Pelangi di Langit Singosari 04

Jilid 16

BARULAH DI GARDU pertama kedua prajurit itu dapat

meyakinkan diri mereka. Dari pemimpin prajurit yang bertugas di

regol, kedua prajurit itu mendapat beberapa penjelasan tentang

kedatangan Mahisa Agni. Diberitahukannya pula bahwa Mahisa Agni

datang bersama dua orang prajurit yang sudah mereka kenal dan

yang mereka ketahui tugas-tugasnya pula.

“Maafkan kami,” berkata kedua prajurit itu, “kami bertugas di

dalam halaman istana sehingga kami tidak mengetahui kehadiran

Tuan. Apabila demikian, marilah Tuan kami antarkan ke serambi

belakang istana di samping regol itu tadi. Namun terpaksa Tuan

masih harus menunggu, sampai Tuan mendapatkan izin masuk ke

istana. Hal itu adalah di luar wewenang kami.”

Tetapi Mahisa Agni sudah kehilangan kesabaran. Kegelisahan dan

kerisauan perasaannya sudah demikian pepatnya. Apalagi Mahisa

Agni sendiri tidak yakin apakah ia dapat berhadapan dengan Ken

Dedes sebagai seorang kakak? Sehingga ia menjadi semakin jemu

untuk menunggu di samping regol, di dekat pintu serambi belakang.

Maka jawabnya, “Aku sudah terlalu lama menunggu. Aku datang

kemari bukan atas kehendakku, dan sekarang aku harus menunggu

terlampau lama. Apabila nanti ada petugas lain yang melihat aku,

pasti aku harus menjawab berbagai pertanyaan pula.”

“Mungkin Tuan sudah tidak akan terlalu lama menunggu.”

“Aku sudah terlalu lama berdiri di samping regol di dekat serambi

itu.”

“Mungkin Akuwu sedang bersantap, sehingga beberapa emban

yang melayaninya tidak berani menyampaikan permohonan kedua

prajurit itu. Mereka harus menunggu beberapa saat.”

“Aku sama sekali tidak memerlukan mereka,” desis Mahisa Agni

perlahan-lahan sehingga kedua prajurit itu tidak mendengarnya

dengan jelas. Namun kemudian Agni itu berkata, “Aku akan kembali

ke Panawijen. Tolong sampaikan kepada mereka, bahwa aku sudah

kembali.”

“Tuan,” berkata salah seorang dari kedua prajurit itu cemas,

“kami minta maaf bahwa kami telah mengganggu Tuan. Mungkin

Tuan kecewa atas perbuatan kami. Kami benar-benar tidak tahu

siapakah Tuan.”

“Tidak,” sahut Agni, “aku tidak menyalahkan kalian. Kalian benarbenar

sedang melakukan kewajiban kalian. Tetapi aku sudah jemu

untuk menunggu.”

Kedua prajurit itu menjadi bingung. Para penjaga regol pun tidak

tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap Mahisa Agni. Mereka

tidak mempunyai wewenang untuk mencegahnya, sebab mereka

tidak tahu, sampai seberapa jauh kepentingan Mahisa Agni hadir di

Istana Tumapel.

Namun kedua prajurit yang merasa menjadi penyebab langsung

dari kejemuan Mahisa Agni itulah yang kini menjadi bertambah

gelisah. Sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Apakah Tuan

ingin menunggu di regol ini. Tuan dapat duduk dengan tenang.

Biarlah kami berdua saja yang menunggu di samping regol di dekat

serambi belakang. Nanti kami akan memanggil Tuan apabila izin itu

telah Tuan dapatkan.”

Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Terima kasih. Aku akan

pulang saja ke Panawijen.”

Ternyata prajurit-prajurit itu tidak lagi mampu mencegah, mereka

tidak berani menahan Mahisa Agni dengan kekerasan, sebab mereka

tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Sehingga mereka kemudian

hanya dapat memandangi debu yang mengepul di belakang derap

kuda Mahisa Agni. Sesaat kemudian, hilanglah ia di belakang tabir

kegelapan malam.

Prajurit-prajurit itu menjadi gelisah. Mereka tidak tahu pasti,

apakah mereka tidak bersalah karena melepaskan anak muda itu

pulang. Namun apakah mereka dibenarkan seandainya mereka

terpaksa menahan Mahisa Agni dengan kekerasan.

Dalam serba ketidaktentuan itu, mereka kemudian melihat tiga

bayangan berjalan tergesa-gesa ke regol pertama. Sepintas, para

penjaga itu segera dapat mengenal, langkah kedua kawannya yang

datang bersama Mahisa Agni sore tadi, beserta seorang emban tua.

Hati para penjaga dan kedua prajurit yang menyalakan lampu di

regol tempat Mahisa Agni menunggu, menjadi berdebar-debar.

Kedua prajurit itu merasa, seakan-akan merekalah yang

menyebabkan Mahisa Agni itu kembali ke Panawijen. Kalau anak

muda itu benar-benar diperlukan, maka mereka pasti akan

mendapat marah dari Akuwu Tunggul Ametung.

“Sial benar kita kali ini,” desis salah seorang daripada mereka,

“kalau saja kita tidak bertugas menyalakan lampu-lampu sambil

meronda keliling, kita tidak akan menemui soal yang

menggelisahkan ini.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi debar jantungnya tidak kalah

cepatnya dengan kawannya yang lain.

Ketika ketiga orang, kedua prajurit dan emban tua telah sampai

di regol pertama, maka dengan serta-merta terdengar emban tua itu

bertanya, “Di manakah Mahisa Agni? Apakah kalian melihatnya?”

Sesaat para penjaga regol itu saling berpandangan. Kemudian

prajurit yang membawa. Agni ke regol ini menjawab, “Aku melihat

Tuan Mahisa Agni itu. Kini ia telah kembali ke Panawijen.”

“He,” suara itu meledak bersama-sama dari ketiga orang yang

baru datang, “kenapa tidak kalian cegah?”

“Kami telah mencobanya,” sahut pemimpin penjaga, “tetapi ia

tetap pada pendiriannya. Menurut pesannya anak muda itu telah

jemu menunggu.”

“Oh,” desis emban tua itu sambil menekan dadanya. Nafasnya

tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir.

“Agni. Agni. Bukan main. Hati yang telah lapuk ini masih juga kau

lukai. Oh, alangkah besar dosa yang aku tanggungkan,” perempuan

itu mengeluh. Namun keluhan di hatinya jauh lebih pedih dari yang

diucapkannya, seolah-olah Agni sengaja menyakiti hatinya.

“Hem,” perempuan tua itu menarik nafas panjang.

“Salahku,” keluhnya di dalam hati, “anak itu tidak pernah

merasakan betapa kasih sayang seorang ibu mengusap keningnya.

Bagaimana ia kini harus mencintai ibunya? Apalagi mematuhi

permintaannya? Bukan salah Mahisa Agni. Permintaanku terlalu

berat, sedang aku belum pernah memberinya sesuatu.”

Sesaat regol itu menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam

angan-angannya. Namun wajah-wajah mereka kini benar-benar

membayangkan kegelisahan hati.

Sejenak kemudian emban tua itu berkata kepada kedua prajurit

yang mengantarnya ke Panawijen, “Bagaimana?”

“Terserah kepada Bibi,” sahut keduanya.

Sekali lagi emban tua itu mengeluh, katanya, “Apakah yang harus

aku katakan kepada Tuanku Akuwu?”

Semuanya masih terbungkam. Dan semuanya masih juga

berdebar-debar. Sementara itu terdengar emban itu berkata,

“Akuwu sendiri telah menyambutnya di ruang dalam. Dengan

tergesa-gesa beliau berkemas sehabis makan malam. Tetapi anak

itu telah pergi.”

Yang mendengar keterangan itu menjadi semakin berdebardebar.

Demikian pentingnyakah anak muda itu sehingga Akuwu

sendiri akan menyambutnya di ruang dalam?

Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Bibi emban,

apakah sebaiknya kami, salah seorang atau dua orang pergi

menyusulnya?”

Emban itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia

menggeleng sambil berkata, “Jangan.”

“Kenapa? Bukankah kami akan dapat membawanya kemari,

menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”

“Anak itu keras hati. Mungkin ia tidak akan bersedia kembali.”

“Kalau memang perlu sekali, kami akan mencoba memaksanya.”

Sekali lagi emban itu menggeleng. Emban yang sudah mengenal

Mahisa Agni itu dengan baik berkata di dalam hatinya, “Jangankan

satu atau dua orang. Empat orang penjaga bersama empat orang

prajurit yang lain itu pun tak akan dapat memaksanya dengan

kekerasan. Bahkan apabila kemudian Mahisa Agni menjadi marah

dan menjadi gelap hati, maka ia akan dapat membuat cedera

beberapa di antara para prajurit itu. Dengan demikian maka anak

itu akan terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih dalam.”

Namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Akulah yang

bersalah. Aku memang membiarkan anak muda itu terlampau lama

menunggu.”

“Lalu apakah yang akan Bibi kerjakan?”

Emban itu terdiam sesaat. Namun sesaat itu telah ditemukannya

sikap atas peristiwa kembalinya Mahisa Agni ke Panawijen.

“Biarlah aku mempertanggungjawabkannya,” katanya di dalam

hati. Ternyata perempuan tua itu telah menimpakan semua

kesalahan pada dirinya sendiri. Karena itu ia telah bertekad untuk

melindungi anaknya. Satu-satunya anaknya. Lebih baik semua

kesalahan dibebankan kepadanya daripada harus menyentuh

anaknya itu.

“Kita menghadap Akuwu,” berkata emban itu kemudian.

“Tanpa Mahisa Agni?” bertanya kedua prajurit yang

mengantarkannya ke Panawijen.

Perempuan itu menggeleng, “Mahisa Agni telah pergi.”

Kedua prajurit itu tidak menjawab. Mereka kemudian berjalan di

belakang perempuan itu sambil menundukkan wajahnya. Mereka

sudah membayangkan apa yang akan terjadi di ruang dalam. Akuwu

adalah seorang yang aneh. Seorang yang dapat bertindak menurut

kehendaknya sendiri. Hampir dalam sekejap akuwu dapat berbuat

hal-hal di luar dugaan. Karena itu, semakin berdebar-debar.

Sementara itu akuwu ternyata telah memanggil Ken Dedes pula

untuk datang ke ruang dalam. Akuwu itu menjadi sangat gembira

ketika ia mendengar Mahisa Agni telah bersedia datang. Selain ia

akan dapat bertemu dengan salah seorang keluarga Ken Dedes,

sehingga jalan yang ditempuhnya tidak akan terasa terlampau kasar

dan melanggar adat, juga Akuwu menganggap bahwa apabila

Mahisa Agni bersedia, maka ia akan dapat memperkuat kesatuan

pengawal istana di samping Witantra, setelah ia melihat sendiri,

betapa anak muda itu mampu bertempur melawan Ken Arok dengan

baik.

Sebagai seorang akuwu maka kepentingannya dengan Mahisa

Agni langsung tersangkut dengan kepentingan kedudukannya. Telah

terbayangkan olehnya, bahwa di samping Witantra, pasukan

pengawal istana akan diperkuat dengan Ken Arok yang akan

dipindahkannya dari seorang pelayan dalam langsung ke dalam

lingkungan keprajuritan, dan Mahisa Agni.

Dalam kesempatan inilah akuwu akan memanfaatkan

pertemuannya dengan Mahisa Agni. Yang pertama, dengan resmi

minta supaya keluarga Ken Dedes tidak merasa tersinggung dengan

caranya mengambil Ken Dedes, dalam hal ini akan dicobanya untuk

menjelaskan, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung pada

waktu itu terseret oleh ketamakan Kuda Sempana, dan yang kedua

akan ditawarkan kepada Mahisa Agni sebuah kedudukan yang cukup

baik di bawah pimpinan Witantra bersama-sama dengan Ken Arok,

setelah akuwu menerima Kebo Ijo masuk pula ke dalam lingkungan

itu.

Setaat kemudian Akuwu Tunggul Ametunglah yang menjadi

gelisah menunggu di serambi di muka biliknya. Belum ada seorang

pun yang datang kepadanya dan memberitahukan, bahwa Mahisa

Agni telah menunggunya di ruang dalam, sekali Akuwu Tunggul

Ametung itu berdiri, dan sesaat kemudian ia pun terhenyak duduk di

atas sebuah tempat duduk yang rendah. Sekali-sekali dipandanginya

pintu ke ruang di sebelah, namun belum juga seorang emban pun

yang datang kepadanya.

“Gila!” gumamnya, “Apakah aku dibiarkan jemu menunggu di

sini?”

Tetapi ketika teringat olehnya, gadis bakal permaisurinya, maka

ia mencoba menekan perasaannya. Kembali ia duduk sambil

membelai kumisnya, namun ia menjadi gelisah kembali, seperti

nyala pelita minyak yang tergantung pada dinding papan tertiup

angin yang silir.

“Heh,” Akuwu itu mengeluh, “terlalu lama.”

Akhirnya Akuwu itu tidak sabar lagi. Hampir saja ia berteriak

memanggil pelayannya yang duduk di atas tangga serambi, namun

niatnya itu diurungkannya ketika ia mendengar beberapa langkah

mendekatinya.

“Ha,” Akuwu itu tersenyum, “agaknya anak muda itu telah

datang dan menunggu aku di ruang dalam.”

Tunggul Ametung kemudian berdiri. Sekali lagi ia membelai

kumisnya, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati pintu. Tetapi ia

menjadi terkejut ketika ia melihat, yang datang kepadanya, di

serambi sebelah adalah emban tua, dua orang prajurit, dan yang

lebih mengejutkan lagi, Ken Dedes beserta dengan mereka pula.

“He,” teriak Akuwu kepada seorang pelayan yang mengantar

mereka, “kenapa kalian datang kemari?”

Pelayan itu menjadi bingung.

“Kenapa?” bentak Akuwu pula.

“Bibi dan Tuanku Putri minta aku membawa kemari.”

Akuwu mengerutkan keningnya, kemudian katanya, “Masuk ke

ruang dalam. Di sana aku akan menemui kalian.”

Dada emban tua itu menjadi semakin cepat bergetar. Namun

kembali ia membulatkan niatnya untuk memikul semua kesalahan di

atas pundaknya. Karena itu maka segera, setelah mereka itu

bersimpuh duduk di lantai di luar pintu menyembah sambil berkata,

“Ampun Tuanku. Hamba ingin memberitahukan sesuatu ke bawah

duli Tuanku.”

Tunggul Ametung mengernyitkan alisnya.

“Apa?” ia bertanya.

“Tentang anak muda yang bernama Mahisa Agni.”

“Ke ruang dalam,” berkata Akuwu lantang. Seandainya tidak ada

Ken Dedes pada saat itu, pasti ia sudah berteriak keras sekali.

“Hamba Tuanku, tetapi apa yang hamba katakan semula ternyata

keliru.”

“He,” kini Tanggul Ametung benar-benar berteriak sambil

membelalakkan matanya, “Apa yang keliru?”

Bagaimanapun juga maka hati emban tua itu pun berdebar-debar

pula. Ketika ia mencoba memandang wajah Akuwu, maka segera ia

menundukkan kepalanya. Dari sepasang matanya, seakan-akan

memancar api yang menyala dari dadanya.

Karena emban tua itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi

Akuwu itu membentak keras-keras, “Apa yang keliru he, apa?”

“Ampun Tuanku,” emban tua itu menyembah. Dicobanya

mengatur hatinya supaya ia mampu mengatakannya dengan jelas,

“Hamba bertiga telah benar-benar datang bersama Mahisa Agni ke

istana ini.”

“Sudah kau katakan, sudah kau katakan,” potong Akuwu Tunggul

Ametung, “aku tidak menyangkal. Lalu kau katakan bahwa apa yang

kau katakan itu keliru.”

Debar di dada emban tua itu menjadi semakin keras. Wajahnya

yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dengan nafas yang terengahengah

ia berkata, “Ampun Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Aku

telah terlampau lama membiarkan anak itu menunggu di luar regol.

Aku tidak berpesan supaya ia tetap menunggu hamba meskipun

lama, sehingga anak itu kini telah kembali ke Panawijen.”

Wajah Akuwu Tunggul Ametung benar-benar telah membara.

Dadanya seolah-olah pecah mendengar keterangan itu. Namun

justru karena itu, maka akuwu itu seperti terbungkam. Yang

terdengar hanyalah gemeretak giginya beradu.

Sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Mereka saling berdiam diri

dalam keadaan yang berbeda-beda. Akuwu terdiam justru karena

kemarahan menghentak-hentak dadanya, sedang orang-orang yang

lain menundukkan wajahnya karena ketakutan.

Tetapi emban tua itu, setelah kata-kata yang seakan-akan

menyumbat kerongkongannya itu terloncat keluar, maka hatinya kini

justru menjadi bertambah tenang, sehingga karena itu, sehingga ia

dapat mempergunakan pikirannya kembali. Bagaimana ia dapat

melepaskan Mahisa Agni dari kesalahan.

Maka dengan penuh kesungguhan untuk kepentingan anaknya,

emban tua itu berkata, “Namun Tuanku, bukan salah anak muda itu.

Akulah yang salah berpesan kepadanya. Aku minta ia menunggu di

regol, tetapi kalau aku terlalu lama tidak kembali, berarti ia tidak

mendapat izin untuk menghadap. Karena itu ia dapat pulang

kembali ke Panawijen untuk lain kali menghadap kembali.”

Akuwu memandangi wajah emban tua yang tunduk itu dengan

mata yang menyala-nyala. Betapa kemarahan menghentak-hentak

dadanya sehingga seakan-akan dadanya itu akan meledak. Dengan

gemetar Akuwu Tunggul Ametung berkata terpatah-patah justru

karena kemarahannya, “Jadi Mahisa Agni itu telah kembali?”

“Hamba, Tuanku”

“Hanya karena terlalu lama menunggu?”

“Hamba, Tuanku.”

“Dan kesalahan itu terletak padamu, karena kau sengaja

berpesan kepadanya supaya ia pulang saja kalau terlampau lama

menunggu di luar.”

“Hamba, Tuanku.”

“Gila!” teriak Akuwu, “Kau sudah gila dan Mahisa Agni sudah gila

pula. Kenapa ia tidak mau menunggu hanya selama aku makan?

Akulah Akuwu Tumapel. Semua orang harus menunggu perintahku.

Jangankan selama aku makan, sehari ia harus menunggu,

seminggu, sebulan, bahkan aku dapat memaksanya menunggu

bertahun-tahun dan selama hidupnya.”

Desir di dada emban tua itu menjadi semakin tajam. Tetapi

tekadnya benar-benar telah bulat. Agni tidak bersalah.

“Kenapa anak itu tidak mau menunggu aku selesai makan,

kenapa? Apakah disangkanya bahwa ia berhak memutuskan

waktuku, apa saja yang sedang aku kerjakan? Itu adalah perbuatan

gila. Aku tidak dapat memaafkannya lagi. Beberapa waktu yang

lampau aku telah dihinakannya dengan menolak perintahku

menghadap ke istana. Sekarang ia menghina aku lagi dengan cara

lain.”

“Bukan salahnya, Tuanku,” potong emban tua itu, “Bukan salah

Mahisa Agni. Hambalah yang salah. Pesan hambalah yang keliru.

Hamba sangka Tuanku belum pasti dapat mengizinkan anak itu,

sehingga hamba berpesan demikian.”

“Itu adalah sangkamu saja bukan?” teriak Akuwu semakin keras,

“tetapi ketika telingamu sudah mendengar, bahwa aku sedang

bersantap, bukankah mulutmu dapat mengatakannya kepada anak

muda itu supaya ia menunggu?”

“Hamba, Tuanku. Itulah kesalahan hamba.”

“Tutup mulutmu!” teriak Akuwu itu pula, sehingga seolah-olah

dinding-dinding ruangan itu turut bergetar. “Sekali kau membuka

mulutmu, aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”

Emban tua itu terdiam. Ia tidak berani berkata sepatah kata pun

lagi. Meskipun demikian ia masih tetap dalam tekadnya, melindungi

anaknya dan mengambil segala kesalahan di pundaknya.

Kedua prajurit yang ikut menghadap saat itu, sama sekali tidak

berani mengangkat wajahnya. Wajah yang keras karena pekerjaan

berat, terik matahari di siang hari dan tetesan embun di malam hari,

kini terhujam dalam-dalam. Debar dada mereka terasa menjadi

semakin cepat dan keras, serasa jantung mereka akan pecah

menahan arus darah mereka yang seolah-olah semakin kencang.

Namun meskipun demikian, kedua prajurit itu tidak habisnya

menjadi heran. Kenapa emban itu meletakkan kesalahan pada

dirinya. Kedua prajurit itu melihat dan mendengar apa yang

dipesankan oleh emban tua itu kepada Mahisa Agni. Kedua prajurit

itu mendengar dengan telinganya bahwa Mahisa Agni memang telah

mengancam sebelumnya, bahwa ia akan kembali ke Panawijen

apabila ia harus terlalu lama menunggu di luar regol. Ternyata anak

muda itu benar-benar kembali. Tetapi tiba-tiba emban itu

membebankan kesalahan itu kepada dirinya.

Dalam pada itu terdengar kata-kata lantang dari Akuwu yang

sedang marah itu, kali ini tidak terpatah-patah lagi, tetapi mengalir

seperti banjir, “He, emban tua. Kalau bukan karena kesanggupanmu

membawa anak itu kemari, maka aku pasti sudah memerintahkan

menangkapnya dan membawa kemari dengan paksa. Aku dapat

berbuat apa saja di Tumapel ini tanpa persetujuannya. Apalagi Ken

Dedes telah menyatakan perasaan. Sebagai seorang gadis yang

telah dewasa, ia bukan lagi sebuah golek kayu yang hanya dapat

mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan seandainya

keluarganya tidak dapat membenarkan, aku dapat juga

mempergunakan cara seperti yang dilakukan Kuda Sempana,

melarikannya. Bahkan aku dapat mempergunakan kekuasaanku

sebagai seorang Akuwu.”

“Tetapi aku mencoba mencari jalan lain. Jalan yang sebaikbaiknya.

Jalan yang lumrah, yang dapat ditempuh tanpa

menimbulkan geseran perasaan. Tetapi kemauanku yang baik itu

telah dihinakannya. Dianggapnya aku terlampau lemah dan tidak

sanggup berbuat lebih baik dari apa yang aku kerjakan.”

“Dan sekarang aku tidak dapat memaafkannya lagi. Aku juga

tidak dapat memaafkanmu. Kau juga telah menghinaku. Bahkan

Kaulah sumber dari kesalahan itu setelah kau mencoba memperbaiki

kesalahan Mahisa Agni.”

Emban tua itu tidak menjawab. Kepalanya menjadi semakin

tunduk. Namun emban tua itu sama sekali sudah tidak gelisah lagi.

Justru ia menjadi tenang. Ia bergembira karena sebagian terbesar

kesalahan itu telah dituduhkan kepadanya, ialah sumber kesalahan

itu.

“Setiap hukuman yang aku terima, adalah cara sebaiknya untuk

mengurangi tali yang membelenggu diriku selama ini. Dengan

demikian barulah aku seorang ibu bagi anakku itu. Seorang ibu yang

dapat memberinya sesuatu,” katanya di dalam hati, “bukankah

selama ini aku belum pernah berbuat sesuatu atas anakku itu?”

Kata-kata itu selalu berulang-ulang bergema di dalam dadanya.

Kenangan masa lampaunya setiap saat tumbuh dan berkembang di

dalam angan-angannya. Dan emban tua itu dengan demikian selalu

dikejar oleh perasaan bersalah.

Akuwu yang marah itu seolah-olah menjadi kian marah. Katakatanya

masih membanjir terus, “Kini, aku harus segera mengambil

sikap. Baik kepadamu, he emban yang bodoh, mau pun kepada

Mahisa Agni. Tetapi kaulah yang harus menerima hukuman yang

terberat. Mahisa Agni telah bersedia datang, tetapi karena

kebodohanmu maka anak itu pergi. Aku sudah tidak dapat

memberimu kesempatan lagi.”

Tiba-tiba emban tua itu mengangkat wajahnya. Wajah yang sayu

dipenuhi oleh berbagai derita hidup yang pernah dialaminya.

Dengan tenang dipandanginya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang

bagaikan bara yang sedang menyala itu.

Tetapi sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung itu justru

berpaling. Dengan serta-merta ia berdiri dan melangkah beberapa

langkah menjauhi orang-orang yang menghadapnya. Dengan

gemetar Akuwu Tunggul Ametung berdiri membelakangi mereka.

Seandainya pada saat itu tidak ada Ken Dedes di antara mereka,

maka tingkah laku Akuwu Tunggul Ametung pasti sudah tidak

terkekang lagi. Mungkin ia berteriak-teriak memanggil beberapa

orang prajurit dan memerintahkannya agar emban itu disekap

dalam tahanan, atau mendapat hukuman-hukuman lain yang berat.

Tetapi demikian besar pengaruh kehadiran Ken Dedes itu

sehingga Akuwu Tunggul Ametung masih mencoba untuk menekan

perasaannya meskipun dadanya serasa akan meledak.

Tiba-tiba sambil membelakangi mereka, Akuwu itu berkata

dengan suara bergetar, “Aku tidak akan memerintahkan menangkap

Mahisa Agni dan memaksanya membawa kemari. Aku sudah tidak

memerlukannya lagi. Kalian berdua akan dibuang dari telatah

Tumapel ke dalam hutan. Itu adalah hukuman yang paling ringan

yang dapat aku berikan kepada kalian.”

Emban tua itu menyembah meskipun Akuwu Tunggul Ametung

tidak melihatnya. Dengan tenang ia menjawab, “Hamba

menyatakan terima kasih hamba tiada taranya atas kemurahan

Tuanku. Namun sebenarnyalah Mahisa Agni tidak bersalah. Biarlah

hamba menerima hukuman hamba dua lipat ganda, asal Tuanku

sudi mempertimbangkan hukuman yang Tuanku berikan kepada

Mahisa Agni.”

“Tutup mulutmu!” kembali Tunggul Ametung itu berteriak sambil

memutar tubuhnya. Hampir saja ia meloncat dan menampar mulut

perempuan yang berani menjawab kata-katanya, “Akulah Akuwu

Tumapel. Bukan kau. Akulah yang menentukan hukuman itu. Bukan

kau. Kau dengar, he?”

Emban tua itu tidak menjawab. Kini kembali wajahnya

menghunjam ke tanah. Tetapi ia masih tetap dalam ketenangan.

Akuwu yang marah menjadi kian marah. Tubuhnya bergetar

seperti orang yang menggigil kedinginan. Wajah merah membara

dan kakinya menghentak-hentak lantai.

“Besok sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir

kalinya, kalian harus sudah tidak berada di dalam wilayahku. Kalau

aku masih melihat kalian di daerah ini, maka kalian akan mendapat

hukuman mati. Kau dengar?”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian

berarti malam ini ia harus meninggalkan Tumapel menuju ke

Panawijen dan membawa Mahisa Agni meninggalkan Panawijen,

sebab Panawijen pun masih termasuk daerah Tumapel.

Dada emban tua itu menjadi berdebar-debar. Baginya hukuman

itu sama sekali tidak terlalu berat. Ia dapat berada di mana saja.

Tetapi anaknya adalah tunas yang menghadap ke hari depan yang

panjang. Kecuali untuk dirinya sendiri lalu bagaimanakah dengan

bendungan yang akan dibangun itu? Padang Karautan pun termasuk

daerah Tumapel pula, sehingga Mahisa Agni pasti tidak akan dapat

membangun bendungan di daerah itu.

Dalam pada itu terdengar perintah Akuwu itu kembali kepada

kedua orang prajurit yang semula mengantarkan perempuan tua itu

menjemput Mahisa Agni, “He kedua prajurit yang bodoh pula.

Karena kau tersangkut pula dalam kebodohan ini, maka untuk

menyingkirkan kedua orang yang menghina Akuwu Tunggul

Ametung dari Tumapel ini adalah kewajibanmu. Kewajiban itu harus

selesai sebelum ayam jantan berkokok menjelang fajar. Kalian harus

sudah melaporkan pelaksanaan perintah ini sebelum tengah hari,

kau dengar?”

Kedua prajurit itu menyembah sambil membungkuk dalamdalam.

Mereka sudah tahu benar sifat-sifat akuwunya, sehingga

mereka sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Dalam keadaan yang demikian, maka mereka hanya dapat

menyembah dan membungkuk dalam-dalam. Melakukan apa yang

diperintahkan kepadanya dan melaporkan hasilnya.

Kini mereka mendapat perintah untuk menyingkirkan emban tua

itu bersama Mahisa Agni dari wilayah Tumapel. Untuk itu mereka

harus menyembah dan siap melakukannya.

Ruangan itu sesaat menjadi sunyi. Tak seorang pun yang berani

mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya menundukkan wajahnya

dalam-dalam pula.

Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu itu membentak keraskeras,

“Ayo pergi! Apa yang kalian tunggu di sini? Pergi dari

halaman istana dan pergi dari Tumapel. Kalian orang yang tidak

pantas tinggal di daerah kekuasaanku. Kalau kalian berada di

Tumapel kembali, maka kalian adalah orang buruan.”

Emban yang telah bersedia menghadapi segala bentuk hukuman

itu sama sekali tidak menjadi cemas tentang dirinya sendiri, tetapi

yang digelisahkan adalah Mahisa Agni beserta rencana yang telah

disiapkannya. Namun ia tidak sempat untuk berpikir saat itu. Sekali

lagi ia mendengar Akuwu Tumapel membentak, “Pergi! Pergi

sebelum aku memaksamu pergi.”

Emban tua itu menyembah kembali. Ketika kemudian ia berpaling

kepada kedua prajurit yang bertugas menyingkirkannya, ia melihat

kedua prajurit itu masih juga ragu-ragu. Meskipun demikian kedua

prajurit itu pun menyembah sambil berkata, “Hamba akan

menjalankan perintah Tuanku.”

Kemudian kepada emban tua, kedua prajurit itu berkata dengan

bimbang, “Marilah Bibi, aku harus menjalankan perintah Tuanku

Akuwu.”

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya

sama sekali tidak dibebani oleh perasaan takut, cemas dan pedih.

Apa yang harus dilakukan itu dihadapinya dengan penuh ketabahan

seorang yang telah, mengendapkan hatinya.

Tetapi ketika emban tua itu bergerak sambil berbisik kepada Ken

Dedes, “Sudahlah Nini. Tinggallah di sini. Semoga kau bahagia

untuk seterusnya.”

Maka gadis itu pun tak dapat menahan perasaannya. Emban itu

adalah pemomongnya. Pemomongnya sejak ia masih kanak-kanak.

Pemomongnya yang seakan-akan telah menggantikan ibunya yang

hampir-hampir belum pernah dikenalnya.

Emban itu adalah seorang perempuan tua yang sangat baik

baginya. Yang mendukung pada saat ia masih seorang anak-anak,

menyuapinya dan membelainya menjelang tidur. Melagukan

tembang yang sejuk dan bercerita tentang burung podang yang

berdendang dipupus pisang dalam cerita Kirana pada masa yang

baru saja silam.

Kini ia melihat perempuan itu mendapat bencana karena

usahanya untuk melapangkan jalannya menuju ke tempat yang tak

pernah diimpikan di saat kanak-kanaknya, bahkan sampai saat

terakhir sebelum ia berada di istana ini pun, Ken Dedes tidak pernah

membayangkan bahwa suatu ketika ia akan menjadi seorang

permaisuri Akuwu Tumapel.

Karena itulah maka betapa perasaannya tidak rela melihat

embannya harus meninggalkan istana, bahkan meninggalkan

Tumapel dalam buangan. Merantau dari satu tempat ke lain tempat.

Berjalan terbungkuk-bungkuk karena umurnya yang telah menjadi

semakin tua tanpa tempat untuk hinggap. Siang hari kepalanya

akan dibakar oleh terik matahari, sedang di malam hari, kulitnya

yang telah berkeriput akan digigit oleh dinginnya embun malam.

Ken Dedes yang dilanda oleh luapan keharuan itu tiba-tiba

menangis sambil memeluk emban tua itu. Terdengarlah suaranya

terbata-bata, “Bibi, aku ikut kau Bibi. Tak ada tempat yang paling

baik bagiku daripada kelembutan pelukanmu.”

“Jangan putri,” jawab emban itu cepat-cepat, “jangan. Kau telah

menemukan tempat berpijak yang mantap. Ayahmu adalah seorang

yang baik dan tekun dalam pengabdiannya kepada yang Maha

Agung serta kepada sesama. Kini karunia telah melimpah

kepadanya, lewat putrinya yang tunggal.”

“Tidak. Tidak Bibi. Aku tidak dapat hidup dalam kesepian. Aku

tidak dapat terpisah dari orang-orang yang baik kepadaku. Bibi dan

Kakang Mahisa Agni. Kalau kalian berdua hidup dalam pembuangan,

apakah aku dapat hidup tenteram di dalam istana ini.”

“Nini,” potong emban tua itu, “jangan seperti kanak-kanak lagi.

Kau sudah dewasa. Pandanglah ke depan. Hari-hari yang

mendatang masih panjang.”

“Tidak Bibi, tidak,” Ken Dedes itu menangis semakin keras.

Pelukannya pun menjadi semakin kuat.

Dalam pada itu Akuwu Tumapel yang sedang marah, berdiri

tegak di hadapan mereka seperti patung. Betapa keras hatinya,

sekeras batu akik, namun ketika ia melihat Ken Dedes menangis

memeluk emban tua yang dianggapnya berdosa itu pun hatinya

menjadi luluh. Sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi Akuwu

Tumapel, ia hanya bergaul dengan para prajurit dan para pimpinan

pemerintahan. Berlatih dalam olah keprajuritan, jaya kawijayan dan

kanuragan. Berbicara tentang Tumapel dan apabila ia jemu

menghadapi suatu keadaan, maka segera ia membawa beberapa

orangnya keluar istana, pergi berburu. Itulah sebabnya, maka

Akuwu Tunggul Ametung jauh dari pengenalan watak seorang

perempuan. Karena itu, ketika ia melihat seorang gadis menangis di

hadapannya, maka ia menjadi bingung. Kemarahannya yang telah

memuncak, tiba-tiba seperti dihanyutkan oleh arus air mata Ken

Dedes.

Terdengar Tunggul Ametung itu menggeram perlahan-lahan.

Gadis itu tidak boleh berduka. Gadis yang telah menjerat hatinya,

bukan saja karena wajahnya dan tubuhnya, namun juga terasa

seakan-akan gadis itu memiliki sesuatu yang dikaruniakan oleh Yang

Maha Agung. Ketika seakan-akan ia melihat sinar yang memancar

dari jantung gadis itu telah tebersit di hatinya, gadis ini adalah gadis

pilihan untuk melaksanakan sesuatu maksud dari Yang Maha Agung

bagi tanah tempat kelahirannya.

Dalam kebingungan itu, Akuwu masih mendengar emban Ken

Dedes itu berkata, “Nini, jangan dihanyutkan oleh perasaan

kekanak-kanakan. Kau harus melihat kepentingan yang lebih besar.

Kepentingan yang jauh lebih berharga dari perempuan tua ini.”

“Tidak, tidak,” Ken Dedes masih menangis. Ia seakan-akan sudah

tidak dapat mendengar apapun lagi. Hatinya meronta melihat

peristiwa yang menggores perasaannya itu.

Emban tua itu pun menjadi bingung. Tangis momongannya telah

menyentuh perasaan harunya pula. Ternyata gadis itu adalah gadis

yang dapat menghargai sikap orang lain kepadanya. Menghargai

apa yang pernah dilakukannya. Namun karena itu, maka ia pun

terdiam pula. Bahkan terasa sesuatu memanasi kerongkongannya.

Kembali ruangan itu menjadi sepi. Tangis Ken Dedeslah yang

seolah-olah memenuhi ruangan. Tangis yang tulus, yang memancar

dari dasar hatinya.

“Hem,” sekali lagi terdengar Tunggul Ametung menggeram

perlahan-lahan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak

tahu, bagaimana ia harus menghibur Ken Dedes supaya ia tidak

menangis lagi. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah berjalan

mondar-mandir sambil berdesah berkali-kali.

Kedua prajurit yang duduk di belakang emban tua itu pun

menjadi bingung. Sejak semula mereka telah ragu-ragu untuk

melakukan perintah akuwu. Mereka sama sekali tidak dapat

mengerti, kenapa emban tua itu telah menyalahkan dirinya sendiri,

dan bahkan dengan tabah dan tenang mendengarkan hukuman

yang harus di jalankan. Apalagi kini ia melihat putri bakal permaisuri

akuwu itu menangis memeluknya dan bahkan seolah-olah hukuman

yang diberikan kepada perempuan tua itu harus diberikan kepada

dirinya pula.

Orang-orang yang duduk di dalam ruangan itu, benar-benar telah

dicengkam oleh kebingungan. Kebingungan menghadapi persoalan

masing-masing. Persoalan yang berbeda-beda, namun mempunyai

titik singgungan yang sama. Bahkan pelayan yang telah membawa

mereka menghadap pun duduk dengan mulut ternganga sehingga ia

menjadi kehilangan kesempatan untuk menanggapi peristiwa itu

dengan kesadarannya.

Akuwu yang berjalan mondar-mandir masih saja berjalan

mondar-mandir dengan gelisahnya. Sekali-sekali ia berhenti,

berpaling memandangi Ken Dedes yang masih menangis, namun

kemudian kembali ia menundukkan kepalanya sambil menarik nafas

dalam-dalam. Persoalan yang dihadapi saat ini baginya terasa jauh

lebih berat, daripada ia harus menghadapi musuh yang datang

dengan prajurit segelar sepapan.

Kesepian yang tegang, tangis Ken Dedes dan desah nafas

perempuan itu, terasa sangat menyesakkan nafas Akuwu Tunggul

Ametung. Bahkan kemudian kepalanya terasa menjadi pening, dan

kemudian kehilangan akal untuk mengatasi keadaan.

Tangis Ken Dedeslah yang semakin lama menjadi kian surut.

Gadis itu kemudian mencoba menenangkan hatinya, ketika dengan

lembut pemomongnya berkata, “Jangan menangis putri. Kau bukan

lagi seorang anak kecil yang hanya pandai menangis. Aku sekarang

sudah tidak kuat lagi mendukungmu sambil berdendang kidung

yang luruh supaya kau tertidur. Aku tidak lagi dapat membelai

rambutmu sambil bercerita tentang seekor kancil yang cerdik. Cerita

untukmu kini harus sudah berbeda, Nini. Cerita yang baik bagimu

adalah cerita tentang Arjuna dan Sumbadra. Dan aku tidak akan

mampu menceritakan kepadamu. Karena itu, jangan menangis.

Angkatlah wajahmu. Pandang hari depan dengan penuh gairah

untuk menyongsongnya.”

Tangis Ken Dedes kemudian benar-benar mereda. Gadis itu

benar-benar mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak memandang hari

depannya dalam lingkungan yang sempit. Peristiwa yang telah

terjadi atasnya, benar-benar telah membentuknya menjadi dewasa.

Karena itu tiba-tiba timbullah pikiran di dalam hatinya, “Akulah yang

akan menemui Kakang Mahisa Agni.”

Pikiran itu kemudian membulat di dalam hatinya. Dengan tatag

kemudian ia menyembah sambil berkata kepada Akuwu Tunggul

Ametung, “Ampun Tuanku, apakah hamba diperkenankan untuk

menyampaikan perasaan hamba?”

Tunggul Ametung terkejut mendengar suara Ken Dedes. Gadis

itu kini sudah tidak menangis lagi, meskipun sekali-sekali tangannya

masih sibuk mengusap air matanya.

“Berkatalah,” sahut Tunggul Ametung sambil menganggukanggukkan

kepalanya. Namun kepalanya itu masih terasa pening.

Gadis itu sudah tidak menangis dengan sendirinya, sebelum ia dapat

berbuat sesuatu untuk menenangkannya.

“Tuanku, yang pertama-tama hamba mohon maaf bagi Bibi

Emban dan Kakang Mahisa Agni.”

Dahi Tunggul Ametung berkerut. Ia harus mempertimbangkan

kembali keputusannya. Terasa dadanya bergetar. Untuk pertama

kali ia mendapat tekanan dari seseorang dalam pertimbangannya

untuk menjatuhkan hukuman. Meskipun pada saat ia mengucapkan

hukuman terhadap emban tua serta Mahisa Agni telah memerlukan

suatu perjuangan di dalam dadanya, supaya ia sedikit dapat

mengendalikan dirinya, namun kini tekanan itu menjadi sangat sulit

untuk dihindarkan. Hukuman yang sudah terlampau ringan itu masih

harus dipertimbangkannya kembali.

Tetapi permohonan itu dilontarkan lewat mulut Ken Dedes.

Apalagi permohonan ampun bagi seorang emban tua dan Mahisa

Ani, bahkan apapun yang akan dimintanya, Akuwu itu pasti tidak

akan kuasa menolaknya.

Tetapi ia adalah seorang Akuwu Tumapel. Di hadapannya duduk

bersimpuh beberapa orang dan dua orang prajurit. Karena itu, maka

bagaimanapun juga, namun ia masih harus tetap mempertahankan

kewibawaan seorang akuwu.

Karena itu, maka untuk tidak melepaskan kekuasaan yang ada di

tangannya, maka Akuwu itu berkata, “Kenapa kau mohon ampun

untuk mereka itu Ken Dedes? Aku telah menjatuhkan hukuman atas

mereka, karena mereka telah menghina Akuwu Tunggul Ametung.

Apakah pertimbanganmu tentang itu?”

Sikap Ken Dedes pun kemudian benar-benar mengagumkan.

Meskipun ia tetap dalam sikap yang sangat hormat, sambil

menyembah ia berkata, “Tuanku, kesalahan yang mereka lakukan

sama sekali tidak mereka sengaja. Mereka sama sekali tidak ingin

menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi keadaan telah

mendorong mereka, sehingga mereka mengabaikan perintah dan

keinginan Akuwu. Kesalahan yang demikian menurut pendapat

hamba, bukanlah kesalahan yang harus mendapat hukuman. Tetapi

kesalahan yang demikian, adalah kesalahan yang terjadi bukan atas

kehendak mereka sendiri.”

“Tidak!” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “Mereka tetap bersalah.

Mahisa Agni telah menolak mewakili ayahmu dan telah menolak

datang ke Tumapel beberapa waktu yang lampau. Bukankah itu

suatu sikap yang menentang?”

“Tuanku,” jawab Ken Dedes, “Tuanku tidak dapat mengerti

hubungan yang ada antara hamba dan Kakang Mahisa Agni. Hamba

adalah saudara muda, sehingga memang kurang pantaslah apabila

hamba memanggil Kakang Mahisa Agni. Menurut sopan santun

keluarga, hambalah yang harus datang kepadanya.”

“Tetapi kedudukanmu dapat kau pergunakan sebagai alasan

untuk memanggilnya. Kau adalah bakal permaisuri Tumapel.”

“Kedudukan itu datang kemudian. Tetapi susunan keluargaku itu

sudah ada sejak aku lahir. Karena itu Tuanku, hamba mohon izin

sekali untuk menemui Kakang Mahisa Agni. Apabila hamba dapat

bertemu, maka semuanya akan menjadi baik. Tidak ada sedikit pun

geseran perasaan di antara kita. Hamba, Kakang Mahisa Agni dan

Tuanku, sehingga Tuanku tidak perlu mempergunakan cara yang

lain yang seolah-olah Tuanku mempergunakan kekuasaan Tuanku

untuk kepentingan ini.”

Sekali lagi Tunggul Ametung itu berpikir. Ia tidak dapat menolak

permohonan itu, tetapi ia harus bijaksana untuk meluluskannya.

Karena itulah maka Akuwu Tunggul Ametung, yang biasanya

berbuat apa saja sesuka hatinya, bahkan selalu menuruti

perasaannya yang meledak-ledak setiap saat, kini harus

mempertimbangkan perbuatannya.

Akhirnya Akuwu itu pun menemukan jawaban pula, katanya,

“Ken Dedes. Meskipun kau belum seorang permaisuri, namun kau

sudah aku anggap memiliki kesempatan seperti seorang permaisuri.

Seorang permaisuri dapat mengajukan beberapa permohonan yang

akan dipertimbangkan oleh Akuwu. Kalau saat ini kau mohon aku

mengampuni emban tua serta Mahisa Agni, maka aku pun akan

melakukannya, namun aku mempunyai syarat untuk itu.”

Sekilas wajah Ken Dedes menjadi cerah mendengar keputusan

Akuwu Tunggul Ametung. Kalau benar Akuwu mengampuni mereka,

maka emban tua itu tidak akan pergi dari sisinya, dan Mahisa Agni

pun tidak akan lenyap dari keluarganya.

Namun sesaat kemudian kening Ken Dedes berkerut kembali.

Akuwu memberikan pengampunan, namun Akuwu mempunyai

syarat untuk itu.

Tetapi Ken Dedes tidak bertanya, apakah syarat yang di

kehendaki oleh Tunggul Ametung. Ia menunggu sampai Akuwu itu

mengatakannya.

Ternyata sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung

menyambung kata-katanya, “Ken Dedes. Syarat itu sama sekali

tidak berarti. Aku ampuni kesalahan emban tua itu beserta Mahisa

Agni, apabila Mahisa Agni bersedia datang menyelesaikan segala

persoalan ini dan segera kita dapat memasuki suatu dunia baru

tanpa kerikil-kerikil tajam dan batu-batu yang dapat menjadi

hambatan-hambatan kecil bagi perasaan kita.”

Mendengar syarat yang diajukan oleh Tunggul Ametung itu Ken

Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia telah mendengar dari

pemomongnya apa yang sebenarnya terjadi. Syarat itu sebenarnya

sama sekali tidak terlampau berat. Syarat yang tidak berlebihlebihan,

bahkan hanyalah sekedar pelengkap dari pengampunan

yang diberikan oleh Tunggul Ametung karena ia telah terlanjur

menjatuhkan putusan untuk menghukum emban tua dan Mahisa

Agni.

Tetapi bagi Ken Dedes dan pemomongnya, syarat itu benarbenar

telah membebani perasaan mereka. Emban tua itu merasa,

bahwa baginya sama sekali sudah tidak ada jalan lagi untuk dapat

membawa Mahisa Agni ke Tumapel. Tidak ada gunanya lagi apabila

ia datang dan dengan pengaruh seorang ibu, minta Mahisa Agni

datang ke Tumapel menyelesaikan persoalan yang masih

menyangkut perasaan Akuwu Tunggul Ametung sebelum ia

mengambil keputusan untuk mengambil cara lain, cara yang kasar,

dan cara yang tidak terpuji.

Tanpa dikehendakinya sendiri emban tua itu menggeleng lemah,

sedang Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku minta syarat itu dipenuhi, seperti aku mencoba memenuhi

permohonan pengampunan itu.”

Sejenak mereka kemudian terdiam. Mereka mencoba untuk

menemukan jawab atas persoalan yang membelit hati masingmasing.

Dalam keheningan itu maka tiba-tiba Ken Dedes mengangkat

wajahnya. Dengan takzimnya ia menyembah sambil berkata,

“Tuanku. Biarlah hamba mencoba untuk memenuhi syarat yang

Tuanku berikan. Hamba mohon izin, untuk pergi ke Panawijen

menemui Kakang Mahisa Agni.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetap

kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Bukan

maksudku supaya kau menemui Mahisa Agni. Pembicaraan itu tidak

hanya sekedar memuaskan perasaanmu saja, tetapi aku juga ingin

mendengar dan mendapat ketenteraman dari pembicaraan itu.”

“Maka hamba Tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba ingin

mencoba membawa Kakang Mahisa Agni kemari.”

Sekali lagi Akuwu itu berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak rela

untuk melepaskan Ken Dedes itu pergi. Ken Dedes baginya seakanakan

barang yang paling berharga di muka bumi, sehingga apabila

ia kehilangan gadis itu, maka hidupnya pasti akan menjadi

terlampau sunyi.

Karena itu Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menjawab.

Sebenarnya ia sangat berkeberatan untuk mengizinkannya, tetapi

sekali lagi ia tidak ingin menyakitkan hati gadis itu. Sehingga

dengan demikian, Akuwu itu kembali dihadapkan pada keraguraguan.

Namun Akuwu itu tidak dapat menduga, bahwa Ken Dedes

sebenarnya telah membuat rencana sendiri pula untuk itu. Sejak

Mahisa Agni menolak mewakili ayahnya untuk menemui Tunggul

Ametung, hatinya telah merasa kecewa. Apalagi kejadian-kejadian

yang kemudian susul menyusul. Ken Dedes merasa bahwa Mahisa

Agni marah kepadanya Tetapi Ken Dedes tidak dapat meraba

dengan tepat, alasan yang telah menahan Mahisa Agni untuk

memenuhi permintaannya. Ken Dedes hanya dapat menyangka,

bahwa Mahisa Agni merasa bahwa ia telah melampauinya. Bahwa ia

tidak minta pertimbangannya sebelum ia menerima lamaran Akuwu

Tunggul Ametung. Ken Dedes kecewa atas sikap itu. Harga diri yang

berlebihan. Seakan-akan Mahisa Agnilah yang berhak mengambil

keputusan untuk menerima atau menolak lamaran Akuwu Tunggul

Ametung sepeninggal ayahnya. Bahkan setelah Mahisa Agni sampai

di dalam istana, ia masih juga merajuk. Meninggalkan istana hanya

karena merasa terlampau lama menunggu.

Di dalam hati Ken Dedes itu tumbuh juga keinginannya untuk

menunjukkan kedewasaannya kepada kakaknya. Ia ingin

melepaskan kejengkelannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia

memiliki juga sesuatu yang memberinya wewenang untuk

mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bahkan Ken Dedes itu

ingin menunjukkan beberapa kelebihan yang dimilikinya kini.

Kesempatan yang tak akan datang lagi sepanjang hidupnya. Kalau

kakaknya marah kepadanya, karena ia seakan-akan hanya menuruti

kehendaknya sendiri, maka ia akan menunjukkan unsur-unsur yang

telah memaksanya untuk mengambil sikap.

Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni dianggapnya masih saja

mengenangkan sahabatnya, Wiraprana. Ken Dedes merasa bahwa

ia sama sekali tidak mengkhianati Wiraprana. Ia mencintai

Wiraprana sedalam-dalamnya. Bahkan pada saat Wiraprana itu

terbunuh, ia rela seandainya ia mati sama sekali. Tetapi ketika saatsaat

itu telah berlalu, maka apakah ia masih juga harus selalu

dibayangi oleh duka hatinya itu? Seandainya Wiraprana itu kini

sedang pergi merantau, maka beberapa puluh tahun lagi ia akan

menunggunya dengan setia. Bahkan sampai matinya sekalipun.

Tetapi Wiraprana itu sudah tidak akan kembali. Tidak akan, sampai

kapan pun. Namun ia harus mempunyai alasan yang cukup untuk

memenuhi rencananya itu, dan Ken Dedes telah menemukan alasan

itu.

Karena itu selagi Akuwu Tunggul Ametung bimbang hati untuk

mengambil keputusan atas permohonan Ken Dedes itu, tiba-tiba ia

mendengar gadis itu berkata, “Tuanku. Meskipun hamba akan

mencoba untuk memanggil Kakang Mahisa Agni, namun hamba

mohon agar Tuanku mengizinkan hamba datang ke Panawijen tidak

sebagai seorang gadis pedesaan. Hamba mohon Tuanku

mengizinkan hamba datang ke Panawijen sebagai seorang calon

permaisuri. Ada berbagai pertimbangan yang dapat hamba berikan.

Di antaranya hamba takut kalau hamba akan bertemu dengan Kuda

Sempana yang melarikan diri itu.”

Tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berpaling, bahkan kemudian

memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Sesaat ia termenung,

namun kemudian wajah Akuwu yang tegang itu mengendur.

Tunggul Ametung itu bahkan kemudian tersenyum, katanya,

“Ken Dedes, apa yang kau minta itu justru telah ada di dalam

kepalaku. Aku tidak ingin melepaskan kau sendiri, sedang aku tidak

akan dapat mengantarmu ke Panawijen karena aku seorang

Akuwu.”

Tunggul Ametung itu berhenti sejenak. Di dalam hatinya ia

berkata untuk yang pertama kali, “Kalau aku bukan seorang

Akuwu.”

Namun ketika ia meneruskan berkatalah ia, “Ken Dedes, aku

akan memenuhi permintaanmu. Kau akan datang ke Panawijen

bukan saja sebagai seorang bakal permaisuri, tetapi kau akan

datang sebagai seorang permaisuri. Prajurit pengawal akan

mengantarmu di bawah pimpinan Witantra sendiri. Witantra akan

membawa pasukannya seperti ia mengawal aku, dalam barisan

kebesaran Tumapel.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban Akuwu itu atas

permintaannya. Ternyata Akuwu memberikan lebih banyak dari

yang diharapkan. Namun Ken Dedes menjadi berbesar hati

karenanya. Ia ingin menebus kejengkelannya atas Mahisa Agni. Ia

ingin menunjukkan kepada Mahisa Agni, apa yang dapat dicapainya,

apa yang tersedia untuknya, sehingga Mahisa Agni akan menyadari,

bahwa kesempatan ini memang tidak boleh dilewatkan. Kesempatan

yang datang sepeninggal Wiraprana, bukan kesempatan yang

memaksanya untuk berkhianat.

Karena itu maka Ken Dedes segera menyembah, “Ampun

Tuanku, apabila berkenan di hati Tuanku, hamba mengucapkan

beribu terima kasih untuk kemurahan Tuanku.”

“Itu adalah hakmu Ken Dedes, hakmu sebagai seorang

permaisuri.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi kini wajahnya kembali

terhunjam ke lantai istana yang mengkilap. Ia menjadi sangat

terharu atas kesempatan yang didapatnya kini. Namun karena itulah

maka ia kembali terkenang kepada ayahnya. Katanya di dalam hati,

“Seandainya ayah masih ada di Panawijen. Ayah akan ikut serta

menikmati karunia yang besar ini. Tetapi ayah itu telah pergi, justru

karena aku meninggalkannya, mendaki kesempatan yang

diperuntukkan kepadaku ini.”

Tiba-tiba air mata gadis itu berlinang. Ketika air matanya tetes

satu-satu, Akuwu Tunggul Ametung terkejut. Kenapa Ken Dedes itu

tiba-tiba menangis lagi? Tetapi Akuwu itu sama sekali tidak dapat

mengerti perasaan haru yang mencengkam hati Ken Dedes,

sehingga karena itu, maka kembali Akuwu itu menjadi gelisah.

Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi

gelisah. Meskipun alasannya berbeda, namun emban tua pemomong

Ken Dedes itu pun tidak kalah gelisahnya. Kalau benar Ken Dedes

akan datang dengan upacara kebesaran seorang permaisuri,

alangkah pedihnya hati Mahisa Agni.

“Kasihan anak itu,” desah ibu Mahisa Agni di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak mempunyai alasan yang cukup untuk mencegah Ken

Dedes yang akan mendapat pengawalan menurut upacara

kebesaran. Apalagi alasan Ken Dedes benar-benar dapat diterima

oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kuda Sempana. Bahkan mungkin

Akuwu telah memperhitungkan bahwa mungkin sekali Kuda

Sempana telah bergabung dengan orang-orang yang tidak disukai,

sehingga merupakan sekelompok kecil bencana yang dapat

menghadang di tengah jalan.

Dengan demikian, maka emban tua itu hanya dapat menekan

perasaannya. Alangkah mahalnya tebusan bagi pengampunan ini.

Kalau ia bukan ibu Mahisa Agni, maka ia akan dengan senang hati

mengikuti upacara kebesaran momongannya, dalam iringan yang

megah, berjalan ke Panawijen. Tetapi ia tahu benar, bahwa di

Panawijen sebuah hati akan terpecah-belah. Hati itu adalah hati

anaknya.

Ken Dedes sama sekali tidak tahu, apa yang tersimpan rapatrapat

di dalam hati Mahisa Agni. Menurut keluhan gadis itu yang

telah didengarnya, Ken Dedes menganggap bahwa Mahisa Agni

terlampau tinggi hati. Hanya karena ia tidak diajak berbincang

mengenai lamaran Akuwu, maka Mahisa Agni, sebagai seorang

saudara tua, merasa tersinggung.

“Bukan sekedar itu,” teriak emban itu di dalam hatinya, “bukan

sekedar karena ia tersinggung. Betapa Mahisa Agni merelakan

dirinya sendiri terhempas ke tepi, tetapi ia adalah seorang anak

muda. Anak muda, bukan anak yang turun dari langit, sehingga

dapat menjadikan dirinya luar biasa dalam ketahanan tubuh dan

perasaannya. Ia adalah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu.

Apalagi seorang ibu yang hina seperti aku ini.”

Namun kembali emban itu hanya dapat menarik nafas dalamdalam.

Ia tidak mampu mencegah Ken Dedes menunjukkan

kesempatan yang telah memaksanya menerima lamaran Tunggul

Ametung. Emban itu tahu benar bahwa Ken Dedes bermaksud

mengatakan kepada Mahisa Agni, “Kakang, aku bukan orang gila

yang dapat melepaskan kesempatan ini. Lihat, aku datang dengan

upacara kebesaran. Aku harus menerima ini, dan kau pun harus

bangga atas kesempatan yang diperoleh oleh adikmu ini. Panawijen

harus bangga, karena pilihan Akuwu jatuh kepada gadis dari

Padukuhan ini.”

Tetapi emban itu tidak berkata sepatah kata pun. Yang kemudian

didengarnya adalah kata-kata Ken Dedes parau, “Tuanku, Akuwu.

Kalau Tuanku telah berkenan, maka biarlah hamba segera akan

berangkat untuk mencoba memenuhi keinginan Tuanku. Hamba

akan mencoba membawa Kakang Mahisa Agni. Apabila hamba

gagal, maka terserahlah kepada Tuanku untuk melakukan apa yang

baik untuk Tuanku.”

“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Tunggul Ametung.

“Secepatnya Tuanku.”

“Baik. Besok aku akan mengadakan persiapan. Lusa kau sudah

dapat pergi.”

“Terima kasih Tuanku. Hamba akan melakukan perintah Tuanku

untuk seterusnya.”

Akuwu itu pun tersenyum pula. Ia telah melupakan segala

persoalan-persoalan lain. Ia telah melupakan hukuman yang

diucapkan. Ia telah melupakan Mahisa Agni yang pergi

meninggalkan istana hanya karena terlampau lama menunggu. Kini

ia hanya berpikir tentang kesempatan yang akan diberikannya

kepada Ken Dedes. Besok lusa.

Demikianlah maka sejenak kemudian Ken Dedes, emban tua dan

para prajurit itu pun bermohon diri dari hadapan Akuwu Tunggul

Ametung, setelah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan.

Akuwu telah menyanggupi Ken Dedes untuk menyiapkan

pengawalan dalam waktu dua atau tiga hari. Namun secepat itu

selesai, secepat itu pula Ken Dedes harus berangkat. Besok Akuwu

akan memanggil Witantra dan mendengar pendapatnya. Seterusnya

persiapan itu akan banyak tergantung pada Witantra itu sendiri.

Ketika ruangan itu telah sepi, Akuwu masih saja berjalan

mondar-mandir. Ia menjadi riang tanpa disadarinya. Meskipun

Mahisa Agni tidak menghadapnya malam ini, tetapi ia senang bahwa

Ken Dedes telah memajukan permohonan kepadanya. Permohonan

tentang sesuatu yang segera dapat diberikannya. Bagi Akuwu

Tunggul Ametung, hal itu telah merupakan suatu kepuasan

tersendiri. Memberikan sesuatu kepada seorang gadis yang

dicintainya.

“Apalagi permintaan-permintaan kecil itu, Ken Dedes,” katanya di

dalam hati, “Tumapel ini adalah milikmu. Cahaya yang memancar

dari pusat jantungmu adalah pertanda, bahwa kau seorang gadis

yang akan mampu memberikan sesuatu kepada tanah ini.”

Tiba-tiba Akuwu itu berteriak memanggil pelayan yang

menunggui pintu ruang itu. Dengan tergesa-gesa pelayan itu

berjalan tersuruk-suruk, kemudian setelah ia melihat Akuwu di

dalam biliknya, pelayan itu pun berjalan jongkok perlahan-lahan.

Ketika ia sedang menyembah, ia hampir terloncat karena terkejut.

Didengarnya Akuwu itu membentaknya, “Cepat, panggil Daksina!

Bawa kemari kakawin Barathayuda.”

“Hamba Tuanku,” sembah pelayan itu sambil bergeser surut.

“Cepat!” teriak Akuwu itu pula.

Pelayan itu pun cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Dengan

berlari-lari kecil ia pergi ke halaman belakang mencari Daksina.

Tetapi anak itu tidak berada di dalam rumahnya. Karena itu maka

dengan gelisah pelayan itu bertanya kepada orang di rumahnya, “Di

mana Daksina?”

“Kenapa? Ia baru keluar.”

“Malam-malam begini?”

“Ya. Mungkin di gardu-gardu penjaga.”

“Apa kerjanya?”

“Bercerita. Ia terlampau banyak membaca sehingga kepalanya

menjadi penuh. Karena itu kadang-kadang ia memerlukan tempat

penuangan cerita-cerita yang tersimpan di kepalanya.”

“Omong kosong!” sahut pelayan itu, “Daksina tahu betul kalau

para peronda sering membawa jenang alot atau ketan serundeng.

Nah, untuk itu ia melayap ke gardu-gardu.”

“Mungkin. Tetapi apakah ada sesuatu yang penting.”

“Oh. Akuwu memanggilnya.”

Orang serumah itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Setiap kali

Akuwu memerlukan anak itu harus ada. Meskipun demikian orang

itu bertanya juga, “Malam-malam begini?”

“Ya.”

Orang itu segera menjadi gelisah, “Baiklah, aku akan

mencarinya.”

“Aku juga harus mencarinya,” berkata pelayan itu, “sebelum

Akuwu menjadi marah.”

Keduanya segera pergi untuk mencari Daksina. Ternyata benar

dugaan mereka, Daksina berada di gardu belakang, menunggui para

peronda sambil ikut serta menghabiskan bekal mereka. Ketan

serundeng. Tetapi para peronda itu senang juga apabila Daksina

ada di antara mereka. Banyak sekali cerita yang dapat

disampaikannya kepada para peronda untuk mencegah kantuk.

Ketika ia mendengar bahwa Akuwu memanggilnya, segera ia

berlari. Untunglah bahwa lontar kakawin Barathayuda berada di

rumahnya sehingga ia tidak perlu mencarinya di bilik perpustakaan.

Dengan tergesa-gesa ia membawa lontar itu menghadap ke bilik

Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi alangkah kecewanya ketika ia

sampai di muka bilik, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung sudah

tertidur masih dalam pakaiannya. Bahkan pintunya pun masih juga

terbuka.

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bingung. Kalau

ia pergi, dan kemudian Akuwu itu terbangun, maka segera Akuwu

itu akan teringat bahwa ia telah memerintahkan memanggilnya.

Tetapi apakah kemudian ia harus menunggui Akuwu itu tidur?

Bagaimana kalau Akuwu itu kemudian tidak terbangun lagi sampai

pagi?

Tetapi kemudian Daksina tidak berani meninggalkan bilik itu.

Dengan terkantuk-kantuk ia duduk di muka pintu. Bahkan kemudian

anak itu pun tertidur pula sambil memeluk lontarnya.

Di bilik lain, di sentong tengen, Ken Dedes masih duduk

berbincang dengan embannya. Ia kini sudah tidak dalam perawatan

Nyai Puroni lagi. Perempuan yang banyak menyimpan perasaan iri

terhadap gadis yang menurut pendapatnya sedang menyimpan

wahyu di dalam tubuhnya.

“Bagaimana Bibi, menurut pendapatmu,” bertanya Ken Dedes

kepada pemomongnya, “apakah kau tidak keberatan dengan

rencanaku? Bukankah kau telah mengenal Kakang Agni seperti

mengenal aku?”

Orang tua itu mengangguk. Tetapi wajahnya tampak menjadi

semakin suram.

“Apakah kau mempunyai pendapat lain?”

Emban itu tidak segera menjawab. Kalau ada cara lain, maka ia

akan mengusulkannya. Tetapi ia tidak segera menemukan. Ia tidak

dapat minta Ken Dedes pergi sendiri, atau dengan seorang dua

orang prajurit. Akuwu pasti tidak akan melepaskannya. Sebab

adalah masuk akal apabila Kuda Sempana yang mendendamnya itu

dapat berbuat hal-hal di luar perhitungan apabila anak muda itu

tahu, bahwa Ken Dedes sedang berada di Panawijen.

Meskipun demikian emban tua itu berkata, “Nini, apakah kau

perlu datang dengan segala macam kehormatan dan kebesaran

itu?”

“Ya, Bibi, itu adalah satu kebanggaan bagiku, bagi Kakang

Mahisa Agni dan bagi Panawijen. Dan kebanggaan ini harus

membuka hati Kakang Mahisa Agni bahwa ia telah salah sangka

selama ini. Ia tidak mendalami maksud Akuwu yang sebenarnya

atas aku dan keluargaku.”

Emban tua itu menundukkan wajahnya. Kembali ia menyalahkan

diri sendiri. Kalau ia mempunyai pengaruh sebagai seorang ibu atas

Mahisa Agni dan membawa Mahisa Agni menghadap Akuwu

Tumapel, maka Mahisa Agni pasti tidak akan mengalami kepahitan

yang lebih parah lagi.

Tetapi semuanya itu berada di luar kemampuannya. Mahisa Agni

telah berhasil dibawanya ke Tumapel, tetapi belum lagi Mahisa Agni

menghadap, apalagi menghadap Akuwu, bertemu dengan Ken

Dedes saja pun belum.

Dalam pada itu terdengar Ken Dedes berkata, “Bibi, apabila

benar Akuwu akan memperkenankan permohonanku, maka kau

akan ikut serta. Bukankah kau telah rindu pula kepada padukuhan

itu?”

Dada emban tua itu berdesir. Meskipun sebelumnya ia sudah

menduga, bahwa ia pasti akan diminta untuk mengantarkan Ken

Dedes itu pula. Tetapi gambaran-gambaran tentang anaknya,

tentang Mahisa Agni telah sangat mempengaruhinya. Apakah ia

harus menyaksikan betapa hati anaknya seperti diiris dengan

sembilu. Apakah ia harus menyaksikan Mahisa Agni semakin parah

ketika ia melihat Ken Dedes datang kepadanya dengan kebesaran

seorang permaisuri? Apabila Mahisa Agni itu benar-benar kakak

kandung Ken Dedes, maka kemarahan Mahisa Agni pasti akan

sangat terbatas. Mungkin dugaan Ken Dedes benar, bahwa Mahisa

Agni marah karena tersinggung perasaannya sebagai seorang

saudara tua. Tetapi Mahisa Agni tidak sekedar tersinggung

perasaannya. Tidak sekedar karena tidak diajaknya berbincang

mengenai lamaran Tunggul Ametung. Tidak.

Ketika emban tua itu tidak segera menjawab, maka Ken Dedes

mendesaknya sekali lagi, “Bagaimana Bibi, bukankah kau ingin juga

melihat kampung halaman itu? Sungainya yang jernih, bendungan

yang megung, sawah ladang yang hijau. Alangkah segarnya setelah

aku sekian lama terkurung di dalam bilik yang sempit ini.”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar

ia menjawab perlahan-lahan sambil menggeleng, “Tidak, Nini.”

“He,” Ken Dedes benar-benar terkejut mendengar jawaban yang

sama sekali tak disangka-sangka, “kau tidak ingin ikut ke

Panawijen?”

Sekali lagi emban itu menjawab, “Tidak, Nini. Biarlah aku

menunggumu di sini.”

“Bibi,” bertanya Ken Dedes dengan herannya, “kenapa Bibi tidak

ingin turut ke Panawijen?”

Emban tua itu tidak segera menjawab. Wajahnya yang suram

tertunduk ke lantai. Alangkah berat hatinya mendengar pertanyaan

itu. Sebenarnya ia tidak ingin terpisah dari momongannya.

Momongan yang sejak kecil selalu dalam dukungannya. Sebenarnya

sepotong hatinya ingin mengajaknya serta dalam satu arak-arakan

yang meriah, mengunjungi kampung halaman yang sudah sejak

bertahun-tahun didiaminya. Namun belahan hatinya yang lain

menahannya. Ia tidak akan sampai hati menyaksikan anaknya,

anaknya sendiri, meskipun tidak pernah dibelainya di saat-saat

menjelang tidur, mengalami guncangan-guncangan perasaan.

Tetapi emban itu merasa, bahwa ia tidak akan dapat berdiam diri

saja. Ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes, sehingga dengan

ragu-ragu dijawabnya saja dengan alasan-alasan yang dicaricarinya,

“Nini, aku tidak dapat pergi ke Panawijen. Perjalanan itu

akan memerlukan waktu. Aku akan terlampau lelah. Mungkin Nini

akan mempergunakan tandu dalam perjalanan itu. Tetapi aku akan

berjalan kaki. Aku sudah terlampau tua Nini.”

“Tidak bibi,” potong Ken Dedes, “apabila disediakan tandu

untukku, maka Bibi akan berada di dalam tandu itu pula.”

“Ah,” sahut emban itu, “tandu itu akan terlampau berat.”

“Aku akan minta disediakan tandu yang lain.”

Emban itu menggeleng, “Tidak Nini. Banyak yang memberati

hatiku. Aku adalah seorang perempuan cengeng. Perempuan

perasa. Mungkin aku tidak akan tahan lagi melihat padepokan yang

sepi itu. Mungkin hatiku akan menjadi pedih.”

“Oh,” Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Aku juga pasti akan mengalami perasaan semacam itu

bibi. Tetapi marilah kita melihat kenyataan. Kepahitan hidup adalah

sesuatu yang sama sekali tidak kita ingini. Tetapi apabila hal itu

datang kepada kita sebagai suatu kenyataan, kita tidak akan dapat

memejamkan mata kita. Kita tidak harus lari daripadanya, mencari

kepuasan-kepuasan lain yang mungkin akan menjerumuskan kita

kepada kesulitan-kesulitan baru. Padepokan yang kosong itu jangan

menjadi hantu bagi kita bibi. Marilah kita lihat, apakah kita masih

mungkin untuk mengisinya kembali, menyegarkannya seperti masamasa

lampau, setidaknya mendekati masa-masa itu?”

Emban tua itu mengangkat wajahnya Ketika terpandang olehnya

wajah gadis momongannya itu, maka emban tua itu tertunduk

kembali. Dalam sekilat, teraba oleh orang tua itu, bahwa Ken Dedes

sebenarnya tidak sedang menasihatinya. Tetapi gadis itu lebih

banyak berbicara kepada dirinya sendiri. Gadis itu sedang mencoba

memperteguh perasaannya sebelum ia sendiri melihat Panawijen.

Sebelum ia melihat Padepokan ayahnya yang kini telah hampirhampir

menjadi kosong.

Emban itu tidak akan mengecewakan hati Ken Dedes atas

nasihatnya yang lebih banyak diperuntukkan bagi diri gadis itu

sendiri. Tetapi ia tidak dapat mempercayai dirinya, apakah hatinya

yang telah lapuk karena umurnya itu masih akan mampu bertahan

melihat hati yang terpecah belah.

Karena itu maka emban tua berkata, “Maafkan aku Nini. Aku

terpaksa tidak dapat ikut serta ke Panawijen. Mudah-mudahan lain

kali aku akan pergi. Baru kemarin aku melihat padukuhan itu. Baru

kemarin hatiku menjadi sedih. Apakah besok atau lusa aku akan

melukai hati ini kembali? Nini, biarlah aku agak memperpanjang

umurku dengan melepaskan diri dari setiap kemungkinan yang

dapat mendukakan hati.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Emban tua itu agaknya

benar-benar tidak ingin pergi ke Panawijen, sehingga karena itu,

maka Ken Dedes tidak dapat memaksanya meskipun ia menjadi

kecewa karenanya.

Meskipun demikian Ken Dedes itu tidak habis-habisnya dikejar

oleh pertanyaan-pertanyaan yang melingkar di dalam hatinya.

Emban itu hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tetapi tibatiba

kini ia mengelak ajakannya justru dalam kesempatan yang

dapat dibanggakan.

“Apakah emban tua ini sependapat dengan Kakang Mahisa Agni,”

pikir gadis itu. Tetapi ia tidak berani meyakinkan dirinya. Emban itu

masih tetap terlampau baik kepadanya selama ini.

“Mungkin emban itu berkata dengan jujur. Hatinya sedih melihat

Panawijen yang sepi,” berkata Ken Dedes pula di dalam hatinya.

Bahkan kemudian ia sendiri menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan aku

akan mengalami kesedihan seperti emban itu pula.”

Tetapi akhirnya Ken Dedes menemukan kemantapan, ia harus

pergi. Bukan saja untuk meyakinkan Mahisa Agni bahwa sebenarnya

maksud Tunggul Ametung cukup baik, tetapi juga untuk

membebaskan Mahisa Agni dan emban tua itu dari hukuman Akuwu

Tunggul Ametung.

Ternyata kemudian Akuwu Tunggul Ametung memenuhi janjinya.

Akuwu Tumapel itu telah memerintahkan kepada Witantra untuk

mempersiapkan sebuah pengawalan yang cukup kuat dan megah

bagi Ken Dedes yang akan pergi sendiri ke Panawijen untuk

berbagai keperluan. Akuwu pun menyadari, bahwa Ken Dedes

bukan saja ingin bertemu dengan Mahisa Agni, tetapi juga karena

Ken Dedes telah merindukan kampung halamannya.

Dua hari diperlukan oleh Witantra untuk mempersiapkan diri

beserta pasukannya. pasukan khusus pengawal Tunggul Ametung di

bawah pimpinan Witantra sendiri. Di samping persiapan para

prajurit, telah dipersiapkannya pula sebuah tandu yang megah.

Tandu yang akan dipergunakan oleh Ken Dedes.

Pada hari yang ditentukan, maka semua persiapan itu pun telah

selesai. Witantra sendiri melihat semuanya dengan cermat. Sejak

para pelayan, yang akan memanggul tandu sampai para perwira

prajurit yang akan menjadi paruh dari perjalanan ini.

Arak-arakan ini adalah arak-arakan yang terbesar yang pernah

diadakan di Tumapel sejak ibunda Akuwu Tunggul Ametung

meninggal dunia. Tumapel sejak itu tak pernah dimeriahkan dengan

sebuah arakan-arakan seperti ini. Sejak itu akuwu seakan-akan

hidup dalam kemurungan. Sekali-sekali akuwu keluar juga dari

istana. Tetapi tidak pernah dalam suatu bentuk arakan. Kalau

akuwu ingin menikmati udara di luar istana, maka akuwu akan pergi

berkuda dengan beberapa orang pengawal berburu ke hutan-hutan.

Sekali-sekali akuwu sering pula melihat-lihat kotanya, Tumapel,

namun selalu dalam sikap seorang prajurit.

Kini sejak seorang gadis Panawijen tinggal di dalam istana, maka

seakan-akan Istana Tumapel menemukan kembali kesegarannya.

Meskipun kebesaran Tumapel tidak pernah surut, namun

kebesarannya selama ini seolah-olah menjadi kering. Kini, gadis

Panawijen itu seperti embun yang menetes di malam hari dan

seperti gerimis yang jatuh di siang hari. Tumapel menjadi segar oleh

kemeriahan.

Tiga hari kemudian sejak akuwu menjanjikan pengawalan itu

kepada Ken Dedes, maka arak-arakan itu benar-benar telah

terwujud. Di halaman dalam Akuwu Tunggul Ametung sendiri

melepas arak-arakan itu.

Ken Dedes yang saat itu telah berada di dalam tandu

menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah,

“Hamba akan segera kembali, Tuanku.”

Akuwu tersenyum. Katanya, “Aku telah memerintahkan kepada

Witantra. Mereka harus segera kembali. Dan kau pun akan terbawa

kembali pula.”

Sekali lagi Ken Dedes menyembah, “Tentu, Tuanku.”

Akuwu menganggukkan kepalanya. Ternyata anak Panawijen itu

benar-benar telah memesonanya. Bahkan telah memesona segenap

rakyat Tumapel. Dalam pakaian yang indah, Ken Dedes benar-benar

tampak bercahaya, seperti bintang pagi di tenggara.

Tetapi hati Ken Dedes itu berdesir ketika ia melihat emban

pemomongnya berdiri di samping tandunya. Dengan serta-merta ia

bertanya, “Apakah kau benar-benar tidak dapat mengubah

pendirianmu, Bibi?”

Emban tua itu menarik nafas. Sambil menggeleng ia menjawab,

“Maafkan, Tuan putri.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Panggilan itu terasa janggal

di telinganya apabila emban tua itulah yang mengucapkannya.

Emban tua itu telah mengenalnya sejak kecil sebagai seorang gadis

pedesaan. Bagaimana mungkin kini ia harus memanggilnya Tuan

putri. Tetapi Ken Dedes sendiri tidak berani menegurnya. Akuwu

menghendaki panggilan itu bagi semua hamba Tumapel. Namun

demikian pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam hati Ken

Dedes masih belum dapat disingkirkannya. Apakah sebab yang

sebenarnya emban itu tidak mau pergi bersamanya. Apakah ia

berkata jujur, atau sekedar samudana.

Bahkan tiba-tiba Ken Dedes teringat kepada dukun tua yang

merawatnya saat pertama kali ia masuk ke dalam istana ini. Jelas

terbayang dan terungkapkan dalam kata dan perbuatan, dukun tua

itu menjadi dengki atas karunia yang diterimanya. Apakah emban

tua itu menjadi dengki pula.

“Tidak. Tidak mungkin,” terdengar suara di dalam dada Ken

Dedes demikian tegasnya. Apalagi ketika kemudian ia melihat

setitik-setitik air mata menetes dari mata yang cekung itu.

Ken Dedes menjadi terharu pula karenanya. Tetapi ia tidak pula

dapat mengerti, apakah arti air mata itu?

Akhirnya arakan itu pun mulai bergerak. Emban tua, pemomong

Ken Dedes, mencium momongannya pada punggung telapak

tangannya. Terasa tangan itu menjadi basah.

“Selamat jalan Tuan putri. Hamba menunggu sampai Tuanku

kembali.”

Ken Dedes mengangguk. Tetapi ia tidak dapat menjawab dengan

kata-kata, karena tenggorokannya terasa tersumbat karenanya.

Ketika arak-arakan itu semakin lama menjadi semakin jauh, maka

air mata emban tua itu pun mengalir semakin deras. Air mata yang

menitikkan berbagai arti. Seperti bunga, maka air mata dapat

berarti gembira, namun dapat pula berarti duka. Setitik air mata

emban itu diperuntukkan bagi momongannya. Ia, emban tua itu,

berbahagia dan bangga karenanya. Sedang setitik lainnya

diperuntukkannya bagi anaknya. Alangkah pedih hati anaknya itu.

Akhirnya, ketika pangkal dari arak-arakan itu telah hilang di balik

regol halaman dalam, maka emban tua itu pun segera menyadari

keadaannya. Ketika ia berpaling, ternyata akuwu yang semula

berdiri di atas tangga telah masuk pula ke dalam istana. Di sana-sini

tinggal beberapa orang saja yang masih membenahi beberapa

peralatan yang tinggal. Beberapa orang penjaga dilihatnya hilir

mudik di muka regol halaman dalam itu.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan

ia berjalan sambil menundukkan wajahnya, pergi ke biliknya di

halaman belakang. Di situlah ia telah mendapatkan sebuah bilik

tersendiri, sejak ia mengikuti Ken Dedes di Istana Tumapel. Dari

muka bilik itu ia mendengar lamat-lamat suara Daksina berdendang.

Ketika emban tua itu berpaling ke arah suara Daksina itu, dilihatnya

anak itu duduk di bawah sebatang pohon kemuning. Di tangannya

tergenggam sepotong kayu watu dan sebilah pisau yang tajam.

Anak itu ternyata lagi membuat sebuah patung ukiran.

“Seorang anak muda periang,” desis emban tua itu. Dalam pada

itu dikenangnya anaknya yang murung. Mahisa Agni bukan

termasuk seorang anak muda periang seperti Daksina, meskipun

bukan pula seorang pemurung. Namun tusukan perasaan yang

dalam telah menjadikannya semakin kehilangan keriangannya.

“Pengaruh yang membentuknya menjadikannya demikian,”

berkata emban itu di dalam hatinya, “Mahisa Agni berada di

pengengeran sejak kanak-kanak. Ia harus selalu tekun belajar dan

bekerja.”

Suara Daksina masih saja mengumandang di sela-sela gemeresik

dedaunan di pagi yang bening. Seperti siul burung yang riang

menyambar hari yang baru, suara Daksina terdengar semakin lama

semakin segar.

Emban tua itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Betapa ia

mencoba menyenangkan hatinya dengan mendengarkan dendang

Daksina, namun wajah orang tua itu pun masih juga disaput oleh

kesuraman hatinya.

Sementara itu iring-iringan yang membawa Ken Dedes menuju ke

Panawijen telah menelusuri jalan-jalan kota. Berbondong-bondong

penduduk Tumapel, tua muda keluar dari rumah masing-masing.

Mereka telah mendengar bahwa hari itu Ken Dedes, seorang gadis

dari padepokan di Panawijen akan keluar dari istana dalam sebuah

iring-iringan kebesaran. Gadis yang bakal menjadi permaisuri

Tumapel itu akan pergi mengunjungi kampung halamannya,

Panawijen.

Setiap mata yang memandang gadis yang berada di atas tandu

itu menjadi terpesona. Alangkah cantiknya gadis itu. Sama sekali

tidak berkesan pada wajah yang cerah itu, bahwa Ken Dedes adalah

seorang gadis pedesaan. Wajah itu benar-benar membayangkan

seorang yang sangat pantas untuk menjadi seorang permaisuri.

Demikianlah maka setiap mulut telah bergumam memuji keserasian

tubuh gadis yang berada di atas tandu itu. Betapa bahagianya

seorang gadis yang memiliki kecantikan yang hampir sempurna itu.

Adalah sudah sewajarnya apabila Akuwu Tunggul Ametung telah

memilihnya untuk menjadi seorang permaisuri.

Apalagi kini gadis itu berada di dalam sebuah iringan kebesaran

yang sudah cukup lama tidak dilihat oleh penduduk Tumapel.

Sehingga dengan demikian, maka hampir setiap rumah menjadi

kosong karena penghuninya berlari-lari ke pinggir jalan untuk

melihat wajah bakal permaisuri Akuwunya.

Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan

mendapat sambutan yang sedemikian riuhnya dari penduduk

Tumapel. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi bingung.

Ketika para penduduk ingin memandangi wajahnya yang cerah itu,

maka Ken Dedes malahan berusaha bersembunyi dibalik tirai-tirai

tandunya. Beberapa orang menjadi kecewa, namun beberapa orang

lain yang sempat memandang wajah itu, memujinya tak kunjung

habis.

Di muka sekali, di ujung iring-iringan itu, seorang yang tegap

mendahului di atas punggung kuda bersama beberapa orang

prajurit. Orang itu adalah pemimpin pasukan pengawal. Witantra. Di

sampingnya adalah dua orang perwira bawahannya. Sedang di

belakangnya berkuda seorang anak muda, namun ia tidak

mengenakan pakaian keprajuritan meskipun di lambungnya

tergantung sebilah pedang. Anak muda itu adalah Mahendra. Ia

telah dibawa oleh kakak seperguruannya. Tanpa sepengetahuan

Akuwu dan Ken Dedes, Witantra telah mempunyai perhitungan

tersendiri. Ia mengenal beberapa sifat Mahisa Agni yang keras.

Karena itu ia mempunyai perhitungan, bahwa apabila Mahisa Agni

tidak dapat ditemukan di Panawijen, ia pasti telah berada di padang

Karautan. Karena itu maka dibawanya Mahendra yang akan dapat

menjadi penunjuk jalan menemui Mahisa Agni, dengan tidak usah

mencari-cari.

Di belakang Mahendra, berkuda seorang prajurit muda.

Wajahnya riang namun garis-garis mulutnya menunjukkan kepicikan

perhitungannya. Prajurit itu adalah Kebo Ijo. Ia mendapat tugas

pula dari Witantra, kakak seperguruannya untuk mengawal panjipanji

Tumapel yang berada di muka tandu Ken Dedes dibawa oleh

seorang prajurit pula.

Ketika iring-iringan itu telah sampai ke batas kota, maka Kebo Ijo

mempercepat jalan kudanya, mendekati Mahendra.

Ketika ia telah berada di sampingnya, terdengar ia berbisik,

“Berapa lama kita berada di Panawijen?”

Mahendra menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

“Tiga hari atau sepasar?”

Sekali lagi Mahendra menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Dalam sepuluh hari ini aku harus berada di rumah,” gumam

Kebo Ijo.

“Kenapa?”

Kebo Ijo itu tertawa. Namun ketika Witantra berpaling kepadanya

segera ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata

kepada Mahendra, “Aku akan kawin Kakang.”

“Oh,” Mahendra terkejut. Tetapi ia pun tertawa pula. Sahutnya.

“Kau berkata sebenarnya?”

Kebo Ijo mengangguk, “Ya. Sebenarnya aku akan kawin tengah

bulan ini.”

Mahendra menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian

agaknya ia masih meragukan kata-kata adik seperguruannya itu,

sehingga Kebo Ijo merasa perlu untuk menegaskan, “Kakang

Mahendra. Sebenarnya aku pun masih belum ingin untuk kawin.

Tetapi beberapa orang keluargaku selalu saja mendesakku.”

Mahendra tertawa berkepanjangan. Dilihatnya wajah Kebo Ijo

yang tersipu-sipu,

“Kenapa kau akhirnya bersedia pula?” bertanya Mahendra.

“Ah,” Kebo Ijo tersenyum, tetapi ia tidak menjawab.

“Gadis manakah yang akan kau ambil?” bertanya kakak

seperguruannya.

“Tetangga sendiri. Masih ada sangkut paut kekeluargaan.”

“Siapa namanya?”

“Bukan Ken Dedes,” jawab Kebo Ijo.

Keduanya tertawa, sehingga sekali lagi Witantra berpaling. Tetapi

perwira itu tidak banyak menaruh perhatian atas percakapan kedua

adik seperguruannya itu.

Iring-iringan itu masih berjalan dengan tenangnya. Kini mereka

telah meninggalkan kota Tumapel. Meskipun demikian, orang-orang

yang tinggal di desa-desa, di tepi jalan pun berjejal-jejal untuk

menyaksikan arak-arakan yang megah itu. Bahkan dari desa-desa

yang jauh sekalipun, apabila orang-orangnya mendengar berita

tentang perjalanan bakal permaisuri itu, berbondong-bondong

mereka pergi ke tepi-tepi jalan yang akan dilampaui oleh arakarakan

itu.

Matahari yang tergantung di langit, semakin lama merayap

semakin tinggi pula. Sinarnya yang cerah berserakan di atas dataran

sawah-sawah dan memantul di permukaan air. Namun terasa bagi

para prajurit yang sedang berjalan dalam arak-arakan itu seperti

serangga yang merayap di seluruh permukaan kulit punggungnya.

Gatal.

Ken Dedes yang duduk di dalam tandu, memandangi sawah,

ladang dan pedesaan dengan wajah yang segar. Penandangan yang

telah lama tidak dilihatnya Warna hijau segar yang memancarkan

harapan pada hari-hari mendatang. Apabila padi yang menghijau di

sawah itu telah bunting, maka berkembanglah hati para petani.

Sebentar kemudian, maka hutan yang menghijau akan berganti

warna seperti lembaran emas yang terbentang dari ujung ke ujung

bumi. Apabila padi telah menguning, maka berdendanglah setiap

hati, disertai dengan doa semoga mereka diperkenankan memetik

buah dari jerih payah mereka.

Perjalanan itu terasa bagi Ken Dedes, alangkah lambatnya.

Langkah-langkah kaki para prajurit yang berderap di atas tanah

berdebu, seolah-olah langkah seorang anak-anak yang malas lagi

belajar berjalan. Terlampau lambat. Tetapi Ken Dedes yang duduk

di atas tandu tidak dapat mempercepat perjalanan itu. Ia hanya

dapat mengikuti kecepatan para pemanggulnya. Namun ketika Ken

Dedes sempat memandangi orang-orang yang mengangkat

tandunya itu, timbullah rasa ibanya. Peluh telah membasahi

segenap tubuh mereka. Sebentar-sebentar orang-orang yang

memanggul tandu itu saling berganti. Namun meskipun demikian,

tampak juga, bahwa mereka menjadi sangat letih karenanya.

Demikianlah maka perjalanan itu pun merambat setapak demi

setapak. Di tengah hari mereka memerlukan beristirahat di pinggirpinggir

belukar. Para prajurit dan para pelayan bahkan semua orang

di dalam iring-iringan itu memerlukan makan dan minum. Mereka

masih harus berjalan dalam jarak yang cukup jauh.

Namun untuk seterusnya Witantra telah mengambil

kebijaksanaan bahwa mereka tidak akan melintas padang Karautan.

Mereka lebih baik berjalan lewat hutan Karautan. Di tengah-tengah

padang itu nanti, panas matahari pasti akan membakar mereka.

Apalagi padang itu terlampau panjang, sehingga mungkin mereka

akan kehabisan air di tengah-tengah jalan. Tetapi apabila mereka

menyusuri hutan, maka mereka akan menjadi sejuk. Apalagi hutan

Karautan bukanlah hutan rimba belantara yang pepat padat. Hutan

Karautan termasuk hutan yang agak jarang, sehingga merupakan

hutan perburuan yang cukup baik.

Tetapi mereka tidak akan dapat sampai di Panawijen hari itu

juga. Mereka pasti akan bermalam di perjalanan apabila mereka

ingin tetap segar sampai di Panawijen besok. Sebab apabila mereka

berjalan terus, maka mereka pasti akan kemalaman dan kelelahan.

Apalagi mereka yang memanggul tandu meskipun bergantian.

Ken Dedes sama sekali tidak berkeberatan atas kebijaksanaan

itu. Ia dapat mengerti, bahwa padang Karautan pasti akan sepanas

bara di siang hari. Karena itu, maka perjalanan seterusnya, iringiringan

itu akan masuk menyusur jalan di dalam hutan Karautan.

Demikianlah ketika iring-iringan itu berjalan kembali, maka tidak

beberapa lama, mulailah ujungnya menusuk masuk ke dalam hutan.

Seperti seekor naga yang masuk ke dalam liangnya, maka semakin

lama iring-iringan itu menjadi semakin dalam, sehingga kemudian

ekornya pun lenyap ditelan rimbunnya dedaunan.

Betapa lambatnya perjalanan itu, namun mereka pun semakin

lama menjadi semakin dekat pula dengan Panawijen. Ketika

matahari kemudian hinggap di punggung bukit di ujung barat, maka

mulailah para prajurit mencari tempat yang sebaik-baiknya untuk

berkemah. Di tengah-tengah hutan yang tidak terlampau pepat, di

antara batang-batang kayu yang besar, iring-iringan itu bermalam.

Apabila kemudian gelap malam mencengkam hutan itu,

dibuatnya oleh para prajurit, beberapa onggok api yang menyalanyala

seperti obor-obor raksasa, menerangi tempat mereka

bermalam.

Witantra yang bertanggung jawab atas keselamatan Ken Dedes

dan segenap iring-iringan itu, sekali-sekali berjalan pula mengitari

perkemahan dengan Mahendra dan Kebo Ijo. Sekali-sekali mereka

berkelakar untuk menghilangkan kejemuan mereka. Witantra yang

mendengar bahwa Kebo Ijo akan segera kawin, tertawa pula

berkepanjangan. Anak itu masih terlampau muda, dan baru saja ia

bekerja di istana.

Tetapi tiba-tiba suara tertawa Witantra itu terhenti. Hampir

bersamaan mereka bertiga mendengar desir dedaunan di sekitar

mereka. Ketika mereka memandangi perkemahan, maka agaknya

para prajurit masih tetap berada di tempat masing-masing.

Sesaat mereka saling berpandangan. Tetapi Witantra tidak ingin

membuat keributan di antara para prajuritnya, apalagi membuat

Ken Dedes menjadi cemas. Karena itu maka katanya kepada Kebo

Ijo, “Kebo Ijo, kembalilah ke lingkungan para prajurit yang lain.

Hati-hatilah. Tetapi jangan mengatakan sesuatu kepada mereka.

Apabila terjadi sesuatu, beri tahukan para perwira supaya mereka

dapat mengambil tindakan. Aku akan melihat suara apakah yang

terdengar itu bersama Mahendra.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya, jawabnya, “Biarlah aku ikut

Kakang Witantra. Sebaiknya Kakang Mahendra saja yang kembali ke

perkemahan.”

“Mahendra bukan seorang prajurit,” sahut Witantra, “tetapi kau

adalah salah seorang dari mereka, sehingga hubunganmu dengan

mereka lebih baik daripada Mahendra.”

Kebo Ijo tidak menjawab. Ia dapat mengerti kata-kata itu,

apalagi ketika Witantra berkata, “Apalagi kau sedang menjelang hari

perkawinanmu Kebo Ijo, jadi lebih baik kau tidak berbuat hal-hal

yang berbahaya.”

Kebo Ijo tersenyum. Jawabnya, “Baiklah kalau itu perintah

Kakang.”

Witantra berkata pula, “Nah cepat kembalilah.”

Tetapi kembali mereka bertiga terkejut ketika terdengar suara di

belakang mereka. Suara itu perlahan-lahan saja namun jelas, “He,

apakah Angger Kebo Ijo akan kawin?”

Telinga Witantra menjadi merah seperti tersentuh bara. Ia benarbenar

merasa mendapat tantangan langsung dari suara itu.

Demikian dekatnya suara itu darinya, sehingga semua

pembicaraannya dapat didengar, tetapi ia sendiri bertiga tidak

mengetahui kehadiran orang itu. Karena itu sekali lagi ia berkata

kepada Kebo Ijo, “Cepat kembali. Langsung sampaikan kepada

Sidatta apa yang terjadi di sini. Tetapi ingat, jangan menimbulkan

kegelisahan. Hanya Sidatta yang boleh mengetahuinya. Ia harus

mengambil alih pimpinan selama aku tidak ada.”

“Baik Kakang,” sahut Kebo Ijo.

Namun kembali Kebo Ijo itu tertegun. Kembali mereka

mendengar suara tertawa dekat di belakang mereka. Betapa

marahnya mereka bertiga, apalagi Kebo Ijo. Hampir saja ia

meloncat ke arah suara itu, namun terdengar Witantra berkata,

“Cepat!”

Kebo Ijo menggeram. Tetapi ia segera pergi meninggalkan

tempat itu karena perintah kakak seperguruannya sekaligus

pimpinannya.

Kini Witantra dan Mahendra berdiri berdua. Sejenak mereka

saling berdiam diri memperhatikan setiap keadaan di sekitarnya.

Perlahan-lahan Witantra memutar tubuhnya sambil bertanya lirih,

“Siapa kau?”

Yang terdengar adalah gemeresik dedaunan di dalam gerumbul

di sampingnya.

“Siapa kau?” ulang Witantra.

Yang terdengar adalah suara tertawa. Juga perlahan-lahan.

Ternyata Mahendra menjadi tidak bersabar karenanya. Tetapi

ketika ia meloncat maju, terasa tangan kakaknya mencegahnya.

“Jangan,” bisik Witantra. Witantra adalah seorang yang telah

jauh lebih banyak berpengalaman daripada Mahendra. Karena itu

maka segera ia mengetahui, bahwa orang yang tertawa itu bukan

orang kebanyakan. Bahkan bukan pula orang yang sekedar memiliki

keberanian.

Mahendra pun sebenarnya menyadari pula, dengan siapa ia

berhadapan. Tetapi darah mudanya ternyata masih terlampau cepat

terbakar. Karena itu kadang-kadang ia kehilangan kewaspadaannya.

Suara tertawa itu masih saja terdengar. Bahkan kini suara itu

berkata, “Hem, kau benar-benar anak yang berani Mahendra.”

“Kau mengenal aku?” desis Mahendra.

“Aku mengenal kalian bertiga. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo.

Bukankah begitu?”

Mahendra menggeram. Tetapi Witantra tertawa.

Mahendra menjadi heran melihat kakak seperguruannya itu

tertawa. Tetapi ia tidak bertanya. Yang terdengar kemudian adalah

kata-kata Witantra, “Tidak aneh apabila kau mengenal kami.

Bukankah kau telah bersembunyi dan mengikuti kami sejak tadi?

Dari percakapan kami kau tahu, siapa aku, siapa kedua adikku ini.

Apakah itu termasuk kelebihan bagimu?”

“Hem, kau cerdik Witantra,” sahut suara itu.

“Tidak. Itu persoalan yang terlampau sederhana.”

“Ternyata kau melampaui dugaanku,” berkata suara itu, “kalau

begitu biarlah aku pergi.”

“Tunggu!” cegah Witantra, “Aku ingin tahu, siapakah kau ini?”

“Tak ada gunanya.”

Dan sesaat kemudian Witantra dan Mahendra mendengar suara

daun tersibak. Cepat mereka maju. Namun suara itu pun menjadi

semakin cepat menjauh pula.

“Jangan lari!” desis Witantra.

Tetapi tak ada yang menyahut. Yang terdengar hanyalah suara

ranting-ranting patah dan gemeresik dedaunan.

Mahendra yang hatinya sudah meluap-luap segera berlari. Tetapi

kembali Witantra menahannya, “Jangan tergesa-gesa, Mahendra.”

Mahendra menjadi kecewa, katanya, “Orang itu sudah semakin

jauh.”

“Hati-hatilah.”

Mahendra mengangguk. Tetapi hampir-hampir ia tidak mampu

menahan dirinya. Kini ia terpaksa maju bersama kakaknya. Tidak

terlampau cepat, karena Witantra menyadari siapakah yang sedang

dikejarnya itu. Orang itu adalah pasti orang yang cukup berilmu.

“Biarlah aku mencoba menangkapnya, Kakang,” minta Mahendra.

Witantra menggeleng, jawabnya, “Kau belum tahu siapa orang

itu. Hutan ini terlampau gelap. Sadarilah, bahwa orang itu hanya

sekedar memancing kita menjauhi para prajurit yang sedang

berjaga-jaga.”

Mahendra menarik nafas. Ia sadar akan ketergesa-gesaannya.

Ternyata apa yang dikatakan kakak seperguruannya itu benar-benar

masuk di akalnya.

Karena itu pun kini Mahendra menjadi semakin berhati-hati pula.

Setiap tapak ia maju, ia tidak kehilangan kewaspadaan. Orang yang

dicarinya itu dapat saja tiba-tiba berada di sisinya atau bahkan di

belakangnya.

Namun setiap kali Mahendra mendengar desir dedaunan di

depannya, maka dadanya pun berdesir pula.

Akhirnya Witantra menggamit Mahendra sekali lagi sambil

berkata, “Kita sampai di sini saja Mahendra. Ternyata orang itu tidak

ingin menemui kita.”

Mahendra berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata,

“Tetapi pasti ada suatu maksud yang dikandungnya.”

“Ya. Dan maksud yang sesungguhnya aku tidak tahu. Karena itu,

jangan pedulikan lagi orang itu.”

Ketika Mahendra akan menjawab, Witantra memberi isyarat

dengan menggelengkan kepalanya. Mahendra menjadi ragu-ragu

sejenak. Namun ia pun berdiam diri.

Perlahan-lahan kemudian mereka mendengar orang di dalam

gerumbul itu berkata, “Kau benar-benar cerdik Witantra. Kau dapat

mengetahui bahwa ada terkandung maksud di dalam hatiku.”

“Ah,” Witantra kemudian tertawa kecil, “aku bukan anak-anak

yang menari-nari karena sanjungan-sanjungan kecil. Aku tidak

sebodoh yang kau sangka Ki Sanak. Kalau aku mengatakan bahwa

kau pasti mempunyai maksud tertentu maka sama sekali tidak

diperlukan suatu kecakapan khusus untuk itu. Setiap orang, bahkan

anak-anak pun akan dapat mengatakan, kalau kau pasti mempunyai

suatu maksud dengan mengintai rombonganku dan bahkan

memancing kami berdua supaya kau dapat memisahkan kami dari

rombonganku. Juga anak-anak akan dapat membuat perhitungan

dengan itu. Dengan memisahkan aku dari rombonganku, maka ada

dua kemungkinan yang kau kehendaki. Aku dan Mahendra, atau

segenap rombongan yang lain. Atau kau sudah mempersiapkan dua

gerombolan pula untuk menghadapi kami berdua dan rombongan

yang lain.”

Terdengar orang yang bersembunyi itu tertawa, “Hebat! Hebat!”

“Tidak hebat. Bukan hal yang sulit ditebak. Yang sulit diketahui

adalah maksudmu yang sebenarnya. Apakah maksud itu baik atau

jahat. Itulah yang tidak kami ketahui.”

“Apakah kau tidak dapat merabanya, Witantra.”

“Tentu tidak.”

“Oh,” terdengar nada kecewa dari orang yang bersembunyi itu,

“ternyata benar yang kau katakan. Otakmu tidak secerdas yang aku

sangka.”

Mahendra sama sekali tidak telaten mendengar percakapan yang

seakan tidak berpangkal tidak berujung itu. Dengan serta-merta ia

berteriak, “Aku tahu maksudmu yang sebenarnya. Kalau kau

bermaksud baik, maka kau tidak akan melakukannya dengan

bersembunyi. Ayo, tampakkan dirimu!”

Witantra mengerutkan keningnya. Adiknya masih terlampau

muda sehingga amat sulit baginya untuk mengendalikan

perasaannya. Yang dihadapinya kini bukan saja seorang yang

berilmu, tetapi juga seorang yang licik. Namun ia tidak mencegah

adiknya kali ini Asal adiknya itu tidak meloncat menyerang orang

yang masih saja bersembunyi itu.

“Ternyata adikmu lebih cerdas darimu Witantra,” terdengar suara

itu pula.

“Ya,” sahut Witantra, “sebenarnya demikian.”

“Baik. Kalau demikian aku tidak akan bertemu kau lagi. Kau

terlampau bodoh untuk diajak berbincang mengenai masalahmasalah

yang terlampau penting.”

“Jangan banyak bicara,” potong Mahendra, “tunjukkanlah

dirimu.”

“Tidak perlu. Aku akan pergi.”

“Kau tidak akan dapat melepaskan diri,” sahut Mahendra.

Tetapi Mahendra menjadi heran ketika kakaknya berkata,

“Biarlah Mahendra. Biarlah orang itu pergi. Ia menganggap bahwa

kita kurang mampu untuk diajaknya berbincang. ternyata orang itu

mempunyai suatu keperluan khusus yang memerlukan kecerdasan

otak. Sedang syarat itu tidak kita penuhi.”

“Apakah kita biarkan orang itu pergi?”

“Ya. Biar saja orang itu pergi.”

Tiba-tiba Mahendra dan Witantra mendengar orang yang

bersembunyi itu menggeram. Katanya, “Ternyata dugaanku benar

pula kali ini. Witantra, pemimpin pengawal istana dan Akuwu

Tumapel bukan saja orang yang tumpul otaknya, tetapi juga

seorang penakut.”

“Gila kau!” teriak Mahendra. Sekali lagi Mahendra siap untuk

meloncat. Dan sekali lagi Witantra menahannya.

Bahkan Witantra itu berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku

barangkali tidak dapat memenuhi harapanmu. Aku memang berotak

tumpul dan seorang penakut pula. Karena itu aku tidak berani

mengejarmu. Namun betapa aku seorang penakut, tetapi aku tidak

bersembunyi seperti kau, Ki Sanak.”

Sekali lagi terdengar orang itu menggeram.

“Ayo, tangkap aku!” katanya.

Mahendra menggeretakkan giginya. Tetapi Witantra masih

tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan menangkapmu. Betapa otakku

tumpul, namun aku masih mampu membuat perhitungan. Kau ingin

memisahkan dan memecah kekuatan rombonganku dengan

memisahkan kami berdua daripadanya. Dalam jarak ini, aku masih

dapat memanggil setiap orang yang aku perlukan. Sebaliknya aku

masih akan dapat mendengar apa yang terjadi di dalam

rombonganku.”

Mendengar kata-kata itu Mahendra menggigit bibinya. Sekali lagi

ia menyadari, bahwa ternyata ia kurang mempertimbangkan

berbagai masalah yang dihadapinya. Untunglah bahwa kakaknya

dapat berpikir setenang itu.

“Witantra,” tiba-tiba terdengar suara dibalik gerumbul itu,

“sebenarnya bagiku tidak terlampau banyak bedanya. Apakah kau

berada di situ, atau kau berada di tempat lain yang lebih jauh.

Dengan sekali sentuh, kalian berdua pasti sudah tidak akan dapat

berteriak memanggil siapa pun. Jarak ini telah cukup memenuhi

harapanku. Karena itu, bersiaplah untuk mati.”

Bagaimanapun juga keberanian kedua saudara seperguruan itu,

namun hati mereka berdesir pula mendengar ancaman itu. Ancaman

yang seakan-akan terlampau meyakinkan. karena itu, maka

keduanya segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Sesaat kemudian mereka mendengar gemeresik di samping

mereka. Serentak mereka berdua memutar diri menghadapi orang

yang datang itu.

Dalam keremangan malam, mereka melihat sesosok tubuh

muncul dari balik dedaunan. Yang mula mereka lihat adalah

kepalanya, baru kemudian segenap tubuhnya.

“Aku sekarang sudah berdiri di sini,” desis orang itu, “nah,

apakah kalian akan melawan?”

Dada Mahendra berdesir mendengar suaranya yang semakin

jelas, melihat sikapnya dan bentuk tubuhnya. Dan yang

meyakinkannya adalah bahwa orang itu membawa tongkat hampir

sepanjang tubuhnya. Karena itu dengan serta-merta ia bergumam,

“Empu Sada.”

Witantra terkejut pula mendengar nama itu. Ia pernah

mendengar nama itu dari Mahendra. Dan ia tahu apa yang pernah

dilakukan pula oleh orang itu. Karena itu, maka hatinya menjadi

berdebar-debar.

Orang yang baru datang itu menganggukkan kepalanya. Katanya,

“Kau masih mengenal aku, Mahendra?”

Mahendra tidak menjawab. Tetapi tanpa dikehendakinya

tangannya meraba hulu pedangnya.

“Kau memang anak muda yang berani dan keras kepala,”

katanya kepada Mahendra, “dan kakakmu itu adalah seorang

perwira yang sabar, cerdas dan bertindak atas dasar perhitungan

yang masak.”

“Jangan memuji Empu,” potong Witantra yang sudah bersiapsiap

pula. Ia tidak dapat berbuat lain daripada mempersiapkan diri

menghadapi setiap kemungkinan. Banyak kemungkinan yang dapat

terjadi. Empu Sada itu datang seorang diri, atau bersama-sama

dengan kedua muridnya, Kuda Sempana dan orang yang menyebut

dirinya Bahu Reksa Kali Elo, atau malahan telah datang pula

bersama dengan Empu Sada itu orang-orang yang disebutnya

bernama Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Tetapi siapa pun yang

datang, Witantra harus menghadapinya. Ia membawa beberapa

orang prajurit pilihan. Mungkin mereka harus bertempur matimatian

menghadapi hantu-hantu itu.

Meskipun demikian kecemasan merambat pula di dalam hati

Witantra. Bagaimana kalau lawan yang dihadapinya berada di luar

kemampuan orang-orangnya. Witantra tidak mencemaskan dirinya

sendiri. Bahkan dalam tugas ini, nyawanya menjadi taruhan. Tetapi

bagaimana dengan Ken Dedes, bakal permaisuri Tunggul Ametung?

Witantra tahu benar bahwa Empu Sada adalah guru Kuda Sempana.

Witantra dapat menyangka bahwa Empu Sada telah berbuat karena

tangis muridnya.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Witantra, apakah

kau masih akan memanggil satu dua orang lain untuk bersamasama

melawan aku? Kesempatan masih ada. Berteriaklah

memanggil adikmu Kebo Ijo, atau perwira yang kau sebut namanya

Sidatta, atau ada orang lain yang lebih sakti lagi? Atau barangkali

kau akan berteriak memanggil segenap pasukanmu?”

Kejantanan kedua anak muda itu benar-benar tersinggung.

Namun mereka harus memperhitungkan pula keadaan. Kini mereka

tidak sekedar mempertahankan harga diri, tetapi mereka harus

mempertanggung jawabkan bakal permaisuri raja itu. Karena itu

maka mereka harus membuat pertimbangan-pertimbangan.

Mungkin mereka harus mengorbankan harga diri mereka untuk

kepentingan yang lebih besar. Harga diri dalam pengertian yang

terlampau luas. Sebab di dalam pertempuran yang bukan perang

tanding, maka tidak ada keharusan untuk melawan musuh seorangseorang,

meskipun untuk kepentingan apa yang disebut harga diri

itu.

Namun Witantra masih harus juga mempunyai pertimbangan

lain. Kalau ia memanggil beberapa orang yang cukup tangguh

bersama dengan Kebo Ijo apakah itu tidak berarti memberi peluang

kepada orang lain untuk mengambil Ken Dedes? Kuda Sempana

bersama saudara-saudara seperguruannya misalnya? Karena itu

sesaat Witantra menjadi ragu-ragu.

Dalam keragu-raguan itulah ia mendengar Empu Sada berkata,

“Jangan mematung. Ambil sikap secepatnya sebelum aku menyobek

lehermu dengan tongkatku ini.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia menarik pedangnya.

Mahendra yang berdiri di sampingnya, segera menarik pedangnya

pula. Kini sepasang kakak beradik seperguruan itu telah bersiap

menghadapi segenap kemungkinan.

Empu Sada yang masih tegak di depan gerumbul itu tertawa.

Katanya, “Kalian memang anak muda yang gagah berani. Aku iri

melihat ketangkasan, keberanian dan keteguhan hati kalian.

Mungkin murid-muridku masih harus mendapat didikan khusus

mengenai keteguhan hati. Aku menyesal bahwa aku memelihara

muridku dengan acuh tak acuh sampai kini, asal mereka mencukupi

keperluanku, kebutuhanku, bagiku sudah cukup. Sebagai

keseimbangan aku memberi mereka beberapa jenis ilmu. Ternyata

sekarang aku menyesal. Aku harus membentuk muridku seperti

kalian ini.”

Witantra dan Mahendra masih tegak di tempatnya. Witantra

sendiri yang sedang sibuk dengan berbagai pertimbangan, hampirhampir

tak mendengar kata-kata Empu Sada itu. Ia masih tetap

ragu-ragu, apakah ia harus memanggil kawan-kawannya atau

membiarkan mereka menjaga Ken Dedes dengan kekuatan

sepenuhnya.

Dalam pada itu Witantra dan Mahendra melihat Empu Sada itu

melangkah maju sambil berkata, “Kalian tidak memanggil seorang

pun di antara anak buah Witantra. Baik, mari kita lihat, sampai di

mana selisih kemampuanmu dengan murid-muridku.”

Sebelum Witantra menyahut, dilihatnya Empu Sada menjulurkan

tongkatnya. Ujung tongkat itu bergetar dengan cepatnya. Di dalam

gelap malam, maka mereka harus benar-benar memusatkan

segenap kemampuan mereka untuk melawan tongkat Empu Sada

itu.

Witantra dan Mahendra adalah dua bersaudara dari satu

perguruan. Karena itu, mereka segera dapat menyesuaikan dirinya.

Ketika ternyata Empu Sada telah mulai, maka mereka pun

berloncatan ke arah yang berlawanan. Pedang-pedang mereka

segera bergerak dalam gerak ilmu pedang yang mereka terima dari

guru mereka.

Sepasang anak-anak muda itu tidak membiarkan dirinya

diserang, sehingga merekalah yang melancarkan serangan beruntun

berganti-ganti. Tetapi lawannya adalah seorang guru yang namanya

cukup dikenal, meskipun kurang sedap. Sehingga karena itu, maka

serangan-serangan mereka berdua, seolah-olah tidak lebih dari

suatu permainan yang menjemukan bagi Empu Sada.

Tetapi kedua anak muda itu pun tidak terlampau mengecewakan.

Sekali-sekali serangan mereka berbahaya juga, sehingga kadangkadang

Empu Sada pun terpaksa berloncatan ke samping.

Demikianlah, maka Witantra dan Mahendra bertempur

berpasangan dengan serasi. Mereka dapat isi mengisi dan benarbenar

menggabungkan kekuatan mereka dalam suatu kesatuan

seolah-olah Empu Sada kini berhadapan dengan seorang lawan

yang memiliki kemampuan dua kali lipat dari apabila harus

dilawannya seorang demi seorang.

Namun Empu Sada itu masih juga sempat tertawa sambil

berkata, “Huh, aku benar-benar iri melihat cara kalian bertempur.

Serasi benar seperti otak kalian dihubungkan dengan satu perintah,

sehingga gerak dari yang seorang merupakan rangkaian gerak dari

yang lain.”

Witantra dan Mahendra sama sekali tidak menjawab. Tetapi

mereka merasa bahwa Empu Sada belum benar-benar hendak

menjatuhkan mereka. Mereka sadar, bahwa kini Empu Sada sedang

mencoba menjajaki, sampai di mana kemampuan mereka berdua

dibandingkan dengan murid-muridnya sendiri.

Sementara itu terdengar Empu Sada berkata pula, “Di manakah

saudara seperguruanmu yang satu lagi? Apabila kalian bertempur

bertiga alangkah dahsyatnya. Mungkin kalian bertiga akan

merupakan pasangan yang paling serasi yang pernah aku lihat.”

Witantra dan Mahendra masih tetap berdiam diri. Namun di

dalam dada Witantra bergolaklah kebimbangan hatinya. Apakah ia

harus memanggil beberapa orang untuk menemaninya bertempur,

atau ia harus menghadapi setan itu berdua. Masing-masing

mempunyai bahayanya sendiri-sendiri.

Dalam pada itu, Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra

kepada perwira bawahannya, Sidatta. Perwira itu mengerutkan

keningnya sambil bertanya perlahan-lahan, “Di mana Kakang

Witantra sekarang?”

“Masih di tempatnya. Mungkin Kakang Witantra ingin menangkap

orang itu.”

“Bukankah itu cukup berbahaya? Orang itu mungkin sengaja

memancing Kakang Witantra untuk menjauhkannya dari rombongan

ini.”

“Mungkin.”

“Kalau demikian, apakah kita perlu datang menolongnya?”

Kebo Ijo terdiam sejenak, otaknya pun tidak terlalu tumpul

betapapun bengalnya anak itu. Karena itu maka ia pun bertanya

kembali, “Apakah kita akan meninggalkan Ken Dedes itu bersamasama?”

Sidatta terdiam. Tentu ia tidak dapat melepaskan prajurit ini

tanpa pimpinan. Namun di antara mereka masih ada seorang lagi

yang dapat diserahinya. Tetapi Sidatta kini menjadi ragu-ragu.

Ketika ia menengadahkan wajahnya dan memandang berkeliling,

dilihatnya hutan di sekitarnya terlampau sepi. Dilihatnya beberapa

orang prajurit berbaring di tempat yang berserakan. Sedang

beberapa orang yang lain, masih berjaga-jaga di tempat yang sudah

ditentukan. Adalah lebih baik demikian daripada mereka berkumpul

menjadi satu. Dalam keadaan yang demikian, maka apabila mereka

harus menghadapi bahaya, maka kesempatan akan menjadi lebih

banyak.

Sementara itu Kebo Ijo pun menjadi gelisah pula. Witantra dan

Mahendra tidak segera kembali membawa atau tidak membawa

orang yang akan ditangkapnya itu.

Karena itu maka tiba-tiba ia berkata kepada Sidatta, “Aku akan

melihat Kakang Witantra dan Mahendra. Kenapa ia terlampau lama

tidak juga kembali.”

“Lalu bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Sidatta,

“apakah aku ikut serta pula?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah perwira itu.

Sebenarnya perwira itulah yang harus mengambil keputusan. Tetapi

karena Kebo Ijo yang dianggapnya lebih mengetahui persoalannya,

maka Sidatta merasa perlu mendengar pertimbangannya.

Sejenak kemudian Kebo Ijo itu menjawab, “Aku akan pergi

sendiri lebih dahulu. Ken Dedes masih perlu mendapat pengawalan

yang kuat.”

“Baiklah,” sahut Sidatta, “tetapi hati-hatilah.”

Kebo Ijo pun kemudian melangkah pergi. Tidak tergesa-gesa,

seakan-akan tidak ada suatu keperluan apapun, sehingga

langkahnya tidak menimbulkan kesan apa-apa bagi para prajurit

yang lain dan bagi Ken Dedes yang duduk di samping tandunya.

Ketika Kebo Ijo telah menghilang dibalik dedaunan, maka Sidatta

pun berdiri pula dan berjalan mendekati perwira yang lain. Mereka

bercakap-cakap sebentar. Kemudian kembali Sidatta meninggalkan

kawannya. Tetapi Sidatta tidak kembali ke tempatnya, namun ia

pergi menemui Ken Dedes. Katanya, “Tuan Putri, apakah Tuan Putri

tidak ingin beristirahat? Mungkin Tuan Putri dapat berbaring

melepaskan lelah, meskipun barangkali tempat ini sama sekali tidak

menyenangkan bagi Tuan Putri.”

Ken Dedes mengangguk, katanya, “Aku belum mengantuk

Kakang Sidatta.”

Sidatta mengangguk kepalanya, kemudian katanya, “Sebaiknya

Tuan putri beristirahat sebaik-baiknya, supaya besok tidak

terlampau lelah. Perjalanan ke Panawijen sebenarnya sudah tidak

begitu jauh lagi. Sebelum matahari sepenggalah, kita besok pasti

sudah sampai. Meskipun begitu, perjalanan yang sehari ini

barangkali terlampau melelahkan.”

“Terima kasih,” sahut Ken Dedes.

Tetapi Ken Dedes tidak segera berbaring atau bersandaran diri

pada tandunya. Ia masih saja duduk bersimpuh memandangi nyala

perapian di hadapannya.

Sidatta tidak mempersilakannya lagi. Namun ia segera bergeser

dan duduk tidak terlampau jauh dari gadis itu.

Di sisi yang lain tanpa setahu Ken Dedes, dan bahkan hampir

tidak mendapat perhatian dari siapa pun juga, perwira yang seorang

lagi bergeser pula mendekati Ken Dedes. mereka berdua harus

selalu berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat

terjadi. Titik puncak dari pertanggungjawaban mereka kali ini adalah

bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.

Kebo Ijo yang telah hilang dibalik dedaunan, segera meloncat

dengan tangkasnya mencari kedua kakak seperguruannya. Dengan

hati-hati dicarinya kembali jalan yang dilampauinya ketika ia

meninggalkan kedua kakak seperguruannya. Tetapi ketika ia sampai

ke tempat yang dicarinya, Witantra dan Mahendra telah tidak ada di

tempat itu.

Kebo Ijo menjadi ragu-ragu sejenak. Dipasangnya telinganya

baik-baik, barangkali ia mendengar sesuatu. Dan ternyata ia

memang mendengar sesuatu. Tidak terlampau jauh, karena itu

segera ia meloncat ke arah suara itu.

Suara itu adalah suara batang-batang perdu yang terinjak kakikaki

mereka yang sedang bertempur. Ranting-ranting yang patah

dan kadang-kadang diselingi dentang senjata beradu. Pedang

Witantra dan Mahendra, berbenturan dengan tongkat Empu Sada.

Tongkat itu tampaknya terlampau kecil dan panjang, namun

ternyata tongkat itu pun mempunyai kekuatan yang mengagumkan.

Ketika Kebo Ijo muncul di dekat perkelahian itu, terdengar suara

Empu Sada tertawa. Katanya, “Nah, ternyata adikmu datang pula

Witantra. Ayo, jadilah pasangan yang manis.”

Kebo Ijo menggeram. Sekali ia meloncat maju langsung

menerkam Empu Sada dengan pedangnya.

Kini Witantra bertempur bertiga dengan adik-adik

seperguruannya. Kekuatan mereka pun bertambah pula dengan

Kebo Ijo. Namun mereka bertiga hampir-hampir tidak berdaya

menghadapi Empu Sada yang jauh terlampau sakti daripada

mereka. Empu Sada adalah seorang guru yang setingkat dengan

guru mereka sendiri.

Yang tertua dari mereka adalah Witantra kecuali tertua dalam

perguruannya, umurnya pun tertua pula di antara mereka bertiga.

Pengalamannya pun yang terbanyak pula. Sehingga otak daripada

ketiga bersaudara seperguruan itu terletak padanya. Ialah yang

mengambil sikap dari pasangan mereka bertiga, dan ialah yang

mengatur serangan dan perlawanan mereka terhadap Empu Sada

yang sakti itu. Dengan berbagai tanda Witantra berusaha untuk

berbuat sebaik-baiknya, memberikan perintah-perintah kepada

kedua adik seperguruannya.

Empu Sada heran melihat kerapihan kerja sama di antara

mereka. Ketiganya benar-benar murid yang sangat baik. Murid yang

mempunyai ikatan yang cukup dalam berbagai segi. Bahkan saja

dan segi ilmu mereka, Tetapi juga ikatan ketaatan yang muda

terhadap yang lebih tua. Sehingga dengan demikian, maka mereka

bertiga benar merupakan satu gabungan kekuatan yang dahsyat.

Meskipun demikian Empu Sada masih juga sempat tertawa

sambil berkata, “Bukan main. Aku sudah menyangka, bahwa kalian

bertiga akan merupakan kekuatan yang tangguh. Aku juga akan

membuat murid-muridku menjadi sebaik kalian. Aku juga ingin

melihat murid-muridku dapat bertempur berpasangan dengan rapi

seperti murid Panji Bojong Santi ini. Alangkah baik cara Panji kurus

itu mengajari muridnya.”

Witantra dan kedua adiknya sama sekali tidak menyahut. Mereka

berusaha untuk memperketat serangan mereka terhadap lawannya.

Namun usaha mereka itu seakan-akan sia-sia saja. Empu Sada

setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan mereka. Setiap

kali orang tua itu sudah berada di belakang mereka, menyerang

dengan tongkatnya yang panjang.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin

sengit. Tetapi Empu Sada agaknya masih belum ingin mengakhiri

pertempuran itu. Bahkan ia masih berkata, “Witantra, kalau kau

memanggil bawahanmu yang bernama Sidatta dan barangkali ada

beberapa kawan lain yang cukup bernilai untuk bertempur, kau

masih mempunyai kesempatan untuk melarikan dirimu, untuk

menyelamatkan nyawamu. Nah, apakah kau tidak akan mencoba

memanggilnya?”

Witantra menggeretakkan giginya. Kini semakin jelas baginya,

bahwa Empu Sada berusaha untuk melepaskan Ken Dedes dari

pengawasan yang baik. Mungkin Empu Sada saat itu datang

bersama dengan Kuda Sempana dan murid-muridnya yang lain,

namun mereka masih tetap bersembunyi. Apabila pengawasan atas

Ken Dedes telah menjadi kian lemah, baru mereka akan berbuat

sesuatu. Menculik gadis itu.

Karena itu Witantra pun segera menjawab, “Aku tidak akan

mengumpankan orang lain untuk keselamatanku. Empu, jangan

mencoba mengelabui kami. Aku tidak akan memanggil seorang pun

lagi dari rombonganku meskipun nyawaku terancam. Bukankah

dengan demikian muridmu akan mendapat kesempatan menculik

gadis itu.”

Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Ternyata otakmu tidak setumpul

otak udang. Tetapi meskipun kau tidak memanggil orang-orangmu,

maka akhir daripada cerita ini akan sama saja. Kalian bertiga akan

mati aku bunuh. Aku dan murid-muridku kemudian akan mengambil

gadis itu. Bukankah sama saja? Karena itu lebih baik bagimu untuk

mencoba menyelamatkan dirimu.”

Witantra sekali lagi menggeram. Tetapi ia tidak menjawab.

Bahkan serangannya menjadi bertambah garang. Kini Witantra itu

menyadari benar-benar, apakah yang sedang dihadapi. Karena itu,

semuanya akan tergantung kepadanya, kepada kemampuannya

melawan Empu Sada itu.

Dengan demikian maka seakan-akan Witantra menjadi semakin

tangguh. Kini ia semakin didorong oleh tekadnya. Tekad memeluk

tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Melihat tandang Witantra, Empu Sada mengumpat di dalam hati.

Perwira prajurit pengawal Akuwu itu benar-benar memiliki

kemampuan jasmaniah yang luar biasa. Bukan saja Witantra, tetapi

kedua saudaranya yang lain pun segera mengerahkan segenap

kemampuan mereka. Mereka harus mencoba bertahan sejauh

mungkin. Mereka tidak ingin gagal dalam tugasnya. Ken Dedes itu

benar-benar telah dipercayakan kepada mereka oleh Akuwu

Tunggul Ametung. Tetapi kalau mereka tidak mampu melawan

Empu Sada, maka berarti mereka gagal menjalankan tugas mereka.

Karena itu, maka hanya mautlah yang dapat menghentikan

perjuangan mereka, melakukan tugas mereka dengan penuh

tanggung jawab.

Witantra bertiga dengan kedua saudara seperguruannya itu pun

kemudian menyerang Empu Sada seperti angin pusaran. Mereka

berputaran dalam satu lingkaran mengelilingi orang tua itu. Setiap

kali mereka melontarkan serangan berganti-ganti.

Namun berkali-kali mereka menjadi kecewa. Apabila mereka

menekan orang tua itu dengan segenap kemampuan mereka, tibatiba

Empu Sada itu melenting, dan sesaat kemudian orang itu telah

berada di luar lingkaran mereka. Bahkan kemudian Empu Sadalah

yang mengambil sikap, menyerang ketiganya dalam gerak yang

beruntun.

Tetapi betapa tekanan Empu Sada atas mereka bertiga, namun

Witantra sama sekali tidak berhasrat memanggil seorang atau dua

orang bawahannya. Ia yakin, bahwa di dalam semak-semak itu

masih bersembunyi beberapa orang yang siap untuk bertindak.

Bahkan Witantra yakin, bahwa Kuda Sempana ada di antara

mereka. Apabila para pengawal lengah, Kuda Sempana sendiri akan

mengambil Ken Dedes. Sikap itu adalah sikap yang dapat

memberinya kepuasan, seakan-akan ia sendirilah yang berhasil

menyergap rombongan bakal permaisuri itu. Sedang apabila ada

satu dua orang yang berhasil menyampaikan kejadian ini kepada

akuwu, maka Kuda Sempana sendirilah yang harus bertanggung

jawab. Bagi Kuda Sempana yang telah melarikan diri dari istana itu,

maka baginya hampir tak ada bedanya. Memberontak seperti

keadaannya sekarang, atau memberontak karena melarikan Ken

Dedes. Ia pasti telah mempunyai perhitungannya sendiri. Ke mana

ia harus bersembunyi.

Ternyata perhitungan Witantra itu sebagian besar adalah benar,

Empu Sada sengaja memperlambat serangan-serangannya, supaya

Witantra berusaha untuk memanggil orang-orangnya, atau orangorangnyalah

yang akan bertebaran mencarinya. Tetapi agaknya

Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra dan para perwira

berhasil membuat perhitungan pula, sehingga mereka sama sekali

tidak berusaha mencari Witantra dan kedua saudara

seperguruannya. Karena itu, maka segera Empu Sada membuat

cara lain untuk memancing orang-orang Witantra yang hampir tidak

tahu sama sekali apa yang telah terjadi selain kedua perwiranya.

Empu Sada akan berusaha menekan Witantra dan kedua

saudaranya justru mendekati perkemahan rombongannya.

Demikianlah maka sesaat kemudian gerak Empu Sada itu pun

menjadi semakin lincah. Dengan tongkat panjangnya ia menyerang

ketiga bersaudara seperguruan itu semakin sengit.

Tongkat panjangnya berputar dari satu arah, seolah-olah ia

sedang menggembalakan itik dan membawanya ke dalam air yang

tergenang.

Apabila orang-orang di dalam rombongan itu melihat

pemimpinnya bertempur, maka mau tidak mau, mereka pasti akan

tergerak dengan sendirinya. Pada saat itulah Kuda Sempana dan

kawan-kawannya harus bertindak. Setelah mereka berhasil

membawa Ken Dedes, maka rombongan prajurit itu harus segera

ditinggalkan. Apabila mungkin jangan ada korban satu pun yang

jatuh. Dengan demikian, maka peristiwa itu pasti akan

menggemparkan Tumapel. Peristiwa itu bagi Empu Sada dan muridmuridnya

akan merupakan suatu permainan yang sangat

menggembirakan. Sebab yang akan terjadi kemudian adalah,

Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kawan-kawannya pasti

dinyatakan bersalah, dan kemungkinan yang terbesar adalah,

dihukum gantung di alun-alun. Hukuman itu pasti lebih baik

daripada apabila Witantra dan kawan-kawannya mati di dalam

pertempuran ini. Sebab dengan demikian, maka Witantra masih

akan mendapat kehormatan, sebagai seorang yang gugur dalam

melakukan tugasnya.

Tetapi Witantra yang cukup berpengalaman itu dapat menebak

maksud Empu Sada, sehingga dengan demikian, ia berusaha

sekuat-kuatnya, untuk menghindari tekanan Empu Sada itu. Apabila

mungkin Witantra berusaha untuk mengelak dan meloncat ke arah

yang lain. Tidak ke arah rombongannya.

Namun Empu Sada ternyata benar-benar sakti. Dengan berbagai

macam unsur gerak dan serangan-serangan, tanpa dikehendakinya,

bahkan tanpa disadarinya, Witantra semakin lama menjadi semakin

dekat dengan perkemahan Ken Dedes. Bahkan Witantra itu pun

terkejut bukan buatan, ketika di ujung pepohonan, sekali-sekali ia

melihat sinar api yang menyentuh dedaunan. Dengan demikian,

Witantra segera mengerti bahwa ia telah berada semakin dekat

dengan rombongannya.

Dengan marahnya Witantra menggeram. Tetapi yang terdengar

adalah suara Empu Sada, “Nah, aku sekarang mempunyai rencana

yang lain. Aku tidak memancingmu menjauhi rombonganmu, supaya

kawan-kawanmu mencarimu, tetapi justru aku mendekatkan kalian

kepada rombongan kalian. Apabila ada di antara mereka yang

mendengar suara pertempuran pasti mereka akan menjadi ribut dan

mau tidak mau mereka pasti akan mencoba membantumu.

Witantra tidak menjawab. Namun ia masih berusaha menjauhi

rombongannya sebelum seorang pun dari mereka mengetahui.

Tetapi alangkah marahnya perwira prajurit itu. Ternyata Empu Sada

benar-benar licik. Dengan lantangnya ia berkata, “Ha, Witantra,

apakah kau masih mengharap untuk dapat hidup?”

Suara Empu Sada itu menggema seakan-akan memenuhi seluruh

hutan. Sehingga dengan demikian, maka suara itu telah

mengejutkan para prajurit yang berada di perkemahan. beberapa di

antara mereka segera berloncatan bangun dengan menggenggam

senjata mereka, sedang beberapa orang yang lain, masih mencoba

mendengarkan dari mana arah suara itu.

Sidatta yang telah mendengar pesan Witantra lewat Kebo Ijo,

terkejut pula mendengar suara itu. Suara itu sama sekali bukan

suara Witantra. Karena itu, maka ia pun berdiri pula sambil

memperhatikan perkembangan keadaan dengan seksama. Demikian

pula perwira yang seorang lagi. Segera ia pun berdiri pula, dan

tanpa sesadarnya tangannya telah hinggap di hulu-hulu pedangnya.

Ken Dedes mendengar pula suara Empu Sada itu. Terasa

dadanya bergetar. Namun kemudian dilihatnya para pengawalnya

yang telah bersiap menghadapi kemungkinan. Karena itu hatinya

menjadi agak tenteram.

Witantra yang tahu benar maksud Empu Sada mengumpat di

dalam hatinya. Apabila pancingan itu berhasil maka akan lemahlah

pengawalan atas Ken Dedes, sehingga akan memberi kesempatan

kepada Kuda Sempana untuk menculiknya.

Dalam pada itu sekali lagi terdengar Empu Sada berkata sambil

tertawa, “Jangan lari Witantra. Di sinilah gelanggang untuk

mengadu tenaga. Bukan di situ.”

“Setan!” Witantra tidak dapat lagi menahan hati. Untuk

mencegah anak buahnya berlarian ke pertempuran itu segera ia pun

berteriak, “Tetap di tempatmu Sidatta. Aku hanya menangkap

kelinci tua. Aku tidak perlu orang-orang lain.”

Empu Sada tertawa terkekeh-kekeh. Namun tongkatnya masih

saja berputar, bahkan melanda ketiga saudara seperguruan itu

seperti badai. Tekanan Empu Sada benar-benar terasa sangat

ketatnya, sehingga pertempuran itu pun setapak demi setapak

beringsut ke tempat yang tidak dikehendaki oleh Witantra.

Betapa marahnya hati perwira tertinggi pasukan pengawal istana

itu. Tetapi betapa ia telah mencurahkan segenap kemampuannya

bersama kedua adik seperguruannya, namun ia sama sekali tidak

berhasil mendorong Empu Sada masuk ke dalam hutan yang lebih

dalam. Bahkan Empu Sada itu pun menjadi semakin cepat bergerak,

seperti sebuah bayangan yang meloncat-loncat mengitari ketiga

bersaudara itu.

Tetapi Witantra dan kedua saudaranya tidak berputus asa.

Mereka masih tetap dalam perlawanan yang rapi. Betapa saktinya

Empu Sada, tetapi melawan ketiga anak-anak muda itu, diperlukan

pula hampir segenap kemampuannya.

Para prajurit di perkemahan menjadi gelisah. Apalagi ketika

mereka menunggu beberapa saat, Witantra masih belum muncul di

antara mereka. Berbagai pertimbangan melingkar di dalam kepala

Sidatta.

Apalagi ketika terdengar kembali suara tertawa Empu Sada

semakin dekat. “Lihat Witantra. Betapa buruk perangaimu. Tak,

seorang pun di antara anak buahmu, yang bukan seperguruan

denganmu, bersedia membantumu. Betapa luka hampir memenuhi

tubuhmu, namun mereka akan bergembira, apabila kau mati di

hutan ini. Sidatta akan segera mendapat pengangkatan,

menggantikan kedudukanmu, sedang yang lain pun akan desak

mendesak setingkat ke atas.

“Jangan berputus asa,” tiba-tiba terdengar Witantra memotong,

“Bertempurlah dengan senjata, jangan dengan kata. Mungkin kau

kecewa setelah kau melihat cara Witantra mempertahankan dirinya.

Kau semula pasti menyangka bahwa pasukan pengawal Akuwu

adalah semacam pasukan kehormatan, yang hanya mampu

memanggul panji-panji dan tunggul. Tetapi sekarang kau

menghadapi salah seorang daripadanya dalam suatu perkelahian.”

Empu Sada menggeram. Kemarahannya semakin lama semakin

menyala membakar ubun-ubunnya.

“Kau jangan gila Witantra,” katanya, “kalau aku menjadi benarbenar

marah, maka kau benar-benar akan aku bunuh bertiga.”

Kini Witantralah yang tertawa, “Kalau kau mampu membunuh

kami, maka pasti sudah kau lakukan.”

Tetapi suara Witantra itu terputus, ketika tongkat Empu Sada

menyambar keningnya. Untunglah bahwa ia masih sempat

menghindar meskipun tergesa-gesa. Dalam keadaan itu, hampirhampir

saja ia kehilangan keseimbangannya.

Empu Sada yang sudah menjadi semakin marah, melihat

kesempatan terbuka baginya. Kalau ia ingin membunuh Witantra,

itulah saat yang sebaik-baiknya. Ia dapat menusuk dada Witantra

dengan ujung tongkatnya yang meskipun tidak terlampau runcing.

Namun kekuatannya cukup untuk melubangi dada panglima

pasukan pengawal itu. Tetapi sesaat Empu Sada ragu-ragu. Ia ingin

Witantra mati di tiang gantungan sebagai seorang pengkhianat yang

tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik, tidak di medan

peperangan. Namun kalau kesempatan ini tidak dipergunakan,

apakah akan datang kesempatan yang sama, dan apakah benar

Witantra dianggap bersalah nanti oleh Akuwu.

Tiba-tiba Empu Sada menggeram. Ternyata kemarahannya telah

menggelapkan perhitungannya. Witantra, apakah perlu akan

dibunuhnya saat itu juga.

Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata telah menyelamatkan

Witantra. Ketika Empu Sada sedang diragukan oleh perasaannya

sendiri. Witantra sudah sempat memperbaiki keadaannya. Apalagi

demikian Empu Sada mengambil sikap, Mahendra dan Kebo Ijo

datang bersama-sama dalam sebuah serangan berpasangan yang

berbahaya. Sehingga Empu Sada terpaksa meloncat menghindar.

Namun demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melenting

sambil mengayunkan tongkatnya. Sekali lagi pelipis Witantra hampir

disambar oleh tongkat itu. Sekali lagi Witantra meloncat surut

beberapa langkah untuk menghindari tongkat itu. Namun Empu

Sada pun kemudian menyerangnya seperti banjir bandang.

Witantra menjadi kesulitan pula menghindari serangan-serangan

itu. Serangan yang semakin cepat dan berbahaya. Tetapi kembali

Mahendra dan Kebo Ijo mencoba memotong setiap serangan Empu

Sada dengan serangan-serangan yang cukup berbahaya pula. Kedua

anak muda itu bertempur seperti sepasang alap-alap di udara.

Sedang Witantra itu pun kemudian memimpin kembali perlawanan

atas Empu Sada sebagai seekor rajawali.

Namun yang tidak dikehendaki oleh Witantra adalah, mereka

menjadi semakin dekat dengan perkemahannya. ketika sekali lagi ia

terdorong surut bersama Mahendra, maka mereka ternyata telah

meloncat ke dalam daerah cahaya perapian dari kawan-kawan

mereka.

Para prajurit Tumapel terkejut melihat perkelahian itu. Apalagi

mereka melihat Witantra dan Mahendra berada dalam bahaya.

Namun mereka segera melihat, Kebo Ijo melontarkan diri seperti

tatit menyambar di langit, menusuk langsung lambung Empu Sada.

Meskipun serangan Kebo Ijo itu dapat dielakkan, namun saat yang

pendek itu telah memberi kesempatan kepada Witantra dan

Mahendra untuk memperbaiki kedudukannya.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada tertawa kembali dengan

lantangnya ia berkata, “He para prajurit Tumapel yang perkasa.

Inilah pemimpin yang sedang menangkap kelinci tua itu. Lihatlah,

apakah ia mampu melawan Empu Sada yang sudah tua ini. Tidak

hanya seorang diri, tetapi bertiga dengan kedua saudara

seperguruannya.”

Semua mata melihat perkelahian itu. Semua hati menjadi

berdebar-debar pula karenanya.

Ken Dedes pun kemudian dengan serta-merta berdiri. dengan

penuh kekhawatiran ia melihat perkelahian yang kemudian berkobar

kembali dengan sengitnya.

Sidatta masih berdiri terpaku di tempatnya. Sesaat ia dicengkam

oleh keragu-raguan. Ingin ia meloncat membantu Witantra melawan

Empu Sada, Tetapi segera teringat olehnya, Ken Dedes yang berdiri

gemetar. Gadis itu harus mendapat pengawalan yang baik menurut

pesan Witantra.

Namun sekian lama ia menjadi semakin cemas melihat

perkelahian yang berlangsung. Ia membiarkan beberapa orang

prajurit mencoba membantu, Witantra. Namun Witantra sendiri

berkata, “Jangan mempersulit pekerjaan kami. Minggir, jangan

dekati orang tua gila ini.”

Empu Sada tertawa, katanya, “Mari, marilah beramai-ramai

menangkap kelinci.”

Witantra menggeram, namun Empu Sada mendesaknya terus.

Akhirnya Sidatta tidak tahan lagi melihat pertempuran itu.

Dengan lantang ia berkata kepada perwira yang seorang lagi, “Bawa

beberapa orang prajurit pilihan kemari. Pagari Tuan putri dengan

pedang dan tombak. Aku akan ikut serta dalam perkelahian itu.”

Perwira yang satu itu pun segera mengatur beberapa orang

prajurit, berdiri rapat melingkari Ken Dedes dengan senjata

telanjang di tangannya. Mereka telah bersiap menghadapi setiap

kemungkinan. Beberapa orang prajurit yang lain dengan ragu-ragu

berlari-lari kian kemari, mencoba membantu Witantra menghadapi

Empu Sada. Tetapi apa yang mereka lakukan, hampir tak berarti

sama sekali.

Setelah Sidatta melihat persiapan yang dapat dipercaya dalam

pengawalan Ken Dedes, barulah ia meloncat mendekati Empu Sada.

Dengan garangnya segera ia menerjunkan diri ke dalam

pertempuran itu. Dengan tenaganya yang masih segar, Sidatta

berusaha untuk berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Witantra yang juga melihat cara Sidatta memagari Ken Dedes

tidak menolak bantuan Sidatta itu. Bagaimanapun juga ia harus

mengakui, betapa mereka bertiga mengalami banyak kesulitan

untuk melawan Empu Sada.

Dengan kehadiran Sidatta, maka tekanan-tekanan Empu Sada

pun menjadi berkurang. Meskipun Sidatta bukan saudara

seperguruan Witantra, namun karena keterampilannya, segera ia

berhasil menyesuaikan dirinya dalam pertempuran bersama itu.

Meskipun beberapa, orang prajurit yang mencoba membantu

mereka melawan Empu Sada hampir tak berarti, namun ternyata

mereka telah mempengaruhi gerak orang tua itu, sehingga dengan

geramnya ia berkata, “Hem, apakah cucurut-cucurut ini juga ingin

melawan Empu Sada. Pergilah sebelum ada di antara kalian yang

mati terinjak-injak kaki.”

Tetapi para prajurit itu tidak meninggalkan perkelahian. mereka

tetap berlari berputaran, mencari kesempatan. Namun kesempatan

itu seakan-akan tidak pernah datang kepada mereka. Bahkan ada di

antara mereka yang saling berbenturan dan saling berdesakdesakan.

Apabila salah seorang dari mereka mencoba menghindari

ayunan tongkat Empu Sada maka tanpa disengaja ia telah

mendorong kawannya sehingga mereka berdua jatuh bergulingguling.

Sekali Empu Sada melihat juga seluruh daerah perkemahan itu.

Dilihatnya beberapa orang prajurit siap rapat mengelilingi Ken

Dedes hanya di bawah pimpinan seorang perwira. Sedang yang lain,

yang tidak ikut dalam perkelahian ini, mencoba menjaga setiap

sudut perkemahan itu.

Tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Perwira yang menjaga Ken

Dedes adalah perwira bawahan Sidatta, sehingga setinggi-tinggi

ilmunya, masih belum melampaui Kuda Sempana atau muridmuridnya

yang lain. Karena itu Empu Sada itu menganggap bahwa

waktunya telah cukup masak untuk memanggil Kuda Sempana dan

kawan-kawannya, untuk bertindak. Mereka akan datang dari jurusan

yang berbeda. Beberapa orang murid dari murid-muridnya, di

antaranya murid-murid orang yang menamakan Bahu Reksa Kali

Elo, dan murid-murid dari seorang saudara seperguruannya yang

lain, Sungsang.

Murid-murid itu tidak perlu bertempur mati-matian untuk

membinasakan prajurit-prajurit Tumapel itu. Mereka hanya

berkewajiban untuk memancing perhatian para prajurit. Apabila

mereka telah terlibat dalam satu pertempuran, maka adalah

kewajiban Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang untuk mengambil

Ken Dedes.

“Semuanya akan berjalan dengan lancar,” berkata Empu Sada di

dalam hatinya, “perhitunganku tidak terlampau jauh dari keadaan

kini. Tiga orang muridku telah cukup. Aku tidak perlu memanggil

mereka yang bertempat tinggal terlampau jauh. Dan murid-muridku

itu telah membawa murid-muridnya cukup banyak untuk keperluan

ini.”

Empu Sada itu tersenyum. Kuda Sempana akan mendapatkan

Ken Dedes, sedang muridnya yang lain akan mendapatkan

perhiasan gadis itu yang tidak ternilai harganya. Perhiasan yang

dikenakan oleh seorang bakal permaisuri.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada itu berteriak nyaring

melontarkan aba-aba untuk segera melakukan rencana mereka.

Beberapa orang terkejut mendengar teriakan itu, tetapi setiap

orang segera menyadari, bahwa bahaya yang lebih besar lagi segera

akan menimpa rombongan itu.

Perwira yang satu, yang bertugas mengamankan Ken Dedes

menangkap pula isyarat itu sebagai suatu perintah kepadanya,

untuk menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. karena itu,

maka segera ia meloncat semakin dekat di samping tandu Ken

Dedes sambil berbisik, “Tuan putri, jangan cemas. Namun Tuan

putri pun sebaiknya bersiap-siap di samping tandu. Mungkin Tuan

putri harus segera naik dan melakukan perjalanan yang tergesagesa

di malam hari ini.”

Wajah Ken Dedes pun segera menjadi pucat. Peringatan itu

baginya justru suatu berita, bahwa bahaya yang sebenarnya adalah

cukup besar. Namun gadis itu tidak menjawab. Setapak ia beringsut

mendekati tandunya, sedang para pengusung pun segera bersiap

pula di sampingnya. Setiap saat para pengusung itu harus

memanggul tandu Ken Dedes, mungkin dengan berlari-lari, bahkan

mungkin mereka harus memegangi tandu dengan sebelah tangan,

sedang tangan yang lain harus menggenggam senjata mereka.

Apa yang mereka tunggu-tunggu itu pun segera datang. Dari

dalam semak-semak di sekitar mereka, segera berloncatan beberapa

orang dengan pedang di tangan. Mereka berteriak-teriak dengan

riuhnya seperti kanak-kanak sedang mengejar tupai.

Sidatta yang sedang bertempur bersama-sama dengan Witantra

dan kedua saudara seperguruannya menjadi bimbang. Apakah ia

harus meninggalkan perkelahian itu, atau ia harus tetap berkelahi

bersama dengan Witantra. kedua-duanya baginya sama beratnya.

Tetapi segera ia mengambil keputusan di dalam hatinya, “Aku

akan melihat apa yang terjadi. Apabila prajurit Tumapel tidak

berdaya menghadapi orang-orang itu, maka aku harus segera

membantu mereka.”

Dalam pada itu, para pengawal segera berloncatan pula

menyongsong penyerangnya. Beberapa orang benar-benar telah

bersiap di sudut-sudut perkemahan, sedang yang lain masih tetap

dalam lingkaran di sekitar Ken Dedes bersama seorang perwiranya.

Wajah Ken Dedes menjadi bertambah pucat melihat orang-orang

yang ganas dan kasar itu menyerang para pengawalnya sambil

berteriak mengerikan. Dengan pedang yang terayun-ayun di atas

kepalanya, mereka benar-benar telah menggemparkan hati para

prajurit Tumapel. Untunglah bahwa sebagian dari para prajurit itu

pun telah cukup berpengalaman, sehingga sesaat kemudian mereka

telah menemukan keseimbangan mereka kembali. Dengan demikian

maka mereka kemudian dapat bertempur dalam sikap yang wajar.

Segera terjadi hiruk-pikuk di perkemahan itu. Hampir di segala

sudut terjadi perkelahian-perkelahian yang ribut. Orang yang

menyerang perkemahan itu benar bertempur menurut kehendak

mereka sendiri. Di manapun dan dalam sikap yang bagaimana pun

juga.

Tetapi ketika perkelahian telah berlangsung beberapa lama

segera Witantra melihat, bahwa orang-orang itu sengaja memancing

perkelahian menjauhi gadis bakal permaisuri Akuwu Tumapel itu.

Witantra menjadi semakin cemas menghadapi gerombolan yang

tampaknya benar-benar liar. Tetapi Witantra menyadari, bahwa

sebenarnya orang-orang yang menyerang rombongannya bukanlah

orang-orang yang terlampau liar, namun sengaja mereka membuat

kesan, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat sekehendak

hati mereka tanpa ada orang lain yang dapat mencegahnya. Liar,

kasar dan ganas.

Ternyata bukan saja Witantra yang menjadi cemas, tetapi juga

Mahendra dan Sidatta, bahkan Kebo Ijo yang hampir tidak menaruh

perhatian apapun terhadap Ken Dedes, bahkan kadang-kadang ia

menghina di dalam hatinya, namun kali ini hatinya dicengkam oleh

kecemasan juga. Cemas bahwa akuwu pasti akan menimpakan

kesalahan kepada Witantra, dan cemas bahwa nilainya sebagai

seorang laki-laki dan prajurit, apalagi dalam satu rombongan, benarbenar

dibinasakan oleh sebuah gerombolan dari orang-orang yang

tidak mempunyai kedudukan dan nama.

Perwira yang masih tetap berdiri di samping Ken Dedes

menyadari pula atas apa yang sedang terjadi. Karena itu, ia sama

sekali tidak bergeser dari tempatnya. Di tangan kanannya

tergenggam sebuah pedang yang mengkilap, sedang di tangan

kirinya sebuah pisau belati panjang. Sesuatu pasangan senjata yang

selama ini diandalkannya di medan-medan perang.

Beberapa orang yang berdiri memagari Ken Dedes pun

diperintahkannya untuk tetap berada di tempatnya. Selama keadaan

mereka yang bertempur tidak terlampau jelek, maka setiap orang

yang berjaga-jaga di sekitar Ken Dedes masih harus tetap di

tempatnya.

Dalam pada itu pertempuran di sekitar tempat itu semakin lama

menjadi semakin ribut. Orang-orang Empu Sada bertempur tanpa

mengingat nilai-nilai yang biasanya menjadi pegangan bagi setiap

orang yang merasa dirinya cukup jantan. Mereka bertempur sambil

berlari-lari, berteriak-teriak dan kadang-kadang mempergunakan

senjata-senjata yang kotor. Batu dan pasir.

Witantra mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia sama sekali

tidak dapat melepaskan Empu Sada. Orang itu bertempur semakin

lama justru menjadi semakin dahsyat, meskipun kini ia harus

berhadapan melawan empat orang terbaik dari rombongan

pengawal Ken Dedes.

Bahkan orang tua itu masih sempat tertawa dan berkata, “Nah.

Apakah yang dapat kalian lakukan untuk melawan orang-orangku?”

“Orang-orang seliar serigala,” bentak Witantra, “mereka tidak

menghormati sama sekali nilai-nilai perseorangan.”

“Apa pedulimu,” sahut Empu Sada, “tetapi sadarilah, bahwa

apabila kau tidak memerintahkan menghentikan perlawanan, maka

semua orang-orangmu akan tertumpas habis.”

“Persetan!” teriak Witantra.

Empu Sada itu pun masih saja tertawa. Tiba-tiba sekali lagi ia

berteriak, “Jangan terlampau lama bersembunyi. Nah, kini sudah

waktunya bagi kalian untuk memetik bunga itu. Di sampingnya

hanya ada seorang yang perlu kalian perhatikan, yang lain adalah

semudah mematahkan ranting-ranting kering.”

Kata-kata Empu Sada itu terdengar benar-benar seperti petir

menyambar di atas kepala Witantra, Mahendra, Kebo Ijo, Sidatta

dan para prajurit Tumapel yang lain. Dengan demikian, segera

mereka menyadari bahwa lawan mereka segera akan bertambah.

Dan yang akan datang pasti bukan sekedar gerombolan liar yang

hanya mampu berlari-lari dan berteriak-teriak, tetapi pasti orangorang

terpilih dari antara orang-orang Empu Sada itu.

Perwira yang berdiri di samping Ken Dedes pun menyadarinya,

sehingga karena itu segera pula keluar perintahnya, “Hadapi setiap

kemungkinan tanpa ada kesempatan meninggalkan tempat ini bagi

kalian dan kami semuanya.”

Perintah itu tegas dan jelas bagi setiap prajurit Tumapel. Perintah

itu sama bunyinya dengan, “Bertempur sampai mati!”

Setiap prajurit Tumapel mengatupkan mulutnya rapat-rapat,

namun gigi mereka bergemeretak. Mereka menyadari sepenuhnya

apa yang harus mereka lakukan demi tugas mereka. Ken Dedes bagi

mereka hampir sama nilainya dengan akuwu sendiri, sebab gadis itu

kini dalam sikap kebesaran seorang permaisuri.

Orang-orang Empu Sada yang lain, yang mendengar perintah itu,

segera bersorak semakin riuh. Mereka berteriak-teriak seperti

serigala kelaparan. Namun dalam pada itu, serangan-serangan

mereka pun meningkat semakin garang pula.

Dari dalam semak-semak segera muncul beberapa orang

berloncatan menerjunkan diri ke dalam pertempuran itu. Seperti

orang-orang yang terdahulu, segera mereka pun berteriak-teriak

dan memutar senjata-senjata mereka. Namun belum seorang pun

dari mereka yang menyerang para prajurit Tumapel yang berdiri

melingkari Ken Dedes.

Witantra dan para prajurit Tumapel yang melihat datangnya

orang-orang baru itu menjadi heran. Tidak ada tanda-tanda bahwa

mereka adalah orang-orang yang terpilih. Gerak, tandang serta cara

mereka bertempur tak ubahnya dengan cara-cara yang

dipergunakan oleh kawan-kawan mereka sebelumnya. Namun

karena itu, maka Witantra dan para prajurit yang lain itu masih

harus menunggu, bahwa akan datang saatnya, lawan-lawan yang

lebih berat akan berdatangan.

Tetapi pertempuran itu sudah berjalan beberapa saat. Sedang

keadaan medan masih belum berubah. Empu Sada masih harus

menghadapi keempat lawannya yang tidak dapat dianggap seperti

sedang bermain kucing-kucingan, sedang orang-orang lain masih

bertempur dengan riuhnya. Namun prajurit yang bertugas khusus di

sekitar Ken Dedes beserta pimpinannya, sama sekali belum

tersentuh oleh lawan. Mereka masih tetap berdiri kaku tegang.

Bahkan mereka hampir tidak tahan lagi menunggu terlampau lama,

siapakah yang harus menjadi lawan-lawan mereka.

Dalam kegelisahan Witantra sempat memperhatikan sikap Empu

Sada yang gelisah pula. Sekali-sekali orang tua itu memerlukan

waktu untuk menjauhi lawannya, dan menebarkan matanya

berkeliling. Kesimpulan Witantra adalah, Empu Sada masih

menunggu orang-orangnya yang lain.

Sebenarnyalah bahwa Empu Sada menjadi gelisah. Seharusnya

orang-orangnya yang terpenting dalam rencana ini, sudah mulai

berbuat sesuatu. Mungkin mereka segera akan berhasil.

Tetapi orang yang ditunggunya itu sama sekali belum

menampakkan dirinya.

“Apakah perubahan kecil ini telah mempengaruhi mereka?”

pertanyaan itu menyentuh dinding hati Empu. Sada. Tetapi

kemudian dijawabnya sendiri, “Perubahan itu tidak terlalu sulit.

Orang-orang lain, bahkan orang-orang yang lebih bodoh dari

mereka, dapat mengerti keadaan yang tidak tepat mengerti keadaan

yang tidak tepat seperti rencana semula ini, dan mereka dapat

segera menyesuaikan dirinya pula. Orang-orang ini dapat mengerti,

bahwa aku tidak jadi membawa Witantra dan orang-orang penting

lainnya meninggalkan perkemahan, justru aku membawa mereka

masuk ke dalamnya namun mengikat mereka dalam suatu

pertempuran. Mustahil, mustahil kalau perubahan kecil ini

menjadikan mereka kebingungan.”

(bersambung )

 

Jilid 17

NAMUN SESAAT kemudian kembali timbul pertanyaan. Tetapi

kenapa Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang belum juga

menampakkan dirinya? Kalau para prajurit Tumapel ini dibiarkan

terlampau lama menunggu, maka mereka akan berhasil menguasai

keadaan. Tetapi kalau sekarang ketiganya datang dan menyerang

beberapa orang prajurit yang mengawal Ken Dedes itu, maka

agaknya Kuda Sempana akan berhasil membawa gadis itu. Sebab

Empu Sada yakin, bahwa ketiga muridnya akan dapat mengalahkan

beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga di sekitar Ken Dedes.

Tetapi Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang yang ditunggutunggunya

tidak juga segera datang. Apakah mereka tidak

mendengar segala macam keributan ini karena mereka terlampau

jauh bersembunyi, atau tiba-tiba mereka tertidur di tempat

persembunyian mereka?

Dalam kegelisahan itu maka terdengar Empu Sada berteriak

nyaring, “Kuda Sempana. Telah sampai saatnya kau melakukan

tugasmu.”

Suara Empu Sada itu menggelora seolah-olah memenuhi hutan

itu. Daun-daunan bergetaran dan ranting-ranting bergoyang-goyang

karena gelombang suara orang tua itu. Gemanya memukul setiap

pepohonan dan membuat bunyi ulangan yang serupa melingkari

sampai jarak yang sangat jauh.

Tetapi Empu Sada tidak segera melihat ketiga muridnya. Bahkan

yang dilihatnya, para prajurit Tumapel semakin lama semakin

menguasai keadaan. Apalagi ketika Empu Sada kemudian melihat,

bahwa orang-orangnya telah mulai lelah karena gerak dan tandang

mereka yang berlebih-lebihan. Sebab menurut perhitungan mereka,

apa yang terjadi dengan mereka, tidak akan berlangsung lama.

Witantra dan kawan-kawannya pun menjadi heran. Kenapa Kuda

Sempana yang telah dipanggil oleh gurunya itu tidak juga muncul.

Namun dengan demikian timbullah berbagai dugaan di antara

mereka. Di antaranya menyangka bahwa Kuda Sempana sengaja

menunggu sampai orang-orang Tumapel menjadi lengah benarbenar,

sedang yang lain menganggap bahwa apa yang terjadi itu

telah berubah dari rencana semula.

Tetapi bagi Ken Dedes sendiri, nama Kuda Sempana itu telah

hampir membuatnya pingsan. Kuda Sempana bagi Ken Dedes

sungguh menakutkan, melampaui hantu yang paling mengerikan

sekalipun.

Ternyata kini orang yang menakutkan itu datang kembali

kepadanya, bahkan kali ini dengan membawa sejumlah kawan yang

bersedia membantunya.

Meskipun Ken Dedes merasa, bahwa para prajurit Tumapel telah

berusaha melindunginya sejauh mungkin, namun melihat keributan

perkelahian itu, hati Ken Dedes pun menjadi sangat cemas

karenanya. Ia menyesal bahwa ia telah menyebut Kuda Sempana

sebagai alasan untuk memohon kepada akuwu sejumlah pengawal

yang akan mengantarnya. Ternyata ucapannya itu kini terjadi,

seperti sebuah mimpi daradasih.

Karena itu maka kini Ken Dedes telah berpegangan erat-erat

pada tandunya, seolah-olah ia ingin segera meloncat masuk dan

dengan cepat-cepat berjalan ke Panawijen.

Dalam keadaan yang demikian, teringat olehnya murid ayahnya,

Mahisa Agni yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya

sendiri. Telah beberapa kali Mahisa Agni melepaskannya dari tangan

Kuda Sempana. Meskipun kemudian Kuda Sempana berhasil

membawanya, namun yang terjadi itu adalah benar-benar di luar

kemampuan Mahisa Agni. Kini Kuda Sempana itu kembali

menghantuinya. Dan di sini tidak ada Mahisa Agni. Justru ia sedang

berjalan ke padukuhan Mahisa Agni, untuk menunjukkan

kebesarannya, supaya Mahisa Agni menyadari, bahwa ia telah salah

menafsirkan maksud Akuwu Tunggul Ametung.

Pertempuran yang hiruk-pikuk masih terjadi. Orang-orang Empu

Sada masih saja bertempur sambil berteriak-teriak. Namun Kuda

Sempana dan kedua saudara seperguruannya masih belum

menampakkan dirinya.

Empu Sada yang gelisah, sekali lagi berseru, “He, Kuda

Sempana! Apakah kau tertidur? Cepat bangunlah, pertempuran

telah hampir selesai. Pintu telah terbuka bagimu.”

Suara Empu Sada itu pun melontar memenuhi hutan. Di kejauhan

terdengar suara anjing hutan menggonggong berkepanjangan,

seakan-akan menyahut seruan orang tua bertongkat panjang itu.

Namun Kuda Sempana belum juga tampil ke medan peperangan.

Empu Sada pun menjadi semakin gelisah. Namun dengan

demikian kemarahannya pun semakin menyala di dalam dadanya.

Dalam kegelisahan itu Empu Sada mencoba membuat perhitungan

atas anak buahnya dan para prajurit Tumapel. Ketika ia mendengar

salah seorang dari orangnya memekik tinggi dan kemudian jatuh

terguling karena dadanya tersobek oleh ujung tombak, maka

matanya yang cekung, tiba-tiba seperti memancarkan api. Korban

telah jatuh di pihaknya, sedang Kuda Sempana belum juga

menampakkan dirinya. Di samping kemarahannya, orang tua itu pun

menjadi jengkel pula kepada Kuda Sempana.

Tetapi tempat yang paling baik untuk menumpahkan

kemarahannya itu adalah Witantra dan kawan-kawannya. Karena

itu, maka segera ia mengambil keputusan, untuk secepat-cepatnya

membinasakan Witantra dan kawan-kawannya, kemudian

membinasakan segenap prajurit Tumapel sebelum orang-orangnya

menjadi punah. Bersama-sama dengan orang-orangnya itu, maka ia

pasti segera akan dapat melumpuhkan pasukan Tumapel itu, untuk

seterusnya dengan kasar mengambil gadis bakal Permaisuri Akuwu

Tumapel untuk muridnya. Tetapi apabila diingatnya, bahwa

muridnya kini sama sekali tidak menampakkan dirinya, maka Empu

Sada pun menjadi ragu-ragu untuk melakukan keputusannya dan

bahkan menjadi acuh tak acuh akan gadis itu. Namun berbagai

pertimbangan yang lain telah mendorongnya untuk meneruskan

rencananya.

“Kalau Kuda Sempana tidak meneruskan rencananya, biarlah.

Aku sudah terlanjur melawan pemimpin prajurit Tumapel ini. Mau

tidak mau aku harus mengambil alih pertanggungjawabannya.

Sehingga wajarlah kalau aku yang akan mengambil kentungan dari

pencegatan ini. Bukankah bakal permaisuri itu memiliki perhiasan

yang tiada tara nilai harganya.”

Dengan ketetapan hati, Empu Sada itu pun kemudian bertempur

dengan hampir segenap kemampuannya supaya pekerjaannya cepat

selesai sebelum orang-orangnya semakin banyak menjadi korban.

Meskipun orang-orang itu adalah murid-murid dari murid-muridnya,

namun ia tidak dapat membiarkan korban berjatuhan apabila hal itu

masih mungkin dihindari.

Demikianlah pertempuran antara Empu Sada dan keempat

lawannya menjadi semakin dahsyat. Terasa bagi keempat lawannya,

bahwa Empu Sada telah benar-benar hampir sampai puncak

kewajaran ilmunya, meskipun ia belum mempergunakan ilmu

pemungkasnya, seperti yang telah diturunkannya kepada muridmuridnya,

Kuda Sempana, Cundaka dan beberapa orang yang lain.

Witantra dan ketiga kawannya terpaksa memeras tenaganya

pula. Namun bagaimanapun juga, terasa bahwa suatu ketika

mereka pasti akan dibinasakan oleh Empu Sada itu Kemudian akan

lenyap pulalah gadis yang harus dipertanggungjawabkan.

Witantra itu pun kemudian menggeram. Alangkah sial namanya.

Ketika ia bertugas untuk mengawal Ken Dedes, seorang bakal

permaisuri Tumapel, hanya dalam jarak antar. Tumapel dan

Panawijen, ia telah gagal. Kematiannya bukanlah hal yang

dicemaskannya. Tetapi dengan hilangnya Ken Dedes, maka

namanya akan menjadi buah pembicaraan setiap prajurit dan

bahkan setiap orang Tumapel, bahwa hilangnya Ken Dedes, adalah

karena tidak kemampuan Witantra, pimpinan pasukan pengawal

istana.

Tetapi ternyata bahwa kegelisahan Empu Sada berpengaruh juga

dalam pertempuran itu. Sekali-sekali orang tua itu masih mencoba

mencari Kuda Sempana di antara orang-orang yang sedang

bertempur hiruk-pikuk itu. Namun setiap kali orang itu menjadi

kecewa dan menggeram marah. Dalam hal demikian, kembali orang

tua itu memperketat serangannya.

Sehingga akhirnya tenaga Kebo Ijo semakin lama semakin

menjadi surut. Nafas Mahendra pun menjadi semakin terengahengah,

bahkan seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Tangkai

pedangnya pun menjadi basah pula, dan terasa seolah-olah pedang

itu ingin meloncat dari genggamannya. Sidatta pun tidak kalah

cemasnya ketika tangannya seakan menjadi semakin lemah.

Tetapi Empu Sada pun tidak pula kalah cemasnya. Ia pun dapat

menduga bahwa sebentar lagi, korban akan berjatuhan di pihaknya

apabila Kuda Sempana dan kawan-kawannya tidak segera tampil ke

medan. Betapa ia mengerahkan kemampuannya untuk membunuh

Witantra dan kawan-kawannya sebelum ia berhasil membantu

orang-orangnya, namun ia memerlukan waktu pula.

Karena itu dengan nada penuh kejengkelan sekali lagi ia

berteriak, “He, Kuda Sempana, di mana kau?”

Pertanyaan itu telah menimbulkan pikiran baru bagi para perwira

yang berdiri di samping Ken Dedes. Pertanyaan itu meyakinkannya

bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Sehingga karena

itu ia telah mengambil suatu sikap untung-untungan. Kepada

seorang prajurit yang dipercayainya ia berkata, “Gantikan tempatku.

Berdua, sebelah menyebelah. Aku akan membantu Kakang Witantra

dan Kakang Sidatta, kalau terjadi sesuatu, cepat, panggil aku

kemari.”

“Baik,” sahut prajurit itu yang kemudian berdua dengan seorang

kawannya mereka berdiri sebelah menyebelah tandu Ken Dedes di

dalam lingkaran beberapa kawannya yang lain. Di tangan prajurit itu

tergenggam sebatang tombak pendek dan prajurit yang lain

menggenggam pedang yang panjang.

Ketika kedua Prajurit itu telah bersiap di kedua sisi tandu itu,

maka berkatalah perwira itu kepada Ken Dedes, “Tuan Putri, hamba

mohon izin untuk membantu Kakang Witantra yang agaknya

mengalami kesulitan. Apabila terjadi sesuatu di sini, biarlah hamba

segera datang kemari.”

Ken Dedes ragu-ragu sesaat, tetapi ketika ia melihat kedua

prajurit yang bertubuh besar kekar dan berwajah keras berdiri di

kedua sisi tandunya ia mengangguk sambil berkata, “Tetapi kau

harus segera kembali apabila kami di sini memerlukan.”

“Hamba Tuan Putri,” jawab perwira itu. Dan tanpa menunggu

lagi segera ia meloncat menembus lingkaran prajurit yang

dibuatnya. Dengan tangkasnya segera ia terjun dalam pertempuran

bersama dengan Witantra dengan kawan-kawannya. Sepasang

senjatanya segera berputaran. Dengan kesegaran tenaganya cepat

ia dapat mempengaruhi keadaan.

Witantra terkejut melihat kehadirannya. Karena itu dengan sertamerta

ia bertanya, “Kau datang juga kemari?”

“Aku telah menyerahkannya kepada para prajurit pilihan. Aku

akan segera kembali ke sana kalau diperlukan.”

Witantra tidak menjawab. Ia memang memerlukan bantuan itu.

Dan ia sependapat, apabila diperlukan, biarlah ia meninggalkan

arena ini.

Dengan kehadiran lawan barunya, maka pekerjaan Empu Sada

menjadi kian berat. Namun dengan demikian ia menjadi semakin

marah. Orang baru itu hanya akan mampu memperpanjang waktu,

tetapi tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari bencana.

Tetapi memperpanjang waktu itu pun benar-benar telah

mencemaskan hati Empu Sada. Di sekitarnya ia melihat bahwa

orang-orangnya pun telah menjadi kian sulit. Kalau semua mereka

sengaja membuat kegaduhan dengan serangan-serangan yang tidak

teratur, maka semakin lama mereka benar-benar menjadi tidak

teratur bukan karena kesengajaan. Ternyata prajurit Tumapel lebih

berpengalaman dalam pertempuran bersama. Mungkin orang-orang

Empu Sada itu seorang-seorang tidak kalah dari para prajurit

Tumapel, tetapi kerja sama dan bertempur dalam pasanganpasangan

yang serasi, ternyata para prajurit Tumapel telah

melampaui mereka.

Orang tua bertongkat panjang itu pun menggeram.

Kemarahannya kini telah memuncak. Dengan demikian maka tidak

lagi dapat mengekang dirinya dalam pertempuran itu. Namun

melawan lima orang perwira prajurit pengawal Akuwu Tumapel,

ternyata Empu Sada memerlukan waktu pula.

Sampai demikian jauh, ternyata Kuda Sempana dan kawankawannya

masih belum menampakkan dirinya pula. Bahkan sampai

saat-saat yang sangat mencemaskan Empu Sada, sehingga akhirnya

Empu Sada mengambil keputusan untuk menyelesaikan perkelahian

itu menurut seleranya sendiri. Ia tidak tertarik lagi kepada

rencananya yang telah disusunnya bersama Kuda Sempana.

“Aku musnahkan saja semua orang Tumapel ini,” katanya di

dalam hati. Dan ia benar-benar ingin melaksanakannya.

Ken Dedes yang melihat perkelahian itu, hatinya benar-benar

menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang sedang berlangsung antara

Empu Sada dan kelima lawannya. Namun menurut penilaian Ken

Dedes, apabila lawan Witantra bukan benar-benar orang yang

sangat sakti, maka ia pasti tidak memerlukan tiga orang untuk

mencoba melawannya. Bahkan lima orang pun tidak segera dapat

mengatasi keadaan. Mereka seakan-akan hanya mampu berlari-lari

melingkari Empu Sada, untuk kemudian berloncatan menjauh

bersama-sama sebelum satu dua orang menyerangnya dari arah

yang berbeda.

Tetapi apabila Ken Dedes melihat pertempuran di sudut-sudut

yang lain, ia melihat para prajurit Tumapel selalu berusaha

mendesak dan bahkan mengejar orang-orang liar itu berlari-lari

melingkar-lingkar. Tetapi para penyerang itu masih saja berteriakteriak

tak menentu dengan nada yang menyakitkan telinga,

meskipun suara teriakan-teriakan itu tidak sekeras pada saat-saat

mereka datang.

Ketika mereka kemudian telah sampai ke puncak yang paling

gawat dari pertempuran itu, baik bagi Witantra dan kawankawannya,

maupun bagi orang Empu Sada, yang masing-masing

selalu terdesak oleh lawan-lawan mereka, di kejauhan terdengar

sebuah suitan nyaring. Sekali, dua kali dan kemudian diulangi lagi

sekali, sehingga menjadi tiga kali. Suara itu seperti suara seekor

burung yang melengking memecah gelap malam.

Ternyata suara itu telah mengejutkan semua orang yang berada

di arena pertempuran itu.

Bagi Witantra dan para prajurit Tumapel suara itu seakan-akan

suara hantu yang telah siap menerkam mereka dan sikap yang

sangat mengerikan. Dalam kesulitan itu, maka mereka masih harus

menunggu bencana yang bakal datang.

Para prajurit yang berada di sekitar Ken Dedes pun segera

merapatkan diri, seakan-akan mereka mendapat perintah untuk

menghadapi kemungkinan yang paling akhir dari perjuangan

mereka.

Tetapi Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kedua perwira bawahan

Witantra menjadi semakin terkejut melihat sikap Empu Sada.

Ternyata orang tua itu pun terkejut bukan buatan mendengar suara

suitan tiga kali berturut-turut. Seperti disengat seribu lebah biru

Empu Sada itu melontar surut beberapa langkah. Diangkatnya

wajahnya sambil memanjangkan lehernya.

Witantra dan kawan-kawannya yang menjadi keheranan, justru

berdiri saja tegak di tempatnya. Seolah-olah mereka melihat sesuatu

yang bukan seharusnya. Mereka menyangka bahwa suara suitan itu

adalah pertanda kehadiran Kuda Sempana dan kawan-kawannya

yang mungkin bukan saja tiga orang, tapi dengan beberapa orang

lain. Namun menilik sikap Empu Sada, maka kemungkinan itu pasti

berbeda dari peristiwa yang akan mereka hadapi.

Terdengar Empu Sada itu menggeram. Sekali dilayangkannya

pandangan matanya kepada orang-orangnya yang masih bertempur

melawan prajurit-prajurit Tumapel. Ternyata mereka semakin lama

menjadi semakin terdesak.

Dalam ketegangan itu sekali lagi di kejauhan terdengar suara itu.

Suara suitan tiga kali berturut-turut.

“Setan!” geram Empu Sada, “Apa pula yang terjadi dengan anak

cengeng itu?”

Witantra masih tegak di tempatnya. Kawannya pun masih belum

berbuat sesuatu. Namun di dalam dada mereka berdetaklah

berbagai pertanyaan tentang sikap orang tua yang mengerikan itu.

Tiba-tiba Witantra dan kawan-kawannya dikejutkan oleh suitan

Empu Sada itu. Mirip dengan sebuah siulan panjang. Suaranya

menyusup menembus gelap malam melingkar-lingkar di dalam

hutan.

Witantra dan kawan-kawannya tidak tahu sama sekali sasmita

sandi semacam itu. Karena itu, mereka harus mempersiapkan diri

mereka menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Mungkin siulan Empu Sada itu memperdengarkan kidung kematian

bagi mereka dan para prajurit Tumapel.

Tetapi yang terjadi adalah berbeda dengan dugaan mereka.

Mendengar suara siulan itu. maka serentak orang-orang Empu Sada

berteriak semakin keras, namun apa yang mereka lakukan justru

sebaliknya. Mereka berlari-larian di arena itu untuk sesaat,

kemudian dengan cepatnya mereka meloncat menyusup ke dalam

gerumbul-gerumbul yang gelap dibalik rimbunnya hutan.

Beberapa orang prajurit Tumapel berusaha mengejar mereka,

namun terdengar Witantra memberi aba-aba, “Biarkan mereka!”

Para prajurit Tumapel terhenti di tempatnya. Terasa pula oleh

mereka itu, suasana yang seolah-olah menyimpan rahasia. Suarasuara

suitan dan siulan, kegelapan malam di antara batang-batang

pepohonan, Empu Sada yang masih berdiri di tempatnya dan suara

teriakan-teriakan orang-orang yang berbuat seakan-akan orangorang

liar itu yang semakin lama menjadi semakin lemah. Keadaan

itu pulalah yang memaksa Witantra mencegah anak buahnya

terjerumus di dalam keadaan yang tak mereka kenal.

Sesaat setiap orang di perkemahan itu berdiri tegak di

tempatnya. Wajah-wajah mereka menjadi semakin tegang, namun

mulut mereka terkatup rapat-rapat. Witantra, Mahendra, Kebo Ijo,

kedua perwira bawahan Witantra. Para prajurit, Ken Dedes dan

bahkan Empu Sada sendiri.

Mereka seakan-akan sedang menunggu suatu peristiwa yang

akan meledak setiap saat.

Tetapi yang terdengar kemudian sekali lagi suara suitan kini

menjadi kian dekat. Tiga kali berturut-turut. Bahkan kini tidak saja

dilontarkan oleh seseorang, tetapi dua orang hampir bersamaan.

Sekali lagi terdengar Empu Sada menggeram. Di antara suaranya

yang berat terdengar ia mengumpat, “Setan manakah yang berani

mengganggu Empu Sada dan murid-muridnya?”

Kata-kata Empu Sada itu pun mengejutkan Witantra dan kawankawannya.

Terasa bahwa Empu Sada merasa terganggu karena

suara-suara suitan itu. Karena itu maka Witantra dan kawankawannya

menjadi semakin tidak mengerti, apakah yang sedang

terjadi.

Namun mereka terkejut ketika Empu Sada itu berteriak lantang,

“He, Kuda Sempana. Di mana kau? Siapakah yang telah berani

mencoba menghalangi rencana kita itu?”

Suara Empu Sada menggelegar seperti suara guruh di musim

kesanga.

Tetapi suara Empu Sada itu tidak segera mendapat jawaban.

Sejenak mereka terpaku menunggu, apakah yang bakal terjadi, dan

apakah jawaban yang akan mereka dengar atas pertanyaan Empu

Sada itu. Namun jawaban itu tidak segera mereka dengar.

Empu Sada yang masih berdiri tegak itu sekali lagi menggeram.

Wajahnya menjadi semakin tegang dan tubuhnya gemetar menahan

marah. Tetapi dengan demikian, Witantra dan kawan-kawannya

perlahan-lahan dapat mengurai keadaan. Ternyata dugaan mereka

benar, ada sesuatu yang tidak wajar menurut rencana Empu Sada.

Ketika sejenak kemudian masih juga tidak ada jawaban, maka

sekali lagi terdengar Empu Sada berteriak, “Kuda Sempana, sekali

lagi aku beri tanda. Aku akan segera datang.”

Alangkah terkejut mereka bersama-sama ketika sekali lagi

terdengar suara tidak begitu jauh dari tempat mereka. Meskipun

suara itu tidak jelas, namun terdengar juga lamat-lamat, “Aku di sini

guru. Ada orang gila yang menghalang aku.”

Empu Sada tidak menunggu lebih lama lagi. Cepat-cepat ia

meloncat meninggalkan Witantra dan kawan-kawannya. Hilang di

dalam semak-semak. Adalah pasti bahwa Empu Sada berusaha

untuk menolong muridnya. Agaknya suitan-suitan itu adalah tanda

dari murid-murid Empu Sada untuk menyatakan, bahwa mereka

berada dalam bahaya.

Witantra masih berdiri sejenak di tempatnya. Tetapi

tanggapannya atas peristiwa itu telah memaksanya untuk mencoba

mengikuti Empu Sada. Karena itu maka katanya, “Sidatta, tetaplah

di sini berdua. Aku, Mahendra dan Kebo Ijo akan mencoba melihat

apa yang terjadi dengan orang tua itu.”

Wajah Sidatta yang masih tegang tampak berkerut. Ia masih lihat

peristiwa ini diliputi oleh suatu keragu-raguan yang tidak menentu.

Karena itu katanya, “Kakang Witantra, apakah tidak terlampau

berbahaya bagi Kakang untuk pergi ke dalam semak-semak yang

tidak Kakang kenal.”

“Aku tidak akan pergi terlampau jauh. Kalau Kuda Sempana

dapat kami dengar dari sini, maka suaraku pun pasti akan kalian

dengar apabila kalau aku memerlukan kalian.” jawab Witantra.

Sidatta menganggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya

sendiri terpancar keinginannya untuk melihat, kenapa Kuda

Sempana tidak dapat menyelesaikan rencananya dengan baik.

Tetapi ia tidak dapat meninggalkan perkemahan itu tanpa

penjagaan. Karena itu maka katanya, “Silakan Kakang. Tetapi

Kakang, kita akan saling memberikan tanda apabila kita saling

memerlukan.”

“Baik,” sahut Witantra, yang kemudian bersama dengan kedua

adik seperguruannya, menyusup ke dalam semak-semak dan hilang

dibalik rimbunnya dedaunan.

Tetapi mereka bertiga tidak segera dapat menemukan arah, ke

mana mereka harus pergi. Mereka hanya mampu membuat ancarancar

arah suara Kuda Sempana. Tetapi suara itu pun tidak begitu

jelas bagi mereka. Karena itu untuk sesaat mereka berjalan dengan

hati-hati ke arah itu.

Mereka menyibak dedaunan dan menyusup di bawah akar-akar

pepohonan. Mereka tidak dapat mencari jalan lain. Mereka hanya

dapat memintas lurus ke tempat yang mereka sangka akan

didatangi oleh Empu Sada pula. Namun dalam pada itu, mereka

tetap dalam kewaspadaan, sebab mereka masih belum dapat

menentukan apa yang sebenarnya telah terjadi. Mungkin mereka

masih tetap berada dalam jebakan Empu Sada yang membuat

rencana demikian berbelit-belit.

Tetapi setelah mereka berjalan beberapa lama, mereka sama

sekali belum menemukan apa-apa. Mereka tidak mendengar suara

apapun dan bahkan mereka seolah-olah terkurung dalam sebuah

gua yang gelap pepat. Hitam dan kelam di sekeliling mereka. Yang

dapat mereka lihat hanyalah bayangan dedaunan yang menggapaigapai

ditiup angin malam, seperti tangan-tangan hantu raksasa

yang akan menerkam mereka.

Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang

seakan-akan meledak-ledak tidak begitu jauh dari tempat mereka.

Suara itu adalah suara Empu Sada dalam nada yang tinggi

menyakitkan telinga. Di antara suara tertawa itu terdengar ia

berkata, “He, rupanya kau yang datang kelinci kurus.”

Tak ada suara menyahut. Yang terdengar masih saja suara

tertawa Empu Sada. Bukan karena orang tua itu menjadi

bergembira, atau menemukan permainan yang menyenangkan,

tetapi nada suaranya melontarkan keheranan dan kebencian yang

melonjak-lonjak di dalam dadanya.

Witantra memasang telinganya baik-baik. Perlahan-lahan ia

menemukan arah yang harus dianutnya. Karena itu maka segera ia

berbisik kepada adik-adik seperguruannya, “Kita menerobos ke

utara.”

Mahendra dan Kebo Ijo tidak menjawab. Dengan pedang

terhunus mereka berjalan terbungkuk-bungkuk menghindari sulursulur

yang bergayutan pada pepohonan. Tetapi kini mereka

melangkah dengan pasti. Mereka telah menemukan arah.

Semakin dekat mereka dengan arah suara tertawa Empu Sada,

mereka menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi kemudian suara

tertawa itu tidak mereka dengar lagi. Meskipun demikian mereka

berjalan terus.

Tiba-tiba mereka tertegun ketika beberapa puluh langkah lagi di

hadapan mereka, terdengar suara Empu Sada, “Kuda Sempana,

kenapa tidak kau bunuh saja kelinci ini he? Kenapa kau dan kedua

saudara seperguruanmu itu berteriak-teriak memanggil aku?

Bukankah membunuhnya tidak lebih sulit daripada membantai ayam

sakit-sakitan.”

Tidak terdengar jawaban. Seolah-olah yang berada di tempat itu

hanyalah Empu Sada seorang diri. Setiap kali ia berbicara, maka tak

ada suara yang menyahut. Kali ini Kuda Sempana itu pun tidak

menjawab.

Kembali tumbuh keragu-raguan di dalam hati Witantra. Apakah

ini bukan salah satu pokal Empu Sada untuk memisahkannya dari

para prajurit yang lain, ataukah memang ada tujuan tersembunyi

yang tidak dimengertinya? Tetapi jarak itu sudah dekat, sehingga

Witantra pun memutuskan untuk maju beberapa langkah lagi.

Ketika mereka maju meloncati beberapa dahan-dahan yang

rontok dan melintang di hadapan mereka, maka segera mereka

melihat, bagian yang luang dari hutan itu. Bagian yang meskipun

sempit namun cukup memberikan tempat untuk bertempur seperti

tempat yang mereka pergunakan untuk berkemah.

Dengan hati-hati Witantra melangkah lagi beberapa langkah. Dari

sela-sela rimbunnya dedaunan ia mencoba melihat, apa yang ada di

tempat yang agak longgar itu.

Namun malam gelapnya bukan kepalang. Tetapi di tempat yang

longgar itu, kepekatan malam seakan-akan menipis. Sinar bintangbintang

di langit tidak tertutup oleh dedaunan dan dahan-dahan

kayu yang rimbun di atasnya.

Dan apa yang dilihatnya benar-benar menggetarkan hatinya,

meskipun seakan-akan hanyalah bayangan-bayangan hantu yang

hitam legam.

Mereka terdiri dari lima orang. Namun Witantra dapat

memastikan, bahwa seorang di antaranya adalah Empu Sada. yang

tiga adalah murid-murid Empu Sada sendiri. Namun yang satu,

berdiri agak terlampau ke sudut, sehingga Witantra hampir tidak

dapat melihatnya, seandainya bayangan itu tidak bergerak. Yang

tampak hanya hitam. Bahkan garis-garis bentuknya pun tak dapat

dikenalnya.

Namun betapa terkejut Witantra yang tiba-tiba mendengar Empu

Sada berteriak, “He, siapa yang mencoba mengintip pertemuan ini?”

Sebelum Witantra menjawab, ia melihat salah seorang dari

kelima bayangan itu memutar tubuhnya dan maju selangkah, tepat

ke arah Witantra dan adik-adik seperguruannya bersembunyi.

Tetapi Witantra lebih terkejut lagi ketika ia mendengar bayangan

yang di sudut itu berkata, “Biarkan mereka berada di sana.”

Sesaat Witantra terpaku di tempatnya. Bukan saja Witantra,

namun kedua saudara seperguruannya pun terkejut pula

mendengar suara itu. Bahkan Kebo Ijo, yang termuda di antara

mereka bertiga tidak dapat menahan perasaannya. Setelah sekian

lama mereka berjuang melawan Empu Sada, dan bahkan hampir

saja mereka mengalami bencana, tiba-tiba mereka melihat

kehadiran orang itu. Karena itu, meledaklah kegembiraan Kebo Ijo.

Hampir berteriak ia memanggil orang yang berdiri di dalam

bayangan yang kelam itu, “Guru! Gurukah itu?”

Witantra menggamit tangan Kebo Ijo, tetapi anak muda itu tidak

memperhatikannya. Bahkan selangkah ia meloncat maju dan sekali

lagi memanggil, “Guru. Kami bertiga dengan Kakang Witantra dan

Kakang Mahendra.”

Orang yang berdiri di sudut yang gelap itu menyahut,

“Kemarilah!”

Kebo Ijo menjadi ragu-ragu. Dilihatnya Empu Sada berdiri tegak

seperti patung. Kalau ia berjalan ke tempat gurunya berdiri, Empu

Sada itu dapat dengan tiba-tiba memotong jalannya, dan dengan

sebuah serangan mungkin ia telah terpelanting untuk tidak bangun

lagi. Tongkat yang panjang itu pasti mampu mematahkan tulangtulang

rusuknya. Sehingga dengan demikian, anak muda itu

berpaling kepada kedua saudaranya. Kalau mereka berjalan

bersama-sama, maka kemungkinan untuk mempertahankan diri

menjadi lebih besar.

Agaknya gurunya melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya

mengulangi, “Kemarilah. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo. Jangan

hiraukan Empu Sada. Ia orang yang baik hati. Ia pasti tidak akan

berbuat sesuatu.”

Empu Sada menggeram. Selangkah ia maju sambil bergumam,

“Kalau kalian bergerak selangkah, maka kalian akan berkubur di

hutan ini.”

“Kita akan terlampau banyak pekerjaan Empu,” berkata

bayangan di kegelapan, yang ternyata adalah guru Witantra yang

kekurus-kurusan dan bernama Panji Bojong Santi, “Kalau kau

membunuh murid-muridku, maka sedikitnya kita harus mengubur

enam orang sekaligus di sini.”

“Kenapa enam?” teriak Empu Sada.

“Apakah kau tidak mengerti hitungan sama sekali? Bukankah tiga

ditambah dengan tiga itu berjumlah enam?”

“Kenapa enam?” sekali lagi Empu Sada berteriak, “aku hanya

membunuh tiga orang.”

“Kau membunuh muridku tiga orang dan aku membunuh

muridmu tiga orang. Bukankah jumlahnya enam.”

Sekali lagi Empu Sada menggeram. Kali ini lebih keras lagi. Tetapi

ia tidak menyahut.

“Nah, Witantra, kemarilah!” ulang Panji Bojong Santi.

Witantra, Mahendra, dan Kebo Ijo kemudian melangkah

bersama-sama. Pedang-pedang mereka masih erat di dalam

genggaman tangan mereka. Dengan penuh kesiapsiagaan mereka

berjalan beberapa langkah di samping Empu Sada. Tetapi Empu

Sada itu berdiri saja seperti tonggak.

Ketika mereka telah berada di samping guru mereka, maka Kebo

Ijo menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Untung guru segera

datang. Kalau tidak, maka kami pasti akan ditelan oleh anak-anak

Empu Sada.”

Panji Bojong Santi tidak menjawab. Tetapi ia berkata kepada

Empu Sada, “Anak-anak ayam kini telah kembali ke induk masingmasing.

Nah, Empu yang baik. Apakah sebenarnya yang kau

kehendaki?”

Empu Sada memutar tubuhnya. Ditatapnya Panji Bojong Santi

dengan penuh kebencian. Namun ia tidak segera menjawab. Ketika

kemudian ia berpaling, dilihatnya ketiga murid-muridnya, Kuda

Sempana, Cundaka yang lebih senang disebut Bahu Reksa Kali Elo

dan Sungsang pun masih menggenggam pedangnya masingmasing.

Sesaat suasana menjadi sepi tegang. Mereka berdiri berhadapan

di dalam kelompok masing-masing, seolah-olah mereka telah

berjanji untuk mengadakan perang tanding. Seorang guru dengan

tiga orang murid masing-masing.

Yang terdengar kemudian adalah suara angin malam yang

mengalir di antara dedaunan. Suara burung malam di kejauhan dan

suara anjing-anjing liar berebutan makan.

Dalam keheningan itulah maka Empu Sada mencoba membuat

perimbangan dari dua kekuatan yang sudah berhadap-hadapan.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Orang-orangnya tidak

akan mampu menghadapi para prajurit Tumapel yang lebih banyak

berpengalaman dan terlatih cukup baik. Apalagi kini ia tidak sempat

mengikat para pemimpinnya dalam satu perkelahian, karena

kehadiran Panji Bojong Santi. Karena itu, yang terdengar kemudian

adalah suara giginya yang gemeretak.

Yang berbicara kemudian adalah Panji Bojong Santi, “Bagaimana

Empu, apakah kita masih sempat untuk melihat anak-anak kita

berkelahi, atau kau mempunyai keputusan lain?”

Empu Sada menggelengkan kepalanya.

“Tidak,” katanya dalam nada yang keras, “Kali ini rencanaku

telah kau rusakkan. Aku tidak dapat berkata lain daripada itu. Tetapi

kesalahan yang telah kau lakukan ini membuat aku mendendammu,

seperti aku mendendam Empu Gandring yang mengganggu aku

pula.”

“Aku telah mendengar dari Mahendra,” sahut Panji Bojong Santi,

“tetapi seperti Empu Gandring aku ingin memperingatkanmu, jangan

bermain-main bersama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kau akan

dapat ditelannya Empu. Seperti Empu Gandring, menurut Mahendra,

aku menganggapmu lain dari kedua orang-orang liar itu.”

Sekali lagi Empu Sada berteriak, “Apa pedulimu?”

“Aku hanya memperingatkan. Aku masih mengharap kau

lepaskan segala macam keinginanmu yang aneh-aneh itu. Jangan

terlampau kau manjakan muridmu yang bernama Kuda Sempana.

Seandainya Mahendra yang berbuat seperti Kuda Sempana, maka ia

akan aku lepaskan untuk berbuat sendiri, atas tanggung jawabnya

sendiri. Tetapi Mahendra tidak berbuat demikian. Ia menyadari

keadaannya.”

Empu Sada tertawa, meskipun nadanya pahit. Katanya, “Kau

menjadi ketakutan seperti Empu Gandring itu juga.”

Panji Bojong Santi tidak segera menjawab. Dilihatnya Empu Sada

berdiri dengan gemetar menahan marah. Tetapi kemarahan itu

benar-benar tidak mampu dilepaskannya, karena ia berhadapan

dengan Panji yang kurus itu. Kalau ia memaksa diri untuk

bertempur, maka pasti tidak akan mencapai penyelesaian.

Perkelahian itu tidak akan berkesudahan. Tetapi apakah muridmuridnya

mampu melawan ketiga murid Bojong Santi itu?

Empu Sada menggeram. Ia menyesal bahwa selama ini ia tidak

benar-benar menempa muridnya dengan kesadaran. Ia memberikan

ilmunya dengan acuh tak acuh. Meskipun murid-muridnya menjadi

orang-orang yang melampaui orang kebanyakan, namun mereka

tidak dapat menyamai murid-murid Bojong Santi dan murid Empu

Purwa yang bernama Mahisa Agni. Empu Sada menyesal. Namun

waktu telah berjalan terlampau jauh. Saat-saat itu ia hanya sekedar

menjual ilmunya. Dengan sedikit harta dan benda, Empu Sada telah

dengan mudahnya menerima seseorang menjadi muridnya. Tetapi

murid-murid itu pun tidak mempunyai tingkatan yang serasi

menurut urutan-urutannya. Siapa yang lebih banyak memberinya

sesuatu, ialah yang lebih banyak menerima ilmu.

Tetapi ketika ia harus berhadapan dengan perguruan lain, terasa

bahwa apa yang dilakukannya itu keliru. Kini harga dirinya langsung

tersentuh, ketika ia berhadapan dalam jumlah yang sama. Namun

sudah pasti, bahwa ketiga muridnya tidak akan mampu berhadapan

dengan ketiga murid Panji Bojong Santi.

Untuk menenteramkan dirinya sendiri, Empu Sada itu berkata di

dalam hatinya. “Belum terlambat. Aku masih dapat menempa

beberapa orang di antara murid-muridku untuk menyamai ketiga

murid Panji yang gila ini. Mungkin ketiga muridku ini, mungkin yang

lain lagi. Namun kelebihanku adalah, aku mempunyai banyak murid,

sedang Panji yang gila ini hanya tiga dan Empu Purwa hanya satu.

Apalagi Gandring tukang membuat keris itu. Ia hampir tidak pernah

memedulikan apa-apa selain keris-kerisnya.”

Keheningan yang sejenak itu kemudian dipecahkan oleh suara

Panji Bojong Santi, “Empu Sada, apakah kau masih tetap

berkeinginan bekerja bersama-sama dengan kedua orang liar itu?”

“Tentu,” jawab Empu Sada, “aku sudah melihat kalian menjadi

ketakutan. Kau dan Empu Gandring.”

“Ya, aku memang takut,” sahut Bojong Santi.

“Nah. Kau sudah mengaku. Karena itu, jangan menghalangi aku.”

“Kau belum tahu apa yang aku takutkan. Bukan Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat.”

“Apa yang kau takutkan?”

“Kau.”

“Kenapa aku?” Empu Sada menjadi heran.

“Aku takut kalau kau akan menjadi korban ketamakanmu. Aku

takut kalau kau akan lenyap ditelan oleh kedua orang itu setelah

kau mencoba menghubunginya.”

Sekali lagi Empu Sada tertawa. Tetapi tiba-tiba terdengar ia

bersiul panjang.

Apa yang terjadi kemudian adalah terlampau cepat sehingga

Witantra dan saudara-saudara seperguruannya berdiri saja

memandangi mereka yang tiba-tiba meloncat dan menghilang ke

dalam semak-semak. Baru sejenak kemudian Witantra menyadari

keadaan. Dengan serta-merta ia berkata, “Apakah kita biarkan

mereka lari?”

“Jangan hiraukan mereka kini,” jawab gurunya, “bukankah kalian

mempunyai tanggungan? Kalau kalian berhasil menyelamatkan

gadis itu, kalian harus sudah mengucap syukur atas lindungan Yang

Maha Agung.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Ya,

Guru.”

Tetapi Kebo Ijolah yang kemudian bertanya, “Kenapa Guru tibatiba

saja berada di tempat ini?”

Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,

“Aku sudah menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Sejak aku

mendengar cerita Mahendra yang bertemu dengan Empu Sada di

padang Karautan. Berita tentang perjalanan Ken Dedes ini sudah

didengar oleh hampir setiap orang Tumapel yang pasti telah

didengar pula oleh salah seorang saudara seperguruan Kuda

Sempana yang tersebar di mana-mana. Aku sudah menyangka

bahwa Empu Sada akan melakukan pencegatan ini. Karena itu, aku

memerlukan mengikuti arak-arakan sejak dari Tumapel.”

“Kenapa Guru tidak berjalan saja bersama-sama kami dalam satu

rombongan?”

“Aku lebih senang berjalan sendiri. Aku tidak biasa berjalan

menurut irama yang ditentukan oleh Witantra.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Terima kasih, Guru. Kalau Guru

tidak hadir di sini, maka aku dan semua anak buahku akan musnah.

Bukan saja itu, tetapi namaku akan hancur pula bersama lenyapnya

bakal permaisuri.”

Tiba-tiba Bojong Santi menggeleng, “Tidak. Kau salah sangka.”

“Kenapa?” bertanya ketiga muridnya hampir serentak.

“Ketika aku menahan Kuda Sempana dan kedua kawankawannya,

aku melihat seseorang di sekitar tempat itu. Aku sudah

mengenalnya meskipun belum terlampau akrab.”

“Siapa?”

“Ayah gadis itu.”

“Empu Purwa?”

“Ya. Ia berada di tempat ini juga sekarang. Mungkin Empu Purwa

mendengar pula percakapan ini. Kalau aku tidak ada di tempat ini,

orang tua itu tidak akan sampai hati membiarkan gadisnya diambil

oleh Kuda Sempana.”

“Tetapi kenapa Empu Purwa itu tidak menampakkan dirinya di

hadapan putrinya.”

Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba

dilayangkan pandangan matanya berkeliling, seakan-akan mencari

seseorang di dalam gelapnya malam. Tetapi yang dikatakan adalah,

“Kembalilah kepada tugasmu. Cepat! Sebelum Empu Sada

mendahuluimu. Kalau orang itu datang, beri aku tanda. Panggil saja

namaku keras, tanpa siul-siulan atau segala macam tanda sandi.

Aku tetap di sini.”

Witantra segera menyadari keadaannya. Saat itu ia masih harus

mempertanggung jawabkan seorang gadis bakal permaisuri Akuwu

Tunggul Ametung, Karena itu tiba-tiba ia menyahut, “Ya, Guru. Aku

akan segera kembali ke perkemahan.”

“Pergilah.”

Witantra pun kemudian segera mohon diri bersama saudarasaudara

seperguruannya. Dengan tergesa-gesa mereka menyusuri

dedaunan dan ranting-ranting perdu, kembali ke tempat para

prajurit Tumapel menunggu dengan cemas.

Ternyata jalan kembali itu agak lebih mudah ditempuhnya

daripada saat mereka mencari Empu Sada. Mereka kini dapat

melihat bayangan api di ujung pepohonan sebagai penunjuk arah,

meskipun kadang-kadang bayangan itu sama sekali tidak dapat

mereka lihat karena rimbunnya batang-batang kayu. Tetapi sekalisekali

cahaya yang kemerah-merahan dapat menunjukkan ke mana

mereka harus pergi. Agaknya beberapa orang prajurit tetap

memelihara supaya api tidak padam, sehingga mereka dapat lebih

cermat mengawasi keadaan.

Sepeninggal Witantra dan kedua saudara seperguruannya. Panji

Bojong Santi masih saja berdiri tegak seperti patung, seakan-akan

sengaja ia membiarkan dirinya tidak bergerak dan tidak dikenal di

antara batang-batang kayu. Tetapi Panji Bojong Santi itu agaknya

sedang menunggu seseorang, ia yakin bahwa orang yang

ditunggunya itu pasti akan datang.

Ternyata Bojong Santi tidak menjadi kecewa karenanya. Sejenak

kemudian ia mendengar gemeresik halus di sampingnya. Namun

orang tua yang kurus itu sama sekali tidak bergeser dari tempatnya.

Ketika dari semak-semak muncul seseorang, maka dengan sertamerta

Panji Bojong Santi itu memutar tubuhnya sambil mengangguk

dalam-dalam, katanya, “Selamat malam Empu.”

“Terpujilah Tuan, karena Tuan telah menolong anakku dari

bencana. Langsung atau tidak langsung.”

Panji Bojong Santi tersenyum. Jawabnya, “Empu terlampau

merendahkan diri. Apakah artinya tenagaku dibanding dengan Empu

sendiri. Kalau aku tahu bahwa Tuan ada di sini, maka aku tidak

akan bersombong diri, mencegah perbuatan Kuda Sempana. Sebab

pasti Tuan sendiri akan berbuat jauh lebih baik dari yang aku

lakukan. Aku melihat kehadiran Tuan setelah aku terlanjur mengikat

Kuda Sempana dalam perkelahian.”

Orang yang baru datang itu, yang ternyata adalah Empu Purwa,

kini tersenyum pula. Katanya, “Tetapi aku memang tidak dapat

berbuat secepat Tuan. Tuan telah mendahuluiku. Namun adalah

lucu sekali, bahwa agaknya maksud kita bersamaan. Aku pun

sebenarnya ingin memanggil Empu Sada dan ketiga muridnya

seperti yang Tuan lakukan.”

Panji Bojong Santi tertawa.

“Aku sudah menyangka,” jawabnya, “kalau tidak Tuan pasti

langsung menolong putri Tuan di perkemahan. Dan inilah yang tidak

aku ketahui. Ketika Witantra bertanya kepadaku, kenapa Tuan tidak

menampakkan diri, bahkan langsung di arena, maka aku tidak dapat

menjawabnya.”

Empu Purwa kini tidak tersenyum lagi. Bahkan kemudian ia

menarik nafas dalam. Namun segera ia berusaha menghilangkan

segala macam kesan yang mencengkam perasaannya. Katanya,

“Aku mendengarkan percakapan Tuan dengan murid-murid Tuan.

Aku sebenarnya ingin tahu, apakah jawab Tuan atas pertanyaan

itu.”

“Tentu aku tidak akan dapat menjawab,” sahut Panji Bojong

Santi.

Sekali lagi Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Katanya,

“Aku hanya ingin bermain-main sembunyi-sembunyian seperti

Tuan.”

Panji Bojong Santi menangkap kesan yang suram dalam katakata

Empu Purwa. Terasa sebuah sentuhan halus pada perasaan

orang tua itu. Sehingga karena itu, maka berkata Panji kurus itu,

“Maaf Empu. Mungkin pertanyaan itu tidak berkenan di hati Tuan.”

“Oh, tidak,” jawab Empu Purwa tergesa-gesa, “tidak. Tidak apaapa.

Mungkin ada baiknya aku mengatakan kepada Tuan supaya

beban yang menyumbat dadaku dapat melimpah keluar. Selama ini

tak ada seorang pun yang dapat membantu meringankan

perasaanku.”

Panji Bojong Santi sama sekali tidak menyahut. Ia menyesal

bahwa pertanyaannya agaknya telah mengungkap kepahitan

perasaan Empu Purwa. Tetapi pertanyaan itu sudah terlanjur

diucapkan.

“Tuan,” berkata Empu Purwa kemudian, “pertanyaan adalah

pertanyaan yang wajar. Kadang-kadang aku sendiri bertanya

demikian. Kenapa aku tidak langsung menemui anakku yang

mungkin sangat mengharap hal itu terjadi.”

Panji Bojong Santi hanya menganggukkan kepalanya saja. Tetapi

ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Tetapi aku tidak dapat melakukannya,” berkata Empu Purwa

seterusnya, “meskipun sebenarnya keinginan yang demikian

melonjak-lonjak pula di dalam dadaku.”

Empu Purwa terdiam sesaat, sehingga suasana menjadi sepi

hening. Di kejauhan lamat-lamat terdengar suara burung engkak

menusuk-nusuk telinga dengan suaranya yang parau menyakitkan.

“Tuan,” berkata Empu Purwa kemudian, “betapa rinduku kepada

putriku, namun betapa kecewanya aku terhadapnya. Sejak anak itu

hilang, aku sudah tidak mengharap dapat bertemu lagi. Aku tidak

mau kehilangan, tetapi apakah aku harus melawan Akuwu Tunggul

Ametung? Bukan karena Tunggul Ametung mempunyai kesaktian

tanpa batas, tetapi ia adalah pemimpin pemerintahan.

Perlawananku akan dapat menimbulkan malapetaka bagi Tumapel.

Tiba-tiba aku mendengar kemudian, bahwa anak itu telah menjadi

seorang bakal Permaisuri. Alangkah kecewanya hatiku. Tetapi aku

tidak ingin mengecewakan hati putriku. Kalau telah berkenan di

hatinya, biarlah ia menemukan kebahagiaan. Tetapi kekecewaanku

terhadap tingkah laku Tunggul Ametung yang melindungi Kuda

Sempana mengambil anakku, tidak akan dapat terhapus dari dinding

hatiku. Karena itu, lebih baik aku tidak bertemu lagi dengan putriku.

Biarlah ia menemukan kebahagiaan yang dikehendakinya, aku

adalah orang tua. Hari depannya masih jauh lebih panjang dari hari

depanku.”

Bojong Santi tidak berkata sepatah kata pun. Ia dapat merasakan

betapa pedih hati orang tua itu. Ia dihadapkan kepada keadaan

yang serba salah.

Betapa rindunya orang tua itu kepada putrinya, tetapi betapa

kecewanya ia menghadapi perkembangan keadaan putrinya itu.

Mungkin ia dapat melepaskan perasaan rindunya dengan menemui

gadis itu, memeluknya seperti masa-masa lampau sambil menghibur

dan membesarkan hati gadis itu. Tetapi apabila disadarinya bahwa

di sisi gadis itu kelak akan berdiri Tunggul Ametung, maka dadanya

pasti segera akan menyala kembali.

Sesaat kedua orang tua itu saling berdiam diri. Dibiarkannya

angin malam membelai tubuh-tubuh yang sudah mulai dihiasi

lengan keriput-keriput kulit. Betapa mereka sakti tiada tandingnya,

namun mereka tidak dapat melawan kekuasaan tangan Penciptanya.

Mereka tidak akan mampu melawan umur mereka sendiri yang

semakin lama menjadi semakin tua. Meskipun mereka mampu

bertempur melawan setiap orang sakti, namun mereka tidak dapat

melawan kekuasaan maut yang semakin tua menjadi semakin

mendekat.

Empu Purwa pun menyadari hal itu pula. Apabila orang tua itu

sedang merenungi kepahitan hidupnya, maka kelak ia kembali

kepada Sumber hidup itu sendiri. Dicarinya ketenteraman dan

hiburan yang sejati. Sehingga dengan demikian, maka hatinya pun

menjadi mengendap. Ia tidak lagi bernafsu membiarkan dirinya

dikuasai oleh kemarahan dan kekecewaan. Sehingga dengan

demikian, kemudian ia dapat menempatkan kepentingan anaknya

yang masih muda itu di atas kepentingannya sendiri.

Tetapi sebagai manusia, Empu Purwa adalah manusia perasa.

Manusia yang kadang-kadang hanyut dilanda perasaannya sendiri.

Perasaan yang tersinggung oleh sentuhan-sentuhan yang kadangkadang

dapat mengguncangkan keseimbangan berpikir.

Empu Purwa pun menyadari pula. Ia menyesal bahwa karena

guncangan perasaan, ia telah mengutuk orang-orang Panawijen,

bahkan memecahkan bendungannya pula. Ia kini menyesal bahwa

ia mengutuk setiap orang yang turut melarikan anaknya, bahwa

mereka akan mati dengan keris.

Tetapi semuanya telah terjadi. Dan orang tua itu tidak mau

terjadi pula peristiwa-peristiwa serupa. Karena itu, lebih baik ia tidak

bertemu dengan putrinya, supaya ia tidak mengalami guncangan

perasaan, dan berbuat di luar keseimbangan berpikir.

Malam yang sunyi itu pun menjadi semakin malam. Di langit

bintang-bintang yang gemerlapan seolah-olah ditaburkan di atas

layar yang hitam legam. Suara-suara burung engkak yang parau

sekali-sekali masih terdengar, menjerit-jerit.

Dalam kesunyian itu, kembali terdengar Empu Purwa berkata,

“Aku lebih baik menemani Tuan di sini.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa

betapa dalam luka di hati Empu Purwa. Karena itu maka jawabnya

kemudian, “Terima kasih Tuan. Aku akan senang sekali apabila Tuan

bersedia menemani aku di sini.”

“Bukankah kita tidak lagi mempunyai pekerjaan?” berkata Empu

Purwa, “dan bukankah Tuan berjanji kepada murid-murid Tuan,

bahwa Tuan akan tetap berada di sini.”

Bojong Santi menjawab, “Ya. Itulah sebabnya, aku bergembira

bahwa Tuan sudi menemani aku.”

Empu Purwa tersenyum. Tetapi senyumnya terasa hambar.

Katanya kemudian, “Aku akan beristirahat. Mungkin Tuan juga lelah

setelah bermain kejar-kejaran dengan murid-murid Empu Sada.”

Panji Bojong Santi pun tersenyum. Jawabnya, “Ya. Aku juga ingin

duduk.”

Keduanya kemudian duduk berhadapan di atas rumput-rumput

kering. Namun sejenak mereka tidak berbicara apapun. Empu Purwa

masih mencoba menenangkan perasaannya yang terasa mulai

bergolak. Sedang Panji Bojong Santi mencoba memahami

sepenuhnya semua kata-kata Empu Purwa.

“Bersyukurlah aku, bahwa gadisku tidak mengalami banyak

persoalan seperti gadis Empu Purwa,” berkata Bojong Santi itu di

dalam hatinya. Ia berdoa semoga anaknya kelak akan mendapatkan

jalan yang baik, meskipun tidak usah menjadi seorang permaisuri

akuwu. Karena Panji Bojong Santi itu pun mempunyai seorang anak

gadis pula, maka apa yang dirasakan Empu Purwa, seolah-olah

dapat dirasakannya pula. Namun di samping itu, Panji Bojong Santi

itu pun menyimpan perasaan iba terhadap Ken Dedes yang malang.

Garis hidupnya seakan-akan selalu diliputi oleh duka dan derita.

Mudah-mudahan, seperti Empu Purwa menginginkan, berbahagialah

gadis itu kelak setelah ia menjadi seorang permaisuri.

Sejenak kemudian barulah mereka mulai berbicara kembali.

Tetapi mereka sudah tidak membincangkan Ken Dedes lagi. Apa

yang mereka percakapkan adalah soal-soal yang tidak berarti,

menjelang hari-hari tua mereka. Tetapi akhirnya pembicaraan itu

sampai pula kepada Empu Sada, yang akan mencoba

mempergunakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Kasihan Empu Sada,” gumam Empu Purwa, “ia akan terjerumus

ke dalam kesulitan yang besar.”

“Mudah-mudahan ia mengurungkan niatnya,” sahut Panji Bojong

Santi.

Kembali mereka berdiam sejenak. Kembali Bojong Santi mencoba

merasakan perasakan Empu Purwa. Betapapun kekecewaan

membakar hati seorang ayah, namun ternyata ia tidak sampai hati

melihat anaknya mengalami bencana. Empu Purwa, meskipun tidak

mau menemui gadisnya, namun ia berada hampir di segala tempat

untuk mengawasi anaknya. demikianlah cinta orang tua terhadap

anaknya, dan adakah demikian pula sebaliknya?

Dalam pada itu Witantra dan kedua saudara seperguruannya

telah berada kembali di antara anak buahnya. Sidatta segera

menanyakan apakah yang sebenarnya terjadi dengan Kuda

Sempana.

Sebelum Witantra menjawab, maka Kebo Ijo telah menyahut

dengan lantangnya. Diceritakannya apa yang dilihatnya dan apa

yang dialaminya. Lancar dan penuh tekanan, sehingga setiap orang

menjadi sangat asyik mendengarnya. Tidak terkecuali Ken Dedes

sendiri.

Gadis bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu

mendengarkan dengan hati yang berdebar-debar. Ia tidak dapat

membayangkan, apa yang akan terjadi dengan dirinya, apabila Kuda

Sempana berhasil dengan rencananya. Mungkin ia telah mengambil

keputusan untuk membunuh diri.

“Untunglah bahwa Guru datang,” berkata Kebo Ijo, “kalau tidak,

kita semua pasti akan musnah dibakar oleh kemarahan Empu Sada.”

Yang mendengar cerita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mereka pun mengucapkan terima kasih di dalam hati mereka.

“Guruku adalah seorang yang bijaksana, yang dapat

memperhitungkan apa yang kira-kira akan terjadi dengan kita di

perjalanan ini,” berkata Kebo Ijo pula. Dan setiap orang pun

menjadi semakin kagum.

Tetapi dalam pada itu Witantra berkata, “Sudahlah kebo Ijo

jangan membual.”

“Bukankah sebenarnya demikian Kakang?” sahut Kebo Ijo,

“Langsung apa tidak langsung, bukankah Guru kita yang telah

menyelamatkan putri? Guru berbuat demikian tanpa pamrih. Kita

adalah prajurit-prajurit Tumapel. Adalah kewajiban kita untuk

mempertahankan Tuan Putri, tetapi Guru, sama sekali tidak

mempunyai kepentingan apa-apa. Namun ia telah berbuat, dan

bahkan menentukan.”

“Kau sendiri telah mengurangi nilai dari perbuatan Guru kita,

Kebo Ijo,” berkata Witantra.

“Kenapa?”

“Hanya orang-orang yang ingin menerima pujian, ingin menerima

balas jasa sajalah yang dengan bangganya memamerkan jasa itu

kepada orang lain,” potong Mahendra, “Apakah Guru akan senang

mendengar kau bercerita semacam itu?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi

murung, tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

“Bukankah guru berkata, “Mahendra meneruskan, “bahwa

seandainya Guru tidak hadir, maka ada orang lain yang dapat

berbuat serupa. Bahkan orang itu adalah ayah Tuan Putri sendiri.”

“Mahendra,” potong Witantra.

Mahendra terkejut mendengar suara kakak seperguruannya.

Sesaat ia tidak mengerti maksud kakaknya, kenapa ia memotong

kata-katanya. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa ia telah

terdorong menyebut ayah Ken Dedes, sedangkan orang tua itu

sengaja tidak mau menunjukkan dirinya. Meskipun Witantra dan

Mahendra tidak tahu sebabnya, kenapa orang tua itu tidak hadir di

perkemahan ini, namun pastilah ada sesuatu sebab, kenapa orang

tua itu lebih baik bersembunyi di belakang rumpun-rumpun liar.

Tetapi segera Mahendra terkejut ketika didengarnya suara Ken

Dedes dengan serta-merta, “Mahendra, apakah kau bertemu

dengan Ayah?”

Mahendra memandang Ken Dedes sesaat. Hanya sesaat,

kemudian ia menundukkan wajahnya. Hatinya menjadi berdebardebar.

Bukan saja karena pertanyaan Ken Dedes itu, tetapi sesaat ia

melihat wajah yang pernah mengguncangkan hatinya itu, maka

jantungnya seakan-akan semakin cepat berdenyut.

Sementara itu, yang menjawab adalah Witantra, “Tidak Tuan

Putri. Kami tidak bertemu dengan ayah Tuan Putri. Kami hanya

membayangkan dan menduga, bahwa ayah Tuan Putri tidak akan

sampai hati apabila bencana menimpa diri Tuan Putri.”

“Kakang Witantra,” berkata Ken Dedes kemudian,” berkatalah

sebenarnya.”

“Hamba berkata sebenarnya Tuan Putri,” sahut Witantra sambil

membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Guru hambalah yang

berkata kepada kami bertiga, bahwa kemungkinan besar adalah

ayah Tuan Putri akan selalu membayangi ke mana Tuan Putri pergi.

Namun itu hanyalah dugaan semata-mata.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Wajahnya yang pucat

karena peristiwa yang mendebarkan jantung itu kini menjadi

semakin suram, perlahan-lahan gadis itu duduk di sisi tandunya.

Sesaat ia memandangi api yang masih menyala, namun kemudian

tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dan mengusap matanya

dengan selendangnya. Hati Ken Dedes itu tiba-tiba serasa tersayat

ketika ia mengenangkan keadaan ayahnya dibandingkan dengan

keadaannya sendiri, “Apakah Ayah bergembira melihat keadaanku?”

katanya di dalam hati, “atau Ayah kini telah membenciku?”

Perkemahan itu kini menjadi sunyi senyap. Mahendra yang

menundukkan wajahnya, mencoba untuk menguasai perasaannya.

Ia tidak mau menjadi gila seperti Kuda Sempana. Ketika sekali ia

memandang Ken Dedes dengan sudut matanya, ia terkejut. Gadis

itu menangis meskipun ditahannya.

Mahendra menyesal bukan kepalang. Perkataannyalah yang telah

menuntun gadis itu ke dalam suatu kenangan yang pahit. Ia

kehilangan ayahnya.

Tak seorang pun yang kemudian berbicara di antara mereka.

Para prajurit itu pun kemudian beristirahat di dekat perapian,

berkelompok-kelompok. Beberapa orang telah menyingkirkan

beberapa korban dari orang-orang Empu Sada. Seorang dari mereka

yang terluka, telah dicoba oleh para prajurit Tumapel untuk

mengobatinya dengan reramuan yang memang telah tersedia.

Namun karena lukanya terlampau parah, maka orang itu pun tidak

tertolong pula. Tiga orang yang terbunuh dalam pertempuran itu.

Sedang dua orang prajurit Tumapel mendapat luka-luka. Tetapi

untunglah bahwa luka itu tidak terlampau parah sehingga keadaan

mereka tidak berbahaya.

Semalam itu hampir tak seorang pun yang dapat memejamkan

matanya. Meskipun Ken Dedes berusaha sambil bersandar pada sisi

tandunya, namun semua yang pernah terjadi seakan-akan selalu

membayang. Bahkan menjadi sedemikian jelasnya, sehingga terasa

seolah-olah baru siang tadi terjadi. berturut-turut sehingga saat

yang terakhir, yang baru saja terjadi. Kuda Sempana baginya benarbenar

seperti hantu yang selalu menakut-nakutinya ke mana ia

pergi dan di mana saja ia berada.

Tetapi Witantra sendiri saat itu dapat beristirahat dengan

tenangnya meskipun tidak juga sempat tertidur. Ia tahu benar

bahwa gurunya berada tidak terlampau jauh daripadanya, bahkan ia

pun percaya bahwa ayah gadis itu pun berada di sana pula.

Meskipun demikian, perasaan Witantra masih juga diganggu oleh

pembicaraan antara gurunya dengan Empu Sada. Gurunya telah

menyebut-nyebut nama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Witantra

pernah mendengar nama-nama itu disebut gurunya sebelumnya

sebagai nama-nama yang telah dilumuri oleh noda-noda hitam. Jauh

lebih kotor dari nama Empu Sada. Tetapi Witantra belum pernah

mendengar, apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang itu.

Tidak bedanya dengan Witantra, Mahendra pun selalu

digelisahkan oleh nama-nama yang belum banyak dikenalnya itu.

ketika ia mendengar nama itu dipercakapkan oleh Empu Sada dan

Empu Gandring, ia tidak begitu menghiraukannya. Tetapi gurunya

telah menyebut nama itu pula. Bahkan ketika ia menceritakan

nama-nama itu kepada gurunya, tampak kerut-kerut kening orang

tua itu.

Di sebelah lain, Kebo Ijo berbaring di atas rerumputan kering. Ia

sama sekali tidak memikirkan apa yang akan dilakukan Empu Sada

kemudian. Ia sama sekali tidak memedulikan nama-nama Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Anak muda itu sedang mengenangkan

apa yang telah terjadi. Bahkan tiba-tiba bulu-bulu tengkuknya

berdiri. Apakah jadinya seandainya gurunya tidak datang menolong

mereka?

“Hem,” desahnya di dalam hati, “hampir aku menjadi daging.

Alangkah kecewanya bakal istriku nanti. Ayah dan ibunya pasti

menjadi pingsan. Mereka urung mendapat seorang menantu seperti

aku. Seorang prajurit pengawal Akuwu Tumapel.”

Kebo Ijo itu tersenyum sendiri. Diamatinya bayangan nyala api

yang bermain-main di dedaunan. Ketika angin menghembus

tubuhnya disertai dengan suara gemeresik di sela-sela pepohonan,

Kebo Ijo mencoba memejamkan matanya. Tetapi ia tidak berhasil.

Yang bermain-main di rongga angan-angannya adalah, beberapa

hari lagi ia menjadi seorang mempelai. Namun dengan demikian, ia

selalu digelisahkan oleh kekhawatiran tentang dirinya. Katanya

kemudian di dalam hatinya, “Kalau aku harus bertempur kembali,

sebaiknya kelak, apabila aku telah melampaui hari-hari perkawinan

itu. Mudah-mudahan Empu Sada tidak mencegat perjalanan ini

sekali lagi. Apalagi bersama-sama dengan orang-orang yang

disebutnya bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

Berbeda dengan mereka. Sidatta dan para prajurit yang lain

masih selalu dibayangi oleh kegelisahan. Mereka belum dapat

memastikan bahwa bencana tidak akan kembali malam nanti.

Meskipun Kebo Ijo telah mengatakan bahwa gurunya akan selalu

mengawasi iring-iringan itu, namun hatinya masih juga dicemaskan

oleh bayangan-bayangan yang selalu mendebarkan jantungnya.

Sebagai seorang prajurit ia merasa bahwa seluruh pasukan itu

bertanggung jawab atas keselamatan Ken Dedes.

Malam berjalan menurut iramanya yang ajeg. Sesaat demi

sesaat, menjelang ujung hari berikutnya. Meskipun betapa

lambatnya, namun pagi hari yang mereka tunggu itu pun pasti akan

datang. Meskipun demikian, terasa bahwa tubuh-tubuh mereka

menjadi sangat penat. Bukan karena mereka baru saja bertempur,

justru karena mereka harus menunggu. Menunggu bagi mereka

adalah pekerjaan yang menjemukan. Mereka tidak dapat berjalan di

malam yang gelap. Akibatnya akan lebih berbahaya. Di belakang

dedaunan dan di belakang pepohonan, mungkin bersembunyi

bahaya yang telah siap menerkam mereka.

Namun akhirnya langit pun menjadi semburat merah. Bintangbintang

semakin lama menjadi semakin kabur, satu demi satu

bersembunyi dibalik cahaya yang semakin cerah di langit.

Demikian cahaya fajar menyentuh hutan itu, maka segera

Witantra mempersiapkan diri beserta seluruh iring-iringan. Setelah

mereka mengemasi semua perlengkapan dan membenahi diri, maka

segera iring-iringan itu berangkat meninggalkan hutan. Perlahanlahan

mereka maju menyusup di antara pepohonan dan akar-akar

yang bergayutan dari cabang-cabang pohon yang besar.

Sekali-sekali Witantra yang kemudian berjalan di paling depan

bersama Sidatta, mencoba memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Bahkan sekali-sekali Witantra mencoba mengetahui, apakah

gurunya ikut juga berangkat ke Panawijen meskipun tidak berada di

dalam rombongan itu.

Meskipun kemudian mereka berjalan dalam limpahan cahaya

matahari, namun bahaya masih juga dapat datang setiap saat.

Empu Sada mungkin akan menganggap bahwa di siang hari mereka

akan dapat lebih berhasil daripada di malam hari. Mungkin mereka

telah berhasil menghubungi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk

kemudian mereka datang bersama-sama untuk menebus kekalahan

semalam.

Tetapi ternyata mereka tidak lagi bertemu dengan Empu Sada.

Hutan itu pun semakin lama menjadi semakin tipis. Perjalanan

mereka sebenarnya termasuk perjalanan yang sulit. Namun daerah

yang paling pepat telah mereka lampaui.

Bahkan sekali-sekali mereka sempat melihat binatang-binatang

buruan yang berlari-lari ketakutan melihat barisan itu menerobos

sarang-sarang mereka.

Apabila mereka nanti meninggalkan hutan itu, mereka masih juga

harus melewati padang Karautan, meskipun tidak terlampau

panjang. Mereka akan melewati desa Talrampak untuk kemudian

sampai pada sebuah bulak panjang. Bulak itulah bulak yang terakhir

harus mereka lalui. Di ujung bulak itulah terletak padukuhan

Panawijen.

Ken Dedes yang duduk di atas tandu, merasa betapa penatnya

pula. Tandu itu bergetar apabila para pengusungnya harus

meloncati batang-batang yang roboh melintang perjalanan. Kadangkadang

bergoyang demikian kerasnya apabila mereka harus

menyusup dan kemudian mendaki batu-batu padas. Bahkan sekalisekali

kepala gadis itu terpaksa terantuk pada tiang-tiang tandunya

sehingga terdengar ia memekik kecil.

Kebo Ijo, yang kadang-kadang mendengar pula pekik itu

tersenyum di dalam hati. Kadang-kadang bahkan ia mengumpat,

“Anak itu seolah kurang saja yang dikerjakan. Kenapa ia ingin

menempuh perjalanan yang sesulit ini.”

Namun lepas dari bahaya yang datang dari Empu Sada, berjalan

lewat hutan ini agak lebih baik daripada apabila mereka dibakar

terik matahari di padang Karautan.

Kini, padang yang harus mereka lewati hanyalah beberapa

tonggak saja. Sebelum matahari naik terlampau tinggi, mereka pasti

sudah meninggalkan padang itu sampai di sebuah padang perdu

yang agak dingin. Seterusnya mereka akan memasuki daerah

persawahan dari padukuhan Talrampak

Ketika iring-iringan itu lewat daerah padukuhan Talrampak, maka

seperti dihisap oleh sebuah tenaga gaib, seluruh penduduk

padukuhan kecil itu, keluar dari rumah-rumah mereka. Dengan

kagumnya mereka melihat iring-iringan itu. Iring-iringan yang belum

pernah dilihatnya. Hanya satu dua orang tua-tua yang pernah

mengunjungi Tumapel berkata, “Aku dahulu pernah melihat pula di

Tumapel. Tetapi sudah terlalu lama.”

“Tetapi waktu itu iring-iringan yang megah semacam ini tidak

pernah keluar dari dinding kota,” sahut orang tua yang lain.

Orang pertama menganggukkan kepalanya sambil menyahut,

“Ya. Iring-iringan itu hanya berkeliling kota.”

Kemudian tak seorang pun yang dapat memberi penjelasan,

kenapa kali ini iring-iringan yang megah dikawal oleh prajuritprajurit

yang perkasa lewat dekat dengan padukuhan mereka.

Ketika orang-orang Talrampak melihat iring-iringan itu memasuki

jalan di tengah-tengah bulak, maka segera mereka tahu bahwa

iring-iringan itu akan menuju ke Panawijen.

“Mereka pergi ke Panawijen,” berkata salah seorang dari mereka.

Yang lain mengangguk. Katanya, “Apakah iring-iringan itu datang

dari Tumapel untuk melihat keadaan Panawijen sekarang?”

Tetapi iring-iringan itu seakan-akan tidak memedulikannya. Iringiringan

itu berjalan terus dalam irama yang tetap. Langkah para

prajurit masih juga berderap dengan gagahnya. Satu dua ekor kuda

yang turut dalam barisan itu pun kadang-kadang terdengar

meringkik.

Ken Dedes yang sudah cukup lama tidak melihat kampung

halamannya, semakin dekat dengan Panawijen, terasa justru

semakin rindu. Seakan-akan ia ingin meloncat mendahului iringiringan

yang dirasanya terlampau lambat. Namun ia berada di atas

tandu, sehingga ia tidak akan dapat mempercepat perjalanan

menurut kehendaknya.

Kini iring-iringan itu sudah memasuki sebuah bulak yang

panjang. Bulak terakhir yang harus mereka lalui, di sana-sini masih

terbentang lapangan-lapangan rumput dan perdu yang belum

diusahakan tangan. Sawah-sawah dari padukuhan Talrampak

ternyata tidak terlampau luas. Kemampuan penduduknya untuk

menggarap sawah sangat terbatas. Namun Ken Dedes tahu, bahwa

di sebelah yang lain, akan terbentanglah sawah-sawah yang subur,

pategalan yang hijau segar dan kemudian padukuhan yang aman

damai.

Tetapi gadis itu mengeluh di dalam hatinya. Padukuhan yang

damai itu pernah diguncangkan oleh peristiwa yang mengerikan.

Peristiwa yang berkisar pada dirinya.

“Mudah-mudahan Panawijen tidak kehilangan sifat-sifatnya,”

desahnya di dalam hati.

Matahari yang beredar di langit semakin lama menjadi semakin

tinggi, dan iring-iringan itu pun menjadi semakin mendekati

Panawijen. Lapangan-lapangan rumput dan perdu itu pun semakin

lama menjadi semakin tipis. Beberapa tonggak lagi, mereka akan

sampai ke daerah garapan orang-orang Panawijen. Tegalan dan

sawah-sawah yang mendapat saluran air yang dibuat oleh orangorang

Panawijen. Sawah-sawah yang lebih subur dan baik daripada

sawah dan tegalan orang-orang Talrampak.

Tetapi semakin lama mereka berjalan, timbullah berbagai

pertanyaan di hati Ken Dedes. Lapangan rumput itu pun semakin

lama menjadi semakin tipis dan kering. Gerumbul-gerumbul perdu

liar yang rimbun yang hijau semakin lama menjadi semakin jarang.

“Apakah orang-orang Panawijen kini mampu untuk mencoba

menjadikan daerah ini sebuah tegalan,” berkata Ken Dedes di dalam

hatinya, “apakah orang-orang Panawijen sudah mencoba merambah

pepohonan liar di lapangan perdu ini?”

Tetapi Ken Dedes tidak segera dapat menjawab. Namun yang

dilihatnya kemudian adalah sebuah lapangan yang kering.

Hati Ken Dedes menjadi berdebar-debar. Jauh-jauh ia

memandang ke depan, tetapi ia belum melihat warna-warna hijau

segar yang dirindukan. Bahkan yang terbentang di hadapannya

seolah-olah padang rumput Karautan yang kering.

Ken Dedes menjadi gelisah. Apakah jalan yang ditempuhnya ini

keliru? Tidak mungkin. Ia adalah seorang gadis Panawijen. Witantra,

Mahendra dan beberapa prajurit Tumapel yang lain pasti mengenal

Panawijen pula. Namun apa yang dilihatnya benar-benar bukan

yang diangan-angankannya.

Gadis itu melihat Witantra kini berjalan kaki saja di ujung

barisannya. Di sampingnya berjalan Sidatta. Di belakang tandu Ken

Dedes beberapa orang pemanggul tandunya berjalan berurutan

untuk saling berganti. Dan di belakang lagi, para prajurit berjalan

dengan tegapnya. Di sisi tandu itu masih berkibar panji-panji

kebesaran dipanggul oleh para prajurit pula, tersangkut pada

tunggul-tunggul yang megah, dengan landaan kayu berlian.

Tetapi ternyata bukan saja Ken Dedes yang menjadi heran

melihat alam yang terbentang di hadapannya. Witantra yang

berjalan di ujung barisan itu pun menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak

segera melihat, apakah yang tampak lain daripada masa-masa

sebelumnya. Yang segera dilihat oleh Witantra adalah tanah yang

kering di sisi-sisi jalan. Debu yang berhamburan dan panas matahari

yang menjadi semakin terik.

“Kenapa parit-parit itu tidak disalurkan kemari,” katanya di dalam

hati, “apabila demikian, maka tanah ini akan dapat dijadikan tanah

persawahan pula.”

Namun segera dijawabnya sendiri, “Agaknya tanah masih

berlebihan di sini. Tanah ini mungkin merupakan tanah cadangan.

Baik orang Talrampak maupun orang-orang Panawijen tidak cukup

tenaga untuk mengubah tanah ini menjadi tanah yang ditanami.”

Tetapi semakin jauh mereka berjalan, tanah di sekitar itu pun

masih tetap tanah yang kering berdebu.

Di langit matahari merayap semakin tinggi. Meskipun masih

belum terlampau siang, namun terasa panasnya bukan main.

Meskipun mereka tidak berjalan di tengah-tengah padang rumput

Karautan, tetapi sinar matahari terasa menyengat tubuh mereka.

Angin yang kering terasa mengusap wajah yang berkeringat,

memberikan sedikit kesejukan. Tetapi kembali terasa panas

matahari, seperti membakar kulit.

Ken Dedes semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Satusatu

dilihatnya juga pepohonan yang masih hijau. Namun seolah

betapa lesunya. Daunnya menunduk rendah tanpa pucuk-pucuk

baru di ujung-ujung rantingnya.

Tetapi iring-iringan itu berjalan terus. Panji-panji kebesaran

Tumapel berkibar dengan megahnya. Beberapa umbul-umbul dan

rontek berkibaran pula di sekitar tandu gadis Panawijen. Namun

rumput-rumput kering dan pohon-pohon perdu yang layu, sama

sekali tidak tertarik untuk menatap kemegahan itu. Seandainya

mereka dapat berbisik, maka akan terdengarlah bisikan sayu, “Air,

air.”

Meskipun rerumputan dan pepohonan itu tidak meneriakkannya,

tetapi apa yang tampak oleh mata Ken Dedes dan para prajurit

Tumapel itu ada ungkapan dari jerit tumbuh-tumbuhan itu. Dan hati

Ken Dedes pun menjerit pula, “Kenapa daerah ini menjadi kering

kerontang?”

Di kejauhan Ken Dedes melihat lamat-lamat sebuah pedesaan

yang hijau. Ya. Ia masih melihat warna itu. Hijau. Dan pedesaan itu

adalah Panawijen.

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Mudah-mudahan

penglihatannya bukan sekedar sebuah khayalan. Karena itu, maka

kepada seorang prajurit yang berjalan di sisinya. Ken Dedes minta

untuk memanggil panglima dari pasukan pengawalnya.

Dengan tergesa-gesa Witantra berjalan menyongsong barisannya

mendekati tandu Ken Dedes. Kemudian dengan hormatnya ia

bertanya, “Apakah perintah Tuan Putri?”

Meskipun sudah berpuluh bahkan beratus kali Ken Dedes

mendengar sebutan yang diberikan kepadanya oleh Akuwu Tunggul

Ametung, namun kadang-kadang masih terdengar aneh di

telinganya. Apalagi kini ia berada dekat dari desanya. Sehingga

sebutan tuan putri itu pun menjadi semakin janggal. Ia tidak ingin

sebutan itu, tetapi ia tidak berani melawan kehendak Akuwu

Tunggul Ametung.

“Kakang,” berkata Ken Dedes itu kemudian, “aku menjadi sangat

bimbang atas penglihatanku. Bukankah kita telah hampir sampai ke

Panawijen?”

Witantra menganggukkan kepalanya, “Hamba, Tuan Putri.”

“Bukankah yang tampak itu padukuhan Panawijen?”

“Kalau hamba tidak salah, Tuan Putri.”

“Bukankah kau pernah mengunjungi Panawijen?”

“Hamba, Tuan Putri.”

“Seharusnya kau tahu pasti, apakah itu Panawijen?”

“Tuan Putri adalah gadis Panawijen sejak kecil. Agaknya Tuan

Putri menjadi ragu-ragu pula atas daerah ini.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dengan

demikian ia mendapat kesimpulan bahwa bukan saja dirinya yang

menjadi bimbang atas pengamatannya, tetapi juga Witantra.

Sejenak Ken Dedes berdiam diri. Tetapi ia tidak dapat menahan

diri. Sehingga kembali ia bertanya, “Kakang Witantra, penglihatan

atas daerah ini sangat mencemaskan sekali.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi hatinya mengiakannya. Bahkan

ia menambahkan di dalam hatinya, “Daerah ini seperti hutan yang

terbakar.”

Karena Witantra tidak segera menjawab, kembali Ken Dedes

berkata, “Kakang, bagaimana menurut pendapatmu. Seharusnya

sebelum kita sampai ke Panawijen yang sudah tampak itu, kita

melalui suatu bulak persawahan yang panjang dan subur. Tetapi

yang kita lihat adalah sebuah lapangan yang kering.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tuan Putri, aku

pun menjadi sangat cemas melihat keadaan daerah ini.”

Tiba-tiba teringatlah Ken Dedes kepada embannya. Embannya itu

tidak bersedia mengikutinya ke Panawijen. Apakah karena emban

itu tidak akan tahan melihat keadaan ini setelah ia menyaksikannya

beberapa hari yang lalu, pada saat ia menjemput Mahisa Agni.

Tetapi kenapa emban tua itu sama sekali tidak mengatakan

kepadanya tentang kampung halamannya.

Tetapi hari Ken Dedes masih cukup tenang ketika semakin lama

Panawijen menjadi semakin jelas. Warna-warna hijau yang

memancar dari padukuhan itu telah menenteramkan hatinya.

Meskipun ia tidak lagi melihat batang-batang padi yang hijau subur,

serta tidak lagi melihat air yang tergenang melimpah-limpah dan

mengalir di parit-parit, namun Panawijen masih hijau seperti

Panawijen pada saat ditinggalkannya.

Yang ada di sawah-sawah kini hanyalah tanaman palawija.

Tanaman-tanaman itu pun tampak betapa hausnya. Daun-daunnya

yang kecil dan kekuning-kuningan. Batangnya yang kerdil dan tanah

yang berbongkah-bongkah seperti akan pecah.

Ken Dedes menjadi semakin ingin lebih cepat sampai. Tetapi ia

harus menahan dirinya. Ia harus bersikap tenang. Kini ia menjadi

pusat perhatian setiap prajurit Tumapel. Ia tidak lagi dapat berbuat

menuruti luapan-luapan perasaannya. Seandainya Ken Dedes yang

duduk di dalam tandu itu adalah Ken Dedes yang masih tinggal di

Panawijen beberapa waktu yang lalu, maka gadis itu pasti akan

meloncat dan berlari mendahului. Tetapi Ken Dedes yang sekarang

tidak berbuat demikian. Betapa perasaannya menjadi berdebardebar,

namun ia duduk saja di dalam tandunya.

Yang mendebarkan hati Ken Dedes bukan saja Panawijen yang

lain dari Panawijen yang ditinggalkan, tetapi apakah nanti yang

akan dikatakannya kepada kakak angkatnya? Apakah yang akan

diucapkannya dan bagaimanakah kira-kira tanggapan kakak

angkatnya itu? Ken Dedes sama sekali tidak berpikir tentang gadisgadis

kawan-kawannya bermain. Juga tidak tentang tetangganya.

apapun yang akan dikatakan oleh mereka. Tetapi bagaimana

dengan Mahisa Agni?

Semakin dekat dengan padukuhan Panawijen hati Ken Dedes

menjadi semakin berdebar-debar. Debu yang putih menghambur

dari belakang kaki-kaki para prajurit Tumapel mengepul di bawa

angin yang lemah. Kampung halaman, tempat Ken Dedes

dibesarkan, tempat gadis itu bermain-main setiap hari, kini terasa

sangat asing baginya.

Sejenak ia mereka-reka, bagaimana ia harus bersikap.

Bagaimana ia harus meyakinkan Mahisa Agni, bahwa ia tidak dapat

berbuat lain daripada menerima kesempatan yang datang.

Bagaimana ia akan mengatakan, bahwa Mahisa Agni tidak perlu

merasa tersinggung, bahwa ia menerima Akuwu Tunggul Ametung

sebelum minta izinnya karena keadaan yang hampir tak dapat

dikuasainya. Bukankah kemudian akuwu telah ingin mendapat

kesempatan menemuinya untuk menjelaskan persoalannya dan

memenuhi adat tata cara?

Tetapi angan-angan Ken Dedes selalu saja diganggu oleh

panasnya udara, teriknya matahari dan parit-parit yang kering.

Bahkan sampai beberapa tonggak di muka padukuhan Panawijen,

sawah-sawahnya juga sama sekali tidak berair. Tidak ada batangbatang

padi yang hijau, tidak ada tanam-tanaman yang subur.

Witantra masih juga berjalan di samping tandu Ken Dedes.

Namun hatinya juga selalu dililiti oleh berbagai pertanyaan tentang

Panawijen yang kering.

Padukuhan di hadapannya masih nampak hijau gelap. Pepohonan

masih juga berdaun rimbun. Tetapi semakin dekat mereka dengan

padukuhan itu, semakin jelas bagi mereka, bahwa di antara daundaun

yang hijau itu, bertebaranlah daun-daun yang mulai

mengering.

Dengan dada yang berdebar-debar maka iring-iringan itu kini

telah mendekati Panawijen. Beberapa ratus langkah lagi mereka

akan menginjakkan kaki-kaki mereka, di atas jalan induk padukuhan

yang terasa sangat asing itu.

Beberapa orang anak-anak yang sedang bermain-main, telah

melihat iringan yang hampir memasuki desa mereka. Dengan

tergesa-gesa anak itu berlarian, berteriak-teriak memanggil ibu-ibu

mereka. Tetapi sebagian dari mereka menjadi ketakutan. Mereka

masih ingat beberapa waktu yang lampau, ketika beberapa ekor

kuda membawa Kuda Sempana datang ke padukuhan itu untuk

merampas seorang gadis putri Empu Purwa.

Tetapi beberapa orang tua-tua melihat bahwa iringan itu

bukanlah iring-iringan orang berkuda. Bahkan mereka melihat, di

dalam iring-iringan itu terdapat sebuah tandu. Karena itu maka

orang-orang tua mencoba membicarakan di antara mereka, apakah

sebenarnya yang mereka saksikan itu.

“Panji itu adalah panji-panji kebesaran Tumapel,” berkata salah

seorang yang berambut putih seperti kapas.

Di sampingnya, seorang laki-laki kurus yang berjanggut panjang

dan telah memutih pula menyahut, “Ya. Hanya Akuwulah yang

berhak mendapat kehormatan dengan rontek, umbul-umbul dan

panji kebesaran itu.”

“Apakah Akuwu akan datang sekali lagi ke padukuhan ini seperti

pada saat Akuwu itu merampas Ken Dedes, putri Empu Purwa,”

desis laki-laki yang pertama.

Laki-laki berjanggut putih menggelengkan kepalanya. Katanya,

“Akuwu yang sekarang tidak akan telaten bepergian sejauh ini

dengan naik tandu. Kalau yang datang itu Akuwu Tunggul Ametung,

maka Akuwu itu pasti naik kuda.”

“Kalau begitu siapakah yang datang? Tanda-tanda itu

mengatakan bahwa di dalam tandu itu adalah Akuwu, atau ayah

bundanya. Tetapi ayah bundanya sudah tidak ada. Mungkin pula

permaisurinya. Tetapi Akuwu belum bepermaisuri.”

Keduanya kemudian berdiam diri. Anak-anak sudah berlari-lari

bersembunyi ke dalam rumah masing-masing. Tetapi kedua orang

tua itu mendapat firasat yang lain. Iring-iringan itu sama sekali tidak

mencemaskan mereka.

Karena itu maka kepada seorang perempuan yang mengintip dari

balik pagar batu halamannya ia berkata, “Tidak apa-apa. Keluarlah,

dan sambutlah iring-iringan itu. Mungkin sesuatu yang akan

mendatangkan kebaikan bagi padukuhan kita ini.”

Perempuan itu menjadi ragu-ragu. Tetapi orang tua itu

menjelaskan, “Kalau mereka ingin berbuat jahat, mereka tidak akan

membawa tandu itu. Mereka pasti datang berkuda dengan pedang

terhunus.”

Tetapi perempuan itu tidak mau keluar seorang diri. Segera ia

berlari ke rumah tetangganya. Ajakannya itu pun kemudian tertebar

dari pintu ke pintu, sehingga beberapa orang, walau pun dengan

ragu-ragu, keluar dari rumah-rumah mereka, berdiri di tepi-tepi

jalan menyambut kedatangan iring-iringan itu.

Iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Lakilaki

tua dan perempuan berdiri berjajar di mulut padukuhan.

Semakin lama semakin banyak. Ketika biyung-biyung mereka berani

melihat iring-iringan itu, maka anak-anak pun bermunculan pula,

meskipun mereka tidak berani terlampau dekat dengan orang tua

mereka.

Ken Dedes melihat beberapa orang di mulut lorong

padukuhannya. Semakin lama semakin jelas. Ia melihat dua orang

tua yang pernah dikenalnya. Di dekatnya adalah perempuanperempuan

dan agak ke belakang beberapa anak-anak kecil dengan

ragu-ragu berdiri di regol-regol halaman rumah.

Tetapi sekali lagi Ken Dedes menjadi heran. Ia tidak melihat

anak-anak muda yang biasanya berkeliaran di sawah-sawah dan

tegalan.

Hati Ken Dedes menjadi semakin gelisah. Panawijen benar-benar

terasa asing baginya.

Ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka orang-orang

itu pun menepi, memberi kesempatan yang sebaiknya. Mereka

menyangka bahwa iring-iringan itu pasti akan langsung menuju ke

rumah Ki Buyut Panawijen, atau hanya sekedar lewat di padukuhan

ini untuk tujuan yang lebih jauh.

Ketika ujung dari iring-iringan itu hampir menginjakkan kakinya

di pedesaan itu, maka orang-orang Panawijen segera membungkuk

dalam-dalam. Mereka mencoba menghormat orang-orang besar dari

Tumapel yang datang dalam sikap kebesaran.

Sidatta yang berjalan di ujung iring-iringan itu menganggukkan

kepalanya pula. Namun segera ia berhenti dan berpaling ke arah

Witantra. Ia belum tahu ke mana iring-iringan itu harus dibawa.

Witantra menangkap pertanyaan itu, tetapi karena ia sendiri

belum mendapat perintah, maka segera ia bertanya, “Ke mana kita

akan pergi Tuan Putri. Apakah kita akan pergi ke padepokan

ayahanda Tuan Putri?”

Ken Dedes mengangguk, jawabnya, “Ya Kakang. Aku akan terus

langsung menemui Kakang Mahisa Agni.”

Kini Witantra segera maju mendampingi Sidatta. Ia telah

mengenal jalan, menuju ke padepokan di ujung desa Panawijen.

Ketika iring-iringan itu kemudian masuk ke dalam padukuhan dan

orang-orang yang berdiri di pinggir jalan itu melihat tandu di antara

derap para prajurit menjadi semakin dekat, maka hati mereka pun

tiba-tiba berdesir. Darah mereka serasa akan berhenti mengalir

ketika mereka melihat siapakah yang duduk di dalam tandu itu.

Tiba-tiba seorang perempuan tua berdesis, “Apakah aku

bermimpi?”

Perempuan lain yang berdiri di sampingnya mengusap matanya

sambil bergumam, “Kita semuanya sedang bermimpi. Arak-arakan

ini hanya dapat terjadi di dalam mimpi.”

Seorang perempuan yang lebih tua lagi mencubit perempuan

yang mengusap matanya itu. Ketika yang dicubit berjingkat, maka

katanya, “Kau tidak bermimpi. Kalau kau merasakan sentuhan orang

lain maka kau tidak sedang tidur.”

Tandu itu menjadi kian dekat. Iringan rontek dan umbul-umbul

telah melewati mulut jalan, kini sebuah panji-panji berkibar

dihembus angin. Kemudian beberapa orang prajurit di sisi jalan, dan

di antara mereka adalah tandu itu. Tandu yang sangat bagus dan

berukir. Di dalamnya duduk seorang gadis muda yang cantik seperti

patung terindah di candi-candi. Kulitnya yang kuning sekuning

temugiring, dengan pakaian kebesaran yang berwarna cemerlang,

seperti golek yang diwarnai oleh juru sungging yang sempurna.

Tetapi bukan kecantikan gadis itu yang telah memesona mereka,

bukan pakaiannya yang cemerlang dan bukan keperkasaan para

prajurit Tumapel yang memandu panji-panji, tetapi yang telah

mencengkam jantung mereka adalah, bahwa wajah gadis itu pernah

dilihatnya. Gadis itu adalah gadis yang pernah menjadi buah bibir

rakyat Panawijen. Gadis yang pernah meruntuhkan air mata dari

setiap mata perempuan Panawijen.

Seorang perempuan yang sudah ubanan berdiri dengan mulut

ternganga memandangi gadis di dalam tandu itu. Bahkan dengan

serta-merta terloncat dari sela-sela bibirnya, “Ken Dedes, adakah

kau Ken Dedes putri Empu Purwa.”

Ken Dedes yang duduk di dalam tandu itu pun tergetar dadanya.

Dijulurkannya kepalanya sambil menjawab terbata-bata, “Ya, Bibi.

Aku Ken Dedes.”

Perempuan-perempuan itu pun seakan-akan menjadi terpaku

diam. Hati mereka benar-benar bergelora, dan jantung mereka

berdegupan semakin keras. Tetapi iring-iringan itu berjalan terus.

Ken Dedes hanya dapat menjulurkan sebagian dari badannya dan

melambaikan tangannya. Ia sebenarnya ingin meloncat turun dan

memeluk perempuan-perempuan yang telah dikenalnya dengan baik

itu. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Apakah hal itu tidak akan di

anggap menyalahi kedudukannya? Ken Dedes sendiri sebenarnya

tidak ingin mendapat penghormatan yang terlampau berlebihlebihan.

Tetapi ia sendiri masih belum tahu benar batas-batas yang

dapat dilakukan dan yang sebaiknya tidak dilakukan sebagai

seorang calon permaisuri. Karena itu, dengan ragu-ragu ia hanya

sempat melambaikan tangannya dari atas tandunya. Kalau kali ini ia

keras hati datang ke Panawijen dengan sebuah iring-iringan

kebesaran, hanyalah karena hatinya terlampau kecewa atas sikap

Mahisa Agni yang dirasakannya terlampau keras. Terlampau

menghargai diri sendiri tanpa melihat kepentingannya sebagai

seorang adik.

Iring-iringan dari Tumapel itu kini telah memasuki Panawijen

lebih dalam lagi. Sejenak kemudian Ken Dedes melihat gadis-gadis

Panawijen berlarian menyambut iring-iringan itu. Beberapa orang

yang dikenalnya baik-baik hampir-hampir tak dapat mengendalikan

diri mereka. Bahkan ada pula di antara mereka yang berteriakteriak,

“Ken Dedes. Ken Dedes.”

Ken Dedes masih melambaikan tangannya. Tidak disadarinya

bahwa dari sepasang matanya mengalir butiran-butiran air yang

menetes satu dua di pangkuannya. Ken Dedes benar-benar terharu

melihat kampung halamannya. Sejenak ia dapat melupakan daundaun

kuning yang berguguran semakin lama semakin banyak tanpa

ada pupus-pupus hijau yang tumbuh dari ujung-ujung ranting

pepohonan.

Gadis-gadis Panawijen itu pun menjadi sangat terharu melihat

Ken Dedes yang pernah hilang dari kampung halamannya. Mereka

menyangka bahwa mereka tidak akan pernah dapat melihat gadis

itu lagi. Namun tiba-tiba gadis itu datang dalam suatu iring-iringan

yang megah, iring-iringan yang belum pernah dibayangkan akan

dapat dilihatnya.

“Apakah Kuda Sempana itu kini menjadi orang yang sangat kaya

raya, sehingga mampu memelihara prajurit dan perlengkapan

sebanyak dan semewah itu,” desis seorang gadis yang bertubuh

tinggi semampai.

Kawannya yang agak lebih pendek daripadanya berdiri di atas

ujung kakinya sambil memanjangkan lehernya, “Aku tidak melihat

Kuda Sempana.”

“Ya. Aku pun tidak,” sahut gadis yang tinggi.

Keduanya kemudian terdiam. Mereka tidak dapat menebak

apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan Ken Dedes itu.

Tetapi Ken Dedes pun sejak memasuki padukuhannya selalu

diliputi oleh sebuah pertanyaan yang belum terjawab pula. Ia tidak

melihat seorang laki-laki muda dan bahkan hampir tidak dilihatnya

laki-laki selain orang-orang tua. Hal itu telah menambah

kegelisahannya di samping keharuan yang menusuk-nusuk hati.

Namun ia masih belum sempat untuk bertanya kepada seseorang,

ke mana gerangan setiap laki-laki dari padukuhannya. Apakah

Mahisa Agni pun tidak ada di padepokannya? Dan apakah karena

laki-laki Panawijen menjadi ketakutan akan sesuatu, sehingga

mereka pergi meninggalkan Padukuhan ini.

Kedatangan Ken Dedes telah benar menimbulkan berbagai

tanggapan bagi para penduduk Panawijen yang melihatnya. Mereka

belum pernah mendengar kabar yang meyakinkan sampai ke

kampung halamannya, bahwa Ken Dedes kini justru seorang bakal

permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Mahisa Agni yang mengetahui

dengan pasti akan hal itu, sama sekali tidak mengatakannya kepada

kawan-kawannya atau kepada siapa pun, karena hatinya sendiri

yang menjadi resah.

Orang-orang Panawijen itu pun kemudian berbondong ikut pula

di belakang iring-iringan itu, sehingga semakin lama menjadi

semakin panjang. Perempuan-perempuan tua, gadis-gadis anakanak

dan laki-laki tua. Hampir semua penghuni yang tinggal,

mengikuti iringan itu sepanjang jalan padukuhan mereka.

Tetapi Ken Dedes masih belum melihat seorang anak muda pun.

Ia belum melihat Ki Buyut Panawijen. Belum melihat laki-laki yang

pernah dikenalnya selain yang sudah terlampau tua dan sudah

dipenuhi oleh uban di atas kepalanya.

Witantra yang kini berjalan di samping Sidatta pun melihat

keganjilan itu. Tetapi disimpannya pertanyaan yang serupa dengan

pertanyaan yang mengetuk hati Ken Dedes itu di dalam hatinya.

Sekali-sekali ia berpaling memandangi wajah Sidatta. Tetapi perwira

itu agaknya tidak sempat memperhatikan para penyambutnya.

Matahari semakin tinggi mendaki langit, maka iring-iringan itu

pun menjadi semakin dalam memasuki padukuhan Panawijen. Iringiringan

itu langsung menuju ke padepokan di ujung padukuhan itu.

Padepokan Empu Purwa.

Ketika orang-orang Panawijen mengetahui arah dari iring-iringan

itu segera mereka berbisik di antara sesama. Seorang perempuan

yang kurus berdesis, “Apakah gadis itu akan pulang kembali?”

Perempuan yang berjalan di sisinya menyahut, “Mungkin gadis

itu belum tahu bahwa ayahnya telah pergi meninggalkan

padukuhannya karena hatinya yang sedih kehilangan gadis satusatunya.”

Keduanya terdiam. Namun mereka menjadi iba di dalam hati.

Ken Dedes sendiri, merasa bahwa sesuatu yang tidak wajar telah

terjadi di padukuhannya. Tanah yang kering, anak-anak muda yang

seakan-akan lenyap dari padukuhannya adalah pertanda yang

pertama-tama dapat dilihatnya.

Untuk menghibur diri sendiri ia berkata di dalam hatinya,

“Mungkin anak-anak muda Panawijen yang bukan anak-anak muda

yang cukup berani. Mungkin mereka menjadi ketakutan melihat

iring-iringan ini sehingga mereka bersembunyi. Nanti apabila mereka

menyadari bahwa kami tidak akan berbuat sesuatu, mereka pasti

akan datang kembali. Tetapi Kakang Mahisa Agni pasti berpendirian

lain. Kakang Mahisa Agni adalah bukan seorang penakut sehingga ia

pasti tidak akan turut bersembunyi dengan anak-anak muda yang

lain.”

Karena pikiran itulah, maka Ken Dedes berjalan terus menuju ke

padepokannya.

Ketika iringan itu membelok pada tikungan terakhir, hati Ken

Dedes berdesir keras. Di kejauhan ia melihat ujung lorong yang

dilalui itu. Di sisi lorong itulah terletak padepokannya. Padepokan

Empu Purwa.

Dengan gelora yang semakin cepat di dalam dada gadis itu,

maka iring-iringan itu menjadi semakin dekat dengan regol halaman

Padepokan Empu Purwa.

Yang mula-mula sampai di regol itu adalah Sidatta dan Witantra.

Sejenak mereka berdiri tegak sambil memandangi halaman

padepokan itu. Sidatta belum pernah melihatnya, karena itu ia tidak

melihat perubahan yang terjadi. Meskipun demikian ia berkata di

dalam hatinya, “Padepokan ini agaknya kurang terpelihara. Tamantamannya

menjadi layu dan rerumputannya menjadi kering. Tetapi

ia tidak berkata sepatah kata pun tentang tanggapannya itu.”

Berbeda dengan Witantra. Ia pernah melihat halaman yang

dahulu sejuk segar. Halaman yang diwarnai oleh kehijauan

dedaunan dan bunga yang beraneka warna. Kini yang dilihatnya

adalah daun-daun kering, rumput-rumput kering dan bunga-bunga

yang layu. Kuning gersang. Dilumuri oleh debu yang putih.

Meskipun Witantra seorang prajurit yang hampir tidak sempat

menikmati warna-warna tetumbuhan, namun hatinya serasa dilanda

oleh suatu perasaan yang aneh. Halaman ini sekarang seperti

padang rumput yang kering.

Sementara itu tandu Ken Dedes berjalan semakin maju. Di

mukanya berjalan Mahendra dan kemudian Kebo Ijo dengan

beberapa orang prajurit. Mereka pun kemudian berhenti pula di

belakang Witantra dan Sidatta.

Para prajurit itu pun kemudian menyibak, memberi jalan kepada

para pengusung tandu untuk maju mendekati regol halaman itu.

Demikian tandu itu sampai di depan regol, terdengarlah Ken

Dedes memekik kecil. Tanpa ada sesadarnya kedua belah

tangannya menutupi mulutnya. Matanya tiba-tiba terbeliak dan

jantungnya memukul terlampau keras. Apa yang dilihatnya tentang

halaman rumahnya benar-benar telah menghentak dadanya

sehingga serasa akan pecah.

Sejenak para pengusung tandu itu tertegun. Mereka mendengar

Ken Dedes memekik kecil, sehingga mereka tidak segera

melangkahkan kaki-kaki mereka memasuki halaman.

Dalam pada itu, dari sisi pendapa rumah di padepokan itu,

muncullah beberapa emban. Emban yang telah dikenal oleh Ken

Dedes. Emban kawannya bermain sejak kanak-kanak. Betapa

hatinya tergetar ketika ia melihat emban-emban itu berdiri tegak

dengan wajah yang pucat. Bukan saja pucat karena ketakutan

melihat iring-iringan prajurit itu, namun wajah itu memang pucat

dan sayu. Tubuh-tubuh mereka tiba-tiba telah menjadi semakin

kurus. Sekurus tanaman di halaman padepokan itu.

Sesaat Ken Dedes terpaku diam. Bagaimana mungkin semuanya

segera berubah dalam waktu yang tidak terlampau lama. Bagaimana

mungkin emban-emban itu menjadi cepat bertambah kurus dan

sayu. Wajah-wajah yang dahulu memancar gembira, kini menjadi

seolah-olah pelita yang kehabisan minyak. Wajah emban-emban itu

demikian suramnya sehingga hampir-hampir Ken Dedes tak percaya,

bahwa emban itulah yang dahulu pernah dikenalnya.

Ken Dedes kemudian, setelah melihat keadaan padepokannya,

benar-benar tidak lagi dapat menguasai dirinya. Ia tidak lagi teringat

akan kedudukannya. Ia tidak peduli apakah yang seharusnya dan

sebaiknya dilakukan sebagai seorang bakal permaisuri. Dengan

serta-merta ia berteriak, “Aku akan turun. Aku akan turun.”

Para pengusungnya terkejut mendengar teriakan itu, mereka

menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa mereka meletakkan

tandu.

Ken Dedes pun segera meloncat turun dari tandu itu. Sesaat ia

memandangi para emban yang berdiri di sisi pendapa. Tampaklah

betapa wajah para emban itu menjadi tegang. Hampir tidak percaya

mereka melihat, bahwa yang turun dari tandu dalam pakaian yang

cerah itu adalah Ken Dedes.

Ken Dedes yang tidak dapat lagi menahan diri segera berlari-lari

mendapatkan emban-emban itu. Seorang emban yang sebaya benar

dengan Ken Dedes, yang hampir setiap hari bermain bersama,

berkumpul dalam setiap saat, mengerjakan pekerjaan mereka

bersama, ternyata menjadi sangat terharu. Seperti Ken Dedes ia

pun tidak dapat mengendalikan dirinya. Sambil berlari pula ia

menyongsong gadis yang pernah dianggapnya hilang itu.

Sejenak kemudian keduanya saling berpelukan dan bertangisan.

Para emban yang lain pun segera berkumpul, mengelilingi kedua

gadis itu.

Witantra, Sidatta, Mahendra dan para prajurit yang lain melihat

pertemuan itu dengan hati yang tersentuh-sentuh pula. Tetapi

mereka kini berdiri saja mematung, menunggu perintah apa yang

harus mereka lakukan.

Tetapi rupanya Ken Dedes yang sedang meluapkan rasa rindunya

kepada orang-orang yang pernah dikenalnya baik-baik dan seolaholah

tidak akan bertemu lagi itu, tidak lagi memedulikan para

pengiringnya. Dengan air mata yang satu-satu menetes, maka gadis

itu kemudian berjalan diiringkan oleh beberapa orang emban

memasuki pendapa rumahnya dan hilang dibalik pintu di belakang

pendapa.

Witantra menggigit bibirnya. Ketika berpaling ke arah Sidatta,

perwira itu mengangkat bahunya.

“Kita tidak mendapat perintah apapun,” desis Witantra.

Sidatta mengangguk.

Kemudian Witantra harus mengambil sikap sendiri untuk

melindungi keamanan bakal permaisuri. Maka katanya kepada

Sidatta, “Kau di sini bersama para prajurit, aku akan berada di

halaman belakang supaya tidak seorang pun yang tidak kita

kehendaki memasuki halaman ini dari belakang.”

“Apakah ada regol butulan di halaman belakang?” bertanya

Sidatta.

Witantra tersenyum, jawabnya, “Aku belum pernah melihat

halaman belakang. Tetapi adalah berbahaya sekali kalau kita tidak

sempat mengawasinya. Seandainya tidak ada regol butulan

sekalipun agaknya untuk meloncati dinding batu setinggi ini tidak

terlampau sulit.”

“Mungkin seseorang atau beberapa orang akan dapat memasuki

tempat ini lewat belakang Kakang, tetapi apakah mereka akan dapat

membawa Tuan Putri meloncat dinding ini?”

“Adi Sidatta.” Sahut Witantra, “Seseorang yang menjadi kecewa,

bahkan merasa bahwa usahanya telah gagal, akan dapat berbuat

hal-hal di luar dugaan. Orang yang demikian akan dapat menjadi

berputus asa dan berpendirian, lebih baik dihancurkan sama sekali

daripada tidak berhasil memiliki.”

“Hanya orang yang berputus asa yang berbuat demikian.”

“Ternyata Kuda Sempana dan Empu Sada pun telah menjadi

putus asa. Apa yang dilakukan sekarang sebenarnya adalah luapan

dendam yang tak dapat diendapkan. Aku sangka Kuda Sempana

sudah tidak lagi mengharap akan memiliki Ken Dedes seperti

impiannya masa-masa lampau. Apa yang dilakukan sekarang

adalah, pancaran dari hati yang gelap.”

Sidatta menganggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan

Witantra. Bukan saja dalam persoalan ini, persoalan seorang gadis,

namun dalam persoalan-persoalan yang akan terjadi pula perbuatan

serupa. Keinginan yang gagal memang dapat menimbulkan

perbuatan yang tidak terduga-duga.

Kisah-kisah kidung dan kakawin-kakawin mengatakan, betapa

kadang-kadang orang mengorbankan dirinya, keluarganya dan

bahkan negerinya untuk mendapatkan suatu cita-cita. Kalau cita-cita

itu menjadi kabur, maka yang tinggal hanyalah bentuk

keputusasaan. Demikian pulalah yang terjadi dalam pemerintahan.

Seorang gadis akan sama bentuknya dengan sebuah pusaka dan

jabatan. Seseorang yang gagal mendapatkan gadis idaman, atau

sebuah pusaka keramat atau sebuah keinginan untuk memangku

jabatan agung, maka akibatnya dapat mengerikan sekali. Kegagalan

itu akan dikorbankan tanpa kesadaran bahkan kadang-kadang

timbullah malapetaka apabila kegagalan itu dibakar oleh pandangan

yang mengerikan, yang bertekad untuk hancur bersama, gagal

bersama. Karena pendirian yang demikian itu, akan terjadi,

membakar perahu yang sedang berlayar di tengah lautan, hanya

karena orang itu tidak tahan melihat orang lain menjadi nakhoda,

bukan dirinya sendiri.

Betapa indahnya sebuah cita-cita, namun apabila dilandasi oleh

hati yang hitam, pikiran yang kelam dan cara-cara yang sesat, maka

akan lenyaplah keindahan yang hakiki. Dan manusia akan menjadi

korban dari ketamakan mereka sendiri. Manusia akan menggali liang

di mana ia sendiri akan terperosok ke dalamnya.

Hanya mereka yang menyadari dirinya, menyadari

kemanusiaannya yang lahir dari sebuah kekuasaan yang Maha

Kuasa, akan dapat membuat neraca yang seimbang dari usaha,

perjuangan dan cita-cita lahiriahnya dengan kewajiban yang

membebaninya akibat dari adanya, atas kuasa dari Yang Maha

Kuasa itu, sehingga akan terpenuhilah Kebaktian yang utuh kepada

Yang Maha Esa dan pengabdian yang tulus kepada kemanusiaannya

sebagai suatu sikap rohaniah dan badaniah.

Tetapi ternyata bahwa Kuda Sempana telah menjadi bureng,

menjadi kehilangan keseimbangan, sehingga apa yang akan

dilakukan mungkin sekali di luar perhitungan.

Karena itu, maka Witantra tidak dapat membiarkan halaman

belakang tanpa pengawasan. Bersama saudara seperguruannya,

dan dua orang prajurit ia pergi ke halaman belakang dan duduk di

bawah sebatang pohon kemuning. Namun alangkah memelasnya.

Pohon yang rindang itu, selalu meruntuhkan daun-daunnya yang

telah menjadi kekuning-kuningan. Apabila hujan tidak segera turun,

maka padukuhan Panawijen pasti akan dilanda kekeringan yang

dahsyat.

“Apakah sebabnya?” pikir Witantra. Tetapi ia tidak bertanya

kepada siapa pun.

Mahendra dan Kebo Ijo pun kemudian duduk beristirahat di

bawah rimbunnya dedaunan pula. Di sudut lain tampak kedua

prajurit Tumapel duduk pula bersandar dinding halaman. Udara di

padepokan itu terasa panas sekali.

“Pohon bunga-bungaan dan taman sudah menjadi kering,” pikir

Witantra di dalam hatinya, “lalu apakah kerja para emban yang

menunggui padepokan ini, apabila untuk menyiram tanamantanaman

itu saja tidak dapat dilakukan?”

Tetapi Witantra itu berpikir lain ketika ia melihat kolam-kolam

yang kering. Kolam-kolam yang tidak berair.

Di halaman depan, Sidatta segera mengatur para prajuritnya.

Beberapa orang segera dapat beristirahat, sedang dua orang

bergantian harus tetap berada di regol halaman. Mereka harus

mengawasi setiap keadaan yang mungkin dapat berakibat tidak

seperti yang diharapkan.

Perempuan dan orang-orang tua, anak-anak dan gadis-gadis

yang mengikuti iring-iringan itu pun kemudian berdiri berjejal-jejal

di luar regol.

Mereka kini yakin benar, bahwa yang berada di atas tandu itu

memang Ken Dedes yang pernah dilarikan orang. Tetapi alangkah

mengherankan, bahwa gadis itu kini kembali dalam keadaan yang

sama sekali tidak disangka-sangka. Tetapi orang-orang Panawijen

itu tidak berani memasuki regol halaman karena di dalam halaman

itu dilihatnya para prajurit Tumapel bertebaran dan dua orang

penjaga yang berdiri di sisi sebelah menyebelah regol halaman.

Witantra yang di halaman belakang dan Sidatta kini tinggal

duduk menunggu, apa yang seharusnya mereka lakukan. Dalam

pada itu, Sidatta memerintahkan kepada para prajurit yang

berkewajiban untuk menyiapkan perbekalan mereka.

“Kita akan tinggal di sini sampai kapan Kakang?” bertanya

perwira bawahan Sidatta.

Sidatta menggeleng sambil tersenyum, “Aku tidak tahu. Tetapi

menurut pesan Akuwu, Tuan Putri harus segara kembali, sesudah

bertemu dengan kakaknya, Mahisa Agni. Bahkan Tuan Putri diharap

untuk kembali bersama-sama dengan kakaknya itu.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ken Dedes yang

masuk ke dalam rumahnya tanpa memberikan pesan apapun itu,

masih saja belum menampakkan dirinya.

Sementara itu Ken Dedes yang berada di dalam rumah, segera

dikerumuni oleh para endang. Betapa banyak pertanyaan yang

harus dijawab oleh Ken Dedes dari para endang itu, tetapi betapa

pula banyak pertanyaan yang tersimpan di dalam hatinya sendiri.

Karena itu, sebelum ia mengatakan tentang dirinya, maka yang

pertama-tama ditanyakannya adalah “Di mana Kakang Mahisa

Agni?”

Para endang itu saling berpandangan sejenak, seolah-olah

mereka menjadi ragu-ragu untuk menjawab, sehingga Ken Dedes

mendesaknya, “Di mana Kakang Agni?”

Salah seorang endang mencoba untuk mengatakan jawabnya,

“Ke padang rumput Karautan.”

“Ke padang Karautan? Apa kerjanya di sana?”

“Membuat bendungan,” sahut endang yang lain.

Dahi Ken Dedes tampak berkerut-kerut. Tiba-tiba ia pun teringat

akan semua penglihatannya di sepanjang jalan. Kering kerontang.

Sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Endang, kenapa sawahsawah

di Panawijen menjadi kering. Halaman padepokan ini pun

menjadi kering dan bahkan Panawijen tampak begini gersang?”

Kembali para endang menjadi ragu-ragu. Namun Ken Dedes

mendesaknya lagi, sehingga seorang endang terpaksa menjawab,

“Bendungan kita itu pecah.”

“Pecah?” Ken Dedes terkejut bukan buatan. Umur bendungan itu

sudah melampaui umurnya. Musim hujan dan banjir telah berpuluh

kali dilalui hanya dengan kerusakan-kerusakan kecil yang segera

dapat diperbaiki. Tetapi kenapa tiba-tiba bendungan itu pecah.

Endang yang mengatakannya bendungan itu berkata pula, “Empu

Purwalah yang memecahkan bendungan itu.”

“Ayah? Jadi ayah yang memecah bendungan itu?”

Endang itu mengangguk. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Ia

menyesal bahwa ia telah mengatakannya. Tetapi kata-kata itu telah

terlanjur meloncat dari mulutnya.

Keringat Ken Dedes segera mengalir membasahi pakaiannya

yang cemerlang. Ia tidak dapat mengerti kenapa ayahnya memecah

bendungan itu. Sehingga karena itu maka ia bertanya pula, “Kenapa

Ayah memecahkan bendungan itu?”

Endang itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin

Kakang Mahisa Agni dapat menjawab pertanyaan itu.”

Hati Ken Dedes menjadi kian berdebar-debar. Sekali lagi ia

bertanya, “Di mana Kakang Agni.”

“Ke padang Karautan. Setiap laki-laki dan anak-anak muda pergi

ke padang Karautan untuk membangun bendungan itu.”

“Beberapa hari yang lampau Kakang Agni telah datang ke

Tumapel,” sahut Ken Dedes.

“Ya, pada saat itu semua orang telah berangkat ke padang

Karautan. Tinggal Kakang Agni dan beberapa orang yang masih

menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini. membuat tampar ijuk

dan patok-patok. Begitu Kakang Agni datang dari Tumapel, segera

mereka berangkat menyusul yang telah berangkat lebih dahulu

bersama Ki Buyut Panawijen.”

Terasa sesuatu bergolak di dalam Dada Ken Dedes. Banyak benar

yang telah terjadi sepeninggalnya di kampung halamannya ini.

Namun keterangan emban itu bagi Ken Dedes merupakan jawaban

pula atas pertanyaan yang selalu mengganggunya sejak ia

memasuki padukuhan Panawijen. Sejak ia memasuki padukuhan ini,

ia tidak melihat seorang pun laki-laki dan anak-anak muda

Panawijen. Itulah agaknya, maka setiap laki-laki kecuali orang-orang

tua tidak ada di rumah. Ternyata mereka sedang berada di padang

rumput Karautan untuk membuat bendungan yang baru.

Tetapi keinginan Ken Dedes untuk segera bertemu dengan

Mahisa Agni rasa-rasanya tak dapat ditunda-tunda. Apalagi ia

memang mendapat pesan dari Akuwu Tunggul Ametung, supaya

segera kembali bersama-sama dengan Mahisa Agni sebagai tebusan

atas hukuman yang telah dijatuhkannya kepada Mahisa Agni dan

emban pemomongnya. Tetapi Mahisa Agni kini tidak ada di rumah.

Tiba-tiba Ken Dedes menyadari keadaannya. Ia datang sebagai

seorang calon permaisuri yang disertai oleh serombongan prajurit.

Karena itu, maka katanya, “Biarlah aku minta seseorang memanggil

Kakang Mahisa Agni.”

Para endang itu pun saling berpandangan. Alangkah besarnya

kekuasaan Ken Dedes kini. Ia dapat memerintahkan seseorang

untuk kepentingannya.

Dan para endang itu pun kemudian melihat bahwa hal itu benar

terjadi. Ketika Ken Dedes keluar dari rumahnya dan berdiri di

pendapa sambil melambaikan tangannya, maka segera

menghadaplah Sidatta. Sambil mengangguk dalam-dalam Sidatta

bertanya, “Apakah ada perintah Tuan Putri.”

“Oh,” dada setiap endang yang berdiri di belakangnya melonjak.

Serasa mereka berada di dalam mimpi. Ken Dedes datang dengan

pakaian yang cemerlang. Memanggil seorang perwira yang gagah

hanya dengan lambaian tangannya. Kini perwira itu membungkuk

hormat di hadapannya sambil menyebutnya Tuan Putri.

“Di manakah Kakang Witantra?” bertanya Ken Dedes.

“Di halaman belakang Tuan Putri,” jawab Sidatta.

“Panggillah,” perintah Ken Dedes.

Sekali lagi Sidatta menganggukkan kepalanya. Kemudian ia

meninggalkan Ken Dedes yang masih berdiri saja di pendapa.

Seorang endang yang tidak dapat menahan diri tiba-tiba berbisik,

“Siapakah orang itu?”

Ken Dedes berpaling. Betapapun hatinya sedang risau, namun

ketika terpandang mata endang yang aneh itu, ia tersenyum.

Jawabnya, “Namanya Sidatta. Ia adalah seorang perwira dari

prajurit pengawal Akuwu.”

“He,” endang itu terkejut. Pandang matanya menjadi semakin

aneh. Kawan-kawannya pun terkejut pula. Hampir tidak percaya

endang itu bertanya pula, “Kenapa ia begitu hormat kepadamu?”

Senyum Ken Dedes menjadi semakin lebar. Namun kemudian ia

bertanya, “Apakah yang dikatakan oleh emban pemomongku

beberapa hari yang lalu atau oleh Kakang Mahisa Agni?”

Endang itu menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tak ada yang

dikatakan selain berita keselamatan.”

“Tidak dikatakan di mana aku berada?”

Endang itu berpikir sejenak, jawabnya, “Di Tumapel.”

“Maksudku, di Tumapel aku tinggal di rumah siapa?”

Para endang itu pun saling berpandangan. Tetapi mereka benarbenar

tidak banyak mengerti tentang keadaan Ken Dedes, sehingga

kemudian mereka itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tiba-tiba seorang endang yang lain, yang agak lebih muda dari

Ken Dedes berkata, “Kau belum menjawab pertanyaan-pertanyaan

kami tentang dirimu. Kamilah yang selalu menjawab

pertanyaanmu.”

Sekali lagi Ken Dedes tersenyum, tetapi ia tidak sempat

menjawabnya, karena Witantra dan Sidatta kini telah naik ke

pendapa.

“Kakang Witantra,” berkata Ken Dedes kemudian, “ternyata

Kakang Mahisa Agni tidak berada di rumah.”

Witantra mengangguk, katanya, “Menurut pertimbangan Tuan

Putri apakah yang sebaiknya kami lakukan?”

Sejenak Ken Dedes berdiam diri. Ketika ia memandang ke

halaman dilihatnya beberapa orang prajurit sedang beristirahat

sambil mencari tempat untuk berteduh. Karena itu, tiba-tiba ia

menjadi ragu-ragu. Apakah mereka tidak terlampau lelah, apabila

beberapa di antaranya harus langsung menuju ke padang

Karautan?”

Dalam keragu-raguan itu terdengar Witantra bertanya,

“Barangkali seseorang tahu ke mana ia pergi?”

Ken Dedes mengangguk sambil menjawab, “Ya. Menurut para

endang, Kakang Mahisa Agni pergi ke padang rumput Karautan

untuk membuat bendungan.”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata,

“Apakah menurut pertimbangan Tuan Putri, salah seorang dari kami

perlu memanggilnya?”

Ken Dedes masih ragu-ragu. Ia melihat betapa tubuh para

prajurit itu telah dilumuri oleh keringat mereka yang seperti diperas

dari dalam tubuh mereka.

Tetapi Witantra berkata, “Apabila demikian, maka biarlah salah

seorang dari kami pergi menyusulnya. Mahendralah satunya orang

yang pernah melihat tempat di mana bendungan itu akan

dibangun.”

“Bagaimana menurut pendapatmu Kakang Witantra?”

“Apabila berkenan di hati Tuan Putri.”

“Apakah Mahendra tidak terlampau lelah?”

“Ia akan pergi berkuda.”

“Sendiri?”

“Ia sudah mengenal padang Karautan. Ia sudah mengenal hantu

padang. Meskipun demikian biarlah Adi Sidatta pergi bersamanya.”

“Hamba akan melakukannya,” berkata Sidatta.

“Apabila kalian tidak terlampau lelah, terserahlah kepada Kakang

Witantra. Tetapi, pesanku Kakang, jangan menimbulkan kesan yang

dapat membuat keadaanku lebih sulit. Kakang Agni hatinya

terlampau keras.”

Sidatta mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling memandangi

wajah Witantra dilihatnya orang itu menganggukkan kepalanya

sambil menjawab, “Ya Tuan Putri. Hamba telah mengenal serba

sedikit tentang kakak Tuan. Memang kakak Tuan Putri berhati keras,

namun jujur. Karena itu, biarlah nanti Adi Sidatta dan Mahendra

dapat menyesuaikan dirinya menghadapi kakak Tuan Putri.”

Hati Sidatta menjadi bertanya-tanya. Bukankah kakak Ken Dedes

itu juga seorang anak muda Panawijen. Seorang anak pedesaan?

Tetapi pertanyaan itu dibiarkannya melingkar-lingkar di dalam

dadanya.

Sementara itu Ken Dedes berkata pula, “Apabila terdapat

kesulitan, jangan mencoba memaksa. Aku ingin Kakang Mahisa Agni

datang kemari. Tetapi kalau terpaksa, aku akan menjemputnya

sendiri ke Padang Karautan.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik Tuan

Putri. Biarlah Mahendra dan Adi Sidatta berangkat sekarang.”

“Terserah kepadamu Kakang.”

Keduanya kemudian mengundurkan diri dari pendapa. Namun

tampak betapa wajah Sidatta memancarkan beberapa macam

pertanyaan. Meskipun pertanyaan itu tetap disimpannya, tetapi

Witantra dapat merasakannya, sehingga katanya, “Mahisa Agni

adalah seorang anak muda yang berhati keras. Telah beberapa kali

ia berkelahi melawan Mahendra, tetapi Mahendra selalu dikalahkan.”

“Adi Mahendra dikalahkannya?” bertanya Sidatta yang menjadi

keheran-heranan.

“Ya,” sahut Witantra, “anak itu melampaui Mahendra dalam

banyak hal.”

Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia

bertanya, “Apakah nanti kalau anak muda itu bertemu dengan Adi

Mahendra tidak akan terjadi sesuatu?”

Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Mahendra

telah minta maaf kepadanya.”

“Minta maaf?” Sidatta menjadi bingung.

“Ya. Mahendra selalu di pihak yang bersalah.”

Sidatta tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu benar sifat

pemimpinnya itu. Ia tidak pernah berkata lain daripada menurut

tanggapannya yang sewajarnya. Meskipun orang itu saudara

seperguruannya, kalau ia berbuat salah, maka Witantra akan

berkata demikian.

Witantra pun kemudian segera memanggil Mahendra dari

halaman belakang, sementara perwira yang seorang lagi

ditugaskannya mengawasi halaman belakang itu. Dalam pada itu

Ken Dedes telah kembali masuk ke dalam rumahnya.

Orang-orang yang masih berkerumun di luar regol menjadi

kecewa ketika mereka melihat Ken Dedes tidak memberi

kesempatan kepada mereka untuk menemuinya. Tetapi mereka

tidak segera pergi.

Sejenak kemudian Mahendra dan Kebo Ijo pun telah datang

menemui Witantra. Dengan berbagai macam pesan, maka Witantra

minta kepada Mahendra untuk memanggil Mahisa Agni di padang

Karautan bersama dengan Sidatta.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar, bahwa

Mahisa Agni seolah-olah tidak mau lagi mempersoalkan hubungan

antara adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung. Mahendra mengerti

betapa perasaan Mahisa Agni tersinggung. Ia merasa

dikesampingkan oleh adiknya sebelum ia mengambil keputusan. Ia

tidak mau menerima keadaan adiknya itu, sebagai sesuatu yang

telah terlanjur.

Tetapi ia tidak mau menolak perintah kakaknya. Sehingga karena

itu maka jawabnya, “Baik Kakang, Aku akan mencoba bersama

Kakang Sidatta.”

Setelah keduanya berkemas, sedikit mengisi perut mereka

dengan bekal yang mereka bawa, maka segera mereka

meninggalkan halaman padepokan menuju ke padang Karautan.

Demikian mereka meninggalkan pedesaan, maka segera terasa,

sinar matahari menyengat tubuh mereka.

“Bukan main panasnya,” desis Mahendra.

Sidatta tersenyum. Jawabnya, “Sebuah perjalanan yang hangat.”

Mahendra mengangguk. Kemudian katanya pula, “Kita akan

menyusur tidak jauh sepanjang sungai yang mengalir lewat padang

itu. Pada sungai itulah bendungan akan dibangun. Tetapi bukan itu

soalnya. Kalau kita kehausan, kita akan segera mendapatkan air.”

Sekali lagi Sidatta tersenyum. Kemudian mereka memacu kuda

mereka meninggalkan kepulan debu yang putih. Mereka meluncur di

jalan-jalan di antara sawah-sawah yang mengering menuju ke

padang rumput Karautan yang panasnya bukan main.

Tetapi perjalanan dengan kuda adalah jauh lebih cepat daripada

berjalan dengan kaki. Meskipun sekali-sekali mereka beristirahat di

tebing-tebing sungai untuk mengambil air, dan memberi kuda

mereka minum, namun waktu yang mereka perlukan tidak

terlampau panjang. Sebelum matahari terbenam, mereka telah

sampai ke tempat yang pernah dikenal oleh Mahendra.

“Kita hampir sampai,” desis Mahendra sambil mengusap

peluhnya.

Sidatta mengangguk. Wajahnya menjadi merah kehitaman

dibakar oleh terik matahari.

“Kuda kita terlampau lelah,” berkata Sidatta.

“Kita berjalan perlahan-lahan,” sahut Mahendra, “mudahmudahan

di tempat mereka bekerja terdapat sisa makanan hari ini.

Perutku terlampau lapar.”

Sidatta tertawa. Tetapi tertawanya masam sekali, sebab

sebenarnya perutnya pun telah menjadi lapar.

Tetapi saat itu udara telah menjadi sejuk. Matahari telah

terlampau rendah, bahkan sejenak kemudian warna merah di langit

selapis demi selapis menjadi semakin hitam.

Mahendra dan Sidatta berjalan terus. Kuda-kuda mereka kini

tidak lagi berpacu terlampau cepat. Sebentar lagi mereka sudah

akan sampai di tempat yang mereka tuju.

Dalam pada itu, langit pun semakin lama menjadi semakin pekat.

Satu-satu bintang seakan muncul dari balik tirai yang hitam. Sidatta

sekali-sekali melayangkan pandangan matanya jauh ke garis

cakrawala. Padang rumput ini seolah-olah tidak bertepi.

“Adi Mahendra,” berkata Sidatta kemudian, “apakah orang

Panawijen akan membangun di tengah padang yang seluas ini?”

“Ya,” sahut Mahendra sambil mengangguk.

“Mereka harus membuat saluran-saluran baru.”

“Tetapi kalau mereka berhasil,” sahut Mahendra, “maka mereka

akan dengan leluasa membuat suatu perencanaan menurut selera

mereka. Mereka dapat mengatur sekehendak hati, sawah-sawah,

ladang dan saluran-saluran air.”

“Kenapa mereka tidak memilih tempat lain. Menebas hutan

misalnya? Mereka akan langsung mendapat suatu daerah yang tidak

seterik padang ini.”

Mahendra menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin

mereka merasa bahwa dengan membuka padang rumput ini,

pekerjaan mereka jauh lebih ringan daripada menebas hutan. Kalau

mereka berhasil membuat susukan yang besar dan mengalirkan

airnya ke tengah-tengah padang rumput ini, maka padang ini pasti

akan menjadi daerah yang subur.”

“Tebing ini terlampau dalam,” desis Sidatta, “untuk menaikkan air

dari dalam sungai itu, pasti diperlukan pekerjaan yang maha berat.”

Mahendra tersenyum. Kemudian katanya, “Kau dengar suara

gemuruh.”

Sidatta memasang telinganya baik-baik, “Ya, lamat-lamat dibawa

angin.”

“Suara yang hilang timbul itu adalah suara jeram-jeram.”

“Oh,” sahut Sidatta, “kalau demikian, maka orang-orang

Panawijen pasti membuat bendungan di atas jeram-jeram itu.”

Mahendra mengangguk.

“Kalau begitu kita sudah dekat,” berkata Sidatta, “mari kita

percepat perjalanan ini.”

Tanpa menjawab ajakan itu, Mahendra menggerakkan kendali

kudanya sehingga kudanya berjalan lebih cepat lagi. Suara jeram itu

ternyata telah menjadi semakin jelas, dan membawa mereka ke

arah yang dikehendaki.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka disela-sela semaksemak

yang tumbuh sepanjang tepi sungai, mereka telah melihat

beberapa perapian yang menyala. Itu adalah perkemahan orangorang

Panawijen yang sedang bekerja membuat sebuah bendungan.

Mahendra dan Sidatta semakin mempercepat kudanya. Langit

kini telah menjadi hitam. Namun bintang-bintang berdesakan

memenuhi wajah yang kelam itu.

Ternyata suara derap kudanya telah mendahului mereka.

Beberapa orang yang mendengar derap kuda itu terkejut. Dengan

tergesa-gesa mereka ingin menyampaikannya kepada Mahisa Agni

yang ada di antara mereka. Tetapi Mahisa Agni sendiri telah

mendengar derap itu pula.

“Aku mendengar derap kuda, Paman,” desisnya.

Pamannya Empu Gandring yang duduk memeluk lututnya

mengangkat wajahnya. Kemudian sambil menganggukkan

kepalanya ia menjawab, “Ya. Aku mendengar.”

Mahisa Agni kemudian berdiri. Katanya, “Aku akan melihatnya.”

“Hati-hatilah,” pesan pamannya.

Mahisa Agni itu pun kemudian melangkah di antara kawankawannya

yang sedang beristirahat setelah hampir sehari penuh

mereka melakukan pekerjaan mereka, membangun sebuah

bendungan. Dengan kemauan yang bulat mereka bekerja dengan

sepenuh tenaga. Tak ada tempat bagi mereka yang hanya mampu

berbicara dan berteriak-teriak tentang bendungan yang rusak.

Tentang kesulitan dan tentang kelaparan yang mungkin akan

melanda mereka. Yang penting bagi penduduk Panawijen kini

adalah bekerja. Bekerja. Bendungan itu harus segera jadi, sebelum

persediaan di dalam lumbung-lumbung mereka terkuras habis.

Anak-anak muda Panawijen menyadari, bahwa kini bukan

masanya lagi untuk berbaring-baring di pasir tepian sungai sambil

berdendang dan bergurau. Bukan masanya lagi untuk bersenangsenang

dan mengadakan jamuan makan di antara mereka. Yang

harus mereka lakukan kini adalah bekerja dan prihatin.

Mahisa Agni kini telah berdiri di luar batas perkemahan orangorang

Panawijen. Beberapa langkah ia maju lagi untuk

menyongsong dua bayangan orang-orang berkuda yang sudah

semakin dekat.

Tetapi melihat derap dan langkah kuda itu, Mahisa Agni menduga

bahwa mereka bukanlah orang-orang yang ingin berbuat jahat

terhadap mereka yang sedang membuat bendungan itu. Meskipun

demikian beberapa orang kawan-kawannya telah menjadi cemas

dan berdebar-debar, meskipun kecemasan itu disimpannya saja di

dalam hati.

Salah seorang dari mereka yang duduk di samping Sinung Sari

berbisik, “Sinung Sari. Siapakah yang datang itu?”

Sinung Sari menggelengkan kepalanya sambil berbisik pula, “Aku

tidak tahu.”

“Bukankah kau dahulu pernah datang bersama dengan Mahisa

Agni kemari? Dan bukankah kau berhasil mengalahkan hantu

Karautan atau siapa yang kau katakan dahulu? Kuda Sempana

barangkali? Mungkin orang itu datang kembali. Apakah kau tidak

akan melawannya.”

Dada Sinung Sari berdesir. Memang ia pernah menyombongkan

dirinya terhadap kawan-kawannya. Kalau benar yang datang itu

Kuda Sempana atau siapa pun yang akan mengganggu mereka,

apakah yang akan dilakukan? Ternyata Jinan dan Patalan yang

mendengar pertanyaan itu menjadi berdebar-debar pula.

Tetapi mereka menjadi lega ketika mereka mendengar suara

Mahisa Agni menyambut orang yang datang itu, “Kau Mahendra.”

Tetapi segera Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika ia

melihat seorang prajurit datang bersama Mahendra itu.

Sebelum Mahendra menjawab, maka keduanya telah berloncatan

turun dari kuda mereka. Dengan akrabnya Mahendra kemudian

bertanya, “Bagaimana bendunganmu Agni?”

Mahisa Agni tersenyum kosong. Bendungan itu belum lagi

dimulai. Yang mereka kerjakan selama ini barulah persiapanpersiapan

untuk bendungan itu. Menancapkan patok-patok, mengisi

brunjung-brunjung dengan batu-batu dan membuat barak-barak

untuk berteduh di siang hari apabila mereka sedang beristirahat.

Maka jawab Agni kemudian, “Bendunganku sudah hampir siap.

Siap untuk dimulai.”

Mahendra tertawa. Katanya kemudian, “Kau mungkin belum

mengenal kawan seperjalananku. Namanya Sidatta, adalah salah

seorang perwira dari pasukan Kakang Witantra.”

Mahisa Agni mengangguk hormat dan Sidatta pun pula.

“Marilah Tuan,” Mahisa Agni mempersilakan, “tetapi alangkah

jeleknya tempat yang dapat kami pakai untuk menerima Tuan.”

“Terima kasih,” sahut Sidatta, “Kami dapat mengerti, bahwa

Tuan berada di tempat pekerjaan yang sedang Tuan lakukan

dengan tekad yang luar biasa. Membuat sebuah bendungan,

membuat susukan dan menggali parit-parit adalah pekerjaan

raksasa bagi padukuhan Tuan.”

“Mudah-mudahan kami berhasil,” gumam Mahisa Agni.

Maka mereka pun kemudian dibawa oleh Mahisa Agni duduk di

antara anak-anak muda Panawijen. Tetapi atas permintaan

Mahendra maka mereka mengambil tempat agak terpisah.

“Ada yang akan aku katakan,” bisik Mahendra.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga apa

yang akan dikatakan oleh Mahendra. Apalagi ia datang beserta

seorang perwira dari Tumapel.

Mahendra yang melihat perubahan wajah Mahisa Agni segera

berkata, “Tetapi soalnya sama sekali tidak penting.”

Mahisa Agni menggigit bibinya. Ia tahu bahwa Mahendra hanya

ingin menenangkannya sebelum mereka membicarakan persoalan

yang sebenarnya. Tetapi bagi Mahisa Agni, persoalan yang

menyangkut dirinya sendiri dengan istana Tunggul Ametung adalah

menjemukan sekali. berkali-kali persoalan itu selalu

membayanginya. Mengganggu ketenangannya dan pasti akan dapat

mengganggu rencana kerja yang telah masak dan kini telah dimulai

dilakukan bersama-sama dengan seluruh rakyat Panawijen. Tidak

ada bedanya dengan Kuda Sempana dan Empu Sada. Orang-orang

itu pasti akan mengganggu pekerjaannya pula dengan caranya.

Mungkin dengan orang-orang yang disebutnya bernama Wong

Sarimpat dan mungkin dengan orang-orang lain lagi. Meskipun

bentuknya berbeda, tetapi akibatnya akan sama saja.

Memperlambat pekerjaan itu. Bahkan mungkin dengan kekuasaan

yang ada pada Akuwu Tunggul Ametung, gangguan yang datang

daripadanya akan justru lebih besar.

Tetapi Mahisa Agni mencoba menahan perasaannya. Ia tidak

segera menyahut. Ia menunggu apalagi yang akan di katakan oleh

Mahendra.

Mahendra itu pun kemudian bergeser maju. Ditatapnya wajah

Mahisa Agni. Sekali ia memandang berkeliling. Dan sambil berbisik

ia berkata, “Agni. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak

ingin mengganggumu.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Sambil mengangguk ia berkata,

“Katakanlah Mahendra.”

“Baik,” sahut Mahendra. Kemudian sekali lagi ia bergeser maju.

Katanya, “Agni. Pagi-pagi benar aku sudah berjalan dari

perkemahan di tengah-tengah hutan. Hampir tengah hari aku

sampai ke padepokanmu di Panawijen. Baru sekejap aku

beristirahat, aku harus berjalan kembali kemari. Aku ingin berterus

terang Agni.”

Mahendra berhenti sesaat, dan dada Mahisa. Agni pun menjadi

kian berdebar-debar. bahkan Sidatta pun menjadi berdebar-debar

pula. Dalam pada itu Mahendra meneruskan, “Aku ingin berterus

terang kepadamu, tetapi tidak kepada orang lain. Agni, aku agak

terlampau lapar.”

“He?” mata Mahisa Agni terbelalak. Getar di dadanya bertambah

cepat, namun kemudian anak muda itu tertawa.

“Hem,” gumamnya, “segenap otot-ototku menjadi tegang.”

Sidatta pun kemudian menggamit Mahendra sambil bertata, “Ah,

terlampau berterus terang Adi. Seorang ksatria tidak akan kelaparan

meskipun tidak makan empat puluh hari empat puluh malam.”

Mahendra tertawa pula, “Aku tidak malu kepada Mahisa Agni.

Tetapi mungkin aku malu kepada orang lain.”

“Kalau hanya itu keperluanmu, maka aku akan memenuhinya

dengan senang hati,” berkata Mahisa Agni sambil tertawa.

Kemudian ia pun bangkit dan berjalan ke barak, mengambil bekal

yang diminta oleh Mahendra. Nasi jagung dan sambal kacang.

“Apakah anak muda itu mau juga makan makanan seperti ini,”

gumamnya, “tetapi apa boleh buat. Aku tidak mempunyai yang

lain.”

Dengan menjinjing sebuah bungkusan kecil Mahisa Agni berjalan

kembali ke tempat Mahendra dan Sidatta menunggu. Semula ia

tidak menaruh perhatian apa-apa atas cerita Mahendra tentang

perjalanannya. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya.

Mahendra itu pagi-pagi benar sudah harus berangkat dari sebuah

perkemahan di tengah hutan. Kenapa dari sebuah perkemahan.

Kalau ia hanya pergi berdua, kenapa mereka terpaksa berkemah di

tengah hutan. Kenapa mereka tidak menempuh jalan lain,

sepanjang padang rumput atau langsung menemuinya seperti yang

pernah dilakukan oleh Mahendra dahulu di padang ini. Tetapi anak

muda itu telah pergi ke padepokannya, padepokan Empu Purwa.

Kini dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar kembali. Bukan

karena kebetulan Mahendra menyebut semuanya itu. Pasti

tersembunyi sesuatu maksud di belakangnya. Karena itu langkah

Mahisa Agni menjadi semakin panjang. Ia ingin segera mengetahui,

apa yang sudah dilakukan oleh Mahendra berdua dengan Sidatta.

Ketika Mahisa Agni sudah duduk di samping Mahendra kembali,

maka segera ia bertanya, “Mahendra, dari manakah kau

sebenarnya? Apakah kau baru saja menempuh perjalanan yang

panjang sehingga kau terpaksa bermalam di perjalanan?”

Tetapi Mahendra telah mengecewakan Mahisa Agni, sebab ia

menyahut, “Bungkusan apakah yang kau bawa ini?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia segera

ingin tahu, dari mana dan untuk apa Mahendra datang ke

padepokannya dan kemudian setelah beristirahat hanya sesaat yang

pendek ia harus dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu

dan datang ke padang ini, sehingga anak muda itu menjadi sangat

lapar.

Meskipun sebenarnya Mahendra lapar, tetapi ia tidak perlu

dengan tergesa-gesa dan berterus terang mengatakannya kepada

Mahisa Agni. Maksud Mahendra adalah untuk mengurangi

ketegangan yang tampak di wajah Mahisa Agni. Tetap dalam pada

itu, setelah wajah Agni membayangkan senyum tiba-tiba kini wajah

itu menjadi tegang kembali.

Mahendra menjadi ragu-ragu. Apakah caranya itu dapat berhasil

untuk berbicara dengan Mahisa Agni tanpa sikap yang tegang kaku.

Mahisa Agni yang sudah menjadi tegang kembali itu,

menyerahkan bungkusannya sambil menjawab, “Nasi jagung.

Apakah kau dan Tuan Sidatta biasa makan nasi jagung?”

“Oh tentu,” sahut Mahendra, “di Tumapel kami juga makan nasi

jagung. Bukankah begitu Kakang Sidatta?”

Sidatta mengangguk sambil tersenyum, “Ya. Aku juga biasa

makan nasi jagung.”

“Apalagi sambal kacang,” sela Mahendra setelah melihat isi

bungkusan itu, “Apakah kau sendiri tidak makan Agni?”

“Baru saja,” sahut Agni dengan dada yang berdebar-debar. Ia

seakan-akan menjadi tidak bersabar menunggu Mahendra

menyelesaikan makan. Seolah-olah terasa Mahendra sengaja makan

terlalu lambat seperti juga Sidatta. Bahkan kemudian Mahendra itu

berkata, “Maaf Agni. Aku perlu air. Aku terlampau haus.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdiri juga

untuk mengambil bumbung berisi air.

Dalam pada itu ketika Mahisa Agni sedang meninggalkan

Mahendra berdua dengan Sidatta, terdengar Mahendra berbisik,

“Kau lihat Kakang. Baru melihat wajah-wajah kita, Mahisa Agni telah

menjadi tegang. Aku tahu, ia sudah jemu membicarakan masalah

adiknya yang satu itu. berkali-kali ia selalu diganggu oleh persoalan

itu.”

Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desahnya, “Melihat

sikapnya maka anak muda itu benar-benar keras hati.”

“Sebenarnya tidak. Ia anak muda yang baik. Ia tidak mendendam

seseorang. Aku pernah berkelahi melawannya karena kesalahanku.

Tetapi aku selalu saja dikalahkan. Meskipun ia menang atasku,

namun ia tidak berbuat apa-apa atasku ketika aku minta maaf. Ia

tidak menghina aku dan tidak ingin membalas dendam. Aku tidak

tahu kenapa ia bersikap terlampau keras terhadap adiknya. Mungkin

karena ia menjadi banyak kehilangan karena hilangnya adiknya itu.

Ayah angkatnya yang juga menjadi gurunya, bendungan,

sahabatnya yang juga bakal iparnya yang bernama Wiraprana yang

dibunuh oleh Kuda Sempana, dan ia sendiri hampir terbunuh untuk

mempertahankan adiknya. Tiba-tiba ia mendengar adiknya

menerima lamaran Tunggul Ametung yang turut melarikan gadis

itu.”

“Perasaannya tersinggung karenanya,” desis Sidatta.

“Tersinggung agak terlampau parah,” sambung Mahendra. Tetapi

percakapan itu terhenti ketika Mahisa Agni datang sambil membawa

bumbung air.

Mahisa Agni menjadi semakin kecewa ketika ia melihat nasi

jagung Mahendra masih hampir utuh. Karena itu maka katanya,

“Nasi itu sama sekali tidak memenuhi seleramu Mahendra?”

“Oh, tidak,” sahut Mahendra, “aku senang sekali makan nasi

jagung dan sambal kacang.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Ia mencoba menyabarkan diri

menunggu sampai mereka selesai makan. Tetapi hatinya yang selalu

bergolak itu tidak dapat ditahannya. Maka terloncatlah

pertanyaannya, “Dari manakah kalian berdua Mahendra?”

Mahendra berhenti menyuapi mulutnya. Tetapi ia masih raguragu

untuk menjawab. Namun di luar kehendaknya Sidattalah yang

menjawab, “Kami baru saja menempuh sebuah perjalanan.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia menunggu Sidatta

meneruskan, tetapi orang itu berdiam diri sambil meneguk setebuk

air dari bumbung. Karena Sidatta tidak meneruskan kata-katanya

maka kembali Agni bertanya, “Perjalanan jauh? Tetapi apakah kalian

telah singgah ke padepokanku di Panawijen?”

“Ya,” sahut Mahendra. Ia tidak dapat menyembunyikan persoalan

yang sebenarnya. Tetapi ia ingin mengatakannya dengan cara yang

lain, “Kami berjalan-jalan bersama Kakang Witantra.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin curiga.

Katanya, “Apakah Witantra sekarang berada di padepokanku di

Panawijen?”

“Ya,” sahut Mahendra acuh tak acuh sambil menyuapi mulutnya,

“perjalanan yang sama sekali tidak menarik. Kami harus berjalan

kaki dari Tumapel, lewat tengah hutan, untuk menghindari terik

matahari.”

“Kenapa?”

Seolah-olah tidak ada soal yang penting sama sekali, Mahendra

menjawab, “Kami mengantarkan adikmu.”

“Ken Dedes?” desis Mahisa Agni.

“Ya. Ia sedemikian rindunya kepadamu sehingga ia memaksa

untuk menemuimu. Tetapi setelah kami sampai di padukuhanmu,

kau tidak ada. Dengan serta-merta aku harus berjalan lagi ke

padang rumput Karautan.”

“Bohong!” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Agni semakin tegang.

Sidatta mengerutkan keningnya. Benar juga pesan Witantra dan Ken

Dedes. Mahisa Agni bersikap agak terlampau keras.

Tetapi Mahendra sama sekali tidak terkejut. Ia masih tetap

menyuapi mulutnya. Bahkan kemudian sambil tertawa ia berkata,

“Ah, nasimu benar-benar luar biasa. Enak dan cepat menjadi

kenyang.”

“Aku tidak percaya Mahendra,” berkata Agni tanpa menghiraukan

kata Mahendra, “kalian datang untuk menangkap aku dan

membawa aku menghadap Akuwu Tumapel karena aku pernah

meninggalkan Tumapel sebelum aku menghadap.”

Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi wajahnya masih tetap

tenang, dan mulutnya masih tetap mengunyah makanannya.

Meskipun demikian, degup jantung Mahendra tidaklah setenang

wajahnya. Bahkan ia kemudian menjadi cemas, bahwa caranya itu

pun tidak akan menyenangkan Mahisa Agni.

Sidatta yang duduk di samping Mahendra sudah tidak lagi dapat

menelan makanannya dengan lancar. Ia tidak pula bersabar

mendengarkan cara Mahendra mengatakan maksudnya.

Dalam pada itu terdengar Mahendra menjawab, “Ah. Kenapa

kami harus menangkapmu? Bukankah tidak ada alasan? Jangan

berprasangka Mahisa Agni.”

Mahisa Agni terdiam. Ia melihat Mahendra itu masih saja sibuk

dengan nasi jagung dan sambal kacang, seolah-olah memang tidak

ada sesuatu yang penting. Tetapi kenapa ia begitu tergesa-gesa

mencarinya. Apakah benar hanya karena Ken Dedes segera ingin

menemuinya?

Tetapi menilik cara Mahendra makan dan ketenangannya

menyampaikan cerita perjalanannya, terasa bahwa Mahendra

memang tidak sedang mengemban tugas yang terlampau penting.

Sidatta sekali menggeser duduknya dengan gelisah. Tetapi ia

memahami cara Mahendra menyampaikan maksudnya, sehingga

karena itu, ia mencoba untuk menahan perasaannya.

Tiba-tiba terdengar Mahendra berkata, “Adikmu ada di Panawijen

sekarang Mahisa Agni.”

“Biar sajalah,” jawab Mahisa Agni kosong.

Mendengar jawaban itu dahi Mahendra berkerut dan terasa dada

Sidatta berdesir.

“Ia sangat rindu kepadamu,” Mahendra meneruskan.

“Anak itu telah menjadi seorang besar di Tumapel. Apalagi yang

diharapkan dariku?”

“Bukankah ia adikmu?”

“Pada masa kita masih kanak-kanak ia adikku. Tetapi sekarang

kami menempuh jalan hidup kami masing-masing. Ia tidak

memerlukan aku lagi, dan aku tidak memerlukannya.”

Mahendra tersenyum. Senyum yang aneh. Namun ia hampir

kehabisan akal untuk mencari jalan supaya ia dapat mengajak

Mahisa Agni pergi ke Panawijen. Kalau ia tidak dapat membawa

Mahisa Agni ke Panawijen, maka kemungkinan terbesar adalah Ken

Dedes sendiri akan datang ke padang Karautan untuk mengambil

Mahisa Agni dan membawanya ke Tumapel. Dalam keadaan yang

demikian segalanya akan dapat terjadi. Ken Dedes membawa

serombongan prajurit yang sedang mengemban tugas dan di sini

banyak anak-anak muda yang pasti akan berpihak kepada Mahisa

Agni. Tetapi Mahendra tidak mengetahui bahwa anak-anak muda

yang berada di padang ini sebagian terbesar adalah anak-anak

muda seperti Sinung Sari, Jinan dan Patalan.

Meskipun demikian Mahendra masih mencoba berkata, “Aku tadi

belum mendapat hidangan apa-apa di padukuhanmu Agni.

Seharusnya aku besok pagi-pagi harus sudah sampai di sana pula.

Tetapi aku kira aku tidak akan kembali ke Panawijen.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Bukan saja Mahisa

Agni, tetapi juga Sidatta. Tetapi agaknya Mahendra memang sedang

memutar otaknya untuk memancing Mahisa Agni ke Panawijen.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Agni.

“Kau tahu perasaanku Agni,” berkata Mahendra tiba-tiba dengan

wajah yang bersungguh-sungguh, “Aku sudah menerima keadaan

yang aku hadapi sebagai suatu kenyataan yang tak dapat aku

ingkari. Tetapi meskipun demikian, aku tidak akan dapat melihat

gadis itu bersedih dan menangis terus menerus.”

“Kenapa?”

“Gadis itu merasa bahwa hidupnya kini benar-benar tinggal

sebatang kara. Seolah-olah semua orang yang dikenalnya pada

masa kanak-kanaknya, semua orang yang pernah dikasihinya sejak

ia masih kanak-kanak telah meninggalkannya. Ayahnya dan kau.”

(bersambung )

Jilid 18

MAHISA AGNI menundukkan wajahnya. Terasa dadanya berdesir.

Ia lebih senang mendengar bahwa Ken Dedes itu mengumpatumpat

dan mengutuknya. Ia akan menghadapi dengan dada

tengadah seandainya Ken Dedes itu mengirimkan beberapa orang

untuk menangkap dan menghukumnya. Tetapi Ken Dedes itu

menangis.

Mahendra melihat wajah Mahisa Agni tertunduk. Sekilas ia

memandang wajah Sidatta yang tegang. Di dalam hati perwira itu

berkata, “Anak muda yang keras hati. Tetapi hatinya adalah hati

malam. Hatinya mudah sekali menjadi luluh karena haru, bukan

karena cemas dan takut.”

Tetapi kini Mahendralah yang menjadi cemas. Ia telah

mengatakan sikap Ken Dedes yang belum pasti benar terjadi. Kalau

kemudian kedatangan Mahisa Agni disambut dengan wajah yang

merah tegang karena marah, kalau kedatangan Mahisa Agni

kemudian disambut oleh sikap yang sama sekali berlawanan dengan

apa yang dikatakan, maka Mahisa Agni pasti akan merasa ditipunya.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia harus dapat

mengajak Mahisa Agni ke Panawijen.

Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Mahisa Agni sekali-sekali

terdengar menarik nafas dalam-dalam. Mahendra masih saja

menghadapi sisa-sisa makanannya dan sekali-sekali tangannya

masih menyentuh sambal kacang. Tetapi debar di hatinya terasa

menjadi semakin cepat. Dalam pada itu Sidatta merenungi perapian

tidak jauh daripadanya. Apinya menjilat-jilat seperti sedang menarinari.

Di kejauhan dilihatnya beberapa anak muda terbaring di atas

alas rerumputan kering. Dingin padang mulai merayap tubuhnya.

Mahisa Agni yang tertunduk itu masih juga tertunduk. Kalau

benar kata Mahendra, maka anak itu akan mengalami siksaan batin

meskipun ia akan menjadi seorang permaisuri. Dalam pada itu tibatiba

diingatnya kata-kata ibunya. Kata-kata emban pemomong Ken

Dedes yang sudah semakin tua. Sebenarnya hatinya sedang dibakar

oleh sebuah perasaan yang mementingkan dirinya sendiri. Bukan

sekedar perasaannya tersinggung karena keputusan Ken Dedes di

luar persetujuannya. Tetapi jauh lebih dalam daripada itu.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah

udara padang rumput itu menjadi sedemikian tipisnya.

Mahendra memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi

pada Mahisa Agni dengan seksama. Tetapi ia masih belum

mendapat kesimpulan apakah Mahisa Agni akan bersedia datang

memenuhi undangan adiknya.

Sejenak mereka masih berdiam diri. Sidatta berusaha untuk

menahan diri, dan memberi kesempatan kepada Mahendra untuk

membujuk Mahisa Agni.

Dalam pada itu Mahendra pun kemudian berkata, “Bagaimana

Agni. Apakah kau besok pagi-pagi benar bersedia datang ke

Panawijen?”

Mahendra menjadi kecewa ketika Mahisa Agni menggeleng,

“Tidak Mahendra. Aku tidak sempat meninggalkan pekerjaan ini.

Aku harus selalu berada di antara kawan-kawanku yang sedang

membangun bendungan ini.”

Tanpa dikehendakinya sendiri Mahendra menggeleng-gelengkan

kepalanya. Ia tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan untuk

melunakkan hati Mahisa Agni.

Namun dalam pada itu terdengar Sidatta berkata, “Sebaiknya kau

datang Adi Mahisa Agni.”

Mahisa Agni memandangi wajah perwira itu. Wajahnya tenang

dan dalam. Perwira itu adalah seorang perwira yang bermata

cekung. Bibirnya banyak membayangkan senyum, tetapi wajah itu

berkesan sebuah tekanan yang pernah membebani hidupnya. Tetapi

Mahisa Agni tidak ingin menilai perwira itu, dan perwira itu pun tidak

ingin bercerita tentang dirinya, tentang penderitaan hidup yang

pernah dialaminya, sehingga meskipun ia masih muda, tetapi

perasaannya telah cukup mengendap.

Bahkan Mahisa Agni menjadi bertanya-tanya di dalam hati.

“Apakah perwira ini yang sebenarnya bertugas untuk

menangkapnya?”

Mahendra pun menjadi berdebar-debar pula. Ia tidak

mengharapkan bahwa karena kejengkelan, kekecewaan dan

ketidaksabaran Sidatta, maka perwira itu akan dapat menimbulkan

salah paham.

Tetapi Sidatta itu berkata sekali lagi, “Tuan Putri sangat

mengharap kedatanganmu.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Sebutan untuk Ken Dedes itu benarbenar

telah menggelitik telinganya. Tetapi ia tidak segera

menjawab. Keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat telah

mengganggu perasaannya. Ada keinginannya untuk memenuhi

permintaan Ken Dedes oleh dorongan berbagai perasaan. Ingatan

tentang ibunya, tentang pergaulan masa kanak-kanaknya dan

tentang berbagai macam kenangan masa silam. Tetapi apabila tibatiba

ia terantuk pada dirinya sendiri, hatinya meronta, “Persetan

dengan anak itu!”

“Maaf Kakang Sidatta,” sahut Mahisa Agni, “aku tidak dapat

datang.”

Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mahendra

memandanginya dengan cemas. Sudah tentu ia tidak dapat

melarang Sidatta mengucapkan perasaannya. Dengan demikian ia

akan menyinggung perasaan perwira.

Tetapi yang diucapkan oleh Sidatta kemudian adalah, “Sayang

sekali.”

Kemudian kepada Mahendra Sidatta itu berkata, “Adi Mahendra,

kalau Adi Mahisa Agni tidak bersedia menemui adiknya, Tuan Putri

Ken Dedes, maka adalah salah kami semua para pengawal.”

Sekarang Mahendralah yang tidak tahu maksud Sidatta

mengucapkan kata-kata itu Mereka memang tidak mengadakan

persetujuan apa yang harus mereka katakan, sehingga mereka telah

membuat cara masing-masing untuk memancing kesediaan Mahisa

Agni. Tetapi Mahendra menyadari, agaknya Sidatta pun sedang

mencoba melunakkan hati Mahisa Agni.

Dengan ragu-ragu Mahendra menjawab, “Ya Kakang, kitalah

yang bersalah.”

Mahendra sama sekali tidak mengerti, kesalahan apa yang telah

dilakukannya, namun ia merasa wajib untuk mengiakan, supaya

cara Sidatta tidak terganggu.

Tetapi Sidatta benar-benar menjadi kecewa. Ia ingin Mahendra

bertanya, kenapa kesalahan itu diletakkan kepadanya dan kawankawannya

supaya ia mendapat jalan untuk menjelaskan. Sebuah

persoalan yang telah dikarangnya. Karena itu dengan menggigit

bibirnya Sidatta menarik nafas dalam-dalam.

Melihat wajah Sidatta yang berkerut-kerut Mahendra menjadi

heran. Kemudian timbullah kekhawatirannya, bahwa ia telah

membuat tanggapan yang salah.

Tetapi tidak dengan sengaja, Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa

kalian yang bersalah?”

Sekali lagi Sidatta menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semula

Tuan Putri telah menyangka bahwa Adi Mahisa Agni berada di

padang ini. Tuan putri telah memerintahkan kepada kami untuk

langsung datang kemari karena betapa rindunya Tuan Putri kepada

satu-satunya kadang yang masih ada. Tetapi kamilah yang

menasihatkannya, supaya Tuan Putri datang lebih dahulu ke

Panawijen. Mungkin Adi masih berada di padepokan, dan

kemungkinan yang lain adalah, Tuan Putri akan tidak tahan panas

matahari yang terik. Tetapi ketika kami sampai di padepokan Adi,

ternyata padepokan itu kosong. Yang ada hanyalah para cantrik dan

endang. Betapa kecewa hati Tuan Putri. Yang dilakukan pertamatama

adalah menangis. Memanggil kami dan betapa Tuan Putri

marah kepada kami. Sebelum kami sempat duduk, aku dan Adi

Mahendra harus berangkat lagi menebus kesalahan kami. Tetapi

kalau Adi Mahisa Agni tidak bersedia datang, makan apabila

kesalahan ini didengar oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka

kedudukan kami akan terancam. Lebih daripada itu, Tuan Putri akan

menjadi sangat bersedih. Adalah pasti Tuan Putri akan menjadi

berangkat kemari betapapun alam menghalang-halanginya dengan

terik matahari, haus dan mungkin gangguan-gangguan yang lain.”

Kata-kata itu serasa menusuk-nusuk ulu hati Mahisa Agni.

Kalimat demi kalimat menghunjam ke dalam dadanya seperti pisau

yang sejari demi sejari menembus semakin dalam. Tiba-tiba dalam

kepedihan itu Mahisa Agni memotong dengan kasarnya, “Cukup!

Cukup!”

Sidatta terdiam mendengar Mahisa Agni tiba-tiba membentakbentak.

Tetapi perwira itu tidak menunjukkan sikap apapun. Ia

masih tetap duduk dengan tenangnya sambil memandangi nyala api

yang sedang menjilat udara.

Dalam pada itu, Mahendralah yang menjadi semakin cemas.

Tetapi ia menjadi agak tenang ketika ia melihat Sidatta tetap dalam

sikapnya.

Sidatta yang meskipun umurnya tidak terlampau jauh terpaut

dari umur Mahendra dan Mahisa Agni, namun karena pengalaman

hidupnya yang luas, segera dapat merasakan, bahwa di dalam hati

Mahisa Agni kini terjadi suatu pergolakan. Ia mengharap mudahmudahan

pergolakan di dalam dada Mahisa Agni itu akan

mendorong Agni untuk dapat memenuhi maksud kedatangan

mereka.

Kembali suasa menjadi kian sepi. Beberapa anak-anak muda

Panawijen telah tertidur nyenyak. Namun beberapa yang lain

mendengar lamat-lamat Mahisa Agni memotong kata-kata tamunya

dengan keras. Terasa dada mereka berdesir. Tetapi mereka tidak

melihat sikap-sikap yang menegangkan hati. Karena itu, maka

kembali mereka menikmati masa-masa istirahat mereka.

Sidatta kini membiarkan Mahisa Agni berbicara dengan diri

sendiri. Dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya, namun

sekali-sekali tangannya tampak memegangi keningnya yang menjadi

berat dan pening.

Tiba-tiba kesepian suasana itu dipecahkan oleh kata-kata Agni.

“Kau membingungkan aku, Kakang Sidatta.”

Sidatta berpura-pura terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya,

“Kenapa?”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Kembali wajahnya menunduk dan

terdengar sekali-sekali ia berdesah. Namun kembali dengan tiba-tiba

Mahisa Agni berkata sambil meremas tangannya, “Tidak. Aku tidak

akan pergi. Biar anak itu marah, mengumpat-umpat atau

mengutukku sekali. Aku tidak ada sangkut paut lagi dengan Ken

Dedes. Hidupku lebih penting bagi rakyat Panawijen daripada

untuknya. Seandainya ia akan datang kemari biarlah ia datang.

Biarlah ia dibakar terik matahari, biar ia kalap ditelan hantu

sekalipun.”

Sidatta menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Adi. Tuan

putri tidak akan mengumpat-umpat, memaki atau mengutuk

seandainya Adi Mahisa Agni tidak mau datang ke Panawijen. Tetapi

Tuan Putri itu pasti hanya akan dapat menangis dan merasa dirinya

tidak berharga di mata saudara tuanya. Ia tidak akan

memerintahkan menangkap tuan, tetapi ia akan meratap dan

merasa dirinya dikejar-kejar oleh dosa karena telah melukai hati

kakaknya.”

“Oh,” terdengar Mahisa Agni berdesah. Kini kedua tangannya

memegang kepalanya erat-erat seperti ia takut kepala itu akan

terlepas dari lehernya.

Kembali Sidatta membiarkan Mahisa Agni bertengkar dengan

perasaan sendiri. Ia dihadapkan pada dua kemungkinan yang saling

bertentangan. Dalam keraguan itu kembali terdengar suara ibunya

terngiang di telinganya. Suara yang seakan-akan telah mendorong

untuk pergi ke Tumapel beberapa hari yang lampau. Kini ia

dihadapkan lagi pada keadaan yang serupa. Ragu-ragu.

Malam yang kelam menjadi semakin kelam. Di kejauhan

terdengar burung malam melagukan lagu yang sayu.

Tiba-tiba dalam keheningan itu Mahisa Agni berkata lemah,

“Baiklah aku besok akan pergi bersama kalian.”

Mahendra terkejut mendengar kesediaan yang terasa terlampau

tiba-tiba itu, sehingga ia bergeser maju sambil mengulangi kata-kata

Agni, “Kau bersedia?”

Mahisa Agni mengangguk.

Sidatta tersenyum. Katanya, “Tuan putri akan sangat bergembira

karena kesediaan Adi Mahisa Agni.”

Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi kembali wajahnya terhunjam

ke tanah. Sedang Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya.

Meskipun ia merasa bersyukur karena kesediaan Mahisa Agni itu,

tetapi ia menjadi iba pula. Bahkan ia kini menjadi cemas. Mereka

berdua, Mahendra dan Sidatta ternyata telah mempergunakan

kelemahan hati Mahisa Agni untuk memaksanya pergi ke Panawijen.

Tetapi apabila kedatangan besok disambut oleh adiknya dengan

sikap yang bertentangan dengan yang dikatakannya, maka dapat

dibayangkan, betapa terpecah-belah hati anak muda itu.

Tetapi Mahendra tidak dapat berbuat lain, seperti juga Sidatta

tidak mempunyai cara lain untuk memaksa Agni datang ke

Panawijen, meskipun seperti Mahendra, Sidatta pun menjadi cemas.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalian telah

menyulitkan perasaanku. Tetapi biarlah aku sekali ini menuruti

kehendak Ken Dedes. Mungkin pertemuan ini adalah pertemuan

yang terakhir. Mungkin ia akan memberikan pesan atau mungkin ia

akan memaki-maki aku. Mudah-mudahan perasaanku sendiri tidak

menjadi tersiksa karenanya setelah aku, melihat anak itu. Anak yang

tidak tahu diri.”

Sidatta dan Mahendra tidak menyahut. Terbayang di dalam

kepalanya, betapa hati Mahisa Agni telah benar-benar terluka. Luka

karena tersinggung perasaan. Namun dugaan itu kurang tepat

seperti apa yang sesungguhnya terjadi. Tak seorang pun selain ibu

Mahisa Agni sendiri yang tahu, apakah yang sebenarnya bergolak di

dalam dada Mahisa Agni.

Malam yang menjadi semakin malam telah menelan perkemahan

itu. Hampir semua orang telah tertidur. Mahisa Agni pun kemudian

mempersilakan kedua tamunya beristirahat di atas sehelai tikar

pandan. Ketika kemudian ia kembali ke tengah-tengah perkemahan

itu dilihatnya Ki Buyut Panawijen pun telah tertidur. Tetapi ia

melihat pamannya duduk memeluk lututnya, masih seperti ketika

ditinggalkannya seolah-olah orang itu sama sekali tidak bergerak.

“Siapakah mereka Agni?” bertanya gurunya.

“Mereka adalah orang-orang Ken Dedes yang datang untuk

memanggil aku ke Panawijen besok,” sahut Mahisa Agni.

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah

mendengar persoalan antara Agni dan anak gurunya itu. Namun

belum seluruhnya. Empu Gandring belum mengetahui sedalamdalamnya

persoalan yang seolah-olah selalu menghantui perasaan

kemenakannya itu. Karena itu maka dengan hati-hati ia bertanya,

“Apakah kau besok akan pergi juga ke Panawijen.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya lirih, “Ya,

Paman. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa aku akan

datang memenuhi panggilan itu. Apakah Paman tidak setuju?”

“Kenapa aku tidak setuju, Agni? Aku mengharap segala sesuatu

menjadi baik. Kalau kau tidak bertemu dengan adikmu, maka kau

tidak akan mendengar keterangan yang langsung diucapkan.

Mungkin dengan demikian kalau telah salah paham, akan segera

dapat diakhiri. Yang tidak dapat kau mengerti dapat langsung kau

tanyakan kepadanya, yang tidak kau setujui kau langsung dapat

menyampaikannya. Hanya persoalan menjadi baik dengan

pembicaraan yang baik. Tetapi kalau salah paham itu kau simpan

saja di hatimu, maka untuk seterusnya tidak akan ditemukan

pengertian di antara kalian.”

Mahisa Agni menganggukkan, kepalanya. Desisnya, “Mudahmudahan,

Paman. Sebenarnya aku sudah jemu mengurus soal Ken

Dedes yang akan kawin dengan Tunggul Ametung. Ketika mereka

mulai dengan persoalan itu, mereka sama sekali tidak membawa

aku dalam pembicaraan, tetapi kemudian persoalan itu selalu

mengganggu aku ke mana aku pergi.”

“Karena itu,” sahut pamannya, “segera kau selesaikan soal itu.

Apakah keberatannya? Untuk seterusnya kau tidak akan terganggu

lagi.”

Mahisa Agni terdiam. Namun debar jantungnya menjadi semakin

cepat.

“Beristirahatlah Agni,” desis pamannya kemudian.

Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Ya, Paman.”

Perlahan-lahan anak muda itu bangkit dan berjalan ke sebuah

gubuk dengan atap anyaman daun kelapa. perlahan-lahan pula ia

membaringkan dirinya pada sehelai tikar. Namun untuk seterusnya

Mahisa Agni tidak segera dapat memejamkan matanya. Bahkan

seolah-olah semua peristiwa yang pernah dialami, kembali membelit

angan-angannya. Seruling, amben bambu, teritisan. Kemudian

tangis Ken Dedes, dan ibunya yang mencoba menghibur gadis itu,

kemudian betapa dadanya serasa pecah, ketika ia mendengar Ken

Dedes menyebut nama Wiraprana.

Mahisa Agni memejamkan matanya sambil menggelenggelengkan

kepalanya. Ia mencoba mengusir kenangan yang pahit

itu. Tetapi kenangan itu selalu datang mengganggunya.

Betapa tubuhnya sehari-harian diperas oleh kerja membuat

bendungan, namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat tidur

sekejap pun.

Ia terkejut ketika tanpa disengaja, ia memandang langit di timur

telah dilapisi oleh warna semburat merah.

Bahkan sejenak kemudian beberapa orang kawannya telah

bangun dan satu dua di antaranya telah pergi ke sungai untuk

mengambil air.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian ia

bangkit dan pergi ke tempat Sidatta dan Mahendra beristirahat,

ternyata mereka pun telah bangun pula.

Pagi itu, Mahisa Agni terpaksa meninggalkan kawan-kawan

mereka. Meskipun hatinya masih saja dikejar oleh keragu-raguan,

namun ia tidak membatalkan niatnya untuk pergi ke Panawijen.

Setelah minta diri kepada Ki Buyut dan pamannya Empu Gandring

beserta kawannya, maka Mahisa Agni pun kemudian pergi ke

Panawijen bersama dengan Sidatta dan Mahendra.

Di sepanjang jalan, Mahendra menceritakannya serba sedikit apa

yang dilihat dan dialaminya di perjalanan. Diceritakannya pula,

bahwa Empu Sada telah mencoba membantu muridnya merampas

Ken Dedes. Untunglah bahwa gurunya, Panji Bojong Santi, dalam

saat yang tepat telah menolong mereka.

“Seandainya Guru tidak ada, maka Empu Sada pun tidak akan

berhasil membawa Tuan Putri,” berkata Mahendra.

Mahisa Agni yang mendengarkan cerita itu dengan getar di

dadanya, menarik nafas dalam-dalam. Betapa bencinya kepada

Kuda Sempana yang masih saja ingin mendapatkan gadis itu tanpa

menghiraukan keadaan dan kenyataan. Tetapi Mahisa Agni tertarik

pada cerita terakhir Mahendra, sehingga ia bertanya, “Kenapa Empu

Sada tidak juga akan berhasil apabila Panji Bojong Santi tidak

menolong kalian.”

“Ada orang lain yang telah siap menolong pula.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Siapa?” ia bertanya.

“Empu Purwa.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, tetapi kemudian katanya, “apakah

kau sedang bergurau?”

Mahendra menggeleng, “Tidak. Aku tidak sedang bergurau.

Empu Purwa benar-benar hadir menurut guruku.”

Mahisa Agni memandang wajah Mahendra dengan tajamnya.

Namun kemudian kembali wajahnya merenungi padang yang luas

terbentang di hadapannya. Kembali angan-angannya melambung

pada masa-masa yang silam dan pada masa-masa yang tak pernah

dialaminya. Terasa suatu dunia yang aneh melingkar-lingkar di

dalam benaknya. Dunia kenyataan yang tak dapat diingkarinya,

bercampur baur dengan dunia angan-angannya yang berbenturan

dengan segala macam kekecewaan dan penyesalan. Tetapi Mahisa

Agni tidak menumpahkannya kepada siapa pun. Dunia itu tetap

menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.

Sementara itu di Panawijen, Ken Dedes menunggu Mahendra dan

Sidatta dengan gelisah. Menurut perhitungan Witantra, lewat tengah

hari secepat-cepatnya Mahendra baru akan datang. Dengan atau

tidak dengan Mahisa Agni. Namun Ken Dedes yang hampir tidak

sabar menunggu itu pun telah memerintahkan kepada Witantra

untuk mengatur para prajuritnya, supaya Mahisa Agni melihat,

bahwa yang hadir di Panawijen kini adalah seorang bakal

permaisuri. Seorang yang mempunyai kesempatan dan

kemungkinan yang gemilang di hari depan.

Hampir semalam penuh Ken Dedes mereka-reka, bagaimana ia

harus bersikap nanti apabila Mahisa Agni datang. Kadang-kadang

kekecewaannya kepada kakak angkatnya itu sedemikian menyembul

dari permukaan pertimbangannya, sehingga kadang-kadang

timbullah keinginannya untuk memperlihatkan kebesarannya.

Namun kadang-kadang timbul pula perasaannya yang lain. Perasaan

seorang gadis yang memerlukan perlindungan dari saudara lakilakinya.

Tetapi bagaimanapun juga, ia harus menunjukkan kepada Mahisa

Agni, bahwa ia bukan seorang gadis kecil lagi. Bukan seorang gadis

yang dapat merengek seperti pada saat-saat ia masih tinggal di

padepokan ini. Bukan lagi Ken Dedes yang hanya pantas melayani

Mahisa Agni makan di dapur, menuangkan sayur dan menyediakan

kendi untuk minum. Bukan lagi anak-anak yang berlari-lari mencari

Mahisa Agni, apabila dilihatnya sesuatu yang mencemaskan hatinya,

berteriak-teriak hanya karena seekor kambing yang lepas dari

ikatannya masuk dan mengucak dedaunan dalam pertamanannya.

“Tidak,” katanya di dalam hati, “aku sudah dewasa. Kakang

Mahisa Agni pun harus bersikap dewasa dalam persoalanku. Aku

harus dapat menunjukkan kepadanya, bahwa dalam keadaan ini aku

mempunyai pertimbangan yang benar. Bukan sekedar karena

berputus asa. Kebesaranku akan melimpah kepada Kakang Mahisa

Agni dan seluruh padukuhan Panawijen.”

Ken Dedes itu pun kemudian hatinya menjadi tetap. Ia akan

menyambut Mahisa Agni dalam sikap kedewasaan. Berbicara

dengan sikap yang dewasa.

Karena itu, ketika kemudian matahari mencapai puncak langit,

maka Ken Dedes pun telah bersedia duduk di pendapa

padepokannya. Ia telah memerintahkan kepada Witantra untuk

menjaga regol halamannya dan beberapa petugas lain di sudutsudut

pendapa. Witantra sendiri duduk bersila di pendapa itu

bersama-sama Kebo Ijo.

Namun betapa Kebo Ijo mengumpat-umpat di dalam hatinya.

Katanya, “Gadis Panawijen ini terlalu banyak bertingkah. Apa pula

perlunya tata cara resmi yang tidak dilakukan di istana ini. Bukankah

ia belum seorang permaisuri? Hem, apalagi nanti, apabila Ken Dedes

itu telah resmi menjadi seorang permaisuri. Kami setiap hari masih

harus mencium telapak kakinya.”

Tetapi ketika ia melihat kakak seperguruannya duduk tepekur

dengan khidmatnya, maka ia pun menundukkan kepalanya.

Ken Dedes sendiri, duduk di tengah-tengah pendapa, di depan

pintu masuk ke ruang dalam. Di atas sehelai tikar yang putih.

Di belakangnya duduk beberapa endang yang berumur

sebayanya. Para endang itu sendiri tidak tahu, kenapa ia harus

duduk pula di belakang Ken Dedes. Tetapi ketika mereka melihat

para prajurit yang dengan sikapnya yang garang berada di sekitar

halaman dan di sekeliling pendapa, bahkan panji-panji dan umbulumbul

pun dipasang pula, mereka sama sekali tidak berani

menanyakannya. Terasa pula, bahwa Ken Dedes kini bukan lagi Ken

Dedes yang dahulu. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa Ken

Dedes adalah seorang gadis yang bakal menjadi permaisuri Akuwu

Tunggul Ametung. Meskipun mereka tidak dapat mengerti

hubungan peristiwa yang telah terjadi atas Ken Dedes itu, namun

mereka kini melihat suatu kenyataan, bahwa Ken Dedes mendapat

kesempatan yang tidak pernah diimpikan.

Kalau semula mereka meratap dan menangisi gadis yang

dilarikan oleh Kuda Sempana, namun kini mereka melihat kebesaran

gadis itu. Dan mereka pun menjadi ikut bangga pula karenanya.

Ken Dedes yang duduk di tengah-tengah pendapa itu merasa,

betapa ia sudah terlampau lama menunggu, namun Mahendra

masih belum juga datang. Dengan gelisahnya ia berkali-kali

mengingsar tubuhnya. Sekali ke sisi kemudian kembali ke tempat

semula. Pandangan matanya seolah-olah tersangkut di regol

halaman. Dari sana nanti Mahendra akan datang bersama Sidatta

dan Mahisa Agni.

“Bagaimana kalau Kakang Mahisa Agni tidak mau datang?”

desahnya di dalam hati.

Kekecewaan Ken Dedes menjadi semakin bertambah-tambah.

Mahisa Agni benar-benar seorang yang tinggi hati. Seorang yang

tidak mau melihat kepentingan orang lain. Seorang yang hanya

dapat berpikir menurut kepentingan dan keinginan diri sendiri.

Seorang yang diperbudak oleh ledakan-ledakan perasaan tanpa

disertai dengan nalar dan pikiran. Semua peristiwa selalu

ditanggapinya dengan hati yang gelap.

“Alangkah menjemukan,” geramnya di dalam hatinya, “Kakang

Mahisa Agni benar-benar menjemukan. Sekali-sekali ia harus

mendapat pelajaran bahwa sikapnya sama sekali bukan sikap yang

baik. Bukan sikap yang dapat dibanggakan. Baik bagi dirinya sendiri,

maupun oleh keluarga di sekitarnya. Aku kira, ayah tidak pernah

mengajarinya demikian.”

Kemudian perasaannya pun meledak-ledak pula. Katanya di

dalam hatinya, “Ia harus datang. Ia harus datang. Ia harus bersedia

pergi ke Tumapel, menemui Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah

seandainya ia tidak mau merestui perkawinanku. Tetapi ia harus

belajar menghormati orang lain. Menghormati mereka yang

seharusnya mendapat kehormatan yang sepantasnya. Apabila ia

datang, ia harus melihat kebesaran Akuwu Tumapel. Maksud baik

yang terkandung di dalamnya dan kewajibannya sebagai seorang

saudara tua terhadap adiknya.”

Dengan demikian sikap Ken Dedes pun menjadi semakin garang.

Dipaksanya dirinya untuk dapat menunjukkan kebesaran yang

diwakilinya dari Istana Tumapel. Ia ingin membuat Mahisa Agni

tunduk karena wibawa kebesaran Akuwu Tunggul Ametung. Baru

kemudian, anak muda itu akan mudah menerima keterangannya

setelah ia dicengkam oleh kewibawaan itu.

Tetapi Mahisa Agni tidak juga segera datang.

Dalam pada itu, Mahendra, Sidatta dan Mahisa Agni masih

berada di perjalanan. Perjalanan yang seolah-olah menyusur

sepanjang tepi neraka. Betapa panasnya udara dan betapa

panasnya terik matahari. Berkali-kali mereka terpaksa berhenti.

Mengambil air ke sungai dan membiarkan kuda-kuda mereka minum

dan sekedar beristirahat. Sejenak kemudian barulah mereka

berjalan kembali.

“Alangkah beratnya pekerjaanmu, Agni, “gumam Mahendra,

“membuat bendungan di bawah terik matahari yang seakan-akan

membakar punggung.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Pekerjaannya memang

pekerjaan yang cukup berat. Apalagi bagi penduduk Panawijen yang

selama ini seolah-olah dimanjakan oleh keadaan alam di

sekelilingnya. Rakyat Panawijen merasa bahwa apapun yang

diletakkan di tanah, pasti akan tumbuh dan memberikan hasil bagi

mereka. Makanan mereka seolah-olah begitu saja meloncat dari

dalam bumi tanpa banyak kesulitan. Air yang melimpah dan jenis

tanah yang subur.

Tetapi kini mereka harus bekerja keras. Tidak ada pilihan lain

daripada bekerja keras. Kerja yang mula-mula terasa betapa

beratnya. Namun kemudian meresap ke dalam setiap diri rakyat

Panawijen, bahwa adalah menjadi kewajiban mereka untuk

mengerjakan pekerjaan itu apabila mereka tidak ingin menjadi

kelaparan. Apabila mereka tidak ingin dikutuk oleh anak cucu

mereka karena mereka telah menyia-nyiakan saat-saat hidup

mereka yang berharga.

Karena itu apabila bendungan itu kemudian dapat berwujud,

maka bendungan itu akan menjadi kebanggaan rakyat Panawijen

pada masanya. Akan menjadi kenangan bagi anak cucu, bahwa

pada masanya, rakyat Panawijen telah bekerja keras membuat

peninggalan yang berharga bagi mereka.

“Adalah suatu kebanggaan bagimu Agni, bahwa kau mampu

menggerakkan seluruh isi padukuhan Panawijen untuk melakukan

pekerjaan yang pasti akan sangat bermanfaat itu,” berkaca

Mahendra pula.

“Kerja itu didorong oleh suatu kesadaran, bahwa kami bersamasama

memerlukannya, Mahendra. Akan berbeda apabila pekerjaan

itu hanya akan bermanfaat bagiku saja. Apabila aku dapat

menggerakkan seluruh rakyat Panawijen untuk kepentinganku

sendiri, barulah aku merasa bangga. Aku akan merasa, bahwa aku

mempunyai pengaruh yang kuat atas mereka. Kecuali apabila aku

menipu mereka. Menipu rakyat. Seolah-olah aku membawa mereka

dalam satu kerja yang besar untuk kepentingan bersama, tetapi

sebenarnya kerja itu hanya untuk kepentinganku atau beberapa

orang yang dekat dengan aku.”

“Untunglah bahwa yang kini terjadi tidak demikian. Tidak keduaduanya.

Tidak untuk aku sendiri karena kekuasaan atau pengaruhku

atas mereka, juga bukan suatu penipuan atas rakyat itu. Mudahmudahan

aku dan para pamong padukuhan Panawijen serta Ki

Buyut akan selalu mendapat tuntunan dari Yang Maha Agung,

bahwa kerja ini adalah kerja kita untuk kita. Bendungan itu kami

bangun untuk kepentingan kami. Bukan kami yang dikorbankan

untuk bendungan itu.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Di sampingnya

Sidatta mendengar kata-kata Mahisa Agni itu dengan seksama.

Sama sekali tak disangkanya, bahwa di Panawijen, seorang anak

pedesaan akan dapat berkata demikian. Alangkah bahagianya

Panawijen memiliki sepasang kakak beradik Mahisa Agni dan Ken

Dedes. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang bertekad

keras, memandang setiap kesulitan sebagai tantangan yang harus

diatasinya. Sedang adiknya, adalah seorang gadis yang cantik. Yang

tanpa disangka-sangka, setelah mengalami kepahitan perasaan

yang mencengkam jantungnya, maka ia telah dituntun memasuki

bilik kanan istana Tumapel.

Demikianlah perjalanan itu menjadi semakin dekat dengan

padukuhan Panawijen. Matahari di langit kini telah melampaui

puncak ketinggian. Panas yang dilontarkannya seolah-olah

menghunjam di ubun-ubun.

Namun semakin dekat perjalanan itu, hati Mahendra dan Sidatta

menjadi semakin berdebar-debar. Apakah benar Ken Dedes akan

bersikap demikian mengharukan. Bagaimanakah sakit hati Mahisa

Agni, apabila sikap yang ditemui akan berbeda. Bagaimanakah kalau

benar Ken Dedes itu akan menyambut dengan wajah yang merah

karena marah, dengan kata-kata yang keras yang melontarkan

kekecewaan hatinya.

Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak berbuat lain. Meskipun

mereka tidak saling berjanji, tetapi apa yang bergolak di dalam hati

mereka adalah serupa.

Agni sendiri kemudian menjadi risau pula. Tiba-tiba jantungnya

segera menjadi semakin cepat berdetak. Sekali-sekali ia menarik

nafas panjang untuk mencoba menenangkan gelora di dalam

dadanya. Apabila dipandangnya wajah Mahendra, ia menjadi iri.

Anak muda itu justru lebih dahulu daripadanya, dapat menguasai

diri dan melihat kenyataan, meskipun Mahendra ini dahulu pernah

menjadi hampir gila dan hampir saja membunuh Wiraprana. Pada

saat itu, ia berdiri di pihak, bahkan menjadikan dirinya Wiraprana itu

untuk melawan Mahendra. Tetapi di hati Mahendra itu kini seolaholah

sama sekali tidak berbekas lagi. Ia dapat melihat,

mengantarkan, bahwa menerima perintah-perintah Ken Dedes

dengan hati yang sama sekali tidak membayangkan apa yang

pernah terjadi.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas, kemudian di dalam hatinya ia

berkata, “aku berkumpul dengan gadis itu sejak kanak-kanak.

Gambaran-gambaran tentang dirinya, jauh lebih dalam terpahat di

dinding hatiku daripada Mahendra.”

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu mengumpat-umpat sendiri di

dalam hati. Katanya, “Persetan! Aku tidak peduli lagi dengan gadis

itu. Aku tidak mempunyai kepentingan sama sekali. Kalau aku kini

datang kepadanya, adalah karena aku menjadi iba kepadanya. ini

adalah suatu sikap yang baik.”

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa sendiri kepada anganangannya.

Seolah-olah ia adalah seorang yang sangat baik hati.

Yang mementingkan kepentingan orang lain jauh lebih dahulu dari

kepentingannya. Apalagi anggapan itu tumbuh di dalam anganangannya

sendiri.

Untuk seterusnya, mereka bertiga seolah-olah telah kehilangan

kesempatan untuk saling berbicara. Mereka masing-masing

dicengkam oleh kegelisahan mereka sendiri-sendiri. Apalagi ketika

kemudian tampak di kejauhan, padukuhan Panawijen yang masih

cukup hijau, seperti segerombol gerumbul yang tumbuh di antara

padang yang kering kerontang.

Yang terdengar kemudian adalah derap kuda-kuda mereka.

Tanpa mereka kehendaki, maka kuda-kuda itu pun berjalan semakin

cepat, seakan-akan terasa oleh binatang-binatang itu, bahwa

perjalanan yang panas itu hampir berakhir.

Ladang dan sawah-sawah telah mereka lalui. Hampir tak ada

bedanya dengan padang rumput Karautan. Panas.

Namun sejenak lagi mereka telah sampai ke ujung lorong yang

memasuki padukuhan Panawijen. Terasa angin yang sejuk tiba-tiba

menampar wajah-wajah mereka, sehingga dengan serta-merta

mereka menarik nafas dalam-dalam. Lindungan dedaunan dan

silirnya angin di padukuhan telah membuat kuda-kuda mereka

bertambah tegar.

Tetapi hati merekalah yang kini tidak menjadi semakin sejuk.

Bahkan terasa dada mereka bertambah panas oleh kegelisahan

masing-masing. Sidatta dan Mahendra berdoa, mudah-mudahan

Ken Dedes itu tidak terlampau mengecewakan kakaknya. Apabila

demikian, maka hati Mahisa Agni yang keras itu pun akan menjadi

semakin membatu.

Beberapa gadis-gadis muda dari Panawijen ketika melihat Mahisa

Agni dan kedua orang kawan seperjalanan memasuki padukuhan,

dengan serta-merta berteriak hampir bersamaan, “Agni, adikmu

telah kembali.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum sambil

menyahut, “Ya. Aku kembali karena Ken Dedes.”

Namun jawabannya itu tidak melontar dari dasar hatinya yang

tulus. Ia telah mencoba memulas perasaannya.

Mendengar jawaban itu gadis-gadis Panawijen itu pun menyahut,

“Berbahagialah adikmu Agni. Aku dengar, kau akan beripar dengan

Sang Akuwu Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia mencoba tersenyum

pula sambil menjawab, “Adalah karunia bagi keluarga kami.”

Gadis-gadis itu tidak lagi berteriak-teriak ketika Mahisa Agni dan

kawan-kawannya menjadi semakin jauh. Yang tinggal adalah

kepulan debu yang putih.

Sidatta mencoba memandang wajah Mahisa Agni. Tetapi terasa

olehnya, bahwa apa yang diucapkan bukanlah yang dirasakannya.

Ia tersenyum, meskipun hatinya pedih. Tetapi untuk mencoba

menghilangkan kejemuannya Sidatta berkata, “Adi Mahendra,

ternyata gadis-gadis Panawijen cantik-cantik. Apakah Adi Mahendra

tidak ingin meniru Akuwu Tunggul Ametung, mengambil satu dari

mereka.”

Dada Mahendra berdesir. Tetapi segera ia menjawab, “Tentu

Kakang. Aku akan melamar salah seorang dari mereka. Biarlah

Mahisa Agni memilih untukku. Bukan begitu Agni.”

Mahisa Agni mengangguk kaku. Ia tahu bahwa Mahendra

tersentuh pula perasaannya. Namun sekali ia mengagumi kebenaran

hati anak muda itu, sehingga sama sekali tak berkesan pada wajah

dan sikapnya.

“Sayang, anak laki-lakiku masih terlampau kecil. Kalau aku kelak

akan memilih menantu, maka aku akan selalu ingat pada gadisgadis

Panawijen,” berkata Sidatta kemudian.

Mahendra tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut, sehingga

kembali mereka terlempar dalam kediaman.

Kuda-kuda mereka kini telah menelusuri jalan Padukuhan

Panawijen. Derap kaki-kaki kuda mereka di atas tanah berbatu-batu

terdengar seperti derap jantung mereka sendiri. Semakin ia

mendengar semakin keras. Bahkan ketika mereka telah menjadi

demikian dekatnya, derap kuda mereka telah tidak mereka dengar

lagi. Mereka disibukkan oleh suara yang riuh di dalam hati masingmasing.

Ketika itu, maka para penjaga regol di halaman rumah Ken Dedes

telah melihat kedatangan mereka bertiga. karena itu, maka salah

seorang daripadanya segera masuk ke halaman dan melaporkannya

kepada Witantra.

“Benarkah Adi Sidatta?” bertanya Witantra.

“Menurut penilikan kami, sebenarnyalah demikian. Berapa ekor

kuda yang kau lihat? Tiga.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada Ken

Dedes ia berkata, “Tuan Putri, agaknya Adi Mahisa Agni bersedia

datang. Ternyata yang datang adalah tiga ekor kuda.”

Dada Ken Dedes berdesir. Bahkan kemudian menjadi berdebardebar

semakin lama semakin cepat.

Dicobanya kemudian menenangkan hatinya dan bersikap seperti

yang telah direncanakan. Kalau Mahisa Agni nanti datang, maka ia

akan menyambutnya dengan sikap seorang yang cukup dewasa. Ia

akan memandangi Mahisa Agni itu sesaat. Tidak perlu dengan

tersenyum atau tertawa. Kemudian mempersilakan Mahisa Agni itu

duduk. Ditanyakannya bagaimana keadaannya selama ini, apakah ia

selalu sehat-sehat saja. Pertanyaan-pertanyaan itu harus pendekpendek

dan hanya beberapa masalah yang paling penting.

Seterusnya ia harus bertanya kenapa bendungan itu pecah,

bagaimana mereka sekarang membuat bendungan yang baru. Yang

terakhir ia harus mengajak Mahisa Agni pergi ke Tumapel. Jangan

ditanyakan kesediaannya, tetapi lebih condong pada suatu perintah

yang harus ditaati. Perintah dari seorang Akuwu yang berkuasa di

Tumapel dan sekitarnya.

Ketika Ken Dedes itu kemudian mendengar derap kuda-kuda itu,

maka terasa jantungnya mengembang. Bukan oleh kebanggaan,

tetapi oleh suatu perasaan yang aneh. Tiba-tiba darahnya mendidih

dibakar oleh kegelisahan.

Namun darah itu kemudian serasa membeku ketika ia melihat

para penjaga regol menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Tentu

mereka memberikan hormat kepada perwiranya Sidatta.

Dan benarlah. Sesaat kemudian dilihatnya seekor kuda muncul

dari regol itu, kemudian disusul yang lain, kuda Mahendra. Yang

terakhir dengan penuh keragu-raguan adalah kuda Mahisa Agni.

Mahisa Agni sendiri telah turun dari punggung kudanya.

Dituntunnya kuda itu memasuki halaman. Halaman rumah yang

didiaminya sejak kanak-kanak. Tetapi ketika ia melihat beberapa

orang prajurit, umbul-umbul dan panji-panji, maka terasa bahwa ia

telah terdampar ke suatu daerah yang asing.

Sejenak Mahisa Agni tegak seperti patung. Ketika matanya

beredar di sekeliling halaman itu, maka hatinya berguncang. Rumah

yang didiaminya sejak kanak-kanak, padepokan gurunya itu, seolaholah

kini telah diduduki oleh orang asing yang tak dikenalnya.

Hampir saja perasaannya meledak melihat keadaan itu,

seandainya matanya tidak segera terbentur pada seorang gadis

yang duduk di tengah-tengah pendapa, dihadapi oleh Witantra dan

Kebo Ijo.

Hati Mahisa Agni berdesir. Gadis itu adalah putri Empu Purwa.

Putri satu-satunya dari pemilik padepokan ini, sehingga

bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus merasa, bahwa Ken Dedes

lebih berhak atas padepokan ini daripada dirinya.

Tetapi lebih daripada itu dadanya pun berguncang pula.

Dilihatnya Ken Dedes seolah-olah bintang yang bercahaya

cemerlang di tengah-tengah langit yang gelap pekat. Seorang gadis

dalam pakaian kebesaran di antara para endang yang sederhana,

pendapa padepokan yang sederhana pula, di tengah-tengah

halaman yang hampir menjadi kering.

Dalam guncangan-guncangan perasaan itu, Mahisa Agni berdiri

tegak seperti patung. Kakinya serasa menjadi beku dan seluruh

aliran darahnya seolah-olah berhenti. Ia tidak tahu apa yang harus

dikerjakan. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan

dihadapkan pada suatu kelompok orang-orang yang berada dalam

sikap-sikap resmi. Ia tidak menyangka, bahwa di padepokan itu

seolah-olah telah terjadi suatu sidang pasewakan.

Mahendra dan Sidatta melihat perubahan yang terjadi pada

wajah Mahisa Agni. Wajah yang mula-mula menjadi tegang, namun

kemudian wajah itu telah berubah menjadi beku. Namun mereka

berdua pun selalu diliputi oleh kecemasan akan sikap Ken Dedes

terhadap kakaknya. Apakah sikap itu akan menyayat hati Mahisa

Agni, atau akan meluluhkannya? Kalau Ken Dedes bersikap keras

maka Mahendra dan Sidatta yakin, bahwa Mahisa Agni tidak akan

dapat ditundukkan. Tetapi kalau Ken Dedes bersikap seperti yang

telah dibayangkan kepada Mahisa Agni, maka hati anak muda itu

pun akan cair.

Dalam pada itu, Ken Dedes yang duduk di pendapa pun tidak

kalah tegangnya ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri mematung.

Dengan sekuat tenaganya Ken Dedes mencoba mempertahankan

perasaannya supaya ia dapat bersikap seperti yang dikehendakinya.

Tetapi yang dilihat adalah Mahisa Agni yang telah berubah dari

Mahisa Agni yang dulu Mahisa Agni itu, setelah tidak bertemu

beberapa lama, menjadi demikian kurus, dan wajahnya menjadi

merah kehitam-hitaman terbakar sinar matahari. Matanya menjadi

cekung terlindung di bawah alisnya yang tebal.

Melihat kenyataan itu dada Ken Dedes seperti tertimpa

reruntuhan Gunung Kawi. Alangkah mengharukan. Mahisa Agni

yang kekar itu tiba-tiba menjadi sangat berubah. Apakah

sebenarnya yang telah terjadi padanya? Mungkin Panawijen yang

kering ini, mungkin kerja yang dilakukannya tanpa mengenal

istirahat untuk membangun bendungan.

Dada Ken Dedes itu serasa menjadi terguncang-guncang.

Sejenak ia masih mencoba untuk tetap dalam sikapnya.

“Biarlah ia tahu,” katanya di dalam hati, “bahwa ia harus melihat

kenyataan. Kenyataan yang ada padaku dan kenyataan bagi dirinya

sendiri. Bahwa ia tidak akan dapat mengingkari kewajibannya.

Kewajiban untuk memenuhi panggilan Akuwu Tunggul Ametung

sebagai penguasa tertinggi di Tumapel dan kewajiban sebagai

saudara tua.”

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba Ken Dedes itu merasa dirinya

menjadi terlampau kecil ketika ia melihat sinar mata Mahisa Agni

yang menyorotkan kebesaran pribadinya. Wibawa yang justru

menyengsara dirinya. Bukan Mahisa Agni yang jatuh ke dalam

pengaruh wibawa yang diangan-angankan. Sorot mata yang cekung

itu adalah sorot mata Mahisa Agni yang dahulu juga, meskipun

tubuhnya kini menjadi kurus, dan wajahnya telah menjadi hitam

kemerah-merahan dibakar oleh terik matahari.

Ken Dedes itu seolah-olah melihat, betapa dirinya sendiri sedang

berusaha untuk meluruskan jalan mendaki ke tingkat tertinggi bagi

seorang gadis Tumapel. Permaisuri adalah kesempatan yang tidak

akan ditemui oleh gadis yang lain. Tetapi apa yang dilakukannya itu

adalah untuk dirinya sendiri. Tidak untuk orang lain. Sedang Mahisa

Agni yang telah menjemur dirinya sendiri di padang Karautan adalah

bekerja keras untuk kepentingan bersama. Kepentingan rakyat

Panawijen yang mengalami kekeringan. Terasa betapa rakyat

Panawijen telah memeras keringat mereka untuk mengatasi

kesulitan yang telah merasa melanda padukuhan itu. Seolah-olah

terbayang betapa mereka bekerja, memecah batu, menggulung

brunjung-brunjung dan kemudian bersama-sama seperti semut

mengangkat brunjung-brunjung raksasa dan menjatuhkannya ke

dalam air. Dalam pada itu terik matahari dengan panasnya

menyengat punggung-punggung mereka yang telanjang. Sebagian

yang lain telah bekerja membuat parit-parit induk, mencangkul

tanah terbungkuk-bungkuk sambil bermandikan keringat.

Tiba-tiba Ken Dedes itu tersentak. Ia kini benar-benar telah

dicengkam oleh suatu perasaan yang tidak dimengertinya. Ketika

sekali lagi terpandang olehnya sorot mata Mahisa Agni, maka

dadanya serasa telah meledak. Mahisa Agni yang kurus, yang

wajahnya terbakar oleh sinar matahari namun yang sorot matanya

masih setajam sorot mata yang dahulu, bahkan sorot mata itu kini

menjadi semakin bercahaya, seperti cahaya yang memancar dari

tekadnya yang bulat menghadapi kerja.

Ken Dedes kini telah kehilangan segala macam pertimbangan.

Ken Dedes sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia telah berdiri

dan dengan serta-merta berlari turun ke halaman. Terdengar

suaranya serak terloncat dari tenggorokannya, “Kakang! Kakang

Mahisa Agni!”

Mahisa Agni masih berdiri seperti patung. Tetapi kemudian kedua

tangannya pun bergerak, ketika terasa gadis itu mendekapnya

sambil menangis sejadi-jadinya.

“Kakang,” suara Ken Dedes tenggelam dalam tangisnya.

Halaman padepokan itu kini benar-benar dicengkam oleh

kesepian. Justru karena itu, maka suara tangis Ken Dedes pun

terdengar semakin keras. Tangis yang seolah-olah sebuah ledakan

yang dahsyat dari segenap pergolakan yang terjadi di dalam

dadanya.

Mahisa Agni, yang berdiri tegak, seakan-akan terpukau oleh

sebuah peristiwa yang tak dapat dimengertinya sendiri. Namun

didengarnya suara tangis Ken Dedes, dan dirasakannya kehangatan

air matanya menetes di tangannya.

Tiba-tiba mulut Mahisa Agni itu pun bergerak, dan meluncurlah

kata-katanya, “Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.”

Kata-kata itu benar-benar telah memberi kesejukan pada hati

Ken Dedes. Seperti kata-kata yang dahulu selalu didengarnya pada

masa kanak-kanak. Kalau Ken Dedes menangis karena bermacammacam

sebab, mungkin karena kakinya terantuk batu, mungkin

karena gadis itu terjatuh, mungkin karena ayahnya telah

memberinya sekedar peringatan atas kenakalannya, maka selalu

didengarnya apabila ia menangis kata-kata Mahisa Agni

“Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.”

Kini kata-kata itu didengarnya lagi.

Ken Dedes masih juga mendekap tubuh Mahisa Agni seolah-olah

tidak akan dilepaskannya lagi. Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni adalah

satu-satunya keluarganya. Mahisa Agni kini bukan saja kakaknya,

tetapi Mahisa Agni adalah ayahnya, bahkan Mahisa Agni adalah

ibunya. Karena itu, maka kini Ken Dedes seakan-akan mendapat

naungan dari terik panas yang membakar tubuhnya.

Sekali lagi Ken Dedes mendengar Mahisa Agni berkata, “Jangan

menangis, Ken Dedes.”

Tangis Ken Dedes itu pun kemudian mereda, perlahan-lahan

tangannya terlepas, dan diusapnya air matanya. Tetapi semua

rencana yang telah disusunnya telah lenyap dari kepalanya. Uruturutan

pertanyaan yang sudah dianyamnya dengan penuh

pertimbangan hampir semalam suntuk, kini telah tidak diingatnya

lagi. Ken Dedes sama sekali tidak mampu untuk menanyakan

keselamatan Agni, kemudian keadaan padukuhan ini dan

bendungan yang dibangunnya. Ken Dedes sudah tidak dapat lagi

mengucapkannya, berurutan seperti yang dikehendakinya. Apalagi

minta supaya Mahisa Agni pergi ke Tumapel bukan sebagai suatu

permintaan, tetapi harus dinyatakannya sebagai suatu perintah.

Yang pertama-tama diucapkan oleh Ken Dedes adalah, “Kakang,

kenapa kau menjadi kurus dan kulitmu menjadi merah kehitamhitaman

dibakar oleh terik matahari?”

“Aku tidak apa-apa Ken Dedes. Aku sehat.”

“Tetapi kau menjadi kurus.”

“Mungkin,” sahut Mahisa Agni kemudian, “tetapi bukan karena

suatu kesulitan. Tetapi karena kerja yang menyenangkan di padang

Karautan.”

Ken Dedes terdiam sesaat. Dipandanginya tubuh Mahisa Agni

yang semakin lama tampak semakin hitam. Namun sorot matanya

masih juga menyala seperti sorot mata Agni dahulu.

Para prajurit yang berdiri di sekitar halaman itu terpaku diam.

Mereka menyaksikan pertemuan yang mengharukan dari dua orang

kakak beradik. Perpisahan yang terjadi sebenarnya belum terlampau

lama. Namun selama ini mereka telah dirisaukan oleh perasaan

masing-masing, sehingga ketika mereka mendapat kesempatan

untuk bertemu maka meledaklah segala yang tersimpan di dalam

hati.

Sidatta dan Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa

yang mereka katakan tentang gadis itu benar-benar terjadi. Karena

itu maka Sidatta dan Mahendra mengharap, bahwa hati Mahisa Agni

akan dapat dicairkan.

Sejenak kemudian Mahisa Agni telah mendapatkan kesadarannya

sepenuhnya kembali. Disadarinya bahwa berpasang-pasang mata

memandanginya. Karena itu maka katanya kepada Ken Dedes, “Ken

Dedes, kembalilah ke pendapa.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi para prajurit yang

berdiri di sekitar pendapa, Witantra dan Kebo Ijo yang duduk di

pendapa serta segala macam umbul-umbul dan panji-panji, kini

telah tidak menarik lagi baginya. Ia telah kehilangan segala macam

rencananya yang telah direka-rekanya tidak saja semalam suntuk,

tetapi sejak ia masih berada di Istana Tumapel.

Mahisa Agni pun kemudian membawa Ken Dedes naik ke

pendapa. Dipersilakannya Ken Dedes duduk di tempatnya semula, di

antara para endang yang duduk dengan wajah yang aneh. Mereka

menjadi bingung apa yang mesti mereka lakukan. Ketika mereka

melihat Ken Dedes menangis maka apabila mereka berada dalam

keadaan seperti biasa, seperti yang pernah dialaminya dahulu, maka

mereka pasti sudah berlari-lari mendatangi. Menghibur dan

menggandengnya masuk ke dalam biliknya. Tetapi mereka kini

berada dalam keadaan yang tak mereka kenal, sehingga mereka

tidak berani beranjak dari tempatnya.

Ketika Ken Dedes telah duduk kembali, maka setiap prajurit di

halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Witantra dan Kebo Ijo pun

menganggukkan kepala mereka, seakan-akan mereka telah terlepas

dari cengkaman keadaan yang menegangkan urat syaraf mereka.

Namun dalam pada itu, Ken Dedes menjadi seolah-olah

membisu. Ditundukkannya kepalanya dan sekali-sekali jari-jari

tangannya mengusap air matanya yang masih menetes satu-satu.

Sehingga kembali pendapa itu menjadi sunyi. Beberapa orang duduk

dengan kaku, seperti tiang-tiang pendapa itu sendiri.

Witantralah yang kemudian memecah kesunyian itu. Perlahanlahan

ia bertanya kepada Mahisa Agni, “Mahisa Agni. Bukankah kau

selamat selama ini?”

Mahisa Agni berpaling. Seakan-akan ia baru bangun dari

tidurnya. Tergagap ia menjawab, “Ya Witantra. Aku selamat.”

Witantra menarik nafas, katanya, “Syukurlah. Mudah-mudahan

padukuhanmu tidak mengalami sesuatu.”

“Kita berharap demikian. Tetapi kau telah melihat sendiri apa

yang terjadi.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia

memang ingin tahu, apa yang telah terjadi di Panawijen dan di

padang Karautan.

Meskipun sebagian daripada apa yang terjadi di Panawijen dan di

padang Karautan telah diketahuinya, namun Witantra itu bertanya

pula, “Mahisa Agni. Aku hampir tidak dapat mengenal lagi daerah

ini. Panawijen dengan cepatnya telah berubah.”

“Ya,” sahut Agni dengan nada datar, “Panawijen telah berubah.

Segalanya berubah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali

ia bertanya, “Panawijen agaknya telah mengalami masa kering yang

dahsyat, sehingga tumbuh-tumbuhan cepat kehilangan

kesegarannya.”

Kembali Mahisa Agni menyahut dengan nada datar, “Ya.

Panawijen telah menjadi kering sejak bendungan itu pecah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika

mulutnya bergerak untuk mengucapkan pertanyaan-pertanyaan

berikutnya, tiba-tiba ia terkejut. Ken Dedes dengan serta-merta

memotongnya, “Cukup, cukup Kakang Witantra.”

Sejenak Witantra terpaku, namun kemudian ditundukkannya

kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Ampun Tuan Putri, kalau

pertanyaan-pertanyaan hamba tidak berkenan di hati.”

“Aku tidak mau mendengar, Kakang,” jawab Ken Dedes. Tetapi ia

tidak dapat meneruskan kata-katanya. Terasa kerongkongannya

seolah-olah tersumbat.

Kembali pendapa itu terdampar dalam suatu kesenyapan. Sekalisekali

para prajurit saling berpandangan. Namun kembali mereka

menundukkan kepala-kepala mereka. Mereka di hadapan pada

suatu keadaan yang sama sekali asing bagi mereka. Bagi para

prajurit itu, ujung pedang dan tombak tidak akan menggelisahkan

mereka seperti saat itu. Mereka dihadapkan pada suatu keadaan

yang tidak dapat dimengerti.

Tetapi Witantra, Sidatta dan Mahendra mempunyai perasaan

yang lebih tajam dari para prajurit itu. Mereka mengerti, bahwa Ken

Dedes tiba-tiba dilanda oleh suatu ketakutan mendengar jawabanjawaban

Mahisa Agni. Mahisa Agni pada saatnya pasti akan

mengatakan bahwa bendungan itu telah pecah. Dan Mahisa Agni

pasti akan mengatakan, seperti berita yang telah mereka dengar,

dan yang Ken Dedes telah pula mendengarnya, bahwa ayah Ken

Dedes, Empu Purwalah yang memecahkan bendungan itu, sebagai

suatu kutukan atas padukuhan Panawijen. Panawijen akan menjadi

kering, karena penduduknya tidak melindungi anak gadisnya yang

dilarikan orang.

Kebo Ijo pun dapat merasakan ketakutan itu pula. Tetapi

tanggapannya agak berbeda dengan kedua saudara

seperguruannya. Bahkan seluruh isi pendapa itu terkejut ketika tibatiba

terdengar Kebo Ijo itu tertawa tertahan-tahan, sehingga

suaranya mirip dengan ringkik kuda.

“Kebo Ijo,” bentak Witantra sambil memandangi wajah anak

muda itu dengan tajamnya, “kenapa kau tertawa?”

Dengan susah payah Kebo Ijo menahan tawanya. Jawabnya,

“Menurut kata orang-orang tua, Kakang. Kalau pembicaraan tibatiba

terhenti, maka pada saat itu di sekitar tempat pembicaraan itu

ada setan yang sedang lewat.”

Witantra menggeram. Hampir saja tangannya bergerak

menampar kening Kebo Ijo seandainya tidak segera disadarinya,

bahwa di hadapannya duduk seorang gadis yang pasti akan menjadi

ngeri melihat perbuatannya. Tetapi karena itu, maka terdengar

Witantra itu membentak betapapun ia mencoba menahan-nahan,

“Kebo Ijo. Pergi ke halaman belakang. Kawani perwira dan prajurit

yang berjaga-jaga di sana.”

Kebo Ijo pun kemudian menundukkan wajahnya. Ia menjadi

takut juga kepada kakak seperguruannya. Perlahan-lahan ia

beringsut mundur. Akhirnya ia pun turun dari pendapa dan berjalan

ke halaman belakang. Tetapi Mahisa Agni yang memandangi wajah

anak muda itu masih melihat bibir Kebo Ijo tertarik ke sisi. Betapa

hati Mahisa Agni menjadi panas melihatnya. Namun ia tidak berbuat

sesuatu. Bahkan kembali Mahisa Agni mengagumi, betapa Witantra

selalu berbuat dengan tepat, meskipun terhadap adik

seperguruannya sendiri.

Ken Dedes pun menjadi tidak senang melihat tingkah laku Kebo

Ijo. Namun gadis itu pun tidak mengatakan sesuatu. Bahkan

kemudian kembali dadanya dilanda oleh perasaan takut dan cemas.

Ia memang tidak mau mendengar lagi cerita tentang pecahnya

bendungan Panawijen. Cerita itu merupakan sebuah cerita yang

akan dapat selalu menghantuinya. Bagaimana ayahnya menderita,

sehingga kehilangan keseimbangan berpikir karena kehilangan

dirinya. Namun tiba-tiba ia telah menyerahkan diri kepada orang

yang melindungi melarikannya pada saat itu.

“Apakah aku telah mengkhianati ayahku pula?” tiba-tiba

terdengar sebuah pertanyaan mengguntur di dalam dadanya.

“Dan apakah karena hal-hal yang demikian ini pula, maka Kakang

Mahisa Agni telah melepaskan aku?”

Tiba-tiba dada Ken Dedes menjadi sesak. Ia menjadi semakin

ketakutan apabila tiba-tiba saja Mahisa Agni dengan kehendak

sendiri, bahkan mungkin dengan sengaja akan menceritakan segala

macam peristiwa yang pernah dialami di hadapan para perwira dan

prajurit Tumapel.

Karena itu, karena kegelisahan, kecemasan dan perasaan yang

lain yang mendesaknya, maka Ken Dedes merasa seolah-olah

dikejar-kejar oleh bayangan tentang masa-masa lampau itu,

sehingga dengan serta-merta ia berkata lantang, “Kakang Mahisa

Agni. Kedatanganku ke Panawijen didorong oleh keinginanku

bertemu dengan Kakang Mahisa Agni. Karena itu, biarlah aku

berbicara dengan Kakang tanpa orang-orang lain yang

mendengarkannya.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia sendiri tidak tahu, apa yang

sebaiknya dilakukan dalam keadaan serupa itu. Tetapi dengan tibatiba

ia menjadi sangat iba kepada gadis itu. Sama sekali bukan

karena pengaruh kewibawaannya, tetapi karena air mata yang telah

membasahi wajah Ken Dedes. Dengan demikian maka tidak ada

pilihan lain baginya daripada memenuhi permintaan itu, seperti pada

masa kanak-kanak mereka. Mahisa Agni tidak pernah menolak

permintaan Ken Dedes apabila ia mampu melakukannya.

Ken Dedes tidak menunggu jawaban Mahisa Agni. Segera ia

bangkit sambil berkata, “Marilah, Kakang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia

menjawab, Ken Dedes sudah mendahuluinya berjalan memasuki

ruang dalam rumahnya.

Mahisa Agni pun kemudian bangkit pula. Kepada Witantra,

Mahendra dan Sidatta ia berkata, “Baiklah aku mengikutinya.

Mungkin ada persoalan-persoalan penting yang akan dikatakannya.”

“Silakan,” jawab mereka hampir serentak.

Mahisa Agni pun kemudian berjalan dengan langkah yang berat

mengikuti Ken Dedes menghilang dibalik pintu, masuk ke ruang

dalam rumah gurunya. Rumah yang sudah didiaminya sejak masa

kanak-kanaknya.

Sepeninggal Ken Dedes para emban pun menjadi gelisah. Mereka

belum pernah melakukan upacara seperti itu. Karena itu mereka

tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sama sekali tidak

berani beranjak dari tempatnya. Meskipun mereka menjadi penat

dan jemu, namun mereka masih saja duduk di tempatnya. Apalagi

mereka ketahui bahwa Witantra, Sidatta, Mahendra dan para

prajurit yang lain pun sama sekali tidak berajak dari tempat mereka.

Ketika Mahisa Agni menutup pintu dinding yang memisahkan

ruang dalam dan pendapa rumah itu, dadanya kembali bergelora. Ia

tidak segera melihat Ken Dedes di ruang itu. Karena itu maka

Mahisa Agni pun melangkah lagi, semakin dalam. Telah beratus,

bahkan beribu kali ia menginjak lantai yang kini diinjaknya, telah

beratus bahkan beribu kali ia lewat ruangan itu, dan berapa ribu kali

pula ia melangkahi tlundak dinding penyekat ruang dalam, namun

terasa kini semuanya itu asing baginya. Ia tidak segera menemukan

Ken Dedes di dalam ruangan-ruangan itu. Kini Mahisa Agni berjalan

lagi ke ruang belakang. Ruang itu pun kosong sama sekali.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang

olehnya selintru yang menutup bilik Ken Dedes, Mahisa Agni

menjadi ragu-ragu. Apakah gadis itu berada di dalam biliknya. Bilik

yang telah lama ditinggalkannya. Namun Ken Dedes harus

menemuinya. Mungkin gadis itu ingin mengatakan sesuatu yang

penting kepadanya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah ke pintu bilik itu,

perlahan-lahan tangannya berpegangan pada uger-uger pintu.

Namun kembali ia menjadi ragu-ragu. Perasaan yang dahulu tidak

pernah dimilikinya apabila ia ingin memasuki ruangan itu, meskipun

seandainya Ken Dedes baru tidur sekalipun.

Tetapi sesuatu mendesak dadanya. Ia harus menemui gadis itu.

Dengan penuh kebimbangan Mahisa Agni beringsut maju. Perlahanlahan

ia menjengukkan kepalanya lewat pintu bilik yang menganga

lebar. Tetapi kembali ia menarik nafas dalam-dalam. Bilik itu pun

ternyata kosong.

“Di manakah gadis itu?” desisnya.

Mahisa Agni pun melangkahkan kakinya kembali. Sekarang ia

menuju ke serambi belakang. Ruang satu-satunya yang tinggal dari

rumah induk itu selain tiga sentong yang hampir tak pernah

dipergunakan. Kalau di serambi itu Ken Dedes tidak ada, maka ia

pasti berada di dapur atau di bilik di belakang serambi itu. Bilik itu

adalah biliknya.

Sekali lagi Mahisa Agni melompati tlundak pintu samping. Lewat

serambi gandok Mahisa Agni berjalan ke belakang. Tiba-tiba

langkahnya tertegun ketika ia melihat bahwa Ken Dedes memang

berada di serambi itu. Serambi yang terbuka ke arah belakang.

“Kakang,” desisnya ketika ia melihat Mahisa Agni.

Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi ia berjalan mendekati gadis

itu. Ketika ia duduk di tikar di depan Ken Dedes, hatinya berdesir.

Dibalik dinding inilah, terletak balai-balai bambu. Kalau bulan

terang, maka kadang-kadang ia berbaring-baring di tempat itu

sambil meniup serulingnya dahulu. Tetapi sekarang seruling itu

hampir tak pernah disentuhnya.

“Kakang,” ulang Ken Dedes ketika Mahisa Agni telah duduk,

“banyak sekali yang sebenarnya ingin aku katakan, tetapi tiba-tiba

semuanya itu lenyap dari kepalaku. Meskipun demikian Kakang, aku

mengharap Kakang sudah dapat mengetahui maksud kedatanganku.

Sebab sebelum aku telah datang pula Bibi emban pemomongku

yang bahkan telah datang bersamamu ke Tumapel. Tetapi kau tidak

sempat menemui siapa pun sampai kau kembali ke Panawijen.”

Terasa kata-kata itu meluncur seperti tanpa dapat dikendalikan.

Simpang siur, karena Ken Dedes telah kehilangan ketenangannya,

apalagi rencana yang telah disusunnya semalam suntuk.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditunggunya Ken Dedes

berkata terus, “Kakang, apakah Kakang dapat memenuhi

permintaan itu?”

Pertanyaan yang terlalu langsung itu sama sekali tidak

disangkanya. Mahisa Agni menduga bahwa Ken Dedes akan

mengucapkan berbagai alasan-alasan, baru kemudian minta

kepadanya untuk pergi ke Tumapel, sehingga dugaan itu sama

sekali bertentangan dengan rencana Ken Dedes sendiri. Untunglah

bahwa Ken Dedes menjadi gelisah dan kehilangan ketenangannya,

sehingga semua rencana itu tidak dapat dilakukan. Sebab dengan

demikian, maka akibatnya pasti akan berlawanan dari yang

dikehendakinya. Mahisa Agni sama sekali tidak akan dapat

disilaukan oleh sikap dan keadaan Ken Dedes karena goresangoresan

yang telah membekas terlampau dalam pada dinding

hatinya.

Tetapi kini Ken Dedes itu berkata terbata-bata tanpa dapat

menyusun urutan yang teratur sehingga justru karena itu Mahisa

Agni tidak menjadi semakin tersinggung karenanya.

Meskipun demikian, permintaan itu sendiri bukanlah permintaan

yang menyenangkan bagi Mahisa Agni. Permintaan itu adalah

permintaan yang menjemukan.

Sesaat kemudian mereka saling berdiam diri. Serambi itu seakanakan

dicengkam oleh suasana yang terlampau sepi. Betapa degup

jantung Ken Dedes menunggu Mahisa Agni mengucapkan jawaban

atas permintaannya itu.

Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Bahkan kemudian

anak muda itu seolah-olah membeku. Sorot matanya jauh hinggap

pada dedaunan di luar yang bergerak-gerak disentuh angin. Tetapi

dedaunan itu sudah tidak sesegar dahulu.

Dan daun-daun yang kekuning-kuningan itu telah mengingatkan

Mahisa Agni kepada gurunya, kepada bendungan yang pecah dan

kepada kerja yang sedang dilakukan.

Ia berpaling ketika ia mendengar Ken Dedes bertanya mendesak,

“Bagaimana Kakang?”

Tetapi Ken Dedes telah menjadi semakin kehilangan

ketenangannya. Sekali lagi ia mendesak, “Bagaimana Kakang,

bukankah kau akan pergi ke Tumapel?”

Mahisa Agni merasakan kegelisahan yang melonjak-lonjak di

dada Ken Dedes. Tetapi ia merasakan gejolak di dalam dadanya

sendiri pula. Dalam benturan-benturan perasaan yang terjadi di

dalam dirinya. Mahisa Agni menarik nafas berulang kali. Ia mencoba

menenangkan hatinya dan mencoba mendapatkan kesimpulan yang

sebaik-baiknya.

Akhirnya Mahisa Agni itu berkata, “Ken Dedes. Apakah

sebenarnya keperluanku pergi ke Tumapel? Bukankah kita telah

bertemu di sini? Tak ada persoalan lagi dengan saat-saat kawinmu

nanti. Kalau aku dapat kau anggap sebagai ganti ayahmu, maka aku

telah merestuimu.”

Mahisa Agni berhenti sesaat. Terasa nafasnya menjadi semakin

cepat mengalir seperti katanya yang mengalir semakin cepat pula,

seakan-akan sengaja dikatakannya terlampau cepat agar dirinya

sendiri tidak mendengarnya. Lalu dilanjutkannya, “Yang penting

bagimu, bahwa kau telah mendapat restu itu. Dengan demikian kau

tidak meninggalkan adat yang lazim berlaku.”

“Tidak, tidak, Kakang,” potong Ken Dedes, “itu tidak cukup. Adat

kita mengatakan, bahwa perkawinan ditentukan oleh orang-orang

tua. Apalagi bagi gadis-gadis. Karena itu, biarlah Kakang

menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menunjukkan bahwa

tak ada persoalan apa-apa di dalam keluargaku. Satu-satunya orang

yang ada sekarang adalah kau Kakang. Kepadamu aku menangis.

Tidak kepada orang lain.”

Mahisa Agni kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak

tahu perasaan apakah sebenarnya yang bergetar di dalam dirinya.

Tetapi terasa keringat dinginnya mengalir di seluruh wajah kulitnya.

“Kau harus pergi Kakang. Kau harus pergi.”

Ternyata Ken Dedes tidak dapat bersikap lain daripada sikapnya

itu. Sikap seperti sikapnya pada masa kanak-kanak apabila ia

menginginkan sesuatu dan Mahisa Agni mencoba mencegahnya.

Namun apabila demikian, maka biasanya Mahisa Agni tidak akan

dapat menolak lagi, meskipun seandainya ia harus memanjat

sebatang pohon jambe yang tinggi sekali hanya sekedar mengambil

sebutir buahnya yang berwarna jambu.

Tetapi yang dihadapinya kini bukan sekedar sebutir buah jambe

yang berwarna jambu. Bukan sekedar seuntai bunga manggar yang

sedang mekar di atas pelepah kelapa.

Yang kini harus dipetiknya untuk gadis itu adalah jantungnya

sendiri.

Tetapi kembali hati Mahisa Agni luluh apabila ia melihat Ken

Dedes menangis. Ia ingin memenuhi permintaan itu, tetapi ia tidak

mempunyai keberanian untuk melakukannya. Sehingga dengan

demikian, hati Mahisa Agni itu pun terasa seperti diremas-remas

oleh suara tangis Ken Dedes.

“Ken Dedes,” berkata Mahisa Agni kemudian, “bukankah sudah

aku katakan. Kalau kau menganggap aku wakil dari bapa guru,

Empu Purwa, maka aku sudah merestuimu. Apakah keuntungannya

kalau aku datang ke Tumapel. Bukankah restuku akan sama saja

nilainya? Kalau persoalannya adalah persoalan adat yang harus

ditempuh, kenapa Akuwu Tunggul Ametung tidak memerintahkan

dua atau tiga orang tua-tua untuk datang melamarmu kemari?”

Ken Dedes tersentak mendengar jawab itu, sehingga tangisnya

terhenti. Dalam kata-kata itu benar-benar terasa olehnya, menurut

tangkapannya, bahwa Mahisa Agni merasa dirinya terlampaui. Harga

diri kakaknya itu agaknya telah melampaui segala macam

pertimbangan tentang kedudukan Akuwu Tunggul Ametung, tentang

kekuasaan yang ada di tangannya.

“Kakang,” berkata Ken Dedes masih dalam isak tangisnya yang

terputus, “apakah kau menyadari kata-katamu itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk ia

menjawab, “Ya. Aku menyadari kata-kataku.”

“Apakah Kakang menyadari kedudukan dan kekuasaan Akuwu

Tunggul Ametung?”

“Ya, aku menyadari,” sahut Agni pula.

“Kenapa Kakang masih menganggap bahwa Akuwu Tunggul

Ametunglah yang harus datang melamar kemari? Ke padepokan

terpencil yang justru berada di dalam wilayah kekuasaan Akuwu

Tunggul Ametung?”

Kini dada Mahisa Agnilah yang berdesir. Ternyata maksudnya

untuk membuat alasan supaya ia tidak harus datang ke Tumapel

telah menimbulkan salah paham. Namun ia masih mencoba untuk

memperbaikinya, “Bukan maksudku demikian Ken Dedes. Aku hanya

memperbandingkan adat yang kau sebut-sebut. Kalau disadari atas

kekuasaan, kedudukan dan wewenang Akuwu Tunggul Ametung,

maka aku kira aku sudah tidak diperlukan lagi. Semua keputusan

dapat diambil oleh Akuwu Tunggul Ametung tanpa pertimbangan

orang lain. Tanpa pertimbanganku dan bahkan seandainya kau

menolak sekalipun, Akuwu akan dapat berbuat di dalam lindungan

kekuasaannya. Tetapi maksudku ingin mengatakan, bahwa aku

tidak sempat pergi ke Tumapel karena pekerjaanku yang terlampau

banyak di padukuhan ini.”

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa karena Ken Dedes justru

menangkap kata-katanya semakin jauh dari maksudnya. Ken Dedes

yang sejak dari Tumapel sudah dibekali dengan kekecewaan atas

sikap Mahisa Agni, kini seakan-akan dengan tiba-tiba mendapatkan

saluran untuk meledak.

Sesaat Ken Dedes menatap wajah Mahisa Agni dengan tajam,

dan sesaat kemudian terdengar ia berkata, “Pekerjaan apakah yang

telah mengikat Kakang di sini?”

“Bendungan itu Ken Dedes?”

“Apakah Kakang tidak dapat meninggalkannya sepekan atau dua

pekan?”

“Aku bertanggung jawab atas pembuatan bendungan itu di

samping Ki Buyut Panawijen sendiri.”

“Jadi kau memberatkan bendungan itu?”

Mahisa Agni terdiam sejenak, seolah-olah memberi kesempatan

kepada Ken Dedes untuk menumpahkan segala macam kekecewaan

hatinya. Mengalir seperti saat bendungan Panawijen yang pecah

karena tangan Empu Purwa, “Kakang, jadi apakah Kakang lebih

menaruh perhatian atas bendungan itu daripada perintah Akuwu

Tunggul Ametung? Juga lebih mementingkan bendungan itu

daripada memenuhi panggilannya? Kakang, bendungan adalah

barang mati yang tidak akan dapat menuntut apapun kepadamu,

apalagi seandainya pekerjaan itu hanya tertunda seminggu atau dua

minggu. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu.

Seorang yang memiliki berbagai macam perasaan. Ia dapat menjadi

kecewa, marah dan bahkan dapat menentukan sikap apapun yang

dikehendakinya di seluruh daerah Tumapel. Karena itu, Kakang,

perhitungkanlah sebaik-baiknya. Bendungan itu, atau Akuwu

Tunggul Ametung atas permintaanku.”

Mahisa Agni benar-benar tersinggung mendengar kata-kata Ken

Dedes yang seperti banjir melanda dinding jantungnya. Tetapi ia

masih berusaha untuk berkata setenang-tenangnya, “Ken Dedes,

ternyata kau salah mengerti tentang bendungan itu. Memang

bendungan adalah benda mati, yang terdiri tidak lebih dari batubatu,

kayu dan tali-tali ijuk serta brunjung-brunjung bambu. Tetapi

dibalik benda-benda yang mati itu bernaung kehidupan yang besar.

Kehidupan yang meliputi seluruh segi kehidupan di Panawijen. Ken

Dedes, benda-benda mati itu adalah perlambang dari hidup matinya

penduduk Padukuhan kita ini. Karena bersumber pada benda-benda

mati itu kita akan membuat suatu kehidupan baru. Padukuhan baru.

Sepekan bagi kami adalah sangat penting artinya. Kalau kami

terlambat sepekan, maka keadaan kami akan menjadi terlampau

parah. Juga bukan maksudmu mengabaikan Akuwu Tunggul

Ametung. Tetapi aku mengharap Akuwu Tunggul Ametung dapat

mengerti keadaanku.”

“Kakang,” potong Ken Dedes, “Akuwu Tunggul Ametung adalah

orang yang paling berkuasa di Tumapel. Kenapa Akuwu yang harus

menunggumu? Tidak Kakang, kau harus mendengarkan perintah ini.

Akuwu Tunggul Ametung akan dapat berbuat hal-hal di luar

dugaanmu. Meskipun bendungan itu telah jadi, tetapi Akuwu akan

dapat memerintahkan untuk memecahnya kembali apabila ia

menjadi marah.”

“Jangankah memecah bendungan itu Ken Dedes,” sahut Mahisa

Agni yang menjadi semakin kecewa pula kepada adik angkatnya itu,

“Akuwu Tumapel dapat memerintahkan membunuh kita sekalian

sekaligus tanpa menunggu kita semua di sini mati kelaparan. Adalah

lebih baik lagi kami Ken Dedes, sebab kami tidak perlu menderita

terlampau lama.”

“Kakang,” wajah Ken Dedes menjadi merah. Kini ia tidak saja

dibakar oleh kekecewaan hatinya yang memuncak, tetapi Ken Dedes

itu telah dijalari oleh perasaan marah, “Kau jangan berkata demikian

Kakang. Kau menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi ketahuilah,

bahwa Akuwu Tunggul Ametung pasti akan tahu, bahwa bendungan

itu hanyalah sekedar alasanmu yang tak berarti. Apa kau sangka

bahwa kau adalah seorang pahlawan besar di Panawijen yang tak

ada duanya? Mungkin kau seorang yang paling pandai berkelahi di

Panawijen Kakang, tetapi bukan seorang yang paling mengetahui

tentang bendungan. Apa kau sangka bahwa tanpa kau bendungan

itu tidak akan jadi? Apakah kau sangka bahwa Ki Buyut Panawijen

dan orang-orang tua di sini adalah sedemikian bodohnya, sehingga

hanya Mahisa Agnilah yang mampu membuat bendungan itu?”

“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni.

Tetapi Ken Dedes berkata terus, “Jangan ingkar. Semua itu telah

diketahui.”

“Tetapi aku bertanggung jawab atas pekerjaan itu. Aku harus

mengawasi dan memberikan beberapa petunjuk. Mungkin aku

bukan seorang yang paling cakap untuk pekerjaan ini, dan aku

memang tidak ingin menjadi seorang pahlawan bagi penduduk

Panawijen, Ken Dedes. Tetapi aku tidak dapat melepaskan

kepercayaan yang diberikan kepadaku. Itu bukan maksudku sendiri.

Bukan kehendakku. Aku tidak pernah berteriak-teriak di perapatan

dan mengatakan bahwa akulah satu-satunya orang yang pantas

memimpin mereka membuat bendung itu. Tidak. Tetapi mereka

percaya kepadaku. Mereka mengharap aku bertanggung jawab.

Apakah aku dapat melepaskan kepercayaan ini?”

“Itu pun hanya perasaanmu sendiri Kakang,” sahut Ken Dedes,

“kalau seseorang telah melakukan pekerjaan, betapapun orang lain

tidak menyukainya, maka adalah segan bagi mereka untuk

mengatakan langsung kepada yang berkepentingan. itu adalah

watak dari tetangga-tetangga kita di sini. Kalau kau telah

menjajakan tenagamu, maka tak seorang pun yang akan sampai

hati mengatakan bahwa sebenarnya kau tidak diperlukan.”

“Ken Dedes,” Mahisa Agni pun kemudian kehilangan

kesabarannya. Kata-kata Ken Dedes ternyata terlampau tajam

baginya, yang seolah-olah langsung menghunjam ke pusat

jantungnya. Bahkan kemudian dadanya menjadi gemetar. Dan

dengan suara yang gemetar pula ia berkata, “Memang Ken Dedes.

Aku telah menjajakan tenagaku. Diterima atau tidak diterima oleh

penduduk Panawijen. Aku ingin menebus kesalahan yang telah

terjadi, benar atau tidak benar langkah ini. Tetapi hatiku telah

didesak oleh suatu keinginan untuk menebus kesalahan yang

dilakukan oleh keluarga padepokan ini. Ketahuilah, bahwa yang

memecah bendungan itu adalah ayahmu. Guruku. Mungkin ini telah

kau dengar. Nah, apa kata rakyat Panawijen tentang Empu Purwa.

Tentang penghuni padepokan yang selama ini berlindung di dalam

wilayah padukuhan Panawijen? Itulah alasannya kenapa aku

menjajakan tenagaku, diterima atau tidak diterima, karena

kesetiaanku kepada Guru dan keinginanku membersihkan sekurangkurangnya

memperkecil kesalahan guruku itu.”

Jawaban Mahisa Agni itu terdengar seperti petir yang meledak di

dalam dada Ken Dedes. Betapa dahsyatnya, serasa dada itu akan

menjadi pecah. Jawaban itu adalah jawaban yang telah

menghempaskan Ken Dedes ke dalam suatu suasana yang

menakutkan. Ia takut mendengar keterangan itu. Namun karena

kemarahan yang telah mendidihkan darahnya, maka ia berusaha

untuk lari dari ketakutan itu. Ia berusaha untuk tetap bertahan pada

pendiriannya.

Karena itu katanya, “Aku tidak peduli siapa yang memecahkan

bendungan itu. Meskipun hantu-hantu dari padang Karautan

sekalipun. Tetapi kau tidak perlu merasa dirimu pemimpin yang tak

papat beranjak dari tempatmu seolah-olah kau adalah seorang yang

sangat penting. Seolah-olah bendungan itu tidak akan jadi kalau

tidak ada Mahisa Agni. Kakang Mahisa Agni. Jangan kau sangka

bahwa aku tidak tahu, apakah alasan sebenarnya yang mencegah

kau pergi ke Tumapel.”

Kini dada Mahisa Agnilah yang bergelora. Apakah benar Ken

Dedes mengetahui dorongan yang paling kuat yang tersimpan di

dalam dadanya, kenapa ia menjadi keras hati untuk selalu

menghindari permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu? Sejenak

Mahisa Agni tidak menjawab. Bahkan terasa di dalam hatinya,

goresan-goresan yang tajam menyentuh-nyentuhnya.

“Ya, kenapa aku tidak mau pergi ke Tumapel?” pertanyaan itu

berkejaran di dalam dirinya, “Kalau aku memenuhi permintaan ini

sejak saat itu, maka aku tidak akan dikejar-kejar lagi oleh persoalan

yang menjemukan ini.”

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar suara Ken Dedes

kembali, “Kakang, bagaimana? Kenapa kau berdiam diri? Jangan

kau sangka bahwa aku tidak mengetahui alasanmu. Alasanmu yang

sebenarnya kenapa kau tidak mau pergi ke Tumapel.”

Kini Mahisa Agnilah yang terdorong dalam suatu suasana yang

ditakutinya. Kalau Ken Dedes itu benar mengetahui perasaannya

maka alangkah malunya. Alangkah kecilnya nilai hati Mahisa Agni.

Ketika terdengar suara Ken Dedes sekali lagi berkata, “Kau ingin

mendengar alasan itu Kakang?”

Maka Mahisa Agni dengan serta-merta memotongnya, “Tidak.

Tidak. Jangan kau katakan Ken Dedes.”

“Kenapa?” desak Ken Dedes, “kenapa kau takut mendengarnya?

Bukankah kau sendiri yang telah menumbuhkan alasan itu di dalam

dirimu. Alasan yang sebenarnya terlampau dibuat-buat.”

“Jangan, jangan,” potong Mahisa Agni pula. Wajahnya yang

tenang kini telah dilumuri oleh peluh dingin yang mengalir dari

kening. Wajah Ken Dedes yang cantik dalam pakaian yang

cemerlang itu, seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang

mengerikan dari hantu padang Karautan yang pernah dikenalnya.

“Aku akan mengatakannya,” berkata Ken Dedes tegas, “aku akan

mengatakannya alasan yang telah menahanmu untuk tidak pergi ke

Tumapel.”

Sebelum Mahisa Agni sempat memotongnya, maka Ken Dedes

pun telah berkata pula, “Kakang, ternyata kau memang menilai

dirimu terlampau berlebih-lebihan. Mungkin karena kau satusatunya

anak muda di Panawijen yang mampu mengalahkan Kuda

Sempana.”

“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni.

Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak memedulikan. Dengan

lantangnya ia berkata keras, “Dengan demikian kau merasa bahwa

dirimu terlampau berharga. Mungkin kau memang sangat berharga

dan dikagumi oleh anak-anak muda Panawijen, tetapi jangan

menilai Tumapel yang luas ini sepicik kau menilai Panawijen Kakang.

Sehingga terhadap Akuwu Tumapel pun kau masih juga

menganggap dirimu terlampau berharga. Aku tahu alasanmu,

kepada kau tidak mau datang ke Tumapel.”

Ken Dedes berhenti sesaat dan peluh yang menetes dari dahi

Mahisa Agni menjadi semakin deras. Namun kini justru mulutnya

serasa terkunci dan dibiarkannya Ken Dedes berkata terus, “Alasan

itu adalah, bahkan kau merasa tersinggung karena aku tidak minta

pertimbanganmu pada saat aku menerima lamaran Akuwu Tunggul

Ametung. Kau merasa bahwa sepeninggal ayah, kau berhak

menentukan jalan hidupku. Kau merasa bahwa kaulah yang harus

mengatakan, apakah aku dapat menerima lamaran itu atau tidak.

Bahkan mungkin kau berpikir, bahwa kau boleh dan berhak

menerima atau menolak lamaran itu. Nah, apa katamu Kakang?

Bukankah dengan demikian kau menganggap dirimu terlampau

penting, tidak saja dalam persoalan bendungan itu, tetapi juga

dalam persoalanku. Ayahku dahulu memberi kesempatan kepadaku

untuk memilih. Sekarang ayahku tidak ada, dan kau menjadi

wakilnya. Apakah kau dapat berbuat lebih keras dari ayahku

terhadap aku?”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini

telah mendengar apa yang dikatakan Ken Dedes alasan yang

tersimpan di dalam dirinya.

Dada Mahisa Agni itu bahkan kini serasa menjadi lapang. Sangat

lapang setelah ia mendengar sendiri betapa Ken Dedes menilai

dirinya.

“Syukurlah,” desisnya di dalam hati. “Kalau hanya itu yang

ditimpakan kepadaku.”

Tiba-tiba hati Mahisa Agni pun menjadi dingin. Ia tidak lagi

dicengkam oleh kemarahan dan kecemasan. Kini yang dilihatnya

duduk di hadapannya bukan lagi wajah hantu betina yang

mengerikan, tetapi yang duduk di hadapannya adalah seorang gadis

cantik yang sedang dicemaskan oleh keadaan dirinya sendiri,

bahkan hampir dibayangi oleh perasaan putus asa.

Selanjutnya Mahisa Agni kini dapat mendengarkan kata-kata Ken

Dedes dengan tenang.

“Kakang,” berkata Ken Dedes yang masih saja membanjir,

“karena kekecewaanmu itu, maka kini kau menolak meneruskan

persoalan yang kau anggap dirimu tidak perlu mencampuri karena

sejak semula kau tidak dibawa berbincang. Karena persoalan harga

dirimu yang berlebih-lebihan itu, kau telah menolak perintah Akuwu

Tunggul Ametung. Kakang, apakah yang kau lakukan itu bukan

suatu pemberontakan terhadap pimpinan pemerintahan, seperti

yang dilakukan oleh Kuda Sempana?”

Betapapun Mahisa Agni telah berhasil menguasai perasaannya,

namun ia terkejut juga mendengar tuduhan itu. Sehingga dengan

serta-merta ia bertanya, “Ken Dedes, kenapa kau menuduh aku

sedemikian jauhnya, sehingga kau telah menganggap aku

memberontak terhadap Akuwu Tunggul Ametung?”

“Bukankah yang terjadi demikian Kakang?” berkata Ken Dedes

dengan lantangnya, “Kau menolak mematuhi perintahnya. Perintah

seorang Akuwu. Apakah itu sebenarnya, bukan suatu

pemberontakan? Seperti Kuda Sempana telah menolak mematuhi

perintah Akuwu Tunggul Ametung.”

Ken Dedes berhenti sejenak. Seakan-akan ia memberi

kesempatan kepada Mahisa Agni untuk mencernakan kata-katanya.

Sejenak kemudian ia meneruskan, “Tetapi Kakang, aku masih kecil

untuk dapat menghormati Kuda Sempana lebih daripadamu. Kuda

Sempana memberontak karena ia kehilangan cita-cita. Kehilangan

sesuatu yang telah diperjuangkannya dengan gigih. Tiba-tiba yang

seakan-akan telah dicapainya itu telah direnggutkan oleh Akuwu

Tunggul Ametung dari tangannya. Tegasnya, Kuda Sempana tidak

dapat mencapai maksudnya karena Akuwu Tunggul Ametung. Maka

ia pun telah meninggalkan istana dan melakukan perlawanan. Tetapi

kau, apakah yang kau lakukan? Sama sekali bukan karena suatu

cita-cita. Bukan karena kau kehilangan yang telah pernah kau miliki

karena dirampas oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kau

memberontak hanya karena kau merasa tersinggung. Tersinggung

karena kau mempunyai harga diri yang berlebih-lebihan. Nah apa

katamu Kakang?”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Alangkah sakitnya tuduhan

itu menggores dinding jantungnya, seperti tergores sembilu. Namun

Mahisa Agni benar-benar telah berhasil menguasai dirinya sejak ia

mendengar tuduhan Ken Dedes atas alasan yang dianggapnya

bermukim di dalam dadanya. Ia menjadi tenang, ketika ia merasa

bahwa Ken Dedes tidak melihat apa yang sebenarnya tersimpan

rapat di dalam relung hatinya yang paling dalam.

“Kakang,” terdengar suara Ken Dedes, “katakan, katakan bahwa

kau tidak memberontak hanya karena alasan yang tidak masuk akal

itu?”

Mahisa Agni perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang suram.

Betapa suram wajah itu. Ia merasa bahwa Ken Dedes kini telah

menganggap dirinya sama sekali tidak berharga. Jauh lebih tidak

berharga dari Kuda Sempana yang dianggapnya berjuang untuk

suatu cita-cita.

Namun Mahisa Agni itu pun menjawab dengan hati-hati, “Ken

Dedes. Kenapa kau menganggap bahwa aku telah memberontak?

Aku tidak sebodoh itu, Ken Dedes. Bahkan betapa bodohnya aku,

anak pedesaan, namun aku masih mempunyai kesadaran bahwa

tanah ini adalah tanah yang memberi aku makan dan minum. Tanah

ini adalah tanah di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Di mana

aku bermain-main dan mengalami masa-masa lampauku. Dan tanah

ini adalah tanah Tumapel.”

“Ken Dedes. Kau tahu apa yang telah dilakukan oleh ayahmu?

Betapa orang tua itu menjadi kecewa dan marah karena kehilangan

putri satu-satunya. Putri itu adalah kau Ken Dedes. Tetapi apa yang

dilakukan oleh ayahmu? Ayahmu tahu benar, bahwa di antara

mereka yang datang ke padepokan ini adalah Akuwu Tunggul

Ametung. Ayahmu tahu benar bahwa benar-benar Tunggul Ametung

telah melindungi Kuda Sempana mengambil anak satu-satunya.

Anak itu adalah miliknya yang paling berharga di dunia ini.”

“Tetapi Ken Dedes, ayahmu itu tidak memberontak.

Memberontak dalam pengertian yang sebenarnya. Memang ayahmu

untuk sejenak kehilangan keseimbangan dengan memecah

bendungan itu. Tetapi setelah itu ayahmu tidak berbuat apa-apa

lagi. Ia lebih baik membuang dirinya dengan hati yang pedih. Kalau

ia mau Ken Dedes, kalau ia ingin merebut kau kembali dengan

kekerasan, maka tidak mustahil bahwa itu akan dapat dilakukan.

Empu Purwa adalah seorang yang baik hati. Kawan-kawannya

tersebar di seluruh Tumapel. Kawan-kawan sebayanya. Kawankawannya

yang mampu memecah bendungan dengan tangan

seperti yang dilakukan oleh ayahmu.”

“Tetapi Empu Purwa tidak berbuat demikian. Empu Purwa tidak

memberontak, karena ia menyadari keadaannya. Menyadari akibat

yang dapat terjadi. Pertumpahan darah dan penderitaan. Mungkin

Empu Purwa berhasil mendapatkan anaknya kembali, tetapi ia akan

mendapatkannya di atas tumpukan mayat sesama. Bukan itu saja.

Kalau terjadi peperangan di Tumapel, perang saudara, maka akan

hancurlah peradaban. Akan terinjak-injaklah segala macam

ketentuan dan peraturan oleh kekerasan dan kekuatan.”

“Karena itu Empu Purwa tidak merebutmu dengan kekerasan

meskipun mungkin ia mampu. Tetapi ia tidak sebodoh itu. Orang tua

itu pun merasa bahwa tanah ini adalah tanah yang memberinya

makan dan minum. Tanah tempat ia bernaung di bawah rimbun

tetumbuhannya. Tanah tempat ia hidup dalam lingkungan yang

serasi. Tanah ini adalah tanah tumpah darah yang tidak

sepantasnya dihancurkannya sendiri, hanya karena kepentingan

pribadi, kepentingan seorang saja dari seluruh Tumapel ini.”

Mahisa Agni berhenti sejenak untuk menelan ludahnya. Seolaholah

mulutnya telah menjadi kering. Tetapi matanya yang suram

masih juga memandangi wajah Ken Dedes yang kini tunduk. Sesaat

kemudian Mahisa Agni meneruskan, “Ken Dedes. Empu Purwa

adalah guruku. Guruku tidak mau melihat pertentangan terjadi di

antara kita di Tumapel. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh

muridnya?”

“Ken Dedes. Aku bukan seorang pengkhianat yang sampai hati

berkhianat terhadap tanah ini. Dan aku pun telah mencoba tidak

melenyapkan diri seperti Empu Purwa yang benar-benar telah

kehilangan segala-galanya, karena kau hilang. Tetapi aku mencoba

berbuat lain. Aku tidak akan berbuat sesuatu karena kau. Baik

karena harga diriku maupun karena sebab-sebab lain. Tetapi lebih

baik bagiku untuk berbuat sesuatu yang dapat memberikan manfaat

bagi rakyat Panawijen, sebagian dari tanah Tumapel. Karena itu,

aku bekerja keras membuat bendungan. Tidak ada gunanya bagiku

untuk berbuat sebodoh Kuda Sempana, berkhianat karena

kepentingan pribadi, dan aku juga tidak ingin menghilang tanpa

tujuan, sebab dengan demikian hidupku tidak akan berarti lagi

meskipun umurku masih cukup muda. Tidak. Aku membuat jalan

sendiri. Bekerja untuk kepentingan sesama, untuk kepentingan

tanah ini. Panawijen sebagian dari Tumapel yang besar.”

Setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni serasa menyusup

langsung ke pusat jantung Ken Dedes. Las-lasan. Tak ada satu pun

yang terlampaui. Kata-kata yang memberinya kesadaran tentang

dirinya, tentang orang yang dihadapinya dan tentang semua

peristiwa yang telah terjadi.

Hati Ken Dedes itu pun kemudian bergolak. Belum lagi

sepemakan sirih, hatinya digetarkan oleh kenyataan yang tampak

pada diri Mahisa Agni. Meskipun Ken Dedes telah merencanakan

segala sesuatu untuk menyambut kakak angkatnya, namun ketika ia

melihat tubuh Mahisa Agni yang kurus dan kulitnya yang terbakar

oleh terik matahari, maka air matanya telah runtuh. Saat itu ia telah

menemukan nilai yang wajar atas kerja yang dilakukan oleh Mahisa

Agni itu. Tetapi karena kemudian hatinya sendiri dibakar oleh

perasaannya yang meluap-luap tentang hubungannya dengan

Mahisa Agni, maka seolah-olah penilaiannya yang wajar atas Mahisa

Agni itu telah dilupakan.

Kini kembali ia menemukan penilaian itu. Kini kembali ia melihat

apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni, dan apa yang telah

dilakukannya. Bahwa kerja Mahisa Agni mencakup suatu kebutuhan

yang luas, yang akan memberi sumber bagi kehidupan rakyat

Panawijen di hari kemudian, bahkan sampai pada anak cucu.

Sedang yang terjadi pada dirinya adalah, perjuangan untuk diri

sendiri.

Tiba-tiba wajah Ken Dedes yang tunduk menjadi semakin dalam

menghunjam lantai. Dan tiba-tiba pula Mahisa Agni melihat butiranbutiran

air menetes satu-satu. Karena itu Mahisa Agni berhenti

berbicara. Tetesan air mata itu telah menyentuh hatinya, dan ia

menjadi iba karenanya.

“Maafkan aku Kakang,” terdengar suara Ken Dedes sangat

perlahan, hampir tidak kedengaran.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Kau mengerti Ken Dedes?” bertanya Mahisa Agni.

Ken Dedes mengangguk perlahan-lahan ia menyahut, “Ya aku

mengerti.”

“Nah, kalau begitu, bagaimana seterusnya?” bertanya Mahisa

Agni.

“Kau benar Kakang. Kau telah berbuat untuk orang banyak. Kau

telah berjuang untuk sesama. Dalam pada itu aku sedang bekerja

keras untuk diriku sendiri, untuk kepentinganku seorang.”

Ken Dedes berhenti sejenak. Kemudian kata-katanya telah

mengejutkan Mahisa Agni, “Kakang, aku akan berbuat seperti kau.

Tak ada gunanya aku kembali ke Tumapel. Aku akan duduk di atas

singgasana permaisuri Tumapel, namun kakiku akan beralaskan

kebahagiaan ayah, kau dan rakyat Panawijen.”

“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni. Tiba-tiba dadanya menjadi

berdebar-debar.

“Aku akan kembali ke padukuhan ini. Bekerja seperti orang lain

bekerja. Menderita seperti orang lain menderita.”

Mahisa Agni terbungkam untuk sesaat. Terasa dadanya menjadi

bergelora. Ia tidak tahu pasti, perasaan apakah yang sedang

melanda jantungnya.

Sekilas terbayang gadis itu datang kembali ke padepokan ini.

Seperti bunga yang layu, maka padepokan ini akan menemukan

kesegarannya kembali karena hujan yang turun semalam. Hati yang

kering akan kembali bersemi. Gadis itu akan dapat menumbuhkan

gairah yang dahsyat menghadapi kerja. Dan hidupnya sendiri tidak

akan menjadi gersang seperti sawah yang terentang di sekitar

padukuhan ini. Kehadiran Ken Dedes pasti akan menjadi sumber

tenaga yang tak akan kering-keringnya, seperti bendungan yang

sedang dibangunnya itu.

Tetapi ketika Mahisa Agni melihat gadis itu, Ken Dedes dalam

pakaian yang cemerlang, namun tetesan-tetesan air mata masih

juga berjatuhan, hatinya memekik tinggi.

“Tidak!” teriak hatinya, “Tidak! Itu juga semacam kebutuhan

pribadi. Aku ternyata juga mementingkan diriku sendiri dari

kepentingannya.”

Mahisa Agni itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak sampai hati

membiarkan Ken Dedes melepaskan pakaian kebesaran yang telah

pernah dikenakannya, hanya karena kerakusannya.

Terdengar Mahisa Agni berdesah. Namun kemudian ia berkata,

“Tidak, Ken Dedes. Kau jangan terlampau banyak mengorbankan

dirimu, salah seorang dari kita, dari keluarga ini telah cukup. Aku

telah menebus semua hutang yang telah dibuat oleh keluarga kita.

Pergunakanlah kesempatanmu baik-baik. Mudah-mudahan kau tidak

akan mengalami kepahitan lagi seperti masa-masa lampaumu.”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Matanya yang basah berkacakaca

memandangi wajah Mahisa Agni yang merah kehitam-hitaman

oleh terik matahari. Namun dari mata yang cekung itu masih terasa

sinar mata yang dahulu, meskipun mata itu kini menjadi suram.

“Kakang, aku adalah sebagian dari padepokan ini.”

“Ya,” sahut Agni, “tetapi kau berhak menentukan hari depanmu

seperti ayahmu pernah mengatakan. Bukankah Empu Purwa pernah

membuat sebuah permainan yang disebutnya sayembara pilih

meskipun para pengikut sayembara itu tidak hadir?”

Ken Dedes menundukkan wajahnya kembali. Tetapi ia tidak

dapat melupakan permintaan Akuwu Tunggul Ametung untuk

bertemu dengan Mahisa Agni.

Tiba-tiba Mahisa Agni menangkap kebimbangan di dalam diri Ken

Dedes. Kebimbangan yang telah memeras air matanya semakin

banyak mengalir.

Kini kembali terjadi pergolakan d:dalam dada Mahisa Agni. Ia

tidak dapat melihat kepedihan itu. Seperti pada masa kanak-kanak

mereka, Mahisa Agni tidak dapat melihat dan membiarkan Ken

Dedes menangis. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Ken Dedes, biarlah

aku besok mengantarmu ke Tumapel. Biarlah aku mematuhi

perintah Akuwu Tunggul Ametung untuk kepentinganmu. Mudahmudahan

kau akan dapat menemukan kebahagiaan.”

Hati Ken Dedes tergetar mendengar kesediaan Mahisa Agni itu.

Tetapi tidak seperti pada saat-saat Mahisa Agni bersedia memetik

sebuah jambe yang berwarna merah jambu, kali ini Ken Dedes tidak

memekik kegirangan. Gadis itu tidak melonjak dan menari-nari.

Bahkan Ken Dedes itu masih saja menundukkan wajahnya. Terasa

betapa Mahisa Agni mencoba untuk membuatnya berbesar hati,

namun terasa pula bahwa Mahisa Agni memenuhi permintaannya

dengan hati yang berat.

Ken Dedes kini menganggap bahwa Mahisa Agni telah bersedia

melepaskan perasaan harga dirinya, karena perasaan iba dan belas

kasihan.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Sudahlah, Ken

Dedes. Jangan risaukan lagi semua peristiwa yang terjadi. Yang

pernah terjadi biarlah terjadi. Jadikanlah semuanya sebagai pangilon

di mana setiap kali kita dapat becermin. Kemudian marilah kita

memandang masa depan kita. Kau dengan masa depanmu yang

cemerlang, seperti kecemerlangan pakaianmu itu, dan Panawijen

akan menjadi segar dan hijau kembali, meskipun kami terpaksa

bergeser beberapa tonggak dari tempat ini.”

Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi

gadis itu belum mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Yang berkata kemudian adalah Mahisa Agni pula, “Ken Dedes,

kembalilah ke pendapa. Bukankah kau tidak datang sendiri ke

padepokan ini? Para prajurit pasti sudah menunggumu. Mereka pasti

bertanya-tanya apa saja yang dipercakapkan oleh Ken Dedes dan

Mahisa Agni selama ini.”

Ken Dedes mengusap air matanya dengan ujung kainnya.

Kemudian gadis itu mengangguk kecil sambil berkata, “Ya, Kakang.”

“Kau sekarang bukan Ken Dedes yang dahulu. Bukan lagi putri

Empu Purwa, seorang pendeta yang tinggal di padepokan kecil di

Panawijen. Tetapi kau sekarang adalah seorang calon permaisuri.

Kau harus bersikap lain dan bertingkah laku lain. Sebab ternyata

meskipun kau telah berpakaian seindah itu, dikawal oleh sejumlah

prajurit, namun kau masih saja suka menangis.”

“Ah,” desah Ken Dedes.

Tetapi Mahisa Agni berkata terus untuk memecahkan ketegangan

yang selama ini menghimpit hatinya, “Kau tidak dapat bersikap

demikian terhadap Akuwu Tunggul Ametung nanti. Kau dapat

menangis, merengek terhadap kakakmu, tetapi tidak terhadap

suamimu. Suamimu akan bersedih melihat kau menangis. Kalau ia

sedang dirisaukan oleh pekerjaannya sebagai seorang Akuwu, maka

mungkin sekali akalnya akan buntu. Tetapi hatinya akan segar

apabila ia selalu melihat kau tertawa. Wajah yang cerah bagi

seorang suami jauh lebih berharga dari apapun juga.”

“Ah,” sekali lagi Ken Dedes berdesah.

“Sekarang kembalilah ke pendapa. Aku akan segera menyusul.”

“Apakah kau akan lari lagi, Kakang?” bertanya Ken Dedes tibatiba.

Kali ini Mahisa Agni tersenyum. Ia mencoba untuk melenyapkan

segala macam perasaan yang sebenarnya masih bersilang tindih di

hatinya. Katanya, “Jangan takut, Ken Dedes. Aku tidak akan lari kali

ini. Aku hanya akan mempersiapkan hidangan yang pantas untuk

tamu-tamu kita.”

“Para endang telah melakukannya dengan baik, Kakang.”

“Oh, baiklah,” sahut Mahisa Agni, “tetapi pergilah dahulu ke

pendapa.”

Ken Dedes tidak membantah. Perlahan-lahan ia bangkit dan

membenahi pakaiannya yang agak kusut. Kemudian ia pun pergi

meninggalkan Mahisa Agni ke pendapa.

Mahisa Agni pun kemudian berdiri pula. Sepeninggal Ken Dedes,

kembali wajahnya menjadi suram. Tetapi kali ini ia tidak lagi berniat

ingkar, “Aku akan segera menyelesaikan saja persoalan ini, supaya

aku tidak selalu terganggu. Pekerjaanku masih banyak dan

memerlukan waktu yang cukup panjang.”

Ketika Mahisa Agni kemudian pergi ke halaman belakang untuk

mencuci mukanya yang serasa menjadi panas, tiba-tiba ia

mendengar suara tertawa di sudut halamannya. Ketika ia berpaling

dilihatnya Kebo Ijo duduk di atas rumput-rumput kering bersama

seorang perwira lainnya.

Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ternyata kemudian ia

melihat beberapa orang prajurit yang lain berdiri berjaga-jaga di

sudut-sudut yang lain.

“Hem,” desahnya, “rumah ini seperti istana seorang bangsawan

yang memerlukan penjagaan demikian kuatnya.”

Tetapi kemudian disadarinya, bahwa yang kini berada di dalam

rumah itu, justru orang kedua sesudah Akuwu Tunggul Ametung

sendiri. Seorang gadis yang bakal menjadi permaisurinya.

Sekali lagi Mahisa Agni berpaling ke arah Kebo Ijo ketika ia masih

saja mendengar anak muda itu tertawa. Bahkan kemudian ia

bertanya kepada Mahisa Agni, “He Mahisa Agni. Rupa-rupanya

nasibmu memang terlampau baik. Untunglah bakal iparmu yang

bernama Wiraprana itu mati, sehingga kau akan mendapat ipar

seorang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia melihat perwira yang

seorang lagi itu pun memandangi wajah Kebo Ijo dengan herannya.

“Bukankah begitu Mahisa Agni?”

Betapa perasaan Mahisa Agni bergetar, namun ia

menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Kebo Ijo.”

Kebo Ijo menjadi kecewa mendengar jawaban itu. Ternyata

Mahisa Agni menurut tangkapannya tidak menjadi jengkel. Karena

itu maka justru ia terdiam. Apalagi ketika Mahisa Agni kemudian

berkata, “Kalau tidak terjadi demikian, maka kau tidak akan sudi

berkunjung kemari, meskipun kali ini kau datang bukan atas

kehendakmu sendiri.”

Kebo Ijo menggigit bibinya. Tetapi ia tidak menjawab. Ditatapnya

saja Mahisa Agni yang pergi ke pakiwan dengan mata yang merah.

Ketika Mahisa Agni sudah tidak tampak lagi, maka Kebo Ijo itu

bergumam, “Anak itu akan menjadi semakin sombong dan besar

kepala apabila nanti adiknya menjadi seorang permaisuri.”

Perwira yang duduk di samping Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi

menurut kesannya, Mahisa Agni sama sekali bukan anak muda yang

sombong.

Dalam pada itu, para endang di pendapa telah hampir menjadi

pingsan. Mereka duduk kaku tanpa berani menggerakkan ujung

jarinya sekalipun. Mereka duduk dalam kebingungan. Hanya sekali

hitam matanya saja yang bergerak-gerak.

Ketika mereka melihat Ken Dedes keluar dari pendapa, maka

hampir berbareng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali

mereka menjadi tegang ketika mereka melihat Witantra, Sidatta dan

Mahendra membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

Ken Dedes kemudian duduk kembali di tempatnya. Meskipun ia

tersenyum, namun setiap orang yang melihatnya, dapat

mengetahuinya, bahwa ia baru saja menangis.

“Kakang,” berkata Ken Dedes, “Kakang kini dapat beristirahat.

Besok kita akan kembali ke Tumapel.”

Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba

Tuan Putri. Tetapi apakah kakanda Tuan Putri akan beserta kita?”

“Ya.”

Sekali lagi Witantra mengangguk. Kemudian katanya, “Kami

mohon diri untuk beristirahat Tuan Putri.”

“Silakan Kakang.”

Witantra, Sidatta dan Mahendra pun kemudian turun dari

pendapa. Mereka berjalan perlahan-lahan ke gandok kanan, tempat

yang telah disediakan untuk mereka. Sedang para prajurit yang

bertugas, masih juga berdiri dengan senjata di tangan.

Kini para endang pun saling berpandangan. Para perwira itu

tampaknya sama sekali tidak menjadi lelah, pening atau pun gelisah

selama mereka duduk diam di pendapa. Para endang itu tidak dapat

membayangkan, bahwa dalam pasewakan-pasewakan yang

sebenarnya di Istana Tumapel, maka para prajurit, para pimpinan

pemerintahan harus duduk lebih lama lagi untuk memperbincangkan

berbagai masalah yang penting.

Tetapi bagi para endang itu, yang tidak pernah mengalami

peristiwa-peristiwa semacam itu, merasa seolah-olah duduk di atas

bara api. Kini satu-satunya harapan mereka di dalam hati adalah,

meninggalkan pendapa itu secepatnya.

Ketika Ken Dedes tidak juga bangkit, maka salah seorang endang

yang tidak lagi dapat menahan diri bertanya terbata-bata, “Ken

Dedes, sampai kapan kita akan duduk di sini? Bukankah para

prajurit itu telah pergi, dan kau dapat meninggalkan tempatmu

pula?”

Ken Dedes berpaling. Tiba-tiba ia tersenyum melihat wajah para

endang yang tegang, “Kenapa kalian menjadi seolah-olah

kebingungan?”

“Kami hampir pingsan, Ken Dedes,” sahut endang yang lain.

Ken Dedes tidak dapat menahan tawanya. Katanya, “Biasakan

dirimu duduk tenang. Mungkin akan berguna bagi saat-saat

mendatang.”

“Apakah kalau kau menjadi seorang permaisuri kami harus duduk

sedemikian lamanya?”

“Kalau kalian berada di istana, maka kalian harus duduk

bersimpuh lebih lama lagi daripada kali ini.”

“Lebih baik aku tinggal di padepokan. Aku tidak akan terikat

berbagai peraturan yang mengurangi kebebasanku,” gerutu seorang

endang yang masih sangat muda.

Ken Dedes tersenyum. Tetapi terasa sesuatu berdesir di dalam

dadanya. Endang itu lebih senang tinggal di padepokan. Istana

baginya adalah perlambang dari suatu lingkungan yang akan

mengikatnya dengan berbagai aturan yang menjemukan.

“Marilah, kita meninggalkan pula tempat ini. Di istana, para

prajurit dan para pemimpin pemerintah baru dapat meninggalkan

pendapa, apabila Akuwu telah masuk ke dalam istana. Tetapi aku

tidak perlu berbuat demikian di istana terhadap para prajurit.”

Para endang itu pun kemudian berdiri dengan serta-merta.

Mereka tidak menunggu Ken Dedes berdiri lebih dahulu. Bahkan ada

di antara mereka yang dengan tanpa segan-segan berdiri di

hadapan Ken Dedes sambil mengibas-ngibaskan kakinya yang

semutan. Namun Ken Dedes menyadari, bahwa mereka belum

mengenal tata cara istana yang sebenarnya harus dilakukan.

Hari itu bagi Ken Dedes terasa terlampau lama. Dengan

tegangnya ia menunggu matahari terbenam. Namun malam yang

kemudian turun dengan malasnya terasa bertambah-tambah

panjang pula. Ketika ia terbangun, maka yang terdengar adalah

bunyi kentongan dara muluk.

“Aku merasa telah terlampau lama tidur, tetapi ternyata baru

tengah malam,” desisnya. Gadis itu seolah-olah tidak sabar lagi

menunggu esok. “Jangan-jangan Kakang Mahisa Agni malam ini

mengambil keputusan lain dan pergi meninggalkan padepokan.”

Tetapi akhirnya fajar pecah di timur. Para prajurit pun segera

berkemas-kemas. Pagi itu mereka akan meninggalkan Panawijen

kembali ke Tumapel bersama Mahisa Agni.

Orang-orang Panawijen yang meskipun hanya sejenak telah

sempat bertemu dengan Ken Dedes, pagi itu berdiri di sepanjang

jalan melihat iring-iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali

ke Tumapel. Seperti pada saat datang, Ken Dedes kali ini pun

mengenakan pakaian kebesarannya. Pakaian dalam warna-warna

yang cemerlang, sehingga perempuan-perempuan, gadis-gadis

kawannya bermain-main, memandanginya dengan mulut ternganga.

“Gadis itu benar-benar cantik,” gumam seorang perempuan tua.

Tetapi seorang gadis yang menjadi iri berkata, “Yang cantik

adalah pakaiannya, bukan orangnya.”

Iring-iringan itu pun kemudian berjalan perlahan-lahan

meninggalkan Panawijen, diantar lambaian tangan orang-orang

Panawijen yang menyaksikannya.

Tetapi ketika iring-iringan itu telah sampai di bulak yang kering,

maka tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata yang tajam,

setajam mata burung hantu mengawasi dengan penuh dendam dan

benci.

Tetapi orang-orang yang sambil bersembunyi-sembunyi

mengintai iring-iringan itu tidak dapat berada di tempat yang

terlampau dekat, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas,

siapa-siapa saja yang berada di dalam iring-iringan itu.

Mereka itu adalah Empu Sada dan kedua muridnya yang

terdekat, Kuda Sempana yang pernah menjadi seorang hamba

istana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo,

yang menurut pengakuannya adalah seorang pedagang keliling.

“Kita tidak dapat mengulangi kesalahan kita,” gumam Empu

Sada.

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Panji yang kurus itu pasti masih selalu mengawasi mereka,”

sambungnya.

Kembali kedua muridnya menganggukkan kepalanya.

Kini untuk sejenak mereka berdiam diri. Mereka mencoba untuk

mengenal orang-orang di dalam iring-iringan itu. Tetapi jarak

mereka terlampau jauh. Karena itu maka mereka tidak melihat

bahwa Mahisa Agni berada di dalam barisan itu.

“Guru,” berkata Kuda Sempana kemudian, “apakah guru benarbenar

ingin berhubungan dengan Paman Kebo Sindet dan Paman

Wong Sarimpat?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sendiri sampai

saat itu masih diliputi oleh keragu-raguan. Ia tahu benar bahwa

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat adalah orang-orang yang tidak

mengenal tata tertib pergaulan. Mereka ingin berbuat apa saja yang

dikehendakinya, sehingga mereka sampai saat ini menjadi orangorang

yang sama sekali tidak disukai, baik oleh rakyat Tumapel

maupun oleh pimpinan pemerintahan.

“Bagaimana guru?” desak Kuda Sempana.

Empu Sada masih memandangi iring-iringan yang meninggalkan

debu yang putih mengepul ke udara.

“Kuda Sempana,” terdengar suara Empu Sada tiba-tiba menjadi

berat, “apakah kau masih inginkan gadis itu?”

Pertanyaan itu benar-benar menggetarkan dada Kuda Sempana.

Terasa nada pertanyaan gurunya seolah-olah tidak lagi mengandung

gairah perjuangan. Bahkan seolah-olah nada pertanyaan itu

melemahkan semangatnya.

Karena itu, maka Kuda Sempana ingin menunjukkan bahwa

tekad di dalam dadanya telah bulat. Katanya, “Tentu guru. Kalau

aku tidak berhasil, maka sudah aku katakan, bahwa aku akan

menghancurkannya. Semua orang yang menghalang-halangi

kehendakku ini akan aku anggap telah berbuat salah dan harus

dihancur lumatkan.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian desahnya,

“Kau terlalu keras hati. Bukankah kau telah melihat, bahwa di

sekitar Ken Dedes berdiri para prajurit pengawal istana.”

“Apakah guru dapat digetarkan hanya oleh Witantra.”

“Tak ada orang yang dapat menggetarkan hatiku, Kuda

Sempana,” sahut gurunya, “tetapi marilah kita perhitungkan

kekuatan yang ada. Witantra tidak berdiri sendiri. Bukankah kau

telah mengenal gurunya, Panji Bojong Santi? Sedang Mahisa Agni

pun kini mendapat kawan baru yang katanya adalah pamannya,

Empu Gandring, tukang keris itu.”

“Karena itu Guru dapat berhubungan dengan Wong Sarimpat dan

Kebo Sindet,” sahut Kuda Sempana pula.

Gurunya kembali terdiam. Ia melihat kekerasan hati muridnya.

Tetapi sebagai seorang yang telah berumur lanjut, maka hatinya

jauh lebih mengendap dari Kuda Sempana, sehingga Empu Sada itu

mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dihadapinya.

Katanya, “Kuda Sempana, pekerjaan ini terlampau berat.”

“Guru, aku tidak akan menyentuh apa saja yang dimiliki oleh Ken

Dedes. Perhiasan, pakaian dan kekayaannya. Aku hanya

memerlukan orangnya.”

Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menelan

ludahnya. Kekayaan itu pasti berlimpah-limpah. Tetapi di dalam

dirinya tersembunyi pula pengertian bahwa merebut Ken Dedes

akan sama sulitnya dengan merebut tahta Akuwu Tunggul Ametung.

Karena itu, maka ia sama sekali tidak mengemukakan lagi

pendapatnya.

“Kuda Sempana,” berkata Empu Sada, “kau tahu bahwa merebut

Ken Dedes kini tidak semudah pada saat ia masih berada di

Panawijen. Ia kini berada dalam istana yang mempunyai prajurit

yang tidak saja cukup banyak, dan mereka adalah prajurit-prajurit

yang tangguh.”

Kuda Sempana telah mengenal pula keadaan istana Tumapel

dengan baik. Ia tahu benar, bahwa ia tidak akan mendapat

kemungkinan untuk merebut Ken Dedes dalam keadaannya kini.

Karena itu, maka sekali lagi ia berkata, “Guru, sekali lagi aku ingin

bertanya bagaimana dengan Paman Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat?”

“Kau belum mengenal mereka sebaik aku mengenal, Kuda

Sempana. Mereka adalah orang-orang yang dapat disebut orangorang

liar. Orang-orang yang berada di luar lingkungan masyarakat

yang beradab. Mereka adalah orang-orang buruan.”

Empu Sada terkejut ketika ia mendengar jawaban Kuda Sempana

yang tidak disangka-sangkanya, “Kita pun orang-orang buruan,

Guru.”

“He?”

“Kita sudah mulai. Apalagi aku. Guru pun telah melakukan

perlawanan atas Witantra yang membawa kekuasaan Tunggul

Ametung di hutan di dekat padang Karautan.”

Wajah Empu Sada menjadi berkerut-kerut. Kata-kata Kuda

Sempana itu benar. Ia telah terdorong pula ke dalam suatu keadaan

yang sulit. Apabila Witantra nanti sampai di Tumapel, dan Akuwu

mendengar laporannya tentang dirinya, maka Empu Sada dan

murid-muridnya adalah orang-orang buruan seperti Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat.

Sejenak Empu Sada berdiam diri. Direnungkannya dirinya dan

apa saja yang telah dilakukannya. Tetapi bagaimanapun juga ia

masih melihat perbedaan yang tajam antara dirinya dan kedua

orang-orang liar itu. Bahkan apabila ia dapat menarik dirinya

kembali, ia masih belum terjerumus terlampau jauh.

Tetapi muridnya yang bernama Kuda Sempana itu agaknya

benar-benar telah keras hati. Ketika ia melihat gurunya ragu-ragu

maka katanya, “Guru. Kita sudah terjun ke tengah-tengah sungai.

Terus atau kembali, kita sudah terlanjur basah kuyup.”

Sekali lagi Empu Sada menarik nafas. Katanya masih dalam nada

yang rendah, “Kuda Sempana, kau pernah menjadi seorang hamba

Tunggul Ametung. Apa kau sangka kita meskipun bersama dengan

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mampu mengalahkannya?”

“Aku sama sekali tidak ingin merebut kedudukan Tunggul

Ametung, Guru.”

“Menginginkan seorang permaisuri akan sama artinya dengan

menginginkan kedudukannya.”

“Tidak. Kalau aku sudah mendapatkan Ken Dedes, aku akan

pergi jauh sekali keluar Tumapel, bahkan mungkin keluar Kediri.”

“Alangkah bodohnya kau,” gurunya menggerutu, “kau sendiri

pernah menjadi pelayan dalam. Kau sangka bahwa merebut Ken

Dedes tidak berarti perang melawan Tunggul Ametung. Meskipun

kau tidak menginginkan kedudukannya, tetapi perang itu sudah

terjadi.”

Kuda Sempana terdiam. Hatinya gelap telah menutup segenap

kemauannya untuk berpikir. Tetapi kali ini ia mendengar kata-kata

gurunya. Dan kata-kata itu mampu menyelusup ke dalam hatinya

yang gelap.

Tetapi meskipun demikian ia menjawab, “Guru, bukan maksudku

untuk berbuat demikian. Bagaimana kalau gadis itu diculik?”

“Pekerjaan itu pun bukan pekerjaan yang mudah, Kuda

Sempana.”

Kembali Kuda Sempana terdiam. Namun gejolak di dalam

dadanya sama sekali tidak mereda. Ketika ia mengangkat wajahnya,

ia melihat ekor dari iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh,

dan hampir lenyap di tikungan. Yang tampak kemudian hanyalah

tanaman-tanaman yang kering kekuning-kuningan.

“Persetan dengan bencana yang menimpa Panawijen,” tiba-tiba

Kuda Sempana menggeram. Dendamnya kepada Panawijen menjadi

semakin memuncak. Panawijen tempat ia dilahirkan, tempat ia

dibesarkan dan tempat orang tuanya bergelut dengan hidup

keluarganya, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan

baginya Panawijen adalah mereka yang telah membakarnya selama

ini. Apalagi anak muda yang bernama Mahisa Agni, benar-benar

telah menyalakan segala macam kebencian di dalam dadanya.

Dalam pada itu, tiba-tiba Kuda Sempana itu bergumam, “Guru,

bagaimanapun juga, sebaiknya kita coba. Berhasil atau tidak

berhasil, sebaiknya guru menghubungi Wong Sarimpat dan Kebo

Sindet. Kalau aku tidak berhasil mendapatkan Ken Dedes, maka aku

akan membuat pembalasan dengan caraku. Menghancurkan

bendungan yang sedang dibangun, menangkap dan membunuh

Mahisa Agni sehingga akibatnya pasti akan menyiksa perasaan Ken

Dedes. Biarlah hatinya tersiksa seperti hatiku.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau hanya itu

yang dikehendaki dan dapat memberinya kepuasan, maka kiranya

tidak terlalu sulit untuk dilakukannya. Karena itu maka jawabnya,

“Kuda Sempana, mungkin kita akan dapat berbuat demikian.

Memecah rencana yang tengah dibuat oleh Mahisa Agni itu, bahkan

membinasakan. Tetapi seterusnya, untuk mendapatkan Ken Dedes

adalah terlampau sulit bagimu kini.”

“Mahisa Agni adalah sumber dari kegagalan itu guru.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak

kemudian ia menjadi bimbang hati. Kalau ia melakukan perbuatan

itu, apakah keuntungan yang didapatkannya, selain diburu dan di

kejar-kejar oleh Akuwu Tunggul Ametung? Tetapi dalam pada itu

kini menyelusup perasaan lain pula di dalam dadanya, Empu Sada

itu sendiri tidak mengetahuinya, kenapa tiba-tiba ia ingin membela

muridnya dengan kemauan yang berbeda dari saat-saat lampaunya.

Pada masa-masa yang lampau, setiap perbuatannya pasti

diperhitungkannya, upah apakah yang akan diterima dari muridnya

yang dibantunya. Tetapi setelah ia melihat beberapa perguruan lain,

melihat, bagaimana sikap Panji Bojong Santi terhadap muridnya,

maka pendirian itu tanpa dikehendakinya sendiri telah bergeser pula

karena harga dirinya yang tampil ke depan. Empu Sada tidak mau

perguruannya menjadi bahan ejekan dari perguruan-perguruan lain

karena setiap usaha dan kemauan murid-muridnya selalu tidak

pernah terpenuhi.

Tetapi Empu Sada itu terkejut ketika tiba-tiba muridnya berkata,

“Kalau demikian, mengapa tidak malam ini saja kita menghancurkan

rencana Mahisa Agni dan menangkapnya?”

“Sudah aku katakan,” sahut gurunya, “di samping Mahisa Agni

kini ada pamannya Empu Gandring. Karena itu kita tidak boleh

terlampau tergesa-gesa.”

Namun terasa Kuda Sempana tidak bersabar lagi. Tetapi ketika ia

ingin menyatakan perasaannya itu, terdengar orang yang

menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo berkata, “Aku mempunyai cara

yang baik untuk menyiksa perasaan Mahisa Agni.”

Kuda Sempana dan Empu Sada itu pun berpaling kepadanya.

Hampir bersamaan mereka berkata, “Apakah cara itu?”

“Kita biarkan Mahisa Agni membuat bendungan itu sampai saat

hampir selesai. Nah, ketika mereka merasa bahwa mereka pasti

akan menikmati hasil usahanya itu, maka bendungan itu kita

pecahkan. Kita hanyutkan Mahisa Agni di dalam arusnya yang

keras.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,

“Terlampau lama. Berapa bulan lagi hal itu terjadi?”

“Tetapi peristiwa itu akan menyenangkan sekali. Bukan saja

Mahisa Agni, alangkah kecewanya orang-orang Panawijen yang lain.

Kalau bendungan itu kau rusakkan sekarang, maka kerugian mereka

tidak seberapa banyaknya. Dalam pada itu, Guru masih mempunyai

kesempatan untuk bertemu dengan paman Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat.”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi katanya kemudian, “Aku

sependapat, tetapi kita tidak perlu menunggu bendungan itu selesai.

Aku tidak ingin pembalasan ini datang terlampau lama.”

Empu Sada pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Pendapat muridnya yang seorang itu memang menyenangkan

sekali. Sebagai suatu cara untuk melepaskan sakit hati, maka cara

itu pasti akan mencapai maksudnya. Bahkan Empu Sada itu

menyambung, “Pendapat itu baik sekali. Kalau Mahisa Agni dapat

ditangkap, maka jangan tergesa-gesa dimasukkan ke dalam arus

air. Berilah kesempatan kepadanya melihat bendungan yang telah

dikerjakannya itu pecah. Beri kesempatan ia menjadi kecewa.

Sangat kecewa. Biarlah ia melihat parit-parit yang sudah digalinya

menjadi kering kembali. Dengan demikian ia dapat membayangkan,

penduduk Panawijen segera akan ditimpa bencana. Bahkan

seandainya Mahisa Agni tidak dibunuh sekalipun, maka siksaan yang

akan dialaminya akan jauh lebih sakit daripada sakit hatimu, Kuda

Sempana.”

“Tidak, Guru,” sahut Kuda Sempana tiba, “tidak ada sakit hati

yang melampaui sakit hatiku.”

“Ya, ya,” jawab Empu Sada cepat-cepat, “aku tahu. Maksudku,

pembalasan itu akan cukup memadai dengan perbuatannya.”

Kuda Sempana terdiam sejenak. Kini mereka sudah tidak melihat

lagi iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali ke Tumapel.

“Sekarang bagaimana?” bertanya orang yang menyebut dirinya

Bahu Reksa Kali Elo.

“Sudah tentu kita tidak akan dapat pulang ke rumah, ke

padepokanku. Kalau sakit hati Witantra belum sembuh benar, ia

pasti akan datang mencoba menangkapku,” berkata Empu Sada,

“tetapi aku kira anak itu tidak akan membuat sesuatu kerusakan.

Biar sajalah para cantrik menerima kedatangannya. Kini kita akan

pergi ke Kemundungan, memberitahukan kepada setiap muridmurid

yang ada, supaya mereka menghindari benturan-benturan

dengan orang-orang Witantra. Lebih baik mereka menyingkir untuk

sementara.”

Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu

mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang itu memang

harus disingkirkan pula. Tetapi dengan demikian, mereka harus

membuat tempat penampungan bagi mereka. Namun saudarasaudara

seperguruan yang lain pasti akan bersedia membantu

mereka.

“Setelah itu,” berkata Empu Sada seterusnya, “kita mencari Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Mungkin kita akan dapat menemaninya

di Sampadan. Setidak-tidaknya salah seorang dari mereka.”

“Apakah kita tidak melihat bendungan itu guru? Supaya kita

dapat menentukan kapan kita akan datang kembali?” bertanya Kuda

Sempana.

“Kau terlalu bernafsu Kuda Sempana,” sahut gurunya, “kita harus

berlomba dengan Witantra. Kita harus lebih dahulu sampai di

Kemundungan. Biarlah mereka yang membuat bendungan itu

sekarang tidak terganggu, supaya mereka tidak menyiapkan dirinya

menghadapi kehadiran kita kelak. Tidak sampai sebulan kita akan

kembali membawa orang-orang yang cukup banyak untuk

menghancurkan bendungan dan apabila perlu, serta mereka yang

mengadakan perlawanan. Adalah lebih baik kalau Empu Gandring

sudah meninggalkan tempat itu dan Empu Purwa tidak lagi

berkeliaran. Apalagi Panji yang kurus itu.”

Kuda Sempana kali ini terpaksa menurut kehendak gurunya.

Mereka kemudian meninggalkan telatah Panawijen tanpa berbuat

sesuatu untuk dengan tergesa-gesa pergi ke Kemundungan. Namun

di sepanjang jalan, kepala Kuda Sempana selalu dipenuhi oleh

gambaran-gambaran tentang pembalasan sakit hati yang akan

dilakukan. Namun bagaimanapun juga, gambaran tentang Ken

Dedes tidak juga dapat lenyap dari kepalanya.

Sementara itu iringan yang membawa Ken Dedes semakin lama

menjadi semakin jauh meninggalkan Panawijen. Terasa matahari di

langit semakin panas menyengat kulit mereka. Seperti pada saat

mereka berangkat, maka mereka memilih jalan di sepanjang hutan

daripada menyeberang padang rumput Karautan untuk menghindari

panas yang tak tertahankan di padang itu. Lebih-lebih bagi seorang

gadis seperti Ken Dedes.

Apabila mereka berkuda cepat-cepat, maka masih juga terasa

silirnya angin karena kecepatan perjalanannya. Tetapi berjalan kaki

di padang itu, adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman mereka, pada saat mereka berangkat,

maka dalam perjalanan kembali itu mereka selalu diliputi oleh

kewaspadaan yang setinggi-tingginya. Bahaya setiap saat dapat

mengancam, bahkan mungkin menjadi lebih berat daripada saat

mereka berangkat.

Tetapi seandainya mereka tahu, bahwa dalam saat yang

bersamaan Kuda Sempana dan gurunya sedang berjalan menuju ke

Kemundungan, maka mereka pasti tidak akan setegang itu. Bahkan

mungkin mereka sempat berkelakar di sepanjang jalan. Namun kali

ini perjalanan itu seolah-olah diselubungi oleh kecemasan dan

kekhawatiran sehingga hampir tidak terdengar suara mereka

bercakap-cakap. Kecuali sekali dua kali terdengar suara tawa Kebo

Ijo yang berjalan agak di muka tandu.

Tidak seperti pada saat mereka berangkat, maka dalam

perjalanan kembali ini, mereka tidak memerlukan bermalam di

perjalanan. Seakan-akan mereka demikian ingin melihat kota

Tumapel kembali. Meskipun hari telah malam, namun mereka

meneruskan perjalanan. Mereka tidak takut kalau mereka akan jatuh

terjerumus karena kaki-kaki mereka terantuk batang-batang yang

roboh atau tersangkut sulur-sulur pepohonan, sebab ketika itu,

mereka telah meninggalkan hutan di sepanjang tepi padang

Karautan yang panas.

Kehadiran mereka di kota, hampir di tengah malam buta,

mengejutkan para peronda. Tetapi Witantra yang berjalan di muka,

selalu mencoba mencegah mereka membuat keributan.

“Jangan ribut. Biarlah mereka yang tidur tidak terganggu. Mereka

tidak perlu melihat iring-iringan ini, sebab mereka telah melihat

pada saat kami berangkat,” berkata Witantra kepada para peronda.

Meskipun demikian, ada juga di antara mereka yang sempat

membangunkan anak istrinya, dan membawa mereka ke tepi jalan

raya untuk menyambut iringkan bakal permaisuri. Bahkan iringiringan

itu tampak lebih megah lagi di bawah cahaya beberapa buah

obor yang menyala berkobar-kobar.

Tetapi para prajurit Tumapel yang lelah itu sama sekali tidak lagi

sempat memperhatikan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan.

terkantuk-kantuk mereka berjalan dengan langkah yang panjangpanjang

supaya mereka segera dapat beristirahat. Di dalam tandu,

Ken Dedes sekali-sekali tersandar dengan mata terpejam. Kadangkadang

ia kehilangan kesadaran karena kantuknya yang

mencengkam. Tetapi apabila tandunya tergoyang karena para

pemanggulnya bergantian, Ken Dedes itu kembali mencoba

membelalakkan matanya. Terasa pula bahwa badannya menjadi

semakin penat.

“Hem,” desahnya di dalam hati, “apalagi mereka yang berjalan

kaki. Lebih-lebih yang harus memanggul tandu ini.”

Di belakang ada pula prajurit yang berjalan tersuruk-suruk.

Hampir tidak lagi ia kuat menarik kakinya. Tombaknya terayun-ayun

bukan karena lawan berdiri di hadapannya. Tetapi tangannya telah

terlampau letih memegang senjata itu. Keringat di telapak

tangannya telah membuat landean tombaknya menjadi licin.

Ternyata bahwa rasa kantuk mereka jauh lebih mengganggu dari

perasaan lelah, meskipun keduanya saling mempengaruhi. Mereka

menjadi sangat kantuk karena lelah.

Ketika iring-iringan itu kemudian memasuki alun-alun, dan

kemudian terpaksa berhenti di muka regol untuk menanti sejenak

para penjaga membuka palang pintu yang besar, maka beberapa

orang di antara mereka dengan serta menjatuhkan dirinya duduk

bersandar pada dinding halaman istana.

“He,” terdengar suara Kebo Ijo perlahan-lahan, “apakah kalian

tidak lagi mampu berdiri?”

Seorang prajurit yang bertubuh tinggi, berdada bidang dan

berkumis tebal menjawab, “Lebih baik aku pergi bertempur malam

ini, daripada disiksa oleh perasaan lelah dan kantuk.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kalau kau bertempur saat ini, maka

perutmu pasti akan segera berlubang karena kau tidak lagi dapat

melihat ujung senjata lawanmu.”

Prajurit yang berkumis itu tidak menjawab. Bahkan

dipejamkannya matanya sambil menguap. Katanya, “Hem, alangkah

segarnya duduk sambil terkantuk-kantuk di bawah pohon beringin

setelah hampir sehari penuh berjalan menyusur daerah yang kering

kerontang.”

“Apakah kau mimpi?” bertanya Kebo Ijo, “bukankah kita baru

saja meninggalkan daerah yang hijau segar. Bukankah Panawijen

daerah yang paling subur daripada daerah Tumapel?”

“Hu,” prajurit itu mencibirkan bibirnya. Tetapi matanya masih

terpejam, “daerah itu adalah daerah mati. Aku heran, kenapa di

daerah itu masih juga ada penghuninya?”

Mahisa Agni yang mendengar percakapan itu mengerutkan

keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya Kebo Ijo memandanginya

pula sambil tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata kepada prajurit

yang terkantuk-kantuk itu, “Kini baru dibuat sebuah bendungan

untuk mengairi padukuhan itu supaya menjadi bertambah subur.”

“Alangkah bodohnya,” sahut prajurit itu antara sadar dan tiada,

“lebih baik menjadi pekatik di kota daripada membuat bendungan.”

Terdengar Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak sambil memandangi

wajah Mahisa Agni yang berkerut-kerut, sehingga beberapa orang

berpaling ke arahnya. Witantra yang berdiri di muka regol. untuk

menunggu para penjaga membuka palang pintu pun berpaling pula.

Namun tiba-tiba suara tertawa Kebo Ijo itu terputus. Semula

memang ada maksud Mahisa Agni untuk menjawab kata-kata itu,

sebab ia merasa benar bahwa kelakar itu sengaja dilontarkan oleh

Kebo Ijo untuk menyindirnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Karena

itu, maka Mahisa Agni itu pun menggigit bibirnya, seolah-olah ia

ingin menahan agar mulutnya tidak melontarkan kata-kata.

Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara halus dari dalam

tandu, “Kau benar Kebo Ijo. Karena itu aku pun mengungsi ke

kota.”

Bukan saja Kebo Ijo. Bahkan prajurit yang terkantuk-kantuk itu

pun tersentak seperti disengat lebah. Sejenak ia mencoba

menyadari apa yang terjadi. Tetapi ketika ia yakin bahwa katakatanya

telah terdorong terlampau jauh, dan bahwa yang

didengarnya adalah suara putri calon permaisuri itu, maka dengan

serta-merta ia meloncat. Tandu itu memang tidak terlampau jauh

daripadanya. Dengan tubuh gemetar ia duduk bersimpuh di tanah

sambil berkata, “Ampun Tuan Putri. Bukan maksud hamba

mengatakan demikian, tetapi hamba seakan-akan terbius oleh

pertanyaan-pertanyaan Kebo Ijo, sehingga jawaban hamba pun

tidak lagi dapat hamba kendalikan.”

Ken Dedes tidak menjawab. Bahkan memandang wajah prajurit

itu pun tidak. Dengan jarinya ia menunjuk gerbang yang telah

terbuka sambil berkata kepada para pengusung tandunya, “Gerbang

telah terbuka. Marilah.”

Tandu itu pun kemudian bergerak. Beberapa orang prajurit yang

semula sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu,

percakapan antara Kebo Ijo dan prajurit berkumis itu pun terpaksa

bertanya-tanya, apakah yang sudah dikatakannya. Tetapi para

pengusung dan satu dua orang prajurit yang mendengarnya berkata

di dalam hatinya, “Salahmu, mulutmu terlampau lancang.”

Tetapi Ken Dedes tidak meletakkan kesalahan pada prajurit itu.

Prajurit itu hanya sekedar ingin melepaskan perasaannya yang

diganggu oleh lelah dan kantuk. Tetapi kejengkelannya

ditumpahkannya kepada Kebo Ijo. Sejak di Panawijen sikap anak

muda itu tidak menyenangkan hatinya. Tetapi ia tahu bahwa Kebo

Ijo adalah orang terdekat dari Witantra di samping Mahendra yang

sampai saat ini tidak juga mau menjadi seorang prajurit.

Ketika tandu itu kemudian berjalan, Witantra, Mahendra dan para

perwira berdiri tegak di sisi pintu gerbang itu. Ketika tandu itu telah

melampauinya, maka barulah mereka melangkah memasuki

halaman. Namun sekali-sekali Witantra memalingkan wajahnya

mencari Kebo Ijo. Ia ingin tahu, apa saja yang dipercakapkannya

dengan prajurit yang duduk bersimpuh di samping tandu Ken

Dedes.

Kesan Ken Dedes dan Mahisa Agni atas Kebo Ijo menjadi

semakin kurang sedap. Anak itu benar-benar anak yang bengal dan

bahkan kurang dapat mengendalikan dan menempatkan diri dalam

suatu keadaan tertentu.

Tunggul Ametung yang telah tidur nyenyak di dalam biliknya

terkejut ketika ia mendengar suara ribut di luar. Ia mendengar

beberapa orang berjalan hilir mudik. Ia mendengar langkah

mendekati pintu biliknya, tetapi kemudian berhenti dan kembali

langkah itu menjauh.

“Bagaimana?” terdengar seseorang berbisik.

“Aku kira Akuwu tidak perlu dibangunkan,” sahut yang lain.

“Apa begitu?” berkata suara yang pertama.

“Bukankah tidak ada soal yang perlu diselesaikan malam ini,”

terdengar suara kedua, “sebenarnya aku takut membangunkan

Akuwu.”

Suara-suara itu pun kemudian terdiam. Namun kedua orang itu

seakan-akan terlonjak ketika tiba-tiba saja mereka melihat Akuwu

Tunggul Ametung sudah berdiri di muka pintu biliknya.

“Apakah yang kalian lakukan di sini?” bertanya Akuwu Tunggul

Ametung itu.

Kedua prajurit itu dengan serta-merta menjatuhkan dirinya dan

seorang pelayan istana hampir terperosok di tangga ketika dengan

tergesa-gesa ia bersimpuh.

“Ampun Tuanku,” sahut pelayan juru penebah itu, “hamba takut

membangunkan Tuanku ketika kedua prajurit ini memintanya.”

Dipandanginya wajah kedua prajurit yang tunduk itu. Yang

seorang dari mereka adalah Sidatta.

“Apa perlunya kau menghadap malam-malam, Sidatta?”

“Ampun Tuanku,” sahut Sidatta sambil membungkuk dalamdalam,

“hamba ingin menyampaikan berita kehadiran kembali Tuan

Putri Ken Dedes setelah Tuan Putri mengunjungi Panawijen.”

“He,” wajah Tunggul Ametung yang gelap itu tiba-tiba menjadi

cerah, “Ken Dedes datang kembali?”

“Hamba Tuanku.”

“Bagus,” berkata Tunggul Ametung itu, “suruh ia menghadap.”

“Baik Tuanku,” jawab Sidatta, “tetapi Tuan Putri lelah sekali.

Sekarang Tuan Putri sedang membersihkan diri di pakiwan dilayani

oleh beberapa emban.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya

kemudian, “Baik, baik. Biarlah ia beristirahat. Besok pagi-pagi kalian

harus menghadap bersama-sama. Apakah kalian datang bersama

Mahisa Agni?”

“Hamba Tuanku,” jawab Sidatta.

“Baik-baik,” Tunggul Ametung itu mengangguk-angguk pula,

“sekarang kalian boleh beristirahat. Ken Dedes boleh beristirahat

pula. Besok pagi-pagi kalian harus datang menghadap. Tempatkan

Mahisa Agni sebaik-baiknya. Biarkanlah tempat yang pantas. Ia

adalah Kakang Ken Dedes itu.”

“Hamba Tuanku,” sahut Sidatta.

Setelah mengangguk dalam-dalam, Sidatta itu pun kemudian

mengundurkan dirinya membawa pesan Akuwu Tunggul Ametung

kepada Ken Dedes, Mahisa Agni dan para prajurit. Mereka

diperkenankan beristirahat, sedang para perwira besok pagi-pagi

harus menghadap Akuwu Tunggul Ametung bersama dengan Ken

Dedes.

Sepeninggal Sidatta kembali Tunggul Ametung membaringkan

dirinya. Tetapi kini matanya sudah tidak dapat dipejamkannya lagi.

Terata malam terlampau lamban baginya seakan-akan waktu

berhenti beredar.

Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun mendengar

ayam jantan berkokok untuk ketiga kalinya. Perlahan-lahan ia

bangkit dari pembaringannya, menggeliat dan kemudian melangkah

keluar dari biliknya. Ia masih melihat pelita yang menyala di segala

penjuru istananya. Ia masih melihat seorang pelayan duduk

terkantuk-kantuk di tangga serambi belakang.

“He, siapa yang duduk di situ?” panggil Akuwu Tunggul Ametung.

Pelayan itu berjingkat. Dan dengan tergesa-gesa ia menyuruk

merangkak-rangkak mendekati Akuwu Tunggul Ametung.

“Aku akan mandi,” berkata Tunggul Ametung itu.

Pelayan itu heran. Hari masih terlampau pagi. Tetapi ia tidak

berani bertanya. Terdengar jawabnya, “Hamba Tuanku. Akan

hamba sediakan untuk keperluan itu.”

Ketika kembali pelayan itu berjalan jongkok meninggalkan Akuwu

Tunggul Ametung, terdengar Tunggul Ametung membentaknya,

“Cepat, jangan bekerja seperti siput sakit-sakitan.”

Orang itu pun kemudian mempercepat geraknya, kemudian

meloncat turun ke halaman dan berlari-lari ke belakang mengambil

air hangat. Tetapi air itu baru saja diletakkan di atas api.

Ketika matahari muncul dari balik punggung-punggung bukit,

maka para perwira telah siap di paseban dalam. Sebentar kemudian

Ken Dedes pun telah hadir pula. Mereka menundukkan kepalakepala

mereka ketika Akuwu memasuki ruangan itu.

Ternyata Akuwu Tunggul Ametung hampir tidak sabar untuk

berbicara tentang dirinya sendiri ketika dilihatnya Mahisa Agni pun

berada di dalam ruangan itu. Hampir tak ada yang dipersoalkannya

dengan para perwira. Akuwu hanya bertanya tentang keselamatan

mereka, perjalanan mereka dan sekedar berterima kasih. Kemudian

katanya, “Kalian pasti sangat lelah. Karena itu kalian tidak perlu

terlampau lama duduk di sini. Kalian aku perbolehkan segera

meninggalkan tempat ini untuk beristirahat.”

Witantra menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sambil

tersenyum ia berkata, “Terima kasih Tuanku. Lain kali hamba akan

menyampaikan cerita tentang perjalanan ini lebih banyak lagi.”

“Baik. Baik,” berkata Tunggul Ametung, “sampaikan lain kali.”

Witantra yang melihat kegembiraan yang membayang di wajah

Akuwu Tunggul Ametung tidak sampai hati untuk mengganggunya

dengan laporan-laporan yang dapat menggelisahkannya tentang

Empu Sada dan Kuda Sempana. Karena itu disimpannya laporan itu

untuk disampaikannya pada kesempatan yang lain.

Sepeninggal mereka, maka kini Akuwu tinggal duduk bersama

Ken Dedes, Mahisa Agni dan beberapa emban. Di antaranya adalah

emban tua pemomong Ken Dedes yang dibawanya dari Panawijen.

Namun, menghadapi persoalan yang selama ini tersimpan di

dalam dirinya, Akuwu Tunggul Ametung merasa canggung. Ia tidak

tahu bagaimana ia harus memulainya.

Sejenak mereka yang berada di dalam ruangan itu saling berdiam

diri, sehingga ruangan itu menjadi sepi. Hanya tarikan nafas

merekalah yang terdengar berkejar-kejaran. Sekali-sekali Akuwu

mengedarkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya Ken Dedes

duduk bersimpuh sambil menekurkan kepalanya, emban tua di

belakang dan kemudian Mahisa Agni dengan wajah menungkul.

Tunggul Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Semua

kemarahan kejengkelan dan hukuman yang pernah diberikannya

kepada Mahisa Agni kini telah dilupakannya sama sekali. Yang

berjejal-jejal di dalam dadanya kini adalah persoalannya sendiri.

Akuwu Tunggul Ametung itu ingin mendapat kesan, setidaktidaknya

untuk meringankan perasaan sendiri, bahwa ia telah

mengambil Ken Dedes menurut adat yang seharusnya. Meminang

kepada keluarganya untuk mengambil anak gadisnya. Dan

mendengar keluarganya atau salah seorang daripadanya dengan

ikhlas memberikannya.

Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi

gelisah. Ken Dedes pun sebenarnya sejak menghadap selalu diliputi

oleh kegelisahan pula. Ia ragu-ragu akan kakaknya. Apakah nanti

yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni? Apakah kakak angkatnya itu

akan menjawab pertanyaan dan pernyataan Akuwu Tunggul

Ametung seperti yang diharapkannya.

Sekali-sekali Ken Dedes mencoba memandang wajah Mahisa Agni

dengan sudut matanya. Namun ia sama sekali tidak mendapat

kesan apapun dari wajah yang tertunduk itu.

Dalam pada itu Tunggul Ametung yang perkasa, rajawali dalam

setiap peperangan, yang selama ini selalu menuruti perasaan sendiri

yang kadang-kadang meledak-ledak, tiba-tiba merasa bahwa

seolah-olah mulutnya menjadi terbungkam.

Namun setelah berjuang beberapa lama, setelah tubuhnya basah

oleh keringat dingin yang mengalir dari segenap lubang kulitnya,

barulah Akuwu yang perkasa itu berkata, “Mahisa Agni. Apakah kau

sudah tahu, apakah sebabnya aku memanggilmu?”

Jantung Mahisa Agni berdesir. Apakah yang harus dikatakannya?

Kalau Akuwu itu akan melamar Ken Dedes, maka ialah yang harus

datang kepadanya, bukan memanggilnya. Tetapi ketika ia sudah

berhadapan dengan Tunggul Ametung di muka Ken Dedes itu

sendiri, ia tidak sampai hati untuk mengatakannya. Ia tahu, hati Ken

Dedes pasti akan hancur. Karena itu maka ia menjawab, “Hamba

Tuanku. Hamba dapat mengira-ngirakan, apakah sebabnya maka

Tuanku memanggil hamba menghadap.”

“Bagus,” sahut Tunggul Ametung, “nah, sekarang katakan,

apakah keperluan itu?”

Kening Mahisa Agni menjadi berkerut-kerut. Ken Dedes pun

terkejut mendengar kata-kata Tunggul Ametung itu. Bahkan

kegelisahannya pun menjadi semakin mencengkam hatinya.

Ketika sesaat Mahisa Agni belum menjawab, maka Akuwu itu pun

berkata pula, “Bukankah kau sudah tahu, apa sebabnya aku

memanggilmu?”

Kini Mahisa Agnilah yang menarik nafas. Sambil membungkukkan

kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Ampun Tuanku. Hamba

hanya dapat mengira-ngirakan. Tetapi kepastian dari persoalan ini

ada pada Tuanku. Karena itu, maka hamba tiada berani mendahului

titah Tuanku.”

Ken Dedes pun menarik nafas pula mendengar jawaban Mahisa

Agni. Ternyata sampai sekian Mahisa Agni telah menunjukkan sikap

dan kata-kata yang baik. Meskipun demikian, kegelisahan gadis itu

masih saja mencengkamnya.

Sejenak kembali mereka berdiam diri. Ken Dedes sekali masih

berusaha untuk mendapat kesan dari wajah kakaknya, namun

Mahisa Agni kini menjadi semakin tertunduk.

Pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar tidak

menyenangkan Mahisa Agni. Ia merasa bahwa dalam hubungan ini

ia sama sekali berada dalam keadaan yang sulit. Sulit karena

perasaan sendiri yang bergolak, sulit karena kedudukan yang tidak

seimbang dari pihak-pihak keduanya, sulit karena sikap Akuwu itu.

Bahkan seandainya Ken Dedes itu adiknya sendiri, yang tanpa

membekali persoalan-persoalan di dalam hatinya pun, ia merasa

kecewa mendengar pertanyaan Tunggul Ametung itu. Seolah-olah

menurut tanggapan Mahisa Agni, ia harus datang menawarkan

gadis itu kepada Akuwu Tunggul Ametung.

Namun ketika kemudian sekilas Mahisa Agni melihat Tunggul

Ametung itu mengusap keringat di wajahnya, serta duduknya yang

tidak tenang, timbullah dugaannya yang lain. Mungkin Akuwu

Tunggul Ametung menyimpan sesuatu di dalam hatinya sebelum ia

dengan berterus terang ingin menyampaikan maksudnya.

Tetapi Akuwu itu tidak segera berkata apapun. Ketika ia

mendengar jawaban Mahisa Agni, maka keringatnya menjadi

semakin deras mengucur. Sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu

tidak menyimpan apapun di dalam dadanya. Bahkan ia ingin segera

sampai kepada persoalan dirinya sendiri. Tetapi ia kurang mampu

untuk mengatakannya. Ia mengharap Mahisa Agni dapat membuka

jalan dari pembicaraan itu. Tetapi ketika Mahisa mengembalikan

persoalannya kepadanya, maka ia menjadi semakin gelisah.

Karena kesenyapan dan kegelisahan yang menyelubungi ruangan

itu, maka suasana pun menjadi tegang. Akuwu Tunggul Ametung

masih belum menemukan cara untuk menyatakan maksudnya,

sedang Mahisa Agni menjadi jemu untuk duduk menunggu dalam

ketegangan. Baginya apapun yang akan dihadapinya, lebih baik

segera didengarnya. Apakah Akuwu lebih dahulu akan memarahinya

karena sikapnya di saat-saat lampau, atau bahkan akan

menghukumnya. Namun baginya, duduk berdiam diri sambil

menundukkan wajahnya terlampau lama adalah menjemukan sekali.

Lebih baik baginya duduk di terik panas matahari yang membakar

punggungnya di padang Karautan.

Ken Dedes dan emban pemomongnya yang duduk di belakang,

merasakan pula ketegangan itu. Mereka melihat dengan hati yang

berdebar-debar kegelisahan yang semakin mencemaskan pada

Akuwu Tunggul Ametung dan pada Mahisa Agni. kegelisahan itu

telah menambah-nambah pula kecemasan dan kegelisahan Ken

Dedes sendiri. Serasa tangannya ingin mendorong Akuwu untuk

segera mengatakan maksudnya sebelum ketegangan itu meledak

tanpa terkendali.

(bersambung )

 

Jilid 19

AKUWU YANG GELISAH ITU PUN sebenarnya ingin pula lekaslekas

dapat mengatakan persoalannya. Tetapi kata-kata itu seakanakan

tersangkut di kerongkongannya.

Sedang Mahisa Agni telah bertekad untuk tidak akan mengatakan

lebih dahulu apakah sebabnya ia menghadap. Kalau Akuwu itu

sekali lagi bertanya maka ia sudah menyediakan jawabnya, bahwa

ia hanyalah sekedar dipanggil.

Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun menyadari

bahwa lambat atau cepat ia harus mengatakannya. Ia menyesal

bahwa ia tidak memanggil beberapa orang tua untuk menghadap

dan dapat menyampaikan maksudnya tanpa kesulitan apa-apa.

Tetapi semalam pikirannya tak sempat meloncat sampai sejauh itu.

Ia demikian tergesa-gesa dan berdebar-debar.

Lambat laun maka Akuwu Tunggul Ametung itu mampu

menguasai perasaannya. Lambat laun hatinya menjadi tenang.

Sehingga akhirnya, meskipun tidak teratur dan hampir tak terdengar

ia berkata, “Agni. Aku kira kau sudah tahu maksudku, kenapa aku

keras memanggilmu. Kalau aku bukan Akuwu Agni, mungkin aku

tidak berkeberatan untuk datang kepadamu sebagai lazimnya lakilaki

menginginkan seorang istri. Sayang aku adalah seorang Akuwu

yang terikat oleh ketentuan-ketentuan yang tak kalah erat seperti

ikatan adat itu sendiri.”

Tunggul Ametung berhenti sejenak untuk menelan ludahnya.

Terasa kerongkongannya menjadi kering. Dan tiba-tiba Akuwu

Tunggul Ametung menjadi haus sekali. Namun ia kemudian berkata

pula, “Sekarang kau sudah datang memenuhi panggilanku meskipun

harus dilakukan berulang kali. Tetapi tak apalah. Yang penting kau

dapat mendengar dari mulutku, bahwa aku ingin mengambil Ken

Dedes, adikmu untuk menjadi permaisuriku.”

Mahisa Agni mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh

Akuwu Tunggul Ametung itu seperti ia mendengarkan keputusan

hukuman gantung untuk dirinya. Betapa ia berusaha menekan

perasaannya, bahkan betapa ia berjuang untuk menindasnya,

namun detak jantungnya menjadi semakin keras. Tak dapat lagi ia

kini memungkiri perasaannya itu. Ia harus melepaskan dan

menyerahkan kepada orang lain, apa yang diinginkannya untuk

dirinya sendiri.

Sesaat Mahisa Agni duduk mematung. Kepalanya dalam-dalam

terhunjam seakan-akan ingin dilihatnya pusar bumi. Nafasnya

menjadi semakin cepat mengalir seperti saling berebutan ingin

meloncat keluar dari rongga dadanya yang panas.

Akuwu Tunggul Ametung, Ken Dedes dan pemomongnya melihat

perubahan yang terjadi dalam diri Mahisa Agni itu. Tetapi tanggapan

mereka berbeda-beda.

Tunggul Ametung sudah merasa melepaskan semua yang

menyumbat dadanya dengan cara yang dianggapnya sebaikbaiknya.

Karena itu ia mengharap bahwa gejolak di dalam dada

Mahisa Agni adalah gejolak perasaan seorang kakak yang

berbahagia karena adiknya menemukan kebahagiaannya. Meskipun

Tunggul Ametung menduga pula bahwa pasti ada sesuatu perasaan

yang masih belum dapat diatasi oleh Mahisa Agni. Pasti ada sesuatu

yang kurang menyenangkan kakak gadis itu, ternyata dengan

beberapa kali ia menolak panggilannya. Tetapi kini Tunggul

Ametung itu merasa telah menyampaikan dengan sebaik yang dapat

dilakukannya.

“Mudah-mudahan perasaan anak muda itu sedang berkisar ke

arah yang aku harapkan,” desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam

hatinya. Namun kadang-kadang timbul pula sifat-sifatnya yang

sekeras batu, katanya di dalam hati itu pula, “supaya aku tidak perlu

mempergunakan kekuasaanku atasnya.”

Sedang Ken Dedes sendiri terkejut mendengar kata-kata Akuwu

yang sama sekali tidak diduganya. Ternyata Akuwu yang terlalu

menuruti perasaan sendiri itu, mampu menguasai diri sehingga kali

ini ia telah bersedia merendahkan dirinya dalam batas kemungkinan

yang dapat dilakukan. Karena itu, ketika Ken Dedes mendengar cara

Akuwu Tunggul Ametung menyampaikan maksudnya, meskipun

katanya tidak tersusun sebaik-baiknya, namun isi dari kata-kata itu

telah membuatnya terharu.

Tetapi dalam pada itu, kegelisahannya tiba-tiba memuncak ketika

ia melihat bagaimana Mahisa Agni sama sekali masih belum

menjawab permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu. Ia melihat

Mahisa Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam, tetapi beberapa

kali Mahisa Agni menggeser diri seolah-olah ia duduk di atas bara

api. Yang mula-mula terungkit di dalam perasaan Ken Dedes adalah

kejengkelannya kepada kakaknya itu. Ia menganggap bahwa Mahisa

Agni masih belum dapat melepaskan harga dirinya yang berlebihlebihan.

Sikap akuwu yang lunak dan merendahkan diri itu, pasti

dianggapnya suatu kekalahan dari Akuwu Tunggul Ametung yang

akan mendorong Mahisa Agni untuk menjadi lebih membanggakan

diri. Mahisa Agni pasti menganggap bahwa akhirnya akuwu itu harus

datang untuk menyembahnya memohon agar ia diperkenankan

memperistri adiknya.

“Tidak,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya, “sekarang aku

telah melihat sendiri, betapa Kakang Mahisa Agni mempunyai sikap

yang tidak aku sukai. Ia sama sekali tidak mencerminkan watak

ayah yang juga menjadi gurunya. Kakang Mahisa Agni ternyata

terlalu sombong, terlalu menilai dirinya terlampau tinggi dan

berharga, seolah-olah ia benar-benar berhak menerima

penghormatan yang berlebih-lebihan karena aku, karena Akuwu

akan mengambil aku tidak segera menyadari dirinya, maka aku akan

mengatakan kepada Akuwu Tunggul Ametung bahwa Kakang

Mahisa Agni, kakak angkatku itu sama sekali bukan orang yang

cukup penting untuk menentukan sikap. Bahkan apabila ia menjadi

terlampau sombong, biarlah ia diabaikan saja. Tidak dengan Mahisa

Agni semuanya akan dapat berlangsung.”

Tetapi Mahisa Agni masih juga belum menjawab. Ia harus

mengulangi keadaannya yang pedih seperti pada saat ia harus

menyampaikan persoalan yang serupa kepada Wiraprana. Namun

karena kini ia harus berhadapan dengan orang yang tidak seimbang

dalam segenap seginya, terasa dirinya menjadi semakin kecil dan

tidak berarti apa-apa.

Ruang paseban dalam yang sepi menjadi bertambah sepi. Mahisa

Agni masih belum mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan keringat

dingin mengalir memenuhi tubuhnya.

Dalam pada itu, emban tua, pemomong Ken Dedes itu pun

menjadi semakin gelisah pula. Hanya perempuan tua itulah yang

dapat meraba perasaan Mahisa Agni mendekati kebenaran. Ia

melihat betapa hati anak itu tergores kembali pada lukanya yang

lama. Luka yang sudah hampir tidak terasa pedihnya, kini tiba-tiba

luka itu kembali menyakitinya.

Tetapi emban tua itu tidak dapat melihat segalanya akan

berkembang semakin buruk. Ia tidak ingin melihat semuanya akan

menjadi korban keadaan yang sama-sama tidak dikehendaki. Karena

itu, maka tiba-tiba terdengar emban itu berdesah. Bukan saja

berdesah, tetapi perempuan tua itu tidak dapat menahan

perasaannya pula, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak.

Tangis itu mengejutkan semua orang yang berada di dalam

ruangan itu. Dengan serta-merta semuanya berpaling ke arah

perempuan tua yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak

tangannya.

“Bibi,” terdengar Ken Dedes bertanya dalam kecemasan, “kenapa

kau menangis bibi?”

Perempuan itu mencoba mengusap air matanya dan menahan

isaknya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya Ken Dedes

berkisar mendekatinya, sedang Mahisa Agni memandanginya

dengan penuh kecemasan pula.

Tetapi kemudian mereka melihat perempuan tua itu

menggelengkan kepalanya. Dicobanya untuk tersenyum dan

menjawab, “Hamba tidak apa-apa, Tuan Putri.”

“Tetapi kenapa kau menangis?”

“Hamba menangis karena kebahagiaan yang mendesak di dalam

hati hamba,” sahut perempuan tua itu.

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Mahisa Agni pun

memandanginya dengan pertanyaan yang bergolak di dalam rongga

dadanya. Sedang Akuwu Tunggul Ametung duduk di tempatnya

seperti patung.

“Hamba tidak dapat menahan rasa haru,” berkata perempuan tua

itu pula, “hamba melihat bahwa kedua momonganku di sini berada

dalam keadaan yang tak pernah dapat dibayangkan sebelumnya.

Tuan putri akan menjadi seorang permaisuri, sedang Angger Mahisa

Agni akan menemukan dirinya sebagai seorang saudara tua yang

melepas adiknya dalam kebahagiaan. Bukankah dengan demikian

Angger Mahisa Agni sendiri akan menemukan kebahagiaan itu pula,

ia akan melihat salah seorang dari tunas di dalam keluarganya,

mekar berkembang dalam taman yang indah. Dijagai oleh seorang

juru taman yang perkasa dan bijaksana.”

Emban tua itu berhenti sejenak. Raut mukanya yang berkeriput

itu masih dibasahi oleh air matanya yang menetes satu-satu.

Ken Dedes tidak menyahut. Ia tertunduk pula dengan rasa haru

yang mendalam. Namun perasaan kecewanya terhadap Mahisa Agni

masih saja selalu mengganggunya.

Namun kata-kata emban tua itu bagi Mahisa Agni terasa seolaholah

sebuah sentuhan yang tajam pada luka di hatinya. Karena itu,

maka terasa dadanya menjadi nyeri bukan buatan. Ia tahu benar

maksud kata-kata perempuan tua itu. Perempuan tua yang tidak

lain adalah ibunya. Ibunya yang pasti akan berkata kepadanya,

“Agni, berbuatlah sebaiknya. Jangan kau ingat kepentingan yang

mencengkam dirimu sendiri.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Pengorbanan yang

diberikannya terasa terlampau berat. Tetapi ia tidak dapat berbuat

lain. Apalagi setelah ia mendengar ibunya mengucapkan katakatanya

yang diketahuinya benar, bahwa kata-kata itu diucapkan

kepadanya sebagai suatu permintaan untuk melepaskan Ken Dedes

dengan dada yang lapang. Tetapi dadanya tidak selapang seperti

yang dikehendakinya.

Namun demikian, dalam keheningan yang semakin mencengkam,

Mahisa Agni bergeser setapak. Sekali ia menelan ludahnya,

kemudian dengan tangannya ia mengusap lehernya yang seolaholah

tersumbat. Perlahan-lahan terdengar suaranya parau dalam

nada yang rendah.

“Akuwu,” katanya, “tiada yang dapat hamba sampaikan, kecuali

perasaan bahagia yang setinggi-tingginya, bahwa Akuwu telah

berkenan memungut adik hamba yang hina, anak pedesaan yang

tidak berharga, untuk tinggal di dalam istana. Bahkan bukan sebagai

hamba sahaya, tetapi untuk menjadi seorang permaisuri.”

Kata-kata Mahisa Agni terputus oleh gejolak di dalam dadanya.

Dicobanya untuk menekan perasaannya sedalam-dalamnya. Baru

sesaat kemudian ia mampu meneruskan, “Karenanya maka tiada

lain yang dapat hamba lakukan, kecuali menyerahkannya dengan

kedua belah tangan.”

Bukan main pengaruh kata-kata yang meluncur dari mulutnya itu.

Pengaruh atas orang-orang yang mendengarnya. Ken Dedes hampir

tidak percaya atas pendengarannya. Namun ketika disadarinya

bahwa Mahisa Agni benar-benar telah menyerahkannya kepada

Akuwu Tunggul Ametung, maka meledaklah kegembiraan dan

harunya, sehingga tiba-tiba ia menangis terisak-isak, seperti

embannya yang menangis pula. Namun apa yang bergolak di dalam

hati emban itu adalah sangat berbeda dengan kelegaan dan

keharuan yang bergolak di dalam hati Ken Dedes. Keharuan di

dalam hati emban tua itu terdorong oleh keikhlasan Mahisa Agni

mengucapkan kata-katanya yang diketahuinya dengan pasti, bahwa

setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni itu sama tajamnya

seperti ujung-ujung tombak yang menusuk menghunjam ke jantung

sendiri. Tetapi Mahisa Agni telah mengucapkannya.

Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung pun menjadi

bergembira sekali. Meskipun dengan cara apapun ia pasti akan

dapat memiliki Ken Dedes, namun cara yang dipakainya kini adalah

cara yang sebaik-baiknya. Cara yang masih dapat menolong

namanya dari berbagai sebutan yang kurang menyenangkan.

Demikian gembiranya maka Akuwu itu pun dengan serta-merta

berkata, “Bagus. Aku sangat berterima kasih padamu, Agni. Sebagai

tanda terima kasihku, maka aku akan menyediakan jabatan yang

pantas untukmu di dalam istanaku. Aku telah melihat bagaimana

kau mampu bertempur melawan Ken Arok. Karena itu aku dapat

memberimu jabatan yang sesuai dengan kemampuanmu itu.”

Ken Dedes yang bergembira itu menjadi semakin bergembira.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan mendapat kesempatan

pula untuk kenikmatan hidup yang baik di dalam istana. Apalagi

dengan demikian, anak muda itu tidak terpisah daripadanya seperti

pada masa kanak-kanak mereka.

“Agni,” berkata Akuwu Tunggul Ametung kemudian, “Aku dapat

menjadikan kau seorang prajurit. Kau tinggal melatih diri dalam

beberapa segi, terutama dalam hal tata tertib dan ketentuanketentuan

yang harus ditaati oleh setiap prajurit. Kau akan dapat

menjadi seorang prajurit pengawal istana yang baik di dalam

lingkungan pimpinan Witantra. Kau akan mendapat tugas khusus

daripadanya, sebagai pimpinan pengawal permaisuri. Bukankah

jabatan itu akan menyenangkan kau dan adikmu?”

Kegembiraan di hati Ken Dedes kini telah memuncak. Dengan

serta-merta ia menjawab, “Terima kasih Tuanku Akuwu Tunggul

Ametung. Dengan demikian maka kakak hamba akan selalu berada

di dekat hamba seperti pada masa-masa yang lampau, pada masa

kami tinggal bersama-sama di padepokan.”

Tetapi kegembiraan mereka itu pun kemudian terganggu ketika

mereka melihat wajah Mahisa Agni yang masih saja tertunduk

dalam-dalam. Tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu menyentuh

juga jantung Mahisa Agni. Namun secepat itu pula tumbuhlah

berbagai pertimbangan yang memberati hatinya. Di dalam

lingkungan prajurit pengawal itu ada seorang anak muda yang sama

sekali tidak menyenangkan baginya. Anak muda itu bernama Kebo

Ijo yang justru adalah adik seperguruan Witantra. Kecuali daripada

itu ia masih mempunyai kewajiban yang tidak akan dapat

ditinggalkan. Ia tidak tahu, berapa hari, berapa minggu bahkan

berapa bulan bendungannya akan selesai. Ia tidak dapat

mengingkari tanggung jawabnya hanya karena ia telah mendapat

kedudukan yang baik.

“Aku harus selalu berada di antara mereka,” berkata Mahisa Agni

di dalam hatinya, “kedudukan ini harus tidak menggeser tanggung

jawabku.”

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, tersembunyi alasan yang

jauh lebih tajam dari segala alasan itu. Mahisa Agni tidak akan dapat

tinggal di dalam istana itu, melihat setiap hari Ken Dedes yang

menjadi seorang permaisuri. Ia tidak yakin, apakah hatinya akan

dapat dikendalikannya? Meskipun ia selalu memaksa dirinya

memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menemukan

kebahagiaan lahir dan batin, namun sebagai manusia maka Mahisa

Agni menyadari dirinya, bahwa suatu ketika ia akan dapat menjadi

khilaf dan berbuat kesalahan. Itulah sebabnya maka ia harus

mempertimbangkan tawaran Akuwu Tunggul Ametung itu masakmasak.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka terdengar

Akuwu Tunggul Ametung bertanya, “Bagaimana Agni? Apakah kau

tidak bergembira mendengar kesempatan yang aku berikan

kepadamu?”

Perlahan-lahan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tanpa

disengaja ia berpaling, dipandanginya wajah emban tua yang duduk

di belakang. Kemudian pandangannya itu berkesan kepada Ken

Dedes yang wajahnya seolah-olah kini tersaput oleh keragu-raguan

atas sikapnya.

Tetapi wajah Ken Dedes itu bahkan telah meyakinkan bahwa ia

tidak akan dapat tinggal di istana bersama-sama dengan Ken Dedes

yang akan menjadi permaisuri Akuwu Tunggul Ametung, Karena itu,

maka dengan nada datar Mahisa Agni menjawab, “Tuanku.

Anugerah Tuanku Akuwu Tunggul Ametung yang tidak hamba

sangka-sangka itu benar-benar telah menggetarkan hati hamba.

Hamba menjadi sangat bergembira dan berterima kasih karenanya.

Tetapi Tuanku, mungkin Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah

mengetahuinya, bahwa kini hamba sedang disibukkan oleh suatu

tugas yang tidak dapat hamba tinggalkan.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Terasa bahwa

ia menjadi kecewa karenanya. Akuwu itu mengharap bahwa Mahisa

Agni akan terkejut dan dengan gemetar menyatakan kegembiraan

hatinya. Ia mengharap Mahisa Agni dengan serta-merta akan

menerima jabatan yang diberikannya itu. Bahkan Mahisa Agni akan

mengucapkan beribu-ribu terima kasih yang tidak henti-hentinya.

Sebagai seorang anak pedesaan, maka kedudukan yang sedemikian

baiknya itu pasti akan membuatnya berangan-angan. Tetapi Mahisa

Agni tidak berbuat demikian. Mahisa Agni itu mendengar segala

katanya itu dengan hati yang dingin dan dengan wajah yang tidak

berkesan apapun meskipun mulutnya mengucap terima kasih dan

bergembira karenanya.

Apalagi kemudian, jawab anak muda itu menjadikan dada Akuwu

Tunggul Ametung berdebar-debar. Anugerah pangkat itu masih juga

diperbandingkan dengan kewajiban yang lain.

Yang tidak kalah kecewa daripada Akuwu Tunggul Ametung

adalah Ken Dedes. Segera ia mengetahui maksud Mahisa Agni

tentang kewajiban yang dikatakannya itu. Sehingga hampir tanpa

disadarinya gadis itu berkata mendahului Akuwu Tunggul Ametung,

“Kakang, agaknya akan selalu terikat dengan pekerjaan itu.

Bukankah tugas yang kau maksud adalah bendungan itu. Setiap kali

kau menyebutnya. Setiap kali kau mengatakan, bahwa kau terikat

pada bendungan itu. Sekarang, pada saat Kakang menerima

anugerah yang tidak disangka-sangka dari Akuwu Tunggul

Ametung, Kakang telah memperbandingkannya pula dengan

pekerjaan Kakang untuk bendungan itu pula. Kakang, sebenarnya

alasan-alasan yang pernah Kakang katakan itu sangat

menjemukan.”

Ken Dedes itu pun tiba-tiba terdiam ketika ia melihat Mahisa Agni

menarik nafas dalam-dalam sambil mengusap lehernya yang

menjadi panas. Bahkan Ken Dedes itu pun kemudian merasa bahwa

ia telah terdorong terlampau jauh oleh kekecewaan yang bergelora

di dalam dadanya.

Namun Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia masih menunggu

apakah masih ada lagi kata-kata yang akan diucapkan oleh Ken

Dedes. Tetapi Ken Dedes itu pun kemudian menundukkan wajahnya

pula sambil bergumam lirih, “Maafkan hamba, Tuanku Akuwu.”

Akuwu Tunggul Ametung itu mengerutkan keningnya. Betapa ia

menjadi kecewa namun ia masih bertanya, “Benarkah yang kau

maksud dengan tugas yang tak dapat kau tinggalkan itu adalah

bendungan itu?”

Mendengar pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu hati Mahisa

Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak ingin mengingkari tugas

yang telah dibebankannya sendiri di atas pundaknya. Sehingga

karena itu maka kemudian ia menjawab lirih sambil menundukkan

wajahnya, “Ya Tuanku. Tugas hamba adalah menyelesaikan

bendungan itu.”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Terdengar

kemudian ia bertanya kembali, “Apakah pamrihmu Agni, bahwa kau

lebih mementingkan bendungan itu daripada jabatan yang aku

berikan?”

Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Ia harus mengatakan

menurut kata hatinya. Ia akan membuka dadanya tanpa selembar

aling-aling. Sambil menengadahkan wajahnya Mahisa Agni itu pun

kemudian menjawab, “Tuanku. Seperti yang hamba katakan, hamba

menjadi sangat bergembira dan berterima kasih atas anugerah

jabatan yang tiada hamba sangka-sangka. Tetapi Tuanku, hamba

mohon maaf yang sebesar-besarnya, bahwa hamba pada saat ini

belum dapat menerima anugerah itu, sebab hamba masih terikat

oleh tanggung jawab atas bendungan itu. Dengan jabatan yang

Tuanku anugerahkan itu, mungkin hamba akan dapat hidup senang

tanpa memikirkan lagi kesulitan seperti yang sedang dialami oleh

rakyat Panawijen. Hamba tidak lagi harus menunggu air di selokan

dan hamba tidak lagi harus prihatin apabila sawah-sawah menjadi

kering. Tetapi Tuanku, maafkan hamba, bahwa hati hamba tidak

sampai untuk melakukannya. Sejak kecil hamba hidup dalam satu

lingkungan suka dan duka bersama-sama rakyat Panawijen. Itulah

sebabnya hamba masih mohon waktu untuk menerima anugerah

Tuanku. Hamba ingin berada di antara rakyat Panawijen yang kini

sedang menderita kekeringan. Hamba ingin ikut merasakan, betapa

kami harus memeras keringat kami untuk masa depan padukuhan

kami. Apabila semua telah selesai, apabila rakyat Panawijen telah

hidup dalam keadaan yang baik, maka hamba akan menghadap

Tuanku kembali. Jangankah sebuah jabatan yang tidak hamba

impikan itu, bahkan menjadi juru taman atau juru pakatik pun akan

hamba lakukan.”

Yang mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun tertegun diam.

Kata-kata itu benar-benar telah menyentuh hati mereka. Akuwu pun

sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dipandanginya

wajah Mahisa Agni yang memancarkan kebulatan tekadnya, bahwa

ia telah menyerahkan seluruh dirinya kepada pekerjaan yang berat

itu.

Namun Ken Dedes, yang betapa ia sendiri merasa dihadapkan

pada sebuah cermin, tetapi ia merasa cemas, bahwa Akuwu

Tunggul Ametung tidak akan senang mendengar jawaban Mahisa

Agni itu. Meskipun kini Ken Dedes tidak lagi dapat berteriak

memaki-maki Mahisa Agni, tetapi justru ia mencemaskah nasib

Mahisa Agni, apabila Akuwu Tunggul Ametung merasa terhina

karenanya.

Tetapi Akuwu Tunggui Ametung dapat mengerti pendirian Mahisa

Agni, ternyata dengan jawabannya, “Mahisa Agni. Aku bangga. Aku

bangga mendengar pendirianmu. Satu dari seratus pasti akan

menerima anugerah itu tanpa memikirkan orang lain. Tetapi kau

berpendapat lain. Kau masih mementingkan kepentingan bersama

dari kepentinganmu itu adalah suatu sikap yang jarang terjadi pada

saat ini. Pada saat setiap orang menginginkan gelar duniawi. Karena

itu Mahisa Agni, aku mengucapkan selamat atas pendirianmu itu,

mudah-mudahan bendunganmu akan segera dapat kau selesaikan.”

Jawaban Akuwu itu pun sama sekali tidak disangka oleh Mahisa

Agni dan oleh Ken Dedes pula. Karena itu, sambil membungkukkan

kepalanya dalam-dalam Mahisa Agni menyahut, “Tiada anugerah

yang lebih membahagiakan hamba Tuanku, selain pengertian

Tuanku tentang diri hamba.”

“Mudah-mudahan pendirianmu itu akan tetap teguh sehingga

orang-orang Panawijen yang lain pun akan berpendirian seteguh

pendirianmu. Kemakmuran Panawijen adalah sebagian dari

kemakmuran Tumapel.”

Betapa besar hati Mahisa Agni menerima pujian itu. Bukan

karena ia mendapat penghargaan, tetapi bahwa Akuwu Tunggul

Ametung dapat mengerti sepenuhnya tentang dirinya. Bahkan

dengan hati yang berdebar-debar ia mendengar Akuwu Tunggul

Ametung berkata, “Mahisa Agni. Sepeninggalmu aku akan

memerintahkan beberapa orang untuk menyusulmu. Aku akan

mengirimkan sekelompok prajurit. Aku akan menyuruh seorang

pelayan dalam yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya

menyusulmu. Orang itu adalah Ken Arok. Ia akan membawa dua

puluh lima pedati yang ditarik oleh dua puluh lima pasang kerbau,

alat-alat lain yang kau perlukan, dua puluh waluku dengan dua

puluh pasang lembu untuk melunakkan tanah yang akan digali

menjadi parit-parit dan keperluan-keperluan yang dapat aku

berikan.”

Dada Mahisa Agni terasa hampir meledak mendengar janji itu.

Meledak karena kegembiraan yang mendesak. Dengan serta-merta

ia membungkuk lebih dalam lagi sambil menjawab dengan suara

parau, “Tuanku, betapa besar terima kasih yang hamba sampaikan.

Hamba tidak tahu, bagaimana hamba akan mengatakannya.”

Mahisa Agni terdiam sesaat untuk menelan ludahnya. Terasa

tenggorokannya menjadi seolah-olah tersumbat. Namun dipaksanya

juga ia berkata, “Hamba beserta seluruh rakyat Panawijen akan

menanti kedatangan anugerah dan kemurahan Tuanku itu dengan

sepenuh hati.”

Kini Mahisa Agni merasa, bahwa pengorbanannya tidak lagi siasia.

Ia telah meremas jantungnya sendiri pada saat ia menyerahkan

Ken Dedes itu kepada Akuwu karena persoalan-persoalan yang

berlaga di dalam dadanya. Namun tanpa diharapkannya, ia

mendapatkan sesuatu yang sangat berharga tidak saja bagi dirinya

sendiri, tetapi bagi seluruh rakyat Panawijen. Dua puluh lima pedati

yang ditarik oleh dua puluh lima pasang kerbau. Dua puluh waluku

dengan dua puluh pasang lembu. Bukan main. Seluruh Panawijen

tidak memiliki perlengkapan sebanyak itu. Ia hanya mampu

mengumpulkan empat pedati untuk mengangkut batu-batu dan

keperluan-keperluan lain di samping dua belas waluku. Namun kini

ia akan mendapat tambahan dua puluh lima pedati kerbau dan dua

puluh waluku.

Justru karena itulah maka Mahisa Agni kemudian menjadi

tergesa-gesa untuk kembali. Ia ingin segera menyampaikan kabar

yang menggembirakan itu kepada kawan-kawannya.

Dengan wajah yang berseri karena kegembiraan Mahisa Agni

berkata, “Tuanku, biarlah hamba mohon izin untuk kembali ke

Panawijen. Anugerah Tuanku itu pasti akan menambah gairah bagi

rakyat. Mudah-mudahan bendungan itu akan lekas selesai.”

“Jangan sekarang,” jawab Akuwu, “kau harus tinggal di dalam

istana ini sedikitnya sepekan. Aku ingin menjamumu supaya kau

mendapat kesan yang menyenangkan selama kau berada di dalam

istanaku.”

“Terima kasih Tuanku, terima kasih,” sahut Mahisa Agni.

Anak muda itu telah melupakan kepedihan luka di hati sendiri.

Yang menguasai jantungnya kini hanyalah pedati, alat-alat dan

apapun yang akan sangat berguna bagi bendungannya, “Hamba

ingin lekas berada di antara rakyat Panawijen kembali.”

Tunggul Ametung tertawa. Katanya, “Bagus. Tetapi aku tidak

memberimu izin sekarang. Tinggallah di dalam istanaku sehari dua

hari kalau kau tidak mau tinggal selama sepekan.”

Mahisa Agni akhirnya tidak dapat menolak permintaan Akuwu

Tunggul Ametung. Betapa ia ingin segera pulang kembali, namun ia

memenuhi juga permintaan itu untuk tinggal dua hari di istana

Tumapel.

Namun betapa makanan yang lezat-lezat ditelannya, tetapi ia

lebih senang segera berada di antara kawan-kawannya. Meskipun

demikian, ia tidak mau mengecewakan Akuwu dan Ken Dedes.

Dimakannya setiap hidangan yang diberikan kepadanya dengan

wajah yang terang, meskipun sekali-sekali terasa juga seolah-olah

jantungnya tertusuk duri. Tetapi dalam waktu yang pendek itu, ia

tahu benar, betapa Akuwu Tunggul Ametung menghargai Ken

Dedes benar-benar sebagai seorang gadis yang pantas untuk

menjadi permaisurinya. Karena itu, maka ia mengharap bahwa Ken

Dedes akan benar-benar menemukan kebahagiaan di hari-hari

depannya.

Namun akhirnya Mahisa Agni mohon diri pula kepada Akuwu

Tanggul Ametung. Waktu yang hanya dua hari itu terasa sudah

terlampau lama. Bendungan yang ditinggalkannya seakan-akan

selalu memanggil-manggilnya untuk segera kembali ke padang

Karautan yang panas terik di siang hari dan dingin yang menggigit

tulang belulang di malam hari. Tetapi ia lebih senang tinggal di

padang itu daripada di dalam istana.

“Aku kira kau telah memilih jalan yang benar, Agni,” bisik emban

tua kepada anak muda itu, ketika Agni akan meninggalkan istana

Tumapel.

“Aku mohon restu Ibu, mudah-mudahan aku dapat berhasil

membangun padukuhan yang tidak kalah suburnya dengan

Panawijen,” sahut Mahisa Agni.

“Kalau kau bekerja dengan sungguh-sungguh Ngger, serta tanpa

kendat mohon tuntunan kepada Yang Maha Agung, maka

pekerjaanmu pasti akan direstuiNya.”

Pesan itu merupakan bekal yang tidak kalah pentingnya dengan

dua puluh lima pedati dan dua puluh waluku. Dengan sungguhsungguh

Mahisa Agni akan mencoba memenuhinya. Sebab segala

sesuatu, usaha yang dilakukan oleh manusia, maka akhirnya Yang

Maha Agunglah yang akan menentukan. Namun Yang Maha Agung

akan mendengarkan, menyaksikan dan memenuhi permohonan

manusia yang dengan sungguh-sungguh berjalan sepanjang jalan

yang dikeheadakiNya.

Demikianlah maka akhirnya Mahisa Agni meninggalkan istana

Tumapel. Ken Dedes kini tidak lagi kecewa terhadapnya, bahkan

terasa kebanggaan menjalari dadanya pula. Setidak-tidaknya satu

dari keluarganya telah ikut membina padukuhan baru yang akan

dapat menampung seluruh penghidupan dan kehidupan Panawijen

yang kini telah menjadi kering.

Mahisa Agni sendiri tidak menyadari, bahwa ia telah memacu

kudanya terlampau cepat. Ia merasa begitu tergesa-gesa, seolaholah

hari-harinya yang akan datang akan menjadi terlampau

pendek.

“Aku akan singgah ke Panawijen dahulu,” katanya di dalam hati,

“mungkin ada beberapa hal yang perlu aku pesankan kepada para

cantrik di padepokan atau kepada orang-orang tua yang menunggui

desa. Mungkin pedati-pedati dari Tumapel akan lebih dahulu

singgah di Panawijen, sebab aku lupa berpesan, supaya pedatipedati

itu langsung saja dikirim ke padang Karautan.”

Dalam pada itu, di bagian lain dari ujung wilayah pemerintahan

Akuwu Tunggul Ametung, Empu Sada dan kedua muridnya berjalan

tergesa-gesa ke Kemundungan. Mereka telah berpesan agar

beberapa orang murid-muridnya dan murid-murid orang yang

menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo menyingkir sejenak dari

padepokan Empu Sada, sebab mungkin Witantra akan berbuat

sesuatu atas mereka dengan sepasukan prajurit dalam jumlah yang

besar. Mereka harus bersembunyi di tempat-tempat yang tidak

begitu dikenal untuk sementara.

Sementara itu Empu Sada dan kedua muridnya langsung mencari

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Bagi Kuda Sempana perjalanan itu

seakan-akan terasa terlampau lama.

“Apakah kita masih harus bermalam lagi guru?” bertanya Kuda

Sempana.

“Tidak,” sahut gurunya, “kita cukup bermalam di perjalanan satu

malam. Hari ini kita akan sampai meskipun menjelang senja.”

Kuda Sempana tidak bertanya lagi. Merela berjalan semakin

cepat, seolah-olah mereka takut terlambat.

Di sepanjang jalan, kadang-kadang Empu Sada sempat juga

bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah yang telah mendorongnya

berjalan demikian jauhnya mencari orang-orang yang hampir tak

dapat diajak bergaul menurut adab yang berlaku?

“Hem,” desisnya. Ia mulai ragu-ragu sendiri, “apakah aku akan

dapat mempergunakannya? Mereka berdua adalah orang-orang

yang liar, sebenarnya liar. Mudah-mudahan aku akan mampu

mengendalikannya.”

Tetapi orang tua itu tidak mengatakannya kepada muridnya.

Meskipun Kuda Sempana kadang-kadang melihat keragu-raguan itu,

namun ternyata gurunya masih juga melangkahkan kakinya menuju

ke desa Kemundungan. Tongkatnya yang panjang di tanah yang

berdebu.

Bagi Kuda Sempana keraguan gurunya itu telah benar-benar

mengecewakan. Ia tahu benar sifat gurunya. Gurunya hanya mau

berbuat sesuatu apabila ada pamrih yang dapat memberinya

keuntungan. Karena itu, maka berkali-kali ia menjanjikan kepada

gurunya, bahwa apabila ada keuntungan yang akan didapatnya

berupa benda-benda maka ia sama sekali tidak menginginkannya.

“Apakah yang akan aku dapatkan dari bendungan itu apabila kita

kelak akan merusak bendungan dan membunuh Mahisa Agni?”

suatu kali Empu Sada bertanya.

Kuda Sempana tidak dapat menjawab. Memang ia tidak melihat

keuntungan yang berwujud benda-benda berharga dari perbuatan

itu. Perbuatan itu hanyalah sekedar pelepasan dendam yang

membara di dada Kuda Sempana.

“Kuda Sempana,” berkata gurunya, “kali ini kau jangan menilai

tenagaku dengan upah yang dapat kau berikan. Kalau kau ingin

berbuat demikian, maka harta seluruh istana Tunggul Ametung di

Tumapel tidak cukup bernilai dibandingkan dengan apa yang telah

dan akan aku lakukan untukmu. Tetapi aku benar-benar terdorong

oleh suatu rasa bertanggung jawab dari seorang guru terhadap

muridnya. Aku malu melihat sikap Panji Bojong Santi yang selalu

melindungi murid-muridnya apabila benar-benar dihadapkan pada

suatu bahaya.”

“Terima kasih, Guru,” sahut Kuda Sempana dalam nada yang

datar. Tetapi hatinya berkata, “Omong kosong! Aku kenal kau sejak

lama. Betapa kau dicengkam oleh ketamakanmu atas harta dan

benda.”

Bahu Reksa Kali Elo yang ikut dalam perjalanan itu, hampir tidak

ikut serta dalam setiap pembicaraan. Namun semakin lama ia pun

menjadi semakin jemu atas sikap Kuda Sempana. Semakin lama,

setelah ditimbangnya, maka ia tidak akan mendapat apapun dari

perbuatan-perbuatannya yang berbahaya itu. Ketika ia bersama

Kuda Sempana mencoba menculik Ken Dedes dari tengah-tengah

hutan, maka ia masih mengharap, mungkin calon permaisuri Akuwu

Tunggul Ametung itu membawa perhiasan yang sangat berharga,

yang dapat menebus lelah dan bahaya yang telah dilakukannya.

Tetapi kini harapan itu hampir tidak dilihatnya. Meskipun demikian,

ia masih juga berjalan mengikuti gurunya. Siapa tahu, bahwa suatu

ketika ia melihat persoalan yang dapat memberinya banyak

keuntungan. Mungkin ia akan mendapat lubang-lubang yang dapat

membuka hubungan lain yang justru lebih baik, hubungan

perdagangan dengan orang-orang yang ditemuinya.

Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin mendekati

padukuhan Kemundungan. Perjalanan itu kini menembus hutanhutan

perdu yang tipis. Kemudian mereka sampai pada tanah

berbatu-batu yang gundul. di sana sini tampak tanah yang berwarna

cokelat keputih-putihan. Di sebelah bukit-bukit gundul itulah terletak

desa terpencil yang bernama Kemundungan. Desa yang jauh lebih

kecil dan terpencil dari padukuhan Panawijen. Tak banyak yang

dapat diketahui orang tentang desa terpencil itu.

Melihat daerah yang gundul tandus dan pohon-pohon cemara

yang kurus menjulang tinggi, hati Kuda Sempana menjadi berdebar.

Belum pernah ia melihat daerah yang segersang itu. Ia pernah

melihat daerah Panawijen yang kering. Tetapi tidak segarang alam

yang dihadapinya. Tanah yang berbatu-batu, berwarna cokelat

keputihan.

Empu Sada yang berjalan di paling depan, berpaling sambil

berkata, “Inilah padukuhan kecil itu Kuda Sempana.”

“Pegunungan batu, Guru.”

Empu Sada tersenyum.

“Ya,” jawabnya, “pegunungan yang keras ini agaknya telah

membantu membuat Kebo Sindet dan Wong Sarimpat memiliki

kelakuannya sekarang.”

“Apakah mereka tinggal di daerah ini sejak kecilnya?” tanya

orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.

“Aku tidak tahu,” sahut Empu Sada, “tetapi di sini dahulu tinggal

seorang sakti. Orang itu adalah guru Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat.

“Siapakah orang sakti itu?”

“Aku baru melihatnya dua kali. Orang itu adalah kawan guruku.

Tetapi mereka mempunyai sifat yang jauh berbeda.”

“Apakah perbedaan itu?”

Empu Sada menelan ludahnya. Ia tidak dapat mengatakannya,

sebab selama ini sikap dan kelakuannya sendiri tidak dapat

dibanggakannya seperti ia ingin membanggakan gurunya. Karena

itu maka orang tua itu pun terdiam.

“Bagaimana, Guru,” desak Kuda Sempana.

“Aku tidak tahu,” jawab Empu Sada akhirnya, “aku tidak tahu

perbedaan di antara keduanya. Tetapi yang aku dengar, orang sakti

yang tinggal di dalam gua di dekat Kemundungan itu adalah

seorang bangsawan dari Daha. Tetapi bangsawan itu merasa dirinya

terhina dan terbuang dari lingkungannya karena kesalahan yang tak

dapat diampuni lagi. Beruntunglah bangsawan itu tidak mendapat

hukuman sapu sampai mati seperti yang berlaku bagi kesalahan

serupa.”

“Apakah kesalahan itu?”

Empu Sada terdiam sejenak. Namun kemudian ia berkata pala,

“Aku tidak tahu pasti. Menurut guruku, bangsawan itu telah

melanggar hubungan kekeluargaan.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya, katanya, “Kesalahan

yang dicari-cari.”

Empu Sada memandang wajah muridnya itu. Wajah yang merah

hitam dibakar oleh sinar matahari seperti wajahnya sendiri. Tetapi

Empu Sada tidak menyahut. Seperti Kuda Sempana sendiri yang

saat ini sedang mencoba melanggar hubungan kekeluargaan

meskipun sedang dijalin. Justru keluarga Akuwu Tunggul Ametung.

Karena itu, maka adalah wajar bahwa Kuda Sempana tidak senang

mendengar jenis kesalahan itu.

Kini sejenak mereka berdiam diri. Di hadapan mereka tampak

segerombol pepohonan yang hijau. Itulah desa Kemundungan.

Setapak-setapak mereka berjalan maju menyusuri jalan sempit di

lambung bukit-bukit gundul. Sekali-sekali kaki-kaki mereka

menginjak ujung-ujung batu yang runcing dan sekali-sekali duri-duri

liar yang tumbuh di sisi-sisi jalan.

Tiba-tiba Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Desisnya,

“Jangan terkejut apabila kau nanti melihat keanehan-keanehan

kedua orang itu.”

“Macam apakah keanehan itu guru?” bertanya Kuda Sempana.

“Sifat dan wataknya yang dapat kau lihat pada gerak-gerik

mereka.”

Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi

semakin bimbang. Tanpa disangka-sangka ia berkata, “Apakah kita

tidak dapat berbuat lain tanpa mereka?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah

saudara seperguruannya itu dengan tajamnya.

“Kenapa?” desisnya.

“Apakah kita tidak berusaha mencari jalan lain?” katanya pula.

“Kau melemahkan hatiku,” sahut Kuda Sempana cepat-cepat,

“tak ada jalan lain. Yang kita hadapi adalah Empu Purwa, Panji

Bojong Santi dan tukang keris yang gila itu. Apakah guru sendiri

bersama kita mampu menghadapinya, seperti yang pernah terjadi di

hutan dekat padang Karautan itu?”

Cundaka tidak menjawab. Ia tahu benar betapa keras hati

saudara seperguruannya. Tetapi gurunyalah yang berkata, “Aku

melihat jalan lain, Kuda Sempana.”

“Apa itu guru?”

“Kita tidak ingin membunuh Mahisa Agni atau mengambil Ken

Dedes.”

“Tidak!” teriak Kuda Sempana, “Itu harus terjadi! Dendam telah

membakar jantungku. Sedangkan tidak ada orang lain yang akan

dapat membantu aku selain guru dan kedua orang itu.”

Empu Sada menarik nafas panjang. Ia sudah terlanjur terlibat

sehingga sulit baginya untuk melepaskan dirinya. Kuda Sempana

adalah muridnya yang telah cukup lama berada di dalam

asuhannya. Bagaimanapun juga terasa adanya suatu ikatan di

antara mereka yang memaksa Empu Sada kali ini mencoba

memenuhi permintaan muridnya itu.

“Aku kenal keduanya,” gumamnya seperti kepada diri sendiri,

“mudah-mudahan aku dapat mengendalikannya.”

Belum lagi Empu Sada mengatupkan mulutnya, mereka

dikejutkan oleh suara lecutan yang keras, disusul oleh sebuah

teriakan nyaring, “He, siapa itu?”

Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Katanya

sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke sebuah ngarai yang

agak dalam. “Itu adalah salah seorang dari mereka. Agaknya

mereka tidak sedang mengembara.”

“Siapakah ia?” bertanya Cundaka yang menyebut dirinya Bahu

Reksa Kali Elo.

“Menilik bentuk tubuhnya yang pendek, ia adalah saudara yang

muda, Wong Sarimpat,” jawab gurunya.

Karena Empu Sada belum menjawab maka kembali terdengar

teriakan dari bawah kaki mereka, “He siapa kalian? Kalau kalian

tidak menjawab, aku dapat membunuh kalian dari sini.”

Sambutan itu telah membuat dada Cundaka berdesir. Sambil

mengerutkan keningnya ia berdesis, “Sambutan yang kasar.”

Empu Sada tersenyum.

“Itulah mereka,” katanya sambil mengangkat tongkat

panjangnya.

Tiba-tiba meledaklah tawa yang riuh dari bawah tebing itu.

Orang yang bertubuh pendek namun berdada lebar itu kemudian

berlari-lari ke arah seekor kuda yang sedang makan rumput.

Dengan gerak yang sangat lincah ia dengan serta-merta meloncat

ke atas punggung kuda tanpa pelana itu. Dengan satu sentakan

pada kendalinya, maka kuda itu pun berlari kencang sekali.

Mereka bertiga berdiri terpaku melihat ketangkasan Wong

Sarimpat bermain-main dengan kuda. Meskipun kuda itu sama

sekali tidak berpelana, namun Wong Sarimpat sama sekali tidak

mendapat kesulitan apapun ketika kuda itu berpacu mendaki tebing

menyongsong mereka.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya sambil

bergumam, “Mereka berdua adalah orang-orang yang cekatan. Aku

belum pernah melihat orang mampu menunggang kuda seperti

mereka berdua.”

Cundaka dan Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya

pula. Namun wajah mereka mengungkapkan perasaan yang

berbeda yang merayap di dalam dada masing-masing.

Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama

sekali tidak senang melihat sambutan yang kasar dan sombong itu,

namun Kuda Sempana menjadi kagum karenanya. Ia mengharap

bahwa orang itu benar-benar akan dapat membantu melepaskan,

sakit hatinya, membunuh Mahisa Agni dan menggagalkan usahanya

dan membuat bendungan. Bahkan kalau mungkin mendapatkan Ken

Dedes. Menculiknya dari istana Tumapel.

Kuda yang ditunggangi oleh Wong Sarimpat itu seperti merayap

tebing bukit gundul itu. Melingkar-lingkar menyusur dalam yang

sempit berbatu-batu. Namun Wong Sarimpat memacu kudanya

seperti dikejar setan.

“Mendebarkan,” gumam Kuda Sempana, “orang itu benar-benar

cakap menunggang kuda. Kalau tidak, maka ia pasti sudah

terpelanting masuk jurang.”

Empu Sada tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk.

Jarak itu sebenarnya tidak terlampau jauh, tetapi kuda itu tidak

dapat langsung meloncat mencapai mereka. Kuda itu harus

melingkari beberapa puntuk. Menghilang kemudian muncul kembali.

Namun di sepanjang perjalanan itu Wong Sarimpat telah berteriak

keras-keras, “He, Empu yang bertongkat panjang, apa kerjamu di

situ?”

Empu Sada tidak menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat

berteriak-teriak sendiri.

Akhirnya kuda itu muncul dari balik seonggok batu pada di

hadapan mereka. Seorang yang berwajah keras sekeras batu-batu

padas di bukit gundul, berbulu lebat dan berkumis melintang duduk

di atas punggungnya sambil bertanya, “Apakah kau sekarang bisu?”

Cundaka, yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo adalah

seorang yang kasar. Tetapi ketika ia mendengar pertanyaan Wong

Sarimpat terhadap gurunya, keningnya berkerut. Jantungnya serasa

berdentingan karena perasaan tidak senang mendengar sambutan

Wong Sarimpat yang sangat kasar.

Tetapi ia menjadi heran. Gurunya sama sekali tidak marah

mendengar sapa itu. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab, “Wong

Sarimpat. Aku tidak biasa berteriak seperti monyet kepanasan.”

Sekali lagi terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.

Katanya, “Ha, masih juga kau bisa berbicara. Apa maumu datang

kemari, he?”

“Apakah aku tidak kau ajak singgah ke rumahmu?”

Wong Sarimpat membelalakkan matanya. Jawabnya, “Kau jangan

menghina Empu tua. Kau tahu aku tidak mempunyai rumah.”

“Apakah yang kau maksudkan dengan rumah Wong Sarimpat?”

bertanya Empu Sada, “rumah bukan berarti sebuah bangunan.

Rumahmu adalah tempat kau tidur, tempat kau tinggal bersama

saudaramu dan tempat kau menyembunyikan kekayaan hasil

rampokanmu.”

Kali ini suara tertawa Wong Sarimpat benar-benar memenuhi

lereng-lereng bukit gundul. Ia senang mendengar kata-kata Empu

Sada yang berusaha menyesuaikan dirinya dengan watak orang itu.

Setelah suara tertawa itu mereda maka orang itu menjawab, “Hem,

kau ingin melihat tempat aku menyimpan kekayaanku, he? Kau

suatu ketika akan merampok aku?”

“Tidak,” sahut Empu Sada, “aku akan berdosa dua kali lipat.

Kekayaanmu kau dapatkan dengan jalan yang tidak seharusnya.

Kalau aku merampokmu, maka dosamu akan ikut serta bersama

harta benda itu di samping dosaku sendiri.”

Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan tajam

dipandanginya wajah Empu Sada. Kemudian katanya, “Apakah kau

tidak pernah merampok?”

“Tentu tidak,” sahut Empu Sada, “aku mendapatkan kekayaanku

dengan menjual tenaga. Terjadilah jual beli. Bukankah itu bukan

suatu perampokan.”

Wong Sarimpat terdiam sejenak. Kemudian jawabnya, “Sama

saja. Hampir sama,” orang itu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia

menunjuk kepada Kuda Sempana dan Cundaka sambil bertanya,

“Kenapa kau bawa tikus-tikus ini. Inikah pengikut-pengikutmu atau

orang-orang yang telah membeli tenagamu itu?”

Cundaka menjadi semakin tidak senang. Wajahnya menjadi

berkerut-merut. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika Wong Sarimpat

membentaknya, “He kenapa kau memandang aku seperti itu. Kau

belum pernah mengenal Wong Sarimpat, he tikus busuk?”

Bagaimanapun juga pertanyaan itu benar-benar menyakitkan

hati. Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu pun

termasuk orang yang kasar. Hampir-hampir ia lupa dengan siapa ia

berhadapan. Namun ketika mulutnya hampir menjawab sekali lagi

Wong Sarimpat membentaknya, “Jangan buka mulutmu itu. Kalau

kau mencoba juga, paling sedikit empat gigimu akan terlepas.”

Sesuatu terasa menghentak dada Cundaka yang menyebut

dirinya Bahu Resa Kali Elo. Perasaannya sama sekali tidak mau

menerima teguran serupa itu. Tetapi ia tahu benar bahwa Wong

Sarimpat adalah orang yang sejajar dengan gurunya. Karena itu

bagaimanapun juga hatinya menjadi sakit, namun ia mencoba untuk

menahan mulutnya.

Yang menjawab kemudian adalah Empu Sada, “Jangan terlampau

kasar Wong Sarimpat. Anak-anak bisa mati ketakutan melihat

tingkah lakumu.”

“Huh, hanya anak-anak cengeng seperti anak-anakmu inilah yang

pasti akan mati ketakutan.”

Empu Sada tersenyum kepada kedua muridnya ia berkata, “Inilah

Pamanmu Wong Sarimpat. Jangan takut dan jangan sakit hati.

Sudah menjadi watak dan kebiasaannya, ia berbuat demikian.”

Wong Sarimpat tiba-tiba memotong, “Tidak ini bukan sekedar

watak dan sekedar kebiasaannya. Tetapi aku berkata sebenarnya.

Ayo, suruh murid-muridmu membuka mulutnya sebelum aku beri

kesempatan. Kau akan tahu akibatnya.”

“Mungkin akan terjadi demikian Wong Sarimpat,” sahut Empu

Sada, “Tetapi kalau tidak ada Empu Sada berdiri di sini.”

Tiba-tiba sekali lagi Wong Sarimpat itu tertawa terbahak-bahak.

Katanya di antara suatu tertawanya, “Aku percaya. Kalau begitu aku

percaya bahwa kau akan mampu mencegah yang akan aku lakukan.

Tetapi aku pun jadi yakin kalau murid-muridmu ini tidak lebih dari

tikus cengeng yang tidak dapat berdiri tegak tanpa gurunya.”

Cundaka telah benar-benar menjadi muak mendengar sambutan

itu, namun sebelum ia menyahut, terdengar Empu Sada berkata,

“Ayo, bawa aku ke sarangmu. Mungkin kau lebih senang aku

menyebut sarang daripada rumah.”

“Hem,” Wong Sarimpat menarik nafas, “kau akan merampok?”

“Tidak. Aku ingin bertemu kau berdua dengan kakakmu.”

“Apa keperluanmu?”

“Nanti aku katakan.”

“Katakan sekarang.”

“Tidak pantas. Sebelum aku memasuki rumahmu aku tidak akan

mengatakan keperluan itu.”

“He. Apa yang tidak pantas? Aku tidak terikat pada adat atau

cara apapun. Tak ada yang tidak pantas bagiku apabila aku

kehendaki. Tetapi kalau kau ingin bertemu dengan Kakang Kebo

Sindet. Ikutilah aku.”

Tetapi Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Sada.

Dengan serta-merta digerakkan kendali kudanya dan segera kuda

itu pun berputar dan berlari menuruni tebing.

Demikian orang itu menghilang dibalik sebuah puntuk yang

menjorok, maka terdengarlah Empu Sada menarik nafas dalamdalam.

“Itu salah seorang dari mereka,” desisnya. Kemudian

dilanjutkannya, “Apakah kau masih bernafsu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana terkejut mendengar pertanyaan gurunya. Tetapi

yang lebih dahulu menjawab adalah orang yang menamakan dirinya

Bahu Reksa Kali Elo, “Huh, aku menjadi muak melihatnya.”

Tetapi ternyata Kuda Sempana segera menyahut, “Aku

mengaguminya. Orang yang demikian adalah orang yang berhati

terbuka. Apapun yang dipikirkannya itulah yang dikatakan dan

diperbuatnya. Orang yang berwatak demikian adalah sahabat yang

sebaik-baiknya. Ia tidak akan berbuat curang dan menyembunyikan

persoalan-persoalan yang seharusnya diketahui bersama.”

Cundaka mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Kuda

Sempana dengan tajamnya. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Kuda

Sempana mempunyai penilaian demikian terhadap orang yang

terlampau kasar itu. Tetapi Cundaka tidak mau bertengkar dengan

saudara seperguruannya. Karena itu, maka ia pun kemudian

berdiam diri.

Empu Sada sendiri sama sekali tidak memihak keduanya.

Dibiarkannya kedua muridnya itu mempunyai tanggapan sendirisendiri.

Tetapi Empu Sada yang tua itu dapat mengerti sikap

keduanya. Cundaka menjadi semakin tidak senang kepada Wong

Sarimpat karena orang itu telah membentak-bentaknya. Sedang

Kuda Sempana menganggapnya orang yang paling baik untuk

seorang sahabat, karena Kuda Sempana sedang memerlukan kawan

untuk memuaskan nafsu dendamnya.

Namun betapa Empu Sada hidupnya selalu dipengaruhi oleh

keinginannya mendapat harta benda, bahkan sampai dilakukannya

menjual tenaga mengajar puluhan murid hanya sekedar untuk

mendapatkan upah tanpa tujuan apa-apa itu, kali ini merasa bahwa

ia telah terdorong dalam suatu sikap yang kurang bijaksana. Tetapi

semuanya telah terlanjur. Mulutnyalah yang pernah menyebut nama

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk mempengaruhi lawannya

waktu itu, Empu Gandring dan kemudian diulanginya pula di

hadapan Bojong Santi. Murid-muridnya itu pun mendengar namanama

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat darinya pula.

Empu Sada itu berpaling ketika ia mendengar suara Kuda

Sempana, “Guru, apakah kita akan berdiri saja di sini?”

“Oh,” desis Empu Sada, “jadi kita teruskan perjalanan ke rumah

Wong Sarimpat?”

“Tentu,” sahut Kuda Sempana, “aku senang melihat dadanya

yang terbuka. Mudah-mudahan kita mendapat kawan yang dapat

bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini.”

Empu Sada tidak berkata-kata lagi. Segera ia melangkahkan

kakinya meneruskan perjalanan ke rumah Wong Sarimpat.

Perjalanan itu sudah tidak begitu jauh lagi. Tetapi mereka harus

berjalan melingkar-lingkar di tebing pegunungan gundul.

Sekali-sekali mereka harus menuruni tebing yang curam, namun

sekali-sekali mereka harus berjalan sepanjang jalan yang beranak

tangga.

“Apakah Paman Wong Sarimpat tadi juga lewat jalan ini, Guru?”

bertanya Kuda Sempana.

Gurunya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berpaling.

Dengan tongkatnya ia mencoba menahan tubuhnya pada sebuah

tebing yang rendah.

“Bukan main, bukan main,” gumam Kuda Sempana. Ia menjadi

semakin kagum melihat jalan yang harus dilewati pula oleh Wong

Sarimpat, “Alangkah tangkasnya.”

Tetapi baik gurunya, maupun Cundaka sama sekali tidak

menyahut. Dengan hati-hati mereka melangkahkan kaki-kaki

mereka menuruni pegunungan gundul itu.

Setelah berjalan melingkar-lingkar akhirnya mereka sampai juga

di kaki bukit gundul itu. Sebuah ngarai yang dikelilingi oleh bukitbukit

serupa. Di tengah-tengah ngarai itu tampak sebuah gerumbul

yang kecil. Padukuhan Kemundungan.

Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak tinggal di

padukuhan itu. Mereka berada di lereng bukit gundul ini. Mereka

ternyata telah membuat sebuah gubuk kecil di muka mulut sebuah

gua yang cukup luas. Tak seorang pun tahu, apakah yang mereka

simpan di dalam gua itu, selain mereka berdua, kakak beradik dan

mereka pun seperguruan pula. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Dengan ragu-ragu Empu Sada berjalan di sepanjang kaki bukit.

Ia pernah mengunjungi kedua laki-laki kakak beradik ini dahulu

bersama kakak seperguruannya untuk suatu keperluan. Ia kenal

keduanya karena kakak seperguruannya itu pula. Tetapi kakak

seperguruannya itu kini telah tidak ada lagi. Mati terbunuh. Tetapi

itu adalah akibat yang sudah diketahuinya lebih dahulu. Orang yang

bermain-main dengan maut, maka maut itu akan datang

menghampirinya setiap saat. Saat itu Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat telah dimintanya pula membantu mencari pembunuh

kakaknya itu. Tetapi bukan main besar upah yang dimintanya.

Hampir semua kekayaan kakaknya habis dijualnya untuk memenuhi

permintaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi seperti Kuda

Sempana pada saat ini, maka dendamnya kepada pembunuh kakak

seperguruannya itu telah menutup segala macam akal dan

pikirannya. apapun yang harus diberikannya, namun pembunuh itu

harus dibunuhnya.

Ternyata usahanya saat itu berhasil. Pembunuh kakaknya adalah

seorang Empu sakti yang tidak pernah menetap di suatu tempat.

Ternyata keduanya bertemu pada suatu tempat yang tidak

menyenangkan. Tempat yang dipenuhi oleh bau tuak dan dikelilingi

oleh nafsu-nafsu lahiriah yang lain.

Dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu Empu Sada

mendengar, bahwa keduanya bertengkar dan kemudian berkelahi

hampir semalam suntuk. Namun akhirnya kakak seperguruannya itu

terbunuh. Empu Sakti yang bernama Empu Galeh itu menjadi buas

dan mencuci tangannya dengan darah kakak seperguruannya itu.

Tetapi cerita ini tidak pernah diceritakannya kepada muridmuridnya.

Empu Sada menyimpan cerita itu di dalam hatinya.

Bagaimana ia bertiga dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

mencari Empu Galeh. Ternyata Empu Galeh itu mereka temui di

tempat yang serupa. Dan perkelahian pun segera terjadi pula.

“Kami telah mengeroyoknya,” gumam Empu Sada di dalam hati.

Tiba-tiba bulu-bulunya meremang ketika teringat olehnya

bagaimana Kebo Sindet mencincang Empu yang telah mati itu.

“Mengerikan,” desisnya di dalam hati, “Ternyata Kebo Sindet

tidak kalah buasnya dengan Empu Galeh yang sakti itu.”

Sekali-sekali Empu Sada itu berdesis. Kenangan tentang Empu

Galeh selalu mengganggunya. Ia telah berjanji dengan Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat, bahwa tak seorang pun boleh mengetahui

rahasia itu. Murid-murid mereka pun tidak, supaya apabila ada

keluarga, saudara seperguruan Empu Galeh, maka berita tentang

kematiannya tidak menimbulkan persoalan yang berkepanjangan.

Mereka bertiga, Empu Sada dan kedua muridnya kini berjalan

menelusuri kaki bukit gundul itu. Ketika agak jauh di hadapan

mereka tampak sebuah gubuk kecil di lereng bukit gundul itu, maka

berkata Empu Sada kepada kedua muridnya itu, “Itulah rumahnya.

Di dalam rumah itu terdapat sebuah mulut gua.”

Bulu-bulu kuduk Cundaka berdesir. Hampir-hampir ia

memutuskan untuk kembali sebelum ia sampai ke rumah itu.

Perlahan-lahan ia berkata kepada gurunya, “Guru, aku kira, aku

tidak lagi mempunyai banyak kepentingan. Kalau Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat bersedia membantu Guru dan Kuda Sempana, maka

tenagaku pasti sudah tidak berguna lagi. Karena itu, apakah aku

boleh mendahului kembali ke rumahku?”

Empu Sada tiba-tiba menjadi tegang. Ditatapnya wajah muridnya

itu. Dengan suara parau ia menjawab, “Jangan. Jangan pergi

sebelum kau menginjakkan kakimu ke rumah itu. Dengan demikian

akan dapat timbul salah sangka. Dan umurmu tidak akan mencapai

fajar besok. Kau tahu, bahwa aku tidak akan dapat melindungimu.

Mungkin aku mampu melawan salah seorang dari mereka tetapi

yang seorang akan dengan leluasa berbuat atasmu, seperti seekor

kucing terhadap seekor tikus yang malang.”

Orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menggeram.

Tetapi ia tidak berkata apapun. Sekali disambarnya wajah Kuda

Sempana dengan sudut matanya. Tetapi wajah itu disaput oleh

harapan untuk melepaskan dendamnya.

Kembali mereka berjalan perlahan-lahan menuju ke rumah gubuk

di lereng bukit itu.

“Dari mana mereka mendapat makan guru?” bertanya Kuda

Sempana tiba-tiba.

“Desa itu telah memberinya makan. Setiap orang yang tinggal di

Kemundungan adalah orang-orang yang seolah-olah terikat kaki dan

tangannya. Mereka bekerja keras, namun mereka tidak dapat

berbuat banyak atas hasil jerih payahnya. Hasil tanah mereka,

sebagian harus mereka pergunakan untuk memberi kedua orang itu

makan sekenyang-kenyang mereka.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kini

tidak bertanya-tanya lagi. Namun dalam pada itu, timbullah

berbagai pertanyaan di dalam kepala Cundaka. Ia pernah pula

melakukan pemerasan, bahkan perampokan. Hampir setiap kali ia

mendapat bermacam-macam barang dari murid-muridnya. Ia tahu

benar, bahwa barang-barang itu adalah barang-barang yang

didapatnya dengan jalan yang tidak wajar. Tetapi sekali-sekali ia

sempat menikmati hasil dari benda-benda itu. Sekali-sekali ia makan

seenak-enaknya, bersuka ria dan berjalan di jalan-jalan kota dengan

pakaian yang sebaiknya. Bahkan seolah-olah segala nafsunya telah

dimanjakannya. Kini ia berhadapan dengan dua orang laki-laki kakak

beradik yang aneh. Mereka merampok, memeras dan segala macam

cara untuk mendapatkan kekayaan. Tetapi mereka hidup terpencil,

di dalam gubuk kecil di lereng sebuah bukit gundul. Mereka hidup

seperti seorang yang semiskin-miskinnya di dunia ini. Pakaian yang

kumal, badan tidak terpelihara dan rumah yang terlampau jelek.

“Untuk apakah kekayaan yang ditimbunnya itu,” katanya di

dalam hati. Tiba-tiba tanpa sesadarnya ia bertanya, “Guru, apakah

kedua orang itu mempunyai anak?”

Empu Sada berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia

menjawab, “Sepanjang yang aku ketahui, kedua orang itu sama

sekali tidak pernah kawin.”

Begitu besar desakan pertanyaan di dalam dadanya, maka

Cundaka itu berkata, “Hem. Untuk apakah kiranya kekayaan yang

disimpannya selama ini? Tak akan ada keturunan yang akan

mewarisinya.”

Empu Sada tidak menjawab, dan orang yang menyebut dirinya

Bahu Reksa Kali Elo yang menganggap dirinya seorang pedagang

keliling itu tidak bertanya lagi.

Gubuk itu kini sudah dekat dihadap mereka. Seekor kuda berdiri

lepas di hadapan gubuk itu.

Dari dalam gubuk itu pun kemudian muncul kembali Wong

Sarimpat. Dengan berteriak ia berkata, “Cepat sedikit. Kami sudah

gelisah menunggumu. Apakah kau sudah kelaparan?”

Empu Sada tidak menjawab. Beberapa kerut tergores di

keningnya. Namun ia harus mencoba menyesuaikan dirinya.

Sebelum mereka sampai di gubuk itu, maka Wong Sarimpat pun

telah menghilang ke dalam rumahnya. Namun suaranya masih

terdengar, “Orang-orang malas itu tertidur di jalan, Kakang.”

Semakin dekat mereka ke mulut gubuk yang kecil itu, maka hati

mereka menjadi semakin berdebar-debar. Bukan saja Cundaka,

namun juga Kuda Sempana dan bahkan Empu Sada sendiri. Ia

mengharap bahwa kedua orang itu masih bersikap seperti terhadap

kakak seperguruannya dulu dan seperti sikapnya pada saat mereka

bersama-sama membalas dendam atas kematian kakak seperguruan

Empu Sada.

Ketika mereka sampai di muka pintu, segera mereka melihat

bahwa gubuk itu seolah-olah kosong sama sekali. Yang ada di

dalamnya hanyalah sebuah amben bambu rendah. Selainnya tidak

ada apa-apa lagi. Di atas amben itu duduk seorang yang berwajah

gelap, bertubuh kecil dan tinggi. Itulah Kebo Sindet.

Kembali bulu-bulu duduk Cundaka meremang. Ketika ia menatap

sorot mata orang yang bernama Kebo Sindet itu, darahnya seolaholah

jadi membeku. Berbeda dengan Wong Sarimpat, maka orang

ini seolah-olah segan untuk berbicara.

“Masuklah,” Wong Sarimpat mempersilakan mereka. Tetapi ia

masih saja duduk di amben itu pula.

Empu Sada melangkah memasuki ruangan gubuk itu diikuti oleh

kedua muridnya. Mereka pun kemudian duduk pula pada amben itu

juga.

Ketika amben itu bergerit, maka terdengar Kebo Sindet

menggeram, “Kau datang lagi kemari?”

Pertanyaan itu pun bukanlah pertanyaan yang lazim bagi dua

orang yang telah lama tidak bertemu. Sekali lagi terasa di dada

Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, bahwa

kedatangan mereka ke Kemundungan adalah suatu perbuatan yang

tidak menyenangkan. Sikap kedua orang itu benar-benar membuat

kepalanya pening.

Empu Sada yang mendapat pertanyaan itu menjawab, “Bukankah

kau melihat bahwa aku datang lagi kemari.”

“Hem,” Kebo Sindet menggeram. Tetapi kemudian ia terdiam

untuk sesaat. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sikap

apapun. Dingin, bahkan wajah yang gelap itu seolah-olah membeku.

Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Hanya nafas-nafas merekalah

yang terdengar berkejaran lewat lubang-lubang hidung mereka.

Matahari yang lesu semakin lama menjadi semakin rendah.

Ruangan itu pun semakin lama menjadi semakin suram pula. Ketika

sesaat kemudian matahari menyentuh punggung bukit di sebelah

barat, maka cahayanya yang kemerah-merahan bertebaran di atas

bukit gundul yang keputihan.

Mereka yang berada di ruangan gubuk Kebo Sindet masih saja

berdiam diri. Sekali-sekali terdengar amben itu bergerit. Dan

Cundaka pun menjadi semakin gelisah pula karenanya. ketika tidak

disengaja matanya menatap dinding gubuk itu, dilihatnya sebuah

pintu ereg yang tidak tertutup rapat. Dari celah-celah pintu itu ia

melihat sebuah ruangan yang hitam kelam.

“Hem,” gumamnya di dalam hati, “itulah mulut gua yang

dikatakan oleh Guru.”

Tiba-tiba Cundaka itu terkejut ketika ia mendengar sutra Kebo

Sindet datar, “Ya. Itu adalah mulut gua tempat aku menyimpan

semua kekayaanku. Apakah kau mau masuk?”

Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menjadi

bingung, bagaimana ia harus menjawab.

Dipalingkannya wajahnya memandangi wajah gurunya, seolaholah

ia ingin mendapat pertolongan untuk membebaskan dirinya

dari pertanyaan yang tak dapat dijawabnya itu.

Empu Sada itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Hem, kau

sangat baik Kebo Sindet. Tetapi biarlah lain kali saja kami melihatlihat

kekayaan yang tersimpan di dalam gua itu?”

“Lain kali kalau aku sedang pergi?”

“Tentu tidak, adalah tidak sopan untuk melihat rumah seseorang

pada saat orang itu pergi.”

“Jangan berbicara tentang kesopanan. Kau juga tidak sopan

dengan membunuh Empu Galeh bertiga bersama kami. Tak ada

yang sopan di dalam hidup kami dan hidupmu. Nah, jangan

menyangkal bahwa suatu ketika kau akan merampok aku apabila

kau merasa telah mampu mengalahkan kami. Mungkin sekarang kau

sedang memperhitungkan apakah kedua orang ini dapat

mengalahkan salah seorang dari kami. Tetapi adalah perbuatan

yang sangat gila apabila kau dapat keluar dari dalam gua itu,

meskipun kami berdua tidak ada di rumah.”

“Kau terlalu berprasangka. Tetapi aku pun tidak segila yang kau

sangka. Aku tidak akan percaya kalau kau menyimpan semua

kekayaanmu di dalam gua itu. Gua yang hanya kau tutup dengan

sebuah pintu bambu leregan. Kalau benar kekayaanmu kau simpan

dalam gua itu, maka gua itu pasti sudah kau tutup dengan batu

sebesar mulut gua itu sendiri.”

“Itu urusanmu. Percaya atau tidak percaya. Tetapi di dalam gua

itu terdapat banyak sekali kerangka manusia yang mencoba mencari

kekayaanku pada saat aku pergi. Tetapi mereka tidak pernah dapat

keluar lagi.”

Tiba-tiba Empu Sada tertawa, “Kau memang pandai membual.

Wajahmu yang beku itu sama sekali tidak pantas bagi seorang

pembual. Apakah aku dapat mempercayainya, bahwa ada orang

yang berani memasuki gua milik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kebo Sindet terdiam sesaat. Wajahnya masih gelap dan beku,

seolah-olah tidak ada gerak apapun di dalam hatinya yang mampu

menggerakkan kulit wajahnya.

Tetapi wajah yang beku itu bagi Cundaka jauh lebih mengerikan

dari wajah yang keras sekeras batu padas dengan kumis yang

melintang dari Wong Sarimpat. Nada yang datar dari kalimat-kalimat

yang meluncur dari mulut Kebo Sindet terasa lebih menyeramkan

dari teriakan-teriakan yang kasar yang diucapkan oleh Wong

Sarimpat.

Kini ruangan itu telah menjadi semakin gelap. Tetapi tak seorang

pun dari kedua laki-laki itu yang berdiri untuk menyalakan pelita,

sehingga mereka kini seolah-olah telah duduk di dalam gua.

Dalam ruang yang menjadi semakin hitam itu terdengar Kebo

Sindet berkata, “Katakan apa keperluanmu.”

“Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Empu Sada, “aku akan

bermalam di sini. Besok aku akan mengatakan keperluanku. Kau

tidak keberatan?”

“Terserah kepadamu,” sahut Kebo Sindet, “tetapi jangan tidur di

rumah ini.”

“Kenapa? Dan di mana aku harus tidur.”

“Terserah kepadamu.”

“Kenapa aku tidak boleh bermalam di rumah ini.”

“Kalian akan menyesal. Kadang-kadang penyakitku kambuh. Aku

selalu ingin membunuh dengan mencekik leher seseorang apabila

aku melihatnya tidur.”

“Gila!” geram Empu Sada.

Wong Sarimpat pun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sampai

amben itu berguncang. Katanya, “Kau benar-benar penakut. Di bukit

gundul itu tidak ada binatang yang perlu kau takuti. Yang ada

hanyalah harimau kumbang dan anjing hutan. Lebih baik bagi kalian

melawan harimau kumbang dan anjing-anjing hutan itu daripada

mati dicekik Kakang Kebo Sindet selagi kalian tidur.”

“Kami tidak akan tidur,” sahut Empu Sada menyentak, “kami

akan duduk di sini sampai pagi.”

“Kami yang akan tidur,” berkata Wong Sarimpat. Meskipun

mereka duduk berhadapan, tetapi suaranya menggelegar seperti

guntur mangsa kesanga.

“Dan kau pasti akan berkata bahwa kami telah berbuat tidak

sopan. Tidur dan membiarkan semuanya duduk semalam suntuk.”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Ternyata Wong Sarimpat

telah membuatnya sangat jengkel. Tetapi Empu Sada masih tetap

menyadari keadaannya. Karena itu, sekali lagi ia mencoba

menyesuaikan dirinya, jawabnya, “Tak ada kesopanan di dalam

hidup kita, bukankah begitu Kebo Sindet. Kalau kalian mau tidur

tidurlah.”

“Itulah pula sebabnya kami tidak mempersilakan kau tidur di

gubuk ini,” sahut Wong Sarimpat pula.

Dada Empu Sada serasa menjadi sesak. Sambutan ini benar tidak

diharapkannya. Dahulu ketika ia datang dengan kakak

seperguruannya ia masih mendapat kesempatan tidur di dalam

rumah ini. Tetapi sekarang, kedua orang itu ternyata telah menjadi

bertambah liar.

Pada saat Empu Sada hampir saja membuka mulutnya,

menjawab kata-kata Wong Sarimpat, terdengar Kebo Sindet

mendahului, “Empu Sada, tak ada persoalan yang perlu

diperbincangkan tentang itu. Aku tidak mau kau bermalam di rumah

ini. Cukup. Sekarang kau mengatakan keperluanmu atau pergi dari

rumah ini. Kembalilah besok atau kapan saja apabila kau sudah

bersedia untuk mengucapkan kepentinganmu mencari kami

berdua.”

Terdengar gigi Empu tua itu gemeretak. Tetapi ketika ia

berpaling dan melihat Kuda Sempana, maka kembali ia menekan

perasaannya. Ia datang ke tempat itu untuk memenuhi permintaan

muridnya itu.

“Baik,” berkata Empu Sada, “aku akan mengatakan

kepentinganku datang kemari. Sesudah itu akan pergi.”

“Kalau kau mau mengatakannya, lekas katakan,” desak Kebo

Sindet. Wajahnya masih tetap membeku. Sinar matanya seakanakan

tanpa memacarkan sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya.

Beku seperti mata sesosok mayat.

Sekali Empu Sada berpaling kepada murid-muridnya. Tetapi

dalam sekejap itu Empu Sada tidak berhasil melihat sorot mata

mereka masing-masing. Ruangan itu menjadi semakin lama semakin

gelap. Namun tak seorang pun di antara kedua laki-laki kakak

beradik itu yang pergi menyalakan api.

Dalam kegelapan dan dalam tatapan yang hanya sepintas itu

Empu Sada tidak melihat betapa wajah orang yang menamakan

dirinya Bahu Reksa Kali Elo menjadi berkerut-merut menahan

dadanya yang hampir meledak. Tetapi orang itu pun menyadari,

bahwa dirinya sendiri hampir tak berarti apapun bagi kedua orang

itu.

“Kebo Sindet,” berkata Empu Sada kemudian, “baiklah aku

katakan saja langsung. Aku datang untuk memenuhi permintaan

muridku. Ia mempunyai dendam di dalam hatinya. Mungkin kau

akan dapat membantunya.”

Tiba-tiba ruangan itu seperti meledak karena suara tertawa

Wong Sarimpat. Suara itu bergetar melingkar-lingkar di dalam

ruangan yang sempit. Namun Kebo Sindet masih tetap duduk

dengan pandangan yang kosong membeku. Seolah-olah tidak terjadi

sesuatu pada dirinya, meskipun adiknya tiba-tiba tersentak tertawa.

Suara tertawa Wong Sarimpat itu benar-benar menyakitkan

telinga Empu Sada, apalagi Cundaka. Sehingga Empu Sada itu pun

berkata, “He, Wong Sarimpat. Suara tertawamu sangat menyakitkan

telinga. Kenapa kau tiba-tiba tertawa ,he?”

Suara tertawa itu masih berkepanjangan. disela-sela suara

tertawa itu terdengar Wong Sarimpat berkata, “Kau rupa-rupanya

sudah menjadi gila Empu Sada. Kenapa kau pergi kemari hanya

karena dendam salah seorang muridmu. Apalah kau sekarang telah

berubah menjadi seekor kelinci jinak yang tidak berani berbuat

sesuatu. Apalagi atas lawan muridmu?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Dibiarkannya Wong Sarimpat

tertawa sepuasnya. Baru ketika tertawa itu mereda ia berkata,

“Apakah kalian masih akan mendengarkan keteranganku?”

Yang menjawab adalah Kebo Sindet, “Berkatalah.”

“Muridku, Kuda Sempana menyimpan dendam di hatinya. Tetapi

lawannya adalah seorang yang dilingkari oleh beberapa orang sakti

meskipun tidak secara langsung. Orang-orang itu adalah Panji

Bojong Santi, Empu Purwa dan Empu Gandring. Itulah sebabnya

aku datang kemari. Aku mengharap bahwa kalian masih mempunyai

cukup keberanian untuk berbuat bersama aku.”

Wong Sarimpat kini tidak tertawa lagi. Bahkan sekali-sekali

dipandangnya wajah kakaknya yang membeku itu. Namun Kebo

Sindet tidak segera menjawab. Lebih-lebih dalam kegelapan, tak

terlihat sama sekali kesan pada wajah yang mati itu.

Tiba-tiba dari sela-sela bibir Kebo Sindet terdengar suaranya

datar, “Kenapa kau kemari?”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku

memerlukan kalian untuk membantu kami. Kalian tidak usah

berbuat apapun atas lawan Kuda Sempana. Biarlah anak itu

diselesaikan sendiri oleh Kuda Sempana. Tetapi kalian kami minta

untuk melindunginya apabila orang-orang gila itu tiba-tiba saja

hadir.”

Kebo Sindet kembali terdiam. Kembali ruangan itu dicengkeram

kesenyapan, yang terdengar adalah nafas-nafas mereka yang

kembang kempis bergantian. Namun suara nafas Cundakalah yang

terdengar paling keras dan paling cepat, meskipun dadanya sendiri

terasa kian menjadi sesak.

Yang kemudian terdengar adalah suara Kebo Sindet memecah

kesepian, “Apa tawaranmu kepada kami untuk melakukan pekerjaan

itu?”

“Apa permintaanmu?” bertanya Empu Sada.

“Siapakah lawan itu?”

“Murid Empu Purwa.”

“Untuk menilai pertolongan yang dapat aku berikan, apakah kau

dapat mengatakan sedikit tentang murid Empu Purwa itu?”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tawar menawar

dalam jual beli tenaga itu telah berlangsung. Sekarang ia harus

mengatakan persoalannya kepada kedua orang liar itu, supaya

mendapat tawaran yang sewajarnya.

“Katakanlah Kuda Sempana,” berkata Empu Sada kepada Kuda

Sempana.

Kuda Sempana menggeser dirinya sejengkal maju. Ia ingin

melihat wajah-wajah dari kedua laki-laki kakak beradik itu. Tetapi

malam menjadi semakin kelam. Apa yang dilihatnya kemudian

hanyalah dua buah bayangan hitam yang seolah-olah membeku.

Namun gambaran wajah dari kedua orang itu membuat Kuda

Sempana harus bersikap hati-hati.

Tetapi sebelum Kuda Sempana mengucapkan sepatah kata pun,

terdengar suara Kebo Sindet, “Empu Sada, muridmu yang inikah

yang berkepentingan dengan pertolonganku.”

“Ya,” jawab Empu Sada, “kau akan dapat bertanya langsung

kepadanya, kenapa ia mendendam.”

“Pantaslah,” gumam Kebo Sindet, “anak yang berwajah seperti

muridmu ini pasti seorang pengecut yang hanya berani mencari

pertolongan orang lain. Tetapi katakanlah.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Bagaimanapun juga

terasa dadanya berdesir. Tetapi ia kemudian tidak memedulikannya

lagi. Dendamnya kepada Mahisa Agni bukanlah dendam yang biasa.

Dendam itu adalah dendam yang paling dalam. Seandainya Mahisa

Agni membakar rumahnya. merampas segala miliknya, maka

dendamnya tidak akan sedalam dendam yang tersimpan di hatinya

kini.

Karena itu maka setelah mengatur derak jantungnya Kuda

Sempana berkata perlahan-lahan dan hati-hati.

“Paman,” suaranya dalam dan parau, “aku mendendamnya

karena anak muda yang bernama Mahisa Agni itu telah

menggagalkan usahaku mendapatkan seorang gadis.”

Tiba-tiba suara Kuda Sempana terputus oleh suara tertawa Wong

Sarimpat. Suara itu benar-benar menyesakkan dada. Ruangan yang

sempit dan gelap itu terasa menjadi semakin pepat karena

gemuruhnya suara Wong Sarimpat.

“Oh, anak cengeng,” katanya, “kenapa kau menjadi hampir gila

karena seorang gadis?”

Kuda Sempana tidak menyahut. Tetapi jantungnya menjadi

semakin berdebar-debar. Dalam pada itu kecemasan merambati

dinding-dinding hatinya pula. Apakah mereka berdua hanya sekedar

akan menertawakannya dan tidak bersedia membantunya.

Di antara suara tertawa Wong Sarimpat terdengar Kebo Sindet

bertanya, “Apakah gadis itu kemudian diperistrikan oleh Mahisa

Agni.”

“Tidak,” sahut Kuda Sempana,” gadis itu adalah adik Mahisa

Agni.”

“Mudah sekali,” potong Wong Sarimpat, “kau bunuh Mahisa Agni.

Kemudian ambil gadis itu.”

Kuda Sempana terdiam. Memang jalan itu adalah jalan yang

termudah. Tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk

membunuh Mahisa Agni. Gurunya pun tidak mampu berbuat

demikian, karena setiap kali hadir orang-orang yang tidak

dikehendakinya.

Empu Sada melihat sikap Wong Sarimpat yang memuakkan itu

dengan dahi yang berkerut-merut. Dengan serta-merta

disambungnya kata-kata Kuda Sempana, “Gadis itu adalah anak

Empu Purwa.”

Mendengar kata-kata Empu Sada itu, tiba-tiba Wong Sarimpat

yang masih saja menahan suara tertawanya itu terdiam. Ternyata

nama itu telah mempengaruhi perasaannya. Nama yang pernah

didengarnya dan diketahuinya, bahwa Empu Purwa adalah seorang

yang melampaui kebanyakan orang.

Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Kebo Sindet masih duduk

membeku di tempatnya, sedang Wong Sarimpat yang selalu gelisah

itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Empu Purwa,” terdengar orang itu mengulangi.

Cundaka yang duduk diam kini seolah-olah tidak lagi

memedulikan percakapan itu. Ia telah kehilangan minat untuk

mengikutinya. Bahkan diam-diam ia berharap di dalam hatinya,

mudah-mudahan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bersedia

membantu Kuda Sempana, menyingkirkan Mahisa Agni. Tiba-tiba ia

merasa jemu untuk ikut serta dalam persoalan itu. Lebih baik

baginya mengembara seorang diri atau bersama satu dua orang

muridnya ke padukuhan-padukuhan terpencil, padukuhan asal dari

murid-muridnya itu Meskipun sedikit demi sedikit ia akan dapat

mengumpulkan beberapa macam benda-benda berharga yang dapat

dijualnya di tempat-tempat lain. Itu adalah cara yang telah lama

ditempuhnya dengan menamakan dirinya pedagang keliling.

Meskipun beberapa kali ia mengalami kegagalan karena berbagai

sebab, tetapi pada umumnya ia mendapatkan dagangannya.

“Tetapi Mahisa Agni pernah menghalangi aku,” katanya di dalam

hati, “Ia pernah mencegah aku berbuat demikian di pedesaan salah

seorang muridku yang menyebut dirinya Waraha sebelum Mahisa

Agni mengenalku. Apalagi kini.”

“Hem,” Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu

mengeluh di dalam hati, “kalau Mahisa Agni itu telah mati, maka aku

tidak akan terganggu lagi.”

Tiba-tiba Cundaka itu tersenyum, timbullah pikiran di dalam

kepalanya, “Biarlah Kuda Sempana dan orang-orang gila itu

menyelesaikannya. Aku akan mendapat keuntungan daripadanya.”

Kesunyian yang mencengkam ruangan itu kemudian dipecahkan

oleh suara Kebo Sindet datar, “Apakah kau tiba-tiba telah mati Kuda

Sempana?”

“Oh, kenapa?” bertanya Kuda Sempana dengan serta-merta.

“Oh,” Kuda Sempana tergagap, tetapi ia kemudian bercerita

tentang Mahisa Agni, tentang Ken Dedes dan tentang dirinya

sendiri. Demikian besar keinginannya untuk mendapatkan bantuan

dari Kebo Sindet, sehingga ceritanya menjadi berkepanjangan.

Dikatakannya apa yang diketahuinya tentang Mahisa Agni, tentang

Ken Dedes, dan bahkan tentang Tunggul Ametung yang ingin

memperistri Ken Dedes dan dengan sungguh-sungguh ingin

menemui Mahisa Agni.

Tiba-tiba suara Kuda Sempana itu terputus ketika Wong Sarimpat

yang menjadi jemu berteriak, “Jangan mengigau. Katakan yang

perlu saja. Atau aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”

Dada Kuda Sempana itu pun menjadi berdebar-debar, ternyata ia

telah bercerita terlampau panjang, sehingga Wong Sarimpat

menjadi tidak telaten mendengarnya. Orang yang kasar itu tidak

biasa mendengarkan orang lain berbicara terlampau panjang.

Tetapi kembali mereka terkejut ketika kemudian Kebo Sindet

berkata datar, “Biarlah Wong Sarimpat. Biarlah ia bercerita tentang

musuhnya itu. Terasa dalam kata-katanya, alangkah besar

dendamnya kepada anak muda yang bernama Mahisa Agni itu.”

Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Empu Sada. Kalimatkalimat

itu bukanlah kalimat-kalimat yang biasa diucapkan oleh

Kebo Sindet. Kalimat-kalimat itu adalah kalimat-kalimat yang

tersusun dan seolah-olah mengandung suatu sikap persahabatan

yang sangat baik. Namun justru karena itulah maka Empu Sada

yang telah kenyang makan asin manisnya penghidupan, menjadi

curiga karenanya. Meskipun demikian orang tua itu sama sekali

tidak berkata sepatah kata pun.

Berbeda dengan Kuda Sempana sendiri. Tiba-tiba ia merasa

bahwa Kebo Sindet benar-benar dapat mengerti perasaan dan

keadaannya. Karena itu maka dengan penuh pengharapan ia

berkata, “Terima kasih, Paman. Terima kasih. Ceritaku tidak

terlampau panjang lagi. Aku hanya tinggal akan mengatakan bahwa

aku ingin Mahisa Agni tertangkap hidup. Aku ingin ia melihat

bendungan yang telah dibuatnya itu pecah dan aku ingin melihat ia

menjadi sakit hati dan kecewa sekali. Ia harus mengalami

penderitaan batin sebelum tanganku mencabut nyawanya.”

“Bagus, bagus,” sahut Kebo Sindet, “tetapi aku ingin tahu lebih

banyak, hubungan antara Mahisa Agni dan Ken Dedes. Menurut

katamu keduanya adalah bukan saudara sekandung. Keduanya

adalah saudara angkat meskipun tak ubahnya dengan saudara

kandung sendiri. Menurut katamu, kalau Mahisa Agni terbunuh,

maka Ken Dedes akan mengalami tekanan batin yang tidak akan

teratasi. Apakah kau yakin?”

“Aku yakin,” jawab Kuda Sempana, “kalau Mahisa Agni terbunuh,

maka Ken Dedes akan menjadi sedih sakit dan ia tentu akan mati.

Kecuali keduanya adalah saudara angkat yang rukun. Mahisa Agni

telah menyelamatkan gadis itu beberapa kali dari tanganku. Dengan

demikian, maka ikatan di antara keduanya menjadi semakin erat.”

Tiba-tiba Kebo Sindet itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tak

seorang pun yang melihat di dalam kegelapan itu, bahwa wajah

yang beku itu tiba-tiba tersenyum, meskipun senyumnya hanya

sebuah senyuman yang sangat kecil.

Kemudian terdengar Kebo Sindet itu bertanya pula, “Apakah

Tunggul Ametung benar-benar akan mengambil Ken Dedes menjadi

permaisurinya?”

“Demikianlah,” jawab Kuda Sempana,” tetapi apabila mungkin,

maka gadis itu pun sebaiknya dipisahkan dari Akuwu Tunggul

Ametung.”

“Kau masih menghendaki?”

Kuda Sempana diam sejenak. Namun kemudian terdengar ia

menjawab perlahan-lahan, “Ya.”

Sekali lagi wajah yang mati itu tersenyum di dalam gelap. Tak

seorang pun yang melihatnya. Tetapi perasaan Empu Sada seolaholah

mempunyai mata. Ia melihat sesuatu yang tidak wajar, dan

seolah-olah ia melihat senyum di bibir Kebo Sindet itu.

Apalagi ketika Kebo Sindet itu kemudian bertanya, “Di manakah

dapat kami jumpai Mahisa Agni?”

“Ia sedang membuat bendungan di padang Karautan.”

“Apakah ia sering meninggalkan padang itu untuk sesuatu

keperluan?”

“Mungkin. Tak seorang pun dari anak-anak muda Panawijen yang

berani meninggalkan kelompok mereka. Aku kira, Mahisa Agnilah

yang selalu mondar-mandir antara Panawijen dan padang Karautan

itu apabila diperlukan sesuatu.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam

kepalanya itu berputar suatu rencana yang tak diketahui oleh siapa

pun juga. Rencana yang lain dengan rencana Kuda Sempana

sendiri.

“Jalan manakah yang biasa ditempuh oleh Mahisa Agni apabila ia

pergi atau kembali ke Panawijen.”

Namun sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Empu

Sada mendahuluinya, “Marilah kita pergi bersama-sama. Aku sudah

mengetahui dengan pasti. Jalan manakah yang selalu dilaluinya.”

Kebo Sindet tertegun sejenak, tetapi kemudian ia berkata, “Empu

Sada, apakah kau akan memerlukan ikut bersama kami?”

“Kamilah yang berkepentingan. Kalian berdua membantu kami.”

“Kalian akan mengganggu kami,” berkata Kebo Sindet, “kalau

kau percaya kepadaku, serahkan semua persoalan ini kepada kami

berdua.”

“Kau berdua akan berhadapan dengan lawan yang terlampau

kuat. Mungkin kalian berdua akan bertemu dengan Empu Gandring,

Empu Purwa dan Panji Bojong Santi bersama-sama.”

Kembali Kebo Sindet terdiam. Ia mencoba memecahkan

persoalan itu di dalam kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Akan aku

pikirkan. Tetapi kapankah kira-kira Ken Dedes akan kawin?”

“Kami tidak tahu,” sahut Kuda Sempana, “tetapi aku kira segera

akan dilakukannya.”

Kembali ruangan itu menjadi sepi. Kembali Empu Sada

menimbang-nimbang sikap Kebo Sindet yang meragukannya itu.

Tetapi ia tidak dapat menduga, apakah kira-kira yang akan

dilakukannya.

Namun dalam pada itu, harapan di dalam dada Kuda Sempana

telah menyala berkobar-kobar. Hampir dapat dipastikan, ia akan

dapat mengikat Mahisa Agni pada sebuah tonggak kayu. Melecutnya

sesuka hati. Meludahi mukanya dan menggurat tubuhnya dengan

pedangnya. Melumurinya dengan air asam dan garam.

“Hem,” Kuda Sempana itu tersenyum sendiri. Musuhnya yang

paling dibencinya itu sebentar lagi akan jatuh ke tangannya. Ia tidak

peduli apakah ia harus menjual segala miliknya yang telah

dikumpulkan selama ia menghambakan diri di istana. Timang emas

tretes berlian, pendok emas, binggel dan apa saja, asal dendam dan

sakit hatinya dapat terbalas atas Mahisa Agni dan beruntunglah ia

kalau kedua orang itu berhasil mengambil Ken Dedes dari istana.

Dan angan-angan yang membubung tinggi itulah yang kemudian

mendorong Kuda Sempana untuk kemudian berkata kepada

gurunya, “Guru, bagiku, apakah kedua paman ini akan pergi tanpa

kami, ataukah kami harus pergi bersama mereka, bukanlah soal

bagiku. Yang penting adalah Mahisa Agni jatuh ke tanganku.”

“Anak bodoh,” desis Empu Sada di dalam hatinya. Tetapi yang

diucapkannya adalah, “Kita tidak dapat mengumpankan kedua

pamanmu tanpa kami. Kamilah yang tahu, bahwa di sekeliling

Mahisa Agni berdiri beberapa kekuatan. Bahkan mungkin Witantra,

murid Bojong Santi akan menyerahkan prajurit-prajuritnya yang

cukup memiliki kekuatan untuk menangkap kami dan kedua

pamanmu sekaligus. Betapa kemampuan kami seorang, tetapi

apakah kami masing-masing mampu melawan seratus orang

Witantra sekaligus? Kau harus tahu Kuda Sempana, bahwa di istana

mempunyai banyak kekuatan yang tersimpan. Banyaklah orangorang

yang sekuat kau. Meskipun aku gurumu, namun aku tidak

akan mampu melawan kau dalam jumlah yang cukup. Sebab

kekuatan seseorang itu suatu ketika akan mencapai titik puncaknya.

Dan orang itu tidak akan mampu berbuat melampaui titik puncak

itu.”

Kuda Sempana tidak dapat menjawab kata-kata gurunya. Karena

itu ia pun terdiam. Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara

Kebo Sindet, “Baiklah. Kami akan berpikir malam ini. Besok pagi

kami akan mengatakan sesuatu kepada kalian tentang rencana ini.

Malam ini kalian dapat tidur di rumah ini.”

Sekali lagi dada Empu Sada berdesir. Kini ia sudah yakin seyakinyakinnya,

bahwa ada sesuatu yang terjadi di dalam hati Kebo

Sindet. Orang semacam itu sudah tentu tidak akan bersedia

mengubah keputusannya apabila tidak ada hal yang penting terjadi

pada dirinya. Karena itu maka Empu Sada menjawab, “Tidak. Aku

tidak akan tidur di rumahmu ini. Kau akan membunuh kami selagi

kami tidur.”

“Tidak,” sahut Kebo Sindet, “aku tidak akan berbuat demikian.

Aku tadi hanya menakutimu.”

“Mungkin. Mungkin tadi kalian hanya ingin menakuti kami. Tetapi

sekarang mungkin rencana itu benar-benar akan kalian lakukan. Aku

ingin tidur di bukit gundul itu. Mungkin aku akan dapat menangkap

harimau kumbang.”

Tak ada jawaban. Dan sekali lagi Empu Sada menjadi heran. Ia

tidak mendengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.

“Marilah Kuda Sempana dan Cundaka,” ajak Empu Sada, “kita

pergi ke bukit gundul itu.”

Empu Sada tidak menunggu apapun lagi. Terdengar amben itu

bergerit dan empu tua itu pun segera turun dan melangkah ke

pintu. Ternyata di luar tampak sedikit lebih terang daripada di dalam

gubuk yang sempit itu.

“Tunggu!” terdengar suara Kebo Sindet.

Empu Sada tertegun sejenak. Ia mencoba berpaling, tetapi yang

dilihatnya hanyalah hitam yang pekat dan bayangan-bayangan yang

wajahnya tidak jelas dari orang-orang yang duduk di amben itu.

Tetapi ia mendengar Kebo Sindet berkata pula, “Empu Sada,

kalau kau tidak mau bermalam di gubuk yang jelek ini, terserahlah

kepadamu. Tetapi aku ingin Kuda Sempana tinggal di sini. Aku

masih memerlukan beberapa keterangan daripadanya.”

Empu Sada itu menggelengkan kepalanya meskipun ia tahu,

bahwa di dalam ruangan itu gelapnya bukan main, “Tidak. Kuda

Sempana pergi bersama aku.”

“Kenapa kau terlalu keras hatimu?” bertanya Kebo Sindet,

“bukankah kau datang untuk suatu usaha bekerja bersama? Karena

itu maka kau pun harus mempunyai kepercayaan kepada kami.”

“Tidak,” jawab Empu Sada tegas, “Kedua muridku harus bersama

aku.”

Tetapi Empu Sada tiba-tiba terkejut ketika ia mendengar Kuda

Sempana yang seolah-olah sedang terbius oleh angan-angannya

untuk segera menangkap Mahisa Agni itu berkata, “Guru apakah

keberatannya apabila aku tinggal di sini? Aku percaya kepada kedua

paman ini, bahwa tidak akan membunuh kami. Seandainya guru

keberatan, maka akulah yang akan tinggal selama ini untuk

memberikan beberapa penjelasan yang perlu.”

Terdengar Empu Sada menggeram. Ia tidak menyangka bahwa

Kuda Sempana akan berbuat demikian. Maka jawabnya, “Kuda

Sempana. Kau adalah muridku. Kau harus menurut segala

petunjukku. Kau pergi bersama aku. Besok kita kembali kemari

untuk mendengarkan penjelasan apakah kedua pamanmu bersedia

membantu kami atau tidak.”

Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri tiba-tiba

menyela, “Baiklah. Bawalah Kuda Sempana. Beri aku kesempatan

malam ini. Besok aku mengharap kalian datang lagi kemari.”

Empu Sada tidak menjawab. Hatinya bergetar menahan segala

macam perasaan. Apalagi Kuda Sempana yang telah menyeretnya

ke bukit gundul ini telah mengecewakannya pula.

Kuda Sempana kemudian berkata kepada Kebo Sindet, “Baiklah,

Paman, biarlah aku malam ini mengikuti guru. Besok kami pasti

akan kembali.”

“Baiklah,” sahut Kebo Sindet. Keramahannya itu pun telah

semakin meyakinkan Empu Sada bahwa sesuatu yang tidak

menyenangkan telah direncanakan oleh Kebo Sindet itu.

Cundaka pun kemudian berjalan di belakang gurunya. Seperti

gurunya ia tidak minta diri kepada sepasang kakak beradik yang

baginya sangat memuakkan tetapi juga mengerikan.

Dengan tergesa-gesa Empu Sada berjalan meninggalkan gubuk

itu sambil bersungut-sungut. Cundaka berjalan terloncat-loncat di

belakangnya. Malam yang gelap semakin lama menjadi semakin

dalam. Tetapi di langit bergayutan jutaan bintang yang bercahaya.

Ternyata di luar tidak terlalu pepat seperti di dalam gubuk yang

sempit.

Beberapa langkah di belakang mereka, Kuda Sempana berlari-lari

kecil menyusul guru dan saudara seperguruannya. Ketika jarak

mereka sudah menjadi semakin dekat, terdengar Kuda Sempana

bertanya, “Ke mana kita pergi guru?”

Empu Sada berpaling, tetapi ia tidak mengurangi kecepatan

langkahnya. Diloncatinya batu-batu padas dan lubang-lubang di

sepanjang jalan yang sempit itu.

Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka kembali Kuda

Sempana mendesaknya, “Ke mana kita pergi guru?”

“Ke mana saja,” jawab Empu Sada, “kita jauhi rumah kedua

orang gila itu.”

“Tetapi,” potong Kuda Sempana, “bukankah mereka telah

menyatakan keinginannya untuk membantu kami.”

Empu Sada tidak menjawab. Langkahnya bahkan menjadi

semakin panjang dan cepat.

Kuda Sempana menjadi heran. Agaknya ada yang tidak berkenan

di hati gurunya. Namun ia tidak segera menanyakannya. Diikutinya

saja ke mana gurunya itu pergi.

Dalam pada itu Empu Sada menyusur jalan sempit di kaki lereng

bukit gundul. Kemudian dengan susah payah mereka mendaki naik.

Meskipun malam menjadi bertambah malam, namun mereka seolaholah

tidak memedulikannya.

Tiba-tiba mereka mendengar Empu Sada bergumam, “Kita

bermalam di bukit gundul itu.”

“Pasti terlampau dingin,” sahut Kuda Sempana.

“Kita tidak akan membeku seperti minyak di musim bediding.

Darah kita cukup panas dan hati kita pun cukup panas.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Ia menjadi semakin yakin bahwa

ada yang tidak menyenangkan hati gurunya itu.

Cundaka berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak mau

tergelincir dan terbanting ke dalam jurang. Ia hampir-hampir tidak

memperhatikan sama sekali percakapan Kuda Sempana dengan

gurunya. Tetapi ketika terasa bahwa gurunya menjadi tidak begitu

senang terhadap kedua laki-laki kakak beradik itu, maka tergugah

kembalilah perasaan muaknya. Tetapi ia masih saja tetap berdiam

diri. apapun yang akan terjadi, maka ia harus pandai mengambil

keuntungan. Seandainya orang-orang liar itu benar-benar akan

membunuh Mahisa Agni, maka ia pun akan mengambil keuntungan

pula daripadanya. Seandainya niat itu diurungkan maka ia tidak

terlampau banyak berkepentingan. Bahkan dengan demikian ia akan

terhindar dari kemungkinan yang lebih parah. Apabila kemudian

Akuwu Tunggul Ametung mengetahuinya, maka sasaran yang

pertama-tama dari kemarahannya adalah gurunya, Kuda Sempana

dan murid-murid Empu Sada yang lain.

Demikianlah mereka bertiga memanjat tebing gunung gundul itu

sambil berdiam diri. Kuda Sempana pun tidak lagi bertanya-tanya.

Sedang Empu Sada sama sekali tidak bernafsu untuk berbicara.

Meskipun demikian orang tua itu berkata, “Siapkan senjata kalian.

Di gunung gundul ini terdapat beberapa jenis binatang. Mungkin

kalian akan bertemu dengan harimau kumbang yang mendaki dari

hutan-hutan di sekitar bukit ini untuk mencari anjing-anjing liar.

Tetapi anjing-anjing liar itu sendiri tidak kalah berbahayanya dari

harimau-harimau kumbang. Tetapi yang lebih berbahaya adalah

kedua orang liar itu. Mereka akan mampu menerkam kalian lebih

cepat dari harimau yang betapapun buasnya.”

Kedua muridnya terkejut mendengar kata-kata itu. Tetapi yang

lebih terkejut di antara mereka adalah Kuda Sempana, sehingga

dengan serta-merta ia menjawab, “Guru. Apakah guru

berprasangka? Ketika aku menjumpai Paman Wong Sarimpat di

lereng gunung gundul ini, maka kesan yang aku dapatkan memang

tidak begitu baik. Tetapi bukankah Paman Kebo Sindet tidak sekasar

paman Wong Sarimpat. Bahkan Paman Kebo Sindet ternyata jauh

lebih baik dari yang pernah guru katakan tentang kedua orang yang

guru sebut sebagai orang-orang liar itu. Paman Kebo Sindet cukup

ramah dan baik.”

“Hem,” Empu Sada menggeram, “kau memang terlampau bodoh

Kuda Sempana. Aku mengenal mereka berdua sejak lama. Sejak

kakak seperguruanku masih hidup. Mereka adalah orang-orang liar

yang tak dapat bersikap baik. Tetapi dahulu aku masih

mempercayainya. Mereka waktu itu tidak mempunyai pertimbanganpertimbangan

lain kecuali berapa banyak kita akan memberinya

upah. Tetapi sekarang aku melihat beberapa perbedaan. Mungkin

mereka telah terlampau banyak menyimpan kekayaan, sehingga

mereka mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkan keadaan

lebih seksama. Dan adalah karena kebodohanmu, bahwa kau

terlampau banyak bercerita tentang lawanmu itu.”

Kuda Sempana menjadi semakin tidak mengerti. kembali ia

bertanya, “Apakah keberatannya guru? Bukankah kita akan bekerja

bersama dengan mereka?”

“Kita akan bekerja bersama dengan mereka,” jawab Empu Sada,

“tetapi apakah kau yakin bahwa mereka akan bekerja bersama

dengan kita?”

“Mereka tidak mempunyai kepentingan apapun dengan Mahisa

Agni,” sahut Kuda Sempana.

“Mahisa Agni adalah calon kakak ipar Akuwu Tunggul Ametung

yang kaya raya. Yang mampu menyediakan emas sebongkah dan

berlian segenggam. Alangkah bodohnya kau.”

Kuda Sempana masih belum dapat mengerti maksud gurunya

dengan pasti. Namun menurut perasaannya, apapun yang akan

dilakukan atas Mahisa Agni kemudian ia tidak perlu

mempertimbangkan. Baginya asalkan dendamnya terbalas, maka

tak ada lagi alasan untuk membuat perhitungan-perhitungan lain. Ia

harus dapat melihat Mahisa Agni terikat pada tonggak kayu tanpa

dapat berbuat apapun. Kemudian ia harus melihat, betapa anak

muda itu menjadi sangat kecewa karena bendungannya gagal. Yang

terakhir ia harus mendengar kabar bahwa Ken Dedes menangis

setiap saat menangisi kakaknya yang mati. Kemudian Ken Dedes itu

pun akan mati pula. Adalah lebih baik baginya daripada setiap kali ia

mendengar dan melihat gadis itu sebagai seorang permaisuri Akuwu

Tunggul Ametung.

“Gila!” gumamnya di dalam hati, “Bahkan kalau mungkin Tunggul

Ametung harus aku bunuh pula.”

Tetapi Kuda Sempana itu kini berdiam diri. Ia berbicara dalam

angan-angannya. Berbicara kepada diri sendiri tentang kemenangan

yang akan dicapainya untuk melepaskan dendamnya.

Tanpa mereka sadari, maka mereka bertiga kini telah berada di

punggung bukit gundul itu. Mereka berjalan di atas batu-batu padas

yang keputih-putihan mengandung kapur. Di sana-sini bertebaran

gerumbul-gerumbul liar seperti seonggok batu yang berserak-serak.

Tetapi Empu Sada itu masih berjalan terus. Langkahnya masih

tetap panjang-panjang dan cepat.

Kuda Sempana yang mempunyai kepentingan langsung dengan

kedua laki-laki kakak beradik itu bertanya kembali, “Guru, di mana

kita bermalam?”

“Sejauh-jauhnya dari rumah hantu-hantu liar itu.”

“Kenapa sejauh-jauhnya? Besok kita akan terlalu payah.

Bukankah kita besok akan kembali lagi kepada mereka?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Hatinya kini dicengkam

oleh keragu-raguan yang tajam. Sebagai seorang tua yang memiliki

pengamatan yang jauh, terasa bahwa kedatangannya sama sekali

tidak menguntungkannya. Juga tidak bagi murid-muridnya. Tetapi ia

masih tidak pasti atas pengamatan perasaannya itu. Apalagi ketika

didengarnya Kuda Sempana bertanya tentang apa yang akan

dilakukan kini.

Sejenak orang tua itu tidak menjawab. Tetapi langkahnya sama

sekali tidak mengendur, meskipun malam menjadi semakin dalam

dan angin yang dingin berhembus dari selatan mengusap kulit

mereka yang dilumuri oleh keringat. Keringat yang mengalir karena

ketegangan yang menghentak-hentak dada.

Karena Empu Sada tidak menjawab, maka kembali terdengar

Kuda Sempana bertanya, “Guru, ke mana kita bermalam. Bukankah

kita dapat bermalam di tempat ini, tempat yang menurut

pendapatku telah terlampau jauh?”

“Tidak Kuda Sempana,” jawab gurunya. Akhirnya Empu Sada

tidak dapat menyembunyikan perasaannya, ia ingin menyelamatkan

kedua muridnya itu dari bencana meskipun bencana itu belum pasti

datang, “Terus terang aku katakan sekarang kepadamu berdua,

bahwa sebenarnya aku menaruh curiga kepada kedua orang itu.”

Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata gurunya, dengan

serta-merta ia bertanya, “Kenapa guru curiga? Memang keduanya

tampaknya terlampau kasar dan liar, tetapi menurut anggapanku

mereka mempunyai dada terbuka. Dan bukankah mereka telah

menanyakan banyak hal tentang Mahisa Agni?”

“Terlampau banyak,” sahut gurunya.

“Guru, aku tidak tahu, kenapa guru berkeberatan?”

Kembali Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia

menjawab terdengar Cundaka berkata, “Ya, aku pun curiga kepada

mereka.”

Kuda Sempana segera merasa tersinggung mendengar kata-kata

saudara seperguruannya itu, sehingga cepat-cepat ia menyahut,

“Kenapa kau pun curiga? Sebenarnya kau tidak berkepentingan

sama sekali dengan kedua orang itu. Lebih baik kau tidak usah turut

menilainya.”

Cundaka mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar

teguran Kuda Sempana yang kasar itu. Sehingga kembali ia berkata,

“Demikianlah tanggapanku atas kedua orang itu. Berkepentingan

atau tidak berkepentingan. Tetapi bagiku mereka berdua adalah

orang-orang yang kasar dan memuakkan.”

“Kalau kau tidak mau bekerja bersama dengan mereka, pergilah,”

sahut Kuda Sempana, “tetapi jangan mencoba mengendurkan

tekadku untuk membalas sakit hatiku atas Mahisa Agni.”

Tiba-tiba Cundaka itu pun berhenti. Wajahnya menjadi merah

karena marah. Dengan tajamnya ia menjawab, “Baik. Aku akan

pergi. Aku tidak mau turut campur dalam urusan yang sama sekali

tidak ada sangkut pautnya dengan kepentinganku sendiri secara

langsung. Aku memang pernah mendendam Mahisa Agni. Tetapi

aku akan tekun menambah ilmuku sendiri. Kalau kau tak berhasil

membinasakannya, maka akan sampai saatnya akulah yang

berbuat. Tetapi dengan tanganku sendiri.”

“Jangan terlalu sombong!” bentak Kuda Sempana yang, tidak

kalah marahnya pula.

Tetapi ketika ia akan mengumpat-umpat lebih banyak lagi,

terdengar Empu Sada berkata, “Apakah yang kalian kerjakan itu.

Apakah kalian akan berkelahi di antara kalian sendiri, sedang kalian

masing-masing mendendam anak muda yang bernama Mahisa

Agni?”

Kedua muridnya itu terdiam. Mereka sekali berpaling,

memandangi gurunya yang telah berhenti pula.

Beberapa langkah Empu Sada itu mendekati mereka yang sudah

berdiri berhadapan. Bahkan Kuda Sempana telah meraba hulu

pedangnya.

“Ternyata kalian telah menjadi gila,” berkata Empu Sada, “apa

kau sangka bahwa setelah kalian berkelahi, maka urusan kalian

dengan Mahisa Agni itu dapat selesai.”

“Tetapi ia menghina kedua paman kakak beradik itu, Guru.”

“Aku mengatakan tanggapan perasaanku atas mereka berdua.”

“Cukup!” bentak Empu Sada keras-keras. Betapa marahnya orang

tua itu karena murid-muridnya bertengkar di antara mereka,

sehingga tongkat panjangnya terayun-ayun hampir menyentuh

wajah kedua muridnya berganti-ganti, “Ayo. Siapa yang masih

membuka mulutnya, maka mulut itu pasti akan pecah oleh

tongkatku ini. Ayo. Siapa yang masih akan mencoba?”

Kedua muridnya menjadi takut melihat gurunya benar-benar

marah. Kuda Sempana dan Cundaka segera menundukkan

wajahnya dan menyembunyikan perasaannya. Tetapi bukan saja

mereka berdua yang mencoba menyembunyikan perasaan yang

menghentak-hentak dada masing-masing, tetapi Empu Sada pun

mencoba menyembunyikan perasaannya dibalik kemarahannya.

Orang tua itu pun kemudian merasa, bahwa apa yang telah

dilakukan selama ini terhadap murid-muridnya adalah keliru.

Muridnya itu satu sama lain sama sekali tidak mempunyai ikatan

persaudaraan yang kokoh. Sekali lagi Empu Sada menjadi iri melihat

murid-murid Panji Bojong Santi. Mereka seakan-akan mempunyai

suatu tataran yang teratur menurut urutan kakak beradik dalam

perguruannya.

Tetapi semuanya itu telah terlanjur. Empu Sada hanya dapat

menyesali diri sendiri. Ia tidak dapat membentuk murid-muridnya

menjadi suatu lingkungan yang terikat oleh perasaan senasib

sepenanggungan. Namun itu bukanlah salah murid-muridnya. Empu

Sada sendiri memperlakukan mereka tidak Adil sebagai murid yang

baik. Empu Sada lebih memperhatikan muridnya yang

berkedudukan baik dan yang mampu memberinya banyak uang dan

harta benda. Tetapi murid-muridnya yang tidak mampu memberinya

banyak dan tidak mempunyai kebanggaan apapun tentang dirinya,

maka murid-murid itu hanya sedikit sekali mendapat perhatiannya.

Sehingga dengan demikian, Empu Sada tidak mempunyai tanggung

jawab yang sepenuhnya atas murid-muridnya, dan murid-muridnya

pun tidak mempunyai kewajiban yang wajar atas gurunya itu.

Murid-muridnya tidak menganggap gurunya sebagai seorang yang

wajib dihormati dan disegani sepenuhnya, tetapi sebagai seseorang

yang telah memberi mereka itu kepandaian setelah ia menerima

upahnya.

Kini Empu Sada menyadarinya. Tak seorang pun dari muridmuridnya

yang mempunyai wibawa atas murid-muridnya yang lain

sebagai seorang kakak seperguruan terhadap adiknya. Muridmuridnya

merasa, bahwa mereka satu sama lain terlepas dari ikatan

semacam itu. Kalau ikatan itu ada, maka ikatan itu terlampau

lemah.

Namun kesadaran orang tua itu agaknya telah terlampau lambat.

Kini ia dihadapkan pada keadaan serba sulit, ia tahu benar bahwa

kedua muridnya itu kini berada dalam keadaan yang berlawanan.

Yang seorang ingin pergi meninggalkan tempat ini sedang yang lain

ingin tinggal untuk mendapatkan orang-orang yang sanggup

membantunya.

Empu Sada itu tersadar ketika dikejutkan terdengar suara anjing

liar menggonggong bersahut-sahutan.

“Hem,” desahnya sambil memandangi kedua muridnya itu

berganti-ganti. “Sekarang bagaimana?”

Kedua muridnya itu mengangkat wajahnya. Tetapi mereka masih

ragu-ragu untuk menjawab. Namun sekali lagi mereka mendengar

Empu Sada bertanya, “Sekarang bagaimana?”

Yang mula-mula menjawab adalah orang yang menyebut dirinya

Bahu Reksa Kali Elo, “Kita pergi saja meninggalkan tempat ini.”

“Tidak,” potong Kuda Sempana cepat-cepat, “kita kembali ke

rumah paman Kebo Sindet. Kita telah mengambil keputusan untuk

memohon bantuan mereka. Dan agaknya mereka telah membuka

pintu selebar-lebarnya.”

“Ya,” sahut Empu Sada, “mereka telah membuka pintu selebarlebarnya.

Tidak saja untuk memasukkan Mahisa Agni ke dalamnya,

tetapi kita sendiri akan berkubur di dalam gua itu, apabila malam ini

kita kembali.”

“Guru terlampau berprasangka,” jawab Kuda Sempana dengan

tegangnya sehingga urat-urat lehernya seolah-olah akan mencuat

keluar.

Empu Sada benar-benar menjadi bingung. Ia tahu, bahwa ia

berprasangka, tetapi perasaannya dengan kuatnya memaksanya

untuk tidak kembali ke rumah itu. Malam ini, dan bahkan besok

pagi.

Tetapi ia tidak sampai hati untuk mengecewakan Kuda Sempana

yang telah menyimpan pengharapan di dalam hatinya sejak

dijumpainya Wong Sarimpat.

Dalam pada itu terdengar Cundaka yang menyebut dirinya Bahu

Reksa Kali Elo itu berdesis, “Aku akan meneruskan perjalanan ini,

Guru. Malam ini aku tidak akan bermalam di bukit gandul ini. Aku

akan berjalan terus sejauhnya.”

Belum lagi kalimat itu habis, Kuda Sempana telah memotongnya,

“Aku akan kembali ke rumah paman Kebo Sindet dan Paman Wong

Sarimpat. Aku tidak akan melepaskan kesempatan ini. Mahisa Agni

harus tertangkap hidup-hidup. Bukankah guru seorang diri tidak

sanggup melakukannya.”

“Kuda Sempana!” bentak Empu Sada, “Apakah kau sudah

kehilangan kepercayaan atas gurumu?”

“Maksudku,” sahut Kuda Sempana cepat-cepat, “maksudku, guru

tidak dapat menyelesaikannya sendiri karena ada orang-orang lain

yang ternyata telah terlibat pula, seperti Panji Bojong Santi seperti

yang pernah guru katakan, dan mungkin Empu Purwa, ayah gadis

itu yang sepengetahuanku selama aku tinggal di Panawijen pada

masa kecilku, tidak lebih dari seorang tua yang sakit-sakitan. Namun

ternyata guru telah memperhitungkannya pula.”

“Tentang Empu Purwa bertanyalah kepada Kebo Sindet. Ia

mengenal orang tua sakit-sakitan itu dengan baik.”

“Jadi guru akan kembali ke gubuk itu?”

Kembali Empu Sada diamuk oleh kebimbangan. Sekali-sekali di

kejauhan terdengar anjing liar menggonggong bersahutan.

Empu Sada memasang telinganya baik-baik. Anjing itu telah

menimbulkan kecurigaannya pula. Terdengar suaranya

berkepanjangan dan berputar-putar di lereng bukit gundul ini.

“Apakah anjing itu melihat harimau, atau mereka melihat

seseorang mendaki bukit ini?” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak

mengatakannya kepada kedua orang muridnya itu.

“Bagaimana guru?” desak Kuda Sempana.

“Aku tidak akan kembali, setidak-tidaknya malam ini,” sahut

Empu Sada, “entahlah besok pagi-pagi. Mungkin malam ini aku

dapat mempertimbangkannya. Tetapi malam ini aku akan bermalam

di seberang bukit gundul ini.”

“Kenapa terlampau jauh?”

“Banyak bahayanya di bukit gundul ini. Harimau, anjing-anjing

liar dan orang-orang liar itu. Tetapi anggaplah kita tidak

berprasangka apapun terhadap kedua laki-laki itu. Maka yang perlu

kita perhatikan adalah anjing-anjing liar itu. Anjing-anjing liar itu

datang dalam jumlah yang terlampau banyak. Lebih baik melawan

dua atau tiga ekor harimau daripada lima puluh ekor anjing yang

menyergap dari segenap penjuru.”

Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengar Cundaka

mendahuluinya, “Aku akan pergi. Aku akan pergi.”

“Tunggu,” cegah Empu Sada, “akulah yang mengambil

keputusan.”

Namun kembali orang tua itu mendengar gonggong anjing. Sahut

menyahut melingkar-lingkar, sehingga orang tua itu terpaksa

mempertimbangkannya.

Cundaka yang hampir melangkahkan kakinya tertegun diam. Ia

tidak berani melanggar kata-kata gurunya itu. Ia tahu, bahwa kali

ini Empu Sada berkata sebenarnya. Dan ia harus tunduk kepadanya.

Wajah orang tua itu kini diliputi oleh ketegangan yang

mencengkam hatinya. Di kejauhan ia masih mendengar gonggong

anjing-anjing liar. Kadang-kadang menghilang, namun kadangkadang

serasa menjadi amat dekatnya.

Dengan nada datar orang tua itu berkata, “Tidak, kita tidak boleh

terpisah-pisah. Kalian dengar gonggong anjing liar itu?”

Kedua muridnya menganggukkan kepalanya mereka.

“Berapa jumlah anjing-anjing liar itu menurut dugaanmu?”

Kedua muridnya terdiam. Namun tiba-tiba mereka merasa ngeri

juga mendengar suara anjing itu. Terlampau banyak. Betapapun

tangkas mereka mempermainkan pedang, tetapi mereka satu-satu

tidak akan dapat melawan sejumlah anjing-anjing liar itu. Anjinganjing

liar itu dapat menyerang dari segenap penjuru. Selagi

seseorang mengayunkan senjatanya membunuh seekor di antara

mereka, maka seekor yang lain telah menerkam tubuhnya dari arah

yang lain. Disusul yang lain lagi, yang lain dan berpuluh-puluh

banyaknya. Apalagi mereka sama sekali belum mengenal watak dan

tabiat anjing-anjing hutan yang liar itu.

“Turutlah nasihatku,” berkata Empu Sada kemudian, “anjinganjing

liar dan harimau-harimau kumbang akan merupakan bahaya

yang besar bagi kalian. Alangkah malangnya apabila kalian mati

dikoyak oleh anjing-anjing liar itu. Bukankah lebih baik kalian mati

dibunuh oleh Mahisa Agni.”

Kedua muridnya tidak menjawab. Mereka kini mencoba

memperhatikan suara anjing-anjing liar. bersahut-sahutan tak hentihentinya.

Semakin lama menjadi semakin riuh.

Tetapi kemudian mereka terkejut ketika mereka melihat

bayangan yang kemerah-merahan bergerak-gerak di sisi tebing.

Cahaya yang bertebaran memancar dari balik gerumbul dan

batu-batu yang menjorok di permukaan bukit gundul itu.

Empu Sada mengerutkan keningnya. Ditatapnya cahaya yang

kemerahan itu dengan tajamnya, perlahan-lahan ia bergumam,

“Obor. Apakah kalian melihat sinar obor itu?”

Kedua muridnya mengangguk.

“Siapa menurut dugaanmu?”

Cundakalah yang menjawab, “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

“Mereka tidak memerlukan obor,” potong Kuda Sempana.

“Lalu siapa menurut dugaanmu Kuda Sempana?” bertanya Empu

Sada.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu

guru.”

“Siapkan senjata kalian. Mungkin kita bertemu dengan orangorang

yang tidak bermaksud baik terhadap kita.”

“Aku sudah pasti,” sela Cundaka yang menyebut dirinya Bahu

Reksa Kali Elo, “mereka adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

“Persetan!” potong Kuda Sempana pula, “Kau menghina mereka

berdua. Kau sangka bahwa mata mereka telah menjadi buta, atau

setidak-tidaknya rabun? Mereka adalah orang-orang sakti. Apakah

matamu lebih baik dari mata mereka?”

“Aku tidak peduli. Di sini tidak ada orang lain kecuali mereka

berdua,” sahut Cundaka.

“Kalau begitu kaulah yang buta,” jawab Kuda Sempana, “kau

tidak melihat padukuhan di sebelah rumah Paman Kebo Sindet dan

Paman Wong Sarimpat.”

“Orang-orang padukuhan itu tidak lebih dari mayat-mayat yang

hidup. Yang berbuat tidak atas kesadaran diri. Mereka adalah alatalat

yang bernyawa dari kedua orang-orang liar itu.”

“Omong kosong! Kau tidak tahu apa-apa tentang kedua orang

itu. Kau menjadi iri, ketika kau melihat ada orang yang bersedia

membantuku. Kau iri bahwa upah yang akan mereka terima tidak

lagi akan aku berikan kepadamu.”

“Kuda Sempana,” potong Cundaka, “aku masih sanggup

menampar mulutmu.”

“Aku bukan tonggak mati Cundaka, yang menyebut dirinya Bahu

Reksa Kali Elo.”

Tiba-tiba keduanya memutar diri masing-masing. Kini Kuda

Sempana dan Cundaka telah berhadapan. Namun tiba-tiba pula

mereka terkejut. Mereka menyadari diri mereka masing-masing

ketika mereka berdua telah terpelanting jatuh berguling-guling di

atas batu-batu padas yang keputih-putihan.

“Setan!” terdengar guru mereka itu menggeram, “Kalau kalian

masih bertengkar, maka biarlah kalian aku bunuh bersama-sama.

Biarlah tubuh kalian hancur disayat oleh anjing-anjing liar itu atau

oleh harimau kumbang.”

Kuda Sempana dan Cundaka tertatih-tatih berdiri. Wajah-wajah

mereka menjadi merah membara. Tetapi mereka tidak berani

berbuat apapun terhadap gurunya.

“Lihatlah,” berkata Empu Sada, “obor itu menjadi semakin dekat.

Sebentar lagi kalian akan melihat seseorang atau dua orang muncul

dari balik batu-batu yang menjorok itu. Atau kalian akan melihat,

apakah yang datang itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atau

bukan. Mereka berdua atau bukan, kita harus menerima mereka

dengan penuh kewaspadaan. Kita harus mencoba menyatukan

kekuatan kita, bukan kita hancurkan sendiri.”

Kuda Sempana dan Cundaka tidak menjawab. Tetapi mereka pun

berpaling ke arah yang ditunjuk oleh Empu Sada.

Di kejauhan mereka melihat cahaya yang kemerahan bertebaran,

semakin lama semakin dekat. Gonggong anjing liar pun semakin

lama menjadi semakin hilang pula.

Tatapi dengan demikian hati mereka bertiga menjadi semakin

berdebar-debar. Dengan mulut terkunci dan mata tidak berkedip

mereka menatap ke arah nyala yang memancar kemerah-merahan

itu. Bayangannya bergerak di bebatuan dan tebing-tebing bukit

gundul di sisi yang menjorok ke atas, seperti bayangan hantu yang

menari-nari mengerikan menarikan tarian maut.

Empu Sada dan kedua muridnya berdiri tegak seperti patung.

Bahkan kadang-kadang nafas mereka tertahan karena ketegangan

yang semakin memuncak. Obor itu menjadi semakin dekat.

Darah mereka serasa terhenti ketika dari balik batu yang

menjorok, mereka melihat sepasang obor seolah-olah mendaki

lereng bukit gundul dan muncul tidak terlampau jauh di hadapan

mereka. Sepasang obor yang dibawa oleh sepasang laki-laki.

Dalam pada itu terdengarlah Cundaka menggeram perlahanlahan,

“Apa katamu Kuda Sempana. Mereka berdua pasti Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Ayo, katakanlah sekarang, bahwa aku

telah menghina mereka. Nanti kau akan dapat mengamati sendiri

pada wajah yang kasar sekasar batu padas dan wajah yang beku

seperti wajah mayat.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Yang terdengar adalah suara

giginya gemeretak menahan marah. Namun yang dilihatnya adalah

benar-benar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka masingmasing

membawa sebuah obor. Dan apa yang dilihatnya itu benarbenar

tidak masuk di dalam akalnya. Kenapa orang seperti Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat masih memerlukan obor untuk

mendekati gunung gundul yang hampir setiap hari dilewatinya.

Tetapi ia telah membawa dengan mata kepalanya sendiri. Keduanya

benar-benar telah membawa obor di tangan.

Empu Sada masih berdiri diam. Dengan penuh kecurigaan

dipandanginya kedua orang itu berjalan ke arah mereka. Setapaksetapak

kedua laki-laki kakak beradik itu maju semakin dekat. Dan

hati Empu Sada bersama dua orang muridnya menjadi semakin

berdebar-debar. Mereka sama sekali belum tahu, apakah yang akan

dilakukan oleh kedua orang itu.

Tiba-tiba bukit gundul yang kini telah menjadi sepi karena suara

anjing-anjing liar sudah tidak terdengar lagi itu digetarkan oleh

suara Wong Sarimpat keras-keras, “Ha, itulah mereka, Kakang.”

Tak terdengar jawaban. Namun kedua orang itu melangkah

semakin cepat.

“Hati-hatilah,” terdengar Empu Sada berdesis.

Tetapi ketika Cundaka meraba hulu pedangnya Empu Sada itu

berkata perlahan-lahan, “Jangan!”

Kuda Sempana benar-benar tidak senang melihat sikap Cundaka

yang seakan-akan memusuhi kedua orang yang telah menyatakan

diri untuk membantunya. Tetapi ia tidak berkata apapun. Namun

berbeda dengan gurunya dan saudara seperguruannya, ia sama

sekali tidak menaruh kecurigaan apa-apa kepada mereka berdua.

Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat kembali,

“He, Empu Sada, apakah kau telah menemukan tempat yang baik

untuk bermalam?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Ia menunggu kedua orang

itu menjadi semakin dekat. Tetapi Wong Sarimpat itu telah berteriak

lagi, “He, apakah kau sudah menjadi bisu?”

Namun Empu Sada masih membiarkannya berteriak sesuka

hatinya meskipun ia menjadi sangat jengkel pula karenanya, apalagi

muridnya yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Dengan

geramnya ia berdesis, “Orang itu benar-benar seperti orang gila.”

“Sekali lagi kau menghinanya,” sahut Kuda Sempana, “apakah

mulutmu ingin disobeknya?”

“Diam!” potong Empu Sada, “Kalian berdualah yang membuat

aku hampir menjadi gila.”

Keduanya kini terdiam. Kedua laki-laki kakak beradik itu kini telah

menjadi semakin dekat. Hanya beberapa langkah lagi. Dan

terdengarlah suara tertawa Wong Sarimpat, “Ha, ternyata kalian

masih hidup. Apakah kalian tidak menjumpai gerombolan anjinganjing

liar itu?”

“Tidak,” sahut Empu Sada.

“Beruntunglah kalian. Kalau kalian bertemu dengan serombongan

anjing-anjing itu, maka kalian harus bertempur mati-matian.

Mungkin kalian bertiga akan memenangkan pertempuran itu, tetapi

kalian akan kehabisan tenaga. Apabila kemudian datang rombongan

yang lain atau harimau kumbang, maka kalian akan disantap

mereka itu dengan nyamannya.”

“Lebih baik bagi kami bertiga,” sahut Empu Sada.

“He,” Wong Sarimpat terkejut, “lebih baik dari apa?”

“Lebih baik berkelahi melawan anjing-anjing liar itu daripada

kami harus mati di dalam gubukmu.”

“Kenapa?”

“Kalian akan mencekik kami selagi kami tidur.”

Kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat seolah-olah

akan membelah gelap malam. Demikian kerasnya sehingga

perutnya terguncang. Namun dalam pada itu wajah Kebo Sindet

yang beku itu sama sekali tidak bergerak. Wajah itu masih juga

beku sebeku wajah sesosok mayat.

Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang rendah,

“Aku datang karena aku menjadi cemas atas nasib kalian.”

“Apa yang kau cemaskan?” bertanya Empu Sada.

“Kalian belum mengenal bukit ini. Kalian belum mengenal

penghuni bukit ini dan kalian belum mengenal siapa yang merajai

bukit ini di malam hari.”

Empu Sada tertegun mendengar kata-kata Kebo Sindet itu. Katakata

bersahabat yang terasa menyejukkan hati. Tetapi perasaan

orang tua itu telah dicengkam oleh kecurigaan, sehingga setiap

kalimat yang diucapkan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat terasa

bagaikan sebuah jebakan untuk menjeratnya. Tetapi Empu Sada

tidak segera menjawab. Dibiarkannya Kebo Sindet berkata terus.

“Karena itu kami datang kemari. Kami akan mempersilakan kalian

sekali lagi. Tidurlah di rumah kami. Tetapi agaknya kalian telah

benar-benar menganggap sikap kami terlampau menyakitkan

hatimu sehingga kalian sama sekali tidak mau mendengarkan

permintaan kami lagi.”

“Terima kasih,” sahut Empu Sada, “aku akan tidur di sini.”

“Sekali lagi aku memperingatkanmu. Bagaimana dengan anjing

liar dan harimau-harimau yang berkeliaran di malam hari?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Disambarnya wajah kedua

muridnya dengan sudut pandangannya. Empu tua itu melihat, kesan

yang berlawanan pada kedua wajah itu. Sekali lagi ia menyesal. Ia

telah menyalakan kecurigaannya terlampau berterus terang di

hadapan muridnya, sehingga Cundaka pun menjadi sangat curiga

dan seolah-olah tidak akan dapat mempercayai apa saja yang

dikatakan oleh kedua orang itu seperti perasaannya sendiri. Tetapi

dengan demikian, ia telah membuat garis batas antara kedua muridmuridnya

itu. Kuda Sempana sangat bernafsu untuk mendapat

bantuan melepaskan dendamnya, sedang Cundaka yang tidak

terlampau banyak berkepentingan lebih senang meninggalkan

tempat itu karena sejak pertama kali ia melihat salah seorang dari

kedua orang itu hatinya telah kecewa. Menurut anggapannya kedua

orang itu benar-benar memuakkannya

“Bagaimana Empu Sada,” desak Kebo Sindet, “aku hanya sekedar

memberimu peringatan. Aku adalah orang di bukit gundul ini. Aku

telah memahami watak daerah ini siang dan malam. Aku tahu apa

yang dapat terjadi di siang hari dan apa yang dapat terjadi di malam

hari. Karena itu, maka kali ini aku membawa obor. Kau tahu, apakah

gunanya obor ini bagi kami?”

Empu Sada tidak menjawab. Tetapi pertanyaan itu telah menarik

perhatian Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka memang ingin tahu,

kenapa kedua orang itu membawa obor.

“Di malam hari,” berkata Kebo Sindet lebih lanjut, “anjing-anjing

itu menjadi semakin liar. Di malam hari gerombolan anjing-anjing itu

menjadi semakin banyak. Tetapi mereka tidak begitu berani melihat

api. Itulah sebabnya kami membawa obor. Dengan obor di tangan

kami tidak usah susah payah berkelahi melawan anjing yang

jumlahnya tidak terhitung. Kami hanya cukup menggerak-gerakkan

obor kami dan anjing-anjing itu tidak berani mendekat. Mereka

hanya menyalak dan menggonggong tak habis-habisnya. Tetapi

akhirnya mereka pergi. Beruntunglah kalian bahwa kalian belum

bertemu dengan gerombolan anjing-anjing itu. Kalau demikian,

maka kalian harus berjuangan sekuat tenaga kalian. Tetapi anjing

itu akan datang semakin banyak dan semalam suntuk kalian akan

berkelahi. Apabila kalian kehabisan tenaga, maka kalian akan

menjadi kerangka di bukit gundul ini.”

Di telinga Kuda Sempana kata-kata itu benar-benar sebagai suatu

sikap bersahabat yang pantas dihargai. Ia sama sekali tidak melihat

sikap yang pantas dicurigai. Karena itu Kuda Sempana tidak dapat

mengerti, kenapa gurunya bersikap aneh terhadap kedua orang itu.

Mungkin sikap Kebo Sindet agak berlebihan, tetapi bukankah orang

itu mengharap upah daripadanya, sehingga ia bersedia sedikit

merendahkan dirinya. Bahkan menyayangkan jiwanya bersama guru

dan saudara seperguruannya? Sebab apabila mereka bertiga binasa

di bukit gundul itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan

dapat menerima upah lagi dari mereka.

Tetapi Empu Sada menangkap semua itu pun dengan sikap yang

berbeda. Seolah-olah terasa padanya, bahwa dibalik sikap itu

tersembunyi maksud-maksud yang sama sekali tidak

menguntungkannya. Karena itu maka jawabnya, “Terima kasih Kebo

Sindet. Kalau kau baik hati kepada kami, maka biarkan kami tidur di

sini. Berikan saja obormu itu kepada kami, supaya kami dapat

terhindar dari gerombolan anjing-anjing liar itu.”

“Obor ini tidak akan dapat menyala terus menerus semalam

suntuk Empu Sada,” sahut Kebo Sindet.

“Kami akan dapat mencari daun-daun kering dan ranting-ranting

perdu di gerumbul-gerumbul itu untuk membuat perapian.”

Kebo Sindet mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling

memandangi wajah adiknya, tampaklah wajah itu disaput oleh

kegelisahan. Agaknya Wong Sarimpat sedang menahan hati.

Dalam pada itu Empu Sada pun sekali lagi mencoba memahami

perasaan kedua muridnya. Kuda Sempana menjadi sangat kecewa

mendengar sikap gurunya, sedang Cundaka bersikap acuh tak acuh

saja atas pembicaraan itu. Namun sekali-sekali tampaklah wajahnya

menjadi tegang dan sekali-sekali tampak jelas bahwa orang yang

menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak senang

mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Kebo Sindet. Meskipun

demikian ia mencoba menahan dirinya.

Tetapi mata Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang tajam, melihat

wajah Cundaka seperti mereka melihat warna hati murid Empu Sada

yang seorang itu, sebagaimana mereka dapat membaca hati Kuda

Sempana pula. Kebo Sindet yang mempunyai perhitungan tersendiri

masih juga membiarkannya berbuat sesuka hati. Wajahnya masih

saja membeku sebeku wajah batu-batu di pegunungan gundul itu.

Tetapi berbedalah dengan Wong Sarimpat. Wajahnya yang sekeras

batu-batu padas menjadi semakin kasar. Sekali-sekali mulutnya

berkomat-kamit, namun tak sepatah kata pun yang melontar dari

mulutnya.

“Bagaimana Empu?” terdengar suara Kebo Sindet datar.

“Berikan obormu. Satu kau tinggal di sini dan satu kau bawa

kembali.”

Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak menunjukkan perasaan

apapun di dalam dadanya, tetapi Empu Sada yang cukup matang

menghadapinya, melihat bahwa mata orang itu seolah-olah menjadi

semakin tajam memandanginya. Dari mata itulah Empu Sada kini

mencoba membaca perasaan Kebo Sindet.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Gunung gundul itu menjadi

sunyi kembali. Sunyi namun tegang. Dalam pada itu, hati Empu

Sadalah yang menjadi gemuruh karena berbagai perasaan yang

bergumul di dalamnya. Seakan-akan terdengarlah suara Empu

Gandring berkata, ‘Hati-hatilah menghadapi kedua orang itu Empu.

Mungkin kau akan ditelannya’. Kemudian suara Panji Bojong Santi,

‘Bagaimanapun juga, kau masih jauh lebih baik dari kedua orangorang

liar itu Empu Sada’.

Baru kini Empu tua itu menyadari, bahwa ternyata saat itu

hatinya sendiri telah dibakar oleh kemarahan dan dendam atas

kekalahan dan kegagalan murid-muridnya meskipun ia sendiri telah

ikut merencanakan dan menangani usaha itu.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih juga berdiri tegang di

tempatnya. Sekali-sekali Wong Sarimpat mengeratkan keningnya

dan mencoba memandangi wajah kakaknya. Tetapi wajah itu masih

sekosong wajah sesosok mayat.

Kuda Sempana dan Cundaka pun terpaku seperti sebatang

tonggak mati. Namun pada wajahnya terpancar kesan yang

berbeda-beda. Kuda Sempana mengumpat-umpat di dalam hatinya

atas sikap gurunya, sedang Cundaka pun tidak senang mendengar

jawaban gurunya itu. Cundaka ingin gurunya berkata, “Kita tidak

mempunyai urusan lagi. Kami akan pergi. Kami akan kembali ke

rumah kami.”

Tetapi gurunya masih saja menuruti nafsu Kuda Sempana yang

baginya sama sekali tidak akan memberikan keuntungan apa-apa.

Membunuh Mahisa Agni atau mendapatkan Ken Dedes, Cundaka

tidak akan mendapat apapun juga. Mahisa Agni bukan seorang

pangeran yang kaya raya, yang pada mayatnya terdapat jamrud,

mirah, intan dan berlian. Anak muda itu sama sekali tidak bertimang

dan tidak berkelat bahu emas murni. Apakah sepeninggal Mahisa

Agni ia akan mendapat bagian batu-batu bendungan, atau

brunjung-brunjung bambu?”

Yang mula-mula memecah kesepian adalah suara Kebo Sindet,

“Empu, apakah kau akan keras kepala?”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Kini ia melihat sikap yang

agak wajar dari Kebo Sindet. Orang itu adalah orang yang kasar.

Setiap ucapan dan kata-katanya yang baik, sopan dan teratur

pastilah menyimpan sesuatu maksud tertentu. Tetapi apabila ia

mulai berkata wajar menurut keadaan, sifat dan wataknya, maka

agaknya ia akan mulai berterus terang.

“Jangan hiraukan aku,” sahut Empu Sada, “kau tidak

berkepentingan apapun juga seandainya kami dicincang oleh anjinganjing

liar atau oleh macan kumbang sekalipun.”

“Tetapi kalian adalah tamuku. Aku bertanggung jawab akan

keselamatan sekalian.”

Tiba-tiba Empu Sada tertawa mendengar jawaban itu. Katanya,

“Sejak kapan kau menjadi terlampau baik hati? Sejak kapan kau

merasa, bahwa kau adalah tuan rumah di rumahmu sendiri?”

Kebo Sindet terdiam. Ketika ia berpaling melihat wajah adiknya,

maka wajah itu telah memerah darah. Namun dada Kebo Sindet itu

berdesir ketika ia melihat wajah Cundaka yang seperti Wong

Sarimpat, memancarkan kemarahan yang menyala-nyala di dalam

hatinya. Meskipun demikian wajahnya yang beku masih juga

membeku. Tetapi terdengar ia bertanya, “He tikus kecil. Kenapa

matamu menyorotkan kemarahan? Wajahmu yang jelek menjadi

bertambah jelek.”

Cundaka hampir saja menjawab pertanyaan itu degan kasar pula,

seandainya Empu Sada tidak menggamitnya. Dan Empu Sadalah

yang kemudian menjawab, “Jangan hiraukan anak itu, dan jangan

hiraukan kami semuanya. Kalau kau baik hati, berikan salah satu

obormu. Kalau tidak, tinggalkan kami di sini. Kami akan menjaga diri

kami sendiri.”

“Tetapi,” sahut Kebo Sindet, yang kata-katanya amat

mengejutkan, apalagi bagi Cundaka, “mata muridmu yang seorang

itu amat menarik. Bagaimana kalau aku mengambilnya sebelah

Empu.”

Dada Cundaka seakan-akan hampir meledak mendengar

penghinaan itu. Tetapi sekali lagi terasa tangan Empu Sada

menggamitnya, sehingga kembali ia menyadari dirinya, dengan

siapa ia berhadapan. Namun sakit di dalam dadanya, terasa menjadi

sangat pedih.

Yang menjawab adalah Empu Sada pula, katanya, “Mata itu

masih sangat berguna baginya. Kau tidak akan dapat

mempergunakannya. Karena itu jangan bersusah payah. Aku akan

menasihatinya, supaya ia dapat mempergunakan sebaik-baiknya.

Tetapi kau jangan membuang waktu untuk urusan-urusan yang

tidak berarti. Sekarang bagaimana dengan obormu? Kalau perlu,

maka obor itu akan dapat diperhitungkan sama sekali dengan upah

yang kau kehendaki atas bantuanmu menangkap Mahisa Agni.”

“Aku belum membicarakan tentang upah yang ingin aku minta

darimu,” sahut Kebo Sindet, “tetapi kalau kau sudah menyebutnyebutnya,

maka biarlah aku mengatakannya. Upah itu tidak

terlampau banyak. Beberapa kerat emas dan sebelah mata muridmu

itu.”

Cundaka hampir-hampir tidak dapat menguasai dirinya

mendengar kata-kata Kebo Sindet. Namun sebelum ia menjawab,

terdengar Empu Sada mendahului, “Bagus. Itu permintaanmu.

Tetapi bukankah kami dapat menawarnya? Kalau ternyata tawaran

kami tidak sesuai, maka permintaan kami akan dapat kami

batalkan.”

“Bagaimana tawaranmu?”

“Anak itu tidak berkepentingan,” sahut Empu Sada, “karena itu,

maka ia tidak akan dapat turut membayar upah yang kau kehendaki

itu. Semuanya akan dibayar oleh Kuda Sempana. Tetapi sudah tentu

tidak sebelah matanya.”

“Tetapi mata Kuda Sempana tidak segarang mata muridmu yang

satu itu Empu. Mata itu seperti mata burung hantu.”

Sebelum Empu Sada menyahut terdengar suara Wong Sarimpat

seperti akan memecahkan selaput telinga, “Mata yang demikian

itulah Empu, yang dapat kami pergunakan untuk tumbal

keselamatan pekerjaan kami.”

Kemudian terdengar suara Wong Sarimpat tertawa.

berkepanjangan. Jauh lebih mengerikan dari suara anjing liar yang

menggonggong bersahut-sahutan.

Cundaka kini tidak lagi dapat menahan diri. Betapapun ia merasa

kecil, namun di dalam jiwanya membara pula sifat-sifatnya yang

keras dan dendam. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram.

“He, kenapa kau menggeram tikus,” bertanya Wong Sarimpat,

“apa kau sangka bahwa seekor tikus akan dapat menjadi seekor

harimau.”

Mata Cundaka menjadi semakin menyala. Tetapi Wong Sarimpat

itu bahkan menertawakannya semakin keras.

“Cukup!” tiba Cundaka itu membentak.

Wong Sarimpat benar-benar terkejut mendengar bentakan itu

sehingga suara tertawanya terputus. Bukan saja Wong Sarimpat

tetapi juga Kebo Sindet dan bahkan Empu Sada sendiri.

Segera Empu Sada merasa bahwa perbuatan Cundaka yang

menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sama sekali tidak

bijaksana. Seandainya Empu Sada sendirilah yang membentakbentaknya,

maka kedua orang itu tidak akan segera merasa

tersinggung, karena Empu Sada adalah orang yang mereka anggap

setingkat dengan mereka. Tetapi Cundaka adalah seorang murid

yang masih berada jauh di bawah tingkat kedua orang itu, sehingga

bentakan itu akan sangat menyinggung harga dari mereka, kedua

orang liar dan kasar itu. Dengan demikian maka hal-hal yang tidak

diharapkan akan dapat terjadi.

Karena itu maka dengan serta-merta Empu Sada berteriak,

“Cundaka apakah kau sudah menjadi gila. Ayo mintalah maaf

kepada kedua pamanmu.”

Sebenarnya Cundaka sendiri pun terkejut mendengar suaranya.

Suaranya itu seakan-akan demikian saja meloncat dari mulutnya.

Sehingga ketika ia menyadarinya, maka mau tidak mau dadanya

pun menjadi berdebar-debar. Tetapi semuanya sudah terlanjur.

Ketika gurunya memerintahkannya untuk segera minta maaf

kepada kedua laki-laki kakak beradik itu, terjadilah keragu-raguan di

dalam hatinya. Ingin ia menurut perintah itu, namun betapa ia

terlampau merendahkan dirinya sendiri. Karena keragu-raguan itu,

maka sejenak ia berdiam diri.

“Ayo,” perintah gurunya, “mintalah maaf kepada kedua

pamanmu. Segera!”

Tak ada pilihan lain bagi Cundaka untuk mematuhi perintah itu.

Tetapi selagi ia hampir berhasil mengatasi keragu-raguannya, dan

hampir saja ia mengucapkan permintaan maaf itu, terdengar Kuda

Sempana berkata, “Jangan terlalu sombong Cundaka. Kau adalah

sumber dari kericuhan. Sebenarnya lebih baik apabila kau tidak ada

di antara kami. Tetapi kau telah terlanjur membuat suatu kesalahan

yang gila. Sekarang kau harus memohon maaf.”

Kata-kata itu benar-benar menyakitkan hati Cundaka, sehingga

kembali ia kehilangan kesadaran dan menjawab kasar. “Itu adalah

urusanku Kuda Sempana. Kau tidak usah mengatur, apa yang

sebaiknya aku kerjakan.”

“Cundaka!” potong Empu Sada, “Jangan hiraukan Kuda

Sempana!”

“Tetapi ia menghina aku guru.”

“Sekarang kau minta maaf.”

“Aku sudah ingin melakukannya, tetapi Kuda Sempana membuat

dadaku terbakar.”

Percakapan itu terhenti ketika tiba-tiba terdengar suara tertawa

Wong Sarimpat. Suara tertawa itu menggeletar lebih keras lagi dari

yang pernah mereka dengar. Namun wajah orang itu sama sekali

tidak menunjukkan kegembiraan hatinya. Meskipun ia tertawa tetapi

matanya memancarkan kemarahan yang membakar jantungnya

Disela-sela suara tertawa itu terdengar ia berkata, “Tidak ada

gunanya. Tidak ada gunanya kau minta maaf kepada kami, he

orang gila. Kalau kau kemudian minta maaf juga maka itu sama

sekali bukan karena kau ingin minta maaf, tetapi itu hanya karena

gurumu menyuruhmu. Nah, yang paling baik bagimu adalah

mempertanggung jawabkan kesombonganmu itu.”

Kening Empu Sada berkerut-merut karenanya. Ia melihat wajah

Cundaka menjadi tegang. Sekilas muridnya itu pun menatap

wajahnya, namun kemudian tampaklah Cundaka menjadi bingung.

Empu Sada sendiri tidak segera dapat menemukan cara yang

sebaiknya untuk mengatasi keadaan, sehingga sejenak ia pun

terdiam mematung.

“Nah,” berkata Wong Sarimpat kepada Kuda Sempana, “kini kami

telah pasti. Apakah yang harus kau bayar kepada kami atas

pertolongan yang kau harapkan itu Kuda Sempana. Beberapa kerat

emas murni dan sebelah mata saudara seperguruanmu. Kalau kau

mampu menyediakannya, maka selambat-lambatnya lima hari kami

akan membawa Mahisa Agni itu kepadamu. Setuju?”

(bersambung )

Jilid 20

NAFAS Kuda Sempana tiba-tiba menjadi sendat. Upah itu

terlampau mahal baginya. Bagaimanapun juga, Cundaka adalah

saudara seperguruannya. Apakah ia sampai hati untuk berbuat

dengan demikian, bahkan seandainya gurunya mengizinkannya

pula. Sejenak Kuda Sempana pun seakan-akan menjadi beku. Dan

suasana tercengkam oleh kesenyapan yang tegang. Tiba-tiba di

kejauhan terdengar sebuah auman yang keras, disusul oleh jerit

yang melengking. Jerit seekor anjing hutan yang karena kurang

hati-hati telah diterkam oleh seekor harimau kumbang. Itulah

kehidupan di dalam rimba. Siapa yang kuat, maka ialah yang

menguasai segenap keadaan tanpa memperhitungkan keadilan dan

kebenaran.

Dan di bukit gundul itu pun agaknya akan berlaku pula keadaan

yang serupa.

Ketika Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka terdengar

Wong Sarimpat mendesak “Bagaimana Kuda Sempana?”

Dada Kuda Sempana terasa menjadi pepat. Ia dihadapkan pada

keadaan yang sangat sulit. Dendamnya kepada Mahisa Agni dan

Ken Dedes terasa terlampau sakit menghimpit hatinya, tetapi untuk

melepaskan himpitan itu ia harus mengorbankan saudara

seperguruannya Alangkah mahalnya.

Dalam pada itu, Empu Sada pun menjadi bimbang. Tetapi

akhirnya ia tidak dapat memilih, kecuali mencoba melindungi

muridnya. Meskipun hatinya mengumpat-umpat atas ketelanjuran

Cundaka itu, tetapi adalah gila juga apabila dibiarkannya seorang

muridnya kehilangan sebelah matanya di hadapannya. Namun sekali

lagi ia kecewa atas muridnya itu, kecewa kepada diri sendiri. Bahwa

ia tidak dapat menempatkan muridnya dalam satu ikatan yang

kokoh seperti murid-murid Bojong Santi.

Kuda Sempana pun tidak kurang mengumpat-umpat di dalam

hati. “Cundaka memang gila. Ia tidak tahu perasaanku, sehingga ia

malahan seolah-olah menghalang-halangiku. Kini akulah yang

dihadapkan pada suatu kesulitan. Kalau ia tidak berbuat gila, maka

aku pun tidak akan berdiri di persimpangan jalan yang sulit ini.”

Mereka yang berdiri di atas bukit gundul itu kini benar dilanda

oleh ketegangan yang semakin memuncak. Kuda Sempana tegak

seperti patung. Namun nafasnya menjadi terengah-engah. Sekalikali

dipandangnya wajah gurunya. Ia ingin mendapat nasihat

daripadanya, tetapi gurunya masih juga tetap berdiam diri.

Cundaka sendiri sejenak kehilangan kemampuan menimbang dan

memperhitungkan keadaan yang dihadapinya. Tetapi kemudian ia

berhasil menenangkan dirinya. Kini ia telah pasti bahwa

ketelanjurannya akan mendatangkan bencana kepadanya. Namun

tiba-tiba ia menjadi tabah menghadapi bencana yang betapapun

juga. Kalau ia sudah mampu menghindarkan dirinya, maka ia harus

berani menanggung segala akibat dari perbuatannya. Di dalam hati

ia berkata “Terserah kepadamu Kuda Sempana. Tetapi namaku

hanya dapat lepas bersama nyawaku.”

Ketika Kuda Sempana tidak segera berbuat sesuatu, maka

kembali terdengar Wong Sarimpat berkata “He Kuda Sempana,

apakah kau juga menjadi bisu? Ayo, jawablah!”

Kuda Sempana benar-benar menjadi bingung. Kembali ia

memandangi wajah gurunya mencari jawab atas pertanyaan Wong

Sarimpat itu.

Empu Sada melihat kebingungan di hati Kuda Sempana. Ia

menjadi sedikit bersenang hati, bahwa Kuda Sempana masih

memerlukan untuk berpikir ketika ia harus melakukan sesuatu yang

dapat lebih menyakitkan hatinya, yaitu berkelahi sesama muridnya.

Karena itu, maka Empu Sadalah yang menjawab “Wong Sarimpat.

Permintaanmu memang tidak masuk akal. Nah, kalau demikian

maka biarlah aku memberikan tawaran. Beberapa potong emas itu

saja. Mungkin Kuda Sempana mempunyai mata yang bagus, tetapi

bukan mata orang. Mungkin ia mempunyai mata cincin batu akik

yang berharga. Akik mata kucing barangkali atau akik Wukir Gading

yang kekuningan. Kalau kau tidak senang mata batu akik, mungkin

kau senang permata intan atau berlian.”

Suara Empu Sada patah ketika kembali terdengar suara tertawa

Wong Sarimpat. Katanya “Harga Mahisa Agni yang aku berikan tidak

dapat ditawar-tawar. Ayo, kau tinggal sanggup atau tidak.”

Tiba-tiba Wong Sarimpat terkejut sehingga suara tertawanya

terputus. Bukan saja Wong Sarimpat, tetapi juga Kuda Sempana.

Dengan tegas Empu Sada menjawab singkat “Tidak. Aku tidak mau.

Kita batalkan pembicaraan kita.”

“Guru,” dengan serta-merta Kuda Sempana memotong

“Bagaimana mungkin, Guru. Aku sudah memutuskan, Mahisa Agni

harus tertangkap. Hidup atau mati. Aku lebih senang kalau ia dapat

tertangkap hidup-hidup.”

“Tetapi harga itu terlampau mahal. Kalau kau masih keras hati

untuk membunuh Mahisa Agni, maka berarti kau telah membunuh

dua orang sekaligus. Mahisa Agni dan saudara seperguruanmu

sendiri. Nah. Pertimbangkan. Kecuali Wong Sarimpat memberikan

penawaran lain.”

Kembali Kuda Sempana terbungkam. Terasa sesuatu bergolak di

dalam dadanya Dan kembali ia mengumpat-umpat di dalam hati.

Kejengkelannya terhadap Cundaka semakin meningkat dan

bahkan kemudian ia menjadi muak melihat orang itu. Orang yang

selama ini telah memperlemah tekadnya membalas dendam. Adalah

omong kosong kalau Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa

Kali Elo itu kelak akan mampu melepaskan dendamnya terhadap

Mahisa Agni dengan tangannya sendiri.

“Kenapa orang itu tidak mati saja diterkam macan?” desisnya di

dalam hati. Namun dengan demikian tiba-tiba jantungnya serasa

akan meledak ketika tumbuh pikiran di dalam benaknya, kenapa

orang itu tidak dibiarkannya mati saja? Kenapa gurunya

menganggap Cundaka sebagai tebusan yang terlampau mahal?

Cundaka itu pun kini tidak berguna lagi baginya, sehingga

seandainya anak itu mati. maka ia tidak akan merasa kehilangan.

Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada gurunya.

Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat.

“Kakang Kebo Sindet, bagaimana sebaiknya? Permintaan Kakang

terlampau murah. Sebelah mata. Aku sekarang ingin menaikkan

harga itu. Tidak hanya sebelah tetapi sepasang mata anak setan ini.

Apakah Kakang setuju?”

Wajah yang beku itu tetap membeku, seolah-olah Kebo Sindet

tidak mendengar suara adiknya. Namun Wong Sarimpat itu berkata

“Nah, ternyata Kakang Kebo Sindet telah menyetujui. Sepasang

mata.”

Kemudian kepada Kuda Sempana, “Kau dengar kenaikan harga

itu? Karena kau terlampau lama berpikir, maka kami terpaksa

menaikkan harga. Kalau kemudian kau tidak segera memutuskan

maka harga itu akan naik lagi. Kau tinggal menyetujui atau tidak.

Kalau ternyata kau tidak mampu, maka biarlah harga itu kami ambil

sendiri.”

Kata-kata itu benar-benar menggetarkan hati. Dan udara di

gunung gandul itu pun tergetar ketika Empu Sada menjawab tegas

“Tidak. Muridku adalah milikku. Aku tidak akan menjerahkannya.

Aku belum gila segila kalian berdua.”

Kembali mereka terdiam. Wong Sarimpat memandang wajah

Empu Sada dengan mata yang menyala-nyala. Kemudian sekali ia

berpaling kepada kakaknya sambil berkata “Apa pula yang kita

tunggu, Kakang?”

Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet datar, “Empu Sada.

Kenapa kau tidak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri? Kenapa

kau tidak dapat menangkap Mahisa Agni? Apakah orang-orang

yang pernah kau sebutkan itu selalu mengawaninya? Empu Purwa,

Empu Gandring dan Panji Bojong Santi?”

Empu Sada tidak segera menjawab, tetapi yang menjawab

adalah Kuda Sempana, “Salah seorang dari mereka pasti ada di

sekitar Mahisa Agni atau Ken Dedes. Dan Guru hanyalah seorang

diri.”

“Tidak,” potong Empu Sada, “ada sebab-sebab lain. Sebab-sebab

yang tidak dapat aku katakan di sini.”

Tiba-tiba wajah Kebo Sindet yang beku itu bergerak. Matanya

tiba-tiba menjadi redup. Dan sejenak kemudian terdengar ia berkata

“Kami berdua cukup kuat untuk melakukannya Empu, kau tidak

kami perlukan lagi.”

Kata-kata Kebo Sindet itu bagaikan petir yang meledak di dalam

dada Kuda Sempana. ia tidak tahu pasti maksud orang berwajah

beku itu, namun terasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar akan

terjadi.

Bukan saja Kuda Sempana, namun juga Cundaka terkejut sekali

mendengarnya. Meskipun ia juga kurang menyadari arti kata-kata

itu seperti Kuda Sempana, namun ia menjadi semakin muak melihat

kedua orang liar itu.

Empu Sada sendiri mengerutkan keningnya. Ia terkejut juga

mendengarnya, namun ia telah merabanya lebih dahulu, bahwa ia

akan berhadapan dengan kemungkinan itu. Kemungkinan yang

timbul karena kebodohan Kuda Sempana. Kuda Sempana telah

mengatakan banyak sekali, bahkan terlampau banyak tentang

Mahisa Agni, sehingga kedua orang itu telah mendapat gambaran

yang hampir sempurna tentang anak muda itu.

Cepat Empu Sada dapat mengikuti jalan pikiran Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat. Mereka pasti akan berbuat untuk kepentingan

mereka sendiri. Mereka mengetahui dari Kuda Sempana bahwa

Mahisa Agni selalu mondar-mandir antara padang rumput Karautan

dan padukuhan Panawijen untuk setiap persoalan. Mahisa Agni

adalah satu-satunya anak muda yang berani melakukannya. Dari

Kuda Sempana pun, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mendengar

hubungan yang terlampau rapat, terlampau rukun antara kedua

saudara itu, Mahisa Agni dan Ken Dedes, meskipun Kuda Sempana

tahu bahwa keduanya adalah bukan saudara kandung. Kedua orang

itu mendengar pula betapa Akuwu Tunggul Ametung sangat

bernafsu untuk memperistri Ken Dedes, bahkan mengambilnya

sebagai permaisuri.

“Hem,” Empu Sada menarik nafas dalam. Kemudian terdengar ia

bertanya “Kebo Sindet, apakah maksudmu sebenarnya?”

“Cukup jelas bagi seorang seperti kau Empu.”

“Tidak!” sahut Empu Sada, “Kurang jelas bagiku, sebab aku tidak

biasa berpikir seperti kalian.”

Kini wajah Kebo Sindet telah membeku kembali. Dengan nada

datar ia berkata, “Cukup jelas. Aku tidak memerlukan kau. Tetapi

aku juga tidak mau kau ganggu.”

“Kau keliru. Kau tak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa

aku.”

“Kau berusaha menyelamatkan dirimu?”

“Kenapa aku menyelamatkan diri? Apakah ada bahaya yang

mengancam aku?”

“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak memerlukan kau dan

aku tidak mau kau mengganggu untuk seterusnya. Jelas?”

Tiba-tiba Empu Sada tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya ia berkata “Kau akan membunuh aku?”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ditatapnya mata Empu Sada

dengan tatapan mata semakin lama menjadi semakin tajam. Hanya

tatapan mata itulah yang dapat dibaca oleh Empu Sada, bahwa

Kebo Sindet benar-benar berusaha akan melakukannya.

Percakapan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Kuda

Sempana. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya ia akan

menghadapi keadaan yang sama sekali tidak disangkanya. Ia tidak

dapat mengerti kenapa Kebo Sindet tiba-tiba ingin menyingkirkan

gurunya. Seandainya persoalan itu dapat dilakukan oleh mereka

sendiri, kenapa gurunya mesti harus disingkirkan? Dengan demikian

maka bergolaklah dada Kuda Sempana itu, seperti bergolaknya

perut gunung berapi.

Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat

menyambar telinga mereka seperti guruh di langit, “He, Empu Sada!

Kami telah cukup mengerti apa yang harus kami lakukan. Karena itu

kau bagi kami pasti hanya akan menjadi perintang yang

memuakkan. Mungkin kau akan berkhianat dan bahkan mungkin

kau sempat membunuh kami. Karena itu, maka kaulah yang harus

kami singkirkan dahulu.”

“Kenapa?” bertanya Empu Sada. Orang tua itu masih tetap saja

berdiri dengan tenang “bukankah aku yang memerlukan kalian

untuk pekerjaan ini? Kenapa akulah yang mungkin

mengkhianatinya?”

“Kami bukan orang yang kau sangka berotak batu,” sahut Wong

Sarimpat “aku tahu rencanamu. Kami akan kau jerumuskan dalam

persoalan yang tak tanggung-tanggung. Berhadapan dengan Akuwu

Tunggul Ametung. Kemudian kalau rencana itu berhasil, menangkap

Mahisa Agni, maka kau akan menghadap Akuwu dan menunjukkan

siapakah yang telah melakukan perbuatan itu. Dengan demikian

maka kau akan bersih dari segenap tuduhan, karena sebelumnya

kaulah yang telah membuat persoalan dengan Mahisa Agni karena

muridmu, dan keuntungan yang lain, kalau kami kemudian

tertangkap maka kau tidak perlu melepaskan sepotong emas pun

untuk kami.”

Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sekarang

disadarinya bahwa apa yang dikatakan Empu Gandring dan Panji

Bojong Santi itu bukanlah suatu usaha untuk menakut-nakutinya

saja. Meskipun di antara mereka, Empu Sada sendirilah yang paling

mengenal kedua orang itu karena ia pernah berhubungan

sebelumnya. Tetapi kini, ia tidak berhasil mempergunakan kedua

orang itu.

Empu Sada itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan

tenang ia menjawab “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jangan kau

sangka bahwa aku pun tidak tahu apa yang kalian rencanakan.

Bukankah kalian telah merasa cukup mengetahui persoalan Mahisa

Agni? itu adalah kesalahan Kuda Sempana. Dan bukankah kalian

berdua ingin menangkap Mahisa Agni untuk tujuan pemerasan?

Mungkin kalian menyangka bahwa dengan menyembunyikan Mahisa

Agni, maka akulah yang akan menjadi sasaran tuduhan itu.

Sementara itu kau akan menjual jasa, mengembalikan Mahisa Agni

dan mengatakan bahwa kau telah membunuh Empu Sada. Kau

mengharap Ken Dedes akan memberi kalian segerobak emas dan

berlian, karena ia seorang permaisuri?” Empu Sada itu berhenti

sejenak. Tiba-tiba ia tertawa sambil berkata, “Cobalah. Kau kelak

pasti akan digantung di alun-alun. Mahisa Agni tidak pernah terpisah

dari orang-orang yang tak akan dapat kau kalahkan.”

Tetapi kata-kata Empu Sada itu disambut oleh suara tertawa

pula. Suara Wong Sarimpat. Jauh lebih keras dari suara tertawa

Empu Sada. Di antara suara tertawanya yang menggelegar itu

terdengar ia berkata “Oh, apakah kau mengharap kami menjadi

ketakutan dan mengurungkan niat kami? Kau salah Empu. Tekad

kami telah bulat. Empu Sada harus disingkirkan. Mungkin dugaanmu

mengenai rencana kami benar.”

Empu Sada masih mencoba menguasai perasaannya. Katanya

“Kau akui bahwa kau telah merencanakan membunuh aku dan

mencoba melakukan pemerasan?”

Sebelum Wong Sarimpat menjawab, terdengar suara Kebo

Sindet, “Otakmu memang cemerlang Empu. Namun karena itu maka

kau harus kami tiadakan.”

Empu Sada kini sudah tidak melihat kemungkinan lain. Meskipun

ia masih kelihatan tenang-tenang saja, namun hatinya benar-benar

menjadi gelisah. Murid-muridnyalah yang paling terancam jiwanya.

Apa lagi Cundaka. Agaknya kedua orang itu sama sekali tidak

senang kepada muridnya yang seorang ini, seperti juga muridnya itu

sama sekali tidak senang kepada kedua orang-orang liar itu.

Kini suasana Tiba-tiba menjadi tegang. Empu Sada mencoba

untuk memusatkan segenap daya pikirannya untuk menemukan

jalan keluar dari kesulitan ini. Tetapi jalan itu tidak dilihatnya. Satusatunya

jalan adalah bertempur.

Tanpa disengajanya orang tua itu berpaling memandangi kedua

muridnya berganti-ganti. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.

Lebih-lebih lagi. Ketika ia melihat Cundaka yang berdiri tegak

dengan tegangnya.

“Hem,” katanya di dalam hati, “Kasihan anak ini. Meskipun ia

anak yang bengal, tetapi aku telah menyeretnya ke dalam kesulitan

yang tak mungkin padat dihindarinya.”

Tetapi ketika kemudian ia melihat sinar mata muridnya yang

menyala itu, hatinya menjadi bangga. Katanya pula di dalam hati

“Kalau kau mati anakku, matilah dengan wajah tengadah.”

Empu Sada itu pun kemudian terkejut ketika terdengar suara

Kebo Sindet, “Empu Sada. Kita sudah cukup lama berkenalan. Kita

sudah pernah bekerja bersama dan berhasil dengan baik. Karena itu

marilah kita saling berbaik hati. Janganlah kita menyusahkan satu

sama lain. Aku harap kau pun mengenal terima kasih kepadaku atas

pertolonganmu dahulu, dan sekarang kau bersikap baik terhadap

kami. Karena itu, maka sebaiknya kau tidak perlu mempersulit

usaha kami membunuhmu dan mengambil sepasang mata muridmu

itu.”

Darah di dalam tubuh Empu Sada terasa menggelegak. Di

kejauhan terdengar suara anjing liar menyalak bersahut-sahutan.

Tetapi rupa-rupa h kita saling berbaik hati. Ja nya perasaan

Cundakalah yang lebih dahulu meluap, sehingga tanpa

dikehendakinya kembali ia menggeram.

Wong Sarimpat yang mendengar geram itu, berkata kasar,

“Jangan tergesa-gesa. Waktu masih cukup. Apakah terlampau

terburu oleh keinginan untuk mencoba hidup tanpa mata?”

Alangkah sakit hati orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali

Elo itu. Namun setelah beberapa kali gurunya selalu menggamitnya,

maka kali ini pun ia menahan mulutnya sekuat-kuatnya. Apalagi

setelah ia mendengar pembicaraan gurunya dengan kedua orang

liar itu, maka kebenciannya menjadi semakin memuncak. Meskipun

demikian ia menjadi berdebar-debar pula. Agaknya ia tidak akan

dapat keluar dari bencana yang sudah membayang di depan

matanya.

Dalam pada itu kembali terdengar suara Kebo Sindet,

“Bagaimana dengan permintaanku, Empu?”

Empu Sada tidak menjawab. Ia tahu benar, bahwa ia tidak dapat

mencari jalan untuk melepaskan dirinya. Ia tahu benar, bahwa yang

seorang dari kakak beradik itu akan melawannya, dan yang seorang

dengan mudahnya akan membunuh kedua muridnya. Sesudah itu,

maka kedua orang itu ber-sama-sama akan membunuhnya pula.

“Licik!” geramnya di dalam hati. Tetapi Tiba-tiba di dalam hati

Empu Sada itu pun timbul pula tekadnya untuk melawan kedua

orang itu dengan cara seperti yang ditempuh oleh mereka. Karena

itu maka, meskipun Empu Sada itu masih saja berdiri sambil

menundukkan kepalanya, namun kepalanya itu bergelora dengan

dahsyatnya.

“Kebo Sindet,” berkata Empu Sada, “apakah tidak ada tawaran

lain? Bagaimana kalau kau sebut saja misalnya kami harus

membayar lebih dahulu supaya kami tidak menipumu?”

Wong Sarimpat tertawa. Jawabnya, “Berapakah besar

kemampuan mau membayar kami, Empu Sada. Ken Dedes adalah

seorang permaisuri Akuwu yang kaya raya. Beberapa potong emas

bagi mereka pasti tidak akan berarti apa-apa. Bahkan setelah kami

berhasil merebut Mahisa Agni dan membunuh Empu Sada yang

telah menculik Mahisa Agni itu, kami akan mendapat kedudukan

yang baik. Kami akan mendapat hadiah tanah perdikan dan kami

akan dapat hidup dengan tenteram untuk seterusnya. Tidak seperti

hidup kami saat ini.”

Empu Sada menganggukkan kepalanya, “Jadi kau ingin

kedudukan dan harta itu dengan beralaskan kepalaku?”

Wong Sarimpat tertawa terus. “Ya,” jawabnya.

Kepala Empu Sada menjadi semakin tunduk. Kakinya tiba-tiba

menjadi gemetar seperti suaranya yang gemetar pula.

“Aku masih ingin hidup Wong Sarimpat. Apakah kau tidak

kasihan melihat umurku yang sudah menjadi semakin tua. Kau

biarkanlah aku beberapa tahun lagi, pasti akan mati sendiri.”

Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras.

“He, Empu Sada yang garang. Kenapa kau tiba-tiba menjadi

ketakutan he? Di mana namamu yang besar selama ini, yang

mempunyai puluhan murid tersebar di segenap penjuru Tumapel,

bahkan di setiap sudut Kerajaan Kediri?”

Empu Sada melihat kegembiraan itu Wong Sarimpat agaknya

menjadi sangat bersenang hati, seperti melihat permainan yang

baru pertama kali dimilikinya. Namun Tiba-tiba suara tertawa itu

terhenti. Terdengar sebuah keluhan pendek terloncat dari mulutnya.

Wong Sarimpat yang bertubuh besar kekar meskipun tidak terlalu

tinggi itu terdorong ke belakang dan terlempar jatuh.

Betapa terkejutnya semua orang yang berdiri di atas gunung

gundul itu. Peristiwa itu sama sekali tidak mereka sangka. Kebo

Sindet, orang yang berwajah mayat itu pun terkejut bukan buatan,

sehingga justru karena itu sejenak ia terpaku diam. Ia melihat Empu

Sada dengan kecepatan yang hampir tidak kasatmata, meloncat,

menghantam dada Wong Sarimpat yang sedang tertawa terbahakbahak.

Ternyata Empu Sada telah melanggar kehormatan diri

sebagai seorang sakti yang disegani. Ia telah mulai menyerang

sebelum musuhnya bersiap.

Dalam pada itu, Wong Sarimpat yang sama sekali tidak

menyangka bahwa Empu Sada akan berbuat demikian, tidak sempat

untuk mengelakkan diri atau menangkis serangan itu. Selagi ia

terlena oleh kegembiraan hatinya yang seakan-akan membakar

segenap dadanya ketika ia melihat Empu Sada ketakutan. Namun

tiba-tiba terasa seakan-akan Gunung Kawi runtuh menimpa

dadanya.

Kalau yang melakukan serangan itu Kuda Sempana atau

Cundaka, bahkan keduanya sekaligus, maka Wong Sarimpat tidak

akan dapat digeser setapak pun dari tempatnya. Bahkan ia akan

tertawa semakin keras. Tetapi yang menyerang dengan tiba-tiba

sebelum ia bersiap itu adalah Empu Sada. Orang yang setingkat

dengan Wong Sarimpat itu sendiri.

Dengan demikian maka Wong Sarimpat tidak dapat mencegah

ketika dirinya sendiri terbanting jatuh. Bahkan kemudian serasa

dadanya menjadi pecah. Sekali ia menggeliat dan mencoba untuk

segera bangkit, namun ia memerlukan waktu untuk melakukannya.

Tetapi Empu Sada yang telah merendahkan dirinya dengan licik

itu tidak berhenti dengan serangan itu. Selagi Kebo Sindet masih

tercengkam oleh perasaan terkejut, maka tongkatnya telah terayun

deras sekali. Hampir tidak ada senggang waktu dengan

serangannya atas Wong Sarimpat.

Kebo Sindet yang terkejut itu pun tidak sempat menghindar.

Tetapi ia mampu bergerak cepat pula. Dengan tangannya ia

menahan serangan Empu Sada yang menyambarnya secepat tatit.

Tetapi ternyata tongkat Empu Sada masih lebih keras dari tubuh

Kebo Sindet yang hampir sekeras batu padas. Tongkat itu adalah

tongkat Empu Sada. Tongkat seorang yang pilih tanding, sehingga

tongkat itu bukan sekedar tongkat untuk mencari jalan di malam

yang gelap.

Terasa perasaan sakit yang sangat telah menyengat tangan Kebo

Sindet. Seperti Wong Sarimpat ia mengeluh pendek. Tetapi yang

terasa sakit pada Kebo Sindet hanyalah sebelah tangannya, tangan

kirinya, bukan dadanya seperti Wong Sarimpat yang bahkan

nafasnya menjadi semakin sesak.

Dengan demikian, maka perkelahian di antara mereka telah

dimulai. Dimulai oleh sebuah serangan yang licik, sehingga Kebo

Sindet yang kemudian menyadari keadaan berteriak marah sekali,

“He Empu yang gila. Kau ternyata tidak lagi merasa dirimu berharga

untuk menjaga kehormatanmu. Kau mulai dengan sebuah serangan

yang licik dan hina. Apakah kau tidak mengenal tata kehormatan

dalam setiap perselisihan?”

Empu Sada kembali memutar tongkatnya, dan meluncurlah

sebuah serangan yang dahsyat mengarah ke dada Kebo Sindet.

Kebo Sindet yang belum dapat menyesuaikan diri sepenuhnya itu

segera meloncat mundur, namun tongkat Empu Sada mengejarnya.

Sekali lagi Kebo Sindet terpaksa menangkis serangan itu dengan

tangannya, dan sekali lagi terasa tongkat itu seperti menggigit

tulangnya.

“Gila kau, Empu Sada!”

“Tidak ada tata kehormatan yang mengikat aku seperti tidak ada

kebiasaan dan adat yang dapat mengikat kalian!” teriak Empu Sada

tidak kalah kerasnya. Suaranya bergetar dalam nada yang tinggi.

Ternyata Empu Sada itu pun telah dibakar oleh kemarahan yang

akhirnya meledak, “Mungkin aku berbuat curang dan licik. Tetapi

maaf, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau menjadi bangkai

makanan anjing-anjing liar.”

Dalam pada itu Wong Sarimpat telah berdiri di atas kedua

kakinya. Tetapi dadanya serasa akan pecah dan nafasnya seakanakan

telah menyumbat lubang-lubang hidungnya. Sekali ia

terhuyung-huyung, namun kemudian ia dapat menguasai

keseimbangannya dengan mantap.

Cundaka yang terkejut pun kini telah menyadari apa yang terjadi.

Ternyata gurunya telah mulai. Sudah tentu ia tidak akan dapat

berpangku tangan. Meskipun ia bukan lawan yang berarti bagi

Wong Sarimpat itu telah terluka di dalam. Wong Sarimpat itu

seolah-olah telah menjadi sangat lemah dan tidak lagi mampu

berbuat sesuatu. Karena maka nafsunya untuk melawan Wong

Sarimpat yang kasar itu segera berkembang di dalam dadanya.

Dengan serta-merta ia menarik pedangnya dan siap menghadapi

setiap kemungkinan.

Ia terkejut ketika ia mendengar Empu Sada berteriak, “Cundaka

dan Kuda Sempana. Tinggalkan tempat ini! Cepat! Kau hanya

memenangkan perlombaan lari dengan Wong Sarimpat. Jangan

mencoba melawan!”

Tetapi Cundaka menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat

telah hampir mati. Apakah ia tidak akan dapat membunuhnya

dengan pedangnya itu. Ia tinggal menghunjamkan pedang itu ke

dada orang yang berdiri pun hampir tidak mampu itu berdiri kaku di

tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang

harus dilakukannya?

“Jangan gila!” kembali Empu Sada terdengar berteriak.

Tetapi Cundaka tidak segera pergi. Sekali ia memandang Kuda

Sempana dengan sudut matanya. Namun Kuda Sempana masih

berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal.

Apakah yang harus dilakukannya?

Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet yang sedang berkelahi

dengan Empu Sada berkata, “Wong Sarimpat, jangan kau bunuh

Kuda Sempana. Ia adalah arak muda yang baik hati, jujur dan

mengerti apa sebabnya dilakukan. Sayang jika jatuh ke tangan

Empu Sada yang licik. Yang lain itu terserahlah kepadamu. Aku

hanya memerlukan sepasang matanya saja.”

Empu Sada tidak tahu pasti maksud Kebo Sindet dengan katakatanya

itu. Mungkin ia benar-benar ingin menangkap Kuda

Sempana hidup-hidup sebagai orang yang dianggapnya cukup

mengerti tentang Mahisa Agni dan Ken Dedes. Apalagi Kuda

Sempana dan Empu Sada tidak sempat berbicara terlampau banyak,

telah mengaku bahwa ia adalah pelayan dalam istana Tumapel,

yang banyak mengetahui seluk beluk istana itu. Tetapi mungkin

juga dengan demikian Kebo Sindet hanya ingin mencegah Kuda

Sempana supaya tidak melawan adiknya yang terluka itu bersamasama

dengan Cundaka dengan cara yang licik pula. Kebo Sindet

berpura-pura membiarkan Kuda Sempana akan tetap hidup, namun

apabila lawan yang lain telah binasa, maka akan datang giliran pada

anak muda itu. Karena itu maka Empu Sada itu pun segera berteriak

pula, “Kuda Sempana, jangan terpengaruh. Kebo Sindet hanya ingin

mencegah kalian bertempur berpasangan melawan Wong Sarimpat

yang hampir mampus itu. Kalau kau ingin melawan lawanlah

bersama-sama. Kalau sempat, lebih baik tinggalkan tempat ini.

Semakin cepat semakin baik.”

Kini Kebo Sindet telah benar-benar berada dalam keadaan yang

mantap untuk melawannya. Namun tangan kirinya telah terluka.

Terasa setiap kali tulang-tulangnya seperti menjadi retak karena

pukulan tongkat Empu Sada.

Kebo Sindet itu pun kemudian tidak membiarkan dirinya hancur

dan tulang-tulangnya patah oleh tongkat empu tua itu. Maka

dengan tangkasnya ia menarik goloknya yang besar dari rangkanya

yang tergantung di pinggang.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian kedua orang itu telah

terlihat dalam perkelahian yang sengit. Masing-masing adalah

orang-orang sakti yang sukar dicari keseimbangannya.

Dalam pada itu Kuda Sempana masih berdiri dengan ragu-ragu.

Tiba-tiba ia teringat pada saat-saat ia harus berkelahi melawan

Mahisa Agni di bendungan, kemudian di Panawijen. Namun

keduanya ia terusir karena kekalahan yang dialaminya. Kemudian ia

berhasil membunuh Wiraprana dan membawa Ken Dedes, tetapi ia

harus berhadapan dengan Witantra. Sekali lagi ia gagal. Dan ia

kemudian terlempar dengan hinanya ke atas tangga serambi istana

atas permintaan Ken Dedes yang ingin melepaskan sakit hatinya.

Dengan demikian maka ia adalah seorang buruan.

Kuda Sempana itu berdiri membeku di tempatnya. Ia melihat

Cundaka telah siap dengan pedangnya. Namun sekali lagi ia

mendengar kembali suara hatinya pada saat ia berkelahi melawan

Witantra, “Ken Dedes bagiku adalah lambang keteguhan tekadku.

Kalau aku tidak mampu mempertahankannya maka dalam

persoalan-persoalan yang lain aku pun akan selalu gagal.”

Kuda Sempana menjadi semakin ragu-ragu. Apakah ia akan tetap

dalam pendiriannya itu meskipun dengan perubahan? Kini ia telah

bertekad, kalau ia gagal maka lambang keteguhan tekadnya itu

akan dihancurkannya sama sekali lewat kehancuran yang akan

dialami oleh Mahisa Agni. Orang yang paling dibencinya.

Kuda Sempana tersadar ketika ia melihat gurunya dan Kebo

Sindet tiba-tiba meloncat dekat di mukanya. Dengan serta-merta ia

meloncat mundur. Namun ketika ia telah tegak kembali di atas

kedua kakinya, maka ia masih saja dicengkam oleh kebimbangan.

Kalau ia membiarkan perkelahian itu, maka berarti ia telah

mengkhianati gurunya. Tetapi kalau ia memihak gurunya dan

bersama-sama dengan Cundaka mencoba membunuh Wong

Sarimpat, maka kembali ia akan mengalami kegagalan menghadapi

Mahisa Agni.

Dadanya berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gurunya

berteriak, “Cundaka. Jangan gila! Tinggalkan orang itu, atau berdua

melawan ber-sama-sama. Jangan berbuat sendiri!”

Cundaka pun menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat

berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Sekali-kali orang itu meraba

dadanya yang serasa pecah. Namun matanya masih memancarkan

kemarahan yang membara. Dengan ujung jari tangan kirinya ia

menunjuk wajah Cundaka sambil berkata serak tersendat-sendat,

“Jangan lari tikus kecil aku masih mampu membunuhmu.”

Cundaka mundur selangkah. Tetapi pedangnya kini telah terjulur

lurus mengarah ke dada Wong Sarimpat. Dada yang telah berhasil

dilukai oleh Empu Sada.

Namun ketika Wong Sarimpat maju selangkah lagi, Cundaka itu

pun surut pula selangkah sambil berpaling memandangi saudara

seperguruannya, Kuda Sempana.

Tetapi Kuda Sempana itu pun masih juga berangan-angan.

“Apakah kematian Cundaka dan guru sendiri, akan merupakan

korban yang harus aku relakan untuk melakukan rencanaku?”

Sekali lagi Kuda Sempana mendengar gurunya berteriak, “Kau

sudah terpengaruh oleh suara iblis ini Kuda Sempana. Jangan kau

sangka bahwa kau akan mendapatkan apa yang telah mereka

janjikan.”

Kebo Sindet yang tangan kirinya telah terluka itu sempat juga

berkata, “Kasihan kau Kuda Sempana. Mungkin kau tidak mengerti

kenapa kami ingin membunuh gurumu. Sebelum gurumu ini aku

singkirkan, maka kau tidak akan dapat mengingkari rencana itu,

sebab di belakang semua perbuatannya, tersembunyi pamrih yang

tidak kau ketahui. Aku akan mengatakannya kelak, apabila gurumu

telah menjadi bangkai.”

Kata-kata Kebo Sindet terputus oleh serangan Empu Sada yang

semakin dahsyat. Tongkatnya sekali-kali berhasil menyusup ke

dalam lingkaran gerakan pedang Kebo Sindet. Bahkan sekali-kali

tongkat itu berhasil pula menyentuh tangannya yang sakit, sehingga

tulang-tulangnya semakin lama terasa seolah-olah menjadi semakin

remuk.

“Gila!” katanya di dalam hati “Empu tua itu tahu benar, bahwa

tanganku hampir patah.”

Namun betapapun juga, akhirnya Kuda Sempana menyadari,

bahwa ia tidak dapat membiarkan guru dan saudara

seperguruannya. Betapapun ia menjadi ragu-ragu tetapi terdengar

kata-kata hatinya melonjak-lonjak.

“Itu adalah gurumu.”

Dengan mata yang tidak berkedip Kuda Sempana melihat

gurunya bertempur. Hilanglah segala kesan ketuaan Empu Sada.

Kini Empu Sada itu seolah-olah menjadi seekor burung sriti yang

sedang menari-nari di udara,

Namun Kebo Sindet melawannya dengan tangkas. Goloknya

berputar dan terayun-ayun dengan dahsyatnya. Kekuatan orang itu

benar-benar mengagumkan. Golok yang besar itu di tangannya,

seolah-olah tidak lebih dari sebatang gelagah alang-alang

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru, seperti

pertempuran di dalam dada Kuda Sempana. Dalam ke-ragu-raguan

ia mendengar gurunya berteriak dengan penuh kecemasan,

“Cundaka! He, Cundaka! Apa kau sudah benar-benar gila. Lari! Lari

cepat!”

Tetapi Cundaka melihat Wong Sarimpat sudah hampir mati,

Dengan sebuah sentuhan yang tidak berarti orang itu pasti sudah

akan jatuh telentang. Dan ia segera akan menghunjamkan

pedangnya di dada orang liar itu. Betapa gurunya berteriak-teriak

namun perasaan sombong di dalam dadanya telah memaksanya

untuk tetap berada di tempatnya, bahkan ia sesumbar di dalam

hatinya, “He Wong Sarimpat. Betapa nistanya Cundaka yang

bergelar Bahu Reksa Kali Elo, namun aku adalah laki-laki juga

seperti kau. Sekarang, kenapa aku harus menghindarkan diri sedang

kau sudah hampir menjadi bangkai?”

Wong Sarimpat menjadi semakin dekat. Dan Cundaka masih

mendengar gurunya berteriak. Tetapi ia ingin, ya, ia ingin, bahwa ia

berhasil membunuh Wong Sarimpat itu. Karena itu, tiba-tiba

Cundaka itu pun memekik tinggi. Dengan satu loncatan yang garang

ia menyerang Wong Sarimpat dengan pedangnya mengarah dada.

“Oh,” terdengar Empu Sada mengeluh, kemudian katanya,

“Nasibmu memang terlampau jelek Cundaka.”

Tetapi Cundaka tidak mendengar. Ia sedang dimabukkan oleh

keinginannya membunuh Wong Sarimpat yang di sangkanya hampir

mati karena luka di dadanya.

Kuda Sempana melihat serangan itu. Ia mendengar gurunya

memerintahkan kepadanya untuk bersama-sama dengan Cundaka

menghadapi Wong Sarimpat. Betapa ia masih dikuasai oleh

kebimbangan, namun tangannya telah menarik pedangnya pula.

Sekali ia melangkah maju, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.

Matanya seakan-akan meloncat dari pelupuknya. Dengan mulut

ternganga ia meneriakkan sesuatu, tetapi kata-katanya tidak lagi

dapat dimengerti.

“Sudah nasibmu Cundaka,” geram Empu Sada sambil bertempur.

Yang terdengar adalah suara parau Wong Sarimpat. Betapa luka

menghentak-hentak dadanya, namun ia tertawa terbahak-bahak.

Ternyata Cundaka yang mencoba menusuk dada Wong Sarimpat

telah mengalami nasib malang. Dengan kecepatan yang tidak

disangka-sangka oleh Cundaka, Wong Sarimpat berhasil

menghindarkan dirinya. Cundaka yang memastikan bahwa

pedangnya akan menyentuh lawannya yang disangkanya sudah

tidak mampu bergerak itu, terdorong oleh tenaganya sendiri. Tibatiba

terasa sebuah tangan yang kuat menangkap lehernya.

Demikian kuatnya, sehingga terasa lehernya hampir terputus

karenanya. Ketika sekali ia mencoba meronta, maka terasa jari-jari

tangan itu seolah-olah menghunjam ke dalam kulitnya dan

berangsur-angsur tenaganya menjadi kian lemah.

Dengan sisa tenaganya Cundaka segera menggerakkan pedang

yang masih berada di tangannya. Ia melihat sepasang kaki yang

renggang di sampingnya. Tetapi demikian pedangnya terayun,

terasa kaki Wong Sarimpat mengenai pergelangannya sehingga

pedangnya pun terlepas dan jatuh di tanah.

“Kuda Sempana, cepat berbuatlah sesuatu!” teriak Empu Sada.

Kuda Sempana maju pula selangkah. Kini ia telah mencabut

pedangnya. Ketika ia melihat Cundaka tidak berdaya maka timbullah

perabaan iba di dalam hatinya. Cundaka itu telah pernah berusaha

membantunya pula. Namun tiba-tiba kembali Kuda Sempana

tertegun. Ia melihat Cundaka yang tidak berhasil melepaskan

tangan Wong Sarimpat itu mencoba menghimpun kekuatan lahir

dan batinnya. Dalam keadaannya itu ia masih mencoba

membangunkan kekuatan aji Kala Bama. Demikian ia merasa siap

dengan kekuatannya itu, maka sambil membungkuk karena tekanan

tangan Wong Sarimpat, pada lehernya Cundaka mengayunkan

tangannya memukul lambung Wong Sarimpat. Namun Wong

Sarimpat menyadari apa yang akan terjadi. Dengan kekuatan yang

ada padanya, maka terkaman jarinya itu pun diperketat. Suatu

kekuatan yang tiada taranya telah menjalar di jarinya, sehingga

Cundaka itu pun tiba-tiba menjadi lemah seperti dilepasi seluruh

tulang belulangnya.

Empu Sada yang melihat muridnya mencoba membangun

kekuatan terakhir itu pun berdesah “Tak ada gunanya.”

Dan sebenarnyalah, ketika Wong Sarimpat melepaskan

tangannya, maka Cundaka itu pun jatuh dengan lemahnya di tanah.

Kekuatan yang telah mulai tumbuh dan menjalari tangannya, tibatiba

seperti dihisap oleh kekuatan yang tak dimengertinya. Bahkan

segenap kekuatan yang ada padanya.

Kini Cundaka tidak lebih dari sehelai daun yang laju. Terasa

betapa sakit segenap tubuhnya, dan betapa nafasnya menjadi

sesak. Sekejap ia menyesal bahwa ia tidak menuruti nasihat

gurunya, namun sekejap kemudian ia telah menemukan kekuatan

batinnya kembali. Adalah wajar, bahwa dalam setiap perkelahian itu,

salah satu pihak akan mengalami kekalahan. Mati adalah akibat

yang telah dimengertinya sejak pertama-tama ia menggantungkan

pedang di lambungnya. Dan mati itu kini menghampirinya. Karena

itu, dalam kelemahan, Cundaka bahkan menjadi tenang. Meskipun

tenaganya telah habis, namun ia masih sempat melihat gurunya

bertempur dan melihat Kuda Sempana berdiri termangu-mangu

dengan pedang di tangan.

“Mudah-mudahan guru dapat membalaskan dendamku,”

desisnya. Suaranya perlahan-lahan dalam nada yang sangat rendah.

Tetapi Empu Sada mendengar kata-kata itu. Hati orang tua itu pun

menjadi sangat terharu ketika ia melihat muridnya pasrah kepada

maut yang telah siap untuk memeluknya

Kuda Sempana yang berdiri dalam kebingungan tiba-tiba tersadar

bahwa ia sedang menghadapi bahaya yang sama besarnya dengan

bahaya yang telah menelan Cundaka. Karena itu, maka segera ia

mencoba memusatkan perhatiannya ke pada ujung pedangnya dan

kepada Wong Sarimpat. Ditindasnya setiap perasaan ragu-ragu dan

disingkirkannya setiap harapan akan membalas dendam terhadap

Mahisa Agni dengan alat kedua orang liar itu. Meskipun harapan itu

selalu saja menyentuh-nyentuh hatinya.

Kuda Sempana itu pun kemudian menggeretakkan giginya. Ia

masih melihat saudaranya seperguruannya menggeliat. Dan sekali

lagi Cundaka itu mencoba berkata, “Aku sudah tidak dapat

membantu guru lagi.”

Sekali lagi dada Empu Sada tersentuh. Murid itu diambilnya,

karena Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu

dapat memenuhi permintaannya. Dapat memberinya berbagai

macam barang dan uang. Bukan karena suatu keyakinan bahwa

muridnya itu akan dapat meneruskan cabang perguruannya. Namun

ketika ia melihat anak itu hampir sampai pada ajalnya, maka hatinya

melonjak. Kemarahannya pun menjadi semakin menyala di dalam

dadanya. Tiba-tiba hati orang tua itu berkata “Ya, aku akan

mencoba membalaskan dendammu, Anakku.”

Tiba-tiba Empu Sada itu pun melenting meninggalkan lawannya.

Gerak yang tiba-tiba dan hampir secepat tatit meloncat di udara itu,

tidak segera dapat diikuti oleh Kebo Sindet. Namun sebagai seorang

yang telah dipenuhi oleh pengalaman maka segera Kebo Sindet

dapat menangkap maksud Empu Sada. Dengan loncatan yang

panjang Kebo Sindet mengejarnya. Tetapi Kebo Sindet terlambat

sekejap. Tongkat Empu Sada telah terjulur lurus ke dada Wong

Sarimpat. Alangkah terkejutnya Wong Sarimpat yang sedang

menikmati kemenangannya itu. Ketika ia melihat Empu Sada

meloncat ke arahnya, dan ketika ia melihat tongkat orang tua itu

terjulur lurus ke dadanya, maka ia menjadi gugup. Kalau dadanya

tidak sedang terluka maka serangan itu sama sekali tidak akan

membingungkannya. Ia mampu bergerak secepat Empu Sada.

Tetapi kini betapa sakit tulang-tulang iganya. Setiap geraknya pasti

menumbuhkan rasa pedih pada isi dadanya itu. Namun ia tidak mau

mati karena serangan itu. Betapapun sakitnya, tetapi ia harus

mengerahkan segenap kemampuannya. Karena ia tidak mendapat

kesempatan untuk meloncat, maka satu-satunya cara yang dapat

menolongnya adalah menjatuhkan diri. Sementara itu ia mengharap

kakaknya akan datang menolongnya.

Demikianlah dengan serta-merta Wong Sarimpat mencoba

menjatuhkan dirinya mendahului tongkat Empu Sada. Meskipun

dadanya terluka, namun ia masih juga mampu bergerak cepat,

sehingga dadanya terlepas dari dorongan tongkat orang tua itu.

Tetapi Empu Sada tidak membiarkannya bebas sama sekali dari

serangannya, dengan satu putaran ia menghantamkan tongkatnya

pada punggung lawannya. Sekali lagi Wong Sarimpat terpaksa

mencoba menghindarkan diri dengan berguling di tanah. Namun kali

ini Wong Sarimpat yang sudah tidak mampu mempergunakan

segenap kekuatannya itu tidak berhasil membebaskan dirinya sama

sekali. Sekali lagi ia terpaksa mengalami cedera. Kali ini lengannya

telah terkena tongkat Empu Sada yang sedang menjadi sangat

marah itu.

Terdengar Wong Sarimpat mengumpat pendek. Perasaan nyeri

telah menusuk tulangnya, serasa tulangnya telah menjadi retak pula

karenanya.

Namun dengan demikian, karena nafsu Empu Sada untuk

membunuh Wong Sarimpat terlampau menguasai perasaannya,

maka sejenak ia menjadi lengah, bahwa Kebo Sindet sedang

mengejarnya. Empu tua itu mendengar Kuda Sempana berteriak

pendek dan terasa sebuah getaran menyentuh punggungnya. Cepat

ia meloncat ke samping sambil merendahkan dirinya. Kali ini ia

berhasil menghindari sambaran golok Kebo Sindet, tetapi ketika

golok itu terayun melampaui tubuhnya yang sedang merendah,

terasa telinganya seakan-akan menjadi pecah. Ternyata kaki Kebo

Sindet berhasil menyambar kepalanya, menyentuh telinga

kanannya. Untunglah bahwa Kebo Sindet tidak berhasil

mempergunakan sepenuh kekuatannya karena tarikan goloknya

sendiri. Meskipun demikian Empu Sada itu pun terdorong selangkah

dan jatuh terguling di tanah. Namun seperti singgat, orang tua itu

segera melenting berdiri. Tongkatnya masih tergenggam erat di

tangannya. Tetapi kini kepalanya menjadi pening. Bahkan serasa

dunia ini berputar di sekelilingnya.

“Gila!” orang itu mengumpat di dalam hati. Ketika ia melihat

Kebo Sindet menyerangnya kembali, maka sementara orang tua itu

hanya berhati menghindar sambil mencoba menenangkan dadanya.

Sementara itu Wong Sarimpat pun telah duduk kembali. Tepat di

samping Cundaka yang terbaring lemah. Betapa kemarahan Wong

Sarimpat itu menghunjam jantungnya. Maka ketika tiba-tiba

dilihatnya Cundaka di sampingnya, dengan serta-merta ia

merangkak dan menangkap leher orang yang sudah tidak berdaya

itu. Dengan gigi gemeretak ia menekankan sepuluh jari-jari

tangannya ke leher Cundaka yang tidak dapat melawannya sama

sekali.

Kuda Sempana yang meloncat dengan pedang di tangan ternyata

terlambat. Cundaka sudah benar-benar mati dicekik oleh Wong

Sarimpat.

Ketika Kuda Sempana kemudian siap menyerang orang yang

masih terduduk itu terdengar Empu Sada memperingatkannya,

“Jangan kau ulangi kesalahan saudaramu. Orang yang hampir mati

itu masih cukup berbahaya bagimu.”

Tetapi suara itu disusul oleh suara Kebo Sindet, “Wong Sarimpat,

jangan kau bunuh Kuda Sempana. Aku bahkan ingin menolongnya,

menangkap Mahisa Agni.”

“Setan!” geram Empu Sada. Kini kepalanya sudah tidak

terlampau pening lagi. Namun telinganyalah yang terata sakit bukan

buatan. Bahkan hatinya pun menjadi sangat pedih. Satu muridnya

meninggal di hadapan hidungnya. Tetapi muridnya itu telah menjadi

korban kesombongan sendiri. Ia tidak mau mendengarkan

nasihatnya.

Seruan gurunya, serta suara Kebo Sindet, kembali telah

mengganggu perasaan Kuda Sempana. Ia kini kembali berdiri tegak

seperti patung. Ia melihat Cundaka terbunuh karena tidak mau

mendengar nasihat gurunya. Dan kini gurunya itu melarangnya pula

untuk melawan Wong Sarimpat yang tampaknya sudah terlampau

lemah. Tetapi dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet mencegah

adiknya untuk tidak membunuhnya.

Kuda Sempana menjadi bingung. Tetapi bahwa Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat tidak berlaku jujur kini mulai terbayang di dalam

benaknya, Karena itu maka Kuda Sempana pun kini mulai

menyadari betapa bodohnya dirinya sendiri. Dan ia ingin mencoba

menebus kebodohannya. Ia ingin memanfaatkan sikap Kebo Sindet

atas adiknya Wong Sarimpat. Apabila ia menyerang Wong Sarimpat,

maka Wong Sarimpat pasti tidak akan berani membunuhnya karena

kakaknya tidak menghendakinya. Tidak seperti saudara

seperguruannya itu. Kedua orang liar itu agaknya benar-benar

membencinya meskipun mereka belum mengenalnya dengan baik.

Apalagi kini Wong Sarimpat telah menjadi semakin parah.

Karena itu maka Kuda Sempana tidak segera meninggalkan

tempat itu. Dari cahaya obor yang masih menyala meskipun kini

tergolek di atas batu-batu padas, ia melihat betapa wajah Wong

Sarimpat yang tegang. Agaknya orang itu berusaha untuk menahan

perasaan sakitnya.

Ketika api obor itu menyala semakin besar, maka Kuda Sempana

melihat, betapa wajah itu menjadi sangat mengerikan. Wong

Sarimpat itu menatap seperti ingin menelannya hidup-hidup.

Tekad Kuda Sempana telah bulat di dalam dadanya. Ia

mempunyai kedudukan yang berbeda dengan saudara

seperguruannya di mata kedua orang-orang liar itu. Betapa Wong

Sarimpat marah kepadanya, namun Kebo Sindet agaknya masih

memerlukannya.

Namun kembali ia mendengar gurunya berteriak, “Apakah kau

juga akan membunuh dirimu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana menggeram. Terasa dadanya bergolak. Apakah

sudah sepantasnya ia melarikan dirinya selagi gurunya bertempur

matian dan sesudah saudara seperguruannya itu mati?

Dalam keragu-raguan itu ia melihat Wong Sarimpat berusaha

untuk berdiri. Beberapa kali ia berusaha, namun setiap kali ia

berhenti, mengatur pernafasannya dan mengusap dadanya.

Agaknya dadanya masih terasa sangat parah, di samping lengannya

yang serasa menjadi retak.

“Setan licik!” geramnya. Kemudian ditatapnya wajah Kuda

Sempana sambil mengumpat “Kau setan pula. Ternyata kakakku

berbaik hati kepadamu. Kalau tidak, maka nyawamu akan meloncat

dari ubun-ubunmu seperti demit kecil ini.”

Namun terdengar suara Kebo Sindet, “Jangan kau takut-takuti

anak itu, Wong Sarimpat. Ia tidak bersalah. Gurunyalah yang gila

dan saudara seperguruannya itu pula.”

Dada Kuda Sempana berdesir. Namun ia sependapat dengan

gurunya ketika ia mendengar gurunya berkata, “Apakah kau dapat

mempercayainya Kuda Sempana?”

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk

lemahSementara

itu Wong Sarimpat telah berhasil berdiri tegak.

Ditelekankan kedua tangannya di dadanya, dan dihisapnya nafas

dalam-dalam beberapa kali. Sejenak ia memusatkan segenap sisasisa

kekuatannya. Dan kemudian terdengarlah ia berdesis.

Kebo Sindet dan Empu Sada masih juga bertempur dengan

sengitnya. Keduanya adalah orang-orang yang jarang tandingannya.

Masing-masing mempunyai kekhususannya sendiri- sendiri. Namun

terasa bahwa tangan Kebo Sindet yang terluka agak

mengganggunya. Meskipun demikian goloknya masih dapat

berputar seperti baling-baling.

Empu Sada tidak kalah lincahnya pula. Meskipun telinganya

menjadi sakit, namun kekuatannya seolah-olah sama sekali tidak

terpengaruh olehnya. Tongkatnya masih menyambar-nyambar dan

sekali-kali mematuk ke titik-titik berbahaya pada tubuh Kebo Sindet.

Kuda Sempana kemudian melihat Wong Sarimpat mengangkat

kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menghisap udara sebanyakbanyaknya.

Seakan-akan seluruh udara di atas bukit gundul itu akan

dihisapnya. Ber-kali-kali dan kemudian terdengar ia berdesah lirih,

“Hem. Setan tua itu harus binasa.”

Dengan penenangan itu ternyata Wong Sarimpat berhasil

mengurangi perasaan sakitnya meskipun hanya sedikit. Namun

karena kemarahan yang membara di dadanya, maka ia tidak dapat

membiarkan melihat kakaknya bertempur sendiri melawan Empu

Sada. Bagi Wong Sarimpat Kuda Sempana sama sekali sudah tidak

berarti lagi. Karena itu dibiarkannya saja ia berdiri tegak dengan

pedang di tangan.

Tetapi Kebo Sindet tidak ingin membiarkan Kuda Sempana itu. Ia

tidak menghendaki anak itu dilepaskan. Ia tidak akan membiarkan

anak itu lari. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya kepada

adiknya, sebab dengan demikian, maka Empu Sada pasti segera

mengetahui maksudnya pula.

Karena itu, maka Kebo Sindet itu pun menjadi gelisah. Tetapi

ketika ia melihat Wong Sarimpat telah siap untuk ikut serta dalam

perkelahian itu, maka tumbuhlah harapannya untuk dapat

menangkap Kuda Sempana hidup-hidup. Ia mengharap anak muda

itu bukan seorang pengecut yang licik. Ia mengharap setidaktidaknya

Kuda Sempana mempunyai keberanian seperti saudara

seperguruannya.

Maka Tiba-tiba berkatalah Kebo Sindet, “He, apa yang akan kau

lakukan Wong Sarimpat?”

Wong Sarimpat menggeram. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya

itu bertanya. Namun dijawabnya pula pertanyaan itu, “Aku ingin

memecahkan dada Empu tua itu seperti ia melukai dadaku. Tetapi

aku bukan pengecut seperti orang itu.”

Empu Sada tidak merasa perlu untuk menjawab. Bahkan

serangannyalah yang menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak

menjadi cemas melawan keduanya telah dilukainya sehingga

mereka tidak dapat mempergunakan teraga mereka sepenuhpenuhnya.

Meskipun demikian Empu Sada tidak dapat memperingan

lawannya. Apalagi Kebo Sindet. Meskipun sebelah tangannya telah

terluka namun tandangnya hampir tidak berbeda. Tetapi Empu Sada

yang telah mengetahui luka di tangan itu, selalu berusaha untuk

menyentuhnya dengan tongkatnya. Empu tua itu tahu betul,

sentuhan yang kecil telah cukup untuk membangkitkan perasaan

sakit yang membakar seluruh tubuh Kebo Sindet itu.

Karena itu ketika Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih

mendekatinya, maka Empu Sada itu menjadi semakin berhati-hati.

Kuda Sempana yang masih tegak seperti tonggak, melihat Wong

Sarimpat semakin lama menjadi semakin dekat dengan kedua orang

yang sedang bertempur itu. Meskipun tataran ilmu gurunya serta

Kebo Sindet di atas ilmunya, namun Kuda Sempana dapat melihat

bahwa Kebo Sindet yang terluka tangannya itu selalu terdesak oleh

gurunya. Betapa besar golok orang itu, dan betapa kuatnya ia

menggerakkannya, namun setiap kali ia melihat orang itu

menyeringai menahan sakit dan sekali dua kali meloncat surut untuk

menghindari serangan Empu Sada yang selalu berusaha menyarang

titik kelemahan lawannya.

Sesaat kemudian Kuda Sempana itu pun melihat Wong Sarimpat

meloncat menerjunkan diri ke dalam perkelahian itu. Alangkah

terkejutnya ketika ia melihat orang yang di sangkanya sudah hampir

mati itu mampu meloncat dengan kecepatan yang luar biasa.

Serangannya datang seperti kilat menyambar di langit. Tetapi ketika

lawannya mampu menghindari serangan itu, maka kembali Wong

Sarimpat berdiri terbungkuk-bungkuk. Kedua tangannya menekan

dadanya dan nafasnya seakan-akan hampir putus.

Ternyata orang itu telah mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk

tetap dapat mengimbangi lawannya. Meskipun kemudian luka di

dalam dadanya terasa sakit kembali, namun pada saat tertentu,

karena nafsu dan kemarahan yang meluap-luap, Wong Sarimpat

telah berhasil meluapkannya. Sehingga serangan yang demikian itu

tidak hanya satu kali dilakukan oleh Wong Sarimpat. Setiap kali ia

menyerang dan setiap kali pula ia menyingkir dari titik perkelahian

untuk menenangkan dirinya.

Meskipun demikian, namun serangan-serangan Wong Sarimpat

itu cukup mengganggu Empu Sada. Setiap kali ia harus membagi

perhatiannya. Bahkan serangan-serangan orang tampaknya telah

hampir lumpuh itu pun masih cukup berbahaya.

Akhirnya Empu Sada pun menyadari, bahwa tidak ada gunanya

lagi ia bertempur seterusnya. Kini ia tinggal mencoba bertahan dan

memberikan kesempatan Kuda Sempana untuk menyingkir sebelum

ia sendiri meninggalkan bukit gundul itu. Tetapi alangkah jengkelnya

Empu tua itu ketika ia masih melihat Kuda Sempana berdiri saja

seperti patung,

“Kuda Sempana, pergilah!” berkata Empu Sada.

Tetapi yang menyahut adalah Kebo Sindet, “Wong Sarimpat.

Jangan putus asa karena luka-lukamu. Marilah kita bunuh Empu tua

yang gila ini. Ia telah banyak berbuat kesalahan tidak saja atas kita.

Namun lihatlah. Apakah ia telah membentuk muridnya itu dengan

baik? Menurut pendapatku Kuda Sempana adalah seorang anak

muda yang cukup berani. Tetapi gurunyalah yang mengajarinya

menjadi pengecut. Bagi laki-laki, lari dari arena perkelahian adalah

sifat yang sehina-hinanya. Lebih hina dari serangan yang licik yang

dilakukan oleh Empu Sada itu sendiri.”

“Jangan hiraukan!” teriak Empu Sada sambil bertempur, “Jangan

hiraukan. Lari tinggalkan tempat ini!”

“Kalau kau yang lari, Wong Sarimpat, meskipun kau sudah akan

mati, maka kau akan aku bunuh sendiri,” geram Kebo Sindet.

Tiba-tiba Wong Sarimpat yang terluka di dadanya itu melepaskan

diri dari perkelahian. Terdengar ia mencoba tertawa keras-keras.

Tetapi suara itu pun patah karena perasaan sakit yang menekan

dadanya. Namun ia masih sempat berkata “Empu Sada telah

mendidiknya berbuat demikian. Ternyata murid yang gila, yang kau

kehendaki sepasang matanya itu lebih berani daripada Kuda

Sempana.”

Baik Empu Sada maupun Kuda Sempana menyadari maksud

kata-kata itu. Mereka tidak menghendaki Kuda Sempana

meninggalkan perkelahian. Namun meskipun demikian, harga diri

Kuda Sempana tersinggung juga. Itulah sebabnya ia masih juga

berdiri termangu-mangu meskipun beberapa kali gurunya berteriakteriak

mengusirnya.

Dalam perkelahian yang kemudian menjadi semakin sengit, Kebo

Sindet sempat berkata kepada Wong Sarimpat perlahan-lahan,

“Tangkap anak itu. Jangan sampai ia lari. Kau tidak akan dapat

mengejarnya karena lukamu.”

Betapa Kebo Sindet mencoba berbisik perlahan-lahan sekali,

tetapi telinga Empu Sada yang tajam dapat mendengarnya. Karena

itu sekali lagi ia berteriak “Lari Kuda Sempana lari. Kau akan

ditangkap hidup-hidup untuk permainan mereka ini. Permainan

orang-orang liar.”

Karena perhatian yang terpecah-pecah itulah maka Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat berhasil menekan Empu Sada mendekati Kuda

Sempana. Wong Sarimpat yang terluka itu kadang-kadang sama

sekali tidak mampu meloncat menyerang karena perasaan sakitnya,

namun kadang-kadang apabila ia berhasil mengatasi perasaan sakit

dan berhasil menghimpun tenaganya maka luka di dadanya itu

seakan-akan sudah tidak berbekas.

Ketika titik perkelahian itu menjadi semakin mendekatinya, maka

Kuda Sempana pun menjadi semakin menyadari apa yang akan

dihadapinya. Ia benar-benar tidak dapat ikut dalam perkelahian itu,

tetapi untuk meninggalkan gurunya, hatinya masih ragu-ragu.

Meskipun demikian, akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan, “Lebih

baik aku menyingkir. Aku harap Guru berhasil melarikan dirinya pula

kemudian.”

Ternyata gurunya yang benar-benar menginginkan Kuda

Sempana pergi telah mencoba merendahkan dirinya agar muridnya

tidak terlampau terikat pada harga diri pula, katanya “Kuda

Sempana, larilah selagi aku mampu menahan kedua orang liar itu,

sesudah itu aku pun akan melarikan diri pala. Tak ada gunanya lagi

berurusan dengan orang-orang liar ini.”

Tak ada pilihan lain bagi Kuda Sempana selain meninggalkan

pertempuran itu. Ia harus segera pergi, tidak tahu ke mana, asal

saja menjauhi kedua orang-orang yang aneh itu.

Tetapi betapa terkejut Kuda Sempana ketika ia seolah-olah

melihat kilat yang menyambar di hadapannya. Demikian cepatnya

sehingga ia tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Ketika ia

telah mengambil keputusan untuk lari, maka ia telah terlambat.

Wong Sarimpat yang terluka itu tiba-tiba telah berdiri di

hadapannya. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terasa tangannya

yang memegang pedang bergetar, dan pedangnya pun terpelanting

jatuh di tanah.

Kuda Sempana benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk

berbuat sesuatu. Yang terasa olehnya adalah sebuah tekanan yang

keras pada lengan kanannya. Ketika ia terputar, maka Wong

Sarimpat telah menangkap tengkuknya. Sebuah tekanan yang keras

di tengkuknya serasa sebagai daya yang kuat, yang telah

menghisap seluruh tenaganya. Seperti Cundaka, maka Tiba-tiba

Kuda Sempana itu menjadi lemah. Semakin lama semakin lemah.

“Gila!” terdengar Empu Sada berteriak. Tetapi ia tidak dapat

berbuat sesuatu. Kebo Sindet yang telah bersiap untuk menghadapi

tindakan adiknya itu dengan garangnya mencoba melibat Empu

Sada, sehingga orang itu tidak mendapat kesempatan berbuat

sesuatu.

Betapa jantung orang tua itu dicengkam oleh kemarahan yang

memuncak. Betapa dadanya serasa akan pecah. Tetapi semuanya

itu sudah terjadi. Ia menyesal tak habisnya atas kedua muridnya

yang sama sekali tidak mau mendengarkan nasihatnya. Cundaka

telah hangus dibakar kesombongannya sendiri, sedang Kuda

Sempana telah dibelit oleh keragu-raguannya. Namun kedua-duanya

kini tidak dapat diharapkannya lagi.

Empu Sada itu masih melihat Kuda Sempana jatuh dengan

lemahnya. Sedang Wong Sarimpat, yang terpaksa mengerahkan

sisa-sisa tenaganya yang telah lemah pula, berdiri sambil menekan

dadanya Sekali ia batuk sambil terbungkuk-bungkuk, namun

kemudian orang itu pun jatuh terduduk di tanah.

“Kau akan mati pula!” geram Empu Sada.

Tetapi Kebo Sindet menjawab, “Tidak. Kami menyimpan obatobatan

yang dapat menyembuhkannya dalam waktu singkat.

Sayang obat-obatan itu tidak kami bawa. Tetapi ia tidak akan mati.

Besok ia telah sanggup bertempur melawanmu seorang diri

seandainya kau masih hidup. Tetapi sayang pula, bahwa kau akan

mati malam ini seperti muridmu yang sombong. Sedang muridmu

yang baik itu, biarlah aku mencoba merawatnya. Menjadikannya

seorang jantan yang tidak akan dapat kau kalahkan seandainya kau

sempat bertemu lagi.”

Empu Sada tidak menjawab. Ia melihat kesempatan untuk

mencoba menjatuhkan Kebo Sindet, selagi Wong Sarimpat sedang

dicengkam oleh perasaan sakit. Dengan mengerahkan segenap

kemampuannya ia menyerang seperti seekor burung elang di udara.

Menyambar dengan tongkatnya, tangannya dan kakinya. Namun

Kebo Sindet masih mampu untuk menghindarkan dirinya dari setiap

serangan yang betapapun berbahayanya.

Perlahan-lahan Wong Sarimpat mulai dapat mengatasi perasaan

sakitnya kembali. Perlahan-lahan pula ia mencoba berdiri. Dengan

mata yang menyala ia memandangi Empu Sada yang sedang

bertempur dengan kakaknya. Kemudian terdengar ia menggeram,

“Tinggal kau sekarang Empu tua. Ayo, menyerahlah supaya

kemarahan kami tidak menyebabkan kami membunuhmu dengan

cara yang tidak menyenangkan.”

Empu Sada masih berdiam diri. Bahkan serangannya menjadi

semakin kuat. Namun ia bergumam di dalam hatinya, “Setan

manakah yang telah bersembunyi di dalam tubuh Wong Sarimpat

itu? Meskipun ia sudah hampir mampus, namun ia masih juga kuat

untuk berdiri dan bahkan bertempur meskipun ia telah memeras

tenaganya melampaui kemampuannya yang sewajarnya.”

Dan Empu Sada itu menjadi semakin geram, ketika ia melihat

Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih ke arah mereka yang sedang

bertempur mati-matian itu. Kini goloknya, yang mirip dengan golok

kakaknya telah digenggamnya pula. Meskipun nafasnya tersendatsendat

namun nampaknya orang itu masih garang juga.

Sekali lagi Empu Sada membuat perhitungan. Ia juga tidak akan

mampu mengalahkan keduanya dalam keadaan serupa itu. Ternyata

kekuatan tubuh Wong Sarimpat benar-benar berada di luar

dugaannya. Dalam keadaan serupa itu, ia masih juga mampu

mengganggu perkelahiannya dengan Kebo Sindet. Karena itu, maka

tidak ada jalan lain baginya daripada menghindarkan diri dari

perkelahian itu. Kalau ia berhasil maka ia masih mempunyai

kemungkinan untuk berusaha membebaskan Kuda Sempana.

Menurut perhitungan Empu Sada kemudian, Kuda Sempana

memang tidak akan dibunuh, sebab kedua orang itu masih

memerlukannya. Mereka mengharap Kuda Sempana memberinya

beberapa petunjuk tentang Mahisa Agni, Ken Dedes dan Tunggul

Ametung.

Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat pun telah dapat menebak

pula maksud Empu Sada itu. Karena itu maka terdengar Kebo Sindet

menggeram “Jangan mimpi kau berhasil melepaskan diri Empu.

Meskipun Wong Sarimpat telah kau lukai dengan curang, tetapi ia

masih mampu berbuat sesuatu. Mungkin kau dapat mengalahkan

kami satu-satu karena kecuranganmu. Tetapi mengalahkan kami

berdua, atau mencoba melepaskan diri dari kami berdua adalah

sangat mustahil.”

Empu Sada sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia memang

melihat kesulitan itu. Wong Sarimpat yang lemah itu masih juga

dapat berbuat banyak untuk mencegahnya meninggalkan

perkelahian. Namun bagaimanapun juga Empu Sada berusaha untuk

melakukannya. Sedikit demi sedikit ia menarik perkelahian itu ke sisi

dataran gunung gundul yang tidak terlampau lebar. Namun setiap

kali kedua laki-laki liar kakak beradik itu, selalu berusaha

mendesaknya kembali ke tengah.

Semakin dalam malam memeluk permukaan bukit gundul itu,

perkelahian mereka menjadi semakin sengit. Wong Sarimpat yang

dibakar oleh kemarahannya, ternyata mampu melupakan lukanya

pada saat-saat tertentu, meskipun sekali-sekali ia terpaksa

menyingkir untuk sesaat, memperbaiki keadaannya dan mengatur

pernafasannya.

Tetapi keadaan Empu Sadalah yang semakin lama menjadi

semakin sulit. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berusaha dengan

sekuat tenaga untuk membinasakan Empu tua itu. Orang itu akan

dapat mengganggu usahanya. Rencananya tentang Mahisa Agni

telah matang di dalam kepala Kebo Sindet, seperti yang ditebak oleh

Empu Sada. Karena itu maka Empu Sada harus tidak ada lagi,

supaya rencananya dapat berlangsung. Tetapi sudah tentu bahwa

Empu Sada tidak akan menjerahkan kepadanya, sehingga

bagaimanapun juga, dengan segenap kekuatan dan kemampuan

yang ada orang tua itu berjuang untuk mempertahankan hidupnya.

Namun jumlah kekuatan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang

luka itu, ternyata masih lebih besar dari kekuatan Empu Sada,

sehingga sekali terasa serangan-serangan kedua orang itu hampirhampir

dapat mencapai maksudnya. Bahkan sekali-sekali terasa

pada pakaian Empu Sada, sentuhan-sentuhan ujung-ujung golok

Kebo Sindet atau Wong Sarimpat.

“Setan belang!” orang tua itu mengumpat di dalam hati. Ia kini

benar-benar sedang berusaha untuk melepaskan dirinya.

Namun ternyata bahwa serangan-serangan kedua lawannya

semakin lama menjadi semakin garang. Batu-batu padas di bukit

gundul itu benar-benar tidak menyenangkan bagi kaki Empu Sada.

Bahkan terasa beberapa kali kakinya terantuk oleh ujung-ujung

padas yang menjorok. Tetapi bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

tanah itu merupakan tanah tempat mereka bermain setiap hari

sehingga ujung-ujung batu yang runcing tajam sama sekali tidak

mempengaruhinya.

Ketika Empu Sada sekali lagi mencoba meloncat surut, maka

tanpa disangka-sangkanya kakinya tergores oleh sebuah ujung batu

padas sehingga sesaat ia terhuyung-huyung. Namun dengan

tangkasnya ia meloncat dan memperbaiki keseimbangannya. Tetapi

yang sesaat itu benar-benar dapat dipergunakan oleh Kebo Sindet.

Dengan garangnya ia meloncat menjulurkan senjatanya lurus-lurus

ke dada lawannya Tetapi sekali ini Empu Sada masih mampu

menghindarinya. Dengan lincahnya ia mengelak ke samping sambil

merendahkan diri. Namun sayang, bahwa Wong Sarimpat dengan

mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya masih mampu

menyusulnya. Sebuah ayunan yang keras mengarah ke lambung

Empu Sada.

Orang tua itu terkejut. Tak ada jalan lain daripada menjatuhkan

dirinya. Dengan demikian maka dengan serta-merta ia menjatuhkan

diri dan berguling beberapa kali. Terasa ujung-ujung batu padas

telah melukai kulitnya. Namun sama sekali tidak dihiraukannya.

Yang mengejutkannya pula adalah, ketika ia melenting berdiri, Kebo

Sindet telah siap menyerangnya dengan sebuah tebasan langsung

ke lehernya.

Empu Sada tidak dapat menghindarkan dirinya. Yang dapat

dilakukan adalah melawan serangan itu dengan tongkatnya. Tetapi

ia tidak dapat menangkis tajam golok lawannya dengan tongkatnya.

Untunglah bahwa tongkat orang tua itu cukup panjang, sehingga

dengan serta-merta dijulurkannya tongkatnya mengarah ke

pergelangan tangan Kebo Sindet.

Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Benturan yang tidak

langsung di antara kedua senjata mereka. Ujung tongkat Empu

Sada ternyata berhasil mengenai pergelangan tangan Kebo Sindet

yang sedang terayun dengan derasnya. Terdengar Kebo Sindet

berteriak pendek. Tulang pergelangannya terdengar gemeretak

seakan-akan terpatahkan. Goloknya yang terayun itu pun terlepas

dari genggamannya. Namun karena itu, karena golok yang terlepas

itu, maka Empu Sada pun tidak dapat menghindarkan dirinya lagi.

Golok itu dengan cepat menyambarnya. Untunglah bahwa sambaran

golok itu tidak tepat mengenai lehernya. Tetapi terasa sebuah

goresan yang pedih menyilang dadanya, sehingga orang tua itu pun

terdorong beberapa langkah surut dan kemudian jatuh terguling di

tanah.

Tetapi Kebo Sindet tidak dapat segera mengejarnya. Tangannya

yang terkena tongkat Empu Sada itu benar-benar telah

melumpuhkan segenap kemampuannya. Sambil berdesis menahan

sakit ia berjongkok dan mencoba menahan sakit itu dengan

tangannya yang lain. Tetapi lengannya yang lain pun telah terluka.

“Gila!” geramnya. Hampir-hampir ia berteriak kepada Wong

Sarimpat supaya ia berbuat sesuatu atas Empu Sada. Tetapi

dilihatnya kemudian, Wong Sarimpat itu sedang terbatuk-batuk

sambil menekan dadanya. Ternyata setelah ia memeras tenaganya

pada saat-saat terakhir, menyerang Empu Sada dengan sisa-sisa

kemampuannya yang berlebih-lebihan, terasa dadanya seakan-akan

meledak. Betapa sakitnya.

Kebo Sindet yang sudah bertekad untuk membunuh Empu Sada

itu tidak dapat berdiam diri. Betapa perasaan nyeri membakar

segenap tubuhnya, namun dengan kemampuan yang menyala-nyala

ia berusaha untuk melupakan perasaan sakitnya. Dengan gigi

terkatup rapat-rapat ia berdiri. Tangan kirinya yang terluka pada

lengannya, masih memegangi pergelangan tangan kanannya yang

retak. Tetapi Empu Sada pun telah terluka. Dengan geramnya Kebo

Sindet berkata, “Aku masih mempunyai sepasang kaki yang utuh.

Aku akan membunuhmu dengan kakiku.”

Namun Empu Sada itu pun tidak pingsan. Ia masih tetap sadar

betapapun pedih luka di dadanya. Ia masih juga melihat samarsamar

di dalam cahaya obor yang hampir padam, Kebo Sindet

datang mendekatinya.

Tetapi untuk melawan, agaknya Empu Sada sudah tidak mungkin

lagi. Karena itu, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri

adalah pergi meninggalkan kedua lawannya.

Meskipun tulang-tulang tua di dalam tubuh Empu Sada itu serasa

telah habis dilolosi, namun ia masih mampu merangkak agak cepat

menjauhi bayangan Kebo Sindet yang samar-samar maju setapak

demi setapak.

“He, kau akan lari Empu tua?” geram Kebo Sindet.

Empu Sada tidak menjawab. Ter-tatih-tatih ia mencoba berdiri,

untuk melarikan diri. Tetapi tubuhnya serasa seratus kali lebih berat

dari tubuhnya yang biasa. Karena itu kembali Empu Sada itu

merangkak secepat ia dapat menghindarkan diri dari tangan Kebo

Sindet yang telah dilukainya.

Kebo Sindet menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kini ia

benar-benar menahan segenap rasa sakitnya. Ia harus dapat

menangkap Empu Sada. Keadaan telah terlanjur menjadi sangat

buruk, sehingga apabila orang itu terlepas dari tangannya, maka

rencananya pasti akan terancam, meskipun belum tentu Empu Sada

segera berani menghubungi Mahisa Agni apalagi Tunggul Ametung

karena pertentangan mereka di saat-saat yang lampau. Belum pasti

pula Mahisa Agni atau Tunggul Ametung mempercayainya,

seandainya Empu tua itu mencoba mengatakan apa yang

sebenarnya telah terjadi. Namun meskipun demikian, maka sudah

tentu Mahisa Agni akan menjadi lebih ber-hati-hati. Orang-orang

yang dapat menjadi pelindungnya pun akan semakin ketat

mengawasinya.

Tetapi seperti juga Kebo Sindet, Empu Sada telah mencoba

memeras segenap sisa-sisa kekuatannya untuk hidup. Apabila ia

tetap hidup, maka ia akan dapat membuat perhitungan di saat-saat

yang akan datang dengan kedua orang itu. Tetapi kalau ia gagal

mempertahankan hidupnya, maka ia akan menjadi kerangka di bukit

gundul ini. Dagingnya pasti akan habis dikoyak-koyak oleh anjinganjing

liar.

Karena itu, betapapun ia tetap berusaha untuk merang kak pergi.

Sekali-kali ia mencoba berdiri bersandar pada tongkatnya dan

berjalan tertatih-tatih. Namun kembali ia harus merangkak karena

luka di dadanya. Luka karena goresan pedang pada kulit dan daging

dadanya. Luka yang berbeda dengan luka yang diderita oleh Wong

Sarimpat. Meskipun akibatnya hampir bersamaan. Namun dari luka

Empu Sada itu darah mengalir tak henti-hentinya. Meskipun orang

tua itu mencoba sekali-kali menahannya dengan kainnya. Ditambah

pula rasa sakit pada telinganya.

Ketika sekali ia berpaling, dilihatnya Kebo Sindet telah menjadi

semakin dekat. Dan bahkan ia mendengar orang liar itu berdesis

dalam nada yang berat parau “He, ke manakah kau akan lari Empu

tua? Jangan membuang tenaga di saat-saat menjelang mati.

Tenangkan hatimu, supaya nyawamu tidak tersendat-sendat di

ujung ubun-ubunmu.”

Kebo Sindet itu sudah semakin dekat. Beberapa langkah lagi

orang itu akan dapat mencapainya. Tetapi seperti Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat, Empu Sada bukan orang yang mudah menyerah

pada keadaan. Ketika ia melihat Kebo Sindet menggeram dan

meloncat menerkamnya, maka Empu Sada itu pun seakan-akan

telah dapat melupakan perasaan sakitnya. Dengan serta-merta

orang tua yang terluka itu tegak berdiri. Disambutnya serangan

Kebo Sindet dengan ayunan tongkatnya. Kebo Sindet tidak

menyangka bahwa Empu Sada mampu berbuat demikian. Karena

itu, selagi ia meluncur dengan derasnya, menyerang Empu yang

terluka itu dengan kakinya, ia tidak dapat lagi menghindari tongkat

itu. Sekali lagi terjadi benturan di antara mereka. Kaki Kebo Sindet

benar-benar telah mengenai sasarannya, menghantam lambung

Empu Sada. Tetapi Kebo Sindet pun kemudian terpelanting jatuh,

karena tongkat Empu Sada telah menghantam pelipisnya. Namun

untunglah bahwa kekuatan Empu Sada tidaklah sepenuh

kekuatannya, sehingga pelipis Kebo Sindet tidak menjadi retak

karenanya.

Tetapi Empu Sada yang lemah itu ternyata terdorong tidak saja

satu dua langkah. Beberapa langkah ia terlempar surut dan bahkan

kemudian jatuh terguling.

Empu Sada yang terluka itu sama sekali tidak mampu menahan

dirinya ketika tiba-tiba terasa, seakan-akan tanah tempat ia

terguling itu runtuh. Terasa olehnya seakan-akan ia terlempar ke

tempat yang tidak diketahuinya. Betapa derasnya ia meluncur.

Barulah kemudian ia menyadari bahwa ia telah terguling ke dalam

jurang. Barulah kemudian ia merasa, bahwa ia telah tergores-gores

oleh batu-batu padat di lereng bukit gundul itu. Namun beberapa

saat kemudian, terasa tubuh itu tersentuh dedaunan dan kemudian

ranting-ranting perdu. Dengan demikian maka laju tubuh orang tua

itu menjadi berkurang. Di lereng bagian bawah dari bukit gundul itu

terdapat berbagai tumbuh-tumbuhan yang dapat menahan tubuh itu

sehingga tidak terbanting pada batu-batu padas yang menjorok

tajam.

Empu Sada itu masih tetap menyadari keadaannya. Tongkatnya

masih belum terpisah dari tangannya, sedang tangannya yang lain

berusaha untuk mencapai apa saja yang dapat memperlambat

tubuhnya. Namun meskipun demikian, ketika terasa seakan-akan

tubuhnya itu membentur sesuatu, pandangan mata orang tua itu

menjadi berkunang-kunang. Sekejap ia kehilangan kesadaran. Yang

dilihatnya seolah-olah seluruh bintang gemintang di langit meluncur

menimpa dadanya. Kemudian gelap pekat.

Di atas bukit gundul itu Wong Sarimpat berjalan terbungkukbungkuk

ke arah sesosok tubuh yang terbaring diam. Ternyata Kebo

Sindet yang tertimpa tongkat pada pelipisnya itu pun menjadi

pingsan. Betapa perasaan sakit telah melenyapkan segenap

kesadarannya. Perasaan sakit pada pelipisnya itu dan perasaan sakit

pada kedua belah tangannya yang tertimpa tubuhnya sendiri ketika

ia terpelanting jatuh.

“Empu gila!” Wong Sarimpat mengumpat-umpat. Sambil

terbatuk-batuk ia meraba-raba tubuh kakaknya. Ia tahu bahwa

kakaknya hanya sekedar pingsan. Karena itu kemudian dibiarkannya

saja tubuh itu terbaring diam. Wong Sarimpat itu yakin, bahwa

kakaknya itu pasti akan sadar dengan sendirinya.

Tetapi bagaimana dengan Empu Sada yang terlempar ke dalam

jurang itu?

“Orang itu sudah terluka. Ia pasti akan mampus terbanting di

atas batu-batu padas,” gumamnya seorang diri.

Ketika ia melihat Kuda Sempana maka sekali lagi ia menggeram,

“Hem, buat apa Kakang Kebo Sindet memelihara tikus pengecut

itu?”

“He,” teriaknya kemudian “Kuda Sempana, apakah kau sudah

mampus pula?”

Kuda Sempana mendengar suara itu. Tetapi tubuhnya yang

lemah masih saja belum dapat diajaknya berdiri, meskipun kini telah

mulai terasa dijalari oleh beberapa bagian dari kekuatannya

kembali.

Namun Kuda Sempana itu menjadi heran pula. Kenapa ia tidak

saja dibunuh seperti Cundaka atau seperti gurunya. Kenapa ia masih

saja dibiarkan hidup?

Wong Sarimpat yang. masih ingin melepaskan kemarahannya itu

pun berteriak-teriak “He, Kuda Sempana. Kenapa kau tidak mampus

saja sama sekali? Sayang Kakang Kebo Sindet masih membiarkan

kau hidup. Meskipun aku tidak tahu apa gunanya lagi kau hidup,

tetapi aku tidak berani melanggar keinginan Kakang Kebo Sindet,

dan kau boleh bersenang hati karenanya.”

Kuda Sempana masih belum menjawab teriakan-teriakan itu.

Badannya masih sangat lemah, dan ia sama sekali tidak bernafsu

berteriak seperti Wong Sarimpat.

Ketika Wong Sarimpat itu merasa dadanya seperti tertusuk jarum

karena ia berteriak-teriak maka ia pun berhenti. Kini ditekuninya

kakaknya yang masih terbaring diam. Perlahan-lahan ia mencoba

menggoyangkan tubuh itu. Mengangkat tangannya dan

menggerakkannya dengan hati-hati.

Lambat laun Kebo Sindet pun mulai menggerakkan tubuhnya.

Perlahan-lahan ia menarik nafas, kemudian menggerakkan ujungujung

kakinya.

“Kakang,” panggil Wong Sarimpat.

Lamat-lamat Kebo Sindet mendengar panggilan itu. Perlahanlahan

ingatannya pun bangkit kembali merayapi otaknya. Diingatnya

peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Yang terakhir dari peristiwa

itu adalah pukulan tongkat yang mengenai pelipisnya, sementara

kakinya menghantam tubuh orang tua itu.

Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Dengan serta-merta ia

mencoba bangkit. Tetapi terasa betapa kepalanya masih sangat

pening dan gunung gundul itu serasa berputar. Tubuhnya serasa

berada pada poros pusaran itu.

Kebo Sindet memegangi kepalanya yang pening dan sakit. Tetapi

ia telah memiliki segenap kesadarannya kembali. Karena itu maka

kemudian ia berkata parau “He, di mana Empu Sada?”

Wong Sarimpat mencoba menolong kakaknya. Tetapi dadanya

sendiri terasa sakit bukan buatan. Dengan tegasnya ia menjawab,

“Empu itu terlempar ke dalam jurang.”

“He? Orang itu terlempar ke dalam jurang?” ulang Kebo Sindet.

“Ya.”

“Orang itu harus kita cari. Kita harus yakin bahwa ia telah mati.”

“Kenapa Kakang masih ragu-ragu. Dadanya terluka karena

goresan golok Kakang. Tubuhnya terlempar karena tendangan

Kakang yang keras, kemudian terbanting ke atas batu-batu padas.

Apakah masih mungkin seseorang dapat hidup mengalami hal itu

semuanya? Meskipun seandainya Empu Sada itu empu yang turun

dari langit sekalipun, namun ia pasti hancur.”

“Aku ingin melihat mayat dengan mata kepalaku sendiri.”

“Kakang terluka. Sepasang tangan Kakang dan agaknya pelipis

Kakang telah menyebabkan Kakang tidak sadar lagi.”

“Persetan! Aku sudah baik,” sambil menggeretakkan giginya Kebo

Sindet berusaha untuk berdiri. Alangkah besar tekad yang

membakar jantungnya, sehingga betapapun juga ia masih mampu

berdiri tegak.

Kebo Sindet menengadahkan wajahnya yang beku. Dan wajah

yang beku itu kini tampak menjadi semakin mengerikan. Lewat

matanya memancarlah perasaannya yang meluap-luap. Kebencian,

kemarahan dan nafsu untuk membinasakan Empu Sada itu. Apalagi

kini, ia sudah terlanjur memulainya.

“Kita akan turun dan mencari orang itu,” desis Kebo Sindet.

Wong Sarimpat kenal betul tabiat kakaknya. Karena itu ia tidak

menyahut. Ia tahu betul bahwa ia akan turut serta turun lereng

gunung gundul itu untuk mencari Empu Sada. Betapa sakit dadanya,

tetapi ia harus berbuat seperti kakaknya.

“Bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Kebo Sindet.

“Itu,” jawab adiknya sambil menunjuk ke arah Kuda Sempana,

“aku beri tekanan pada urat lehernya, sehingga ia kehilangan

kekuatannya. Tetapi agaknya ia telah mulai di jalari oleh

kekuatannya kembali.”

“Jangan biarkan ia pergi. Biarlah ia beristirahat di sini sebentar.

Kita akan pergi. Mudah-mudahan cahaya obor itu akan

membantunya, menjauhkan dari anjing-anjing liar.”

“Baik Kakang,” sahut Wong Sarimpat.

Perlahan-lahan ia berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati Kuda

Sempana. Dengan kakinya ia melemparkan obor yang satu ke arah

yang lain, sehingga kedua obor yang telah mulai redup itu menjadi

agak besar kembali, setelah bergabung menjadi satu.

Kemudian setapak demi setapak ia mendekati Kuda Sempana.

Terdengar orang itu menggeram mengerikan, “Kuda Sempana.

Kakang Kebo Sindet menghendaki kau tetap di sini. Karena itu aku

akan menolongmu supaya kau dapat beristirahat dan tidak pergi

meninggalkan tempat ini.”

Sebelum Kuda Sempana menyahut, terasa telapak tangan orang

itu pada lehernya. Betapapun ia berusaha melawan, namun ia tidak

mampu menahan ketika terasa jari-jari orang itu sekali lagi menekan

tengkuk.

Kuda Sempana berdesis pendek. Kekuatannya yang telah mulai

terasa merambat di urat-urat nadinya, kembali kini seolah-olah

terhisap habis. Kembali ia menjadi lemah dan terbaring diam di atas

bukit gundul itu.

“Gila!” ia mengumpat dalam hati. Terasa tubuhnya seperti tidak

bertulang. Ia hanya mampu menggerakkan tangan dan kakinya

dengan mengerahkan segenap sisa-sisa yang ada bergerak sekedar

bergerak. Namun tangan dan kakinya sudah tidak mampu lagi

berbuat sesuai dengan tugas anggota-anggota badan itu.

“Sudah Kakang,” berkata Wong Sarimpat kemudian.

“Bagus, marilah kita cari orang tua itu. Biarlah ia mampus, dan

aku ingin melihat bangkainya dan melemparkannya kepada anjinganjing

liar.”

Wong Sarimpat berjalan kembali mendekati kakaknya. Kemudian

mereka berjalan perlahan-lahan mencari jalan yang dapat dilaluinya

untuk menuruni lereng bukit gundul itu. Tetapi Kebo Sindet selalu

mengumpat-umpat. Agak lama mereka berjalan menyusuri

pinggiran bukit, tetapi mereka tidak segera menemukan tempat

yang memungkinkan mereka merayap turun.

“Gila!” Kebo Sindet menggeram “Bagaimana kita turun Wong

Sarimpat?”

Wong Sarimpat tidak segera menjawab. Dicobanya untuk

memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi malam menjadi

semakin pekat dan cahaya obor mereka di dekat Kuda Sempana

terbaring tidak dapat mencapai tempat-tempat yang dicarinya.

“Seandainya Empu yang gila itu tidak berbuat curang,” gerutu

Wong Sarimpat.

“Kenapa? “ bertanya kakaknya.

“Kalau kita tidak terluka, maka kita akan dapat terjun di setiap

tempat. Di sini pun dapat kita lakukan.”

“Jangan mengigau. Keadaan ini telah kita alami. Sekarang

bagaimana kita mengatasinya.”

Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi matanya masih dengan

nanar mencoba mencari lereng yang agak landai.

“Apabila terpaksa kita melingkar, lewat jalan pendakian yang

biasa,” gumam Kebo Sindet,

“Terlampau jauh.”

“Habis, apa yang dapat kita lakukan?”

Kembali Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya masih saja

mengumpat-umpat. Seandainya mereka tidak terluka, maka mereka

tidak perlu bingung tentang jalan turun. Tetapi seperti kata

kakaknya. Luka itu kini sudah mereka derita, sehingga mereka tidak

dapat melangkah surut.

Kedua orang itu berjalan kembali tertatih-tatih di atas bukit-bukit

gundul itu. Kebo Sindet tidak dapat mundur. Ia harus turun dan

menemukan Empu Sada. Hidup atau mati. Kalau orang tua itu masih

hidup, maka hidup itu harus segera diakhiri.

Dalam pada itu, di bawah bukit gundul itu telentang seorang tua

yang sudah menjadi sangat lemah. Empu Sada yang pingsan itu

terperosok ke dalam semak-semak yang rimbun.

Ketika angin malam yang sejuk perlahan-lahan mengusap

wajahnya, maka terasa udara yang segar menjalar di segenap uraturatnya.

Perlahan-lahan orang tua itu menjadi sadar kembali. Yang

pertama-tama dirasakannya adalah nyeri yang menyengat-nyengat

dadanya.

“Hem,” orang tua itu mengeluh. Tetapi segera ia menyadari

keadaannya. Karena itu, maka segera dipusatkannya segenap

kekuatan lahir dan batinnya.

Namun darah telah terlampau banyak mengalir, sehingga tubuh

yang tua itu terasa menjadi betapa lemahnya.

Tetapi Empu Sada adalah seorang yang telah banyak menelan

pengalaman yang pahit dan yang manis. Itulah sebabnya maka

dalam perjalanannya kali ini orang tua itu sudah membawa bekal

yang cukup. Sejak ia berangkat dari rumahnya mencegat perjalanan

Ken Dedes, ia telah memperhitungkan apa saja yang dapat terjadi

atas dirinya. Di antaranya luka seperti yang dialaminya saat itu.

Karena itu, maka Empu Sada itu pun telah membawa reramuan obat

di dalam kantong ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit

kerbau.

Dengan tangan yang lemah orang tua itu mencoba mengambil

reramuan obatnya. Dan dengan tangan sendiri yang lemah itu,

maka ditaburkannya obat itu pada luka dadanya.

Obat itu pun adalah obat yang dibuatnya sendiri berdasarkan

pengalamannya yang masak, sehingga obat itu pun dapat

dipercayanya, setidak-tidaknya menahan arus darah yang masih

saja mengalir.

Ternyata taburan obat itu menolongnya. Perlahan-lahan darah di

lukanya itu mengental, dan menyumbat alirannya. Namun tubuh

Empu Sada sudah terlampau lemah.

Orang tua itu menggeram. Tubuhnya sendiri terluka. Dan ia

kehilangan kedua muridnya. Ia tidak pernah menduga, bahwa

hatinya menjadi pedih juga atas hilangnya kedua muridnya itu. Ia

mencoba mengembalikan pikirannya kepada masa lampaunya.

Bagaimana ia menerima kedua anak-anak muda itu menjadi

muridnya.

“Ah, bukankah aku akan dapat mencari yang lain dengan mudah.

Bukankah kedua orang itu pada saat-saat terakhir juga tidak

memberi aku upah seperti masa-masa lalu? Persetan dengan

keduanya. Mereka bukan sanak bukan kadang. Aku menemukan

mereka dalam pengembaraan hidupku. Dan kini biarlah mereka

meninggalkan aku di tengah jalan.”

Tetapi ia tidak berhasil mengusir kata-kata hatinya sendiri.

Bahkan kemudian ia bergumam “Kasihan anak-anak itu.”

Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak tak

henti-hentinya, maka hati orang tua itu pun menjadi berdebardebar.

Ia tidak dapat berbaring terus di semak-semak itu. Ada

bermacam-macam bahaya yang dapat mengancamnya. Anjinganjing

liar itu dan orang-orang yang seliar anjing itu pula.

“Aku harus membuat sesuatu kalau aku ingin hidup terus,”

gumamnya.

Empu Sada pun menarik nafas. Dicobanya untuk menenangkan

debar jantungnya. Ketika sekali lagi ia mendengar anjing-anjing

menyalak di kejauhan, maka dicobanya pula untuk bangkit dengan

perlahan-lahan.

Orang tua itu menyeringai menahan sakit. Tetapi betapa lemah

tubuhnya, namun kemauannya yang menjala di dalam dadanya

telah menghangatkan darahnya. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri

bersandar pada tongkatnya. Sambil memusatkan segenap

kekuatannya, serta menyesuaikan jalan pernafasannya, maka Empu

Sada itu pun mendapatkan sebagian kecil dari kekuatannya kembali.

Namun dengan kekuatan yang kecil dibantu oleh tongkatnya, Empu

yang tua itu berhasil menggerakkan kakinya.

Empu Sada tidak tahu benar, apakah yang telah terjadi dengan

Kebo Sindet. Ia merasa, bahwa tongkatnya berhasil mengenai orang

itu. Tetapi akibat daripadanya, Empu Sada tidak dapat

mengetahuinya. Karena itu maka sekarang ia harus

memperhitungkan setiap kemungkinan. Kalau Kebo Sindet tidak

mengalami cedera, maka ia bersama adiknya yang meskipun telah

terluka, pasti akan mencarinya. Dalam keadaannya, mustahillah ia

dapat menyelamatkan diri dari kejaran kedua orang-orang liar itu.

Dengan demikian, berdasarkan atas perhitungannya, Empu Sada

segera meninggalkan tempat itu. Ia berjalan saja ke arah yang tidak

diketahuinya, namun segera menjauhi bukit gundul itu.

Tertatih-tatih orang tua itu berjalan. Sekali-kali ia masih harus

beristirahat mengatur pernafasannya. Kadang-kadang matanya

terasa seakan-akan menjadi gelap dan pandangannya menjadi

kekuning-kuningan. Namun ia tidak mau mati. Ia harus berjuang

untuk menyelamatkan dirinya. Kemauan yang kuat itulah yang telah

membawanya meninggalkan tempat yang celaka itu.

Di kejauhan masih terdengar anjing-anjing liar menggonggong

dan menyalak bersahut-sahutan. Anjing-anjing itu akan sama

berbahayanya dengan kedua orang-orang liar yang memuakkan itu.

Tetapi alangkah terkejutnya Empu Sada ketika agak jauh di

sisinya ia mendengar tiba-tiba saja suara menyentak, “Aku

menandainya Kakang. Di samping batu padas yang menjorok itulah

ia terpelanting jatuh. Pasti ia berada di sekitar tempat di bawah batu

itu pula. Ia pasti terbaring di sana, apakah ia mati atau pingsan.

Bahkan seandainya ia masih hidup pun ia akan mati pula karena

darahnya yang mengalir dari lukanya.”

“Tetapi aku harus melihat bangkainya. Harus. Aku tidak puas

dengan dugaan-dugaan serupa itu.”

Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar. Seolah-olah luka di

dadanya menjadi bertambah pedih.

“Setan itu masih mampu berjalan begitu cepatnya,” desahnya

dalam hati. Meskipun suara itu masih belum terlampau dekat,

namun ia harus memperhitungkan keadaan. Ia tahu, bahwa Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat masih berada di tempat yang agak jauh.

Di malam hari, di lereng bukit pula, maka suara itu kedengarannya

menjadi semakin jelas.

“Aku harus segera menjauhinya,” katanya di dalam hati pula.

Empu Sada mencoba mempercepat langkahnya. Tetapi nafasnya

dan sakit di dada dan telinganya benar-benar telah

mengganggunya, bahkan hampir-hampir ia tidak mampu lagi untuk

bergerak. Meskipun darah tidak lagi mengalir dari luka di dadanya

karena reramuan obat-obatnya namun sakitnya masih juga

menusuk-nusuk sampai ke pusat jantung.

Di kejauhan ia mendengar suara pula, “Mudah-mudahan bau

darahnya memanggil anjing-anjing liar kemari. Seandainya ia masih

hidup, maka ia akan menjadi hidangan malam ini.”

“Bagaimana kalau ia lari?”

“Tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin. Seandainya ia masih

mampu berjalan, maka ia pasti hanya dapat melangkahkan

beberapa langkah. Kemudian ia akan jatuh terbaring. Mati atau

hanya menunggu saat untuk mati. Mati lemas karena kehabisan

darah, atau mati karena anjing-anjing liar.”

“Mungkin. Mungkin. Tetapi aku harus melihatnya, harus.”

“Baik. Lihatlah bayangan batu padas yang mencorong itu. Kita

lihat di bawahnya.”

Suara itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dada Empu Sada

pun menjadi semakin berdebar-debar. Dicoba mengamati daerah

sekitarnya. Gerumbul-gerumbul kecil dan ilalang liar yang

bertebaran hampir di sepanjang lereng itu.

“Aku tidak dapat bersembunyi di dalam gerumbul-gerumbul

kecil,” katanya di dalam hati, “dan tidak pula melalui ilalang liar itu.

Dengan demikian, maka jejakku akan segera dapat mereka ikuti.”

Empu Sada menjadi bingung sejenak. Kali ini ia masih terlindung

dari beberapa gerumbul semak-semak dan ilalang liar. Tetapi kalau

Kebo Sindet dapat menemukan bekas tempat ia terjatuh, maka

mereka pasti akan dapat menemukan jejaknya di alang-alang.

Tetapi kalau ia keluar dari daerah alang-alang, maka ia akan berada

di tempat terbuka. Kemungkinan akan menjadi besar pula, kedua

orang itu melihatnya, meskipun di dalam gelap malam.

Dalam keragu-raguan, tiba-tiba Empu Sada melihat dataran yang

berkilat di sebelah gerumbul-gerumbul liar beberapa puluh langkah

daripadanya memantulkan cahaya bintang yang bergayutan di

langit. Dan tiba-tiba pula mulutnya berdesis, “Air. Air. itu adalah

sebuah sendang yang agak luar. Tetapi bagaimana aku dapat

menyeberangi sendang itu? Kalau sendang itu cukup dalam, maka

aku pasti akan tenggelam. Keadaanku tidak memungkinkan aku

untuk berenang sampai ke sisi yang lain.”

Kembali Empu Sada menjadi termangu-mangu. Seakan-akan

tidak ada jalan yang dapat ditempuhnya untuk menyingkirkan diri.

Ilalang akan memberi jejak kepada kedua orang yang mengejarnya.

Gerumbul-gerumbul yang bertebaran terlampau kecil untuk

tempatnya bersembunyi. Di tempat terbuka sama sekali tidak

menguntungkannya. Dan salah satu arah yang lain adalah air

sendang yang luas. Sendang yang tidak akan mampu direnanginya

karena keadaan tubuhnya. Bahkan sendang itu justru menjadi

dinding yang mengungkungnya dalam satu lingkaran yang serasa

terlampau sempat menempatkan tubuhnya yang kecil itu.

Kembali Empu Sada mendengar suara semakin dekat, “Batu

padas itu yang kau maksud?”

“Ya, Kakang.”

“Kita hampir sampai. Kita akan segera melihat tubuhnya yang

terbaring. Aku mengharap ia masih hidup. Aku ingin melihat ia

menjadi sangat kecewa menghadapi akhir hayatnya. Aku ingin

melihat ia menyesali perbuatannya, tetapi aku ingin melihat orang

itu tidak melihat jalan yang dapat membebaskannya meskipun

penyesalan itu merobek-robek dadanya.

Terdengar Wong Sarimpat tertawa. Tetapi segera suara itu

terputus. Yang terdengar adalah suaranya terbatuk-batuk.

Empu Sada merasa bahwa ia tidak dapat terlalu lama berdiri

termangu-mangu. Ia harus menentukan sikap. Melarikan diri atau

melawan sama sekali, yang keduanya sulit dilakukan.

Tiba-tiba orang tua itu bergumam kepada diri sendiri, “Marilah.

Marilah orang tua yang celaka. Marilah kita terjun ke dalam air.

Lebih baik ditempuh jalan itu daripada jatuh ke tangan kedua setansetan

liar itu. Kalau aku mampu keluar dari sendang itu, maka aku

akan hidup. Tetapi apabila sendang itu sendang lendut, atau kalau

aku tidak lagi mampu berenang maka aku akan mati di dalamnya.

Mati tenggelam adalah jauh lebih baik daripada mati di tangan

orang-orang liar yang mengerikan itu.”

Empu Sada pun kemudian menjadi bulat bertekad untuk terjun

ke dalam sendang. Ia tidak tahu apakah kira-kira yang akan terjadi.

Mungkin ia akan tenggelam karena tubuhnya telah lemah. Mungkin

pula ia akan terbenam ke dalam lumpur dan tidak berdaya untuk

melepaskan diri, sehingga ia pun akan mati berkubur di bawah

lumpur sendang itu.

“Tetapi itu lebih baik. Itu lebih baik. Aku gagal setelah berusaha,

sehingga aku tidak menyerahkan kepalaku begitu saja kepada Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat.”

Empu Sada itu pun kemudian berjalan tertatih-tatih

meninggalkan persembunyiannya, batang-batang ilalang di lereng

gunung gundul. Meskipun ia harus berjalan beberapa langkah di

tempat terbuka, tetapi ia mengharap, bahwa ia masih tetap

terlindung dari arah pandangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

oleh batang-batang ilalang yang rimbun di belakangnya.

Tetapi ketika ia sampai ke ujung rimbunnya batang-batang

ilalang, tiba-tiba ia melihat beberapa batang gelagah ilalang

mencuat dari ujung batangnya. Ujung gelagah yang berumbai itu

bergerak-gerak ditiup angin malam, seperti rambut yang jarangjarang

dan telah memutih pula. Seperti rambut Empu Sada sendiri.

Empu Sada itu termenung sejenak. Ia sangat tertarik pada

gelagah ilalang itu. Dengan serta-merta ia meraih dan

mengambilnya sebatang. Dipotongnya umbai pada ujungnya, dan

ketika ia meniup gelagah ilalang itu, maka ia bersorak di dalam hati.

Gelagah ilalang itu berlubang di tengah seperti sebatang sumpit

yang panjang.

“Hem,” gumamnya, “mudah-mudahan aku berhasil.”

Dijinjingnya kemudian tiga batang gelagah ilalang di tangan

kanannya, sedang tangan kirinya menggenggam tongkatnya eraterat.

Ia kini berusaha tidak lagi berjalan bersandar pada tongkatnya,

supaya ujung tongkatnya tidak melukiskan jejak di tanah yang

semakin gembur.

Ketika Empu Sada hampir mencapai tepi sendang itu, ia masih

mendengar suara Wong Sarimpat, “Di sini, Kakang. Orang itu pasti

berada di sini. Lihatlah batu padas yang menjorok itu. Di sebelah

batu itu ia jatuh terpelanting. Kepalanya mungkin telah pecah

menimpa batu-batu yang keras dan runcing ini.”

Kebo Sindet menjawab keras, “Kau selalu puas dengan angananganmu.

Mungkin orang itu mati. Mungkin kepalanya pecah.

Mungkin dimakan anjing. Tetapi mungkin pula ia masih hidup.

Mengintai kita, dan dengan curang pula ia menyerang kita dengan

tongkatnya.”

“Uh,” bantah adiknya, “tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin ia

masih tetap hidup. Apabila ia tidak sedang terluka, memang hal itu

mungkin terjadi.”

“Kau lihat berbagai semak-semak di lereng bukit gundul itu?”

bertanya kakaknya.

“Ya, kenapa?”

“Semak-semak itu dapat menolongnya. Menahan atau

memperlambat.”

“Mungkin. Tetapi kemungkinan itu terjadi satu dari seratus

kejadian.”

“Kalau Empu Sada termasuk yang satu itu?”

Wong Sarimpat terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Kebo

Sindet, “Cari. Kita cari sampai ketemu. Aku mengharap ia masih

tetap hidup. Membunuhnya dengan tangan sendiri pasti lebih

menyenangkan.”

Wong Sarimpat tidak menyahut. Kini keduanya terdiam untuk

sejenak. Mereka melangkah lebih mendekat lereng bukit gundul itu.

Meskipun hampir dapat dipastikan bahwa orang yang jatuh

terpelanting dari atas bukit gundul itu akan mati, namun ternyata

keduanya cukup berhati-hati. Seperti dugaan Kebo Sindet, demikian

pula tumbuh, meskipun sangat tipis, keragu-raguan di dalam hati

Wong Sarimpat. Jangan-jangan Empu Sada kini sedang mengintai

mereka, dan akan menerkam mereka dengan curang seperti

serangannya yang pertama.

Tetapi mereka tidak segera menemukan Empu Sada. Betapa pun

mereka mencari, namun mereka tidak melihat sesosok tubuh yang

terbaring diam di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul kecil atau di

antara batang-batang ilalang liar.

Mula-mula mereka menyangka, bahwa mungkin Empu Sada

terpelanting agak jauh dari tempatnya terguling. Mungkin tubuhnya

terantuk sebuah batu yang menjorok dan melemparkannya

beberapa langkah. Tetapi setelah mereka berputar-putar beberapa

langkah dari tempat itu, tubuh Empu Sada tidak mereka temukan.

“Apakah orang tua itu anak demit?” geram Kebo Sindet, yang

kemudian berkata kepada Wong Sarimpat, “He, Sarimpat. Apa

katamu sekarang?”

Keringat dingin mulai mengaliri punggung orang itu. Bahkan

kemudian dadanya yang sakit terasa menjadi semakin pedih.

“Ia tidak akan dapat meninggalkan tempat ini Kakang,” katanya.

Tetapi ia sudah tidak yakin lagi akan kata-katanya sendiri, “Mungkin

ia berhasil merangkak beberapa langkah. Tetapi tidak akan

terlampau jauh.”

“Orang itu harus kita temukan,” teriak Kebo Sindet yang benarbenar

dibakar oleh kemarahannya.

Namun tiba-tiba terdengar orang itu hampir memekik, “Lihat.

Bukankah ini jejak setan itu?”

Tertatih-tatih Wong Sarimpat mendatangi kakaknya. Hatinya

menjadi semakin berdebar-debar, Apakah Empu Sada benar-benar

mampu melarikan diri dari tangan mereka?”

Demikian ia berdiri di samping kakaknya, segera ia melihat apa

yang dikatakan oleh Kebo Sindet. Di antara batang-batang ilalang

mereka melibat seolah-olah sebuah jaluran yang memanjang.

Ilalang yang terinjak-injak kaki Empu Sada menjadi roboh dan

seakan-akan membelah kedua sisinya. Dengan demikian, maka

jejaknya akan terlampau mudah diikuti. Apabila Empu Sada yang

terluka, yang berjalan terhuyung-huyung bersandar pada

tongkatnya.

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil

berkata, “Inilah jejak orang sekarat itu. Kita pasti akan

menemukannya Kakang. Orang itu pasti belum terlampau jauh.”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ternyata ia terpaksa

berpikir menghadapi orang aneh itu. Orang yang ternyata memiliki

ketahanan tubuh yang luar biasa.

“Mari Kakang,” ajak Wong Sarimpat tidak sabar.

“Mari,” sahut Kebo Sindet sambil melangkah maju. Tetapi dalam

pada itu Kebo Sindet terpaksa memperhitungkan keadaan dirinya.

Kedua tangannya yang telah terluka. Pelipisnya yang serasa telah

menjadi retak. Ia tinggal mempercayakan dirinya pada ketangkasan

dan kekuatan kakinya. Sedang adiknya pun telah hampir mati pula

karena luka di dada.

“Hem,” katanya di dalam hati, “Apakah Empu Sada masih mampu

bertempur?”

Tetapi kembali nafsunya mencengkam dadanya. Empu Sada

harus ditangkapnya. Kini ia yakin bahwa orang itu masih hidup, dan

ia akan dapat membunuh dengan caranya. Mungkin dengan cara

yang belum pernah dilakukannya.

Karena itu maka Kebo Sindet pun segera berjalan tergesa-gesa.

Meskipun kedua tangannya dan pelipisnya serasa pecah, tetapi

kedua kakinya masih cukup mampu untuk berjalan agak cepat.

Tetapi Wong Sarimpat tidak mampu berjalan secepat kakaknya.

Sambil terbungkuk-bungkuk ia melangkah maju semakin lama

semakin jauh dari Kebo Sindet.

Dengan seksama Kebo Sindet mengikuti jejak Empu Sada di

antara batang-batang ilalang. Namun ia sama sekali tidak

meninggalkan kewaspadaan. Setiap kali ia mendengar gemeresik di

sekitarnya, segera ia berhenti dan mempersiapkan diri. Tetapi

ternyata suara itu adalah suara kelinci-kelinci liar yang berlari karena

ketakutan.

“Bekas ini cukup panjang,” desisnya.

Tetapi Kebo Sindet tidak mendengar jawaban. Ketika ia

berpaling, maka dilihatnya adiknya samar-samar agak jauh di

belakangnya.

Tetapi Kebo Sindet tidak memedulikan. Ia tidak mau kehilangan

buruannya, sehingga justru ia mempercepat langkahnya. Namun ia

tidak dapat terlampau cepat. Ia harus mengamati setiap langkah

supaya ia tidak kehilangan jejak.

Ternyata jejak yang harus ditelusur oleh Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat cukup panjang. Kadang-kadang ia kehilangan jejak untuk

sesaat. Seolah-olah jalur yang menjelujur itu menghilang ke dalam

semak-semak. Apabila demikian, maka Kebo Sindet harus menjadi

sangat berhati-hati. Orang itu menyangka bahwa Empu Sada

bersembunyi ke dalam semak-semak itu. Tetapi kemudian ternyata,

bahwa di sebelah semak-semak itu, ditemukan kembali jejak Empu

Sada yang memanjang. Dan kembali Kebo Sindet berjalan

menyusurinya.

Tetapi jejak itu cukup panjang. Bahkan terlalu panjang. Apa lagi

Wong Sarimpat yang berjalan agak jauh di belakang Kebo Sindet.

Orang itu mengumpat tak habis-habisnya. Namun di samping

kemarahan yang semakin dalam, ia pun menjadi heran. Apakah

orang yang sudah terluka dan terpelanting ke dalam jurang itu

masih mampu berjalan sedemikian, ia tetap yakin, bahwa suatu

ketika ia akan menjumpai tubuh itu terbaring di t as ah dengan

lemahnya.

Wong Sarimpat itu terkejut ketika ia mendengar kakaknya

berteriak menggigilnya, “He Sarimpat. Lihat ini. Di sini jejak itu

lenyap.”

Dada Wong Sarimpat berdesir. Segera ia berusaha mempercepat

langkahnya. Kata-kata kakaknya benar-benar telah membuatnya

menjadi sangat cemas.

Ketika ia sampai ke dekat Kebo Sindet ia melihat batang-batang

ilalang menjadi sangat tipis, bahkan kemudian hampir lenyap. Yang

terbentang kemudian adalah sebuah lapangan rumput yang sempit

dengan gerumbul-gerumbul liar di sana-sini. Kemudian di hadapan

padang rumput itu mereka melihat sebuah sendang yang agak luas.

Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah mengenal tempat itu baikbaik.

Mereka telah mengetahui bahwa sandang itu cukup luas.

Bahkan di tengah-tengah sendang itu tumbuh semacam tumbuhan

air yang berbahaya. Ganggeng. Yang menurut cerita ganggeng itu

sering menelan binatang atau manusia sebagai makanannya. Tetapi

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak meyakininya. Yang mereka

ketahui adalah, bahwa ganggeng itu berakar banyak dan panjang,

sehingga apabila seseorang berenang melampaui sekelompok

tumbuh-tumbuhan ganggeng, maka tubuhnya pasti akan terbelit.

Apabila seseorang menjadi bingung dan kehilangan akal, maka

mustahil ia dapat melepaskan diri dari belitan akar ganggeng yang

sangat banyak dan panjang-panjang.

“Ia meninggalkan gerumbul alang-alang ini, Kakang. Ia pergi ke

tempat terbuka.”

Kebo Sindet meng-angguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar

bahwa lapangan rumput itu terlampau sempit. Di ujung, lereng bukit

gundul itu bertemu dengan sisi sendang, sehingga tak seorang pun

yang akan mampu melampauinya. Yang dapat dilakukan adalah,

terjun ke dalam sendang atau mendaki tebing yang curam, yang

keduanya sangat sulit. Tak seorang pun yang dapat mendaki tebing

yang sangat curam itu dan tak seorang pun yang akan dapat

melampaui tebaran tumbuhan ganggeng di tengah-tengah sendang

itu. Apabila seseorang masuk ke dalam sendang, maka satu-satunya

kemungkinan untuk hidup adalah kembali sisi ini.

Apabila seseorang tidak mendaki tebing dan tidak terjun ke

dalam sendang, maka satu-satunya jalan adalah kembali

meninggalkan tempat yang terbuka, masuk ke dalam semak-semak

batang-batang ilalang bertebaran memenuhi sisi bukit gundul itu.

Karena itu maka Kebo Sindet itu menggeram “Tidak ada

kemungkinan lain.”

Wong Sarimpat yang mengenal tempat itu sebaik kakaknya, tahu

benar maksud kata-kata itu, sehingga dengan serta-merta ia

menjawab “Ya, tidak ada kemungkinan lain. Marilah kita lihat

batang-batang ilalang di sekitar tempat ini. Kalau tidak ada bekas

kakinya meninggalkan tempat ini, maka orang itu pasti mencoba

melarikan diri menyeberang sendang itu.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Segera ia berjalan menyusur

pinggiran semak-semak ilalang yang memagari tempat terbuka itu.

Dicobanya untuk menemukan jejak apabila Empu Sada mencoba

meninggalkan tempat itu. Wong Sarimpat pun kemudian berbuat

serupa. Dengan seksama ia meneliti setiap langkah. Diamatinya

dengan penuh kewaspadaan. Bukan saja jejak kaki, tetapi apabila

tiba-tiba dari balik semak-semak dan batang-batang ilalang itu

mematuk sebatang tongkat panjang. Tongkat Empu Sada.

Tetapi sampai ke ujung, sampai semak-semak ilalang itu bertaut

dengan sisi sendang di sebelah yang lain, mereka sama sekali tidak

menemukan jejak itu. Tak ada tanda-tanda pada semak-semak

ilalang itu seperti yang pernah mereka lihat. Tak ada batang-batang

ilalang yang roboh karena terinjak kaki.

Kebo Sindet itu menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi

pepat karena kemarahannya.

“Setan itu telah lenyap,” umpatnya “bagaimana mungkin ia bisa

lari?”

“Tidak mungkin!” sahut Wong Sarimpat, “Tidak mungkin! Orang

itu aku kira telah terjun ke dalam Sendang. Ia tidak tahu sama

sekali bahaya yang telah menunggunya. Selain tubuhnya yang

lemah, maka ganggang itu pasti akan menelannya.”

“Aku belum yakin,” sahut kakaknya, “ia adalah orang yang sangat

cerdik. Otaknya tajam tidak seperti otakmu. Mungkin ia masuk ke

dalam sendang di sepanjang tepi semak-semak ini sekedar

menghilangkan jejak. Kemudian ia masuk kembali di antara batang

ilalang beberapa langkah dari tempat ini.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu pun

memang mungkin terjadi. Tetapi Empu Sada tidak akan dapat

terlampau jauh menyusur tepi sendang ini, sebab di sebelah yang

agak dalam, tepi sendang ini menjadi curam. Karena itu maka ia

sependapat ketika kakaknya berkata, “Kita telusuri tepi sendang ini.

Apabila kita sampai di tempat yang curam itu, kita belum

menemukan jejaknya, maka baru kita yakin bahwa orang tua itu

terjun ke dalam sendang.”

Keduanya pun kemudian dengan hati-hati masuk ke dalam

pinggiran sendang yang landai dan tidak terlampau dalam.

Perlahan-lahan mereka berjalan sambil mengamati semak-semak

ilalang di pinggir sendang itu. Setiap ada tanda-tanda yang

mencurigakan maka segera mereka berdua mengamatinya dengan

seksama.

Tetapi kembali mereka menjadi kecewa. Mereka sama sekali

tidak menemukan jejak apapun sehingga mereka sampai ke sisi

sendang yang curam.

Kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin memuncak. Dadanya

serasa akan meledak karena kemarahannya itu. Wong Sarimpat pun

mengumpat tidak habis-habisnya sehingga kakaknya membentaknya

“He, tutup mulutmu! Sekarang terbukti bahwa kau masih saja selalu

menuruti angan-anganmu yang bodoh. Coba katakan sekarang, di

mana Empu Sada itu.”

Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram.

“Ayo, sekarang kita menyusuri tepi sendang ini. Mungkin Empu

Sada hanya sekedar masuk ke dalam air merendamkan tubuhnya,

untuk nanti menepi kembali.”

“Marilah,” sahut adiknya.

Kembali keduanya berjalan menyusuri tepi sendang itu. Sekalikali

mereka berhenti agak lama dan memperhatikan permukaan

sendang itu, seandainya mereka melihat sesuatu. Tetapi permukaan

air yang datar itu, sama sekali tidak dinodai oleh sesuatu apapun.

Mereka sama sekali tidak melihat wajah air beriak, atau sebuah

kepala yang muncul ke permukaan air.

“Tak ada orang yang mampu merendam diri sekian lama

bersama seluruh tubuhnya. Sekali-kali ia harus muncul ke atas

permukaan air untuk mengambil nafas,” geram Kebo Sindet.

“Mungkin ia telah berenang agak ke tengah dan lenyap ditelan

ganggeng.”

“Kau masih juga berangan-angan. Mungkin dan mungkin lagi.”

Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya bergumam, “Lalu apakah

orang itu dapat lenyap menjadi asap?”

Beberapa lama mereka menunggui sendang itu. Bahkan

kemudian Kebo Sindet melihat sesuatu di tepi sendang itu.

Sepotong kain kecil berwarna ungu.

“Kacu, kau lihat?” teriak Kebo Sindet.

“Ya, kacu,” sahut Wong Sarimpat dengan serta-merta

“Pasti seseorang telah datang kemari. Lihat, apakah yang

dibendeli dalam kacu itu.”

Wong Sarimpat segera memungut sepotong kain berwarna ungu,

yang ternyata di dalamnya ada sesuatu benda yang terbalut. Ketika

Kebo Sindet membuka sepotong kain berwarna ungu itu, maka tibatiba

ia berkata, “Ini pasti milik Empu Sada.”

“Pasti. Kau lihat bumbung kecil ini? Isinya adalah sebuah

reramuan obat-obatan. Mungkin obat-obatan ini pulalah yang telah

membuatnya menjadi kuat dan dapat menempuh jarak ini.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

mengumpat tak habis-habisnya. Sambil membanting potongan kain

itu di tanah ia berkata lantang, “Ia pasti terjun ke dalam sendang

ini. Pasti. Tetapi dengan demikian ia pasti menemui ajalnya pula,

berkubur di dalam perut pelus yang menunggui sendang ini.”

Kebo Sindet yang berwajah beku itu berdiri mematung di tepi

sendang. Tetapi matanyalah yang memancarkan gejolak di dalam

dadanya. Apabila Empu Sada itu lepas dari tangannya, maka orang

itu akan menjadi orang yang paling berbahaya baginya. Orang itu

pasti mendendamnya pula. Tetapi untuk sementara, Empu Sada

pasti masih harus menyembuhkan luka-lukanya yang pasti lebih

berat dari lukanya sendiri. Empu Sada itu pun pasti tidak akan

segera dapat berhubungan dengan Mahisa Agni atau Tunggul

Ametung. Dengan demikian masih akan timbul salah paham di

antara mereka karena hubungan mereka yang terlampau jelek di

masa-masa yang lampau.

Dalam pada itu Wong Sarimpat masih juga berteriak, “He Empu

yang gila. Jangan bersembunyi di dalam air. Kau akan mampus

ditelan ganggeng. Ayo keluarlah!”

Namun suaranya yang melontar itu hanya disahut oleh gemanya

sendiri. Gema yang memantul dari lereng-lereng bukit gundul.

“Tak ada orang yang dapat hidup di dalam air,” berkata Kebo

Sindet kemudian. Kita tunggu di sini untuk sejenak. Kalau kita sudah

yakin, bahwa Empu Sada tidak sekedar merendam diri, maka kita

akan mendapat kesimpulan, bahwa orang itu telah mencoba

melarikan diri, menyeberangi sendang ini.”

“Dan ia akan mampus di antara ganggeng-ganggeng itu.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dengan gelisah.

Dengan dada yang menghentak-hentak ia berjalan mondar-mandir.

Ia mengharap melihat sebuah kepala tersembul di permukaan air.

Tetapi ia tidak melihatnya, meskipun cukup lama ia berada di

pinggir sendang itu. Ia tidak melihat sebuah kepala yang muncul di

permukaan air.

“Kalau orang tua itu berada di dalam air, maka sekali-sekali ia

akan muncul dan akan segera dapat kita lihat.”

“Ya,” sahut Wong Sarimpat keras-keras, “tetapi orang itu sangat

bodoh. Dan ia mencoba berenang menyeberang.”

Kebo Sindet tidak menyahut. Dibiarkannya adiknya berteriak

memanggil nama Empu Sada dan sekali-kali ia terbatuk-batuk

karena dadanya serasa menjadi pepat. Namun demikian ia berhasil

mengatur pernafasannya, maka dipuaskannya hatinya dengan

berteriak-teriak untuk mengurangi himpitan kekecewaannya atas

hilangnya Empu Sada.

Akhirnya Kebo Sindet menjadi tidak sabar lagi. Menurut

perhitungannya, ia telah terlalu lama berdiri, dan kemudian duduk,

untuk sejenak lagi berdiri, di tepi sendang itu. Kalau benar Empu

Sada masuk ke dalam sendang itu, maka ia pasti sudah mati lemas,

atau mati dibelit ganggang. Sedang kemungkinan yang lain tidak

ada.

“Aku harap orang itu sudah mampus,” desis Kebo Sindet.

“Pasti. Pasti sudah mampus,” teriak Wong Sarimpat. Kemudian

keras-keras ia berkata “Kalau belum ia pasti akan muncul di

permukaan air.”

“Mari kita kembali. Kita lihat Kuda Sempana, apakah ia masih

utuh atau tinggal Kerangkanya saja dirobek-robek anjing liar,”

berkata Kebo Sindet.

“Apakah keberatan kita Kakang?” sahut Wong Sarimpat “biar

sajalah Kuda Sempana itu mampus pula.”

“Aku masih memerlukan anak itu. Mungkin masih ada

keterangan-keterangan yang bisa diperas daripadanya. Bersikaplah

baik terhadap anak itu.”

Wong Sarimpat menggeram. Kepada Kuda Sempana ia

mempunyai tanggapan yang serupa seperti kepada gurunya dan

kepada Cundaka yang telah dibunuhnya. Tetapi karena kakaknya

menghendaki, maka betapa berat perasaannya, ia harus

memenuhinya.

Keduanya pun kemudian meninggalkan sendang itu. Kebo Sindet

pun kini telah yakin, bahwa Empu Sada pasti akan mati di tengahtengah

sendang itu. Tak ada orang yang dapat menahan nafasnya

sekian lama, sepanjang mereka berdua berada di tepi sendang itu.

Dan tak ada orang yang akan dapat menyeberangi sendang itu

dengan selamat. Orang itu pasti akan tenggelam dibelit oleh

ganggeng yang tumbuh lebat hampir di segenap sudut sendang itu.

Sedangkan apabila Empu Sada tetap tinggal di tepi, maka setiap kali

ia mengambil nafas maka pasti akan dilihatnya.

Ketika keduanya mulai melangkahkan kakinya, maka tiba-tiba

Wong Sarimpat membungkukkan badannya. Diraihnya beberapa

buah batu dan dilempar-lemparkannya ke dalam sendang itu sambil

berteriak, “Mampuslah kau! Mampuslah!”

Tetapi batu-batu itu tidak terlampau besar, dan wajah sendang

itu terlampau luas. Tetapi Wong Sarimpat berbuat asal sekedar

berbuat saja. Ia hanya ingin melepaskan kekecewaan, kemarahan

dan dendam karena luka di dadanya.

Suara Wong Sarimpat yang mengumpat-umpat semakin lama

terdengar semakin jauh dari sendang itu. Ketika dadanya menjadi

sakit, barulah ia terdiam dan terbatuk-batuk. Seterusnya orang itu

tidak lagi berteriak dan mengumpat-umpat.

Dengan tertatih-tatih keduanya berjalan menerobos semaksemak

ilalang di sekitar bukit gundul itu. Bahkan Kebo Sindet pun

kemudian menjadi agak tergesa-gesa. Ia takut Kuda Sempana yang

ditinggalkannya akan dikerumuni oleh anjing-anjing hutan, menjadi

makanan mereka yang menyenangkan.

Ia masih merasa perlu atas Kuda Sempana. Banyak hal yang

dapat dilakukan oleh anak itu. Meskipun apa yang akan dilakukan

kelak atasnya, mungkin sama sekali tidak menyenangkan bagi Kuda

Sempana, tetapi Kebo Sindet masih merasa perlu untuk bersikap

baik terhadapnya. Kebo Sindet pun memperhitungkan, bahwa Kuda

Sempana bukanlah seorang pengecut yang berlebihan. Mungkin ia

akan mempertahankan harga dirinya, dan membiarkan dirinya mati

apabila ia dicoba untuk diperas dengan kasar. Tetapi dengan cara

lain, mungkin anak muda yang kehilangan gurunya itu akan menjadi

lunak. Meskipun apabila terpaksa, maka segala cara akan ditempuh

oleh kedua hantu lereng bukit gundul itu.

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian menganggap

bahwa Empu Sada telah berusaha melarikan dirinya dengan

menyeberangi sendang. Dengan demikian maka mereka pun

menganggap bahwa orang itu pasti sudah binasa di tengah-tengah

sendang itu dibelit ganggeng.

“Tidak mungkin Empu Sada dapat melenyapkan diri seperti

asap,” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya, “dan tidak mungkin

seseorang mampu menyeberangi sendang itu dengan selamat.”

Meskipun demikian, Kebo Sindet itu berkata, “Besok kita kembali

ke tempat ini untuk meyakinkan kematian Empu Sada.”

“Baik,” sahut adiknya.

Kembali mereka berdiam diri sambil melangkah di antara batang

ilalang menuju ke lereng pendakian bukit gundul itu.

Sementara itu Empu Sada masih mencoba bersembunyi di dalam

air. Baginya cara itu adalah satu-satunya jalan. Ia belum mengenal

daerah itu dengan baik, sehingga ia tidak tahu, ke mana ia akan lari.

Sedangkan pada saat itu, suara kedua orang liar itu sudah semakin

dekat. Untunglah bahwa ia merasa terlampau lemah untuk mencoba

melarikan diri dengan merenangi sendang yang tidak dilihatnya tepi

di ujung lain karena malam yang pekat.

Maka tak ada pilihan lain baginya daripada terjun ke dalam air.

Dengan menahan dingin dan pedih pada luka di dadanya, ia

merendam dirinya. Hanya kepalanya sajalah yang semula masih

berapa di atas air. Tetapi ketika didengarnya suara Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat semakin dekat, dan ketika samar-samar telah

dilihatnya kedua orang itu mendekati tepi sendang maka segera

dibenamkannya segenap tubuhnya.

Orang tua itu mempergunakan gelagah ilalang untuk menahan

supaya ia tetap dapat bernafas meskipun dengan mulutnya. Satu

ujung gelagah itu dimasukkannya ke dalam mulutnya, sedang

ujungnya yang lain dicuatkannya ke atas permukaan air. Dengan

demikian ia masih mampu melakukan pernafasan meskipun dengan

mulutnya.

Namun usaha itu ternyata telah menyelamatkannya. Ternyata

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak memperhitungkan sedemikian

jauh, sehingga ketika mereka berada di tepi sendang itu cukup

lama, dan tidak dilihatnya sebuah kepala yang kadang-kadang

tersembul ke atas air untuk menarik nafas, maka mereka

menganggap bahwa Empu Sada tidak berada di tempat itu. Tidak

berada di tepian sendang yang dangkal.

Meskipun Empu Sada merendam seluruh tubuhnya, termasuk

kepalanya di dalam air, namun samar-samar ia mendengar suara

Wong Sarimpat mengumpat-umpat. Memanggil-manggilinya dan

berteriak-teriak menentu

Ketika Wong Sarimpat melemparkan batu ke dalam sendang itu,

maka hampir saja batu itu mengenainya, bahkan hampir saja

mengenai kepalanya. Tetapi untunglah, bahwa kepalanya nyaris

terkena lemparan itu.

Akhirnya suara ribut Wong Sarimpat itu pun lenyaplah. Tidak ada

lagi umpatan-umpatan yang didengarnya. Tidak ada lemparanlemparan

batu yang dirasakannya.

Meskipun demikian Empu Sada tidak segera berani muncul ke

permukaan air. Ia masih takut apabila kedua orang itu masih

menunggui di tepi sendang. Dengan demikian, maka usahanya

merendam diri semakin lama, sehingga ia menggigil kedinginan dan

kesakitan yang sangat pada dadanya itu akan sia-sia.

Tetapi akhirnya Empu Sada itu pun yakin bahwa kedua orang itu

telah pergi. Perlahan-lahan ia mencoba menjengukkan matanya ke

permukaan air. Dan kini tidak dilihatnya lagi seseorang di pinggir

sendang itu. Dengan teliti diamatinya setiap bayangan yang

betapapun samar-samarnya. Mungkin bayangan itu adalah kedua

orang liar yang memuakkan itu. Namun akhirnya ia mendapat

kesimpulan bahwa kedua orang itu memang telah pergi.

Perlahan-lahan Empu Sada bangkit berdiri. Air tempatnya

bersembunyi sebenarnya tidak terlampau dalam. Masih belum

melampaui perut. Namun karena Empu Sada berhasil merendamkan

seluruh tubuhnya, dan cahaya bintang-bintang di langit yang sama

sekali tidak membantu memecahkan gelap malam, maka kedua

orang liar itu tidak melihatnya.

Empu Sada yang kedinginan itu kemudian melangkah menepi.

Lututnya gemetar dan darahnya serasa hampir membeku.

“Gila!” gumamnya, “pengalaman ini adalah pengalaman yang

paling menarik sepanjang hidupku. Sepanjang petualangan yang

pernah aku lakukan. Telah berpuluh kali aku berkelahi, berpuluh kali

terluka dan berpuluh kali membunuh lawan. Namun belum pernah

aku merendam diri selama ini, hanya sekedar ingin menghindari

kedua setan bukit gundul ini.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia meraba-raba

ikat pinggangnya, diketahuinya bahwa kacu sepotong yang

dipakainya untuk membalut obat-obatnya terjatuh.

“Hem, pasti ketika aku membenahi diri sebelum aku terjun

kemari.”

Empu Sada pun kemudian mencari sepotong kain ungunya.

Ketika kemudian kain sepotong itu ditemukan, maka gumamnya,

“Kedua orang itu pasti melihat potongan kain ini. Kalau demikian,

maka mereka pasti sudah tahu bahwa aku masuk ke dalam sendang

ini.”

Empu Sada kini menyadari keadaan diri sepenuhnya. Kedua

orang yang mencarinya pasti menyangka, bahwa ia telah mencoba

melarikan diri merenangi sendang itu. Namun Empu Sada kemudian

tidak dapat mengambil kesimpulan, bagaimanakah anggapan Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat atas dirinya. Empu Sada tidak dapat

segera mengetahui, bahwa Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah

menganggapnya mati ditelan ganggeng di tengah-tengah sendang

itu.

Karena itu, maka Empu Sada itu pun kemudian bergumam,

“Mungkin mereka masih berusaha untuk segera menemukan aku.

Karena itu aku harus segera pergi.”

Empu Sada segera melangkahkan kakinya. Beberapa langkah

kemudian ia masih menemukan bumbungnya yang berisi reramuan

obat-obatan. Tetapi sebagian dari obat-obatnya telah berserak-serak

di atas rerumputan dan tak mungkin lagi dikumpulkannya. Tetapi

sebagian kecil yang masih berada di dalam bumbungnya itu pun

masih dapat menghiburnya.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin

berhembus menyusur bukit. Alangkah dinginnya.

Empu Sada yang tua itu menggigil kedinginan. Pakaian dan

tubuhnya basah kuyup oleh air sendang tempatnya berdiam diri.

Tetapi ia tidak mempunyai ganti, sehingga meskipun perasaan

dingin menggigit sampai ke tulang, maka terpaksa pakaian yang

basah itu pun tetap dipakainya.

Kini ia dihadapkan pada persoalan, bagaimana ia dapat keluar

dari tempat ini. Ia harus mampu menghilangkan segala macam

kesan, bahwa ia masih berada di tempat itu. Ia harus memelihara

anggapan bahwa Empu Sada lenyap ke dalam sendang. Lari

menyeberangi sendang itu, supaya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

tidak berusaha mengejarnya dengan mencari jejaknya. Sebab ia

merasa bahwa ia masih belum mampu untuk meninggalkan tempat

itu dengan cepat.

Ketika Empu Sada sampai ke semak-semak ilalang, maka ia

memperhitungkan keadaan. Ia harus berjalan tanpa meninggalkan

jejak. Karena itu, maka dicarinya jejak Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Dengan hati-hati Empu Sada berjalan di sepanjang jejak

mereka, di atas batang-batang ilalang yang telah roboh terinjakinjak

kaki-kaki mereka. Namun di suatu tempat ia harus

memisahkan diri dari jejak itu dan mencari kesempatan yang baik

tanpa menimbulkan kecurigaan.

Demikianlah dengan hati-hati Empu Sada berjalan tertatih-tatih.

Tubuhnya yang kedinginan, dan dadanya yang pedih merupakan

penghambat yang mengganggunya. Tetapi ia menyadari keadaan

sepenuhnya. Ia harus pergi sejauh-jauhnya.

Akhirnya jejak kaki yang diikutinya itu pun keluar dari semak

ilalang. Tetapi kedua orang liar itu pasti menuju ke sisi bukit gundul

yang landai, tempat mereka mendaki naik ke tempat mereka

berkelahi semula. Sendang Empu Sada pun kemudian memilih arah

yang lain. Kalau masih kuat ia harus berjalan sampai pagi. Semakin

jauh semakin baik. Ia masih belum berpikir ke mana ia harus pergi.

Tetapi tanpa disengaja, Empu Sada telah memilih jalan kembali.

Jalan yang berlawanan dengan jalan yang ditempuhnya pada saat ia

datang ke bukit gundul ini.

Sementara itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang

menganggap bahwa Empu Sada telah mati, bahkan hampir dapat

mereka pastikan, dengan tergesa-gesa menurut kemampuan yang

masih mereka miliki, telah mendaki bukit gundul itu kembali. Wong

Sarimpat yang selalu diganggu oleh perasaan nyeri di dadanya.

berkali-kali terpaksa berhenti terbatuk-batuk, sehingga kakaknya

berjalan semakin jauh di depan.

Ketika mereka sampai ke atas bukit gundul itu, mereka melihat

Kuda Sempana telah berhasil berdiri tegak. Bahkan dengan pedang

di tangan ia menggeram, “Ayo, kalau kalian telah berhasil

membunuh guruku serta saudara seperguruanku, kenapa kalian

tidak sanggup membunuh aku sama sekali?”

Tetapi Kuda Sempana menjadi heran ketika ia melihat wajah

hantu yang membeku itu Tiba-tiba tersenyum. Betapapun malam

diwarnai oleh kegelapan serta obor di dekatnya telah padam, namun

Kuda Sempana dapat melihat senyum itu. Senyum pada wajah yang

beku, sehingga karena itu, maka hatinya menjadi ngeri. Seolah-olah

ia melihat sesosok mayat yang tersenyum kepadanya.

Ketika Kebo Sindet melangkah selangkah lagi mendekatinya, tibatiba

Kuda Sempana yang hatinya keras sekeras batu hitam itu

melangkah surut sambil berteriak, “Jangan, jangan dekati aku!”

Tetapi wajah itu masih tersenyum. Senyum yang benar-benar

telah menggetarkan dada Kuda Sempana. Bukan karena Kebo

Sindet adalah seorang sakti yang setingkat dengan gurunya.

Ia sebenarnya telah bersedia untuk mati sekalipun. Tetapi ketika

ia melihat seakan-akan sesosok mayat tersenyum kepadanya,

hatinya bergolak dahsyat sekali.

Tanpa dikehendakinya kembali ia berteriak, “Pergi, pergi, atau

pedangku akan memenggal lehermu itu.”

Namun Kuda Sempana terkejut pula ketika ia mendengar Kebo

Sindet itu berkata dengan tenang “Kuda Sempana. Sadarilah

keadaanmu, dan apakah kau mau mendengar keteranganku?”

Suara itu sangat berbeda dengan wajah yang ditatapnya. Wajah

itu benar-benar mengerikan, tetapi suara itu terasa tenang dan

bersungguh-sungguh.

“Aku ingin berkata sesuatu kepadamu. Aku harap kau dapat

mendengarnya dengan tenang. Menimbang dengan bijaksana.

Sebenarnya aku tidak mempunyai maksud yang jelek terhadapmu.”

Kini Kuda Sempana terdiam seperti patung. Ia sama sekali tidak

melihat sikap pemusuhan dari Kebo Sindet yang mengerikan itu.

Bahkan terasa sikapnya sejak semula tidak berubah, meskipun telah

terjadi perkelahian antara orang itu dengan gurunya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat pun telah berdiri di

sampingnya pula. Sikap orang ini memang agak berbeda dengan

sikap kakaknya. Tetapi meskipun demikian, ia pun telah berusaha

berbuat sebaik-baiknya. Ia ingin mencoba berbuat seperti kakaknya,

menenangkan hati Kuda Sempana. Katanya “Apakah kau masih

merasa tubuhmu terlampau lemah Kuda Sempana? Kalau demikian,

aku akan berusaha menyembuhkanmu.”

Kuda Sempana memandangi orang kasar itu dengan penuh

kecurigaan. Tetapi ia tidak menemukan kesan apapun pada wajah

Wong Sarimpat. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar

Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak, “Matamu masih

memancarkan kecurigaan.”

Kuda Sempana tidak segera menyahut, namun terdengar giginya

gemeretak.

Tetapi Wong Sarimpat masih saja tertawa berkepanjangan,

sehingga akhirnya ia berhenti dengan sendirinya karena dadanya

menjadi sakit. Sambil terbungkuk-bungkuk ia batuk-batuk. Kedua

tangannya menekan dadanya yang sakit itu.

Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet, “Jangan bimbang

lagi Kuda Sempana. Aku masih tetap pada pendirianku. Aku ingin

menolongmu menangkap Mahisa Agni. Menjerahkannya kepadamu.”

Kuda Sempana masih tetap berdiam diri. Ia masih belum

menemukan sikap yang sebaik-baiknya harus dilakukan. Dalam pada

itu Kebo Sindet itu berkata “Jangan hiraukan lagi gurumu. Aku

terpaksa membunuhnya. Sekian lama aku menunggu kesempatan

ini. Dendam yang tersimpan di dalam dada ini seakan-akan tidak

tertahankan lagi. Mungkin kau belum mengetahuinya, persoalan

yang selama ini seolah-olah ingin dilupakan oleh gurumu. Tetapi

bagiku, sebelum gurumu berkubur di bukit gundul ini, hatiku masih

belum puas. Tetapi meskipun kau adalah muridnya, namun kau

tidak ikut campur dalam persoalan ini. Kau sama sekali tidak

mengetahui ujung dan pangkalnya, sehingga kau kami bebaskan

dari setiap tindakan apapun.”

Kuda Sempana masih menggenggam pedang di tangannya. Ia

masih juga belum dapat menentukan, sikap apakah yang sebaiknya

dilakukan. Tetapi akhirnya Kuda Sempana itu mencoba untuk

memilih kemungkinan yang paling panjang. Kalau ia melawan, maka

ia pasti akan mati. Tetapi kalau ia membiarkan dirinya menurut

perintah kedua orang itu, maka ia akan tetap hidup. Selagi ia masih

hidup, maka kemungkinan-kemungkinan yang lain masih dapat

terjadi. Berbeda sekali dengan apabila ia terbunuh malam ini.

Meskipun demikian Kuda Sempana masih juga berdiam diri.

Tanpa dikehendakinya, sekali ia berpaling memandangi mayat

saudara seperguruannya yang masih terbaring di atas batu-batu

padas di atas bukit gundul itu.

“Jangan hiraukan jahanam itu!” teriak Wong Sarimpat sehingga

Kuda Sempana terkejut karenanya. Orang itu telah mendapat

upahnya sendiri. Kalau ia tidak terlampau sombong, maka ia tidak

akan menemui nasib begitu jelek.

Kuda Sempana masih belum menjawab.

“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet “mari ikutlah kami. Kau

akan tinggal bersama kami sampai kau dapat berbuat sesuatu atas

Mahisa Agni. Aku berjanji akan menangkapnya hidup-hidup

untukmu. Aku dapat menangkapnya pada sebuah tonggak yang

kuat. Dan kau akan dapat berbuat sesuka hatimu. Mungkin kau

akan membunuhnya, atau mungkin kau akan membiarkannya

tersiksa atau cacat untuk seumur hidupnya.”

Kuda Sempana tidak dapat segera mengetahui perasaannya

sendiri. Apakah ia menjadi bergembira mendengar tawaran itu, atau

tiba-tiba ia telah kehilangan nafsu untuk berbuat demikian.

Guncangan-guncangan perasaannya masih saja mengganggunya.

Kematian saudara seperguruannya dan mungkin gurunya sendiri,

benar-benar telah mempengaruhi cara dan kejernihannya berpikir.

Namun ketika sekali lagi Kebo Sindet mengajaknya, maka sekali

lagi Kuda Sempana menjatuhkan pilihannya pada kemungkinan

yang paling jauh, yaitu, ia ingin tetap hidup, sebelum ditemukannya

jalan yang sebaik-baiknya dilakukan.

“Mari ikut aku,” ajak Kebo Sindet pula. Kuda Sempana tidak

menjawab, tetapi ia mengangguk.

“Bagus!” berkata Kebo Sindet. Kembali wajah yang beku itu

tersenyum. Dan kembali Kuda Sempana menjadi ngeri melihat

senyum itu. Terbayang di wajahnya, sesosok mayat yang bangkit

dari kuburnya dan tersenyum kepadanya.

Tetapi Kebo Sindet sama sekali tidak memperhatikannya lagi.

Segera ia berjalan kembali ke gubuknya.

Kuda Sempana yang masih saja ragu-ragu merasa punggungnya

disentuh. Ketika ia berpaling Wong Sarimpat telah berdiri di

belakangnya. Terdengar kemudian suara tertawanya memekakkan

telinga. Di antara suara tertawanya itu ia berkata, “Marilah Kuda

Sempana. Kau akan menemukan tempat tinggal yang baru di antara

kami. Kau akan segera mengenal cara hidup orang-orang

Kemundungan. Orang Kemundungan ternyata terlampau baik

terhadap kami. Mereka merasa bahwa kami telah melindungi

mereka dari setiap kejahatan yang dapat terjadi. Kini baik penjahatpenjahat

yang berkeliaran di padukuhan-padukuhan. Sejak Baginda

di Kediri bertindak lebih keras terhadap kejahatan dan agaknya

diikuti pula oleh setiap akuwu termasuk Akuwu Tunggul Ametung,

maka penjahat-penjahat lari bertebaran di padukuhan-padukuhan

terpencil. Tetapi ternyata sampai saat ini Kemundungan masih tetap

lepas dari pengaruh kejahatan itu.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak

menjawab. Ketika sekali lagi ia merasa tangan Wong Sarimpat

menyentuhnya, maka kakinya pun terayun melangkah mengikuti

Kebo Sindet yang telah beberapa langkah di muka. Ketika sekali lagi

ia berpaling ke arah tubuh Cundaka yang menyebut dirinya Bahu

Reksa Kali Elo, terdengar Wong Sarimpat berkata, “Sebelum

matahari bertengger di atas punggung bukit di ujung timur itu,

maka yang tinggal di sini adalah kerangkanya saja. Anjing-anjing liar

segera akan menerkamnya dan merobek-robeknya.”

Terasa bulu-bulu tengkuk Kuda Sempana meremang.

Bagaimanapun juga orang itu adalah saudara seperguruannya yang

telah lama bergaul dan bahkan orang itu telah berusaha

membantunya pula untuk mencapai maksudnya, meskipun ia tahu,

bahwa Cundaka itu pun mempunyai pamrih juga. Namun ketika ia

melihat tubuh itu terbaring di atas batu-batu padas, maka hatinya

berdesir pula.

Tetapi Kuda Sempana tidak mendapat kesempatan untuk berbuat

sesuatu. Setiap kali ia tertegun, maka terasa Wong Sarimpat

menyentuhnya. Sentuhan yang semakin lama terasa menjadi

semakin kasar, meskipun orang itu masih juga tertawa-tawa.

Akhirnya Kuda Sempana berjalan menurut irama langkah Kebo

Sindet meninggalkan bukit gundul itu. Meninggalkan tempat yang

tidak akan pernah dilupakannya.

Ketika kemudian mereka menuruni bukit gundul itu, terasa dada

Kuda Sempana menjadi bergelora. Kemarin ia menuruni bukit ini

pula bersama guru dan seorang saudara seperguruannya. Kini ia

menuruni bukit itu bersama dua orang yang belum pernah dikenal

sebelumnya.

Berbagai perasaan bergumul di dalam hatinya. Kadang-kadang ia

ingin melepaskan diri dari kedua orang itu, tetapi kadang-kadang

apabila dilihatnya punggung Kebo Sindet, ingin ia menghunjamkan

pedangnya ke punggung itu. Tetapi tiba-tiba disadarinya, bahwa di

belakangnya berjalan tertatih-tatih Wong Sarimpat. Meskipun orang

itu tampaknya telah hampir mati, tetapi ia masih cukup berbahaya.

Apalagi baginya, yang kini tidak memiliki kekuatan sepenuhnya.

Kuda Sempana terkejut ketika tiba-tiba ia melihat Kebo Sindet

berhenti dan berpaling. Dari sela-sela bibirnya yang beku terdengar

orang itu berkata, “He, Kuda Sempana, apakah kau masih

menggenggam pedang di tangan? Sarungkanlah. Sebentar lagi jalan

akan menjadi semakin sulit. Pedang itu akan berbahaya bagimu.

Apabila kau terpeleset jatuh, maka mungkin sekali tajam pedang itu

akan menyobek kulitmu sendiri.”

Kuda Sempana memandangi wajah Kebo Sindet dengan

tajamnya. Namun kemudian tanpa dikehendakinya sendiri,

tangannya tergerak menyarungkan pedang itu pada wrangka

dilambungnya.

“Bagus! Hati-hatilah berjalan,” berkata Kebo Sindet itu pula “Baru

apabila kita bertemu dengan gerombolan anjing liar, mungkin kau

perlukan pedangmu itu untuk menghalaunya.”

Kuda Sempana masih saja berdiam diri. Ketika Kebo Sindet

berjalan kembali, maka Kuda Sempana pun berjalan pula lewat jalan

setapak yang kemarin pernah dilaluinya pula. Berbelit-belit di antara

batu-batu padas yang menjorok tajam dan kadang-kadang seakanakan

menghadang di tengah jalan.

Di tempat inilah ia kemarin melihat Wong Sarimpat di bawah

jalan ini, kemudian di atas punggung kuda berlari mendaki lereng

yang curam ini. Kemarin ia masih mengagumi orang yang kasar

yang disangkanya terlampau jujur itu. Tetapi ternyata orang itu

telah membunuh guru dan saudara seperguruannya.

Kebo Sindet ternyata sengaja berjalan perlahan-lahan supaya

Kuda Sempana dan Wong Sarimpat yang terluka itu tidak tertinggal

terlampau jauh. Namun demikian, mereka semakin lama menjadi

semakin dekat pula dengan gubuk di lereng bukit gundul itu. Gubuk

yang berada di mulut gua.

Bulu kuduk Kuda Sempana meremang ketika teringat kata-kata

Kebo Sindet, bahwa di dalam gua itu terdapat banyak kerangka

manusia. Siapa yang masuk ke dalam gua itu, tidak akan dapat

keluar kembali.

“Apakah aku akan dimasukkan ke dalam gua itu pula?” berkata

Kuda Sempana di dalam hatinya. Tetapi kemudian ditenangkannya

hatinya sendiri. Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya, walau

mati sekalipun.

“Ini adalah akibat yang mungkin sekali terjadi,” katanya di dalam

hati pula, “Kalau aku berhasil, sempurnalah hasilnya, kalau gagal,

tebusannya maut.”

Akhirnya mereka berhenti juga di muka gubuk Kebo Sindet.

Dalam kegelapan Kuda Sempana masih dapat mengenali gubuk itu.

Mulut gubuk itu masih saja menganga seperti pada saat Kuda

Sempana meninggalkannya. Dan ruangan di dalam gubuk itu pun

masih saja gelap pekat.

“Wong Sarimpat,” berkata Kebo Sindet “buatlah api! Nyalakan

pelita! Apakah kau masih mempunyai minyak?”

“Masih Kakang,” sahut Wong Sarimpat yang kemudian berjalan

memasuki gubuknya.

Kuda Sempana merasa perbedaan penerimaan atas dirinya.

Ketika ia datang bersama gurunya, maka seolah-olah kedua orang

itu acuh tak acuh saja. Tetapi kini terasa keduanya menjadi

terlampau baik terhadapnya.

Anak muda itu bukanlah anak muda yang terlampau dungu.

Betapapun juga ia dapat mengerti dan merasakan, bahwa ada

sesuatu kepentingan atasnya dari kedua orang itu. Samar-samar ia

melihat kepada persoalan yang akan dihadapinya Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat akan memperalatnya.

Tetapi Kuda Sempana sudah tidak akan dapat melepaskan diri

lagi. Ia sekarang dan seterusnya pasti hanya akan menjadi alat

mati. Alat yang tidak dapat menentukan sikapnya sendiri. Namun ia

tidak akan menerima nasib itu tanpa perlawanan. Ia harus

mempergunakan otaknya, bukan tenaganya. Sebab ia pasti tidak

akan mampu melawan keduanya. Bahkan satu pun tidak, meskipun

sudah terluka.

Ketika lampu telah menjala, maka Kebo Sindet segera

mempersilakan Kuda Sempana itu masuk ke dalam. Ketika mereka

sudah duduk di atas amben yang kemarin mereka pakai pula,

terdengar Kebo Sindet berkata, “Kuda Sempana. Lupakanlah

gurumu dan saudara seperguruanmu. Tinggallah di sini seperti di

rumah sendiri. Aku dan Wong Sarimpat segera akan berusaha

menyembuhkan luka-luka kami. Dalam waktu yang singkat kami

akan memenuhi permintaanmu. Menangkap Mahisa Agni hiduphidup

bagi kami sama sekali bukan pekerjaan yang sulit. Kami

heran, kenapa gurumu tidak mampu melakukannya apabila ia

benar-benar bermaksud menangkapnya. Karena itu, bagi kami

gurumu merupakan penghalang terbesar. Bahkan aku mempunyai

perhitungan bahwa gurumu sengaja akan menjebak kami. Selain itu

kami memang mempunyai persoalan yang lama terpendam dengan

gurumu. Lambat laun kau pasti akan mengetahuinya juga.”

Tiba-tiba Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bahkan kemudian ia bertanya, “Apakah paman berkata

sebenarnya?”

Kebo Sindet memandang Kuda Sempana dengan wajahnya yang

beku. Tetapi sorot matanya memancarkan perasaan yang aneh.

Kenapa Kuda Sempana menjadi lunak hatinya dengan tiba-tiba.

Perubahan itu berlangsung terlampau cepat. Namun Kebo Sindet

tidak segera dapat menarik ke simpulan. Bahkan kemudian ia

menjawab, “Tentu. Aku berkata sebenarnya.”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Ia ingin segera berpura-pura

bergembira mendengar jawaban itu, tetapi ia tidak dapat.

Beruntunglah ia bahwa ia tidak mampu berbuat demikian karena

kejutan perasaan yang baru saja dialami.

Kebo Sindet adalah seorang yang licin. Ia akan mampu melihat

perubahan yang tidak wajar apabila Kuda Sempana dengan tiba-tiba

menyatakan sikapnya yang berlawanan dengan sikapnya

sebelumnya. Namun karena Kuda Sempana masih dicengkam oleh

perasaannya, maka justru sikapnya itu telah menghilangkan

kecurigaan Kebo Sindet.

Sejak saat itu Kuda Sempana terpaksa tinggal di dalam gubuk itu

pula. Gubuk Kebo Sindet. Betapa hatinya ingin melepaskan diri dari

lingkungan yang sama sekali tidak di kehendaki itu, tetapi ia tidak

pernah mendapat kesempatan. Setiap kali ia selalu berada di antara

kedua orang liar itu atau salah seorang daripadanya.

Namun setelah beberapa hari Kuda Sempana berada di tempat

itu, sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sama sekali tidak

berubah. Mereka masih bersikap baik dan ramah. Bahkan mereka

agaknya sangat memperhatikan kebutuhannya.

Dalam beberapa hari itu Kuda”Sempana dapat mengetahui cara

hidup Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kedua mendapat makanan

mereka dari orang-orang Kemundungan. Meskipun orang-orang

Kemundungan sendiri adalah orang-orang miskin, namun Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan pernah merasa kekurangan.

Mereka mendapat makanan mereka dalam dua bentuk. Makanan

masak, yang tinggal menyuapkan saja ke dalam mulut, dan bahanbahan

mentah yang dikehendaki. Buah-buahan, pala kependam dan

pala gumantung. Kedua orang itu seolah-olah menjadi raja kecil

dalam padukuhan yang terpencil itu.

Di dalam gubuk Kebo Sindet memang terdapat mulut gua. Tetapi

Kuda Sempana sama sekali tidak berani memasuki gua itu. Setiap

kali ia mendengar Kebo Sindet atau Wong Sarimpat berkata

kepadanya. Setiap orang yang mencoba masuk ke dalamnya, maka

orang itu tidak akan pernah keluar lagi. Bahkan selama itu, Kuda

Sempana belum pernah melihat Kebo Sindet atau Wong Sarimpat

sendiri masuk ke dalamnya.

Yang diketahui oleh Kuda Sempana dengan pasti, selama ini

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengobati diri mereka

masing-masing. Ternyata luka-luka yang mereka derita bukanlah

luka-luka yang ringan. Hanya karena daya tahan tubuh-tubuh

mereka yang luar biasa sajalah, maka mereka tidak hancur

karenanya. Mereka bahkan masih tampak tetap segar.

(bersambung)

 

Jilid 21

DARI hari-kehari, maka kedua orang itu menjadi semakin

sembuh. Tubuh-tubuh mereka kembali menjadi sehat dan kuat

seperti pada saat Kuda Sempana pertama kali melihatnya. Setiap

kali Kuda Sempana melihat keduanya menguji tubuh masingmasing.

Sehingga, pada suatu hari Kebo Sindet berkata kepada Kuda

Sempana,, “Kami telah memiliki keadaan tubuh kami seperti semula.

Kami telah sehat kembali, seperti pada saat gurumu belum melukai

kami dengan curang. Sebentar lagi kami akan menjadi siap

melakukan pekerjaan yang kau percayakan kepada kami”.

Kuda Sempana masih saja diliputi oleh kebimbangan dan bahkan

kebingungan. Sesudah sekian hari ia berada di dalam gubug itu,

namun ia masih belum menemukan jalan yang sebaik-baiknya

ditempuh.

Kuda Sempana itu terkejut ketika Kebo Sindet kemudian

berkata,, “Aku tahu, bahwa kau masih tetap berprasangka kepada

kami. Perasaan itu tidak akan lenyap dari kepalamu selagi kami

belum dapat membuktikan perkataan kami. Tetapi, percayalah

bahwa kami akan melakukannya untuk beberapa keping emas

murni”.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba terloncat

dari bibirnya,, “Paman, apabila aku masih tetap berada di sini, aku

tidak akan berhasil mendapatkan emas murni itu”.

“Bukankah kau sudah menyediakannya?”

“Belum berupa emas murni” sahut Kuda Sempana, “aku masih

harus berusaha mendapatkannya. Yang aku punya adalah timang

emas bertetes berlian. Pendok emas bermata intan dan perhiasanperhiasan

yang lain. Tetapi bukan emas murni”.

Wajah Kebo Sindet yang beku masih tetap membeku. Namun,

tanpa diketahui oleh seorangpun, ia tersenyum di dalam hati. Yang

diucapkan kemudian adalah, “Barang-barang itu cukup berharga

bagi kami, kau tidak perlu bersusah payah menukarkannya dengan

emas murni”.

Kuda Sempana terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Barang-barang

itu telah dikumpulkannya bertahun-tahun, sejak ia mengabdikan

dirinya di istana, bahkan menjadi kepercayaan Akuwu dalam

beberapa persoalan. Apakah barang-barang yang telah

dikumpulkannya bertahun-tahun itu akan dilepaskannya?

Kembali ia menyesali kebodohannya., “kenapa aku

mengatakannya?”

Tetapi, penyesalan itu sama sekali sudah tidak berarti. Ia tidak

dapat menyesali kematian gurunya karena kebodohannya pula.

Karena nafsunya untuk membalas dendam, sehingga ia telah

kehilangan segenap pertimbangan yang bening.

“Tetapi, kenapa guru selama ini membiarkan aku terdorong

semakin jauh?” Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Guru

juga ingin mendapatkan beberapa keping emas murni, atau timang

tretes berlian atau pendok emas bermata intan atau apapun yang

disenanginya”.

Kembali Kuda Sempana terkejut ketika Kebo Sindet berkata,

“Memang kepuasan amat mahal harganya. Tetapi, jangan takut.

Aku tidak serakus gurumu. Aku hanya akan menerima sebagian

menurut keikhlasanmu. Aku tidak akan menyebut, berapa banyak

yang aku kehendaki”.

Kuda Sempana menarik alisnya. Tetapi, ia tidak percaya akan

kata-kata itu. Namun, demikian ia menyawab, “Terima kasih paman.

Kapan paman memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil

barang-barang itu?”

“Tidak terlampau tergesa-gesa” sahut Kebo Sindet, “Aku akan

menerimanya setelah pekerjaanku selesai”.

Kembali Kuda Sempana terdiam. Dan kembali ia harus memutar

otaknya untuk memecahkan jalan keluar dari tempat yang

menyesakkan nafas ini.

Tetapi dari hari-kehari, keadaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

menjadi semakin baik. Dengan demikian maka kemungkinan Kuda

Sempana untuk melepaskan diri dari tangan kedua orang itu

menjadi semakin sempit.

Namun, bukan saja kesempatan Kuda Sempana menjadi semakin

sempit, tetapi karena nafsu Kuda Sempana untuk pergi

meninggalkan gubug itu pun menjadi kecil pula.

Setelah beberapa hari ia berada di gubug itu, dirasakannya

bahwa sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik

terhadapnya. Apalagi Kebo Sindet. Bahkan, setelah orang itu

menjadi sembuh sama sekali, Kuda Sempana sering dibawanya

berburu di lereng bukit gundul itu, di dalam hutan-hutan yang tidak

begitu lebat dan di padang-padang ilalang.

Kuda Sempana pun selalu berusaha untuk tidak menumbuhkan

kecurigaan kepada kedua orang itu. Semula anak muda itu berhasil

berpura-pura menerima tawaran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

itu. Namun, kemudian batinya benar-benar terpengaruh oleh

keadaan yang dialaminya.

Bahkan, kemudian Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu pun

bersedia memberinya sedikit ilmu. Ilmu yang dimiliki oleh Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Ilmu yang agak berbeda dengan ilmu

yang diterimanya dari gurunya Empu Sada. Namun, dengan

pertolongan kedua orang itu Kuda Sempana berhasil mencoba

mencernakannya. Menyusun jenis-jenis ilmu yang berbeda itu dalam

tata gerak yang serasi, yang dengan sendiri dapat menambah

sedikit kemampuannya bertempur.

Hal inilah yang semula sama sekali tidak diduganya. Ternyata

kedua orang itu bersikap baik kepadanya, bahkan terlalu baik.

Lambat laun, maka Kuda Sempana itu hampir melupakan gurunya

sendiri dalam beberapa hari. Seakan-akan ia telah menemukan guru

yang baru.

Ketika kemudian, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah benarbenar

sembuh, dan telah memiliki kekuatannya kembali seperti

sedia kala, maka berkatalah Kebo Sindet kepada Kuda Sempana,

“Kuda Sempana. Kami, aku dan pamanmu Wong Sarimpat telah

berhasil menyembuhkan luka-luka di dalam tubuh kami. Sebaiknya

kami segera melakukan penangkapan itu. Menangkap Mahisa Agni”.

Dada Kuda Sempana terasa berdesir mendengar rencana itu.

Setelah sekian lama ia tinggal di dalam gubug itu, maka nafsunya

untuk melakukan pembalasan telah menjadi semakin berkurang.

Tetapi, ia tidak dapat menolaknya. Kehadirannya kemari adalah

karena dendam itu. Dan ia mencoba membakar kembali dadanya

dengan dendam yang hampir padam. Karena itu, maka dijawabnya,

“Baik paman. Aku bergembira bahwa paman akan melakukannya”.

“Semakin cepat semakin baik. Pamanmu Wong Sarimpat telah

beberapa kali melihat kerja Mahisa Agni bersama kawan-kawannya

di Padang Karautan. Dan kesempatan untuk mengambil Mahisa Agni

terlampau luas. Kalau gurumu mempunyai otak yang sedikit cerah,

maka ia tidak perlu terlampau bersusah payah. Anak itu selalu

mondar-mandir dari Padang Rumput Karautan ke Panawijen.

Kesempatan itu akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya”.

Kuda Sempana terkejut mendengarnya. Sehingga dengan sertamerta

terloncat pertanyaannya, “Apakah paman Wong Sarimpat

pernah datang ke Padang Karautan?”

“Tidak hanya satu dua kali” sahut Kebo Sindet, “pamanmu selalu

datang melihat-lihat, meskipun dari jarak yang cukup jauh”.

“Kapan paman Wong Sarimpat pergi ke Padang Karautan?”

“Lusa, sepekan yang lalu dan sepuluh hari yang lalu dan hari ini

pula. Pamanmu adalah seorang penunggang kuda yang baik.

Kudanya pun baik pula, sehingga waktu yang diperlukan tidak

terlampau banyak. Senja ia berangkat, maka sebelum fajar di

malam berikutnya ia telah berada di tempat ini kembali. Hampir

sehari ia mempunyai waktu untuk melihat-lihat tempat itu.

Pamanmu untuk menempuh perjalanan tanpa memincingkan

matanya sama sekali selama sepekan terus-menerus. Apalagi hanya

dua tiga malam”.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Bukan main”

desisnya di dalam hati,, “dan apakah guru mampu berbuat demikian

pula?”

“Tetapi” berkata Kebo Sindet pula, “kami tidak akan pergi berdua

saja. Sebaiknya kau ikut pula. Mungkin kami masih memerlukan

beberapa keterangan dari padamu”.

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia mencoba berpikir,

apakah sebabnya ia harus pergi pula bersama-sama dengan mereka

berdua. Tetapi, jawaban yang diketemukan adalah seperti yang

dengan terus terang telah dikatakan oleh Kebo Sindet, bahwa

mungkin kedua orang itu masih memerlukan beberapa keterangan

dari padanya. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah paman. Apabila

paman masih memerlukan aku”.

Wajah Kebo Sindet yang beku itu masih saja tetap membeku.

Namun, kepalanya itu mengangguk-angguk. Dan terdengar,,

“Bagus, dengan bantuanmu, maka pekerjaan ini akan menjadi

semakin cepat. Aku tidak memerlukan waktu lebih dari sepekan

untuk menangkapnya. Sebab hampir setiap sepekan sekali Mahisa

Agni pergi ke Panawijen untuk mengambil beberapa keperluan bagi

orang-orangnya bersama beberapa kawan-kawannya. Kesempatan

itu adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk

mengambilnya. Mahisa Agni akan hilang dari antara mereka.

Bendungan itu akan gagal sebab orang-orang Panawijen pasti akan

kehilangan nafsu dan gairah untuk melanjutkannya. Bahkan mereka

pasti akan teringat kembali kepada bendungan yang lama, dan

mereka pasti akan mengutuk kenapa bendungan itu pecah. Orangorang

Panawijen akan menjadi putus asa dan pergi berpencaran

mencari hidup mereka masing-masing. Nah, keadaan itulah yang

harus dilihat oleh Mahisa Agni. Karena itu ia harus tertangkap hidup.

Orang itu harus disimpan di tempat ini beberapa lama untuk

merasakan kepahitan hidupnya. Mungkin ia tidak memikirkan

nasibnya sendiri, tetapi kegagalannya pasti akan menyiksanya”.

“Menyiksa perasaannya, sedang kau akan mendapat kesempatan

untuk menyiksa tubuhnya. Bukankah kepahitan hidup yang kau

alami sekarang ini bersumber pada perbuatan Mahisa Agni itu

menurut katamu sendiri?”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata

Kebo Sindet itu memang dapat mengungkat kembali dendamnya

yang sudah menjadi hambar. Apalagi ia sendiri memang berusaha

untuk menyalakan dendam itu.

Bahkan kemudian seakan-akan terbayang kembali apa yang

pernah terjadi atas dirinya sejak ia menemui Ken Dedes di bawah

bendungan, ketika gadis itu sedang mencuci pakaian. Kegagalannya

yang pertama itu telah mendorongnya ke dalam kegagalankegagalan

yang terus menerus. Dan semuanya itu adalah karena

Mahisa Agni.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu menggeretakkan giginya. Di dalam

hati ia menggeram,, “Aku tidak peduli apa yang kelak akan terjadi.

Atas diriku atau atas Mahisa Agni apabila ia telah ditangkap oleh

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang gila ini. Tetapi, aku harus

sempat melepaskan dendamku. Seandainya aku pun akan dibunuh

oleh kedua orang ini dan dimasukkan ke dalam goa itu, maka aku

akan mati dengan tenang, karena dendamku telah terlepaskan.

Apalagi kalau benar kata mereka, bahwa mereka hanya memerlukan

beberapa macam perhiasan dari padaku”.

Kuda Sempana itu pun kemudian tersenyum di dalam hati. Ia

tidak mau lagi mempersulit otaknya sendiri. Dijalani hidup ini disaat

ini. Apa yang akan terjadi besok adalah persoalan besok. Kini ia

harus menyiapkan diri bersama-sama menangkap Mahisa Agni. Dan

ia ingin melakukannya sebaik-baiknya, sehingga anak muda itu

dapat ditangkapnya. Disakiti tubuh dan perasaannya. Kemudian, ia

tidak akan mempedulikan lagi, apakah Mahisa Agni itu akan dibunuh

dan dilemparkan kebendungan yang sedang dibuatnya, atau seperti

kata gurunya, bahwa kedua orang itu akan mempergunakan Mahisa

Agni untuk tujuan tertentu, dan bahkan seandainya dirinya sendiri

akan diperlakukan serupa itu pula.

Anak muda itu terseadar ketika ia mendengar Kebo Sindet

berkata, “Bagaimana Kuda Sempana, apakah kau sudah siap apabila

kita setiap saat berangkat?”

“Sudah paman. Sekarang pun aku sudah siap”.

“Bagus. Tetapi kita masih menunggu pamanmu Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Gumamnya, “Kapan pun aku sudah siap”.

Dalam pada itu, di Padang Karautan Mahisa Agni berada diantara

kawan-kawannya dan hampir semua laki-laki Panawijen, bekerja

memeras tenaga membuat bendungan yang akan dapat memberi

harapan bagi kelangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka

dalam satu lingkungan. Apabila bendungan itu, siap maka mereka

tidak harus bercerai-berai mencari hidup masing-masing. Mereka

masih akan tetap berada dalam satu lingkungan yang telah berpuluh

tahun mereka jalani, sehingga mereka merasa bahwa setiap orang

Panawijen adalah keluarga mereka sendiri. Tidak ubahnya keluarga

sesaluran darah.

Tetapi, kerja itu adalah kerja yang terlampau berat. Bendungan

dan saluran-saluran air. Apa yang mereka kerjakan selama ini

barulah sebagian kecil dari kerja mereka keseluruhan. Mereka belum

dapat membayangkan, kapankah kerja mereka itu akan dapat

selesai. Sebulan lagi, dua bulan, tiga bulan atau satu tahun?

Sementara itu sawah di Panawijen menjadi semakin kering dan

kering. Hampir tak ada jenis tanaman yang dapat ditanamnya lagi.

Ubi kayu menjadi semakin kurus dan jagung tidak dapat tumbuh

melampaui tinggi anak-anak yang baru dapat berdiri. Sedangkan

setiap orang harus memeras keringat di panas terik Padang

Karautan. Mereka mulai bckerja sejak matahari terbit dan mereka

baru meletakkan ala-alat mereka apabila matahari jauh turun di kaki

langit. Namun, kerja itu seolah-olah hampir tidak bertambahtambah.

Setiap hari mereka harus memecah batu-batu,

memasukkan ke dalam brunjung-brunjung bambu dan

menimbunnya di dasar sungai. Tetapi, brunjung-brunjung bambu

yang berisi batu-batu itu seolah-seolah lenyap saja ditelan pasir di

dasar sungai itu.

Apalagi saluran-saluran yang mereka rencanakan. Mereka sempat

menanam patok-patok bambu dan tali-tali yang harus mereka

pancangkan untuk membuat garis-garis parit yang akan mereka

gali. Tetapi, selebihnya belum. Belum ada seratus langkah tanah

yang sudah sempat mereka cangkul. Tenaga mereka hampir

seluruhnya dikerahkan untuk memecah dan memasukkan batu-batu

ke dalam brunjung dan melemparkannya ke dasar sungai.

Beberapa orang telah menjadi cemas akan persediaan lumbunglumbung

mereka. Lumbung-lumbung itu telah menjadi semakin

tipis. Tanaman palawijen agaknya terlampau sedikit. Sawah-sawah

mereka hanya dapat tertolong sementara ada hujan turun. Sesudah

itu akan kering kembali. Tetapi, hujan tidak juga kunjung-kunjung

datang.

Namun, mereka pun tidak dapat mengharap hujan segera

datang. Dengan demikian air sungai akan bertambah besar dan

bendungan yang belum siap itu pun akan terancam bahaya.

Orang-orang tua mulai mencemaskan keadaan itu. Baiklah, satu

dua di antara mereka telah saling berbicara sesamanya. Apabila

malam yang kelam menyelubungi padang rumput yang luas itu,

maka mulailah terdengar satu dua orang mengeluh. Mengeluh

karena lelah, dan mengeluh karena harapan yang mereka

pancangkan bersama patok-patok bambu itu agaknya masih

terlampau jauh.

Dari hari-kehari maka keluhan itu pun menyalar semakin luas.

Dari mulut orang-orang tua yang merasa bahwa umurnya tidak akan

lebih panyang dari kerja membuka tanah itu, merayap kepada

mereka yang lebih muda. Kepada mereka yang sudah setengah

umur. Kemudian merembet lagi kepada yang lebih muda pula.

Kepada bapak-bapak yang baru beranak satu dua orang. Akhirnya

keluh kesah itu sampai pula kepada anak-anak mudanya.

Tetapi, mereka masih juga bekerja disiang hari. Mereka masih

juga mulai sejak matahari terbit dan selesai menjelang matahari

bertengger di punggung bukit. Tetapi, dimalam hari mereka tidak

lagi berdendang dan bersenandung. Tidak lagi terdengar suara

seruling dan gelak tertawa. Dimalam hari mereka saling berbisik

diantara mereka. Punggung yang sakit, pundak yang luka dan kaki

yang bengkak.

Keluh kesah itu akhirnya terdengar oleh Ki Buyut Panawijen.

Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Kalau orang-orangnya nanti

menjadi jemu sebelum bendungan itu siap, maka pekerjaan yang

mengandung harapan itu akan terbengkalai seperti harapan mereka

yang akan terbengkalai juga. Ki Buyutlah orang yang akan menjadi

paling bersedih hati, di samping Mahisa Agni, apabila mereka

terpaksa berpisah bercerai berai mengungsikan hidup masingmasing

ke pedukuhan-pedukuhan yang masih dapat menerima

mereka.

“Angger Mahisa Agni harus segera msngetahuinya pula” berkata

orang tua itu di dalam hatinya, “tetapi aku harus berhati-hati

mengatakan persoalan ini. Jangan sampai anak yang baik itu

tersinggung hatinya. Ia telah bekerja melampaui orang lain. Dan

karena itu, maka ia akan dapat menjadi sangat kecewa mendengar

keluh kesah ini”.

Tetapi, keluhan itu menyalar semakin lama menjadi semakin

luas. Dan Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Lebih baik ia

sendiri menyampaikannya kepada Mahisa Agni dari pada anak itu

pada suatu ketika mendengar langsung dari orang-orangnya,

sehingga akan menimbulkan bekas yang dalam hatinya.

Maka ketika matahari telah terbenam, dan ketika orang-orang

Panawijen sudah beristirahat sambil memijat-mijat kaki-kaki mereka

yang lelah, maka Ki Buyut Panawijen berjalan di antara mereka

mencari Mahisa Agni.

“Apakah kau sudah tidur Ngger?” sapa Ki Buyut itu di depan

gubug ilalang yang dipergunakan Mahisa Agni untuk berteduh dari

embun di malam hari.

Mahisa Agni yang masih duduk-duduk di dalam gubugnya itu

terkejut. Dengan tergopoh-gopoh ia bangkit sambil mempersilahkan

orang tua itu, “Mari Ki Buyut. Marilah duduk di sini”.

“Ya, ya Ngger” sahut Ki Buyut.

Kemudian mereka pun duduk di atas sehelai tikar yang

dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering. Ki Buyut

Panawijen, Mahisa Agni dan paman Mahisa Agni yang masih saja

berada di Padang Karautan, Empu Gandring.

Setelah percakapan mereka melingkar-lingkar dari satu soal ke

soal lain, maka dengan dada berdebar-debar Ki Buyut ingin

menyampaikan keperluannya kepada Mahisa Agni. Tetapi, ketika ia

melihat wajah anak muda itu, maka hatinya menjadi ragu. Wajah itu

memancar penuh harapan bahwa suatu saat mereka akan dapat

berdiri di sisi sungai itu sambil memandangi bendungan mereka

yang telah dapat menaikkan air ke parit-parit yang memanjang

membelah padang yang kering. Mahisa Agni agaknya terlampau

yakin bahwa kerjanya akan berhasil.

Tetapi, kalau ia tidak menyampaikan pendengarannya tentang

keluh kesah yang semakin merata itu, maka apabila Mahisa Agni

mendengarnya kelak, apabila kejemuan itu benar-benar telah

mencengkam segenap orang-orang yang mengerjakan bendungan

ini, alangkah parahnya hati anak muda itu. Alangkah kecewanya.

Seolah-olah rakyat Panawijen sama sekali tidak mengenal terima

kasih atas segala jerih payahnya.

Setelah dipertimbangkannya masak-masak, dan setelah

dipikirkannya berulang kali, maka dengan ragu-ragu akhirnya Ki

Buyut itu pun berkata, “Angger bagaimanakah dengan bendungan

kita?”

Mahisa Agni memandangi wajah Ki Buyut Panawijen dengan

sorot mata yang aneh. Pertanyaan Ki Buyut itu telah mengherankan

Mahisa Agni. Sehingga anak muda itu ganti bertanya, “Bagaimana

maksud Ki Buyut?”

“Ah” Ki Buyut menjadi semakin bimbang, “maksudku, apakah

tidak ada kesulitan apa-apa?”

Mahisa Agni menjadi semakin heran, jawabnya, “Seperti yang Ki

Buyut saksikan, bukankah pembuatan bendungan itu berjalan

lancar? Bukankah orang-orang Panawijen telah berjuang dengan

sekuat-kuat tenaga mereka, tanpa menghiraukan panas, lelah dan

jemu?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jalan yang sudah mulai

dibukanya itu seolah-olah kini telah tertutup rapat kembali. Apakah

ia akan sampai hati mengatakan kepada Mahisa Agni, bahwa orangorang

Panawijen itu kini telah mulai berkeluh-kesah. Berkeluh-kesah

tentang panas terik yang membakar punggung mereka, tentang

lelah yang menyalar kesegenap otot baju dan tentang kejemuan

yang mulai mcncengkam perasaan? Ki Buyut itu pun menjadi

termangu-mangu. Sehingga karena itu maka ia pun terdiam. Ia

telah kehilangan cara yang sebaik-baiknya dapat ditempuh.

Bahkan orang tua itu menjadi bingung ketika Mahisa Agni

kemudian berkata, “Ki Buyut, aku mengharap bahwa kita akan

dapat bekerja lebih keras lagi. Kita harus menyelesaikan bendungan

itu sebelum hujan turun di musim basah yang akan datang. Apabila

kemudian air naik, dan ternyata bendungan kita belum sempurna,

sehingga masih berbahaya apabila banjir sekali-kali datang, maka

kita masih harus bekerja lagi, menyempurnakan bendungan itu.

Namun, setelah itu, kita akan menikmati hasilnya. Padang itu akan

menjadi tanah persawahan yang subur dan seluas-luas kita

kehendaki. Sawah kita akan tidak terbatas, sebesar tenaga dapat

kita berikan, seluas itu tanah yang kita garap”.

“Ya, ya” orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian mereka berdiam diri, Empu Gandring duduk

terkantuk-kantuk di sudut gubug itu sambil memeluk lututnya.

Seakan-akan ia sama sekali tidak mendengarkan percakapan

kemanakannya dengan Ki Buyut itu. Namun, sebenarnya ia

mendengar semuanya. Ia menangkap perasaan yang tidak wajar

yang melontar dari percakapan itu. Dari setiap kata-kata Ki Buyut

Panawijen. Namun, Empu Gandring itu tidak tahu, apakah yang

sebenarnya ingin dikatakan oleh Ki Buyut kepada kemanakannya.

Ketika angin malam berhembus semakin keras, terasa dingin

semakin dalam menghunyam ke dalam kulit. Beberapa orang telah

membuat perapian dan tidur melingkarinya sambil berselimut kain

panjang. Di kejauhan terdengar suara burung hantu mengeluh

seperti orang yang kelelahan.

Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur.

Ia masih mengharap bahwa ia akan menemukan cara untuk

menyampaikan maksudnya.

Tidak jauh dari gubug itu, tampak api perapian menyala seperti

melonyak-lonyak. Beberapa orang yang bertiduran dis ekitarnya

telah benar-benar menjadi lelap. Yang terdengar kemudian adalah

dengkur yang bersahut-sahutan.

Ki Buyut Panawijen masih saja berdiam diri. Mahisa Agni pun

seolah-olah terbungkam. Dan di kejauhan burung hantu masih saja

mengeluh terputus-putus.

“Alangkah sulitnya” desah Ki Buyut di dalam hatinya, “bagaimana

aku dapat mulai?”

Namun, tiba-tiba perhatian mereka terlempar ke arah dua orang

yang berjalan perlahan-lahan ke gubug itu. Agaknya yang seorang

memapah yang lain.

Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan bahkan Empu Gandring

yang terkantuk-kantuk itu pun terkejut. Dengan serta-merta mereka

berdiri dan menyongsong kedua orang itu.

“Siapa?” bertanya Ki Buyut Panawijen.

“Aku, Ki Buyut”.

“Kenapa? Dan siapa kawanmu itu?”

“Bitung”.

“Kenapa dengan Bitung?”

“Tubuhnya tiba-tiba menjadi panas, tetapi ia menggigil seperti

orang kedinginan”.

“Bawalah kemari” minta Mahisa Agni yang menjadi cemas.

Kedua orang itu pun kemudian memasuki gubug Mahisa Agni.

Bitung pun kemudian duduk bersandar kawannya. Namun, ia masih

juga menggigil seperti orang yang kedinginan. Ketika Mahisa Agni

dan Ki Buyut Panawijen meraba tubuhnya ternyata tubuh itu terasa

panas.

“Aneh” gumam Mahisa Agni.

“Ya aneh” sahut Ki Buyut Panawijen.

Tetapi, Empu Gandring yang lebih banyak menyimpan

pengalaman dari mereka berkata, “Tidak. Sama sekali tidak aneh.

Memang ada sejenis penyakit yang demikian”.

“Apakah sakit Bitung ini bukan karena hantu-hantu?” bertanya

kawannya.

Ki Buyut Panawijen tidak dapat menyawab, namun yang

menyawab adalah Empu Gandring, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku

telah sering melihat orang yang terserang penyakit yang demikian”.

Kawan Bitung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Aku menjadi bingung ketika ia mulai menggigil. Karena itu maka ia

aku bawa kemari. Apakah sakit yang demikian ini dapat diobati?”

“Tentu” Empu Gandring lah yang menyahut, “besok usahakan

daun kates grandel yang masih muda. Tumbuklah beserta kulit

batangnya, buahnya yang masih muda pula, bunganya dan akarnya.

Mudah-mudahan ia dapat sembuh. Taruhlah garam sedikit”.

“Tetapi, bagaimana dengan malam ini?”

“Biarlah ia tidur dan beristirahat”.

Kawan Bitung itu memandangi wajah Ki Buyut dengan

pandangan yang sayu. Bibirnya tampak bergerak-gerak seakan-akan

ia ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi, tak sepatah kata pun yang

terloncat dari bibirnya. Namun, Ki Buyut Panawijen seakan-akan

dapat membaca kata hatinya. Seakan-akan Ki Buyut Panawijen

mendengar kawan Bitung itu berkata, “Siapakah yang bertanggung

jawab, sandainya yang terjadi sesuatu dengan kawanku ini? Apakah

harus ada orang lain yang mengalami penyakit serupa?”

Tetapi, Ki Buyut pun berdiam diri. Ia kemudian mendengar orang

itu berkata, “Baiklah. Besok aku mengharap Bitung dapat diobati.

Dan aku mengharap mudah-mudahan obat itu dapat

menyembuhkannya”.

“Batang Kates Grandel banyak terdapat di Panawijen” gumam

Mahisa Agni.

“ya. Tetapi Bitung kini tidak berada di Panawijen” jawab

kawannya.

“Tetapi, bukankah kita dapat mengambilnya?”

“Aku mengharap besok Bitung dapat diobati” berkata kawannya

itu seolah-olah tidak mendengar kata-kata Mahisa Agni, “aku

menunggu dan Bitung pun menunggu”.

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Ia tahu

benar maksud kata-kata itu. Obat itu harus tersedia. Jadi bukankah

dengan demikian berarti bahwa ia harus mengambil obat itu ke

Panawijen besok.

Meskipun demikian, Mahisa Agni itu berkata, “Ya. Mudahmudahan

ada seseorang yang akan dapat mengambilnya”.

“Mudah-mudahan” sahut orang itu.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia merasakan keanehan sikap

dari orang itu. Sikap yang belum pernah dialaminya selama ini.

Tetapi, ketika Mahisa Agni menyalakan perasaannya, terasa

pamannya menggamitnya.

Mahisa Agni berpaling, Empu Gandring menggeleng lemah.

Meskipun Mahisa Agni tidak tahu maksudnya, namun ia terdiam.

“Aku akan kembali ke gubugku” berkata kawan Bitung.

“Biarlah Bitung di sini” sahut Mahisa Agni.

“Tidak. Ia bersamaku. Apapun yang akan terjadi atas dirinya”.

Kembali Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi, ia tidak

mencegahnya lagi ketika Bitung kembali dipapah oleh kawannya

meninggalkan gubug itu. Bitung masih juga menggigil meskipun

tubuhnya panas.

Sepeninggal mereka, Ki Buyut Panawijen menjadi semakin

cemas. Ia tahu benar apa yang bergolak di dalam hati Bitung dan

kawannya. Mereka pasti menimpakan segala kesalahan kepada

Mahisa Agni dan kemudian kepada dirinya, Buyut Panawijen.

“Hem” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, “apakah aku juga yang

harus pergi ke Panawijen untuk mengambil obat itu?”

“Tak ada seorang pun yang berani melakukan Agni” sahut

pamannya.

“Terlalu” desah Mahisa Agni, “semuanya harus aku lakukan”.

Apakah hal-hal semacam itu tidak mengganggu pekerjaan yang

besar ini?

“Besok aku harus meletakkan brunjung-brunjung dasar di sisi

seberang sebelum sisi yang sebelah ini selesai supaya ada

keseimbangan. Kalau aku pergi, bagaimana dengan rencana itu?”

Ki Buyut Panawijen dapat memahami perasaan Mahisa Agni yang

sepenuhnya diikat oleh persoalan bendungan yang sedang

dikerjakannya. Segala tenaga dan pikiranya kini sedang

dicurahkannya untuk kepentingan kerja yang besar dan berat itu,

sehingga hampir tak ada waktu baginya untuk berbuat hal-hal yang

lain. Tetapi, Ki Buyut itu merasakan pula kepincangan yang terdiri

pada orang-orangnya. Mahisa Agni yang sudah bekerja melampaui

setiap orang itu, masih harus mengurus persoalan-persoalan yang

sebenarnya dapat dilakukan oleh orang lain. Namun, sebenarnya

seperti kata Empu Gandring bahwa tak ada seorang pun yang

berani pergi ke Panawijen tanpa Mahisa Agni. Kalau ada juga yang

harus pergi, maka mereka pasti akan membawa kawan dalam

jumlah yang cukup banyak.

Karena itu justru Ki Buyut Panawijen tak dapat berkata sepatah

pun juga untuk menanggapi keluhan Mahisa Agni, Orang tua itu pun

bahkan menekurkan kepalanya sambil mengangguk-angguk kecil.

“Paman” bertanya Mahisa Agni itu pula kepada pamannya,

“apakah penyakit yang demikian itu berbahaya? Maksudku, apabila

obat itu tertunda satu hari saja, apakah akibatnya akan

membahayakan sekali bagi Bitung? Apabila tidak, maka aku ingin

tetap melakukan rencanaku besok, baru lusa aku akan pergi ke

Panawijen setelah dasar bendungan di sisi seberang dapat mapan.

Dengan demikian, maka pekerjaan yang barus dilakukan tinggal

menambah dasar itu dengan menimbuni brunjung-brunjung. Apabila

tidak demikan, maka air akan mengalir di satu sisi, sehingga sisi itu

bahkan akan menjadi semakin dalam”.

Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu untuk menyawab

pertanyaan itu. Seperti Ki Buyut Panawijen, ia dapat memahami

setiap perasaan yang bergolak di dalam dada anak muda itu. Tetapi,

Empu Gandring itu tahu pula, bahwa penyakit yang berbahaya.

Meskipun penyakit itu tidak segera membunuh korbannya, tetapi

apabila terlambat pengobatannya, maka meskipun perlahan-lahan,

pasti penyakit itu akan menjadi semakin padam.

Selagi Empu Gandring itu menimbang-nimbang, terdengar

Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana paman? Apakah aku dapat pergi

lusa?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian

dengan menganggukkkan kepalanya, “Agni. Mungkin tidak

terlambat, tetapi sebaiknya penyakit yang demikian segera

mendapat pengobatan”.

Wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Dilemparkannya pandangan

matanya ke padang yang luas di luar gubug itu. Gelap, meskipun

bintang-bintang gemerlapan di langit. Sudah tentu ia tidak akan

sampai hati membiarkan salah seorang kawannya menjadi korban.

Perasaannya tidak membenarkannya, apabila Bitung kelak menemui

bencana oleh penyakitnya karena kelambatannya. Tetapi, kalau ia

menunda rencananya besok meletakkan dasar bendungan di sisi

seberang, maka pasir di dasar sungai itu pasti akan menjadi

semakin larut dibawa air yang seolah-olah menepi di sisi itu. Dasar

itu pasti akan menjadi semakin dalam. Apalagi apabila besok karena

rencana itu tidak diteruskan, maka orang-orang Panawijen akan

menimbuni sisi yang lain dengan brunjung-brunjung baru. Dengan

demikan maka ia akan menjadi semakin terdorong ke sisi seberang,

dan sisi itu pasti akan menjadi bertambah-tambah dalam.

Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur. Ia menjadi cemas

memikirkan apa saja akan dapat terjadi. Ia tahu benar keberatan

Mahisa Agni meninggalkan bendungannya. Tetapi, apabila Bitung

menjadi semakin patah, maka akan sangat sulitlah bagi Mahisa Agni

dan dirinya untuk mengendalikan perasaan anak-anak muda

Panawijen yang sudah mulai menjadi jemu itu.

Namun, mulutnya tidak dapat mengucapkan dengan kata-kata.

Ia tidak sampai hati melihat Mahisa Agni menjadi murung.

Tetapi, baik Ki Buyut Panawijen, maupun Empu Gandring terkejut

ketika tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Aku akan pergi sekarang ke

Panawijen”.

“Agni” potong pamannya dan Ki Buyut pun dengan serta merta

berkata, “Tidak Ngger. Tidak harus demikian”.

“Tidak paman, aku harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini

tanpa merugikan satu dan yang lain. Aku tidak boleh meninggalkan

bendungan itu besok dan aku juga tidak boleh membiarkan Bitung

dimakan oleh penyakitnya”.

“Tetapi, jangan sekarang Agni. Bukankah kau besok dapat

memberi beberapa orang pesan, supaya mereka melakukan rencana

itu? Baru setelah pekerjaan itu dimulai dan sesuai dengan

kehendakmu kau dapat meninggalkannya”.

“Tidak paman, aku harus ada di sini selama kita meletakkan

dasar bendungan itu”.

“Tetapi, jangan sekarang Ngger” tanpa disengajanya Ki Buyut

Panawijen memandang padang rumput yang terhampar luas

dihadapannya. Tetapi, pandangan matanya tidak mampu untuk

menembus gelap malam yang pekat.

Mahisa Agni pun memandangi gelap malam itu pula. Tetapi, tibatiba

bahkan ia berdiri sambil berkata, “Aku akan pergi”.

“Agni” potong pamannya, “kau pernah berceritera kepadaku

tentang banyak hal yang dapat membahayakan dirimu. Kau pernah

mengatakan kepadaku bahwa ada orang yang masih saja

menyimpan dendam di dalam diri mereka. Apakah kau

melupakannya? Bahkan aku telah melihat sendiri, apa yang terjadi

di padang ini sebelum kau mulai dengan pekerjaanmu ini”.

“Bahaya itu bagiku sama saja paman, siang atau malam”.

“Lain Agni. Kau berjalan di padang yang luas. Di siang hari kau

akan dapat melihat bahaya itu jauh sebelum menyergapmu.

Kudamu adalah kuda yang baik. Dengan kuda itu kau akan dapat

menghindarinya. Bahkan seandainya orang yang mengancammu itu

berkuda pula, maka jarak yang ada pasti akan mampu

menyelamatkanmu. Apalagi kalau kau pergi berdua atau bertiga.

Salah seorang dari mereka akan dapat memberitahukan kepadaku,

apa yang terjadi diperjalanan itu”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun, ia berdesis, “Aku

akan berangkat. Bagi Bitung, semakin cepat, semakin baik. Mudahmudahan

aku tidak bertemu dengan bahaya yang paman katakan

itu”.

Tetapi, Mahisa Agni tidak meyakini kata-katanya sendiri. Mungkin

Empu Sada dan Kuda Sempana telah siap menunggunya diluar

perkemahan itu. Namun, demikian, adalah tanggung jawabnya

untuk melakukan pekerjaan itu. Kedua-duanya. Memasang

brunjung-brunjung di kali dan mengambil obat ke Panawijen. Tak

ada orang yang dapat dan berani melakukannya. Karena itu, maka

ia sendiri harus berangkat. Seperti Empu Gandring, Mahisa Agni

percaya kepada kudanya. Apabila ia bertemu dengan bahaya,

seandainya bahaya itu sudah pasti tidak dapat diatasinya, misalnya

Empu Sada, maka ia akan dapat menyauhkan dirinya. Mudahmudahan

kudanya dapat membantunya. Apabila ia gagal, maka itu

adalah akibat dari tanggung jawab yang telah dipikulnya.

Namun, Ki Buyut Panawijen dan Empu Gandring berpendapat

lain. Dengan terbata-bata Ki Buyut Panawijen berkata, “Jangan

Ngger. Aku turut juga prihatin atas Bitung, tetapi kepergianmu akan

sangat menggelisahkan kami malam ini. Biarlah kau pergi besok

siang setelah kau memberikan beberapa pesan mengenai

pemasangan brunjung-brunjung itu seperti kata pamanmu?”

“Kalau aku sudah mulai Ki Buyut, maka aku kira aku tidak akan

dapat meninggalkannya satu sampai dua hari. Karena itu, biarlah

aku pergi sekarang. Padang rumput itu cukup luas untuk berpacu

seandainya aku bertemu dengan Empu Sada misalnya”.

“Agni” berkata Empu Gandring kemudian, “jangan bermain-main

dengan bahaya. Empu Sada bukan seorang yang dapat diajak

bercanda. Dendam Kuda Sempana kepadamu agaknya sudah

terlampau dalam. Bukankah menurut anggapannya, segala

kegagalan yang dialaminya kini, bukan saja kegagalannya untuk

mcmperisteri adikmu itu, tetapi juga kegagalan dalam bidang yang

lain, bersumber darimu? Tak ada cara baginya untuk melepaskan

dendam itu selain meniadakanmu. Membunuhmu. Kalau kau temui

bencana itu, bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Bendungan ini

akan terbengkelai dan Panawijen benar-benar akan lenyap. Juga

semua yang pernah terjadi akan dilupakan orang”.

Mahisa Agni terdiam sejenak. Tetapi ia tidak mempunyai cara

yang lain. Ia tidak mempunyai waktu lagi. Kedua-duanya tak dapat

ditunda-tunda. Kalau saja ada orang lain yang besok berani pergi ke

Panawijen, maka kepalanya tidak akan menjadi pening seperti

sekarang. Sandainya ada juga yang mau berangkat, maka

berbondong-bondong mereka pergi bersama-sama, sehingga

pekerjaan di padang ini akan terganggu juga. Karena itu, maka

kemauannya telah bulat, sehingga katanya, “Aku akan pergi paman.

Empu Sada tidak akan berada di padang ini siang dan malam hanya

untuk menunggu aku meninggalkan perkemahan ini pergi ke

Panawijen. Kalau ia benar memerlukan aku, maka ia akan datang

kemari dan menyerang pcrkcmahan ini bersama dengan muridmurid

orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo dan

saudara saudara seperguruannya yang lain seperti yang dilakukan

atas rombongan Ken Dedes”.

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, jawabnya, “mereka

ragu-ragu untuk berbuat demikian. Apakah laki-laki Panawijen yang

sekian banyaknya tidak berbuat sesuatu, sedang Empu Sada tahu

benar bahwa aku berada di sini”.

Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun, ia tidak dapat menemukan

jalan lain dari pada jalan yang akan ditempuhnya. Bitung dan

bendungan. Terngiang kembali kata-kata kawan Bitung yang

seakan-akan menyerahkan segala persoalan kepadanya. Obat itu

ada atau tidak ada adalah tanggung jawabnya. Anak muda itu sama

sekali tidak mau berpikir apalagi berusaha untuk mendapatkannya.

“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali

persoalan itu melingkar-lingkar dikepalanya. Sehingga kembali ia

sampai pada suatu tekad untuk pergi malam ini juga, sehingga

besok pagi-pagi, selambat-lambatnya matahari sepenggalah, ia akan

sampai di tempat ini kembali. Dan ia akan segera dapat mulai

dengan rencananya, sebelum air mengorek dasar sungai itu lebih

dalam lagi.

Tetapi, dalam penglihatan Ki Buyut Panawijen dan Empu

Gandring, keberangkatan Mahisa Agni itu tidak saja didorong oleh

kemauan dan tanggung jawabnya, namun juga oleh kekecewaan

dan kejengkelan. Karena itu maka Empu Gandring berkata, “Agni,

jangan pergi menurutkan perasaanmu. Cobalah kau sedikit

mempergunakan pikiranmu”.

Namun, Empu Gaudring dan Ki Buyut Panawijen tidak dapat

mencegahnya lagi. Mereka hanya dapat memandangi anak muda itu

berkemas-kemas. Menggantungkan pedang di lambungnya,

kemudian berjalan keluar dari gubug itu.

“Aku pergi paman, sudahlah Ki Buyut, mudah-mudahan aku

selamat dan berhasil membawa obat itu pula. Bukankah obat itu

hanya bagian-bagian dari Kates Grandel?”

Setelah Empu Gandring tidak berhasil menahannya, maka ia pun

menyawab, “Ya. Semua bagian dari pohon Kates Grandel. Kalau kau

sempat, bawalah daun munggur dan biji-bijinya yang kering. Itu

pun akan menjadi obat yang baik pula. Jangan membawa terlampau

sedikit supaya kau tidak selalu mondar maudir ke Panawijen”.

“Baik paman” sahut Mahisa Agni.

Sejenak kemudian anak muda itu telah melepaskan kudanya.

Dikenakannya pakaian kuda itu, dan kemudian Mahisa Agni pun

segera meloncat ke punggungnya.

Bitung dan kawannya mcndergar derap kuda berlari. Ketika

mereka mengangkat wajah mereka, maka terdengar Ki Buyut yang

telah berdiri dibelakang berkata, “Mahisa Agni telah pergi ke

Panawijen untuk mencari obat itu”.

Kawan Bitung terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya.

“Kenapa malam ini?”

“Kau meletakkan semua tanggung jawab kepadanya. Kau tidak

membantunya memecahkan kesulitan karena Bitung menderita

sakit. Kau hanya berkata bahwa obat itu harus datang sendiri

kepadamu dan kau tidak mau tahu kesulitan apakah yang dapat

terjadi diperjalanan itu”.

“Tidak Ki Buyut” sahut kawan Bitung tergagap, “bukan maksudku

demikian”.

“Tetapi, Mahisa menangkap kata-katamu demikian dan aku pun

menangkap kata-kata itu seperti itu pula” sahut Ki Bayut

.

Dada kawan Bitung menjadi berdebar-debar. Ia tidak menyangka

bahwa Mahisa Agni akan melakukan pekerjaan itu sekarang. Malam

ini. Ia tidak dapat mengingkari kata Ki Buyut Panawijen. Memang

semula ia berpendirian serupa itu. Bahkan beberapa orang kawankawannya

pun menganggapnya, bahwa tanggung jawab tentang

sakitnya Bitung, seluruhnya terletak di pundak Mahisa Agni. Anak

muda itu bersama-sama dengan Ki Buyut Panawijenlah yang

memimpin pekerjaan yang terlampau berat di padang yang panas

terik disiang hari, dan dingin membeku di malam hari ini. Tetapi,

tidak terlintas di dalam kepala anak-anak muda itu, bahwa segera

satelah itu Mahisa Agni telah pergi meninggalkan mereka.

“Kau tidak tahu, bahaya yang mengancam anak muda itu setiap

saat” berkata Ki Buyut Panawijen pula, “di antaranya adalah Kuda

Sempana. Beberapa di antara kalian telah melihat sendiri,

bagaimana Mahisa Agni terpaksa berkelahi di padang ini melawan

Kuda Sempara bahkan kemudian guru Kuda Sempana itu pula.

Kalau Mahisa Agni dalam perjalanannya ke Panawijen kali ini

bertemu dengan Kuda Sempana dan gurunya, maka habislah

ceritera tentang dirinya. Habis pulalah tugasnya di padang ini, dan

habis pulalah harapan kita untuk mendapatkan tanah yang subur

hijau seperti yang pernah kita miliki dahulu”.

Kawan Bitung itu menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan

terasa keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya,

meskipun dingin malam sampai menggigit tulang.

Dengan nafas tersengal-sengal ia berkata, “Apakah kepergiannya

itu tidak dapat dicegah Ki Buyut?”

“Bukankah kau melibat sendiri bahwa ia telah pergi? Bagaimana

harus mencegahnya kini? Nah, kalau kau ingin menyelamatkannya,

pergilah, susul anak muda itu”.

Kawan Bitung itu terdiam. Beberapa anak muda yang lain

mendengar pula percakapan itu, dan mereka pun menjadi berdebardebar

pula seperti Bitung.

“Bagaimana? Apakah kau mau menyusulnya dan memintanya

agar ia mengurungkan niatnya, atau kau sendirilah yang pergi ke

Panawijen? Sebab Mahisa Agni tahu benar, bahwa obat itu tidak

akan dapat meloncat dengan sendirinya kemari dari Panawijen.

Obat itu harus dibawa dengan tangan. Dan mulutmu hanya dapat

berkata mudah-mudahan, dan dapat menunggu obat itu datang”.

Kawan Bitung itu menekurkan kepalanya. Ia tahu benar bahwa Ki

Buyut Panawijen yang sabar itu kini sedang marah kepadanya.

Apalagi ketika Ki Buyut kemudian berkata, “Bukan saja masalah

sakit Bitung, tetapi masalah bendungan itu pun kalian ternyata

bersikap serupa. Kalian telah mulai jemu mengerjakannya. Jangan

ingkar. Aku pernah mendengarnya. Kalian mengeluh karena panas

di siang hari membakar punggung dan di malam hari dingin

menusuk sampai kesungsum. Kalian mengeluh luka-luka di tangan

dan kaki serta menjadi bengkak pula. Apalagi ada di antara kalian

yang menjadi sakit. Apakah dengan demikian kalian mengharap

bahwa bendungan itu akan siap dengan sendirinya, seperti kalian

mengharap obat itu akan jatuh dari langit. Apakah kalian ingin

melihat Mahisa Agni mengerjakannya sendiri, dan kalian menunggu

saja sambil berbaring sehingga bendungan itu terwujud?”

Kawan Bitung itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Anakanak

muda yang lain, yang mendengar kata-kata itu pun

menundukkan kepala masing-masing. Bahkan mereka yang telah

berbaring dan bahkan telah tertidur pun menjadi terbangun dan

duduk sambil tepekur. Tak seorang pun dari mereka yang berani

menyawab. Bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang yang

sudah setengah umur pun menjadi cemas pula. Ki Buyut adalah

orang yang hampir tidak pernah marah. Kini mereka merasa betapa

dalamnya penyesalan yang menghentak-hentak hati orang tua itu.

“Kalau aku berani, dan kalau aku masih mampu menunggang

kuda secepat Angger Mahisa Agni, aku pasti akan menyusulnya”

gumam Ki Buyut.

Kata-kata itu menyentuh setiap hati yang mendengarnya. Katakata

itu seakan-akan telah menggerakkan hati mereka untuk segera

berlari ketambatan kuda. Tetapi, tak seorang pun yang berani

berbuat demikian. Apalagi di malam hari. Di siang hari pun mereka

tidak berani pergi seorang diri, meskipun mereka telah mendengar

bahwa Hantu Karautan telah tidak ada lagi di padang itu. Tetapi,

mereka masih juga membayangkan bahaya yang berserak-serak di

sepanjang perjalanan ke Panawijen.

Ki Buyut itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka. Hatinya

menjadi sangat gelisah. Bukan saja mengenangkan kepergian

Mahisa Agni, tetapi juga oleh ketakutan yang mencengkam hampir

setiap laki-laki di perkemahan itu. Apabila ketakutan mereka

terhadap keadaan di sekelilingnya masih selalu membayangbayangi,

maka apakah kelak, apabila padang itu berhasil menjadi

tanah yang subur, mereka pun tidak akan berani berbuat sesuatu?

Apakah mereka akan tetap bersembunyi di padukuhan yang baru itu

tanpa membuat hubungan dengan padukuhan-padukuhan yang lain

karena takut?

Namun, ketika terpandang oleh Ki Buyut, malam yang pekat

terbentang seakan-akan tidak berpangkal dan berujung itu pun ia

bergumam, “Padukuhan ini akan menjadi padukuhan yang sangat

terpencil”. Tetapi, kemudian ia beikata pula, “Meskipun demikian,

apakah bedanya jarak yang memisahkan padukuhan ini kelak

dengan padukuhan-padukuhan yang lain dengan bulak-bulak yang

panyang dan luas meskipun terdiri dari tanah-tanah persawahan

dan pategalan? Kalau ada hantu atau penjahat sekalipun, maka

kejahatan itu akan dapat juga dilakukan dibulak-bulak persawahan

dan pategalan. Ketakutan kami adalah bersumber pada kepercayaan

kami, bahwa di padang rumput ini pernah tinggal hantu yang

menakutkan setiap orang”.

Dalam pada itu, Mahisa Agni telah berpacu dengan kudanya

menembus gelapnya malam. Dingin angin malam mengusap

kulitnya dan seolah-olah menusuk kesetiap lubang kulit. Tetapi,

Mahisa Agni tidak sempat merasakannya. Hatinya dicengkam oleh

perasaan yang sangat aneh. Ia sendiri kurang menyadari, kenapa ia

merasa perlu untuk pergi malam ini. Tidak besok atau lusa setelah

ia berhasil meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang.

Sekali-kali Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Ia mencoba

menatap kedalam gelap, sejauh-jauh matannya dapat mencapai.

Tetapi, malam terlampau kelam.

Betapapun beraninya hati anak muda itu, tetapi ia tidak dapat

melenyapkan setiap perasaan was-wasnya, bahwa ia akan bertemu

dengan Empu Sada. Kalau yang berada diperjalanannya itu adalah

Kuda Sempana, maka ia akan dengan senang hati melayaninya.

Tetapi, apabila yang dijumpainya Empu Sada, maka ia pasti harus

mencoba berpacu kuda mengelilingi padang ini.

“Benar juga kata Empu Gandring” desisnya seorang diri, “di siang

hari, aku dapat melihat seseorang dalam jarak yang masih agak

jauh. Tetapi, di malam hari, orang itu baru dapat aku lihat setelah

beberapa puluh langkah di muka hidungku”.

Tetapi, Mahisa Agni sama sekali tidak ingin kembali. Ia harus

berjalan terus. Bahaya itu baru ada di dalam angan-angannya.,

“Apakah aku sekarang telah berubah meujadi seorang pengecut?”

katanya di dalam hati.

Tiba-tiba hati Mahisa Agni itu pun berdesir. Ia mendengar derap

kuda di belakangnya. Ketika ia menoleh, remang-remang ia melihat

bayangan seorang penunggang kuda yang mengejarnya, bahkan

telah terlampau dekat.

“Siapa yang menyusulku?” pertanyaan itu tumbuh di dalam

hatinya, “mungkin seseorang yang ingin mencegah kepergianku

malam ini. Ah, tidak. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku malam

ini”.

Mahisa Agni pun kemudian menyentuh perut kudanya dengan

tumitnya. Kuda itu memang kuda yang tegar. Loncatannya menjadi

kian panyang dan cepat. Dan kuda dibelakangnya itu pun menjadi

semakin lama semakin jauh. Ia tidak mau diganggu. Mungkin orang

itu Ki Buyut Panawijen mungkin pamannya Empu Gandring yang

masih akan mencoba membawanya kembali ke perkemahan.

Kuda Mahisa Agni berlari kencang seperti angin. Ditembusnya

gelap malam seperti anak panah yang menghunyam ke dalam

kelam. Semakin lama semakin cepat. Meskipun demikian, Mahisa

Agni merasa, bahwa perjalanannya itu terlampau lambat.

Malam ini aku harus mendapatkan batang Kates Grandel itu.

Besok, sebelum matahari terlampau tinggi aku harus sudah berada

di bendungan itu kembali. Aku harus mulai dengan kerja yang sudah

aku rencanakan.

Derap kuda dibelakangnya telah tidak didengarnya lagi. Mungkin

kuda itu telah kembali ke perkemahan atau sudah tertinggal

terlampau jauh. Ia tidak peduli, siapakah yang naik di atas

punggung kuda itu. Ia ingin pekerjaannya selesai tanpa seorang pun

yang mencampurinya. Besok pagi-pagi ia akan datang kepada

Bitung dan memberikannya apa yang diperlukan. Kalau sakit Bitung

berkurang, bergembiralah ia dan semua orang di perkemahan itu.

Tetapi, apabila penyakit itu mengeras, maka ia sudah cukup

berusaha. Tak seorang pun yang akan dapat menyalahkannya lagi.

Dengan demikian maka hatinya pun menjadi semakin mantap. Ia

mencoba mempercepat lari kudanya, tetapi sayang, bahwa tenaga

kudanya pun terbatas, sehingga kuda itu tidak dapat berpacu lebih

cepat lagi.

Ketika Mahisa Agni melewati sebuah gerumbul yang agak lebat,

terasa hatinya berdesir. Ia tidak tahu, kenapa ia tiba-tiba saja

menjadi berdebar-debar. Dan ia tidak tahu, apakah yang telah

memaksanya untuk berpaling.

Kini hatinya tidak saja terkejut, tetapi hampir ia tidak percaya.

Tiba-tiba saja beberapa puluh langkah di belakangnya berpacu

seekor kuda dengan penunggangnya. Cepat seperti angin. Mahisa

Agni tidak dapat mempercepat derap kudanya. Kudanya yang tegar

itu telah mencapai kecepatan tertinggi. Namun, kuda di belakangnya

itu agaknya dapat melampaui kecepatan kudanya. Kalau semula

kuda itu semakin lama menjadi semakin jauh, dan bahkan telah

hilang di kegelapan, maka tiba-tiba kuda itu kini telah menjadi

semakin dekat.

“Kuda itu muncul lagi” pikirnya, “ia mengikuti aku sejak aku

keluar dari perkemahan. Mungkin Ki Buyut mungkin paman Empu

Gandring. Mungkin seseorang yang disuruh oleh keduanya untuk

menyusul aku. Tetapi, tak ada seekor kuda pun di Panawijen yang

dapat menyamai kudaku, sedang kuda ini agaknya bahkan

melampaui”.

Mahisa Agni mencoba mengingat-ingat, apakah ada seseorang

yang memiliki kemampuan berkuda menyamainya.

“Satu-satunya adalah paman Empu Gandring” desisnya, “apakah

paman akan memaksa aku kembali?”

Tiba-tiba Mahisa Agni tersenyum, gumamnya, “Alangkah

bodohnya aku. Biarlah paman mengejarku. Aku akan biarkan paman

mengikuti aku sampai ke Panawijen. Bukankah dengan demikian

aku akan mendapat kawan di perjalanan. Bahkan seandainya aku

akan bertemu dengan Empu Sada sekalipun, aku tidak perlu

gentar”.

Tetapi, kuda dibelakang Mahisa Agni itu menjadi semakin lama

semakin dekat. Betapapun Mahisa Agni mencoba mempercepat laju

kudanya.

“Hem“ desisnya, “kalau paman dapat mencapai aku sebelum aku

melampaui separo jalan, maka aku pasti akan dipaksanya kembali.

Kecuali kalau aku dapat membujuknya supaya paman sudi

mengantarkanku. Tetapi, mungkin juga paman menyusul untuk

mengawani aku ke Panawijen”.

Dugaan yang terakhir itu justru telah mengendorkan hasrat

Mahisa Agni berpacu terus. Sebab ia menyadari bahwa ia tidak akan

mampu lebih lama lagi mendahuluinya. Sebab kuda yang di

belakangnya itu terlampau cepat, dan agaknya penunggangnya

terlampau tangkas.

“Biarlah aku” katanya. Mahisa Agni itu pun kemudian malahan

memperlambat kudanya. Sekali-kali ia berpaling untuk mencoba

mengenal orang yang mengejarnya itu. Tetapi, karena malam

terlampau gelap, maka yang tampak hanyalah sebuah bayangan

yang hitam.

Tetapi, semakin dekat kuda itu, hati Mahisa Agni menjadi

semakin curiga. Bentuk orang di atas punggung kuda itu sama

sekali bukan bentuk tubuh pamannya.

Kembali dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Namun, ia

masih belum mendapat kepastian, apakah orang yang duduk di atas

punggung kuda itu pamannya atau bukan.

Tetapi, debar di dadanya menjadi semakin cepat ketika ia melihat

kuda itu seolah-olah tidak berpelana.

“Gila” desisnya, “apakah ada orang yang dapat menunggang

kuda secepat itu tanpa pelana?”

Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir ketika tiba-tiba ia

mendengar suara tertawa. Suara tertawa yang mendirikan bulu-bulu

kuduknya.

Namun, dengan demikian Mahisa Agni kini menjadi pasti bahwa

orang itu sama sekali bukan pamannya, bukan Ki Buyut Panawejen.

tetapi juga pasti bukan Empu Sada.

Mahisa Agni pun kemudian tidak mau berteka-teki lebih lama

lagi. Ketika ia yakin bahwa orang itu bukan Empu Sada, serta tak

ada kemungkinan baginya untuk menghindar karena kuda orang itu

lebih cepat dari kudanya, maka tiba-tiba ia menekan kendali

kudanya itu. Dengan serta merta kudanya mencoba-coba untuk

berhenti. Demikian tiba-tiba sehingga kudanya itu meringkik dan

berdiri di atas kedua kaki belakangnya.

“Bagus” terdengar suara orang yang mengejarnya, “Kau pandai

juga bermain-main dengan kuda”.

Mahisa Agni menahan nafasnya. Diamatinya orang yang duduk di

atas kuda tanpa pelana itu. Apalagi ketika orang itu pun segera

menghentikan kudanya beberapa langkah saja di sampinpingnya.

Sekali lagi orang itu tertawa. Suaranya meninggi membelah

Padang Rumput Karautan.

“Kaukah itu?” berkata orang itu disela-sela suara tertawanya.

“Siapa kau?” bertanya Mahisa Agni.

“Hem, kaukah yang bernama Mahisa Agni, begitu?”

Mahisa Agni tidak segera menyawab. Diamati wajah orang yang

belum pernah dilihatnya. Wajahnya keras seperti batu-batu padas

dan suara tertawanya pun sekeras suara guntur di langit.

Sekali lagi bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Anak muda itu

bukan seorang penakut, namun wajah itu benar-benar mengerikan.

Mahisa Agni pernah bertemu dengan Hantu Padang Karautan, pada

masa hantu itu masih sering menakut-nakuti orang yang lewat

padang ini. Tetapi, meskipun hantu itu tampak kusut dan liar,

namun wajahnya tidak mengerikan seperti wajah orang ini.

“Siapakah kau?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya.

“Aku penunggu padang ini” sahut orang itu.

“Bohong” tiba-tiba Mahisa Agni pun berteriak, “aku kenal Hantu

Karautan”.

Kembali orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Katanya, “Oh, hantu

kerdil yang sering merampok orang lewat itu? Hem, orang-orang di

sekitar Padang Karautan benar-benar pengecut. Kenapa mereka

takut akan hantu gila yang sering dikatakan orang? Sudah lama aku

ingin menemuinya, tetapi aku tidak pernah mendapat kesempatan,

dan memang aku tidak pernah ingin merendahkan diri bertemu

dengan hantu cengeng itu”.

“Kalau kau penunggu padang rumput ini, apakah kau tidak

pernah bertemu dengan hantu yang selalu berkeliaran di padang ini

pula” bertanya Mahisa Agni.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun, suara tertawanya

meledak kembali mengguntur berkepanjangan.

“Cukup” bentak Mahisa Agni, “jawab pertanyaanku”

“Baik. Baik” katanya, “kau benar. Aku memang bukan penunggu

padang ini. Aku mencoba berbohong, tetapi kau cukup cerdik”.

Kini Mahisa Agni lah yang tertegun mendengar jawaban itu.

Jawaban yang berterus-terang. Pengakuan yang demikian tiba-tiba

itu semula sama sekali tidak diduganya. Namun, kemudian ia

bertanya kembali, “Jadi siapakah kau?”

Orang itu tidak segera menyawab. Diamatinya Mahisa Agni dari

ujung ubun-ubun sampai keujung kakinya. Dan sekali lagi orang itu

bertanya, “Hem. Kaukah Mahisa Agni?”

“Apa kepentinganmu dengan orang yang bernama Mahisa Agni?”

sahut Mahisa Agni curiga.

“Aku kagum akan keberaniannya. Tak seorang pun dari anakanak

muda Panawijen yang berani berjalan seorang diri dari Padang

Karautan ke Panawijen, selain Mahisa Agni”.

“Kau salah. Hampir setiap anak muda Panawijen berani

melakukannya” sahut Mahisa Agni.

Tetapi, kemarahan Mahisa Agni pun terungkat ketika orang itu

tertawa kembali.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya Mahisa Agni keras, untuk

mengatasi suara tertawa itu.

“Tak ada orang yang berani berbuat demikian selain Mahisa

Agni”.

“Omong kosong” teriak Mahisa Agni semakin keras. Suaranya

melontar memenuhi padang itu, menembus gelap pekat yang

seolah-olah menelungkupi Padang Karautan.

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Sekarang aku yakin. Hanya ada dua orang yang dapat dibanggakan

diseluruh Panawijen. Yang pertama adalah Kuda Sempana, seorang

pelayan dalam yang berani, dan yang kedua adalah Mahisa Agni”.

“Katakan siapakah kau dan apa keperluanmu?” Mahisa Agni

kehilangan kesabaran.

“Menangkap Mahisa Agni” jawab orang itu.

Sekali lagi Mahisa terkejut. Orang itu berkata langsung tentang

dirinya. Karena itu, maka jantung Mahisa Agni pun serasa menyala.

Ia belum pernah mengenal orang itu. yang dicemaskannya adalah

Empu Sada, namun tiba-tiba ia bertemu dengan orang berwajah

keras sekeras batu karang yang akan menangkapnya juga. Maka

sekali ia bertanya dengan penuh kemarahan, “Siapa kau, siapa?”

“Apa pedulimu tentang aku. Aku akan menangkap kau dan

membawanya pulang ke rumah. Kau akan dapat menjadi permainan

yang mengasyikkan”.

Kata-kata orang yang berwajah keras sekeras batu padas tu

serasa api yang menyentuh telinga Mahisa Agni. Alangkah

panasnya. Namun, karena itulah maka sejenak Mahisa Agni tidak

dapat mengatakan sesuatu karena kemarahannya serasa

menyumbat kerongkongannya. yang terdengar adalah gemeretak

giginya beradu.

Tetapi, orang itu masih saja tertawa seperti melihat lelucon yang

mengasyikkan, “Apakah kau marah?”

Mahisa Agni masih berdiam diri. Dicobanya untuk menenangkan

perasaannya, supaya ia tidak tenggelam dalam ke marahannya

sehingga tidak mampu lagi untuk melihat setiap keadaan dengan

sewajarnya. Berkali-kali Mahisa Agni menarik nafas panyang. Udara

dingin di malam yang kelam itu telah mengusap jalan

pernafasannya. Namun, terasa darahnya masih terlampau panas.

Dengan suara gemetar sekali lagi ia bertanya, “Siapakah kau?”

“Apakah kau perlu mengenal namaku?” bertanya orang itu.

“Sebutlah namamu, atau gelarmu?”

“Aku tidak punya gelar. Aku hanya punya satu nama”.

“Ya, sebutlah satu nama itu”.

“Wong Sarimpat”.

Tanpa sesadarnya kembali bulu-bulu Mahisa Agni meremang.

Nama itu pernah didengarnya dari pamannya dan dari mulut Empu

Sada sendiri. Wong Sarimpat dan yang seorang lagi bernama Kebo

Sindet.

Sekali lagi Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Kini ia sadar

bahwa ia benar-benar berhadapan dengan bahaya. Meskipun ia

tidak bertemu dengan Empu Sada, namun orang ini adalah sama

berbahayanya dengan Empu Sada. Tidak mustahil bahwa Empu

Sada telah benar-benar minta kedua orang itu untuk membantunya.

Sehingga dengan serta merta Mahisa Agni menggeram, “Hem.

Apakah kau diminta oleh Empu Sada berbuat demikian?”

“Ya” sahut penunggang kuda yang ternyata Wong Sarimpat itu,

“Empu Sada minta bantuanku dan kakang Kebo Sindet. Mereka

datang ke rumahku bersama Kuda Sempana dan seorang saudara

seperguruannya bernama Cundaka”.

Jantung Mahisa Agni serasa berdentang semakin keras. Orang itu

selalu berkata terus terang, tanpa banyak pertimbangan. Namun,

dengan demikian, maka Mahisa Agni menjadi semakin berdebardebar.

Ia dapat meraba perasaan orang itu, yang merasa tidak perlu

berbohong atau menyembunyikan sesuatu, karena sebentar lagi

Mahisa Agni telah ditangkapnya.

Bahkan orang itu meneruskan, “Kalau aku berhasil membawamu

pulang, maka kau akan bertemu dengan Kuda Sempana. Ia ingin

aku menangkapmu hidup-hidup. Mungkin ia menyimpan dendam

dihatinya. Adalah salahmu, bahwa kau tidak cukup berhati-hati,

sehingga kau melukai hatinya. Sekarang kau terpaksa membayar

sakit bati itu dengan tebusan yang cukup mahal. Kau harus

membayar sakit hati itu dengan sakit di hati dan tubuhmu.

KudaSempana ingin melihat kau diikat pada sebatang pohon yang

kuat. Kuda Sempana akan dapat berbuat sekehendak hatinya

atasmu. Mungkin mencambuk, mungkin menyentuhmu dengan api

atau pisau, atau apa pun yang akan dilakukan untuk menyakiti

tubuhmu. Sedang untuk menyakiti hatimu Kuda Sempana akan

memecah bendungan yang sedang kau kerjakan. Kalau kau hilang

dari antara orang-orang Panawijen itu, maka mereka pasti akan

kehilangan gairah. Mereka akan menjadi jemu dan mungkin

berputus-asa. Dan kau akan melihat, bahwa Padang Rumput

Karautan itu akan menjadi sepi kembali. Sepi seperti sedia kala.

Tidak ada orang yang mengotori kehijauan rumput yang luas

seakan-akan tidak bertepi ini”.

Wong Sarimpat berhenti sejenak. Ketika dipandanginya wajah

Mahisa Agni, maka wajah itu menjadi sangat tegang. Beberapa titik

keringat telah membasahi keningnya, meskipun malam sangat

dinginnya.

“Jangan menyesal, bahwa kau bertemu dengan aku malam ini”

berkata Wong Sarimpat kemudian sambil tertawa, “sebenarnya

tugasku tidak menangkap kau. Aku hanya sekedar harus

mengetahui dengan pasti jalan yang sering kau pergunakan hilir

mudik ke Panawijen. Sebenarnya malam ini aku harus sudah

kembali kerumahku. Tetapi, tiba-tiba aku melihat seseorang berpacu

dengan kudanya. Aku pernah melihat kau lewat jalan ini ke

Panawijen beberapa hari sebelumnya, sehingga aku yakin bahwa

jalan inilah yang selalu kau tempuh apabila kau kembali ke

Panawijen. Ternyata aku kini mengambil keputusan lain. Aku akan

kembali dengan membawamu sama sekali”.

Perasaan Mahisa Agni kini tak dapat dikuasainya lagi. Tiba-tiba

dengan sebuah gerakan kilat, ia menarik pedangnya sambil

berdesis, “Jangan membual. Aku bukan benda mati yang dapat kau

perlakukan sekehendak hatimu. Mungkin kau akan mampu

membunuhku, sebab kesaktianmu pernah aku dengar menyamai

orang-orang yang aku kagumi. Tetapi, itu adalah lebih baik bagiku

dari pada kau akan berusaha menangkap aku hidup-hidup”.

Suara tertawa Wong Sarimpat meledak seperti ledakan gunung

yang pecah. Demikian kerasnya sehingga tubuhnya berguncangan

di atas punggung kudanya. Katanya kemudian disela-sela suara

tertawanya, “jangan banyak tingkah. Kalau kau akan mencoba

melawan aku, maka setiap batang rumput dan ilalang akan

mentertawakan kau. Setiap helai daun dan setiap tangkai bunga

perdu pernah mendengar siapa Wong Sarimpat. Adalah mustahil

kalau kau belum pernah mendengar namaku. Mungkin kau pernah

mengenal Empu Sada. Apakah kau mampu melawan orang itu pula?

Orang yang diakui memiliki ilmu setingkat dengan gurumu? Aku

dengar bahwa Mahisa Agni adalah murid Padepokan Panawijen

Murid Empu Purwa yang oleh penduduk di sekitarnya di kenal

sebagai seorang tua pendiam yang hanya mampu berdoa dan

bertani”.

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Kata-kata itu memang

mengandung kebenaran, ia pasti tidak akan mampu melawan Wong

Sarimpat. Tetapi, ia tidak ingin menyerahkan kepalanya dengan

suka rela. Karena itu, baginya, lebih baik mati di Padang Karautan

sebagai tanah harapan yang sedang diolahnya, dari pada ditangkap

hidup-hidup dan dibunuh oleh Kuda Sempana sebagai suatu

permainan yang bengis.

Dengan demikian maka hati Mahisa Agni pun menjadi semakin

bulat. Ia bertekad untuk melawannya, meskipun perlawanannya itu

tidak akan berarti.

Ketika ia mendengar Wong Sarimpat itu tertawa lagi, maka tibatiba

Mahisa Agni menggerakkan kudanya menyambar orang yang

berwajah keras seperti batu padas itu. Pedangnya terayun deras

sekali langsung mengarah ke lehernya.

Suara tertawa itu pun terputus. Namun, Mahisa Agni harus

melihat kenyataan, bahwa orang itu memang terlampau lincah.

Pedangnya yang diayunkannya secepat-cepat kemampuaanya itu

sama sekali tidak. berarti bagi lawannya. Babkan betapa terkejut

anak muda Panawijen itu ketika terasa pergelangannya seolah-olah

digigit oleh perasaan nyeri yang dahsyat. Ketika ia menyadari

keadaan, maka pedangnya telah terlempar dauh dari padanya.

Kembali suara tertawa itu mengumandang. Demikian kerasnya.

Dan diantara suara tertawa itu terdengar kata-katanya, “Kau

memang anak muda yang luar biasa. Tenagamu memang

melampaui tenaga Kuda Sempana. Dan sebenarnya kau pasti dapat

mengalahkan anak muda itu seperti yang dikatakannya. Tetapi,

dengan demikian kau jangan menjadi terlampau sombong. Yang kau

hadapi kini sama sekali bukan Kuda Sempana”

Dada Mahisa Agni berdesir. Malam terlampau gelap, sehingga

ketika ia mencoba mencari pedangnya dengan pandangan matanya,

ia tidak segera menemukanya.

“Kau mencari pedangmu?” desis Wong Sarimpat

Mahisa Agni tidak menjawab.

“Ambillah” teriak Wong Sarimpat, “aku memberimu kesempatan”

Sekali lagi, dada Mahisa Agni berdesir. Tetapi, ia masih saja

duduk mematung dfi atas punggung kudanya yang masih bergerakgerak.

“Ambillah” teriak Wong Sarimpat pula. Suara itu terlampau

keras, sehingga Mahisa Agni terkejut. Dan suara itu agaknya telah

memaksa Mahisa Agni bergerak tanpa sesadarnya ke arah pedang

terlempar.

”Cari di kegelapan itu. Mungkin disela-sela batang ilalang atau

terlempar ke dalam gerumbul”

Darah Mahisa Agni benar-benar mendidik. Betapa orang itu telah

menghinanya. Dibiarkannya ia menjauh, masuk ke dalam kegelapan

tanpa diikutinya. Bahkan dengan nada tinggi, Wong Sarimpat

berteriak, “Aku tunggu kau di sini. Jangan mencoba lari, tidak ada

gunanya. Dalam sepuluh hitungan kalau kau belum menemukan

pedangmu, adalah salahmu sendiri. Kau harus datang kembali dan

bertempur dengan tanganmu. Kalau tidak, aku akan menjemputmu.

Tetapi dengan demikian kau pasti akan menyesal”

Mahisa Agni tidak menjawab. Kudanya dibawanya berjalan ke

arah pedangnya terlempar. Tetapi, karena malam terlampau gelap,

maka ia tidak segera dapat menemukannya. Di belakangnya, Wong

sarimpat yang gila itu mulai menghitung sambil tertawa-tawa, “satu,

dua…. tetapi jarak di antara setiap hitungan cukup lama, seolaholah

ia sengaja memberi weaktu kepada Mahisa Agni untuk

menemukan pedangnya.

Betapa panasnya hati Mahisa Agni. Setiap hitungan yang

didengarnya serasa sebuah tusukan langsung di lambungnya.

Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram. Namun, pedangnya masih

belum diketemukan.

Sekilas, timbullah keinginannya untuk melarikan diri menjauhi

orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu. Namun, ia

kemudian merasa bahwa itupun tidak akan ada gunanya. Orang itu

pasti akan mendengar kudanya berderap dan segera mengejarnya.

Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kuda orang itu

mampu berlari lebih cepat dari kudanya. Untuk bersembunyipun

rasa-rasanya tidak akan mungkin. Gerumbul-gerumbul yang jarangjarang

itu akan segera dapat disasak olehnya. Dan ia akan hancur

terinjak-injak kaki kuda yang liar seliar penunggangnya itu.

Dalam kebimbangan itu, Mahisa Agni membiarkan kudanya

berjalan semakin jauh. Bahkan, kini ia tidak lagi bernafsu untuk

menemukan pedangnya. Ia merasa bahwa usaha itupun tidak akan

berhasil. Yangkemudian bulat di dalam kepalanya adalah ia akan

berkelahi dengan kekuatannya yang terakhir, dengan puncak ilmu

yang dimilikinya. Gundala Sasra. Ilmu itu pasti akan lebih tajam

daripada pedangnya. Mungkin Wong Sarimpat tidak dapat

dibunuhnya dengan ilmu itu, namun apapun yang akan terjadi

adalah lenih baik daripada ia harus ditangkap hidup-hidup.

Suara Wong Sarimpat terdengar semakin lama semakin jauh. Kini

ia mendengar orang-orang itu menyebut bilangan kelima.

“Hem,” Mahisa Agni menggeram, “ia tidak telaten mendengar

betapa lambannya Wong Sarimpat menghitung. Ia ingin segera

terjadi apa yang akan terjadi. Kalau ia akan mati, biarlah segera

terjadi pula.

Ketika ia berpaling, malam yang gelap seakan-akan telah

memisahkannya dari orang itu. Sekali lagi Mahisa Agni mengumpat

di dalam hatinya. Adalah suatu penghinaan baginya, dengan

membiarkannya pergi menjauhi lawannya. Mungkin Wong Sarimpat

ingin mempermainkannya. Dibiarkannya ia lari, kemudian orang itu

akan menyusulnya. Mungkin orang itu akan memberinya

kesempatan pula untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Apabila

kemudian nafasnya telah hampir putus, maka segera ia

ditangkapnya dan dibawanya ke rumahnya.

“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Tiba-tiba ia memutar

kudanya sambil bergumam di dalam hatinya, “Aku tidak mau

menjadi permainan. Seperti seekor tikus menghadapi kucing. Biarlah

aku mati dengan jantan. Aku akan kembali kepadanya dan

menyerangnya.

Mahisa Agni sama sekali tidak dapat melihat Wong Sarimpat lagi

karena gelap malam. Tetapi, ia masih mendengar suaranya. Karena

itu, segera dihadapkannya kudanya ke arah suara itu. Ia akan

berpacu dan mempersiapkan kekuatan puncaknya. Apabila kudanya

telah menghampiri orang itu, maka segera ia akan membenturkan

ajinya. Kalau orang itu memiliki kekuatan seperti baja yang berlapislapis,

biarlah dadanya sendiri hancur karena kekuatannya, tetapi

kalau tidak maka pasti akan mengurangi kekuatan lawannya.

Kini Mahisa Agni mulai memusatkan segenap kekuatannya. Ia

mendengar Wong Sarimpat telah sampai kehitungan yang ketujuh.

Sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Hitungan itu terdengar sangat

memuakkan. Tetapi, ia tidak akan menunggu sampai hitungan yang

kesepuluh.

Tetapi, tiba-tiba kembali Mahisa Agni itu terkejut sehingga

seakan-akan darahnya membeku. Pada saat ia telah siap untuk

berpacu dan siap pula melepaskan kekuatan pamungkasnya, maka

terasa sebuah genggaman tangan yang kuat pada lengannya.

Demikian kuatnya sehingga Mahisa Agni hampir tertarik jatuh dari

kudanya meskipun ia telah bersiap dengan puncak kekuatannya.

Dengan sekuat tenaga Mahisa Agni mencoba merenggut dirinya,

tetapi ia sama sekali tidak berhasil.

Ketika ia kemudian berpaling, maka nafsunya pun terhenti

sesaat. Matanya terbalik dan mulutnya ternganga.

“Turunlah” terdengar sebuah perintah.

Perintah itu benar-benar seperti telah memukau dirinya tanpa

disadarinya. Segera ia meloncat dari kudanya dan sebelum ia

berbuat sesuatu orang yang mencengkam lengannya itu telah

meloncat naik.

Ketika Mahisa Agni akan mengucapkan kata-kata, terdengar

suara orang itu menggeram, “Aku telah mendengar hitungan ke

sembilan”.

Sebelum Mahisa Agni sempat menyahut, maka kudanya telah

bergerak membawa orang itu mendekati Wong Sarimpat. Mahisa

Agni menjadi bingung, matanya menjadi seolah-seolah melihat

hantu berseliweran di padang itu. Kehadiran Wong Sarimpat yang

tiba-tiba itu telah menggoncangkan hatinya dan tiba-tiba hadir pula

orang lain seperti demikian saja muncul dari padang rumput itu,

atau tumbuh dari sela-sela rumput-rumputan dan gerumbul.

Tetapi, kehadiran orang itu telah agak menenteramkam hati

Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia menjadi tenang kembali, sehingga ia

kini dapat mempergunakan otaknya dengan lebih baik.

Ternyata ketika ia meninggalkan perkemahannya, seseorang

telah menyusulnya. Namun, kudanya agaknya terlampau jelek,

sehingga orang itu tertinggal terlampau jauh. Namun, tanpa

disangka-sangkanya, dari sebuah gerumbul muacul pula kuda yang

lain. Kuda Wong Sarimpat yang mengejarnya. Tetapi, agaknya

Wong Sarimpat tidak menyadari bahwa ada seekor kuda jelek

mengejar di belakangnya. Meskipun kuda itu semakin jauh, namun

ketika mereka berdua berhenti dan bermain-main dengan pedang,

maka kuda yang jelek itu sempat menyusul mereka. Tetapi, kenapa

mereka sama sekali tidak mendengar suara derapnya. Kalau ia tidak

mendengar mungkin karena hatinya yang kacau. Tetapi, apakah

Wong Sarimpat juga tidak mendengarnya? Apakah orang itu

telinganya hanya mampu mendengar suara tertawanya sendiri yang

mengguntur-guntur.

Mahisa Agni tidak sempat berangan-angan terlampau lama ia

ingin melihat apa yang terjadi. Adalah pertolongan dari Yang Maha

Agung bahwa pamannya hadir pada saat ia di cengkam oleh

bahaya. Dan kini pamannya telah mewakilinya, menemui orang

yang berwajah keras sekeras batu padas itu.

Mahisa Agni masih melihat kudanya berjalan perlahan-lahan

mendekati arah suara Wong Sarimpat. Dengan hati-hati ia berjalan

mengikutinya. Ia ingin melihat apakah yang terjadi di antara

mereka, ia percaya bahwa pamannya menyadari siapakah yang

dihadapinya, dan ia percaya bahwa pamannya cukup mengerti

perbandingan kekuatan antara mereka. Sebab pamannya telah

pernah menyebut-nyebut nama itu pula, Wong Sarimpat.

Akhirnya Wong Sarimpat sampai kehilangan yang kesepuluh.

Setelah ia mengucapkan bilangan itu, maka ia pun segera berteriak,

“Mahisa Agni. Aku sudah sampai kebilangan yang ke sepuluh. Ayo

kemarilah, apakah pedangmu telah kau ketemukan?”

Ia melihat pamannya telah semakin dekat, di samping sebuah

gerumbul. Beberapa langkah dihadapannya kudanya berhenti dan

pamannya agaknya lebih senang menunggu Wong Sarimpat itu

berteriak sekali lagi.

“Mahisa Agni, ayo, kemarilah”.

Tanpa dikehendaki, Mahisa Agni berusaha berdiri di balik

lindungan sebuah gerumbul perdu. Sementara itu kudanya berjalan

maju perlahan-lahan.

“Ayo, kemarilah” teriak Wong Sarimpat pula, “apakah kau sudah

menemukan pedangmu? Dan kenapa kau tidak lari saja he?”

Mahisa Agni yang berada di belakang sebuah gerumbul itu pun

mengumpat di dalam hatinya. Dugaannya ternyata benar, bahwa

Wong Sarimpat ingin mempermain-mainkannya. Wong Sarimpat

sengaja memberinya kesempatan untuk lari. Orang itu akan segera

mengejarnya, Demikian sehingga nafas Mahisa Agni akan habis

dengan sendirinya. Tetapi, rencana itu harus berubah, sebab ada

orang lain yang akan turut dalam permainan yang mengerikan itu.

Ketika Wong Sarimpat kemudian melihat kuda yang perlahan

mendekatinya, maka terdengar suara tertawanya mengumandang di

padang rumput yang luas itu. Perhatiannya sama sekait tidak

tertarik kepada gerumbul disampingnya. Matanya terpaku pada

kuda dengan penunggangnya itu, sehingga Mahisa Agni sempat

merangkak lebih mendekat lagi. Bahkan Mahisa Agni itu pun telah

melupakan dirinya sendiri pula. Keinginan untuk melihat apa yang

akan terjadi telah mendorongnya untuk mengintip dari balik

dedaunan.

“Agni” teriak Wong Sarimpat. Tetapi, kuda itu tidak mendekat

lagi.

“Kemari”

“Kemari” teriak Wong Sarimpat lagi. Kuda itu masih tegak

ditempatnya.

“Apakah kau takut Agni?” bertanya Wong Sarimpat, “kalau kau

menurut maka aku tidak akan menyentuhmu. Mari pulang ke

rumah. Urusanmu seharusnya kau selesaikan sendiri dengan Kuda

Sempana. Aku hanya sekedar meraba maksudmu”.

Tetapi, tiba-tiba dada Wong Sarimpat itu seperti terhantam guruh

ketika ia mendengar penunggang kuda itu menjawab perlahanlahan,

namun dengan suara yang mantap, “Baik Wong Sarimpat,

aku akan datang”.

Dan suara itu sama sekali bukan suara yang pernah didengarnya

diucapkan oleh Mahisa Agni. Suara itu jauh berbeda. Nadanya dan

getarannya.

Karena itu Wong Sarimpat justru seakan-akan terpesona melihat

sebuah bayangan hitam duduk di atas punggung seekor kuda.

Ketika kuda itu menjauhinya, maka orang yang duduk di atas

punggungnya adalah Mahisa Agni. Tetapi, ketika kuda itu datang

kembali, maka orang itu sudah berganti bentuk dan suaranya.

Dalam pada itu terdengar kembali bayangan di atas punggung

kuda itu berkata, “Wong Sarimpat, apakah kau menanyakan

pedangku?”

Wong Sarimpat tidak segera menjawab, dicobanya untuk melihat

dengan lebih saksama. Tetapi, jarak itu belum terlampau dekat, dan

hitam malam seakan-akan menjadi kian pekat.

“Siapakah kau?” teriak Wong Sarimpat.

“Mahiia Agni” jawab suara itu, “apakah kau kini telah menjadi

seorang pelupa, baru saja kau memberi kesempatan kepadaku

untuk mengambil pedangku. Bukankah kau menghitung sampai

hitungan kesepuluh dan memanggilku untuk kembali”.

Terdengar Wong Sarimpat menggeram. Sejenak ia menjadi

bingung. Apakah suara Mahisa Agni segera berubah? Mungkin anak

muda itu menjadi ketakutan sehingga nada suaranya berubah

menjadi terlampau rendah. Tetapi, suara yang didengarnya itu sama

sekali tidak berkesan ketakutan.

Dengan demikian maka dada Wong Sarimpat itu pun di amuk

oleh kebimbangan dan kebingungan. Tetapi, meskipun demikian,

Wong Sarimpat adalah seorang yang mempunyai kepercayaan yang

kuat kepada kemampuan diri sendiri sehingga bagaimanapun juga,

maka dihadapinya setiap persoalan dengan dada tengadah.

Sejenak kemudian kembali terdengar suara tertawa orang itu

menggelegar memenuhi Padang Karautan. Bahkan Mahisa Agni

yang bersembunyi itu pun menjadi terkejut bukan buatan. Ia tidak

tahu, mengapa tiba-tiba saja orang itu tertawa. Apakah kini Wong

Sarimpat itu telah mengenal bahwa yang duduk di atas punggung

kuda itu sama sekali bukan Mahisa Agni?

Tetapi, ketika ia mencoba memperhatikan pamannya, yang telah

menggantikannya, maka kembali ia menjadi tenang. Pamannya itu

sama sekali tidak terpengaruh oleh suara yang mengguruh itu.

Orang tua itu masih saja duduk dengan tenangnya, dan membawa

kudanya selangkah demi selangkah maju.

“Kemarilah” teriak orang itu.

“Aku sedang mendekat” sahut pamannya.

“Hem” Wong Sarimpat menggeram, “apakah Mahisa Agni mampu

ajur-ajer mancala putra mancala putri? Ajo katakan siapa kau?”

“Siapakah aku menurut anggapanmu? Apakah aku bukan Mahisa

Agni?”

Sekali lagi Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Ketika suara

tertawanya menjadi semakin lirih, terdengar ia berkata, “Bagus.

Bagus. Suatu permainan yang bagus sekali. Ternyata aku telah

tcrjebak oleh permainan sendiri. Aku ingin melihat Mahisa Agni lari

terbirit-birit. ternyata kini ia telah datang kembali dengan wajah dan

keberanian baru”. Tiba-tiba suara tertawa kembali meninggi-ninggi.

Kini Wong Sarimpat tidak sekedar menunggu kehadiran bayangan di

atas punggung kuda itu. Perlahanlahan maka didorongnya kudanya

untuk mendekat. Semakin dekat suara tertawanya menjadi semakin

keras, sehingga kemudian diantara derai tertawanya itu ia berkata,

“Oh. kau. Kau”.

“Ya, ternyata kau mengenal aku Wong Sarimpat”.

Wong Sarimpat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini

suara tertawanya telah berhenti. Dengan menunjuk kearah wajah

Empu Gandring ia berkata, “Hem, bukankah kau tukang keris yang

termasyur itu?”

“Terlalu berlebih-lebihan” jawab Empu Gandring, “tidak banyak

orang yang mengenal aku. Masih jauh lebih banyak orang yang

mengenal nama Wong Sarimpat”.

Kembali Wong Sarimpat tertawa, katanya, “Kau memaag jenaka.

Kau masih saja suka bergurau. Meskipun aku belum mengenalmu

terlalu dekat, tetapi aku sudah banyak mendengar tentang kau.

Empu Gandring. Pusaka buatanmu adalah pusaka yang tak ternilai

harganya”.

“Apakah kau sekarang membawa barang sehelai?”

“Sayang Wong Sarimpat” jawab Empu Gandring, “aku tidak

membawanya. Tetapi, kalau kau memerlukannya, aku dapat

membuat untukmu sekarang”.

“He” Wong Sarimpat mengerutkan keningnya, “dengan apa kau

akan membuat keris disini?”

“Aku dapat membuatnya dari batu. Tanganku dapat menyala

untuk meluluhkan batu yang betapapun kerasnya Tanganku pula

dapat aku pakai untuk menempa di atas lutut”.

Suara tertawa Wong Sarimpat seakan-akan meledak menecahkan

anak telinga. Tubuhnya yang kekar pendek itu terguncang-guncang,

bahkan demikian kerasnya sehingga sebelah tangannya menekan

perutnya yang bergerak-gerak.

“Bagus, bagus. Kau memang Empu yang terlampau sakti. Tetapi,

kau tidak akan dapat menyalakan api disini, sebab aku dadat

menghembuskan hujan dari mulutku. Api mu pasti akan padam dan

batumu tidak akan dapat luluh”.

“Kalau demikian, maka aku pun mampu mempergunakan batu itu

untuk senjataku. Batu ditanganku tidak akan kalah berbahayanya

dari sebuah keris yang bagaimanapun saktinya”.

“Ya. Aku percaya” potong Wong Sarimpat, “tetapi sayang. Kau

sekarang berhadapan dengan Wong Sarimpat”.

“Apa bedanya, apabila aku berhadapan dengan Kebo Sindet atau

Empu Sada?”

“Bagus, bagus Kau tahu benar siapa saja kau hadapi. Kau tahu

pula hubungan antara Wong Sarimpat dengan Empu Sada. Ternyata

kau sengaja menyebut-nyebut namanya”.

“Kau tidak perlu ingkar”.

“Aku tidak akan ingkar. Bahkan aku kini membenarkaanya,

bahwa seorang diri amat sulit untuk menangkap Mahisa Agni,

karena kau selalu membayanginya”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya, sedang dada Mahisa

Agni yang mendengar kata-kata itu pun menjadi berdebar-debar.

Ternyata Empu Sada benar-benar berusaha untuk menangkapnya

untuk kepentingan Kuda Sempana.

Mahisa Agni menggeram, katanya di dalam hati, “Dendam Kuda

Sempana benar-benar telah meracuni hidupnya. Ditinggalkannya

istana dan mengembara tak menentu. Anak muda itu benar-benar

menjadi korban sikapnya yang terlampau keras”.

Sejenak kemudian terdengar Empu Gandring menjawab, “Nah,

sekarang apakah yang akan kau lakukan? Bukankah Empu Sada

sendiri mengakui, bahwa ia tidak dapat melakukannya? Apakah kau

sekarang datang bersama dengan Empu Sada?”

“Tidak” jawab Wong Sarimpat, “aku datang sendiri. Aku ingin

menangkap Mahisa Agni dan membawanya pulang. Aku sangka

Mahisa Agni hanya seorang diri, sebab aku tidak melihat orang lain

pergi bersama-sama dengan anak itu”.

“Beruntunglah bahwa kuda yang aku pakai adalah kuda yang

terlampau jelek, sehingga kuda itu tidak mampu lari mengejar

Mahisa Agni. Agaknya kau bertemu dengan anak muda itu tanpa

menyadari bahwa aku berpacu di belakangnya”.

Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Kemudian katanya,

“Aku tidak mendengar derap kudamu mendekat”.

“Telingamu tersumbat oleh suara tertawamu sendiri. Masih jauh

aku sudah mendengar suaramu. Lebih keras dari derap kudaku.

Kemudian aku terpaksa menghentikan lari kuda itu. Perlahan-lahan

kudaku kemudian berjalan mendekat”.

“Setan,” desis Wong Sarimpat, “tetapi sekarang ceritera tentang

Empu Gandring pasti akan berbeda. Aku akan memaksamu untuk

manyerahkan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat lari. Kudanya

sekarang kau pergunakan. Sedang kudamu adalah kuda yang jelek.

Kau tahu bahwa kudaku mampu berlari secepat tatit yang meloncat

di langit. Dan kudaku ini memang kunamakan Tatit”.

“Mahisa Agni adalah kemanakanku. Jangan mengigau. Kau tahu

bahwa aku tidak akan merelakannya. Sekarang, bukankah kau akan

mempergunakan kekerasan? Cobalah pergunakan. Aku sudah siap

melawan setiap kekerasan dengan kekerasan pula”.

“Setan alasan” sekali lagi Wong Sarimpat mengumpat. Tatapi

kata-katanya kemudian seperti tersumbat dikerongkorgan karena

kemarahannya Dengan serta merta ia menggerakkan kudanya dan

menyerang Empu Gandring.

Tetapi, Empu Gandring telah siap menunggu. Karena itu, maka

kendali kudanya pun digerakkan, sehingga kudanya segera maju

pula.

Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Itulah

sebabnya maka keduanya tidak dapat meninggalkan kewaspadaan

tertinggi.

Ketika kedua ekor kuda itu berpapasan, maka Wong Sarimpat

segera mengayunkan tangannya. Dengan telapak tangannya ia

menyerang ke arah Empu Gandring. Tetapi, Empu Gandring segera

melawan serangan itu. Empu Gandring sengaja tidak

menghindarkan dirinya. Meskipun ia pernah mendengar tentang

Wong Sarimpat, tetapi ia belum perrah mengukur langsung, betapa

besar kekuatannya. Karena itu, ketika ia melihat tangan Wong

Sarimpat terayun kearahnya, maka segera ia pun memukul telapak

tangan itu dengan sisi telapak tangannya.

Wong Sarimpat menggeram. Ia melihat cara Empu Gandring

menyambut serangannya. Orang tua itu sama sekali tidak mcncoba

menghindar. Namun, agaknya Wong Sarimpat pun ingin tahu,

sampai dimana kebenaran kata orang, bahwa tangan Empu

Gandring itu mampu dipakainya untuk menempa keris. Dengan

sengaja Wong Sarimpat tidak menarik serangannya. Bahkan

dihentakkannya tangan itu sekuat tenaganya.

Dengan dahsyatnya kedua kekuatan itu berbenturan. Keduanya

menyeringai menahan getaran yang menggigit tangan masingmasing.

Kedua tangan itu terdorong kebelakang sehingga hampirhampir

mereka terlempar dari kuda masing-masing.

“Bukan main” desis Empu Gandring, “Alangkah besar

kekuatannya”.

Namun dalam pada itu, Wong Sarimpat mengumpat keras-keras,

“Anak demit. Ternyata bukan cerita melulu, bahwa dengan

tanganmu kau mampu menempa keris. Hampir aku hampir terjatuh

dari kudaku, dan hampir-hampir pula lenganku kau patahkan.

Sekarang aku percaya bahwa kau menyimpan tenaga raksasa di

dalam tubuhmu yang kering itu. Tenagamu tidak kalah dengan

tenaga Empu Sada. Tetapi, kau tidak curang seperti Empu Sada”.

Empu Gandrirg mengerutkan keningnya. Tiba-tiba tanpa

dikehendakija sendiri ia bertanya, “Hei, apa Empu Sada Curang?”

Wong Sarimpat pun terdiam. Agaknya mulutnya telah terlanjur

mengatakannya. Tetapi, segera ia tertawa gemuruh memenuhi

Padang Karautan. Katanya, “kita selesaikan. Jangau kau hiraukan

Empu Sada. Aku telah mewakilinya. Ayo, sekarang kita selesaikan

persoalan ini. Aku harus kembali membawa Mahisa Agni. Kalau kita

berkelahi dengan tangan, menggunakan segala macam Aji yang ada

pada kita, maka kita tidak akan selesai. Mungkin kita tidak akan

dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam

sepekan. Sekarang kita simpan Aji kita untuk kepentingan lain.

Kalau kulitmu tidak kebal, maka tajamnya akan membelah dadamu”.

Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Gandring. Tibatiba

sebuah golok yang besar telah tergenggam di tangannya. Golok

yang dengan serta merta telah telah ditariknya dari sarung di

lambungnya.

Sekali lagi lagi Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Golok

itu memang terlampau besar. Tetapi, tidak terlampau panjang.

Tangkai golok itu terlalu lampau pendek.

“Ambil senjatamu” teriak Wong Sarimpat, “aku tidak mau

membunuh orang yang tidak bersenjata”.

“Baik” sahut Empu Gaadring. Tangannya pun segera begerak,

meraih tangkai senjatanya lewat di atas pundaknya.

Kerisnya yang khusus melekat di punggungnya. Keris yang

sebesar pedang, sedang tangkainya mencuat dibelakang kepalanya.

Wong Sarimpat mengerutkan keningnya melihat senjata Empu

Gandring itu. Sejenak ia terdiam, namun sejenk kemudian iapun

tertawa pula berkepanjangan. Dengan suara yang menggelegar

memenuhi Padang Rumput Karautan ia berkata, “Lihat Empu

Gandring. Mentang-mentang kau tukang membuat keris, kau buat

keris untuk dirimu sendiri sebesar itu?”

“Apakah kau baru sekali ini melihat keris sebesar ini Worg

Sarimpat?” bertanya Empu Gandring.

“Tidak. Tidak. Para bangsawan Kediri juga mempunyai keris yang

besar, sebesar kerismu. Apakah kau pula yang membuat keris-keris

itu?”

“Bukan hanya seorang Empu keris di seluruh Kediri ini Wong

Sarimpat”.

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan. Kemudian katanya,

“Kalau keris buatanmu terkenal disegenap penjuru Kediri, maka

keris yang kau buat untukmu sendiri, pastilah sebilah keris yang luar

biasa. Mungkin kerismu sakti tiada taranya. Tersentuh kerismu

berarti binasa. Bahkan mungkin gunung akan runtuh dan lautan

akan menjadi kering. Begitu?”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Tetapi, ia menjawab,

“Ya. Gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering”.

Dan Wong Sarimpat itu menjawab pula, “Tetapi, Wong Sarimpat

teguh timbul melampaui gunung dan lautan”.

“Kerisku mampu meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan.

Kalau kau teguh timbul melampaui gunung dan lautan, maka kau

harus memperhitungkan tenaga ayunan tangan Empu Purwa.

Jangan membantah dahulu. Tak ada gunanya. Sebab tenaga kita

telah beradu. Aku dapat mengukur kekuatanmu dan kau dapat

mengukur kekuatanku”.

“Bagus. Bagus. Kau benar Empu. Kita tak usah membual. Mari

kita bertempur, setelah satu dari kita mati, maka bualan kita baru

akan terbukti”.

“Aku sudah menunggu” sahut Empu Gandring.

Wong Sarimpat terdiam. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang.

Sejenak dipandanginya keris Empu Gandring yang besar, sebesar

pedang. Namun, ujungnya yang runcing dan tajam di kedua sisinya,

serta luk pitu, memberikan ciri, bahwa yang digenggam di tangan

Empu Gandring itu adalah sebilah keris. Bukan pedang dan bukan

pula golok seperti senjatanya.

Kini Wong Sarimpat tidak ingin lebih lama lagi menunggu.

Disadarinya bahwa malam telah membenam lebih dalam lagi.

Karena itu maka terdengar suaranya melengking mengejutkan.

Kudanya seolah-olah meloncat menyergap Empu Gandring.

Namun, Empu Gandring telah siap benar menunggu serangan itu.

Dengan demikian maka orang itu sama sekali tidak gugup.

Digerakkannya kendali kudanya dan dengan sigap pula

disongsongnya serangan Wong Sarimpat. Beruntunglah Empu

Gandring bahwa kini ia berada di punggung kuda Mahisa Agni,

sehingga dengan demikian ia dapat cukup lincah mengimbangi

Wong Sarimpat.

Demikianlah maka segera mereka terlibat dalam sebuah

perkelahian yang sengit. Wong Sarimpat memiliki keahlian yang

mumpuni dalam hal menunggang kuda. Tetapi, Empu Gandring pun

cukup cakap mengendalikan kudanya. Apalagi ketrampilannya

menggerakkan kerisnya adalah ngedap-edapi. Hampir setiap saat ia

bergulat dengan keris. Mungkin ia sedang membuat, dan mungkin

sedang berlatih seorang diri untuk menyempurnakan ilmunya.

Sehingga dalam keadaan yang memaksanya benar-benar

mempergunakan senjata itu, Empu Gandring sama sekali tidak

mengecewakan.

Namun, Wong Sarimpat pun adalah seorang yang memiliki ilmu

yang hampir sempurna. Goloknya yang besar itu seakan-akan

hampir tidak menahan gerak tangannya. Senjata itu berputar dan

terayun-ayun seperti sepotong lidi saja.

Dengan demikian, maka kedua orang itu tidak segera dapat

melihat, apakah yang akan terjadi dalam perkelahian itu. Kedua

ekor kuda yang tegar itu pun menyambar-nyambar seperti Burung

Garuda, sedang di punggungnya seolah-olah Wisnu sedang menarinari

dengan gairahnya, menarikan tari maut.

Mahisa Agni melihat pertempuran itu. Anak muda itu pun adalah

anak muda yang menyimpan ilmu yang cukup di dalam dirinya.

Tetapi, orang-orang yang sedang bertempur itu adalah orang-orang

yang mengagumkan. Pamannya dan Wong Sarimpat dapat

disejajarkan dengan gurunya, Empu Purwa yang seakan-akan kini

telah lenyap dari pergaulan karena duka yang mencengkam hatinya

tiada tertanggungkan lagi.

Dengan dada yang bergelora Mahisa Agni mengikuti setiap gerak

dari kedua orang yang sedang bertempur itu. Ternyata Wong

Sarimpat adalah benar-benar seorang yang kasar. Dengan

memekik-mekik dan berteriak-teriak ia menyerang dengan

garangnya, goloknya terayun-ayun mengerikan, sekali-kali

menyambar kepala namun segera mematuk lambung.

Lawannya Empu Gandring, cukup tenang menghadapi tata gerak

yang kasar itu. Tetapi, ErpPu Gandring yang memiliki pengalaman

yang cukup segera melihat apa yang dilakukan oleh lawannya itu

dengan cermat. Gerak Wong Sarimpat tampaknya kasar dan tidak

teratur, namun dalam gerak yang kasar dan tampaknya tidak teratur

itu tersembunyi ilmu yangg dahsyat. Ilmu yang memang dalam

ungkapannya berbentuk serupa itu, kasar dan mengerikan. Namun,

Empu Gandring tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam

perasaannya. la tidak mau terseret dalam tingkah laku yang kasar

pula. Sebab dengan demikian ia telah menjerumuskan dirinya

sendiri kedalam bahaya. Ia tidak dapat mengimbangi kekasaran itu

dengan kekasaran pula.

Itulah sebabnya maka kini Empu Gandring tidak lagi ingin

melawan setiap serangan dengan serangan. Ia tahu, bahwa

kekuatan Wong Sarimpat tidak melampauinya, namun ia akan

terseret ke dalam sikap yang tidak dipahaminya.

Maka untuk seterusnya Empu Gandring menghadapi dengan

sikap yang tenang. Tetapi, setiap gerak tangannya, benar-benar

menimbulkan desir di dada lawannya.

Perkelahian diantara kedua orangg yang sakti itu semakin lama

menjadi semakin seru. Masing-masing telah mcncoba mengerahkan

segenap kemampuan untuk dapat mengalasi lawannya. Namun,

ternyata bahwa mereka berdua benar-benar seperti sepasang

Burung Rajawali yang berlaga di udara. Tak ada tanda-tanda bahwa

salah seorang dari mereka akan berhasil memenangkan perkelahian

itu. Silih-ungkih desak-mendesak.

Debu yang putih pun semakin lama menjadi semakin banyak

berhamburan dilontarkan oleh kaki-kaki kuda yang seakan-akan ikut

serta berlaga. Kadang-kadang terdengar kuda-kuda itu meringkik

dengan kerasnya apabila terasa penunggangnya menarik kendali

terlampua keras, dan kadang-kadang kuda itu pun saling

berbenturan sementara penunggangnya membenturkan senjatasenjata

mereka.

Namun, keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding

Semakin banyak keringat membasahi tubuh-tubuh mereka, maka

mereka menjadi semakin trampil. Wong Sarimpat menjadi semakin

garang dan kasar, sedang Empu Gandring menjadi semakin lincah

dan cekatan.

Mahisa Agni masih saja duduk di belakang gerumbul. Tetapi, ia

sudah kehilangan nafsunya untuk bersembunyi terus. Bahkan

semakin lama ia bergeser semakin jauh dari tempat

persembunyiannya, dan malahan kadang-kadang ia harus mendekat

untuk dapat melihat kuda-kuda itu berlari-larian di Padang Karautan.

Tetapi, perkelahian itu masih berlangsung dalam keadaan yang

serupa saja. Mereka masing-masing mencoba menunggu apabila

lawan-lawannya membuat kelalaian-kelalaian kecil, sehingga salah

seorang dari mereka akan mendapat kesempatan yang baik. Tetapi,

kesempatan itu tidak juga kunjung datang. Sehingga dalam

kejemuan akhirnya Wong Sarimpat berteriak-teriak keras sekali.

Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia bertempur

dengan cermat. Kerisnya yang besar itu bergetar dan mematuk dari

segenap penjuru. Namun, setiap kali senjata itu selalu membentur

golok Wong Sarimpat yang besar itu, seakan-akan golok itu pun

melebar seluas perisai yang mengelilingi tubuh Wong Sarimpat.

Di langit bintang gemintang beredar dengan terangnya seakanakan

sama sekali tak dihiraukannya pertempuran yang dahsyat yang

terjadi di Padang Karautan. Angin yang dingin mengalir lambat

mengusap tubuh-tubuh yang berkeringat itu. Tetapi, mereka yang

bertempur sama sekali tidak menghiraukannya betapa sejuknya

udara di malam yang dingin itu.

Wong Sarimpat akhirnya benar-benar menjadi jemu. Ia ter paksa

melilat suatu kenyataan, bahwa Empu Gandring tidak dapat

dikalahkannya, betapapun ia berusaha. Apapun yang dilakukannya,

maka Empu Gandring pasti mampu menyelamatkan dirinya seperti

apa yang terjadi sebaliknya.

Karena itu, tiba-tiba Wong Sarimpat berpendirian lain. Lebih baik

ditinggalkannya mereka kali ini. Ia akan menyampaikan semua

peristiwa itu kepada kakaknya. Ia memang harus datang berdua

sedikit-dikitnya supaya dapat melepaskan Mahisa Agni dari

pamannya yang selalu membayanginya itu.

Kini, dalam perkelahian ini, ia sama sekali tidak dapat melihat

siapakah yang akan dapat memenangkannya. Ia tidak melihat

kemungkinan untuk membawa Mahisa Agni.

Dengan demikian, maka Wong Sarimpat itu pun kemudian

mengambil keputusan untuk melepaskan lawannya dan kembali ke

Kemundungan. Ia akan segera kembali bersama dengan Kebo

Sindet untuk mengambil Mahisa Agni.

Ketika perkelahian itu masih berlangsung dengan sengitnya tibatiba

Wong Sarimpat menarik kendali kudanya yang kemudian

berputar dan berlari menjauh. Yang terdengar kemudian adalah

suaranya mengguruh disertai derai tertawanya, “Maaf Empu

Gandring, aku terpaksa meninggalkanmu”.

Empu Gandring tertegun melihat lawannya menyingkir. Di dalam

remang-remang gelap malam ia melibat Wong Sarimpat itu berhenti

beberapa langkah dari padanya sambil berkata terus, “Aku tidak

melihat titik akhir dari perkelahian ini, sehingga aku menganggap

bahwa apa yang terjadi seterusnya sama sekali tidak akan berarti.

Karena itu, aku mohon diri, aku sudah rindu kepada kakakku Kebo

Sindet. Mungkin ia ingin menemuimu. Lain kali aku akan

membawanya kemari”.

Empu Gandring tidak menjawab. Didorongnya kudanya maju

mendekat, tetapi kuda Wong Sarimpat pun berjalan menjauh.

“Jangan mencoba mengejar aku. Kudamu lebih jelek dari kudaku,

sehingga kau tidak akan berhasill. Meskipun seandainya kau

mempunyai kesaktian berlipat-ganda dari padaku pun kau masih

harus tergantung kepada kaki-kaki kudamu. Kalau kau tidak

percaya, buktikanlah”.

Wong Sarimpat tidak menunggu Empu Gandring menjawab.

Ditariknya kekang kudanya sehingga kudanya berputar setengah

lingkaran. Kemudian kuda itu pun seakan-akan meloncat dan

terbang meninggalkan Empu Gandring yang memandanginya

dengan wajah yang kecut.

“Hem, hantu itu benar-benar berbahaya” gumamnya.

Mahisa Agni pun melihat betapa Wong Sarimpat memacu

kudanya meninggalkan Padang Karautan. Tetapi, ia menyadari pula

bahwa pamannya pasti tak akan dapat mengejarnya karena kuda

Wong Sarimpat yang bernama Tatit itu mampu berlari benar-benar

seperti tatit.

“Agni”. Mahisa Agni mendengar pamannya memanggil. Perlahanlahan

ia berdiri dan berjalan mendekati Empu Gandring.

“Bukankah benar kataku bahwa di padang ini tersembunyi seribu

macam bahaya?”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Sepatah pun ia tidak

menjawab.

“Kau melihat sendiri, betapa berbahayanya orang sekasar Wong

Sarimpat. Bahkan menurut penilaianku, orang ini jauh lebih

berbahaya daripada Empu Sada sendiri. Dan kini mereka agaknya

berdiri di pihak yang sama. Aneh. Untuk melawanmu Empu Sada

harus bersusah payah mencari teman seliar Wong Sarimpat.

Mahisa Agni masih saja berdiam diri Bahkan kepalanya pun masih

juga ditundukkannya. Kalau dikenangkan apa yang baru saja terjadi,

maka ia menjadi ngeri sendiri. Meskipun ia sama sekali bukan

seorang pengecut, tetapi menghadapi orang yang ganas seperti

Wong Sarimpat, adalah suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan.

Dalam pada itu terdengar Empu Gandring betkata, “Semula aku

juga hanya ingin mengharap bahwa kau tidak bertemu dengan

bahaya, tetapi akhirnya aku tidak sampai hati untuk melepaskan kau

pergi seorang diri di malam yang terlampau gelap untuk

menyeberangi Padang Karautan yang garang ini.. Karena itu aku

mencoba menyusulmu. Ketika kudaku menjadi semakin dekat,

agaknya kau telah mamacu kudamu. Padahal yang aku dapatkan

hanya seekor kuda yang tidak terlampua baik, sehingga jarak

diantara kita menjadi semakin lama semakin jauh.

Mahisa Agni masih berdiri mematung. Dan Empu Gandring itu

pun akhirnya berkata ”Sekarang bagaimana Agni. Kita sudah

melampaui separo jalan. Apakah kau akan kembali atau kau ingin

meneruskan perjalanan ini”.

Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi, ketika diingatnya

bahwa di perkemahan seorang kawannya mengharap

kedatangannya dengan membawa obat, maka jawabnya kemudian,

“Aku akan meneruskan perjalanan ini paman”.

“Hm” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Namun, ia

berkata, “Baiklah. Perjalanan ini sudah cukup jauh. Marilah aku

antarkan kau ke Panawijen. Mudah-mudahan kita akan segera

kembali sebelum Wong Sarimpat sempat memanggil kakaknya yang

bernama Kebo sindet itu”.

“Apakah rumah mereka tidak terlampau jauh?”

“Aku dengar mereka bersembunyi di Kemundungan. Jarak cukup

jauh. Tetapi, apabila kakaknya, Kebo Sindet telah berada di

perjalanan kemari, maka mereka akan segera kembali”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menyesalkan

Kuda Sempana. Persoalan yang ada sekarang sudah jauh berkisar

dari persoalan yang semula. Kuda Sempana kini sudah tidak lagi

mempersoalkan Ken Dedes, karena ia menyadari, bahwa ia tidak

akan mungkin lagi merebutnya dari Akuwu Tunggul Ametung.

Tetapi, yang ada sekarang adalah dendam yang tiada akan padam

menyala di dada anak muda yang merasa dirinya dikecewakan dan

disakiti hatinya.

Tetapi, Mahisa Agni tidak dapat terlampau lama berangan-angan.

Sekali lagi pamannya berkata, “Kalau akan meneruskan perjalanan,

marilah. Kudaku aku tambatkan di belakang semak-semak tempat

kau mencari pedangmu”.

Mahisa Agni tidak menjawab. Perlahan-lahan ia melangkah ke

dalam gelap, mencari kuda Empu Gandring.

“Apakah kau akan memakai kudamu ini?” bertanya Empu

Gandring.

“Tidak paman” sahut Mahisa Agni, “sama saja bagiku. Bukankah

kita akan berjalan bersama-sama”.

Empu Gandring tersenyum. Diikutinya Mahisa Agni berjalan

mengambil kuda pamannya.

Sejenak kemudian mereka berdua telah berpacu kembali ke

Panawijen. Namun, mereka sudah pasti tidak akan dapat berada

kembali di bendungan yang sedang mereka kerjakan terlampau

pagi. Perjalanan mereka telah terganggu, sehingga waktunya pun

menjadi bertambah panjang.

Sementara itu Wong Sarimpat berpacu pula cepat-cepat kembali

ke Kemundungan. Ia menyesal bukan kepalang atas kegagalannya,

dan tanpa kesadarannya mulutnya telah mengumpat habis-habisan.

“Setan tua itu sepantasnya dipancung kepalanya. Ia harus

dibinasakan seperti Empu Sada. Aku ingin membenamkannya pula

di dalam sendang tempat Empu Sada membunuh dirinya.

Melibatkannya pada akar-akar ganggang dan menggantungi

lehernya dengan batu”.

Dan Suara Wong Sarimpat itu pun mengumandang berkeliling

padang yang luas dan gelap. Namun, padang itu terlampau sepi.

Tak seorang pun mendengarkannya dan tak seorang pun yang

melihatnya ia berpacu seperti dikejar hantu.

Ketika orang itu kemudian memasuki sebuah hutan tiba-tiba ia

merasa jemu berpacu. Orang yang tidak pernah mengenal lelah itu,

tiba-tiba ingin berhenti dan beristirahat. Mungkin kudanya memang

memerlukan waktu untuk beristirahat sejenak.

Tetapi, istirahat itu pun terasa menjemukan sekali. Wong

Sarimpat mencoba berbaring sejenak. Begitu saja di atas tanah

yang lembab. Dicobanya untuk mereka-reka, bagaimana mungkin ia

membalas sakit hatinya. Tetapi, ia tidak segera menemukannya.

Ketika perlahan-lahan ia mendengar suara berdesir disisinya,

cepat ia meloncat bangkit. Dalam kegelapan malam, ia mendengar

suara itu menyelusur menjauhi kakinya.

“Ular gila itu ingin aku cekik sampai mati” teriaknya.

Tetapi, malam di dalam hutan itu cukup kelam, sehingga

betapapun tajam penglihaannya, namun ia tidak berani menyerang

ular itu, meskipun disiang hari adalah pekerjaan Wong Sarimpat

menangkap dan membunuh ular hanya dengan tangannya. Kulitnya

sangat digemarinya seperti ia merggemari berbagai macam batubatuan.

Dalam kejengkelannya Wong Sarimpat itu kembali meloncat ke

punggung kudanya, dan kembali ia berpacu menembus jalan-kalan

sempit di hutan itu. Jalan yang biasa dilalui oleh para pejalan dan

para pencari kayu bakar.

Ketika kudanya meluncur di antara batang-batang yang agak

jarang, maka ditengadahkannya. Sekali lagi ia mengumpat keraskeras

ketika ia melihat bayangan yang mewarnai langit.

Orang itu sampai di Kemundungan melampaui tengah hari.

Langsung ia mencari kakaknya untuk menceriterakan apa yang telah

dilihatnya.

Kebo Sindet yang sedang mencoba memberikan beberapa

macam ilmu kepada Kuda Sempana tertegun mendengar adiknya

berteriak-teriak didepan gubugnya. Sambil bersungut-sungut ia

menjawab, “Aku di sini Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana pun tertegun pula. Bahkan ia terkejut. Sebelum ia

melihat Wong Sarimpat, ia telah mendengar suaranya mengumpatumpat

tak habis-habisnya.

“Kita berhenti sebentar Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet.

Kuda Sempana yang memang kurang mempunyai gairah untuk

berlatih ilmu yang kasar itu, menjadi gembira didalam hatinya,

meskipun setiap kali diminta untuk berlatih, ia tidak berani

menolaknya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat telah muncul dari balik sudut

gubug yang kotor itu. Dengan nafas terengah-engah ia berjalan

mendekati kakaknya. Wajahnya tampak tegang dan mulutnya masih

saja mengumpat-umpat.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Kebo Sindet. Tetapi, wajahnya

sama sekali tidak bergerak. Beku.

“Hampir aku berhasil meskipun aku hanya seorang diri” berkata

Wong Sarimpat dengan bertolak pinggang.

“Apa yang berhasil?” bertanya kakaknya.

“Buruanmu. Seakan-akan telah berada ditelapak tangan. Tetapi,

tiba-tiba berhasil lepas kembali”.

“Mahisa Agni maksdumu?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya”.

Wajah yang beku itu tiba-tiba bergerak. Tampak beberapa garis

kerut merut di dahinya. Namun, hanya sesaat. Sesaat kemudian

wajah itu telah beku kembali.

“Aku telah berhasil menangkapnya” berkata Wong Sarimpat pula.

“Dimanakah anak itu sekarang”.

“Sudah aku katakan, anak itu lepas kembali”.

“Kenapa?”.

“Setan tua itu datang mengganggu”.

“Siapa yang kau maksud? Empu Purwa, Bojong Santi, atau Empu

Sada sendiri?”

“Kali ini Empu Gandring. Pamannya”.

Terdengar mulut Kebo Sindet menggeram, Tiba-tiba ia berkata

tidak terlampau keras, tetapi mengejutkan Wong Sarimpat, “Kaulah

yang bodoh”.

Wong Sarimpat mengerutkan dahinya. Katanya, “Kenapa aku

yang bodoh?”

“Sudah dikatakan oleh Empu Sada bahwa anak itu tidak dapat

ditangkap seorang diri. Kalau kau mampu melakukannya. maka

Empu Sada tidak akan ribut kemari memanggil kita”.

Wong Sarimpat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, ia tidak

menyahut. Dan kakaknya berkata pula, “Bukankah Empu Sada

pernah mengatakan bahwa ada saja yang selalu membayanginya.

Kali ini kau bertemu dengan Empu Gandring, mungkin kalau kau

berbuat bodoh untuk kedua kalinya kau akan bertemu dengan Empu

Purwa, guru anak itu sendiri. Di lain kali kau akan bertemu dengan

Panji Kelantung dari Tumapel atau bahkan apabila masih hidup,

Empu Sada sendiri akan menemuimu”.

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan. Tetapi, ia menjawab,

“Jangan kau sebut orang yang terakhir itu kakang. Aku pasti bahwa

ia telah mampus ditelan ganggang”.

“Mudah-mudahan” sahut kakaknya, “tetapi meskipun Empa Sada

telah mati, namun kebodohanmu tidak terhapus karenanya. Kau

tahu akibat dari perbuatanmu?”

Mata Wong Sarimpat meredup, seakan-akan ia mcncoha berpikir.

Tetapi, akhirnya ia hanya menggelengkan kepalanya sambil

menjawab, “Akibatnya adalah kita masih harus menangkapnya”.

“Kau benar-benar bodoh” suara Kebo Sindet datar, tetapi

mengandung tekanan sehingga Wong Sarimpat terdiam.

Dibiarkannya kakaknya beikata terus, “Akibatnya adalah Mahisa Agni

dan Empu Gandring itu menyadari bahaya yang mengintainya. Kini

ia tahu pasti siapa yang harus mereka hadapi. Bukan sekedar Empu

Sada. Tetapi, Empu Gandring itu sudah melihat tampangmu yang

kasar seperti batu asahan.

Wong Sarimpat menggeram. Tetapi, ia tidak menjawab. Ketika

dilihatnya Kuda Sempana mengawasinya pula, tiba-tiba matanya

terbelalak sehingga cepat-cepat Kuda Sempana melemparkan

pandangannya ke titik yang jauh.

“Jangan menyalahkannya” bentak kakaknya, “sudah sewajarnya

Kuda Sempana kecewa terhadap sikapmu. Dengan demikian maka

usaha ini akan menjadi semakin panjang. Kalau kau tetap pada

kuwajiban yang aku bebankan padamu, mengintai saja anak muda

itu, maka aku pasti akan segera berangkat ke Panawijen. Aku dapat

mengikat Empu Gandring dalam perkelahian dan kau dapat

menangkap anak itu dengan mudah. Sekarang, setelah kegagalan

yang bodoh itu, apa katamu?”

Mulut Wong Sarimpat bergerak-gerak. Tetapi, tak sepatah kata

pun meloncat dari sela-sela bibirnya.

Kemudian Kebo Sindet itu berkata kepada Kuda Sempana, “Kita

harus bersabar lagi beberapa lama karena kebodohan pamanmu”.

Kuda Sempana tidak segera menyawab. Sekali lagi mencoba

memandangi wajah Wong Sarimpat, tetapi sekali lagi ia melihat

Wong Sarimpat membelalakkinya, sehingga Kuda Sempana itu

menundukkan kepalanya. Tetapi, ketika Kebo Sindet berpaling,

maka Wong Sarimpat pun menundukkan kepalanya pula secepatcepatnya.

“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet, “pekerjaanmu kemudian

adalah berlatih sebaik-baiknya. Kita masih harus menunggu

beberapa hari lagi. Kita mengharap mereka akan menjadi lengah.

Tetapi, aku mempunyai harapan yang lain pula. Mudah-mudahan

aku segera menjadi semakin sempurna dalam olah kanuragan,

sehingga suatu saat kau sendiri akan mampu menghadapi Mahisa

Agni. Akan berbanggalah kau kiranya apabila kau datang dan

mangajukan tantangan jantan. Perang tanding di hadapan beberapa

saksi”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Sepercik kebanggaan melonjak

di dalam dadanya. Tetapi, kemudian di sudut yang lain kembali

memancar perasaan syaknya. Ia tetap berprasangka terhadap orang

yang berwajah beku sebeku majat itu.

Tetapi, Kuda Sempana tidak mau membebani kepalanya dengan

segala macam kebingungan. Kini ia menghadapi kesempatan. Apa

pun yang akan terjadi kemudian akan dihadapinya kemudian.

Namun, peningkatan ilmu baginya pasti akan berguna. Untuk

apapun. Sehingga Kuda Sempana pun kemudian justru berusaha

untuk menambah ilmunya sebaik-baiknya. Dicobanya untuk

mengatasi perasaan segan yang hampir setiap kali mengganggunya.

Ketika Wong Sarimpat itu pun kemudian dengan langkah yang

tersendat-sendat meninggalkan kakaknya yang memarahinya,

kembali Kebo Sindet dan Kuda Sempana meneruskan latihan

mereka disamping gubugnya dibawah bukit padas.

Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Empu Gandring pun telah

berpacu kembali ke Padang Karautan. Sekali-sekali Mahisa Agni

menengadahkan wajahnya. Hatinya menjadi gelisah ketika matahari

telah merambat semakin tinggi. Rencana hari ini pasti akan

tertunda.

“Hanya tertunda satu hari bagi pekerjaan sebesar itu” ia

mencoba menghibur dirinya. Tetapi, perasaannya seakan-akan

selalu terganggu. Penundaan rencananya kali ini seolah-olah tidak

disebabkan oleh alasan yang wajar.

Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata,

“Kau kecewa atas rencanamu yang tertunda itu Agni”.

Mahisa Agni tidak dapat menjawab lain. Pamannya itu seolaholah

dapat melihat isi hatinya seluruhnya. Maka jawabnya, “Ya

paman. Sebenarnya aku sudah mantap untuk memulainya hari ini”.

“Pekerjaan itu hanya tertunda satu hari saja Agni. Jangan kau

risaukan. Seandainya air itu membawa pasir pada dasar sungai,

maka perbedaan dalam hari ini dengan besok tidak akan lebih dari

lima cengkang”.

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi, ia benar-benar dicengkam

oleh perasaan kecewa. Meskipun demikian, hatinya terhibur pula

ketika tersentuh olehnya bagian-bagian dari batang kates grandel

yang dibawanya. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan usahaku

ini tidak sia-sia. Mudah-mudahan penundaan rencanaku itu pun

tidak sia-sia. Anak yang sakit itu pun segera menjadi sembuh”.

Karena Mahisa Agni tidak menjawab maka pamannya berkata

seterusnya, “ Orang-orang Panawijen termasuk orang-orang yang

kurang gairah menghadapi kerja. Tetapi, kau harus mengucap sukur

bahwa semakin lama menurut penglihatanku mereka menjadi

semakin sadar, bahwa apa yang dikerjakan itu merupakan harapan

bagi masa depan mereka sehingga tampaknya merekapun menjadi

semakin bernafsu. Tetapi, ingat Agni. Pada dasarnya orang-orang

Panawijen sudah terlampau lama menikmati tanah yang subur, air

yang berlimpah, sehingga seakan-akan apa pun yang dilemparkan

ke tanah, pasti akan tumbuh dan memberi hasil yang baik. Dengan

demikian pada dasarnya, mereka tidak menghendaki bekerja

terlampau berat seperti yang dilakukan kali ini. Kau harus

memperhitungkan setiap keadaan. Jangan kau abaikan

pemeliharaan nafsu bekerja dan gairah akan harapkan mereka

dimasa dating”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari

sepenuhnya kata-kata pamannya itu.

Matahari yang memanjat langit pun menjadi semakin tinggi.

Sejenak kemudian maka dicapainya puncak langit untuk seterusnya

turun kembali kearah Barat.

Meskipun Mahisa Agni berusaha untuk menenteramkan hatinya,

tetapi ia tidak dapat melupakan kekecewaannya hari ini. Bahkan di

dalam hatinya ia masih saja bergumam, “Aku terlampau lama di

Panawijen. Tetapi, ternyata bahwa pohon kates grandel itu tidak

terlampau banyak, sehingga agak sulit juga aku mencari. Kalau saja

aku tidak usah menunggu bibi Nyai Buyut menanak nasi, mungkin

aku sudah sampai di bendungan sebelum tengah hari. Mungkin aku

masih dapat memasukkan satu dua brunjung ke dasar sungai itu.

Tetapi, kini tengah hari itu sudah lampau”.

Keduanya kemudian tidak lagi bercakap-cakap. Keringat-keringat

mereka bercucuran seperti diperas dari dalam tubuh-tubuh mereka.

Panas yang terik terasa membakar kulit. Semak-semak yang jarangjarang

tumbuh disana-sini tidak banyak memberi kesegaran bagi

mereka.

Selepas-lepas mata memandang, Mahisa Agni hanya melihat

sinar matahari yang menyala di atas padang rumput yang luas itu.

Bahkan kadang-kadang seakan-akan dilihatnya padang itu menguap

dan mencerminkan wajah air. Tetapi, Mahisa Agni menyadari,

bahwa penglihatannya itu adalah karena udara yang terlampau

panas membakar.

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja pamannya berkata,

“Agni, setiap hari kalian bekerja dibawah terik matahari seterik hari

ini. Setiap hari kulit kalian telah dipanasi seperti padang ini.

Alangkah berat pekerjaan itu”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula

.

“Tetapi, kalau kalian berhasil, maka kalian akan dapat menepuk

dada dan berkata kepada anak cucu, inilah peninggalan kami.

Peninggalan pada masa kami muda”.

Mahisa Agni mengangguk dan menjawab singkat, “Ya paman”.

“Tetapi, bukan saja kebanggaan. Namun, juga kepuasan melihat

anak cucu hidup dengan bahagia”.

“Ya paman. Mudah-mudahan mereka menyadari pula”.

“Mereka telah bekerja dengan baik”.

“Ya”.

“Meskipun rencanamu tidak dapat kau lakukan hari ini, tetapi

bukankah ada kerja lain yang dapat mereka lakukan?”

“Kerja masih terlampau banyak paman. Aku kira mereka kali ini

akan meneruskan menggali induk susukan yang akan membelah

pedang ini, yang akan merupakan jalur-alur air induk untuk segenap

tanah persawahan yang kita rencanakan. Kita mengharap, bahwa

demikian air dapat naik, maka jalur-jalur induk itu pun sudah akan

dapat menampungnya. Tetapi, pekerjaan itu terlampaui. Kami

sebenarnya mengharap janji Akuwu Tunggul Araetung yang akan

memberikan bantuan bukan saja tenaga tetapi juga pedati, lembu

dan alat-alat yang lain”.

“Jangan terlampau mengharap bantuan orang lain Agni.

Percayalah kepada tanganmu sendiri. Yang Maha Agung akan

memberi tuntunan kepadamu”.

Mahisa Agni tidak menyahut. Kepalanya tertunduk memandangi

rerumputan yang seperti berlari kearah yang berlawanan. Ia dapat

memahami kata-kata pamannya itu, dan ia pun telah berpendirian

serupa pula. Namun, sebagai seorang yang wajar, ia memang

mengharapkan bantuan itu segera datang. Tetapi, seandainya janji

Tunggul Ametung itu tidak juga dipenuhi, maka itu sama sekali

bukanlah suatu alasan untuk mengurungkan rencananya atau

mengurangi gairah kerjanya.

Dan pamannya pun ternyata berkata, “Kalau bantuan itu datang

Agni, mengucaplah terima kasih. Kalau tidak, maka sejak semula

kau mulai pekerjaanmu dengan kekuatan tenaga sendiri, tenaga

orang-orang Panawijen yang berjuang untuk masa depannya”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan

ia menjawab, “Ya paman”.

“Mudah-mudahan kau dapat berhasil”.

“Mudah-mudahan paman”.

Keduanya terdiam. Panas yang terik serasa menjadi semakin

panas. Keringat mereka telah membasahi segenap wajah kulit.

Sekali-kali mereka terpaksa berhenti dan mencari air untuk kudakuda

mereka yang haus dan untuk mereka sendiri. Karena itu maka

mereka berpacu sepanjang tebing sungai.

Akhirnya, dikejauhan, seakan-akan muncul dari dalam padang

rumput dan celah-celah, gerumbul-gerumbul yang layu, tampaklah

perkemahan mereka. Perkemahan ilalang, tempat mereka berteduh

dari panas matahari di siang hari dan tempat mereka menghindari

embun di malam hari.

Ketika tampak oleh Mahisa Agni atap-atap ilalang itu, maka

dengan serta-merta ia berkata, “Mudah-mudahan mereka tidak

berbuat sesuatu atas bendungan itu. Kalau mereka berbuat

kesalahan, maka pekerjaan kita akan menjadi semakin sulit”.

“Aku kira tidak terlampau sulit Agni” sahut pamannya, “apakah

tidak seorang pun yang mengerti akan rencanamu?”

“Kalau mereka terpaksa melakukannya tanpa menunggu aku,

aku harap Ki Buyut dapat memberi mereka petunjuk. Kalau tidak,

seandainya mereka meletakkan brunjung-brunjung itu disembarang

tempat, maka sisi sungai itu akan melebar dan mungkin dapat

mengakibatkan sisi seberang longsor”.

Pamannya tidak menyahut lagi. Kalau terjadi demikian maka

Mahisa Agni pasti akan kecewa. Tetapi, seandainya demikian

sekalipun, itu bukan berarti suatu kegagalan. Mungkin pekerjaan

akan menjadi semakin sulit, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi.

Keduaya pun kembali terdiam. Kuda-kuda mereka yang lelah

bcrjalan semakin perlahan. Agni dan Empu Gandring pun menyadari

bahwa tidak sepantasnya ia melecut kudanya untuk berpacu.

Meskipun dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar oleh

keinginannya segera sampai ketempat ia bekcrja membuat

bendungan itu.

Betapapun lambatnya, namun mereka semakin lama menjadi

semakin dekat. Gubug yang berderet-deret menjadi semkin jelas.

Tetapi, semakin dekat Mahisa Agni dengan perkemahan itu,

maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Disebelah

gubug-gubug itu adalah susukan yang sedang mereka kerjakan

meskipun terlampau lambat karena hanya dikerjakan oleh sebagian

dari tenaga yang ada. Sebagian yang lain harus mengisi brunjungbrunjung

dengan batu dan sebagian yang lain harus memecah batubatu

itu. Namun, kali ini Mahisa Agni sama sekali tidak melihat

sesuatu pada susukan itu. Tak ada selapis debu pun yang mengepul

ke udara. Tak ada satu titik pun yang bergerak-gerak disekitarnya.

Karena itu, dengan bimbang ia berkata, “Paman, apakah

penglihatanku yang salah? Aku tidak melihat sesuatu di susukan

yang sedang dikerjakan itu”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia

menjawab, “Aku pun tidak Agni”.

“Apakah seluruh tenaga dikerahkan oleh Ki Buyut ke bendungan

untuk meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang?”

“Satu kemungkinan Agni” desis pamannya.

“Semula aku menduga sebaliknya paman. Aku sangka justru

semua tenaga hari ini dikerahkan untuk menggali susukan karena

aku tidak ada”.

Empu Gandring berpaling. Dipandanginya wajah kemanakannya

itu dengan sorot mata yang ragu pula. Namun, ia berkata, “Kalau

ada seseorang yang dapat melakukan Agni, maka kau seharusnya

menjadi bergembira, sebab tidak semua pekerjaan dibebankan

dipundakmu”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak

tahu kenapa ia tidak menaruh kepercayaan kepada orang lain. Ia

tahu benar, bahwa orang-orang Panawijen bukan pekerja-pekerja

yang baik. Itulah sebabnya ia ingin menunggui setiap kerja yang

dianggapnya penting.

Namun, pamannya berkata lagi, “Agni, kalau tidak kau ajari

mereka melakukan sesuatu, maka semuanya pasti akan tergantung

kepadamu. Mereka tidak punya keberanian dan kecakapan untuk

berbuat. Mereka akan menjadi tenaga yang mati, yang tidak punya

gairah yang timbul dari dalam dirinya tentang sesuatu yang baru.

Mereka hanya akan menunggu perintahmu”.

Sekali lagi Mahisa Agni menganggnk-anggukkan kepalanya.

Memang, alangkah baiknya apabila demikian. Apabila ada seorang

atau dua orang yang dapat diluntunnya untuk membantunya. Yang

dapat berbuat agak banyak hanya Ki Buyut yang sudah agak lanjut

itu. Yang lain, masih perlu dicarinya diantara anak-anak muda

Panawijen itu. Namun, Mahisa Agni telah menjadi agak puas bahwa

rakjat Panawijen itu telah dapat dibawanya untuk melakukan

pekerjaan yang cukup besar.

Tetapi, tiba-tiba dada Mahisa Agni terguncang ketika kemudian ia

menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Ia tidak melihat

seseorang di sekitar ujung susukan yang sedang dikerjakan, tetapi

ia melihat orang-orang Panawijen itu berada di sekitar perkemahan.

Mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada pula yang berbaringbaring

dengan malasnya.

Sejenak Mahisa Agni menjadi bingung. Apakah mereka sedang

beristirahat? Menurut kebiasaan, maka waktu istirahat ditengah hari

telah lampau. Apakah yang terjadi?’

Kemudian perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdesis, “Mereka

sama sekali tidak berbuat sesuatu paman?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya

meskipun ia sendiri tahu bahwa jawaban itu tidak benar, “Mereka

sedang beristirahat”.

“Waktu beristirahat telali lampau”.

Empu Gandring terdiam.

Tiba-tiba Mahisa Agni tidak sabar lagi. Dilecutnya kudanya yang

lelah supaya ia segera sampai ke perkemahan itu. Betapa pun juga

kudanya berlari agak lebih cepat, tetapi nafas kuda itu telah menjadi

semakin deras.

Empu Gandring segera mengikuti dibelakangnya. Kudanya pun

telah menjadi lelah pula, sehingga dengan malasnya kuda itu berlari

tersuruk-suruk.

Ketika orang-orang Panawijen melihat kedatangan Mahisa Agni,

tiba-tiba sejenak mereka menjadi ribut. Beberapa orang yang

berbaring segera bangkit, namun mereka tidak beranjak dari tempat

masing-masing. Sejenak mereka saling berpandangan, namun

kemudian mereka menunggu Mahisa Agni itu semakin dekat.

Demikian Mahisa Agni sampai di perkemahan itu, maka sebelum

ia meloncat turun dari kudanya, yang terdengar adalah

pertanyaannya, “Kenapa kalian tidak bekerja?”

Kembali orang-orang Panawijen itu saling berpandangan.

Tampaklah kecemasan di wajah mereka. Tetapi, tidak seorang pun

yang segera menjawab, sehingga Mahisa Agni mengulangi lagi,

“Kenapa kalian tidak bekerja apa pun hari ini?”

Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut agak jauh daripada

Mahisa Agni, “Kami ingin beristirahat”.

“Apakah waktu istirahat belum lampau?” bertanya Agni pula.

“Kami ingin beristirahat tidak hanya pada saat tengah hari.

Tetapi, kami ingin beristirahat beberapa bari. Kami sudah menjadi

sangat lelah dan lemah”.

Terasa darah Mahisa Agni seakan-akan membeku. Jawaban itu

benar-benar tidak disangkanya. Karena itu, maka sejenak mulutnya

terbungkam oleh gelora di dadanya.

Empu Gandring yang kini telah berada disisinya menggamitnya

sambil berbisik, “Turunlah Mahisa Agni”.

Mahisa Agni berpaling. Ketika Empu Gandring melihat wajah anak

muda itu membara, maka katanya, “Tenanglah Agni”.

“Tetapi, pekerjaan tidak akan selesai dengan duduk-duduk dan

berbaring-baring malas, paman” sahut Mahisa Agni.

“Aku tahu” jawab pamannya, “tetapi tenanglah. Turunkah dari

kudamu. Bukankah kau mau mendengar kata-kataku?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya

terguncang oleh keadaan itu. Tetapi, tatapan mata pamannya telah

memaksanya turun dari kudanya. Namun, terdengar ia berkata,

“Apakah artinya ini paman?”

“Aku tidak tahu Agni, tetapi di sini ada Ki Buyut Panawijen.

Sebaiknya kau minta keterangan kepadanya”.

Mahisa Agni tidak menjawab. Cepat-cepat ia melangkah ke

gubug tempat Ki Buyut Panawijen sering beristirahat. Di sepanjang

langkahnya, hatinya tak habis bertanya, apakah sebabnya hal ini

terjadi? Sudah sering kali ia pergi meninggalkan pekerjaan ini untuk

beberapa keperluan. Bahkan sampai dua tiga hari, seperti pada saat

ia pergi ke Tumapel. Namun, mereka yang ditinggalkannya bekerja

dengan penuh gairah seperti biasa. Tetapi, kenapa kali ini mereka

ingin beristirahat? Bahkan berapa hari?

Langkah Mahisa Agni demikian tergesa-gesa sehingga ia tidak

sempat memperhatikan orang-orang yang memandanginya dengan

pandangan yang aneh. Orang-orang Panawijen itu menjadi cemas

melihat sikap Mahisa Agni.

Ki Buyut Panawijen yang melihat kehadirannya pun dengan

tergesa-gesa menyongsongnya. Sebelum Mahisa Agni mendekat,

orang tua itu telah bertanya hampir berteriak, “Kau sudah datang

Ngger?”

Tetapi, Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan

keras pula ia bertanya, “Kenapa hari ini kita tidak berbuat sesuatu Ki

Buyut?”

Wajah Ki Buyut pun menjadi tegang. Dengan terbata-bata ia

menjawab, “Ya, ya Ngger. Tetapi, marilah silahkan duduk dahulu”.

“Aku ingin berbuat sesuatu untuk mempercepat pekerjaan ini Ki

Buyut, bukan dengan duduk-duduk dan berbaring”.

“Ya, ya Ngger, aku tahu. Tetapi, marilah duduk dahulu”.

“Terima kasih” sahut Agni, “aku ingin tahu, kenapa kita tidak

bekerja hari ini?”

“Itulah yang akan aku katakan”.

Mahisa Agni masih akan berteriak lagi ketika terasa tangan

pamannya menggamitnya. Terdengar pamannya itu berkata,

“Mendekatlah Agni. Jangan berteriak-teriak. Ki Buyut ingin

menjelaskan persoalannya”.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah

berada dekat dimuka gubug Ki Buyut Panawijen.

“Duduklah Ngger”.

Mahisa Agni akan menjawab lain, tetapi terdengar pamannya

mendahului, “Baik Ki Buyut. Duduklah Agni”.

Kata-kata pamannya lah yang memaksanya duduk di dalam

gubug itu. Demikian mereka diteduhi oleh atap ilalang, maka terasa

tubuh-tubuh mereka menjadi segar setelah hampir sehari mereka

dibakar oleh terik sinar matahari. Kini mereka dapat merasakan

angin yang silir berhembus dari Selatan. Meskipun ketika mereka

menatap padang yang terhampar dihadapan gubug itu, mereka

masih juga melihat seakan-akan padang itu menguap.

Dengan tidak sabar lagi Agni pun segera bertanya, “Ki Bujut,

kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu? Waktu kita tidak

terlampau banyak”.

Ki Buyut tidak segera menjawab. Ia berkisar secangkang maju.

Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan sorot mata yang

memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Apalagi ketika

dilihatnya wajah Mahisa Agni yang tegang itu.

Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Kembali ia

mendesak, “Kenapa Ki Buyut?”

Ki Buyut Panawijen menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar

bahwa Mahisa Agni menjadi sangat terkejut melihat mereka dudukduduk

saja dan bahkan ada yang berbaring-baring dengan

malasnya.

Dengan hati-hati Ki Buyut itu pun berkata, “Akan aku katakan

sebabnya Ngger. Tetapi, apakah angger berdua dengan Empu

Gandring tidak terlalu haus dan ingin minum air kendi yang dingin

ini?”

“Aku ingin tahu kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu Ki

Buyut, sebab …” Agni tidak dapat meneruskan kata-katanya.

Terdengar Empu Gandring memotong sambil beringsut meraih kendi

berisi air dingin. Katanya, “Agni. Minumlah. Aku pun haus sekali. Air

yang dingin ini akan mendinginkan hati dan kepala. Dengan

demikian kau akan dapat mendengar ceritera Ki Buyut dengan

tenang. Sebelum hatimu menjadi dingin Agni, maka kau tidak akan

dapat berpikir bening. Nah, minumlah. Aku juga akan minum”.

Empu Gandring segera mengangkatnya dan minum lewat paruh

gendi itu. Alangkah segarnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam

diserahkanya kendi itu kepada Mahisa Agni. Katanya, “Minumlah.

Dalam keadaan kita sekarang ini, maka adalah kenikmatan yang

tiada taranya. Minum air dingin”.

Mahisa Agni tidak dapat menolak uluran tangan pamannya.

Kembali ia berbuat diluar kehendaknya. Seperti seorang yang

kehilangan kesadaran diri. Diterimanya kendi itu, dan diangkatnya

pula kemulutnya. Seperti pamannya ia pun minum air yang dingin

segar itu.

Kesegaran air kendi itu seolah-olah telah menjalar kesegenap

saluran darah Mahisa Agni. Ketika ia meletakkan kendi itu, terasa

seluruh tubuhnya menjadi segar. Dan kepalanya pun tidak lagi

dikerumuni oleh gejolak perasaan yang melonjak-lonjak. Meskipun

ia tetap berkeinginan untuk segera mengetahui sebab-sebab kenapa

orang-orang Panawijen itu tidak bekerja hari ini, namun kini ia dapat

menahan dirinya oleh kesegaran yang sejuk.

“Nah” berkata pamannya, “kalau kau sudah tidak haus lagi,

sekarang bertanyalah kepada Ki Buyut. Tetapi, kau pun wajib

mendengarkan keterangan dan alasannya”.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kini ia berkata perlahanlahan,

“Ya Ki Buyut. Aku ingin tahu kenapa hari ini kita tidak

meneruskan pekerjaan kita?”

Ki Buyutlah kini yang mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian katanya, “Pertama-tama aku minta maaf kepadamu

Ngger. Hal ini pasti membuatmu kecewa Tetapi, aku tidak dapat

berbuat lain daripada menuruti kehendak mereka. Beristirahat.

Hanya itu. Tidak ada maksud apapun. Meskipun ada pula alasan

yang berbeda-beda, namun kesimpulan mereka, mereka ingin

menghentikan kerja barang sehari dua hari”.

“Bagaimana mungkin Ki Buyut” bantah Mahisa Agni, “Kita pasti

akan kehabisan waktu. Justru kita harus bekerja lebih banyak. Kalau

mungkin siang dan malam, supaya pekerjaan ini segera selesai”.

“Agni” potong pamannya, “cobalah kau mendengarkan alasalasan

yang dikatakan oleh Ki Buyut. Alasan yang meskipun

berbeda-beda, tetapi kesimpulannya adalah, mereka ingin

beristirahat. Cobalah mendengarkan. Kalau kau saja yang berbicara,

maka kau tidak akan mengerti”.

Mahisa Agni pun terdiam. Dan Ki Buyut itu berkata, “Alasan

mereka bermacam-macam Ngger. Ada yang hanya karena lelah.

Lelah dan tidak lagi mampu untuk bekerja terus. Ada yang menjadi

sakit pegal dan linu-linu pada punggung mereka. Mereka perlu

beristirahat supaya sakitnya menjadi sembuh. Ada pula yang

kakinya menjadi bengkak. Sedang yang lain ingin menunggui anak

yang sakit itu. Pagi ini ia mengigau tak henti-hentinya. Tubuhnya

menjadi sangat panas, dan kemudian ia menggigil kedinginan” Ki

Buyut itu berhenti sesaat. Ketika Mahisa Agni akan memotong katakatanya

Empu Gandring menggamitnya sehingga kembali Mahisa

Agni terdiam. Sejenak kemudian Ki Buyut itu berkata lagi,

“Sebenarnya pagi-pagi tadi, ketika matahari terbit, kami sudah siap

untuk bekerja. Tetapi, kami dikejutkan oleh igauan anak yang sakit

itu. Beberapa orang segera mengerumuninya. Ketika satu di antara

mereka berkata, Aku tidak bekerja hari ini. Aku akan menunggui

anak ini, maka tiba-tiba seperti meledak kata-kata itu disahut

berturut-turut oleh kebanyakan dari mereka yang mengerumuni

anak itu. Aku juga tidak. Kakiku sakit, bengkak-bengkak, yang lain

lagi, punggungku akan patah, dan yang lain, kepalaku hampir pecah

kepanasan”.

“Itulah Ngger. Aku tidak dapat memaksa mereka” kembali Ki

Buyut berhenti sejenak, ia menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian

terpaksa ia berkata, “Angger Mahisa Agni, sebenarnya telah agak

lama aku mendengar keluh kesah ini. Keluh kesah yang kemudian

meledak menjadi alasan-alasan yang menyebabkan kami hari ini

tidak bekerja. Tetapi, aku harap Angger dapat mengerti”.

Wajah Mahisa Agni kembali menjadi merah membara. Alangkah

kecewa hatinya. Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini

sama sekali tidak dihargai oleh orang-orang Panawijen itu. Bahkan

mereka telah berusaha untuk memperlambat. Karena itu, maka

dengan serta-merta ia menyahut, “Jadi apakah kemauan mereka?

Apakah kita hentikan saja pekerjaan ini?”

“Agni” berkata pamannya perlahan-lahan. Orang tua itu tahu

benar, betapa sakit hati Mahisa Agni mendengar keadaan yang ada

diperkemahan ini. Keadan yang sama sekali tidak diduga-duganya.

Tetapi, orang tua itu pun dapat mengerti, kenapa orang-orang

Panawijen ingin berhenti bekerja barang sehari dua hari. Maka

katanya seterusnya, “Berpikirlah dengan kepala dingin. Cobalah kau

cernakan dahulu apa yang kau dengar, baru kau membuat

tanggapan. Jangan tergesa-gesa mengambil sikap Agni”.

Kini wajah Mahisa Agni yang merah itu menjadi semakin tegang.

Terasa dadanya bergelora seperti gunung yang akan meletus.

Namun, sorot mata pamannya telah menahannya untuk tidak

melepaskan luapan perasaannya. Karena itu maka kepala Mahisa

Agni itu justru menjadi pening.

“Agni” berkata pamannya sareh, “kau harus melihat keadaan ini

secara keseluruhan. Jangan kau melihat sepotong-sepotong dari

padanya. Maka kau akan dapat mengurangi kepahitan yang harus

kau hadapi kini”.

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi, pamannya

mengetahuinya bahwa anak muda itu mengatupkan giginya rapatrapat.

Ia masih berusaha untuk menguasai perasaannya.

, “Kau harus dapat mencoba mengerti apa yang dikatakan oleh Ki

Buyut Panawijen” berkata pamannya pula.

“Tetapi paman” betapapun Mahisa Agni mencoba menahan diri

namun terloncat pula dari bibirnya, “keadaan ini tidak boleh

dibiarkan terus. Memang lebih senang duduk-duduk dan berbaringbaring

daripada bekerja dipanas terik matahari. Tetapi, apa yang

kita dapatkan dengan duduk memeluk lutut?”

“Kau benar Agni. Kau benar. Tetapi, bagaimana kau

menyampaikan hal itulah yang sulit bagimu”.

Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dilihatnya di

sekeliling gubug itu banyak orang-orang Panawijen yang berkumpul.

Agaknya mereka ingin tahu, apakah yang akan dikatakan oleh

Mahisa Agni. Namun, sebagian yang lain malah pergi menjauh.

Mereka duduk berkelompok-kelompok di ujung-ujung perkemahan.

Di ujung yang paling jauh dari gubug Ki Buyut Panawijen supaya

seandainya Mahisa Agni marah, mereka tidak mendapatkan

kemarahan itu yang pertama-tama. Sebab bagaimana pun juga,

tersembunyi pula rasa takutnya kepada anak muda itu. Sebagian

dari setiap laki-laki Panawijen telah mengetahui bahwa Mahisa Agni

mampu berbuat di luar kemampuan mereka. Mereka telah

mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berkelahi dan

memenangkan perkelahian melawan Kuda Sempana.

“Aku akan mengatakan kepada mereka” nada suara Mahisa Agni

datar namun penuh tekanan.

“Apa yang akan kau sampaikan” bertanya pamannya.

“Mereka harus bekerja”.

“Lihat Agni. Matahari telah menjadi semakin condong. Kalau kau

menyiapkan mereka untuk bekerja, maka kau tidak akan

mendapatkan apa-apa. Demikian mereka siap, demikian matahari

tenggelam”.

Mahisa Agni terdiam. Tetapi, wajahnya masih tetap tegang.

“Meskipun tidak hari ini” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok

misalnya, tetapi mereka harus tahu bahwa mereka telah berbuat

suatu kesalahan. Kesalahan yang besar sekali. Musim hujan yang

akan datang tidak mengenal istirahat. Apapun alasan kita disini,

tetapi musim itu akan datang pada waktunya”.

“Apa yang akan dilakukan?”

Sebelum menjawab, Mahisa Agni telah meloncat berdiri. Tetapi,

ketika ia mengayunkan kakinya selangkah, terdengar pamannya

berkala pula, “Apa yang akan kau lakukan Agni?”

“Aku akan berkata kepada mereka, bahwa apa yang mereka

lakukan sama sekali tidak dapat dibenarkan”.

“Tunggulah”.

“Aku akan berkata kepada mereka sekarang”.

“Tunggulah”.

“Apa yang harus aku tunggu paman. Kini adalah saatnya.

Mereka harus segera menyadari kemalasan mereka”.

“Duduklah Agni”.

“Tak ada waktu. Aku bukan pemalas yang lebih senang duduk

dari pada bekerja”.

“Duduklah Agni. Duduklah”.

Ketika Agni akan menjawab, sekali lagi pamannya memotong,

“Duduklah. Kau dengar?”

Mulut Agni terdiam. Meskipun dadanya menjadi sesak, namun

iapun melangkah kembali dan duduk di hadapan pamannya. Ki

Buyut Panawijen kini seolah-olah menjadi patung. Hatinya menjadi

kusut dan bingung. Bahkan terasa pula kecemasan mencengkam

jantungnya.

Jilid 22

EMPU Gandring pun tidak segera berkata sesuatu. Dibiarkannya

Mahisa Agni duduk dengan nafas yang berkejar-kejaran dari lubang

hidungnya. Ditatapnya wajah pamannya dengan penuh pertanyaan

yang bergelut di dalam dadanya, “Kenapa pamannya

menghalanginya untuk berbuat sesuatu?”

Sejenak kemudian baru Empu Gandring berkata, “Kau akan

mengumpat-umpat di hadapan mereka Agni?” Agni tdak menjawab.

“Kalau kau berbicara sekarang, sedang hatimu masih dibakar

oleh kemarahan dan kekecewaan, maka kalimat yang akan

meloncat dari mulutmu adalah kalimat-kalimat yang mencerminkan

kepahitan tanggapan perasaanmu atas peristiwa ini. Dengan

demikian maka kau sama sekali tidak akan mendapatkan apa-apa,

kecuali menyinggung perasaan kawan-kawan seperjuanganmu. Kau

sangka bahwa mereka dapat kau perlakukan seperti bajak dan

cangkul itu? Tidak Agni” Empu Gandring berhenti sejenak

Dipandanginya wajah kemanakannya yang kini tertunduk.

Sejenak kemudian diteruskannya, “Aku bangga melihat nafsu

kerjamu yang meluap-luap. Tenagamu cukup tangkas dan kuat

melawan terik matahari, melawan udara yang panas dan melawan

kerja yang berat. Tetapi tidak semua orang-orang Panawijen

memiliki ketahanan tubuh seperti kau. Kalau kau tidak percaya, ayo

berlomba lari dengan aku. Meskipun aku sudah setua ini. Tetapi

dengan janji, kau tidak boleh berhenti? Kau tahu maksudku? Aku

hanya ingin mengatakan bahwa ketahanan tubuh seseorang tidak

selalu sama. Kau dan aku. Dan kau dengan orang-orang lain. Kalau

kau marah-marah kepada mereka hari ini, maka kau benar-benar

akan kehilangan hari ini. Mereka sudah pasti bahwa hari ini tidak

dapat dan sudah nyata, tidak berbuat apa-apa. Mereka hari ini tidak

bekerja. Tetapi kalau kau marah-marah, maka istirahat yang sudah

terlanjur dijalani ini akan tidak terasa nikmatnya” Empu Gandring

berhenti sejenak sambil menelan ludahnya.

Kepala Mahisa Agni yang tunduk menjadi semakin tunduk.

Dadanya yang bergejolak itupun sedikit demi sedikit mereda.

Pamannya telah memaksanya untuk mencoba mengerti keadaan

yang dihadapinya kini.

Dalam pada itu pamannya berkata pula, “Agni. Manfaatkanlah

keadaan ini. Hari ini adalah hari yang menyenangkan. Jangan kau

biarkan hari ini menjadi hari yang benar-benar tidak berarti. Karena

itu, senangkanlah hati mereka dengan istirahat ini, supaya terasa

benar nikmatnya. Besok mereka pasti akan dengan senang hati

bekerja kembali. Tetapi kalau hari ini kau jadikan hari yang gelap,

maka besok mereka akan mengangkat alat-alat mereka dengan hati

yang gelap pula”.

Kini Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Hari ini

memang sudah terjadi dan hampir dilampaui. Ia tidak akan dapat

memutar matahari untuk kembali kearah Timur. Karena itu, mau

tidak mau ia harus menerimanya sebagai kenyataan, apa yang telah

terjadi. Dan sebenarnyalah kata pamannya, bahwa ia harus

memanfaatkan yang ada untuk kepentingan hari-hari mendatang.

Terdengar kemudian pamannya bertanya, “Kau tahu maksudku

Agni?”

“Ya paman” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ki Buyut Panawijen yang sejak tadi duduk mematung, tiba-tiba

menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia berdesah, “Hem.

Demikianlah Ngger. Hatiku yang tinggal semenir dapat menjadi

tegar kembali”.

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ki Buyut sudah berbuat

sebaik-baiknya yang mungkin dapat Ki Buyut lakukan”.

Orang tua itu mengangguk-angguk, jawabnya, “Ya, ya Empu.

Aku sudah mencoba apa saja yang dapat aku lakukan”.

“Tetapi, kemampuanku memang terlampau jauh ketinggalan”.

“Tidak Ki Buyut. Siapa pun yang menghadapi persoalan ini, tidak

akan dapat mengambil sikap yang lebih baik dari pada yang telah Ki

Buyut lakukan”.

Kembali orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekalikali

tangannya mengusap dadanya sambil bergumam, “O, rasarasanya

dada ini hampir pecah”.

Empu Gandring tertawa perlahan-lahan. Mahisa Agni masih

menundukkan kepalanya. Tetapi dengan demikian ia dapat mengerti

pula, betapa berat perasaan orang tua itu menghadapi orangorangnya.

“Nah Agni” berkata Empu Gandring kemudian, “sekarang

ambillah obat yang kau bawa itu. Obat itu harus dilumatkan, dan

kemudian air perahannyalah yang harus diminum sebagai obat”.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Pamannya benar. Adalah

lebih baik berbuat sesuatu yang dapat menyenangkan hati orangorang

Panawijen dari pada mengumpati mereka itu. Karena itu

maka Mahisa Agni pun menjawab, “Baik paman. Aku akan mencoba

mengobatinya”.

Ketika Mahisa Agni kemudian berdiri dan melangkah

meninggalkan pamannya dan Ki Buyut, sekali lagi pamannya

berpesan, “Jangan membuat hati orang-orang Panawijen

tersinggung. Tetapi usahakan mengatakan dengan baik, bahwa

tidak seharusnya mereka bermalas-malas”.

Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya paman. Akan aku

usahakan”.

Anak muda itu pun kemudian melangkah meninggalkan gubug

itu. Ketika ia sampai di luar, maka sikapnya pun menjadi canggung.

Perasaannya sama sekali tidak senang melihat orang-orang

Panawijen duduk-duduk bermalas-malasan. Tetapi ia tidak dapat

melepaskan perasaannya itu. Pikirannya membenarkan pendapat

pamannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni harus

mengekang sikapnya sejauh-jauh dapat dilakukan.

Orang-orang yang berada di sekitar gubug Ki Buyut itupun

menjadi berdebar-debar ketika mereka melibat Mahisa Agni keluar

seorang diri. Bermacam-macam tanggapan merayap di dalam dada

masing-masing.

Tetapi mereka menjadi heran ketika mereka melihat Mahisa Agni

itu tersenyum kepada mereka sambil berkata, “Apakah kalian sudah

tidak lelah lagi?”

Sejenak mereka menjadi bingung. Senyum Mahisa Agni memang

terasa agak hambar. Tetapi mereka tidak menyangka bahwa Mahisa

Agni tidak menjadi kecewa melihat keadaan itu.

“Siapakah yang kakinya menjadi bengkak?” bertanya Mahisa Agni

sekenanya.

Orang-orang itupun menjadi saling berpandangan. Tetapi belum

ada seorang pun yang menjawab.

, “Siapa?” desak Mahisa Agni, “aku dengar ada diantara kalian

yang kaki-kakinya menjadi bengkak karena pekerjaan yang

terlampau berat ini. Ada yang punggungnya hampir patah. Nah, aku

ingin tahu, siapa yang telah menderita itu”.

Orang-orang itupun menjadi ragu-ragu. Apakah Mahisa Agni itu

benar-benar bertanya tentang kaki yang bengkak dan punggung

yang sakit, atau sekedar merupakan pendahuluan untuk

menumpahkan kemarahannya.

Dalam keragu-raguan itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalau

demikian, memang sebaiknya kalian beristirahat hari ini. Matahari

sebentar lagi akan turun ke cakrawala. Nikmatilah hari istirahat ini

sebaik-baiknya supaya besok kita dapat mulai lagi dengan tenaga

baru”. Mahisa Agni berhenti sejenak, tetapi ia bertanya kembali,

“Tetapi siapakah yang menjadi sakit?”

Tiba-tiba terdengar jawaban penuh keragu-raguan, “Aku Agni.

Kakiku menjadi bengkak”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir di

dalam dadanya. Sejenak kemudian ia melangkah mendekati orang

itu sambil berkata, “Lihat. Kenapa kakimu menjadi bengkak?”

Orang itu menjulurkan kakinya dan memperlihatkan bagian yang

bengkak.

Mahisa Agni terkejut melihat kaki yang bengkak itu. Ia sama

sekali tidak menyangka, bahwa satu di antara kawan-kawannya

menderita sakit semacam itu. Karena itu maka dengan serta-merta

ia bertanya, “Kenapa kakimu bengkak?”

Orang itu menjawab, “Kakiku tertimpa pecahan batu, Agni”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera

berkata apapun.

Diamatinya kaki yang bengkak itu seperti melihat sesuatu yang

ganjil baginya. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan

kepalanya ketika dilihatnya sebuah luka hampir pada mata kakinya.

“Apakah luka itu sakit?” bertanya Mahisa Agni.

Orang itu memandang Mahisa Agni dengan sorot mata yang

aneh. Ia tidak segera dapat menjawab karena keheranannya atas

pertanyaan itu. Sehingga Mahisa Agni mendesaknya, “Sakit?”

“Tentu Agni” jawab orang itu kemudian, “kalau tidak sakit maka

aku tidak akan menyeringai sepanjang hari”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwaperistiwa

semacam ini berada di luar perhitungannya. Disangkanya

bahwa setiap orang akan mampu bekerja seperti dirinya, dan

memiliki ketahanan tubuh seperti dirinya pula.

Dalam pada itu teringatlah ia akan pesan pamannya. Maka

dengan ramahnya ia berkata, “Baiklah. Beristirahatlah hari ini.

Pergunakanlah hari ini sebaik-baiknya untuk menenangkan diri,

besok kita akan mulai kembali”.

Mahisa Agnipun kemudian melangkah pergi. Tetapi ia tidak

sempat melihat wajah orang itu. Wajah orang yang kakinya bengkak

karena lukanya yang rnenjadi semakin parah.

Ketika Mahisa Agni sudah berjalan beberapa langkah dari

padanya terdengar ia bergumam, “Bagaimana mungkin aku harus

bekerja besok. Apakah kakiku malam nanti sudah akan sembuh?”

Beberapa kawan-kawannya mernandanginya dengan iba. Tetapi

sebagian dari mereka menjadi berlega hati. Ternyata Mahisa Agni

tidak menjadi marah seperti yang mereka sangka. Meskipun

seandainya demikian, mereka sudah terlanjur tidak bekerja hari ini.

Dan hari ini kini sudah hampir sampai ke ujungnya.

Mahisa Agni berjalan dengan berbagai angan-angan di

kepalanya. Apa yang dilihatnya telah meninggalkan bermacammacam

kecemasan. Beberapa orang yang sakit pasti akan benarbenar

menghambat pekerjaan itu. Orang-orang yang lain, yang

sekedar karena malas, akan dapat berpura-pura sakit pada

punggungnya atau pada tulang rusuknya atau sakit perutnya.

Semakin banyak orang yang sakit dan berpura-pura sakit, maka

pekerjaannya akan menjadi semakin lama. Musim hujan sama sekali

tidak dapat diajaknya berbicara tentang orang-orang yang sakit dan

berpura-pura sakit.

Langkah Mahisa Agni terhenti diantara beberapa anak-anak muda

yang duduk di bawah sebuah gubug. Ketika mereka melihat Mahisa

Agni berhenti di depan gubug itu, maka anak-anak muda itu pun

menundukkan kepalanya. Dada mereka pun menjadi berdebardebar.

Meskipun mereka dengan sengaja tidak bekerja hari ini,

tetapi ketika mereka melihat Mahisa Agni berada dihadapan hidung

mereka, maka jantung mereka pun menjadi semakin cepat

berdenyut.

Ketika Mahisa Agni melihat anak-anak muda yang sehat-sehat

itu, hatinya menjadi agak tenang. Anak-anak muda inilah yang

harus membantunya sepenuh tenaga untuk membangun bendungan

itu. Namun ketika dilihatnya anak-anak muda itu duduk bermalasmalasan,

maka hatinya pun menjadi kecewa. Sebenarnya mereka

hari ini tidak perlu beristirahat seperti orang-orang yang sudah

berumur agak lanjut. Biarlah orang-orang tua dan mereka yang sakit

beristirahat. Tetapi anak-anak muda ini seharusnya mempergunakan

setiap waktu dengan sebaik-baiknya. Bahkan apabila ada diantara

kawan-kawannya yang terpaksa tidak dapat bekerja, maka mereka

yang sehat-sehat itu harus melipat-gandakan kerja yang mungkin

dilakukan.

Sejenak Mahisa Agni berdiri saja mematung di luar gubug itu.

Sedang anak-anak muda yang duduk di dalam pun tidak

menegurnya, sehingga sejenak mereka saling berdiam diri?

Meskipun mereka setiap hari bertemu, kekerja bersama-sama dan

kadang-kadang bergurau pula, namun kali ini seolah-olah mereka

merupakan kawan yang baru saja dikenalnya. Masing-masing

menjadi canggung dan tidak segera menemukan kata-kata pertama

untuk saling berbicara.

Yang mula-mula mencoba menegur adalah Mahisa Agni,

sekenanya ia bertanya, “Apakah yang kalian kerjakan?”

Pertanyaan itu tidak segera terjawab. Beberapa anak-anak muda

saling berpandangan. Namun kemudian kembali mereka

menundukkan kepala mereka.

“Baru apakah kalian kini?” bertanya Mahisa Agni kembali.

Sejenak kemudian terdengar jawab perlahan-lahan, “Kami

sedang beristirahat, Agni”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sinar matahari

yang semakin condong masih juga memanasi kulitnya yang

berwarna tembaga oleh keringat yang membasahinya.

Tampaklah keningnya berkerut mendengar jawaban itu. Dengan

serta-merta pula ia bertanya, “Apakah kalian sakit?”

Kembali anak-anak muda di dalam gubug itu menjadi bingung.

Kembali mereka saling berpandangan. Namun tak seorang pun yang

dapat menjawab pertanyaan itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa

memperbaiki pertanyaannya, “Apakah ada diantara kalian yang

sakit?”

Mahisa Agni melihat beberapa diantara mereka menggelengkan

kepalanya dan terdengar jawaban lirih, “Tidak Agni. Kami tidak

sakit. Tetapi ada diantara kami yang sakit. Tubuhnya menjadi panas

tetapi ia menggigil seperti orang kedinginan”.

“Bitung yang kau maksud?”

“Ya”.

“Aku sudah mengambil obat untuknya. Bitung memang sakit,

tetapi bukankah kalian tidak sakit?”

Kembali Mahisa Agni melihat beberapa diantara mereka

menggeleng.

“Mereka tidak sakit” berkata Mahisa Agni didalam hatinya,

“mereka hanya malas saja”.

Tetapi ditahannya hatinya. Diingatnya kata-kata pamannya.

Biarlah mereka menikmati istirahat yang sudah terlanjur

dilakukannya.

“Baiklah” berkata Mahisa Agni kemudian, “beristirahatlah. Besok

kita bekerja kembali”.

Mahisa Agni itu pun segera melangkah pergi. Kini ia akan

mengambil obat yang masih terikat di kudanya. Ia ingin segera

memberikannya kepada Bitung, supaya sakitnya segera menjadi

berkurang.

Tetapi betapapun Mahisa Agni berusaha, namun perasaannya

masih juga bergolak melihat orang-orang Panawijen duduk dengan

malasnya. Meskipun apabila Mahisa Agni lewat disamping mereka,

tampak juga mereka menjadi seakan-akan malu. Tetapi Mahisa Agni

selalu ingat akan kata-kata pamannya. Karena itu, ia sama sekali

berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

Bahkan setiap kali ia melewati kelompok-kelompok orang-orang

Panawiijen, anak muda itu selalu mencoba tersenyum dan berkata,

“Mudah-mudahan kalian, puas dengan istirahat ini.” Namun tidak

lupa ia selalu mengatakan, “Besok kita segera mulai kembali.

Mudah-mudahan pula kita mendapatkan tenaga baru”.

Apabila Mahisa Agni telah lampau, maka mereka pun saling

berpandangan. Tetapi tanggapan mereka atas sikap Mahisa Agni itu

pun berbeda-beda. Mereka yang masih mempunyai tanggung jawab

atas pekerjaan itu berkata di dalam hatinya, “Ya, besok aku akan

bekerja lebih baik setelah hari ini aku beristirahat”.

Tetapi yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Mahisa Agni

adalah mereka yang memang tidak mempunyai nafsu untuk

berjuang. Mereka yang acuh tak acuh menghadapi masa-masa yang

akan datang. Ketika mereka melihat sikap Mahisa Agni yang lunak

itu, mereka berkata di dalam hati, “Nah, lihat. Mahisa Agni tidak

berani berbuat apa-apa. Kenapa kita terlampau bodoh pada masamasa

yang lewat. Bekerja terlampau banyak sehingga tubuh kita

hampir remuk karenanya. Di saat-saat yang akan datang, ia pasti

akan berdiam diri pula apabila kita memaksa beristirahat seperti hari

ini”.

Alangkah sayangnya, bahwa justru pikiran yang demikian itulah

yang lebih banyak menguasai orang-orang Panawijen yang sebagian

dari mereka sudah menjadi jemu menghadapi pekerjaan yang berat

itu.

Mahisa Agni tidak dapat membedakan wajah-wajah mereka yang

menyimpan perasaan yang berbeda-beda itu. Karena itu ia berjalan

terus ke tambatan kudanya. Diambilnya obat yang dibawanya dari

Panawijen dan dimintanya kemudian petunjuk dari pamannya.

Bagaimana ia harus membuatnya.

Dengan petunjuk pamannya Mahisa Agni menumbuk bagianbagian

dari pohon kates itu sendiri dengan tangannya, kemudian

memerasnya ke dalam mangkuk dan membawanya kepada Bitung

bersama dengan Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen.

Bitung berbaring di atas anyaman ilalang. Dikerudunginya

tubuhnya dengan selimut kain berlapis-lapis. Beberapa orang

kawan-kawannya meminjaminya kain kepadanya. Tetapi ia masih

juga menggigil kedinginan. Sekali-kali terdengar mulutnya berdesah

menahan perasaaan dingin panas dan nyeri-nyeri di sendi-sendi

tulangnya.

Ketika tangannya yang gemetar menerima semangkuk cairan

yang kehijau-hijauan, maka anak itu mengerutkan keningnya.

“Minumlah” berkata Ki Buyut.

“Kalau kau tidak mau meminumnya, maka sakitmu tidak akan

berkurang, “ berkata Empu Gandring.

Bitung pun kemudian terpaksa minum obat itu. Ketika ia hampir

muntah karena obat yang pahit itu, Mahisa Agni berkata, “Bitung,

aku ambil obat itu dengan taruhan yang mahal sekali. Aku hampir

mati dipenggal leherku oleh iblis yang belum pernah aku kenal.

Untunglah paman melindungi aku. Karena itu jangan kau

muntahkan obat itu, supaya aku tidak perlu lagi pergi ke Panawijen.

Meskipun aku tidak hanya membawa untuk satu kali pengobatan,

namun setiap teguk obat itu akan berarti bagimu”.

Bitung menahan mulutnya dengan kedua belah tangannya.

Namun ia berhasil untuk menelannya betapapun pahitnya.

Dalam pada itu, matahari kini sudah menjadi semakin rendah.

Setiap saat matahari itu bergeser turun. Sehingga akhirnya,

matahari itu pun tenggelam di balik bukit di ujung Barat.

Mahisa Agni merasa, betapa lambatnya waktu merayap. Ia

hampir-hampir tidak sabar menunggu malam itu berjalan. Terasa

seakan-akan waktu terhenti., “Waktu pun menjadi sangat malasnya

berjalan” gumamnya.

Anak muda itu ingin matahari segera terbit. Ia ingin segera

berada kembali di bawah teriknya sambil bekerja memeras segenap

tenaga. Meskipun debu yang kotor melekat di kulitnya yang basah

karena keringat, meskipun tubuhnya menjadi merah-merah hangus

oleh sinar matahari, tetapi ia merasa mendapatkan kepuasan. Ia

merasa bahagia berada di tengah-tengah derunya kerja yang berat

itu. Sebab anak muda itu berkeyakinan, bahwa hanya dengan kerja,

maka hari depan mereka dan anak cucu menjadi baik.

Oleh karena itu, maka justru Mahisa Agni tidak dapat

memejamkan matanya. Hatinya menjadi risau dan gelisah. Sekalikali

terasa ia terlena sejenak, tetapi seperti dikejutkan oleh deru

guguran batu-batu di tebing, ia tersentak bangun.

Akhirnya Mahisa Agni itu bangkit dari pembaringannya, sehelai

tikar yang dibentangnya diatas tumpukan daun-daun ilalang.

Perlahan-lahan ia berjalan menyusuri gubug demi gubug. Ia masih

melihat beberapa perapian yang masih membara. Tetapi ia tidak

melihat seorang pun yang masih menunggui perapian itu.

Tetapi langkahnya kemudian tertegun ketika ia berjalan di

samping gubug Bitung. Ia mendengar anak itu merintih. Sekali-kali

terdengar suara kawannya menghibur. Tetapi agaknya sakit anak itu

belum juga susut.

Perlahan-lahan Mahisa Agni mendekat. Kemudian ia pun

menyusup kedalam gubug itu pula.

Kawan Bitung agak terkejut melihat kehadirannya. Tetapi

kemudian matanya menyala, Seakan-akan berkata kepadanya,

“Sakit Bitung adalah tanggung jawabmu, Agni”. Tetapi anak muda,

kawan Bitung tidak berkata sepatah katapun.

Mahisa Agni pun kemudian duduk disamping Bitung. Tangannya

mencoba meraba dahi anak muda itu. Tetapi ia menjadi terkejut.

Terasa dahi itu panas sekali.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tanpa disadarinya ia berkata,

“Obat itu baru saja diminumnya. Mudah-mudahan nanti akan

berpengaruh. Besok pagi-pagi aku buat obat untuknya sebelum kita

bekerja”.

“Apakah besok kita akan bekerja lagi?” bertanya kawan Bitung.

Pertanyaan itu telah mengguncang perasaan Mahisa Agni. Ia

sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi

pertanyaan seorang anak muda yang demikian. Meskipun ia dapat

meraba bahwa anak-anak muda lebih senang beristirahat, dudukduduk

dan berbaring sambil mengunyah makanan, namun bahwa

seseorang langsung mengucapkan pertanyaan itu adalah sangat

mengecewakan.

Tetapi Mahisa Agni segera berusaha menahan perasaannya

sendiri seperti pesan pamannya. Beruntunglah bahwa pamannya

telah memberinya pesan, sehingga setiap kali pesan-pesan itu dapat

mengekangnya.

Dengan menahan diri Mahisa Agni kemudian bertanya kepada

anak muda itu, “Jadi, bagaimana maksudmu?”

“Kita perlu beristirahat” jawab kawan Bitung itu.

“Bukankah hari ini kita sudah beristirahat”.

“Sehari tidak cukup untuk menghilangkan lelah”.

Mahisa Agni menarik nafas. Kekecewaanya menjadi kian

bertambah. Tetapi ia menjawab hati-hati, “Kita tidak boleh

terlampau lama beristirahat. Musim hujan tidak akan dapat

ditunda”.

“Tetapi kita tidak akan dapat bekerja terus-menerus. Bitung sakit

Aku harus menunggui. Meskipun seandainya kita besok bekerja

kembali, aku tidak akan dapat ikut serta. Kasihan apabila tak ada

yang mengawani anak yang sakit ini”.

“Besok aku carikan kawan buat Bitung. Biarlah orang-orang tua

atau orang yang lagi berhalangan bekerja, karena sakit kakinya,

misalnya. Dengan demikian kita tidak akan banyak kehilangan

tenaga”.

Anak muda itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya tidak

mejakinkan bahwa ia dapat mengerti kata-kata Mahisa Agni.

Namun ketika anak muda itu tidak menyahut, Mahisa Agni pun

tidak berkata lagi.

Mereka kemudian terdorong dalam kesepian yang mencengkam.

Malam yang kelam menjadi semakin jauh merayap. Dikejauhan

terdengar korek bilalang yang sedang berlari-larian, berloncatloncatan

di padang rumput.

Mereka berpaling ketika mereka mendengar Bitung merintih

perlahan-lahan. Tetapi anak itu kini telah tertidur. Tubuhnya tidak

lagi terlampau panas dan tidak lagi menggigil ke dinginan.

“Mudah-mudahan obat yang diminumnya itu akan berarti

baginya” gumam Mahisa Agni.

Tak ada jawaban.

“Tidurlah. Kau pasti lelah pula. Besok aku harap seseorang

merawat Bitung. Kita yang muda-muda wajib bekerja menyelesaikan

bendungan itu”. Masih tak ada jawaban.

Mahisa Agni pun kemudian bergeser sambil berkata, “Aku pun

akan beristirahat pula”.

Anak muda yang sedang menunggui Bitung itu mengangguk,

“Silahkan” jawabnya hambar, “aku akan tidur, selagi Bitung juga

sedang tidur”.

Mahisa Agni pun meninggalkan gubug itu. Kembali ia berjalan

menyusuri celah-celah gubug yang bertebaran. Ia terhenti ketika ia

mendengar seseorang merintih pula. Orang yang kakinya sedang

bengkak.

“Hem” Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Panjang

sekali.

Tetapi ia tidak singgah ke gubug itu. Ia berjalan terus dalam

kegelapan, menuju ke gubugnya sendiri.

Kembali anak muda itu berbaring di atas tikar yang di

bentangkan pada tumpukan jerami. Tetapi kembali angan-angannya

mengganggunya. Meskipun demikian, karena lelah, maka akhirnya

Mahisa Agni itu pun tertidur pula.

Gubug-gubug itu pun kini telah menjadi sepi. Hampir tak seorang

pun yang masih tinggal bangun kecuali satu dua yang selalu

diganggu oleh berbagai perasaan sakit. Tetapi mereka pun tidak

beranjak dari pembaringannya. Sekali-kali terdengar suara mereka

merintih di antara bunyi cengkerik dan bilalang yang bersahutsahutan.

Tetapi Mahisa Agni pun tidak dapat tidur dengan nyenyak. Belum

juga ia dapat tenang. Sekali-kali ia terbangun. Gigitan nyamuk

benar-benar telah mengganggunya seperti perasaannya sendiri

yang selalu mengganggunya pula.

Menjelang fajar, maka Mahisa Agni tidak lagi dapat berbaring

diam, apalagi mencoba kembali tidur. Nalurinya yang selalu

membangunkannya, pagi itu agak terlampau cepat membawanya

bangkit dari pembaringannya. Ia menjadi kian jemu menahan

kesabarannya. Malam terasa terlampau panjang, sehingga seakanakan

waktunya telah dihabiskannya untuk menunggu pagi.

Ketika kemudian warna-warna merah membayang di ujung

Timur, Mahisa Agni telah berada di luar gubugnya. Pamannya pun

ternyata bangun pula. Segera mereka pergi ke sungai untuk

mencuci muka. Sebentar lagi, mereka harus menyiapkan alat-alat

mereka. Kerja akan dimulai lagi. Kali ini Mahisa Agni tidak akan

dapat menunda lagi rencananya, meletakkan dasar bendungan di

sisi-sisi seberang.

Tetapi terasa pagi ini agak asing bagi Mahisa Agni. Dilihatnya

beberapa orang dengan malasnya keluar dari gubug masing-masing.

Ada pula di antara mereka yang masih berselimut kain dan sebelum

berbuat sesuatu, mereka itu pun menguap dengan malasnya sambil

berjongkok di depan gubugnya.

Mahisa Agni menjadi gelisah. Tetapi kemudian dilihatnya Ki Buyut

Panawijen telah siap pula di luar gubugnya. Orang itu meskipun

usianya telah melampaui pertengahan abad, namun rasa tanggung

jawabnya telah mendorongnya untuk berbuat lebih banyak dari

orang-orang lain.

“Kita akan bekerja kembali Ki Buyut” berkata Mahisa Agni.

“Ya. Semuanya telah bangun”.

Mahisa Agni mengangguk. Dilihatnya kemudian Ki Buyut seakanakan

mengguncang perkemahan itu dengan suaranya. Di

bangunkannya mereka yang masih tidur. Dan bayangan kemerahan

di Timur pun menjadi semakin nyala.

Satu-satu orang-orang Panawijen pun meninggalkan gubug

masing-masing. Mereka yang tertidur di samping perapian-perapian

pun telah menggeliat pula sambil bardiri dengan malasnya.

Mahisa Agni memandangi mereka dengan dada yang berdebar.

Ia melihat sikap yang lain dari pada sikap mereka dua tiga hari yang

lalu. Mata mereka tidak lagi memancarkan kegairahan bekerja dan

gerak mereka pun kini menjadi kemalas-malasan.

Ketika kemudian matahari menjenguk dari balik bukit dan

menebarkan sinarnya yang masih kemerah-merahan ke atas rumput

itu, maka orang-orang Panawijen sama selali tidak

memperhatikannya lagi. Masih juga ada satu dua orang yang

tampak tergesa-gesa mengambil alat-alat mereka. Ada juga yang

dengan tergesa-gesa menyalakan api dan memanasi air minum

seperti biasa. Tetapi sebagian besar dari mereka masih lebih senang

berdiri menggeliat atau menguap sambil berkerudung kain.

Dengan wajah yang berkerut-merut Mahisa Agni memandangi

pamannya, seakan-akan ingin menumpahkan kejengkelannya

melihat suasana itu.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar

perasaan kemanakannya. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun.

Betapapun lambannya, namun orang-orang Panawijen itu pun

akhirnya berkumpul pula. Mereka telah menjinjing alat masingmasing.

Tetapi mereka tidak segera bergerak ke tempat kerja

mereka.

Hal yang demikian tidak pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang

tua biasanya datang kepada Mahisa Agni dan bertanya apa yang

akan dilakukan. Pagi-pagi mereka beramai-ramai berjalan tanpa

perintah menuju ke tempat pekerjaan mereka masing-masing.

Tetapi kali ini dengan segannya mereka berdiri saja menunggu, apa

yang harus mereka lakukan.

Meskipun demikian, di antara mereka itu masih juga ada orangorang

yang memahami tanggung jawab. Dua orang yang justru

telah agak lanjut usianya mendekati Mahisa Agni sambil bertanya,

“Apa yang akan kita lakukan Agni?”

Mahisa Agni berpaling memandangi wajah Ki Buyut Panawijen

yang menjadi cemas pula. Katanya, “Kita lakukan rencana kita yang

tertunda satu hari Ki Buyut”.

“Baiklah Ngger” sahut Ki Buyut, “maksud Angger menurunkan

brunjung-brunjung di sisi seberang?”

“Ya, “ jawab Agni sambil mengangguk.

“Baiklah. Kita akan melakukan rencana itu”.

Mahisa Agni pun kemudian berkata kepada kedua orang yang

bertanya kepadanya, “kita turunkan brunjung-brunjung di sisi

seberang. Sebagian dari kita mengisi brunjung-brunjung baru”.

Kedua orang itu mengangguk dan salah seorang dari mereka

menjawab, “Baik. Kita akan berangkat sekarang?”

“Berangkatlah. Aku akan pergi juga sekarang” sahut Agni.

Kedua orang itu pun kemudian berjalan kembali ke dalam

kelompok orang-orang Panawijen yang menunggunya dengan

malas. Seakan-akan mereka tidak mau pergi dahulu sebelum Mahisa

Agni pun pergi pula. Dengan demikian maka Mahisa Agni pun

menjadi semakin canggung menghadapi orang-orang itu. Keadaan

yang demikian tidak pernah terjadi pula sebelumnya. Mereka segera

berangkat setelah mereka mengerti apa yang mereka lakukan.

Tetapi kali ini mereka tampaknya menjadi sangat segan beranjak

dari perkemahan itu.

“Kita pergi ke sisi seberang” terdengar salah seorang yang

datang kepada Mahisa Agni berkata.

Orang-orang itu masih berdiam diri. Bahkan kemudian terdengar

seseorang berteriak diantara mereka, “Apakah kau dan Ki Buyut

Panawijen tidak pergi Agni?”

Dada Mahisa Agni berdesir. Bahkan darah mudanya segera

menjadi panas. Tetapi ketika dilihatnya pamannya tersenyum, anak

muda itu berusaha sekeras-kerasnya menahan diri.

“Tentu, “ yang menjawab adalah Empu Gandring, “bukankah kau

juga akan pergi Agni”.

Mahisa Agni mengangguk kaku. Pertanyaan itu terasa

menyinggung-nyinggung perasaannya. Namun bukan saja Empu

Gandring tetapi juga Ki Buyut Panawijen tersenyum dan menjawab,

“Kami akan pergi juga sekarang”.

Ki Buyut itu pun segera melangkah maju diikuti oleh Mahisa Agni

di belakangnya. Disampingnya berjalan pamannya.

Orang-orang Panawijen pun kemudian bergerak pula dengan

malasnya, dijinjingnya alat-alat mereka tanpa gairah dan nafsu,

seakan-akan alat-alat itu menjadi beban yang sangat memberatinya.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni tertegun ketika ia mendengar suara

memanggilnya. Bukan saja Mahisa Agni tetapi semua orang pun

berhenti pula bersamanya.

“Agni, Agni” terdengar suara itu.

Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya kawan Bitung berdiri di muka

gubugnya. Dada Mahisa Agni berdesir. Ia lupa mengurus anak itu

karena pikirannya dipenuhi oleh rencana bendungannya dan

kekecewaan tentang sikap orang-orang Panawijen.

“Bagaimana dengan Bitung?” bertanya Agni dengan serta-merta.

“Ia tidak menggigil lagi. Tetapi manakah obat yang kau janjikan

semalam. Sebelum kau berangkat, kau akan membuat obat buat

Bitung. Kalau anak itu tidak kau obati maka sakitnya akan datang

lagi”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “

Kemarilah. Aku ajari kau membuat obat itu”.

“Aku tidak dapat”.

“Tentu dapat. Kemarilah supaya kita tidak saling berteriak”.

“Aku menunggu Bitung” sahut anak itu.

“Bukankah kau dapat meninggalkan sebentar kemari”.

“Aku tidak sempat membuat obat itu”.

Wajah Agni segera memerah. Darahnya yang telah panas, serasa

menjadi semakin panas. Tetapi kembali pamannya tersenyum

sambil berkata, “Adalah terlampau mudah untuk membuatnya”.

Tetapi kawan Bitung itu berteriak, “Buatlah obat itu sebentar

Agni. Kemudian pergilah ke bendungan itu. Jangan kau anggap

bahwa nilai anak ini kalah dengan nilai timbunan batu-batu di kali

itu”.

Telinga Mahisa Agni serasa tersentuh bara. Hampir ia kehilangan

kesabarannya seandainya pamannya tidak menyahut, “Nah, baiklah

aku membuat obat itu”.

“Apakah kau dapat membuatnya paman?” bertanya kawan

Bitung.

“Akulah yang memberitahukan obat itu kepada Mahisa Agni

bukan? Aku pulalah yang mengatakan bahwa bagian-bagian

tumbuhan Kates Grandel itu harus di tumbuk dan diperes airnya

untuk diminum. Akulah yang mengajari Mahisa Agni membuat obat

itu. Karena itu, maka aku pasti lebih cekatan untuk membuatnya.

Muda-mudahan obat itu menjadi lebih mujarab”.

Orang tua itu melangkah kembali sambil tersenyum-senyum.

Wajahnya sama sekali tidak berkesan sesuatu. Tetapi tiba-tiba

langkahnya terhenti ketika ia mendengar salah seorang yang telah

berada di dalam kelompok orang-orang Panawijen yang siap

berangkat itu berteriak, “Agni. Rawatlah dahulu anak itu”.

“Aku yang akan merawatnya” Empu Gandringlah yang menyahut.

“Itu adalah kuwajiban Mahisa Agni. Setiap orang di dalam

perkemahan ini adalah tanggung jawab Mahisa Agni dan Ki Buyut

Panawijen. Bukan saja Bitung yang sakit panas dan dingin, tetapi

beberapa orang lain menjadi sakit pula. Ada yang kakinya terluka,

ada yang punggungnya terkilir”.

“Biarlah mereka beristirahat” Potong Empu Gandring.

“Tidak hanya beristirahat. Rawatlah mereka Agni. Obatilah

supaya mereka sembuh. Bendungan itu tidak akan lari kau biarkan

sehari dua hari tidak dijamah tangan. Bendungan itu tidak akan

mati. Tetapi anak-anak itu dapat mati”.

“Ya” tiba-tiba terdengar suara yang lain, “sebaiknya hari ini kita

urungkan kerja kita. Kita merawat kawan-kawan kita yang sedang

sakit”.

“Pendapat yang baik” teriak yang lain, “kita belum cukup

beristirahat sehari kemarin. Pegal-pegal punggungku belum

sembuh”.

Tiba-tiba suara-suara itu disusul oleh sebuah ledakan gemuruh,

“Kita beristirahat. Kita perpanjang istirahat kita”.

Dada Empu Gandring dan Ki Buyut Panawijen menjadi berdebardebar.

Apalagi ketika mereka berpaling memandangi wajah Mahisa

Agni yang seakan-akan membara. Darahnya kini telah mendidih

memanasi segenap tubuhnya. Giginya gemeretak dan matanya

seakan-akan menyala.

“Inilah akibat kemalasan mereka kemarin” ia menggeram, “sehari

mereka beristirahat, maka mereka segan untuk memulai pekerjaan

ini kembali”.

Ki Buyut Panawijen dan Empu Gadrirg tidak menyahut. Mereka

tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Empu Gandring pun

mencoba mencari jalan untuk mencegah Mahisa Agni kehilangan

pengamatan diri.

Suara-suara orang-orang Panawijen itu masih juga terdengar

sahut-menyahut. Bahkan beberapa orang diantara mereka kini telah

menjatuhkaa diri masing-masing duduk dengan malasnya memeluk

lutut sanbil berteriak, “Kita masih perlu beristirahat. Kita terlampau

lelah”.

Yang lain lagi, “Aku tidak mau mati kehabisan tenaga. Siapa yang

ingin mati lemas, biarlah mereka lakukan sendiri”.

Suara-suara itu terdengar ditelinga Mahisa Agni seperti

gemuruhnya Gunung runtuh. Runtuh bersama harapan-harapan

yang selama ini disimpannya di dalam hati. Harapan tentang tanah

garapan yang subur karena air yang meluap-luap dari bendungan

itu mengalir disepanjang parit yang memanjang membelah Padang

Karautan. Merubah warna padang yang kekuning-kuningan karena

rerumputan yang kering menjadi hijau segar oleh batang-batang

padi yang terbentang.

Tetapi tiba-tiba ia dihadapkan pada keadaan yang sangat

menyakitkan hati. Orang-orang yang dibawanya bekerja untuk

mewujudkan cita-cita bersama itu, tiba-tiba terganggu ditengah

jalan.

Mata Mahisa Agni yang menyala, memandangi orang-orang

dalam kelompok yang menjadi semakin tidak keruan. Dengan

sengaja mereka memperlihatkan kemalasan mereka. Ada yang

duduk-duduk bahkan ada yang kemudian berbaring di bawah sinar

matahari pagi.

“Gila” geram Mahisa Agni.

Tiba-tiba Mahisa Agni itu meloncat ke atas sebuah pedati di

samping orang-orang Panawijen itu. Beberapa orang terkejut

karenanya sehingga mereka pun berloncatan menjauh. Di belakang

Mahisa Agni itu menyusul pamannya yang mecemaskan

kemanakannya.

Ternyata betapapun kecewa hati Mahisa Agni, tetapi ia tidak

lekas menjadi berputus asa. Meskipun ia melihat keruntuhan tekad

dari orang-orang Panawijen, tetapi ia tidak menyerah tertimbun oleh

reruntuhan itu. Sekali lagi kembali ia mencoba berusaha membawa

orang-orang Panawijen kedalam suatu gairah kerja seperti yang

diharapkannya.

Ketika orang-orang Panawijen melihat Mahisa Agni berdiri tegak

di atas sebuah pedati, maka teriakan-akan itu pun terdiam. Mereka

melihat anak muda itu merah biru menahan gejolak perasaannya.

Ketika orang-orang itu terdiam, maka mulailah Mahisa Agni

menebarkan pandangannya dari ujung kelompok itu ke ujung yang

lain. Ditatapnya setiap mata orang-orang Panawijen yang diam

mengawasinya. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan

orang-orang yang telah menjadi agak tua. Setiap orang yang

bertemu pandang dengan anak itu, tiba-tiba menundukkan

kepalanya. Mata Mahisa Agni terlampau tajam menghunjam ke

pusat jantung mereka.

Sejenak kemudian terdengar suara Mahisa Agni gemetar, “Aku

sudah mendengar permintaan kalian” Mahisa Agni berhenti sejenak.

Beberapa wajah tampak menengadah, tetapi ketika terpandang oleh

mereka wajah Mahisa Agni itu, maka kembali wajah-wajah itu

tertunduk. Mata Mahisa Agni masih saja menyala menembus

jantung mereka.

Tetapi, Mahisa Agni itu pun tidak segera menemukan kata-kata

yang tepat untuk mengungkapkan kekecewaan hatinya. Dengan

demikian maka suasana menjadi sepi lengang. Tetapi hati mereka

dicengkam oleh ketegangan. Beberapa orang Panawijen menjadi

bingung menghadapi keadaan itu. Ada di antara mereka yang

menjadi takut dan berdebar-debar, kalau-kalau Mahisa Agni tiba-tiba

mengamuk dan membunuh mereka. Tetapi ada yang menyesal

bukan karena ketakutan. Menyesali sikapnya sendiri. Mereka

menjadi heran sendiri, kenapa tiba-tiba mereka, hanyut dalam

suasana kemalasan. Tetapi ada pula yang mengerutu di dalam

batinya, mengumpati Mahisa Agni tak habis–habisnya, namun

mereka tidak berani mengucapkannya.

Sesaat kemudian, barulah terdengar suara Mahisa Agni kembali,

“Apakah maksud kalian sebenarnya?”

Tak seorang pun yang berani menjawab pertanyaan itu. Tetapi

berbagai-bagai tanggapan bergelora disetiap dada.

“Apakah kalian telah benar-benar jemu meneruskan pekerjaan

itu?”

Orang-orang Panawijen itu masih terdiam.

“Bagaimana?,” desak Mahisa Agni semakin keras. Ketika masih

juga tidak ada jawaban, maka kembali Ma bisa Agni berkata, “Aku

ingin mendengar pendapat kalian. Mumpung kita kali ini

berhadapan. Jangan mengambil sikap sendiri-sendiri. Kita datang

bersama-sama dan membawa tekad bersama-sama untuk membuat

bendungan itu. Karena itu, marilah kita tentukan sikap kita bersamasama.

Aku ingin mendengar, apakah kalian memang telah jemu

melakukan pekerjaan ini”.

Sejenak, kembali kesepian menguasai padang itu. Yang

terdengar adalah angin pagi yang silir menggerakkan dedaunan.

Daun ilalang dan daun-daun gerumbul perdu di sana-sini, gemerisik

seperti suara orang berbisik-bisik.

Disela-sela kesepian orang-orang Panawijen seorang berdesis

perlahan-lahan, “Tidak Agni, Kami sama sekali tidak jemu

melakukan pekerjaan ini. Kami hanya ingin sekedar beristirahat”.

Mahisa Agni memandangi orang yang sedang berbicara itu. Dan

orang itu pun menundukkan kepalanya.

“Bagus” sahut Mahisa Agni, “kalau demikian aku masih

mempunyai harapan”.

Tak ada yang menyahut sepatah katapun.

“Tetapi kalian telah beristirahat sehari kemarin”.

Kembali orang-orang Panawijen itu terdiam.

Yang terdengar adalah suara Mahisa Agni kembali, “Tak ada

alasan lagi untuk memperpanjang waktu beristirahat. Bendungan

kita harus segera jadi”.

Mahisa Agni melihat beberapa di antara mereka saling

berpandangan. Tetapi Mahisa Agni tidak mendengar seorang pun

dari mereka yang menjawab.

“Marilah” berkata Mahisa Agni, “kita berangkat bekerja”.

Meskipun tak seorang pun yang membantah, namun Mahisa Agni

tidak segera melihat mereka berdiri dan dengan gairah berangkat

ketempat kerja mereka. Sejenak orang-orang Panawijen itu masih

saja duduk sambil saling berpandangan. Bahkan sebagian dari

mereka menjadi kecewa karena istirahat hari itu yang bahkan kalau

mungkin diperpanjang lagi tidak terpenuhi.

Karena itu maka sekali lagi Mahisa Agni berkata lebih keras lagi,

“Apakah yang kita tunggu lagi? Apakah kalian masih akan

memaksaku untuk membuat obat bagi sakit Bitung? Kalian telah

mendengar, pamanku telah menyanggupinya. Sekarang apa lagi?

Ayo berdirilah. Berangkatlah sekarang, selagi matahari belum tinggi,

kita akan meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang hari ini”.

Beberapa orang pun kemudian berdiri sambil menggeliat.

Alangkah berat rasanya untuk mulai lagi pekerjaan yang berat itu.

Ternyata lebih senang menikmati istirahat kemarin dari pada

bekerja keras di bawah terik matahari.

Mahisa Agni yang tidak telaten berteriak, “Kenapa kalian tidak

segera berangkat. Apakah kalian telah benar-benar jemu he? Baik.

Kalau demikian aku tidak akan memaksa”.

Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar menarik perhatihan

mereka. Beberapa orang tertegun sambil memandangi wajah Agni

yang tegang. Tetapi mereka tidak segera menangkap maksud katakatanya.

Apakah dengan demikian Mahisa Agni akan memberi

mereka kesempatan untuk beristirahat lagi.

Terdengar suara Mahisa Agni pula, “Kalau kalian memang sudah

jemu, marilah kita berjanji untuk menghentikan saja pekerjaan ini.

Kita tidak usah berpikir apakah yang akan terjadi atas kita masingmasing.

Biarlah daun-daun pepohonan di Panawijen satu-satu

menguning dan gugur di tanah. Biarlah ladang dan sawah yang

kering itu menjadi keras. Kita tidak menghiraukannya lagi. Apalagi

aku. Aku tidak mempunyai keluarga seorang pun. Aku tidak akan

bertanggung jawab terhadap anak cucu seandaianya mereka kelak

hidup sengsara. Aku juga tidak berkeberatan seandainya kita pergi

saja bercerai-berai. Aku, seorang diri, akan lebih cepat

menyesuaikan diriku dengan tempat yang baru dimana pun aku

berada. Aku akan pergi ke Tumapel, menerima tawaran Akuwu

untuk menjadi seorang Prajurit. Kalau demikian, maka aku menyesal

bahwa aku dahulu tidak saja segera menerima tawaran itu karena

aku lebih mementingkan bendungan ini. Nah, sekarang pilihlah. Kita

pergi berpencaran mencari hidup masing-masing dengan

menggantungkan belas kasian orang, atau tetap berada di

Panawijen, tempat kita bermain dan dibesarkan, tetapi kita akan

mati kelaparan Atau kita membuat daerah baru dengan memeras

keringat kita, tetapi dengan demikian kita telah berbuat sesuatu

untuk kita sendiri dan anak cucu kita”.

Mahisa Agni berhenti sejenak Dipandanginya setiap wajah orangorang

yang berdiri di sekitarnya. Tampaklah wajah-wajah itu

menjadi tegang. Ternyata bahwa kata-kata Mahisa Agni itu bergolek

di dalam dada mereka. Meskipun demikian, tak seorang pun yang

menjawab. Mulut-mulut mereka yang ternganga itu seakan-akan

terbungkam untuk mengucapkan kata-kata.

Sejenak Mahisa Agni memberikan kata-katanya mengendap ke

dasar hati orang-orang Panawijen. Dibiarkannya orang-orang

Panawijen itu menyadari keadaannya. Menilik perubahan pada

wajah-wajah mereka, serta sikap mereka, yang satu demi satu

berdiri dan menggenggam alat-alat mereka kembali, maka timbullah

harapan di dalam dada Mahisa Agni.

Dengan suara yang menggeletar ia bertanya, “Jadi apakah yang

akan kita lakukan kini? Bekerja dengan nafsu seperti sediakala atau

tidak sama sekali?”

Mahisa Agni melihat kebimbangan pada wajah orang-orang

Panawijen itu. Maka katanya, “Aku tidak mau bekerja dengan

separo hati. Hanya ada satu syarat untuk bekerja. Bekerja dengan

gairah dan sepenuh hati. Mereka yang meninggalkan tugas ini

karena mereka tidak kuat lagi, atau jemu atau sakit-sakitan, aku

persilahkan. Hanya yang berkemauan keras sajalah yang akan dapat

bekerja terus”.

Orang-orang Panawijen masih terdiam. Tetapi tangan mereka

telah mulai menggenggam alat-alat mereka dengan eratnya.

“Aku ingin jawaban supaya aku tidak menjadi kecewa kembali”.

Tiba-tiba meledaklah jawaban orang-orang Panawijen itu, “Baik

Agni. Kami akan bekerja kembali seperti sediakala”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya

berdesir, dan seluruh permukaan kulitnya meremang. Dengan

penuh harapan ia berkata, “Kalau demikian, marilah kita berangkat.

Matahari bulum sepenggalah. Marilah kita susul keterlambatan kita.

Satu hari lebih seujung pagi”.

Mahisa Agni tidak perlu mengatakannya lagi. Orang-orang

Panawijen itu pun kemudian seakan menggelepar dan berjalan ke

arah masing-masing yang sudah ditentukan. Namun sebagian besar

dari mereka berjalan ke bendungan untuk menurunkan brunjungbrunjung

di sisi seberang. Sebagian kecil pergi ke ujung susukan

yang sedang mereka kerjakan untuk menggalinya lebih panjang

lagi. Keinginan orang-orang Parawijen adalah, susukan itu akan

mampu membelah Padang Karautan, dan menjadikannya tanah

persawahan yang subur.

Beberapa pedati pun segera berjalan untuk mengambil batu-batu

yang telah dipecah untuk kemudian dimasukkannya ke dalam

brunjung-brunjung bambu.

Ketika kemudian Mahisa Agni berpaling dilihatnya pamannya

serta Ki Buyut Panawijen tersenyum kepadanya. Tetapi didalam hati

Empu Gandring berkata, “Belum merupakan persoalan yang terakhir

Agni. Tetapi mudah-mudahan kerjamu akan berhasil”.

Sehari itu Mahisa Agni melihat orang-orang Panawijen bekerja

dengan nafsu yang menyala-nyala. Mereka serasa telah memeras

tenaga memenuhi permintaan Mahisa Agni, menebus yang telah

hilang. Kemarin dan ujung pagi ini.

Matahari di langit berjalan dalam iramanya yang tetap.

Tetapi, terasa hari ini berjalan terlampau cepat bagi Mahisa Agni.

Kegembiraannya melihat nafsu bekerja orang-orang Panawijen telah

membuat lupa waktu. Betapa ia telah memeras segenap tenaganya

melampauhi waktu yang sudah-sudah. Kekuatan tubuhnya benarbenar

mengherankan. Dan kerjanya ternyata telah mempengaruhi,

terutama anak-anak mudanya yang merasa malu mendengar Mahisa

Agni menantangnya untuk menghentikan sama sekali pembuatan

bendugan itu.

Sampai matahari turun rendah di langit Barat, maka seakan-akan

kerja itu berlangsung tanpa beristirahat. Betapa terik matahari telah

membakar kulit mereka, tetapi mereka sama sekali tidak

melepaskan pekerjaan mereka, seperti pada saat mereka baru

mulahi, satu dua hari.

Ketika malam kemudian turun menyelubungi Padang Karautan,

maka orang-orang Panawijen itu telah berkerumun di dalam gubug

masing-masing. Bitung kini telah dapat duduk bersama dengan

beberapa kawannya meskipun wajahnya masih pucat. Pagi-pagi

siang serta sore hari, Empu Gandring telah merawatnya dan

memberinya obat sekadarnya.

Namun dalam pada itu, ketika orang-orang Panawijen itu

mendapat kesempatan untuk beristirahat, mulailah terasa betapa

tubuh tubuh mereka dijalari penat dan lelah. Betapa kaki-kaki

mereka serasa menjadi hangus dan punggung-punggung mereka

hampir patah.

Seorang dua orang duduk menyelujurkan kaki-kaki mereka

sambil memijit-mijitnya. Orang-orang lain saling memijit punggung

berganti-gantian. Mahisa Agni sendiri telah berbaring-baring

dipembaringannya dengan bati yang lapang. Ia puas melibat kerja

yang telah mereka lakukan hari ini. Karena itu, maka hatinya pun

menjadi gembira. Dalam kegembiraan itulah, anak muda itu jatuh

tertidur, meskipun malam belum begitu dalam. Tetapi kerja yang

keras, angin yang silir sejuk dan hati yang puas, telah membelai dan

menidurkannya terlampau cepat.

Tetapi yang terjadi digubug-gubug yang lain adalah jauh

berbeda. Anak-anak muda, orang-orang separo baya dan orangorang

tua, terdengar mengeluh tak berkeputusan. Kerja hari ini

ternyata agak berlebih-lebihan bagi mereka. Setelah beristirahat

satu hari, mereka telah bekerja melampaui kemampuan wajar

mereka. Dengan demikian maka tubuh-tubuh mereka menjadi sakit

dan penat, sehingga mereka itu menjadi agak sukar untuk segera

dapat menikmati mimpi.

Dalam malam yang semakin dalam itu terdengar seseorang

mengeluh, “Betapa sakit lenganku. Siang tadi aku terlampau banyak

mengangkat batu-batu. Batu-batu besar yang biasanya tidak

terangkat, siang tadi aku angkat juga seorang diri”.

“ Kenapa kau paksakan juga temanmu?”

Orang itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Tetapi nafsuku bekerja

ternyata melonjak-lonjak. Mahisa Agni seakan telah mendorongku

dengan kemauan yang segar. Tetapi akibatnya, tubuhku hampir

remuk dan lapuk”.

Kawannya tidak menyahut. Orang itu pulalah yang berkata,

“Hem. Apakah besok kita masih akan mengulagi lagi kerja semacam

ini”.

Tak ada yang menyahut. Dengan demikian maka orang itu pun

berhenti berbicara.

Semetara itu malam menjadi bertambah malam. Angin yang

dingin berhembus menjentuh atap-atap ilalang yang berpencaran di

sudut kecil Padang Karautan yang luas itu. Disana-sini tampak

berkerdipan pelita-pelita minyak dan api-api perapian yang tinggal

membara.

Akhirnya perkemahan itu pun terlempar dalam kesenyapan.

Orang-orang Panawijen itu pun kemudian tertidur pula dengan

nyenyaknya, meskipun ada pula yang menjadi gelisah karena

kelelahan. Bitung malahan kini telah menjadi agak baik. Tubuhnya

masih juga kadang-kadang menjadi panas, tetapi ia sudah tidak lagi

mengigau dan berteriak-teriak. Meskipun hanya sesuap, namun

anak itu telah mau menelan makanan. Tetapi orang yang kakinya

bengkak, masih saja merintih-rintih, juga dalam tidurnya. Serasa

mimpinya pun berceritera tentang kakinya yang sakit.

Namun malam tidak juga berkepanjangan. Pada saatnya, maka

membayanglah bayangan fajar. Bayangan yang memberi Mahisa

Agni berbagai macam harapan. Anak muda itu terbangun seperti

biasa ia bangun. Yang pertama-tama ditatapnya adalah langit yang

kemerah-merahan. Di dalam hatinya ia berkata, “Kalau kau datang,

aku menyambutmu dengan gairah. Sebab kau adalah pertanda

bahwa saatnya telah tiba untuk melakukan kerja”.

Sejenak kemudian seluruh perkemahan itu pun telah terbangun.

Mahisa Agni dengan gembira melihat orang-orang Panawijen

mempersiapkan alat-alat mereka. Seperti kemarin, Mahisa Agni

melihat gairah yang besar dari orang-orang Panawijen itu. Tetapi di

antara mereka, beberapa orang telah mulai mengeluh pula di dalam

hatinya.

Ketika rombongan orang-orang Panawijen itu mulai berangkat ke

tempat kerja masing-masing, maka di kejauhan berpacu seekor

kuda yang tegar. Di punggungnya bertengger seorang yang

bertubuh kasar, sekasar tebing pegunungan padas. Dengan

mengumpat-umpat orang itu memacu kudanya menjauhi

perkemahan orang-orang Panawijen. Meskipun kuda itu tidak ber

pelana, namun agaknya penunggangnya sama sekali tidak

terpengaruh olehnya.

“Kapan aku mendapat kesempatan itu lagi” gerutu penunggang

kuda itu, wajahnya yang kasar menjadi semakin kasar dan keras,

“Kakang Kebo Sindet hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu”

orang itu berhenti sejenak.

Ketika ia berpaling maka perkemahan orang-orang Panawijen

pun sudah tidak tampak lagi. Penunggang kuda itu adalah Wong

Sarimpat. Ia datang kembali ke Padang Karautan itu untuk melihat

kemungkinan, apakah mereka akan mendapat kesempatan baru

untuk menangkap Mahisa Agni. Tetapi agaknya kesempatan itu

masih belum diketemukan oleh Wong Sarimpat. Sehingga kakaknya

selalu marah saja kepadanya. Kebo Sindet menganggap bahwa

kebodohannyalah yang telah menyebabkan rencana itu selalu

tertunda. Bahkan Wong Sarimpat memaksa dirinya semalam

merayap mendekati perkemahan itu. Namun ia masih belum melibat

cara yang sebaik-baiknya untuk berbuat sesuatu. Kali ini pun ia akan

datang kepada kakaknya dengan laporan yang masih akan

membuat kakaknya mengumpatinya.

“Besok aku akan datang lagi,” gumamnya, “setiap kali aku akan

datang. Suatu saat pasti akan aku ketemukan cara untuk

menangkapnya. Bahkan aku pasti mampu menebus kegagalanku.

Aku akan menangkap Mahisa Agni seorang diri. Tanpa kakang Kebo

Sindet. Aku yakin, bahwa Empu Gandring suatu ketika akan terpisah

dari Mahisa Agni”.

Wong Sarimpat itu pun memacu kudanya lebih cepat lagi. Ia

ingin segera sampai di rumah untuk beristirahat. Baru kemarin lusa

ia gagal menangkap Mahisa Agni, semalam ia sudah harus berada di

Padang Karautan itu kembali. Meskipun Wong Sarimpat bukan orang

yang mudah menjadi lelah, tetapi ia menjadi jemu mengintai saja di

padang yang dingin itu. Lebih baik ia menyerbu saja ke perkemahan

orang-orang Panawijen itu, dari pada duduk memeluk lutut sambil

melihat-lihat apabila ada orang yang hilir mudik ke luar

perkemahan. Tetapi pesan kakaknya lebih menjemukan lagi

baginya. Ia hanya boleh melihat kebiasaan Mahisa Agni. Bagaimana

anak muda itu hidup diperkemahannya. Apakah kadang-kadang ia

berjalan-jalan keluar lingkungannya atau kebiasaann-kebiasaan lain

yang memungkinkan untuk mengambilnya tanpa diketahui oleh

orang lain. Apabila ia melihat Mahisa Agni pergi ke Panawijen, ia

harus segera berpacu pulang. Ia akan datang kembali bersama

kakaknya untuk mencegah Mahisa Agni kembali ke perkemahannya.

“Itu adalah pekerjaan gila” gerutunya sambil memacu kuda di

antara gerumbul-gerumbul di Padang Karautan.

Perjalanan ke Kemundungan tidak lebih dekat daripada

Panawijen. Namun kemudian dibantahnya sendiri, “tetapi kakang

Kebo Sindet memperhitungkan bahwa Mahisa Agni pasti berbuat

sesuatu yang memerlukan waktu di Panawijen”.

Kuda itu pun kemudian berpacu lebih cepat.

Sementara itu, orang-orang Panawijen pun telah mulai sibuk

dengan kerja masing-masing. Bahkan kali ini Empu Gandring pun

turut pula berada di antara orang-orang yang sedang bekerja itu.

Namun pikirnya selalu diganggu oleh gumpalan debu yang lamatlamat

sekali dapat dilihatnya pagi tadi jauh dari perkemahan.

“Debu itu seakan-akan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda”

gumamnya di dalam hati. Tetapi ia tidak sempat melihat kuda

berlari meninggalkan Padang Karautan pergi ke Kemundungan.

Tanpa disengaja, maka Empu Gandring itu mencari

kemanakannya. Ketika dilihatnya anak muda itu bekerja dengan

sepenuh tenaga, maka kembali ia bergumam di dalam hatinya,

“Kasian anak itu. Ia menghadapi rintangan dari luar dan dari

lingkungannya sendiri. Muda-mudahan ia tabah dan bendungan ini

akan dapat berwujut. Dengan demikian, maka Mahisa Agni akan

mendapat kepuasan sebagai imbalan kerjanya. Hanya kepuasan

itulah yang diharapkannya dalam perjuangannya. Ia akan puas

melihat hari depan Panawijen telah mendapat alas yang kuat.

Sedang ia sendiri sampai saat ini masih seorang diri”. Dan hati

orang tua itu pun menjadi semakin iba ketika ia melihat beberapa

orang telah menjadi kendor dan segan mengangkat alat-alat di

tangannya.

Tetapi Mahisa Agni sendiri, yang tenggelam ke dalam kerja yang

mantap, hampir-hampir tak dapat melihat keadaan itu. Anak-anak

muda di sekitarnya pun bekerja dengan giatnya, hampir seperti

dirinya sendiri. Meskipun demikian, namun Mahisa Agni merasakan

pula, bahwa kerja hari ini sudah mulai berkurang dari pada kerja

yang kemarin. Tetapi dalam tanggapan Mahisa Agni, hal itu adalah

karena tenaga mereka yang memang tidak setahan dirinya sendiri.

Hari itu Mahisa Agni masih dapat tersenyum. Ketika matahari

kemudian turun ke Barat, maka orang-orang Panawijen itu pun

segera meninggalkan kerja mereka. Mahisa Agni memandangi iringiringan

itu dengan hati yang mantap. Bahkan ia begumam, “Kalau

mereka tetap bekerja seperti ini, maka aku yakin, orang-orang

Panawijen akan segera dapat menikmati basil kerjanya”.

Mahisa Agni itu berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata

disampingnya, “Marilah, kita pulang Agni”.

“Oh” desis Agni, “Marilah paman. Mereka berdua pun kemudian

berjalan membelakangi iring-iringan orang Panawijen yang dengan

lelah kembali ke perkemahannya.

Tetapi hari-hari berikutnya, Mahisa Agni tidak lagi melihat gairah

kerja yang membesarkan hatinya itu. Ia tidak lagi tersenyum di

dalam tidurnya. Kerja orang-orang Panawijen itu pun mulai

mengendor lagi. Bahkan beberapa orang kemudian berkata

kepadanya, “Besok aku tidak dapat ikut serta Agni. Punggungku

sakit”. Yang lain berkata, “Kakiku hampir patah Agni. Kelak apabila

sudah sembuh aku akan bekerja kembali”. Dan yang lain lagi

berkata, “Kepalaku pening Agni. Ternyata aku tidak tahan terik

matahari yang memanasi rambutku, sehingga setiap kali kepalaku

menjadi sakit seperti ditusuk-tusuk di pelipisku”.

Alangkah kecewanya anak muda itu. Hampir-hampir ia

kehilangan kesabaran. Tetapi pamannya selalu menasehatinya.

Kerja itu harus didasari oleh kerelaan hati. Kerja itu bukan kerja

paksa. Karena itu maka pekerjaan Mahisa Agni adalah memberi

mereka kesadaran untuk bekerja, bukan memaksa mereka dengan

mengancam dan menakuti.

Mahisa Agni mengerti nasehat itu. Tetapi ia sudah kehabisan cara

untuk memberi pengertian yang wajar kepada orang Panawijen itu.

Bahkan satu dua, orang di antara mereka telah mulai lagi

mengumpati Empu Purwa yang merusak bendungan lama di

Panawijen. Meskipun bendungan itu di buatnya sendiri, tetapi

bendungan itu kemudian telah menjadi milik rakjat Panawijen,

bendungan itu telah menjadi sumber penghidupan mereka.

“Apakah kita cukup dengan menyesali pecahnya bendungan yang

lama” suatu ketika Mahisa Agni mencoba memberi penjelasan,

“dengan menyesal dan mengumpat kita tidak akan mendapat

bendungan yang baru”.

Tetapi hatinya menjadi pedih ketika ia mendengar seorang

bertanya, “Kapan kita berhenti bekerja Agni?”

“Tidak ada batas yang dapat kita lampaui. Selama kita masih

merasa bahwa kita bertanggung jawab terhadap keadaan kita

sendiri, keadaan masyarakat kita dan anak cucu kita di masa yang

akan datang. Kerja adalah isi dari hidup kita. Karena itu kerja akan

berlangsung sepanjang umur kita masing-masing”.

Hati Mahisa Agni itu menjadi semakin pedih ketika ia mendengar

jawaban, “Tetapi aku sudah jemu Agni. Aku sudah jemu berjemur di

terik matahari, sedang apabila malam dilanda oleh udara dingin di

padang yang sepi ini. Aku ingin segera berada kembali di antara

keluargaku. Isteriku dan anak-anakku.

“Apakah kau cukup berada saja di dekat isteri dan anak-anakmu

tanpa suatu kepastian buat masa datang? Buat anak-anakmu itu?

Apakah kau pasti bahwa anak-anakmu itu akan dapat makan dari

tanah yang kering di Panawijen?”

Orang itu terdiam. Tetapi wajahnya sama sekali tidak

membayangkan pengertiannya akan kata-kata Mahisa Agni,

sehingga Mahisa Agni berkata terus, “Tidak saudaraku-saudaraku.

Tanah yang kering itu tidak akan dapat memberi kita harapan”.

“ Tetapi bendungan ini pun akan merusak tubuh kita”.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menahan

perasaannya. Katanya, “Itu terlampau berlebih-lebihan kerja pasti

mengeluarkan tenaga. Mungkin satu dua di antara kita tidak tahan

melawan udara yang panas dan dingin. Tetapi sebagian besar dari

kita harus mampu mengatasinya”.

Dada Mahisa Agni bergelora ketika ia melihat beberapa kepala

menggeleng lemah.

Mahisa Agni masih mencoba mengulangi kata-katanya yang

beberapa saat yang lampau dapat membangkitkan gairah kerja

kembali. Katanya, “Kerja ini adalah kerja kalian. Aku adalah seorang

di sini. Kalau kerja ini terhenti, aku pun tidak akan mengalami

kesulitan apa-apa. Aku akan dengan mudahnya dapat mencari

penghidupan di Tumapel. Tetapi bagaimana dengan kalian? Apalagi

yang mempunyai keluarga yang besar”.

Jawaban yang didengar oleh Mahisa Agni kali ini berbeda dengan

jawaban yang terdahulu. Bahkan jawaban itu seakan-akan telah

menghentikan arus darah di urat-urat nadi anak muda itu, “Agni,

jangan kau merasa dirimu jauh lebih baik daripada kami. Meski pun

kami tidak mampu berkelahi tidak mampu menjadi prajurit, tetapi

segi kehidupan seseorang bukanlah hanya berkelahi saja. Aku pun

akan dapat mencari penghidupan di tempat-tempat lain. Mungkin

menjadi undagi, mungkin menjadi pekatik atau bertani di tempattempat

baru yang sudah terbuka”.

“Oh,” tanpa disengaja Mahisa Agni tiba-tiba memegangi

kepalanya dengan kedua tangannya, seakan-akan kepalanya itu

akan terlepas dari lehernya. Dadanya yang bergelora terasa menjadi

sesak, dan dengan demikian Mahisa Agni justru terbungkam. Ia

tidak mampu lagi berkata apapun kepada orang-orang Panawijen

itu. Ketika orang-orang itu kemudian satu-satu meninggalkannya,

maka Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak lagi mampu

mengucapkan kata-kata. Yang didengarnya kemudian adalah,

“Sudahlah Agni. Lepaskanlah keinginanmu membuat bendungan itu

dengan mengumpankan kami. Biarkanlah kami mencari jalan

sendiri-sendiri”.

Kepala Mahisa Agni menjadi pening karenanya. Sama sekali tidak

disangkanya bahwa ada di antara orang-orang Panawijen yang

menganggap bahwa apa yang dilakukannya itu adalah suatu

perbuatan yang sangat merugikan orang-orang lain di Panawijen.

Bahkan ada orang yang merasa dirinya menjadi alat untuk

kepentingan Mahisa Agni.

Hati anak muda itu menggelegak. Berdesak-desakan kata-kata di

dalam hatinya untuk membantah anggapan itu. Ingin ia berteriak,

tetapi mulutnya seakan-akan terbungkam. Seribu kali ia

menjelaskan apa yang sedang dilakukannya kini. Setiap kali orangorang

Panawijen itu pada saat-saat yang lampau menjadi gairah

kembali atas kerja mereka apabila mereka mendengar keterangan

Mahisa Agni tentang bendungan itu. Tetapi kali ini kata-katanya

sama sekali tidak berarti bagi mereka, bahkan mereka menganggap,

seakan-akan umpan saja untuk kesenangannya.

“Tidak. Aku sama sekali tidak bekerja untuk kemasyuran namaku.

Aku tidak ingin di atas bendungan ini kelak dipahatkan namaku.

Mahisa Agni. Tidak. Aku membuat bendungan bersama dengan

kalian karena aku ingin melihat kalian mendapat sesuatu. Kalian

tidak akan kehilangan lingkungan kehidupan Aku bekerja bukan

untuk kepentinganku sendiri”. Tetapi kata-kata itu hanya bergumul

saja di dalam dadanya. Sihingga dengan demikian nafasnya justru

menjadi semakin sesak.

Sekali-kali terdengar Mahisa Agni, “Inikah tanggapan orangorang

Panawijen atas jerih payahku” katanya di dalam hati.

Ketika Mahisa Agni kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya

udara telah disaput oleh malam yang turun perlahan-lahan. Bintangbintang

berhamburan memencar dari ujung ke ujung langit yang

lain. Gemerlapan. Tetapi hati Mahisa Agni sendiri kini menjadi

betapa suramnya. Ditatapnya padang yang luas terbentang

dihadapannya, seakan-akan tidak bertepi, menjorok masuk ke

dalam kegelapan malam di kejauhan.

Kini ia duduk seorang diri di sisi perkemahannya. Orang-orang

Panawijen telah masuk ke dalam gubug masing-masing. Satu dua

dilihatnya anak-anak muda duduk di sekitar perapian yang menyala.

Perlahan-lahan Mahisa Agni bangkit. Dengan langkah yang berat

ia berjalan ke gubugnya. Perasaannya dibebani oleh ke pedihan hati

dan hampir keputus-asaan. Ia tidak tahu lagi, bagaimana ia harus

berkata untuk meyakinkan maksudnya yang baik justru untuk

kepentingan orang-orang Panawijen itu sendiri.

Dari celah-celah dinding anyaman bambu yang jarang ia me lihat

beberapa telah berbaring di dalam gubugnya. Tetapi tiba-tiba

langkah Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat beberapa orang

membenahi bungkusan. Dengan serta merta Mahisa Agni berbelok

masuk ke dalamnya.

Orang-orang itu pun terkejut. Tetapi sejenak kemudian mereka

seakan-akan menjadi acuh tidak acuh. Diteruskaunya kerjanja

berbenah-benah. Ketika Mahisa Agni melihat apa yang sedang

dibenahi itu, hatinya berdesir-desir. Tanpa disadarinya terloncat

kata-kata dari bibirnya, “Apakah artinya ini?”

Orang itu berpaling. Hanya sejenak. Kembali mereka minjadi

acuh tak acuh. Meski pun demikian salah seorang dari mereka

menjawab, “Aku membenahi pakaian Agni”

“Kenapa?, “ bertanya Agni.

“Aku besok akan kembali ke Panawijen”.

Darah Mahisa Agni serasa membeku mendengar jawaban itu.

Sejenak ia diam mematung. Ditatapnya saja orang itu membungkus

beberapa potong pakaiannya dan beberapa macam peralatan kecil.

Di sudut gubug itu Mahisa Agni melihat seikat alat-alat yang lebih

besar. Cangkul, kelewang pemotong kayu dan sebuah kapak.

Baru sejenak kemudian ia mampu bertanya, “Kenapa kalian akan

kembali ke Panawijen?”

“Aku sudah jemu berjemur diterik matahari. Beberapa orang

menjadi sakit. Ada yang bengkak kakinya, ada yang sakit panas

dingin, ada yang punggungnya patah. Mungkin kau tidak melihatnya

Agni”.

“Bukankah Bitung telah sembuh?” bertanya Agni.

“Ya, Bitung telah sembuh. Tetapi ada tiga anak yang sakit seperti

gejala-gejala sakit Bitung ketika baru mulai”.

“Oh. Aku memang belum tahu. Kenapa tidak ada yang

mcmberitahukannya kepadaku? Paman telah menanam beberapa

batang Kates Grandel di sini. Mungkin satu dua dapat diambil untuk

mengobatinya”.

Orang itu menggeleng, “Tidak banyak manfaatnya. Kalau

ketiganya nanti sembuh, maka yang sepuluh akan menderita sakit

serupa. Karena itu sebelum aku menderita pula seperti mereka lebih

baik aku kembali ke Panawijen. Apabila benar-benar menjadi kering,

aku akau mengungsi ke tempat lain. Mungkin aku dapat mencari

kemanakanku ke Gangsa atau mencari pamanku ke Sambitan”.

“Apa yang kalian lakukan akan mempunyai pengaruh yang

sangat jelek bagi orang-orang lain”.

Orang itu mengangkat bahunya. Sejenak mereka saling

berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka menjawab,

“Terserah kepada mereka masing-masing Agni. Karena itu

nasehatku kepadamu Ngger, tinggalkan saja keinginanmu untuk

membangun bendungan ini. Memang, kelak namamu akan tetap

dikenal oleh anak cucu apabila bendunganmu mu berwujud tetapi

jangan membiarkan korban terlampau banyak untuk kepentingan

itu”.

Sekali lagi dada Mahesa Agni serasa terhantam reruntuhan

Gunung Kawi. Hampir-hampir ia kehilangan kesabaran. Bahkan

hampir-hampir ia berbuat sesuatu untuk melepaskan

kemarahannya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika terdengar suara di

luar gubug itu, “Ya, Agni berada di dalam”.

Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya seorang anak muda yang pucat

berdiri di muka pintu. Ketika dilihatnya Mahisa Agni, maka katanya,

“Agni, aku memerlukan kau”.

“Kenapa?”

“Wajahku menjadi panas, tetapi tubuhku terasa dingin”.

Orang-orang yang sedang berbenah itu menyahut, “Itu adalah

gejala-gejala seperti penyakit Bitung”.

Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. Selangkah ia maju

masuk ke dalam gubug. Dengan suara gemetar ia berkata, “Apakah

aku akan sakit seperti Bitung?”

Yang menjawab adalah salah seorang yang berada di dalam

gubug dan sedang membenahi pakaiannya, “Ya, kau akan sakit

seperti Bitung. Bukan hanya kau, telah ada tiga orang lagi yang

akan sakit seperti kau”.

Anak muda itu menjadi semakin cemas. Tiba-tiba ia berkata,

“Agni, aku takut”.

Dada Mahisa Agni yang bergelora itu menjadi kian bergolak.

Dengan suara bergetar ia bertanya, “Kenapa kau takut?”

“Aku tidak mau sakit”.

“Kami telah menyimpan obatnya. Bukankah Bitung kini telah

berangsur sembuh?”

Anak muda itu terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia berkata,

“Tetapi siapakah yang akan mengurus aku selama aku sakit?”

Selagi kau belum sakit, besok aku akan membuat obat untukmu.

Aku masih ada persediaan obat itu, bahkan telah ditanam pula

beberapa batang oleh paman Empu Gandring di sini, dan kini telah

mulai tumbuh subur.

“Tetapi aku takut Agni. Kalau aku sakit, aku akan kembali kepada

ibuku”.

“He” Mahisa Agni menahan nafasnya, “ kau masih juga biyungbiyungan”.

Anak itu terdiam. Tetapi yang menjawab adalah orang lain yang

sejak semula telah berada di tempat itu, “Biarlah ia kembali ke

ibunya Agni”. Kepada anak muda itu ia berkata, “Benahilah

pakaianmu. Besok kembali bersama aku ke Panawijen”.

“Apakah paman akan kembali ke Panawijen?”

“Ya, besok aku akan kembali”.

“Baik, baik paman” wajah anak muda yang pucat itu tiba-tiba

menjadi cerah. Tanpa kerkata sepatah kata pun lagi ia berlari

meninggalkan gubug itu.

Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Perasaannya bergejolak semakin dahsyat, tetapi ia tidak dapat

berbuat sesuatu. Karena itu, maka dadanya sendirilah yang terasa

menjadi pepat.

“Maafkan kami Agni” terdengar salah seorang itu berkata, “Aku

tidak dapat mengikuti jalan pikiranmu. Bendungan itu bagi kami

hanyalah tinggal suatu mimpi yang mengagumkan.

“Tidak” terdengar suara Mahisa Agni bergetar, “aku aku akan

mewujudkan bendungan itu. Kalian akan melihat kelak tanah ini

menjadi subur. Tanam-tanaman akan menjadi hijau segar seperti

beberapa batang Kates Grandel yang ditanam oleh paman Empu

Gandring. Baru beberapa hari saja, pohon karena itu telah menjadi

tiga kali lipat tingginya dari pada alat batang itu ditancapkan di

tanah”.

Orang itu itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Mudah-mudahan Agni. Tetapi aku tidak akan turut serta”.

Wajah Mahisa Agni menjadi merah karena perasaan yang

bercampur baur di dalam dadanya. Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia

berkata, “Terserah kepada kalian. Kami di sini tidak tergantung

kepada satu dua tiga orang yang sama sekali tidak mempunyai

tanggung jawab buat masa mendatang. Pergilah kalau kalian akan

pergi. Orang-orang semacam kalian pasti hanya akan

memperlambat pekerjaan dan mengendorkan nafsu bekerja”.

“Agni” potong orang-orang itu, dan salah seorang di antara

mereka meneruskan, “kata-kata itu terlampau kasar buat kami”.

“Hatiku terlampau sakit melihat sikap kalian dan alasan kalian

yang tidak masuk akal bagiku”.

Orang-orang itu tidak menjawab lagi. Tetapi mereka kini

membenahi pakaian mereka dengan tergesa-gesa, “Aku akan segera

pergi”.

“Pergilah. Mudah-mudahan Hantu Karautan menyadap darahmu”

desis Mahisa Agni hampir-hampir tidak dapat mengendalikan diri.

Tiba-tiba orang-orang itu mcnjadi pucat. Mereka takut

mendengar Agni menyebut Hantu Karautan, sejenak mereka saling

berpandangan. Kemudian berkatalah salah seorang dari mereka,

“Kami akan pergi pagi-pagi besok”.

“Kalian akan kemalaman di jalan”.

“Terpaksa kami akan membawa kuda-kuda kami, seekor buat

dua orang”.

“He” kembali Mahisa Agni terkejut. Kuda yang ada di padang itu

di antaranya memang milik orang-orang itu. Dua di antara mereka.

Tetapi apa boleh buat. Dengan lemahnya Agni berkata, “Bawalah.

Kau sangka hantu Karautan tidak dapat mengejarmu lebih cepat

dari lari seekor kuda. Dan kudamu akan mati kelelahan”.

Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengar jawaban mereka lagi

supaya hatinya tidak bertambah panas. Segera ia melangkah

meninggalkan gubug itu. Hatinya mcnjadi kian risau dan gelisah.

Pasti bukan hanya orang-orang itulah yang berperasaan demikian.

Apabila seorang mulai dengan yang meyakinkan hatinya itu, maka

orang-orang lain pasti akan mengikutinya.

Langkah Mahisa Agni tersendat-sendat di antara gubug-gubug

yang berserakan. Tetapi tiba-tiba ia mereka takut untuk melihat

keadaan di dalam gubug-gubug itu. Takut bahwa ia akan melihat

orang-orang yang lain berbenah lagi seperti yang baru saja

dilihatnya Atau orang-orang yang sedang terkena penyakit seperti

sakit Bitung. Atau yang kakinya bengkak dan punggungnya terkilir.

Tiba-tiba Mahisa mempercepat langkahnya. Tanpa

dikehendakinya sendiri ia berjalan cepat-cepat meninggalkan

perkemahannya, masuk kedalam gelapnya malam.

Anak muda itu sadar, ketika ia sudah berdiri di sisi bendungan

yang sedang dikerjakannya. Dengan hati yang pedih ia berjalan

menyelusuri brunjung-brunjung yang sudah dan belum terisi batu.

Disentuh-sentuhnya benda itu dengan tangannya seperti ia sedang

membelai anak-anak kesayangannya. Di sana-sini, teronggok patokpatok

bambu yang sudah siap diruncingkan. Besok benda-benda itu

akan diturunkan ke kali. Tetapi, siapakah yang akan melakukannya,

apabila orang-orang Panawijen itu satu-satu meninggalkannya?

Apakah ia sendiri, bersama Ki Buyut dan Empu Gandring mampu

melakukanya?

Alangkah gelisahnya hati Mahisa Agni. Terbayang di dalam

angan-angannya, benda-benda itu akan terbengkelai. Brunjungbrunjung

dan segala macam perlengkapan. Semuanya itu akan

teronggok untuk seterusnya. Tak akan ada lagi tangan yang

menyentuhnya. Tak ada lagi yang menaruh perhatian atasnya.

Kalau kelak beberapa tahun lagi ia sempat datang ke tempat itu

pula. Sama sekali tidak berubah seperti saat ditinggalkannya. Hanya

apabila kerangka-kerangka bambu itu menyadi lapuk, batu-batu itu

pun akan berserakan di sekitarnya, untuk seterusnya tergolek saja

disitu. Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia

meletakkan tubuhnya duduk di atas sebuah brunjung yang sudah

berada di sisi dasar bendungan. Dari tempat duduknya Mahisa Agni

dapat melihat air yang mengalir hampir dibawah kakinya. Air itu

sebenarnya sudah tampak naik dan tergenang beberapa cengkang

dari dasarnya.

“Apakah pekerjaan ini akan terhenti?” gumamnya seorang diri. Ia

akan dapat membayangkan, seandainya satu dua orang saja yang

meninggalkan kerja itu, maka sehari dua hari lagi, hal itu pasti akan

menjalar kepada orang-orang lain. Mereka pun akan segera

meninggalkan padang ini, untuk seterusnya berpencaran mencari

tempat-tempat baru di padukuhan-padukuhan yang telah terbuka.

Mungkin sekedar menjadi pekerja, atau pencari kayu,atau

pekerjaan-pekerjaan lain yang dapat mereka lakukan, sekedar untuk

mendapatkan upah.

“Kenapa mereka tidak mempertahankan harga diri meskipun

pada permulaannya semuanya dilakukan dengan prihatin”

gumamnya seorang diri, “Meskipun kini mereka harus membanting

tulang, tetapi mereka tidak perlu mencari belas kasian orang lain.

Mereka kelak akan menikmati hasil tangan sendiri”.

Tetapi orang-orang Panawijen berpendirian lain. Mereka tidak

setabah Mahisa Agni menghadapi kesulitan. Setelah berpuluh tahun

mereka hidup dengan senang, setiap cengkang tanah memberi

mereka makan, setiap dahan yang ditancapkan akan berbuah, maka

mereka benar-benar menjadi pekerja-pekerja yang kurang baik.

Dengan hati yang risau Mahisa Agni duduk tepekur.

Dipandanginya arus sungai yang gemericik membawakan lagu yang

rawan, seperti lagu yang bergema didalam hati Mahisa Agni itu

sendiri.

Dalam pada itu Mahisa Agni sama sekali tidak merasakan, bahwa

sepasang mata selalu saja memperhatikannya. Jarak mereka

memang belum terlampau dekat. Tetapi ketajaman mata itu dapat

melihat bahwa seseorang duduk termenung di sisi bendungan yang

sedang dibangun.

“Pasti Mahisa Agni” gumam orang itu, “tak ada orang lain yang

berani keluar seorang diri dari perkemahannya”.

Orang itu berwajah beku seperti wajah sosok mayat.

Kebo Sindet. Selama ini ia tidak sabar lagi menunggu adiknya

setiap kali kembali dengan laporan yang sama. Belum ada

kesempatan. Karena itu, maka kini ia ingin melihat sendiri, apakah

yang dikatakan adiknya itu benar.

Karena itu, ketika dilihatnya seorang anak muda duduk saorang

diri disisi bendungan yang sedang dikerjakan itu, Kebo Sindet

mengumpat didalam hatinya, “Wong Sarimpat benar-benar anak

yang malas. Mungkin ia tidak telaten menunggu kesempatankesempatan

seperti ini. Bukankah mudah sekali untuk

menerkamnya, memijit tengkuknya dan membawanya ke

Kemundungan?” tetapi kemudian dijawabnya sendiri, “Ah, agaknya

pesanku yang telah mengekangnya. Aku mengharap ia tidak

berbuat sendiri, supaya tidak mengalami kegagalan seperti yang

pernah terjadi. Tetapi orang itu benar-benar bodoh. Sebenarnya ia

dapat mempergunakan kebijaksanaan. Kesempatan serupa ini tidak

boleh lewat”.

Kebo Sindet tersenyum di dalam hati. namun wajahnya yang

beku masih saja membeku. Dikepalanya telah berputar berbagai

rencana dengan anak muda yang bernama Mahisa Agni itu. Dari

Kuda Sempana ia akan menerima hadiah yang cukup. Seterusnya ia

akan dapat melontarkan kesalahan kepada Empu Sada.

Kebo Sindet itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia

mengumpat perlahan-lahan, “Wong Sarimpat benar-benar bodoh.

Empu Gandring pasti akan memperhitungkannya pula, apabila

Mahisa Agni hilang”.

Orang yang berwajah beku itu tertegun sejenak. Namun katanya

di dalam hati, “Hem, kami harus mengakui lebih dahulu, bahwa

kami mendapat permintaan dan kemudian bekerja bersama dengan

Empu Sada. Seterusnya, aku dapat mengatakan kepada permaisuri

itu, bahwa kami terpaksa membunuh Empu Sada, karena ternyata

maksudnya terlampau jahat. Sedang anak muda yang bernama

Mahisa Agni ternyata tidak bersalah, apalagi ia adalah adik tuan

puteri Ken Dedes. Dan kami akan merebut Mahisa Agni. Namun

sayang, anak muda itu telah menjadi cacat karena perlakuan Empu

Sada dan Kuda Sempana. Buta, tuli dan bisu” Kebo Sindet

mengangguk-anggukkan kepalanya, “Meskipun Mahisa Agni telah

cacat, namun adiknya yang terlampau mengasihinya dan kini

menjadi seorang permaisuri itu pasti akan memberi kami hadiah.

Apalagi kalau kami sempat menyerahkan Kuda Sempana pula.

Mungkin Kuda Sempana harus menjadi bisu pula supaya tidak dapat

mengatakan apapun lagi. Tetapi seandainya tidak, maka katakatanya

pasti tidak akan dipercaya, sebab selama ini Kuda Sempana

lah yang selalu mengejar-ngejar Mahisa Agni”. Namun Kebo Sindet

itu berguman, “Tentu saja tidak terlampau sederhana seperti itu,

tetapi gambaran yang demikian bukan berarti terlampau jauh”.

Kembali Kebo Sindet memandangi bayangan yang duduk

termenung itu. Perlahan-lahan ia merayapi tebing supaya Mahisa

Agni tidak melihatnya. Ia akan muncul dengan tiba-tiba dan

menerkamnya, langsung menekan urat-urat lehernya dan membuat

anak itu pingsan.

Tetapi Kebo Sindet itu terkejut. Agak jauh ia mendengar suara

batuk-batuk. Tetapi semakin lama semakin dekat.

Dan ia mengumpat habis-habisan di dalam hatinya ketika ia

mendengar anak muda itu menyapa, “Siapa?”

Bayangan yang mendatang itu tidak segera menjawab. Perlahanlahan

ia melangkah semakin dekat.

Kebo Sindet yang bersembunyi di sisi tebing di balik rumpunrumpun

perdu segera melihat pula bayangan itu. Remang-remang di

dalam gelap malam berjalan mendekati Mahisa Agni

.

“Siapa?,” sekali lagi Mahisa Agni menyapanya. Tiba-tiba ia

menyadari, bahwa bahaya masih saja selalu mengerumuninya.

Karena itu maka segera ia berdiri tegak dan siap menghadapi setiap

kemungkinan.

Tetapi jawaban yang didengarnya telah mengendorkan

ketegangan uratnya, “Aku Agni”.

Namun Kebo Sindetlah yang kemudian menjadi tegang ketika ia

mendengar Agni menyahut, “Paman Empu Gandring?”

“Ya Agni”.

Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali di atas brunjungbrunjung

yang sudah penuh berdiri batu, sedang pamannya duduk

pula disampingnya. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadari

bahwa sepasang mata sedang mengintai mereka.

Alangkah kecewanya Kebo Sindet melihat kehadiran Empu

Gandring. Kembali ia mengumpat-umpat di dalam hatinya., “Setan

belang. Apakah yang dicarinya setan tua itu?” Namun tiba-tiba

timbullah pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah orang itu

mengetahui bahwa aku berada disini?”

Kebo Sindet mengatupkan giginya rapat, tetapi sorot matanya

seakan-akan memancarkan api kemarahannya., “Hem,” ia

menggeram di dalam hati, “Ternyata benar juga kata Wong

Sarimpat. Orang tua itu seolah-olah tidak pernah terpisah dari

kemanakannya. Tetapi ini akibat dari kelalaian Wong Sarimpat pula,

sehingga Empu Gandring menjadi semakin berhati-hati. Setiap kali

ia tidak melibat kemanakannya, maka pasti ia akan mencarinya.

Terasa dada orang itu bergelora, meskipun wajahnya masih saja

membeku. Namun Kebo Sindet ternyata lebih mampu

mengendalikan perasaannya dari pada adiknya. Seandainya yang

ada di tebing itu Wong Sarimpat, maka pasti ia akan melepaskan

kemarahannya. Mungkin ia akan melompat meskipun ia ia tahu

bahwa itu tidak akan ada gunanya.

Tetapi Kebo Sindet tidak berbuat demikian. Perlahan-lahan ia

malangkah surut semua tindakannya atas anak muda itu saat ini

pasti tidak akan berhasil. Karena itu, lebih baik menyingkir untuk

sementara sampai di saat lain ada kesempatan yang terbuka.

“Aku harus bersabar” katanya di dalam hati, “aku harus

menunggu keduanya menjadi lengah sehingga mereka melupakan

bahaya yang dapat mengancam anak muda itu”.

Empu Gandring dan Mahisa Agni sama sekali tidak tahu bahwa

seseorang sedang meninggalkan tepian itu sambil mengumpatumpat

tak putus-putusnya. Mereka tidak menyadari bahwa hampirhampir

saja Mahisa Agni diterkam oleh bahaya yang selalu

membayanginya. Seperti semula ia tidak tahu, bahwa orang-orang

Panawijen sendirilah yang akan menggagalkan rencana pembuatan

bendungan itu.

Ternyata Kebo Sindet cukup berhati-hati, sehingga ia tidak

menimbulkan kegaduhan. Kudanya yang ditambatkannya agak jauh,

tidak segera dipacunya. Tetapi dibiarkannya kuda itu berjalan

perlahan-lahan menjauh. Meskipun demikian, hatinya benar-benar

menjadi kecewa. Anak muda yang dicarinya itu seakan-akan telah

ada di dalam genggamannya. Tetapi tiba-tiba lepas kembali.

“Hem” gumamnya, “Wong Sarimpat pernah berkata demikian

pula beberapa saat yang lalu”.

Di atas bendungan yang sedang dikerjakan itu, Mahisa Agni dan

Empu Gandring masih saja duduk sambil berdiam diri. Mereka masih

saja memandangi arus air yang bergejolak menggelepar melanda

dasar bendungan yang sudah diletakkan di dasar sungai itu.

Angin malam yang sejuk berhembus perlahan-lahan mengusap

tubuh mereka. Dikejauhan terdengar lamat-lamat burung-burung

malam bersahut-sahutan, diantara derik suara bilalang.

Yang sejenak kemudian berkata memecah sepinya malam adalah

Empu Gandring. Dengan nada yang rendah ia bertanya, “Mahisa

Agni, apa kerjamu malam-malam disini?”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tetapi kembali wajah itu

menunduk memandangi air dibawah kakinya. Perlahan-lahan ia

menjawab, “Tidak apa-apa paman”.

Pamannya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah

kcmanakannya yang tunduk. Iba batinya terhadap anak itu menjadi

semakin dalam. Ia tahu apa yang telah terjadi diperkemahan. Ia

tahu bahwa beberapa orang telah membenahi diri dan besok akan

meninggalkan padang itu kembali ke Panawijen.

Karena itu maka katanya, “Agni, apakah kau sedang memikirkan

bendungan itu?”

Kembali Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak

menjawab.

“Apakah kau sedang dibingungkan oleh beberapa orang yang

besok akan kembali ke Panawijen?”

Mahisa Agni masih berdiam diri.

“Dan kau tidak dapat mencegahnya lagi?”

Akhirnya Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil berkata,

“Ya paman. Beberapa orang besok akan kembali ke Panawijen.

Kalau itu benar-benar terjadi, maka orang-orang yang lain pun akan

pergi juga dari padang ini, sehingga akhirnya aku akan kehabisan

kawan. Pasti tidak mungkin aku akan melakukannya sendiri”.

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya, kau

tidak akan dapat melakukannya sendiri. Tetapi bukankah kau masih

dapat mengharap beberapa orang akan tetap berada di padang ini

dan bekerja bersamamu?”

“Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang besar dan berat paman.

Aku memerlukan teman sebanyak-banyaknya yang dapat mengerti

arti perjuangan ini. Tetapi ternyata mereka sama sekali tidak dapat

membayangkan arti dari perjuangannya itu, sehingga sebagian dari

mereka menjadi jemu karenanya. Besok sebagian dari mereka akan

kembali. Lusa yang lain menyusul. Esok kemudian yang lain lagi,

sehingga akhirnya aku akan tinggal di sini seorang diri”.

Empu Gandring mengagguk-anggukkan kepalanya mendengar

keluhan Mahisa Agni itu. Ia dapat mengerti luka parah luka

dihatinya. Meskipun demikian orang tua itu berkata, “Agni, kau

adalah seorang anak muda. Karena itu jangan mengeluh dan lekas

berputus asa. Lakukan segala usaha, kau pasti akan menemukan

jalan. Bukankah usahamu ini adalah usaha yang baik. Yang Maha

Agung pasti akan menyertaimu”.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia percaya benar kepada

kekuasaan tertinggi diluar kemampuan jangkau otak manusia. Ia

percaya bahwa usahanya itu adalah usaha yang baik. Usaha untuk

kesejahteraan manusia, meskipun hanya dalam lingkungan yang

kecil.

Tetapi kali ini seakan-akan pekerjaannya sama sekali tidak dapat

berjalan dengan lancar. Seakan-akan Yang Maha Agung tidak

memberinya kesempatan untuk berbuat, untuk melakukan

pengabdian yang kecil ini. Ada saja rintangan-rintangan yang harus

dihadapinya. Dari dalam tubuh orang-orang Panawijen sendiri dan

dari luar lingkungan mereka.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Empu

Gandring itu pun berkata pula, justru langsung menjentuh perasaan

Mahisa Agni yang sedang diliputi oleh kerisauan itu, “Agni. Mungkin

tangan Yang Maha Agung itu tidak segera dapat kau rasakan.

Mungkin kau justru merasa sama sekali tidak mendapat tuntunan-

Nya. Tetapi kau barus mencari kesalahan itu pada dirimu sendiri.

Mungkin kau kurang tekun memanjatkan permohonan kepada-Nya.

Mungkin kau kurang prihatin. Tetapi mungkin juga kali ini

permohonanmu memang belum selayaknya dipenuhi seluruhnya.

Setiap kesulitan adalah pelajaran bagimu. Hanya kitalah yang

kadang-kadang tidak dapat menangkap maksud tuntunan itu.

Namun seandainya demikian buat kali ini, baiklah kita mencoba

meraba-raba maksud itu. Yang Maha Agung tidak akan memberikan

bendungan begitu saja. Tetapi pasti ada tuntunan bagi kita sekalian.

Kita ternyata mendapat latihan untuk bekerja keras dan berusaha

tidak mengenal putus asa”.

Empu Gandring diam sejenak. Ia ingin tahu, apakah yang

dirasakan oleh kemanakannya.

Sesaat kemudian berkatalah Mahisa Agni, “Paman bagaimana

aku akan dapat melangsungkan kerja tanpa orang-orang lain.

Mungkin aku dan Ki Buyut Panawijen dapat tinggal di sini dengan

kesadaran sepenuhnya, bahwa apa yang kita lakukan ini akan

berarti tidak saja buat masa depan yang dekat, tetapi juga buat

masa-masa mendatang. Buat anak cucu. Namun apakah arti kami

berdua, dan mungkin juga paman untuk beberapa lama, karena

mustahil paman akan dapat tinggal bersama kami terus-menerus,

karena paman mem punyai padepokan dan beberapa orang cantrik.

Apakah yang dapat kita lakukan untuk melawan alam yang garang

dan kasar ini?”

“Agni” berkata pamannya, “kau hanya melihat kekuatan lahiriah.

Kau melupakan kekuatan yang tidak kasat mata. Ingatkah kau Agni,

apa yang pernah dilakukan oleh gurumu? Aku pernah mendengar,

dan kau pernah pula mengatakan kepadaku. Bagaimana ia

membuat bendungan di Panawijen?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dan pamannya berkata

seterusnya, “Gurumu, Empu Purwa bekerja seorang diri. Hanya

dengan beberapa orang cantrik yang setia dan beberapa orang

dalam jumlah yang sangat kecil, ia berhasil membangun

bendungan, meskipun sampai berbilang tahun. Apakah kau sangka

Empu Purwa mempunyai Aji Bala Srewu yang berwujud seribu

raksasa untuk membantunya membangun bendungan itu? Tidak

Agni. Bala Srewu milik gurumu adalah ketekunannya berlandaskan

pada kepercayaannya kepada Yang Maha Tinggi. Gurumu tidak akan

mampu membuat apa pun tanpa tuntunan-Nya. Tanpa Tangan-Nya

Yang Agung. Adalah di luar akal, bahwa gurumu dan beberapa

orang saja mampu membuat bendungan itu, apabila tidak ada

kekuasaan yang melampaui segala kekuasaan ikut membantunya”.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Terasa jantungnya berderakderak

seperti akan meledak. Kata-kata pamannya serasa menyentuh

batinnya dan mengalir menelusur urat-urat darahnya, memanasi

seluruh bagian tubuhnya.

Kata-kata itu bagaikan kekuatan yang tidak ada taranya

menyusup ke dalam dirinya.

Mahisa Agni itu pun tiba-tiba menengadahkan wajahnya. Kini

seakan-akan ia telah menemukan dirinya dan menemukan gairah

serta nafsu yang menyala-nyala itu kembali. Ketika ia melihat langit

diatas kepalanya, kini dilihatnya bintang gemintang berbinar terang

bergayutan pada tabir yang biru gelap. Terdengar suara derik

jengkerik seperti suara genderang perang, serta suara burungburung

malam yang memekik-mekik itu, seperti suara sangkakala

yang berbunyi dari celah-celah langit.

Tiba-tiba terdengar anak muda itu menggeram, “Ya, paman. Aku

menyadari keadaanku. Aku telah terseret oleh arus keputus-asaan.

Aku melupakan setiap kemungkinan, yang teraba dan yang tidak

teraba oleh panca indera. Karena itu, aku berjanji paman, bahwa

aku akan berusaha sampai kemungkinan yang terakhir untuk

mewujudkan bendungan ini. Meskipun seandainya aku tinggal

seorang diri”.

“Bagus” sahut pamannya, “setidak-tidaknya cantrik-cantrik

gurumu akan membantumu seperti gurumu pada saat membuat

bendungan itu. Apabila demikian, apabila kau harus bekerja sendiri,

maka yang pertama-tama harus kau kerjakan adalah, berusaha

mendapatkan perbekalan secara terus-menerus. Tanamlah macammacam

ubi-ubian di tebing-tebing sungai ini supaya kau dapat

menyimpan makanan untuk waktu yang panjang”.

“Baik paman” sahut Mahisa Agni dengan mantap. Ia kini tidak

lagi dilanda oleh keragu-raguan dan kebimbangan.

“Tetapi kini kau belum sendiri. Kau masih mempunyai cukup

kawan”.

“Mereka besok akan meninggalkan padang ini. Satu demi satu.

Tetapi aku sudah tidak mempedulikannya lagi. Biarlah mereka pergi

seluruhnya. Biarlah mereka meninggalkan aku seorang diri. Tetapi

kini aku menemukan keyakinan di dalam diriku, seperti kata paman,

bahwa ada yang selalu bersamaku, justru Yang Maha Agung”.

Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Empu Gandring

mendengar kata-kata kemanakannya, yang agaknya kini benarbenar

telah menemukan kembali hubungan yang erat antara dirinya

dengan Sumbernya, yang selama ini telah terganggu oleh keraguraguan,

kecemasan dan ketidak-tentuan.

Karena itu maka orang tua itu berkata, “Bagus Agni. Dengan

bekal itu kau pasti akan dapat menyelesaikan pekerjaanmu. Kau

tidak perlu tergesa-gesa. Kau tidak perlu mengharap bendunganmu

itu akan siap sebelum musim hujan yang akan datang. Meskipun di

musim hujan air akan menjadi lebih besar, tetapi banjir yang besar

yang akan menghanyutkan brunjung-brunjung yang telah kau

letakkan pada dasar sungai itu tidak selalu datang. Mungkin banjirbanjir

itu akan datang melandanya dan menghanyutkannya, tetapi

mungkin pula tidak. Kalau kau pasang dasar bendungan itu dengan

perhitungan yang baik, dengan dasar kemungkinan yang paling

pahit, maka kau akan berhasil mengatasi banjir yang bagaimanapun

besarnya”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia menjadi

semakin mantap. Dan kini ia tidak lagi menjadi cemas menghadapi

setiap ancaman.

Karena itu, maka ketika pamannya mengajaknya kembali

keperkemahan, Mahisa Agni tidak lagi berjalan dengan ragu. Ia

melangkah dengan dada tengadah.

Ketika mereka sampai di perkemahannya, maka Empu Gandring

pun segera masuk ke dalam gubugnya. Tetapi Mahisa Agni tidak

berbuat demikian. Ia masih ingin melihat-lihat perkemahan itu sekali

lagi dengan tanggapan yang jauh berbeda.

“Kau harus beristirahat Agni”.

“Ya paman, tetapi aku ingin meneruskan melihat-lihat

perkemahan ini sebentar. Aku tadi terhenti di tengah-tengah ketika

hatiku menjadi bingung melihat orang-orang yang sedang sibuk

berkemas-kemas. Kini aku akan melihat gubug demi gubug. Apa

pun yang akan aku lihat, aku sudah tidak akan terpengaruh lagi.

Bahkan aku ingin melihat, siapakah yang kira-kira akan dapat

bekerja bersamaku seterusnya apabila orang-orang lain satu demi

satu meninggalkan padang yang keras ini”.

“Aku kira semua orang telah tidur”.

“Biarlah. Kalau ternyata demikian, aku pun akan segera tidur

pula”.

Pamannya tidak menahannya lagi. Perlahan-lahan Mahisa Agni

melangkah kembali menyusuri perkemahan itu. Gubug demi gubug

dilihatnya. Beberapa anak-anak muda tidur mendekur berselimut

kain panjang. Ada pula diantara mereka yang tidur di samping

perapian yang masih membara.

Tetapi bagaimanapun juga, hati anak muda itu menjadi

berdebar-debar ketika sekali lagi ia melihat beberapa orang tidur

dengan beberapa bungkusan yang telah siap di sampingnya.

Sejenak Mahisa Agni berhenti. Ditatapnya orang-orang itu sambil

bergumam didalam hatinya Hem, agaknya kalian tidak menyadari

apa yang kalian lakukan”.

Kini Mahisa Agni tidak lagi menjadi cemas, ketakutan dan

berputus-asa, tetapi tiba-tiba ia merasa kasihan kepada orang-orang

itu. Kasihan mereka menjadi berputus-asa dan kehilangan

kepercayaan kepada diri sendiri. Mereka lebih senang melarikan diri

dari usaha ini dan menggantungkan diri kepada kemungkinankemungkinan

yang akan dijumpainya. Mungkin karena belas kasihan

seseorang, mungkin karena kebetulan.

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa pula. Sikap itu pasti akan

mempengaruhi sikap orang-orang lain yang memang sudah

dihinggapi oleh perasaan yang serupa.

Meskipun demikian, kini Mahisa Agni sendiri tidak terpengaruh

olehnya. Ia tidak lagi menjadi bingung dan putus-asa seperti orangorang

itu.

Perlahan-lahan Mahisa Agni meneruskan langkahnya. Kini ia

mendengar seseorang mengeluh karena kakinya bengkak dan di

gubug yang lain ia mendengar seseorang menggigil kedinginan

meskipun tubuhnya menjadi panas.

Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ia tidak boleh mundur

karena keadaan itu. Tetapi ia harus maju justru mengatasi keadaan

itu.

Yang ada di kepala Mahisa Agni kini adalah angan-angan,

bagaimana ia dapat mencari jalan keluar dari segala macam

kesulitan. Bagaimana ia dapat mengatasinya dan menemukan suatu

keadaan yang mantap, meskipun hanya tinggal beberapa orang saja

yang bersedia bekerja bersamanya.

Tanpa diketahuinya Mahisa Agni kini telah berdiri di ujung

perkemahannya. Seperti sebatang tonggak ia berdiri dan mengawasi

padang yang luas terbentang dihadapannya. Padang yang kelak

akan dibelahnya dengan saluran air dan akan dirobek-robeknya

dengan parit-parit yang mengalirkan air yang jernih.

Mahisa Agni berpaling ketika ia melihat seseorang yang tidur di

samping perapian menggeliat bangun. Orang itu agak terkejut

ketika dilihatnya sesosok tubuh berdiri membeku di sampingnya.

Tetapi kemudian orang itu berkata, “Hem, kau Agni. Apakah kau

tidak tidur?”

“Aku tidak mengantuk” jawab Agni.

“Aku lelah sekali, “ sahut orang itu pula, “tangan dan kakiku

serasa akan terlepas”.

Mahisa Agni yang sedang risau itu tiba-tiba merasa tersinggung.

Tanpa memandang ke arah orang itu ia berkata, “Apakah kau juga

akan kembali ke Panawijen seperti beberapa orang lain?”

Orang itu menjadi heran. Perlahan-lahan ia bertanya, “Apakah

ada orang yang akan kembali ke Panawijen?”

“Ya Orang-orang yang berputus-asa. Apakah kau mau ikut

supaya kaki dan tanganmu tidak terlepas?”

Orang itu diam sejenak. Dengan heran dipandanginya wajah

Mahisa Agni yang seolah-olah membeku. Namun tiba-tiba ia

berkata, “Agni kau salah sangka. Aku sudah bersedia bekerja di

padang ini. Bukankah kau melihat bahwa aku telah bekerja dengan

sekuat tenagaku? Kenapa kau berkata begitu? Meskipun semua

orang akan kembali ke Panawijen, namun aku akan tetap berada di

sini selagi masih ada orang yang memimpinku mengerjakan

bendungan itu”.

Hati Mahisa Agni bcrgejolak mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia

menyadari kesalahannya. Karena itu dengan serta-merta ia berkata,

“Maafkan aku. Hatiku sedang diamuk oleh kekecewaan karena aku

melihat beberapa orang yang akan meninggalkan padang ini besok

pagi”.

Orang itu meng-angguk-anggukkan kepalanya. Kembali ia

bertanya, “Jadi benarkah bahwa ada orang-orang yangg akan

kembali ke Panawijen besok?”

“Ya”.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia

bergumam, “Suatu pertanda bahwa pekerjaan kita akan menjadi

semakin berat. Pasti bukan hanya orang itu sajalah yang kemudian

akan meninggalkan kita”.

“Apakah kau keberatan?”

Orang itu menggeleng, dan Mahisa Agni pun menjadi malu

kepada diri sendiri. Apalagi ketika orang itu menjawab, “Bukankah

kita tidak akau dapat memaksanya? Kalau orang-orang itu memang

telah menjadi jemu, biarlah mereka pergi. Di tempat ini mereka

hanya akan mengganggu dengan berbagai macam hasutan dan

menghabiskan persediaan makan yang sudah menipis itu”.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia kagum mendengar tekad dan

pendapat orang itu. Ternyata di antara orang-orang Panawijen yang

malas dan berhati goyah, ada juga orang-orang serupa orang ini.

“Bagaimana kalau mereka semuanya pergi meninggalkan padang

ini?” Mahisa Agni mencoba menjajagi hatinya.

“Hem” orang itu berdesah, “kalau demikian maka kita yang

tinggal akan bekerja untuk dua tiga musim”.

“Bagus” sahut Mahisa Agni, “ternyata kau adalah seorang yang

berhati baja. Setidak-tidaknya kita bertiga dan beberapa orang

cantrik akan tinggal disini. Aku, kau, Ki Buyut Panawijen dan cantrikcantrik

dari padepokan Empu Purwa itu”.

Orang itu tersenyum. Sambil menguap ia bergumam, “Aku

mengantuk. Aku akan tidur”.

Sejenak kemudian orang itu pun telah berbaring kembali di

samping perapian sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kain

panjang yang lungset.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata hatinya tidak

setenang dan setabah hati orang itu. Orang itu sama sekali tidak

menjadi gelisah dan kecewa. Bahkan sejenak kemudian orang itu

telah mendekur pula.

Namun dengan demikian, hati Mahisa Agni kini menjadi semakin

mantap. Ternyata Yang Maha Agung benar-benar besertanya. Lewat

pamannya dan orang yang kini telah tertidur kembali itu, ia

mendapat tuntunan-Nya, mendapat peringatan-Nya sehingga ia

mendapatkan kekuatannya kembali.

Kini Mahisa Agni kembali memandangi padang yang luas dan

gelap itu. Padang itu harus ditaklukkannya, sehingga padang itu

akan menuruti kemauannya.

Malam yang gelap menjadi semakin gelap. Angin malam

berhembus mengusap tubuh Mahisa Agni yang berdiri tegang. Titiktitik

embun telah mulai membasahi atap-atap gubug dan

rerumputan yang terbentang dihadapannya.

Tetapi titik embun itu sama sekali tidak mampu menyejukkan hati

Mahisa Agni yang kecewa. Meskipun ia tidak lagi menjadi gelisah

dan bingung, namun sikap beberapa orang itu masih saja tidak

dapat dimengertinya.

Ketika Mahisa Agni mendengar suara batuk-batuk seseorang

yang sedang tidur di gubug yang paling ujung, maka tersadarlah

bahwa malam telah terlampau dalam, bahkan telah melampaui titik

pusatnya. Karena itu, maka perlahan-lahan Mahisa Agni menggeliat

dan melangkah kembali ke gubugnya sambil bergumam, “Persetan.

Pergilah yang mau pergi. Pendapat orang itu baik sekali. Disini

mereka hanya akan mengganggu dan menghabiskan persediaan

makanan”. Tetapi Mahisa Agni berdesah pula, “Kasian. Mereka telah

kehilangan segenap kepercayaan. Kepada diri sendiri dan kepada

Sumber Hidup-Nya”.

Tiba-tiba langkah Mahisa Agni tertegun. Ia melihat sesuatu

bergerak-gerak dikejauhan. Mula-mula samar-samar, tetapi semakin

lama menjadi semakin jelas.

Jantung Mahisa Agni serasa berdentang karenanya. Ia melihat

nyala obor. Tidak hanya sebuah, tetapi dua, tiga bahkan lebih.

“Apakah aku bermimpi?” desis Mahisa Agni. Namun obor itu

masih saja dilihatnya semakin lama semakin nyata.

“Obor itu mendekati perkemahan ini” gumamnya.

Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Ia mencoba untuk

menebak apakah kira-kira yang dilihatnya itu. Apakah benar-benar

obor, atau yang sering disebut orang kemamang? Semacam burung

yang dapat menyala dan berterbangan di malam hari.

Tetapi segera Mahisa Agni dapat memastikan bahwa yang

dilihatnya itu adalah nyala beberapa buah obor.

Untuk meyakinkan penglihatannya, Mahisa Agni melangkah

kembali mendekati orang yang sedang mendekur itu. Perlahanlahan

orang itu dibangunkannya.

Sambil menggeliat orang itu bertanya, “Ada apa Agni?”

“Bangunlah. Lihatlah. Apakah kau melihat seperti yang aku

lihat?”

“Apa?”

“Bangunlah”.

Wajah orang itu memjadi tegang. Perlahan-lahan ia bergumam,

“Apakah kau sedang menakut-nakuti aku? Atau apakah kau melihat

Hantu Karautan?”

“Aku tidak takut kepada Hantu Karautan. Tetapi yang aku lihat

adalah obor”.

“O, kemamang kau maksudkan? Hantu api yang menyebarkan

bala penyakit”.

“Bangunlah dan lihatlah. Menurut pengamatanku yang aku lihat

adalah nyala obor. Sama sekali bukan kemamang Apalagi yang

menjebarkan penyakit”.

Dengan tergesa-gesa orang itu bangkit dan segera pula berdiri.

Ditatapnya arah yang ditunjuk oleh Mahisa Agni dengan jarinya.

Wajah itu pun segera menjadi semakin tegang. Seperti bergumam

kepada diri sendiri orang itu berkata, “Ya ya. Obor”.

“Nah” berkata Mahisa Agni, “bukankah benar-benar obor, api

obor? Bukan kemamang yang akan menyebarkan penyakit?”

“Tetapi siapakah yang membawa obor di malam begini di Padang

Karautan?, “ Orang itu berhenti sejenak. Terapi hampir memekik ia

berkata, “Pasti Hantu Karautan. Hantu Karautan bersama kawankawannya

berbaris. Oh, memang hantu-hantu sering berbaris pula

seperti manusia. Mungkin hantu-hantu itu terjadi oleh roh-roh jahat.

Mungkin gerombolan-gerombolan perampok yang terbunuh di

padang ini oleh prajurit Tumapel”.

“Hantu-hantu tidak memerlukan obor” sahut Mahisa Agni,

“mereka dapat melihat jelas di dalam gelap. Justru semakin gelap,

mereka semakin dapat melihat dengan tajamnya”.

Orang itu menarik nafas., “ Lalu siapakah mereka?”

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab.

Kembali orang itu berkata dengan serta-merta, “Kalau begitu

mereka bukan roh perampok-perampok yang mati di padang ini,

tetapi justru mereka adalah perampok-perampok yang masih hidup.

Mereka menyangka kita membawa banyak perbekalan disini”.

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Meskipun

angan-angannya tidak sejalan dengan orang itu, bahwa yang

datang itu gerombolan perampok yang akan merampas harta

benda, tetapi ada juga persamaaanya dengan itu. Angan-angannya

segera hinggap kepada Empu Sada, Kuda Sempana, dan orang yang

ditemuinya terakhir di Padang Karautan Wong Sarimpat.

Wajah Mahisa Agni pun menjadi semakin tegang. Di kenangnya

pula ceritera Witantra ketika pemimpin prajurit pengawal Akuwu itu

mengantar Ken Dcdes ke Panawijen. Ternyata Empu Sada mampu

membawa segerombol orang-orangnya untuk mencegat para

pengawal.

“Apakah mereka datang kemari pula?” katanya di dalam hati,

“tetapi apakah mereka memerlukan obor juga?”

Meskipun Mahisa Agni menjadi bimbang, tetapi kemungkinan

itulah yang paling besar dapat terjadi. Tidak ada hantu tidak ada

kemamang yang menyebarkan penyakit, tetapi apabila yang datang

itu Empu Sada dan Wong Sarimpat, maka akibatnya lebih dari hantu

yang mana pun juga, lebih daripada kemamang yang menyebarkan

penyakit.

Tetapi Mahisa Agni tidak mau menggelisahkan orang-orang

Panawijen. Dengan tenang ia berkata, “Marilah kita tunggu,

siapakah yang datang itu. Sebaiknya Ki Buyut Panawijen siap pula

menyambutnya. Mungkin orang-orang yang datang itu sebuah

rombongan pedagang yang tersesat atau mencari perlin dungan”.

“Apakah mereka tahu, bahwa di sini ada perkemahan?”

“Api yang menyala di perapian dan lampu-lampu itulah agaknya

yang menuntun mereka kemari”.

Orang itu pun meng-angguk-anggukkan kepalanya. Dari sela-sela

bibirnya ia bergumam, “Mungkin. Mungkin pula demikian”. Namun

terasa bahwa batinya diganggu oleh keragu-raguan dan kecemasan.

“Awasilah obor-obor itu” berkata Mahisa Agni, “aku akan

membangunkan Ki Buyut”.

“Baiklah, “ jawab orang itu, “tetapi jangan terlampau, lama”.

“Kenapa?”

Orang itu tidak menjawab, tetapi Mahisa Agni dapat meraba

perasaannya. Orang itu agaknya menjadi takut.

“Jangan takut dan cemas. Obor-obor itn masih terlalu jauh. Kalau

benar mereka itu para pedagang yang tersesat, maka kau pasti

akan mendapat hadiah nanti. Tenanglah”.

Orang itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tanpa

sepatah jawabanpun.

Dengan tenangnya Mahisa Agni berjalan meninggalkannya

seorang diri. Tetapi ketika Agni telah membelok ke balik sebuah

gubug, maka segera ia mempercepat langkahnya. Hatinya sendiri

sebenarnya telah dilanda pula oleh kegelisahan dan berbagai

pertanyaan mengenai obor-obor itu.

Ki Buyut yang kemudian dibangunkan dari tidurnya, dengan

tergesa-gesa pergi keluar gubugnya dan berjalan ke sisi

perkemahan. Atas petunjuk Mahisa Agni, segera ia pun melihat

beberapa buah obor yang kini menjadi semakin dekat.

“Apakah menurut dugaanmu Ngger?”

“Aku tidak tahu Ki Buyut”.

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia pun

menjadi gelisah pula.

“Aku akan membangunkan paman pula Ki Buyut”.

“Bagus, “ sahutnya, “aku menunggu disini”.

Kembali Mahisa Agni melangkah dengan tergesa-gesa. Berbagai

gambaran hilir mudik dikepalanya. Namun yang paling tajam adalah

gambaran tentang Kuda Sempana, Empu Sada dan orang yang

berwajah kasar, sekasar batu padas, yang mampu memacu kuda

tanpa pelana.

Empu Gandring mengerutkan keningnya ketika ia mendengar

tentang obor-obor itu dari Mahisa Agni. Seperti Ki Buyut maka orang

tua itu pun segera pergi ke sisi perkemahan untuk dapat melihat

obor-obor itu dengan jelas.

“Apakah dugaan Empu tentang obor-obor itu?”

Empu Gandring menggeleng, “Aku belum dapat menduga Ki

Buyut”.

Namun Mahisa Agnilah yang menjawab dengan ragu-ragu,

“Apakah mungkin mereka itu sebuah gerombolan seperti yang

diceriterakan oleh Witantra itu paman. Bukankah Empu Sada pernah

mencoba mencegat Ken Dedes?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia

berdesis, “Apakah mereka akan datang dengan membawa obor?”

“Mereka yakin bahwa usahanya akan berhasil kali ini. Bukankah

Empu Sada tidak sendiri?”

“Ya, Bersama Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan beberapa orang

muridnya”.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar jawaban

pamannya, meskipun ia sudah menduga pula. Nama-nama itu

kembali diulanginya didalam hatinya, Empu Sada, Wong Sarimpat

dan Kebo Sindet.

“Hem” desahnya.

Ki Buyut Panawijen yang mendengar pembicaraan itu pun

menjadi cemas pula. Terbata-bata ia bertanya, “Siapakah mereka itu

Empu? Apakah mereka itulah yang ingin berbuat jahat atas Angger

Mahisa Agni?”

“Belum pasti Ki Buyut. Kita belum tahu pasti siapakah yang akan

datang itu”.

“Tetapi kemungkinan terbesar adalah mereka itu. Siapa lagi?

Siapa lagi yang akan datang dilewat tengah malam ini kecuali orang

jahat? Mereka sengaja datang sambil membawa obor untuk

memberitahukan kepada kita bahwa mereka datang dengan dada

tengadah”.

Empu Gandring masih berusaha menenangkan, “Ki Buyut,

Padang Karautan ini adalah padang yang terlampau sepi.

Seandainya ada satu dua penjahat atau penyamun, maka mereka

pasti berada di sisi lain, yang sering dilalui orang”.

“Mereka pun pasti hanya seorang atau dua, tidak dalam jumlah

yang besar”.

“Mereka dapat memanggil kawan-kawan mereka Empu”.

“Apakah yang akan mereka cari di sini? Bukankah mereka

mengetahui bahwa kita sedang bekerja membuat bendungan?

Seandainya mereka ingin merampok kita, maka mereka pasti akan

datang ke Panawijen justru di sana hampir tidak ada seorang lakilaki

pun”.

Ki Buyut memandangi wajah Empu Gandring dengan gelisahnya.

Pcrlahan-lahan ia menjawab ragu-ragu sambil berpaling kepada

Mahisa Agni, “Bukan Empu, bukan harta benda yang mereka cari,

bukankah mereka mencari Angger Mahisa Agni”.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam, sedang Mahisa Agni

mcnggeretakkan giginya. Sambil mengangguk perlahan-lahan Empu

Gandring berkata, “Mungkin. Tetapi itu pun baru kemungkinan. Kita

semua tidak tahu, siapakah yang datang itu?”

Sejenak mereka terdiam. Obor-obor itu bergerak-gerak seperti

siput yang sedang merayap. Perlahan-lahan tetapi pasti maju

mendekati perkemahan ini.

Mereka terkejut ketika kemudian terjadi hiruk pikuk di sisi

perkemahan itu. Ternyata beberapa orang telah bangun.

Oleh orang yang melihat obor itu bersama Mahisa Agni, beberapa

kawannya telah dibangunkannya karena perasaan takut. Tetapi

ternyata ketakutannya itu pun telah menjalar pula, sehingga

kemudian hampir semua orang di perkemahan itu terbangun.

Beberapa orang berlari-lari mencari Ki Buyut Panawijen. Dengan

nafas terengah-engah salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah

yang datang itu Ki Buyut?”

Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya sambil menjawab,

“Aku belum tahu. Tak seorang pun yang tahu, siapakah yang datang

itu”.

“Apakah mereka orang-orang jahat atau hantu-hantu yang akan

berbuat jahat atas kita?”

Ki Buyut Panawijen itu menggeleng pula, “Aku tidak tahu”.

Orang-orang itu terdiam sejenak. Dengan wajah yang tegang

mereka memandangi api-api obor yang bergerak-gerak di tengah

Padang Karautan itu.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Apakah mereka itu

orang-orang yang dibawa oleh Kuda Sempana mencari Mahisa Agni.

Bukankah menurut pendengaran kami, Kuda Sempana selalu

berusaha menangkap Mahisa Agni dengan bantuan gurunya atau

orang-orang lain yang mereka anggap mampu berbuat demikian?”

Sekali lagi Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya, “Aku

tidak tahu”.

“Kalau demikian celakalah kami, “ desis seseorang.

“Mengapa?, “ dengan serta-merta terdengar Mahisa Agni

bertanya.

“Kami yang tidak tahu menahu sengketa antara kau dan Kuda

Sempana pasti akan mengalami bencana pula di perkemahan ini.

Kalau Kuda Sempana datang bersama gurunya dan saudara-saudara

seperguruannya menyerang kita, maka matilah kita semua” berkata

yang lain.

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata itu. Apa lagi

ketika yang lain menyambung, “Hem, ternyata Mahisa Agni

semalam ini selalu menyusahkan kita. Mahisa Agni sekeluarga.

Empu Purwa dan Ken Dedes itu pula. Merekalah sumber bencana

yang selama ini melanda pedukuhan kita. Bukankah Kuda Sempana

sebenarnya hanya menghendaki gadis itu. Bukankah bendungan

kita hancur karena Empu Purwa dan apabila kita sekarang binasa

adalah karena Mahisa Agni”.

“Kenapa kita…..” kata-kata orang itu tidak dapat diselesaikan.

Alangkah terperanjatnya, dan kemudian terdengar ia menjerit ketika

tiba-tiba tangan Mahisa Agni telah menampar mulutnya. Meskipun

bagi Mahisa Agni ayunan tangannya itu hanya sekedar untuk

membungkam kata-kata yang menyakitkan hatinya, tetapi bagi

orang yang ditamparnya serasa bagaikan tersambar petir.

“Agni” terdengar suara pamannya lantang.

Tetapi orang itu telah terduduk di tanah sambil menutup

mulutnya yang berdarah.

Semua orang memandang Mahisa Agni dengan wajah yang

tegang. Terasa berbagai perasaan bergolak di dalam dada mereka.

Ketakutan, kecemasan dan kegelisahan. Mereka takut melihat oborobor

yang merayap semakin dekat. Teiapi mereka pun menjadi

takut apabila tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah dan mengamuk.

Mahisa Agni masih berdiri tegang, namun kepalanya tiba-tiba

menunduk Ia tidak berani menatap mata pamannya yang

memandanginya dengan tajam. Perlahan-lahan sekali pamannya itu

berkata, “Agni, jagalah perasaanmu” Namun suara yang perlahanlahan

itu serasa jauh lebih keras dari ayunan tangannya.

Kini suasana sejenak ditelan oleh kesepian. Kesepian yang

diwarnai oleh berbagai macam perasaan yang bercampur-aduk.

Kesepian yang menyesakkan dada.

Sementara itu obor di Padang Karautan itu masih saja merayap

semakin dekat. Dalam kepekatan malam, maka tampaklah titik-titik

api itu sedemikian jelasnya, bergerak-gerak silang menyilang.

Tiba-tiba kesenyapan di perkemahan itu dipecahkan oleh suara

Mahisa Agni perlahan-lahan, “Paman Empu Gandring, Ki Buyut

Panawijen dan saudara-saudaraku rakyat Panawijen. Mungkin kalian

benar. Akulah yang telah menyeret kalian kedalam bencana. Tidak

saja aku telah membakar kalian setiap hari dipanas terik matahari,

dan membekukan kalian diembun malam yang dingin di Padang

Karautan, tetapi apabila benar yang datang itu Kuda Sempana,

maka kalian mungkin akan terpercik bencana pula. Karena itu,

biarlah aku menyongsong bencana yang akan datang. Biarlah kalian

terlepas dari setiap kemungkinan yang tidak kalian kehendaki”

Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya wajah-wajah yang tegang

di sekelilingnya. Tetapi wajah-wajah itu masih saja tegang

membeku.

Maka sambungnya, “Paman, Ki Buyut dan saudara-saudaraku.

Aku tidak akan menunggu obor itu sampai di perkemahan. Biarlah

aku pergi menyongsongnya. Jangan diharap aku kembali ke tengahtengah

kalian. Kalau kemudian kalian merasa tidak perlu lagi dengan

bendungan ini, maka tinggalkanlah”.

“Kenapa kau akan pergi Angger?” potong Ki Buyut dengan

cemas.

“Kalau yang datang itu Kuda Sempana Ki Buyut, biarlah mereka

akan aku hadapi. Tetapi tidak di sini”.

“Agni” berkata Ki Buyut terbata-bata, “kalau benar yang datang

itu Kuda Sempana, kenapa Angger tidak saja berusaha melarikan

diri sebelum terlambat”.

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Meskipun ia akan dapat

berusaha menyingkir, namun akibatnya akan menimpa orang-orang

Panawijen. Kuda Sempana dan kawan-kawannya pasti akan marah.

Sasarannya pasti orang-orang Panawijen itu. Karena itu maka

katanya, “Tidak Ki Buyut. Dengan demikian, maka aku telah

menyerahkan orang-orang Panawijen kedalam suatu keadaan yang

sulit. Mereka pasti akan mencari aku dan memaksa orang-orang

Panawijen ini menunjukkan dimana aku bersembunyi”.

Ki Buyut itu pun terdiam. Tetapi beberapa orang menjadi sangat

cemas dan ketakutan.

“Karena itu Ki Buyut,” Mahisa Agni melanjutkan, “aku akan

menyongsong mereka, dengan demikian maka kalian, orang-orang

Panawijen ini akan terlepas dari bahaya”.

Terasa sesuatu bergetar di dalam dada Ki Buyut yang tua itu.

Mahisa Agni baginya adalah lambang dari masa depan. Kerja yang

tak dapat dilakukan oleh orang lain telah dilakukannya. Kini ketika

bahaya mengancamnya, maka apakah ia akan dapat

melepaskannya?

Tetapi sebelum Ki Buyut mengucapkan sepatah kata pun maka

Mahisa Agni itu segera melangkah meninggalkannya kembali ke

gubugnya. Tak seorang pun yang tahu, apa yang akan

dilakukannya. Sementara itu pamannya pun mengikutinya pula

dibelakangnya.

“Kau akan pergi Agni?” bertanya pamannya.

“Ya paman. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan orang-orang

Panawijen. Kalau Kuda Sempana dan gurunya akan menangkap aku,

biarlah mereka membawa mayatku”.

Dada pamannya berdesir mendengar jawaban itu. Apalagi ketika

kemudian ia melihat Mahisa Agni meraih pedangnya dan

disangkutkannya di lambungnya. Bukan hanya pedang itu, tetapi

dari bawah tikar pembaringannya diambilnya pusakanya yang

jarang-jarang dirabanya. Pusaka itu adalah sebilah keris buatan

Empu Gandring sendiri. Meskipun demikian, Mahisa Agni mula-mula

masih menyesal bahwa pusaka peninggalan gurunya tidak dibawa

pula. Kalau demikian akan lengkaplah perlawanannya. Ia akan

melawan dengan segenap tenaga kemampuan yang ada padanya

meskipun ia sadar, bahwa Empu Sada, Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat bukanlah lawannya.

“Muda-mudahan seorang yang tepat menemukan trisula itu”

desisnya di dalam hati. Bahkan kemudian ia merasa beruntung

bahwa pusaka itu tidak dibawanya. Sebab dengan demikian trisula

itu akan dapat jatuh ketangan musuh-musuhnya.

“Sudahlah paman. Aku akan pergi, “ Tetapi kata-kata itu terputus

ketika melihat pamannya menyelipkan pula kerisnya yang besar itu

di punggungnya.

“Apakah yang akan paman lakukan?”

“Jangan pergi sendiri Agni. Aku pun akan pergi. Aku ingin melihat

apa yang sebenarnya akan terjadi. Aku masih selalu dicengkam oleh

keragu-raguan. Bukankah semua itu baru dugaan saja? Tetapi

seakan-akan semua orang telah memastikan apa yang akan terjadi”.

Terasa mata Mahisa Agni menjadi panas. Perlahan-lahan ia

bergumam, “Paman, aku menyampaikan terima kasih. Tetapi aku

kira paman tidak usah pergi bersamaku. Biarlah cukup aku saja

yang akan menjadi korban dari dendam yang membara di dada

Kuda Sempana. Bukankah paman harus kembali ke Padepokan

paman. Bukankah masih banyak yang dapat paman kerjakan?”

Pamannya tersenyum, tetapi senyum itu terasa terlampau pedih

di hati Mahisa Agni.

“Aku adalah pamanmu Agni. Kalau masih ada ayahmu, mungkin

aku tidak akan mempedulikan lagi apa yang terjadi atasmu. Tetapi

ayahmu kini sudah tidak ada lagi. Karena itu adalah menjadi

kuwajibanku untuk melihat apa saja yang dapat terjadi atasmu”.

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kepalanya tiba-tiba terkulai

jatuh pada ujung jari-jari kakinya.

“Obor itu pasti sudah semakin dekat. Mari kita berangkat” ajak

pamannya.

Mahisa Agni tidak menjawab. Ketika pamannya melangkah keluar

ia mengikutinya saja dibelakangnya.

Di sisi perkemahan itu, orang-orang Panawijen sudah menjadi

semakin tegang. Obor itu sudah semakin dekat. Ketika mereka

melihat Agni dan pamannya datang menyandang senjata, maka hati

mereka pun menjadi semakin berdebar-debar.

Sejenak Mahisa Agni berdiri mematung. Gelora di dalam dadanya

kian berkecamuk. Sekali dipandanginya wajah-wajah orang

Panawijen yang tegang, dan sekali ditatapnya api obor yang

menjadi semakin dekat.

Ketika Ki Buyut Panawijen melihatnya telah bersiap untuk

menyongsong obor-obor itu yang mungkin akan dapat

mencelakakannya, maka hatinya pun menjadi pedih. Pada saat-saat

terakhir Mahisa Agni telah menyerahkan hampir segenap waktu dan

kemampuannya untuk membangunkan sebuah bendungan bagi

kesejahteraan orang-orang Panawijen, dan kini bahwa miliknya yang

paling berharga, yaitu hidupnya sekali, akan diserahkannya pula.

Meskipun sebenarnya Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan

untuk lari, namun anak muda itu tidak mempergunakannya, karena

ia tidak mau mengorbankan orang-orang lain untuk kepentingannya.

Tiba-tiba, seakan-akan di luar sadarnya orang tua itu berkata,

“Agni, tanpa kau, kerja kami tidak akan berarti. Aku tahu apa yang

sebenarnya tersembunyi di hampir setiap dada orang-orang

Panawijen. Jemu. Karena itu sepeninggalmu, maka aku pun akan

tidak berarti apa-apa. Dengan demikian Ngger, maka aku kira lebih

baik aku pergi juga bersamamu, melihat apa yang sebenarnya

terjadi. Kalau bahaya itu datang menerkammu, biarlah aku mencoba

membantumu meskipun aku tahu, bahwa tenagaku tidak akan

berati apa-apa. Tetapi aku sudah berbuat sesuatu. Aku tidak apat

melepaskanmu begitu saja setelah kau bekerja sekuat-kuat

tenagamu untuk kami disini”.

Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Jangan Ki Buyut. Dengan

demikian maka orang-orang Panawijen akan kehilangan

pemimpinnya. Ki Buyut akan dapat berbuat banyak untuk

kepentingan mereka”.

“Tidak” sahut Ki Buyut, “aku tidak akan mampu berbuat sesuatu

mengatasi kejemuan mereka”.

“Jangan Ki Buyut” potong Mahisa Agni, “aku berkeberatan.

Tinggallah di sini. Kalau Ki Buyut pergi juga, maka hatiku akan

menjadi semakin pahit. Ternyata Ki Buyut juga tidak lagi

menghiraukan aku lagi”.

Ki Buyut terdiam. Ia menjadi bingung. Tetapi kata-kata Mahisa

Agni itu seperti telah mencengkamnya di atas tempatnya berdiri.

Ketika ia melihat Mahisa Agni itu bergerak, maka kakinya seakanakan

telah tertancap dalam-dalam di Padang Karautan itu.

“Kalau Ki Buyut masih juga mau mendengarkan kata-kataku,

tinggallah di sini. Dengan demikian hatiku masih juga mengucap

syukur, bahwa Ki Buyut akan tetap berusaha meneruskan kerja ini

meskipun hanya dengan tiga empat orang seperti yang dilakukan

oleh Empu Purwa dahulu. Tiga empat tahun kerja Ki Buyut itu akan

selesai”.

Ki Buyut tidak dapat menjawab. Mulutnya serasa terbungkam

dan tenggorokannya serasa tersumbat sesuatu.

“Sudahlah Ki Buyut” Mahisa Agni bergumam dengan nada yang

rendah datar.

Ki Buyut hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tetapi

mulutnya tidak dapat mengucapkan kata-kata.

Betapapun orang-orang Panawijen itu merasa bahwa Mahisa Agni

telah menyebabkan mereka terdorong ke dalam suatu kesulitan,

betapa mereka menyesali Empu Purwa, namun ketika kemudian

mereka melihat anak muda itu berjalan meninggalkan mereka

menyongsong nyala-nyala obor dikejauhan, maka hati mereka pun

menjadi trenyuh. Beberapa anak-anak mengepalkan tangannya dan

berkata di dalam hatinya, “Oh, seandainya aku mampu berkelahi,

aku pasti akan mengawaninya”. Apalagi Jinan dan Sinung Sari.

Mereka adalah anak-anak muda yang pertama-tama mengikuti

Mahisa Agni mencari tempat ini. Tetapi mereka hanya berani

menggeretakkan gigi-gigi mereka. Betapa besar keinginan mereka

untuk membantu Mahisa Agni, tetapi mereka tidak memiliki

keberanian untuk itu.

Sedangkan orang tua-tua hanya dapat mengusap dada mereka

sambil berdoa, semoga Mahisa Agni tidak menemukan sesuatu

bencana, apalagi yang dapat membahayakan jiwanya.

Berbeda dengan mereka adalah Patalan. Ia tidak dapat lagi

menahan perasaannya melihat Mahisa Agni melangkah

meninggalkan mereka masuk ke dalam malam yang gelap. Pedang

dilambungnya telah membuat anak muda itu menjadi semakin

berdebar-debar. Sedangkan yang pergi bersamanya hanyalah

seorang yang telah lanjut usia dengan sebilah keris raksasa di

punggungnya.

“Apakah kita sampai hati melepaskannya?” desis Patalan di dalam

hatinya. Patalan bukanlah seorang pemberani. Tetapi perasaannya

ternyata lebih tajam dari kawan-kawannya. Betapapun ia dikuasai

oleh kecemasan, tetapi tiba-tiba ia berlari masuk ke dalam

gubugnya. Diraihnya pedang di dinding gubug itu, dan tanpa

berkata apa pun kepada kawan-kawannya, maka segera ia pun

berlari menyusul Mahisa Agni.

“Patalan” terdengar beberapa orang memanggilnya. Tetapi

Patalan sama sekali tidak berpaling. Ia berlari semakin kencang.

Dan bahkan kemudian terdengar ia berteriak, “Agni, tunggu.

Tunggu. Aku pergi bersamamu”.

Kepergian Patalan telah menggoncangkan dada orang-orang

Panawijen. Tiba-tiba merekapun ingin juga berlari menyusul seperti

Patalan. Namun mereka telah diikat oleh kecemasan dan ketakutan.

Mereka tidak berani beranjak dari tempatnya.

Tetapi dengan demikian, merayaplah kesadaran di dalam hati

mereka, bahwa sebenarnya Mahisa Agni selama ini telah

mengorbankan apa saja yang ada padanya untuk kepentingan

mereka. Untuk kepentingan Panawijen. Sama sekali bukan untuk

kepentingan diri sendiri.

Orang-orang Panawijen yang selama ini telah menyakiti hatinya

menjadi kecewa. Kecewa sekali. Tetapi apakah mereka masih akan

mendapat kesempatan untuk menyatakan penyesalannya dan minta

maaf kepada anak muda itu. Mahisa Agni telah pergi dan berkata

kepada mereka, supaya mereka tidak lagi mengharapkan ia kembali.

Beberapa orang merasa, betapa besar kesalahan mereka terhadap

anak muda itu. Anak muda yang kini berjalan menembus gelap

malam meninggalkan mereka dengan pedang di lambungnya.

Orang-orang Panawijen yang tinggal di perkemahan itu kini

masih saja berdiri tegak seperti patung. Mereka melihat Mahisa Agni

dan Empu Gandring menghilang seperti ditelan oleh gelap malam

yang menganga di Padang Karautan. Sejenak mereka masih dapat

menyaksikan Patalan berlari menyusul keduanya.

Kemudian mereka pun hilanglah. Hilang, dan terasa betapa kini

mereka kehilangan anak muda yang telah banyak berkorban untuk

mereka.

Mahisa Agni yang berjalan meninggalkan orang-orang Pana wijen

bersama pamannya terkejut mendengar seseorang memanggilnya.

Ketika mereka berpaling, mereka melihat Patalan berlari-lari

menyusul.

“Ada apa Patalan?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku akan pergi bersamamu Agni” sahut Patalan dengan nafas

terengah-engah.

Mahisa Agni dan Empu Gandring menjadi heran.

“Kenapa kau akan ikut kami” bertanya Mahisa Agni.

“Kita pergi bersama-sama sejak kita mencari tempat ini Agni. Kita

telah bekerja pula bersama-sama. Sekarang berilah aku kesempatan

mengikutimu, apa pun yang akan terjadi”.

“Patalan” dada Agni berdesir tajam, “terima kasih, tetapi kali ini

aku akan menghadapi keadaan yang tidak menentu. Aku belum

tahu apakah kira-kira yang akan terjadi. Karena itu kembalilah”.

“Dahulu, ketika kita meninggalkan Panawijen masuk ke dalam

padang ini, kita juga belum tahu apa yang akan terjadi. Agni, berilah

aku kesempatan, Mungkin aku tidak berarti bagimu, tetapi aku tidak

dapat kembali. Aku tidak dapat melihat kau seoang diri

menyongsong bahaya tanpa perhatian. Aku tidak akan mampu

membelamu dalam keadaan apapun. Tetapi setidak-tidaknya aku

sudah menyatakan kesetia-kawananku terhadapmu”.

“Terima kasih” sekali lagi Mahisa Agni menyalakan perasaannya,

“tetapi kembalilah. Mungkin aku tidak akan sempat berbuat sesuatu

atasmu, sebab keadaanku sendiri sama sekali tidak aku ketahui”.

“Tidak” sahut Patalan, “kali ini aku tidak akan minta

perlindunganmu. Sejak aku hampir mati ketakutan di Padang

Karautan bukankah aku belajar memegang hulu pedang? Bukankah

kau juga yang mengajari aku? Mudah-mudahan aku dapat

mempergunakannya”.

“Oh” Mahisa Agni menarik nafas, “apa yang aku berikan itu sama

sekali belum berarti apa-apa Patalan”.

“Beri aku kesempatan Agni. Bukan terdorong karena

kesombonganku, tetapi katakanlah bahwa kau menghadapi bahaya

maut, dan aku pun bersedia menghadapinya”.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia

menjadi heran melihat Patalan tiba-tiba saja tidak takut menentang

maut. Karena itu, maka akhirnya ia kembali. Katanya, “Baiklah

Patalan. Kalau kau bersedia ikut bersama kami. Tetapi kau harus

sudah dapat membayangkan, bahwa kita kali ini tidak sedang

bertamasya”.

“Aku tahu Agni” sahut Patalan.

“Baiklah” gumam Mahisa Agni.

Ketiganya pun kemudian meneruskan perjalanan mereka

menyongsong api-api obor yang semakin lama menjadi semakin

dekat.

Langkah-langkah mereka semakin lama menjadi semakin cepat.

Mahisa Agni berjalan dipaling depan, kemudian pamannya dan

Patalan berjalan berjajar dibelakangnya. Tak sepatah kata pun yang

mereka ucapkan. Meskipun demikian semakin dekat mereka dengan

obor-obor itu, hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar.

Tanpa sesadarnya, maka tangan Mahisa Agni telah melekat di

hulu pedangnya. Dengan gigi gemeretak ia memandang lurus ke

depan. Memandang pada setiap kemungkinan yang dapat terjadi

atasnya. Sedang Patalan pun benar-benar mengherankan. Ia kini

tidak lagi gemetar dan bahkan hampir pingsan ketakutan seperti

pada saat ia bertemu dengan orang yang menyebut dirinya hantu

Karautan di padang ini beberapa saat yang lampau. Tetapi kini ia

berjalan dengan langkah yang tetap seperti Mahisa Agni. Tangannya

pun telah melekat pula di hulu pedangnya.

Empu Gandringlah yang masih juga memandangi setiap titik

nyala obor dihadapannya dengan tenang. Kerut-kerut umur di

wajahnya seakan-akan menjadi kian bertambah. Tetapi orang itu

masih juga sempat memperhatikan sikap kemenakannya. Meskipun

demikian Empu Gandring tidak berkata sepatah katapun.

Jauh di belakang mereka, orang-orang Panawijen masih juga

berdiri di tempatnya. Mereka seakan-akan telah membeku.

Mata mereka terhunjam ke dalam gelap malam yang terbentang

di atas padang Karautan. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu

kecuali nyala-nyala obor itu.

Dengan hati yang gelisah, cemas dan berdebar-debar mereka

memandangi api itu. Api itu masih saja merayap mendekat.

Tiba-tiba hati mereka terguncang ketika mereka melihat oborobor

itu berhenti. Seperti nyala-nyala api itu mengambang di udara

yang dingin pekat. Tak seorang pun yang dapat membayangkan apa

yang terjadi dikejauhan itu. Mereka benar-benar tidak melihat

sesuatu kecuali api itu. Tangan-angan yang menggenggam obor itu

pun sama sekali tidak mereka libat. Apalagi orang-orang yang

berada di sekitarnya.

Mereka tidak akan dapat melihat seandainya di sekitar obor-obor

itu kini terjadi perkelahian yang sengit. Mereka tidak akan dapat

melihat seandainya Mahisa Agni terluka atau bahkan terbunuh. Atau

mungkin pula Mahisa Agni itu kini telah mereka tangkap dan mereka

seret dengan kasarnya di tengah-tengah padang yang gelap itu.

Tetapi mungkin pula terjadi sebaliknya. Mungkin pedang Mahisa

Agni dan keris raksasa pamannya telah berhasil membersihkan

lawannya.

Tetapi obor itu masih juga menyala di tempatnya Tidak bergerak

dan tidak menjauh.

Dada orang-orang Panawijen itu menjadi semakin berdebardebar.

Mereka tidak merasa bahwa mereka telah berdiri terlampau

lama di tempatnya. Mereka tersadar ketika tiba-tiba mereka melihat

obor itu bergerak pula dan darah mereka serasa berhenti mengalir

ketika tiba-tiba pula mereka melihat seseorang berlari-lari menuju

kepada mereka sambil berteriak, “Ki Buyut. Ki Buyut”. Orang itu

adalah Patalan.

Betapa terkejut Ki Buyut Panawijen melihat Patalan yang seakanakan

dimuntahkan dari mulut kegelapan yang pekat itu Terhuunghuyung

anak itu menjadi semakin dekat. Beberapa langkah lagi

Patahan akan sampai di perkemahan, tetapi seakan-akan tenaganya

telah terperas habis.

“Patalan” Ki Buyut Panawijen berlari tertatih-tatih

menyongsongnya, “kenapa kau?”

Nafas Patalan seakan-akan telah terputus di kerongkongannya.

Kini ia sudah tidak berlari lagi. Anak muda itu berdiri seperti sehelai

daun ilalang ditiup badai. Sehingga ketika Ki Buyut Panawijen dan

beberapa orang yang berlari-lari menyusulnya sampai

dihadapannya, maka Patalan itu pun terjatuh.

“Patalan” panggil Ki Buyut sambil berjongkok di sampingnya.

Diangkatnya kepala anak itu sambil bertanya, “Ada apa? Ada apa

Patalan?”

“Ki Buyut” Patalan mencoba berkata sesuatu. Tetapi nafasnya

telah menjadi terlampau sendat, sehingga akhirnya anak itu jatuh

pingsan kelelahan.

“Pingsan,” desis Ki Buyut, “ambil air. Cepat. Ia akan dapat segera

sadar dan mengatakan kepada kita, apa yang telah terjadi”.

Beberapa orang berlari-larian mencari air. Sedang beberapa

orang lain berdiri dengan wajah pucat gemetar.

“Apakah yang terjadi?” desis sesama mereka.

“Bencana. Bencana akan menimpa kita sekalian” berkata salah

seorang dari mereka.

“Lihat” sabut yang lain, “kini obor-obor itu telah mendekat.

Mahisa Agni pun pasti telah mereka tangkap. Agaknya mereka tidak

puas dengan menangkap Mahisa Agni dan pamannya yang tua itu.

Untunglah Patalan sempat melarikan diri”.

“Ya, sekarang bagaimana dengan kita?”

“Kita harus melarikan diri pula”.

“Ya. Kita harus melarikan diri”.

Tetapi percakapan itu terputus oleh suara Ki Buyut lantang, “Kita

tetap disini. Apa pun yang akan terjadi”.

“Tetapi bagaimana kalau mereka akan membunuh kita semua Ki

Buyut?”

“Tak ada gunanya melarikan diri. Mereka akan mengejar dan

menangkap kita. Dengan demikian kita hanya akan menambah

kemarahan mereka sehingga mereka akan berbuat jauh lebih

mengerikan lagi”.

Orang-orang Panawijen itu kini telah benar-benar menggigil.

Betapa anak-anak muda seakan-akan tidak lagi mampu berdiri di

atas kaki mereka. Namun dalam pada itu Ki Buyut berkata, “Dari

pada kita berusaha melarikan diri, bukankah jumlah kita cukup

banyak? He anak-anak muda, kenapa kalian tidak mengambil

Senjata-senjata kalian?”

Tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Bahkan darah

mereka seakan-akan telah benar-benar membeku.

Ketika beberapa orang yang mengambil air telah datang, maka

obor di Padang Karautan itu pun telah menjadi semakin dekat.

“Ki Buyut” tiba-tiba seorang anak muda berkata gemetar,

“Kenapa kita tidak boleh lari? Bukankah lebih baik menyelamatkan

diri daripada kita dibinasakanya disini?”

“Ambil senjatamu” teriak Ki Buyut yang tua itu, “kalau kau tidak

mempunyai pedang, ambillah kapak atau beliung atau apa saja yang

dapat kau pergunakan sebagai senjata. Jangan menjadi pengecut

sampai akhir hayatmu”.

Tetapi teriakan Ki Buyut itu menambahnya menjadi ketakutan.

Jinan dan Sinung Sari pun kini telah berjongkok di samping

Patalan yang pingsan itu pula. Perlahan-lahan dititikkan nya air ke

bibir anak itu.

“Setetes demi setetes” Ki Buyut memperingatkan. Kemudian

katanya pula, “Jaga Patalan baik-baik. Usahakan anak ini segera

menjadi sadar”.

“Apakah Ki Buyut akan pergi” bertanya Sinung Sari.

“Tidak. Aku tetap disini” sahut Ki Buyut, “tetapi aku tidak akan

berdiam diri meskipun aku sudah tua”.

Ki Buyut itu pun segera menyerahkan Patalan kepada Sinung Sari

dan Jinan. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan melangkah ke

gubugnya.

Berpasang-pasang mata mengikutinya dengan pertanyaan di

dalam setiap hati. Namun segera mereka mengetahui, apakah yang

telah dikerjakan oleh Ki Buyut itu.

Sejenak kemudian Ki Buyut itu pun telah kembali pula diantara

orang-orang Panawijen. Tetapi kini ia memegang pedang di

tangannya. Tangan yang sudah berkeriput, namun genggaman atas

pedangnya masih cukup kuat. Ki Buyut bukanlah seseorang yang

sama sekali tidak mampu menggenggam pedang. Meskipun ia

bukan seorang yang cukup baik untuk berkelahi, namun ia mampu

pula menggerakkan senjata.

(Bersambung ke jilid 23)

 

Jilid 23

BEBERAPA anak-anak muda menjadi berdebar-debar di dalam

hati. Ada pula yang menjadi malu kepada diri mereka sendiri. Tetapi

ada yang bahkan menjadi semakin kecut. Wajah-wajah mereka

menjadi seputih kapas, dan nafas mereka satu-satu tersangkut di

kerongkongan.

Tetapi, Jinan dan Sinung Sari tidak lagi dapat berdiam diri, sambil

menggigil ketakutan Patalan telah lebih dahulu mengambil

pedangnya. Karena itu maka Jinan berkata kepada seseorang yang

berjongkok pula di sampingnya,, “Mari, usahakan Patalan menjadi

sadar. Aku pun akan mengambil pedangku.”

Kini, seseorang yang sudah agak tua memangku kepala Patalan.

Setetes-setetes dititikannya air ke mulut anak itu. Ketika kemudian

Jinan dan Sinung Sari telah berdiri di sampingnya dengan pedang di

lambung masing-masing, maka obor-obor itu menjadi sudah sangat

dekat.

Tiba-tiba mereka melihat Patalan itu bergerak-gerak. Dengan

serta-merta beberapa orang segera berjongkok di sampingnya. Dan

mereka pun kemudian mendengar Patalan berdesis perlahan-lahan

ketika dilihatnya Jinan dan Sinung Sari,, “Hantu Karautan yang

datang itu adalah Hantu Karautan.”

Suara itu menggelegar bagai guntur yang meledak disetiap

telinga. Hantu Karautan.

Segera, ketakutan mencengkam hati orang-orang Panawijen itu.

Hantu adalah sebutan yang paling mengerikan bagi mereka. Kalau

yang datang itu segerombolan perampok atau Kuda Sempana, maka

mereka masih akan dapat menghindar. Melarikan diri atau menangis

minta ampun. Tetapi yang disebut Patalan adalah Hantu Karautan.

Hantu yang bengis dan mengerikan.

Tak seorang pun yang masih mampu mengucapkan pertanyaanpertanyaan.

Ki Buyut Panawijen terdiam membeku. Apakah ia akan

dapat melawan hantu meskipun seandainya anak-anak Panawijen

itu bersama-sama mengangkat senjata.

Dalam pada itu kembali terdengar suara Patalan. Kali ini agak

lebih keras,, “Sinung Sari dan Jinan. Apakah kau masih ingat Hantu

Karautan itu?”

Sinung Sari dan Jinan mengerutkan keningnya.

“Bukankah kita telah pernah bertemu dengan tiga orang hantu di

padang ini?”

Tiba-tiba Sinung Sari dan Jinan menganggukkan kepalanya.

“Aku akan bangun” desah Patalan.

Perlahan-lahan, ditolong oleh Sinung Sari dan Jinan, Patalan itu

bangkit dan duduk bertelekan tangannya, “Apakah aku pingsan?”

“Ya kau pingsan” sahut Sinung Sari.

“Lihat obor-obor itu sudah terlampau dekat”.

“Ya, siapakah mereka?” bertanya Jinan tidak sabar.

“Sudah aku katakan, Hantu Karautan.”

Tetapi orang-orang yang mendengar kata-kata Patalan dan

melihat wajahnya menjadi bingung. Wajah itu meskipun pucat tetapi

sama sekali tidak menunjukkan kesan-kesan yang mengerikan.

“Hantu yang mana? Katakan cepat” desak Sinung Sari.

“Hantu berkuda.”

Orang-orang yang mendengarkannya menjadi semakin bingung.

“Hantu berkuda?” beberapa orang mengulangi di dalam hatinya

yang kecut.

“Ada dua hantu berkuda” sahut Jinan.

“Yang datang adalah hantu yang sebenarnya. Hantu yang

dikatakan oleh Mahisa Agni, hantu yang mengalahkan segala hantu

di padang ini”.

Sinung Sari berpikir sejenak. Jinan pun Tiba-tiba bangkit berdiri

“Sinung Sari,” katanya,, “hantu berkuda yang tampan itu. Bukankah

begitu maksudmu Patalan?”

“Ya.”

“Tetapi kenapa kau berlari terbirit-birit ketakutan?”

“Aku disuruh oleh Mahisa Agni untuk mengabarkan, bahwa hantu

itulah yang datang. Bukan orang lain”.

“Gila” Tiba-tiba Sinung Sari pun tegak pula. Hampir bersamaan

maka Sinung Sari dan Jinan berkata, “Aku akan pergi menyongsong

hantu itu”.

“Sinung Sari, Jinan” panggil Ki Buyut.

Tetapi Sinung Sari dan Jinan telah berlari masuk ke dalam gelap

malam menyongsong obor-obor yang kini sudah menjadi semakin

dekat.

Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada orang-orang

Panawijen. Kenapa tiba-tiba Sinung Sari dan Jinan berlari

menyongsong Hantu Karautan itu? Apakah tiba-tiba saja mereka

sadar bahwa mereka harus membela Mahisa Agni dari bencana.

Tetapi tak seorang pun yang sempat menemukan jawabnya.

Patalan yang lemah itu pun kini telah berdiri pula. Di pandanginya

nyala obor-obor itu, dan remang-remang mereka telah melihat

serombongan bayangan berjalan perlahan-lahan mendekati

perkemahan itu.

“Patalan” desis Ki Buyut, “kau lihat bayangan-bayangan itu?”

“Ya Ki Buyut”.

“Aku menjadi ngeri. Bagaimanakah bentuk hantu-hantu itu?”

Patalan tiba-tiba tersenyum, dan Ki Buyut pun menjadi semakin

tidak mengerti, apakah sebenarnya yang sedang dihadapi. Ketika

sekali lagi ia mengamati bayangan-bayangan itu, dilihatnya

bayangan-bayangan yang besar berjalan tersuruk-suruk diantara

mereka.

Tetapi tiba-tiba telinga Ki Buyut menangkap sesuatu. Bunyi yang

selama ini seolah-olah bunyi gemerisik kaki-kaki hantu yang

mengerikan. Tetapi ia kenal benar bunyi yang kini dapat

didengarkannya dengan lebih seksama.

“Pedati” desisnya , “bukankah bunyi-bunyi itu berasal dari roda

pedati?”

“Ya” sahut Patalan.

“Apakah hubungan antara hantu dan Pedati?”

Sekali lagi Patalan tersenyum, “Lihat Ki Buyut. Yang berkuda di

depan itulah Hantu Karautan”.

Ki Buyut tidak dapat mengerti. Tetapi obor-obor itu kini sudah

menjadi terlampau dekat. Dengan hati yang bimbang dan penuh

kecemasan Ki Buyut Panawijen beserta orang-orang Panawijen yang

gemetar melihat sebuah iring-iringan yang besar mendekati

perkemahan mereka. Bukan saja beberapa orang berkuda tetapi

pedati-pedati dan beberapa pasang lembu dan kuda.

Dalam kebimbangan dan kebingungan itu terdengar suara Mahisa

Agni, “Ki Buyut. Ternyata semua dugaan kita keliru. Bukankah

Patalan telah mengatakannya?”

“Patalan pingsan” terdengar suara Sinung Sari menyahut.

Mahisa Agni tertegun. Dipalingkannya wajahnya ke arah Sinung

Sari dan Jinan yang menjemputnya , “Kenapa anak itu pingsan?”

Patalan mendengar pembicaraan itu. Sambil tertawa kecil ia

menyahut , “Aku berlari terlampau cepat. Nafasku terputus, dan aku

pingsan sabelum aku sempat mengatakannya”.

“Oh” Mahisa Agni pun tertawa pula.

Kini iring-iringan itu telah berhenti. Mahisa Agni dan pamannya

bersama Sinung Sari dan Jinan berjalan mendahului menemui Ki

Buyut Paaawijen yang berdiri seperti sebatang tonggak. Dengan

wajah yang tidak menentu orang tua itu memandangi Mahisa Agni

dan iring-iringan itu berganti-ganti.

Perkemahan itu kini ditelan oleh suasana yang aneh. Ki Buyut

Panawijen, anak-anak muda dan orang-orang Panawijen yang

melihat iring-iringan itu serasa berada di dalam mimpi. Pedati-pedati

dan berpasang-pasang, lembu, kerbau dan kuda.

“Apakah artinya ini Agni?” bertanya Ki Buyut dengan nada yang

datar.

“Ki Buyut” berkata Mahisa Agni, “bukankah aku pernah

mengatakan bahwa Akuwu di Tumapel pernah menjanjikan bantuan

kepada kita. Pedati dan alat-alat lain. Bahkan lembu, kerbau dan

kuda?”

Ki Buyut Panawijen yang tua itu menarik nafas dalam-dalam

sambil mengusap dadanya. Seakan-akan baru saja ia terlempar ke

dalam sebuah mimpi yang dahsyat. Sekali ia mengamati iringiringan

itu di bawah cahaya obor yang tidak begitu terang. Lamatlamat

dilihatnya pedati yang ditarik oleh kerbau dan lembu berberatberat,

dan beberapa puluh orang prajurit.

“Benar-benar seperti ceritera tentang barang-barang tiban dari

langit.” gumamnya.

“Inilah orangnya yang mendapat tugas untuk membawa

semuanya itu kemari Ki Buyut. Namanya Ken Arok. Seorang Pelayan

Dalam Istana Tumapel. Ken Arok mengenal Padang Karautan ini

seperti kita mengenal segenap sudut pedukuhan Panawijen. Itulah

sebabnya ia tidak asing lagi berada di tengah-tengah padang ini

kembali”.

Ki Buyut menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sedang K«n

Arok tersenyum sambil berdesah, “Ah, ada-ada saja kau Agni”.

“Selamat datang Ngger.” Ki Bayut menyapanya.

“Selamat Ki Buyut. Kami barangkali telah mengejutkan Ki Buyut

dan orang-orang Panawijen yang sedang beristirahat. Sebenarnya

kami ingin berhenti dan meneruskan perjalanan besok siang supaya

tidak menimbulkan kecemasan. Tetapi kami ingin segera sampai.

Karena itu, kami telah menyalakan obor-obor supaya tidak

mencurigakan. Tegapi agaknya obor-obor kamilah yang malahan

menimbulkan kekhawatiran kalian”.

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya, “Banyak kejadian

yang telah membuat kami terlampau berkecil hati”.

“Ya, kami telah mendengarnya sebagian. Mungkin Kuda Sempana

dan gurunya. Mungkin pula Hantu Karautan”.

“Itulah. Dan Patalan yang disuruh Mahisa Agni memberitahukan

bahwa yang datang adalah anak-mas, ternyata mengganggu kami

pula, meskipun ia baru saja sadar dari pingsannya”.

“Apakah yang dikatakan?” bertanya Mahisa Agni.

“Katanya yang datang itu adalah Hantu Karautan”.

Mahisa Agni tersenyum. Ken Arok pun tersenyum pula, katanya,

“Ternyata yang datang adalah aku sebagai utusan Akuwu Tumapel”.

“Itulah. Ingin aku mencabut beberapa helai rambut Patalan

karena kenakalannya. Hampir-hampir kami semua di sini mati

ketakutan”.

Kini Ken Arok tertawa. Dan yang menyahut adalah Mahisa Agni,

“Patalan berkata sebenarnya Ki Buyut”.

Wajah Ki Buyut menjadi berkerut-kerut, sedang Ken Arok sekali

lagi berdesah, “Ah, kau ini Agni”.

“Aku menjadi bingung” gumam Ki Buyut.

“Salah Mahisa Agni, Ki Buyut” sahut Ken Arok, “mungkin ia ingin

orang lain menjadi ketakutan seperti dirinya sendiri”.

Mahisa Agni tertawa, dan Ki Buyut pun tertawa pula. Kepada

Empu Gandring Ki Buyut kemudian bertanya, “Bagaimana Empu?

Anak-anak muda sering mengganggu yang tua-tua”.

Empu Gandring pun tersenyum pula, katanya, “Kalau aku tahu,

maka lebih baik aku tidur saja di dalam gubugku. Dinginnya bukan

main di tengah padang”.

Yang mendengarnya tertawa bersahutan. Bahkan orang-orang

Panawijen yang masih pucat dan belum lagi dapat menghilangkan

getar di jantung mereka pun sempat tersenyum.

“Nah Agni” berkata Ki Buyut kemudian, “jelaskan apa yang terjadi

kepada orang-orang Panawijen, supaya mereka tidak selalu

bertanya-tanya di dalam hati”.

“Baiklah Ki Buyut” sahut Mahisa Agni yang kemudian melangkah

maju mendekati orang-orang Panawijen yang berkumpul di sisi

perkemahan itu.

Dengan singkat Mahisa Agni memberitahukan kepada mereka,

bahwa yang datang itu adalah sumbangsih Akuwu Tunggul

Ametung, berupa pedati, kerbau, lembu, kuda dan alat-alat yang

lain yang akan memperingan pekerjaan mereka, membuat

bendungan dan parit-parit.

“Ternyata Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti betapa

pentingnya bendungan itu bagi kita di sini. Betapa bendungan itu

tidak saja akan sangat berarti bagi kita, tetapi juga bagi anak cucu

kita. Lebih dari pada itu bendungan yang kecil ini akan merupakan

setitik air yang ikut serta membantu kesejahteraan Tumapel

seluruhnya”.

Orang-orang yang mendengar keterangan Mahisa Agni itu

mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Alangkah janggalnya” Mahisa Agni meneruskan, “apabila Akuwu

Tunggul Ametung dapat mengerti betapa pentingnya bendungan ini,

meskipun tanpa bendungan ini pun kebesarannya tidak akan

terganggu. Sedang kita di sini, yang langsung berkepentingan,

seakan-akan acuh tak acuh saja terhadapnya. Bahkan ada beberapa

orang yang benar-benar telah menjadi jemu. Ternyata utusan

Akuwu Tunggul Ametung datang tepat pada waktunya. Pada waktu

orang-orang Panawijen hampir kehabisan gairah untuk melanjutkan

kerja. Pada waktu orang-orang Panawijen telah mulai berputus-asa,

bahkan ada yang sudah benar-benar kehilangan nafsu dan jemu

berjemur di terik matahari di padang ini, sehingga telah membenahi

pakaian dan alat-alatnya untuk besok pagi pulang kembali ke

Panawijen yang sudah mulai dibakar oleh kekeringan”.

Kembali Mahisa Agni berhenti sejenak. Beberapa orang

menundukkan kepalanya. Mereka benar-benar menyadari betapa

lemah hati mereka. Betapa mereka sama sekali tidak belah

menghadapi prihatin meskipun untuk suatu cita-cita yang tinggi.

Apalagi bagi mereka yang benar-benar telah membenahi pakaian

dan alat-alat mereka. Terasa, hati mereka bergejolak oleh perasan

malu dan sesal.

Dalam pada itu Mahisa Agni kemudian berkata seterusnya ,

“Sekarang, marilah kita lihat, apakah yang dibawa oleh Ken Arok

sebagai utusan Akuwu Tunggul Ametung” Kemudian Mahisa Agni,

itu pun berpaling kepada Ken Arok sambil berkata, “Ken Arok,

apakah kau tidak berkeberatan apabila orang-orang Panawijen saat

ini juga melihat-lihat apa saja yang kau bawa supaya hati mereka

menjadi pulih kembali seperti saat mereka berangkat memasuki

padang ini, bahkan menjadi lebih besar lagi, sehingga gairah kerja

mereka menjadi berlipat-lipat”.

“Silahkan” sahut Ken Arok, “barang-barang ini memang

dihadiahkan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepada kalian. Kepada

orang-orang Panawijen”.

“Terima kasih” berkata Mahisa Agni pula. Kepada orang-orang

Panawijen ia berkata, “Nah, sekarang kalian mendapat kesempatan

melihat apa saja yang berada dalam iring-iringan itu, supaya kalian

menjadi mantap. Menurut Ken Arok, utusan Akuwu Tunggul

Ametung, semua itu akan dihadiahkan kepadamu sekalian.

Bukankah begitu Ken Arok?”

“Ya” Ken Arok menganggukkan kepalanya.

“Termasuk para prajurit” menyela Empu Gandring sambil

tersenyum.

Ken Arok pun tersenyum pula, jawabnya, “Termasuk para

prajurit. Tetapi mereka hanya sekedar dipinjamkan”.

Ki Buyut Panawijen pun tersenyum pula. Ketika Mahisa Agni

kemudian memberi kesempatan kepada orang-orang Panawijen

untuk melihat-lihat pedati-pedati itu, maka Ki Buyutlah yang

pertama-tama maju mendekat “Ah, apa sajakah kiranya isi iringiringan

itu?” gumamnya.

“Silahkan. Silahkanlah menyaksikan” jawab Arok.

Di belakang Ki Buyut, kemudian seakan-akan berebutan, orang

Panawijen berjajar-jajar bahkan berdesak-desakan melihat-lihat isi

pedati yang dibawa oleh Ken Arok. Beberapa orang prajurit yang

berdiri disekeliling pedati-pedati itu pun terpaksa menyingkir

memberi kesempatan kepada orang Panawijen untuk menyaksikan.

Dengan api-api obor mereka melihat-lihat pedati-pedati yang

ditarik oleh pasangan-pasangan kerbau dan lembu yang besarbesar.

Melihat lembu dan kerbau itu pun mereka telah menjadi

kagum. Apalagi ketika mereka melihat itu pedati-pedati itu. Cangkul,

kapak, waluku, garu dan sagala macam alat-alat diperlukan.

Tetapi ternyata bukan itu saja, ketika mereka melihat pedatipedati

dibagian belakang, maka mereka melihat, pedati-pedati itu

penuh bersisi bahan makan.

Mahisa Agni sendiri merasakan sesuatu yang berdesir di dalam

dadanya, melihat betapa Akuwu Tunggul Ametung telah

mengirimkan alat dan bahan makan itu untuk orang-orang

Panawijen.

Ken Arok yang berdiri di sampingnya agaknya melihat hati anak

muda itu yang bergetar lewat perubahan wajahnya. Maka katanya,

“Kau tidak usah heran, mengapa Akuwu Tunggul Ametung

menyertakan bahan-bahan makanan itu pula. Akuwu Tunggul

Ametung memerintahkan agar para prajurit membantu

menyelesaikan bendunganmu. Bukankah mereka itu memerlukan

makan? Nah, Akuwu tidak ingin mengurangi persediaan makan

orang-orang Panawijen yang sudah pasti terlampau tipis. Karena itu,

maka kami harus membawa bahan makanan itu untuk para prajurit

dan untuk orang-orang Panawijen pula. Apabila ternyata kelak

masih kurang, kami akan mengambilnya ke Tumapel”.

“Terima kasih” suara Mahisa Agni menjadi datar dan bernada

rendah.

Namun tiba-tiba merayaplah suatu perasaan yang asing di dalam

dirinya. Ketika ia melihat pedati, alat-alat yang lengkap dan bahanbahan

makanan, maka seakan-akan ia merasa, bahwa semuanya itu

merupakan sebuah tebusan dari luka dihatinya. Seakan-akan ia

telah melepaskan sesuatu yang tertambat dihatinya untuk

mendapatkan barang-barang itu. Untuk mendapat bantuan dari

Akuwu Tunggul Ametung.

“Apakah aku telah menjual hatiku? Apakah aku telah menukarkan

perasaan seorang laki-laki dengan semuanya ini?” desisnya di dalam

hati.

Tiba-tiba Mahisa Agni mengatubkan mulutnya rapat-rapat. Di

lawannya perasaannya itu sekuat-kuat tenaganya.

“Tidak” ia menggeram di dalam hatinya, “Akuwu tidak tahu

perasaanku itu. Akuwu tidak pernah merasa membeli Ken Dedes

dari padaku, atau menukarnya setelah ia merenggut gadis itu dari

tambatannya di hatiku. Tidak. Tak seorang pun tahu, Ken Dedes

juga tidak tahu. Akuwu memberikan bantuannya karena ia

menyadari betapa pentingnya bendungan ini bagi kami. Kalau ada

dorongan yang lain, tidak akan melampaui dorongan yang diberikan

oleh Ken Dedes untuk membantu orang-orang sepedukuhannya.

Tidak lebih dari itu”.

Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar Ki Buyut Panawijen

bergumam, “Bukan main. Apakah semuanya ini akan dihadiahkan

kepada kami?”

Mahisa Agni menjadi tergagap. Tetapi Ken Arok telah menyahut,

“Ya, Ki Buyut. Semuanya ini telah diserahkan kepada orang-orang

Panawijen. Akuwu Tunggul Ametung akan bergembira apabila

bendungan itu kelak akan terwujud. Padang Karautan yang kering

ini akan menjadi hijau segar dialiri oleh air yang naik dari

bendungan itu. Bahkan Akuwu telah memerintahkan kepada kami,

apabila pekerjaan ini kelak selesai, maka kami masih mendapat

tugas lain”.

“Apa?” bertanya Mahisa Agni dengan serta merta.

“Kami harus membangun taman yang seindah-indahnya di sekitar

pedukuhan yang baru nanti. Taman yang akan dihadiahkan oleh

Akuwu Tunggul Ametung kepada Permaisurinya yang cantik seperti

Ratih, Ken Dedes”.

“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam “Sebuah taman”

desisnya.

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Betapa perasaan yang asing

kembali merayapi dinding-dinding hatinya. Sukarlah bagi Mahisa

Agni untuk menyebut, perasaan apa yang sebenarnya kini tersimpan

di dadanya itu. Namun anak muda itu bergumam di dalam hatinya,

“Mudah-mudahan Ken Dedes menemukan kebahagiaan. Agaknya

Akuwu Tunggul Ametung benar-benar mencintainya. Gadis itu tak

akan dapat menikmati kesegaran hidup seperti kini apabila ia tidak

menjadi seorang permaisuri. Hanya seorang Akuwu dan seorang

rajalah yang mampu menghadiahkan sebuah taman kepada

isterinya. Taman yang dibangun oleh para prajurit”.

Dalam pada itu orang-orang Panawijen tak habis-habisnya

mengagumi iring-iringan yang datang membawa perlengkapan,

peralatan dan makan bagi mereka. Salah seorang bergumam, “Hem,

alangkah murah hati Akuwu Tunggul Ametung”.

Seorang tua yang lain menyahut, “Hanya seorang yang berhati

emaslah yang dapat berbuat seperti itu. Jarak Panawijen Tumapel

adalah jarak yang cukup jauh. Jarang sekali Akuwu Tunggul

Ametung atau Akuwu-Akuwu sebelumnya datang ke pedukuhan

kami. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung dapat merasakan kesulitan

kami, sehingga Akuwu itu pun telah mengirimkan berbagai macam

barang dan makanan kepada kami”.

“Belum lama Akuwu datang ke Panawijen” sahut yang lain.

“Ya, belum lama” sela yang lain lagi.

“Ya, ketika Akuwu datang bersama Kuda Sempana”.

Orang-orang yang mendengar kata-kata itu sejenak saling

berpandangan. Namun tak seorang pun yang berani menyahut dan

meneruskannya. Tak seorang pun yang kemudian berkata bahwa

Akuwu itu datang ke Panawijen bersama Kuda Sempana untuk

mengambil Ken Dedes. Untuk merampas gadis itu dan

melarikannya.

Tetapi bagaimana pun juga terselip pertanyaan di dalam hati

orang-orang Panawijen itu, “alangkah jauh bedanya. Kedatangan

Akuwu yang pertama ke Panawijen bersama para prajurit justru

telah melukai hati orang-orang Panawijen. Tetapi kini Akuwu telah

mengirimkan bantuan yang tiada taranya bagi orang-orang

Panawijen.

Tak Seorang pun yang mengucapkan pertanyaan itu lewat

bibirnya Bahkan hampir setiap orang telah berusaha menindas

ingatannya tentang perbuatan Akuwu saat melindungi Kuda

Sempana merampas Ken Dedes. Mereka tidak ingin memercikkan

noda pada iring-iringan yang kini menggembirakan perasaan mereka

itu. Mereka ingin tetap mengatakan, bahwa Akuwu Tunggul

Ametung adalah seorang yang berhati emas. Seorang yang luhur

budi dan pengasih, tanpa setitik kesalahan pun pada dirinya. Mereka

ingin mengucapkan terima kasih dengan seutuh-utuhnya. Mereka

akan melupakan, bahwa mereka pernah mengumpat-umpati Akuwu

Tunggul Ametung itu dengan mulutnya.

“Mahisa Agni sendiri pun menerimanya dengan senang hati.

Mahisa Agni yang kehilangan adiknya itu pun telah melupakan

segala-galanya. Apalagi kami” desis mereka di dalam hati.

Tetapi mereka tidak melihat hati Mahisa Agni. Hati yang

bergejolak dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Agni mampu

mempergunakan akalnya untuk menindas perasaannya.

“Aku tidak boleh melihat persoalan ini berdasarkan kepentingan

diri sendiri” berkata Mahisa Agni itu di dalam hatinya, “aku harus

melihat kepentingan yang jauh lebih besar. Bendungan, yang akan

memberi kesejahteraan bagi seluruh rakyat Panawijen. Bukan

sekedar memuaskan hati dan perasaanku saja”.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun kemudian dapat

menerima keadaan itu dengan hati yang lapang. Bahkan kemudian

anak muda itu pun menjadi gembira. Kini harapannya yang hampirhampir

lenyap bersama kejemuan yang melanda perkemahannya,

akan dapat disegarkannya kembali.

Ternyata, harapan Mahisa Agni itu pun terjadi. Ketika matahari

dipagi yang cerah memancar di atas punggung bukit tampaklah

betapa segarnya wajah perkemahan orang-orang Panawijen itu.

Meskipun hari itu mereka tidak bekerja, karena mereka masih sibuk

menyambut para prajurit Tumapel dan mengatur segala macam

peralatan dan lainnya, namun telah terbayang di wajah Mahisa Agni,

apa yang besok akan dapat mereka kerjakan.

Hari itu perkemahan orang-orang Panawijen itu disibukkan

dengan mengatur tempat penyimpanan bahan-bahan makanan,

alat-alat dan membagi gubug-gubug bagi mereka dan para prajurit

dari Tumapel. Mereka mencoba saling mengenal dan bercakapcakap

tentang banyak hal. Tetapi pembicaraan mereka pada

umumnya tidak berkisar dari bendungan, Padang Karautan yang

keras, terik matahari disiang hari dan dingin malam yang menggigit

tulang.

Tetapi para prajurit itu memiliki tubuh yang terlatih dan banyak

mengalami persoalan-persoalan yang keras dan berat. Itulah

sebabnya maka tanggapan mereka terhadap terik matahari, dan

dingin malam agak berbeda dengan orang-orang Panawijen.

Hal itu ternyata pada hari-hari berikutnya. Ketika orang-orang

Panawijen telah mulai kembali dengan kerja mereka, dengan gairah

dan nafsu yang kembali menyala di dalam dada mereka, maka

segera mereka melihat, bagaimana para prajurit Tumapel itu

bekerja. Para prajurit itu seakan-akan tidak mengenal lelah dan

tidak mengenal gangguan-gangguan pada tubuhnya. Meskipun

matahari menyala di langit, meskipun keringat telah membasahi

segenap wajah kulit mereka, tetapi mereka masih juga tidak susut

tenaganya. Bahkan masih juga ada di antara mereka yang

mengangkat batu dan brunjung bambu sambil berdendang. Di

kelompok lain, mereka masih saja bergurau sesamanya.

“Mereka baru sehari bekerja” gumam salah seorang dari orangorang

Panawijen, “entahlah apabila mereka telah bekerja dua tiga

hari di bawah panas terik ini”.

Tetapi di hari-hari berikutnya, kerja para prajurit itu lama sekali

tidak berubah. Mereka bekerja dengan wajah yang cerah. Mereka

mengangkat brunjung, memecah batu, mengemudikan cikar-cikar

dan gerobag-gerobag dengan senyum dan tawa. Mereka

mengayunkan cangkul sambil berdendang dan bergurau. Sehingga

dengan demikian, kegembiraan kerja mereka itu telah memancari

pula orang-orang Panawijen yang selama ini telah menjadi lesu.

Wajah-wajah orang-orang Panawijen yang bekerja membuat

bendungan itu kini telah berubah sama sekali. Tidak ada kerutmerut,

tidak ada kejemuan dan keragu-raguan. Semua bekerja

dengan gairah dan gembira.

Mahisa Agni pun menjadi gembira pula. Bahkan ia adalah orang

yang paling gembira melihat kerja itu. Kadang-kadang anak muda

itu bahkan berdiri saja di atas sebuah batu besar mengamati orangorang

yang sedang sibuk dan tekun bekerja itu. Dilihatnya

brunjung-brunjung turun ke sungai satu demi satu dikedua sisinya.

Dilihatnya pedati hilir mudik mengangkut batu-batu dan tanah.

Dilihatnya sebelah lain, orang yang sedang membajak melunakkan

tanah untuk membuat susukan yang akan membelah Padang

Karautan, dan parit-parit. Dilihatnya pula orang-orang Panawijen

dan para prajurit sedang mengayunkan cangkul-cangkul mereka

untuk menaikkan tanah dari susukan yang sedang mereka buat.

Semua berlangsung dengan cepat dan menggembirakan.

Secengkang demi secengkang maka bendungan itu pun naik. Air

di dalam sungai itu pun naik pula. Lebih cepat dari dugaan Mahisa

Agni karena para prajurit yang ikut membantunya.

Dengan bangga Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya,

“Alangkah menyenangkan. Harapan bagi masa datang kini menjadi

semakin terang. Ternyata para prajurit itu tidak hanya pandai

mengayunkan pedangnya, tetapi mereka pandai pula mengayunkan

cangkul dan kapak. Bahkan mengemudikan gerobak dan cikar.

Memegang tangkai waluku dan garu”.

Alangkah besar rasa terima kasihnya kepada Akuwu Tunggul

Ametung kali ini tanpa mengingat kepedihan hatinya sendiri. Tetapi

lebih dari itu, Mahisa Agni pun memanjatkan ucapan terima

kasihnya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tuntunannya

maka semua ini dapat terjadi.

“Lima kali lebih cepat dari perhitunganku” desis Mahisa Agni

“Ternyata alat-alat itu sangat membantu dan mempercepat

penyelesaian kerja ini. Tenaga berpasang-pasang lembu dan kerbau

itu jauh lebih besar dari tenaga separo dari orang-orang Panawijen

seluruhnya”.

Bukan saja Mahisa Agni yang menjadi bangga dan gembira

melibat kerja itu, tetapi Ki Buyut Panawijen pun tidak kalah pula

menyimpan harapan yang melimpah-limpah di dalam dadanya.

Sebagai seorang yang hampir selama hidupnya berada ditengahtengah

rakyat Panawijen, maka padukuhan yang baru itu nanti pasti

akan tetap mengikat orang-orang Panawijen dalam satu lingkungan.

Mereka tidak akan bercerai-berai dan berpisah-pisah.

Sedang Empu Gandring menjadi gembira melihat kemanakannya

berbesar hati. Orang tua itu melihat kebanggaan Mahisa Agni

sebagai suatu kebanggaan dihatinya pula.

Dalam pada itu, bukan saja di Padang Karautan terjadi kesibukan

yang luar biasa, tetapi di dalam istana pun terjadi kesibukan yang

luar biasa pula. Para hamba istana sibuk membersihkan segala

sudut halaman. Para juru sungging sibuk memperbaharui sungging

pada setiap ukiran yang melekat pada tiang-tiang dan dindingdinding

istana.

Orang-orang tua di dalam istana Tumapel telah menasehatkan

kepada Akuwu Tunggul Ametung untuk segera meresmikan

perkawinannya dengan gadis Panawijen apabila memang telah

dikehendakinya. Karena itu, maka segala persiapan pun telah

dilakukan.

Meskipun demikian Akuwu Tunggul Ametung tidak melupakan

janjinya kepada Mahisa Agni. Karena itu, maka ia telah mengirim

sepasukan prajurit dan pelayan dalam untuk membantu Mahisa Agni

membuat bendungan.

“Bendungan itu harus selesai tecepatnya. Secepat orang-orang di

istana ini membersihkan dan memperbaharui segala bagian.

Kemudian taman yang harus dibangun itu pun harus selesai pula.

Taman yang akan aku hadiahkan kepada permaisuriku. Taman yang

akan menjadi tempat beristirahat, apabila kami pergi berburu. Akan

aku tinggalkan Ken Dedes di taman itu, di tempat yang pasti akan

menyenangkan hatinya, sebab Ken Dedes akan dikelilingi oleh

orang-orang yang telah dikenalnya dengan, baik sejak kanakanaknya”

pesan Tunggul Ametung kepada Ken Arok yang diserahi

pimpinan ketika pasukannya itu berangkat.

Sementara itu, di Kemundungan terjadi pula kesibukan. Kuda

Sempana telah bertekad untuk menempa dirinya. Perlahan-lahan ia

tertarik pula akan ilmu yang kasar dan keras dari kedua orang liar

kakak beradik. Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Meskipun

kesempatan untuk berlatih itu tidak terlalu banyak, karena kedua

orang itu hampir bergantian selalu pergi meninggalkan rumahnya,

namun Kuda Sempana mendapatkan beberapa kemajuan pula. Kuda

Sempana kemudian tidak lagi mempertimbangkan apa saja yang

akan dilakukan oleh Wong Sarimpat dan Kebo Sindet atasnya dan

atas Mahisa Agni. Namun kini ia berpikir, selagi ia mendapat

kesempatan, biarlah ia memanfaatkan kesempatan itu. Baginya kini

tidak ada pilihan lain daripada meneguk setiap ilmu yang mungkin

disadapnya.

Tetapi sejalan dengan usahanya untuk mempertinggi ilmunya

tanpa mengingat sumber ilmu itu, Kuda Sempana sebenarnya

perlahan-lahan telah kehilangan segala gairahnya menghadapi masa

depannya. Kegagalan yang bertubi-tubi datang melandanya, telah

membuat hatinya menjadi beku. Ia kini seakan-akan telah

kehilangan segala macam cita-cita dan tujuan. Ia berlatih asal saja

ia mampu menambah ilmunya. Ia tidak tahu, apakah yang akan

dilakukan, kelak dengan ilmunya yang bercampur baur itu. Namun

dengan demikian, karena ia telah kehilangan segala macam cita-cita

hari depannya, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mencari

keserasian gerak dari macam-macam ilmu yang dimilikinya. Ia tidak

berusaha mengendapkan ilmu-ilmu itu untuk menemukan saripatinya.

Ia menerima menelan dan kemudian memuntahkannya

kembali seperti apa yang ditelannya. Kasar dan keras, namun

kadang-kadang muncul juga unsure-unsur gerak yang dipelajarinya

dari Empu Sada, justru yang lebih lama terendam di dalam dirinya.

Tetapi Kuda Sempana sendiri tidak menyadari, bahwa

sebenarnya apa yang diterimanya dari Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat, tidak banyak berpengaruh atas tingkat ilmunya. Yang

didapatnya hanyalah sekedar macam-macam ilmu gerak yang tidak

lebih baik dari yang pernah dimilikinya. Meskipun demikian, maka

Kuda Sempana kini memiliki jenis-jenis unsur gerak yang lebih

banyak dari yang dimilikinya semula.

Meskipun Kuda Sempana sudah beberapa waktu berada di

Kemundungan, namun ia tidak tahu pasti, apakah yang akan

dilakukan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Setiap kali salah

seorang dari mereka pergi meninggalkan rumah mereka. Apabila

orang yang pergi itu kembali, maka yang di dengarnya hanyalah

Kebo Sindet atau Wong Sarimpat mengumpat-umpat.

Namun Kuda Sempana itu pun merasakan, bahwa sampai saat ini

kedua orang itu masih belum mempercayainya. Betapa Kuda

Sempana tidak mempedulikan keadaan, tetapi sikap dan perkataan

kedua orang itu dapat dirasakannya. Keduanya tidak pernah pergi

bersama-sama. Salah seorang dari mereka terasa selalu

mengawasinya kemana ia pergi.

Hanya kadang-kadang Kebo Sindet mengajaknya berbicara

mengenai Mahisa Agni. Bahkan kini Kebo Sindet lah yang hampir

tidak bersabar lagi untuk menangkap buruannya itu.

Kadang-kadang Kuda Sempana pun menjadi heran, apabila Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat itu hanya mengharap beberapa keping

emas saja dari padanya, bahkan dengan segala miliknya, pendok

emas, timang emas tretes berlian, maka apakah yang dilakukan oleh

kedua orang itu cukup memadai.

Bahkan Kuda Sempana sendiri kini menjadi cemas, apakah

barang-barang miliknya yang dititipkannya pada gurunya itu masih

juga utuh dapat diambilnya kelak? Apabila terlalu lama ia tidak

kembali sedang gurunya telah tidak ada lagi, maka barang-barang

itu pun pasti akan jatuh ketangan orang-orang lain yang berada di

padepokan gurunya.

Tetapi Kuda Sempana kini telah menjadi malas untuk memikirkan

semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Ia jalani apa yang

dilakukannya hari ini tanpa berpikir tentang besok.

“Mungkin besok aku sudah mati dipancung oleh kedua orang ini,”

kadang-kadang pikiran itu membersit di kepalanya. Tetapi kadangkadang

ia merasa bahwa kedua orang itu sangat berbaik hati

kepadanya, seperti kepada murid terkasih.

“Mungkin aku akan menjadi gila” desisnya di dalam hati,

“Keadaan ini benar-benar telah mengguncang-guncang

keseimbangan perasaan dan pikiranku”.

Tetapi kesadaran tentang goncangan perasaan dan pikirannya

itulah sebenarnya yang telah menahannya untuk tidak menjadi gila

sebenarnya gila.

Dan kini hari-harinya diisinya dengan menirukan, mempelajari

dan mencobakan unsur-unsur gerak yang kasar dan keras. Kadangkadang

kini telah terlontar pula dari mulutnya sebuah teriakan yang

keras untuk memberikan tekanan pada unsur geraknya. Tidak hanya

keras, namun kadang-kadang berisi umpatan yang kotor dan

memuakkan.

Tetapi, Kuda Sempana sendiri tidak tahu apa yang dikerjakan, ia

sama sekali tidak berpikir tentang itu. Ia berbuat seperti yang harus

diperbuatnya.

Kosong. Kuda Sempana kini telah menjadi kosong.

Ketika suatu ketika Kebo Sindet membawanya berbincang

tentang Mahisa Agni, maka jawabnya sama sekali tidak lagi

membayangkan segala macam dendam dan kebencian yang selama

ini terpendam.

“Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet, “Meskipun aku banyak

menemui kesulitan, tetapi aku yakin bahwa dalam saat yang pendek

aku harus dapat membawa Mahisa Agni ke Kemundungan dan

menyerahkannya kepadamu”.

Dengan kepala yang hampa Kuda Sempana mengangguk, “Ya

paman.”

“Bukankah kau masih menghendaki?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya paman.”

“Apakah kau sudah memaafkannya?”

Kuda Sempana terdiam. Ditatapnya wajah Kebo Sindet yang beku

sebeku wajah mayat. Namun Tiba-tiba mulutnya berkata, “Tidak

paman, aku sama sekali tidak memaafkannya”.

“Bagus,” berkata Kebo Sindet, “apakah kau sekarang sudah

siap?”

Kuda Sempana menjadi heran, “Apakah yang barus aku lakukan

paman?”

“Kita bersama-sama mengambil Mahisa Agni. Aku tidak bersabar

lagi. Kita bertiga pasti akan mampu melawan Mahisa Agni, Empu

Gandring dan orang-orang Panawijen yang pengecut itu. Aku akan

mengikat Empu Gandring dalam suatu perkelahian, Wong Sarimpat

akan melumpuhkan Mahisa Agni sementara kau menghalau orangorang

Panawijen. Setelah itu, maka semuanya akan segera dapat

diselesaikan. Empu Gandring tidak akan mampu melawan aku dan

Wong Sarimpat sekaligus apabila kita masing-masing sudah saling

menyiapkan diri.”

Tetapi tanggapan Kuda Sempana kini sudah tidak segairah pada

saat ia pertama-tama datang ke Kemundungan. Meskipun demikian

ia menjawab, “Baik paman.”

“Kita menunggu Wong Sarimpat. Sementara itu kita akan

menyiapkan diri kita masing-masing”.

Tetapi ketika pada sore harinya Wong Sarimpat datang, maka

persoalannya kembali menjadi panjang. Kebo Sindet mengumpat

tidak habis-habisnya.

“Kau lihat sendiri, Wong Sarimpat ?”

“Ya kakang”.

“Sepasukan prajurit dari Tumapel”.

“Gila. Benar-benar gila. Apakah kerja prajurit-prajurit itu?”

“Aku tidak tahu kakang. Tetapi mereka pasti akan lama tinggal di

Padang Karautan menilik bekal yang mereka bawa. Lebih dari

duapuluh pedati yang ditarik kerbau dan lembu mereka bawa serta”.

Tiba-tiba tampak sebuah kerut di dahi Kebo Sindet yang beku itu.

Tetapi hanya sesaat. Sesaat kemudian kembali wajah itu tidak

menunjukkan kesan apapun.

Namun orang itu menjadi heran pula ketika dilihatnya wajah

Kuda Sempana tidak menunjukkan kesan sama sekali. Anak muda

yang selama ini menahan dendam di dalam dadanya, tiba-tiba

dendam itu seakan-akan telah menguap seperti asap.

Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak bertanya apapun

kepadanya, bahkan mereka seakan-akan tidak melihat, perubahan

itu. Namun Wong Sarimpat yang hampir setiap hari melihat

kebekuan wajah kakaknya berkata di dalam hatinya, “Apakah Kuda

Sempana itu kini telah kejangkitan sikap seperti kakang Kebo

Sindet? Ataukah anak muda itu memang berusaha untuk berlaku

demikian karena ia merasa menjadi murid kakang Kebo Sindet?

Alangkah bodohnya. Umurnya tidak akan lagi lebih panjang dari

umur jagung. Begitu Mahisa Agni tertangkap, maka ia pun akan

menjadi orang tangkapan. Mungkin ia akan digantung di alun-alun

Tumapel setinggi pohon beringin”.

Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet bertanya, “Apakah kau

sangka bahwa sepasukan prajurit itu hanya sekedar lewat di Padang

Karautan atau mereka datang ke perkemahan orang-orang

Panawijen itu?”

Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia

menjawab, “Mereka datang ke perkemahan orang-orang

Panawijen”.

“Tetapi ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi. Mereka

datang untuk menyerahkan bantuan berupa bahan-bahan, tetapi

sesudah itu mereka kembali ke Tumapel, atau mereka akan ikut

serta dalam kerja membuat bendungan itu”.

“Mereka datang ke perkemahan itu”.

“Gila kau Wong Sarimpat. Kau tidak pernah menyelesaikan kerja

dengan baik. Tinggallah kau di rumah bersama Kuda Sempana. Aku

sendiri akan melihat dan membuat perhitungan-perhitungan baru”

kemudian kepada KudaSempana, “Kau pernah berkata bahwa kau

sendiri berasal dari Panawijen juga. Bukan begitu?”

Wajah Kuda Sempana yang beku seperti wajah Kebo Sindet itu

mengangguk, “Ya”.

“Dimana orang tuamu tinggal?”

Kali ini Kuda Sempana menjadi ragu-ragu. Apakah kepentingan

orang itu bertanya tentang orang tuanya?

“He, bagaimana?”

Kuda Sempana tidak segera menjawab.

“Kau agaknya menjadi ragu-ragu. Aku berbuat semata-mata

untuk kepentinganmu”.

Meskipun dada anak muda itu diamuk oleh kebimbangan, namun

ia menjawab juga, “Ya. Orang tuaku tinggal di Panawijen. Tetapi

mereka sudah tua”.

“Itu tidak penting. Mungkin mereka akan berguna bagimu dan

dapat membantu anaknya melepaskan sakit hatinya”.

“Apa yang dapat mereka lakukan?”

“Serahkan kepadaku”.

“Paman” berkata Kuda Sempana dengan nada yang rendah,

“jangan paman menyeretnya ke dalam kesulitan. Biarlah aku sendiri

yang bertanggung jawab atas segala macam persoalan. Sebaiknya

paman melepaskannya dan membiarkannya menghabiskan sisa-sisa

hidupnya dengan tenteram”.

“Jangan bodoh dan jangan menjadi cengeng. Aku tidak akan

berbuat segila yang kau sangka. Aku hanya akan berbuat untuk

kepentinganmu”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi kini ia bukan saja menjadi

ragu-ragu. Kecemasan yang dalam telah menggores dinding

jantungnya. Namun ia tidak mengucapkannya.

Malam itu juga Kebo Sindet pergi meninggalkan Kemundungan.

Dengan berbagai macam persoalan di dalam dadanya, ia ingin

menyaksikan sendiri, apakah benar para prajurit Tumapel itu untuk

sementara menetap di Padang Karautan?. Sementara itu Wong

Sarimpat tinggal di rumah bersama Kuda Sempana yang diamuk

oleh berbagai perasaan. Ia kini justru berpikir tentang orang tuanya.

Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Kebo Sindet dengan

kedua orang tuanya itu?

Tetapi, ketika hatinya menjadi semakin pepat, Kuda Sempana itu

berdesah, “Persetan. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dengan

siapa pun juga. Bahkan apa yang akan terjadi dengan diriku

sendiri”.

Dan kembali anak muda itu berusaha melupakan segala-galanya.

Ia mencoba untuk tidak berpikir dan merasakan sesuatu. Ia tinggal

menjalani apa yang terjadi hari ini. Besok biarlah dipikirkannya

besok. Sedang apa yang pernah terjadi kemarin, diusahakannya

untuk melupakan sama sekali.

Hidupnya kemudian menjadi sepotong-sepotong. Seolah-olah tak

ada hubungan lagi antara apa yang pernah terjadi, apa yang sedang

berlaku dan apa yang akan datang kemudian.

Ketika malam menjadi gelap, maka Kebo Sindet berpacu dengan

kudanya mendaki tebing bukit gundul. Suara berderak memecah

sepi malam menyelusur dan memantul kembali meneriakkan gema

yang melingkar-lingkar karena dinding-dinding batu pegunungan

gundul itu. Dengan gigi yang terkatub rapat orang itu

menggenggam kendali kudanya. Di kepalanya bergelut berbagai

rnacam persoalan. Sehingga tanpa sesadarnya ia berdesis, “Gila

orang-orang Tumapel itu. Kalau benar mereka berada di

perkemahan, maka aku pasti akan menemui kesulitan. Aku harus

segera dapat mengambil Mahisa Agni sebelum adiknya tenggelam

dalam kehidupan yang bahagia di dalam istana. Dengan demikian,

maka adalah suatu kemungkinan bahwa Ken Dedes itu akan

melupakan kakaknya dan tidak lagi mempedulikannya. Tetapi kini,

hubungan mereka masih terlampau erat. Menurut ceritera Kuda

Sempana, maka Ken Dedes sangat mencintai kakaknya sehingga

apapun telah dilakukannya untuk menjemput Mahisa Agni

menghadap Akuwu Tunggul Ametung”.

Kebo Sindet itu menggeretakkan giginya Kudanya segera

dipacunya semakin cepat. Ia ingin segera melihat, apakah

sebenarnya yang telah terjadi di Padang Karautan.

Sementara itu otaknya masih juga berputar terus. Perlahan-lahan

ia bergumam kepada diri sendiri, “Hem. Mungkin orang tua Kuda

Sempana akan dapat membantuku apabila apa yang dikatakan oleh

Wong Sarimpat itu benar telah terjadi, Orang yang sudah tua itu

pasti tidak berada di Padang Karautan. Mereka pasti tinggal di

rumah mereka”.

Dan suara derap kaki kuda itu pun semakin keras memecah sepi

malam. Gemeretak beradu dengan batu-batu padas memencar di

sekitar bukit gundul yang kini telah mulai dituruninya.

Jauh dari Padang Karautan, di luar kota Tumapel, seorang tua

dengan tongkat yang panjang berjalan tersuruk-suruk. Selangkah

demi selangkah ia maju. Namun begitu sering ia harus berhenti

untuk mengatur pernafasannya. Berkali-kali ia bersandar pada

pohon-pohon di pinggir jalan untuk menenangkan detak jantungnya

yang seakan-akan tidak teratur lagi.

Sekali ia menarik nafas dalam.

“Beberapa langkah lagi” desisnya, “mudah-mudahan aku dapat

mencapai padepokan itu”.

Kembali orang tua itu berjalan tertatih-tatih. Tangan kanannya

bertelekan pada tongkat pangjangnya, sedang tangan kirinya

seakan-akan menahan punggungnya supaya tidak terlepas.

“Gila orang-orang liar itu” gumamnya, “benar juga kata Empu

Gandring dan Panji kurus itu, bahwa sukarlah untuk mendekati Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku dahulu mampu

memperalatnya. Namun kini agaknya kepala Kebo Sindet menjadi

semakin tajam. Berbeda dengan adiknya yang dungu itu”.

Ketika angin malam berhembus mengusap tengkuknya, maka

orang tua itu menengadahkan wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang

berhamburan di dataran langit yang biru pekat.

Melihat kebesaran alam yang terentang itu, orang tua itu menarik

alisnya. Seakan-akan baru kali ini dilihatnya bintang gemintang yang

berkeredipan di angkasa. Masing-masing dengan bentuk dan

susunannya sendiri. Masing-masing beredar menurut irama yang

berbeda. Tetapi penuh dengan keserasian.

Tiba-tiba orang tua itu seakan-akan melihat sebuah dunia yang

asing. Dunia yang selama ini tdiak pernah dilihatnya. Benda-benda

yang gemerlapan berpijar dalam warna yang cemerlang.

Perlahan-lahan orang tua itu mengangguk-anggukan kepalanya.

Punggungnya masih terasa sakit. Meskipun luka-lukanya telah

hampir sembuh, namun tenaga masih belum pulih sama sekali.

Ternyata luka-luka kulit dan luka-luka di bagian dalamnya cukup

berat. Meikipun luka-luka pada kulitnya telah tidak lagi

mengganggunya.

“Aku memerlukan waktu” desahnya, “mudah-mudahan aku

segera sembuh. Kalau aku dapat mencapai pedepokanku itu masih

seperti keadaannya semula, maka aku akan dapat mengobati lukaluka

di bagian dalam tubuhku dengan baik. Tidak akan terhitung

minggu, aku pasti akan mendapat kekuatanku kembali. Empu Sada

tetap memiliki namanya yang lama” Orang itu, Empu Sada, telah

hampir sampai ke padepokannya kembali, setelah ia bersembunyi

berjalan berhari-hari dengan susah payah. Setelah ia berhasil

menyelamatkan dirinya dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat maka kini di dalam hatinya pun menyala dendam

kepada kedua orang itu. Apalagi ketika ia telah kehilangan muridnya

yang dibangga-banggakan. Keduanya hilang. Keduanyalah yang

selama ini paling banyak memberinya berbagai rnacam barang dan

perhiasan. Saudagar keliling yang menamakan dirinya Bahu Reksa

Kali Elo, dan seorang hamba istana yang dekat dengan Akuwu

Tunggul Ametung, Kuda Sempana.

Empu Sada saat itu tidak memikirkan dari mana orang yang

menyebut dirinya Bahu Rekso Kali Elo itu mendapat barangbarangnya.

Tetapi ternyata orang itu mampu memberinya

kesenangan, sehingga kepada orang itu berdua dengan Kuda

Sempana, maka ilmunya paling banyak diberikan.

Tetapi kini Empu Sada menjadi kecewa. Kecewa akan cara yang

ditempuhnya. Ternyata dengan demikian, ia tidak mendapatkan

apapun juga. Barang-barang dan perhiasan-perhiasan yang

bertumpuk-tumpuk itu sama sekali tidak dapat membantunya

menghadapi orang-orang seliar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Hanya kemampuan berkelahilah yang dapat membantu aku

berurusan dengan kedua orang-orang liar itu” gurnamnya, “tetapi

aku kini telah terlambat. Aku tidak akan sempat membentuk

beberapa orang yang cukup kuat untuk menghadapi mereka

berdua, meskipun sepuluh atau dua puluh orang sekaligus”.

Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir

kekecewaannya. Tetapi setiap kali kekecewaannya itu kembali

merayapi hatinya.

“Hem” gumamnya, “seandainya aku mempunyai seorang murid

seperti Mahisa Agni, Witantra dan saudara-saudara seperguruan

murid Panji yang kurus itu. Aku akan mampu menempa mereka

berempat dan menyiapkan mereka untuk berhadapan dengan salah

seorang dari orang-orang liar itu”.

Tetapi kemudian ia berdesah, “Terlambat. Terlambat”.

Empu Sada itu pun terdiam. Sunyi malam telah menyebabkan

hatinya menjadi semakin pahit. Sekali lagi ia menatap bintang di

langit. Dan Tiba-tiba ia tersadar, betapa besar alam yang terbentang

dihadapannya. Betapa besarnya. Lebih dari pada itu, alangkah Maha

Besar Pencipta Nya.

Sejalan dengan kesadarannya tentang kebesaran alam yang

selama ini sama sekali tidak pernah dihiraukannya, maka terasa pula

betapa kecil dirinya. Ya, betapa kecil dan lemahnya. Dikenangnya

apa yang baru dialaminya. Bukit gundul, padang alang-alang,

sebuah sendang yang luas. Alangkah sakitnya terbanting ke dalam

jurang di tebing gunung gundul yang kecil dibandingkan dengan

Gunung Kawi. Apalagi dibandingkan dengan Gunung Semeru. Dan

alangkah sempitnya sendang itu dibandingkan dengan Samodra.

Samodra Kidul yang luas. Lebih-lebih lagi betapa perbandingan itu

diterapkannya dengan dirinya.

“Apakah arti nama Empu Sada berhadapan dengan alam ini?”

Tiba-tiba terbersit pertanyaan di dalam batinya.

Perasaan orang itu menjadi semakin dalam terbenam dalam

kekecewaan dan penyesalan. Ternyata hidupnya yang sudah sekian

lama itu, sama sekali tidak berarti apapun bagi hari tuanya. Tak ada

yang dapat ditinggalkannya apabila ia kelak meninggalkan dunia ini.

Tak ada yang dapat dibanggakannya. Perguruannya, muridnya dan

bahkan dirinya sendiri. Tak ada yang dapat dibanggakannya, yang

jasmaniah, apa lagi yang rokhaniah. Tidak ada yang akan

mengatakan bahwa perguruan Empu Sada telah melahirkan anakanak

muda yang perkasa, yang pilih tanding, mumpuni saliring ilmu

Jaya kawijayan guna kasantikan. Tidak. Tidak ada. Apalagi anakanak

muda yang berbudi, yang memancarkan cinta kasih sesama.

Yang selalu siap mengulurkan tangan menolong setiap kelemahan di

dalam kebenaran. Tidak ada. Yang ada adalah dendam dan

permusuhan. Dendam Kuda Sempana yang meluap-luap yang

selama ini dibenarkannya. Dendam yang kemudian tertanam di

dalam hatinya sendiri kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Dendam yang akan menyala tanpa dapat dipadamkan.

Empu Sada menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin

melupakan segala kepahitan itu. Ia ingin segera sampai di

padepokannya. Kemudian beristirahat dan mengambil reramuan

obat-obatnya untuk menyembuhkan luka-luka di bagian dalam

tubuhnya.

Tetapi setiap kali kekecewaan dan penyesalan itu muncul di

permukaan wajah hatinya.

“Hem” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dan ia semakin

terdorong dalam perasaan yang pahit. Orang tua itu merasa bahwa

hidup yang pernah dijalaninya sama sekali tidak berarti apa-apa

bagi dunia ini. Adanya seperti tidak ada, bagi kebajikan, dan apabila

ia kelak mati, maka tidak ada jejak yang pernah ditinggalkan di kulit

bumi ini. Selain noda-noda yang hitam.

Perlahan-lahan namun akhirnya Empu Sada itu pun menjadi

semakin dekat dengan pedukuhannya. Ia ingin sampai di padepokan

itu sebelum fajar.

Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, inaka

orang tua itu telah melangkahkan kakinya masuk ke halaman

padepokannya. Terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Seakanakan

ia merupakan orang asing di halaman rumahnya sendiri. Telah

sering benar ia melakukan perjalanan dan pengembaraan. Telah

sering benar ia meninggalkan padepokan itu sampai berhari-hari

bahkan berbulan-bulan. Tetapi ia selalu pulang dengan dada

tengadah. Dengan kebanggaan di dalam hatinya, bahwa isi rumah

itu akan bertambah. Emas berkeping-keping di dalam gledegnya

akan bertambah banyak. Simpanannya harta benda akan menjadi

semakin penuh. Apabila ia membuka peti kayu cendana di sisi

pembaringannya, maka gemerlap intan, berlian, mirah dan jamrut

menjadi kian cemerlang.

Tetapi kali ini ia membawa kesuraman di hatinya. Bukan karena

tubuhnya terluka. Adalah menjadi kebiasaan pula baginya, pulang

dengan luka di luar dan dalam tubuhnya itu. Tetapi lukanya kali ini

terlampau parah. Jauh lebih parah dari luka pada tubuh di bagian

luar maupun di bagian dalam. Kali ini luka yang dibawanya adalah

luka di hatinya.

Setiap kali orang tua itu menarik nafas terlampau dalam Setiap

kali terasa dadanya berdesir. Kadang-kadang ia merasa bahwa ada

sesuatu yang belum dikerjakannya, tetapi ia tidak tahu, apakah

yang sedang mengejarnya itu.

Akhirnya Empu Sada sampai pula di muka rumah yang berada di

tengah-tengah halaman yang cukup luas. Rumah itu tidak terlampau

besar. Tidak terlampau baik, dan bahkan rumah itu adalah rumah

yang sederhana. Tak banyak orang yang tahu, siapakah yang

tinggal di dalam rumah itu. Tetapi bagi mereka yang

mengetahuinya, maka rumah itu merupakan rumah yang angker.

Bahkan menyeramkan. Rumah yang halamannya terlampau rimbun.

Rumah yang pintu-pintunya jarang-jarang terbuka. Hampir tak

pernah tampak seorang dua orang berada di halamannya. Apalagi

suara anak-anak yang tertawa dan berteriak-teriak dalam sebuah

permainan yang gembira. Rumah itu seakan-akan diliputi oleh

sebuah rahasia yang gelap. Tetapi di dalam rumah itu tertimbun

berkeping-keping emas. Bergumpal-gumpal intan dan berlian.

Bahkan berbagai macam barang-barang berharga lainnya.

Tetapi ketika tangan Empu Sada telah terayun untuk mengetuk

pintunya, ia menjadi ragu-ragu. Apakah tidak ada bahaya yang

sedang menunggunya di dalam rumah itu? Mungkin orang-orang

Witantra bahkan mungkin Panji Bojong Santi sendiri, atau mungkin

pula Wong Sarimpat, atau Kebo Sindet atau bahkan kedua-duanya,

atau Empu Gandring atau Empu Purwa?

Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Alangkah

gelisah perjalanan hidupnya. Meskipun umurnya telah hampir

sampai dua pertiga abad, tetapi ia masih belum juga menemukan

sesuatu. Bahkan ia sama sekali terjauh dari ketenteraman dan

kedamaian hati. Alangkah banyak lawan-lawannya. Orang yang

paling jahat seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sampai orang

yang cukup mengendap seperti Empu Purwa. Dan ini adalah buah

yang harus dipetiknya dari benih yang pernah ditaburkannya.

Karena itu, maka Empu Sada mengurungkan niatnya. Perlahan ia

berjalan bertelekan tongkatnya menyusur sisi rumahnya dengan

hati-hati. Ia ingin melihat ke belakang dimana beberapa orangorangnya

berada. Ia harus bertemu dengan salah seorang dari

mereka untuk mendapat keyakinan bahwa ia dapat memasuki

rumahnya dengan aman.

Di sebuah bilik yang sempit Empu Sada masih melihat sebuah

pelita yang menyala. Dengan hati-hati maka didekatinya bilik itu.

Ketajaman telinganya mendengar bahwa di dalam bilik itu

seseorang sedang tidur nyenyak.

Empu Sada tahu benar, bahwa bilik itu adalah bilik salah seorang

pelayannya. Dengan hati yang berdebar-debar perlahan-lahan

diketuknya dinding bilik itu, tepat pada arah kepala pelayan itu

tidur.

Dengan gugup pelayan itu bangun. Ia mendengar seseorang

berada di luar biliknya. Karena itu maka perlahan-lahan ia bertanya,

“Siapa?”

“Aku, Empu Sada”.

“Oh, apakah Empu yang berada di luar itu?” terdengar pelayan

itu bertanya lebih keras.

Sesaat keadaan menjadi sunyi. Empu Sada yang sedang dibakar

oleh keragu-raguan dan prasangka tidak segera menjawab. Tetapi

ketika ia mendengar suara itu kembali bertanya Empu Sada “Empu,

adakah Empu yang datang itu?” Maka ia menjadi yakin bahwa suara

itu benar-benar suara pelayannya.

Perlahan-lahan Empu Sada pun kemudian menjawab, “Ya. Aku

Empu Sada”.

Kini Empu Sada mendengar orang itu bangun dengan tergesagesa.

Bahkan kemudian kakinya telah menendang sebuah mangkuk

tanah, dan hampir-hampir pula tangannya menyentuh pelita di

tiang.

Dengan tergopoh-gopoh pula orang itu membuka pintu sambil

bertanya, “Empu, kenapa Empu datang lewat pintu belakang?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Kembali ia menjadi curiga.

“Siapakah yang berada di dalam?” bertanya Empu itu.

Pelayannya itu pun menggeleng, “Tidak ada Empu, kecuali

seorang juru panebah yang menunggui ruang dalam, sambil

mengharap-harap Empu segera datang kembali”.

“Hanya satu orang?”

Pelayan itu pun menjadi bingung. Tetapi kemudian ia menjawab,

“TidakEmpu. Ada dua orang yang berada di ruang dalam”.

“Nah. Kenapa kau berkata hanya seorang?”

“Aku lupa Kiai”.

“Siapakah yang seorang itu? Bojong Santi, Empu Gandring atau

siapa?”

Pelayannya semakin heran. Ia belum mengenal nama-nama itu

sama sekali.

“Siapa? Siapakah yang kau sembunyikan di rumah itu untuk

menanti aku? Kebo Sindet atau Wong Sarimpat?”

Pelayan itu menjadi semakin bingung. Nama-nama yang disebut

oleh Empu Sada benar-benar membingungkan. Pelayan itu telah

mengenal beberapa orang murid-murid Empu Sada yang terdekat.

Tetapi nama-nama itu tidak pernah disebutnya.

“Siapa?” bentak Empu Sada.

“Sumekar. Murid Empu yang Empu tugaskan untuk menjaga

rumah ini”.

“Oh” Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Terasa perasaan

aneh berdesir di dadanya. Ternyata anak yang berada di dalam

rumah itu adalah Sumekar.

“Kenapa tidak kau katakan sejak tadi?” bertanya Empu Sada.

“Aku terlupa Kyai” jawab pelayan itu.

Empu Sada menjadi malu sendiri. Seandainya pelayannya itu

berani menatap wajah orang tua itu di dalam terang, maka akan

tampaklah bahwa muka yang telah mulai berkerut-merut oleh garisgaris

umur itu menjadi kemerah-merahan.

“Alangkah cemasnya hati ini” desis Empu Sada itu di dalam

hatinya “Betapa gelisah dan goyahnya hidupku. Sama sekali tidak

ada ketenteraman dan kedamaian”.

Tiba-tiba Empu Sada tersentak ketika ia mendengar gerit

perlahan-lahan di sampingnya. Dengan tanpa dikehendakinya

sendiri, tiba-tiba orang tua itu telah bersiap menghadapi setiap

kemungkinan. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia melihat se

orang anak muda yang keluar dari pintu rumah itu. Sumekar.

“Oh” sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam, “Kau

Sumekar”.

“Ya Empu. Aku mendengar suara Empu bercakap-cakap. Mulamula

aku sangka orang lain. Empu Sada biasanya tidak melalui pintu

ini”.

“Ya, ya” sahut Empu Sada tergagap.

“Marilah Empu. Silahkanlah”.

“Kau sendiri?” bertanya Empu Sada.

“Ya” sahut Sumekar.

Empu Sada pun kemudian dengan hati-hati memasuki rumahnya,

rumah yang telah berpuluh tahun ditempatinya. Tetapi kini rasarasanya

ia sedang memasuki sebuah goa rahasia yang penuh

dengan bahaya yang sedang menantinya.

Tetapi akhirnya Empu Sada mengenali tempat itu kembali.

Perlahan-lahan kekhawatirannya pun menjadi surut. Ia mengenal

setiap pintu, tiang dan bahkan setiap jelujur kayu yang ada di dalam

ruangan itu. Lampu minyak yang menggapai-ngapai di tlundak yang

melekat pada saka guru. Sebuah amben yang besar di sebuah sisi,

dan disekat oleh sebuah dinding, adalah bilik yang khusus dibuat

untuknya, untuk menyimpan sebagian dari kekayaannya.

“Tak seorang pun masuk ke dalam bilik itu?”

“Tidak Empu” sahut Sumekar.

“Kau?”

“Ya. Kadang-kadang untuk membawa para pelayan

membersihkannya”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia

bertanya kembali, “Dimana orang-orang lain?”

“Di luar Empu, Dua orang selalu tidur di atas gedogan kuda”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejak ia belum

berangkat bersama Kuda Sempana dua orang muridnya yang masih

belum terlalu baik selalu tidur di atas kandang kuda.

Belum lagi Empu Sada sempat beristirahat, terdengar ayam

jantan berkokok bersahutan. Terontong-terontong terbayang pada

lubang-lubang dinding cahaya fajar yang menjadi semakin terang.

Empu Sada menggeliat sambil menyeringai. Tubuhnya masih

terasa sakit-sakit.

“Siapakah yang datang ke rumah ini sepeninggalku untuk

mencari aku?”

Sumekar mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat.

Tetapi kemudian ia menjawab, “ Tidak ada Empu”.

“Tidak ada?” jawaban itu tidak meyakinkannya.

“Tidak Empu”.

“Prajurit-prajurit Tumapel?”

Sumekar menggeleng, “Tidak Empu”.

“Orang-orang yang liar seliar orang-orang hutan?”

Kembali Sumekar mengerutkan keningnya. Kemudian kembali ia

menjawab, “Tidak Empu”.

Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi ia tidak yakin akan

kebenaran kata-kata Sumekar. Mungkin Sumekar tidak ada di rumah

waktu itu atau mungkin anak itu sudah tidak ingat lagi. Tetapi

apabila yang datang Witantra dengan pasukannya, maka mustahil

bahwa Sumekar tidak tahu atau melupakannya.

“Jadi tidak ada seorang pun yang datang?”

“Maksudku, tidak ada yang datang untuk suatu keperluan yang

khusus Empu. Mungkin ada juga satu dua orang yang bertanya

tentang Empu, tetapi mereka agaknya tidak mempunyai persoalan

yang penting”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba

alisnya berkerut, “Coba katakan, apakah kau masih ingat yang satu

dua orang itu?”

“Aku tidak memperhatikannya Empu, sebab mereka agaknya

juga tidak menganggap penting”.

“Ya, mungkin. Tetapi siapa saja seingatmu?”

Sumekar mengingat-ingat sejenak. Kemudian katanya, “Yang aku

ingat Empu. Saduki pernah datang kemari”.

“Persetan dengan orang itu. Apa keperluannya?”

“Isterinya ngidam Empu. Isterinya itu ingin sekali makan jeruk

yang sedang berbuah di halaman depan”.

“Cukup, cukup tentang orang gila itu” Sumekar terdiam.

“Ya lain”.

Sumekar mencoba mengingat-ingat. Ada juga satu dua orang

yang menanyakan gurunya saat itu. Tetapi mereka pada umumnya

adalah orang-orang yang sering datang untuk mengadakan jual beli

dan tukar menukar barang-barang. Tetapi Tiba-tiba Sumekar itu

ingat, bahwa pernah datang seseorang yang belum pernah

dilihatnya. Tetapi agaknya orang itu pun tidak mempunyai keperluan

yang penting. Mungkin orang itu sahabat Empu Sada atau mungkin

salah seorang keluarganya. Meskipun demikian Sumekar itu pun

berkata, “Empu, ada aku ingat seseorang yang belum pernah aku

kenal. Kecuali para pedagang yang ingin berjual beli dan tukar

menukar seperti yang sering terjadi, maka pernah datang seorang

yang usianya sebaya dengan Empu”.

Empu Sada mengerutkan keningnya, “Siapa?”

“Tetapi orang itu tidak mempunyai apapun. Ia hanya sekedar

ingin berkunjung kepada Empu Sada. Mungkin ia sahabat Empu

yang sudah agak lama tidak bertemu”.

“Ya siapa?”

“Orang itu tidak menyebut namanya”.

“Kau katakanlah ciri-cirinya”.

“Orang itu agak tinggi. Kurus”.

“Ada berpuluh-puluh orang yang tinggi kurus di dunia ini”.

Sumekar mengerutkan keningnya. Tetapi Tiba-tiba ia berkata,

“Orang itu membawa sebuah kasa yang dibuatnya dari kulit

harimau. Kasa itu telah menarik perhatianku saat itu”.

“He” Empu Sada itu terkejut bukan buatan. Sehingga dengan

serta-merta ia tegak berdiri seperti sebuah tonggak yang kokoh

“Orang itu membawa kasa dari kulit harimau?”

Sumekar pun terkejut bukan main. Bukan karena kasa yang

dibuat dari kulit harimau itu, tetapi justru karena sikap gurunya.

“Ya” sahutnya terbata-bata.

“Alangkah bodohnya kau. Jauh lebih bodoh dari orang yang

menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu. Orang yang membawa

kasa dari kulit harimau itu bernama Panji Bojong Santi”.

“Oh” Sumekar meng-angguk-angguk, “Aku belum tahu Empu.

Empu belum pernah memberi tahukan kepadaku. Aku menyesal

bahwa aku tidak mempersilahkannya untuk menunggu Empu atau

menanyakan dimanakah rumahnya, sehingga aku akan dapat

memberitahukan bahwa Empu telah kembali”.

“Gila, gila kau” Empu Sada itu hampir berteriak, “jangan kau

suruh ia masuk rumah ini, apalagi menunggu aku pulang. Kini ia

tidak boleh mendengar bahwa Empu Sada telah berada di

padepokannya kembali. Kau dengar?”

Sumekar menjadi bertambah bingung. Ia tidak tahu bagaimana ia

harus menanggapi kata-kata gurunya. Bahkan sedemikian

bingungnya sehingga tanpa disadari ia berkata, “Orang itu baik

guru. Ramah dan menyenangkan”.

“Oh, Sumekar, Sumekar” Tiba-tiba Empu Sada menekan dadanya

yang masih terasa sakit, “alangkah bodohnya kau Panji Bojong Santi

bagiku jauh lebih berbahaya dari sepasukan prajurit Tumapel

meskipun dari kesatuan pengawal Akuwu yang dipimpin oleh

Witantra itu sekalipun. Ternyata orang itu benar licin seperti iblis.

Yang mencari aku kemari bukan sepasukan prajurit, tetapi seorang

Panji Bojong Santi”.

Kini Sumekar benar-benar terbungkam. Ia tahu kemungkinankemungkinan

yang demikian, bahwa suatu ketika gurunya akan

dicari oleh sepasukan prajurit karena berbagai macam persoalan.

Mungkin soal barang-barang yang diambilnya dari orang lain,

meskipun tidak dengan tangannya sendiri. Mungkin soal-soal lain

yang serupa dengan kejahatan. Meskipun salah seorang murid

Empu Sada itu adalah seorang Pelayan Dalam Akuwu Tunggul

Ametung yang dekat, Kuda Sempana. Namun agaknya ada sesuatu

yang tidak wajar pada muridnya yang seorang itu.

Empu Sada itu pun kemudian terduduk di amben bambu. Terasa

dadanya menjadi bertambah pedih.

“Oh” desahnya, “untunglah orang itu tidak kembali. Ingat, tak

seorang pun boleh tahu bahwa Empu Sada telah berada di

padepokannya. Aku harus menyembuhkan segenap luka-lukaku.

Sesudah itu, ayo siapakah yang akan datang menemui aku. Panji

Bojong Santi, Empu Gandring, Empu Purwa, Kebo Sindet atau Wong

Sarimpat?”

Empu Sada terdiam. Tetapi kata-katanya itu telah mendebarkan

jantungnya. Bahkan ia berdesah di dalam hati, “Alangkah banyak

musuh yang harus aku hadapi”.

Sebenarnya Empu Sada tidak sedang dilanda oleh kecemasan

dan ketakutan. Sebagai seorang yang telah memilih jalan hidupnya

di dalam lingkungan para sakti, maka apa yang dihadapinya itu

sama sekali tidak mengejutkannya, apalagi menakutkannya. Namanama

yang pernah disebutnya tidak akan mampu membuatnya

berkecil hati. Apabila ia harus menghadapi bahaya yang betapapun

besarnya, maka yang dilakukannya adalah mencari jalan untuk

melawan bahaya itu.

Tetapi kali ini ada perasaan yang asing di dalam dirinya.

Perasaan yang selama ini belum pernah dikenalnya. Meskipun ia

sama sekali tidak merasa takut, namun perasaan asing itulah yang

kini mendorongnya pada suatu keadaan yang asing pula baginya.

Tiba-tiba Empu Sada itu tanpa dikehendakinya mencoba menilai

dirinya. Ia melihat orang lain seperti Bojong Santi, Empu Purwa,

Empu Gandring dan beberapa orang lain. Kenapa mereka dapat

bidup tenteram dan damai? Seakan-akan mereka tidak diamuk oleh

kegelisahan dunia. Meskipun sekali-sekali mereka harus juga

berkelahi, tetapi mereka merasa berdiri di atas landasan yang

mantap.

Mereka berkelahi dan menghadapi lawan-lawannya dengan

terbuka untuk kepentingan yang terbuka pula.

Tanpa sesadarnya orang tua itu berdiri dan melangkah ke dalam

biliknya. Dilihatnya sebuah peti terletak di sudut ruang itu diikat

dengan kuatnya Tetapi sebenarnya tidak di dalam peti itulah

kekayaan Empu Sada yang sebenarnya. Ia menyimpan peti-peti di

tempat yang dirahasiakannya. Satu di antara peti-peti itu dibuatnya

dari kayu cendana. Peti yang tidak pernah terpisah dari samping

pembaringannya. Telapi peti itu berada di dalam dinding yang

sebenarnya berlapis. Sedang di dalam peti yang terikat itu

disimpannya beberapa macam benda yang kurang berharga dari

benda-benda yang telah disembunyikannya.

Melihat benda itu terasa dada Empu Sada berdesir. Ia tahu benar

bahwa di belakang peti yang terikat itu, di belakang dinding yang

berlapis itu, ia mempunyai kekayaan yang luar biasa banyaknya.

Tetapi apakah artinya kekayaan itu baginya?

Empu Sada terhenyak dalam suatu keadaan yang

membingungkannya. Ternyata kekayaan yang tidak terhitung itu

tidak dapat memberinya kedamaian. Kekayaan yang diterimanya

dengan menjual ilmunya dengan harga yang cukup mahal, tanpa

menghiraukan akibat daripadanya. Tanpa mengingat, apakah yang

akan dilakukan oleh murid-muridnya itu kelak.

Perlahan-lahan Empu Sada duduk di amben pembaringannya.

Kini dadanya benar bergolak. Apakah sebenarnya arti kekayaan itu

baginya? Kekayaan itu tidak memberinya kenikmatan jasmaniah.

Rumahnya bukan rumah yang seindah istana. Ia tidak membiarkan

dirinya makan dan minum sepuas-puas hatinya. Ia tidak berbuat

sesuatu dengan kekayaannya itu.

Belum pernah ia mempunyai seperti kini. Ia heran sendiri, buat

apa sebenarnya ia menyimpan kekayaan itu? Buat apa?

Dibiarkannya dirinya terlunta-lunta. Makan hanya sekedar untuk

memelihara tubuhnya. Pakaian hanya sekedar selembar kain.

Kekayaan yang dikumpulkannya bahkan kadang-kadang dengan

bertaruh nyawa itu sama sekali tidak berarti baginya, tidak

memberinya kenikmatan jasmaniah.

Apalagi nilai rokhaniah. Nilai-nilai pengabdian dan kebaktian.

Pengabdian kepada sesama dan kepada kemanusiaan, serta

kebaktian yang bulat kepada Maha Pencipta Nya. Tidak. Sama sekali

tidak, bahkan nilai-nilai itu telah seringkali dikorbankannya untuk

mendapatkan kekayaan duniawi yang tidak bermanfaat justru bagi

keduniawiannya, apalagi kerokhaniaannya.

Empu Sada masih melihat lewat lubang pintunya yang masih

terbuka. Sumekar duduk termenung di luar biliknya. Seorang

pelayannya yang terbangun itu pun duduk pula sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak

mengetahui sesuatu. Apalagi pelayan itu, Sumekar pun menjadi

bingung melihat sikap gurunya.

Namun Sumekar itu dapat merasakan bahwa terjadi segala

macam luka yang pernah dialaminya. Dengan demikian pasti

gurunya mendapat kesulitan yang lain. Kesulitan yang tidak dapat

dimengertinya.

Sejenak kemudian mereka telah mendengar suara ayam yang

turun dari kandang-kandang mereka. Mereka mendengar suara sapu

di halaman. Lamat-lamat kicau burung telah menyegarkan pagi

yang terang dan jernih. Tetapi tidak demikian dengan hati Empu

Sada.

Pelayannya yang berada di dalam rumah itu pun segera ke luar.

Namun sekali lagi ia mendapat pesan bahwa orang lain tidak boleh

mendengar bahwa Empu Sada telah kembali.

Ketika pelayan itu telah pergi, maka dipanggilnya Sumekar masuk

ke dalam biliknya. Dengan cemas Sumekar melihat keadaan

gurunya yang tampaknya terlampau lesu “Apakah luka dalam yang

diderita oleh guru terlampau berat?” Tetapi Sumekar tidak berani

bertanya.

“Kau simpan obat-obat itu?” bertanya gurunya.

“Ya guru”.

“Baik. Bawa obat-obat itu kemari”.

“Ya guru” sahut Sumekar sambil meninggalkan gurunya

berbaring di amben bambu.

Sejenak kemudian Sumekar telah kembali sambil membawa

semangkuk obat yang sudah dicairkannya dengan air dingin.

“Berikanlah” minta Empu Sada sambil bangkit duduk. Dengan

sekali teguk maka obat itu pun telah dihabiskannya.

“Mudah-mudahan aku akan segera sembuh.” gumamnya.

“Mudah-mudahan Empu” sahut muridnya itu.

Empu Sada itu pun kemudian ditinggalkannya sendiri. Orang tua

itu kemudian kembali berbaring. Tanpa dikehendakinya, maka

berdatanganlah semua kenangan masa lampaunya yang suram.

Sekali-sekali terdengar Empu Sada itu berdesah. Kini bukan saja

bagian dalam tubuhnya yang terasa sakit, tetapi lebih-lebih lagi

adalah batinya. Masa lampaunya bukanlah masa yang

menyenangkan untuk dikenang.

Tiba-tiba terdengar orang tua itu memanggil muridnya perlahanlahan,

“Sumekar, Sumekar”.

Sumekar yang sedang membantu membersihkan ruangan dalam

itu tergopoh-gopoh melangkah masuk ke dalam bilik gurunya.

Dilihatnya gurunya menjadi semakin lesu, “Ya guru.” jawabnya

dengan gelisah.

“Kemarilah. Mendekatlah” berkata orang tua itu.

Sumekar itu pun segera mendekatinya. Dan duduk bersimpuh di

samping pembaringan gurunya.

“Sumekar” berkata Empu Sada, “obatmu benar-benar baik.

Terasa sakitku menjadi jauh berkurang”.

“Ya Empu. Obat itu adalah obat yang guru buat sendiri beberapa

bulan yang lalu”.

“Ya, ya. Tetapi kau telah membuat takaran yang tepat”.

“Ya guru”.

Empu Sada berhenti sejenak. Dipandanginya wajah muridnya

yang satu ini. Murid ini baginya tidak begitu menarik hati disaat-saat

yang lampau, ketika masih ada muridnya yang paling

dimanjakannya. Bukan karena sifat dan kemampuannya, tetapi

justru karena mereka itu mampu memberi banyak imbalan kepada

Empu Sada. Anak ini tidak seperti mereka itu. Tidak seperti Kuda

Sempana dan pedagang keliling yang bernama Cundaka. Bahkan

masih ada beberapa orang muridnya yang lain yang lebih menarik

dari anak ini. Tetapi murid-muridnya itu kini tidak ada di rumah ini.

Mereka berada di tempat yang terpencar tanpa dapat diawasinya

dengan baik, apakah yang telah mereka lakukan. Tetapi anak ini,

anak yang bernama Sumekar ini selalu berada di padepokannya.

Tak banyak yang dilakukan selain dengan tekun berlatih. Tetapi

Sumekar tidak banyak dapat memberinya imbalan. Meskipun ia anak

seorang petani yang kaya, tetapi ternyata tidak dapat menyamai

Kuda Sempana, seorang Pelayan dalam yang waktu itu dekat

dengan Akuwu Tunggul Ametung dan pedagang keliling yang kaya

raya yang seakan-akan barang-barangnya tidak pernah kering. Dan

Empu Sada tidak pernah bertanya dari mana orang yang menyebut

dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mendapatkan barang-barang

berharga.

Karena itu, maka Sumekar tidak banyak mendapat kesempatan

dari gurunya. Bahkan setiap kali ia ditinggalkannya di padepokan

untuk menunggui rumah dan halaman. Kalau ada sesuatu yang

tidak berkenan di hati Empu Sada pada saat ia kembali, maka

Sumekarlah tempat yang pertama-tama untuk menumpahkan segala

kemarahannya. Tetapi kali ini Empu Sada berbuat lain. Meskipun

terasa sesuatu yang kurang pada tempatnya, namun gurunya itu

tidak memaki-makinya dan mengumpannya. Bahkan kini gurunya itu

agaknya berkenan di hati oleh obatnya yang kebetulan dianggap

tepat takarannya.

Tetapi Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Ia tidak

dapat bertanya, apakah sebabnya maka perubahan itu terjadi.

Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Nafas Empu Sada

terdengar satu-satu meluncur dari lubang hidungnya. Terengahengah

seperti orang sedang kelelahan.

Sumekar menjadi cemas mendengar tarikan nafas gurunya itu.

Apalagi ketika kemudian ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya

gurunya terlampau pucat. Tetapi Sumekar masih juga belum berani

bertanya sesuatu. Ia menunggu sampai gurunya sendiri

mengatakannya kepadanya.

Barulah sejenak kemudian Empu Sada itu berkata, “Sumekar.

Apakah kau selalu tekun berlatih sepeninggalku?”

“Ya guru” sahut Sumekar, “aku telah mencobanya”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Di dalam batinya ia

berkata, “Sayang, aku tidak terlalu banyak memberikan bahanbahan

kepadamu. Tetapi yang terloncat dari bibirnya adalah,

“Sukurlah. Mudah-mudahan kau cepat dapat mengikuti kakak-kakak

seperguruanmu”.

“Mudah-mudahan guru” sahut Sumekar.

Namun dalam pada itu Sumekar melihat sesuatu di wajah

gurunya. Kebimbangan atau kecemasan. Tetapi ia masih juga belum

berani bertanya.

“Sumekar” berkata gurunya, “berlatihlah sebaik-baiknya. Aku

sudah cukup tua”.

Sumekar terperanjat mendengar kata-kata gurunya itu.

“Orang setua aku ini” berkata gurunya seterusnya, “pasti hanya

tinggal menunggu saat dipanggil kembali oleh pemilikNya. Aku telah

mendapat kesempatan hidup di dunia ini untuk waktu yang cukup

lama”.

“Guru” Tiba-tiba terloncat dari bibir Sumekar, namun kemudian ia

pun terdiam.

Empu Sada tersenyum. Baru kali ini ia melihat, bahwa Sumekar

memiliki kesetiaan yang terlalu baik bagi seorang murid. Murid

menurut caranya “Mungkin ia cemas karena ia belum mendapat ilmu

yang cukup” berkata Empu Sada di dalam hatinya, “bukan karena

aku adalah gurunya. Kalau ia tidak memerlukan aku lagi, maka

apapun yang akan terjadi atas diriku, ia tidak akan

memperdulikannya”.

Tetapi mata anak muda itu bagi Empu Sada tampak terlampau

jujur.

Tiba-tiba Empu Sada itu tidak dapat menahan hatinya lagi untuk

menceriterakan apa yang pernah dialaminya di perjalanan. Ia tidak

mempunyai seorang sahabat yang dipercayanya. Karena itu, untuk

mengurangi himpitan tekanan perasaan, maka diceriterakannya apa

yang telah terjadi itu kepada muridnya. Muridnya yang selama ini

tidak banyak mendapat perhatiannya.

“Anak ini adalah anak yang paling jujur yang pernah aku temui di

dalam perguruanku” desisnya di dalam hati.

Namun justru karena itu ia menjadi terasing. Seorang yang jujur

seakan merupakan duri bagi lingkungan yang sama sekali tidak

menghargai lagi kejujuran.

Sumekar mendengarkan kata demi kata yang meluncur dari raut

gurunya. Berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Kadangkadang

hatinya berdesir tajam, namun kadang-kadang menyala

seperti bara.

“Akhirnya aku terluka” terdengar mara Empu Sada lemah,

“beruntunglah bahwa aku sempat menyembunyikan diriku di dalam

air. Kalau tidak maka hari ini aku tidak akan bertemu dengan kau

lagi Sumekar”.

Terdergar gigi anak muda itu gemeretak. Ingin ia meloncat dan

berlari menemui orang-orang yang telah melukai gurunya untuk

membuat perhitungan. Tetapi Tiba-tiba ia hanya menghela nafasnya

dalam-dalam, “Gurunya dan dua orang kakak seperguruannya tidak

mampu melawan kedua orang yang diceritera kan oleh gurunya itu.

Apalagi dirinya sendiri. Tetapi meskipun demikian terasa bahwa ia

tidak mau menerima kekalahan itu tanpa pembalasan. Karena itu

maka ia berkata di dalam hatinya, “Suatu ketika aku akan dapat

menebus kekalahan ini”.

Tetapi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya

berkata, seolah-olah melihat perasaan yang bergolak di dalam

dadanya, “Sumekar, jangan kau membayangkan, bahwa suatu

ketika kau akan dapat menebus kekalahan ini. Kedua orang itu

benar-benar orang yang luar biasa. Serahkanlah orang-orang itu

kepada keadilan Yang Maha Agung”.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ragu-ragu ia

mencoba menjawab, “Tetapi apakah sifat-sifat yang bertentangan

dengan adab dan kemanusiaan itu akan kita biarkan saja Empu?”

Empu Sada lah yang kini terperanjat. Jawaban Sumekar tanpa

dikehendaki telah menusuk jantungnya pula. Bukan saja Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat yang telah berbuat bertentangan dengan

adab dan kemanusiaan. Ia sendiri, Empu Sada pun pernah

melakukannya.

Sejenak Empu Sada itu pun terdiam. Terasa bagian dalam

dadanya menjadi semakin sakit. Tetapi terlebih sakit lagi adalah

hatinya.

Kembali mereka terlempar dalam kediaman. Ruangan yang tidak

terlampau besar itu menyadi sunyi. Di luar terdengar gerit timba

seperti menggores jantung.

Matahari pun menjadi semakin tinggi pula. Dari celah-celah

dinding meloncatlah bayangan-bayangan yang bulat seolah-olah

berpijar pada sisi yang lain. Bergetar oleh bayangan dedaunan yang

hitam, yang bergerak-gerak karena angin pagi yang silir,

menumbuhkan suara gemerisik. Di dahan-dahan pepohonan,

burung-burung liar berkicau saling sambut-menyahut dengan

riangnya.

Tetapi hati Empu Sada kian bertambah sakit.

“Sumekar” berkata orang tua itu kemudian, “setiap

penyimpangan dari kehendak Yang Maha Agung, pada saatnya pasti

akan mendapat hukuman sewajarnya”. Empu Sada berhenti

sejenak. Kemudian diteruskannya, “tetapi pasti akan dipergunakan

tangan yang sesuai untuk kepentingan itu. Tanganmu terlampau

kecil untuk melakukannya, Sumekar”.

Sumekar hanya dapat menundukkan wajahnya. Ia merasa betapa

kecil arti dirinya dibandingkan dengan kedua orang yang dikatakan

oleh gurunya itu. Tetapi satu hal yang tidak dapat dimengertinya.

Kenapa gurunya harus berhubungan dengan kedua orang itu?

Semula Empu Sada ingin merahasiakan persoalan yang

sebenarnya dihadapi. Tetapi pandangan mata Sumekar yang

terlampau jujur itu terasa menghunjam ke pusat jantungnya.

Akhirnya Empu Sada tidak dapat bertahan lagi. Perlahan-lahan

dipanggilnya Sumekar semakin dekat. Katanya, “Sumekar. Mungkin

kau dapat pula mengerti, bahwa sebenarnya aku pun bukanlah

orang yang bersih. Aku pun termasuk orang yang sering

memperkosa peradaban dan kemanusiaan. Tetapi aku belum

terjerumus terlalu jauh seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Mungkin kau selalu bertanya-tanya di dalam hatimu, kenapa aku

pergi mencari kedua orang itu. Itu pun didorong pula oleh

kekuasaan nafsu yang telah mencengkam dadaku. Aku terlampau

menuruti kehendak Kuda Sempana, meskipun aku mempunyai

pamrih juga dari padanya. Kini kau lihat, justru tangan kedua orang

liar itulah yang dipergunakan untuk menghukumku. Hukuman

badaniah yang aku alami sekarang tidakkah separah penyesalan dan

kekecewaan hatiku. Cidera badaniah telah terlampau sering aku

alami, tetapi luka yang separah ini pada hatiku, belum pernah aku

rasakan”. Empu Sada itu terdiam sejenak. Kemudian

diceriterakannya pula hubungan antara Kuda Sempana dan Mahisa

Agni. Hubungan antara Kuda Sempana dan Ken Dedes.

Sumekar menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak tahu,

bagaimana ia harus menanggapi persoalan itu. Memang pernah

didengarnya persoalan yang terjadi antara kakak seperguruannya

yang menjadi Pelayan dalam itu. Memang ia pernah mendengar

pertentangan-pertentangan yang timbul kemudian sehingga kakak

seperguruannya itu harus menyingkir. Tetapi ia tidak tahu, bahwa

persoalan itu telah terdorong semakin jauh. Kini kakak

seperguruannya itu ternyata tertangkap oleh orang-orang yang

dikatakan gurunya orang liar itu. Bahkan kakak seperguruannya

yang seorang lagi terbunuh.

Pada satu segi Sumekar menjadi marah di dalam hati. Bahkan

tumbuh pula dendam di dadanya. Namun peda segi yang lain ia

merasa seakan apa yang terjadi itu adalah wajar. Bahkan

seharusnya.

Sekali lagi Sumekar itu terperanjat ketika ia mendengar gurunya

Tiba-tiba bertanya, “Sumekar, kenapa kau dahulu berguru

kepadaku? Ternyata kau terperosok ke dalam lingkungan yang

bertentangan dengan sifat-sifatmu sendiri. Dan kau selama ini

mencoba menyesuaikan dirimu. Aku kini merasa, bahwa kau telah

memilih jalan yang salah”.

Sumekar seakan-akan terbungkam karenanya. Pertanyaan itu

menjadi semakin keras berdentang di dalam telinganya sendiri “Ya,

mengapa aku dahulu berguru disini?” Mengapa aku terlempar dalam

lingkungan yang suram tanpa berusaha untuk menghindar meskipun

sebagian telah aku ketahuinya”.

Tetapi semuanya telah terjadi. Dan Sumekar itu merasa bahwa ia

telah pernah menerima berbagai ilmu dari gurunya itu. Karena itu,

maka ia tidak akan dapat lagi meloncat surut, kemasa yang lampau.

Sedang gurunya itu berkata, “Tetapi Sumekar, ada baiknya kau

melihat segenap persoalan dan akhir dari peristiwa ini. Kau akan

mendapatkan sebuah cermin yang baik untuk melihat, betapa

kekuasaan yang Maha Agung telah menggerakkan alat-alatNya

untuk menyelesaikan rencananya. Kau lihat bagaimana aku

sekarang terluka parah dan bahkan hampir mati terbunuh. Muridmuridku

kini tidak lagi dapat berbuat sesuatu. Malahan Cundaka itu

telah terbunuh pula sedang Kuda Sempana tidak sempat aku

selamatkan”. Empu Sada berhenti sejenak, kemudian

dilanjutkannya, “Karena itu Sumekar, sebelum kau terlanjur

terperosok dalam dunia yang gelap, kau dapat mengungkat kembali

sifat-sifatmu yang sebenarnya. Ilmuku sebenarnya bukan sejenis

ilmu yang kasar seperti ilmu yang di miliki oleb Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat. Tetapi meskipun demikian, ilmu hanya sekedar

kelengkapan hidup kita. Meskipun ilmu itu ilmu yang sekasar

apapun, lebih kasar dari ilmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat,

tetapi ilmu itu tidak dapat berbuat sendiri. Tergantung terlampau

jauh kepada pemiliknya. Orang yang memiliki sifat ilmu itu. Seperti

sebilah pisau di tangan anak-anak. Pisau itu akan dapat bermanfaat

baginya dan orang lain, untuk mengupas makanan dan buahbuahan.

Tetapi pisau itu juga akan dapat mendatangkan bencana

bagi dirinya dan orang lain. Bagaimanapun bentuk daripada pisau

itu”.

Kepala Sumekar menjadi semakin tunduk. Selama ini gurunya

tidak pernah memberinya petunjuk tentang jalan hidup yang harus

dipilihnya. Selama ini gurunya hanya memberinya petunjuk-petunjuk

bagaimana ia harus melakukan berbagai macam unsure-unsur

gerak. Dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit

sekalipun. Gurunya selama ini hanya membentak-bentaknya apabila

ia gagal melakukan sebuah latihan. Dan gurunya itu pula selalu

membentak-bentaknya apabila ia terlambat sehari dua hari tidak

menyerahkan imbalan setiap selapan kepadanya. Tetapi kini

gurunya bersikap lain. Gurunya itu mengatakan persoalan yang lain

dari memperbodohkannya. Gurunya berkata tentang hidup dan

kehidupan.

Tiba-tiba gurunya itu berkata, “Aku sudah cukup tua Sumekar”.

Sumekar mengangkat wajahnya. Ditatapnya kedua mata gurunya

yang suram.

Tetapi gurunya tidak pernah berbuat demikian sebelumnya.

Gurunya bukan hanya sekali ini terluka. Bahkan jauh lebih parah.

Namun gurunya itu tidak pernah menjadi lesu dan kehilangan

gairahnya seperti sekarang.

“Sumekar” berkata gurunya, “kau harus tekun berlatih”.

Sumekar tidak tahu apa yang bergolak di dalam dada gurunya,

tetapi ia menjawab, “Ya guru”.

“Lupakanlah kakak seperguruanmu, Cundaka dan Kuda

Sempana. Lupakanlah apa yang pernah mereka lakukan. Meskipun

aku mengetahuinya, bagaimana Cundaka itu mendapatkan berbagai

macam barang-barang berharga, tetapi aku selalu berpura-pura

tidak tahu. Aku selalu mengatakan, bahwa ia adalah seorang

pedagang keliling yang kaya raya. Bukan sekedar seorang

penggalas. Tetapi orang itu kini telah mati”.

Empu Sada berhenti sejenak. Yang terdengar adalah desah

nafasnya yang semakin cepat, tetapi terpatah-patah.

“Guru” bertanya Sumekar kemudian, “apakah aku dapat meramu

macam obat-obatan yang lain supaya guru tidak menjadi sesak

nafas?”

“Tidak. Tidak perlu Sumekar. Aku sudah sehat”.

“Tetapi nafas Empu seolah-olah tidak berjalan dengan wajar”.

“Pendengaranmu cukup baik Sumekar. Tetapi tidak apa-apa.

Tidak berbahaya bagiku”. Empu Sada berhenti sejenak, “tetapi aku

memang sudah tua. Tak ada lagi yang dapat aku kerjakan. Hidupku

yang tidak berarti apa-apa ini sudah tidak berguna lagi”.

Tetapi ia harus berusaha menyembuhkan luka-lukanya. Meskipun

demikian keadaan gurunya itu cukup menggelisahkannya.

Hari itu Sumekar bekerja dengan penuh kegelisahan dan

kecemasan. Setiap kali ia menengok gurunya yang berbaring diam.

Namun setiap kali ia masih melihat gurunya itu tidur.

“Mudah-mudahan guru menjadi bertambah baik dengan

istirahatnya”.

Di sore hari Sumekar melihat gurunya itu berjalan tertatih-tatih

keluar biliknya. Dengan serta-merta Sumekar mendatanginya untuk

menolongnya berjalan. Tetapi Empu Sada berkata, “Aku masih

cukup kuat Sumekar”.

Sumekar tertegun di tempatnya, namun kemudian ia bertanya,

“Apakah Empu akan berjalan-jalan kehalaman?”

Empu Sada menggeleng. Jawabnya, “Tidak Sumekar. Aku ingin

pergi ke bilik belakang. Aku ingin melibat kau berlatih. Dimanakah

kedua anak-anak adik seperguruanmu?”

“Di luar Empu. Mereka pun sedang berlatih bersama”.

“Mereka pun harus dipesan, bahwa tak seorang pun boleh tahu

bahwa Empu Sada telah kembali”.

“Ya Empu. Seluruh isi padepokan ini telah mendapat pesan itu”.

Tetapi Empu Sada itu pun kemudian berkata, “Tetapi sebenarnya

itu tidak perlu Sumekar”.

Sumekar menjadi heran dan gurunya berkata terus, “Biar sajalah

orang-orang yang ingin datang untuk membalas dendam itu kemari.

Aku telah pasrah diri sebagai tebusan atas segala kesalahanku”.

“Guru, apakah sebenarnya yang Empu kehendaki”.

Empu Sada menggeleng “Tidak apa-apa” katanya, “mari, aku

ingin melihat kau berlatih. Ilmumu harus meningkat sebelum aku

mati”.

“Jangan Empu” sahut Sumekar terbata-bata.

Empu Sada tersenyum “Apakah bukan sudah seharusnya bahwa

suatu ketika seseorang akan mati? Ingat Sumekar. Betapa tinggi

ilmu seseorang. Meskipun orang itu memiliki aji yang maha dahsyat.

Dapat melebur gunung dan dapat mengeringkan lautan dengan

puntiran langannya, tetapi ia tidak akan dapat hidup sepanjang

jaman. Suatu saat ia akan dihadapkan pada suatu keadaan dimana

ilmunya tidak akan mampu melawan maut. Ada seribu jalan menuju

ke kerajaan maut. Dan setiap orang pasti akan pergi ke sana”.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kembali ia melihat sorot

yang memancarkan keputusasaan dari sepasang mata gurunya.

Tetapi ia tidak dapat berkata sesuatu.

“Ayolah. Berjalanlah dahulu”.

Keduanya pun kemudian pergi ke bilik belakang. Ke bilik tempat

murid-murid Empu Sada berlatih. Dilihatnya kedua muridnya yang

muda pun, sedang berlatih di bilik itu.

Ketika mereka melihat gurunya datang, maka dengan sertamerta

mereka menghentikan latihan mereka. Dengan hormatnya

mereka membungkukkan kepala mereka.

“Bagus” desis Empu Sada sambil berjalan tertatih-tatih

bersandarkan tongkat panjangnya “Berlatihlah dengan baik, selagi

masih ada kesempatan, dan selagi aku masih dapat memberimu

petunjuk”.

Kedua murid yang masih sangat muda itu pun saling

berpandangan dan sekali-sekali mereka memandang wajah

Sumekar. Tetapi mereka tidak berani bertanya.

“Sekarang beristiratlah. Tunggullah di luar. Aku ingin memberi

latihan yang khusus kepada kakakmu”.

Sekali lagi mereka berdua menganggukkan kepalanya. Kemudian

mereka pun meninggalkan bilik itu.

Yang kemudian melatih dirinya adalah Sumekar. Meskipun Empu

Sada tidak mampu untuk memberinya petunjuk dengan gerak,

tetapi dengan kata-kata dituntunnya muridnya yang seorang ini

dengan baik. Diberinya berbagai macam unsur gerak yang belum

pernah diterimanya. Bahkan kemudian gurunya itu berkata,

“Sumekar. Ternyata persiapanmu telah cukup untuk mulai dengan

ilmu yang terakhir dari perguruan kita. Ilmu yang dapat aku berikan

sebelum aku mati”.

Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Berbagai perasaan

bercampur baur di dalam dadanya. Di satu pihak ia merasa bangga

dan bergembira bahwa gurunya telah menganggap cukup baginya

untuk menerima ilmu yang tertinggi dari perguruan Empu Sada.

Tetapi dilain pihak ia merasa sangat cemas, bahwa gurunya seakanakan

telah kehilangan usaha untuk memperpanjang hidupnya.

Sehari ini gurunya sama sekali tidak lagi mau berobat, selain pada

saat ia datang.

“Sumekar” berkata Empu Sada, “besok kita sudah akan dapat

mulai dengan dasar-dasar permulaan dari ilmu itu. Ilmu yang telah

dimiliki oleh kedua muridku yang hilang. Cundaka dan Kuda

Sempana. Karena itu, Sumekar, maka cobalah persiapkan dirimu.

Aku mengharap bahwa aku masih akan dapat bertahan sampai kau

mengenal dasar-dasar yang paling sedikit dapat memberimu jalan

untuk menerima ilmu itu”.

Sumekar menganggukkan kepalanya sambil bergumam, “Terima

kasih Empu. Tetapi bagaimana dengan keadaan Empu sendiri?”

“Jangan berpikir tentang aku. Aku sudah cukup mengerti

bagaimana aku mengatur diriku sendiri”.

Sumekar terdiam. Bukan semestinya ia memberi gurunya

petunjuk. Tetapi gurunya kali ini tidak berpikir sewajarnya. Agaknya

gurunya sedang terganggu oleh sesuatu persoalan yang telah

menggelapkan hatinya.

Ketika kemudian malam yang gelap turun kembali menyelimuti

padepokan yang sepi dan menyimpan berbagai macam rahasia itu,

Empu Sada kembali masuk ke dalam biliknya. Kembali ia berbaring

sambil menghitung dosa yang pernah dibuatnya. Nafasnya yang

tersendat-sendat terdengar seperti saling memburu.

Sumekar tidak sampai hati meninggalkan gurunya seorang diri

dalam keadaan itu. Meskipun tidak dikehendaki oleh gurunya,

namun Sumekar itu pun duduk di atas sehelai tikar disamping

pembaringan gurunya.

“Sumekar” berkata gurunya, “beristirahatlah”.

“Nanti Empu, aku belum merasa mengantuk”.

“Apakah kau sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan

semuanya telah selesai pula dengan pekerjaan masing-masing”.

“Sudah Empu”.

“Bagaimana dengan burung perkututku?”

Sumekar menarik nafas. Empu Sada masih juga ingin kepada

burung perkututnya. Burung yang sebenarnya tidak terlampau baik

“Burung itu baik-baik saja Empu”.

Empu Sada terdiam sejenak. Tetapi nafasnya masih belum

teratur.

“Empu” Sumekar masih mencoba memberanikan dirinya, “apakah

Empu tidak ingin berobat lagi”.

“Tidak Sumekar” jawab gurunya, “sudah cukup. Aku sudah sehat

kembali. Aku masih akan cukup kuat bertahan sampai kau

menyelesaikan latihanmu dan menerima ilmu yang terakhir itu”.

Sumekar hanya dapat menundukkan kepalanya. Dan ia

mendengar gurunya berkata lagi, “Kalau kau sudah menerima ilmu

itu Sumekar, tugasku telah selesai. Dadaku akan menjadi lapang.

Dan apapun yang terjadi atas diriku, sama sekali bukan soal lagi

bagiku”.

Sumekar masih menundukkan kepalanya. Tetapi Tiba-tiba ia

bertanya, “Tetapi bagaimana dengan saudara seperguruanku

Empu”.

“Aku belum tahu benar sifat-sifat mereka. Aku tidak berani

memberikan ilmu yang aku anggap paling baik dari perguruan ini

tanpa mempertimbangkan siapakah yang akan menerimanya. Aku

sudah mengalami masa-masa dimana aku kehilangan pertimbangan

itu”.

“Dan bagaimanakah dengan kakang Kuda Sempana?”

Tiba-tiba pula pertanyaan itu meluncur dari mulut Sumekar,

“apakah guru tidak akan berusaha melepaskannya kelak?”

Empu Sada tersenyum. Ia tahu, bahwa sadar atau tidak sadar

muridnya ingin memberinya nafsu untuk hidup dan berbuat. Karena

itu maka katanya, “Aku sudah memberinya bekal yang cukup

Sumekar”.

“Tetapi ia berada di tangan orang yang jauh melampaui

kemampuannya untuk mencoba melepaskan diri tanpa

pertolongan”.

“Mudah-mudahan ia tidak mengalami bencana. Agaknya Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat akan mempergunakannya untuk

menangkap Mahisa Agni. Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan

oleh kedua orang itu atas Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana itu

tidak akan dibunuhnya”.

“Bagaimana kalau kemudian kakang Kuda Sempana itu diperalat

oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, dengan demikian maka

mereka akan meninggalkan kesan bahwa Empu pasti turut serta

dalam perbuatan itu, karena ada murid Empu bersama mereka.

Apalagi Empu lah yang sejak pertama-tama mempunyai persoalan

dengan Mahisa Agni?”

Empu Sada terdiam. Matanya masih menatap langit-langit

rumahnya.

Terdengar kemudian ia berdesah, “Aku justru tidak lagi berpikir

tentang Kuda Sempana. Aku kini menyadari bahwa nafsunya

terlampau dimanjakannya. Ia telah terseret oleh suatu keinginan

yang tiada dapat dikendalikan lagi. Tetapi …, “, Empu Sada itu

terhenti sejenak. Terdengar ia menarik nafas dalam-dalam. Bahkan

kemudian orang tua itu terbatuk-batuk kecil.

Sumekar memandangnya dengan cemas. Tetapi ia tidak dapat

berbuat sesuatu.

Sejenak kemudian Empu Sada berkata kembali, “Tetapi aku

justru merasa kasihan kepada Mahisa Agni. Anak itu adalah anak

yang baik. Sampai sekarang ia masih selalu mendapat perlindungan

dari Yang Maha Agung. Tetapi bagaimanakah kalau suatu ketika

orang-orang liar itu berusaha untuk menangkapnya? Apakah ia akan

berhasil melepaskan diri? Mahisa Agni akan dapat menjadi alat

untuk memeras Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung”.

“Hem” orang tua itu berdesah. Namun Tiba-tiba ia berkata,

“Perbuatan itu harus dicegah. Ia akan dapat memperalat namaku

dan menjerumuskan aku ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi.

Perbuatan itu memang harus dicegah”. Tiba-tiba Empu Sada itu

berkata lantang, “Sumekar, beri aku obat itu. cepat.”

Sumekar terkejut mendengar perintah gurunya. Sejenak justru ia

terpaku di tempatnya. Perintah yang tiba-tiba itu tidak segera dapat

disadari artinya. Tetapi kembali Sumekar terkejut ketika gurunya

membentaknya, “Sumekar, kenapa kau duduk saja seperti patung.

Apakah kau tidak melihat bahwa aku sedang sakit karena terluka di

bagian dalam tubuhku. Apakah kau tidak mendengar bahwa nafasku

hampir patah di kerongkongan. Ayo, lekas, ambilkan obat itu.

Bukankah aku sudah mengajarimu sedikit tentang obat-obatan”.

Sumekar itu pun kemudian terloncat dari duduknya. Ia menjadi

gembira karena gurunya ingin berobat. Tetapi ia menjadi bingung,

Tiba-tiba saja sifat Empu Sada kambuh kembali. Membentakbentaknya.

Sejenak kemudian Sumekar itu telah kembali membawa

semangkuk obat yang telah dicairkannya dengan air. Dengan sertamerta

maka obat itu pun diminum habis oleh Empu Sada.

“Hem” Empu Sada itu menarik nafas dalam-dalam, “sekarang

tinggalkan aku sendiri Sumekar. Aku ingin beristirahat. Cobalah,

persiapkan dirimu, supaya aku dapat dengan baik memberimu

petunjuk kepadamu untuk memasuki masa terakhir dari perguruan

ini”.

“Tetapi bukankah guru akan segera sembuh?” bertanya Sumekar

dengan dada berdebar-debar.

Empu Sada tersenyum. Katanya, “Hidup dan mati sama sekali

tidak terletak di tanganku sendiri Sumekar. Kalau aku dapat

menentukan hidup matiku sendiri, maka alangkah kuasanya aku

atas diriku. Tetapi tidaklah demikian halnya. Namun adalah

kewajiban manusia untuk berusaha”.

Sumekar terdiam. Tetapi dadanya sesak oleh kebimbangan dan

kebingungan. Gurunya yang tiba-tiba menjadi keras itu pun kini

agaknya telah luluh pula kembali. Sifat yang berubah-ubah itu telah

membuatnya canggung untuk berbuat sesuatu.

“Sumekar,” berkata Empu Sada, “tinggalkan aku sendiri. Aku

ingin beristirahat. Mudahkan aku menjadi segera baik kembali”.

Sumekar membungkukkan badannya. Kemudian ditinggal kannya

gurunya termenung seorang diri.

Ternyata sejak itu Empu Sada benar-benar berusaha untuk

menyembuhkan sakitnya. Ternyata ia menemukan kesadaran

betapa pentingnya ia berusaha untuk tetap hidup, meskipun ia tahu

benar, bahwa hasil usahanya itu sama sekali tidak tergantung

kepadanya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk berusaha.

Di tengah malam itu sekali lagi Empu Sada mengobati dirinya.

Sehingga dengan demikian di pagi harinya, terasa tubuhnya menjadi

kian segar. Ia tidak menolak lagi ketika Sumekar

mempersilahkannya makan.

Seperti yang dikatakannya, maka sejak hari itu Empu Sada mulai

dengan beberapa petunjuk-petunjuk dasar bagi Sumekar untuk

mempersiapkan dirinya menerima ilmu tertinggi dari perguruan

Empu Sada. Tetapi sejak itu pula Empu Sada tidak saja memberikan

petunjuk-petunjuk mengenai ilmu itu, tetapi juga petunjuk-petunjuk

apa yang seharusnya dilakukan oleh muridnya itu Diberitahukannya

kepada Sumekar segala macam pengalaman yang pernah terjadi

atas dirinya. Pengalaman yang dipenuhi oleh noda-noda yang hitam.

“Sumekar,” berkata Empu Sada suatu ketika, “pelajarilah olehmu.

Kau telah mendengar jalan hidupku, dan aku pun pernah

memberitahukan kepadamu, apa yang aku lihat pada Panji Bojong

Santi, pada Empu Gandring dan pada Empu Purwa. Aku pernah pula

menceriterakan kehidupan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jadilah

pertimbangan untuk menentukan jalan hidupmu. Meskipun kau

seorang murid dari seorang guru yang cacat namanya, namun

apabila kau mampu membawa dirimu, maka namamu justru akan

mengangkat dan memperbaiki nama perguruanmu”.

Sumekar hanya menundukkan kepalanya. Tetapi ia berjanji di

dalam hati untuk berbuat seperti yang dinasehatkan oleh gurunya.

“Kini Sumekar,” berkata gurunya, “tekuni persiapan yang telah

aku berikan. Aku ingin menyelesaikan kewajibanku yang terakhir.

Aku harus mencoba melepaskan Mahisa Agni dari tangan Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Mudah-mudahan aku belum terlambat.

Tetapi sampai kini aku masih belum menemukan jalan yang sebaikbaiknya

untuk melakukannya”.

Sumekar memandangi wajah gurunya. Tampaklah kerut-merut di

dahinya. Kerut-merut ketuaan dan kerut-merut kegelisahan. Tetapi

Sumekar tidak dapat mengerti kenapa gurunya masih belum dapat

menemukan cara untuk mencoba menyelamatkan Mahisa Agni.

“Guru,” Sumekar itu pun kemudian mencoba bertanya, “apakah

sulitnya bagi guru untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Apakah guru

tidak tahu dimanakah Mahisa Agni sekarang berada?”

“Aku tahu tempat di mana ia sekarang berada Sumekar. Tetapi

aku tidak dapat menemuinya dan memberitahukan kepadanya

bahwa ia sedang diintai bahaya. Orang seperti aku ini Sumekar,

terlampau sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari siapapun.

Kalau aku mencoba menemui Mahisa Agni, maka aku pasti akan

terlibat dalam perkelahian dengan pamannya yang selalu

membayanginya. Apapun yang aku katakan, mereka pasti tidak

akan dapat mempercayainya. Mereka pasti menyangka, bahwa aku

akan menipu mereka”.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Dan gurunya berkata, “Ini

pun akan dapat menjadi cermin bagimu. Sekali seseorang

kehilangan kepercayaan, maka akan sulitlah baginya untuk

mendapatkannya kembali”.

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, ia dapat mengerti

keterangan gurunya itu. Dan gurunya itu pun berkata seterusnya,

“Betapa baiknya hasrat yang terkandung di dalam hati, ini tetapi

orang melihat Empu Sada dengan penuh kecurigaan”.

Empu Sada itu pun terdiam sejenak. Sehingga mereka untuk

sesaat saling berdiam diri. Namun tiba-tiba Sumekar itu pun

berkata, “Apakah Empu ingin aku pergi menemuinya dan

memberitahukannya apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Kembali dahi orang tua itu pun berkerut-merut. Tampaklah ia

berpikir sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Sumekar, aku ingin

kau mewarisi ilmu perguruan ini. Kalau kau mengalami sesuatu di

perjalanan, maka aku pasti akan menyesal. Karena itu kau harus

tinggal di sini sampai kau memahami ilmu terakhir itu”.

Sumekar yang duduk tepekur itu menggigit bibirnya. Ia tenang

mendengar gurunya menyayangkannya dan benar-benar ingin

membentuknya menjadi seorang yang baik. Tetapi apabila mungkin

ia ingin membantu gurunya mengatasi kesulitannya.

Maka katanya kemudian, “Empu, apabila ada yang dapat aku

kerjakan, maka inginlah aku berbuat sesuatu. Adapun mengenai

ilmu itu, akan aku terima dengan segala kesenangan sesudah aku

dapat melakukan sesuatu untuk memperingan beban Empu soal ini.

Apabila terjadi sesuatu dalam kewajiban itu, aku tidak akan

menyesal. Aku menggagapnya sebagai suatu akibat dari tugas yang

harus aku lakukan”.

“Kau tidak akan menyesal, Sumekar,” jawab gurunya, “tetapi

akulah yang menyesal. Karena itu, tinggallah di sini Tekunilah dasardasar

ilmu tertinggi itu dengan baik. Awasilah adik-adikmu, supaya

mereka tidak terdorong dalam tabiat seperti kakak-kakakmu dahulu.

Aku telah membuat kesalahan itu. Sekarang aku akan berusaha

mengurangi kesalahan itu sebagai suatu pertanda, bahwa aku

berusaha dengan sekuat-kuat tenagaku untuk menebusnya”.

“Apakah yang akan guru lakukan?”

Empu Sada termenung sejenak. Ia mencoba meyakinkan bahwa

rencananya akan bermanfaat. Maka katanya kemudian, “Aku tidak

berani menemui Mahisa Agni sekarang, Sumekar. Tetapi aku

mempunyai jalan lain. Aku ingin menghadap Ken Dedes. Orangorang

di istana belum terlampau banyak mengenal Empu Sada. Aku

akan merubah sedikit kebiasaanku berpakaian dan meninggalkan

tongkat ini. Aku akan menyebut diriku sebagai orang Panawijen

yang ingin menghadap Ken Dedes untuk memberitahukan sesuatu

dari kakaknya Mahisa Agni”.

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya

dengan cemas, “Bagaimanakah kalau Empu bertemu dengan

pengawal istana, apalagi Witantra itu sendiri?”

Empu Sada menarik nafas. Katanya, “Aku hanya mengharap

supaya mereka tidak segera mengenal aku. Aku akan memberikan

kesan yang lain dari keadaanku semula. Aku dapat menjadi seorang

yang timpang atau bongkok atau cacat-cacat yang lain. Aku dapat

memakai pakaian sebagaimana orang-orang padesan memakainya.

Sedikit menghitamkan alis dan rambut di pelipis”.

Sumekar masih mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun ia

tidak yakin bahwa usaha gurunya itu akan berhasil. Tetapi ia tidak

berani menyatakan keragu-raguannya itu. Seharusnya ia percaya

kepada gurunya.

Ternyata Empu Sada benar-benar ingin melakukan rencananya.

Ia ingin menghadap Ken Dedes, menyatakan penyesalan yang

sedalam-dalamnya apabila ia benar-benar dapat bertemu. Kemudian

memberitahukan bahaya yang mengancam Mahisa Agni, supaya Ken

Dedes mengirim utusan untuk memberitahukannya. Akan dikatakan

pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, pemerasan dan

sebagainya yang akan banyak merepotkan. Bahkan mungkin banyak

diperlukan harta dan benda untuk menebus Mahisa Agni itu. Sudah

tentu apabila hilangnya Mahisa Agni itu menyangkut namanya, Ken

Dedes sudah dapat mengetahuinya bahwa hal itu tidak benar.

Semuanya itu pasti akan didengar pula oleh Akuwu Tunggul

Ametung. Mudah-mudahan Ken Dedes dapat menjadi lantaran

baginya untuk mohon ampun pula kepada Akuwu. Apalagi kalau

Akuwu berkenan mengirimkan beberapa orang yang terpercaya

untuk menangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Beberapa hari kemudian, setelah Empu Sada itu benar-benar

sembuh, maka dilakukanlah rencana itu. Dicobanya untuk membuat

perubahan sebaik-baiknya pada dirinya. Pada pakaiannya, pada

solah tingkahnya dan menghitamkan alis, kumis dan janggutnya

yang tidak terlampau lebat, yang selama ini tidak dapat

dipeliharanya, serta rambut di pelipisnya.

“Sumekar,” berkata orang tua itu, “apakah kau melihat

perbedaan padaku?”

Mau tidak mau Sumekar terpaksa tersenyum. Gurunya memang

pandai merubah diri, menyamar sebagai seorang cantrik tua dari

padepokan Panawijen.

“Kalau aku tidak tahu bahwa yang berdiri di hadapanku ini adalah

Empu, maka aku tidak akan dapat mengenal”.

Empu Sada pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tak akan

melakukannya hal serupa ini di saat-saat yang lampau. Tetapi aku

telah melepaskan cara hidup yang lama itu. Aku ingin menempuh

hidup yang lain. Ini adalah permulaan dari hidup yang baru itu.

Kalau aku berhasil, maka Empu Sada seterusnya tidak harus selalu

bersembunyi dan mengurung diri dalam kecemasan dan ketakutan”.

Demikianlah hari itu juga Empu Sada meninggalkan

padepokannya di pagi-pagi buta supaya tidak seorang pun yang

melihatnya. Tertatih-tatih ia berjalan menuju ke kota untuk

mencoba menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang sebentar lagi

akan diangkat menjadi permaisuri Tumapel.

Ketika kemudian matahari terbit, timbullah kecemasan di hati

orang tua itu. Apakah benar-benar orang-orang lain tidak dapat

mengenalnya sebagai Empu Sada. Kalau ia sudah berhasil

menghadap Ken Dedes apalagi Akuwu Tunggul Ametung, dan

mendengar kata-kata pengampunannya, maka ia tidak akan cemas

lagi. Ia akan dapat menengadahkan dadanya sambil berkata, “Ini

adalah Empu Sada. Tetapi bukan Empu Sada yang dahulu”. Tetapi

apabila Akuwu Tunggul Ametung tetap menganggapnya bersalah,

dan ingin juga menghukumnya, maka ia sudah akan pasrah diri,

sebagai tebusan atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Namun

dengan demikian maka Akuwu pasti akan dapat menilai, apa yang

terjadi apabila Mahisa Agni benar-benar akan hilang dari Padang

Karautan “Aku akan dapat berbuat sesuatu apabila suatu ketika

Kebo Sindet atau Wong Sarimpat datang sambil berkata bahwa

mereka pasti berhasil membebaskan Mahisa Agni dari tangan Empu

Sada dengan imbalan yang cukup banyak. Bahwa mereka telah

mengetahui di mana Empu Sada bersembunyi”.

Dengan hati yang berdebar-debar Empu Sada itu berjalan

selangkah demi selangkah maju mendekati Istana Tumapel. Ia

harus datang sebagai seorang cantrik yang tua untuk menemui Ken

Dedes membawa pesan dari Mahisa Agni.

Di sepanjang jalan Empu Sada selalu mencoba melihat perhatian

orang lain kepadanya. Sekali-sekali disilangnya orang yang

sebenarnya telah dikenalnya. Tetapi ternyata orang itu tidak

menegurnya. Dengan demikian maka Empu Sada merasa, bahwa

samarannya agaknya dapat berhasil.

Tetapi kesulitan yang lain, yang harus diatasinya nanti adalah

pertanyaan-pertanyaan para penjaga. Mungkin ia harus menjawab

beberapa pertanyaan yang menyangkut gadis bakal permaisuri itu.

Empu Sada menarik nafas. Ia masih berjalan tersuruk-suruk di

tepi jalan yang berpohon-pohon rindang.

“Kalau aku telah berhasil bertemu dengan Ken Dedes, maka aku

tidak perlu lagi menyembunyikan diri. Aku harus segera mengatakan

yang sebenarnya. Mengatakan bahwa aku pernah mencegatnya di

hutan. Pernah berusaha untuk menangkap dan bahkan membunuh

Mahisa Agni. Pernah berbuat hal-hal lain yang terkutuk. Kemudian

aku akan mohon supaya puteri sudi menyampaikannya kepada

Akuwu Tunggul Ametung permohonan maaf yang sejauh-jauhnya.

Kalau Akuwu memaafkan, maka aku akan kembali ke padepokan

dengan hati yang tenteram. Kalau tidak, maka aku pun akan

melakukan semua hukuman dengan ikhlas. Adalah lebih baik mati di

tiang gantungan dari pada mati di tangan Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat”. Empu Sada itu bergumam di dalam hatinya. Tetapi ia

heran sendiri, kenapa ia kini merasa bahwa mati di tiang gantungan

itu memberinya ketenteraman. Kenapa ia tidak memilih mati dengan

pedang di tangan. Mati tembus oleh ujung senjata dalam

perkelahian.

Empu Sada menggelengkan kepalanya. Ia sendiri menjadi

bingung. Namun lamat-lamat terdengar suara dari sudut hatinya

yang paling dalam “Harga diri dan kejantanan yang mapan, tidak

pada tempatnya, sama sekali tidak berarti bagi hidupmu yang abadi.

Keberanian dan ketabahan menghadapi maut di jalan yang salah,

sama sekali tidak membuka jalan yang menuju ke sisi Yang Maha

Agung. Karena itu, maka hidup yang abadi itu bernilai berlipat tanpa

batas dibanding dengan hidupku kini. Dan kini aku tidak mau

menambah noda bagi hidup yang abadi itu”.

Dengan demikian maka Empu Sada berjalan dengan langkah

yang ringan meskipun disamarnya. Ternyata orang tua itu pandai

membawa dirinya. Tak seorang pun yang berjumpa di jalan

menyangka bahwa orang yang ditemuinya itu adalah seorang yang

bernama Empu Sada.

Akhirnya Empu Sada itu pun sampai ke Alun-alun Tumapel.

Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Dilihatnya di regol istana beberapa

orang prajurit sedang berjaga-jaga. Di sisi lain, di bagian dalam

halaman tampaklah pelayan-dalam mondar-mandir dalam

kewajibannya masing-masing. Namun pelayan dalam ini pun

ternyata mempunyai kemampuan seperti para prajurit itu pula.

Tetapi, Empu Sada tidak akan memilih jalan depan. Ia harus

masuk lewat regol belakang. Namun dalam pada itu ia selalu

berharap agar wajahnya tidak dikenal sebelum ia bertemu dengan

Ken Dedes. Adalah lebih baik baginya apabila ia dapat menghadap

Akuwu Tunggul Ametung sama sekali.

Ketika Empu Sada sampai di muka regol belakang, kembali ia

menjadi ragu-ragu. Tertegun-tegun ia berjalan, dan bahkan sesekali

timbullah keinginannya untuk membatalkan niatnya. Kalau salah

seorang prajurit yang sedang berjaga-jaga itu mengenalinya, maka

ia pasti akan mendapat tuduhan yang sangat memberatkannya. Ia

pasti akan dituduh menculik Ken Dedes dengan samarannya.

Apakah ia akan dapat berdiam diri apabila para prajurit itu beramairamai

mengeroyoknya? Bahkan kemudian akan hadir Witantra dan

saudara-saudara seperguruannya?

Tetapi kadang-kadang niatnya menjadi bulat. Kalau aku harus

ditangkap, biarlah aku ditangkap. Apapun yang akan dituduhkannya

kepadaku, aku tidak akan berkepentingan lagi. Yang penting bagiku

adalah menyampaikan pemberitahuan, bahwa rencana Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat terlampau berbahaya bagi Mahisa Agni. Serta

kemungkinan-kemungkinan pemerasan dan hal-hal yang serupa itu.

Dalam keragu-raguan itu Empu Sada terkejut, ketika ia

mendengar salah seorang prajurit memangilnya. Ketika ia berpaling

dilihatnya prajurit itu melambaikan tangannya kepadanya.

“He, apa kerjamu disitu?, “ bertanya prajurit itu.

Empu Sada sadar, bahwa justru karena ia tertegun-tegun, maka

kehadirannya telah menimbulkan kecurigaan pada prajurit-prajurit

itu. Kini kembali ia diamuk oleh keragu-raguan. Sehingga untuk

sejenak Empu Sada masih saja berdiri di tempatnya.

“Kemari,” panggil prajurit itu.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah tidak

akan dapat menghindari lagi. Dengan demikian, maka kini kembali

ia membulatkan hatinya, bahwa ia harus pasrah diri. Namun

kadang-kadang terbersit pula di dalam batinnya penyesalan, bahwa

ia tidak saja menyelesaikan sama sekali ajaran-ajaran yang dapat

diberikannya kepada Sumekar.

“Kalau otak anak itu cukup baik,” katanya di dalam hati, “ia

sudah cukup menguasai dasar-dasar unsur gerak dari ilmu yang

terakhir itu. Dengan melihat dan merasakan ilmu itu serta

menghubungkannya dengan apa yang pernah dilihat, maka dengan

tekun ia pasti akan sampai dengan sendirinya, meskipun mungkin ia

akan mengalami kejutan yang dahsyat, namun tidak akan

berbahaya bagi jiwanya”.

“He, kemari kaki “ terdengar kembali seorang prajurit

memanggilnya.

Empu Sada itu pun kemudian melangkah maju. Tetapi ternyata

kadang-kadang masih juga tumbuh desir di jantungnya apabila ia

melihat ujung tombak. Ia tahu benar, bahwa ujung tombak di

tangan para prajurit itu sama sekali tidak akan dapat menahannya

apabila ia akan berbuat sesuatu.

Tertatih-tatih Empu Sada itu mendekati para prajurit pengawal

istana. Setiap langkah kakinya terasa seolah-olah sebuah dentangan

di dalam dadanya.

Tetapi agaknya para prajurit itu menganggapnya sebagai seorang

tua yang sedang kebingungan saja. Salah seorang prajurit itu

bertanya acuh tak acuh, “He, Kaki, kenapa kau tertegun-tegun

disini? Apakah ada yang kau cari?”

“Ya tuan,” sahut Empu Sada dengan suara bergetar dalam nada

yang tinggi, “aku memang sedang mencari”.

“Apakah yang kau cari? Barangkali aku dapat menolongmu

menunjukkannya?”

“Terima kasih tuan, “ Empu Sada itu membongkok sampai

hampir menyentuh lututnya, “terima kasih”.

“Apakah yang kau cari?

“Aku sedang mencari Istana Akuwu Tumapel tuan”.

“He,” prajurit itu terperanjat, “kau sedang mencari Istana

Tumapel”.

“Ya tuan”.

Jawaban orang tua itu agaknya telah menarik perhatian para

prajurit yang lain. Beberapa orang yang semula sama sekali tidak

tertarik kepada orang itu pun kemudian datang mengerumuninya.

“Apakah yang akan kau cari di dalam Istana Tumapel?”

“Tetapi apakah tuan dapat menunjukkan Istana Tumapel itu?”

“Tentu, tentu, “ sahut seorang diantara para prajurit itu.

“Terima kasih tuan, terima kasih. Apakah aku sudah dekat

dengan istana yang kucari”.

“Inilah istana itu” sahut yang lain sambil menunjuk ke arah

Istana Tunggul Ametung.

“Aku sudah menduga, “ sahut Empu Sada, “rumah ini adalah

rumah yang paling besar dan paling baik yang aku jumpai di kota

ini. Menurut pesan yang aku terima, rumah itu mempunyai alunalun,

dan pasti dijaga oleh prajurit bersenjata di setiap regolnya.

Dan ternyata dugaanku-dugaanku itu benar”.

“Ya,” sahut prajurit yang lain pula, “dugaanmu benar. Lalu

apakah yang ingin kau cari di dalam istana ini”.

“Tuan, aku akan mencari Nini Ken Dedes”.

“He,” salah seorang prajurit menyahut, “kau mencari Tuan Puteri

Ken Dedes?”

“Oh. Tuan Puteri? Ya maksudku Tuan Puteri Ken Dedes.

Bukankah gadis itu datang dari Panawijen?”

“Ya. Kau benar Kaki. Tuan Puteri datang dari Panawijen. Tetapi

apakah keperluanmu mencari Tuan Puteri Ken Dedes?”

“Aku datang dari Panawijen tuan. Aku mendapat pesan dari

anak-mas Mahisa Agni untuk menemui Tuan Puteri Ken Dedes”.

“Oh, Mahisa Agni. Anak muda kakak Tuan Puteri itu?”

“Ya. Tuan benar”.

“Apakah pesannya.?

“Aku harus menyampaikannya sendiri tuan”.

Beberapa orang prajurit itu saling berpandangan. Kemudian

seorang dari padanya, yang agaknya pemimpinnya bertanya,

“Apakah pesan itu terlampau penting?”

Empu Sada harus memperhitungkan keadaan dengan baik.

Pertanyaan itu harus dijawabnya dengan tepat. Ia tahu benar,

bahwa para prajurit itu akan dapat menyuruhnya menunggu saja di

luar, sedang pesan itu akan disampaikan oleh prajurit itu sendiri.

Karena itu, maka Empu Sada itu pun kemudian berusaha untuk

menghindarkan kemungkinan itu.

Jawabnya, “Oh, tidak. Tidak tuan. Pesan itu sama sekali tidak

penting”.

Para prajurit itu menarik nafas. Sejenak mereka saling

berpandangan. Baru kemudian salah seorang dari mereka berkata,

“Kaki, jarak Panawijen Tumapel adalah jarak yang tidak terlampau

dekat. Kalau pesan itu tidak terlampau penting kenapa kaki harus

berjalan menempuh jarak itu? Dan kenapa orang setua Kaki ini yang

harus datang kemari, bukan seorang anak muda yang gagah di atas

punggung kuda?”

Orang, tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hatihati

ia menjawab, “Tuan, setiap orang muda di Panawijen harus

bekerja keras membuat bendungan. Itulah sebabnya maka tak ada

seorang anak muda yang dapat datang kemari”.

“Ah,” sahut prajurit yang lain, “aneh Kaki. Ada berapa orang

anak-anak muda di Panawijen? Bukankah dengan berkurang

seorang dari mereka tidak akan mengganggu pekerjaan itu?”

“Tuan benar. Tetapi maaf tuan, aku berkata sebenarnya, tak ada

seorang pun anak-anak muda yang berani seorang diri menempuh

jarak Panawijen Tumapel. Apalagi sejak beberapa kali Mahisa Agni

bertemu dengan bahaya diperjalanan, bahkan Ken Dedes yang

dikawal kuat pun hampir-hampir mengalami bencana”.

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Tetapi kenapa

justru kau berani melakukannya Kaki?”

“Ada beberapa macam pertimbangan tuan,” salut Empu Sada,

“aku sudah tua. Aku rasa tak seorang pun yang memerlukan aku

lagi. Jangankan orang-orang yang sakti, sedang oleh anak-anak pun

aku dapat didorongnya jatuh. Itulah sebabnya maka perjalananku

pun ternyata tak diganggu orang”.

“Tetapi kau tahan berjalan sejauh itu?”

“Aku menempuh perjalanan ini selama dua hari dua malam

tuan”.

“He, dua hari dua malam? Apakah kau merangkak seperti siput?”

“Ya tuan. Aku tidak dapat berjalan lebih cepat”.

“Dan setelah kau berjalan dua hari dua malam, kau hanya

sekedar membawa pesan yang tidak penting?”

“Ya tuan. Pesan itu tidak penting, tetapi aku ingin

menyampaikannya sendiri”.

Tiba-tiba seorang prajurit mengerutkan keningnya. Selangkah ia

maju dan berkata, “Apakah pesan itu?”

Empu Sada tertegun sejenak. Ia melihat sorot mata yang aneh

pada prajurit itu. Tetapi tidak mencemaskannya Prajurit itu agaknya

merasa heran bahwa pesan yang tidak penting itu harus dibawanya

merangkak seperti siput selama dua hari dua malam.

Meskipun demikian Empu Sada harus lebih berhati-hati. Setiap

kecurigaan akan dapat menyulitkannya. Ketika prajurit itu

melangkah selangkah maju lagi, maka Empu Sada pun segera

mundur sambil membungkuk-bungkuk, “Tuan” katanya terbatabata,

pesan itu memang tidak penting tuan”.

Prajurit itu pun memandanginya semakin tajam, “Kalau tidak

penting, kenapa kau harus berjalan sejauh itu. Coba katakan

bagaimana bunyi pesan itu. Kami adalah para pengawal yang harus

menjaga ketenteraman istana”.

“Tetapi, tetapi Mahisa Agni mengharap aku dapat

menyampaikannya sendiri”.

“Tetapi kami harus tahu, apakah pesan itu”.

Empu Sada pun kemudian merunduk-runduk sambil berkata,

“Baik, baik tuan”.

“Nah, katakanlah”.

“Baik, baik tuan”.

“Ya, katakanlah. Aku perlu mendengar pesan itu, bukan ingin

mendengar kesediaanmu mengatakan. Tetapi katakanlah”.

“Tuan,” berkata Empu Sada, “Mahisa Agni pesan kepadaku

supaya aku berkata kepadanya, kepada Tuan Puteri bahwa ia harus

berusaha menyesuaikan dirinya di sini. Ia tidak dapat bermanjamanja

seperti di padepokan dahulu”. Empu Sada berhenti sejenak.

Diamatinya wajah prajurit itu untuk menangkap kesan yang tersirat

daripadanya.

Hati orang tua itu menjadi lapang ketika tiba-tiba ia melihat

prajurit itu tertawa.

“Hem,” berkata prajurit itu sambil memilin kumisnya, “pesan itu

sama sekali bukan sebuah rahasia. Kenapa kau agaknya

mempersulit untuk mengatakannya”.

“Tidak tuan. Aku sama sekali tidak mempersulit. Tetapi aku ingin

memenuhi permintaan Mahisa Agni, menyampaikan pesan itu

langsung kepada Ken Dedes”.

“Tuan Puteri maksudmu?”

“Oh, ya, ya. Tuan Puteri Ken Dedes”.

“Pesan itu terlampau sederhana. Keperluanmu bertemu dengan

Tuan Puteri sama sekali tidak seimbang dengan tata-cara yang

harus dilakukan. Kaki, biarlah kami saja yang menyampaikan pesan

itu”.

“Oh, jangan tuan. Jangan. Mahisa Agni pesan ke padaku supaya

aku menyampaikannya langsung”.

“Tidak setiap orang dapat menghadap Tuan Puteri, dan tidak

setiap keperluan harus dilayani”.

“Tetapi, tetapi bukankah pesan itu datang dari keluarganya yang

harus didengarnya”.

“Itulah sebabnya, kami akan menyampaikan pesan itu tanpa

ditambah dan dikurangi. Meskipun pesan itu datang dari

keluarganya, namun tak setiap orang diperbolehkan masuk ke

dalam istana seperti masuk ke dalam warung saja”.

“Oh,” Empu Sada itu pun kemudian merengek-rengek, “Tuan,

kasihanilah aku orang tua ini tuan. Aku sudah berjalan sedemikian

jauhnya untuk menghadap nini Ken Dedes, eh, Tuan Puteri Ken

Dedes untuk menyampaikan pesan itu”.

“Pesan itu pasti akan sampai, Kaki, “ sahut prajurit yang lain.

“Tetapi, tetapi di samping itu masih ada pesan yang lain”.

“He,” prajurit itu terkejut, “jadi masih ada yang kau rahasiakan”.

“Ya tuan”.

“Oh,” prajurit itu menjadi heran, kenapa orang itu dengan

mudahnya menjawab bahwa masih ada sesuatu yang dirahasiakan?

Namun dengan demikian kesan yang didapat para prajurit itu

adalah, “Orang tua ini adalah orang tua yang bodoh dan jujur”.

“Katakanlah rahasia itu”.

“Tetapi apakah dengan demikian aku akan dapat menghadap?”

“Tergantung kepada pertimbangan tentang rahasia itu”.

“Tetapi Mahisa Agni pesan tuan, supaya rahasia ini tidak

dikatakan kepada siapapun”.

“Kalau begitu, kau tidak dapat masuk ke dalam istana”.

“Oh, jadi bagaimana?”

“Rahasia itu harus kau sebut, kaki”.

Para prajurit melihat orang tua yang berjalan tersuruk-suruk itu

menjadi ragu-ragu. Justru karena itu para prajurit itu pun menjadi

semakin ingin mengetahui, rahasia apakah yang telah dibawanya.

“Kalau kau tidak mengatakannya, maka kau tidak akan dapat

masuk”.

“Baik, baik tuan. Aku akan mengatakan rahasia itu tetapi dengan

janji”.

“Janji apa Kaki?”

“Tuan tidak boleh mengatakannya kepada orang lain”.

Tiba-tiba beberapa di antara para prajurit itu tidak dapat

menahan tertawanya. Meskipun demikian mereka berusaha untuk

menyembunyikan wajah-wajah mereka di belakang punggung

kawan-kawannya.

“Ayo katakan,” berkata salah seorang dari pada mereka.

“Tetapi rahasia ini sebenarnya sangat memalukan Aku mendapat

pesan dari Mahisa Agni supaya disampaikan kepada adiknya. Bahwa

kini Mahisa Agni sudah tidak lagi mempunyai rangkapan kain

panjang. Itulah tuan”.

Meledaklah suara tertawa di regol itu Para prajurit itu pun tidak

lagi dapat menahan diri. Bagaimana pun juga mereka mencobanya,

tetapi suara tertawa mereka telah menarik perhatian orang-orang

yang kebetulan lewat dimuka regol “Alangkah bodohnya orang tua

ini” pikir mereka, “ dan alangkah kasihannya Mahisa Agni”.

Tetapi mereka sama sekali tidak tahu, bahwa Empu Sada pun

tertawa pula di dalam hati. Ia telah berhasil memainkan peranannya

hampir sempurna. Meskipun demikian para prajurit itu masih belum

menjawab dengan pasti permintaannya untuk menghadap Ken

Dedes.

Para prajurit itu masih saja tertawa, sedang Empu Sada masih

juga berdiri termangu-mangu. Orang tua itu berusaha sekuatkuatnya

untuk menahan perasaan sendiri. Betapa ia tertawa di

dalam hati, melampaui gelak para prajurit itu, namun wajahnya

masih juga tampak alangkah bodohnya.

“O Kaki, “ berkata salah seorang dari para prajurit itu, “apakah

Mahisa Agni sangat memerlukan sepotong kain panjang?”

Empu Sada mengangguk, “Ya tuan. Selembar yang dipakainya

kini telah nrantang”.

“Kalau kau katakan sejak tadi kaki, kau tidak perlu terlampau

bernafsu untuk menghadap Tuan Puteri. Aku mempunyai kain

panjang rangkap di rumah. Kau boleh membawanya selembar buat

Mahisa Agni dan selembar buat kau sendiri”.

“Terima kasih tuan, terima kasih, “ sahut Empu Sada.

“Nah, kalau demikian tunggulah sampai waktuku berjaga di sini

habis. Kau turut aku ke rumah, dan kau akan mendapatkannya”.

“Tetapi bagaimana dengan Tuan Puteri?”

“Pesanmu akan disampaikan. Dan kau akan mendapat kain

panjang dariku. Bukankah keperluanmu sudah selesai?”

“Tetapi, tetapi aku harus menghadap tuan Tuan Puteri tidak

hanya akan memberi selembar kain buat Agni dan selembar buat

aku. Mungkin ada pesan pula dari Tuan Puteri yang harus aku

sampaikan kepada kakaknya, atau barangkali selembar timang alau

ikat kepala”.

Kembali para prajurit itu tertawa. Mereka melihat orang tua itu

dengan sorot mata yang lucu. Tetapi mereka mendapat kesan yang

hampir pasti, “Orang tua itu adalah orang tua yang bodoh tetapi

jujur”.

Meskipun demikian, para prajurit itu tahu benar akan

kewajibannya. Karena itu, maka mereka tidak akan dengan mudah

membiarkan orang-orang di luar istana memasuki halaman. Juga

orang tua ini. Meskipun mereka sebenarnya telah tidak mempunyai

kecurigaan apapun lagi, namun mereka tidak segera dapat

memberinya ijin untuk dengan demikian saja menghadap Tuan

Puteri Ken Dedes.

“Bagaimana tuan?,” desak orang tua itu, “Apakah aku diijinkan

masuk?”

“Apakah kau mengenal jalan yang menuju ketempat Tuan Puteri

itu”.

Empu Sada mengerutkan keningnya, jawabnya sambil

menggeleng, “Tidak Tuan”.

“Nah, kau memang tidak akan dapat memasuki halaman ini

seorang diri. Tak seorang pun diijinkan. Seorang prajurit akan

mengantarmu sampai ke regol halaman dalam. Kau harus

menunggu di sana. Prajurit itulah yang akan menyampaikannya

kepada emban terdekat, bahwa seseorang ingin menghadap. Kalau

Tuan Puteri ragu-ragu, maka Tuan Puteri pasti akan memintamu

menunggu sampai seseorang sempat menyampaikannya kepada

Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi untuk menyampaikan permintaan

itu, kau masih harus menunggu. Mungkin sehari, mungkin besok

kau baru mendapat jawaban”.

“O,” keluh Empu Sada, “dahulu aku tidak pernah mendapat

kesukaran untuk bertemu dengan anak itu di Panawijen”.

“Hus” potong seorang prajurit. Tetapi mau tidak mau prajurit itu

pun harus tertawa, “keadaannya dahulu dan keadaannya tentu jauh

berbeda”.

“Jadi bagaimanakah tuan?”

“Masuklah bersama salah seorang dari kami. Tunggulah di luar

regol dalam. Kalau Tuan Puteri mendengar bahwa seseorang dari

Panawijen akan menemuinya, maka aku kira kau tidak akan

menunggu sampai malam”.

“Terima kasih tuan. Terima kasih. Aku akan menunggu meskipun

sehari penuh. Di dalam kasa ini aku masih menyimpan sisa bekal

yang aku bawa dari rumah”.

“Sudah dua hari dua malam?”

“Nasi jagung tuan. Sepekan masih juga baik”.

“Nah, ikutilah kawanku ini,” berkata pemimpin penjaga itu sambil

menunjuk salah seorang bawahannya.

Empu Sada menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah

mengikuti prajurit yang membawanya masuk Tetapi kemudian ia

tertegun ketika pemimpin prajurit itu masih bertanya kepadanya,

“Siapa namamu?”

Empu Sada berpaling. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi

bingung menerima pertanyaan itu. Dari rumah ia telah bersedia,

apabila seseorang menanyakan namanya, “Makerti, “ jawab Empu

Sada, “namaku Makerti”.

Tetapi tiba-tiba hatinya menjadi ragu-ragu. Ia dapat menipu para

penjaga itu. Ia dapat menyebut nama apa saja, bahkan seribu nama

sekalipun tidak akan mencurigakan. Namun ia menyangka bahwa

dengan demikian, ia akan segera dihadapkan langsung kepada Tuan

Puteri Ken Dedes. Ternyata yang terjadi tidak demikian. Seorang

prajurit akan menghadap dan mengatakan keperluannya. Apabila

prajurit itu menyebut namanya, dan Ken Dedes tidak pernah

mengenal nama Makerti, maka apakah kira-kira yang akan terjadi?

Empu Sada menjadi bimbang. Tempi ia tidak sempat berpikir

terlampau lama. Pemimpin prajurit itu telah berkata kepadanya,

“Baiklah kaki Makerli. Pergilah mudah-mudahan kau tidak perlu

terlampau lama menunggu”.

Empu Sada menganggukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian

kembali ia berjalan mengikuti prajurit yang membawanya ke regol

dalam. Tetapi kembali ia dirisaukan oleh nama itu. Makerti. Nama

itu memang telah disiapkannya. Ia menganggap bahwa nama tidak

akan banyak berpengaruh atas rencana itu. Namun sekarang baru ia

menyadari, bahwa justru karena namanya itu akan dapat timbul

kecurigaan yang membahayakannya. Kenapa ia tidak berusaha

untuk mencari sebuah nama yang memang pernah dimiliki oleh

orang Panawijen?

Angan-angan Empu Sada itu patah ketika mereka segera sampai

ke regol halaman dalam. Prajurit itu terhenti sejenak dan kemudian

berkata, “He, kaki Makerti, tunggulah disini. Aku akan mencoba

menghadap. Apabila maksudmu diterima, maka kau pun akan aku

bawa menghadap pula”.

“Jadi bagaimana tuan. Apakah aku harus menunggu?”

“Ya. Kau memang harus menunggu di sini”.

“Bagaimana kalau aku masuk bersama tuan. Kalau aku tidak

diijinkan menghadap, maka aku akan pergi bersama tuan pula”.

“Ah, jangan. Demikianlah seharusnya. Kau harus berada di sini”.

“Aku takut tuan. Aku takut di sini seorang diri”.

“Kau tidak seorang diri, “ sahut prajurit itu, “lihat, di sisi regol

dalam itu adalah sebuah gardu. Apakah kau tidak melihat dua orang

yang berada di dalamnya?”

“Oh,” Empu Sada menjengukkan kepalanya. Dilihatnya dua orang

dukuk di dalam sebuah gardu pendek. Tetapi di sisi mereka itu

tersandar dua batang tombak.

“Masih ada satu lagi. Lihat yang mondar-mandir itu”.

“Oh,” Empu Sada kini benar-benar menyadari bahwa penjagaan

istana bukan sekedar sebuah upacara saja.

“Apakah bilik Tuan Puteri itu masih jauh?”

“Tidak. Itulah. Kau nanti akan naik tangga itu. Dan kau akan

sampai ke serambi di belakang ruang dalam. Kalau Tuan Puteri

dapat menerimamu, maka kau akan diterima di ruang itu. Sedang

bilik Tuan Puteri adalah di dalam istana. Sentong Tengen”.

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia

memandang berkeliling, maka yang dilihatnya adalah sebuah taman

yang manis. Tetapi di sekitar tempat itu ia tidak lagi melihat gardugardu

penjagaan yang lain.

“Nah, tinggalah di sini” berkata prajurit itu, “aku akan masuk.

Aku akan menyampaikan permintaanmu lewat Pelayan Dalam yang

bertugas di sana. Dan aku akan menyampaikan pesan itu nanti

kepadamu, apakah Kaki akan diterima atau Kaki harus menunggu

saat yang lain”.

“Oh,” Empu Sada mengeluh. Ternyata tidak semudah yang

disangkanya.

“Kenapa kaki?,” bertanya prajurit itu.

“Alangkah sulitnya. Tuan, tolong, katakanlah kepada gadis itu,

bahwa yang ingin menghadap adalah pamannya. Makerti. Aku

adalah adik ibunya yang sudah lama meninggal. Mungkin anak itu

menjadi ragu-ragu. Tetapi kalau tuan menyebutnya bahwa aku

berasal dari Ngarang maka ia akan mengenal aku”.

“Jadi Kaki tidak berasal dari Panawijen?”

“Ya, ya. Aku datang dari Panawijen. Tetapi aku temui Panawijen

sudah lain dari dahulu. Aku hanya bertemu dengan Mahisa Agni.

Mudah-mudahan Nini, eh. Tuan Puteri menerima aku”.

Prajurit itu memandanginya dengan ragu. Tetapi kemudian ia

tersenyum. Katanya, “Baiklah Kaki. Tunggulah di sini. Aku akan

menyampaikannya lewat seorang Pelayan dalam atau seorang

emban. Tunggulah, jangan takut, di gardu itu ada orang. Dan

orang-orang itu tidak akan menakut-nakutimu”.

“Siapakah orang itu?” Tiba-tiba salah seorang prajurit di dalam

gardu itu bertanya.

“Bertanyalah sendiri kepadanya” jawab prajurit itu, “nah

mendekatlah. Mungkin kau dapat menunggu di sana pula”.

“Baik, baik tuan”.

Empu Sada itu pun kemudian melangkah tertatih-tatih mendekati

gardu dan duduk di depannya. Sementara itu prajurit yang

membawanya lelah berjalan meninggalkannya, untuk

menyampaikan pesan dan permintaan orang tua itu.

Sementara itu, Empu Sada masih saja diliputi oleh kecemasan.

Disaat-saat terakhir ia mencoba membuat pesannya menjadi kabur

dan membingungkan. Mudah-mudahan Ken Dedes tidak dapat lagi

menelusurnya dan menjadi ingin tahu, siapakah yang datang

kepadanya.

“Tetapi bagaimanakah kalau gadis itu dengan tenang dapat

menilai keterangannya?”

Kembali Empu Sada menjadi ragu-ragu. Tetapi dalam pada itu

tanpa disadarinya ditelusurinya halaman itu baik-baik. Dilihatnya

beberapa orang hilir mudik. Ia tahu benar, bahwa di antara mereka

adalah Pelayan dalam seperti Kuda Sempana dahulu.

Tetapi sementara itu Empu Sada harus menjawab pertanyaan

dari prajurit-prajurit yang berada di dalam gardu itu.

Akhirnya prajurit-prajurit itu pun berhenti bertanya dan berkata,

“Nah, beristirahatlah kaki. Mungkin kau harus menunggu agak lama

di situ”.

“Terima kasih tuan,” jawab Empu Sada.

Namun sementara itu kembali angan-angan Empu Sada beredar

diseputar keadaannya. Kecemasannya semakin lama semakin

mengganggunya, sehingga tiba-tiba tanpa dikehendakinya ia mulai

menilai dirinya kembali.

“Aku bermaksud baik,” katanya di dalam hati, “tetapi kalau aku

dianggap ingin berbuat jahat, maka apakah aku harus berdiam diri?”

“Hem,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “biarlah. Kalau

seharusnya aku ditangkap, biarlah aku ditangkap. Kalau seharusnya

aku digantung di alun-alun, biarlah aku digantung”.

“Tetapi,” kembali terdengar sebuah pertanyaan, “dengan

demikian, maka aku tidak akan sempat mengatakan keadaan yang

sedang dihadapi oleh Mahisa Agni. Semua kata-kataku pasti tidak

akan dipercaya”.

Dengan demikian, maka dada Empu Sada itu pun segera. diamuk

oleh kebimbangan, kebingungan dan kecemasan.

Tetapi sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang luas di

dalam dunianya yang penuh dengan pergulatan, maka tanpa

dikehendakinya sendiri, Empu Sada mencoba menilai dirinya,

apakah ia akan mampu meloncati dinding halaman yang tinggi itu?

( bersambung ke jilid 24 )

Jilid 24

PRAJURIT-PRAJURIT yang berada di dalam gardu itu pun kini

sama sekali sudah tidak lagi menaruh perhatian kepada orang tua

itu. Dibiarkannya Empu Sada duduk terkantuk-kantuk. Tetapi

mereka sama sekali tidak melibat, bahwa di dalam dada orang tua

itu sedang bergolak berbagai perasaan yang bersimpang siur.

Tiba-tiba timbullah sesuatu yang aneh di dalam dada Empu Sada

itu. Sekali disambarnya Prajurit-prajurit itu dengan sudut matanya.

Sekilas menggelegak di dalam dadanya, “Hem. Kelinci-kelinci ini

dapat aku bungkam dalam sekejap.”

Mpu Sada terkejut sendiri menyadari angan-angannya itu. Namun

angan-angannya itu masih juga menjalar terus. “Kalau prajurit ini

sudah binasa, aku akan masuk kehalaman dalam. Aku kira tidak

akan begitu sulit mencari tempat Ken Dedes tanpa diketahui oleh

banyak orang.”

Orang tua itu tiba-tiba menengadahkan wajahnya ke langit.

Matahari telah rendah di ujung Barat. “Kalau malam segera tiba.”

desisnya di dalam hati. “Apakah kepentinganku atas Mahisa Agni itu.

Kalau aku dapat mengambil Ken Dedes, maka Kebo Sindet dan

Wong Sarimpat pasti akan mengumpat setinggi langit. Mahisa Agni

tidak akan bermanfaat baginya. Sedang kini tak seorang pun yang

tahu, siapakah yang telah masuk kedalam istana. Tak seorang pun

tahu bahwa Empu Sada lah yang telah mengambil gadis itu. O, aku

akan dapat menyebarkan desas-desus untuk melawan akal Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat. Aku harus berusaha melemparkan

kesalahan tentang hilangnya Ken Dedes kepada kedua setan itu

sebagai pembalasan dendam.”

Kembali Empu Sada terhenyak oleh angan-angannya. Kembali ia

menjadi sadar akan kehadirannya. Tetapi jalan hidup yang

ditempuhnya selama ini tiba-tiba telah mengamuk kembali di dalam

dadanya. Maka terjadilah kini benturan yang dahsyat di dalam dada

orang tua itu. Baru sesaat ia menemukan jalan yang terang.

Apa yang dialaminya pada saat-saat terakhir telah mendorongnya

kedalam suatu kesadaran. Namun ketika ia dihadapkan kembali

pada kesempatan-kesempatan seperti ini, maka kembali

kebimbangan menggelegak di dadanya.

Kebimbangan yang bersilang-melintang. Ia bimbang apakah

nama yang dipergunakannya akan dapat membawanya kepada Ken

Dedes? Tetapi ia pun dicengkam oleh sebuah kebimbangan yang

lain. Apakah kesempatan ini akan dilewatkannya? Sudah berpuluh

tahun ia menempuh cara hidup yang dipilihnya. Dengan cara

apapun ia pernah berusaha untuk mengambil Ken Dedes dan

mempergunakannya untuk mendapatkan sesuatu yang cukup

bernilai. Meskipun kini Kuda Sempana tidak ada lagi padanya,

namun Ken Dedes akan dapat dijadikannya barang tanggungan

yang baik, jauh lebih baik dari Mahisa Agni.

Tetapi, tiba-tiba terbayang di dalam angan-angannya itu seorang

anak muda yang bernama Sumekar. Anak muda yang

memandanginya dengan sorot mata yang jujur dan jernih. Yang

seolah-olah tidak tahu bahwa tangan gurunya telah dilumuri oleh

noda-noda yang kotor, meskipun sebenarnya dimengertinya juga.

Empu Sada itu menarik nafas dalam-dalam. Benturan-benturan yang

semakin dahsyat kini terjadi di dalam dirinya.

Dalam pada itu, prajurit yang membawanya masuk ke dalam

halaman dalam, telah mencoba menghubungi pelayan dalam untuk

menyampaikan maksudnya. Lewat seorang emban maka permintaan

prajurit itu pun telah disampaikannya kepada Ken Dedes.

“Seseorang ingin menemui aku?” bertanya Ken Dedes kepada

emban itu.

“Ya Tuan Puteri, seseorang dari Panawijen.”

“Siapa dia?”

“Seorang prajurit yang telah menerimanya, Tuan Puteri.”

“Dimana prajurit itu sekarang?”

“Diserambi belakang.”

“Aku ingin mendengar langsung dari padanya.” berkata gadis itu.

“Baik Tuan Puteri.”

Emban itupun meninggalkan Ken Dedes yang kemudian pergi

keruang belakang untuk menemui prajurit itu. Ia ingin mendengar

langsung, siapakah yang ingin menemuinya.

Dengan kepala tunduk prajurit itu berkata, “Tuan Puteri,

seseorang ingin menghadap Tuan Puteri.”

“Dimana ia sekarang?”

“Hamba menjuruhnya menunggu di regol dalam.”

“Siapakah namanya?”

“Makerti, Tuanku.”

“He,” Ken Dedes mengerutkan keningnya. Nama Makerti belum

pernah dikenalnya. Karena itu ia berkata. “Apakah kau tidak salah?

Berapa kira-kira usia orang itu?”

“Orang itu sudah tua, Tuanku. Namun Kaki Makerti pesan kepada

hamba untuk mengatakan bahwa Kaki Makerti adalah paman Tuan

Puteri. Orang tua itu datang dari Padukuhan Ngarang, dan ia adalah

adik dari ibu Tuanku.”

“He,” Ken Dedes menjadi semakin bingung. Dicobanya untuk

mengingat-ingat. Tetapi ia sama sekali tidak pernah mendengar

padukuhan yang bernama Ngarang. Dan ia tidak pernah pula

mendengar bahwa ia mempunyai seorang paman yang bernama

Makerti. Karena itu sejenak Ken Dedes berdiam diri. Dalam kerutkerut

di keningnya tampak betapa ia sedang mencoba mengingat

kembali masa kanak-kanaknya di Padukuhan Panawijen.

“Apakah aku sudah menjadi seorang pelupa.” pikirnya, “kalau aku

menerimanya, maka aku meragukan maksud ke datangannya.

Tetapi kalau aku menolaknya dan orang itu benar-benar pamanku,

apakah aku tidak menyakiti hatinya? Orang itu akan menganggap,

bahwa setelah aku berada di istana, maka aku tidak mau lagi

mengenal keluargaku. Apalagi keluarga dari ibuku.

Dengan demikian, maka Ken Dedes itu menjadi ragu-ragu untuk

berbuat sesuatu, sehingga tidaklah mudah baginya untuk

menentukan keputusan. Maka sejenak mereka menjadi saling

berdiam diri. Prajurit itu masih saja menundukkan wajahnya, sedang

Ken Dedes masih juga ragu-ragu.

Untuk mencoba menumbuhkan kembali ingatannya maka Ken

Dedes itu pun bertanya, “Apakah orang itu mengatakan bahwa

namanya Makerti?”

“Hamba tuan Puteri.”

“Apakah kau dapat menggambarkan bagaimana kira-kira bentuk

orang itu?”

Prajurit itu menggeser dirinya secengkang. Sejenak ia mencoba

membayangkan kembali orang yang sedang menunggunya. Namun

kemudian ia menjawab, “Tak ada yang aneh pada orang tua itu

Tuan Puteri. Tak ada tanda-tanda yang khusus. Seperti kebanyakan

orang-orang tua maka ia menjadi agak bongkok. Kepalanya

menunduk agak terlampau jauh. Dan ia berjalan tersuruk-suruk

dengan sebuah tongkat kecil yang agaknya ditemukannya saja di

jalan. Suaranya bernada rendah, namun kadang-kadang melengking

tinggi.”

“Oh.” Ken Dedes justru menjadi bertambah bingung. Tetapi ia

tidak mau mengambil sikap terlampau tergesa-gesa. Gadis itu selalu

mengingat bahwa ia sendiri berasal dari sebuah padepokan jauh

dari kota Tumapel. Bahwa ia sendiri hanyalah seorang gadis

padesan. Adalah wajar kalau suatu ketika seseorang yang berasal

dari padesan mencarinya dan memerlukan sebuah kesempatan

untuk menemuinya.

Meskipun demikian, pengalamannya yang pahit selama ini telah

memberinya beberapa petunjuk, bahwa dirinya selalu dibayangi oleh

berbagai kemungkinan yang kadang-kadang tidak menyenangkan

baginya. Selalu dikenangnya bagaimana Kuda Sempana

mengejarnya tanpa mengenal jemu. Bahkan ternyata guru Kuda

Sempana yang bernama Empu Sada telah turut campur pula dengan

mencegatnya di jalan pada saat ia akan mengunjungi Panawijen.

Semuanya itu telah membuat Ken Dedes menjadi semakin hatihati.

Sekilas terlintas pula di hatinya untuk memohon pertimbangan

kepada Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin akan lebih baik baginya.

Apabila ternyata terjadi sesuatu, maka akan mudahlah baginya

untuk segera mendapatkan perlindungan. Tetapi Ken Dedes

mengurungkan niatnya. ia tidak ingin mengganggu Akuwu hanya

dalam soal-soal yang kecil itu. Bahkan seandainya orang itu

bermaksud kurang baik sekalipun, apakah yang akan dapat

dilakukannya? Di halaman berkeliaran beberapa orang prajurit dan

Pelayan-dalam dalam sikap ke prajuritan pula. Ia akan dapat

memerintahkan prajurit itu menunggunya selama ia menerima

orang itu.

Ken Dedes itupun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

Pada dasarnya ia memang ingin bertemu dengan orang yang

menyebut dirinya Makerti dan mengaku sebagai pamannya. Namun

ketika ia melihat emban pemomongnya yang mengikutinya dari

Panawijen lewat maka dipanggilnyalah orang tua itu.

Pemomongnya itu pun segera mendekatinya. Orang tua itu kini

telah menyesuaikan dirinya dengan cara hidup di dalam istana.

Sambil duduk bersimpuh ia berkata, “Hamba Tuan Puteri.”

“Bibi.” berkata Ken Dedes kemudian, “seseorang telah

membingungkan aku. Karena bibi adalah pemomongku sejak kanakkanak,

maka aku kira bibi akan dapat memberi aku beberapa

petunjuk.”

Pemomong Ken Dedes itu mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak

segera menjawab.

“Seorang tua menyebut dirinya bernama Makerti dan mengaku

pamanku ingin datang menghadap. Orang itu mengatakan bahwa

dirinya adalah adik ibuku. Bibi, apakah selama ini bibi pernah

mengenalnya?”

Perempuan tua itu pun mengerutkan keningnya. Tanpa

dikehendakinya, maka dipandanginya wajah prajurit yang masih

saja menunduk.

“Ya, prajurit itulah yang menyampaikan permintaannya.” berkata

Ken Dedes.

Pemomong Ken Dedes itupun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Namun iapun menjadi ragu-ragu pula. Jawabnya, “Tuan Puteri.

Seingat hamba, maka Tuan Puteri tidak pernah mempunyai seorang

paman adik ibu Tuan Puteri. Hamba belum pernah mendengar nama

Makerti dan selama hamba berada di dekat Tuan Puteri, maka tak

seorang pun yang pernah datang ke Padepokan Panawijen dengan

nama itu.”

Ken Dedes menjadi semakin bimbang mendengar keterang an

itu. Ia percaya benar kepada pemomongnya, bahwa perempuan itu

tahu jauh lebih banyak tentang dirinya daripada dirinya sendiri.

“Seandainya demikian.” berkata perempuan itu pula, “maka

setidak-tidaknya Ayahanda Empu Purwa pasti pernah menyebutnyebutnya

atau suatu ketika hamba pernah melibat seorang tamu

dari keluarga Ibu Tuan Puteri itu.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada prajurit

yang duduk tepekur di hadapannya ia berkata, “Apakah keperluan

orang itu menghadap aku?”

“Tuan Puteri.” sahut prajurit itu, “menurut keterangannya, ia

mendapat pesan dari Kakanda Tuan Puteri Mahisa Agni. Pesan itu

ingin disampaikannya sendiri kepada Tuan Puteri apabila Tuan

Puteri berkenan menerimanya.”

“Dari kakang Mahisa Agni?” Ken Dedes mengulanginya.

Tampaklah sesuatu kesan yang aneh tersirat di wajahnya.

“Apalagi Angger Mahisa Agni.” desis pemomong Ken Dedes itu.

“Orang tua yang bernama Makerti itu datang ke Panawijen untuk

mencari kemanakannya yang ternyata adalah Tuan Puteri Ken

Dedes. Tetapi yang ada hanyalah Kakanda Tuan Puteri. Dari

Kakanda Tuan Puteri itulah Kaki Makerti mendapat petunjuk bahwa

Tuan Puteri berada diistana. Bahkan orang itu, yang barangkali

terlampau ingin bertemu dengan kemanakannya, membawa pesan

dari Kakanda Tuan Puteri itu pula.”

Kembali perempuan tua itu termenung. Namun tiba-tiba ia

berkata, “Tuan Puteri, baiklah hamba lihat dahulu, apakah hamba

sudah pernah mengenalnya.”

Ken Dedes dengan serta merta menjetujuinya. Dengan

mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik, baik bibi.

Pendapat bibi adalah pendapat yang baik sekali.”

“Hamba Tuan Puteri. Hamba kira bahwa hamba telah mengenal

semua orang Panawijen atau orang-orang yang sering berhubungan

dengan Ayahanda Tuan Puteri.”

Kepada prajurit itu Ken Dedes kemudian bertanya, “Menurut

katamu orang itu datang dari suatu pedukuban untuk mencariku ke

Panawijen, dan bertemu dengan kakang Mahisa Agni. Apakah ia

bertemu dengan kakang Mahisa Agni di Panawijen ataukah di

tempat ia membuat bendungan?”

Prajurit itu termenung sejenak. Namun kemudian ia berkata,

“Orang tua itu sama sekali tidak menyebutnya Tuan Puteri.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya Kecurigaannya

tiba-tiba menjadi semakin tebal. Sepengetahuannya Mahisa Agni kini

sedang berada di Padang Karautan. Babkan Akuwu Tunggul

Ametung baru saja mengirim sepasukan prajurit dengan berbagai

macam perbekalan untuk membantu membuat bendungan itu. Maka

kepada pemomongnya Ken Dedes berkata, “Nah, pergilah bibi.

Lihatlah orang yang menyebut dirinya bernama Makerti dan datang

dari Padukuhan Ngarang itu.”

Tiba-tiba wajah pemomongnya itu menjadi tegang. Kerut merut

di dahinya menjadi semakin jelas. Tanpa sesadarnya ia mengulang

kata-kata Ken Dedes, “Orang itu datang dari desa Ngarang?”

“Ya.” sahut Ken Dedes, “Kenapa?”

Dada emban tua itu terasa berdesir. Dengan ragu-ragu ia

berpaling kepada prajurit yang masih saja duduk tepekur

disampingnya.

“Bertanyalah kepada prajurit itu.” berkata Ken Dedes.

“Benarkah laki-laki tua itu datang dari desa Ngarang?”

“Ya, bibi. Orang itu datang dari Ngarang menurut katanya

sendiri.”

Emban tua itu mengangguk-angguk. Tetapi tampaklah sesuatu

tersirat pada sorot matanya sehingga Ken Dedes bertanya, “Kenapa

bibi? Apakah kau pernah mendengar nama padukuhan Ngarang?”

“Hamba Tuan Puteri. Hamba memang pernah mendengar nama

itu.”

“Dan kau pernah mendengar pula bahwa pamanku tinggal

dipadukuban itu?”

Emban tua itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak tuanku.”

Ken Dedes menjadi ragu-ragu pula melihat wajah pemomongnya

yang menjadi tegang itu. Namun lebih baik baginya apabila emban

itu segera pergi keluar dan melihat siapakah laki-laki yang menyebut

dirinya bernama Makerti.

Sejenak kemudian emban itu pun minta diri, diantar oleh prajurit

yang membawa pesan dari Makerti itu. Namun di sepandjang

langkahnya perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, kini dibebani

oleh sebuah pertanyaan yang telah membuatnya menjadi berdebardebar.

Kenapa orang tua itu menyebut pedukuhan Ngarang?

Kenapa tidak dari pedukuhan yang lain? Apakah benar orang itu

paman gadis momongannya?

Dalam pada itu, di sisi regol dalam, di muka gardu penjaga,

Empu Sada duduk dengan gelisah. Pergolakan yang terjadi di dalam

dadanya terasa semakin lama menjadi semakin riuh. Sekali-sekali

ditatapnya gardu peronda itu. Dilihatnya dua di antara ketiga

prajurit itu duduk terkantuk-kantuk. Sedang yang seorang lagi

berjalan hilir mudik memandi tombaknya. Setiap kali mereka

bergantian, duduk dan berjalan hilir mudik.

Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak akan banyak berarti

bagi Empu Sada. Dengan lemparan batu, ia mampu membunuhnya

satu demi satu tanpa membuat suara apapun.

Tiba-tiba dada orang tua itu berdesir ketika Dilihatnya prajurit

yang membawanya, berjalan di antara tanaman-tanaman di

halaman bersama seorang perempuan tua.

“Hem.” desis Empu Sada di hatinya, “apalagi kerja perempuan

tua itu. Apakah perempuan tua itu emban terdekat dari Ken Dedes

yang harus membawa aku menghadap. Dengan sentuhan jari saja,

maka perempuan itu akan menjadi kejang. Kalau saja aku ingin

melarikan Ken Dedes maka tiba-tiba aku mendapat kesempatan.”

Sekali Empu Sada menengadahkan wajahnya. Warna-warna

merah telah membayang di langit sebelah Barat. Warna-warna yang

telah mendorong hati Empu Sada mendekati kegelapan seperti

senja yang menghadap malam.

“Dalam malam yang gelap, maka aku, pasti bahwa aku akan

dapat melarikan gadis itu. Kalau terjadi demikian, kalau Ken Dedes

hilang dari istana ini, apakah artinya Mahisa Agni bagi Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat? Siapakah yang harus memenuhi pemerasan

yang akan dilakukan?” Empu Sada itu tersenyum di dalam hati.

Namun terasa kembali dadanya berguncang. Kembali terjadi

berbagai benturan yang dahsyat di dalam dadanya.

“Tidak.” katanya di dalam hati, “aku sudah pasrah.”

Dan perempuan tua yang datang bersama prajurit itu pun sudah

menjadi semakin dekat. Ketika mereka kemudian berhenti beberapa

langkah dari Empu Sada maka prajurit itu pun berkata, “Inilah bibi.

Inilah Kaki Makerti.”

Pemomong Ken Dedes itu pun mengerutkan keningnya. Dicoba

untuk mengamat-amati laki-laki tua itu dengan seksama. Namun

kemudian kepala perempuan tua itupun menggeleng. Terdengar ia

bergumam, “Aku belum pernah mengenalnya.”

Empu Sada yang masih duduk itu pun menengadahkan

wajahnya. Seperti perempuan itu, maka Empu Sada pun tidak pula

mengenalnya.

“Apakah Kaki yang bernama Makerti?” bertanya emban tua itu.

“Ya, akulah.” sahut Empu Sada.

“Apakah Kaki paman dari Tuan Puteri Ken Dedes?”

Kembali dada Empu Sada dilanda oleh kebimbangan. Namun ia

menjawab, “Ya, ya, akulah.”

Pemomong Ken Dedes itu pun terdiam sejenak. Kembali ia

mencoba mengamati wajah itu. Tetapi ia sama sekali belum

mengenalnya. Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun di dalam

dada masing-masing bergeletar berbagai macam persoalan. Apalagi

di dalam dada Empu Sada. Tetapi orang tua itu mencoba dengan

sekuat-kuat tenaganya untuk tetap tenang.

Sejenak kemudian terdengarlah emban tua, pemomong Ken

Dedes itu berkata, “Kaki Makerti, apakah Kaki sering mengunjungi

kemanakan Kaki yang bernama Ken Dedes itu dahulu?”

“O tentu, tentu.” jawab Empu Sada dengan serta merta, “Ken

Dedes adalah seorang kemanakan yang manis. Ia tahu benar akan

dirinya. Setiap kali aku datang, maka segera ia menyambutku

dengan girang. Dengan suara tertawanya yang renyah. Tertawa

kekanak-kanakan. Tetapi kini ia sudah berada di istana. Aku tidak

tahu, apakah ia masih dapat mengenalku dan masih juga

menyambut kedatanganku seperti dahulu di Panawijen, seperti

masa kanak-kanaknya.”

Perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu menganggukanggukkan

kepalanya. Dan iapun bertanya pula, “Apakah Kaki juga

mengenal Mahisa Agni?”

“Oh tentu. Aku mengenal anak itu seperti aku mengenal Ken

Dedes. Meskipun Mahisa Agni bukan kakak sendiri, tetapi keduanya

hampir-hampir seperti saudara kandung yang sangat rukun.”

Kembali perempuan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya,

tetapi kecurigaan di dalam hatinya pun bertambah-tambah pula.

Kalau laki-laki itu sering datang ke Panawijen, maka sudah pasti,

sekali dua kali ia pernah melihatnya.

“Kaki.” bertanya emban itu pula, “apakah kata Kakanda Tuan

Puteri tentang adiknya ketika Kaki pergi ke Panawijen?”

Empu Sada menyambar wajah emban itu sesaat, tetapi segera ia

menunjukkan wajahnya, wajah yang telah dipulasnya menjadi

bentuknya yang sekarang. Tetapi ia sadar bahwa ia sedang

mendapat pertanyaan-pertanyaan untuk meyakinkan bahwa Makerti

adalah benar-benar paman Ken Dedes.

“Orang tua ini pastilah emban yang dipercaya oleh Ken Dedes.”

desis orang tua itu di dalam hatinya. Dalam pada itu ia menjawab

dengan hati-hati, “Tidak banyak yang dikatakan oleh Mahisa Agni.

Ia hanya mengatakan bahwa Ken Dedes kini berada di Istana

Tumapel, bahkan menurut pendengarannya gadis itu akan menjadi

seorang permaisuri. Namun Mahisa Agni itu pun mempunyai

beberapa pesan yang harus aku sampaikan kepada adiknya, Tuan

Puteri Ken Dedes.”

“Dimanakah Kaki bertemu dengan Mahisa Agni?”

Mendengar pertanyaan itu Empu Sada mengerutkan keningnya.

“Dimana?” orang tua itu mengulanginya di dalam hati.

“Dimana?” emban tua itu mendesak.

“Di Panawijen.” sahut Empu Sada. Namun terasa bahwa katakatanya

itu diucapkannya dalam kebimbangan.

Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika kembali ia melihat

emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan

kemudian Empu Sada pun menyadari, bahwa emban tua itu menjadi

semakin curiga kepadanya. Dalam keadaan yang menegangkan itu,

kembali dada Empu Sada diamuk oleh berbagai perasaan yang

saling berbenturan.

Ingin ia segera meloncat dan memberikan beberapa sentuhan

kepada emban tua itu sehingga ia menjadi pingsan. Kemudian

dengan beberapa gerakan ia akan mampu melumpuhkan Prajuritprajurit

yang menontonnya seperti sedang menonton pertunjukan

yang mengasikkan. Apalagi ketika kemudian senja menjadi semakin

lama semakin suram. Warna-warna merah dilangit menjadi semakin

pudar. Seleret warna senja masih tergantung di sisi-sisi mega putih

yang mengalir dibawa angin.

“Kaki.” berkata emban itu kemudian, “apakah Kaki datang

langsung dari Panawijen kemari?”

Empu Sada menjadi hampir kehilangan kesabarannya.

Pertanyaan emban itu terlampau banyak baginya. Kalau pertanyaanpertanyaan

yang serupa itu tidak ada habis-habisnya, maka sudah

pasti bahwa suatu ketika ia akan tidak lagi dapat menjawab. Namun

kali ini Empu Sada masih juga menyabarkan hatinya, “Ya. Aku

datang dari Panawijen. Aku harus segera menghadap Tuan Puteri

untuk menyampaikan pesan itu langsung kepadanya.”

“Jangan tergesa-gesa Kaki.” berkata emban tua itu, “aku masih

ingin bertanya, apakah angger Mahisa Agni berada di Panawijen.”

Kembali dada Empu Sada berdesir. Pertanyaan itu benar-benar

mengejutkannya. Dan tiba-tiba pula ia sadar, bahwa Mahisa Agni

kini sedang membuat bendungan di padang Karautan. Wajah Empu

Sada itu pun tiba-tiba menjadi tengang. Tiba-tiba pula ia merasa,

bahwa kecurigaan emban itu pasti akan menundukkannya kedalam

keadaan yang tidak menguntungkan.

Dalam kebimbangan itu, maka Empu Sada pun kemudian

mengambil suatu sikap. Katanya di dalam hati. “Kalau aku gagal

menghadap Ken Dedes dalam suatu keinginan yang baik, dan

apabila kemudian keadaanku sendiri terancam karenanya, maka

adalah lebih baik bagiku untuk pasrah diri. Aku sudah kehilangan

segala macam keinginanku. Mungkin dosaku telah terlampau

banyak, sehingga keinginanku yang terakhir, yang berkehendak baik

pun sudah tidak dapat terjadi.”

“Bagaimana Kaki?” desak emban tua itu.

Tetapi, kini Empu Sada justru telah menjadi tegang. Ia tidak lagi

memandangi sisa-sisa senja yang tersangkut di ujung pepohonan.

Meskipun demikian ia masih mencoba menjawab, “Ya. Aku bertemu

Mahisa Agni di Panawijen. Tetapi tidak lama, sebab anak muda itu

harus segera kembali ke Padang Karautan. Menurut katanya, ia

sedang membuat bendungan.”

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Jawaban itu memang

masuk diakalnya. Mungkin Mahisa Agni sedang pulang sejenak

untuk sesuatu keperluan. Tetapi meskipun demikian, jawaban itu

sama sekali belum meyakinkannya. Sehingga kembali ia bertanya,

“Kaki. Aku dengar Kaki berasal dari padukuhan Ngarang. Apakah

benar demikian?”

Empu Sada kini benar-benar menjadi jemu mendengar

pertanyaan-tanyaan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus

menjawab satu demi satu. Namun apabila jawabnya kemudian tidak

lagi dapat sesuai dengan keadaan yang sewajarnja, maka

perempuan tua itu pasti akan mencurigainya. Mungkin ia akan

berteriak kepada para prajurit untuk menangkapnya. Tetapi Empu

Sada telah pasrah.

“Kaki.” desak perempuan tua itu, “benarkah Kaki berasal dari

Ngarang?”

Empu Sada menganggukkan kepalanya, Jawabnya, “Ya, aku

berasal dari Ngarang.”

“Apakah kau tahu benar tentang pedukuhan itu? Dan apakah kau

memang berasal dari Ngarang sejak kecil?”

“Ya.” jawab Empu Sada. Tetapi kali ini ia tidak begitu cemas.

Memang ia dahulu berasal dari Ngarang. Meskipun desa itu sudah

lama sekali ditinggalkannya, tetapi ia pasti masih dapat menjawab

satu dua pertanyaan tentang padesan itu meskipun ia sudah benarbenar

menjadi jemu.

“Kaki Makerti.” berkata perempuan tua itu, “kalau Kaki benar

berasal dari Ngarang, maka sudah tentu Kaki mengenal beberapa

orang yang berasal dari desa itu pula.”

“Tentu.” sahut Empu Sada.

“Nah, aku ingin bertanya tentang keluargaku yang sudah lama

sekali meninggalkan desa itu.”

“Siapakah orang itu?”

“Namanya Pranuntaka.”

Mendengar nama itu wajah Empu Sada tiba-tiba menjadi tegang.

Terasa darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Sejenak ia

terbungkam dengan dada bergelora.

Ketika ia mengadahkan wajahnya ditatapnya wajah perempuan

tua itu. Wajah yang tidak dikenalnya. Tetapi bibir perempuan tua itu

telah menyebut nama yang seperti Gunung Kawi yang runtuh

menimpa dadanya.

Perempuan tua dan para prajurit itu sama sekali tidak melihat

warna merah yang menyala di wajah Empu Sada, karena senja

sudah menjadi semakin suram. Namun perempuan tua itu melihat

bahwa Empu Sada tiba-tiba menjadi gelisah dan tidak segera dapat

menjawab pertanyaannya. Karena itu maka kecurigaannyapun

menjadi semakin tebal, sehingga menurut pendapatnya, tak ada

gunanya lagi ia menanyakan berbagai macam soal. Orang itu pasti

bukan paman Ken Dedes, dan pasti bukan orang Ngarang.

Sejenak terlintas dihati pemomong Ken Dedes itu tentang

berbagai macam bahaya yang pernah mengitari momongannya.

Karena itu, maka kecurigaannya pun menjadi semakin kuat. Laki-laki

tua itu mungkin salah seorang dari mereka yang ingin berbuat jahat

kepada momongannya. Dengan demikian maka menjadi

kewajibannya untuk, menolak maksud orang yang menyebut dirinya

Makerti itu menghadap momongannya. Bahkan adalah menjadi

kewajibannya pula untuk menyampaikannya kepada orang yang

berkewajiban untuk menelitinya lebih jauh.

“Kaki Makerti,” berkata emban itu, “tunggulah disini. Semuanya

akan aku sampaikan kepada Tuan Puteri. Aku tidak tahu apakah kau

akan diijinkan menghadap atau tidak.”

Empu Sada tidak segera dapat menjawab. Ia masih dicengkam

oleh gelora yang dahsyat di dadanya. Nama yang disebut oleh

perempuan itu benar telah membuatnya menjadi sangat gelisah.

Tetapi agaknya perempuan tua itu tidak lagi menunggu

jawabannya. Agaknya emban itu ingin segera menyampaikan

persoalan itu kepada momongannya dan kemudian kepada

pemimpin Pelayan-dalam untuk berbuat sesuatu bersama para

prajurit pengawal istana.

Namun ketika emban itu melangkah pergi, dengan terbata-bata

Empu Sada memanggilnya. “Tunggu. Tunggu.”

Emban tua itu berhenti. Sambil memutar dirinya ia bertanya,

“Apalagi Kaki? Bukankah aku harus menyampaikan permohonanmu

kepada Tuan Puteri.”

“Tunggu.” minta Empu Sada yang tiba-tiba berdiri perlahanlahan.

Beberapa orang prajurit yang melihatnya berdiri menjadi semakin

tertarik pada laki-laki tua itu. Dengan penuh perhatian mereka

menyaksikan pembicaraan kedua orang-orang tua itu dengan

saksama.

“Apalagi Kaki?” bertanya emban itu pula.

“Akuingin tahu, kenapa kau bertanya tentang Pranuntaka.”

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Terasa pertanyaan yang

menyebut dirinya Makerti itu menarik hatinya. Maka Jawabnya,

“Tidak apa-apa Kaki. Karena kau menyebut dirimu berasal dari

padukuhan Ngarang, sedang aku mengenal seseorang dari

padukuhan itu pula dan bernama Pranuntaka. Maka aku bertanya

kepadamu, apakah kau sudah mengenalnya.”

“Tidak. Pasti bukan hanya sekedar ingin tahu, apakah aku pernah

mengenal orang yang bernama Panuntaka itu.”

Sekarang emban tua ituah yang terkejut. Kata-kata orang yang

menyebut dirinya Makerti itu terdengar aneh ditelinganya. Karena

itu ia berkata, “Kenapa kau Kaki? Kenapa kau heran atas

pertanyaanku dan bahkan kau tidak percaya bahwa aku hanya

sekedar bertanya tentang Pranuntaka itu. Aku pernah mengenalnya,

dan aku ingin tahu, kalau kau benar-benar orang Ngarang sejak

kecil, kau pasti mengenalnya pula.”

“Siapakah sebenarnya kau Nini?” tiba-tiba orang tua itu bertanya.

Pertanyaan itu semakin mengejutkan bagi emban tua itu. Namun

ia menjawab, “Aku adalah emban kinasih, pemomong Ken Dedes

sejak kanak-kanak. Itulah maka aku tahu, semua orang Panawijen

dan semua orang yang pernah berhubungan dengan momongku

itu.”

Dada Empu Sada menjadi semakin berdebar-debar. Ketika ia

berkisar setapak, ia melihat prajurit yang duduk di dalam gardu kini

telah berdiri.

Empu Sada sama sekali tidak menjadi kecut melihat prajuritprajurit

yang hanya berjumlah empat orang itu. Kalau ia mau, maka

ia tidak memerlukan waktu banyak. Tetapi yang dicemaskan Empu

Sada adalah dirinya sendiri. Dengan sepenuh kesadaran ia berusaha

untuk dapat mengekang perasaannya supaya ia tidak meloncat dan

menyentuh para prajurit di tempat-tempat yang berbahaya,

sehingga keempat prajurit itu menjadi tidak berdaya.

“Aku sudah bertekad untuk pasrah diri.” katanya di dalam hati.

Namun setiap kali kakinya menjadi gemetar, seolah-olah sepasang

kakinya itu amat sulit dikendalikannya sendiri.

Kini ia mendengar bahwa perempuan tua itu adalah pemomong

Ken Dedes sejak kecil. Ia mendengar bahwa emban tua itu bukanlah

emban istana, tetapi adalah emban yang dibawa oleh Ken Dedes

dari Panawijen. Dengan demikian maka Empu Sada sudah dapat

membayangkan, bahwa emban itu tidak percaya sama sekali kepada

semua ceriteranya. Emban itu pasti tahu, bahwa Ken Dedes tidak

mempunyai seorang paman bernama Makerti dan datang dari

padukuhan Ngarang. Tetapi yang lebih membingungkannya, bahkan

menjadikanya sangat berdebar-debar adalah pertanyaan emban tua

itu. Kenapa emban tua itu bertanya tentang Pranuntaka?

Dalam pada itu terdengar emban Ken Dedes berkata, “Kaki.

tunggullah di sini. Tinggallah bersama para prajurit ini, Aku akan

menghadap Tuan Puteri untuk menyampaikan pesanmu. Namun aku

akan dapat memberitahukan kepada Tuan Puteri, bahwa aku belum

pernah melihatmu.”

Para prajurit yang mendengar kata-kata emban tua itu tiba-tiba

menyadari keadaan. Seolah-olah mereka mendapat perintah untuk

menahan orang tua itu di dalam gardunya.

“Apakah maksud Nini sebenarnya?” bertanya Empu Sada dengan

cemas. Sekali lagi ia tidak mencemaskan Prajurit-prajurit itu, tetapi

ia cemas pada dirinya sendiri. Kalau ia menjadi kehilangan

keseimbangan, maka ia pasti akan lari dan meninggalkan keempat

prajurit itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.

“Tidak apa-apa.” jawab emban tua pengasuh Ken Dedes,

“mungkin Tuan Puteri mempunyai pertimbangan lain. Mungkin Tuan

Puteri perlu minta pertimbangan dari pemimpin Pelayan-dalam yang

sedang bertugas hari ini atau bahkan mohon pertimbangan kepada

Akuwu Tunggul Ametung.”

Kaki Empu Sada menjadi semakin gemetar ketika ia melihat

berapa prajurit itu mendekatinya.

“Tunggu Nini.” minta Empu Sada, “ada suatu.., ada sesuatu yang

ingin aku jelaskan supaya Nini melihat persoalan yang sebenarnya.”

“Apakah masih ada yang belum jelas?”

“Masih Nini.”

“Apakah itu?”

“Pranuntaka. Nama itu.”

“Apakah kau kenal nama itu?”

“Ya Nini, aku mengenal nama itu dengan baik.”

Pemomong Ken Dedes itu tertegun sejenak. Diamatinya laki-laki

tua itu dari ujung kaki keujung rambutnya. Namun malam menjadi

semakin suram sehingga bayangan laki-laki tua itu pun menjadi

semakin kabur.

“Sudahlah Kaki.” berkata salah seorang prajurit yang telah berdiri

di sampingnya, “duduklah di gardu bersama kami. Kaki dapat

beristirahat sesuka hati. Kaki dapat berbaring untuk melepaskan

lelatu, sambil menunggu Tuan Puteri berkenan menerima Kaki.”

“Ya, ya tuan.” sahut Empu Sada, “tetapi aku ingin memberi

penjelasan dahulu kepada Nini emban. Sebenarnyalah aku

mengenal orang yang ditanyakannya.”

Kemudian kepada pemomong Ken Dedes ia berkata, “Nini,

apakah benar Nini mengenal orang yang bernama Pranuntaka?”

“Tentu Kaki.” sahut emban itu, “aku bertanya kepadamu justru

aku mengenalnya dengan baik.”

“Aku mengenal orang itu jauh lebih baik dari siapa pun juga.”

sahut Empu Sada.

Jawaban itu ternyata sangat menarik perhatian pemomong Ken

Dedes. Dengan nada yang tajam ia bertanya, “Tidak. Tak ada orang

yang mengenal orang itu lebih baik dari aku. Aku mengenalnya

sejak ia muda sampai akhirnya ia meninggal dalam keadaan yang

kurang wajar.”

Emban itu terkejut ketika ia melibat Empu Sada meng geleng.

“Tidak.” berkata laki-laki tua itu, namun tiba-tiba ia bertanya,

“Tetapi kenapa Nini merasa sebagai orang yang paling

mengenalnya?”

“Kenapa kau tanyakan hal itu? Aku bertanya, sebutkan orang itu,

ciri-cirinya dan apa pun yang kau ketahui. Kalau kau dapat

mengatakannya, barulah aku percaya bahwa kau berasal dari

Ngarang. Sehingga kau akan mendapat pelayanan yang lain di sini

nanti.”

Keringat yang dingin mengalir hampir di seluruh tubuh Empu

Seda. Perlahan-lahan ia berkata, “Pranuntaka bertubuh tinggi.

Berambut panjang ikal. Mempunyai beberapa cacat senjata di

tubuhnya. Bermata hitam tetapi pudar. Berwajah jelek dan

dibayangi oleh warna yang pucat.”

“Sebagian benar.” sahut perempuan tua itu, “tetapi Pranuntaka

tidak bermata pudar, wajahnya tidak dibayangi oleh warna yang

pucat. Mata itu benar hitam mengkilat, ditandai oleh sorot

kejantanan yang penuh cita-cita. Wajahnya keras namun tidak

kasar.”

“Tidak. Itu terlalu berlebih-lebihan. Pranuntaka adalah seorang

yang tidak berarti. Tidak berarti bagi dirinya sendiri dan tidak berarti

bagi dunia. Matinya pun tidak menimbulkan sesal bagi siapa pun.

Tak seorang pun mencari kuburnya untuk menaburkan bunga di

atasnya. Tak seorang pun yang pernah menyebut namanya

kemudian. Bagiku Pranuntaka adalah seorang yang tidak berarti

apa-apa. Kematian adalah jalan yang sebaik-baiknya baginya.”

“Bohong.” tiba-tiba emban itu membantah lantang. Sikapnya pun

tiba-tiba menjadi lain dari sikapnya semula.

Empu Sada terkejut melihat sikap emban tua itu. Bahkan

kemudian ia terdiam sejenak. Dalam keremangan malam tampaklah

wajah perempuan tua itu menjadi tegang.

Dis ana-sini beberapa orang juru petamanan telah memasang

pelita-pelia minyak. Sinarnya manggapai-gapai disentuh angin yang

lembut.

Para prajurit yang melihat pembicaraan kedua orang tua itu

menjadi bingung. Mereka kini tidak sedang membicarakan

kemungkinan untuk menghadap Ken Dede, tetapi justru mereka

berbicara tentang seseorang yang kali ini tidak ada hubungannya

dengan permohonan orang, yang menyebut dirinya Makerti itu.

Meskipun demikian para pradurit itu menjadi semakin curiga.

Mereka melihat orang tua yang menamakan dirinya Makerti itu

seperti seorang yang tiba-tiba diselubungi oleh sebuah kabut

rahasia.

Dalam pada itu terdengar perempuan tua itu berkata, “Kalau

begitu, kau tidak mengenal Pranutaka dengan baik.”

“Nini.” sahut Empu Sada, “aku bahkan menjadi heran. Kenapa

Nini menganggap Pranuntaka sebagai seorang yang baik, yang sorot

matanya ditandai oleh kejantanan yang penuh dengan cita-cita,

wajahnya keras namun tidak kasar. Semuanya itu tidak benar Nini.

Mungkin Nini mengenal orang itu dengan baik, tetapi aku adalah

orang yang tinggal sepedukuhan dengan orang yang menyebut

dirinya Pranuntaka. Bukan hanya sepedukuhan, tetapi aku tinggal

serumah dengan orang yang saat itu masih seorang anak muda

yang cengeng.”

“Bohong, bohong” sahut emban tua itu, “mungkin kau waktu itu

masih juga seorang anak muda. Dan kau tidak dapat berbuat seperti

apa yang dilakukannya sehingga kau menjadi iri hati kepadanya.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Betapa ia menjadi heran

melihat sikap emban tua itu. Apakah hubungannya dengan orang

yang disebutnya bernama Praunntaka itu?

“Nah,” berkata emban tua itu, “kalau demikian, maka kau bukan

seorang yang pantas untuk mendapat pelayanan yang baik. Sifat

irimu sejak muda masih saja kau simpan sampai rambutmu hampir

menjadi seputih kapas.”

“Nini,” potong Empu Sada, “tunggulah. Apakah kalau aku ikut

juga memuji anak muda, pada saat itu, yang bernama Pranuntaka

itu aku dapat menghadap Tuan Puteri Ken Dedes?”

Emban itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia

terbungkam. Tetapi kemudian ia menjahut “Kaki, dengan menyebut

namanya, Pranuntaka, aku hanya ingin membuktikan, apakah kau

benar orang dari padukuhan Ngarang.”

“Aku sudah menjawab Nini.” jawab Empu Sada, “Aku

mengenalnya dengan baik. Aku telah menyebut ciri-cirinya dan

Ninipun sependapat. Yang kita tak sependapat adalah sifat-sifat

orang itu. Itu adalah sangat bersifat pribadi. Tetapi bahwa Nini

menganggap Pranuntaka seorang yang amat baik itu telah sangat

menarik perhatianku.”

“Aku tahu benar sifat-sifatnya itu.”

“Nini, mungkin Nini tadak tahu, bagaimana ia mati. Dalam

keputus asaan ia telah membunuh dirinya. Ia lari dari padukuhannya

karena ia kehilangan seorang gadis pada waktu itu. Ia tidak berani

merebut gadis itu dengan tajam pedangnya. Tetapi ia lebih baik lari

dan menghabiskan sisa hidupnya dalam dunia yang gelap. Akhirnya

ia mati dalam keputus asaan.”

“Cukup.” emban itu tiba-tiba memotong. Tetapi kemu dian ia

terbungkam. Terasa sesuatu menyesakkan nafasnya.

Para prajurit yang melihat mereka berdua menjadi semakin

heran. Mereka tidak tahu ujung dan pangkal pembicaraan itu. Yang

mereka ketahui adalah bahwa emban tua itu tidak membenarkan

orang yang menyebut dirinya Makerti itu menghadap langsung

bersamanya. Karena itu maka seorang diantara merekapun segera

menghampiri Empu Sada sambil berkata, “Sudahlah Kaki, duduklah

di dalam gardu. Ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi.

Agaknya kau tidak dapat meyakinkan emban itu, bahwa kau benarbenar

paman Tuan Puteri. Meskipun demikian tidak mustahil bahwa,

baik Tuan Puteri maupun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung ingin

membuktikan melihat wajahmu yang berkerut-merut itu.”

Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar karenanya. Kini ia

menghadapi sebuah teka-teki yang tidak disangka-sangka.

Pranuntaka adalah nama yang baginya telah mati. Dan kini

perempuan tua itu tiba-tiba mengungkat-ungkatnya kembali.

Namun tiba-tiba darahnya serasa berhenti mengalir ketika

perempuan tua itu kemudian berkata Perlahan-lahan, “Kaki, ikutlah

aku.”

Para prajurit yang mendengar kata-kata itu pun menjadi heran.

Baru saja mereka melihat kedua orang tua itu berbantah. Tetapi

tiba-tiba emban pemomong Ken Dedes itu ingin membawanya.

Namun kemudian para prajurit itu mendengar emban tua itu

berkata, “Aku ingin mendapat jawaban-jawaban yang lebih jelas.

Aku tidak ingin persoalan ini membingungkan kalian para prajurit.

Aku akan membawanya kesudut bilik itu. Kalau aku tetap tidak yakin

bahwa ia paman momonganku, maka aku akan memanggil salah

seorang dari kalian, dan kalian pasti akan mendengarnya.”

Para prajurit itu tidak dapat berbuat lain daripada mengiakannya.

Namun di dalam dada mereka tersimpan berbagai pertanyaan yang

bersimpang siur.

Ketika emban tua itu kemudian melangkah pergi, maka orang tua

itu mengikutinya di belakang. Mereka sejenak saling berdiam diri,

namun di dalam hati mereka menggelora berbagai macam perasaan

yang berbenturan. Mereka menjadi heran melihat sikap masingmasing.

Mereka tidak dapat segera mengerti kenapa mereka

masing-masing mempunyai anggapan yang harus mereka

pertahankan tentang orang yang bernama Pranuntaka itu.

Akhirnya merekapun berhenti di sudut bilik ujung istana. Jarak itu

memang tidak terlampau jauh dari para penjaga di sisi regol

halaman dalam itu.

Para prajurit di sisi regol itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak

mereka saling berpandangan. Salah seorang dari mereka itupun

berguman, “Aneh-aneh saja orang-orang tua itu. Apa saja yang

mereka percakapan di ujung istana itu? Kalau saja mereka anakanak

remaja maka aku akan menjadi iri.”

Kawan-kawannya tertawa. Namun salah seorang lagi berkata,

“Tetapi mungkin sebentar lagi kau harus mempergunakan

tombakmu untuk menakut-nakuti laki-laki tua itu supaya tidak

berlari. Agaknya mereka sedang berselisih pendapat tentang

seseorang yang bernama Pranuntaka.”

“Itulah anehnya orang-orang yang sudah hampir pikun.” sahut

yang lain. “Mula-mula emban tua itu hanya ingin tahu, apakah lakilaki

itu benar-benar berasal dari tempat yang disebutkannya. Tetapi

Akhirnya perdebatan itu bergeser kepada soal yang lain. Soal orang

itu sendiri.”

Keempat prajurit itu tersenyum. Yang seorang, yang membawa

Empu Sada masuk kehalaman dalam itu Akhirnya berkata, “Ah, aku

terlampau lama berada disini. Sebenarnya aku ingin segera kembali

ke tempatku.”

“Kembalilah, apa lagi yang akan kau tunggu disini,”

Orang itu menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian ia menggeleng.

“Tidak. Aku belum akan kembali sekarang. Aku ingin melihat akhir

dari perdebatan orang tua itu.”

Ketiga kawannya tertawa kecil. Kemudian mereka bersama-sama

duduk di depan gardu, kecuali yang seorang, dengan tombak di

tangannya, berdiri saja di sisi regol halaman dalam itu.

Di sudut istana Empu Sada berdiri berhadapan dengan emban

tua yang telah menumbuhkan teka-teki baginya, seperti juga dirinya

ternyata telah membingungkan perempuan tua itu.

Di antara desau angin yang bertiup semakin kencang terdengar

emban tua itu berkata perlahan-lahan sambil mencoba menguasai

perasaannya sejauh mungkin. “Kaki” katanya, “sekarang, cobalah

sebutkan hubunganmu dengan Pranuntaka? Kenapa kau dapat

mengatakan bahwa Pranuntaka telah lari dan menghabiskan

hidupnya dalam keputus-asaan sebelum ia meninggal? Kenapa kau

katakan bahwa ia tidak berani merebut gadisnya dengan tajam

pedangnya?”

“Demikianlah yang terjadi Nini. Bagaimana aku akan mengatakan

kepadamu apabila aku melihat sendiri bahwa demikianlah yang

telah terjadi.”

“Apakah kau tahu, siapakah gadis yang diperebutkan itu?”

“Aku tahu Nini. Tentu aku tahu.”

“Coba sebutkanlah.”

Empu Sada yang menyebut dirinya Makerti itu terdiam.

Dipandanginya wajah perempuan tua itu dengan saksama. Teka-teki

yang mencengkam hatinya menjadi semakin rumit. Apapula

gunanya ia ingin mendengar nama gadis itu?

“Nah, Kaki Makerti cobalah, sebutkanlah nama gadis itu.”

“Nini. Kenapa kita terlampau dalam masuk ke dalam persoalan

orang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan

kepentinganku kini?”

“Tentu tidak Kaki. Aku ingin tahu benar, apakah kau kau berasal

dari desa Ngarang.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Orang itu pasti tidak

hanya sekedar ingin tahu, apakah ia benar-benar berasal dari desa

Ngarang.

“Bagaimana Kaki Makerti, apakah kau pernah mendengar

namanya? Kalau kau benar-benar tahu tentang Pranuntaka, maka

kau pasti akan dapat menyebutkan nama gadis itu.”

Akhirnya Empu Sada tidak dapat menahan kesabarannya lagi.

Iapun ingin segera tahu, apakah hubungan perempuan itu dengan

Pranuntaka. Karena itu maka katanya, “Baiklah Nini, kalau kau

berkeras ingin tahu siapakah aku dan hubungan apakah yang

pernah ada antara aku dan Pranuntaka. Kalau ceriteraku ini akan

memberimu kepuasan, maka aku hanya ingin kau membawa aku

menghadap Tuan Puteri Ken Dedes. Aku membawa pesan yang

teramat penting bagi Tuan Puteri dari kekaknya yang bernama

Mahisa Agni yang kini telah kembali ke Padang Karautan itu.”

“Ya sebutkanlah. Kalau kau dapat meyakinkan aku, bahwa kau

benar-benar berasal dari Pedukuhan Ngarang, maka akulah yang

akan membawamu menghadap Tuan Puteri.”

“Nini emban.” berkata Empu Sada, “menurut pendapatku,

Pranuntaka tetap seorang pengecut.”

“Jangan kau sebut lagi.” potong emban tua, “katakan saja apa

yang kau ketahui tentang dirinya.”

“Maaf.” sahut Empu Sada, “menurut pengetahuanku, Pranuntaka

telah melarikan dirinya dari seorang gadis yang dicintainya. Ketika ia

ingin beristerikan gadis itu, maka ia telah pergi mengembara untuk

mendapatkan bekal di hari-hari yang akan ditempuhnya bersama

gadis yang dicintahinya itu. Tetapi ternyata gadis itu tidak setia.

Ketika Pranuntaka kembali, gadis itu telah kawin dan mempunyai

seorang anak laki-laki. Semula, laki-laki yang bernama Pranuntaka

itu telah menentukan sikapnya. Cintanya akan dibelanya dengan

njawanya. Tetapi ia ingat anak kecil di dalam dukungan perempuan

yang dicintainya itu, yang sudah bukan lagi seorang gadis yang

menunggunya. Karena itu, maka kecengengannya telah

membawanya pergi meninggalkan semua harapan yang telah

disusunnya sepanjang perantauannya.”

“Cukup,” potong emban tua itu. Namun kini suaranya terdengar

bergetar. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Patahpatah

ia bertanya, “Aku ingin mendengar, apakah kau tahu gadis

itu?”

“Kenapa kau Nini?” bertanya Empu Sada.

“Sebutkanlah namanya.” sahut emban tua itu, “kalau kau benarbenar

mengetahuinya. Kalau ceriteramu itu bukan sekedar ceritera

yang kau dengar di sepanjang jalan atau ceritera lama yang

berloncatan dari mulut ke mulut.”

Empu Sada tertegun sejenak. Ia melihat perubahan pada sikap

dan kata-kata perempuan itu maka kini dadanya sendiri pun

berguncang seperti ujung pepohonan yang ditiup angin malam yang

menjadi semakin kencang.

Justru mereka kini untuk sejenak saling berdiam diri. Empu Sada

tidak segera menjawab pertanyaan emban tua itu. Perlahan-lahan ia

berusaha menenangkan hatinya yang menjadi tegang.

“Aneh perempuan ini.” katanya di dalam hati, “pembicaraan ini

telah terlampau jauh menyimpang dari maksud kedatanganku.

Namun sikap perempuan yang aneh ini agaknya sangat menarik.”

“Bagaimana Kaki?” terdengar suara perempuan itu semakin

serak, “Apakah kau juga dapat menyebut nama gadis yang kau

katakan itu?”

“Sudahlah Nini.” sahut Empu Sada, “seandainya aku hanya

mendengar dari ceritera yang berloncatan dari mulut kemulut,

seandainya ini aku dengar di sepanjang jalan, maka apakah Nini

dapat membedakannya dengan apabila ceritera ini benar-benar aku

lihat dengan mata kepala sendiri, hanya dengan sekedar menyebut

nama gadis itu?”

“Tentu.” berkata perempuan tua itu, “kau mengatakan bahwa

kau adalah orang yang paling tahu tentang dia. Tentang

Pranuntaka.”

“Baiklah Nini,” Empu Sada benar-benar tidak mempunyai pilihan

lain. “Sebenarnya aku tidak lagi ingin menyebut nama-nama mereka

baik Pranuntaka maupun gadis itu. Mereka telah mati dan tidak lagi

mempunyai sangkut paut apapun dengan aku dan kau.”

“Sebutkan, sebutkan kalau kau tahu,” potong perem puan itu.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan namun

penuh dengan tekanan ia berkata, “Menurut pendengaranku Nini,

gadis yang telah menghalau Pranuntaka dari dunia harapannya

adalah seorang gadis yang bernama Jun Rumanti.”

“Cukup, cukup,” tiba-tiba perempuan tua itu memotong kata-kata

orang yang meyebut dirinya Makerti, sehingga laki-laki tua itu

terkejut karenanya.

Kini ia berdiri tegak seperti patung ketika ia melihat perempuan

tua itu menundukkan kepalanya. Sekali-sekali diusapnya matanya

dengan ujung kembennya. Tetapi perempuan tua itu tidak

menangis. Ketika ia mengangkat wajahnya tampaklah wajah itu

menjadi terlampau suram. Cahaya pelita yang kermerah-merahan di

kejauhan tidak banyak menerangi wajah yang sudah berkerut-merut

itu.

“Kau benar-benar mengetahuinya, bahwa Pranuntaka telah

pernah mengenal seorang gadis yang bernama Jun Rumanti?”

Terasa sesuatu berdesakan di dalam dada Empu Sada. Meskipun

perempuan tua itu tidak menangis, tetapi ia melibat sesuatu yang

melengking dari dalam hatinya. Umur Empu Sada yang lanjut itu

ternyata telah mempertajam perasaannya pula, sehingga tiba-tiba ia

mempunyai suatu tanggapan yang lain atas emban tua itu.

“Ya Nini.” sahut Empu Sada dalam nada yang dalam, “agaknya

nama itu lelah mengejutkanmu. Apakah kau mengenal nama itu

pula, Jun Rumanti?”

Perempuan tua itu menggeleng, “Tidak Kaki. Aku tidak mengenal

nama Rumanti.”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Kini bukan saja ia

merasakan jerit yang melonjak dari dalam hati perempuan tua itu,

tetapi seakan-akan ia kini dapat mendengarnya. Perlahan-lahan ia

bertanya, “Kalau kau tidak mengenal nama Rumanti itu Nini, kenapa

kau berkeras hati supaya aku menyebutkannya?”

Perempuan tua itu terdiam. Ia tidak tahu bagaimana ia harus

menjawab pertanyaan itu. Sehingga dengan demikian, maka Empu

Sada menjadi semakin merasakan hubungan yang lebih rapat antara

perempuan tua itu dengan gadis yang dahulu bernama Jun

Rumanti.

Tanpa disengajanya maka tiba-tiba Empu Sada itu berkata, “Nini,

kalau gadis itu masih ada, maka ia kini pasti sudah tua pula.

Mungkin gadis itu sudah setua Nini.”

Perempuan tua itu terkejut bukan buatan, sehingga ia terhenyak

dan bergeser setapak surut. Ditatapnya wajah orang yang menyebut

dirinya Makerti itu sejenak, namun sejenak kemudian ia berkata,

“Mungkin, mungkin Kaki.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari mulutnja

kembali terlontar kata-kata, “Tetapi nama itu telah lenyap sejak

puluhan tahun yang lampau. Sesaat sejak Pranuntaka hilang dari

Ngarang. maka Jun Rumanti itu pun hilang pula.”

Kembali perempuan tua itu menundukkan wajahnya. Terasa

nafasnya menjadi sesak. Betapapun ia bertahan, namun Akhirnya

setitik air meleleh di pipinya yang sudah menjadi berkerut-merut

oleh garis-garis umurnya.

Sejenak mereka saling membisu. Namun di dalam dada Empu

Sada terjadi suatu pergolakan yang gemuruh. Ia melibat perempuan

tua itu menjadi semakin sedih. Dan tiba-tiba ia berkata, “Nini,

apakah kau saudara perempuan Jun Rumanti?”

Perempuan itu menggeleng.

“Apakah kau sahabatnya?”

Perempuan itu menggeleng lagi.

“Tetapi ceritera itu telah menggali kepedihan dihatimu. Sudah

aku katakan, sebaiknya kita tidak usah membicarakan orang-orang

lain di luar kepentingan kita sekarang. Namun kau selalu

mendesaknya. Agaknya kau ingin mengenang sesuatu lewat ceritera

itu. ceritera kanak-kanak yang telah terlampau lambat untuk kita

dengarkan. Tetapi Nini, aku menjadi bercuriga melihat sikapmu.

Nah, sebutkanlah, siapakah kau sebenarnya?”

Perempuan itu kembali terperanjat mendengar pertanyaan Empu

Sada. Sejenak ia terbungkam. Namun kemudian ia menggeleng,

“Aku adalah emban Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Tetapi kenapa kau berkeras hati memaksaku berceritera tentang

pengecut itu. Tentang Pranuntaka yang lari dalam keputus asaan

dan tentang gadis yang telah menghianatinya.”

“Tidak. Gadis itu tidak menghianatinya. Ia terdorong oleh suatu

keadaan yang tidak dapat dihindarinya lagi. Pranuntaka telah

meninggalkannya tanpa kabar berita untuk waktu yang tidak

menentu.”

Sekali lagi Empu Sada terkejut mendengar jawaban perempuan

tua itu. Bahkan sejenak ia tidak mengucapkan kata-kata. Namun kini

ia hampir-hampir dapat menebak siapakah perempuan itu. Justru

dengan demikian maka hatinya sendiri menjadi bingung. Terasa

darahnya seolah-olah hampir berhenti mengalir. Wajahnya terasa

menjadi panas, namun keringat dinginnya seakan-akan diperas

apuh dari dalam tubuhnya.

Dalam pada itu terdengar emban tua itu berkata, “Kaki Makerti.

Kalau kau benar-benar orang yang paling dekat dengan Pranuntaka,

maka kau seharusnya mengetahui, bahwa gadis itu sama sekali

tidak ingin menghianatinya. Kau harus tahu, dan Pranuntaka pun

harus tahu pula seandainya ia masih hidup. Bagi seorang laki-laki,

maka waktu tidak begitu banyak berpengaruh pada dirinya. Tetapi

bagi seorang gadis keadaannya jauh berbeda Kaki. Kaki Makerti,

apakah Kaki mempunjai anak seorang gadis?”

Mpu Sada yang menyebut dirinya Makerti itu menarik nafas

dalam-dalam. Tetapi Perlahan-lahan ia menggeleng lemah. “Tidak

Nini.”

“Oh, kalau kau punyai gadis itu Kaki.” desak perempuan tua itu,

“maka kau akan merasakan, betapa seorang gadis tidak dapat

membiarkan waktu lewat tanpa menggoreskan luka di dadanya

semakin banyak hari-hari yang dilewatinya untuk menunggu, maka

kegelisahan dihatinya menjadi semakin menyala.”

“Ya, ya aku tahu Nini.” potong Empu Sada, “tetapi tidak demikian

dengan gadis yang bernama Rumanti itu. Mereka sebelumnya telah

berjanji, dan Rumanti tahu, bahwa Pranuntaka sedang pergi

merantau untuk mempersiapkan hari-hari yang bakal mereka jelang.

Tetapi ketika Pranuntaka kembali, maka gadis itu telah membawa

seorang anak laki-laki di dalam dukungannya.”

“Cukup. Cukup.” tetapi suara perempuan itu seakan-akan

tersumbat dikerongkongan.

“Kalau kau keluarga dari perempuan itu Nini, maka dengarlah

keluhan hati Pranuntaka yang meratapi kegagalannya. Laki-laki

cengeng itu menganggap bahwa hidupnya sudah tidak akan berarti

lagi.”

“Tetapi perempuan itu pun telah menyiksa dirinya sendiri Kaki. Ia

menyesal karena iapun Akhirnya kehilangan segala-galanya.”

“Bohong.” sahut Empu Sada, “itu hanya sebuah dongeng

ngayawara. Ternyata kaulah yang hanya mendengar dongeng di

sepanjang jalan tentang Pranuntaka dan Jun Rumanti itu. Ternyata

kaulah yang hanja mendengar ceritera itu berdesah dari mulut

kemulut. Kau tidak melihat dari dekat, dan kau tidak turut serta

merasakan betapa kepahitan dari peristiwa itu membekas sampai

akhir hajatnya.”

“Kau yang bohong.” bantah perempuan itu. Namun kini mulai

terdengar isak tangisnya, “perempuan itu pun telah menerima

hukumannya.”

“Kembali kau mengarang ceritera itu. Mungkin kau kenal

keduanya, tetapi kau tidak mengenal perasaan mereka.”

“Tentu, tentu Kaki Makerti, aku tentu mengenal perasaan mereka

seperti aku mengenal perasaan sendiri. Aku mengenal perasaan

gadis itu melampaui setiap orang yang pernah mengenalnya.”

“Nini emban.” tiba-tiba suara Empu Sada menjadi datar dan

berat.

Serasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Namun laki-laki

itu memaksa mengucapkan kata-kata, “Nini, kenapa kau mengenal

perasaan gadis itu melampaui setiap orang? Nah, katakan kepadaku

Nini, apakah kau yang bernama Jun Rumanti?”

Emban tua itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Sekali lagi ia

bergeser setapak menjauhi laki-laki yang berdiri di hadapannya.

Dengan tajamnja ia memandangi wajah laki-laki tua itu, namun

kemudian wajahnya tertunduk. Dengan ujung kembennya ia

menyeka matanya. Dan tiba-tiba mata itu kini menjadi kering. Ketika

perempuan itu mengangkat kepalanya, maka ia berkata, “Tak ada

gunanya air mata buatku. Buat orang tua-tua.” kemudian dengan

tegas ia berkata, “Ya, aku lah Jun Rumanti itu.”

Jawaban itu telah diduga oleh Empu Sada yang menyebut dirinya

Makerti. Namun meskipun demikian terasa juga dadanya berdesir,

dan karenanya maka sejenak ia pun terdiam.

“Kaki Makerti, kini kau telah berhadapan dengan perempuan itu.

Jun Rumanti. Nah, bertanyalah kepadanya, kenapa ia tidak setia

menunggu Pranuntaka yang pergi tanpa sebuah pertanggungan

jawab pun menghadapi gadis dan waktu.”

Epu Sada tidak segera menjawab. Namun setelah ia mencoba

menenangkan dirinya ia berkata, “Maaf aku Nini.”

“Apa yang harus dimaafkan? Aku tidak menjesali kata-katamu.

Mungkin kau hanya mendengarnya dari Pranuntaka. Itu adalah

haknya untuk menyatakan perasaannya. Dan ketahuilah Kaki,

bahwa anak Jun Rumanti itu kini telah menjadi seorang anak lakilaki

yang cukup memberinya kebanggaan.”

“Dimana ayahnya sekarang?”

“Huh, apakah kau berpura-pura.”

“Aku belum mengenalnya.”

“Ayahnya telah mati seperti Pranuntaka pun telah mati. Laki-laki

itu lari tanpa meninggalkan pesan apapun.”

“Pendengaranku tentang laki-laki suamimu itu ternyata benar.”

“He, kau telah mengetahuinya pula?” bertanya emban tua itu,

yang ternyata bernama Jun Rumanti dimasa gadisnya, “kenapa kau

mempunyai perhatian yang sedemikian besar atas Jun Rumanti itu

dan suaminya pula?”

“Tidak apa-apa. Aku mengetahuinya seperti aku mengetahui

banyak tentang Pranuntaka.”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam.

“Dimana anakmu sekarang Nini?” bertanya Empu Sada.

“Anakku telah kau kenal. Kau telah mengakui menjadi paman

Ken Dedes dan membawa pesan dari laki-laki itu.”

“He? Kau maksud bahwa anakmu bernama Mahisa Agni?” wajah

Empu Sada tiba-tiba menjadi semakin tegang sehingga jalur-jalur

nadinya seakan-akan ingin mencuat keluar dari wajah kulitnya yang

berwarna tembaga.

Emban tua itupun terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada

dalam nada yang tinggi. Kini emban itulah yang melihat Empu Sada

tiba-tiba menjadi sangat gelisah. Sekali lagi ia menegaskan. “Nini,

apakah anak muda yang bernama Mahisa Agni itu anakmu?”

Emban tua yang bernama Jun Rumanti di masa gadisnya itu

menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya, Kaki. Mahisa

Agni itu adalah anakku.”

“Oh.” tiba-tiba Empu Sada itu menundukkan wajahnya. Terasa

dadanya seakan-akan terhimpit batu yang terlontar dari lereng

Gunung Kawi.

Dalam pada itu, emban tua itupun tertegun. Ia belum pernah

mengatakan kepada siapapun, bahwa Mahisa Agni itu adalah

anaknya. Namun tiba-tiba, kepada orang yang baru saja dikenalnya

itu ia berterus terang, bahwa Mahisa Agni adalah anaknya.

Tetapi tanggapan laki-laki tua itupun sangat menarik

perhatiannya. Didengarnya orang yang menyebut dirinya Makerti itu

berdesah beberapa kali.

“Kenapa Kaki.” bertanya emban tua itu, “kenapa kalau Mahisa

Agni itu anakku?”

“Tidak apa-apa Rumanti.”

“Jangan panggil aku dengan nama itu. Panggil aku kini sebagai

seorang emban Tuan Puteri Ken Dedes.”

“Ya Nini emban.”

“Tetapi kenapa dengan Mahisa Agni?”

“Aku tidak menyangka, bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”

“Tak seorangpun tahu, bahwa Mahisa Agni itu anakku. Mungkin

pamannya, Empu Gandring telah mendengar dari Agni, bahwa aku

disini. Tetapi orang lain tidak. Ken Dedes, momonganku itupun tidak

tahu, bahwa kakak angkatnya, Mahisa Agni adalah anakku, anak

pemomongnya.”

“Itukah akibat dari penyesalanmu atas peristiwa yang pernah

terjadi dalam hidupmu itu!”

“Ya, salah satu bentuk daripadanya.”

“Kau membuang dirimu?

“Ya.”

“Tetapi apakah Mahisa Agni tahu bahwa kau adalah ibunya?”

“Ya.”

Sekali lagi terdengar Empu Sada berdesah. Bahkan beberapa kali

tangannya mengusap peluhnya yang menitik dari dahinya. Dalam

kesuraman cahaya pelita di kejauhan, maka wajah yang tegang itu

tampaknya menjadi bertambah tegang.

“Aku tidak menyangka.” desis Empu Sada.

“Sekarang kau tahu, dan apakah yang akan kau lakukan atas

anak itu? Anak itu adalah anakku. Anak Jun Rumanti yang telah

melukai, bahkan menurut katamu menghianati orang yang bernama

Pranuntaka itu, yang mungkin adalah sahabatmu atau saudaramu

atau apa saja. Ternyata kau benar-benar mengetahui keadaannya

hampir sempurna.”

Ternyata Empu Sada menjadi semakin gelisah mendengar katakata

Jun Rumanti, emban pemomong Ken Dedes itu, sehingga ia

tidak lagi berhasil menyembunyikan perasaannya. Kata-kata emban

tua yang tidak disadari oleh perempuan itu sendiri seakan-akan

telah menunjuk wajahnya, bahwa ia pernah berbuat sesuatu atas

Mahisa Agni, bahkan pernah berusaha untuk membunuhnya.

Empu Sada itu memalingkan wajahnya ketika emban itu berkata,

“Bagaimana Kaki. Apakah sekarang yang akan kau katakan? Apakah

kau benar-benar mendapat pesan dari Mahisa Agni untuk

kemanakanmu Ken Dedes?”

“Maafkan Rumanti, aku tidak tahu bahwa Mahisa Agni adalah

anakmu.”

“Jangan panggil aku dengan nama itu. Rumanti telah tidak ada

lagi. Yang ada adalah emban tua pemomong Tuan Puteri Ken Dedes

ini.” emban itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya. “Tetapi

kenapa dengan Mahisa Agni setelah kau tahu bahwa Mahisa Agni

adalah anakku.”

Gelora di dalam dada Empu Sada menjadi semakin gemuruh.

Terbayang di dalam angan-angannya, betapa ia mengejar-ngejar

anak itu bersama muridnya Kuda Sempana.

Namun tiba-tiba Empu Sada itu bergumam, “Tetapi Nini, kali ini

maksud kedatanganku adalah baik. Aku justru ingin menyelamatkan

anak muda itu.”

“Kaki Makerti.” potong emban tua itu, “kenapa kali ini? Apakah di

kali lain kau mempunyai maksud yang lain pula?”

Empu tua yang menyebut dirinya Makerti itu kini benar-benar

tidak lagi dapat menahan arus perasaannya yang seakan-akan ingin

memecahkan dadanya. Tiba-tiba ia tertunduk lemah sambil

berdesis, “Aku tidak tahu Nini. Aku tidak tahu kalau anak muda itu

anakmu?”

“Kenapa kalau anakku? Kau tidak mempunyai sangkut paut

dengan aku. Kau tidak mempunyai sangkut-paut dengan Mahisa

Agni. Tetapi apakah yang pernah kau lakukan terhadap anak itu?”

Empu Sada terdiam sejenak. Sekali ia memandang halaman yang

luas itu. Satu dua berkeredipan lampu-lampu minyak yang

melemparkan sorotnya bertebaran. Tetapi sorot lampu itu tidak

mampu menerangi wajah Empu tua yang sedang gelap.

Ketika dikejauhan terdengar bunyi kentongan dara muluk, maka

hati orang tua itu pun seakan-akan meledak karenanya. Perlahanlahan

ia berdesah seperti kepada diri sendiri. “Anak itu anak baik.

Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terjadi.” Empu Sada

berhenti sejenak. Kini ia memandangi wajah emban tua itu dengan

saksama. Tampaklah bibir laki-laki tua itu bergerak-gerak. Namun

baru kemudian ia berhasil mengucapkan kata-kata, “Maafkan aku

Rumanti. Bukan maksudku menyakiti hatimu. Aku tidak tahu apakah

yang sedang aku hadapi dan aku tidak menyadari apa yang aku

lakukan. Rumanti. Kalau kau masih juga dapat mempercayai katakataku,

akulah laki-laki pengecut itu. Akulah orang yang bernama

Pranuntaka dan aku adalah orang yang tidak tahu diri.”

Alangkah mengejutkan pengakuan itu, sehingga sejenak emban

tua itu terpaku diam. Namun gemuruh di dalam dadanya bergelora

melampaui gelora kawah gunung berapi. Sorot matanya

menghunjam seolah-olah hendak menembus jantung orang yang

menyebut dirinya Makerti. Tetapi sejenak mulutnya bagaikan

terkunci.

Empu Sada kini menundukkan wajahnya. Pengakuan itu

meluncur bagaikan lepasnja seekor burung yang selama ini

disimpannya rapat-rapat di dalam sangkar. Tak seorang pun yang

dapat mengetahuinya seperti tak seorang pun yang mengenal

perempuan itu bernama Jun Rumanti.

“Tetapi.” terdengar kemudian suara perempuan tua itu tersendatsendat,

“tetapi bukankah Pranuntaka itu telah mati?”

“Ya. Kau benar. Pranuntaka memang telah mati, seperti Jun

Rumanti yang demikian saja hilang dari lingkungannya. Pranuntaka

telah mati. Yang ada kemudian adalah orang lain. Orang yang

hidupnya tidak ada sangkutpautnya dengan orang yang bernama

Pranuntaka itu. Hidup Pranuntaka telah diakhiri. Dan lahirlah orang

baru, Empu Sada.”

“He?” emban tua itu hampir-hampir berteriak mendengar

pengakuan laki-laki itu lebih lanjut. “Kaukah orang yang bernama

Empu Sada itu pula?”

Kini Empu Sada sendiri terkejut bukan buatan. Pengakuan itu

meluncur tanpa disadarinya. Ternyata ia telah terdorong menyebut

dirinya Empu Sada. Karena itu maka jantung laki-laki itu berdegup

semakin keras. Dengan nanar dipandanginya perempuan tua yang

tiba-tiba menjadi sangat tegang. Tetapi ucapan itu sudah terlanjur

meloncat dari bibirnya.

Perempuan tua, emban pemomong Ken Dedes itu berdiri seperti

sebuah patung. Tetapi patung itu telah membuat Empu Sada

gemetar. Lebih baik baginya berhadapan dengan seorang yang

bernama Kebo Sindet atau Wong Sarimpat, atau Panji Bojong Santi

bahkan Empu Purwa sekalipun, daripada perempuan tua itu.

Perempuan yang pernah bernama Jun Rumanti.

Dada Empu Sada terasa menjadi retak ketika ia mendengar

perempuan tua itu berdesis penuh tekanan “Jadi kaukah laki-laki itu.

Kaukah laki-laki yang bernama Pranuntaka, yang pernah kehilangan

perhitungan tentang gadis dalam hubungannya dengan waktu, dan

kaukah pula yang kini bernama Empu Sada, yang pernah berusaha

membinasakan anakku Mahisa Agni dan hampir-hampir pula

mencelakakan momonganku, Ken Dedes.”

Tubuh Empu Sada menjadi semakin gemetar. Sejenak timbullah

hasratnya untuk lari. Ia harus meninggalkan halaman itu sebelum

para prajurit itu mengenalnya, bahwa ialah orang yang bernama

Empu Sada. Ia harus meloncat pagar dan lenjap di balik dinding

halaman. Tetapi tiba-tiba hatinya serasa lumpuh. Perempuan tua itu

adalah Jun Rumanti. Dalam usianya yang telah lanjut itu, tanpa

disadarinya telah terungkat kembali kenangan masa-masa

lampaunya. Masa-masa puluhan tahun yang lampau.

Empu Sada, seorang laki-laki yang mampu menghadapi setiap

bahaya yang mengancam dirinya, bahkan telah berhasil melepaskan

diri dari tangan kakak beradik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu,

kini berdiri sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dihadapan

seorang emban tua. Betapa kekuatan tangannya serta aji yang

tersimpan di dalam dirinya, namun Empu Sada tidak akan mampu

melawan perasaannya. Terdengar di dalam dadanya suatu keluhan.

“Kembali aku menjadi seorang laki-laki cengeng.”

Mpu Sada itu menjadi semakin berdebar-debar ketika kemudian

perempuan yang berdiri di depannya itu berkata seperti air yang

membanjir. “O, jadi kaukah yang bernama Empu Sada itu. Kini aku

tahu. Kau ingin melepaskan sakit hatimu atas anak dan

momonganku. Oh alangkah cupet budimu. Aku sangka kau dahulu

dengan jujur berkata, “Kembalilah kepada suamimu dan kepada

anakmu. Mereka lebih memerlukan kau dari pada aku.”Tetapi

ternyata kau menyimpan dendam di dalam hatimu. Apakah artinya

kematian Pranuntaka dan lahirnya seorang yang bernama Empu

Sada? Apakah arti kata-katamu bahwa tak ada hubungan antara

orang yang bernama Pranuntaka dan Empu Sada itu? Teryata kau

adalah pembohong yang paling besar yang pernah aku temui. Empu

Sada adalah nama yang kau pergunakan untuk menyembunyikan

dirimu. Dengan demikian kau akan menjadi lebih mudah untuk

berbuat sesuatu. Melepaskan dendammu yang puluhan tahun

mengeram di dalam dadamu. Kini kau memakai nama lain pula.

Makerti, supaya kau dapat melepaskan sebagian dari dendammu.”

Empu Sada menekan dadanya dengan telapak tangannya.

Ditahankannya perasaannya sekuat tenaganya. Dibiarkannya

perempuan tua itu berkata sepuas-puasnya. Baru ketika emban itu

berhenti Empu Sada berkata, “Rumanti, ternyata kau salah sangka.”

“Apa yang salah?” bantah emban tua itu, “bukankah yang terjadi

memang demikian? Untunglah bahwa kau belum dibawa langsung

menghadap Tuan Puteri. Apabila demikian, maka istana ini akan

mendapat bencana. Memang adalah suatu kemungkinan bahwa seisi

istana ini tidak akan mampu menangkapmu, apabila Tuanku

Tunggul Ametung sendiri terlambat mendengar. Adalah tidak

terlampau sukar bagimu untuk menembus penjagaan para prajurit

yang terkantuk-kantuk itu.”

“Rumanti.” sahut Empu Sada dengan nada yang datar.

Ditahankannya hatinya. Dengan sareh ia berkata, “Aku dapat

mengerti perasaanmu itu. Tetapi ketahuilah bahwa sama sekali tidak

tahu bahwa kau berada di sini. Bahwa Mahisa Agni adalah anakmu

dan Tuan Puteri adalah momonganmu.”

“Apakah aku harus mempercayainya? Kau yang bernama

Pranuntaka dan kemudian menyebut dirimu Empu Sada, apakah

mungkin bahwa kau tidak mengerti bahwa akulah Jun Rumanti yang

beranakkan Mahisa Agni? Pranuntaka, ternyata bencana yang

mengancam anakku itu tidak sekedar datang dari Kuda Sempana

yang aku dengar adalah murid Empu Sada, tetapi justru datang

darimu sendiri.”

Empu Sada masih mencoba menahan diri sekuat-kuatnya.

Dengan dada yang bergetar ia mencoba mendengarkan luapan

perasaan perempuan tua itu. Ia sendiri berusaha untuk tidak

terseret kedalam arus perasaan seperti emban pemomong Ken

Dedes itu.

Ketika perempuan yang dahulu bernama Jun Rumanti itu

berhenti sesaat, maka berkatalah Empu Sada. “Rumanti.”

“Jangan sebut nama itu.” potong perempuan tua itu.

“Baiklah.” Empu Sada mencoba memperbaiki kata-katanya, “Nini,

betapa jahatnya Empu Sada, namun kali ini aku masih ingin

mendapat kepercayaanmu. Mungkin kalau aku berusaha Nini,

barangkali aku memang akan dapat menemukanmu dan

mengetahui bahwa Mahisa Agni itu adalah anakmu.”

“Bohong. Aku adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai

kecakapan apapun. Aku bukan seorang yang sakti yang memiliki aji

di dalam diriku. Aku bukan seorang perantau yang mengembara dari

satu tempat kelain tempat. Namun aku berhasil menemukan anakku

sepeninggal suamiku.”

“Sebenarnyalah demikian Nini.” sahut Empu Sada, “sekali lagi aku

katakan, bahwa aku memang tidak berusaha demikian. Aku tidak

mencari seorang gadis yang bernama Jun Rumanti. Aku tidak

mencari suaminya atau anaknya. Tidak. Justru aku selalu mencoba

menjauhinya seperti aku mencoba menjauhi semua kenangkenangan

yang pernah terjadi. Itulah bedanya. Kau mencari dan

aku justru menghindari.”

Emban itu terdiam sejenak. Kesabaran Empu Sada ternyata

mempengaruhi tanggapannya atas peristiwa yang sedang

dihadapnya, la kemudian dapat mengerti keterangan Empu Sada itu,

bahwa Empu Sada yang dahulu bernama Pranuntaka, tidak

mengetahui siapakah Mahisa Agni.

Keduanja sejenak terdiam. Masing-masing mencoba

mencernakan, apakah yang sedang mereka hadapi. Sedang angin

malam berdesau semakin kencang. Dan nyala-nyala pelita merontaronta

karena sentuhan angin itu.

Emban tua itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak

menangis. Sedang Empu Sada berdiri tegak seperti tonggak mati.

Keduanya masih belum mengucapkan kata-kata. Tetapi dada

mereka masih saja bergelora. Di kejauban para prajurit sudah mulai

dihinggapi oleh kecurigaan. Apakah laki-laki tua itu masih juga

memaksakan keinginannya untuk menghadap Ken Dedes?

Pembicaraan mereka telah berlangsung terlampau lama. Tetapi

agaknya mereka masih belum menemukan kesepakatan.

“Apakah laki-laki tua itu gila?” tiba-tiba terdengar salah seorang

dari mereka berdesis.

Kawannya yang lain menggeliat sambil menguap, “Persetan.

Kalau perempuan tua itu memanggil, barulah aku akan datang. Huh.

Masih berapa lama lagi kita mendapat ganti. Aku sudah mulai

lapar.”

Prajurit yang telah membawa Empu Sada masuk menyahut.

“Ternyata aku Akhirnya tidak dapat menunggu lagi. Kalau mereka

masih juga bertengkar terlampau lama, maka aku harus kembali

ketempatku.”

“Tunggullah sebentar. Kau yang membawanya kemari. Mungkin

kau harus membawanya keluar pula sebentar lagi.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah.

Aku lebih senang duduk di sini daripada datang giliranku untuk

berdiri hilir mudik di samping regol.”

Kawannya yang bertugas di regol mendengar pula percakapan

mereka. Sekilas ia memandangi prajurit yang sebenarnya harus

bertugas di regol luar. Tetapi kemudian ia tidak menghiraukannya

lagi.

Sementara itu, Empu Sada masih juga berdiam diri. Di tatapnya

wajah perempuan tua yang berdiri dihadapan sambil menunduk.

“Nini.” berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau telah benarbenar

kehilangan segenap kepercayaanmu kepadaku.”

“Bagaimana mungkin aku dapat mempercayaimu Empu.”

Mpu Sada menarik nafas dalam. Tetapi harapannya kini telah

tumbuh kembali. Perempuan tua itu kini telah tidak terlampau keras

lagi.

“Nini.” berkata Empu Sada lebih lanjut, “aku ingin menghadap

Tuan Puteri.”

Emban itu mengangkat wajahnya. Sambil mengerutkan

keningnya ia beakata, “Kau hampir-hampir mencelakakannya. Kini

apakah kau masih juga berhasrat untuk menculiknya?”

“Ada sebuah ceritera yang panjang Nini.” berkata Empu Sada,

“tetapi akhir daripada ceritera itu telah menuntun aku kemari

dengan maksud yang baik. Mungkin aku seorang yang sejahatjahatnya,

sehingga aku tidak akan mendapat jalan kembali tanpa

menjadi putus asa lebih dahulu. Aku kini mengalami keputus asaan

itu. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku ingin mematikan Empu

Sada itu pula seperti aku ingin mematikan Pranuntaka dahulu. Aku

ingin hidup dalam bentuk yang lain lagi. Keadaan telah

membenturkan kesadaranku, bahwa jalan yang selama ini aku

tempuh bukanlah jalan yang sebaik-baiknya.”

“Apa lagi yang telah terjadi pada dirimu. Ternyata hidupmu

dipenuhi oleh keputus asaan. Seperti orang yang berjalan di dalam

kegelapan, kau meraba-raba tanpa tujuan. Kalau ternyata jalan itu

salah, dan kau telah terperosok dalam keputus-asaan, maka kau

mencoba mencari jalan yang lain. Tetapi kau tidak mempunyai

suatu garis lurus yang harus kau perjuangkan.”

“Kau benar Nini. Kau benar. Aku hidup seperti kapuk yang

diterbangkan angin. Kemana angin bertiup, ke arah itulah aku

terbang. Namun kini, meskipun mungkin aku akan hanyut lagi tanpa

aku ketahui, tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Tuan

Puteri. Dan tentu saja kepadamu, setelah aku tahu bahwa Mahisa

Agni adalah anakmu.”

Emban pemomong Ken Dedes itu kini mengerutkan keningnya.

Ditatapnya wajah orang yang menyebut dirinya Makerti itu. Wajah

itu sama sekali tidak dapat dikenalnya sebagai wajah seorang yang

pernah bernama Pranuntaka. Puluhan tahun yang lampau. sejak

Mahisa Agni masih di dalam dukungan ia bertemu untuk yang

terakhir kalinya. Karena itu, maka wajah laki-laki tua itu telah

berubah sama sekali. Pengalaman yang pahit, yang pedih dan

segala macam pengalaman yang lain telah mencetak muka laki-laki

itu menjadi wajah Empu Sada yang hidup di dalam dunia yang

asing.

Tetapi wajah perempuan itupun telah berubah pula. Tak ada lagi

sisa-sisa kecantikan wajah seorang gadis yang bernama Jun

Rumanti. Tak ada lagi senyum yang cerah dan suara tawa yang

renyah. Namun sorot mata itu masih setajam sorot mata Jun

Rumanti.

“Kaki Makerti.” berkata emban itu, “apakah sebenarnya yang

akan kau sampaikan kepada Tuan Puteri?.”

Empu Sada ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus mengatakan

setidak-tidaknya sebagian dari seluruh keterangannya. Apabila tidak

demikian, maka ia pasti tidak akan mendapat kepercayaan dari

perempuan tua itu. Apalagi setelah diketahuinya bahwa Mahisa Agni

adalah anaknya.

“Rumanti.” desis Empu Sada.

“Sekali lagi, jangan sebut nama itu.” potong perempuan itu.

“O, maafkan aku Nini.” Empu Sada menelan ludahnya, lalu ia

meneruskan, “ada yang akan aku sampaikan kepada Tuan Puteri

justru dalam hubungannya dengan anakmu itu.”

“Ya katakanlah.”

“Anakmu kini berada dalam bahaya Nini.”

“Sudah lama ia berada dalam bahaya, sejak ia mengurungkan

niat Kuda Sempana, muridmu, untuk mengambil Ken Dedes menjadi

isteri dengan caranya yang kasar.”

“Ya, ya. Kau benar. Tetapi kini bahaya itu menjadi semakin

besar.”

“Kaukah yang mengatakan itu? Kau salah seorang yang

membahayakan baginya.”

“Sudah aku katakan. Aku kembali terbentur pada suatu keadaan

yang memaksaku menjadi sekali lagi berputus-asa. Bukan karena

sisa-sisa kebaikan hatiku sehingga aku menyadari kejahatan serta

kekeliruanku di masa-masa yang lampau, tetapi aku kini sedang

berputus asa. Empu Sada bukan seorang yang pantas mendapat

tempat dimana pun. Ia adalah seorang yang tidak akan berguna

bagi siapa pun, seperti Pranuntaka tidak akan berguna bagi siapa

pun juga. Tetapi Nini, kali ini, aku mengharap kau mendengarkan

kata-kataku, selagi aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku kerjakan.

Aku sendiri tidak yakin, apakah sikap ini akan berlaku seterusnya.

Aku ragu-ragu terhadap diriku sendiri. Dan orang seperti aku, yang

sudah kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri, adalah orang

yang paling tidak berguna.”

Emban tua itu mengernyitkan alisnya. Terasa kejujuran

memancar dari setiap kata Empu Sada. Apalagi ketika Empu Sada

itu berkata, “Nini, berilah aku kesempatan. Selain tentang Mahisa

Agni, aku ingin mohon maaf kepada Tuan Puteri atas segala

kelakuanku di masa-masa yang lewat. Aku tidak tahu, apakah aku

tidak akan kambuh kembali. Tetapi sekarang, percayalah, bahwa

hatiku sedang gelap, sehingga tidak ada jalan lain daripada

menyerahkan diri dalam keputus asaan. Nini jangan menunggu aku

menjadi gila. Ketika aku masuk ke dalam halaman ini, memang

terbersit kehendak yang gila itu. Kenapa tidak saja lebih baik bagiku

mengambil Ken Dedes untuk kepentingan yang bermacam-macam.

Untunglah, bahwa aku sedang berada dalam ketakutan. Aku tidak

berani menghadapi lawan-lawanku yang kini mengelilingi aku. Empu

Purwa, ayah gadis itu, Empu Gandring yang selalu berada di dekat

Mahisa Agni, Panji Bojong Santi yang pernah mengurungkan niatku

menculik Tuan Puteri di jalan ke Panawijen dan yang paling gila

adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Keduanya itulah yang

paling berbahaya bagiku dan bagi Mahisa Agni. Muridku, Kuda

Sempana kini ada pada mereka. Adalah suatu bahaya yang tak

terkirakan, bahwa kedua setan itu ingin menangkap Mahisa Agni

tidak untuk Kuda Sempana, tetapi justru untuk memeras Tuan

Puteri Ken Dedes dan Tuanku Tunggul Ametung.”

Dada perempuan tua itu berguncang mendengar kata-kata Empu

Sada. Tiba-tiba tumbuhlah kepercayaan di dalam hatinya, bahwa

Empu Sada benar-benar sedang dalam keputus asaan. Namun

sejalan dengan itu, maka hatinyapun kini dicengkam oleh

kecemasan tentang anaknya. Karena itu, maka emban itupun

menjadi gelisah. Sejenak ia berdiam diri dalam ke bimbangan.

Tetapi perempuan tua itu terhenyak ketika ia mendengar seorang

prajurit menegurnya, prajurit yang membawa Empu Sada masuk

kehalaman dalam, “Kaki, bagaimana dengan Kau? Apakah kau

masih juga betah berdiri di situ sampai pagi untuk memaksa

menghadap Tuan Puteri Ken Dedes.”

Empu Sada tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah perempuan

tua dihadapannya, seolah-olab minta kepadanya untuk menjawab

pertanyaan prajurit itu.

“Aku harus kembali ketempatku bertugas.” berkata prajurit itu

lebih lanjut, “aku sudah mencoba menolongmu Kaki. Tetapi

keputusan terakhir memang tidak terletak ditanganku.”

Empu Sada masih berdiam diri.

Karena Empu Sada tidak segera menjawab, maka kem bali

prajurit itu berkata, “Bagaimana Kaki?”

Dalam kebimbangan kemudian Empu Sada menjawab, “Bukan

aku yang menentukan tuan, tetapi emban pemomong Ken Dedes

itu. Tergantung kepadanya, apakah aku diperbolehkan menghadap

atau tidak.”

Prajurit itu berpaling, memandangi wajah emban tua yang kini

menjadi tegang penuh kebimbangan,

Sejenak mereka saling berdiam diri. Empu Sada menunggu

dengan hati yang berdebar-debar, sedang prajurit itu menjadi

heran. Ia melihat beberapa perubahan sikap pada laki-laki tua yang

kini agaknya menjadi bertambah sigap.

Di dalam pada itu emban tua itu masih juga dicengkam oleh

kebimbangan. Tetapi ia dapat mengerti keterangan Empu Sada. Ia

dapat mempercayainya, bahwa kali ini ia bermaksud baik. Kalau ia

bermaksud jahat, maka ia tidak perlu berbantah lagi. Mungkin

dengan sebuah sentuhan ia sudah menjadi pingsan. Prajurit-prajurit

yang berdjumlah empat orang yang sama sekali tidak bersiaga itu

akan dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Dan adalah

tidak mustahil, bahwa ia akan berhasil mengambil puteri itu tanpa

dapat ditangkap oleh para penjaga. Hanya kalau Akuwu Tunggul

Ametung mengetahuinya, maka pusakanja akan mungkin dapat

melawan orang tua itu.

Dalam kebimbangan perempuan tua itu mendengar prajurit itu

bertanya kembali, “Bagaimana Nyai. Apakah orang tua itu

diperkenankan menghadap, ataukah ia harus keluar?”

Perempuan tua itu menggigit bibirnya. Tampaklah kerut merut di

dahinya menjadi semakin dalam. Diawasinya Empu Sada dan

prajurit itu berganti-ganti.

Akhirnya terdengar ia bersuara lirih, “Biarlah ngger, laki-laki tua

ini menghadap Tuan Puteri. Kalau nanti ternyata Tuan puteri tidak

berkenan, maka biarlah ia keluar halaman.”

“Tetapi ia tidak boleh berkeliaran sendiri di halaman ini Nyai.”

sahut prajurit itu, “kalau Tuan Puteri tidak berkenan maka aku harus

mengantarkannya keluar.”

“Baiklah kalau demikian, marilah ikut aku. Kau dapat menunggu

di luar sampai laki-laki ini meninggalkan istana.”

“Sampai kapan aku harus menunggunya?”

“Tidak akan sampai besok.”

“Ah.” prajurit itu mengeluh, tetapi kemudian ia berkata, “apakah

aku akan dibiarkan lapar? Sore tadi aku belum makan Nyai.

Seharusnya sebentar lagi aku akan diganti oleh prajurit yang

bertugas semalam sentuk nanti. Aku akan segera kembali pulang

dan makan.”

“Jangan takut.” sahut perempuan tua itu, “kau dapat pergi ke

dapur. Kau akan dapat memecahkan perutmu nanti, Ngger.”

Prajurit itu tersenjum. “Baiklah kalau demikian.”

“Ikutlah kami.” kata perempuan itu, dan kepada Empu Sada ia

berkata, “Marilah kita mencoba menghadap Tuan Puteri.”

“Aku percaya kepadamu Nini, untuk kepentingan anakmu pula.”

“Sst.”

“O.” laki-laki yang menyebut dirinya Makerti itupun terdiam.

Mereka kini berjalan sepanjang dinding istana lewat halaman

belakang. Dari tangga mereka memasuki serambi belakang untuk

menghadap Tuan Puteri Ken Dedes yang hampir tidak sabar lagi

menanti pemomongnya.

Ketika didengarnya suara pemomongnya itu di luar pintu biliknya,

maka dengan tergesa-gesa ia keluar. Ia ingin segera mendengar

tentang laki-laki yang menyebut dirinya pamannya dan bernama

Makerti.

“Tuan Puteri.” berkata pemomongnya ketika Ken Dedes sudah

berada di luar pintu biliknya, “seorang laki-laki tua kini menunggu

Tuan Puteri di ruang belakang.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya,

“Apakah benar, bahwa ia adalah pamanku Bibi?”

“Silahkanlah puteri. Tuan Puteri akan dapat bertanya kepadanya

sendiri.”

Tetapi Ken Dedes menangkap keragu-raguan di dalam kata-kata

perempuan tua itu sehingga kemudian sambil mengerutkan

keningnya ia bertanya, “Apakah kau sudah pernah mengenalnya?”

Emban pemomong Ken Dedes itu menjadi semakin bimbang. Ia

tidak segera tahu, bagaimana ia harus menjawab. Karena itu maka

sejenak emban tua itu berdiri saja mematung.

“Bagaimana bibi?” desak Ken Dedes.

“Tuan Puteri.” jawab emban itu kemudian, “hamba tidak dapat

mengatakannya apakah hamba pernah mengenalnya atau belum

dalam hubungannya dengan pengakuan laki-laki tua itu. Tetapi

dalam persoalan yang lain, hamba memang pernah mengenalnya

sebagai orang dari padukuhan Ngarang.”

“Dalam hubungannya dengan aku?”

“Hamba tidak tahu Tuan Puteri, tetapi sebaiknya Tuan Puteri

menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”

“Apakah orang itu tidak berbahaya?”

“Di tangga belakang ada seorang prajurit yang menunggunya

Tuan Puteri, di samping Pelayan Dalam yang sedang bertugas.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih

saja ragu-ragu untuk berbuat.

“Bagaimana nasehatmu bibi?”

“Menurut pendapat hamba Tuan Puteri, Tuan Puteri dapat

menemuinya dan bertanya langsung kepadanya.”

“Baiklah. Aku percaya kepadamu.”

Ken Dedes itupun segera melangkah keruang belakang diiringi

oleh pemomongnya. Meskipun demikian sebenarnya di dalam dada

keduanya, masih menyala keragu-raguan. Tetapi emban tua itu

bergumam di dalam hatinya. “Aku mengharap bahwa laki-laki itu

masih mempunyai sisa-sisa harga diri dan perasaan.”

Ketika Ken Dedes memasuki ruangan belakang, dilihatnya

seorang laki-laki duduk bersila sambil tumungkul. Kekhidmatannya

ternyata telah mengurangi perasaan bimbang di hati Ken Dedes.

Ken Dedes itu pun kemudian duduk di atas sebuah batu hitam

yang dialasi oleh selapis kulit kayu yang dihias dengan ukir-ukiran

benang berwarna emas. Ditatapnya laki-laki tua yang masih saja

duduk tepekur seakan-akan tidak berani bergerak meskipun hanya

ujung jari kakinya.

Ken Dedes itu pun tidak segera bertanya sesuatu kepada laki-laki

yang duduk sambil menundukkan kepalanya itu. Dicoba untuk

mengingat-ingat apakah ia pernah mengenal seorang laki-laki

seperti yang kini duduk di hadapannya. Tetapi betapa gadis itu

berusaha, namun ia tidak berhasil menemukan ingatan tentang

seorang laki-laki tua yang bernama Makerti.

Sekilas Ken Dedes memandangi pemomongnya yang duduk

dekat di sampingnya. Bagaimanapun juga, ternyata perempuan itu

masih juga menyimpan keragu-raguan di dalam hatinya, apalagi

setelah diketahuinya, bahwa sebenarnya laki-laki tua itulah yang

bernama Empu Sada. Karena itu, maka pemomong Ken Dedes itu

duduk dekat di sisi kaki Ken Dedes, bahkan seolah-olah bersandar

kepada gadis itu.

“Kiai.” sapa Ken Dedes kemudian Perlahan-lahan, “maafkan aku

Kiai, bahwa aku merasa belum mengenalmu. Baik namamu dan

bahkan wajahmu. Adalah suatu kemungkinan bahwa aku telah lupa

kepada seseorang yang pernah aku kenal sebelumnya. Tetapi

cobalah kau menjelaskan, bagaimanakah hubunganmu dahulu, aku

pasti akan menjadi ingat kembali kepadamu.”

Tetapi Empu Sada tidak segera dapat menjawab. Bahkan

kepalanya yang tunduk itu seakan-akan menjadi semakin tunduk.

“Kiai.” berkata Ken Dedes pula, “mungkin Kiai dapat berceritera

tentang keluargaku, tentang ibuku semasa hidupnya dan tentang

ayahku. Mungkin Kiai dapat berceritera tentang diriku di masa

kanak-kanakku. Dengan demikian aku akan dapat mengingatnya

kembali atau setidak-tidaknya dapat meyakinkan diriku bahwa kau

adalah pamanku.”

Mpu Sada masih belum menjawab. Kepalanya masih menunduk

dalam-dalam. Namun laki-laki tua itu menggigit bibirnya sendiri

kuat-kuat. Ketika ia telah berhadapan dengan gadis itu, tiba-tiba

terkenanglah kembali apa yang pernah dilakukannya. Ia pernah

berusaha merebut gadis itu untuk muridnya Kuda Sempana. Apakah

dengan demikian tidak akan berarti merenggut gadis itu dari

dunianya yang sekarang dan melemparkannya kedalam satu dunia

yang gelap? Memang ia tidak mempunyai anak seorang gadis. Ia

tidak dapat membayangkan betapa perasaan seorang gadis tentang

dirinya, tentang dunia di sekitarnya dan tentang masa depannya.

Tetapi ketika ia berhadapan dengan Ken Dedes, alangkah pedih

hatinya. Seandainya, Ya, seandainya saat itu Panji Bojong Santi

tidak menghalanginya, maka apakah jadinya gadis yang kini duduk

dihadapannya itu? wajah yang cerah sumringah itu pasti akan

menjadi suram dan muram. Kuda Sempana pasti akan

membawanya hidup dalam suatu dunia yang gelap yang

tersembunyi.

“O.” laki-laki tua itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam

hatinya ia bergumam, “Ternyata Yang Maha Agung masih

melindunginya.”

Ken Dedes yang masih saja melihat orang tua itu terdiam,

hatinya menjadi berdebar-debar. Kenapa ia tidak menjawab sepatah

katapun? Kembali Ken Dedes berpaling kepada emban pemomong.

Tetapi emban itu pun menundukkan kepalanya pula.

Ken Dedes itu kemudian justru menjadi gelisah. Sekali lagi ia

mencoba bertanya, “Kiai, bukankah Kiai telah datang untuk bertemu

dengan aku? Bukankah Kiai yang bernama Makerti dan mengaku

sebagai pamanku?”

Ken Dedes itu pun kemudian melihat laki-laki tua itu bergerak.

Setapak ia bergeser, namun justru ia bergeser mundur. Perlahanlahan

ia mengangkat wajahnya.

“Ampun Tuan Puteri.” desisnya perlahan. Tetapi kembali ia

terdiam. Kembali kepalanya menunduk.

Tetapi dalam sekejap itu, Ken Dedes telah melihat wajahnya.

Wajah itu benar-benar telah mengejutkannya. Ken Dedes melihat

mata orang tua itu menjadi terlampau suram dan bahkan menjadi

basah.

“Katakanlah Kiai.” minta Ken Dedes, seperti seorang gadis

kepada kakeknya yang tua.

“Ampun Tuan Puteri.” berkata orang tua itu tersendat-sendat,

seakan-akan lehernja tersumbat oleh kata-katanya.

“Ya katakanlah.”

Ketika orang tua itu kembali mengangkat wajahnya, kini Ken

Dedes benar-benar melihat setitik air menetes dari matanya.

“Kenapa kau Kiai?” bertanya Ken Dedes.

Emban tua yang mendengar pertanyaan itupun mengangkat

wajahnya pula, dan Dilihatnya pula titik air di mata laki-laki itu.

“Ampun Tuanku.” berkata Empu Sada patah-patah, “hamba telah

berani membohongi Tuan Puteri. Tetapi percayalah Tuan Puteri,

bahwa maksud hamba adalah baik.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia tidak segera dapat

menangkap maksud orang tua itu.

“Hamba belum pernah melihat tuanku sejelas saat ini. Hamba

belum pernah melihat betapa cerah wajah Tuan Puteri. Hamba

belum pernah mengetahui betapa bersih hati Tuan Puteri. Selama

ini mata hambalah yang telah dibutakan oleh kegelapan hati.”

“Kiai.” potong Ken Dedes dengan heran, “aku tidak mengerti

apakah sebenarnya yang kau maksudkan.”

“O.” Empu Sada menelan ludahnya, “Tuan Puteri adalah sesoca

Tumapel yang tidak ada duanya. Alangkah bahagianya Empu Purwa

mempunyai seorang Puteri seperti tuanku. O, sungguh gila Kuda

Sempana yang berkeinginan memperisteri Tuan Puteri.

Sepantasnyalah bahwa Kuda Sempana menjadi alas kaki tuanku.”

Ken Dedes menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu ujung

pangkal kata-kata laki-laki tua yang mengaku pamannya dan

bernama Makerti itu.

Apalagi ketika laki-laki itu berkata seterusnya dengan nafas yang

terengah-engah, “Tetapi Tuanku, adalah hamba yang paling

bersalah, sehingga Kuda Sempana itu menjadi semakin gila. Namun

syukurlah bahwa Tuan Puteri masih selalu mendapat perlindungan

dari Yang Maha Agung.”

Sejenak Ken Dedes terpukau oleh keadaan yang tidak

dimengertinya. Dipandanginya laki-laki tua itu dengan penuh

pertanyaan pada sinar matanya yang bening.

Dalam pada itu Empu Sada masih berkata terus, “Seandainya

hamba tidak terseret dalam kegilaan yang serupa, maka Kuda

Sempana pasti dapat hamba kendalikan. Sekarang semuanya telah

hancur. Hidupku dan masa depan Kuda Sempana itu sendiri. Tetapi

adalah wajar dan setimpal dengan kesalahan-kesalahan yang telah

kami lakukan.”

Ken Dedes masih diam mematung. Sedang emban

pemomongnya pun seakan-akan terbungkam pula. Tetapi emban

tua itu dapat merasakan betapa hati orang yang mengaku bernama

Makerti itu terpecah belah.

Empu Sada adalah seorang yang hidup dalam arusnya angin

ribut, sehingga karena itu, maka hatinya seakan-akan telah menjadi

sekeras baja dan perasaannya pun telah menjadi tumpul. Namun

tiba-tiba seperti cahaya matahari dipagi hari, wajah Ken Dedes yang

cerah telah menerangi segenap relung hati orang tua itu. Relung

hati yang karena keadaan telah sedikit terbuka, dan kini cerahnya

sinar matahari itu langsung mencairkan kepekatan yang kelam yang

selama ini mewarnainya.

Sesaat Ken Dedes masih diam termangu-mangu. Namun ketika

kembali ia melihat laki-laki tua itu menundukkan kepalanya, maka

berkatalah gadis itu, “Kiai, aku tidak mengerti apa yang kau

katakan. Aku tidak mengerti apa yang ingin kau nyatakan kepadaku.

Tetapi bahwa kau telah menyebut nama Kuda Sempana benarbenar

telah mengejutkan hatiku. Nama itu bagiku adalah nama yang

dapat mendirikan segenap bulu romaku. Karena itu, katakanlah

mansud kedatanganmu sendiri.”

Empu Sada masih menundukkan kepalanya. Ia menjadi raguragu

untuk mengucapkan kata-kata. Tetapi kembali Ken Dedes

mendesaknya, “Katakanlah keperluanmu Kiai. Atau cobalah

meyakinkan aku, bahwa kau adalah pamanku.”

“Ampun Tuan Puteri.” desis Empu Sada kemudian. Tetapi kini

kepalanya menjadi semakin menunduk, “ampunkanlah hamba.

Bahwa sebenarnya hamba memang bukan paman Tuan Puteri.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar pengakuan itu. Sejenak ia

berpaling kepada pemomongnya. Tetapi pemomongnya itu tidak

sedang memandanginya. Bahkan pemomongnya itu dengan

tajamnya sedang memandang kepada laki-laki tua yang masih saja

menundukkan kepalanya.

“Jadi, siapakah kau sebenarnya?” bertanya Ken Dedes, “dan

apakah hubunganmu dengan Kuda Sempana? Kau telah menyebut

namanya, babkan menghubung-bungkannya dengan dirimu sendiri.”

Empu Sada itu memperbaiki letak duduknya. Dengan susah

payah ia kini herhasil mengatur perasaannya yang tiba-tiba saja

telah menjadi cair setelah bertahun-tahun membeku. Sekali ia

menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Perlahan-lahan ia berkata,

“Tuan Puteri yang baik. Mungkin pengakuan hamba akan

mengejutkan Tuan Puteri. Tetapi perkenankanlah hamba lebih

dahulu berjanji, bahwa sebenarnyalah maksud kedatangan hamba

kali ini adalah terdorong oleh penyesalan dan ketakutan yang

selama ini telah mengejar-ngejar hamba. Hamba tidak dapat ingkar

lagi. Hamba tidak dapat melarikan diri, karena ketakutan itu tumbuh

di dalam hati hamba. Hamba tidak dapat bersembunyi kemanapun,

selain pasrah diri dihadapan Tuan Puteri. Hamba akan bersedia

menerima apa saja hukuman yang akan Tuanku jatuhkan. Tetapi

sebelumnya hamba ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin

berguna bagi Tuan Puteri dan Kakanda Tuan Puteri Mahisa Agni.”

Wajah Ken Dedes tampak berkerut. Diawasinya laki-laki tua itu

dengan sorot mata yang menjadi tegang. Dengan ragu-ragu Ken

Dedes itu bertanya, “Jadi, apabila kau sebenarnya bukan pamanku

apakah kau juga tidak bernama Makerti dan tidak datang dari

pedukuhan yang kau sebut Ngarang? Apabila demikian, siapakah

kau sebenarnya, dan apakah yang kau ceriterakan semuanya itu

akan berarti bagiku?”

“Tuan Puteri. Demikianlah hamba. Hamba memang tidak

bernama Makerti. Tetapi hamba benar-benar berasal dari

Pedukuhan Ngarang. Namun beberapa puluh tahun yang lampau

hamba telah meninggalkan pedukuhan itu, merantau dari satu

tempat kelain tempat, sehingga Akhirnya hamba menetap tidak

terlampau jauh diluar kota Tumapel.”

Wajah Ken Dedes menjadi semakin tegang. Kini ia segera ingin

tahu, siapakah tebenarnya laki-laki tua itu. Maka katanya, “Kiai, aku

tidak mengerti apakah gunanya kau berbohong. Aku tidak mengerti

maksud kedatanganmu yang sebenarnya. Tetapi sebutkan dahulu,

siapakah kau.”

“Percayalah Tuan Puteri, bahwa hamba tidak akan membuat

bencana lagi. Hamba telah menyesali perbuatan hamba.”

“Ya siapakah kau dan apa hubunganmu dengan Kuda Sempana?”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi

ragu-ragu. Tetapi kemudian dibulatkannya tekadnya. Apa saja yang

akan terjadi tidak akan diingkarinya. Maka katanya sambil menahan

nafas. “Tuanku, janganlah tuanku terkejut. Hamba akan berkata

dengan jujur, siapakah hamba ini sebenarnya. Tuanku. Hamba

bersedia seandainya Tuan Puteri ingin membelah dadaku.”

“Ya, Ya, tetapi siapa kau Kiai?”

“Tuan Puteri, yang sudi menyebut nama hamba, hamba inilah

yang dikenal bernama Empu Sada.”

Seperti tersengat seribu lebah, Ken Dedes terkejut bukan buatan.

Wajahnya yang cerah tiba-tiba menjadi seputih kapas. Darahnya

seakan-akan berhenti mengalir. Sesaat ia terpaku di tempatnya

namun tiba-tiba ia terloncat berdiri. Hampir saja ia berteriak

memanggil prajurit atau Pelayan dalam atau si apapun untuk

mengurangi ketakutannya. Tetapi emban pemomongnya tiba-tiba

memeluk kakinya sambil berkata lirih.

“Tenanglah Tuan Puteri, tenanglah. Laki-laki yang bernama Empu

Sada itu kini bukan lagi seperti seekor serigala yang lapar. Tetapi ia

tidak lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan.”

Meskipun Ken Dedes tidak berteriak karena emban

pemomongnya itu, namun debar dijantungnya masih belum

berkurang. Wajahnya masih putih dan tegang, sedang nafasnya

menjadi terengah-engah. Dipandanginya Empu Sada dengan sorot

mata ketakutan dan kecemasan. Ken Dedes itu pernah mendengar,

bahwa orang yang mencegatnya di hutan dalam perjalanannya ke

Panawijen adalah Kuda Sempana bersama gurunya yang bernama

Empu Sada. Dan orang yang selama ini menghantuinya itu tiba-tiba

duduk dihadapannya.

Tetapi Empu Sada tidak bergerak. Kepalanya masih tumungkul

hampir menyentuh lantai. Kedua tangannya rapat berpegangan satu

dengan yang lain. Namun meskipun demikian, debar didadanya pun

menjadi kian cepat. Iapun menjadi cemas apabila gadis itu tidak

segera dapat menguasai dirinya, maka akibatnya akan menjadi

sangat sulit baginya. Namun ia sudah pasrah diri. Dan akibat yang

bagaimanapun juga telah bulat untuk diterimanya.

Ken Dedes yang melihat laki-laki tua itu masih juga tepekur,

serta kata-kata pemomongnya yang lembut dan sareh, telah

membuatnya menjadi agak tenang. Meskipun demikian ia masih

dicengkam oleh kecemasan dan keragu-raguan tentang laki-laki tua

yang duduk dihadapannya itu.

Empu Sada kemudian dapat merasakan, bahwa hati Ken Dedes

menjadi bertambah tenang. Agaknya kata-kata pemomongnya telah

dapat meredakan luapan ketakutan yang menerkam dirinya. Karena

itu untuk meyakinkan maka orang tua itu berkata sareh, “Tuan

Puteri. Benarlah kata emban pemomong tuanku. Hamba kini bukan

lagi serigala kelaparan di hutan-hutan rimba, tetapi hamba kini tidak

lebih dari seekor kucing yang telah dijinakkan. Hamba tinggal

menerima apa saja yang sepantasnya dipikulkan atas pundak

hamba, sebab hamba telah banyak sekali berbuat kesalahan di

hadapan Tuan Puteri dan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan

menurut penilaian hamba kini, hamba telah banyak sekali berbuat

dosa dihadapan Yang Maha Agung. Itulah sebabnya hamba kini

menghadap Tuan Puteri.”

“Tetapi.” sahut Ken Dedes terbata-bata, “kalau kau bermaksud

baik, kenapa kau menipu aku, emban pemomongku dan para

prajurit penjaga dengan memakai nama lain dan mengaku

pamanku?”

“Itupun salah satu bentuk pengakuan atas segala kesalahan

hamba Tuan Puteri. Hamba menjadi ketakutan menyebut nama

hamba sendiri. Bayangan dosa dan noda itu selalu melekat pada

nama Empu Sada, sehingga hamba merasa bahwa Empu Sada tidak

sepantasnya diperkenankan menghadap Tuan Puteri. Karena itulah

maka hamba mencari akal, bagaimana hamba dapat berhadapan

dengan Tuan Puteri untuk menyampaikan sebuah ceritera yang

menarik bagi Tuan Puteri, demi keselamatan Kakanda Tuan Puteri

sendiri, Mahisa Agni.”

Wajah Ken Dedes yang seputih kapas itu kini telah menjadi agak

kemerah-merahan. Meskipun demikian tubuhnya masih terasa

gemetar.

“Duduklah Tuan Puteri.” pemomongnya mempersilahkan.

Perlahan-lahan Ken Dedes kembali meletakkan tubuhnya di atas

batu hitam yang beralaskan klikaning kaju yang dihiasi dengan

benang-benang yang berwarna keemasan. Namun untuk sesaat

gadis itu masih saja berdiam diri. Debar jantungnya masih terasa

terlampau cepat, sedang kedua belah tangan dan kakinya masih

saja gemetar. Tetapi perasaannya kini telah mulai dapat

dikuasainya. Apalagi ketika ia masih melihat Empu Sada itu duduk

tepekur diam hampir tidak bergerak sama sekali.

“Tuan Puteri.” berkata Empu Sada kemudian, “ke datangan

hamba menghadap tuanku dengan segala macam akal, adalah

karena hamba ingin dapat langsung menyampaikan permohonan

maaf kehadapan tuanku serta ingin menyampaikan sebuah kisah

yang barangkali tidak menarik, tetapi barangkali akan dapat

memberikan jalan bagi Mahisa Agni melawan keadaan yang kurang

menguntungkannja.”

Empu Sada berhenti sejenak. Dicobanya untuk merasakan

tanggapan Ken Dedes akan kata-katanya itu. Dan didengarnya Ken

Dedes bertanya, “Apakah yang terjadi dengan kakang Mahisa Agni?

Bukankah ia selama ini berada di Padang karautan untuk

menyelesaikan bendungannya?”

“Hamba Tuan Puteri.” sahut Empu Sada, “justru Mahisa Agni

berada di Padang itulah maka bahaya selalu mengitarinya”

“Empu Sada,” berkata Ken Dedes yang sudah menjadi semakin

tenang, “sepengetahuanku, bahaya yang paling dahsyat yang

selama ini mengejarnya adalah bahaya yang ditimbulkan oleh

ketamakan Kuda Sempana dan gurunya yang bernama Empu Sada.

Apabila kau sekarang benar-benar sudah menghentikan usahamu

untuk mencelakakannya, maka aku sangka Kakang Mabisa Agni

akan dapat menjaga dirinya sendiri terhadap Kuda Sempana

meskipun seandainya Kuda Sempana berbuat curang.”

“Tidak Tuan Puteri.” jawab Empu Sada, “karena itulah maka

hamba dengan segala akal yang licik berusaha menemui Tuan

Puteri. Bahaya yang sekarang mengancam Mahisa Agni bukan saja

datang dari Kuda Sempana. Bahkan Kuda Sempana pun pada

saatnya pasti akan mengalami bencana yang tidak kalah dahsyatnya

dari Mahisa Agni sendiri.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya, katanya, “Aku tidak mengerti

Empu Sada.”

“Tuan Puteri,” berkata Empu Sada, “perkenankanlah hamba

berceritera tentang diri hamba dan tentang diri Kakanda tuanku

Mahisa Agni.”

“Katakanlah Empu.” sahut Ken Dedes.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sesaat

ditengadahkannya wajahnya, namun kembali wajah itu menunduk.

Digesernya dirinya senjari maju, dan sejenak kemudian mulailah ia

berceritera tentang dirinya. Empu Sada yang telah benar-benar

merasa bersalah itu berceritera dengan sejujur-jujurnya, apa yang

pernah dilakukan atas Mahisa Agni. Usahanya menemui Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat, dan diceriterakannya pula saat ia hampir mati

terbunuh oleh kedua iblis yang mengerikan itu.

Ken Dedes mendengarkan ceritera Empu Sada itu dengan dada

yang berdebar-debar. Hatinya semakin lama menjadi semakin

cemas, sedang wajahnya menjadi semakin tegang. Perlahan-lahan

ia dapat merasakan bahaya yang sedang mengancam Mahisa Agni.

Bahaya yang justru ditimbulkan oleh orang yang kini dengan

menyesal menceriterakannya kepadanya.

Akhirnya Empu Sada itu berkata, “Tuan Puteri, hamba dapat

membayangkan, bahwa di Padang Karautan kini merayap-rayap

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mengintai Kakanda Tuan Puteri,

Angger Mahisa Agni yang setiap saat siap untuk meloncat dan

menerkamnya.”

Wajah Ken Dedes yang sudah mulai memerah itu kini lelah

menjadi pucat kembali. Terasa debar dadanya menjadi semakin

deras, dan kecemasan yang sangat telah menghinggapinya.

Bahkan bukan saja Ken Dedes. Emban pemomongnya yang

semasa mudanya bernama Jun Rumanti itu pun menjadi cemas.

Terlalu cemas. Mahisa Agni adalah satu-satunya anaknya.

“Kenapa semuanya itu kau lakukan Empu?” bertanya Ken Dedes

tanpa sesadarnya.

“Hamba sedang dilibat oleh kekelaman hati Tuan Puteri.”

“Kalau kau tidak mengalami kegagalan dan bahkan hampir mati

pula karenanya, maka aku kira kau tidak akan berbuat seperti

sekarang.” berkata Ken Dedes dengan penuh penyesalan.

“Hamba Tuan Puteri. Sebenarnyalah demikian. Karena itu, maka

kedatangan hamba kemari bukan karena sisa-sisa kebersihan hati

hamba yang mekar di dalam dada hamba, tetapi hamba datang

kemari karena hamba telah ditelan oleh ketakutan dan keputusasaan.

Hamba tidak tahu lagi apa yang akan hamba lakukan,

sedang hamba tidak dapat menyembunyikan diri kemana pun.

Ketakutan, kecemasan dan keputus asaan itu selalu memeluk hati

hamba. Maka dalam keadaan yang demikian itulah hamba datang

menghadap.”

Ketegangan hati Ken Dedespun menjadi semakin meningkat. Ia

tidak segera tahu, apa yang harus dilakukannya. Namun tiba-tiba ia

mengangkat dagunya. Sejenak ia merenung, namun tiba-tiba

Wajahnya menjadi agak cerah. Perlahan-lahan ia berkata tidak

kepada Empu Sada tetapi kepada pemomongnya, “Bibi, bukankah

beberapa hari yang lalu Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah

mengirim sepasukan prajurit ke Padang Karautan untuk membantu

Kakang Mahisa Agni?”

Emban itupun menengadahkan wajahnya yang mulai dijalari oleh

aliran darahnya kembali. Dengan serta-merta ia menjawab, “Ya, Ya

Tuan Puteri. Pasukan itu telah berangkat minggu yang lalu. Pasukan

itu kini pasti sudah berada di Padang Karautan dan telah sempat

membantu pekerjaan Angger Mahisa Agni.”

Empu Sada yang mendengar pembicaraan itu mengerutkan

keningnya. Tetapi ia tidak segera berani memotong untuk bertanya.

Yang berbicara kemudian adalah Ken Dedes, “Bukankah dengan

demikian, maka bahaya yang mengancam kakang Mahisa Agni

dapat dikurangi?”

“Hamba Tuan Puteri, mudah-mudahan demikianlah hendaknya.

Namun bagaimanapun juga, adanya Prajurit-prajurit itu di sekitar

angger Mahisa Agni, pasti berpengaruh juga pada dirinya.

Empu Sada tidak segera mengerti pembicaraan itu. Karena itu

ketika keduanya berhenti sejenak, maka diberanikannya dirinya

bertanya, “Jadi, apakah maksud Tuan Puteri mengatakan bahwa

Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah mengetahui bahaya yang

mengancam kakanda Tuan Putri itu.”

“Bahaya itu sudah diketahuinya sejak lama.” sahut Ken Dedes,

“sejak Kakanda Mahisa Agni bertemu dengan Akuwu Tunggul

Ametung yang saat itu berada di Panawijen.” Ken Dedes berhenti

sejenak. Tanpa disengaja ia telah mengungkat kembali peristiwa

pahit yang pernah dialaminya. Sejenak ia terdiam, namun kemudian

ia berhasil menguasai dirinya kembali dan berkata, “Bahwa bahaya

itu menjadi semakin besar, ternyata pula setelah kau mencegatku di

hutan pada saat aku pergi ke Panawijen bersama kakang Witantra.

Tetapi, bahwa kemudian bahaya itu menjadi semakin besar dan

besar. Tuanku Akuwu Tunggul Ametung masih belum

mengetahuinya. Terlibatnya dua orang kakak beradik yang bernama

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas permintaanmu itu pun masih

belum diketahui pula. Tetapi adalah kebetulan sekali bahwa dari

Tumapel telah dikirim sepasukan prajurit di bawah pimpinan

seorang Pelayan Dalam yang masih muda, bernama Ken Arok.

Seorang Pelayan Dalam yang meskipun masa jabatan belum terlalu

lama, tetapi ia adalah seorang anak muda yang menurut

pendengaranku, mumpuni dalam olah krida.”

Empu Sada itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa

disadarinya mulutnja berdesir, “Syukurlah kalau demikian. Mudahmudahan

segalanya menjadi baik. Semoga Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.

Tetapi, kedua setan itu terlampau licik. Ia akan dapat menemukan

akal untuk memisahkan Angger Mahisa Agni dari lingkungannya.

Tetapi mudah-mudahan kali ini tidak. Karena itu adalah sebaiknja

bahwa Angger Mahisa Agni segera diberi tahu akan bahaya yang

mengancamnya.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat

dengan Empu Sada, bahwa Mahisa Agni harus segera mengetahui

bahaya yang mengintainya itu.

“Tetapi aku harus menyampaikannja kepada Akuwu Empu.

Akuwu akan mengutus seseorang untuk menyampaikannya kepada

Kakang Mahisa Agni.”

“Semakin cepat semakin baik Tuanku.”

“Tuan Puteri.” tiba-tiba emban pemomongnya itu memotong,

“hamba dengar bahwa hari ini ada seseorang yang datang dari

padang Karautan. Mungkin orang itu membawa laporan kepada

Tuanku Akuwu Tunggul Ametung tentang keadaan prajurit Tumapel

yang berada di sana. Mungkin orang itu dapat mengatakan apa

yang telah terjadi di padang itu, dan orang itu pun akan dapat

menerima pesan apabila ia segera akan kembali.”

“Seseorang datang dari Padang Karautan?” bertanya Ken Dedes

dengan bati yang berdebar-debar karena berbagai macam

tanggapan akan kedatangan orang itu.

Ternyata bukan saja Ken Dedes yang menjadi berdebar-debar

mendengar berita tentang kedatangan seseorang dari padang

Karautan, namun Empu Sada pun mendjadi cemas pula.

“Apakah yang dikatakan oleh prajurit itu.” bertanya Ken Dedes

kepada pemomongnya.

“Belum aku ketahui Tuan Puteri.” sahut pemomongnya “prajurit

itu sedang berusaha untuk menghadap Akuwu sore ini. Mungkin

prajurit itu sudah menyampaikan laporannya kepada Tuanku

Tunggul Ametung.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dadanya

masih saja berdebar-debar. Meskipun demikian ia mencoba untuk

menghibur dirinya sendiri. Katanya di dalam hati, “Kalau terjadi

sesuatu Akuwu pasti sudah memberitahuku.”

Namun agaknya Empu Sada masih ingin bertanya, katanya,

“Apakah prajurit itu dapat ditemui dan bertanya kepadanya tentang

Padang Karautan setelah ia menghadap Akuwu dan menyampaikan

laporannya.”

Emban itu berpikir sejenak. Jawabnya kemudian, “Mungkin juga

dapat bertanya kepadanya setelah ia menghadap Akuwu.”

“Apakah mungkin kau dapat memanggilnya Nini?”

“Aku tidak tahu siapakah yang datang.”

“Para prajurit yang bertugas barangkali dapat mengatakan,

siapakah yang baru saja menghadap Akuwu.”

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Mungkin juga aku dapat mencobanya.”

Tetapi tiba-tiba dipandanginya Empu Sada itu dengan hati yang

ragu. Apakah ia akan meninggalkan momongannya berdua dengan

Empu Sada yang selama ini telah menghantui gadis itu? Apakah ia

dapat mempercayai orang tua itu sepenuhnya? Emban itu menjadi

bimbang. Karena itu ia tidak segera bangkit dari tempatnya.

Emban tua itu masih juga termanggu-mangu ketika Empu Sada

memandanginya dengan gelisah dan cemas. Bayangannya tentang

Padang Karautan terlampau suram bagi Mahisa Agni. Apakah

seseorang yang datang dari Padang Karautan itu tidak

menyampaikan laporan tentang sesuatu bahaya yang telah

menimpa anak muda itu? Apakah seseorang itu tidak melaporkan

bahwa Mahisa Agni telah hilang dari lingkungan mereka?

Tetapi Empu Sada tidak mengucapkannya. Ia takut kalau Ken

Dedes menjadi semakin cemas pula. Karena itu, maka Empu Sada

itu pun bahkan terdiam sambil menundukkan kepalanya.

Sejenak ketiga orang itu saling berdiam diri. Ken Dedes pun

masih juga dibayangi oleh kecemasan tentang kakaknya, Mahisa

Agni. Sedang emban pemomong Ken Dedes itu, yang sebenarnya

adalah ibu Mahisa Agni kemudian tidak pula kalah cemasnya. Di

dalam hatinya pun merayap pula gambaran-gambaran yang

mengerikan yang dapat menimpa anaknya. Karena itu, maka ia pun

sebenarnya ingin segera mendengar, ceritera apakah yang telah

dibawa oleh seseorang itu dari padang rumput Karautan yang

garang.

Tetapi emban tua itu tidak dapat meninggalkan Ken Dedes

seorang diri. Empu Sada telah meninggalkan bekas yang hitam di

sepanjang langkahnya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya

masih juga menimbulkan keragu-raguan di dalam hati.

Karena emban tua itu tidak segera beranjak dari tempatnya,

maka Empu Sada pun kemudian mengangkat wajahnya. Ia ingin

bertanya, kenapa emban itu tidak segera mencari prajurit yang

datang dari Padang Karautan untuk segera mendapat jawaban atas

teka-teki yang berkecamuk di dalam hati mereka. Tetapi ketika

Empu Sada melihat sorot mata emban itu, kembali ia menundukkan

kepalanya sambil berdesah di dalam hati, “Hem, agaknya Rumanti

belum dapat melepaskan momongannya sendiri bersama aku.

Tetapi itu bukan salahnya. Itu adalah salahku.”

Kesepian itu akhirnya telah menjesakkan dada Empu Sada yang

gelisah, sehingga duduknya pun menjadi gelisah pula. Tetapi ia

tidak berani berkata sepatah kata pun, apalagi mendesak supaya

emban itu segera memanggil prajurit yang datang dari Karautan.

Dengan demikian kecurigaannya dapat menjadi semakin bertambah,

seakan-akan ia memaksanya untuk meninggalkan Ken Dedes

seorang diri.

Tetapi agaknya yang bertanya kemudian adalah Ken Dedes,

katanya, “Bagaimana bibi?”

Emban itu menjadi agak kebingungan. Ia tidak dapat pergi, tetapi

bagaimana ia akan mengatakannya?

Namun tiba-tiba ia mendapat akal. Mungkin ia tidak perlu pergi

mencarinya sendiri atau bertanya-tanya ke halaman. Bukankah di

belakang, di tangga serambi ada seorang prajurit dan para Pelayan

dalam yang bertugas? Karena itu, maka katanya, “Tuan Puteri.

Biarlah hamba memanggil seorang prajurit di serambi belakang. Ia

akan dapat lebih cepat menemukan kawannya yang datang dari

padang Karautan.”

“Panggillah,” sahut Ken Dedes tanpa mengerti maksud

embannya.

Namun ketika emban itu sempat memandang wajah Empu Sada,

maka Dilihatnya orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya

seakan-akan ia memuji ketrampilan emban pemomong Ken Dedes

itu.

Sejenak kemudian emban itu berdiri dan melangkah kepintu,

tetapi tidak sampai di luar pintu. Dari celah-celah daun pintu yang

dibukanya sedikit terdengar suaranya memanggil seorang prajurit

yang sedang bertugas.

Akhirnya ketika prajurit itu telah menghadap, maka berkatalah

emban itu, “Silahkanlah Tuan Puteri, mungkin prajurit ini dapat

menemukannya lebih cepat.”

Prajurit itu menjadi berdebar-debar. Apakah yang harus

dicarinya? Namun ia menarik napas dalam-dalam ketika ia

mendengar Ken Dedes kemudian menjelaskan maksudnya.

“Hamba Tuan Puteri.” sahut prajurit itu kemudian, “memang

siang tadi hamba melihat tidak hanya seorang, tetapi dua orang

yang datang dari Padang Karautan. Mungkin mereka telah

menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”

“Kalau mereka telah menyampaikan laporannya, panggillah

mereka kemari.” perintah Ken Dedes kepadanya.

Prajurit itu terdiam sejenak. Ia tidak mengerti, kenapa Ken Dedes

ingin segera mendengar secara langsung laporan Prajurit-prajurit

yang baru saja datang dari padang Karautan siang tadi. Adalah tidak

lajim bahwa seseorang selain Akuwu Tunggul Ametung memanggil

seorang prajurit untuk mendengarkan laporannya secara langsung.

Apabila reseorang tersangkut dalam satu persoalan, maka biasanya

Akuwu Tunggul Ametung sendirilah yang akan memanggilnya dan

mempersoalkan dengan orang yang berkepentingan itu. Tetapi kali

ini yang memberinya perintah adalah bakal Permaisuri Tunggul

Ametung itu sendiri, yang selama ini belum pernah ada. Karena itu

maka prajurit itu sejenak menjadi ragu-ragu.

Ken Dedes melihat keragu-raguan prajurit itu. Maka katanya

kemudian, “Sudah tentu apabila laporan itu bukan laporan rahasia

yang hanya boleh didengar oleh Akuwu. Meskipun demikian, aku

akan dapat bertanya kepadanya tentang keadaan padang itu,

tentang Kakakku Mahisa Agni dan tentang bendungan yang baru

dibuatnya.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian kepala

itu membungkuk dalam-dalam. Terdengar ia berkata, “Hamba Tuan

Puteri. Biarlah hamba cari prajurit yang baru saja datang dari

padang Karautan itu.”

“Carilah. Hal-hal yang penting. Akuwu sendiri pasti akan

memberitahukan kepadaku. Aku tidak memerlukan hal-hal yang

penting itu. Aku hanya ingin mendengar kabar tentang bendungan

dan Kakakku Mahisa Agni.”

Prajurit itu pun segera mohon diri, beringsut mundur, dan

kemudian meninggalkan ruangan itu untuk mencari ke dua

kawannya yang siang tadi baru saja datang dari padang Karautan.

“Orang-orang itu pasti pulang ke rumah masing-masing.” katanya

di dalam hati, “kesempatan untuk menengok keluarga.”

Tetapi, prajurit itu tidak segera keluar halaman. Ditanyakannya

kepada Pelayan Dalam di tangga halaman depan, apakah ada

prajurit dari padang Karautan yang sedang menghadap langsung

Akuwu Tunggul Ametung.

“Siang tadi.” sahut Pelayan Dalam itu, “menghadap bersama

pemimpin Pengawal Istana kakang Witantra.”

“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “mereka

pasti sudah pulang. Mungkin sudah tidur mendengkur di sisi anakanaknya.”

Pelayan dalam itu tidak menjawab, tetapi ia tersenyum.

Prajurit itu pun kemudian pergi ke regol tempat ia bertugas.

Kepada kawan-kawanya dijelaskannya apa yang harus di lakukan.

Sejenak kemudian maka berderaplah kaki-kaki kudanya menyusur

jalan kota.

Akhirnya kedua prajurit itu benar-benar diketemukannya di

rumah masing-masing. Alangkah terkejutnya kedua prajurit itu

ketika datang seorang kawannya ke rumah. Mereka menyangka

bahwa ada sesuatu yang penting. Tetapi, mereka memberengut

ketika mereka mendengar keperluan prajurit itu.

“Apakah Tuan Puteri belum mendengar laporanku lewat Tuanku

Akuwu?”

“Belum,” sahut kawannya itu.

Ketika mereka menemui prajurit yang seorang lagi yang baru

saja datang dari Padang Karautan, maka katanya “bukankah ini

telah malam. Apakah tidak dapat ditunda sampai besok?”

“Tuan Puteri ingin segera mendengar laporanmu.”

“Kami sudah melaporkannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul

Ametung.”

“Tetapi belum kepada Tuan Puteri.”

“Ah,” prajurit itu berdesah. Tetapi iapun membenahi pakaiannya.

Kemudian merekapun dengan tergesa-gesa pergi ke Istana untuk

menghadap Ken Dedes.

“Kenapa tidak siang tadi?” prajurit yang seorang masih saja

menggerutu.

“Aku melihat kalian datang, tetapi aku tidak melihat kalian pergi

bersama Ki Witantra. Apakah kalian lewat regol yang lain?”

“Ketika aku datang Ki Witantra ternyata sudah berada di Istana.

Aku keluar lewat regol yang itu-itu juga, tetapi agaknya kau baru

mengambil rangsum, atau baru memakannya di belakang gardu.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun

kemudian terdiam. Hanya derap kuda mereka sajalah yang

terdengar memecah sepi malam, menghantam dinding-dinding

halaman di sisi-sisi jalan. Angin malam yang dingin mengalir

mengusap tubuh-tubuh mereka yang lembab oleh keringat dan

embun.

Kedua prajurit itu pun kemudian dihadapkan kepada Ken Dedes

yang hampir tidak sabar menunggunya.

EmMpu Sada yang sudah mulai terkantuk-kantuk pun menjadi

terbangun kembali.

“Kemarilah,” berkata Ken Dedes mempersilahkan kedua prajurit

itu.

Kedua prajurit itu pun beringsut maju. Mereka menjadi agak

canggung. Mereka belum pernah menghadap gadis bakal permaisuri

Akuwu Tunggul Ametung.

“Apakah kalian baru datang dari padang Karautan?” bertanya Ken

Dedes.

“Hamba Tuan Puteri,” jawab salah seorang dari mereka dengan

suara parau, karena mereka masih juga dihinggapi oleh rasa kantuk.

“Apakah ada sesuatu yang penting terjadi di Padang Karautan

sehingga kau berdua harus melaporkannya kepada Akuwu?”

“O, tidak Tuan Puteri.” sahut salah seorang prajurit itu, “tidak

ada yang penting. Hamba hanya menyampaikan laporan bahwa

prajurit-prajurit Tumapel telah sampai dengan selamat dan telah

mulai bekerja dengan baik membantu orang-orang Panawijen

membuat bendungan.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Bersyukurlah ia di dalam

hati bahwa tidak ada sesuatu yang penting terjadi.

“Bagaimana dengan bendungan itu dan kakang Mahisa Agni?”

“Kakanda Tuan Puteri, Mahisa Agni kini baru pergi ke Panawijen

tuanku. Ada sedikit bencana yang menimpa padukuhan itu. Tetapi

sama sekali tidak berarti dan tidak mengganggu pekerjaan yang

besar itu.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya mendengar berita tentang

Panawijen. Karena itu maka dengan serta merta ia bertanya,

“Bencana apa lagi yang telah menimpa pedukuhan itu? Pedukuhan

itu telah menjadi kering, dan sekarang apa yang telah terjadi?”

“Tetapi bencana itu tidak mencemaskan Tuan Puteri. Bahkan

bencana yang kecil itu dapat saja dilupakan.”

“Ya, tetapi apa yang terjadi.”

“Justru karena Panawijen telah menjadi kering, maka udara di

padukuhan itu pun menjadi sangat panasnya, sehingga karena itu

maka di padukuhan itu telah terjadi ke bakaran kecil. Beberapa

buah lumbung dan rumah terbakar habis. Tetapi karena beberapa

orang tua masih tinggal di pedukuhan itu, dan perempuan, maka

dengan pasir dan sisa-sisa pohon pisang yang masih ada maka api

dapat dibatasi. Ternyata mereka berhasil memisahkan api yang

berkobar itu dengan daerah di sekitarnya, sehingga api tidak

menjalar lebih besar lagi.”

“O, kasian Panawijen.”

“Tetapi Tuan Puteri tidak usah cemas. Hamba telah

menyampaikan semuanya itu kepada Tuanku Akuwu Tunggul

Ametung atas perintah pimpinan yang ditugaskan di padang

Karautan, Ken Arok.”

“Bagaimanakah tanggapan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung?”

“Tuanku Akuwu hanya tertawa saja mendengar laporan hamba.

Tetapi Akhirnya Tuanku Akuwu memerintahkan kepada kakang

Witantra untuk menyampaikan perintah kepada yang

berkepentingan, menyediakan padi dan jagung untuk membantu

orang-orang Panawijen yang telah kehilangan sebagian dari bahan

makanan mereka. Sedang sawah-sawah mereka sendiri dalam

keadaan kering dan tidak mungkin menghasilkan di musim kering

seperti ini.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia

menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah. “Beruntunglah

Panawijen mempunyai seorang Akuwu yang baik.”

Sejenak ruangan itu menjadi sunyi. Tetapi Ken Dedes sudah tidak

lagi dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan. Bencana itu

memang bukan bencana yang besar yang dapat

menggelisahkannya. Mungkin karena persoalan yang kecil itulah

maka Akuwu tidak segera memanggilnya dan memberitahukan

kepadanya tentang apa yang telah terjadi di Panawijen, bahkan

mungkin lusa Akuwu Tunggul Ametung baru akan

memberitahukannya.

Tetapi tanggapan Empu Sada agak berbeda dengan tanggapan

Ken Dedes. Sesaat dipandangnya wajah emban tua yang duduk di

sisi Ken Dedes itu. Tetapi agaknya emban tua itupun merasa bahwa

tidak terjadi sesuatu di padang Karautan. Emban tua itu beberapa

kali mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa suatu kesan yang

mendebarkan hatinya.

Namun Empu Sada masih menahan diri untuk tidak berkata

sesuatu. Ia masih menunggu, barangkali prajurit itu masih ingin

menyampaikan beberapa persoalan kepada Ken Dedes. Tetapi

prajurit itu masih juga terdiam. Ken Dedes dan pemomongnya pun

masih juga belum berkata sesuatu.

Ruangan itu masih juga diliputi oleh kesenyapan. Yang terdengar

hanyalah desah angin yang menyentuh dedaunan di petamanan di

luar ruangan itu. Para prajurit yang sedang bertugas duduk

terkantuk-kantuk sambil memeluk senjata mereka.

Prajurit yang duduk di tangga di belakang ruangan belakang

itupun sudah mengantuk pula. Seharusnya ia sudah selesai dengan

tugasnya dan pulang kerumah, minum air hangat dan makan

sekenyang-kenyangnya. Tetapi ia masih saja duduk di tangga istana

bersama beberapa Pelayan Dalam di ujung tangga yang lain.

“Perutku lapar.” gumamnya seorang diri. Tiba-tiba di kejauhan

dilihatnya cahaja yang melontar dari celah-celah pintu.

“Disana itu masih ada orang. Mungkin seorang Pelayan yang

dapat pergi ke dapur sejenak mengambil rangsum tambahan

buatku.” Tetapi prajurit itu tidak berani meninggalkan tempatnya,

“Emban tadi mengatakan, bahwa aku akan dapat pergi ke dapur.

Tetapi bagaimana dengan laki-laki tua itu?” Akhirnya kembali

prajurit itu duduk mengantuk sambil menahan lapar yang

mengganggu perutnya.

Di dalam ruangan yang sepi itu Empu Sada menjadi gelisah.

Keterangan prajurit yang baru saja datang dari padang Karautan itu

baginya membawa kesan yang lain. Bukan sekedar beberapa buah

lumbung yang terbakar. Bukan sekedar beberapa orang Panawijen

telah kehilangan tempat tinggalnya. Tetapi jauh lebih mendebarkan

dari pada itu.

Isi lumbung yang terbakar, rumah-rumah yang hangus menjadi

abu, akan segera dapat diganti. Lumbung-lumbung akan segera

dapat dibangun kembali, bahkan Akuwu Tunggul Ametung telah

memerintahkan untuk mengirimkan jagung dan padi ke Panawijen.

Tetapi yang mencemaskannya adalah, kenapa hal itu terjadi?

Apakah benar, hanya sekedar karena udara yang panas maka

lumbung-lumbung itu terbakar? Tetapi seandainya seseorang telah

membakarnya, apakah mereka hanya sekedar ingin melihat orangorang

Panawijen kelaparan, ataukah ada tujuan lain?

Akhirnya Empu Sada tidak dapat menahan pertanyaannya lagi.

Dengan hati-hati ia berkata, “Angger, Prajurit-prajurit yang baru

datang dari Padang Karautan, apakah kebakaran yang timbul di

Panawijen itu disebabkan oleh udara yang panas, atau karena

seseorang kurang berhati-hati sehingga menimbulkan bencana itu,

atau oleh sebab yang lain lagi?”

Kedua prajurit itu mengangkat wajahnya, kemudian mereka

berpaling kepada laki-laki tua itu. Sejenak mereka menjadi raguragu.

Namun kemudian terdengar Ken Dedes berkata, “Jawablah

pertanyaan itu.”

“Hamba Tuanku.” sahut salah seorang dari mereka, “tetapi

hamba tidak tahu pasti apa yang telah menyebabkannya. Dua orang

tua yang tinggal di Padukuhan Panawijen telah datang kepadang

Karautan dan memberitahukannya kepada Kakanda Tuan Puteri,

yang segera ingin melihatnya sendiri ke Panawijen.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah

menyangka bahwa Mahisa Agni pasti akan datang sendiri ke

Panawijen untuk menyaksikan bencana itu betapa kecilnya. Karena

itu ia sama sekali tidak terkejut mendengar keterangan prajurit itu.

Berbeda dengan Ken Dedes, Empu Sada merasa sesuatu berdesir

di dadanya meskipun tidak segera tampak pada wajahnya.

Tetapi laki-laki tua itu kemudian bertanya pula, “Dengan siapakah

Angger Mahisa Agni pergi ke Panawijen?”

“Dengan pamannya” sahut prajurit itu.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Yang dimaksud

pamannya pastilah Empu Gandring.

“Hanya berdua?”

“Tidak.” sahut prajurit itu, “meskipun Adi Mahisa Agni ingin pergi

seorang diri, tetapi pamannya menasehatkannya untuk membawa

beberapa orang kawan.”

“Ya, siapakah Kawan-kawannya itu?”

“Ken Arok sendiri.”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Meskipun tidak segera

terucapkan, tetapi di dalam kepalanya berkecamuk berbagai macam

persoalan. Ia menjadi curiga, bahwa di padukuhan Panawijen telah

timbul kebakaran betapapun kecilnya.

Kemudian dua orang laki-laki tua yang tinggal di Panawijen

datang kepadang Karautan untuk memberitahukan kebakaran itu

kepada Mahisa Agni.

Bahwa ada dua orang laki-laki tua berani melintasi padang

Karautan itu telah menarik perhatiannya pula.

Tiba-tiba Empu Sada itu mengerutkan keningnya. Debar di dalam

dadanya menjadi semakin cepat. Ia sampai pada suatu kesimpulan

yang sangat menggelisahkan. Katanya di dalam hati, “Ini pasti pokal

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat untuk memikat Mahisa Agni datang

ke Panawijen. Mudah-mudahan Empu Gandring cukup waspada.

Tetapi agaknya Empu Gandring belum mengenalnya. Kelicikan dan

kecurangan bukan soal bagi mereka berdua.”

Empu Sada itu pun menjadi gelisah. Tetapi kegelisahannya itu

masih saja dicoba untuk disembunyikan.

“Angger,” berkata Empu Sada kemudian kepada kedua prajurit

itu, “kapankah Angger ke Padang Karautan.”

“Lusa aku akan kembali. Aku masih semalam lagi berada di

Tumapel.”

Empu Sada meng-angguktan kepalanya. Kemudian kepada Ken

Dedes ia berkata, “Tuan Puteri, apakah masih ada yang ingin tuanku

ketahui?”

“Aku kira untuk sementara tidak Kiai.”

“Apakah tuanku ingin berpesan kepada mereka.”

Ken Dedes terdiam sejenak. Kepada emban pemomongnya ia

bertanya, “Apakah yang penting aku pesankan kepada mereka

bibi?”

Emban tua itu mengangkat kepalanya. Ditatapnya kedua prajurit

itu sejenak. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuanku, tak

ada yang lebih penting tuanku pesankan, daripada mengharap agar

Angger Mahisa Agni menjadi lebih berhati-hati. Bahaya akan dapat

selalu menerkamnya setiap saat. Beritahukan kepada kedua prajurit

itu, bahwa mereka harus berhati-hati pula.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau

dengar kata-kata bibi emban itu? Mungkin dapat kau beritahukan

kepada Kakang Mahisa Agni bahwa ia harus berhati-hati terhadap

dua orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Bukankah begitu Kiai?”

“Ya, ya tuanku.” sahut Empu Sada.

Tiba-tiba Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Salah

seorang dari mereka berkata, “Ya, aku pernah mendengar nama itu.

Menurut ceritera yang pernah aku dengar, di Padang Karautan

sekarang berkeliaran kedua orang bersaudara itu. Yang pernah

bertemu dengan Adi Mahisa Agni dan pamannya adalah salah

seorang dari mereka yang bernama Wong Sarimpat.”

“He,” Empu Sada terkejut mendengar keterangan itu, “jadi Wong

Sarimpat lelah mencoba menjumpai Angger Mahisa Agni.”

Kedua prajurit itu terkejut mendengar pertanyaan Empu Sada.

Tetapi sejenak kemudian mereka menjawab, “Ya. Aku tidak tahu

kebenaran dari ceritera itu. Mahisa Agni sendiri tidak pernah

mengatakannya.”

“Kalau demikian, dari siapa mereka mendengar ceritera itu?”

“Ki Buyut Panawijen.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian

maka hanya Ki Buyut lah yang diberi tahu bahwa bahaya itu pernah

ditemui oleh Mahisa Agni. Untunglah bahwa pamannya Empu

Gandring ada bersamanya. Tetapi agaknya Ki Buyut telah

mengatakannya pula kepada orang lain, sehingga akhirnya ceritera

itu pun tersebar diantara orang-orang Panawijen dan para prajurit

dari Tumapel.

Dada Empu Sada berguncang ketika prajurit itu berkata

seterusnya, “Tetapi Wong Sarimpat bukanlah bahaya yang

sebenarnya bagi adi Mahisa Agni. Sumber dari bahaya yang selalu

membayangi anak muda itu adalah Kuda Sempana dan gurunya.”

Perlahan-lahan Empu Sada melepaskan tarikan nafas yang tibatiba

terasa seolah-olah berhenti. Tetapi ia tidak berkata sepatah

katapun.

Kesunyian sekali lagi menghinggapi ruangan itu. Malam yang

bertambah malampun terasa semakin sepi Dikejauhan terdengar

bunyi kentongan dalam nada dara muluk. Hampir tengah malam.

Sejenak kemudian terdengar Ken Dedes berkata, “Aku kira

keperluanku dengan kalian telah selesai. Kalian dapat kembali ke

rumah kalian. Besok kalau kalian akan kembali ke Padang Karautan

aku ingin bertemu dengan kalian sekali lagi.”

“Hamba tuan puteri.” sahut kedua prajurit itu hampir bersamaan.

Sesaat kemudian maka keduanya telah mohon diri dan

meninggalkan ruangan itu. Prajurit yang menjemputnya masih saja

duduk mengantuk di tangga belakang. Ketika ia melihat kedua

prajurit itu pergi, maka ia pun mengumpat di dalam hatinya.

Empu Sada yang masih duduk di dalam ruangan belakang

bersama dengan Ken Dedes dan emban tua itupun menujadi

semakin tidak tenteram. Setiap orang menganggap bahwa Kuda

Sempana dan dirinya adalah sumber bencana bagi Mahisa Agni. Dan

ia pun tidak akan dapat mengingkari. Dengan demikian, apabila

Mahisa Agni kali ini benar-benar masuk ke dalam jebakan Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat, maka dirinyalah yang harus

bertanggung jawab.

Karena itu, karena ketegangan yang mencengkam jantungnya

Empu Sada tidak lagi dapat duduk lebih lama. Sejenak kemudian

maka ia pun mohon diri pula untuk meninggalkan ruangan itu.

“Tuanku.” berkata Empu Sada, “sebenarnya hamba ingin

menyampaikan pesan ini juga kepada Tuanku Tunggul Ametung.

Tetapi hamba tidak berani. Hamba merasa diri hamba yang kotor.

Karena itu tuanku, hamba mengharap bahwa Tuanku Akuwu

Tunggul Ametung akan dapat mendengarnya dari Tuan Puteri.

Mungkin Tuanku Tunggul Ametung akan mempunyai suatu sikap

yang dapat menyelamatkan Angger Mahisa Agni, atau bahkan

menangkap kedua setan dari Kemundungan itu. Kalau ada orang

lain yang mau mencoba menangkapnya, maka hamba menyediakan

diri hamba untuk ikut serta. Mungkin Panji Bojong Santi dengan

sepasukan prajurit, atau mungkin orang lain menurut pertimbangan

Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.”

Ken Deries mengangguk-anggukkan kepalanya, Jawabnya, “Baik

Empu, aku akan menyampaikannya kepada Tuanku Akuwu Tunggul

Ametung. Apabila kedua orang itu telah tertangkap, maka akan

tenteramlah hatiku.”

“Demikianlah Tuanku. Dan kini perkenankanlah hamba mohon

diri. Setiap kali hamba bersedia untuk memenuhi panggilan Tuanku.

Bukan saja untuk suatu pekerjaan yang berat, bahkan untuk

digantung pun hamba akan datang.”

Ken Dnles mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata.

“Baiklah Empu. Aku akan memberitahukan kepadamu apabila ada

sesuatu yang penting untuk kau ketahui.”

Empu Sada itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula

diantar oleh emban pemomong Ken Dedes. Di luar pintu bilik emban

itu terkejut melihat seorang prajurit hampir tertidur pada kedua

tangannya yang memeluk lututnya.

Ketika prajurit itu mendengar langkah keluar, ia pun terkejut pula

dan segera memperbaiki letak duduknya. Tetapi segera ia menarik

nafas dalam-dalam ketika dilihatnya emban tua itu bersama laki-laki

yang telah dibawanya masuk.

“Hem.” desis prajurit itu, “kapan aku harus pergi ke dapur.”

“O.” emban tua itu tersenyum, “aku lupa membawamu ke dapur.

Pembicaraan kami terlampau asyik, sehingga aku tidak ingat lagi

bahwa kau ada disini.”

“Terlalu.”

“Apakah sekarang kau masih lapar?”

“Tidak, aku sudah tidak lapar lagi. Aku telah makan kenyangkenyang

di sini.”

“Makan apa?”

“Angin.” sahut prajurit itu sambil bersungut.

“O.” emban itu tertawa, “marilah, aku ambilkan rangsum

tambahan buatmu.”

“Tidak, aku sudah tidak lapar.”

“Jangan mutung.”

“Tidak.” kemudian katanya kepada laki-laki tua yang menyebut

dirinya Makerti, “marilah Kaki, apakah kau sudah cukup?”

“Sudah ngger.”

“Marilah aku antar kau keluar halaman istana ini.”

“Tetapi apakah angger tidak makan dahulu?”

“Tidak.”

“Aku juga tidak dijamu makan meskipun aku bertamu hampir

separo malam.”

“Separo malam lebih.” prajurit itu membetulkan.

“O, ya, separo malam lebih.”

Jilid 25

KEDUANYAPUN kemudian meninggalkan halaman belakang.

Terkantuk-kantuk prajurit itu membawa Empu Sada keluar.

Dilewatinya regol dalam yang bertugas di regol itu ternyata sudah

berganti orang. Demikian pula di regol halaman. Kawan-kawannya

bertugas telah pulang kerumah masing-masing.

“Darimana?“ bertanya penjaga yang baru.

“Aku bertugas di kamar bakal permaisuri.“ sahut prajurit yang

kantuk itu.

“He?”

“Ya, hanya aku sajalah satu-satunya prajurit yang bertugas di

sana dari seluruh Tumapel. Menyenangkan sekali. Makan minum

dan apa saja yang kuminta. Tuan Puteri sendirilah yang

memberinya”

Prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu tertawa. Mereka tahu

bahwa prajurit itu sedang lapar dan menunggu seseorang yang

diantarnya itu sampai tengah malam.

Ketika mereka telah sampai di luar regol, maka segera prajurit itu

berkata, “Kaki Makerti, tugasku sudah selesai. Kaki telah keluar dari

halaman istana. Karena itu terserahlah kepada Kaki. Apakah kau

akan bermalam di rumahku?”

“Terima kasih Ngger, terima kasih. Aku akan pergi ke tempat

saudaraku.”

“Kaki mempunyai saudara di kota ini?”

“Ya, aku akan mencarinya. Rumahnya di dekat pasar.”

“Silahkan,“ berkata prajurit itu. Ia sudah merasa sangat lelah dan

kantuk. Karena itu maka segera ditinggalkannya laki-laki tua itu

seorang diri. Dengan langkah panjang prajurit itu berjalan pulang.

Untunglah bahwa rumahnya tidak terlampau jauh dari istana. Tetapi

ia harus bersedia jawaban kalau isterinya bertanya kenapa ia pulang

lambat.

Isterinya kadang-kadang menjadi cemburu, karena seorang

kawannya yang dekat, baru-baru ini telah mengambil seorang isteri

muda.

Sepeninggal prajurit itu, hati Empu Sada menjadi semakin

gelisah. Terbayang diangan-angannya, Mahisa Agni kini sedang

merangkak masuk ke dalam jebakan yang dipasang oleh Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat.

Sejenak Empu Sada masih saja berdiri termangu-mangu. Ia sama

sekali tidak dapat mencuci tangan terhadap apa yang akan terjadi

dengan Mahisa Agni.

Orang tua itu terkejut ketika tiba-tiba seorang prajurit

mendekatinya sambil bertanya, “Bagaimana Kaki, apakah Kaki tidak

tahu kemana akan pergi?”

“O,“ sahut Empu Sada terbata-bata, “tidak, tidak Ngger. Aku

sedang melamun. Alangkah senangnya hidup kemenakanku itu. Aku

ikut bergembira pula bersamanya.”

Prajurit itu terheran-heran. Kemudian iapun bertanya, “Siapakah

kemanakanmu itu?”

Empu Sada memandangi prajurit itu dengan saksama. Barulah ia

menyadari, bahwa prajurit-prajurit itu bukanlah prajurit-prajurit

yang menerimanya siang kemarin. Tetapi meskipun demikian,

prajurit-prajurit yang bertugas mendahuluinya pasti telah

memberitahukan kepada mereka, tentang dirinya. Karena itu maka

katanya, “Apakah Angger tidak mendapat pemberitahuan bahwa

aku baru saja menghadap kemanakanku. Ken Dedes?”

“O.“ prajurit itu mengerutkan keningnya, “Ya, ya. Jadi kaukah

orang Yang bernama Makerti ? O, Ya, ya. Pradjurit yang

mengantarmu itu adalah prajurit yang telah dikatakan oleh pimpinan

yang bertugas sebelum kami. Lalu, bagaimana sekarang?”

“Aku akan pergi kerumah saudaraku di samping pasar.“ sahut

Empu Sada.

“Apakah Kaki memerlukan pengantar?”

“Tidak, tidak Ngger. Terima kasih.”

Empu Sada itu pun segera melangkah pergi meninggalkan regol

istana itu. Tertatih-tatih ia berjalan menyusup kedalam gelapnya

malam. Sinar obor dari regol yang memancar kemerah-merahan,

akhirnya tidak lagi dapat mencapainya.

Angin malam tang silir berhembus perlahan-lahan mengusap

tubuh orang tua itu Meskipun embun setitik-setitik turun dari langit,

tetapi tubuh Empu Sada telah menjadi basah karena keringatnya.

Ketegangan perasaannya tidak lagi dapat disembunyikannya.

“Kasihan,“ desisnya seorang diri. “Apakah aku hanya akan

berpangku tangan? Mudah-mudahan Empu Gandring dapat

menyelamatkannya. Tetapi apakah Empu Gandring mampu

menghadapi kedua iblis itu bersama-sama. Kalau Ken Arok,

pemimpin pasukan yang berada di Padang Karautan itu pergi pula

bersama Mahisa Agni, maka aku mengharap orang itu akan dapat

membantunya bersama-sama Mahisa Agni sendiri. Tetapi

bagaimanakah dengan kekuatan Ken Arok itu?”

Hati Empu Sada pun menjadi semakin tidak tenang. Ketika ia

kemudian berpaling, dan regol istana itu sudah tidak dilihatnya,

maka langkahnyapun segera menjadi semakin cepat. Dengan

sigapnya ia melontarkan kakinya, meloncat-loncat seperti seekor

kijang di padang perburuan.

Ia sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia menjadi bernafsu untuk

segera sampai ke rumahnya. Demikian kuat desakan keinginannya,

sehingga tanpa dikehendakinya sendiri, orang tua itupun kemudian

berlari semakin cepat menuju ke padepokannya.

Empu Sada tidak lagi menghiraukan, apakah ada seseorang yang

melihatnya berlari-lari. Bahkan kemudian dikerahkannya segenap

kemampuannya. Dan Empu Sada itu pun berlari secepat tatit.

Ketika Empu Sada sampai kepadepokannya, maka dengan sertamerta

diketuknya pintu rumahnya sambil memanggil-manggil nama

muridnya. “Sumekar, Sumekar.”

Alangkah terkejutnya muridnya itu. Segera ia bangkit dan berlari

membukakan pintu. Ia menyangka bahwa gurunya sedang dikejar

oleh bahaya.

Ketika pintu telah terbuka, dan dilihatnya Sumekar berdiri di

mukanya, Empu Sada tertegun sejenak. Ditatapnya wajah muridnya

yang masih belum menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan.

Sekali-sekali Sumekar masih menggosok-gosok matanya yang

merah.

“Tutuplah pintu.“ perintah Empu Sada kemudian ketika ia telah

meloncat masuk.

Sumekar pun melakukan saja perintah itu. Tetapi Sumekar itupun

semakin terkejut ketika gurunya itu berkata, “Sumekar, pergilah ke

sumur. Adus kramas. Siapkan dirimu dalam kemampuan tertinggi.”

Sejenak Sumekar berdiri kaku. Dengan sorot mata bertanyatanya

dipandanginya gurunya. Ia tidak segera menangkap maksud

kata-katanya itu.

Ketika Empu Sada melihat Sumekar masih saja berdiri termangumangu

maka diulanginya perintahnya, “Sumekar, pergilah adus

kramas. Bersihkan dirimu lahir dan batin. Cepatlah.”

Sumekar tidak membantah lagi. Segera ia pergi ke perigi.

Disiapkannya beberapa jambangan air dan diambilnya seberkas

merang. Sambil membakar merang itu, hatinya selalu bertanyatanya,

“Apakah sebenarnya maksud guru. Hari masih malam.

Kenapa aku harus mandi?”

Tetapi Sumekar Yang patuh itu melakukan perintah itu dengan

baik. Dibersihkannya tubuhnya meskipun dingin malam sampai

menggigit tulang.

Ternyata gurunya pun mandi pula. Gurunya pun agaknya telah

membersihkan dirinya seperti yang dilakukannya.

Ketika Sumekar telah selesai dan kembali ia menghadap gurunya,

maka berkatalah Empu Sada, “Sumekar. Kau sudah cukup dewasa,

umurmu, persiapan jiwamu dan ilmumu. Karena itu, Sumekar, hari

ini adalah hari yang kau nanti-nanti selama ini. Kau berada di

padepokanku meskipun bukan semata-mata untuk itu, tetapi ilmu

tertinggi pasti menjadi keinginan setiap murid.”

Tiba-tiba dada anak muda itu berdesir. Ia tidak menyangka,

bahwa tiba-tiba saja ia dihadapkan pada kesempatan yang memang

diharapkannya. Begitu tiba-tiba. Tetapi ia tidak sempat bertanya.

Gurunyalah yang kemudian berkata. “Masuklah ke dalam bilik

belakang, tempat kau berlatih. Jangan ganggu adik-adik

seperguruanmu yang sedang tidur. Biarlah mereka tidak tahu apa

yang terjadi dengan dirimu.”

Sumekar hanya dapat mengikuti perintah itu. Meskipun beberapa

pertanyaan terselip di dalam hatinya, kenapa peristiwa itu terjadi

tanpa disangka-sangkanya lebih dahulu.

Tetapi Sumekar tidak sempat menanyakannya. Hatinya yang

berdebar-debar menjadikannya semakin tegang.

Ketika Sumekar dan Empu Sada telah berada di dalam bilik yang

gelap di bagian belakang halaman rumahnya, maka gurunya itupun

segera menutup pintu. Sebab slarak kayu nangka telah mengancing

pintu itu rapat-rapat.

“Sumekar.“ berkata gurunya. Meskipun gelapnya bukan main,

namun lambat laun, Sumekar dapat melihat bayangan gurunya,

“kau benar-benar telah cukup mempunyai bekal untuk menerima

ilmu tertinggi dari perguruanku. Bahkan kau telah memiliki beberapa

kelebihan dari kakak-kakak seperguruan mu. Ada beberapa unsur

yang aku berikan kepadamu, tetapi tidak aku berikan kepada kakakkakakmu.

Apalagi ketika aku telah meyakini kesalahanku pada

masa-masa yang lampau, dan melihat bahwa kau memiliki beberapa

kelebihan sifat dari kakak-kakak sebelummu. Maka apa yang kau

terima adalah melampaui dari apa yang telah dimiliki oleh Cundaka,

Kuda Sempana dan apalagi yang lain-lain. Sehingga menurut

perhitunganku, nanti apabila kau dapat memahami Aji Kala Bama

dengan baik, maka kau tidak akan lagi berada di bawah kakakkakak

seperguruanmu. Bahkan seandainya kakak-kakak

seperguruanmu, mungkin Kuda Sempana, mempunyai beberapa

kelebihan waktu daripadamu, dan seandainya ia menerima

beberapa petunjuk dan unsur-unsur gerak dari orang lain, maka kau

tidak perlu mencemaskan dirimu. Ketekunanmu selama ini memang

dapat dibanggakan. Apalagi kau selama ini tidak mempunyai

kesibukan lain daripada memperdalam ilmu di perguruanku ini.

Berbeda dengan Cundaka, pedagang keliling yang tamak dan Kuda

Sempana Pelayan Dalam yang gila itu.”

Sumekar tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya saja

memandang jari-jari kakinya yang seolah-olah dipulas oleh warna

yang hitam.

“Sumekar.“ terdengar suara Empu Sada lunak.

“Ya guru.“ sahut muridnya.

“Apakah kau sudah siap.”

“Sudah guru. Aku telah menyiapkan diri menurut ke mampuan

yang ada padaku.”

“Bagus. Kau cukup rendah hati dan tidak sombong. Kelebihanmu

dari kakak-kakakmu bukan saja pada ilmu dan un sur-unsur gerak,

tetapi juga pada sifat dan budimu. Aku tidak pernah menyinggung

masalah watak sebelumnya dengan kakak-kakak sebelummu.

Apabila mereka memenuhi syarat yang aku berikan, maka mereka

dapat segera menerima puncak ilmu itu. Tetapi ketahuilah, sebagai

seorang pedagang, meskipun aku memperdagangkan ilmu, maka

milikku pasti harus lebih baik dari milik orang lain. Ilmuku pun harus

lebih baik dari ilmu orang lain. Karena itu, maka tidak pernah aku

mencoba memberikan sebaik-baiknya kepada mereka. Aku memberi

seperti orang berjual beli. Sedikit mungkin untuk harga yang

semahal mungkin. Aku tidak pernah mempedulikan untuk apa saja

ilmu itu kelak. Tetapi kini tidak, Sumekar. Untuk pertama kalinya

aku berpesan kepada seorang muridku, bahwa ilmu hanya berguna

bagi pengabdian. Ilmu yang dipergunakan untuk hal-hal yang

sebaliknya, pasti akan berarti bencana. Bencana bagi manusia dan

kemanusiaan.”

Sumekar menjadi semakin tumungkul. Terasa kata-kata gurunya

itu seolah-olah menyusup ke dalam jantungnya. Dan tanpa

dikehendakinya sendiri, maka kepalanya pun mengangguk-angguk

kecil.

“Nah, Sumekar.“ berkata gurunya, “kini berdoalah di dalam hati.

Mulailah dengan kesiapan tertinggi untuk menerima Aji Kala Bama.

Kau sendirilah yang sebenarnya harus menghisap Aji itu sesuai

dengan pemusatan nalar dan rasa. Aku hanya akan menuntunmu.”

Sumekar membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian

terdengar ia berdesis, “Aku telah siap guru.”

Demikianlah maka keduanya kemudian tenggelam dalam

pengerahan segenap kemampuan lahir dan batin. Empu Sada telah

bertekad untuk menjadikan muridnya yang seorang ini sebagai

pewaris yang paling sempurna dari ilmunya. Penyesalan atas masa

lampau telah mendorongnya untuk berbuat sendiri yang seakanakan

ingin dipergunakannya untuk mengurangi kesalahan-kesalahan

itu. Ia mengharap bahwa muridnya yang seorang ini dapat

menerapkan ilmunya untuk kebajikan, seperti apa yang dilihatnya

atas murid-murid Panji Bojong Santi dan apalagi murid Empu Purwa.

Meskipun seandainya muridnya tidak akan dapat berbuat seperti

mereka, namun setidak-tidaknya muridnya tidak menyalah-gunakan

ilmu yang dimilikinya dan betapa kecilnya akan dapat menyerahkan

ilmu itu untuk suatu pengabdian.

Malam berjalan terus bintang-bintang di langit bergeser semakin

jauh ke barat, seperti permata yang bertaburan pada sebuah

permadani yang berputar pada bola langit yang bulat. Angin yang

basah mengalir lembut mengisap dedaunan yang nyenyak tertidur

berselimutkan embun.

Akhirnya, langit yang kelam itu menjadi semburat merah oleh

warna fajar. Perlahan-lahan cahaya yang memancar dari balik

cakrawala merayap semakin tinggi. Dan berhamburanlah kokok

ayam jantan di antara kicau burung-burung liar di fajar pagi.

Kedua murid Empu Sada pun kemudian terbangun dari tidurnya.

Seperti biasa mereka segera melakukan pekerjaan mereka.

Menimba air bersama para pelayan. Membersihkan halaman dan isi

rumah. Semula mereka tidak memperhatikan bahwa mereka tidak

segera menjumpai Sumekar di dalam rumah itu. Tetapi lambat laun

terasa sesuatu yang kurang.

“Dimanakah Kakang Sumekar?“ desis yang seorang.

Kawannya menggelengkan kepalanya. “Aku belum melihatnya.“

jawabnya.

Ketika kemudian mereka bertanya kepada para pelayan, maka

tak seorang pun yang melihatnya. Tak seorang pun yang mengerti

kemana anak muda itu pergi.

Tetapi, kedua murid Empu Sada itu melihat pintu bilik di halaman

belakang tertutup rapat. Karena itu maka berkata salah seorang dari

mereka. “Mungkin kakang Sumekar ada di dalamnya.”

Tetapi keduanya tidak yakin akan hal itu. Mereka sama sekali

tidak mendengar langkah apapun di dalam bilik itu. Bahkan bilik itu

seolah-olah sedang tertidur nyenyak meskipun matahari telah mulai

melepaskan sinarnya yang kekuning-kuningan.

“Mungkin kakang Sumekar tidur di dalamnya“ berkata salah

seorang dari mereka.

“Apakah guru juga pergi?”

Kawannya mengangkat bahu katanya. “Tak seorang pun yang

dapat mengatakan tentang guru. Apakah guru ada di rumah

ataukah sedang pergi.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka meneruskan kerja

mereka, membersihkan rumah dan halaman. Para pelayan pun

melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Tetapi kali ini Sumekar

tidak ada di antara mereka. Biasanya Sumekar lah yang memimpin

mereka dan memberi beberapa petunjuk tentang pekerjaan yang

harus mereka lakukan hari itu. Namun mereka tidak dapat

berpangku tangan, membiarkan padepokan itu terbengkalai karena

Sumekar tidak mereka temui.

Kedua murid Empu Sada itu semakin siang menjadi semakin

gelisah. Kalau Sumekar tidur di dalam bilik itu, ia pasti sudah

terbangun. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak berani

mengetuk pintu yang masih saja tertutup itu.

Sehari itu padepokan Empu Sada yang sunyi terasa menjadi

semakin sunyi. Kedua muridnya dan para pelayan hampir-hampir

tidak berbicara satu sama lain. Mereka lebih banyak merenung dan

menebak di dalam hati. Tetapi pintu bilik di halaman belakang itu

masih juga tertutup, dan mereka masih juga belum menemukan

Sumekar, apalagi guru mereka, Empu Sada.

Baru ketika matahari lingsir ke Barat menjelang senja, maka hati

kedua murid Empu Sada itu menjadi berdebar-debar. Mereka

melihat pintu bilik itu bergerak-gerak. Sejenak kemudian mereka

mendengar pintu itu bergerit.

Kedua murid Empu Sada itu tidak tahu kenapa mereka menjadi

berdebar-debar. Meskipun mereka tahu bahwa bilik itu memang bilik

yang khusus, tetapi kali ini mereka merasa hati beberapa perbedaan

dari hari-hari yang lampau. Mereka seakan-akan melihat, bahwa di

belakang pintu yang sedang bergerit itu tersembunyi sebuah rahasia

yang besar.

Ketika pintu itu terbuka dada kedua murid itupun berdesir.

Hampir tidak sabar mereka menunggu, siapakah yang berada di

dalam bilik itu.

Mereka menahan nafas ketika kemudian mereka melihat guru

mereka, Empu Sada melangkah keluar pintu dengan wajah yang

pucat. Tetapi ketika Empu Sada itu melihat kedua muridnya, maka

orang tua itu tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Kakakmu ada

di dalam bilik itu.”

Kedua muridnya termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud

gurunya. Apakah mereka harus masuk ke dalam bilik itu?

Tetapi keduanya tidak berani bertanya. Mereka hanya

memandang saja ketika gurunya berjalan perlahan-lahan masuk ke

dalam rumah.

“Apakah yang sudah terjadi?” bisik salah seorang dari mereka.

“Entahlah“ sahut yang lain.

“Marilah kita lihat.” ajak yang pertama.

Kawannya menjadi agak ragu-ragu. Tetapi kemudian mereka

melangkah memasuki bilik yang khusus mereka pergunakan untuk

berlatih.

Mereka tertegun ketika mereka melihat Sumekar sedang

mengemasi beberapa macam senjata. Beberapa macam benda yang

tidak mereka mengerti. Mereka melihat beberapa batang besi yang

melengkung dan beberapa senjata terpatah-patahkan. Di sudut

ruangan mereka melihat sebuah batu yang pecah berserakan.

“Apa Yang telah terjadi.“ tiba-tiba terloncat sebuah pertanyaan

dari salah seorang dari mereka.

“Tidak apa-apa.“ jawab Sumekar tersenyum. Ketika ia tegak

berdiri, maka kedua tangannya mengusap peluh yang membasahi

wajahnya.

Tiba-tiba salah seorang murid Empu Sada itu mengerutkan

keningnja. Batu-batu Yang pecah berserakan, senjata-senjata yang

patah dan keringat Sumekar Yang seakan-akan terperas dari dalam

tubuhnya ternyata telah memberinya petunjuk. Dengan suara

gemetar ia berdesis, “Kala Bama.”

Sumekar berpaling kearah adik seperguruannya itu. Tampaklah

wajahnya berkerut. Tetapi kemudian ia berdesis, “Ya. Tetapi jangan

membual.”

“Tidak.“ jawabnya, “berbahagialah kakang Sumekar yang telah

mendapat kesempatan memiliki Aji Kala Bama.”

“Pada saatnya kalian pun akan memilikinya pula.”

Kuda murid Empu Sada itu menggelengkan kepalanya. Dengan

wajah Yang suram salah seorang berkata, “Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Aku tidak akan dapat menyediakan syarat yang diminta oleh

guru untuk itu.”

Sumekar mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia tersenyum.

“Tidak. Syarat itu tidak akan memberatimu lagi.”

Kedua murid Empu Sada Yang muda itu saling berpandangan.

Tetapi mereka tidak tahu maksud kata-kata Sumekar.

“Marilah.“ berkata Sumekar, “bantulah aku membersihkan tempat

ini.”

Kedua adik seperguruannya itu segera membantu membersihkan

tempat itu. Namun hampir-hampir tidak dapat mereka mengerti,

bahwa apa yang terjadi itu sama sekali tidak menimbulkan suara

sedikit pun. Demikian tajamnya pertanyaan itu membelit hatinya,

sehingga salah seorang dari mereka tanpa lesadarnya bertanya,

“Kakang, bagaimana mungkin hal ini terjadi tanpa suara?”

“Ah, tentu saja apa yang terjadi ini menimbulkan suara yang

amat ribut.”

“Tetapi kami tidak mendengarnya.”

“Kau masih tidur.“ sahut Sumekar. “semuanya terjadi sebelum

fajar. Sesudah itu aku pun menjadi pingsan hampir sehari penuh.”

Kembali kedua adik seperguruan Sumekar itu saling

berpandangan. “Pingsan hampir sepanjang hari.“ desis mereka di

dalam hati. Dengan demikian mereka dapat membayangkan betapa

beratnya saat-saat yang harus dilewati selama seseorang menerima

puncak tertinggi ilmu dari perguruan Empu Sada.

Sejenak kemudian Sumekar itu pun berkata, “Belajarlah dengan

tekun. Menerima ilmu tertinggi itu benar-benar memerlukan

kesiapan yang cukup. Lahir dan batin.”

Kedua adik-adik seperguruan Sumekar itu pun menganggukanggukkan

kepalanya. Dan Sumekar berkata seterusnya,

“Perguruan Empu Sada kini telah berubah warnanya. Bukan

perguruan yang dahulu. Dari perguruan ini untuk seterusnya harus

memancar kebajikan. Ilmu yang kalian terima harus menjadi pelita

bagi mereka yang kegelapan, bukan sebaliknya. Dan pelita itu harus

bersinar terang. Bukan pelita yang ditutup di bawah belanga.

Betapapun terangnya pelita itu, namun sinarnya yang tertutup sama

sekali tidak berarti. Tetapi pelita, itu harus menyala, bersinar dan

menerangi keadaan di sekitarnya.”

Kedua adik seperguruan Sumekar itu ternganga-nganga

mendengar keterangan kakaknya. Mereka belum pernah mendengar

hal-hal yang demikian sebelumnya. Mereka hanya sekedar

menerima petunjuk mengenai beberapa macam ilmu gerak

menirukan dan memahami. Kemudian setiap kali, pada saatnya,

mereka harus menyerahkan uang atau benda-benda berharga.

Kalau tidak, maka mereka pun harus berhenti. Tak ada lagi

tambahan ilmu yang akan mereka terima. Itu saja.

Sementara itu Empu Sada telah berada di dalam biliknya. Terasa

betapa sepi dunianya. Namun setelah ia memberikan ilmu tertinggi

kepada muridnya, terasa bahwa dadanya menjadi agak lapang. Ia

sendiri tidak tahu, kenapa ia seakan-akan didorong dalam suatu

keharusan untuk dengan segera mewariskan ilmunya. Bahkan tidak

saja seperti yang pernah diberikannya kepada murid-muridnya yang

lain, maka Sumekar telah menerima lebih banyak dari mereka.

Betapa lelahnya lahir dan batin, maka anak muda itu jatuh pingsan

hampir sehari penuh.

Kini dada Empu Sada menjadi lapang. Lapang tetapi sepi, seperti

sepinya Padang rumput Karautan Yang luas. Orang tua itu berkalikali

menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya, maka

direbahkannya dirinya di pembaringannya. Ia pun merasa lelah

sekali, setelah dengan penuh kesungguhan diturunkannya ilmu

terakhirnya kepada Sumekar.

Tetapi dalam kesepian itu tumbuhlah segenap kenangan masa

lampaunya. Seorang demi seorang datang dan pergi dari anganangannya.

Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika terbayang

kembali betapa ia dikecewakan oleh seorang gadis Yang bernama

Jun Rumanti.

“Aku menjadi kehilangan keseimbangan.“ desisnya, “dan lahirlah

seorang Empu Sada yang telah mengotori jagad.”

Empu Sada menggigit bibirnya. Alangkah cupet budinya.

Perbuatannya benar-benar telah tersesat. “Kita bersama-sama telah

hancur,“ desahnya kemudian, “aku, Jun Rumanti dan suaminya

yang meninggal itu.”

“Tetapi.“ tiba-tiba Empu Sada bangkit, “Jun Rumanti telah

melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang baik, yang

telah berbuat kebajikan. Lalu apa yang dapat aku lahirkan? Anak

tidak, tingkah laku pun tidak. Apalagi pengalaman terhadap manusia

dan kemanusiaan.”

Empu Sada itu termenung sejenak. “Aku baru mencoba,“ katanya

di dalam hati, “mudah-mudahan Sumekar itu dapat berbuat baik

seperti Mahisa Agni.”

Angan-angan orang tua itu pun kini seakan-akan terhisap di

seputar Mahisa Agni. Kembali terbayang anak muda itu merayap

masuk kedalam perangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Anak itu anak Jun Rumanti.“ desisnya, “kalau aku tahu

sebelumnya.”

“Tetapi mudah-mudahan aku belum terlambat.“ tiba-tiba orang

tua itupun meloncat dari pembaringannya, “alangkah bodohnya aku.

Kenapa aku berbaring saja di pembaringan, sedang bahaya yang

sebenarnya telah siap menerkam anak itu?”

Sejenak Empu Sada menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan

kehadiranku akan disambut oleh para prajurit Tumapel di Padang

Karautan.”

“Tidak, aku akan pergi ke Panawijen. Mudah-mudahan tidak

terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni.”

Empu Sada itu pun kemudian membulatkan hatinya. Disadarinya

bahwa sebenarnya kegelisahan telah mencengkamnya sejak ia

bermaksud menemui Ken Dedes di istana, apalagi setelah

diketahuinya bahwa Mahisa Agni adalah anak Jun Rumanti.

Empu Sada itu pun kemudian membenahi dirinya. Dihirupnya

semangkuk air hangat yang disediakan untuknya dan dimakannya

beberapa suap nasi. Terasa betapa nikmatnya setelah ia bekerja

keras lebih dari sehari penuh. Dikenyamnya makanan itu dengan

sepenuh minat. “Alangkah enaknya makanan ini dan alangkah

segarnya air padepokanku.”

Sejenak kemudian Empu Sada meraih tongkat panjangnya.

Dibelainya tongkat itu seperti membelai kekasih. Perlahan-lahan ia

melangkah keluar biliknya.

“Aneh,“ desisnya, “berpuluh tahun aku tinggal di padepokan ini,

tetapi seakan-akan aku menjadi orang asing di sini.”

Diamatinya setiap bagian rumahnya. Rumah yang didiaminya

sejak lama. Tetapi seakan-akan ia belum pernah melihatnya. Ukiran

pada pangkal tiang. tlundak dan ajuk-ajuk yang disungging dengan

warna-warna yang cerah. Lampu dinding dan lampu gantung.

“O, rumah ini rumah yang cukup baik.“ pikirnya. Tiba-tiba Empu

Sada ingat pada kekayaannya yang tersimpan di bilik sebelah, di

dalam lubang yang hanya diketahuinya sendiri. Peti yang

disandingnya sama sekali bukanlah kekayaan yang sebenarnya.

“Aku sudah tidak memerlukannya lagi.“ desisnya. ”Aku sudah

tidak memerlukan kekayaan duniawi. Ternyata benda-benda itu

tidak dapat memberi aku apa-apa.”

Karena itu maka dipanggilnya Sumekar. Diajaknya anak muda itu

berbicara seorang diri.

“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “hari ini aku akan pergi.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Dengan bimbang ia bertanya,

“Kemana guru?”

“Ah, apakah kau pernah mengetahui kemana aku pergi?”

“Kadang-kadang guru.”

“Ya, kadang-kadang aku memberitahu kepadamu kemana aku

pergi, tetapi sebagian besar dari pengembaraanku, tak seorang

muridku pun yang mengetahuinya.”

Sumekar tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalamdalam.

“Sumekar.“ berkala gurunya kemudian, “kau adalah penerus dari

padepokan Empu Sada. Kalau aku lambat kembali, atau bahkan

tidak kembali sama sekali, maka kau lah yang wajib meneruskan

tata kehidupan di padepokan ini. Kau harus mangerti apa yang

sebaiknya dilakukan. Kau harus mulai mengenali musim untuk

menanami sawah. Kau harus mengenal mangsa dan wataknya.

Bukan saja ilmu beladiri dan olah kanuragan. Para pembantumu

harus selalu bekerja dengan baik dan rajin.”

Sumekar menjadi heran mendengar pesan gurunya. Tanpa

disadarinya sekali lagi ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”

Empu Sada memandangi wajah anak muda itu. Ia melihat sorot

mata yang tulus. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya. Karena

itu maka jawabnya, “Aku akan pergi seperti aku pergi di waktuwaktu

yang lalu. Tetapi kali ini aku mempunyai kepentingan yang

lain. Aku tidak lagi ingin mendapatkan benda berharga. Ternyata

benda-benda berharga, kekayaan dan mas picis itu sama sekali

tidak memberi apa-apa kepadaku. Aku masih tetap seorang

pengembara, yang hampir setiap hari menanggung lapar dan haus

diperjalanan. Aku masih juga tetap seorang yang berpakaian kumal

seperti ini. Aku tidak mengenakan timang tretes berlian, tidak

menyelipkan keris berwrangka emas dan ditaburi oleh permata.

Tidak memakai kampuh yang diwarnai dengan gemerlapnya prada.

Tidak. Sehingga karena itu maka apa yang aku cari selama ini

ternyata tidak berarti apa-apa bagiku.”

Sumekar menjadi semakin tunduk. Dirasakannya bahwa diantara

kata-kata gurunya itu terselip suatu penjesalan yang tiada taranya.

“Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “ternyata aku telah

keliru mencari bekal dalam hidupku. Aku sangka emas picis raja

brana itu akan memberiku ketentraman dan kebahagiaan. Tetapi

ternyata bukan. Bukan itu Sumekar. Mungkin kekayaan akan dapat

menjadi salah satu syarat untuk menemukan ketentraman dan

kebahagiaan, namun apa bila syarat itu berubah menjadi tujuan,

maka hidup kitapun akan jatuh kedalam genggamannya. Maka akan

celakalah kita karenanya. Aku adalah contoh yang paling dekat

Sumekar. Aku hidup dalam perbudakan yang aku jeratkan sendiri

keleherku. Aku menjadi liar dan buas untuk mendapatkan harta

kekayaan, sedang harta kekayaan itu sama sekali tidak berguna

bagiku.“

Empu Sada berhenti sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang

tunduk. Sejenak kemudian Empu Sada itu meneruskan, “Bukankah

kau lihat Sumekar bahwa kekayaanku tidak memberi aku apa-apa.

Jasmaniah apa lagi rokhaniah. Nah, kenanglah apa yang terjadi

atasku. Mudah-mudahan akan dapat menjadi petunjuk bagi

hidupmu kelak.”

Sekali lagi Empu Sada berhenti. Tatapan matanya kini menjadi

kian pudar. Lalu katanya, “Meskipun telah terlambat Sumekar, aku

kini ingin mendapat bekal yang lain. Aku sudah terlambat. Aku

sudah tua. Aku harus menemukan sesuatu yang berarti dalam

hidupku betapapun kecilnya. Ternyata kekayaan yang terbaik di

dalam hidup ini adalah hubungan yang erat antara kita dengan Yang

Maha Agung. Hubungan yang paling mesra indah ketentraman dan

kebahagiaan sejati.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata gurunya itu

meresap langsung ke dalam kalbunya. Sentuhan-sentuhan yang

menggeser hatinya telah menumbuhkan pahatan yang dalam. Yang

tidak mudah terhapus oleh sentuhan-sentuhan yang lain.

“Karena itu Sumekar.“ berkata gurunya lebih lanjut, “aku

menganggap bahwa apa yang aku miliki selama ini sama sekali tidak

berarti lagi bagiku. Semuanya akan aku serahkan kepadamu.

Terserahlah, apa yang akan kau perbuat dengan semuanya itu.

Mungkin kau akan dapat membangun sesuatu yang berarti bagi

padepokan ini, atau mungkin kau merasa perlu untuk menolong

orang-orang miskin di sekitar kita, atau apapun yang kau anggap

perlu. Apabila kau mengenal pemiliknya, alangkah senang hatiku

kalau kau sempat mengembalikan kepadanya.”

Sumekar mengangkat wajahnya. Ia tidak begitu mengerti

maksud kata-kata gurunya itu, sehingga gurunya menjelaskan,

“Sumekar, semua kekayaan yang pernah aku dapatkan dengan jalan

apapun, kini aku serahkan saja kepadamu untuk keperluan yang kau

anggap penting sesuai dengan pendirianmu.”

Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa

gurunya menyimpan kekayaan tiada taranya. Sekarang kekayaan itu

diserahkannya kepadanya, tetapi dengan pesan yang mengikatnya.

Tetapi pesan itu telah membesarkan hatinya. Karena itu maka

Sumekar itu berkata dengan tajimnya. “Terima kasih atas

kepercayaan itu guru. Mudah-mudahan aku akan dapat melakukan

pesan yang guru berikan. Mudah-mudahan akupun tidak akan jatuh

ke dalam cengkeramannya. Memperhambakan diri kepada harta

benda itu.”

“Aku percaya kepadamu Sumekar, apalagi setelah kau melihat

sendiri contoh yang paling baik yang dapat kau saksikan.”

Sumekar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Mudahmudahan

guru. Mudah-mudahan yang Maha Agung selalu memberi

sinar terang di dalam hatiku.”

Empu Sada pun kemudian mengajak Sumekar masuk ke dalam

biliknya. Ditunjukkan segala rahasia yang selama ini seakan-akan

hanya diketahuinya sendiri. Ditunjukkannya celah dan lubanglubang

tempat harta bendanya tersimpan.

Meskipun Sumekar telah menyangkanya, tetapi ketika ia sempat

melihat sendiri apa yang disimpan gurunya, darahnya seakan-akan

membeku karenanya.

Sesaat ia berdiri seperti patung. Sekali-sekali dipejamkannya

matanya seakan-akan ia tidak yakin atas apa yang dilihatnya.

“Jangan heran.” berkata gurunya, “ini adalah ujud dari bencana

yang selama ini membelengguku. Kini aku menjadi gembira dan

berterima kasih kepada Yang Maha Agung yang telah membebaskan

aku dari padanya.”

Sumekar tidak menjawab. Matanya masih melekat pada bendabenda

yang berkilauaan itu.

“Sisihkan milik Kuda Sempana. Aku masih mengharap ia kembali

kepadaku. Aku akan mencoba membebaskannya dari belenggu yang

dijeratkannya sendiri pula. Meskipun bentuknya agak berbeda,

tetapi kedua-duanya dikendalikan oleh nafsu duniawi. Kuda

Sempana pun telah dicekik oleh nafsunya. Nafsu memiliki seorang

gadis cantik yang bernama Ken Dedes. Meskipun ujudnya tidak

sama dengan benda-benda yang telah menjeratkan, namun

wataknya tidak jauh berbeda. Kedua-duanya digerakkan oleh nafsu

duniawi.”

Sumekar masih berdiam diri, tetapi ia mengangguk-anggukkan

kepalanya.

“Kalau Kuda Sempana kelak menyadari keadaannya, maka

barang-barangnya itu akan dapat sedikit menghiburnya.”

Empu Sada berhenti sejenak, lalu katanya, “Apakah kau mengerti

maksudku Sumekar.”

“Ya guru,“ jawab Sumekar, “aku mengerti.”

“Baik. Manfaatkan harta benda ini untuk kepentingan sesama.

Dengan demikian, aku akan dapat pergi dengan dada yang lapang.

Aku kini merasa bahwa tanganku telah lepas dari belenggu yang

selama ini menjeratku. Aku kini menjadi manusia yang bebas.

Dalam sisa-sisa umurku aku akan berusaha untuk menjadikan

hidupku berarti, berarti bagi sesama betapapun kecil arti itu.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi tanpa

sesadarnya ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”

“Pertanyaanmu telah kau ucapkan untuk ketiga kalinya Sumekar.

Maaf, aku tidak dapat menjawab, karena aku sendiri belum

menentukan sikap. Kemana dan untuk apa aku pergi.”

Sumekar menggigit bibirnya. Ia merasa bahwa pertanyaanya itu

agak mengganggu gurunya. Sebelumnya ia sama sekali tidak

bernafsu untuk mengetahui kemanakah gurunya akan pergi. Sekali

dua kali ia mengucapkan pertanyaan serupa itu. Tetapi pertanyaan

itu meluncur saja dari bibirnya tanpa suatu maksud. Pertanyaan itu

diucapkannya hanya sekedar untuk memperpantas sikap. Tetapi kini

anak muda itu benar-benar ingin tahu, kemanakah gurunya akan

pergi. Namun sayang, gurunya tidak memberitahukannya.

“Sumekar.“ berkata Empu Sada, “kau kini menjadi wakilku. Wakil

dalam segala persoalan. Kau jugalah yang harus menuntun adikadik

seperguruanmu. Tetapi ingat, tuntunlah ia lahir dan batinnya.

Bahkan seandainya ada kakak-kakak sepergurumu yang

berkepentingan dengan padepokan ini, maka segala persoalannya

harus kau terima sebagai wakilku. Kalau aku lambat kembali atau

tidak kembali sama sekali, kembangkanlah nama padepokan ini

sebaik-baiknya. Kau mengerti?”

Sumekar mengangguk, jawabnya, “Ya guru.”

“Terima kasih,“ sahut gurunya, “aku percaya kepadamu.”

“Tetapi,“ berkata Sumekar kemudian, “apakah yang dapat aku

lakukan terhadap kakak-kakak seperguruanku? Mereka tahu siapa

aku dan mereka merasa bahwa mereka lebih berhak untuk berbuat

seperti itu.”

“Tetapi aku pun berhak menentukan siapakah yang aku percaya

untuk mewakili aku.” sahut gurunya, “Sumekar, meskipun kau masih

muda, tetapi kau aku anggap mencukupi syarat untuk berbuat

demikian. Seandainya ada yang mencoba memaksakan

kehendaknya, maka kau pun dapat bertahan atas sikap itu, bahkan

seandainya dengan kekerasan sekalipun. Tak seorang pun yang

dapat aku percaya menerima harta benda sebanyak ini tetapi tidak

untuk dirinya sendiri, selain kau.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tugas itu bukan tugas

Yang ringan. Namun gurunya berkata selanjutnya, “Baiklah. Kalau

kau memerlukan bukti kepercayaanku. Tongkatku akan aku

tinggalkan untukmu, sebagai pertanda bahwa aku telah

menyerahkan segala sesuatunya kepadamu.”

Sekali lagi darah Sumekar terasa berhenti mengalir. Agaknya

gurunya benar-benar telah melepaskan padepokan ini. Terasa oleh

anak muda itu, seakan-akan pertemuannya dengan gurunya kali ini

adalah kali yang terakhir.

Ketika gurunya menyerahkan tongkatnya, maka Sumekar

menerimanya dengan tangan gemetar. Tetapi sentuhan tangannya

pada tongkat itu merasakan, bahwa tangan gurunya pun gemetar

pula.

Ternyata Empu Sada merasakan sebuah goncangan pada

perasaannya pada saat tongkat itu lepas dari tangannya. Tongkat

itu adalah ciri dirinya dan juga senjatanya. Seorang yang bertongkat

panjang adalah seorang yang bernama Empu Sada, seperti Panji

Bodjong Santi dengan kasa kulit harimaunya, seperti Empu Gandring

dengan keris raksasanya. Dan kini tongkat itu lepas dari tangannya.

Namun untuk suatu, kepentingan yang tidak kalah besarnya dari

setiap kepentingan yang akan dihadapinya.

“Guru.“ desis Sumekar setelah ia menerima tongkat, “aku hanya

dapat mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi bagaimana dengan

guru sendiri? Bukankah tongkat ini ciri kebesaran guru dan

merupakan senjata guru pula.”

Empu Sada tersenyum. Tetapi senyumnya membayang seperti

bulan disaput awan. Suram.

“Aku tidak memerlukannya lagi Sumekar. Aku tidak ingin lagi

mempergunakan akan senjata untuk menimbun harta benda yang

tidak berarti apa-apa dalam hidupku. Aku tidak lagi ingin

memamerkan namaku yang kotor itu lewat tongkatku. Bahkan aku

ingin kalau aku dapat meninggalkankan bahkan melupakan masamasa

lampauku, apabila mungkin.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. la merasakan keanehan

sikap gurunya. Sikap itu bukan sekedar sikap penjesalan, tetapi

sikap itu telah sangat merisaukannya.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang terdengar kemudian

adalah nafas Sumekar yang terengah-engah.

Di luar bilik Empu Sada terdengar kedua murid Empu Sada yang

lain terbatuk-batuk. Mereka sedang menyalakan lampu-lampu di

dalam rumah. Tetapi mereka tidak berani masuk kedalam bilik

gurunya, seperti setiap hari. Yang berani masuk kedalam bilik itu

hanya Sumekar selain gurunya sendiri. Hanya apabila perlu sekali

seorang dua orang berani dengan tergesa-gesa.

“Sumekar.“ berkata Empu Sada kemudian, “ternyata hari telah

terlampau gelap. Ambillah pelita dan terangilah bilik ini. Untuk

seterusnya bilik ini adalah bilikmu sambil menjaga semua harta

benda itu, sampai suatu ketika harta benda itu habis terbagi dan

jatuh ketangan yang benar memerlukannya.”

Kali ini Sumekar tidak dapat lagi menahan pertanyaannya

meskipun ia ragu-ragu mengucapkannya. “Guru, kenapa guru

merasa bahwa guru akan lambat kembali dan bahkan mungkin tidak

kembali sama sekali.”

Sekali lagi Empu Sada tersenyum. Senyum yang suram. Katanya,

“Aku tidak tahu. Jangan tanyakan itu lagi. Sekarang, pasanglah

pelita, dan seterusnya aku akan pergi meninggalkan padepokan ini.”

“Guru.“ potong Sumekar.

“Jangan bertanya lagi. Lakukan perintahku. Ambillah pelita. Bilik

ini telah terlampau gelap.”

Sumekar tidak berani bertanya lagi. Betapa hatinya diliputi oleh

seribu satu macam pertanyaan, namun ia tidak berani

mengucapkannya. Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Di

luar bilik di ruang dalam telah terpasang lampu dinding. Nyala

apinya bergetar karena angin yang menyusup lubang-lubang

dinding.

Sumekar pergi kebelakang untuk mengambil pelita yang setiap

hari dipasangnya di bilik Empu Sada. Ternyata pelita itu telah

menyala. Ketika ia mengambil pelita itu, terdengar adik

seperguruannya bertanya, “Kakang, apakah yang kau bicarakan

dengan guru? Apakah penting sekali?”

Sumekar menggeleng, “tidak. Tidak ada apa-apa.”

Tetapi wajah adik seperguruannya masih saja dibayangi oleh

keinginannya untuk mengetahui serba sedikit apakah yang sedang

mereka bicarakan.

“Aku merasa, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar,“ desah salah

seorang adik seperguruannya itu.

“Tidak apa-apa.“ sahut Sumekar, “adalah soal biasa saja yang

dipesankan guru kepadaku. Rajin bekerja, tekun berlatih dan tidak

melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.”

Kedua adik ieperguruannya itu mengerutkan keningnya. Pesan itu

tidak pernah didengarnya. Tetapi ketika mereka akan bertanya lagi,

Sumekar berkata, “Nanti sajalah kita berbicara. Guru menunggu di

dalam bilik yang terlampau gelap.”

“Pelita itu telah lama terpasang.“ sahut salah seorang adik

seperguruannya, “tetapi aku tidak berani membawanya masuk ke

dalam bilik guru.”

Sumekar tersenyum, meskipun senyumnya tidak terlampau.

Dengan pelita di tangan Sumekar berjalan masuk kembali ke

dalam rumah, kemudian ke dalam bilik gurunya. Tetapi ketika ia

sampai kedalam bilik itu, gurunya tidak dijumpainya di dalam. Yang

ada di dalam bilik itu hanyalah tongkatnya saja yang telah

diserahkannya kepadanya.

“Kemanakah Empu Sada.“ desis Sumekar didalam hatinya. Tetapi

Sumekar tidak segera mencarinya.

Disangkanya gurunya sedang pergi keluar sebentar. Tetapi

ternyata gurunya tidak segera ditemuinya kembali ke dalam biliknya.

Sejenak ia menunggu, tetapi gurunya belum juga datang.

Betapa terkejut anak muda itu ketika tiba-tiba ia mendengar kaki

kuda berderap. Dengan sigapnya ia meloncat langsung liwat pintu

depan. Dan apa yang dilihatnya benar-benar telah menghentikan

arus darahnya. Ia melihat gurunya berpacu di atas kudanya.

“Guru.“ teriak Sumekar.

Gurunya berpaling. Ditariknya kekang kudanya untuk

memperlambat derap kakinya. Masih di atas punggung kuda orang

tua itu berkata, “Selamat tinggal Sumekar. Kaulah kini ketua

padepokan ini. Kerjakanlah pesanku selama aku pergi, atau bahkan

apabila aku tidak kembali lagi.”

“Guru.“ banyak yang akan diteriakkannya, tetapi yang terloncat

dari mulutnya hanyalah satu kata.

Sumekar masih melihat gurunya tersenyum. Namun sejenak

kemudian kuda yang ditumpanginya meloncat keluar regol halaman.

Dan hilanglah gurunya dari pandangan matanya.

Sejenak Sumekar berdiri mematung. Berbagai perasaan

berkecamuk di dalam hatinya. Ia melihat gurunya pada saat-saat

terakhir seperti orang asing yang baru dikenalnya. Perubahan sikap

dan perbuatannya benar-benar telah membingungkannya. Hampirhampir

ia tidak percaya, bahwa orang yang sedang melarikan

kudanya itu adalah Empu Sada yang sebelumnya pernah

menuntunnya dalam ilmu tata beladiri. Seandainya kemudian orang

itu memberinya ilmu tertinggi, Kala Bama, maka mungkin ia tidak

lagi percaya bahwa orang itu adalah Empu Sada.

Tetapi Empu Sada itu telah pergi.

Apapun yang pernah dilakukan, namun orang itu adalah gurunya.

Telah bertahun-tahun ia berada di dalam padepokan itu sebagai

seorang murid. Bahkan seandainya Empu Sada itu tidak berubah

pada saat-saat terakhir, namun ia tidak dapat mengingkarinya

bahwa ia pernah berguru kepadanya. Dan ia tidak tahu, kenapa ia

terdampar kedalam perguruan itu meskipun ia tahu sebelumnya,

bahwa hidup gurunya diliputi oleh suatu rahasia yang kelam.

Sumekar itu tersadar ketika ia mendengar salah seorang adik

seperguruannya bertanya, “Kakang, apakah guru pergi?”

Sumekar berpaling. Dilihatnya dua anak-anak yang masih sangat

muda. Ditariknya nafas panjang-panjang. Jawabnya, “Ya. Guru telah

pergi.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Pandangan mata mereka

masih saja melekat pada regol halaman. Tetapi mereka sudah tidak

melihat sesuatu. Hanya pelita yang redup sajalah yang masih

tergantung dan bergoyang ditiup angin.

Malam menjadi semakin sepi. Yang terdengar adalah pertanyaan

adik seperguruan Sumekar, “Kemanakah guru pergi?”

Sumekar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Ketika Sumekar berpaling memandang kedua adik

seperguruannya itu dilihatnya bahwa kedua wajah itu menjadi

keheran-heranan mendengar jawaban Sumekar, sehingga Sumekar

merasa perlu untuk menjelaskan, “Sebenarnyalah aku tidak tahu

kemana guru pergi. Bukankah aku baru saja mengambil pelita dari

belakang? Ketika aku kembali ke dalam bilik, ternyata guru telah

tidak ada di dalam. Aku sangka bahwa guru hanya keluar sebentar.

Tetapi yang aku dengar adalah derap seekor kuda.”

Kedua adik seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Meskipun mereka masih juga diliputi oleh keheranan.

Bahkan Sumekar itu tanpa dikehendakinya sendiri bergumam

lirih, “Mungkin guru akan sangat lambat kembali atau bahkan tidak

sama sekali.”

“He,“ kedua adik seperguruannya itu terkerljut. “Apakah guru

tidak akan kembali?”

Kini Sumekar lah yang terkejut. Sejenak ia terdiam, namun

kemudian terpatah-patah ia menjawab, “Maksudku, guru belum

pasti kapan akan kembali.”

“Dari mana kakang tahu?”

Sekali lagi Sumekar tergagap. Namun kemudian jawabnya, “Guru

mengatakannya dari atas punggung kuda.”

Kedua adik seperguruannya itupun mengangguk-anggukkan

kepadanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya aku mendengar

lamat-lamat. Mungkin guru tidak kembali.”

Wajah kedua anak-anak muda itupun menjadi suram, seperti

Sumekar merekapun tahu bahwa gurunya adalah seorang yang

diliputi oleh seribu macam rahasia. Bahkan kedua anak-anak itu

merasa bahwa mereka tidak akan dapat sampai tangga tertinggi

dari perguruan Empu Sada karena syarat-syarat yang harus

disediakan tidak akan pernah mencukupi. Tetapi meskipun demikian

kepergian gurunya itu mempengaruhi perasaannya juga. Mereka

pun merasakan kesedihan pada saat perpisahan yang aneh.

Dalam pada itu, Empu Sada sendiri berpacu di dalam gelap.

Dilepaskan segelap himpitan perasaannya dengan berpacu seperti

dikejar hantu. Disentuhnya setiap kali perut kudanya yang meloncat

semakin lama semakin cepat.

Orang tua itu ingin segera menjauhi padepokannya. Ia takut

kalau padepokan yang telah didiaminya berpuluh tahun itu akan

menariknya kembali. Dengan sepenuh hati ia berusaha memutuskan

hubungan antara dirinya dengan padepokannya. Ia sendiri tidak

tahu, kenapa ia berusaha berbuat seperti itu.

Angin malam yang dingin terasa semakin kencang mengusap

tubuh Empu tua yang sedang melarikan kudanya itu. Sekali-sekali

terdengar orang tua itu berdesah.

Ketika ia berpaling, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah

dinding hitam kelam yang seakan-akan berlari secepat lari kudanya,

mengikutinya dibelakang. Tetapi disawah-sawah di sisi jalan orang

tua itu melihat berjuta-juta kunang-kunang yang berkeredipan,

seakan-akan bersaing dengan bintang yang bertaburan di wajah

langit yang biru pekat.

Empu Sada bahkan semakin mempercepat kudanya. Kini Empu

Sada mencoba melupakan padepokannya. Yang dihadapinya adalah

sebuah perjalanan ke Panawijen. Ia merasa langkah kaki kudanya

itu terlampau lambat.

“Mudah-mudahan aku tidak terlambat.“ katanya di dalam hati.

Ketika kudanya telah meninggalkan lingkungan tanah

persawahan padepokannya, maka Empu Sada berhasil melepaskan

kenangannya atas padepokannya itu.

Dicobanya untuk membayangkan apa yang akan terjadi, dan apa

saja yang dapat dikerjakan. Tetapi apabila ia terlambat dan Mahisa

Agni mengalami sesuatu, maka ia telah ikut serta menjerumuskan

anak Jun Rumanti itu ke dalam bencana.

Karena itu maka Empu Sada itu memacu kudanya lebih cepat.

Seakan-akan didengarnya kembali kedua orang prajurit Tumapel

yang bertugas di Padang Karautan itu berceritera tentang beberapa

lumbung yang terbakar di Panawijen. Peristiwa itu seakan

tergambar jelas di dalam angan-angannya. Semakin

direnungkannya, maka iapun menjadi semakin yakin bahwa itu

hanyalah sekedar akal Kebo Sindet untuk memancing Mahisa Agni.

Sebenarnyalah bahwa apa yang terjadi adalah demikian. Sebelum

kedua prajurit Tumapel kembali menghadap Akuwu untuk

memberikan beberapa laporan, maka datanglah dua orang tua

kePadang Karautan memberitahukan bahwa Panawijen tumbuh

kebakaran.

Tetapi kebakaran itu bukanlah kebetulan saja terjadi. Kebakaran

yang terjadi dengan tiba-tiba itu ternyata telah digarap oleh tangan

yang licik.

Setelah melihat setiap kemungkinan, dan setelah mengenal

berapa persoalan lebih banyak lagi atas Mahisa Agni, Panawidjen

dan Kuda Sempana sendiri, maka Kebo Sintlet telah menemukan

sebuah cara untuk menjebak Mahisa Agni.

Demikian mahalnya Mahisa Agni bagi kedua iblis itu, maka segala

cara telah dilakukan untuk menjeratnya. Bagi mereka, Mahisa Agni

akan merupakan sebuah barang yang sangat berharga. Ia adalah

kakak seorang gadis yang sebentar lagi akan naik jenjang

perkawinan. Tidak dengan sembarang orang, tetapi dengan Akuwu

Tumapel. Bukankah Mahisa Agni akan dapat menjadi barang

taruhan untuk mendapatkan harta benda yang tidak ternilai

banyaknya.

Pada saat kedua bersaudara itu menemukan caranya, maka

keduanya menjadi sangat bergembira, seakan-akan Mahisa Agni

telah berada ditangannya. Keduanya menganggap bahwa Mahisa

Agni mempunyai kedudukan yang penting pada saat-saat

perkawinan, sebagai kakak gadis bakal permaisuri itu. Meskipun

Akuwu dapat mempergunakan kekuasaanya untuk berbuat seperti

yang dikehendaki, namun manurut peristiwa yang pernah terjadi,

Ken Dedes merasa sangat terikat kepada kakaknya, sehingga

apabila mungkin, maka segala usaha pasti akan dilakukan untuk

menyelamatkannya.

“Kalau usaha itu gagal,” berkata Wong Sarimpat, “kita masih

dapat memaksa Kuda Sempana untuk memberi seluruh

kekayaannya kepada kita.”

“Huh, apakah kekayaan kelinci itu cukup banyak.” sahut Kebo

Sindet, “pekerjaan kita ini tidak boleh gagal.”

Dengan rencana itu, maka pergilah kedua hantu dari

Kemundungan itu ke Panawijen. Mereka telah membawa Kuda

Sampana serta. Dangan segala macam akal, mereka telah

membujuk Kuda Sempana untuk membatunya.

“Jangan kau bawa-bawa ayahku pula.” katanya.

Mendengar permintaan itu Wong Sarimpat tertawa terbahakbahak

sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Katanya, “Apakah

salahnya seorang ayah membantu anaknya untuk mencapai citacitanya.

Bukankah wanita sama nilainya dengan pusaka cita-cita.”

“Tetapi aku sudah cukup dewasa. Dan bukankah paman berdua

adalah dua orang yang tidak ada tandingnya. Karena itu, jangan

ayahku dibawa-bawa. Ia sudah cukup menderita melihat tingkah

lakuku selama ini.”

“He,” Kebo Sindet memandangi wajah Kuda Sempana dengan

tajamnya. Meskipun wajahnya yang mati itu tidak bergerak, tetapi

sorot matanya seakan-akan langsung menembus dada.

“Kuda Sempana.” Berkata Kebo Sindet dengan nada yang berat,

“memang aku bermaksud minta kepada ayahmu untuk menolong

kita. Tetapi percayalah bahwa ia tidak akan banyak tersangkut. Ia

hanya akan berbuat sedikit.”

“Apakah yang harus dilakukan?”

“Memberitahu Mahisa Agni, bahwa di Panawijen timbul

kebakaran.”

“He.” Kuda Sempana terkejut, “apakah paman akan membakar

Panawijen.”

“Ya.”

Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Betapa gelap hatinya,

namun ia anak Panawijen sejak lahir. Panawijen Yang kini telah

menjadi kering itu akan dibakar. Alangkah mengerikan.

“Bagaimana pertimbanganmu?”

“Mengerikan.” desisnya.

Kembali terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak.

Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Kau benar-benar anak

cengeng. Kau sudah basah di tengah-tengah banjir. Kau tidak akan

dapat kembali, sebab bagimu akibatnya tidak ada bedanya.”

“Tetapi tidak menyeret orang lain untuk hanyut bersamamu.”

sahut Kuda Sempana.

Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras, begitu

kerasnya sehingga dada Kuda Sempana serasa akan terpecahkan

olehnya.

“Kuda Sempana.“ berkata Kebo Sindet. Wajahnya yang membeku

itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan nama sekali, “sudah

aku katakan, bahwa ayahmu hanya akan membantu,

memberitahukan kepada Mahisa Agni, bahwa di Panawijen telah

terjadi kebakaran.”

“Tidak ada gunanya.”

“Kenapa?”

“Mahisa Agni telah mengenal ayahku. Ia tidak akan percaya.”

Wong Sarimpat tiba-tiba mengerutkan keningnya, sedang Kebo

Sindetpun terdiam sejenak. Tetapi sesaat kemudian ia berkata,

“Bagus. Ada jalan lain yang lebih baik. Lebih baik bagi kita dan lebih

baik bagi ayah Kuda Sempana.”

“Apakah itu.“ bertanya adiknya.

“Ayah Kuda Sempana hanya mendorong seseorang atau dua

orang untuk menyusul Mahisa Agni ke Padang Karautan.”

“Tak seorangpun yang berani.”

“Ayahmu harus memberi jaminan, bahwa tidak akan ada

gangguan apapun di Padang Karautan. Ayahmu harus memilih

orang-orang yang dapat dibujuknya. Dalam keadaan seperti

sekarang, maka setiap orang Panawijen pasti ingin menjadi

pahlawan. Apalagi kalau ayahmu dapat membujuk dan memberi

mereka sekedar upah.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya menjadi

pepat. Ia tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kini dikehendaki?

Mahisa Agni atau apa? Ia sendiri tidak tahu apakah ia akan tetap

berada di dalam sarang dua serigala bersaudara itu.

Seperti seorang yang kehilangan akal Kuda Sempana

menundukkan kepalanya di atas punggung kudanya. Panawijen

semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika mereka memasuki

daerah persawahan maka terasa dada Kuda Sempana berdebar

terlampau cepat. Daun-daun yang kuning berguguran, tanah yang

kering dan terpecah-pecah, memberikan kesan yang mengerikan,

seperti terpecahnya hati dan perasaannya.

Sekarang ia datang untuk membuat bencana baru. Dalam udara

yang kering dan panas itu maka sepercik api akan dapat menjadikan

Panawijen itu karang abang.

“Apakah aku harus menyaksikan kampung halamanku ini menjadi

neraka?” Kuda Sempana itu menjadi semakin tidak mengerti tentang

dirinya sendiri. Sehingga akhirnya ia tidak mampu lagi untuk

berpikir. Ia berbuat tanpa dapat diyakininya sendiri, apakah yang

dilakukan itu berarti baginya.

Kuda Sempana itu terkejut ketika tiba-tiba Kebo Sindet berkata,

“Kita berhenti di sini. Kita sembunyikan kuda-kuda kita. Kita akan

masuk ke Panawijen tampa diketahui oleh siapa pun. Kita akan

menyalakan api. Beberapa buah lumbung dan rumah harus

terbakar.”

Kuda Sempana sudah mendengar sebelumnya, bahwa mereka

akan membakar Panawijen, tetapi ketika Kebo Sindet itu

mengatakannya sekali lagi, maka dadanya menjadi berdebar-debar.

“Apakah aku akan membiarkan kampung halamanku musnah

dimakan api?” desisnya di dalam hati.

Tetapi ia menjadi termangu-mangu ketika Kebo Sindet yang

seakan-akan mengerti perasaannya berkata, “Jangan cemas Kuda

Sempana. Aku tidak akan membakar seluruh padukuhan Panawijen.

Aku hanya akan membakar beberapa buah lumbung dan rumah di

sekitarnya.”

“Panawijen kini sedang menderita kekeringan. Kalau lumbunglumbung

terbakar, maka mereka pasti segera akan mati kelaparan.”

“Sudah aku katakan, tidak semua lumbung akan aku bakar.”

“Yang satu atau dua lumbung itu pengaruhnya akan besar sekali

bagi Panawijen.”

“Jadikanlah mereka korban dari cita-citamu. Jadikanlah mereka

umpan kailmu. Kalau ikan yang akan kita pancing itu ikan yang

besar, maka umpannyapun harus cukup besar pula yang akan aku

jadikan umpan?”

Dada Kuda Sempana berdesir. Sendirian itu merupakan ancaman

baginya. Karena itu maka iapun berdiam diri. Betapa hatinya

menukik, tetapi ia berhadapan dengan Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Dua iblis kakak beradik yang benar-benar berhati iblis.

Dengan demikian maka Kuda Sempana tidak dapat ber buat apaapa

lagi. Ia harus menurut saja ketika mereka menarik kuda-kuda

mereka ke dalam gerumbul yang telah kekuning-kuningan.

Kemudian sejenak mereka menunggu hari menjadi gelap.

Ketika lamat-lamat dikejauhan terdengar bunyi burung kedasih,

maka berkatalah Kebo Sindet, “Hari telah malam. Marilah kita

lakukan pekerjaan kita.”

Kuda Sempana tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia

harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perasaannya.

Tetapi ia tidak dapat menolak.

Peristiwa demi peristiwa telah menghantam perasaan Kuda

Sempana yang semakin lama menjadi semakin kosong. Semakin

tidak dapat dimengertinya sendiri.

Malam itu Kuda Sempana menyaksikan api yang melonjak

kendara. Dengan hati yang pedih ia melihat orang-orang Panawijen

saling berlari dan berteriak-teriak ngeri. Namun orang-orang itu

kemudian menemukan keseimbangan. Mereka tidak lagi berlari-lari,

tetapi beberapa orang laki-laki yang tinggal di padukuhan karena

beberapa hal, yang pada umumnya adalah orang tua-tua telah

berusaha untuk memadamkan api itu. Mereka mencoba

merobohkan rumah-rumah dan pepohonan di sekitar api yang

sedang menyala-nyala, sehingga mereka dapat membatasi, supaya

api itu tidak menjalar semakin luas.

Meskipun demikian, Panawijen telah menjadi geger. Perempuanperempuan

yang berani membantu mencoba memadamkan setidaktidak

membatasi supaya api tidak menjalar.

Dari kejauhan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana

menyaksikan hiruk pikuk itu dengan tanggapan mereka sendirisendiri.

Kebo Sindet melihat api itu dengan wajahnya yang

membeku, sedang Wong Sarimpat tampak tertawa-tawa kecil.

Sekali-sekali tangannya mengusap wajahnya yang gembung. Wajah

yang basah dilapisi oleh keringat. Disamping mereka, Kuda

Sempana menyaksikan api itu dengan hati yang tersayat-sayat.

“Nah, lihatlah.“ berkata Kebo Sindet, “kampung halamanmu sama

sekali tidak musnah. Bukankah hanya sebagian kecil dari padukuhan

itu yang terbakar. Lihatlah, mereka telah berhasil menguasai api.”

Kuda Sempana tidak menjawab.

“Kita akan segera melakukan tugas berikutnya. Nah, Kuda

Sempana, antarkan aku ke rumah ayahmu.”

“Apakah yang akan paman lakukan?”

“Antarkan aku ke rumah ayahmu.”

“Ayah pasti tidak ada di rumah. Ayah pasti sedang bergulat

dengan api itu pula.”

“Tidak apa, kita tidak tergesa-gesa. Kita dapat menunggunya

sampai nanti lingsir wengi atau bahkan sampai besok pagi

sekalipun.”

Kuda Sempana tidak dapat menjawab lagi. Maka mau tidak mau

kedua iblis kakak beradik itu harus dibawanya pulang ke rumah

orang tuanya.

Betapa liciknya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat membujuk ayah

Kuda Sempana. Kebo Sindet yang berwajah beku itu sekali-sekali

dapat juga tersenyum sambil berkata, “Untuk kepentingan anakmu

Kaki.”

Kuda Sempana sama sekali tidak sempat menolak. Ia diam saja

seperti patung mendengarkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat

berkata berkepanjangan. Hanya sekali-sekali ia terpaksa mengiakan

apabila Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bertanya kepadanya.

“Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “anakmu memang menghendaki aku

menangkap Mahisa Agni hidup-hidup.”

Orang tua itu memandangi anaknya dengan sorot mata yang

aneh. Tetapi Kebo Sindet segera berkata, “Tetapi persoalannya tidak

saja menyangkul anak Kaki. Ada banyak persoalan. Kalau bapak

bersedia membantu kami, maka nasib bapak tidak akan sejelek

sekarang ini. Kaki tidak akan dapat menggantungkan nasib Kaki

kepada Kuda Sempana yang kini sudah bukan seorang Pelayan

Dalam yang terhormat lagi. Apakah bapak pernah melihat emas

sebesar ini?”

Mata ayah Kuda Sempana itupun terbelalak melihat sekeping

emas murni. “Apakah itu benar-benar emas.“ ia bertanya.

“Bertanyalah kepada Kuda Sempana.”

Orang tua itu menelan ludahnya. Tetapi ia tidak segera

menjawab. Hatinya masih dipenuhi oleh keragu-raguan.

“Pekerjaan Kaki tidak berat. Carilah dua atau tiga orang yang

bersedia pergi ke Padang Karautan untuk menyampaikan kabar ini

kepada Mahisa Agni. Hanya itu.”

Ayah Kuda Sempana itu masih saja berdiam diri. Tetapi sorot

matanya tidak juga lepas dari sekeping emas murni yang masih di

tangan Kebo Sindet.

“Nah bagaimana?“ bertanya Kebo Sindet. Sekali lagi ayah Kuda

Sempana itu menelan ludahnya.

“Kau akan menerima emas ini untuk pekerjaan yang tidak berarti.

Membujuk dua atau tiga orang untuk memberitahukan kebakaran ini

kepada Mahisa Agni.“

Ayah Kuda Sempana itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sekali-sekali dipandanginya wajah anaknya yang buram, dan

kemudian kembali matanya tersangkut pada emas yang bercahayacahaya

itu.

“Tak seorang pun yang berani pergi ke Padang Karautan.“

gumam ayah Kuda Sempana itu seakan-akan kepada diri sendiri.

“Kau dapat memberi tahukan, bahwa sekarang Padang Karautan

telah tidak berbahaya lagi. Hantu Karautan telah dibinasakan oleh

Mahisa Agni.”

Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.

Katanya, “Kalau ada yang berani menyeberangi padang ini, maka

hal itu pasti sudah dilakukan tanpa seorang pun yang

membujuknya. Tetapi mereka belum tahu, bahwa Padang Karautan

kini sudah tidak menakutkan lagi seperti pada masa-masa yang

lampau. Kau dapat membujuk mereka supaya mereka menjadi

berani, itu saja. Atau kau sendiri yang akan pergi?”

“Seandainya aku tidak bertemu dengan hantu Padang Karautan,

maka bagiku Mahisa Agni adalah seorang yang aku takuti lebih dari

hantu yang manapun juga. Perbuatan Kuda Sempana selama ini

telah cukup menjadi alasan baginya untuk membunuhku.”

Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi kemudian wajah itu

kembali menunduk. Dengan wajah yang suram anak muda itu

menarik nafas dalam-dalam.

“Terserahlah kepadamu Kaki.“ berkata Kebo Sindet, “emas ini

sangat tergantung kepada perbuatanmu.”

Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya.

“Pikirkanlah.“ gumam Wong Sarimpat pula.

Kuda Sempana tidak dapat berbuat apapun. Ia tahu betapa

kasarnya kedua kakak beradik itu. Kalau ia berbuat sesuatu yang

tidak sesuai dengan kehendaknya, maka kedua orang itu dapat

berbuat sekehendaknya atas dirinya dan bahkan ayahnya itu pula.

“Pekerjaan itu bagiku bukanlah perkerjaan yang mudah.“ berkata

ayah Kuda Sempana.

“Kaki hanya tinggal membujuk mereka untuk tidak takut berjalan

di Padang Karautan. Bukankah Mahisa Agni dapat berbuat banyak

untuk kepentingan kampung halamannya?”

“Tetapi Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat demikian, sebab

bukankah tuan hendak menangkapnya bersama anakku ini.”

Sekali lagi Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi yang

menjawab adalah Kebo Sindet, “Benar, demikianlah. Mudahmudahan

anakmu mendapat kepuasan karenanya. Dengan demikian

maka hidupnya tidak akan selalu diracuni oleh rasa dendam yang

tidak dapat dilepaskannya. Kalau Mahisa Agni itu sudah ada

ditangannya, maka anak pasti akan menemukan kembali

keseimbangan jiwanya.”

Orang tua itu sekali lagi memandangi wajah anaknya yang

suram. Tetapi dalam kesuraman itu tidak tampak olehnya nyala

matanya yang memancarkan dendam di hatinya.

Kuda Sempana sendiri tiba-tiba menjadi acuh tak acuh saja pada

pembicaraan itu. Ia benar-benar telah kehilangan pengertian

tentang dirinya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia masih juga

mendendamnya sampai sekarang.

Dalam pada itu, ayah Kuda Sempana berpikir dengan tegangnya.

Sekali-sekali matanya menjadi silau oleh kilatan emas di tangan

Kebo Sindet.

“Bagaimana?“ terdengar suara Kebo Sindet berat.

Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat ayah Kuda Sempana

perlahan-lahan mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Akan aku

coba. Sebenarnya setiap orang disini berkeinginan untuk

memberitahukannya kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi,

tetapi mereka masih saja dibayangi oleh ketakutan kecemasan

tentang Padang Karautan.”

“Kalau kau dapat meyakinkan tentang Padang itu, maka segala

maksud kita akan tercapai, dan kau akan memiliki emas yang

sekeping ini untuk menyelamatkan sisa-sisa hari tuamu dari

kemiskinan dan sengsara. Apakah kau juga mengharap bahwa kerja

Mahisa Agni membuat bendungan itu akan selesai? Omong kosong.

Bendungan itu tidak akan pernah selesai. Orang-orang Panawijen

tidak boleh menggantungkan harapannya pada bendungan itu.

Sebab besok atau lusa Mahisa Agni sudah berada di tanganku. Nah,

dengan demikian kalian harus pergi mengembara mencari tempat

baru untuk hidup kalian orang Panawijen.”

Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukan kepalanya.

“Lakukanlah.“ berkata Kebo Sindet kemudian, “Aku menunggu di

sini.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun

demikian ia masih juga ragu-ragu. Tetapi ketika terpandang olehnya

kilatan warna kekuning-kuningan yang memancar dari sekeping

emas itu, ia berkata, “Baiklah, akan aku coba mencari dua tiga

orang yang paling berani.”

Ayah Kuda Sempana itupun akhirnya meninggalkan mereka.

Ditemuinya beberapa orang yang sedang bergerombol

membicarakan kebakaran yang baru saja terjadi.

“Sebaiknya Mahisa Agni diberi tahu.“ berkala salah seorang dari

mereka.

“Ya, tetapi siapakah yang berani melakukannya?”

Mereka kemudian terdiam, beberapa laki-laki tua saling

berpandangan.

“Hanya Mahisa Agni lah yang dapat memberi kita cara supaya

kita tidak mati kelaparan di sini. Beberapa lumbung kita terbakar.

Hampir sepertiga dari persediaan makan kita telah musnah.”

Ayah Kuda Sempana mendengarkan dengan penuh minat

pembicaraan itu. Dengan dada yang berdebar-debar ia menangkap

perasaan hampir setiap orang Panawijen. Mereka berkeinginan

untuk memberitahukan kepada Mahisa Agni.

Ketika orang-orang itu kembali terdiam, maka berkatalah ayah

Kuda Sempana, “Tak ada orang lain yang dapat menolong kita,

selain Mahisa Agni.”

Beberapa orang berpaling kepadanya. Tetapi ada juga di antara

mereka yang membuang mukanya. Ayah Kuda Sempana ternyata

kurang disenangi di antara mereka karena sifat dan kelakuan

anaknya. Hampir setiap orang Panawijen menganggap, bahwa apa

yang terjadi itu adalah akibat dari pertentangan yang berlarut-larut

antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni karena nafsu Kuda Sempana

yang tak terkendalikan.

“Jalan satu-satunya adalah memberitahukan kepada Mahisa Agni

apa yang telah terjadi.“ gumam ayah Kuda Sempana itu.

Tak seorang pun menanggapnya. Bahkan hampir setiap orang

mengumpat di dalam hati, “Kami semua tahu, tetapi siapakah yang

akan pergi ke Padang Karautan?”

Karena tak seorang pun yang menyahut, maka ayah Kuda

Sempana itu meneruskannya, “Kalau saja aku masih mendapat

kepercayaan, maka aku akan pergi ke Padang Karautan.”

Kini sekali lagi beberapa orang berpaling kepadanya. Ternyata

kata-katanya yang terakhir telah menarik banyak perhatian.

“Tetapi sayang. Aku takut. Bukan karena Padang Karautan, tetapi

aku takut melihat wajah Mahisa Agni. Bahkan mungkin aku akan

dicekiknya.”

Diantara beberapa orang itu terdengar salah seorang bertanya,

“Kenapa kau takut kepada Mahisa Agni?”

“Aku harus menyadari, betapa besar dosa anakku terhadapnya

dan terhadap kampung halaman.”

“Mahisa Agni bukan pendendam. Kalau kau berani menyeberangi

Padang Karautan pergilah kepadanya.”

“Padang Karautan sama sekali tidak menakutkan bagiku. Hantu

Karautan yang mengerikan itu telah dibinasakan oleh Mahisa Agni.

Tetapi yang mengerikan bagiku kini justru Mahisa Agni itu sendiri.”

Mereka sejenak terdiam. Beberapa orang ternyata mulai

merenungkan kata-kata ayah Kuda Sempana itu. Bahkan salah

seorang daripada mereka bertanya, “Apakah benar Mahisa Agni

telah membinasakan hantu Padang Karautan?”

“Itu sudah lama terjadi. Sebelum Mahisa Agni mulai membangun

bendungan itu. Apakah kalian tidak mendengar ceritera dari Patalan,

Jinan atau Sinung Sari?”

Orang-orang yang mendengar jawaban itu menganggukanggukkan

kepala mereka. Tetapi untuk sejenak mereka masih saja

berdiam diri. Namun demikian, timbullah beberapa masalah baru di

dalam kepala mereka, “Kalau benar kata orang itu, maka perjalanan

ke Padang Karautan tidak lagi berbahaya seperti waktu-waktu yang

lalu.”

“Sayang.“ desis ayah Kuda Sempana itu perlahan-lahan.

“Kenapa.“ bertanya ialah seorang dari mereka.

“Sayang, Mahisa Agni mempunyai kesan yang tidak baik

terhadapku.”

“Itu hanya perasaanmu saja. Mahisa Agni bukan seorang

pendendam.”

“Tetapi kesalahan anakku sudah bertimbun setinggi gunung

Semeru.”

Kembali mereka terdiam. Dan kembali masalah itu bergolak di

dalam dada mereka. Bahkan tiba-tiba salah seorang dari mereka

berkata, “Kalau ada seseorang yang mau menemani aku, maka

akupun bersedia pergi ke Padang Karautan.”

Dada ayah Kuda Sempana melonjak mendengar kesanggupan

itu. Serasa sekeping emas murni yang berkilat-kilat itu telah berada

di tangannya. Namun ia berusaha untuk menghapuskan setiap

kesan di wajahnya. Bahkan dengan nada yang parau ia berkata,

“adalah suatu jasa yang tiada taranya bagi kita di sini, apabila ada

kesediaan salah seorang dari kita untuk berangkat. Sayang, aku

bukanlah orang yang dapat melakukannya.”

Akhirnya ayah Kuda Sempana itu mendengar seorang lagi

berkata, “Marilah, kita pergi bersama-sama. Aku sudah terlalu tua.

Seandainya aku bertemu dengan bahaya di Padang Karautan, dan

darahku akan dihisapnya habis, maka aku pun tidak akan menjesal

lagi. Sisa umurku pun pasti sudah tidak akan banyak lagi.”

Dada ayah Kuda Sempana menjadi semakin berdebar-debar.

Kalau mereka benar-benar berangkat ke Padang Karautan, dan

Mahisa Agni berhasil diseretnya ke pedukuhan ini, maka emas yang

sekeping itu akan jatuh di tangannya. Emas itu akan dapat

memberinya kebahagiaan bagi sisa-sisa hidupnya. Ia akan pergi

kedaerah yang jauh, menjual emas itu dan menukarkannya dengan

halaman, rumah dan sawah yang sudah siap untuk digarap. Tidak

lagi ia akan bekerja keras bersama anak isterinya membuka tanah

dan mempersiapkannya menjadi tanah persawahan.

Kegembiraan di hati orang tua itupun akhirnya meluap membakar

segenap perasaannya. Hampir-hampir ia tidak dapat mengendalikan

dirinya. Hanya dengan sekuat tenaganya ia mampu menahan

melontarnya kegembiraan yang berlebih-lebihan itu, ketika ia

mendengar keputusan dari keduanya, bahwa mereka benar-benar

akan pergi ke Padang Karautan.

“Kita pergi berkuda.“ berkata salah seorang dari ke dua laki-laki

tua itu.

“Baiklah“ jawab yang lain, “kita akan segera sampai. Dan

berkuda adalah jalan yang paling aman.”

“Kapan kita berangkat?”

“Besok pagi-pagi. Kita menempuh perjalanan di siang hari supaya

kita tidak selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.”

Beberapa orang lain yang mendengar percakapan itu

menangguk-anggukkan kepala mereka dengan lontaran ucapan

terima kasih. Kehadiran Mahisa Agni akan memberikan petunjuk

yang akan bermanfaat bagi mereka, untuk menghindarkan diri dari

bahaya kelaparan.

Ketika matahari melemparkan sinarnya yang pertama di pagi hari

berikutnya, maka sebagian besar orang-orang Panawijen berdiri

berkerumun di ujung desa. Diantara mereka dua laki-laki tua berdiri

memegangi kendali kuda. Sekali-sekali dilayangkannya pandangan

mata mereka ke daun-daun yang kekuning-kuningan serta

ditebarkannya ke atas sawah dan pategalan yang kering kerontang.

Orang-orang Panawijen itu sedang melepas dua orang yang

mereka anggap sebagai orang-orang yang paling berani diantara

mereka. Dua laki-laki tua itu akan menghubungkan padukuhan

mereka dengan Padang Karautan karena beberapa buah lumbung

mereka terbakar. Kalau bendungan itu tidak segera dapat

mengangkat air keatas Padang Karautan, maka mereka akan

terancam bahaya yang mengerikan. Persediaan makanan mereka

akan habis, dan bencana itu pun akan menghentikan usaha

pembangunan bendungan itu pula, karena orang-orang yang

sedang bekerja itu tidak akan lagi mendapat persediaan makanan.

Karena itu maka Mahisa Agni harus segera tahu. Ia harus segera

menentukan sikap, untuk mengatasi meskipun hanya bersifat

sementara.

Demikianlah maka orang-orang Panawijen itu kemudian melihat

kedua laki-laki tua itu naik ke atas punggung kuda. Melambaikan

tangan-tangan mereka dan kemudian melecut kuda-kuda mereka

meninggalkan Panawijen seperdi dua orang pahlawan yang

berangkat kemedan perang. Beberapa orang yang menyaksikan

keberangkatan itu berdiri tertegun. Terasa dada mereka bergetaran.

Ketika debunya yang putih mengepul di belakang kaki-kaki kuda

yang berlari meninggalkan kampung halaman mereka, maka

beberapa orang perempuan menekan dada mereka sambil

bergumam, “Mudah-mudahan mereka selamat sampai ke tujuan.”

Ayah Kuda Sempana berdiri juga di antara orang-orang yang

melepas kedua laki-laki tua itu. Wajahnya pun tampak suram

sesuram wajah-wajah orang Panawijen yang lain. Tetapi hatinya

tertawa cerah secerah matahari pagi yang bersinar di atas Padang

dan pegunungan. Didalam dadanya berkumandang gemerincing

emas sekeping yang kuning berkilat-kilat.

“Hem.“ katanya di dalam hati, “alangkah mudah-mudahnya

memiliki emas murni sebesar itu. Kalau aku tahu, maka aku tidak

akan menderita selama ini. Minum air yang harus diambilnya

langsung dari sungai sejauh itu dan makan terlampau terbatas

karena kecemasan bahwa suatu ketika akan kehabisan persediaan.

Dengan emas itu, maka Panawijen dan bendungan itu tidak akan

berarti lagi bagiku.”

Ketika ayah Kuda Sempana itu mengangkat wajahnya, maka

kepulan debu yang putih itu pun sudah menjadi semakin jauh.

Beberapa orang telah melangkahkan kakinya meninggalkan ujung

desa kembali kerumah masing-masing. Namun di sepanjang jalan

pulang, mereka masih saja memperbincangkan kedua laki-laki tua

yang sedang melakukan perjalanan yang selama ini seakan-akan

tabu mereka lakukan.

Sekali ayah Kuda Sempana itu menarik nafas dalam-dalam.

Dibiarkannya orang-orang lain meninggalkannya seorang diri. Tetapi

begitu orang yang terakhir hilang masuk ke mulut lorong, maka

ayah Kuda Sempana itupun segera meloncati parit yang kering dan

berjalan cepat lewat pematang-pematang yang pecah-pecah pulang

ke rumahnya.

Di rumahnya, Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana

masih menunggunya. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu saja

dibayangi oleh kegelisahan, ia tidak yakin bahwa usaha ayah Kuda

Sempana akan berhasil. Meskipun demikian harapan untuk itu masih

ada juga pada mereka. Sedang Kuda Sempana sendiri kini benarbenar

menjadi acuh tak acuh saja. Ia sendiri tidak tahu, apakah ia

mengharapkan usaha ayahnya berhasil atau tidak.

Karena itu ketika ayah Kuda Sempana itu muncul dari balik pintu

rumahnya, maka yang perpertama-tama bertanya adalah Wong

Sarimpat, “Bagaimana Kaki. Apakah usahamu berhasil?”

“Sebagian.“ jawab ayah Kuda Sempana, “kedua orang laki-laki

tua itu telah berangkat.”

Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang beku

itu tampak bergerak-gerak. Sebuah senyum yang samar-samar telah

menggerakkan bibirnya.

“Mudah-mudahan Mahisa Agni bersedia datang.“ desis Kebo

Sindet.

“Menilik sifat-sifatnya dan kelakuannya dimasa yang lampau ia

pasti akan datang untuk melihat sendiri apa yang telah terjadi di

padepokan ini.“ sahut ayah Kuda Sempana.

“Mudah-mudahan ia tidak datang dengan sepasukan prajurit dari

Tumapel yang kini berada di Padang Karautan.”

“Mudah-mudahan.”

Mereka pun kemudian terdiam sejenak, tenggelam dalam anganangan

masing-masing. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah

membayangkan, betapa Ken Dedes terpaksa melepaskan

bermacam-macam perhiasan dan benda-benda berharga untuk

membebaskan kakaknya. Sementara itu ia harus berusaha

memberikan kesan bahwa usaha menculik Mahisa Agni ini dilakukan

oleh Empu Sada yang disangkanya telah mati.

Sementara itu kedua laki-laki tua dari Panawijen telah menjadi

semakin jauh dari pedukuhannya. Kini dihadapan mereka

terbentang sebuah Padang rumput yang luas yang seakan-akan

tidak bertepi. Cahaya matahari yang sudah semakin tinggi seakanakan

menyala membakar Padang rumput yang kering itu.

“Alangkah panasnya.“ gumam salah seorang dari mereka.

Yang seorang untuk sejenak tidak menjawab. Matanya seakanakan

menjadi silau menatap udara yang sedang mendidih dibakar

oleh terik matahari.

“Kita akan menjadi kering seperti rerumputan itu.“ berkata orang

yang pertama.

“Menurut pendengaranku, sebaiknya kita menyusul aliran sungai

itu. Setiap saat kita tidak akan kehabisan air. Setiap kali kita haus,

kita akan dapat segera minum. Hanya menurut pendengaranku di

beberapa bagian tebing sungai ini menjadi sangat curam.”

Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi tatapan matanya

membayangkan betapa jantungnya menjadi berdebar-debar.

Matahari yang memanjat semakin tinggi seakan-akan langsung

menghunjamkan sinarnya kekepala mereka.

“Kita berkuda.“ desis kawannya yang ternyata memiliki tekad

lebih besar, “kita tidak akan sampai sehari penuh berjemur di

Padang Karautan.”

Kawannya mengangguk-anggukan kepalanya. Perlahan-lahan ia

menjawab, “Ya. Kita berusaha supaya kita cepat sampai.”

“Marilah.”

Keduanya pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka

menyusur sungi yang membelah Padang Karautan itu. Meskipun

mereka tidak berani berpacu terlampau cepat, tetapi perjalanan itu

jauh lebih cepat daripada mereka berjalan kaki. Kuda-kuda mereka

itupun agaknya dapat mengerti juga, bahwa penumpangpenumpang

mereka adalah orang-orang tua yang tidak begitu

tangkas memegang kendali. Sehingga langkah kaki-kaki Kuda itupun

seolah-olah terayun seenaknya.

Ternyata mereka mendapat banyak keuntungan dengan jalan

yang mereka pilih. Ketika bumbung air mereka tuntas, maka mereka

dapat mengambilnya langsung ke dalam sungai, sekaligus

membiarkan kuda-kuda mereka yang kehausan minum pula.

Dengan bumbung yang penuh berisi air itulah maka mereka

meneruskan perjalanan mereka menuju ke tempat Mahisa Agni

membangun bendungan.

Meskipun di sepanjang jalan mereka selalu dicemaskan oleh

nama yang selama ini menakutkan mereka, ialah hantu Karautan,

namun akhirnya merekapun menjadi semakin lama semakin dekat

pula dengan lingkaran kerja Mahisa Agni dan orang-orang

Panawijen yang dibantu oleh sepasukan prajurit dari Tumapel.

Kedatangan kedua orang tua-tua itu telah mengejutkan Mahisa

Agni dan Ki buyut Panawijen. Dipersilahkannya kedua orang itu

duduk beristirahat, sementara Mahisa Agni mengakhiri kerja hari itu

karena matahari telah hampir lenyap ditelan cakrawala.

Mahisa Agni dan Ki Buyut tidak sempat membersihkan dirinya

lebih dahulu. Dengan hati berdebar-debar ditemuinya ke dua orang

tua-tua yang baru saja datang dari Panawijen. Kedatangan mereka

bagi Mahisa Agni dan Ki Buyut dan bahkan bagi seluruh orang-orang

Panawijen yang sedang bekerja di Padang Karautan, merupakan

suatu hal yang sangat menarik perhatian. Mereka tahu, bahwa

apabila tidak terpaksa sekali, maka tidak akan ada seorang pun

yang berani melintasi Padang yang menakutkan bagi mereka.

Kedua laki-laki tua itupun tidak membiarkan Mahisa Agni dan Ki

Buyut Panawijen terlalu lama digelisahkan oleh teka-teki tentang

kedatangan mereka. Segera mereka menceriterakan apa yang telah

terjadi di padukuhan mereka. Mereka berbicara ganti berganti dan

saling tambah menambahi sehingga ceritera tentang kebakaran di

Panawijen itu menjadi sebuah ceritera yang menegangkan hati

Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.

Dengan dada yang berdebar-debar beberapa orang lain

mendengar juga ceritera tentang kebakaran itu. Sehingga tiba-tiba

salah seorang berkata, “Kita tidak lagi mempunyai persediaan

makan. Apakah kita masih juga mampu bekerja untuk membuat

bendungan ini?”

Suasana kemudian menjadi sepi. Pertanyaan itu hinggap pula di

setiap dada orang-orang Panawijen, bahkan juga Mahisa Agni dan Ki

Buyut Panawijen.

“Bagaimana mungkin kebakaran itu dapat terjadi?“ bertanya

Mahisa Agni.

Kedua laki-laki itu menggelengkan kepala mereka. Salah seorang

dari mereka menjawab, “Tak seorang pun yang tahu sebabnya.

Tetapi udara di Panawijen akhir-akhir ini terasa sangat panas.”

“Apakah demikian panasnya sehingga memungkinkan lumbunglumbung

padi dan jagung itu terbakar dengan sendirinya?”

Sekali lagi kedua laki-laki tua itu menggelengkan kepala mereka,

“Kami tidak tahu. Tetapi menurut pengamatan kami, tak ada

seorang pun bahkan anak-anak yang bermain-main di dekat

lumbung-lumbung itu, apalagi bermain-main dengan api.”

Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menekurkan kepala mereka.

Kini terbayang kembali kesulitan-kesulitan yang bakal mereka alami.

Mereka baru saja mendapatkan kejutan yang mendorong orangorang

Panawijen bekerja lebih keras dengan kedatangan Prajuritprajurit

dari Tumapel. Tetapi peristiwa ini pasti akan memperlemah

lagi usaha mereka menyelesaikan bendungan itu. Mungkin untuk

sementara Mahisa Agni dapat mencoba mengatasi dengan

menanam apa saja di sepanjang lereng-lereng sungai dan datarandataran

serta lembah-lembah yang basah. Tetapi tanah itu tidak

seberapa luas. Sedangkan seluruh mulut yang ada di Panawijen

harus disuapinya.

Tetapi tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh suara tertawa

perlahan-lahan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Ken Arok

berdiri di belakang orang-orang Panawijen yang mengerumuni

kedua laki-laki tua itu. Ketika anak muda itu beradu pandang

dengan Mahisa Agni, maka katanya, “Jangan risau Agni. Besok aku

akan mengirim dua orang prajurit ke Tumapel. Aku akan

memberikan laporan apa yang telah kami kerjakan di sini. Dan aku

akan dapat memberikan laporan tentang Panawijen itu pula.

Peristiwa itu sama sekali bukan peristiwa yang penting. Bukankah

aku pernah berkata, bahwa Tuanku Akuwu menyanggupkan

bantuan apa saja yang kau perlukan? Coba katakan, berapakah

jumlah lumbung yang terbakar itu? Sepuluh atau dua puluh barak?

Berapa pikul padi dan jagung yang telah terbakar?“ Ken Arok

berhenti sejenak. Dipandangnya setiap wajah yang tiba-tiba kembali

bersinar, “jangan kalian cemaskan.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ken

Arok itu. Sekali lagi kepalanya jatuh tepekur. Kebaikan bati Tunggul

Ametung yang melimpah-limpah itu telah menggetarkan

perasaannya. Sekilas dikenangnya puteri gurunya, Ken Dedes.

Namun Mahisa Agni itu pun kemudian menggigit bibirnya.

“Terima kasih.“ terdengar ia berdesis, “terima kasih atas hadiah

yang tiada taranya itu.”

Masih terdengar suara tertawa perlahan yang meluncur di antara

bibir Ken Arok. Wajahnya Yang seolah-olah bersinar seperti harapan

di dalam hati.

Dengan penuh keyakinan ia berkata, “Agni, Tumapel tidak akan

kekurangan beras dan jagung. Bahkan seandainya seluruh

Panawijen itu terbakar sekalipun. Jangan risaukan kebakaran itu.

Kita selesaikan bendungan kita dan sesudah itu aku masih

mempunyai satu tugas lagi, barangkali kalian sudi membantu.

Membuat sebuah taman yang akan dihadiahkan oleh Tuanku Akuwu

Tunggul Ametung kepada permaisurinya kelak.”

“Tentu.“ sahut Mahisa Agni dengan serta merta, “apalagi sekedar

membangun sebuah taman. Apapun yang harus kami lakukan, maka

kami tidak akan dapat ingkar lagi.”

Wajah Ken Arok menjadi semakin cerah karenanya. Wajah yang

bagi Mahisa Agni memiliki beberapa perbedaan dari wajah-wajah

yang pernah dikenalnya. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat

mengatakan, apakah sebabnya maka ia melihat perbedaan itu.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Orang-orang Panawijen kini

tidak lagi kehilangan harapan untuk menjelesaikan bendungannya

setelah mendengar janji Ken Arok. Tetapi meskipun demikian

kebakaran di Panawijen itu menimbulkan teka-teki pula di dalam

dada mereka.

Agaknya kebakaran itu bukan saja menumbuhkan teka-teki di

dalam dada Mahisa Agni. Ia merasa mempunyai tanggungjawab

untuk melihat, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Selanjutnya

mencegah jangan sampai terulang kembali. Meskipun ia yakin juga

seperti Ken Arok, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bersedia

memberi mereka beras dan jagung berapa saja yang mereka

butuhkan, tetapi untuk terlampau menggantungkan diri kepada

bantuan itu bagi Mahisa Agni adalah kurang bijaksana. Orang-orang

Panawijen harus mecoba sejauh mungkin mencukupi kebutuhan diri

sendiri. Hanya apabila keadaan tidak memungkinkan lagi, maka

bantuan Akuwu Tunggul Ametung itu akan menjadi sandaran

terakhir bagi mereka.

Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Agni berkata, “Ken

Arok, terimakasih kami orang-orang Panawijen tiada tara

bandingnya atas segala bantuan yang telah kami terima. Namun

jangan berarti bahwa kami harus menyandarkan diri kami kepada

bantuan-bantuan itu saja. Biarlah kami mencoba mencapai

kedewasaan kami. Karena itu, aku ingin melihat apakah yang

sebenarnya terjadi di Panawijen. Aku ingin berusaha agar kebakaran

semacam itu tidak terulang kembali.”

“Apakah hal itu perlu sekali kau lakukan Agni?“ bertanya Ken

Arok.

“Perjalanan berkuda ke Panawijen tidak terlampau jauh. Kalau

besok pagi aku berangkat, maka pagi berikutnya aku sudah berada

di tempai ini kembali.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sebagai orang yang telah

mengenal Padang Karautan melampaui siapa saja, Ken Arok

membenarkan perhitungan Mahisa Agni. Tetapi terasa sesuatu

mengganggu perasaannya. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata,

“Pekerjaan itu dapat kau lakukan besok lusa, seminggu bahkan

sebulan yang akan datang. Sekarang tungguilah pekerjaan ini.

Pekerjaan yang memberi harapan bukan saja kepadamu sendiri.”

Mahisa Agni termenung sejenak. Tetapi hatinya telah

mendorongnya untuk berkata, “Sehari dua hari tidak akan

mengganggu Ken Arok. Aku ingin sekali melihat dan berbuat

sesuatu untuk mencegah kebakaran itu terulang. Bahkan mungkin

aku dapat menemukan tanda-tanda lain. Mungkin seseorang telah

menjadi panas hati melihat hasil kerja orang-orang Panawijen.”

Ken Arok tidak segera menyahut. Dicobanya untuk mengerti

perasaannya sendiri. Aneh. Ia tidak mengerti dengan pasti bahaya

yang dapat mengancam Mahisa Agni di perjalanan, tetapi seakanakan

sesuatu bakal terjadi. Ia pernah melihat Kuda Sempana

berkelahi dengan Mahisa Agni di Padang ini. Ia tahu benar bahwa

Kuda Sempana mempunyai seorang guru yang sakti. Empu Sada.

Tetapi ia tidak tahu banyak tentang mereka itu.

Kesepian sekali lagi mencengkam suasana. Ken Arok masih juga

berdiri di tempatnya sambil mengerutkan keningnya, sedang Mahisa

Agni yang duduk di antara kerumunan orang-orang Panawijen

bersama dua laki-laki tua yang baru saja datang, menekurkan

kepalanya, seakan-akan terbayanglah di rongga matanya nyala api

yang menggapai langit menelan beberapa buah lumbung dan

rumah-rumah di Panawijen.

Dalam kesenyapan itu hampir semua kepala berpaling ketika

mereka mendengar seseorang berkata perlahan-lahan, “Agni. Aku

sependapat dengan angger Ken Arok. Padang Karautan bukanlah

jalan yang lapang selapang Padang itu sendiri bagimu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat pamannya

Empu Gandring berdiri di luar lingkaran orang-orang Panawijen

seperti Ken Arok. Dan terbayang di wajah orang tua itu

kekhawatiran dan kecemasan. Berbeda dengan Ken Arok Empu

Gandring mempunai perhitungan-perhitungan yang lebih jelas

tentang setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas kemanakannya

itu.

“Kau seharusnya dapat menghubungkan peristiwa-peristiwa yang

pernah kau alami Agni.“ berkata Empu Gandring itu, “Karena itu,

sabarkanlah dirimu. Tunggulah sampai beberapa saat.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya dua

laki-laki tua yang baru saja datang dari Panawijen itu berganti-ganti.

Tiba-tiba salah seorang laki-laki itu berkata, “Kami mengharap

sekali kehadiran Mahisa Agni. Kami ingin mendapatkan kepastian

bahwa kami tidak akan mati kelaparan.”

“Aku memberikan jaminan itu.“ sahut Ken Arok.

“Tetapi orang-orang Panawijen belum mendengarnya.”

“Bukankah kau dapat mengatakan kepada mereka.”

Sejenak kedua laki-laki itu terdiam. Namun salah seorang dari

mereka berkata, “Entahlah, aku tidak tahu apa sebabnya. Tetapi

tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak berani kembali berdua dengan

kawanku ini, Apalagi setelah aku mendengar bahwa Padang

Karautan masih juga menyimpan banyak bahaya.”

Kini semua orang terdiam. Beberapa di antara mereka saling

berpandangan. Ada juga yang menjadi gelisah. Rumah-rumah

siapakah yang terbakar itu? Jangan-jangan rumah mereka telah

menjadi abu. Tetapi tak seorang pun yang bertanya, sebab

seandainya mereka mendapat kesempatan, maka mereka pun tidak

akan berani melihat ke Panawijen.

Dalam pada itu terdengar Ken Arok bertanya, “Tetapi Kaki berdua

telah berani menempuh perjalanan kemari. Ternyata Kaki tidak juga

mengalami sesuatu di perjalanan. Kenapa Kaki berdua tidak berani

kembali kepadukuhan Kaki?”

Kedua laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari

mereka menjawab, “Aku tidak tahu sebabnya Ngger. Aku juga tidak

tahu apakah yang telah mendorong aku sehingga aku berani

menyeberangi Padang Karautan. Tetapi apabila kini ternyata Padang

itu berbahaya, sedangkan Mahisa Agni saja masih juga harus

berhati-hati, apalagi kami berdua.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jalan pikiran orang tua-tua itu

dapat dimengertinya.

Yang menyahut kemudian adalah Empu Gandring, “Kalian telah

lanjut usia. Mungkin sebaya atau bahkan lebih tua dari padaku.

Karena itu maka justru kalian tidak akan terganggu di sepanjang

perjalanan. Tak ada seorang pun yang akan mengganggu orangorang

tua. Aku pun berani menyeberangi Padang itu, sebab aku

juga sudah tua. Apakah kalian bersedia apabila kami bertiga pergi,

melintasi Padang Karautan?”

Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu saling berpandangan

sesaat. Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, “Kalau

kami berdua harus pulang ke Panawijen, maka kami mengharap

bahwa kami akan mendapat kawan yang sekiranya akan dapat

melindungi kami. Kalau kami pergi bersama orang-orang tua sebaya

dengan kami, maka aku rasa, kehadiran seorang kawan itu tidak

akan banyak memberikan ketenteraman di hati kami.”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Ken Arok pun

dengan serta merta bergeser setapak. Diamatinya orang tua yang

bernama Empu Gandring dengan sudut matanya. Tetapi Empu

Gandring sendiri hanya tersenyum. Katanya, “setidak-tidaknya kita

mempunyai seorang lagi untuk kawan bercakap-cakap. Dengan

demikian kita akan dapat melupakan ketegangan di sepanjang

perjalanan. Bukankah kita akan berjalan siang hari?”

“Yang kami perlukan bukan seorang kawan bercakap-cakap.“

sahut salah seorang laki-laki tua dari Panawijen itu, “tetapi

seseorang yang akan menyelamatkan kami dari setiap bencana

yang dapat menerkam kami di sepanjang perjalanan kami. Aku kira

tak ada duanya yang dapat aku sebut namanya selain Mahisa Agni.

Mahisa Agni akan dapat memberi perlindungan kepada kami di

sepanjang perjalanan kami. Sedang orang-orang Panawijen akan

mendapatkan ketenangan mendengar janji itu diucapkan oleh

Mahisa Agni sendiri.”

Hampir bersamaan, Mahisa Agni, Ken Arok dan Ki Buyut

Panawijen berpaling memandangi wajah Empu Gandring. Tetapi

orang tua itu masih juga tersenyum.

“Hem.“ Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “orang-orang

tua itu tidak tahu siapakah paman Empu Gandring. Mereka

menyangka bahwa Empu Gandring adalah seorang tua seperti

mereka itu sendiri.”

Tetapi permintaan orang-orang tua itu benar-benar telah

membuat kepala Mahisa Agni pening, la sendiri ingin sekali melihat,

apakah yang sebenarnya terjadi di Panawijen. Tetapi ia menyadari

juga, bahwa setiap kali ia akan dapat ditelan bahaya.

Meskipun demikian Mahisa Agni merasa, bahwa ia

berkepentingan sekali datang ke Panawijen. Bahaya itu adalah baru

suatu kemungkinan. Ia dapat pergi siang hari, berpacu di Padang

yang kering. “Apakah bahaya itu mengintai juga di siang hari?

Betapapun kuatnya keinginan seseorang untuk mencelakai aku,

tetapi aku sangka mereka tidak akan berjemur di terik panas seperti

itu. Mereka pun pasti menyangka bahwa aku selalu memilih waktu

di malam hari, di udara yang sejuk. Dan apakah aku sekarang ini

sudah menjadi seorang pengecut?”

Perasaan itu selalu berdentangan di dalam dada Mahisa Agni.

Karena itu maka tiba-tiba ia berkata, “Ki Buyut, Paman Empu

Gandring dan kau Ken Arok. Aku ternyata tidak dapat memilih selain

memenuhi permintaan kedua orang-orang tua ini. Meskipun

demikian aku harus berhati-hati. Aku akan pergi ke Panawijen di

siang hari.”

Ketiga orang itu terdiam sejenak. Tampaklah wajah-wajah itu

menjadi tegang. Bahkan orang-orang Panawijen yang berkerumun

itu pun menjadi tegang pula.

“Apakah itu sudah menjadi keputusanmu Agni?“ bertanya Ken

Arok.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya.”

“Keputusan yang tergesa-gesa.“ desis Empu Gandring.

Kedua orang laki-laki yang datang dari Panawijen itu berpaling

kepada Empu Gandring. Mereka menjadi tidak senang mendengar

kata-katanya yang seolah-olah selalu berusaha merintangi kepergian

Mahisa Agni ke Panawijen. Sehingga karena itu salah seorang

berkata, “Kenapa kau mencoba mencegah kepergiannya? Bahkan

kau sendiri akan mengantarkan kami?”

Mahisa Agni terperanjat mendengar kata-kata itu. Hampir-hampir

ia menyahut, tetapi ternyata Empu Gandring mendahuluinya,

“Maafkan aku ki sanak. Mungkin aku terlampau mencemaskan nasib

anak muda itu.”

“Ia telah dapat menilai dirinya sendiri.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sahutnya,

“Mungkin. Mungkin demikian. Tetapi ia masih terlampau muda.

Darahnya masih terlampau cepat mendidih.”

“Itulah anak-anak muda yang berani dan bertanggungjawab.

Memang kita orang-orang tua kadang-kadang tidak dapat mengerti

tentang anak-anak muda apalagi seperti Mahisa Agni. Itu adalah

karena kebodohan kita masing-masing.”

Empu Gandring tidak menjawab lagi. Ia tidak dapat berbincang

dengan kedua laki-laki tua dari Panawijen itu.

Tetapi dengan demikian Mahisa Agni lah yang menjadi gelisah.

Pamannya adalah seorang yang sukar dicari duanya. Orang tua itu

telah memiliki ilmu yang dapat disejajarkan dengan orang-orang

yang pilih tanding. Gurunya, Panji Bojong Santi, Empu Sada dan

lain-lainnya. Untunglah bahwa Empu Gandring memiliki kesabaran

yang cukup sehingga ia dapat dengan wajar menanggapi kata-kata

kedua laki-laki tua dari Panawijen yang tidak mengenalnya itu.

Yang kemudian terdengar adalah salah seorang laki-laki tua itu

berkata, “Angger Mahisa Agni. Aku harap kau mendengarkan suara

hati orang-orang Panawijen. Mereka cukup puas apabila mereka

melihat Angger datang ke Panawijen. Memberikan beberapa

keterangan dan memberikan ketenteraman kepada mereka. Apalagi

janji yang telah diucapkan oleh angger yang agaknya seorang

pemimpin dari Tumapel. Dengan demikian maka orang-orang

Panawijen tidak selalu dikejar-kejar oleh kegelisahan karena

bayangan bahaya kelaparan yang akan menimpa mereka.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Sejenak ditatapnya wajah

pamannya yang suram. Tetapi laki-laki tua dari Panawidjen itu

berkata, “Jangan hiraukan orang-orang lain. Apalagi mereka yang

bukan orang Panawijen. Mereka tidak dapat merasakan betapa

kecemasan telah mencengkeram seluruh padukuhan. Tanah yang

kering kerontang, daun-daun yang menjadi kuning dan gugur di

tanah. Kini beberapa lumbung desa kami terbakar.”

Detak jantung Mahisa Agni serasa menjadi berdentangan di

dalam dadanya. Hampir-hampir ia berkata, “siapakah laki-laki tua

yang memang sebenarnya bukan orang Panawijen itu. Tetapi ia

adalah seorang yang dapat berbuat banyak di Padang Karautan ini.”

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia

melihat pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia

berkata perlahan-lahan, “Sebenarnyalah demikian Agni. Segala

sesuatu tergantung kepadamu. Dihadapanmu terbentang banyak

pekerjaan dan kewajiban yang terlampau sulit.”

Dahi Mahisa Agni menjadi semakin berkerut merut. Tetapi

keinginannya untuk pergi ke Panawijen sangat mendesaknya. Ia

dapat membayangkan betapa orang-orang yang tinggal di

Panawijen menjadi terlampau gelisah dan cemas. Perempuan dan

anak-anak pasti tidak akan dapat tidur nyenyak karena hantu

kelaparan yang selalu menakut-nakuti mereka.

“Paman.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “aku terpaksa pergi ke

Panawijen. Tetapi kali ini aku akan pergi di siang hari. Mudahmudahan

aku terhindar dari segala macam bahaya.”

Tanpa mereka sengaja, maka Empu Gandring dan Ken Arok

saling berpandangan. Dan tanpa berjanji pula mereka berdesis,

“Kau jangan pergi seorang diri.”

Mahisa Agni memandangi wajah pamannya dan Ken Arok

berganti-ganti, “Aku hanya akan pergi sehari saja.”

“Sehari atau seminggu bahaya itu bagimu sama saja Agni.“

berkata pamannya.

Mahisa Agni menyadari kata-kata pamannya itu. Tetapi apakah ia

harus mengecewakan orang-orang Panawijen yang sedang

dicengkam oleh ketakutan itu? Mahisa Agni tidak dapat melupakan,

bahwa kekeringan yang menimpa Panawijen itu adalah akibat dari

sikap gurunya yang sedang kehilangan ke seimbangan. Ia tidak

dapat melemparkan kesalahan itu ke pada orang lain berturutan,

sehingga akhirnya kesalahan itu akan dibebankan kepada Kuda

Sempana. Tidak. Ia harus turut bertanggung jawab atas akibat dari

kekhilafan gurunya itu.

Apalagi ketika terpandang olehya wajah-wajah laki-laki tua yang

datang dari Panawijen dengan sepenuh harapan.

Karena itu maka Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Paman,

aku tidak dapat mengecewakan orang-orang Panawijen. Bukan

karena aku selalu dapat mengatasi setiap kesulitan dan memberi

apa saja yang mereka butuhkan tetapi mereka memerlukan kawan

untuk ikut serta merasakan kecemasan dan kegelisahan. Adalah

hanya karena pertolongan Yang Maha Agung lah kemudian apabila

dapat kita temukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan itu. Kali ini,

dalam hal kekurangan persediaan bahan makanan, Tuanku Akuwu

Tunggul Ametung telah menjadi lantaran untuk meringankan beban

kita.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan

kemudian terloncat dari bibirnya, “Baiklah Agni. Kalau kau tidak

dapat lagi merubah keputusanmu.”

Sebelum Empu Gandring menyelesaikan kalimatnya, salah

seorang laki-laki tua dari Panawijen itu memotong, “Keputusan itu

adalah keputusan yang paling bijaksana.”

Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia masih

berkata kepada Mahisa Agni, “Berangkatlah besok pagi. Aku pergi

bersamamu.”

Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu mengangkat wajahnya.

Sambil memandangi Empu Gandring salah seorang dari mereka

bertanya, “Buat apa kau ikut dengan Mabisa Agni?”

Mahisa Agni tidak lagi dapat menahan dirinya. Terasa sesuatu

mendesak di dalam dadanya. Dan tanpa sesadarnya ia membentak,

“Kaki. Aku sudah memenuhi permintaanmu. Tetapi jangan

terlampau banyak mempersoalkan orang lain yang sama sekali tidak

kau ketahui keadaannya.”

Kedua laki-laki itu benar-benar terkejut mendengar Mahisa Agni

membentak, sehingga keduanya menjadi terbungkam. Wajah

merekapun menjadi pucat dan bibir mereka menjadi gemetar.

Mereka tidak tahu kenapa tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah

kepada mereka.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia

berkata, “Biarkan mereka menyatakan pikirannya Agni.”

Dada Mahisa Agni seakan-akan menjadi sesak. Perlahan-lahan ia

berdesis, “Maafkan aku Kaki. Bukan maksudku menyakiti hatimu.”

Sejenak kemudian mereka terdampar ke dalam suasana yang

sepi. Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu masih gemetar. Mereka

benar-benar tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan.

Tanpa mereka kehendaki, mereka telah ikut serta menjerumuskan

Mahisa Agni ke dalam bahaya.

Yang mereka angan-angankan adalah, bahwa apabila mereka

berhasil membawa Mahisa Agni datang ke Panawdjen, maka mereka

akan menjadi pahlawan. Mereka dapat melakukan sesuatu yang

tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Mereka sama sekali tidak

mengerti keadaan Mahisa Agni sebenarnya, dan mereka tidak

merasa, bahwa merekapun ternyata telah terjebak dalam suatu akal

yang licik dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Dalam pada itu terayata bukan saja Empu Ganring yang menjadi

cemas atas nasib Mahisa Agni. Ken Arokpun merasakan sesuatu

yang tidak dapat dimengertinya sendiri. Karena itu maka kemudian

ia berkata, “Mahisa Agni. Aku akan menyiapkan tujuh orang yang

terpilih, untuk mengawanimu pergi ke Panawijen.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka akan

mendapat tawaran itu. Tetapi sayang, bahwa hati kecilnya meronta.

Ia sama sekali bukan seorang pemimpin, tetapi juga bukan seorang

penakut. Karena itu, maka pangawalan tujuh orang prajurit akan

membuatnya menjadi canggung. Karena itu maka jawabnya,

“Terima kasih Ken Arok. Terima kasih atas kebaikanmu itu. Tetapi

maaf aku tidak dapat menerimanya. Pengawalan prajurit sama

sekali bukanlah hakku, dan sama sekali tidak sepantasnya terjadi.

Aku hanya seorang anak padesan yang tidak berarti.”

“Jangan terlampau merendahkan dirimu Agni.” sahut Ken Arok,

“aku sama sekali tidak memandang siapakah kau. Tetapi aku

merasakan suatu ketidak wajaran. Sedang kau sekarang sedang

dibebani oleh tugas yang cukup berat.”

Mahisa Agni menggeleng lemah, “Terima kasih Ken Arok. Tetapi

maaf, aku kira aku tidak akan dapat menerimanya.”

“Apakah kau tersinggung karenanya?” bertanya Ken Arok, “aku

sama sekali tidak ingin menganggapmu seperti kanak-anak yang

masih selalu memerlukan dayang dan pengasuh. Tidak. Tetapi

Padang Karautan memang menyimpan seribu macam rahasia.”

“Rahasia itu sekarang telah berada di tanganmu.”

“Satu di antaranya.” jawab Ken Arok, “tetapi aku pernah melihat

tiga hantu Karautan berkumpul di sini, kemudian hadir seorang sakti

yang bernama Empu Sada. Setelah itu ternyata di Padang ini telah

singgah pula seorang yang barnama Empu Gandring. Akhir-akhir ini

di Padang ini pula berkeliaran penunggang kuda tanpa pelana,

hantu dari Kemundungan yang bernama Kebo Sindet dan Wong

Sarimpat. Sebelumnya di hutan menjelang Padang ini terdengar

pula seorang berkasa kulit harimau, guru kakang Witantra, Panji

Bojong Santi. Nah, Agni. Apakah tujuh orang prajurit itu masih kau

anggap berlebih-lebihan.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kata-kata yang diucapkan

oleh Ken Arok itu sama sekali tak dapat disangkalnya. Ia mengakui

bahwa semuanya itu benar-benar membuat Padang ini semakin

banyak menyimpan rahasia. Tetapi bagaimanapun juga, Mahisa Agni

merasa canggung apabila ia harus mendapat pengawalan tujuh

orang prajurit Tumapel.

Karena itu dengan berat hati ia berkata, “Terima kasih Ken Arok.

Aku dapat menerima kemurahan Akuwu Tunggul Ametung atas

bendungan yang sedang kita bangun. Aku tidak akan menolak

seandainya nanti Akuwu Tunggul Ametung memberikan hadiah

bahan makanan kepada kami, orang-orang Panawijen yang

kelaparan. Tetapi aku tidak dapat menerima kebaikan hatimu, justru

untukku sendiri. Aku tidak dapat berjalan seperti seorang Senapati

yang dikawal oleh prajurit-prajuritnya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni bukanlah

sanak dan bukan kadangnya. Tetapi ia merasa sesuatu telah

memaksanya untuk mencoba melindunginya.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Dua laki-laki tua dari

Panawijen itu duduk membeku. Nama-nama yang disebut oleh Ken

Arok sebagian besar belum pernah mereka dengar. Tetapi suasana

pembicaraan itu membayangkan kepada mereka bahwa di Padang

Karautan itu memang tersimpan berbagai macam persoalan.

Tetapi kedua laki-laki itu sama sekali tidak dapat mengerti

kenapa Mahisa Agni menolak ketujuh orang prajurit yang diberikan

oleh Ken Arok kepadanya. Bukankah dengan demikian perjalanan

mereka akan menjadi bertambah aman? Mereka sama sekali tidak

merasakan kejanggalan dan keseganan itu. Bahkan mereka sama

sekali tidak berpikir tentang keadaan diri sendiri dalam

hubungannya dengan para prajurit itu.

Keheningan itu kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok, “Agni,

kalau demikian, maka aku akan ikut besertamu.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga

duduknya berkisar setapak. Dengan serta merta ia menjawab, “Ken

Arok, jangan hiraukan aku. Lakukanlah kewajiban yang dibebankan

kepadamu oleh Akuwu Tunggul Ametung. Memimpin para prajurit

dan Pelayan Dalam istana untuk membantu membuat bendungan

ini. Tetapi jangan mempersulit dirimu dan menghiraukan hal-hal

yang kecil yang bukan kewajibanmu, tetapi justru dapat

mendatangkan bencana bagimu.”

Ken Arok menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku dapat

bersikap sebagai seorang pemimpin dari para prajurit ini, tetapi aku

juga dapat bersikap sebagai Ken Arok pribadi, Ken Arok yang untuk

pertama kalinya bertemu dengan Mahisa Agni di Padang Karautan

ini. Karena itu, maka biarlah aku melepaskan pakaian

kepemimpinanku sejenak dan menyerahkan kepada orang lain. Aku,

Ken Arok akan pergi bersamamu menyeberangi Padang ini. Aku

ingin mengenangkan kembali segarnya udara terbuka, hijaunya

daun-daun perdu dan panasnya terik matahari. Jangan menolak

Agni. Sebab menolak atau tidak, aku mempunyai kebebasan untuk

melakukannya. Pergi ke Panawijen atau tinggal di sini.”

Sejenak Mahisa Agni terbungkam. Sama sekali ia tidak dapat

mengucapkan sepatah katapun. Karena itu maka sekali lagi suasana

menjadi sepi. Kadang-kadang terdengar beberapa orang yang

duduk di sekitar Mahisa Agni itu saling berbisik. Kadang-kadang

mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka, namun kadangkadang

wajah-wajah itu menjadi sangat tegang.

Mahisa Agni sendiri sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah

katapun. Ia tidak menyangka bahwa begitu besar perhatian orangorang

di sekitarnya terhadap dirinya. Terbersitlah rasa terima kasih

yang menyentuh hatinya, tetapi ia pun menjadi canggung pula

karenanya. Ia biasa hidup sebagai seorang anak padepokan yang

bertanggung jawab. Yang biasa meletakkan kewajiban pada usaha

sendiri. Tetapi kini ia harus menghadap suatu kenyataan yang lain

meskipun persoalannya dapat dimengertinya.

Meskipun demikian Mahisa Agni masih mencoba menjawab, “Ken

Arok, aku sekali lagi mengucapkan terima kasih kepadamu. Aku

memang tidak akan dapat menolak apalagi melarang, seandainya

kau dengan kehendakmu sendiri ingin menjelajahi Padang Karautan

ini. Tetapi apakah dengan demikian kau tidak justru meninggalkan

kewajiban yang dibebankan oleh Akuwu Tunggul Ametung

kepadamu?”

“Itu adalah tanggung jawabku Agni. Seandainya aku akan

dianggap mengabaikan kewajibanku sekalipun, maka akulah yang

akan menerima akibatnya.”

Mahisa Agni tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia tabu benar,

bahwa sama sekali bukan maksud Ken Arok untuk memaksa

kehendaknya atasnya, tetapi apa yang dilakukannya itu terdorong

oleh perasaan cemas dan gelisah.

Akhirnya Mahisa Agni berkata, “Baiklah. Kalau kau ingin juga

pergi menyeberangi Padang Karautan ini. Aku tahu bahwa itu bukan

semata-mata karena kau telah merindukan udara Padang yang luas

ini, bukan karena kau ingin mendengar angin yang gemerisik

membelai dedaunan yang mulai kering menguning. Tidak pula

karena kau ingin melihat angin pusaran yang menaburkan debu dan

rerumputan kering. Tetapi karena kau melihat sesuatu yang

mencemaskan hatimu. Tentang aku.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya

perlahan-lahan, “Terserah kepadamu Agni. Apakah yang akan kau

katakan tentang aku.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Angin senya bertiup semakin

lama semakin kencang. Tiba-tiba mereka melihat kilat memancar.

Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa disadarinya Ditatapnya langit

di luar gubugnya. Tetapi langit itu tampak bersih. Satu dua bintang

telah mulai menampakkan dirinya, berkeredipan seperti batu

permata.

“Hem, apakah sudah akan sampai waktunya musim basah tiba.“

pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya, “Bendungan itu masih

belum siap seluruhnya. Tetapi menilik mangsa, hujan baru akan

datang dua bulan lagi, dan banjir yang pertama menurut kebiasaan

akan datang kira-kira tiga bulan lagi.”

Mahisa Agni terkejut ketika pamannya berkata, “Apakah kita

sudah menjatuhkan putusan? Besok kau pergi bersama aku dan

angger Ken Arok?”

Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Demikianlah

paman.”

“Baiklah.“ sahut pamannya, “sekarang aku akan beristirahat.

Besok kita berangkat pagi-pagi.”

“Silahkan paman.” jawab Mahisa Agni.

“Aku juga akan mempersiapkan diri.“ berkata Ken Arok, “aku

akan menyerahkan pimpinan kepada seseorang dan memerintahkan

dua orang untuk pergi ke Tumapel. Ke dua prajurit akan melaporkan

keadaan di Padang ini dan akan menyampaikan berita kebakaran di

Panawijen. Aku yakin kalau Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan

menyangupi memberi bantuan kepada orang-orang Panawijen.

Setidak-tidaknya bagi orang-orang Panawijen yang berada di

Padang Karautan ini, sehingga mereka tidak perlu mengurangi

persediaan makan dari lumbung-lumbung yang masih ada di

Panawijen.”

“Terima kasih Ken Arok.“ desis Mahisa Agni sambil menundukkan

kepalanya. Getar dadanya serasa semakin cepat mengalir. Bantuanbantuan

yang datang itu telah mengharukan perasaannya.

Akhirnya perasaan terima kasih yang tidak terhingga

dipanjatkannya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tangan-

Nya lah maka semua itu dapat terjadi.

Sejenak kemudian Ken Arok telah meninggalkan Mahisa Agni

yang masih duduk tepekur. Beberapa orang lainpun satu-satu

beranjak pula dari tempat duduk mereka, kembali kegubug-gubug

masing-masing. Mereka menjadi gelisah setelah mereka mendengar

berita kebakaran di Panawijen. Tetapi mereka pun menjadi gelisah

pula mendengar pembicaraan orang-orang penting di sekitar

mereka. Mereka ingin Mahisa Agni melihat bekas-bekas kebakaran

itu untuk memastikan sebab-sebabnya, tetapi mereka juga

mengharap di dalam hatinya, agar Mahisa Agni tidak usah pergi ke

Panawijen, sebab menurut pendengaran mereka, Padang Karautan

benar-benar merupakan Padang yang dipenuhi oleh seribu macam

rahasia.

Tetapi mereka tidak dapat mengatakan kepada Mahisa Agni,

kepada Ken Arok atau kepada paman Mahisa Agni. Mereka juga

tidak dapat mengatakan kepada kedua laki-laki tua yang baru

datang dari kampung halaman mereka, bahwa sebaiknya Mahisa

Agni tidak usah mereka ajak kembali ke Panawijen. Namun satu dua

orang berpendapat bahwa sebaiknya Mahisa Agni pergi saja ke

Panawijen, supaya apabila ia kembali ke Padang ini, ia dapat

mengatakan apa yang telah terjadi. Sehingga dengan demikian

mereka tidak selalu dihantui oleh bayangan yang mungkin sangat

ber lebih-lebihan.

Ketika tempat itu menjadi semakin sepi, maka Mahisa Agni

terkejut mendengar suara Ki Buyut Panawijen dekat di sampingnya,

“Angger, aku juga ingin turut ke Panawijen.”

“Oh.” Mahisa Agni mengangkat wajahnya dan dengan serta

merta ia berkata, “Jangan Ki Buyut. Aku sudah meninggalkan

pekerjaan ini. Sebaiknya Ki Buyut lah yang kini menunggui mereka

supaya mereka tidak menjadi kehilangan gairah.”

“Tetapi aku juga ingin melihat apa yang terjadi itu ngger.”

“Lain kali Ki Buyut. Biarlah Ki Buyut tetap bersama mereka yang

sedang bekerja. Aku, paman Empu Gandring dan Ken Arok telah

meninggalkan Padang ini. Para prajurit Tumapel itu pun

diserahkannya kepada orang lain. Karena itu sebaiknya Ki Buyut

tetap berada di sini.”

Ki Buyut Panawijen menatap wajah Mahisa Agni dengan

pancaran kekecewaan hatinya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

Dicobanya untuk mengerti kata-kata Mahisa Agni itu.

“Ki Buyut.” Mahisa Agni meneruskan, “kerja yang besar ini tidak

akan dapat kita tinggalkan bersama-sama. Aku telah melihat sekalisekali

kilat memancar di langit. Sebentar lagi kita akan sampai pada

musim basah. Sebelum banjir yang pertama mengaliri sungai ini,

maka bendungan kita harus sudah meyakinkan, bahwa ia tidak akan

hanyut karenanya.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih saja

berdiam diri.

“Karena itu.” Mahisa Agni meneruskan, “kita harus bekerjya keras

untuk menyelesaikannya. Untunglah bahwa kita mendapat bantuan

para prajurit dari Tumapel itu.”

Ki Buyut Panawijen masih mengangguk-angguk kecil. Kemudian

katanya perlahan-lahan, “Baiklah ngger. Biarlah aku tinggal di sini

menunggui mereka yang sedang bekerja.”

“Terima kasih Ki Buyut.” sahut Mahisa Agni, “mudah-mudahan

semuanya dapat kita selesaikan bersama-sama.”

Ki Buyut kemudian meninggalkan Mahisa Agni kembali

kegubugnya. Udara masih juga terasa agak panas, meskipun angin

telah bertiup agak kencang. Gelap malam pun semakin lama

menjadi semakin pekat. Ketika Mahisa Agni menengadahkan

wajahnya, dilihatnya dari celah tutup keyong gubugnya, bintangbintang

sudah berpijaran di langit yang biru hitam.

Kedua laki-laki tua yang datang dari Panawijen masih berada di

dalam gubug itu. Ketika suasana menjadi semakin sepi, dan tidak

ada orang lain di dalam gubugnya, maka salah seorang daripadanya

bertanya, “Agni, siapakah orang tua itu?”

“He.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “bukankah itu Ki

Buyut. Apakah kalian telah melupakannya?”

“Bukan. Bukan Ki Buyut. Apakah aku sudah gila sehingga aku

tidak mengenalnya lagi.” sahut orang itu, “maksudku orang tua

yang selalu mencoba menghalangi kau pergi ke Panawijen.”

Dahi Mahisa Agni menjadi berkerut merut. Terasa detak

jantungnya menjadi semakin cepat. Tetapi ia tidak akan dapat

mengatakan lain daripada keadaan sesungguhnya. Dengan demikian

maka untuk selanjutnya kedua orang itu akan bersikap lebih hatihati.

Namun hal itu pasti akan mengejutkan mereka. Tetapi menurut

pendapat Mahisa Agni demikianlah sebaiknya-baiknya.

Maka jawabnya, “Kaki, laki-laki tua itu adalah salah seorang dari

mereka yang disebut-sebut sebagai orang aneh di Tumapel. Ia

seorang pembuat keris. Kerisnya hampir tak ada duanya di dunia ini.

Tetapi membuat keris baginya tidak seperti pembuat-pembuat keris

yang lain. Belum pasti setahun sekali ia menghasilnya sebuah keris.

Bahkan mungkin dua tahun. Tetapi apabila sebuah keris

disiapkannya, maka keris itu pilih tanding.”

Kedua laki-laki itu memandangi wajah Mahisa Agni dengan

tegangnya. Tetapi mereka tidak segera tahu, siapakah orang itu.

Karena itu maka salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah

orang itu?”

“Orang itu telah pula disebut-sebut namanya oleh Ken Arok.”

“Ya, siapakah namanya?”

“Empu Gandring.”

“O.“ kedua orang itu terbungkam. Mereka mendengar nama itu

tadi disebut pula seorang anak muda pemimpin prajurit dari

Tumapel dalam deretan nama-nama yang asing bagi mereka, tetapi

kesan yang mereka tangkap adalah terlampau dahsyat. Justru

karena itu maka mereka tidak lagi mengucapkan sepatah katapun.

Dada mereka seakan-akan tersumbat oleh penyesalan.

Yang berbicara kemudian adalah Mahisa Agni, katanya, “Nah,

sekarang beristirahatlah. Besok kita berangkat pagi-pagi supaya kita

sampai di Panawijen sebelum sore hari.”

“Begitu cepat?”

“Tidak terlampau cepat. Perjalanan yang sedang.”

Kedua orang itu tidak menjawab lagi. Mahisa Agni telah

menyediakan untuk mereka sehelai tikar pandan yang dibentangkan

di atas setumpuk rumput-rumput kering.

Malam pun kemudian menjadi semakin dalam. Setapak demi

setapak bintangi berkisar kebarat menuju kecakrawala. Angin

malam yang sejuk berhembus dari Selatan. Dan embun pun

kemudian setetes-setetes menitik dan hinggap di dedaunan yang

menguning.

Ketika fajar menyingkap kehitaman langit di ujung Timur, maka

Mahisa Agni dan Kawan-kawannya pun telah bersiap. Kedua laki-laki

tua dari Panawijen, Empu Gandring dengan sebilah keris raksasa di

punggungnya, Ken Arok dengan pedang di lambung dan Mahisa

Agni sendiri. Seperti Ken Arok Mahisa Agnipun membawa pedang

pula tergantung pada ikat pinggang kulit yang lebar.

Terasa oleh orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel,

bahwa orang-orang yang berangkat melintasi Padang Karautan itu

benar-benar telah bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Ketika langit menjadi semakin terang, maka mereka pun segera

berangkat, dilepas oleh Ki Buyut Panawijen dan orang lain yang

sebentar lagi akan mulai pula bekerja menyelesaikan bendungan itu.

Sejenak kemudian maka kuda-kuda itu pun segera berpacu.

Tetapi mereka tidak dapat berjalan seperti yang mereka kehendaki,

karena kedua laki-laki tua dari Panawijen itu tidak berani

menunggang kuda terlampau kencang. Karena itu maka perjalanan

itu pun merupakan perjalanan yang terlampau lambat bagi Mahisa

Agni, Empu Gandring, apalagi Ken Arok.

Meskipun demikian, namun mereka pun menjadi semakin lama

semakin mendekati pedukuhan Panawijen. Pedukuhan yang semakin

lama menjadi semakin kering. Namun dengan demikian, bagi Mahisa

Agni semakin lama semakin didekatinya bahaya yang bersembunyi

di dalam pedukuhan itu.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah menunggunya dengan

sepenuh harapan tentang berbagai keuntungan yang akan mereka

dapatkan dari pemerasan yang akan mereka lakukan.

Betapapun lambatnya perjalanan itu, tetapi akhirnya Panawijen

telah berada di hadapan hidung mereka, setelah beberapa kali

mereka berhenti melepaskan lelah dan haus, karena kedua laki-laki

tua dari Panawijen itu. Mereka tidak memiliki ketahanan seperti

Mahisa Agni, Empu Gandring yang meskipun sudah tua pula dan

apalagi Ken Arok, seorang yang paling mengenal Padang Karautan

melampaui yang lain-lain.

Sejenak kemudian mereka pun telah memasuki padukuhan itu.

Mereka berlima disambut dengan penuh gairah oleh orang-orang

Panawijen. Apalagi setelah mereka melihat Mahisa Agni, maka

mereka pun menjadi seakan-akan anak-anak yang sudah lama tidak

melihat ayahnya pergi merantau, dan kini ayah itu kembali pulang.

Belum lagi Mahisa Agni sempat beristirahat, maka beberapa

orang-orang telah menemuinya dan masing-masing berceritera

dalam nada yang berbeda-beda tentang kebakaran yang terjadi

dipadukuhan mereka. Tentang beberapa buah lumbung dan rumahrumah

yang lain.

“Nanti aku akan melihat.” berkata Mahisa Agni, “sekarang

apakah kalian tidak ingin memberi kesempatan kami untuk

beristirahat sebentar.”

“Oh.“ orang-orang Panawijen itu saling berpandangan sejenak.

Kemudian merekapun menjawab hampir bersamaan, “Silahkan.

Silahkan anakmas beristirahat di rumah Ki Buyut.”

“Terima kasih.” sahut Mahisa Agni, “aku akan beristirahat di

padepokanku.”

Mahisa Agni pun kemudian pergi kepadepokannya, padepokan

yang pernah didiaminya sejak kanak-kanak.

Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menunggu

dengan berdebar-debar di rumah Kuda Sempana. Ketika ayah Kuda

Sempana datang, maka dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat

bertanya, “He, apakah kau melihat Mahisa Agni. Bukankah orangorang

ribut menyambut kedatangannya. Anak-anak itu akan

menjadi terlampau congkak. Seakan-akan ia sudah menjadi seorang

Akuwu di Panawijen.”

“Aku melihatnya.” sahut ayah Kuda Sempana, “anak muda itu

datang berlima.”

“Berlima?” Wong Sarimpat mengerutkan alisnya, sedang wajah

Kebo Sindet yang beku masih juga membeku, “siapa saja mereka?”

Ayah Kuda Sempana menggeleng, “Aku tidak tahu. Yang seorang

sudah agak tua, membawa sebuah keris yang besar di

punggungnya.”

“Empu Gandring.” gumam Wong Sarimpat.

“Yang seorang lagi agaknya prajurit atau Pelayan Dalam seperti

Kuda Sempana dahulu. Wajahnya tampan dan bermata terang.”

“Siapakah anak itu Kuda Sempana?” bertanya Wong Sarimpat.

Kuda Sempana menggeleng. Jawabnya kosong, “Aku tidak tahu.”

“Kau pasti tahu.” sahut Wong Sarimpat, “kau pernah menjadi

seorang prajurit atau seorang Pelayan Dalam.”

“Tetapi aku tidak melihat siapa orang itu.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya,

“Ya, kau memang tidak melihat tetapi seharusnya kau dapat

mengira-ngirakan siapakah orang itu.”

“Ada beratus-ratus Pelayan Dalam dan prajurit pengawal di

dalam istana. Aku tidak dapat mengenal seluruhnya.”

“Tetapi siapakah yang berwajah tampan dan bermata terang.“

tiba-tiba Wong Sarimpat membentak.

“Jangan terlampau keras berteriak.” Kebo Sindet

memperingatkannya, “kita tidak berada di Kemundungan. Kita

berada di dalam sebuah pedukuhan. Di Kemundungan, suaramu

yang keras dan serak itu hanya akan didengar oleh dinding-dinding

padas lereng bukit. Di sini suaramu akan dapat membuat bayi-bayi

menjadi pingsan.”

“Oh.“ Wong Sarimpat mengusap mulutnya seakan-akan ia akan

menghapus suaranya yang telah terlanjur terlontar. Tetapi kembali

ia bertanya merkipun agak perlahan-lahan, “Siapa?”

“Banyak di antara mereka yang tampan dan bermata, terang.“

sahut Kuda Sempana seakan-akan acuh tak acuh, “Witantra, Sura,

Kukma, Mitra…”

“Cukup.“ sekali lagi Wong Sarimpat berteriak dan sekali lagi

Kebo Sindet memperingatkannya, “Wong Sarimpat. Apakah kau

tidak mempunyai otak?”

Wong Sarimpat terdiam. Tetapi mulutnya masih saja kumatkamit,

dan ia mengumpat tak habis-habisnya di dalam hati.

“Mungkin kau tidak mengenal anak itu Kuda Sempana.“ berkata

Kebo Sindet dengan wajah yang beku, “tetapi siapakah yang dua

lagi?”

Ayah Kuda Sempana menjawab, “Yang dua adalah laki-laki tua

dari Panawijen yang menjemput mereka.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Wong

Sarimpat ia berkata, “Kita sudah pasti. Siapa pun prajurit muda itu,

tetapi ia bukan orang-orang yang wajib kita perhitungkan. Kau

dapat menahan Empu Gandring, dan aku akan melarikan Mahisa

Agni.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kemudian kau lebih baik meninggalkan Empu Gandring. Ia tidak

akan dapat menyusulmu. Kudamu pasti lebih baik dari pada

kudanya.”

Wong Sarimpat masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau anak muda yang seorang itu mampu membuat

perlawanan, maka sementara Kuda Sempana harus mengikat

Mahisa Agni dalam perkelahian. Hanya sebentar. Aku akan

membunuh prajurit muda yang tampan itu. Aku tidak tahu siapa ia,

tetapi kalau ia mencoba menghalang-halangi aku, maka terpaksa

aku akan membunuhnya.”

“Baik.“ geram Wong Sarimpat, “aku akan membunuh Empu

Gandring, tidak hanya sekedar menyingkirkannya dari Mahisa Agni.”

“Kau tidak perlu membual Wong Sarimpat.“ berkata Kebo Sindet.

Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Dan kau Kuda

Sempana, kau akan dapat melepaskan dendam hatimu.

Sekendakmulah, apa yang akan kau lakukan atas anak muda itu

kelak di Kemundungan. Sedang aku mempunyai kepentingan sendiri

dengan Mahisa Agni itu. Tetapi aku tidak akan mengecewakanmu.”

Sementara itu, setelah Mahisa Agni dan kedua orang lainnya,

Empu Gandring dan Ken Arok, beristirahat sejenak, minum air legen

yang manis langsung dari bumbung yang di turunkan dari deresan

pohon nyiur, dan sedikit makan beberapa jenis makanan, mereka

pun segera pergi ketempat ke bakaran.

Mereka melihat beberapa lumbung dan rumah terbakar hampir

musna. Abu yang lembut masih saja berhamburan disentuh angin

yang agak kencang. Di sana sini masih teronggok reruntuhan yang

tersisa.

Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok melihat sisa-sisa

kebakaran itu dengan saksama, sementara beberapa orang

mengerumuninya dari kejauhan.

Tiba-tiba Empu Gandring yang tua itu mengerutkan keningnya. Ia

melihat beberapa hal yang kurang wajar menurut penilaiannya.

Karena itu maka digamitnya Ken Arok dan di panggilnya Mahisa

Agni mendekat.

“Kau lihat onggokan abu di sini?“ bertanya Empu Gandring.

Kedua anak muda itu menggangguk.

“Dan kau lihat rumah sebelah yang belum terbakar habis?”

Sekali lagi keduanya mengangguk.

“Aku akan menyebutkan suatu kemungkinan, tetapi aku tidak

dapat memastikan kebenarannya. Kalau menurut dugaanku, maka

lumbung ini pasti lebih dahulu terbakar dari rumah itu. Bukankah di

sisi sebelah ini kebakaran agaknya lebih sempurna dari sisi yang

lain.”

“Ya.“ sahut Mahisa Agni.

“Tetapi rumah itu terbakar disisi yang berlawanan dari lumbung

ini. Kalau rumah itu terbakar oleh api yang menjalar dari lumbung

ini, maka sebelah yang terdekat dengan lumbung inilah yang akan

terbakar lebih dahulu. Tetapi bukankah yang terjadi sebaliknya?

justru yang di sisi ini rumah itu masih tersisa meskipun tinggal

seonggok kayu.”

Kedua anak-anak muda itu masih mengangguk-anggukkan

kepalanya. Mereka segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa api

yang membakar rumah itu bukanlah yang menjalar dari lumbung ini.

Kenyataan yang kecil itu telah cukup membuat mereka bercuriga.

Apakah mungkin karena panasnya udara timbul api dari dua tempat

yang berbeda? Yang hampir bersamaan telah membakar dua

macam bangunan itu?

Dalam pada itu terdengar Ken Arok berdesis, “Ada tangan yang

menyalakannya.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang mata

Mahisa Agni kini menjadi menyala seperti api yang membara.

Terdengar giginya gemeretak. Dengan dada yang berdentangan ia

menggeram, “Aku sependapat. Ada orang yang mencoba

mengacaukan kerja kita.”

“Jangan kau tanggapi dengan hati yang gelap Agni. Adalah

sudah, menjadi kebiasaan, bahwa setiap kerja yang baik dan

bermanfaat, apalagi kerja yang besar, pasti akan ditemuinya

berbagai macam rintangan dan gangguan. Kini kau juga menjumpai

rintangan dan gangguan itu.”

“Jadi apakah kita akan membiarkan saja mereka itu paman?”

“Tentu tidak Agni. Tetapi hati kita harus tetap jernih supaya kita

tetap dapat melihat dengan terang. Kita harus pasti siapakah yang

kita hadapi.“ Empu Gandring berhenti sejenak. Dipandanginya

orang-orang yang berkerumun di kejauhan. Kemudian katanya,

“Kau jangan membuat orang-orang itu menjadi semakin bingung

dan cemas. Buatlah mereka tenang.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam seakan-akan ingin

mengendapkan isi dadanya yang sedang bergolak.

“Berilah mereka ketenangan, supaya mereka tidak akan

menambah bebanmu yang telah menjadi semakin berat itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan iapun

dapat mengerti ketika pamannya berkata, “Kau harus berkata

kepada mereka, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Kebakaran

ini adalah kebakaran yang wajar karena suatu kecelakaan saja. Dan

kau harus menyampaikan kepada mereka kesanggupan Angger Ken

Arok. Adalah lebih baik apabila angger Ken Arok menyampaikannya

sendiri.”

Mahisa Agni pun kemudian memandangi wajah-wajah yang

memancarkan kecemasan dan ketidak tentuan. Namun kepala anak

muda itu masih saja mengangguk-angguk. “Baiklah“ gumamnya.

Sambil berpaling kepada Ken Arok, Mahisa Agni berkata, “Apakah

kau tidak berkeberatan?”

“Aku mendahului keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi

aku yakin bahwa demikianlah yang akan terjadi?”

“Jadi bagaimana?”

“Baiklah.”

Ketiganya, bersama dua laki-laki yang menjemput mereka ke

Padang Karautan dan beberapa orang tua yang menunggu mereka

agak jauh di samping bekas-bekas kebakaran itu pun segera

menemui orang-orang Panawijen. Mahisa Agni mencoba untuk

menenangkan hati mereka dengan beberapa keterangan. Dan

akhirnya dipersilahkannya Ken Arok sendiri memberi penjelasan

kepada orang-orang Panawijen itu.

Agaknya kesanggupan Ken Arok telah dapat memberi mereka

ketenteraman. Mereka tidak lagi digelisahkan oleh masa depan yang

mengerikan. Bahaya kelaparan yang selalu menghantui mereka

beberapa hari terakhir.

“Aku telah mengirimkan dua orang prajurit ke Tumapel.“ berkata

Ken Arok, “mudah-mudahan mereka segera datang. Sebelum padi

yang terakhir kalian masukkan kedalam lesung, maka pasti telah

datang padi dan jagung dari Tumapel. Kalian tidak akan dibiarkan

kelaparan sampai tanah yang kalian garap menghasilkan. Sampai

bendungan di Padang Karautan itu dapat mengangkat air, mengairi

sawah-sawah kalian yang pasti akan lebih subur dari sawah-sawah

kalian di Panawijen ini.”

Alangkah lapang hati mereka. Meskipun daun-daun di padukuhan

mereka menjadi semakin kuning dan berguguran, namun hati

mereka menjadi tenteram.

Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni sendiri. Hatinya selalu

diganggu oleh kemarahan dan kegelisahan, meskipun ia tidak tahu,

bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saat itu berada di

pedukuhan itu pula.

Sebenarnya bukan seja Mahisa Agni Yang menjadi gelisah. Tetapi

juga Empu Gandring dan Ken Arok. Dugaan mereka atas timbulnya

kebakaran karena kesengajaan telah menumbuhkan berbagai

persoalan di dalam dada mereka. Itulah sebabnya, maka setelah

mereka kembali kepadepokan dan beristirahat di serambi samping,

maka senjata-senjata mereka tidak juga terpisah daripada tubuh

mereka.

Empu Gandring yang melihat kekuatan-kekuatan yang seimbang

dengan dirinya yang menurut dugaannya adalah Empu Sada, Kebo

Sindet dan Wong Sarimpat membiarkan kerisnya melekat di

punggung, meskipun ia sedang duduk menikmati beberapa macam

makanan padepokan Panawijen. Sedang Ken Arok meletakkan

pedangnya di pangkuannya. Mahisa Agni sendiripun tidak juga

melepas pedangnya tersangkut di lambungnya.

Beberapa orang cantrik yang masih tinggal di padepokan itu

sibuk menjediakan makan dan minuman mereka. Salah seorang dari

mereka bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah aku dapat

menyimpan senjata-senjata kalian?”

Mahisa Agni menggeleng, “Jangan.”

Cantrik itu terdiam, tetapi wajahnya menjadi kecut. Terbayanglah

suatu pertanyaan di dalam wajah itu, “Kenapa senjata-senjata itu

tidak juga ditempatkan.“ Namun cantrik itu tidak mengucapkannya.

Sementara itu cahaya di langit pun menjadi semakin lama

semakin merah. Mega yang berarak-arak dan awan yang seolaholah

tersangkut di langit memantulkan cahaya matahari yang

hampir tenggelam, dan memancarlah layung di langit. Warna yang

tajam menusuk ke dalam serambi samping padepokan Panawijen.

Warna itu seolah-olah menambah kegelisahan yang tersimpan di

dalam dada Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok. Warna itu

seperti tajamnya ujung senjata yang berputar di langit, disoroti oleh

cahaya senja.

Tiba-tiba Mahisa Agni berdiri dari tempatnya. Perlahan-lahan ia

melangkah sambil berkata, “Aku akan ke sanggar sebentar paman.”

“Apa yang akan kau perbuat?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat sanggar guruku yang

telah lama tidak dipergunakan.”

Empu Gandring merasa heran. Padepokan ini adalah padepokan

guru Mahisa Agni. Tetapi untuk melepas Mahisa Agni pergi dari sisi

sebelah Timur ke sisi sebelah Barat, terasa begitu berat. Seakanakan

Empu Gandring sedang melepas seorang anak kecil bermainmain

ditepi sumur.

“Aku terlampau dibayangi oleh perasaanku sendiri.“ berkata

orang tua itu di dalam hatinya. Karena itu maka di cobanya untuk

mempergunakan pikiran jernihnya. Anak muda itu hanya akan pergi

ke sanggar. Tidak lebih dari tigapuluh langkah dari tempat itu.

“Pergilah.“ jawabnya kemudian, “tetapi hati-hatilah. Rumah ini

sudah lama tidak kau kenal.”

“Baiklah paman.”

Mahisa Agnipun segera meninggalkan pamannya. Pesan itu

adalah pesan yang aneh baginya, tetapi ia merasa bahwa pesan itu

sudah wajar diucapkannya. Seakan-akan anak muda itu sendiri

merasa bahwa ia berada di suatu medan yang berbahaya.

Dengan pedang di lambung Mahisa Agni pun segera pergi ke

sanggar gurunya. Perlahan-lahan dibukanya pintu sanggar itu.

Terdengar suara berderit, dan seberkas sinar senja yang temaram

melontar masuk.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa udara agak

panas mengalir dari dalam. Remang-remang dilihatnya tiang-tiang

kayu nangka yang kekuning-kuningan.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah naik anak tangga dan

memasuki sanggar. Ketika kakinya menyentuh lantai, debu yang

tipis menggelepar di bawah kakinya.

Mahisa Agni pun kemudian melangkah terus masuk ke dalam

sanggar. Ia tidak menutup pintunya, terlampau rapat karena

dengan demikian sanggar itu akan menjadi gelap sekali. Dengan

sisa-sisa sinar senja ia mencoba mengamati isi sanggar gurunya itu.

“Pusaka itu masih berada di sini.“ desisnya, “tak seorang pun

yang tahu tempatnya selain aku.”

Dengan ragu-ragu Mahisa Agni mencoba membuka sepotong

papan lantai dan meraba-raba kedalamnya. Ketika tangannya

menyentuh sebuah peti kecil, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Peti ini masih di sini.“ desisnya.

Mahisa Agni itu pun segera duduk menghadap pintu sanggar

yang masih sedikit menganga. Sambil melihat keluar, kalau-kalau

ada orang yang melihatnya, ia membuka peti kecil itu. Hati-hati ia

meraba ke dalamnya, dan kini tangannya menyentuh sebuah benda

yang dingin.

“Inilah pusaka itu.“ katanya di dalam hati.

Dengan dada yang berdebar-debar diangkatnya benda kecil dari

dalam peti itu. Mata Mahisa Agni menjadi bersinar-sinar ketika ia

melihat sebuah pusaka kecil berkilat-kilat di tangannya. Trisula.

Seperti didorong oleh tenaga yang aneh, cepat-cepat ia

memasukkan trisulanya kembali. Segera menutup peti itu, dan

menempatkan kembali sepotong papan lantai itu pada tempatnya,

dan mengembalikan semuanya seperti sediakala. Tak ada bekas

apapun yang ditinggalkannya. Tak seorang pun tahu, bahwa ada

sepotong kayu lantai yang dapat diangkat, dan di dalamnya

tersimpan pusaka itu.

Sejenak Mahisa Agni duduk tepekur. Di luar senja menjadi

semakin beringsut menjelang malam. Langit yang kemerah-merahan

menjadi semakin kelam. Dan sanggar itu pun manjadi semakin

gelap.

Empu Gandring dan Ken Arok masih duduk di serambi samping.

Mereka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali. Kepala mereka

tampak tepekur. Ketika seseorang memasang sebuah lampu dinding

di samping mereka, mereka hanya menganggukkan kepala sambil

bergumam, “Terima kasih.“ Namun sesudah itu mereka terdiam

kembali.

Yang kemudian bertanya adalah Ken Arok, “Paman, kenapa

Mahisa Agni terlampau lama berada di dalam sanggar itu?”

Empu Gandring tidak segera menjawab. Meskipun sebenarnya

hatinya sendiri selalu diliputi oleh kegelisahan. Dipandanginya

warna-warna yang kelam di halaman. Tetapi agaknya tak satupun

yang dilihatnya.

Agaknya Ken Arok tidak dapat menahan kegelisabannya,

sehingga iapun kemudian berdiri. Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku

ingin melihat kesanggar sebentar paman. Apakah Agni sedang

bersemadi?”

“Aku kira tidak Ngger. Tetapi baiklah kalau kau ingin melihatnya.

Tetapi kau pun harus ber-hati-hati pula.”

“Baik paman.”

Ken Arok pun kemudian melangkah meninggalkan serambi

samping pergi ke sanggar di sisi yang lain dari halaman rumah itu.

Dengan hati-hati Ken Arok melihat setiap gerak dan mendengarkan

setiap bunyi di halaman. Di sana-sini beberapa orang cantrik telah

menyalakan pelita-pelita di sudut-sudut rumah.

Ken Arok berhenti beberapa langkah dari sanggar. Ia tidak ingin

mengganggu Mahisa Agni. Dari tempatnya berdiri, Ken Arok melihat

remang-remang pintu sanggar itu tidak tertutup rapat.

Tetapi malam pun menjadi semakin malam. Dan Mahisa Agni

masih juga belum keluar dari sanggar. Meskipun demikian Ken Arok

masih juga belum beranjak dari tempatnya.

Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia melihat sesosok bayangan

mendekati sanggar itu. Bayangan yang hanya dilihatnya lamat-lamat

itu berhenti sejenak di muka pintu. Tetapi bayangan itu kemudian

tidak segera-segera pergi.

“Siapakah ia?” desis Ken Arok di dalam hatinya, “Agaknya ia

menunggu Mahisa Agni keluar.”

Tetapi Ken Arok tidak begitu mencemaskannya. Agaknya

bayangan itu tidak sengaja menyembunyikan diri. Ia berdiri saja di

samping pintu sanggar.

“Mungkin seorang cantrik.“ berkata Ken Arok di dalam hatinya.

Sejenak kemudian ia melihat pintu sanggar itu bergerak.

Bayangan yang menunggu di samping pintu itu surut selangkah.

Sementara itu, mata Ken Arok yang tajam melihat Mahisa Agni

tersembul ke luar dari dalamnya.

Tiba-tiba Mahisa Agni itu terloncat kesamping anak tangga

sanggarnya. Agaknya ia terkejut ketika ia melihat seseorang

menunggunya dimuka pintu sanggar. Tetapi orang yang

menunggunya itu pun terkejut pula, sehingga iapun terloncat

mundur.

“Siapa?“ terdengar Mahisa Agni bertanya.

“Aku Agni.”

“O.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “kau membuat

aku terkejut cantrik. Apa kerjamu di sini?”

“Aku ingin bertanya kepadamu Agni, apakah kau memerlukan

lampu. Tetapi aku tidak berani mengganggumu, masuk ke dalam

sanggar.”

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, dan

beberapa langkah daripadanya, di dalam kegelapan, Ken Arok pun

menarik nafas dalam-dalam pula. “Benar dugaanku.“ katanya di

dalam hati, “ia seorang cantrik.”

( bersambung ke jilid 26 )