala yang muncul di
permukaan air.
“Kalau orang tua itu berada di dalam air, maka sekali-sekali ia
akan muncul dan akan segera dapat kita lihat.”
“Ya,” sahut Wong Sarimpat keras-keras, “tetapi orang itu sangat
bodoh. Dan ia mencoba berenang menyeberang.”
Kebo Sindet tidak menyahut. Dibiarkannya adiknya berteriak
memanggil nama Empu Sada dan sekali-kali ia terbatuk-batuk
karena dadanya serasa menjadi pepat. Namun demikian ia berhasil
mengatur pernafasannya, maka dipuaskannya hatinya dengan
berteriak-teriak untuk mengurangi himpitan kekecewaannya atas
hilangnya Empu Sada.
Akhirnya Kebo Sindet menjadi tidak sabar lagi. Menurut
perhitungannya, ia telah terlalu lama berdiri, dan kemudian duduk,
untuk sejenak lagi berdiri, di tepi sendang itu. Kalau benar Empu
Sada masuk ke dalam sendang itu, maka ia pasti sudah mati lemas,
atau mati dibelit ganggang. Sedang kemungkinan yang lain tidak
ada.
“Aku harap orang itu sudah mampus,” desis Kebo Sindet.
“Pasti. Pasti sudah mampus,” teriak Wong Sarimpat. Kemudian
keras-keras ia berkata “Kalau belum ia pasti akan muncul di
permukaan air.”
“Mari kita kembali. Kita lihat Kuda Sempana, apakah ia masih
utuh atau tinggal Kerangkanya saja dirobek-robek anjing liar,”
berkata Kebo Sindet.
“Apakah keberatan kita Kakang?” sahut Wong Sarimpat “biar
sajalah Kuda Sempana itu mampus pula.”
“Aku masih memerlukan anak itu. Mungkin masih ada
keterangan-keterangan yang bisa diperas daripadanya. Bersikaplah
baik terhadap anak itu.”
Wong Sarimpat menggeram. Kepada Kuda Sempana ia
mempunyai tanggapan yang serupa seperti kepada gurunya dan
kepada Cundaka yang telah dibunuhnya. Tetapi karena kakaknya
menghendaki, maka betapa berat perasaannya, ia harus
memenuhinya.
Keduanya pun kemudian meninggalkan sendang itu. Kebo Sindet
pun kini telah yakin, bahwa Empu Sada pasti akan mati di
tengahtengah
sendang itu. Tak ada orang yang dapat menahan nafasnya
sekian lama, sepanjang mereka berdua berada di tepi sendang itu.
Dan tak ada orang yang akan dapat menyeberangi sendang itu
dengan selamat. Orang itu pasti akan tenggelam dibelit oleh
ganggeng yang tumbuh lebat hampir di segenap sudut sendang itu.
Sedangkan apabila Empu Sada tetap tinggal di tepi, maka setiap kali
ia mengambil nafas maka pasti akan dilihatnya.
Ketika keduanya mulai melangkahkan kakinya, maka tiba-tiba
Wong Sarimpat membungkukkan badannya. Diraihnya beberapa
buah batu dan dilempar-lemparkannya ke dalam sendang itu sambil
berteriak, “Mampuslah kau! Mampuslah!”
Tetapi batu-batu itu tidak terlampau besar, dan wajah sendang
itu terlampau luas. Tetapi Wong Sarimpat berbuat asal sekedar
berbuat saja. Ia hanya ingin melepaskan kekecewaan, kemarahan
dan dendam karena luka di dadanya.
Suara Wong Sarimpat yang mengumpat-umpat semakin lama
terdengar semakin jauh dari sendang itu. Ketika dadanya menjadi
sakit, barulah ia terdiam dan terbatuk-batuk. Seterusnya orang itu
tidak lagi berteriak dan mengumpat-umpat.
Dengan tertatih-tatih keduanya berjalan menerobos semaksemak
ilalang di sekitar bukit gundul itu. Bahkan Kebo Sindet pun
kemudian menjadi agak tergesa-gesa. Ia takut Kuda Sempana yang
ditinggalkannya akan dikerumuni oleh anjing-anjing hutan, menjadi
makanan mereka yang menyenangkan.
Ia masih merasa perlu atas Kuda Sempana. Banyak hal yang
dapat dilakukan oleh anak itu. Meskipun apa yang akan dilakukan
kelak atasnya, mungkin sama sekali tidak menyenangkan bagi Kuda
Sempana, tetapi Kebo Sindet masih merasa perlu untuk bersikap
baik terhadapnya. Kebo Sindet pun memperhitungkan, bahwa Kuda
Sempana bukanlah seorang pengecut yang berlebihan. Mungkin ia
akan mempertahankan harga dirinya, dan membiarkan dirinya mati
apabila ia dicoba untuk diperas dengan kasar. Tetapi dengan cara
lain, mungkin anak muda yang kehilangan gurunya itu akan menjadi
lunak. Meskipun apabila terpaksa, maka segala cara akan ditempuh
oleh kedua hantu lereng bukit gundul itu.
Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian menganggap
bahwa Empu Sada telah berusaha melarikan dirinya dengan
menyeberangi sendang. Dengan demikian maka mereka pun
menganggap bahwa orang itu pasti sudah binasa di tengah-tengah
sendang itu dibelit ganggeng.
“Tidak mungkin Empu Sada dapat melenyapkan diri seperti
asap,” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya, “dan tidak mungkin
seseorang mampu menyeberangi sendang itu dengan selamat.”
Meskipun demikian, Kebo Sindet itu berkata, “Besok kita kembali
ke tempat ini untuk meyakinkan kematian Empu Sada.”
“Baik,” sahut adiknya.
Kembali mereka berdiam diri sambil melangkah di antara batang
ilalang menuju ke lereng pendakian bukit gundul itu.
Sementara itu Empu Sada masih mencoba bersembunyi di dalam
air. Baginya cara itu adalah satu-satunya jalan. Ia belum mengenal
daerah itu dengan baik, sehingga ia tidak tahu, ke mana ia akan
lari.
Sedangkan pada saat itu, suara kedua orang liar itu sudah semakin
dekat. Untunglah bahwa ia merasa terlampau lemah untuk mencoba
melarikan diri dengan merenangi sendang yang tidak dilihatnya tepi
di ujung lain karena malam yang pekat.
Maka tak ada pilihan lain baginya daripada terjun ke dalam air.
Dengan menahan dingin dan pedih pada luka di dadanya, ia
merendam dirinya. Hanya kepalanya sajalah yang semula masih
berapa di atas air. Tetapi ketika didengarnya suara Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat semakin dekat, dan ketika samar-samar telah
dilihatnya kedua orang itu mendekati tepi sendang maka segera
dibenamkannya segenap tubuhnya.
Orang tua itu mempergunakan gelagah ilalang untuk menahan
supaya ia tetap dapat bernafas meskipun dengan mulutnya. Satu
ujung gelagah itu dimasukkannya ke dalam mulutnya, sedang
ujungnya yang lain dicuatkannya ke atas permukaan air. Dengan
demikian ia masih mampu melakukan pernafasan meskipun dengan
mulutnya.
Namun usaha itu ternyata telah menyelamatkannya. Ternyata
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak memperhitungkan sedemikian
jauh, sehingga ketika mereka berada di tepi sendang itu cukup
lama, dan tidak dilihatnya sebuah kepala yang kadang-kadang
tersembul ke atas air untuk menarik nafas, maka mereka
menganggap bahwa Empu Sada tidak berada di tempat itu. Tidak
berada di tepian sendang yang dangkal.
Meskipun Empu Sada merendam seluruh tubuhnya, termasuk
kepalanya di dalam air, namun samar-samar ia mendengar suara
Wong Sarimpat mengumpat-umpat. Memanggil-manggilinya dan
berteriak-teriak menentu
Ketika Wong Sarimpat melemparkan batu ke dalam sendang itu,
maka hampir saja batu itu mengenainya, bahkan hampir saja
mengenai kepalanya. Tetapi untunglah, bahwa kepalanya nyaris
terkena lemparan itu.
Akhirnya suara ribut Wong Sarimpat itu pun lenyaplah. Tidak ada
lagi umpatan-umpatan yang didengarnya. Tidak ada lemparanlemparan
batu yang dirasakannya.
Meskipun demikian Empu Sada tidak segera berani muncul ke
permukaan air. Ia masih takut apabila kedua orang itu masih
menunggui di tepi sendang. Dengan demikian, maka usahanya
merendam diri semakin lama, sehingga ia menggigil kedinginan dan
kesakitan yang sangat pada dadanya itu akan sia-sia.
Tetapi akhirnya Empu Sada itu pun yakin bahwa kedua orang itu
telah pergi. Perlahan-lahan ia mencoba menjengukkan matanya ke
permukaan air. Dan kini tidak dilihatnya lagi seseorang di pinggir
sendang itu. Dengan teliti diamatinya setiap bayangan yang
betapapun samar-samarnya. Mungkin bayangan itu adalah kedua
orang liar yang memuakkan itu. Namun akhirnya ia mendapat
kesimpulan bahwa kedua orang itu memang telah pergi.
Perlahan-lahan Empu Sada bangkit berdiri. Air tempatnya
bersembunyi sebenarnya tidak terlampau dalam. Masih belum
melampaui perut. Namun karena Empu Sada berhasil merendamkan
seluruh tubuhnya, dan cahaya bintang-bintang di langit yang sama
sekali tidak membantu memecahkan gelap malam, maka kedua
orang liar itu tidak melihatnya.
Empu Sada yang kedinginan itu kemudian melangkah menepi.
Lututnya gemetar dan darahnya serasa hampir membeku.
“Gila!” gumamnya, “pengalaman ini adalah pengalaman yang
paling menarik sepanjang hidupku. Sepanjang petualangan yang
pernah aku lakukan. Telah berpuluh kali aku berkelahi, berpuluh
kali
terluka dan berpuluh kali membunuh lawan. Namun belum pernah
aku merendam diri selama ini, hanya sekedar ingin menghindari
kedua setan bukit gundul ini.”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia meraba-raba
ikat pinggangnya, diketahuinya bahwa kacu sepotong yang
dipakainya untuk membalut obat-obatnya terjatuh.
“Hem, pasti ketika aku membenahi diri sebelum aku terjun
kemari.”
Empu Sada pun kemudian mencari sepotong kain ungunya.
Ketika kemudian kain sepotong itu ditemukan, maka gumamnya,
“Kedua orang itu pasti melihat potongan kain ini. Kalau demikian,
maka mereka pasti sudah tahu bahwa aku masuk ke dalam sendang
ini.”
Empu Sada kini menyadari keadaan diri sepenuhnya. Kedua
orang yang mencarinya pasti menyangka, bahwa ia telah mencoba
melarikan diri merenangi sendang itu. Namun Empu Sada kemudian
tidak dapat mengambil kesimpulan, bagaimanakah anggapan Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat atas dirinya. Empu Sada tidak dapat
segera mengetahui, bahwa Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah
menganggapnya mati ditelan ganggeng di tengah-tengah sendang
itu.
Karena itu, maka Empu Sada itu pun kemudian bergumam,
“Mungkin mereka masih berusaha untuk segera menemukan aku.
Karena itu aku harus segera pergi.”
Empu Sada segera melangkahkan kakinya. Beberapa langkah
kemudian ia masih menemukan bumbungnya yang berisi reramuan
obat-obatan. Tetapi sebagian dari obat-obatnya telah berserak-serak
di atas rerumputan dan tak mungkin lagi dikumpulkannya. Tetapi
sebagian kecil yang masih berada di dalam bumbungnya itu pun
masih dapat menghiburnya.
Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin
berhembus menyusur bukit. Alangkah dinginnya.
Empu Sada yang tua itu menggigil kedinginan. Pakaian dan
tubuhnya basah kuyup oleh air sendang tempatnya berdiam diri.
Tetapi ia tidak mempunyai ganti, sehingga meskipun perasaan
dingin menggigit sampai ke tulang, maka terpaksa pakaian yang
basah itu pun tetap dipakainya.
Kini ia dihadapkan pada persoalan, bagaimana ia dapat keluar
dari tempat ini. Ia harus mampu menghilangkan segala macam
kesan, bahwa ia masih berada di tempat itu. Ia harus memelihara
anggapan bahwa Empu Sada lenyap ke dalam sendang. Lari
menyeberangi sendang itu, supaya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
tidak berusaha mengejarnya dengan mencari jejaknya. Sebab ia
merasa bahwa ia masih belum mampu untuk meninggalkan tempat
itu dengan cepat.
Ketika Empu Sada sampai ke semak-semak ilalang, maka ia
memperhitungkan keadaan. Ia harus berjalan tanpa meninggalkan
jejak. Karena itu, maka dicarinya jejak Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Dengan hati-hati Empu Sada berjalan di sepanjang jejak
mereka, di atas batang-batang ilalang yang telah roboh
terinjakinjak
kaki-kaki mereka. Namun di suatu tempat ia harus
memisahkan diri dari jejak itu dan mencari kesempatan yang baik
tanpa menimbulkan kecurigaan.
Demikianlah dengan hati-hati Empu Sada berjalan tertatih-tatih.
Tubuhnya yang kedinginan, dan dadanya yang pedih merupakan
penghambat yang mengganggunya. Tetapi ia menyadari keadaan
sepenuhnya. Ia harus pergi sejauh-jauhnya.
Akhirnya jejak kaki yang diikutinya itu pun keluar dari semak
ilalang. Tetapi kedua orang liar itu pasti menuju ke sisi bukit
gundul
yang landai, tempat mereka mendaki naik ke tempat mereka
berkelahi semula. Sendang Empu Sada pun kemudian memilih arah
yang lain. Kalau masih kuat ia harus berjalan sampai pagi. Semakin
jauh semakin baik. Ia masih belum berpikir ke mana ia harus pergi.
Tetapi tanpa disengaja, Empu Sada telah memilih jalan kembali.
Jalan yang berlawanan dengan jalan yang ditempuhnya pada saat ia
datang ke bukit gundul ini.
Sementara itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang
menganggap bahwa Empu Sada telah mati, bahkan hampir dapat
mereka pastikan, dengan tergesa-gesa menurut kemampuan yang
masih mereka miliki, telah mendaki bukit gundul itu kembali. Wong
Sarimpat yang selalu diganggu oleh perasaan nyeri di dadanya.
berkali-kali terpaksa berhenti terbatuk-batuk, sehingga kakaknya
berjalan semakin jauh di depan.
Ketika mereka sampai ke atas bukit gundul itu, mereka melihat
Kuda Sempana telah berhasil berdiri tegak. Bahkan dengan pedang
di tangan ia menggeram, “Ayo, kalau kalian telah berhasil
membunuh guruku serta saudara seperguruanku, kenapa kalian
tidak sanggup membunuh aku sama sekali?”
Tetapi Kuda Sempana menjadi heran ketika ia melihat wajah
hantu yang membeku itu Tiba-tiba tersenyum. Betapapun malam
diwarnai oleh kegelapan serta obor di dekatnya telah padam, namun
Kuda Sempana dapat melihat senyum itu. Senyum pada wajah yang
beku, sehingga karena itu, maka hatinya menjadi ngeri. Seolah-olah
ia melihat sesosok mayat yang tersenyum kepadanya.
Ketika Kebo Sindet melangkah selangkah lagi mendekatinya, tibatiba
Kuda Sempana yang hatinya keras sekeras batu hitam itu
melangkah surut sambil berteriak, “Jangan, jangan dekati aku!”
Tetapi wajah itu masih tersenyum. Senyum yang benar-benar
telah menggetarkan dada Kuda Sempana. Bukan karena Kebo
Sindet adalah seorang sakti yang setingkat dengan gurunya.
Ia sebenarnya telah bersedia untuk mati sekalipun. Tetapi ketika
ia melihat seakan-akan sesosok mayat tersenyum kepadanya,
hatinya bergolak dahsyat sekali.
Tanpa dikehendakinya kembali ia berteriak, “Pergi, pergi, atau
pedangku akan memenggal lehermu itu.”
Namun Kuda Sempana terkejut pula ketika ia mendengar Kebo
Sindet itu berkata dengan tenang “Kuda Sempana. Sadarilah
keadaanmu, dan apakah kau mau mendengar keteranganku?”
Suara itu sangat berbeda dengan wajah yang ditatapnya. Wajah
itu benar-benar mengerikan, tetapi suara itu terasa tenang dan
bersungguh-sungguh.
“Aku ingin berkata sesuatu kepadamu. Aku harap kau dapat
mendengarnya dengan tenang. Menimbang dengan bijaksana.
Sebenarnya aku tidak mempunyai maksud yang jelek terhadapmu.”
Kini Kuda Sempana terdiam seperti patung. Ia sama sekali tidak
melihat sikap pemusuhan dari Kebo Sindet yang mengerikan itu.
Bahkan terasa sikapnya sejak semula tidak berubah, meskipun telah
terjadi perkelahian antara orang itu dengan gurunya.
Sejenak kemudian Wong Sarimpat pun telah berdiri di
sampingnya pula. Sikap orang ini memang agak berbeda dengan
sikap kakaknya. Tetapi meskipun demikian, ia pun telah berusaha
berbuat sebaik-baiknya. Ia ingin mencoba berbuat seperti kakaknya,
menenangkan hati Kuda Sempana. Katanya “Apakah kau masih
merasa tubuhmu terlampau lemah Kuda Sempana? Kalau demikian,
aku akan berusaha menyembuhkanmu.”
Kuda Sempana memandangi orang kasar itu dengan penuh
kecurigaan. Tetapi ia tidak menemukan kesan apapun pada wajah
Wong Sarimpat. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar
Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak, “Matamu masih
memancarkan kecurigaan.”
Kuda Sempana tidak segera menyahut, namun terdengar giginya
gemeretak.
Tetapi Wong Sarimpat masih saja tertawa berkepanjangan,
sehingga akhirnya ia berhenti dengan sendirinya karena dadanya
menjadi sakit. Sambil terbungkuk-bungkuk ia batuk-batuk. Kedua
tangannya menekan dadanya yang sakit itu.
Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet, “Jangan bimbang
lagi Kuda Sempana. Aku masih tetap pada pendirianku. Aku ingin
menolongmu menangkap Mahisa Agni. Menjerahkannya kepadamu.”
Kuda Sempana masih tetap berdiam diri. Ia masih belum
menemukan sikap yang sebaik-baiknya harus dilakukan. Dalam pada
itu Kebo Sindet itu berkata “Jangan hiraukan lagi gurumu. Aku
terpaksa membunuhnya. Sekian lama aku menunggu kesempatan
ini. Dendam yang tersimpan di dalam dada ini seakan-akan tidak
tertahankan lagi. Mungkin kau belum mengetahuinya, persoalan
yang selama ini seolah-olah ingin dilupakan oleh gurumu. Tetapi
bagiku, sebelum gurumu berkubur di bukit gundul ini, hatiku masih
belum puas. Tetapi meskipun kau adalah muridnya, namun kau
tidak ikut campur dalam persoalan ini. Kau sama sekali tidak
mengetahui ujung dan pangkalnya, sehingga kau kami bebaskan
dari setiap tindakan apapun.”
Kuda Sempana masih menggenggam pedang di tangannya. Ia
masih juga belum dapat menentukan, sikap apakah yang sebaiknya
dilakukan. Tetapi akhirnya Kuda Sempana itu mencoba untuk
memilih kemungkinan yang paling panjang. Kalau ia melawan, maka
ia pasti akan mati. Tetapi kalau ia membiarkan dirinya menurut
perintah kedua orang itu, maka ia akan tetap hidup. Selagi ia masih
hidup, maka kemungkinan-kemungkinan yang lain masih dapat
terjadi. Berbeda sekali dengan apabila ia terbunuh malam ini.
Meskipun demikian Kuda Sempana masih juga berdiam diri.
Tanpa dikehendakinya, sekali ia berpaling memandangi mayat
saudara seperguruannya yang masih terbaring di atas batu-batu
padas di atas bukit gundul itu.
“Jangan hiraukan jahanam itu!” teriak Wong Sarimpat sehingga
Kuda Sempana terkejut karenanya. Orang itu telah mendapat
upahnya sendiri. Kalau ia tidak terlampau sombong, maka ia tidak
akan menemui nasib begitu jelek.
Kuda Sempana masih belum menjawab.
“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet “mari ikutlah kami. Kau
akan tinggal bersama kami sampai kau dapat berbuat sesuatu atas
Mahisa Agni. Aku berjanji akan menangkapnya hidup-hidup
untukmu. Aku dapat menangkapnya pada sebuah tonggak yang
kuat. Dan kau akan dapat berbuat sesuka hatimu. Mungkin kau
akan membunuhnya, atau mungkin kau akan membiarkannya
tersiksa atau cacat untuk seumur hidupnya.”
Kuda Sempana tidak dapat segera mengetahui perasaannya
sendiri. Apakah ia menjadi bergembira mendengar tawaran itu, atau
tiba-tiba ia telah kehilangan nafsu untuk berbuat demikian.
Guncangan-guncangan perasaannya masih saja mengganggunya.
Kematian saudara seperguruannya dan mungkin gurunya sendiri,
benar-benar telah mempengaruhi cara dan kejernihannya berpikir.
Namun ketika sekali lagi Kebo Sindet mengajaknya, maka sekali
lagi Kuda Sempana menjatuhkan pilihannya pada kemungkinan
yang paling jauh, yaitu, ia ingin tetap hidup, sebelum ditemukannya
jalan yang sebaik-baiknya dilakukan.
“Mari ikut aku,” ajak Kebo Sindet pula. Kuda Sempana tidak
menjawab, tetapi ia mengangguk.
“Bagus!” berkata Kebo Sindet. Kembali wajah yang beku itu
tersenyum. Dan kembali Kuda Sempana menjadi ngeri melihat
senyum itu. Terbayang di wajahnya, sesosok mayat yang bangkit
dari kuburnya dan tersenyum kepadanya.
Tetapi Kebo Sindet sama sekali tidak memperhatikannya lagi.
Segera ia berjalan kembali ke gubuknya.
Kuda Sempana yang masih saja ragu-ragu merasa punggungnya
disentuh. Ketika ia berpaling Wong Sarimpat telah berdiri di
belakangnya. Terdengar kemudian suara tertawanya memekakkan
telinga. Di antara suara tertawanya itu ia berkata, “Marilah Kuda
Sempana. Kau akan menemukan tempat tinggal yang baru di antara
kami. Kau akan segera mengenal cara hidup orang-orang
Kemundungan. Orang Kemundungan ternyata terlampau baik
terhadap kami. Mereka merasa bahwa kami telah melindungi
mereka dari setiap kejahatan yang dapat terjadi. Kini baik
penjahatpenjahat
yang berkeliaran di padukuhan-padukuhan. Sejak Baginda
di Kediri bertindak lebih keras terhadap kejahatan dan agaknya
diikuti pula oleh setiap akuwu termasuk Akuwu Tunggul Ametung,
maka penjahat-penjahat lari bertebaran di padukuhan-padukuhan
terpencil. Tetapi ternyata sampai saat ini Kemundungan masih tetap
lepas dari pengaruh kejahatan itu.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak
menjawab. Ketika sekali lagi ia merasa tangan Wong Sarimpat
menyentuhnya, maka kakinya pun terayun melangkah mengikuti
Kebo Sindet yang telah beberapa langkah di muka. Ketika sekali lagi
ia berpaling ke arah tubuh Cundaka yang menyebut dirinya Bahu
Reksa Kali Elo, terdengar Wong Sarimpat berkata, “Sebelum
matahari bertengger di atas punggung bukit di ujung timur itu,
maka yang tinggal di sini adalah kerangkanya saja. Anjing-anjing
liar
segera akan menerkamnya dan merobek-robeknya.”
Terasa bulu-bulu tengkuk Kuda Sempana meremang.
Bagaimanapun juga orang itu adalah saudara seperguruannya yang
telah lama bergaul dan bahkan orang itu telah berusaha
membantunya pula untuk mencapai maksudnya, meskipun ia tahu,
bahwa Cundaka itu pun mempunyai pamrih juga. Namun ketika ia
melihat tubuh itu terbaring di atas batu-batu padas, maka hatinya
berdesir pula.
Tetapi Kuda Sempana tidak mendapat kesempatan untuk berbuat
sesuatu. Setiap kali ia tertegun, maka terasa Wong Sarimpat
menyentuhnya. Sentuhan yang semakin lama terasa menjadi
semakin kasar, meskipun orang itu masih juga tertawa-tawa.
Akhirnya Kuda Sempana berjalan menurut irama langkah Kebo
Sindet meninggalkan bukit gundul itu. Meninggalkan tempat yang
tidak akan pernah dilupakannya.
Ketika kemudian mereka menuruni bukit gundul itu, terasa dada
Kuda Sempana menjadi bergelora. Kemarin ia menuruni bukit ini
pula bersama guru dan seorang saudara seperguruannya. Kini ia
menuruni bukit itu bersama dua orang yang belum pernah dikenal
sebelumnya.
Berbagai perasaan bergumul di dalam hatinya. Kadang-kadang ia
ingin melepaskan diri dari kedua orang itu, tetapi kadang-kadang
apabila dilihatnya punggung Kebo Sindet, ingin ia menghunjamkan
pedangnya ke punggung itu. Tetapi tiba-tiba disadarinya, bahwa di
belakangnya berjalan tertatih-tatih Wong Sarimpat. Meskipun orang
itu tampaknya telah hampir mati, tetapi ia masih cukup berbahaya.
Apalagi baginya, yang kini tidak memiliki kekuatan sepenuhnya.
Kuda Sempana terkejut ketika tiba-tiba ia melihat Kebo Sindet
berhenti dan berpaling. Dari sela-sela bibirnya yang beku terdengar
orang itu berkata, “He, Kuda Sempana, apakah kau masih
menggenggam pedang di tangan? Sarungkanlah. Sebentar lagi jalan
akan menjadi semakin sulit. Pedang itu akan berbahaya bagimu.
Apabila kau terpeleset jatuh, maka mungkin sekali tajam pedang itu
akan menyobek kulitmu sendiri.”
Kuda Sempana memandangi wajah Kebo Sindet dengan
tajamnya. Namun kemudian tanpa dikehendakinya sendiri,
tangannya tergerak menyarungkan pedang itu pada wrangka
dilambungnya.
“Bagus! Hati-hatilah berjalan,” berkata Kebo Sindet itu pula “Baru
apabila kita bertemu dengan gerombolan anjing liar, mungkin kau
perlukan pedangmu itu untuk menghalaunya.”
Kuda Sempana masih saja berdiam diri. Ketika Kebo Sindet
berjalan kembali, maka Kuda Sempana pun berjalan pula lewat jalan
setapak yang kemarin pernah dilaluinya pula. Berbelit-belit di
antara
batu-batu padas yang menjorok tajam dan kadang-kadang seakanakan
menghadang di tengah jalan.
Di tempat inilah ia kemarin melihat Wong Sarimpat di bawah
jalan ini, kemudian di atas punggung kuda berlari mendaki lereng
yang curam ini. Kemarin ia masih mengagumi orang yang kasar
yang disangkanya terlampau jujur itu. Tetapi ternyata orang itu
telah membunuh guru dan saudara seperguruannya.
Kebo Sindet ternyata sengaja berjalan perlahan-lahan supaya
Kuda Sempana dan Wong Sarimpat yang terluka itu tidak tertinggal
terlampau jauh. Namun demikian, mereka semakin lama menjadi
semakin dekat pula dengan gubuk di lereng bukit gundul itu. Gubuk
yang berada di mulut gua.
Bulu kuduk Kuda Sempana meremang ketika teringat kata-kata
Kebo Sindet, bahwa di dalam gua itu terdapat banyak kerangka
manusia. Siapa yang masuk ke dalam gua itu, tidak akan dapat
keluar kembali.
“Apakah aku akan dimasukkan ke dalam gua itu pula?” berkata
Kuda Sempana di dalam hatinya. Tetapi kemudian ditenangkannya
hatinya sendiri. Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya, walau
mati sekalipun.
“Ini adalah akibat yang mungkin sekali terjadi,” katanya di dalam
hati pula, “Kalau aku berhasil, sempurnalah hasilnya, kalau gagal,
tebusannya maut.”
Akhirnya mereka berhenti juga di muka gubuk Kebo Sindet.
Dalam kegelapan Kuda Sempana masih dapat mengenali gubuk itu.
Mulut gubuk itu masih saja menganga seperti pada saat Kuda
Sempana meninggalkannya. Dan ruangan di dalam gubuk itu pun
masih saja gelap pekat.
“Wong Sarimpat,” berkata Kebo Sindet “buatlah api! Nyalakan
pelita! Apakah kau masih mempunyai minyak?”
“Masih Kakang,” sahut Wong Sarimpat yang kemudian berjalan
memasuki gubuknya.
Kuda Sempana merasa perbedaan penerimaan atas dirinya.
Ketika ia datang bersama gurunya, maka seolah-olah kedua orang
itu acuh tak acuh saja. Tetapi kini terasa keduanya menjadi
terlampau baik terhadapnya.
Anak muda itu bukanlah anak muda yang terlampau dungu.
Betapapun juga ia dapat mengerti dan merasakan, bahwa ada
sesuatu kepentingan atasnya dari kedua orang itu. Samar-samar ia
melihat kepada persoalan yang akan dihadapinya Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat akan memperalatnya.
Tetapi Kuda Sempana sudah tidak akan dapat melepaskan diri
lagi. Ia sekarang dan seterusnya pasti hanya akan menjadi alat
mati. Alat yang tidak dapat menentukan sikapnya sendiri. Namun ia
tidak akan menerima nasib itu tanpa perlawanan. Ia harus
mempergunakan otaknya, bukan tenaganya. Sebab ia pasti tidak
akan mampu melawan keduanya. Bahkan satu pun tidak, meskipun
sudah terluka.
Ketika lampu telah menjala, maka Kebo Sindet segera
mempersilakan Kuda Sempana itu masuk ke dalam. Ketika mereka
sudah duduk di atas amben yang kemarin mereka pakai pula,
terdengar Kebo Sindet berkata, “Kuda Sempana. Lupakanlah
gurumu dan saudara seperguruanmu. Tinggallah di sini seperti di
rumah sendiri. Aku dan Wong Sarimpat segera akan berusaha
menyembuhkan luka-luka kami. Dalam waktu yang singkat kami
akan memenuhi permintaanmu. Menangkap Mahisa Agni hiduphidup
bagi kami sama sekali bukan pekerjaan yang sulit. Kami
heran, kenapa gurumu tidak mampu melakukannya apabila ia
benar-benar bermaksud menangkapnya. Karena itu, bagi kami
gurumu merupakan penghalang terbesar. Bahkan aku mempunyai
perhitungan bahwa gurumu sengaja akan menjebak kami. Selain itu
kami memang mempunyai persoalan yang lama terpendam dengan
gurumu. Lambat laun kau pasti akan mengetahuinya juga.”
Tiba-tiba Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bahkan kemudian ia bertanya, “Apakah paman berkata
sebenarnya?”
Kebo Sindet memandang Kuda Sempana dengan wajahnya yang
beku. Tetapi sorot matanya memancarkan perasaan yang aneh.
Kenapa Kuda Sempana menjadi lunak hatinya dengan tiba-tiba.
Perubahan itu berlangsung terlampau cepat. Namun Kebo Sindet
tidak segera dapat menarik ke simpulan. Bahkan kemudian ia
menjawab, “Tentu. Aku berkata sebenarnya.”
Kuda Sempana terdiam sesaat. Ia ingin segera berpura-pura
bergembira mendengar jawaban itu, tetapi ia tidak dapat.
Beruntunglah ia bahwa ia tidak mampu berbuat demikian karena
kejutan perasaan yang baru saja dialami.
Kebo Sindet adalah seorang yang licin. Ia akan mampu melihat
perubahan yang tidak wajar apabila Kuda Sempana dengan tiba-tiba
menyatakan sikapnya yang berlawanan dengan sikapnya
sebelumnya. Namun karena Kuda Sempana masih dicengkam oleh
perasaannya, maka justru sikapnya itu telah menghilangkan
kecurigaan Kebo Sindet.
Sejak saat itu Kuda Sempana terpaksa tinggal di dalam gubuk itu
pula. Gubuk Kebo Sindet. Betapa hatinya ingin melepaskan diri dari
lingkungan yang sama sekali tidak di kehendaki itu, tetapi ia tidak
pernah mendapat kesempatan. Setiap kali ia selalu berada di antara
kedua orang liar itu atau salah seorang daripadanya.
Namun setelah beberapa hari Kuda Sempana berada di tempat
itu, sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sama sekali tidak
berubah. Mereka masih bersikap baik dan ramah. Bahkan mereka
agaknya sangat memperhatikan kebutuhannya.
Dalam beberapa hari itu Kuda”Sempana dapat mengetahui cara
hidup Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kedua mendapat makanan
mereka dari orang-orang Kemundungan. Meskipun orang-orang
Kemundungan sendiri adalah orang-orang miskin, namun Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan pernah merasa kekurangan.
Mereka mendapat makanan mereka dalam dua bentuk. Makanan
masak, yang tinggal menyuapkan saja ke dalam mulut, dan bahanbahan
mentah yang dikehendaki. Buah-buahan, pala kependam dan
pala gumantung. Kedua orang itu seolah-olah menjadi raja kecil
dalam padukuhan yang terpencil itu.
Di dalam gubuk Kebo Sindet memang terdapat mulut gua. Tetapi
Kuda Sempana sama sekali tidak berani memasuki gua itu. Setiap
kali ia mendengar Kebo Sindet atau Wong Sarimpat berkata
kepadanya. Setiap orang yang mencoba masuk ke dalamnya, maka
orang itu tidak akan pernah keluar lagi. Bahkan selama itu, Kuda
Sempana belum pernah melihat Kebo Sindet atau Wong Sarimpat
sendiri masuk ke dalamnya.
Yang diketahui oleh Kuda Sempana dengan pasti, selama ini
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengobati diri mereka
masing-masing. Ternyata luka-luka yang mereka derita bukanlah
luka-luka yang ringan. Hanya karena daya tahan tubuh-tubuh
mereka yang luar biasa sajalah, maka mereka tidak hancur
karenanya. Mereka bahkan masih tampak tetap segar.
(bersambung)
Jilid 21
DARI hari-kehari, maka kedua orang itu menjadi semakin
sembuh. Tubuh-tubuh mereka kembali menjadi sehat dan kuat
seperti pada saat Kuda Sempana pertama kali melihatnya. Setiap
kali Kuda Sempana melihat keduanya menguji tubuh masingmasing.
Sehingga, pada suatu hari Kebo Sindet berkata kepada Kuda
Sempana,, “Kami telah memiliki keadaan tubuh kami seperti semula.
Kami telah sehat kembali, seperti pada saat gurumu belum melukai
kami dengan curang. Sebentar lagi kami akan menjadi siap
melakukan pekerjaan yang kau percayakan kepada kami”.
Kuda Sempana masih saja diliputi oleh kebimbangan dan bahkan
kebingungan. Sesudah sekian hari ia berada di dalam gubug itu,
namun ia masih belum menemukan jalan yang sebaik-baiknya
ditempuh.
Kuda Sempana itu terkejut ketika Kebo Sindet kemudian
berkata,, “Aku tahu, bahwa kau masih tetap berprasangka kepada
kami. Perasaan itu tidak akan lenyap dari kepalamu selagi kami
belum dapat membuktikan perkataan kami. Tetapi, percayalah
bahwa kami akan melakukannya untuk beberapa keping emas
murni”.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba terloncat
dari bibirnya,, “Paman, apabila aku masih tetap berada di sini, aku
tidak akan berhasil mendapatkan emas murni itu”.
“Bukankah kau sudah menyediakannya?”
“Belum berupa emas murni” sahut Kuda Sempana, “aku masih
harus berusaha mendapatkannya. Yang aku punya adalah timang
emas bertetes berlian. Pendok emas bermata intan dan
perhiasanperhiasan
yang lain. Tetapi bukan emas murni”.
Wajah Kebo Sindet yang beku masih tetap membeku. Namun,
tanpa diketahui oleh seorangpun, ia tersenyum di dalam hati. Yang
diucapkan kemudian adalah, “Barang-barang itu cukup berharga
bagi kami, kau tidak perlu bersusah payah menukarkannya dengan
emas murni”.
Kuda Sempana terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Barang-barang
itu telah dikumpulkannya bertahun-tahun, sejak ia mengabdikan
dirinya di istana, bahkan menjadi kepercayaan Akuwu dalam
beberapa persoalan. Apakah barang-barang yang telah
dikumpulkannya bertahun-tahun itu akan dilepaskannya?
Kembali ia menyesali kebodohannya., “kenapa aku
mengatakannya?”
Tetapi, penyesalan itu sama sekali sudah tidak berarti. Ia tidak
dapat menyesali kematian gurunya karena kebodohannya pula.
Karena nafsunya untuk membalas dendam, sehingga ia telah
kehilangan segenap pertimbangan yang bening.
“Tetapi, kenapa guru selama ini membiarkan aku terdorong
semakin jauh?” Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Guru
juga ingin mendapatkan beberapa keping emas murni, atau timang
tretes berlian atau pendok emas bermata intan atau apapun yang
disenanginya”.
Kembali Kuda Sempana terkejut ketika Kebo Sindet berkata,
“Memang kepuasan amat mahal harganya. Tetapi, jangan takut.
Aku tidak serakus gurumu. Aku hanya akan menerima sebagian
menurut keikhlasanmu. Aku tidak akan menyebut, berapa banyak
yang aku kehendaki”.
Kuda Sempana menarik alisnya. Tetapi, ia tidak percaya akan
kata-kata itu. Namun, demikian ia menyawab, “Terima kasih paman.
Kapan paman memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil
barang-barang itu?”
“Tidak terlampau tergesa-gesa” sahut Kebo Sindet, “Aku akan
menerimanya setelah pekerjaanku selesai”.
Kembali Kuda Sempana terdiam. Dan kembali ia harus memutar
otaknya untuk memecahkan jalan keluar dari tempat yang
menyesakkan nafas ini.
Tetapi dari hari-kehari, keadaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
menjadi semakin baik. Dengan demikian maka kemungkinan Kuda
Sempana untuk melepaskan diri dari tangan kedua orang itu
menjadi semakin sempit.
Namun, bukan saja kesempatan Kuda Sempana menjadi semakin
sempit, tetapi karena nafsu Kuda Sempana untuk pergi
meninggalkan gubug itu pun menjadi kecil pula.
Setelah beberapa hari ia berada di gubug itu, dirasakannya
bahwa sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik
terhadapnya. Apalagi Kebo Sindet. Bahkan, setelah orang itu
menjadi sembuh sama sekali, Kuda Sempana sering dibawanya
berburu di lereng bukit gundul itu, di dalam hutan-hutan yang tidak
begitu lebat dan di padang-padang ilalang.
Kuda Sempana pun selalu berusaha untuk tidak menumbuhkan
kecurigaan kepada kedua orang itu. Semula anak muda itu berhasil
berpura-pura menerima tawaran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
itu. Namun, kemudian batinya benar-benar terpengaruh oleh
keadaan yang dialaminya.
Bahkan, kemudian Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu pun
bersedia memberinya sedikit ilmu. Ilmu yang dimiliki oleh Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Ilmu yang agak berbeda dengan ilmu
yang diterimanya dari gurunya Empu Sada. Namun, dengan
pertolongan kedua orang itu Kuda Sempana berhasil mencoba
mencernakannya. Menyusun jenis-jenis ilmu yang berbeda itu dalam
tata gerak yang serasi, yang dengan sendiri dapat menambah
sedikit kemampuannya bertempur.
Hal inilah yang semula sama sekali tidak diduganya. Ternyata
kedua orang itu bersikap baik kepadanya, bahkan terlalu baik.
Lambat laun, maka Kuda Sempana itu hampir melupakan gurunya
sendiri dalam beberapa hari. Seakan-akan ia telah menemukan guru
yang baru.
Ketika kemudian, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah benarbenar
sembuh, dan telah memiliki kekuatannya kembali seperti
sedia kala, maka berkatalah Kebo Sindet kepada Kuda Sempana,
“Kuda Sempana. Kami, aku dan pamanmu Wong Sarimpat telah
berhasil menyembuhkan luka-luka di dalam tubuh kami. Sebaiknya
kami segera melakukan penangkapan itu. Menangkap Mahisa Agni”.
Dada Kuda Sempana terasa berdesir mendengar rencana itu.
Setelah sekian lama ia tinggal di dalam gubug itu, maka nafsunya
untuk melakukan pembalasan telah menjadi semakin berkurang.
Tetapi, ia tidak dapat menolaknya. Kehadirannya kemari adalah
karena dendam itu. Dan ia mencoba membakar kembali dadanya
dengan dendam yang hampir padam. Karena itu, maka dijawabnya,
“Baik paman. Aku bergembira bahwa paman akan melakukannya”.
“Semakin cepat semakin baik. Pamanmu Wong Sarimpat telah
beberapa kali melihat kerja Mahisa Agni bersama kawan-kawannya
di Padang Karautan. Dan kesempatan untuk mengambil Mahisa Agni
terlampau luas. Kalau gurumu mempunyai otak yang sedikit cerah,
maka ia tidak perlu terlampau bersusah payah. Anak itu selalu
mondar-mandir dari Padang Rumput Karautan ke Panawijen.
Kesempatan itu akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya”.
Kuda Sempana terkejut mendengarnya. Sehingga dengan sertamerta
terloncat pertanyaannya, “Apakah paman Wong Sarimpat
pernah datang ke Padang Karautan?”
“Tidak hanya satu dua kali” sahut Kebo Sindet, “pamanmu selalu
datang melihat-lihat, meskipun dari jarak yang cukup jauh”.
“Kapan paman Wong Sarimpat pergi ke Padang Karautan?”
“Lusa, sepekan yang lalu dan sepuluh hari yang lalu dan hari ini
pula. Pamanmu adalah seorang penunggang kuda yang baik.
Kudanya pun baik pula, sehingga waktu yang diperlukan tidak
terlampau banyak. Senja ia berangkat, maka sebelum fajar di
malam berikutnya ia telah berada di tempat ini kembali. Hampir
sehari ia mempunyai waktu untuk melihat-lihat tempat itu.
Pamanmu untuk menempuh perjalanan tanpa memincingkan
matanya sama sekali selama sepekan terus-menerus. Apalagi hanya
dua tiga malam”.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Bukan main”
desisnya di dalam hati,, “dan apakah guru mampu berbuat demikian
pula?”
“Tetapi” berkata Kebo Sindet pula, “kami tidak akan pergi berdua
saja. Sebaiknya kau ikut pula. Mungkin kami masih memerlukan
beberapa keterangan dari padamu”.
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia mencoba berpikir,
apakah sebabnya ia harus pergi pula bersama-sama dengan mereka
berdua. Tetapi, jawaban yang diketemukan adalah seperti yang
dengan terus terang telah dikatakan oleh Kebo Sindet, bahwa
mungkin kedua orang itu masih memerlukan beberapa keterangan
dari padanya. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah paman. Apabila
paman masih memerlukan aku”.
Wajah Kebo Sindet yang beku itu masih saja tetap membeku.
Namun, kepalanya itu mengangguk-angguk. Dan terdengar,,
“Bagus, dengan bantuanmu, maka pekerjaan ini akan menjadi
semakin cepat. Aku tidak memerlukan waktu lebih dari sepekan
untuk menangkapnya. Sebab hampir setiap sepekan sekali Mahisa
Agni pergi ke Panawijen untuk mengambil beberapa keperluan bagi
orang-orangnya bersama beberapa kawan-kawannya. Kesempatan
itu adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk
mengambilnya. Mahisa Agni akan hilang dari antara mereka.
Bendungan itu akan gagal sebab orang-orang Panawijen pasti akan
kehilangan nafsu dan gairah untuk melanjutkannya. Bahkan mereka
pasti akan teringat kembali kepada bendungan yang lama, dan
mereka pasti akan mengutuk kenapa bendungan itu pecah. Orangorang
Panawijen akan menjadi putus asa dan pergi berpencaran
mencari hidup mereka masing-masing. Nah, keadaan itulah yang
harus dilihat oleh Mahisa Agni. Karena itu ia harus tertangkap
hidup.
Orang itu harus disimpan di tempat ini beberapa lama untuk
merasakan kepahitan hidupnya. Mungkin ia tidak memikirkan
nasibnya sendiri, tetapi kegagalannya pasti akan menyiksanya”.
“Menyiksa perasaannya, sedang kau akan mendapat kesempatan
untuk menyiksa tubuhnya. Bukankah kepahitan hidup yang kau
alami sekarang ini bersumber pada perbuatan Mahisa Agni itu
menurut katamu sendiri?”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata
Kebo Sindet itu memang dapat mengungkat kembali dendamnya
yang sudah menjadi hambar. Apalagi ia sendiri memang berusaha
untuk menyalakan dendam itu.
Bahkan kemudian seakan-akan terbayang kembali apa yang
pernah terjadi atas dirinya sejak ia menemui Ken Dedes di bawah
bendungan, ketika gadis itu sedang mencuci pakaian. Kegagalannya
yang pertama itu telah mendorongnya ke dalam kegagalankegagalan
yang terus menerus. Dan semuanya itu adalah karena
Mahisa Agni.
Tiba-tiba Kuda Sempana itu menggeretakkan giginya. Di dalam
hati ia menggeram,, “Aku tidak peduli apa yang kelak akan terjadi.
Atas diriku atau atas Mahisa Agni apabila ia telah ditangkap oleh
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang gila ini. Tetapi, aku harus
sempat melepaskan dendamku. Seandainya aku pun akan dibunuh
oleh kedua orang ini dan dimasukkan ke dalam goa itu, maka aku
akan mati dengan tenang, karena dendamku telah terlepaskan.
Apalagi kalau benar kata mereka, bahwa mereka hanya memerlukan
beberapa macam perhiasan dari padaku”.
Kuda Sempana itu pun kemudian tersenyum di dalam hati. Ia
tidak mau lagi mempersulit otaknya sendiri. Dijalani hidup ini
disaat
ini. Apa yang akan terjadi besok adalah persoalan besok. Kini ia
harus menyiapkan diri bersama-sama menangkap Mahisa Agni. Dan
ia ingin melakukannya sebaik-baiknya, sehingga anak muda itu
dapat ditangkapnya. Disakiti tubuh dan perasaannya. Kemudian, ia
tidak akan mempedulikan lagi, apakah Mahisa Agni itu akan dibunuh
dan dilemparkan kebendungan yang sedang dibuatnya, atau seperti
kata gurunya, bahwa kedua orang itu akan mempergunakan Mahisa
Agni untuk tujuan tertentu, dan bahkan seandainya dirinya sendiri
akan diperlakukan serupa itu pula.
Anak muda itu terseadar ketika ia mendengar Kebo Sindet
berkata, “Bagaimana Kuda Sempana, apakah kau sudah siap apabila
kita setiap saat berangkat?”
“Sudah paman. Sekarang pun aku sudah siap”.
“Bagus. Tetapi kita masih menunggu pamanmu Wong Sarimpat”.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya pula.
Gumamnya, “Kapan pun aku sudah siap”.
Dalam pada itu, di Padang Karautan Mahisa Agni berada diantara
kawan-kawannya dan hampir semua laki-laki Panawijen, bekerja
memeras tenaga membuat bendungan yang akan dapat memberi
harapan bagi kelangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka
dalam satu lingkungan. Apabila bendungan itu, siap maka mereka
tidak harus bercerai-berai mencari hidup masing-masing. Mereka
masih akan tetap berada dalam satu lingkungan yang telah berpuluh
tahun mereka jalani, sehingga mereka merasa bahwa setiap orang
Panawijen adalah keluarga mereka sendiri. Tidak ubahnya keluarga
sesaluran darah.
Tetapi, kerja itu adalah kerja yang terlampau berat. Bendungan
dan saluran-saluran air. Apa yang mereka kerjakan selama ini
barulah sebagian kecil dari kerja mereka keseluruhan. Mereka belum
dapat membayangkan, kapankah kerja mereka itu akan dapat
selesai. Sebulan lagi, dua bulan, tiga bulan atau satu tahun?
Sementara itu sawah di Panawijen menjadi semakin kering dan
kering. Hampir tak ada jenis tanaman yang dapat ditanamnya lagi.
Ubi kayu menjadi semakin kurus dan jagung tidak dapat tumbuh
melampaui tinggi anak-anak yang baru dapat berdiri. Sedangkan
setiap orang harus memeras keringat di panas terik Padang
Karautan. Mereka mulai bckerja sejak matahari terbit dan mereka
baru meletakkan ala-alat mereka apabila matahari jauh turun di kaki
langit. Namun, kerja itu seolah-olah hampir tidak bertambahtambah.
Setiap hari mereka harus memecah batu-batu,
memasukkan ke dalam brunjung-brunjung bambu dan
menimbunnya di dasar sungai. Tetapi, brunjung-brunjung bambu
yang berisi batu-batu itu seolah-seolah lenyap saja ditelan pasir
di
dasar sungai itu.
Apalagi saluran-saluran yang mereka rencanakan. Mereka sempat
menanam patok-patok bambu dan tali-tali yang harus mereka
pancangkan untuk membuat garis-garis parit yang akan mereka
gali. Tetapi, selebihnya belum. Belum ada seratus langkah tanah
yang sudah sempat mereka cangkul. Tenaga mereka hampir
seluruhnya dikerahkan untuk memecah dan memasukkan batu-batu
ke dalam brunjung dan melemparkannya ke dasar sungai.
Beberapa orang telah menjadi cemas akan persediaan lumbunglumbung
mereka. Lumbung-lumbung itu telah menjadi semakin
tipis. Tanaman palawijen agaknya terlampau sedikit. Sawah-sawah
mereka hanya dapat tertolong sementara ada hujan turun. Sesudah
itu akan kering kembali. Tetapi, hujan tidak juga kunjung-kunjung
datang.
Namun, mereka pun tidak dapat mengharap hujan segera
datang. Dengan demikian air sungai akan bertambah besar dan
bendungan yang belum siap itu pun akan terancam bahaya.
Orang-orang tua mulai mencemaskan keadaan itu. Baiklah, satu
dua di antara mereka telah saling berbicara sesamanya. Apabila
malam yang kelam menyelubungi padang rumput yang luas itu,
maka mulailah terdengar satu dua orang mengeluh. Mengeluh
karena lelah, dan mengeluh karena harapan yang mereka
pancangkan bersama patok-patok bambu itu agaknya masih
terlampau jauh.
Dari hari-kehari maka keluhan itu pun menyalar semakin luas.
Dari mulut orang-orang tua yang merasa bahwa umurnya tidak akan
lebih panyang dari kerja membuka tanah itu, merayap kepada
mereka yang lebih muda. Kepada mereka yang sudah setengah
umur. Kemudian merembet lagi kepada yang lebih muda pula.
Kepada bapak-bapak yang baru beranak satu dua orang. Akhirnya
keluh kesah itu sampai pula kepada anak-anak mudanya.
Tetapi, mereka masih juga bekerja disiang hari. Mereka masih
juga mulai sejak matahari terbit dan selesai menjelang matahari
bertengger di punggung bukit. Tetapi, dimalam hari mereka tidak
lagi berdendang dan bersenandung. Tidak lagi terdengar suara
seruling dan gelak tertawa. Dimalam hari mereka saling berbisik
diantara mereka. Punggung yang sakit, pundak yang luka dan kaki
yang bengkak.
Keluh kesah itu akhirnya terdengar oleh Ki Buyut Panawijen.
Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Kalau orang-orangnya nanti
menjadi jemu sebelum bendungan itu siap, maka pekerjaan yang
mengandung harapan itu akan terbengkalai seperti harapan mereka
yang akan terbengkalai juga. Ki Buyutlah orang yang akan menjadi
paling bersedih hati, di samping Mahisa Agni, apabila mereka
terpaksa berpisah bercerai berai mengungsikan hidup masingmasing
ke pedukuhan-pedukuhan yang masih dapat menerima
mereka.
“Angger Mahisa Agni harus segera msngetahuinya pula” berkata
orang tua itu di dalam hatinya, “tetapi aku harus berhati-hati
mengatakan persoalan ini. Jangan sampai anak yang baik itu
tersinggung hatinya. Ia telah bekerja melampaui orang lain. Dan
karena itu, maka ia akan dapat menjadi sangat kecewa mendengar
keluh kesah ini”.
Tetapi, keluhan itu menyalar semakin lama menjadi semakin
luas. Dan Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Lebih baik ia
sendiri menyampaikannya kepada Mahisa Agni dari pada anak itu
pada suatu ketika mendengar langsung dari orang-orangnya,
sehingga akan menimbulkan bekas yang dalam hatinya.
Maka ketika matahari telah terbenam, dan ketika orang-orang
Panawijen sudah beristirahat sambil memijat-mijat kaki-kaki mereka
yang lelah, maka Ki Buyut Panawijen berjalan di antara mereka
mencari Mahisa Agni.
“Apakah kau sudah tidur Ngger?” sapa Ki Buyut itu di depan
gubug ilalang yang dipergunakan Mahisa Agni untuk berteduh dari
embun di malam hari.
Mahisa Agni yang masih duduk-duduk di dalam gubugnya itu
terkejut. Dengan tergopoh-gopoh ia bangkit sambil mempersilahkan
orang tua itu, “Mari Ki Buyut. Marilah duduk di sini”.
“Ya, ya Ngger” sahut Ki Buyut.
Kemudian mereka pun duduk di atas sehelai tikar yang
dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering. Ki Buyut
Panawijen, Mahisa Agni dan paman Mahisa Agni yang masih saja
berada di Padang Karautan, Empu Gandring.
Setelah percakapan mereka melingkar-lingkar dari satu soal ke
soal lain, maka dengan dada berdebar-debar Ki Buyut ingin
menyampaikan keperluannya kepada Mahisa Agni. Tetapi, ketika ia
melihat wajah anak muda itu, maka hatinya menjadi ragu. Wajah itu
memancar penuh harapan bahwa suatu saat mereka akan dapat
berdiri di sisi sungai itu sambil memandangi bendungan mereka
yang telah dapat menaikkan air ke parit-parit yang memanjang
membelah padang yang kering. Mahisa Agni agaknya terlampau
yakin bahwa kerjanya akan berhasil.
Tetapi, kalau ia tidak menyampaikan pendengarannya tentang
keluh kesah yang semakin merata itu, maka apabila Mahisa Agni
mendengarnya kelak, apabila kejemuan itu benar-benar telah
mencengkam segenap orang-orang yang mengerjakan bendungan
ini, alangkah parahnya hati anak muda itu. Alangkah kecewanya.
Seolah-olah rakyat Panawijen sama sekali tidak mengenal terima
kasih atas segala jerih payahnya.
Setelah dipertimbangkannya masak-masak, dan setelah
dipikirkannya berulang kali, maka dengan ragu-ragu akhirnya Ki
Buyut itu pun berkata, “Angger bagaimanakah dengan bendungan
kita?”
Mahisa Agni memandangi wajah Ki Buyut Panawijen dengan
sorot mata yang aneh. Pertanyaan Ki Buyut itu telah mengherankan
Mahisa Agni. Sehingga anak muda itu ganti bertanya, “Bagaimana
maksud Ki Buyut?”
“Ah” Ki Buyut menjadi semakin bimbang, “maksudku, apakah
tidak ada kesulitan apa-apa?”
Mahisa Agni menjadi semakin heran, jawabnya, “Seperti yang Ki
Buyut saksikan, bukankah pembuatan bendungan itu berjalan
lancar? Bukankah orang-orang Panawijen telah berjuang dengan
sekuat-kuat tenaga mereka, tanpa menghiraukan panas, lelah dan
jemu?”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jalan yang sudah mulai
dibukanya itu seolah-olah kini telah tertutup rapat kembali. Apakah
ia akan sampai hati mengatakan kepada Mahisa Agni, bahwa orangorang
Panawijen itu kini telah mulai berkeluh-kesah. Berkeluh-kesah
tentang panas terik yang membakar punggung mereka, tentang
lelah yang menyalar kesegenap otot baju dan tentang kejemuan
yang mulai mcncengkam perasaan? Ki Buyut itu pun menjadi
termangu-mangu. Sehingga karena itu maka ia pun terdiam. Ia
telah kehilangan cara yang sebaik-baiknya dapat ditempuh.
Bahkan orang tua itu menjadi bingung ketika Mahisa Agni
kemudian berkata, “Ki Buyut, aku mengharap bahwa kita akan
dapat bekerja lebih keras lagi. Kita harus menyelesaikan bendungan
itu sebelum hujan turun di musim basah yang akan datang. Apabila
kemudian air naik, dan ternyata bendungan kita belum sempurna,
sehingga masih berbahaya apabila banjir sekali-kali datang, maka
kita masih harus bekerja lagi, menyempurnakan bendungan itu.
Namun, setelah itu, kita akan menikmati hasilnya. Padang itu akan
menjadi tanah persawahan yang subur dan seluas-luas kita
kehendaki. Sawah kita akan tidak terbatas, sebesar tenaga dapat
kita berikan, seluas itu tanah yang kita garap”.
“Ya, ya” orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sejenak kemudian mereka berdiam diri, Empu Gandring duduk
terkantuk-kantuk di sudut gubug itu sambil memeluk lututnya.
Seakan-akan ia sama sekali tidak mendengarkan percakapan
kemanakannya dengan Ki Buyut itu. Namun, sebenarnya ia
mendengar semuanya. Ia menangkap perasaan yang tidak wajar
yang melontar dari percakapan itu. Dari setiap kata-kata Ki Buyut
Panawijen. Namun, Empu Gandring itu tidak tahu, apakah yang
sebenarnya ingin dikatakan oleh Ki Buyut kepada kemanakannya.
Ketika angin malam berhembus semakin keras, terasa dingin
semakin dalam menghunyam ke dalam kulit. Beberapa orang telah
membuat perapian dan tidur melingkarinya sambil berselimut kain
panjang. Di kejauhan terdengar suara burung hantu mengeluh
seperti orang yang kelelahan.
Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur.
Ia masih mengharap bahwa ia akan menemukan cara untuk
menyampaikan maksudnya.
Tidak jauh dari gubug itu, tampak api perapian menyala seperti
melonyak-lonyak. Beberapa orang yang bertiduran dis ekitarnya
telah benar-benar menjadi lelap. Yang terdengar kemudian adalah
dengkur yang bersahut-sahutan.
Ki Buyut Panawijen masih saja berdiam diri. Mahisa Agni pun
seolah-olah terbungkam. Dan di kejauhan burung hantu masih saja
mengeluh terputus-putus.
“Alangkah sulitnya” desah Ki Buyut di dalam hatinya, “bagaimana
aku dapat mulai?”
Namun, tiba-tiba perhatian mereka terlempar ke arah dua orang
yang berjalan perlahan-lahan ke gubug itu. Agaknya yang seorang
memapah yang lain.
Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan bahkan Empu Gandring
yang terkantuk-kantuk itu pun terkejut. Dengan serta-merta mereka
berdiri dan menyongsong kedua orang itu.
“Siapa?” bertanya Ki Buyut Panawijen.
“Aku, Ki Buyut”.
“Kenapa? Dan siapa kawanmu itu?”
“Bitung”.
“Kenapa dengan Bitung?”
“Tubuhnya tiba-tiba menjadi panas, tetapi ia menggigil seperti
orang kedinginan”.
“Bawalah kemari” minta Mahisa Agni yang menjadi cemas.
Kedua orang itu pun kemudian memasuki gubug Mahisa Agni.
Bitung pun kemudian duduk bersandar kawannya. Namun, ia masih
juga menggigil seperti orang yang kedinginan. Ketika Mahisa Agni
dan Ki Buyut Panawijen meraba tubuhnya ternyata tubuh itu terasa
panas.
“Aneh” gumam Mahisa Agni.
“Ya aneh” sahut Ki Buyut Panawijen.
Tetapi, Empu Gandring yang lebih banyak menyimpan
pengalaman dari mereka berkata, “Tidak. Sama sekali tidak aneh.
Memang ada sejenis penyakit yang demikian”.
“Apakah sakit Bitung ini bukan karena hantu-hantu?” bertanya
kawannya.
Ki Buyut Panawijen tidak dapat menyawab, namun yang
menyawab adalah Empu Gandring, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku
telah sering melihat orang yang terserang penyakit yang demikian”.
Kawan Bitung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Aku menjadi bingung ketika ia mulai menggigil. Karena itu maka ia
aku bawa kemari. Apakah sakit yang demikian ini dapat diobati?”
“Tentu” Empu Gandring lah yang menyahut, “besok usahakan
daun kates grandel yang masih muda. Tumbuklah beserta kulit
batangnya, buahnya yang masih muda pula, bunganya dan akarnya.
Mudah-mudahan ia dapat sembuh. Taruhlah garam sedikit”.
“Tetapi, bagaimana dengan malam ini?”
“Biarlah ia tidur dan beristirahat”.
Kawan Bitung itu memandangi wajah Ki Buyut dengan
pandangan yang sayu. Bibirnya tampak bergerak-gerak seakan-akan
ia ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi, tak sepatah kata pun yang
terloncat dari bibirnya. Namun, Ki Buyut Panawijen seakan-akan
dapat membaca kata hatinya. Seakan-akan Ki Buyut Panawijen
mendengar kawan Bitung itu berkata, “Siapakah yang bertanggung
jawab, sandainya yang terjadi sesuatu dengan kawanku ini? Apakah
harus ada orang lain yang mengalami penyakit serupa?”
Tetapi, Ki Buyut pun berdiam diri. Ia kemudian mendengar orang
itu berkata, “Baiklah. Besok aku mengharap Bitung dapat diobati.
Dan aku mengharap mudah-mudahan obat itu dapat
menyembuhkannya”.
“Batang Kates Grandel banyak terdapat di Panawijen” gumam
Mahisa Agni.
“ya. Tetapi Bitung kini tidak berada di Panawijen” jawab
kawannya.
“Tetapi, bukankah kita dapat mengambilnya?”
“Aku mengharap besok Bitung dapat diobati” berkata kawannya
itu seolah-olah tidak mendengar kata-kata Mahisa Agni, “aku
menunggu dan Bitung pun menunggu”.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Ia tahu
benar maksud kata-kata itu. Obat itu harus tersedia. Jadi bukankah
dengan demikian berarti bahwa ia harus mengambil obat itu ke
Panawijen besok.
Meskipun demikian, Mahisa Agni itu berkata, “Ya. Mudahmudahan
ada seseorang yang akan dapat mengambilnya”.
“Mudah-mudahan” sahut orang itu.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia merasakan keanehan sikap
dari orang itu. Sikap yang belum pernah dialaminya selama ini.
Tetapi, ketika Mahisa Agni menyalakan perasaannya, terasa
pamannya menggamitnya.
Mahisa Agni berpaling, Empu Gandring menggeleng lemah.
Meskipun Mahisa Agni tidak tahu maksudnya, namun ia terdiam.
“Aku akan kembali ke gubugku” berkata kawan Bitung.
“Biarlah Bitung di sini” sahut Mahisa Agni.
“Tidak. Ia bersamaku. Apapun yang akan terjadi atas dirinya”.
Kembali Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi, ia tidak
mencegahnya lagi ketika Bitung kembali dipapah oleh kawannya
meninggalkan gubug itu. Bitung masih juga menggigil meskipun
tubuhnya panas.
Sepeninggal mereka, Ki Buyut Panawijen menjadi semakin
cemas. Ia tahu benar apa yang bergolak di dalam hati Bitung dan
kawannya. Mereka pasti menimpakan segala kesalahan kepada
Mahisa Agni dan kemudian kepada dirinya, Buyut Panawijen.
“Hem” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, “apakah aku juga yang
harus pergi ke Panawijen untuk mengambil obat itu?”
“Tak ada seorang pun yang berani melakukan Agni” sahut
pamannya.
“Terlalu” desah Mahisa Agni, “semuanya harus aku lakukan”.
Apakah hal-hal semacam itu tidak mengganggu pekerjaan yang
besar ini?
“Besok aku harus meletakkan brunjung-brunjung dasar di sisi
seberang sebelum sisi yang sebelah ini selesai supaya ada
keseimbangan. Kalau aku pergi, bagaimana dengan rencana itu?”
Ki Buyut Panawijen dapat memahami perasaan Mahisa Agni yang
sepenuhnya diikat oleh persoalan bendungan yang sedang
dikerjakannya. Segala tenaga dan pikiranya kini sedang
dicurahkannya untuk kepentingan kerja yang besar dan berat itu,
sehingga hampir tak ada waktu baginya untuk berbuat hal-hal yang
lain. Tetapi, Ki Buyut itu merasakan pula kepincangan yang terdiri
pada orang-orangnya. Mahisa Agni yang sudah bekerja melampaui
setiap orang itu, masih harus mengurus persoalan-persoalan yang
sebenarnya dapat dilakukan oleh orang lain. Namun, sebenarnya
seperti kata Empu Gandring bahwa tak ada seorang pun yang
berani pergi ke Panawijen tanpa Mahisa Agni. Kalau ada juga yang
harus pergi, maka mereka pasti akan membawa kawan dalam
jumlah yang cukup banyak.
Karena itu justru Ki Buyut Panawijen tak dapat berkata sepatah
pun juga untuk menanggapi keluhan Mahisa Agni, Orang tua itu pun
bahkan menekurkan kepalanya sambil mengangguk-angguk kecil.
“Paman” bertanya Mahisa Agni itu pula kepada pamannya,
“apakah penyakit yang demikian itu berbahaya? Maksudku, apabila
obat itu tertunda satu hari saja, apakah akibatnya akan
membahayakan sekali bagi Bitung? Apabila tidak, maka aku ingin
tetap melakukan rencanaku besok, baru lusa aku akan pergi ke
Panawijen setelah dasar bendungan di sisi seberang dapat mapan.
Dengan demikian, maka pekerjaan yang barus dilakukan tinggal
menambah dasar itu dengan menimbuni brunjung-brunjung. Apabila
tidak demikan, maka air akan mengalir di satu sisi, sehingga sisi
itu
bahkan akan menjadi semakin dalam”.
Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu untuk menyawab
pertanyaan itu. Seperti Ki Buyut Panawijen, ia dapat memahami
setiap perasaan yang bergolak di dalam dada anak muda itu. Tetapi,
Empu Gandring itu tahu pula, bahwa penyakit yang berbahaya.
Meskipun penyakit itu tidak segera membunuh korbannya, tetapi
apabila terlambat pengobatannya, maka meskipun perlahan-lahan,
pasti penyakit itu akan menjadi semakin padam.
Selagi Empu Gandring itu menimbang-nimbang, terdengar
Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana paman? Apakah aku dapat pergi
lusa?”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian
dengan menganggukkkan kepalanya, “Agni. Mungkin tidak
terlambat, tetapi sebaiknya penyakit yang demikian segera
mendapat pengobatan”.
Wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Dilemparkannya pandangan
matanya ke padang yang luas di luar gubug itu. Gelap, meskipun
bintang-bintang gemerlapan di langit. Sudah tentu ia tidak akan
sampai hati membiarkan salah seorang kawannya menjadi korban.
Perasaannya tidak membenarkannya, apabila Bitung kelak menemui
bencana oleh penyakitnya karena kelambatannya. Tetapi, kalau ia
menunda rencananya besok meletakkan dasar bendungan di sisi
seberang, maka pasir di dasar sungai itu pasti akan menjadi
semakin larut dibawa air yang seolah-olah menepi di sisi itu. Dasar
itu pasti akan menjadi semakin dalam. Apalagi apabila besok karena
rencana itu tidak diteruskan, maka orang-orang Panawijen akan
menimbuni sisi yang lain dengan brunjung-brunjung baru. Dengan
demikan maka ia akan menjadi semakin terdorong ke sisi seberang,
dan sisi itu pasti akan menjadi bertambah-tambah dalam.
Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur. Ia menjadi cemas
memikirkan apa saja akan dapat terjadi. Ia tahu benar keberatan
Mahisa Agni meninggalkan bendungannya. Tetapi, apabila Bitung
menjadi semakin patah, maka akan sangat sulitlah bagi Mahisa Agni
dan dirinya untuk mengendalikan perasaan anak-anak muda
Panawijen yang sudah mulai menjadi jemu itu.
Namun, mulutnya tidak dapat mengucapkan dengan kata-kata.
Ia tidak sampai hati melihat Mahisa Agni menjadi murung.
Tetapi, baik Ki Buyut Panawijen, maupun Empu Gandring terkejut
ketika tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Aku akan pergi sekarang ke
Panawijen”.
“Agni” potong pamannya dan Ki Buyut pun dengan serta merta
berkata, “Tidak Ngger. Tidak harus demikian”.
“Tidak paman, aku harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini
tanpa merugikan satu dan yang lain. Aku tidak boleh meninggalkan
bendungan itu besok dan aku juga tidak boleh membiarkan Bitung
dimakan oleh penyakitnya”.
“Tetapi, jangan sekarang Agni. Bukankah kau besok dapat
memberi beberapa orang pesan, supaya mereka melakukan rencana
itu? Baru setelah pekerjaan itu dimulai dan sesuai dengan
kehendakmu kau dapat meninggalkannya”.
“Tidak paman, aku harus ada di sini selama kita meletakkan
dasar bendungan itu”.
“Tetapi, jangan sekarang Ngger” tanpa disengajanya Ki Buyut
Panawijen memandang padang rumput yang terhampar luas
dihadapannya. Tetapi, pandangan matanya tidak mampu untuk
menembus gelap malam yang pekat.
Mahisa Agni pun memandangi gelap malam itu pula. Tetapi, tibatiba
bahkan ia berdiri sambil berkata, “Aku akan pergi”.
“Agni” potong pamannya, “kau pernah berceritera kepadaku
tentang banyak hal yang dapat membahayakan dirimu. Kau pernah
mengatakan kepadaku bahwa ada orang yang masih saja
menyimpan dendam di dalam diri mereka. Apakah kau
melupakannya? Bahkan aku telah melihat sendiri, apa yang terjadi
di padang ini sebelum kau mulai dengan pekerjaanmu ini”.
“Bahaya itu bagiku sama saja paman, siang atau malam”.
“Lain Agni. Kau berjalan di padang yang luas. Di siang hari kau
akan dapat melihat bahaya itu jauh sebelum menyergapmu.
Kudamu adalah kuda yang baik. Dengan kuda itu kau akan dapat
menghindarinya. Bahkan seandainya orang yang mengancammu itu
berkuda pula, maka jarak yang ada pasti akan mampu
menyelamatkanmu. Apalagi kalau kau pergi berdua atau bertiga.
Salah seorang dari mereka akan dapat memberitahukan kepadaku,
apa yang terjadi diperjalanan itu”.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun, ia berdesis, “Aku
akan berangkat. Bagi Bitung, semakin cepat, semakin baik.
Mudahmudahan
aku tidak bertemu dengan bahaya yang paman katakan
itu”.
Tetapi, Mahisa Agni tidak meyakini kata-katanya sendiri. Mungkin
Empu Sada dan Kuda Sempana telah siap menunggunya diluar
perkemahan itu. Namun, demikian, adalah tanggung jawabnya
untuk melakukan pekerjaan itu. Kedua-duanya. Memasang
brunjung-brunjung di kali dan mengambil obat ke Panawijen. Tak
ada orang yang dapat dan berani melakukannya. Karena itu, maka
ia sendiri harus berangkat. Seperti Empu Gandring, Mahisa Agni
percaya kepada kudanya. Apabila ia bertemu dengan bahaya,
seandainya bahaya itu sudah pasti tidak dapat diatasinya, misalnya
Empu Sada, maka ia akan dapat menyauhkan dirinya. Mudahmudahan
kudanya dapat membantunya. Apabila ia gagal, maka itu
adalah akibat dari tanggung jawab yang telah dipikulnya.
Namun, Ki Buyut Panawijen dan Empu Gandring berpendapat
lain. Dengan terbata-bata Ki Buyut Panawijen berkata, “Jangan
Ngger. Aku turut juga prihatin atas Bitung, tetapi kepergianmu akan
sangat menggelisahkan kami malam ini. Biarlah kau pergi besok
siang setelah kau memberikan beberapa pesan mengenai
pemasangan brunjung-brunjung itu seperti kata pamanmu?”
“Kalau aku sudah mulai Ki Buyut, maka aku kira aku tidak akan
dapat meninggalkannya satu sampai dua hari. Karena itu, biarlah
aku pergi sekarang. Padang rumput itu cukup luas untuk berpacu
seandainya aku bertemu dengan Empu Sada misalnya”.
“Agni” berkata Empu Gandring kemudian, “jangan bermain-main
dengan bahaya. Empu Sada bukan seorang yang dapat diajak
bercanda. Dendam Kuda Sempana kepadamu agaknya sudah
terlampau dalam. Bukankah menurut anggapannya, segala
kegagalan yang dialaminya kini, bukan saja kegagalannya untuk
mcmperisteri adikmu itu, tetapi juga kegagalan dalam bidang yang
lain, bersumber darimu? Tak ada cara baginya untuk melepaskan
dendam itu selain meniadakanmu. Membunuhmu. Kalau kau temui
bencana itu, bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Bendungan ini
akan terbengkelai dan Panawijen benar-benar akan lenyap. Juga
semua yang pernah terjadi akan dilupakan orang”.
Mahisa Agni terdiam sejenak. Tetapi ia tidak mempunyai cara
yang lain. Ia tidak mempunyai waktu lagi. Kedua-duanya tak dapat
ditunda-tunda. Kalau saja ada orang lain yang besok berani pergi ke
Panawijen, maka kepalanya tidak akan menjadi pening seperti
sekarang. Sandainya ada juga yang mau berangkat, maka
berbondong-bondong mereka pergi bersama-sama, sehingga
pekerjaan di padang ini akan terganggu juga. Karena itu, maka
kemauannya telah bulat, sehingga katanya, “Aku akan pergi paman.
Empu Sada tidak akan berada di padang ini siang dan malam hanya
untuk menunggu aku meninggalkan perkemahan ini pergi ke
Panawijen. Kalau ia benar memerlukan aku, maka ia akan datang
kemari dan menyerang pcrkcmahan ini bersama dengan muridmurid
orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo dan
saudara saudara seperguruannya yang lain seperti yang dilakukan
atas rombongan Ken Dedes”.
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, jawabnya, “mereka
ragu-ragu untuk berbuat demikian. Apakah laki-laki Panawijen yang
sekian banyaknya tidak berbuat sesuatu, sedang Empu Sada tahu
benar bahwa aku berada di sini”.
Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun, ia tidak dapat menemukan
jalan lain dari pada jalan yang akan ditempuhnya. Bitung dan
bendungan. Terngiang kembali kata-kata kawan Bitung yang
seakan-akan menyerahkan segala persoalan kepadanya. Obat itu
ada atau tidak ada adalah tanggung jawabnya. Anak muda itu sama
sekali tidak mau berpikir apalagi berusaha untuk mendapatkannya.
“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali
persoalan itu melingkar-lingkar dikepalanya. Sehingga kembali ia
sampai pada suatu tekad untuk pergi malam ini juga, sehingga
besok pagi-pagi, selambat-lambatnya matahari sepenggalah, ia akan
sampai di tempat ini kembali. Dan ia akan segera dapat mulai
dengan rencananya, sebelum air mengorek dasar sungai itu lebih
dalam lagi.
Tetapi, dalam penglihatan Ki Buyut Panawijen dan Empu
Gandring, keberangkatan Mahisa Agni itu tidak saja didorong oleh
kemauan dan tanggung jawabnya, namun juga oleh kekecewaan
dan kejengkelan. Karena itu maka Empu Gandring berkata, “Agni,
jangan pergi menurutkan perasaanmu. Cobalah kau sedikit
mempergunakan pikiranmu”.
Namun, Empu Gaudring dan Ki Buyut Panawijen tidak dapat
mencegahnya lagi. Mereka hanya dapat memandangi anak muda itu
berkemas-kemas. Menggantungkan pedang di lambungnya,
kemudian berjalan keluar dari gubug itu.
“Aku pergi paman, sudahlah Ki Buyut, mudah-mudahan aku
selamat dan berhasil membawa obat itu pula. Bukankah obat itu
hanya bagian-bagian dari Kates Grandel?”
Setelah Empu Gandring tidak berhasil menahannya, maka ia pun
menyawab, “Ya. Semua bagian dari pohon Kates Grandel. Kalau kau
sempat, bawalah daun munggur dan biji-bijinya yang kering. Itu
pun akan menjadi obat yang baik pula. Jangan membawa terlampau
sedikit supaya kau tidak selalu mondar maudir ke Panawijen”.
“Baik paman” sahut Mahisa Agni.
Sejenak kemudian anak muda itu telah melepaskan kudanya.
Dikenakannya pakaian kuda itu, dan kemudian Mahisa Agni pun
segera meloncat ke punggungnya.
Bitung dan kawannya mcndergar derap kuda berlari. Ketika
mereka mengangkat wajah mereka, maka terdengar Ki Buyut yang
telah berdiri dibelakang berkata, “Mahisa Agni telah pergi ke
Panawijen untuk mencari obat itu”.
Kawan Bitung terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya.
“Kenapa malam ini?”
“Kau meletakkan semua tanggung jawab kepadanya. Kau tidak
membantunya memecahkan kesulitan karena Bitung menderita
sakit. Kau hanya berkata bahwa obat itu harus datang sendiri
kepadamu dan kau tidak mau tahu kesulitan apakah yang dapat
terjadi diperjalanan itu”.
“Tidak Ki Buyut” sahut kawan Bitung tergagap, “bukan maksudku
demikian”.
“Tetapi, Mahisa menangkap kata-katamu demikian dan aku pun
menangkap kata-kata itu seperti itu pula” sahut Ki Bayut
.
Dada kawan Bitung menjadi berdebar-debar. Ia tidak menyangka
bahwa Mahisa Agni akan melakukan pekerjaan itu sekarang. Malam
ini. Ia tidak dapat mengingkari kata Ki Buyut Panawijen. Memang
semula ia berpendirian serupa itu. Bahkan beberapa orang
kawankawannya
pun menganggapnya, bahwa tanggung jawab tentang
sakitnya Bitung, seluruhnya terletak di pundak Mahisa Agni. Anak
muda itu bersama-sama dengan Ki Buyut Panawijenlah yang
memimpin pekerjaan yang terlampau berat di padang yang panas
terik disiang hari, dan dingin membeku di malam hari ini. Tetapi,
tidak terlintas di dalam kepala anak-anak muda itu, bahwa segera
satelah itu Mahisa Agni telah pergi meninggalkan mereka.
“Kau tidak tahu, bahaya yang mengancam anak muda itu setiap
saat” berkata Ki Buyut Panawijen pula, “di antaranya adalah Kuda
Sempana. Beberapa di antara kalian telah melihat sendiri,
bagaimana Mahisa Agni terpaksa berkelahi di padang ini melawan
Kuda Sempara bahkan kemudian guru Kuda Sempana itu pula.
Kalau Mahisa Agni dalam perjalanannya ke Panawijen kali ini
bertemu dengan Kuda Sempana dan gurunya, maka habislah
ceritera tentang dirinya. Habis pulalah tugasnya di padang ini, dan
habis pulalah harapan kita untuk mendapatkan tanah yang subur
hijau seperti yang pernah kita miliki dahulu”.
Kawan Bitung itu menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan
terasa keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya,
meskipun dingin malam sampai menggigit tulang.
Dengan nafas tersengal-sengal ia berkata, “Apakah kepergiannya
itu tidak dapat dicegah Ki Buyut?”
“Bukankah kau melibat sendiri bahwa ia telah pergi? Bagaimana
harus mencegahnya kini? Nah, kalau kau ingin menyelamatkannya,
pergilah, susul anak muda itu”.
Kawan Bitung itu terdiam. Beberapa anak muda yang lain
mendengar pula percakapan itu, dan mereka pun menjadi berdebardebar
pula seperti Bitung.
“Bagaimana? Apakah kau mau menyusulnya dan memintanya
agar ia mengurungkan niatnya, atau kau sendirilah yang pergi ke
Panawijen? Sebab Mahisa Agni tahu benar, bahwa obat itu tidak
akan dapat meloncat dengan sendirinya kemari dari Panawijen.
Obat itu harus dibawa dengan tangan. Dan mulutmu hanya dapat
berkata mudah-mudahan, dan dapat menunggu obat itu datang”.
Kawan Bitung itu menekurkan kepalanya. Ia tahu benar bahwa Ki
Buyut Panawijen yang sabar itu kini sedang marah kepadanya.
Apalagi ketika Ki Buyut kemudian berkata, “Bukan saja masalah
sakit Bitung, tetapi masalah bendungan itu pun kalian ternyata
bersikap serupa. Kalian telah mulai jemu mengerjakannya. Jangan
ingkar. Aku pernah mendengarnya. Kalian mengeluh karena panas
di siang hari membakar punggung dan di malam hari dingin
menusuk sampai kesungsum. Kalian mengeluh luka-luka di tangan
dan kaki serta menjadi bengkak pula. Apalagi ada di antara kalian
yang menjadi sakit. Apakah dengan demikian kalian mengharap
bahwa bendungan itu akan siap dengan sendirinya, seperti kalian
mengharap obat itu akan jatuh dari langit. Apakah kalian ingin
melihat Mahisa Agni mengerjakannya sendiri, dan kalian menunggu
saja sambil berbaring sehingga bendungan itu terwujud?”
Kawan Bitung itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Anakanak
muda yang lain, yang mendengar kata-kata itu pun
menundukkan kepala masing-masing. Bahkan mereka yang telah
berbaring dan bahkan telah tertidur pun menjadi terbangun dan
duduk sambil tepekur. Tak seorang pun dari mereka yang berani
menyawab. Bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang yang
sudah setengah umur pun menjadi cemas pula. Ki Buyut adalah
orang yang hampir tidak pernah marah. Kini mereka merasa betapa
dalamnya penyesalan yang menghentak-hentak hati orang tua itu.
“Kalau aku berani, dan kalau aku masih mampu menunggang
kuda secepat Angger Mahisa Agni, aku pasti akan menyusulnya”
gumam Ki Buyut.
Kata-kata itu menyentuh setiap hati yang mendengarnya. Katakata
itu seakan-akan telah menggerakkan hati mereka untuk segera
berlari ketambatan kuda. Tetapi, tak seorang pun yang berani
berbuat demikian. Apalagi di malam hari. Di siang hari pun mereka
tidak berani pergi seorang diri, meskipun mereka telah mendengar
bahwa Hantu Karautan telah tidak ada lagi di padang itu. Tetapi,
mereka masih juga membayangkan bahaya yang berserak-serak di
sepanjang perjalanan ke Panawijen.
Ki Buyut itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka. Hatinya
menjadi sangat gelisah. Bukan saja mengenangkan kepergian
Mahisa Agni, tetapi juga oleh ketakutan yang mencengkam hampir
setiap laki-laki di perkemahan itu. Apabila ketakutan mereka
terhadap keadaan di sekelilingnya masih selalu membayangbayangi,
maka apakah kelak, apabila padang itu berhasil menjadi
tanah yang subur, mereka pun tidak akan berani berbuat sesuatu?
Apakah mereka akan tetap bersembunyi di padukuhan yang baru itu
tanpa membuat hubungan dengan padukuhan-padukuhan yang lain
karena takut?
Namun, ketika terpandang oleh Ki Buyut, malam yang pekat
terbentang seakan-akan tidak berpangkal dan berujung itu pun ia
bergumam, “Padukuhan ini akan menjadi padukuhan yang sangat
terpencil”. Tetapi, kemudian ia beikata pula, “Meskipun demikian,
apakah bedanya jarak yang memisahkan padukuhan ini kelak
dengan padukuhan-padukuhan yang lain dengan bulak-bulak yang
panyang dan luas meskipun terdiri dari tanah-tanah persawahan
dan pategalan? Kalau ada hantu atau penjahat sekalipun, maka
kejahatan itu akan dapat juga dilakukan dibulak-bulak persawahan
dan pategalan. Ketakutan kami adalah bersumber pada kepercayaan
kami, bahwa di padang rumput ini pernah tinggal hantu yang
menakutkan setiap orang”.
Dalam pada itu, Mahisa Agni telah berpacu dengan kudanya
menembus gelapnya malam. Dingin angin malam mengusap
kulitnya dan seolah-olah menusuk kesetiap lubang kulit. Tetapi,
Mahisa Agni tidak sempat merasakannya. Hatinya dicengkam oleh
perasaan yang sangat aneh. Ia sendiri kurang menyadari, kenapa ia
merasa perlu untuk pergi malam ini. Tidak besok atau lusa setelah
ia berhasil meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang.
Sekali-kali Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Ia mencoba
menatap kedalam gelap, sejauh-jauh matannya dapat mencapai.
Tetapi, malam terlampau kelam.
Betapapun beraninya hati anak muda itu, tetapi ia tidak dapat
melenyapkan setiap perasaan was-wasnya, bahwa ia akan bertemu
dengan Empu Sada. Kalau yang berada diperjalanannya itu adalah
Kuda Sempana, maka ia akan dengan senang hati melayaninya.
Tetapi, apabila yang dijumpainya Empu Sada, maka ia pasti harus
mencoba berpacu kuda mengelilingi padang ini.
“Benar juga kata Empu Gandring” desisnya seorang diri, “di siang
hari, aku dapat melihat seseorang dalam jarak yang masih agak
jauh. Tetapi, di malam hari, orang itu baru dapat aku lihat setelah
beberapa puluh langkah di muka hidungku”.
Tetapi, Mahisa Agni sama sekali tidak ingin kembali. Ia harus
berjalan terus. Bahaya itu baru ada di dalam angan-angannya.,
“Apakah aku sekarang telah berubah meujadi seorang pengecut?”
katanya di dalam hati.
Tiba-tiba hati Mahisa Agni itu pun berdesir. Ia mendengar derap
kuda di belakangnya. Ketika ia menoleh, remang-remang ia melihat
bayangan seorang penunggang kuda yang mengejarnya, bahkan
telah terlampau dekat.
“Siapa yang menyusulku?” pertanyaan itu tumbuh di dalam
hatinya, “mungkin seseorang yang ingin mencegah kepergianku
malam ini. Ah, tidak. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku malam
ini”.
Mahisa Agni pun kemudian menyentuh perut kudanya dengan
tumitnya. Kuda itu memang kuda yang tegar. Loncatannya menjadi
kian panyang dan cepat. Dan kuda dibelakangnya itu pun menjadi
semakin lama semakin jauh. Ia tidak mau diganggu. Mungkin orang
itu Ki Buyut Panawijen mungkin pamannya Empu Gandring yang
masih akan mencoba membawanya kembali ke perkemahan.
Kuda Mahisa Agni berlari kencang seperti angin. Ditembusnya
gelap malam seperti anak panah yang menghunyam ke dalam
kelam. Semakin lama semakin cepat. Meskipun demikian, Mahisa
Agni merasa, bahwa perjalanannya itu terlampau lambat.
Malam ini aku harus mendapatkan batang Kates Grandel itu.
Besok, sebelum matahari terlampau tinggi aku harus sudah berada
di bendungan itu kembali. Aku harus mulai dengan kerja yang sudah
aku rencanakan.
Derap kuda dibelakangnya telah tidak didengarnya lagi. Mungkin
kuda itu telah kembali ke perkemahan atau sudah tertinggal
terlampau jauh. Ia tidak peduli, siapakah yang naik di atas
punggung kuda itu. Ia ingin pekerjaannya selesai tanpa seorang pun
yang mencampurinya. Besok pagi-pagi ia akan datang kepada
Bitung dan memberikannya apa yang diperlukan. Kalau sakit Bitung
berkurang, bergembiralah ia dan semua orang di perkemahan itu.
Tetapi, apabila penyakit itu mengeras, maka ia sudah cukup
berusaha. Tak seorang pun yang akan dapat menyalahkannya lagi.
Dengan demikian maka hatinya pun menjadi semakin mantap. Ia
mencoba mempercepat lari kudanya, tetapi sayang, bahwa tenaga
kudanya pun terbatas, sehingga kuda itu tidak dapat berpacu lebih
cepat lagi.
Ketika Mahisa Agni melewati sebuah gerumbul yang agak lebat,
terasa hatinya berdesir. Ia tidak tahu, kenapa ia tiba-tiba saja
menjadi berdebar-debar. Dan ia tidak tahu, apakah yang telah
memaksanya untuk berpaling.
Kini hatinya tidak saja terkejut, tetapi hampir ia tidak percaya.
Tiba-tiba saja beberapa puluh langkah di belakangnya berpacu
seekor kuda dengan penunggangnya. Cepat seperti angin. Mahisa
Agni tidak dapat mempercepat derap kudanya. Kudanya yang tegar
itu telah mencapai kecepatan tertinggi. Namun, kuda di belakangnya
itu agaknya dapat melampaui kecepatan kudanya. Kalau semula
kuda itu semakin lama menjadi semakin jauh, dan bahkan telah
hilang di kegelapan, maka tiba-tiba kuda itu kini telah menjadi
semakin dekat.
“Kuda itu muncul lagi” pikirnya, “ia mengikuti aku sejak aku
keluar dari perkemahan. Mungkin Ki Buyut mungkin paman Empu
Gandring. Mungkin seseorang yang disuruh oleh keduanya untuk
menyusul aku. Tetapi, tak ada seekor kuda pun di Panawijen yang
dapat menyamai kudaku, sedang kuda ini agaknya bahkan
melampaui”.
Mahisa Agni mencoba mengingat-ingat, apakah ada seseorang
yang memiliki kemampuan berkuda menyamainya.
“Satu-satunya adalah paman Empu Gandring” desisnya, “apakah
paman akan memaksa aku kembali?”
Tiba-tiba Mahisa Agni tersenyum, gumamnya, “Alangkah
bodohnya aku. Biarlah paman mengejarku. Aku akan biarkan paman
mengikuti aku sampai ke Panawijen. Bukankah dengan demikian
aku akan mendapat kawan di perjalanan. Bahkan seandainya aku
akan bertemu dengan Empu Sada sekalipun, aku tidak perlu
gentar”.
Tetapi, kuda dibelakang Mahisa Agni itu menjadi semakin lama
semakin dekat. Betapapun Mahisa Agni mencoba mempercepat laju
kudanya.
“Hem“ desisnya, “kalau paman dapat mencapai aku sebelum aku
melampaui separo jalan, maka aku pasti akan dipaksanya kembali.
Kecuali kalau aku dapat membujuknya supaya paman sudi
mengantarkanku. Tetapi, mungkin juga paman menyusul untuk
mengawani aku ke Panawijen”.
Dugaan yang terakhir itu justru telah mengendorkan hasrat
Mahisa Agni berpacu terus. Sebab ia menyadari bahwa ia tidak akan
mampu lebih lama lagi mendahuluinya. Sebab kuda yang di
belakangnya itu terlampau cepat, dan agaknya penunggangnya
terlampau tangkas.
“Biarlah aku” katanya. Mahisa Agni itu pun kemudian malahan
memperlambat kudanya. Sekali-kali ia berpaling untuk mencoba
mengenal orang yang mengejarnya itu. Tetapi, karena malam
terlampau gelap, maka yang tampak hanyalah sebuah bayangan
yang hitam.
Tetapi, semakin dekat kuda itu, hati Mahisa Agni menjadi
semakin curiga. Bentuk orang di atas punggung kuda itu sama
sekali bukan bentuk tubuh pamannya.
Kembali dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Namun, ia
masih belum mendapat kepastian, apakah orang yang duduk di atas
punggung kuda itu pamannya atau bukan.
Tetapi, debar di dadanya menjadi semakin cepat ketika ia melihat
kuda itu seolah-olah tidak berpelana.
“Gila” desisnya, “apakah ada orang yang dapat menunggang
kuda secepat itu tanpa pelana?”
Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir ketika tiba-tiba ia
mendengar suara tertawa. Suara tertawa yang mendirikan bulu-bulu
kuduknya.
Namun, dengan demikian Mahisa Agni kini menjadi pasti bahwa
orang itu sama sekali bukan pamannya, bukan Ki Buyut Panawejen.
tetapi juga pasti bukan Empu Sada.
Mahisa Agni pun kemudian tidak mau berteka-teki lebih lama
lagi. Ketika ia yakin bahwa orang itu bukan Empu Sada, serta tak
ada kemungkinan baginya untuk menghindar karena kuda orang itu
lebih cepat dari kudanya, maka tiba-tiba ia menekan kendali
kudanya itu. Dengan serta merta kudanya mencoba-coba untuk
berhenti. Demikian tiba-tiba sehingga kudanya itu meringkik dan
berdiri di atas kedua kaki belakangnya.
“Bagus” terdengar suara orang yang mengejarnya, “Kau pandai
juga bermain-main dengan kuda”.
Mahisa Agni menahan nafasnya. Diamatinya orang yang duduk di
atas kuda tanpa pelana itu. Apalagi ketika orang itu pun segera
menghentikan kudanya beberapa langkah saja di sampinpingnya.
Sekali lagi orang itu tertawa. Suaranya meninggi membelah
Padang Rumput Karautan.
“Kaukah itu?” berkata orang itu disela-sela suara tertawanya.
“Siapa kau?” bertanya Mahisa Agni.
“Hem, kaukah yang bernama Mahisa Agni, begitu?”
Mahisa Agni tidak segera menyawab. Diamati wajah orang yang
belum pernah dilihatnya. Wajahnya keras seperti batu-batu padas
dan suara tertawanya pun sekeras suara guntur di langit.
Sekali lagi bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Anak muda itu
bukan seorang penakut, namun wajah itu benar-benar mengerikan.
Mahisa Agni pernah bertemu dengan Hantu Padang Karautan, pada
masa hantu itu masih sering menakut-nakuti orang yang lewat
padang ini. Tetapi, meskipun hantu itu tampak kusut dan liar,
namun wajahnya tidak mengerikan seperti wajah orang ini.
“Siapakah kau?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya.
“Aku penunggu padang ini” sahut orang itu.
“Bohong” tiba-tiba Mahisa Agni pun berteriak, “aku kenal Hantu
Karautan”.
Kembali orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Katanya, “Oh, hantu
kerdil yang sering merampok orang lewat itu? Hem, orang-orang di
sekitar Padang Karautan benar-benar pengecut. Kenapa mereka
takut akan hantu gila yang sering dikatakan orang? Sudah lama aku
ingin menemuinya, tetapi aku tidak pernah mendapat kesempatan,
dan memang aku tidak pernah ingin merendahkan diri bertemu
dengan hantu cengeng itu”.
“Kalau kau penunggu padang rumput ini, apakah kau tidak
pernah bertemu dengan hantu yang selalu berkeliaran di padang ini
pula” bertanya Mahisa Agni.
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun, suara tertawanya
meledak kembali mengguntur berkepanjangan.
“Cukup” bentak Mahisa Agni, “jawab pertanyaanku”
“Baik. Baik” katanya, “kau benar. Aku memang bukan penunggu
padang ini. Aku mencoba berbohong, tetapi kau cukup cerdik”.
Kini Mahisa Agni lah yang tertegun mendengar jawaban itu.
Jawaban yang berterus-terang. Pengakuan yang demikian tiba-tiba
itu semula sama sekali tidak diduganya. Namun, kemudian ia
bertanya kembali, “Jadi siapakah kau?”
Orang itu tidak segera menyawab. Diamatinya Mahisa Agni dari
ujung ubun-ubun sampai keujung kakinya. Dan sekali lagi orang itu
bertanya, “Hem. Kaukah Mahisa Agni?”
“Apa kepentinganmu dengan orang yang bernama Mahisa Agni?”
sahut Mahisa Agni curiga.
“Aku kagum akan keberaniannya. Tak seorang pun dari anakanak
muda Panawijen yang berani berjalan seorang diri dari Padang
Karautan ke Panawijen, selain Mahisa Agni”.
“Kau salah. Hampir setiap anak muda Panawijen berani
melakukannya” sahut Mahisa Agni.
Tetapi, kemarahan Mahisa Agni pun terungkat ketika orang itu
tertawa kembali.
“Kenapa kau tertawa?” bertanya Mahisa Agni keras, untuk
mengatasi suara tertawa itu.
“Tak ada orang yang berani berbuat demikian selain Mahisa
Agni”.
“Omong kosong” teriak Mahisa Agni semakin keras. Suaranya
melontar memenuhi padang itu, menembus gelap pekat yang
seolah-olah menelungkupi Padang Karautan.
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Sekarang aku yakin. Hanya ada dua orang yang dapat dibanggakan
diseluruh Panawijen. Yang pertama adalah Kuda Sempana, seorang
pelayan dalam yang berani, dan yang kedua adalah Mahisa Agni”.
“Katakan siapakah kau dan apa keperluanmu?” Mahisa Agni
kehilangan kesabaran.
“Menangkap Mahisa Agni” jawab orang itu.
Sekali lagi Mahisa terkejut. Orang itu berkata langsung tentang
dirinya. Karena itu, maka jantung Mahisa Agni pun serasa menyala.
Ia belum pernah mengenal orang itu. yang dicemaskannya adalah
Empu Sada, namun tiba-tiba ia bertemu dengan orang berwajah
keras sekeras batu karang yang akan menangkapnya juga. Maka
sekali ia bertanya dengan penuh kemarahan, “Siapa kau, siapa?”
“Apa pedulimu tentang aku. Aku akan menangkap kau dan
membawanya pulang ke rumah. Kau akan dapat menjadi permainan
yang mengasyikkan”.
Kata-kata orang yang berwajah keras sekeras batu padas tu
serasa api yang menyentuh telinga Mahisa Agni. Alangkah
panasnya. Namun, karena itulah maka sejenak Mahisa Agni tidak
dapat mengatakan sesuatu karena kemarahannya serasa
menyumbat kerongkongannya. yang terdengar adalah gemeretak
giginya beradu.
Tetapi, orang itu masih saja tertawa seperti melihat lelucon yang
mengasyikkan, “Apakah kau marah?”
Mahisa Agni masih berdiam diri. Dicobanya untuk menenangkan
perasaannya, supaya ia tidak tenggelam dalam ke marahannya
sehingga tidak mampu lagi untuk melihat setiap keadaan dengan
sewajarnya. Berkali-kali Mahisa Agni menarik nafas panyang. Udara
dingin di malam yang kelam itu telah mengusap jalan
pernafasannya. Namun, terasa darahnya masih terlampau panas.
Dengan suara gemetar sekali lagi ia bertanya, “Siapakah kau?”
“Apakah kau perlu mengenal namaku?” bertanya orang itu.
“Sebutlah namamu, atau gelarmu?”
“Aku tidak punya gelar. Aku hanya punya satu nama”.
“Ya, sebutlah satu nama itu”.
“Wong Sarimpat”.
Tanpa sesadarnya kembali bulu-bulu Mahisa Agni meremang.
Nama itu pernah didengarnya dari pamannya dan dari mulut Empu
Sada sendiri. Wong Sarimpat dan yang seorang lagi bernama Kebo
Sindet.
Sekali lagi Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Kini ia sadar
bahwa ia benar-benar berhadapan dengan bahaya. Meskipun ia
tidak bertemu dengan Empu Sada, namun orang ini adalah sama
berbahayanya dengan Empu Sada. Tidak mustahil bahwa Empu
Sada telah benar-benar minta kedua orang itu untuk membantunya.
Sehingga dengan serta merta Mahisa Agni menggeram, “Hem.
Apakah kau diminta oleh Empu Sada berbuat demikian?”
“Ya” sahut penunggang kuda yang ternyata Wong Sarimpat itu,
“Empu Sada minta bantuanku dan kakang Kebo Sindet. Mereka
datang ke rumahku bersama Kuda Sempana dan seorang saudara
seperguruannya bernama Cundaka”.
Jantung Mahisa Agni serasa berdentang semakin keras. Orang itu
selalu berkata terus terang, tanpa banyak pertimbangan. Namun,
dengan demikian, maka Mahisa Agni menjadi semakin berdebardebar.
Ia dapat meraba perasaan orang itu, yang merasa tidak perlu
berbohong atau menyembunyikan sesuatu, karena sebentar lagi
Mahisa Agni telah ditangkapnya.
Bahkan orang itu meneruskan, “Kalau aku berhasil membawamu
pulang, maka kau akan bertemu dengan Kuda Sempana. Ia ingin
aku menangkapmu hidup-hidup. Mungkin ia menyimpan dendam
dihatinya. Adalah salahmu, bahwa kau tidak cukup berhati-hati,
sehingga kau melukai hatinya. Sekarang kau terpaksa membayar
sakit bati itu dengan tebusan yang cukup mahal. Kau harus
membayar sakit hati itu dengan sakit di hati dan tubuhmu.
KudaSempana ingin melihat kau diikat pada sebatang pohon yang
kuat. Kuda Sempana akan dapat berbuat sekehendak hatinya
atasmu. Mungkin mencambuk, mungkin menyentuhmu dengan api
atau pisau, atau apa pun yang akan dilakukan untuk menyakiti
tubuhmu. Sedang untuk menyakiti hatimu Kuda Sempana akan
memecah bendungan yang sedang kau kerjakan. Kalau kau hilang
dari antara orang-orang Panawijen itu, maka mereka pasti akan
kehilangan gairah. Mereka akan menjadi jemu dan mungkin
berputus-asa. Dan kau akan melihat, bahwa Padang Rumput
Karautan itu akan menjadi sepi kembali. Sepi seperti sedia kala.
Tidak ada orang yang mengotori kehijauan rumput yang luas
seakan-akan tidak bertepi ini”.
Wong Sarimpat berhenti sejenak. Ketika dipandanginya wajah
Mahisa Agni, maka wajah itu menjadi sangat tegang. Beberapa titik
keringat telah membasahi keningnya, meskipun malam sangat
dinginnya.
“Jangan menyesal, bahwa kau bertemu dengan aku malam ini”
berkata Wong Sarimpat kemudian sambil tertawa, “sebenarnya
tugasku tidak menangkap kau. Aku hanya sekedar harus
mengetahui dengan pasti jalan yang sering kau pergunakan hilir
mudik ke Panawijen. Sebenarnya malam ini aku harus sudah
kembali kerumahku. Tetapi, tiba-tiba aku melihat seseorang berpacu
dengan kudanya. Aku pernah melihat kau lewat jalan ini ke
Panawijen beberapa hari sebelumnya, sehingga aku yakin bahwa
jalan inilah yang selalu kau tempuh apabila kau kembali ke
Panawijen. Ternyata aku kini mengambil keputusan lain. Aku akan
kembali dengan membawamu sama sekali”.
Perasaan Mahisa Agni kini tak dapat dikuasainya lagi. Tiba-tiba
dengan sebuah gerakan kilat, ia menarik pedangnya sambil
berdesis, “Jangan membual. Aku bukan benda mati yang dapat kau
perlakukan sekehendak hatimu. Mungkin kau akan mampu
membunuhku, sebab kesaktianmu pernah aku dengar menyamai
orang-orang yang aku kagumi. Tetapi, itu adalah lebih baik bagiku
dari pada kau akan berusaha menangkap aku hidup-hidup”.
Suara tertawa Wong Sarimpat meledak seperti ledakan gunung
yang pecah. Demikian kerasnya sehingga tubuhnya berguncangan
di atas punggung kudanya. Katanya kemudian disela-sela suara
tertawanya, “jangan banyak tingkah. Kalau kau akan mencoba
melawan aku, maka setiap batang rumput dan ilalang akan
mentertawakan kau. Setiap helai daun dan setiap tangkai bunga
perdu pernah mendengar siapa Wong Sarimpat. Adalah mustahil
kalau kau belum pernah mendengar namaku. Mungkin kau pernah
mengenal Empu Sada. Apakah kau mampu melawan orang itu pula?
Orang yang diakui memiliki ilmu setingkat dengan gurumu? Aku
dengar bahwa Mahisa Agni adalah murid Padepokan Panawijen
Murid Empu Purwa yang oleh penduduk di sekitarnya di kenal
sebagai seorang tua pendiam yang hanya mampu berdoa dan
bertani”.
Sejenak Mahisa Agni terdiam. Kata-kata itu memang
mengandung kebenaran, ia pasti tidak akan mampu melawan Wong
Sarimpat. Tetapi, ia tidak ingin menyerahkan kepalanya dengan
suka rela. Karena itu, baginya, lebih baik mati di Padang Karautan
sebagai tanah harapan yang sedang diolahnya, dari pada ditangkap
hidup-hidup dan dibunuh oleh Kuda Sempana sebagai suatu
permainan yang bengis.
Dengan demikian maka hati Mahisa Agni pun menjadi semakin
bulat. Ia bertekad untuk melawannya, meskipun perlawanannya itu
tidak akan berarti.
Ketika ia mendengar Wong Sarimpat itu tertawa lagi, maka tibatiba
Mahisa Agni menggerakkan kudanya menyambar orang yang
berwajah keras seperti batu padas itu. Pedangnya terayun deras
sekali langsung mengarah ke lehernya.
Suara tertawa itu pun terputus. Namun, Mahisa Agni harus
melihat kenyataan, bahwa orang itu memang terlampau lincah.
Pedangnya yang diayunkannya secepat-cepat kemampuaanya itu
sama sekali tidak. berarti bagi lawannya. Babkan betapa terkejut
anak muda Panawijen itu ketika terasa pergelangannya seolah-olah
digigit oleh perasaan nyeri yang dahsyat. Ketika ia menyadari
keadaan, maka pedangnya telah terlempar dauh dari padanya.
Kembali suara tertawa itu mengumandang. Demikian kerasnya.
Dan diantara suara tertawa itu terdengar kata-katanya, “Kau
memang anak muda yang luar biasa. Tenagamu memang
melampaui tenaga Kuda Sempana. Dan sebenarnya kau pasti dapat
mengalahkan anak muda itu seperti yang dikatakannya. Tetapi,
dengan demikian kau jangan menjadi terlampau sombong. Yang kau
hadapi kini sama sekali bukan Kuda Sempana”
Dada Mahisa Agni berdesir. Malam terlampau gelap, sehingga
ketika ia mencoba mencari pedangnya dengan pandangan matanya,
ia tidak segera menemukanya.
“Kau mencari pedangmu?” desis Wong Sarimpat
Mahisa Agni tidak menjawab.
“Ambillah” teriak Wong Sarimpat, “aku memberimu kesempatan”
Sekali lagi, dada Mahisa Agni berdesir. Tetapi, ia masih saja
duduk mematung dfi atas punggung kudanya yang masih bergerakgerak.
“Ambillah” teriak Wong Sarimpat pula. Suara itu terlampau
keras, sehingga Mahisa Agni terkejut. Dan suara itu agaknya telah
memaksa Mahisa Agni bergerak tanpa sesadarnya ke arah pedang
terlempar.
”Cari di kegelapan itu. Mungkin disela-sela batang ilalang atau
terlempar ke dalam gerumbul”
Darah Mahisa Agni benar-benar mendidik. Betapa orang itu telah
menghinanya. Dibiarkannya ia menjauh, masuk ke dalam kegelapan
tanpa diikutinya. Bahkan dengan nada tinggi, Wong Sarimpat
berteriak, “Aku tunggu kau di sini. Jangan mencoba lari, tidak ada
gunanya. Dalam sepuluh hitungan kalau kau belum menemukan
pedangmu, adalah salahmu sendiri. Kau harus datang kembali dan
bertempur dengan tanganmu. Kalau tidak, aku akan menjemputmu.
Tetapi dengan demikian kau pasti akan menyesal”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kudanya dibawanya berjalan ke
arah pedangnya terlempar. Tetapi, karena malam terlampau gelap,
maka ia tidak segera dapat menemukannya. Di belakangnya, Wong
sarimpat yang gila itu mulai menghitung sambil tertawa-tawa, “satu,
dua…. tetapi jarak di antara setiap hitungan cukup lama, seolaholah
ia sengaja memberi weaktu kepada Mahisa Agni untuk
menemukan pedangnya.
Betapa panasnya hati Mahisa Agni. Setiap hitungan yang
didengarnya serasa sebuah tusukan langsung di lambungnya.
Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram. Namun, pedangnya masih
belum diketemukan.
Sekilas, timbullah keinginannya untuk melarikan diri menjauhi
orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu. Namun, ia
kemudian merasa bahwa itupun tidak akan ada gunanya. Orang itu
pasti akan mendengar kudanya berderap dan segera mengejarnya.
Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kuda orang itu
mampu berlari lebih cepat dari kudanya. Untuk bersembunyipun
rasa-rasanya tidak akan mungkin. Gerumbul-gerumbul yang
jarangjarang
itu akan segera dapat disasak olehnya. Dan ia akan hancur
terinjak-injak kaki kuda yang liar seliar penunggangnya itu.
Dalam kebimbangan itu, Mahisa Agni membiarkan kudanya
berjalan semakin jauh. Bahkan, kini ia tidak lagi bernafsu untuk
menemukan pedangnya. Ia merasa bahwa usaha itupun tidak akan
berhasil. Yangkemudian bulat di dalam kepalanya adalah ia akan
berkelahi dengan kekuatannya yang terakhir, dengan puncak ilmu
yang dimilikinya. Gundala Sasra. Ilmu itu pasti akan lebih tajam
daripada pedangnya. Mungkin Wong Sarimpat tidak dapat
dibunuhnya dengan ilmu itu, namun apapun yang akan terjadi
adalah lenih baik daripada ia harus ditangkap hidup-hidup.
Suara Wong Sarimpat terdengar semakin lama semakin jauh. Kini
ia mendengar orang-orang itu menyebut bilangan kelima.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram, “ia tidak telaten mendengar
betapa lambannya Wong Sarimpat menghitung. Ia ingin segera
terjadi apa yang akan terjadi. Kalau ia akan mati, biarlah segera
terjadi pula.
Ketika ia berpaling, malam yang gelap seakan-akan telah
memisahkannya dari orang itu. Sekali lagi Mahisa Agni mengumpat
di dalam hatinya. Adalah suatu penghinaan baginya, dengan
membiarkannya pergi menjauhi lawannya. Mungkin Wong Sarimpat
ingin mempermainkannya. Dibiarkannya ia lari, kemudian orang itu
akan menyusulnya. Mungkin orang itu akan memberinya
kesempatan pula untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Apabila
kemudian nafasnya telah hampir putus, maka segera ia
ditangkapnya dan dibawanya ke rumahnya.
“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Tiba-tiba ia memutar
kudanya sambil bergumam di dalam hatinya, “Aku tidak mau
menjadi permainan. Seperti seekor tikus menghadapi kucing. Biarlah
aku mati dengan jantan. Aku akan kembali kepadanya dan
menyerangnya.
Mahisa Agni sama sekali tidak dapat melihat Wong Sarimpat lagi
karena gelap malam. Tetapi, ia masih mendengar suaranya. Karena
itu, segera dihadapkannya kudanya ke arah suara itu. Ia akan
berpacu dan mempersiapkan kekuatan puncaknya. Apabila kudanya
telah menghampiri orang itu, maka segera ia akan membenturkan
ajinya. Kalau orang itu memiliki kekuatan seperti baja yang
berlapislapis,
biarlah dadanya sendiri hancur karena kekuatannya, tetapi
kalau tidak maka pasti akan mengurangi kekuatan lawannya.
Kini Mahisa Agni mulai memusatkan segenap kekuatannya. Ia
mendengar Wong Sarimpat telah sampai kehitungan yang ketujuh.
Sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Hitungan itu terdengar sangat
memuakkan. Tetapi, ia tidak akan menunggu sampai hitungan yang
kesepuluh.
Tetapi, tiba-tiba kembali Mahisa Agni itu terkejut sehingga
seakan-akan darahnya membeku. Pada saat ia telah siap untuk
berpacu dan siap pula melepaskan kekuatan pamungkasnya, maka
terasa sebuah genggaman tangan yang kuat pada lengannya.
Demikian kuatnya sehingga Mahisa Agni hampir tertarik jatuh dari
kudanya meskipun ia telah bersiap dengan puncak kekuatannya.
Dengan sekuat tenaga Mahisa Agni mencoba merenggut dirinya,
tetapi ia sama sekali tidak berhasil.
Ketika ia kemudian berpaling, maka nafsunya pun terhenti
sesaat. Matanya terbalik dan mulutnya ternganga.
“Turunlah” terdengar sebuah perintah.
Perintah itu benar-benar seperti telah memukau dirinya tanpa
disadarinya. Segera ia meloncat dari kudanya dan sebelum ia
berbuat sesuatu orang yang mencengkam lengannya itu telah
meloncat naik.
Ketika Mahisa Agni akan mengucapkan kata-kata, terdengar
suara orang itu menggeram, “Aku telah mendengar hitungan ke
sembilan”.
Sebelum Mahisa Agni sempat menyahut, maka kudanya telah
bergerak membawa orang itu mendekati Wong Sarimpat. Mahisa
Agni menjadi bingung, matanya menjadi seolah-seolah melihat
hantu berseliweran di padang itu. Kehadiran Wong Sarimpat yang
tiba-tiba itu telah menggoncangkan hatinya dan tiba-tiba hadir pula
orang lain seperti demikian saja muncul dari padang rumput itu,
atau tumbuh dari sela-sela rumput-rumputan dan gerumbul.
Tetapi, kehadiran orang itu telah agak menenteramkam hati
Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia menjadi tenang kembali, sehingga ia
kini dapat mempergunakan otaknya dengan lebih baik.
Ternyata ketika ia meninggalkan perkemahannya, seseorang
telah menyusulnya. Namun, kudanya agaknya terlampau jelek,
sehingga orang itu tertinggal terlampau jauh. Namun, tanpa
disangka-sangkanya, dari sebuah gerumbul muacul pula kuda yang
lain. Kuda Wong Sarimpat yang mengejarnya. Tetapi, agaknya
Wong Sarimpat tidak menyadari bahwa ada seekor kuda jelek
mengejar di belakangnya. Meskipun kuda itu semakin jauh, namun
ketika mereka berdua berhenti dan bermain-main dengan pedang,
maka kuda yang jelek itu sempat menyusul mereka. Tetapi, kenapa
mereka sama sekali tidak mendengar suara derapnya. Kalau ia tidak
mendengar mungkin karena hatinya yang kacau. Tetapi, apakah
Wong Sarimpat juga tidak mendengarnya? Apakah orang itu
telinganya hanya mampu mendengar suara tertawanya sendiri yang
mengguntur-guntur.
Mahisa Agni tidak sempat berangan-angan terlampau lama ia
ingin melihat apa yang terjadi. Adalah pertolongan dari Yang Maha
Agung bahwa pamannya hadir pada saat ia di cengkam oleh
bahaya. Dan kini pamannya telah mewakilinya, menemui orang
yang berwajah keras sekeras batu padas itu.
Mahisa Agni masih melihat kudanya berjalan perlahan-lahan
mendekati arah suara Wong Sarimpat. Dengan hati-hati ia berjalan
mengikutinya. Ia ingin melihat apakah yang terjadi di antara
mereka, ia percaya bahwa pamannya menyadari siapakah yang
dihadapinya, dan ia percaya bahwa pamannya cukup mengerti
perbandingan kekuatan antara mereka. Sebab pamannya telah
pernah menyebut-nyebut nama itu pula, Wong Sarimpat.
Akhirnya Wong Sarimpat sampai kehilangan yang kesepuluh.
Setelah ia mengucapkan bilangan itu, maka ia pun segera berteriak,
“Mahisa Agni. Aku sudah sampai kebilangan yang ke sepuluh. Ayo
kemarilah, apakah pedangmu telah kau ketemukan?”
Ia melihat pamannya telah semakin dekat, di samping sebuah
gerumbul. Beberapa langkah dihadapannya kudanya berhenti dan
pamannya agaknya lebih senang menunggu Wong Sarimpat itu
berteriak sekali lagi.
“Mahisa Agni, ayo, kemarilah”.
Tanpa dikehendaki, Mahisa Agni berusaha berdiri di balik
lindungan sebuah gerumbul perdu. Sementara itu kudanya berjalan
maju perlahan-lahan.
“Ayo, kemarilah” teriak Wong Sarimpat pula, “apakah kau sudah
menemukan pedangmu? Dan kenapa kau tidak lari saja he?”
Mahisa Agni yang berada di belakang sebuah gerumbul itu pun
mengumpat di dalam hatinya. Dugaannya ternyata benar, bahwa
Wong Sarimpat ingin mempermain-mainkannya. Wong Sarimpat
sengaja memberinya kesempatan untuk lari. Orang itu akan segera
mengejarnya, Demikian sehingga nafas Mahisa Agni akan habis
dengan sendirinya. Tetapi, rencana itu harus berubah, sebab ada
orang lain yang akan turut dalam permainan yang mengerikan itu.
Ketika Wong Sarimpat kemudian melihat kuda yang perlahan
mendekatinya, maka terdengar suara tertawanya mengumandang di
padang rumput yang luas itu. Perhatiannya sama sekait tidak
tertarik kepada gerumbul disampingnya. Matanya terpaku pada
kuda dengan penunggangnya itu, sehingga Mahisa Agni sempat
merangkak lebih mendekat lagi. Bahkan Mahisa Agni itu pun telah
melupakan dirinya sendiri pula. Keinginan untuk melihat apa yang
akan terjadi telah mendorongnya untuk mengintip dari balik
dedaunan.
“Agni” teriak Wong Sarimpat. Tetapi, kuda itu tidak mendekat
lagi.
“Kemari”
“Kemari” teriak Wong Sarimpat lagi. Kuda itu masih tegak
ditempatnya.
“Apakah kau takut Agni?” bertanya Wong Sarimpat, “kalau kau
menurut maka aku tidak akan menyentuhmu. Mari pulang ke
rumah. Urusanmu seharusnya kau selesaikan sendiri dengan Kuda
Sempana. Aku hanya sekedar meraba maksudmu”.
Tetapi, tiba-tiba dada Wong Sarimpat itu seperti terhantam guruh
ketika ia mendengar penunggang kuda itu menjawab perlahanlahan,
namun dengan suara yang mantap, “Baik Wong Sarimpat,
aku akan datang”.
Dan suara itu sama sekali bukan suara yang pernah didengarnya
diucapkan oleh Mahisa Agni. Suara itu jauh berbeda. Nadanya dan
getarannya.
Karena itu Wong Sarimpat justru seakan-akan terpesona melihat
sebuah bayangan hitam duduk di atas punggung seekor kuda.
Ketika kuda itu menjauhinya, maka orang yang duduk di atas
punggungnya adalah Mahisa Agni. Tetapi, ketika kuda itu datang
kembali, maka orang itu sudah berganti bentuk dan suaranya.
Dalam pada itu terdengar kembali bayangan di atas punggung
kuda itu berkata, “Wong Sarimpat, apakah kau menanyakan
pedangku?”
Wong Sarimpat tidak segera menjawab, dicobanya untuk melihat
dengan lebih saksama. Tetapi, jarak itu belum terlampau dekat, dan
hitam malam seakan-akan menjadi kian pekat.
“Siapakah kau?” teriak Wong Sarimpat.
“Mahiia Agni” jawab suara itu, “apakah kau kini telah menjadi
seorang pelupa, baru saja kau memberi kesempatan kepadaku
untuk mengambil pedangku. Bukankah kau menghitung sampai
hitungan kesepuluh dan memanggilku untuk kembali”.
Terdengar Wong Sarimpat menggeram. Sejenak ia menjadi
bingung. Apakah suara Mahisa Agni segera berubah? Mungkin anak
muda itu menjadi ketakutan sehingga nada suaranya berubah
menjadi terlampau rendah. Tetapi, suara yang didengarnya itu sama
sekali tidak berkesan ketakutan.
Dengan demikian maka dada Wong Sarimpat itu pun di amuk
oleh kebimbangan dan kebingungan. Tetapi, meskipun demikian,
Wong Sarimpat adalah seorang yang mempunyai kepercayaan yang
kuat kepada kemampuan diri sendiri sehingga bagaimanapun juga,
maka dihadapinya setiap persoalan dengan dada tengadah.
Sejenak kemudian kembali terdengar suara tertawa orang itu
menggelegar memenuhi Padang Karautan. Bahkan Mahisa Agni
yang bersembunyi itu pun menjadi terkejut bukan buatan. Ia tidak
tahu, mengapa tiba-tiba saja orang itu tertawa. Apakah kini Wong
Sarimpat itu telah mengenal bahwa yang duduk di atas punggung
kuda itu sama sekali bukan Mahisa Agni?
Tetapi, ketika ia mencoba memperhatikan pamannya, yang telah
menggantikannya, maka kembali ia menjadi tenang. Pamannya itu
sama sekali tidak terpengaruh oleh suara yang mengguruh itu.
Orang tua itu masih saja duduk dengan tenangnya, dan membawa
kudanya selangkah demi selangkah maju.
“Kemarilah” teriak orang itu.
“Aku sedang mendekat” sahut pamannya.
“Hem” Wong Sarimpat menggeram, “apakah Mahisa Agni mampu
ajur-ajer mancala putra mancala putri? Ajo katakan siapa kau?”
“Siapakah aku menurut anggapanmu? Apakah aku bukan Mahisa
Agni?”
Sekali lagi Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Ketika suara
tertawanya menjadi semakin lirih, terdengar ia berkata, “Bagus.
Bagus. Suatu permainan yang bagus sekali. Ternyata aku telah
tcrjebak oleh permainan sendiri. Aku ingin melihat Mahisa Agni lari
terbirit-birit. ternyata kini ia telah datang kembali dengan wajah
dan
keberanian baru”. Tiba-tiba suara tertawa kembali meninggi-ninggi.
Kini Wong Sarimpat tidak sekedar menunggu kehadiran bayangan di
atas punggung kuda itu. Perlahanlahan maka didorongnya kudanya
untuk mendekat. Semakin dekat suara tertawanya menjadi semakin
keras, sehingga kemudian diantara derai tertawanya itu ia berkata,
“Oh. kau. Kau”.
“Ya, ternyata kau mengenal aku Wong Sarimpat”.
Wong Sarimpat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini
suara tertawanya telah berhenti. Dengan menunjuk kearah wajah
Empu Gandring ia berkata, “Hem, bukankah kau tukang keris yang
termasyur itu?”
“Terlalu berlebih-lebihan” jawab Empu Gandring, “tidak banyak
orang yang mengenal aku. Masih jauh lebih banyak orang yang
mengenal nama Wong Sarimpat”.
Kembali Wong Sarimpat tertawa, katanya, “Kau memaag jenaka.
Kau masih saja suka bergurau. Meskipun aku belum mengenalmu
terlalu dekat, tetapi aku sudah banyak mendengar tentang kau.
Empu Gandring. Pusaka buatanmu adalah pusaka yang tak ternilai
harganya”.
“Apakah kau sekarang membawa barang sehelai?”
“Sayang Wong Sarimpat” jawab Empu Gandring, “aku tidak
membawanya. Tetapi, kalau kau memerlukannya, aku dapat
membuat untukmu sekarang”.
“He” Wong Sarimpat mengerutkan keningnya, “dengan apa kau
akan membuat keris disini?”
“Aku dapat membuatnya dari batu. Tanganku dapat menyala
untuk meluluhkan batu yang betapapun kerasnya Tanganku pula
dapat aku pakai untuk menempa di atas lutut”.
Suara tertawa Wong Sarimpat seakan-akan meledak menecahkan
anak telinga. Tubuhnya yang kekar pendek itu terguncang-guncang,
bahkan demikian kerasnya sehingga sebelah tangannya menekan
perutnya yang bergerak-gerak.
“Bagus, bagus. Kau memang Empu yang terlampau sakti. Tetapi,
kau tidak akan dapat menyalakan api disini, sebab aku dadat
menghembuskan hujan dari mulutku. Api mu pasti akan padam dan
batumu tidak akan dapat luluh”.
“Kalau demikian, maka aku pun mampu mempergunakan batu itu
untuk senjataku. Batu ditanganku tidak akan kalah berbahayanya
dari sebuah keris yang bagaimanapun saktinya”.
“Ya. Aku percaya” potong Wong Sarimpat, “tetapi sayang. Kau
sekarang berhadapan dengan Wong Sarimpat”.
“Apa bedanya, apabila aku berhadapan dengan Kebo Sindet atau
Empu Sada?”
“Bagus, bagus Kau tahu benar siapa saja kau hadapi. Kau tahu
pula hubungan antara Wong Sarimpat dengan Empu Sada. Ternyata
kau sengaja menyebut-nyebut namanya”.
“Kau tidak perlu ingkar”.
“Aku tidak akan ingkar. Bahkan aku kini membenarkaanya,
bahwa seorang diri amat sulit untuk menangkap Mahisa Agni,
karena kau selalu membayanginya”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya, sedang dada Mahisa
Agni yang mendengar kata-kata itu pun menjadi berdebar-debar.
Ternyata Empu Sada benar-benar berusaha untuk menangkapnya
untuk kepentingan Kuda Sempana.
Mahisa Agni menggeram, katanya di dalam hati, “Dendam Kuda
Sempana benar-benar telah meracuni hidupnya. Ditinggalkannya
istana dan mengembara tak menentu. Anak muda itu benar-benar
menjadi korban sikapnya yang terlampau keras”.
Sejenak kemudian terdengar Empu Gandring menjawab, “Nah,
sekarang apakah yang akan kau lakukan? Bukankah Empu Sada
sendiri mengakui, bahwa ia tidak dapat melakukannya? Apakah kau
sekarang datang bersama dengan Empu Sada?”
“Tidak” jawab Wong Sarimpat, “aku datang sendiri. Aku ingin
menangkap Mahisa Agni dan membawanya pulang. Aku sangka
Mahisa Agni hanya seorang diri, sebab aku tidak melihat orang lain
pergi bersama-sama dengan anak itu”.
“Beruntunglah bahwa kuda yang aku pakai adalah kuda yang
terlampau jelek, sehingga kuda itu tidak mampu lari mengejar
Mahisa Agni. Agaknya kau bertemu dengan anak muda itu tanpa
menyadari bahwa aku berpacu di belakangnya”.
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Kemudian katanya,
“Aku tidak mendengar derap kudamu mendekat”.
“Telingamu tersumbat oleh suara tertawamu sendiri. Masih jauh
aku sudah mendengar suaramu. Lebih keras dari derap kudaku.
Kemudian aku terpaksa menghentikan lari kuda itu. Perlahan-lahan
kudaku kemudian berjalan mendekat”.
“Setan,” desis Wong Sarimpat, “tetapi sekarang ceritera tentang
Empu Gandring pasti akan berbeda. Aku akan memaksamu untuk
manyerahkan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat lari. Kudanya
sekarang kau pergunakan. Sedang kudamu adalah kuda yang jelek.
Kau tahu bahwa kudaku mampu berlari secepat tatit yang meloncat
di langit. Dan kudaku ini memang kunamakan Tatit”.
“Mahisa Agni adalah kemanakanku. Jangan mengigau. Kau tahu
bahwa aku tidak akan merelakannya. Sekarang, bukankah kau akan
mempergunakan kekerasan? Cobalah pergunakan. Aku sudah siap
melawan setiap kekerasan dengan kekerasan pula”.
“Setan alasan” sekali lagi Wong Sarimpat mengumpat. Tatapi
kata-katanya kemudian seperti tersumbat dikerongkorgan karena
kemarahannya Dengan serta merta ia menggerakkan kudanya dan
menyerang Empu Gandring.
Tetapi, Empu Gandring telah siap menunggu. Karena itu, maka
kendali kudanya pun digerakkan, sehingga kudanya segera maju
pula.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Itulah
sebabnya maka keduanya tidak dapat meninggalkan kewaspadaan
tertinggi.
Ketika kedua ekor kuda itu berpapasan, maka Wong Sarimpat
segera mengayunkan tangannya. Dengan telapak tangannya ia
menyerang ke arah Empu Gandring. Tetapi, Empu Gandring segera
melawan serangan itu. Empu Gandring sengaja tidak
menghindarkan dirinya. Meskipun ia pernah mendengar tentang
Wong Sarimpat, tetapi ia belum perrah mengukur langsung, betapa
besar kekuatannya. Karena itu, ketika ia melihat tangan Wong
Sarimpat terayun kearahnya, maka segera ia pun memukul telapak
tangan itu dengan sisi telapak tangannya.
Wong Sarimpat menggeram. Ia melihat cara Empu Gandring
menyambut serangannya. Orang tua itu sama sekali tidak mcncoba
menghindar. Namun, agaknya Wong Sarimpat pun ingin tahu,
sampai dimana kebenaran kata orang, bahwa tangan Empu
Gandring itu mampu dipakainya untuk menempa keris. Dengan
sengaja Wong Sarimpat tidak menarik serangannya. Bahkan
dihentakkannya tangan itu sekuat tenaganya.
Dengan dahsyatnya kedua kekuatan itu berbenturan. Keduanya
menyeringai menahan getaran yang menggigit tangan masingmasing.
Kedua tangan itu terdorong kebelakang sehingga hampirhampir
mereka terlempar dari kuda masing-masing.
“Bukan main” desis Empu Gandring, “Alangkah besar
kekuatannya”.
Namun dalam pada itu, Wong Sarimpat mengumpat keras-keras,
“Anak demit. Ternyata bukan cerita melulu, bahwa dengan
tanganmu kau mampu menempa keris. Hampir aku hampir terjatuh
dari kudaku, dan hampir-hampir pula lenganku kau patahkan.
Sekarang aku percaya bahwa kau menyimpan tenaga raksasa di
dalam tubuhmu yang kering itu. Tenagamu tidak kalah dengan
tenaga Empu Sada. Tetapi, kau tidak curang seperti Empu Sada”.
Empu Gandrirg mengerutkan keningnya. Tiba-tiba tanpa
dikehendakija sendiri ia bertanya, “Hei, apa Empu Sada Curang?”
Wong Sarimpat pun terdiam. Agaknya mulutnya telah terlanjur
mengatakannya. Tetapi, segera ia tertawa gemuruh memenuhi
Padang Karautan. Katanya, “kita selesaikan. Jangau kau hiraukan
Empu Sada. Aku telah mewakilinya. Ayo, sekarang kita selesaikan
persoalan ini. Aku harus kembali membawa Mahisa Agni. Kalau kita
berkelahi dengan tangan, menggunakan segala macam Aji yang ada
pada kita, maka kita tidak akan selesai. Mungkin kita tidak akan
dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam
sepekan. Sekarang kita simpan Aji kita untuk kepentingan lain.
Kalau kulitmu tidak kebal, maka tajamnya akan membelah dadamu”.
Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Gandring. Tibatiba
sebuah golok yang besar telah tergenggam di tangannya. Golok
yang dengan serta merta telah telah ditariknya dari sarung di
lambungnya.
Sekali lagi lagi Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Golok
itu memang terlampau besar. Tetapi, tidak terlampau panjang.
Tangkai golok itu terlalu lampau pendek.
“Ambil senjatamu” teriak Wong Sarimpat, “aku tidak mau
membunuh orang yang tidak bersenjata”.
“Baik” sahut Empu Gaadring. Tangannya pun segera begerak,
meraih tangkai senjatanya lewat di atas pundaknya.
Kerisnya yang khusus melekat di punggungnya. Keris yang
sebesar pedang, sedang tangkainya mencuat dibelakang kepalanya.
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya melihat senjata Empu
Gandring itu. Sejenak ia terdiam, namun sejenk kemudian iapun
tertawa pula berkepanjangan. Dengan suara yang menggelegar
memenuhi Padang Rumput Karautan ia berkata, “Lihat Empu
Gandring. Mentang-mentang kau tukang membuat keris, kau buat
keris untuk dirimu sendiri sebesar itu?”
“Apakah kau baru sekali ini melihat keris sebesar ini Worg
Sarimpat?” bertanya Empu Gandring.
“Tidak. Tidak. Para bangsawan Kediri juga mempunyai keris yang
besar, sebesar kerismu. Apakah kau pula yang membuat keris-keris
itu?”
“Bukan hanya seorang Empu keris di seluruh Kediri ini Wong
Sarimpat”.
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan. Kemudian katanya,
“Kalau keris buatanmu terkenal disegenap penjuru Kediri, maka
keris yang kau buat untukmu sendiri, pastilah sebilah keris yang
luar
biasa. Mungkin kerismu sakti tiada taranya. Tersentuh kerismu
berarti binasa. Bahkan mungkin gunung akan runtuh dan lautan
akan menjadi kering. Begitu?”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Tetapi, ia menjawab,
“Ya. Gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering”.
Dan Wong Sarimpat itu menjawab pula, “Tetapi, Wong Sarimpat
teguh timbul melampaui gunung dan lautan”.
“Kerisku mampu meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan.
Kalau kau teguh timbul melampaui gunung dan lautan, maka kau
harus memperhitungkan tenaga ayunan tangan Empu Purwa.
Jangan membantah dahulu. Tak ada gunanya. Sebab tenaga kita
telah beradu. Aku dapat mengukur kekuatanmu dan kau dapat
mengukur kekuatanku”.
“Bagus. Bagus. Kau benar Empu. Kita tak usah membual. Mari
kita bertempur, setelah satu dari kita mati, maka bualan kita baru
akan terbukti”.
“Aku sudah menunggu” sahut Empu Gandring.
Wong Sarimpat terdiam. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang.
Sejenak dipandanginya keris Empu Gandring yang besar, sebesar
pedang. Namun, ujungnya yang runcing dan tajam di kedua sisinya,
serta luk pitu, memberikan ciri, bahwa yang digenggam di tangan
Empu Gandring itu adalah sebilah keris. Bukan pedang dan bukan
pula golok seperti senjatanya.
Kini Wong Sarimpat tidak ingin lebih lama lagi menunggu.
Disadarinya bahwa malam telah membenam lebih dalam lagi.
Karena itu maka terdengar suaranya melengking mengejutkan.
Kudanya seolah-olah meloncat menyergap Empu Gandring.
Namun, Empu Gandring telah siap benar menunggu serangan itu.
Dengan demikian maka orang itu sama sekali tidak gugup.
Digerakkannya kendali kudanya dan dengan sigap pula
disongsongnya serangan Wong Sarimpat. Beruntunglah Empu
Gandring bahwa kini ia berada di punggung kuda Mahisa Agni,
sehingga dengan demikian ia dapat cukup lincah mengimbangi
Wong Sarimpat.
Demikianlah maka segera mereka terlibat dalam sebuah
perkelahian yang sengit. Wong Sarimpat memiliki keahlian yang
mumpuni dalam hal menunggang kuda. Tetapi, Empu Gandring pun
cukup cakap mengendalikan kudanya. Apalagi ketrampilannya
menggerakkan kerisnya adalah ngedap-edapi. Hampir setiap saat ia
bergulat dengan keris. Mungkin ia sedang membuat, dan mungkin
sedang berlatih seorang diri untuk menyempurnakan ilmunya.
Sehingga dalam keadaan yang memaksanya benar-benar
mempergunakan senjata itu, Empu Gandring sama sekali tidak
mengecewakan.
Namun, Wong Sarimpat pun adalah seorang yang memiliki ilmu
yang hampir sempurna. Goloknya yang besar itu seakan-akan
hampir tidak menahan gerak tangannya. Senjata itu berputar dan
terayun-ayun seperti sepotong lidi saja.
Dengan demikian, maka kedua orang itu tidak segera dapat
melihat, apakah yang akan terjadi dalam perkelahian itu. Kedua
ekor kuda yang tegar itu pun menyambar-nyambar seperti Burung
Garuda, sedang di punggungnya seolah-olah Wisnu sedang menarinari
dengan gairahnya, menarikan tari maut.
Mahisa Agni melihat pertempuran itu. Anak muda itu pun adalah
anak muda yang menyimpan ilmu yang cukup di dalam dirinya.
Tetapi, orang-orang yang sedang bertempur itu adalah orang-orang
yang mengagumkan. Pamannya dan Wong Sarimpat dapat
disejajarkan dengan gurunya, Empu Purwa yang seakan-akan kini
telah lenyap dari pergaulan karena duka yang mencengkam hatinya
tiada tertanggungkan lagi.
Dengan dada yang bergelora Mahisa Agni mengikuti setiap gerak
dari kedua orang yang sedang bertempur itu. Ternyata Wong
Sarimpat adalah benar-benar seorang yang kasar. Dengan
memekik-mekik dan berteriak-teriak ia menyerang dengan
garangnya, goloknya terayun-ayun mengerikan, sekali-kali
menyambar kepala namun segera mematuk lambung.
Lawannya Empu Gandring, cukup tenang menghadapi tata gerak
yang kasar itu. Tetapi, ErpPu Gandring yang memiliki pengalaman
yang cukup segera melihat apa yang dilakukan oleh lawannya itu
dengan cermat. Gerak Wong Sarimpat tampaknya kasar dan tidak
teratur, namun dalam gerak yang kasar dan tampaknya tidak teratur
itu tersembunyi ilmu yangg dahsyat. Ilmu yang memang dalam
ungkapannya berbentuk serupa itu, kasar dan mengerikan. Namun,
Empu Gandring tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam
perasaannya. la tidak mau terseret dalam tingkah laku yang kasar
pula. Sebab dengan demikian ia telah menjerumuskan dirinya
sendiri kedalam bahaya. Ia tidak dapat mengimbangi kekasaran itu
dengan kekasaran pula.
Itulah sebabnya maka kini Empu Gandring tidak lagi ingin
melawan setiap serangan dengan serangan. Ia tahu, bahwa
kekuatan Wong Sarimpat tidak melampauinya, namun ia akan
terseret ke dalam sikap yang tidak dipahaminya.
Maka untuk seterusnya Empu Gandring menghadapi dengan
sikap yang tenang. Tetapi, setiap gerak tangannya, benar-benar
menimbulkan desir di dada lawannya.
Perkelahian diantara kedua orangg yang sakti itu semakin lama
menjadi semakin seru. Masing-masing telah mcncoba mengerahkan
segenap kemampuan untuk dapat mengalasi lawannya. Namun,
ternyata bahwa mereka berdua benar-benar seperti sepasang
Burung Rajawali yang berlaga di udara. Tak ada tanda-tanda bahwa
salah seorang dari mereka akan berhasil memenangkan perkelahian
itu. Silih-ungkih desak-mendesak.
Debu yang putih pun semakin lama menjadi semakin banyak
berhamburan dilontarkan oleh kaki-kaki kuda yang seakan-akan ikut
serta berlaga. Kadang-kadang terdengar kuda-kuda itu meringkik
dengan kerasnya apabila terasa penunggangnya menarik kendali
terlampua keras, dan kadang-kadang kuda itu pun saling
berbenturan sementara penunggangnya membenturkan senjatasenjata
mereka.
Namun, keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding
Semakin banyak keringat membasahi tubuh-tubuh mereka, maka
mereka menjadi semakin trampil. Wong Sarimpat menjadi semakin
garang dan kasar, sedang Empu Gandring menjadi semakin lincah
dan cekatan.
Mahisa Agni masih saja duduk di belakang gerumbul. Tetapi, ia
sudah kehilangan nafsunya untuk bersembunyi terus. Bahkan
semakin lama ia bergeser semakin jauh dari tempat
persembunyiannya, dan malahan kadang-kadang ia harus mendekat
untuk dapat melihat kuda-kuda itu berlari-larian di Padang
Karautan.
Tetapi, perkelahian itu masih berlangsung dalam keadaan yang
serupa saja. Mereka masing-masing mencoba menunggu apabila
lawan-lawannya membuat kelalaian-kelalaian kecil, sehingga salah
seorang dari mereka akan mendapat kesempatan yang baik. Tetapi,
kesempatan itu tidak juga kunjung datang. Sehingga dalam
kejemuan akhirnya Wong Sarimpat berteriak-teriak keras sekali.
Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia bertempur
dengan cermat. Kerisnya yang besar itu bergetar dan mematuk dari
segenap penjuru. Namun, setiap kali senjata itu selalu membentur
golok Wong Sarimpat yang besar itu, seakan-akan golok itu pun
melebar seluas perisai yang mengelilingi tubuh Wong Sarimpat.
Di langit bintang gemintang beredar dengan terangnya seakanakan
sama sekali tak dihiraukannya pertempuran yang dahsyat yang
terjadi di Padang Karautan. Angin yang dingin mengalir lambat
mengusap tubuh-tubuh yang berkeringat itu. Tetapi, mereka yang
bertempur sama sekali tidak menghiraukannya betapa sejuknya
udara di malam yang dingin itu.
Wong Sarimpat akhirnya benar-benar menjadi jemu. Ia ter paksa
melilat suatu kenyataan, bahwa Empu Gandring tidak dapat
dikalahkannya, betapapun ia berusaha. Apapun yang dilakukannya,
maka Empu Gandring pasti mampu menyelamatkan dirinya seperti
apa yang terjadi sebaliknya.
Karena itu, tiba-tiba Wong Sarimpat berpendirian lain. Lebih baik
ditinggalkannya mereka kali ini. Ia akan menyampaikan semua
peristiwa itu kepada kakaknya. Ia memang harus datang berdua
sedikit-dikitnya supaya dapat melepaskan Mahisa Agni dari
pamannya yang selalu membayanginya itu.
Kini, dalam perkelahian ini, ia sama sekali tidak dapat melihat
siapakah yang akan dapat memenangkannya. Ia tidak melihat
kemungkinan untuk membawa Mahisa Agni.
Dengan demikian, maka Wong Sarimpat itu pun kemudian
mengambil keputusan untuk melepaskan lawannya dan kembali ke
Kemundungan. Ia akan segera kembali bersama dengan Kebo
Sindet untuk mengambil Mahisa Agni.
Ketika perkelahian itu masih berlangsung dengan sengitnya tibatiba
Wong Sarimpat menarik kendali kudanya yang kemudian
berputar dan berlari menjauh. Yang terdengar kemudian adalah
suaranya mengguruh disertai derai tertawanya, “Maaf Empu
Gandring, aku terpaksa meninggalkanmu”.
Empu Gandring tertegun melihat lawannya menyingkir. Di dalam
remang-remang gelap malam ia melibat Wong Sarimpat itu berhenti
beberapa langkah dari padanya sambil berkata terus, “Aku tidak
melihat titik akhir dari perkelahian ini, sehingga aku menganggap
bahwa apa yang terjadi seterusnya sama sekali tidak akan berarti.
Karena itu, aku mohon diri, aku sudah rindu kepada kakakku Kebo
Sindet. Mungkin ia ingin menemuimu. Lain kali aku akan
membawanya kemari”.
Empu Gandring tidak menjawab. Didorongnya kudanya maju
mendekat, tetapi kuda Wong Sarimpat pun berjalan menjauh.
“Jangan mencoba mengejar aku. Kudamu lebih jelek dari kudaku,
sehingga kau tidak akan berhasill. Meskipun seandainya kau
mempunyai kesaktian berlipat-ganda dari padaku pun kau masih
harus tergantung kepada kaki-kaki kudamu. Kalau kau tidak
percaya, buktikanlah”.
Wong Sarimpat tidak menunggu Empu Gandring menjawab.
Ditariknya kekang kudanya sehingga kudanya berputar setengah
lingkaran. Kemudian kuda itu pun seakan-akan meloncat dan
terbang meninggalkan Empu Gandring yang memandanginya
dengan wajah yang kecut.
“Hem, hantu itu benar-benar berbahaya” gumamnya.
Mahisa Agni pun melihat betapa Wong Sarimpat memacu
kudanya meninggalkan Padang Karautan. Tetapi, ia menyadari pula
bahwa pamannya pasti tak akan dapat mengejarnya karena kuda
Wong Sarimpat yang bernama Tatit itu mampu berlari benar-benar
seperti tatit.
“Agni”. Mahisa Agni mendengar pamannya memanggil. Perlahanlahan
ia berdiri dan berjalan mendekati Empu Gandring.
“Bukankah benar kataku bahwa di padang ini tersembunyi seribu
macam bahaya?”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Sepatah pun ia tidak
menjawab.
“Kau melihat sendiri, betapa berbahayanya orang sekasar Wong
Sarimpat. Bahkan menurut penilaianku, orang ini jauh lebih
berbahaya daripada Empu Sada sendiri. Dan kini mereka agaknya
berdiri di pihak yang sama. Aneh. Untuk melawanmu Empu Sada
harus bersusah payah mencari teman seliar Wong Sarimpat.
Mahisa Agni masih saja berdiam diri Bahkan kepalanya pun masih
juga ditundukkannya. Kalau dikenangkan apa yang baru saja terjadi,
maka ia menjadi ngeri sendiri. Meskipun ia sama sekali bukan
seorang pengecut, tetapi menghadapi orang yang ganas seperti
Wong Sarimpat, adalah suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan.
Dalam pada itu terdengar Empu Gandring betkata, “Semula aku
juga hanya ingin mengharap bahwa kau tidak bertemu dengan
bahaya, tetapi akhirnya aku tidak sampai hati untuk melepaskan kau
pergi seorang diri di malam yang terlampau gelap untuk
menyeberangi Padang Karautan yang garang ini.. Karena itu aku
mencoba menyusulmu. Ketika kudaku menjadi semakin dekat,
agaknya kau telah mamacu kudamu. Padahal yang aku dapatkan
hanya seekor kuda yang tidak terlampua baik, sehingga jarak
diantara kita menjadi semakin lama semakin jauh.
Mahisa Agni masih berdiri mematung. Dan Empu Gandring itu
pun akhirnya berkata ”Sekarang bagaimana Agni. Kita sudah
melampaui separo jalan. Apakah kau akan kembali atau kau ingin
meneruskan perjalanan ini”.
Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi, ketika diingatnya
bahwa di perkemahan seorang kawannya mengharap
kedatangannya dengan membawa obat, maka jawabnya kemudian,
“Aku akan meneruskan perjalanan ini paman”.
“Hm” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Namun, ia
berkata, “Baiklah. Perjalanan ini sudah cukup jauh. Marilah aku
antarkan kau ke Panawijen. Mudah-mudahan kita akan segera
kembali sebelum Wong Sarimpat sempat memanggil kakaknya yang
bernama Kebo sindet itu”.
“Apakah rumah mereka tidak terlampau jauh?”
“Aku dengar mereka bersembunyi di Kemundungan. Jarak cukup
jauh. Tetapi, apabila kakaknya, Kebo Sindet telah berada di
perjalanan kemari, maka mereka akan segera kembali”.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menyesalkan
Kuda Sempana. Persoalan yang ada sekarang sudah jauh berkisar
dari persoalan yang semula. Kuda Sempana kini sudah tidak lagi
mempersoalkan Ken Dedes, karena ia menyadari, bahwa ia tidak
akan mungkin lagi merebutnya dari Akuwu Tunggul Ametung.
Tetapi, yang ada sekarang adalah dendam yang tiada akan padam
menyala di dada anak muda yang merasa dirinya dikecewakan dan
disakiti hatinya.
Tetapi, Mahisa Agni tidak dapat terlampau lama berangan-angan.
Sekali lagi pamannya berkata, “Kalau akan meneruskan perjalanan,
marilah. Kudaku aku tambatkan di belakang semak-semak tempat
kau mencari pedangmu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Perlahan-lahan ia melangkah ke
dalam gelap, mencari kuda Empu Gandring.
“Apakah kau akan memakai kudamu ini?” bertanya Empu
Gandring.
“Tidak paman” sahut Mahisa Agni, “sama saja bagiku. Bukankah
kita akan berjalan bersama-sama”.
Empu Gandring tersenyum. Diikutinya Mahisa Agni berjalan
mengambil kuda pamannya.
Sejenak kemudian mereka berdua telah berpacu kembali ke
Panawijen. Namun, mereka sudah pasti tidak akan dapat berada
kembali di bendungan yang sedang mereka kerjakan terlampau
pagi. Perjalanan mereka telah terganggu, sehingga waktunya pun
menjadi bertambah panjang.
Sementara itu Wong Sarimpat berpacu pula cepat-cepat kembali
ke Kemundungan. Ia menyesal bukan kepalang atas kegagalannya,
dan tanpa kesadarannya mulutnya telah mengumpat habis-habisan.
“Setan tua itu sepantasnya dipancung kepalanya. Ia harus
dibinasakan seperti Empu Sada. Aku ingin membenamkannya pula
di dalam sendang tempat Empu Sada membunuh dirinya.
Melibatkannya pada akar-akar ganggang dan menggantungi
lehernya dengan batu”.
Dan Suara Wong Sarimpat itu pun mengumandang berkeliling
padang yang luas dan gelap. Namun, padang itu terlampau sepi.
Tak seorang pun mendengarkannya dan tak seorang pun yang
melihatnya ia berpacu seperti dikejar hantu.
Ketika orang itu kemudian memasuki sebuah hutan tiba-tiba ia
merasa jemu berpacu. Orang yang tidak pernah mengenal lelah itu,
tiba-tiba ingin berhenti dan beristirahat. Mungkin kudanya memang
memerlukan waktu untuk beristirahat sejenak.
Tetapi, istirahat itu pun terasa menjemukan sekali. Wong
Sarimpat mencoba berbaring sejenak. Begitu saja di atas tanah
yang lembab. Dicobanya untuk mereka-reka, bagaimana mungkin ia
membalas sakit hatinya. Tetapi, ia tidak segera menemukannya.
Ketika perlahan-lahan ia mendengar suara berdesir disisinya,
cepat ia meloncat bangkit. Dalam kegelapan malam, ia mendengar
suara itu menyelusur menjauhi kakinya.
“Ular gila itu ingin aku cekik sampai mati” teriaknya.
Tetapi, malam di dalam hutan itu cukup kelam, sehingga
betapapun tajam penglihaannya, namun ia tidak berani menyerang
ular itu, meskipun disiang hari adalah pekerjaan Wong Sarimpat
menangkap dan membunuh ular hanya dengan tangannya. Kulitnya
sangat digemarinya seperti ia merggemari berbagai macam batubatuan.
Dalam kejengkelannya Wong Sarimpat itu kembali meloncat ke
punggung kudanya, dan kembali ia berpacu menembus jalan-kalan
sempit di hutan itu. Jalan yang biasa dilalui oleh para pejalan dan
para pencari kayu bakar.
Ketika kudanya meluncur di antara batang-batang yang agak
jarang, maka ditengadahkannya. Sekali lagi ia mengumpat keraskeras
ketika ia melihat bayangan yang mewarnai langit.
Orang itu sampai di Kemundungan melampaui tengah hari.
Langsung ia mencari kakaknya untuk menceriterakan apa yang telah
dilihatnya.
Kebo Sindet yang sedang mencoba memberikan beberapa
macam ilmu kepada Kuda Sempana tertegun mendengar adiknya
berteriak-teriak didepan gubugnya. Sambil bersungut-sungut ia
menjawab, “Aku di sini Wong Sarimpat”.
Kuda Sempana pun tertegun pula. Bahkan ia terkejut. Sebelum ia
melihat Wong Sarimpat, ia telah mendengar suaranya mengumpatumpat
tak habis-habisnya.
“Kita berhenti sebentar Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet.
Kuda Sempana yang memang kurang mempunyai gairah untuk
berlatih ilmu yang kasar itu, menjadi gembira didalam hatinya,
meskipun setiap kali diminta untuk berlatih, ia tidak berani
menolaknya.
Sejenak kemudian Wong Sarimpat telah muncul dari balik sudut
gubug yang kotor itu. Dengan nafas terengah-engah ia berjalan
mendekati kakaknya. Wajahnya tampak tegang dan mulutnya masih
saja mengumpat-umpat.
“Apa yang telah terjadi?” bertanya Kebo Sindet. Tetapi, wajahnya
sama sekali tidak bergerak. Beku.
“Hampir aku berhasil meskipun aku hanya seorang diri” berkata
Wong Sarimpat dengan bertolak pinggang.
“Apa yang berhasil?” bertanya kakaknya.
“Buruanmu. Seakan-akan telah berada ditelapak tangan. Tetapi,
tiba-tiba berhasil lepas kembali”.
“Mahisa Agni maksdumu?” bertanya Kebo Sindet.
“Ya”.
Wajah yang beku itu tiba-tiba bergerak. Tampak beberapa garis
kerut merut di dahinya. Namun, hanya sesaat. Sesaat kemudian
wajah itu telah beku kembali.
“Aku telah berhasil menangkapnya” berkata Wong Sarimpat pula.
“Dimanakah anak itu sekarang”.
“Sudah aku katakan, anak itu lepas kembali”.
“Kenapa?”.
“Setan tua itu datang mengganggu”.
“Siapa yang kau maksud? Empu Purwa, Bojong Santi, atau Empu
Sada sendiri?”
“Kali ini Empu Gandring. Pamannya”.
Terdengar mulut Kebo Sindet menggeram, Tiba-tiba ia berkata
tidak terlampau keras, tetapi mengejutkan Wong Sarimpat, “Kaulah
yang bodoh”.
Wong Sarimpat mengerutkan dahinya. Katanya, “Kenapa aku
yang bodoh?”
“Sudah dikatakan oleh Empu Sada bahwa anak itu tidak dapat
ditangkap seorang diri. Kalau kau mampu melakukannya. maka
Empu Sada tidak akan ribut kemari memanggil kita”.
Wong Sarimpat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, ia tidak
menyahut. Dan kakaknya berkata pula, “Bukankah Empu Sada
pernah mengatakan bahwa ada saja yang selalu membayanginya.
Kali ini kau bertemu dengan Empu Gandring, mungkin kalau kau
berbuat bodoh untuk kedua kalinya kau akan bertemu dengan Empu
Purwa, guru anak itu sendiri. Di lain kali kau akan bertemu dengan
Panji Kelantung dari Tumapel atau bahkan apabila masih hidup,
Empu Sada sendiri akan menemuimu”.
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan. Tetapi, ia menjawab,
“Jangan kau sebut orang yang terakhir itu kakang. Aku pasti bahwa
ia telah mampus ditelan ganggang”.
“Mudah-mudahan” sahut kakaknya, “tetapi meskipun Empa Sada
telah mati, namun kebodohanmu tidak terhapus karenanya. Kau
tahu akibat dari perbuatanmu?”
Mata Wong Sarimpat meredup, seakan-akan ia mcncoha berpikir.
Tetapi, akhirnya ia hanya menggelengkan kepalanya sambil
menjawab, “Akibatnya adalah kita masih harus menangkapnya”.
“Kau benar-benar bodoh” suara Kebo Sindet datar, tetapi
mengandung tekanan sehingga Wong Sarimpat terdiam.
Dibiarkannya kakaknya beikata terus, “Akibatnya adalah Mahisa Agni
dan Empu Gandring itu menyadari bahaya yang mengintainya. Kini
ia tahu pasti siapa yang harus mereka hadapi. Bukan sekedar Empu
Sada. Tetapi, Empu Gandring itu sudah melihat tampangmu yang
kasar seperti batu asahan.
Wong Sarimpat menggeram. Tetapi, ia tidak menjawab. Ketika
dilihatnya Kuda Sempana mengawasinya pula, tiba-tiba matanya
terbelalak sehingga cepat-cepat Kuda Sempana melemparkan
pandangannya ke titik yang jauh.
“Jangan menyalahkannya” bentak kakaknya, “sudah sewajarnya
Kuda Sempana kecewa terhadap sikapmu. Dengan demikian maka
usaha ini akan menjadi semakin panjang. Kalau kau tetap pada
kuwajiban yang aku bebankan padamu, mengintai saja anak muda
itu, maka aku pasti akan segera berangkat ke Panawijen. Aku dapat
mengikat Empu Gandring dalam perkelahian dan kau dapat
menangkap anak itu dengan mudah. Sekarang, setelah kegagalan
yang bodoh itu, apa katamu?”
Mulut Wong Sarimpat bergerak-gerak. Tetapi, tak sepatah kata
pun meloncat dari sela-sela bibirnya.
Kemudian Kebo Sindet itu berkata kepada Kuda Sempana, “Kita
harus bersabar lagi beberapa lama karena kebodohan pamanmu”.
Kuda Sempana tidak segera menyawab. Sekali lagi mencoba
memandangi wajah Wong Sarimpat, tetapi sekali lagi ia melihat
Wong Sarimpat membelalakkinya, sehingga Kuda Sempana itu
menundukkan kepalanya. Tetapi, ketika Kebo Sindet berpaling,
maka Wong Sarimpat pun menundukkan kepalanya pula secepatcepatnya.
“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet, “pekerjaanmu kemudian
adalah berlatih sebaik-baiknya. Kita masih harus menunggu
beberapa hari lagi. Kita mengharap mereka akan menjadi lengah.
Tetapi, aku mempunyai harapan yang lain pula. Mudah-mudahan
aku segera menjadi semakin sempurna dalam olah kanuragan,
sehingga suatu saat kau sendiri akan mampu menghadapi Mahisa
Agni. Akan berbanggalah kau kiranya apabila kau datang dan
mangajukan tantangan jantan. Perang tanding di hadapan beberapa
saksi”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Sepercik kebanggaan melonjak
di dalam dadanya. Tetapi, kemudian di sudut yang lain kembali
memancar perasaan syaknya. Ia tetap berprasangka terhadap orang
yang berwajah beku sebeku majat itu.
Tetapi, Kuda Sempana tidak mau membebani kepalanya dengan
segala macam kebingungan. Kini ia menghadapi kesempatan. Apa
pun yang akan terjadi kemudian akan dihadapinya kemudian.
Namun, peningkatan ilmu baginya pasti akan berguna. Untuk
apapun. Sehingga Kuda Sempana pun kemudian justru berusaha
untuk menambah ilmunya sebaik-baiknya. Dicobanya untuk
mengatasi perasaan segan yang hampir setiap kali mengganggunya.
Ketika Wong Sarimpat itu pun kemudian dengan langkah yang
tersendat-sendat meninggalkan kakaknya yang memarahinya,
kembali Kebo Sindet dan Kuda Sempana meneruskan latihan
mereka disamping gubugnya dibawah bukit padas.
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Empu Gandring pun telah
berpacu kembali ke Padang Karautan. Sekali-sekali Mahisa Agni
menengadahkan wajahnya. Hatinya menjadi gelisah ketika matahari
telah merambat semakin tinggi. Rencana hari ini pasti akan
tertunda.
“Hanya tertunda satu hari bagi pekerjaan sebesar itu” ia
mencoba menghibur dirinya. Tetapi, perasaannya seakan-akan
selalu terganggu. Penundaan rencananya kali ini seolah-olah tidak
disebabkan oleh alasan yang wajar.
Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata,
“Kau kecewa atas rencanamu yang tertunda itu Agni”.
Mahisa Agni tidak dapat menjawab lain. Pamannya itu seolaholah
dapat melihat isi hatinya seluruhnya. Maka jawabnya, “Ya
paman. Sebenarnya aku sudah mantap untuk memulainya hari ini”.
“Pekerjaan itu hanya tertunda satu hari saja Agni. Jangan kau
risaukan. Seandainya air itu membawa pasir pada dasar sungai,
maka perbedaan dalam hari ini dengan besok tidak akan lebih dari
lima cengkang”.
Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi, ia benar-benar dicengkam
oleh perasaan kecewa. Meskipun demikian, hatinya terhibur pula
ketika tersentuh olehnya bagian-bagian dari batang kates grandel
yang dibawanya. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan usahaku
ini tidak sia-sia. Mudah-mudahan penundaan rencanaku itu pun
tidak sia-sia. Anak yang sakit itu pun segera menjadi sembuh”.
Karena Mahisa Agni tidak menjawab maka pamannya berkata
seterusnya, “ Orang-orang Panawijen termasuk orang-orang yang
kurang gairah menghadapi kerja. Tetapi, kau harus mengucap sukur
bahwa semakin lama menurut penglihatanku mereka menjadi
semakin sadar, bahwa apa yang dikerjakan itu merupakan harapan
bagi masa depan mereka sehingga tampaknya merekapun menjadi
semakin bernafsu. Tetapi, ingat Agni. Pada dasarnya orang-orang
Panawijen sudah terlampau lama menikmati tanah yang subur, air
yang berlimpah, sehingga seakan-akan apa pun yang dilemparkan
ke tanah, pasti akan tumbuh dan memberi hasil yang baik. Dengan
demikian pada dasarnya, mereka tidak menghendaki bekerja
terlampau berat seperti yang dilakukan kali ini. Kau harus
memperhitungkan setiap keadaan. Jangan kau abaikan
pemeliharaan nafsu bekerja dan gairah akan harapkan mereka
dimasa dating”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari
sepenuhnya kata-kata pamannya itu.
Matahari yang memanjat langit pun menjadi semakin tinggi.
Sejenak kemudian maka dicapainya puncak langit untuk seterusnya
turun kembali kearah Barat.
Meskipun Mahisa Agni berusaha untuk menenteramkan hatinya,
tetapi ia tidak dapat melupakan kekecewaannya hari ini. Bahkan di
dalam hatinya ia masih saja bergumam, “Aku terlampau lama di
Panawijen. Tetapi, ternyata bahwa pohon kates grandel itu tidak
terlampau banyak, sehingga agak sulit juga aku mencari. Kalau saja
aku tidak usah menunggu bibi Nyai Buyut menanak nasi, mungkin
aku sudah sampai di bendungan sebelum tengah hari. Mungkin aku
masih dapat memasukkan satu dua brunjung ke dasar sungai itu.
Tetapi, kini tengah hari itu sudah lampau”.
Keduanya kemudian tidak lagi bercakap-cakap. Keringat-keringat
mereka bercucuran seperti diperas dari dalam tubuh-tubuh mereka.
Panas yang terik terasa membakar kulit. Semak-semak yang
jarangjarang
tumbuh disana-sini tidak banyak memberi kesegaran bagi
mereka.
Selepas-lepas mata memandang, Mahisa Agni hanya melihat
sinar matahari yang menyala di atas padang rumput yang luas itu.
Bahkan kadang-kadang seakan-akan dilihatnya padang itu menguap
dan mencerminkan wajah air. Tetapi, Mahisa Agni menyadari,
bahwa penglihatannya itu adalah karena udara yang terlampau
panas membakar.
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja pamannya berkata,
“Agni, setiap hari kalian bekerja dibawah terik matahari seterik
hari
ini. Setiap hari kulit kalian telah dipanasi seperti padang ini.
Alangkah berat pekerjaan itu”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula
.
“Tetapi, kalau kalian berhasil, maka kalian akan dapat menepuk
dada dan berkata kepada anak cucu, inilah peninggalan kami.
Peninggalan pada masa kami muda”.
Mahisa Agni mengangguk dan menjawab singkat, “Ya paman”.
“Tetapi, bukan saja kebanggaan. Namun, juga kepuasan melihat
anak cucu hidup dengan bahagia”.
“Ya paman. Mudah-mudahan mereka menyadari pula”.
“Mereka telah bekerja dengan baik”.
“Ya”.
“Meskipun rencanamu tidak dapat kau lakukan hari ini, tetapi
bukankah ada kerja lain yang dapat mereka lakukan?”
“Kerja masih terlampau banyak paman. Aku kira mereka kali ini
akan meneruskan menggali induk susukan yang akan membelah
pedang ini, yang akan merupakan jalur-alur air induk untuk segenap
tanah persawahan yang kita rencanakan. Kita mengharap, bahwa
demikian air dapat naik, maka jalur-jalur induk itu pun sudah akan
dapat menampungnya. Tetapi, pekerjaan itu terlampaui. Kami
sebenarnya mengharap janji Akuwu Tunggul Araetung yang akan
memberikan bantuan bukan saja tenaga tetapi juga pedati, lembu
dan alat-alat yang lain”.
“Jangan terlampau mengharap bantuan orang lain Agni.
Percayalah kepada tanganmu sendiri. Yang Maha Agung akan
memberi tuntunan kepadamu”.
Mahisa Agni tidak menyahut. Kepalanya tertunduk memandangi
rerumputan yang seperti berlari kearah yang berlawanan. Ia dapat
memahami kata-kata pamannya itu, dan ia pun telah berpendirian
serupa pula. Namun, sebagai seorang yang wajar, ia memang
mengharapkan bantuan itu segera datang. Tetapi, seandainya janji
Tunggul Ametung itu tidak juga dipenuhi, maka itu sama sekali
bukanlah suatu alasan untuk mengurungkan rencananya atau
mengurangi gairah kerjanya.
Dan pamannya pun ternyata berkata, “Kalau bantuan itu datang
Agni, mengucaplah terima kasih. Kalau tidak, maka sejak semula
kau mulai pekerjaanmu dengan kekuatan tenaga sendiri, tenaga
orang-orang Panawijen yang berjuang untuk masa depannya”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan
ia menjawab, “Ya paman”.
“Mudah-mudahan kau dapat berhasil”.
“Mudah-mudahan paman”.
Keduanya terdiam. Panas yang terik serasa menjadi semakin
panas. Keringat mereka telah membasahi segenap wajah kulit.
Sekali-kali mereka terpaksa berhenti dan mencari air untuk kudakuda
mereka yang haus dan untuk mereka sendiri. Karena itu maka
mereka berpacu sepanjang tebing sungai.
Akhirnya, dikejauhan, seakan-akan muncul dari dalam padang
rumput dan celah-celah, gerumbul-gerumbul yang layu, tampaklah
perkemahan mereka. Perkemahan ilalang, tempat mereka berteduh
dari panas matahari di siang hari dan tempat mereka menghindari
embun di malam hari.
Ketika tampak oleh Mahisa Agni atap-atap ilalang itu, maka
dengan serta-merta ia berkata, “Mudah-mudahan mereka tidak
berbuat sesuatu atas bendungan itu. Kalau mereka berbuat
kesalahan, maka pekerjaan kita akan menjadi semakin sulit”.
“Aku kira tidak terlampau sulit Agni” sahut pamannya, “apakah
tidak seorang pun yang mengerti akan rencanamu?”
“Kalau mereka terpaksa melakukannya tanpa menunggu aku,
aku harap Ki Buyut dapat memberi mereka petunjuk. Kalau tidak,
seandainya mereka meletakkan brunjung-brunjung itu disembarang
tempat, maka sisi sungai itu akan melebar dan mungkin dapat
mengakibatkan sisi seberang longsor”.
Pamannya tidak menyahut lagi. Kalau terjadi demikian maka
Mahisa Agni pasti akan kecewa. Tetapi, seandainya demikian
sekalipun, itu bukan berarti suatu kegagalan. Mungkin pekerjaan
akan menjadi semakin sulit, tetapi bukan berarti tidak dapat
diatasi.
Keduaya pun kembali terdiam. Kuda-kuda mereka yang lelah
bcrjalan semakin perlahan. Agni dan Empu Gandring pun menyadari
bahwa tidak sepantasnya ia melecut kudanya untuk berpacu.
Meskipun dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar oleh
keinginannya segera sampai ketempat ia bekcrja membuat
bendungan itu.
Betapapun lambatnya, namun mereka semakin lama menjadi
semakin dekat. Gubug yang berderet-deret menjadi semkin jelas.
Tetapi, semakin dekat Mahisa Agni dengan perkemahan itu,
maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Disebelah
gubug-gubug itu adalah susukan yang sedang mereka kerjakan
meskipun terlampau lambat karena hanya dikerjakan oleh sebagian
dari tenaga yang ada. Sebagian yang lain harus mengisi
brunjungbrunjung
dengan batu dan sebagian yang lain harus memecah batubatu
itu. Namun, kali ini Mahisa Agni sama sekali tidak melihat
sesuatu pada susukan itu. Tak ada selapis debu pun yang mengepul
ke udara. Tak ada satu titik pun yang bergerak-gerak disekitarnya.
Karena itu, dengan bimbang ia berkata, “Paman, apakah
penglihatanku yang salah? Aku tidak melihat sesuatu di susukan
yang sedang dikerjakan itu”.
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia
menjawab, “Aku pun tidak Agni”.
“Apakah seluruh tenaga dikerahkan oleh Ki Buyut ke bendungan
untuk meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang?”
“Satu kemungkinan Agni” desis pamannya.
“Semula aku menduga sebaliknya paman. Aku sangka justru
semua tenaga hari ini dikerahkan untuk menggali susukan karena
aku tidak ada”.
Empu Gandring berpaling. Dipandanginya wajah kemanakannya
itu dengan sorot mata yang ragu pula. Namun, ia berkata, “Kalau
ada seseorang yang dapat melakukan Agni, maka kau seharusnya
menjadi bergembira, sebab tidak semua pekerjaan dibebankan
dipundakmu”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak
tahu kenapa ia tidak menaruh kepercayaan kepada orang lain. Ia
tahu benar, bahwa orang-orang Panawijen bukan pekerja-pekerja
yang baik. Itulah sebabnya ia ingin menunggui setiap kerja yang
dianggapnya penting.
Namun, pamannya berkata lagi, “Agni, kalau tidak kau ajari
mereka melakukan sesuatu, maka semuanya pasti akan tergantung
kepadamu. Mereka tidak punya keberanian dan kecakapan untuk
berbuat. Mereka akan menjadi tenaga yang mati, yang tidak punya
gairah yang timbul dari dalam dirinya tentang sesuatu yang baru.
Mereka hanya akan menunggu perintahmu”.
Sekali lagi Mahisa Agni menganggnk-anggukkan kepalanya.
Memang, alangkah baiknya apabila demikian. Apabila ada seorang
atau dua orang yang dapat diluntunnya untuk membantunya. Yang
dapat berbuat agak banyak hanya Ki Buyut yang sudah agak lanjut
itu. Yang lain, masih perlu dicarinya diantara anak-anak muda
Panawijen itu. Namun, Mahisa Agni telah menjadi agak puas bahwa
rakjat Panawijen itu telah dapat dibawanya untuk melakukan
pekerjaan yang cukup besar.
Tetapi, tiba-tiba dada Mahisa Agni terguncang ketika kemudian ia
menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Ia tidak melihat
seseorang di sekitar ujung susukan yang sedang dikerjakan, tetapi
ia melihat orang-orang Panawijen itu berada di sekitar perkemahan.
Mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada pula yang berbaringbaring
dengan malasnya.
Sejenak Mahisa Agni menjadi bingung. Apakah mereka sedang
beristirahat? Menurut kebiasaan, maka waktu istirahat ditengah hari
telah lampau. Apakah yang terjadi?’
Kemudian perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdesis, “Mereka
sama sekali tidak berbuat sesuatu paman?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya
meskipun ia sendiri tahu bahwa jawaban itu tidak benar, “Mereka
sedang beristirahat”.
“Waktu beristirahat telali lampau”.
Empu Gandring terdiam.
Tiba-tiba Mahisa Agni tidak sabar lagi. Dilecutnya kudanya yang
lelah supaya ia segera sampai ke perkemahan itu. Betapa pun juga
kudanya berlari agak lebih cepat, tetapi nafas kuda itu telah
menjadi
semakin deras.
Empu Gandring segera mengikuti dibelakangnya. Kudanya pun
telah menjadi lelah pula, sehingga dengan malasnya kuda itu berlari
tersuruk-suruk.
Ketika orang-orang Panawijen melihat kedatangan Mahisa Agni,
tiba-tiba sejenak mereka menjadi ribut. Beberapa orang yang
berbaring segera bangkit, namun mereka tidak beranjak dari tempat
masing-masing. Sejenak mereka saling berpandangan, namun
kemudian mereka menunggu Mahisa Agni itu semakin dekat.
Demikian Mahisa Agni sampai di perkemahan itu, maka sebelum
ia meloncat turun dari kudanya, yang terdengar adalah
pertanyaannya, “Kenapa kalian tidak bekerja?”
Kembali orang-orang Panawijen itu saling berpandangan.
Tampaklah kecemasan di wajah mereka. Tetapi, tidak seorang pun
yang segera menjawab, sehingga Mahisa Agni mengulangi lagi,
“Kenapa kalian tidak bekerja apa pun hari ini?”
Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut agak jauh daripada
Mahisa Agni, “Kami ingin beristirahat”.
“Apakah waktu istirahat belum lampau?” bertanya Agni pula.
“Kami ingin beristirahat tidak hanya pada saat tengah hari.
Tetapi, kami ingin beristirahat beberapa bari. Kami sudah menjadi
sangat lelah dan lemah”.
Terasa darah Mahisa Agni seakan-akan membeku. Jawaban itu
benar-benar tidak disangkanya. Karena itu, maka sejenak mulutnya
terbungkam oleh gelora di dadanya.
Empu Gandring yang kini telah berada disisinya menggamitnya
sambil berbisik, “Turunlah Mahisa Agni”.
Mahisa Agni berpaling. Ketika Empu Gandring melihat wajah anak
muda itu membara, maka katanya, “Tenanglah Agni”.
“Tetapi, pekerjaan tidak akan selesai dengan duduk-duduk dan
berbaring-baring malas, paman” sahut Mahisa Agni.
“Aku tahu” jawab pamannya, “tetapi tenanglah. Turunkah dari
kudamu. Bukankah kau mau mendengar kata-kataku?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya
terguncang oleh keadaan itu. Tetapi, tatapan mata pamannya telah
memaksanya turun dari kudanya. Namun, terdengar ia berkata,
“Apakah artinya ini paman?”
“Aku tidak tahu Agni, tetapi di sini ada Ki Buyut Panawijen.
Sebaiknya kau minta keterangan kepadanya”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Cepat-cepat ia melangkah ke
gubug tempat Ki Buyut Panawijen sering beristirahat. Di sepanjang
langkahnya, hatinya tak habis bertanya, apakah sebabnya hal ini
terjadi? Sudah sering kali ia pergi meninggalkan pekerjaan ini
untuk
beberapa keperluan. Bahkan sampai dua tiga hari, seperti pada saat
ia pergi ke Tumapel. Namun, mereka yang ditinggalkannya bekerja
dengan penuh gairah seperti biasa. Tetapi, kenapa kali ini mereka
ingin beristirahat? Bahkan berapa hari?
Langkah Mahisa Agni demikian tergesa-gesa sehingga ia tidak
sempat memperhatikan orang-orang yang memandanginya dengan
pandangan yang aneh. Orang-orang Panawijen itu menjadi cemas
melihat sikap Mahisa Agni.
Ki Buyut Panawijen yang melihat kehadirannya pun dengan
tergesa-gesa menyongsongnya. Sebelum Mahisa Agni mendekat,
orang tua itu telah bertanya hampir berteriak, “Kau sudah datang
Ngger?”
Tetapi, Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan
keras pula ia bertanya, “Kenapa hari ini kita tidak berbuat sesuatu
Ki
Buyut?”
Wajah Ki Buyut pun menjadi tegang. Dengan terbata-bata ia
menjawab, “Ya, ya Ngger. Tetapi, marilah silahkan duduk dahulu”.
“Aku ingin berbuat sesuatu untuk mempercepat pekerjaan ini Ki
Buyut, bukan dengan duduk-duduk dan berbaring”.
“Ya, ya Ngger, aku tahu. Tetapi, marilah duduk dahulu”.
“Terima kasih” sahut Agni, “aku ingin tahu, kenapa kita tidak
bekerja hari ini?”
“Itulah yang akan aku katakan”.
Mahisa Agni masih akan berteriak lagi ketika terasa tangan
pamannya menggamitnya. Terdengar pamannya itu berkata,
“Mendekatlah Agni. Jangan berteriak-teriak. Ki Buyut ingin
menjelaskan persoalannya”.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah
berada dekat dimuka gubug Ki Buyut Panawijen.
“Duduklah Ngger”.
Mahisa Agni akan menjawab lain, tetapi terdengar pamannya
mendahului, “Baik Ki Buyut. Duduklah Agni”.
Kata-kata pamannya lah yang memaksanya duduk di dalam
gubug itu. Demikian mereka diteduhi oleh atap ilalang, maka terasa
tubuh-tubuh mereka menjadi segar setelah hampir sehari mereka
dibakar oleh terik sinar matahari. Kini mereka dapat merasakan
angin yang silir berhembus dari Selatan. Meskipun ketika mereka
menatap padang yang terhampar dihadapan gubug itu, mereka
masih juga melihat seakan-akan padang itu menguap.
Dengan tidak sabar lagi Agni pun segera bertanya, “Ki Bujut,
kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu? Waktu kita tidak
terlampau banyak”.
Ki Buyut tidak segera menjawab. Ia berkisar secangkang maju.
Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan sorot mata yang
memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Apalagi ketika
dilihatnya wajah Mahisa Agni yang tegang itu.
Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Kembali ia
mendesak, “Kenapa Ki Buyut?”
Ki Buyut Panawijen menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar
bahwa Mahisa Agni menjadi sangat terkejut melihat mereka dudukduduk
saja dan bahkan ada yang berbaring-baring dengan
malasnya.
Dengan hati-hati Ki Buyut itu pun berkata, “Akan aku katakan
sebabnya Ngger. Tetapi, apakah angger berdua dengan Empu
Gandring tidak terlalu haus dan ingin minum air kendi yang dingin
ini?”
“Aku ingin tahu kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu Ki
Buyut, sebab …” Agni tidak dapat meneruskan kata-katanya.
Terdengar Empu Gandring memotong sambil beringsut meraih kendi
berisi air dingin. Katanya, “Agni. Minumlah. Aku pun haus sekali.
Air
yang dingin ini akan mendinginkan hati dan kepala. Dengan
demikian kau akan dapat mendengar ceritera Ki Buyut dengan
tenang. Sebelum hatimu menjadi dingin Agni, maka kau tidak akan
dapat berpikir bening. Nah, minumlah. Aku juga akan minum”.
Empu Gandring segera mengangkatnya dan minum lewat paruh
gendi itu. Alangkah segarnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam
diserahkanya kendi itu kepada Mahisa Agni. Katanya, “Minumlah.
Dalam keadaan kita sekarang ini, maka adalah kenikmatan yang
tiada taranya. Minum air dingin”.
Mahisa Agni tidak dapat menolak uluran tangan pamannya.
Kembali ia berbuat diluar kehendaknya. Seperti seorang yang
kehilangan kesadaran diri. Diterimanya kendi itu, dan diangkatnya
pula kemulutnya. Seperti pamannya ia pun minum air yang dingin
segar itu.
Kesegaran air kendi itu seolah-olah telah menjalar kesegenap
saluran darah Mahisa Agni. Ketika ia meletakkan kendi itu, terasa
seluruh tubuhnya menjadi segar. Dan kepalanya pun tidak lagi
dikerumuni oleh gejolak perasaan yang melonjak-lonjak. Meskipun
ia tetap berkeinginan untuk segera mengetahui sebab-sebab kenapa
orang-orang Panawijen itu tidak bekerja hari ini, namun kini ia
dapat
menahan dirinya oleh kesegaran yang sejuk.
“Nah” berkata pamannya, “kalau kau sudah tidak haus lagi,
sekarang bertanyalah kepada Ki Buyut. Tetapi, kau pun wajib
mendengarkan keterangan dan alasannya”.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kini ia berkata perlahanlahan,
“Ya Ki Buyut. Aku ingin tahu kenapa hari ini kita tidak
meneruskan pekerjaan kita?”
Ki Buyutlah kini yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian katanya, “Pertama-tama aku minta maaf kepadamu
Ngger. Hal ini pasti membuatmu kecewa Tetapi, aku tidak dapat
berbuat lain daripada menuruti kehendak mereka. Beristirahat.
Hanya itu. Tidak ada maksud apapun. Meskipun ada pula alasan
yang berbeda-beda, namun kesimpulan mereka, mereka ingin
menghentikan kerja barang sehari dua hari”.
“Bagaimana mungkin Ki Buyut” bantah Mahisa Agni, “Kita pasti
akan kehabisan waktu. Justru kita harus bekerja lebih banyak. Kalau
mungkin siang dan malam, supaya pekerjaan ini segera selesai”.
“Agni” potong pamannya, “cobalah kau mendengarkan alasalasan
yang dikatakan oleh Ki Buyut. Alasan yang meskipun
berbeda-beda, tetapi kesimpulannya adalah, mereka ingin
beristirahat. Cobalah mendengarkan. Kalau kau saja yang berbicara,
maka kau tidak akan mengerti”.
Mahisa Agni pun terdiam. Dan Ki Buyut itu berkata, “Alasan
mereka bermacam-macam Ngger. Ada yang hanya karena lelah.
Lelah dan tidak lagi mampu untuk bekerja terus. Ada yang menjadi
sakit pegal dan linu-linu pada punggung mereka. Mereka perlu
beristirahat supaya sakitnya menjadi sembuh. Ada pula yang
kakinya menjadi bengkak. Sedang yang lain ingin menunggui anak
yang sakit itu. Pagi ini ia mengigau tak henti-hentinya. Tubuhnya
menjadi sangat panas, dan kemudian ia menggigil kedinginan” Ki
Buyut itu berhenti sesaat. Ketika Mahisa Agni akan memotong
katakatanya
Empu Gandring menggamitnya sehingga kembali Mahisa
Agni terdiam. Sejenak kemudian Ki Buyut itu berkata lagi,
“Sebenarnya pagi-pagi tadi, ketika matahari terbit, kami sudah siap
untuk bekerja. Tetapi, kami dikejutkan oleh igauan anak yang sakit
itu. Beberapa orang segera mengerumuninya. Ketika satu di antara
mereka berkata, Aku tidak bekerja hari ini. Aku akan menunggui
anak ini, maka tiba-tiba seperti meledak kata-kata itu disahut
berturut-turut oleh kebanyakan dari mereka yang mengerumuni
anak itu. Aku juga tidak. Kakiku sakit, bengkak-bengkak, yang lain
lagi, punggungku akan patah, dan yang lain, kepalaku hampir pecah
kepanasan”.
“Itulah Ngger. Aku tidak dapat memaksa mereka” kembali Ki
Buyut berhenti sejenak, ia menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian
terpaksa ia berkata, “Angger Mahisa Agni, sebenarnya telah agak
lama aku mendengar keluh kesah ini. Keluh kesah yang kemudian
meledak menjadi alasan-alasan yang menyebabkan kami hari ini
tidak bekerja. Tetapi, aku harap Angger dapat mengerti”.
Wajah Mahisa Agni kembali menjadi merah membara. Alangkah
kecewa hatinya. Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini
sama sekali tidak dihargai oleh orang-orang Panawijen itu. Bahkan
mereka telah berusaha untuk memperlambat. Karena itu, maka
dengan serta-merta ia menyahut, “Jadi apakah kemauan mereka?
Apakah kita hentikan saja pekerjaan ini?”
“Agni” berkata pamannya perlahan-lahan. Orang tua itu tahu
benar, betapa sakit hati Mahisa Agni mendengar keadaan yang ada
diperkemahan ini. Keadan yang sama sekali tidak diduga-duganya.
Tetapi, orang tua itu pun dapat mengerti, kenapa orang-orang
Panawijen ingin berhenti bekerja barang sehari dua hari. Maka
katanya seterusnya, “Berpikirlah dengan kepala dingin. Cobalah kau
cernakan dahulu apa yang kau dengar, baru kau membuat
tanggapan. Jangan tergesa-gesa mengambil sikap Agni”.
Kini wajah Mahisa Agni yang merah itu menjadi semakin tegang.
Terasa dadanya bergelora seperti gunung yang akan meletus.
Namun, sorot mata pamannya telah menahannya untuk tidak
melepaskan luapan perasaannya. Karena itu maka kepala Mahisa
Agni itu justru menjadi pening.
“Agni” berkata pamannya sareh, “kau harus melihat keadaan ini
secara keseluruhan. Jangan kau melihat sepotong-sepotong dari
padanya. Maka kau akan dapat mengurangi kepahitan yang harus
kau hadapi kini”.
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi, pamannya
mengetahuinya bahwa anak muda itu mengatupkan giginya rapatrapat.
Ia masih berusaha untuk menguasai perasaannya.
, “Kau harus dapat mencoba mengerti apa yang dikatakan oleh Ki
Buyut Panawijen” berkata pamannya pula.
“Tetapi paman” betapapun Mahisa Agni mencoba menahan diri
namun terloncat pula dari bibirnya, “keadaan ini tidak boleh
dibiarkan terus. Memang lebih senang duduk-duduk dan
berbaringbaring
daripada bekerja dipanas terik matahari. Tetapi, apa yang
kita dapatkan dengan duduk memeluk lutut?”
“Kau benar Agni. Kau benar. Tetapi, bagaimana kau
menyampaikan hal itulah yang sulit bagimu”.
Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dilihatnya di
sekeliling gubug itu banyak orang-orang Panawijen yang berkumpul.
Agaknya mereka ingin tahu, apakah yang akan dikatakan oleh
Mahisa Agni. Namun, sebagian yang lain malah pergi menjauh.
Mereka duduk berkelompok-kelompok di ujung-ujung perkemahan.
Di ujung yang paling jauh dari gubug Ki Buyut Panawijen supaya
seandainya Mahisa Agni marah, mereka tidak mendapatkan
kemarahan itu yang pertama-tama. Sebab bagaimana pun juga,
tersembunyi pula rasa takutnya kepada anak muda itu. Sebagian
dari setiap laki-laki Panawijen telah mengetahui bahwa Mahisa Agni
mampu berbuat di luar kemampuan mereka. Mereka telah
mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berkelahi dan
memenangkan perkelahian melawan Kuda Sempana.
“Aku akan mengatakan kepada mereka” nada suara Mahisa Agni
datar namun penuh tekanan.
“Apa yang akan kau sampaikan” bertanya pamannya.
“Mereka harus bekerja”.
“Lihat Agni. Matahari telah menjadi semakin condong. Kalau kau
menyiapkan mereka untuk bekerja, maka kau tidak akan
mendapatkan apa-apa. Demikian mereka siap, demikian matahari
tenggelam”.
Mahisa Agni terdiam. Tetapi, wajahnya masih tetap tegang.
“Meskipun tidak hari ini” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok
misalnya, tetapi mereka harus tahu bahwa mereka telah berbuat
suatu kesalahan. Kesalahan yang besar sekali. Musim hujan yang
akan datang tidak mengenal istirahat. Apapun alasan kita disini,
tetapi musim itu akan datang pada waktunya”.
“Apa yang akan dilakukan?”
Sebelum menjawab, Mahisa Agni telah meloncat berdiri. Tetapi,
ketika ia mengayunkan kakinya selangkah, terdengar pamannya
berkala pula, “Apa yang akan kau lakukan Agni?”
“Aku akan berkata kepada mereka, bahwa apa yang mereka
lakukan sama sekali tidak dapat dibenarkan”.
“Tunggulah”.
“Aku akan berkata kepada mereka sekarang”.
“Tunggulah”.
“Apa yang harus aku tunggu paman. Kini adalah saatnya.
Mereka harus segera menyadari kemalasan mereka”.
“Duduklah Agni”.
“Tak ada waktu. Aku bukan pemalas yang lebih senang duduk
dari pada bekerja”.
“Duduklah Agni. Duduklah”.
Ketika Agni akan menjawab, sekali lagi pamannya memotong,
“Duduklah. Kau dengar?”
Mulut Agni terdiam. Meskipun dadanya menjadi sesak, namun
iapun melangkah kembali dan duduk di hadapan pamannya. Ki
Buyut Panawijen kini seolah-olah menjadi patung. Hatinya menjadi
kusut dan bingung. Bahkan terasa pula kecemasan mencengkam
jantungnya.
Jilid 22
EMPU Gandring pun tidak segera berkata sesuatu. Dibiarkannya
Mahisa Agni duduk dengan nafas yang berkejar-kejaran dari lubang
hidungnya. Ditatapnya wajah pamannya dengan penuh pertanyaan
yang bergelut di dalam dadanya, “Kenapa pamannya
menghalanginya untuk berbuat sesuatu?”
Sejenak kemudian baru Empu Gandring berkata, “Kau akan
mengumpat-umpat di hadapan mereka Agni?” Agni tdak menjawab.
“Kalau kau berbicara sekarang, sedang hatimu masih dibakar
oleh kemarahan dan kekecewaan, maka kalimat yang akan
meloncat dari mulutmu adalah kalimat-kalimat yang mencerminkan
kepahitan tanggapan perasaanmu atas peristiwa ini. Dengan
demikian maka kau sama sekali tidak akan mendapatkan apa-apa,
kecuali menyinggung perasaan kawan-kawan seperjuanganmu. Kau
sangka bahwa mereka dapat kau perlakukan seperti bajak dan
cangkul itu? Tidak Agni” Empu Gandring berhenti sejenak
Dipandanginya wajah kemanakannya yang kini tertunduk.
Sejenak kemudian diteruskannya, “Aku bangga melihat nafsu
kerjamu yang meluap-luap. Tenagamu cukup tangkas dan kuat
melawan terik matahari, melawan udara yang panas dan melawan
kerja yang berat. Tetapi tidak semua orang-orang Panawijen
memiliki ketahanan tubuh seperti kau. Kalau kau tidak percaya, ayo
berlomba lari dengan aku. Meskipun aku sudah setua ini. Tetapi
dengan janji, kau tidak boleh berhenti? Kau tahu maksudku? Aku
hanya ingin mengatakan bahwa ketahanan tubuh seseorang tidak
selalu sama. Kau dan aku. Dan kau dengan orang-orang lain. Kalau
kau marah-marah kepada mereka hari ini, maka kau benar-benar
akan kehilangan hari ini. Mereka sudah pasti bahwa hari ini tidak
dapat dan sudah nyata, tidak berbuat apa-apa. Mereka hari ini tidak
bekerja. Tetapi kalau kau marah-marah, maka istirahat yang sudah
terlanjur dijalani ini akan tidak terasa nikmatnya” Empu Gandring
berhenti sejenak sambil menelan ludahnya.
Kepala Mahisa Agni yang tunduk menjadi semakin tunduk.
Dadanya yang bergejolak itupun sedikit demi sedikit mereda.
Pamannya telah memaksanya untuk mencoba mengerti keadaan
yang dihadapinya kini.
Dalam pada itu pamannya berkata pula, “Agni. Manfaatkanlah
keadaan ini. Hari ini adalah hari yang menyenangkan. Jangan kau
biarkan hari ini menjadi hari yang benar-benar tidak berarti.
Karena
itu, senangkanlah hati mereka dengan istirahat ini, supaya terasa
benar nikmatnya. Besok mereka pasti akan dengan senang hati
bekerja kembali. Tetapi kalau hari ini kau jadikan hari yang gelap,
maka besok mereka akan mengangkat alat-alat mereka dengan hati
yang gelap pula”.
Kini Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Hari ini
memang sudah terjadi dan hampir dilampaui. Ia tidak akan dapat
memutar matahari untuk kembali kearah Timur. Karena itu, mau
tidak mau ia harus menerimanya sebagai kenyataan, apa yang telah
terjadi. Dan sebenarnyalah kata pamannya, bahwa ia harus
memanfaatkan yang ada untuk kepentingan hari-hari mendatang.
Terdengar kemudian pamannya bertanya, “Kau tahu maksudku
Agni?”
“Ya paman” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ki Buyut Panawijen yang sejak tadi duduk mematung, tiba-tiba
menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia berdesah, “Hem.
Demikianlah Ngger. Hatiku yang tinggal semenir dapat menjadi
tegar kembali”.
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ki Buyut sudah berbuat
sebaik-baiknya yang mungkin dapat Ki Buyut lakukan”.
Orang tua itu mengangguk-angguk, jawabnya, “Ya, ya Empu.
Aku sudah mencoba apa saja yang dapat aku lakukan”.
“Tetapi, kemampuanku memang terlampau jauh ketinggalan”.
“Tidak Ki Buyut. Siapa pun yang menghadapi persoalan ini, tidak
akan dapat mengambil sikap yang lebih baik dari pada yang telah Ki
Buyut lakukan”.
Kembali orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekalikali
tangannya mengusap dadanya sambil bergumam, “O, rasarasanya
dada ini hampir pecah”.
Empu Gandring tertawa perlahan-lahan. Mahisa Agni masih
menundukkan kepalanya. Tetapi dengan demikian ia dapat mengerti
pula, betapa berat perasaan orang tua itu menghadapi orangorangnya.
“Nah Agni” berkata Empu Gandring kemudian, “sekarang
ambillah obat yang kau bawa itu. Obat itu harus dilumatkan, dan
kemudian air perahannyalah yang harus diminum sebagai obat”.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Pamannya benar. Adalah
lebih baik berbuat sesuatu yang dapat menyenangkan hati orangorang
Panawijen dari pada mengumpati mereka itu. Karena itu
maka Mahisa Agni pun menjawab, “Baik paman. Aku akan mencoba
mengobatinya”.
Ketika Mahisa Agni kemudian berdiri dan melangkah
meninggalkan pamannya dan Ki Buyut, sekali lagi pamannya
berpesan, “Jangan membuat hati orang-orang Panawijen
tersinggung. Tetapi usahakan mengatakan dengan baik, bahwa
tidak seharusnya mereka bermalas-malas”.
Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya paman. Akan aku
usahakan”.
Anak muda itu pun kemudian melangkah meninggalkan gubug
itu. Ketika ia sampai di luar, maka sikapnya pun menjadi canggung.
Perasaannya sama sekali tidak senang melihat orang-orang
Panawijen duduk-duduk bermalas-malasan. Tetapi ia tidak dapat
melepaskan perasaannya itu. Pikirannya membenarkan pendapat
pamannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni harus
mengekang sikapnya sejauh-jauh dapat dilakukan.
Orang-orang yang berada di sekitar gubug Ki Buyut itupun
menjadi berdebar-debar ketika mereka melibat Mahisa Agni keluar
seorang diri. Bermacam-macam tanggapan merayap di dalam dada
masing-masing.
Tetapi mereka menjadi heran ketika mereka melihat Mahisa Agni
itu tersenyum kepada mereka sambil berkata, “Apakah kalian sudah
tidak lelah lagi?”
Sejenak mereka menjadi bingung. Senyum Mahisa Agni memang
terasa agak hambar. Tetapi mereka tidak menyangka bahwa Mahisa
Agni tidak menjadi kecewa melihat keadaan itu.
“Siapakah yang kakinya menjadi bengkak?” bertanya Mahisa Agni
sekenanya.
Orang-orang itupun menjadi saling berpandangan. Tetapi belum
ada seorang pun yang menjawab.
, “Siapa?” desak Mahisa Agni, “aku dengar ada diantara kalian
yang kaki-kakinya menjadi bengkak karena pekerjaan yang
terlampau berat ini. Ada yang punggungnya hampir patah. Nah, aku
ingin tahu, siapa yang telah menderita itu”.
Orang-orang itupun menjadi ragu-ragu. Apakah Mahisa Agni itu
benar-benar bertanya tentang kaki yang bengkak dan punggung
yang sakit, atau sekedar merupakan pendahuluan untuk
menumpahkan kemarahannya.
Dalam keragu-raguan itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalau
demikian, memang sebaiknya kalian beristirahat hari ini. Matahari
sebentar lagi akan turun ke cakrawala. Nikmatilah hari istirahat
ini
sebaik-baiknya supaya besok kita dapat mulai lagi dengan tenaga
baru”. Mahisa Agni berhenti sejenak, tetapi ia bertanya kembali,
“Tetapi siapakah yang menjadi sakit?”
Tiba-tiba terdengar jawaban penuh keragu-raguan, “Aku Agni.
Kakiku menjadi bengkak”.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir di
dalam dadanya. Sejenak kemudian ia melangkah mendekati orang
itu sambil berkata, “Lihat. Kenapa kakimu menjadi bengkak?”
Orang itu menjulurkan kakinya dan memperlihatkan bagian yang
bengkak.
Mahisa Agni terkejut melihat kaki yang bengkak itu. Ia sama
sekali tidak menyangka, bahwa satu di antara kawan-kawannya
menderita sakit semacam itu. Karena itu maka dengan serta-merta
ia bertanya, “Kenapa kakimu bengkak?”
Orang itu menjawab, “Kakiku tertimpa pecahan batu, Agni”.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera
berkata apapun.
Diamatinya kaki yang bengkak itu seperti melihat sesuatu yang
ganjil baginya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan
kepalanya ketika dilihatnya sebuah luka hampir pada mata kakinya.
“Apakah luka itu sakit?” bertanya Mahisa Agni.
Orang itu memandang Mahisa Agni dengan sorot mata yang
aneh. Ia tidak segera dapat menjawab karena keheranannya atas
pertanyaan itu. Sehingga Mahisa Agni mendesaknya, “Sakit?”
“Tentu Agni” jawab orang itu kemudian, “kalau tidak sakit maka
aku tidak akan menyeringai sepanjang hari”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwaperistiwa
semacam ini berada di luar perhitungannya. Disangkanya
bahwa setiap orang akan mampu bekerja seperti dirinya, dan
memiliki ketahanan tubuh seperti dirinya pula.
Dalam pada itu teringatlah ia akan pesan pamannya. Maka
dengan ramahnya ia berkata, “Baiklah. Beristirahatlah hari ini.
Pergunakanlah hari ini sebaik-baiknya untuk menenangkan diri,
besok kita akan mulai kembali”.
Mahisa Agnipun kemudian melangkah pergi. Tetapi ia tidak
sempat melihat wajah orang itu. Wajah orang yang kakinya bengkak
karena lukanya yang rnenjadi semakin parah.
Ketika Mahisa Agni sudah berjalan beberapa langkah dari
padanya terdengar ia bergumam, “Bagaimana mungkin aku harus
bekerja besok. Apakah kakiku malam nanti sudah akan sembuh?”
Beberapa kawan-kawannya mernandanginya dengan iba. Tetapi
sebagian dari mereka menjadi berlega hati. Ternyata Mahisa Agni
tidak menjadi marah seperti yang mereka sangka. Meskipun
seandainya demikian, mereka sudah terlanjur tidak bekerja hari ini.
Dan hari ini kini sudah hampir sampai ke ujungnya.
Mahisa Agni berjalan dengan berbagai angan-angan di
kepalanya. Apa yang dilihatnya telah meninggalkan bermacammacam
kecemasan. Beberapa orang yang sakit pasti akan benarbenar
menghambat pekerjaan itu. Orang-orang yang lain, yang
sekedar karena malas, akan dapat berpura-pura sakit pada
punggungnya atau pada tulang rusuknya atau sakit perutnya.
Semakin banyak orang yang sakit dan berpura-pura sakit, maka
pekerjaannya akan menjadi semakin lama. Musim hujan sama sekali
tidak dapat diajaknya berbicara tentang orang-orang yang sakit dan
berpura-pura sakit.
Langkah Mahisa Agni terhenti diantara beberapa anak-anak muda
yang duduk di bawah sebuah gubug. Ketika mereka melihat Mahisa
Agni berhenti di depan gubug itu, maka anak-anak muda itu pun
menundukkan kepalanya. Dada mereka pun menjadi berdebardebar.
Meskipun mereka dengan sengaja tidak bekerja hari ini,
tetapi ketika mereka melihat Mahisa Agni berada dihadapan hidung
mereka, maka jantung mereka pun menjadi semakin cepat
berdenyut.
Ketika Mahisa Agni melihat anak-anak muda yang sehat-sehat
itu, hatinya menjadi agak tenang. Anak-anak muda inilah yang
harus membantunya sepenuh tenaga untuk membangun bendungan
itu. Namun ketika dilihatnya anak-anak muda itu duduk
bermalasmalasan,
maka hatinya pun menjadi kecewa. Sebenarnya mereka
hari ini tidak perlu beristirahat seperti orang-orang yang sudah
berumur agak lanjut. Biarlah orang-orang tua dan mereka yang sakit
beristirahat. Tetapi anak-anak muda ini seharusnya mempergunakan
setiap waktu dengan sebaik-baiknya. Bahkan apabila ada diantara
kawan-kawannya yang terpaksa tidak dapat bekerja, maka mereka
yang sehat-sehat itu harus melipat-gandakan kerja yang mungkin
dilakukan.
Sejenak Mahisa Agni berdiri saja mematung di luar gubug itu.
Sedang anak-anak muda yang duduk di dalam pun tidak
menegurnya, sehingga sejenak mereka saling berdiam diri?
Meskipun mereka setiap hari bertemu, kekerja bersama-sama dan
kadang-kadang bergurau pula, namun kali ini seolah-olah mereka
merupakan kawan yang baru saja dikenalnya. Masing-masing
menjadi canggung dan tidak segera menemukan kata-kata pertama
untuk saling berbicara.
Yang mula-mula mencoba menegur adalah Mahisa Agni,
sekenanya ia bertanya, “Apakah yang kalian kerjakan?”
Pertanyaan itu tidak segera terjawab. Beberapa anak-anak muda
saling berpandangan. Namun kemudian kembali mereka
menundukkan kepala mereka.
“Baru apakah kalian kini?” bertanya Mahisa Agni kembali.
Sejenak kemudian terdengar jawab perlahan-lahan, “Kami
sedang beristirahat, Agni”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sinar matahari
yang semakin condong masih juga memanasi kulitnya yang
berwarna tembaga oleh keringat yang membasahinya.
Tampaklah keningnya berkerut mendengar jawaban itu. Dengan
serta-merta pula ia bertanya, “Apakah kalian sakit?”
Kembali anak-anak muda di dalam gubug itu menjadi bingung.
Kembali mereka saling berpandangan. Namun tak seorang pun yang
dapat menjawab pertanyaan itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa
memperbaiki pertanyaannya, “Apakah ada diantara kalian yang
sakit?”
Mahisa Agni melihat beberapa diantara mereka menggelengkan
kepalanya dan terdengar jawaban lirih, “Tidak Agni. Kami tidak
sakit. Tetapi ada diantara kami yang sakit. Tubuhnya menjadi panas
tetapi ia menggigil seperti orang kedinginan”.
“Bitung yang kau maksud?”
“Ya”.
“Aku sudah mengambil obat untuknya. Bitung memang sakit,
tetapi bukankah kalian tidak sakit?”
Kembali Mahisa Agni melihat beberapa diantara mereka
menggeleng.
“Mereka tidak sakit” berkata Mahisa Agni didalam hatinya,
“mereka hanya malas saja”.
Tetapi ditahannya hatinya. Diingatnya kata-kata pamannya.
Biarlah mereka menikmati istirahat yang sudah terlanjur
dilakukannya.
“Baiklah” berkata Mahisa Agni kemudian, “beristirahatlah. Besok
kita bekerja kembali”.
Mahisa Agni itu pun segera melangkah pergi. Kini ia akan
mengambil obat yang masih terikat di kudanya. Ia ingin segera
memberikannya kepada Bitung, supaya sakitnya segera menjadi
berkurang.
Tetapi betapapun Mahisa Agni berusaha, namun perasaannya
masih juga bergolak melihat orang-orang Panawijen duduk dengan
malasnya. Meskipun apabila Mahisa Agni lewat disamping mereka,
tampak juga mereka menjadi seakan-akan malu. Tetapi Mahisa Agni
selalu ingat akan kata-kata pamannya. Karena itu, ia sama sekali
berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Bahkan setiap kali ia melewati kelompok-kelompok orang-orang
Panawiijen, anak muda itu selalu mencoba tersenyum dan berkata,
“Mudah-mudahan kalian, puas dengan istirahat ini.” Namun tidak
lupa ia selalu mengatakan, “Besok kita segera mulai kembali.
Mudah-mudahan pula kita mendapatkan tenaga baru”.
Apabila Mahisa Agni telah lampau, maka mereka pun saling
berpandangan. Tetapi tanggapan mereka atas sikap Mahisa Agni itu
pun berbeda-beda. Mereka yang masih mempunyai tanggung jawab
atas pekerjaan itu berkata di dalam hatinya, “Ya, besok aku akan
bekerja lebih baik setelah hari ini aku beristirahat”.
Tetapi yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Mahisa Agni
adalah mereka yang memang tidak mempunyai nafsu untuk
berjuang. Mereka yang acuh tak acuh menghadapi masa-masa yang
akan datang. Ketika mereka melihat sikap Mahisa Agni yang lunak
itu, mereka berkata di dalam hati, “Nah, lihat. Mahisa Agni tidak
berani berbuat apa-apa. Kenapa kita terlampau bodoh pada masamasa
yang lewat. Bekerja terlampau banyak sehingga tubuh kita
hampir remuk karenanya. Di saat-saat yang akan datang, ia pasti
akan berdiam diri pula apabila kita memaksa beristirahat seperti
hari
ini”.
Alangkah sayangnya, bahwa justru pikiran yang demikian itulah
yang lebih banyak menguasai orang-orang Panawijen yang sebagian
dari mereka sudah menjadi jemu menghadapi pekerjaan yang berat
itu.
Mahisa Agni tidak dapat membedakan wajah-wajah mereka yang
menyimpan perasaan yang berbeda-beda itu. Karena itu ia berjalan
terus ke tambatan kudanya. Diambilnya obat yang dibawanya dari
Panawijen dan dimintanya kemudian petunjuk dari pamannya.
Bagaimana ia harus membuatnya.
Dengan petunjuk pamannya Mahisa Agni menumbuk bagianbagian
dari pohon kates itu sendiri dengan tangannya, kemudian
memerasnya ke dalam mangkuk dan membawanya kepada Bitung
bersama dengan Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen.
Bitung berbaring di atas anyaman ilalang. Dikerudunginya
tubuhnya dengan selimut kain berlapis-lapis. Beberapa orang
kawan-kawannya meminjaminya kain kepadanya. Tetapi ia masih
juga menggigil kedinginan. Sekali-kali terdengar mulutnya berdesah
menahan perasaaan dingin panas dan nyeri-nyeri di sendi-sendi
tulangnya.
Ketika tangannya yang gemetar menerima semangkuk cairan
yang kehijau-hijauan, maka anak itu mengerutkan keningnya.
“Minumlah” berkata Ki Buyut.
“Kalau kau tidak mau meminumnya, maka sakitmu tidak akan
berkurang, “ berkata Empu Gandring.
Bitung pun kemudian terpaksa minum obat itu. Ketika ia hampir
muntah karena obat yang pahit itu, Mahisa Agni berkata, “Bitung,
aku ambil obat itu dengan taruhan yang mahal sekali. Aku hampir
mati dipenggal leherku oleh iblis yang belum pernah aku kenal.
Untunglah paman melindungi aku. Karena itu jangan kau
muntahkan obat itu, supaya aku tidak perlu lagi pergi ke Panawijen.
Meskipun aku tidak hanya membawa untuk satu kali pengobatan,
namun setiap teguk obat itu akan berarti bagimu”.
Bitung menahan mulutnya dengan kedua belah tangannya.
Namun ia berhasil untuk menelannya betapapun pahitnya.
Dalam pada itu, matahari kini sudah menjadi semakin rendah.
Setiap saat matahari itu bergeser turun. Sehingga akhirnya,
matahari itu pun tenggelam di balik bukit di ujung Barat.
Mahisa Agni merasa, betapa lambatnya waktu merayap. Ia
hampir-hampir tidak sabar menunggu malam itu berjalan. Terasa
seakan-akan waktu terhenti., “Waktu pun menjadi sangat malasnya
berjalan” gumamnya.
Anak muda itu ingin matahari segera terbit. Ia ingin segera
berada kembali di bawah teriknya sambil bekerja memeras segenap
tenaga. Meskipun debu yang kotor melekat di kulitnya yang basah
karena keringat, meskipun tubuhnya menjadi merah-merah hangus
oleh sinar matahari, tetapi ia merasa mendapatkan kepuasan. Ia
merasa bahagia berada di tengah-tengah derunya kerja yang berat
itu. Sebab anak muda itu berkeyakinan, bahwa hanya dengan kerja,
maka hari depan mereka dan anak cucu menjadi baik.
Oleh karena itu, maka justru Mahisa Agni tidak dapat
memejamkan matanya. Hatinya menjadi risau dan gelisah. Sekalikali
terasa ia terlena sejenak, tetapi seperti dikejutkan oleh deru
guguran batu-batu di tebing, ia tersentak bangun.
Akhirnya Mahisa Agni itu bangkit dari pembaringannya, sehelai
tikar yang dibentangnya diatas tumpukan daun-daun ilalang.
Perlahan-lahan ia berjalan menyusuri gubug demi gubug. Ia masih
melihat beberapa perapian yang masih membara. Tetapi ia tidak
melihat seorang pun yang masih menunggui perapian itu.
Tetapi langkahnya kemudian tertegun ketika ia berjalan di
samping gubug Bitung. Ia mendengar anak itu merintih. Sekali-kali
terdengar suara kawannya menghibur. Tetapi agaknya sakit anak itu
belum juga susut.
Perlahan-lahan Mahisa Agni mendekat. Kemudian ia pun
menyusup kedalam gubug itu pula.
Kawan Bitung agak terkejut melihat kehadirannya. Tetapi
kemudian matanya menyala, Seakan-akan berkata kepadanya,
“Sakit Bitung adalah tanggung jawabmu, Agni”. Tetapi anak muda,
kawan Bitung tidak berkata sepatah katapun.
Mahisa Agni pun kemudian duduk disamping Bitung. Tangannya
mencoba meraba dahi anak muda itu. Tetapi ia menjadi terkejut.
Terasa dahi itu panas sekali.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tanpa disadarinya ia berkata,
“Obat itu baru saja diminumnya. Mudah-mudahan nanti akan
berpengaruh. Besok pagi-pagi aku buat obat untuknya sebelum kita
bekerja”.
“Apakah besok kita akan bekerja lagi?” bertanya kawan Bitung.
Pertanyaan itu telah mengguncang perasaan Mahisa Agni. Ia
sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi
pertanyaan seorang anak muda yang demikian. Meskipun ia dapat
meraba bahwa anak-anak muda lebih senang beristirahat, dudukduduk
dan berbaring sambil mengunyah makanan, namun bahwa
seseorang langsung mengucapkan pertanyaan itu adalah sangat
mengecewakan.
Tetapi Mahisa Agni segera berusaha menahan perasaannya
sendiri seperti pesan pamannya. Beruntunglah bahwa pamannya
telah memberinya pesan, sehingga setiap kali pesan-pesan itu dapat
mengekangnya.
Dengan menahan diri Mahisa Agni kemudian bertanya kepada
anak muda itu, “Jadi, bagaimana maksudmu?”
“Kita perlu beristirahat” jawab kawan Bitung itu.
“Bukankah hari ini kita sudah beristirahat”.
“Sehari tidak cukup untuk menghilangkan lelah”.
Mahisa Agni menarik nafas. Kekecewaanya menjadi kian
bertambah. Tetapi ia menjawab hati-hati, “Kita tidak boleh
terlampau lama beristirahat. Musim hujan tidak akan dapat
ditunda”.
“Tetapi kita tidak akan dapat bekerja terus-menerus. Bitung sakit
Aku harus menunggui. Meskipun seandainya kita besok bekerja
kembali, aku tidak akan dapat ikut serta. Kasihan apabila tak ada
yang mengawani anak yang sakit ini”.
“Besok aku carikan kawan buat Bitung. Biarlah orang-orang tua
atau orang yang lagi berhalangan bekerja, karena sakit kakinya,
misalnya. Dengan demikian kita tidak akan banyak kehilangan
tenaga”.
Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya tidak
mejakinkan bahwa ia dapat mengerti kata-kata Mahisa Agni.
Namun ketika anak muda itu tidak menyahut, Mahisa Agni pun
tidak berkata lagi.
Mereka kemudian terdorong dalam kesepian yang mencengkam.
Malam yang kelam menjadi semakin jauh merayap. Dikejauhan
terdengar korek bilalang yang sedang berlari-larian,
berloncatloncatan
di padang rumput.
Mereka berpaling ketika mereka mendengar Bitung merintih
perlahan-lahan. Tetapi anak itu kini telah tertidur. Tubuhnya tidak
lagi terlampau panas dan tidak lagi menggigil ke dinginan.
“Mudah-mudahan obat yang diminumnya itu akan berarti
baginya” gumam Mahisa Agni.
Tak ada jawaban.
“Tidurlah. Kau pasti lelah pula. Besok aku harap seseorang
merawat Bitung. Kita yang muda-muda wajib bekerja menyelesaikan
bendungan itu”. Masih tak ada jawaban.
Mahisa Agni pun kemudian bergeser sambil berkata, “Aku pun
akan beristirahat pula”.
Anak muda yang sedang menunggui Bitung itu mengangguk,
“Silahkan” jawabnya hambar, “aku akan tidur, selagi Bitung juga
sedang tidur”.
Mahisa Agni pun meninggalkan gubug itu. Kembali ia berjalan
menyusuri celah-celah gubug yang bertebaran. Ia terhenti ketika ia
mendengar seseorang merintih pula. Orang yang kakinya sedang
bengkak.
“Hem” Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Panjang
sekali.
Tetapi ia tidak singgah ke gubug itu. Ia berjalan terus dalam
kegelapan, menuju ke gubugnya sendiri.
Kembali anak muda itu berbaring di atas tikar yang di
bentangkan pada tumpukan jerami. Tetapi kembali angan-angannya
mengganggunya. Meskipun demikian, karena lelah, maka akhirnya
Mahisa Agni itu pun tertidur pula.
Gubug-gubug itu pun kini telah menjadi sepi. Hampir tak seorang
pun yang masih tinggal bangun kecuali satu dua yang selalu
diganggu oleh berbagai perasaan sakit. Tetapi mereka pun tidak
beranjak dari pembaringannya. Sekali-kali terdengar suara mereka
merintih di antara bunyi cengkerik dan bilalang yang
bersahutsahutan.
Tetapi Mahisa Agni pun tidak dapat tidur dengan nyenyak. Belum
juga ia dapat tenang. Sekali-kali ia terbangun. Gigitan nyamuk
benar-benar telah mengganggunya seperti perasaannya sendiri
yang selalu mengganggunya pula.
Menjelang fajar, maka Mahisa Agni tidak lagi dapat berbaring
diam, apalagi mencoba kembali tidur. Nalurinya yang selalu
membangunkannya, pagi itu agak terlampau cepat membawanya
bangkit dari pembaringannya. Ia menjadi kian jemu menahan
kesabarannya. Malam terasa terlampau panjang, sehingga seakanakan
waktunya telah dihabiskannya untuk menunggu pagi.
Ketika kemudian warna-warna merah membayang di ujung
Timur, Mahisa Agni telah berada di luar gubugnya. Pamannya pun
ternyata bangun pula. Segera mereka pergi ke sungai untuk
mencuci muka. Sebentar lagi, mereka harus menyiapkan alat-alat
mereka. Kerja akan dimulai lagi. Kali ini Mahisa Agni tidak akan
dapat menunda lagi rencananya, meletakkan dasar bendungan di
sisi-sisi seberang.
Tetapi terasa pagi ini agak asing bagi Mahisa Agni. Dilihatnya
beberapa orang dengan malasnya keluar dari gubug masing-masing.
Ada pula di antara mereka yang masih berselimut kain dan sebelum
berbuat sesuatu, mereka itu pun menguap dengan malasnya sambil
berjongkok di depan gubugnya.
Mahisa Agni menjadi gelisah. Tetapi kemudian dilihatnya Ki Buyut
Panawijen telah siap pula di luar gubugnya. Orang itu meskipun
usianya telah melampaui pertengahan abad, namun rasa tanggung
jawabnya telah mendorongnya untuk berbuat lebih banyak dari
orang-orang lain.
“Kita akan bekerja kembali Ki Buyut” berkata Mahisa Agni.
“Ya. Semuanya telah bangun”.
Mahisa Agni mengangguk. Dilihatnya kemudian Ki Buyut seakanakan
mengguncang perkemahan itu dengan suaranya. Di
bangunkannya mereka yang masih tidur. Dan bayangan kemerahan
di Timur pun menjadi semakin nyala.
Satu-satu orang-orang Panawijen pun meninggalkan gubug
masing-masing. Mereka yang tertidur di samping perapian-perapian
pun telah menggeliat pula sambil bardiri dengan malasnya.
Mahisa Agni memandangi mereka dengan dada yang berdebar.
Ia melihat sikap yang lain dari pada sikap mereka dua tiga hari
yang
lalu. Mata mereka tidak lagi memancarkan kegairahan bekerja dan
gerak mereka pun kini menjadi kemalas-malasan.
Ketika kemudian matahari menjenguk dari balik bukit dan
menebarkan sinarnya yang masih kemerah-merahan ke atas rumput
itu, maka orang-orang Panawijen sama selali tidak
memperhatikannya lagi. Masih juga ada satu dua orang yang
tampak tergesa-gesa mengambil alat-alat mereka. Ada juga yang
dengan tergesa-gesa menyalakan api dan memanasi air minum
seperti biasa. Tetapi sebagian besar dari mereka masih lebih senang
berdiri menggeliat atau menguap sambil berkerudung kain.
Dengan wajah yang berkerut-merut Mahisa Agni memandangi
pamannya, seakan-akan ingin menumpahkan kejengkelannya
melihat suasana itu.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar
perasaan kemanakannya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun.
Betapapun lambannya, namun orang-orang Panawijen itu pun
akhirnya berkumpul pula. Mereka telah menjinjing alat masingmasing.
Tetapi mereka tidak segera bergerak ke tempat kerja
mereka.
Hal yang demikian tidak pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang
tua biasanya datang kepada Mahisa Agni dan bertanya apa yang
akan dilakukan. Pagi-pagi mereka beramai-ramai berjalan tanpa
perintah menuju ke tempat pekerjaan mereka masing-masing.
Tetapi kali ini dengan segannya mereka berdiri saja menunggu, apa
yang harus mereka lakukan.
Meskipun demikian, di antara mereka itu masih juga ada orangorang
yang memahami tanggung jawab. Dua orang yang justru
telah agak lanjut usianya mendekati Mahisa Agni sambil bertanya,
“Apa yang akan kita lakukan Agni?”
Mahisa Agni berpaling memandangi wajah Ki Buyut Panawijen
yang menjadi cemas pula. Katanya, “Kita lakukan rencana kita yang
tertunda satu hari Ki Buyut”.
“Baiklah Ngger” sahut Ki Buyut, “maksud Angger menurunkan
brunjung-brunjung di sisi seberang?”
“Ya, “ jawab Agni sambil mengangguk.
“Baiklah. Kita akan melakukan rencana itu”.
Mahisa Agni pun kemudian berkata kepada kedua orang yang
bertanya kepadanya, “kita turunkan brunjung-brunjung di sisi
seberang. Sebagian dari kita mengisi brunjung-brunjung baru”.
Kedua orang itu mengangguk dan salah seorang dari mereka
menjawab, “Baik. Kita akan berangkat sekarang?”
“Berangkatlah. Aku akan pergi juga sekarang” sahut Agni.
Kedua orang itu pun kemudian berjalan kembali ke dalam
kelompok orang-orang Panawijen yang menunggunya dengan
malas. Seakan-akan mereka tidak mau pergi dahulu sebelum Mahisa
Agni pun pergi pula. Dengan demikian maka Mahisa Agni pun
menjadi semakin canggung menghadapi orang-orang itu. Keadaan
yang demikian tidak pernah terjadi pula sebelumnya. Mereka segera
berangkat setelah mereka mengerti apa yang mereka lakukan.
Tetapi kali ini mereka tampaknya menjadi sangat segan beranjak
dari perkemahan itu.
“Kita pergi ke sisi seberang” terdengar salah seorang yang
datang kepada Mahisa Agni berkata.
Orang-orang itu masih berdiam diri. Bahkan kemudian terdengar
seseorang berteriak diantara mereka, “Apakah kau dan Ki Buyut
Panawijen tidak pergi Agni?”
Dada Mahisa Agni berdesir. Bahkan darah mudanya segera
menjadi panas. Tetapi ketika dilihatnya pamannya tersenyum, anak
muda itu berusaha sekeras-kerasnya menahan diri.
“Tentu, “ yang menjawab adalah Empu Gandring, “bukankah kau
juga akan pergi Agni”.
Mahisa Agni mengangguk kaku. Pertanyaan itu terasa
menyinggung-nyinggung perasaannya. Namun bukan saja Empu
Gandring tetapi juga Ki Buyut Panawijen tersenyum dan menjawab,
“Kami akan pergi juga sekarang”.
Ki Buyut itu pun segera melangkah maju diikuti oleh Mahisa Agni
di belakangnya. Disampingnya berjalan pamannya.
Orang-orang Panawijen pun kemudian bergerak pula dengan
malasnya, dijinjingnya alat-alat mereka tanpa gairah dan nafsu,
seakan-akan alat-alat itu menjadi beban yang sangat memberatinya.
Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni tertegun ketika ia mendengar suara
memanggilnya. Bukan saja Mahisa Agni tetapi semua orang pun
berhenti pula bersamanya.
“Agni, Agni” terdengar suara itu.
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya kawan Bitung berdiri di muka
gubugnya. Dada Mahisa Agni berdesir. Ia lupa mengurus anak itu
karena pikirannya dipenuhi oleh rencana bendungannya dan
kekecewaan tentang sikap orang-orang Panawijen.
“Bagaimana dengan Bitung?” bertanya Agni dengan serta-merta.
“Ia tidak menggigil lagi. Tetapi manakah obat yang kau janjikan
semalam. Sebelum kau berangkat, kau akan membuat obat buat
Bitung. Kalau anak itu tidak kau obati maka sakitnya akan datang
lagi”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “
Kemarilah. Aku ajari kau membuat obat itu”.
“Aku tidak dapat”.
“Tentu dapat. Kemarilah supaya kita tidak saling berteriak”.
“Aku menunggu Bitung” sahut anak itu.
“Bukankah kau dapat meninggalkan sebentar kemari”.
“Aku tidak sempat membuat obat itu”.
Wajah Agni segera memerah. Darahnya yang telah panas, serasa
menjadi semakin panas. Tetapi kembali pamannya tersenyum
sambil berkata, “Adalah terlampau mudah untuk membuatnya”.
Tetapi kawan Bitung itu berteriak, “Buatlah obat itu sebentar
Agni. Kemudian pergilah ke bendungan itu. Jangan kau anggap
bahwa nilai anak ini kalah dengan nilai timbunan batu-batu di kali
itu”.
Telinga Mahisa Agni serasa tersentuh bara. Hampir ia kehilangan
kesabarannya seandainya pamannya tidak menyahut, “Nah, baiklah
aku membuat obat itu”.
“Apakah kau dapat membuatnya paman?” bertanya kawan
Bitung.
“Akulah yang memberitahukan obat itu kepada Mahisa Agni
bukan? Aku pulalah yang mengatakan bahwa bagian-bagian
tumbuhan Kates Grandel itu harus di tumbuk dan diperes airnya
untuk diminum. Akulah yang mengajari Mahisa Agni membuat obat
itu. Karena itu, maka aku pasti lebih cekatan untuk membuatnya.
Muda-mudahan obat itu menjadi lebih mujarab”.
Orang tua itu melangkah kembali sambil tersenyum-senyum.
Wajahnya sama sekali tidak berkesan sesuatu. Tetapi tiba-tiba
langkahnya terhenti ketika ia mendengar salah seorang yang telah
berada di dalam kelompok orang-orang Panawijen yang siap
berangkat itu berteriak, “Agni. Rawatlah dahulu anak itu”.
“Aku yang akan merawatnya” Empu Gandringlah yang menyahut.
“Itu adalah kuwajiban Mahisa Agni. Setiap orang di dalam
perkemahan ini adalah tanggung jawab Mahisa Agni dan Ki Buyut
Panawijen. Bukan saja Bitung yang sakit panas dan dingin, tetapi
beberapa orang lain menjadi sakit pula. Ada yang kakinya terluka,
ada yang punggungnya terkilir”.
“Biarlah mereka beristirahat” Potong Empu Gandring.
“Tidak hanya beristirahat. Rawatlah mereka Agni. Obatilah
supaya mereka sembuh. Bendungan itu tidak akan lari kau biarkan
sehari dua hari tidak dijamah tangan. Bendungan itu tidak akan
mati. Tetapi anak-anak itu dapat mati”.
“Ya” tiba-tiba terdengar suara yang lain, “sebaiknya hari ini kita
urungkan kerja kita. Kita merawat kawan-kawan kita yang sedang
sakit”.
“Pendapat yang baik” teriak yang lain, “kita belum cukup
beristirahat sehari kemarin. Pegal-pegal punggungku belum
sembuh”.
Tiba-tiba suara-suara itu disusul oleh sebuah ledakan gemuruh,
“Kita beristirahat. Kita perpanjang istirahat kita”.
Dada Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen menjadi berdebardebar.
Apalagi ketika mereka berpaling memandangi wajah Mahisa
Agni yang seakan-akan membara. Darahnya kini telah mendidih
memanasi segenap tubuhnya. Giginya gemeretak dan matanya
seakan-akan menyala.
“Inilah akibat kemalasan mereka kemarin” ia menggeram, “sehari
mereka beristirahat, maka mereka segan untuk memulai pekerjaan
ini kembali”.
Ki Buyut Panawijen dan Empu Gadrirg tidak menyahut. Mereka
tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Empu Gandring pun
mencoba mencari jalan untuk mencegah Mahisa Agni kehilangan
pengamatan diri.
Suara-suara orang-orang Panawijen itu masih juga terdengar
sahut-menyahut. Bahkan beberapa orang diantara mereka kini telah
menjatuhkaa diri masing-masing duduk dengan malasnya memeluk
lutut sanbil berteriak, “Kita masih perlu beristirahat. Kita
terlampau
lelah”.
Yang lain lagi, “Aku tidak mau mati kehabisan tenaga. Siapa yang
ingin mati lemas, biarlah mereka lakukan sendiri”.
Suara-suara itu terdengar ditelinga Mahisa Agni seperti
gemuruhnya Gunung runtuh. Runtuh bersama harapan-harapan
yang selama ini disimpannya di dalam hati. Harapan tentang tanah
garapan yang subur karena air yang meluap-luap dari bendungan
itu mengalir disepanjang parit yang memanjang membelah Padang
Karautan. Merubah warna padang yang kekuning-kuningan karena
rerumputan yang kering menjadi hijau segar oleh batang-batang
padi yang terbentang.
Tetapi tiba-tiba ia dihadapkan pada keadaan yang sangat
menyakitkan hati. Orang-orang yang dibawanya bekerja untuk
mewujudkan cita-cita bersama itu, tiba-tiba terganggu ditengah
jalan.
Mata Mahisa Agni yang menyala, memandangi orang-orang
dalam kelompok yang menjadi semakin tidak keruan. Dengan
sengaja mereka memperlihatkan kemalasan mereka. Ada yang
duduk-duduk bahkan ada yang kemudian berbaring di bawah sinar
matahari pagi.
“Gila” geram Mahisa Agni.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu meloncat ke atas sebuah pedati di
samping orang-orang Panawijen itu. Beberapa orang terkejut
karenanya sehingga mereka pun berloncatan menjauh. Di belakang
Mahisa Agni itu menyusul pamannya yang mecemaskan
kemanakannya.
Ternyata betapapun kecewa hati Mahisa Agni, tetapi ia tidak
lekas menjadi berputus asa. Meskipun ia melihat keruntuhan tekad
dari orang-orang Panawijen, tetapi ia tidak menyerah tertimbun oleh
reruntuhan itu. Sekali lagi kembali ia mencoba berusaha membawa
orang-orang Panawijen kedalam suatu gairah kerja seperti yang
diharapkannya.
Ketika orang-orang Panawijen melihat Mahisa Agni berdiri tegak
di atas sebuah pedati, maka teriakan-akan itu pun terdiam. Mereka
melihat anak muda itu merah biru menahan gejolak perasaannya.
Ketika orang-orang itu terdiam, maka mulailah Mahisa Agni
menebarkan pandangannya dari ujung kelompok itu ke ujung yang
lain. Ditatapnya setiap mata orang-orang Panawijen yang diam
mengawasinya. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan
orang-orang yang telah menjadi agak tua. Setiap orang yang
bertemu pandang dengan anak itu, tiba-tiba menundukkan
kepalanya. Mata Mahisa Agni terlampau tajam menghunjam ke
pusat jantung mereka.
Sejenak kemudian terdengar suara Mahisa Agni gemetar, “Aku
sudah mendengar permintaan kalian” Mahisa Agni berhenti sejenak.
Beberapa wajah tampak menengadah, tetapi ketika terpandang oleh
mereka wajah Mahisa Agni itu, maka kembali wajah-wajah itu
tertunduk. Mata Mahisa Agni masih saja menyala menembus
jantung mereka.
Tetapi, Mahisa Agni itu pun tidak segera menemukan kata-kata
yang tepat untuk mengungkapkan kekecewaan hatinya. Dengan
demikian maka suasana menjadi sepi lengang. Tetapi hati mereka
dicengkam oleh ketegangan. Beberapa orang Panawijen menjadi
bingung menghadapi keadaan itu. Ada di antara mereka yang
menjadi takut dan berdebar-debar, kalau-kalau Mahisa Agni tiba-tiba
mengamuk dan membunuh mereka. Tetapi ada yang menyesal
bukan karena ketakutan. Menyesali sikapnya sendiri. Mereka
menjadi heran sendiri, kenapa tiba-tiba mereka, hanyut dalam
suasana kemalasan. Tetapi ada pula yang mengerutu di dalam
batinya, mengumpati Mahisa Agni tak habis–habisnya, namun
mereka tidak berani mengucapkannya.
Sesaat kemudian, barulah terdengar suara Mahisa Agni kembali,
“Apakah maksud kalian sebenarnya?”
Tak seorang pun yang berani menjawab pertanyaan itu. Tetapi
berbagai-bagai tanggapan bergelora disetiap dada.
“Apakah kalian telah benar-benar jemu meneruskan pekerjaan
itu?”
Orang-orang Panawijen itu masih terdiam.
“Bagaimana?,” desak Mahisa Agni semakin keras. Ketika masih
juga tidak ada jawaban, maka kembali Ma bisa Agni berkata, “Aku
ingin mendengar pendapat kalian. Mumpung kita kali ini
berhadapan. Jangan mengambil sikap sendiri-sendiri. Kita datang
bersama-sama dan membawa tekad bersama-sama untuk membuat
bendungan itu. Karena itu, marilah kita tentukan sikap kita
bersamasama.
Aku ingin mendengar, apakah kalian memang telah jemu
melakukan pekerjaan ini”.
Sejenak, kembali kesepian menguasai padang itu. Yang
terdengar adalah angin pagi yang silir menggerakkan dedaunan.
Daun ilalang dan daun-daun gerumbul perdu di sana-sini, gemerisik
seperti suara orang berbisik-bisik.
Disela-sela kesepian orang-orang Panawijen seorang berdesis
perlahan-lahan, “Tidak Agni, Kami sama sekali tidak jemu
melakukan pekerjaan ini. Kami hanya ingin sekedar beristirahat”.
Mahisa Agni memandangi orang yang sedang berbicara itu. Dan
orang itu pun menundukkan kepalanya.
“Bagus” sahut Mahisa Agni, “kalau demikian aku masih
mempunyai harapan”.
Tak ada yang menyahut sepatah katapun.
“Tetapi kalian telah beristirahat sehari kemarin”.
Kembali orang-orang Panawijen itu terdiam.
Yang terdengar adalah suara Mahisa Agni kembali, “Tak ada
alasan lagi untuk memperpanjang waktu beristirahat. Bendungan
kita harus segera jadi”.
Mahisa Agni melihat beberapa di antara mereka saling
berpandangan. Tetapi Mahisa Agni tidak mendengar seorang pun
dari mereka yang menjawab.
“Marilah” berkata Mahisa Agni, “kita berangkat bekerja”.
Meskipun tak seorang pun yang membantah, namun Mahisa Agni
tidak segera melihat mereka berdiri dan dengan gairah berangkat
ketempat kerja mereka. Sejenak orang-orang Panawijen itu masih
saja duduk sambil saling berpandangan. Bahkan sebagian dari
mereka menjadi kecewa karena istirahat hari itu yang bahkan kalau
mungkin diperpanjang lagi tidak terpenuhi.
Karena itu maka sekali lagi Mahisa Agni berkata lebih keras lagi,
“Apakah yang kita tunggu lagi? Apakah kalian masih akan
memaksaku untuk membuat obat bagi sakit Bitung? Kalian telah
mendengar, pamanku telah menyanggupinya. Sekarang apa lagi?
Ayo berdirilah. Berangkatlah sekarang, selagi matahari belum
tinggi,
kita akan meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang hari ini”.
Beberapa orang pun kemudian berdiri sambil menggeliat.
Alangkah berat rasanya untuk mulai lagi pekerjaan yang berat itu.
Ternyata lebih senang menikmati istirahat kemarin dari pada
bekerja keras di bawah terik matahari.
Mahisa Agni yang tidak telaten berteriak, “Kenapa kalian tidak
segera berangkat. Apakah kalian telah benar-benar jemu he? Baik.
Kalau demikian aku tidak akan memaksa”.
Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar menarik perhatihan
mereka. Beberapa orang tertegun sambil memandangi wajah Agni
yang tegang. Tetapi mereka tidak segera menangkap maksud
katakatanya.
Apakah dengan demikian Mahisa Agni akan memberi
mereka kesempatan untuk beristirahat lagi.
Terdengar suara Mahisa Agni pula, “Kalau kalian memang sudah
jemu, marilah kita berjanji untuk menghentikan saja pekerjaan ini.
Kita tidak usah berpikir apakah yang akan terjadi atas kita
masingmasing.
Biarlah daun-daun pepohonan di Panawijen satu-satu
menguning dan gugur di tanah. Biarlah ladang dan sawah yang
kering itu menjadi keras. Kita tidak menghiraukannya lagi. Apalagi
aku. Aku tidak mempunyai keluarga seorang pun. Aku tidak akan
bertanggung jawab terhadap anak cucu seandaianya mereka kelak
hidup sengsara. Aku juga tidak berkeberatan seandainya kita pergi
saja bercerai-berai. Aku, seorang diri, akan lebih cepat
menyesuaikan diriku dengan tempat yang baru dimana pun aku
berada. Aku akan pergi ke Tumapel, menerima tawaran Akuwu
untuk menjadi seorang Prajurit. Kalau demikian, maka aku menyesal
bahwa aku dahulu tidak saja segera menerima tawaran itu karena
aku lebih mementingkan bendungan ini. Nah, sekarang pilihlah. Kita
pergi berpencaran mencari hidup masing-masing dengan
menggantungkan belas kasian orang, atau tetap berada di
Panawijen, tempat kita bermain dan dibesarkan, tetapi kita akan
mati kelaparan Atau kita membuat daerah baru dengan memeras
keringat kita, tetapi dengan demikian kita telah berbuat sesuatu
untuk kita sendiri dan anak cucu kita”.
Mahisa Agni berhenti sejenak Dipandanginya setiap wajah orangorang
yang berdiri di sekitarnya. Tampaklah wajah-wajah itu
menjadi tegang. Ternyata bahwa kata-kata Mahisa Agni itu bergolek
di dalam dada mereka. Meskipun demikian, tak seorang pun yang
menjawab. Mulut-mulut mereka yang ternganga itu seakan-akan
terbungkam untuk mengucapkan kata-kata.
Sejenak Mahisa Agni memberikan kata-katanya mengendap ke
dasar hati orang-orang Panawijen. Dibiarkannya orang-orang
Panawijen itu menyadari keadaannya. Menilik perubahan pada
wajah-wajah mereka, serta sikap mereka, yang satu demi satu
berdiri dan menggenggam alat-alat mereka kembali, maka timbullah
harapan di dalam dada Mahisa Agni.
Dengan suara yang menggeletar ia bertanya, “Jadi apakah yang
akan kita lakukan kini? Bekerja dengan nafsu seperti sediakala atau
tidak sama sekali?”
Mahisa Agni melihat kebimbangan pada wajah orang-orang
Panawijen itu. Maka katanya, “Aku tidak mau bekerja dengan
separo hati. Hanya ada satu syarat untuk bekerja. Bekerja dengan
gairah dan sepenuh hati. Mereka yang meninggalkan tugas ini
karena mereka tidak kuat lagi, atau jemu atau sakit-sakitan, aku
persilahkan. Hanya yang berkemauan keras sajalah yang akan dapat
bekerja terus”.
Orang-orang Panawijen masih terdiam. Tetapi tangan mereka
telah mulai menggenggam alat-alat mereka dengan eratnya.
“Aku ingin jawaban supaya aku tidak menjadi kecewa kembali”.
Tiba-tiba meledaklah jawaban orang-orang Panawijen itu, “Baik
Agni. Kami akan bekerja kembali seperti sediakala”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya
berdesir, dan seluruh permukaan kulitnya meremang. Dengan
penuh harapan ia berkata, “Kalau demikian, marilah kita berangkat.
Matahari bulum sepenggalah. Marilah kita susul keterlambatan kita.
Satu hari lebih seujung pagi”.
Mahisa Agni tidak perlu mengatakannya lagi. Orang-orang
Panawijen itu pun kemudian seakan menggelepar dan berjalan ke
arah masing-masing yang sudah ditentukan. Namun sebagian besar
dari mereka berjalan ke bendungan untuk menurunkan brunjungbrunjung
di sisi seberang. Sebagian kecil pergi ke ujung susukan
yang sedang mereka kerjakan untuk menggalinya lebih panjang
lagi. Keinginan orang-orang Parawijen adalah, susukan itu akan
mampu membelah Padang Karautan, dan menjadikannya tanah
persawahan yang subur.
Beberapa pedati pun segera berjalan untuk mengambil batu-batu
yang telah dipecah untuk kemudian dimasukkannya ke dalam
brunjung-brunjung bambu.
Ketika kemudian Mahisa Agni berpaling dilihatnya pamannya
serta Ki Buyut Panawijen tersenyum kepadanya. Tetapi didalam hati
Empu Gandring berkata, “Belum merupakan persoalan yang terakhir
Agni. Tetapi mudah-mudahan kerjamu akan berhasil”.
Sehari itu Mahisa Agni melihat orang-orang Panawijen bekerja
dengan nafsu yang menyala-nyala. Mereka serasa telah memeras
tenaga memenuhi permintaan Mahisa Agni, menebus yang telah
hilang. Kemarin dan ujung pagi ini.
Matahari di langit berjalan dalam iramanya yang tetap.
Tetapi, terasa hari ini berjalan terlampau cepat bagi Mahisa Agni.
Kegembiraannya melihat nafsu bekerja orang-orang Panawijen telah
membuat lupa waktu. Betapa ia telah memeras segenap tenaganya
melampauhi waktu yang sudah-sudah. Kekuatan tubuhnya benarbenar
mengherankan. Dan kerjanya ternyata telah mempengaruhi,
terutama anak-anak mudanya yang merasa malu mendengar Mahisa
Agni menantangnya untuk menghentikan sama sekali pembuatan
bendugan itu.
Sampai matahari turun rendah di langit Barat, maka seakan-akan
kerja itu berlangsung tanpa beristirahat. Betapa terik matahari
telah
membakar kulit mereka, tetapi mereka sama sekali tidak
melepaskan pekerjaan mereka, seperti pada saat mereka baru
mulahi, satu dua hari.
Ketika malam kemudian turun menyelubungi Padang Karautan,
maka orang-orang Panawijen itu telah berkerumun di dalam gubug
masing-masing. Bitung kini telah dapat duduk bersama dengan
beberapa kawannya meskipun wajahnya masih pucat. Pagi-pagi
siang serta sore hari, Empu Gandring telah merawatnya dan
memberinya obat sekadarnya.
Namun dalam pada itu, ketika orang-orang Panawijen itu
mendapat kesempatan untuk beristirahat, mulailah terasa betapa
tubuh tubuh mereka dijalari penat dan lelah. Betapa kaki-kaki
mereka serasa menjadi hangus dan punggung-punggung mereka
hampir patah.
Seorang dua orang duduk menyelujurkan kaki-kaki mereka
sambil memijit-mijitnya. Orang-orang lain saling memijit punggung
berganti-gantian. Mahisa Agni sendiri telah berbaring-baring
dipembaringannya dengan bati yang lapang. Ia puas melibat kerja
yang telah mereka lakukan hari ini. Karena itu, maka hatinya pun
menjadi gembira. Dalam kegembiraan itulah, anak muda itu jatuh
tertidur, meskipun malam belum begitu dalam. Tetapi kerja yang
keras, angin yang silir sejuk dan hati yang puas, telah membelai
dan
menidurkannya terlampau cepat.
Tetapi yang terjadi digubug-gubug yang lain adalah jauh
berbeda. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan orangorang
tua, terdengar mengeluh tak berkeputusan. Kerja hari ini
ternyata agak berlebih-lebihan bagi mereka. Setelah beristirahat
satu hari, mereka telah bekerja melampaui kemampuan wajar
mereka. Dengan demikian maka tubuh-tubuh mereka menjadi sakit
dan penat, sehingga mereka itu menjadi agak sukar untuk segera
dapat menikmati mimpi.
Dalam malam yang semakin dalam itu terdengar seseorang
mengeluh, “Betapa sakit lenganku. Siang tadi aku terlampau banyak
mengangkat batu-batu. Batu-batu besar yang biasanya tidak
terangkat, siang tadi aku angkat juga seorang diri”.
“ Kenapa kau paksakan juga temanmu?”
Orang itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Tetapi nafsuku bekerja
ternyata melonjak-lonjak. Mahisa Agni seakan telah mendorongku
dengan kemauan yang segar. Tetapi akibatnya, tubuhku hampir
remuk dan lapuk”.
Kawannya tidak menyahut. Orang itu pulalah yang berkata,
“Hem. Apakah besok kita masih akan mengulagi lagi kerja semacam
ini”.
Tak ada yang menyahut. Dengan demikian maka orang itu pun
berhenti berbicara.
Semetara itu malam menjadi bertambah malam. Angin yang
dingin berhembus menjentuh atap-atap ilalang yang berpencaran di
sudut kecil Padang Karautan yang luas itu. Disana-sini tampak
berkerdipan pelita-pelita minyak dan api-api perapian yang tinggal
membara.
Akhirnya perkemahan itu pun terlempar dalam kesenyapan.
Orang-orang Panawijen itu pun kemudian tertidur pula dengan
nyenyaknya, meskipun ada pula yang menjadi gelisah karena
kelelahan. Bitung malahan kini telah menjadi agak baik. Tubuhnya
masih juga kadang-kadang menjadi panas, tetapi ia sudah tidak lagi
mengigau dan berteriak-teriak. Meskipun hanya sesuap, namun
anak itu telah mau menelan makanan. Tetapi orang yang kakinya
bengkak, masih saja merintih-rintih, juga dalam tidurnya. Serasa
mimpinya pun berceritera tentang kakinya yang sakit.
Namun malam tidak juga berkepanjangan. Pada saatnya, maka
membayanglah bayangan fajar. Bayangan yang memberi Mahisa
Agni berbagai macam harapan. Anak muda itu terbangun seperti
biasa ia bangun. Yang pertama-tama ditatapnya adalah langit yang
kemerah-merahan. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau kau datang,
aku menyambutmu dengan gairah. Sebab kau adalah pertanda
bahwa saatnya telah tiba untuk melakukan kerja”.
Sejenak kemudian seluruh perkemahan itu pun telah terbangun.
Mahisa Agni dengan gembira melihat orang-orang Panawijen
mempersiapkan alat-alat mereka. Seperti kemarin, Mahisa Agni
melihat gairah yang besar dari orang-orang Panawijen itu. Tetapi di
antara mereka, beberapa orang telah mulai mengeluh pula di dalam
hatinya.
Ketika rombongan orang-orang Panawijen itu mulai berangkat ke
tempat kerja masing-masing, maka di kejauhan berpacu seekor
kuda yang tegar. Di punggungnya bertengger seorang yang
bertubuh kasar, sekasar tebing pegunungan padas. Dengan
mengumpat-umpat orang itu memacu kudanya menjauhi
perkemahan orang-orang Panawijen. Meskipun kuda itu tidak ber
pelana, namun agaknya penunggangnya sama sekali tidak
terpengaruh olehnya.
“Kapan aku mendapat kesempatan itu lagi” gerutu penunggang
kuda itu, wajahnya yang kasar menjadi semakin kasar dan keras,
“Kakang Kebo Sindet hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu”
orang itu berhenti sejenak.
Ketika ia berpaling maka perkemahan orang-orang Panawijen
pun sudah tidak tampak lagi. Penunggang kuda itu adalah Wong
Sarimpat. Ia datang kembali ke Padang Karautan itu untuk melihat
kemungkinan, apakah mereka akan mendapat kesempatan baru
untuk menangkap Mahisa Agni. Tetapi agaknya kesempatan itu
masih belum diketemukan oleh Wong Sarimpat. Sehingga kakaknya
selalu marah saja kepadanya. Kebo Sindet menganggap bahwa
kebodohannyalah yang telah menyebabkan rencana itu selalu
tertunda. Bahkan Wong Sarimpat memaksa dirinya semalam
merayap mendekati perkemahan itu. Namun ia masih belum melibat
cara yang sebaik-baiknya untuk berbuat sesuatu. Kali ini pun ia
akan
datang kepada kakaknya dengan laporan yang masih akan
membuat kakaknya mengumpatinya.
“Besok aku akan datang lagi,” gumamnya, “setiap kali aku akan
datang. Suatu saat pasti akan aku ketemukan cara untuk
menangkapnya. Bahkan aku pasti mampu menebus kegagalanku.
Aku akan menangkap Mahisa Agni seorang diri. Tanpa kakang Kebo
Sindet. Aku yakin, bahwa Empu Gandring suatu ketika akan terpisah
dari Mahisa Agni”.
Wong Sarimpat itu pun memacu kudanya lebih cepat lagi. Ia
ingin segera sampai di rumah untuk beristirahat. Baru kemarin lusa
ia gagal menangkap Mahisa Agni, semalam ia sudah harus berada di
Padang Karautan itu kembali. Meskipun Wong Sarimpat bukan orang
yang mudah menjadi lelah, tetapi ia menjadi jemu mengintai saja di
padang yang dingin itu. Lebih baik ia menyerbu saja ke perkemahan
orang-orang Panawijen itu, dari pada duduk memeluk lutut sambil
melihat-lihat apabila ada orang yang hilir mudik ke luar
perkemahan. Tetapi pesan kakaknya lebih menjemukan lagi
baginya. Ia hanya boleh melihat kebiasaan Mahisa Agni. Bagaimana
anak muda itu hidup diperkemahannya. Apakah kadang-kadang ia
berjalan-jalan keluar lingkungannya atau kebiasaann-kebiasaan lain
yang memungkinkan untuk mengambilnya tanpa diketahui oleh
orang lain. Apabila ia melihat Mahisa Agni pergi ke Panawijen, ia
harus segera berpacu pulang. Ia akan datang kembali bersama
kakaknya untuk mencegah Mahisa Agni kembali ke perkemahannya.
“Itu adalah pekerjaan gila” gerutunya sambil memacu kuda di
antara gerumbul-gerumbul di Padang Karautan.
Perjalanan ke Kemundungan tidak lebih dekat daripada
Panawijen. Namun kemudian dibantahnya sendiri, “tetapi kakang
Kebo Sindet memperhitungkan bahwa Mahisa Agni pasti berbuat
sesuatu yang memerlukan waktu di Panawijen”.
Kuda itu pun kemudian berpacu lebih cepat.
Sementara itu, orang-orang Panawijen pun telah mulai sibuk
dengan kerja masing-masing. Bahkan kali ini Empu Gandring pun
turut pula berada di antara orang-orang yang sedang bekerja itu.
Namun pikirnya selalu diganggu oleh gumpalan debu yang lamatlamat
sekali dapat dilihatnya pagi tadi jauh dari perkemahan.
“Debu itu seakan-akan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda”
gumamnya di dalam hati. Tetapi ia tidak sempat melihat kuda
berlari meninggalkan Padang Karautan pergi ke Kemundungan.
Tanpa disengaja, maka Empu Gandring itu mencari
kemanakannya. Ketika dilihatnya anak muda itu bekerja dengan
sepenuh tenaga, maka kembali ia bergumam di dalam hatinya,
“Kasian anak itu. Ia menghadapi rintangan dari luar dan dari
lingkungannya sendiri. Muda-mudahan ia tabah dan bendungan ini
akan dapat berwujut. Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan
mendapat kepuasan sebagai imbalan kerjanya. Hanya kepuasan
itulah yang diharapkannya dalam perjuangannya. Ia akan puas
melihat hari depan Panawijen telah mendapat alas yang kuat.
Sedang ia sendiri sampai saat ini masih seorang diri”. Dan hati
orang tua itu pun menjadi semakin iba ketika ia melihat beberapa
orang telah menjadi kendor dan segan mengangkat alat-alat di
tangannya.
Tetapi Mahisa Agni sendiri, yang tenggelam ke dalam kerja yang
mantap, hampir-hampir tak dapat melihat keadaan itu. Anak-anak
muda di sekitarnya pun bekerja dengan giatnya, hampir seperti
dirinya sendiri. Meskipun demikian, namun Mahisa Agni merasakan
pula, bahwa kerja hari ini sudah mulai berkurang dari pada kerja
yang kemarin. Tetapi dalam tanggapan Mahisa Agni, hal itu adalah
karena tenaga mereka yang memang tidak setahan dirinya sendiri.
Hari itu Mahisa Agni masih dapat tersenyum. Ketika matahari
kemudian turun ke Barat, maka orang-orang Panawijen itu pun
segera meninggalkan kerja mereka. Mahisa Agni memandangi
iringiringan
itu dengan hati yang mantap. Bahkan ia begumam, “Kalau
mereka tetap bekerja seperti ini, maka aku yakin, orang-orang
Panawijen akan segera dapat menikmati basil kerjanya”.
Mahisa Agni itu berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata
disampingnya, “Marilah, kita pulang Agni”.
“Oh” desis Agni, “Marilah paman. Mereka berdua pun kemudian
berjalan membelakangi iring-iringan orang Panawijen yang dengan
lelah kembali ke perkemahannya.
Tetapi hari-hari berikutnya, Mahisa Agni tidak lagi melihat gairah
kerja yang membesarkan hatinya itu. Ia tidak lagi tersenyum di
dalam tidurnya. Kerja orang-orang Panawijen itu pun mulai
mengendor lagi. Bahkan beberapa orang kemudian berkata
kepadanya, “Besok aku tidak dapat ikut serta Agni. Punggungku
sakit”. Yang lain berkata, “Kakiku hampir patah Agni. Kelak apabila
sudah sembuh aku akan bekerja kembali”. Dan yang lain lagi
berkata, “Kepalaku pening Agni. Ternyata aku tidak tahan terik
matahari yang memanasi rambutku, sehingga setiap kali kepalaku
menjadi sakit seperti ditusuk-tusuk di pelipisku”.
Alangkah kecewanya anak muda itu. Hampir-hampir ia
kehilangan kesabaran. Tetapi pamannya selalu menasehatinya.
Kerja itu harus didasari oleh kerelaan hati. Kerja itu bukan kerja
paksa. Karena itu maka pekerjaan Mahisa Agni adalah memberi
mereka kesadaran untuk bekerja, bukan memaksa mereka dengan
mengancam dan menakuti.
Mahisa Agni mengerti nasehat itu. Tetapi ia sudah kehabisan cara
untuk memberi pengertian yang wajar kepada orang Panawijen itu.
Bahkan satu dua, orang di antara mereka telah mulai lagi
mengumpati Empu Purwa yang merusak bendungan lama di
Panawijen. Meskipun bendungan itu di buatnya sendiri, tetapi
bendungan itu kemudian telah menjadi milik rakjat Panawijen,
bendungan itu telah menjadi sumber penghidupan mereka.
“Apakah kita cukup dengan menyesali pecahnya bendungan yang
lama” suatu ketika Mahisa Agni mencoba memberi penjelasan,
“dengan menyesal dan mengumpat kita tidak akan mendapat
bendungan yang baru”.
Tetapi hatinya menjadi pedih ketika ia mendengar seorang
bertanya, “Kapan kita berhenti bekerja Agni?”
“Tidak ada batas yang dapat kita lampaui. Selama kita masih
merasa bahwa kita bertanggung jawab terhadap keadaan kita
sendiri, keadaan masyarakat kita dan anak cucu kita di masa yang
akan datang. Kerja adalah isi dari hidup kita. Karena itu kerja
akan
berlangsung sepanjang umur kita masing-masing”.
Hati Mahisa Agni itu menjadi semakin pedih ketika ia mendengar
jawaban, “Tetapi aku sudah jemu Agni. Aku sudah jemu berjemur di
terik matahari, sedang apabila malam dilanda oleh udara dingin di
padang yang sepi ini. Aku ingin segera berada kembali di antara
keluargaku. Isteriku dan anak-anakku.
“Apakah kau cukup berada saja di dekat isteri dan anak-anakmu
tanpa suatu kepastian buat masa datang? Buat anak-anakmu itu?
Apakah kau pasti bahwa anak-anakmu itu akan dapat makan dari
tanah yang kering di Panawijen?”
Orang itu terdiam. Tetapi wajahnya sama sekali tidak
membayangkan pengertiannya akan kata-kata Mahisa Agni,
sehingga Mahisa Agni berkata terus, “Tidak saudaraku-saudaraku.
Tanah yang kering itu tidak akan dapat memberi kita harapan”.
“ Tetapi bendungan ini pun akan merusak tubuh kita”.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menahan
perasaannya. Katanya, “Itu terlampau berlebih-lebihan kerja pasti
mengeluarkan tenaga. Mungkin satu dua di antara kita tidak tahan
melawan udara yang panas dan dingin. Tetapi sebagian besar dari
kita harus mampu mengatasinya”.
Dada Mahisa Agni bergelora ketika ia melihat beberapa kepala
menggeleng lemah.
Mahisa Agni masih mencoba mengulangi kata-katanya yang
beberapa saat yang lampau dapat membangkitkan gairah kerja
kembali. Katanya, “Kerja ini adalah kerja kalian. Aku adalah
seorang
di sini. Kalau kerja ini terhenti, aku pun tidak akan mengalami
kesulitan apa-apa. Aku akan dengan mudahnya dapat mencari
penghidupan di Tumapel. Tetapi bagaimana dengan kalian? Apalagi
yang mempunyai keluarga yang besar”.
Jawaban yang didengar oleh Mahisa Agni kali ini berbeda dengan
jawaban yang terdahulu. Bahkan jawaban itu seakan-akan telah
menghentikan arus darah di urat-urat nadi anak muda itu, “Agni,
jangan kau merasa dirimu jauh lebih baik daripada kami. Meski pun
kami tidak mampu berkelahi tidak mampu menjadi prajurit, tetapi
segi kehidupan seseorang bukanlah hanya berkelahi saja. Aku pun
akan dapat mencari penghidupan di tempat-tempat lain. Mungkin
menjadi undagi, mungkin menjadi pekatik atau bertani di
tempattempat
baru yang sudah terbuka”.
“Oh,” tanpa disengaja Mahisa Agni tiba-tiba memegangi
kepalanya dengan kedua tangannya, seakan-akan kepalanya itu
akan terlepas dari lehernya. Dadanya yang bergelora terasa menjadi
sesak, dan dengan demikian Mahisa Agni justru terbungkam. Ia
tidak mampu lagi berkata apapun kepada orang-orang Panawijen
itu. Ketika orang-orang itu kemudian satu-satu meninggalkannya,
maka Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak lagi mampu
mengucapkan kata-kata. Yang didengarnya kemudian adalah,
“Sudahlah Agni. Lepaskanlah keinginanmu membuat bendungan itu
dengan mengumpankan kami. Biarkanlah kami mencari jalan
sendiri-sendiri”.
Kepala Mahisa Agni menjadi pening karenanya. Sama sekali tidak
disangkanya bahwa ada di antara orang-orang Panawijen yang
menganggap bahwa apa yang dilakukannya itu adalah suatu
perbuatan yang sangat merugikan orang-orang lain di Panawijen.
Bahkan ada orang yang merasa dirinya menjadi alat untuk
kepentingan Mahisa Agni.
Hati anak muda itu menggelegak. Berdesak-desakan kata-kata di
dalam hatinya untuk membantah anggapan itu. Ingin ia berteriak,
tetapi mulutnya seakan-akan terbungkam. Seribu kali ia
menjelaskan apa yang sedang dilakukannya kini. Setiap kali
orangorang
Panawijen itu pada saat-saat yang lampau menjadi gairah
kembali atas kerja mereka apabila mereka mendengar keterangan
Mahisa Agni tentang bendungan itu. Tetapi kali ini kata-katanya
sama sekali tidak berarti bagi mereka, bahkan mereka menganggap,
seakan-akan umpan saja untuk kesenangannya.
“Tidak. Aku sama sekali tidak bekerja untuk kemasyuran namaku.
Aku tidak ingin di atas bendungan ini kelak dipahatkan namaku.
Mahisa Agni. Tidak. Aku membuat bendungan bersama dengan
kalian karena aku ingin melihat kalian mendapat sesuatu. Kalian
tidak akan kehilangan lingkungan kehidupan Aku bekerja bukan
untuk kepentinganku sendiri”. Tetapi kata-kata itu hanya bergumul
saja di dalam dadanya. Sihingga dengan demikian nafasnya justru
menjadi semakin sesak.
Sekali-kali terdengar Mahisa Agni, “Inikah tanggapan orangorang
Panawijen atas jerih payahku” katanya di dalam hati.
Ketika Mahisa Agni kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya
udara telah disaput oleh malam yang turun perlahan-lahan.
Bintangbintang
berhamburan memencar dari ujung ke ujung langit yang
lain. Gemerlapan. Tetapi hati Mahisa Agni sendiri kini menjadi
betapa suramnya. Ditatapnya padang yang luas terbentang
dihadapannya, seakan-akan tidak bertepi, menjorok masuk ke
dalam kegelapan malam di kejauhan.
Kini ia duduk seorang diri di sisi perkemahannya. Orang-orang
Panawijen telah masuk ke dalam gubug masing-masing. Satu dua
dilihatnya anak-anak muda duduk di sekitar perapian yang menyala.
Perlahan-lahan Mahisa Agni bangkit. Dengan langkah yang berat
ia berjalan ke gubugnya. Perasaannya dibebani oleh ke pedihan hati
dan hampir keputus-asaan. Ia tidak tahu lagi, bagaimana ia harus
berkata untuk meyakinkan maksudnya yang baik justru untuk
kepentingan orang-orang Panawijen itu sendiri.
Dari celah-celah dinding anyaman bambu yang jarang ia me lihat
beberapa telah berbaring di dalam gubugnya. Tetapi tiba-tiba
langkah Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat beberapa orang
membenahi bungkusan. Dengan serta merta Mahisa Agni berbelok
masuk ke dalamnya.
Orang-orang itu pun terkejut. Tetapi sejenak kemudian mereka
seakan-akan menjadi acuh tidak acuh. Diteruskaunya kerjanja
berbenah-benah. Ketika Mahisa Agni melihat apa yang sedang
dibenahi itu, hatinya berdesir-desir. Tanpa disadarinya terloncat
kata-kata dari bibirnya, “Apakah artinya ini?”
Orang itu berpaling. Hanya sejenak. Kembali mereka minjadi
acuh tak acuh. Meski pun demikian salah seorang dari mereka
menjawab, “Aku membenahi pakaian Agni”
“Kenapa?, “ bertanya Agni.
“Aku besok akan kembali ke Panawijen”.
Darah Mahisa Agni serasa membeku mendengar jawaban itu.
Sejenak ia diam mematung. Ditatapnya saja orang itu membungkus
beberapa potong pakaiannya dan beberapa macam peralatan kecil.
Di sudut gubug itu Mahisa Agni melihat seikat alat-alat yang lebih
besar. Cangkul, kelewang pemotong kayu dan sebuah kapak.
Baru sejenak kemudian ia mampu bertanya, “Kenapa kalian akan
kembali ke Panawijen?”
“Aku sudah jemu berjemur diterik matahari. Beberapa orang
menjadi sakit. Ada yang bengkak kakinya, ada yang sakit panas
dingin, ada yang punggungnya patah. Mungkin kau tidak melihatnya
Agni”.
“Bukankah Bitung telah sembuh?” bertanya Agni.
“Ya, Bitung telah sembuh. Tetapi ada tiga anak yang sakit seperti
gejala-gejala sakit Bitung ketika baru mulai”.
“Oh. Aku memang belum tahu. Kenapa tidak ada yang
mcmberitahukannya kepadaku? Paman telah menanam beberapa
batang Kates Grandel di sini. Mungkin satu dua dapat diambil untuk
mengobatinya”.
Orang itu menggeleng, “Tidak banyak manfaatnya. Kalau
ketiganya nanti sembuh, maka yang sepuluh akan menderita sakit
serupa. Karena itu sebelum aku menderita pula seperti mereka lebih
baik aku kembali ke Panawijen. Apabila benar-benar menjadi kering,
aku akau mengungsi ke tempat lain. Mungkin aku dapat mencari
kemanakanku ke Gangsa atau mencari pamanku ke Sambitan”.
“Apa yang kalian lakukan akan mempunyai pengaruh yang
sangat jelek bagi orang-orang lain”.
Orang itu mengangkat bahunya. Sejenak mereka saling
berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka menjawab,
“Terserah kepada mereka masing-masing Agni. Karena itu
nasehatku kepadamu Ngger, tinggalkan saja keinginanmu untuk
membangun bendungan ini. Memang, kelak namamu akan tetap
dikenal oleh anak cucu apabila bendunganmu mu berwujud tetapi
jangan membiarkan korban terlampau banyak untuk kepentingan
itu”.
Sekali lagi dada Mahesa Agni serasa terhantam reruntuhan
Gunung Kawi. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran. Bahkan
hampir-hampir ia berbuat sesuatu untuk melepaskan
kemarahannya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika terdengar suara
di
luar gubug itu, “Ya, Agni berada di dalam”.
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya seorang anak muda yang pucat
berdiri di muka pintu. Ketika dilihatnya Mahisa Agni, maka katanya,
“Agni, aku memerlukan kau”.
“Kenapa?”
“Wajahku menjadi panas, tetapi tubuhku terasa dingin”.
Orang-orang yang sedang berbenah itu menyahut, “Itu adalah
gejala-gejala seperti penyakit Bitung”.
Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. Selangkah ia maju
masuk ke dalam gubug. Dengan suara gemetar ia berkata, “Apakah
aku akan sakit seperti Bitung?”
Yang menjawab adalah salah seorang yang berada di dalam
gubug dan sedang membenahi pakaiannya, “Ya, kau akan sakit
seperti Bitung. Bukan hanya kau, telah ada tiga orang lagi yang
akan sakit seperti kau”.
Anak muda itu menjadi semakin cemas. Tiba-tiba ia berkata,
“Agni, aku takut”.
Dada Mahisa Agni yang bergelora itu menjadi kian bergolak.
Dengan suara bergetar ia bertanya, “Kenapa kau takut?”
“Aku tidak mau sakit”.
“Kami telah menyimpan obatnya. Bukankah Bitung kini telah
berangsur sembuh?”
Anak muda itu terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia berkata,
“Tetapi siapakah yang akan mengurus aku selama aku sakit?”
Selagi kau belum sakit, besok aku akan membuat obat untukmu.
Aku masih ada persediaan obat itu, bahkan telah ditanam pula
beberapa batang oleh paman Empu Gandring di sini, dan kini telah
mulai tumbuh subur.
“Tetapi aku takut Agni. Kalau aku sakit, aku akan kembali kepada
ibuku”.
“He” Mahisa Agni menahan nafasnya, “ kau masih juga
biyungbiyungan”.
Anak itu terdiam. Tetapi yang menjawab adalah orang lain yang
sejak semula telah berada di tempat itu, “Biarlah ia kembali ke
ibunya Agni”. Kepada anak muda itu ia berkata, “Benahilah
pakaianmu. Besok kembali bersama aku ke Panawijen”.
“Apakah paman akan kembali ke Panawijen?”
“Ya, besok aku akan kembali”.
“Baik, baik paman” wajah anak muda yang pucat itu tiba-tiba
menjadi cerah. Tanpa kerkata sepatah kata pun lagi ia berlari
meninggalkan gubug itu.
Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.
Perasaannya bergejolak semakin dahsyat, tetapi ia tidak dapat
berbuat sesuatu. Karena itu, maka dadanya sendirilah yang terasa
menjadi pepat.
“Maafkan kami Agni” terdengar salah seorang itu berkata, “Aku
tidak dapat mengikuti jalan pikiranmu. Bendungan itu bagi kami
hanyalah tinggal suatu mimpi yang mengagumkan.
“Tidak” terdengar suara Mahisa Agni bergetar, “aku aku akan
mewujudkan bendungan itu. Kalian akan melihat kelak tanah ini
menjadi subur. Tanam-tanaman akan menjadi hijau segar seperti
beberapa batang Kates Grandel yang ditanam oleh paman Empu
Gandring. Baru beberapa hari saja, pohon karena itu telah menjadi
tiga kali lipat tingginya dari pada alat batang itu ditancapkan di
tanah”.
Orang itu itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Mudah-mudahan Agni. Tetapi aku tidak akan turut serta”.
Wajah Mahisa Agni menjadi merah karena perasaan yang
bercampur baur di dalam dadanya. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia
berkata, “Terserah kepada kalian. Kami di sini tidak tergantung
kepada satu dua tiga orang yang sama sekali tidak mempunyai
tanggung jawab buat masa mendatang. Pergilah kalau kalian akan
pergi. Orang-orang semacam kalian pasti hanya akan
memperlambat pekerjaan dan mengendorkan nafsu bekerja”.
“Agni” potong orang-orang itu, dan salah seorang di antara
mereka meneruskan, “kata-kata itu terlampau kasar buat kami”.
“Hatiku terlampau sakit melihat sikap kalian dan alasan kalian
yang tidak masuk akal bagiku”.
Orang-orang itu tidak menjawab lagi. Tetapi mereka kini
membenahi pakaian mereka dengan tergesa-gesa, “Aku akan segera
pergi”.
“Pergilah. Mudah-mudahan Hantu Karautan menyadap darahmu”
desis Mahisa Agni hampir-hampir tidak dapat mengendalikan diri.
Tiba-tiba orang-orang itu mcnjadi pucat. Mereka takut
mendengar Agni menyebut Hantu Karautan, sejenak mereka saling
berpandangan. Kemudian berkatalah salah seorang dari mereka,
“Kami akan pergi pagi-pagi besok”.
“Kalian akan kemalaman di jalan”.
“Terpaksa kami akan membawa kuda-kuda kami, seekor buat
dua orang”.
“He” kembali Mahisa Agni terkejut. Kuda yang ada di padang itu
di antaranya memang milik orang-orang itu. Dua di antara mereka.
Tetapi apa boleh buat. Dengan lemahnya Agni berkata, “Bawalah.
Kau sangka hantu Karautan tidak dapat mengejarmu lebih cepat
dari lari seekor kuda. Dan kudamu akan mati kelelahan”.
Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengar jawaban mereka lagi
supaya hatinya tidak bertambah panas. Segera ia melangkah
meninggalkan gubug itu. Hatinya mcnjadi kian risau dan gelisah.
Pasti bukan hanya orang-orang itulah yang berperasaan demikian.
Apabila seorang mulai dengan yang meyakinkan hatinya itu, maka
orang-orang lain pasti akan mengikutinya.
Langkah Mahisa Agni tersendat-sendat di antara gubug-gubug
yang berserakan. Tetapi tiba-tiba ia mereka takut untuk melihat
keadaan di dalam gubug-gubug itu. Takut bahwa ia akan melihat
orang-orang yang lain berbenah lagi seperti yang baru saja
dilihatnya Atau orang-orang yang sedang terkena penyakit seperti
sakit Bitung. Atau yang kakinya bengkak dan punggungnya terkilir.
Tiba-tiba Mahisa mempercepat langkahnya. Tanpa
dikehendakinya sendiri ia berjalan cepat-cepat meninggalkan
perkemahannya, masuk kedalam gelapnya malam.
Anak muda itu sadar, ketika ia sudah berdiri di sisi bendungan
yang sedang dikerjakannya. Dengan hati yang pedih ia berjalan
menyelusuri brunjung-brunjung yang sudah dan belum terisi batu.
Disentuh-sentuhnya benda itu dengan tangannya seperti ia sedang
membelai anak-anak kesayangannya. Di sana-sini, teronggok
patokpatok
bambu yang sudah siap diruncingkan. Besok benda-benda itu
akan diturunkan ke kali. Tetapi, siapakah yang akan melakukannya,
apabila orang-orang Panawijen itu satu-satu meninggalkannya?
Apakah ia sendiri, bersama Ki Buyut dan Empu Gandring mampu
melakukanya?
Alangkah gelisahnya hati Mahisa Agni. Terbayang di dalam
angan-angannya, benda-benda itu akan terbengkelai. Brunjungbrunjung
dan segala macam perlengkapan. Semuanya itu akan
teronggok untuk seterusnya. Tak akan ada lagi tangan yang
menyentuhnya. Tak ada lagi yang menaruh perhatian atasnya.
Kalau kelak beberapa tahun lagi ia sempat datang ke tempat itu
pula. Sama sekali tidak berubah seperti saat ditinggalkannya. Hanya
apabila kerangka-kerangka bambu itu menyadi lapuk, batu-batu itu
pun akan berserakan di sekitarnya, untuk seterusnya tergolek saja
disitu. Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia
meletakkan tubuhnya duduk di atas sebuah brunjung yang sudah
berada di sisi dasar bendungan. Dari tempat duduknya Mahisa Agni
dapat melihat air yang mengalir hampir dibawah kakinya. Air itu
sebenarnya sudah tampak naik dan tergenang beberapa cengkang
dari dasarnya.
“Apakah pekerjaan ini akan terhenti?” gumamnya seorang diri. Ia
akan dapat membayangkan, seandainya satu dua orang saja yang
meninggalkan kerja itu, maka sehari dua hari lagi, hal itu pasti
akan
menjalar kepada orang-orang lain. Mereka pun akan segera
meninggalkan padang ini, untuk seterusnya berpencaran mencari
tempat-tempat baru di padukuhan-padukuhan yang telah terbuka.
Mungkin sekedar menjadi pekerja, atau pencari kayu,atau
pekerjaan-pekerjaan lain yang dapat mereka lakukan, sekedar untuk
mendapatkan upah.
“Kenapa mereka tidak mempertahankan harga diri meskipun
pada permulaannya semuanya dilakukan dengan prihatin”
gumamnya seorang diri, “Meskipun kini mereka harus membanting
tulang, tetapi mereka tidak perlu mencari belas kasian orang lain.
Mereka kelak akan menikmati hasil tangan sendiri”.
Tetapi orang-orang Panawijen berpendirian lain. Mereka tidak
setabah Mahisa Agni menghadapi kesulitan. Setelah berpuluh tahun
mereka hidup dengan senang, setiap cengkang tanah memberi
mereka makan, setiap dahan yang ditancapkan akan berbuah, maka
mereka benar-benar menjadi pekerja-pekerja yang kurang baik.
Dengan hati yang risau Mahisa Agni duduk tepekur.
Dipandanginya arus sungai yang gemericik membawakan lagu yang
rawan, seperti lagu yang bergema didalam hati Mahisa Agni itu
sendiri.
Dalam pada itu Mahisa Agni sama sekali tidak merasakan, bahwa
sepasang mata selalu saja memperhatikannya. Jarak mereka
memang belum terlampau dekat. Tetapi ketajaman mata itu dapat
melihat bahwa seseorang duduk termenung di sisi bendungan yang
sedang dibangun.
“Pasti Mahisa Agni” gumam orang itu, “tak ada orang lain yang
berani keluar seorang diri dari perkemahannya”.
Orang itu berwajah beku seperti wajah sosok mayat.
Kebo Sindet. Selama ini ia tidak sabar lagi menunggu adiknya
setiap kali kembali dengan laporan yang sama. Belum ada
kesempatan. Karena itu, maka kini ia ingin melihat sendiri, apakah
yang dikatakan adiknya itu benar.
Karena itu, ketika dilihatnya seorang anak muda duduk saorang
diri disisi bendungan yang sedang dikerjakan itu, Kebo Sindet
mengumpat didalam hatinya, “Wong Sarimpat benar-benar anak
yang malas. Mungkin ia tidak telaten menunggu kesempatankesempatan
seperti ini. Bukankah mudah sekali untuk
menerkamnya, memijit tengkuknya dan membawanya ke
Kemundungan?” tetapi kemudian dijawabnya sendiri, “Ah, agaknya
pesanku yang telah mengekangnya. Aku mengharap ia tidak
berbuat sendiri, supaya tidak mengalami kegagalan seperti yang
pernah terjadi. Tetapi orang itu benar-benar bodoh. Sebenarnya ia
dapat mempergunakan kebijaksanaan. Kesempatan serupa ini tidak
boleh lewat”.
Kebo Sindet tersenyum di dalam hati. namun wajahnya yang
beku masih saja membeku. Dikepalanya telah berputar berbagai
rencana dengan anak muda yang bernama Mahisa Agni itu. Dari
Kuda Sempana ia akan menerima hadiah yang cukup. Seterusnya ia
akan dapat melontarkan kesalahan kepada Empu Sada.
Kebo Sindet itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia
mengumpat perlahan-lahan, “Wong Sarimpat benar-benar bodoh.
Empu Gandring pasti akan memperhitungkannya pula, apabila
Mahisa Agni hilang”.
Orang yang berwajah beku itu tertegun sejenak. Namun katanya
di dalam hati, “Hem, kami harus mengakui lebih dahulu, bahwa
kami mendapat permintaan dan kemudian bekerja bersama dengan
Empu Sada. Seterusnya, aku dapat mengatakan kepada permaisuri
itu, bahwa kami terpaksa membunuh Empu Sada, karena ternyata
maksudnya terlampau jahat. Sedang anak muda yang bernama
Mahisa Agni ternyata tidak bersalah, apalagi ia adalah adik tuan
puteri Ken Dedes. Dan kami akan merebut Mahisa Agni. Namun
sayang, anak muda itu telah menjadi cacat karena perlakuan Empu
Sada dan Kuda Sempana. Buta, tuli dan bisu” Kebo Sindet
mengangguk-anggukkan kepalanya, “Meskipun Mahisa Agni telah
cacat, namun adiknya yang terlampau mengasihinya dan kini
menjadi seorang permaisuri itu pasti akan memberi kami hadiah.
Apalagi kalau kami sempat menyerahkan Kuda Sempana pula.
Mungkin Kuda Sempana harus menjadi bisu pula supaya tidak dapat
mengatakan apapun lagi. Tetapi seandainya tidak, maka katakatanya
pasti tidak akan dipercaya, sebab selama ini Kuda Sempana
lah yang selalu mengejar-ngejar Mahisa Agni”. Namun Kebo Sindet
itu berguman, “Tentu saja tidak terlampau sederhana seperti itu,
tetapi gambaran yang demikian bukan berarti terlampau jauh”.
Kembali Kebo Sindet memandangi bayangan yang duduk
termenung itu. Perlahan-lahan ia merayapi tebing supaya Mahisa
Agni tidak melihatnya. Ia akan muncul dengan tiba-tiba dan
menerkamnya, langsung menekan urat-urat lehernya dan membuat
anak itu pingsan.
Tetapi Kebo Sindet itu terkejut. Agak jauh ia mendengar suara
batuk-batuk. Tetapi semakin lama semakin dekat.
Dan ia mengumpat habis-habisan di dalam hatinya ketika ia
mendengar anak muda itu menyapa, “Siapa?”
Bayangan yang mendatang itu tidak segera menjawab. Perlahanlahan
ia melangkah semakin dekat.
Kebo Sindet yang bersembunyi di sisi tebing di balik rumpunrumpun
perdu segera melihat pula bayangan itu. Remang-remang di
dalam gelap malam berjalan mendekati Mahisa Agni
.
“Siapa?,” sekali lagi Mahisa Agni menyapanya. Tiba-tiba ia
menyadari, bahwa bahaya masih saja selalu mengerumuninya.
Karena itu maka segera ia berdiri tegak dan siap menghadapi setiap
kemungkinan.
Tetapi jawaban yang didengarnya telah mengendorkan
ketegangan uratnya, “Aku Agni”.
Namun Kebo Sindetlah yang kemudian menjadi tegang ketika ia
mendengar Agni menyahut, “Paman Empu Gandring?”
“Ya Agni”.
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali di atas brunjungbrunjung
yang sudah penuh berdiri batu, sedang pamannya duduk
pula disampingnya. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadari
bahwa sepasang mata sedang mengintai mereka.
Alangkah kecewanya Kebo Sindet melihat kehadiran Empu
Gandring. Kembali ia mengumpat-umpat di dalam hatinya., “Setan
belang. Apakah yang dicarinya setan tua itu?” Namun tiba-tiba
timbullah pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah orang itu
mengetahui bahwa aku berada disini?”
Kebo Sindet mengatupkan giginya rapat, tetapi sorot matanya
seakan-akan memancarkan api kemarahannya., “Hem,” ia
menggeram di dalam hati, “Ternyata benar juga kata Wong
Sarimpat. Orang tua itu seolah-olah tidak pernah terpisah dari
kemanakannya. Tetapi ini akibat dari kelalaian Wong Sarimpat pula,
sehingga Empu Gandring menjadi semakin berhati-hati. Setiap kali
ia tidak melibat kemanakannya, maka pasti ia akan mencarinya.
Terasa dada orang itu bergelora, meskipun wajahnya masih saja
membeku. Namun Kebo Sindet ternyata lebih mampu
mengendalikan perasaannya dari pada adiknya. Seandainya yang
ada di tebing itu Wong Sarimpat, maka pasti ia akan melepaskan
kemarahannya. Mungkin ia akan melompat meskipun ia ia tahu
bahwa itu tidak akan ada gunanya.
Tetapi Kebo Sindet tidak berbuat demikian. Perlahan-lahan ia
malangkah surut semua tindakannya atas anak muda itu saat ini
pasti tidak akan berhasil. Karena itu, lebih baik menyingkir untuk
sementara sampai di saat lain ada kesempatan yang terbuka.
“Aku harus bersabar” katanya di dalam hati, “aku harus
menunggu keduanya menjadi lengah sehingga mereka melupakan
bahaya yang dapat mengancam anak muda itu”.
Empu Gandring dan Mahisa Agni sama sekali tidak tahu bahwa
seseorang sedang meninggalkan tepian itu sambil mengumpatumpat
tak putus-putusnya. Mereka tidak menyadari bahwa hampirhampir
saja Mahisa Agni diterkam oleh bahaya yang selalu
membayanginya. Seperti semula ia tidak tahu, bahwa orang-orang
Panawijen sendirilah yang akan menggagalkan rencana pembuatan
bendungan itu.
Ternyata Kebo Sindet cukup berhati-hati, sehingga ia tidak
menimbulkan kegaduhan. Kudanya yang ditambatkannya agak jauh,
tidak segera dipacunya. Tetapi dibiarkannya kuda itu berjalan
perlahan-lahan menjauh. Meskipun demikian, hatinya benar-benar
menjadi kecewa. Anak muda yang dicarinya itu seakan-akan telah
ada di dalam genggamannya. Tetapi tiba-tiba lepas kembali.
“Hem” gumamnya, “Wong Sarimpat pernah berkata demikian
pula beberapa saat yang lalu”.
Di atas bendungan yang sedang dikerjakan itu, Mahisa Agni dan
Empu Gandring masih saja duduk sambil berdiam diri. Mereka masih
saja memandangi arus air yang bergejolak menggelepar melanda
dasar bendungan yang sudah diletakkan di dasar sungai itu.
Angin malam yang sejuk berhembus perlahan-lahan mengusap
tubuh mereka. Dikejauhan terdengar lamat-lamat burung-burung
malam bersahut-sahutan, diantara derik suara bilalang.
Yang sejenak kemudian berkata memecah sepinya malam adalah
Empu Gandring. Dengan nada yang rendah ia bertanya, “Mahisa
Agni, apa kerjamu malam-malam disini?”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tetapi kembali wajah itu
menunduk memandangi air dibawah kakinya. Perlahan-lahan ia
menjawab, “Tidak apa-apa paman”.
Pamannya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah
kcmanakannya yang tunduk. Iba batinya terhadap anak itu menjadi
semakin dalam. Ia tahu apa yang telah terjadi diperkemahan. Ia
tahu bahwa beberapa orang telah membenahi diri dan besok akan
meninggalkan padang itu kembali ke Panawijen.
Karena itu maka katanya, “Agni, apakah kau sedang memikirkan
bendungan itu?”
Kembali Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak
menjawab.
“Apakah kau sedang dibingungkan oleh beberapa orang yang
besok akan kembali ke Panawijen?”
Mahisa Agni masih berdiam diri.
“Dan kau tidak dapat mencegahnya lagi?”
Akhirnya Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil berkata,
“Ya paman. Beberapa orang besok akan kembali ke Panawijen.
Kalau itu benar-benar terjadi, maka orang-orang yang lain pun akan
pergi juga dari padang ini, sehingga akhirnya aku akan kehabisan
kawan. Pasti tidak mungkin aku akan melakukannya sendiri”.
Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya, kau
tidak akan dapat melakukannya sendiri. Tetapi bukankah kau masih
dapat mengharap beberapa orang akan tetap berada di padang ini
dan bekerja bersamamu?”
“Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang besar dan berat paman.
Aku memerlukan teman sebanyak-banyaknya yang dapat mengerti
arti perjuangan ini. Tetapi ternyata mereka sama sekali tidak dapat
membayangkan arti dari perjuangannya itu, sehingga sebagian dari
mereka menjadi jemu karenanya. Besok sebagian dari mereka akan
kembali. Lusa yang lain menyusul. Esok kemudian yang lain lagi,
sehingga akhirnya aku akan tinggal di sini seorang diri”.
Empu Gandring mengagguk-anggukkan kepalanya mendengar
keluhan Mahisa Agni itu. Ia dapat mengerti luka parah luka
dihatinya. Meskipun demikian orang tua itu berkata, “Agni, kau
adalah seorang anak muda. Karena itu jangan mengeluh dan lekas
berputus asa. Lakukan segala usaha, kau pasti akan menemukan
jalan. Bukankah usahamu ini adalah usaha yang baik. Yang Maha
Agung pasti akan menyertaimu”.
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia percaya benar kepada
kekuasaan tertinggi diluar kemampuan jangkau otak manusia. Ia
percaya bahwa usahanya itu adalah usaha yang baik. Usaha untuk
kesejahteraan manusia, meskipun hanya dalam lingkungan yang
kecil.
Tetapi kali ini seakan-akan pekerjaannya sama sekali tidak dapat
berjalan dengan lancar. Seakan-akan Yang Maha Agung tidak
memberinya kesempatan untuk berbuat, untuk melakukan
pengabdian yang kecil ini. Ada saja rintangan-rintangan yang harus
dihadapinya. Dari dalam tubuh orang-orang Panawijen sendiri dan
dari luar lingkungan mereka.
Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Empu
Gandring itu pun berkata pula, justru langsung menjentuh perasaan
Mahisa Agni yang sedang diliputi oleh kerisauan itu, “Agni. Mungkin
tangan Yang Maha Agung itu tidak segera dapat kau rasakan.
Mungkin kau justru merasa sama sekali tidak mendapat tuntunan-
Nya. Tetapi kau barus mencari kesalahan itu pada dirimu sendiri.
Mungkin kau kurang tekun memanjatkan permohonan kepada-Nya.
Mungkin kau kurang prihatin. Tetapi mungkin juga kali ini
permohonanmu memang belum selayaknya dipenuhi seluruhnya.
Setiap kesulitan adalah pelajaran bagimu. Hanya kitalah yang
kadang-kadang tidak dapat menangkap maksud tuntunan itu.
Namun seandainya demikian buat kali ini, baiklah kita mencoba
meraba-raba maksud itu. Yang Maha Agung tidak akan memberikan
bendungan begitu saja. Tetapi pasti ada tuntunan bagi kita
sekalian.
Kita ternyata mendapat latihan untuk bekerja keras dan berusaha
tidak mengenal putus asa”.
Empu Gandring diam sejenak. Ia ingin tahu, apakah yang
dirasakan oleh kemanakannya.
Sesaat kemudian berkatalah Mahisa Agni, “Paman bagaimana
aku akan dapat melangsungkan kerja tanpa orang-orang lain.
Mungkin aku dan Ki Buyut Panawijen dapat tinggal di sini dengan
kesadaran sepenuhnya, bahwa apa yang kita lakukan ini akan
berarti tidak saja buat masa depan yang dekat, tetapi juga buat
masa-masa mendatang. Buat anak cucu. Namun apakah arti kami
berdua, dan mungkin juga paman untuk beberapa lama, karena
mustahil paman akan dapat tinggal bersama kami terus-menerus,
karena paman mem punyai padepokan dan beberapa orang cantrik.
Apakah yang dapat kita lakukan untuk melawan alam yang garang
dan kasar ini?”
“Agni” berkata pamannya, “kau hanya melihat kekuatan lahiriah.
Kau melupakan kekuatan yang tidak kasat mata. Ingatkah kau Agni,
apa yang pernah dilakukan oleh gurumu? Aku pernah mendengar,
dan kau pernah pula mengatakan kepadaku. Bagaimana ia
membuat bendungan di Panawijen?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dan pamannya berkata
seterusnya, “Gurumu, Empu Purwa bekerja seorang diri. Hanya
dengan beberapa orang cantrik yang setia dan beberapa orang
dalam jumlah yang sangat kecil, ia berhasil membangun
bendungan, meskipun sampai berbilang tahun. Apakah kau sangka
Empu Purwa mempunyai Aji Bala Srewu yang berwujud seribu
raksasa untuk membantunya membangun bendungan itu? Tidak
Agni. Bala Srewu milik gurumu adalah ketekunannya berlandaskan
pada kepercayaannya kepada Yang Maha Tinggi. Gurumu tidak akan
mampu membuat apa pun tanpa tuntunan-Nya. Tanpa Tangan-Nya
Yang Agung. Adalah di luar akal, bahwa gurumu dan beberapa
orang saja mampu membuat bendungan itu, apabila tidak ada
kekuasaan yang melampaui segala kekuasaan ikut membantunya”.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Terasa jantungnya berderakderak
seperti akan meledak. Kata-kata pamannya serasa menyentuh
batinnya dan mengalir menelusur urat-urat darahnya, memanasi
seluruh bagian tubuhnya.
Kata-kata itu bagaikan kekuatan yang tidak ada taranya
menyusup ke dalam dirinya.
Mahisa Agni itu pun tiba-tiba menengadahkan wajahnya. Kini
seakan-akan ia telah menemukan dirinya dan menemukan gairah
serta nafsu yang menyala-nyala itu kembali. Ketika ia melihat
langit
diatas kepalanya, kini dilihatnya bintang gemintang berbinar terang
bergayutan pada tabir yang biru gelap. Terdengar suara derik
jengkerik seperti suara genderang perang, serta suara burungburung
malam yang memekik-mekik itu, seperti suara sangkakala
yang berbunyi dari celah-celah langit.
Tiba-tiba terdengar anak muda itu menggeram, “Ya, paman. Aku
menyadari keadaanku. Aku telah terseret oleh arus keputus-asaan.
Aku melupakan setiap kemungkinan, yang teraba dan yang tidak
teraba oleh panca indera. Karena itu, aku berjanji paman, bahwa
aku akan berusaha sampai kemungkinan yang terakhir untuk
mewujudkan bendungan ini. Meskipun seandainya aku tinggal
seorang diri”.
“Bagus” sahut pamannya, “setidak-tidaknya cantrik-cantrik
gurumu akan membantumu seperti gurumu pada saat membuat
bendungan itu. Apabila demikian, apabila kau harus bekerja sendiri,
maka yang pertama-tama harus kau kerjakan adalah, berusaha
mendapatkan perbekalan secara terus-menerus. Tanamlah macammacam
ubi-ubian di tebing-tebing sungai ini supaya kau dapat
menyimpan makanan untuk waktu yang panjang”.
“Baik paman” sahut Mahisa Agni dengan mantap. Ia kini tidak
lagi dilanda oleh keragu-raguan dan kebimbangan.
“Tetapi kini kau belum sendiri. Kau masih mempunyai cukup
kawan”.
“Mereka besok akan meninggalkan padang ini. Satu demi satu.
Tetapi aku sudah tidak mempedulikannya lagi. Biarlah mereka pergi
seluruhnya. Biarlah mereka meninggalkan aku seorang diri. Tetapi
kini aku menemukan keyakinan di dalam diriku, seperti kata paman,
bahwa ada yang selalu bersamaku, justru Yang Maha Agung”.
Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Empu Gandring
mendengar kata-kata kemanakannya, yang agaknya kini benarbenar
telah menemukan kembali hubungan yang erat antara dirinya
dengan Sumbernya, yang selama ini telah terganggu oleh
keraguraguan,
kecemasan dan ketidak-tentuan.
Karena itu maka orang tua itu berkata, “Bagus Agni. Dengan
bekal itu kau pasti akan dapat menyelesaikan pekerjaanmu. Kau
tidak perlu tergesa-gesa. Kau tidak perlu mengharap bendunganmu
itu akan siap sebelum musim hujan yang akan datang. Meskipun di
musim hujan air akan menjadi lebih besar, tetapi banjir yang besar
yang akan menghanyutkan brunjung-brunjung yang telah kau
letakkan pada dasar sungai itu tidak selalu datang. Mungkin
banjirbanjir
itu akan datang melandanya dan menghanyutkannya, tetapi
mungkin pula tidak. Kalau kau pasang dasar bendungan itu dengan
perhitungan yang baik, dengan dasar kemungkinan yang paling
pahit, maka kau akan berhasil mengatasi banjir yang bagaimanapun
besarnya”.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia menjadi
semakin mantap. Dan kini ia tidak lagi menjadi cemas menghadapi
setiap ancaman.
Karena itu, maka ketika pamannya mengajaknya kembali
keperkemahan, Mahisa Agni tidak lagi berjalan dengan ragu. Ia
melangkah dengan dada tengadah.
Ketika mereka sampai di perkemahannya, maka Empu Gandring
pun segera masuk ke dalam gubugnya. Tetapi Mahisa Agni tidak
berbuat demikian. Ia masih ingin melihat-lihat perkemahan itu
sekali
lagi dengan tanggapan yang jauh berbeda.
“Kau harus beristirahat Agni”.
“Ya paman, tetapi aku ingin meneruskan melihat-lihat
perkemahan ini sebentar. Aku tadi terhenti di tengah-tengah ketika
hatiku menjadi bingung melihat orang-orang yang sedang sibuk
berkemas-kemas. Kini aku akan melihat gubug demi gubug. Apa
pun yang akan aku lihat, aku sudah tidak akan terpengaruh lagi.
Bahkan aku ingin melihat, siapakah yang kira-kira akan dapat
bekerja bersamaku seterusnya apabila orang-orang lain satu demi
satu meninggalkan padang yang keras ini”.
“Aku kira semua orang telah tidur”.
“Biarlah. Kalau ternyata demikian, aku pun akan segera tidur
pula”.
Pamannya tidak menahannya lagi. Perlahan-lahan Mahisa Agni
melangkah kembali menyusuri perkemahan itu. Gubug demi gubug
dilihatnya. Beberapa anak-anak muda tidur mendekur berselimut
kain panjang. Ada pula diantara mereka yang tidur di samping
perapian yang masih membara.
Tetapi bagaimanapun juga, hati anak muda itu menjadi
berdebar-debar ketika sekali lagi ia melihat beberapa orang tidur
dengan beberapa bungkusan yang telah siap di sampingnya.
Sejenak Mahisa Agni berhenti. Ditatapnya orang-orang itu sambil
bergumam didalam hatinya Hem, agaknya kalian tidak menyadari
apa yang kalian lakukan”.
Kini Mahisa Agni tidak lagi menjadi cemas, ketakutan dan
berputus-asa, tetapi tiba-tiba ia merasa kasihan kepada orang-orang
itu. Kasihan mereka menjadi berputus-asa dan kehilangan
kepercayaan kepada diri sendiri. Mereka lebih senang melarikan diri
dari usaha ini dan menggantungkan diri kepada
kemungkinankemungkinan
yang akan dijumpainya. Mungkin karena belas kasihan
seseorang, mungkin karena kebetulan.
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa pula. Sikap itu pasti akan
mempengaruhi sikap orang-orang lain yang memang sudah
dihinggapi oleh perasaan yang serupa.
Meskipun demikian, kini Mahisa Agni sendiri tidak terpengaruh
olehnya. Ia tidak lagi menjadi bingung dan putus-asa seperti
orangorang
itu.
Perlahan-lahan Mahisa Agni meneruskan langkahnya. Kini ia
mendengar seseorang mengeluh karena kakinya bengkak dan di
gubug yang lain ia mendengar seseorang menggigil kedinginan
meskipun tubuhnya menjadi panas.
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ia tidak boleh mundur
karena keadaan itu. Tetapi ia harus maju justru mengatasi keadaan
itu.
Yang ada di kepala Mahisa Agni kini adalah angan-angan,
bagaimana ia dapat mencari jalan keluar dari segala macam
kesulitan. Bagaimana ia dapat mengatasinya dan menemukan suatu
keadaan yang mantap, meskipun hanya tinggal beberapa orang saja
yang bersedia bekerja bersamanya.
Tanpa diketahuinya Mahisa Agni kini telah berdiri di ujung
perkemahannya. Seperti sebatang tonggak ia berdiri dan mengawasi
padang yang luas terbentang dihadapannya. Padang yang kelak
akan dibelahnya dengan saluran air dan akan dirobek-robeknya
dengan parit-parit yang mengalirkan air yang jernih.
Mahisa Agni berpaling ketika ia melihat seseorang yang tidur di
samping perapian menggeliat bangun. Orang itu agak terkejut
ketika dilihatnya sesosok tubuh berdiri membeku di sampingnya.
Tetapi kemudian orang itu berkata, “Hem, kau Agni. Apakah kau
tidak tidur?”
“Aku tidak mengantuk” jawab Agni.
“Aku lelah sekali, “ sahut orang itu pula, “tangan dan kakiku
serasa akan terlepas”.
Mahisa Agni yang sedang risau itu tiba-tiba merasa tersinggung.
Tanpa memandang ke arah orang itu ia berkata, “Apakah kau juga
akan kembali ke Panawijen seperti beberapa orang lain?”
Orang itu menjadi heran. Perlahan-lahan ia bertanya, “Apakah
ada orang yang akan kembali ke Panawijen?”
“Ya Orang-orang yang berputus-asa. Apakah kau mau ikut
supaya kaki dan tanganmu tidak terlepas?”
Orang itu diam sejenak. Dengan heran dipandanginya wajah
Mahisa Agni yang seolah-olah membeku. Namun tiba-tiba ia
berkata, “Agni kau salah sangka. Aku sudah bersedia bekerja di
padang ini. Bukankah kau melihat bahwa aku telah bekerja dengan
sekuat tenagaku? Kenapa kau berkata begitu? Meskipun semua
orang akan kembali ke Panawijen, namun aku akan tetap berada di
sini selagi masih ada orang yang memimpinku mengerjakan
bendungan itu”.
Hati Mahisa Agni bcrgejolak mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia
menyadari kesalahannya. Karena itu dengan serta-merta ia berkata,
“Maafkan aku. Hatiku sedang diamuk oleh kekecewaan karena aku
melihat beberapa orang yang akan meninggalkan padang ini besok
pagi”.
Orang itu meng-angguk-anggukkan kepalanya. Kembali ia
bertanya, “Jadi benarkah bahwa ada orang-orang yangg akan
kembali ke Panawijen besok?”
“Ya”.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia
bergumam, “Suatu pertanda bahwa pekerjaan kita akan menjadi
semakin berat. Pasti bukan hanya orang itu sajalah yang kemudian
akan meninggalkan kita”.
“Apakah kau keberatan?”
Orang itu menggeleng, dan Mahisa Agni pun menjadi malu
kepada diri sendiri. Apalagi ketika orang itu menjawab, “Bukankah
kita tidak akau dapat memaksanya? Kalau orang-orang itu memang
telah menjadi jemu, biarlah mereka pergi. Di tempat ini mereka
hanya akan mengganggu dengan berbagai macam hasutan dan
menghabiskan persediaan makan yang sudah menipis itu”.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia kagum mendengar tekad dan
pendapat orang itu. Ternyata di antara orang-orang Panawijen yang
malas dan berhati goyah, ada juga orang-orang serupa orang ini.
“Bagaimana kalau mereka semuanya pergi meninggalkan padang
ini?” Mahisa Agni mencoba menjajagi hatinya.
“Hem” orang itu berdesah, “kalau demikian maka kita yang
tinggal akan bekerja untuk dua tiga musim”.
“Bagus” sahut Mahisa Agni, “ternyata kau adalah seorang yang
berhati baja. Setidak-tidaknya kita bertiga dan beberapa orang
cantrik akan tinggal disini. Aku, kau, Ki Buyut Panawijen dan
cantrikcantrik
dari padepokan Empu Purwa itu”.
Orang itu tersenyum. Sambil menguap ia bergumam, “Aku
mengantuk. Aku akan tidur”.
Sejenak kemudian orang itu pun telah berbaring kembali di
samping perapian sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kain
panjang yang lungset.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata hatinya tidak
setenang dan setabah hati orang itu. Orang itu sama sekali tidak
menjadi gelisah dan kecewa. Bahkan sejenak kemudian orang itu
telah mendekur pula.
Namun dengan demikian, hati Mahisa Agni kini menjadi semakin
mantap. Ternyata Yang Maha Agung benar-benar besertanya. Lewat
pamannya dan orang yang kini telah tertidur kembali itu, ia
mendapat tuntunan-Nya, mendapat peringatan-Nya sehingga ia
mendapatkan kekuatannya kembali.
Kini Mahisa Agni kembali memandangi padang yang luas dan
gelap itu. Padang itu harus ditaklukkannya, sehingga padang itu
akan menuruti kemauannya.
Malam yang gelap menjadi semakin gelap. Angin malam
berhembus mengusap tubuh Mahisa Agni yang berdiri tegang.
Titiktitik
embun telah mulai membasahi atap-atap gubug dan
rerumputan yang terbentang dihadapannya.
Tetapi titik embun itu sama sekali tidak mampu menyejukkan hati
Mahisa Agni yang kecewa. Meskipun ia tidak lagi menjadi gelisah
dan bingung, namun sikap beberapa orang itu masih saja tidak
dapat dimengertinya.
Ketika Mahisa Agni mendengar suara batuk-batuk seseorang
yang sedang tidur di gubug yang paling ujung, maka tersadarlah
bahwa malam telah terlampau dalam, bahkan telah melampaui titik
pusatnya. Karena itu, maka perlahan-lahan Mahisa Agni menggeliat
dan melangkah kembali ke gubugnya sambil bergumam, “Persetan.
Pergilah yang mau pergi. Pendapat orang itu baik sekali. Disini
mereka hanya akan mengganggu dan menghabiskan persediaan
makanan”. Tetapi Mahisa Agni berdesah pula, “Kasian. Mereka telah
kehilangan segenap kepercayaan. Kepada diri sendiri dan kepada
Sumber Hidup-Nya”.
Tiba-tiba langkah Mahisa Agni tertegun. Ia melihat sesuatu
bergerak-gerak dikejauhan. Mula-mula samar-samar, tetapi semakin
lama menjadi semakin jelas.
Jantung Mahisa Agni serasa berdentang karenanya. Ia melihat
nyala obor. Tidak hanya sebuah, tetapi dua, tiga bahkan lebih.
“Apakah aku bermimpi?” desis Mahisa Agni. Namun obor itu
masih saja dilihatnya semakin lama semakin nyata.
“Obor itu mendekati perkemahan ini” gumamnya.
Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Ia mencoba untuk
menebak apakah kira-kira yang dilihatnya itu. Apakah benar-benar
obor, atau yang sering disebut orang kemamang? Semacam burung
yang dapat menyala dan berterbangan di malam hari.
Tetapi segera Mahisa Agni dapat memastikan bahwa yang
dilihatnya itu adalah nyala beberapa buah obor.
Untuk meyakinkan penglihatannya, Mahisa Agni melangkah
kembali mendekati orang yang sedang mendekur itu. Perlahanlahan
orang itu dibangunkannya.
Sambil menggeliat orang itu bertanya, “Ada apa Agni?”
“Bangunlah. Lihatlah. Apakah kau melihat seperti yang aku
lihat?”
“Apa?”
“Bangunlah”.
Wajah orang itu memjadi tegang. Perlahan-lahan ia bergumam,
“Apakah kau sedang menakut-nakuti aku? Atau apakah kau melihat
Hantu Karautan?”
“Aku tidak takut kepada Hantu Karautan. Tetapi yang aku lihat
adalah obor”.
“O, kemamang kau maksudkan? Hantu api yang menyebarkan
bala penyakit”.
“Bangunlah dan lihatlah. Menurut pengamatanku yang aku lihat
adalah nyala obor. Sama sekali bukan kemamang Apalagi yang
menjebarkan penyakit”.
Dengan tergesa-gesa orang itu bangkit dan segera pula berdiri.
Ditatapnya arah yang ditunjuk oleh Mahisa Agni dengan jarinya.
Wajah itu pun segera menjadi semakin tegang. Seperti bergumam
kepada diri sendiri orang itu berkata, “Ya ya. Obor”.
“Nah” berkata Mahisa Agni, “bukankah benar-benar obor, api
obor? Bukan kemamang yang akan menyebarkan penyakit?”
“Tetapi siapakah yang membawa obor di malam begini di Padang
Karautan?, “ Orang itu berhenti sejenak. Terapi hampir memekik ia
berkata, “Pasti Hantu Karautan. Hantu Karautan bersama
kawankawannya
berbaris. Oh, memang hantu-hantu sering berbaris pula
seperti manusia. Mungkin hantu-hantu itu terjadi oleh roh-roh
jahat.
Mungkin gerombolan-gerombolan perampok yang terbunuh di
padang ini oleh prajurit Tumapel”.
“Hantu-hantu tidak memerlukan obor” sahut Mahisa Agni,
“mereka dapat melihat jelas di dalam gelap. Justru semakin gelap,
mereka semakin dapat melihat dengan tajamnya”.
Orang itu menarik nafas., “ Lalu siapakah mereka?”
Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab.
Kembali orang itu berkata dengan serta-merta, “Kalau begitu
mereka bukan roh perampok-perampok yang mati di padang ini,
tetapi justru mereka adalah perampok-perampok yang masih hidup.
Mereka menyangka kita membawa banyak perbekalan disini”.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Meskipun
angan-angannya tidak sejalan dengan orang itu, bahwa yang
datang itu gerombolan perampok yang akan merampas harta
benda, tetapi ada juga persamaaanya dengan itu. Angan-angannya
segera hinggap kepada Empu Sada, Kuda Sempana, dan orang yang
ditemuinya terakhir di Padang Karautan Wong Sarimpat.
Wajah Mahisa Agni pun menjadi semakin tegang. Di kenangnya
pula ceritera Witantra ketika pemimpin prajurit pengawal Akuwu itu
mengantar Ken Dcdes ke Panawijen. Ternyata Empu Sada mampu
membawa segerombol orang-orangnya untuk mencegat para
pengawal.
“Apakah mereka datang kemari pula?” katanya di dalam hati,
“tetapi apakah mereka memerlukan obor juga?”
Meskipun Mahisa Agni menjadi bimbang, tetapi kemungkinan
itulah yang paling besar dapat terjadi. Tidak ada hantu tidak ada
kemamang yang menyebarkan penyakit, tetapi apabila yang datang
itu Empu Sada dan Wong Sarimpat, maka akibatnya lebih dari hantu
yang mana pun juga, lebih daripada kemamang yang menyebarkan
penyakit.
Tetapi Mahisa Agni tidak mau menggelisahkan orang-orang
Panawijen. Dengan tenang ia berkata, “Marilah kita tunggu,
siapakah yang datang itu. Sebaiknya Ki Buyut Panawijen siap pula
menyambutnya. Mungkin orang-orang yang datang itu sebuah
rombongan pedagang yang tersesat atau mencari perlin dungan”.
“Apakah mereka tahu, bahwa di sini ada perkemahan?”
“Api yang menyala di perapian dan lampu-lampu itulah agaknya
yang menuntun mereka kemari”.
Orang itu pun meng-angguk-anggukkan kepalanya. Dari sela-sela
bibirnya ia bergumam, “Mungkin. Mungkin pula demikian”. Namun
terasa bahwa batinya diganggu oleh keragu-raguan dan kecemasan.
“Awasilah obor-obor itu” berkata Mahisa Agni, “aku akan
membangunkan Ki Buyut”.
“Baiklah, “ jawab orang itu, “tetapi jangan terlampau, lama”.
“Kenapa?”
Orang itu tidak menjawab, tetapi Mahisa Agni dapat meraba
perasaannya. Orang itu agaknya menjadi takut.
“Jangan takut dan cemas. Obor-obor itn masih terlalu jauh. Kalau
benar mereka itu para pedagang yang tersesat, maka kau pasti
akan mendapat hadiah nanti. Tenanglah”.
Orang itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tanpa
sepatah jawabanpun.
Dengan tenangnya Mahisa Agni berjalan meninggalkannya
seorang diri. Tetapi ketika Agni telah membelok ke balik sebuah
gubug, maka segera ia mempercepat langkahnya. Hatinya sendiri
sebenarnya telah dilanda pula oleh kegelisahan dan berbagai
pertanyaan mengenai obor-obor itu.
Ki Buyut yang kemudian dibangunkan dari tidurnya, dengan
tergesa-gesa pergi keluar gubugnya dan berjalan ke sisi
perkemahan. Atas petunjuk Mahisa Agni, segera ia pun melihat
beberapa buah obor yang kini menjadi semakin dekat.
“Apakah menurut dugaanmu Ngger?”
“Aku tidak tahu Ki Buyut”.
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia pun
menjadi gelisah pula.
“Aku akan membangunkan paman pula Ki Buyut”.
“Bagus, “ sahutnya, “aku menunggu disini”.
Kembali Mahisa Agni melangkah dengan tergesa-gesa. Berbagai
gambaran hilir mudik dikepalanya. Namun yang paling tajam adalah
gambaran tentang Kuda Sempana, Empu Sada dan orang yang
berwajah kasar, sekasar batu padas, yang mampu memacu kuda
tanpa pelana.
Empu Gandring mengerutkan keningnya ketika ia mendengar
tentang obor-obor itu dari Mahisa Agni. Seperti Ki Buyut maka orang
tua itu pun segera pergi ke sisi perkemahan untuk dapat melihat
obor-obor itu dengan jelas.
“Apakah dugaan Empu tentang obor-obor itu?”
Empu Gandring menggeleng, “Aku belum dapat menduga Ki
Buyut”.
Namun Mahisa Agnilah yang menjawab dengan ragu-ragu,
“Apakah mungkin mereka itu sebuah gerombolan seperti yang
diceriterakan oleh Witantra itu paman. Bukankah Empu Sada pernah
mencoba mencegat Ken Dedes?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia
berdesis, “Apakah mereka akan datang dengan membawa obor?”
“Mereka yakin bahwa usahanya akan berhasil kali ini. Bukankah
Empu Sada tidak sendiri?”
“Ya, Bersama Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan beberapa orang
muridnya”.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar jawaban
pamannya, meskipun ia sudah menduga pula. Nama-nama itu
kembali diulanginya didalam hatinya, Empu Sada, Wong Sarimpat
dan Kebo Sindet.
“Hem” desahnya.
Ki Buyut Panawijen yang mendengar pembicaraan itu pun
menjadi cemas pula. Terbata-bata ia bertanya, “Siapakah mereka itu
Empu? Apakah mereka itulah yang ingin berbuat jahat atas Angger
Mahisa Agni?”
“Belum pasti Ki Buyut. Kita belum tahu pasti siapakah yang akan
datang itu”.
“Tetapi kemungkinan terbesar adalah mereka itu. Siapa lagi?
Siapa lagi yang akan datang dilewat tengah malam ini kecuali orang
jahat? Mereka sengaja datang sambil membawa obor untuk
memberitahukan kepada kita bahwa mereka datang dengan dada
tengadah”.
Empu Gandring masih berusaha menenangkan, “Ki Buyut,
Padang Karautan ini adalah padang yang terlampau sepi.
Seandainya ada satu dua penjahat atau penyamun, maka mereka
pasti berada di sisi lain, yang sering dilalui orang”.
“Mereka pun pasti hanya seorang atau dua, tidak dalam jumlah
yang besar”.
“Mereka dapat memanggil kawan-kawan mereka Empu”.
“Apakah yang akan mereka cari di sini? Bukankah mereka
mengetahui bahwa kita sedang bekerja membuat bendungan?
Seandainya mereka ingin merampok kita, maka mereka pasti akan
datang ke Panawijen justru di sana hampir tidak ada seorang
lakilaki
pun”.
Ki Buyut memandangi wajah Empu Gandring dengan gelisahnya.
Pcrlahan-lahan ia menjawab ragu-ragu sambil berpaling kepada
Mahisa Agni, “Bukan Empu, bukan harta benda yang mereka cari,
bukankah mereka mencari Angger Mahisa Agni”.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, sedang Mahisa Agni
mcnggeretakkan giginya. Sambil mengangguk perlahan-lahan Empu
Gandring berkata, “Mungkin. Tetapi itu pun baru kemungkinan. Kita
semua tidak tahu, siapakah yang datang itu?”
Sejenak mereka terdiam. Obor-obor itu bergerak-gerak seperti
siput yang sedang merayap. Perlahan-lahan tetapi pasti maju
mendekati perkemahan ini.
Mereka terkejut ketika kemudian terjadi hiruk pikuk di sisi
perkemahan itu. Ternyata beberapa orang telah bangun.
Oleh orang yang melihat obor itu bersama Mahisa Agni, beberapa
kawannya telah dibangunkannya karena perasaan takut. Tetapi
ternyata ketakutannya itu pun telah menjalar pula, sehingga
kemudian hampir semua orang di perkemahan itu terbangun.
Beberapa orang berlari-lari mencari Ki Buyut Panawijen. Dengan
nafas terengah-engah salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah
yang datang itu Ki Buyut?”
Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya sambil menjawab,
“Aku belum tahu. Tak seorang pun yang tahu, siapakah yang datang
itu”.
“Apakah mereka orang-orang jahat atau hantu-hantu yang akan
berbuat jahat atas kita?”
Ki Buyut Panawijen itu menggeleng pula, “Aku tidak tahu”.
Orang-orang itu terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang
mereka memandangi api-api obor yang bergerak-gerak di tengah
Padang Karautan itu.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Apakah mereka itu
orang-orang yang dibawa oleh Kuda Sempana mencari Mahisa Agni.
Bukankah menurut pendengaran kami, Kuda Sempana selalu
berusaha menangkap Mahisa Agni dengan bantuan gurunya atau
orang-orang lain yang mereka anggap mampu berbuat demikian?”
Sekali lagi Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya, “Aku
tidak tahu”.
“Kalau demikian celakalah kami, “ desis seseorang.
“Mengapa?, “ dengan serta-merta terdengar Mahisa Agni
bertanya.
“Kami yang tidak tahu menahu sengketa antara kau dan Kuda
Sempana pasti akan mengalami bencana pula di perkemahan ini.
Kalau Kuda Sempana datang bersama gurunya dan saudara-saudara
seperguruannya menyerang kita, maka matilah kita semua” berkata
yang lain.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Apa lagi
ketika yang lain menyambung, “Hem, ternyata Mahisa Agni
semalam ini selalu menyusahkan kita. Mahisa Agni sekeluarga.
Empu Purwa dan Ken Dedes itu pula. Merekalah sumber bencana
yang selama ini melanda pedukuhan kita. Bukankah Kuda Sempana
sebenarnya hanya menghendaki gadis itu. Bukankah bendungan
kita hancur karena Empu Purwa dan apabila kita sekarang binasa
adalah karena Mahisa Agni”.
“Kenapa kita…..” kata-kata orang itu tidak dapat diselesaikan.
Alangkah terperanjatnya, dan kemudian terdengar ia menjerit ketika
tiba-tiba tangan Mahisa Agni telah menampar mulutnya. Meskipun
bagi Mahisa Agni ayunan tangannya itu hanya sekedar untuk
membungkam kata-kata yang menyakitkan hatinya, tetapi bagi
orang yang ditamparnya serasa bagaikan tersambar petir.
“Agni” terdengar suara pamannya lantang.
Tetapi orang itu telah terduduk di tanah sambil menutup
mulutnya yang berdarah.
Semua orang memandang Mahisa Agni dengan wajah yang
tegang. Terasa berbagai perasaan bergolak di dalam dada mereka.
Ketakutan, kecemasan dan kegelisahan. Mereka takut melihat oborobor
yang merayap semakin dekat. Teiapi mereka pun menjadi
takut apabila tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah dan mengamuk.
Mahisa Agni masih berdiri tegang, namun kepalanya tiba-tiba
menunduk Ia tidak berani menatap mata pamannya yang
memandanginya dengan tajam. Perlahan-lahan sekali pamannya itu
berkata, “Agni, jagalah perasaanmu” Namun suara yang perlahanlahan
itu serasa jauh lebih keras dari ayunan tangannya.
Kini suasana sejenak ditelan oleh kesepian. Kesepian yang
diwarnai oleh berbagai macam perasaan yang bercampur-aduk.
Kesepian yang menyesakkan dada.
Sementara itu obor di Padang Karautan itu masih saja merayap
semakin dekat. Dalam kepekatan malam, maka tampaklah titik-titik
api itu sedemikian jelasnya, bergerak-gerak silang menyilang.
Tiba-tiba kesenyapan di perkemahan itu dipecahkan oleh suara
Mahisa Agni perlahan-lahan, “Paman Empu Gandring, Ki Buyut
Panawijen dan saudara-saudaraku rakyat Panawijen. Mungkin kalian
benar. Akulah yang telah menyeret kalian kedalam bencana. Tidak
saja aku telah membakar kalian setiap hari dipanas terik matahari,
dan membekukan kalian diembun malam yang dingin di Padang
Karautan, tetapi apabila benar yang datang itu Kuda Sempana,
maka kalian mungkin akan terpercik bencana pula. Karena itu,
biarlah aku menyongsong bencana yang akan datang. Biarlah kalian
terlepas dari setiap kemungkinan yang tidak kalian kehendaki”
Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya wajah-wajah yang tegang
di sekelilingnya. Tetapi wajah-wajah itu masih saja tegang
membeku.
Maka sambungnya, “Paman, Ki Buyut dan saudara-saudaraku.
Aku tidak akan menunggu obor itu sampai di perkemahan. Biarlah
aku pergi menyongsongnya. Jangan diharap aku kembali ke
tengahtengah
kalian. Kalau kemudian kalian merasa tidak perlu lagi dengan
bendungan ini, maka tinggalkanlah”.
“Kenapa kau akan pergi Angger?” potong Ki Buyut dengan
cemas.
“Kalau yang datang itu Kuda Sempana Ki Buyut, biarlah mereka
akan aku hadapi. Tetapi tidak di sini”.
“Agni” berkata Ki Buyut terbata-bata, “kalau benar yang datang
itu Kuda Sempana, kenapa Angger tidak saja berusaha melarikan
diri sebelum terlambat”.
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Meskipun ia akan dapat
berusaha menyingkir, namun akibatnya akan menimpa orang-orang
Panawijen. Kuda Sempana dan kawan-kawannya pasti akan marah.
Sasarannya pasti orang-orang Panawijen itu. Karena itu maka
katanya, “Tidak Ki Buyut. Dengan demikian, maka aku telah
menyerahkan orang-orang Panawijen kedalam suatu keadaan yang
sulit. Mereka pasti akan mencari aku dan memaksa orang-orang
Panawijen ini menunjukkan dimana aku bersembunyi”.
Ki Buyut itu pun terdiam. Tetapi beberapa orang menjadi sangat
cemas dan ketakutan.
“Karena itu Ki Buyut,” Mahisa Agni melanjutkan, “aku akan
menyongsong mereka, dengan demikian maka kalian, orang-orang
Panawijen ini akan terlepas dari bahaya”.
Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Ki Buyut yang tua itu.
Mahisa Agni baginya adalah lambang dari masa depan. Kerja yang
tak dapat dilakukan oleh orang lain telah dilakukannya. Kini ketika
bahaya mengancamnya, maka apakah ia akan dapat
melepaskannya?
Tetapi sebelum Ki Buyut mengucapkan sepatah kata pun maka
Mahisa Agni itu segera melangkah meninggalkannya kembali ke
gubugnya. Tak seorang pun yang tahu, apa yang akan
dilakukannya. Sementara itu pamannya pun mengikutinya pula
dibelakangnya.
“Kau akan pergi Agni?” bertanya pamannya.
“Ya paman. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan orang-orang
Panawijen. Kalau Kuda Sempana dan gurunya akan menangkap aku,
biarlah mereka membawa mayatku”.
Dada pamannya berdesir mendengar jawaban itu. Apalagi ketika
kemudian ia melihat Mahisa Agni meraih pedangnya dan
disangkutkannya di lambungnya. Bukan hanya pedang itu, tetapi
dari bawah tikar pembaringannya diambilnya pusakanya yang
jarang-jarang dirabanya. Pusaka itu adalah sebilah keris buatan
Empu Gandring sendiri. Meskipun demikian, Mahisa Agni mula-mula
masih menyesal bahwa pusaka peninggalan gurunya tidak dibawa
pula. Kalau demikian akan lengkaplah perlawanannya. Ia akan
melawan dengan segenap tenaga kemampuan yang ada padanya
meskipun ia sadar, bahwa Empu Sada, Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat bukanlah lawannya.
“Muda-mudahan seorang yang tepat menemukan trisula itu”
desisnya di dalam hati. Bahkan kemudian ia merasa beruntung
bahwa pusaka itu tidak dibawanya. Sebab dengan demikian trisula
itu akan dapat jatuh ketangan musuh-musuhnya.
“Sudahlah paman. Aku akan pergi, “ Tetapi kata-kata itu terputus
ketika melihat pamannya menyelipkan pula kerisnya yang besar itu
di punggungnya.
“Apakah yang akan paman lakukan?”
“Jangan pergi sendiri Agni. Aku pun akan pergi. Aku ingin melihat
apa yang sebenarnya akan terjadi. Aku masih selalu dicengkam oleh
keragu-raguan. Bukankah semua itu baru dugaan saja? Tetapi
seakan-akan semua orang telah memastikan apa yang akan terjadi”.
Terasa mata Mahisa Agni menjadi panas. Perlahan-lahan ia
bergumam, “Paman, aku menyampaikan terima kasih. Tetapi aku
kira paman tidak usah pergi bersamaku. Biarlah cukup aku saja
yang akan menjadi korban dari dendam yang membara di dada
Kuda Sempana. Bukankah paman harus kembali ke Padepokan
paman. Bukankah masih banyak yang dapat paman kerjakan?”
Pamannya tersenyum, tetapi senyum itu terasa terlampau pedih
di hati Mahisa Agni.
“Aku adalah pamanmu Agni. Kalau masih ada ayahmu, mungkin
aku tidak akan mempedulikan lagi apa yang terjadi atasmu. Tetapi
ayahmu kini sudah tidak ada lagi. Karena itu adalah menjadi
kuwajibanku untuk melihat apa saja yang dapat terjadi atasmu”.
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya tiba-tiba terkulai
jatuh pada ujung jari-jari kakinya.
“Obor itu pasti sudah semakin dekat. Mari kita berangkat” ajak
pamannya.
Mahisa Agni tidak menjawab. Ketika pamannya melangkah keluar
ia mengikutinya saja dibelakangnya.
Di sisi perkemahan itu, orang-orang Panawijen sudah menjadi
semakin tegang. Obor itu sudah semakin dekat. Ketika mereka
melihat Agni dan pamannya datang menyandang senjata, maka hati
mereka pun menjadi semakin berdebar-debar.
Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Gelora di dalam dadanya
kian berkecamuk. Sekali dipandanginya wajah-wajah orang
Panawijen yang tegang, dan sekali ditatapnya api obor yang
menjadi semakin dekat.
Ketika Ki Buyut Panawijen melihatnya telah bersiap untuk
menyongsong obor-obor itu yang mungkin akan dapat
mencelakakannya, maka hatinya pun menjadi pedih. Pada saat-saat
terakhir Mahisa Agni telah menyerahkan hampir segenap waktu dan
kemampuannya untuk membangunkan sebuah bendungan bagi
kesejahteraan orang-orang Panawijen, dan kini bahwa miliknya yang
paling berharga, yaitu hidupnya sekali, akan diserahkannya pula.
Meskipun sebenarnya Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan
untuk lari, namun anak muda itu tidak mempergunakannya, karena
ia tidak mau mengorbankan orang-orang lain untuk kepentingannya.
Tiba-tiba, seakan-akan di luar sadarnya orang tua itu berkata,
“Agni, tanpa kau, kerja kami tidak akan berarti. Aku tahu apa yang
sebenarnya tersembunyi di hampir setiap dada orang-orang
Panawijen. Jemu. Karena itu sepeninggalmu, maka aku pun akan
tidak berarti apa-apa. Dengan demikian Ngger, maka aku kira lebih
baik aku pergi juga bersamamu, melihat apa yang sebenarnya
terjadi. Kalau bahaya itu datang menerkammu, biarlah aku mencoba
membantumu meskipun aku tahu, bahwa tenagaku tidak akan
berati apa-apa. Tetapi aku sudah berbuat sesuatu. Aku tidak apat
melepaskanmu begitu saja setelah kau bekerja sekuat-kuat
tenagamu untuk kami disini”.
Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Jangan Ki Buyut. Dengan
demikian maka orang-orang Panawijen akan kehilangan
pemimpinnya. Ki Buyut akan dapat berbuat banyak untuk
kepentingan mereka”.
“Tidak” sahut Ki Buyut, “aku tidak akan mampu berbuat sesuatu
mengatasi kejemuan mereka”.
“Jangan Ki Buyut” potong Mahisa Agni, “aku berkeberatan.
Tinggallah di sini. Kalau Ki Buyut pergi juga, maka hatiku akan
menjadi semakin pahit. Ternyata Ki Buyut juga tidak lagi
menghiraukan aku lagi”.
Ki Buyut terdiam. Ia menjadi bingung. Tetapi kata-kata Mahisa
Agni itu seperti telah mencengkamnya di atas tempatnya berdiri.
Ketika ia melihat Mahisa Agni itu bergerak, maka kakinya seakanakan
telah tertancap dalam-dalam di Padang Karautan itu.
“Kalau Ki Buyut masih juga mau mendengarkan kata-kataku,
tinggallah di sini. Dengan demikian hatiku masih juga mengucap
syukur, bahwa Ki Buyut akan tetap berusaha meneruskan kerja ini
meskipun hanya dengan tiga empat orang seperti yang dilakukan
oleh Empu Purwa dahulu. Tiga empat tahun kerja Ki Buyut itu akan
selesai”.
Ki Buyut tidak dapat menjawab. Mulutnya serasa terbungkam
dan tenggorokannya serasa tersumbat sesuatu.
“Sudahlah Ki Buyut” Mahisa Agni bergumam dengan nada yang
rendah datar.
Ki Buyut hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tetapi
mulutnya tidak dapat mengucapkan kata-kata.
Betapapun orang-orang Panawijen itu merasa bahwa Mahisa Agni
telah menyebabkan mereka terdorong ke dalam suatu kesulitan,
betapa mereka menyesali Empu Purwa, namun ketika kemudian
mereka melihat anak muda itu berjalan meninggalkan mereka
menyongsong nyala-nyala obor dikejauhan, maka hati mereka pun
menjadi trenyuh. Beberapa anak-anak mengepalkan tangannya dan
berkata di dalam hatinya, “Oh, seandainya aku mampu berkelahi,
aku pasti akan mengawaninya”. Apalagi Jinan dan Sinung Sari.
Mereka adalah anak-anak muda yang pertama-tama mengikuti
Mahisa Agni mencari tempat ini. Tetapi mereka hanya berani
menggeretakkan gigi-gigi mereka. Betapa besar keinginan mereka
untuk membantu Mahisa Agni, tetapi mereka tidak memiliki
keberanian untuk itu.
Sedangkan orang tua-tua hanya dapat mengusap dada mereka
sambil berdoa, semoga Mahisa Agni tidak menemukan sesuatu
bencana, apalagi yang dapat membahayakan jiwanya.
Berbeda dengan mereka adalah Patalan. Ia tidak dapat lagi
menahan perasaannya melihat Mahisa Agni melangkah
meninggalkan mereka masuk ke dalam malam yang gelap. Pedang
dilambungnya telah membuat anak muda itu menjadi semakin
berdebar-debar. Sedangkan yang pergi bersamanya hanyalah
seorang yang telah lanjut usia dengan sebilah keris raksasa di
punggungnya.
“Apakah kita sampai hati melepaskannya?” desis Patalan di dalam
hatinya. Patalan bukanlah seorang pemberani. Tetapi perasaannya
ternyata lebih tajam dari kawan-kawannya. Betapapun ia dikuasai
oleh kecemasan, tetapi tiba-tiba ia berlari masuk ke dalam
gubugnya. Diraihnya pedang di dinding gubug itu, dan tanpa
berkata apa pun kepada kawan-kawannya, maka segera ia pun
berlari menyusul Mahisa Agni.
“Patalan” terdengar beberapa orang memanggilnya. Tetapi
Patalan sama sekali tidak berpaling. Ia berlari semakin kencang.
Dan bahkan kemudian terdengar ia berteriak, “Agni, tunggu.
Tunggu. Aku pergi bersamamu”.
Kepergian Patalan telah menggoncangkan dada orang-orang
Panawijen. Tiba-tiba merekapun ingin juga berlari menyusul seperti
Patalan. Namun mereka telah diikat oleh kecemasan dan ketakutan.
Mereka tidak berani beranjak dari tempatnya.
Tetapi dengan demikian, merayaplah kesadaran di dalam hati
mereka, bahwa sebenarnya Mahisa Agni selama ini telah
mengorbankan apa saja yang ada padanya untuk kepentingan
mereka. Untuk kepentingan Panawijen. Sama sekali bukan untuk
kepentingan diri sendiri.
Orang-orang Panawijen yang selama ini telah menyakiti hatinya
menjadi kecewa. Kecewa sekali. Tetapi apakah mereka masih akan
mendapat kesempatan untuk menyatakan penyesalannya dan minta
maaf kepada anak muda itu. Mahisa Agni telah pergi dan berkata
kepada mereka, supaya mereka tidak lagi mengharapkan ia kembali.
Beberapa orang merasa, betapa besar kesalahan mereka terhadap
anak muda itu. Anak muda yang kini berjalan menembus gelap
malam meninggalkan mereka dengan pedang di lambungnya.
Orang-orang Panawijen yang tinggal di perkemahan itu kini
masih saja berdiri tegak seperti patung. Mereka melihat Mahisa Agni
dan Empu Gandring menghilang seperti ditelan oleh gelap malam
yang menganga di Padang Karautan. Sejenak mereka masih dapat
menyaksikan Patalan berlari menyusul keduanya.
Kemudian mereka pun hilanglah. Hilang, dan terasa betapa kini
mereka kehilangan anak muda yang telah banyak berkorban untuk
mereka.
Mahisa Agni yang berjalan meninggalkan orang-orang Pana wijen
bersama pamannya terkejut mendengar seseorang memanggilnya.
Ketika mereka berpaling, mereka melihat Patalan berlari-lari
menyusul.
“Ada apa Patalan?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku akan pergi bersamamu Agni” sahut Patalan dengan nafas
terengah-engah.
Mahisa Agni dan Empu Gandring menjadi heran.
“Kenapa kau akan ikut kami” bertanya Mahisa Agni.
“Kita pergi bersama-sama sejak kita mencari tempat ini Agni. Kita
telah bekerja pula bersama-sama. Sekarang berilah aku kesempatan
mengikutimu, apa pun yang akan terjadi”.
“Patalan” dada Agni berdesir tajam, “terima kasih, tetapi kali ini
aku akan menghadapi keadaan yang tidak menentu. Aku belum
tahu apakah kira-kira yang akan terjadi. Karena itu kembalilah”.
“Dahulu, ketika kita meninggalkan Panawijen masuk ke dalam
padang ini, kita juga belum tahu apa yang akan terjadi. Agni,
berilah
aku kesempatan, Mungkin aku tidak berarti bagimu, tetapi aku tidak
dapat kembali. Aku tidak dapat melihat kau seoang diri
menyongsong bahaya tanpa perhatian. Aku tidak akan mampu
membelamu dalam keadaan apapun. Tetapi setidak-tidaknya aku
sudah menyatakan kesetia-kawananku terhadapmu”.
“Terima kasih” sekali lagi Mahisa Agni menyalakan perasaannya,
“tetapi kembalilah. Mungkin aku tidak akan sempat berbuat sesuatu
atasmu, sebab keadaanku sendiri sama sekali tidak aku ketahui”.
“Tidak” sahut Patalan, “kali ini aku tidak akan minta
perlindunganmu. Sejak aku hampir mati ketakutan di Padang
Karautan bukankah aku belajar memegang hulu pedang? Bukankah
kau juga yang mengajari aku? Mudah-mudahan aku dapat
mempergunakannya”.
“Oh” Mahisa Agni menarik nafas, “apa yang aku berikan itu sama
sekali belum berarti apa-apa Patalan”.
“Beri aku kesempatan Agni. Bukan terdorong karena
kesombonganku, tetapi katakanlah bahwa kau menghadapi bahaya
maut, dan aku pun bersedia menghadapinya”.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia
menjadi heran melihat Patalan tiba-tiba saja tidak takut menentang
maut. Karena itu, maka akhirnya ia kembali. Katanya, “Baiklah
Patalan. Kalau kau bersedia ikut bersama kami. Tetapi kau harus
sudah dapat membayangkan, bahwa kita kali ini tidak sedang
bertamasya”.
“Aku tahu Agni” sahut Patalan.
“Baiklah” gumam Mahisa Agni.
Ketiganya pun kemudian meneruskan perjalanan mereka
menyongsong api-api obor yang semakin lama menjadi semakin
dekat.
Langkah-langkah mereka semakin lama menjadi semakin cepat.
Mahisa Agni berjalan dipaling depan, kemudian pamannya dan
Patalan berjalan berjajar dibelakangnya. Tak sepatah kata pun yang
mereka ucapkan. Meskipun demikian semakin dekat mereka dengan
obor-obor itu, hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar.
Tanpa sesadarnya, maka tangan Mahisa Agni telah melekat di
hulu pedangnya. Dengan gigi gemeretak ia memandang lurus ke
depan. Memandang pada setiap kemungkinan yang dapat terjadi
atasnya. Sedang Patalan pun benar-benar mengherankan. Ia kini
tidak lagi gemetar dan bahkan hampir pingsan ketakutan seperti
pada saat ia bertemu dengan orang yang menyebut dirinya hantu
Karautan di padang ini beberapa saat yang lampau. Tetapi kini ia
berjalan dengan langkah yang tetap seperti Mahisa Agni. Tangannya
pun telah melekat pula di hulu pedangnya.
Empu Gandringlah yang masih juga memandangi setiap titik
nyala obor dihadapannya dengan tenang. Kerut-kerut umur di
wajahnya seakan-akan menjadi kian bertambah. Tetapi orang itu
masih juga sempat memperhatikan sikap kemenakannya. Meskipun
demikian Empu Gandring tidak berkata sepatah katapun.
Jauh di belakang mereka, orang-orang Panawijen masih juga
berdiri di tempatnya. Mereka seakan-akan telah membeku.
Mata mereka terhunjam ke dalam gelap malam yang terbentang
di atas padang Karautan. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu
kecuali nyala-nyala obor itu.
Dengan hati yang gelisah, cemas dan berdebar-debar mereka
memandangi api itu. Api itu masih saja merayap mendekat.
Tiba-tiba hati mereka terguncang ketika mereka melihat oborobor
itu berhenti. Seperti nyala-nyala api itu mengambang di udara
yang dingin pekat. Tak seorang pun yang dapat membayangkan apa
yang terjadi dikejauhan itu. Mereka benar-benar tidak melihat
sesuatu kecuali api itu. Tangan-angan yang menggenggam obor itu
pun sama sekali tidak mereka libat. Apalagi orang-orang yang
berada di sekitarnya.
Mereka tidak akan dapat melihat seandainya di sekitar obor-obor
itu kini terjadi perkelahian yang sengit. Mereka tidak akan dapat
melihat seandainya Mahisa Agni terluka atau bahkan terbunuh. Atau
mungkin pula Mahisa Agni itu kini telah mereka tangkap dan mereka
seret dengan kasarnya di tengah-tengah padang yang gelap itu.
Tetapi mungkin pula terjadi sebaliknya. Mungkin pedang Mahisa
Agni dan keris raksasa pamannya telah berhasil membersihkan
lawannya.
Tetapi obor itu masih juga menyala di tempatnya Tidak bergerak
dan tidak menjauh.
Dada orang-orang Panawijen itu menjadi semakin berdebardebar.
Mereka tidak merasa bahwa mereka telah berdiri terlampau
lama di tempatnya. Mereka tersadar ketika tiba-tiba mereka melihat
obor itu bergerak pula dan darah mereka serasa berhenti mengalir
ketika tiba-tiba pula mereka melihat seseorang berlari-lari menuju
kepada mereka sambil berteriak, “Ki Buyut. Ki Buyut”. Orang itu
adalah Patalan.
Betapa terkejut Ki Buyut Panawijen melihat Patalan yang seakanakan
dimuntahkan dari mulut kegelapan yang pekat itu Terhuunghuyung
anak itu menjadi semakin dekat. Beberapa langkah lagi
Patahan akan sampai di perkemahan, tetapi seakan-akan tenaganya
telah terperas habis.
“Patalan” Ki Buyut Panawijen berlari tertatih-tatih
menyongsongnya, “kenapa kau?”
Nafas Patalan seakan-akan telah terputus di kerongkongannya.
Kini ia sudah tidak berlari lagi. Anak muda itu berdiri seperti
sehelai
daun ilalang ditiup badai. Sehingga ketika Ki Buyut Panawijen dan
beberapa orang yang berlari-lari menyusulnya sampai
dihadapannya, maka Patalan itu pun terjatuh.
“Patalan” panggil Ki Buyut sambil berjongkok di sampingnya.
Diangkatnya kepala anak itu sambil bertanya, “Ada apa? Ada apa
Patalan?”
“Ki Buyut” Patalan mencoba berkata sesuatu. Tetapi nafasnya
telah menjadi terlampau sendat, sehingga akhirnya anak itu jatuh
pingsan kelelahan.
“Pingsan,” desis Ki Buyut, “ambil air. Cepat. Ia akan dapat segera
sadar dan mengatakan kepada kita, apa yang telah terjadi”.
Beberapa orang berlari-larian mencari air. Sedang beberapa
orang lain berdiri dengan wajah pucat gemetar.
“Apakah yang terjadi?” desis sesama mereka.
“Bencana. Bencana akan menimpa kita sekalian” berkata salah
seorang dari mereka.
“Lihat” sabut yang lain, “kini obor-obor itu telah mendekat.
Mahisa Agni pun pasti telah mereka tangkap. Agaknya mereka tidak
puas dengan menangkap Mahisa Agni dan pamannya yang tua itu.
Untunglah Patalan sempat melarikan diri”.
“Ya, sekarang bagaimana dengan kita?”
“Kita harus melarikan diri pula”.
“Ya. Kita harus melarikan diri”.
Tetapi percakapan itu terputus oleh suara Ki Buyut lantang, “Kita
tetap disini. Apa pun yang akan terjadi”.
“Tetapi bagaimana kalau mereka akan membunuh kita semua Ki
Buyut?”
“Tak ada gunanya melarikan diri. Mereka akan mengejar dan
menangkap kita. Dengan demikian kita hanya akan menambah
kemarahan mereka sehingga mereka akan berbuat jauh lebih
mengerikan lagi”.
Orang-orang Panawijen itu kini telah benar-benar menggigil.
Betapa anak-anak muda seakan-akan tidak lagi mampu berdiri di
atas kaki mereka. Namun dalam pada itu Ki Buyut berkata, “Dari
pada kita berusaha melarikan diri, bukankah jumlah kita cukup
banyak? He anak-anak muda, kenapa kalian tidak mengambil
Senjata-senjata kalian?”
Tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Bahkan darah
mereka seakan-akan telah benar-benar membeku.
Ketika beberapa orang yang mengambil air telah datang, maka
obor di Padang Karautan itu pun telah menjadi semakin dekat.
“Ki Buyut” tiba-tiba seorang anak muda berkata gemetar,
“Kenapa kita tidak boleh lari? Bukankah lebih baik menyelamatkan
diri daripada kita dibinasakanya disini?”
“Ambil senjatamu” teriak Ki Buyut yang tua itu, “kalau kau tidak
mempunyai pedang, ambillah kapak atau beliung atau apa saja yang
dapat kau pergunakan sebagai senjata. Jangan menjadi pengecut
sampai akhir hayatmu”.
Tetapi teriakan Ki Buyut itu menambahnya menjadi ketakutan.
Jinan dan Sinung Sari pun kini telah berjongkok di samping
Patalan yang pingsan itu pula. Perlahan-lahan dititikkan nya air ke
bibir anak itu.
“Setetes demi setetes” Ki Buyut memperingatkan. Kemudian
katanya pula, “Jaga Patalan baik-baik. Usahakan anak ini segera
menjadi sadar”.
“Apakah Ki Buyut akan pergi” bertanya Sinung Sari.
“Tidak. Aku tetap disini” sahut Ki Buyut, “tetapi aku tidak akan
berdiam diri meskipun aku sudah tua”.
Ki Buyut itu pun segera menyerahkan Patalan kepada Sinung Sari
dan Jinan. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan melangkah ke
gubugnya.
Berpasang-pasang mata mengikutinya dengan pertanyaan di
dalam setiap hati. Namun segera mereka mengetahui, apakah yang
telah dikerjakan oleh Ki Buyut itu.
Sejenak kemudian Ki Buyut itu pun telah kembali pula diantara
orang-orang Panawijen. Tetapi kini ia memegang pedang di
tangannya. Tangan yang sudah berkeriput, namun genggaman atas
pedangnya masih cukup kuat. Ki Buyut bukanlah seseorang yang
sama sekali tidak mampu menggenggam pedang. Meskipun ia
bukan seorang yang cukup baik untuk berkelahi, namun ia mampu
pula menggerakkan senjata.
(Bersambung ke jilid 23)
Jilid 23
BEBERAPA anak-anak muda menjadi berdebar-debar di dalam
hati. Ada pula yang menjadi malu kepada diri mereka sendiri. Tetapi
ada yang bahkan menjadi semakin kecut. Wajah-wajah mereka
menjadi seputih kapas, dan nafas mereka satu-satu tersangkut di
kerongkongan.
Tetapi, Jinan dan Sinung Sari tidak lagi dapat berdiam diri, sambil
menggigil ketakutan Patalan telah lebih dahulu mengambil
pedangnya. Karena itu maka Jinan berkata kepada seseorang yang
berjongkok pula di sampingnya,, “Mari, usahakan Patalan menjadi
sadar. Aku pun akan mengambil pedangku.”
Kini, seseorang yang sudah agak tua memangku kepala Patalan.
Setetes-setetes dititikannya air ke mulut anak itu. Ketika kemudian
Jinan dan Sinung Sari telah berdiri di sampingnya dengan pedang di
lambung masing-masing, maka obor-obor itu menjadi sudah sangat
dekat.
Tiba-tiba mereka melihat Patalan itu bergerak-gerak. Dengan
serta-merta beberapa orang segera berjongkok di sampingnya. Dan
mereka pun kemudian mendengar Patalan berdesis perlahan-lahan
ketika dilihatnya Jinan dan Sinung Sari,, “Hantu Karautan yang
datang itu adalah Hantu Karautan.”
Suara itu menggelegar bagai guntur yang meledak disetiap
telinga. Hantu Karautan.
Segera, ketakutan mencengkam hati orang-orang Panawijen itu.
Hantu adalah sebutan yang paling mengerikan bagi mereka. Kalau
yang datang itu segerombolan perampok atau Kuda Sempana, maka
mereka masih akan dapat menghindar. Melarikan diri atau menangis
minta ampun. Tetapi yang disebut Patalan adalah Hantu Karautan.
Hantu yang bengis dan mengerikan.
Tak seorang pun yang masih mampu mengucapkan pertanyaanpertanyaan.
Ki Buyut Panawijen terdiam membeku. Apakah ia akan
dapat melawan hantu meskipun seandainya anak-anak Panawijen
itu bersama-sama mengangkat senjata.
Dalam pada itu kembali terdengar suara Patalan. Kali ini agak
lebih keras,, “Sinung Sari dan Jinan. Apakah kau masih ingat Hantu
Karautan itu?”
Sinung Sari dan Jinan mengerutkan keningnya.
“Bukankah kita telah pernah bertemu dengan tiga orang hantu di
padang ini?”
Tiba-tiba Sinung Sari dan Jinan menganggukkan kepalanya.
“Aku akan bangun” desah Patalan.
Perlahan-lahan, ditolong oleh Sinung Sari dan Jinan, Patalan itu
bangkit dan duduk bertelekan tangannya, “Apakah aku pingsan?”
“Ya kau pingsan” sahut Sinung Sari.
“Lihat obor-obor itu sudah terlampau dekat”.
“Ya, siapakah mereka?” bertanya Jinan tidak sabar.
“Sudah aku katakan, Hantu Karautan.”
Tetapi orang-orang yang mendengar kata-kata Patalan dan
melihat wajahnya menjadi bingung. Wajah itu meskipun pucat tetapi
sama sekali tidak menunjukkan kesan-kesan yang mengerikan.
“Hantu yang mana? Katakan cepat” desak Sinung Sari.
“Hantu berkuda.”
Orang-orang yang mendengarkannya menjadi semakin bingung.
“Hantu berkuda?” beberapa orang mengulangi di dalam hatinya
yang kecut.
“Ada dua hantu berkuda” sahut Jinan.
“Yang datang adalah hantu yang sebenarnya. Hantu yang
dikatakan oleh Mahisa Agni, hantu yang mengalahkan segala hantu
di padang ini”.
Sinung Sari berpikir sejenak. Jinan pun Tiba-tiba bangkit berdiri
“Sinung Sari,” katanya,, “hantu berkuda yang tampan itu. Bukankah
begitu maksudmu Patalan?”
“Ya.”
“Tetapi kenapa kau berlari terbirit-birit ketakutan?”
“Aku disuruh oleh Mahisa Agni untuk mengabarkan, bahwa hantu
itulah yang datang. Bukan orang lain”.
“Gila” Tiba-tiba Sinung Sari pun tegak pula. Hampir bersamaan
maka Sinung Sari dan Jinan berkata, “Aku akan pergi menyongsong
hantu itu”.
“Sinung Sari, Jinan” panggil Ki Buyut.
Tetapi Sinung Sari dan Jinan telah berlari masuk ke dalam gelap
malam menyongsong obor-obor yang kini sudah menjadi semakin
dekat.
Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada orang-orang
Panawijen. Kenapa tiba-tiba Sinung Sari dan Jinan berlari
menyongsong Hantu Karautan itu? Apakah tiba-tiba saja mereka
sadar bahwa mereka harus membela Mahisa Agni dari bencana.
Tetapi tak seorang pun yang sempat menemukan jawabnya.
Patalan yang lemah itu pun kini telah berdiri pula. Di pandanginya
nyala obor-obor itu, dan remang-remang mereka telah melihat
serombongan bayangan berjalan perlahan-lahan mendekati
perkemahan itu.
“Patalan” desis Ki Buyut, “kau lihat bayangan-bayangan itu?”
“Ya Ki Buyut”.
“Aku menjadi ngeri. Bagaimanakah bentuk hantu-hantu itu?”
Patalan tiba-tiba tersenyum, dan Ki Buyut pun menjadi semakin
tidak mengerti, apakah sebenarnya yang sedang dihadapi. Ketika
sekali lagi ia mengamati bayangan-bayangan itu, dilihatnya
bayangan-bayangan yang besar berjalan tersuruk-suruk diantara
mereka.
Tetapi tiba-tiba telinga Ki Buyut menangkap sesuatu. Bunyi yang
selama ini seolah-olah bunyi gemerisik kaki-kaki hantu yang
mengerikan. Tetapi ia kenal benar bunyi yang kini dapat
didengarkannya dengan lebih seksama.
“Pedati” desisnya , “bukankah bunyi-bunyi itu berasal dari roda
pedati?”
“Ya” sahut Patalan.
“Apakah hubungan antara hantu dan Pedati?”
Sekali lagi Patalan tersenyum, “Lihat Ki Buyut. Yang berkuda di
depan itulah Hantu Karautan”.
Ki Buyut tidak dapat mengerti. Tetapi obor-obor itu kini sudah
menjadi terlampau dekat. Dengan hati yang bimbang dan penuh
kecemasan Ki Buyut Panawijen beserta orang-orang Panawijen yang
gemetar melihat sebuah iring-iringan yang besar mendekati
perkemahan mereka. Bukan saja beberapa orang berkuda tetapi
pedati-pedati dan beberapa pasang lembu dan kuda.
Dalam kebimbangan dan kebingungan itu terdengar suara Mahisa
Agni, “Ki Buyut. Ternyata semua dugaan kita keliru. Bukankah
Patalan telah mengatakannya?”
“Patalan pingsan” terdengar suara Sinung Sari menyahut.
Mahisa Agni tertegun. Dipalingkannya wajahnya ke arah Sinung
Sari dan Jinan yang menjemputnya , “Kenapa anak itu pingsan?”
Patalan mendengar pembicaraan itu. Sambil tertawa kecil ia
menyahut , “Aku berlari terlampau cepat. Nafasku terputus, dan aku
pingsan sabelum aku sempat mengatakannya”.
“Oh” Mahisa Agni pun tertawa pula.
Kini iring-iringan itu telah berhenti. Mahisa Agni dan pamannya
bersama Sinung Sari dan Jinan berjalan mendahului menemui Ki
Buyut Paaawijen yang berdiri seperti sebatang tonggak. Dengan
wajah yang tidak menentu orang tua itu memandangi Mahisa Agni
dan iring-iringan itu berganti-ganti.
Perkemahan itu kini ditelan oleh suasana yang aneh. Ki Buyut
Panawijen, anak-anak muda dan orang-orang Panawijen yang
melihat iring-iringan itu serasa berada di dalam mimpi.
Pedati-pedati
dan berpasang-pasang, lembu, kerbau dan kuda.
“Apakah artinya ini Agni?” bertanya Ki Buyut dengan nada yang
datar.
“Ki Buyut” berkata Mahisa Agni, “bukankah aku pernah
mengatakan bahwa Akuwu di Tumapel pernah menjanjikan bantuan
kepada kita. Pedati dan alat-alat lain. Bahkan lembu, kerbau dan
kuda?”
Ki Buyut Panawijen yang tua itu menarik nafas dalam-dalam
sambil mengusap dadanya. Seakan-akan baru saja ia terlempar ke
dalam sebuah mimpi yang dahsyat. Sekali ia mengamati iringiringan
itu di bawah cahaya obor yang tidak begitu terang. Lamatlamat
dilihatnya pedati yang ditarik oleh kerbau dan lembu berberatberat,
dan beberapa puluh orang prajurit.
“Benar-benar seperti ceritera tentang barang-barang tiban dari
langit.” gumamnya.
“Inilah orangnya yang mendapat tugas untuk membawa
semuanya itu kemari Ki Buyut. Namanya Ken Arok. Seorang Pelayan
Dalam Istana Tumapel. Ken Arok mengenal Padang Karautan ini
seperti kita mengenal segenap sudut pedukuhan Panawijen. Itulah
sebabnya ia tidak asing lagi berada di tengah-tengah padang ini
kembali”.
Ki Buyut menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sedang K«n
Arok tersenyum sambil berdesah, “Ah, ada-ada saja kau Agni”.
“Selamat datang Ngger.” Ki Bayut menyapanya.
“Selamat Ki Buyut. Kami barangkali telah mengejutkan Ki Buyut
dan orang-orang Panawijen yang sedang beristirahat. Sebenarnya
kami ingin berhenti dan meneruskan perjalanan besok siang supaya
tidak menimbulkan kecemasan. Tetapi kami ingin segera sampai.
Karena itu, kami telah menyalakan obor-obor supaya tidak
mencurigakan. Tegapi agaknya obor-obor kamilah yang malahan
menimbulkan kekhawatiran kalian”.
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, “Banyak kejadian
yang telah membuat kami terlampau berkecil hati”.
“Ya, kami telah mendengarnya sebagian. Mungkin Kuda Sempana
dan gurunya. Mungkin pula Hantu Karautan”.
“Itulah. Dan Patalan yang disuruh Mahisa Agni memberitahukan
bahwa yang datang adalah anak-mas, ternyata mengganggu kami
pula, meskipun ia baru saja sadar dari pingsannya”.
“Apakah yang dikatakan?” bertanya Mahisa Agni.
“Katanya yang datang itu adalah Hantu Karautan”.
Mahisa Agni tersenyum. Ken Arok pun tersenyum pula, katanya,
“Ternyata yang datang adalah aku sebagai utusan Akuwu Tumapel”.
“Itulah. Ingin aku mencabut beberapa helai rambut Patalan
karena kenakalannya. Hampir-hampir kami semua di sini mati
ketakutan”.
Kini Ken Arok tertawa. Dan yang menyahut adalah Mahisa Agni,
“Patalan berkata sebenarnya Ki Buyut”.
Wajah Ki Buyut menjadi berkerut-kerut, sedang Ken Arok sekali
lagi berdesah, “Ah, kau ini Agni”.
“Aku menjadi bingung” gumam Ki Buyut.
“Salah Mahisa Agni, Ki Buyut” sahut Ken Arok, “mungkin ia ingin
orang lain menjadi ketakutan seperti dirinya sendiri”.
Mahisa Agni tertawa, dan Ki Buyut pun tertawa pula. Kepada
Empu Gandring Ki Buyut kemudian bertanya, “Bagaimana Empu?
Anak-anak muda sering mengganggu yang tua-tua”.
Empu Gandring pun tersenyum pula, katanya, “Kalau aku tahu,
maka lebih baik aku tidur saja di dalam gubugku. Dinginnya bukan
main di tengah padang”.
Yang mendengarnya tertawa bersahutan. Bahkan orang-orang
Panawijen yang masih pucat dan belum lagi dapat menghilangkan
getar di jantung mereka pun sempat tersenyum.
“Nah Agni” berkata Ki Buyut kemudian, “jelaskan apa yang terjadi
kepada orang-orang Panawijen, supaya mereka tidak selalu
bertanya-tanya di dalam hati”.
“Baiklah Ki Buyut” sahut Mahisa Agni yang kemudian melangkah
maju mendekati orang-orang Panawijen yang berkumpul di sisi
perkemahan itu.
Dengan singkat Mahisa Agni memberitahukan kepada mereka,
bahwa yang datang itu adalah sumbangsih Akuwu Tunggul
Ametung, berupa pedati, kerbau, lembu, kuda dan alat-alat yang
lain yang akan memperingan pekerjaan mereka, membuat
bendungan dan parit-parit.
“Ternyata Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti betapa
pentingnya bendungan itu bagi kita di sini. Betapa bendungan itu
tidak saja akan sangat berarti bagi kita, tetapi juga bagi anak
cucu
kita. Lebih dari pada itu bendungan yang kecil ini akan merupakan
setitik air yang ikut serta membantu kesejahteraan Tumapel
seluruhnya”.
Orang-orang yang mendengar keterangan Mahisa Agni itu
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Alangkah janggalnya” Mahisa Agni meneruskan, “apabila Akuwu
Tunggul Ametung dapat mengerti betapa pentingnya bendungan ini,
meskipun tanpa bendungan ini pun kebesarannya tidak akan
terganggu. Sedang kita di sini, yang langsung berkepentingan,
seakan-akan acuh tak acuh saja terhadapnya. Bahkan ada beberapa
orang yang benar-benar telah menjadi jemu. Ternyata utusan
Akuwu Tunggul Ametung datang tepat pada waktunya. Pada waktu
orang-orang Panawijen hampir kehabisan gairah untuk melanjutkan
kerja. Pada waktu orang-orang Panawijen telah mulai berputus-asa,
bahkan ada yang sudah benar-benar kehilangan nafsu dan jemu
berjemur di terik matahari di padang ini, sehingga telah membenahi
pakaian dan alat-alatnya untuk besok pagi pulang kembali ke
Panawijen yang sudah mulai dibakar oleh kekeringan”.
Kembali Mahisa Agni berhenti sejenak. Beberapa orang
menundukkan kepalanya. Mereka benar-benar menyadari betapa
lemah hati mereka. Betapa mereka sama sekali tidak belah
menghadapi prihatin meskipun untuk suatu cita-cita yang tinggi.
Apalagi bagi mereka yang benar-benar telah membenahi pakaian
dan alat-alat mereka. Terasa, hati mereka bergejolak oleh perasan
malu dan sesal.
Dalam pada itu Mahisa Agni kemudian berkata seterusnya ,
“Sekarang, marilah kita lihat, apakah yang dibawa oleh Ken Arok
sebagai utusan Akuwu Tunggul Ametung” Kemudian Mahisa Agni,
itu pun berpaling kepada Ken Arok sambil berkata, “Ken Arok,
apakah kau tidak berkeberatan apabila orang-orang Panawijen saat
ini juga melihat-lihat apa saja yang kau bawa supaya hati mereka
menjadi pulih kembali seperti saat mereka berangkat memasuki
padang ini, bahkan menjadi lebih besar lagi, sehingga gairah kerja
mereka menjadi berlipat-lipat”.
“Silahkan” sahut Ken Arok, “barang-barang ini memang
dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada kalian. Kepada
orang-orang Panawijen”.
“Terima kasih” berkata Mahisa Agni pula. Kepada orang-orang
Panawijen ia berkata, “Nah, sekarang kalian mendapat kesempatan
melihat apa saja yang berada dalam iring-iringan itu, supaya kalian
menjadi mantap. Menurut Ken Arok, utusan Akuwu Tunggul
Ametung, semua itu akan dihadiahkan kepadamu sekalian.
Bukankah begitu Ken Arok?”
“Ya” Ken Arok menganggukkan kepalanya.
“Termasuk para prajurit” menyela Empu Gandring sambil
tersenyum.
Ken Arok pun tersenyum pula, jawabnya, “Termasuk para
prajurit. Tetapi mereka hanya sekedar dipinjamkan”.
Ki Buyut Panawijen pun tersenyum pula. Ketika Mahisa Agni
kemudian memberi kesempatan kepada orang-orang Panawijen
untuk melihat-lihat pedati-pedati itu, maka Ki Buyutlah yang
pertama-tama maju mendekat “Ah, apa sajakah kiranya isi
iringiringan
itu?” gumamnya.
“Silahkan. Silahkanlah menyaksikan” jawab Arok.
Di belakang Ki Buyut, kemudian seakan-akan berebutan, orang
Panawijen berjajar-jajar bahkan berdesak-desakan melihat-lihat isi
pedati yang dibawa oleh Ken Arok. Beberapa orang prajurit yang
berdiri disekeliling pedati-pedati itu pun terpaksa menyingkir
memberi kesempatan kepada orang Panawijen untuk menyaksikan.
Dengan api-api obor mereka melihat-lihat pedati-pedati yang
ditarik oleh pasangan-pasangan kerbau dan lembu yang besarbesar.
Melihat lembu dan kerbau itu pun mereka telah menjadi
kagum. Apalagi ketika mereka melihat itu pedati-pedati itu.
Cangkul,
kapak, waluku, garu dan sagala macam alat-alat diperlukan.
Tetapi ternyata bukan itu saja, ketika mereka melihat pedatipedati
dibagian belakang, maka mereka melihat, pedati-pedati itu
penuh bersisi bahan makan.
Mahisa Agni sendiri merasakan sesuatu yang berdesir di dalam
dadanya, melihat betapa Akuwu Tunggul Ametung telah
mengirimkan alat dan bahan makan itu untuk orang-orang
Panawijen.
Ken Arok yang berdiri di sampingnya agaknya melihat hati anak
muda itu yang bergetar lewat perubahan wajahnya. Maka katanya,
“Kau tidak usah heran, mengapa Akuwu Tunggul Ametung
menyertakan bahan-bahan makanan itu pula. Akuwu Tunggul
Ametung memerintahkan agar para prajurit membantu
menyelesaikan bendunganmu. Bukankah mereka itu memerlukan
makan? Nah, Akuwu tidak ingin mengurangi persediaan makan
orang-orang Panawijen yang sudah pasti terlampau tipis. Karena itu,
maka kami harus membawa bahan makanan itu untuk para prajurit
dan untuk orang-orang Panawijen pula. Apabila ternyata kelak
masih kurang, kami akan mengambilnya ke Tumapel”.
“Terima kasih” suara Mahisa Agni menjadi datar dan bernada
rendah.
Namun tiba-tiba merayaplah suatu perasaan yang asing di dalam
dirinya. Ketika ia melihat pedati, alat-alat yang lengkap dan
bahanbahan
makanan, maka seakan-akan ia merasa, bahwa semuanya itu
merupakan sebuah tebusan dari luka dihatinya. Seakan-akan ia
telah melepaskan sesuatu yang tertambat dihatinya untuk
mendapatkan barang-barang itu. Untuk mendapat bantuan dari
Akuwu Tunggul Ametung.
“Apakah aku telah menjual hatiku? Apakah aku telah menukarkan
perasaan seorang laki-laki dengan semuanya ini?” desisnya di dalam
hati.
Tiba-tiba Mahisa Agni mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Di
lawannya perasaannya itu sekuat-kuat tenaganya.
“Tidak” ia menggeram di dalam hatinya, “Akuwu tidak tahu
perasaanku itu. Akuwu tidak pernah merasa membeli Ken Dedes
dari padaku, atau menukarnya setelah ia merenggut gadis itu dari
tambatannya di hatiku. Tidak. Tak seorang pun tahu, Ken Dedes
juga tidak tahu. Akuwu memberikan bantuannya karena ia
menyadari betapa pentingnya bendungan ini bagi kami. Kalau ada
dorongan yang lain, tidak akan melampaui dorongan yang diberikan
oleh Ken Dedes untuk membantu orang-orang sepedukuhannya.
Tidak lebih dari itu”.
Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar Ki Buyut Panawijen
bergumam, “Bukan main. Apakah semuanya ini akan dihadiahkan
kepada kami?”
Mahisa Agni menjadi tergagap. Tetapi Ken Arok telah menyahut,
“Ya, Ki Buyut. Semuanya ini telah diserahkan kepada orang-orang
Panawijen. Akuwu Tunggul Ametung akan bergembira apabila
bendungan itu kelak akan terwujud. Padang Karautan yang kering
ini akan menjadi hijau segar dialiri oleh air yang naik dari
bendungan itu. Bahkan Akuwu telah memerintahkan kepada kami,
apabila pekerjaan ini kelak selesai, maka kami masih mendapat
tugas lain”.
“Apa?” bertanya Mahisa Agni dengan serta merta.
“Kami harus membangun taman yang seindah-indahnya di sekitar
pedukuhan yang baru nanti. Taman yang akan dihadiahkan oleh
Akuwu Tunggul Ametung kepada Permaisurinya yang cantik seperti
Ratih, Ken Dedes”.
“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam “Sebuah taman”
desisnya.
Sejenak Mahisa Agni terdiam. Betapa perasaan yang asing
kembali merayapi dinding-dinding hatinya. Sukarlah bagi Mahisa
Agni untuk menyebut, perasaan apa yang sebenarnya kini tersimpan
di dadanya itu. Namun anak muda itu bergumam di dalam hatinya,
“Mudah-mudahan Ken Dedes menemukan kebahagiaan. Agaknya
Akuwu Tunggul Ametung benar-benar mencintainya. Gadis itu tak
akan dapat menikmati kesegaran hidup seperti kini apabila ia tidak
menjadi seorang permaisuri. Hanya seorang Akuwu dan seorang
rajalah yang mampu menghadiahkan sebuah taman kepada
isterinya. Taman yang dibangun oleh para prajurit”.
Dalam pada itu orang-orang Panawijen tak habis-habisnya
mengagumi iring-iringan yang datang membawa perlengkapan,
peralatan dan makan bagi mereka. Salah seorang bergumam, “Hem,
alangkah murah hati Akuwu Tunggul Ametung”.
Seorang tua yang lain menyahut, “Hanya seorang yang berhati
emaslah yang dapat berbuat seperti itu. Jarak Panawijen Tumapel
adalah jarak yang cukup jauh. Jarang sekali Akuwu Tunggul
Ametung atau Akuwu-Akuwu sebelumnya datang ke pedukuhan
kami. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung dapat merasakan kesulitan
kami, sehingga Akuwu itu pun telah mengirimkan berbagai macam
barang dan makanan kepada kami”.
“Belum lama Akuwu datang ke Panawijen” sahut yang lain.
“Ya, belum lama” sela yang lain lagi.
“Ya, ketika Akuwu datang bersama Kuda Sempana”.
Orang-orang yang mendengar kata-kata itu sejenak saling
berpandangan. Namun tak seorang pun yang berani menyahut dan
meneruskannya. Tak seorang pun yang kemudian berkata bahwa
Akuwu itu datang ke Panawijen bersama Kuda Sempana untuk
mengambil Ken Dedes. Untuk merampas gadis itu dan
melarikannya.
Tetapi bagaimana pun juga terselip pertanyaan di dalam hati
orang-orang Panawijen itu, “alangkah jauh bedanya. Kedatangan
Akuwu yang pertama ke Panawijen bersama para prajurit justru
telah melukai hati orang-orang Panawijen. Tetapi kini Akuwu telah
mengirimkan bantuan yang tiada taranya bagi orang-orang
Panawijen.
Tak Seorang pun yang mengucapkan pertanyaan itu lewat
bibirnya Bahkan hampir setiap orang telah berusaha menindas
ingatannya tentang perbuatan Akuwu saat melindungi Kuda
Sempana merampas Ken Dedes. Mereka tidak ingin memercikkan
noda pada iring-iringan yang kini menggembirakan perasaan mereka
itu. Mereka ingin tetap mengatakan, bahwa Akuwu Tunggul
Ametung adalah seorang yang berhati emas. Seorang yang luhur
budi dan pengasih, tanpa setitik kesalahan pun pada dirinya. Mereka
ingin mengucapkan terima kasih dengan seutuh-utuhnya. Mereka
akan melupakan, bahwa mereka pernah mengumpat-umpati Akuwu
Tunggul Ametung itu dengan mulutnya.
“Mahisa Agni sendiri pun menerimanya dengan senang hati.
Mahisa Agni yang kehilangan adiknya itu pun telah melupakan
segala-galanya. Apalagi kami” desis mereka di dalam hati.
Tetapi mereka tidak melihat hati Mahisa Agni. Hati yang
bergejolak dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Agni mampu
mempergunakan akalnya untuk menindas perasaannya.
“Aku tidak boleh melihat persoalan ini berdasarkan kepentingan
diri sendiri” berkata Mahisa Agni itu di dalam hatinya, “aku harus
melihat kepentingan yang jauh lebih besar. Bendungan, yang akan
memberi kesejahteraan bagi seluruh rakyat Panawijen. Bukan
sekedar memuaskan hati dan perasaanku saja”.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun kemudian dapat
menerima keadaan itu dengan hati yang lapang. Bahkan kemudian
anak muda itu pun menjadi gembira. Kini harapannya yang
hampirhampir
lenyap bersama kejemuan yang melanda perkemahannya,
akan dapat disegarkannya kembali.
Ternyata, harapan Mahisa Agni itu pun terjadi. Ketika matahari
dipagi yang cerah memancar di atas punggung bukit tampaklah
betapa segarnya wajah perkemahan orang-orang Panawijen itu.
Meskipun hari itu mereka tidak bekerja, karena mereka masih sibuk
menyambut para prajurit Tumapel dan mengatur segala macam
peralatan dan lainnya, namun telah terbayang di wajah Mahisa Agni,
apa yang besok akan dapat mereka kerjakan.
Hari itu perkemahan orang-orang Panawijen itu disibukkan
dengan mengatur tempat penyimpanan bahan-bahan makanan,
alat-alat dan membagi gubug-gubug bagi mereka dan para prajurit
dari Tumapel. Mereka mencoba saling mengenal dan bercakapcakap
tentang banyak hal. Tetapi pembicaraan mereka pada
umumnya tidak berkisar dari bendungan, Padang Karautan yang
keras, terik matahari disiang hari dan dingin malam yang menggigit
tulang.
Tetapi para prajurit itu memiliki tubuh yang terlatih dan banyak
mengalami persoalan-persoalan yang keras dan berat. Itulah
sebabnya maka tanggapan mereka terhadap terik matahari, dan
dingin malam agak berbeda dengan orang-orang Panawijen.
Hal itu ternyata pada hari-hari berikutnya. Ketika orang-orang
Panawijen telah mulai kembali dengan kerja mereka, dengan gairah
dan nafsu yang kembali menyala di dalam dada mereka, maka
segera mereka melihat, bagaimana para prajurit Tumapel itu
bekerja. Para prajurit itu seakan-akan tidak mengenal lelah dan
tidak mengenal gangguan-gangguan pada tubuhnya. Meskipun
matahari menyala di langit, meskipun keringat telah membasahi
segenap wajah kulit mereka, tetapi mereka masih juga tidak susut
tenaganya. Bahkan masih juga ada di antara mereka yang
mengangkat batu dan brunjung bambu sambil berdendang. Di
kelompok lain, mereka masih saja bergurau sesamanya.
“Mereka baru sehari bekerja” gumam salah seorang dari orangorang
Panawijen, “entahlah apabila mereka telah bekerja dua tiga
hari di bawah panas terik ini”.
Tetapi di hari-hari berikutnya, kerja para prajurit itu lama sekali
tidak berubah. Mereka bekerja dengan wajah yang cerah. Mereka
mengangkat brunjung, memecah batu, mengemudikan cikar-cikar
dan gerobag-gerobag dengan senyum dan tawa. Mereka
mengayunkan cangkul sambil berdendang dan bergurau. Sehingga
dengan demikian, kegembiraan kerja mereka itu telah memancari
pula orang-orang Panawijen yang selama ini telah menjadi lesu.
Wajah-wajah orang-orang Panawijen yang bekerja membuat
bendungan itu kini telah berubah sama sekali. Tidak ada kerutmerut,
tidak ada kejemuan dan keragu-raguan. Semua bekerja
dengan gairah dan gembira.
Mahisa Agni pun menjadi gembira pula. Bahkan ia adalah orang
yang paling gembira melihat kerja itu. Kadang-kadang anak muda
itu bahkan berdiri saja di atas sebuah batu besar mengamati
orangorang
yang sedang sibuk dan tekun bekerja itu. Dilihatnya
brunjung-brunjung turun ke sungai satu demi satu dikedua sisinya.
Dilihatnya pedati hilir mudik mengangkut batu-batu dan tanah.
Dilihatnya sebelah lain, orang yang sedang membajak melunakkan
tanah untuk membuat susukan yang akan membelah Padang
Karautan, dan parit-parit. Dilihatnya pula orang-orang Panawijen
dan para prajurit sedang mengayunkan cangkul-cangkul mereka
untuk menaikkan tanah dari susukan yang sedang mereka buat.
Semua berlangsung dengan cepat dan menggembirakan.
Secengkang demi secengkang maka bendungan itu pun naik. Air
di dalam sungai itu pun naik pula. Lebih cepat dari dugaan Mahisa
Agni karena para prajurit yang ikut membantunya.
Dengan bangga Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya,
“Alangkah menyenangkan. Harapan bagi masa datang kini menjadi
semakin terang. Ternyata para prajurit itu tidak hanya pandai
mengayunkan pedangnya, tetapi mereka pandai pula mengayunkan
cangkul dan kapak. Bahkan mengemudikan gerobak dan cikar.
Memegang tangkai waluku dan garu”.
Alangkah besar rasa terima kasihnya kepada Akuwu Tunggul
Ametung kali ini tanpa mengingat kepedihan hatinya sendiri. Tetapi
lebih dari itu, Mahisa Agni pun memanjatkan ucapan terima
kasihnya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tuntunannya
maka semua ini dapat terjadi.
“Lima kali lebih cepat dari perhitunganku” desis Mahisa Agni
“Ternyata alat-alat itu sangat membantu dan mempercepat
penyelesaian kerja ini. Tenaga berpasang-pasang lembu dan kerbau
itu jauh lebih besar dari tenaga separo dari orang-orang Panawijen
seluruhnya”.
Bukan saja Mahisa Agni yang menjadi bangga dan gembira
melibat kerja itu, tetapi Ki Buyut Panawijen pun tidak kalah pula
menyimpan harapan yang melimpah-limpah di dalam dadanya.
Sebagai seorang yang hampir selama hidupnya berada ditengahtengah
rakyat Panawijen, maka padukuhan yang baru itu nanti pasti
akan tetap mengikat orang-orang Panawijen dalam satu lingkungan.
Mereka tidak akan bercerai-berai dan berpisah-pisah.
Sedang Empu Gandring menjadi gembira melihat kemanakannya
berbesar hati. Orang tua itu melihat kebanggaan Mahisa Agni
sebagai suatu kebanggaan dihatinya pula.
Dalam pada itu, bukan saja di Padang Karautan terjadi kesibukan
yang luar biasa, tetapi di dalam istana pun terjadi kesibukan yang
luar biasa pula. Para hamba istana sibuk membersihkan segala
sudut halaman. Para juru sungging sibuk memperbaharui sungging
pada setiap ukiran yang melekat pada tiang-tiang dan dindingdinding
istana.
Orang-orang tua di dalam istana Tumapel telah menasehatkan
kepada Akuwu Tunggul Ametung untuk segera meresmikan
perkawinannya dengan gadis Panawijen apabila memang telah
dikehendakinya. Karena itu, maka segala persiapan pun telah
dilakukan.
Meskipun demikian Akuwu Tunggul Ametung tidak melupakan
janjinya kepada Mahisa Agni. Karena itu, maka ia telah mengirim
sepasukan prajurit dan pelayan dalam untuk membantu Mahisa Agni
membuat bendungan.
“Bendungan itu harus selesai tecepatnya. Secepat orang-orang di
istana ini membersihkan dan memperbaharui segala bagian.
Kemudian taman yang harus dibangun itu pun harus selesai pula.
Taman yang akan aku hadiahkan kepada permaisuriku. Taman yang
akan menjadi tempat beristirahat, apabila kami pergi berburu. Akan
aku tinggalkan Ken Dedes di taman itu, di tempat yang pasti akan
menyenangkan hatinya, sebab Ken Dedes akan dikelilingi oleh
orang-orang yang telah dikenalnya dengan, baik sejak kanakanaknya”
pesan Tunggul Ametung kepada Ken Arok yang diserahi
pimpinan ketika pasukannya itu berangkat.
Sementara itu, di Kemundungan terjadi pula kesibukan. Kuda
Sempana telah bertekad untuk menempa dirinya. Perlahan-lahan ia
tertarik pula akan ilmu yang kasar dan keras dari kedua orang liar
kakak beradik. Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Meskipun
kesempatan untuk berlatih itu tidak terlalu banyak, karena kedua
orang itu hampir bergantian selalu pergi meninggalkan rumahnya,
namun Kuda Sempana mendapatkan beberapa kemajuan pula. Kuda
Sempana kemudian tidak lagi mempertimbangkan apa saja yang
akan dilakukan oleh Wong Sarimpat dan Kebo Sindet atasnya dan
atas Mahisa Agni. Namun kini ia berpikir, selagi ia mendapat
kesempatan, biarlah ia memanfaatkan kesempatan itu. Baginya kini
tidak ada pilihan lain daripada meneguk setiap ilmu yang mungkin
disadapnya.
Tetapi sejalan dengan usahanya untuk mempertinggi ilmunya
tanpa mengingat sumber ilmu itu, Kuda Sempana sebenarnya
perlahan-lahan telah kehilangan segala gairahnya menghadapi masa
depannya. Kegagalan yang bertubi-tubi datang melandanya, telah
membuat hatinya menjadi beku. Ia kini seakan-akan telah
kehilangan segala macam cita-cita dan tujuan. Ia berlatih asal saja
ia mampu menambah ilmunya. Ia tidak tahu, apakah yang akan
dilakukan, kelak dengan ilmunya yang bercampur baur itu. Namun
dengan demikian, karena ia telah kehilangan segala macam cita-cita
hari depannya, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mencari
keserasian gerak dari macam-macam ilmu yang dimilikinya. Ia tidak
berusaha mengendapkan ilmu-ilmu itu untuk menemukan saripatinya.
Ia menerima menelan dan kemudian memuntahkannya
kembali seperti apa yang ditelannya. Kasar dan keras, namun
kadang-kadang muncul juga unsure-unsur gerak yang dipelajarinya
dari Empu Sada, justru yang lebih lama terendam di dalam dirinya.
Tetapi Kuda Sempana sendiri tidak menyadari, bahwa
sebenarnya apa yang diterimanya dari Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat, tidak banyak berpengaruh atas tingkat ilmunya. Yang
didapatnya hanyalah sekedar macam-macam ilmu gerak yang tidak
lebih baik dari yang pernah dimilikinya. Meskipun demikian, maka
Kuda Sempana kini memiliki jenis-jenis unsur gerak yang lebih
banyak dari yang dimilikinya semula.
Meskipun Kuda Sempana sudah beberapa waktu berada di
Kemundungan, namun ia tidak tahu pasti, apakah yang akan
dilakukan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Setiap kali salah
seorang dari mereka pergi meninggalkan rumah mereka. Apabila
orang yang pergi itu kembali, maka yang di dengarnya hanyalah
Kebo Sindet atau Wong Sarimpat mengumpat-umpat.
Namun Kuda Sempana itu pun merasakan, bahwa sampai saat ini
kedua orang itu masih belum mempercayainya. Betapa Kuda
Sempana tidak mempedulikan keadaan, tetapi sikap dan perkataan
kedua orang itu dapat dirasakannya. Keduanya tidak pernah pergi
bersama-sama. Salah seorang dari mereka terasa selalu
mengawasinya kemana ia pergi.
Hanya kadang-kadang Kebo Sindet mengajaknya berbicara
mengenai Mahisa Agni. Bahkan kini Kebo Sindet lah yang hampir
tidak bersabar lagi untuk menangkap buruannya itu.
Kadang-kadang Kuda Sempana pun menjadi heran, apabila Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat itu hanya mengharap beberapa keping
emas saja dari padanya, bahkan dengan segala miliknya, pendok
emas, timang emas tretes berlian, maka apakah yang dilakukan oleh
kedua orang itu cukup memadai.
Bahkan Kuda Sempana sendiri kini menjadi cemas, apakah
barang-barang miliknya yang dititipkannya pada gurunya itu masih
juga utuh dapat diambilnya kelak? Apabila terlalu lama ia tidak
kembali sedang gurunya telah tidak ada lagi, maka barang-barang
itu pun pasti akan jatuh ketangan orang-orang lain yang berada di
padepokan gurunya.
Tetapi Kuda Sempana kini telah menjadi malas untuk memikirkan
semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Ia jalani apa yang
dilakukannya hari ini tanpa berpikir tentang besok.
“Mungkin besok aku sudah mati dipancung oleh kedua orang ini,”
kadang-kadang pikiran itu membersit di kepalanya. Tetapi
kadangkadang
ia merasa bahwa kedua orang itu sangat berbaik hati
kepadanya, seperti kepada murid terkasih.
“Mungkin aku akan menjadi gila” desisnya di dalam hati,
“Keadaan ini benar-benar telah mengguncang-guncang
keseimbangan perasaan dan pikiranku”.
Tetapi kesadaran tentang goncangan perasaan dan pikirannya
itulah sebenarnya yang telah menahannya untuk tidak menjadi gila
sebenarnya gila.
Dan kini hari-harinya diisinya dengan menirukan, mempelajari
dan mencobakan unsur-unsur gerak yang kasar dan keras. Kadangkadang
kini telah terlontar pula dari mulutnya sebuah teriakan yang
keras untuk memberikan tekanan pada unsur geraknya. Tidak hanya
keras, namun kadang-kadang berisi umpatan yang kotor dan
memuakkan.
Tetapi, Kuda Sempana sendiri tidak tahu apa yang dikerjakan, ia
sama sekali tidak berpikir tentang itu. Ia berbuat seperti yang
harus
diperbuatnya.
Kosong. Kuda Sempana kini telah menjadi kosong.
Ketika suatu ketika Kebo Sindet membawanya berbincang
tentang Mahisa Agni, maka jawabnya sama sekali tidak lagi
membayangkan segala macam dendam dan kebencian yang selama
ini terpendam.
“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “Meskipun aku banyak
menemui kesulitan, tetapi aku yakin bahwa dalam saat yang pendek
aku harus dapat membawa Mahisa Agni ke Kemundungan dan
menyerahkannya kepadamu”.
Dengan kepala yang hampa Kuda Sempana mengangguk, “Ya
paman.”
“Bukankah kau masih menghendaki?” bertanya Kebo Sindet.
“Ya paman.”
“Apakah kau sudah memaafkannya?”
Kuda Sempana terdiam. Ditatapnya wajah Kebo Sindet yang beku
sebeku wajah mayat. Namun Tiba-tiba mulutnya berkata, “Tidak
paman, aku sama sekali tidak memaafkannya”.
“Bagus,” berkata Kebo Sindet, “apakah kau sekarang sudah
siap?”
Kuda Sempana menjadi heran, “Apakah yang barus aku lakukan
paman?”
“Kita bersama-sama mengambil Mahisa Agni. Aku tidak bersabar
lagi. Kita bertiga pasti akan mampu melawan Mahisa Agni, Empu
Gandring dan orang-orang Panawijen yang pengecut itu. Aku akan
mengikat Empu Gandring dalam suatu perkelahian, Wong Sarimpat
akan melumpuhkan Mahisa Agni sementara kau menghalau orangorang
Panawijen. Setelah itu, maka semuanya akan segera dapat
diselesaikan. Empu Gandring tidak akan mampu melawan aku dan
Wong Sarimpat sekaligus apabila kita masing-masing sudah saling
menyiapkan diri.”
Tetapi tanggapan Kuda Sempana kini sudah tidak segairah pada
saat ia pertama-tama datang ke Kemundungan. Meskipun demikian
ia menjawab, “Baik paman.”
“Kita menunggu Wong Sarimpat. Sementara itu kita akan
menyiapkan diri kita masing-masing”.
Tetapi ketika pada sore harinya Wong Sarimpat datang, maka
persoalannya kembali menjadi panjang. Kebo Sindet mengumpat
tidak habis-habisnya.
“Kau lihat sendiri, Wong Sarimpat ?”
“Ya kakang”.
“Sepasukan prajurit dari Tumapel”.
“Gila. Benar-benar gila. Apakah kerja prajurit-prajurit itu?”
“Aku tidak tahu kakang. Tetapi mereka pasti akan lama tinggal di
Padang Karautan menilik bekal yang mereka bawa. Lebih dari
duapuluh pedati yang ditarik kerbau dan lembu mereka bawa serta”.
Tiba-tiba tampak sebuah kerut di dahi Kebo Sindet yang beku itu.
Tetapi hanya sesaat. Sesaat kemudian kembali wajah itu tidak
menunjukkan kesan apapun.
Namun orang itu menjadi heran pula ketika dilihatnya wajah
Kuda Sempana tidak menunjukkan kesan sama sekali. Anak muda
yang selama ini menahan dendam di dalam dadanya, tiba-tiba
dendam itu seakan-akan telah menguap seperti asap.
Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bertanya apapun
kepadanya, bahkan mereka seakan-akan tidak melihat, perubahan
itu. Namun Wong Sarimpat yang hampir setiap hari melihat
kebekuan wajah kakaknya berkata di dalam hatinya, “Apakah Kuda
Sempana itu kini telah kejangkitan sikap seperti kakang Kebo
Sindet? Ataukah anak muda itu memang berusaha untuk berlaku
demikian karena ia merasa menjadi murid kakang Kebo Sindet?
Alangkah bodohnya. Umurnya tidak akan lagi lebih panjang dari
umur jagung. Begitu Mahisa Agni tertangkap, maka ia pun akan
menjadi orang tangkapan. Mungkin ia akan digantung di alun-alun
Tumapel setinggi pohon beringin”.
Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet bertanya, “Apakah kau
sangka bahwa sepasukan prajurit itu hanya sekedar lewat di Padang
Karautan atau mereka datang ke perkemahan orang-orang
Panawijen itu?”
Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia
menjawab, “Mereka datang ke perkemahan orang-orang
Panawijen”.
“Tetapi ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Mereka
datang untuk menyerahkan bantuan berupa bahan-bahan, tetapi
sesudah itu mereka kembali ke Tumapel, atau mereka akan ikut
serta dalam kerja membuat bendungan itu”.
“Mereka datang ke perkemahan itu”.
“Gila kau Wong Sarimpat. Kau tidak pernah menyelesaikan kerja
dengan baik. Tinggallah kau di rumah bersama Kuda Sempana. Aku
sendiri akan melihat dan membuat perhitungan-perhitungan baru”
kemudian kepada KudaSempana, “Kau pernah berkata bahwa kau
sendiri berasal dari Panawijen juga. Bukan begitu?”
Wajah Kuda Sempana yang beku seperti wajah Kebo Sindet itu
mengangguk, “Ya”.
“Dimana orang tuamu tinggal?”
Kali ini Kuda Sempana menjadi ragu-ragu. Apakah kepentingan
orang itu bertanya tentang orang tuanya?
“He, bagaimana?”
Kuda Sempana tidak segera menjawab.
“Kau agaknya menjadi ragu-ragu. Aku berbuat semata-mata
untuk kepentinganmu”.
Meskipun dada anak muda itu diamuk oleh kebimbangan, namun
ia menjawab juga, “Ya. Orang tuaku tinggal di Panawijen. Tetapi
mereka sudah tua”.
“Itu tidak penting. Mungkin mereka akan berguna bagimu dan
dapat membantu anaknya melepaskan sakit hatinya”.
“Apa yang dapat mereka lakukan?”
“Serahkan kepadaku”.
“Paman” berkata Kuda Sempana dengan nada yang rendah,
“jangan paman menyeretnya ke dalam kesulitan. Biarlah aku sendiri
yang bertanggung jawab atas segala macam persoalan. Sebaiknya
paman melepaskannya dan membiarkannya menghabiskan sisa-sisa
hidupnya dengan tenteram”.
“Jangan bodoh dan jangan menjadi cengeng. Aku tidak akan
berbuat segila yang kau sangka. Aku hanya akan berbuat untuk
kepentinganmu”.
Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi kini ia bukan saja menjadi
ragu-ragu. Kecemasan yang dalam telah menggores dinding
jantungnya. Namun ia tidak mengucapkannya.
Malam itu juga Kebo Sindet pergi meninggalkan Kemundungan.
Dengan berbagai macam persoalan di dalam dadanya, ia ingin
menyaksikan sendiri, apakah benar para prajurit Tumapel itu untuk
sementara menetap di Padang Karautan?. Sementara itu Wong
Sarimpat tinggal di rumah bersama Kuda Sempana yang diamuk
oleh berbagai perasaan. Ia kini justru berpikir tentang orang
tuanya.
Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet dengan
kedua orang tuanya itu?
Tetapi, ketika hatinya menjadi semakin pepat, Kuda Sempana itu
berdesah, “Persetan. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan
siapa pun juga. Bahkan apa yang akan terjadi dengan diriku
sendiri”.
Dan kembali anak muda itu berusaha melupakan segala-galanya.
Ia mencoba untuk tidak berpikir dan merasakan sesuatu. Ia tinggal
menjalani apa yang terjadi hari ini. Besok biarlah dipikirkannya
besok. Sedang apa yang pernah terjadi kemarin, diusahakannya
untuk melupakan sama sekali.
Hidupnya kemudian menjadi sepotong-sepotong. Seolah-olah tak
ada hubungan lagi antara apa yang pernah terjadi, apa yang sedang
berlaku dan apa yang akan datang kemudian.
Ketika malam menjadi gelap, maka Kebo Sindet berpacu dengan
kudanya mendaki tebing bukit gundul. Suara berderak memecah
sepi malam menyelusur dan memantul kembali meneriakkan gema
yang melingkar-lingkar karena dinding-dinding batu pegunungan
gundul itu. Dengan gigi yang terkatub rapat orang itu
menggenggam kendali kudanya. Di kepalanya bergelut berbagai
rnacam persoalan. Sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis, “Gila
orang-orang Tumapel itu. Kalau benar mereka berada di
perkemahan, maka aku pasti akan menemui kesulitan. Aku harus
segera dapat mengambil Mahisa Agni sebelum adiknya tenggelam
dalam kehidupan yang bahagia di dalam istana. Dengan demikian,
maka adalah suatu kemungkinan bahwa Ken Dedes itu akan
melupakan kakaknya dan tidak lagi mempedulikannya. Tetapi kini,
hubungan mereka masih terlampau erat. Menurut ceritera Kuda
Sempana, maka Ken Dedes sangat mencintai kakaknya sehingga
apapun telah dilakukannya untuk menjemput Mahisa Agni
menghadap Akuwu Tunggul Ametung”.
Kebo Sindet itu menggeretakkan giginya Kudanya segera
dipacunya semakin cepat. Ia ingin segera melihat, apakah
sebenarnya yang telah terjadi di Padang Karautan.
Sementara itu otaknya masih juga berputar terus. Perlahan-lahan
ia bergumam kepada diri sendiri, “Hem. Mungkin orang tua Kuda
Sempana akan dapat membantuku apabila apa yang dikatakan oleh
Wong Sarimpat itu benar telah terjadi, Orang yang sudah tua itu
pasti tidak berada di Padang Karautan. Mereka pasti tinggal di
rumah mereka”.
Dan suara derap kaki kuda itu pun semakin keras memecah sepi
malam. Gemeretak beradu dengan batu-batu padas memencar di
sekitar bukit gundul yang kini telah mulai dituruninya.
Jauh dari Padang Karautan, di luar kota Tumapel, seorang tua
dengan tongkat yang panjang berjalan tersuruk-suruk. Selangkah
demi selangkah ia maju. Namun begitu sering ia harus berhenti
untuk mengatur pernafasannya. Berkali-kali ia bersandar pada
pohon-pohon di pinggir jalan untuk menenangkan detak jantungnya
yang seakan-akan tidak teratur lagi.
Sekali ia menarik nafas dalam.
“Beberapa langkah lagi” desisnya, “mudah-mudahan aku dapat
mencapai padepokan itu”.
Kembali orang tua itu berjalan tertatih-tatih. Tangan kanannya
bertelekan pada tongkat pangjangnya, sedang tangan kirinya
seakan-akan menahan punggungnya supaya tidak terlepas.
“Gila orang-orang liar itu” gumamnya, “benar juga kata Empu
Gandring dan Panji kurus itu, bahwa sukarlah untuk mendekati Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku dahulu mampu
memperalatnya. Namun kini agaknya kepala Kebo Sindet menjadi
semakin tajam. Berbeda dengan adiknya yang dungu itu”.
Ketika angin malam berhembus mengusap tengkuknya, maka
orang tua itu menengadahkan wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang
berhamburan di dataran langit yang biru pekat.
Melihat kebesaran alam yang terentang itu, orang tua itu menarik
alisnya. Seakan-akan baru kali ini dilihatnya bintang gemintang
yang
berkeredipan di angkasa. Masing-masing dengan bentuk dan
susunannya sendiri. Masing-masing beredar menurut irama yang
berbeda. Tetapi penuh dengan keserasian.
Tiba-tiba orang tua itu seakan-akan melihat sebuah dunia yang
asing. Dunia yang selama ini tdiak pernah dilihatnya. Benda-benda
yang gemerlapan berpijar dalam warna yang cemerlang.
Perlahan-lahan orang tua itu mengangguk-anggukan kepalanya.
Punggungnya masih terasa sakit. Meskipun luka-lukanya telah
hampir sembuh, namun tenaga masih belum pulih sama sekali.
Ternyata luka-luka kulit dan luka-luka di bagian dalamnya cukup
berat. Meikipun luka-luka pada kulitnya telah tidak lagi
mengganggunya.
“Aku memerlukan waktu” desahnya, “mudah-mudahan aku
segera sembuh. Kalau aku dapat mencapai pedepokanku itu masih
seperti keadaannya semula, maka aku akan dapat mengobati lukaluka
di bagian dalam tubuhku dengan baik. Tidak akan terhitung
minggu, aku pasti akan mendapat kekuatanku kembali. Empu Sada
tetap memiliki namanya yang lama” Orang itu, Empu Sada, telah
hampir sampai ke padepokannya kembali, setelah ia bersembunyi
berjalan berhari-hari dengan susah payah. Setelah ia berhasil
menyelamatkan dirinya dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat maka kini di dalam hatinya pun menyala dendam
kepada kedua orang itu. Apalagi ketika ia telah kehilangan muridnya
yang dibangga-banggakan. Keduanya hilang. Keduanyalah yang
selama ini paling banyak memberinya berbagai rnacam barang dan
perhiasan. Saudagar keliling yang menamakan dirinya Bahu Reksa
Kali Elo, dan seorang hamba istana yang dekat dengan Akuwu
Tunggul Ametung, Kuda Sempana.
Empu Sada saat itu tidak memikirkan dari mana orang yang
menyebut dirinya Bahu Rekso Kali Elo itu mendapat barangbarangnya.
Tetapi ternyata orang itu mampu memberinya
kesenangan, sehingga kepada orang itu berdua dengan Kuda
Sempana, maka ilmunya paling banyak diberikan.
Tetapi kini Empu Sada menjadi kecewa. Kecewa akan cara yang
ditempuhnya. Ternyata dengan demikian, ia tidak mendapatkan
apapun juga. Barang-barang dan perhiasan-perhiasan yang
bertumpuk-tumpuk itu sama sekali tidak dapat membantunya
menghadapi orang-orang seliar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Hanya kemampuan berkelahilah yang dapat membantu aku
berurusan dengan kedua orang-orang liar itu” gurnamnya, “tetapi
aku kini telah terlambat. Aku tidak akan sempat membentuk
beberapa orang yang cukup kuat untuk menghadapi mereka
berdua, meskipun sepuluh atau dua puluh orang sekaligus”.
Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir
kekecewaannya. Tetapi setiap kali kekecewaannya itu kembali
merayapi hatinya.
“Hem” gumamnya, “seandainya aku mempunyai seorang murid
seperti Mahisa Agni, Witantra dan saudara-saudara seperguruan
murid Panji yang kurus itu. Aku akan mampu menempa mereka
berempat dan menyiapkan mereka untuk berhadapan dengan salah
seorang dari orang-orang liar itu”.
Tetapi kemudian ia berdesah, “Terlambat. Terlambat”.
Empu Sada itu pun terdiam. Sunyi malam telah menyebabkan
hatinya menjadi semakin pahit. Sekali lagi ia menatap bintang di
langit. Dan Tiba-tiba ia tersadar, betapa besar alam yang
terbentang
dihadapannya. Betapa besarnya. Lebih dari pada itu, alangkah Maha
Besar Pencipta Nya.
Sejalan dengan kesadarannya tentang kebesaran alam yang
selama ini sama sekali tidak pernah dihiraukannya, maka terasa pula
betapa kecil dirinya. Ya, betapa kecil dan lemahnya. Dikenangnya
apa yang baru dialaminya. Bukit gundul, padang alang-alang,
sebuah sendang yang luas. Alangkah sakitnya terbanting ke dalam
jurang di tebing gunung gundul yang kecil dibandingkan dengan
Gunung Kawi. Apalagi dibandingkan dengan Gunung Semeru. Dan
alangkah sempitnya sendang itu dibandingkan dengan Samodra.
Samodra Kidul yang luas. Lebih-lebih lagi betapa perbandingan itu
diterapkannya dengan dirinya.
“Apakah arti nama Empu Sada berhadapan dengan alam ini?”
Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam batinya.
Perasaan orang itu menjadi semakin dalam terbenam dalam
kekecewaan dan penyesalan. Ternyata hidupnya yang sudah sekian
lama itu, sama sekali tidak berarti apapun bagi hari tuanya. Tak
ada
yang dapat ditinggalkannya apabila ia kelak meninggalkan dunia ini.
Tak ada yang dapat dibanggakannya. Perguruannya, muridnya dan
bahkan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat dibanggakannya, yang
jasmaniah, apa lagi yang rokhaniah. Tidak ada yang akan
mengatakan bahwa perguruan Empu Sada telah melahirkan anakanak
muda yang perkasa, yang pilih tanding, mumpuni saliring ilmu
Jaya kawijayan guna kasantikan. Tidak. Tidak ada. Apalagi anakanak
muda yang berbudi, yang memancarkan cinta kasih sesama.
Yang selalu siap mengulurkan tangan menolong setiap kelemahan di
dalam kebenaran. Tidak ada. Yang ada adalah dendam dan
permusuhan. Dendam Kuda Sempana yang meluap-luap yang
selama ini dibenarkannya. Dendam yang kemudian tertanam di
dalam hatinya sendiri kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Dendam yang akan menyala tanpa dapat dipadamkan.
Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin
melupakan segala kepahitan itu. Ia ingin segera sampai di
padepokannya. Kemudian beristirahat dan mengambil reramuan
obat-obatnya untuk menyembuhkan luka-luka di bagian dalam
tubuhnya.
Tetapi setiap kali kekecewaan dan penyesalan itu muncul di
permukaan wajah hatinya.
“Hem” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dan ia semakin
terdorong dalam perasaan yang pahit. Orang tua itu merasa bahwa
hidup yang pernah dijalaninya sama sekali tidak berarti apa-apa
bagi dunia ini. Adanya seperti tidak ada, bagi kebajikan, dan
apabila
ia kelak mati, maka tidak ada jejak yang pernah ditinggalkan di
kulit
bumi ini. Selain noda-noda yang hitam.
Perlahan-lahan namun akhirnya Empu Sada itu pun menjadi
semakin dekat dengan pedukuhannya. Ia ingin sampai di padepokan
itu sebelum fajar.
Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, inaka
orang tua itu telah melangkahkan kakinya masuk ke halaman
padepokannya. Terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Seakanakan
ia merupakan orang asing di halaman rumahnya sendiri. Telah
sering benar ia melakukan perjalanan dan pengembaraan. Telah
sering benar ia meninggalkan padepokan itu sampai berhari-hari
bahkan berbulan-bulan. Tetapi ia selalu pulang dengan dada
tengadah. Dengan kebanggaan di dalam hatinya, bahwa isi rumah
itu akan bertambah. Emas berkeping-keping di dalam gledegnya
akan bertambah banyak. Simpanannya harta benda akan menjadi
semakin penuh. Apabila ia membuka peti kayu cendana di sisi
pembaringannya, maka gemerlap intan, berlian, mirah dan jamrut
menjadi kian cemerlang.
Tetapi kali ini ia membawa kesuraman di hatinya. Bukan karena
tubuhnya terluka. Adalah menjadi kebiasaan pula baginya, pulang
dengan luka di luar dan dalam tubuhnya itu. Tetapi lukanya kali ini
terlampau parah. Jauh lebih parah dari luka pada tubuh di bagian
luar maupun di bagian dalam. Kali ini luka yang dibawanya adalah
luka di hatinya.
Setiap kali orang tua itu menarik nafas terlampau dalam Setiap
kali terasa dadanya berdesir. Kadang-kadang ia merasa bahwa ada
sesuatu yang belum dikerjakannya, tetapi ia tidak tahu, apakah
yang sedang mengejarnya itu.
Akhirnya Empu Sada sampai pula di muka rumah yang berada di
tengah-tengah halaman yang cukup luas. Rumah itu tidak terlampau
besar. Tidak terlampau baik, dan bahkan rumah itu adalah rumah
yang sederhana. Tak banyak orang yang tahu, siapakah yang
tinggal di dalam rumah itu. Tetapi bagi mereka yang
mengetahuinya, maka rumah itu merupakan rumah yang angker.
Bahkan menyeramkan. Rumah yang halamannya terlampau rimbun.
Rumah yang pintu-pintunya jarang-jarang terbuka. Hampir tak
pernah tampak seorang dua orang berada di halamannya. Apalagi
suara anak-anak yang tertawa dan berteriak-teriak dalam sebuah
permainan yang gembira. Rumah itu seakan-akan diliputi oleh
sebuah rahasia yang gelap. Tetapi di dalam rumah itu tertimbun
berkeping-keping emas. Bergumpal-gumpal intan dan berlian.
Bahkan berbagai macam barang-barang berharga lainnya.
Tetapi ketika tangan Empu Sada telah terayun untuk mengetuk
pintunya, ia menjadi ragu-ragu. Apakah tidak ada bahaya yang
sedang menunggunya di dalam rumah itu? Mungkin orang-orang
Witantra bahkan mungkin Panji Bojong Santi sendiri, atau mungkin
pula Wong Sarimpat, atau Kebo Sindet atau bahkan kedua-duanya,
atau Empu Gandring atau Empu Purwa?
Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Alangkah
gelisah perjalanan hidupnya. Meskipun umurnya telah hampir
sampai dua pertiga abad, tetapi ia masih belum juga menemukan
sesuatu. Bahkan ia sama sekali terjauh dari ketenteraman dan
kedamaian hati. Alangkah banyak lawan-lawannya. Orang yang
paling jahat seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sampai orang
yang cukup mengendap seperti Empu Purwa. Dan ini adalah buah
yang harus dipetiknya dari benih yang pernah ditaburkannya.
Karena itu, maka Empu Sada mengurungkan niatnya. Perlahan ia
berjalan bertelekan tongkatnya menyusur sisi rumahnya dengan
hati-hati. Ia ingin melihat ke belakang dimana beberapa
orangorangnya
berada. Ia harus bertemu dengan salah seorang dari
mereka untuk mendapat keyakinan bahwa ia dapat memasuki
rumahnya dengan aman.
Di sebuah bilik yang sempit Empu Sada masih melihat sebuah
pelita yang menyala. Dengan hati-hati maka didekatinya bilik itu.
Ketajaman telinganya mendengar bahwa di dalam bilik itu
seseorang sedang tidur nyenyak.
Empu Sada tahu benar, bahwa bilik itu adalah bilik salah seorang
pelayannya. Dengan hati yang berdebar-debar perlahan-lahan
diketuknya dinding bilik itu, tepat pada arah kepala pelayan itu
tidur.
Dengan gugup pelayan itu bangun. Ia mendengar seseorang
berada di luar biliknya. Karena itu maka perlahan-lahan ia
bertanya,
“Siapa?”
“Aku, Empu Sada”.
“Oh, apakah Empu yang berada di luar itu?” terdengar pelayan
itu bertanya lebih keras.
Sesaat keadaan menjadi sunyi. Empu Sada yang sedang dibakar
oleh keragu-raguan dan prasangka tidak segera menjawab. Tetapi
ketika ia mendengar suara itu kembali bertanya Empu Sada “Empu,
adakah Empu yang datang itu?” Maka ia menjadi yakin bahwa suara
itu benar-benar suara pelayannya.
Perlahan-lahan Empu Sada pun kemudian menjawab, “Ya. Aku
Empu Sada”.
Kini Empu Sada mendengar orang itu bangun dengan tergesagesa.
Bahkan kemudian kakinya telah menendang sebuah mangkuk
tanah, dan hampir-hampir pula tangannya menyentuh pelita di
tiang.
Dengan tergopoh-gopoh pula orang itu membuka pintu sambil
bertanya, “Empu, kenapa Empu datang lewat pintu belakang?”
Empu Sada tidak segera menjawab. Kembali ia menjadi curiga.
“Siapakah yang berada di dalam?” bertanya Empu itu.
Pelayannya itu pun menggeleng, “Tidak ada Empu, kecuali
seorang juru panebah yang menunggui ruang dalam, sambil
mengharap-harap Empu segera datang kembali”.
“Hanya satu orang?”
Pelayan itu pun menjadi bingung. Tetapi kemudian ia menjawab,
“TidakEmpu. Ada dua orang yang berada di ruang dalam”.
“Nah. Kenapa kau berkata hanya seorang?”
“Aku lupa Kiai”.
“Siapakah yang seorang itu? Bojong Santi, Empu Gandring atau
siapa?”
Pelayannya semakin heran. Ia belum mengenal nama-nama itu
sama sekali.
“Siapa? Siapakah yang kau sembunyikan di rumah itu untuk
menanti aku? Kebo Sindet atau Wong Sarimpat?”
Pelayan itu menjadi semakin bingung. Nama-nama yang disebut
oleh Empu Sada benar-benar membingungkan. Pelayan itu telah
mengenal beberapa orang murid-murid Empu Sada yang terdekat.
Tetapi nama-nama itu tidak pernah disebutnya.
“Siapa?” bentak Empu Sada.
“Sumekar. Murid Empu yang Empu tugaskan untuk menjaga
rumah ini”.
“Oh” Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Terasa perasaan
aneh berdesir di dadanya. Ternyata anak yang berada di dalam
rumah itu adalah Sumekar.
“Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?” bertanya Empu Sada.
“Aku terlupa Kyai” jawab pelayan itu.
Empu Sada menjadi malu sendiri. Seandainya pelayannya itu
berani menatap wajah orang tua itu di dalam terang, maka akan
tampaklah bahwa muka yang telah mulai berkerut-merut oleh
garisgaris
umur itu menjadi kemerah-merahan.
“Alangkah cemasnya hati ini” desis Empu Sada itu di dalam
hatinya “Betapa gelisah dan goyahnya hidupku. Sama sekali tidak
ada ketenteraman dan kedamaian”.
Tiba-tiba Empu Sada tersentak ketika ia mendengar gerit
perlahan-lahan di sampingnya. Dengan tanpa dikehendakinya
sendiri, tiba-tiba orang tua itu telah bersiap menghadapi setiap
kemungkinan. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia melihat se
orang anak muda yang keluar dari pintu rumah itu. Sumekar.
“Oh” sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam, “Kau
Sumekar”.
“Ya Empu. Aku mendengar suara Empu bercakap-cakap. Mulamula
aku sangka orang lain. Empu Sada biasanya tidak melalui pintu
ini”.
“Ya, ya” sahut Empu Sada tergagap.
“Marilah Empu. Silahkanlah”.
“Kau sendiri?” bertanya Empu Sada.
“Ya” sahut Sumekar.
Empu Sada pun kemudian dengan hati-hati memasuki rumahnya,
rumah yang telah berpuluh tahun ditempatinya. Tetapi kini
rasarasanya
ia sedang memasuki sebuah goa rahasia yang penuh
dengan bahaya yang sedang menantinya.
Tetapi akhirnya Empu Sada mengenali tempat itu kembali.
Perlahan-lahan kekhawatirannya pun menjadi surut. Ia mengenal
setiap pintu, tiang dan bahkan setiap jelujur kayu yang ada di
dalam
ruangan itu. Lampu minyak yang menggapai-ngapai di tlundak yang
melekat pada saka guru. Sebuah amben yang besar di sebuah sisi,
dan disekat oleh sebuah dinding, adalah bilik yang khusus dibuat
untuknya, untuk menyimpan sebagian dari kekayaannya.
“Tak seorang pun masuk ke dalam bilik itu?”
“Tidak Empu” sahut Sumekar.
“Kau?”
“Ya. Kadang-kadang untuk membawa para pelayan
membersihkannya”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia
bertanya kembali, “Dimana orang-orang lain?”
“Di luar Empu, Dua orang selalu tidur di atas gedogan kuda”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejak ia belum
berangkat bersama Kuda Sempana dua orang muridnya yang masih
belum terlalu baik selalu tidur di atas kandang kuda.
Belum lagi Empu Sada sempat beristirahat, terdengar ayam
jantan berkokok bersahutan. Terontong-terontong terbayang pada
lubang-lubang dinding cahaya fajar yang menjadi semakin terang.
Empu Sada menggeliat sambil menyeringai. Tubuhnya masih
terasa sakit-sakit.
“Siapakah yang datang ke rumah ini sepeninggalku untuk
mencari aku?”
Sumekar mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat.
Tetapi kemudian ia menjawab, “ Tidak ada Empu”.
“Tidak ada?” jawaban itu tidak meyakinkannya.
“Tidak Empu”.
“Prajurit-prajurit Tumapel?”
Sumekar menggeleng, “Tidak Empu”.
“Orang-orang yang liar seliar orang-orang hutan?”
Kembali Sumekar mengerutkan keningnya. Kemudian kembali ia
menjawab, “Tidak Empu”.
Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi ia tidak yakin akan
kebenaran kata-kata Sumekar. Mungkin Sumekar tidak ada di rumah
waktu itu atau mungkin anak itu sudah tidak ingat lagi. Tetapi
apabila yang datang Witantra dengan pasukannya, maka mustahil
bahwa Sumekar tidak tahu atau melupakannya.
“Jadi tidak ada seorang pun yang datang?”
“Maksudku, tidak ada yang datang untuk suatu keperluan yang
khusus Empu. Mungkin ada juga satu dua orang yang bertanya
tentang Empu, tetapi mereka agaknya tidak mempunyai persoalan
yang penting”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba
alisnya berkerut, “Coba katakan, apakah kau masih ingat yang satu
dua orang itu?”
“Aku tidak memperhatikannya Empu, sebab mereka agaknya
juga tidak menganggap penting”.
“Ya, mungkin. Tetapi siapa saja seingatmu?”
Sumekar mengingat-ingat sejenak. Kemudian katanya, “Yang aku
ingat Empu. Saduki pernah datang kemari”.
“Persetan dengan orang itu. Apa keperluannya?”
“Isterinya ngidam Empu. Isterinya itu ingin sekali makan jeruk
yang sedang berbuah di halaman depan”.
“Cukup, cukup tentang orang gila itu” Sumekar terdiam.
“Ya lain”.
Sumekar mencoba mengingat-ingat. Ada juga satu dua orang
yang menanyakan gurunya saat itu. Tetapi mereka pada umumnya
adalah orang-orang yang sering datang untuk mengadakan jual beli
dan tukar menukar barang-barang. Tetapi Tiba-tiba Sumekar itu
ingat, bahwa pernah datang seseorang yang belum pernah
dilihatnya. Tetapi agaknya orang itu pun tidak mempunyai keperluan
yang penting. Mungkin orang itu sahabat Empu Sada atau mungkin
salah seorang keluarganya. Meskipun demikian Sumekar itu pun
berkata, “Empu, ada aku ingat seseorang yang belum pernah aku
kenal. Kecuali para pedagang yang ingin berjual beli dan tukar
menukar seperti yang sering terjadi, maka pernah datang seorang
yang usianya sebaya dengan Empu”.
Empu Sada mengerutkan keningnya, “Siapa?”
“Tetapi orang itu tidak mempunyai apapun. Ia hanya sekedar
ingin berkunjung kepada Empu Sada. Mungkin ia sahabat Empu
yang sudah agak lama tidak bertemu”.
“Ya siapa?”
“Orang itu tidak menyebut namanya”.
“Kau katakanlah ciri-cirinya”.
“Orang itu agak tinggi. Kurus”.
“Ada berpuluh-puluh orang yang tinggi kurus di dunia ini”.
Sumekar mengerutkan keningnya. Tetapi Tiba-tiba ia berkata,
“Orang itu membawa sebuah kasa yang dibuatnya dari kulit
harimau. Kasa itu telah menarik perhatianku saat itu”.
“He” Empu Sada itu terkejut bukan buatan. Sehingga dengan
serta-merta ia tegak berdiri seperti sebuah tonggak yang kokoh
“Orang itu membawa kasa dari kulit harimau?”
Sumekar pun terkejut bukan main. Bukan karena kasa yang
dibuat dari kulit harimau itu, tetapi justru karena sikap gurunya.
“Ya” sahutnya terbata-bata.
“Alangkah bodohnya kau. Jauh lebih bodoh dari orang yang
menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu. Orang yang membawa
kasa dari kulit harimau itu bernama Panji Bojong Santi”.
“Oh” Sumekar meng-angguk-angguk, “Aku belum tahu Empu.
Empu belum pernah memberi tahukan kepadaku. Aku menyesal
bahwa aku tidak mempersilahkannya untuk menunggu Empu atau
menanyakan dimanakah rumahnya, sehingga aku akan dapat
memberitahukan bahwa Empu telah kembali”.
“Gila, gila kau” Empu Sada itu hampir berteriak, “jangan kau
suruh ia masuk rumah ini, apalagi menunggu aku pulang. Kini ia
tidak boleh mendengar bahwa Empu Sada telah berada di
padepokannya kembali. Kau dengar?”
Sumekar menjadi bertambah bingung. Ia tidak tahu bagaimana ia
harus menanggapi kata-kata gurunya. Bahkan sedemikian
bingungnya sehingga tanpa disadari ia berkata, “Orang itu baik
guru. Ramah dan menyenangkan”.
“Oh, Sumekar, Sumekar” Tiba-tiba Empu Sada menekan dadanya
yang masih terasa sakit, “alangkah bodohnya kau Panji Bojong Santi
bagiku jauh lebih berbahaya dari sepasukan prajurit Tumapel
meskipun dari kesatuan pengawal Akuwu yang dipimpin oleh
Witantra itu sekalipun. Ternyata orang itu benar licin seperti
iblis.
Yang mencari aku kemari bukan sepasukan prajurit, tetapi seorang
Panji Bojong Santi”.
Kini Sumekar benar-benar terbungkam. Ia tahu kemungkinankemungkinan
yang demikian, bahwa suatu ketika gurunya akan
dicari oleh sepasukan prajurit karena berbagai macam persoalan.
Mungkin soal barang-barang yang diambilnya dari orang lain,
meskipun tidak dengan tangannya sendiri. Mungkin soal-soal lain
yang serupa dengan kejahatan. Meskipun salah seorang murid
Empu Sada itu adalah seorang Pelayan Dalam Akuwu Tunggul
Ametung yang dekat, Kuda Sempana. Namun agaknya ada sesuatu
yang tidak wajar pada muridnya yang seorang itu.
Empu Sada itu pun kemudian terduduk di amben bambu. Terasa
dadanya menjadi bertambah pedih.
“Oh” desahnya, “untunglah orang itu tidak kembali. Ingat, tak
seorang pun boleh tahu bahwa Empu Sada telah berada di
padepokannya. Aku harus menyembuhkan segenap luka-lukaku.
Sesudah itu, ayo siapakah yang akan datang menemui aku. Panji
Bojong Santi, Empu Gandring, Empu Purwa, Kebo Sindet atau Wong
Sarimpat?”
Empu Sada terdiam. Tetapi kata-katanya itu telah mendebarkan
jantungnya. Bahkan ia berdesah di dalam hati, “Alangkah banyak
musuh yang harus aku hadapi”.
Sebenarnya Empu Sada tidak sedang dilanda oleh kecemasan
dan ketakutan. Sebagai seorang yang telah memilih jalan hidupnya
di dalam lingkungan para sakti, maka apa yang dihadapinya itu
sama sekali tidak mengejutkannya, apalagi menakutkannya. Namanama
yang pernah disebutnya tidak akan mampu membuatnya
berkecil hati. Apabila ia harus menghadapi bahaya yang betapapun
besarnya, maka yang dilakukannya adalah mencari jalan untuk
melawan bahaya itu.
Tetapi kali ini ada perasaan yang asing di dalam dirinya.
Perasaan yang selama ini belum pernah dikenalnya. Meskipun ia
sama sekali tidak merasa takut, namun perasaan asing itulah yang
kini mendorongnya pada suatu keadaan yang asing pula baginya.
Tiba-tiba Empu Sada itu tanpa dikehendakinya mencoba menilai
dirinya. Ia melihat orang lain seperti Bojong Santi, Empu Purwa,
Empu Gandring dan beberapa orang lain. Kenapa mereka dapat
bidup tenteram dan damai? Seakan-akan mereka tidak diamuk oleh
kegelisahan dunia. Meskipun sekali-sekali mereka harus juga
berkelahi, tetapi mereka merasa berdiri di atas landasan yang
mantap.
Mereka berkelahi dan menghadapi lawan-lawannya dengan
terbuka untuk kepentingan yang terbuka pula.
Tanpa sesadarnya orang tua itu berdiri dan melangkah ke dalam
biliknya. Dilihatnya sebuah peti terletak di sudut ruang itu diikat
dengan kuatnya Tetapi sebenarnya tidak di dalam peti itulah
kekayaan Empu Sada yang sebenarnya. Ia menyimpan peti-peti di
tempat yang dirahasiakannya. Satu di antara peti-peti itu dibuatnya
dari kayu cendana. Peti yang tidak pernah terpisah dari samping
pembaringannya. Telapi peti itu berada di dalam dinding yang
sebenarnya berlapis. Sedang di dalam peti yang terikat itu
disimpannya beberapa macam benda yang kurang berharga dari
benda-benda yang telah disembunyikannya.
Melihat benda itu terasa dada Empu Sada berdesir. Ia tahu benar
bahwa di belakang peti yang terikat itu, di belakang dinding yang
berlapis itu, ia mempunyai kekayaan yang luar biasa banyaknya.
Tetapi apakah artinya kekayaan itu baginya?
Empu Sada terhenyak dalam suatu keadaan yang
membingungkannya. Ternyata kekayaan yang tidak terhitung itu
tidak dapat memberinya kedamaian. Kekayaan yang diterimanya
dengan menjual ilmunya dengan harga yang cukup mahal, tanpa
menghiraukan akibat daripadanya. Tanpa mengingat, apakah yang
akan dilakukan oleh murid-muridnya itu kelak.
Perlahan-lahan Empu Sada duduk di amben pembaringannya.
Kini dadanya benar bergolak. Apakah sebenarnya arti kekayaan itu
baginya? Kekayaan itu tidak memberinya kenikmatan jasmaniah.
Rumahnya bukan rumah yang seindah istana. Ia tidak membiarkan
dirinya makan dan minum sepuas-puas hatinya. Ia tidak berbuat
sesuatu dengan kekayaannya itu.
Belum pernah ia mempunyai seperti kini. Ia heran sendiri, buat
apa sebenarnya ia menyimpan kekayaan itu? Buat apa?
Dibiarkannya dirinya terlunta-lunta. Makan hanya sekedar untuk
memelihara tubuhnya. Pakaian hanya sekedar selembar kain.
Kekayaan yang dikumpulkannya bahkan kadang-kadang dengan
bertaruh nyawa itu sama sekali tidak berarti baginya, tidak
memberinya kenikmatan jasmaniah.
Apalagi nilai rokhaniah. Nilai-nilai pengabdian dan kebaktian.
Pengabdian kepada sesama dan kepada kemanusiaan, serta
kebaktian yang bulat kepada Maha Pencipta Nya. Tidak. Sama sekali
tidak, bahkan nilai-nilai itu telah seringkali dikorbankannya untuk
mendapatkan kekayaan duniawi yang tidak bermanfaat justru bagi
keduniawiannya, apalagi kerokhaniaannya.
Empu Sada masih melihat lewat lubang pintunya yang masih
terbuka. Sumekar duduk termenung di luar biliknya. Seorang
pelayannya yang terbangun itu pun duduk pula sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak
mengetahui sesuatu. Apalagi pelayan itu, Sumekar pun menjadi
bingung melihat sikap gurunya.
Namun Sumekar itu dapat merasakan bahwa terjadi segala
macam luka yang pernah dialaminya. Dengan demikian pasti
gurunya mendapat kesulitan yang lain. Kesulitan yang tidak dapat
dimengertinya.
Sejenak kemudian mereka telah mendengar suara ayam yang
turun dari kandang-kandang mereka. Mereka mendengar suara sapu
di halaman. Lamat-lamat kicau burung telah menyegarkan pagi
yang terang dan jernih. Tetapi tidak demikian dengan hati Empu
Sada.
Pelayannya yang berada di dalam rumah itu pun segera ke luar.
Namun sekali lagi ia mendapat pesan bahwa orang lain tidak boleh
mendengar bahwa Empu Sada telah kembali.
Ketika pelayan itu telah pergi, maka dipanggilnya Sumekar masuk
ke dalam biliknya. Dengan cemas Sumekar melihat keadaan
gurunya yang tampaknya terlampau lesu “Apakah luka dalam yang
diderita oleh guru terlampau berat?” Tetapi Sumekar tidak berani
bertanya.
“Kau simpan obat-obat itu?” bertanya gurunya.
“Ya guru”.
“Baik. Bawa obat-obat itu kemari”.
“Ya guru” sahut Sumekar sambil meninggalkan gurunya
berbaring di amben bambu.
Sejenak kemudian Sumekar telah kembali sambil membawa
semangkuk obat yang sudah dicairkannya dengan air dingin.
“Berikanlah” minta Empu Sada sambil bangkit duduk. Dengan
sekali teguk maka obat itu pun telah dihabiskannya.
“Mudah-mudahan aku akan segera sembuh.” gumamnya.
“Mudah-mudahan Empu” sahut muridnya itu.
Empu Sada itu pun kemudian ditinggalkannya sendiri. Orang tua
itu kemudian kembali berbaring. Tanpa dikehendakinya, maka
berdatanganlah semua kenangan masa lampaunya yang suram.
Sekali-sekali terdengar Empu Sada itu berdesah. Kini bukan saja
bagian dalam tubuhnya yang terasa sakit, tetapi lebih-lebih lagi
adalah batinya. Masa lampaunya bukanlah masa yang
menyenangkan untuk dikenang.
Tiba-tiba terdengar orang tua itu memanggil muridnya perlahanlahan,
“Sumekar, Sumekar”.
Sumekar yang sedang membantu membersihkan ruangan dalam
itu tergopoh-gopoh melangkah masuk ke dalam bilik gurunya.
Dilihatnya gurunya menjadi semakin lesu, “Ya guru.” jawabnya
dengan gelisah.
“Kemarilah. Mendekatlah” berkata orang tua itu.
Sumekar itu pun segera mendekatinya. Dan duduk bersimpuh di
samping pembaringan gurunya.
“Sumekar” berkata Empu Sada, “obatmu benar-benar baik.
Terasa sakitku menjadi jauh berkurang”.
“Ya Empu. Obat itu adalah obat yang guru buat sendiri beberapa
bulan yang lalu”.
“Ya, ya. Tetapi kau telah membuat takaran yang tepat”.
“Ya guru”.
Empu Sada berhenti sejenak. Dipandanginya wajah muridnya
yang satu ini. Murid ini baginya tidak begitu menarik hati
disaat-saat
yang lampau, ketika masih ada muridnya yang paling
dimanjakannya. Bukan karena sifat dan kemampuannya, tetapi
justru karena mereka itu mampu memberi banyak imbalan kepada
Empu Sada. Anak ini tidak seperti mereka itu. Tidak seperti Kuda
Sempana dan pedagang keliling yang bernama Cundaka. Bahkan
masih ada beberapa orang muridnya yang lain yang lebih menarik
dari anak ini. Tetapi murid-muridnya itu kini tidak ada di rumah
ini.
Mereka berada di tempat yang terpencar tanpa dapat diawasinya
dengan baik, apakah yang telah mereka lakukan. Tetapi anak ini,
anak yang bernama Sumekar ini selalu berada di padepokannya.
Tak banyak yang dilakukan selain dengan tekun berlatih. Tetapi
Sumekar tidak banyak dapat memberinya imbalan. Meskipun ia anak
seorang petani yang kaya, tetapi ternyata tidak dapat menyamai
Kuda Sempana, seorang Pelayan dalam yang waktu itu dekat
dengan Akuwu Tunggul Ametung dan pedagang keliling yang kaya
raya yang seakan-akan barang-barangnya tidak pernah kering. Dan
Empu Sada tidak pernah bertanya dari mana orang yang menyebut
dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mendapatkan barang-barang
berharga.
Karena itu, maka Sumekar tidak banyak mendapat kesempatan
dari gurunya. Bahkan setiap kali ia ditinggalkannya di padepokan
untuk menunggui rumah dan halaman. Kalau ada sesuatu yang
tidak berkenan di hati Empu Sada pada saat ia kembali, maka
Sumekarlah tempat yang pertama-tama untuk menumpahkan segala
kemarahannya. Tetapi kali ini Empu Sada berbuat lain. Meskipun
terasa sesuatu yang kurang pada tempatnya, namun gurunya itu
tidak memaki-makinya dan mengumpannya. Bahkan kini gurunya itu
agaknya berkenan di hati oleh obatnya yang kebetulan dianggap
tepat takarannya.
Tetapi Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia tidak
dapat bertanya, apakah sebabnya maka perubahan itu terjadi.
Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Nafas Empu Sada
terdengar satu-satu meluncur dari lubang hidungnya. Terengahengah
seperti orang sedang kelelahan.
Sumekar menjadi cemas mendengar tarikan nafas gurunya itu.
Apalagi ketika kemudian ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya
gurunya terlampau pucat. Tetapi Sumekar masih juga belum berani
bertanya sesuatu. Ia menunggu sampai gurunya sendiri
mengatakannya kepadanya.
Barulah sejenak kemudian Empu Sada itu berkata, “Sumekar.
Apakah kau selalu tekun berlatih sepeninggalku?”
“Ya guru” sahut Sumekar, “aku telah mencobanya”.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Di dalam batinya ia
berkata, “Sayang, aku tidak terlalu banyak memberikan bahanbahan
kepadamu. Tetapi yang terloncat dari bibirnya adalah,
“Sukurlah. Mudah-mudahan kau cepat dapat mengikuti kakak-kakak
seperguruanmu”.
“Mudah-mudahan guru” sahut Sumekar.
Namun dalam pada itu Sumekar melihat sesuatu di wajah
gurunya. Kebimbangan atau kecemasan. Tetapi ia masih juga belum
berani bertanya.
“Sumekar” berkata gurunya, “berlatihlah sebaik-baiknya. Aku
sudah cukup tua”.
Sumekar terperanjat mendengar kata-kata gurunya itu.
“Orang setua aku ini” berkata gurunya seterusnya, “pasti hanya
tinggal menunggu saat dipanggil kembali oleh pemilikNya. Aku telah
mendapat kesempatan hidup di dunia ini untuk waktu yang cukup
lama”.
“Guru” Tiba-tiba terloncat dari bibir Sumekar, namun kemudian ia
pun terdiam.
Empu Sada tersenyum. Baru kali ini ia melihat, bahwa Sumekar
memiliki kesetiaan yang terlalu baik bagi seorang murid. Murid
menurut caranya “Mungkin ia cemas karena ia belum mendapat ilmu
yang cukup” berkata Empu Sada di dalam hatinya, “bukan karena
aku adalah gurunya. Kalau ia tidak memerlukan aku lagi, maka
apapun yang akan terjadi atas diriku, ia tidak akan
memperdulikannya”.
Tetapi mata anak muda itu bagi Empu Sada tampak terlampau
jujur.
Tiba-tiba Empu Sada itu tidak dapat menahan hatinya lagi untuk
menceriterakan apa yang pernah dialaminya di perjalanan. Ia tidak
mempunyai seorang sahabat yang dipercayanya. Karena itu, untuk
mengurangi himpitan tekanan perasaan, maka diceriterakannya apa
yang telah terjadi itu kepada muridnya. Muridnya yang selama ini
tidak banyak mendapat perhatiannya.
“Anak ini adalah anak yang paling jujur yang pernah aku temui di
dalam perguruanku” desisnya di dalam hati.
Namun justru karena itu ia menjadi terasing. Seorang yang jujur
seakan merupakan duri bagi lingkungan yang sama sekali tidak
menghargai lagi kejujuran.
Sumekar mendengarkan kata demi kata yang meluncur dari raut
gurunya. Berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Kadangkadang
hatinya berdesir tajam, namun kadang-kadang menyala
seperti bara.
“Akhirnya aku terluka” terdengar mara Empu Sada lemah,
“beruntunglah bahwa aku sempat menyembunyikan diriku di dalam
air. Kalau tidak maka hari ini aku tidak akan bertemu dengan kau
lagi Sumekar”.
Terdergar gigi anak muda itu gemeretak. Ingin ia meloncat dan
berlari menemui orang-orang yang telah melukai gurunya untuk
membuat perhitungan. Tetapi Tiba-tiba ia hanya menghela nafasnya
dalam-dalam, “Gurunya dan dua orang kakak seperguruannya tidak
mampu melawan kedua orang yang diceritera kan oleh gurunya itu.
Apalagi dirinya sendiri. Tetapi meskipun demikian terasa bahwa ia
tidak mau menerima kekalahan itu tanpa pembalasan. Karena itu
maka ia berkata di dalam hatinya, “Suatu ketika aku akan dapat
menebus kekalahan ini”.
Tetapi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya
berkata, seolah-olah melihat perasaan yang bergolak di dalam
dadanya, “Sumekar, jangan kau membayangkan, bahwa suatu
ketika kau akan dapat menebus kekalahan ini. Kedua orang itu
benar-benar orang yang luar biasa. Serahkanlah orang-orang itu
kepada keadilan Yang Maha Agung”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ragu-ragu ia
mencoba menjawab, “Tetapi apakah sifat-sifat yang bertentangan
dengan adab dan kemanusiaan itu akan kita biarkan saja Empu?”
Empu Sada lah yang kini terperanjat. Jawaban Sumekar tanpa
dikehendaki telah menusuk jantungnya pula. Bukan saja Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat yang telah berbuat bertentangan dengan
adab dan kemanusiaan. Ia sendiri, Empu Sada pun pernah
melakukannya.
Sejenak Empu Sada itu pun terdiam. Terasa bagian dalam
dadanya menjadi semakin sakit. Tetapi terlebih sakit lagi adalah
hatinya.
Kembali mereka terlempar dalam kediaman. Ruangan yang tidak
terlampau besar itu menyadi sunyi. Di luar terdengar gerit timba
seperti menggores jantung.
Matahari pun menjadi semakin tinggi pula. Dari celah-celah
dinding meloncatlah bayangan-bayangan yang bulat seolah-olah
berpijar pada sisi yang lain. Bergetar oleh bayangan dedaunan yang
hitam, yang bergerak-gerak karena angin pagi yang silir,
menumbuhkan suara gemerisik. Di dahan-dahan pepohonan,
burung-burung liar berkicau saling sambut-menyahut dengan
riangnya.
Tetapi hati Empu Sada kian bertambah sakit.
“Sumekar” berkata orang tua itu kemudian, “setiap
penyimpangan dari kehendak Yang Maha Agung, pada saatnya pasti
akan mendapat hukuman sewajarnya”. Empu Sada berhenti
sejenak. Kemudian diteruskannya, “tetapi pasti akan dipergunakan
tangan yang sesuai untuk kepentingan itu. Tanganmu terlampau
kecil untuk melakukannya, Sumekar”.
Sumekar hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia merasa betapa
kecil arti dirinya dibandingkan dengan kedua orang yang dikatakan
oleh gurunya itu. Tetapi satu hal yang tidak dapat dimengertinya.
Kenapa gurunya harus berhubungan dengan kedua orang itu?
Semula Empu Sada ingin merahasiakan persoalan yang
sebenarnya dihadapi. Tetapi pandangan mata Sumekar yang
terlampau jujur itu terasa menghunjam ke pusat jantungnya.
Akhirnya Empu Sada tidak dapat bertahan lagi. Perlahan-lahan
dipanggilnya Sumekar semakin dekat. Katanya, “Sumekar. Mungkin
kau dapat pula mengerti, bahwa sebenarnya aku pun bukanlah
orang yang bersih. Aku pun termasuk orang yang sering
memperkosa peradaban dan kemanusiaan. Tetapi aku belum
terjerumus terlalu jauh seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Mungkin kau selalu bertanya-tanya di dalam hatimu, kenapa aku
pergi mencari kedua orang itu. Itu pun didorong pula oleh
kekuasaan nafsu yang telah mencengkam dadaku. Aku terlampau
menuruti kehendak Kuda Sempana, meskipun aku mempunyai
pamrih juga dari padanya. Kini kau lihat, justru tangan kedua orang
liar itulah yang dipergunakan untuk menghukumku. Hukuman
badaniah yang aku alami sekarang tidakkah separah penyesalan dan
kekecewaan hatiku. Cidera badaniah telah terlampau sering aku
alami, tetapi luka yang separah ini pada hatiku, belum pernah aku
rasakan”. Empu Sada itu terdiam sejenak. Kemudian
diceriterakannya pula hubungan antara Kuda Sempana dan Mahisa
Agni. Hubungan antara Kuda Sempana dan Ken Dedes.
Sumekar menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak tahu,
bagaimana ia harus menanggapi persoalan itu. Memang pernah
didengarnya persoalan yang terjadi antara kakak seperguruannya
yang menjadi Pelayan dalam itu. Memang ia pernah mendengar
pertentangan-pertentangan yang timbul kemudian sehingga kakak
seperguruannya itu harus menyingkir. Tetapi ia tidak tahu, bahwa
persoalan itu telah terdorong semakin jauh. Kini kakak
seperguruannya itu ternyata tertangkap oleh orang-orang yang
dikatakan gurunya orang liar itu. Bahkan kakak seperguruannya
yang seorang lagi terbunuh.
Pada satu segi Sumekar menjadi marah di dalam hati. Bahkan
tumbuh pula dendam di dadanya. Namun peda segi yang lain ia
merasa seakan apa yang terjadi itu adalah wajar. Bahkan
seharusnya.
Sekali lagi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya
Tiba-tiba bertanya, “Sumekar, kenapa kau dahulu berguru
kepadaku? Ternyata kau terperosok ke dalam lingkungan yang
bertentangan dengan sifat-sifatmu sendiri. Dan kau selama ini
mencoba menyesuaikan dirimu. Aku kini merasa, bahwa kau telah
memilih jalan yang salah”.
Sumekar seakan-akan terbungkam karenanya. Pertanyaan itu
menjadi semakin keras berdentang di dalam telinganya sendiri “Ya,
mengapa aku dahulu berguru disini?” Mengapa aku terlempar dalam
lingkungan yang suram tanpa berusaha untuk menghindar meskipun
sebagian telah aku ketahuinya”.
Tetapi semuanya telah terjadi. Dan Sumekar itu merasa bahwa ia
telah pernah menerima berbagai ilmu dari gurunya itu. Karena itu,
maka ia tidak akan dapat lagi meloncat surut, kemasa yang lampau.
Sedang gurunya itu berkata, “Tetapi Sumekar, ada baiknya kau
melihat segenap persoalan dan akhir dari peristiwa ini. Kau akan
mendapatkan sebuah cermin yang baik untuk melihat, betapa
kekuasaan yang Maha Agung telah menggerakkan alat-alatNya
untuk menyelesaikan rencananya. Kau lihat bagaimana aku
sekarang terluka parah dan bahkan hampir mati terbunuh.
Muridmuridku
kini tidak lagi dapat berbuat sesuatu. Malahan Cundaka itu
telah terbunuh pula sedang Kuda Sempana tidak sempat aku
selamatkan”. Empu Sada berhenti sejenak, kemudian
dilanjutkannya, “Karena itu Sumekar, sebelum kau terlanjur
terperosok dalam dunia yang gelap, kau dapat mengungkat kembali
sifat-sifatmu yang sebenarnya. Ilmuku sebenarnya bukan sejenis
ilmu yang kasar seperti ilmu yang di miliki oleb Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat. Tetapi meskipun demikian, ilmu hanya sekedar
kelengkapan hidup kita. Meskipun ilmu itu ilmu yang sekasar
apapun, lebih kasar dari ilmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat,
tetapi ilmu itu tidak dapat berbuat sendiri. Tergantung terlampau
jauh kepada pemiliknya. Orang yang memiliki sifat ilmu itu. Seperti
sebilah pisau di tangan anak-anak. Pisau itu akan dapat bermanfaat
baginya dan orang lain, untuk mengupas makanan dan buahbuahan.
Tetapi pisau itu juga akan dapat mendatangkan bencana
bagi dirinya dan orang lain. Bagaimanapun bentuk daripada pisau
itu”.
Kepala Sumekar menjadi semakin tunduk. Selama ini gurunya
tidak pernah memberinya petunjuk tentang jalan hidup yang harus
dipilihnya. Selama ini gurunya hanya memberinya petunjuk-petunjuk
bagaimana ia harus melakukan berbagai macam unsure-unsur
gerak. Dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit
sekalipun. Gurunya selama ini hanya membentak-bentaknya apabila
ia gagal melakukan sebuah latihan. Dan gurunya itu pula selalu
membentak-bentaknya apabila ia terlambat sehari dua hari tidak
menyerahkan imbalan setiap selapan kepadanya. Tetapi kini
gurunya bersikap lain. Gurunya itu mengatakan persoalan yang lain
dari memperbodohkannya. Gurunya berkata tentang hidup dan
kehidupan.
Tiba-tiba gurunya itu berkata, “Aku sudah cukup tua Sumekar”.
Sumekar mengangkat wajahnya. Ditatapnya kedua mata gurunya
yang suram.
Tetapi gurunya tidak pernah berbuat demikian sebelumnya.
Gurunya bukan hanya sekali ini terluka. Bahkan jauh lebih parah.
Namun gurunya itu tidak pernah menjadi lesu dan kehilangan
gairahnya seperti sekarang.
“Sumekar” berkata gurunya, “kau harus tekun berlatih”.
Sumekar tidak tahu apa yang bergolak di dalam dada gurunya,
tetapi ia menjawab, “Ya guru”.
“Lupakanlah kakak seperguruanmu, Cundaka dan Kuda
Sempana. Lupakanlah apa yang pernah mereka lakukan. Meskipun
aku mengetahuinya, bagaimana Cundaka itu mendapatkan berbagai
macam barang-barang berharga, tetapi aku selalu berpura-pura
tidak tahu. Aku selalu mengatakan, bahwa ia adalah seorang
pedagang keliling yang kaya raya. Bukan sekedar seorang
penggalas. Tetapi orang itu kini telah mati”.
Empu Sada berhenti sejenak. Yang terdengar adalah desah
nafasnya yang semakin cepat, tetapi terpatah-patah.
“Guru” bertanya Sumekar kemudian, “apakah aku dapat meramu
macam obat-obatan yang lain supaya guru tidak menjadi sesak
nafas?”
“Tidak. Tidak perlu Sumekar. Aku sudah sehat”.
“Tetapi nafas Empu seolah-olah tidak berjalan dengan wajar”.
“Pendengaranmu cukup baik Sumekar. Tetapi tidak apa-apa.
Tidak berbahaya bagiku”. Empu Sada berhenti sejenak, “tetapi aku
memang sudah tua. Tak ada lagi yang dapat aku kerjakan. Hidupku
yang tidak berarti apa-apa ini sudah tidak berguna lagi”.
Tetapi ia harus berusaha menyembuhkan luka-lukanya. Meskipun
demikian keadaan gurunya itu cukup menggelisahkannya.
Hari itu Sumekar bekerja dengan penuh kegelisahan dan
kecemasan. Setiap kali ia menengok gurunya yang berbaring diam.
Namun setiap kali ia masih melihat gurunya itu tidur.
“Mudah-mudahan guru menjadi bertambah baik dengan
istirahatnya”.
Di sore hari Sumekar melihat gurunya itu berjalan tertatih-tatih
keluar biliknya. Dengan serta-merta Sumekar mendatanginya untuk
menolongnya berjalan. Tetapi Empu Sada berkata, “Aku masih
cukup kuat Sumekar”.
Sumekar tertegun di tempatnya, namun kemudian ia bertanya,
“Apakah Empu akan berjalan-jalan kehalaman?”
Empu Sada menggeleng. Jawabnya, “Tidak Sumekar. Aku ingin
pergi ke bilik belakang. Aku ingin melibat kau berlatih. Dimanakah
kedua anak-anak adik seperguruanmu?”
“Di luar Empu. Mereka pun sedang berlatih bersama”.
“Mereka pun harus dipesan, bahwa tak seorang pun boleh tahu
bahwa Empu Sada telah kembali”.
“Ya Empu. Seluruh isi padepokan ini telah mendapat pesan itu”.
Tetapi Empu Sada itu pun kemudian berkata, “Tetapi sebenarnya
itu tidak perlu Sumekar”.
Sumekar menjadi heran dan gurunya berkata terus, “Biar sajalah
orang-orang yang ingin datang untuk membalas dendam itu kemari.
Aku telah pasrah diri sebagai tebusan atas segala kesalahanku”.
“Guru, apakah sebenarnya yang Empu kehendaki”.
Empu Sada menggeleng “Tidak apa-apa” katanya, “mari, aku
ingin melihat kau berlatih. Ilmumu harus meningkat sebelum aku
mati”.
“Jangan Empu” sahut Sumekar terbata-bata.
Empu Sada tersenyum “Apakah bukan sudah seharusnya bahwa
suatu ketika seseorang akan mati? Ingat Sumekar. Betapa tinggi
ilmu seseorang. Meskipun orang itu memiliki aji yang maha dahsyat.
Dapat melebur gunung dan dapat mengeringkan lautan dengan
puntiran langannya, tetapi ia tidak akan dapat hidup sepanjang
jaman. Suatu saat ia akan dihadapkan pada suatu keadaan dimana
ilmunya tidak akan mampu melawan maut. Ada seribu jalan menuju
ke kerajaan maut. Dan setiap orang pasti akan pergi ke sana”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kembali ia melihat sorot
yang memancarkan keputusasaan dari sepasang mata gurunya.
Tetapi ia tidak dapat berkata sesuatu.
“Ayolah. Berjalanlah dahulu”.
Keduanya pun kemudian pergi ke bilik belakang. Ke bilik tempat
murid-murid Empu Sada berlatih. Dilihatnya kedua muridnya yang
muda pun, sedang berlatih di bilik itu.
Ketika mereka melihat gurunya datang, maka dengan sertamerta
mereka menghentikan latihan mereka. Dengan hormatnya
mereka membungkukkan kepala mereka.
“Bagus” desis Empu Sada sambil berjalan tertatih-tatih
bersandarkan tongkat panjangnya “Berlatihlah dengan baik, selagi
masih ada kesempatan, dan selagi aku masih dapat memberimu
petunjuk”.
Kedua murid yang masih sangat muda itu pun saling
berpandangan dan sekali-sekali mereka memandang wajah
Sumekar. Tetapi mereka tidak berani bertanya.
“Sekarang beristiratlah. Tunggullah di luar. Aku ingin memberi
latihan yang khusus kepada kakakmu”.
Sekali lagi mereka berdua menganggukkan kepalanya. Kemudian
mereka pun meninggalkan bilik itu.
Yang kemudian melatih dirinya adalah Sumekar. Meskipun Empu
Sada tidak mampu untuk memberinya petunjuk dengan gerak,
tetapi dengan kata-kata dituntunnya muridnya yang seorang ini
dengan baik. Diberinya berbagai macam unsur gerak yang belum
pernah diterimanya. Bahkan kemudian gurunya itu berkata,
“Sumekar. Ternyata persiapanmu telah cukup untuk mulai dengan
ilmu yang terakhir dari perguruan kita. Ilmu yang dapat aku berikan
sebelum aku mati”.
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Berbagai perasaan
bercampur baur di dalam dadanya. Di satu pihak ia merasa bangga
dan bergembira bahwa gurunya telah menganggap cukup baginya
untuk menerima ilmu yang tertinggi dari perguruan Empu Sada.
Tetapi dilain pihak ia merasa sangat cemas, bahwa gurunya
seakanakan
telah kehilangan usaha untuk memperpanjang hidupnya.
Sehari ini gurunya sama sekali tidak lagi mau berobat, selain pada
saat ia datang.
“Sumekar” berkata Empu Sada, “besok kita sudah akan dapat
mulai dengan dasar-dasar permulaan dari ilmu itu. Ilmu yang telah
dimiliki oleh kedua muridku yang hilang. Cundaka dan Kuda
Sempana. Karena itu, Sumekar, maka cobalah persiapkan dirimu.
Aku mengharap bahwa aku masih akan dapat bertahan sampai kau
mengenal dasar-dasar yang paling sedikit dapat memberimu jalan
untuk menerima ilmu itu”.
Sumekar menganggukkan kepalanya sambil bergumam, “Terima
kasih Empu. Tetapi bagaimana dengan keadaan Empu sendiri?”
“Jangan berpikir tentang aku. Aku sudah cukup mengerti
bagaimana aku mengatur diriku sendiri”.
Sumekar terdiam. Bukan semestinya ia memberi gurunya
petunjuk. Tetapi gurunya kali ini tidak berpikir sewajarnya.
Agaknya
gurunya sedang terganggu oleh sesuatu persoalan yang telah
menggelapkan hatinya.
Ketika kemudian malam yang gelap turun kembali menyelimuti
padepokan yang sepi dan menyimpan berbagai macam rahasia itu,
Empu Sada kembali masuk ke dalam biliknya. Kembali ia berbaring
sambil menghitung dosa yang pernah dibuatnya. Nafasnya yang
tersendat-sendat terdengar seperti saling memburu.
Sumekar tidak sampai hati meninggalkan gurunya seorang diri
dalam keadaan itu. Meskipun tidak dikehendaki oleh gurunya,
namun Sumekar itu pun duduk di atas sehelai tikar disamping
pembaringan gurunya.
“Sumekar” berkata gurunya, “beristirahatlah”.
“Nanti Empu, aku belum merasa mengantuk”.
“Apakah kau sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan
semuanya telah selesai pula dengan pekerjaan masing-masing”.
“Sudah Empu”.
“Bagaimana dengan burung perkututku?”
Sumekar menarik nafas. Empu Sada masih juga ingin kepada
burung perkututnya. Burung yang sebenarnya tidak terlampau baik
“Burung itu baik-baik saja Empu”.
Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi nafasnya masih belum
teratur.
“Empu” Sumekar masih mencoba memberanikan dirinya, “apakah
Empu tidak ingin berobat lagi”.
“Tidak Sumekar” jawab gurunya, “sudah cukup. Aku sudah sehat
kembali. Aku masih akan cukup kuat bertahan sampai kau
menyelesaikan latihanmu dan menerima ilmu yang terakhir itu”.
Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Dan ia
mendengar gurunya berkata lagi, “Kalau kau sudah menerima ilmu
itu Sumekar, tugasku telah selesai. Dadaku akan menjadi lapang.
Dan apapun yang terjadi atas diriku, sama sekali bukan soal lagi
bagiku”.
Sumekar masih menundukkan kepalanya. Tetapi Tiba-tiba ia
bertanya, “Tetapi bagaimana dengan saudara seperguruanku
Empu”.
“Aku belum tahu benar sifat-sifat mereka. Aku tidak berani
memberikan ilmu yang aku anggap paling baik dari perguruan ini
tanpa mempertimbangkan siapakah yang akan menerimanya. Aku
sudah mengalami masa-masa dimana aku kehilangan pertimbangan
itu”.
“Dan bagaimanakah dengan kakang Kuda Sempana?”
Tiba-tiba pula pertanyaan itu meluncur dari mulut Sumekar,
“apakah guru tidak akan berusaha melepaskannya kelak?”
Empu Sada tersenyum. Ia tahu, bahwa sadar atau tidak sadar
muridnya ingin memberinya nafsu untuk hidup dan berbuat. Karena
itu maka katanya, “Aku sudah memberinya bekal yang cukup
Sumekar”.
“Tetapi ia berada di tangan orang yang jauh melampaui
kemampuannya untuk mencoba melepaskan diri tanpa
pertolongan”.
“Mudah-mudahan ia tidak mengalami bencana. Agaknya Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat akan mempergunakannya untuk
menangkap Mahisa Agni. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan
oleh kedua orang itu atas Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana itu
tidak akan dibunuhnya”.
“Bagaimana kalau kemudian kakang Kuda Sempana itu diperalat
oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dengan demikian maka
mereka akan meninggalkan kesan bahwa Empu pasti turut serta
dalam perbuatan itu, karena ada murid Empu bersama mereka.
Apalagi Empu lah yang sejak pertama-tama mempunyai persoalan
dengan Mahisa Agni?”
Empu Sada terdiam. Matanya masih menatap langit-langit
rumahnya.
Terdengar kemudian ia berdesah, “Aku justru tidak lagi berpikir
tentang Kuda Sempana. Aku kini menyadari bahwa nafsunya
terlampau dimanjakannya. Ia telah terseret oleh suatu keinginan
yang tiada dapat dikendalikan lagi. Tetapi …, “, Empu Sada itu
terhenti sejenak. Terdengar ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan
kemudian orang tua itu terbatuk-batuk kecil.
Sumekar memandangnya dengan cemas. Tetapi ia tidak dapat
berbuat sesuatu.
Sejenak kemudian Empu Sada berkata kembali, “Tetapi aku
justru merasa kasihan kepada Mahisa Agni. Anak itu adalah anak
yang baik. Sampai sekarang ia masih selalu mendapat perlindungan
dari Yang Maha Agung. Tetapi bagaimanakah kalau suatu ketika
orang-orang liar itu berusaha untuk menangkapnya? Apakah ia akan
berhasil melepaskan diri? Mahisa Agni akan dapat menjadi alat
untuk memeras Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung”.
“Hem” orang tua itu berdesah. Namun Tiba-tiba ia berkata,
“Perbuatan itu harus dicegah. Ia akan dapat memperalat namaku
dan menjerumuskan aku ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi.
Perbuatan itu memang harus dicegah”. Tiba-tiba Empu Sada itu
berkata lantang, “Sumekar, beri aku obat itu. cepat.”
Sumekar terkejut mendengar perintah gurunya. Sejenak justru ia
terpaku di tempatnya. Perintah yang tiba-tiba itu tidak segera
dapat
disadari artinya. Tetapi kembali Sumekar terkejut ketika gurunya
membentaknya, “Sumekar, kenapa kau duduk saja seperti patung.
Apakah kau tidak melihat bahwa aku sedang sakit karena terluka di
bagian dalam tubuhku. Apakah kau tidak mendengar bahwa nafasku
hampir patah di kerongkongan. Ayo, lekas, ambilkan obat itu.
Bukankah aku sudah mengajarimu sedikit tentang obat-obatan”.
Sumekar itu pun kemudian terloncat dari duduknya. Ia menjadi
gembira karena gurunya ingin berobat. Tetapi ia menjadi bingung,
Tiba-tiba saja sifat Empu Sada kambuh kembali. Membentakbentaknya.
Sejenak kemudian Sumekar itu telah kembali membawa
semangkuk obat yang telah dicairkannya dengan air. Dengan
sertamerta
maka obat itu pun diminum habis oleh Empu Sada.
“Hem” Empu Sada itu menarik nafas dalam-dalam, “sekarang
tinggalkan aku sendiri Sumekar. Aku ingin beristirahat. Cobalah,
persiapkan dirimu, supaya aku dapat dengan baik memberimu
petunjuk kepadamu untuk memasuki masa terakhir dari perguruan
ini”.
“Tetapi bukankah guru akan segera sembuh?” bertanya Sumekar
dengan dada berdebar-debar.
Empu Sada tersenyum. Katanya, “Hidup dan mati sama sekali
tidak terletak di tanganku sendiri Sumekar. Kalau aku dapat
menentukan hidup matiku sendiri, maka alangkah kuasanya aku
atas diriku. Tetapi tidaklah demikian halnya. Namun adalah
kewajiban manusia untuk berusaha”.
Sumekar terdiam. Tetapi dadanya sesak oleh kebimbangan dan
kebingungan. Gurunya yang tiba-tiba menjadi keras itu pun kini
agaknya telah luluh pula kembali. Sifat yang berubah-ubah itu telah
membuatnya canggung untuk berbuat sesuatu.
“Sumekar,” berkata Empu Sada, “tinggalkan aku sendiri. Aku
ingin beristirahat. Mudahkan aku menjadi segera baik kembali”.
Sumekar membungkukkan badannya. Kemudian ditinggal kannya
gurunya termenung seorang diri.
Ternyata sejak itu Empu Sada benar-benar berusaha untuk
menyembuhkan sakitnya. Ternyata ia menemukan kesadaran
betapa pentingnya ia berusaha untuk tetap hidup, meskipun ia tahu
benar, bahwa hasil usahanya itu sama sekali tidak tergantung
kepadanya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk berusaha.
Di tengah malam itu sekali lagi Empu Sada mengobati dirinya.
Sehingga dengan demikian di pagi harinya, terasa tubuhnya menjadi
kian segar. Ia tidak menolak lagi ketika Sumekar
mempersilahkannya makan.
Seperti yang dikatakannya, maka sejak hari itu Empu Sada mulai
dengan beberapa petunjuk-petunjuk dasar bagi Sumekar untuk
mempersiapkan dirinya menerima ilmu tertinggi dari perguruan
Empu Sada. Tetapi sejak itu pula Empu Sada tidak saja memberikan
petunjuk-petunjuk mengenai ilmu itu, tetapi juga petunjuk-petunjuk
apa yang seharusnya dilakukan oleh muridnya itu Diberitahukannya
kepada Sumekar segala macam pengalaman yang pernah terjadi
atas dirinya. Pengalaman yang dipenuhi oleh noda-noda yang hitam.
“Sumekar,” berkata Empu Sada suatu ketika, “pelajarilah olehmu.
Kau telah mendengar jalan hidupku, dan aku pun pernah
memberitahukan kepadamu, apa yang aku lihat pada Panji Bojong
Santi, pada Empu Gandring dan pada Empu Purwa. Aku pernah pula
menceriterakan kehidupan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jadilah
pertimbangan untuk menentukan jalan hidupmu. Meskipun kau
seorang murid dari seorang guru yang cacat namanya, namun
apabila kau mampu membawa dirimu, maka namamu justru akan
mengangkat dan memperbaiki nama perguruanmu”.
Sumekar hanya menundukkan kepalanya. Tetapi ia berjanji di
dalam hati untuk berbuat seperti yang dinasehatkan oleh gurunya.
“Kini Sumekar,” berkata gurunya, “tekuni persiapan yang telah
aku berikan. Aku ingin menyelesaikan kewajibanku yang terakhir.
Aku harus mencoba melepaskan Mahisa Agni dari tangan Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Mudah-mudahan aku belum terlambat.
Tetapi sampai kini aku masih belum menemukan jalan yang
sebaikbaiknya
untuk melakukannya”.
Sumekar memandangi wajah gurunya. Tampaklah kerut-merut di
dahinya. Kerut-merut ketuaan dan kerut-merut kegelisahan. Tetapi
Sumekar tidak dapat mengerti kenapa gurunya masih belum dapat
menemukan cara untuk mencoba menyelamatkan Mahisa Agni.
“Guru,” Sumekar itu pun kemudian mencoba bertanya, “apakah
sulitnya bagi guru untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Apakah guru
tidak tahu dimanakah Mahisa Agni sekarang berada?”
“Aku tahu tempat di mana ia sekarang berada Sumekar. Tetapi
aku tidak dapat menemuinya dan memberitahukan kepadanya
bahwa ia sedang diintai bahaya. Orang seperti aku ini Sumekar,
terlampau sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari siapapun.
Kalau aku mencoba menemui Mahisa Agni, maka aku pasti akan
terlibat dalam perkelahian dengan pamannya yang selalu
membayanginya. Apapun yang aku katakan, mereka pasti tidak
akan dapat mempercayainya. Mereka pasti menyangka, bahwa aku
akan menipu mereka”.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Dan gurunya berkata, “Ini
pun akan dapat menjadi cermin bagimu. Sekali seseorang
kehilangan kepercayaan, maka akan sulitlah baginya untuk
mendapatkannya kembali”.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, ia dapat mengerti
keterangan gurunya itu. Dan gurunya itu pun berkata seterusnya,
“Betapa baiknya hasrat yang terkandung di dalam hati, ini tetapi
orang melihat Empu Sada dengan penuh kecurigaan”.
Empu Sada itu pun terdiam sejenak. Sehingga mereka untuk
sesaat saling berdiam diri. Namun tiba-tiba Sumekar itu pun
berkata, “Apakah Empu ingin aku pergi menemuinya dan
memberitahukannya apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Kembali dahi orang tua itu pun berkerut-merut. Tampaklah ia
berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Sumekar, aku ingin
kau mewarisi ilmu perguruan ini. Kalau kau mengalami sesuatu di
perjalanan, maka aku pasti akan menyesal. Karena itu kau harus
tinggal di sini sampai kau memahami ilmu terakhir itu”.
Sumekar yang duduk tepekur itu menggigit bibirnya. Ia tenang
mendengar gurunya menyayangkannya dan benar-benar ingin
membentuknya menjadi seorang yang baik. Tetapi apabila mungkin
ia ingin membantu gurunya mengatasi kesulitannya.
Maka katanya kemudian, “Empu, apabila ada yang dapat aku
kerjakan, maka inginlah aku berbuat sesuatu. Adapun mengenai
ilmu itu, akan aku terima dengan segala kesenangan sesudah aku
dapat melakukan sesuatu untuk memperingan beban Empu soal ini.
Apabila terjadi sesuatu dalam kewajiban itu, aku tidak akan
menyesal. Aku menggagapnya sebagai suatu akibat dari tugas yang
harus aku lakukan”.
“Kau tidak akan menyesal, Sumekar,” jawab gurunya, “tetapi
akulah yang menyesal. Karena itu, tinggallah di sini Tekunilah
dasardasar
ilmu tertinggi itu dengan baik. Awasilah adik-adikmu, supaya
mereka tidak terdorong dalam tabiat seperti kakak-kakakmu dahulu.
Aku telah membuat kesalahan itu. Sekarang aku akan berusaha
mengurangi kesalahan itu sebagai suatu pertanda, bahwa aku
berusaha dengan sekuat-kuat tenagaku untuk menebusnya”.
“Apakah yang akan guru lakukan?”
Empu Sada termenung sejenak. Ia mencoba meyakinkan bahwa
rencananya akan bermanfaat. Maka katanya kemudian, “Aku tidak
berani menemui Mahisa Agni sekarang, Sumekar. Tetapi aku
mempunyai jalan lain. Aku ingin menghadap Ken Dedes. Orangorang
di istana belum terlampau banyak mengenal Empu Sada. Aku
akan merubah sedikit kebiasaanku berpakaian dan meninggalkan
tongkat ini. Aku akan menyebut diriku sebagai orang Panawijen
yang ingin menghadap Ken Dedes untuk memberitahukan sesuatu
dari kakaknya Mahisa Agni”.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya
dengan cemas, “Bagaimanakah kalau Empu bertemu dengan
pengawal istana, apalagi Witantra itu sendiri?”
Empu Sada menarik nafas. Katanya, “Aku hanya mengharap
supaya mereka tidak segera mengenal aku. Aku akan memberikan
kesan yang lain dari keadaanku semula. Aku dapat menjadi seorang
yang timpang atau bongkok atau cacat-cacat yang lain. Aku dapat
memakai pakaian sebagaimana orang-orang padesan memakainya.
Sedikit menghitamkan alis dan rambut di pelipis”.
Sumekar masih mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia
tidak yakin bahwa usaha gurunya itu akan berhasil. Tetapi ia tidak
berani menyatakan keragu-raguannya itu. Seharusnya ia percaya
kepada gurunya.
Ternyata Empu Sada benar-benar ingin melakukan rencananya.
Ia ingin menghadap Ken Dedes, menyatakan penyesalan yang
sedalam-dalamnya apabila ia benar-benar dapat bertemu. Kemudian
memberitahukan bahaya yang mengancam Mahisa Agni, supaya Ken
Dedes mengirim utusan untuk memberitahukannya. Akan dikatakan
pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, pemerasan dan
sebagainya yang akan banyak merepotkan. Bahkan mungkin banyak
diperlukan harta dan benda untuk menebus Mahisa Agni itu. Sudah
tentu apabila hilangnya Mahisa Agni itu menyangkut namanya, Ken
Dedes sudah dapat mengetahuinya bahwa hal itu tidak benar.
Semuanya itu pasti akan didengar pula oleh Akuwu Tunggul
Ametung. Mudah-mudahan Ken Dedes dapat menjadi lantaran
baginya untuk mohon ampun pula kepada Akuwu. Apalagi kalau
Akuwu berkenan mengirimkan beberapa orang yang terpercaya
untuk menangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Beberapa hari kemudian, setelah Empu Sada itu benar-benar
sembuh, maka dilakukanlah rencana itu. Dicobanya untuk membuat
perubahan sebaik-baiknya pada dirinya. Pada pakaiannya, pada
solah tingkahnya dan menghitamkan alis, kumis dan janggutnya
yang tidak terlampau lebat, yang selama ini tidak dapat
dipeliharanya, serta rambut di pelipisnya.
“Sumekar,” berkata orang tua itu, “apakah kau melihat
perbedaan padaku?”
Mau tidak mau Sumekar terpaksa tersenyum. Gurunya memang
pandai merubah diri, menyamar sebagai seorang cantrik tua dari
padepokan Panawijen.
“Kalau aku tidak tahu bahwa yang berdiri di hadapanku ini adalah
Empu, maka aku tidak akan dapat mengenal”.
Empu Sada pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tak akan
melakukannya hal serupa ini di saat-saat yang lampau. Tetapi aku
telah melepaskan cara hidup yang lama itu. Aku ingin menempuh
hidup yang lain. Ini adalah permulaan dari hidup yang baru itu.
Kalau aku berhasil, maka Empu Sada seterusnya tidak harus selalu
bersembunyi dan mengurung diri dalam kecemasan dan ketakutan”.
Demikianlah hari itu juga Empu Sada meninggalkan
padepokannya di pagi-pagi buta supaya tidak seorang pun yang
melihatnya. Tertatih-tatih ia berjalan menuju ke kota untuk
mencoba menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang sebentar lagi
akan diangkat menjadi permaisuri Tumapel.
Ketika kemudian matahari terbit, timbullah kecemasan di hati
orang tua itu. Apakah benar-benar orang-orang lain tidak dapat
mengenalnya sebagai Empu Sada. Kalau ia sudah berhasil
menghadap Ken Dedes apalagi Akuwu Tunggul Ametung, dan
mendengar kata-kata pengampunannya, maka ia tidak akan cemas
lagi. Ia akan dapat menengadahkan dadanya sambil berkata, “Ini
adalah Empu Sada. Tetapi bukan Empu Sada yang dahulu”. Tetapi
apabila Akuwu Tunggul Ametung tetap menganggapnya bersalah,
dan ingin juga menghukumnya, maka ia sudah akan pasrah diri,
sebagai tebusan atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Namun
dengan demikian maka Akuwu pasti akan dapat menilai, apa yang
terjadi apabila Mahisa Agni benar-benar akan hilang dari Padang
Karautan “Aku akan dapat berbuat sesuatu apabila suatu ketika
Kebo Sindet atau Wong Sarimpat datang sambil berkata bahwa
mereka pasti berhasil membebaskan Mahisa Agni dari tangan Empu
Sada dengan imbalan yang cukup banyak. Bahwa mereka telah
mengetahui di mana Empu Sada bersembunyi”.
Dengan hati yang berdebar-debar Empu Sada itu berjalan
selangkah demi selangkah maju mendekati Istana Tumapel. Ia
harus datang sebagai seorang cantrik yang tua untuk menemui Ken
Dedes membawa pesan dari Mahisa Agni.
Di sepanjang jalan Empu Sada selalu mencoba melihat perhatian
orang lain kepadanya. Sekali-sekali disilangnya orang yang
sebenarnya telah dikenalnya. Tetapi ternyata orang itu tidak
menegurnya. Dengan demikian maka Empu Sada merasa, bahwa
samarannya agaknya dapat berhasil.
Tetapi kesulitan yang lain, yang harus diatasinya nanti adalah
pertanyaan-pertanyaan para penjaga. Mungkin ia harus menjawab
beberapa pertanyaan yang menyangkut gadis bakal permaisuri itu.
Empu Sada menarik nafas. Ia masih berjalan tersuruk-suruk di
tepi jalan yang berpohon-pohon rindang.
“Kalau aku telah berhasil bertemu dengan Ken Dedes, maka aku
tidak perlu lagi menyembunyikan diri. Aku harus segera mengatakan
yang sebenarnya. Mengatakan bahwa aku pernah mencegatnya di
hutan. Pernah berusaha untuk menangkap dan bahkan membunuh
Mahisa Agni. Pernah berbuat hal-hal lain yang terkutuk. Kemudian
aku akan mohon supaya puteri sudi menyampaikannya kepada
Akuwu Tunggul Ametung permohonan maaf yang sejauh-jauhnya.
Kalau Akuwu memaafkan, maka aku akan kembali ke padepokan
dengan hati yang tenteram. Kalau tidak, maka aku pun akan
melakukan semua hukuman dengan ikhlas. Adalah lebih baik mati di
tiang gantungan dari pada mati di tangan Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat”. Empu Sada itu bergumam di dalam hatinya. Tetapi ia
heran sendiri, kenapa ia kini merasa bahwa mati di tiang gantungan
itu memberinya ketenteraman. Kenapa ia tidak memilih mati dengan
pedang di tangan. Mati tembus oleh ujung senjata dalam
perkelahian.
Empu Sada menggelengkan kepalanya. Ia sendiri menjadi
bingung. Namun lamat-lamat terdengar suara dari sudut hatinya
yang paling dalam “Harga diri dan kejantanan yang mapan, tidak
pada tempatnya, sama sekali tidak berarti bagi hidupmu yang abadi.
Keberanian dan ketabahan menghadapi maut di jalan yang salah,
sama sekali tidak membuka jalan yang menuju ke sisi Yang Maha
Agung. Karena itu, maka hidup yang abadi itu bernilai berlipat
tanpa
batas dibanding dengan hidupku kini. Dan kini aku tidak mau
menambah noda bagi hidup yang abadi itu”.
Dengan demikian maka Empu Sada berjalan dengan langkah
yang ringan meskipun disamarnya. Ternyata orang tua itu pandai
membawa dirinya. Tak seorang pun yang berjumpa di jalan
menyangka bahwa orang yang ditemuinya itu adalah seorang yang
bernama Empu Sada.
Akhirnya Empu Sada itu pun sampai ke Alun-alun Tumapel.
Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Dilihatnya di regol istana beberapa
orang prajurit sedang berjaga-jaga. Di sisi lain, di bagian dalam
halaman tampaklah pelayan-dalam mondar-mandir dalam
kewajibannya masing-masing. Namun pelayan dalam ini pun
ternyata mempunyai kemampuan seperti para prajurit itu pula.
Tetapi, Empu Sada tidak akan memilih jalan depan. Ia harus
masuk lewat regol belakang. Namun dalam pada itu ia selalu
berharap agar wajahnya tidak dikenal sebelum ia bertemu dengan
Ken Dedes. Adalah lebih baik baginya apabila ia dapat menghadap
Akuwu Tunggul Ametung sama sekali.
Ketika Empu Sada sampai di muka regol belakang, kembali ia
menjadi ragu-ragu. Tertegun-tegun ia berjalan, dan bahkan sesekali
timbullah keinginannya untuk membatalkan niatnya. Kalau salah
seorang prajurit yang sedang berjaga-jaga itu mengenalinya, maka
ia pasti akan mendapat tuduhan yang sangat memberatkannya. Ia
pasti akan dituduh menculik Ken Dedes dengan samarannya.
Apakah ia akan dapat berdiam diri apabila para prajurit itu
beramairamai
mengeroyoknya? Bahkan kemudian akan hadir Witantra dan
saudara-saudara seperguruannya?
Tetapi kadang-kadang niatnya menjadi bulat. Kalau aku harus
ditangkap, biarlah aku ditangkap. Apapun yang akan dituduhkannya
kepadaku, aku tidak akan berkepentingan lagi. Yang penting bagiku
adalah menyampaikan pemberitahuan, bahwa rencana Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat terlampau berbahaya bagi Mahisa Agni. Serta
kemungkinan-kemungkinan pemerasan dan hal-hal yang serupa itu.
Dalam keragu-raguan itu Empu Sada terkejut, ketika ia
mendengar salah seorang prajurit memangilnya. Ketika ia berpaling
dilihatnya prajurit itu melambaikan tangannya kepadanya.
“He, apa kerjamu disitu?, “ bertanya prajurit itu.
Empu Sada sadar, bahwa justru karena ia tertegun-tegun, maka
kehadirannya telah menimbulkan kecurigaan pada prajurit-prajurit
itu. Kini kembali ia diamuk oleh keragu-raguan. Sehingga untuk
sejenak Empu Sada masih saja berdiri di tempatnya.
“Kemari,” panggil prajurit itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah tidak
akan dapat menghindari lagi. Dengan demikian, maka kini kembali
ia membulatkan hatinya, bahwa ia harus pasrah diri. Namun
kadang-kadang terbersit pula di dalam batinnya penyesalan, bahwa
ia tidak saja menyelesaikan sama sekali ajaran-ajaran yang dapat
diberikannya kepada Sumekar.
“Kalau otak anak itu cukup baik,” katanya di dalam hati, “ia
sudah cukup menguasai dasar-dasar unsur gerak dari ilmu yang
terakhir itu. Dengan melihat dan merasakan ilmu itu serta
menghubungkannya dengan apa yang pernah dilihat, maka dengan
tekun ia pasti akan sampai dengan sendirinya, meskipun mungkin ia
akan mengalami kejutan yang dahsyat, namun tidak akan
berbahaya bagi jiwanya”.
“He, kemari kaki “ terdengar kembali seorang prajurit
memanggilnya.
Empu Sada itu pun kemudian melangkah maju. Tetapi ternyata
kadang-kadang masih juga tumbuh desir di jantungnya apabila ia
melihat ujung tombak. Ia tahu benar, bahwa ujung tombak di
tangan para prajurit itu sama sekali tidak akan dapat menahannya
apabila ia akan berbuat sesuatu.
Tertatih-tatih Empu Sada itu mendekati para prajurit pengawal
istana. Setiap langkah kakinya terasa seolah-olah sebuah dentangan
di dalam dadanya.
Tetapi agaknya para prajurit itu menganggapnya sebagai seorang
tua yang sedang kebingungan saja. Salah seorang prajurit itu
bertanya acuh tak acuh, “He, Kaki, kenapa kau tertegun-tegun
disini? Apakah ada yang kau cari?”
“Ya tuan,” sahut Empu Sada dengan suara bergetar dalam nada
yang tinggi, “aku memang sedang mencari”.
“Apakah yang kau cari? Barangkali aku dapat menolongmu
menunjukkannya?”
“Terima kasih tuan, “ Empu Sada itu membongkok sampai
hampir menyentuh lututnya, “terima kasih”.
“Apakah yang kau cari?
“Aku sedang mencari Istana Akuwu Tumapel tuan”.
“He,” prajurit itu terperanjat, “kau sedang mencari Istana
Tumapel”.
“Ya tuan”.
Jawaban orang tua itu agaknya telah menarik perhatian para
prajurit yang lain. Beberapa orang yang semula sama sekali tidak
tertarik kepada orang itu pun kemudian datang mengerumuninya.
“Apakah yang akan kau cari di dalam Istana Tumapel?”
“Tetapi apakah tuan dapat menunjukkan Istana Tumapel itu?”
“Tentu, tentu, “ sahut seorang diantara para prajurit itu.
“Terima kasih tuan, terima kasih. Apakah aku sudah dekat
dengan istana yang kucari”.
“Inilah istana itu” sahut yang lain sambil menunjuk ke arah
Istana Tunggul Ametung.
“Aku sudah menduga, “ sahut Empu Sada, “rumah ini adalah
rumah yang paling besar dan paling baik yang aku jumpai di kota
ini. Menurut pesan yang aku terima, rumah itu mempunyai alunalun,
dan pasti dijaga oleh prajurit bersenjata di setiap regolnya.
Dan ternyata dugaanku-dugaanku itu benar”.
“Ya,” sahut prajurit yang lain pula, “dugaanmu benar. Lalu
apakah yang ingin kau cari di dalam istana ini”.
“Tuan, aku akan mencari Nini Ken Dedes”.
“He,” salah seorang prajurit menyahut, “kau mencari Tuan Puteri
Ken Dedes?”
“Oh. Tuan Puteri? Ya maksudku Tuan Puteri Ken Dedes.
Bukankah gadis itu datang dari Panawijen?”
“Ya. Kau benar Kaki. Tuan Puteri datang dari Panawijen. Tetapi
apakah keperluanmu mencari Tuan Puteri Ken Dedes?”
“Aku datang dari Panawijen tuan. Aku mendapat pesan dari
anak-mas Mahisa Agni untuk menemui Tuan Puteri Ken Dedes”.
“Oh, Mahisa Agni. Anak muda kakak Tuan Puteri itu?”
“Ya. Tuan benar”.
“Apakah pesannya.?
“Aku harus menyampaikannya sendiri tuan”.
Beberapa orang prajurit itu saling berpandangan. Kemudian
seorang dari padanya, yang agaknya pemimpinnya bertanya,
“Apakah pesan itu terlampau penting?”
Empu Sada harus memperhitungkan keadaan dengan baik.
Pertanyaan itu harus dijawabnya dengan tepat. Ia tahu benar,
bahwa para prajurit itu akan dapat menyuruhnya menunggu saja di
luar, sedang pesan itu akan disampaikan oleh prajurit itu sendiri.
Karena itu, maka Empu Sada itu pun kemudian berusaha untuk
menghindarkan kemungkinan itu.
Jawabnya, “Oh, tidak. Tidak tuan. Pesan itu sama sekali tidak
penting”.
Para prajurit itu menarik nafas. Sejenak mereka saling
berpandangan. Baru kemudian salah seorang dari mereka berkata,
“Kaki, jarak Panawijen Tumapel adalah jarak yang tidak terlampau
dekat. Kalau pesan itu tidak terlampau penting kenapa kaki harus
berjalan menempuh jarak itu? Dan kenapa orang setua Kaki ini yang
harus datang kemari, bukan seorang anak muda yang gagah di atas
punggung kuda?”
Orang, tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hatihati
ia menjawab, “Tuan, setiap orang muda di Panawijen harus
bekerja keras membuat bendungan. Itulah sebabnya maka tak ada
seorang anak muda yang dapat datang kemari”.
“Ah,” sahut prajurit yang lain, “aneh Kaki. Ada berapa orang
anak-anak muda di Panawijen? Bukankah dengan berkurang
seorang dari mereka tidak akan mengganggu pekerjaan itu?”
“Tuan benar. Tetapi maaf tuan, aku berkata sebenarnya, tak ada
seorang pun anak-anak muda yang berani seorang diri menempuh
jarak Panawijen Tumapel. Apalagi sejak beberapa kali Mahisa Agni
bertemu dengan bahaya diperjalanan, bahkan Ken Dedes yang
dikawal kuat pun hampir-hampir mengalami bencana”.
Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Tetapi kenapa
justru kau berani melakukannya Kaki?”
“Ada beberapa macam pertimbangan tuan,” salut Empu Sada,
“aku sudah tua. Aku rasa tak seorang pun yang memerlukan aku
lagi. Jangankan orang-orang yang sakti, sedang oleh anak-anak pun
aku dapat didorongnya jatuh. Itulah sebabnya maka perjalananku
pun ternyata tak diganggu orang”.
“Tetapi kau tahan berjalan sejauh itu?”
“Aku menempuh perjalanan ini selama dua hari dua malam
tuan”.
“He, dua hari dua malam? Apakah kau merangkak seperti siput?”
“Ya tuan. Aku tidak dapat berjalan lebih cepat”.
“Dan setelah kau berjalan dua hari dua malam, kau hanya
sekedar membawa pesan yang tidak penting?”
“Ya tuan. Pesan itu tidak penting, tetapi aku ingin
menyampaikannya sendiri”.
Tiba-tiba seorang prajurit mengerutkan keningnya. Selangkah ia
maju dan berkata, “Apakah pesan itu?”
Empu Sada tertegun sejenak. Ia melihat sorot mata yang aneh
pada prajurit itu. Tetapi tidak mencemaskannya Prajurit itu agaknya
merasa heran bahwa pesan yang tidak penting itu harus dibawanya
merangkak seperti siput selama dua hari dua malam.
Meskipun demikian Empu Sada harus lebih berhati-hati. Setiap
kecurigaan akan dapat menyulitkannya. Ketika prajurit itu
melangkah selangkah maju lagi, maka Empu Sada pun segera
mundur sambil membungkuk-bungkuk, “Tuan” katanya terbatabata,
pesan itu memang tidak penting tuan”.
Prajurit itu pun memandanginya semakin tajam, “Kalau tidak
penting, kenapa kau harus berjalan sejauh itu. Coba katakan
bagaimana bunyi pesan itu. Kami adalah para pengawal yang harus
menjaga ketenteraman istana”.
“Tetapi, tetapi Mahisa Agni mengharap aku dapat
menyampaikannya sendiri”.
“Tetapi kami harus tahu, apakah pesan itu”.
Empu Sada pun kemudian merunduk-runduk sambil berkata,
“Baik, baik tuan”.
“Nah, katakanlah”.
“Baik, baik tuan”.
“Ya, katakanlah. Aku perlu mendengar pesan itu, bukan ingin
mendengar kesediaanmu mengatakan. Tetapi katakanlah”.
“Tuan,” berkata Empu Sada, “Mahisa Agni pesan kepadaku
supaya aku berkata kepadanya, kepada Tuan Puteri bahwa ia harus
berusaha menyesuaikan dirinya di sini. Ia tidak dapat bermanjamanja
seperti di padepokan dahulu”. Empu Sada berhenti sejenak.
Diamatinya wajah prajurit itu untuk menangkap kesan yang tersirat
daripadanya.
Hati orang tua itu menjadi lapang ketika tiba-tiba ia melihat
prajurit itu tertawa.
“Hem,” berkata prajurit itu sambil memilin kumisnya, “pesan itu
sama sekali bukan sebuah rahasia. Kenapa kau agaknya
mempersulit untuk mengatakannya”.
“Tidak tuan. Aku sama sekali tidak mempersulit. Tetapi aku ingin
memenuhi permintaan Mahisa Agni, menyampaikan pesan itu
langsung kepada Ken Dedes”.
“Tuan Puteri maksudmu?”
“Oh, ya, ya. Tuan Puteri Ken Dedes”.
“Pesan itu terlampau sederhana. Keperluanmu bertemu dengan
Tuan Puteri sama sekali tidak seimbang dengan tata-cara yang
harus dilakukan. Kaki, biarlah kami saja yang menyampaikan pesan
itu”.
“Oh, jangan tuan. Jangan. Mahisa Agni pesan ke padaku supaya
aku menyampaikannya langsung”.
“Tidak setiap orang dapat menghadap Tuan Puteri, dan tidak
setiap keperluan harus dilayani”.
“Tetapi, tetapi bukankah pesan itu datang dari keluarganya yang
harus didengarnya”.
“Itulah sebabnya, kami akan menyampaikan pesan itu tanpa
ditambah dan dikurangi. Meskipun pesan itu datang dari
keluarganya, namun tak setiap orang diperbolehkan masuk ke
dalam istana seperti masuk ke dalam warung saja”.
“Oh,” Empu Sada itu pun kemudian merengek-rengek, “Tuan,
kasihanilah aku orang tua ini tuan. Aku sudah berjalan sedemikian
jauhnya untuk menghadap nini Ken Dedes, eh, Tuan Puteri Ken
Dedes untuk menyampaikan pesan itu”.
“Pesan itu pasti akan sampai, Kaki, “ sahut prajurit yang lain.
“Tetapi, tetapi di samping itu masih ada pesan yang lain”.
“He,” prajurit itu terkejut, “jadi masih ada yang kau rahasiakan”.
“Ya tuan”.
“Oh,” prajurit itu menjadi heran, kenapa orang itu dengan
mudahnya menjawab bahwa masih ada sesuatu yang dirahasiakan?
Namun dengan demikian kesan yang didapat para prajurit itu
adalah, “Orang tua ini adalah orang tua yang bodoh dan jujur”.
“Katakanlah rahasia itu”.
“Tetapi apakah dengan demikian aku akan dapat menghadap?”
“Tergantung kepada pertimbangan tentang rahasia itu”.
“Tetapi Mahisa Agni pesan tuan, supaya rahasia ini tidak
dikatakan kepada siapapun”.
“Kalau begitu, kau tidak dapat masuk ke dalam istana”.
“Oh, jadi bagaimana?”
“Rahasia itu harus kau sebut, kaki”.
Para prajurit melihat orang tua yang berjalan tersuruk-suruk itu
menjadi ragu-ragu. Justru karena itu para prajurit itu pun menjadi
semakin ingin mengetahui, rahasia apakah yang telah dibawanya.
“Kalau kau tidak mengatakannya, maka kau tidak akan dapat
masuk”.
“Baik, baik tuan. Aku akan mengatakan rahasia itu tetapi dengan
janji”.
“Janji apa Kaki?”
“Tuan tidak boleh mengatakannya kepada orang lain”.
Tiba-tiba beberapa di antara para prajurit itu tidak dapat
menahan tertawanya. Meskipun demikian mereka berusaha untuk
menyembunyikan wajah-wajah mereka di belakang punggung
kawan-kawannya.
“Ayo katakan,” berkata salah seorang dari pada mereka.
“Tetapi rahasia ini sebenarnya sangat memalukan Aku mendapat
pesan dari Mahisa Agni supaya disampaikan kepada adiknya. Bahwa
kini Mahisa Agni sudah tidak lagi mempunyai rangkapan kain
panjang. Itulah tuan”.
Meledaklah suara tertawa di regol itu Para prajurit itu pun tidak
lagi dapat menahan diri. Bagaimana pun juga mereka mencobanya,
tetapi suara tertawa mereka telah menarik perhatian orang-orang
yang kebetulan lewat dimuka regol “Alangkah bodohnya orang tua
ini” pikir mereka, “ dan alangkah kasihannya Mahisa Agni”.
Tetapi mereka sama sekali tidak tahu, bahwa Empu Sada pun
tertawa pula di dalam hati. Ia telah berhasil memainkan peranannya
hampir sempurna. Meskipun demikian para prajurit itu masih belum
menjawab dengan pasti permintaannya untuk menghadap Ken
Dedes.
Para prajurit itu masih saja tertawa, sedang Empu Sada masih
juga berdiri termangu-mangu. Orang tua itu berusaha sekuatkuatnya
untuk menahan perasaan sendiri. Betapa ia tertawa di
dalam hati, melampaui gelak para prajurit itu, namun wajahnya
masih juga tampak alangkah bodohnya.
“O Kaki, “ berkata salah seorang dari para prajurit itu, “apakah
Mahisa Agni sangat memerlukan sepotong kain panjang?”
Empu Sada mengangguk, “Ya tuan. Selembar yang dipakainya
kini telah nrantang”.
“Kalau kau katakan sejak tadi kaki, kau tidak perlu terlampau
bernafsu untuk menghadap Tuan Puteri. Aku mempunyai kain
panjang rangkap di rumah. Kau boleh membawanya selembar buat
Mahisa Agni dan selembar buat kau sendiri”.
“Terima kasih tuan, terima kasih, “ sahut Empu Sada.
“Nah, kalau demikian tunggulah sampai waktuku berjaga di sini
habis. Kau turut aku ke rumah, dan kau akan mendapatkannya”.
“Tetapi bagaimana dengan Tuan Puteri?”
“Pesanmu akan disampaikan. Dan kau akan mendapat kain
panjang dariku. Bukankah keperluanmu sudah selesai?”
“Tetapi, tetapi aku harus menghadap tuan Tuan Puteri tidak
hanya akan memberi selembar kain buat Agni dan selembar buat
aku. Mungkin ada pesan pula dari Tuan Puteri yang harus aku
sampaikan kepada kakaknya, atau barangkali selembar timang alau
ikat kepala”.
Kembali para prajurit itu tertawa. Mereka melihat orang tua itu
dengan sorot mata yang lucu. Tetapi mereka mendapat kesan yang
hampir pasti, “Orang tua itu adalah orang tua yang bodoh tetapi
jujur”.
Meskipun demikian, para prajurit itu tahu benar akan
kewajibannya. Karena itu, maka mereka tidak akan dengan mudah
membiarkan orang-orang di luar istana memasuki halaman. Juga
orang tua ini. Meskipun mereka sebenarnya telah tidak mempunyai
kecurigaan apapun lagi, namun mereka tidak segera dapat
memberinya ijin untuk dengan demikian saja menghadap Tuan
Puteri Ken Dedes.
“Bagaimana tuan?,” desak orang tua itu, “Apakah aku diijinkan
masuk?”
“Apakah kau mengenal jalan yang menuju ketempat Tuan Puteri
itu”.
Empu Sada mengerutkan keningnya, jawabnya sambil
menggeleng, “Tidak Tuan”.
“Nah, kau memang tidak akan dapat memasuki halaman ini
seorang diri. Tak seorang pun diijinkan. Seorang prajurit akan
mengantarmu sampai ke regol halaman dalam. Kau harus
menunggu di sana. Prajurit itulah yang akan menyampaikannya
kepada emban terdekat, bahwa seseorang ingin menghadap. Kalau
Tuan Puteri ragu-ragu, maka Tuan Puteri pasti akan memintamu
menunggu sampai seseorang sempat menyampaikannya kepada
Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi untuk menyampaikan permintaan
itu, kau masih harus menunggu. Mungkin sehari, mungkin besok
kau baru mendapat jawaban”.
“O,” keluh Empu Sada, “dahulu aku tidak pernah mendapat
kesukaran untuk bertemu dengan anak itu di Panawijen”.
“Hus” potong seorang prajurit. Tetapi mau tidak mau prajurit itu
pun harus tertawa, “keadaannya dahulu dan keadaannya tentu jauh
berbeda”.
“Jadi bagaimanakah tuan?”
“Masuklah bersama salah seorang dari kami. Tunggulah di luar
regol dalam. Kalau Tuan Puteri mendengar bahwa seseorang dari
Panawijen akan menemuinya, maka aku kira kau tidak akan
menunggu sampai malam”.
“Terima kasih tuan. Terima kasih. Aku akan menunggu meskipun
sehari penuh. Di dalam kasa ini aku masih menyimpan sisa bekal
yang aku bawa dari rumah”.
“Sudah dua hari dua malam?”
“Nasi jagung tuan. Sepekan masih juga baik”.
“Nah, ikutilah kawanku ini,” berkata pemimpin penjaga itu sambil
menunjuk salah seorang bawahannya.
Empu Sada menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah
mengikuti prajurit yang membawanya masuk Tetapi kemudian ia
tertegun ketika pemimpin prajurit itu masih bertanya kepadanya,
“Siapa namamu?”
Empu Sada berpaling. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi
bingung menerima pertanyaan itu. Dari rumah ia telah bersedia,
apabila seseorang menanyakan namanya, “Makerti, “ jawab Empu
Sada, “namaku Makerti”.
Tetapi tiba-tiba hatinya menjadi ragu-ragu. Ia dapat menipu para
penjaga itu. Ia dapat menyebut nama apa saja, bahkan seribu nama
sekalipun tidak akan mencurigakan. Namun ia menyangka bahwa
dengan demikian, ia akan segera dihadapkan langsung kepada Tuan
Puteri Ken Dedes. Ternyata yang terjadi tidak demikian. Seorang
prajurit akan menghadap dan mengatakan keperluannya. Apabila
prajurit itu menyebut namanya, dan Ken Dedes tidak pernah
mengenal nama Makerti, maka apakah kira-kira yang akan terjadi?
Empu Sada menjadi bimbang. Tempi ia tidak sempat berpikir
terlampau lama. Pemimpin prajurit itu telah berkata kepadanya,
“Baiklah kaki Makerli. Pergilah mudah-mudahan kau tidak perlu
terlampau lama menunggu”.
Empu Sada menganggukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian
kembali ia berjalan mengikuti prajurit yang membawanya ke regol
dalam. Tetapi kembali ia dirisaukan oleh nama itu. Makerti. Nama
itu memang telah disiapkannya. Ia menganggap bahwa nama tidak
akan banyak berpengaruh atas rencana itu. Namun sekarang baru ia
menyadari, bahwa justru karena namanya itu akan dapat timbul
kecurigaan yang membahayakannya. Kenapa ia tidak berusaha
untuk mencari sebuah nama yang memang pernah dimiliki oleh
orang Panawijen?
Angan-angan Empu Sada itu patah ketika mereka segera sampai
ke regol halaman dalam. Prajurit itu terhenti sejenak dan kemudian
berkata, “He, kaki Makerti, tunggulah disini. Aku akan mencoba
menghadap. Apabila maksudmu diterima, maka kau pun akan aku
bawa menghadap pula”.
“Jadi bagaimana tuan. Apakah aku harus menunggu?”
“Ya. Kau memang harus menunggu di sini”.
“Bagaimana kalau aku masuk bersama tuan. Kalau aku tidak
diijinkan menghadap, maka aku akan pergi bersama tuan pula”.
“Ah, jangan. Demikianlah seharusnya. Kau harus berada di sini”.
“Aku takut tuan. Aku takut di sini seorang diri”.
“Kau tidak seorang diri, “ sahut prajurit itu, “lihat, di sisi
regol
dalam itu adalah sebuah gardu. Apakah kau tidak melihat dua orang
yang berada di dalamnya?”
“Oh,” Empu Sada menjengukkan kepalanya. Dilihatnya dua orang
dukuk di dalam sebuah gardu pendek. Tetapi di sisi mereka itu
tersandar dua batang tombak.
“Masih ada satu lagi. Lihat yang mondar-mandir itu”.
“Oh,” Empu Sada kini benar-benar menyadari bahwa penjagaan
istana bukan sekedar sebuah upacara saja.
“Apakah bilik Tuan Puteri itu masih jauh?”
“Tidak. Itulah. Kau nanti akan naik tangga itu. Dan kau akan
sampai ke serambi di belakang ruang dalam. Kalau Tuan Puteri
dapat menerimamu, maka kau akan diterima di ruang itu. Sedang
bilik Tuan Puteri adalah di dalam istana. Sentong Tengen”.
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia
memandang berkeliling, maka yang dilihatnya adalah sebuah taman
yang manis. Tetapi di sekitar tempat itu ia tidak lagi melihat
gardugardu
penjagaan yang lain.
“Nah, tinggalah di sini” berkata prajurit itu, “aku akan masuk.
Aku akan menyampaikan permintaanmu lewat Pelayan Dalam yang
bertugas di sana. Dan aku akan menyampaikan pesan itu nanti
kepadamu, apakah Kaki akan diterima atau Kaki harus menunggu
saat yang lain”.
“Oh,” Empu Sada mengeluh. Ternyata tidak semudah yang
disangkanya.
“Kenapa kaki?,” bertanya prajurit itu.
“Alangkah sulitnya. Tuan, tolong, katakanlah kepada gadis itu,
bahwa yang ingin menghadap adalah pamannya. Makerti. Aku
adalah adik ibunya yang sudah lama meninggal. Mungkin anak itu
menjadi ragu-ragu. Tetapi kalau tuan menyebutnya bahwa aku
berasal dari Ngarang maka ia akan mengenal aku”.
“Jadi Kaki tidak berasal dari Panawijen?”
“Ya, ya. Aku datang dari Panawijen. Tetapi aku temui Panawijen
sudah lain dari dahulu. Aku hanya bertemu dengan Mahisa Agni.
Mudah-mudahan Nini, eh. Tuan Puteri menerima aku”.
Prajurit itu memandanginya dengan ragu. Tetapi kemudian ia
tersenyum. Katanya, “Baiklah Kaki. Tunggulah di sini. Aku akan
menyampaikannya lewat seorang Pelayan dalam atau seorang
emban. Tunggulah, jangan takut, di gardu itu ada orang. Dan
orang-orang itu tidak akan menakut-nakutimu”.
“Siapakah orang itu?” Tiba-tiba salah seorang prajurit di dalam
gardu itu bertanya.
“Bertanyalah sendiri kepadanya” jawab prajurit itu, “nah
mendekatlah. Mungkin kau dapat menunggu di sana pula”.
“Baik, baik tuan”.
Empu Sada itu pun kemudian melangkah tertatih-tatih mendekati
gardu dan duduk di depannya. Sementara itu prajurit yang
membawanya lelah berjalan meninggalkannya, untuk
menyampaikan pesan dan permintaan orang tua itu.
Sementara itu, Empu Sada masih saja diliputi oleh kecemasan.
Disaat-saat terakhir ia mencoba membuat pesannya menjadi kabur
dan membingungkan. Mudah-mudahan Ken Dedes tidak dapat lagi
menelusurnya dan menjadi ingin tahu, siapakah yang datang
kepadanya.
“Tetapi bagaimanakah kalau gadis itu dengan tenang dapat
menilai keterangannya?”
Kembali Empu Sada menjadi ragu-ragu. Tetapi dalam pada itu
tanpa disadarinya ditelusurinya halaman itu baik-baik. Dilihatnya
beberapa orang hilir mudik. Ia tahu benar, bahwa di antara mereka
adalah Pelayan dalam seperti Kuda Sempana dahulu.
Tetapi sementara itu Empu Sada harus menjawab pertanyaan
dari prajurit-prajurit yang berada di dalam gardu itu.
Akhirnya prajurit-prajurit itu pun berhenti bertanya dan berkata,
“Nah, beristirahatlah kaki. Mungkin kau harus menunggu agak lama
di situ”.
“Terima kasih tuan,” jawab Empu Sada.
Namun sementara itu kembali angan-angan Empu Sada beredar
diseputar keadaannya. Kecemasannya semakin lama semakin
mengganggunya, sehingga tiba-tiba tanpa dikehendakinya ia mulai
menilai dirinya kembali.
“Aku bermaksud baik,” katanya di dalam hati, “tetapi kalau aku
dianggap ingin berbuat jahat, maka apakah aku harus berdiam diri?”
“Hem,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “biarlah. Kalau
seharusnya aku ditangkap, biarlah aku ditangkap. Kalau seharusnya
aku digantung di alun-alun, biarlah aku digantung”.
“Tetapi,” kembali terdengar sebuah pertanyaan, “dengan
demikian, maka aku tidak akan sempat mengatakan keadaan yang
sedang dihadapi oleh Mahisa Agni. Semua kata-kataku pasti tidak
akan dipercaya”.
Dengan demikian, maka dada Empu Sada itu pun segera. diamuk
oleh kebimbangan, kebingungan dan kecemasan.
Tetapi sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas di
dalam dunianya yang penuh dengan pergulatan, maka tanpa
dikehendakinya sendiri, Empu Sada mencoba menilai dirinya,
apakah ia akan mampu meloncati dinding halaman yang tinggi itu?
( bersambung ke jilid 24 )
Jilid 24
PRAJURIT-PRAJURIT
yang berada
di dalam gardu itu pun kini
sama sekali sudah tidak lagi menaruh perhatian kepada orang tua
itu. Dibiarkannya Empu Sada duduk terkantuk-kantuk. Tetapi
mereka sama sekali tidak melibat, bahwa di dalam dada orang tua
itu sedang bergolak berbagai perasaan yang bersimpang siur.
Tiba-tiba timbullah sesuatu yang aneh di dalam dada Empu Sada
itu. Sekali disambarnya Prajurit-prajurit itu dengan sudut matanya.
Sekilas menggelegak di dalam dadanya, “Hem. Kelinci-kelinci ini
dapat aku bungkam dalam sekejap.”
Mpu Sada terkejut sendiri menyadari angan-angannya itu. Namun
angan-angannya itu masih juga menjalar terus. “Kalau prajurit ini
sudah binasa, aku akan masuk kehalaman dalam. Aku kira tidak
akan begitu sulit mencari tempat Ken Dedes tanpa diketahui oleh
banyak orang.”
Orang tua itu tiba-tiba menengadahkan wajahnya ke langit.
Matahari telah rendah di ujung Barat. “Kalau malam segera tiba.”
desisnya di dalam hati. “Apakah kepentinganku atas Mahisa Agni itu.
Kalau aku dapat mengambil Ken Dedes, maka Kebo Sindet dan
Wong Sarimpat pasti akan mengumpat setinggi langit. Mahisa Agni
tidak akan bermanfaat baginya. Sedang kini tak seorang pun yang
tahu, siapakah yang telah masuk kedalam istana. Tak seorang pun
tahu bahwa Empu Sada lah yang telah mengambil gadis itu. O, aku
akan dapat menyebarkan desas-desus untuk melawan akal Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat. Aku harus berusaha melemparkan
kesalahan tentang hilangnya Ken Dedes kepada kedua setan itu
sebagai pembalasan dendam.”
Kembali Empu Sada terhenyak oleh angan-angannya. Kembali ia
menjadi sadar akan kehadirannya. Tetapi jalan hidup yang
ditempuhnya selama ini tiba-tiba telah mengamuk kembali di dalam
dadanya. Maka terjadilah kini benturan yang dahsyat di dalam dada
orang tua itu. Baru sesaat ia menemukan jalan yang terang.
Apa yang dialaminya pada saat-saat terakhir telah mendorongnya
kedalam suatu kesadaran. Namun ketika ia dihadapkan kembali
pada kesempatan-kesempatan seperti ini, maka kembali
kebimbangan menggelegak di dadanya.
Kebimbangan yang bersilang-melintang. Ia bimbang apakah
nama yang dipergunakannya akan dapat membawanya kepada Ken
Dedes? Tetapi ia pun dicengkam oleh sebuah kebimbangan yang
lain. Apakah kesempatan ini akan dilewatkannya? Sudah berpuluh
tahun ia menempuh cara hidup yang dipilihnya. Dengan cara
apapun ia pernah berusaha untuk mengambil Ken Dedes dan
mempergunakannya untuk mendapatkan sesuatu yang cukup
bernilai. Meskipun kini Kuda Sempana tidak ada lagi padanya,
namun Ken Dedes akan dapat dijadikannya barang tanggungan
yang baik, jauh lebih baik dari Mahisa Agni.
Tetapi, tiba-tiba terbayang di dalam angan-angannya itu seorang
anak muda yang bernama Sumekar. Anak muda yang
memandanginya dengan sorot mata yang jujur dan jernih. Yang
seolah-olah tidak tahu bahwa tangan gurunya telah dilumuri oleh
noda-noda yang kotor, meskipun sebenarnya dimengertinya juga.
Empu Sada itu menarik nafas dalam-dalam. Benturan-benturan yang
semakin dahsyat kini terjadi di dalam dirinya.
Dalam pada itu, prajurit yang membawanya masuk ke dalam
halaman dalam, telah mencoba menghubungi pelayan dalam untuk
menyampaikan maksudnya. Lewat seorang emban maka permintaan
prajurit itu pun telah disampaikannya kepada Ken Dedes.
“Seseorang ingin menemui aku?” bertanya Ken Dedes kepada
emban itu.
“Ya Tuan Puteri, seseorang dari Panawijen.”
“Siapa dia?”
“Seorang prajurit yang telah menerimanya, Tuan Puteri.”
“Dimana prajurit itu sekarang?”
“Diserambi belakang.”
“Aku ingin mendengar langsung dari padanya.” berkata gadis itu.
“Baik Tuan Puteri.”
Emban itupun meninggalkan Ken Dedes yang kemudian pergi
keruang belakang untuk menemui prajurit itu. Ia ingin mendengar
langsung, siapakah yang ingin menemuinya.
Dengan kepala tunduk prajurit itu berkata, “Tuan Puteri,
seseorang ingin menghadap Tuan Puteri.”
“Dimana ia sekarang?”
“Hamba menjuruhnya menunggu di regol dalam.”
“Siapakah namanya?”
“Makerti, Tuanku.”
“He,” Ken Dedes mengerutkan keningnya. Nama Makerti belum
pernah dikenalnya. Karena itu ia berkata. “Apakah kau tidak salah?
Berapa kira-kira usia orang itu?”
“Orang itu sudah tua, Tuanku. Namun Kaki Makerti pesan kepada
hamba untuk mengatakan bahwa Kaki Makerti adalah paman Tuan
Puteri. Orang tua itu datang dari Padukuhan Ngarang, dan ia adalah
adik dari ibu Tuanku.”
“He,” Ken Dedes menjadi semakin bingung. Dicobanya untuk
mengingat-ingat. Tetapi ia sama sekali tidak pernah mendengar
padukuhan yang bernama Ngarang. Dan ia tidak pernah pula
mendengar bahwa ia mempunyai seorang paman yang bernama
Makerti. Karena itu sejenak Ken Dedes berdiam diri. Dalam
kerutkerut
di keningnya tampak betapa ia sedang mencoba mengingat
kembali masa kanak-kanaknya di Padukuhan Panawijen.
“Apakah aku sudah menjadi seorang pelupa.” pikirnya, “kalau aku
menerimanya, maka aku meragukan maksud ke datangannya.
Tetapi kalau aku menolaknya dan orang itu benar-benar pamanku,
apakah aku tidak menyakiti hatinya? Orang itu akan menganggap,
bahwa setelah aku berada di istana, maka aku tidak mau lagi
mengenal keluargaku. Apalagi keluarga dari ibuku.
Dengan demikian, maka Ken Dedes itu menjadi ragu-ragu untuk
berbuat sesuatu, sehingga tidaklah mudah baginya untuk
menentukan keputusan. Maka sejenak mereka menjadi saling
berdiam diri. Prajurit itu masih saja menundukkan wajahnya, sedang
Ken Dedes masih juga ragu-ragu.
Untuk mencoba menumbuhkan kembali ingatannya maka Ken
Dedes itu pun bertanya, “Apakah orang itu mengatakan bahwa
namanya Makerti?”
“Hamba tuan Puteri.”
“Apakah kau dapat menggambarkan bagaimana kira-kira bentuk
orang itu?”
Prajurit itu menggeser dirinya secengkang. Sejenak ia mencoba
membayangkan kembali orang yang sedang menunggunya. Namun
kemudian ia menjawab, “Tak ada yang aneh pada orang tua itu
Tuan Puteri. Tak ada tanda-tanda yang khusus. Seperti kebanyakan
orang-orang tua maka ia menjadi agak bongkok. Kepalanya
menunduk agak terlampau jauh. Dan ia berjalan tersuruk-suruk
dengan sebuah tongkat kecil yang agaknya ditemukannya saja di
jalan. Suaranya bernada rendah, namun kadang-kadang melengking
tinggi.”
“Oh.” Ken Dedes justru menjadi bertambah bingung. Tetapi ia
tidak mau mengambil sikap terlampau tergesa-gesa. Gadis itu selalu
mengingat bahwa ia sendiri berasal dari sebuah padepokan jauh
dari kota Tumapel. Bahwa ia sendiri hanyalah seorang gadis
padesan. Adalah wajar kalau suatu ketika seseorang yang berasal
dari padesan mencarinya dan memerlukan sebuah kesempatan
untuk menemuinya.
Meskipun demikian, pengalamannya yang pahit selama ini telah
memberinya beberapa petunjuk, bahwa dirinya selalu dibayangi oleh
berbagai kemungkinan yang kadang-kadang tidak menyenangkan
baginya. Selalu dikenangnya bagaimana Kuda Sempana
mengejarnya tanpa mengenal jemu. Bahkan ternyata guru Kuda
Sempana yang bernama Empu Sada telah turut campur pula dengan
mencegatnya di jalan pada saat ia akan mengunjungi Panawijen.
Semuanya itu telah membuat Ken Dedes menjadi semakin hatihati.
Sekilas terlintas pula di hatinya untuk memohon pertimbangan
kepada Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin akan lebih baik baginya.
Apabila ternyata terjadi sesuatu, maka akan mudahlah baginya
untuk segera mendapatkan perlindungan. Tetapi Ken Dedes
mengurungkan niatnya. ia tidak ingin mengganggu Akuwu hanya
dalam soal-soal yang kecil itu. Bahkan seandainya orang itu
bermaksud kurang baik sekalipun, apakah yang akan dapat
dilakukannya? Di halaman berkeliaran beberapa orang prajurit dan
Pelayan-dalam dalam sikap ke prajuritan pula. Ia akan dapat
memerintahkan prajurit itu menunggunya selama ia menerima
orang itu.
Ken Dedes itupun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pada dasarnya ia memang ingin bertemu dengan orang yang
menyebut dirinya Makerti dan mengaku sebagai pamannya. Namun
ketika ia melihat emban pemomongnya yang mengikutinya dari
Panawijen lewat maka dipanggilnyalah orang tua itu.
Pemomongnya itu pun segera mendekatinya. Orang tua itu kini
telah menyesuaikan dirinya dengan cara hidup di dalam istana.
Sambil duduk bersimpuh ia berkata, “Hamba Tuan Puteri.”
“Bibi.” berkata Ken Dedes kemudian, “seseorang telah
membingungkan aku. Karena bibi adalah pemomongku sejak kanakkanak,
maka aku kira bibi akan dapat memberi aku beberapa
petunjuk.”
Pemomong Ken Dedes itu mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak
segera menjawab.
“Seorang tua menyebut dirinya bernama Makerti dan mengaku
pamanku ingin datang menghadap. Orang itu mengatakan bahwa
dirinya adalah adik ibuku. Bibi, apakah selama ini bibi pernah
mengenalnya?”
Perempuan tua itu pun mengerutkan keningnya. Tanpa
dikehendakinya, maka dipandanginya wajah prajurit yang masih
saja menunduk.
“Ya, prajurit itulah yang menyampaikan permintaannya.” berkata
Ken Dedes.
Pemomong Ken Dedes itupun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun iapun menjadi ragu-ragu pula. Jawabnya, “Tuan Puteri.
Seingat hamba, maka Tuan Puteri tidak pernah mempunyai seorang
paman adik ibu Tuan Puteri. Hamba belum pernah mendengar nama
Makerti dan selama hamba berada di dekat Tuan Puteri, maka tak
seorang pun yang pernah datang ke Padepokan Panawijen dengan
nama itu.”
Ken Dedes menjadi semakin bimbang mendengar keterang an
itu. Ia percaya benar kepada pemomongnya, bahwa perempuan itu
tahu jauh lebih banyak tentang dirinya daripada dirinya sendiri.
“Seandainya demikian.” berkata perempuan itu pula, “maka
setidak-tidaknya Ayahanda Empu Purwa pasti pernah menyebutnyebutnya
atau suatu ketika hamba pernah melibat seorang tamu
dari keluarga Ibu Tuan Puteri itu.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada prajurit
yang duduk tepekur di hadapannya ia berkata, “Apakah keperluan
orang itu menghadap aku?”
“Tuan Puteri.” sahut prajurit itu, “menurut keterangannya, ia
mendapat pesan dari Kakanda Tuan Puteri Mahisa Agni. Pesan itu
ingin disampaikannya sendiri kepada Tuan Puteri apabila Tuan
Puteri berkenan menerimanya.”
“Dari kakang Mahisa Agni?” Ken Dedes mengulanginya.
Tampaklah sesuatu kesan yang aneh tersirat di wajahnya.
“Apalagi Angger Mahisa Agni.” desis pemomong Ken Dedes itu.
“Orang tua yang bernama Makerti itu datang ke Panawijen untuk
mencari kemanakannya yang ternyata adalah Tuan Puteri Ken
Dedes. Tetapi yang ada hanyalah Kakanda Tuan Puteri. Dari
Kakanda Tuan Puteri itulah Kaki Makerti mendapat petunjuk bahwa
Tuan Puteri berada diistana. Bahkan orang itu, yang barangkali
terlampau ingin bertemu dengan kemanakannya, membawa pesan
dari Kakanda Tuan Puteri itu pula.”
Kembali perempuan tua itu termenung. Namun tiba-tiba ia
berkata, “Tuan Puteri, baiklah hamba lihat dahulu, apakah hamba
sudah pernah mengenalnya.”
Ken Dedes dengan serta merta menjetujuinya. Dengan
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik, baik bibi.
Pendapat bibi adalah pendapat yang baik sekali.”
“Hamba Tuan Puteri. Hamba kira bahwa hamba telah mengenal
semua orang Panawijen atau orang-orang yang sering berhubungan
dengan Ayahanda Tuan Puteri.”
Kepada prajurit itu Ken Dedes kemudian bertanya, “Menurut
katamu orang itu datang dari suatu pedukuban untuk mencariku ke
Panawijen, dan bertemu dengan kakang Mahisa Agni. Apakah ia
bertemu dengan kakang Mahisa Agni di Panawijen ataukah di
tempat ia membuat bendungan?”
Prajurit itu termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata,
“Orang tua itu sama sekali tidak menyebutnya Tuan Puteri.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya Kecurigaannya
tiba-tiba menjadi semakin tebal. Sepengetahuannya Mahisa Agni kini
sedang berada di Padang Karautan. Babkan Akuwu Tunggul
Ametung baru saja mengirim sepasukan prajurit dengan berbagai
macam perbekalan untuk membantu membuat bendungan itu. Maka
kepada pemomongnya Ken Dedes berkata, “Nah, pergilah bibi.
Lihatlah orang yang menyebut dirinya bernama Makerti dan datang
dari Padukuhan Ngarang itu.”
Tiba-tiba wajah pemomongnya itu menjadi tegang. Kerut merut
di dahinya menjadi semakin jelas. Tanpa sesadarnya ia mengulang
kata-kata Ken Dedes, “Orang itu datang dari desa Ngarang?”
“Ya.” sahut Ken Dedes, “Kenapa?”
Dada emban tua itu terasa berdesir. Dengan ragu-ragu ia
berpaling kepada prajurit yang masih saja duduk tepekur
disampingnya.
“Bertanyalah kepada prajurit itu.” berkata Ken Dedes.
“Benarkah laki-laki tua itu datang dari desa Ngarang?”
“Ya, bibi. Orang itu datang dari Ngarang menurut katanya
sendiri.”
Emban tua itu mengangguk-angguk. Tetapi tampaklah sesuatu
tersirat pada sorot matanya sehingga Ken Dedes bertanya, “Kenapa
bibi? Apakah kau pernah mendengar nama padukuhan Ngarang?”
“Hamba Tuan Puteri. Hamba memang pernah mendengar nama
itu.”
“Dan kau pernah mendengar pula bahwa pamanku tinggal
dipadukuban itu?”
Emban tua itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak tuanku.”
Ken Dedes menjadi ragu-ragu pula melihat wajah pemomongnya
yang menjadi tegang itu. Namun lebih baik baginya apabila emban
itu segera pergi keluar dan melihat siapakah laki-laki yang
menyebut
dirinya bernama Makerti.
Sejenak kemudian emban itu pun minta diri, diantar oleh prajurit
yang membawa pesan dari Makerti itu. Namun di sepandjang
langkahnya perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, kini dibebani
oleh sebuah pertanyaan yang telah membuatnya menjadi berdebardebar.
Kenapa orang tua itu menyebut pedukuhan Ngarang?
Kenapa tidak dari pedukuhan yang lain? Apakah benar orang itu
paman gadis momongannya?
Dalam pada itu, di sisi regol dalam, di muka gardu penjaga,
Empu Sada duduk dengan gelisah. Pergolakan yang terjadi di dalam
dadanya terasa semakin lama menjadi semakin riuh. Sekali-sekali
ditatapnya gardu peronda itu. Dilihatnya dua di antara ketiga
prajurit itu duduk terkantuk-kantuk. Sedang yang seorang lagi
berjalan hilir mudik memandi tombaknya. Setiap kali mereka
bergantian, duduk dan berjalan hilir mudik.
Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak akan banyak berarti
bagi Empu Sada. Dengan lemparan batu, ia mampu membunuhnya
satu demi satu tanpa membuat suara apapun.
Tiba-tiba dada orang tua itu berdesir ketika Dilihatnya prajurit
yang membawanya, berjalan di antara tanaman-tanaman di
halaman bersama seorang perempuan tua.
“Hem.” desis Empu Sada di hatinya, “apalagi kerja perempuan
tua itu. Apakah perempuan tua itu emban terdekat dari Ken Dedes
yang harus membawa aku menghadap. Dengan sentuhan jari saja,
maka perempuan itu akan menjadi kejang. Kalau saja aku ingin
melarikan Ken Dedes maka tiba-tiba aku mendapat kesempatan.”
Sekali Empu Sada menengadahkan wajahnya. Warna-warna
merah telah membayang di langit sebelah Barat. Warna-warna yang
telah mendorong hati Empu Sada mendekati kegelapan seperti
senja yang menghadap malam.
“Dalam malam yang gelap, maka aku, pasti bahwa aku akan
dapat melarikan gadis itu. Kalau terjadi demikian, kalau Ken Dedes
hilang dari istana ini, apakah artinya Mahisa Agni bagi Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat? Siapakah yang harus memenuhi pemerasan
yang akan dilakukan?” Empu Sada itu tersenyum di dalam hati.
Namun terasa kembali dadanya berguncang. Kembali terjadi
berbagai benturan yang dahsyat di dalam dadanya.
“Tidak.” katanya di dalam hati, “aku sudah pasrah.”
Dan perempuan tua yang datang bersama prajurit itu pun sudah
menjadi semakin dekat. Ketika mereka kemudian berhenti beberapa
langkah dari Empu Sada maka prajurit itu pun berkata, “Inilah bibi.
Inilah Kaki Makerti.”
Pemomong Ken Dedes itu pun mengerutkan keningnya. Dicoba
untuk mengamat-amati laki-laki tua itu dengan seksama. Namun
kemudian kepala perempuan tua itupun menggeleng. Terdengar ia
bergumam, “Aku belum pernah mengenalnya.”
Empu Sada yang masih duduk itu pun menengadahkan
wajahnya. Seperti perempuan itu, maka Empu Sada pun tidak pula
mengenalnya.
“Apakah Kaki yang bernama Makerti?” bertanya emban tua itu.
“Ya, akulah.” sahut Empu Sada.
“Apakah Kaki paman dari Tuan Puteri Ken Dedes?”
Kembali dada Empu Sada dilanda oleh kebimbangan. Namun ia
menjawab, “Ya, ya, akulah.”
Pemomong Ken Dedes itu pun terdiam sejenak. Kembali ia
mencoba mengamati wajah itu. Tetapi ia sama sekali belum
mengenalnya. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun di dalam
dada masing-masing bergeletar berbagai macam persoalan. Apalagi
di dalam dada Empu Sada. Tetapi orang tua itu mencoba dengan
sekuat-kuat tenaganya untuk tetap tenang.
Sejenak kemudian terdengarlah emban tua, pemomong Ken
Dedes itu berkata, “Kaki Makerti, apakah Kaki sering mengunjungi
kemanakan Kaki yang bernama Ken Dedes itu dahulu?”
“O tentu, tentu.” jawab Empu Sada dengan serta merta, “Ken
Dedes adalah seorang kemanakan yang manis. Ia tahu benar akan
dirinya. Setiap kali aku datang, maka segera ia menyambutku
dengan girang. Dengan suara tertawanya yang renyah. Tertawa
kekanak-kanakan. Tetapi kini ia sudah berada di istana. Aku tidak
tahu, apakah ia masih dapat mengenalku dan masih juga
menyambut kedatanganku seperti dahulu di Panawijen, seperti
masa kanak-kanaknya.”
Perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu menganggukanggukkan
kepalanya. Dan iapun bertanya pula, “Apakah Kaki juga
mengenal Mahisa Agni?”
“Oh tentu. Aku mengenal anak itu seperti aku mengenal Ken
Dedes. Meskipun Mahisa Agni bukan kakak sendiri, tetapi keduanya
hampir-hampir seperti saudara kandung yang sangat rukun.”
Kembali perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya,
tetapi kecurigaan di dalam hatinya pun bertambah-tambah pula.
Kalau laki-laki itu sering datang ke Panawijen, maka sudah pasti,
sekali dua kali ia pernah melihatnya.
“Kaki.” bertanya emban itu pula, “apakah kata Kakanda Tuan
Puteri tentang adiknya ketika Kaki pergi ke Panawijen?”
Empu Sada menyambar wajah emban itu sesaat, tetapi segera ia
menunjukkan wajahnya, wajah yang telah dipulasnya menjadi
bentuknya yang sekarang. Tetapi ia sadar bahwa ia sedang
mendapat pertanyaan-pertanyaan untuk meyakinkan bahwa Makerti
adalah benar-benar paman Ken Dedes.
“Orang tua ini pastilah emban yang dipercaya oleh Ken Dedes.”
desis orang tua itu di dalam hatinya. Dalam pada itu ia menjawab
dengan hati-hati, “Tidak banyak yang dikatakan oleh Mahisa Agni.
Ia hanya mengatakan bahwa Ken Dedes kini berada di Istana
Tumapel, bahkan menurut pendengarannya gadis itu akan menjadi
seorang permaisuri. Namun Mahisa Agni itu pun mempunyai
beberapa pesan yang harus aku sampaikan kepada adiknya, Tuan
Puteri Ken Dedes.”
“Dimanakah Kaki bertemu dengan Mahisa Agni?”
Mendengar pertanyaan itu Empu Sada mengerutkan keningnya.
“Dimana?” orang tua itu mengulanginya di dalam hati.
“Dimana?” emban tua itu mendesak.
“Di Panawijen.” sahut Empu Sada. Namun terasa bahwa katakatanya
itu diucapkannya dalam kebimbangan.
Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika kembali ia melihat
emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan
kemudian Empu Sada pun menyadari, bahwa emban tua itu menjadi
semakin curiga kepadanya. Dalam keadaan yang menegangkan itu,
kembali dada Empu Sada diamuk oleh berbagai perasaan yang
saling berbenturan.
Ingin ia segera meloncat dan memberikan beberapa sentuhan
kepada emban tua itu sehingga ia menjadi pingsan. Kemudian
dengan beberapa gerakan ia akan mampu melumpuhkan Prajuritprajurit
yang menontonnya seperti sedang menonton pertunjukan
yang mengasikkan. Apalagi ketika kemudian senja menjadi semakin
lama semakin suram. Warna-warna merah dilangit menjadi semakin
pudar. Seleret warna senja masih tergantung di sisi-sisi mega putih
yang mengalir dibawa angin.
“Kaki.” berkata emban itu kemudian, “apakah Kaki datang
langsung dari Panawijen kemari?”
Empu Sada menjadi hampir kehilangan kesabarannya.
Pertanyaan emban itu terlampau banyak baginya. Kalau
pertanyaanpertanyaan
yang serupa itu tidak ada habis-habisnya, maka sudah
pasti bahwa suatu ketika ia akan tidak lagi dapat menjawab. Namun
kali ini Empu Sada masih juga menyabarkan hatinya, “Ya. Aku
datang dari Panawijen. Aku harus segera menghadap Tuan Puteri
untuk menyampaikan pesan itu langsung kepadanya.”
“Jangan tergesa-gesa Kaki.” berkata emban tua itu, “aku masih
ingin bertanya, apakah angger Mahisa Agni berada di Panawijen.”
Kembali dada Empu Sada berdesir. Pertanyaan itu benar-benar
mengejutkannya. Dan tiba-tiba pula ia sadar, bahwa Mahisa Agni
kini sedang membuat bendungan di padang Karautan. Wajah Empu
Sada itu pun tiba-tiba menjadi tengang. Tiba-tiba pula ia merasa,
bahwa kecurigaan emban itu pasti akan menundukkannya kedalam
keadaan yang tidak menguntungkan.
Dalam kebimbangan itu, maka Empu Sada pun kemudian
mengambil suatu sikap. Katanya di dalam hati. “Kalau aku gagal
menghadap Ken Dedes dalam suatu keinginan yang baik, dan
apabila kemudian keadaanku sendiri terancam karenanya, maka
adalah lebih baik bagiku untuk pasrah diri. Aku sudah kehilangan
segala macam keinginanku. Mungkin dosaku telah terlampau
banyak, sehingga keinginanku yang terakhir, yang berkehendak baik
pun sudah tidak dapat terjadi.”
“Bagaimana Kaki?” desak emban tua itu.
Tetapi, kini Empu Sada justru telah menjadi tegang. Ia tidak lagi
memandangi sisa-sisa senja yang tersangkut di ujung pepohonan.
Meskipun demikian ia masih mencoba menjawab, “Ya. Aku bertemu
Mahisa Agni di Panawijen. Tetapi tidak lama, sebab anak muda itu
harus segera kembali ke Padang Karautan. Menurut katanya, ia
sedang membuat bendungan.”
Emban tua itu mengerutkan keningnya. Jawaban itu memang
masuk diakalnya. Mungkin Mahisa Agni sedang pulang sejenak
untuk sesuatu keperluan. Tetapi meskipun demikian, jawaban itu
sama sekali belum meyakinkannya. Sehingga kembali ia bertanya,
“Kaki. Aku dengar Kaki berasal dari padukuhan Ngarang. Apakah
benar demikian?”
Empu Sada kini benar-benar menjadi jemu mendengar
pertanyaan-tanyaan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia
harus
menjawab satu demi satu. Namun apabila jawabnya kemudian tidak
lagi dapat sesuai dengan keadaan yang sewajarnja, maka
perempuan tua itu pasti akan mencurigainya. Mungkin ia akan
berteriak kepada para prajurit untuk menangkapnya. Tetapi Empu
Sada telah pasrah.
“Kaki.” desak perempuan tua itu, “benarkah Kaki berasal dari
Ngarang?”
Empu Sada menganggukkan kepalanya, Jawabnya, “Ya, aku
berasal dari Ngarang.”
“Apakah kau tahu benar tentang pedukuhan itu? Dan apakah kau
memang berasal dari Ngarang sejak kecil?”
“Ya.” jawab Empu Sada. Tetapi kali ini ia tidak begitu cemas.
Memang ia dahulu berasal dari Ngarang. Meskipun desa itu sudah
lama sekali ditinggalkannya, tetapi ia pasti masih dapat menjawab
satu dua pertanyaan tentang padesan itu meskipun ia sudah
benarbenar
menjadi jemu.
“Kaki Makerti.” berkata perempuan tua itu, “kalau Kaki benar
berasal dari Ngarang, maka sudah tentu Kaki mengenal beberapa
orang yang berasal dari desa itu pula.”
“Tentu.” sahut Empu Sada.
“Nah, aku ingin bertanya tentang keluargaku yang sudah lama
sekali meninggalkan desa itu.”
“Siapakah orang itu?”
“Namanya Pranuntaka.”
Mendengar nama itu wajah Empu Sada tiba-tiba menjadi tegang.
Terasa darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Sejenak ia
terbungkam dengan dada bergelora.
Ketika ia mengadahkan wajahnya ditatapnya wajah perempuan
tua itu. Wajah yang tidak dikenalnya. Tetapi bibir perempuan tua
itu
telah menyebut nama yang seperti Gunung Kawi yang runtuh
menimpa dadanya.
Perempuan tua dan para prajurit itu sama sekali tidak melihat
warna merah yang menyala di wajah Empu Sada, karena senja
sudah menjadi semakin suram. Namun perempuan tua itu melihat
bahwa Empu Sada tiba-tiba menjadi gelisah dan tidak segera dapat
menjawab pertanyaannya. Karena itu maka kecurigaannyapun
menjadi semakin tebal, sehingga menurut pendapatnya, tak ada
gunanya lagi ia menanyakan berbagai macam soal. Orang itu pasti
bukan paman Ken Dedes, dan pasti bukan orang Ngarang.
Sejenak terlintas dihati pemomong Ken Dedes itu tentang
berbagai macam bahaya yang pernah mengitari momongannya.
Karena itu, maka kecurigaannya pun menjadi semakin kuat. Laki-laki
tua itu mungkin salah seorang dari mereka yang ingin berbuat jahat
kepada momongannya. Dengan demikian maka menjadi
kewajibannya untuk, menolak maksud orang yang menyebut dirinya
Makerti itu menghadap momongannya. Bahkan adalah menjadi
kewajibannya pula untuk menyampaikannya kepada orang yang
berkewajiban untuk menelitinya lebih jauh.
“Kaki Makerti,” berkata emban itu, “tunggulah disini. Semuanya
akan aku sampaikan kepada Tuan Puteri. Aku tidak tahu apakah kau
akan diijinkan menghadap atau tidak.”
Empu Sada tidak segera dapat menjawab. Ia masih dicengkam
oleh gelora yang dahsyat di dadanya. Nama yang disebut oleh
perempuan itu benar telah membuatnya menjadi sangat gelisah.
Tetapi agaknya perempuan tua itu tidak lagi menunggu
jawabannya. Agaknya emban itu ingin segera menyampaikan
persoalan itu kepada momongannya dan kemudian kepada
pemimpin Pelayan-dalam untuk berbuat sesuatu bersama para
prajurit pengawal istana.
Namun ketika emban itu melangkah pergi, dengan terbata-bata
Empu Sada memanggilnya. “Tunggu. Tunggu.”
Emban tua itu berhenti. Sambil memutar dirinya ia bertanya,
“Apalagi Kaki? Bukankah aku harus menyampaikan permohonanmu
kepada Tuan Puteri.”
“Tunggu.” minta Empu Sada yang tiba-tiba berdiri perlahanlahan.
Beberapa orang prajurit yang melihatnya berdiri menjadi semakin
tertarik pada laki-laki tua itu. Dengan penuh perhatian mereka
menyaksikan pembicaraan kedua orang-orang tua itu dengan
saksama.
“Apalagi Kaki?” bertanya emban itu pula.
“Akuingin tahu, kenapa kau bertanya tentang Pranuntaka.”
Emban tua itu mengerutkan keningnya. Terasa pertanyaan yang
menyebut dirinya Makerti itu menarik hatinya. Maka Jawabnya,
“Tidak apa-apa Kaki. Karena kau menyebut dirimu berasal dari
padukuhan Ngarang, sedang aku mengenal seseorang dari
padukuhan itu pula dan bernama Pranuntaka. Maka aku bertanya
kepadamu, apakah kau sudah mengenalnya.”
“Tidak. Pasti bukan hanya sekedar ingin tahu, apakah aku pernah
mengenal orang yang bernama Panuntaka itu.”
Sekarang emban tua ituah yang terkejut. Kata-kata orang yang
menyebut dirinya Makerti itu terdengar aneh ditelinganya. Karena
itu ia berkata, “Kenapa kau Kaki? Kenapa kau heran atas
pertanyaanku dan bahkan kau tidak percaya bahwa aku hanya
sekedar bertanya tentang Pranuntaka itu. Aku pernah mengenalnya,
dan aku ingin tahu, kalau kau benar-benar orang Ngarang sejak
kecil, kau pasti mengenalnya pula.”
“Siapakah sebenarnya kau Nini?” tiba-tiba orang tua itu bertanya.
Pertanyaan itu semakin mengejutkan bagi emban tua itu. Namun
ia menjawab, “Aku adalah emban kinasih, pemomong Ken Dedes
sejak kanak-kanak. Itulah maka aku tahu, semua orang Panawijen
dan semua orang yang pernah berhubungan dengan momongku
itu.”
Dada Empu Sada menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia
berkisar setapak, ia melihat prajurit yang duduk di dalam gardu
kini
telah berdiri.
Empu Sada sama sekali tidak menjadi kecut melihat prajuritprajurit
yang hanya berjumlah empat orang itu. Kalau ia mau, maka
ia tidak memerlukan waktu banyak. Tetapi yang dicemaskan Empu
Sada adalah dirinya sendiri. Dengan sepenuh kesadaran ia berusaha
untuk dapat mengekang perasaannya supaya ia tidak meloncat dan
menyentuh para prajurit di tempat-tempat yang berbahaya,
sehingga keempat prajurit itu menjadi tidak berdaya.
“Aku sudah bertekad untuk pasrah diri.” katanya di dalam hati.
Namun setiap kali kakinya menjadi gemetar, seolah-olah sepasang
kakinya itu amat sulit dikendalikannya sendiri.
Kini ia mendengar bahwa perempuan tua itu adalah pemomong
Ken Dedes sejak kecil. Ia mendengar bahwa emban tua itu bukanlah
emban istana, tetapi adalah emban yang dibawa oleh Ken Dedes
dari Panawijen. Dengan demikian maka Empu Sada sudah dapat
membayangkan, bahwa emban itu tidak percaya sama sekali kepada
semua ceriteranya. Emban itu pasti tahu, bahwa Ken Dedes tidak
mempunyai seorang paman bernama Makerti dan datang dari
padukuhan Ngarang. Tetapi yang lebih membingungkannya, bahkan
menjadikanya sangat berdebar-debar adalah pertanyaan emban tua
itu. Kenapa emban tua itu bertanya tentang Pranuntaka?
Dalam pada itu terdengar emban Ken Dedes berkata, “Kaki.
tunggullah di sini. Tinggallah bersama para prajurit ini, Aku akan
menghadap Tuan Puteri untuk menyampaikan pesanmu. Namun aku
akan dapat memberitahukan kepada Tuan Puteri, bahwa aku belum
pernah melihatmu.”
Para prajurit yang mendengar kata-kata emban tua itu tiba-tiba
menyadari keadaan. Seolah-olah mereka mendapat perintah untuk
menahan orang tua itu di dalam gardunya.
“Apakah maksud Nini sebenarnya?” bertanya Empu Sada dengan
cemas. Sekali lagi ia tidak mencemaskan Prajurit-prajurit itu,
tetapi
ia cemas pada dirinya sendiri. Kalau ia menjadi kehilangan
keseimbangan, maka ia pasti akan lari dan meninggalkan keempat
prajurit itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Tidak apa-apa.” jawab emban tua pengasuh Ken Dedes,
“mungkin Tuan Puteri mempunyai pertimbangan lain. Mungkin Tuan
Puteri perlu minta pertimbangan dari pemimpin Pelayan-dalam yang
sedang bertugas hari ini atau bahkan mohon pertimbangan kepada
Akuwu Tunggul Ametung.”
Kaki Empu Sada menjadi semakin gemetar ketika ia melihat
berapa prajurit itu mendekatinya.
“Tunggu Nini.” minta Empu Sada, “ada suatu.., ada sesuatu yang
ingin aku jelaskan supaya Nini melihat persoalan yang sebenarnya.”
“Apakah masih ada yang belum jelas?”
“Masih Nini.”
“Apakah itu?”
“Pranuntaka. Nama itu.”
“Apakah kau kenal nama itu?”
“Ya Nini, aku mengenal nama itu dengan baik.”
Pemomong Ken Dedes itu tertegun sejenak. Diamatinya laki-laki
tua itu dari ujung kaki keujung rambutnya. Namun malam menjadi
semakin suram sehingga bayangan laki-laki tua itu pun menjadi
semakin kabur.
“Sudahlah Kaki.” berkata salah seorang prajurit yang telah berdiri
di sampingnya, “duduklah di gardu bersama kami. Kaki dapat
beristirahat sesuka hati. Kaki dapat berbaring untuk melepaskan
lelatu, sambil menunggu Tuan Puteri berkenan menerima Kaki.”
“Ya, ya tuan.” sahut Empu Sada, “tetapi aku ingin memberi
penjelasan dahulu kepada Nini emban. Sebenarnyalah aku
mengenal orang yang ditanyakannya.”
Kemudian kepada pemomong Ken Dedes ia berkata, “Nini,
apakah benar Nini mengenal orang yang bernama Pranuntaka?”
“Tentu Kaki.” sahut emban itu, “aku bertanya kepadamu justru
aku mengenalnya dengan baik.”
“Aku mengenal orang itu jauh lebih baik dari siapa pun juga.”
sahut Empu Sada.
Jawaban itu ternyata sangat menarik perhatian pemomong Ken
Dedes. Dengan nada yang tajam ia bertanya, “Tidak. Tak ada orang
yang mengenal orang itu lebih baik dari aku. Aku mengenalnya
sejak ia muda sampai akhirnya ia meninggal dalam keadaan yang
kurang wajar.”
Emban itu terkejut ketika ia melibat Empu Sada meng geleng.
“Tidak.” berkata laki-laki tua itu, namun tiba-tiba ia bertanya,
“Tetapi kenapa Nini merasa sebagai orang yang paling
mengenalnya?”
“Kenapa kau tanyakan hal itu? Aku bertanya, sebutkan orang itu,
ciri-cirinya dan apa pun yang kau ketahui. Kalau kau dapat
mengatakannya, barulah aku percaya bahwa kau berasal dari
Ngarang. Sehingga kau akan mendapat pelayanan yang lain di sini
nanti.”
Keringat yang dingin mengalir hampir di seluruh tubuh Empu
Seda. Perlahan-lahan ia berkata, “Pranuntaka bertubuh tinggi.
Berambut panjang ikal. Mempunyai beberapa cacat senjata di
tubuhnya. Bermata hitam tetapi pudar. Berwajah jelek dan
dibayangi oleh warna yang pucat.”
“Sebagian benar.” sahut perempuan tua itu, “tetapi Pranuntaka
tidak bermata pudar, wajahnya tidak dibayangi oleh warna yang
pucat. Mata itu benar hitam mengkilat, ditandai oleh sorot
kejantanan yang penuh cita-cita. Wajahnya keras namun tidak
kasar.”
“Tidak. Itu terlalu berlebih-lebihan. Pranuntaka adalah seorang
yang tidak berarti. Tidak berarti bagi dirinya sendiri dan tidak
berarti
bagi dunia. Matinya pun tidak menimbulkan sesal bagi siapa pun.
Tak seorang pun mencari kuburnya untuk menaburkan bunga di
atasnya. Tak seorang pun yang pernah menyebut namanya
kemudian. Bagiku Pranuntaka adalah seorang yang tidak berarti
apa-apa. Kematian adalah jalan yang sebaik-baiknya baginya.”
“Bohong.” tiba-tiba emban itu membantah lantang. Sikapnya pun
tiba-tiba menjadi lain dari sikapnya semula.
Empu Sada terkejut melihat sikap emban tua itu. Bahkan
kemudian ia terdiam sejenak. Dalam keremangan malam tampaklah
wajah perempuan tua itu menjadi tegang.
Dis ana-sini beberapa orang juru petamanan telah memasang
pelita-pelia minyak. Sinarnya manggapai-gapai disentuh angin yang
lembut.
Para prajurit yang melihat pembicaraan kedua orang tua itu
menjadi bingung. Mereka kini tidak sedang membicarakan
kemungkinan untuk menghadap Ken Dede, tetapi justru mereka
berbicara tentang seseorang yang kali ini tidak ada hubungannya
dengan permohonan orang, yang menyebut dirinya Makerti itu.
Meskipun demikian para pradurit itu menjadi semakin curiga.
Mereka melihat orang tua yang menamakan dirinya Makerti itu
seperti seorang yang tiba-tiba diselubungi oleh sebuah kabut
rahasia.
Dalam pada itu terdengar perempuan tua itu berkata, “Kalau
begitu, kau tidak mengenal Pranutaka dengan baik.”
“Nini.” sahut Empu Sada, “aku bahkan menjadi heran. Kenapa
Nini menganggap Pranuntaka sebagai seorang yang baik, yang sorot
matanya ditandai oleh kejantanan yang penuh dengan cita-cita,
wajahnya keras namun tidak kasar. Semuanya itu tidak benar Nini.
Mungkin Nini mengenal orang itu dengan baik, tetapi aku adalah
orang yang tinggal sepedukuhan dengan orang yang menyebut
dirinya Pranuntaka. Bukan hanya sepedukuhan, tetapi aku tinggal
serumah dengan orang yang saat itu masih seorang anak muda
yang cengeng.”
“Bohong, bohong” sahut emban tua itu, “mungkin kau waktu itu
masih juga seorang anak muda. Dan kau tidak dapat berbuat seperti
apa yang dilakukannya sehingga kau menjadi iri hati kepadanya.”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia menjadi heran
melihat sikap emban tua itu. Apakah hubungannya dengan orang
yang disebutnya bernama Praunntaka itu?
“Nah,” berkata emban tua itu, “kalau demikian, maka kau bukan
seorang yang pantas untuk mendapat pelayanan yang baik. Sifat
irimu sejak muda masih saja kau simpan sampai rambutmu hampir
menjadi seputih kapas.”
“Nini,” potong Empu Sada, “tunggulah. Apakah kalau aku ikut
juga memuji anak muda, pada saat itu, yang bernama Pranuntaka
itu aku dapat menghadap Tuan Puteri Ken Dedes?”
Emban itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia
terbungkam. Tetapi kemudian ia menjahut “Kaki, dengan menyebut
namanya, Pranuntaka, aku hanya ingin membuktikan, apakah kau
benar orang dari padukuhan Ngarang.”
“Aku sudah menjawab Nini.” jawab Empu Sada, “Aku
mengenalnya dengan baik. Aku telah menyebut ciri-cirinya dan
Ninipun sependapat. Yang kita tak sependapat adalah sifat-sifat
orang itu. Itu adalah sangat bersifat pribadi. Tetapi bahwa Nini
menganggap Pranuntaka seorang yang amat baik itu telah sangat
menarik perhatianku.”
“Aku tahu benar sifat-sifatnya itu.”
“Nini, mungkin Nini tadak tahu, bagaimana ia mati. Dalam
keputus asaan ia telah membunuh dirinya. Ia lari dari padukuhannya
karena ia kehilangan seorang gadis pada waktu itu. Ia tidak berani
merebut gadis itu dengan tajam pedangnya. Tetapi ia lebih baik lari
dan menghabiskan sisa hidupnya dalam dunia yang gelap. Akhirnya
ia mati dalam keputus asaan.”
“Cukup.” emban itu tiba-tiba memotong. Tetapi kemu dian ia
terbungkam. Terasa sesuatu menyesakkan nafasnya.
Para prajurit yang melihat mereka berdua menjadi semakin
heran. Mereka tidak tahu ujung dan pangkal pembicaraan itu. Yang
mereka ketahui adalah bahwa emban tua itu tidak membenarkan
orang yang menyebut dirinya Makerti itu menghadap langsung
bersamanya. Karena itu maka seorang diantara merekapun segera
menghampiri Empu Sada sambil berkata, “Sudahlah Kaki, duduklah
di dalam gardu. Ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi.
Agaknya kau tidak dapat meyakinkan emban itu, bahwa kau benarbenar
paman Tuan Puteri. Meskipun demikian tidak mustahil bahwa,
baik Tuan Puteri maupun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung ingin
membuktikan melihat wajahmu yang berkerut-merut itu.”
Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar karenanya. Kini ia
menghadapi sebuah teka-teki yang tidak disangka-sangka.
Pranuntaka adalah nama yang baginya telah mati. Dan kini
perempuan tua itu tiba-tiba mengungkat-ungkatnya kembali.
Namun tiba-tiba darahnya serasa berhenti mengalir ketika
perempuan tua itu kemudian berkata Perlahan-lahan, “Kaki, ikutlah
aku.”
Para prajurit yang mendengar kata-kata itu pun menjadi heran.
Baru saja mereka melihat kedua orang tua itu berbantah. Tetapi
tiba-tiba emban pemomong Ken Dedes itu ingin membawanya.
Namun kemudian para prajurit itu mendengar emban tua itu
berkata, “Aku ingin mendapat jawaban-jawaban yang lebih jelas.
Aku tidak ingin persoalan ini membingungkan kalian para prajurit.
Aku akan membawanya kesudut bilik itu. Kalau aku tetap tidak yakin
bahwa ia paman momonganku, maka aku akan memanggil salah
seorang dari kalian, dan kalian pasti akan mendengarnya.”
Para prajurit itu tidak dapat berbuat lain daripada mengiakannya.
Namun di dalam dada mereka tersimpan berbagai pertanyaan yang
bersimpang siur.
Ketika emban tua itu kemudian melangkah pergi, maka orang tua
itu mengikutinya di belakang. Mereka sejenak saling berdiam diri,
namun di dalam hati mereka menggelora berbagai macam perasaan
yang berbenturan. Mereka menjadi heran melihat sikap masingmasing.
Mereka tidak dapat segera mengerti kenapa mereka
masing-masing mempunyai anggapan yang harus mereka
pertahankan tentang orang yang bernama Pranuntaka itu.
Akhirnya merekapun berhenti di sudut bilik ujung istana. Jarak itu
memang tidak terlampau jauh dari para penjaga di sisi regol
halaman dalam itu.
Para prajurit di sisi regol itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak
mereka saling berpandangan. Salah seorang dari mereka itupun
berguman, “Aneh-aneh saja orang-orang tua itu. Apa saja yang
mereka percakapan di ujung istana itu? Kalau saja mereka anakanak
remaja maka aku akan menjadi iri.”
Kawan-kawannya tertawa. Namun salah seorang lagi berkata,
“Tetapi mungkin sebentar lagi kau harus mempergunakan
tombakmu untuk menakut-nakuti laki-laki tua itu supaya tidak
berlari. Agaknya mereka sedang berselisih pendapat tentang
seseorang yang bernama Pranuntaka.”
“Itulah anehnya orang-orang yang sudah hampir pikun.” sahut
yang lain. “Mula-mula emban tua itu hanya ingin tahu, apakah
lakilaki
itu benar-benar berasal dari tempat yang disebutkannya. Tetapi
Akhirnya perdebatan itu bergeser kepada soal yang lain. Soal orang
itu sendiri.”
Keempat prajurit itu tersenyum. Yang seorang, yang membawa
Empu Sada masuk kehalaman dalam itu Akhirnya berkata, “Ah, aku
terlampau lama berada disini. Sebenarnya aku ingin segera kembali
ke tempatku.”
“Kembalilah, apa lagi yang akan kau tunggu disini,”
Orang itu menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian ia menggeleng.
“Tidak. Aku belum akan kembali sekarang. Aku ingin melihat akhir
dari perdebatan orang tua itu.”
Ketiga kawannya tertawa kecil. Kemudian mereka bersama-sama
duduk di depan gardu, kecuali yang seorang, dengan tombak di
tangannya, berdiri saja di sisi regol halaman dalam itu.
Di sudut istana Empu Sada berdiri berhadapan dengan emban
tua yang telah menumbuhkan teka-teki baginya, seperti juga dirinya
ternyata telah membingungkan perempuan tua itu.
Di antara desau angin yang bertiup semakin kencang terdengar
emban tua itu berkata perlahan-lahan sambil mencoba menguasai
perasaannya sejauh mungkin. “Kaki” katanya, “sekarang, cobalah
sebutkan hubunganmu dengan Pranuntaka? Kenapa kau dapat
mengatakan bahwa Pranuntaka telah lari dan menghabiskan
hidupnya dalam keputus-asaan sebelum ia meninggal? Kenapa kau
katakan bahwa ia tidak berani merebut gadisnya dengan tajam
pedangnya?”
“Demikianlah yang terjadi Nini. Bagaimana aku akan mengatakan
kepadamu apabila aku melihat sendiri bahwa demikianlah yang
telah terjadi.”
“Apakah kau tahu, siapakah gadis yang diperebutkan itu?”
“Aku tahu Nini. Tentu aku tahu.”
“Coba sebutkanlah.”
Empu Sada yang menyebut dirinya Makerti itu terdiam.
Dipandanginya wajah perempuan tua itu dengan saksama. Teka-teki
yang mencengkam hatinya menjadi semakin rumit. Apapula
gunanya ia ingin mendengar nama gadis itu?
“Nah, Kaki Makerti cobalah, sebutkanlah nama gadis itu.”
“Nini. Kenapa kita terlampau dalam masuk ke dalam persoalan
orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
kepentinganku kini?”
“Tentu tidak Kaki. Aku ingin tahu benar, apakah kau kau berasal
dari desa Ngarang.”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Orang itu pasti tidak
hanya sekedar ingin tahu, apakah ia benar-benar berasal dari desa
Ngarang.
“Bagaimana Kaki Makerti, apakah kau pernah mendengar
namanya? Kalau kau benar-benar tahu tentang Pranuntaka, maka
kau pasti akan dapat menyebutkan nama gadis itu.”
Akhirnya Empu Sada tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Iapun ingin segera tahu, apakah hubungan perempuan itu dengan
Pranuntaka. Karena itu maka katanya, “Baiklah Nini, kalau kau
berkeras ingin tahu siapakah aku dan hubungan apakah yang
pernah ada antara aku dan Pranuntaka. Kalau ceriteraku ini akan
memberimu kepuasan, maka aku hanya ingin kau membawa aku
menghadap Tuan Puteri Ken Dedes. Aku membawa pesan yang
teramat penting bagi Tuan Puteri dari kekaknya yang bernama
Mahisa Agni yang kini telah kembali ke Padang Karautan itu.”
“Ya sebutkanlah. Kalau kau dapat meyakinkan aku, bahwa kau
benar-benar berasal dari Pedukuhan Ngarang, maka akulah yang
akan membawamu menghadap Tuan Puteri.”
“Nini emban.” berkata Empu Sada, “menurut pendapatku,
Pranuntaka tetap seorang pengecut.”
“Jangan kau sebut lagi.” potong emban tua, “katakan saja apa
yang kau ketahui tentang dirinya.”
“Maaf.” sahut Empu Sada, “menurut pengetahuanku, Pranuntaka
telah melarikan dirinya dari seorang gadis yang dicintainya. Ketika
ia
ingin beristerikan gadis itu, maka ia telah pergi mengembara untuk
mendapatkan bekal di hari-hari yang akan ditempuhnya bersama
gadis yang dicintahinya itu. Tetapi ternyata gadis itu tidak setia.
Ketika Pranuntaka kembali, gadis itu telah kawin dan mempunyai
seorang anak laki-laki. Semula, laki-laki yang bernama Pranuntaka
itu telah menentukan sikapnya. Cintanya akan dibelanya dengan
njawanya. Tetapi ia ingat anak kecil di dalam dukungan perempuan
yang dicintainya itu, yang sudah bukan lagi seorang gadis yang
menunggunya. Karena itu, maka kecengengannya telah
membawanya pergi meninggalkan semua harapan yang telah
disusunnya sepanjang perantauannya.”
“Cukup,” potong emban tua itu. Namun kini suaranya terdengar
bergetar. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Patahpatah
ia bertanya, “Aku ingin mendengar, apakah kau tahu gadis
itu?”
“Kenapa kau Nini?” bertanya Empu Sada.
“Sebutkanlah namanya.” sahut emban tua itu, “kalau kau benarbenar
mengetahuinya. Kalau ceriteramu itu bukan sekedar ceritera
yang kau dengar di sepanjang jalan atau ceritera lama yang
berloncatan dari mulut ke mulut.”
Empu Sada tertegun sejenak. Ia melihat perubahan pada sikap
dan kata-kata perempuan itu maka kini dadanya sendiri pun
berguncang seperti ujung pepohonan yang ditiup angin malam yang
menjadi semakin kencang.
Justru mereka kini untuk sejenak saling berdiam diri. Empu Sada
tidak segera menjawab pertanyaan emban tua itu. Perlahan-lahan ia
berusaha menenangkan hatinya yang menjadi tegang.
“Aneh perempuan ini.” katanya di dalam hati, “pembicaraan ini
telah terlampau jauh menyimpang dari maksud kedatanganku.
Namun sikap perempuan yang aneh ini agaknya sangat menarik.”
“Bagaimana Kaki?” terdengar suara perempuan itu semakin
serak, “Apakah kau juga dapat menyebut nama gadis yang kau
katakan itu?”
“Sudahlah Nini.” sahut Empu Sada, “seandainya aku hanya
mendengar dari ceritera yang berloncatan dari mulut kemulut,
seandainya ini aku dengar di sepanjang jalan, maka apakah Nini
dapat membedakannya dengan apabila ceritera ini benar-benar aku
lihat dengan mata kepala sendiri, hanya dengan sekedar menyebut
nama gadis itu?”
“Tentu.” berkata perempuan tua itu, “kau mengatakan bahwa
kau adalah orang yang paling tahu tentang dia. Tentang
Pranuntaka.”
“Baiklah Nini,” Empu Sada benar-benar tidak mempunyai pilihan
lain. “Sebenarnya aku tidak lagi ingin menyebut nama-nama mereka
baik Pranuntaka maupun gadis itu. Mereka telah mati dan tidak lagi
mempunyai sangkut paut apapun dengan aku dan kau.”
“Sebutkan, sebutkan kalau kau tahu,” potong perem puan itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan namun
penuh dengan tekanan ia berkata, “Menurut pendengaranku Nini,
gadis yang telah menghalau Pranuntaka dari dunia harapannya
adalah seorang gadis yang bernama Jun Rumanti.”
“Cukup, cukup,” tiba-tiba perempuan tua itu memotong kata-kata
orang yang meyebut dirinya Makerti, sehingga laki-laki tua itu
terkejut karenanya.
Kini ia berdiri tegak seperti patung ketika ia melihat perempuan
tua itu menundukkan kepalanya. Sekali-sekali diusapnya matanya
dengan ujung kembennya. Tetapi perempuan tua itu tidak
menangis. Ketika ia mengangkat wajahnya tampaklah wajah itu
menjadi terlampau suram. Cahaya pelita yang kermerah-merahan di
kejauhan tidak banyak menerangi wajah yang sudah berkerut-merut
itu.
“Kau benar-benar mengetahuinya, bahwa Pranuntaka telah
pernah mengenal seorang gadis yang bernama Jun Rumanti?”
Terasa sesuatu berdesakan di dalam dada Empu Sada. Meskipun
perempuan tua itu tidak menangis, tetapi ia melibat sesuatu yang
melengking dari dalam hatinya. Umur Empu Sada yang lanjut itu
ternyata telah mempertajam perasaannya pula, sehingga tiba-tiba ia
mempunyai suatu tanggapan yang lain atas emban tua itu.
“Ya Nini.” sahut Empu Sada dalam nada yang dalam, “agaknya
nama itu lelah mengejutkanmu. Apakah kau mengenal nama itu
pula, Jun Rumanti?”
Perempuan tua itu menggeleng, “Tidak Kaki. Aku tidak mengenal
nama Rumanti.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Kini bukan saja ia
merasakan jerit yang melonjak dari dalam hati perempuan tua itu,
tetapi seakan-akan ia kini dapat mendengarnya. Perlahan-lahan ia
bertanya, “Kalau kau tidak mengenal nama Rumanti itu Nini, kenapa
kau berkeras hati supaya aku menyebutkannya?”
Perempuan tua itu terdiam. Ia tidak tahu bagaimana ia harus
menjawab pertanyaan itu. Sehingga dengan demikian, maka Empu
Sada menjadi semakin merasakan hubungan yang lebih rapat antara
perempuan tua itu dengan gadis yang dahulu bernama Jun
Rumanti.
Tanpa disengajanya maka tiba-tiba Empu Sada itu berkata, “Nini,
kalau gadis itu masih ada, maka ia kini pasti sudah tua pula.
Mungkin gadis itu sudah setua Nini.”
Perempuan tua itu terkejut bukan buatan, sehingga ia terhenyak
dan bergeser setapak surut. Ditatapnya wajah orang yang menyebut
dirinya Makerti itu sejenak, namun sejenak kemudian ia berkata,
“Mungkin, mungkin Kaki.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari mulutnja
kembali terlontar kata-kata, “Tetapi nama itu telah lenyap sejak
puluhan tahun yang lampau. Sesaat sejak Pranuntaka hilang dari
Ngarang. maka Jun Rumanti itu pun hilang pula.”
Kembali perempuan tua itu menundukkan wajahnya. Terasa
nafasnya menjadi sesak. Betapapun ia bertahan, namun Akhirnya
setitik air meleleh di pipinya yang sudah menjadi berkerut-merut
oleh garis-garis umurnya.
Sejenak mereka saling membisu. Namun di dalam dada Empu
Sada terjadi suatu pergolakan yang gemuruh. Ia melibat perempuan
tua itu menjadi semakin sedih. Dan tiba-tiba ia berkata, “Nini,
apakah kau saudara perempuan Jun Rumanti?”
Perempuan itu menggeleng.
“Apakah kau sahabatnya?”
Perempuan itu menggeleng lagi.
“Tetapi ceritera itu telah menggali kepedihan dihatimu. Sudah
aku katakan, sebaiknya kita tidak usah membicarakan orang-orang
lain di luar kepentingan kita sekarang. Namun kau selalu
mendesaknya. Agaknya kau ingin mengenang sesuatu lewat ceritera
itu. ceritera kanak-kanak yang telah terlampau lambat untuk kita
dengarkan. Tetapi Nini, aku menjadi bercuriga melihat sikapmu.
Nah, sebutkanlah, siapakah kau sebenarnya?”
Perempuan itu kembali terperanjat mendengar pertanyaan Empu
Sada. Sejenak ia terbungkam. Namun kemudian ia menggeleng,
“Aku adalah emban Tuan Puteri Ken Dedes.”
“Tetapi kenapa kau berkeras hati memaksaku berceritera tentang
pengecut itu. Tentang Pranuntaka yang lari dalam keputus asaan
dan tentang gadis yang telah menghianatinya.”
“Tidak. Gadis itu tidak menghianatinya. Ia terdorong oleh suatu
keadaan yang tidak dapat dihindarinya lagi. Pranuntaka telah
meninggalkannya tanpa kabar berita untuk waktu yang tidak
menentu.”
Sekali lagi Empu Sada terkejut mendengar jawaban perempuan
tua itu. Bahkan sejenak ia tidak mengucapkan kata-kata. Namun kini
ia hampir-hampir dapat menebak siapakah perempuan itu. Justru
dengan demikian maka hatinya sendiri menjadi bingung. Terasa
darahnya seolah-olah hampir berhenti mengalir. Wajahnya terasa
menjadi panas, namun keringat dinginnya seakan-akan diperas
apuh dari dalam tubuhnya.
Dalam pada itu terdengar emban tua itu berkata, “Kaki Makerti.
Kalau kau benar-benar orang yang paling dekat dengan Pranuntaka,
maka kau seharusnya mengetahui, bahwa gadis itu sama sekali
tidak ingin menghianatinya. Kau harus tahu, dan Pranuntaka pun
harus tahu pula seandainya ia masih hidup. Bagi seorang laki-laki,
maka waktu tidak begitu banyak berpengaruh pada dirinya. Tetapi
bagi seorang gadis keadaannya jauh berbeda Kaki. Kaki Makerti,
apakah Kaki mempunjai anak seorang gadis?”
Mpu Sada yang menyebut dirinya Makerti itu menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi Perlahan-lahan ia menggeleng lemah. “Tidak
Nini.”
“Oh, kalau kau punyai gadis itu Kaki.” desak perempuan tua itu,
“maka kau akan merasakan, betapa seorang gadis tidak dapat
membiarkan waktu lewat tanpa menggoreskan luka di dadanya
semakin banyak hari-hari yang dilewatinya untuk menunggu, maka
kegelisahan dihatinya menjadi semakin menyala.”
“Ya, ya aku tahu Nini.” potong Empu Sada, “tetapi tidak demikian
dengan gadis yang bernama Rumanti itu. Mereka sebelumnya telah
berjanji, dan Rumanti tahu, bahwa Pranuntaka sedang pergi
merantau untuk mempersiapkan hari-hari yang bakal mereka jelang.
Tetapi ketika Pranuntaka kembali, maka gadis itu telah membawa
seorang anak laki-laki di dalam dukungannya.”
“Cukup. Cukup.” tetapi suara perempuan itu seakan-akan
tersumbat dikerongkongan.
“Kalau kau keluarga dari perempuan itu Nini, maka dengarlah
keluhan hati Pranuntaka yang meratapi kegagalannya. Laki-laki
cengeng itu menganggap bahwa hidupnya sudah tidak akan berarti
lagi.”
“Tetapi perempuan itu pun telah menyiksa dirinya sendiri Kaki. Ia
menyesal karena iapun Akhirnya kehilangan segala-galanya.”
“Bohong.” sahut Empu Sada, “itu hanya sebuah dongeng
ngayawara. Ternyata kaulah yang hanya mendengar dongeng di
sepanjang jalan tentang Pranuntaka dan Jun Rumanti itu. Ternyata
kaulah yang hanja mendengar ceritera itu berdesah dari mulut
kemulut. Kau tidak melihat dari dekat, dan kau tidak turut serta
merasakan betapa kepahitan dari peristiwa itu membekas sampai
akhir hajatnya.”
“Kau yang bohong.” bantah perempuan itu. Namun kini mulai
terdengar isak tangisnya, “perempuan itu pun telah menerima
hukumannya.”
“Kembali kau mengarang ceritera itu. Mungkin kau kenal
keduanya, tetapi kau tidak mengenal perasaan mereka.”
“Tentu, tentu Kaki Makerti, aku tentu mengenal perasaan mereka
seperti aku mengenal perasaan sendiri. Aku mengenal perasaan
gadis itu melampaui setiap orang yang pernah mengenalnya.”
“Nini emban.” tiba-tiba suara Empu Sada menjadi datar dan
berat.
Serasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Namun laki-laki
itu memaksa mengucapkan kata-kata, “Nini, kenapa kau mengenal
perasaan gadis itu melampaui setiap orang? Nah, katakan kepadaku
Nini, apakah kau yang bernama Jun Rumanti?”
Emban tua itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Sekali lagi ia
bergeser setapak menjauhi laki-laki yang berdiri di hadapannya.
Dengan tajamnja ia memandangi wajah laki-laki tua itu, namun
kemudian wajahnya tertunduk. Dengan ujung kembennya ia
menyeka matanya. Dan tiba-tiba mata itu kini menjadi kering. Ketika
perempuan itu mengangkat kepalanya, maka ia berkata, “Tak ada
gunanya air mata buatku. Buat orang tua-tua.” kemudian dengan
tegas ia berkata, “Ya, aku lah Jun Rumanti itu.”
Jawaban itu telah diduga oleh Empu Sada yang menyebut dirinya
Makerti. Namun meskipun demikian terasa juga dadanya berdesir,
dan karenanya maka sejenak ia pun terdiam.
“Kaki Makerti, kini kau telah berhadapan dengan perempuan itu.
Jun Rumanti. Nah, bertanyalah kepadanya, kenapa ia tidak setia
menunggu Pranuntaka yang pergi tanpa sebuah pertanggungan
jawab pun menghadapi gadis dan waktu.”
Epu Sada tidak segera menjawab. Namun setelah ia mencoba
menenangkan dirinya ia berkata, “Maaf aku Nini.”
“Apa yang harus dimaafkan? Aku tidak menjesali kata-katamu.
Mungkin kau hanya mendengarnya dari Pranuntaka. Itu adalah
haknya untuk menyatakan perasaannya. Dan ketahuilah Kaki,
bahwa anak Jun Rumanti itu kini telah menjadi seorang anak lakilaki
yang cukup memberinya kebanggaan.”
“Dimana ayahnya sekarang?”
“Huh, apakah kau berpura-pura.”
“Aku belum mengenalnya.”
“Ayahnya telah mati seperti Pranuntaka pun telah mati. Laki-laki
itu lari tanpa meninggalkan pesan apapun.”
“Pendengaranku tentang laki-laki suamimu itu ternyata benar.”
“He, kau telah mengetahuinya pula?” bertanya emban tua itu,
yang ternyata bernama Jun Rumanti dimasa gadisnya, “kenapa kau
mempunyai perhatian yang sedemikian besar atas Jun Rumanti itu
dan suaminya pula?”
“Tidak apa-apa. Aku mengetahuinya seperti aku mengetahui
banyak tentang Pranuntaka.”
Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam.
“Dimana anakmu sekarang Nini?” bertanya Empu Sada.
“Anakku telah kau kenal. Kau telah mengakui menjadi paman
Ken Dedes dan membawa pesan dari laki-laki itu.”
“He? Kau maksud bahwa anakmu bernama Mahisa Agni?” wajah
Empu Sada tiba-tiba menjadi semakin tegang sehingga jalur-jalur
nadinya seakan-akan ingin mencuat keluar dari wajah kulitnya yang
berwarna tembaga.
Emban tua itupun terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada
dalam nada yang tinggi. Kini emban itulah yang melihat Empu Sada
tiba-tiba menjadi sangat gelisah. Sekali lagi ia menegaskan. “Nini,
apakah anak muda yang bernama Mahisa Agni itu anakmu?”
Emban tua yang bernama Jun Rumanti di masa gadisnya itu
menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Kaki. Mahisa
Agni itu adalah anakku.”
“Oh.” tiba-tiba Empu Sada itu menundukkan wajahnya. Terasa
dadanya seakan-akan terhimpit batu yang terlontar dari lereng
Gunung Kawi.
Dalam pada itu, emban tua itupun tertegun. Ia belum pernah
mengatakan kepada siapapun, bahwa Mahisa Agni itu adalah
anaknya. Namun tiba-tiba, kepada orang yang baru saja dikenalnya
itu ia berterus terang, bahwa Mahisa Agni adalah anaknya.
Tetapi tanggapan laki-laki tua itupun sangat menarik
perhatiannya. Didengarnya orang yang menyebut dirinya Makerti itu
berdesah beberapa kali.
“Kenapa Kaki.” bertanya emban tua itu, “kenapa kalau Mahisa
Agni itu anakku?”
“Tidak apa-apa Rumanti.”
“Jangan panggil aku dengan nama itu. Panggil aku kini sebagai
seorang emban Tuan Puteri Ken Dedes.”
“Ya Nini emban.”
“Tetapi kenapa dengan Mahisa Agni?”
“Aku tidak menyangka, bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”
“Tak seorangpun tahu, bahwa Mahisa Agni itu anakku. Mungkin
pamannya, Empu Gandring telah mendengar dari Agni, bahwa aku
disini. Tetapi orang lain tidak. Ken Dedes, momonganku itupun tidak
tahu, bahwa kakak angkatnya, Mahisa Agni adalah anakku, anak
pemomongnya.”
“Itukah akibat dari penyesalanmu atas peristiwa yang pernah
terjadi dalam hidupmu itu!”
“Ya, salah satu bentuk daripadanya.”
“Kau membuang dirimu?
“Ya.”
“Tetapi apakah Mahisa Agni tahu bahwa kau adalah ibunya?”
“Ya.”
Sekali lagi terdengar Empu Sada berdesah. Bahkan beberapa kali
tangannya mengusap peluhnya yang menitik dari dahinya. Dalam
kesuraman cahaya pelita di kejauhan, maka wajah yang tegang itu
tampaknya menjadi bertambah tegang.
“Aku tidak menyangka.” desis Empu Sada.
“Sekarang kau tahu, dan apakah yang akan kau lakukan atas
anak itu? Anak itu adalah anakku. Anak Jun Rumanti yang telah
melukai, bahkan menurut katamu menghianati orang yang bernama
Pranuntaka itu, yang mungkin adalah sahabatmu atau saudaramu
atau apa saja. Ternyata kau benar-benar mengetahui keadaannya
hampir sempurna.”
Ternyata Empu Sada menjadi semakin gelisah mendengar katakata
Jun Rumanti, emban pemomong Ken Dedes itu, sehingga ia
tidak lagi berhasil menyembunyikan perasaannya. Kata-kata emban
tua yang tidak disadari oleh perempuan itu sendiri seakan-akan
telah menunjuk wajahnya, bahwa ia pernah berbuat sesuatu atas
Mahisa Agni, bahkan pernah berusaha untuk membunuhnya.
Empu Sada itu memalingkan wajahnya ketika emban itu berkata,
“Bagaimana Kaki. Apakah sekarang yang akan kau katakan? Apakah
kau benar-benar mendapat pesan dari Mahisa Agni untuk
kemanakanmu Ken Dedes?”
“Maafkan Rumanti, aku tidak tahu bahwa Mahisa Agni adalah
anakmu.”
“Jangan panggil aku dengan nama itu. Rumanti telah tidak ada
lagi. Yang ada adalah emban tua pemomong Tuan Puteri Ken Dedes
ini.” emban itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya. “Tetapi
kenapa dengan Mahisa Agni setelah kau tahu bahwa Mahisa Agni
adalah anakku.”
Gelora di dalam dada Empu Sada menjadi semakin gemuruh.
Terbayang di dalam angan-angannya, betapa ia mengejar-ngejar
anak itu bersama muridnya Kuda Sempana.
Namun tiba-tiba Empu Sada itu bergumam, “Tetapi Nini, kali ini
maksud kedatanganku adalah baik. Aku justru ingin menyelamatkan
anak muda itu.”
“Kaki Makerti.” potong emban tua itu, “kenapa kali ini? Apakah di
kali lain kau mempunyai maksud yang lain pula?”
Empu tua yang menyebut dirinya Makerti itu kini benar-benar
tidak lagi dapat menahan arus perasaannya yang seakan-akan ingin
memecahkan dadanya. Tiba-tiba ia tertunduk lemah sambil
berdesis, “Aku tidak tahu Nini. Aku tidak tahu kalau anak muda itu
anakmu?”
“Kenapa kalau anakku? Kau tidak mempunyai sangkut paut
dengan aku. Kau tidak mempunyai sangkut-paut dengan Mahisa
Agni. Tetapi apakah yang pernah kau lakukan terhadap anak itu?”
Empu Sada terdiam sejenak. Sekali ia memandang halaman yang
luas itu. Satu dua berkeredipan lampu-lampu minyak yang
melemparkan sorotnya bertebaran. Tetapi sorot lampu itu tidak
mampu menerangi wajah Empu tua yang sedang gelap.
Ketika dikejauhan terdengar bunyi kentongan dara muluk, maka
hati orang tua itu pun seakan-akan meledak karenanya. Perlahanlahan
ia berdesah seperti kepada diri sendiri. “Anak itu anak baik.
Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terjadi.” Empu Sada
berhenti sejenak. Kini ia memandangi wajah emban tua itu dengan
saksama. Tampaklah bibir laki-laki tua itu bergerak-gerak. Namun
baru kemudian ia berhasil mengucapkan kata-kata, “Maafkan aku
Rumanti. Bukan maksudku menyakiti hatimu. Aku tidak tahu apakah
yang sedang aku hadapi dan aku tidak menyadari apa yang aku
lakukan. Rumanti. Kalau kau masih juga dapat mempercayai
katakataku,
akulah laki-laki pengecut itu. Akulah orang yang bernama
Pranuntaka dan aku adalah orang yang tidak tahu diri.”
Alangkah mengejutkan pengakuan itu, sehingga sejenak emban
tua itu terpaku diam. Namun gemuruh di dalam dadanya bergelora
melampaui gelora kawah gunung berapi. Sorot matanya
menghunjam seolah-olah hendak menembus jantung orang yang
menyebut dirinya Makerti. Tetapi sejenak mulutnya bagaikan
terkunci.
Empu Sada kini menundukkan wajahnya. Pengakuan itu
meluncur bagaikan lepasnja seekor burung yang selama ini
disimpannya rapat-rapat di dalam sangkar. Tak seorang pun yang
dapat mengetahuinya seperti tak seorang pun yang mengenal
perempuan itu bernama Jun Rumanti.
“Tetapi.” terdengar kemudian suara perempuan tua itu
tersendatsendat,
“tetapi bukankah Pranuntaka itu telah mati?”
“Ya. Kau benar. Pranuntaka memang telah mati, seperti Jun
Rumanti yang demikian saja hilang dari lingkungannya. Pranuntaka
telah mati. Yang ada kemudian adalah orang lain. Orang yang
hidupnya tidak ada sangkutpautnya dengan orang yang bernama
Pranuntaka itu. Hidup Pranuntaka telah diakhiri. Dan lahirlah orang
baru, Empu Sada.”
“He?” emban tua itu hampir-hampir berteriak mendengar
pengakuan laki-laki itu lebih lanjut. “Kaukah orang yang bernama
Empu Sada itu pula?”
Kini Empu Sada sendiri terkejut bukan buatan. Pengakuan itu
meluncur tanpa disadarinya. Ternyata ia telah terdorong menyebut
dirinya Empu Sada. Karena itu maka jantung laki-laki itu berdegup
semakin keras. Dengan nanar dipandanginya perempuan tua yang
tiba-tiba menjadi sangat tegang. Tetapi ucapan itu sudah terlanjur
meloncat dari bibirnya.
Perempuan tua, emban pemomong Ken Dedes itu berdiri seperti
sebuah patung. Tetapi patung itu telah membuat Empu Sada
gemetar. Lebih baik baginya berhadapan dengan seorang yang
bernama Kebo Sindet atau Wong Sarimpat, atau Panji Bojong Santi
bahkan Empu Purwa sekalipun, daripada perempuan tua itu.
Perempuan yang pernah bernama Jun Rumanti.
Dada Empu Sada terasa menjadi retak ketika ia mendengar
perempuan tua itu berdesis penuh tekanan “Jadi kaukah laki-laki
itu.
Kaukah laki-laki yang bernama Pranuntaka, yang pernah kehilangan
perhitungan tentang gadis dalam hubungannya dengan waktu, dan
kaukah pula yang kini bernama Empu Sada, yang pernah berusaha
membinasakan anakku Mahisa Agni dan hampir-hampir pula
mencelakakan momonganku, Ken Dedes.”
Tubuh Empu Sada menjadi semakin gemetar. Sejenak timbullah
hasratnya untuk lari. Ia harus meninggalkan halaman itu sebelum
para prajurit itu mengenalnya, bahwa ialah orang yang bernama
Empu Sada. Ia harus meloncat pagar dan lenjap di balik dinding
halaman. Tetapi tiba-tiba hatinya serasa lumpuh. Perempuan tua itu
adalah Jun Rumanti. Dalam usianya yang telah lanjut itu, tanpa
disadarinya telah terungkat kembali kenangan masa-masa
lampaunya. Masa-masa puluhan tahun yang lampau.
Empu Sada, seorang laki-laki yang mampu menghadapi setiap
bahaya yang mengancam dirinya, bahkan telah berhasil melepaskan
diri dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu,
kini berdiri sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dihadapan
seorang emban tua. Betapa kekuatan tangannya serta aji yang
tersimpan di dalam dirinya, namun Empu Sada tidak akan mampu
melawan perasaannya. Terdengar di dalam dadanya suatu keluhan.
“Kembali aku menjadi seorang laki-laki cengeng.”
Mpu Sada itu menjadi semakin berdebar-debar ketika kemudian
perempuan yang berdiri di depannya itu berkata seperti air yang
membanjir. “O, jadi kaukah yang bernama Empu Sada itu. Kini aku
tahu. Kau ingin melepaskan sakit hatimu atas anak dan
momonganku. Oh alangkah cupet budimu. Aku sangka kau dahulu
dengan jujur berkata, “Kembalilah kepada suamimu dan kepada
anakmu. Mereka lebih memerlukan kau dari pada aku.”Tetapi
ternyata kau menyimpan dendam di dalam hatimu. Apakah artinya
kematian Pranuntaka dan lahirnya seorang yang bernama Empu
Sada? Apakah arti kata-katamu bahwa tak ada hubungan antara
orang yang bernama Pranuntaka dan Empu Sada itu? Teryata kau
adalah pembohong yang paling besar yang pernah aku temui. Empu
Sada adalah nama yang kau pergunakan untuk menyembunyikan
dirimu. Dengan demikian kau akan menjadi lebih mudah untuk
berbuat sesuatu. Melepaskan dendammu yang puluhan tahun
mengeram di dalam dadamu. Kini kau memakai nama lain pula.
Makerti, supaya kau dapat melepaskan sebagian dari dendammu.”
Empu Sada menekan dadanya dengan telapak tangannya.
Ditahankannya perasaannya sekuat tenaganya. Dibiarkannya
perempuan tua itu berkata sepuas-puasnya. Baru ketika emban itu
berhenti Empu Sada berkata, “Rumanti, ternyata kau salah sangka.”
“Apa yang salah?” bantah emban tua itu, “bukankah yang terjadi
memang demikian? Untunglah bahwa kau belum dibawa langsung
menghadap Tuan Puteri. Apabila demikian, maka istana ini akan
mendapat bencana. Memang adalah suatu kemungkinan bahwa seisi
istana ini tidak akan mampu menangkapmu, apabila Tuanku
Tunggul Ametung sendiri terlambat mendengar. Adalah tidak
terlampau sukar bagimu untuk menembus penjagaan para prajurit
yang terkantuk-kantuk itu.”
“Rumanti.” sahut Empu Sada dengan nada yang datar.
Ditahankannya hatinya. Dengan sareh ia berkata, “Aku dapat
mengerti perasaanmu itu. Tetapi ketahuilah bahwa sama sekali tidak
tahu bahwa kau berada di sini. Bahwa Mahisa Agni adalah anakmu
dan Tuan Puteri adalah momonganmu.”
“Apakah aku harus mempercayainya? Kau yang bernama
Pranuntaka dan kemudian menyebut dirimu Empu Sada, apakah
mungkin bahwa kau tidak mengerti bahwa akulah Jun Rumanti yang
beranakkan Mahisa Agni? Pranuntaka, ternyata bencana yang
mengancam anakku itu tidak sekedar datang dari Kuda Sempana
yang aku dengar adalah murid Empu Sada, tetapi justru datang
darimu sendiri.”
Empu Sada masih mencoba menahan diri sekuat-kuatnya.
Dengan dada yang bergetar ia mencoba mendengarkan luapan
perasaan perempuan tua itu. Ia sendiri berusaha untuk tidak
terseret kedalam arus perasaan seperti emban pemomong Ken
Dedes itu.
Ketika perempuan yang dahulu bernama Jun Rumanti itu
berhenti sesaat, maka berkatalah Empu Sada. “Rumanti.”
“Jangan sebut nama itu.” potong perempuan tua itu.
“Baiklah.” Empu Sada mencoba memperbaiki kata-katanya, “Nini,
betapa jahatnya Empu Sada, namun kali ini aku masih ingin
mendapat kepercayaanmu. Mungkin kalau aku berusaha Nini,
barangkali aku memang akan dapat menemukanmu dan
mengetahui bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”
“Bohong. Aku adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai
kecakapan apapun. Aku bukan seorang yang sakti yang memiliki aji
di dalam diriku. Aku bukan seorang perantau yang mengembara dari
satu tempat kelain tempat. Namun aku berhasil menemukan anakku
sepeninggal suamiku.”
“Sebenarnyalah demikian Nini.” sahut Empu Sada, “sekali lagi aku
katakan, bahwa aku memang tidak berusaha demikian. Aku tidak
mencari seorang gadis yang bernama Jun Rumanti. Aku tidak
mencari suaminya atau anaknya. Tidak. Justru aku selalu mencoba
menjauhinya seperti aku mencoba menjauhi semua kenangkenangan
yang pernah terjadi. Itulah bedanya. Kau mencari dan
aku justru menghindari.”
Emban itu terdiam sejenak. Kesabaran Empu Sada ternyata
mempengaruhi tanggapannya atas peristiwa yang sedang
dihadapnya, la kemudian dapat mengerti keterangan Empu Sada itu,
bahwa Empu Sada yang dahulu bernama Pranuntaka, tidak
mengetahui siapakah Mahisa Agni.
Keduanja sejenak terdiam. Masing-masing mencoba
mencernakan, apakah yang sedang mereka hadapi. Sedang angin
malam berdesau semakin kencang. Dan nyala-nyala pelita merontaronta
karena sentuhan angin itu.
Emban tua itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak
menangis. Sedang Empu Sada berdiri tegak seperti tonggak mati.
Keduanya masih belum mengucapkan kata-kata. Tetapi dada
mereka masih saja bergelora. Di kejauban para prajurit sudah mulai
dihinggapi oleh kecurigaan. Apakah laki-laki tua itu masih juga
memaksakan keinginannya untuk menghadap Ken Dedes?
Pembicaraan mereka telah berlangsung terlampau lama. Tetapi
agaknya mereka masih belum menemukan kesepakatan.
“Apakah laki-laki tua itu gila?” tiba-tiba terdengar salah seorang
dari mereka berdesis.
Kawannya yang lain menggeliat sambil menguap, “Persetan.
Kalau perempuan tua itu memanggil, barulah aku akan datang. Huh.
Masih berapa lama lagi kita mendapat ganti. Aku sudah mulai
lapar.”
Prajurit yang telah membawa Empu Sada masuk menyahut.
“Ternyata aku Akhirnya tidak dapat menunggu lagi. Kalau mereka
masih juga bertengkar terlampau lama, maka aku harus kembali
ketempatku.”
“Tunggullah sebentar. Kau yang membawanya kemari. Mungkin
kau harus membawanya keluar pula sebentar lagi.”
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah.
Aku lebih senang duduk di sini daripada datang giliranku untuk
berdiri hilir mudik di samping regol.”
Kawannya yang bertugas di regol mendengar pula percakapan
mereka. Sekilas ia memandangi prajurit yang sebenarnya harus
bertugas di regol luar. Tetapi kemudian ia tidak menghiraukannya
lagi.
Sementara itu, Empu Sada masih juga berdiam diri. Di tatapnya
wajah perempuan tua yang berdiri dihadapan sambil menunduk.
“Nini.” berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau telah benarbenar
kehilangan segenap kepercayaanmu kepadaku.”
“Bagaimana mungkin aku dapat mempercayaimu Empu.”
Mpu Sada menarik nafas dalam. Tetapi harapannya kini telah
tumbuh kembali. Perempuan tua itu kini telah tidak terlampau keras
lagi.
“Nini.” berkata Empu Sada lebih lanjut, “aku ingin menghadap
Tuan Puteri.”
Emban itu mengangkat wajahnya. Sambil mengerutkan
keningnya ia beakata, “Kau hampir-hampir mencelakakannya. Kini
apakah kau masih juga berhasrat untuk menculiknya?”
“Ada sebuah ceritera yang panjang Nini.” berkata Empu Sada,
“tetapi akhir daripada ceritera itu telah menuntun aku kemari
dengan maksud yang baik. Mungkin aku seorang yang sejahatjahatnya,
sehingga aku tidak akan mendapat jalan kembali tanpa
menjadi putus asa lebih dahulu. Aku kini mengalami keputus asaan
itu. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku ingin mematikan Empu
Sada itu pula seperti aku ingin mematikan Pranuntaka dahulu. Aku
ingin hidup dalam bentuk yang lain lagi. Keadaan telah
membenturkan kesadaranku, bahwa jalan yang selama ini aku
tempuh bukanlah jalan yang sebaik-baiknya.”
“Apa lagi yang telah terjadi pada dirimu. Ternyata hidupmu
dipenuhi oleh keputus asaan. Seperti orang yang berjalan di dalam
kegelapan, kau meraba-raba tanpa tujuan. Kalau ternyata jalan itu
salah, dan kau telah terperosok dalam keputus-asaan, maka kau
mencoba mencari jalan yang lain. Tetapi kau tidak mempunyai
suatu garis lurus yang harus kau perjuangkan.”
“Kau benar Nini. Kau benar. Aku hidup seperti kapuk yang
diterbangkan angin. Kemana angin bertiup, ke arah itulah aku
terbang. Namun kini, meskipun mungkin aku akan hanyut lagi tanpa
aku ketahui, tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Tuan
Puteri. Dan tentu saja kepadamu, setelah aku tahu bahwa Mahisa
Agni adalah anakmu.”
Emban pemomong Ken Dedes itu kini mengerutkan keningnya.
Ditatapnya wajah orang yang menyebut dirinya Makerti itu. Wajah
itu sama sekali tidak dapat dikenalnya sebagai wajah seorang yang
pernah bernama Pranuntaka. Puluhan tahun yang lampau. sejak
Mahisa Agni masih di dalam dukungan ia bertemu untuk yang
terakhir kalinya. Karena itu, maka wajah laki-laki tua itu telah
berubah sama sekali. Pengalaman yang pahit, yang pedih dan
segala macam pengalaman yang lain telah mencetak muka laki-laki
itu menjadi wajah Empu Sada yang hidup di dalam dunia yang
asing.
Tetapi wajah perempuan itupun telah berubah pula. Tak ada lagi
sisa-sisa kecantikan wajah seorang gadis yang bernama Jun
Rumanti. Tak ada lagi senyum yang cerah dan suara tawa yang
renyah. Namun sorot mata itu masih setajam sorot mata Jun
Rumanti.
“Kaki Makerti.” berkata emban itu, “apakah sebenarnya yang
akan kau sampaikan kepada Tuan Puteri?.”
Empu Sada ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus mengatakan
setidak-tidaknya sebagian dari seluruh keterangannya. Apabila tidak
demikian, maka ia pasti tidak akan mendapat kepercayaan dari
perempuan tua itu. Apalagi setelah diketahuinya bahwa Mahisa Agni
adalah anaknya.
“Rumanti.” desis Empu Sada.
“Sekali lagi, jangan sebut nama itu.” potong perempuan itu.
“O, maafkan aku Nini.” Empu Sada menelan ludahnya, lalu ia
meneruskan, “ada yang akan aku sampaikan kepada Tuan Puteri
justru dalam hubungannya dengan anakmu itu.”
“Ya katakanlah.”
“Anakmu kini berada dalam bahaya Nini.”
“Sudah lama ia berada dalam bahaya, sejak ia mengurungkan
niat Kuda Sempana, muridmu, untuk mengambil Ken Dedes menjadi
isteri dengan caranya yang kasar.”
“Ya, ya. Kau benar. Tetapi kini bahaya itu menjadi semakin
besar.”
“Kaukah yang mengatakan itu? Kau salah seorang yang
membahayakan baginya.”
“Sudah aku katakan. Aku kembali terbentur pada suatu keadaan
yang memaksaku menjadi sekali lagi berputus-asa. Bukan karena
sisa-sisa kebaikan hatiku sehingga aku menyadari kejahatan serta
kekeliruanku di masa-masa yang lampau, tetapi aku kini sedang
berputus asa. Empu Sada bukan seorang yang pantas mendapat
tempat dimana pun. Ia adalah seorang yang tidak akan berguna
bagi siapa pun, seperti Pranuntaka tidak akan berguna bagi siapa
pun juga. Tetapi Nini, kali ini, aku mengharap kau mendengarkan
kata-kataku, selagi aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku kerjakan.
Aku sendiri tidak yakin, apakah sikap ini akan berlaku seterusnya.
Aku ragu-ragu terhadap diriku sendiri. Dan orang seperti aku, yang
sudah kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri, adalah orang
yang paling tidak berguna.”
Emban tua itu mengernyitkan alisnya. Terasa kejujuran
memancar dari setiap kata Empu Sada. Apalagi ketika Empu Sada
itu berkata, “Nini, berilah aku kesempatan. Selain tentang Mahisa
Agni, aku ingin mohon maaf kepada Tuan Puteri atas segala
kelakuanku di masa-masa yang lewat. Aku tidak tahu, apakah aku
tidak akan kambuh kembali. Tetapi sekarang, percayalah, bahwa
hatiku sedang gelap, sehingga tidak ada jalan lain daripada
menyerahkan diri dalam keputus asaan. Nini jangan menunggu aku
menjadi gila. Ketika aku masuk ke dalam halaman ini, memang
terbersit kehendak yang gila itu. Kenapa tidak saja lebih baik
bagiku
mengambil Ken Dedes untuk kepentingan yang bermacam-macam.
Untunglah, bahwa aku sedang berada dalam ketakutan. Aku tidak
berani menghadapi lawan-lawanku yang kini mengelilingi aku. Empu
Purwa, ayah gadis itu, Empu Gandring yang selalu berada di dekat
Mahisa Agni, Panji Bojong Santi yang pernah mengurungkan niatku
menculik Tuan Puteri di jalan ke Panawijen dan yang paling gila
adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Keduanya itulah yang
paling berbahaya bagiku dan bagi Mahisa Agni. Muridku, Kuda
Sempana kini ada pada mereka. Adalah suatu bahaya yang tak
terkirakan, bahwa kedua setan itu ingin menangkap Mahisa Agni
tidak untuk Kuda Sempana, tetapi justru untuk memeras Tuan
Puteri Ken Dedes dan Tuanku Tunggul Ametung.”
Dada perempuan tua itu berguncang mendengar kata-kata Empu
Sada. Tiba-tiba tumbuhlah kepercayaan di dalam hatinya, bahwa
Empu Sada benar-benar sedang dalam keputus asaan. Namun
sejalan dengan itu, maka hatinyapun kini dicengkam oleh
kecemasan tentang anaknya. Karena itu, maka emban itupun
menjadi gelisah. Sejenak ia berdiam diri dalam ke bimbangan.
Tetapi perempuan tua itu terhenyak ketika ia mendengar seorang
prajurit menegurnya, prajurit yang membawa Empu Sada masuk
kehalaman dalam, “Kaki, bagaimana dengan Kau? Apakah kau
masih juga betah berdiri di situ sampai pagi untuk memaksa
menghadap Tuan Puteri Ken Dedes.”
Empu Sada tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah perempuan
tua dihadapannya, seolah-olab minta kepadanya untuk menjawab
pertanyaan prajurit itu.
“Aku harus kembali ketempatku bertugas.” berkata prajurit itu
lebih lanjut, “aku sudah mencoba menolongmu Kaki. Tetapi
keputusan terakhir memang tidak terletak ditanganku.”
Empu Sada masih berdiam diri.
Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka kem bali
prajurit itu berkata, “Bagaimana Kaki?”
Dalam kebimbangan kemudian Empu Sada menjawab, “Bukan
aku yang menentukan tuan, tetapi emban pemomong Ken Dedes
itu. Tergantung kepadanya, apakah aku diperbolehkan menghadap
atau tidak.”
Prajurit itu berpaling, memandangi wajah emban tua yang kini
menjadi tegang penuh kebimbangan,
Sejenak mereka saling berdiam diri. Empu Sada menunggu
dengan hati yang berdebar-debar, sedang prajurit itu menjadi
heran. Ia melihat beberapa perubahan sikap pada laki-laki tua yang
kini agaknya menjadi bertambah sigap.
Di dalam pada itu emban tua itu masih juga dicengkam oleh
kebimbangan. Tetapi ia dapat mengerti keterangan Empu Sada. Ia
dapat mempercayainya, bahwa kali ini ia bermaksud baik. Kalau ia
bermaksud jahat, maka ia tidak perlu berbantah lagi. Mungkin
dengan sebuah sentuhan ia sudah menjadi pingsan. Prajurit-prajurit
yang berdjumlah empat orang yang sama sekali tidak bersiaga itu
akan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Dan adalah
tidak mustahil, bahwa ia akan berhasil mengambil puteri itu tanpa
dapat ditangkap oleh para penjaga. Hanya kalau Akuwu Tunggul
Ametung mengetahuinya, maka pusakanja akan mungkin dapat
melawan orang tua itu.
Dalam kebimbangan perempuan tua itu mendengar prajurit itu
bertanya kembali, “Bagaimana Nyai. Apakah orang tua itu
diperkenankan menghadap, ataukah ia harus keluar?”
Perempuan tua itu menggigit bibirnya. Tampaklah kerut merut di
dahinya menjadi semakin dalam. Diawasinya Empu Sada dan
prajurit itu berganti-ganti.
Akhirnya terdengar ia bersuara lirih, “Biarlah ngger, laki-laki tua
ini menghadap Tuan Puteri. Kalau nanti ternyata Tuan puteri tidak
berkenan, maka biarlah ia keluar halaman.”
“Tetapi ia tidak boleh berkeliaran sendiri di halaman ini Nyai.”
sahut prajurit itu, “kalau Tuan Puteri tidak berkenan maka aku
harus
mengantarkannya keluar.”
“Baiklah kalau demikian, marilah ikut aku. Kau dapat menunggu
di luar sampai laki-laki ini meninggalkan istana.”
“Sampai kapan aku harus menunggunya?”
“Tidak akan sampai besok.”
“Ah.” prajurit itu mengeluh, tetapi kemudian ia berkata, “apakah
aku akan dibiarkan lapar? Sore tadi aku belum makan Nyai.
Seharusnya sebentar lagi aku akan diganti oleh prajurit yang
bertugas semalam sentuk nanti. Aku akan segera kembali pulang
dan makan.”
“Jangan takut.” sahut perempuan tua itu, “kau dapat pergi ke
dapur. Kau akan dapat memecahkan perutmu nanti, Ngger.”
Prajurit itu tersenjum. “Baiklah kalau demikian.”
“Ikutlah kami.” kata perempuan itu, dan kepada Empu Sada ia
berkata, “Marilah kita mencoba menghadap Tuan Puteri.”
“Aku percaya kepadamu Nini, untuk kepentingan anakmu pula.”
“Sst.”
“O.” laki-laki yang menyebut dirinya Makerti itupun terdiam.
Mereka kini berjalan sepanjang dinding istana lewat halaman
belakang. Dari tangga mereka memasuki serambi belakang untuk
menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang hampir tidak sabar lagi
menanti pemomongnya.
Ketika didengarnya suara pemomongnya itu di luar pintu biliknya,
maka dengan tergesa-gesa ia keluar. Ia ingin segera mendengar
tentang laki-laki yang menyebut dirinya pamannya dan bernama
Makerti.
“Tuan Puteri.” berkata pemomongnya ketika Ken Dedes sudah
berada di luar pintu biliknya, “seorang laki-laki tua kini menunggu
Tuan Puteri di ruang belakang.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya,
“Apakah benar, bahwa ia adalah pamanku Bibi?”
“Silahkanlah puteri. Tuan Puteri akan dapat bertanya kepadanya
sendiri.”
Tetapi Ken Dedes menangkap keragu-raguan di dalam kata-kata
perempuan tua itu sehingga kemudian sambil mengerutkan
keningnya ia bertanya, “Apakah kau sudah pernah mengenalnya?”
Emban pemomong Ken Dedes itu menjadi semakin bimbang. Ia
tidak segera tahu, bagaimana ia harus menjawab. Karena itu maka
sejenak emban tua itu berdiri saja mematung.
“Bagaimana bibi?” desak Ken Dedes.
“Tuan Puteri.” jawab emban itu kemudian, “hamba tidak dapat
mengatakannya apakah hamba pernah mengenalnya atau belum
dalam hubungannya dengan pengakuan laki-laki tua itu. Tetapi
dalam persoalan yang lain, hamba memang pernah mengenalnya
sebagai orang dari padukuhan Ngarang.”
“Dalam hubungannya dengan aku?”
“Hamba tidak tahu Tuan Puteri, tetapi sebaiknya Tuan Puteri
menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”
“Apakah orang itu tidak berbahaya?”
“Di tangga belakang ada seorang prajurit yang menunggunya
Tuan Puteri, di samping Pelayan Dalam yang sedang bertugas.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih
saja ragu-ragu untuk berbuat.
“Bagaimana nasehatmu bibi?”
“Menurut pendapat hamba Tuan Puteri, Tuan Puteri dapat
menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”
“Baiklah. Aku percaya kepadamu.”
Ken Dedes itupun segera melangkah keruang belakang diiringi
oleh pemomongnya. Meskipun demikian sebenarnya di dalam dada
keduanya, masih menyala keragu-raguan. Tetapi emban tua itu
bergumam di dalam hatinya. “Aku mengharap bahwa laki-laki itu
masih mempunyai sisa-sisa harga diri dan perasaan.”
Ketika Ken Dedes memasuki ruangan belakang, dilihatnya
seorang laki-laki duduk bersila sambil tumungkul. Kekhidmatannya
ternyata telah mengurangi perasaan bimbang di hati Ken Dedes.
Ken Dedes itu pun kemudian duduk di atas sebuah batu hitam
yang dialasi oleh selapis kulit kayu yang dihias dengan ukir-ukiran
benang berwarna emas. Ditatapnya laki-laki tua yang masih saja
duduk tepekur seakan-akan tidak berani bergerak meskipun hanya
ujung jari kakinya.
Ken Dedes itu pun tidak segera bertanya sesuatu kepada laki-laki
yang duduk sambil menundukkan kepalanya itu. Dicoba untuk
mengingat-ingat apakah ia pernah mengenal seorang laki-laki
seperti yang kini duduk di hadapannya. Tetapi betapa gadis itu
berusaha, namun ia tidak berhasil menemukan ingatan tentang
seorang laki-laki tua yang bernama Makerti.
Sekilas Ken Dedes memandangi pemomongnya yang duduk
dekat di sampingnya. Bagaimanapun juga, ternyata perempuan itu
masih juga menyimpan keragu-raguan di dalam hatinya, apalagi
setelah diketahuinya, bahwa sebenarnya laki-laki tua itulah yang
bernama Empu Sada. Karena itu, maka pemomong Ken Dedes itu
duduk dekat di sisi kaki Ken Dedes, bahkan seolah-olah bersandar
kepada gadis itu.
“Kiai.” sapa Ken Dedes kemudian Perlahan-lahan, “maafkan aku
Kiai, bahwa aku merasa belum mengenalmu. Baik namamu dan
bahkan wajahmu. Adalah suatu kemungkinan bahwa aku telah lupa
kepada seseorang yang pernah aku kenal sebelumnya. Tetapi
cobalah kau menjelaskan, bagaimanakah hubunganmu dahulu, aku
pasti akan menjadi ingat kembali kepadamu.”
Tetapi Empu Sada tidak segera dapat menjawab. Bahkan
kepalanya yang tunduk itu seakan-akan menjadi semakin tunduk.
“Kiai.” berkata Ken Dedes pula, “mungkin Kiai dapat berceritera
tentang keluargaku, tentang ibuku semasa hidupnya dan tentang
ayahku. Mungkin Kiai dapat berceritera tentang diriku di masa
kanak-kanakku. Dengan demikian aku akan dapat mengingatnya
kembali atau setidak-tidaknya dapat meyakinkan diriku bahwa kau
adalah pamanku.”
Mpu Sada masih belum menjawab. Kepalanya masih menunduk
dalam-dalam. Namun laki-laki tua itu menggigit bibirnya sendiri
kuat-kuat. Ketika ia telah berhadapan dengan gadis itu, tiba-tiba
terkenanglah kembali apa yang pernah dilakukannya. Ia pernah
berusaha merebut gadis itu untuk muridnya Kuda Sempana. Apakah
dengan demikian tidak akan berarti merenggut gadis itu dari
dunianya yang sekarang dan melemparkannya kedalam satu dunia
yang gelap? Memang ia tidak mempunyai anak seorang gadis. Ia
tidak dapat membayangkan betapa perasaan seorang gadis tentang
dirinya, tentang dunia di sekitarnya dan tentang masa depannya.
Tetapi ketika ia berhadapan dengan Ken Dedes, alangkah pedih
hatinya. Seandainya, Ya, seandainya saat itu Panji Bojong Santi
tidak menghalanginya, maka apakah jadinya gadis yang kini duduk
dihadapannya itu? wajah yang cerah sumringah itu pasti akan
menjadi suram dan muram. Kuda Sempana pasti akan
membawanya hidup dalam suatu dunia yang gelap yang
tersembunyi.
“O.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam
hatinya ia bergumam, “Ternyata Yang Maha Agung masih
melindunginya.”
Ken Dedes yang masih saja melihat orang tua itu terdiam,
hatinya menjadi berdebar-debar. Kenapa ia tidak menjawab sepatah
katapun? Kembali Ken Dedes berpaling kepada emban pemomong.
Tetapi emban itu pun menundukkan kepalanya pula.
Ken Dedes itu kemudian justru menjadi gelisah. Sekali lagi ia
mencoba bertanya, “Kiai, bukankah Kiai telah datang untuk bertemu
dengan aku? Bukankah Kiai yang bernama Makerti dan mengaku
sebagai pamanku?”
Ken Dedes itu pun kemudian melihat laki-laki tua itu bergerak.
Setapak ia bergeser, namun justru ia bergeser mundur. Perlahanlahan
ia mengangkat wajahnya.
“Ampun Tuan Puteri.” desisnya perlahan. Tetapi kembali ia
terdiam. Kembali kepalanya menunduk.
Tetapi dalam sekejap itu, Ken Dedes telah melihat wajahnya.
Wajah itu benar-benar telah mengejutkannya. Ken Dedes melihat
mata orang tua itu menjadi terlampau suram dan bahkan menjadi
basah.
“Katakanlah Kiai.” minta Ken Dedes, seperti seorang gadis
kepada kakeknya yang tua.
“Ampun Tuan Puteri.” berkata orang tua itu tersendat-sendat,
seakan-akan lehernja tersumbat oleh kata-katanya.
“Ya katakanlah.”
Ketika orang tua itu kembali mengangkat wajahnya, kini Ken
Dedes benar-benar melihat setitik air menetes dari matanya.
“Kenapa kau Kiai?” bertanya Ken Dedes.
Emban tua yang mendengar pertanyaan itupun mengangkat
wajahnya pula, dan Dilihatnya pula titik air di mata laki-laki itu.
“Ampun Tuanku.” berkata Empu Sada patah-patah, “hamba telah
berani membohongi Tuan Puteri. Tetapi percayalah Tuan Puteri,
bahwa maksud hamba adalah baik.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia tidak segera dapat
menangkap maksud orang tua itu.
“Hamba belum pernah melihat tuanku sejelas saat ini. Hamba
belum pernah melihat betapa cerah wajah Tuan Puteri. Hamba
belum pernah mengetahui betapa bersih hati Tuan Puteri. Selama
ini mata hambalah yang telah dibutakan oleh kegelapan hati.”
“Kiai.” potong Ken Dedes dengan heran, “aku tidak mengerti
apakah sebenarnya yang kau maksudkan.”
“O.” Empu Sada menelan ludahnya, “Tuan Puteri adalah sesoca
Tumapel yang tidak ada duanya. Alangkah bahagianya Empu Purwa
mempunyai seorang Puteri seperti tuanku. O, sungguh gila Kuda
Sempana yang berkeinginan memperisteri Tuan Puteri.
Sepantasnyalah bahwa Kuda Sempana menjadi alas kaki tuanku.”
Ken Dedes menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu ujung
pangkal kata-kata laki-laki tua yang mengaku pamannya dan
bernama Makerti itu.
Apalagi ketika laki-laki itu berkata seterusnya dengan nafas yang
terengah-engah, “Tetapi Tuanku, adalah hamba yang paling
bersalah, sehingga Kuda Sempana itu menjadi semakin gila. Namun
syukurlah bahwa Tuan Puteri masih selalu mendapat perlindungan
dari Yang Maha Agung.”
Sejenak Ken Dedes terpukau oleh keadaan yang tidak
dimengertinya. Dipandanginya laki-laki tua itu dengan penuh
pertanyaan pada sinar matanya yang bening.
Dalam pada itu Empu Sada masih berkata terus, “Seandainya
hamba tidak terseret dalam kegilaan yang serupa, maka Kuda
Sempana pasti dapat hamba kendalikan. Sekarang semuanya telah
hancur. Hidupku dan masa depan Kuda Sempana itu sendiri. Tetapi
adalah wajar dan setimpal dengan kesalahan-kesalahan yang telah
kami lakukan.”
Ken Dedes masih diam mematung. Sedang emban
pemomongnya pun seakan-akan terbungkam pula. Tetapi emban
tua itu dapat merasakan betapa hati orang yang mengaku bernama
Makerti itu terpecah belah.
Empu Sada adalah seorang yang hidup dalam arusnya angin
ribut, sehingga karena itu, maka hatinya seakan-akan telah menjadi
sekeras baja dan perasaannya pun telah menjadi tumpul. Namun
tiba-tiba seperti cahaya matahari dipagi hari, wajah Ken Dedes yang
cerah telah menerangi segenap relung hati orang tua itu. Relung
hati yang karena keadaan telah sedikit terbuka, dan kini cerahnya
sinar matahari itu langsung mencairkan kepekatan yang kelam yang
selama ini mewarnainya.
Sesaat Ken Dedes masih diam termangu-mangu. Namun ketika
kembali ia melihat laki-laki tua itu menundukkan kepalanya, maka
berkatalah gadis itu, “Kiai, aku tidak mengerti apa yang kau
katakan. Aku tidak mengerti apa yang ingin kau nyatakan kepadaku.
Tetapi bahwa kau telah menyebut nama Kuda Sempana benarbenar
telah mengejutkan hatiku. Nama itu bagiku adalah nama yang
dapat mendirikan segenap bulu romaku. Karena itu, katakanlah
mansud kedatanganmu sendiri.”
Empu Sada masih menundukkan kepalanya. Ia menjadi raguragu
untuk mengucapkan kata-kata. Tetapi kembali Ken Dedes
mendesaknya, “Katakanlah keperluanmu Kiai. Atau cobalah
meyakinkan aku, bahwa kau adalah pamanku.”
“Ampun Tuan Puteri.” desis Empu Sada kemudian. Tetapi kini
kepalanya menjadi semakin menunduk, “ampunkanlah hamba.
Bahwa sebenarnya hamba memang bukan paman Tuan Puteri.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar pengakuan itu. Sejenak ia
berpaling kepada pemomongnya. Tetapi pemomongnya itu tidak
sedang memandanginya. Bahkan pemomongnya itu dengan
tajamnya sedang memandang kepada laki-laki tua yang masih saja
menundukkan kepalanya.
“Jadi, siapakah kau sebenarnya?” bertanya Ken Dedes, “dan
apakah hubunganmu dengan Kuda Sempana? Kau telah menyebut
namanya, babkan menghubung-bungkannya dengan dirimu sendiri.”
Empu Sada itu memperbaiki letak duduknya. Dengan susah
payah ia kini herhasil mengatur perasaannya yang tiba-tiba saja
telah menjadi cair setelah bertahun-tahun membeku. Sekali ia
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Perlahan-lahan ia berkata,
“Tuan Puteri yang baik. Mungkin pengakuan hamba akan
mengejutkan Tuan Puteri. Tetapi perkenankanlah hamba lebih
dahulu berjanji, bahwa sebenarnyalah maksud kedatangan hamba
kali ini adalah terdorong oleh penyesalan dan ketakutan yang
selama ini telah mengejar-ngejar hamba. Hamba tidak dapat ingkar
lagi. Hamba tidak dapat melarikan diri, karena ketakutan itu tumbuh
di dalam hati hamba. Hamba tidak dapat bersembunyi kemanapun,
selain pasrah diri dihadapan Tuan Puteri. Hamba akan bersedia
menerima apa saja hukuman yang akan Tuanku jatuhkan. Tetapi
sebelumnya hamba ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin
berguna bagi Tuan Puteri dan Kakanda Tuan Puteri Mahisa Agni.”
Wajah Ken Dedes tampak berkerut. Diawasinya laki-laki tua itu
dengan sorot mata yang menjadi tegang. Dengan ragu-ragu Ken
Dedes itu bertanya, “Jadi, apabila kau sebenarnya bukan pamanku
apakah kau juga tidak bernama Makerti dan tidak datang dari
pedukuhan yang kau sebut Ngarang? Apabila demikian, siapakah
kau sebenarnya, dan apakah yang kau ceriterakan semuanya itu
akan berarti bagiku?”
“Tuan Puteri. Demikianlah hamba. Hamba memang tidak
bernama Makerti. Tetapi hamba benar-benar berasal dari
Pedukuhan Ngarang. Namun beberapa puluh tahun yang lampau
hamba telah meninggalkan pedukuhan itu, merantau dari satu
tempat kelain tempat, sehingga Akhirnya hamba menetap tidak
terlampau jauh diluar kota Tumapel.”
Wajah Ken Dedes menjadi semakin tegang. Kini ia segera ingin
tahu, siapakah tebenarnya laki-laki tua itu. Maka katanya, “Kiai,
aku
tidak mengerti apakah gunanya kau berbohong. Aku tidak mengerti
maksud kedatanganmu yang sebenarnya. Tetapi sebutkan dahulu,
siapakah kau.”
“Percayalah Tuan Puteri, bahwa hamba tidak akan membuat
bencana lagi. Hamba telah menyesali perbuatan hamba.”
“Ya siapakah kau dan apa hubunganmu dengan Kuda Sempana?”
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi
ragu-ragu. Tetapi kemudian dibulatkannya tekadnya. Apa saja yang
akan terjadi tidak akan diingkarinya. Maka katanya sambil menahan
nafas. “Tuanku, janganlah tuanku terkejut. Hamba akan berkata
dengan jujur, siapakah hamba ini sebenarnya. Tuanku. Hamba
bersedia seandainya Tuan Puteri ingin membelah dadaku.”
“Ya, Ya, tetapi siapa kau Kiai?”
“Tuan Puteri, yang sudi menyebut nama hamba, hamba inilah
yang dikenal bernama Empu Sada.”
Seperti tersengat seribu lebah, Ken Dedes terkejut bukan buatan.
Wajahnya yang cerah tiba-tiba menjadi seputih kapas. Darahnya
seakan-akan berhenti mengalir. Sesaat ia terpaku di tempatnya
namun tiba-tiba ia terloncat berdiri. Hampir saja ia berteriak
memanggil prajurit atau Pelayan dalam atau si apapun untuk
mengurangi ketakutannya. Tetapi emban pemomongnya tiba-tiba
memeluk kakinya sambil berkata lirih.
“Tenanglah Tuan Puteri, tenanglah. Laki-laki yang bernama Empu
Sada itu kini bukan lagi seperti seekor serigala yang lapar. Tetapi
ia
tidak lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan.”
Meskipun Ken Dedes tidak berteriak karena emban
pemomongnya itu, namun debar dijantungnya masih belum
berkurang. Wajahnya masih putih dan tegang, sedang nafasnya
menjadi terengah-engah. Dipandanginya Empu Sada dengan sorot
mata ketakutan dan kecemasan. Ken Dedes itu pernah mendengar,
bahwa orang yang mencegatnya di hutan dalam perjalanannya ke
Panawijen adalah Kuda Sempana bersama gurunya yang bernama
Empu Sada. Dan orang yang selama ini menghantuinya itu tiba-tiba
duduk dihadapannya.
Tetapi Empu Sada tidak bergerak. Kepalanya masih tumungkul
hampir menyentuh lantai. Kedua tangannya rapat berpegangan satu
dengan yang lain. Namun meskipun demikian, debar didadanya pun
menjadi kian cepat. Iapun menjadi cemas apabila gadis itu tidak
segera dapat menguasai dirinya, maka akibatnya akan menjadi
sangat sulit baginya. Namun ia sudah pasrah diri. Dan akibat yang
bagaimanapun juga telah bulat untuk diterimanya.
Ken Dedes yang melihat laki-laki tua itu masih juga tepekur,
serta kata-kata pemomongnya yang lembut dan sareh, telah
membuatnya menjadi agak tenang. Meskipun demikian ia masih
dicengkam oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang laki-laki tua
yang duduk dihadapannya itu.
Empu Sada kemudian dapat merasakan, bahwa hati Ken Dedes
menjadi bertambah tenang. Agaknya kata-kata pemomongnya telah
dapat meredakan luapan ketakutan yang menerkam dirinya. Karena
itu untuk meyakinkan maka orang tua itu berkata sareh, “Tuan
Puteri. Benarlah kata emban pemomong tuanku. Hamba kini bukan
lagi serigala kelaparan di hutan-hutan rimba, tetapi hamba kini
tidak
lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan. Hamba tinggal
menerima apa saja yang sepantasnya dipikulkan atas pundak
hamba, sebab hamba telah banyak sekali berbuat kesalahan di
hadapan Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan
menurut penilaian hamba kini, hamba telah banyak sekali berbuat
dosa dihadapan Yang Maha Agung. Itulah sebabnya hamba kini
menghadap Tuan Puteri.”
“Tetapi.” sahut Ken Dedes terbata-bata, “kalau kau bermaksud
baik, kenapa kau menipu aku, emban pemomongku dan para
prajurit penjaga dengan memakai nama lain dan mengaku
pamanku?”
“Itupun salah satu bentuk pengakuan atas segala kesalahan
hamba Tuan Puteri. Hamba menjadi ketakutan menyebut nama
hamba sendiri. Bayangan dosa dan noda itu selalu melekat pada
nama Empu Sada, sehingga hamba merasa bahwa Empu Sada tidak
sepantasnya diperkenankan menghadap Tuan Puteri. Karena itulah
maka hamba mencari akal, bagaimana hamba dapat berhadapan
dengan Tuan Puteri untuk menyampaikan sebuah ceritera yang
menarik bagi Tuan Puteri, demi keselamatan Kakanda Tuan Puteri
sendiri, Mahisa Agni.”
Wajah Ken Dedes yang seputih kapas itu kini telah menjadi agak
kemerah-merahan. Meskipun demikian tubuhnya masih terasa
gemetar.
“Duduklah Tuan Puteri.” pemomongnya mempersilahkan.
Perlahan-lahan Ken Dedes kembali meletakkan tubuhnya di atas
batu hitam yang beralaskan klikaning kaju yang dihiasi dengan
benang-benang yang berwarna keemasan. Namun untuk sesaat
gadis itu masih saja berdiam diri. Debar jantungnya masih terasa
terlampau cepat, sedang kedua belah tangan dan kakinya masih
saja gemetar. Tetapi perasaannya kini telah mulai dapat
dikuasainya. Apalagi ketika ia masih melihat Empu Sada itu duduk
tepekur diam hampir tidak bergerak sama sekali.
“Tuan Puteri.” berkata Empu Sada kemudian, “ke datangan
hamba menghadap tuanku dengan segala macam akal, adalah
karena hamba ingin dapat langsung menyampaikan permohonan
maaf kehadapan tuanku serta ingin menyampaikan sebuah kisah
yang barangkali tidak menarik, tetapi barangkali akan dapat
memberikan jalan bagi Mahisa Agni melawan keadaan yang kurang
menguntungkannja.”
Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya untuk merasakan
tanggapan Ken Dedes akan kata-katanya itu. Dan didengarnya Ken
Dedes bertanya, “Apakah yang terjadi dengan kakang Mahisa Agni?
Bukankah ia selama ini berada di Padang karautan untuk
menyelesaikan bendungannya?”
“Hamba Tuan Puteri.” sahut Empu Sada, “justru Mahisa Agni
berada di Padang itulah maka bahaya selalu mengitarinya”
“Empu Sada,” berkata Ken Dedes yang sudah menjadi semakin
tenang, “sepengetahuanku, bahaya yang paling dahsyat yang
selama ini mengejarnya adalah bahaya yang ditimbulkan oleh
ketamakan Kuda Sempana dan gurunya yang bernama Empu Sada.
Apabila kau sekarang benar-benar sudah menghentikan usahamu
untuk mencelakakannya, maka aku sangka Kakang Mabisa Agni
akan dapat menjaga dirinya sendiri terhadap Kuda Sempana
meskipun seandainya Kuda Sempana berbuat curang.”
“Tidak Tuan Puteri.” jawab Empu Sada, “karena itulah maka
hamba dengan segala akal yang licik berusaha menemui Tuan
Puteri. Bahaya yang sekarang mengancam Mahisa Agni bukan saja
datang dari Kuda Sempana. Bahkan Kuda Sempana pun pada
saatnya pasti akan mengalami bencana yang tidak kalah dahsyatnya
dari Mahisa Agni sendiri.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, katanya, “Aku tidak mengerti
Empu Sada.”
“Tuan Puteri,” berkata Empu Sada, “perkenankanlah hamba
berceritera tentang diri hamba dan tentang diri Kakanda tuanku
Mahisa Agni.”
“Katakanlah Empu.” sahut Ken Dedes.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sesaat
ditengadahkannya wajahnya, namun kembali wajah itu menunduk.
Digesernya dirinya senjari maju, dan sejenak kemudian mulailah ia
berceritera tentang dirinya. Empu Sada yang telah benar-benar
merasa bersalah itu berceritera dengan sejujur-jujurnya, apa yang
pernah dilakukan atas Mahisa Agni. Usahanya menemui Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat, dan diceriterakannya pula saat ia hampir mati
terbunuh oleh kedua iblis yang mengerikan itu.
Ken Dedes mendengarkan ceritera Empu Sada itu dengan dada
yang berdebar-debar. Hatinya semakin lama menjadi semakin
cemas, sedang wajahnya menjadi semakin tegang. Perlahan-lahan
ia dapat merasakan bahaya yang sedang mengancam Mahisa Agni.
Bahaya yang justru ditimbulkan oleh orang yang kini dengan
menyesal menceriterakannya kepadanya.
Akhirnya Empu Sada itu berkata, “Tuan Puteri, hamba dapat
membayangkan, bahwa di Padang Karautan kini merayap-rayap
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mengintai Kakanda Tuan Puteri,
Angger Mahisa Agni yang setiap saat siap untuk meloncat dan
menerkamnya.”
Wajah Ken Dedes yang sudah mulai memerah itu kini lelah
menjadi pucat kembali. Terasa debar dadanya menjadi semakin
deras, dan kecemasan yang sangat telah menghinggapinya.
Bahkan bukan saja Ken Dedes. Emban pemomongnya yang
semasa mudanya bernama Jun Rumanti itu pun menjadi cemas.
Terlalu cemas. Mahisa Agni adalah satu-satunya anaknya.
“Kenapa semuanya itu kau lakukan Empu?” bertanya Ken Dedes
tanpa sesadarnya.
“Hamba sedang dilibat oleh kekelaman hati Tuan Puteri.”
“Kalau kau tidak mengalami kegagalan dan bahkan hampir mati
pula karenanya, maka aku kira kau tidak akan berbuat seperti
sekarang.” berkata Ken Dedes dengan penuh penyesalan.
“Hamba Tuan Puteri. Sebenarnyalah demikian. Karena itu, maka
kedatangan hamba kemari bukan karena sisa-sisa kebersihan hati
hamba yang mekar di dalam dada hamba, tetapi hamba datang
kemari karena hamba telah ditelan oleh ketakutan dan keputusasaan.
Hamba tidak tahu lagi apa yang akan hamba lakukan,
sedang hamba tidak dapat menyembunyikan diri kemana pun.
Ketakutan, kecemasan dan keputus asaan itu selalu memeluk hati
hamba. Maka dalam keadaan yang demikian itulah hamba datang
menghadap.”
Ketegangan hati Ken Dedespun menjadi semakin meningkat. Ia
tidak segera tahu, apa yang harus dilakukannya. Namun tiba-tiba ia
mengangkat dagunya. Sejenak ia merenung, namun tiba-tiba
Wajahnya menjadi agak cerah. Perlahan-lahan ia berkata tidak
kepada Empu Sada tetapi kepada pemomongnya, “Bibi, bukankah
beberapa hari yang lalu Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah
mengirim sepasukan prajurit ke Padang Karautan untuk membantu
Kakang Mahisa Agni?”
Emban itupun menengadahkan wajahnya yang mulai dijalari oleh
aliran darahnya kembali. Dengan serta-merta ia menjawab, “Ya, Ya
Tuan Puteri. Pasukan itu telah berangkat minggu yang lalu. Pasukan
itu kini pasti sudah berada di Padang Karautan dan telah sempat
membantu pekerjaan Angger Mahisa Agni.”
Empu Sada yang mendengar pembicaraan itu mengerutkan
keningnya. Tetapi ia tidak segera berani memotong untuk bertanya.
Yang berbicara kemudian adalah Ken Dedes, “Bukankah dengan
demikian, maka bahaya yang mengancam kakang Mahisa Agni
dapat dikurangi?”
“Hamba Tuan Puteri, mudah-mudahan demikianlah hendaknya.
Namun bagaimanapun juga, adanya Prajurit-prajurit itu di sekitar
angger Mahisa Agni, pasti berpengaruh juga pada dirinya.
Empu Sada tidak segera mengerti pembicaraan itu. Karena itu
ketika keduanya berhenti sejenak, maka diberanikannya dirinya
bertanya, “Jadi, apakah maksud Tuan Puteri mengatakan bahwa
Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengetahui bahaya yang
mengancam kakanda Tuan Putri itu.”
“Bahaya itu sudah diketahuinya sejak lama.” sahut Ken Dedes,
“sejak Kakanda Mahisa Agni bertemu dengan Akuwu Tunggul
Ametung yang saat itu berada di Panawijen.” Ken Dedes berhenti
sejenak. Tanpa disengaja ia telah mengungkat kembali peristiwa
pahit yang pernah dialaminya. Sejenak ia terdiam, namun kemudian
ia berhasil menguasai dirinya kembali dan berkata, “Bahwa bahaya
itu menjadi semakin besar, ternyata pula setelah kau mencegatku di
hutan pada saat aku pergi ke Panawijen bersama kakang Witantra.
Tetapi, bahwa kemudian bahaya itu menjadi semakin besar dan
besar. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung masih belum
mengetahuinya. Terlibatnya dua orang kakak beradik yang bernama
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas permintaanmu itu pun masih
belum diketahui pula. Tetapi adalah kebetulan sekali bahwa dari
Tumapel telah dikirim sepasukan prajurit di bawah pimpinan
seorang Pelayan Dalam yang masih muda, bernama Ken Arok.
Seorang Pelayan Dalam yang meskipun masa jabatan belum terlalu
lama, tetapi ia adalah seorang anak muda yang menurut
pendengaranku, mumpuni dalam olah krida.”
Empu Sada itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa
disadarinya mulutnja berdesir, “Syukurlah kalau demikian.
Mudahmudahan
segalanya menjadi baik. Semoga Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.
Tetapi, kedua setan itu terlampau licik. Ia akan dapat menemukan
akal untuk memisahkan Angger Mahisa Agni dari lingkungannya.
Tetapi mudah-mudahan kali ini tidak. Karena itu adalah sebaiknja
bahwa Angger Mahisa Agni segera diberi tahu akan bahaya yang
mengancamnya.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat
dengan Empu Sada, bahwa Mahisa Agni harus segera mengetahui
bahaya yang mengintainya itu.
“Tetapi aku harus menyampaikannja kepada Akuwu Empu.
Akuwu akan mengutus seseorang untuk menyampaikannya kepada
Kakang Mahisa Agni.”
“Semakin cepat semakin baik Tuanku.”
“Tuan Puteri.” tiba-tiba emban pemomongnya itu memotong,
“hamba dengar bahwa hari ini ada seseorang yang datang dari
padang Karautan. Mungkin orang itu membawa laporan kepada
Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tentang keadaan prajurit Tumapel
yang berada di sana. Mungkin orang itu dapat mengatakan apa
yang telah terjadi di padang itu, dan orang itu pun akan dapat
menerima pesan apabila ia segera akan kembali.”
“Seseorang datang dari Padang Karautan?” bertanya Ken Dedes
dengan bati yang berdebar-debar karena berbagai macam
tanggapan akan kedatangan orang itu.
Ternyata bukan saja Ken Dedes yang menjadi berdebar-debar
mendengar berita tentang kedatangan seseorang dari padang
Karautan, namun Empu Sada pun mendjadi cemas pula.
“Apakah yang dikatakan oleh prajurit itu.” bertanya Ken Dedes
kepada pemomongnya.
“Belum aku ketahui Tuan Puteri.” sahut pemomongnya “prajurit
itu sedang berusaha untuk menghadap Akuwu sore ini. Mungkin
prajurit itu sudah menyampaikan laporannya kepada Tuanku
Tunggul Ametung.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dadanya
masih saja berdebar-debar. Meskipun demikian ia mencoba untuk
menghibur dirinya sendiri. Katanya di dalam hati, “Kalau terjadi
sesuatu Akuwu pasti sudah memberitahuku.”
Namun agaknya Empu Sada masih ingin bertanya, katanya,
“Apakah prajurit itu dapat ditemui dan bertanya kepadanya tentang
Padang Karautan setelah ia menghadap Akuwu dan menyampaikan
laporannya.”
Emban itu berpikir sejenak. Jawabnya kemudian, “Mungkin juga
dapat bertanya kepadanya setelah ia menghadap Akuwu.”
“Apakah mungkin kau dapat memanggilnya Nini?”
“Aku tidak tahu siapakah yang datang.”
“Para prajurit yang bertugas barangkali dapat mengatakan,
siapakah yang baru saja menghadap Akuwu.”
Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Mungkin juga aku dapat mencobanya.”
Tetapi tiba-tiba dipandanginya Empu Sada itu dengan hati yang
ragu. Apakah ia akan meninggalkan momongannya berdua dengan
Empu Sada yang selama ini telah menghantui gadis itu? Apakah ia
dapat mempercayai orang tua itu sepenuhnya? Emban itu menjadi
bimbang. Karena itu ia tidak segera bangkit dari tempatnya.
Emban tua itu masih juga termanggu-mangu ketika Empu Sada
memandanginya dengan gelisah dan cemas. Bayangannya tentang
Padang Karautan terlampau suram bagi Mahisa Agni. Apakah
seseorang yang datang dari Padang Karautan itu tidak
menyampaikan laporan tentang sesuatu bahaya yang telah
menimpa anak muda itu? Apakah seseorang itu tidak melaporkan
bahwa Mahisa Agni telah hilang dari lingkungan mereka?
Tetapi Empu Sada tidak mengucapkannya. Ia takut kalau Ken
Dedes menjadi semakin cemas pula. Karena itu, maka Empu Sada
itu pun bahkan terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Sejenak ketiga orang itu saling berdiam diri. Ken Dedes pun
masih juga dibayangi oleh kecemasan tentang kakaknya, Mahisa
Agni. Sedang emban pemomong Ken Dedes itu, yang sebenarnya
adalah ibu Mahisa Agni kemudian tidak pula kalah cemasnya. Di
dalam hatinya pun merayap pula gambaran-gambaran yang
mengerikan yang dapat menimpa anaknya. Karena itu, maka ia pun
sebenarnya ingin segera mendengar, ceritera apakah yang telah
dibawa oleh seseorang itu dari padang rumput Karautan yang
garang.
Tetapi emban tua itu tidak dapat meninggalkan Ken Dedes
seorang diri. Empu Sada telah meninggalkan bekas yang hitam di
sepanjang langkahnya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya
masih juga menimbulkan keragu-raguan di dalam hati.
Karena emban tua itu tidak segera beranjak dari tempatnya,
maka Empu Sada pun kemudian mengangkat wajahnya. Ia ingin
bertanya, kenapa emban itu tidak segera mencari prajurit yang
datang dari Padang Karautan untuk segera mendapat jawaban atas
teka-teki yang berkecamuk di dalam hati mereka. Tetapi ketika
Empu Sada melihat sorot mata emban itu, kembali ia menundukkan
kepalanya sambil berdesah di dalam hati, “Hem, agaknya Rumanti
belum dapat melepaskan momongannya sendiri bersama aku.
Tetapi itu bukan salahnya. Itu adalah salahku.”
Kesepian itu akhirnya telah menjesakkan dada Empu Sada yang
gelisah, sehingga duduknya pun menjadi gelisah pula. Tetapi ia
tidak berani berkata sepatah kata pun, apalagi mendesak supaya
emban itu segera memanggil prajurit yang datang dari Karautan.
Dengan demikian kecurigaannya dapat menjadi semakin bertambah,
seakan-akan ia memaksanya untuk meninggalkan Ken Dedes
seorang diri.
Tetapi agaknya yang bertanya kemudian adalah Ken Dedes,
katanya, “Bagaimana bibi?”
Emban itu menjadi agak kebingungan. Ia tidak dapat pergi, tetapi
bagaimana ia akan mengatakannya?
Namun tiba-tiba ia mendapat akal. Mungkin ia tidak perlu pergi
mencarinya sendiri atau bertanya-tanya ke halaman. Bukankah di
belakang, di tangga serambi ada seorang prajurit dan para Pelayan
dalam yang bertugas? Karena itu, maka katanya, “Tuan Puteri.
Biarlah hamba memanggil seorang prajurit di serambi belakang. Ia
akan dapat lebih cepat menemukan kawannya yang datang dari
padang Karautan.”
“Panggillah,” sahut Ken Dedes tanpa mengerti maksud
embannya.
Namun ketika emban itu sempat memandang wajah Empu Sada,
maka Dilihatnya orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya
seakan-akan ia memuji ketrampilan emban pemomong Ken Dedes
itu.
Sejenak kemudian emban itu berdiri dan melangkah kepintu,
tetapi tidak sampai di luar pintu. Dari celah-celah daun pintu yang
dibukanya sedikit terdengar suaranya memanggil seorang prajurit
yang sedang bertugas.
Akhirnya ketika prajurit itu telah menghadap, maka berkatalah
emban itu, “Silahkanlah Tuan Puteri, mungkin prajurit ini dapat
menemukannya lebih cepat.”
Prajurit itu menjadi berdebar-debar. Apakah yang harus
dicarinya? Namun ia menarik napas dalam-dalam ketika ia
mendengar Ken Dedes kemudian menjelaskan maksudnya.
“Hamba Tuan Puteri.” sahut prajurit itu kemudian, “memang
siang tadi hamba melihat tidak hanya seorang, tetapi dua orang
yang datang dari Padang Karautan. Mungkin mereka telah
menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”
“Kalau mereka telah menyampaikan laporannya, panggillah
mereka kemari.” perintah Ken Dedes kepadanya.
Prajurit itu terdiam sejenak. Ia tidak mengerti, kenapa Ken Dedes
ingin segera mendengar secara langsung laporan Prajurit-prajurit
yang baru saja datang dari padang Karautan siang tadi. Adalah tidak
lajim bahwa seseorang selain Akuwu Tunggul Ametung memanggil
seorang prajurit untuk mendengarkan laporannya secara langsung.
Apabila reseorang tersangkut dalam satu persoalan, maka biasanya
Akuwu Tunggul Ametung sendirilah yang akan memanggilnya dan
mempersoalkan dengan orang yang berkepentingan itu. Tetapi kali
ini yang memberinya perintah adalah bakal Permaisuri Tunggul
Ametung itu sendiri, yang selama ini belum pernah ada. Karena itu
maka prajurit itu sejenak menjadi ragu-ragu.
Ken Dedes melihat keragu-raguan prajurit itu. Maka katanya
kemudian, “Sudah tentu apabila laporan itu bukan laporan rahasia
yang hanya boleh didengar oleh Akuwu. Meskipun demikian, aku
akan dapat bertanya kepadanya tentang keadaan padang itu,
tentang Kakakku Mahisa Agni dan tentang bendungan yang baru
dibuatnya.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian kepala
itu membungkuk dalam-dalam. Terdengar ia berkata, “Hamba Tuan
Puteri. Biarlah hamba cari prajurit yang baru saja datang dari
padang Karautan itu.”
“Carilah. Hal-hal yang penting. Akuwu sendiri pasti akan
memberitahukan kepadaku. Aku tidak memerlukan hal-hal yang
penting itu. Aku hanya ingin mendengar kabar tentang bendungan
dan Kakakku Mahisa Agni.”
Prajurit itu pun segera mohon diri, beringsut mundur, dan
kemudian meninggalkan ruangan itu untuk mencari ke dua
kawannya yang siang tadi baru saja datang dari padang Karautan.
“Orang-orang itu pasti pulang ke rumah masing-masing.” katanya
di dalam hati, “kesempatan untuk menengok keluarga.”
Tetapi, prajurit itu tidak segera keluar halaman. Ditanyakannya
kepada Pelayan Dalam di tangga halaman depan, apakah ada
prajurit dari padang Karautan yang sedang menghadap langsung
Akuwu Tunggul Ametung.
“Siang tadi.” sahut Pelayan Dalam itu, “menghadap bersama
pemimpin Pengawal Istana kakang Witantra.”
“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “mereka
pasti sudah pulang. Mungkin sudah tidur mendengkur di sisi
anakanaknya.”
Pelayan dalam itu tidak menjawab, tetapi ia tersenyum.
Prajurit itu pun kemudian pergi ke regol tempat ia bertugas.
Kepada kawan-kawanya dijelaskannya apa yang harus di lakukan.
Sejenak kemudian maka berderaplah kaki-kaki kudanya menyusur
jalan kota.
Akhirnya kedua prajurit itu benar-benar diketemukannya di
rumah masing-masing. Alangkah terkejutnya kedua prajurit itu
ketika datang seorang kawannya ke rumah. Mereka menyangka
bahwa ada sesuatu yang penting. Tetapi, mereka memberengut
ketika mereka mendengar keperluan prajurit itu.
“Apakah Tuan Puteri belum mendengar laporanku lewat Tuanku
Akuwu?”
“Belum,” sahut kawannya itu.
Ketika mereka menemui prajurit yang seorang lagi yang baru
saja datang dari Padang Karautan, maka katanya “bukankah ini
telah malam. Apakah tidak dapat ditunda sampai besok?”
“Tuan Puteri ingin segera mendengar laporanmu.”
“Kami sudah melaporkannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul
Ametung.”
“Tetapi belum kepada Tuan Puteri.”
“Ah,” prajurit itu berdesah. Tetapi iapun membenahi pakaiannya.
Kemudian merekapun dengan tergesa-gesa pergi ke Istana untuk
menghadap Ken Dedes.
“Kenapa tidak siang tadi?” prajurit yang seorang masih saja
menggerutu.
“Aku melihat kalian datang, tetapi aku tidak melihat kalian pergi
bersama Ki Witantra. Apakah kalian lewat regol yang lain?”
“Ketika aku datang Ki Witantra ternyata sudah berada di Istana.
Aku keluar lewat regol yang itu-itu juga, tetapi agaknya kau baru
mengambil rangsum, atau baru memakannya di belakang gardu.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun
kemudian terdiam. Hanya derap kuda mereka sajalah yang
terdengar memecah sepi malam, menghantam dinding-dinding
halaman di sisi-sisi jalan. Angin malam yang dingin mengalir
mengusap tubuh-tubuh mereka yang lembab oleh keringat dan
embun.
Kedua prajurit itu pun kemudian dihadapkan kepada Ken Dedes
yang hampir tidak sabar menunggunya.
EmMpu Sada yang sudah mulai terkantuk-kantuk pun menjadi
terbangun kembali.
“Kemarilah,” berkata Ken Dedes mempersilahkan kedua prajurit
itu.
Kedua prajurit itu pun beringsut maju. Mereka menjadi agak
canggung. Mereka belum pernah menghadap gadis bakal permaisuri
Akuwu Tunggul Ametung.
“Apakah kalian baru datang dari padang Karautan?” bertanya Ken
Dedes.
“Hamba Tuan Puteri,” jawab salah seorang dari mereka dengan
suara parau, karena mereka masih juga dihinggapi oleh rasa kantuk.
“Apakah ada sesuatu yang penting terjadi di Padang Karautan
sehingga kau berdua harus melaporkannya kepada Akuwu?”
“O, tidak Tuan Puteri.” sahut salah seorang prajurit itu, “tidak
ada yang penting. Hamba hanya menyampaikan laporan bahwa
prajurit-prajurit Tumapel telah sampai dengan selamat dan telah
mulai bekerja dengan baik membantu orang-orang Panawijen
membuat bendungan.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Bersyukurlah ia di dalam
hati bahwa tidak ada sesuatu yang penting terjadi.
“Bagaimana dengan bendungan itu dan kakang Mahisa Agni?”
“Kakanda Tuan Puteri, Mahisa Agni kini baru pergi ke Panawijen
tuanku. Ada sedikit bencana yang menimpa padukuhan itu. Tetapi
sama sekali tidak berarti dan tidak mengganggu pekerjaan yang
besar itu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya mendengar berita tentang
Panawijen. Karena itu maka dengan serta merta ia bertanya,
“Bencana apa lagi yang telah menimpa pedukuhan itu? Pedukuhan
itu telah menjadi kering, dan sekarang apa yang telah terjadi?”
“Tetapi bencana itu tidak mencemaskan Tuan Puteri. Bahkan
bencana yang kecil itu dapat saja dilupakan.”
“Ya, tetapi apa yang terjadi.”
“Justru karena Panawijen telah menjadi kering, maka udara di
padukuhan itu pun menjadi sangat panasnya, sehingga karena itu
maka di padukuhan itu telah terjadi ke bakaran kecil. Beberapa
buah lumbung dan rumah terbakar habis. Tetapi karena beberapa
orang tua masih tinggal di pedukuhan itu, dan perempuan, maka
dengan pasir dan sisa-sisa pohon pisang yang masih ada maka api
dapat dibatasi. Ternyata mereka berhasil memisahkan api yang
berkobar itu dengan daerah di sekitarnya, sehingga api tidak
menjalar lebih besar lagi.”
“O, kasian Panawijen.”
“Tetapi Tuan Puteri tidak usah cemas. Hamba telah
menyampaikan semuanya itu kepada Tuanku Akuwu Tunggul
Ametung atas perintah pimpinan yang ditugaskan di padang
Karautan, Ken Arok.”
“Bagaimanakah tanggapan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung?”
“Tuanku Akuwu hanya tertawa saja mendengar laporan hamba.
Tetapi Akhirnya Tuanku Akuwu memerintahkan kepada kakang
Witantra untuk menyampaikan perintah kepada yang
berkepentingan, menyediakan padi dan jagung untuk membantu
orang-orang Panawijen yang telah kehilangan sebagian dari bahan
makanan mereka. Sedang sawah-sawah mereka sendiri dalam
keadaan kering dan tidak mungkin menghasilkan di musim kering
seperti ini.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia
menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah. “Beruntunglah
Panawijen mempunyai seorang Akuwu yang baik.”
Sejenak ruangan itu menjadi sunyi. Tetapi Ken Dedes sudah tidak
lagi dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan. Bencana itu
memang bukan bencana yang besar yang dapat
menggelisahkannya. Mungkin karena persoalan yang kecil itulah
maka Akuwu tidak segera memanggilnya dan memberitahukan
kepadanya tentang apa yang telah terjadi di Panawijen, bahkan
mungkin lusa Akuwu Tunggul Ametung baru akan
memberitahukannya.
Tetapi tanggapan Empu Sada agak berbeda dengan tanggapan
Ken Dedes. Sesaat dipandangnya wajah emban tua yang duduk di
sisi Ken Dedes itu. Tetapi agaknya emban tua itupun merasa bahwa
tidak terjadi sesuatu di padang Karautan. Emban tua itu beberapa
kali mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa suatu kesan yang
mendebarkan hatinya.
Namun Empu Sada masih menahan diri untuk tidak berkata
sesuatu. Ia masih menunggu, barangkali prajurit itu masih ingin
menyampaikan beberapa persoalan kepada Ken Dedes. Tetapi
prajurit itu masih juga terdiam. Ken Dedes dan pemomongnya pun
masih juga belum berkata sesuatu.
Ruangan itu masih juga diliputi oleh kesenyapan. Yang terdengar
hanyalah desah angin yang menyentuh dedaunan di petamanan di
luar ruangan itu. Para prajurit yang sedang bertugas duduk
terkantuk-kantuk sambil memeluk senjata mereka.
Prajurit yang duduk di tangga di belakang ruangan belakang
itupun sudah mengantuk pula. Seharusnya ia sudah selesai dengan
tugasnya dan pulang kerumah, minum air hangat dan makan
sekenyang-kenyangnya. Tetapi ia masih saja duduk di tangga istana
bersama beberapa Pelayan Dalam di ujung tangga yang lain.
“Perutku lapar.” gumamnya seorang diri. Tiba-tiba di kejauhan
dilihatnya cahaja yang melontar dari celah-celah pintu.
“Disana itu masih ada orang. Mungkin seorang Pelayan yang
dapat pergi ke dapur sejenak mengambil rangsum tambahan
buatku.” Tetapi prajurit itu tidak berani meninggalkan tempatnya,
“Emban tadi mengatakan, bahwa aku akan dapat pergi ke dapur.
Tetapi bagaimana dengan laki-laki tua itu?” Akhirnya kembali
prajurit itu duduk mengantuk sambil menahan lapar yang
mengganggu perutnya.
Di dalam ruangan yang sepi itu Empu Sada menjadi gelisah.
Keterangan prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan itu
baginya membawa kesan yang lain. Bukan sekedar beberapa buah
lumbung yang terbakar. Bukan sekedar beberapa orang Panawijen
telah kehilangan tempat tinggalnya. Tetapi jauh lebih mendebarkan
dari pada itu.
Isi lumbung yang terbakar, rumah-rumah yang hangus menjadi
abu, akan segera dapat diganti. Lumbung-lumbung akan segera
dapat dibangun kembali, bahkan Akuwu Tunggul Ametung telah
memerintahkan untuk mengirimkan jagung dan padi ke Panawijen.
Tetapi yang mencemaskannya adalah, kenapa hal itu terjadi?
Apakah benar, hanya sekedar karena udara yang panas maka
lumbung-lumbung itu terbakar? Tetapi seandainya seseorang telah
membakarnya, apakah mereka hanya sekedar ingin melihat orangorang
Panawijen kelaparan, ataukah ada tujuan lain?
Akhirnya Empu Sada tidak dapat menahan pertanyaannya lagi.
Dengan hati-hati ia berkata, “Angger, Prajurit-prajurit yang baru
datang dari Padang Karautan, apakah kebakaran yang timbul di
Panawijen itu disebabkan oleh udara yang panas, atau karena
seseorang kurang berhati-hati sehingga menimbulkan bencana itu,
atau oleh sebab yang lain lagi?”
Kedua prajurit itu mengangkat wajahnya, kemudian mereka
berpaling kepada laki-laki tua itu. Sejenak mereka menjadi
raguragu.
Namun kemudian terdengar Ken Dedes berkata, “Jawablah
pertanyaan itu.”
“Hamba Tuanku.” sahut salah seorang dari mereka, “tetapi
hamba tidak tahu pasti apa yang telah menyebabkannya. Dua orang
tua yang tinggal di Padukuhan Panawijen telah datang kepadang
Karautan dan memberitahukannya kepada Kakanda Tuan Puteri,
yang segera ingin melihatnya sendiri ke Panawijen.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah
menyangka bahwa Mahisa Agni pasti akan datang sendiri ke
Panawijen untuk menyaksikan bencana itu betapa kecilnya. Karena
itu ia sama sekali tidak terkejut mendengar keterangan prajurit
itu.
Berbeda dengan Ken Dedes, Empu Sada merasa sesuatu berdesir
di dadanya meskipun tidak segera tampak pada wajahnya.
Tetapi laki-laki tua itu kemudian bertanya pula, “Dengan siapakah
Angger Mahisa Agni pergi ke Panawijen?”
“Dengan pamannya” sahut prajurit itu.
Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Yang dimaksud
pamannya pastilah Empu Gandring.
“Hanya berdua?”
“Tidak.” sahut prajurit itu, “meskipun Adi Mahisa Agni ingin pergi
seorang diri, tetapi pamannya menasehatkannya untuk membawa
beberapa orang kawan.”
“Ya, siapakah Kawan-kawannya itu?”
“Ken Arok sendiri.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Meskipun tidak segera
terucapkan, tetapi di dalam kepalanya berkecamuk berbagai macam
persoalan. Ia menjadi curiga, bahwa di padukuhan Panawijen telah
timbul kebakaran betapapun kecilnya.
Kemudian dua orang laki-laki tua yang tinggal di Panawijen
datang kepadang Karautan untuk memberitahukan kebakaran itu
kepada Mahisa Agni.
Bahwa ada dua orang laki-laki tua berani melintasi padang
Karautan itu telah menarik perhatiannya pula.
Tiba-tiba Empu Sada itu mengerutkan keningnya. Debar di dalam
dadanya menjadi semakin cepat. Ia sampai pada suatu kesimpulan
yang sangat menggelisahkan. Katanya di dalam hati, “Ini pasti pokal
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk memikat Mahisa Agni datang
ke Panawijen. Mudah-mudahan Empu Gandring cukup waspada.
Tetapi agaknya Empu Gandring belum mengenalnya. Kelicikan dan
kecurangan bukan soal bagi mereka berdua.”
Empu Sada itu pun menjadi gelisah. Tetapi kegelisahannya itu
masih saja dicoba untuk disembunyikan.
“Angger,” berkata Empu Sada kemudian kepada kedua prajurit
itu, “kapankah Angger ke Padang Karautan.”
“Lusa aku akan kembali. Aku masih semalam lagi berada di
Tumapel.”
Empu Sada meng-angguktan kepalanya. Kemudian kepada Ken
Dedes ia berkata, “Tuan Puteri, apakah masih ada yang ingin tuanku
ketahui?”
“Aku kira untuk sementara tidak Kiai.”
“Apakah tuanku ingin berpesan kepada mereka.”
Ken Dedes terdiam sejenak. Kepada emban pemomongnya ia
bertanya, “Apakah yang penting aku pesankan kepada mereka
bibi?”
Emban tua itu mengangkat kepalanya. Ditatapnya kedua prajurit
itu sejenak. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuanku, tak
ada yang lebih penting tuanku pesankan, daripada mengharap agar
Angger Mahisa Agni menjadi lebih berhati-hati. Bahaya akan dapat
selalu menerkamnya setiap saat. Beritahukan kepada kedua prajurit
itu, bahwa mereka harus berhati-hati pula.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau
dengar kata-kata bibi emban itu? Mungkin dapat kau beritahukan
kepada Kakang Mahisa Agni bahwa ia harus berhati-hati terhadap
dua orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Bukankah begitu Kiai?”
“Ya, ya tuanku.” sahut Empu Sada.
Tiba-tiba Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Salah
seorang dari mereka berkata, “Ya, aku pernah mendengar nama itu.
Menurut ceritera yang pernah aku dengar, di Padang Karautan
sekarang berkeliaran kedua orang bersaudara itu. Yang pernah
bertemu dengan Adi Mahisa Agni dan pamannya adalah salah
seorang dari mereka yang bernama Wong Sarimpat.”
“He,” Empu Sada terkejut mendengar keterangan itu, “jadi Wong
Sarimpat lelah mencoba menjumpai Angger Mahisa Agni.”
Kedua prajurit itu terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada.
Tetapi sejenak kemudian mereka menjawab, “Ya. Aku tidak tahu
kebenaran dari ceritera itu. Mahisa Agni sendiri tidak pernah
mengatakannya.”
“Kalau demikian, dari siapa mereka mendengar ceritera itu?”
“Ki Buyut Panawijen.”
Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian
maka hanya Ki Buyut lah yang diberi tahu bahwa bahaya itu pernah
ditemui oleh Mahisa Agni. Untunglah bahwa pamannya Empu
Gandring ada bersamanya. Tetapi agaknya Ki Buyut telah
mengatakannya pula kepada orang lain, sehingga akhirnya ceritera
itu pun tersebar diantara orang-orang Panawijen dan para prajurit
dari Tumapel.
Dada Empu Sada berguncang ketika prajurit itu berkata
seterusnya, “Tetapi Wong Sarimpat bukanlah bahaya yang
sebenarnya bagi adi Mahisa Agni. Sumber dari bahaya yang selalu
membayangi anak muda itu adalah Kuda Sempana dan gurunya.”
Perlahan-lahan Empu Sada melepaskan tarikan nafas yang tibatiba
terasa seolah-olah berhenti. Tetapi ia tidak berkata sepatah
katapun.
Kesunyian sekali lagi menghinggapi ruangan itu. Malam yang
bertambah malampun terasa semakin sepi Dikejauhan terdengar
bunyi kentongan dalam nada dara muluk. Hampir tengah malam.
Sejenak kemudian terdengar Ken Dedes berkata, “Aku kira
keperluanku dengan kalian telah selesai. Kalian dapat kembali ke
rumah kalian. Besok kalau kalian akan kembali ke Padang Karautan
aku ingin bertemu dengan kalian sekali lagi.”
“Hamba tuan puteri.” sahut kedua prajurit itu hampir bersamaan.
Sesaat kemudian maka keduanya telah mohon diri dan
meninggalkan ruangan itu. Prajurit yang menjemputnya masih saja
duduk mengantuk di tangga belakang. Ketika ia melihat kedua
prajurit itu pergi, maka ia pun mengumpat di dalam hatinya.
Empu Sada yang masih duduk di dalam ruangan belakang
bersama dengan Ken Dedes dan emban tua itupun menujadi
semakin tidak tenteram. Setiap orang menganggap bahwa Kuda
Sempana dan dirinya adalah sumber bencana bagi Mahisa Agni. Dan
ia pun tidak akan dapat mengingkari. Dengan demikian, apabila
Mahisa Agni kali ini benar-benar masuk ke dalam jebakan Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat, maka dirinyalah yang harus
bertanggung jawab.
Karena itu, karena ketegangan yang mencengkam jantungnya
Empu Sada tidak lagi dapat duduk lebih lama. Sejenak kemudian
maka ia pun mohon diri pula untuk meninggalkan ruangan itu.
“Tuanku.” berkata Empu Sada, “sebenarnya hamba ingin
menyampaikan pesan ini juga kepada Tuanku Tunggul Ametung.
Tetapi hamba tidak berani. Hamba merasa diri hamba yang kotor.
Karena itu tuanku, hamba mengharap bahwa Tuanku Akuwu
Tunggul Ametung akan dapat mendengarnya dari Tuan Puteri.
Mungkin Tuanku Tunggul Ametung akan mempunyai suatu sikap
yang dapat menyelamatkan Angger Mahisa Agni, atau bahkan
menangkap kedua setan dari Kemundungan itu. Kalau ada orang
lain yang mau mencoba menangkapnya, maka hamba menyediakan
diri hamba untuk ikut serta. Mungkin Panji Bojong Santi dengan
sepasukan prajurit, atau mungkin orang lain menurut pertimbangan
Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Deries mengangguk-anggukkan kepalanya, Jawabnya, “Baik
Empu, aku akan menyampaikannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul
Ametung. Apabila kedua orang itu telah tertangkap, maka akan
tenteramlah hatiku.”
“Demikianlah Tuanku. Dan kini perkenankanlah hamba mohon
diri. Setiap kali hamba bersedia untuk memenuhi panggilan Tuanku.
Bukan saja untuk suatu pekerjaan yang berat, bahkan untuk
digantung pun hamba akan datang.”
Ken Dnles mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata.
“Baiklah Empu. Aku akan memberitahukan kepadamu apabila ada
sesuatu yang penting untuk kau ketahui.”
Empu Sada itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula
diantar oleh emban pemomong Ken Dedes. Di luar pintu bilik emban
itu terkejut melihat seorang prajurit hampir tertidur pada kedua
tangannya yang memeluk lututnya.
Ketika prajurit itu mendengar langkah keluar, ia pun terkejut pula
dan segera memperbaiki letak duduknya. Tetapi segera ia menarik
nafas dalam-dalam ketika dilihatnya emban tua itu bersama laki-laki
yang telah dibawanya masuk.
“Hem.” desis prajurit itu, “kapan aku harus pergi ke dapur.”
“O.” emban tua itu tersenyum, “aku lupa membawamu ke dapur.
Pembicaraan kami terlampau asyik, sehingga aku tidak ingat lagi
bahwa kau ada disini.”
“Terlalu.”
“Apakah sekarang kau masih lapar?”
“Tidak, aku sudah tidak lapar lagi. Aku telah makan kenyangkenyang
di sini.”
“Makan apa?”
“Angin.” sahut prajurit itu sambil bersungut.
“O.” emban itu tertawa, “marilah, aku ambilkan rangsum
tambahan buatmu.”
“Tidak, aku sudah tidak lapar.”
“Jangan mutung.”
“Tidak.” kemudian katanya kepada laki-laki tua yang menyebut
dirinya Makerti, “marilah Kaki, apakah kau sudah cukup?”
“Sudah ngger.”
“Marilah aku antar kau keluar halaman istana ini.”
“Tetapi apakah angger tidak makan dahulu?”
“Tidak.”
“Aku juga tidak dijamu makan meskipun aku bertamu hampir
separo malam.”
“Separo malam lebih.” prajurit itu membetulkan.
“O, ya, separo malam lebih.”
Jilid 25
KEDUANYAPUN kemudian meninggalkan halaman belakang.
Terkantuk-kantuk prajurit itu membawa Empu Sada keluar.
Dilewatinya regol dalam yang bertugas di regol itu ternyata sudah
berganti orang. Demikian pula di regol halaman. Kawan-kawannya
bertugas telah pulang kerumah masing-masing.
“Darimana?“ bertanya penjaga yang baru.
“Aku bertugas di kamar bakal permaisuri.“ sahut prajurit yang
kantuk itu.
“He?”
“Ya, hanya aku sajalah satu-satunya prajurit yang bertugas di
sana dari seluruh Tumapel. Menyenangkan sekali. Makan minum
dan apa saja yang kuminta. Tuan Puteri sendirilah yang
memberinya”
Prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu tertawa. Mereka tahu
bahwa prajurit itu sedang lapar dan menunggu seseorang yang
diantarnya itu sampai tengah malam.
Ketika mereka telah sampai di luar regol, maka segera prajurit itu
berkata, “Kaki Makerti, tugasku sudah selesai. Kaki telah keluar
dari
halaman istana. Karena itu terserahlah kepada Kaki. Apakah kau
akan bermalam di rumahku?”
“Terima kasih Ngger, terima kasih. Aku akan pergi ke tempat
saudaraku.”
“Kaki mempunyai saudara di kota ini?”
“Ya, aku akan mencarinya. Rumahnya di dekat pasar.”
“Silahkan,“ berkata prajurit itu. Ia sudah merasa sangat lelah dan
kantuk. Karena itu maka segera ditinggalkannya laki-laki tua itu
seorang diri. Dengan langkah panjang prajurit itu berjalan pulang.
Untunglah bahwa rumahnya tidak terlampau jauh dari istana. Tetapi
ia harus bersedia jawaban kalau isterinya bertanya kenapa ia pulang
lambat.
Isterinya kadang-kadang menjadi cemburu, karena seorang
kawannya yang dekat, baru-baru ini telah mengambil seorang isteri
muda.
Sepeninggal prajurit itu, hati Empu Sada menjadi semakin
gelisah. Terbayang diangan-angannya, Mahisa Agni kini sedang
merangkak masuk ke dalam jebakan yang dipasang oleh Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat.
Sejenak Empu Sada masih saja berdiri termangu-mangu. Ia sama
sekali tidak dapat mencuci tangan terhadap apa yang akan terjadi
dengan Mahisa Agni.
Orang tua itu terkejut ketika tiba-tiba seorang prajurit
mendekatinya sambil bertanya, “Bagaimana Kaki, apakah Kaki tidak
tahu kemana akan pergi?”
“O,“ sahut Empu Sada terbata-bata, “tidak, tidak Ngger. Aku
sedang melamun. Alangkah senangnya hidup kemenakanku itu. Aku
ikut bergembira pula bersamanya.”
Prajurit itu terheran-heran. Kemudian iapun bertanya, “Siapakah
kemanakanmu itu?”
Empu Sada memandangi prajurit itu dengan saksama. Barulah ia
menyadari, bahwa prajurit-prajurit itu bukanlah prajurit-prajurit
yang menerimanya siang kemarin. Tetapi meskipun demikian,
prajurit-prajurit yang bertugas mendahuluinya pasti telah
memberitahukan kepada mereka, tentang dirinya. Karena itu maka
katanya, “Apakah Angger tidak mendapat pemberitahuan bahwa
aku baru saja menghadap kemanakanku. Ken Dedes?”
“O.“ prajurit itu mengerutkan keningnya, “Ya, ya. Jadi kaukah
orang Yang bernama Makerti ? O, Ya, ya. Pradjurit yang
mengantarmu itu adalah prajurit yang telah dikatakan oleh pimpinan
yang bertugas sebelum kami. Lalu, bagaimana sekarang?”
“Aku akan pergi kerumah saudaraku di samping pasar.“ sahut
Empu Sada.
“Apakah Kaki memerlukan pengantar?”
“Tidak, tidak Ngger. Terima kasih.”
Empu Sada itu pun segera melangkah pergi meninggalkan regol
istana itu. Tertatih-tatih ia berjalan menyusup kedalam gelapnya
malam. Sinar obor dari regol yang memancar kemerah-merahan,
akhirnya tidak lagi dapat mencapainya.
Angin malam tang silir berhembus perlahan-lahan mengusap
tubuh orang tua itu Meskipun embun setitik-setitik turun dari
langit,
tetapi tubuh Empu Sada telah menjadi basah karena keringatnya.
Ketegangan perasaannya tidak lagi dapat disembunyikannya.
“Kasihan,“ desisnya seorang diri. “Apakah aku hanya akan
berpangku tangan? Mudah-mudahan Empu Gandring dapat
menyelamatkannya. Tetapi apakah Empu Gandring mampu
menghadapi kedua iblis itu bersama-sama. Kalau Ken Arok,
pemimpin pasukan yang berada di Padang Karautan itu pergi pula
bersama Mahisa Agni, maka aku mengharap orang itu akan dapat
membantunya bersama-sama Mahisa Agni sendiri. Tetapi
bagaimanakah dengan kekuatan Ken Arok itu?”
Hati Empu Sada pun menjadi semakin tidak tenang. Ketika ia
kemudian berpaling, dan regol istana itu sudah tidak dilihatnya,
maka langkahnyapun segera menjadi semakin cepat. Dengan
sigapnya ia melontarkan kakinya, meloncat-loncat seperti seekor
kijang di padang perburuan.
Ia sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia menjadi bernafsu untuk
segera sampai ke rumahnya. Demikian kuat desakan keinginannya,
sehingga tanpa dikehendakinya sendiri, orang tua itupun kemudian
berlari semakin cepat menuju ke padepokannya.
Empu Sada tidak lagi menghiraukan, apakah ada seseorang yang
melihatnya berlari-lari. Bahkan kemudian dikerahkannya segenap
kemampuannya. Dan Empu Sada itu pun berlari secepat tatit.
Ketika Empu Sada sampai kepadepokannya, maka dengan sertamerta
diketuknya pintu rumahnya sambil memanggil-manggil nama
muridnya. “Sumekar, Sumekar.”
Alangkah terkejutnya muridnya itu. Segera ia bangkit dan berlari
membukakan pintu. Ia menyangka bahwa gurunya sedang dikejar
oleh bahaya.
Ketika pintu telah terbuka, dan dilihatnya Sumekar berdiri di
mukanya, Empu Sada tertegun sejenak. Ditatapnya wajah muridnya
yang masih belum menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan.
Sekali-sekali Sumekar masih menggosok-gosok matanya yang
merah.
“Tutuplah pintu.“ perintah Empu Sada kemudian ketika ia telah
meloncat masuk.
Sumekar pun melakukan saja perintah itu. Tetapi Sumekar itupun
semakin terkejut ketika gurunya itu berkata, “Sumekar, pergilah ke
sumur. Adus kramas. Siapkan dirimu dalam kemampuan tertinggi.”
Sejenak Sumekar berdiri kaku. Dengan sorot mata bertanyatanya
dipandanginya gurunya. Ia tidak segera menangkap maksud
kata-katanya itu.
Ketika Empu Sada melihat Sumekar masih saja berdiri termangumangu
maka diulanginya perintahnya, “Sumekar, pergilah adus
kramas. Bersihkan dirimu lahir dan batin. Cepatlah.”
Sumekar tidak membantah lagi. Segera ia pergi ke perigi.
Disiapkannya beberapa jambangan air dan diambilnya seberkas
merang. Sambil membakar merang itu, hatinya selalu bertanyatanya,
“Apakah sebenarnya maksud guru. Hari masih malam.
Kenapa aku harus mandi?”
Tetapi Sumekar Yang patuh itu melakukan perintah itu dengan
baik. Dibersihkannya tubuhnya meskipun dingin malam sampai
menggigit tulang.
Ternyata gurunya pun mandi pula. Gurunya pun agaknya telah
membersihkan dirinya seperti yang dilakukannya.
Ketika Sumekar telah selesai dan kembali ia menghadap gurunya,
maka berkatalah Empu Sada, “Sumekar. Kau sudah cukup dewasa,
umurmu, persiapan jiwamu dan ilmumu. Karena itu, Sumekar, hari
ini adalah hari yang kau nanti-nanti selama ini. Kau berada di
padepokanku meskipun bukan semata-mata untuk itu, tetapi ilmu
tertinggi pasti menjadi keinginan setiap murid.”
Tiba-tiba dada anak muda itu berdesir. Ia tidak menyangka,
bahwa tiba-tiba saja ia dihadapkan pada kesempatan yang memang
diharapkannya. Begitu tiba-tiba. Tetapi ia tidak sempat bertanya.
Gurunyalah yang kemudian berkata. “Masuklah ke dalam bilik
belakang, tempat kau berlatih. Jangan ganggu adik-adik
seperguruanmu yang sedang tidur. Biarlah mereka tidak tahu apa
yang terjadi dengan dirimu.”
Sumekar hanya dapat mengikuti perintah itu. Meskipun beberapa
pertanyaan terselip di dalam hatinya, kenapa peristiwa itu terjadi
tanpa disangka-sangkanya lebih dahulu.
Tetapi Sumekar tidak sempat menanyakannya. Hatinya yang
berdebar-debar menjadikannya semakin tegang.
Ketika Sumekar dan Empu Sada telah berada di dalam bilik yang
gelap di bagian belakang halaman rumahnya, maka gurunya itupun
segera menutup pintu. Sebab slarak kayu nangka telah mengancing
pintu itu rapat-rapat.
“Sumekar.“ berkata gurunya. Meskipun gelapnya bukan main,
namun lambat laun, Sumekar dapat melihat bayangan gurunya,
“kau benar-benar telah cukup mempunyai bekal untuk menerima
ilmu tertinggi dari perguruanku. Bahkan kau telah memiliki beberapa
kelebihan dari kakak-kakak seperguruan mu. Ada beberapa unsur
yang aku berikan kepadamu, tetapi tidak aku berikan kepada
kakakkakakmu.
Apalagi ketika aku telah meyakini kesalahanku pada
masa-masa yang lampau, dan melihat bahwa kau memiliki beberapa
kelebihan sifat dari kakak-kakak sebelummu. Maka apa yang kau
terima adalah melampaui dari apa yang telah dimiliki oleh Cundaka,
Kuda Sempana dan apalagi yang lain-lain. Sehingga menurut
perhitunganku, nanti apabila kau dapat memahami Aji Kala Bama
dengan baik, maka kau tidak akan lagi berada di bawah kakakkakak
seperguruanmu. Bahkan seandainya kakak-kakak
seperguruanmu, mungkin Kuda Sempana, mempunyai beberapa
kelebihan waktu daripadamu, dan seandainya ia menerima
beberapa petunjuk dan unsur-unsur gerak dari orang lain, maka kau
tidak perlu mencemaskan dirimu. Ketekunanmu selama ini memang
dapat dibanggakan. Apalagi kau selama ini tidak mempunyai
kesibukan lain daripada memperdalam ilmu di perguruanku ini.
Berbeda dengan Cundaka, pedagang keliling yang tamak dan Kuda
Sempana Pelayan Dalam yang gila itu.”
Sumekar tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya saja
memandang jari-jari kakinya yang seolah-olah dipulas oleh warna
yang hitam.
“Sumekar.“ terdengar suara Empu Sada lunak.
“Ya guru.“ sahut muridnya.
“Apakah kau sudah siap.”
“Sudah guru. Aku telah menyiapkan diri menurut ke mampuan
yang ada padaku.”
“Bagus. Kau cukup rendah hati dan tidak sombong. Kelebihanmu
dari kakak-kakakmu bukan saja pada ilmu dan un sur-unsur gerak,
tetapi juga pada sifat dan budimu. Aku tidak pernah menyinggung
masalah watak sebelumnya dengan kakak-kakak sebelummu.
Apabila mereka memenuhi syarat yang aku berikan, maka mereka
dapat segera menerima puncak ilmu itu. Tetapi ketahuilah, sebagai
seorang pedagang, meskipun aku memperdagangkan ilmu, maka
milikku pasti harus lebih baik dari milik orang lain. Ilmuku pun
harus
lebih baik dari ilmu orang lain. Karena itu, maka tidak pernah aku
mencoba memberikan sebaik-baiknya kepada mereka. Aku memberi
seperti orang berjual beli. Sedikit mungkin untuk harga yang
semahal mungkin. Aku tidak pernah mempedulikan untuk apa saja
ilmu itu kelak. Tetapi kini tidak, Sumekar. Untuk pertama kalinya
aku berpesan kepada seorang muridku, bahwa ilmu hanya berguna
bagi pengabdian. Ilmu yang dipergunakan untuk hal-hal yang
sebaliknya, pasti akan berarti bencana. Bencana bagi manusia dan
kemanusiaan.”
Sumekar menjadi semakin tumungkul. Terasa kata-kata gurunya
itu seolah-olah menyusup ke dalam jantungnya. Dan tanpa
dikehendakinya sendiri, maka kepalanya pun mengangguk-angguk
kecil.
“Nah, Sumekar.“ berkata gurunya, “kini berdoalah di dalam hati.
Mulailah dengan kesiapan tertinggi untuk menerima Aji Kala Bama.
Kau sendirilah yang sebenarnya harus menghisap Aji itu sesuai
dengan pemusatan nalar dan rasa. Aku hanya akan menuntunmu.”
Sumekar membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian
terdengar ia berdesis, “Aku telah siap guru.”
Demikianlah maka keduanya kemudian tenggelam dalam
pengerahan segenap kemampuan lahir dan batin. Empu Sada telah
bertekad untuk menjadikan muridnya yang seorang ini sebagai
pewaris yang paling sempurna dari ilmunya. Penyesalan atas masa
lampau telah mendorongnya untuk berbuat sendiri yang seakanakan
ingin dipergunakannya untuk mengurangi kesalahan-kesalahan
itu. Ia mengharap bahwa muridnya yang seorang ini dapat
menerapkan ilmunya untuk kebajikan, seperti apa yang dilihatnya
atas murid-murid Panji Bojong Santi dan apalagi murid Empu Purwa.
Meskipun seandainya muridnya tidak akan dapat berbuat seperti
mereka, namun setidak-tidaknya muridnya tidak menyalah-gunakan
ilmu yang dimilikinya dan betapa kecilnya akan dapat menyerahkan
ilmu itu untuk suatu pengabdian.
Malam berjalan terus bintang-bintang di langit bergeser semakin
jauh ke barat, seperti permata yang bertaburan pada sebuah
permadani yang berputar pada bola langit yang bulat. Angin yang
basah mengalir lembut mengisap dedaunan yang nyenyak tertidur
berselimutkan embun.
Akhirnya, langit yang kelam itu menjadi semburat merah oleh
warna fajar. Perlahan-lahan cahaya yang memancar dari balik
cakrawala merayap semakin tinggi. Dan berhamburanlah kokok
ayam jantan di antara kicau burung-burung liar di fajar pagi.
Kedua murid Empu Sada pun kemudian terbangun dari tidurnya.
Seperti biasa mereka segera melakukan pekerjaan mereka.
Menimba air bersama para pelayan. Membersihkan halaman dan isi
rumah. Semula mereka tidak memperhatikan bahwa mereka tidak
segera menjumpai Sumekar di dalam rumah itu. Tetapi lambat laun
terasa sesuatu yang kurang.
“Dimanakah Kakang Sumekar?“ desis yang seorang.
Kawannya menggelengkan kepalanya. “Aku belum melihatnya.“
jawabnya.
Ketika kemudian mereka bertanya kepada para pelayan, maka
tak seorang pun yang melihatnya. Tak seorang pun yang mengerti
kemana anak muda itu pergi.
Tetapi, kedua murid Empu Sada itu melihat pintu bilik di halaman
belakang tertutup rapat. Karena itu maka berkata salah seorang dari
mereka. “Mungkin kakang Sumekar ada di dalamnya.”
Tetapi keduanya tidak yakin akan hal itu. Mereka sama sekali
tidak mendengar langkah apapun di dalam bilik itu. Bahkan bilik itu
seolah-olah sedang tertidur nyenyak meskipun matahari telah mulai
melepaskan sinarnya yang kekuning-kuningan.
“Mungkin kakang Sumekar tidur di dalamnya“ berkata salah
seorang dari mereka.
“Apakah guru juga pergi?”
Kawannya mengangkat bahu katanya. “Tak seorang pun yang
dapat mengatakan tentang guru. Apakah guru ada di rumah
ataukah sedang pergi.”
Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka meneruskan kerja
mereka, membersihkan rumah dan halaman. Para pelayan pun
melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Tetapi kali ini Sumekar
tidak ada di antara mereka. Biasanya Sumekar lah yang memimpin
mereka dan memberi beberapa petunjuk tentang pekerjaan yang
harus mereka lakukan hari itu. Namun mereka tidak dapat
berpangku tangan, membiarkan padepokan itu terbengkalai karena
Sumekar tidak mereka temui.
Kedua murid Empu Sada itu semakin siang menjadi semakin
gelisah. Kalau Sumekar tidur di dalam bilik itu, ia pasti sudah
terbangun. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak berani
mengetuk pintu yang masih saja tertutup itu.
Sehari itu padepokan Empu Sada yang sunyi terasa menjadi
semakin sunyi. Kedua muridnya dan para pelayan hampir-hampir
tidak berbicara satu sama lain. Mereka lebih banyak merenung dan
menebak di dalam hati. Tetapi pintu bilik di halaman belakang itu
masih juga tertutup, dan mereka masih juga belum menemukan
Sumekar, apalagi guru mereka, Empu Sada.
Baru ketika matahari lingsir ke Barat menjelang senja, maka hati
kedua murid Empu Sada itu menjadi berdebar-debar. Mereka
melihat pintu bilik itu bergerak-gerak. Sejenak kemudian mereka
mendengar pintu itu bergerit.
Kedua murid Empu Sada itu tidak tahu kenapa mereka menjadi
berdebar-debar. Meskipun mereka tahu bahwa bilik itu memang bilik
yang khusus, tetapi kali ini mereka merasa hati beberapa perbedaan
dari hari-hari yang lampau. Mereka seakan-akan melihat, bahwa di
belakang pintu yang sedang bergerit itu tersembunyi sebuah rahasia
yang besar.
Ketika pintu itu terbuka dada kedua murid itupun berdesir.
Hampir tidak sabar mereka menunggu, siapakah yang berada di
dalam bilik itu.
Mereka menahan nafas ketika kemudian mereka melihat guru
mereka, Empu Sada melangkah keluar pintu dengan wajah yang
pucat. Tetapi ketika Empu Sada itu melihat kedua muridnya, maka
orang tua itu tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Kakakmu ada
di dalam bilik itu.”
Kedua muridnya termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud
gurunya. Apakah mereka harus masuk ke dalam bilik itu?
Tetapi keduanya tidak berani bertanya. Mereka hanya
memandang saja ketika gurunya berjalan perlahan-lahan masuk ke
dalam rumah.
“Apakah yang sudah terjadi?” bisik salah seorang dari mereka.
“Entahlah“ sahut yang lain.
“Marilah kita lihat.” ajak yang pertama.
Kawannya menjadi agak ragu-ragu. Tetapi kemudian mereka
melangkah memasuki bilik yang khusus mereka pergunakan untuk
berlatih.
Mereka tertegun ketika mereka melihat Sumekar sedang
mengemasi beberapa macam senjata. Beberapa macam benda yang
tidak mereka mengerti. Mereka melihat beberapa batang besi yang
melengkung dan beberapa senjata terpatah-patahkan. Di sudut
ruangan mereka melihat sebuah batu yang pecah berserakan.
“Apa Yang telah terjadi.“ tiba-tiba terloncat sebuah pertanyaan
dari salah seorang dari mereka.
“Tidak apa-apa.“ jawab Sumekar tersenyum. Ketika ia tegak
berdiri, maka kedua tangannya mengusap peluh yang membasahi
wajahnya.
Tiba-tiba salah seorang murid Empu Sada itu mengerutkan
keningnja. Batu-batu Yang pecah berserakan, senjata-senjata yang
patah dan keringat Sumekar Yang seakan-akan terperas dari dalam
tubuhnya ternyata telah memberinya petunjuk. Dengan suara
gemetar ia berdesis, “Kala Bama.”
Sumekar berpaling kearah adik seperguruannya itu. Tampaklah
wajahnya berkerut. Tetapi kemudian ia berdesis, “Ya. Tetapi jangan
membual.”
“Tidak.“ jawabnya, “berbahagialah kakang Sumekar yang telah
mendapat kesempatan memiliki Aji Kala Bama.”
“Pada saatnya kalian pun akan memilikinya pula.”
Kuda murid Empu Sada itu menggelengkan kepalanya. Dengan
wajah Yang suram salah seorang berkata, “Tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Aku tidak akan dapat menyediakan syarat yang diminta oleh
guru untuk itu.”
Sumekar mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia tersenyum.
“Tidak. Syarat itu tidak akan memberatimu lagi.”
Kedua murid Empu Sada Yang muda itu saling berpandangan.
Tetapi mereka tidak tahu maksud kata-kata Sumekar.
“Marilah.“ berkata Sumekar, “bantulah aku membersihkan tempat
ini.”
Kedua adik seperguruannya itu segera membantu membersihkan
tempat itu. Namun hampir-hampir tidak dapat mereka mengerti,
bahwa apa yang terjadi itu sama sekali tidak menimbulkan suara
sedikit pun. Demikian tajamnya pertanyaan itu membelit hatinya,
sehingga salah seorang dari mereka tanpa lesadarnya bertanya,
“Kakang, bagaimana mungkin hal ini terjadi tanpa suara?”
“Ah, tentu saja apa yang terjadi ini menimbulkan suara yang
amat ribut.”
“Tetapi kami tidak mendengarnya.”
“Kau masih tidur.“ sahut Sumekar. “semuanya terjadi sebelum
fajar. Sesudah itu aku pun menjadi pingsan hampir sehari penuh.”
Kembali kedua adik seperguruan Sumekar itu saling
berpandangan. “Pingsan hampir sepanjang hari.“ desis mereka di
dalam hati. Dengan demikian mereka dapat membayangkan betapa
beratnya saat-saat yang harus dilewati selama seseorang menerima
puncak tertinggi ilmu dari perguruan Empu Sada.
Sejenak kemudian Sumekar itu pun berkata, “Belajarlah dengan
tekun. Menerima ilmu tertinggi itu benar-benar memerlukan
kesiapan yang cukup. Lahir dan batin.”
Kedua adik-adik seperguruan Sumekar itu pun menganggukanggukkan
kepalanya. Dan Sumekar berkata seterusnya,
“Perguruan Empu Sada kini telah berubah warnanya. Bukan
perguruan yang dahulu. Dari perguruan ini untuk seterusnya harus
memancar kebajikan. Ilmu yang kalian terima harus menjadi pelita
bagi mereka yang kegelapan, bukan sebaliknya. Dan pelita itu harus
bersinar terang. Bukan pelita yang ditutup di bawah belanga.
Betapapun terangnya pelita itu, namun sinarnya yang tertutup sama
sekali tidak berarti. Tetapi pelita, itu harus menyala, bersinar
dan
menerangi keadaan di sekitarnya.”
Kedua adik seperguruan Sumekar itu ternganga-nganga
mendengar keterangan kakaknya. Mereka belum pernah mendengar
hal-hal yang demikian sebelumnya. Mereka hanya sekedar
menerima petunjuk mengenai beberapa macam ilmu gerak
menirukan dan memahami. Kemudian setiap kali, pada saatnya,
mereka harus menyerahkan uang atau benda-benda berharga.
Kalau tidak, maka mereka pun harus berhenti. Tak ada lagi
tambahan ilmu yang akan mereka terima. Itu saja.
Sementara itu Empu Sada telah berada di dalam biliknya. Terasa
betapa sepi dunianya. Namun setelah ia memberikan ilmu tertinggi
kepada muridnya, terasa bahwa dadanya menjadi agak lapang. Ia
sendiri tidak tahu, kenapa ia seakan-akan didorong dalam suatu
keharusan untuk dengan segera mewariskan ilmunya. Bahkan tidak
saja seperti yang pernah diberikannya kepada murid-muridnya yang
lain, maka Sumekar telah menerima lebih banyak dari mereka.
Betapa lelahnya lahir dan batin, maka anak muda itu jatuh pingsan
hampir sehari penuh.
Kini dada Empu Sada menjadi lapang. Lapang tetapi sepi, seperti
sepinya Padang rumput Karautan Yang luas. Orang tua itu berkalikali
menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya, maka
direbahkannya dirinya di pembaringannya. Ia pun merasa lelah
sekali, setelah dengan penuh kesungguhan diturunkannya ilmu
terakhirnya kepada Sumekar.
Tetapi dalam kesepian itu tumbuhlah segenap kenangan masa
lampaunya. Seorang demi seorang datang dan pergi dari
anganangannya.
Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika terbayang
kembali betapa ia dikecewakan oleh seorang gadis Yang bernama
Jun Rumanti.
“Aku menjadi kehilangan keseimbangan.“ desisnya, “dan lahirlah
seorang Empu Sada yang telah mengotori jagad.”
Empu Sada menggigit bibirnya. Alangkah cupet budinya.
Perbuatannya benar-benar telah tersesat. “Kita bersama-sama telah
hancur,“ desahnya kemudian, “aku, Jun Rumanti dan suaminya
yang meninggal itu.”
“Tetapi.“ tiba-tiba Empu Sada bangkit, “Jun Rumanti telah
melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang baik, yang
telah berbuat kebajikan. Lalu apa yang dapat aku lahirkan? Anak
tidak, tingkah laku pun tidak. Apalagi pengalaman terhadap manusia
dan kemanusiaan.”
Empu Sada itu termenung sejenak. “Aku baru mencoba,“ katanya
di dalam hati, “mudah-mudahan Sumekar itu dapat berbuat baik
seperti Mahisa Agni.”
Angan-angan orang tua itu pun kini seakan-akan terhisap di
seputar Mahisa Agni. Kembali terbayang anak muda itu merayap
masuk kedalam perangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Anak itu anak Jun Rumanti.“ desisnya, “kalau aku tahu
sebelumnya.”
“Tetapi mudah-mudahan aku belum terlambat.“ tiba-tiba orang
tua itupun meloncat dari pembaringannya, “alangkah bodohnya aku.
Kenapa aku berbaring saja di pembaringan, sedang bahaya yang
sebenarnya telah siap menerkam anak itu?”
Sejenak Empu Sada menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan
kehadiranku akan disambut oleh para prajurit Tumapel di Padang
Karautan.”
“Tidak, aku akan pergi ke Panawijen. Mudah-mudahan tidak
terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni.”
Empu Sada itu pun kemudian membulatkan hatinya. Disadarinya
bahwa sebenarnya kegelisahan telah mencengkamnya sejak ia
bermaksud menemui Ken Dedes di istana, apalagi setelah
diketahuinya bahwa Mahisa Agni adalah anak Jun Rumanti.
Empu Sada itu pun kemudian membenahi dirinya. Dihirupnya
semangkuk air hangat yang disediakan untuknya dan dimakannya
beberapa suap nasi. Terasa betapa nikmatnya setelah ia bekerja
keras lebih dari sehari penuh. Dikenyamnya makanan itu dengan
sepenuh minat. “Alangkah enaknya makanan ini dan alangkah
segarnya air padepokanku.”
Sejenak kemudian Empu Sada meraih tongkat panjangnya.
Dibelainya tongkat itu seperti membelai kekasih. Perlahan-lahan ia
melangkah keluar biliknya.
“Aneh,“ desisnya, “berpuluh tahun aku tinggal di padepokan ini,
tetapi seakan-akan aku menjadi orang asing di sini.”
Diamatinya setiap bagian rumahnya. Rumah yang didiaminya
sejak lama. Tetapi seakan-akan ia belum pernah melihatnya. Ukiran
pada pangkal tiang. tlundak dan ajuk-ajuk yang disungging dengan
warna-warna yang cerah. Lampu dinding dan lampu gantung.
“O, rumah ini rumah yang cukup baik.“ pikirnya. Tiba-tiba Empu
Sada ingat pada kekayaannya yang tersimpan di bilik sebelah, di
dalam lubang yang hanya diketahuinya sendiri. Peti yang
disandingnya sama sekali bukanlah kekayaan yang sebenarnya.
“Aku sudah tidak memerlukannya lagi.“ desisnya. ”Aku sudah
tidak memerlukan kekayaan duniawi. Ternyata benda-benda itu
tidak dapat memberi aku apa-apa.”
Karena itu maka dipanggilnya Sumekar. Diajaknya anak muda itu
berbicara seorang diri.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “hari ini aku akan pergi.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Dengan bimbang ia bertanya,
“Kemana guru?”
“Ah, apakah kau pernah mengetahui kemana aku pergi?”
“Kadang-kadang guru.”
“Ya, kadang-kadang aku memberitahu kepadamu kemana aku
pergi, tetapi sebagian besar dari pengembaraanku, tak seorang
muridku pun yang mengetahuinya.”
Sumekar tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalamdalam.
“Sumekar.“ berkala gurunya kemudian, “kau adalah penerus dari
padepokan Empu Sada. Kalau aku lambat kembali, atau bahkan
tidak kembali sama sekali, maka kau lah yang wajib meneruskan
tata kehidupan di padepokan ini. Kau harus mangerti apa yang
sebaiknya dilakukan. Kau harus mulai mengenali musim untuk
menanami sawah. Kau harus mengenal mangsa dan wataknya.
Bukan saja ilmu beladiri dan olah kanuragan. Para pembantumu
harus selalu bekerja dengan baik dan rajin.”
Sumekar menjadi heran mendengar pesan gurunya. Tanpa
disadarinya sekali lagi ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”
Empu Sada memandangi wajah anak muda itu. Ia melihat sorot
mata yang tulus. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya. Karena
itu maka jawabnya, “Aku akan pergi seperti aku pergi di waktuwaktu
yang lalu. Tetapi kali ini aku mempunyai kepentingan yang
lain. Aku tidak lagi ingin mendapatkan benda berharga. Ternyata
benda-benda berharga, kekayaan dan mas picis itu sama sekali
tidak memberi apa-apa kepadaku. Aku masih tetap seorang
pengembara, yang hampir setiap hari menanggung lapar dan haus
diperjalanan. Aku masih juga tetap seorang yang berpakaian kumal
seperti ini. Aku tidak mengenakan timang tretes berlian, tidak
menyelipkan keris berwrangka emas dan ditaburi oleh permata.
Tidak memakai kampuh yang diwarnai dengan gemerlapnya prada.
Tidak. Sehingga karena itu maka apa yang aku cari selama ini
ternyata tidak berarti apa-apa bagiku.”
Sumekar menjadi semakin tunduk. Dirasakannya bahwa diantara
kata-kata gurunya itu terselip suatu penjesalan yang tiada taranya.
“Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “ternyata aku telah
keliru mencari bekal dalam hidupku. Aku sangka emas picis raja
brana itu akan memberiku ketentraman dan kebahagiaan. Tetapi
ternyata bukan. Bukan itu Sumekar. Mungkin kekayaan akan dapat
menjadi salah satu syarat untuk menemukan ketentraman dan
kebahagiaan, namun apa bila syarat itu berubah menjadi tujuan,
maka hidup kitapun akan jatuh kedalam genggamannya. Maka akan
celakalah kita karenanya. Aku adalah contoh yang paling dekat
Sumekar. Aku hidup dalam perbudakan yang aku jeratkan sendiri
keleherku. Aku menjadi liar dan buas untuk mendapatkan harta
kekayaan, sedang harta kekayaan itu sama sekali tidak berguna
bagiku.“
Empu Sada berhenti sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang
tunduk. Sejenak kemudian Empu Sada itu meneruskan, “Bukankah
kau lihat Sumekar bahwa kekayaanku tidak memberi aku apa-apa.
Jasmaniah apa lagi rokhaniah. Nah, kenanglah apa yang terjadi
atasku. Mudah-mudahan akan dapat menjadi petunjuk bagi
hidupmu kelak.”
Sekali lagi Empu Sada berhenti. Tatapan matanya kini menjadi
kian pudar. Lalu katanya, “Meskipun telah terlambat Sumekar, aku
kini ingin mendapat bekal yang lain. Aku sudah terlambat. Aku
sudah tua. Aku harus menemukan sesuatu yang berarti dalam
hidupku betapapun kecilnya. Ternyata kekayaan yang terbaik di
dalam hidup ini adalah hubungan yang erat antara kita dengan Yang
Maha Agung. Hubungan yang paling mesra indah ketentraman dan
kebahagiaan sejati.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata gurunya itu
meresap langsung ke dalam kalbunya. Sentuhan-sentuhan yang
menggeser hatinya telah menumbuhkan pahatan yang dalam. Yang
tidak mudah terhapus oleh sentuhan-sentuhan yang lain.
“Karena itu Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “aku
menganggap bahwa apa yang aku miliki selama ini sama sekali tidak
berarti lagi bagiku. Semuanya akan aku serahkan kepadamu.
Terserahlah, apa yang akan kau perbuat dengan semuanya itu.
Mungkin kau akan dapat membangun sesuatu yang berarti bagi
padepokan ini, atau mungkin kau merasa perlu untuk menolong
orang-orang miskin di sekitar kita, atau apapun yang kau anggap
perlu. Apabila kau mengenal pemiliknya, alangkah senang hatiku
kalau kau sempat mengembalikan kepadanya.”
Sumekar mengangkat wajahnya. Ia tidak begitu mengerti
maksud kata-kata gurunya itu, sehingga gurunya menjelaskan,
“Sumekar, semua kekayaan yang pernah aku dapatkan dengan jalan
apapun, kini aku serahkan saja kepadamu untuk keperluan yang kau
anggap penting sesuai dengan pendirianmu.”
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa
gurunya menyimpan kekayaan tiada taranya. Sekarang kekayaan itu
diserahkannya kepadanya, tetapi dengan pesan yang mengikatnya.
Tetapi pesan itu telah membesarkan hatinya. Karena itu maka
Sumekar itu berkata dengan tajimnya. “Terima kasih atas
kepercayaan itu guru. Mudah-mudahan aku akan dapat melakukan
pesan yang guru berikan. Mudah-mudahan akupun tidak akan jatuh
ke dalam cengkeramannya. Memperhambakan diri kepada harta
benda itu.”
“Aku percaya kepadamu Sumekar, apalagi setelah kau melihat
sendiri contoh yang paling baik yang dapat kau saksikan.”
Sumekar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Mudahmudahan
guru. Mudah-mudahan yang Maha Agung selalu memberi
sinar terang di dalam hatiku.”
Empu Sada pun kemudian mengajak Sumekar masuk ke dalam
biliknya. Ditunjukkan segala rahasia yang selama ini seakan-akan
hanya diketahuinya sendiri. Ditunjukkannya celah dan lubanglubang
tempat harta bendanya tersimpan.
Meskipun Sumekar telah menyangkanya, tetapi ketika ia sempat
melihat sendiri apa yang disimpan gurunya, darahnya seakan-akan
membeku karenanya.
Sesaat ia berdiri seperti patung. Sekali-sekali dipejamkannya
matanya seakan-akan ia tidak yakin atas apa yang dilihatnya.
“Jangan heran.” berkata gurunya, “ini adalah ujud dari bencana
yang selama ini membelengguku. Kini aku menjadi gembira dan
berterima kasih kepada Yang Maha Agung yang telah membebaskan
aku dari padanya.”
Sumekar tidak menjawab. Matanya masih melekat pada bendabenda
yang berkilauaan itu.
“Sisihkan milik Kuda Sempana. Aku masih mengharap ia kembali
kepadaku. Aku akan mencoba membebaskannya dari belenggu yang
dijeratkannya sendiri pula. Meskipun bentuknya agak berbeda,
tetapi kedua-duanya dikendalikan oleh nafsu duniawi. Kuda
Sempana pun telah dicekik oleh nafsunya. Nafsu memiliki seorang
gadis cantik yang bernama Ken Dedes. Meskipun ujudnya tidak
sama dengan benda-benda yang telah menjeratkan, namun
wataknya tidak jauh berbeda. Kedua-duanya digerakkan oleh nafsu
duniawi.”
Sumekar masih berdiam diri, tetapi ia mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Kalau Kuda Sempana kelak menyadari keadaannya, maka
barang-barangnya itu akan dapat sedikit menghiburnya.”
Empu Sada berhenti sejenak, lalu katanya, “Apakah kau mengerti
maksudku Sumekar.”
“Ya guru,“ jawab Sumekar, “aku mengerti.”
“Baik. Manfaatkan harta benda ini untuk kepentingan sesama.
Dengan demikian, aku akan dapat pergi dengan dada yang lapang.
Aku kini merasa bahwa tanganku telah lepas dari belenggu yang
selama ini menjeratku. Aku kini menjadi manusia yang bebas.
Dalam sisa-sisa umurku aku akan berusaha untuk menjadikan
hidupku berarti, berarti bagi sesama betapapun kecil arti itu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi tanpa
sesadarnya ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”
“Pertanyaanmu telah kau ucapkan untuk ketiga kalinya Sumekar.
Maaf, aku tidak dapat menjawab, karena aku sendiri belum
menentukan sikap. Kemana dan untuk apa aku pergi.”
Sumekar menggigit bibirnya. Ia merasa bahwa pertanyaanya itu
agak mengganggu gurunya. Sebelumnya ia sama sekali tidak
bernafsu untuk mengetahui kemanakah gurunya akan pergi. Sekali
dua kali ia mengucapkan pertanyaan serupa itu. Tetapi pertanyaan
itu meluncur saja dari bibirnya tanpa suatu maksud. Pertanyaan itu
diucapkannya hanya sekedar untuk memperpantas sikap. Tetapi kini
anak muda itu benar-benar ingin tahu, kemanakah gurunya akan
pergi. Namun sayang, gurunya tidak memberitahukannya.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “kau kini menjadi wakilku. Wakil
dalam segala persoalan. Kau jugalah yang harus menuntun adikadik
seperguruanmu. Tetapi ingat, tuntunlah ia lahir dan batinnya.
Bahkan seandainya ada kakak-kakak sepergurumu yang
berkepentingan dengan padepokan ini, maka segala persoalannya
harus kau terima sebagai wakilku. Kalau aku lambat kembali atau
tidak kembali sama sekali, kembangkanlah nama padepokan ini
sebaik-baiknya. Kau mengerti?”
Sumekar mengangguk, jawabnya, “Ya guru.”
“Terima kasih,“ sahut gurunya, “aku percaya kepadamu.”
“Tetapi,“ berkata Sumekar kemudian, “apakah yang dapat aku
lakukan terhadap kakak-kakak seperguruanku? Mereka tahu siapa
aku dan mereka merasa bahwa mereka lebih berhak untuk berbuat
seperti itu.”
“Tetapi aku pun berhak menentukan siapakah yang aku percaya
untuk mewakili aku.” sahut gurunya, “Sumekar, meskipun kau masih
muda, tetapi kau aku anggap mencukupi syarat untuk berbuat
demikian. Seandainya ada yang mencoba memaksakan
kehendaknya, maka kau pun dapat bertahan atas sikap itu, bahkan
seandainya dengan kekerasan sekalipun. Tak seorang pun yang
dapat aku percaya menerima harta benda sebanyak ini tetapi tidak
untuk dirinya sendiri, selain kau.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tugas itu bukan tugas
Yang ringan. Namun gurunya berkata selanjutnya, “Baiklah. Kalau
kau memerlukan bukti kepercayaanku. Tongkatku akan aku
tinggalkan untukmu, sebagai pertanda bahwa aku telah
menyerahkan segala sesuatunya kepadamu.”
Sekali lagi darah Sumekar terasa berhenti mengalir. Agaknya
gurunya benar-benar telah melepaskan padepokan ini. Terasa oleh
anak muda itu, seakan-akan pertemuannya dengan gurunya kali ini
adalah kali yang terakhir.
Ketika gurunya menyerahkan tongkatnya, maka Sumekar
menerimanya dengan tangan gemetar. Tetapi sentuhan tangannya
pada tongkat itu merasakan, bahwa tangan gurunya pun gemetar
pula.
Ternyata Empu Sada merasakan sebuah goncangan pada
perasaannya pada saat tongkat itu lepas dari tangannya. Tongkat
itu adalah ciri dirinya dan juga senjatanya. Seorang yang
bertongkat
panjang adalah seorang yang bernama Empu Sada, seperti Panji
Bodjong Santi dengan kasa kulit harimaunya, seperti Empu Gandring
dengan keris raksasanya. Dan kini tongkat itu lepas dari tangannya.
Namun untuk suatu, kepentingan yang tidak kalah besarnya dari
setiap kepentingan yang akan dihadapinya.
“Guru.“ desis Sumekar setelah ia menerima tongkat, “aku hanya
dapat mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi bagaimana dengan
guru sendiri? Bukankah tongkat ini ciri kebesaran guru dan
merupakan senjata guru pula.”
Empu Sada tersenyum. Tetapi senyumnya membayang seperti
bulan disaput awan. Suram.
“Aku tidak memerlukannya lagi Sumekar. Aku tidak ingin lagi
mempergunakan akan senjata untuk menimbun harta benda yang
tidak berarti apa-apa dalam hidupku. Aku tidak lagi ingin
memamerkan namaku yang kotor itu lewat tongkatku. Bahkan aku
ingin kalau aku dapat meninggalkankan bahkan melupakan masamasa
lampauku, apabila mungkin.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. la merasakan keanehan
sikap gurunya. Sikap itu bukan sekedar sikap penjesalan, tetapi
sikap itu telah sangat merisaukannya.
Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang terdengar kemudian
adalah nafas Sumekar yang terengah-engah.
Di luar bilik Empu Sada terdengar kedua murid Empu Sada yang
lain terbatuk-batuk. Mereka sedang menyalakan lampu-lampu di
dalam rumah. Tetapi mereka tidak berani masuk kedalam bilik
gurunya, seperti setiap hari. Yang berani masuk kedalam bilik itu
hanya Sumekar selain gurunya sendiri. Hanya apabila perlu sekali
seorang dua orang berani dengan tergesa-gesa.
“Sumekar.“ berkata Empu Sada kemudian, “ternyata hari telah
terlampau gelap. Ambillah pelita dan terangilah bilik ini. Untuk
seterusnya bilik ini adalah bilikmu sambil menjaga semua harta
benda itu, sampai suatu ketika harta benda itu habis terbagi dan
jatuh ketangan yang benar memerlukannya.”
Kali ini Sumekar tidak dapat lagi menahan pertanyaannya
meskipun ia ragu-ragu mengucapkannya. “Guru, kenapa guru
merasa bahwa guru akan lambat kembali dan bahkan mungkin tidak
kembali sama sekali.”
Sekali lagi Empu Sada tersenyum. Senyum yang suram. Katanya,
“Aku tidak tahu. Jangan tanyakan itu lagi. Sekarang, pasanglah
pelita, dan seterusnya aku akan pergi meninggalkan padepokan ini.”
“Guru.“ potong Sumekar.
“Jangan bertanya lagi. Lakukan perintahku. Ambillah pelita. Bilik
ini telah terlampau gelap.”
Sumekar tidak berani bertanya lagi. Betapa hatinya diliputi oleh
seribu satu macam pertanyaan, namun ia tidak berani
mengucapkannya. Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Di
luar bilik di ruang dalam telah terpasang lampu dinding. Nyala
apinya bergetar karena angin yang menyusup lubang-lubang
dinding.
Sumekar pergi kebelakang untuk mengambil pelita yang setiap
hari dipasangnya di bilik Empu Sada. Ternyata pelita itu telah
menyala. Ketika ia mengambil pelita itu, terdengar adik
seperguruannya bertanya, “Kakang, apakah yang kau bicarakan
dengan guru? Apakah penting sekali?”
Sumekar menggeleng, “tidak. Tidak ada apa-apa.”
Tetapi wajah adik seperguruannya masih saja dibayangi oleh
keinginannya untuk mengetahui serba sedikit apakah yang sedang
mereka bicarakan.
“Aku merasa, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar,“ desah salah
seorang adik seperguruannya itu.
“Tidak apa-apa.“ sahut Sumekar, “adalah soal biasa saja yang
dipesankan guru kepadaku. Rajin bekerja, tekun berlatih dan tidak
melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.”
Kedua adik ieperguruannya itu mengerutkan keningnya. Pesan itu
tidak pernah didengarnya. Tetapi ketika mereka akan bertanya lagi,
Sumekar berkata, “Nanti sajalah kita berbicara. Guru menunggu di
dalam bilik yang terlampau gelap.”
“Pelita itu telah lama terpasang.“ sahut salah seorang adik
seperguruannya, “tetapi aku tidak berani membawanya masuk ke
dalam bilik guru.”
Sumekar tersenyum, meskipun senyumnya tidak terlampau.
Dengan pelita di tangan Sumekar berjalan masuk kembali ke
dalam rumah, kemudian ke dalam bilik gurunya. Tetapi ketika ia
sampai kedalam bilik itu, gurunya tidak dijumpainya di dalam. Yang
ada di dalam bilik itu hanyalah tongkatnya saja yang telah
diserahkannya kepadanya.
“Kemanakah Empu Sada.“ desis Sumekar didalam hatinya. Tetapi
Sumekar tidak segera mencarinya.
Disangkanya gurunya sedang pergi keluar sebentar. Tetapi
ternyata gurunya tidak segera ditemuinya kembali ke dalam biliknya.
Sejenak ia menunggu, tetapi gurunya belum juga datang.
Betapa terkejut anak muda itu ketika tiba-tiba ia mendengar kaki
kuda berderap. Dengan sigapnya ia meloncat langsung liwat pintu
depan. Dan apa yang dilihatnya benar-benar telah menghentikan
arus darahnya. Ia melihat gurunya berpacu di atas kudanya.
“Guru.“ teriak Sumekar.
Gurunya berpaling. Ditariknya kekang kudanya untuk
memperlambat derap kakinya. Masih di atas punggung kuda orang
tua itu berkata, “Selamat tinggal Sumekar. Kaulah kini ketua
padepokan ini. Kerjakanlah pesanku selama aku pergi, atau bahkan
apabila aku tidak kembali lagi.”
“Guru.“ banyak yang akan diteriakkannya, tetapi yang terloncat
dari mulutnya hanyalah satu kata.
Sumekar masih melihat gurunya tersenyum. Namun sejenak
kemudian kuda yang ditumpanginya meloncat keluar regol halaman.
Dan hilanglah gurunya dari pandangan matanya.
Sejenak Sumekar berdiri mematung. Berbagai perasaan
berkecamuk di dalam hatinya. Ia melihat gurunya pada saat-saat
terakhir seperti orang asing yang baru dikenalnya. Perubahan sikap
dan perbuatannya benar-benar telah membingungkannya. Hampirhampir
ia tidak percaya, bahwa orang yang sedang melarikan
kudanya itu adalah Empu Sada yang sebelumnya pernah
menuntunnya dalam ilmu tata beladiri. Seandainya kemudian orang
itu memberinya ilmu tertinggi, Kala Bama, maka mungkin ia tidak
lagi percaya bahwa orang itu adalah Empu Sada.
Tetapi Empu Sada itu telah pergi.
Apapun yang pernah dilakukan, namun orang itu adalah gurunya.
Telah bertahun-tahun ia berada di dalam padepokan itu sebagai
seorang murid. Bahkan seandainya Empu Sada itu tidak berubah
pada saat-saat terakhir, namun ia tidak dapat mengingkarinya
bahwa ia pernah berguru kepadanya. Dan ia tidak tahu, kenapa ia
terdampar kedalam perguruan itu meskipun ia tahu sebelumnya,
bahwa hidup gurunya diliputi oleh suatu rahasia yang kelam.
Sumekar itu tersadar ketika ia mendengar salah seorang adik
seperguruannya bertanya, “Kakang, apakah guru pergi?”
Sumekar berpaling. Dilihatnya dua anak-anak yang masih sangat
muda. Ditariknya nafas panjang-panjang. Jawabnya, “Ya. Guru telah
pergi.”
Sejenak mereka saling berdiam diri. Pandangan mata mereka
masih saja melekat pada regol halaman. Tetapi mereka sudah tidak
melihat sesuatu. Hanya pelita yang redup sajalah yang masih
tergantung dan bergoyang ditiup angin.
Malam menjadi semakin sepi. Yang terdengar adalah pertanyaan
adik seperguruan Sumekar, “Kemanakah guru pergi?”
Sumekar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”
Ketika Sumekar berpaling memandang kedua adik
seperguruannya itu dilihatnya bahwa kedua wajah itu menjadi
keheran-heranan mendengar jawaban Sumekar, sehingga Sumekar
merasa perlu untuk menjelaskan, “Sebenarnyalah aku tidak tahu
kemana guru pergi. Bukankah aku baru saja mengambil pelita dari
belakang? Ketika aku kembali ke dalam bilik, ternyata guru telah
tidak ada di dalam. Aku sangka bahwa guru hanya keluar sebentar.
Tetapi yang aku dengar adalah derap seekor kuda.”
Kedua adik seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Meskipun mereka masih juga diliputi oleh keheranan.
Bahkan Sumekar itu tanpa dikehendakinya sendiri bergumam
lirih, “Mungkin guru akan sangat lambat kembali atau bahkan tidak
sama sekali.”
“He,“ kedua adik seperguruannya itu terkerljut. “Apakah guru
tidak akan kembali?”
Kini Sumekar lah yang terkejut. Sejenak ia terdiam, namun
kemudian terpatah-patah ia menjawab, “Maksudku, guru belum
pasti kapan akan kembali.”
“Dari mana kakang tahu?”
Sekali lagi Sumekar tergagap. Namun kemudian jawabnya, “Guru
mengatakannya dari atas punggung kuda.”
Kedua adik seperguruannya itupun mengangguk-anggukkan
kepadanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya aku mendengar
lamat-lamat. Mungkin guru tidak kembali.”
Wajah kedua anak-anak muda itupun menjadi suram, seperti
Sumekar merekapun tahu bahwa gurunya adalah seorang yang
diliputi oleh seribu macam rahasia. Bahkan kedua anak-anak itu
merasa bahwa mereka tidak akan dapat sampai tangga tertinggi
dari perguruan Empu Sada karena syarat-syarat yang harus
disediakan tidak akan pernah mencukupi. Tetapi meskipun demikian
kepergian gurunya itu mempengaruhi perasaannya juga. Mereka
pun merasakan kesedihan pada saat perpisahan yang aneh.
Dalam pada itu, Empu Sada sendiri berpacu di dalam gelap.
Dilepaskan segelap himpitan perasaannya dengan berpacu seperti
dikejar hantu. Disentuhnya setiap kali perut kudanya yang meloncat
semakin lama semakin cepat.
Orang tua itu ingin segera menjauhi padepokannya. Ia takut
kalau padepokan yang telah didiaminya berpuluh tahun itu akan
menariknya kembali. Dengan sepenuh hati ia berusaha memutuskan
hubungan antara dirinya dengan padepokannya. Ia sendiri tidak
tahu, kenapa ia berusaha berbuat seperti itu.
Angin malam yang dingin terasa semakin kencang mengusap
tubuh Empu tua yang sedang melarikan kudanya itu. Sekali-sekali
terdengar orang tua itu berdesah.
Ketika ia berpaling, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah
dinding hitam kelam yang seakan-akan berlari secepat lari kudanya,
mengikutinya dibelakang. Tetapi disawah-sawah di sisi jalan orang
tua itu melihat berjuta-juta kunang-kunang yang berkeredipan,
seakan-akan bersaing dengan bintang yang bertaburan di wajah
langit yang biru pekat.
Empu Sada bahkan semakin mempercepat kudanya. Kini Empu
Sada mencoba melupakan padepokannya. Yang dihadapinya adalah
sebuah perjalanan ke Panawijen. Ia merasa langkah kaki kudanya
itu terlampau lambat.
“Mudah-mudahan aku tidak terlambat.“ katanya di dalam hati.
Ketika kudanya telah meninggalkan lingkungan tanah
persawahan padepokannya, maka Empu Sada berhasil melepaskan
kenangannya atas padepokannya itu.
Dicobanya untuk membayangkan apa yang akan terjadi, dan apa
saja yang dapat dikerjakan. Tetapi apabila ia terlambat dan Mahisa
Agni mengalami sesuatu, maka ia telah ikut serta menjerumuskan
anak Jun Rumanti itu ke dalam bencana.
Karena itu maka Empu Sada itu memacu kudanya lebih cepat.
Seakan-akan didengarnya kembali kedua orang prajurit Tumapel
yang bertugas di Padang Karautan itu berceritera tentang beberapa
lumbung yang terbakar di Panawijen. Peristiwa itu seakan
tergambar jelas di dalam angan-angannya. Semakin
direnungkannya, maka iapun menjadi semakin yakin bahwa itu
hanyalah sekedar akal Kebo Sindet untuk memancing Mahisa Agni.
Sebenarnyalah bahwa apa yang terjadi adalah demikian. Sebelum
kedua prajurit Tumapel kembali menghadap Akuwu untuk
memberikan beberapa laporan, maka datanglah dua orang tua
kePadang Karautan memberitahukan bahwa Panawijen tumbuh
kebakaran.
Tetapi kebakaran itu bukanlah kebetulan saja terjadi. Kebakaran
yang terjadi dengan tiba-tiba itu ternyata telah digarap oleh
tangan
yang licik.
Setelah melihat setiap kemungkinan, dan setelah mengenal
berapa persoalan lebih banyak lagi atas Mahisa Agni, Panawidjen
dan Kuda Sempana sendiri, maka Kebo Sintlet telah menemukan
sebuah cara untuk menjebak Mahisa Agni.
Demikian mahalnya Mahisa Agni bagi kedua iblis itu, maka segala
cara telah dilakukan untuk menjeratnya. Bagi mereka, Mahisa Agni
akan merupakan sebuah barang yang sangat berharga. Ia adalah
kakak seorang gadis yang sebentar lagi akan naik jenjang
perkawinan. Tidak dengan sembarang orang, tetapi dengan Akuwu
Tumapel. Bukankah Mahisa Agni akan dapat menjadi barang
taruhan untuk mendapatkan harta benda yang tidak ternilai
banyaknya.
Pada saat kedua bersaudara itu menemukan caranya, maka
keduanya menjadi sangat bergembira, seakan-akan Mahisa Agni
telah berada ditangannya. Keduanya menganggap bahwa Mahisa
Agni mempunyai kedudukan yang penting pada saat-saat
perkawinan, sebagai kakak gadis bakal permaisuri itu. Meskipun
Akuwu dapat mempergunakan kekuasaanya untuk berbuat seperti
yang dikehendaki, namun manurut peristiwa yang pernah terjadi,
Ken Dedes merasa sangat terikat kepada kakaknya, sehingga
apabila mungkin, maka segala usaha pasti akan dilakukan untuk
menyelamatkannya.
“Kalau usaha itu gagal,” berkata Wong Sarimpat, “kita masih
dapat memaksa Kuda Sempana untuk memberi seluruh
kekayaannya kepada kita.”
“Huh, apakah kekayaan kelinci itu cukup banyak.” sahut Kebo
Sindet, “pekerjaan kita ini tidak boleh gagal.”
Dengan rencana itu, maka pergilah kedua hantu dari
Kemundungan itu ke Panawijen. Mereka telah membawa Kuda
Sampana serta. Dangan segala macam akal, mereka telah
membujuk Kuda Sempana untuk membatunya.
“Jangan kau bawa-bawa ayahku pula.” katanya.
Mendengar permintaan itu Wong Sarimpat tertawa terbahakbahak
sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Katanya, “Apakah
salahnya seorang ayah membantu anaknya untuk mencapai citacitanya.
Bukankah wanita sama nilainya dengan pusaka cita-cita.”
“Tetapi aku sudah cukup dewasa. Dan bukankah paman berdua
adalah dua orang yang tidak ada tandingnya. Karena itu, jangan
ayahku dibawa-bawa. Ia sudah cukup menderita melihat tingkah
lakuku selama ini.”
“He,” Kebo Sindet memandangi wajah Kuda Sempana dengan
tajamnya. Meskipun wajahnya yang mati itu tidak bergerak, tetapi
sorot matanya seakan-akan langsung menembus dada.
“Kuda Sempana.” Berkata Kebo Sindet dengan nada yang berat,
“memang aku bermaksud minta kepada ayahmu untuk menolong
kita. Tetapi percayalah bahwa ia tidak akan banyak tersangkut. Ia
hanya akan berbuat sedikit.”
“Apakah yang harus dilakukan?”
“Memberitahu Mahisa Agni, bahwa di Panawijen timbul
kebakaran.”
“He.” Kuda Sempana terkejut, “apakah paman akan membakar
Panawijen.”
“Ya.”
Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Betapa gelap hatinya,
namun ia anak Panawijen sejak lahir. Panawijen Yang kini telah
menjadi kering itu akan dibakar. Alangkah mengerikan.
“Bagaimana pertimbanganmu?”
“Mengerikan.” desisnya.
Kembali terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.
Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Kau benar-benar anak
cengeng. Kau sudah basah di tengah-tengah banjir. Kau tidak akan
dapat kembali, sebab bagimu akibatnya tidak ada bedanya.”
“Tetapi tidak menyeret orang lain untuk hanyut bersamamu.”
sahut Kuda Sempana.
Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras, begitu
kerasnya sehingga dada Kuda Sempana serasa akan terpecahkan
olehnya.
“Kuda Sempana.“ berkata Kebo Sindet. Wajahnya yang membeku
itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan nama sekali, “sudah
aku katakan, bahwa ayahmu hanya akan membantu,
memberitahukan kepada Mahisa Agni, bahwa di Panawijen telah
terjadi kebakaran.”
“Tidak ada gunanya.”
“Kenapa?”
“Mahisa Agni telah mengenal ayahku. Ia tidak akan percaya.”
Wong Sarimpat tiba-tiba mengerutkan keningnya, sedang Kebo
Sindetpun terdiam sejenak. Tetapi sesaat kemudian ia berkata,
“Bagus. Ada jalan lain yang lebih baik. Lebih baik bagi kita dan
lebih
baik bagi ayah Kuda Sempana.”
“Apakah itu.“ bertanya adiknya.
“Ayah Kuda Sempana hanya mendorong seseorang atau dua
orang untuk menyusul Mahisa Agni ke Padang Karautan.”
“Tak seorangpun yang berani.”
“Ayahmu harus memberi jaminan, bahwa tidak akan ada
gangguan apapun di Padang Karautan. Ayahmu harus memilih
orang-orang yang dapat dibujuknya. Dalam keadaan seperti
sekarang, maka setiap orang Panawijen pasti ingin menjadi
pahlawan. Apalagi kalau ayahmu dapat membujuk dan memberi
mereka sekedar upah.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya menjadi
pepat. Ia tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kini dikehendaki?
Mahisa Agni atau apa? Ia sendiri tidak tahu apakah ia akan tetap
berada di dalam sarang dua serigala bersaudara itu.
Seperti seorang yang kehilangan akal Kuda Sempana
menundukkan kepalanya di atas punggung kudanya. Panawijen
semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika mereka memasuki
daerah persawahan maka terasa dada Kuda Sempana berdebar
terlampau cepat. Daun-daun yang kuning berguguran, tanah yang
kering dan terpecah-pecah, memberikan kesan yang mengerikan,
seperti terpecahnya hati dan perasaannya.
Sekarang ia datang untuk membuat bencana baru. Dalam udara
yang kering dan panas itu maka sepercik api akan dapat menjadikan
Panawijen itu karang abang.
“Apakah aku harus menyaksikan kampung halamanku ini menjadi
neraka?” Kuda Sempana itu menjadi semakin tidak mengerti tentang
dirinya sendiri. Sehingga akhirnya ia tidak mampu lagi untuk
berpikir. Ia berbuat tanpa dapat diyakininya sendiri, apakah yang
dilakukan itu berarti baginya.
Kuda Sempana itu terkejut ketika tiba-tiba Kebo Sindet berkata,
“Kita berhenti di sini. Kita sembunyikan kuda-kuda kita. Kita akan
masuk ke Panawijen tampa diketahui oleh siapa pun. Kita akan
menyalakan api. Beberapa buah lumbung dan rumah harus
terbakar.”
Kuda Sempana sudah mendengar sebelumnya, bahwa mereka
akan membakar Panawijen, tetapi ketika Kebo Sindet itu
mengatakannya sekali lagi, maka dadanya menjadi berdebar-debar.
“Apakah aku akan membiarkan kampung halamanku musnah
dimakan api?” desisnya di dalam hati.
Tetapi ia menjadi termangu-mangu ketika Kebo Sindet yang
seakan-akan mengerti perasaannya berkata, “Jangan cemas Kuda
Sempana. Aku tidak akan membakar seluruh padukuhan Panawijen.
Aku hanya akan membakar beberapa buah lumbung dan rumah di
sekitarnya.”
“Panawijen kini sedang menderita kekeringan. Kalau lumbunglumbung
terbakar, maka mereka pasti segera akan mati kelaparan.”
“Sudah aku katakan, tidak semua lumbung akan aku bakar.”
“Yang satu atau dua lumbung itu pengaruhnya akan besar sekali
bagi Panawijen.”
“Jadikanlah mereka korban dari cita-citamu. Jadikanlah mereka
umpan kailmu. Kalau ikan yang akan kita pancing itu ikan yang
besar, maka umpannyapun harus cukup besar pula yang akan aku
jadikan umpan?”
Dada Kuda Sempana berdesir. Sendirian itu merupakan ancaman
baginya. Karena itu maka iapun berdiam diri. Betapa hatinya
menukik, tetapi ia berhadapan dengan Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Dua iblis kakak beradik yang benar-benar berhati iblis.
Dengan demikian maka Kuda Sempana tidak dapat ber buat apaapa
lagi. Ia harus menurut saja ketika mereka menarik kuda-kuda
mereka ke dalam gerumbul yang telah kekuning-kuningan.
Kemudian sejenak mereka menunggu hari menjadi gelap.
Ketika lamat-lamat dikejauhan terdengar bunyi burung kedasih,
maka berkatalah Kebo Sindet, “Hari telah malam. Marilah kita
lakukan pekerjaan kita.”
Kuda Sempana tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia
harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perasaannya.
Tetapi ia tidak dapat menolak.
Peristiwa demi peristiwa telah menghantam perasaan Kuda
Sempana yang semakin lama menjadi semakin kosong. Semakin
tidak dapat dimengertinya sendiri.
Malam itu Kuda Sempana menyaksikan api yang melonjak
kendara. Dengan hati yang pedih ia melihat orang-orang Panawijen
saling berlari dan berteriak-teriak ngeri. Namun orang-orang itu
kemudian menemukan keseimbangan. Mereka tidak lagi berlari-lari,
tetapi beberapa orang laki-laki yang tinggal di padukuhan karena
beberapa hal, yang pada umumnya adalah orang tua-tua telah
berusaha untuk memadamkan api itu. Mereka mencoba
merobohkan rumah-rumah dan pepohonan di sekitar api yang
sedang menyala-nyala, sehingga mereka dapat membatasi, supaya
api itu tidak menjalar semakin luas.
Meskipun demikian, Panawijen telah menjadi geger.
Perempuanperempuan
yang berani membantu mencoba memadamkan setidaktidak
membatasi supaya api tidak menjalar.
Dari kejauhan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana
menyaksikan hiruk pikuk itu dengan tanggapan mereka sendirisendiri.
Kebo Sindet melihat api itu dengan wajahnya yang
membeku, sedang Wong Sarimpat tampak tertawa-tawa kecil.
Sekali-sekali tangannya mengusap wajahnya yang gembung. Wajah
yang basah dilapisi oleh keringat. Disamping mereka, Kuda
Sempana menyaksikan api itu dengan hati yang tersayat-sayat.
“Nah, lihatlah.“ berkata Kebo Sindet, “kampung halamanmu sama
sekali tidak musnah. Bukankah hanya sebagian kecil dari padukuhan
itu yang terbakar. Lihatlah, mereka telah berhasil menguasai api.”
Kuda Sempana tidak menjawab.
“Kita akan segera melakukan tugas berikutnya. Nah, Kuda
Sempana, antarkan aku ke rumah ayahmu.”
“Apakah yang akan paman lakukan?”
“Antarkan aku ke rumah ayahmu.”
“Ayah pasti tidak ada di rumah. Ayah pasti sedang bergulat
dengan api itu pula.”
“Tidak apa, kita tidak tergesa-gesa. Kita dapat menunggunya
sampai nanti lingsir wengi atau bahkan sampai besok pagi
sekalipun.”
Kuda Sempana tidak dapat menjawab lagi. Maka mau tidak mau
kedua iblis kakak beradik itu harus dibawanya pulang ke rumah
orang tuanya.
Betapa liciknya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat membujuk ayah
Kuda Sempana. Kebo Sindet yang berwajah beku itu sekali-sekali
dapat juga tersenyum sambil berkata, “Untuk kepentingan anakmu
Kaki.”
Kuda Sempana sama sekali tidak sempat menolak. Ia diam saja
seperti patung mendengarkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat
berkata berkepanjangan. Hanya sekali-sekali ia terpaksa mengiakan
apabila Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bertanya kepadanya.
“Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “anakmu memang menghendaki aku
menangkap Mahisa Agni hidup-hidup.”
Orang tua itu memandangi anaknya dengan sorot mata yang
aneh. Tetapi Kebo Sindet segera berkata, “Tetapi persoalannya tidak
saja menyangkul anak Kaki. Ada banyak persoalan. Kalau bapak
bersedia membantu kami, maka nasib bapak tidak akan sejelek
sekarang ini. Kaki tidak akan dapat menggantungkan nasib Kaki
kepada Kuda Sempana yang kini sudah bukan seorang Pelayan
Dalam yang terhormat lagi. Apakah bapak pernah melihat emas
sebesar ini?”
Mata ayah Kuda Sempana itupun terbelalak melihat sekeping
emas murni. “Apakah itu benar-benar emas.“ ia bertanya.
“Bertanyalah kepada Kuda Sempana.”
Orang tua itu menelan ludahnya. Tetapi ia tidak segera
menjawab. Hatinya masih dipenuhi oleh keragu-raguan.
“Pekerjaan Kaki tidak berat. Carilah dua atau tiga orang yang
bersedia pergi ke Padang Karautan untuk menyampaikan kabar ini
kepada Mahisa Agni. Hanya itu.”
Ayah Kuda Sempana itu masih saja berdiam diri. Tetapi sorot
matanya tidak juga lepas dari sekeping emas murni yang masih di
tangan Kebo Sindet.
“Nah bagaimana?“ bertanya Kebo Sindet. Sekali lagi ayah Kuda
Sempana itu menelan ludahnya.
“Kau akan menerima emas ini untuk pekerjaan yang tidak berarti.
Membujuk dua atau tiga orang untuk memberitahukan kebakaran ini
kepada Mahisa Agni.“
Ayah Kuda Sempana itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sekali-sekali dipandanginya wajah anaknya yang buram, dan
kemudian kembali matanya tersangkut pada emas yang bercahayacahaya
itu.
“Tak seorang pun yang berani pergi ke Padang Karautan.“
gumam ayah Kuda Sempana itu seakan-akan kepada diri sendiri.
“Kau dapat memberi tahukan, bahwa sekarang Padang Karautan
telah tidak berbahaya lagi. Hantu Karautan telah dibinasakan oleh
Mahisa Agni.”
Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
Katanya, “Kalau ada yang berani menyeberangi padang ini, maka
hal itu pasti sudah dilakukan tanpa seorang pun yang
membujuknya. Tetapi mereka belum tahu, bahwa Padang Karautan
kini sudah tidak menakutkan lagi seperti pada masa-masa yang
lampau. Kau dapat membujuk mereka supaya mereka menjadi
berani, itu saja. Atau kau sendiri yang akan pergi?”
“Seandainya aku tidak bertemu dengan hantu Padang Karautan,
maka bagiku Mahisa Agni adalah seorang yang aku takuti lebih dari
hantu yang manapun juga. Perbuatan Kuda Sempana selama ini
telah cukup menjadi alasan baginya untuk membunuhku.”
Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi kemudian wajah itu
kembali menunduk. Dengan wajah yang suram anak muda itu
menarik nafas dalam-dalam.
“Terserahlah kepadamu Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “emas ini
sangat tergantung kepada perbuatanmu.”
Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya.
“Pikirkanlah.“ gumam Wong Sarimpat pula.
Kuda Sempana tidak dapat berbuat apapun. Ia tahu betapa
kasarnya kedua kakak beradik itu. Kalau ia berbuat sesuatu yang
tidak sesuai dengan kehendaknya, maka kedua orang itu dapat
berbuat sekehendaknya atas dirinya dan bahkan ayahnya itu pula.
“Pekerjaan itu bagiku bukanlah perkerjaan yang mudah.“ berkata
ayah Kuda Sempana.
“Kaki hanya tinggal membujuk mereka untuk tidak takut berjalan
di Padang Karautan. Bukankah Mahisa Agni dapat berbuat banyak
untuk kepentingan kampung halamannya?”
“Tetapi Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat demikian, sebab
bukankah tuan hendak menangkapnya bersama anakku ini.”
Sekali lagi Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi yang
menjawab adalah Kebo Sindet, “Benar, demikianlah. Mudahmudahan
anakmu mendapat kepuasan karenanya. Dengan demikian
maka hidupnya tidak akan selalu diracuni oleh rasa dendam yang
tidak dapat dilepaskannya. Kalau Mahisa Agni itu sudah ada
ditangannya, maka anak pasti akan menemukan kembali
keseimbangan jiwanya.”
Orang tua itu sekali lagi memandangi wajah anaknya yang
suram. Tetapi dalam kesuraman itu tidak tampak olehnya nyala
matanya yang memancarkan dendam di hatinya.
Kuda Sempana sendiri tiba-tiba menjadi acuh tak acuh saja pada
pembicaraan itu. Ia benar-benar telah kehilangan pengertian
tentang dirinya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia masih juga
mendendamnya sampai sekarang.
Dalam pada itu, ayah Kuda Sempana berpikir dengan tegangnya.
Sekali-sekali matanya menjadi silau oleh kilatan emas di tangan
Kebo Sindet.
“Bagaimana?“ terdengar suara Kebo Sindet berat.
Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat ayah Kuda Sempana
perlahan-lahan mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Akan aku
coba. Sebenarnya setiap orang disini berkeinginan untuk
memberitahukannya kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi,
tetapi mereka masih saja dibayangi oleh ketakutan kecemasan
tentang Padang Karautan.”
“Kalau kau dapat meyakinkan tentang Padang itu, maka segala
maksud kita akan tercapai, dan kau akan memiliki emas yang
sekeping ini untuk menyelamatkan sisa-sisa hari tuamu dari
kemiskinan dan sengsara. Apakah kau juga mengharap bahwa kerja
Mahisa Agni membuat bendungan itu akan selesai? Omong kosong.
Bendungan itu tidak akan pernah selesai. Orang-orang Panawijen
tidak boleh menggantungkan harapannya pada bendungan itu.
Sebab besok atau lusa Mahisa Agni sudah berada di tanganku. Nah,
dengan demikian kalian harus pergi mengembara mencari tempat
baru untuk hidup kalian orang Panawijen.”
Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukan kepalanya.
“Lakukanlah.“ berkata Kebo Sindet kemudian, “Aku menunggu di
sini.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun
demikian ia masih juga ragu-ragu. Tetapi ketika terpandang olehnya
kilatan warna kekuning-kuningan yang memancar dari sekeping
emas itu, ia berkata, “Baiklah, akan aku coba mencari dua tiga
orang yang paling berani.”
Ayah Kuda Sempana itupun akhirnya meninggalkan mereka.
Ditemuinya beberapa orang yang sedang bergerombol
membicarakan kebakaran yang baru saja terjadi.
“Sebaiknya Mahisa Agni diberi tahu.“ berkala salah seorang dari
mereka.
“Ya, tetapi siapakah yang berani melakukannya?”
Mereka kemudian terdiam, beberapa laki-laki tua saling
berpandangan.
“Hanya Mahisa Agni lah yang dapat memberi kita cara supaya
kita tidak mati kelaparan di sini. Beberapa lumbung kita terbakar.
Hampir sepertiga dari persediaan makan kita telah musnah.”
Ayah Kuda Sempana mendengarkan dengan penuh minat
pembicaraan itu. Dengan dada yang berdebar-debar ia menangkap
perasaan hampir setiap orang Panawijen. Mereka berkeinginan
untuk memberitahukan kepada Mahisa Agni.
Ketika orang-orang itu kembali terdiam, maka berkatalah ayah
Kuda Sempana, “Tak ada orang lain yang dapat menolong kita,
selain Mahisa Agni.”
Beberapa orang berpaling kepadanya. Tetapi ada juga di antara
mereka yang membuang mukanya. Ayah Kuda Sempana ternyata
kurang disenangi di antara mereka karena sifat dan kelakuan
anaknya. Hampir setiap orang Panawijen menganggap, bahwa apa
yang terjadi itu adalah akibat dari pertentangan yang
berlarut-larut
antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni karena nafsu Kuda Sempana
yang tak terkendalikan.
“Jalan satu-satunya adalah memberitahukan kepada Mahisa Agni
apa yang telah terjadi.“ gumam ayah Kuda Sempana itu.
Tak seorang pun menanggapnya. Bahkan hampir setiap orang
mengumpat di dalam hati, “Kami semua tahu, tetapi siapakah yang
akan pergi ke Padang Karautan?”
Karena tak seorang pun yang menyahut, maka ayah Kuda
Sempana itu meneruskannya, “Kalau saja aku masih mendapat
kepercayaan, maka aku akan pergi ke Padang Karautan.”
Kini sekali lagi beberapa orang berpaling kepadanya. Ternyata
kata-katanya yang terakhir telah menarik banyak perhatian.
“Tetapi sayang. Aku takut. Bukan karena Padang Karautan, tetapi
aku takut melihat wajah Mahisa Agni. Bahkan mungkin aku akan
dicekiknya.”
Diantara beberapa orang itu terdengar salah seorang bertanya,
“Kenapa kau takut kepada Mahisa Agni?”
“Aku harus menyadari, betapa besar dosa anakku terhadapnya
dan terhadap kampung halaman.”
“Mahisa Agni bukan pendendam. Kalau kau berani menyeberangi
Padang Karautan pergilah kepadanya.”
“Padang Karautan sama sekali tidak menakutkan bagiku. Hantu
Karautan yang mengerikan itu telah dibinasakan oleh Mahisa Agni.
Tetapi yang mengerikan bagiku kini justru Mahisa Agni itu sendiri.”
Mereka sejenak terdiam. Beberapa orang ternyata mulai
merenungkan kata-kata ayah Kuda Sempana itu. Bahkan salah
seorang daripada mereka bertanya, “Apakah benar Mahisa Agni
telah membinasakan hantu Padang Karautan?”
“Itu sudah lama terjadi. Sebelum Mahisa Agni mulai membangun
bendungan itu. Apakah kalian tidak mendengar ceritera dari Patalan,
Jinan atau Sinung Sari?”
Orang-orang yang mendengar jawaban itu menganggukanggukkan
kepala mereka. Tetapi untuk sejenak mereka masih saja
berdiam diri. Namun demikian, timbullah beberapa masalah baru di
dalam kepala mereka, “Kalau benar kata orang itu, maka perjalanan
ke Padang Karautan tidak lagi berbahaya seperti waktu-waktu yang
lalu.”
“Sayang.“ desis ayah Kuda Sempana itu perlahan-lahan.
“Kenapa.“ bertanya ialah seorang dari mereka.
“Sayang, Mahisa Agni mempunyai kesan yang tidak baik
terhadapku.”
“Itu hanya perasaanmu saja. Mahisa Agni bukan seorang
pendendam.”
“Tetapi kesalahan anakku sudah bertimbun setinggi gunung
Semeru.”
Kembali mereka terdiam. Dan kembali masalah itu bergolak di
dalam dada mereka. Bahkan tiba-tiba salah seorang dari mereka
berkata, “Kalau ada seseorang yang mau menemani aku, maka
akupun bersedia pergi ke Padang Karautan.”
Dada ayah Kuda Sempana melonjak mendengar kesanggupan
itu. Serasa sekeping emas murni yang berkilat-kilat itu telah
berada
di tangannya. Namun ia berusaha untuk menghapuskan setiap
kesan di wajahnya. Bahkan dengan nada yang parau ia berkata,
“adalah suatu jasa yang tiada taranya bagi kita di sini, apabila
ada
kesediaan salah seorang dari kita untuk berangkat. Sayang, aku
bukanlah orang yang dapat melakukannya.”
Akhirnya ayah Kuda Sempana itu mendengar seorang lagi
berkata, “Marilah, kita pergi bersama-sama. Aku sudah terlalu tua.
Seandainya aku bertemu dengan bahaya di Padang Karautan, dan
darahku akan dihisapnya habis, maka aku pun tidak akan menjesal
lagi. Sisa umurku pun pasti sudah tidak akan banyak lagi.”
Dada ayah Kuda Sempana menjadi semakin berdebar-debar.
Kalau mereka benar-benar berangkat ke Padang Karautan, dan
Mahisa Agni berhasil diseretnya ke pedukuhan ini, maka emas yang
sekeping itu akan jatuh di tangannya. Emas itu akan dapat
memberinya kebahagiaan bagi sisa-sisa hidupnya. Ia akan pergi
kedaerah yang jauh, menjual emas itu dan menukarkannya dengan
halaman, rumah dan sawah yang sudah siap untuk digarap. Tidak
lagi ia akan bekerja keras bersama anak isterinya membuka tanah
dan mempersiapkannya menjadi tanah persawahan.
Kegembiraan di hati orang tua itupun akhirnya meluap membakar
segenap perasaannya. Hampir-hampir ia tidak dapat mengendalikan
dirinya. Hanya dengan sekuat tenaganya ia mampu menahan
melontarnya kegembiraan yang berlebih-lebihan itu, ketika ia
mendengar keputusan dari keduanya, bahwa mereka benar-benar
akan pergi ke Padang Karautan.
“Kita pergi berkuda.“ berkata salah seorang dari ke dua laki-laki
tua itu.
“Baiklah“ jawab yang lain, “kita akan segera sampai. Dan
berkuda adalah jalan yang paling aman.”
“Kapan kita berangkat?”
“Besok pagi-pagi. Kita menempuh perjalanan di siang hari supaya
kita tidak selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.”
Beberapa orang lain yang mendengar percakapan itu
menangguk-anggukkan kepala mereka dengan lontaran ucapan
terima kasih. Kehadiran Mahisa Agni akan memberikan petunjuk
yang akan bermanfaat bagi mereka, untuk menghindarkan diri dari
bahaya kelaparan.
Ketika matahari melemparkan sinarnya yang pertama di pagi hari
berikutnya, maka sebagian besar orang-orang Panawijen berdiri
berkerumun di ujung desa. Diantara mereka dua laki-laki tua berdiri
memegangi kendali kuda. Sekali-sekali dilayangkannya pandangan
mata mereka ke daun-daun yang kekuning-kuningan serta
ditebarkannya ke atas sawah dan pategalan yang kering kerontang.
Orang-orang Panawijen itu sedang melepas dua orang yang
mereka anggap sebagai orang-orang yang paling berani diantara
mereka. Dua laki-laki tua itu akan menghubungkan padukuhan
mereka dengan Padang Karautan karena beberapa buah lumbung
mereka terbakar. Kalau bendungan itu tidak segera dapat
mengangkat air keatas Padang Karautan, maka mereka akan
terancam bahaya yang mengerikan. Persediaan makanan mereka
akan habis, dan bencana itu pun akan menghentikan usaha
pembangunan bendungan itu pula, karena orang-orang yang
sedang bekerja itu tidak akan lagi mendapat persediaan makanan.
Karena itu maka Mahisa Agni harus segera tahu. Ia harus segera
menentukan sikap, untuk mengatasi meskipun hanya bersifat
sementara.
Demikianlah maka orang-orang Panawijen itu kemudian melihat
kedua laki-laki tua itu naik ke atas punggung kuda. Melambaikan
tangan-tangan mereka dan kemudian melecut kuda-kuda mereka
meninggalkan Panawijen seperdi dua orang pahlawan yang
berangkat kemedan perang. Beberapa orang yang menyaksikan
keberangkatan itu berdiri tertegun. Terasa dada mereka bergetaran.
Ketika debunya yang putih mengepul di belakang kaki-kaki kuda
yang berlari meninggalkan kampung halaman mereka, maka
beberapa orang perempuan menekan dada mereka sambil
bergumam, “Mudah-mudahan mereka selamat sampai ke tujuan.”
Ayah Kuda Sempana berdiri juga di antara orang-orang yang
melepas kedua laki-laki tua itu. Wajahnya pun tampak suram
sesuram wajah-wajah orang Panawijen yang lain. Tetapi hatinya
tertawa cerah secerah matahari pagi yang bersinar di atas Padang
dan pegunungan. Didalam dadanya berkumandang gemerincing
emas sekeping yang kuning berkilat-kilat.
“Hem.“ katanya di dalam hati, “alangkah mudah-mudahnya
memiliki emas murni sebesar itu. Kalau aku tahu, maka aku tidak
akan menderita selama ini. Minum air yang harus diambilnya
langsung dari sungai sejauh itu dan makan terlampau terbatas
karena kecemasan bahwa suatu ketika akan kehabisan persediaan.
Dengan emas itu, maka Panawijen dan bendungan itu tidak akan
berarti lagi bagiku.”
Ketika ayah Kuda Sempana itu mengangkat wajahnya, maka
kepulan debu yang putih itu pun sudah menjadi semakin jauh.
Beberapa orang telah melangkahkan kakinya meninggalkan ujung
desa kembali kerumah masing-masing. Namun di sepanjang jalan
pulang, mereka masih saja memperbincangkan kedua laki-laki tua
yang sedang melakukan perjalanan yang selama ini seakan-akan
tabu mereka lakukan.
Sekali ayah Kuda Sempana itu menarik nafas dalam-dalam.
Dibiarkannya orang-orang lain meninggalkannya seorang diri. Tetapi
begitu orang yang terakhir hilang masuk ke mulut lorong, maka
ayah Kuda Sempana itupun segera meloncati parit yang kering dan
berjalan cepat lewat pematang-pematang yang pecah-pecah pulang
ke rumahnya.
Di rumahnya, Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana
masih menunggunya. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu saja
dibayangi oleh kegelisahan, ia tidak yakin bahwa usaha ayah Kuda
Sempana akan berhasil. Meskipun demikian harapan untuk itu masih
ada juga pada mereka. Sedang Kuda Sempana sendiri kini benarbenar
menjadi acuh tak acuh saja. Ia sendiri tidak tahu, apakah ia
mengharapkan usaha ayahnya berhasil atau tidak.
Karena itu ketika ayah Kuda Sempana itu muncul dari balik pintu
rumahnya, maka yang perpertama-tama bertanya adalah Wong
Sarimpat, “Bagaimana Kaki. Apakah usahamu berhasil?”
“Sebagian.“ jawab ayah Kuda Sempana, “kedua orang laki-laki
tua itu telah berangkat.”
Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang beku
itu tampak bergerak-gerak. Sebuah senyum yang samar-samar telah
menggerakkan bibirnya.
“Mudah-mudahan Mahisa Agni bersedia datang.“ desis Kebo
Sindet.
“Menilik sifat-sifatnya dan kelakuannya dimasa yang lampau ia
pasti akan datang untuk melihat sendiri apa yang telah terjadi di
padepokan ini.“ sahut ayah Kuda Sempana.
“Mudah-mudahan ia tidak datang dengan sepasukan prajurit dari
Tumapel yang kini berada di Padang Karautan.”
“Mudah-mudahan.”
Mereka pun kemudian terdiam sejenak, tenggelam dalam anganangan
masing-masing. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah
membayangkan, betapa Ken Dedes terpaksa melepaskan
bermacam-macam perhiasan dan benda-benda berharga untuk
membebaskan kakaknya. Sementara itu ia harus berusaha
memberikan kesan bahwa usaha menculik Mahisa Agni ini dilakukan
oleh Empu Sada yang disangkanya telah mati.
Sementara itu kedua laki-laki tua dari Panawijen telah menjadi
semakin jauh dari pedukuhannya. Kini dihadapan mereka
terbentang sebuah Padang rumput yang luas yang seakan-akan
tidak bertepi. Cahaya matahari yang sudah semakin tinggi seakanakan
menyala membakar Padang rumput yang kering itu.
“Alangkah panasnya.“ gumam salah seorang dari mereka.
Yang seorang untuk sejenak tidak menjawab. Matanya seakanakan
menjadi silau menatap udara yang sedang mendidih dibakar
oleh terik matahari.
“Kita akan menjadi kering seperti rerumputan itu.“ berkata orang
yang pertama.
“Menurut pendengaranku, sebaiknya kita menyusul aliran sungai
itu. Setiap saat kita tidak akan kehabisan air. Setiap kali kita
haus,
kita akan dapat segera minum. Hanya menurut pendengaranku di
beberapa bagian tebing sungai ini menjadi sangat curam.”
Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi tatapan matanya
membayangkan betapa jantungnya menjadi berdebar-debar.
Matahari yang memanjat semakin tinggi seakan-akan langsung
menghunjamkan sinarnya kekepala mereka.
“Kita berkuda.“ desis kawannya yang ternyata memiliki tekad
lebih besar, “kita tidak akan sampai sehari penuh berjemur di
Padang Karautan.”
Kawannya mengangguk-anggukan kepalanya. Perlahan-lahan ia
menjawab, “Ya. Kita berusaha supaya kita cepat sampai.”
“Marilah.”
Keduanya pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka
menyusur sungi yang membelah Padang Karautan itu. Meskipun
mereka tidak berani berpacu terlampau cepat, tetapi perjalanan itu
jauh lebih cepat daripada mereka berjalan kaki. Kuda-kuda mereka
itupun agaknya dapat mengerti juga, bahwa penumpangpenumpang
mereka adalah orang-orang tua yang tidak begitu
tangkas memegang kendali. Sehingga langkah kaki-kaki Kuda itupun
seolah-olah terayun seenaknya.
Ternyata mereka mendapat banyak keuntungan dengan jalan
yang mereka pilih. Ketika bumbung air mereka tuntas, maka mereka
dapat mengambilnya langsung ke dalam sungai, sekaligus
membiarkan kuda-kuda mereka yang kehausan minum pula.
Dengan bumbung yang penuh berisi air itulah maka mereka
meneruskan perjalanan mereka menuju ke tempat Mahisa Agni
membangun bendungan.
Meskipun di sepanjang jalan mereka selalu dicemaskan oleh
nama yang selama ini menakutkan mereka, ialah hantu Karautan,
namun akhirnya merekapun menjadi semakin lama semakin dekat
pula dengan lingkaran kerja Mahisa Agni dan orang-orang
Panawijen yang dibantu oleh sepasukan prajurit dari Tumapel.
Kedatangan kedua orang tua-tua itu telah mengejutkan Mahisa
Agni dan Ki buyut Panawijen. Dipersilahkannya kedua orang itu
duduk beristirahat, sementara Mahisa Agni mengakhiri kerja hari itu
karena matahari telah hampir lenyap ditelan cakrawala.
Mahisa Agni dan Ki Buyut tidak sempat membersihkan dirinya
lebih dahulu. Dengan hati berdebar-debar ditemuinya ke dua orang
tua-tua yang baru saja datang dari Panawijen. Kedatangan mereka
bagi Mahisa Agni dan Ki Buyut dan bahkan bagi seluruh orang-orang
Panawijen yang sedang bekerja di Padang Karautan, merupakan
suatu hal yang sangat menarik perhatian. Mereka tahu, bahwa
apabila tidak terpaksa sekali, maka tidak akan ada seorang pun
yang berani melintasi Padang yang menakutkan bagi mereka.
Kedua laki-laki tua itupun tidak membiarkan Mahisa Agni dan Ki
Buyut Panawijen terlalu lama digelisahkan oleh teka-teki tentang
kedatangan mereka. Segera mereka menceriterakan apa yang telah
terjadi di padukuhan mereka. Mereka berbicara ganti berganti dan
saling tambah menambahi sehingga ceritera tentang kebakaran di
Panawijen itu menjadi sebuah ceritera yang menegangkan hati
Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.
Dengan dada yang berdebar-debar beberapa orang lain
mendengar juga ceritera tentang kebakaran itu. Sehingga tiba-tiba
salah seorang berkata, “Kita tidak lagi mempunyai persediaan
makan. Apakah kita masih juga mampu bekerja untuk membuat
bendungan ini?”
Suasana kemudian menjadi sepi. Pertanyaan itu hinggap pula di
setiap dada orang-orang Panawijen, bahkan juga Mahisa Agni dan Ki
Buyut Panawijen.
“Bagaimana mungkin kebakaran itu dapat terjadi?“ bertanya
Mahisa Agni.
Kedua laki-laki itu menggelengkan kepala mereka. Salah seorang
dari mereka menjawab, “Tak seorang pun yang tahu sebabnya.
Tetapi udara di Panawijen akhir-akhir ini terasa sangat panas.”
“Apakah demikian panasnya sehingga memungkinkan lumbunglumbung
padi dan jagung itu terbakar dengan sendirinya?”
Sekali lagi kedua laki-laki tua itu menggelengkan kepala mereka,
“Kami tidak tahu. Tetapi menurut pengamatan kami, tak ada
seorang pun bahkan anak-anak yang bermain-main di dekat
lumbung-lumbung itu, apalagi bermain-main dengan api.”
Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menekurkan kepala mereka.
Kini terbayang kembali kesulitan-kesulitan yang bakal mereka alami.
Mereka baru saja mendapatkan kejutan yang mendorong orangorang
Panawijen bekerja lebih keras dengan kedatangan Prajuritprajurit
dari Tumapel. Tetapi peristiwa ini pasti akan memperlemah
lagi usaha mereka menyelesaikan bendungan itu. Mungkin untuk
sementara Mahisa Agni dapat mencoba mengatasi dengan
menanam apa saja di sepanjang lereng-lereng sungai dan
datarandataran
serta lembah-lembah yang basah. Tetapi tanah itu tidak
seberapa luas. Sedangkan seluruh mulut yang ada di Panawijen
harus disuapinya.
Tetapi tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh suara tertawa
perlahan-lahan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Ken Arok
berdiri di belakang orang-orang Panawijen yang mengerumuni
kedua laki-laki tua itu. Ketika anak muda itu beradu pandang
dengan Mahisa Agni, maka katanya, “Jangan risau Agni. Besok aku
akan mengirim dua orang prajurit ke Tumapel. Aku akan
memberikan laporan apa yang telah kami kerjakan di sini. Dan aku
akan dapat memberikan laporan tentang Panawijen itu pula.
Peristiwa itu sama sekali bukan peristiwa yang penting. Bukankah
aku pernah berkata, bahwa Tuanku Akuwu menyanggupkan
bantuan apa saja yang kau perlukan? Coba katakan, berapakah
jumlah lumbung yang terbakar itu? Sepuluh atau dua puluh barak?
Berapa pikul padi dan jagung yang telah terbakar?“ Ken Arok
berhenti sejenak. Dipandangnya setiap wajah yang tiba-tiba kembali
bersinar, “jangan kalian cemaskan.”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ken
Arok itu. Sekali lagi kepalanya jatuh tepekur. Kebaikan bati
Tunggul
Ametung yang melimpah-limpah itu telah menggetarkan
perasaannya. Sekilas dikenangnya puteri gurunya, Ken Dedes.
Namun Mahisa Agni itu pun kemudian menggigit bibirnya.
“Terima kasih.“ terdengar ia berdesis, “terima kasih atas hadiah
yang tiada taranya itu.”
Masih terdengar suara tertawa perlahan yang meluncur di antara
bibir Ken Arok. Wajahnya Yang seolah-olah bersinar seperti harapan
di dalam hati.
Dengan penuh keyakinan ia berkata, “Agni, Tumapel tidak akan
kekurangan beras dan jagung. Bahkan seandainya seluruh
Panawijen itu terbakar sekalipun. Jangan risaukan kebakaran itu.
Kita selesaikan bendungan kita dan sesudah itu aku masih
mempunyai satu tugas lagi, barangkali kalian sudi membantu.
Membuat sebuah taman yang akan dihadiahkan oleh Tuanku Akuwu
Tunggul Ametung kepada permaisurinya kelak.”
“Tentu.“ sahut Mahisa Agni dengan serta merta, “apalagi sekedar
membangun sebuah taman. Apapun yang harus kami lakukan, maka
kami tidak akan dapat ingkar lagi.”
Wajah Ken Arok menjadi semakin cerah karenanya. Wajah yang
bagi Mahisa Agni memiliki beberapa perbedaan dari wajah-wajah
yang pernah dikenalnya. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat
mengatakan, apakah sebabnya maka ia melihat perbedaan itu.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Orang-orang Panawijen kini
tidak lagi kehilangan harapan untuk menjelesaikan bendungannya
setelah mendengar janji Ken Arok. Tetapi meskipun demikian
kebakaran di Panawijen itu menimbulkan teka-teki pula di dalam
dada mereka.
Agaknya kebakaran itu bukan saja menumbuhkan teka-teki di
dalam dada Mahisa Agni. Ia merasa mempunyai tanggungjawab
untuk melihat, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Selanjutnya
mencegah jangan sampai terulang kembali. Meskipun ia yakin juga
seperti Ken Arok, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bersedia
memberi mereka beras dan jagung berapa saja yang mereka
butuhkan, tetapi untuk terlampau menggantungkan diri kepada
bantuan itu bagi Mahisa Agni adalah kurang bijaksana. Orang-orang
Panawijen harus mecoba sejauh mungkin mencukupi kebutuhan diri
sendiri. Hanya apabila keadaan tidak memungkinkan lagi, maka
bantuan Akuwu Tunggul Ametung itu akan menjadi sandaran
terakhir bagi mereka.
Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Agni berkata, “Ken
Arok, terimakasih kami orang-orang Panawijen tiada tara
bandingnya atas segala bantuan yang telah kami terima. Namun
jangan berarti bahwa kami harus menyandarkan diri kami kepada
bantuan-bantuan itu saja. Biarlah kami mencoba mencapai
kedewasaan kami. Karena itu, aku ingin melihat apakah yang
sebenarnya terjadi di Panawijen. Aku ingin berusaha agar kebakaran
semacam itu tidak terulang kembali.”
“Apakah hal itu perlu sekali kau lakukan Agni?“ bertanya Ken
Arok.
“Perjalanan berkuda ke Panawijen tidak terlampau jauh. Kalau
besok pagi aku berangkat, maka pagi berikutnya aku sudah berada
di tempai ini kembali.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Sebagai orang yang telah
mengenal Padang Karautan melampaui siapa saja, Ken Arok
membenarkan perhitungan Mahisa Agni. Tetapi terasa sesuatu
mengganggu perasaannya. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata,
“Pekerjaan itu dapat kau lakukan besok lusa, seminggu bahkan
sebulan yang akan datang. Sekarang tungguilah pekerjaan ini.
Pekerjaan yang memberi harapan bukan saja kepadamu sendiri.”
Mahisa Agni termenung sejenak. Tetapi hatinya telah
mendorongnya untuk berkata, “Sehari dua hari tidak akan
mengganggu Ken Arok. Aku ingin sekali melihat dan berbuat
sesuatu untuk mencegah kebakaran itu terulang. Bahkan mungkin
aku dapat menemukan tanda-tanda lain. Mungkin seseorang telah
menjadi panas hati melihat hasil kerja orang-orang Panawijen.”
Ken Arok tidak segera menyahut. Dicobanya untuk mengerti
perasaannya sendiri. Aneh. Ia tidak mengerti dengan pasti bahaya
yang dapat mengancam Mahisa Agni di perjalanan, tetapi seakanakan
sesuatu bakal terjadi. Ia pernah melihat Kuda Sempana
berkelahi dengan Mahisa Agni di Padang ini. Ia tahu benar bahwa
Kuda Sempana mempunyai seorang guru yang sakti. Empu Sada.
Tetapi ia tidak tahu banyak tentang mereka itu.
Kesepian sekali lagi mencengkam suasana. Ken Arok masih juga
berdiri di tempatnya sambil mengerutkan keningnya, sedang Mahisa
Agni yang duduk di antara kerumunan orang-orang Panawijen
bersama dua laki-laki tua yang baru saja datang, menekurkan
kepalanya, seakan-akan terbayanglah di rongga matanya nyala api
yang menggapai langit menelan beberapa buah lumbung dan
rumah-rumah di Panawijen.
Dalam kesenyapan itu hampir semua kepala berpaling ketika
mereka mendengar seseorang berkata perlahan-lahan, “Agni. Aku
sependapat dengan angger Ken Arok. Padang Karautan bukanlah
jalan yang lapang selapang Padang itu sendiri bagimu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat pamannya
Empu Gandring berdiri di luar lingkaran orang-orang Panawijen
seperti Ken Arok. Dan terbayang di wajah orang tua itu
kekhawatiran dan kecemasan. Berbeda dengan Ken Arok Empu
Gandring mempunai perhitungan-perhitungan yang lebih jelas
tentang setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas kemanakannya
itu.
“Kau seharusnya dapat menghubungkan peristiwa-peristiwa yang
pernah kau alami Agni.“ berkata Empu Gandring itu, “Karena itu,
sabarkanlah dirimu. Tunggulah sampai beberapa saat.”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya dua
laki-laki tua yang baru saja datang dari Panawijen itu
berganti-ganti.
Tiba-tiba salah seorang laki-laki itu berkata, “Kami mengharap
sekali kehadiran Mahisa Agni. Kami ingin mendapatkan kepastian
bahwa kami tidak akan mati kelaparan.”
“Aku memberikan jaminan itu.“ sahut Ken Arok.
“Tetapi orang-orang Panawijen belum mendengarnya.”
“Bukankah kau dapat mengatakan kepada mereka.”
Sejenak kedua laki-laki itu terdiam. Namun salah seorang dari
mereka berkata, “Entahlah, aku tidak tahu apa sebabnya. Tetapi
tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak berani kembali berdua dengan
kawanku ini, Apalagi setelah aku mendengar bahwa Padang
Karautan masih juga menyimpan banyak bahaya.”
Kini semua orang terdiam. Beberapa di antara mereka saling
berpandangan. Ada juga yang menjadi gelisah. Rumah-rumah
siapakah yang terbakar itu? Jangan-jangan rumah mereka telah
menjadi abu. Tetapi tak seorang pun yang bertanya, sebab
seandainya mereka mendapat kesempatan, maka mereka pun tidak
akan berani melihat ke Panawijen.
Dalam pada itu terdengar Ken Arok bertanya, “Tetapi Kaki berdua
telah berani menempuh perjalanan kemari. Ternyata Kaki tidak juga
mengalami sesuatu di perjalanan. Kenapa Kaki berdua tidak berani
kembali kepadukuhan Kaki?”
Kedua laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari
mereka menjawab, “Aku tidak tahu sebabnya Ngger. Aku juga tidak
tahu apakah yang telah mendorong aku sehingga aku berani
menyeberangi Padang Karautan. Tetapi apabila kini ternyata Padang
itu berbahaya, sedangkan Mahisa Agni saja masih juga harus
berhati-hati, apalagi kami berdua.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Jalan pikiran orang tua-tua itu
dapat dimengertinya.
Yang menyahut kemudian adalah Empu Gandring, “Kalian telah
lanjut usia. Mungkin sebaya atau bahkan lebih tua dari padaku.
Karena itu maka justru kalian tidak akan terganggu di sepanjang
perjalanan. Tak ada seorang pun yang akan mengganggu orangorang
tua. Aku pun berani menyeberangi Padang itu, sebab aku
juga sudah tua. Apakah kalian bersedia apabila kami bertiga pergi,
melintasi Padang Karautan?”
Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu saling berpandangan
sesaat. Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, “Kalau
kami berdua harus pulang ke Panawijen, maka kami mengharap
bahwa kami akan mendapat kawan yang sekiranya akan dapat
melindungi kami. Kalau kami pergi bersama orang-orang tua sebaya
dengan kami, maka aku rasa, kehadiran seorang kawan itu tidak
akan banyak memberikan ketenteraman di hati kami.”
Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Ken Arok pun
dengan serta merta bergeser setapak. Diamatinya orang tua yang
bernama Empu Gandring dengan sudut matanya. Tetapi Empu
Gandring sendiri hanya tersenyum. Katanya, “setidak-tidaknya kita
mempunyai seorang lagi untuk kawan bercakap-cakap. Dengan
demikian kita akan dapat melupakan ketegangan di sepanjang
perjalanan. Bukankah kita akan berjalan siang hari?”
“Yang kami perlukan bukan seorang kawan bercakap-cakap.“
sahut salah seorang laki-laki tua dari Panawijen itu, “tetapi
seseorang yang akan menyelamatkan kami dari setiap bencana
yang dapat menerkam kami di sepanjang perjalanan kami. Aku kira
tak ada duanya yang dapat aku sebut namanya selain Mahisa Agni.
Mahisa Agni akan dapat memberi perlindungan kepada kami di
sepanjang perjalanan kami. Sedang orang-orang Panawijen akan
mendapatkan ketenangan mendengar janji itu diucapkan oleh
Mahisa Agni sendiri.”
Hampir bersamaan, Mahisa Agni, Ken Arok dan Ki Buyut
Panawijen berpaling memandangi wajah Empu Gandring. Tetapi
orang tua itu masih juga tersenyum.
“Hem.“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “orang-orang
tua itu tidak tahu siapakah paman Empu Gandring. Mereka
menyangka bahwa Empu Gandring adalah seorang tua seperti
mereka itu sendiri.”
Tetapi permintaan orang-orang tua itu benar-benar telah
membuat kepala Mahisa Agni pening, la sendiri ingin sekali melihat,
apakah yang sebenarnya terjadi di Panawijen. Tetapi ia menyadari
juga, bahwa setiap kali ia akan dapat ditelan bahaya.
Meskipun demikian Mahisa Agni merasa, bahwa ia
berkepentingan sekali datang ke Panawijen. Bahaya itu adalah baru
suatu kemungkinan. Ia dapat pergi siang hari, berpacu di Padang
yang kering. “Apakah bahaya itu mengintai juga di siang hari?
Betapapun kuatnya keinginan seseorang untuk mencelakai aku,
tetapi aku sangka mereka tidak akan berjemur di terik panas seperti
itu. Mereka pun pasti menyangka bahwa aku selalu memilih waktu
di malam hari, di udara yang sejuk. Dan apakah aku sekarang ini
sudah menjadi seorang pengecut?”
Perasaan itu selalu berdentangan di dalam dada Mahisa Agni.
Karena itu maka tiba-tiba ia berkata, “Ki Buyut, Paman Empu
Gandring dan kau Ken Arok. Aku ternyata tidak dapat memilih selain
memenuhi permintaan kedua orang-orang tua ini. Meskipun
demikian aku harus berhati-hati. Aku akan pergi ke Panawijen di
siang hari.”
Ketiga orang itu terdiam sejenak. Tampaklah wajah-wajah itu
menjadi tegang. Bahkan orang-orang Panawijen yang berkerumun
itu pun menjadi tegang pula.
“Apakah itu sudah menjadi keputusanmu Agni?“ bertanya Ken
Arok.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya.”
“Keputusan yang tergesa-gesa.“ desis Empu Gandring.
Kedua orang laki-laki yang datang dari Panawijen itu berpaling
kepada Empu Gandring. Mereka menjadi tidak senang mendengar
kata-katanya yang seolah-olah selalu berusaha merintangi kepergian
Mahisa Agni ke Panawijen. Sehingga karena itu salah seorang
berkata, “Kenapa kau mencoba mencegah kepergiannya? Bahkan
kau sendiri akan mengantarkan kami?”
Mahisa Agni terperanjat mendengar kata-kata itu. Hampir-hampir
ia menyahut, tetapi ternyata Empu Gandring mendahuluinya,
“Maafkan aku ki sanak. Mungkin aku terlampau mencemaskan nasib
anak muda itu.”
“Ia telah dapat menilai dirinya sendiri.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sahutnya,
“Mungkin. Mungkin demikian. Tetapi ia masih terlampau muda.
Darahnya masih terlampau cepat mendidih.”
“Itulah anak-anak muda yang berani dan bertanggungjawab.
Memang kita orang-orang tua kadang-kadang tidak dapat mengerti
tentang anak-anak muda apalagi seperti Mahisa Agni. Itu adalah
karena kebodohan kita masing-masing.”
Empu Gandring tidak menjawab lagi. Ia tidak dapat berbincang
dengan kedua laki-laki tua dari Panawijen itu.
Tetapi dengan demikian Mahisa Agni lah yang menjadi gelisah.
Pamannya adalah seorang yang sukar dicari duanya. Orang tua itu
telah memiliki ilmu yang dapat disejajarkan dengan orang-orang
yang pilih tanding. Gurunya, Panji Bojong Santi, Empu Sada dan
lain-lainnya. Untunglah bahwa Empu Gandring memiliki kesabaran
yang cukup sehingga ia dapat dengan wajar menanggapi kata-kata
kedua laki-laki tua dari Panawijen yang tidak mengenalnya itu.
Yang kemudian terdengar adalah salah seorang laki-laki tua itu
berkata, “Angger Mahisa Agni. Aku harap kau mendengarkan suara
hati orang-orang Panawijen. Mereka cukup puas apabila mereka
melihat Angger datang ke Panawijen. Memberikan beberapa
keterangan dan memberikan ketenteraman kepada mereka. Apalagi
janji yang telah diucapkan oleh angger yang agaknya seorang
pemimpin dari Tumapel. Dengan demikian maka orang-orang
Panawijen tidak selalu dikejar-kejar oleh kegelisahan karena
bayangan bahaya kelaparan yang akan menimpa mereka.”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Sejenak ditatapnya wajah
pamannya yang suram. Tetapi laki-laki tua dari Panawidjen itu
berkata, “Jangan hiraukan orang-orang lain. Apalagi mereka yang
bukan orang Panawijen. Mereka tidak dapat merasakan betapa
kecemasan telah mencengkeram seluruh padukuhan. Tanah yang
kering kerontang, daun-daun yang menjadi kuning dan gugur di
tanah. Kini beberapa lumbung desa kami terbakar.”
Detak jantung Mahisa Agni serasa menjadi berdentangan di
dalam dadanya. Hampir-hampir ia berkata, “siapakah laki-laki tua
yang memang sebenarnya bukan orang Panawijen itu. Tetapi ia
adalah seorang yang dapat berbuat banyak di Padang Karautan ini.”
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia
melihat pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia
berkata perlahan-lahan, “Sebenarnyalah demikian Agni. Segala
sesuatu tergantung kepadamu. Dihadapanmu terbentang banyak
pekerjaan dan kewajiban yang terlampau sulit.”
Dahi Mahisa Agni menjadi semakin berkerut merut. Tetapi
keinginannya untuk pergi ke Panawijen sangat mendesaknya. Ia
dapat membayangkan betapa orang-orang yang tinggal di
Panawijen menjadi terlampau gelisah dan cemas. Perempuan dan
anak-anak pasti tidak akan dapat tidur nyenyak karena hantu
kelaparan yang selalu menakut-nakuti mereka.
“Paman.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku terpaksa pergi ke
Panawijen. Tetapi kali ini aku akan pergi di siang hari.
Mudahmudahan
aku terhindar dari segala macam bahaya.”
Tanpa mereka sengaja, maka Empu Gandring dan Ken Arok
saling berpandangan. Dan tanpa berjanji pula mereka berdesis,
“Kau jangan pergi seorang diri.”
Mahisa Agni memandangi wajah pamannya dan Ken Arok
berganti-ganti, “Aku hanya akan pergi sehari saja.”
“Sehari atau seminggu bahaya itu bagimu sama saja Agni.“
berkata pamannya.
Mahisa Agni menyadari kata-kata pamannya itu. Tetapi apakah ia
harus mengecewakan orang-orang Panawijen yang sedang
dicengkam oleh ketakutan itu? Mahisa Agni tidak dapat melupakan,
bahwa kekeringan yang menimpa Panawijen itu adalah akibat dari
sikap gurunya yang sedang kehilangan ke seimbangan. Ia tidak
dapat melemparkan kesalahan itu ke pada orang lain berturutan,
sehingga akhirnya kesalahan itu akan dibebankan kepada Kuda
Sempana. Tidak. Ia harus turut bertanggung jawab atas akibat dari
kekhilafan gurunya itu.
Apalagi ketika terpandang olehya wajah-wajah laki-laki tua yang
datang dari Panawijen dengan sepenuh harapan.
Karena itu maka Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Paman,
aku tidak dapat mengecewakan orang-orang Panawijen. Bukan
karena aku selalu dapat mengatasi setiap kesulitan dan memberi
apa saja yang mereka butuhkan tetapi mereka memerlukan kawan
untuk ikut serta merasakan kecemasan dan kegelisahan. Adalah
hanya karena pertolongan Yang Maha Agung lah kemudian apabila
dapat kita temukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan itu. Kali
ini,
dalam hal kekurangan persediaan bahan makanan, Tuanku Akuwu
Tunggul Ametung telah menjadi lantaran untuk meringankan beban
kita.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
kemudian terloncat dari bibirnya, “Baiklah Agni. Kalau kau tidak
dapat lagi merubah keputusanmu.”
Sebelum Empu Gandring menyelesaikan kalimatnya, salah
seorang laki-laki tua dari Panawijen itu memotong, “Keputusan itu
adalah keputusan yang paling bijaksana.”
Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia masih
berkata kepada Mahisa Agni, “Berangkatlah besok pagi. Aku pergi
bersamamu.”
Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu mengangkat wajahnya.
Sambil memandangi Empu Gandring salah seorang dari mereka
bertanya, “Buat apa kau ikut dengan Mabisa Agni?”
Mahisa Agni tidak lagi dapat menahan dirinya. Terasa sesuatu
mendesak di dalam dadanya. Dan tanpa sesadarnya ia membentak,
“Kaki. Aku sudah memenuhi permintaanmu. Tetapi jangan
terlampau banyak mempersoalkan orang lain yang sama sekali tidak
kau ketahui keadaannya.”
Kedua laki-laki itu benar-benar terkejut mendengar Mahisa Agni
membentak, sehingga keduanya menjadi terbungkam. Wajah
merekapun menjadi pucat dan bibir mereka menjadi gemetar.
Mereka tidak tahu kenapa tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah
kepada mereka.
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia
berkata, “Biarkan mereka menyatakan pikirannya Agni.”
Dada Mahisa Agni seakan-akan menjadi sesak. Perlahan-lahan ia
berdesis, “Maafkan aku Kaki. Bukan maksudku menyakiti hatimu.”
Sejenak kemudian mereka terdampar ke dalam suasana yang
sepi. Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu masih gemetar. Mereka
benar-benar tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan.
Tanpa mereka kehendaki, mereka telah ikut serta menjerumuskan
Mahisa Agni ke dalam bahaya.
Yang mereka angan-angankan adalah, bahwa apabila mereka
berhasil membawa Mahisa Agni datang ke Panawdjen, maka mereka
akan menjadi pahlawan. Mereka dapat melakukan sesuatu yang
tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Mereka sama sekali tidak
mengerti keadaan Mahisa Agni sebenarnya, dan mereka tidak
merasa, bahwa merekapun ternyata telah terjebak dalam suatu akal
yang licik dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
Dalam pada itu terayata bukan saja Empu Ganring yang menjadi
cemas atas nasib Mahisa Agni. Ken Arokpun merasakan sesuatu
yang tidak dapat dimengertinya sendiri. Karena itu maka kemudian
ia berkata, “Mahisa Agni. Aku akan menyiapkan tujuh orang yang
terpilih, untuk mengawanimu pergi ke Panawijen.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka akan
mendapat tawaran itu. Tetapi sayang, bahwa hati kecilnya meronta.
Ia sama sekali bukan seorang pemimpin, tetapi juga bukan seorang
penakut. Karena itu, maka pangawalan tujuh orang prajurit akan
membuatnya menjadi canggung. Karena itu maka jawabnya,
“Terima kasih Ken Arok. Terima kasih atas kebaikanmu itu. Tetapi
maaf aku tidak dapat menerimanya. Pengawalan prajurit sama
sekali bukanlah hakku, dan sama sekali tidak sepantasnya terjadi.
Aku hanya seorang anak padesan yang tidak berarti.”
“Jangan terlampau merendahkan dirimu Agni.” sahut Ken Arok,
“aku sama sekali tidak memandang siapakah kau. Tetapi aku
merasakan suatu ketidak wajaran. Sedang kau sekarang sedang
dibebani oleh tugas yang cukup berat.”
Mahisa Agni menggeleng lemah, “Terima kasih Ken Arok. Tetapi
maaf, aku kira aku tidak akan dapat menerimanya.”
“Apakah kau tersinggung karenanya?” bertanya Ken Arok, “aku
sama sekali tidak ingin menganggapmu seperti kanak-anak yang
masih selalu memerlukan dayang dan pengasuh. Tidak. Tetapi
Padang Karautan memang menyimpan seribu macam rahasia.”
“Rahasia itu sekarang telah berada di tanganmu.”
“Satu di antaranya.” jawab Ken Arok, “tetapi aku pernah melihat
tiga hantu Karautan berkumpul di sini, kemudian hadir seorang sakti
yang bernama Empu Sada. Setelah itu ternyata di Padang ini telah
singgah pula seorang yang barnama Empu Gandring. Akhir-akhir ini
di Padang ini pula berkeliaran penunggang kuda tanpa pelana,
hantu dari Kemundungan yang bernama Kebo Sindet dan Wong
Sarimpat. Sebelumnya di hutan menjelang Padang ini terdengar
pula seorang berkasa kulit harimau, guru kakang Witantra, Panji
Bojong Santi. Nah, Agni. Apakah tujuh orang prajurit itu masih kau
anggap berlebih-lebihan.”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kata-kata yang diucapkan
oleh Ken Arok itu sama sekali tak dapat disangkalnya. Ia mengakui
bahwa semuanya itu benar-benar membuat Padang ini semakin
banyak menyimpan rahasia. Tetapi bagaimanapun juga, Mahisa Agni
merasa canggung apabila ia harus mendapat pengawalan tujuh
orang prajurit Tumapel.
Karena itu dengan berat hati ia berkata, “Terima kasih Ken Arok.
Aku dapat menerima kemurahan Akuwu Tunggul Ametung atas
bendungan yang sedang kita bangun. Aku tidak akan menolak
seandainya nanti Akuwu Tunggul Ametung memberikan hadiah
bahan makanan kepada kami, orang-orang Panawijen yang
kelaparan. Tetapi aku tidak dapat menerima kebaikan hatimu, justru
untukku sendiri. Aku tidak dapat berjalan seperti seorang Senapati
yang dikawal oleh prajurit-prajuritnya.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni bukanlah
sanak dan bukan kadangnya. Tetapi ia merasa sesuatu telah
memaksanya untuk mencoba melindunginya.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Dua laki-laki tua dari
Panawijen itu duduk membeku. Nama-nama yang disebut oleh Ken
Arok sebagian besar belum pernah mereka dengar. Tetapi suasana
pembicaraan itu membayangkan kepada mereka bahwa di Padang
Karautan itu memang tersimpan berbagai macam persoalan.
Tetapi kedua laki-laki itu sama sekali tidak dapat mengerti
kenapa Mahisa Agni menolak ketujuh orang prajurit yang diberikan
oleh Ken Arok kepadanya. Bukankah dengan demikian perjalanan
mereka akan menjadi bertambah aman? Mereka sama sekali tidak
merasakan kejanggalan dan keseganan itu. Bahkan mereka sama
sekali tidak berpikir tentang keadaan diri sendiri dalam
hubungannya dengan para prajurit itu.
Keheningan itu kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok, “Agni,
kalau demikian, maka aku akan ikut besertamu.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga
duduknya berkisar setapak. Dengan serta merta ia menjawab, “Ken
Arok, jangan hiraukan aku. Lakukanlah kewajiban yang dibebankan
kepadamu oleh Akuwu Tunggul Ametung. Memimpin para prajurit
dan Pelayan Dalam istana untuk membantu membuat bendungan
ini. Tetapi jangan mempersulit dirimu dan menghiraukan hal-hal
yang kecil yang bukan kewajibanmu, tetapi justru dapat
mendatangkan bencana bagimu.”
Ken Arok menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku dapat
bersikap sebagai seorang pemimpin dari para prajurit ini, tetapi
aku
juga dapat bersikap sebagai Ken Arok pribadi, Ken Arok yang untuk
pertama kalinya bertemu dengan Mahisa Agni di Padang Karautan
ini. Karena itu, maka biarlah aku melepaskan pakaian
kepemimpinanku sejenak dan menyerahkan kepada orang lain. Aku,
Ken Arok akan pergi bersamamu menyeberangi Padang ini. Aku
ingin mengenangkan kembali segarnya udara terbuka, hijaunya
daun-daun perdu dan panasnya terik matahari. Jangan menolak
Agni. Sebab menolak atau tidak, aku mempunyai kebebasan untuk
melakukannya. Pergi ke Panawijen atau tinggal di sini.”
Sejenak Mahisa Agni terbungkam. Sama sekali ia tidak dapat
mengucapkan sepatah katapun. Karena itu maka sekali lagi suasana
menjadi sepi. Kadang-kadang terdengar beberapa orang yang
duduk di sekitar Mahisa Agni itu saling berbisik. Kadang-kadang
mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka, namun kadangkadang
wajah-wajah itu menjadi sangat tegang.
Mahisa Agni sendiri sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah
katapun. Ia tidak menyangka bahwa begitu besar perhatian orangorang
di sekitarnya terhadap dirinya. Terbersitlah rasa terima kasih
yang menyentuh hatinya, tetapi ia pun menjadi canggung pula
karenanya. Ia biasa hidup sebagai seorang anak padepokan yang
bertanggung jawab. Yang biasa meletakkan kewajiban pada usaha
sendiri. Tetapi kini ia harus menghadap suatu kenyataan yang lain
meskipun persoalannya dapat dimengertinya.
Meskipun demikian Mahisa Agni masih mencoba menjawab, “Ken
Arok, aku sekali lagi mengucapkan terima kasih kepadamu. Aku
memang tidak akan dapat menolak apalagi melarang, seandainya
kau dengan kehendakmu sendiri ingin menjelajahi Padang Karautan
ini. Tetapi apakah dengan demikian kau tidak justru meninggalkan
kewajiban yang dibebankan oleh Akuwu Tunggul Ametung
kepadamu?”
“Itu adalah tanggung jawabku Agni. Seandainya aku akan
dianggap mengabaikan kewajibanku sekalipun, maka akulah yang
akan menerima akibatnya.”
Mahisa Agni tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia tabu benar,
bahwa sama sekali bukan maksud Ken Arok untuk memaksa
kehendaknya atasnya, tetapi apa yang dilakukannya itu terdorong
oleh perasaan cemas dan gelisah.
Akhirnya Mahisa Agni berkata, “Baiklah. Kalau kau ingin juga
pergi menyeberangi Padang Karautan ini. Aku tahu bahwa itu bukan
semata-mata karena kau telah merindukan udara Padang yang luas
ini, bukan karena kau ingin mendengar angin yang gemerisik
membelai dedaunan yang mulai kering menguning. Tidak pula
karena kau ingin melihat angin pusaran yang menaburkan debu dan
rerumputan kering. Tetapi karena kau melihat sesuatu yang
mencemaskan hatimu. Tentang aku.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya
perlahan-lahan, “Terserah kepadamu Agni. Apakah yang akan kau
katakan tentang aku.”
Keduanya pun kemudian terdiam. Angin senya bertiup semakin
lama semakin kencang. Tiba-tiba mereka melihat kilat memancar.
Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa disadarinya Ditatapnya langit
di luar gubugnya. Tetapi langit itu tampak bersih. Satu dua bintang
telah mulai menampakkan dirinya, berkeredipan seperti batu
permata.
“Hem, apakah sudah akan sampai waktunya musim basah tiba.“
pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya, “Bendungan itu masih
belum siap seluruhnya. Tetapi menilik mangsa, hujan baru akan
datang dua bulan lagi, dan banjir yang pertama menurut kebiasaan
akan datang kira-kira tiga bulan lagi.”
Mahisa Agni terkejut ketika pamannya berkata, “Apakah kita
sudah menjatuhkan putusan? Besok kau pergi bersama aku dan
angger Ken Arok?”
Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Demikianlah
paman.”
“Baiklah.“ sahut pamannya, “sekarang aku akan beristirahat.
Besok kita berangkat pagi-pagi.”
“Silahkan paman.” jawab Mahisa Agni.
“Aku juga akan mempersiapkan diri.“ berkata Ken Arok, “aku
akan menyerahkan pimpinan kepada seseorang dan memerintahkan
dua orang untuk pergi ke Tumapel. Ke dua prajurit akan melaporkan
keadaan di Padang ini dan akan menyampaikan berita kebakaran di
Panawijen. Aku yakin kalau Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan
menyangupi memberi bantuan kepada orang-orang Panawijen.
Setidak-tidaknya bagi orang-orang Panawijen yang berada di
Padang Karautan ini, sehingga mereka tidak perlu mengurangi
persediaan makan dari lumbung-lumbung yang masih ada di
Panawijen.”
“Terima kasih Ken Arok.“ desis Mahisa Agni sambil menundukkan
kepalanya. Getar dadanya serasa semakin cepat mengalir.
Bantuanbantuan
yang datang itu telah mengharukan perasaannya.
Akhirnya perasaan terima kasih yang tidak terhingga
dipanjatkannya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tangan-
Nya lah maka semua itu dapat terjadi.
Sejenak kemudian Ken Arok telah meninggalkan Mahisa Agni
yang masih duduk tepekur. Beberapa orang lainpun satu-satu
beranjak pula dari tempat duduk mereka, kembali kegubug-gubug
masing-masing. Mereka menjadi gelisah setelah mereka mendengar
berita kebakaran di Panawijen. Tetapi mereka pun menjadi gelisah
pula mendengar pembicaraan orang-orang penting di sekitar
mereka. Mereka ingin Mahisa Agni melihat bekas-bekas kebakaran
itu untuk memastikan sebab-sebabnya, tetapi mereka juga
mengharap di dalam hatinya, agar Mahisa Agni tidak usah pergi ke
Panawijen, sebab menurut pendengaran mereka, Padang Karautan
benar-benar merupakan Padang yang dipenuhi oleh seribu macam
rahasia.
Tetapi mereka tidak dapat mengatakan kepada Mahisa Agni,
kepada Ken Arok atau kepada paman Mahisa Agni. Mereka juga
tidak dapat mengatakan kepada kedua laki-laki tua yang baru
datang dari kampung halaman mereka, bahwa sebaiknya Mahisa
Agni tidak usah mereka ajak kembali ke Panawijen. Namun satu dua
orang berpendapat bahwa sebaiknya Mahisa Agni pergi saja ke
Panawijen, supaya apabila ia kembali ke Padang ini, ia dapat
mengatakan apa yang telah terjadi. Sehingga dengan demikian
mereka tidak selalu dihantui oleh bayangan yang mungkin sangat
ber lebih-lebihan.
Ketika tempat itu menjadi semakin sepi, maka Mahisa Agni
terkejut mendengar suara Ki Buyut Panawijen dekat di sampingnya,
“Angger, aku juga ingin turut ke Panawijen.”
“Oh.” Mahisa Agni mengangkat wajahnya dan dengan serta
merta ia berkata, “Jangan Ki Buyut. Aku sudah meninggalkan
pekerjaan ini. Sebaiknya Ki Buyut lah yang kini menunggui mereka
supaya mereka tidak menjadi kehilangan gairah.”
“Tetapi aku juga ingin melihat apa yang terjadi itu ngger.”
“Lain kali Ki Buyut. Biarlah Ki Buyut tetap bersama mereka yang
sedang bekerja. Aku, paman Empu Gandring dan Ken Arok telah
meninggalkan Padang ini. Para prajurit Tumapel itu pun
diserahkannya kepada orang lain. Karena itu sebaiknya Ki Buyut
tetap berada di sini.”
Ki Buyut Panawijen menatap wajah Mahisa Agni dengan
pancaran kekecewaan hatinya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Dicobanya untuk mengerti kata-kata Mahisa Agni itu.
“Ki Buyut.” Mahisa Agni meneruskan, “kerja yang besar ini tidak
akan dapat kita tinggalkan bersama-sama. Aku telah melihat
sekalisekali
kilat memancar di langit. Sebentar lagi kita akan sampai pada
musim basah. Sebelum banjir yang pertama mengaliri sungai ini,
maka bendungan kita harus sudah meyakinkan, bahwa ia tidak akan
hanyut karenanya.”
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih saja
berdiam diri.
“Karena itu.” Mahisa Agni meneruskan, “kita harus bekerjya keras
untuk menyelesaikannya. Untunglah bahwa kita mendapat bantuan
para prajurit dari Tumapel itu.”
Ki Buyut Panawijen masih mengangguk-angguk kecil. Kemudian
katanya perlahan-lahan, “Baiklah ngger. Biarlah aku tinggal di sini
menunggui mereka yang sedang bekerja.”
“Terima kasih Ki Buyut.” sahut Mahisa Agni, “mudah-mudahan
semuanya dapat kita selesaikan bersama-sama.”
Ki Buyut kemudian meninggalkan Mahisa Agni kembali
kegubugnya. Udara masih juga terasa agak panas, meskipun angin
telah bertiup agak kencang. Gelap malam pun semakin lama
menjadi semakin pekat. Ketika Mahisa Agni menengadahkan
wajahnya, dilihatnya dari celah tutup keyong gubugnya,
bintangbintang
sudah berpijaran di langit yang biru hitam.
Kedua laki-laki tua yang datang dari Panawijen masih berada di
dalam gubug itu. Ketika suasana menjadi semakin sepi, dan tidak
ada orang lain di dalam gubugnya, maka salah seorang daripadanya
bertanya, “Agni, siapakah orang tua itu?”
“He.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “bukankah itu Ki
Buyut. Apakah kalian telah melupakannya?”
“Bukan. Bukan Ki Buyut. Apakah aku sudah gila sehingga aku
tidak mengenalnya lagi.” sahut orang itu, “maksudku orang tua
yang selalu mencoba menghalangi kau pergi ke Panawijen.”
Dahi Mahisa Agni menjadi berkerut merut. Terasa detak
jantungnya menjadi semakin cepat. Tetapi ia tidak akan dapat
mengatakan lain daripada keadaan sesungguhnya. Dengan demikian
maka untuk selanjutnya kedua orang itu akan bersikap lebih
hatihati.
Namun hal itu pasti akan mengejutkan mereka. Tetapi menurut
pendapat Mahisa Agni demikianlah sebaiknya-baiknya.
Maka jawabnya, “Kaki, laki-laki tua itu adalah salah seorang dari
mereka yang disebut-sebut sebagai orang aneh di Tumapel. Ia
seorang pembuat keris. Kerisnya hampir tak ada duanya di dunia ini.
Tetapi membuat keris baginya tidak seperti pembuat-pembuat keris
yang lain. Belum pasti setahun sekali ia menghasilnya sebuah keris.
Bahkan mungkin dua tahun. Tetapi apabila sebuah keris
disiapkannya, maka keris itu pilih tanding.”
Kedua laki-laki itu memandangi wajah Mahisa Agni dengan
tegangnya. Tetapi mereka tidak segera tahu, siapakah orang itu.
Karena itu maka salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah
orang itu?”
“Orang itu telah pula disebut-sebut namanya oleh Ken Arok.”
“Ya, siapakah namanya?”
“Empu Gandring.”
“O.“ kedua orang itu terbungkam. Mereka mendengar nama itu
tadi disebut pula seorang anak muda pemimpin prajurit dari
Tumapel dalam deretan nama-nama yang asing bagi mereka, tetapi
kesan yang mereka tangkap adalah terlampau dahsyat. Justru
karena itu maka mereka tidak lagi mengucapkan sepatah katapun.
Dada mereka seakan-akan tersumbat oleh penyesalan.
Yang berbicara kemudian adalah Mahisa Agni, katanya, “Nah,
sekarang beristirahatlah. Besok kita berangkat pagi-pagi supaya
kita
sampai di Panawijen sebelum sore hari.”
“Begitu cepat?”
“Tidak terlampau cepat. Perjalanan yang sedang.”
Kedua orang itu tidak menjawab lagi. Mahisa Agni telah
menyediakan untuk mereka sehelai tikar pandan yang dibentangkan
di atas setumpuk rumput-rumput kering.
Malam pun kemudian menjadi semakin dalam. Setapak demi
setapak bintangi berkisar kebarat menuju kecakrawala. Angin
malam yang sejuk berhembus dari Selatan. Dan embun pun
kemudian setetes-setetes menitik dan hinggap di dedaunan yang
menguning.
Ketika fajar menyingkap kehitaman langit di ujung Timur, maka
Mahisa Agni dan Kawan-kawannya pun telah bersiap. Kedua laki-laki
tua dari Panawijen, Empu Gandring dengan sebilah keris raksasa di
punggungnya, Ken Arok dengan pedang di lambung dan Mahisa
Agni sendiri. Seperti Ken Arok Mahisa Agnipun membawa pedang
pula tergantung pada ikat pinggang kulit yang lebar.
Terasa oleh orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel,
bahwa orang-orang yang berangkat melintasi Padang Karautan itu
benar-benar telah bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Ketika langit menjadi semakin terang, maka mereka pun segera
berangkat, dilepas oleh Ki Buyut Panawijen dan orang lain yang
sebentar lagi akan mulai pula bekerja menyelesaikan bendungan itu.
Sejenak kemudian maka kuda-kuda itu pun segera berpacu.
Tetapi mereka tidak dapat berjalan seperti yang mereka kehendaki,
karena kedua laki-laki tua dari Panawijen itu tidak berani
menunggang kuda terlampau kencang. Karena itu maka perjalanan
itu pun merupakan perjalanan yang terlampau lambat bagi Mahisa
Agni, Empu Gandring, apalagi Ken Arok.
Meskipun demikian, namun mereka pun menjadi semakin lama
semakin mendekati pedukuhan Panawijen. Pedukuhan yang semakin
lama menjadi semakin kering. Namun dengan demikian, bagi Mahisa
Agni semakin lama semakin didekatinya bahaya yang bersembunyi
di dalam pedukuhan itu.
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah menunggunya dengan
sepenuh harapan tentang berbagai keuntungan yang akan mereka
dapatkan dari pemerasan yang akan mereka lakukan.
Betapapun lambatnya perjalanan itu, tetapi akhirnya Panawijen
telah berada di hadapan hidung mereka, setelah beberapa kali
mereka berhenti melepaskan lelah dan haus, karena kedua laki-laki
tua dari Panawijen itu. Mereka tidak memiliki ketahanan seperti
Mahisa Agni, Empu Gandring yang meskipun sudah tua pula dan
apalagi Ken Arok, seorang yang paling mengenal Padang Karautan
melampaui yang lain-lain.
Sejenak kemudian mereka pun telah memasuki padukuhan itu.
Mereka berlima disambut dengan penuh gairah oleh orang-orang
Panawijen. Apalagi setelah mereka melihat Mahisa Agni, maka
mereka pun menjadi seakan-akan anak-anak yang sudah lama tidak
melihat ayahnya pergi merantau, dan kini ayah itu kembali pulang.
Belum lagi Mahisa Agni sempat beristirahat, maka beberapa
orang-orang telah menemuinya dan masing-masing berceritera
dalam nada yang berbeda-beda tentang kebakaran yang terjadi
dipadukuhan mereka. Tentang beberapa buah lumbung dan rumahrumah
yang lain.
“Nanti aku akan melihat.” berkata Mahisa Agni, “sekarang
apakah kalian tidak ingin memberi kesempatan kami untuk
beristirahat sebentar.”
“Oh.“ orang-orang Panawijen itu saling berpandangan sejenak.
Kemudian merekapun menjawab hampir bersamaan, “Silahkan.
Silahkan anakmas beristirahat di rumah Ki Buyut.”
“Terima kasih.” sahut Mahisa Agni, “aku akan beristirahat di
padepokanku.”
Mahisa Agni pun kemudian pergi kepadepokannya, padepokan
yang pernah didiaminya sejak kanak-kanak.
Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menunggu
dengan berdebar-debar di rumah Kuda Sempana. Ketika ayah Kuda
Sempana datang, maka dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat
bertanya, “He, apakah kau melihat Mahisa Agni. Bukankah orangorang
ribut menyambut kedatangannya. Anak-anak itu akan
menjadi terlampau congkak. Seakan-akan ia sudah menjadi seorang
Akuwu di Panawijen.”
“Aku melihatnya.” sahut ayah Kuda Sempana, “anak muda itu
datang berlima.”
“Berlima?” Wong Sarimpat mengerutkan alisnya, sedang wajah
Kebo Sindet yang beku masih juga membeku, “siapa saja mereka?”
Ayah Kuda Sempana menggeleng, “Aku tidak tahu. Yang seorang
sudah agak tua, membawa sebuah keris yang besar di
punggungnya.”
“Empu Gandring.” gumam Wong Sarimpat.
“Yang seorang lagi agaknya prajurit atau Pelayan Dalam seperti
Kuda Sempana dahulu. Wajahnya tampan dan bermata terang.”
“Siapakah anak itu Kuda Sempana?” bertanya Wong Sarimpat.
Kuda Sempana menggeleng. Jawabnya kosong, “Aku tidak tahu.”
“Kau pasti tahu.” sahut Wong Sarimpat, “kau pernah menjadi
seorang prajurit atau seorang Pelayan Dalam.”
“Tetapi aku tidak melihat siapa orang itu.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya,
“Ya, kau memang tidak melihat tetapi seharusnya kau dapat
mengira-ngirakan siapakah orang itu.”
“Ada beratus-ratus Pelayan Dalam dan prajurit pengawal di
dalam istana. Aku tidak dapat mengenal seluruhnya.”
“Tetapi siapakah yang berwajah tampan dan bermata terang.“
tiba-tiba Wong Sarimpat membentak.
“Jangan terlampau keras berteriak.” Kebo Sindet
memperingatkannya, “kita tidak berada di Kemundungan. Kita
berada di dalam sebuah pedukuhan. Di Kemundungan, suaramu
yang keras dan serak itu hanya akan didengar oleh dinding-dinding
padas lereng bukit. Di sini suaramu akan dapat membuat bayi-bayi
menjadi pingsan.”
“Oh.“ Wong Sarimpat mengusap mulutnya seakan-akan ia akan
menghapus suaranya yang telah terlanjur terlontar. Tetapi kembali
ia bertanya merkipun agak perlahan-lahan, “Siapa?”
“Banyak di antara mereka yang tampan dan bermata, terang.“
sahut Kuda Sempana seakan-akan acuh tak acuh, “Witantra, Sura,
Kukma, Mitra…”
“Cukup.“ sekali lagi Wong Sarimpat berteriak dan sekali lagi
Kebo Sindet memperingatkannya, “Wong Sarimpat. Apakah kau
tidak mempunyai otak?”
Wong Sarimpat terdiam. Tetapi mulutnya masih saja kumatkamit,
dan ia mengumpat tak habis-habisnya di dalam hati.
“Mungkin kau tidak mengenal anak itu Kuda Sempana.“ berkata
Kebo Sindet dengan wajah yang beku, “tetapi siapakah yang dua
lagi?”
Ayah Kuda Sempana menjawab, “Yang dua adalah laki-laki tua
dari Panawijen yang menjemput mereka.”
Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Wong
Sarimpat ia berkata, “Kita sudah pasti. Siapa pun prajurit muda
itu,
tetapi ia bukan orang-orang yang wajib kita perhitungkan. Kau
dapat menahan Empu Gandring, dan aku akan melarikan Mahisa
Agni.”
Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kemudian kau lebih baik meninggalkan Empu Gandring. Ia tidak
akan dapat menyusulmu. Kudamu pasti lebih baik dari pada
kudanya.”
Wong Sarimpat masih mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalau anak muda yang seorang itu mampu membuat
perlawanan, maka sementara Kuda Sempana harus mengikat
Mahisa Agni dalam perkelahian. Hanya sebentar. Aku akan
membunuh prajurit muda yang tampan itu. Aku tidak tahu siapa ia,
tetapi kalau ia mencoba menghalang-halangi aku, maka terpaksa
aku akan membunuhnya.”
“Baik.“ geram Wong Sarimpat, “aku akan membunuh Empu
Gandring, tidak hanya sekedar menyingkirkannya dari Mahisa Agni.”
“Kau tidak perlu membual Wong Sarimpat.“ berkata Kebo Sindet.
Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Dan kau Kuda
Sempana, kau akan dapat melepaskan dendam hatimu.
Sekendakmulah, apa yang akan kau lakukan atas anak muda itu
kelak di Kemundungan. Sedang aku mempunyai kepentingan sendiri
dengan Mahisa Agni itu. Tetapi aku tidak akan mengecewakanmu.”
Sementara itu, setelah Mahisa Agni dan kedua orang lainnya,
Empu Gandring dan Ken Arok, beristirahat sejenak, minum air legen
yang manis langsung dari bumbung yang di turunkan dari deresan
pohon nyiur, dan sedikit makan beberapa jenis makanan, mereka
pun segera pergi ketempat ke bakaran.
Mereka melihat beberapa lumbung dan rumah terbakar hampir
musna. Abu yang lembut masih saja berhamburan disentuh angin
yang agak kencang. Di sana sini masih teronggok reruntuhan yang
tersisa.
Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok melihat sisa-sisa
kebakaran itu dengan saksama, sementara beberapa orang
mengerumuninya dari kejauhan.
Tiba-tiba Empu Gandring yang tua itu mengerutkan keningnya. Ia
melihat beberapa hal yang kurang wajar menurut penilaiannya.
Karena itu maka digamitnya Ken Arok dan di panggilnya Mahisa
Agni mendekat.
“Kau lihat onggokan abu di sini?“ bertanya Empu Gandring.
Kedua anak muda itu menggangguk.
“Dan kau lihat rumah sebelah yang belum terbakar habis?”
Sekali lagi keduanya mengangguk.
“Aku akan menyebutkan suatu kemungkinan, tetapi aku tidak
dapat memastikan kebenarannya. Kalau menurut dugaanku, maka
lumbung ini pasti lebih dahulu terbakar dari rumah itu. Bukankah di
sisi sebelah ini kebakaran agaknya lebih sempurna dari sisi yang
lain.”
“Ya.“ sahut Mahisa Agni.
“Tetapi rumah itu terbakar disisi yang berlawanan dari lumbung
ini. Kalau rumah itu terbakar oleh api yang menjalar dari lumbung
ini, maka sebelah yang terdekat dengan lumbung inilah yang akan
terbakar lebih dahulu. Tetapi bukankah yang terjadi sebaliknya?
justru yang di sisi ini rumah itu masih tersisa meskipun tinggal
seonggok kayu.”
Kedua anak-anak muda itu masih mengangguk-anggukkan
kepalanya. Mereka segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa api
yang membakar rumah itu bukanlah yang menjalar dari lumbung ini.
Kenyataan yang kecil itu telah cukup membuat mereka bercuriga.
Apakah mungkin karena panasnya udara timbul api dari dua tempat
yang berbeda? Yang hampir bersamaan telah membakar dua
macam bangunan itu?
Dalam pada itu terdengar Ken Arok berdesis, “Ada tangan yang
menyalakannya.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang mata
Mahisa Agni kini menjadi menyala seperti api yang membara.
Terdengar giginya gemeretak. Dengan dada yang berdentangan ia
menggeram, “Aku sependapat. Ada orang yang mencoba
mengacaukan kerja kita.”
“Jangan kau tanggapi dengan hati yang gelap Agni. Adalah
sudah, menjadi kebiasaan, bahwa setiap kerja yang baik dan
bermanfaat, apalagi kerja yang besar, pasti akan ditemuinya
berbagai macam rintangan dan gangguan. Kini kau juga menjumpai
rintangan dan gangguan itu.”
“Jadi apakah kita akan membiarkan saja mereka itu paman?”
“Tentu tidak Agni. Tetapi hati kita harus tetap jernih supaya kita
tetap dapat melihat dengan terang. Kita harus pasti siapakah yang
kita hadapi.“ Empu Gandring berhenti sejenak. Dipandanginya
orang-orang yang berkerumun di kejauhan. Kemudian katanya,
“Kau jangan membuat orang-orang itu menjadi semakin bingung
dan cemas. Buatlah mereka tenang.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam seakan-akan ingin
mengendapkan isi dadanya yang sedang bergolak.
“Berilah mereka ketenangan, supaya mereka tidak akan
menambah bebanmu yang telah menjadi semakin berat itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan iapun
dapat mengerti ketika pamannya berkata, “Kau harus berkata
kepada mereka, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Kebakaran
ini adalah kebakaran yang wajar karena suatu kecelakaan saja. Dan
kau harus menyampaikan kepada mereka kesanggupan Angger Ken
Arok. Adalah lebih baik apabila angger Ken Arok menyampaikannya
sendiri.”
Mahisa Agni pun kemudian memandangi wajah-wajah yang
memancarkan kecemasan dan ketidak tentuan. Namun kepala anak
muda itu masih saja mengangguk-angguk. “Baiklah“ gumamnya.
Sambil berpaling kepada Ken Arok, Mahisa Agni berkata, “Apakah
kau tidak berkeberatan?”
“Aku mendahului keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi
aku yakin bahwa demikianlah yang akan terjadi?”
“Jadi bagaimana?”
“Baiklah.”
Ketiganya, bersama dua laki-laki yang menjemput mereka ke
Padang Karautan dan beberapa orang tua yang menunggu mereka
agak jauh di samping bekas-bekas kebakaran itu pun segera
menemui orang-orang Panawijen. Mahisa Agni mencoba untuk
menenangkan hati mereka dengan beberapa keterangan. Dan
akhirnya dipersilahkannya Ken Arok sendiri memberi penjelasan
kepada orang-orang Panawijen itu.
Agaknya kesanggupan Ken Arok telah dapat memberi mereka
ketenteraman. Mereka tidak lagi digelisahkan oleh masa depan yang
mengerikan. Bahaya kelaparan yang selalu menghantui mereka
beberapa hari terakhir.
“Aku telah mengirimkan dua orang prajurit ke Tumapel.“ berkata
Ken Arok, “mudah-mudahan mereka segera datang. Sebelum padi
yang terakhir kalian masukkan kedalam lesung, maka pasti telah
datang padi dan jagung dari Tumapel. Kalian tidak akan dibiarkan
kelaparan sampai tanah yang kalian garap menghasilkan. Sampai
bendungan di Padang Karautan itu dapat mengangkat air, mengairi
sawah-sawah kalian yang pasti akan lebih subur dari sawah-sawah
kalian di Panawijen ini.”
Alangkah lapang hati mereka. Meskipun daun-daun di padukuhan
mereka menjadi semakin kuning dan berguguran, namun hati
mereka menjadi tenteram.
Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni sendiri. Hatinya selalu
diganggu oleh kemarahan dan kegelisahan, meskipun ia tidak tahu,
bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saat itu berada di
pedukuhan itu pula.
Sebenarnya bukan seja Mahisa Agni Yang menjadi gelisah. Tetapi
juga Empu Gandring dan Ken Arok. Dugaan mereka atas timbulnya
kebakaran karena kesengajaan telah menumbuhkan berbagai
persoalan di dalam dada mereka. Itulah sebabnya, maka setelah
mereka kembali kepadepokan dan beristirahat di serambi samping,
maka senjata-senjata mereka tidak juga terpisah daripada tubuh
mereka.
Empu Gandring yang melihat kekuatan-kekuatan yang seimbang
dengan dirinya yang menurut dugaannya adalah Empu Sada, Kebo
Sindet dan Wong Sarimpat membiarkan kerisnya melekat di
punggung, meskipun ia sedang duduk menikmati beberapa macam
makanan padepokan Panawijen. Sedang Ken Arok meletakkan
pedangnya di pangkuannya. Mahisa Agni sendiripun tidak juga
melepas pedangnya tersangkut di lambungnya.
Beberapa orang cantrik yang masih tinggal di padepokan itu
sibuk menjediakan makan dan minuman mereka. Salah seorang dari
mereka bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah aku dapat
menyimpan senjata-senjata kalian?”
Mahisa Agni menggeleng, “Jangan.”
Cantrik itu terdiam, tetapi wajahnya menjadi kecut. Terbayanglah
suatu pertanyaan di dalam wajah itu, “Kenapa senjata-senjata itu
tidak juga ditempatkan.“ Namun cantrik itu tidak mengucapkannya.
Sementara itu cahaya di langit pun menjadi semakin lama
semakin merah. Mega yang berarak-arak dan awan yang seolaholah
tersangkut di langit memantulkan cahaya matahari yang
hampir tenggelam, dan memancarlah layung di langit. Warna yang
tajam menusuk ke dalam serambi samping padepokan Panawijen.
Warna itu seolah-olah menambah kegelisahan yang tersimpan di
dalam dada Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok. Warna itu
seperti tajamnya ujung senjata yang berputar di langit, disoroti
oleh
cahaya senja.
Tiba-tiba Mahisa Agni berdiri dari tempatnya. Perlahan-lahan ia
melangkah sambil berkata, “Aku akan ke sanggar sebentar paman.”
“Apa yang akan kau perbuat?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat sanggar guruku yang
telah lama tidak dipergunakan.”
Empu Gandring merasa heran. Padepokan ini adalah padepokan
guru Mahisa Agni. Tetapi untuk melepas Mahisa Agni pergi dari sisi
sebelah Timur ke sisi sebelah Barat, terasa begitu berat.
Seakanakan
Empu Gandring sedang melepas seorang anak kecil bermainmain
ditepi sumur.
“Aku terlampau dibayangi oleh perasaanku sendiri.“ berkata
orang tua itu di dalam hatinya. Karena itu maka di cobanya untuk
mempergunakan pikiran jernihnya. Anak muda itu hanya akan pergi
ke sanggar. Tidak lebih dari tigapuluh langkah dari tempat itu.
“Pergilah.“ jawabnya kemudian, “tetapi hati-hatilah. Rumah ini
sudah lama tidak kau kenal.”
“Baiklah paman.”
Mahisa Agnipun segera meninggalkan pamannya. Pesan itu
adalah pesan yang aneh baginya, tetapi ia merasa bahwa pesan itu
sudah wajar diucapkannya. Seakan-akan anak muda itu sendiri
merasa bahwa ia berada di suatu medan yang berbahaya.
Dengan pedang di lambung Mahisa Agni pun segera pergi ke
sanggar gurunya. Perlahan-lahan dibukanya pintu sanggar itu.
Terdengar suara berderit, dan seberkas sinar senja yang temaram
melontar masuk.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa udara agak
panas mengalir dari dalam. Remang-remang dilihatnya tiang-tiang
kayu nangka yang kekuning-kuningan.
Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah naik anak tangga dan
memasuki sanggar. Ketika kakinya menyentuh lantai, debu yang
tipis menggelepar di bawah kakinya.
Mahisa Agni pun kemudian melangkah terus masuk ke dalam
sanggar. Ia tidak menutup pintunya, terlampau rapat karena
dengan demikian sanggar itu akan menjadi gelap sekali. Dengan
sisa-sisa sinar senja ia mencoba mengamati isi sanggar gurunya itu.
“Pusaka itu masih berada di sini.“ desisnya, “tak seorang pun
yang tahu tempatnya selain aku.”
Dengan ragu-ragu Mahisa Agni mencoba membuka sepotong
papan lantai dan meraba-raba kedalamnya. Ketika tangannya
menyentuh sebuah peti kecil, maka ia menarik nafas dalam-dalam.
“Peti ini masih di sini.“ desisnya.
Mahisa Agni itu pun segera duduk menghadap pintu sanggar
yang masih sedikit menganga. Sambil melihat keluar, kalau-kalau
ada orang yang melihatnya, ia membuka peti kecil itu. Hati-hati ia
meraba ke dalamnya, dan kini tangannya menyentuh sebuah benda
yang dingin.
“Inilah pusaka itu.“ katanya di dalam hati.
Dengan dada yang berdebar-debar diangkatnya benda kecil dari
dalam peti itu. Mata Mahisa Agni menjadi bersinar-sinar ketika ia
melihat sebuah pusaka kecil berkilat-kilat di tangannya. Trisula.
Seperti didorong oleh tenaga yang aneh, cepat-cepat ia
memasukkan trisulanya kembali. Segera menutup peti itu, dan
menempatkan kembali sepotong papan lantai itu pada tempatnya,
dan mengembalikan semuanya seperti sediakala. Tak ada bekas
apapun yang ditinggalkannya. Tak seorang pun tahu, bahwa ada
sepotong kayu lantai yang dapat diangkat, dan di dalamnya
tersimpan pusaka itu.
Sejenak Mahisa Agni duduk tepekur. Di luar senja menjadi
semakin beringsut menjelang malam. Langit yang kemerah-merahan
menjadi semakin kelam. Dan sanggar itu pun manjadi semakin
gelap.
Empu Gandring dan Ken Arok masih duduk di serambi samping.
Mereka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali. Kepala mereka
tampak tepekur. Ketika seseorang memasang sebuah lampu dinding
di samping mereka, mereka hanya menganggukkan kepala sambil
bergumam, “Terima kasih.“ Namun sesudah itu mereka terdiam
kembali.
Yang kemudian bertanya adalah Ken Arok, “Paman, kenapa
Mahisa Agni terlampau lama berada di dalam sanggar itu?”
Empu Gandring tidak segera menjawab. Meskipun sebenarnya
hatinya sendiri selalu diliputi oleh kegelisahan. Dipandanginya
warna-warna yang kelam di halaman. Tetapi agaknya tak satupun
yang dilihatnya.
Agaknya Ken Arok tidak dapat menahan kegelisabannya,
sehingga iapun kemudian berdiri. Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku
ingin melihat kesanggar sebentar paman. Apakah Agni sedang
bersemadi?”
“Aku kira tidak Ngger. Tetapi baiklah kalau kau ingin melihatnya.
Tetapi kau pun harus ber-hati-hati pula.”
“Baik paman.”
Ken Arok pun kemudian melangkah meninggalkan serambi
samping pergi ke sanggar di sisi yang lain dari halaman rumah itu.
Dengan hati-hati Ken Arok melihat setiap gerak dan mendengarkan
setiap bunyi di halaman. Di sana-sini beberapa orang cantrik telah
menyalakan pelita-pelita di sudut-sudut rumah.
Ken Arok berhenti beberapa langkah dari sanggar. Ia tidak ingin
mengganggu Mahisa Agni. Dari tempatnya berdiri, Ken Arok melihat
remang-remang pintu sanggar itu tidak tertutup rapat.
Tetapi malam pun menjadi semakin malam. Dan Mahisa Agni
masih juga belum keluar dari sanggar. Meskipun demikian Ken Arok
masih juga belum beranjak dari tempatnya.
Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia melihat sesosok bayangan
mendekati sanggar itu. Bayangan yang hanya dilihatnya lamat-lamat
itu berhenti sejenak di muka pintu. Tetapi bayangan itu kemudian
tidak segera-segera pergi.
“Siapakah ia?” desis Ken Arok di dalam hatinya, “Agaknya ia
menunggu Mahisa Agni keluar.”
Tetapi Ken Arok tidak begitu mencemaskannya. Agaknya
bayangan itu tidak sengaja menyembunyikan diri. Ia berdiri saja di
samping pintu sanggar.
“Mungkin seorang cantrik.“ berkata Ken Arok di dalam hatinya.
Sejenak kemudian ia melihat pintu sanggar itu bergerak.
Bayangan yang menunggu di samping pintu itu surut selangkah.
Sementara itu, mata Ken Arok yang tajam melihat Mahisa Agni
tersembul ke luar dari dalamnya.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu terloncat kesamping anak tangga
sanggarnya. Agaknya ia terkejut ketika ia melihat seseorang
menunggunya dimuka pintu sanggar. Tetapi orang yang
menunggunya itu pun terkejut pula, sehingga iapun terloncat
mundur.
“Siapa?“ terdengar Mahisa Agni bertanya.
“Aku Agni.”
“O.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “kau membuat
aku terkejut cantrik. Apa kerjamu di sini?”
“Aku ingin bertanya kepadamu Agni, apakah kau memerlukan
lampu. Tetapi aku tidak berani mengganggumu, masuk ke dalam
sanggar.”
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, dan
beberapa langkah daripadanya, di dalam kegelapan, Ken Arok pun
menarik nafas dalam-dalam pula. “Benar dugaanku.“ katanya di
dalam hati, “ia seorang cantrik.”
( bersambung ke jilid 26 )