Jilid 7
PRAJURIT KAWAN KEBO IJO itu tertawa. Ketika debu yang
dihambur-hamburkan oleh kuda-kuda itu telah hilang bersama
hilangnya Witantra di belakang tikungan, berkatalah prajurit itu,
“Witantra adalah seorang prajurit yang tidak saja tegas dalam
setiap
tindakan, namun ia adalah kakak seperguruan Mahendra. Kau lihat,
bahwa tangan-tangannya yang besar itu pasti akan mampu
memutar lehermu sampai patah.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kini sampailah gilirannya
untuk menjadi kecewa. Dikaguminya kejantanan kakak seperguruan
Mahendra itu dahulu, ketika Kebo Ijo berbuat curang. Namun tibatiba
kini demikian saja ia mempereayai segala cerita-cerita kosong
itu. Meskipun demikian, belum juga timbul maksudnya untuk
berbuat sesuatu. Dibiarkannya prajurit yang tinggi besar itu
mendorongnya terus. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang
membawa cemeti masih berjalan di belakangnya, maka Mahisa Agni
tersenyum di dalam hati. Masih juga dilihatnya di antara orangorang
yang terlalu bernafsu untuk kemenangan sendiri itu, orangorang
yang dapat berpikir tenang.
Perjalanan mereka semakin lama semakin desak pula dengan
rumah Witantra. Kebo Ijo semakin lama menjadi semakin gembira.
Ia menyangka, bahwa kakak seperguruannya akan menyelesaikan
masalah ini dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Kakang
Witantra marah pula kepada Wiraprana. Apabila demikian, maka
Wiraprana itu pasti akan ditantangnya, berkelahi. Seorang lawan
seorang, Seperti juga kebiasaan Kakang Witantra menghadapi
lawan-lawannya.
Tetapi Kebo Ijo itu heran melihat Mahendra berjalan sambil
menunduk. Berbeda dengan Kebo Ijo, maka Mahendra itu menjadi
gelisah. Katanya di dalam hati, “Bagaimanakah nanti akibatnya,
kalau kakak seperguruannya itu menyuruh untuk menyelesaikan
perkelahian di hadapannya? Mudah-mudahan para prajurit itu
menuntut Mahisa Agni dalam persoalan yang lain. Penghinaan,
misalnya. Atau membuat gaduh di dalam kota. Atau apapun yang
harus ditindak oleh para petugas.”
Akhirnya sampai juga mereka di halaman rumah Witantra itu.
Beberapa prajurit segera menahan orang-orang lain untuk tidak
masuk ke dalam halaman yang luas itu. Hanya beberapa orang yang
dapat dianggap sebagai saksi sajalah yang mereka perbolehkan
masuk di samping Mahisa Agni dan Mahendra Sendiri.
Witantra sedang duduk di atas sebuah amben kayu di dalam
rumahnya. Ketika ia melihat beberapa orang masuk ke pekarangan
segera ia berdiri dan menyambut mereka di pintu.
Kepada prajurit yang membawa Wiraprana ia berkata, “Bawa
anak muda itu masuk bersama Mahendra dan Kebo Ijo.”
Sesaat kemudian mereka telah duduk di amben kayu itu pula.
Dengan tajamnya ia memandangi wajah Mahisa Agni. Namun ketika
matanya beradu dengan mata Mahisa Agni yang seakan-akan
menyala Witantra itu mengalihkan pandangannya ke arah
Mahendra, sambil berkata, “Kenapa kalian berkelahi?”
Kembali yang mendahului menjawab adalah Kebo Ijo, “Sudah
aku katakan sebabnya Kakang.”
Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada
Mahisa Agni, “Aku sangat menyesal bahwa hal ini terjadi. Kenapa
kau berbuat demikian?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan
hatinya.
Peristiwa ini benar-benar tak menyenangkannya. Ia ingin
segalanya segera selesai, kemudian cepat-cepat pulang ke
Panawijen. Tetapi Mahisa Agni itu pun tidak perlu terlalu
tergesagesa,
karena yang ditakutkannya, Kuda Sempana masih dilihatnya di
dalam kota.
Meskipun demikian, maka sudah pasti Mahisa Agni tidak mau
menjadi korban dari perbuatan-perbuatan yang memuakkan itu.
maka dengan tenangnya ia menjawab, “Witantra, apakah kau dapat
mempereayai kata-kata Kebo Ijo?”
“Aku menjadi saksi,” tiba-tiba teriak salah seorang anak muda
kawan Kebo Ijo.
“Aku juga,” teriak yang lain.
Dan yang terakhir prajurit kawan Kebo Ijo itu pun berkata, “Aku
juga menjadi saksi.”
Witantra mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri. Dan
tiba-tiba ia memandang kepada prajurit Yang bereemeti, “Apakah
yang akan kau katakan?”
Prajurit yang bereemeti itu sebenarnya akan mengatakan
sesuatu, namun belum mendapat kesempatan. Ketika Witantra itu
bertanya kepadanya segera ia membungkuk hormat sambil
menjawab, “Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku tidak dapat
menjadi saksi, sebab aku datang setelah perkelahian itu
berlangsung.”
Kembali Witantra mengerutkan keningnya, kemudian kepada
prajurit kawan Kebo Ijo ia bertanya, “Apakah kau melihat sebab
perkelahian itu?”
“Ya tentu,” sahut prajurit itu, “aku datang lebih dahulu sebelum
aku mengajak beberapa orang kawan untuk menangkap anak
Panawijen itu.”
Witantra mengangguk-anggukkan. kepalanya, Meskipun demikian
ia masih bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah benar kata
mereka?”
Mahisa Agni menggeleng, “Tidak!”
“Bohong!” bentak prajurit kawan Kebo Ijo.
“Aku yang bertanya kepadanya,” potong Witantra. Prajurit itu
pun terdiam.
Kini Witantra melihat sikap-sikap yang kurang wajar dari adik
seperguruannya. Ia melihat sikap Kebo Ijo yang agak
berlebihlebihan.
Ia melihat pemuda-pemuda itu pun bersikap kurang wajar
pula karena itu justru ia menjadi curiga. Dengan tajamnya
dipandangnya wajah Mahendra. Dan ketika terasa tatapan mata
kakak seperguruannya itu, maka Mahendra pun segera
menundukkan wajahnya.
Kemudian sekali lagi Witantra itu bertanya kepada Mahisa Agni,
“’Wiraprana, apakah yang sebenarnya terjadi?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia benar-benar
ingin melihat, sampai di mana kejujuran yang dimiliki oleh
adik-adik
seperguruan Witantra itu. Karena itu, sebelum ia menjawab
pertanyaan itu, maka katanya, “Witantra. Cobalah kau bertanya
kepada Mahendra. Biarlah ia berkata di bawah saksi Yang Maha
Agung.
Tiba-tiba terasa dada Mahendra itu berdesir. Terasa keringat
dinginnya mengalir membasahi tubuhnya. Dan sebenarnyalah
Witantra itu berpaling kepadanya. Sejenak Witantra itu melihat
perubahan wajah adik seperguruannya itu. Karena itu maka ia
menjadi semakin curiga. Karena itu, maka Witantra ingin mendapat
kepastian dari persoalan- persoalan yang dihadapinya. Kepada
Mahendra ia bertanya, “Mahendra, demi Yang Maha Agung
katakanlah sebenarnya apa yang telah terjadi. Apakah Wiraprana
benar-benar telah menghinamu?”
“Benar Kakang,” jawab kebo Ijo.
Tetapi ia terkejut ketika Witantra membentaknya, “Diam kau
Kebo Ijo!”
Mahendra kini benar-benar dihadapkan pada suatu keadaan yang
sulit. Terjadilah perjuangan di dalam dadanya. Sekali-kali ia
melihat
Kebo Ijo dan beberapa anak muda yang lain dengan sudut matanya.
Hampir saja ia menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika terpandang
olehnya pancaran mata kakak seperguruannya, maka mulutnya
seakan-akan tergetar hendak mengatakan sesuatu.
“Mahendra, jawablah pertanyaanku!” desak kakak
seperguruannya.
Ruang itu menjadi semakin tegang. Kebo Ijo, anak-anak muda
yang lain, prajurit kawan Kebo Ijo dan beberapa prajurit yang lain,
di antara yang membawa cambuk itu.
Tiba-tiba semua yang memandang wajah Mahendra itu menjadi
terkejut bukan main. Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain, para
prajurit dan bahkan Witantra dan Mahisa Agni sendiri. Mereka
melihat, perlahan-lahan Mahendra menggelengkan kepalanya.
“Apa?” bertanya Witantra hampir berteriak, “jadi Wiraprana itu
sebenarnya tidak menghinamu dan menghina anak-anak Tumapel?”
Sekali lagi Mahendra menggeleng.
“Lalu apakah yang telah terjadi?”
“Aku ingin membalas dendam,” berkata Mahendra perlahan-lahan
sekali
Witantra itu pun menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia terkejut
ketika ia mendengar suara Kebo Ijo dalam nada yang tinggi, “Tidak
Kakang. Kakang Mahendra terlalu baik hati. Sebenarnya anak
Panawijen itu telah menghina kami. Karena…”
Kata-kata Kebo Ijo itu terputus. Betapa ia terkejut dan semua
orang pun terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar Kebo Ijo itu
mengaduh. Anak muda itu tergeser beberapa jengkal sehingga
hampir saja ia terguling. Dengan serta-merta tangannya meraba
pipinya yang tampak kemerah-merahan. Ternyata Witantra itu telah
menamparnya. Dengan tajam kakak seperguruannya itu
membentaknya, “Jagalah mulutmu Kebo Ijo!”
Kebo Ijo itu menjadi gemetar. Alangkah malunya. Karena itu
maka ia pun menjadi marah bukan buatan. Tetapi ia tidak berani
berbuat apapun kepada kakaknya.
“Jadi kalian semua telah mencoba berbohong?” bentak Witantra
dengan marahnya, “Apakah sebabnya kalian berbuat demikian.
Kenapa?”
—–
….. Kebo Ijo mengaduh, dia tergeser beberapa jengkal sehingga
hampir saja ia tergulingi. Ternyata Witantra telah menamparnya.
—–
Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Hanya nafas Kebo Ijo sajalah
yang terdengar terengah-engah. Sedang matanya menjadi merah
pula karena marahnya.
Witantra yang kemudian menjadi sangat, marah pula berkata
kepada prajurit kawan Kebo Ijo, “Jadi kau pun ikut pula dalam
kebohongan ini?”
Prajurit kawan Kebo Ijo itu benar-benar menjadi bingung. Ia
sama sekali tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan
itu. Karena itu, ia hanya berdiri saja seperti patung.
Karena prajurit itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi
Witantra membentaknya, “He. Kau juga ikut berbohong?”
“Tidak. Tidak,” jawabnya tergagap, “aku tidak sengaja.”
“Apa yang tidak sengaja,” desak Witantra.
Kembali prajurit itu menjadi bingung. Dengan tanpa berpikir
panjang ia menjawab, “Aku tidak bermaksud berbohong: Tetapi aku
menyangka bahwa hal itu benar-benar terjadi.”
“Jadi kau tidak melihat sendiri?”
“Tidak,” prajurit itu menggeleng, “aku mendengar dari Kebo Ijo.”
Kebo Ijo menjadi semakin bergetar mendengar pengaduan itu.
Tetapi ia tidak dapat, berbuat apa-apa. Tetapi Witantra itu masih
membentak bawahannya, “Kau menjadi pereaya tanpa penyelidikan
lebih lanjut?”
Prajurit itu menjadi semakin bingung. Akhirnya ia menjawab, “Ya.
Aku begitu saja pereaya, sebab Kebo Ijo adalah kawanku sendiri.”
“Itulah sebabnya, maka anak-anak muda itu benar-benar
menjadi liar.”
Meskipun Wiraprana sebenarnya tidak mengatakan, namun hati
kecil kalian telah berkata sendiri, ‘Kalian benar-benar menjadi
liar,
karena kawan-kawan kalian, di antaranya prajurit, selalu
membesarkan hati kalian. Dengan demikian kalian merasa aman
untuk berbuat apa saja sekehendak kalian’.
Ruangan itu menjadi sepi kembali. Dan kembali Mahisa Agni
mengagumi kakak seperguruan Mahendra itu. Ia benar-benar
seorang prajurit yang berpegang teguh pada sumpahnya sebagai
prajurit. Meskipun Mahendra, Kebo Ijo adalah adik seperguruannya,
namun ia berkata salah apabila salah dan ia akan berkata benar
apabila benar. Dengan demikian maka kebenaran benar-benar akan
dapat ditegakkan.
Kini ia melihat adiknya itu berbuat curang. Bahkan telah
meninggalkan sifat-sifat ke kesatriaan, karena itu alangkah
marahnya. Apalagi seorang anak buahnya telah ikut serta berbuat
kesalahan itu.
Dengan wajah yang menyala-nyala ia memandang Kebo Ijo.
Anak itu benar-benar anak yang bengal. Sekali-sekali ditatapnya
juga wajah Mahendra. Anak muda ini, biasanya tidak suka
berbohong dari mengorbankan nama baiknya Tetapi kali ini ia
hampir tergelincir dalam perbuatan yang memalukan itu. Untunglah
bahwa kesalahan itu segera disadarinya. Namun meskipun
demikian. Mahendra telah berbuat kesalahan. Karena itu dengan
marahnya Witantra menggeram, “Perkelahian akan dilanjutkan.”
Namun terdengar kemudian Mahendra yang telah menyadari
keadaannya menyahut dengan jujur, “Tidak. Aku sudah
dikalahkannya.”
Witantra menarik nafas. Tetapi mata Kebo Ijo menyala
karenanya.
Suasana kemudian dicengkam oleh kesepian.
Dalam keheningan suasana itu, terdengarlah Mahisa Agni
berkata, “Witantra, aku akan mengucapkan terima kasih kepadamu
dan kepada adikmu, Mahendra. Sebenarnya tak ada niatku untuk
membuat hal-hal yang kecil ini menjadi persoalan. Karena itu,
marilah persoalan ini kita anggap selesai. Sebab aku masih ada
mempunyai beberapa keperluan yang lain.”
Witantra tidak segera menjawab. Kini seperti juga Mahisa Agni
mengaguminya, maka Witantra itu pun kembali mengagumi
kebesaran jiwa Mahisa Agni yang disangkanya bernama Wiraprana
itu. Meskipun beberapa orang telah berusaha menghinanya, namun
ia sama sekali tidak mendendam.
Sesaat kemudian, maka barulah Witantra itu berkata, “Tinggalkan
kami di sini bersama Wiraprana. Pergilah semuanya!”
Mahendra yang masih menundukkan kepalanya, itu pun segera
bergerak dan meninggalkan tempat itu. Berbagai perasaan
berkecamuk di dalam dirinya. Sesal, malu, kecewa dan segala
macam bereampur baur di dalam dadanya..
Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain, para prajurit itu pun segera
pergi pula meninggalkan mereka. Dengan tergesa-gesa Kebo Ijo
menyusul Mahendra sambil berkata, “Kakang, kenapa Kakang
menarik tuduhan itu?”
Mahendra berpaling sesaat. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan
langkahnya semakin dipereepat.
Kebo Ijo yang berjalan di sampingnya memandangnya dengan
penuh penyesalan. Anak-anak muda yang beriringan di belakangnya
pun menyesal pula atas sikap Mahendra itu Namun mereka tidak
berkata apa-apa.
Di rumah Witantra, kini tinggallah Mahisa Agni seorang diri
bersama Witantra duduk berhadapan di atas amben kayu. Setelah
mereka diam sejenak, maka berkatalah Witantra , “Wiraprana,
biarlah aku minta maaf kepadamu atas nama anak-anak muda yang
bengal itu.”
“Sudah aku katakan Witantra, persoalan ini aku anggap selesai.
Dan secepatnya aku akan mohon diri untuk satu keperluan yang
lain.”
“Terima kasih. Aku hormati pendirianmu itu. Tetapi apakah
keperluan itu sedemikian tergesa-gesa?”
“Tidak, tetapi aku ingin segera pulang ke Panawijen, setelah aku
agak lama meninggalkannya?”
“Apakah kau baru datang dari suatu perjalanan?”
“Ya,” sahut Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya sebuah
bungkusan terikat erat di lambung Mahisa Agni. Namun ia tidak
sempat lagi membawa tongkat setelah ia berkelahi melawan
Mahendra. Untunglah bahwa bungkusannya itu tidak terlepas dari
ikatannya. Sehingga tanpa disengaja Witantra itu bertanya, “Apakah
isi bungkusanmu itu?”
“Ah, hanya dua lembar pakaian,” sahut Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk pula. Namun tiba-tiba ia berkata,
“He, apakah kau akan pulang ke Panawijen?”
Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” sahutnya.
“Baru saja aku bertemu dengan Kuda Sempana. Ia pun agaknya
sedang menuju ke kampung halamannya. Ketika aku bertanya
kepadanya, ia hanya menjawab, ‘Aku pergi untuk satu dua hari’.
Kata-kata terdengar seperti guntur yang meledak di telinga
Mahisa Agni. Kuda Sempana pulang ke kampung halaman
Panawijen, selagi ia tidak di rumah.
Witantra melihat perubahan wajah Mahisa Agni. Karena itu ia
menjadi heran.
Sejenak kemudian bertanyalah Mahisa Agni dengan suara yang
bergetar, “Kapankah Kuda Sempana itu pulang ke Panawijen?”
“Belum lama,” jawab Witantra.
“Belum lama aku melihatnya.”
“Mungkin. Aku melihat Kuda Sempana memacu kudanya. Dan
demikianlah jawabnya ketika aku bertanya kepadanya.”
“Gila!” geram Mahisa Agni di dalam hatinya. Segera ia tahu apa
yang dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Ketika Kuda Sempana itu
melihat Mahisa Agni berada di Tumapel, maka segera ia
mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Dalam pada itu keheranan Witantra semakin menjadi, maka
kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kau menjadi gelisah?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Semula ia menjadi agak raguragu.
Namun kemudian terpaksa ia berkata, “Maksud Kuda
Sempana pulang ke kampung halaman sangat mencurigakan.”
“Kenapa?”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun tiba-tiba Witantra itu pun
menjadi gelisah. Dengan serta-merta ia berkata, “He, apakah gadis
Panawijen itu bernama Ken Dedes?”
Terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Namun ia
menganggukkan kepalanya.
“Ya. Itulah nama gadis itu. Bunga di kaki Gunung Kawi, yang
telah membuat Mahendra hampir-hampir gila. Yang telah membuat
Mahendra mendendam kepadamu. Namun sebenarnya aku pernah
mendengar Kuda Sempang mempereakapkan gadis itu pula.”
“Mungkin kau benar,” sahut Mahisa Agni.
“Kalau demikian, apakah kau sangka bahwa Kuda Sempana akan
mempergunakan kesempatan selama kau berada di Tumapel?”
“Mungkin,” sahut Mahisa Agni dengan suara parau, “kalau
demikian biarlah aku segera kembali.”
“Aku tidak dapat mencegahmu, Wiraprana. Mudah-mudahan kau
tidak terlambat.”
Mahisa Agni menggeram sekali lagi, kemudian dengan tergesagesa
ia minta diri. Dengan penuh pengertian Witantra itu
melepaskan Mahisa Agni sampai ke regol halamannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan hampir berlari-lari. Dari
kejauhan Witantra memandangnya dengan iba.
“Anak yang baik,” gumamnya., “Kasihan. Tanpa dikehendakinya,
ia mempunyai banyak lawan. Agaknya Kuda Sempana yang tadi
melihat anak itu, segera mempergunakan kesempatan.”
Dan Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin jauh.
Akhirnya anak muda itu seakan-akan hilang ditelan oleh kelokan
jalan.
Mahisa Agni sendiri menjadi sangat gelisah karenanya. Ia
menjadi pasti, bahwa bencana akan menimpa Ken Dedes dan
Wiraprana. Kuda Sempana pasti akan mempergunakan segenap
kemampuan yang ada padanya untuk menebus kekalahannya.
Bahkan kalau mungkin membunuh sekali.
Dengan demikian maka Mahisa Agni itu benar-benar seperti
orang yang kehilangan kesadaran. Ia sama sekali tidak menaruh
perhatian terhadap keadaan di sekelilingnya. Ia sama sekali tidak
memedulikan bahwa beberapa orang yang dijumpainya
memandanginya dengan penuh pertanyaan. Kenapa anak muda itu
berlari-lari?
Tetapi jarak Panawijen dan Tumapel bukan jarak yang pendek.
Jarak itu akan ditempuh lebih dari sehari penuh. Meskipun Mahisa
Agni kemudian berlari, namun ia tak akan dapat mencapai jarak itu
secepat-cepatnya. Selisih waktu yang dialaminya dari Kuda
Sempana, agaknya akan dapat memberi kesempatan bagi Kuda
Sempana melakukan niatnya. Apalagi setelah didengarnya bahwa
Kuda Sempana kini telah memiliki puncak ilmu dari perguruannya
seperti juga Bahu Reksa Kali Elo. Karena itu, maka kembali Kuda
Sempana itu akan berkata, ‘Rawe-rawe rantas, malang-malang
putung’.
Mahisa Agni menjadi semakin gelisah. Apalagi kalau diingatnya
bahwa Kuda Sempana pasti tidak hanya berlari-lari seperti dirinya,
tetapi anak muda yang gagah itu pasti berkuda.
Mahisa Agni itu pun menggeram berkali-kali. Namun ia benarbenar
masih harus berlari. Langkahnya semakin lama semakin
panjang. Namun terik matahari yang membakar tubuhnya menjadi
semakin panas. Bekas-bekasnya yang putih menghambur di
sepanjang jalan yang dilalui oleh Mahisa Agni. Menyusup disela-sela
dedaunan dan jatuh di atas batu-batu padas yang bertebaran di
sepanjang jalan.
Mahisa Agni itu terasa akan terbang. Langkahnya terasa
sedemikian lambatnya. Kalau sekali-kali ia memandang ke depan
maka segera jantungnya berdebar-debar. Di hadapannya masih
terbentang sawah yang sangat luas. Tetapi apabila sawah ini sudah
dilampaui, ia sama sekali belum mendekati Panawijen. Sebuah
hutan terbentang jauh di muka. Seleret pepohonan yang semakin
lama seolah-olah menjadi semakin besar. Hutan itu pun bukanlah
layar yang terakhir yang menakbiri Panawijen. Di seberang hutan
itu, terentang sebuah sungai. Kembali ia akan melampaui daerah
persawahan. Sawah hutan, sawah, hutan berkali-kali. Kemudian ia
dapat lewat di tengah-tengah padang rumput Karautan, atau lewat
jalan lain. Namun selisih jarak daripadanya tidak begitu banyak.
Baru setelah itu ia akan sampai ke Panawijen. Namun
secepatcepatnya,
apabila ia tidak perlu berhenti sama sekali, besok pagi ia
baru akan sampai. Tetapi apakah tenaganya akan mampu untuk
berlari terus dalam jarak yang sekian jauh.
Tetapi Mahisa Agni tidak boleh berhenti. Ia berlari terus.
Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun terkejut mendengar derap kuda di
belakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya debu mengepul. Putih
dan semakin lama semakin tinggi terbang ke udara.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Siapa?” desisnya. Tetapi ia
terkejut ketika ia melihat penunggangnya adalah Mahendra.
Karena itu maka Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya.
Ia masih belum dapat melupakan, apa yang baru saja dilakukan
oleh Mahendra itu. Mahisa Agni berdebar-debar karena
kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Mahendra,
tetapi juga berdebar-debar karena dengan demikian, kedatangannya
di Panawijen akan menjadi semakin lambat.
Kuda yang berlari kencang itu semakin kencang juga. Semakin
lama semakin dekat. Dan sejalan dengan hati Mahisa Agni menjadi
semakin berdebar-debar juga.
“Kalau anak muda itu berhasrat menghambat perjalananku,”
desah Mahisa Agni dalam hatinya, “maka aku tidak akan dapat
memaafkannya lagi.”
Tetapi kuda itu sudah sedemikian dekatnya, sehingga Mahisa
Agni pun berhenti pula karenanya. Dengan penuh kewaspadaan
anak muda dari Panawijen itu berdiri tegak seperti tonggak yang
kokoh kuat terhunjam jauh ke dalam tanah.
Ketika Mahendra melihat Mahisa Agni itu berhenti, maka segera
ia menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berhenti beberapa
langkah di hadapan Mahisa Agni. Demikian kuda itu berhenti,
demikian Mahendra itu segera meloncat turun.
Mahisa Agni itu pun segera menggeser diri selangkah surut, siap
menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.
Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Mahendra itu menganggukkan
kepalanya sambil berkata, “Aku datang untuk minta maaf
kepadamu, Wiraprana.”
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Panjang sekali. Ia menjadi
kecewa terhadap peresaannya sendiri. Ternyata ia terlalu
berprasangka. Karena itu, maka segera ia menjawab, “Ah
Mahendra. Hampir aku salah sangka. Ternyata aku pun harus minta
maaf kepadamu. Dan karena itulah maka biarlah persoalan di antara
kita, kita anggap selesai.”
“Terima kasih,” sahut Mahendra. Yang kemudian diteruskannya,
“Tetapi kedatanganku menyusulmu ada juga kepentingan yang lain
dari kepentinganku sendiri.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah kepentingan yang
lain itu?”
“Kakang Witantra baru saja datang kepadaku. Disuruhnya aku
menyusulmu untuk mengantarkan kuda ini kepadamu.”
“Kuda?” sahut Mahisa Agni dengan serta-merta.
“Ya,” Mahendra mengangguk, “kata Kakang Witantra kau
memerlukannya untuk menyusul Kuda Sempana.”
“Kuda? Kuda?” hampir tak pereaya Mahisa Agni bergumam.
Tetapi Mahendra itu menegaskan, “Ya Wiraprana, inilah kuda
Kakang Witantra. Bawalah!”
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Begitu besar
terima kasihnya sehingga untuk sesaat ia tidak dapat
mengucapkannya. Ketika Mahendra memberikan kendali kuda itu
kepadanya, barulah Mahisa Agni berkata, “Terima kasih. Terima
kasih Mahendra. Dan terima kasihku kepada Witantra. Aku tak akan
melupakan kebaikan budi kalian.”
“Aku hanya seorang pesuruh Wiraprana. Akan aku sampaikan
terima kasihmu itu kepada Kakang Witantra.”
“Tidak saja Witantra. Tetapi kau pun berjasa pula kepadaku.”
Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Selamat jalan Wiraprana. Bukankah kau tergesa-gesa.
Sebenarnya aku pun tak akan dapat melihat Kuda Sempana
mencapai maksudnya. Bukankah anak muda itu pun akan
merampas hak yang sudah kau miliki?”
Dada Mahisa Agni berdesir. Alangkah manisnya kata-kata itu,
namun alangkah pahitnya pula. Mahendra tidak dapat melihat Kuda
Sempana merampas Ken Dedes yang pasti didengarnya dari
Witantra, namun Ken Dedes itu sama sekali bukan hak yang telah
dimilikinya. Tetapi apa yang dilakukan itu adalah atas nama
Wiraprana. Dan Wiraprana kelak pasti hanya akan mengucapkan
terima kasihnya saja kepadanya.
Tetapi sebenarnya Mahisa Agni tidak mempunyai pamrih.
Seandainya Wiraprana kelak tidak mengucapkan terima kasih pun,
ia tidak akan menyesal. Dengan kesetiaannya ia berusaha membuat
Ken Dedes bahagia. Kesetiaan yang tidak diketahui sama sekali oleh
orang lain. Namun kesetiaan itu benar-benar telah membakar
dadanya.
Kini Mahisa Agni menerima kuda itu. Kuda yang tegar, berwarna
sawo. Tidak kalah tegarnya dengan kuda yang dipergunakan oleh
Kuda Sempana tadi.
Setelah sekali lagi Mahisa Agni mengucapkan terima kasih, maka
ia segera meloncat ke punggung kuda itu. Meskipun demikian ia
masih bertanya, “Sekarang, kau tidak lagi berkendaraan Mahendra?”
Mahendra tertawa pendek. “Jarak yang harus kutempuh terlalu
pendek dibandingkan dengan perjalananmu. Biarlah aku pulang
dengan berjalan kaki. Hampir setiap hari aku sampai di sini pula.”
“Selamat tinggal Mahendra, mudah-mudahan aku tidak terlalu
terlambat.”
Mahendra mengangguk. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku akan
lebih berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana.”
“Terima kasih, terima kasih.”
Mahisa Agni itu pun segera memacu kudanya seperti angin. Ia
ingin cepat-cepat sampai ke Panawijen. Namun ia pun ingin
cepatcepat
melupakan setiap kata-kata Mahendra. Karena itu, maka
kudanya yang telah berlari kencang itu, masih saja terasa, alangkah
lambatnya. Seakan-akan suara Mahendra masih mengiang di
telinganya, ‘Aku akan lebih berbahagia kalau kau berhasil,
Wiraprana’.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Kuda itu dipacu semakin cepat.
Namun hatinya telah berlari lebih cepat daripada kaki-kaki kuda
itu.
Kuda Mahisa Agni itu meluncur seperti anak panah yang lepas
dari busurnya. Kepulan debu yang putih bergulung-gulung di
belakang kaki kudanya. Pepohonan yang tegak di pinggir-pinggir
jalan, seakan-akan berlari cepat ke belakang, Sedang hutan-hutan
yang terbujur di hadapannya, seperti berlari menyongsongnya.
Semakin lama semakin besar. Dan semakin lama, semakin jelas
setiap batang-batang yang tumbuh di sepanjang tepinya.
Tetapi gelora di dalam dada Mahisa Agni sendiri itu pun menjadi
semakin keras. Bermacam-macam persoalan hilir mudik di dalam
dadanya. Sekali-kali jauh di dasar hatinya terdengar pula suara,
‘Mahisa Agni Kenapa kau menjadi sedemikian cemasnya? Bulankah
Ken Dedes telah mempunyai seorang pelindung yang harus
melindunginya. Kalau Wiraprana tak sanggup bertanggung jawab
terhadapnya maka lebih baik ia melepaskan ikatan yang telah
dijalinnya. Ia menginginkan hak itu, namun ia tak mampu memikul
kewajibannya’.
Namun kemudian terdengar suara yang lain, ‘Itu bukan salahnya.
Dunia di sekitarnya yang masih sebuas hutan rimba. Kalau setiap
orang menyadari hak dan kewajiban masing-masing, maka tak akan
ada persoalan lagi. Meskipun Wiraprana tak mampu untuk berkelahi,
namun dalam peradaban yang baik tak perlu ia harus berkelahi.
Karena Wiraprana bukan tidak mengerti akan kewajibannya, tetapi
ia sebenarnya tidak mampu menghadapi kebuasan lingkungannya,
maka apa salahnya aku menyelamatkannya’.
Terdengar Mahisa Agni itu menggeram di atas punggung
kudanya. Dan kuda itu masih berlari secepat angin. Sekali-kali
Mahisa Agni mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh debu yang
melekat karena peluhnya yang membasahi kulitnya. Sekali-sekali
dirabanya bungkusannya yang melingkari lambungnya, berbelitan
dengan ikat pinggangnya. Dan terasa di dalamnya, keris
peninggalan ayahnya. Kalau Kuda Sempana menjadi gila, maka ia
pun kini bersenjata.
Matahari yang mengapung di langit bergeser setapak demi
setapak. Kini matahari itu telah melampaui puncak langit, dan telah
mulai dengan perjalanannya untuk bersembunyi di balik
pegunungan. Namun sinarnya masih juga terasa membakar kulit.
Debu yang putih yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda Mahisa
Agni, tampak bergulung-gulung. Kemudian buyar ditiup angin dari
selatan. Jauh di langit kadang-kadang tampak burung-burung
cangak beterbangan di atas tanah yang basah. Namun Mahisa Agni
tidak sempat untuk memperhatikannya. Kudanya yang berpacu itu
serasa seakan-akan betapa malasnya. Sekali disentuhnya perut kuda
itu dengan kakinya, sehingga kuda itu meloncat semakin cepat.
Sesaat kemudian Mahisa Agni telah masuk melintas jalan-jalan di
tengah-tengah hutan. Perjalarannya kini tidak dapat secepat
semula. Sekali-sekali beberapa potong dahan-dahan kayu yang
patah, serta sulur beringin tua, mengganggu perjalanannya. Sedang
jalan menjadi bertambah sempit. Tetapi kuda itu masih berlari
terus,
tanpa menghiraukan apapun yang mungkin akan memperlambat.
Demikianlah Mahisa Agni berpacu melawan waktu. Sebab Kuda
Sempana telah jauh mendahuluinya. Ia harus sampai di Panawijen
sebelum Kuda Sempana telah melarikan Ken Dedes. Mudahmudahan
gurunya telah kembali. Tetapi agaknya Empu Purwa masih
di perjalanan, bahkan menurut keterangannya, gurunya itu masih
akan singgah di rumah sahabat-sahabatnya setelah ia merasa
menurunkan ilmunya yang tertinggi kepada muridnya. Seolah-olah
pekerjaan Empu Purwa itu telah selesai, dan kini ia tinggal
menikmati masa istirahatnya.
Agaknya Empu yang sudah lanjut usia itu telah mempereayakan
segala sesuatunya kepada Mahisa Agni, satu-satunya muridnya yang
lahir batinnya benar-benar mengagumkan baginya.
Karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah. Sesudah hutan
ini masih terentang jalan yang sangat panjang. Namun berterima
kasihlah ia kepada Witantra dan Mahendra yang telah menolongnya
mempereepat perjalanannya dengan kecepatan yang berlipat
ganda. Kalau ia harus berjalan, maka sudah hampir dapat dipastikan
bahwa ia akan jauh terlambat. Dan ia tinggal akan menemukan
bekas- bekas dari bencana itu. Meskipun demikian, kegelisahan
masih saja menyala-nyala di dalam dadanya. Meskipun ia kini telah
dapat mempereepat perjalanannya, namun ia masih mencemaskan,
bahwa Kuda Sempana benar-benar tidak mampu mengekang
dirinya, sehingga sejak langkahnya yang pertama, ia telah bermata
gelap.
Sebenarnyalah pada saat itu, Kuda Sempana pun sedang berpacu
menuju ke Panawijen.
Ketika anak muda itu bertemu dengan Mahisa Agni di Tumapel,
maka tiba-tiba timbul niatnya untuk menumpahkan kemarahannya
dan dendamnya. Sebab kini ia merasa, bahwa ia telah memiliki
bekal yang jauh lebih banyak daripada saat ia dikalahkan oleh
Mahisa Agni. Tetapi keadaan Tumapel agaknya tidak
menguntungkannya. Mungkin beberapa orang melihat, bahwa
Mahisa Agni tidak bersalah pada waktu itu sehiugga akibatnya akan
tidak menguntungkan baginya. Karena itu, maka ia mengambil jalan
yang lain untuk menumpahkan dendamnya. Segera ia memacu
kudanya menemui pimpinannya untuk mohon diri dua tiga hari. Ia
dapat saja memberikan segala macam alasan untuk pulang ke
kampung halaman. Kalau kelak Ken Dedes telah dapat
dirampasnya,dan dilarikannya, maka apa yang akan terjadi akan
dihadapinya dengan dada tengadah. Wiraprana, Mahisa Agni dan
siapa lagi. Tetapi gadis itu harus sudah di tangannya dan
disembunyikannya dahulu.
Karena itu, maka ia pun kemudian berpacu kembali ke
Panawijen. Ia harus langsung pergi ke rumah Empu Purwa. Minta
gadis itu untuk dibawanya. Kalau tidak boleh, maka ia akan
mempergunakan kekerasan. Ia tidak takut seandainya seluruh
cantrik dari padepokan itu akan mengeroyoknya. Bahkan orangorang
seluruh padukuhan. Dengan ayunan tangannya ia mampu
membunuh siapa saja yang mendekatinya.
Kuda Sempana itu kemudian tersenyum sendiri. Ia tidak
menyangka bahwa ia harus mengambil seorang gadis dengan cara
yang aneh itu. Tetapi betapapun bahaya yang akan dihadapinya,
namun ia tidak akan surut. Ia pernah mendengar juga bahwa
Mahendra pun pernah menginginkan Ken Dedes itu pula. Maka
seandainya Mahendra itu pun datang kepadanya, maka ia pun tidak
akan gentar. Bahkan seandainya Witantra sekali pun. Meskipun
Kuda Sempana itu agak seimbang juga menilai kekuatan Witantra.
Sebab ia tahu benar, apa saja yang pernah dilakukan oleh Witantra
itu sebagai seorang prajurit.
Tetapi Kuda Sempana itu menggeram, “Persetan semuanya!
Akulah Kuda Sempana!”
Dengan demikian maka Kuda Sempana kemudian berusaha
menindas semua persoalan yang tumbuh di dalam hatinya.
Tekadnya telah bulat, melarikan Ken Dedes dengan segala
akibatnya.
Kini Kuda Sempana itu tertawa seorang diri. Tertawa untuk
melepaskan kegelisahan-kegelisahan yang merayapi hatinya. Ia
benar-benar tidak mau tahu apapun yang mungkin terjadi karena
perbuatannya itu. Anak muda itu telah berusaha untuk membutakan
matanya dan menulikan telinganya. Persetan semuanya! Persetan!
Maka kudanya kini menjadi semakin laju. Terasa angin yang
kencang menghembus wajahnya. Namun wajah itu pun
ditengadahkannya. Bahkan ia bergumam, “Siapakah yang berani
menghalangi Kuda Sempana?”
Meskipun demikian, Kuda Sempana itu berdebar-debar pula
ketika ia meninggalkan daerah-daerah hutan yang terakhir. Ia tidak
menempuh jalan yang biasa dilalui oleh Mahisa Agni, padang
rumput Karautan. Namun Kuda Sempana melingkar sedikit, lewat
padukuhan Talrampak. Meskipun seperti Mahisa Agni anak muda itu
sama sekali tidak takut kepada apapun, juga yang dahulu sering
disebut hantu padang rumput, namun Kuda Sempana tidak mau
perjalanannya dihambat. Meskipun ia mendengar juga, bahwa hantu
padang rumput itu kini telah tidak ada lagi, namun lebih baik
baginya melewati jalan yang paling aman, daripada ia terlambat.
Demikianlah Kuda Sempana akhirnya telah melampaui
perjalanannya yang tergesa-gesa. Dengan gagahnya ia memacu
kudanya, masuk .ke padukuhan tempat kelahirannya. Panawijen.
Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah melihatnya
dengan heran. Bukankah anak itu seakan-akan telah disingkirkan
untuk waktu yang tertentu. Maka tiba-tiba kini ia datang kembali
dengan tergesa-gesa. Apakah waktu yang ditentukan itu telah
habis?
Orang itu pun kemudian ber-bisik-bisik satu sama lain. Sehingga
kemudian seorang arak muda berkata, “He, apakah Kuda Sempana
telah sampai waktunya pulang?”
Seorang yang berdahi lebar menjawab, “Aku sangka belum.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “He.
Bukankah Mahisa Agni belum kembali?”
“Kenapa?”
“Bukankah dahulu Mahisa Agnilah yang berhasil mencegahnya
mengambil langsung Ken Dedes dari pinggir belumbang?”
Orang berdahi lebar itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana sudah tidak
tampak lagi di mata mereka.
“Marilah kita lihat. Apakah anak muda yang gagah itu masih saja
melakukan perbuatan-perbuatan yang tereela itu.”
Kedua orang itu pun kemudian bergegas-gegas meninggalkan
sawah mereka. Beberapa orang yang lain pun segera mengikutinya.
Sampai di sudut padukuhan mereka, mereka bertanya kepada
seorang anak kecil, “Kau lihat searang penunggang kuda?”
Anak itu mengangguk, “Ya.”
“Ke mana?”
“Masuk kemari. Dan berbelok ke kiri.
“Ke kiri?”
“Ya. Kenapa?” anak kecil itu menjadi keheranan.
“Tidak apa-apa nak. Tetapi jangan ber-main-main di tengah
jalan. Kau lihat kuda yang berlari kencang ini tadi bukan?”
Anak itu mengangguk.
Kedua orang itu pun berjalan pula menuruti jalan yang ditempuh
oleh Kuda Sempana dengan berdebar-debar.
“Jalan ini menuju ke rumah Empu Purwa.”
“Ya,” jawab yang lain.
“Apakah anak itu masih gila seperti dahulu?”
“Mungkin.
Beberapa orang yang mendengar suara kaki kuda berderap itu
pun memerlukan untuk melihatnya. Ketika mereka melihat kedua
orang yang kuat itu, maka mereka kemudian saling berbicara.
“Aku ikut,” berkata beberapa anak muda.
“Apakah Wiraprana di rumah?” bertanya salah seorang di
antaranya.
“Mudah-mudahan. Sejak Mahisa Agni pergi, kemudian Empu
Purwa pergi pula, Wirapranalah yang diserahi untuk mengawasi
padepokan itu. Mudah-mudahan ia berada di sana.”
“Tetapi Wiraprana tak dapat mencegahnya seperti dahulu.”
“Wiraprana tidak sendiri. Di padepokan itu ada beberapa orang
cantrik.”
“Mari kita lihat. Kita tidak akan membiarkan kawan-kawan kita
dicederainya.”
“Anak-anak muda Panawijen bukanlah anak-anak muda yang
senang bertengkar. Kehidupan yang damai selama ini, sama sekali
tidak menggerakkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan
kekerasan. Karena itu, maka tidak banyak di antara mereka, yang
telah mempelajari cara-cara tata bela diri. Meskipun demikian,
mereka memiliki kesetia kawanan yang tinggi. Kebiasaan mereka
bekerja bersama-sama. Membuat parit-parit, bendungan dan
sambatan membangun rumah, adalah pencerminan dari cara hidup
mereka yang rukun.
Dengan tergesa-gesa beberapa anak muda itu berjalan mengikuti
telapak kaki kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana. Semakin lama
mereka menjadi semakin berdebar-debar. Kuda itu benar-benar
menuju ke padepokan Empu Purwa.
Sebenarnya Kuda Sempana langsung menuju ke rumah Empu
Purwa. Ia takut kalau Mahisa Agni segera pulang, dan
menggagalkan maksudnya pula. Karena itu, maka akan
dipergunakannya waktu sebaik-baiknya. Langsung mengambil gadis
itu, dan dibawanya ke Tumapel. Disembunyikannya gadis itu di
rumah sahabatnya, dan akan dihadapinya setiap bencana yang akan
mengancamnya. Sampai nanti saatnya Ken Dedes melahirkan.
Setelah itu, semuanya akan beres. Tak seorang pun yang akan
dapat menuntutnya. Meskipun di Tumapel tinggal pula Mahendra,
namun ia tidak takut melawan anak itu, meskipun ia belum pasti
apakah ia akan dapat mengalahkannya
Meskipun tekadnya telah bulat, namun semakin dekat Kuda
Sempana dengan rumah Empu Purwa, hatinya menjadi semakin
berdebar-debar juga.
Kedatangan Kuda Sempana di padepokan itu benar-benar
mengejutkan. Deru kaki kudanya seakan-akan membelah
kedamaian halaman yang sunyi itu. Beberapa orang cantrik yang
sedang bekerja di halaman, segera meletakkan alat-alat mereka.
Dengan bergegas mereka menengok ke pintu gerbang. Siapakah
yang datang berkuda itu?
Ketika mereka melihat seorang anak muda yang tampan, maka
mula-mula mereka menjadi kecewa. Yang mereka harapkan sejak
berhari-hari adalah Mahisa Agni, atau Empu Purwa sendiri. Namun
yang datang bukanlah salah seorang dari mereka.
Tetapi ketika mereka sadar, siapakah anak muda yang masih saja
duduk di punggung kuda itu mereka terperanjat.
“Kuda Sempana,” terdengar beberapa orang di antara mereka
berdesis.
Kuda Sempana telah menghentikan kudanya. Namun ia masih
duduk di atas punggung kuda itu. Ditebarkannya pandangannya
berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban satu demi
satu muncul dari balik pepohonan dan dinding-dinding rumah. Dan
dilihatnya pula mereka menjadi terkejut karenanya.
Hati Kuda Sempana itu berdesir ketika tiba-tiba muncul dari balik
pintu pringgitan, seorang anak muda yang tegap tampan.
Wiraprana.
Alangkah terkejutnya Wiraprana itu. Beberapa saat ia tegak saja
seperti patung. Ditatapnya Kuda Sempana yang masih duduk di atas
punggung kuda seperti menatap wajah hantu.
Ketika pada saat itu seorang gadis yang berlari-lari dari belakang
muncul pula di ambang pintu, maka dengan serta-merta Wiraprana
mendorongnya sambil bergumam, “Masuklah. Setan itu datang lagi.”
Ken Dedes masih belum sempat melihat siapakah yang datang
berkuda itu. Namun ia sadar, bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti
terjadi. Karena itu maka ia pun bertanya perlahan-lahan, “Siapa?”
“Kuda Sempana,” desis Wiraprana.
“He?” Ken Dedes itu pun terkejut bukan buatan. Terasa tiba-tiba
kakinya gemetar dan darahnya seakan-akan membeku. Dengan
suara yang parau ia mencoba menjelaskan, “Kuda Sempana
katamu?”
Wiraprana mengangguk. Desisnya, “Masuklah.”
Ken Dedes tidak membantah. Segera ia beringsut masuk kembali
ke dalam rumah, bahkan langsung bersembunyi ke dalam biliknya.
“Emban,” desahnya.
Seorang emban tua datang menghampirinya. Ketika dilihatnya
momongannya menggigil maka dengan heran ia bertanya,
“Siapakah yang datang itu?”
Ken Dedes terbungkam. Ia tidak berani menyebut nama Kuda
Sempana. Bibirnya seakan-akan tabu menyebut nama itu. Namun
tiba-tiba air matanya mengambang di antara pelupuknya. Patahpatah
ia bergumam, “Kenapa ayah tidak segera pulang? Atau
Kakang Mahisa Agni?”
Emban tua itu menjadi bingung. Sekali lagi ia bertanya,
“Siapakah yang datang itu?”
“Anak itulah yang telah menghina namaku di belumbang di
tepian sungai beberapa bulan yang lalu.”
“Angger Kuda Sempana?”
“Jangan Bibi, jangan kau sebut nama itu. Aku dapat menjadi
pingsan karenanya.”
Emban tua itu mengerutkan keningnya. Ia mendengar pula, apa
yang pernah terjadi di pinggir sungai itu. Karena itu maka ia pun
ikut berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian emban tua
itu masih mencoba menghiburnya, “Jangan cemaskan anak muda
itu. Bukankah Angger Wiraprana sedang berada di rumah ini?”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Namun ia tidak berkata
apa-apa. Hanya di dalam hatinya terdengar kata-katanya,
“Wiraprana tidak dapat melawannya.”
Karena itu maka Ken Dedes menjadi semakin cemas. Sekali-sekali
matanya beredar di antara dinding-dinding rumahnya, seolah-olah ia
sedang mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya. Namun
halaman rumahnya dikelilingi oleh sebuah pagar batu yang rapat.
Sehingga jalan satu-satunya yang dapat dilaluinya, hanya regol
depan. Dan ia tidak berani menampakkan dirinya ke halaman.
Sementara itu di halaman rumah Empu Purwa yang luas itu Kuda
Sempana masih duduk saja di atas punggung kudanya. Di pintu
rumah itu, Wiraprana berdiri tegak dengan tegangnya. Sesaat
mereka hanya saling memandang dengan tajamnya, seakan-akan
dari kedua pasang mata itu memancar dendam yang menyala-nyala.
Ketika kemudian Kuda Sempana meloncat turun dari kudanya,
maka Wiraprana pun melangkah melampaui tlundak pintu. Perlahanlahan
ia berjalan melewati pendapa dan dengan getar yang semakin
cepat di dalam dadanya, ia melangkah turun tangga dan berdiri
tegak di halaman pula.
Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa depa. Kuda Sempana
masih sempat memandang berkeliling. Dan di sekitar halaman itu
dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban berdiri pula dengan
tegangnya.
Kini Kuda Sempana kembali menatap wajah Wiraprana. Dan tibatiba
terdengar suaranya bergetar, “Apa kerjamu di rumah ini
Wiraprana?”
Wiraprana menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Karena itu
maka ia menjawab tegas, “Aku berada di rumah bakal mertuaku.”
“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan kau ulangi!”
Wiraprana menjadi berdebar-debar karenanya. Namun ia
mengulangi kata-katanya, “Aku berada di rumah mertuaku.”
Kuda Sempana menggeram. Ia tidak berani berbuat tergesagesa.
Ia belum yakin benar, apakah selama ini Wiraprana sama
sekali tidak berusaha untuk mempelajari ilmu yang mungkin dapat
menolong dirinya.
Meskipun demikian, anak muda itu benar-benar telah membakar
dadarnya. Sehingga karena itu ia berkata lantang, “Wiraprana,
jangan menyombongkan dirimu. Seandainya kau kini berkawan
dengan dewa-dewa di langit sekali pun, namun kau bagiku tidak
lebih dari seorang anak yang manja. Karena itu, Wiraprana, jangan
mencoba menghalangi aku kali ini. Aku sangat tergesa-gesa.”
“Kau belum mengatakan, apa maksud kedatanganmu?” sahut
Wiraprana.
Kuda Sempana menarik alisnya. Ditatapnya wajah Wiraprana
dengan tajamnya. Sesaat kemudian terdengar ia menjawab,
“Jangan memperbodoh diri Wiraprana. Aku datang untuk
menjemput bakal istriku.”
Terasa dada Wiraprana itu berdesir. Ia sudah menduga apa yang
akan dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Namun ketika ia mendengar
sendiri jawaban itu, maka mau tidak mau ia menjadi berdebardebar.
Betapapun ia mencoba menenangkan diri sendiri, namun
sebenarnyalah ia mengetahui dengan pasti, bahwa ia tidak akan
mampu mencegahnya seandainya Kuda Sempana kemudian
melakukan kekerasan. Kuda Sempana kali ini sudah pasti tidak akan
mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya di tepian sungai
beberapa bulan yang lalu. Karena itu maka tanpa disengajanya,
Wiraprana melemparkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya
beberapa orang cantrik memandangnya dengan tegang, namun ada
di antara mereka yang berdiri saja dengan wajah yang kosong.
Wiraprana terkejut ketika Kuda Sempana membentak, “Carilah di
antara mereka, siapakah yang akan berani menghalangi Kuda
Sempana.”
Wiraprana menggigit bibirnya. Kuda Sempana benar-benar
menyadari keunggulannya. Dan tiba-tiba Wiraprana itu menyesal,
kenapa Mahisa Agni pergi sudah sekian lamanya masih juga belum
kembali? Apakah ada sesuatu yang terjadi di sepanjang
perjalanannya? Bahkan Wiraprana itu kemudian seakan-akan
menyalahkan Mahisa Agni. Seakan-akan Mahisa Agni itulah yang
mempunyai keharusan untuk menjaga adik angkatnya. Dan
kepergiannya yang terlalu lama itu merupakan suatu kelengahan.
Kini ternyata Kuda Sempana itu benar datang. Apalagi ketika
kemudian terdengar Kuda Sempana itu berkata, “Jangan mengharap
Mahisa Agni akan membantu, Wiraprana. Anak itu masih berada di
Tumapel.”
Wiraprana menggeram. “Apa pula kerja Mahisa Agni itu di
Tumapel?” desah Wiraprana di dalam hatinya, “ternyata Mahisa Agni
lebih mementingkan kesenangannya sendiri daripada melindungi
adik angkatnya itu.”
Meskipun demikian, Wiraprana tidak akan dapat tinggal berdiam
diri. Di sekitarnya berdiri beberapa orang cantrik. Apapun yang
akan
terjadi, maka Ken Dedes itu harus dipertahankan mati-matian. Ia
akan berjuang mati-matian, dan para cantrik itu pasti akan
membantunya. Karena itu maka Wiraprana itu pun menjawab, “
Kuda Sempana. Rumah ini adalah rumah Empu Purwa yang
dikuasakan kepadaku selama Empu Purwa dan Mahisa Agni tidak
ada di rumahnya. Hampir setiap hari aku datang kemari. Karena itu,
jangan mencoba melampaui hak yang ada padaku itu. Dengan baik
aku akan mencoba mempersilakanmu pergi meninggalkan halaman
ini.”
Kuda Sempana itu tertawa untuk melepaskan kejengkelannya.
Kenapa Wiraprana itu tidak lebih baik bersembunyi saja, atau
melarikan diri? Maka katanya, “Wiraprana, apakah kau sekarang
mampu memecah langit, sehingga kau berani berdiri tegak di
hadapan Kuda Sempana?”
Betapapun juga, namun Wiraprana tersinggung mendengar katakata
itu. Maka dengan marahnya ia menjawab, “Kuda Sempana,
jangan terlalu sombong! Jangan kau sangka bahwa kau akan
mampu menundukkan seluruh isi jagat. Jika setiap usahamu yang
kasar itu kau teruskan, maka aku pasti akan berusaha untuk
mencegahnya.”
Sekali lagi Kuda Sempana tertawa terbahak-bahak untuk
melepaskan perasaan yang menghimpit dadanya. Kemudian katanya
lantang, “Sudah aku katakan, waktuku amat sempit. Minggir, atau
aku paksa kau pergi? Bahkan lebih baik bagimu untuk memanggil
Ken Dedes dan antarkan gadis itu kepadaku.”
“Gila!” geram Wiraprana dengan marahnya. Tetapi
bagaimanapun juga ia menyadari keadaannya. Karena itu, ia masih
saja berdiri tegak di tempatnya.
“Jangan bergeser dari tempatmu, Wiraprana. Aku akan masuk
dan membawa Ken Dedes pulang. Sampaikan kepada Empu Purwa
bahwa dengan menyesal aku tidak dapat datang dalam keadaan
yang lebih baik dari sekarang, apabila ia tidak ada di rumah saat
ini.”
Wiraprana belum beranjak dari tempatnya. Namun ia berkata,
“Empu Purwa tidak ada di padepokan. Segala kekuasaan ada di
tanganku.”
“Kalau begitu, berikan gadis itu sekarang!”
“Tidak.!
“Jangan keras kepala! Aku bisa memaksamu.”
“Tak ada gunanya.”
“Aku bisa menyingkirkanmu. Tegasnya aku bisa membunuhmu.”
Sekali lagi Wiraprana menebarkan pandangannya berkeliling.
Para cantrik yang setia kepada Empu Purwa itu sudah tentu tidak
dapat membiarkan hal itu terjadi. Karena itu, tanpa berjanji mereka
melangkah beberapa langkah maju.
“Kau lihat?” geram Wiraprana.
“Huh. Barisan kelinci yang malang. Mereka akan menyesal atas
kesombongan mereka. Juga kau akan menyesal. Sekali lagi aku
minta, bahwa Ken Dedes kemari, atau aku akan mengambilnya.
“Pergi!” bentak Wiraprana dengan marahnya, “Pergi, atau kami
memaksa pergi?”
Kuda Sempana tidak menghiraukannya. Dengan tenangnya ia
melangkah maju. Selangkah ia menghindari Wiraprana untuk terus
langsung naik ke pendapa. Namun perbuatannya itu benar-benar
telah membakar hati Wiraprana. Ia merasa seakan-akan dianggap
sebagai tidak ada. Karena itu, alangkah sakit hatinya. Betapapun ia
menyadari keadaannya, namun ia berbesar hati ketika melihat
beberapa orang cantrik pun segera melangkah maju untuk
mencegah perbuatan yang gila itu. Karena itu Wiraprana pun
melangkah satu langkah ke samping, langsung menghadang
langkah Kuda Sempana sambil berteriak, “Jangan gila!”
Kuda Sempana sama sekali tidak memperhatikannya. Ia
melangkah terus sehingga dengan demikian, Wiraprana itu
dilanggarnya. Dengan pundaknya ia mendesak dada Wiraprana
yang gagah itu, namun sebenarnya Kuda Sempana kini sudah
menjadi semakin garang, sehingga Wiraprana itu terdorong
beberapa langkah surut.
Wiraprana terkejut bukan buatan mengalami dorongan tenaga
Kuda Sempana yang luar biasa itu. Untunglah bahwa ia tidak
terbanting jatuh. Meskipun demikian, Wiraprana terpaksa
mengerahkan tenaganya untuk menjaga keseimbangannya.
Tetapi, meskipun ia telah merasakan dorongan tenaga Kuda
Sempana yang tampaknya masih seenaknya saja itu, serta dengan
demikian dapat mengira-irakan kekuatannya, namun menjadi
kewajibannya untuk mencoba mencegah perbuatan gila itu, apapun
akibatnya. Karena itu maka Wiraprana menjadi mata gelap
karenanya. Ia sudah tidak lagi sempat memperhitungkan apakah
kira-kira yang akan terjadi atasnya.
Maka, dengan serta-merta Wiraprana itu menangkap lengan
Kuda Sempana, menariknya dan kemudian dengan sekuat
tenaganya, Wiraprana itu mengayunkan tinjunya tepat mengarah ke
wajah Kuda Sempana.
Namun, Kuda Sempana kini telati memiliki ketangkasan jauh
lebih maju dari beberapa bulan yang lampau. Karena itu, ketika ia
melihat tangan Wiraprana terayun dengan derasnya ke wajahnya,
maka segera ia menarik kepalanya itu beberapa jengkal ke belakang
sambil memiringkan pundaknya. Namun gerakan yang sederhana itu
telah melepaskannya dari serangan Wiraprana.
Wiraprana yang mengayunkan tangannya dengan sekuat
tenaganya, serta ternyata tangannya tak menyentuh sesuatu itu,
seakan-akan terseret oleh kekuatannya sendiri. Beberapa langkah ia
terdorong ke samping. Namun tak disangka-sangkanya, bahwa pada
saat itu, Kuda Sempana memukulnya pada punggungnya.
Wiraprana yang sedang kehilangan keseimbangannya, benarbenar
tak mampu lagi menolong dirinya. Dengan tanpa dapat
berbuat sesuatu ia terbanting di tanah. Bulat-bulat ia terjerembab.
Sedang wajahnya yang merah membara karena kemarahannya itu
menyentuh tanah.
Para cantrik yang melihat peristiwa itu terkejut bukan main.
Namun pukulan Kuda Sempana itu seolah-olah menjadi isyarat bagi
para cantrik itu untuk bangun dari tidur mereka. Setelah mereka
menyaksikan semuanya yang terjadi dengan mulut ternganga, maka
tiba-tiba mereka merasa bahwa mereka pun berkewajiban untuk
mencegah perbuatan Kuda Sempana yang gila itu. Maka dengan
serta-merta mereka pun berloncatan maju dan hampir bersama pula
mereka menyerang Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana telah
memperhitungkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi.
Demikian ia melihat para cantrik itu menyerangnya, maka segera ia
meloncat menyongsong mereka. Dengan satu gerakan yang
sederhana, maka seorang cantrik telah terpelanting jatuh menimpa
tangga pendapa. Terdengar cantrik itu mengaduh. Namun sesaat
kemudian dengan ter-tatih-tatih ia berusaha untuk bangun kembali.
Pada saat itu ia melihat Wiraprana pun telah bangun pula.
Tampaklah wajahnya yang merah padam. Jantungnya serasa telah
menyala mendidihkan darahnya.. Terdengar giginya gemeretak dan
tangannya menjadi gemetar. Karena itu dengan sepenuh tenaga,
segera ia melepaskan kembali sebuah serangan mengarah ke dada
Kuda Sempana.
Kuda Sempana yang melayani serangan-serangan para cantrik,
melihat serangan Wiraprana yang dilontarkan dengan sepenuh
tenaga itu. Namun Kuda Sempana itu menarik alisnya sambil
tertawa pendek.
“Apakah selama ini kau masih saja tertidur Wiraprana?
Seranganseranganmu
datang seperti serangan seekor babi hutan. Keras,
namun sama sekali tak berarti. Dengan satu gerakan yang
sederhana, seranganmu telah dapat dihindari.”
Tetapi Wiraprana telah melontarkan diri. Karena itu ia tidak dapat
menarik serangannya. Dan sebenarnyalah dengan menarik satu
kakinya ke samping, memutar tubuhnya setengah lingkaran,
serangan Wiraprana itu telah dapat dihindari. Sekali lagi Kuda
Sempana mengayunkan tangannya ke arah punggung Wiraprana,
dan sekali lagi Wiraprana yang malang itu terdorong dengan
kerasnya, dan jatuh terjerembab.
Kembali terdengar suara tertawa Kuda Sempana. Kini suaranya
menjadi semakin keras. Serangan para cantrik yang datang
bertubitubi
itu, dengan mudahnya dapat dihindarinya satu demi satu.
Bahkan beberapa orang cantrik telah terlempar jatuh. Meskipun
kemudian mereka berusaha untuk berdiri tetapi mereka telah
menjadi semakin jera. Kini mereka menyerang dengan ragu-ragu.
Meskipun demikian, satu kesadaran telah mengikat mereka dalam
perkelahian itu. Mencegah perbuatan Kuda Sempana.
Wiraprana yang terjerembab itu pun kemudian bangun kembali.
Kemarahannya menjadi semakin menggelegak di dalam dadanya.
Matanya seakan-akan menjadi menyala, dan mulutnya terkatup
rapat. Dengan cermat ia memandang Kuda Sempana seperti hendak
ditelannya. Dan kemarahannya menjadi semakin membakar ketika
ia melihat Kuda Sempana itu dengan tenangnya berkelahi melawan
beberapa orang cantrik sambil tertawa. Katanya, “Aku masih
mencoba berbuat dengan sebaik-baiknya. Tetapi waktuku tidak
banyak. Karena itu sebaiknya kalian menghentikan perlawanan
kalian. Ambillah Ken Dedes dan serahkan kepadaku. Sebab
perlawanan kalian ini pun tak akan berarti.”
“Tulip mulutmu!” bentak Wiraprana.
“Jangan membuat aku semakin marah,” sahut Kuda Sempana.
Tetapi Wiraprana tidak memedulikannya lagi. Kembali ia
mencoba menyerang Kuda Sempana. Serangan Wiraprana itu telah
membangkitkan keberanian para cantrik itu kembali. Karena itu,
maka bersama-sama mereka menyerang Kuda Sempana itu pula
Kuda Sempana kini sudah tidak sabar lagi. Ia pun takut, kalau
Mahisa Agni akan segera datang, meskipun menurut perhitungannya
masih agak jauh. Karena itu, maka segera ia ingin mengakhiri
pertempuran.
Ketika serangan Wiraprana datang kembali, maka Kuda Sempana
sama sekali tidak berusaha untuk menghindarinya. Dengan sebagian
besar tenaganya, ia melawan serangan pula, sehingga segera
terjadi benturan di antara mereka. Tetapi sebenarnyalah bahwa
benturan itu sama sekali tidak seimbang. Wiraprana segera
terlempar beberapa langkah dan kemudian kembali ia jatuh
terbanting di tanah.
Yang terdengar adalah suara Kuda Sempana tertawa dan
berkata, “Sudahlah Wiraprana. Tak akan ada gunanya melakukan
perlawanan. Sekali lagi aku peringatkan, jangan membuat aku
menjadi semakin marah.”
Tetapi belum lagi Kuda Sempana selesai, Wiraprana yang
terguling itu telah berusaha berdiri. Sementara itu para cantrik
telah
berebutan menyerangnya..
Kuda Sempana kini telah benar-benar menjadi marah. Karena itu,
maka segera ia membalas setiap serangan para cantrik. Sehingga
dengan demikian, maka para cantrik yang hanya pandai mengatur
padepokan dan meladeni upacara-upacara keagamaan itu menjadi
kalang kabut. Satu demi satu, bahkan kadang-kadang dua tiga
sekaligus, yang datang menyerang bersama-sama, berbareng
terlempar jauh.
Namun sementara itu Wiraprana telah berdiri. Dengan marahnya
ia menggeram, dan dengan membabi buta ia menyerang lawannya
sejadi-jadinya. Namun Kuda Sempana itu pun menjadi marah pula
Ketika Wiraprana datang menyerangnya, maka selangkah ia
meloncat ke samping sehingga serangan Wiraprana itu tak
menyentuhnya. Tetapi dalam pada itu, maka serangan Kuda
Sempana itu pun segera mengalir seperti bendungan pecah. Sekali
tangan Kuda Sempana memukul lambung Wiraprana sehingga anak
muda yang tegap tinggi itu terdorong ke samping, namun sebelum
Wiraprana berhasil memperbaiki keseimbangannya, tiba-tiba Kuda
Sempana yang marah itu meloncat maju. Sebuah pukulan yang
keras mengenai dagu Wiraprana. Ketika wajahnya itu mengangkat,
maka sekali lagi tangan Kuda Sempana terayun deras sekali. Kali ini
ke perut lawannya.
Terdengar sebuah keluhan tertahan. Dan ketika Kuda Sempana
melangkah selangkah mundur, maka tubuh Wiraprana itu pun
kemudian jatuh terkulai di tanah.
Kuda Sempana menarik nafas panjang. Dengan mata yang
merah menyala ia memandang wajah-wajah yang berdiri di
sekitarnya. Para cantrik yang melihat peristiwa itu menjadi ngeri
karenanya
“Siapa lagi?” desis Kuda Sempana.
Tak seorang pun yang berani beranjak dari tempatnya.
“Kalau tak ada yang mau mencoba lagi, jangan halangi aku
mengambil Ken Dedes. Di mana ia sekarang?”
Para cantrik itu pun menjadi gelisah. Namun tak seorang pun
menjawab. Mereka terpaku seperti tonggak. Berdiri saja dengan
mata tak berkedip.
“Hem,” geram Wiraprana, “kalau tak ada di antara kalian yang
mau menunjukkan, biarlah aku cari sendiri.”
—–
Ketika wajah Wiraprana terangkat, maka sekali lagi tangan Kuda
Sempana terayun keras sekali. Kali ini ke perut lawannya.
—–
Tetapi para cantrik itu tak dapat membiarkan Kuda Sempana
mengambil Ken Dedes. Karena itu tanpa mereka sengaja, mereka
berteriak, “Jangan!”
Mata Kuda Sempana menjadi semakin menyala. Ditatapnya
wajah para cantrik itu sambil berteriak, “Siapa yang akan
menghalangi?”
Kembali para cantrik itu terdiam. Dan kembali Kuda Sempana
melangkah maju. Namun langkahnya itu terhenti ketika para cantrik
pun bergerak maju.
“Apakah yang akan kalian lakukan?” bentak Kuda Sempana.
Para cantrik itu terdiam.
Kuda Sempana yang melihat tingkah laku para cantrik itu menjadi
sangat marah. Dengan serta-merta ia meloncat menyerbu. Setiap
kali tangan dan kakinya bergerak, setiap kali seorang cantrik
terpelanting jatuh sambil mengeluh pendek. Tubuh-tubuh yang
terbanting itu merasa, seakan-akan segenap tulang belulangnya
menjadi remuk. Dan karena itulah maka mereka tidak lagi sempat
untuk berdiri, ketika mereka melihat Kuda Sempana meloncat dan
berlari memasuki pringgitan lewat pendapa rumah Empu Purwa itu.
Yang terdengar adalah suara Wiraprana terbata-bata, “Jangan,
jangan. Namun tubuhnya terasa sangat lemahnya. Tulang-tulang
iganya seperti lepas terpecah-pecah. Sekali ia mencoba bergerak,
namun perasaan nyeri menyengat seluruh tubuhnya.
Karena itu, maka kini tak seorang pun yang dapat menahan Kuda
Sempana. Ia berlari saja masuk ke dalam rumah.
Namun rumah itu sedemikian sunyinya.
Sekali-kali ia mencoba menengok bilik-bilik yang ada di dalam
rumah itu. Sentong tengah, sentong kiri dan kanan, namun tak
dijumpai seorang pun. Dengan gelisah ia meloncat dari satu
ruangan ke ruangan yang lain. Namun ruangan-ruangan itu telah
kosong.
Kini dengan geramnya Kuda Sempana meloncat ke gandok
sebelah kiri. Namun gandok ini pun ditemuinya kosong. Dan
karenanya Kuda Sempana segera berlari ke gandok sebelah kanan.
Diloncatinya setiap pintu, dan dijenguknya setiap ruangan.
“Gila!” desahnya. Dan Kuda Sempanalah yang sebenarnya hampir
gila. Sekali lagi ia berlari- lari di dalam rumah itu. Seluruh
ruangan
telah dimasukinya dan hampir seluruh sudut-sudutnya telah
dilihatnya. Namun Ken Dedes tidak ditemukannya.
Ketika sekali ia meloncati pintu belakang, dan dilihatnya seorang
perempuan yang bersembunyi di balik sebuah tumpukan batu,
dengan serta-merta Kuda Sempana meloncat menghampiri. Namun
ternyata perempuan itu adalah seorang yang sedang ketakutan.
“Gila!” umpatnya sekali lagi.
“Di mana Ken Dedes?” bentaknya.
Endang yang ketakutan itu menjadi semakin takut. Tiba-tiba ia
terduduk lemas karena kakinya yang gemetar.
“Di mana Ken Dedes?” Kuda Sempana berteriak.
Endang itu menggeleng lemah. Dan tubuhnya menggigil ketika
tangan Kuda Sempana memegang bahunya kuat-kuat sambil
mengguncang-guncang tubuhnya.
“Di mana Ken Dedes? Cepat!”
“Aku tidak tahu,” jawab endang itu tergagap.
“Bohong. Ayo, tunjukkan di mana Ken Dedes.
Endang itu menjadi semakin takut. Meskipun bibirnya bergerakgerak
namun tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan, sehingga
Kuda Sempana menjadi semakin marah. Tetapi ketika sekali lagi ia
mengguncang tubuh endang yang ketakutan itu, maka ia
mengumpat, “Setan!” Dibiarkannya endang yang ketakutan itu
terbaring pingsan.
Kini Kuda Sempana tidak mencari Ken Dedes di dalam rumah.
Cepat ia berlari ke dapur. Di sekitar dapur itu dilihatnya beberapa
bilik tempat para endang. Karena itu, maka dengan marahnya satu
demi satu bilik itu dimasukinya.
Ketika Kuda Sempana sampai di bilik yang paling ujung, bilik
seorang emban tua, maka dengan serta-merta ditariknya pintu bilik
yang masih tertutup itu. Demikian pintu itu terbuka, maka alangkah
terkejutnya. Kuda Sempana itu tegak di muka pintu dengan wajah
yang tegang. Sedang di dalam bilik itu terdengar sebuah jerit
pendek.
“Hem,” geram Kuda Sempana, “akhirnya kau kutemukan juga.”
Ken Dedes yang berada di dalam bilik itu bersama pemomongnya
yang telah mencoba menyembunyikannya menjadi terkejut pula.
Dengan gemetar ia memandang Kuda Sempana yang menakutkan
itu. Dengan demikian, maka Ken Dedes dapat membayangkan
bahwa Wiraprana dan para cantrik tidak berhasil mencegah orang
yang hampir menjadi gila ini.
Dengan demikian, maka ketakutan yang amat sangat menjalar di
dada Ken Dedes. Apa yang pernah terjadi, ternyata kini berulang
kembali.
“Ken Dedes,” berkata kuda Sempana dengan suara parau,
“maafkan aku, kalau aku memilih cara ini untuk mengambilmu.
Kalau kau tidak keras hati, maka pasti aku akan menempuh jalan
lain. Tetapi jalan lain itu kini telah tertutup sama sekali. Karena
itu,
maka jalan satu-satunya adalah cara ini.”
Ken Dedes memandang Kuda Sempana dengan muaknya.
Betapapun ia menjadi takut, namun ia tidak dapat membiarkan
dirinya dijamah oleh iblis itu. Karena itu maka katanya, “Kuda
Sempana, itu sama sekali bukan cara seorang jantan.”
Kuda Sempana terkejut, katanya, “Aku telah berhadapan dengan
Wiraprana. Laki-laki yang akan menjadi suamimu itu. Aku telah
bertempur melawannya. Bukan aku yang tidak bersikap jantan,
namun Wirapranalah yang berlaku demikian. Sebab ia tidak
bertempur seorang melawan seorang. Ia telah bertempur bersamasama
para cantrik melawan aku. Apakah dengan demikian aku
kurang bersikap jantan?”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Wiraprana telah dikalahkan.
Tetapi bagaimanakah nasibnya? Apakah anak muda itu telah
terbunuh?
Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Ken Dedes. Takut,
cemas dan pertanyaan- pertanyaan yang timbul tentang nasib
Wiraprana. Namun dengan demikian, tiba-tiba gadis itu mengangkat
wajahnya. Ketika ia tidak melihat lagi jalan untuk melepaskan diri,
maka dengan lantangnya ia berkata, “Kuda Sempana. Jangan
mencoba menyentuh kulitku!”
Wajah Kuda Sempana yang merah padam itu kini menjadi
semakin menyala. Dengan geramnya ia berkata, “Ken Dedes, aku
telah mengalahkan setiap laki-laki yang ada di padepokan ini.
Apakah yang akan dapat kau lakukan?”
Ken Dedes itu kini justru tidak menjadi gemetar lagi. Dengan
dada tengadah ia berkata, “Kuda Sempana, kau mungkin dapat
mengalahkan sedap orang yang menghalang-halangi maksudmu.
Namun kau tak akan dapat mengalahkan aku sendiri. Sebab bagiku,
lebih baik aku mati daripada menjadi istri pelarian.”
“Jangan gila!” sahut Kuda Sempana, “kau tak akan mati. Mungkin
kau belum merasakan keindahan rumah tangga kita kelak. Tetapi
jangan kau coba membunuh dirimu sendiri.”
“Apa pedulimu? Dan ternyata kau tidak akan mengalahkan maut
itu.”
Kuda Sempana itu terdiam sesaat. Dilihatnya di belakang Ken
Dedes berdiri seorang emban tua dengan mata yang
memandangnya dengan penuh kebencian. Namun Kuda Sempana
sama sekali tidak memperhatikannya. Baru ketika emban itu
berkata, “Kuda Sempana, adakah Angger telah berpikir masakmasak
tentang apa yang Angger lakukan?”
“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Apa kau sangka, kau cukup
bernilai untuk memberi aku nasihat?”
“Aku tidak memberi nasihat, Ngger. Tetapi sebagai seorang tua
aku heran melihat tingkah Angger. Bukankah Angger seorang yang
cukup jantan?”
l
“Sudah aku katakan. Aku telah bertempur melawan lebih dari
tujuh orang laki-laki di halaman?”
“Tetapi apakah Angger tidak mendengar, bahwa di padepokan ini
akan dilangsungkan sayembara tanding?”
“Gila! Apakah kau mengigau?”
“Tidak. Sesudah Nini dipertunangkan dengan Angger Wiraprana,
masih saja banyak sekali lamaran-lamaran yang datang. Karena itu,
maka segera akan diadakan sayembara tanding.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia
berteriak, “Bohong! Jangan banyak bicara!”
Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Jangan mencoba
melawan!”
Tetapi Kuda Sempana menjadi sangat terkejut. Demikian ia
melangkah maju maka tiba-tiba dilihatnya sebuah patrem di tangan
emban itu. Dan dengan tidak disangka-sangka maka emban itu
berkata, “Jangan jamah momonganku!”
“Gila! Apa yang akan kau lakukan?”
Emban tua itu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi Kuda Sempana
tidak menyangka, bahwa emban tua itu menarik kainnya, dan
disangkutkannya pada ikat pinggangnya. Kemudian hilanglah wajah
yang suram. Kini wajah emban itu menjadi tegang. Dengan patrern
di tangan ia melangkah maju. Katanya, “Angger Kuda Sempana. Kau
telah mengalahkan setiap laki-laki di padepokan ini. Namun kau
belum mengalahkan aku.”
Ken Dedes sendiri menjadi terkejut bukan buatan. Tidak
disangkanya bahwa embannya itu sedemikian setianya kepadanya.
Sehingga karena itu, maka ia tertegun diam seperti patung.
Kuda Sempana terpaku diam di tempatnya. Namun ketika ia
menyadari keadaannya, maka ia terdengar tertawa terbahak-bahak
seperti akan meruntuhkan rumah itu.
Kuda Sempana itu menjadi marah bereampur geli. Seakan-akan
ia sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan lawak yang lucu,
namun memuakkannya. Karena itu, maka untuk melepaskan
kejengkelannya, kemarahannya dan segala macam perasaan yang
bereampur baur di dalam dadanya, Kuda Sempana itu tertawa
seperti orang kerasukan setan.
Ken Dedes yang masih terpaku karena keheranannya melihat
sikap embannya itu, kemudian menjadi tersadar pula akan
keadaannya. Di mukanya berdiri hantu yang sedang tertawa,
seakan-akan mendapat mangsa yang menyenangkan. Sedang apa
yang dilakukan oleh embannya itu sama sekali tak akan dapat
menolongnya.
Tetapi ketika Kuda Sempana sedang melepaskan benturanbenturan
perasaan yang menghimpit dadanya, terdengar emban itu
berbisik lirih, “Nini. Biarlah aku mencoba mengikat anak muda ini
meskipun hanya sesaat. Dan cobalah mempergunakan waktu itu
untuk melarikan diri ke luar halaman.”
Ken Dedes mendengar bisikan itu. Tetapi sejenak ia ragu-ragu.
Apakah usaha itu berhasil? Namun segala usaha akan.
Ditempuhnya. Ia akan mencoba melakukan nasihat embannya itu.
Tetapi apakah yang akan terjadi dengan emban tua itu?”
Dalam pada itu Kuda Sempana telah hampir berhenti tertawa.
Matanya yang menyala itu memandang emban tua itu dengan
penuh nafsu, seakan-akan emban tua itu akan diremasnya sampai
lumat.
“He, perempuan tua! Jangan membuat aku bertambah marah.
Dengan ujung jariku aku akan dapat membunuhmu. Dan kalau aku
menjadi bertambah-tambah marah, rumah ini akan aku bakar dan
kalian yang telah menentang kehendakku akan aku benamkan ke
dalam api.”
“Itu akan menjadi lebih baik,” jawab emban itu, “kematian kami
akan menjadi sempurna.”
“Gila! Kau benar-benar gila!” teriak Kuda Sempana. Namun
kemudian ia mencoba untuk mengabaikan perempuan itu. Katanya
kepada Ken Dedes, “Ken Dedes ikut aku!”
Ken Dedes itu menjadi gemetar kembali. Namun terdengar ia
menjawab lantang, “Tidak!”
“Kalau tidak, aku akan memaksamu. Menangkapmu dan
membawamu lari dengan kudaku.”
Ken Dedes itu terbungkam. Alangkah ngerinya. Tetapi ia tidak
dapat berbuat sesuatu. Kuda Sempana itu berdiri di ambang pintu
bilik itu satu-satunya.
Kuda Sempana itu pun kemudian tidak bersabar lagi. Sekali ia
meloncat untuk menangkap Ken Dedes. Namun kembali anak muda
pelayan dalam Akuwu Tumapel itu terkejut bukan buatan. Demikian
ia meloncat maju, maka perempuan tua itu meloncat pula dengan
lincahnya menghalanginya. Sambil berdiri di muka Ken Dedes,
emban itu berkata, “Sudah aku katakan. Selama aku masih berdiri di
sini, jangan jamah momonganku.”
Mata Kuda Sempana seperti akan meloncat keluar melihat sikap
emban tua itu. Bukan sekedar sikap seorang tua yang bunuh diri.
Tetapi kakinya miring, serta lututnya yang merendah sedikit, adalah
sikap yang meyakinkan. Karena itulah maka Kuda Sempana itu
tertegun sejenak. Ditatapnya perempuan tua itu dengan tajamnya.
Dan kemudian terdengar ia menggeram, “Jangan menghalangi aku!
Sisa-sisa umurmu itu akan terempas habis bersama
kesombonganmu.”
Perempuan itu tidak menjawab. Namun patremnya terangkat
setinggi dada mengarah kepada lawannya.
Kuda Sempana menjadi semakin marah karenanya. Dan
perempuan itu masih juga menghalanginya.
Namun dalam pada itu, Kuda Sempana itu tidak mengetahuinya,
bahkan Ken Dedes pun tidak, bahwa perempuan yang berdiri di
hadapannya itu adalah ibu Mahisa Agni. Perempuan itu adalah
bekas istri seorang laki-laki yang mendambakan dirinya pada
kekuatan-kekuatan kanuragan dan kesaktian. Meskipun perempuan
itu belum pernah berguru kepada siapa pun juga, namun untuk
menyenangkan hati suaminya, ia telah mencoba untuk mengikuti
setiap kesenangan dan kebiasaannya. Bahkan sebelum itu pun ia
adalah seorang gadis yang sedang dilanda oleh angan-angan
tentang seorang laki-laki yang sakti, yang merantau dari satu
tempat ke tempat yang lain. Berjuang untuk menemukan buat bekal
hari depannya. Karena itulah maka hidupnya pun selalu diliputi oleh
angan-angan yang demikian. Sedikit demi sedikit ia mampu juga
untuk menirukan suaminya, dan bahkan mencoba untuk berbuat
serupa. Meskipun setiap kali suaminya menertawakannya, namun ia
berbuat terus. Mula-mula hanyalah sebuah permainan dalam senda
gurau pengantin baru. Namun semakin lama, gerak-gerak itu
dipahami pula.
Tetapi bukan itulah yang telah menempa perempuan itu. Sejak ia
membuang diri, menjauhi pergaulan manusia karena dosa-dosa
yang mengejarnya, maka kemampuan-kemampuan yang tersimpan
di dalam tubuhnya itu sedikit demi sedikit terungkapkan.
Sekali-kali
ia mencoba juga menolong perempuan-perempuan yang ketakutan
dikejar-kejar oleh beberapa perampok kecil di perjalanan.
Sekali-kali
ia mampu juga untuk melindungi dirinya dari segenap bahaya.
Waktu itu ia adalah seorang janda muda yang kadang-kadang masih
dapat menyalakan hati laki-laki. Dalam masa pembuangan diri
itulah, maka perempuan itu menemukan berbagai hal yang
mematangkan lahir dan batinnya.
Kini, setelah sekian lamanya, kemampuan-kemampuan yang
aneh bagi kebiasaan perempuan itu disimpannya, tiba-tiba seperti
bendungan yang pecah, maka terngangalah kesempatan untuk
menyalurkannya. Meskipun perempuan itu, sadar, sesadarnya,
bahwa Kuda Sempana itu bukan lawannya. Bahwa kekuatannya
jasmaniahnya, telah susut. Bukan saja karena umurnya, namun
karena ia sama sekali tidak pernah mempergunakannya lagi sejak ia
tinggal di padepokan Empu Purwa.
Tetapi kini sebenarnya ia sama sekali memang tidak akan
mengalahkan Kuda Sempana, Ia hanya ingin memberi waktu kepada
Ken Dedes untuk melarikan dirinya keluar halaman dan bersembunyi
di mana saja. Meskipun kemudian dirinya sendiri menjadi korban
karenanya, namun ia benar-benar ingin menyelamatkan gadis yang
menjadi momongannya itu.
Kuda Sempana yang marah itu, kini sudah tidak dapat
mengendalikan dirinya lagi. Karena itu segera ia berteriak,
“Minggir!
Atau mampus kau perempuan sekarat!”
Tetapi Kuda Sempana itu menjadi kecewa. Ternyata perempuan
itu mampu meloncat menghindari serangannya. Bahkan kemudian
tangannya yang kecil berkeriput itu terjulur lurus ke lambungnya.
Cepat Kuda Sempana mengelakkan ujung patrem yang hampir saja
menyengatnya sambil berdesis, “Setan! Kau benar-benar ingin
kuremukkan kepalamu.”
Namun perempuan tua itu tidak memedulikannya. Sekali lagi ia
bergeser maju sambil memutar patremnya. Dan sekali lagi Kuda
Sempana terpaksa bergeser mundur. Timbullah berbagai pertanyaan
di dalam dadanya, siapakah gerangan perempuan aneh ini? Setelah
sekali dua kali ia melihat geraknya, maka Kuda Sempana dapat
meraba-raba bahwa sebenarnya perempuan itu telah mengenal gula
ilmu tata bela diri. Karena itu, maka dengan mengumpat-umpat tak
habis-habis ia terpaksa melayani.
Tetapi dengan demikian, Kuda Sempana lupa, bahwa satusatunya
pintu bilik itu telah terbuka bagi Ken Dedes. Ketika
perkelahian itu berkisar dari tempatnya, maka pada suatu saat Kuda
Sempana berdiri bertentangan dengan pintu itu. Kesempatan itulah
yang ditunggu-tunggu oleh perempuan tua itu. Seperti orang yang
kehilangan kesadaran perempuan itu menyerang sejadi-jadinya.
Ternyata tangannya yang kecil itu mampu juga mempermainkan
patrem dengan baiknya.
Dalam pada itu, maka ketika Kuda Sempana menjadi agak lupa
atas pintu itu, berkatalah perempuan itu, “Nini, tinggalkan ruangan
ini!”
“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan kau coba!”
Ken Dedes yang terpaku melihat perkelahian itu, seakan-akan
tersadar dari tidurnya. Pintu itu kini tidak lagi dihantui oleh
bayangan Kuda Sempana. Karena itu, maka dengan serta-merta ia
berlari menghambur keluar;
“Ken Dedes!” teriak Kuda Sempana. Namun Ken Dedes berlari
terus.
Karena itulah maka perhatian Kuda Sempana menjadi terpecah.
Sebagian perhatiannya terikat kepada perkelahian itu, sedang
sebagian lagi mengikuti langkah Ken Dedes. Namun Kuda Sempana
adalah seorang anak muda yang perkasa. Karena itu segera ia
mampu menemukan keseimbangan pikirannya kembali. Perempuan
yang menghalanginya itu harus disingkirkan, baru ia akan berlari
mengejar Ken Dedes.
Ternyata perempuan itu memang bukan lawan Kuda Sempana.
Ia hanya sekedar dapat memancing perhatian Kuda Sempana.
Karena itu, ketika Kuda Sempana itu menjadi marah, maka dengan
sekali loncat ia berhasil mendesak perempuan itu ke sudut.
Kemudian dengan garangnya ia menyerangnya dengan kakinya.
Tetapi perempuan tua itu masih juga membela dirinya untuk
memberi kesempatan kepada Ken Dedes meninggalkan halaman itu.
Karena itu, maka ketika kaki Kuda Sempana terjulur ke arahnya,
maka segera ia menarik patremnya menyongsong setangan kaki itu.
Tetapi Kuda Sempana tidak membiarkan kakinya terluka. Cepat ia
menarik serangannya, dan dengan cepatnya ia berputar di atas satu
kakinya, sedang kaki yang lain segera menyambar tangan
perempuan tua yang memegang patrem itu. Namun Kuda Sempana
mengumpat. Tangan yang telah kurus itu ternyata masih juga
cekatan, sehingga kaki Kuda Sempana tak menyentuhnya.
Demikianlah Kuda Sempana menjadi semakin marah karenanya.
Tetapi di samping itu, ia menjadi gelisah pula atas gadis yang
melarikan diri. Tetapi kegelisahannya itu telah mendorongnya untuk
lebih mempercepat penyelesaian atas perempuan tua itu.
Ken Dedes, yang telah berhasil keluar dari bilik itu, segera
berlari
ke halaman depan. Maksudnya akan berlari keluar halaman dan
bersembunyi di rumah di sekitarnya. Tetapi ketika ia turun dari
pendapa, Ken Dedes itu terkejut bukan main. Dilihatnya beberapa
orang cantrik terbaring di tanah, dan beberapa orang yang lain
mencoba merangkak bangkit. Tetapi Ken Dedes itu lebih terkejut
lagi ketika dilihatnya di antara mereka Wiraprana pun yang dengan
susah payah berusaha untuk bangkit.,
“Kakang!” teriak Ken Dedes
Wiraprana menggigit bibirnya. Dengan suram ia memandang
gadis itu. Desahnya, “Di manakah Kuda Sempana?”
“Di belakang,” sahut Ken Dedes yang dengan serta-merta
bersimpuh di sampingnya.
“Kau dapat lepas dari tangannya?”
“Ya. Bibi emban sedang berkelahi melawannya?”
“Emban yang mana?” bertanya Wiraprana heran.
“Emban tua. Pemomongku.”
Wiraprana tidak mengerti akan keterangan itu. Emban tua,
pemomong Ken Dedes. Aneh. Tetapi ia tidak sempat untuk bertanya
terlalu banyak. Wiraprana itu pun kemudian berpikir tentang nasib
Ken Dedes. Karena itu katanya, “Lalu apakah yang akan kau lakukan
sekarang.”
“Bersembunyi selagi masih ada kesempatan.”
“Baik. Bersembunyilah di rumah tetangga. Apakah Kuda
Sempana akan memasukinya satu demi satu?”
“Ya.”
“Nah. Pergilah.”
Tetapi Ken Dedes tidak segera berdiri, sehingga Wiraprana itu
menegurnya, “Pergilah selagi ada kemungkinan.
“Lalu bagaimanakah dengan kau, Kakang?”
“Biarkan aku. Aku tidak apa-apa.”
“Tetapi bagaimanakah nanti kalau Kuda Sempana itu kembali
kemari?”
“Biarkan aku. Pergilah. Pergilah secepatnya sebelum Kuda
Sempana datang.”
Ken Dedes pun berdiri. Namun ia masih ragu-ragu karenanya. Ia
tidak sampai hati meninggalkan Wiraprana yang wajahnya merah
biru sedang darah mengalir dari hidungnya.
Wajah yang demikian itu pulalah yang pernah dilihatnya
beberapa waktu yang lalu di bendungan. Dan ternyata kini berulang
kembali.
“Ken Dedes pergilah cepat. Cepat!”
Ken Dedes itu pun segera melangkah, namun ia sudah terlambat.
Dari balik pintu pringgitan muncullah Kuda Sempana berlari-lari.
Ternyata dengan cepat Kuda Sempana telah berhasil mendorong
emban tua itu jatuh terbanting. Betapa berat tangan Kuda Sempana
itu, sehingga emban yang sudah tua itu tidak mampu untuk segera
bangkit kembali. Dengan nafas terengah-engah perempuan itu
mencoba untuk bangun, namun tubuhnya terasa seperti tidak
bertulang lagi. Meskipun demikian, selagi Kuda Sempana masih
tampak di matanya, segera ia melemparkan patremnya, ke arah
anak muda itu. Tetapi sama sekali tidak berarti. Sebab dengan
cepatnya Kuda Sempana berhasil menghindarinya.
Oleh kemarahan Kuda Sempana yang telah memuncak sampai ke
ubun-ubunnya, maka anak muda itu bermaksud membunuh saja
emban yang telah mencoba mengganggunya, tetapi segera ia
teringat kepada Ken Dedes. Dengan demikian ia menggeram, “He
perempuan celaka. Biarlah kau hidup sampai aku berhasil
menangkap Ken Dedes.”
Kuda Sempana itu segera meloncat berlari, dan sampai di
halaman ia menarik nafas lega. Ia masih melihat Ken Dedes di situ.
Ken Dedes yang melihat kedatangan Kuda Sempana itu kembali
menjadi gemetar. Kin tak ada lagi yang dapat diharapkan untuk
melindungi dirinya. Karena itu, maka dalam kebingungan ia
melangkah terus. Berlari meninggalkan halaman rumahnya. Tetapi
Kuda Sempana pun berlari pula mengejarnya. Wiraprana yang
masih belum dapat bergerak memandangnya dengan penuh
kecemasan. Sehingga karenanya tanpa sesadarnya ia berteriak,
“Kuda Sempana. Kau benar-benar telah kepanjingan setan.
Kemarilah kalau kau jantan.”
“Mampuslah kau Wiraprana,” sahut Kuda Sempana, “ambil berlari
mengejar Ken Dedes.”
Demikian Ken Dedes meloncat keluar dari pintu halamannya,
dilihatnya beberapa anak muda berdiri di luar. Dengan serta-merta
ia berteriak, “Tolong! Tolonglah aku.”
Anak-anak muda itu saling berpandangan. Kuda Sempana bukan
orang yang dapat mereka lawan. Mereka tidak lebih dari beberapa
orang cantrik yang telah terbaring di halaman Empu Purwa itu.
Namun meskipun demikian anak-anak muda itu masih tetap berdiri
tegak di tempatnya. Sudah barang tentu mereka tak akan dapat
membiarkan seorang gadis dari lingkungannya mengalami nasib
yang memedihkan.
Sesaat kemudian muncullah Kuda Sempana dari pintu gerbang
itu pula. Ketika ia melihat beberapa anak muda berdiri di
hadapannya, maka langkahnya tertegun. Dengan kemarahan yang
menyala-nyala ia berteriak, “Apakah yang akan kalian lakukan?”
Tak seorang pun dari anak-anak muda itu yang menjawab.
Mereka telah melihat apa yang terjadi di halaman. Tetapi mereka
pun tak sampai hati melepaskan Ken Dedes dibawanya. Karena itu
mereka masih saja berdiri tegak hampir berhimpitan. Sedang Ken
Dedes yang gemetar berdiri di belakang mereka.
Kuda Sempana yang marah itu menjadi semakin marah. Ketika
selangkah ia maju, maka anak-anak muda Panawijen itu pun
berdesakan mundur. Mereka tidak berani langsung menentang
kekerasan yang memancar dari mata Kuda Sempana Itu.
Alangkah kecewanya Ken Dedes melihat kawan-kawannya yang
ketakutan itu. Karena itu, maka ia tidak akan dapat
menggantungkan dirinya kepada mereka. Sebab ternyata pula,
ketika Kuda Sempana maju selangkah lagi, maka mereka pun telah
berebut untuk menghindar.
Kuda Sempana yang marah itu pun kemudian berteriak, “Pergi!
Pergi. Biarkan aku berbuat menurut kehendakku.”
Anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu. Sekali lagi mereka saling
berpandangan. Meskipun demikian, terpancarlah dari wajah-wajah
mereka, bahwa mereka sama sekali tidak ikhlas melihat peristiwa
itu. Tetapi mereka kurang keberanian untuk mencegahnya. Sebab
mereka tahu, siapakah Kuda Sempana itu.
Kuda Sempana itu pun kemudian tidak bersabar lagi. Sekali lagi
ia berteriak, “Pergi! Pergi, atau siapakah yang akan mati dahulu di
antara kalian? Beberapa orang telah mencoba mencegah
kemauanku. Sekarang kalian memperlambat pula. Karena itu, maka
kemarahan yang bertumpuk undung di dalam dadaku, akan aku
tumpahkan kepada kalian. Siapa yang tidak menuruti kemauanku
meninggalkan tempat ini maka merelalah yang akan mati lebih
dahulu.”
Anak-anak muda itu menjadi semakin cemas. Kuda Sempana
benar-benar akan membunuh mereka yang mencoba menghalangi
kemauannya. Tetapi apakah Kuda Sempana itu akan dibiarkannya
untuk membawa Ken Dedes pergi.
Ken Dedes yang menggigil di belakang mereka itu menjadi
semakin takut. Anak-anak muda Panawijen ternyata kurang memiliki
keberanian. Karena itu ia berbisik dengan suara gemetar, “Tolonglah
aku, Tolonglah.”
Sesaat ketika anak-anak muda itu mendengar suara Ken Dedes,
mereka menjadi iba, dan seolah-olah mereka pun segera akan
melindunginya. Namun apabila terpandang oleh mereka itu mata
Kuda Sempana, maka kembali hati mereka keriput.
Kuda Sempana yang marah itu pun kemudian berkata, “Aku akan
melangkah langsung mengambil gadis itu. Mingggir,atau siapa yang
masih berdiri di hadapanku akan aku binasakan.”
Kuda Sempana tidak menunggu apapun lagi. Selanglah ia maju,
dan anak-anak muda itu pun mundur pula. Ketika Kuda Sempana
maju lagi, mereka pun mundur lagi selangkah. Dan ketika langkah
Kuda Sen paria menjadi semakin cepat, maka tiba-tiba mereka itu
pun menyibak.
“Tolong, tolonglah aku!” jerit Ken Dedes. Namun anak-anak
muda itu telah menyibak, seakan-akan sengaja memberi jalan
kepada Kuda Sempana untuk langsung dapat menangkap Ken
Dedes.
Ken Dedes menjadi bertambah ketakutan. Terbayanglah
peristiwa yang mengerikan akan menimpanya. Karena itu tanpa
malu-malu ia mengguncang-guncang tubuh seorang anak muda
yang berdiri di dekatnya, “Cegahlah, cegahlah. Aku tidak mau! Aku
tidak mau!”
Hati anak muda itu pun terguncang pula. Alangkah ibanya
kepada gadis itu. Tetapi ia tidak mau mati. Karena itu ia menjadi
ragu-ragu.
Dalam pada itu Kuda Sempana melangkah terus. Setiap langkah
yang diayunkan, terasa seakan-akan sebuah tusukan sembilu di
dada Ken Dedes. Sekali lagi ia mencoba menjerit sambil
mengguncang-guncang tubuh anak muda yang berdiri di
hadapannya, “Aku tidak mau! Aku tidak mau!”
Tetapi pemuda itu tidak berani menatap nyala yang memancar
dari mata Kuda Sempana. Karena itu, maka ia pun kemudian
bergeser mundur.
Pada saat yang demikian, pada saat Ken Dedes menjadi berputus
asa, serta pada saat anak-anak muda Panawijen kehilangan akal,
maka mereka dikejutkan oleh suara derap kuda yang menggema di
padukuhan itu. Suaranya gemeretak seperti suara guruh yang sahut
menyahut berputaran.
Kuda Sempana terkejut mendengar derap kuda itu. Sesaat
langkahnya tertegun. Diangkatnya wajahnya dan dicobanya untuk
mengetahui, dari manakah arah suara itu.
Terasa sesuatu bergetar di dada anak muda itu. Sekilas tebersit
gambaran anak muda yang bernama Mahisa Agni. “Tidak mungkin,”
katanya di dalam hati, “anak itu berjalan kaki. Kalau ia
tergesa-gesa
pulang, secepatnya tengah malam nanti ia akan sampai.” Kemudian
katanya pula di dalam hatinya itu, “Seandainya anak muda itu
datang, maka aku sekarang tidak akan gentar lagi untuk
menghadapnya.”
Meskipun demikian Kuda Sempana itu menjadi gelisah pula.
Ketika tampak di matanya anak-anak muda Panawijen itu pun
menjadi terkejut dan memerhatikan suara derap kuda itu, maka
terdengar ia berteriak, “Minggir, cepat!”
Namun sebelum Kuda Sempana meloncat menangkap Ken
Dedes, maka terasa sesuatu berdesir di dalam hatinya. Dari
tikungan dilihatnya seekor kuda meluncur secepat anak panah yang
lepas dari busurnya. Debu putih mengepul berhamburan di belakang
kaki-kaki kuda itu. Dan ketika Kuda Sempana melihat
penunggangnya, jantung serasa berhenti berdenyut.
“Mahisa,” Agni desisnya.
Anak muda itu adalah Mahisa Agni. Hatinya tersirap ketika ia
melihat beberapa orang berkerumun di muka gerbang halaman
rumah gurunya. Kudanya yang berlari kencang itu dicambuknya
sehingga seakan-akan kuda itu terbang.
Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama. Segera ia sampai di
antara anak-anak muda yang berkerumun itu. Dengan sekuat
tenaga ditariknya kekang kudanya, sehingga kuda itu meringkik
sambil tegak di atas kedua kaki belakangnya. Demikian kuda itu
menjejakkan kaki depannya, demikian Mahisa Agni meloncat turun.
Yang mula-mula terdengar adalah suara Ken Dedes menjerit,
“Kakang. Kakang Mahisa Agni!”
Sebelum Kuda Sempana sempat menangkapnya, gadis itu
meloncat berlari ke arah Mahisa Agni. Gadis yang ketakutan dan
hampir berputus asa itu, dengan serta-merta memeluk tubuh
Mahisa Agni sambil memuntahkan segenap himpitan perasaan di
dalam dadanya. Ken Dedes itu menangis seperti kanak-kanak.
Ketika tersentuh olehnya tubuh Mahisa Agni, yang dianggapnya
sebagai kakak kandungnya itu, maka terasa seakan-akan ia telah
menemukan perlindungan. Sebagai anak ayam yang bersembunyi
dibalik sayap induk ketika seekor elang mengintainya, demikianlah
apa yang dilakukan oleh Ken Dedes itu.
—–
Sebelum Kuda Sempana menangkapnya, gadis itu meloncat
berlari ke arah Mahisa Agni. Gadis yang ketakutan dan hampir
berputus asa itu,dengan serta-merta memeluk tubuh Mahisa Agni
…..
—–
Kuda Sempana menyaksikan perbuatan itu dengan gigi yang
gemeretak. Matanya yang menyala karena kemarahan yang
membakar dadanya. seakan-akan hendak meloncat dari pelupuknya.
Sehingga kemudian terdengar ia menggeram parau, “Ken Dedes.
Ikutlah aku!”
Ken Dedes tidak mendengar kata-kata itu. Ia baru tenggelam ke
dalam tangisnya yang menyesakkan dadanya. Namun Mahisa
Agnilah yang mendengar kata-kata itu. Karena itu didorongnya Ken
Dedes perlahan-lahan ke samping sambil berkata, “Minggirlah, Ken
Dedes, biarlah anak muda itu aku layani.”
Ken Dedes mendengar kata-kata Mahisa Agni itu sebagai suatu
peringatan, bahwa di belakangnya bahaya masih selalu
mengintainya. Karena itu, maka segera dilepaskannya tangannya,
dan bergeser menepi.
Kini Mahisa Agni itu berdiri dengan kokohnya menghadap ke arah
Kuda Sempana yang telah bersiap pula. Dari wajah2-wajah mereka,
terbayang kemarahan yang telah memuncak.
Sesaat mereka hanya berdiri raja saling berpandangan. Meskipun
tak sepatah kata pun yang terloncat dari bibir mereka, namun dari
mata mereka telah memancar perasaan dendam, benci dan segala
macam.
Suasana pun segera meningkat menjadi semakin tegang.
Seakan-akan tanah tempat mereka berpijak itu telah menyala.
Dalam keheningan yang membara itu terdengar suara Mahisa
Agni berat, “Apa yang telah kau lakukan di sini Kuda Sempana?”
Kuda Sempana memandang Ken Dedes sesaat, kemudian
jawabnya, “Tak usah kau bertanya., kau sudah dapat menebaknya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan.
Katanya, “Hem. Masih juga kau ulangi niatmu yang gila itu?”
“Sebelum aku berhasil, maka aku tak akan berhenti berusaha.
Hanya orang-orang kerdil sajalah yang melupakan cita-citanya.”
“Kuda Sempana. Untuk yang terakhir kalinya aku
memperingatkanmu. Urungkan niatmu. Kau akan dapat mencari
gadis yang tak kalah cantiknya di Tumapel.”
i
“Gila. Kau jangan mengigau Mahisa Agni. Kau sangka nilai
seorang gadis sama dengan nilai seekor ayam aduan? Yang dapat
dipilih di pasar-pasar atau di kalangan adu jago? Agni aku mau
menilai gadis yang aku kehendaki seperti aku menilai jiwaku
sendiri.”
“Aku menghormati penilaian itu,” sahut Mahisa Agni, “tetapi kau
tidak berpijak atas nilai timbal balik. Kau menilai dirimu dan
nyawamu sendiri. Tetapi pernahkah kau bertanya kepadanya,
kepada Ken Dedes, bagaimana ia menilai dirimu?”
Kuda Sempana diam sesaat. Kemarahannya kini menjadi semakin
memuncak. Dan karena itulah maka matanya menjadi makin merah
membara.
Dihentak Kuda Sempana itu pun terbayang kembali peristiwa
beberapa waktu yang lampau di pinggir kali. Mahisa Agni itu pula
yang telah menggagalkan usahanya. Dan kini anak muda itu telah
berdiri di hadapannya pula dalam persoalan yang sama.
Tetapi beberapa waktu yang lampau Kuda Sempana bukan Kuda
Sempana yang sekarang. Kini ia telah menempa dirinya menjadi
seorang yang jarang dicari bandingnya. Kini di dalam dirinya telah
tersimpan kekuatan- kekuatan yang beberapa waktu yang lampau
diungkapkannya.
Karena itu, menyadari keadaan diri, maka tiba-tiba Kuda
Sempana itu tertawa. Suaranya terdengar aneh, di antara
kemarahan yang menggelegak sampai ke kepalanya dan
penghinaan terhadap setiap orang yang tidak menyadari, bahwa
mereka berhadapan dengan Kuda Sempana. Dan disela-sela suara
tertawanya itu terdengar ia berkata, “He, Mahisa Agni, Apaknya kau
berbangga atas kemenanganmu beberapa saat yang lampau di
pinggir belumbang di bendungan. Huh. Kau sangka bahwa aku
sedemikian bodohnya untuk kembali lagi ke Panawijen masih dalam
tataranku yang dahulu? Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan
bahwa Kuda Sempana mampu memaksakan kehendaknya atas
siapa saja. Tetapi ternyata kau tidak menyadari keadaanmu. Karena
itu, maka aku masih akan mencoba untuk mencegah peristiwaperistiwa
yang semakin buruk terjadi di sini.”
“Peristiwa itu tidak akan terjadi kalau kau dapat mengerti
perasaan orang lain, Kuda Sempana. Kalau dapat mengerti perasaan
anak-anak muda Panawijen, dan kalau kau dapat mengerti perasaan
Ken Dedes sendiri,” sahut Mahisa Agni.
“Hem,” Kuda Sempana menggeram, “apakah kau benar-benar
tidak mau melihat kenyataan tentang dirimu dan diriku?”
“Aku belum melihat kenyataan itu.”
“Baiklah,” berkata Kuda Sempana dengan suara parau. Kemudian
matanya yang merah itu menjadi semakin membara, “Apakah aku
harus membunuhmu?”
“Aku adalah kakak Ken Dedes. Kalau kau akan mengambilnya
dengan bertaruh nyawa, maka aku pun akan mempertahankannya
dengan taruhan yang sama.”
“Bagus!” teriak Kuda Sempana. Selangkah ia maju dan tiba-tiba
anak muda itu bersiap untuk menyerang.
Beberapa anak muda yang melihat sikap itu segera berdesakan
mundur. Mereka tidak mau tersentuh oleh kekuatan-kekuatan yang
tidak dapat mereka duga sebelumnya. Karena itu maka lebih baik
mereka menyingkir sejauh-jauhnya.
Kuda Sempana menjadi bangga melihat anak-anak muda
sebayanya, kawan-kawannya bermain semasa mereka masih kanakkanak
sampai menginjak dewasa itu menjadi sedemikian takutnya
melihat sikapnya yang garang. Tetapi ia menjadi sangat marah
ketika ia melihat Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Berdiri
tegak seakan 2 tidak lagi dapat digoyahkan oleh kekuatan apapun.
Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya. apapun yang akan
terjadi. Dengan penuh kewaspadaan anak muda itu siap
mempertahankan kehormatan keluarga gurunya.
“Tetapi apakah karena itu?” tiba-tiba tersembul pertanyaan di
dalam hati Mahisa Agni itu sendiri, “hanya karena mempertahankan
kehormatan keluarga gurunya?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Dengan tanpa disadarinya ia
menggelengkan kepalanya untuk mengusir kebimbangan yang
merayap di hatinya. Justru pada saat ia telah siap untuk
mempertaruhkan nyawanya.
Perasaan yang pernah menghunjam melukai jantungnya itu
masih saja sering mengganggunya. Dan kali ini pun perasaan itu
mengusiknya pula. Bukankah Ken Dedes itu bukan saudaramu?
Bukan pula gadis yang dapat mengerti perasaanmu? Kalau
kemudian terjadi bencana atas dirinya, kenapa kau mempertaruhkan
nyawamu untuknya?
Mahisa Agni itu pun kemudian mengatupkan giginya rapat-rapat.
Dicobanya untuk menindas semua perasaan yang simpang siur di
kepalanya. Dan ketika sekali lagi terpandang olehnya Kuda Sempana
yang telah siap melontarkan serangan itu, maka Mahisa Agni pun
segera bergeser setapak.
Kuda Sempana melihat keragu-raguan yang membayang di
wajah Mahisa Agni. Karena itu ia berkata, ” Agni, apakah kau
mempunyai pertimbangan lain?”
Pertanyaan itu justru semakin membakar hati anak muda itu.
Justru semakin membulatkan tekadnya untuk mempertahankan Ken
Dedes itu.
“Persetan! Apapun sebabnya,” teriaknya di dalam hatinya untuk
menindas segala perasaan yang mencoba untuk mengabulkan
tekadnya.
Karena itulah maka terdengar Mahisa Agni itu menjawab, “Ya.
Aku menjadi ragu-ragu. Apakah aku sebaiknya membunuhmu atau
tidak.”
Kuda Sempana yang marah itu menggeram, “Jangan terlalu
sombong!”
Mahisa tidak menjawab. Tetapi ia siap menunggu serangan
sudah hampir terlontar.
Sebenarnya Kuda Sempana pun tidak menunggu Mahisa Agni
menjawab. Secepat kilat anak muda itu melontarkan sebuah
serangan ke arah dada Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni pun telah
siap pula menanti serangan itu, sehingga dengan cepatnya pula ia
sempat menghindarinya.
Kuda Sempana menyadari bahwa serangannya yang pertama itu
pasti tidak akan dapat mengenai lawannya, karena itu, secepatnya
pula ia menyerang berganda. Tetapi Agni pun tidak kalah
tangkasnya, sehingga serangan- serangan itu tak mengenai
sasarannya.
Namun untuk seterunya Mahisa Agni tidak saja membiarkan
dirinya menjadi sasaran serangan-serangan Kuda Sempana. Sekali
ia berputar dan untuk seterusnya maka dengan garangnya ia pun
melancarkan serangan pula.
Demikianlah maka kini mereka berdua terlibat dalam suatu
perkelahian yang seru. Masing-masing telah dibakar oleh
kemarahan, dan masing-masing telah bertekad untuk
mempertaruhkan nyawa mereka. Karena itu, maka seranganserangan
mereka pun meluncur tanpa pengendalian.
Kuda Sempana yang merasa dirinya telah mendapatkan bekal
yang cukup, bertempur dengan penuh kebanggaan diri. Setiap kali
ia menyangka bahwa lawannya akan segera jatuh terjerembab dan
dengan demikian ia akan segera berhasil membawa Ken Dedes
pergi. Tetapi setiap kali pula ia menjadi kecewa, sebab lawannya
mampu untuk menghindari setiap serangan-serangan mautnya.
Bahkan semakin lama, Kuda Sempana itu menyadari, bahwa
lawannya kali ini, meskipun kekuatannya sendiri telah jauh
melampaui masa-masa yang lewat, namun yang dihadapinya itu
pun bukan Mahisa Agni yang dahulu.
Beberapa kali Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya. Ia
sama sekali tidak menyangka bahwa Mahisa Agni itu pun memiliki
kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuannya.
Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin cepat,
sehingga, kemudian mereka seakan-akan menjadi luluh dalam
sebuah putaran yang membingungkan. Yang dilihat oleh anak-anak
muda Panawijen itu adalah sebuah pusaran yang kalut. Hanya
beberapa kali mereka melihat bentuk-bentuk Mahisa Agni dan Kuda
Sempana, namun sesaat kemudian mereka telah meloncat dan
melontar berputaran, sehingga yang tampak hanyalah semacam
gumpalan debu yang hitam putih bercampur baur.
Kuda Sempana itu ternyata benar-benar memiliki kelebihan dari
anak-anak muda kebanyakan. Tangannya yang tangkas dan cepat
bergerak menyambar-nyambar seperti sayap sepasang garuda yang
berlaga di udara. Namun lawannya adalah seekor burung rajawali
yang tangkas. Itulah sebabnya, maka keduanya kemudian menjadi
seolah-olah dua ekor burung raksasa yang sedang bertempur,
berebut sakti untuk merajai kerajaan langit yang terbentang dari
kaki langit ke kaki langit di seputar bumi.
Tetapi semakin seru mereka bertempur, maka semakin nyata
bahwa Kuda Sempana menjadi sangat heran. Mahisa Agni itu
seakan-akan bahkan menjadi semakin segar, dan tenaganya
bertambah-tambah. Kuda Sempana mengharap ia akan segera
dapat mengakhiri perkelahian itu. Namun harapannya itu ternyata
tak akan dapat dihayatinya. Kuda Sempana sama sekali tidak tahu,
bahwa Mahisa Agni itu pun baru saja kembali dari sebuah
perjalanan yang berat. Perjalanan yang memerlukan waktu
berbulan-bulan untuk menempa dirinya. Menyadap kesempurnaan
ilmu yang dimiliki oleh gurunya. Meskipun kesempurnaan yang
dimilikinya adalah kesempurnaan yang tidak sempurna. Sebab tidak
ada sesuatu yang sempurna di permukaan bumi ini. Yang tampak
maupun yang tidak tampak. Yang sempurna hanyalah Yang Maha
Sempurna.
Mahisa Agni menyadari sepenuhnya hal ini, sebagaimana
gurunya mengatakan kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Agni
selalu menyadari pula, bahwa tidak ada ilmu yang tak dapat
dilampaui. Yang paling sakti akan dikalahkan pula oleh yang lain,
dan yang lain itu pun akhirnya akan jatuh pula. Sedang mereka
yang terlalu cepat menepuk dada, maka ialah yang paling cepat
akan jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Dan mereka yang
tidak menyadarinya, maka alangkah pahit hidupnya.
Itulah sebabnya Mahisa Agni tidak menyombongkan dirinya. Ia
bertempur dengan hati-hati. Setiap kali ia berusaha untuk
mengetahui letak kekuatan lawannya dan baru dalam saat-saat
yang pasti ia menyerangnya. Ia tidak berani menduga, apakah
ilmunya jauh lebih baik dari ilmu lawannya, sebab tidak mustahil
bahwa lawannya memiliki Kunci untuk menghancurkan ilmunya.
Tetapi Mahisa Agni bertempur dengan tabah. Ia tidak takut apapun
yang terjadi, namun ia tidak mengharap untuk dikalahkan oleh
lawannya. Karena itu, maka ia tidak kehilangan kewaspadaan.
Sehingga dengan demikian, maka Kuda Sempana yang
dikendalikan oleh nafsunya yang meluap-luap, dihambari oleh
kepercayaan kepada diri yang berlebih-lebihan, maka ia pun cepat
menjadi cemas. Ketika ia tidak segera dapat mengalahkan
lawannya, maka ia menjadi gelisah.
Justru karena kegelisahannya itu, maka tandangnya pun menjadi
semakin kehilangan pengamatan. Sekali-sekali Kuda Sempana telah
membuat kesalahan-kesalahan kecil, sehingga Mahisa Agni yang
cermat itu segera dapat mempergunakan kesempatan itu.
Kelemahan-kelemahan yang betapapun kecilnya, akan dapat
dipergunakan oleh lawannya dalam perkelahian yang demikian. Dan
kesalahan-kesalahan kecil itu pulalah yang sering membawa mereka
ke dalam suatu bencana yang besar.
Beberapa kali terasa oleh Kuda Sempana tangan lawannya telah
berhasil menerobos pertahanannya. Meskipun sentuhan-sentuhan
itu belum merupakan bahaya yang sebenarnya, namun bahwa
beberapa kali lawannya berhasil menembus ilmunya adalah
merupakan suatu pertanda yang kurang menyenangkan.
Tetapi lambat laun Kuda Sempana itu menyadari pula
keadaannya. Akhirnya ia merasa, bahwa Mahisa Agni benar-benar
mampu melawannya, bukan karena ia lengah. Bukan karena Kuda
Sempana itu belum menumpahkan segenap ilmunya. Namun Mahisa
Agni benar-benar telah memiliki ilmu tata bela diri yang
setidaktidaknya
menyamainya.
Sekali terdengar Kuda Sempana itu menggeram. Dahulu ia
menjadi sangat marahnya, dan dipergunakannya sebilah keris untuk
mencoba membunuh Mahisa Agni. Tetapi kali ini Kuda Sempana
sama sekali tidak ingin mempergunakan sebilah keris. Ia
meyakinkan bahwa tangannya akan mampu meremukkan tulang
belulang lawannya, melampaui sebuah tusukan keris. Karena itulah,
maka ia tidak dapat berbuat lain daripada menumpahkan
kemarahannya dalam ilmunya yang paling utama.
Karena itu, maka Kuda Sempana itu pun meloncat mundur.
Direntangkannya kedua tangannya, kemudian dengan cepat ia
melenting ke udara, untuk sesaat kemudian bersiap dalam sikap
yang teguh kuat seperti gunung yang siap untuk meledak.
Mahisa Agni terkejut melihat sikap itu. Sesaat segera ia teringat
kepada cerita Pasik tentang Kuda Sempana. Karena itu maka segera
ia pun bersiap. Dari bibirnya itu terdengar ia berdesis, “Kala
Bama.”
Kuda Sempana terkejut mendengar desis itu. Mahisa Agni dapat
menyebut dengan tepat nama ilmu yang akan dipergunakannya.
Tetapi Kuda Sempana tidak sempat mengetahui dari mana
Mahisa Agni mendengar nama Kala Bama itu. Dan Kuda Sempana
pun tidak sempat memikirkan hal itu.
Mahisa Agni telah pernah membenturkan diri dengan Aji Kala
Bama itu. Karena itu, ketika ia melihat sikap Kuda Sempana yang
siap melontarkan kesaktiannya, maka Mahisa Agni pun segera
membentengi dirinya. Tidak saja ia mempertahankan namun karena
kemarahan yang telah memuncak pula, maka Mahisa Agni itu pun
bersiap untuk membentur aji lawannya dengan ajinya sendiri,
Gundala Sasra.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu segera memusatkan
segenap kekuatan lahir batin. Disilangkannya tangannya di muka
dadanya, dan pada lututnya ia merendahkan dirinya sedikit. Terasa
getaran di dadanya cepat mengalir ke segenap tubuhnya dan ke
telapak tangannya. Getaran-getaran yang sudah dikenalnya. Dan
kini getaran-getaran itu terasa semakin mudah dikuasainya.
Sehingga waktu yang diperlukannya untuk mempersiapkan diri
menjadi semakin pendek pula.
Sesaat kemudian, ketika Kuda Sempana siap mengayunkan aji
pamungkasnya, maka Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya
pula untuk melawannya. Karena itu, demikian ia melihat Kuda
Sempana meloncat mengayunkan tangannya, maka Mahisa Agni
pun segera melontar pula menyongsong serangan Kuda Sempana.
Untuk kedua kalinya, terjadilah benturan yang dahsyat antara Aji
Kala Bama dan Aji Gundala Sasra. Benturan antara dua kekuatan
yang tiada taranya. Dan seperti yang pernah terjadi, maka kali ini
pun keduanya mengalami dorongan yang terasa seperti ledakan
Gunung Merapi.
Mahisa Agni terlontar beberapa langkah surut, sekali ia terguling
dan dengan mata yang berkunang-kunang ia mencoba mengawasi
keadaan lawannya.
Kuda Sempana pun terlempar pula. Dengan kerasnya ia
terbanting wajahnya yang merah menyala, tiba-tiba menjadi putih
pucat. Sesaat ia memejamkan matanya untuk memusatkan segenap
sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, untuk menjaga dirinya,
supaya tidak kehilangan kesadaran.
Demikianlah anak-anak muda Panawijen melihat sesuatu yang
belum dilihatnya selama hidup mereka. Mereka tidak tahu lagi,
bagaimana mereka harus menilai pertempuran itu. Beberapa di
antara mereka berloncatan mundur pada saat terjadi benturan
antara dua kekuatan raksasa itu. Bahkan ada di antara mereka yang
tanpa sesadarnya telah menekan dada sendiri. Seakan-akan
dadanyalah yang telah terbentur oleh kekuatan aji yang dahsyat itu.
Beberapa orang menjadi ngeri. Dengan telapak-telapak tangan
mereka menutupi wajah masing-masing.
Namun sesaat kemudian mereka menarik nafas ketika mereka
melihat Mahisa Agni telah bangkit dan berdiri bertelekan kedua
lututnya. Tetapi sesaat yang pendek, Mahisa Agni itu pun telah
tegak kembali. Terasa pula kini padanya,bahwa ada kelebihan
kekuatan dari Aji Gundala Sasra dibandingkan dengan Kala Bima,
sehingga karena itulah maka keadaan Mahisa Agni masih lebih baik
dari keadaan Kuda Sempana.
Meskipun demikian Kuda Sempana yang keras hati itu perlahanlahan
dapat juga menguasai dirinya kembali. Ketika ia membuka
matanya dan dilihatnya Mahisa Agni masih tegak berdiri dengan
garangnya terdengar anak itu menggeram.
Dengan susah payah Kuda Sempana itu pun memaksa dirinya
untuk berdiri. Betapa sakit isi dadanya, namun dengan
mengatupkan giginya rapat-rapat ia mencoba menahan perasaan
itu.
Dengan nafas terengah-engah Kuda Sempana kemudian mampu
juga untuk bangkit dan mencoba berdiri. Betapa lemahnya tubuh
yang kesakitan itu, namun akhirnya Kuda Sempana itu pun berbasil
tegak pula di atas kedua kakinya yang gemetar. Dengan mata yang
menyala ia memandang Mahisa Agni tanpa berkedip, sedang Mahisa
Agni pun memandangnya dengan nyala kemarahan di hatinya.
Karena itu, maka ketika nafasnya telah teratur kembali, terdengar
suaranya bernada rendah, “Kuda Sempana Kesempatan terakhir
bagi kita masing-masing. Kau atau aku yang binasa.”
Kuda Sempana menggeram. Kalau Mahisa Agni menyerangnya
pada saat ia masih dalam keadaan itu, maka sudah pasti ia tidak
akan mampu untuk melawannya. Karena itu, maka ia mencoba
untuk mendapatkan waktu sejenak, mengatur jalan pernafasan dan
mengurangi perasaan sakit yang menyengat-nyengat segenap
tubuhnya.
Ketika Mahisa Agni itu bergeser setapak, maka Kuda Sempana itu
berkata, “Hem, Agni. Dari mana kau tahu, bahwa aku sedang
menyiapkan aji Kala Bama?”
Mahisa Agni memandang Kuda Sempana dengan seksama.
Kemudian jawabnya, “Apakah pedulimu, dari mana aku tahu nama
itu?”
Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun tiba-tiba mereka
terkejut ketika mereka mendengar suara gemetar di samping
mereka, “Sudahlah Anakmas. Jangan bertengkar lagi.”
Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang yang berdiri
dengan ragu-ragu di antara anak-anak muda Panawijen. Seorang
yang bertubuh tinggi kekar, namun wajahnya membayangkan
kecemasan yang membakar dirinya. Orang itu adalah Ki Buyut
Panawijen.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan berat terdengar
suaranya, “Ki Buyut. Kuda Sempana telah berbuat untuk kedua
kalinya. Apakah kita masih akan memberi kesempatan kepadanya
untuk berbuat untuk ketiga kalinya?”
Buyut Panawijen itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian
kembali terbayang di wajahnya kecemasannya atas nasib
padukuhannya. Ia tahu benar siapa Kuda Sempana itu. Ia melihat
anak muda itu bertempur melawan Mahisa Agni. Dan ia melihat
benturan ilmu yang dahsyat itu. Karena itu, maka Buyut Panawijen
itu telah membuat perhitungan tersendiri. Kalau Kuda Sempana itu
binasa di padukuhannya, maka apakah kawannya akan tetap
berdiam diri, dan apakah guru serta saudara-saudara
seperguruannya juga akan tetap berdiam diri. Seandainya mereka
itu mencoba menuntut balas, maka apakah Mahisa Agni dapat
melindungi padukuhan itu dari bencana.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat melihat kemungkinan itu. Kuda
Sempana adalah seorang yang keras kepala. Karena itu maka
katanya, “Ki Buyut. Beberapa saat yang lampau,anak muda itu telah
mendapat kesempatan pula. Ki Buyut pada waktu itu telah
memberinya peringatan, sedang Empu Purwa pun saat itu
memaafkannya. Tetapi kini ternyata ia datang kembali selagi rumah
ini kosong, Empu Purwa tidak ada dan aku pun tidak ada. Untunglah
aku segera kembali sebelum terlambat sekali.”
Buyut Panawijen mengerutkan keningnya. Ia dapat mengerti
sepenuhnya pendapat Mahisa Agni itu. Tetapi sekali lagi ia
dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi sebagai
akibat dari peristiwa ini.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu membayang di
wajah Ki Buyut Panawijen, berkata, “Ki Buyut. Persoalan ini bukan
persoalan penduduk Panawijen dengan Kuda Sempana. Tetapi
jadikanlah persoalan ini persoalan antara Kuda Sempana dan Mahisa
Agni. Kalau Akuwu Tumapel merasa perlu untuk mengusut dan
menghukum orang yang telah mencederai Kuda Sempana, biarlah
Mahisa Agni menjalani hukuman itu.”
Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Mahisa Agni
itu. Apakah yang akan dilakukan Mahisa Agni atasnya? Namun
dibiarkannya Mahisa Agni dan Ki Buyut itu berbicara. Ia mencoba
mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ditenangkannya
hatinya diperasnya segenap kemampuan yang ada dalam dirinya
untuk memulihkan kekuatannya. Dan ternyata kekuatan Kuda
Sempana itu lambat laun menjadi bertambah baik, meskipun nyerinyeri
masih terasa menyengat-nyengat bagian dalam dadanya, serta
pedih-pedih di kulitnya.
Dalam pada itu Ki Buyut Panawijen berkata pula, “Apakah yang
akan Angger lakukan atas Angger Kuda Sempana?”
“Aku akan menangkapnya, membawanya kepada Sang Akuwu.
Apakah Sang Akuwu tidak akan mengambil sesuatu tindakan atas
orangnya yang bersalah?” sahut Mahisa Agni.
Sekali lagi Kuda Sempana berdesir. Kalau benar Mahisa Agni
berhasil menangkapnya dan membawanya kepada Akuwu Tunggul
Ametung, maka akibatnya sama sekali tak akan dapat diduga.
Mungkin ia akan mendapat pengampunan dan hanya akan
mendapat peringatan. Namun apabila hati Akuwu itu sedang gelap,
maka tidak mustahil seketika itu juga, perutnya akan disobek
dengan pusakanya. Akuwu itu mempunyai sifat-sifat yang aneh.
Yang tak dapat disangka-sangka dan diperhitungkan. Sehingga
karena itulah maka ada di antara naraprada yang terlalu setia
kepadanya, namun ada juga yang menyimpan dendam di dalam
hatinya.
Mendengar jawaban Mahisa Agni itu. Buyut Panawijen
mengerutkan keningnya. Kalau demikian, maka apakah ia tidak akan
terbawa pula. Setidak-tidaknya akan menjadi saksi? Buyut
Panawijen adalah seorang yang hampir sepanjang hidupnya, hidup
dalam suasana yang tenteram damai. Hampir sepanjang jabatannya
ia tidak pernah menjumpai persoalan-persoalan yang
mengharuskannya berhadapan dengan Akuwu Tumapel.
Pada saat Buyut Panawijen itu berbimbang hati maka tiba-tiba ia
terkejut melihat Wiraprana dengan wajah yang merah biru
tertatihtatih
keluar dari halaman Empu Purwa. Demikian Wiraprana itu
melihat Mahisa Agni, maka dengan serta-merta ia berkata, “Hem.
Syukurlah kau sudah datang Agni.”
Mahisa Agni berdesir melihat wajah yang biru lebam itu. Agaknya
Wiraprana pun telah berjuang mati-matian. Namun keadaannya
tidak memungkinkan untuk mencegah perbuatan Kuda Sempana itu.
Dalam pada itu terdengarlah Ki Buyut Panawijen bertanya kepada
anaknya itu, “Wiraprana, apakah yang telah terjadi?”
“Seperti yang Ayah lihat. Untuk kedua kalinya aku hampir mati
dibunuh oleh Kuda Sempana. Apabila ada kesempatan, Kuda
Sempana pasti akan membunuhku dalam pertikaian yang ketiga.”
Mendengar kata-kata anaknya itu, maka mau tidak mau dada
Buyut Panawijen itu terguncang pula, Agaknya apa yang dikatakan
anaknya itu benar-benar dapat terjadi. Kuda Sempana benar-benar
tidak mau melepaskan maksudnya untuk mendapatkan Ken Dedes
yang sudah dipertunangkan dengan anaknya itu. Karena itu, maka
kini Buyut Panawijen itu terpaksa mengambil beberapa bebahu baru
untuk memperhitungkan setiap kemungkinan.
Dengan wajah yang tegang, maka sekali lagi ia memandangi
Kuda Sempana, Mahisa Agni dan anaknya berganti-ganti. Sekali ia
menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian kembali ia menjadi
bingung.
Kuda Sempana yang berdiri tegak seperti patung itu, Kini telah
mendapat waktu untuk sedikit mendapatkan kekuatannya kembali
Namun disadarinya, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan
Mahisa Agni. Ternyata Mahisa Agni pun telah mendapatkan
kekuatan-kekuatan baru, sehingga ia mampu melawan Aji Kala
Bama, dan bahkan dapat melampauinya. Karena itu, maka sesaat ia
menjadi bimbang pula. Apakah ia masih harus melawannya?
Dengan demikian, maka hampir pasti bahwa Mahisa Agni akan
berhasil menangkapnya.
Ketika Kuda Sempana itu masih sibuk mempertimbangkan setiap
kemungkinan, terdengarlah Mahisa Agni menggeram, “Ki Buyut
yang bijaksana. Serahkan semua persoalan kepadaku, dan serahkan
semua pertanggungan jawab kepadaku. Kuda Sempana harus
mendapat hukuman yang wajar. Tidak di Panawijen, tetapi di
Tumapel. Sehingga meyakinkan kita, bahwa untuk seterusnya ia
tidak akan membuat kegaduhan kembali.”
Buyut Panawijen itu masih bimbang sesaat, namun kemudian
tampaklah ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi belum
sepatah kata pun yang terloncat dari mulutnya. Semua orang yang
berdiri di sekitarnya menjadi tegang. Semua memandang kepada
orang tua itu Dalam ketegangan itu terdengar suara Wiraprana,
“Apakah Ayah masih ingin melihat perkelahian dan keributan di
Panawijen ini? Atau Ayah ingin melihat setan itu kelak membunuh
aku?”
Ki Buyut Panawijen itu mengangkat wajahnya. Seakan-akan ada
yang dicarinya di antara awan yang mengalir dihanyutkan oleh
pegunungan yang lembut. Orang tua itu menarik nafas ketika
dilihatnya segerombolan burung terbang melintas di atas kepalanya
Burung itu kemudian seperti lenyap ditelan kebiruan langit di atas
cakrawala.
Hati orang tua itu berdesir. Dari arah yang lain Buyut Panawijen
melihat seekor alap-alap terbang ke arah burung yang bergerombol
itu. Kalau burung alap-alap itu kemudian menyambar salah seekor
burung yang bergerombol itu, maka tak ada seekor pun yang akan
berani mencoba mencegah dan melawannya. Bersama-sama pun
tidak, karena Burung alap-alap itu jauh lebih kuat dari
burungburung
itu.
Orang-orang yang berdiri mengitari Mahisa Agni masih tegak
seperti patung ,Agak jauh dari mereka berdiri dengan tegangnya
Kuda Sempana yang terpelanting karena benturan aji masingmasing.
Sedang Ki Buyut Panawijen masih saja ragu-ragu
mengambil keputusan.
Dalam kekakuan suasananya itu, sekali-kali Kuda Sempana
mengerling ke segenap sudut. Ia sedang berpikir untuk mencoba
mencari jalan yang akan dapat menyelamatkannya. Kalau ia
bertempur sekali lagi, maka ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat
melawan Mahisa Agni. Apalagi kalau beberapa orang membantu
Mahisa Agni untuk menangkapnya.
Sementara itu Mahisa Agni sedang menunggu dengan
gelisahnya, apa yang akan dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen.
Bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus tetap menghormati
keputusannya sebagai seorang tetua dari padukuhan itu, sedang
anaknya, yang wajahnya biru lebam itu, hampir-hampir tidak sabar
menunggunya.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba terjadilah sesuatu yang sama
sekali tidak mereka sangka. Kuda Sempana itu tiba-tiba meloncat
dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, berlari kencang
meninggalkan orang yang sedang kebingungan itu. Sesaat tak
seorang pun yang bergerak diri tempatnya. Mereka terkejut melihat
sikap Kuda Sempana. Yang mula-mula menyadari keadaan itu
adalah Mahisa Agni. Tanpa menghiraukan apapun lagi, Mahisa Agni
itu segera berlari mengejarnya.
Tetapi dada anak muda murid Empu Purwa itu segera berdesir
tajam. Kuda Sempana yang memiliki kelebihan beberapa kejap serta
jarak beberapa langkah itu ternyata berlari menuju ke kuda Mahisa
Agni yang sedang sibuk makan dedaunan di pagar-pagar dan
rerumputan liar di tepi-tepi jalan.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni, “Manakah kejantananmu
itu?”
Kuda Sempana tidak memedulikannya. Ia berlari sekuat tenaga
yang masih ada padanya. Dan sebelum Mahisa Agni berhasil
menangkapnya, anak muda itu telah meloncat ke atas punggung
kuda.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni sekali lagi.
Tetapi Kuda Sempana tidak menghiraukannya lagi. Cepat-cepat
ditariknya kendali kudanya, dan dengan sebuah sentuhan pada
perutnya, maka larilah kuda itu menghambur seperti angin.
Meskipun demikian Kuda Sempana itu masih sempat berteriak
nyaring, “Mahisa Agni. Sekali akan datang waktunya, aku membalas
semua sakit hatiku kepadamu, kepada penduduk Panawijen, kepada
semuanya.”
“Licik!” teriak Mahisa Agni. Dengan serta ia meraih sebutir batu
dan dilemparkannya kepada Kuda Senapan. Namun kuda yang
dinaiki oleh anak muda itu sudah semakin jauh. Meskipun demikian
batu itu masih juga mengenai tengkuk Kuda Sempana.
“Setan!| desis Kuda Sempana. Terasa tengkuknya menjadi sakit.
Tetapi ia sudah semakin jauh dan Mahisa Agni itu tidak akan dapat
menyusulnya lagi.
Mahisa Agni kini berdiri tegak seperti sebuah tonggak yang
membeku. Wajahnya membara karena kemarahannya, sekali-sekali
terdengar ia menggeram. Dipandanginya debu yang mengepul
tinggi yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari seperti
dikejar hantu.
Nafas Mahisa Agni itu pun terasa berkejaran lewat lubang
hidungnya. Terdengar giginya gemeretak di antara suaranya yang
menggeram seperti harimau yang sedang marah.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba ia mendengar Wiraprana
berteriak, “Agni! Di halaman rumah ini ada seekor kuda. Kuda yang
tadi dipakai oleh Kuda Sempana.”
Mahisa Agni terkejut Segera ia berpaling sambil bertanya,
“Adakah seekor kuda di halaman?”
“Ya,” sahut Wiraprana.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi kecewa kembali. Ia telah
kehilangan beberapa waktu. Kuda yang tadi dinaikinya adalah kuda
yang luar biasa. Dengan seekor kuda yang lain. apakah ia akan
mampu mengejar Kuda Sempana? Kalau Kuda Sempana itu sampai
di Tumapel lebih dahulu, maka ia tidak akan dapat mencarinya.
Apalagi kalau Kuda Sempana itu bersembunyi di dalam istana.
Karena itu dengan penuh kekecewaan yang mencengkam dadanya
akhirnya ia berkata, “Tidak ada gunanya. Kuda itu sudah terlalu
jauh.”
“Kuda itu baik dan tegar. Kuda yang biasa dipakai oleh Kuda
Sempana,” jawab Wiraprana
Sekali lagi sekilas harapan Mahisa Agni untuk menyusul anak
muda itu. Kuda itu adalah kuda yang tegar seperti yang dilihatnya
di
Tumapel. Karena itu, maka Mahisa Agni itu meloncat tanpa berkata
sepatah kata pun langsung masuk ke halaman. Dan. dilihatnya kuda
itu masih berdiri di sana.
Dengan tangkasnya Mahisa Agni itu segera meloncat ke atas
punggungnya, dan dengan tergesa-gesa ditariknya kekang kuda itu.
Sesaat kemudian kuda itu pun segera meloncat pula berlari. Sambil
memacu kudanya Mahisa Agni berteriak, “Hati-hatilah di rumah. Aku
akan mengejar Kuda Sempana sampai ke manapun. Aku tak akan
kembali sebelum aku menyelesaikan pekerjaan ini.”
Tak seorang pun sempat menjawab. Kuda yang dinaikinya itu
pun ternyata kuda yang sangat baik. Karena itu, maka kuda itu
berlari lepas seperti anak panah yang lepas dari busurnya.
Mereka yang menyaksikan perlombaan berkuda itu menahan
napas mereka. Mereka melihat peristiwa demi peristiwa seperti di
dalam mimpi, sehingga untuk beberapa saat mereka terpesona dan
diam mematung di tempat masing-masing.
Mahisa Agni yang telah dibakar oleh kemarahannya itu memacu
kudanya secepat angin. Tetapi disadarinya pula bahwa kuda yang
dipakai oleh Kuda Sempana itu pun kuda yang baik pula, sebaik
kuda yang dipakainya. Karena itu, maka kemungkinan untuk dapat
menyusulnya adalah kecil sekali. Tetapi meskipun Mahisa Agni tidak
akan dapat menyusulnya, namun ia akan pergi ke Tumapel, mencari
kesempatan untuk bertemu dengan anak muda itu. Mahisa Agni
sudah tidak memperhitungkan lagi, apa yang dapat terjadi atas
dirinya seandainya Kuda Sempana mengerahkan beberapa orang
kawan untuk melawannya. Namun ia yakin, bahwa ia berada di
pihak yang benar. Karena itu, maka Akuwu Tumapel pasti akan
menghukum Kuda Sempana kalau ia mempunyai kesempatan untuk
menyampaikannya, atau Akuwu itu dapat mendengar dari siapa
pun.
“Kalau aku tidak dapat menemui Kuda Sempana atau menghadap
Akuwu, maka aku akan mencoba minta pertolongan Witantra,”
katanya di dalam hati, “anak muda itu pun seorang yang agak dekat
pula dengan Akuwu.”
Mendapat cara yang dianggapnya baik itu, Mahisa Agni semakin
mantap. Kudanya berpacu melewati jalan-jalan berdebu. Dilihatnya
kemudian di hadapannya terbentang padang rumput Karautan.
“Apakah Kuda Sempana juga melewati padang itu?” pertanyaan
itu timbul di dalam hatinya, “Kalau ia memilih jalan lain, lewat
Talrampak misalnya, maka ada kemungkinan bagiku untuk
menyusulnya sebelum ia sampai ke Tumapel.”
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Ia melihat telapak kuda
yang baru menghunjam dalam-dalam di muka kaki kudanya
menjelujur ke arah yang ditempuhnya pula,
“Hem,” geramnya, “anak itu lewat padang ini pula.”
Karena itu Mahisa Agni menjadi kecewa. Harapannya untuk
menyusul Kuda Sempana menjadi semakin tipis. Tetapi ia tidak
berputus asa. Kini ia tidak menempuh jalan setapak yang dilewati
Kuda Sempana. Dipotongnya arah menerobos padang rumput itu
dan dilewatinya gerumbul-gerumbul kecil yang bertebaran di
sanasini.
“Mudah-mudahan aku berhasil,” gumamnya.
Kuda yang dipakai Mahisa Agni itu sebenarnya adalah kuda yang
sangat baik. Betapa lincahnya kuda itu menghindari
rintanganrintangan
yang berada di hadapannya. Dengan tangkas kuda itu
meloncati gerumbul-gerumbul kecil dan lubang-lubang yang digali
oleh air hujan.
Ketika kemudian Mahisa Agni telah melampaui padang itu, serta
diikutinya pula jalan yang meninggalkan padang rumput itu,
dilihatnya jauh di hadapannya debu yang naik ke udara.
“Itulah!” gumamnya, “Mudah-mudahan aku tidak kehilangan
Kuda Sempana kali ini.”
Meskipun kudanya itu telah berlari sekencang angin, namun
Mahisa Agni merasa seakan-akan kuda itu merangkak saja dengan
malasnya. Berkali-kali dilecutinya kuda itu dengan ujung kekangnya.
namun masih saja terasa bahwa kuda itu berlari terlalu lamban.
Beberapa orang yang bekerja di sawah-sawah mereka,
memandangnya dengan penuh pertanyaan di dalam hati. Apakah
sedang ada perlombaan berpacu kuda?
Para petani itu saling berpandangan satu sama lain. Tetapi tak
seorang pun yang tahu, apakah yang sedang dilakukan oleh anakanak
muda yang memacu kudanya seperti takut dikejar hantu.
“Anak-anak muda memang kadang-kadang aneh,” gumam salah
seorang dari mereka, “mereka memacu kudanya seperti dikejar
setan. Apakah mereka tidak takut seandainya kudanya itu tergelincir
dan terguling?”
Tetapi sesaat kemudian kembali mereka melakukan pekerjaan
mereka Dua anak muda yang berpacu berturut-turut itu tentu akan
menjadi bahan pembicaraan mereka nanti di gardu-gardu atau di
banjar-banjar desa.
Mahisa Agni sama sekali tidak menghiraukan apa yang telah
dilewatinya. Matanya tertancap pada debu yang keputih-putihan
yang seakan-akan merayap dengan cepatnya di jalan-jalan berdebu
di hadapannya Tetapi Mahisa Agni itu menjadi kecewa karena jarak
di antara mereka tidak menjadi semakin pendek.
Kuda Sempana yang berpacu di muka itu pun telah
memperhitungkan kemungkinan, bahwa Mahisa Agni akan
mempergunakan kudanya untuk mengejarnya. Karena itu sejak
loncatan pertama kudanya telah dipacunya secepat mungkin. Dan
Kuda Sempana itu menjadi. berbesar hati, karena ternyata kuda
yang dipakainya itu pun merupakan kuda yang tidak kalah kuatnya
dari kudanya sendiri.
Ketika Kuda Sempana itu kemudian menengadahkan wajahnya
maka ia pun tersenyum. Setelah ia berpacu beberapa lama, maka di
langit seakan-akan terbentang cahaya yang suram dan di bumi
mulailah gelap merayap dari kaki-kaki bukit, merambat ke
puncaknya. Namun sesaat Kuda Sempana masih melihat debu
mengepul jauh di belakangnya. Dan disadarinya bahwa Mahisa Agni
sedang mengejarnya. Tetapi apabila malam tiba, maka
kesempatannya untuk melepaskan diri menjadi semakin besar.
Mahisa Agni menjadi sengat kecewa ketika malam datang
meskipun perlahan-lahan. Warna keputih-putihan yang mengepul di
hadapannya menjadi semakin lama semakin kabur. Dan akhirnya
Mahisa Agni kehilangan kesempatan untuk dapat melihat debu yang
dilemparkan oleh kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana itu.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Tetapi kemudian ia bergumam,
“Kalau aku tidak dapat menemukannya malam ini, biarlah aku
menunggu sampai besok atau lusa. Kalau aku menunggunya di
alun-alun maka suatu waktu aku pasti akan melihatnya keluar atau
memasuki istana Akuwu.”
Karena itu Mahisa Agni tidak berhenti berpacu. Ia mengharap
seandainya ada sesuatu yang menghambat perjalanan Kuda
Sempana maka ia akan mendapat kesempatan itu.
Tetapi Kuda Sempana berjalan tanpa hambatan. Kudanya berlari
dengan kencangnya menuju ke kota kebanggaannya, di mana ia
mendapat kesempatan yang baik di dalam hidupnya. Tumapel. Dan
Tumapel itu semakin lama semakin dekat.
Itulah sebabnya, maka kembali Kuda Sempana tersenyum. Ketika
ia berpaling, dilihatnya di belakangnya warna hitam yang kelam.
Karena itulah maka hati Kuda Sempana menjadi semakin besar.
Maka kini dapatlah dipastikan, bahwa kali ini ia akan dapat
menghindarkan diri dari Mahisa Agni.
“Kali ini aku masih kalah Agni,” katanya di dalam hati, “tetapi aku
akan datang kembali membawa kemenangan. Ternyata aku tidak
akan berhasil memetik bunga itu. Karena itu, maka biarlah angin
yang lebih kencang menggugurkannya.”
Sementara itu, Mahisa Agni benar-benar kehilangan jejak
buruannya. Ketika malam menjadi semakin kelam, ia tidak tahu lagi,
ke mana Kuda Sempana melarikan diri. Apalagi ketika Kuda
Sempana telah mematuki kota. Berpuluh-puluh jalan simpang yang
dapat ditempuhnya. Dan berpuluh-puluh pintu yang dapat
dimasukinya.
Karena itu, maka ketika kuda Mahisa Agni memasuki gerbang
kota Tumapel, maka segera ia memperlambat jalan kudanya. Ia
takut kalau derap kaki kuda itu akan mengejutkan setiap orang yang
tinggal sebelah menyebelah jalan yang dilewatinya. Meskipun
demikian, hati Mahisa Agni menjadi sangat kecewa. Serta ia menjadi
bingung, ke mana ia harus pergi.
Yang mula-mula tersirat di dalam hatinya adalah rumah Witantra.
Orang itu belum banyak dikenalnya, namun dalam waktu yang
pendek ia mendapat kesan, bahwa anak muda itu adalah anak
muda yang jujur meskipun agaknya terlalu keras memegang
ketetapan. Ketetapan yang berlaku dalam tata pergaulannya
sebagai seorang prajurit, ketetapan yang berlaku di dalam tata
pergaulannya sehari-hari di luar lingkungan keprajuritan dan bahkan
ketetapan-ketetapan yang dibuatnya di dalam hatinya sendiri.
Tetapi tak ada orang lain yang dapat disinggahinya di Tumapel.
Di kota itu belum banyak orang-orang yang dikenalnya dengan baik.
Ada satu dua orang sahabat-sahabat gurunya, tetapi sahabatsahabat
gurunya itu pun belum begitu mengenalnya. Karena itu,
maka tak ada yang dapat ditempuhnya selain pergi ke rumah
Witantra itu. Kecuali ia akan mendapat tempat untuk bermalam
apabila anak muda itu tidak berkeberatan, maka banyak hal-hal
yang dapat ditanyakannya kepadanya tentang Kuda Sempana dan
tentang Akuwu Tumapel.
Maka dengan agak ragu-ragu akhirnya Mahisa Agni pergi juga ke
rumah Witantra.
Meskipun malam belum terlalu dalam, namun rumah itu sudah
tampak sepi. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin raguragu.
Di muka regol halaman dihentikannya kudanya, dan perlahanlahan
kuda itu dituntunnya masuk ke halaman.
Tetapi Mahisa Agni melihat nyala pelita yang terang di pringgitan
rumah itu. Karena itu ia menjadi gembira. Agaknya penghuni rumah
itu ada di rumahnya.
Dengan, hati-hati Mahisa Agni mengetuk pintu depan, dan
terdengarlah sebuah sapa dari dalam, “Siapa?”
“Aku, Wiraprana,” sahut Agni.
“He?” terdengar seseorang terkejut mendengar jawaban Agni.
Sesaat kemudian terdengar pula langkah seseorang membuka pintu.
Ketika pintu itu terbuka, Mahisa Agni melihat Witantra berdiri di
muka pintu sambil menatapnya.
“Kau,” desis Witantra terkejut.
“Ya,” sahut Mahisa Agni, “aku datang kembali.”
“Mari, masuklah,” Witantra itu mempersilakan.
Mahisa Agni itu pun kemudian masuk ke dalam pringgitan.
Dengan membungkukkan badannya ia memberi hormat kepada dua
orang perempuan yang kemudian berdiri dan
membalas anggukan kepala itu.
“Silakan,” berkata perempuan yang tua, “kami akan ke
belakang.”
Mahisa Agni itu pun kemudian duduk bersama Witantra. Ternyata
kedua perempuan itu adalah ibu dan istrinya.
Dengan penuh keheranan Witantra itu pun kemudian bertanya,
“Kenapa kau cepat kembali? Apakah kau terlambat datang?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak. Aku datang kembali untuk
menyampaikan terima kasihku kepadamu. Karena pertolonganmu,
mala aku masih sempat menggagalkan maksud Kuda Sempana itu.”
“Syukurlah,” gumam Witantra, “sebenarnya kuda itu tidak terlalu
tergesa-gesa. Aku masih memiliki yang lain.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Namun kemudian diceritakan apa
yang telah terjadi, dan dikatakannya pula, bahwa kuda yang
dibawanya adalah kuda milik Kuda Sempana.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Bukan main,” gumamnya,
“anak itu benar-benar keras kepala.”
“Witantra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku ingin
mendapatkan nasihatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan atas
anak muda itu. Apakah aku harus menyampaikannya kepada Akuwu
Tunggul Ametung atau aku harus menemuinya sendiri?”
Witantra menggelengkan kepalanya. “Sulit,” desisnya, “Akuwu
Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Aku adalah
pengawalnya yang hampir setiap hari bergaul. Namun aku masih
belum juga mengenal sifat-sifatnya dengan baik. Akuwu itu adalah
seorang yang ramah dan baik hati, namun ia adalah seorang yang
kejam dan kasar.”
Witantra itu berhenti sesaat, dan Mahisa Agni pun menundukkan
kepalanya. Direnungkannya setiap kemungkinan yang dapat
ditempuhnya. Tetapi ia tidak menemukan cara apapun yang
dianggapnya baik. Tanpa sesadarnya tiba-tiba terloncat dari
mulutnya, “Tetapi aku harus mencegahnya untuk mengulangi
perbuatannya.”
“Ya,” sahut Witantra, “kau benar.”
“Tetapi bagaimana?”
Witantra itu pun kemudian berdisain diri pula. Karena itu, maka
pringgitan itu menjadi sepi. Lampu minyak yang menyala tersangkut
di dinding di atas gelodok melemparkan sinar kemerah-merahan.
Lidahnya yang seolah-olah melonjak-lonjak telah mencetak
bayangan yang hitam dan bergerak-gerak.
Witantra itu kemudian mengangkat wajahnya sambil berkata,
“Besok Akuwu akan berburu. Aku telah mendapat perintah untuk
mengikutinya.”
“Berburu?” bertanya Mahisa Agni, “ke mana?”
Witantra itu tidak segera menjawab. Ia memang tidak tahu ke
mana Akuwu akan berburu. Sehingga sejenak kemudian katanya,
“Akuwu Tunggul Ametung tidak pernah merencanakan, ke mana
akan berburu. Apabila rombongan telah bersiap, barulah Akuwu
bertanya kepada para pengiringnya, ke mana sebaiknya mereka
pergi. Namun kadang-kadang Akuwu sendiri menentukan arah
perjalanan rombongan itu. Karena itulah maka sampai sekarang aku
belum tahu ke mana besok aku akan pergi.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia belum
tahu apakah hubungannya dengan keperluannya mencegah
perbuatan Kuda Sempana seterusnya. Baru kemudian setelah
Witantra itu berkata, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Wiraprana,” berkata Witantra, “kau besok bisa tinggal di sini
selama aku pergi. Biasanya Kuda Sempana ikut pula mengantarkan
Akuwu, sehingga dengan demikian, aku akan dapat selalu
mengawasinya. Dengan demikian maka kita mempunyai waktu
sehari untuk memikirkan persoalanmu itu. Apabila besok Kuda
Sempana tidak ikut, biarlah aku memberitahukan kepadamu, dan
segeralah pulang ke Panawijen.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia
mengucapkan terima kasih kepada Witantra itu. Kemudian katanya,
“Aku selalu mengganggumu dengan pekerjaan-pekerjaan yang
menjemukan.”
Witantra menggeleng, jawabnya, “Kita saling memerlukan dalam
setiap kesempatan. Aku tahu, bahwa Kuda Sempana telah
melakukan kesalahan. Karena itu aku harus membantu mencegah
kesalahan-kesalahan berikutnya, meskipun aku tidak dapat berbuat
secara langsung. Sebab dengan demikian akan dapat menimbulkan
keretakan dalam lingkungan istana. Setidak-tidaknya antara aku dan
Kuda Sempana yang kedua-duanya hamba-hamba istana.
--ooo00oo--
Jilid 8
MAHISA AGNI DAPAT MENGERTI SELURUHNYA. Karena itu,
maka ia tidak akan minta lebih banyak lagi dari Witantra. Apa yang
dilakukan telah lebih dari cukup. Apalagi kesanggupan Witantra
untuk ikut serta memecahkan persoalan itu besok, kalau Akuwu
sudah pulang dari berburu.
“Berapa lamakah masa perburuan itu?”
“Pendek. Sehari, dua hari. Bahkan kadang-kadang baru tengah
hari Sang Akuwu telah menjadi jemu dan kembali ke istana. Tetapi
kadang-kadang sampai tiga empat hari berkemah di dalam hutan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari cara-cara
itu telah dapat diketahui bahwa Akuwu Tumapel itu selalu berbuat
menurut kehendak sendiri, tanpa mempertimbangkan pendapat
orang lain. Meskipun demikian, maka Mahisa Agni percaya, apabila
Akuwu itu mendengar peristiwa yang sebenarnya telah terjadi atas
Ken Dedes, maka Sang Akuwu itu pasti akan membantu mencegah
Kuda Sempana melakukan kesalahan serupa untuk ketiga kalinya.
Witantra itu pun kemudian mempersilakan Mahisa Agni untuk
beristirahat. Sebab ia sendiri harus mempersiapkan diri untuk
menempuh masa perburuan yang tak diketahui ke mana dan berapa
lama. Karena itu, maka Witantra itu harus menyiapkan anak panah
serta busurnya. Bahkan senjata-senjatanya yang lain. Mungkin akan
dipergunakan pula tombak berburunya untuk melawan binatangbinatang
buas yang tiba-tiba saja menyerangnya.
Mahisa Agni itu pun kemudian dipersilahkannya untuk beristirahat
di gandok kanan. Besok ia dapat tinggal di tempat itu pula sambil
menunggu Witantra kembali. Mungkin tidak terlalu lama. Dan
selama itu ia tidak perlu mencemaskan Kuda Sempana. Sebab
Witantra akan dapat mengawasinya. Sedang apabila Kuda Sempana
tidak ikut serta, dan karena itu ia mempunyai kesempatan untuk
berbuat sesuatu, maka Witantra itu akan memberitahukannya dan ia
harus segera pulang.
Karena itu, Mahisa Agni yang lelah setelah membersihkan diri
segera membaringkan dirinya di atas sebuah pembaringan bambu.
Dicobanya untuk menenangkan hatinya dan dicobanya untuk
memejamkan matanya. Namun kegelisahannya selalu
mengganggunya.
Demikianlah di tempat yang lain, Kuda Sempana pun berbaring di
pembaringannya. Beberapa orang kawannya serumah, para pelayan
dalam Akuwu, melihatnya dengan penuh keheranan. Namun,
dibiarkannya Kuda Sempana itu terbaring diam, meskipun matanya
tidak terpejamkan. Kuda Sempana itu sedang merenungkan apakah
yang baru saja terjadi atasnya. Ia berbesar hati, karena ia
mendapat kesempatan melepaskan diri dari Mahisa Agni yang akan
menangkapnya, namun ia tidak dapat melupakan kekalahannya.
Kekalahan yang pahit. Apalagi kekalahannya itu sama sekali bukan
kekalahannya yang pertama. Dua kali ia mengalami kekalahan dari
Mahisa Agni. Karena itu, maka dendam di dalam dadanya membara
setinggi gunung.
“Kuda Sempana,” terdengar seorang kawannya berkata
kepadanya, “Besok Akuwu akan pergi berburu.”
“Persetan!” jawab Kuda Sempana.
Kawannya itu mengerutkan keningnya. “Kenapakah kau? Apakah
kau sedang mabuk tuak?”
“Jangan ribut!” bentak Kuda Sempana. Tetapi kawannya itu
malahan tertawa. Alangkah menjengkelkannya.
“Akuwu telah memerintahkan, di antara kita, tiga orang harus
mengikutinya di samping beberapa orang prajurit.”
“Pergilah. Ajaklah dua orang yang lain.”
“Akuwu menyebut nama di antara kita. Aku, kau dan pelayan
yang baru itu. Ken Arok.”
Kuda Sempana menggigit bibirnya. “Menjemukan,” desisnya,
“Katakan kepada Akuwu, Kuda Sempana sedang sakit.”
“Jangan membual, Kuda Sempana. Berkatalah sendiri.”
Kuda Sempana diam sesaat. “Kenapa anak itu harus ikut pula?”
“Siapa? Ken Arok maksudmu?”
“Ya.”
“Entahlah. Itu adalah urusan Akuwu.”
Kuda Sempana tidak menjawab. Ia sedang sibuk berpikir tentang
dirinya sendiri. Tentang kegagalannya dan tentang kekalahannya.
Namun wajah Ken Dedes tidak dapat dilupakannya. Ia akan dapat
mati membeku apabila ia melihat gadis itu diperistri oleh Wiraprana
kelak.
Kuda Sempana sama sekali tidak tertarik kepada kabar yang
disampaikan oleh kawannya itu. Meskipun pada masa-masa yang
lampau ia adalah seorang pemburu yang baik, dan berita tentang
masa perburuan sangat menarik hatinya.
Kini ia sedang dirisaukan oleh persoalannya sendiri.
Tetapi, tiba-tiba wajah Kuda Sempana itu menjadi terang. Tibatiba
saja ia bangkit dan berteriak kepada kawannya yang masih
duduk dekat pembaringannya, “He, kau bilang Sang Akuwu akan
berburu besok?”
Kawannya terkejut melihat perubahan yang tiba-tiba Itu. Sesaat
ia memandangi wajah Kuda Sempana, dan kemudian bahkan
kawannya itu bertanya,” Apakah kau tertarik kabar itu?”
“Tentu. Tentu,” sahut Kuda Sempana, “bukankah aku selalu
mengikuti Akuwu berburu?”
“Tetapi kenapa kau menjadi seperti orang mabuk tuak, sehingga
pada waktu aku sampaikan kabar itu, kau sama sekali tidak
menaruh perhatian atasnya?”
“Siapa bilang aku tidak menaruh perhatian?”
“Kalau begitu kau benar-benar mabuk.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian katanya,
“Mungkin aku agak mabuk. Tetapi aku sekarang sudah baik. Nah,
apakah kau tahu ke mana Akuwu akan berburu?”
Kawannya itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak.
Akuwu belum mengatakan kepadaku ke mana besok akan berburu.
Bukankah biasanya kau dapat membujuknya menurut kehendakmu
saja.”
Kuda Sempana tersenyum. Besok pagi-pagi ia harus menghadap.
Perburuan kali ini adalah perburuan yang pasti akan mengasyikkan.
Mudah-mudahan Sang Akuwu mau mendengarkan ceritanya.
Malam itu Kuda Sempana sama sekali tidak dapat tidur. Dengan
gelisahnya ia berbaring di pembaringannya. Sekali ia berputar ke
kiri, sekali ke kanan. Di kepalanya sedang tersusun sebuah cerita
yang pasti akan sangat menarik. Cerita tentang dirinya, dan cerita
tentang kampung halamannya.
“Biarlah Sang Akuwu mendengar dari aku sendiri daripada Akuwu
mendengar dari orang lain, dari Mahisa Agni misalnya. Kalau Akuwu
mendengar dari aku lebih dahulu, maka aku kira Sang Akuwu akan
lebih percaya kepadaku, daripada kepada orang lain yang belum
dikenalnya.”
Kembali Kuda Sempana tersenyum. Kemudian seperti orang yang
kehilangan kesadaran diri ia tertawa sendiri dan bahkan terdengar
ia
bergumam lirih, “Hem. Kalau Akuwu mau mendengar ceritaku. maka
tak seorang pun akan dapat mencegah maksudku besok. Mahisa
Agni tidak, dan seluruh penduduk Panawijen pun tidak. Besok aku
akan melewati padukuhan itu, dan besok atas perintah Sang Akuwu
gadis itu akan dapat aku bawa serta bersama ke Tumapel. Apakah
Mahisa Agni akan dapat mencegahnya, apalagi kalau besok ia masih
berada di Tumapel”
Kuda Sempana yang sedang ditelan oleh angan-angannya itu
benar-benar seperti orang gila. Sekali ia tersenyum sendiri,
kemudian bergumam perlahan-lahan. Sesaat kemudian ia bangkit
dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya. Ketika ia melihat
kawannya telah tidur nyenyak maka ia berkata, “Hem. Kau tidak
tahu, bahwa besok aku akan memetik kembang yang tumbuh di
kaki Gunung Kawi itu. Kau besok pasti akan menjadi gila setelah kau
melihat wajahnya. Dan aku akan tertawa melihat kegilaanmu
melampaui orang yang sedang mabuk tuak.”
Tetapi kawannya itu sudah tidak mendengarnya lagi. Karena itu
ia mendengkur terus.
Kuda Sempana pun kemudian berbaring kembali. Sambil
tersenyum ia menarik selimutnya menutupi seluruh badannya. Dan
sesaat kemudian anak muda itu pun tertidur dipeluk mimpi yang
indah.
Pagi-pagi benar Kuda Sempana telah bangun. Setelah
membersihkan dirinya, maka dengan tergesa-gesa ia masuk ke
istana, mohon menghadap Akuwu yang sedang menggosok busur
yang akan dibawanya berburu.
Akuwu Tumapel adalah seorang yang gagah dan berbadan
tegap. Alisnya yang tebal dan hampir bertemu kedua pangkalnya,
memberinya wibawa yang besar. Umurnya masih belum terlampau
banyak. Tidak banyak terpaut dengan Kuda Sempana. Namun
pengaruh kehidupan istana, telah membentuknya menjadi seorang
yang agak terlampau masak dibandingkan dengan umurnya.
Seorang emban yang terdekat dengan Akuwu segera
mempersilakannya dan menyampaikan permohonan itu kepada akuwu.
“Siapa?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.
Emban itu menyembah sambil berkata, “Seorang hamba, pelayan
dalam mohon menghadap.”
“Ya, siapa?” bentak Akuwu itu.
Seseorang yang belum pernah mengenalnya pasti segera akan
menjadi ketakutan. Tetapi baik emban itu, maupun Kuda Sempana
telah mengenal tabiatnya, sehingga mereka sama sekali tidak
terkejut mendengar bentakan-bentakan itu.
Meskipun demikian Kuda Sempana menjadi berdebar-debar juga.
Apakah Akuwu akan mendengarkan ceritanya dan tidak menjadi
marah karenanya?
Yang terdengar kemudian adalah emban itu menjawab. “Yang
akan menghadap adalah pelayan dalam Kuda Sempana.”
“Kuda Sempana?” ulang Tunggul Ametung.
“Hamba Sang Akuwu.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kuda Sempana
termasuk salah seorang hambanya yang dekat. Kepandaiannya
menyanjung dan meladeni keinginan-keinginan akuwu telah
membuatnya seorang yang dipercaya. Karena itu, maka kali ini pun
Tunggul Ametung itu berkata, “He, apa maksudnya? Bukankah nanti
Kuda Sempana akan aku bawa serta berburu?”
Emban itu menjawab, “Hamba tidak tahu.”
“Panggil anak gila itu!”
Emban itu menyembah, kemudian beringsut keluar untuk
memanggil Kuda Sempana yang menunggu di luar pintu.
Sampai di luar pintu emban itu berbisik kepada Kuda Sempana,
“Kau dipanggil Akuwu.”
“Aku sudah dengar,” sahut Kuda Sempana pendek.
“Apa yang sudah kau dengar?”
“Akuwu memanggil aku.”
“Heh,” berkata emban itu, “kau meminta-minta aku
menyampaikan permohonanmu kepada Akuwu. Sekarang kau tidak
berterima kasih kepadaku.”
“Kenapa aku harus berterima kasih? Bukankah itu sudah
kewajibanmu?”
Emban itu bersungut-sungut. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan
tergesa-gesa ia pergi ke belakang, meninggalkan Kuda Sempana
yang termangu-mangu di muka pintu.
Sesaat kemudian terdengar suara Tunggul Ametung, “He, Kuda
Sempana!”
Dada Kuda Sempana berdesir. Kemudian hampir merangkak ia
memasuki pintu dan kemudian duduk bersila di hadapan Akuwu
yang masih sibuk membersihkan busurnya, menggosoknya dengan
angkup keluwih, sehingga busurnya itu mengkilat seperti cermin.
Tanpa berpaling Akuwu itu bertanya, “Apakah keperluanmu, he?”
Kembali Kuda Sempana ragu, Sesaat itu berdiam diri. Sehingga ia
terkejut ketika Tunggul Ametung itu berteriak, “Apa keperluanmu?”
Cepat-cepat Kuda Sempana menyembah sambil menjawab
terbata-bata, “Oh, ampunkan hamba, Sang Akuwu.”
Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Kenapa kau
gemetar seperti kera kedinginan?”
“Tidak, tidak Sang Akuwu,” sahut Kuda Sempana, “hamba tidak
kedinginan.”
Akuwu Tunggul Ametung itu tertawa terus. Dipandanginya wajah
Kuda Sempana yang pucat. Kemudian katanya, “He, Kuda Sempana,
ke mana kau pergi kemarin sehari?”
Kuda Sempana menjadi tergagap. Ia tidak menyangka bahwa ia
akan menerima pertanyaan yang tiba-tiba itu. Karena itu maka
jawabnya, “Ampun Akuwu. Hamba kemarin harus pulang ke
kampung memenuhi panggilan orang tua hamba. Bukankah hamba
telah minta izin kepada pimpinan hamba, Kakang Trihatma?”
“Ya. Trihatma sudah mengatakannya kepadaku. Apakah kau
sudah tahu, bahwa hari ini aku akan berburu?”
“Hamba Tuanku.”
“Kau harus ikut!”
“Hamba Tuanku,” sahut Kuda Sempana dengan suara gemetar,
“Ke mana Tuanku akan berburu?”
Tiba-tiba Tunggul Ametung itu memandang wajah Kuda
Sempana dengan tajamnya. Sambil menggosok busurnya Akuwu itu
berkata, “Sejak kapan kau bertanya ke mana aku akan berburu?”
“Ampun Akuwu. Apakah kali ini hamba diperkenankan bertanya?”
“Aku belum tahu, ke mana aku akan berburu.”
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya
dengan sedih ia berkata, “Sang Akuwu. Aku adalah seorang hamba
yang sangat senang pergi berburu. Apalagi kalau aku mendapat
perintah untuk mengikuti Akuwu berburu. Sebenarnya kali ini pun
aku menjadi bergembira sekali, tetapi ada sesuatu yang ingin
hamba hindari dari daerah perburuan Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya Kemudian
katanya, “Aku tidak tahu maksudmu. Katakan, jangan
melingkarlingkar!”
Kuda Sempana menarik nafas panjang. Kemudian katanya,
“Hamba mempunyai beberapa pantangan Sang Akuwu.”
Akuwu Tumapel itu menjadi tidak sabar. Keras-keras ia
membentak “Jangan berputar-putar. Ayo bicara!”
Kuda Sempana dengan tergesa-gesa membungkukkan badannya
sambil menyembah. Jawabnya “Hamba belum tahu ke mana Sang
Akuwu akan berburu. Karena itu hamba belum dapat mengadakan
kesulitan-kesulitan hamba itu.”
“Ke mana? Ke mana?” Tunggul Ametung berteriak. Kemudian
setelah dipandanginya kepala Kuda Sempana maka katanya
perlahan-lahan, “Aku belum tahu. Nah, katakan kepadaku Kuda
Sempana, ke mana sebaiknya kita berburu?”
Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Kemudian sahutnya,
“Sang Akuwu, ke manapun bagi hamba tidak ada keberatannya.
Hanya satu arah yang hamba pantang pergi. Tetapi …”
“Diam!” bentak Tunggul Ametung pula keras, “Aku bertanya
kepadamu, ke mana kau akan pergi. Aku akan ikut bersamamu.”
Kuda Sempana telah biasa sekali dengan sikap Akuwu itu. Maka
jawabnya, “Ya. Ya. Baiklah kita pergi ke timur.”
“Kenapa ke timur?”
“Itulah yang akan hamba katakan. Hamba tidak akan dapat pergi
berburu ke barat. Apalagi ke daerah hutan di sekitar, Talrampak dan
padang rumput Karautan. Lebih-lebih lagi di sekitar tempat asal
hamba, Panawijen.”
Akuwu Tumapel menjadi heran, Kemudian sambil mengerutkan
keningnya ia bertanya “Kenapa tidak ke daerah itu?”
Kuda Sempana menundukkan wajahnya. Sesaat ia tidak dapat
menjawab pertanyaan itu. Namun kemudian didengarnya akuwu itu
berkata “Jangan takut Kuda Sempana. Bukankah selama ini kita
tidak pernah pergi berburu ke sana? Kenapa tiba-tiba saja kau
berkata bahwa kau tidak dapat ikut ke Panawijen? Kenapa he?”
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, sabutnya, “Itu
persoalan hamba sendiri Sang Akuwu. Persoalan terlalu pribadi.”
Tiba-tiba Kuda Sempana terkejut ketika Akuwu Tumapel itu
meloncatinya sambil menarik lengannya keras-keras. Terdengar
Akuwu itu membentak. “Kuda Sempana. Kau sangka aku tidak
berhak mencampuri urusan pribadimu? He? Ayo katakan sebabnya.
Kalau tidak aku bunuh kau sekarang.”
Kuda Sempana menjadi gemetar Dengan tergagap ia menjawab
“Ya, ya, baiklah Tuanku Baiklah hamba katakan persoalan itu.
Persoalan yang sebenarnya sangat memalukan.”
Tunggul Ametung kemudian melepaskan tangan Kuda Sempana
sambil bergumam “Ingat, aku adalah Akuwu Tumapel. Aku berhak
mengetahui apa saja di daerah Tumapel.”
Kuda Sempana menjadi gemetar karenanya. Matanya menjadi
sayu suram. Perlahan-lahan ia berkata, “Sang Akuwu, cerita tentang
diri hamba adalah suatu cerita yang memalukan. Karena itu
sebenarnya hamba takut menyampaikannya kepada Tuanku.”
“Hem,” desah Tunggul Ametung, “jangan membuat aku marah.
Aku dapat menangkap kepalamu dan memutar leher mu sampai
patah.”
“Ampun Tuanku,” jawab Kuda Sempana, “bukan karena hamba
tidak mau, tetapi semata-mata karena hormat hamba kepada
Tuanku. Karena bakti hamba kepada Sang Akuwu, sehingga
amatlah memalukan bahwa seorang hamba Akuwu yang besar
sebesar Tuanku, harus mengalami perlakuan seperti hamba ini.”
Tunggul Ametung itu mengerutkan bibirnya. Dengan
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata sareh, “Katakan,
katakan Kuda Sempana. Katakanlah apa yang menyebabkan kau
bersedih?”
Kuda Sempana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sekali ia
menyembah ia berkata, “Ampun Tuanku. Janganlah Tuanku murka
kepadaku.”
“Tidak. Tidak Kuda Sempana.”
“Tuanku, ampun,” berkata Kuda Sempana terputus-putus,
“seperti yang hamba katakan kemarin hamba dipanggil oleh orang
tua hamba pulang ke kampung halaman. Sebab menurut orang tua
hamba, sudah sepantasnya hamba menjalani masa berumah
tangga.”
Tiba-tiba Tunggul Ametung itu tertawa terbahak-bahak, sehingga
perutnya terguncang-guncang. Dengan busurnya itu, dipukulnya
kepala Kuda Sempana sambil berkata, “Itukah yang memedihkan
itu? Itukah sebabnya kau tidak mau berburu ke sekitar kampung
halamanmu?”
Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun dibiarkannya Tunggul
Ametung itu tertawa sepuas-puasnya. “Kau akan berbahagia Kuda
Sempana. Kau akan mendapat seorang istri. Begitu?” tetapi sebelum
Kuda Sempana menjawab Tunggul Ametung itu membentaknya,
“Hanya itu? He? Hanya karena itu kau merasa malu mengatakannya
kepadaku? Atau hanya karena aku sendiri belum kawin, kau menjadi
takut untuk kawin?”
Kuda Sempana menyembah. Sahutnya, “Sebagian demikian
Tuanku. Tuanku belum bepermaisuri. Apakah hamba akan kawin
sebelum Sang Akuwu? Bukankah hamba tidak sepantasnya. Apalagi
umur hamba masih lebih muda dari usia Tuanku.”
Sekali lagi akuwu itu tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi ia
memukul kepala Kuda Sempana dengan busurnya, “Kau anak yang
baik. Kau benar-benar tahu bagaimana kau menghormati aku.”
Kemudian dengan bersungguh-sungguh Akuwu itu berkata,
“Tetapi itu bukan apa-apa, Kuda Sempana. Kau boleh kawin
sesukamu. Sekarang, besok atau kapan saja. Kau akan mendapat
hadiah yang berharga dari aku. Dan istrimu akan mendapat
perhiasan sepengadeg dariku. Nah, katakan kapan kau akan
kawin?”
“Ampun Tuanku. Cerita hamba belum selesai.”
“He? Apalagi? Kau akan merajuk supaya aku memberimu
sepasang kuda yang baik?”
Kuda Sempana menyembah sampai dahinya menyentuh tanah.
“Tidak Tuanku,” sahutnya cepat-cepat, “tidak.”
“Lalu apa?”
Kuda Sempana berhenti sejenak Dengan sudut matanya ia
mencoba menyusuri pandang wajah Sang Akuwu. Tetapi Kuda
Sempana itu terkejut ketika Akuwu itu membentaknya “He. Kau ada
apa sebenarnya? Mempermainkan aku?”
“Tidak Tuanku, tidak,” sahut Kuda Sempana, “hamba hanya takut
saja mengatakan.”
“Jangan takut!” Tunggul Ametung itu berteriak, “kalau kau sekali
lagi berkata takut kepadaku, maka aku cekik kau sampai lidahmu
keluar.”
“Ya, ya Tuanku,” berkata Kuda Sempana cepat-cepat, “akan
hamba katakan persoalanku itu kepada Tuanku.”
Kuda Sempana itu berhenti sekejap untuk menelan ludahnya,
namun kemudian ia meneruskan, “Kemarin hamba telah memenuhi
permintaan orang tua hamba itu, pulang ke kampung halaman
hamba. Di rumah, orang tua hamba memberitahukan kepada
hamba, bahwa sebenarnya hamba telah dipertunangkan dengan
seorang gadis sepadukuhan dengan hamba.”
“Hem,” terdengar Akuwu Tumapel itu menggeram, “Siapakah
nama gadis itu?”
“Ampun Tuanku,” jawab Kuda Sempana, “namanya Ken Dedes.”
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Kuda Sempana, sudah bertahun-tahun kau hidup di dalam
lingkungan istanaku. Apakah kau mau juga kawin dengan gadis
desa itu? Apakah ia nanti akan dapat menyesuaikan dirinya dengan
cara hidupmu? He? Kenapa kau tidak memilih gadis-gadis kota?
Bukankah banyak gadis-gadis yang dapat kau ambil di Tumapel ini,
gadis-gadis yang akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan
cara hidupmu, sebab di antara mereka dapat kau pilih anak-anak
gadis dari para hamba-hamba istana yang lain.”
“Ampun Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “sebenarnya
demikianlah cita-cita hamba. Namun orang tua hamba telah berbuat
di luar tahu hamba. Karena bakti hamba kepada orang tua itu, maka
hamba tidak dapat menolaknya.”
“Hem,” Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, “Kau memang anak yang baik.”
“Tetapi Sang Akuwu,” berkata Kuda Sempana seterusnya, “hari
itu ternyata hari yang celaka bagi hamba. Hamba yang sebenarnya
sama sekali tidak menginginkan gadis pedesaan itu, akhirnya hamba
justru mendapat malu karenanya.”
“He,” Tunggul Ametung terkejut, “kenapa?”
“Hamba takut mengatakan Tuanku.”
Tiba-tiba Kuda Sempana itu terkejut ketika tangan Tunggul
Ametung tanpa disangka-sangkanya telah melekat di lehernya.
“Aku harus mencekikmu sampai lidahmu keluar,” Sempana
menjadi gemetar karenanya Tetapi kemudian Akuwu itu berkata,
“Tetapi, aku maafkan kali ini. Kalau sekali lagi kau berkata takut
pula, maka kau akan mati di sini.”
Kuda Sempana itu menjadi pucat. Tetapi ketika kemudian
lehernya dilepaskan, maka ia pun menarik nafas panjang.
“Katakan, Katakan. Cepat! Jangan membuat aku menjadi gila
mendengar ceritamu yang berputar-putar!” bentak Tanggul
Ametung.
“Baiklah Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “biarlah hamba
mengadukan nasib hamba kepada Tuanku, sebab tidak ada orang
lain yang akan dapat…”
“Cukup!” teriak Akuwu itu keras-keras sehingga seakan-akan
dinding istana itu bergetar karenanya.
Kuda Sempana itu segera menyembah hampir mencium tanah.
Dengan terbata-bata ia berkata, “Ampun Tuanku. Begini. Beginilah
ceritanya. Pada saat itu, kemarin, hamba pulang ke kampung.
Hamba dibawa oleh orang tua hamba ke rumah gadis yang sudah
dipertunangkan dengan hamba itu. Maksud orang tua hamba,
adalah karena hamba telah cukup dewasa, dan sudah mempunyai
pegangan hidup pula, mengabdi kepada Sang Akuwu di sini. Tetapi
apa kata orang tua gadis itu?”
“Aku tidak tahu,” sahut Tunggul Ametung tiba-tiba, “kenapa kau
bertanya kepadaku?”
“Tidak Akuwu,” jawab Kuda Sempana, “Bukan maksud hamba
bertanya kepada Sang Akuwu. Tetapi hamba hanya ingin
memberikan tekanan kepada kata-kata hamba itu.”
“Oh,” desah Tunggul Ametung.
“Tuanku. Ternyata orang tua gadis itu mengingkarinya. Aku
sudah tidak diterima lagi olehnya,” Kuda Sempana itu meneruskan.
Akuwu Tunggul Ametung itu menganggukkan kepalanya.
Kemudian katanya, “Hanya itu?”
“Hamba Tuanku.”
Kuda Sempana menjadi sangat kecewa ketika Tunggul Ametung
itu berkata, “Jangan bersedih Kuda Sempana. Bukankah kau
memang tidak menginginkannya? Bukankah kau mengambil gadis
itu karena orang tuamu? Kalau demikian, maka peristiwa itu akan
menguntungkan bagimu. Kau akan dapat mengambil seorang gadis
lain. Gadis kota yang akan dapat menyesuaikan hidupnya dengan
cara hidupmu di sini. Bahkan mungkin akan dapat kau ikutkan
dalam pengabdianmu. Menjadi pengatur perabot istana atau
apapun.”
“Hamba Tuanku,” sahut Kuda Sempana. Wajahnya menjadi
semakin, suram, dan dadanya menjadi semakin berdebar-debar.
“Tetapi Akuwu. Soalnya tidak sedemikian sederhana. Kalau orang
itu mengingkari janjinya hanya karena hamba kurang tampan atau
karena hamba sudah terlalu tua, bukanlah soal bagi hamba. Tetapi
orang tua itu kemudian menolak hamba karena hamba ini hanyalah
seorang abdi. Hanya seorang pelayan dalam.”
“Hem,” mata Tunggul Ametung itu pun terbelalak, “karena kau
pelayan dalam?”
“Hamba Tuanku.”
Tunggul Ametung menarik nafas. Katanya “Nasibmu memang
kurang baik. Tetapi sebenarnya demikian. Kau memang hanya
seorang abdi. Ternyata orang tua itu ingin seorang menantu yang
bukan seorang pelayan dalam.”
Kuda Sempana menarik alisnya. Dengan sudut matanya ia
memandang wajah Tunggul Ametung. Namun hanya sesaat, sebab
sesaat kemudian ia telah menundukkan wajahnya kembali.
Dan terdengar Tunggul Ametung itu berkata pula, “Lupakan
gadis itu, Kuda Sempana. Supaya kau tidak menjadi sakit
karenanya. Lupakan persoalan itu, sebab pada dasarnya bukankah
kau memang tidak ingin kawin dengan Ken Dedes?”
Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia tersenyum.
Senyum yang hanya sepintas melintas di bibirnya, tetapi sekejap
kemudian kembali wajahnya menjadi suram.
Sambil menyembah ia berkata, “Ampun Tuanku. Hamba tidak
akan sakit hati seandainya orang tua Ken Dedes menolak hamba
karena hamba hanya seorang abdi, seorang pelayan dalam.”
“Lalu apa? Apa he?” Tunggul Ametung tiba-tiba kembali
berteriak, “Kau mau berkata apa saja Kuda Sempana?”
Kuda Sempana menyembah kembali sambil berkata, “Ampun
Tuanku. Hamba tidak takut mengatakannya kepada Tuanku, tetapi
hamba ragu-ragu.”
“Bagus!” sahut Akuwu itu, “bagus, kau sudah tidak takut lagi.
Tetapi jangan ragu-ragu. Kalau kau ragu-ragu, maka kau akan aku
cekik juga sampai mati.”
“Tuanku,” Kuda Sempana menggeser duduknya, “Sebenarnyalah
bahwa hamba ditolak karena hamba hanya seorang abdi. Tetapi
seandainya hamba seorang abdi di Kediri, misalnya, maka hamba
tidak akan mengalami nasib yang jelek itu. Hamba tidak menyesal
atas gadis itu, tetapi hamba menyesal, bahwa orang tua itu telah
merendahkan nama Akuwu Tumapel, Kuda Sempana hanya seorang
abdi dari seorang akuwu, bukan seorang maharaja.”
“Apa? He? Apa katamu?” mata Tunggul Ametung tiba-tiba
menjadi merah menyala. Dengan gemetar ia meloncat maju dan
berjongkok di hadapan Kuda Sempana yang duduk bersedeku,
“Katakan, katakan sekali lagi!”
Kuda Sempana pun kemudian beringsut mundur. Sekali lagi ia
menyembah, “Ampun Tuan. Hamba telah mengatakannya, bahwa
orang tua itu menganggap bahwa abdi seorang akuwu tidak pantas
untuk menjadi menantunya.”
“Siapa orang itu? He?” teriak Tunggul Ametung, “Siapa?”
“Orang tua gadis itu Akuwu. Seorang pendeta bernama Empu
Purwa.”
“Gila!” katanya lantang. Kemudian Tunggul Ametung itu pun
berteriak keras-keras, “Kuda Sempana, aku akan berburu ke
Panawijen.”
“Ampun Tuanku. Ampun,” sahut Kuda Sempana, “sebaiknya
Tuanku berburu ke timur.”
“Tidak, Aku akan ke Panawijen. Akan aku lihat orang tua itu.”
“Ampun Tuanku, hamba sudah tidak lagi mengharap gadis itu.
Biarlah gadis itu kelak berbahagia dengan suaminya.”
“Tidak. Akan aku ambil gadis itu untukmu. Untuk seorang
pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa. Kau dengar?
Gadis itu akan aku ambil. Akan aku hadiahkan kepadamu Kuda
Sempana. Akuwu berhak berbuat apa saja di daerahnya. Kau
dengar?”
Kuda Sempana itu menyembah dengan takzimnya. Dengan suara
yang parau ia berkata, “Tuanku. Hamba telah mengikhlaskannya
seperti nasihat Tuanku. Biarlah gadis itu menemui kebahagiaan. Aku
akan merasa bahagia kalau ia kemudian menemukan sisihan yang
dapat membahagiakannya.”
“Jangan membantah perintahku! Siapkan para pengikut. Aku
akan segera berangkat.”
“Tetapi tidak ke Panawijen Tuanku.”
“Tutup mulutmu! Adalah hakku untuk menentukan, ke mana aku
akan pergi.”
Kuda Sempana menjadi semakin tunduk. Tetapi ia tidak berkata
sepatah kata pun lagi Bahkan yang terdengar suara akuwu itu
lantang, “Kuda Sempana. Aku hargai kebaikan hatimu. Kau adalah
seorang yang tidak mau memerkosa perasaan orang lain. Tetapi
aku, Akuwu Tumapel, tidak mau dihina orang, meskipun lewat
seorang pelayan dalamnya.”
Kuda Sempana masih tunduk dalam-dalam. Maka didengarnya
Tunggul Ametung itu berkata pula, “Siapkan kudaku! Bunyikan
tanda untuk bersiap bagi para pengikut yang sudah aku tentukan.”
Kuda Sempana tidak dapat berbuat lain kecuali mematuhi
perintah itu. Segera ia menyembah dan kemudian beringsut
meninggalkan ruangan itu.
Demikian ia keluar pintu, maka wajahnya yang lesu itu tiba-tiba
berubah menjadi cerah. Betapa sebuah senyum yang segar
terbayang di bibirnya. Dengan suara yang jernih ia berkata lirih,
“Inilah aku, Kuda Sempana!”
Kemudian Kuda Sempana itu pun berjalan tergesa-gesa ke luar
halaman istana. Hampir-hampir ia lupa kepada perintah akuwu
untuk segera membunyikan tanda. Ia baru mabuk atas kemenangan
yang dicapainya. Akuwu telah dapat dipaksanya untuk menuruti
kehendaknya dengan caranya. Karena itu, maka Kuda Sempana itu
kadang-kadang tertawa dengan sendirinya. Kadang-kadang tampak
alisnya terangkat dari wajahnya menjadi bersungguh-sungguh,
namun kadang-kadang ia menutupi mulutnya dengan tangannya,
karena ia tidak dapat menahan kegembiraannya.
“Sekarang, malang-malang putung, rawe-rawe rantas,”
gumamnya seorang diri, “mudah-mudahan Mahisa Agni ada di
rumah. Akuwu pasti akan membunuhnya.”
Sesaat kemudian terdengarlah bunyi kentongan di menara di
sudut dinding luar istana. Bunyinya menggema memancar hampir
ke segenap penjuru kota. Para prajurit dan pelayan istana segera
mengetahuinya, bahwa Sang Akuwu akan pergi berburu.
Witantra pun kemudian mendengar suara itu. Maka segera ia pun
menyiapkan dirinya. Namun kepada Mahisa Agni ia berkata, “Terlalu
pagi. Biasanya Akuwu berangkat apabila Matahari telah
sepenggalah.”
“Mungkin Sang Akuwu akan memilih daerah perburuan yang
agak jauh,” sahut Mahisa Agni.
“Mungkin,” desis Witantra, dan kemudian katanya, “sudahlah
Wiraprana, aku akan berangkat. Kentong pertama sudah berbunyi.
Kentong kedua kami harus sudah berkumpul, dan kentong ke tiga
kami akan berangkat.”
“Silakan Witantra. Aku akan menunggu di sini. Aku mengucapkan
terima kasih atas semua kebaikan hatimu.”
“Jangan berterima kasih Wiraprana. Aku hanya berbuat
sekedarnya. Mudah-mudahan bermanfaat bagimu.”
Setelah bermohon diri kepada ibu dan istrinya, maka Witantra itu
pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan berlari ke
istana Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung.
Ketika Witantra sampai di alun- alun, beberapa orang telah
berkumpul. Rombongan itu ternyata tidak begitu besar. Di antara
lima orang prajurit pilihan yang dipimpin oleh Witantra, terdapat
tiga
orang pelayan dalam yang ternyata tidak kalah tangguhnya dengan
para prajurit itu. Mereka adalah Kuda Sempana, Watangan dan
seorang pelayan dalam yang baru, yang diserahkan oleh seorang
pendeta kepada akuwu, Ken Arok. Meskipun pengabdiannya belum
lama, namun betapa ia dapat menarik hati Tunggul Ametung karena
betapa anak itu sangat patuh akan kewajibannya. Di samping
beberapa kelebihan yang sering dilakukannya tanpa sesadarnya.
“Ke mana kita akan berburu?” terdengar seorang prajurit
bertanya kepada Witantra.
Witantra menggelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya, “aku
belum mendengar titah Sang Akuwu.”
Kuda Sempana yang sedang diliputi oleh kegembiraan yang
meluap-luap di dadanya tiba-tiba menjawab, “Ke barat, ke sekitar
daerah padang rumput Karautan dan Padukuhan Panawijen.”
Hati Witantra itu berdesir mendengar jawaban Kuda Sempana.
Panawijen. Adalah sangat kebetulan, bahwa semalam ia sedang
mendengar persoalan yang terjadi di Panawijen. Jadi apakah ada
hubungan antara apa yang didengarnya semalam dengan rencana
perburuan ini.
Karena itu, Witantra segera bertanya meskipun ia seakan kau
acuh tak acuh, “Karautan adalah sebuah padang rumput. Apakah
kita sekarang akan berburu kelinci?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Di utara
Karautan terbentang sebuah hutan yang sangat banyak menyimpan
binatang-binatang pemakan rumput yang besar. Kijang, menjangan
dan sebagainya.
“Hem,” sahut Witantra, “Apakah Akuwu kali ini ingin berburu
kijang? Akuwu adalah seorang yang gemar kepada pengalamanpengalaman
yang dahsyat. Bukankah Akuwu senang berburu
harimau atau orang hutan raksasa di hutan Roban Kibar?”
Kuda Sempana mengangkat pundaknya, “Entahlah. Kali ini
Akuwu ingin berburu ke sana.”
Witantra itu mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ia
menjadi gelisah. Tanpa dikehendakinya ia telah terlibat dalam
persoalan antara Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Karena itu maka
setelah berpikir sejenak, ia berkata, “Apakah Akuwu sudah siap
untuk berangkat?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak
tahu apakah yang tersimpan di hati Witantra itu. Karena itu maka
kemudian ia menjawab, “Sudah. Akuwu sudah siap.”
“Aku akan menghadap,” gumam Witantra.
“Untuk apa?” bertanya Kuda Sempana dengan penuh kecurigaan.
“Aku akan mohon izin kepada Sang Akuwu, adikku ingin turut
dalam perburuan ini.”
“Adikmu? Siapa?” Kuda Sempana menjadi semakin curiga.
“Mahendra,” jawab Witantra.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, ia kenal Mahendra,
namun belum begitu akrab. Karena itu maka Kuda Sempana belum
mendengar apakah yang pernah terjadi atas anak muda yang
bernama Mahendra itu. Karena itu katanya, “Cobalah, mohonlah
kepada Sang Akuwu.”
Witantra itu pun kemudian masuk ke halaman belakang istana.
Setelah permohonannya disampaikan oleh seorang emban, maka
Sang Akuwu yang sudah siap untuk berangkat itu memanggilnya,
“He Witantra, ada apa? Apakah kau juga akan kawin?”
Witantra mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud Akuwu.
Namun ia tidak berani bertanya. Setelah menyembah maka katanya,
“Sang Akuwu, perkenankanlah kamba mengajukan sebuah
permohonan sebelum Akuwu berangkat berburu?”
“Apa? Kau minta aku berburu ke timur, ke selatan atau ke mana?
Aku sudah menentukan arah. Tak seorang pun dapat mengubah.
Aku akan berburu ke barat.”
“Ampun Tuanku,” sembah Witantra, “hamba tidak berani berbuat
demikian. Hamba hanya memohon izin kepada Tuanku. Apabila
Tuanku berkenan di hati, adik hamba akan ikut serta berburu
bersama dalam rombongan ini.”
“Siapakah adikmu itu?” bertanya Tunggul Ametung sambil
mengerutkan bibirnya.
“Mahendra Tuanku.
Akuwu Tumapel itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Kenapa
ia mau turut?”
“Tuanku. Adikku adalah seorang penakut. Mudah-mudahan
dengan pengalaman ini adikku akan dapat menjadi seorang yang
berpengalaman. Kalau Tuanku hendak pergi ke barat, maka
menurut perhitungan hamba perburuan ini tidak akan sedemikian
berat daripada apabila Tuanku pergi ke hutan Roban Kibar. Karena
di sekitar padang Karautan hutannya tidak begitu lebat, sehingga
tidak banyaklah binatang-binatang buas yang berbahaya.”
“Dari mana kau dengar he?” benak akuwu itu.
“Dari Kuda Sempana.”
“Apa yang dikatakannya?”
“Demikianlah, bahwa Sang Akuwu akan berburu ke barat.”
“Hanya begitu?”
“Hamba Tuanku.”
“Bagus. Bawa adikmu. Kalau ia terampil, maka ia akan mendapat
kesempatan bekerja di istana.”
“Terima kasih Tuanku.”
Witantra itu pun kemudian mohon diri untuk memanggil adiknya.
Mahendra sama sebali tidak menyangka bahwa sepagi itu
Witantra telah datang ke rumahnya. Mula-mula Mahendra heran,
kenapa ia harus ikut serta berburu bersama akuwu. Namun akhirnya
ia tahu juga maksudnya. Karena itu, maka dengan senang hati,
Mahendra ikut serta bersama Witantra ke alun-alun dengan
tergesagesa.
“Apakah aku tidak perlu membawa bekal apapun, Kakang?”
bertanya Mahendra.
“Tidak usah, bekalku cukup banyak.”
Akhirnya Mahendra pun menyiapkan kudanya pula, dan ikut serta
bersama Witantra.
Ketika mereka sampai di alun-alun, maka semuanya telah benarbenar
siap. Demikian Witantra dan Mahendra memasuki alun-alun
itu, demikian mereka mendengar kentongan dipukul untuk kedua
kalinya. Pertanda bahwa rombongan itu sudah siap untuk
berangkat.
Sesaat kemudian, mereka melihat Akuwu keluar dari istana
dengan sebuah busur yang sangat bagusnya melintang di
punggungnya. Seorang pekatik telah siap di ujung tangga dengan
seekor kuda berwarna hitam mengkilat. Kuda yang telah siap
berangkat berburu. Di sisi kuda itu tergantung sebuah endong berisi
sejumlah anak panah dan sebilah pedang panjang yang berwrangka
emas.
Sekilas, Akuwu Tumapel itu melayangkan pandangan matanya
berkeliling, ke arah beberapa orang yang sudah menunggu.
Dilihatnya ketiga orang pelayan dalam istana, di antaranya Kuda
Sempana. Lima orang prajurit di bawah pimpinan Witantra dan
seorang anak muda yang belum dikenalnya.
“Itukah adikmu Witantra?”
Witantra mengangguk dalam-dalam, kemudian jawabnya,
“Hamba Akuwu.”
“Hem adikmu itu gagah juga, segagah kau. Mudah-mudahan ia
mampu membunuh kelinci.”
Mahendra menggigit bibirnya. Namun ia tidak berkata apapun
juga.
Dengan tangannya Akuwu Tumapel memberi tanda kepada
rombongannya untuk berangkat. Maka terdengarlah suara
kentongan yang ketiga kalinya. Demikian kentongan itu berbunyi,
maka meloncatlah Akuwu Tunggul Ametung ke atas punggung
kudanya.
Para pengiringnya itu pun segera meloncat pula ke atas kuda
masing-masing. Dan sesaat kemudian mereka mendengar Tunggul
Ametung berkata, “Ayo, kita berangkat!”
Iring-iringan itu kemudian mulai bergerak. Di depan sendiri
Akuwu Tumapel berkuda dengan gagahnya. Akuwu itu benar-benar
seorang yang gagah, apalagi di atas kuda hitam mengkilat. Kuda
yang tegar dan besar. Di belakangnya Kuda Sempana mengiringinya
sambil tersenyum. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling
bahagia baginya. Akuwu Tumapel itu ternyata dapat
dikendalikannya untuk membantu mengambil gadis yang telah
menyakitkan hatinya itu.
Di belakang Kuda Sempana berkuda berjajar dua orang kawan
Kuda Sempana. Salah seorang daripadanya bernama Ken Arok.
Seorang anak muda pendiam, namun di balik kediamannya itu
tersimpan beberapa keanehan dan kekuatan-kekuatan yang tak
dimiliki oleh anak-anak sebayanya.
Baru di belakang mereka, di belakang para pelayan dalam itu,
berkuda para prajurit. Lima orang ditambah dengan seorang adik
seperguruan Witantra.
Di sepanjang perjalanan itu, Witantra benar menjadi bingung.
Apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh rombongan ini? Apakah
kebetulan saja kalau akuwu memilih arah ke barat, atau ada
hubungan yang erat dengan maksud Kuda Sempana? Witantra
menjadi ragu-ragu. Ia ingin segera memberitahukan persoalan itu
apabila keadaan memaksa. Kalau tidak, maka biarlah ia tidak
menggelisahkan Mahisa Agni yang sampai saat terakhir masih
disangkanya Wiraprana.
Tetapi, semakin lama hatinya semakin gelisah. Meskipun
demikian ia masih ingin tahu ke mana mereka sebenarnya akan
pergi.
Penduduk kota Tumapel, melihat kepergian akuwunya dengan
berbagai tanggapan. Seorang di antaranya memujinya setinggi
langit, katanya, “Tak ada akuwu segagah Akuwu Tumapel. Carilah di
seluruh Kediri. Tubuhnya yang kokoh kuat. Masih muda lagi. Kalau
ia pergi berburu seperti kali ini, maka benar-benar seperti Dewa
Ngejawantah.”
Namun ada orang lain yang mencemoohkannya, “Huh, ia tidak
mampu berbuat selain berburu. Apakah kemajuan yang pernah
dicapainya selama ia menjadi akuwu. Lihat, meskipun ia sudah
setua itu, namun ia masih belum juga berani kawin.”
Seperti apa yang dilakukannya, maka akuwu itu mempunyai
beberapa bentuk tanggapan dari rakyat. Ada yang mencintainya
sebagal seorang yang paling bermurah hati di dunia ini, namun ada
yang mengumpatinya sebagai seorang yang paling kejam di muka
bumi. Sebab akuwu itu berbuat apa saja yang ingin dilakukan
sesaat-sesaat. Kadang-kadang ia lupa apa yang dikatakannya
kemarin dan ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya besok.
Tetapi sebagian dari rakyat Tumapel melihat kemegahan Tunggul
Ametung pada para pengiringnya. Dilihatnya seorang yang gagah
berkuda di belakangnya, kemudian beberapa orang yang bertubuh
tegap kekar. Mereka semuanya telah siap dalam kelengkapan
seorang pemburu. Namun para prajurit itu tidak saja siap untuk
berburu, namun apabila ada bahaya di sepanjang perjalanan
mereka maka mereka pun siap untuk bertempur. Meskipun jumlah
pengiring itu tidak demikian banyak, namun kekuatan itu telah
berlebih-lebihan untuk menjelajahi daerah Tumapel yang aman.
Demikianlah, maka perjalanan itu tampaknya sebagai sebuah
rombongan tamasya. Pada pagi yang cerah, ketika matahari pagi
melemparkan sinarnya yang segar ke puncak-puncak pepohonan,
menyentuh daun-daunan yang bergerak-gerak ditiup angin yang
lembut. Di sebelah barat menjulang Gunung Kawi yang perkasa.
Puncaknya tampak ke merah-merahan, bermandikan cahaya
matahari yang berkilat-kilat.
Tetapi hati Witantra tidaklah secerah pagi itu. Meskipun ia tidak
berkepentingan langsung dengan persoalan yang menyangkut
Wiraprana, namun hatinya telah terlanjur terlibat ke dalamnya.
Karena itu, di sepanjang perjalanan itu. Ia selalu berusaha
mengetahui, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Akuwu
Tunggul Ametung itu. Karena itu, maka kemudian ia mempercepat
langkah kudanya dan menyampingi Ken Arok yang berkuda di
belakang Kuda Sempana.
Setelah dekat Witantra bertanya kepada Ken Arok. “Adi, ke
manakah kita ini sebenarnya akan pergi?”
Ken Arok menjawab dengan jujur. “Entahlah Kakang aku belum
tahu pasti. Menurut Kuda Sempana kita akan pergi ke hutan di
sekitar padang Karautan.”
Dada Ken Arok berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun
dicobanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dijawabnya, “Ya
pernah Kakang, sekali dua kali aku pernah lewat di hutan itu.”
“Aku pernah juga ke sana,” sahut Witantra, “tetapi hutan itu
bukan tempat yang baik untuk berburu.”
Ken Arok tidak menjawab. Tetapi debar di jantungnya menjadi
semakin cepat. Hutan itu adalah hutan yang dikenalnya baik. Hutan
dan padang rumput itu. Ia pernah tinggal di padang rumput itu
beberapa lama. Dan ia selalu bersembunyi di hutan itu, apabila
beberapa orang mengejarnya. Karena itu ia pun menjadi gelisah.
Kalau ia boleh memilih, maka lebih baik baginya untuk tidak ikut di
dalam rombongan itu. Sebab baik hutannya maupun padang rumput
Karautan membawa kenangan yang pedih di dalam hatinya.
Teringatlah ia akan pertemuannya dengan seorang Empu yang
bernama Empu Purwa beserta muridnya. Berkata Empu itu
kepadanya, bahwa apabila ia dapat menempuh cara hidup yang
lain, maka ia akan menjadi lebih berbahagia karenanya. Kini ia
telah, menemukan jalan lain itu. Dan ia benar-benar merasa lebih
berbahagia. Tetapi ia tidak dapat menolak. Ia harus turut
menjelajahi hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan. Daerah
yang pernah dipakainya untuk melakukan pembantaian, perkosaan
dan perampokan.
Bulu kuduk Ken Arok itu berdiri serentak. Dan ia pun
menundukkan wajahnya.
Witantra melihat perubahan wajah itu dengan heran. Tiba-tiba ia
menjadi curiga. Apakah ada maksud-maksud yang tersembunyi
dalam perburuan kali ini? Tetapi ia tidak dapat mendesaknya.
Mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan.
Meskipun demikian Witantra tidak segera mengambil ke
simpulan. Ia tidak mau membuat keributan apabila persoalannya
belum jelas. Karena itu ia kemudian berdiam diri sambil mengikuti
Akuwu Tunggul Ametung dengan hati yang gelisah.
Hati Witantra itu kemudian tergetar ketika tiba-tiba Akuwu
Tumapel memperlambat kudanya. Kemudian ia berpaling kepada
Kuda Sempana sambil berkata, “Apakah aku berjalan ke arah yang
benar?”
“Hamba Tuanku,” jawab Kuda Sempana.
“Aku pernah pergi ke Panawijen. Namun sudah terlalu lama.
Sesudah itu, aku senang berburu ke timur. Karena itu, maka
berjalanlah di depan Kuda Sempana, supaya arahnya tidak salah.”
Hati Witantra berdesir mendengar kata-kata Akuwu Tumapel itu.
Perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup jauh. Dan tiba-tiba
Kuda Sempanalah yang harus menentukan arah. Karena itu maka
hatinya menjadi semakin gelisah.
Sekali-sekali Witantra itu berpaling kepada adik seperguruannya
yang berada di paling belakang. Di dalam hatinya Witantra berkata,
“Hem. Apakah semuanya ini suatu hal yang kebetulan saja, atau
Kuda Sempana telah sempat mempengaruhi hati Akuwu?”
Dan hati Witantra itu menjadi semakin gelisah.
Tiba-tiba Witantra itu mempunyai dugaan yang kuat bahwa Kuda
Sempana yang memegang peran kali ini. Apapun yang akan
dilakukan oleh Sang Akuwu, namun Kuda Sempana akan mungkin
untuk memanfaatkan setiap keadaan. Karena itu maka berkata
Witantra itu di dalam hatinya, “Kenapa aku tidak memberitahukan
saja kepada Wiraprana apa yang akan dilakukan oleh Kuda
Sempana. Sebaiknya Wiraprana berusaha untuk mencegah hal-hal
yang tidak diharapkan. Sebaiknya Wiraprana itu pulang saja dan
menyembunyikan Ken Dedes. Sebab kalau usaha Kuda Sempana
mendapat persetujuan akuwu, maka tak ada seorang pun yang akan
dapat mencegahnya.”
Meskipun demikian Witantra itu untuk beberapa saat masih raguragu.
Namun akhirnya jalan itulah yang dapat ditempuh sebaiknya.
Seandainya kemudian akuwu tidak mempunyai kepentingan apa-apa
atas gadis itu, maka sebagai usaha penyelamat tak akan ada
ruginya.
Karena itu, maka kemudian Witantra itu memperlambat kudanya
dan berjalan di samping Mahendra. Sambil berbisik ia berkata,
“Mahendra. Kembalilah. Beri tahukanlah kepada Wiraprana bahwa
kami sekarang berburu ke barat. Mungkin kami akan melewati
Panawijen. Karena itu, usahakanlah selekas mungkin pulang dan
sembunyikanlah Ken Dedes. Syukurlah bahwa akuwu tidak akan
melihatkan diri atas hasutan Kuda Sempana.
Mahendra menganggukkan kepalanya. “Baik Kakang.”
“Tetapi biarlah aku minta izin dahulu kepada Akuwu. Nanti kami
masih mengharap perjalanan kami berhenti di hutan perburuan
meskipun hanya sebentar, sehingga Wiraprana akan dapat
mendahului perjalanan kami. Tetapi kalau mungkin biarlah
Wiraprana mencari jalan lain, selain padang rumput Karautan.”
“Baik Kakang.”
Witantra itu kemudian mempercepat kudanya dan dengan hatihati
ia mencoba berkuda di samping akuwu.
Akuwu Tumapel itu berpaling sesaat. Ia mengerutkan keningnya.
Kemudian ketika melihat Witantra menganggukkan kepalanya
dalam-dalam maka ia pun bertanya, “Ada apa Witantra?”
Kuda Sempana yang berkuda di depannya berpaling dengan
penuh kecurigaan. Dengan hati-hati ia berusaha mendengar
percakapan itu.
“Ampun, Tuanku,” jawab Witantra, “adik hamba benar-benar
belum berpengalaman. Apalagi ketika kami berangkat, adik hamba
terlalu tergesa-gesa. Kini perkenankanlah adik hamba itu pulang
untuk mengambil busurnya. Sebab alangkah janggalnya, apabila
kami harus berburu tanpa busur.”
Akuwu itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kemudian, ia pun
tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Adikmu itu gagah, segagah kau
Witantra, namun ternyata ia lebih bodoh dari keledai. Apakah yang
akan dilakukan kalau anak itu tidak membawa busur?”
“Itulah Tuanku. Anak itu hanya membawa anak panah.”
Kembali akuwu tertawa terbahak-bahak. Katanya “Aku tidak
berkeberatan anak itu pulang mengambil busurnya. Tetapi aku tidak
senang melihat kecerobohannya.”
Witantra itu mengangguk sekali lagi. Namun sebelum ia surut ke
belakang, maka tiba-tiba akuwu itu berkata “Tak ada gunanya
adikmu itu mengambil busurnya. Kali ini sama sekali tidak
memerlukan busur.”
Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata akuwu itu,
sehingga sekali lagi ia berpaling. Witantra pun tidak kalah
terkejutnya pula. Bahkan ia bertanya “Kenapa tidak Akuwu?”
Akuwu mengangkat alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Dilihatnya
Kuda Sempana. Kemudian akuwu itu tertawa. Namun tiba-tiba ia
membentak, “Apapun yang akan dilakukan oleh adikmu itu aku tidak
peduli. Kalau ia mau mengambil busurnya, biarlah ia mengambilnya
Kalau ia mau berburu dengan giginya itu pun bukan urusanku.”
Witantra mengangguk dalam-dalam sambil berkata “Hamba
Tuanku.”
Kini hati Witantra menjadi semakin gelisah. Maka kemudian
katanya kepada Mahendra “Cepat! Pulanglah beri tahukan kepada
Wiraprana supaya ia cepat-cepat pulang dan menyelamatkan
gadisnya. Mungkin bahaya benar-benar akan mengancam.”
Mahendra tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia memutar
kuda dan seperti angin ia berpacu kembali ke Tumapel. Debu yang
putih melonjak naik ke udara, dan suara telapak kaki-kaki kuda itu
gemeretak memekakkan telinga.
Ketika Sang Akuwu berpaling, dilihatnya kuda Mahendra itu
seperti anak panah yang meluncur cepat sekali. Tiba-tiba, akuwu itu
melambaikan tangannya memanggil Witantra “Itukah adikmu?”
“Hamba. Akuwu.”
“Ternyata adikmu itu pandai berkuda. Aku senang kepada
keterampilannya”
“Terima kasih Tuanku.”
“Tetapi otaknya terlalu tumpul. Kalau ia pergi berperang, dan ia
lupa membawa senjatanya, apa yang akan dilakukan?”
“Anak itu masih terlalu muda dan kurang pengalaman.”
Tunggul Ametung tidak menjawab. Kini diangkatnya wajahnya
dan dipandanginya jalur-jalur jalan yang menjelujur di hadapannya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Akuwu itu berkata
“Sawah-sawah di sini cukup baik.” Kemudian kepada Kuda
Sempana ia berkata “Kuda Sempana. Kaulah yang memimpin
perburuan kali ini.”
Kembali dada Witantra berdesir. Agaknya kemungkinankemungkinan
yang kurang baik semakin nyata akan terjadi. Karena
itu maka ia menyesal bahwa agak terlambat mengabarkannya
kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Meskipun
demikian, maka Witantra itu akan berusaha untuk memperlambat
perjalanan mereka. Katanya, “Akuwu. Hutan-hutan di sekitar
Karautan memang banyak menyimpan binatang-binatang yang baik
untuk diburu. Kijang, menjangan dan beberapa jenis harimau.
Karena itu, maka kami akan mengharap bahwa Akuwu akan menjadi
bergembira karenanya. Bukankah Akuwu belum pernah memiliki
kijang yang berkulit belang?”
Agaknya Akuwu Tumapel itu tertarik juga kepada kata-kata
Witantra. Katanya, “Apakah di Panawijen ada kijang berbulu
belang?”
“Tidak di Panawijen Tuanku, tetapi di hutan-hutan di sekitar
padang rumput Karautan.”
“He, Kuda Sempana,” berkata Akuwu itu, “kita berburu kijang
berbulu belang di padang rumput Karautan.”
Kuda Sempana itu terkejut mendengar perintah Akuwu itu.
Karena itu ia bertanya, “Apakah kita pergi berburu dahulu Tuanku?”
Pertanyaan itu benar-benar aneh bagi Witantra. Mereka
berangkat untuk berburu. Kenapa pertanyaan Kuda Sempana itu
justru tentang perburuan itu sendiri? Karena itu, maka Witantra itu
seolah-olah mendapatkan beberapa petunjuk apa sebenarnya yang
akan dilakukan oleh Kuda Sempana.
“Hem,” desahnya di dalam hati, “ternyata aku terlalu bodoh
sehingga aku terlambat memberitahukannya kepada Wiraprana.
Mudah-mudahan Akuwu tertarik kepada kijang berbulu belang.”
Mendengar pertanyaan Kuda Sempana, Akuwu Tumapel itu
mengerutkan alisnya. Segera ia teringat kepada cerita Kuda
Sempana tentang seorang Empu yang telah merendahkan
derajatnya sebagai seorang akuwu, karena itu, maka dengan
geramnya ia berkata, “Kita ke Panawijen.”
Witantra kini hampir yakin karenanya, bahwa Kuda Sempana
pasti sudah berhasil membujuk akuwu untuk kepentingannya.
Karena itu maka penyesalan yang bergolak di dalam dadanya
menjadi semakin melonjak-lonjak. “Mudah-mudahan Wiraprana
tidak terlambat.”
Meskipun demikian, Witantra itu berkata, “Ampun Akuwu, tidak di
Panawijen, tetapi di sebelah padang Karautan.”
“Apa?” bertanya akuwu itu sambil mengangkat wajahnya.
Hati Witantra tergetar karenanya. Namun jawabnya, “Kijang
berbulu belang. Tidak saja bulunya Tuanku, tetapi kulitnya. Hamba
pernah mendapatkannya dahulu. Kulitnya kini menghias dinding
paman hamba di Kediri.”
Akuwu Tumapel itu menyipitkan sebelah matanya. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.
Kita mencari kijang berbulu belang.”
“Kalau nanti kita mendapatkannya Tuanku, biarlah nanti hamba
mengolah kulitnya sebaik-baiknya untuk sebuah permadani di
bawah kaki di muka tempat duduk Tuanku di istana, atau di muka
bilik tempat peraduan Tuanku.”
“Bagus-bagus. Akan aku dapatkan kijang berbulu belang itu.
Kalau tidak, maka aku akan mengulangi perburuan ini sampai aku
mendapatkannya.”
Tiba-tiba Kuda Sempana yang kecemasan berkata, “Kijang itu
telah lama punah.”
“He,” Akuwu Tumapel terkejut, “Apakah kau berkata benar?”
“Tidak!” sahut Witantra, “belum lama aku telah melihatnya,
seorang pemburu membawa kijang serupa itu.”
“Kijang itu tidak terlalu baik. Raja Kediri pernah memesannya.
Tetapi Akuwu Tumapel bukan Raja Kediri. Kenapa mesti menirunya?
Biarlah suatu ketika Kediri meniru Akuwu Tumapel, meskipun
Tumapel berada di dalam lingkungan kerajaan Kediri.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya mendengar kata-kata
Kuda Sempana itu. Dan sebelum ia menjawab, Kuda Sempana telah
berkata pula “Apakah kau sangka dalam menilai keindahan, Akuwu
Tumapel iri ada di bawah Baginda Kertajaya. Kalau Baginda
Kertajaya itu senang kepada Kijang berbulu belang, maka Akuwu
Tumapel akan membuat perhiasan yang lain, yang jauh lebih indah
dari Kijang berbulu belang itu.”
“Apakah itu?” tiba-tiba Akuwu Tumapel itu bertanya.
Kuda Sempana menjadi gelisah mendapat pertanyaan itu. Karena
itu maka jawabnya, “Kita belum menemukan itu Tuanku. Namun
suatu ketika akan kita dapatkan.”
“Ya. Suatu ketika akan kita dapatkan,” gumam Tunggul Ametung.
Witantra kemudian terdiam. Tetapi hatinya menjadi semakin
gelisah. Apa lagi ketika Kuda Sempana mempercepat langkah
kudanya.
“Setan itu telah berhasil mempengaruhi Akuwu Tumapel,”
katanya di dalam hati. Karena itulah maka detak jantungnya terasa
semakin cepat. Beberapa persoalan menghentak- hentak dadanya
sehingga akhirnya Witantra itu tidak tahan lagi menyimpan
pertanyaan-pertanyaan yang menghimpit perasaannya. Dengan
cemas maka diberanikan dirinya bertanya, “Akuwu, apakah kita
tidak berburu kali ini?”
“Siapa bilang?” sahut akuwu itu.
“Tuanku, aku hanya menjadi bingung saja. Aku tadi mendengar
adi Kuda Sempana bertanya, apakah kita pergi berburu dahulu.
Apakah sesudah itu kita mempunyai suatu rencana yang lain?”
Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Sambil
meraba-raba suri kudanya Tunggul Ametung itu berkata, “Kita
sedang berburu. Apapun yang kita buru.”
Tunggul Ametung itu berhenti sejenak, kemudian katanya
seterusnya, “Apakah kau sudah beristri Witantra?”
Witantra bingung mendengar pertanyaan itu. Meskipun demikian
dijawabnya “Sudah Tuanku.”
“Nah. Siapakah di antara kalian yang belum kawin he?” bertanya
Akuwu itu kepada para pengiringnya.
Tak seorang pun yang tahu maksud Akuwu itu. Meskipun
demikian beberapa orang lantarannya menjawab, “Hamba Tuanku.”
“Nah, nanti akan sempat giliran kalian kawin. Sekarang marilah
kita memberi kesempatan pertama kepada Kuda Sempana. Kita
sekarang sedang menjemput pengantin perempuan.”
Dada Witantra itu benar-benar hampir meledak mendengar kata
Akuwu itu. Sebenarnyalah apa yang telah diduganya. Karena itu,
tanpa disadarinya ia berpaling. Dan Mahendra telah hilang jauh di
balik pedesaan.
“Gila!” Witantra itu menggeram di dalam hati.
Bukan saja Witantra, namun semua orang menjadi heran
karenanya. Apakah yang harus mereka lakukan?”
Tiba-tiba mereka mendengar akuwu itu berkata lantang, “Aku
tidak mau dihinakan oleh siapa pun juga. Penghinaan terhadap
orang-orangku hanya karena ia hamba akuwu adalah penghinaan
bagiku. Karena itu maka sekarang aku sedang menunjukkan
kekuasaanku.”
Kini Witantra sudah merasa pasti, apakah yang akan
dihadapinya. Mengantarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes
dengan paksa. Dengan kekerasan. Karena itu maka alangkah ia
menjadi bersedih hati. Ia tidak tahu, alasan-alasan apakah yang
dipakai oleh akuwu itu untuk meluluskan permintaan Kuda
Sempana. Kalau semula akuwu ingin berangkat berburu, maka tibatiba
maksud itu telah disimpangkannya oleh Kuda Sempana.
Rombongan Akuwu Tumapel itu berjalan berderap-derap di atas
tanah berbatu-batu. Setiap bunyi telapak kaki kuda-kuda itu
seakanakan
suara sangkakala yang meneriakkan kekuasaan di tangan
Akuwu Tumapel kekuasaan. Tidak lebih daripada kekuasaan lahiriah.
Dan Akuwu Tunggul Ametung itu sedang menunjukkan kekuasaan.
Sebenarnya Tunggul Ametung itu berpikir di dalam hatinya, “ Tak
ada orang dapat menentang kehendakku. Kalau ada orang yang
mencoba menolak keputusanku, maka aku akan memaksanya
dengan kekerasan. Aku mempunyai cukup prajurit, cukup senjata
dan cukup apa saja untuk menindas mereka. Apalagi mereka yang
telah menghina aku.”
Witantra semakin lama menjadi semakin berdebar-debar.
Semakin dekat mereka dengan Panawijen, maka hatinya menjadi
semakin sedih, sehingga ketika ia tidak dapat menahan hati lagi,
diberanikannya sekali lagi bertanya kepada Akuwu itu, “Tuanku,
apakah yang harus hamba lakukan nanti, apabila kita tidak pergi
berburu?”
“Gila!” bentak Akuwu itu, “kau adalah seorang prajurit. Kau
adalah alatku untuk menunjukkan kekuasaanku. Kalau aku sedang
melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa Akuwu Tumapellah
yang berkuasa di Tumapel, maka kau harus melindungi kekuasaan
itu.”
“Hamba Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Hamba pun akan
berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini, kekuasaan Tuanku yang
manakah yang harus hamba amankan.”
“Apakah kau sudah uli?” teriak Akuwu itu dengan marahnya.
Suaranya menggelegar memenuhi dataran di sebelah timur Gunung
Kawi itu, “aku akan mengambil seorang gadis bernama Ken Dedes
di desa Panawijen. Orang tua itu menolak Kuda Sempana yang telah
dipertunangkan sejak kecil, karena Kuda Sempana adalah pelayan
dalam Akuwu Tumapel.”
Witantra menarik nafas. Dan di dengarnya Tunggul Ametung itu
berkata pula, “Nah, apakah itu bukan suatu penghinaan bagi Akuwu
Tumapel?”
Witantra menarik bibirnya. Terasa betapa hatinya menjadi sakit.
Ia tahu pasti bahwa Empu Purwa telah memberi keleluasaan kepada
Ken Dedes untuk menjatuhkan pilihannya. Bahkan adiknya
seperguruannya pun pernah terluka hatinya, sehingga hampir ia
kehilangan keseimbangan pula dengan menantang Wiraprana
berkelahi. Bahkan baru kemarin rasa-rasanya sekali lagi Mahendra
berkelahi dengan Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Tetapi
ia menentang perbuatan yang nurani dari adiknya itu. Kini ternyata
Kuda Sempana lah yang berbuat curang. Karena itu Witantra itu
benar-benar menjadi sedih. Sedih atas peristiwa yang akan terjadi
Peristiwa yang pasti akan menyinggung rasa keadilan. Sebagai
seorang prajurit Witantra menyadari tugasnya. Ia tidak dapat
mengingkari perintah yang diberikan oleh atasannya. Oleh Akuwu
Tumapel itu. Namun ia tahu pasti, bahwa apa yang dilakukan itu
telah berkisar dari kebenaran dan telah melanggar keadilan. Dengan
kekuatan dan kekuasaan yang ada padanya, akuwu akan dapat
berbuat apa saja. Merampas, membunuh, mengambil istri orang dan
apa saja. Kalau ia melakukan perampasan, pemerasan dan
sebagainya, maka ia adalah jauh lebih jahat dari perampok yang
paling jahat sekalipun. Sebab sebenarnya akuwu lah yang harus
melindungi rakyatnya dari ketakutan dan kesewenang-wenangan.
Tetapi Akuwu Tumapel telah mengatakan kepadanya, bahwa kini
ia sedang menunjukkan kekuasaan. Dan dirinyalah alat dari
kekuasaan itu.
Dirinya sebagai manusia dan pedang yang tergantung di
pinggangnya itu.
Kuda Sempana yang berkuda di ujung rombongan itu kemudian
mempercepat jalan kudanya. Di hadapannya kini telah terbentang
padang rumput Karautan. Agaknya mereka akan menerobos di
tengah-tengah padang rumput itu.
Ken Arok tiba-tiba mengerutkan keningnya. Ditatapnya padang
yang terbentang luas di hadapannya itu dengan wajah yang sayu.
Padang yang telah menggoreskan kenangan yang suram.
“Apakah aku akan dapat melupakan semua yang telah terjadi?”
bisiknya di dalam hati.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Timbullah pertanyaan di
dalam hatinya. “Apakah yang Maha Agung mau menerima aku
menghadap dengan tangan yang dikotori oleh darah? Berpuluhpuluh
orang telah menjadi korbanku di padang rumput ini.”
Tetapi Ken Arok tidak mendapat kesempatan untuk beranganangan.
Kini kuda mereka berjalan semakin cepat, dan sebentar lagi
mereka akan sampai ke Panawijen. Tempat tinggal seorang gadis
yang baru tumbuh dan berkembang. Namun tiba-tiba angin yang
kencang telah melandanya. Angin prahara, yang tak akan dapat
dibendung oleh siapa pun.
Demikianlah rombongan itu telah mengejutkan seluruh penduduk
Panawijen. Ketika mereka melihat sebuah iring-iringan, dan di
depan sendiri mereka melihat Kuda Sempana, maka seluruh
penduduk Panawijen, apalagi anak-anak mudanya, menjadi
ketakutan. Langsung mereka dapat menebak, bahwa Kuda Sempana
telah datang kembali dengan kawan-kawannya. Apalagi ketika
seorang tua berkata di antara mereka, “He, lihat! Di belakang Kuda
Sempana itu adalah Akuwu Tunggul Ametung. Aku pernah
melihatnya, ketika aku pergi ke Tumapel dahulu.”
“Akuwu?” bertanya yang lain dengan tubuh gemetar.
“Ya.”
Penduduk Panawijen itu menjadi semakin takut. Dan Witantra
pun benar-benar telah berputus asa untuk menyelamatkan gadis itu.
Mahendra pasti terlambat, sehingga Mahisa Agni yang disangkanya
Wiraprana pasti tak akan sempat menyembunyikan gadis itu.
Sedang dirinya sendiri tidak mungkin untuk melakukannya. Ia
adalah prajurit akuwu, sehingga dengan demikian, maka mau tidak
mau ia harus berdiri di pihaknya.
Witantra itu tiba-tiba menangis dalam hatinya. Ia tidak pernah
menyangka bahwa pada suatu saat ia harus melakukan pekerjaan
yang bertentangan dengan rasa keadilannya. Ia harus melindungi
suatu perbuatan yang ia tahu, bahwa perbuatan itu melanggar sendi
penghidupan dan kebenaran. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Ia harus menyaksikan perbuatan yang tercela itu terjadi di hadapan
hidungnya tanpa dapat mencegahnya.
Maka terjadilah pergulatan di dalam dirinya. Pergulatan antara
kesetiaannya kepada Akuwu Tumapel dan kesetiaannya kepada
kebenaran.
Witantra itu menarik nafas dalam-dalam. Diingatnya tiba-tiba
istrinya yang masih muda dan ibunya yang sudah tua. “Hem,” ia
berdesah di dalam hatinya. Orang-orang itu pun harus menjadi
bahan pertimbangannya. Kalau ia menentang perintah Akuwu
Tunggul Ametung, maka akibatnya, ia akan kehilangan pangkat dan
jabatannya Bahkan mungkin ia akan diusir dari Tumapel. Lalu ke
manakah ia akan pergi? Bagaimanakah kemudian dengan istri dan
ibunya? Istri Witantra bukanlah seorang gadis yang dapat
mengalami kesulitan-kesulitan.
Istrinya adalah seorang perempuan yang manja, yang hanya
dapat menikmati kebesaran nama dan jabatannya. Bahkan istrinya
itu bersedia dikawininya, karena Witantra adalah salah seorang
pemimpin prajurit pengawal akuwu. Kalau kemudian ia kehilangan
pangkat dan jabatannya, maka ia pasti akan kehilangan istrinya itu
pula.
Kuda-kuda yang ditumpangi oleh rombongan dari Tumapel itu
berjalan terus. Derap kakinya mengejutkan setiap penduduk
Panawijen. Beberapa orang menjadi gemetar karenanya, dan
beberapa orang mengeluh d dalam hatinya, “Kasihan Empu Purwa.
Gadisnya benar-benar akan hilang ditelan oleh Kuda Sempana.”
Berita tentang kedatangan akuwu itu pun segera menjalar ke
telinga Ki Buyut Panawijen. Dengan debar di dalam dadanya ia
bertanya, “Kau melihat Akuwu sendiri datang?”
“Ya,” sahut orang yang memberitahukan kepada Buyut itu.
“Di manakah Wiraprana?”
“Mungkin di rumah Empu Purwa.”
“Jangan melawan. Usahakan saja untuk menyembunyikan gadis
itu. Cepat!”
“Tetapi orang-orang dari Tumapel itu berkuda. Aku tak akan
dapat mendahuluinya.”
“Cobalah!” berkata Buyut itu, “aku akan segera dalang pula ke
sana.”
Orang itu pun berusaha memenuhi permintaan tetua
padukuhannya. Dengan penuh belas kasihan orang itu berlari
menerobos halaman-halaman rumah tetangga-tetangganya dan
memintasi kebun-kebun yang rimbun. Akhirnya ia sampai juga ke
rumah Empu Purwa sebelum iring-iringan kuda yang harus berjalan
melingkar-lingkar itu datang.
Degan penuh kecemasan, maka segera ia bercerita tentang apa
yang diketahuinya.
Wiraprana dan Ken Dedes menjadi terkejut bukan buatan. Wajah
gadis itu tiba-tiba menjadi pucat dan tubuh Wiraprana bergetaran.
“Apakah mereka sedang menuju kemari?”
“Ya.”
Wiraprana menjadi bingung Dan tiba-tiba ia bergumam, “Kenapa
Agni belum juga pulang. Ternyata ia hanya berbuat menurut
kemauannya sendiri. Ia tidak berpikir tentang kami di sini.”
“Jangan hanya menyalahkan Kakang Agni,” potong Ken Dedes,
“lalu apa yang harus kita lakukan?”
Wiraprana diam sesaat. Kemudian katanya “Pendapat ayah baik
sekali. Mari kita bersembunyi di luar rumah ini.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada
seorang cantrik ia berkata “Katakan bahwa kami tidak ada di rumah.
Sejak kemarin kami meninggalkan rumah ini.”
Cantrik itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baik. Baik
akan kukatakan kepada mereka.”
“Cepat pergilah!” desak emban tua yang masih sangat lemahnya
setelah ia kemarin dicederai oleh Kuda Sempana.
“Tetapi apakah mereka tidak akan mencari kita di seluruh
padukuhan ini,” desah Wiraprana.
“Cepat!” tiba-tiba emban tua itu membentak, “Jangan ributkan
hal yang lain-lain. Bersembunyi.”
Wiraprana tidak membantah. Ia tidak sempat menjadi heran atas
sikap emban yang tiba-tiba menjadi garang itu. Karena itu maka
segera ia melangkah turun dari pendapa.
Tetapi keduanya terlambat. Sebelum mereka mencapai regol
halaman, maka tiba-tiba mereka mendengar derap kuda mendekati
regol itu.
“Cepat kembali!” teriak emban tua itu, “panjatlah dinding
belakang.”
Tetapi Wiraprana tidak sempat berbuat demikian. Sebelum
sempat memutar tubuhnya, maka muncullah seekor kuda yang
tegar dari regol pagar. Seekor, disusul oleh yang lain dan akhirnya
halaman itu pun telah hampir penuh dengan kuda-kuda dan
penunggangnya. Meskipun demikian, di luar regol itu pun masih ada
dua tiga ekor kuda yang di punggungnya duduk prajurit-prajurit
yang sudah siap untuk berbuat apa saja.
Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi lemah seakan-akan
kehilangan segenap tulang belulangnya. Dilihatnya Kuda Sempana
tersenyum di atas punggung kuda dan di sampingnya seorang yang
gagah dengan pakaian gemerlapan.
Tunggul Ametung sesaat diam terpaku. Inikah gadis yang disebut
oleh Kuda Sempana itu? Karena itu, maka terdengar suaranya berat
parau, “Kuda Sempana, adakah gadis ini yang kau sebut-sebut
bernama Ken Dedes?”
Kuda Sempana menarik keningnya. Sahutnya “Dari mana Tuanku
tahu?”
Tunggul Ametung tertawa. “Aku hanya menduga. Gadis ini
adalah gadis yang cantik sekali.”
Sekali lagi Kuda Sempana menarik keningnya. Ketika kemudian ia
memandangi gadis itu, dilihatnya Ken Dedes menjadi pucat sepucat
mayat. Tetapi Kuda Sempana tidak memedulikannya. Dengan
lantang ia berkata, “Atas nama Tuanku Akuwu Tumapel, maka aku
diperintahkan untuk membawa Ken Dedes ke Tumapel.”
Meskipun hal itu sudah diduganya sejak Kuda Sempana itu
memasuki regol halaman, namun kata-kata telah menampar hati
Ken Dedes dan Wiraprana seperti gunung yang runtuh menimpa
dadanya. Tanpa sesadarnya, Ken Dedes itu berpegangan lengan
Wiraprana dengan eratnya seolah-olah tak akan dapat dipisahkan
oleh kekuatan apapun. Namun mereka adalah manusia biasa.
Manusia yang memiliki kekuatan dan ketahanan yang terbatas.
Karena itu, maka mereka tak akan dapat mencegah kekuatankekuatan
yang berat melanda mereka dan menghanyutkan mereka
ke dalam arus yang mengerikan
Kuda Sempana menjadi panas melihat sikap Ken Dedes itu.
Karena itu maka ia membentak sekali lagi, “Ken Dedes. Kali ini
jangan menentang kehendak Akuwu. Meskipun aku sendiri tidak
terlalu bernafsu untuk membawamu serta, sebab kau adalah
seorang gadis pedesaan, namun demikianlah kehendak Akuwu.”
Tidak hanya Wiraprana dan Ken Dedes saja yang terkejut
mendegar kata-kata Kuda Sempana, namun timbullah berbagai
persoalan pula di dalam hati Witantra.
“Kuda Sempana,” tiba-tiba Wiraprana itu berkata dengan suara
yang bergetar, “apakah sebenarnya kehendakmu?”
“Jangan banyak cakap!” potong Kuda Sempana, “kau harus
melepaskan Ken Dedes dan Ken Dedes harus pergi ke Tumapel.”
“Tidak!” bantah Ken Dedes.
“Sekali lagi, jangan menyangkal!” Kuda Sempana menjadi sangat
marah, ia tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, sebab
dengan demikian, maka persoalan yang sebenarnya akan mungkin
didengar oleh Tunggul Ametung. Karena itu maka ia berteriak,
“Wiraprana. Tinggalkan Ken Dedes, atau aku memaksamu?”
Witantra menjadi bingung mendengar nama itu disebut.
Wiraprana sepanjang pengetahuannya berada di rumahnya. Tetapi
tiba-tiba di sini ia berhadapan dengan Wiraprana pula. Namun
sementara itu ia tidak mau memikirkan keanehan itu yang
berputarputar
di dalam kepalanya adalah kekejian Kuda Sempana. Karena itu
maka tiba-tiba kembali memberanikan diri bertanya kepada Tunggul
Ametung, “Tuanku, apakah peristiwa ini Tuanku lakukan atas
permintaan Kuda Sempana itu?”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba akuwu
menjawab, “Ya.”
Dada Witantra berdesir karenanya. Juga Kuda Sempana terkejut
mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia sempat menyahut,
Witantra telah bertanya pula, “Apakah Tuanku telah menimbang
baik buruknya, Akuwu memenuhi pemintaannya?”
“Aku tidak mau dihinanya!” teriak Akuwu itu, sehingga orangorang
yang belum pernah melihat Tunggul Ametung itu menjadi
terkejut sehingga Ken Dedes menjadi gemetar ketakutan.
Witantra itu mendesak terus. Ia sudah terlalu biasa mendengar
Tunggul Ametung berteriak-teriak. Apalagi kini dadanya sedang
dipenuhi oleh perasaan muak atas perbuatan Kuda Sempana
Katanya, “Tuanku, apakah Tuanku yakin, bahwa orang tua gadis itu
pernah menghina Tuanku?”
Tunggul Ametung menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi.
Kemudian ditatapnya wajah Kuda Sempana sambil berkata, “Kuda
Sempana mengatakan itu kepadaku.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada
Kuda Sempana, “Kau berkata sebenarnya Adi?”
“Kakang,” potong Kuda Sempana, “Jangan ikut campur dalam
persoalan ini. Apakah kau akan ikut menghina Akuwu di hadapan
orang Panawijen?”
Sebelum Witantra menjawab, tiba-tiba kata-kata Kuda Sempana
itu mengena sasarannya, sehingga sekali lagi Akuwu itu berteriak,
“He, Witantra, apa kepentinganmu atas persoalan ini? Aku telah
memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Kuda Sempana
mengambil gadis itu. Apa pedulimu?”
Namun Witantra telah tidak dapat menahan lagi sentuhansentuhan
atas rasa keadilannya. Maka dengan tatagnya ia
menjawab, “Akuwu. Hamba adalah seorang prajurit yang selama ini
selalu setia akan tugas-tugas hamba. Namun selama ini hamba
belum pernah melihat Akuwu Tunggul Ametung berbuat tergesagesa
seperti kali ini. Tuanku, kali ini, Tuanku berhadapan dengan
Kuda Sempana dan orang-orang yang dikatakan telah menghina
Tuanku itu. Apakah Tuanku Tunggul Ametung sama sekali tidak
berhasrat untuk menanyakan kebenarannya kepada pihak-pihak
yang bersangkutan?”
“He,” tiba-tiba Akuwu itu menjadi ragu-ragu. Ketika Kuda
Sempana akan menyahut, maka Akuwu itu membentak, “Jangan
berteriak Kuda Sempana. Kata-kata Witantra mengandung
kebenaran.”
“Tetapi Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “orang yang licik itu
akan dapat memutar balik kenyataan, Selain itu, maka bukanlah
hamba telah mengatakan bahwa hamba telah memutuskan untuk
menerima nasib hamba yang malang itu. Namun Tuanku memaksa
hamba untuk melakukan perbuatan ini. Sekarang, apakah hamba
harus menanggung malu untuk yang kedua kalinya, justru karena
perintah Tuanku?”
“He,” kembali Akuwu itu menjadi bimbang. Sesaat kemudian ia
berkata, “Ya, ya. Aku telah memerintahkan kepadamu.”
“Tuanku,” potong Witantra, “Tuanku dapat mencabut setiap
perintah yang hanya berdasarkan keterangan-keterangan yang tidak
benar. Sekarang, apakah perintah Tuanku itu sudah didasari atas
keterangan-keterangan yang benar? Kalau Tuanku mencabut
perintah itu, sama sekali bukan kesalahan Tuanku, namun yang
memberi keterangan itulah yang bersalah.”
Akuwu Tumapel itu menjadi bingung. Namun tiba-tiba sekali lagi
dipandangnya wajah gadis yang berdiri ketakutan di halaman
rumahnya itu. Wajah seorang gadis yang tulus dan wajar, sewajar
gadis pedesaan yang lain. Tanpa pulasan apapun wajah Ken Dedes
telah memancar seperti bulan tanggal setengah.
Semua yang berdiri di halaman itu menjadi tegang. Semuanya
memandang wajah Akuwu Tumapel. Alisnya yang tebal bergerakgerak
tak hentinya.
Tiba-tiba Akuwu itu mengangkat dadanya dan berteriak nyaring,
“Aku lah Akuwu Tumapel. Semua kekuasaan berada di tanganku.”
Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Kuda Sempana, ambil
gadis itu!”
“Tuanku,” potong Witantra.
Namun Tunggul Ametung berteriak lebih keras untuk menutup
segala kemungkinan yang membisiki relung hatinya, “Cepat!
Sebelum aku berubah pendirian.”
Kuda Sempana tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia
meloncat dari kudanya dan berjalan menuju ke arah Ken Dedes
yang gemetar ketakutan.
“Jangan melawan,” bisik emban tua yang cukup makan pahit
asamnya kehidupan, “Ikutlah, sementara kita dapat merencanakan
pertolongan.”
Namun Wiraprana tidak mau mendengarkan nasihat itu. Bahkan
ia bergumam, “Kenapa Agni tidak juga kembali?”
“Jangan ributkan Agni!”
Sementara itu Kuda Sempana menjadi semakin dekat. Di
sekitarnya beberapa orang berkuda memandangnya dengan tegang.
Semuanya seakan-akan menahan nifasnya.
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Apa yang dilihatnya itu,
tak ubahnya seperti apa yang pernah dilakukannya di rimba-rimba
dan di padang-padang. Ia pernah mencegat seorang anak petani
yang sedang pergi mengantarkan makanan buat ayahnya yang
bekerja di sawah. Ia pernah berbuat hal-hal yang serupa dengan
apa yang disaksikannya, meskipun caranya berbeda. Cara yang
pernah dilakukannya adalah cara seorang hantu yang hidup di
padang-padang rumput dan hutan-hutan. Namun kini ia melihat
cara yang lain, cara seorang yang sedang memiliki kekuasaan dan
pedang. Ken Arok itu tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ia pernah
melihat gadis-gadis menjadi ketakutan seperti Ken Dedes pada saat
itu. Dan ia menyesal karenanya. Tetapi ternyata orang-orang yang
dianggapnya terhormat itu pun melakukannya pula.
Tetapi kali ini ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sedang mencoba
mengubah nasibnya. Dan ia belum sempat melihat perkembangan
nasib itu. Karena itu, ia tidak mau berbuat sesuatu yang dapat
melemparkannya kembali ke di padang-padang rumput dan hutanhutan.
Kini Kuda Sempana telah berdiri berhadapan dengan Wiraprana.
Dan Wiraprana itu berkata di dalam hatinya, “Kali ini untuk ketiga
kalinya.”
Tunggul Ametung menjadi sangat marah hatinya ketika ia
melihat seorang anak muda yang mencoba menghalangi Kuda
Sempana. Karena itu maka ia pun berteriak, “He. Siapakah anak
itu?”
“Wiraprana,” sahut Kuda Sempana.
“Pergi jangan halangi Kuda Sempana mengambil gadis itu. Itu
adalah perintah Akuwu Tumapel!”
Tetapi Wiraprana tidak beranjak dari tempatnya, Sehingga Akuwu
Tumapel itu berteriak pula “Witantra Kau adalah alat kekuasaan
Akuwu Tumapel. Singkirkan anak itu!”
Witantra menggigit bibirnya. Sekali lagi terjadi pertempuran yang
sengit di dalam dadanya. Apakah ia harus ikut serta dalam
perbuatan itu?
Karena kebimbangan itu maka ia mendengar sekali lagi Tunggul
Ametung berkata lantang “Witantra apakah kau tuli, he?”
Namun alangkah terkejutnya Tunggul Ametung ketika ia
mendengar Witantra itu menjawab “Tuanku. Aku tidak ikut dalam
perkosaan ini.”
Tunggul Ametung itu tiba-tiba menjadi gemetar karena
marahnya. Belum pernah ia mendengar jawaban yang sedemikian
dari bawahannya. Namun kini Witantra itu menolak melakukan
perintahnya. Karena tiba-tiba ia memutar kudanya menghadap ke
arah prajurit-prajuritnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata
“Tangkap Witantra!”
Namun suara Tunggul Ametung itu benar-benar seperti burung
hantu di padang pasir. Hilang tak berkesan. Tak seorang pun dari
para prajuritnya yang bergerak. Merela menjadi ragu-ragu. Witantra
adalah seorang pemimpin yang mereka segani dan mereka senangi.
Meskipun kadang-kadang Witantra itu sering berbuat terlalu keras,
namun ia dapat tegak pada kewajibannya. Itulah sebabnya maka
para prajurit itu menjadi ragu-ragu.
Sekali lagi dada Tunggul Ametung seperti akan pecah. Namun ia
tidak dapat berbuat apa-apa. Di sini, di tempat yang cukup jauh,
dan ia sendiri berada di antara para prajuritnya itu, muka ia tidak
berani berbuat lebih daripada mengumpat-umpat. Namun ia masih
berbesar hati, bahwa Witantra itu tidak berbuat apa-apa yang dapat
mencegah maksudnya.
Dalam pada itu, Akuwu Tumapel itu masih mendengar Witantra
berkata “Aku akan pergi dari halaman ini. Aku tetap setia kepada
tugasku sebagai seorang prajurit. Namun tidak untuk memerkosa
hak dan peradaban.”
Witantra tidak menunggu Akuwu itu menjawab kata-katanya.
Dengan segera ia memutar kudanya dan pergi keluar halaman.
Beberapa orang tiba-tiba mengikutinya pula. Ke luar halaman.
“Witantra, apakah kau sadari perbuatanmu itu?” teriak Tunggul
Ametung dengan marahnya, “besok aku dapat memerintahkan
menggantung kau di alun-alun. Kau sangka bahwa prajurit Tumapel
hanya terdiri dari pengawalnya saja?”
Witantra menoleh pun tidak. Dan segera ia hilang di balik regol
beserta beberapa orang prajurit. Namun ada di antara mereka yang
menjadi ragu-ragu. Namun ada pula seorang yang berkumis tebal
menjadi gembira melihat perselisihan itu. Dengan membungkukbungkuk
ia menyembah, “Akuwu, biarlah Witantra menolak perintah
Akuwu. Biarlah aku saja yang akan melaksanakan perintah Akuwu.”
“Bagus. Kau akan mendapat pangkat yang baik,” teriak Tunggul
Ametung.
Tetapi terdengar kemudian Kuda Sempana berkata, “Tak perlu
bantuan orang lain. Biarlah anak ini aku selesaikan sendiri.”
Namun ternyata perselisihan di antara mereka telah
membesarkan hati Wiraprana. Mula-mula ia mengharap seseorang
di antara mereka memberinya bantuan. Tetapi ia menjadi kecewa
ketika Witantra itu tidak berbuat sesuatu selain pergi ke luar
halaman. Meskipun demikian, Wiraprana masih mengharap
perkembangan keadaan.
Tetapi kini Kuda Sempana itu telah melangkah maju. Karena itu
maka segera ia melangkah pula maju sambil berkata, “Kuda
Sempana. Apakah kau masih belum juga menyadari keadaanmu?”
Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi langsung ia menampar
mulut Wiraprana. Wiraprana terkejut bukan buatan. Namun
mulutnya telah menjadi panas Dan darah yang merah meleleh dari
sela-sela bibirnya. Perbuatan Kuda Sempana benar-benar telah
membangkitkan kemarahannya. Meskipun baru kemarin ia
dilumpuhkan oleh Kuda Sempana itu. Kini Wiraprana ingin
mendahuluinya. Ia ingin mencoba mengurangi kekuatan Kuda
Sempana. Karena itu tiba-tiba saja Wiraprana itu melompat
menyerang dengan garangnya. Tetapi yang diserangnya adalah
Kuda Sempana. Karena itu dengan lincahnya maka serangan itu
dihindarinya.
Dan malanglah nasib Wiraprana. Kuda Sempana benar-benar
ingin menunjukkan kepada Akuwu Tumapel, bahwa Kuda Sempana
bukanlah pelayan dalam yang hanya mampu melayani keperluan
akuwu itu sehari-hari. Tetapi ia pun tidak kalah tangkasnya dengan
para prajurit yang beberapa orang di antaranya sedang
menontonnya. Karena itu, maka Wiraprana itu pun telah
dijadikannya alat untuk menunjukkan keterampilannya.
Maka kembali mereka berdua berkelahi dengan serunya.
Namun kembali Wiraprana mengalami peristiwa yang
mengerikan. Dengan geramnya Kuda Sempana menyerang anak
muda yang tinggi besar itu dengan tanpa ampun. Hampir segenap
wajah Wiraprana menjadi merah biru.
Sebuah pukulan yang dahsyat telah tepat mengenai dagu
Wiraprana, sehingga wajah itu terangkat, namun Kuda Sempana
telah menyusulnya dengan sebuah pukulan di perutnya. Wiraprana
itu pun menjadi terhuyung-huyung. Tetapi Kuda Sempana tidak
puas. Sekali lagi ia menghantam pipi Wiraprana.
Ketika Wiraprana terdorong ke samping, maka sampailah Kuda
Sempana pada puncak permainannya. Ia tidak mau diganggu oleh
anak mula itu lagi. Sehingga dengan demikian ia benar-benar
berhasrat untuk meniadakan anak muda itu. Demikianlah dengan
garangnya Kuda Sempana meloncat dan memukul tengkuk
Wiraprana dengan sisi telapak tangannya.
Terdengar Wiraprana mengaduh pendek disusul oleh jerit Ken
Dedes. Tetapi suara itu lenyap dalam derai tawa Akuwu Tunggul
Ametung. Dengan bangga Akuwu itu berkata, “He, Kuda Sempana.
Kau tak ubahnya seorang prajurit yang tangguh. Nah. Aku benarbenar
tidak lagi memerlukan Witantra yang gila itu.”
Tetapi kata-kata Akuwu itu tiba-tiba terputus ketika ia melihat
Ken Dedes menjatuhkan diri sambil menangis di atas tubuh
Wiraprana yang diam terbaring di halaman itu.
Akuwu itu kemudian mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dilihatnya
Kuda Sempana berdiri tegak dengan kaki renggang dan dada
tengadah. Namun kemudian dilihatnya pula Ken Dedes mengangkat
wajahnya, menatap kepadanya, kepada Akuwu Tumapel yang
mempunyai kekuasaan tidak terbatas itu, sambil menunjuk mukanya
gadis itu berteriak “Biadab. Biadab. Apakah kau tidak dapat berbuat
sesuatu untuk mencegah perbuatan gila ini?”
Akuwu itu menarik bibirnya ke samping. Matanya yang sebelah
seakan-akan menjadi bertambah sipit. Ia adalah Akuwu yang dapat
berbuat apa saja. Namun gadis itu tidak takut kepadanya, bahkan
mengumpat-umpatinya. Kenapa?
Dan suara gadis itu masih terdengar, “Akuwu Tumapel, apakah
kau tidak melihat kebenaran diinjak-injak di hadapan hidungmu?
Atau kau ikut dalam kebiadaban ini?”
“Hem,” Akuwu itu menjadi semakin heran. Namun tiba-tiba
Akuwu itu pun berteriak tak kalah kerasnya, “Kuda Sempana. Bawa
gadis itu ke Tumapel!”
Kuda Sempana tak menunggu perintah itu diulangi. Dengan
tangkasnya ia meloncat menangkap Ken Dedes. Namun gadis itu
sama sekali tidak membiarkannya. Karena itu ia berusaha melawan.
Namun ia sama sekali tidak berdaya.
Matahari di langit memancar dengan teriknya. Selembar awan
yang Putih hanyut dalam arus angin yang lembut. Ketika Witantra
mengangkat wajahnya, dilihatnya dalam lembaran langit yang biru,
burung beterbangan dengan lincahnya. Bebas lepas di udara.
Namun tiba-tiba dilihatnya seekor elang yang berputar-putar untuk
mencari mangsanya.
Witantra menarik nafas dalam . Terjadilah suatu pergolakan di
dalam dadanya. Pergolakan yang hampir meledak. Namun ia tidak
akan dapat mencegah perbuatan yang terkutuk itu. Ia harus puas
dengan menyingkirkan dirinya, mencuci tangannya.
“Aku tidak turut melakukannya,” desahnya.
Ia terkejut ketiga ia melihat beberapa ekor kuda berlari keluar
halaman. Kencang sekali seperti angin. Sekali lagi Witantra menarik
nada. Dibiarkannya kuda itu berlari. Ketika ia berpaling ia masih
melihat beberapa orang prajurit berada di sekitarnya. Bahkan ia
melihat seorang prajurit yang hampir seluruh wajahnya ditumbuhi
rambut yang lebat bertubuh tegap kekar dengan sebatang tombak
di tangannya sedang menundukkan wajahnya. Ketika Witantra
melihat wajah prajurit itu, ia terharu juga. Prajurit yang dikenal
sebagai alap-alap dalam medan peperangan itu menitikkan air mata.
“Kenapa kau?” bertanya Witantra
“Aku juga punya seorang anak gadis.”
Witantra menarik nafas. Ia hanya dapat melakukan itu, menarik
nafas dan mengeluh. Prajurit itu pun tersinggung rasa keadilannya
seperti dirinya. Namun seperti dirinya, prajurit itu tidak dapat
berbuat apa.
Witantra tidak dapat untuk membiarkan kudanya berdiri saja di
situ, sehingga kemudian dengan hati yang kosong ia menarik
kekang kudanya dan jalan searah dengan kuda-kuda yang
terdahulu,
Tetapi tiba-tiba Witantra itu terhenti. Seorang perempuan tua
memegangi kakinya dengan eratnya.
“Kenapa?” bertanya Witantra dengan nada kosong.
“Apakah tuan tidak dapat membantu kami?” tangis perempuan
tua itu.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Membebaskan Ken Dedes.”
Witantra itu pun tergetar hatinya Namun yang dihadapinya
adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu mata dengan berat hati
ia menggeleng, “Sayang aku tidak akan dapat berbuat sesuatu.”
“Tuan, bukanlah tuan bersenjata seperti orang-orang yang telah
merampas gadis itu?”
“Tetapi orang-orang itu di antaranya adalah Akuwu Tumapel.”
“Jadi apakah seorang akuwu boleh berbuat sewenang-wenang?”
Witantra terdiam. Ia benar-benar tidak dapat menjawab
pertanyaan itu. Tetapi, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Karena
itu sekali lagi ia menggeleng, “Sayang. Aku tidak dapat
menolongmu.”
Perempuan tua itu menjadi putus asa. Dilepaskannya kaki
Witantra. Namun terdengar ia bergumam, “Tuan, aku, perempuan
tua ini, akan menjadi saksi, bahwa di sini telah terjadi perkosaan
atas kemanusiaan oleh kekuasaan. Di sini telah terjadi noda-noda
yang hitam yang mengotori kekuasaan Akuwu Tumapel.”
Witantra itu pun menundukkan wajahnya. Bahkan ia bergumam
di dalam hatinya, “Kau benar Bibi tua. Di sini telah terjadi
perkosaan
atas sendi-sendi peradaban dan kemanusiaan oleh kekuasaan yang
berada di tangan Akuwu Tunggui Ametung”
Witantra itu pun kemudian tidak tahan lagi ketika ia melihat
perempuan itu menangis. Karena itu, maka kemudian ia
menggerakkan kudanya dan berlari menjauhi tempat yang telah
menggoreskan suatu kenangan di dalam hatinya. Kenangan yang
suram dari sejarah Tumapel.
Jauh di hadapan Witantra itu, beberapa ekor kuda berlari
kencang sekali seperti angin. Mereka adalah Kuda Sempana,
Tunggul Ametung dan beberapa orang pengiring. Mereka adalah
orang-orang yang telah kehilangan kesadaran diri mereka, sehingga
bersama mereka itu, mereka bawa Ken Dedes yang sedang pingsan.
Debu yang putih mengepul tinggi. Debu yang dilemparkan oleh
berpasang kaki kuda itu. Di paling depan, Kuda Sempana berpacu
sambil membawa seorang gadis yang telah dirampasnya. Sedang di
belakangnya Akuwu Tunggul Ametung memegangi kendali kudanya
dengan eratnya. Namun wajahnya kini tiba-tiba menjadi suram.
Setelah dilihatnya gadis yang bernama Ken Dedes itu, tiba-tiba
timbullah sesuatu di dalam benaknya. Gadis itu hanya seorang gadis
yang hidup di dalam sebuah padukuhan kecil. Namun terasa di
dalam tatapan matanya, sesuatu yang tidak ada pada gadis
kebanyakan. Akuwu itu sama sekali tidak tahu. Apakah yang lain
pada gadis itu. Bahwa gadis itu adalah seorang gadis yang cantik
sekali, akuwu itu tidak dapat memungkirinya. Sejak ia memandang
wajah itu untuk pertama kali hatinya telah terguncang dan berkata,
“Ken Dedes adalah gadis yang cantik sekali.”
Tetapi, bukan kecantikannya itu sajalah yang telah
menggerakkan Akuwu Tunggal Ametung. Ada yang lain. Namun ia
tidak tahu, apakah yang lain itu.
Demikianlah, maka terjadi pula sesuatu yang seakan-akan
mendidih di dalam hati Tunggul Ametung. Sesuatu yang tidak
diketahui ujung pangkalnya. Sebagai seorang akuwu, ia mempunyai
kesempatan yang jauh lebih besar dari orang-orang lain sebayanya.
Tetapi Tunggul Ametung itu sama sekali belum berhasrat untuk
kawin. Tiba-tiba kini ia melihat sesuatu yang dapat
mengguncangkan hatinya. Ken Dedes. Kecantikannya dan sesuatu
yang tak dapat dimengertinya yang seakan-akan memancar dari
wajahnya.
Ketika Akuwu Tumapel itu mengangkat wajahnya, dilihatnya
Kuda Sempana berpacu di hadapannya. Tiba-tiba terasa ia menjadi
muak melihat keangkuhan sikap Kuda Sempana. Baru beberapa saat
ia berusaha memenuhi permintaan pelayannya itu, namun kini
terasa bahwa ia menyesal karenanya. Tetapi ia tidak dapat
menemukan apakah sebenarnya yang bergolak di dalam dirinya itu.
Awan di langit selembar-selembar mengalir ke utara. Seperti
belasan daun-daun raksasa yang terapung hanyut di wajah lautan
yang biru bersih. Matahari yang cerah memancarkan sinarnya
membakar kulit, sehingga peluh yang hangat membasahi seluruh
tubuh. Debu-debu yang dilemparkan dari kaki-kaki kuda itu pun
satu-satu melekat pada kulit-kulit mereka yang telah basah itu.
Tunggul Ametung mengusap wajahnya dengan tangannya. Ketika
ia mengangkat wajahnya, tiba ia terkejut. Di hadapannya dilihatnya
segumpal debu yang meloncat ke udara.
Dada Akuwu itu pun menjadi berdebar-debar pula karenanya.
Tetapi kemudian ia menarik nafas. “Itu pasti anak gila adik
Witantra,” katanya di dalam hati.
Namun belum lagi ia berkata apapun juga kepada pengiringnya
maka Akuwu itu pun terkejut ketika Kuda Sempana memperlambat
kudanya.
“Kenapa he?” teriak Tunggul Ametung.
“Kuda itu,” sahut Kuda Sempana.
Kini Akuwu itu pun melihat, bahwa kuda itu sama sekali bukan
Kuda Mahendra. Dan anak muda yang duduk di punggung kuda itu
pun sama sekali bukan Mahendra.
“Kenapa dengan kuda itu?” kembali Tunggul Ametung bertanya.
Kuda Sempana diam sesaat. Kemudian jawabnya, “Anak muda
itu adalah kakak Ken Dedes.”
“He,” Tunggul Ametung itu berteriak. Namun kemudian ia
berkata “Apakah ia akan membuat persoalan?”
“Tentu. Anak itu anak gila,” jawab Kuda Sempana.
Akuwu itu pun kemudian berpaling. Dilihatnya prajurit yang
berkumis tebal tersenyum sambil mengangguk. Meskipun akuwu itu
belum berkata apapun juga, namun prajurit itu pun menyembah,
“Ampun Tuanku. Jangan cemas. Biarlah hamba selesaikan anak itu.”
Tunggul Ametung tertawa. “Bagus. Percepat kudamu singkirkan
anak itu.”
Prajurit yang berkumis tebal itu mengangguk sambil tertawa
kemudian ia mendului Tunggul Ametung dan Kuda Sempana. Ia
berpaling ketika ia mendengar Kuda Sempana berkata, “Hati-hatilah
dengan anak muda itu.”
Prajurit itu tertawa semakin keras dan menjawab, “Apakah anak
Panawijen itu berbahaya?”
“Ya,” jawab Kuda Sempana.
Prajurit itu tertawa terbahak-bahak . Anak pedesaan itu pasti
hanya mampu memanggul cangkul dan bertanam ubi. Karena itu
maka segera ia memacu kudanya menyongsong Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni telah benar-benar seperti anak yang
kerasukan setan. Dari kejauhan ia melihat debu yang mengapung
tinggi dan beberapa orang berkuda berlari kencang. Kemudian di
lihatnya seseorang yang berkuda paling depan membawa gadis
bersamanya. Cepat Mahisa Agni mengetahui, bahwa pasti itulah
Kuda Sempana. Namun jumlah pengiringnya tidak sebanyak yang
dikatakan Mahendra kepadanya.
Namun apa yang dilihatnya itu benar-benar telah membakar
jantungnya, sehingga ia sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan,
siapakah yang akan dihadapinya. Apakah ia akuwu yang berkuasa di
Tumapel, atau bahkan seandainya Maharaja dari Kediri sekali pun.
Karena itu, ketika ia melihat seorang berkuda mendahului
rombongan Kuda Sempana itu, hatinya semakin menyala. Pasti
orang inilah yang akan mencoba melawannya. Karena itu, maka
segera ia pun memacu kudanya pula.
Jarak mereka berdua, Mahisa Agni dan prajurit berkumis tebal itu
semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian Mahisa
Agni dapat melihat, bahwa Prajurit itu tertawa- tawa, seakan-akan
seorang anak sedang menyongsong permainan yang lucu, oleh-oleh
bapanya dari rantau. Dengan demikian, Mahisa Agni menjadi
semakin marah. Tidak ada kemungkinan lain padanya, daripada
melumpuhkan prajurit itu.
Akhirnya Mahisa Agni itu pun menjadi semakin dekat. Prajurit
berkumis tebal itu menghentikan kudanya sambit berteriak, “He,
berhenti!”
Mahisa Agni sama sekali tidak mau berhenti, bahkan ia berteriak,
“Minggir! Kalau tidak, aku injak kepalamu.”
Prajurit itu benar-benar terkejut mendengar jawaban Mahisa
Agni. Ia sama Sekali tidak menyangka bahwa ia akan mendapat
jawaban yang sangat mewakilkan hati. Maka katanya di dalam hati,
“Apakah anak itu benar-benar gila?”
Tetapi ia tidak sempat bertanya-tanya lagi. Mahisa Agni sudah
sedemikian dekatnya. Karena itu, maka segera ia menyilangkan
kudanya untuk menahan Mahisa Agni.
Kuda Mahisa Agni terkejut melihat kuda yang tiba-tiba saja
menyilang jalan. Mahisa Agni pun segera menarik kekangnya,
sehingga kuda itu tegak pada kedua kali belakangnya. Untunglah
bahwa Mahisa Agni tidak terlempar karenanya. Namun hal itu telah
menjadikannya semakin marah. Mahisa Agni sama sekali tidak
berkata apapun lagi. Segera ia memutar kudanya dan menyerang
prajurit berkumis tebal itu. Tetapi Prajurit itu pun telah
mempersiapkan diri, karena itu maka segera ia mengelakkan
serangan Mahisa Agni itu.
Namun prajurit itu benar-benar tidak menyangka, bahwa anak
Panawijen itu mampu bergerak sedemikian cepatnya, sehingga
hampir-hampir ia terlambat. Meskipun demikian, masih juga terasa
tangan Mahisa Agni itu menyentuh rambutnya, sehingga terasa
dadanya bergetar karenanya.
“Gila!” prajurit itu mengumpat. Tetapi ia tidak dapat mengumpat
terus. Mahisa Agni telah mengulangi serangannya, bahkan lebih
keras dari serangannya yang pertama.
Prajurit itu terpaksa menarik diri sambil memutar kudanya.
Dengan demikian sekali lagi ia dapat membebaskan diri dari
serangan Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni yang marah itu sama
sekali tidak memberinya kesempatan. Berkali-kali ia menyambar dari
atas kudanya seperti seekor burung rajawali yang bertempur di
udara. Sehingga sesaat kemudian segera tampak bahwa prajurit itu
hampir tidak berdaya menghadapinya.
Tunggul Ametung dan Kuda Sempana berhenti beberapa puluh
langkah dari perkelahian itu. Wajah akuwu itu pun kemudian
menjadi cemas. Ternyata Akuwu Tumapel segera dapat
mengetahui, bahwa prajuritnya yang sombong itu, sama sekali tidak
berdaya menghadapi lawannya.
Sekali Tunggul Ametung itu berpaling. Dadanya berdesir ketika
Witantra tidak nampak mengiringkannya. Ia percaya betul akan
kekuatan Witantra itu, namun kini anak madu itu tidak mau ikut
serta bersamanya. Karena itu, maka ia sesaat menjadi bimbang.
Meskipun Tunggul Ametung sendiri tidak akan takut menghadapi
siapa pun. Namun harga dirinya masih mencegahnya. Seorang
akuwu yang berkuasa, apakah harus menangani sendiri seorang
lawan yang tidak lebih dari anak pedesaan? Sedang ia tidak akan
dapat memerintahkan Kuda Sempana untuk melawan anak gila itu,
sebab Kuda Sempana sedang memegangi Ken Dedes yang pingsan.
Ketika sekali lagi Tunggul Ametung berpaling dilihatnya di
belakangnya beberapa orang diam kaku di atas kuda mereka.
“Tiga orang kecuali Kuda Sempana, aku sendiri dan prajurit yang
bertempur itu,” desisnya di dalam hati.
Tiba-tiba Kuda Sempana itu tersenyum ketika dilihatnya Ken Arok
memandangi perkelahian itu dengan tegang. Dan tiba-tiba pula
Tunggul Ametung itu memanggilnya, “He, kau, kemari!”
Ken Arok terkejut. Namun ia mendekat juga.
“Aku melihat beberapa keanehan dalam dirimu. Tetapi aku belum
pernah melihat kau berkelahi. Apakah kau dapat juga berkelahi?”
Jantung Ken Arok benar-benar terguncang. Anak muda itu adalah
Mahisa Agni yang dikenalnya dengan baik. Namun kini, apakah ia
harus berkelahi dengan Mahisa Agni itu. Dahulu ia pernah juga
berkelahi melawannya, namun selagi otaknya masih gelap. Kini ia
telah berusaha untuk berbuat menurut nasihat-nasihat yang baik.
Tetapi kenapa tiba-tiba ia masih harus mengulangi perbuatannya
itu. Berkelahi. Apalagi melawan Mahisa Agni.
Karena itu maka untuk sesaat Ken Arok itu menjadi bimbang, dan
dengan demikian ia tidak segera menjawab. Akuwu Tumapel itu pun
mengerutkan keningnya, dan kemudian membentaknya “He, Ken
Arok. Apakah kau tuli atau bisu?”
“Ampun Tuanku,” jawab Ken Arok tergagap.
Sementara itu Tunggul Ametung melihat prajurit yang berkumis
tebal itu telah terlempar dari kudanya, jatuh terbanting di atas
tanah, tampaklah betapa wajahnya menjadi pucat, dan mulutnya
menyeringai menahan sakit. Meskipun demikian ia masih mencoba
berdiri. Namun Mahisa Agni yang marah datang menyerangnya
dengan garang. Sebuah pukulan bersarang di wajahnya, dan
prajurit yang berkumis tebal itu sekali lagi terlempar dan jatuh
berguling ke dalam parit. Oleh karena itu, maka jiwanya telah
tertolong karenanya. Sebab Mahisa Agni yang benar telah
kehilangan segala pertimbangannya itu ingin melanda prajurit itu
dengan kudanya dan menginjaknya. Tetapi karena ia terbaring di
dalam parit, maka kuda Mahisa Agni tidak dapat mencapainya
dengan mudah.
Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berteriak, “Ken Arok.
Lawanlah anak gila itu!”
Ken Arok benar-benar tidak dapat berbuat lain daripada menaati
perintah itu. Tetapi sebenarnya hatinya menjadi sangat kecewa.
Benar-benar kecewa. Dengan demikian maka kehidupan di dalam
rimba yang pernah dialaminya, kini terpaksa terulang kembali.
Perampasan dan perkelahian. Ken Arok pernah melihat seekor
harimau merampas anak seekor kijang yang lemah. Dan kijang itu
tidak dapat berbuat apa-apa selain melarikan diri. Ia sendiri
pernah
mencegat dan merampas milik orang di padang Karautan. Dan
orang-orang itu tidak berdaya untuk mempertahankannya. Kini
setelah ia berada di lingkungan orang-orang yang terhormat dan
berkuasa, maka pekerjaan itu harus diulangnya. Merampas dan
berkelahi.
Dengan hati yang berat, Ken Arok itu mendorong kudanya maju
beberapa langkah. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekati
Mahisa Agni yang sedang marah bukan buatan.
Ketika Mahisa Agni itu melihat Ken Arok, maka ia pun terkejut
bukan kepalang. Bahkan dengan serta-merta ia berteriak, “Kau Ken
Arok. Kau turut dalam perampokan ini pula?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Hatinya terguncang
mendengar pertanyaan itu, sehingga ia tidak segera dapat
menjawabnya.
Mahisa Agni pun bergeser maju mendekati Ken Arok itu. Betapa
marahnya hati anak muda itu. Dan tiba-tiba ia berhadapan dengan
seorang yang pernah dikenalnya. Karena Ken Arok tidak segera
menjawab, maka Mahisa Agni itu berkata pula, “He, Ken Arok.
Apakah kau termasuk dalam gerombolan itu pula?”
“Agni,” jawab Ken Arok perlahan, “jangan menuduh aku
demikian. Kau harus tahu, siapakah aku dan siapakah yang
melakukan perampasan itu. Aku tidak mempunyai pilihan lain, sebab
aku adalah seorang hamba.”
“Ha,” sahut Agni, “Apakah arti kata-katamu dahulu? Apakah kau
kini berdiri di jalan yang sempit yang akan sampai ke gerbang
kedamaian abadi? Apakah kau telah menghindarkan dirimu dari
jalan yang lebar dan halus, namun akan sampai pada pusar
kehancuran?”
Ken Arok tiba-tiba menundukkan wajahnya. Namun ia terkejut
ketika ia mendengar Akuwu Tumapel berteriak, “Ken Arok.
Pecahkan kepalanya. Atau kau aku gantung di alun-alun.”
Ken Arok itu mengangkat wajahnya. Desahnya, “Agni aku tidak
dapat berbuat lain.”
“Bagus,” sahut Agni lantang, “aku sudah menyangka, betapapun
kau mencoba membersihkan dirimu, tetapi kau sebenarnya adalah
seorang pembunuh. Di manapun kau berada, dalam kesempatan
apapun, maka kau akan kembali ke jalan yang kotor itu. Kalau kau
telah pernah mencoba mencuci tanganmu yang kau kotori dengan
darah korbanmu di sepanjang hutan Karautan, maka sekarang
kotori tanganmu dengan darahku, dengan darah adikku itu, Ken
Dedes.”
“Agni,” Ken Arok itu berteriak keras-keras, “Cukup! Cukup!”
“Tidak!” sahut Agni tidak kalah kerasnya, “kau harus becermin.
Kau harus melihat wajahmu itu. Wajah yang dipenuhi oleh kotoran
duniawi. Huh. Apakah seorang pendeta yang kau katakan bernama
Lohgawe itu mendidikmu untuk membunuh, merampok dan
memerkosa dengan cara yang terhormat ini.”
“Cukup! Cukup!” Wajah Ken Arok itu tiba menyala, dan
digesernya kudanya beberapa langkah maju. Tetapi Mahisa Agni
pun benar-benar sudah siap. Ia kini bukan Mahisa Agni yang
bertempur di padang rumput Karautan itu. Namun sebenarnya Ken
Arok itu pun bukan Ken Arok yang berada di padang itu pula.
Dengan bekal kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya sejak ia
dilahirkan, ia telah menerima beberapa tuntunan dalam tata
perkelahian. Dan karena tuntunan yang sedikit itu saja, Ken Arok
benar-benar menjadi seorang anak muda yang luar biasa.
Tetapi ketika ia telah benar-benar berhadapan dengan
pandangan mata Mahisa Agni yang tajam, tiba-tiba disadarinya akan
dirinya. Bahkan dikenangnya, waktu Mahisa Agni menjadi seperti
orang gila berteriak di padang rumput menantangnya. Kenapa
waktu itu ia tidak menjadi marah, dan bahkan ia dapat meredakan
kemarahan anak muda itu?
Kini kembali ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Ken Arok. Kalau
kini kita bertempur, maka bertanyalah kepada hati nuranimu.
Siapakah yang berpijak pada kebenaran seperti yang pernah kau
impikan.”
Tiba-tiba Ken Arok itu menggeleng. Wajahnya menjadi suram.
Dan ia pun berbisik, “Agni. Kalau kau akan membinasakan aku,
binasakanlah. Aku harus melawanmu. Tetapi percayalah, aku tidak
akan bertempur sungguh-sungguh. Aku harus menghalangimu,
meskipun tidak demikian kata hatiku. Kau berada di atas kebenaran,
sedang aku berada dalam kesulitan-kesulitan karena kedudukanku.
Nah. Terserahlah kepadamu.
“Jangan banyak ribut, aku sudah siap.”
“Jangan berteriak-teriak. Aku sudah menyerah, meskipun aku
harus bertempur.”
Mahisa Agni yang marah itu tidak sabar lagi. Apapun yang akan
dilakukan oleh Ken Arok, namun ia harus menyingkirkan semua
orang yang mencoba menculik Ken Dedes itu.
Ketika sekali Mahisa Agni itu mengerling ke arah Kuda Sempana,
maka nyala di dalam hatinya seakan-akan tersiram minyak,
sehingga melonjaklah api yang memanasi dadanya.
Dengan serta-merta Mahisa Agni itu meluncur dengan
dahsyatnya, langsung menghantam pelipis Ken Arok. Namun
dengan gerak naluriah Ken Arok menghindarkan dirinya, sehingga
Mahisa Agni itu seakan-akan terbang di sampingnya. Cepat Ken
Arok mengangkat tangannya dan sebuah ayunan yang keras
mengarah ke tengkuk Agni. Namun tiba-tiba tangan itu seakan-akan
tersentak, sehingga ketika tangan itu benar-benar menyentuh tubuh
Agni yang terdorong oleh kekuatan tangannya dan kemarahan yang
meluap-luap, serta kecepatan bergerak Ken Arok yang seperti tatit,
maka sentuhan itu benar-benar tidak berarti. Ken Arok menahan
sekuat-kuatnya, untuk tidak melukai lawannya. Namun Mahisa Agni
merasakan sentuhan itu seperti pernah dirasakannya. Sentuhan
hantu padang rumput Karautan. Namun kini, gerak Ken Arok benarbenar
mencerminkan kematangan gerak dalam unsur yang teratur.
Karena itu, maka dada Mahisa Agni berdesir karenanya. Hantu itu
tidak lagi berbuat sekasar pada saat ia pertama kali bertemu.
Sehingga dengan demikian, kekuatan- kekuatan yang ada di dalam
tubuh Ken Arok sejak ia dilahirkan, dilambari dengan kecepatan
gerak yang mengagumkan, maka Ken Arok benar-benar seorang
yang memiliki kemampuan yang luar biasa.
Mahisa Agni yang marah itu benar-benar tidak dapat melihat
kemungkinan-kemungkinan lain daripada bertempur mati-matian.
Bahkan dengan penuh kemarahan ia berteriak “Ayo, kenapa kalian
tidak maju bersama-sama.”
Ken Arok menarik nafas. Ia bersiap kembali ketika kuda Mahisa
Agni berputar, dan kembali sebuah serangan melandanya. Namun
kali ini, Ken Arok benar-benar menjadi terkejut. Mahisa Agni itu
sama sekali tidak menyerang tubuhnya, namun tiba-tiba anak muda
itu langsung meloncat dari kudanya, dan menghantamkan tubuhnya
kepadanya. Sehingga dengan demikian maka Ken Arok pun
kehilangan keseimbangannya, dan keduanya jatuh berguling dari
atas kuda mereka. Namun sesaat kemudian mereka telah bangkit
kembali. Bahkan masing-masing telah bersiap dalam sikap yang
meyakinkan-
Tunggul Ametung yang melihat perkelahian itu mengerutkan
keningnya. Perkelahian itu benar-benar menarik perhatiannya,
sehingga untuk sesaat dilupakannya Kuda Sempana yang duduk di
atas kudanya dengan tegang. Berbagai perasaan timbul di dalam
benak Kuda Sempana itu. Ia ingin perjalanannya tidak terganggu.
Namun anak muda itu menjadi iri melihat kelincahan Ken Arok.
Sebab apabila Akuwu Tumapel itu benar-benar tertarik melihat
keterampilan anak muda itu, maka kedudukan pelayan baru itu akan
menjadi semakin baik di sampingnya. Bahkan Kuda Sempana itu
takut bahwa perhatian Tunggul Ametung akan seluruhnya tercurah
kepada Ken Arok itu. Namun apabila Ken Arok itu tidak dapat
memenangkan perkelahian itu, maka ia sendiri harus berhadapan
dengan Mahisa Agni. Dan ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat
mengalahkannya.
Dalam pada itu, perkelahian antara Mahisa Agni .dan Ken Arok
itu pun menjadi semakin sengit. Mahisa Agni benar-benar telan
mengerahkan segenap kemampuannya. Ditumpahkannya semua
kecakapan yang dimilikinya. Namun lawannya pun memiliki
kelincahan yang luar biasa. Apalagi, kembali pengalamannya
berulang. Tubuh Ken Arok itu benar-benar seperti menjadi kebal.
Betapapun juga, ia berhasil mengenainya dengan segenap
kekuatan, dan bahkan sekali ia berhasil melemparkan anak muda
itu, namun kembali Ken Arok meloncat bangkit dan bertempur
selincah burung sriti yang menyambar di udara. Tetapi karena
kemarahan yang telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, Mahisa
Agni sama sekali tidak melihat, bahwa Ken Arok telah melewatkan
berpuluh puluh kesempatan yang akan dapat melumpuhkan Mahisa
Agni itu. Setiap kali serangannya akan berhasil, maka dengan tanpa
disadarinya Ken Arok itu menjadi bingung, sehingga serangannya itu
menjadi urung. Dan bahkan kadang-kadang dengan serta-merta
tangannya yang tepat mendarat ke tengkuk lawannya itu,
digesernya beberapa jari, sehingga hanya menyentuh pundaknya.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi tidak sabar lagi. Ketika
mereka telah bertempur beberapa saat, dan Mahisa Agni merasa
bahwa ia tidak akan berhasil melumpuhkan lawannya, maka tidak
ada alasan yang dapat menahan dirinya, mempergunakan ilmunya
yang tertinggi Gundala Sasra. Ilmu simpanan yang seharusnya tidak
dipancarkan apabila keadaan tidak memaksa. Tetapi kini ia
berhadapan dengan kekuatan di luar kemampuannya untuk
melawan dengan tenaganya yang wajar. Karena itu, maka tidak ada
cara lain untuk menyelamatkan Ken Dedes, selain ilmunya itu.
Karena itu, maka dengan cepatnya Mahisa Agni meloncat surut.
Dengan serta-merta disilangkannya tangannya di muka dadanya
dan dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batin, untuk
menyalurkan getaran di dalam dadanya dalam ilmunya Aji Gundala
Sasra.
Ken Arok melihat sikap Mahisa Agni itu. Terasa sesuatu berdesir
di dalam dadanya. Segera ia pun mengerti, bahwa Mahisa Agni
sedang memusatkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Ken
Arok itu pun sadar, bahwa ia harus menghadapi kekuatan yang pasti
bukan main dahsyatnya.
Sesaat Ken Arok itu tegak mematung. Namun kemudian tampak
ia memiringkan tubuhnya. Ia sudah berjanji di dalam dirinya, bahwa
ia sama sekati tidak berhasrat memenangkan perkelahian itu. Ia
sudah bertempur dan ia sudah melakukan kewajibannya. Kalau
kemudian ia dikalahkan oleh lawannya adalah kemungkinan yang
wajar, sewajar kalau ia memenangkan pertempuran itu, atau
sewajar kalau perkelahian itu berakhir dengan luluhnya kedua belah
pihak. Sebab memang hanya ada kemungkinan itu yang dapat
terjadi. Kalah, menang atau bersama-sama menjadi lumpuh.
Dengan demikian, maka Ken Arok itu pun segera mempersiapkan
diri untuk menerima kedahsyatan ilmu lawannya. Dibangkitkannya
segenap daya tahan di dalam tubuhnya menurut petunjuk yang
pernah diterimanya. Namun tenaga yang tersimpan itu terlalu
banyak, sehingga tubuh Ken Arok itu tiba-tiba seakan-akan telah
berubah menjadi sebuah patung baja. Namun sama sekali tak
terlintas di dalam otaknya untuk mencederai Mahisa Agni. Ia
berbuat demikian hanya sekedar untuk tidak mati meskipun
seandainya ia terluka.
Namun sebenarnyalah bahwa Ken Arok itu mempunyai beberapa
keanehan yang tidak dimiliki orang lain, dan bahkan tidak
disadarinya sendiri.
Tetapi kemudian terjadilah hal yang tidak disangka-sangka.
Selagi Mahisa Agni sedang membangunkan kekuatan yang berada di
dalam tubuhnya, dan selagi kekuatan itu masih belum sempurna,
tiba-tiba Mahisa Agni itu mengeluh pendek. Selangkah ia terdorong
ke depan, dan kemudian terhuyung-huyung ia memutar tubuhnya.
Terdengarlah suaranya menggeram, “Curang!”
Bukan saja Mahisa Agni menjadi sangat terkejut, namun Ken
Arok pun menjadi terkejut bukan buatan. Ketika ia memandang
punggung Mahisa Agni, maka dilihatnya darah mengalir dari sebuah
luka. Dan pada luka itu masih menancap sebatang anak panah.
Darah Ken Arok itu pun tiba-tiba menggelegak melihat peristiwa
itu. Hilanglah segala suba sita, dan hilanglah segala akal dari
kepalanya. Ia melihat suatu yang sama sekali tidak adil. Karena itu
dengan serta-merta Ken Arok itu meloncat ke arah prajurit yang
berdiri di tepi parit. Ternyata prajurit itu telah berhasil
menguasai
dirinya kembali, dan dengan panah berburunya ia telah melukai
punggung Mahisa Agni.
Namun ia menjadi sangat terkejut ketika Ken Arok itu tiba-tiba
meloncat ke arahnya dengan wajah yang menyala-nyala.
Pada saat itu pun Ken Arok sedang membangunkan kekuatan
yang ada pada dirinya. Meskipun cara-cara yang dipakainya berbeda
dengan cara-cara yang lazim, namun ternyata anak muda itu telah
berhasil pula. Karena itu, maka kekuatannya seakan-akan menjadi
berlipat-lipat. Daya loncatnya pun menjadi jauh lebih panjang
dibandingkan dengan saat-saat yang wajar. Karena itu segera ia
mencapai prajurit yang curang itu.
Semua orang menjadi terkejut bukan kepalang. Bahkan jantung
mereka seakan-akan membeku, ketika mereka melihat apa yang
kemudian terjadi. Akuwu Tunggul Ametung, Kuda Sempana dan
bahkan Mahisa Agni sendiri. Dengan serta-merta, Ken Arok itu
menghantam dada orang berkumis tebal itu sambil menggeram,
“Setan yang licik.”
Tetapi prajurit itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Ia
memang mencoba menahan pukulan Ken Arok itu dengan kedua
belah tangannya. Namun ternyata akibatnya nggerisi. Terdengar
prajurit berkumis tebal itu berteriak, dan disusul dengan derak
tulang-tulang patah. Tulang tangannya dan beberapa tulang iganya.
Tangan Ken Arok yang marah itu seakan-akan berubah menjadi
segumpal besi yang menghantam dada prajurit berkumis tebal itu,
sehingga prajurit yang malang itu kemudian terlempar beberapa
langkah, terbanting di tanah, dan mati seketika itu juga.
Kuda Sempana yang melihat peristiwa itu, menjadi sangat cemas.
Ia menjadi tidak mengerti sama sekali, apakah sebenarnya yang
sedang dilakukan oleh Ken Arok itu. Apakah ia sedang membela
kepentingannya melawan Mahisa Agni, atau apa? Ternyata anak
muda itu menjadi sangat marah ketika ada orang lain yang
membantunya. Apakah hanya sekedar karena harga dirinya
dilanggar dengan memberikan bantuan itu”
Ternyata bukan saja Kuda Sempana yang menjadi bingung
Akuwu Tumapel itu pun melihat semua peristiwa itu dengan wajah
yang tegang. Bahkan akhirnya ia menjadi curiga, apakah Ken Arok
sebenarnya tidak berpihak kepada Mahisa Agni. Sebagai seorang
yang cukup memiliki ilmu yang tinggi, Akuwu Tunggul Ametung
telah menyimpan beberapa keraguan ketika ia melihat cara Ken
Arok bertempur. Apalagi kini ia melihat apa yang dilakukan oleh Ken
Arok itu. Karena itu, tiba-tiba tangannya meraba pelana kudanya
dan disentuhnya tangkai pusakanya. Sebuah tongkat penggada
yang terbuat dari besi yang berwarna kuning menyala. Pusaka yang
luar biasa, yang tak pernah terpisah daripadanya. Ketika terasa
pada jari-jarinya sentuhan tangkai pusakanya itu, maka Tunggul
Ametung itu pun menjadi tenang. Ia percaya betul bahwa tak ada
manusia di dunia yang mampu mempertahankan dirinya melawan
pusaka itu.
Namun Tunggul Ametung itu masih tetap tidak berbuat sesuatu.
Bahkan ia sependapat ketika Kuda Sempana berkata, “Tuanku,
marilah kita mendahului mereka kembali ke Tumapel.”
Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi segera kudanya
dikejutkannya. Dan dengan satu loncatan panjang, maka kuda itu
pun mulai berpacu diikuti oleh Kuda Sempana.
Mahisa Agni terkejut melihat kuda-kuda yang berlari itu. Dengan
suara yang serak parau ia berteriak, “Kuda Sempana. Berbuatlah
sebagai jantan sejati!”
Tetapi Kuda Sempana tidak mau mendengarnya. Kudanya berlari
semakin kencang. Mahisa Agni yang terluka itu menjadi bingung.
Ketika ia mencoba untuk berlari ke kudanya, maka tubuhnya serasa
menjadi semakin lemah. Bahkan kemudian ia pun jatuh
tertelungkup ketika ujung kakinya menyentuh seonggok batu di tepi
jalan.
Ken Arok yang melihat Mahisa Agni itu jatuh, segera berlari
kepadanya. Dicobanya untuk menolongnya, namun terdengar
Mahisa Agni itu membentaknya, “Ken Arok. Apakah kita akan
bertempur terus sampai salah seorang di antara kita mati?”
Ken Arok menundukkan wajahnya. Desisnya, “Mahisa Agni. Aku
tidak tahu, apakah sebenarnya yang sedang bergolak di dalam
kepalaku. Aku menjadi sedemikian bingungnya menghadapi
keadaan ini. Keadaanku sebagai hamba akuwu dan keadaan
perasaanku sendiri.”
Mahisa Agni menyeringai sesaat. Terasa punggungnya menjadi
pedih. Namun ia masih belum melepaskan kekuatan yang telah
dibangkitkan dalam ilmunya Gundala Sasra. Tetapi betapa tubuh
manusia itu mempunyai kemampuan yang sangat terbatas. Betapa
seseorang merasa dirinya pilih tanding, kuat tanpa lawan, namun
akhirnya harus mengakui, bahwa dirinya hanya seorang makhluk
yang kecil. Yang hanya dapat berkehendak, bertekad dan berikhtiar.
Tetapi akhirnya harus diakuinya, bahwa kekuatan dan kekuasaan
yang ada di dalam dirinya adalah sedemikian kecilnya. Dan kini
Mahisa Agni yang memiliki ilmu yang pilih tanding. Gundala Sasra
itu pun harus menderita karena luka di punggungnya. Meskipun ilmu
itu telah menolongnya, memperkecil kemungkinan yang dapat
ditimbulkan karena anak panah itu.
Untunglah bahwa pada saat anak panah prajurit yang berkumis
tebal itu mengenai punggungnya, maka Mahisa Agni telah siap
dengan ilmunya Gundala Sasra, sehingga demikian kulitnya
tersentuh ujung panah itu, maka segera kekuatan-kekuatan yang
berada di dalam tubuhnya melawannya. Tetapi Mahisa Agni
bukanlah seorang yang kebal, sehingga karena itulah maka kulitnya
ternyata tembus juga oleh tajamnya anak panah. Namun anak
panah itu tidak menghunjam terlalu dalam. Meskipun demikian,
cukup untuk melumpuhkannya, meskipun tidak dapat
membunuhnya.
Ken Arok yang melihat Mahisa Agni terbaring itu pun menjadi
bersedih. Tetapi Mahisa Agni tidak mau ditolongnya. Dengan susah
payah anak muda itu berusaha bangkit dan duduk bertelekan kedua
tangannya. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya menjadi gemetar.
“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok, “kau terluka. Kau harus segera
mendapat pertolongan.”
“Jangan mengigau Ken Arok!” sahut Mahisa Agni, “Kau ingin
membunuh aku dengan tanganmu. Karena itu kau tidak mau
melihat prajurit itu melukai aku. Nah, sekarang terserah kepadamu.
Apakah kau akan membunuh aku atau kau akan menunggu
sehingga aku sembuh dan kita dapat berhadapan sebagai laki-laki.”
“Tidak Agni,” jawab Keri Arok, “aku tidak ingin berbuat demikian.
Aku benar-benar berada dalam kebingungan.”
“Itu telah mencerminkan kegoyahan pendirianmu. Kegoyahan
sikapmu. Kalau kau benar melihat bahwa kebenaran telah dilanggar
oleh Akuwu Tunggul Ametung, kenapa kau tidak berani
menghalanginya? Meskipun berakibat mati?”
“Ya,” Ken Arok itu menundukkan wajah, “Aku sadari keadaan itu.
Aku menjadi bimbang dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Namun aku sebenarnya telah berusaha untuk setidak-tidaknya tidak
membantu perbuatan itu. Aku tidak melawanmu dengan segenap
kekuatanku.”
“Kau terlalu sombong!” bentak Mahisa Agni keras. Namun
kemudian ia menjadi semakin lemah, “Kenapa kau tidak berkelahi
dengan sekuat tenagamu? Apakah kau ingin mengatakan, bahwa
tidak dengan sekuat kemampuanmu kau telah dapat mengimbangi
kekuatanku.”
“Tidak. Tidak,” potong Kera Arok cepat-cepat, “maksudku aku
tidak hendak melawan ilmumu yang terakhir, yang akan kau
lepaskan dengan ilmu yang tersimpan rapat-rapat di dalam diriku.
Aku hanya ingin melindungi diriku supaya aku tidak mati. Sesudah
itu, biarlah seandainya aku kau kalahkan.”
Mahisa Agni tidak dapat membantah kata-kata itu. Sebenarnya
secara jujur ia pun merasakannya, bahwa Ken Arok telah
melepaskan beberapa kesempatan yang sebenarnya dapat
dipergunakan, sekurang-kurangnya untuk memperlemah
serangannya. Namun kesempatan-kesempatan itu dibiarkannya atau
dipergunakannya dengan ragu-ragu. Apalagi, ketika kemudian
Mahisa Agni menatap wajah Ken Arok yang tunduk. Tampaklah
bahwa kejujuran memancar dari wajah itu. Wajah yang suram,
seakan-akan penuh penyesalan. Karena itu, maka hati Mahisa Agni
pun menjadi agak mereda. Kemarahannya tidak lagi menyala di
dalam dadanya. Itulah sebabnya, maka kini pedih dan nyeri pada
punggungnya itu mulai terasa semakin menyengat-nyengatinya.
Sekali lagi Mahisa Agni berdesis. Perlahan-lahan ia bergerak
maju.
“Kau terluka?” terdengar Ken Arok itu berdesis.
“Ya,” jawab Agni.
Ken Arok mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Mahisa
Agni yang pucat pasi. Tetapi di wajah itu tidak lagi terbayang
kemarahan yang meluap-luap. Karena itu, maka Ken Arok bertanya
pula, “Apakah aku dapat menolongmu?”
“Apakah yang dapat kau lakukan?”
Ken Arok menjadi bingung. Ia bukan seorang yang tahu benar
akan cara-cara untuk memberi pertolongan kepada orang-orang
yang terluka seperti itu. Karena itu, maka sesaat ia terdiam.
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara derap kuda
mendekat. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, maka mereka
melihat beberapa ekor kuda muncul dari tikungan, dan berlari ke
arah mereka.
“Witantra,” tiba-tiba Ken Arok berdesis.
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia mendengar peristiwa
yang terjadi ini dari Mahendra menurut petunjuk Witantra.
Ketika Witantra itu kemudian melihat Mahisa Agni dan Ken Arok,
maka segera ia mempercepat kudanya. Demikian ia sampai di
hadapan Mahisa Agni yang terluka itu, maka segera Witantra
meloncat dari kudanya. Dengan tajamnya Witantra memandang
kepada Ken Arok sambil menggeram -
“Kaukah yang melukainya.
Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tidak senang melihat sikap
itu. Ia telah mengenal siapakah Witantra, dan ia menghormati
keberaniannya untuk tidak menuruti saja perintah akuwu seperti
dirinya. Namun ia bukan seorang yang wajar untuk mendapat
perlakuan demikian. Karena itu, maka Ken Arok itu pun berdiri
sambil menjawab “Bertanyalah kepada Mahisa Agni.”
Witantra menaikkan alisnya. Ia mengenal orang itu dengan nama
Wiraprana. Namun Ken Arok itu menyebutnya Mahisa Agni. Tetapi
hal itu belum merupakan persoalan bagi Witantra. Dan jawaban
pelayan dalam itu tidak diharapkannya. Karena itu maka sekali lagi
Witantra berkata lebih tajam, “Aku berkata kepadamu.”
Ken Arok menjadi semakin tidak senang. Tetapi sebelum ia
menyahut, segera Mahisa Agni berkata, “Bukan, Witantra. Bukan
olehnya. Tetapi oleh prajurit yang terbaring mati di pinggir parit
itu.
Dan prajurit itu telah dibunuh oleh Ken Arok.”
Witantra memalingkan wajahnya. Dilihatnya tubuh prajurit yang
mati itu. Tiba-tiba dada Witantra berdesir. Prajurit itu adalah
prajuritnya. Dan dilihatnya bahwa orang itu tidak terluka oleh
senjata. Sehingga dengan serta-merta sesadarnya ia berdesis,
“Dibunuh dengan tangannya?”
“Ya,” sahut Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian
ia berkata, “Maafkan Adi. Aku terlalu berprasangka. Memang kita
kini saling berprasangka. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang
sedang terjadi di sini.”
Ken Arok menarik nafas dalam . Sebenarnyalah bahwa mereka
kini sedang saling berprasangka. Apa yang tersimpan di dalam dada
masing-masing adalah kecurigaan di antara sesama mereka. Seperti
Kuda Sempana, Tunggul Ametung, Mahisa Agni, Ken Arok, Witantra
dan para pengikut yang lain. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang
sebenarnya dilakukan oleh kawan-kawan mereka, atau yang sedang
diangan-angankannya. Mereka berbuat dalam kebimbangan dan
ketidakpastian. Bahkan mereka telah berbuat di luar rasa keadilan
mereka sendiri.
Witantra itu pun kemudian turun dari kudanya dan mendekati
Mahisa Agni. Tiba-tiba ia menjadi terkejut, ketika dilihatnya di
punggung Mahisa Agni masih terhunjam sebuah anak panah.
“Kau dilukai dengan cara ini?” bertanya Witantra. Mahisa Agni
mengangguk. Sekali lagi ia bergumam, “Prajuritmu itulah yang
melukai aku.”
Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya pula,
“Anak panah itu harus dicabut segera.”
“Cabutlah,” minta Mahisa Agni.
Witantra berpaling sesaat kepada semua orang yang berada di
tempat itu. Dan tanpa ditanya, mereka telah mengerti, bahwa
Witantra memerlukan bantuan mereka.
Beberapa orang kemudian memegangi pundak Mahisa Agni,
sedang Witantra kemudian dengan perlahan-lahan mencabut anak
panah itu. Mahisa Agni berdesis menahan nyeri yang menghentakhentak
punggungnya. Bahkan hampir-hampir saja ia mengeluh
untuk mengurangi rasa sakit. Namun untunglah, bahwa daya tahan
tubuh Mahisa Agni benar-benar mengagumkan. Sehingga ia tetap
dalam kesadarannya ketika anak panah itu tercabut dari
punggungnya. Tetapi demikian anak panah itu lepas, maka
darahnya menjadi semakin banyak mengalir dari luka itu.
“Kau memerlukan pertolongan secepatnya.”
Mahisa Agni mengangguk.
“Adi,” berkata Witantra kepada Ken Arok, “marilah kita bawa
Wiraprana ke Panawijen. Mungkin di rumahnya akan kita dapatkan
obat-obatan yang dapat mengurangi arus darahnya.”
Kini Ken Aroklah yang menjadi heran. Tetapi ia tidak menjawab.
Ia tahu benar bahwa yang dimaksud adalah Mahisa Agni. Karena
itu, maka Mahisa Agni itu segera dibangkitkannya dan ditolongnya
naik ke atas punggung kuda.
“Kita naiki kuda ini berdua,” bisik Ken Arok.
Mahisa Agni tidak menjawab, sementara Ken Arok telah meloncat
duduk di belakangnya. Dengan sobekan kain Mahisa Agni maka Ken
Arok mencoba untuk menahan atau setidak-tidaknya mengurangi
darah yang mengalir dari luka itu.
Demikianlah maka segera mereka berpacu ke Panawijen kembali.
Mereka mengharap bahwa luka Mahisa Agni tidak menjadi
bertambah parah karena darah yang terlalu banyak mengalir.
Meskipun demikian, Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah-tambah
lemahnya.
Ketika mereka memasuki padukuhan Panawijen, maka kembali
mereka mengejutkan penduduknya. Beberapa orang yang
mendengar derap kuda, menjadi ketakutan dan berlari-larian untuk
menyembunyikan dirinya.
Kuda-kuda itu pun kemudian berlari menuju ke rumah Empu
Purwa. Derap kakinya menghentak-hentak tanah yang keras, dan
menimbulkan bunyi yang benar-benar mengerikan bagi penduduk
Panawijen.
Ketika mereka mendekati rumah Empu Purwa itu, maka orangorang
yang berada di halaman segera mendengarnya. Mereka pun
menjadi ketakutan, dan dengan serta-merta mereka berlari-larian
pula. Tetapi ketika kuda-kuda itu memasuki halaman, maka di
halaman itu masih berdiri Ki Buyut Panawijen, seorang emban tua,
beberapa orang cantrik yang sedang menunggu sesosok tubuh yang
terbaring diam.
Mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka melihat Mahisa
Agni duduk dengan lemahnya di hadapan Ken Arok. Segera mereka
menjadi cemas. Mula-mula mereka menyangka bahwa Mahisa Agni
terluka, dan anak muda itu menjadi seorang tawanan.
Tetapi mereka menjadi heran, ketika mereka melihat, demikian
kuda-kuda itu berhenti, demikian Ken Arok meloncat turun dan
menolong Mahisa Agni turun pula dari kudanya.
Halaman itu menjadi sedemikian tegangnya. Semua orang
melihat Mahisa Agni yang luka itu. Dan tiba-tiba saja ketegangan
halaman itu dipecahkan oleh jerit emban tua sambil berlari memeluk
Mahisa Agni, “Agni, apakah yang terjadi?”
Mahisa Agni menelan ludahnya. Lehernya terasa seakan-akan
menjadi kering. Karena itu ia berdesis, “Air.”
Perempuan tua itu segera berteriak kepada salah seorang
cantrik, “Air, ambilkan air!”
Sementara itu Mahisa Agni itu pun kemudian dipapah naik ke
pendapa. Dibaringkannya anak muda itu pada selembar tikar.
Emban tua itu menjadi sedemikian cemasnya, sehingga tubuhnya
bergetaran serta wajah menjadi sangat pucat, sepucat Mahisa Agni
sendiri.
“Kenapa kau Agni,” bertanya emban tua itu.
Mahisa Agni mencoba tersenyum, jawabnya, “Aku tidak apa-apa,
Bibi.”
“Kau terluka.”
“Tidak berbahaya,” sahut Mahisa Agni. Untuk meyakinkan emban
tua itu Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok, “Ken Arok, bukankah
lukaku tidak berbahaya?”
Ken Arok mengangguk kaku. “Tidak,” desisnya.
Namun kecemasan masih membayang di wajahnya. Nafasnya
menjadi semakin cepat mengalir dan bibirnya bergerak-gerak tetapi
tidak sepatah kata pun yang meloncat dari mulutnya.
Ketika seorang cantrik kemudian membawa air kepadanya, dan
dituangkannya kepada mulutnya, maka tubuh Mahisa Agni itu
serasa menjadi semakin segar.
“Bibi, apakah bibi mengenal obat untuk luka ini,” desis Ken Arok
kemudian.
Perempuan tua itu memandang Ken Arok dengan tajamnya. Ia
melihat orang itu pergi bersama-sama dengan Akuwu Tumapel. Dan
kini orang itu datang kembali membawa Mahisa Agni. Apalagi ketika
ia melihat Witantra yang berdiri mematung di pendapa itu, masa
perempuan itu menjadi bertambah tidak mengerti, apa yang telah
terjadi.
Witantra itu pun kemudian berjongkok pula di samping Ken Arok.
Ia melihat keheranan yang memancar dari mata perempuan tua
yang menangisi Mahisa. Agni Karena itu ia berkata, “Bibi, semuanya
nanti akan dapat Bibi ketahui. Sekarang, apakah Bibi mempunyai
reramuan obat-obatan untuk luka itu?”
Emban tua itu tersadar dari keheranannya. Maka dengan sertamerta
ia berdiri dan berlari ke dalam biliknya. Ia bukanlah seorang
yang dapat memberikan obat kepada beberapa jenis penyakit,
namun reramuan obat untuk luka-luka ia ada menyimpannya. Obat
itu adalah pemberian Empu Purwa, seandainya ada para cantrik dan
para endang menjadi terluka karena sesuatu sebab.
Ketika emban itu datang kembali, maka reramuan itu pun
kemudian dicairkannya ke dalam beberapa tetes air. Dan dengan
obat itulah kemudian luka Mahisa Agni diobati. Ternyata obat itu
pun bermanfaat pula baginya. Darah yang mengalir dari luka itu pun
kemudian berangsur terhenti.
Tetapi demikian luka itu menjadi bertambah pampat, maka
segera perhatian mereka tertarik kepala beberapa orang, yang
masih saja berdiri di halaman. Mahisa Agni yang lemah itu pun
mencoba mengangkat kepalanya. Ketika terpandang olehnya wajah
Buyut Panawijen yang suram, terdengarlah anak muda itu bertanya,
“Bibi, apakah yang telah terjadi di rumah ini?”
Perempuan tua itu menelan ludahnya, seakan-akan ludah itu
telah menyumbat kerongkongannya sehingga ia tidak dapat berkata
apapun. Baru sesaat kemudian ia berkata, “Kau terlambat datang
Agni. Bahkan kau datang dengan luka di punggungmu? Apakah kau
bertemu dengan Kuda Sempana?”
“Ya, Bibi,” sahut Mahisa Agni.
“Dengan sekalian yang berada di sini sekarang?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Lalu apakah yang terjadi atasmu?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tanpa disengajanya ia memandang
kepada Ken Arok. Sehingga Ken Aroklah yang menjawab, “Agni
terluka karena ia ingin mempertahankan gadis yang dibawa oleh
Kuda Sempana itu.”
“Siapakah yang telah melukainya? Tuan?”
Ken Arok menggeleng. Tetapi wajahnya terbanting di lantai.
Meskipun ia tidak melukai Mahisa Agni, namun ia bertempur pula
melawan anak muda itu. Sehingga dengan demikian maka mau
tidak mau, perasaannya pun tersentuh pula.
Yang menjawab kemudian adalah Witantra. Katanya, “Seorang
prajurit yang licik telah melukainya.”
Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
terdengar ia bergumam “Mereka telah melakukan pembunuhan dan
perampasan.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Sehingga dengan
serta-merta ia bertanya “Apakah telah terjadi pembunuhan? Bibi,
aku belum mati. Adakah yang telah terbunuh?”
Emban tua itu tidak segera menjawab. Namun kemudian ia
berpaling ke halaman. Ditatapnya beberapa orang yang tegak di
bawah tangga, dan dilihatnya Ki Buyut Panawijen yang berjongkok.
“Bibi,” desak Mahisa Agni, “siapakah yang terbunuh? Seorang
cantrik atau . . .?”
Tiba-tiba kata Mahisa Agni terputus. Ia melihat seseorang
terbaring ketika ia memasuki halaman. Namun lukanya itu telah
merampas segenap perhatiannya sehingga ia tidak sempat untuk
memperhatikannya, selain berdesis menahan sakit yang
menghentak-hentak. Sekali lagi Mahisa Agni mencoba mengangkat
wajahnya. Dan sekali lagi dilihatnya beberapa orang berada di
halaman itu.
“Siapa yang terbaring itu?” tiba Mahisa Agni berteriak,
Dilibatnya Buyut Panawijen itu berpaling. Kemudian tampaklah ia
berdiri dan berjalan perlahan-lahan naik ke pendapa. Wajahnya
yang sayu memandangi beberapa orang yang berjongkok di sekitar
Mahisa Agni.
“Ki Buyut,” bertanya Mahisa Agni tidak sabar, “siapakah yang
terbaring di halaman itu? Kenapa ia tidak dibawa naik?”
“Tidak perlu, Ngger Mahisa Agni. Biarlah ia terbaring di halaman.
Ia akan segera aku bawa kembali.”
“Siapa? Siapa?”
“Wiraprana.”
“Wiraprana?” ulang Mahisa Agni. Alangkah terkejutnya anak
muda itu. Meskipun perasaan itu telah menyentuh hatinya sejak ia
mendengar bahwa seseorang telah terbunuh.
(bersambung ke Jilid 9)
Jilid 9
NAMUN KETIKA IA MENDENGAR JAWABAN Ki Buyut Panawijen
itu, tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Dengan serta-merta ia
bangkit dan menggertakkan giginya, “Gila. Gila. Siapakah yang telah
membunuhnya?”
“Kuda Sempana.”
“Kuda Sempana?” ulangnya. Namun tubuhnya kemudian menjadi
lemah kembali. Hampir saja ia terjatuh, seandainya Ken Arok tidak
segera menangkapnya, dan membaringkannya kembali perlahanlahan.
Bahkan darahnya yang telah mampat itu tiba-tiba mengalir
kembali Meskipun tidak sedemikian derasnya.
Tetapi kembali mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat
wajah Witantra itu menjadi merah padam. Dengan geramnya ia
berdesis, “Mahisa Agni. Jadi kau bernama Mahisa Agni?”
Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun segera
memakluminya. Karena itu segera ia menjawab singkat, “Ya. Aku
Mahisa Agni.”
“Aku mendengar orang menyebutmu Mahisa Agni. Namun aku
sangka bahwa kau mempunyai beberapa nama dan sebutan. Namun
kini ternyata bahwa kau sama sekali tidak bernama dan sebutan
Wiraprana.”
“Ya. Aku bukan Wiraprana.”
“Hem,” Witantra itu menggeram, “aku pernah mendengar pula
Kuda Sempana menyebut nama Wiraprana, namun baru sekarang
aku tahu.”
“Ya. Sekarang kau tahu, bahwa aku bukan Wiraprana.”
Sekali lagi Witantra menggeram. Dan semua orang menjadi
terkejut dan heran karenanya. Bahkan Ken Arok pun menjadi heran
pula.
“Agni,” desis Witantra, “aku telah mencegah adikku berbuat
curang. Namun aku tidak menyangka bahwa kau bukan Wiraprana
yang sebenarnya.”
Semua yang berada di sekitar Mahisa Agni terbaring itu menjadi
bertambah tidak mengerti, apa yang sedang dibicarakan oleh
Witantra dan Mahisa Agni itu. Apalagi ketika Witantra meneruskan,
“Kalau kau tidak mengkhianati kejantanan Wiraprana pada waktu itu
maka keadaan akan menjadi lain. Mungkin Kuda Sempana tidak
akan berbuat seperti sekarang, dan mungkin Mahendra akan dapat
mempertahankan dirinya daripadanya. Ketika Kebo Ijo memberikan
keris kepada Mahendra, aku berkata, bahwa aku akan berada di
pihakmu kalau mereka berdua bersama dengan Mahendra
memaksakan perkelahian dua melawan dua, sebab aku tahu bahwa
kawanmu waktu itu sama sekali tidak akan mampu untuk melawan
Kebo Ijo. Ya, kawanmu waktu itu.”
Witantra berhenti sesaat, Kemudian ia meneruskan, “Aku ingat
sekarang, ternyata kawanmu waktu itulah yang bernama Wiraprana,
yang terbunuh oleh Kuda Sempana.”
Witantra terdiam. Namun wajahnya masih tampak menyalanyala.
Seakan-akan ia menuntut sesuatu yang telah pernah terjadi
atas Mahisa Agni yang terbaring luka itu. Sehingga tiba-tiba Ken
Arok menyela, “Kakang Witantra. Meskipun aku tidak mengetahui
persoalan yang kau katakan, tetapi adalah tidak bijaksana kalau
persoalan itu kau ungkapkan sekarang, selagi Mahisa Agni sedang
terluka.”
“Tetapi kini ternyata, bahwa luka itu adalah akibat dari
kecurangan yang pernah dilakukan masa lampaunya. Ia telah
menipu aku, adik seperguruanku dan dirinya sendiri. Ketika
persoalan timbul antara Wiraprana dan Mahendra, maka Mahisa
Agnilah yang mencoba menyelesaikannya atas nama Wiraprana.
Nah, sekarang akibatnya menjadi semakin panjang. Kuda Sempana
ternyata turut pula terlibat dalam persoalan ini.”
“Apa pun yang terjadi, Kakang. Tunggulah sampai luka-lukanya
sembuh.”
“Aku tidak peduli lagi atas luka-lukanya. Aku menuntut keadilan
atas adik seperguruanku. Kalau ia telah berbuat atas nama
Wiraprana, maka aku akan berbuat atas nama Mahendra.”
“Kau terlalu mementingkan persoalanmu sendiri Kakang,” sahut
Ken Arok, “sekali lagi aku minta, biarlah ia beristirahat dan
berusaha
sembuh kembali.”
“Kau tidak tersangkut dalam persoalan ini Adi,” jawab Witantra,
“persoalan ini adalah persoalanku dan Mahisa Agni.”
“Tetapi ia sedang terluka.”
“Luka akibat kesalahannya. Apakah yang perlu disesalkan?”
“Kakang, jangan berpikir tentang sebab-sebab yang sama sekali
tidak langsung itu. Biarlah itu berlaku masa-masa lampau. Tetapi
biarlah kita melihat masa ini, keadaannya kini.”
“Keadaan ini adalah kelanjutan dari masa lampau itu. Dari sebab
yang dibuatnya sendiri.”
“Baik. Kalau kau masih berbicara tentang sebab, akulah yang
menyebabkan luka itu. Sebab yang lebih langsung dari yang kau
katakan itu. Dari sebab-sebab yang sama sekali tidak aku ketahui
ujung dan pangkalnya. Namun kalau kau memaksakan persoalan
sebab yang menimbulkan akibat ini, maka aku akan tidak
sependapat. Seandainya luka itu adalah akibat dari perbuatannya,
maka biarlah akibat itu ditanggungkannya dengan tenang.”
“Tetapi apa yang pernah dilakukan telah menutup kemungkinan
bagi adik seperguruanku, yang waktu itu aku cegah untuk berbuat
tidak jantan. Sekarang persoalan itu ternyata telah diambil alih
oleh
Kuda Sempana. Sedang Mahendra tinggal dapat merasakan
kepahitan hidupnya. Kepahitan dari kegagalannya.”
“Lupakanlah itu, Kakang. Setidak-tidaknya untuk sementara.”
“Tidak. Tidak. Aku adalah seseorang yang akan tetap tegak
kepada keadilan.”
“Lakukanlah, namun lurus dengan bijaksana. Buatlah
perhitungan, tetapi apabila luka itu telah disembuhkan.”
“Jangan campuri urusanku Ken Arok!” bentak Witantra dengan
marahnya.
Tetapi Ken Arok pun tiba-tiba menjadi gemetar. Untuk kedua
kalinya ia dibentak oleh Witantra dalam persoalan yang sama sekali
berlawanan. Ketika Witantra membentaknya dengan pandangan
yang menyala dan disangkanya ia melukai Mahisa Agni, maka
perasaannya telah tersinggung. Kini Witantra membentaknya lagi
dalam persoalan yang bertolak belakang. Karena itu, maka Ken Arok
itu pun menjawab dengan suara gemetar “Witantra. Aku sadari
bahwa kau adalah seorang prajurit yang linuwih. Namun apabila kau
kehilangan kebijaksanaan yang bening, maka kau akan sama artinya
dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tumapel. Kau dapat
mempergunakan kekuasaanmu untuk kepentinganmu.”
“Aku bukan orang-orang yang licik dan pengecut. Aku akan
menyelesaikan persoalanku pribadi dalam tindak pribadi. Aku akan
membuat persoalan menjadi adil. Atas nama adikku Mahendra aku
menuntut pengakuan Mahisa Agni yang mencoba dirinya menjelma
menjadi Wiraprana.”
“Witantra!” sahut Ken Arok tiba-tiba suaranya menjadi parau.
Suara yang pernah didengar oleh Mahisa Agni di padang rumput
Karautan. Suara hantu padang yang menakutkan, “Kalau tetap pada
pendirianmu, biarlah aku bertindak atas nama Mahisa Agni yang
terluka. Ayo cara yang mana yang kau kehendaki.”
Witantra terkejut mendengar tantangan itu. Tiba-tiba dengan
serta-merta ia meloncat berdiri. Dan hampir dalam saat yang
bersamaan Ken Arok telah berdiri pula. Suaranya yang parau itu
masih terdengar, “Akulah yang harus berbuat atas namanya.”
Keadaan segera menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba
terdengar Mahisa Agni tertawa. Tertawa aneh. Sedemikian anehnya
sehingga suara tertawa itu benar-benar mengejutkan. Lebih-lebih
bagi Witantra dan Ken Arok. Suara tertawa itu lebih mengejutkan
bagi mereka daripada gemuruhnya suara guruh yang meledak di
telinganya.
“Kenapa kau tertawa Agni?” bertanya Ken Arok.
“Duduklah. Duduklah kalian,” berkata Mahisa Agni.
Witantra dan Ken Arok itu masih berdiri mematung. Beberapa
orang yang duduk di sekitar mereka itu telah bergeser mundur
dengan penuh keheranan tersimpan di dalam dadanya.
Witantra dan Ken Arok masih belum bergerak dari tempatnya.
Mereka masih mendengar Mahisa Agni tertawa. Namun akhirnya
mereka menyadari, bahwa suara tertawa yang aneh itu adalah
suara tertawa yang melontarkan kepedihan yang menghunjam
perasaannya. Suara tertawa yang memancarkan kepahitan hidup
yang selama ini harus ditanggungkannya.
“Duduklah Ken Arok,” kembali terdengar suara Mahisa Agni di
antara suara tertawanya yang menjadi semakin pahit. Kemudian
katanya pula, “Jangan halangi Witantra berbuat menurut suara
keadilannya. Aku membenarkan semua kata-katanya. Aku telah
mengkhianati kejantanan Wiraprana menurut istilahnya. Kalau
Witantra itu menuntut pengakuanku atas kecurangan itu, maka
biarlah aku mengakuinya. Kalau itu merupakan kesalahan yang tak
dapat dilupakan olehnya, biarlah ia berbuat menurut kehendaknya
untuk menghukum kesalahan itu.”
“Mahisa Agni,” potong Ken Arok, “apakah sebetulnya yang
pernah kau lakukan?”
“Jangan kau tanyakan sekarang,” sahut Mahisa Agni, “aku
sedang tidak bernafsu untuk banyak berbicara Aku lebih senang
menikmati perasaan nyeri di punggungku. Namun dalam pada itu,
aku akan mempersilakan Witantra berbuat sesuka hatinya.”
Ken Arok terdiam karenanya. Meskipun berbagal pertanyaan
berputar-putar di dalam benaknya, namun ia tidak dapat berbuat
sesuatu. Kini ia berdiri saja seperti tiang-tiang pendapa yang diam
kaku.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Mahisa Agni
yang terbaring diam. Bahkan seakan-akan ia tidak
memperhatikannya sama sekali.
“Mahisa Agni,” geram Witantra, “aku menjadi sangat kecewa atas
perbuatanmu itu. Sekarang kau pergunakan kesempatan sebaikbaiknya.
Dengan lukamu itu kau akan dapat menghindari setiap
pertanggungan jawab yang harus kau berikan kepadaku, atas nama
adikku Mahendra. Dengan lukamu itu kau akan dapat mengatakan,
bahwa semua persoalan akan ditunda. Sebab kau mengharap
bahwa aku tidak akan membuat perhitungan dengan seseorang
yang sedang terluka.
Kembali Mahisa Agni tertawa. Alangkah pahitnya. Dipalingkannya
wajahnya memandang kepada Witantra yang berdiri dengan
garangnya. Kemudian katanya, “Lucu sekali.”
“Apa yang lucu!” bentak Witantra.
“Kau, Ken Arok, aku, Kuda Sempana, Akuwu Tumapel dan semua
orang.”
Witantra memandang Mahisa Agni semakin tajam. Bahkan
kemudian ia menggeram “Jangan mengigau Agni!”
“Tidak. Aku tidak mengigau. Aku berkata sebenarnya, bahwa
orang-orang yang pernah aku kenal, ternyata tidak lebih daripada
badut-badut yang menggelikan.”
“Jangan menghina!”
“Aku tidak menghina. Kalau aku mengatakan apa yang
sebenarnya bukankah aku tidak menghina? Coba, Witantra, apakah
yang kau lakukan itu wajar. Baru saja kau marah-marah kepada Ken
Arok. Kau sangka anak muda itu melukai aku. Aku sangka kau
benar-benar berbuat dengan jujur. Dengan sepenuh hati. Aku
sangka kau benar-benar tidak ikut dalam perkosaan ini.”
“Aku tidak turut dalam perkosaan ini!” potong Witantra dengan
lantangnya. Wajahnya menjadi semakin merah karena kemarahan
yang melanda dadanya.
“Kenapa kau tidak turut?”
“Aku tidak mau melihat kesewenang-wenangan. Aku tidak mau
melihat penindasan yang tidak semena-mena.”
“Oh,” desis Mahisa Agni. Meskipun anak muda itu tersenyum,
namun matanya memancarkan kepedihan yang tiada taranya.
Katanya kemudian “Itulah Witantra. Bukankah dunia ini hanya
dipenuhi oleh badut-badut yang sama sekali tidak berarti. Kau
tersentuh rasa keadilanmu karena aku menamakan diriku
Wiraprana. Kau tidak mau ikut serta dalam tindakan yang
sewenang-wenang Namun apakah sebenarnya yang kau lakukan
itu? Huh. Kau menentang perbuatan Akuwu Tunggul Ametung yang
melindungi Kuda Sempana bukan karena kau tidak mau melibat
kesewenang-wenangan. Namun kau menjadi iri bati karenanya. Kau
iri, kenapa kesempatan itu diberikan oleh Akuwu kepada Kuda
Sempana. Tidak kepada adikmu Mahendra?”
“Bohong!” teriak Witantra. Dengan jari-jari yang gemetar ia
menunjuk kepada perempuan tua di samping Mahisa Agni,
“perempuan itu melihat apa yang telah aku lakukan. Perempuan itu
melihat, bahwa Akuwu telah mengeluarkan perintah untuk
menangkap Witantra. Perempuan itu melihat bahwa Akuwu telah
mengancam aku untuk menggantung aku besok. Nah, apalagi? Aku
tidak mau ikut serta dalam perbuatan yang terkutuk itu. Perbuatan
yang meninggalkan kebebasan perseorangan untuk berbuat
menurut pilihan sendiri. Dan aku akan menanggung akibatnya. Aku
sama sekali tidak berpikir tentang Mahendra. Aku sudah
melupakannya seandainya aku tidak tahu, bahwa kau telah menipu
aku, menipu Mahendra sehingga kesempatan Kuda Sempana
menjadi lebih baik daripadanya.
“Nah. Jangan kau pungkiri kata-katamu sendiri. Kau tidak mau
melihat kesewenang-wenangan. Kau tidak mau melihat perbuatan
yang meninggalkan kebebasan perseorangan untuk berbuat
menurut pilihan sendiri. Kau tidak mau melihat bahwa dengan
kekuatan orang memaksakan kehendaknya? Benar? Nah katakan
kepadaku Witantra, seorang prajurit yang jujur, yang mencoba
berdiri tegak di atas keadilan. Kau menentang semuanya itu, karena
semuanya itu akan menguntungkan orang lain. Menguntungkan
Kuda Sempana. Bukan menguntungkan adikmu Mahendra. Tetapi
Witantra yang bijaksana. Kau melihat sendiri, apa yang akan
dilakukan oleh Mahendra. Keadilan yang kau katakan itu benarbenar
timpang. Kalau Mahendra ingin memaksakan kehendaknya
dengan kekuatan yang diagung-agungkan saat itu. Kalau Mahendra
ingin mengadakan pertandingan untuk merebut Ken Dedes dengan
kekuatan. ya, seandainya aku tidak menyebut diriku Wiraprana saat
itu? Apakah yang terjadi Witantra? Apa? Mungkin Wiraprana telah
mati saat itu. Apakah kau dapat menjamin bahwa perkelahian yang
demikian tidak akan dapat berakibat maut? Sedang apakah kau
menasihati adikmu itu untuk menanyakan saja kepada Ken Dedes,
pilihannya menurut kebebasan yang dimilikinya? He?”
Witantra menjadi gemetar mendengar kata-kata Mahisa Agni itu.
Wajahnya yang merah seakan-akan memancarkan nyala
kemarahannya. Tetapi ketika ia bergeser setapak maju, maka Ken
Arok pun bergerak pula setapak.
Dengan suara yang bergetar karena menahan gejolak
perasaannya Witantra berkata “Mahisa Agni. Kau mencoba mencari
alasan untuk melindungi kesalahanmu. Kau mencoba mencari
sebab, kenapa kau seakan-akan sudah seharusnya berbuat
demikian.”
“Tidak!” potong Agni, “Aku tidak pernah mengingkari kesalahan
itu. Aku sudah mengakuinya. Dan aku tidak akan mencari dalih apa
pun yang dapat menutupi kesalahan itu. Tetapi sekarang marilah
kita melibat diri kita masing-masing. Aku melihat diriku dan kau
melihat ke dirimu.”
“Tetapi pada saat itu Mahendra berbuat dengan penuh tanggung
jawab. Ia tidak memperalat kekuasaan atau orang lain. Ia berbuat
sendiri. Ia memperjuangkan cita-citanya sendiri.”
“Jadi apakah dengan demikian perbuatannya itu dapat
dibenarkan. Bukankah dengan demikian, maka kekuatan
jasmaniahlah yang harus menentukan keputusan. Bukan kebenaran
menurut penilaianmu. Kebebasan seseorang untuk menentukan
pilihan. Bagaimanakah kalau kemudian Mahendra menang atas
Wiraprana? Sedang Ken Dedes telah memilih Wiraprana sebagai
calon suaminya? Bagaimana?”
Witantra terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Mahisa
Agni itu Bahkan lamat-lamat dapat dilihatnya pula bahwa
sebenarnya adik seperguruannya ada saat itu pun akan
mempergunakan kekuatannya untuk
memaksakan kehendaknya.
Dalam pada itu terdengar Mahisa
Agni yang terluka itu berkata lantang
“Nah, Witantra. Sekarang lihatlah. yang
terbaring di halaman itu adalah
Wiraprana. Ia mati karena orang lain
ingin merampas haknya dengan
kekuatan dan kekuasaan. Wiraprana
ternyata telah menjadi korban dari sikap
damainya. Sejak semula ia tidak pernah
membayangkan bahwa pada suatu
ketika ia harus menghadapi kekerasan.
Karena itu, maka ia tidak pernah dengan
sungguh-sungguh menekuni ilmu tata berkelahi dan tata bela diri. Ia
percaya akan peradaban manusia yang semakin tinggi. Ia percaya
akan kedamaian hati dan ia percaya bahwa manusia akan
menentukan sikapnya dengan baik di antara sesama manusia,
Namun ia menjadi korban. Ternyata bahwa Wiraprana tidak dapat
hidup di antara manusia pada masa kini dengan sikapnya. Di mana
manusia mengorbankan manusia yang lain untuk kepentingannya.
Untuk memenuhi nafsunya. Termasuk Mahendra, Kuda Sempana
dan mungkin aku pula, kau dan Ken Arok. Kita semua telah hanyut
dalam arus kebiadaban di antara peradaban manusia.”
Mahisa Agni itu terdiam. tiba-tiba terasa sesuatu menyumbat
lehernya. Terasa pedih masih menyengat-nyengat punggungnya.
Namun ia sama sekali tidak memperhatikannya. Perlahan-lahan
darahnya kembali meleleh membasahi tikar tempatnya berbaring.
Meskipun luka itu telah dibalut dengan kain bersih beberapa lapis,
namun darahnya yang merah masih juga menembusnya.
“Agni,” bisik perempuan tua yang berlutut di sampingnya,
“beristirahatlah. Jangan pikirkan yang bukan-bukan. Kau sedang
terluka.”
“Tidak. Tidak apa-apa Bibi. Luka tidak sakit,” jawab Agni. Dan
sebenarnyalah bahwa pedih lukanya seakan-akan tidak terasa
karena pedih hatinya yang menusuk-nusuk.
Bahkan kemudian ia berkata perlahan-lahan, “Witantra. Kini
Wiraprana telah mati. Aku tidak dapat lagi menamakan diriku
Wiraprana. Tidak ada gunanya. Dan terserahlah kepadamu,
penilaianmu atas diriku dan terserahlah kepadamu, apa yang akan
kau lakukan. Kesalahan yang telah aku perbuat itu ternyata tidak
ada gunanya. Aku hanya dapat menunda bencana yang menimpa
Wiraprana. Tetapi sekarang, Wiraprana telah mati, dan Ken Dedes
telah hilang dari rumah ini. Hilang dan aku tidak tahu, apakah
masih
ada kemungkinan untuk menyelamatkannya.”
Witantra itu menundukkan wajahnya. Tiba-tiba ia meletakkan
tubuhnya duduk di samping Mahisa Agni. Namun sepatah kata pun
tidak diucapkannya.
Ken Arok kini sudah dapat membayangkan, Meskipun belum
sedemikian jelas, apakah yang telah terjadi. Ia pun kemudian duduk
pula di samping Witantra dan dengan sepenuh hati ia berkata,
“Mahisa Agni. Aku akan mencoba melepaskan gadis itu dari Kuda
Sempana.”
“Apa yang akan kau lakukan?” terdengar suara Mahisa Agni
parau.
Ken Arok menggeleng lemah, “Aku belum tahu. Tetapi setidaktidaknya
Ken Dedes harus dibebaskan dari himpitan kedukaannya.
Kalau ia menjadi istri Kuda Sempana maka setiap hari ia akan
mengalami derita yang tak akan ada habisnya.”
“Mudah-mudahan kau berhasil. Tetapi arti daripada itu pun
sangat jauh daripada yang diharapkannya. Wiraprana, laki-laki yang
dicintainya telah mati.”
Pendapa itu pun kemudian menjadi sepi hening. Ki Buyut
Panawijen yang selama ini diam mematung tiba-tiba berkata,
“Angger Mahisa Agni. Meskipun Wiraprana telah mati, tetapi aku
masih akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Sebab baru
sekarang aku tahu bahwa anakku itu telah pernah mendapat banyak
sekali pertolonganmu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang
wajah Buyut Panawijen itu, maka dilihatnya betapa duka yang telah
menggores di dinding hatinya. Wiraprana adalah anak satu-satunya.
Dan kini anak itu mati.
Mahisa Agni hampir tidak dapat menahan hatinya ketika Buyut
tua itu berkata, “Angger. Sepeninggal Wiraprana, maka
perkenankanlah aku mengambil kau sebagai gantinya. Aku ingin
menumpang kebanggaan Empu Purwa yang telah memiliki seorang
anak laki-laki yang mengagumkan. Kalau kau sudi Ngger, jangan
kau rubah kebiasaanmu berkunjung ke rumahku. Rumah itu kini
menjadi rumahmu pula.
“Terima kasih,” desis Mahisa Agni. Tetapi ia tidak dapat
meneruskan kata-katanya. Hatinya menjadi bertambah pedih, sakit
dan pahit. Ia harus menghadapi persoalan-persoalan yang tak akan
dapat dilupakannya sepanjang hidupnya.
Ki Buyut Panawijen itu pun menjadi semakin suram. Terasa
betapa ia berusaha untuk menguasai perasaannya. Dengan suara
yang hampir tidak terdengar ia berkata, “Akhirnya hal ini terjadi.
Wiraprana pernah berkata kepadaku, kalau Kuda Sempana
mendapat kesempatan untuk yang ketiga kalinya, maka ia pasti
akan dibunuhnya. Ternyata yang dikatakannya itu benar-benar telah
terjadi.”
Kembali pendapa itu menjadi sepi. Isak perempuan tua yang
duduk di samping Mahisa Agni menjadi semakin jelas. Dan Ki Buyut
Panawijen pun kemudian menyeka matanya yang menjadi basah
pula,
“Sebuah bencana telah menimpa padukuhan ini,” desah Ki Buyut
Panawijen, “hanya karena di padukuhan ini dilahirkan seorang anak
muda yang bernama Kuda Sempana.”
Tak seorang pun yang menyahut. Wajah Witantra kini tidak lagi
tampak menyala-nyala. Bahkan kemudian matanya pun menjadi
redup. Ken Arok duduk tepekur sambil menggores-gores lantai
dengan kuku-kukunya. Sedang emban pemomong Ken Dedes yang
tua itu, masih mencoba menguasai tangisnya. Sekali-sekali
diusapnya dahi Mahisa Agni yang menjadi bertambah pucat.
“Angger,” kemudian Ki Buyut Panawijenlah yang memecahkan
kesepian itu, “biarlah aku pulang dahulu membawa Wiraprana.
Mayat itu akan aku rawat dan akan merupakan peringatan bagi kita,
bahwa seorang anak muda yang dilahirkan di tanah ini telah
menyebabkan sebuah bencana bagi tanah kelahirannya.”
Mahisa Agni mencoba untuk bangkit, tetapi terasa punggungnya
masih sakit, sehingga Ki Buyut Panawijen itu menahannya, “Jangan
Ngger. Tidak usah Angger bangun. Beristirahatlah. Dan lekaslah
menjadi sembuh.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Desahnya, “Sayang.
Aku tidak dapat turut merawat jenazah itu.”
“Sudahlah Ngger,” sahut Ki Buyut, “kau sendiri terluka.
Berbaringlah.”
Mahisa Agni menggeleng. Katanya perlahan-lahan, “Ken Arok.
Tolonglah aku. Aku ingin melihat wajah Wiraprana untuk yang
terakhir kalinya.”
Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Katanya, “Apakah tidak
lebih baik kau tetap berbaring di tempatmu?”
Sekali lagi Mahisa Agni menggeleng “Tidak tolonglah aku turun
ke halaman.”
Ken Arok tidak dapat mencegahnya lagi. Dengan hati-hati,
dipapahnya Mahisa Agni turun ke halaman, untuk melihat wajah
sahabatnya terakhir kalinya. Witantra dan emban tua itu pun tanpa
sesadarnya ikut juga berdiri dan berjalan mengiringkannya turun ke
halaman.
Di samping tubuh Wiraprana yang terbaring diam, Mahisa Agni
menekurkan kepalanya. Alangkah pedih hatinya. Sahabatnya itu
telah pergi mendahuluinya.
Tiba-tiba dada Mahisa Agni itu tersentak. Ia melepaskan Ken
Dedes, karena mencintai Wiraprana. Sekarang Wiraprana telah mati
jadi bagaimanakah dengan gadis itu? Namun kembali wajahnya
terkulai lemah. Ken Dedes telah pergi jauh. Jarak Panawijen sampai
ke Tumapel adalah jarak yang sama sekali tidak berarti bagi Mahisa
Agni. Tetapi ia rasa-rasanya, Ken Dedes yang telah berada di
Tumapel itu tak akan dapat dicapainya.
Mahisa Agni itu pun kemudian menggigit bibirnya. Kini ia dapat
merasakan pula, betapa Witantra menyesali kejadian itu seperti
penyesalan yang lama-lama timbul di dalam hatinya. Seandainya,
ya, seandainya Ken Dedes tidak pernah dilepaskannya kepada
Wiraprana, apakah peristiwa seterusnya akan berbeda? Seperti
pikiran Witantra itu pula, seandainya Mahendra tidak dihalanginya,
maka Kuda Sempana tidak akan mendapat kesempatan untuk
melakukan perbuatan yang terkutuk ini.
Namun semuanya telah terjadi. Yang lewat biarlah lewat, tetapi
bagaimana yang akan datang?
Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Ki Buyut Panawijen
berkata, “Angger, biarlah mayat ini aku bawa pulang.”
Mahisa Agni mengangguk lemah. Namun betapa pun juga, ia
tidak dapat membendung gelora perasaannya. Terasa setetes air
menitik dari matanya yang suram.
“Silakan Ki Buyut,” desis Mahisa Agni perlahan sekali.
Ki Buyut itu pun kemudian mengangkat tubuh anaknya yang
telah membeku. Beberapa orang cantrik segera membantunya
memanggul jenazah itu kembali ke rumahnya.
“Mengerikan,” desis Mahisa Agni.
Witantra dan Ken Arok pun memandangi jenazah itu sampai
hilang di balik regol halaman. Sesaat mereka masih terpaku di
tempatnya, seperti membeku pula.
Sekali Mahisa Agni menyeringai menahan pedih di punggungnya
dan pedih di hatinya. Kemudian katanya, “Tolonglah aku ke dalam
bilikku Ken Arok.”
Ken Arok dan Witantra tersadar dari angan-angannya.
Dipapahnya Mahisa Agni masuk ke dalam biliknya. Witantra dan
emban tua itu pun masih saja berjalan mengiringi mereka.
Ketika Mahisa Agni itu berbaring diambilnya, terasa perasaan
yang asing menyentuh jantungnya. Bilik ini telah lama
ditinggalkannya. Tetapi tak sehelai benang pun yang berubah sejak
ia pergi. Bahkan tak sebutir debu pun yang mengotori setiap
perabotnya. Ambennya, glodok tempat pakaiannya, sosok kendi di
sudut dan tlundak lampu pada tiang di sisi bilik itu.
Tetapi bilik itu pun kemudian telah menyeretnya kembali ke
masa-masa yang lewat itu. Ke masa-masa ia hidup bertahun-tahun
bersama-sama dengan seorang gadis yang bernama Ken Dedes dan
seorang sahabat yang hampir setiap hari datang berkunjung
kepadanya, Wiraprana. Sekarang keduanya telah pergi. Hilang dan
tak akan ditemuinya kembali.
Sekali lagi Mahisa Agni berdesah. Dilihatnya Ken Arok, Witantra
berdiri kaku di samping pembaringannya. Dan dilihatnya perempuan
tua itu dengan penuh kecemasan memandanginya.
Wajah-wajah yang hadir di dalam biliknya itu adalah wajah-wajah
baru bagi Mahisa Agni selain emban tua itu. Sepeninggal Wiraprana,
maka hadirlah Ken Arok dan Witantra itu di dalam bilik ini. Tetapi
bagaimanakah seterusnya dengan mereka itu.
Bilik Mahisa Agni itu pun menjadi sunyi. Yang terdengar hanyalah
tarikan nafas mereka yang terengah-engah Mahisa Agni yang
terbaring itu pun kemudian mencoba untuk menenteramkan
hatinya, supaya ia dapat beristirahat. Bukan saja tubuhnya, tetapi
juga perasaan serta angan-angannya.
Tetapi ternyata ia tidak segera dapat melakukannya. Sebab
emban tua itu pun berkata, “Mahisa Agni. Bagaimana dengan Ken
Dedes kemudian?”
Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak tahu. Aku sudah meminta
kepada Ken Arok untuk mengamat-amatinya. Mudah-mudahan gadis
itu tidak menderita.”
“Aku tidak dapat berpisah dengan gadis itu,” desah emban tua
itu, “aku adalah pemomongnya sejak anak itu masih terlalu kecil.”
Mahisa Agni terdiam. Ia tidak tahu, bagaimana memenuhi
permintaan itu. Namun tiba-tiba Witantra itu berkata, “Bibi, apakah
kau pemomong Ken Dedes itu?”
“Ya Ngger,” sahut perempuan itu.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya
kepada Ken Arok, “Adi, biarlah perempuan tua itu ikut ke Tumapel.
Sebelum itu dapat menemui Ken Dedes di manapun, biarlah ia
tinggal bersama keluargaku. Atau keluarga Mahendra.”
Ken Arok memandang Witantra dengan penuh keragu-raguan.
Apakah orang itu berkata dengan jujur? Baru saja ia mengumpatumpat
Mahisa Agni.
Tetapi wajah Witantra menunjukkan kesungguhan hatinya.
Sehingga karena itu maka Ken Arok itu pun mempercayainya.
Meskipun, demikian ia tidak menjawab. Ditatapnya wajah Agni yang
pucat itu, berganti-ganti dengan wajah perempuan yang telah
berkeriput penuh tekanan-tekanan di masa-masa lampau dan
kesuraman di masa kini.
Mahisa Agni pun tidak dapat menentukan jawabnya. Karena itu
maka ia bertanya kepada emban tua itu, “Bagaimanakah Bibi? Bibi
untuk sementara tinggal bersama keluarga Witantra atau keluarga
Mahendra di Tumapel. Setiap kesempatan akan segera dapat
dipergunakan. Bibi dapat bertemu dan selalu melayani Ken Dedes.
Mungkin ada hal-hal yang dapat bibi berikan kepada gadis itu.”
Perempuan tua itu tidak dapat melihat kemungkinan lain yang
lebih baik daripada itu. Karena itu, maka jawabnya, “Aku
sebenarnya tidak ingin menyibukkan keluarga Angger atau keluarga
siapa pun.”
“Kami tidak akan berkeberatan Bibi.”
Akhirnya, maka emban itu pun dengan penuh rasa terima kasih
menerima tawaran Witantra untuk pergi bersama ke Tumapel dan
singgah sementara di dalam lingkungan keluarganya. Mungkin
kesempatan itu akan datang, berada di dekat Ken Dedes kembali
sebagai emban yang telah mengenalnya hampir setiap persoalan
lahir dan batinnya.
Mahisa Agni pun kemudian tidak dapat berbuat lain daripada
melepaskan perempuan tua itu pergi. Dengan penuh harapan
Mahisa Agni berpesan kepada Ken Arok dan Witantra, menitipkan
perempuan tua itu untuk mendapatkan perlindungan mereka.
“Kami akan mencoba,” sahut Ken Arok.
Perempuan tua itu pun kemudian dengan tergesa-gesa
membenahi pakaiannya. Beberapa lembar kain lungset, kemben dan
sepotong kain setagen.
“Aku sudah siap,” katanya kemudian.
“Marilah kita berangkat,” berkata Ken Arok sambil berpaling
kepada Witantra.
Witantra menganggukkan kepalanya. Namun ia melangkah
mendekati Mahisa Agni. Bisiknya, “Agni lupakan kata-kataku. Aku
minta maaf.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Dadanya terasa berdentingan
oleh kata-kata Witantra itu. Karena itu maka ia pun menjawab, “Aku
juga minta maaf kepadamu, kepada Mahendra dan kalau kau
sempat bertemu, kepada Ken Dedes.”
“Marilah kita lupakan persoalan itu,” desis Witantra.
Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi ia hanya mengangguk kecil.
“Marilah!” berkata Witantra kemudian kepada Ken Arok.
Mereka pun kemudian bermohon diri. Tetapi tiba-tiba perempuan
itu kembali dan memeluk tubuh Mahisa Agni. Di dalam tangisnya
perempuan itu berkata, “Agni. Lekaslah sembuh. Aku terpaksa pergi
ke Tumapel. Mudah-mudahan aku dapat berbuat sesuatu untuk Ken
Dedes. Beberapa orang cantrik akan merawatmu. Obat-obat yang
ada padaku telah aku tinggalkan.”
Mahisa Agni itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.
Terasa sesuatu yang semakin menekan di dalam rongga dadanya.
Perpisahan di antara orang-orang yang hampir setiap hari bertemu,
bercakap dan bergurau. Tetapi perempuan ini bukan sekedar orang
asing yang sudah menjadi kerabat dalam satu keluarga. Tetapi
perempuan itu adalah ibunya. Karena terasa betapa sesak
napasnya. Meskipun demikian dipaksanya juga mulutnya berkata,
“Berangkatlah bibi. Marilah kita saling berdoa yang Maha Agung
akan melindungi kita masing-masing.”
Akhirnya tubuh Mahisa Agni yang telah menjadi basah karena air
mata itu dilepaskannya. Perlahan-lahan perempuan tua itu berjalan
meninggalkan pembaringan Agni. Namun sampai di pintu sekali lagi
ia berpaling. Ditatapnya wajah Agni yang pucat. Dan bibir
perempuan itu bergetar-getar, namun tak sepatah kata pun yang
terloncat keluar. Tetapi di dalam hatinya terdengarlah suara yang
riuh, “Anakku. Aku tidak tahu apakah aku masih mempunyai
kesempatan untuk mengambil gadis itu untukmu. Tetapi jalan telah
terlalu jauh.”
Perempuan tua itu pun kemudian lenyap pula dari halaman
rumah Empu Purwa. Meskipun semula ia menolak, namun akhirnya
perempuan itu mau juga naik ke atas punggung kuda dengan
dilayani oleh Ken Arok. Mereka berdua naik di atas satu punggung
kuda. Sedang Witantra dan beberapa orang yang lain, prajurit yang
berwajah kasar namun bermata basah dan beberapa kawannya,
berkuda di belakangnya.
Mereka pergi membelakangi padukuhan yang muram ke kota
yang cerah. Namun di belakang kecerahan wajah kota itu
tersembunyi berbagai noda-noda hitam mengerikan.
Bilik Mahisa Agni pun kemudian menjadi sepi, sesepi hatinya.
Orang-orang yang pernah tersangkut di hatinya, satu-satu telah
meninggalkannya. Wiraprana telah pergi untuk tidak akan kembali
lagi. Ken Dedes telah pergi pula jauh sekali.
“Gadis itu telah pergi sejak lama dariku,” gumamnya seorang diri.
Tetapi ia tidak dapat menghibur dirinya sendiri dengan kata-kata
itu.
Kepergian Ken Dedes kali ini tidak diikhlaskannya seperti
kepergiannya yang dahulu. Kepergiannya dari rongga hatinya.
Dan yang terakhir ibunya pun telah pergi. Tetapi ia melepaskan
ibunya dengan penuh harapan. Setidak-tidaknya ibunya akan dapat
menghibur hati Ken Dedes.
Tetapi tiba-tiba hatinya memercik seperti api yang tiba-tiba saja
menyala. Gurunya. ya Empu Purwa sampai sekarang belum juga
pulang. Bagaimanakah kalau gurunya itu kembali? Apakah orang tua
itu akan menjadi marah, ataukah menjadi sedih dan berputus asa?
Apakah Empu Purwa yang sakti itu tidak akan mampu mengambil
putrinya kembali?
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tumapel adalah suatu
negeri yang dikuasai oleh seorang Akuwu lengkap dengan tata
pemerintahan dan alat-alat kekuasaannya. Tunggul Ametung
memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan hanya melawan satu
orang. Empu Purwa. Betapa saktinya gurunya dan dengan dirinya
sendiri sekali pun, bahkan dengan seluruh penduduk Panawijen,
apakah mereka akan dapat melawan Tumapel? Sedang Mahisa Agni
pun tahu, setidak-tidaknya dapat menduga, bahwa di dalam istana
itu pun pasti ada orang-orang sakti, guru-guru dari para prajurit
dan
akuwu sendiri. Meskipun mereka orang seorang seandainya tidak
ada yang menyamai kesaktian Empu Purwa, namun mereka akan
dapat bersama-sama melawannya.”
Mahisa Agni pun menjadi bersedih karenanya. Usaha yang dapat
dilakukan untuk membebaskan Ken Dedes menjadi semakin jauh
dari otaknya. Tetapi, betapa pun juga ia masih mengharap, gurunya
segera datang kembali.
“Kalau guru tidak segera kembali,” desisnya, “apabila lukaku
telah menjadi agak baik, aku akan pergi mencarinya.”
Mahisa Agni itu terkejut ketika seorang cantrik menjenguknya di
ambang pintu. Cantrik yang telah agak tua itu dengan iba
memandangnya sambil berkata, “Adakah sesuatu yang perlu aku
kerjakan Ngger?”
“Tidak Paman,” sahut Agni.
Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya masih dari luar
pintu, “Emban tua, pemomong Ken Dedes minta aku merawatmu.”
“Terima kasih, Paman. Kalau perlu, aku akan memanggilmu.”
“Baik. Aku tidak akan berada terlalu jauh dari bilik ini.”
Orang tua itu pun kemudian pergi meninggalkannya. Kembali
bilik itu menjadi sepi, sesepi hatinya.
Dalam pada itu, di jalan yang menuju ke Tumapel, Tunggul
Ametung dan Kuda Sempana memacu kudanya cepat sekali. Mereka
sama sekali tidak menghiraukan, bahwa beberapa pasang mata
penduduk Tumapel memandangi mereka itu dengan pertanyaan
yang memukul-mukul dada.
“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” desis salah seorang dari
mereka.
Kawannya berbicara menggelengkan kepalanya. “Entah,”
jawabnya. Namun mata mereka tetap memancarkan keheranan
mereka.
Kuda Sempana masih berpacu di depan sambil menjagai Ken
Dedes yang belum juga sadar. Hanya sekali ia menggeliat, namun
kemudian ia menjadi pingsan kembali.
Kuda Sempana itu pun menjadi cemas melihat keadaan Ken
Dedes itu. Karena itu ia berpacu lebih cepat lagi. Ia ingin segera
sampai ke Tumapel dan dengan demikian maka Ken Dedes itu
segera dapat dirawatnya.
Akuwu dari Tumapel, Tunggul Ametung yang berkuda di
belakang Kuda Sempana, memandang debu yang mengepul di
bawah kaki kuda yang berpacu di hadapannya dengan pandang
yang kosong. Tiba-tiba otaknya dirayapi oleh berbagai pertanyaan
yang tumbuh di sepanjang jalan.
Akuwu itu melihat apa yang telah terjadi di Panawijen. Dan ia
melihat pula, apa yang telah dilakukan oleh Kuda Sempana.
Dihubungkannya apa yang telah dikatakan oleh Kuda Sempana
sebelum mereka berangkat berburu, dan apa yang telah
dilakukannya di rumah gadis itu. Dirasakannya apa yang telah
dilakukan oleh Witantra dan kemudian oleh Ken Arok.
Tunggul Ametung itu pun kemudian menggeram. Tiba-tiba ia
melihat bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap Kuda Sempana.
Karena itu, maka timbullah niatnya untuk melihat keadaan
sewajarnya. Kalau nanti ia sampai di Tumapel, akan dipanggilnya
Witantra, Ken Arok, Kuda Sempana dan Ken Dedes itu. Bahkan
kalau perlu akan dipanggilnya kakak Ken Dedes yang terluka karena
anak panah prajuritnya yang kemudian telah dibunuh oleh Ken Arok
hanya dengan sebuah pukulan di dadanya.
“Hem,” gumamnya, “anak yang diberikan oleh Lohgawe padaku
itu benar-benar luar biasa. Namun ternyata kakak gadis yang
dibawa oleh Kuda Sempana itu pun luar biasa pula.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Mulutnya kemudian
berkomat-kamit, namun matanya tiba-tiba menjadi tajam.
Dipandanginya punggung Kuda Sempana, dan dilihatnya gadis di
tangan Kuda Sempana itu. Sekali lagi dada Tunggul Ametung
berdesir. Gadis itu adalah gadis yang aneh di dalam pandangan
matanya. Cantik bagai bidadari. Tidak. Meskipun Ken Dedes itu
cantik, namun ia adalah seorang gadis biasa. Seperti gadis-gadis
lain yang cantik pula. Namun kecantikan Ken Dedes itu bukannya
menakjubkan. Tetapi ada yang lain menarik perhatiannya. Tunggul
Ametung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu,” gumamnya seorang diri, “Aku tidak tahu.
Apakah yang aneh pada gadis itu?”
Hati Tunggul Ametung itu tiba-tiba terguncang ketika ia melihat
Kuda Sempana membelok pada suatu tikungan. Dilihatnya gadis itu
seperti sebuah golek yang indah. Namun dari tubuh gadis itu
tibatiba
dilihatnya seakan-akan nyala yang memancar daripadanya.
Mata Tunggul Ametung pun terbelalak pula karenanya. Karena
nyala yang dilihatnya itu. Karena itu maka segera ia berpacu lebih
cepat. Tunggul Ametung itu kini ingin berkuda di samping Kuda
Sempana.
Tetapi ketika Tunggul Ametung itu telah berada di samping Kuda
Sempana dan diamatinya tubuh Ken Dedes, maka akuwu itu
menjadi heran. Tubuh itu benar-benar tubuh seorang gadis biasa.
Bahkan terlalu pucat.
Tunggul Ametung menggelengkan kepalannya.
“Apakah aku sudah menjadi gila?” desahnya di dalam hati “aku
benar-benar melihat nyala pada tubuh itu. Bersinar seperti bara api
baja. Tetapi sinar itu sekarang lenyap. Hem. Apakah yang aku lihat
hanyalah pantulan sinar matahari?”
Tetapi akuwu itu tidak menemukan jawabannya. Karena itu ia
menjadi bingung dan berdebar-debar. Diketahuinya bahwa Ken
Dedes itu adalah putri seorang pendeta. Dan tiba-tiba ia menjadi
cemas.
Perjalanan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan
Istana Tunggul Ametung Kuda Sempana yang masih belum
berkeluarga itu pun tinggal pula di dalam barak di samping istana
bersama beberapa orang kawannya. Karena itu, maka Kuda
Sempana menjadi bimbang. Apakah Ken Dedes itu akan dibawa ke
sana? Apakah dengan demikian tidak akan menimbulkan persoalan
pula dengan beberapa orang kawannya mengenai gadis yang cantik
itu? Karena itu, maka ia menjadi
bimbang, sehingga lari kudanya pun
menjadi semakin lambat.
“Kenapa?” bentak Tunggul Ametung
tiba-tiba.
Kuda Sempana terkejut mendengar bentakan itu. Tetapi segera
ia menjawab, “Apakah gadis ini hamba bawa ke barak hamba?”
“Bawa dia ke istana,” jawab Tunggul Ametung.
Kuda Sempana tersenyum Akuwu Tumapel benar-benar berbaik
hati kepadanya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk
menyingkirkan gadis itu dan menyembunyikannya dari ayahnya di
istana. Ia yakin bahwa Empu Purwa dan Mahisa Agni tidak akan
berani mengganggunya seandainya gadis itu berada di istana.
Tetapi Kuda Sempana itu sama sekali tidak tahu apa yang tersimpan
di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung. Kebimbangan, kecemasan,
ketakjuban dan perasaan-perasaan yang bercampur baur. Bahkan
akuwu itu hampir-hampir merasa bahwa perasaannya telah tidak
dapat dikendalikan lagi.
Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian
langsung masuk ke halaman dalam Istana Tumapel. Beberapa orang
pelayan, juru taman dan emban terkejut bukan kepalang. Kenapa
tiba-tiba Akuwu telah kembali tanpa tengara apa pun. Baru pagi tadi
mereka berangkat. Dan agaknya Akuwu tidak bermalam di
perburuan. Biasanya apa bila akuwu itu kembali, beberapa orang
telah mendahuluinya dan membunyikan tengara kentongan dan
sangkakala. Tetapi tiba-tiba saja akuwu telah berada di halaman
bersama dengan Kuda Sempana yang memapah seorang gadis yang
pingsan.
“Bawa ia masuk!” perintah Akuwu itu kemudian.
Dengan hati-hati Kuda Sempana turun dari kudanya, dan
membawa masuk ke istana dalam.
Beberapa orang pelayan yang lain memandangi mereka itu
dengan penuh pertanyaan di dalam dada mereka. Sehingga karena
itu mereka bahkan berdiri saja dengan mulut ternganga.
Mereka terkejut bukan buatan ketika mereka mendengar Akuwu
Tumapel berteriak dengan lantangnya, “He, kenapa kalian diam saja
seperti patung? Cepat, bersihkan bilik untuk gadis itu. Cepat!”
Para emban menjadi bingung. Cepat mereka berlari
berhamburan. Tetapi mereka belum tahu bilik mana yang harus
dibersihkannya sehingga dengan demikian mereka hanya berlarilarian
saja berputar-putar.
“He, kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi gila?” teriak Akuwu
Tumapel itu keras. “Bersihkan bilik untuk Ken Dedes!”
Para emban menjadi semakin takut. Namun mereka masih juga
belum tahu, bilik manakah yang harus dibersihkannya. Seorang
yang paling tenang di antara mereka itu mencoba memberanikan
diri bertanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, katanya gemetar,
“Tuanku, bilik manakah yang harus hamba bersihkan?”
Akuwu itu pun tiba-tiba menyadari pula kebingungan para emban
itu. Tetapi ia pun menjadi bingung pula sendiri. Bilik yang mana?
Tiba-tiba akuwu itu menjawab, “Sentong tengen!”
Bukan main terkejutnya Kuda Sempana. Ken Dedes itu harus
dibaringkan di dalam bilik kanan istana Akuwu Tunggul Ametung di
Tumapel. Bilik yang selama ini belum pernah terisi. Akuwu sendiri
tidak pernah tidur di dalam bilik itu. Sebenarnyalah demikian
kebiasaan yang harus dilakukan. Bilik itu akan selalu kosong
sebelum Akuwu Tumapel mempunyai sisihan, seorang permaisuri
yang akan mendampingi akuwu itu dalam memerintah negerinya.
Karena itu maka Kuda Sempana itu pun menjadi gemetar dan
bertanya-tanya di dalam hati, “Apakah artinya ini?”
Para emban pun terkejut pula mendengar perintah itu. Namun
segera mereka menjadi gembira. Berlari-larian mereka pergi ke
sentong tengen dan membersihkannya dengan penuh hormat.
Ditaburnya pembaringan di sentong itu dengan bunga dan
dialasinya dengan kain paling baik di dalam istana itu. Salah
seorang
dari mereka berbisik perlahan-lahan, “Kau mengenal gadis itu?”
Yang ditanya menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak gembira
seperti kawan-kawannya.
“Kenapa kau bersedih?” bertanya kawannya. Tetapi emban yang
satu itu tetap berdiam diri.
“He,” goda yang lain, “apakah kau ingin dibaringkan di
pembaringan ini?”
Emban yang diganggu itu menjawab serta-merta, “Aku tidak gila.
Tetapi kalian sudah melihat gadis itu?”
“Kenapa?”
“Kalian melihat pakaian yang dipakainya? Kain lurik kasar dan
bersanggul urai?”
“Oh,” tiba-tiba yang mendengar menjadi kecewa pula, sehingga
mereka berdesis, “Seorang gadis dari pedesaan saja?”
Para emban itu pun kemudian saing berpandangan. Kalau gadis
itu hanya gadis pedesaan, maka apakah sudah sepantasnya
dibaringkan di sentong kanan ini? Tetapi mereka tidak berani
menanyakan kepada Tunggul Ametung. Mereka tinggal menjalankan
perintah itu. Mereka membersihkan bilik sebelah kanan.
Tetapi yang paling berdebar-debar di antara semua orang itu
adalah Kuda Sempana. Ia sama sekali tidak tahu, apakah maksud
sebenarnya dari Akuwu Tunggul Ametung dengan perintahnya itu.
Meskipun demikian Kuda Sempana tidak berani bertanya pula
kepada Akuwu Tumapel, seperti para emban itu juga. Karena itu,
maka dengan hati yang penuh pertanyaan, Ken Dedes itu
dibawanya ke bilik istana yang sebelah kanan.
Namun ternyata Akuwu Tumapel itu terkejut pula ketika ia sadar
akan perintahnya sendiri. Perintah itu seakan-akan demikian saja
meluncur dari mulutnya. Ketika mereka telah sampai di muka bilik
itu, bahwa bilik yang sebelah kanan ini adalah bilik yang
dikosongkannya. Bilik yang hanya akan dipakai kelak apabila Akuwu
sudah bepermaisuri. Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia memerintahkan
membawa Ken Dedes ini ke bilik itu. Akuwu itu pun menjadi
berdebar-debar pula. Ia seperti Kuda Sempana. Sesaat ia
termenung dan berdiri saja mematung. Dibiarkannya Kuda Sempana
berdiri dengan penuh kebimbangan di muka bilik itu.
Akuwu itu terkejut ketika seorang emban berkata kepadanya,
“Ampun Tuanku. Bilik kanan sudah hamba siapkan bersama-sama.”
“He,” sahut Akuwu itu, “kenapa bilik itu?”
Emban itu menjadi berheran-heran. Bukankah Akuwu
memerintahkan membersihkan sentong tengen. Para emban itu pun
kemudian saling berpandang-pandangan dengan penuh kecemasan.
Mereka melihat wajah Tunggul Ametung menjadi tegang. Sekali
ditatapnya wajah Ken Dedes yang pucat itu. Kini dilihatnya gadis
itu
bergerak-gerak. Karena itu maka Akuwu itu pun menjadi semakin
bingung. Gadis itu harus segera dibaringkan untuk mendapat
perawatan.
Kuda Sempana menjadi bingung pula. Terasa di tangannya Ken
Dedes mulai menggeliat. Dan terdengar ia merintih perlahan-lahan.
Sehingga tanpa sengaja ia bertanya, “Ampun Akuwu, di mana gadis
ini harus aku letakkan?”
Akuwu Tumapel menjadi gelisah. Karena itu, maka sekali lagi
tanpa dipikirkannya, ia berkata, “Baringkan di bilik itu!”
Kuda Sempana tidak sempat berpikir lagi. Ken Dedes luluh mulai
ber-gerak-gerak semakin banyak. Karena itu maka segera ia masuk
ke sentong tengen, dan dibaringkannya Ken Dedes di pembaringan
yang telah menjadi bersih dan ditaburi oleh bunga-bunga yang
baunya dapat memberikan ketenangan, sedap.
Ken Dedes yang dengan perlahan-lahan diletakkan di
pembaringan itu membuka matanya. Dicobanya untuk mengenal
tempat itu. Tetapi ia menjadi bingung. Dan ketika tiba-tiba di
lihatnya wajah Kuda Sempana yang berjongkok di samping, tiba-tiba
Ken Dedes itu menjerit. Sekali lagi ia jatuh pingsan.
Kuda Sempana yang bingung menjadi semakin bingung. Dengan
gelisahnya ia memandangi wajah Akuwu Tunggul Ametung yang
berdiri bersilang tangan di dada.
“Gadis ini pingsan lagi Tuanku,” desah Kuda Sempana.
Adalah di luar kehendak Akuwu Tunggul Ametung sendiri, bahwa
seakan-akan menjadi kewajibannya untuk membantu Kuda
Sempana menolong gadis itu. Tunggul Ametung adalah seorang
akuwu yang berkuasa. Yang berbuat menurut apa saja yang
dikehendakinya. Namun kini tiba-tiba ia menjadi gelisah pula. Dan
dengan tergopoh-gopoh ia berjalan keluar sambil berteriak
memanggil, “He emban, kemari!”
Emban yang duduk berjajar-jajar di ruangan itu terkejut
mendengar teriakan akuwu itu. Seorang emban yang tertua datang
menghadap sambil menyembah, “Hamba Tuanku.”
“cepat, panggil Bibi Puroni. Suruh ia merawat gadis yang pingsan
itu!”
“Hamba Tuanku,” sembah emban itu sambil bergeser
meninggalkan ruangan itu.
Sesaat kemudian datanglah seorang dukun tua. Seorang
perempuan yang berwajah sayu namun penuh ketenangan seakanakan
di dalam wajah itu terpendam berbagai macam pengalaman
hidup yang telah ditempuhnya hampir delapan puluh tahun.
“Bibi,” berkata Akuwu Tunggul Ametung ketika orang tua itu
telah datang, “di dalam bilik itu ada seorang gadis yang pinggan.
Bukan karena sakit dan bukan karena sebab-sebab lain. Tetapi ia
pingsan karena ketakutan. Nah, rawatlah. Tenangkanlah dan
terserah apa saja yang akan kau lakukan atasnya.”
Perempuan tua itu, yang bernama Puroni, menyembah sambil
berkata, “Hamba Tuanku. Kalau berkenan di hati Tuanku, biarlah
aku mencobanya. Di manakah gadis itu sekarang?”
“Di situ. Di dalam bilik itu,” jawab Akuwu Tumapel sambil
menunjuk sentong kanan.
Perempuan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya pintu
sentong tengen yang menganga itu. Namun yang dilihatnya hanya
sebuah rana yang menakbiri pembaringan di dalam sentong itu.
“Masuklah! Jangan ditunggu anak itu mati!” teriak Akuwu
Tunggul Ametung.
Perempuan tua itu sama sekali tidak terkejut. Telah berpuluh,
bahkan beratus dan beribu kali ia mendengar Akuwu Tunggul
Ametung membentak-bentak dan berteriak-teriak. Karena itu maka
ia masih tetap tenang. Sambil menyembah ia menyahut, “Baiklah
Tuanku. Biarlah aku mencobanya.”
Bibi Puroni itu pun kemudian pergi ke sentong tengen. Ia terkejut
ketika dilihatnya Kuda Sempana ada di dalamnya.
“Oh,” desahnya, “apakah Angger sedang menungguinya?”
“Ya,” sahut Kuda Sempana pendek.
Perempuan itu menjadi semakin heran. Apakah sebenarnya yang
telah terjadi sehingga Akuwu Tumapel itu benar-benar seperti orang
yang bingung sehingga dibiarkannya Kuda Sempana berada di
dalam bilik itu? Dan dibiarkannya berlaku di luar kebiasaan?
Seharihari
di saat-saat yang lewat.
Betapa ia menahan diri, namun ia tidak dapat menahan lagi
keinginannya untuk mengetahui serba sedikit, apakah yang telah
dilakukan oleh akuwu atau oleh Kuda Sempana terhadap gadis itu,
atau siapakah sebenarnya gadis yang pingsan itu. Karena itu maka
katanya bertanya, “Angger Kuda Sempana. Siapakah gadis yang
pingsan itu, dan kenapakah mula-mula sebabnya, sehingga ia
menjadi ketakutan?”
“Gadis itu bakal istriku Nyai Puroni,” jawab Kuda Sempana.
Sekali lagi Nyai Puroni itu terkejut. Kalau gadis itu benar-benar
bakal istri Kuda Sempana, kenapa ia dibaringkan di sentong tengen
istana Tumapel?”
Bibi Puroni itu menjadi semakin bingung. Sepengetahuannya
Kuda Sempana tidak lebih dari seorang pelayan dalam. Meskipun
pelayan dalam yang paling dekat dengan akuwu. Tetapi apakah
demikian besar pengaruhnya, sehingga bakal istrinya diizinkan
menempati sentong tengen itu.
Tetapi Nyai Puroni tidak sempat untuk memikirkannya terlampau
lama. Ia harus segera menolong gadis itu. Karena itu, maka ia tidak
lagi menghiraukan Kuda Sempana. Apakah gadis itu calon istrinya,
atau apapun, namun sudah menjadi kewajibannya untuk
menolongnya.
Nyai Puroni itu pun kemudian berjongkok di samping
pembaringan Ken Dedes. Perlahan-lahan dirabanya tangannya,
dadanya dan kemudian keningnya. Telah berpuluh bahkan beratus
kali ia menolong orang-orang yang pingsan seperti itu. Sehingga
segera ia dapat menentukan, apakah yang harus dilakukan.
Diambilnya beberapa macam ramuan obat-obatan dari sebuah
bungkusan dan dengan ragu-ragu ia berkata kepada Kuda
Sempana, “Angger, apakah ada seorang emban yang dapat
membantu aku?”
“Ya. ya Nyai. Biarlah aku panggilkan emban itu,” sahut Kuda
Sempana dengan gugup.
Ketika Kuda Sempana itu keluar dari ruangan, dilihatnya Akuwu
Tunggul Ametung sedang duduk merenung. Ditundukkannya
kepalanya sedang kedua tangannya menyangga keningnya.
“Tuanku,” berkata Kuda Sempana perlahan-lahan.
Akuwu Tumapel mengangkat wajahnya. Ditatapnya Kuda
Sempana dengan pandangan yang aneh.
“Apa,” bertanya akuwu itu lemah.
“Nyai Puroni memerlukan seorang emban untuk membantunya.”
“Oh,” Akuwu itu terkejut. Kemudian sambil menunjuk seorang
emban ia berkata, “Masuklah!”
Dengan tergopoh-gopoh emban itu segera masuk ke dalam
sentong kanan itu. Kuda Sempana pun segera mengikutinya pula.
Namun demikian ia sampai di ambang pintu, maka segera Bibi
Puroni berkata, “Tunggulah di luar Ngger.”
“Oh,” desah Kuda Sempana, “kenapa?”
“Aku sedang mengobatinya.”
“Ya. Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya akan
menungguinya.”
“Jangan, tidak baik. Gadis ini belum istrimu.”
“Kenapa tidak baik?”
Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya
berdesah “Aku sedang akan mengurut seluruh tubuhnya. Tunggulah
di luar. Gadis ini tidak akan berkurang cantiknya.”
“Lakukanlah. Biarlah aku masuk.”
“Jangan,” sahut Bibi Puroni, “kalau Angger masuk, aku tidak akan
mengobatinya.”
“Jangan mengada-ada, Nyai!” benak Kuda Sempana.
Tetapi Kuda Sempana tidak sampai meneruskan katanya. Tibatiba
ia terkejut ketika didengarnya Akuwu Tumapel membentaknya
lebih keras, “Kuda Sempana, apakah kau sudah gila? Jangan
masuk!”
Kuda Sempana berpaling. Dipandanginya wajah Akuwu Tumapel,
dan ia menjadi semakin terkejut karenanya. Wajah itu menjadi
merah menyala, seakan-akan sedang memancarkan kemarahan
yang meluap-luap. Kuda Sempana telah mendengar beribu kali
Tunggul Ametung berteriak dan membentak. Namun kali ini Akuwu
itu benar-benar sedang marah, Meskipun Kuda Sempana sama
sekali tidak tahu, kenapa akuwu itu tiba-tiba menjadi marah.
Dengan demikian, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berani lagi
membantahnya. Dengan kepala terkulai lemah, ia duduk dilamai di
samping pintu bilik kanan itu.
Ia mengangkat wajahnya, ketika ia mendengar sebuah desah
lirih. Desah Ken Dedes. Namun ia masih juga berdebar-debar ketika
desah itu kembali diam. Kuda Sempana benar-benar seperti seorang
ayah yang untuk pertama kali menunggu bayinya yang akan lahir.
Wajahnya menjadi tegang dan pucat. Keringat dingin mengalir
dengan derasnya di segenap tubuhnya.
Akhirnya Kuda Sempana tidak sabar lagi. Segera ia beringsut
untuk memasuki bilik itu. Namun kembali ia berhenti ketika
didengarnya sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung berteriak, “Kuda
Sempana, kalau kau memasuki ruangan itu, aku bunuh kau!”
Kuda Sempana benar-benar menjadi berdebar-debar mendengar
ancaman itu. Bukan karena ia takut, namun ia merasakan sesuatu
keanehan pada nada suara Akuwu Tunggul Ametung itu. Kuda
Sempana sama sekali tidak dapat meraba, apakah sebenarnya yang
sedang dipikirkan oleh Tunggul Ametung.
Apalagi ketika Tunggul Ametung itu kemudian berkata, “Kuda
Sempana, daripada kau menunggu dengan gelisah di muka bilik itu,
tinggalkanlah ruangan ini. Kembalilah ke barakmu, dan tunggulah di
sana sambil beristirahat.”
Kuda Sempana memandang wajah Akuwu Tumapel itu dengan
hampir tak berkedip. Dicobanya untuk mengerti kata-kata itu,
namun semakin direnungkannya, maka dadanya menjadi semakin
ber-debar-debar.
Ketika Kuda Sempana belum beringsut dari tempatnya, maka
sekali lagi Tunggul Ametung itu berkata, “Tinggalkan Kuda
Sempana! Tinggalkan! Tinggalkan! Kau dengar?”
Wajah Kuda Sempana menjadi tegang. Dicobanya untuk
menjawab kata-kata itu, katanya, “Akuwu. Kalau Akuwu tidak
berkenan aku di sini, biarlah gadis aku bawa ke dalam barak
hamba.”
Wajah Tunggul Ametung yang merah, menjadi semakin
membara. Sekali ia meloncat berdiri dan sambil menunjuk pintu
keluar ia berteriak, “Keluarlah lewat pintu ini, atau kau tidak
akan
dapat keluar sendiri untuk seterusnya!”
Terasa sesuatu bergelora dengan dahsyatnya di dalam dada
Kuda Sempana. Ia sama sekali tidak dapat meraba, apakah yang
tersimpan di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung itu. Namun ia kini
menyadari bahwa Akuwu Tunggul Ametung benar-benar sedang
marah atau sedang menjadi bingung. Sehingga dengan demikian,
maka tak ada lain yang dapat dilakukan kecuali menuruti perintah
itu.
Maka Kuda Sempana itu pun membungkukkan kepalanya sambil
menyembah.
“Baik Tuanku,” katanya. Terdengar suaranya gemetar, “tetapi
bagaimanakah dengan Ken Dedes?”
Kemarahan Tunggul Ametung itu pun menjadi semakin
memuncak sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi bergetar. Dengan
lantangnya ia berteriak, “Kuda Sempana. Kali ini kesempatan yang
terakhir. Keluar dari pintu ini!”
Kini Kuda Sempana benar-benar tidak berani untuk bertanya lagi.
Perlahan ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan kepala tunduk.
Di luar pintu ia masih berpaling. Tetapi ketika dilihatnya Akuwu
Tunggul Ametung memandangnya dengan wajah yang menyala,
yang maka kembali ia menundukkan kepalanya dan berjalan
meninggalkan ruangan itu.
Betapa hati Kuda Sempana itu menjadi risau. Tiba-tiba ia menjadi
sangat cemas. Ia cemas akan kehilangan Ken Dedes. Sejak semula
telah terkandung tekad di dalam batinya, bahwa ia harus
mendapatkan gadis itu. Ketika gadis itu masih berada di Panawijen
meskipun telah dipertunangkannya dengan Wiraprana, serta
mendapat perlindungan dari Mahisa Agni yang tak dapat
dikalahkannya, namun setiap kali masih juga tumbuh di dalam
hatinya, harapan untuk dapat mengambil gadis itu. Tetapi kini,
ketika Ken Dedes telah berada di Tumapel, maka ia menjadi sangat
cemas, melampaui masa-masa yang lalu. Gigi Kuda Sempana itu
gemeretak ketika ia sampai pada sebuah pikiran, “Apakah Akuwu
akan membatalkan niatku ini? Apakah Ken Dedes seterusnya akan
tinggal di dalam istana?”
“Tidak!” Kuda Sempana itu menggeram. Namun ia untuk
seterusnya tidak berani lagi mencoba memikirkan apakah yang
kirakira
akan terjadi.
Sepeninggal Kuda Sempana Tunggul Ametung menjadi seperti
seorang yang kehilangan keseimbangan. Berbagai perasaan telah
memburunya. Sekali-kali ia mendengar suara dari bilik kanan. Suara
Nyai Puroni dan seorang emban yang membantunya. Sekali-kali ia
melihat emban itu pergi keluar, mengambil air dan beberapa buah
jeruk. Kemudian kembali mereka tenggelam di balik pintu bilik itu.
Tunggul Ametung itu pun kemudian berjalan hilir mudik
sedemikian gelisahnya di muka bilik itu.
Tetapi tiba-tiba ia menggeram, “He, apakah aku sudah gila?
Apakah peduliku atas gadis itu. Biar saja aku mati atau tidak.
Kenapa aku menjadi risau karenanya.”
Tunggul Ametung itu menghentakkan kakinya. Kemudian ia
berjalan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu, masuk ke dalam
biliknya sendiri. Seorang juru panebah terkejut bukan kepalang,
ketika tiba-tiba saja Akuwu Tunggul Ametung sudah meloncat
masuk ke dalam bilik itu. Demikian terkejutnya sehingga ia
terloncat
berdiri. Tetapi Akuwu yang masuk ke dalam bilik itu pun terkejut
pula.
“Gila!” teriak akuwu, “apa kerjamu di sini?”
“Ampun Tuanku. Hamba sedang membenihkan pembaringan
Tuanku.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Hamba sangka Tuanku tidak segera kembali berburu.”
“Apa? He!” akuwu tiba-tiba menangkap rambut juru panebah itu
sambil membentak, “Jadi kalau aku tidak ada bilik ini tidak pernah
kau bersihkan?”
“Ampun Tuanku,” juru panebah itu tiba-tiba menangis, “ampun.
Bukan maksud hamba berkata demikian. Maksud hamba, baru nanti
senja akan hamba bersihkan, setelah sehari ini dua kali hamba
bersihkan. Tadi pagi-pagi setelah Tuanku bangun dan siang tadi
ketika hamba membersihkan segenap ruangan ini.”
“Pergi! Pergi!” bentak akuwu yang marah itu.
Demikian rambut juru panebah itu dilepaskan, maka segera ia
terjatuh duduk di lantai sambil menyembah. Kemudian perlahanlahan
ia bergeser dan keluar dari ruangan itu. Tetapi begitu ia
keluar dari pintu bilik, maka segera lenyaplah tangisnya. Bahkan
dengan tersenyum-senyum ia mengumpat, “Bukan main. Baru saja
aku menyisir rambutku.”
Tetapi juru panebah itu tidak berpaling. Ditinggalkannya ruang
dalam kembali ke dalam biliknya jauh di belakang. Di sepanjang
halaman itu ia masih bergumam, “Kalau marah kepadaku, maka
alamat aku akan mendapat rezeki.”
Akuwu yang sedang kebingungan itu segera membaringkan
dirinya di pembaringannya tanpa melepas pakaiannya. Ia
menggeliat ketika terasa sesuatu mengganggu punggungnya.
“Ah,” desahnya sambil bangkit kembali. Kerisnya pun ternyata
masih terselip di antara ikat pinggangnya, sehingga sambil
mengumpat-umpat maka terpaksa akuwu itu bangkit melepas
kerisnya dan diletakkannya di samping bantalnya.
Sambil berbaring Tunggul Ametung mencoba menenangkan
pikirannya. Ia adalah seorang akuwu yang keras hati. Namun
kadang-kadang hatinya selunak malam. Sehingga demikian, maka
akuwu itu seakan-akan tidak mempunyai suatu sikap yang tetap.
Namun sebenarnya Akuwu adalah seorang yang sulit untuk
dimengerti. Bahkan pelayan-pelayannya yang terdekat pun selama
ini masih belum mampu untuk mengetahui, apakah sebenarnya
yang berkenan di hati akuwu itu.
Bahkan suatu ketika Tunggul Ametung sendiri tidak dapat
mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Demikian gelapnya
sehingga Akuwu itu menjadi sangat gelisah. Kehadiran gadis itu
benar-benar telah merampas ketenangan hatinya.
“Apakah Kuda Sempana berkata sebenarnya?” desisnya, dan
diteruskannya, “Melihat keadaan di rumah gadis itu, maka agaknya
Kuda Sempana telah menipuku.”
Tunggul Ametung menggeram, “Aku harus mengetahui keadaan
yang sebenarnya.”
Di bilik kanan Nyai Puroni berusaha sedapat-dapatnya untuk
menolong Ken Dedes yang sedang pingsan. Kakinya yang dingin
seolah-olah membeku telah digosok-gosoknya dengan reramuan
penghangat. Jahe, minyak kelapa dan beberapa macam lagi.
Dahinya, tengkuknya dan perutnya, menurut pengalaman yang
sudah ber-tahun-tahun didapatnya.
Lambat laun gadis itu pun menggeliat. Perlahan-lahan
digerakkannya tangannya, kakinya dan akhirnya sekali lagi Ken
Dedes membuka matanya.
“Eling, Angger,” bisik Nyai Puroni perlahan-lahan.
Ken Dedes terkejut mendengar suara itu. Cepat-cepat ia
berpaling dan dipandangi orang tua yang bersimpuh di sampingnya
itu dengan seksama. Namun alangkah kecewanya. Orang tua itu
bukan embannya. Bukan pemomongnya yang seakan-akan sudah
menjadi ibunya sendiri. Karena itu sekali lagi ia menjadi bingung.
Diamat-amatinya ruangan itu. Ruangan yang belum, pernah,
dilihatnya. Ruangan yang dihiasi dengan berbagai macam bendabenda
yang berharga, dengan dinding papan yang berukir.
“Apakah aku sedang bermimpi?” desis Ken Dedes.
“Tidak Nini. Kau sama sekali tidak bermimpi,” sahut Nyai Puroni.
Sekali lagi Ken Dedes berpaling. Dipandanginya wajah dukun tua
itu. Kemudian katanya, “Siapakah engkau Nyai?”
“Aku adalah seorang dukun, Nini. Dukun yang diminta oleh
Akuwu mengobati Nini. yang sedang pingsan.”
“Akuwu?” ulang Ken Dedes.
“Ya. Nini datang bersama Akuwu dan Kuda Sempana bukankah
demikian?”
“Oh,” Desah gadis itu. Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah
yang telah terjadi. Selapis demi selapis dikenangnya kembali apa
yang sudah terjadi itu. Kuda Sempana, akuwu dan beberapa orang
prajurit. Wiraprana dan para cantrik.
“Tiba-tiba Ken Dedes itu memekik kecil. Tangisnya meledak
seperti bendungan pecah. Ditelungkupkannya tubuhnya sambil
menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Nyai Puroni tiba-tiba menjadi bingung. Kenapa gadis ini tiba-tiba
menangis. Karena itu maka untuk sesaat Nyai Puroni itu
terbungkam. Meskipun tangannya membelai rambut Ken Dedes
dengan kasih seorang tua, tetapi ia tidak dapat menghiburnya
dengan kata-kata. Ia tidak tahu persoalan apa yang telah terjadi.
Sesaat bilik itu menjadi sepi. Hanya isak Ken Dedes sajalah yang
terdengar. Sekali-kali terdengar desah Ken Dedes menyebut nama
ayahnya, Mahisa Agni dan Wiraprana. Namun tidak sedemikian jelas
sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung karenanya.
Demikian bingungnya sehingga tiba saja ia bertanya, “Nini, kenapa
kau menangis?”
Mendengar pertanyaan itu tangis Ken Dedes menjadi semakin
keras dan bahkan hampir tak dapat ditahannya.
Nyai Puroni yang meskipun tidak tahu sama sekali apa sebabnya
gadis itu menangis, tiba-tiba air matanya telah meleleh pula tanpa
setahunya.
“Diamlah Angger,” Nyai Puroni mencoba menghiburnya,
“Damlah! Jangan menangis, Nini.”
Tetapi Ken Dedes menangis, terus Bahkan semakin lama semakin
keras, sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung ia tidak tahu
apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia tidak dapat menghibur gadis
itu tanpa mengetahui sebab-sebabnya ia menangis.
Akhirnya, dalam kebingungan Nyai Puroni itu berbisik kepada
emban yang duduk di sampingnya, “Sampaikan kepada Akuwu apa
yang kau lihat.”
Emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia pun
bangkit dan berjalan keluar. Namun di ruang dalam itu tak
dilihatnya Tunggul Ametung, sehingga sesaat ia tertegun. Namun
kemudian dari seorang emban yang lain, diketahuinya bahwa Akuwu
Tunggul Ametung berada di pembaringannya.
“Tolong. Sampaikan kepada Akuwu, bahwa gadis itu telah sadar.
Tetapi ia menangis saja,” berkata emban itu.
Emban yang lain menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tidak.
Aku tidak mau masuk ke dalam bilik selagi Akuwu ada di dalamnya.”
“Kenapa?”
Emban itu tidak menjawab.
“Cepat! Sampaikanlah kepada Akuwu!”
Emban itu tidak juga menjawab, tetapi ia menggeleng.
“Kenapa? Kenapa?”
Sekali lagi ia hanya menggeleng saja.
“Oh. Anak bengal,” gerutu emban itu. Dan dengan tergesa-gesa
ia sendiri pergi ke bilik akuwu. Meskipun hatinya berdebar-debar.
Apakah Akuwu tidak akan menjadi marah.”
Emban yang lain, yang tidak mau menghadap akuwu di biliknya
mencibirkan bibirnya. Sambil memandangi bayangan wajahnya yang
buram pada permukaan air di jambangan bunga ia berkata, “Aku
terlalu cantik. Aku tidak mau masuk ke dalam bilik Akuwu. Bukankah
Akuwu belum beristri. Huh, Kalau Akuwu memintaku baik-baik
kepada orang tuaku, entahlah. Mungkin aku akan memikirkannya.”
Emban itu kemudian tersenyum-senyum sendiri.
Emban yang lain dengan gelisah mendekati pintu bilik akuwu.
Meskipun pintu itu tidak tertutup, namun ia sama sekali tidak
berani masuk ke dalamnya. Dengan demikian maka emban itu
hanyalah mondar-mandir saja di depan pintu, kemudian dengan
keringat yang membasahi tubuhnya, ia duduk bersimpuh di hadapan
pintu bilik itu sambil menunggu, juru panebah lewat. Kepada juru
panebah ia akan minta tolong untuk menyampaikannya kepada
akuwu. Juru panebah sudah terlalu biasa masuk ke dalam bilik itu.
Dipanggil atau tidak dipanggil oleh Tunggul Ametung. Tetapi emban
itu hampir tidak pernah masuk ke dalamnya apabila tidak ada
sesuatu yang harus dilakukannya. Mengganti kain selintru atau alas
pembaringan untuk dicuci. Pekerjaannya adalah membersihkan dan
merawat sentong-sentong kiwa, tengen dan sentong tengah.
Tetapi ternyata Akuwu mendengar langkah yang mondar-mandir
itu, sehingga karena itu maka segera ia bangun dan berjalan.
Ketika Akuwu Tumapel itu melihat emban yang menunggui Ken
Dedes, maka dengan tergesa-gesa Tunggul Ametung bertanya
“Bagaimana? Bagaimana dengan gadis itu?”
Emban itu pun kemudian duduk bersimpuh sambil menyembah,
katanya, “Ampun Tuanku. Gadis itu telah sadar. Tetapi sejak tadi
selalu menangis saja. Nyai Puroni tidak berhasil menghiburnya.”
Wajah Akuwu itu pun tiba-tiba menjadi bertambah tegang.
“Baiklah,” katanya, “baiklah, aku segera datang.”
Akuwu Tunggul Ametung segera masuk kembali ke dalam
biliknya, membetulkan letak pakaiannya dan kemudian dengan
tergesa-gesa pergi ke bilik dalam sebelah kanan. Tetapi begitu ia
sampai di pintu bilik, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah
yang. dapat dilakukan terhadap gadis itu. Apakah dapat ia dapat
menenteramkan hati Ken Dedes atau menghiburnya?
Akuwu itu pun terhenti. Direnunginya pintu bilik itu. Tetapi ia
tidak jadi memasukinya. Diurungkannya niatnya untuk mencoba
menemui Ken Dedes. Gadis itu pasti masih mendendamnya. Karena
itu, maka akuwu itu dengan gelisahnya berjalan kembali ke dalam
biliknya. Ketika ditemuinya emban yang memanggilnya tadi, maka
katanya “Biarlah Bibi Puroni mencoba menenangkannya. Aku tidak
perlu datang kepada gadis itu. Aku juga belum kenal dia, dan dia
pun belum mengenal aku. Tidak ada gunanya.”
Emban itu memandangi Akuwu Tumapel dengan penuh
keheranan. Bagaimana mungkin Akuwu Tunggul Ametung itu belum
mengenal gadis itu. Kenapa dengan tiba-tiba gadis itu harus
dibaringkannya di sentong tengen.
Tunggul Ametung yang merasa emban itu memandanginya
dengan tak berkedip, tiba-tiba membentak, “Kenapa kau
memandangi aku sedemikian?”
“Oh. Ampun Tuanku,” emban itu menjadi gemetar. Cepat-cepat
ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan terdengar desahnya,
“Hamba tidak bermaksud apa-apa.”
“Tetapi kenapa kau pandangi saja wajahku? He? Apakah kau
belum pernah melihat aku? Atau barangkali wajahku tiba-tiba saja
menjadi bopeng?”
“Ampun. Ampun Tuanku.”
“Ayo, cepat pergi! Katakan kepada Bibi Puroni!”
“Hamba Tuanku.”
Cepat-cepat emban itu pun pergi memasuki bilik sebelah kanan.
Dijumpainya Ken Dedes masih menangis dan Nyai Puroni masih juga
berusaha menghiburnya.
Ketika Nyai Puroni melihat emban itu datang, mala segera ia
berbisik, “Bagaimana dengan Akuwu?”
“Akuwu tidak mau masuk ke dalam bilik ini. Ternyata Akuwu
belum mengenal gadis ini.”
“Oh,” Nyai Puroni pun terkejut bukan main. Lalu bagaimana
mungkin Ken Dedes dibaringkan di sentong tengen. Nyai Puroni itu
pun menjadi semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Kalau Akuwu
belum mengenal gadis ini, dan gadis ini adalah benar-benar bakal
istri Kuda Sempana, tidak lebih, maka apakah haknya maka ia
dibaringkan di dalam bilik Ini?
Tetapi Nyai Puroni tidak mau mempersoalkannya lagi. Hatinya
dicengkam oleh keibaannya atas gadis itu. Alangkah sedih
tangisnya. Karena itu, maka dicobanya sejauh-jauhnya untuk
menghiburnya. Namun Ken Dedes seakan-akan tidak juga
mendengarnya. Ia masih saja menangis. Lewat air matanya
dituangkannya kepedihan yang menghimpit hatinya. Pedih dan
nyeri. Bahkan sekali-sekali terluncur disela-sela tangisnya, sah
yang
dalam.
Nyai Puroni adalah seorang tua yang sudah mengenyam pahit
manis kehidupan. Pernah dijumpainya seribu macam peristiwa.
Pernah dialaminya seribu macam kejadian. Pernah dihadapinya
seribu macam persoalan. Karena itu, maka pengalaman yang
tersimpan di dadanya, seakan-akan telah merupakan suatu
kebulatan dari peristiwa-peristiwa di dunia ini. Peristiwa-
peristiwa
yang pernah dilihat, dialami dan dihadapinya. Karena itu, maka
menghadapi Ken Dedes ini pun Nyai Puroni segera dapat merabaraba,
apakah agaknya yang telah mendorong gadis itu kemari dalam
keadaan yang menyedihkan.
“Kuda Sempana,” desisnya di dalam hati, “pasti pokal Kuda
Sempana.”
Tetapi dukun tua itu sama sekali tidak mau mengatakan sesuatu.
Ia masih saja menghibur sedapat-dapatnya. Dibelainya rambut Ken
Dedes yang panjang terurai. Namun Ken Dedes masih saja
menangis.
Akuwu yang kembali ke dalam biliknya pun menjadi semakin
gelisah. Ketika dipandanginya udara di luar biliknya lewat daun
pintu
yang terbuka, maka ia terkejut. Di kejauhan dari balik tirai
dilihatnya
seseorang membawa pelita menyala di kedua tangannya.
“He, apakah ini sudah malam?”
Barulah akuwu itu sadar, bahwa senja semakin kelam. Beberapa
pelayan istana telah menyalakan lampu-lampu di segenap ruangan.
Namun karena akuwu masih berada di dalam biliknya, maka para
pelayan itu belum berani memasuki ruangan itu. Dinyalakannya saja
lampu-lampu yang lain dan nanti apabila akuwu tidak juga keluar,
barulah seseorang juru panebah harus menyalakan lampu di dalam
bilik itu.
Perlahan-lahan akuwu bangkit dari pembaringannya. Bilik pun
telah mulai gelap pula. Agaknya karena kegelisahan yang
mencengkeram kepalanya, sehingga tanpa disadarinya ia telah
berbaring di keremangan senja. Karena itu cepat-cepat ia
meninggalkan biliknya.
Ketika akuwu yang sedang kebingungan itu melihat seorang
pelayan yang duduk menunggu perintahnya di tangga ruang dalam,
maka segera ia berteriak, “He. Kau kemari!”
Pelayan itu pun mendekatinya sambil berjongkok. Kemudian
duduk bersimpuh di hadapannya
“Sediakan aku air panas!” perintah Tunggul Ametung, “Aku akan
mandi. Sementara itu, perintahkan seorang pelayan dalam untuk
memanggil Witantra dan Ken Arok. Sore ini.”
Pelayan itu menyembah, kemudian ia pun segera meninggalkan
Akuwu yang gelisah itu.
Kepada seorang emban, pelayan itu minta akuwu disediakan air
hangat, sedang kepada pelayan yang lain dimintanya untuk
menyampaikan perintah Akuwu Tunggul Ametung, memanggil
Witantra dan Ken Arok.
Ketika pelayan itu sampai di rumah Witantra, ternyata Witantra
itu baru saja memasuki rumahnya bersama Ken Arok dan seorang
perempuan tua, pemomong Ken Dedes.
Dengan dada berdebar-debar Witantra bertanya kepada pelayan
itu, “Apa perintah Akuwu?”
“Aku tidak tahu. Tetapi Kakang Witantra diperintah menghadap
sore ini bersama-sama dengan Kakang Ken Arok. Kalau aku temui
Kakang Ken Arak di sini, maka adalah kebetulan sekali.”
“Baru apakah Akuwu ketika kau berangkat?”
“Akuwu sedang duduk termenung, menunggu air hangat,”
“He?”
“Ya. Akuwu baru akan mandi.”
“Ah,” Witantra berdesah. Kemudian katanya, “Baik, Aku akan
segera menghadap. Bersama Adi Ken Arok.”
Pelayan itu pun segera meninggalkan rumah Witantra.
Sementara itu Witantra dan Ken Arok pun beristirahat untuk sesaat,
duduk-duduk sambil minum air hangat.
“Mandilah di sini Adi,” minta Witantra, “kita harus segera
menghadap. Pasti ada sesuatu yang penting.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mungkin akuwu marah.
Marah kepadanya dan marah kepada Witantra. Telah terucapkan,
bahwa akuwu mengancam Witantra untuk menggantungnya besok
di alun-alun.
Ketika mereka berdua telah selesai
berbenah, maka mereka pun segera
minta diri kepada istri Witantra dan
menyerahkan pemomong Ken Dedes itu.
“Biarlah Bibi tua ini untuk sementara
tinggal bersama kita,” berkata Witantra.
Ternyata istrinya pun tidak
berkeberatan.
“Jangan terlalu mengharap aku
segera kembali,” desis Witantra.
Istrinya terkejut. Tampaklah keningnya berkerut. Katanya,
“Apakah Kakang akan mendapat tugas baru?”
Witantra menggelengkan kepalanya lemah sekali. Ditatapnya
wajah istrinya yang masih terlalu muda untuk ditinggalkan. Namun
lebih baik kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang itu
diberitahukannya sekarang. Ia tidak dapat menunda-nundanya
sampai bencana itu datang, apabila akuwu benar-benar akan
melakukan apa yang telah dikatakannya. Mungkin malam ini akuwu
telah memerintahkan beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Mungkin
Kuda Sempana telah bersiap pula di sekitar istana.
“Nyai,” berkata Witantra kepada istrinya, “Akuwu sedang murka
kepadaku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan atasku dan Adi
Ken Arek.”
“Murka?” tubuh istrinya tiba-tiba menjadi gemetar, “Kenapa?”
Witantra menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian gumamnya
kepada diri sendiri, “Aku tidak dapat melakukan perintahnya.”
“Mengapa?”
“Aku tidak sampai hati, Nyai.”
“Apakah perintah yang harus kau lakukan?”
Witantra mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling, dan
ditatapnya wajah perempuan tua yang duduk bersimpuh di sudut
ruangan.
“Bertanyalah kepada Bibi tua itu. Ia akan dapat mengatakan, apa
yang sudah terjadi.”
Istrinya memandang perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu
dengan penuh pertanyaan yang memancar dari wajahnya. Tetapi
sebelum ia berkata sesuatu, maka kembali Witantra berkata,
“Sudahlah Nyai. Biarlah aku menghadap Akuwu. Hati-hatilah di
rumah. Bukankah kau telah mempunyai banyak kawan di sini?”
“Kakang,” sahut istrinya, wajahnya menjadi gelisah dan tiba-tiba
suaranya menjadi gemetar, “apakah kira-kira yang akan terjadi,
Kakang?”
“Aku tidak tahu, Nyai.”
“Oh,” desahnya, “Apakah Kakang tidak segera akan kembali?”
Witantra menggeleng lemah, “Aku tidak tahu. Apakah aku akan
kembali malam nanti, besok, lusa atau waktu-waktu yang tidak
dapat aku katakan.”
“Lalu bagaimana dengan aku?”
Sekali lagi Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Jangan risau
Nyai. Mudah-mudahan aku segera kembali. Namun
kemungkinankemungkinan
yang lain harus kau ketahui pula, seperti aku sedang
berangkat berperang. Istri seorang prajurit pasti tahu, apakah yang
mungkin terjadi dengan suaminya. Karena itu jangan berduka.”
“Oh,” tiba-tiba istri Witantra itu menangis. Seorang perempuan
tua, ibu Witantra segera datang menghiburnya, katanya, “Jangan
menangis anakku. Aku dahulu juga menjadi istri seorang prajurit.
Aku juga melihat setiap kemungkinan yang bakal terjadi dengan
suamiku dahulu. Sekarang anakku pun seorang prajurit. Biarlah ia
menyerahkan dirinya atas kekuasaan tangan Yang Maha Agung.
Jangan kau tangisi, supaya perjalanannya tidak meragukannya.”
Istri Witantra itu menjadi agak tenang sedikit. Namun tiba-tiba
muncullah seorang gadis dari ruang dalam. Gadis yang sedang
menginjak masa remaja. Dengan wajah tengadah ia berkata,
“Kakang Witantra, kenapa Kakang tidak dapat melakukan perintah
Baginda?”
Witantra berpaling. Dilihatnya adik istrinya berada di rumahnya
pula. Karena itu segera ia bertanya, “Kapan kau datang?”
“Siang ini.”
“Baik. Adalah kebetulan sekali kau datang. Kawanilah kakak
perempuanmu di sini.”
“Ya Kakang. Tetapi aku ingin tahu, kenapa Kakang tidak dapat
menuruti perintah Akuwu itu?”
“Tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan itu lagi.”
“Tidak. Aku merasa aneh sekali. Bukankah Kakang seorang
prajurit?”
“Benar. Benar Ken Umang. Aku adalah seorang prajurit.”
Ken Umang itu memandangi Witantra dengan tajamnya. Sambil
mengangkat dagunya ia berkata, “Kenapa seorang prajurit terpaksa
menghindari perintah, justru perintah Akuwu sendiri?”
“Jangan berpikir tentang hal itu Umang. Sudahlah, kawanilah
kakakmu. Biarlah besok kau dibelikan selembar kain tenun yang
berwarna merah jambu.”
“Aku tidak ingin selembar kain berwarna merah jambu.
“Nah, apalah yang kau ingini?” sahut Witantra.
“Tak ada. Aku hanya ingin tahu, kenapa Kakang menolak
perintah Akuwu.”
“Jangan tanyakan itu lagi. Mintalah sebuah golek yang besar atau
sehelai selendang sura yang berwarna hijau.”
“Kakang, aku sekarang bukan anak-anak lagi. Lihatlah, aku sudah
dewasa.”
Witantra menggeleng. Kemudian jawabnya, “Belum Umang.
Kesadaranmu, bahwa kau telah mulai dewasa menunjukkan bahwa
kau belum dewasa. Kau masih pantas berkain sabukwala. Jangan
risaukan aku.”
“Kakang,” tiba-tiba terdengar istri Witantra berkata, “pertanyaan
Umang ada benarnya. Apakah sebabnya maka Kakang terpaksa
menolak perintah Akuwu?”
“Bertanyalah kepada perempuan itu sepeninggalku,” sahut
Witantra, “biarlah kini aku berjalan dengan tenang. Apapun yang
akan aku hadapi.”
Nyai Witantra tidak bertanya lagi. Namun gadis yang menjelang
dewasa itu tampak sama sekali tidak puas atas jawaban kakak
iparnya. Tetapi ia pun sudah tidak bertanya lagi. Dipalingkannya
wajahnya memandang perempuan tua yang duduk di sudut
ruangan. Sekali lagi ia mengangkat dagunya, kemudian hilang
masuk ke ruang dalam.
Witantra berjalan meninggalkan halaman rumahnya. Seorang
pelayannya telah membenahi dan menyediakan kuda-kuda mereka.
Dan sesaat kemudian bunyi derap telapak kuda itu pun menghilang.
Nyai Witantra dan ibu mertuanya pun kemudian duduk bersama
dengan pemomong Ken Dedes. Dengan tidak sabarnya segera
mereka bertanya, “Bibi apakah yang telah dilakukan oleh Kakang
Witantra sehingga ia terpaksa mendapat murka?”
Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan
kepalanya ia menjawab, “Angger Witantra berpijak pada
rasa perikemanusiaan. Karena itulah maka ketika Angger Witantra
menerima perintah, maka terpaksa Angger Witantra tidak dapat
melakukannya.”
“Apakah perintah itu?”
Emban tua itu pun segera menceritakan apa yang telah dilihatnya
di halaman rumah Empu Purwa. Bagaimana Akuwu Tumapel
menjadi sangat marah kepada Witantra karena Witantra tidak mau
ikut serta dalam perbuatan yang terkutuk itu.
“Jadi Akuwu telah menculik gadis itu?” terdengar ibu Witantra
bertanya.
“Ya.”
“Oh, ampun,” desah ibu Witantra itu. Untunglah bahwa Witantra
tidak mau ikut melakukannya.
Istri Witantra pun kemudian mengerutkan keningnya.
Dipandanginya emban tua itu dengan seksama. Ketika ia
mendengar cerita itu maka seluruh bulu-bulunya serasa telah tegak
berdiri.
“Ngeri,” desisnya
Tetapi kembali Ken Umang keluar dari ruang dalam. Ditatapnya
ketiga perempuan yang duduk melingkar di sudut ruangan itu.
Dengan menyesal ia berkata “Hah, ternyata Kakang Witantra terlalu
perasa. Apakah salahnya kala ia mematuhi perintah itu?”
Semuanya, ketiga perempuan itu terkejut. Serentak mereka
berpaling, dan dilihatnya Ken Umang berdiri sambil menyilangkan
kedua tangannya di dadanya.
“Umang,” berkata Nyai Witantra “Jangan berkata begitu!”
“Kenapa? Bukankah dengan demikian Kakang Witantra tidak
akan mendapat kesulitan?”
“Tetapi itu melanggar perikemanusiaan, Umang.”
“Itu adalah tanggung jawab Akuwu. Bukankah Kakang Witantra
hanya sekedar melakukan perintah?”
“Ia bahkan harus mencegahnya?” desah ibu Witantra.
“Jadi melawan Akuwu?” bertanya Ken Umang.
Ibu Witantra itu pun terdiam. Nyai Witantra dan pemomong Ken
Dedes pun tidak berkata sesuatu. yang terdengar kembali adalah
suara Ken Umang itu, “Sekarang Kakang berada dalam
kesulitankesulitan.
Apakah dengan demikian Akuwu menggagalkan niatnya?
Bukankah gadis itu dibawa juga ke Tumapel? Nah, kalau Kakang
Witantra ikut serta dan mematuhi perintah Akuwu, maka ia tidak
akan bersalah. Sebab dengan atau tidak dengan Kakang Witantra,
perbuatan itu telah terjadi.”
“Ken Umang,” jawab ibu Witantra “kau benar-benar kurang dapat
memahami persoalan ini. Kau seorang gadis pula Umang, yang
sebentar lagi, tidak sampai tiga tahun kau telah benar-benar
menjadi dewasa. Apakah yang akan kau katakan, seandainya
peristiwa itu menimpa dirimu?”
“Oh, aku akan berterima kasih. Kalau aku menjadi gadis desa itu,
dan diambil oleh seorang pegawai istana, maka aku akan
berterimakasih. Aku Akan bangga karenanya. Apa lagi kalau diambil
langsung oleh Akuwu sendiri meskipun menjadi seorang selir.
Alangkah senangnya. Dan aku menjadi iri hati karenanya.”
“Umang,” potong kakak perempuannya, “apakah kau sedang
mengigau?”
“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Dan aku ingin menjadi istri
Akuwu.”
“Juga kalau kau sudah memiliki pilihan hatimu sendiri.”
“Oh. Jadi gadis itu sudah mempunyai bakal suaminya? Seorang
anak Buyut Panawijen, menurut cerita yang aku dengar tadi dari
balik dinding. Buat apa harus memberatkan anak pedesaan itu?
Bukankah lebih berbahagia hidup di kota setidak-tidaknya daripada
menjadi seorang pedesaan yang harus turun ke sawah setiap hari?”
Ibu Witantra mengerutkan keningnya, sedang pemomong Ken
Dedes menarik nafas panjang-panjang. Nyai Witantra sendiri
menundukkah wajahnya. Kata-kata itu benar-benar merupakan
sindiran yang tajam bagi dirinya. Pada masa gadisnya ia pun
memiliki idaman seperti adiknya itu. Ia ingin menjadi seorang istri
dari orang-orang yang memiliki kebanggaan di hari-hari depannya.
Seorang perwira atau. seorang yang kaya raya atau seorang perwira
yang kaya raya. Namun ketika ia telah merasakan kemesraan rumah
tangga, maka terasa beberapa perubahan di dalam jiwanya. Terasa
betapa ia mencintai suaminya lebih dari segala-galanya. Meskipun
seandainya Witantra itu kehilangan semua yang dahulu
dikaguminya, dan bahkan yang mendorongnya untuk menerima
lamaran Witantra, maka Witantra baginya adalah seorang suami
yang baik. Seorang suami yang dicintai dengan sepenuh hati.
Karena itu, maka kini ia pun ikut bersedih bersama suaminya.
Namun ia tidak menyesal bahwa suaminya telah menolak perintah
itu. Bagaimanakah seandainya dirinya sendiri, tiba-tiba kini harus
dipisahkan dengan paksa dari suaminya? Mungkin dahulu ia berpikir
seperti adiknya itu, Ken Umang. Tetapi sekarang tidak. Mungkin Ken
Dedes telah memiliki perasaan cintanya yang jernih sejak mereka
belum berumah tangga seperti cintanya yang sekarang telah
tumbuh di dalam dadanya kepada suaminya. Cintanya kepada lakilaki
itu. Bukan karena Witantra seorang perwira. Namun keserasian,
saling mengerti dan isi mengisi dalam hidup mereka sehari-hari
telah mengikatnya dalam hidup mereka sehari-hari telah
mengikatnya dalam suatu kesetiaan yang belum pernah dimilikinya
di masa-masa gadisnya.
Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat suaminya itu berada di dalam
kesulitan-kesulitan. Kesulitan-kesulitan yang mungkin
membahayakan ketenteraman rumah tangganya itu. Ia, Nyai
Witantra itu kini sama sekali bukan seorang istri yang melihat
bulan
yang selalu bersinar terang. Ternyata ia sama sekali bukan seorang
pengecut yang lari di kala kesulitan-kesulitan datang. Sifatnya
yang
berkembang itu bahkan telah mendorongnya untuk ikut serta
menanggung apa saja yang akan terjadi atas suaminya. Karena itu
tiba-tiba ia berkata, “Ibu, biarlah aku pergi juga ke istana.”
“He,” ibu Witantra terkejut, “apa yang akan kau lakukan?”
“Aku mempunyai kepentingan dengan Kakang Witantra. Aku
ingin melihat apa yang terjadi.”
“Jangan. Kau tidak mendapat perintah untuk menghadap.
Mungkin kedatanganmu akan menambah murka Akuwu.”
“Apapun yang akan terjadi. Aku ingin melihat penyelesaian atas
Kakang Witantra.”
Ken Umang tiba-tiba memandang wajah kakak perempuannya
dengan pandangan penuh penyesalan. Katanya, “Buat apa
sebenarnya kau pergi ke sana?”
“Ken Umang. Aku sekarang berpendapat lain daripada masamasa
kanak-kanakku. Aku tidak dapat menerima pikiranmu.
Mungkin kau akan mengatakan kepadaku, bahwa biar saja apa yang
terjadi dengan Kakang Witantra. Mungkin kau akan mengatakan
bahwa aku masih muda. Masih mungkin untuk mendapatkan suami
yang lebih baik dari Kakang Witantra. Begitu? Sekarang biarlah
Kakang Witantra menerima hukuman atas kesalahannya? Umang,
mungkin aku dahulu akan berkata begitu. Tetapi sekarang tidak
Umang. Karena itu aku akan pergi.”
“Jangan Nyai,” cegah ibu Witantra, “para penjaga tidak akan
mengizinkan kau masuk ke regol dalam halaman istana.”
“Aku istri Kakang Witantra. Para penjaga mengenal siapa aku.
Dan karenanya mereka akan mengizinkan aku masuk. Sudah
beberapa kali aku masuk ke istana. Akuwu sering benar minta aku
masak untuknya.”
“Ya. Tetapi sekarang suamimu sedang dalam persoalan.”
“Justru karena itu ibu. Biarlah aku pergi.”
Ken Umang menjadi semakin heran. Ia tidak dapat mengerti apa
yang akan dilakukan oleh kakak perempuannya. Meskipun tuduhan
kakaknya atas pikirannya itu terlampau jauh, namun ia tidak
membantahnya, sebab sebagian adalah benar. Namun kemudian ia
berkata, “Urusan itu sebenarnya bukan urusanmu. Tunggulah di
rumah. Aku tidak menganjurkan kau berkhianat atas suamimu.
Namun jangan mengorbankan dirimu tanpa arti.”
“Umang,” wajah Nyai Witantra menjadi merah. Ia menjadi
sedemikian marahnya kepada adiknya itu. Tetapi ibu Witantra
segera berkata tenang kepadanya, “Biarkan adikmu itu. Ia adalah
seorang gadis yang sedang berkembang. Angan-angannya akan
jauh terbang melampaui setiap kenyataan yang dihadapinya. Itulah
sebabnya maka kadang gadis yang seumur itu kehilangan
keseimbangan.”
“Ah,” desah Ken Umang. Namun ia tidak berani berbantah
dengan ibu iparnya. Namun hatinya berteriak lantang, “Ah, orang
tua-tua selalu menganggap anak-anak muda sebagai seorang yang
sedang menempuh masa pancaroba. Mereka menganggap bahwa
kami anak-anak muda selalu tidak waras. Tetapi mereka sendiri
telah menenggelamkan dirinya dalam wawasan yang usang.”
Namun ternyata bahwa istri Witantra itu keras hati untuk pergi ke
istana . Ia menjadi gelisah benar apabila dikenangnya kata-kata
suaminya dan cerita perempuan tua yang dibawa suaminya dari
Panawijen. Karena itu maka akhirnya ia tidak dapat ditahan-tahan
lagi.
“Kalau kau bersikeras untuk pergi Ngger. Hati-hatilah.”
“Ya, Ibu. Aku akan berusaha untuk menjaga diriku dan
mengetahui apa yang akan terjadi dengan Kakang Witantra.
“Nyai,” tiba-tiba perempuan tua yang sejak tadi berdiam diri
mendengarkan setiap pembicaraan itu berkata, “apakah aku
diizinkan untuk turut serta masuk ke dalam istana?”
Nyai Witantra dan ibunya terkejut mendengar permintaan itu.
Sehingga karena itu mereka bertanya, “Untuk apa Bibi ikut masuk
ke dalam istana.”
“Ken Dedes adalah momonganku. Mudah-mudahan aku dapat
bertemu dengan gadis itu.”
“Apakah gadis itu dibawa ke istana?”
Pemomong Ken Dedes menjadi bingung. Ia tidak tahu ke mana
Ken Dedes dibawa. Tetapi Nyai Witantra itulah yang menjawab, “Ya.
Mungkin di istana kau akan mendengar, ke mana gadis itu dibawa.
Karena itu, marilah, biarlah Bibi ikut dengan aku.”
Kedua Perempuan itu pun kemudian turun ke halaman dan dalam
keremangan ujung malam, mereka berjalan ke istana Akuwu
Tumapel.
Dalam pada itu, maka Witantra dan Ken Arok pun telah sampai
pula di istana. Di halaman luar mereka menambatkan kuda-kuda
mereka. Dengan berjalan kaki memasuki halaman dalam istana
Tunggul Ametung.
Dada Witantra dan Ken Arok pun menjadi berdebar-debar. Di
regol mereka melihat beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Ketika
mereka melihat Witantra lewat di hadapan mereka, segera mereka
membungkukkan badan mereka memberikan hormat.
Dengan langkah yang ragu Witantra kemudian naik ke ruang
belakang. Mereka menunggu sesaat sehingga dilihatnya seorang
emban lewat di samping mereka. Perlahan-lahan dipanggilnya
emban itu dan dengan perlahan-lahan pula Witantra bertanya,
“Apakah Akuwu sudah siap menerima kedatanganku dan Adi Ken
Arok.”
Emban itu memandangi Witantra dengan herannya. Kemudian
katanya, “Apakah Akuwu akan mengadakan pertemuan malam ini?”
Witantra mengerutkan keningnya, katanya, “Di mana Akuwu
sekarang?”
“Di dalam biliknya,” sahut emban itu.
“Jangan asal menjawab saja, Akuwu memanggil aku dan Adi Ken
Arok.”
Emban itu menggeleng, “Aku tidak tahu.”
“Siapakah pelayan dalam yang sedang bertugas hari ini?”
bertanya Ken Arok.
Emban itu menggeleng, “Aku belum tahu namanya.”
“Tolong. Panggilkan sebentar kemari.”
Emban itu memandang Witantra dengan penuh keheranan. Ia
tidak mendapat perintah untuk membersihkan ruang pertemuan
kecil di dalam istana di saat-saat khusus. Dan ternyata Akuwu pun
tidak berada di ruang palenggahan. Tetapi sejak mandi, Akuwu
langsung masuk kembali ke dalam biliknya. Sehingga para pelayan
yang menunggu perintahnya menjadi bingung. Sebab bukanlah
kebiasaan Akuwu berbuat demikian.
Sesaat kemudian datanglah seorang pelayan dalam mendekati
Witantra. Dengan hormatnya ia membungkukkan ke palanya sambil
bertanya, “Adakah sesuatu yang dapat aku kerjakan, Kakang
Witantra.”
“Kami berdua dipanggil Akuwu.”
“Oh,” sahut orang itu, “marilah silakan masuk. Tetapi Akuwu
tampaknya tidak sedang menunggu seseorang Bahkan Akuwu
agaknya menjadi sangat lelah sehabis berburu sehari ini.”
“Terima kasih,” Witantra tidak menunggu lebih lama. Langsung ia
masuk ke ruang dalam istana dan duduk di ruang dalam, yang biasa
dipakai oleh Akuwu untuk mengadakan pertemuan-pertemuan
khusus.
Tetapi Witantra benar-benar menjadi heran. Ruangan itu masih
terlalu gelap dan tidak sehelai tikar pun yang telah terbentang.
Bahkan batu hitam, yang biasa dipakai duduk Akuwu pun masih
dikerukup dengan sebuah kain putih.
“Aku tidak tahu, apakah yang terjadi dengan Akuwu,” desis
Witantra.
“Akuwu telah berbuat di luar sadarnya,” sahut Ken Arok, “hari ini
Akuwu benar-benar seperti orang yang sedang kebingungan.”
Witantra mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ternyata
bukan Akuwu saja. Kita semua telah menjadi bingung pula
karenanya.”
“Itu adalah akibat perbuatan Akuwu Tunggul Ametung. Kalau kita
bersama-sama ini merupakan tubuh dari seekor ular, maka Akuwu
adalah kepala ular itu. Apabila kepalanya menjadi bingung, maka
seluruh tubuhnya akan kebingungan pula.
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” sahutnya
pendek.
Mereka pun kemudian terdiam. Namun di dalam kepala mereka
seakan-akan terdapat sebuah baling-baling yang berputar. Bingung.
Mereka tidak tahu apakah yang sebenarnya terjadi dan akan terjadi.
Mereka semula menyangka, bahwa mereka akan datang ke istana
dan akan ditemuinya para prajurit telah bersiap di setiap sudut
halaman dan ruangan. Mereka menyangka bahwa Akuwu telah siap
pula menunggu mereka dengan murkanya dan langsung
memerintahkan menangkap mereka. Tetapi yang mereka jumpai
adalah ruangan yang kosong, gelap dan benar-benar
membingungkannya. Para pengawal pun tidak lebih dari para
pengawal yang biasa bertugas di tempat masing-masing.
Ketika mereka menunggu beberapa lama, Akuwu masih belum
juga keluar ke ruangan itu, dan bahkan pelita yang menyala itu pun
tidak ditambah, maka Witantra akhirnya tidak sabar lagi. Kemudian
ia berdiri dan memanggil seorang juru panebah. Katanya,
“Sampaikanlah kepada Akuwu, bahwa Witantra dan Ken Arok telah
siap menghadap di balai dalam.”
Juru panebah itu menjadi bingung. Jawabnya, “Akuwu sedang
tidur. Apakah tuan berdua tidak saja menghadap besok pagi?”
“Jangan ribut! Sampaikan kepada Akuwu. Akuwu memanggil
kami berdua.”
Panebah itu mengangguk hormat, kemudian tanpa berkata
sepatah kata pun ia berjalan ke bilik Akuwu. Tetapi sampai di muka
pintu ia sama sekali tidak berani masuk ke dalamnya. Hilir mudik ia
berjalan. Mudah-mudahan Akuwu mendengarnya dan
memanggilnya. Dan ternyata harapannya itu benar-benar terjadi.
Dengan suara serak terdengar Akuwu bertanya, “He, siapa itu?”
“Hamba Tuanku,” sahut juru panebah itu.
Perlahan-lahan ia menghampiri pintu dan kemudian duduk bersila
di luar tirai.
“Ada apa?” bertanya Tunggul Ametung.
“Ada yang ingin menghadap Tuanku.”
“He? Gila. Suruh dia pergi. Cepat! Aku tidak mau menerima
seorang pun. Apa disangkanya besok sudah akan kiamat?” teriak
Tunggul Ametung itu.
Juru panebah itu menjadi ragu-ragu. Namun dengan tergagap ia
berkata, “Ampun Tuanku. Menurut mereka, ternyata mereka telah
Tuanku panggil menghadap.”
“He?” suara Akuwu itu pun menjadi lunak, “Siapa mereka?”
“Tuan Witantra dan Ken Arok.”
“Oh. Ya. Ya. Hampir aku lupa. Aku memang telah memanggil
mereka itu,” sahut Tunggul Ametung.
Juru panebah itu menarik nafas lega. Ia surut ke belakang ketika
didengarnya Akuwu bangkit dari pembaringannya dan berjalan
keluar.
“Di manakah mereka sekarang?” bertanya Akuwu itu.
Juru panebah itu menyembah. Jawabnya “Di balai paseban
dalam, Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi keningnya kemudian berkerut, “Apakah tempat itu sudah kau
sediakan?”
“Belum Tuanku. Hamba belum menerima perintah Tuanku.”
Akuwu itu pun berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Panggil
mereka kemari! Aku akan menerima mereka di ruang dalam.”
Panebah itu menjadi heran. Adalah bukan kebiasaan akuwu
menerima seseorang di ruang itu. Tetapi ia tidak berani bertanya
apapun. Perlahan-lahan ia berkisar, dan setelah menyembah, maka
segera ia pergi ke balai dalam untuk memanggil Witantra dan Ken
Arok ke ruangan di muka bilik Akuwu itu.”
Witantra dan Ken Arok pun menjadi heran. Kembali mereka
menjadi curiga. Apakah di ruangan itu telah bersedia beberapa
orang prajurit yang akan menangkap mereka? Tetapi mereka tidak
dapat berbuat lain daripada datang menghadap Akuwu.
Kembali mereka terkejut, ketika ruangan itu benar-benar kosong.
Tak seorang pun yang dilihatnya berada di tempat itu. Karena itu
maka segera mereka pun pergi ke sudut ruangan dan duduk di atas
sehelai tikar yang telah direntangkan.
Sesaat kemudian mereka mendengar suara akuwu terbatukbatuk.
Dan kemudian mereka melihat Akuwu Tunggul Ametung
keluar dari dalam biliknya.
Witantra dan Ken Arok segera menundukkan wajah mereka
dengan hormat menyembah akuwunya.
“Apakah kalian telah lama menunggu?” bertanya akuwu itu.
“Belum Tuanku,” sahut Witantra.
Akuwu Tunggul Ametung berjalan perlahan-lahan mendekati
mereka, dan di luar dugaan Witantra dan Ken Arok, maka Akuwu itu
duduk di tikar yang sehelai itu pula.
Witantra dan Ken Arok menjadi bingung. Mereka segera
beringsut ke belakang sehingga mereka tidak lagi duduk di atas
tikar
itu.
“Jangan menjadi segan. Duduklah sebaik-baiknya.”
“Tetapi …”
“Tidak apa-apa,” potong Tunggul Ametung.
Witantra dan Ken Arok benar-benar menjadi heran melihat sikap
akuwu itu. Demikian juga juru penebah yang duduk di kejauhan, di
tangga ruangan itu untuk menunggu perintah akuwu. Tetapi juru
panebah itu tiba-tiba terkejut ketika akuwu itu berteriak “Pergi!
Pergi! Kau mau apa duduk di situ?”
Juru panebah itu menjadi semakin heran. Meskipun demikian ia
pergi juga. Ia tidak tahu, kenapa ia harus pergi, sebab setiap hari
ia
sendiri atau kawannya yang sedang bertugas, selalu duduk di
tangga itu untuk menanti perintah akuwu setiap saat. Namun ia
tidak mau memikirkan lagi. Dengan lesu ia melangkah ke sudut
istana.
Dua orang pelayan dalam yang bertugas di tempat itu segera
bertanya, “He, kenapa kau datang kemari?”
Juru panebah itu kemudian duduk pula di antara mereka sambil
bersungut-sungut, “Akuwu sedang menjadi bingung Aku diusirnya
dari tempat itu.”
“Dari mana?”
“Dari tangga ruang dalam.”
Kedua pelayan dalam itu tertawa, “Apakah kau tidak dapat
mencari tangga yang lain, dan duduk di sana?”
Juru panebah itu memandang kedua pelayan dalam itu dengan
wajah yang gelap. Jawabnya, “Kau sangka hidupku hanya berurusan
dengan tangga-tangga saja?”
Kembali kedua pelayan dalam itu tertawa. Tetapi mereka tidak
mau mengganggu juru panebah itu lagi.
Di ruangan dalam, di hadapan bilik Akuwu Tunggul Ametung,
Witantra dan Ken Arok duduk bersila sambil menundukkan wajah
mereka dalam-dalam. Akuwu Tunggul Ametung sendiri duduk
beberapa jengkal saja di hadapan mereka.
“Witantra,” berkata Tunggul Ametung itu kemudian, “kenapa kau
tadi siang tidak mau melakukan perintahku?”
Witantra menjadi berdebar-debar. Ia sudah menyangka bahwa ia
akan menerima pertanyaan itu. Namun ia tidak menyangka bahwa
nada pertanyaan itu sedemikian lunaknya. Disangkanya Akuwu
Tunggul Ametung akan membentaknya dan menuding hidungnya
sambil memerintahkan beberapa orang prajurit untuk
menangkapnya.
Kini ia harus menjawab pertanyaan itu. Dan ia tidak dapat
berkata melingkar-lingkar. Ia harus mengemukakan alasan
sebenarnya. Kenapa ia tidak dapat turut saja melakukan penculikan
itu. Maka katanya kemudian, “Tuanku. Hamba tidak sampai hati
untuk ikut serta berbuat sedemikian terhadap seorang gadis.”
“Kenapa?”
“Tuanku. Bukankah dengan demikian berarti bahwa kita sudah
tidak lagi menghargai sesama? Dan bukankah dengan demikian kita
sudah merusakkan kemanusiaan?”
“Tetapi, bukankah menjadi kewajibanmu untuk melakukan setiap
perintahku?”
“Hamba Tuanku. Hamba dihadapkan pada kewajiban yang
bertentangan dengan perasaan hamba. Dan bukankah hamba juga
mempunyai kewajiban yang lain? Kewajiban untuk menegakkan
kemanusiaan dan melindungi sesama? Tuanku. Hari ini hamba
benar-benar merasa bahwa hidup hama benar-benar tak berarti.”
“Kenapa?”
“Hamba sama sekali tidak dapat melakukan kewajiban hamba
keduanya. Tidak dapat melakukan kewajiban hamba sebagai
seorang prajurit, karena hamba tidak melakukan perintah Akuwu,
namun hamba juga tidak dapat melakukan kewajiban kemanusiaan
itu.”
Akuwu tidak segera menyahut. Direnungkannya kata-kata
Witantra itu dan dicernakannya di dalam hatinya.
Ruangan itu sesaat menjadi sepi. Akuwu Tunggul Ametung
mengangguk-anggukkan kepalannya, sedang Witantra dan Ken Arok
menundukkan wajahnya, menatap anyaman tikar pandan yang
bersilang-silang.
Tunggul Ametung mencoba sebali lagi membayangkan apa saja
yang sudah terjadi hari itu atasnya. Pagi-pagi Kuda Sempana datang
menghadap kepadanya. Memberitahukan bahwa ia tidak sependapat
apabila mereka pergi berburu ke barat. Sebab ia tidak berani
melewati padukuhan Panawijen setelah hatinya dilukai oleh Empu
Purwa, ayah Ken Dedes. Kuda Sempana ditolak karena ia seorang
pelayan dalam. Bukan karena ia seorang pelayan dalam, tetapi
karena pelayan dalam seorang akuwu saja.
“Hem,” Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia telah
dengan tergesa-gesa menelan saja kata-kata Kuda Sempana itu.
Tetapi apakah yang dilihatnya di Panawijen sama sekali bukannya
seperti yang dikatakan oleh Kuda Sempana. Bukan seperti yang
dikatakan bahwa ia sama sekali tidak ingin lagi memiliki gadis itu.
Bukankah Ken Dedes hanya seorang gadis desa saja? Tetapi yang
dilihat oleh Akuwu adalah, gadis itu sama sekali tidak senang
melihat kehadiran Kuda Sempana. Dan bahwa seorang anak muda
telah mempertahankan dengan sekuat tenaganya meskipun di
hadapannya berdiri beberapa orang prajurit yang melingkari
mereka. Bukan itu saja. Di sepanjang jalan pulang pun mereka
bertemu dengan seorang anak muda pula, yang menurut Kuda
Sempana adalah kakak gadis itu.
Gambaran-gambaran itu hilir mudik kembali di dalam kepala.
Dicobanya untuk mencari kesimpulan, apakah Kuda Sempana
berkata sebenarnya, atau telah menjebaknya dalam tindak
kekerasan yang memalukan.
Akuwu itu pun kemudian menarik nafasnya dan berkata “Ken
Arok, bagaimana pendapatmu tentang peristiwa yang terjadi itu?”
“Hamba menyesal Tuanku.”
“Apakah yang kau sesalkan?”
“Bahwa peristiwa itu telah terjadi.”
Akuwu mengernyitkan alisnya. Kemudian kepada Witantra dan
Ken Arok itu diceritakan olehnya, apa yang didengarnya dari Kuda
Sempana dan apa yang telah mendorongnya untuk melakukan
perbuatan itu.
Witantra menggigit bibirnya untuk menahan gejolak hatinya
sedang Ken Arok tergeser surut. Diangkatnya wajahnya dan
ditatapnya wajah Akuwu sesaat. Namun kembali Ken Arok
menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya
dan dengan tiba-tiba saja ia merasa menjadi semakin kecewa
terhadap Tunggul Ametung. Akuwu itu benar-benar seorang yang
aneh. Sekarang semuanya telah terjadi. Setiap orang di Panawijen
dan seterusnya setiap orang di Tumapel akan menyebut namanya
sebagai seorang yang telah merusakkan hidup sepasang anak muda
dan melukai hati segenap penduduk Panawijen.
Tetapi Tunggul Ametung itu pun ternyata menyesal pula di dalam
hatinya. Disesalinya pula wataknya yang agak terlalu tergesa-gesa
menentukan suatu sikap. Ia dapat berbuat demikian di dalam
istananya tanpa akibat yang dapat mencelakakan orang lain. Ia
dapat berbuat demikian untuk hal-hal yang kecil. Tetapi untuk hal
yang penting seperti peristiwa ini adalah benar-benar menyesatkan.
Dengan suara parau maka Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken
Arok. Bagaimanakah pendapatmu tentang gadis itu?”
Mereka menggelengkan kepala mereka. Dan Witantra menjawab,
“Apakah yang akan Tuanku perbuat?”
Akuwu memandang Witantra dengan tajamnya. Tetapi ia tidak
segera dapat menjawab. Sekali-kali dipandanginya tubuh Witantra
yang tegap kuat. Seorang prajurit yang mengagumkan. Seorang
prajurit yang baik, yang tidak pernah mengabaikan tugasnya.
Namun ia terpaksa menolak perintahnya, karena ia tidak dapat
dipaksa untuk mengkhianati kemanusiaan. Tetapi sebagaimana
dikatakannya sendiri ia telah gagal melakukan kewajibannya.
Kewajibannya sebagai seorang prajurit dan kewajiban kemanusiaan.
Sedang di sampingnya duduk seorang pelayan dalam yang belum
lama berada di dalam istana. Namun orang itu benar telah
mengejutkan akuwu. Ketika dilihatnya ia bertempur melawan
Mahisa Agni, maka tampaklah betapa ia mampu berbuat sebagai
seorang prajurit yang baik. Melampaui Kuda Sempana. Bahkan
tangannya telah membunuh seorang prajurit dengan sebuah
pukulan. Meskipun mula-mula Ken Arek tidak melawan perintahnya,
bahkan mencoba melakukannya namun ternyata bahwa desakan
hatinya telah membuatnya berbuat sebaliknya. Bahkan telah
dibunuhnya seorang prajurit di hadapannya. Di hadapan seorang
akuwu.
Tetapi Mahisa Agni itu pun telah menarik perhatiannya. Ia adalah
seorang anak pedesaan. Namun memilik caranya berkelahi, maka ia
bukanlah anak pedesaan kebanyakan.
Dalam berbagai perasaan dan angan-angan itu, maka
terluncurlah kata-kata Akuwu, “Witantra, apakah kau melihat
seseorang yang telah dilukai Kuda Sempana?”
“Ya,” jawab Witantra pendek.
“Siapakah dia?”
“Anak muda itulah bakal suami Ken Dedes.”
Akuwu Tumapel menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya,
“Besok panggillah dia kemari!”
Witantra dan Ken Arok mengangkat wajahnya bersama-sama.
Mereka saling berpandangan dan di dalam hati mereka terdengarlah
sebuah pertanyaan, “Apakah Akuwu belum tahu bahwa anak muda
itu telah mati?”
Akuwu memandang kedua orang itu dengan heran. Karena itu
maka katanya, “Kenapa?”
“Tuanku,” jawab Witantra dengan nada yang rendah, “anak
muda bakal suami Ken Dedes yang bernama Wiraprana, putra Buyut
Panawijen itu telah meninggal dunia.”
“He?” akuwu ternyata terkejut mendengar berita itu, “Jadi anak
itu mati?”
Witantra menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya,
Tuanku. Anak itu mati.”
“Jadi Kuda Sempana telah membunuhnya?”
“Ya.”
“Setan Kuda Sempana itu!” desis Akuwu Tunggul Ametung.
“Tetapi ia sendiri pasti tidak akan berani berbuat begitu Tuanku.”
“Oh,” Tunggul Ametung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan
terdengar ia berkata, “Ya. Aku tahu maksudmu. Bukankah kau ingin
mengatakan bahwa kesalahan itu terletak padaku. Bukankah aku
telah melindunginya untuk melakukan kejahatan itu.”
Witantra dan Ken Arok tidak menyahut. Sesaat mereka berdiam
diri, dan dibiarkan Akuwu Tunggul Ametung tenggelam dalam
penyesalan.
Kemudian terdengar Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken Arok.
Aku maafkan segala kesalahanmu. Aku lupakan katakku dan
ancamanku. Meskipun telah terucapkan oleh seorang akuwu untuk
menghukum kau Witantra, namun ucapan itu meluncur dalam
ketidakwajaran ingatanku.”
Witantra dan Ken Arok menundukkan wajahnya dalam-dalam
sambil menjawab “Terima kasih Tuanku.”
Namun di dalam hati mereka tebersitlah suatu pertanyaan
“Bagaimanakah kalau hukuman itu telah terlanjur jatuh atas
Witantra?”
“Dan sekarang Witantra, apakah yang harus aku lakukan atas
Kuda Sempana?”
Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tuanku,
semua ini adalah akibat dari kelicikannya, sehingga Akuwu Tunggul
Ametung terseret dalam perbuatan tercela. Karena itu, maka
hukuman yang diberikan kepadanya adalah hukuman yang harus
sesuai dengan perbuatannya. Karena perbuatannya pula maka
sebuah jiwa yang melayang, dan sebuah hati telah pecah
berkepingkeping.
Apakah yang dapat ditemukan kembali dalam hidup seorang
gadis seperti Ken Dedes itu?”
“Ya. ya,” jawab Tunggul Ametung terbata-bata, “Aku
sependapat. Tetapi Witantra. Aku adalah seorang Akuwu. Sudah
tentu aku tidak dapat menjilat ludah kembali tanpa alasan. Aku
telah menyetujui, bahkan mengantar Kuda Sempana sendiri
mengambil gadis itu ke Panawijen. Sekarang, apakah aku dapat
menghukum Kuda Sempana karena perbuatannya itu. Bukankah
dengan demikian hukuman itu pun pantas jatuh atasku pula?”
Witantra dan Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katakata
akuwu itu dapat dimengertinya. Apakah dengan demikian,
maka orang akan semakin menjadi kecewa atas perbuatanperbuatan
akuwu yang seakan-akan sama sekali tidak bertanggung
jawab. Namun sudah tentu bahwa mereka tidak akan membiarkan
Kuda Sempana mengambil Ken Dedes. Sebab dengan demikian
mereka akan membiarkan sebuah kebiadaban berlangsung.
Bukankah dengan demikian maka Ken Dedes akan menjadi
bertambah parah. Dan bukankah Ken Dedes akan kehilangan
segala-galanya. Bahkan tubuhnya sendiri seakan-akan tak
dimilikinya, karena tubuhnya itu harus diserahkannya kepada Kuda
Sempana tanpa kehendaknya.
Ruangan itu menjadi sepi sesaat. Masing-masing mencoba
mencari kemungkinan yang sebaik-baiknya ditempuh.
Angin malam di luar istana terdengar gemeresik mengusap
dinding dan dedaunan. Di kejauhan terdengar jangkrik memekikmekik
seolah-olah memanggil-manggil. Sekali-kali angin yang
kencang menolak daun-daun pintu yang sudah terkatup.
Dalam keheningan itu kemudian terdengar suara Witantra,
“Tuanku. Hukuman yang pertama yang harus dijatuhkan kepada
Kuda Sempana adalah melepaskan Ken Dedes dari tangannya.”
“Ya. ya,” sahut Akuwu Tumapel, “Aku sependapat. Tetapi kepada
siapa gadis itu harus di serahkan. Ia telah kehilangan seseorang
yang akan dapat dijadikannya pegangan buat masa-masa depannya.
Bakal suaminya itu telah mati.”
“Bukankah ia masih mempunyai ayah dan ibu?” bertanya Ken
Arok.
Witantra menggeleng. Katanya, “Dari Mahisa Agni aku pernah
mendengar, bahwa gadis itu tidak beribu lagi.”
“Oh,” sahut Ken Arok, “kalau demikian kepada ayahnya.”
“Ayahnya adalah seorang pendeta,” berkata Witantra.
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba
terbayanglah kembali wajah gadis itu. Putih pucat dan ketakutan,
sehingga tiba-tiba ia menjadi pingsan. Terbayang kembali betapa
lekuk-lekuk di wajahnya telah memahatkan sebuah bentuk yang
seindah-indahnya yang pernah dilihatnya. Dan betapa ia terpesona
oleh cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis itu.
Namun cahaya itu sama sekali tidak pernah dapat dipandangnya.
Cahaya itu seakan-akan lenyap apabila ia berusaha melihatnya.
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Apakah yang
dapat dilakukannya kemudian? Mengembalikan gadis itu? Atau apa?
Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi pening. Dan karena itu ia
berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku
lakukan. Tetapi gadis itu pasti tidak akan aku serahkan kepada Kuda
Sempana.”
Namun kemudian perlahan-lahan Akuwu Tumapel itu berkata,
“Tetapi apakah alasanku?”
“Tuanku,” berbisik Witantra kemudian, “Kuda Sempana
mengambil gadis itu dengan kekerasan. Sehingga menuntut
penilaiannya, maka kekerasan akan menentukan segalanya atas
gadis itu. Karena itu, maka harus terpancang pula di dalam
dadanya, bahwa ia harus dapat mempertahankan gadis itu. Itu pula
atas kekerasan.”
“Maksudmu?” bertanya Tunggul Ametung cepat-cepat.
“Ken Dedes akan aku ambil dengan kekerasan.”
“He?” Akuwu itu pun terbelalak, “bagaimana dengan istrimu?”
Witantra tersenyum, “Bukan untuk aku sendiri. Istriku tidak kalah
cantiknya dari gadis itu. Tetapi barangkali aku akan dapat membuat
alasan lain.”
Ken Arok menarik alisnya tinggi-tinggi. Ia belum melihat gadis itu
dengan jelas. Ia baru melihat Ken Dedes sepintas, dalam kekisruhan
yang tidak menentu. Karena itu ia belum dapat menilai
kecantikannya. Namun tak diingkarinya bahwa gadis itu memang
cantik sekali.
Dalam pada itu Witantra berkata pula, “Akuwu. Ternyata apa
yang terjadi telah menghancurkan hari depan gadis itu. Karena itu
maka sebaiknya Akuwu mempertimbangkan, apakah Akuwu dapat
berbuat sesuatu yang dapat sedikit menghiburnya buat masa yang
akan datang.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangkat wajahnya. Tiba-tiba
nafasnya menjadi berangsur cepat dan keringatnya mengalir dari
segenap lubang-lubang kulitnya. Dengan nada yang rendah dan
ragu-ragu ia bertanya, “Bagaimana maksudmu Witantra?”
“Maksudku Akuwu, apabila mungkin maka Akuwu akan dapat
memberi sedikit hiburan kepada gadis itu. Kalau dikehendaki oleh
gadis itu, biarlah Akuwu mengambilnya menjadi menantu. Akuwu
dapat memandang salah seorang hamba Akuwu yang dapat Akuwu
timbang, sesuai dengan gadis itu. Sudah tentu atas kerelaan Ken
Dedes sendiri. Dengan demikian maka apabila Akuwu berhasil, maka
sedikit banyak Akuwu akan dapat meringankan penderitaannya
meskipun tidak akan dapat ganti seperti yang hilang itu baginya.
Dalam hal ini biarlah Ken Dedes memilih sendiri atas orang-orang
yang Akuwu tunjukkan kepadanya. Mungkin dengan demikian maka
penderitaan hatinya akan dapat diringankan, karena bakal suaminya
terbunuh oleh Kuda Sempana itu.”
“Kalau demikian Witantra, dalam waktu yang pendek kau masih
belum menemukan alasan untuk itu. Untuk mengambilnya dengan
kekerasan. Sedang dalam waktu yang singkat Kuda Sempana pasti
sudah akan datang mengambilnya. Mungkin besok, lusa atau
bahkan nanti malam.”
“Bukan soal yang sulit bagi Akuwu. Biarlah Akuwu
memerintahkan kepadanya, supaya gadis itu tetap di istana.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Alasan itu akan dapat
dikemukakan. Tetapi harus dicarinya seorang laki-laki yang
berkenan d hati Ken Dedes. Baru Witantra akan merebut gadis itu
atas namanya.
Akuwu itu menggelengkan kepalanya, “Terlalu lama Witantra.
Terlalu lama. Belum pasti nama itu akan disetujui oleh Ken Dedes.
Baru setelah mendapat nama yang tepat dan disetujui oleh gadis itu
kau berbuat untuknya.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi ia memandang Ken Arok
dengan sudut matanya. Kalau Ken Arok mau menyebut dirinya,
bahkan mau berbuat untuk dirinya, maka dalam takaran Witantra
maka Ken Arok pun memiliki kemampuan yang dahsyat. Sebab
dengan tangannya ia mampu membunuh seorang prajuritnya dalam
satu ayuna n.
Ken Arok masih saja menundukkan wajahnya. Ia tidak berani
berkata apapun juga, sebab ia pun belum juga beristri. Kalau Akuwu
nanti menunjuknya maka akan kisruhlah hatinya. Ia sama sekali
belum ingin berumah tangga mengingat keadaan dirinya dan
hidupnya yang baru saja dibinanya. Ketika terasa olehnya Witantra
dan Akuwu Tunggul Ametung memandanginya, maka Ken Arok
segera menunduk dalam-dalam.
Dalam pada itu tiba-tiba Witantra berkata “Akuwu sekarang
biarlah aku berbuat untuk siapa saja. Apabila ternyata nanti Ken
Dedes tidak bersedia maka biarlah Ken Dedes menentukan nasibnya
sendiri, tetapi ia sudah bukan milik Kuda Sempana lagi.”
Akuwu Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Jawabnya,
“Sekehendakmulah Witantra. Asal gadis itu dapat kau bebaskan dari
Kuda Sempana dengan alasan yang dapat dimengerti oleh beberapa
orang yang mengetahui persoalannya, terutama para prajurit yang
ikut serta ke Panawijen pada saat Kuda Sempana mengambilnya.”
“Baik Tuanku,” wajah Witantra itu menjadi merah karena
perasaan yang aneh di dalam dadanya. Meskipun gadis itu bukan
sanak bukan kadang, tetapi ia merasa bahagia apa bila ia akan
dapat melepaskannya dari tangan Kuda Sempana. Ia sudah sedikit
mendengar apa saja yang pernah dilakukan Kuda Sempana atas Ken
Dedes dari Mahisa Agni, yang dahulu disangkanya Wiraprana. Dalam
pada itu Witantra meneruskan, “Mungkin akan dapat meminjam
nama Adi Ken Arok. Bukankah Adi masih belum berkeluarga pula?”
“Jangan. Jangan,” seperti disengat lebah Ken Arok menolak,
“Jangan Kakang.”
“Tidak. Adi tidak harus bersungguh-sungguh.”
“Aku takut.”
Witantra memandang Ken Arok itu tajam-tajam. Kenapa ia takut?
Tetapi Witantra kemudian tersenyum. Disangkanya Ken Arok takut
apabila namanya dihubungkan dengan seorang gadis, dan apabila
pada saat yang dekat ia benar-benar harus berumah tangga. Karena
itu Witantra menjelaskan, “Adi tidak perlu takut untuk
melaksanakannya. Aku hanya akan berkata kepada Kuda Sempana.
Atas nama Adi Ken Arok yang juga menginginkan gadis itu, maka
aku rebut Ken Dedes dengan kekerasan, seperti pada saat Kuda
Sempana mengambilnya. Tetapi kemudian bukankah dapat
diumumkan pula, misalnya, karena Ken Dedes tidak bersedia kawin
dengan Ken Arok, maka gadis itu dikembalikan ke rumahnya kepada
kakak dan ayahnya.”
“Jangan. Jangan hubungkan namaku dengan gadis itu.”
Sekali lagi Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak melihat, apakah
sebenarnya yang bergolak di hati Ken Arok. Setiap ia mendengar
nama seorang gadis, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia
merasa dikejar-kejar oleh kesalahan-kesalahan yang pernah
dilakukan. Sebagai hantu di padang-padang rumput dan di hutanhutan.
Bahkan di mana saja daerah-daerah yang pernah dijelajahi,
maka ia telah berbuat hal-hal yang mengerikan atas gadis-gadis
yang ditemuinya. Karena itulah, maka setiap kali ia mengingatnya,
maka setiap kali ia menjadi ketakutan. Apalagi ketika ia melihat
bagaimana Kuda Sempana melarikan gadis Panawijen itu. Maka
hampir kepercayaannya kepada semua orang menjadi pudar. Apa
yang dilakukan Kuda Sempana mirip dengan apa yang pernah
dilakukan. Namun caranyalah yang berbeda. Cara yang ditempuh
adalah cara hantu ladang dan padang.
Penolakan Ken Arok itu ternyata
mendorong Akuwu untuk berbuat di luar
dugaan. Di luar dugaan Witantra dan di
luar dugaan Ken Arok, tiba-tiba saja
dalam kegelapan nalar, Akuwu itu
berkata, “Baiklah, kalau tak ada nama
yang kau pergunakan, pergunakanlah namaku. Akuwu Tunggul
Ametung.”
Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar mengejutkan
Witantra dan Ken Arok. Sehingga dengan serta-merta Witantra
berkata, “Jangan Tuanku. Adalah kurang baik apa bila Akuwu sendiri
yang akan mengambilnya. Meskipun hanya sekedar untuk
menyingkirkan Kuda Sempana. Gadis itu adalah gadis pedesaan,
dan kurang sepantasnyalah apabila nama Akuwu dihubungkan
dengan namanya.”
“Biarlah. Biarlah kau pakai namaku. Aku telah merusakkan masa
depan gadis itu. Seandainya dengan demikian namaku menjadi
susut, bukankah itu hukuman yang harus aku alami karena
perbuatan yang terkutuk itu. Biarlah orang menyangka bahwa
Tunggul Ametung telah menculik gadis dari padukuhan Panawijen.
Biarlah orang yang tidak melihat dan mengetahui apa yang terjadi
menuduhku berbuat demikian. Adalah lebih baik bagiku daripada
aku telah melindungi orang untuk menculik seorang tanpa
pertimbangan. Kalau orang menyebutkan langsung menculik gadis
itu, maka orang akan mengutukku sebagai seorang laki-laki yang
tidak berperasaan dan sebagai seorang Akuwu yang sewenangwenang.
Namun adalah menjadi tanggung jawabku pula apabila
seseorang berkata, Kuda Sempana telah menculik seorang gadis
atas perlindungan Akuwu.”
“Adalah lebih baik, apabila aku berbuat sewenang-wenang
karena terdorong oleh kebutuhanku sendiri. Kebutuhan hidup
seorang Akuwu, daripada aku berbuat hal yang sama, sewenangwenang
untuk melindungi orang-orangku. Dengan menyebut bahwa
Ken Dedes telah aku perlukan sendiri, adalah memperkuat alasanku
untuk berbuat sewenang-wenang. Adalah lebih mungkin aku
lakukan daripada sekedar melindungi Kuda Sempana.”
Witantra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata Akuwu
Tunggul Ametung telah benar-benar kebingungan oleh kejaran
penyesalannya. Sehingga karena itu maka Witantra berkata,
“Tuanku, alasan itu hanya diberikan kepada Kuda Sempana. Tidak
kepada siapa pun juga. Sehingga apa yang terjadi kemudian
hanyalah Kuda Sempana yang akan tahu.”
“Tidak. Tidak,” berkata Akuwu itu lantang, “tidak hanya untuk
Kuda Sempana. Besok semua orang Tumapel harus tahu, bahwa
Akuwu Tunggul Ametung telah merampas seorang gadis putri
seorang pendeta di Panawijen, karena Akuwu jatuh cinta kepada
gadis itu. Biarlah semua orang mengutukku, dan biarlah semua
orang membenci aku.”
“Akuwu,” potong Witantra.
“Perintah! Kau dengar?” teriak Akuwu Tunggul Ametung, “Ini
perintahku. Apakah kau akan mengingkari perintahku lagi?”
Witantra dan Ken Arok mengusap dadanya. Apabila sudah
demikian maka Akuwu telah kehilangan nalarnya yang bening.
Sulitlah untuk mencoba memperbincangkan suatu keputusan.
Karena itu, maka mereka hanya dapat berdiam diri. Persoalan itu
telah bergeser dari maksud Witantra semula. Namun Witantra dapat
juga mengerti jalan pikiran Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu akan
mengangkat persoalan itu dengan menengadahkan dadanya,
meskipun dengan demikian telah dikorbankan namanya. Bukankah
Akuwu dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa
Kuda Sempana telah menipunya dan memberikan laporan palsu?
Tetapi rupa-rupanya Akuwu benar-benar telah disiksa oleh
penyesalan yang tak berhingga, sehingga dengan demikian ia
bermaksud menghukum diri sendiri.
Dalam pada itu Akuwu itu berkata pula, kali ini perlahan-lahan,
“Witantra, pergilah kepada Kuda Sempana. Katakan kepadanya,
bahwa Ken Dedes dikehendaki sendiri oleh Akuwu Tunggul
Ametung. Kalau ia tidak rela, berbuatlah atas namaku. Kali ini aku
tidak akan mempergunakan kekuasaan. Tetapi aku minta kepadamu
sebagai seorang sahabat untuk mewakili aku. Kalau Kuda Sempana
menghendaki, biarlah kau mengadakan sayembara tanding
dengannya. Kalau kau tidak bersedia, aku tidak memaksa. Ini bukan
perintah seorang Akuwu. Sudah aku katakan, aku tidak akan
mempergunakan kekuasaan. Kalau tak ada seorang pun yang akan
mewakili Tunggul Ametung, biarlah Tunggul Ametung sendiri yang
maju ke arena.”
“Jangan Tuanku. Jangan Tuanku sendiri. Biarlah hamba yang
melakukannya. Tidak perlu di muka umum. Dapat hamba lakukan di
tempat tertutup. Kecuali Kuda Sempana menghendaki.”
“Terima kasih. Nah, pergilah. Sampaikan maksud itu kepada
Kuda Sempana.”
“Hamba Tuanku.”
Kemudian perintahnya kepada Ken Arok, “Arok, kau pergi
bersama Witantra. Kau pun harus berusaha supaya semua orang
Tumapel mendengar, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah
menculik seorang gadis untuk permaisurinya.”
“Hamba Tuanku,” sahut Ken Arok.
“Nah sebelum pergi, panggilkan Daksina.”
Ken Arok keran mendengar perintah itu. Apakah hubungannya
peristiwa ini dengan Daksina. Anak-anak yang belum genap
berumur lima belas tahun itu.
Ketika Ken Arok masih memandanginya saja dengan heran, maka
Akuwu itu pun membentak, “Panggil Daksina! Kau dengar?”
“Ya, ya Tuanku,” sembah Ken Arok. Namun kepalanya menjadi
pening memikirkan tingkah laku Akuwu itu. Setelah bergeser
beberapa langkah, maka Ken Arok pun kemudian sambil berjongkok
meninggalkan ruangan itu dan turun lewat tangga samping
memanggil seorang anak muda yang bernama Daksina
Daksina, seorang anak dari seorang pelayan istana, seorang juru
dang, terkejut mendengar panggilan Akuwu di malam hari itu.
Karena itu ia menjadi pucat, dan dengan terbata-bata bertanya,
“Apakah yang akan diperintahkan kepadaku, Paman?”
Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Entahlah.”
Dengan tergesa-gesa Daksina pergi menghadap Tunggul
Ametung. Matanya masih merah karena kantuknya. Sekali ia
menguap, dan kemudian dengan wajah yang pucat ia merayapi
tangga ruang dalam.
“Daksina,” panggil Tunggul Ametung, “ambil rontal Kakawin
Arjuna Wiwaha. Bacakan rontal untukku malam ini. Aku jemu
memikirkan semua persoalan yang memusingkan kepalaku.”
Anak itu menarik nafas panjang. “Oh,” katanya di dalam hatinya,
“hampir aku pingsan dibuatnya.”
Daksina itu pun segara mengundurkan dirinya dengan tergesagesa.
Sekali-sekali ia masih menguap dan mengumpat di dalam hati.
Malam-malam begini Akuwu ingin mendengarkan aku membaca
rontal. Bukan main. Kenapa tidak sejak sore tadi atau besok malam.
Tetapi anak itu tidak berani membantah. Langsung pergi ke
ruang penyimpanan rontal. Dari berbagai-bagai rontal yang
bersusun dalam sebuah rak-rakan, Daksina mencari rontal yang
dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung.
Ketika ia keluar dari ruang itu, pelayan dalam yang melihatnya
menyapa, “He, Daksina, apa kerjamu malam-malam di sini?”
“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung inginkan aku membaca
untuknya malam ini.”
“Malam sudah terlampau jauh.”
“Ya.”
“Kenapa Akuwu minta kau membaca rontal itu?”
“Tidak tahu.”
“He? Jangan main-main. Kenapa?”
Daksina berhenti. Lalu memandangi wajah pelayan dalam itu
dengan heran. Katanya, “Kenapa kau bertanya kepadaku?
Bertanyalah kepada Akuwu, kenapa malam-malam begini Akuwu
minta aku membaca rontal. Kalau Akuwu mengurungkan niatnya,
aku akan berterima kasih kepadamu. Besok ransumku boleh kau
ambil.
“Hus, jangan gila, anak mabuk. Kau kira kau dapat menipu aku?
Ayo kembalikan rontal itu.”
“Baik,” sahut Daksina, lalu Daksina itu pun memutar tubuhnya
dan melangkah kembali ke ruang penyimpanan rontal, sambil
bergumam, “Rontal ini akan aku kembalikan. Besok ransumku boleh
kau ambil, sebab aku besok sudah digantung di alun-alun karena
aku tidak mematuhi perintah Akuwu malam ini.”
“Persetan! Jangan menggerutu!”
“Tidak. Besok aku sudah tidak dapat menggerutu lagi, dan kau
tidak akan dapat membentak-bentak lagi. Sebab kau pun akan
dipancung di tengah-tengah pasar.”
“Kenapa?”
“Karena kau menghalangi aku mematuhi perintah Akuwu.”
“He? Jadi benar, Akuwu memerintahkan kau mengambil rontal
itu?”
“Kau sangka aku berbohong?”
“Jadi bukan karena kau sendiri yang ingin membaca?”
“Sudah aku katakan.”
“Oh, anak gila. Kenapa kau tidak membantah? Malahan kau akan
mengembalikan rontal itu.”
“Aku atau kau yang gila. Kau tidak mau mendengar aku
menjelaskan. Kau ingin aku mematuhi perintahmu.”
“Pergi! Pergi! Bawa rontal itu kepada Akuwu. cepat sebelum kau
digantung.”
“Tidak mau!”
“Kenapa?”
“Aku takut kepadamu.”
“Gila!”
“Kau yang gila.”
“Ayo pergi! Cepat! Bawa rontal itu!” bentak pelayan dalam itu
sambil mengacungkan tombaknya, “Atau aku lubangi perutmu?”
“Supaya ransumku dapat kau ambil besok?”
“Tutup mulutmu! Ayo pergi! Kenapa kau mengigau tentang
ransum saja sejak tadi. Apakah kau sekarang sedang lapar?”
Tiba-tiba Daksina mengangguk. “Ya. Aku lapar.”
“Setan kecil! Pergi ke garduku. Aku mempunyai sepotong jenang
alot.”
Daksina betul pergi ke gardu pelayan dalam itu, dan dimakannya
sepotong jenang alot. Namun dengan demikian ia sudah tidak
terkantuk-kantuk lagi. Kini matanya telah terbuka lebar-lebar
setelah
ia mengganggu pelayan dalam itu. Apalagi setelah mulutnya
mengunyah sepotong jenang alot, maka Daksina benar-benar sudah
tidak mengantuk lagi. Setelah minum semangkuk air jahe, maka
segara ia berjalan cepat-cepat ke bilik Akuwu Tunggul Ametung.
Dalam pada itu Witantra dan Ken Arok pun segera minta diri.
Witantra mengharap Akuwu Tunggul Ametung memberinya
wewenang dan wewenang itu telah benar-benar diberikannya.
Meskipun demikian maka Witantra berkata, “Akuwu. Hamba akan
mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun Kuda Sempana
bukanlah anak-anak lagi. Ia mampu membunuh Wiraprana dalam
perkelahian itu di hadapan Akuwu, sehingga ia dapat membebaskan
dirinya dari segenap tuntutan. Namun apabila aku tidak berhasil,
aku minta maaf sebesar-besarnya.”
“Jangan cemas. Aku mengharap kau berhasil.”
Witantra dan Ken Arok pun segera mohon diri meninggalkan
ruangan itu, dan Akuwu Tunggul Ametung pun segera masuk
kembali ke dalam biliknya. Setelah sesaat ia terbaring, maka ia
mendengar langkah di muka biliknya.
(bersambung ke jilid 10)
Jilid 10
DAKSINA BERJALAN PERLAHAN-LAHAN MENDEKATI
pintu. Ruangan itu telah kosong. Kedua orang yang menghadap
akuwu telah pergi.
“He, siapa itu?” teriak akuwu dari dalam biliknya.
“Hamba Tuanku, Daksina.”
“Kenapa kau pergi terlalu lama?”
“Hamba masih harus mencari lontar yang Tuanku kehendaki.”
“Bukankah kau juga yang dahulu menyimpannya, he?”
“Hamba Akuwu.”
“Kenapa terlalu lama?”
“Hamba, hamba lupa di deretan yang mana hamba dahulu
meletakkan Tuanku,” sahut Daksina tergagap.
“Sekarang kau mau apa?”
“Hamba akan membaca.”
“Pergi! Pergi! Aku tidak mau mendengar kau membaca di malam
begini. Apakah kau sangka besok sudah tidak ada waktu? Dan
apakah sengaja kau cari berlama-lama sehingga aku mengantuk dan
menjadi jemu menunggu?”
“Tidak Tuanku. Tidak. Perintah Tuanku pun telah terlalu malam.”
“Apa. Kau menyalahkan aku?”
“Bukan Tuanku. Bukan maksud hamba.”
“Sekarang kau pergi. Pergi!”
Daksina menjadi ketakutan. Tersuruk-suruk ia berjalan cepatcepat
menjauhi bilik Tunggul Ametung sambil bersungut-sungut
akuwu benar-benar aneh. Tetapi kemudian ia menyesal karena ia
terlalu lama pergi mengambil lontar itu. “Pelayan dalam itu
benarbenar
gila, ia memberi aku jenang alot, sehingga aku menjadi
terlalu lama,” gumamnya sambil berjalan ke biliknya sendiri.
Beberapa orang pelayan yang sedang bertugas memandanginya
dengan malas sambil sekali-sekali menguap. Apa saja yang
dilakukan anak itu malam-malam begini.
Tetapi tiba-tiba anak itu terkejut ketika lengannya ditangkap oleh
sebuah tangan yang kuat. Ketika ia berpaling di lihatnya pelayan
dalam yang tadi mencegahnya di muka bilik penyimpanan lontar.
“He. Mau ke mana kau?”
“Tidur.”
“Jadi kau benar-benar berbohong ya?”
“Kenapa?”
“Akuwu tidak memerintahkanmu membaca lontar itu.”
“ Oh,” Daksina menjadi tergagap. Namun ia berhasil juga
menjelaskan, “Aku sudah mulai membaca. Tetapi karena jenang
alotmu itu maka suaraku menjadi serak tidak seperti biasanya,
sehingga akuwu marah, dari aku diusirnya. Nah, sekarang kau harus
menebus kesalahanmu itu. Kalau aku tidak makan jenang alotmu,
maka aku tidak akan mendapat marah.”
“Anak setan! Bukankah itu salahmu sendiri?”
“Besok ransum pagimu harus kau berikan kepadaku. Kalau tidak,
maka aku akan menyampaikan kepada Akuwu, bahwa kau
menyimpan makanan di gardumu.”
“Apa salahnya? Tidak ada larangan berbuat demikian.
“Tetapi karena makananmu itu suaraku menjadi parau.”
“Pergi! Pergi, jangan mengigau!” bentak pelayan dalam itu sambil
mendorong Daksina pergi.
Suasana halaman istana itu menjadi sepi. Tiga orang perempuan
duduk diam di samping regol halaman dalam. Dalam keremangan
cahaya obor di kejauhan, mereka tampaknya seperti bayang-bayang
hitam yang duduk mematung.
Dengan gelisah mereka menunggu. Bahkan hampir tidak sabar
salah seorang berkata, “Bibi emban. Tolong tengoklah ke ruang
dalam apakah Kakang Witantra masih berada di sana?”
“Masih Ngger. Masih. Baru saja aku melihat mereka turun dari
ruangan itu. Tetapi mereka tidak segera berjalan keluar.”
“Ke mana mereka itu?”
“Mungkin Anakmas Witantra perlu melihat-lihat beberapa buah
gardu penjagaan. Penjagaan di halaman belakang yang dilakukan
oleh para prajurit pengawal.
Orang yang bertanya itu, yang tidak lain adalah Nyai Witantra
menarik nafas panjang. Ingin ia berlari masuk ke dalam istana,
namun ia menjadi ragu-ragu.
Untuk melepaskan kejemuannya, maka ia bertanya, “Bibi emban.
Apakah kau melihat Akuwu membawa seorang gadis dari
pedesaan?”
Emban itu mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya raguragu,
“Aku kira demikian Nyai. Apakah ada hubungannya dengan
Anakmas Witantra?”
Perempuan yang lain, yang sejak semula selalu berdiam diri
mendengarkan percakapan mereka tersentak mendengar jawaban
itu, dan tiba-tiba bertanya, “Apakah gadis itu berada di dalam
istana
ini pula?”
Kembali emban itu menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu, dari mana
dan kenapa akuwu membawa gadis itu. Sehingga karena itu maka
jawabnya, “Entahlah. Aku tidak tahu.”
Pemomong Ken Dedes menjadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat
mendesaknya lagi. Sehingga kembali mereka berdiam diri. Duduk
mematung dalam kegelisahan hati masing-masing.
Mereka tersentak ketika tiba-tiba mereka melihat dua sosok
tubuh yang berjalan ke arah mereka. Ketika mereka sudah dapat
melihat dengan jelas, maka berbisiklah emban itu, “Nah. Itulah.
Baiklah aku meninggalkan kalian di sini.”
“Tunggu!” cegah Nyai Witantra.
“Apa yang harus aku tunggu?”
Nyai Witantra tidak menjawab. Tetapi ujung kain emban itu
dipeganginya, sehingga emban itu tidak dapat meninggalkannya.
Witantra pun terkejut melihat tiga orang perempuan duduk di
samping regol. Ia menjadi semakin terkejut lagi ketika diketahuinya
bahwa salah seorang dari mereka adalah istrinya.
“He. Kaukah itu Nyai?”
“Ya Kakang ,” jawab Nyai Witantra.
“Apakah kerjamu di sini?”
Nyai Witantra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak tahu
benar apa yang sudah terjadi, namun kini ia melihat suaminya
berjalan berdua dengan Ken Arok tanpa pengawalan. Menurut
tangkapan perasaannya, maka suaminya tidak sedang dalam
kesulitan-kesulitan. Namun meskipun demikian ia menjawab, “Aku
mencemaskan kau Kakang. Aku ingin tahu, apakah yang terjadi
denganmu dan Adi Ken Arok.”
“Oh,” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia tersenyum —Marilah pulang Nyai.
“Tetapi bagaimana dengan Kakang dan Adi Ken Arok
“Tidak apa-apa. Marilah pulang. Biarlah aku nanti bercerita
tentang diriku, tentang Adi Ken Arok dan tentang yang lain-lain.
Nyai Witantra sekali lagi menarik nafas lega. Katanya, “Syukurlah
kalau tidak ada apa-apa dengan Kakang dan Adi Ken Arok.”
“Nah. Marilah kita pulang,” ajak Witantra.
“Tetapi,” suara Nyai Witantra terputus. Di palingkannya wajahnya
dan ditatapnya wajah pemomong Ken Dedes yang menjadi semakin
gelisah.
“Tetapi?” ulang Witantra,”Adakah soal lain yang akan kau
kerjakan pula?”
“Bukan aku Kakang, tetapi Bibi ini.”
“Oh, apakah yang akan dilakukan?”
“Ia mencari momongannya Ken Dedes. Apakah gadis itu berada
di dalam istana ini?”
Witantra diam sejenak. Ia tahu benar bahwa Ken Dedes berada
di dalam istana. Tetapi ia tidak tahu, apakah ke hadiran
pemomongnya itu akan berkenan di hati akuwu. Karena itu maka
katanya berterus terang, “Ya. Gadis itu berada di dalam istana.
Tetapi aku tidak tahu, apakah dengan demikian, maka akuwu akan
mengizinkan orang lain masuk ke dalamnya. Karena itu, baiklah
besok aku bawa Bibi itu menghadap.
Pemomong Ken Dedes menjadi tidak bersabar menunggu hari
esok. Namun ia tidak dapat memaksa. Ia tidak mau kehilangan
kesempatan. Apabila akuwu menjadi marah dan kecewa, maka
kesempatan baginya akan tertutup rapat-rapat. Karena itu, ia tidak
membantah. Namun dengan demikian, pemomong Ken Dedes itu
menjadi sedikit tenang. Ia kini sudah tahu, di mana momongannya
berada.
Kemudian Witantra dan istrinya beserta pemomong Ken Dedes
itu pun kembali ke rumahnya. Kepada emban yang mengawani Nyai
Witantra menunggu suaminya, Witantra berpesan
“Emban. Kalau kau dapat masuk ke sentong tengen,
sampaikanlah kepada gadis itu, bahwa pemomongnya telah berada
di Tumapel. Besuk ia akan dapat bertemu. Mudah-mudahan dengan
demikian ia menjadi agak tenang.
Emban itu mengangguk hormat.
Malam telah menjadi semakin larut. Bintang-bintang di langit
bergayutan pada dataran yang biru pekat. Satu-satu tampak
bintang-bintang yang seakan-akan lepas dari tangkainya, meluncur
jauh ke arah barat dan hilang meresap di dalam kelam.
Malam itu Witantra menceritakan segala yang diketahuinya
dengan berterus terang. Dari yang paling awal, hingga yang paling
akhir.
Nyai Witantra mengangkat wajahnya memandang asap pelita
yang menggapai-gapai kepanasan. Ditahankannya perasaan yang
bergolak di dalam dirinya. Meskipun suaminya terlepas dari segenap
hukuman, namun ia akan menghadapi pekerjaan yang berbahaya
Witantra telah pula menceritakan, bahwa ia harus memisahkan
Kuda Sempana dari gadis itu dengan cara yang sudah ditempuh
oleh Kuda Sempana sendiri. Kekerasan.
Persoalan itu akan menjadi persoalan yang aneh sekali. Persoalan
yang tidak lazim terjadi di antara manusia-manusia yang
menghargai kemanusiaannya. Persoalan yang seakan-akan dapat
dipecahkan dengan kekerasan oleh satu pihak tanpa menghiraukan
pihak yang berkepentingan. Dalam persoalan yang sulit itu, Ken
Dedes sendiri tidak dapat turut menentukan sikapnya.
Tetapi suaminya akan merebut gadis itu bukan karena nafsu
seperti apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana. Bahkan sebaliknya.
Ia ingin melepaskan gadis itu dari penderitaan yang akan dialaminya
sepanjang hidupnya. Meskipun Witantra pada suatu saat akan
bertempur, namun kini ia akan melakukannya dengan hati yang
terang, untuk tujuan yang terang pula. Sehingga meskipun Nyai
Witantra tidak dapat menekan kecemasan hatinya, tetapi suaminya
berbuat di atas lindasan yang kuat. Sebagai seorang prajurit maka
adalah menjadi kewajiban Witantra untuk melepaskan
perbuatanperbuatan
yang dapat membahayakan jiwanya. Bertempur. Namun
bukanlah untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Tetapi
sebaliknya.
Dan kini Witantra itu telah dihadapkan pada kemungkinan itu.
Perang tanding, melawan Kuda Sempana.
Ken Arok malam itu tidak ikut kembali ke rumah Witantra. Anak
muda itu langsung kembali ke baraknya sendiri. Di perjalanan itu
kepalanya selalu dipenuhi oleh berbagai persoalan yang bercampur
baur. Heran, kecewa, ngeri dan cemas. Seakan-akan terbayang
kembali di muka wajahnya, apa yang pernah dilakukannya dan
disusul kemudian oleh apa yang telah dilakukan oleh Kuda Sempana
dan Tunggul Ametung. Apapun yang akan dilakukan oleh Tunggul
Ametung, namun Ken Dedes itu hatinya telah terluka. Dan luka itu
amat parahnya. Tak mungkin seseorang akan dapat menyembuhkan
luka itu, bahkan seandainya Ken Dedes itu dijadikannya permaisuri
sekalipun.
“Kasihan gadis itu,” desisnya di dalam hati, dan diteruskannya,
“untunglah Witantra bersedia untuk melepaskannya. Setidaktidaknya
akan mengurangi penderitaan yang akan dialaminya.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Kasihan,” desahnya
berulang-ulang. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sendiri
takut melibatkan dirinya dalam persoalan itu. Ia takut apabila ia
benar-benar harus mengalami akibat dari persoalan-persoalan itu.
Bukan takut seandainya ia harus bertempur melawan siapa pun,
tetapi ia takut apabila ia harus menjadi pengganti orang yang telah
hilang dari hati Ken Dedes. “Aku adalah orang yang paling kotor di
dunia ini,” gumamnya, “Lebih kotor dari Kuda Sempana. Mungkin
Kuda Sempana baru melakukan hal ini untuk pertama kalinya,
sedang aku telah melakukannya berulang-ulang. Meskipun ada
beberapa perbedaan, namun pada hakikatnya adalah sama saja.”
Ken Arok itu terkejut, ketika tiba-tiba seseorang meloncat ke
tengah-tengah jalan yang dilewatinya. Dengan isyarat tangannya
orang itu menghentikannya.
Ken Arok menarik kekang kudanya yang memang berjalan
perlahan-lahan. Ketika diamatinya orang itu maka kemudian
diketahuinya, bahwa orang itu adalah Kuda Sempana.
“Adi Ken Arokkah itu?”
“Ya,” sahut Ken Arok pendek.
“Kau datang dari istana bersama Witantra?”
“Ya.”
Kuda Sempana berjalan perlahan-lahan mendekati Ken Arok yang
masih duduk di punggung kudanya. Dengan suara parau Kuda
Sempana bertanya, “Apa kerjamu di istana?”
Ken Arok mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya, “Dari
mana kau tahu aku dari istana?”
“Kau sendiri mengatakannya.”
“Aku menjawab pertanyaanmu.”
“Beberapa orang melihat kau masuk ke istana. Beberapa orang
pelayan dalam dan para emban. Aku telah datang ke istana. Namun
kalian baru menghadap akuwu, sehingga aku membatalkan niatku.”
“Oh. Jadi kau sudah tahu.”
Kuda Sempana mengangkat alisnya. Dengan tajamnya ia
mencoba melihat wajah Ken Arok dalam kegelapan malam. Namun
Kuda Sempana tidak menemukan kesan apa-apa pada wajah itu.
“Apa yang kalian bicarakan?” bertanya Kuda Sempana kemudian.
“Bukan apa-apa.”
“Mustahil! Akuwu memanggil kalian pada saat-saat yang tidak
sewajarnya. Pasti ada yang penting kalian bicarakan dengan Akuwu
Tunggul Ametung.”
“Ya.”
“Apa?”
“Akuwu marah kepada Kakang Witantra dan kepadaku atas sikap
kami berdua.”
“Hanya marah?”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian dijawabnya, “Ya.
Hanya marah. Apakah kau ingin tindakan lebih dari itu?”
“Telah terucapkan oleh Akuwu Tunggul Ametung, bahwa
Witantra akan digantung di alun-alun. Apakah ucapan itu telah
dicabut?”
“Ya.”
“Akh. Gila! Dengan demikian maka setiap keputusan akan dapat
dicabut tanpa alasan. itu tidak bijaksana. Seorang Akuwu harus
tetap pada pendiriannya. Sekali ia menjatuhkan keputusan, maka
keputusan itu harus dilaksanakan.”
Ken Arok tidak menjawab. Ia sudah sedemikian lelahnya,
sehingga segera ia ingin kembali ke biliknya, menjatuhkan diri dan
kalau mungkin tidur. Karena itu dibiarkannya Kuda Sempana
melepaskan perasaannya, tanpa diganggunya.
Namun Kuda Sempana menjadi jengkel karenanya. Seakan-akan
Ken Arok itu telah tidak mengacuhkannya. Karena itu maka ia
berkata lebih keras, “He, Adi Ken Arok. Bukankah aku berkata
sebenarnya. Bukankah Akuwu harus menepati keputusannya
menghukum Witantra di alun-alun?”
“Itu terserah kepada Akuwu,” sahut Ken Arok yang menjadi
semakin jemu mendengar kata-kata Kuda Sempana.
“Tetapi adalah tidak bijaksana dan menurunkan kewibawaannya
apabila seorang Akuwu mencabut keputusan tanpa alasan. Akuwu
sudah mengucapkan perintah untuk menggantung Witantra karena
menentang perintah Akuwu dalam saat yang sulit. itu adalah suatu
pemberontakan. Dan hukuman bagi seorang pemberontak adalah
hukum gantung di alun-alun. Kenapa tiba-tiba Akuwu mengubah
keputusan itu, hanya dengan memarahinya. itu tidak Adil! itu tidak
Adil!”
Ken Arok masih duduk terkantuk-kantuk di atas punggung
kudanya. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Kuda Sempana. Ia
tidak mau menyinggung perasaannya. Tetapi kata-katanya semakin
lama semakin menjemukan, sehingga kemudian dengan suara parau
ia menjawab, “Kakang. Sebaiknya pertanyaan itu Kakang sampaikan
saja kepada Akuwu. Tidak kepadaku.”
Kuda Sempana memandang Ken Arok seperti hendak di telannya
bulat-bulat. Dengan wajah tegang ia berkata, “He, Adi Ken Arok.
Apakah sebenarnya yang telah kalian bicarakan sehingga akuwu
membatalkan hukumannya?”
“Itulah. Akuwu marah kepada kami. Dan tanpa kami duga- duga,
Akuwu telah membatalkan hukumannya.”
“Bohong!” bentak Kuda Sempana, “kalian mesti membuat
rencana- rencana yang lain, yang memberikan kemungkinankemungkinan
untuk melepaskan kalian dari hukuman.”
“Ken Arok mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Pelupuk matanya
hampir-hampir tak dapat lagi ditariknya. Sekali ia menguap, dan
telapak tangannya menutup mulutnya yang terbuka itu. Dengan
malasnya ia menjawab, “Kakang. Bertanyalah kepada Kakang
Witantra. Hari ini telah terlampau malam untuk berbicara. Biarlah
aku beristirahat. Bukankah sebentar lagi kami sudah di bangunkan
oleh kokok ayam. Marilah kita pergunakan kesempatan yang tinggal
sesaat ini sebaik-baiknya.”
“Aku juga belum beristirahat. Tetapi aku tidak lelah. Aku tidak
mengantuk. Dan aku akan berbicara sampai aku mendapat
penjelasan yang memuaskan.”
“Silakan Kakang. Kalau Kakang tidak mengantuk, kalau Kakang
tidak lelah, dan kalau Kakang mau bangun sampai fajar, silakan.
Tetapi aku lelah dan mengantuk. Aku ingin beristirahat.”
“Tidak. Sebelum kau menjelaskan apa yang telah kalian
bicarakan.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Di langit dilihatnya bintang
berhamburan. Sekali-kali kelelawar terbang di atas kepalanya.
Kelelawar yang sedang mencari mangsanya. Ketika dilihatnya
beberapa kelelawar yang beterbangan itu. Ken Arok tersenyum di
dalam hati. Ia sendiri tidak tahu, kenapa pendeta di Sagenggeng
pernah berkata kepadanya, bahwa dari kepalanya telah keluar
berbondong-bondong kelelawar yang merusak buah jambunya.
“Lucu,” gumam Ken Arek di dalam hatinya, “apakah kepalaku ini
sarang kelelawar?”
Namun Ken Arok terkejut ketika Kuda Sempana membentaknya,
“He, Adi. Kenapa kau berdiam diri?”
“Ah,” desah Ken Arok, “aku benar-benar mengantuk.”
“Jawab pertanyaanku ini! Kenapa akuwu membatalkan
hukumannya kepada Witantra?”
“Hanya Akuwulah yang dapat menjawab. Bertanyalah kepada
Akuwu. Jangan kepadaku.”
Kuda Sempana menjadi marah mendengar jawaban Ken Arok itu.
Karena itu ia melangkah semakin dekat. Dengan dada tengadah ia
berkata, “Adi. Kau adalah seorang hamba yang belum lama berada
di lingkungan istana. Sedang aku, dapatlah dikatakan sejak bayi aku
berada di sini. Karena itu jangan mencoba menghina aku.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia
menjawab, “Tidak Kakang. Aku sama sekali tidak menghina. Aku
berkata sebenarnya. Karena itu biarkan aku pergi supaya Kakang
tidak tersinggung melihat sikapku. Sebenarnyalah karena aku tidak
dapat mencegah kantukku.”
Tetapi jawaban Ken Arok itu benar-benar tidak menyenangkan
Kuda Sempana, karena itu ia berkata pula, “Adi. Sekarang turunlah
dari kudamu. Beri aku penjelasan. Semakin cepat itu kau lakukan,
maka semakin cepat kau dapat beristirahat.
Ken Arok memandang Kuda Sempana dengan penuh keraguraguan.
Tetapi bukan kewajibannyalah untuk memberitahukan
persoalan yang terjadi di istana. Biarlah besok atau kapan saja
Witantra yang menemui Kuda Sempana dan mengatakan persoalan
itu. Bukan dirinya, sebab ia tidak mau terlibat semakin jauh.
Karena itulah maka ia menjawab, “Kakang Kuda Sempana. Sekali
lagi aku beri tahukan, bertanyalah kepada Akuwu Tumapel atau
kepada Kakang Witantra.”
“Jangan keras kepala!” bentak Kuda Sempana semakin marah.
Namun Ken Arok pun menjawab tegas, “Jangan memaksa!”
Selangkah Kuda Sempana maju mendekati Ken Arok sambil
berkata, “Turunlah! Jangan membuat aku marah!”
“Kau yang membuat aku marah,” sahut Ken Arok, “sebab bukan
hanya Kuda Sempana saja yang dapat menjadi marah.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya, namun hatinya menjadi
semakin menyala. Dengan gigi gemeretak ia berkata, “Adi Ken Arok.
Apakah kau membanggakan tanganmu yang mampu membunuh
seorang prajurit dengan tangan itu? jangan sombong karenanya.
Kau lihat, aku juga mampu membunuh Wiraprana dengan tanganku.
Kau lihat dengan kedua belah matamu yang bulat itu bukan? Nah,
sekarang katakan kepadaku, apa yang kalian bicarakan dengan
Akuwu, atau aku terpaksa memaksamu?”
Tubuh Ken Arok tiba-tiba menjadi gemetar. Ia sama sekali tidak
menyangka bahwa Kuda Sempana dapat berlaku sekasar itu. Tetapi
ia sendiri adalah bekas seorang penyamun, pembunuh, perampok
dan bahkan seorang hantu di padang rumput Karautan. Kini ia telah
mendapat tuntunan yang dapat mengatur segala gerak dan tingkah
lakunya, sehingga kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan
kepadanya, telah dapat disusunnya menjadi suatu kekuatan yang
dahsyat. Karena itu, maka ia sama sekali tidak takut menghadapi
Kuda Sempana seandainya terpaksa ia harus berkelahi. Tetapi
kembali ia menjadi ragu-ragu. Ketika ia hampir saja meloncat dari
punggung kudanya, maka diingatnya kembali kata-kata Akuwu
Tumapel kepada Witantra, bahwa ia harus merebut Ken Dedes
dengan kekerasan. Bukan untuk dirinya atau untuk Witantra, namun
perbuatan itu dilakukan asal saja dapat membebaskan Ken Dedes
dari Kuda Sempana. Karena itu, maka kali ini Ken Arok menjadi
bimbang. Kalau sampai dirinya terlibat dalam perkelahian dengan
Kuda Sempana, maka apa yang akan di lakukan oleh Witantra akan
menjadi hambar. Mungkin Witantra dan Akuwu Tunggul Ametung
akan marah kepadanya. Karena itu, maka biarlah Witantra kelak
berhadapan dengan Kuda Sempana dalam persoalan itu. Ia tidak
akan mendahului.
Dengan demikian, ketika Ken Arok itu melihat Kuda Sempana
selangkah lagi maju. maka dengan serta-merta ditariknya kendali
kudanya dan dengan ujung kendali dilecutnya kuda itu.
Kuda itu terkejut bukan kepalang. Dengan kerasnya kuda itu
meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya. Namun sejenak
kemudian kuda itu meloncat dan menghambur ke dalam kelamnya
malam.
Kuda Sempana pun terkejut melihat kuda itu meloncat. Dengan
tangkasnya ia meloncat ke samping dan dengan marahnya ia
melihat kuda itu berlari menjauhinya.
“Pengecut!” umpatnya, “aku sangka kau seorang jantan.”
Dari kejauhan Ken Arok menjawab, “Aku menghindar kali ini
Kakang. Kalau kau tidak puas, buatlah persoalan yang lain pada
kesempatan yang lain. Aku akan mencoba melayani.”
“Setan! Berhenti kalau kau laki-laki!”
Tetapi Ken Arok telah semakin jauh. Derap kudanya gemeretak di
atas batu-batu di jalanan. Semakin lama semakin lambat dan
akhirnya lenyap dalam keheningan malam.
“Pengecut!” gumamnya.
Kuda Sempana itu terkejut ketika ia mendengar gerit pintu di
belakangnya. Agaknya penghuninya mencoba melihat apa yang
terjadi di jalan. Ketika ia mendengar suara ribut-ribut, ia mencoba
mengintip dari lubang-lubang dinding, namun ketika ia tidak melihat
apa-apa, maka terpaksa dibukanya pintu rumahnya. Seberkas sinar
pelita yang lemah meluncur dari secercah pintu yang terbuka itu.
Namun hanya sebentar, kemudian pintu itu telah tertutup kembali.
Kuda Sempana mengumpat-umpat tidak habis-habisnya.
Kemudian dengan tergesa-gesa ia berjalan ke barak Ken Arok. Ia
tidak puas dengan pertemuan yang menyakitkan hati itu. Anak itu
akan dicarinya dan dipaksanya untuk berkata. Tetapi kemudian ia
menjadi ragu-ragu. Ken Arok berhasil melawan Mahisa Agni dengan
baik. Bahkan belum dapat dilihat apakah ia akan dikalahkan. Kuda
Sempana melihat bahwa dalam perkelahian itu, Mahisa Agni itu
telah berusaha melepaskan kekuatan tertinggi yang disimpan dalam
dirinya. Ah, mungkin Mahisa Agni menjadi bingung menghadapi
persoalan itu. Kalau ia masih senang, maka aku sangka Ken Arok itu
akan dengan mudah dikalahkan. Kalau ia berani melawan aku, maka
aku kira ia akan luluh menjadi debu, apabila tersentuh kekuatan aji
Kala Bama.
Kuda Sempana itu pun semakin mempercepat langkahnya. ia
hampir tidak sabar lagi ketika tampak olehnya barak Ken Arok yang
membujur di belakang sebuah halaman yang luas.
Seorang penjaga yang bertugas di pintu gerbang tiba-tiba
merundukkan tombaknya sambil bertanya, “Siapa?”
“Minggir! Aku pecahkan kepalamu nanti,” sahut Kuda Sempana
kasar.
“Oh. Kau Kakang Kuda Sempana?”
“Apakah Ken Arok sudah pulang?”
Penjaga itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,
“Belum Kakang.”
“Jangan bohong. Kau mau mencoba melindunginya?”
Penjaga itu menjadi bingung. Ia tidak tahu persoalan apakah
yang sudah terjadi. Karena itu sekali lagi ia menjawab, “Belum. Aku
tahu pasti, Ken Arok belum kembali ke barak.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ken Arok yang
mendahuluinya berkuda itu pasti sudah sampai di sini. Karena itu ia
menjadi jengkel mendengar jawaban itu. Sehingga sekali lagi ia
membentak, “Jangan bohong! Atau kau tertidur dalam tugasmu?”
“Tidak,” jawab penjaga itu.
“Apa yang tidak?”
“Tidak bohong dan tidak tertidur.”
“Kalau begitu kau sengaja melindunginya. Minggir! Biarlah aku
cari sendiri anak itu di dalam biliknya.”
Penjaga itu sudah kenal betul siapakah Kuda Sempana. Ia adalah
anggota yang lebih tua daripadanya. Karena itu maka dibiarkannya
Kuda Sempana itu masuk.
Dengan langkah yang panjang-panjang Kuda Sempana langsung
menuju ke bilik Ken Arok. Dengan serta-merta ditariknya daun pintu
leregan yang terkatup.
Ketika pintu itu bergerit, maka terkejutlah tiga orang penghuni
bilik itu. Dengan tangkasnya mereka berloncatan dari pembaringan
mereka. Tetapi ketika mereka melihat Kuda Sempana berdiri di
muka pintu, maka terdengarlah mereka berdesah dan mengumpat
di dalam hati mereka.
“Kau mengejutkan kami Kakang,” berkata salah seorang
daripadanya.
Kuda Sempana sama sekali tak acuh mendengar perkataan itu.
Dengan nanar ditebarkannya pandangan matanya ke segenap sudut
ruang itu. Namun Ken Arok benar tidak ada di dalam biliknya itu.
“Siapakah yang kau cari?” bertanya yang lain.
“Ken Arok,” jawab Kuda Sempana singkat.
“Bukankah Ken Arok pergi bersamamu berburu sejak pagi tadi?”
Kuda Sempana tidak menjawab, bahkan berpaling ke pada orang
yang berkata itu pun tidak. Segera ia melangkah meninggalkan bilik
itu sambil mengumpat di dalam hatinya, “Ke mana anak setan ini
pergi?”
Tetapi Kuda Sempana sudah kehilangan nafsu untuk mencarinya.
Karena itu, maka ia pun segera meninggalkan barak itu untuk
kembali ke baraknya sendiri. Namun kepalanya selalu diganggu oleh
persoalan-persoalan yang tidak menentu. Tentang Akuwu Tunggul
Ametung, tentang Witantra dan tentang Ken Dedes. Kalau akuwu
melepaskan perlindungannya kepadanya, maka dikhawatirkan
bahwa Mahisa Agni akan segera datang menyusul Adiknya. Atau ….
Kuda Sempana menghentakkan giginya.
“Akuwu itu pun tidak ubahnya seperti hantu-hantu yang
berkeliaran di kuburan. Setiap saat ia dapat menerkam dan
mencelakakan. Kenapa gadis itu aku biarkan tinggal di dalam
istana?”
Tetapi Kuda Sempana tidak pergi ke istana. Di regol masih
dilihatnya penjaga yang berdiri terkantuk-kantuk.
“He, kau kantuk lagi?”
“Tidak,” sahut penjaga itu. Dan dilihatnya Kuda Sempana
berjalan tergesa-gesa meninggalkan halaman itu.
Ketika Kuda Sempana telah hilang di dalam kegelapan malam,
maka barulah penjaga itu teringat bahwa baru saja dilihatnya seekor
kuda yang berlari kencang dan membelok di ujung jalan sebelum
melampaui penjagaannya.
“Kalau Ken Arok masih membawa kudanya, maka pasti kuda
yang membelok itu tadi,” gumam penjaga itu kepada diri sendiri.
Dan sebenarnyalah Ken Arok mengurungkan niatnya kembali ke
pondoknya. Ia merasa tidak tenang di dalam barak itu. Menurut
perhitungannya. Kuda Sempana pasti akan menyusulnya dan
mengganggunya lagi, sehingga ia tidak akan sempat untuk
beristirahat. Karena itu Ken Arok memacu kudanya ke rumah
Witantra. Ia mengharap dapat beristirahat di rumah itu. Dan
seandainya Kuda Sempana mencarinya ke sana, biarlah Witantra
yang memberinya jawaban
Ketika ia memasuki halaman rumah Witantra, ternyata Witantra
pun baru saja sampai. Sebab ia terpaksa menuntun kudanya dan
berjalan bersama istri dan pemomong Ken -Dedes.
Kehadiran Ken Arok itu benar-benar mengejutkannya, tetapi
ketika Ken Arok telah menceritakan apa yang terjadi, maka Witantra
itu pun tersenyum. Katanya, “Nah, kalau Adi mau tidur, tidurlah,
meskipun hanya di atas sehelai tikar.”
“Biarlah. Aku ingin beristirahat tampak diganggu oleh siapa pun.
Karena itu aku berlari kemari.”
Ken Arok itu pun segera dipersilakan tidur di ruang tengah,
namun Ken Arok itu berkata, “Biarlah aku tidur di luar Kakang,
udara terlalu panas.”
“Di luar terlalu dingin,” sahut Witantra.
“Tidak. Di luar udara segar dan sejuk.”
Sambil menjinjing sehelai tikar Ken Arok pergi ke samping rumah.
Seperti pada masa-masanya yang telah lampau segera ia memanjat
ke atas kedogan kuda dan tidur dengan nyenyaknya beralaskan
tikar dan jerami.
Tetapi di dalam rumah itu, Witantra tidak segera dapat
memejamkan matanya. Ia sedang membuat gambaran-gambaran
tentang usahanya untuk menolong Ken Dedes dari ketakutan dan
derita sepanjang umurnya.
“Besok aku harus menemui Kuda Sempana,” desisnya. Dan
dipaksanya dirinya melupakan sejenak apa saja yang akan terjadi.
Ketika malam sudah hampir menjelang pagi, barulah Witantra dapat
tertidur sesaat.
Namun seisi rumah itu pun segera terkejut ketika terdengar
derap kaki-kaki kuda memasuki halaman rumah itu. Sebelum
mereka menjadi sadar benar, maka terdengarlah ketokan yang
keras pada pintu depan.
Witantra meloncat dari pembaringannya. Namun ia tidak segera
beralih membuka pintu rumahnya. Sesaat ia memperhatikannya
dengan sungguh-sungguh. Ketika ketokan itu masih saja berulang
berkali-kali maka terdengar Witantra bertanya, “Siapa?”
“Aku,” terdengar jawaban di luar pintu, “Kuda Sempana.”
“Oh,” Witantra menarik nafas panjang, dan gumamnya di dalam
hati, “Ternyata anak ini tidak bersabar sampai matahari memancar
kembali.”
Perlahan-lahan Witantra pergi ke pintu rumahnya. Istrinya yang
terbangun pula, berdiri dengan tegang di muka sentongnya. Ketika
Witantra lewat di sampingnya, maka terdengar istrinya berbisik,
“Hati-hatilah Kakang.”
“Anak itu tidak akan apa-apa. Ia belum tahu segenap persoalan
yang harus dilakukannya. Kedatangannya pasti hanya di dorong
oleh kegelisahan yang tak dapat ditundanya.
Istrinya tidak menjawab. Namun wajahnya masih saja tegang
seperti hatinya yang tegang pula.
Di muka pintu Witantra masih bertanya, “Adi Kuda Sempana,
kenapa Adi datang di pagi-pagi buta ini?”
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan Kakang,” jawab Kuda
Sempana.
Sesaat kemudian terdengar pintu bergerit terbuka. Di muka pintu
berdiri Kuda Sempana dengan nafas terengah-engah.
Dipandanginya wajah Witantra dengan penuh kecurigaan.
“Marilah,” Witantra mempersilakan.
Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak
Kakang. Aku hanya ingin tahu, apakah yang Kakang perbincangkan
dengan Akuwu bersama Adi Ken Arok?”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa Adi tidak
menunggu sampai besok siang?”
“Aku tidak tahan. Hatiku seakan-akan selalu diganggu oleh
pertemuan kalian.
“Kenapa?” bertanya Witantra.
Kuda Sempana tidak segera menjawab. Hatinya menjadi
berdebar-debar dan kata-katanya seakan-akan tersangkut di
kerongkongan.
Di samping rumah itu, di atas kandang kuda, Ken Arok
mendengar pula kehadiran Kuda Sempana. Namun dengan
malasnya ia menggeliat dan berusaha untuk tidur kembali.
Tetapi percakapan antara Witantra dan Kuda Sempana ternyata
menarik perhatiannya, sehingga justru ia mencoba menangkap
setiap kata yang meluncur dari sela-sela Bibir mereka.
Sejenak kemudian terdengar Kuda Sempana menjawab, “Kakang,
pertemuan yang terjadi di istana malam tadi adalah tidak wajar.”
“Apa yang tidak wajar?”
“Akuwu tidak biasa memanggil seseorang di malam hari apabila
tidak terlalu penting.”
“Ya. Memang Akuwu memanggil pada sore hari. Namun aku
masih harus mandi dan makan dahulu, sehingga aku datang
terlambat.”
“Kalau Kakang yang terlambat, tidak mungkin Akuwu akan
menerima Kakang. Bahkan mungkin Kakang telah diusirnya.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia menjadi raguragu
Apakah ia akan mengatakan apa yang didengarnya dari Akuwu
saat itu juga. Tetapi tebersit di dalam hatinya, apabila mungkiri
biarlah ditemuinya saja Kuda Sempana pada kesempatan yang lebih
baik. Tidak di pagi-pagi buta dan apabila ia tidak sedang dibakar
oleh kebingungan.
Karena itu, maka sekali lagi Witantra itu berkata, “Adi Kuda
Sempana. Duduklah. Dan marilah kita berbicara dengan tenang.
Apabila Adi tidak juga mau duduk, maka setiap pembicaraan pasti
akan tergesa-gesa.”
“Tidak Kakang. Aku hanya perlu sepatah dua patah kata dari
Kakang. Apakah yang dibicarakan akuwu malam tadi?”
Witantra mengerutkan keningnya. Sambil menebarkan
pandangan matanya ke seluruh halaman ia berkata, “Apakah Adi
Kuda Sempana belum mendengarnya dari Adi Ken Arok.”
Kuda Sempana menggeleng. “Belum,” jawabnya.
“Kenapa Adi tidak bertanya saja kepadanya?”
Anak muda yang bernama Kuda Sempana itu mengernyitkan
alisnya. Dengan jengkel ia menjawab, “Aku sudah bertanya
kepadanya, tetapi ia minta kepadaku untuk menanyakan saja
kepada Kakang Witantra.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih
mencoba menunggu sampai siang. Katanya, “Baiklah, nanti aku
akan datang ke barakmu. Aku akan minta Adi Ken Arok
menceritakan apa yang telah didengarnya dari akuwu.
“Kenapa nanti? Dan kenapa Ken Arok?” sahut Kuda Sempana
semakin jengkel, “Ken Arok minta kepadaku untuk menghubungi
Kakang. Kakang sekarang berkata, akan membawa Ken Arok.
Apakah aku ini kalian sangka seperti sebuah balok permainan yang
dapat dilemparkan ke sana kemari.”
“Bukan itu maksudku Adi. Tetapi kali ini adalah bukan waktu
yang tepat untuk berbincang. Biarlah istri dan ibuku tidur sampai
fajar. Kedatangan Adi benar-benar mengejutkan mereka.”
“Kalian selalu mementingkan kepentingan diri. Ken Arok juga
berkata demikian. Ia ingin segera tidur. Kakang juga hanya berpikir
tentang keluarga Kakang. Tetapi Kakang tidak mau mengerti
perasaanku. Semalam aku tidak dapat tidur. Semalam aku selalu
diburu oleh kegelisahan.”
“Bukankah itu juga suatu perbuatan yang hanya mementingkan
kepentinganmu sendiri? Kalau kita berbuat dengan memperhatikan
kepentingan orang lain, maka kau tidak akan datang kemari di pagi
buta ini. Kau pasti akan menunggu sampai hari besok.”
Kuda Sempana terdiam. Namun kemudian ia menjawab, “Nah.
Sekarang aku minta Kakang mengatakan. Dua tiga patah kata saja.
Bagaimana sikap Akuwu terhadap gadis itu?”
“Gadis itu menjadi sakit karenanya.”
“Aku bertanya tentang sikap Akuwu terhadap gadis itu.
“Oh. Akuwu mencoba mengobatinya. Telah dipanggil olehnya
seorang dukun yang baik.”
“Bukan itu!” Kuda Sempana tiba-tiba membentak, “Sikap
perasaan Akuwu sebagai laki-laki terhadap perempuan.”
Witantra menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian katanya, “Kuda
Sempana tinggalkan tempat ini. Kau tahu siapa aku? Perwira prajurit
pengawal istana dan akuwu. Kau dengar perintah ini, hai pelayan
dalam?”
Telinga Kuda Sempana seakan-akan seperti tersentuh api
mendengar kata-kata itu.
Sesaat ia terpaku, namun giginya gemeretak menekan
kemarahan yang melonjak-lonjak di hatinya. Hampir-hampir ia
kehilangan pengamatan diri. Sebagai seorang laki-laki yang telah
berani melakukan perbuatan yang berbahaya, melarikan seorang
gadis, maka apapun yang akan menghalanginya, pasti akan
diterjangnya. Tetapi kali ini ia berhadapan dengan seorang perwira
pengawal istana dan akuwu. Karena itu ia menjadi ragu-ragu. Bukan
karena ia takut untuk berkelahi melawannya, tetapi apakah dengan
demikian ia tidak melanggar ketentuan sebagai seorang hamba
istana.
Sejenak Kuda Sempana berdiri tegang. Dipandanginya mata
Witantra yang seakan-akan menyala membakar jantungnya Namun
kemudian pandangan matanya itu terlempar jauh ke sudut halaman.
Yang terdengar kemudian adalah suara Witantra, “Tinggalkan
tempat ini!”
Dada Kuda Sempana berdebar-debar keras sekali. Selangkah ia
surut namun kemudian jawabnya, “Kakang Witantra, ternyata
Kakang tidak mau menolong meringankan perasaanku. Baik. Selagi
aku terikat pada ketentuan dan peraturan, aku menaati perintahmu.
Tetapi pada suatu ketika kita akan berdiri di luar garis jabatan
kita
masing-masing. Dalam kesempatan itu kita akan bertemu sebagai
dua orang laki-laki. Kali ini kau masih dapat mempergunakan
kekuasaanmu untuk mengusir aku. Namun pada saatnya kau akan
terbungkam.”
“Kuda Sempana!” geram Witantra, “Saat itu tidak akan lama lagi
datang. Di mana kita akan berhadapan sebagai dua orang laki-laki
tanpa tanda- tanda jabatan masing-masing.”
Kuda Sempana membelalakkan matanya. Timbullah kecurigaan
yang semakin besar di dalam dirinya. Sehingga karena itu ia
berkata, “Aku tidak sabar lagi menunggu saat itu datang.”
“Pergilah!” hardik Witantra, “Kau tidak akan menunggu sampai
matahari terbenam di hari yang akan datang nanti.”
Sekali lagi Kuda Sempana menggeretakkan giginya.
Dipandangnya wajah Witantra sekali lagi. Kemudian cepat-cepat ia
memutar tubuhnya. dan berjalan tergesa-gesa ke kudanya. Sesaat
kemudian terdengarlah langkah kudanya menderu di keremangan
fajar yang sudah mulai membayang di timur.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ditengadahkan wajahnya,
dan dilihatnya bintang pagi berkilauan di tenggara. Cahaya yang
kemerah-merahan sudah mulai membayangi langit. Dan di kejauhan
ayam jantan riuh berkokok bersahutan.
Ketika Witantra akan melangkah memasuki rumahnya, dilihatnya
Ken Arok berjalan dari samping rumahnya. Sekali ia menggeliat
kemudian katanya, “Kakang Kuda Sempana benar-benar
diombangambingkan
oleh perasaannya sendiri.
“Itu adalah hukumannya yang pertama,” sahut Witantra.
“Ya. Hukuman itu masih akan bertambah-tambah.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya pula,
“Perbuatan-perbuatan yang demikian tidak akan mendatangkan
ketenteraman di dalam hati. Nah, marilah, Masuklah. Apakah kau
dapat tidur pagi ini?”
“Sebentar. Derap kaki kuda Kakang Kuda Sempana telah
membangunkan aku.”
Kembali Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
kembali Witantra itu berkata, “Marilah. Masuklah.”
“Terima kasih. Biarlah aku mandi dahulu.”
Setelah mereka membersihkan diri masing-masing, barulah
mereka duduk di ruang depan rumah Witantra itu sambil
menghangatkan diri dengan air daun sere. Meskipun demikian,
angan-angan mereka sama sekali tidak melekat pada keadaan
mereka saat itu. Mereka sedang sibuk membayangkan, apa yang
akan terjadi seterusnya.
“Apakah kita akan menghadap Akuwu?” bertanya Ken Arok.
“Tidak, Akuwu telah mengeluarkan perintah. Aku akan langsung
datang kepada Kuda Sempana. Hari ini persoalan harus selesai.
Sehingga besok, gadis itu sudah tidak lagi terlibat dalam arus
ketakutan dan kecemasan.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau
demikian apakah kita langsung pergi ke barak Kakang Kuda
Sempana.”
“Ya,” jawab Witantra, “marilah kita pergi ke sana.”
Keduanya segera berdiri. Ketika Ken Arok berjalan ke luar,
Witantra masuk ke dalam mencari istrinya.
“Aku akan pergi Nyai,” pamitnya.
Nyai Witantra sudah tahu, apa yang akan dilakukan oleh
suaminya. Karena itu mau tidak mau, maka hatinya pun menjadi
cemas.
“Hati-hatilah Kakang,” suaranya lirih, hampir tidak dapat
meloncat dari Bibirnya yang tipis.
“Aku akan mencoba menjaga diriku baik-baik,” sahut Witantra.
Ibunya, yang kemudian datang pula, menepuk pundak anaknya
sambil berkata, “Kau adalah seorang prajurit.”
“Ya. Dan kali ini aku tidak sedang menghadapi musuh-musuh
Tumapel, tetapi aku sedang berjuang untuk mencoba
menyelamatkan sesama.”
“Itu juga pekerjaan seorang kesatria,” bisik ibunya.
Namun mereka terkejut ketika mereka mendengar suara yang
bernada tinggi, “Kakang Witantra selalu mencari kesulitan.”
Witantra berpaling. Dilihatnya Ken Umang bersandar tiang pintu
sentongnya. Dengan mengangkat dadanya ia berkata, “Kalau
Kakang tidak mencampuri persoalan itu, maka Kakang tidak akan
dihadapkan pada persoalan-persoalan yang rumit. Kalau Kakang
pergi berperang pedang di tangan, menghadapi musuh-musuh
Tumapel, maka akan berbanggalah seluruh rakyat Tumapel. Tetapi
kali ini? Kakang berkelahi untuk seorang perempuan yang tak tahu
diri. Perempuan pedesaan apa yang dicita-citakan? Menjadi istri
Akuwu barangkali? Istri Tunggul Ametung?”
“Umang!” potong Nyai Witantra, “Jangan berkata lagi tentang
persoalan yang tidak kau ketahui.”
“Aku tahu seluruh persoalannya.”
“Tidak!” potong Witantra, “Persoalan ini tidak terlalu sederhana.
Bukan sekedar persoalan merebut perempuan. Tetapi persoalan ini
adalah persoalan kemanusiaan. Persoalan yang lebih berharga dari
segenap persoalan.”
Ken Umang mencibirkan Bibirnya sambil mengangkat wajahnya.
Hidungnya yang kecil, runcing seakan-akan membayangkan hatinya
yang runcing pula.
Kemudian sambil tersenyum Ken Umang itu berkata, “Kakang
Witantra ingin menjadi pahlawan kemanusiaan.”
Wajah Witantra menjadi semburat merah. Tetapi ia tidak mau
melayani anak-anak sebaya Ken Umang. Seorang anak yang sedang
dilanda oleh arus pancaroba. Seorang anak gadis yang belum
menemukan alas berpijak. Karena itu maka bisiknya kepada istrinya,
“Awasi Adikmu. Ia sedang berada di daerah yang paling berbahaya
di sepanjang perjalanan hidupnya. Ia memandang dunia dari dirinya
dan berpusar pada dirinya pula. Dalam usia yang demikian, maka
berkecamuklah di dalam dadanya, iri, cemburu, cita-cita dan nafsu.
Kalau sekali ia salah berpijak maka ia akan tersesat untuk
seterusnya.”
“Alangkah sulitnya menguasai anak itu,” desak kakak
perempuannya.
“Mudah-mudahan kau berhasil,” sahut Witantra, yang kemudian
sekali lagi ia minta diri.
Istrinya, ibunya dan Ken Umang mengantar Witantra dan Ken
Arok sampai ke muka regol. Wajah Nyai Witantra masih saja disaput
oleh kecemasan hatinya. Ia tahu benar, apa yang akan dilakukan
oleh suaminya. Mengemban tugas kemanusiaan, memisahkan gadis
yang malang dari Panawijen itu dari Kuda Sempana.
Agak jauh dari mereka, berdirilah emban pemomong Ken Dedes
dengan penuh kebimbangan. Sekali ia melangkah maju, dan
langkah itu terhenti ketika Ken Umang berpaling kepadanya.
“He, Nini tua,” bertanya Ken Umang, “Apakah momonganmu itu
terlalu amat cantik, sehingga seisi istana menjadi bingung
karenanya?”
Pemomong Ken Dedes mengerutkan keningnya. Namun katakata
itu dijawabnya, “Tidak Ngger. Momonganku adalah seorang
gadis pedesaan yang sederhana.”
“Nah, bukankah kau ikut berbangga karenanya? Lihat, semua
orang di dalam Istana Akuwu Tumapel memperbincangkannya. Ken
Dedes. Ken Dedes. Kau lihat, Kakang Witantra, perwira pengawal
istana dan pengawal akuwu itu pun menjadi sangat sibuknya.
Seorang anak muda pelayan dalam yang tidur di sini semalam pun
menjadi ribut. Belum lagi pelayan dalam yang bernama Kuda
Sempana yang hampir gila dibuatnya.”
Emban tua itu tidak menjawab Bahkan ditundukkannya
wajahnya. Banyak kata-kata yang bergolak di dalam dadanya.
Namun ditahannya kata-kata itu kuat-kuat, dan disimpannya baikbaik,
Tetapi ternyata terloncat jawaban dari Nyai Witantra, kakak
perempuan Ken Umang itu sendiri.
“Umang, Bibi tua tidak tahu apa-apa. Dan apakah salah Ken
Dedes, apabila seluruh isi istana menjadi ribut. Bahkan seandainya
seluruh laki-laki di Tumapel terbakar pula hatinya melihat
kehadirannya di istana serta melihat kecantikannya. Umang, kau
juga seorang gadis yang cantik. Namun beruntunglah nasibmu,
bahwa kau tidak usah mengalami bencana seperti Ken Dedes.
Sebentar lagi kau juga akan meningkat dewasa sepenuhnya.
Hatihatilah.”
Sekali lagi Ken Umang mengangkat dagunya. Kedua matanya
yang redup memandang emban tua itu dengan pancaran yang
aneh. Namun ia tidak membantah kata-kata kakaknya. Di dalam
hatinya tebersitlah kebanggaannya atas kecantikannya. Seperti yang
didengarnya dari kakaknya perempuan itu, dari mertua kakaknya
dan dari beberapa orang lagi. Sekali-kali ia becermin juga di wajah
air yang tenang. Dan memang wajahnya pun tidak kurang
cantiknya. Sebentarlah lagi, seandainya bunga, maka bunga itu
akan berkembang.
Tetapi kenapa kecantikannya itu tidak mampu menggetarkan
istana seperti Ken Dedes? Ia akan berbangga seandainya laki-laki
datang bersimpuh kepadanya. Ia akan dapat berbuat banyak
dengan kesempatan seperti yang didapatkan oleh Ken Dedes itu.
Tetapi ternyata Ken Dedes menyesali nasibnya itu.
“Alangkah bodohnya,” geram Ken Umang di dalam hatinya,
“Kalau aku, maka aku akan dapat memilih di antara mereka.
Dengan berbagai sayembara, maka akhirnya aku mendapatkan yang
paling baik di antara mereka. Mungkin sayembara tanding. Mungkin
sayembara pilih. Mungkin sayembara bebana atau apapun yang
menyenangkan. Ah. Dasar gadis pedesaan. Gadis yang dikungkung
oleh perasaan yang sempit. Yang menilai cinta sebagai nyawanya
sendiri. Bagiku, cinta adalah kehidupan ini. Kehidupan yang
memberi aku kepuasan. Yang memberi aku apa yang aku inginkan
kini. Itulah cinta yang bijaksana. Cinta yang terasa segarnya
sebagai
meneguk air kelapa ketika kita sedang kehausan. Bukan cinta yang
selalu dirundung malang. Cinta yang dibungai oleh air mata dan
penyesalan.”
Tetapi ia tidak berkata apa-apa. Disimpannya penilaiannya atas
cinta itu di dalam hatinya. Tetapi seolah-olah ia berjanji kepada
diri
sendiri, bahwa ia akan dapat menemukan cinta seperti yang
diharapkannya itu.
Dengan langkah yang pendek-pendek Ken Umang berjalan
kembali masuk ke dalam rumah. Sekali ia berpaling dan dilihatnya
ketiga orang perempuan masih berdiri di tempatnya. Nyai Witantra
memandanginya sampai ia hilang masuk ke balik pintu.
“Anak itu anak yang terlalu bengal,” desisnya.
“Sabarlah Nyai,” sahut ibu Witantra, “mudah-mudahan semakin
banyak umurnya, ia akan menjadi semakin menyadari arti hidupnya.
Hidup seorang gadis, yang kelak akan menjadi seorang perempuan
dan syukurlah menjadi seorang ibu.”
Nyai Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata,
“Mudah-mudahan. Tetapi tidak semua gadis mengalami masa yang
tajam setajam pergolakan yang terjadi dalam diri Ken Umang. Aku
juga pernah merasakan ketidaktentuan dalam hidup dan cita-cita.
Namun segera aku dapat menemukan keseimbangan. Namun anak
itu tidak.
“Ajarilah perlahan-lahan,” berkata mertuanya.
Nyai Witantra pun kemudian terdiam. Dipandanginya pintu
rumahnya yang masih terbuka. Namun Adiknya sudah tidak tampak
lagi. Karena itu maka segera ia mempersilakan ibunya masuk dan
mempersilakan emban tua pemomong Ken Dedes itu pula beserta
mereka.
Malam itu, Akuwu Tunggul Ametung hampir tidak dapat tertidur
pula. Sekali-kali ia bangkit berjalan hilir mudik di dalam
biliknya.
Namun ketika terasa udara terlalu panas, maka akuwu itu pun
berjalan keluar ruangan dengan sebuah kepet di tangannya. Di
serambi, di luar ruangan dalam dilihatnya seorang pelayan duduk
terkantuk-kantuk menunggu seandainya ada perintah daripadanya
Sedang di sudut halaman dilihatnya pelita yang suram dalam gardu
penjagaan para prajurit.
Tetapi di serambi itu pun terasa panasnya masih menyengat
tubuhnya. Keringatnya mengalir membasmi seluruh wajah kulitnya.
Tetapi Tunggul Ametung tidak menyadari, bahwa sebenarnya yang
paling panas malam itu adalah nyala kegelisahan di dalam dadanya
sendiri. Karena itu, ke manapun ia pergi, dan bahkan seandainya ia
berendam di dalam air dingin sekalipun, maka tubuhnya pasti masih
akan terasa panas.
Tanpa disengajanya, maka akuwu itu kemudian berjalan ke
samping, menembus pintu dan sampailah ia di ruangan pusat istana
Tumapel. Di belakang ruangan itulah berjajar tiga buah ruangan
yang disebut sentong kiwa, sentong tengah dan sentong tengen.
Kakinya seolah-olah bergerak saja dengan sendiri, sehingga akuwu
itu terkejut ketika dilihatnya seorang emban tidur mendengkur
beralaskan selendangnya di muka pintu sentong tengen.
Hampir-hampir Tunggul Ametung membentaknya. Tetapi
untunglah segera ia teringat kepada gadis yang pingsan di dalam
bilik kanan itu. Karena itu maka niatnya diurungkan Bahkan
perlahan-lahan sambil berjingkat Tunggul Ametung berjalan
mendekati sentong tengen itu. Ketika ia menjenguk ke dalam
dilihatnya Nyai Puroni pun tertidur sambil meletakkan kepalanya di
pembaringan Ken Dedes.
Akuwu menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya gadis yang
pingsan itu kini telah tertidur pula, meskipun tampak gelisah.
Sekalikali
dilihatnya gadis itu menggeliat, kemudian terdengar suara
keluhan perlahan-lahan. Namun gadis itu tertidur kembali.
“Gadis itu tertidur karena kelelahan. Lelah lahir dan batinnya,”
gumam Tunggul Ametung kepada diri sendiri.
Tetapi Tunggul Ametung itu tidak segera beranjak dari
tempatnya. Tiba-tiba ia terpaku kepada wajah gadis yang sedang
tidur di pembaringan itu. Wajahnya yang pedih menahan sakit hati,
matanya yang bendul karena menangis dan bibinya yang tipis
bergerak-gerak melontarkan keluhan yang sedih. Namun semuanya
itu benar-benar telah memukau hatinya. Baru kini ia sempat
memandang wajah itu dengan seksama. Wajah yang wajar bersih
tanpa selapis pulasan apapun. Bahkan tampaklah air matanya masih
juga membasahi ujung-ujung rambut dan bantalnya.
“Hem,” akuwu itu menarik nafas dalam-dalam, “Kasihan. Gadis
yang bersih itu kini kehilangan kegemitangan masa depannya.
Kehitangan kekasih yang dicintainya. Kehitangan kemerdekaan
dirinya dan kehilangan apapun yang dimilikinya apa bila ia
benarbenar
jatuh ke tangan Kuda Sempana.
“Hem, setan itu benar-benar telah menjebak aku.”
Tetapi desah itu pun terputus. Akuwu menggelengkan kepalanya.
Ia telah berbuat di hadapan saksi-saksi. Ia tidak akan dapat
melemparkan tanggung jawab kepada orang lain. Ia tidak akan
berkata bahwa perbuatan itu dilakukan oleh Kuda Sempana. Ia tidak
akan bisa menghukum orang lain karena perkosaan atas
kemanusiaan. Semua telah terjadi di hadapan hidungnya.
“Hem,” sekali lagi Tunggul Ametung itu menggeram. Dan sekali
dipandanginya wajah gadis yang sedang tertidur itu. Wajah yang
wajar bersin tanpa selapis pulasan apapun.
“Kalau aku dapat mencarikan ganti yang hilang dari gadis itu,”
katanya di dalam hati, “Seandainya aku memiliki seseorang yang
bernama Wiraprana. Seandainya aku dapat menghidupkannya
kembali. Seandainya, ya seandainya semua itu belum terjadi Tetapi
itu adalah angan-angan yang mustahil terjadi. Sekarang, ya, apa
yang dapat dilakukannya?”
Hati Tunggul Ametung berdesir ketika Ken Dedes itu bergerak.
Namun kembali gadis itu diam. Namun tampaklah wajah itu
berkerut seakan-akan menahan pedih yang menggores-gores
hatinya.
“Kasihan,” desis akuwu.
Dan tiba-tiba saja melonjaklah sesuatu di dalam hati akuwu itu.
Darahnya yang gelisah. seakan-akan mendidih karenanya. Matanya
itu tajam-tajam memandangi wajah Ken Dedes yang wajar, bersih
dan muram ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja tebersitlah suara di
dalam hatinya, “Tunggul Ametung, kesalahan ini terletak di
pundakmu. Karena itu kaulah yang harus menebusnya. Semua
milikmu tidak akan cukup banyak untuk mengganti kepedihan hati
gadis itu. Gadis yang sebenarnya bukan gadis pedesaan kebanyakan
seperti yang kau saksikan sendiri. Dari tubuh gadis memancar
cahaya yang tidak dapat kau lihat dengan mata wadagmu. Namun
sekali-sekali tampak oleh mata hatimu.”
Tunggul Ametung itu menjadi berdebar-debar suara itu terngiang
di dalam rongga hatinya. Semakin lama semakin keras. Sehingga
Akuwu Tumapel itu menjadi bingung karenanya.
Dalam kebingungan itu sekali lagi mata hatinya melihat
keganjilan itu. Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi bercahaya. Hanya
sekilas saja, sekilas pada saat Tunggul Ametung seakan-akan
kehilangan kesadarannya. Namun ketika ia mencoba membuka
matanya lebar-lebar kembali ia melihat gadis itu terbujur diam.
Gadis pedesaan, dengan kain lurik kasar dan rambut yang terurai
lepas.
Tunggul Ametung itu menjadi gemetar. Ia mengalami suat u
peristiwa yang tidak dimengertinya. Sedang suara yang terngiang di
telinga hatinya menjadi semakin keras Dan seolah-olah mengguntur
tidak henti-hentinya.
Akuwu itu benar-benar diganggu oleh indera halusnya. Meskipun
wadagnya sama sekali tidak mengalami rangsang apapun, namun
telinga hatinya telah mendengar suara itu, dan mata hatinya telah
melihat cahaya ini. Perpaduan dari penghayatan hatinya itu,
menumbuhkan akibat yang luar biasa pada dirinya. Dan tiba-tiba
pula, di luar kemauannya. terdengar akuwu itu bergumam
perlahanlahan,
“Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang
hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk tanah
Tumapel.”
Kata-kata janji itu seakan-akan disambut oleh suara guruh yang
menggelegar dan guntur yang bersahut-sahutan di antara kilat yang
bersambung. Suaranya bergelora seolah-olah menggugurkan
Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Semeru.
Akuwu itu pun kemudian menjadi gemetar. Hampir-hampir ia
tidak dapat lagi berdiri tegak pada kedua kakinya. Dengan tangan
yang menggigil dicobanya untuk berpegangan pada tiang-tiang
pintu sentong tengen sambil memejamkan matanya. Seandainya
istana ini roboh karena petir dan guntur, biarlah ia tidak
menyaksikannya.
Namun tiang-tiang itu masih tegak di tempatnya. Istana itu sama
sekali tidak bergoyang. Sehingga sesaat kemudian, ketika gemuruh
itu telah mereda, terasa dada Tunggul Ametung menjadi sesak. Kini
disadarinya, bahwa guruh yang bergelora dan kilat yang
bersambung di antara gemuruhnya guntur adalah bergolaknya
dadanya sendiri. Dadanya yang pepat dan seakan-akan sebuah
waduk raksasa yang dilanda banjir empat puluh malam. Dadal, jebol
tanpa dapat ditahankan lagi. Gulung gemulungnya air bah itu
ternyata telah melanda segenap dinding hatinya.
Tunggul Ametung itu perlahan-lahan membuka matanya. Masih
dilihatnya pelita yang tersangkut di thundaknya. Masih dilihatnya
perhiasan-perhiasan dinding ukiran masih berada di tempatnya. Dan
ketika ia meraba tubuhnya, terasa alangkah dinginnya.
Namun sekali lagi Tunggul Ametung terkejut, sehingga ia
terlonjak di tempatnya. Tepat ia berpaling dan kembali didengarnya
suara itu. Perlahan-lahan menghantam dadanya seperti runtuhnya
Gunung Semeru, “Tuanku, Akuwu Tunggul Ametung. Apakah katakata
Tuanku telah Tuanku pertimbangkan sebaik-baiknya?”
Kembali rubuh Tunggul Ametung menjadi gemetar. Keringat
dinginnya mengalir membasahi segenap tubuhnya. Kini diketahuinya
dengan pasti, bahwa Nyai Puroni, dukun tua itulah yang berkata
kepadanya. Dukun tua yang telah terbangun dari tidurnya.
Dengan terbata-bata Tunggul Ametung bertanya, “Nyai, apakah
yang kau dengar?”
“Kata-kata Tuanku?”
“Apa yang aku katakan?”
Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Sambil menyembah ia
berkata, “Tuanku telah mengucapkan sebuah janji.”
Tubuh Tunggul Ametung menjadi semakin gemetar. Dengan
nada parau ia bertanya, “Apakah yang aku ucapkan?”
“Janji,” sahut Nyai Puroni, “dan janji itu terlampau berat untuk
dapat dipenuhi.”
Kini Tunggul Ametung tidak saja berpegangan tiang-tiang pintu
bilik itu, tetapi kini ia terpaksa menyandarkan seluruh tubuhnya
pada tiang itu. Ya, kini semuanya jelas baginya. Ia telah
mengucapkan janji, dan janji itu benar-benar sangat berat untuk
dipenuhi. Namun ia tidak dapat mengingkarinya. Janji itu telah
terucapkan dan seseorang telah mendengarnya. Meskipun orang itu
akan dapat menyimpan rahasia apa bila dimintanya, namun ia tidak
dapat mengingkari pendengarannya sendiri. Telinga hatinya yang
dengan pasti telah mendengar janji itu. Dan bahkan janji itu
seakanakan
telah terngiang kembali di telinganya. Semakin jelas, kata demi
kata, Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang
hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk Tanah
Tumapel ini.
Tunggul Ametung memejamkan matanya.
Ruangan itu untuk sesaat dilanda oleh kesepian. Yang terdengar
hanyalah tarikan nafas mereka yang semakin cepat mengalir. Di luar
pintu terdengar emban itu masih tidur mendengkur. Seakan-akan
tidak pernah terpikir olehnya apa saja yang pernah terjadi dan apa
saja yang akan terjadi.
Namun sejenak kemudian terdengarlah suara Nyai Puroni
perlahan-lahan, “Tuanku. Meskipun janji itu telah Tuanku ucapkan,
tetapi belum seorang pun yang mendengarnya selain aku. Karena
itu, Tuanku, seandainya pertimbangan Tuanku kemudian berkata
lain, sebaliknya Tuanku menyadari keadaan Tuanku sebagai seorang
akuwu.”
Tunggul Ametung masih memejamkan matanya. Kata-kata itu
didengarnya dengan baik. Sehingga terjadilah suatu per golakan
yang dahsyat di dalam hatinya. Ketika ia membuka matanya
dilihatnya Ken Dedes terbaring diam di pembaringan. Sebuah kain
lurik yang kasar dan kesederhanaan wajahnya benar-benar telah
mengungkapkan kesederhanaannya sebagai gadis pedesaan.
Kini hati akuwu itu menjadi ragu-ragu. Gadis itu adalah gadis
pedesaan. Apakah pedulinya seandainya ia menjadi sengsara dan
kehilangan masa depannya. Ia adalah satu dari ribuan gadis desa.
Gadis yang tidak akan berarti apa-apa bagi tanah ini, bagi Tumapel.
Kenapa selama ini ia dipusingkan olehnya. Hanya oleh seorang gadis
desa. Kalau ia ingin menolongnya, maka dapatlah ia menolong
dengan cara yang semudah-mudahnya. Mengembalikan gadis itu ke
kampungnya. Mengancam Kuda Sempana untuk tidak
mengganggunya lagi. Dan selesailah pekerjaannya.
Tetapi bagaimana dengan Wiraprana yang telah mati itu. Dan
bagaimana dengan masa depan gadis itu.
“Ah,” terdengar sebuah keluhan di dalam hati Tunggul Ametung,
“ada beribu-ribu anak muda di pedesaan itu. Biarlah ia memilih.
Nanti biarlah aku yang membawa anak muda itu kepadanya sebagai
ganti Wiraprana.”
Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba mata Tunggul Ametung
menjadi terbelalak. Sekali lagi ia melihat cahaya yang memancar
dari tubuh Ken Dedes, seakan-akan memancar dari dalam tubuh itu.
Namun kembali cahaya itu tidak tertangkap oleh matanya.
“Oh,” akuwu itu mengeluh, “Nyai. Nyai Puroni. Apakah aku sudah
menjadi gila he?”
Nyai Puroni menjadi cemas melihat Tunggal Ametung kemudian
menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.
“Tuanku,” desis Nyai Puroni.
“Nyai, aku melihat lagi cahaya itu. Aku melihat lagi. Namun
mataku tidak kuasa untuk menangkap.”
“Apa Tuanku. Apakah yang Tuanku lihat?”
Akuwu Tunggul Ametung masih menutupi kedua belah matanya
dengan tangannya sambil bersandar di uger-uger pintu. Ia kini
benar-benar menjadi pening, dan dengan terbata-bata mencoba
menjawab pertanyaan Nyai Puroni, “Aku melihat cahaya itu Nyai.
Cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis Panawijen
itu. Namun aku tidak kuasa menatap cahaya itu. Demikian akan
mencoba memandangnya, maka cahaya itu pun lenyaplah.”
Nyai Puroni menjadi bingung pula. Ia tidak melihat apa-apa pada
gadis itu. Tidak melihat cahaya dan tidak melihat sesuatu sama
sekali. Namun demikian dibiarkannya saja Akuwu meratapi dirinya,
sebab Nyai Puroni itu pun tidak tahu, bagaimana ia harus
menjawab.
Tiba-tiba Tunggul Ametung itu mengangkat wajahnya. Perlahanlahan
ia berkata kepada Nyai Puroni, “Nyai. Bagaimana pendapatmu
tentang aku? Apakah aku sudah gila atau aku masih cukup sehat?”
“Tuanku,” jawab Nyai Puroni, “pertanyaan Tuanku masih
menyatakan bahwa Tuanku sehat sesehat-sehatnya. Mungkin
Tuanku lelah atau bingung. Namun setelah Tuanku tenang kembali,
maka Tuanku pasti akan menemukan kesegaran pikiran. Juga
tentang janji yang Tuanku ucapkan.”
“Ya. Mungkin kau benar Nyai,” berkata Tunggul Ametung, “tetapi
janji itu sudah terlanjur aku ucapkan. Aku wajib untuk
memenuhinya.”
Nyai Puroni tidak segera menjawab. Ketika ia mencoba
memandang wajah Tunggul Ametung, maka dilihatnya cahaya mata
Akuwu Tumapel itu melekat pada wajah Ken Dedes, sehingga
karena itu maka Nyai Puroni bergumam di dalam hatinya, “Hem.
ternyata Akuwu Tunggul Ametung sedang jatuh cinta. Bagi orang
yang sedang jatuh cinta, maka semuanya pasti akan direlakan.
Bahkan nyawanya sekalipun. Apalagi miliknya yang lain.”
Kesimpulan itu telah menenangkan Nyai Puroni sendiri. Ia tidak
lagi heran melihat sikap Tunggul Ametung. Sebagai seorang yang
telah lanjut usia, telah banyak yang dilihatnya tentang seorang
yang
jatuh cinta. Bahkan dalam cerita-cerita pun banyak yang telah
didengarnya, seorang raja yang jatuh cinta pada seorang gadis
padepokan, gadis seorang pendeta. Meskipun gadis itu melontarkan
permintaan yang hampir tak masuk di akal, namun raja itu
memenuhinya dengan janji, apabila kelak mereka berputra, maka
kerajaan harus diserahkan kepada putra itu. Dan kini Akuwu
Tunggul Ametung pun sedang dalam keadaan demikian. Tumapel
telah dipertaruhkan, meskipun istilah yang dipergunakannya
berbeda.
Sejenak mereka saling berdiam diri dengan angan-angan di
kepala masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi
semakin gelisah dan Nyai Puroni yang telah menemukan sebab dari
kegelisahan itu. Di luar pintu seorang emban masih saja tidur
dengan nyenyaknya tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi di
dalam bilik itu. Bahkan seandainya Gunung Kawi itu runtuh, maka
seakan-akan ia tidak akan dapat mendengarnya.
Baru sesaat kemudian, Tunggul Ametung menjadi seolah-olah
menyadari dirinya sepenuhnya. Tertatih-tatih ia berjalan beberapa
langkah, kemudian kepada Nyai Puroni ia berkata, “Rawat gadis itu
baik-baik Nyai. Gadis itu adalah gadis yang sangat malang.”
Nyai Puroni menyembah sambil menjawab, “Ya Tuanku. Akan
hamba coba.”
Akuwu itu pun kemudian berjalan keluar bilik sebelah kanan Di
muka pintu masih dilihatnya seorang emban yang tidur nyenyak.
Tiba-tiba timbullah iri di hatinya. Emban itu saja dapat tidur
sedemikian nyenyaknya di lantai serta hanya beralaskan selembar
selendang yang tipis. Kenapa ia, seorang Akuwu yang telah
disediakan pembaringan yang hangat dan baik untuknya, masih
juga tidak dapat tidur senyenyak itu? Karena itu, maka ketika Akuwu
berjalan di samping emban yang tidur, dengan sengaja kakinya
menginjak tangan emban itu, sehingga emban itu terkejut bukan
main. Dengan serta-merta ia memekik kecil dan hampir saja ia
mengumpat-umpat sejadinya. Untunglah segera ia membuka
matanya, dan ketika dilihatnya akuwu berjalan menjauh segera ia
bangkit sambil berkata tersendat-sendat, “Ampun Tuanku. Ampun.”
Tetapi Tunggul Ametung sama sekali tidak berpaling ia berjalan
terus meninggalkan ruangan pusat istananya dan masuk ke ruangan
dalam. Langsung ia masuk ke dalam biliknya serta menjatuhkan
dirinya di atas pembaringannya.
Ketika didengarnya langkah di luar pintu, ia membentak keraskeras,
“Siapa itu?”
“Hamba Tuanku. Pelayan dalam yang sedang bertugas.”
“Gila! Pergi! Aku mau tidur, mengerti?”
“Hamba Tuanku,” sahut pelayan dalam itu sambil berjalan
menjauh.
Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin jauh menuju ke
ujung pagi. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok
bersahutsahutan.
Semakin lama semakin riuh seperti suara hati Tunggul
Ametung. Namun dengan demikian akuwu itu menjadi jengkel
bukan buatan. Ia ingin tidur sepulas-pulasnya, namun suara ayam
jantan itu sangat mengganggunya. Bahkan ayam-ayamnya sendiri
yang jumlahnya belasan itu pun berkokok pula bergantian.
“Hem. Aku sumbat mulutnya besok,” desisnya. Tetapi akuwu tak
akan kuasa menghentikan kokok ayam itu. Ayam itu pasti akan
berkokok selagi matahari masih akan terbit. Mereka baru akan
berhenti apabila leher mereka telah patah. Namun ayam-ayam
jantan yang lain masih akan berkokok pula. Demikianlah akuwu
tidak dapat pula menindas perasaan yang tumbuh di dalam hatinya.
Sekali ia berhasil menolak perasaan itu dengan alasan-alasan yang
dibuat, namun perasaan yang lain telah mengguncangkan pula.
Sehingga kini Tunggul Ametung tidak dapat mengingkari lagi,
bahwa wajah gadis pedesaan itu selalu mengganggu
ketenangannya.
Namun akhirnya malam itu pun dilampauinya pula. Ketika pagi
yang jernih telah tumbuh, maka teringatlah ia akan pesannya
kepada Witantra untuk membuat penyelesaian dengan Kuda
Sempana.
Tunggul Ametung itu menjadi semakin gelisah. Apakah Witantra
berhasil melakukan tugasnya? Tunggul Ametung telah melihat
ketangkasan Kuda Sempana dalam olah kesaktian. Dengan
tangannya ia telah membunuh Wiraprana.
“Kalau Witantra gagal,” desis akuwu itu sambil bangkit dari
pembaringannya, “maka aku sendiri yang akan menundukkannya.”
Tunggul Ametung kemudian tidak dapat lagi berbaring di
pembaringannya. Cahaya Matahari yang segar telah menusuk-nusuk
lubang dinding menerangi biliknya. Semakin lama semakin terang,
sehingga sinar pelita di dalam bilik itu hilang tenggelam dalam
cahaya matahari pagi.
Ketika Akuwu Tunggul Ametung berteriak-teriak untuk
menyiapkan air hangat, maka pada saat itulah kuda Witantra dan
Ken Arok berlari kencang menuju ke barak Kuda Sempana, yang
terletak beberapa puluh langkah dari barak Ken Arok.
Demikian mereka melewati gerbang baraknya sendiri, seorang
kawannya berteriak memanggil, “He, Ken Arok. Dari mana kau?”
Ken Arok memperlambat jalan kudanya, kemudian berhenti sama
sekali. Sedang Witantra berhenti beberapa depa di sampingnya.
“Kenapa?” bertanya Ken Arok.
“Semalam kau tidak pulang,
“Ya.”
“Kenapa kau tidak pulang?”
“Aku ikut Kakang Witantra.”
Kawan Ken Arok itu berpaling. Ketika dilihatnya Witantra
berpaling pula kepadanya kawan Ken Arok itu mengangguk-angguk
dalam sambil berkata, “Selamat pagi Kakang Witantra.”
“Selamat pagi,” sahut Witantra.
Kawan Ken Arok itu pun kemudian berkata pula kepada Ken
Arok, “Ken Arok semalam seseorang mencarimu.”
“Siapa?”
“Kuda Sempana. Kakang Kuda Sempana.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia
tersenyum. Jawabnya, “Aku sudah menyangka.”
Witantra pun menganggukkan kepalanya. Di dalam hati ia
bergumam, “Kuda Sempana. benar-benar menjadi hampir gila.
Sekali ia terjerumus dalam perbuatan terkutuk itu, maka ia akan
benar-benar menjadi orang yang kehilangan kejernihan pikiran.”
Kawan Kuda Sempana itu pun berkata, “Agaknya Kakang Kuda
Sempana mempunyai kepentingan yang mendesak, sehingga lewat
tengah malam ia datang.”
“Apa katanya?: bertanya Ken Arok.
Kawannya menggeleng sambil menjawab, “Tak ada yang
dikatakan. Tetapi bukankah kau semalam telah hampir kembali ke
barak ini? Menurut seorang yang bertugas, ia melihat seekor kuda
membelok di kelokan sebelah. Apakah kuda itu kudamu, dan kau
mengurungkan niatmu kembali ke barak ini?”
“Tidak. Bukan aku,” sahut Ken Arok sambil menarik kekang
kudanya, “Saat ini pun aku belum akan pulang. Aku masih harus
mengikuti Kakang Witantra.”
Ken Arok tidak menunggu jawaban dari kawannya itu, kepada
Witantra ia berkata, “Marilah Kakang.”
Kuda-kuda itu pun kemudian bergerak kembali. Kawan Ken Arok
memandangi mereka dengan penuh keheranan. Terasa suatu
kesibukan telah terjadi. Tetapi ia tidak tahu, apakah, sebenarnya
yang telah terjadi. Dari seorang kawannya ia mendengar, bahwa
Kuda Sempana telah mengambil seorang gadis Panawijen atas izin
akuwu. Tetapi kenapa kemudian beberapa orang menjadi sibuk?
“Persetan!” gumam kawan Ken Arok itu sambil melangkah ke
parit di belakang barak mereka.
Witantra dan Ken Arok itu pun kemudian sampai pula di muka
regol barak Kuda Sempana. Betapapun juga, namun perasaan
mereka menjadi berdebar-debar. Mereka tahu, bahwa Kuda
Sempana bukanlah seorang yang berhati kecil, juga bukan orang
yang tidak berkesaktian. Apalagi dilambari oleh nafsunya yang
meluap-luap untuk memiliki gadis itu, maka sudah tentu Kuda
Sempana akan berjuang mati-matian untuk mempertahankannya.
Witantra pun menyadari keadaannya. Ia akan dihadapkan pada
suatu perjuangan yang berat. Mungkin Kuda Sempana tidak akan
dapat diajak berunding dengan baik untuk membuat ketentuanketentuan
dari tantangan yang akan disampaikan. Kuda Sempana
tidak akan ingat lagi kepada suba sita dan tata tertib perang
tanding. Sehingga perkelahian mereka, baru akan diakhiri dengan
kematian. Setidak-tidaknya salah seorang harus menjadi lumpuh
dan tidak berdaya lagi. Kalau Kuda Sempana berhasil
melumpuhkannya, maka sudah pasti, Witantra itu tidak akan punya
harapan untuk hidup. Sebab Kuda Sempana sedang dicengkam oleh
nafsu dan kemarahan. Tetapi Witantra tidak menjadi kecut.
Disadarinya tugasnya kali ini. Agak berbeda dengan tugas seorang
prajurit dalam menghadapi lawan-lawan tanah pusakanya. Tetapi
kini ia berdiri di atas kejantanan kemanusiaan. Betapapun Kuda
Sempana kehilangan kesadaran diri, namun Witantra harus menjaga
supaya dirinya tidak juga kehilangan keseimbangan perasaan.
Perlahan-lahan kuda-kuda itu memasuki halaman. Seorang yang
bertugas di dalam regol segera melangkah maju. Tetapi ketika
dilihatnya Witantra, maka segera ia menundukkan wajahnya sambil
menyapa, “Kakang Witantra.”
“Ya,” sahut Witantra masih di atas punggung kudanya, “Apakah
Kuda Sempana sudah bangun?”
Orang itu mengangkat wajahnya. Ditatapnya mata Witantra
sesaat, namun kembali ia menundukkan wajahnya sambil
menjawab, “Sudah Kakang. Tetapi Kakang Kuda Sempana telah
pergi.”
“He?” dada Witantra berdesir, dan Ken Arok pun terkejut pula
karenanya.
“Ke mana?” bertanya Witantra serta-merta.
Penjaga regol itu menggeleng. Namun tiba-tiba seperti orang
yang baru tersadar dari lamunannya ia berkata, “Mungkin ke istana.
Baru saja ia datang dari rumah seseorang sambil mengumpatumpat,
tetapi segera ia pergi lagi dengan tergesa-gesa. Kakang
Kuda Sempana semalam benar-benar seperti orang bingung.”
Witantra dan Ken Arok itu pun saling berpandangan. Apakah
Kuda Sempana itu pergi ke rumahnya atau benar-benar ke istana?
Namun kemudian Witantra itu pun bertanya meyakinkan, “Apakah
Kuda Sempana tidak meninggalkan pesan?”
Penjaga itu menggeleng, “Tidak.”
Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia pun mulai gelisah.
Kalau benar Kuda Sempana itu pergi ke istana, maka apakah yang
akan dilakukan? Karena itu maka ia berkata, “Marilah kita lihat.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik
Kakang, marilah kita pergi.”
Kepada penjaga itu pun kemudian Witantra berkata, “ Aku akan
menyusulnya ke istana.”
“Silakan Kakang.”
“Kalau Kuda Sempana datang sebelum menemui aku di
manapun, katakanlah bahwa aku menunggunya di istana.”
“Baik Kakang,” sahut penjaga itu.
Witantra dan Ken Arok pun segera berpacu ke istana. Di
sepanjang jalan mereka hampir tidak berkata-kata. Masing-masing
sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. Bahkan mereka pun
kadang-kadang merasa geli. Seorang gadis desa, telah benar-benar
menggemparkan seisi Istana Tumapel. Seorang akuwu, perwiraperwira,
prajurit dan pelayan-pelayan dalam yang terkemuka.
Demikian mereka sampai di halaman luar istana, maka segera
mereka berloncatan turun. Kepada penjaga regol mereka
menyerahkan kuda-kuda mereka, dan kepada mereka, para
penjaga, Witantra bertanya, “Apakah kalian melihat Kuda
Sempana?”
Penjaga itu mengangguk. Jawabnya, “Ya. Ya, Tuan. Aku
melihatnya. Belum lama ia masuk ke dalam.”
“Sendiri?”
“Ya Tuan. Sendiri.”
“Apakah keperluannya?”
“Katanya, Kakang Kuda Sempana akan menghadap Akuwu.”
“Bukankah hari ini bukan hari paseban dan hari penghadapan?”
“Khusus, Tuan. Ada keperluan khusus.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada
para penjaga itu ia berkata, “Aku juga akan menghadap Akuwu.”
Para penjaga sudah mengenal siapakah Witantra dan Ken Arok.
Karena itu, maka dibiarkannya mereka memasuki halaman dalam
istana untuk menghadap Akuwu Tunggul Ametung.
Ketika mereka memasuki halaman dalam dan melingkari dinding
samping menyusur ke ruang dalam, maka mereka terkejut. Segera
langkah mereka terhenti. Di bawah pohon kemuning dilihatnya Kuda
Sempana berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Namun ketika
Kuda Sempana melihat kehadiran Witantra Ken Arok, maka ia pun
terkejut. Dengan serta-merta ia berjalan menyongsong mereka
sambil bertanya, “Akan ke manakah kalian berdua?”
“Mencarimu,” sahut Witantra singkat.
“Oh,” desah Kuda Sempana.
“Aku telah datang ke pondokmu. Namun penjaga regol
mengatakan bahwa kau telah pergi ke istana.”
“Ya. Aku tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Aku ingin
mendengar langsung dari Akuwu.”
Witantra tersenyum. Meskipun senyumnya, senyum yang
hambar.
“Kau sama sekali tidak dapat menyabarkan diri, Adi Kuda
Sempana. Sebenarnya tak ada yang memaksa kau terlalu tergesagesa.
Semuanya telah diserahkan kepadaku oleh Akuwu.”
“Mungkin,” sahut Kuda Sempana, “tetapi kau terlalu lamban. Aku
sudah bertemu dengan Ken Arok semalam, dan aku telah datang
pula ke rumahmu pagi-pagi benar. Namun kalian tidak
memberitahukannya kepadaku.”
“Kami hanya ingin kau bersabar sampai hari ini.”
“Kalian mempermainkan aku. Dan sekarang aku sama sekali tidak
membutuhkan kalian. Aku akan menghadap Akuwu langsung.”
“Akuwu telah berpesan kepadaku. Dan pesan itu akan aku
sampaikan kepadamu sekarang. Tidak di rumahku. Sebab dengan
demikian maka persoalan ini akan diketahui oleh istri dan
orangorang
lain di rumahku. Dan itu tidak perlu.”
“Bohong. Kau senang melihat aku kebingungan.”
“Terserahlah kalau kau tidak percaya. Nah, sekarang, marilah kita
ke belakang istana. Kau tidak perlu menghadap Akuwu.”
“Tidak. Aku tidak memerlukan kalian. Aku harus menghadap
Akuwu sendiri. Dan aku akan mendapat penjelasan langsung
daripadanya. Apa saja yang telah kalian per cakapkan dan
perbincangkan semalam.”
Witantra menarik alisnya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang
merah padam. Matanya yang menyala, bukan saja karena hatinya
yang bergelora, tetapi juga karena semalam ia sama sekati tidak
tidur sekejap pun.
“Adi Kuda Sempana,” berkata Witantra kemudian, “Jangan
menghadap Akuwu pagi ini. Akuwu sedang sibuk.”
“Apakah yang disibukkannya? Akuwu pasti akan menerima aku.
Gadis itu masih berada di dalam istana. Aku datang untuk
mengambilnya.”
Witantra menarik nafas. Katanya, “Dengarlah pesan Akuwu itu.”
“Tidak. Aku tidak perlu.”
“Hem,” Witantra menggeram. Namun kemudian ia bertanya,
“Kenapa kau masih saja di sini?”
“Aku telah menyampaikan pesan lewat seorang juru panebah.
Aku masih harus menunggu beberapa saat. Akuwu sedang
mendengarkan Daksina membaca kakawin.”
“He?” Witantra terkejut, “sepagi ini?”
“Ya.”
Witantra terdiam. Sekali dipandangnya wajah Ken Arok yang
tegang Ketika mereka mencoba mendengarkan baik-baik,
terdengarlah lamat-lamat suara Daksina dalam alunan kakawin
Bharatayudha.
“Jadi Daksina itu membaca untuk Akuwu?”
“Ya,” sahut Kuda Sempana pendek.
Witantra menggelengkan kepalanya. Ditemuinya Kuda Sempana
dan Tunggul Ametung dalam keadaan yang sama. Bingung.
Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri. Dalam keheningan
itu terdengar suara Daksina semakin jelas.
Angin pagi yang lembut berhembus perlahan menggerakkan
daun kemuning, serta menggugurkan bunga-bunganya yang kering.
Lamat-lamat terdengar suara burung-burung liar yang beterbangan
dari dahan ke dahan, berkicau seperti suara senda yang riang.
Seperti kanak-kanak yang sedang berkejaran, mereka berloncatan
dari satu pohon ke pohon yang lain.
Namun hati mereka bertiga, Witantra, Ken Arok dan Kuda
Sempana sama sekali tidak seriang pagi itu.
Sekali-sekali Witantra berpaling, memandang wajah Ken Arok
seperti sedang minta pertimbangan. Namun Ken Arok hanya dapat
menundukkan wajahnya, memandangi butiran-butiran batu-batu
kecil yang bertebaran di halaman.
Namun kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Witantra
kepada Kuda Sempana, “ Adi Kuda Sempana. Lebih baik kau tidak
usah menunggu Akuwu yang sedang mendengarkan Daksina
membaca kakawin itu. Marilah aku beri tahukan, apa yang harus
kau dengar.”
“Tidak!” sahut Kuda Sempana tegas, “Kalau kalian benar-benar
mendapat pesan Akuwu, maka kalian pasti sudah mengatakannya.
Sekarang ternyata kalian hanya mencoba mencegah aku bertemu
dengan Akuwu. Mungkin kalian kemarin mendengar hal-hal yang
tidak kalian senangi tentang diriku, sehingga kalian mencoba
menahan keterangan itu.”
“Hem,” Witantra menggeram. Dicobanya untuk menahan gelora
di dalam hatinya. Baru kemudian ia berkata, “Mungkin kau benar
Adi. Mungkin aku menahan beberapa persoalan yang harus aku
sampaikan kepadamu. Tetapi aku mempunyai pertimbanganpertimbangan
lain. Aku ingin dapat menyampaikan kepadamu dalam
suasana yang tenang. Tidak dalam suasana yang tergesa-gesa dan
tegang. Aku ingin setiap persoalan dapat kau mengerti dengan baik.
Dan aku ingin kita masing-masing dapat menempatkan diri kita
pada keadaan yang sewajarnya.”
“Huh,” desah Kuda Sempana, “kalau benar demikian, tunggulah
sampai aku menghadap Akuwu.”
“Tidak ada gunanya.”
“Mungkin bagi kalian. Tetapi bagiku kesempatan itu akan sangat
bermanfaat. Setidak-tidaknya aku dapat mengambil gadis itu
dahulu.”
“Kau tidak akan dapat mengambilnya,” tiba-tiba terdengar suara
Ken Arok yang agaknya sudah kehabisan kesabarannya.
Kata-kata itu benar-benar mengejutkan Kuda Sempana. Dan
bahkan Witantra pun terkejut pula. Dengan serta-merta Kuda
Sempana melangkah maju mendekatinya sambil membelalakkan
matanya. Katanya, “Apa katamu? Aku tidak dapat mengambil gadis
itu?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam ia menjadi sangat
menyesal akan ketelanjurannya, Namun kata-kata itu telah terloncat
dari bibirnya dan Kuda Sempana pun telah mendengarnya. Karena
itu dengan penuh kebimbangan ia memandang wajah Witantra,
seakan-akan bertanya kepadanya, apa yang harus dikatakannya
seterusnya. Namun Witantra sendiri masih belum dapat menguasai
perasaannya, sehingga karena itu ia masih saja berdiri mematung.
Kuda Sempana yang seakan-akan mendengar meledaknya guruh
di telinganya itu mendesak Ken Arok, “Kenapa aku tidak dapat
mengambil gadis itu?”
Setelah berpikir sejenak. Witantralah akhirnya menemukan
jawaban juga, “Gadis itu jatuh sakit dan pingsan berkali-kali.
Kalau
kau ganggu lagi dia, mungkin gadis itu akan mati.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Namun tampaklah
betapa ia ragu-ragu mendengar jawaban itu. Dalam pada itu Ken
Arok menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia tidak sependapat
dengan Witantra yang terlalu berhati-hati, dan tidak langsung
mengatakan keperluannya. Bukankah akhirnya Kuda Sempana akan
mendengarnya juga. Sebaiknya Witantra berkata berterus terang.
Tetapi bukan dirinya. Karena itu, maka ia menjadi lebih
berhati-hati
supaya mulutnya tidak melonjak-lonjak, didesak hatinya yang tidak
dapat bersabar lagi.
Yang terdengar kemudian adalah jawaban Kuda Sempana, “Aku
tidak percaya. Aku akan menghadap Akuwu sekarang.”
“Apakah Akuwu sudah memanggilmu?”
“Belum, tetapi aku akan masuk ke ruang dalam.”
“Akuwu akan menjadi marah.”
“Tidak. Aku akan mengulangi permohonanku untuk menghadap
lewat juru panebah yang berada di muka pintu itu.”
Kuda Sempana tidak menunggu jawaban Witantra dan Ken Arok.
Dengan tergesa-gesa ia berjalan melingkari sudut belakang istana
dan menjumpai juru panebah yang duduk di tangga istana. Dengan
wajah yang merah pada Kuda Sempana membentak meskipun
suaranya tidak terlalu keras, “He, kenapa kau hanya duduk
terkantuk-kantuk?”
Juru panebah itu terkejut, “Ya, ya Tuan.”
Kuda Sempana menjadi semakin marah mendengar jawaban itu
dan berkata kasar, “Apa kau tidak tahu, bahwa aku mempunyai
keperluan yang sangat penting. Ayo, kembali masuk ke bilik
peraduan Akuwu. Sampaikan kepada akuwu, bahwa Kuda Sempana
ingin menghadap.”
“Tetapi aku sudah menyampaikan Tuan. Dan Tuan di perintahkan
untuk menunggu.”
“Sampai kapan, he? Sampai aku menjadi tua?”
“Entahlah. Aku tidak tahu. Tetapi Daksina masih membaca
kakawin itu di dalam bilik Baginda.”
“Cobalah, sekali lagi.”
“Aku takut.”
“Kalau kau tidak mau menyampaikan sekali lagi, awas, aku
bunuh kau anak cucu!”
“Oh. Ampun Tuan. Kenapa Tuan marah kepadaku?”
Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengarlah suara di
belakang Kuda Sempana, “Sampaikan kepada Akuwu, bahwa kali ini
Witantra yang akan menghadap.”
“Gila!” desis Kuda Sempana sambil memutar tubuhnya
menghadap Witantra, “Kali ini kau akan merusak rencanaku pula?”
Witantra sama sekali tidak menanggapi sikap Kuda Sempana,
bahkan dengan tersenyum ia berkata, “Jangan marah Kuda
Sempana. Kalau juru panebah itu mengulangi permohonanmu untuk
menghadap Akuwu, maka Akuwu pasti akan sangat marah. Mungkin
kau malahan diusir dari istana. Kalau permohonan ini diajukan oleh
orang lain, maka pertimbangannya akan lain. Mungkin Akuwu akan
berhenti mendengarkan kakawin d«n menerima aku. Dalam pada itu
kau akan mendapat kesempatan untuk menghadap pula. Bukankah
dengan demikian sekaligus kau akan tahu, apakah aku telah
menyembunyikan beberapa keterangan atau tidak. Dan kau akan
tahu pula, apakah aku berbuat demikian karena perasaan iri dan
semacam itu.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Sambil menganggukanggukkan
kepalanya ia berkata, “Baik. Baik. Kita bersama
menghadap Akuwu.”
“Aku hormati sikapmu,” desis Ken Arok.
Sekali lagi Kuda Sempana membelalakkan matanya Ia tidak
senang mendengar kata-kata itu dari mulut Ken Arok. Kalau
Witantra yang mengucapkannya, maka ia akan berbangga. Tetapi
Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang baru saja masuk di
istana. Sehingga ucapannya itu kurang bernilai baginya. Terapi
ternyata Ken Arok sama sekali tidak berpaling ketika sinar mata
Kuda Sempana menghunjam di biji matanya. Bahkan mata Ken Arok
itu pun menjadi seakan-akan bersinar langsung menembus selaput
mata Kuda Sempana dan menusuk langsung ke dalam otaknya.
Kuda Sempana yang kemudian memalingkan wajahnya. Untuk
menyembunyikan perasaannya, segera ia membentak kepada juru
panebah yang masih duduk kebingungan, “Ayo cepat. Pergi sekali
lagi menghadap Akuwu. Kakang Witantra akan menghadap.”
“Ya, ya Tuan,” sahut orang itu sambil merangkak naik ke istana.
Kemudian Kuda Sempana, Witantra dan Ken Arok diam dalam
ketegangan. Mereka tinggal menunggu, apakah akuwu bersedia
menerima mereka atau mereka harus menunggu lagi. Ken Arok
yang agaknya jemu berdiri, segera melangkah ke tangga, dan
duduk di sana sambil bersandar dinding.
Sekali ia menguap, kemudian gumamnya, “Hem, semalam aku
hampir tak dapat tidur sama sekali.”
Kuda Sempana dan Witantra berpaling, kepadanya. Sahut
Witantra, “Barangkali di antara kita bertiga kaulah yang paling
lama
dapat beristirahat.”
“Ken Arok tersenyum, “Mungkin.”
Kuda Sempana yang akan memotong percakapan itu,
mengurungkan niatnya ketika didengarnya suara Daksina berhenti.
Mereka menduga, bahwa juru panebah itu sudah masuk ke dalam
bilik Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka dada mereka
menjadi semakin berdebar-debar. Kuda Sempana benar-benar
hampir tidak sabar menunggu.. Ingin ia langsung meloncat masuk
ke dalam ruang dalam itu dan langsung ke ruang pusat istana. Dari
sana ia akan dapat melihat sentong tengen, di mana Ken Dedes
dibaringkannya kemarin.
Tetapi ia tidak dapat berbuat begitu. Istana itu adalah istana
Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, betapapun ia bernafsu,
namun ia terpaksa menunggu dengan hati yang gelisah.
Sesaat kemudian mereka mendengar langkah-langkah di dalam
ruangan dalam. Langkah itu seolah-olah terlalu lambat sehingga
hampir-hampir Kuda Sempana berteriak memanggilnya.
Ketika juru panebah itu muncul dari balik pintu, Kuda Sempana
dengan serta-merta bertanya, “Bagaimana?”
“Akuwu menunggu Tuan-tuan di ruang paseban dalam.”
Kuda Sempana tidak menunggu apa-apa lagi. Segera ia
melangkah menaiki tangga, masuk ke ruang dalam dan langsung
berjalan ke ruang paseban dalam. Witantra dan Ken Arok pun
kemudian melangkah pula mengikutinya.
Namun mereka menjadi kecewa ketika ruangan itu masih
kosong. Akuwu belum nampak. Tetapi mereka lega ketika mereka
melihat batu hitam, tempat duduk Akuwu Tunggul Ametung, telah
terbuka kerudung putihnya yang telah diambil oleh salah seorang
juru panebah.
Suara Daksina telah tidak terdengar lagi. Dengan demikian
mereka mengharap bahwa segera akuwu akan datang menerima
mereka.
Ternyata akuwu itu pun tidak terlalu lama membiarkan mereka
menunggu. Sejenak kemudian masuklah Akuwu Tunggul Ametung
ke dalam ruangan itu, diantar oleh seorang emban, Daksina dan
seorang juru panebah, dan seorang juru panginang
Ketika akuwu itu duduk di atas batu hitam palenggahannya,
maka dada Kuda Sempana seolah-olah hampir meledak karena
ketidaksabarannya. Akuwu itu berjalan seperti seorang pengantin
sakit-sakitan, duduk dengan lesunya dan kemudian mengipaskan
kainnya.
Kuda Sempana itu menarik nafas dalam.
Baru sejenak kemudian akuwu itu mulai bertanya ke pada
mereka. Dengan segala macam adat dan upacara. Menanyakan
keselamatan dan kesejahteraan masing-masing.
“Aneh. Tunggul Ametung adalah akuwu yang hampir tak pernah
mengacuhkan adat itu. Ia berbuat sesuka hatinya. Sekali-sekali ia
bertanya tentang keselamatan orang-orangnya, namun lain kali ia
mulai dengan bentakan-bentakan dan umpatan-umpatan. Tetapi kali
ini Akuwu agaknya sedang menikmati kedudukannya sebagai
seorang akuwu,” keluh Kuda Sempana di dalam hatinya.
Namun sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun sedang
mencoba menenangkan perasaan yang bergolak. Ketika ia melihat
ketiga orang itu bersama-sama menghadap, maka berdesirlah
dadanya. Untuk sekedar menenteramkan hatinya, maka mulailah
akuwu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berarti. Tetapi ia
tidak akan dapat bertanya hal-hal yang demikian itu terus menerus.
Disadarinya bahwa akhirnya pembicaraan mereka akan menginjak
ke persoalannya. Karena itu, maka akuwu tidak merasa perlu untuk
memperpanjang segala macam pertanyaan yang aneh-aneh.
Maka akuwu pun kemudian tidak membiarkan dirinya diamuk
oleh keragu-raguan dan kecemasan. Biarlah seandainya orangorang
itu bertiga menemukan titik-titik pertemuan untuk bersamasama
menghadapinya. Mungkin Witantra tidak sampai hati
mengatakan pesannya, tetapi mungkin pula mereka bersama-sama
akan menghancurkannya. Tetapi apapun yang akan dihadapi, maka
akuwu akan menengadahkan wajahnya dan akan berperisai
dadanya. Tunggul Ametung bukan seorang pengecut.
Karena itu, maka sesaat kemudian terdengar akuwu itu bertanya,
“Kuda Sempana. Kaulah yang pertama-tama menyampaikan pesan
untuk menghadap. Apakah kepentinganmu?”
Kuda Sempana menarik nafas. Sembari ia bergeser maju, seolaholah
takut suaranya tidak akan dapat didengar oleh Tunggul
Ametung. Katanya serak, “Tuanku. Hamba hanya ingin menjemput
gadis Panawijen itu.”
Tunggul Ametung terkejut mendengar permintaan itu. Dengan
serta-merta ia berpaling memandangi wajah Witantra yang gelap.
Bahkan kemudian wajah akuwu itu pun menjadi semburat merah.
Berbagai persoalan bergulung-gulung di dalam dadanya. Apakah
Witantra benar-benar belum menyampaikannya kepada Kuda
Sempana? Apakah justru Witantra datang untuk membantu Kuda
Sempana? Akuwu menjadi gelisah. Benar-benar tidak diketahuinya
bagaimanakah sebenarnya hati Witantra dan Ken Arok.
Akuwu yang selama ini tidak pernah ragu-ragu kepada Witantra,
tiba-tiba menjadi curiga. Sejak Witantra menolak perintahnya di
Panawijen. Meskipun kemarin perwira pengawalnya itu seolah-olah
sependapat dengan pendapatnya tentang gadis Panawijen itu,
namun kenapa tiba-tiba saja ia menghadap bersama Kuda
Sempana. Kalau ia benar-benar melakukan apa yang dikatakannya,
maka Kuda Sempana tidak akan berkata seperti itu. Atau mereka
benar-benar telah bersepakat untuk melawannya, meskipun kelak
akan timbul persoalan di antara mereka sendiri? Apakah Witantra
kemarin hanya memancing, agar Kuda Sempana dapat diperalat
olehnya?
Witantra merasakan keraguan Tunggul Ametung. Karena itu
maka segera ia berkata, “Akuwu, hamba memang belum
mengatakan pesan Tuanku.”
“Kenapa?” dengan serta-merta terloncat pertanyaan dari mulut
Tunggul Ametung. Namun sekali lagi Tunggul Ametung
menengadahkan wajahnya ia adalah seorang yang memiliki
berbagai kekuatan di dalam tubuhnya, yang seandainya perlu, akan
dibangunkannya pada saat-saat itu.
“Hamba belum mendapat kesempatan. Ketika pagi-pagi tadi
hamba datang ke pondok Adi Kuda Sempana, Adi Kuda Sempana
telah pergi ke istana.”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Agaknya
perasaannya sendirilah yang telah menggelapkan nalarnya.
Kesalahan-kesalahan yang telah membebani perasaannya itulah
yang telah menimbulkan berbagai prasangka dan kecurigaan.
Namun jawaban Witantra itu sama sekali belum memuaskannya,
sehingga ia bertanya pula, “Kau telah bertemu dengan Kuda
Sempana sebelum datang menghadap. Kenapa kau tidak berkata
apa-apa kepadanya?”
“Kuda Sempana tidak mau mendengarkan, Tuanku. Ia ingin
menghadap Tuanku dan mendengar langsung tentang persoalan y
mg kita bicarakan dari Tuanku sendiri.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Kini ditatapnya wajah Kuda
Sempana dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia menggeram,
“Benarkah demikian Kuda Sempana?”
“Ya, Tuanku.”
“Aku telah memberikan perintah kepada Witantra. Kenapa kau
menolak?”
“Sikapnya sangat menyakitkan hatiku.”
“Kenapa?”
“Semalam aku telah menemui kedua-duanya. Adi Ken Arok dan
Kakang Witantra, tetapi mereka menolak memberitahukan sesuatu
kepadaku, Dibiarkannya aku menunggu dalam kegelisahan.”
Tunggul Ametung sekali lagi mengerutkan keningnya. Kemudian
kepada Witantra dan Ken Arok ia bertanya, “Benarkah demikian?”
“Hamba Tuanku,” sahut Witantra, “hamba ingin
menyampaikannya pagi ini.”
Dalam pada itu Kuda Sempana menyahut, “Sengaja mereka
membiarkan aku mengalami guncangan-guncangan batin di malam
itu. Sebenarnya aku tidak melihat perbedaan apa-apa. Malam tadi
atau pagi ini.”
“Tidak ada bedanya,” sahut Akuwu Tumapel itu, “Kenapa kau
tunda-tunda sehingga Kuda Sempana terpaksa datang sendiri
kepadaku?”
Witantra mengangkat wajahnya sesaat, kemudian kembali ia
tunduk sambil menjawab, “Maksud hamba, hamba ingin
mengatakannya dengan tenang setiap persoalan, setiap
kemungkinan, dan setiap perjanjian.”
“Perjanjian?” potong Kuda Sempana, wajahnya tampak berkerutkerut
penuh persoalan.
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia berkata pula, “Apakah semalam kau tidak menemukan
ketenangan itu. Justru malam hari?”
“Tuanku benar,” sahut Kuda Sempana, “sebenarnya di malam
hari segalanya menjadi lebih tenang. Tetapi Kakang Witantra
sengaja membiarkan aku menghadap Akuwu sendiri.”
Witantra menarik nafas panjang. Kemudian sekali ia berpaling
kepada Ken Arok. Dilihatnya Ken Arok menggigit Bibirnya untuk
menahan perasaannya yang bergelora. Ia sudah benar-benar
kehilangan kesabaran. Kalau saja tidak di hadapan akuwu, maka ia
akan berkata lantang, ‘Kuda Sempana. Gadis itu sudah bukan
hakmu lagi. Kalau kau marah, kau mau apa. Kita dapat berkelahi,
sebab kami tidak takut kepadamu’. Tetapi di Hadapan Tunggul
Ametung, ia hanya dapat mengumpat-umpat di dalam hati
Akhirnya Witantra itu pun berkata, “Ampun Tuanku. Kuda
Sempana datang ke rumah hamba. Adalah tidak mungkin hamba
membicarakannya di hadapan istri hamba. sebab hamba tidak yakin
Adi Kuda Sempana dapat menahan hatinya. Karena itu hamba
datang ke pondoknya. Seandainya Adi Kuda Sempana tidak dapat
menahan diri, maka akan hamba layani apa saja yang akan
dilakukannya. Tidak di rumahku, tidak di hadapan istriku yang akan
banyak mempengaruhi perasaan hamba.”
Telinga Kuda Sempana benar-benar serasa tersengat mendengar
penjelasan Witantra itu. Terasa kini bahwa ada sesuatu yang tidak
wajar. Karena itu, maka hatinya menjadi semakin gelisah dan
kehilangan kesabaran. Dari dahi dan keningnya mengalir keringat
yang dingin. Sekali-kali tampak ia mengusap wajahnya, namun
kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.
Perlahan-lahan ia berkata, “Ya. Alasanmu dapat aku mengerti
Witantra. Nah. Kalau demikian katakanlah sekarang.”
“Jangan Kakang Witantra,” potong Kuda Sempana, “Kenapa
bukan Tuanku sendiri yang memberikan perintah kepada hamba
untuk berbuat apa saja.”
Tunggul Ametung menarik nafas. Sesaat ia menjadi ragu-ragu.
Persoalan ini benar membuatnya pening. Namun kemudian
ditemukannya keseimbangannya dengan baik, sehingga akuwu itu
berkata lantang, “Aku perintahkan kepadamu, he Kuda Sempana,
untuk mendengarkan penjelasan dari Witantra.”
Kuda Sempana menggeram. Namun ia tidak berani membantah.
Karena itu maka ia hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun
hatinya serasa melonjak-lonjak hampir tak. terkendali.
Witantra membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian
sahutnya, “Titah Akuwu akan hamba laksanakan.”
“Berkatalah,” potong Kuda Sempana.
Witantra memandang akuwu untuk sepintas. Ketika Akuwu
mengangguk, maka mulailah Witantra berkata, “Adi Kuda Sempana.
Adalah sudah Adi ketahui, bahwa persoalan timbal balik dan saling
berturutan akan dapat terjadi. Apa yang Adi lakukan dapat pula
dilakukan oleh orang lain. Dan apa yang Adi kehendaki dapat pula
dikehendaki oleh orang lain.”
“Aku tidak tahu, apakah maksud Kakang dengan kata-kata yang
tak dapat aku mengerti itu. Katakanlah, apa yang harus Kakang
katakan kepadaku. Nah, itulah sebabnya aku lebih senang
mendengarnya dari orang lain daripada Kakang Witantra yang tidak
pernahi berterus terang.”
Akuwu mengerutkan keningnya dan Witantra menarik nafas
dalam-dalam. Namun yang terdengar adalah gumam Ken Arok lirih,
“Ya, sebaiknya Kakang Witantra berterus terang. Akan dibuka
kembali sayembara tanding.”
“He?” alangkah terkejutnya Kuda Sempana. Dan bahkan Witantra
dan Tunggul Ametung pun terkejut pula. Tetapi segera mereka
mencoba menguasai diri mereka masing-masing.
Witantra mengangguk-angguk. Disadarinya bahwa agaknya ia
mencoba terlalu hati-hati sehingga baik Kuda Sempana maupun Ken
Arok, menjadi tidak bersabar. Karena itu maka Katanya, “Baiklah.
Baiklah aku akan berkata berterus terang supaya semuanya menjadi
lekas jelas. Supaya tidak menimbulkan berbagai pertanyaan yang
terlalu lama mengganggu perasaan meskipun maksudku, supaya
aku dapat menjelaskan dengan baik
dan hati-hati, namun agaknya kalian tidak bersabar, sehingga….”
“Itukah yang akan kau katakan? Alasan-alasan yang menjadi
semakin melingkar-lingkar. Aku menjadi semakin pening
mendengarnya,” potong Kuda Sempana. Sementara itu Ken Arok
menggaruk-garuk kepalanya dengan ujung telunjuknya.
“Oh,” desah Witantra. ia adalah seorang prajurit. Ia lebih pandai
memainkan pedang daripada berbicara. Karena itu, maka ia menjadi
bingung. Namun ia tidak mau gagal hanya untuk mengucapkan
sebuah tantangan. Meskipun tantangan ini agak berbeda dengan
tantangan yang harus diucapkan kepada lawan yang sesungguhnya.
Maka kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam, meloncatlah
dari mulutnya, “Ya, ya. Akan aku katakan, bahwa Adi Kuda
Sempana harus mengalami sikap yang sama dengan yang pernah
dilakukannya. Kini seseorang berusaha mengambil gadis Panawijen
itu dengan cara yang sama dengan yang telah kau lakukan.”
Wajah Kuda Sempana segera memerah bara, Sejenak ia
terbungkam, namun terdengar giginya gemeretak menahan marah.
Sepasang matanya memandang Witantra dengan sinar yang ganjil.
Ruang paseban dalam itu menjadi sepi. Hanya desah nafas yang
memburu terdengar bersahut-sahutan.
Tetapi sejenak kemudian terdengarlah suara Kuda Sempana
meledak dalam kesepian itu, “Setan belang! Siapakah yang akan
merebut gadis itu dari tanganku? Aku telah mengambilnya dengan
susah payah. Aku sadari kemungkinan yang sama itu terjadi. Tetapi
aku pun laki-laki. Aku pertahankan gadis itu dengan nyawaku.”
“Aku telah menyangka,” sahut Witantra. Meskipun suaranya agak
gemetar, namun ia masih tetap tenang, “bahwa Adi tidak akan
membiarkannya diambil orang setelah Adi menempuh segala macam
cara untuk mendapatkannya.”
“Nah. Katakan kepadaku, siapakah laki-laki itu? Kakang sendiri
atau siapa?”
“Aku telah beristri. Aku tidak akan mengambil istri yang lain dari
istriku itu.”
“Ya. Itu bukan urusanku. Tetapi siapa?”
Witantra ragu-ragu sejenak. Sekali ditatapnya wajah akuwu.
Namun Tunggul Ametung yang garang itu menundukkan wajahnya.
“Adi Kuda Sempana,” sahut Witantra, “siapa pun yang akan
mengambil gadis itu bukan soal. Tetapi aku ingin menjelaskan
siapakah, yang akan melakukan sayembara tanding untuk itu.”
“Sama sekali bukan sayembara,” potong Kuda Sempana,
“sayembara adalah tuntutan gadis itu. Tetapi apa yang akan terjadi
adalah kebiadaban. Perkosaan dan perampasan. Nah siapakah
orangnya?”
“Oh,” desah Ken Arok mendengar kata-kata Kuda Sempana.
Namun ia tidak meneruskannya. Tetapi di dalam hatinya
berkecamuk perasaan yang aneh. Kuda Sempana itu dapat berkata
dengan mulutnya sendiri. Kebiadaban, perkosaan dan perampasan.
Alangkah anehnya manusia ini. Ia dapat mengatakannya untuk
orang lain, tetapi terhadap tingkah lakunya sendiri?
Dan terdengar Witantra menjawab, “Mungkin Adi benar. Namun
ini adalah akibat perbuatan Adi yang serupa pula.”
Wajah Kuda Sempana menjadi semakin membara mendengar
jawaban Witantra itu. Ditatapnya mata Witantra seperti hendak
ditembus sampai ke jantungnya untuk melihat siapakah orang yang
telah berkhianat itu.
Dalam kemarahan terdengar ia menggeram, “Kakang Witantra,
sebutkan orang itu! Apakah akan dinamakan sayembara tanding,
apakah akan dinamakan apa saja. Aku tidak akan berkeberatan.
Sekarang, besok atau kapan. Namun bagiku lebih cepat lebih baik.”
“Baiklah Adi,” sahut Witantra, “meskipun demikian, marilah kita
sebutkan peraturan yang akan berlaku dalam perang tanding itu.”
“Omong kosong dengan segala macam peraturan. Aku tidak
berbicara tentang peraturan, pada saat aku mengambil gadis itu,”
jawab Kuda Sempana.
“Tetapi itu kurang baik. Marilah kita bersikap seperti orang-orang
yang mempunyai adat. Adat yang akan menampakkan sifat-sifat
kejantanan kita. Kita tidak sekedar ingin menang, tetapi kita uji,
apakah kita laki-laki jantan, apakah kita selicik setan.”
“Bagus. Apakah peraturanmu?”
“Yang kalah harus mengaku kalah. Tak ada persoalan lagi di
kemudian hari. Gadis itu berada di tangan yang menang. Apapun
yang akan dilakukan atas gadis itu.”
“Apakah tandanya kalah?”
“Menyerah, atau menjadi tidak berdaya.”
“Sampai mati.”
“Itu tidak perlu.”
“Pengecut. Kalau salah seorang terbunuh apakah yang lain masih
harus dihukum karena melakukan pembunuhan?”
Witantra mengerutkan keningnya. Kuda Sempana benar-benar
sulit untuk diredakan. Namun Witantra dapat mengerti pula
perasaannya. Karena itu, disadarinya bahwa pekerjaannya adalah
pekerjaan yang sangat berat. Sejenak ia mengalami kesulitan
mendengar pertanyaan Kuda Sempana itu, sehingga ia berdiam diri
untuk menirnbang-nimbang.
Yang terdengar adalah suara Ken Arok perlahan-lahan, “Tidak.”
Witantra berpaling. Ken Arok yang merasa terlanjur
mengucapkan kata-kata itu, segera menundukkan wajahnya. Ketika
Witantra memandang wajah Tunggul Ametung sesaat tampaklah
wajah itu menjadi tegang.
“Apa yang kau maksud Adi?” bertanya Witantra.
Ken Arok menjadi ragu-ragu, Meskipun demikian ia menjawab
sambil menundukkan wajahnya, “Maksudku, kalau terpaksa
terbunuh, bukankah itu berarti suatu kecelakaan? Kecelakaan yang
tidak dapat dihindarkan, sehingga pihak yang lain tidak dapat
dinyatakan bersalah.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian
gumamnya lirih, “Ya demikianlah.”
“Bagus!” sambut Kuda Sempana sambil menggosokkan telapak
tangannya. Seolah-olah pada saat itu juga telah siap melepaskan
kekuatan pamungkasnya, Aji Kala Bama.
Kemudian terdengar Witantra berkata, “Kau sependapat?”
“Aku sependapat,” sahut Kuda Sempana, “Tetapi sebutkan
kepadaku. Siapakah yang akan memasuki gelanggang?”
“Itu tidak penting, kau akan melihatnya nanti di arena.”
“Tidak perlu kau rahasiakan Kakang, Sekarang atau nanti aku
akan melihatnya,” bantah Kuda Sempana. Tetapi ia menjadi raguragu
untuk sesaat, apakah orang itu Mahisa Agni?
“Agni terluka,” katanya di dalam hati.
Witantra ragu-ragu sejenak. Sekali-sekali ia melihat Kuda
Sempana memandang Ken Arok dengan tajamnya. Kuda Sempana
itu pun menaruh curiga, pula kepada pelayan dalam yang baru itu.
Tetapi ketika dilihatnya Ken Arok menundukkan wajahnya, maka
segera ia mendesak, “Siapa?”
Witantra menggigit Bibirnya. Banyak persoalan yang
mengganggu perasaannya saat itu. tetapi kemudian hatinya menjadi
bulat, gadis itu harus diselamatkan.
Karena itu, maka kemudian ia menjawab perlahan-lahan, “Aku,
Adi.”
“Kau. Kau?” teriak Kuda Sempana hampir tidak percaya, Matanya
seolah-olah hampir meloncat dari kepalanya. Sesaat ia terpukau,
namun kemudian ia tertawa, Tertawa aneh sekali. Di antara suara
tertawanya ia berkata, “Kau, jadi kau yang telah beristri seperti
yang kau katakan tadi jatuh cinta kepada gadis Panawijen itu? Kalau
demikian, maka aku benar-benar berbahagia. Gadis itu pasti gadis
cantik sekali. Kalau tidak, maka tidak akan ia membuatmu gila
Kakang Witantra. Lalu mau kau apakah istrimu yang tua itu? Kau
buang? Kau buang? Atau kau madu?”
Witantra membiarkan Kuda Sempana mengumpat-umpat.
Dibiarkannya anak muda itu melepaskan perasaan yang menghimpit
dadanya dengan suara tertawanya yang menyakitkan hati itu.
Tetapi, ternyata Ken Aroklah yang tidak tahan mendengarnya,
sehingga sekali-kali ia mengangkat dagunya. Tetapi sebelum ia
berkata apa-apa, terdengar suara Tunggul Ametung menggelegar
memenuhi ruangan itu. Agaknya Akuwu Tumapel itu pun menjadi
muak mendengar kata-kata Kuda Sempana.
“Tutup mulutmu Kuda Sempana! Jangan terlalu sombong!
Dengar, gadis itu sama sekali tidak untuk Witantra. Tetapi aku.
Aku.
Ya. Akuwu Tunggul Ametung yang akan mengambilnya. Tetapi aku
tidak mau memaksakan kehendak ini dengan kekuasaan, meskipun
aku dapat melakukannya. Witantra akan berkelahi untukku. Tetapi
kalau itu kau anggap tidak adil, maka ayo, pilihlah di antara kami.
Aku sendiri atau Witantra yang akan maju ke arena. Aku sebagai
Tunggul Ametung. Sama sekali tidak membawa kekuasaan Akuwu
Tumapel untuk persoalan ini.”
Mulut Kuda Sempana segera terkatup rapat. Meskipun demikian
hatinya bergelora dahsyat sekali. Ternyata Akuwu Tunggul
Ametunglah yang akan mengambil Ken Dedes. Benar-benar tidak
diduganya. Sesaat ia menyesal bahwa ia telah memungkinkan
akuwu itu melihat wajah Ken Dedes. Namun kemudian ia menjadi
tatag kembali. Akuwu tidak akan membawa kekuasaannya dalam
persoalan ini. Sehingga ia diberinya izin memilih lawan Tunggul
Ametung atau Witantra yang akan mewakilinya.
Untuk sesaat mulut orang-orang di ruangan itu tertutup rapatrapat.
Tak seorang pun yang segera mengucapkan kata-kata. Yang
terdengar adalah nafas mereka bersahut-sahutan seakan-akan
sedang berpacu.
Kuda Sempana yang dicengkam oleh kedahsyatan gelora di
dadanya duduk terpaku dengan tubuh gemetar. Sekejap
dipandanginya wajah Tunggul Ametung yang tegang, sejenak
kemudian ia berpaling ke arah Witantra yang duduk terpekur.
Sekali-sekali ditatapnya juga kepala Ken Arok yang tunduk. Namun
Tunggul Ametung tidak menunjuknya menjadi salah seorang yang
dapat dipilihnya untuk menjadi lawannya.
Sesaat Kuda Sempana menimbang-nimbang. Apakah ia harus
memilih Tunggul Ametung atau ia harus menunjuk Witantra? Kuda
Sempana pernah mendengar kesaktian mereka berdua. Meskipun
Kuda Sempana sebagai seorang pelayan dalam belum pernah pergi
berperang bersama dengan salah seorang dari mereka, namun telah
didengarnya, betapa nama-nama mereka menjadi buah bibir kawan
dan lawan. Kini ia harus memilih salah seorang daripadanya. Tetapi
Kuda Sempana kemudian menengadahkan wajahnya.
“Aku bukan prajurit pengawal raja,” katanya di dalam hati,
“tetapi aku dipercaya untuk menjadi seorang pelayan dalam. Aku
adalah seorang yang telah mendalami ilmu yang jarang dimiliki
orang, Kala Bama. Meskipun seandainya mereka memiliki kekuatan
melampaui kekuatan manusia biasa, maka dengan Kala Bama
mereka pasti akan luluh.”
Tetapi Kuda Sempana menjadi ragu-ragu sesaat. Mahisa Agni
adalah contoh dari mereka yang tidak dapat dihancurkan dengan
Kala Bama. Berbeda dengan Wiraprana, yang mati oleh tangannya
tanpa kesaktiannya itu dipergunakan.
Ketika ia sedang sibuk menimbang-nimbang terdengar Tunggul
Ametung yang hampir pingsan karena ketegangan itu, berteriak,
“Ayo, apakah kau tiba-tiba menjadi bisu? Pilih di antara kami
berdua, aku atau Witantra!”
Kuda Sempana menarik keningnya. Ia harus cepat-cepat
memberikan keputusan. Yang pernah didengarnya, Tunggul
Ametung adalah seorang yang sakti tiada taranya. Ia memiliki
sebuah pusaka, sebuah tongkat, atau lebih mirip sebuah penggada
yang berwarna kekuning-kuningan. Sebuah penggada dari besi baja
kuning. Alangkah saktinya pusaka itu, sehingga dengan agak
berlebih-lebihan dikatakan orang, bahwa gunung akan runtuh dan
lautan akan kering disambar oleh pusaka itu.
Kuda Sempana meraba kerisnya. Keris ini pun sakti bukan
buatan. Dengan menunjukkan ujungnya, tanpa menyentuhnya,
maka hutan rimba akan terbakar dan bintang bulan akan runtuh ke
bumi. Tetapi segera ia menjadi kecewa, Mahisa Agni mampu
meruntuhkan keris itu dari tangannya. Mahisa Agni tidak terbakar
seperti hutan rimba, dan tidak runtuh seperti bulan bintang.
“Hem,” ia menggeram, “keris ini akan mampu membunuh
lawannya, apabila aku berhasil menggoreskan pada kulit lawan.”
Karena itu, maka ia tidak akan memilih Tunggul Ametung.
Akhirnya setelah bulat tekadnya, maka diangkatnya wajahnya
sambil berkata, “Ampun Tuanku. Hamba akan memilih Kakang
Witantra untuk maju, meskipun Tuanku yang menghendaki gadis
itu.”
Tunggul Ametung memandang Kuda Sempana dengan tajamnya.
“Kenapa?” ia bertanya
“Kakang Witantra lebih baik bagi hamba,” jawab Kuda Sempana
lancar.
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sesaat ia menjadi
bimbang. Apakah Witantra dapat memenuhi janjinya, membebaskan
gadis Panawijen itu, sebab sudah dilihatnya Kuda Sempana mampu
membunuh Wiraprana dengan tangannya tanpa kesulitan. Namun
Witantra adalah prajuritnya yang tepercaya, sehingga akhirnya ia
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Jadilah. Aku
akan menyaksikan perang tanding ini. Kapan akan kalian lakukan?”
“Sekarang,” sahut Kuda Sempana.
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu
benar perasaan yang sedang bergolak di dalam dada Kuda
Sempana. Karena itu ia bertanya kepada Witantra, “Bagaimana
pendapatmu?”
“Aku sudah menyangka bahwa Adi Kuda Sempana tidak akan
dapat bersabar. Aku tidak berkeberatan. Sekarang,” jawab Witantra.
“Bagus. Aku siap menunggumu di luar Kakang Witantra,” berkata
Kuda Sempana sambil beringsut dari tempatnya.
“Tunggu!” Tunggul Ametung menahannya. Katanya kemudian,
“Aku akan memanggil beberapa orang saksi. Beberapa orang
prajurit dan beberapa orang pelayan dalam.”
“Terserah pada Tuanku. Aku tunggu kau di alun-alun, Kakang.”
“Tidak di alun-alun,” potong Tunggul Ametung, “tetapi di
halaman belakang istana ini.”
“Kenapa? Biarlah rakyat Tumapel menyaksikan perang tanding
ini. Menyaksikan betapa Kuda Sempana mempertahankan haknya
yang akan direbut orang.”
“Gila kau!” sahut Tunggul Ametung, “Apa kau sangka gadis itu
sudah menjadi hakmu? Tidak, Kuda Sempana. Gadis itu belum
hakmu. Akuwu Tunggul Ametung yang sengaja datang ke
Panawijen untuk melindungnya dari kekotoran tanganmu, tahu?”
Kuda Sempana terkejut mendengar jawaban akuwu itu. Tetapi
Witantra dan Ken Arok sama sekali tidak, sebab mereka sudah
berjanji, bahwa akuwu akan mempertanggungjawabkan
pengambilan gadis itu, seolah-olah untuknya sendiri. Hal itu akan
lebih baik baginya. Sedang, apabila ternyata Ken Dedes telah bebas
dari tangan Kuda Sempana, maka biarlah gadis itu menentukan
kehendaknya sebagai tebusan atas kesalahan yang telah terlanjur
dilakukan oleh Tunggul Ametung itu.
Dan sebelum Kuda Sempana menjawab akuwu itu meneruskan,
“Aku beri kesempatan kau melakukan perang tanding, sebab aku
tahu bahwa kau pun merasa berhak pula atas gadis itu. Tetapi tidak
di muka rakyat Tumapel. Rakyat Tumapel pasti akan menuntutmu,
memenggal lehermu di alun-alun sebab kau telah berani mencoba
merebut gadis itu dari tanganku, tangan Akuwu Tumapel.”
Kuda Sempana menjadi bingung mendengar keterangan akuwu
itu Namun kemudian ia tidak peduli lagi. Cepat-cepat ia beringsut
dan berjalan keluar dengan tanpa berkata sepatah kata pun.
Sesaat kemudian Witantra pun mundur pula dari hadapan akuwu,
sehingga tinggallah kemudian Ken Arok yang mendapat perintah
dari akuwu untuk mengundang beberapa orang perwira prajurit dari
berbagai kesatuan dan para pimpinan pelayan dalam.
Sepeninggal Ken Arok, maka Tunggul Ametung segera masuk ke
dalam biliknya, mengenakan pakaian kebesarannya untuk menanti
persiapan yang dibuat oleh Witantra di halaman belakang istana.
Sebuah arena kecil.
Kepada beberapa orang juru taman Witantra memerintahkan
menyiapkan tempat itu. Membentangkan tikar pandan di
sekelilingnya dan beberapa perlengkapan yang lain.
Kuda Sempana yang melihat itu sama sekali tidak bersabar.
Dengan lantang ia berkata, “Apa perlunya segala macam persiapan
itu? Di sini kita bisa bertempur. Di manapun dan tanpa persiapan
apapun.”
“Biarlah kali ini kita lakukan dengan baik, Adi. Meskipun tidak
sempurna, biarlah kita lakukan dengan upacara perang tanding
antara kesatria.”
“Persetan!” sahut Kuda Sempana yang kemudian berjalan
mendekati Witantra, “Kakang Witantra, coba katakan kepadaku,
hadiah apa yang dijanjikan kepadamu, sehingga demikian bernafsu
kau memisahkan Ken Dedes dariku. Apakah kau dijanjikan untuk
menjabat pangkat yang lebih tinggi, bukan sekedar perwira
pengawal akuwu, tetapi akan diangkat menjadi senapati agung
misalnya, atau Panglima Tumapel atau apa?”
Witantra memandang wajah Kuda Sempana yang penuh hinaan
itu dengan tenang. Sekali ia mengangguk-anggukkan kepala, dan
kemudian menjawab, “Aku tidak akan menerima hadiah apapun,
Adi.”
“Omong kosong!” Kuda Sempana mencibirkan bibirnya, “Lalu
apakah pamrihmu? Perempuan itu sendiri?”
Witantra menggelengkan kepalanya, tetapi sebelum ia menjawab
Kuda Sempana telah mendahuluinya, “Atau kau sudah diganggu
oleh penyakit syaraf. Lihat istana Tumapel gempar hanya karena
seorang gadis. Akuwu ternyata curang. Ia mengantarkan aku dan
merestui aku mengambil Ken Dedes, tetapi akhirnya ia berkata
bahwa ia melindungi gadis itu dari kekotoran tanganku. Apakah
demikian nilai janji Akuwu sekarang?”
“Tetapi kau telah menipunya. Nah, apakah demikian, nilai
kemanusiaan sekarang?”
“Omong kosong!” kembali Kuda Sempana mencibirkan bibirnya
dan kembali ia berkata, “Seluruh isi istana sudah gila. Karena
seorang gadis desa, maka istana Tumapel menjadi gempar. Seorang
perwira pengawal istana turun ke arena untuk merebut gadis desa
itu. Huh!”
Witantra memandang Kuda Sempana dengan tajamnya.
Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Kuda Sempana, persoalan ini
bagiku bukan sekedar persoalan seorang gadis. Bukan sekedar soal
perempuan itu. Tetapi persoalan ini merupakan contoh dari
persoalan yang jauh lebih besar. Persoalan kemanusiaan,
kebenaran, hak dan kewajiban.”
“Oh?” Kuda Sempana mengangkat wajahnya sambil menarik
bibirnya ke sisi. Matanya diredupkannya sambil berkata, “Kakang
Witantra ingin menjadi pahlawan?”
“Mungkin,” sahut Witantra sambil mengerutkan keningnya,
“tetapi pahlawan atau bukan pahlawan adalah kewajibanku untuk
mencegah kelaliman. Gadis itu adalah perwujudan dari tindak
sewenang-wenang itu. Kali ini seorang gadis, keluarganya dan
bahkan perasaan seluruh rakyat Panawijen. Namun gadis itu dapat
berbentuk lain. Kalau kau telah berani merampas kebebasan
seorang gadis untuk memenuhi keinginanmu, maka lain kali kau
akan berbuat jauh lebih besar. Kalau kau memiliki kekuasaan, maka
kau akan melakukannya melampaui apa yang kau lakukan sekarang.
Mungkin kau akan merampas hak-hak yang jauh lebih berharga.
Tidak hanya satu jiwa, tetapi beribu-ribu. Yang penting bukan gadis
itu, gadis yang hanya satu gadis pedesaan. Tetapi yang penting
adalah persoalannya. Kau merampas hak kemanusiaannya, dan
adalah kewajibanku untuk mencegahnya. Itulah. Dan perkosaan
yang kau lakukan dapat berupa perkosaan atas seorang gadis,
tetapi juga dapat lain.”
Kuda Sempana menjadi tegang. Ia kini tidak mencibirkan bibirnya
lagi. Tidak menarik bibir itu ke sisi dan tidak meredupkan matanya.
Tetapi wajahnya menjadi tegang. Katanya, “Kau mencoba
menghubungkannya, dengan persoalan yang disebut persoalannya,
bukan bentuknya. Tetapi kau lupa bahwa untuk kepentingan yang
lebih besar maka aku berbuat demikian. Dengan gadis itu di sisiku,
aku akan lebih banyak berbuat untuk Tumapel untuk tanah ini.”
“Alasan yang terlalu dibuat-buat. Kau ingin mengatakan bahwa
apa yang terjadi adalah suai u pengorbanan buat masalah yang
lebih besar? Omong kosong! Yang terjadi adalah korban nafsumu
yang tak terkendali. Kali ini kau bernafsu atas gadis itu, tetapi
lain
kali kau bernafsu untuk menjadi akuwu. Dapatkah kau katakan
bahwa jabatan akuwu akan memberi kesempatan kepadamu
berbuat lebih banyak atas tanah ini? Tumapel?”
“Persetan dengan uraianmu yang bodoh! Nah, kalau demikian
apalagi yang kita tunggu?”
“Akuwu,” sahut Witantra.
Kuda Sempana menggeram. Ia benar-benar tidak dapat bersabar
lagi. Namun Kuda Sempana itu tidak perlu menunggu terlalu lama.
Sebentar kemudian datang Akuwu Tunggul Ametung diiringi oleh
beberapa orang perwira. Di wajah-wajah mereka terbayanglah
berbagai pertanyaan dan keragu-raguan. Namun di antara mereka,
telah juga beredar kabar dari mulut ke mulut, bahwa Istana
Tumapel sedang digemparkan oleh seorang gadis Panawijen.
Namun beberapa orang perwira dapat mengerti, kenapa Witantra
telah menyediakan dirinya dalam persoalan yang tampaknya tidak
lebih dari rebutan seorang gadis itu, tetapi yang bagi Witantra,
pandangannya jauh menembus pada pokok persoalannya.
Kemanusiaan, kebenaran dan kemungkinan-kemungkinan yang
bakal terjadi di hari-hari berikutnya, supaya tidak semua orang
dapat berbuat seperti Kuda Sempana. Memenuhi nafsu sendiri
dengan mengorbankan apa saja, bahkan nama Akuwu Tunggul
Ametung sendiri.
Ketika Kuda Sempana melihat beberapa orang yang datang ke
arena itu, maka ia menjadi gelisah. Ia menjadi cemas kalau akuwu
sekali lagi mengingkari janji. Apabila ia berhasil mengalahkan
Witantra maka akuwu akan dapat membuat alasan-alasan lain untuk
menyingkirkannya. Sebab di tangan Tunggul Ametung terletak
kekuasaan Tumapel. Ia ragu-ragu, apakah benar akuwu dalam hal
ini tidak ingin mempergunakan kekuasaan? Bukankah karena
kekuasaan akuwu pula maka Witantra dapat mewakilnya.
Tetapi Kuda Sempana tidak mau memusingkan dengan anganangan
yang mencemaskan. Ia akan berteriak di hadapan para satria
itu perjanjian yang telah dibuatnya dengan Witantra dan akuwu.
Apabila akuwu mengingkarinya biarlah para perwira itu akan dapat
menilainya
Sesaat kemudian Kuda Sempana dengan tidak sabar sama sekali
telah meloncat ke tengah-tengah gelanggang yang dikelilingi oleh
beberapa orang perwira yang duduk di atas selapis tikar pandan.
Witantra pun kemudian maju pula setelah menyembah dan berkata
kepada Tunggul Ametung, “Hamba akan mencoba berbuat sebaikbaiknya.”
Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Ia hanya mengangguk
kecil penuh kebimbangan. Perasaan kini justru tidak setenang
malam tadi. Perasaannya kini mulai bergolak kembali. Ia takut,
sebenarnya takut, bahwa Witantra tidak akan dapat mengalahkan
Kuda Sempana. Perasaan akuwu kini bukanlah sekedar ingin
membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana, namun tanpa
diketahuinya sendiri, perasaan itu telah terdorong semakin jauh. Ia
benar-benar ingin memenangkan sayembara ini. Memenangkan
untuk memiliki hasil kemenangannya.
Beberapa orang perwira duduk acuh tak acuh. Bahkan ada di
antara mereka menggerutu tak habis-habisnya. Kenapa ia harus
menyaksikan perkelahian yang berpusar pada persoalan seorang
gadis. Namun beberapa perwira yang lain menjadi cemas. Mereka
memuji kejujuran Witantra dalam per kelahian itu. Ia benar-benar
seorang yang tidak terlibat dalam suatu kepentingan pribadi atas
gadis itu.
Ken Arok yang duduk di tepi arena itu pun memandang mereka
yang telah siap bertempur dengan pandangan yang suram. Hatinya
menjadi berdebar-debar dan bahkan suatu perasaan aneh telah
merayapi hatinya. Seperti beberapa orang yang lain, maka Ken Arok
jauh lebih dalam memuji Witantra di dalam hatinya. Ia benar-benar
satu-satunya orang yang berjuang tanpa pamrih. Ia bertempur
benar-benar untuk menegakkan kemanusiaan, hak atas dasar
kewajiban.
Ketika ia berpaling dan menyambar wajah Akuwu Tunggul
Ametung yang tunduk, maka katanya di dalam hati, “Akuwu berbuat
seperti sekarang ini karena ia dikejar oleh perasaan bersalah, ia
ingin menembus kesalahannya itu dengan membebaskan kembali
Ken Dedes dan menghukum Kuda Sempana dengan cara lain. Cara
yang tidak semata-mata mengingkari tingkah laku sendiri. Sedang
Mahisa Agni yang terluka itu, berjuang untuk menyelamatkan
adiknya. Untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Kuda
Sempana bersedia bertempur di arena karena ia dilanda oleh nafsu
yang tak terkendali. Nafsu untuk memiliki Ken Dedes meskipun
hanya wadagnya saja.”
Tetapi tidak demikian dengan Witantra. Ken Dedes bukan sanak
bukan kadang, bukan pula seorang gadis yang telah menyeret
nafsunya, dan bukan pula gustinya. Bukan apa-apa. Ia benar-benar
dapat mencuci tangannya seperti perwira-perwira yang lain, yang
acuh tak acuh atas persoalan itu. Ia dapat tidur nyenyak dengan
istri dan keluarganya di rumah. Atau apabila ia harus melihat
perkelahian di arena ia dapat memuji, namun dapat pula mencela
salah seorang daripadanya sambil membelai kumisnya tanpa
bahaya. Namun kini ia telah terjun ke arena dengan suka rela,
karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kemanusiaan
telah diperkosa oleh kesewenang-wenangan. Ia melihat
ketidakadilan dan ia melihat seseorang yang dapat memperalat
kekuasaan dan pedang untuk mencapai maksudnya. Karena itu,
Witantra yang merasa memiliki pedang pula di lambungnya, telah
turun ke arena untuk melawan pedang dalam kesewenangwenangannya.
Tak sepatah kata pun yang diucapkan Akuwu Tunggul Ametung
sebelum perang tanding itu dimulai. Tak ada orang lain yang
diperintahkannya untuk berbicara. Ia hanya menganggukkan
kepalanya dan bergumam lirih, “Mulailah.”
Witantra mengangguk hormat, kemudian memutar tubuhnya
menghadap Kuda Sempana. Namun Kuda Sempanalah yang
kemudian berkata lantang, “Para perwira prajurit, kawan-kawanku
pelayan dalam dan para pimpinan pemerintahan. Tuanku Akuwu
telah melepaskan janji, arena ini adalah keputusan tertinggi. Siapa
yang menang ia berhak menentukan sikapnya atas gadis Panawijen
yang sekarang sedang sakit di istana. Dan aku sengaja turun karena
untuk mempertahankan hakku atasnya.”
Belum lagi mulut Kuda Sempana terkatup rapat, terdengar akuwu
membentak, “Jangan banyak bicara! Kalau kau tidak segera mulai,
maka lawanmu adalah aku sendiri.”
Semua orang terkejut mendengar akuwu membentak. Beberapa
orang menjadi kecut dan bingung, apakah sebenarnya yang telah
terjadi. Namun beberapa orang tersenyum di dalam hati, “Keduanya
adalah orang-orang muda.”
Kuda Sempana pun terdiam pula. Ketika ia mencoba mencuri
pandang, di pangkuan Tunggul Ametung terletak sebuah benda
yang kuning gemerlap. Itulah pusakanya, yang dapat
menggugurkan gunung dan dapat mengeringkan lautan. Sekali lagi
tanpa disengajanya, Kuda Sempana meraba kerisnya. Kerisnya itu
ada di lambungnya. Tetapi ketika ia memandangi tubuh Witantra
keseluruhannya, maka Witantra sama sekali tidak membawa senjata
apapun.
Meskipun demikian. Kuda Sempana itu masih juga berkata,
bahkan ditujukan kepada Akuwu Tunggul Ametung, “Tidak, Tuanku
hamba junjung. Hamba hanya ingin supaya para perwira
mengetahui, apakah yang harus kami lakukan.”
“Diam! Diam! Diam!” teriak Akuwu Tunggul Ametung.
Secengkang ia beringsut. Tetapi Witantra yang menjadi cemas kalau
Tunggul Ametung itu kemudian berdiri dan menerjunkan diri ke
arena, maka segera ia meloncat menyerang sambil berteriak, “Adi
Kuda Sempana, aku akan segera mulai.”
Kuda Sempana melihat Witantra mulai dengan serangannya,
namun tidak berbahaya. Meskipun demikian, Kuda Sempana
menggeser ke samping untuk menghindari serangan itu.
Tetapi agaknya Kuda Sempana itu masih belum puas dengan apa
yang dikatakannya. Ia masih ingin berteriak lagi memperkecil arti
tindakan Tunggul Ametung itu. Membatasi persoalannya sebagai
suatu persoalan berebut gadis di antara dua orang jejaka. Bukan
soal seperti yang dikatakan oleh Witantra, yang memandangnya dari
segi lain. Dari segi hak, kemanusiaan dan beban kewajibannya
sebagai seorang kesatria. Karena itu, maka sekali lagi ia mencoba
berteriak sambil meloncat surut. Namun Witantra melihat gelagat
itu. Betapapun ia tetap dalam ketenangannya, tetapi perbuatan
Kuda Sempana itu benar-benar tak menyenangkan. Karena itu, demi
kian Kuda Sempana mulai membuka mulutnya, maka mulai pulalah
serangan Witantra berikutnya. Bukan sekedar serangan untuk
mengejutkan lawannya. tetapi serangan kali ini benar-benar
mengarah ke titik-titik yang berbahaya bagi lawannya. Sambil
melontarkan diri, Witantra menyambar leher Kuda Sempana dengan
ibu jarinya. Sedang tangannya yang lain masih berusaha menyerang
perut lawannya dengan ujung-ujung jari pula.
Kuda Sempana kali ini benar-benar terkejut melihat gerak itu.
Gerak yang langsung berusaha menyelesaikan perkelahian dengan
menutup lubang pernafasannya. Karena itu, maka ia tidak sempat
untuk berteriak lantang, namun sekali ia harus bergeser surut
sambil merendahkan dirinya, sedang tangannya berusaha untuk
memukul tangan Witantra ke samping. Tetapi Witantra dengan
cepatnya menarik tangannya. Sekali ia berputar di atas satu
kakinya, dan tiba tumitnya melayang dalam gerak melingkar
menyambar lambung Kuda Sempana.
Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya. Witantra benarbenar
tidak memberinya kesempatan. Karena itu, maka segera
dilepaskannya maksudnya untuk berteriak-teriak di hadapan para
perwira. Kini dipusatkannya segenap perhatiannya kepada Witantra.
“Hem,” Kuda Sempana menggeram, gumamnya di dalam hati,
“Alangkah banyak rintangan yang harus aku lampaui. Untuk
mendapatkan seorang istri yang cantik, aku harus berkali-kali
mempertaruhkannya nyawaku. Tetapi Ken Dedes bagiku adalah
lambang keteguhan tekadku. Kalau aku tidak mampu
mempertahankannya maka dalam persoalan-persoalan yang lain aku
pun akan selalu gagal.”
Dengan demikian, maka gerak Kuda Sempana menjadi semakin
mantap. Kepada Wiraprana, kepada Mahisa Agni ia pernah berkata
bahwa bagi seorang kesatria, wanita sama harganya dengan pusaka
dan nyawanya. Karena itu, maka apapun yang akan ditempuh,
maka Ken Dedes harus menjadi miliknya.
Ketika Matahari merambat semakin tinggi di langit, maka angin
lembah pun semakin cepat mengalir, mendorong awan yang putih
kelabu mengalir ke utara. Segumpal-segumpal. Dan kadang-kadang
menyapu wajah matahari yang suram, seolah-olah matahari itu
ingin menyembunyikan wajahnya dalam kecemasan melihat
perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru.
Demikian perkelahian itu mulai, demikian segenap perhatian
tercurah ke dalam arena. Beberapa perwira yang semula acuh tak
acuh saja, kini terpaksa melihat, bahwa keduanya tidak hanya
sekedar bermain-main.
Tunggul Ametung sendiri, seakan-akan sebuah patung batu yang
diam membeku. Namun betapa tegang wajahnya memandangi
perkelahian itu. Semula, sebenarnyalah bahwa ia hampir saja
meloncat ke dalam arena dan mendorong Witantra pergi,
seandainya Witantra tidak segera mulai dengan serangannya.
Akuwu sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan, apakah dengan
demikian namanya tidak akan terganggu karenanya. Sebab
beberapa orang akan tetap menganggap bahwa Akuwu Tunggul
Ametung bertempur dengan tangannya hanya untuk mendapatkan
seorang gadis desa. Tetapi kini, akuwu masih memiliki kewibawaan.
Seandainya yang terjadi itu sebuah sayembara tanding, maka
seseorang perwira prajuritnya telah melakukan perintahnya.
Seandainya ia berhasil maka namanya akan menjadi semakin baik,
bahwa prajuritnya saja telah mampu menyelesaikan pekerjaan itu.
Apalagi kalau ditanganinya sendiri.
Tetapi apapun yang terjadi, maka adalah pasti, bahwa masih
akan ada orang yang mencibirkan bibirnya sambil berkata, “Kenapa
Tunggul Ametung, seorang akuwu yang berkuasa di Tumapel, telah
terlibat dalam persoalan seorang gadis dengan pelayan dalamnya
sendiri?”
Namun mungkin ada orang lain yang menjawab, “Tetapi akuwu
tidak berbuat sewenang-wenang. Ia memberi kesempatan kepada
pelayan dalam itu untuk berjuang, meskipun seandainya ia mau,
maka pelayan dalam itu dapat dibunuhnya tanpa sebab.”
Tetapi akuwu tidak dapat berbuat begitu. Meskipun di sudut
hatinya yang paling jauh tersimpan pula kata-kata itu,
mempergunakan kekuasaan untuk membunuh Kuda Sempana,
namun beberapa orang telah menjadi saksi, bahwa akuwu sendiri
telah mengantarkan Kuda Sempana mengambil gadis itu ke
Panawijen.
Perkelahian antara Witantra dan Kuda Sempana itu semakin lama
menjadi semakin seru. Masing-masing adalah seorang yang
mendalami ilmu tata perkelahian dengan tekunnya. Meski pun umur
Witantra terpaut beberapa tahun lebih tua, namun tenaga mereka
berdua masih dalam tingkat yang sedang berkembang. Baik
Witantra maupun Kuda Sempana. Karena itulah maka keduanya
menjadi seperti sepasang burung rajawali yang bersabung di udara.
Saling menyambar dan saling menerkam. Lontar melontar dalam
kekuatan orang-orang muda. Desak mendesak silih berganti.
Meskipun demikian, Akuwu Tunggul Ametung selalu mengumpat
di dalam hatinya. Ia melihat betapa gerak Witantra terlalu lamban.
Kalau dirinya sendiri yang berada di arena itu, maka ia sudah akan
menemukan beberapa kesempatan untuk menjatuhkan, atau
setidak-tidaknya menekan lawannya. Dan sebenarnyalah akuwu
dapat melakukannya. Ia tidak hanya sekedar dapat mencela, sebab
akuwu sendiri mampu bergerak secepat burung walet yang
menyambar ikan di wajah lautan. Namun apabila Tunggul Ametung
memperhatikan Kuda Sempana, maka akuwu itu menarik nafasnya
dalam-dalam. Witantra terlalu lamban dibanding dengan lawannya.
Sehingga dengan demikian maka perkelahian itu berlangsung
dalam suasana yang semakin lama semakin tegang. Apalagi Kuda
Sempana semakin lama menjadi semakin kehilangan pertimbangan.
Yang ada di dalam kepalanya tinggallah suatu tekad untuk
menghancurkan lawannya. Bukan saja sekedar mengalahkan,
menundukkan untuk mendapat kemenangan, namun Kuda Sempana
yang marah itu benar-benar ingin mengalahkan lawannya dalam
tingkat yang tertinggi. Mati. Itulah sebabnya ia memeras segenap
kemampuan dan ilmunya. Ia ingin mencengangkan semua orang
yang melihatnya. Seorang pelayan dalam telah berhasil
mengalahkan sampai mati seorang perwira prajurit. Dengan
demikian maka tidak saja ia akan berhasil memiliki seorang gadis
yang telah menjadikannya gila, namun ia akan mendapat tempat
yang baik di hati para pemimpin Tumapel. Tetapi apabila teringat
olehnya, bahwa Witantra itu sedang mewakili Akuwu Tunggul
Ametung, maka hatinya menjadi suram. Ia benar-benar dihadapkan
pada persoalan yang amat pelik. Maju tatu, mundur ajur. Kalau ia
berhasil mengalahkan Witantra, maka apakah akuwu benar-benar
akan memenuhi janjinya? Tetapi apabila ia dapat dikalahkan,
lenyaplah semua impiannya atas seorang gadis yang selama ini
telah membungai lereng Gunung Kawi.
“Persetan dengan keputusan Akuwu nanti!” katanya di dalam
hati, “Namun semua orang yang hadir ini telah mengetahui
persoalan yang sedang terjadi. Kalau Akuwu tidak menepati
janjinya, maka para kesatria akan mengutuknya.”
Karena itulah maka Kuda Sempana benar-benar berkelahi tanpa
pengekangan diri. Setiap kesempatan dipergunakannya sebaikbaiknya
untuk membinasakan lawannya. Ia sama sekali tidak
canggung dan ragu-ragu. Apa saja yang dilakukan meluncur lepas
dengan sekuat tenaganya. Geraknya semakin lama semakin lincah,
menyambar-nyambar tanpa mempertimbangkan, apa yang sedang
dilakukan oleh lawannya.
Witantra yang masih berusaha membatasi semua geraknya,
merasakan tekanan Kuda Sempana semakin lama semakin keras.
Bahkan kemudian ia melihat serangan-serangan Kuda Sempana atas
bagian-bagian tubuhnya yang benar-benar berbahaya. Lambung
leher dan bahkan mata. Witantra yang tenang itu akhirnya merasa
juga, bahwa Kuda Sempana bertempur dalam tingkatan yang
menentukan hidup atau mati.
Witantra menggeram perlahan-lahan. Ia masih saja dijalari oleh
kebimbangan. Apakah ia akan mengimbangi kegilaan Kuda
Sempana itu? Apabila demikian, maka tidak ada bedanya antara
mereka keduanya. Tetapi apabila ia tidak berbuat serupa, dengan
mengekang semua serangan maka ia semakin lama pasti akan di
sudutkan ke dalam kesulitan.
Ketika sekali ia mencoba memandang wajah Akuwu Tumapel,
dilihatnya wajah itu merah padam seolah-olah hampir meledak.
Tunggul Ametung itu menggigit bibirnya sambil mengepalkan kedua
tangannya, yang bahkan sekali-kali memukul kaki-kakinya sendiri.
Witantra menyadari kegelisahan Tunggul Ametung. Akuwu itu
pasti melihat keragu-raguannya. Akuwu itu pasti melihat bahwa ia
dalam kebimbangan. Sehingga karena kebimbangannya itu ia
banyak terdesak. Dan itu menggelisahkan sekali.
(bersambung jilid 11)
Jilid 11
TERNYATA BUKAN SAJA Tunggul Ametung, yang menjadi
gelisah. Beberapa orang perwira menjadi gelisah pula. Namun
sebagian dari mereka sama sekali tidak memikirkan nasib gadis
Panawijen itu apabila Witantra dikalahkan, sebab mereka hampir
tidak tahu menahu persoalan itu. Yang mereka cemaskan,
seandainya Witantra dapat dikalahkan oleh Kuda Sempana, maka
sebagai prajurit-prajurit Tumapel, mereka akan menjadi malu.
Harga diri mereka akan tersinggung karenanya. Mereka menjadi
cemas benar-benar karena nama mereka sendiri. Karena
kepentingan mereka masing-masing. Meskipun di dalam hati mereka
tersimpan juga perasaan heran akan kelincahan Kuda Sempana.
Sebagai pelayan dalam yang mempunyai kedudukan setengah
prajurit itu, Kuda Sempana benar-benar dapat dibanggakan.
Berbeda dengan beberapa pelayan dalam yang hadir di tepi
arena itu, Seperti juga para prajurit, mereka tidak menghiraukan
persoalan yang tengah mereka perjuangkan. Mereka kini hanya
dapat melihat suatu kebanggaan di dalam lingkungannya. Kuda
Sempana ternyata tidak kalah tangkas dan lincahnya, meskipun ia
sedang bertempur melawan seorang perwira prajurit pengawal
istana. Salah seorang dari mereka tidak dapat mengendalikan
perasaannya. Sehingga dengan penuh gelora kebanggaan ia
berbisik kepada seorang pelayan dalam lain yang duduk di
sampingnya, “Lihat, bukankah di lingkungan kita, ada juga seorang
yang tidak kalah tangkasnya dari mereka yang telah disebut prajurit
sepenuhnya?”
“Gila kau!” sahut kawannya itu, “Itu bukan suatu keistimewaan.
Sedang seorang petani, anak pedesaan mampu mengalahkan Kuda
Sempana itu. Bahkan membunuhnya pun ia mampu.”
“Ah. Petani yang mana?”
Kawannya itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku
mendengar dari seorang perempuan tua, keluarga petani itu. Kuda
Sempana pernah diampuninya, meskipun seandainya ia mau, maka
ia akan dapat memenggal leher Kuda Sempana itu dengan
mudahnya.”
Pelayan dalam yang sedang berbangga itu mengerutkan
keningnya. Apakah yang dikatakan kawannya itu sebenarnya telah
terjadi atau hanya kawannya itu menjadi iri hati atas keterampilan
Kuda Sempana.
Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya,
atau perempuan tua itu membuat?”
“Sebenarnya. Kuda Sempana belum apa-apa. Lihat, kalau
Witantra telah dapat menindas keragu-raguannya maka Kuda
Sempana akan segera dapat dilemparkan dari arena.”
“Gila! Apakah kau tidak berbangga atas kemenangan kawan kita
itu?”
“Tidak! Terkutuklah Kuda Sempana itu.”
“Kau iri hati.”
“Tidak. Aku berani melawannya. Aku pernah bertempur dengan
anak pedesaan yang mampu mengalahkan Kuda Sempana itu. Dan
anak muda itu belum mampu mengalahkan aku.”
Pelayan dalam itu berpaling. Ia terkejut ketika dilihat wajah
kawannya yang merah membara. Kawannya itu ternyata adalah Ken
Arok.
Pelayan dalam, kawan Ken Arok yang tidak banyak mengetahui
persoalannya itu menjadi sangat heran. Kenapa Ken Arok seolaholah
menjadi marah melihat perkelahian itu, sehingga tanpa
sesadarnya ia bertanya, “Kenapa kau Ken Arok?”
Ken Arok tidak menjawab. Matanya yang bulat masih saja
memandang perkelahian itu hampir tanpa berkedip.
“Ken Arok,” berkata kawannya, “bukankah dengan demikian
maka orang tidak akan dapat menganggap kami orang-orang banci
yang tidak berarti di halaman istana ini, selain menjadi pesuruh.
Mengantarkan perintah Akuwu untuk melihat gedung-gedung
perbendaharaan, memelihara pusaka-pusaka dan pekerjaanpekerjaan
yang semacamnya. Bukankah dengan demikian mata
seluruh penduduk Tumapel akan terbuka, bahwa kami pun
prajuritprajurit
yang mampu mengerahkan tenaga dan bertempur seperti
selayaknya prajurit.
“Tidak perlu!” sahut Ken Arok pendek.
Kawan itu menjadi semakin heran. Dengan dahi berkerut-kerut ia
bertanya pula, “Kenapa? Apakah kita tidak memiliki kebanggaan
atas kesatuan kita?”
“Kali ini yang penting bukan kesatuan. Bukan seorang pelayan
dalam dan seorang prajurit. Kalau kau berpikir demikian, dan para
prajurit itu juga berpikir seperti kamu, maka akan segera timbul
pertengkaran antara kita.”
“Bukan begitu Ken Arok. Bukan begitu.”
“Sudahlah. Lihat, sekarang Witantra sudah agak maju. Ia sudah
hampir berhasil menindas kebimbangannya. Ia terlalu jujur dan baik
hati.”
Kawannya masih tetap tidak dapat mengerti, kenapa Ken Arok
tidak berpihak kepada Kuda Sempana. Sehingga sekali lagi ia
bertanya, “Kenapa kau berpihak pada perwira itu, apakah sebentar
lagi akan berpindah ke kesatuannya?”
“Tidak. Tetapi aku melihat persoalannya. Bukan siapakah yang
sedang melakukan. Aku tidak peduli apakah Kuda Sempana itu dari
kesatuanku, apakah ia Adikku atau ayahku sekalipun. Ia berada di
pihak yang salah.”
Kawannya mengerutkan keningnya. Sekali ia menarik nafas.
Kenapa Kuda Sempana bersalah. Kalau ia bersalah, maka Akuwu
pasti akan menangkap dan menghukumnya. Pasti ada sesuatu
sebab, kenapa Akuwu memberinya kesempatan. Tetapi ketika ia
hampir membuka mulutnya, terdengar Ken Arok berdesis tajam,
“Jangan bicara lagi. Aku tidak senang mendengarnya. Sebab kau
berpihak tanpa mengetahui persoalannya. Sedang aku berpihak
pada kebenaran. Nanti kita akan bertengkar sendiri. Besok kalau
kau sudah mendengar cerita yang sebenarnya kau akan sependapat
dengan aku.”
Orang itu mengurungkan niatnya. Ketika ia memperhatikan
perkelahian di arena, maka kembali keningnya berkerut. Perkelahian
itu telah berubah sama sekali. Ia tidak melihat lagi Kuda Sempana
mendesak Witantra terus menerus. Kini yang dilihatnya perkelahian
itu menjadi agak seimbang. Hanya sekali-kali Kuda Sempana
berhasil mendorong Witantra surut dan mencoba memburunya.
Namun sesaat kemudian Witantra telah menemukan
keseimbangannya kembali, sehingga dengan cepatnya ia
mendahului menyerang dan segera ia mendapatkan tempatnya
kembali.
Pelayan dalam kawan Ken Arok, mengerutkan keningnya. Ia
mulai ragu-ragu dengan penglihatannya. Apakah benar Witantra
akan dapat mengalahkan Kuda Sempana? Namun kemungkinan itu
masih jauh. Sekali-kali ia masih melihat Kuda Sempana menguasai
arena. Karena itu ia menarik nafas dalam-dalam.
Bahkan kembali ia bergumam, “Kedudukan Kuda Sempana masih
cukup baik.”
Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia menggigit bibirnya untuk
menahan kejengkelannya. Namun kawannya itu agaknya sama
sekali tidak puas dengan pendirian Ken Arok, sehingga ia berkata,
“Huh, aku sangka, Witantra itu tidak akan bertahan lebih lama. Ia
hanya sekedar orang yang berlagak sakti. Lihat itu Adik-adik
seperguruannya yang nakalnya bukan main. Kebo Ijo. Untung ia
tidak jadi kawin dengan Adikku. Sekarang bakal istrinya
hampirhampir
tak pernah diperhatikannya lagi. Ia sudah akan kawin
meskipun masih terlalu muda karena kebengalannya. Masih
terpandanglah Adiknya yang lain, Mahendra.”
Ken Arok menjadi semakin jemu mendengar kata-kata itu. Kalau
tidak di lingkungan orang banyak maka mulut orang itu pasti sudah
disumbatnya. Namun kini ia hanya dapat menggeser untuk
beberapa jengkal.
Tetapi orang itu benar-benar menjengkelkan. Ia bergeser pula
mengikutinya sambil berkata, “He, Ken Arok. Apakah kau ingin
supaya kau yang mengganti Kuda Sempana bertempur melawan
Witantra supaya kau mendapat hadiah itu?”
Ken Arok menggeram. Akhirnya ia menjawab, “Aku ingin
menggantikan Witantra dan mencekik leher Kuda Sempana.”
Kawannya tertawa perlahan. Desisnya, “Kau benar-benar iri.
Kalau tidak kau tidak akan berbuat begitu.”
Ken Arok hampir tak dapat menguasai dirinya. Sesaat ia bingung
bagaimana caranya membungkam mulut kawannya itu. Tiba-tiba
itu, tangannya yang kuat itu perlahan-lahan menyobek tikar tempat
duduknya, dan dari bawah tikar itu diambilnya sebuah batu.
Ketika kawan di sampingnya masih berkata pula, Ken Arok
memotongnya, “Kau mau diam atau tidak?”
Orang itu bahkan tertawa meskipun perlahan-lahan. Kemudian
jawabnya, “Itu adalah urusanku. Apakah aku mau berkata terus,
atau aku mau diam.”
“Tetapi kau mengganggu aku.”
“Salahmu. Kalau kau terasa terganggu.”
“Jangan tunggu sampai aku membungkam mulutmu.”
Orang itu membelalakkan matanya dengan marahnya. Bahkan ia
berkata, “Jangan sombong orang baru. Aku bunuh kau nanti!”
Kini Ken Arok benar tidak dapat menahan dirinya. Sehingga
dengan geramnya ia menunjukkan sebuah batu di tangannya itu
sambil berkata, “Lihat, inilah mulutmu itu.”
“Mau apa kau?” tantang kawannya.
Ken Arok tidak menjawab, tetapi tiba-tiba kedua tangannya
meremas batu di tangannya sehingga pecah menjadi tiga.
Ternyata karena luapan kemarahannya, Ken Arok telah
menghimpun kekuatannya di dalam tangannya itu, sehingga dengan
satu gerakan yang luar biasa dahsyatnya, tangannya berhasil
memecahkan batu itu tanpa berkisar dari tempat duduknya.
Kawannya, pelayan dalam yang duduk di samping, yang dengan
bicaranya telah membakar kemarahan Ken Arok itu terkejut bukan
alang kepalang. Seperti melihat hantu di bawah terik matahari, ia
membelalakkan matanya.
“Batu itu pecah,” gumamnya di dalam hati, “ya, pecah.”
Dan sepasang mata ini telah melihat.
Tiba-tiba tubuhnya menggigil menahan perasaannya yang
bergolak itu. Hampir tidak mungkin terjadi, dan ia tidak akan
percaya seandainya orang lain yang mengatakan kepadanya, bahwa
sambil duduk tepekur Ken Arok mampu memecahkan batu-batu
dengan jari-jarinya. Tetapi itu telah terjadi.
Mulut orang itu bergetar, namun ia tidak dapat mengucapkan
sepatah kata pun. Ketika Ken Arok meletakkan pecahan batu itu di
pangkuannya, orang itu sama sekali tidak mampu untuk menerima
dengan tangannya. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok berdesis,
“Nah. Lihat batu itu. Kalau kau berkata sepatah kata lagi, apalagi
memuji Kuda Sempana atau mengancam membunuh aku, maka
mulutmulah yang akan aku remas seperti batu itu. Aku yakin bahwa
mulutmu pasti lebih lunak daripada batu. Bagaimana?”
Seperti dikuasai oleh kekuatan yang tak dimengerti maka orang
itu menganggukkan kepalanya berkali-kali, seakan-akan ia ingin
meyakinkan, bahwa ia benar-benar tidak akan berkata sepatah kata
pun lagi.
“Lihat arena itu!” geram Ken Arok.
Orang itu mengangkat wajahnya, dan dilihatnya apa yang terjadi
di arena.
Kembali ia terkejut. Keseimbangan perkelahian itu benar-benar
telah berubah. Ternyata, Witantra yang mendapat tekanan terus
menerus tanpa terkendali, akhirnya sedikit demi sedikit
kesabarannya berguguran seperti batu padas di pinggir lautan.
Sedikit demi sedikit gelombang menggamitnya, siang dan malam.
Sehingga akhirnya, selapis demi selapis, betapapun tipisnya, batu
padas itu pun akan rontok.
Demikianlah Witantra kemudian telah hampir kehilangan
kesabarannya. Dengan sekuat tenaga ia telah berhasil menindas
keragu-raguannya. Namun meskipun demikian, ia sama sekali tidak
kehilangan ketenangan dan kesadarannya, bahwa apa yang
dilakukan bukanlah suatu nyala dendam di dalam hati, bukan suatu
keharusan untuk memusnahkan, tetapi sekedar untuk menundukkan
hati Kuda Sempana yang keras sekeras batu hitam.
Demikianlah kemudian ternyata, bahwa prajurit perwira
pengawal istana itu dapat menguasai keadaan sebaik-baiknya.
Betapapun dahsyatnya tenaga dan kemampuan Kuda Sempana,
namun ilmu yang tersimpan di dalam diri Witantra mampu
mengimbanginya. Witantra adalah seorang yang memiliki
perbendaharaan pengalaman yang sangat luas. Perang tanding,
gelar-gelar perang dan bahkan dalam perang-perang berubuh yang
kacau. Itulah sebabnya, maka ia mempunyai banyak cara untuk
menundukkan musuh-musuhnya.
Kali ini Witantra menempuh cara yang sangat sederhana.
Dibiarkannya lawannya bekerja mati-matian. Dilayaninya lawan itu
secukupnya, asal dirinya sendiri tidak terjatuhkan karenanya. Dan
kemudian dibiarkannya lawan itu menjadi sedemikian bernafsu.
Akhirnya lawannya akan berhenti kelelahan.
Demikianlah maka setiap kali Witantra hanya memancing nafsu
Kuda Sempana yang sedang meluap-luap. Sekali ia menyerang,
menyentuhnya apabila mungkin, atau menekannya seketatketatnya.
Apabila Kuda Sempana kemudian melepaskan semua
kekuatan, kemampuan dan tenaganya, maka dibiarkannya Kuda
Sempana menghabiskan nafasnya sendiri. Witantra melawannya
sekedar untuk membebaskan dirinya dari serangan yang berbahaya.
Beberapa orang melihat cara yang ditempuh Kuda Sempana itu.
Akuwu Tumapel pun melihat pula. Dalam kebingungannya Akuwu
Tumapel tidak dapat menilai, apakah cara itu adalah cara yang
sebaik-baiknya. Sekali-kali ia berpaling, dicarinya orang-orang
yang
akan dapat diajaknya berbicara untuk mengurangi ketegangan yang
menghimpit perasaannya. Tetapi orang-orang yang duduk di
belakangnya adalah orang-orang yang sama sekali tidak tahu
menahu persoalan itu dengan baik, sehingga akuwu takut,
seandainya ada kata-katanya yang terloncat tanpa disadarinya.
Tetapi agak jauh di belakang, tiba-tiba dilihatnya Ken Arok
dengan wajah yang tidak kalah tegangnya dengan wajah Tunggul
Ametung sendiri. Karena itu dengan serta-merta, Tunggul Ametung
melambaikan tangannya, memanggil Ken Arok untuk maju dan
duduk di sampingnya.
Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Sekali-sekali ditebarkannya
pandangan matanya berkeliling. Ia mengerutkan keningnya ketika
dirasanya semua mata sejenak melepaskan perkelahian di arena
dan memandang kepadanya.
Sekali lagi Tunggul Ametung melambaikan tangannya. Dan Ken
Arok tidak dapat menolaknya. Apabila ia tidak segera datang, maka
Tunggul Ametung itu pasti akan berteriak-teriak membentaknya.
Karena itu, sambil berjongkok ia beringsut maju. Melampaui
beberapa pemimpin pelayan dalam dan kemudian beberapa perwira
dari berbagai kesatuan. Akhirnya ia duduk di belakang Tunggul
Ametung. Namun terasa Tunggul Ametung itu menyambar
tangannya dan menariknya dekat di sampingnya.
Alangkah kuatnya tangan itu. Ketika jari-jari Tunggul Ametung
menyentuhnya, serasa sebuah himpitan besi melingkari tangannya.
Sehingga sebelum ia menyadari keadaannya, ia sudah terpaksa
beringsut maju.
Ken Arok menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena ia duduk di
samping akuwu, di muka para perwira dan pimpinan pemerintahan,
namun demikian, diketahuinya, betapa kuatnya tangan Akuwu
Tunggul Ametung. Betapa tenaga yang tersirat dan di dalam
tubuhnya.
Baru Sejenak kemudian, tubuh Ken Arok telah dibasahi oleh
keringat dinginnya. Sebagai seorang pelayan dalam dari tingkat
yang paling rendah, maka tiba-tiba ia harus duduk di samping
Akuwu Tunggul Ametung, di muka para perwira dan pimpinan
pemerintahan. Betapapun juga hati Ken Arok bergetar semakin
cepat. Mungkin akuwu lebih mengenalnya dari kawan-kawannya,
dan itu hanya karena seorang pendeta langsung menyerahkannya
untuk menghamba kepada Tunggul Ametung sendiri. Tetapi untuk
kemudian langsung duduk di sampingnya dalam keadaan yang
resmi itu benar-benar mendebarkan.
Ternyata beberapa orang pun menjadi heran, kenapa Akuwu
memanggil seorang pelayan dalam yang belum lama
menghambakan diri di Tumapel. Namun segera mereka kehilangan
perhatian atas persoalan itu, sebab mereka semuanya telah
mengenal tabiat dari Akuwu Tunggul Ametung.
Di samping kegelisahannya tentang dirinya, Ken Arok tak habis
pikirnya, kekuatan apakah yang menyebabkan tangan Akuwu itu
serasa sekeras besi. Seorang pelayan dalam, kawannya, hampir
mati beku melihat jari-jarinya mampu memecahkan sebutir batu.
Apalagi kalau dirasakannya betapa keras dan kuatnya tangan
Tunggul Ametung dalam keadaan yang wajar itu. Bagaimanakah
kira-kira kekuatan tangan itu apabila dilambari oleh pemusatan
kekuatan lahir dan batinnya. Mustahil seorang akuwu tidak
menyimpan ilmu yang kuat di dalam dirinya.
“Kalau Akuwu Tunggul Ametung sendiri yang tampil di arena,
maka aku kira Kuda Sempana akan menjadi lumat,” pikir Ken Arok.
Sementara perkelahian masih berlangsung terus. Witantra masih
membiarkan lawannya menyerangnya dengan sepenuh nafsu
kemarahannya. Witantra masih melayaninya dengan cara yang
sama, membiarkan lawannya berhenti kelelahan.
Akuwu Tunggul Ametung menggeram perlahan dan demikian
katanya kepada Ken Arok perlahan-lahan, “Apa yang kau lihat dalam
perkelahian itu?”
Ken Arok menjadi bingung. Bagaimana ia harus menjawab
pertanyaan itu. Apakah sebenarnya yang dilihatnya? Kuda Sempana
bertempur mati-matian dan Witantra berjuang untuk
mempertahankan dirinya?
Sekali lagi Tunggul Ametung mendesaknya, “He apa yang kau
lihat? Apakah kau tidur?”
Ken Arok tidak dapat menjawab lain daripada yang dilihatnya.
Karena itu dengan terburu-buru ia berkata, “Hamba melihat Kakang
Witantra mencoba mengalahkan lawannya dengan memberinya
kesempatan berbuat sebanyak-banyaknya sehingga kemudian ia
akan menjadi sangat lelah.
“Ya. Kedua-duanya tolol!” geram Tunggul Ametung, “Alangkah
bodohnya Kuda Sempana. Ia dapat berbuat lain daripada
menghabiskan nafasnya. Dan alangkah bodohnya Witantra. Ia dapat
mempersingkat perkelahian itu dan ia akan cepat selesai pula.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Pendapat Akuwu
Tunggul Ametung itu tepat benar menurut penilaian Ken Arok.
Sekali ia berpaling memandangi wajah akuwu yang tegang, namun
kemudian kembali matanya terlempar ke arena, kepada Witantra
dan Kuda Sempana yang lagi memeras tenaganya.
Tetapi, Witantra dan Kuda Sempana sendiri ternyata berada
dalam keadaan yang berbeda. Meskipun di dalam dada Witantra
kadang-kadang timbul pula keinginannya untuk segera mengakhiri
perkelahian, namun untuk menundukkan Kuda Sempana bukanlah
pekerjaan yang terlalu mudah baginya. Sekali-kali ia telah mencoba
pula, menyerang seperti badai menghantam gunung meskipun ia
masih selalu diganggu oleh kesadarannya bahwa ia tidak harus
mencederai lawannya, namun Kuda Sempana mampu saja
menyelamatkan dirinya, dan masih saja berhasil bertahan dan
menyerangnya. Meskipun demikian terasa oleh Witantra bahwa
agaknya Kuda Sempana tidak dapat mengendalikan dirinya sehingga
geraknya seakan-akan mengerahkan segenap kemarahan dan sakit
hatinya. Kecerobohan yang kemudian dipergunakan oleh Witantra.
Dalam pada itu Kuda Sempana yang sedang berkelahi matimatian
itu, benar-benar kehilangan pengamatan. Bagi mereka yang
duduk di luar arena, segera dapat melihat, bahwa Witantra
menunggunya sampai tenaganya terperas habis. Tetapi bagi Kuda
Sempana sendiri yang berada di arena, yang melihat perkelahian itu
tanpa jarak, tidaklah segera ia dapat merasakan siasat Witantra
itu.
Apalagi Witantra melakukan dengan baik dan cermat. Sekali-kali
Witantra ia memancingnya dalam pemerasan tenaga dan nafas,
namun kemudian dibiarkannya Kuda Sempana menyerangnya
bertubi-tubi.
Ia hanya berusaha menghindari serangan-serangan itu dan
mencoba membiarkan Kuda Sempana menjadi semakin garang.
Namun perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat
pula. Kuda Sempana benar-benar telah mengerahkan segenap
kemampuan dan kecakapannya. Sehingga beberapa orang yang
berada di luar arena menjadi semakin tegang. Apakah Witantra
akan tetap pada pendiriannya? Membiarkan Kuda Sempana berhenti
dengan sendirinya?
Tetapi keadaan ternyata segera berubah. Witantra semakin lama
semakin kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.
Serangan-serangan Kuda Sempana mengalir seperti banjir bandang.
Dilandanya semua yang menghalang-halanginya. Semakin lama
semakin dahsyat, dan semakin lama derunya semakin cepat.
Sehingga kemudian Witantra pun selalu terdesak.
Akhirnya Witantra tidak dapat bertahan dengan caranya.
Meskipun ia akan dapat lebih lama bertahan, namun apabila pada
suatu ketika serangan Kuda Sempana benar-benar berhasil
mengenainya di tempat-tempat yang berbahaya, maka ia pasti akan
kehilangan semua kesempatan. Karena itu, maka tiba-tiba ia
mengubah caranya. Meskipun ia tidak ingin mencelakakan Kuda
Sempana, tetapi melawan seseorang yang bertempur di antara
hidup dan mati, maka adalah bukan salahnya apabila ia terpaksa
mengerahkan segenap kemampuan yang ada pula.
Itulah sebabnya kemudian Witantra menggeram dan dengan
dahsyatnya ia mulai membalas setiap serangan dengan serangan.
Perubahan pada tata gerak Witantra benar-benar menarik
perhatian mereka yang berada di luar arena. Mereka melihat bahwa
Witantra berusaha untuk menemukan keseimbangan dalam
perkelahian itu. Namun dengan demikian, maka dapat terjadi
kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tidak dikehendaki.
Dalam perkelahian yang sama-sama keras dan tegang, maka
perkelahian itu akan benar-benar menjadi perang tanding dalam
tingkat yang tertinggi. Sampai mati.
Witantra semula sama sekali tidak menghendakinya. Namun ia
tidak mau menjadi korban karenanya. Ia menghindari pembunuhan,
tetapi ia juga tidak mau terbunuh dalam arena itu.
Serangan-serangan Witantra yang kemudian menjadi semakin
dahsyat, terasa pula oleh Kuda Sempana. Anak muda yang semula
merasa bahwa ia akan berhasil mengusai lawannya, tiba-tiba
menjadi cemas dan ragu-ragu. Kenapa tiba-tiba saja Witantra
mampu melawan semua serangan-serangannya dan bahkan dengan
dahsyatnya segera menyerang kembali?
Dalam kecemasan itu, Witantra mendesaknya terus. Bahkan
kemudian terdengar Witantra berdesis, ”Sampai kapan perkelahian
itu akan berlangsung Adi?”
Kuda Sempana menggeram. Ia tidak peduli apa saja yang akan
terjadi atas dirinya. dan diri lawannya sehingga karena itu ia
menjawab, “Sampai setiap orang tahu bahwa memang akulah yang
berhak atas gadis itu.”
“Jangan keras kepala!” sahut Witantra, “Aku akan memperketat
serangan seterusnya, apabila kau tidak segera mengakui, bahwa
kau akan melepaskan niatmu memiliki Ken Dedes itu.”
“Setan!” hampir saja Kuda Sempana berteriak, namun untunglah
bahwa suaranya seolah-olah tersangkut di kerongkongan. Namun
dengan demikian kemarahannya menanjak sampai ke puncak ubunubunnya.
Sehingga tanpa sesadarnya, Kuda Sempana telah benarbenar
memeras segenap tenaga yang ada di dalam dirinya.
Tetapi ternyata Kuda Sempana benar-benar tidak mampu
melampaui ketangguhan tenaga Witantra yang mempunyai
pengalaman yang sangat luas itu. Apalagi ketika Witantra tidak lagi
sekedar menunggu Kuda Sempana kelelahan, setelah ia
menentukan tekad, bahwa apabila terjadi sesuatu di dalam arena
itu, ia sama sekali tidak menghendakinya. Namun adalah mungkin
sekali bahwa bermain air akan dapat menjadi basah.
Meskipun demikian, Witantra masih saja menyadari keadaan. Ia
benar-benar tidak ingin mencelakakan lawannya, apalagi
membunuhnya. Ia hanya ingin menjatuhkannya, dan apabila
terpaksa melukainya, maka luka itu akan segera dapat
disembuhkan.
Tetapi tidak demikian dengan Kuda Sempana. Ia telah kehilangan
segala macam ketenangan berpikir. Kini ia merasa bahwa tenaganya
semakin lama menjadi semakin surut sebelum ada tanda-tanda
bahwa ia akan segera mampu mengalahkan Witantra, bahkan
Witantra itu nampaknya semakin lama menjadi semakin garang.
Karena itu, setelah ia kehabisan segenap pertimbangannya, setelah
ia kehilangan setiap kesempatan untuk memenangkan pertandingan
itu, maka sampailah ia pada kesimpulan yang berbahaya. Ia kini
sedang melakukan perang tanding, sehingga apapun yang
dilakukan, yang bersumber pada dirinya, baginya sama sekali tidak
menyalahi ketentuan dan kejantanan. Karena setiap kemampuan
yang ada pada dirinya adalah bagian dari dirinya itu, dirinya yang
sedang melangsungkan perang tanding di arena.
Maka dengan demikian, Kuda Sempana sampai pada kesimpulan
bahwa suatu ketika akan dipergunakannya kemampuannya yang
tertinggi.
Tunggul Ametung yang menyaksikan perubahan-perubahan di
dalam tata gerak Witantra, mengangguk-anggukkan kepalanya.
Wajahnya kini tidak lagi setegang beberapa saat sebelumnya,
seakan-akan ia telah menemukan keyakinan, bahwa Witantra akan
dapat menguasai keadaan betapapun lambatnya.
Semula Tunggul Ametung benar-benar tidak telaten melihat cara
Witantra bertempur. Menunggu, membiarkan lawannya berbuat
terlampau banyak. Itu membuang waktu dan waktu baginya adalah
sangat penting pada saat-saat itu. Karena tiba-tiba saja ia ingin
melihat, apakah gadis yang sedang sakit itu telah menjadi
berkurang, atau bahkan menjadi semakin keras.
“Mudah-mudahan dukun tua itu mampu mengurangi
penderitaannya,” gumamnya di dalam hati.
Namun dengan demikian, nafsunya untuk segera melihat
perkelahian itu berakhir menjadi semakin besar. Ia ingin segera
meninggalkan tempat itu dan pergi ke sentong tengen melihat gadis
Panawijen yang telah menggemparkan Istana Tumapel itu.
Ketika Akuwu Tunggul Ametung itu berpaling, dilihatnya Ken
Arok menarik nafas dalam-dalam. Ken Arok itu pun segera
menemukan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkelahian
itu. Karena itu, maka ia pun menjadi berlega hati.
“Apa?” desis Tunggul Ametung.
Ken Arok terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga tanpa
sesadarnya ia menyembah, “Ampun Tuanku. Hamba tidak apa-apa.”
“Ada sesuatu yang kau lihat?”
“Hamba Tuanku.”
“Witantra mau mati?”
“Tidak Tuanku. Kakang Witantra mengubah tata geraknya.”
“Anak yang bodoh itu masih saja membuang-buang waktu. Ia
takut Kuda Sempana lecet kulitnya. Apa pedulinya kalau Kuda
Sempana sendiri bertempur dengan sepenuh tenaganya, bahkan
dengan kasar dan keras.”
Ken Arok tidak menjawab. Ia hanya dapat menganggukanggukkan
kepalanya.
Namun tiba-tiba mata Ken Arok itu pun terbelalak. Bukan saja
Ken Arok tetapi hampir semua orang yang berada di tepi arena itu.
Apalagi Tunggul Ametung sendiri. Sesaat ia terdiam seperti patung,
namun kemudian mulutnya berdesis, “Gila, Kuda Sempana itu!”
Tetapi Kuda Sempana berbuat terus. Ia sudah bertekad untuk
membunuh atau dibunuh, sehingga karena itulah maka tidak ada
pilihan lain daripada melepaskan puncak kesaktiannya, aji Kala
Bama.
Apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana benar-benar
mengejutkan para perwira dan kesatria yang berada di luar arena.
Segera mereka memaklumi apa yang akan dilakukan oleh Kuda
Sempana. Sebagian dari mereka menjadi cemas, heran dan
sebagian lagi merasa aneh bahwa Kuda Sempana memiliki kekuatan
yang akan disalurkan lewat sebuah ilmu yang pasti dahsyat sekali.
Namun mereka masih harus menilai, sampai sejauh mana kekuatan
itu dapat menembus kekuatan lawannya.
Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa menahan nafasnya.
Mereka yang merasa dalam dirinya tidak memiliki rangkapan apapun
selain kekuatan-kekuatan tenaganya serta keterampilan geraknya
menjadi ngeri. Apakah Witantra akan mampu melawan Kuda
Sempana dalam puncak kekuatannya. Mereka hanya mengharap
keterampilan dan kelincahan Witantra, sehingga ia mampu
menghindari setiap sentuhan dari kekuatan yang akan dipancarkan
oleh lawannya.
Ketika Kuda Sempana merentangkan tangannya dan kemudian
sekali meloncat ke udara sambil menggeram mengerikan, maka
semua orang menjadi tegang. Bahkan demikian tegangnya Akuwu
Tunggul Ametung, sehingga tanpa sesadarnya, akuwu itu bangkit
berdiri dengan serta-merta dan gigi gemeretak. Lamat-lamat
terdengar suaranya yang seolah-olah ditelannya kembali, “Kala
Bama.”
Sebenarnya Tunggul Ametung adalah seorang sakti yang luas
pengetahuan serta pengalamannya, sehingga dengan gerak-gerak
pemusatan tenaga, segera ia mengenal bahwa Kuda Sempana telah
menyiapkan sebuah ilmu yang mengerikan, Kala Bama.
Dengan cemasnya Tunggul Ametung memandangi Witantra yang
betapa terkejutnya melihat lawannya memusatkan segenap
kekuatan lahir batinnya dalam sebuah aji yang dahsyat. Sekilas
Witantra melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri dan Ken Arok
menegakkan kepalanya dengan mata yang terbelalak. Disadarinya
apa yang sedang dihadapinya. Ternyata Kuda Sempana benar-benar
telah menempatkan dirinya dalam pertempuran antara hidup dan
mati.
“Alangkah mahalnya nilai gadis itu bagi Kuda Sempana,” desis
Witantra di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat membiarkan
dirinya binasa. Tidak dapat membiarkan dirinya lumat digilas oleh
nafsu Kuda Sempana yang menyala-nyala. Nafsu untuk menguasai
apa saja yang dikehendakinya tanpa mempertimbangkan keperluan,
hak dan kepentingan orang lain.
Witantra adalah seorang prajurit yang pilih tanding, Seorang
yang hampir seluruh hidupnya diserahkan dalam satu perjuangan
dalam lingkungan keprajuritan. Karena itu, maka adalah sudah
diketahuinya, sudah diduganya, bahwa suatu ketika ia akan
berhadapan dengan bahaya yang mengancam jiwanya. Karena
itulah maka Witantra pun telah menyiapkan dirinya menghadapi
bahaya-bahaya yang demikian.
Demikianlah, ketika ia melihat Kuda Sempana menyiapkan dirinya
dalam puncak ilmunya, maka Witantra pun segera merendahkan
dirinya pada kedua lututnya. Digenggamnya kedua tangannya dan
disilangkannya kedua lengannya di muka dadanya. Sesaat Witantra
terpaku di tempatnya, seolah-olah kedua kakinya menghunjam ke
dasar bumi. Wajahnya menegang, dan tubuhnya seperti menjadi
kejang. Namun sesaat kemudian terpancarlah dari wajahnya,
seakan-akan ungkapan dari kekuatan yang terhimpun di dalam
dirinya.
Ketika Tunggul Ametung melihat sikap dan kemudian wajah
Witantra yang tegang itu, tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam.
Kengerian yang membayang di matanya kini telah berkurang.
Dengan demikian, maka Witantra pun memiliki bekal untuk melawan
aji Kala Bama, dan bahkan Tunggul Ametung itu pun berdesis
meskipun seolah-olah hanya di dalam mulutnya, “Ayolah Witantra,
apapun kekuatanmu itu, lawanlah Kala Bama dengan sekuat tenaga.
Bukankah kau tengah menyiapkan aji Bajra Pati.”
Namun waktu seakan-akan berjalan cepat sekali. Yang mereka
lihat, kemudian adalah Kuda Sempana menggeram dahsyat dan
dengan sebuah loncatan yang cepat, secepat petir meloncat di
langit, tangannya menyambar dada Witantra.
Witantra masih tegak seperti tonggak. Ia sama sekali tidak
berkisar dari tempatnya. Namun ketika ia melihat Kuda Sempana
seperti terbang memekik dari udara menerkam dirinya, maka
kembali tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Kedua tangannya
yang bersilang itu digerakkannya beberapa jari ke depan
menyongsong tangan Kuda Sempana yang menyambarnya dengan
dahsyatnya.
Sesaat kemudian terjadilah benturan antara keduanya. Kala
Bama melawan kekuatan yang terpancar dari tubuh Witantra dalam
lambaran aji yang diterima dari gurunya, Bajra Pati.
Benturan itu benar-benar menggeletarkan setiap hati mereka
yang menyaksikannya. Benturan antara dua kekuatan yang dahsyat,
dua kekuatan yang sukar dicari tandingannya. Dan di arena itu, di
belakang istana, kedua kekuatan itu telah berbenturan.
Kuda Sempana yang telah menjadi mata gelap dan melontarkan
kekuatannya yang terakhir, mengharap bahwa dengan demikian ia
akan segera dapat mengakhiri perkelahian yang menjemukan itu. Ia
mengharap, meskipun ia terpaksa membunuh Witantra, namun Ken
Dedes akan tetap menjadi miliknya. Seandainya akuwu kemudian
mengingkari janjinya dan bahkan menangkapnya, maka namanya
akan menjadi buah bibir dan semua orang akan mengaguminya
sebagai seorang pahlawan dalam bercinta. Ia telah membuktikan
bahwa seorang wanita bagi kesatria sama harganya dengan pusaka
dan nyawanya.
Tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba ia melihat sikap
Witantra yang meyakinkan. Namun ia masih tidak percaya bahwa
ada orang lain kecuali anak Panawijen yang gila, Mahisa Agni, yang
mampu melawan aji Kala Bama.
Tetapi ternyata, demikian tangannya menyentuh tangan
Witantra, terasa seakan-akan tangannya itu membentur benteng
baja. Demikian hatinya berdesir tajam, demikian ia menyadari,
bahwa kekuatan Witantra ternyata mampu mengimbanginya, seperti
kekuatan Mahisa Agni seakan-akan telah melumpuhkannya
beberapa hari yang lampau. Sesaat matanya menjadi gelap
kunangkunang.
Meskipun demikian ia masih melihat Witantra terdorong
dan terhuyung-huyung ke belakang.
Tetapi Kuda Sempana tidak melihat apa yang terjadi dengan
Witantra seterusnya. Tiba-tiba saja dadanya serasa menjadi sesak,
dan nafasnya seakan-akan tersumbat.
Kuda Sempana memejamkan matanya ketika langit seolah-olah
runtuh menimpa kepalanya. Sekali ia merasa dirinya berputar,
kemudian terbanting di atas tanah. Ketika ia berusaha untuk bangkit
kembali, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berhasil
menggerakkan tubuhnya yang menjadi sangat lemah. Seakan-akan
segala otot-ototnya telah terlepas dari kulit dagingnya. Meskipun
demikian ia berusaha sekuat tenaganya, untuk mempertahankan
kesadarannya.
Kuda Sempana masih mendengar suara bergemeremang di
sekitar arena. Suara yang bersahut-sahutan namun tidak jelas
baginya. Ia masih juga merasakan langkah-langkah kaki
mendekatinya. Namun ia masih tetap berdiam diri, mengatur semua
kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya. Memusatkan segenap
pikiran dan perasaan supaya ia tidak menjadi pingsan.
Perlahan-lahan, karena hembusan angin yang lemah, maka
terasa tubuh Kuda Sempana menjadi semakin segar, perlahan-lahan
terasa darahnya yang seolah-olah membeku mengalir kembali
menelusuri urat nadinya. Sedikit demi sedikit kekuatannya terasa
timbul kembali.
Ketika terasa beberapa pasang tangan menyentuhnya dan
mencoba mengangkatnya, Kuda Sempana telah dapat
menggerakkan tangannya. Didorongnya tangan yang akan
membantunya atau mengangkatnya menepi. Dengan sepenuh sisa
tenaganya, Kuda Sempana membuka matanya dan berdesis, “Aku
tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.”
Tangan-tangan yang telah menyentuhnya dan mencoba
mengangkatnya itu pun kemudian serentak melepaskannya.
Beberapa orang yang berdiri di sekitarnya surut selangkah, dan
membiarkan Kuda Sempana mencoba bangkit dan duduk bertelekan
kedua tangannya.
“Aku tidak apa-apa,” desisnya. Meskipun demikian nafasnya
masih mengalir tidak teratur dan matanya serasa masih
berkunangkunang.
Namun ia mengharap bahwa keadaannya masih lebih baik
dari Witantra.
Tetapi ketika memandang orang-orang yang berdiri di sekitarnya,
dadanya bergetar serasa akan pecah. Kembali matanya menjadi
gelap dan hatinya berguncangan sedahsyat ombak didorong prahara
di tengah lautan.
Kuda Sempana menggeram. Di hadapannya berdiri Witantra
tegak di atas kedua kakinya.
“Setan!” geramnya, “Kau tidak mampus Witantra?”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Selangkah ia maju, namun
ketika ia berjongkok di hadapan Kuda Sempana untuk menjawab
pertanyaannya itu tiba-tiba dengan tidak disangka-sangka, Kuda
Sempana menendangnya dengan sekuat tenaga yang masih ada
padanya. Aneh. Aneh. Kuda Sempana yang lemah itu tiba-tiba dapat
melepaskan kekuatan yang cukup besar, sehingga tiba-tiba Witantra
terlempar selangkah dan jatuh menimpa beberapa orang yang
berdiri di belakangnya.
Sebenarnya tubuh Witantra masih belum cukup kuat setelah ia
menerima hantaman yang dahsyat dari kekuatan aji Kala Bama.
Meskipun itu tidak pingsan, dan meskipun ia segera dapat bangkit
kembali setelah jatuh terduduk, namun daya tahannya telah
menjadi jauh berkurang, seakan-akan terperas habis untuk melawan
aji Kala Bama. Itulah sebabnya, maka ketika tanpa
disangkasangkanya,
dadanya terhantam oleh kaki Kuda Sempana betapapun
kekuatan Kuda Sempana sendiri tidak lagi sepenuh kekuatan
wajarnya, namun karena Witantra sama sekali tidak bersedia, maka
serasa dadanya menjadi hancur karenanya. Hantaman itu benarbenar
mengguncangkan kesadarannya. Meskipun ia dapat menerima
pukulan aji Kala Bama, namun pada saat ia sudah siap untuk
menerimanya, dalam lambaran ajinya pula. Tetapi kini tiba-tiba saja
serangan itu menghantam dadanya. Meskipun demikian, meskipun
mata Witantra menjadi berkunang-kunang namun Witantra tidak
menjadi pingsan. Ia merasa beberapa orang berusaha menyangga
tubuhnya dan perlahan-lahan meletakkannya di atas tanah.
Witantra sendiri segera berusaha melawan guncanganguncangan
yang terjadi pada dirinya. Perlahan-lahan namun pasti,
bahwa ia akan segera dapat berhasil.
Mereka yang melihat perbuatan Kuda Sempana itu tiba-tiba
merasa, alangkah liciknya anak muda itu. Betapapun kemarahan
menguasai kepalanya, namun seharusnya ia tidak berbuat demikian.
Akuwu Tunggul Ametung yang melihat perbuatan itu menjadi marah
bukan buatan. Namun ia tertegun, ketika ia melihat seorang anak
muda meloncat seperti tatit ke tengah-tengah arena, menyelusup di
antara beberapa orang yang berdiri mengitari Kuda Sempana. Orang
itu adalah Ken Arok yang kehilangan kesabaran. Tetapi segera ia
diam mematung ketika dilihatnya, setelah melepaskan segenap
kekuatan terakhirnya, justru Kuda Sempana menjadi pingsan.
“Hem,” geram Ken Arok, “untunglah anak itu menjadi pingsan.”
“Kenapa?” bertanya seorang perwira yang berdiri di sampingnya.
Ketika Ken Arok berpaling dan dilihatnya perwira itu bertolak
pinggang, segera Ken Arok membungkukkan dadanya sambil
berkata, “Tidak apa-apa, Tuan.”
Namun di dalam hatinya ia berkata, “Kalau saja Kuda Sempana
tidak pingsan, mungkin aku sudah membunuhnya. Hem, alangkah
jahatnya hati ini. Kenapa aku masih saja mudah menjadi kehilangan
penguasaan diri?”
Ternyata apa yang terjadi itu telah menyudutkan Kuda Sempana
sendiri dalam keadaan yang sulit. Beberapa orang yang berdiri di
sekitar arena, dan yang kemudian mencoba menolong mereka yang
seakan-akan hampir pingsan kedua-duanya itu, menjadi tidak
senang melihat sikap Kuda Sempana. Mereka mendapat kesan yang
sangat buruk terhadap sifat anak muda yang sebenarnya memiliki
beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, bahkan dari beberapa
orang prajurit.
Karena itu, ketika tiba-tiba terdengar Akuwu bertanya kepada
mereka siapakah yang menang dalam perang tanding itu, maka
jawab mereka mbata rubuh, “Witantra! Witantra telah menang!”
Suara itu bergema terus menerus beberapa lama. Hampir setiap
orang mengulang-ulang kalimat itu, “Witantralah yang menang!
Witantralah yang menang!”
Suara yang bergemuruh itu seakan-akan telah membangunkan
Kuda Sempana dari pingsannya. Lamat-lamat ia mendengar suara
itu, yang semula disangkanya suara Gunung Kawi yang runtuh
menimpanya. Namun ketika kesadarannya telah hampir pulih
kembali maka semakin jelaslah apa yang didengarnya itu. Bahkan
akhirnya dapat didengarnya dengan pasti kalimat-kalimat yang telah
diulang-ulang diucapkan oleh beberapa orang meskipun tinggal satu
dua kali, “Witantralah yang menang!”
Bunyi dan makna kata-kata itu ternyata bagi Kuda Sempana jauh
lebih dahsyat daripada seandainya Gunung Kawi runtuh
menimpanya. Karena itu, maka tiba-tiba terasa darahnya mengalir
semakin cepat dan semakin panas, sehingga seakan-akan
terhimpunlah kembali segenap kekuatan di dalam tubuhnya.
Dengan serta-merta ia bangkit berdiri sambil berteriak lantang,
“Tidak! Witantra belum menang! Kuda Sempana masih hidup!”
Namun kembali ia dihinggapi oleh keadaannya yang wajar.
Lemah dan hampir-hampir tak berdaya. Seperti orang yang
kehilangan segenap tulang belulangnya, Kuda Sempana
terhuyunghuyung.
Untunglah beberapa orang lain cepat menangkapnya
sehingga Kuda Sempana tidak lagi terbanting jatuh.
Ketika mata Kuda Sempana yang menjadi liar itu menatap
berkeliling maka dilihatnya Witantra dengan lemahnya duduk di
tanah sambil meraba-raba dadanya. Dan apa yang dilihatnya itu
telah membangkitkan kembali harapannya, sehingga Kuda Sempana
itu berteriak pula dengan suara gemetar, “Lihat! Lihat Witantra
hampir mati. Mungkin dadanya pecah, atau bagian dalam dadanya
remuk berkeping-keping.”
Namun kembali mata Kuda Sempana menjadi gelap ketika ia
mendengar akuwu mengulangi pertanyaannya kepada orang-orang
yang berdiri di sekitar dan di dalam arena. “Siapakah yang
menang?”
Tetapi kali ini tidak semua orang menyahut seperti pertanyaan itu
diucapkan untuk yang pertama kali. Hanya beberapa orang yang
yakin akan dirinya menjawab, “Witantralah yang menang.”
Dan di antara suara mereka terdengar suara Ken Arok paling
keras, “Witantralah yang menang!”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ditatapnya mereka yang kini menundukkan kepalanya tanpa berani
menyebut nama Witantra, apalagi menjawab pertanyaannya.
Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu pasti, apakah dirinya
dapat menyamai kesaktian Kuda Sempana. Mereka tidak mau
menjawab ketika diketahuinya Kuda Sempana telah sadar akan
dirinya dan sadar tentang apa yang dihadapinya. Mereka tidak mau
mendapatkan dendam dari anak muda itu. Tetapi mereka heran
tidak habis-habisnya, bahwa seorang pelayan dalam yang baru,
dengan beraninya menyatakan kemenangan Witantra di hadapan
Kuda Sempana. Apakah ia tidak takut seandainya Kuda Sempana
mendendamnya. Namun mereka tidak tahu bahwa Ken Arok sama
sekali tidak takut kepada Kuda Sempana. Ken Arok sama sekali tidak
heran, melihat Kala Bama, dan bahkan sama sekali tidak tercengang
melihat tandang Kuda Sempana.
Beberapa orang yang belum mengenal Ken Arok merasa kasihan
kepadanya, bahwa apa yang telah dilakukan itu akan dapat
membuat Kuda Sempana marah kepadanya.
“Mungkin anak itu tidak tahu akan bahaya yang setiap saat dapat
menerkamnya,” gumam mereka di dalam hati, “atau mungkin ia
sedang berusaha mendapatkan nama di hadapan Akuwu Tunggul
Ametung. Dan bukankah anak itu pula yang tadi telah dipanggil
untuk duduk di samping Akuwu.”
Dalam pada itu terdengar Akuwu Tunggul Ametung berkata,
“Nah, Kuda Sempana semua orang menjadi saksi. Witantra telah
memenangkan perang tanding ini.”
Terdengar gigi Kuda Sempana gemeretak. Dengan terbata-bata
ia menjawab, “Tidak adil! Siapakah yang telah mengambil
keputusan itu? Bukankah Tuanku lihat, alangkah lemahnya Kakang
Witantra kini? Hamba telah mampu untuk berdiri tegak sendiri tanpa
bersandar kepada orang lain namun apakah Kakang Witantra
mampu berbuat demikian.”
“Tetapi kau berbuat curang atasnya,” bantah Tunggul Ametung,
“ketika Witantra mencoba mendekatimu, pada saat kau terbanting
karena kekuatan Aji Kala Bama itu sendiri, kau telah menyerangnya
tanpa disangka-sangka.”
“Itu adalah salahnya sendiri,” sahut Kuda Sempana, “hamba
belum dinyatakan kalah. Sehingga perkelahian itu belum berhenti.
Apapun yang hamba lakukan masih dapat dianggap syah.”
“Tidak!” potong Akuwu Tunggul Ametung, “Semua orang melihat
itu sebagai suatu kecurangan.”
“Siapa? Ayo siapa yang berani menjadi saksi bahwa aku telah
berbuat curang,” teriak Kuda Sempana tiba-tiba. Matanya dengan
nanar memandangi setiap orang yang berdiri di sekitarnya. Kini ia
telah tidak lagi memerlukan bantuan orang lain. Ia telah dapat
berdiri sendiri betapapun lemahnya.
“Ayo siapa? Siapa yang berani menyatakan dirinya menjadi
saksi?”
Tak seorang pun yang segera menjawab. Beberapa orang
perwira prajurit sekalipun yang menjadi ngeri melihat Aji Kala Bama
menjadi ragu-ragu. Namun ada pula di antaranya yang sudah siap
untuk menerima akibat apapun dalam menyatakan kesaksiannya
dengan jujur. Namun yang mula-mula menjawab adalah Ken Arok,
“Aku! Aku adalah salah seorang saksi yang melihat kecuranganmu,
Kakang Kuda Sempana. Kau menyerang bukan pada saatnya. Nah,
apa katamu?”
Bukan main marahnya Kuda Sempana mendengar jawaban itu,
sehingga tanpa sesadarnya ia melangkah maju. Meskipun
langkahnya masih belum tegak benar, namun ia berkata,
“Berkatalah sekali lagi Ken Arok. Mungkin aku masih mampu
menyobek mulutmu itu.”
Beberapa orang tergetar hatinya melihat kemarahan Kuda
Sempana kepada Ken Arok. Beberapa orang menyesalkan anak
muda yang lancang mulut itu. Sebaiknya ia berdiam diri saja.
Biarlah
orang lain yang menjawab pertanyaan Akuwu Tumapel. Sebab
dengan demikian, maka jawaban itu akan membahayakan dirinya.
Dan kini ternyata Kuda Sempana itu menjadi sangat marahnya
kepada Ken Arok. Mungkin saat ini Kuda Sempana yang lemah itu
tidak akan mampu berbuat apa-apa, tetapi nanti atau besok atau
lusa, maka dendam yang tersimpan di dalam dadanya akan dapat
meledak setiap saat.
Dengan cemas mereka melihat Kuda Sempana melangkah
tertatih-tatih mendekati Ken Arok yang tidak bergerak dari
tempatnya. Tetapi ada beberapa orang di antara mereka yang sama
sekali tidak menjadi cemas melihat peristiwa itu. Akuwu Tunggul
Ametung sendiri, Witantra dan kawan Ken Arok yang melihat anak
muda itu memecahkan batu dengan jarinya.
“Ken Arok!” desis Kuda Sempana dengan marahnya, “Jangan
membuat persoalan dengan Kuda Sempana. Apa kau sudah jemu
hidup?”
Ken Arok masih tegak di tempatnya. Ketika Kuda Sempana
menjadi semakin dekat, maka orang-orang yang melihatnya menjadi
semakin cemas.
Di antara para perwira terdengar salah seorang berkata, “Kuda
Sempana. Anak muda itu berkata sebenarnya. Witantralah yang
menang. Apakah kau tidak mengakui kemenangannya?”
Kuda Sempana berpaling ke arah suara itu. Seorang perwira yang
bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Ia mencoba menarik
perhatian Kuda Sempana kepadanya, sebab ia sendiri merasa
bahwa betapa saktinya Kuda Sempana, namun ia akan dapat
mengimbanginya seandainya Kuda Sempana kelak mendendamnya.
Tetapi terdengar Kuda Sempana berdesis, “Bagus! Ada dua orang
yang harus aku ingat di dalam arena ini. Pertama Ken Arok, dan
kedua adalah seorang perwira yang perkasa itu.”
Namun semua orang tiba-tiba terkejut mendengar Ken Arok
tertawa. Sangat menyakitkan hati. Katanya, “Jangan ribut Kuda
Sempana! Kalau kau ingin membuat soal-soal baru, aku tidak akan
ingkar. Namun kali ini kau dikalahkan oleh Kakang Witantra.”
“Diam!” teriak Kuda Sempana, “Diam, atau wajahmu aku
hancurkan!”
“Kakang Kuda Sempana,” sahut Ken Arok, “keadaanmu sekarang
lemah sekali. Apakah yang dapat kau lakukan dalam keadaan itu.
Nah. Biarlah tubuhmu menjadi kuat kembali. Marahlah kepada Ken
Arok. Besok atau lusa. Tetapi sekarang sadarilah keadaanmu.”
Tubuh Kuda Sempana bergetar karena kemarahan yang
memuncak. Tetapi ia tidak dapat mengingkari keadaannya.
Dikenangnya pada saat Ken Arok memukul mati seorang prajurit di
perjalanan kembali dari Panawijen dengan satu kali pukulan.
Dikenangnya apa yang dapat dilakukan anak muda itu ketika ia
bertempur melawan Mahisa Agni. Karena itu, maka Kuda Sempana
hanya dapat menggeretakkan giginya. Namun ia tidak berbuat apaapa
atas anak muda itu.
Meskipun demikian banyak di antara mereka yang semakin
menyesalkan sikap Ken Arok itu, di samping mereka menjadi
semakin muak melihat kesombongan Kuda Sempana. Namun di
antara mereka tumbuh juga di dalam hatinya pertanyaan, “Apakah
yang dapat dilakukan oleh Ken Arok itu sehingga ia berani
menentang Kuda Sempana yang sudah dilihatnya memiliki ilmu yang
sedahsyat itu?”
Demikianlah maka ketegangan itu dipecahkan oleh suara Akuwu
Tunggul Ametung, “Kuda Sempana. Jangan mengingkari kenyataan.
Witantra telah memenangkan perkelahian ini. Apakah kau tidak
mengakuinya?”
Alangkah Kuda Sempana mendengar keputusan itu. ketika ia
memandang berkeliling, dilihatnya segenap mata memandang
kepadanya dengan penuh tekanan, seakan-akan mereka itu telah
bersekutu untuk menyatakan kekalahannya. Ketika sinar matanya
sampai pada Witantra, maka dilihatnya orang itu telah berdiri tegak
dan memandanginya pula dengan tajamnya.
Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Di antara sekian banyak
orang, ia merasa seorang diri. Semua orang seolah-olah telah
memihak kepada Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan beberapa orang
kawan-kawannya pelayan dalam pun sama sekali tidak
menunjukkan kesetiakawanan mereka. Apalagi pelayan dalam yang
bernama Ken Arok itu. Karena itu maka hatinya serasa terbakar oleh
kemarahan yang meluap-luap. Marah kepada Witantra, kepada
Akuwu Tunggul Ametung, kepada semua orang yang berada di
sekitarnya. Tetapi ia tidak segera dapat berbuat apa-apa.
Tiba-tiba otak Kuda Sempana yang licik itu mulai berputar. Ia kini
mulai berpikir, apakah sebaiknya yang dilakukan. Disadarinya bahwa
dalam keadaan yang demikian, ia tidak akan dapat menuruti
perasaannya saja. Lambat laun disadarinya, bahwa para perwira
yang berdiri di sekitarnya itu pun bukanlah anak-anak yang dapat
ditakut-takutinya. Karena itu, maka tiba-tiba Kuda Sempana
menganggukkan kepalanya sambil berkata lirih, “Tuanku Akuwu
Tunggul Ametung, hamba mengakui kekalahan hamba kali ini.”
Beberapa orang menjadi lega mendengar pengakuan itu. Namun
Witantra dan Ken Arok mengerutkan keningnya tinggi-tinggi
seakanakan,
tersirat di dalam hati mereka bahwa Kuda Sempana tidak
berkata sejujur hatinya. Dan ternyata mereka kemudian mendengar
Akuwu Tunggul Ametung bertanya, “Kenapa kali ini? Apakah pada
saat yang lain kau merasa bahwa kekalahan ini tidak wajar?”
Kuda Sempana menarik dahinya tinggi-tinggi. Sekali lagi ia
mengangguk hormat sambil menjawab, “Ampun Tuanku. Hamba
merasa kekalahan hamba.”
Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu merasakan pula sesuatu yang
tidak wajar pada Kuda Sempana, yang hanya dimiliki oleh akuwu itu
sendiri. Jauh lebih tajam dari yang dirasakan oleh Witantra dan Ken
Arok. Sehingga karena itu maka Akuwu itu berkata, “Kuda Sempana,
kalau suatu ketika kau merasa bahwa kekalahanmu kali ini tidak adil
maka biarlah kau mencoba untuk lain kali. Aku sendirilah yang akan
turun ke arena.”
Kuda Sempana tidak segera menjawab. Namun dari kedua
matanya memacar sinar yang aneh. Sudah tentu ia tidak akan dapat
berkata apapun di hadapan Tunggul Ametung saat ini. Tetapi amat
banyaklah kata-kata yang tersimpan di hatinya. Amat banyaklah
janji yang diucapkan di dalam hati itu. Janji untuk menuntut
dendam.
“Biarlah kali ini aku melepaskan keinginanku untuk sesaat,”
geramnya di dalam hati, “bagiku hanya ada dua kemungkinan.
Memiliki bunga dari lereng Gunung Kawi itu meskipun aku harus
melenyapkan akuwu, atau memusnahkannya.”
Tetapi Tunggul Ametung ternyata berprasangka pula atas sinar
mata Kuda Sempana itu, sehingga sekali lagi ia berkata, “Kuda
Sempana, dendammu kau simpan di dalam hati. Tetapi jangan kau
sangka bahwa aku akan memusnahkanmu dengan kekuasaanku.
Tidak. Dalam persoalan ini kita berhadapan sebagai laki-laki. Bukan
sebagai orang yang berkuasa dan bawahannya. Yakinkanlah ini.
Karena itu aku, Tunggul Ametung akan siap menghadapi setiap
persoalan yang akan timbul karenanya.”
Kuda Sempana menundukkan kepalanya. Tetapi terdengar
giginya gemeretak. Sedang beberapa orang lain menjadi bingung.
Bagaimana mungkin orang dapat memisahkan dirinya sendiri apabila
akan dihadapinya kesulitan. Bagaimana mungkin Tunggul Ametung
melepaskan hak dan kekuasaannya untuk mempertahankan
keinginannya. Dan bagaimana mungkin Kuda Sempana sebagai
seorang pelayan dalam masih harus keras kepala bersaing dengan
Akuwunya.
“Gila!” desah beberapa orang di antara mereka, “Kenapa di
istana ini timbul persoalan yang sedemikian anehnya, sehingga
membuat beberapa orang pemimpin terpenting di Tumapel menjadi
seakan-akan gila. Mereka telah melupakan adat dan tata cara.
Mungkin mereka masing-masing ingin mempertahankan harga diri
mereka sebagai seorang laki-laki. Atau gadis itu benar-benar
memiliki daya yang dapat membuat orang-orang menjadi gila?”
Dalam pada itu Akuwu Tunggul Ametung pun segera bersiap-siap
untuk meninggalkan tempat itu. Sesaat ia memandang berkeliling
kemudian katanya, “Sayembara tanding ini telah selesai. Witantra
memenangkan pertandingan sehingga ia mempunyai wewenang
atas kemenangannya.”
Kemudian kepada Witantra ia berkata, “Kau boleh beristirahat
dahulu Witantra, nanti malam datanglah ke istana bersama Ken
Arok. Sekarang biarlah Ken Arok mengantarmu pulang.”
Sekali lagi para perwira dan para pemimpin pelayan dalam yang
lain, kecuali Kuda Sempana terkejut. Ken Arok sekali lagi mendapat
kehormatan untuk menghadap akuwu. Sehingga mau tidak mau
mereka terpaksa mengaitkan anak muda itu dengan peristiwaperistiwa
yang terjadi di saat-saat terakhir. Mungkin karena Ken
Arok pada saat itu ikut serta dalam rombongan akuwu ke Panawijen
sehingga anak muda itu dianggap banyak mengetahui
persoalanpersoalan
yang telah timbul. Mungkin akuwu melihat beberapa
kelebihan pada anak muda itu. Namun ada juga yang sedang
berpikir, “Mungkin Akuwu sedang menyuap Ken Arok, supaya ia
tidak mengatakan apa yang diketahuinya tentang gadis Panawijen
itu.”
Tetapi orang-orang itu kemudian melepaskan semua kesibukan
angan-angan serta pikirannya. Sambil menggelengkan kepala,
seakan-akan mengusir persoalan-persoalan yang tak mereka ketahui
dengan pasti itu, mereka pergi meninggalkan halaman belakang
istana setelah akuwu pun kemudian berjalan kembali ke istana
diantar oleh beberapa orang pelayan dalam dan beberapa orang.
Beberapa orang masih bercakap-cakap mempercakapkan apa
yang telah mereka lihat. Namun beberapa orang lagi menganggap
persoalan itu telah selesai. Berkata di antara mereka, “Ah, biarlah
persoalan itu berlaku. Aku tidak berkepentingan sama sekali.
Bukankah dengan perang tanding ini semuanya telah selesai?”
Kawannya yang berjalan-jalan di samping tersenyum sambil
menjawab, “Barangkali kau tidak mau dipusingkan oleh soal-soal
yang tak berarti. Tetapi kami lupa bahwa Kuda Sempana masih
menyimpan dendam di dalam hatinya. Nah, bukankah itu bagaikan
api disimpan dalam sekam.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun
tersenyum sambil berkata, “He, apakah kau telah melihat gadis itu?”
Kawannya menggeleng lemah.
“Kalau sudah, mungkin kau akan turut serta dalam sayembara
tanding itu,” berkata kawan itu lagi.
Orang yang berjalan di samping tertawa. Ketika disadarinya
beberapa orang berpaling kepadanya, maka dengan serta-merta
suara tertawanya terputus. “Jangan main-main,” gumamnya, “kalau
istriku mendengarnya, maka ia akan berontak.”
Kedua orang itu tersenyum, tetapi mereka tidak berkata-kata
lagi. Mereka melihat kemudian Kuda Sempana berjalan tergesa-gesa
melampaui mereka, meskipun masih nampak betapa ia sangat
lemah. Beberapa orang menarik nafas dalam melihat anak muda
yang keras kepala itu. Namun yang lain memalingkan wajahnya.
Sesaat kemudian arena itu telah menjadi sunyi kembali. Semua
orang telah pergi. Yang tinggal hanyalah Witantra dan Ken Arok.
Mereka berdiri saja mengawasi punggung-punggung yang
membelakangi mereka, semakin lama semakin jauh.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Kuda
Sempana tidak akan tinggal diam untuk seterusnya. Namun Ken
Arok pun mengetahui pula, bahwa Kuda Sempana mendendamnya.
“Anak yang keras kepala,” gumam Witantra.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya.
Sungguh-sungguh keras kepala.”
Sesaat mereka terdiam. Di regol halaman belakang masih dilihat
oleh mereka, punggung-punggung yang terakhir meninggalkan
halaman itu.
“Marilah Adi, kita pulang.”
“Aku mendapat perintah untuk mengantar Kakang.”
Witantra tersenyum. Namun ia menjawab, “Marilah antarkan
aku.”
Ketika keduanya mulai melangkah meninggalkan tempat itu, tibatiba
langkah mereka terhenti. Lamat-lamat mereka mendengar
suara Daksina.
“Hem,” gumam Ken Arok, “anak itu sama sekali tidak
memedulikan apa saja.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Suara Daksina
memang baik, seperti desir angin yang kadang-kadang lembut,
namun kadang-kadang deras menyentak, bahkan kadang-kadang
bagaikan prahara yang melanda pepohonan dan menghentak
gelombang di lautan. Namun kemudian kembali terdengar suaranya
yang lembut, selembut gemeresik angin pagi mengusap ujung
dedaunan.
“Smaradahana,” gumam Witantra.
Ken Arok hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah
banyak pula belajar tentang banyak hal mengenai kitab-kitab dan
pengetahuan dari seorang pendeta yang memungutnya dari padang
rumput Karautan, tetapi pengetahuan itu masih jauh dari cukup.
Meskipun demikian, ternyata jiwanya mampu pula menerima
sentuhan yang halus dari suara Daksina.
“Apakah kau pernah membaca kakawin itu?” bertanya Witantra.
Ken Arok menggeleng, “Belum.”
“Cerita tentang Dewa Cinta, Kama dan istrinya Ratih.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama
sekali belum pernah membaca cerita itu, meskipun sedikit ia pernah
juga mendengar tentang Dewa Kama yang terbakar oleh sinar mata
Siwa yang sedang tiwikrama menjadi Rudra.
“Cerita yang amat menarik,” Witantra meneruskan, “terutama
bagi anak-anak muda. Sindiran terhadap Baginda Kameswara dari
Kediri beberapa puluh tahun hampir seabad yang lampau.”
Kembali Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Daksina memilih cerita itu,” Witantra melanjutkan, “karena ia
tahu, bahwa di arena ini menyala persoalan yang langsung
menjangkiti cinta anak-anak muda. Meskipun aku yang harus maju
ke arena, namun aku hampir tidak berkepentingan selain aku ingin
melihat kesewenang-wenangan Kuda Sempana dibatasi.”
Ken Arok masih belum menjawab selain mengangguk-anggukkan
kepalanya. Namun ia senang pula mendengar suara Daksina yang
bening bersih.
“Sebaiknya anak itu berhenti membaca,” tiba-tiba Witantra
bergumam.
“Kenapa?” bertanya Ken Arok.
“Apabila Akuwu mendengar, maka ia marah. Ia merasa bahwa
anak itu menyindir.”
“Tidak. Bukankah Akuwu bersungguh-sungguh dengan alasannya
itu. Bukankah kemudian gadis itu akan dikembalikan ke Panawijen?”
Witantra tersenyum, jawabnya, “Kalau gadis itu bersedia, maka
apakah halangannya seandainya Akuwu pun benar-benar
menghendakinya, bukankah dengan demikian Ken Dedes akan
merasa sedikit terhibur karenanya?”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Tidak baik.
Sebaiknya Akuwu menyerahkannya kembali kepada ayahnya.”
“Kecuali kalau gadis itu menolak Akuwu. Seharusnya Akuwu
menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Tetapi kalau gadis itu
bersedia, apakah salahnya?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab, tetapi
hatinya berkata, “Tidak. Seharusnya Akuwu benar-benar bersih dari
segenap pamrih mengenai gadis itu. Kalau Akuwu bersedia
mengembalikan Ken Dedes kepada ayahnya, maka Akuwu benar
seorang yang berhati jantan. Seorang yang bersedia mengakui
kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Meskipun Wiraprana
tak akan mungkin dihidupkan lagi, tetapi setidak-tidaknya di dalam
lingkungan keluarganya Ken Dedes akan mendapatkan hiburan.”
Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lain di dalam lubuk hatinya,
“Bagaimanakah kalau Ken Dedes merasa terhibur, apabila ia
menjadi permaisuri akuwu.”
Tiba-tiba wajah Ken Arok menjadi tegang, ia tidak tahu apakah
sebabnya ia menjadi risau mengenai nasib gadis itu seterusnya.
“Persetan!” geramnya di dalam hati.
Ken Arok itu kemudian terkejut ketika Witantra berkata, “Marilah
Adi, apakah kau akan mengantarkan aku pulang?”
“Oh,” sahut Ken Arok tergagap, “Ya, aku akan mengantarkan
Kakang pulang. Sebaiknya aku tidak kembali ke barak. Kalau Kuda
Sempana datang ke bilikku, dan aku kehilangan kesabaran, maka
kami pasti akan bertengkar.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya,
“Tinggallah sehari ini di rumahku. Mudah-mudahan besok atau lusa
Kuda Sempana telah dapat berpikir bening, sehingga ia akan dapat
melupakan segala peristiwa yang telah terjadi atasnya.”
“Mudah-mudahan,” desis Ken Arok. Namun kemudian ia berkata,
“Sebentar, aku akan menyuruh Daksina berhenti membaca.”
Witantra tersenyum. Dibiarkannya Ken Arok melangkah ke gubuk
di sudut dibalik dinding halaman belakang istana. Sesaat setelah
Ken Arok itu menghilang dibalik dinding, maka suara Daksina pun
berhenti.
Keduanya itu pun kemudian pergi meninggalkan halaman
belakang istana itu pergi ke rumah Witantra. Kuda-kuda mereka
masih tertambat di tempatnya. Dan sejenak kemudian terdengarlah
kaki-kaki sepasang kuda berlari meninggalkan istana Tumapel.
Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung berjalan tergesa-gesa
kembali ke istana. Tetapi ia sama sekali tidak langsung menuju ke
biliknya. Dengan tergesa-gesa seakan-akan ia akan kehilangan
kesempatan, akuwu itu berjalan masuk ke ruang dalam, dan
langsung menuju ke sentong tengen.
Sejenak Tunggul Ametung berdiri diam di muka bilik itu. Ia tidak
mendengar sesuatu kecuali nafas yang memburu. Namun sesaat
kemudian terdengar langkah seorang keluar dari bilik itu.
Demikian melampaui warana, emban yang ikut merawat Ken
Dedes terkejut melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri tegak di
muka pintu, sehingga dengan tergesa-gesa ia bersimpuh sambil
menyembah, “Ampun Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak
apa-apa. Aku ingin menengok gadis itu.”
Emban itu masih bersimpuh sambil menundukkan wajahnya.
Perlahan-lahan ia berkata, “Gadis itu masih belum tenang benar,
Tuanku.”
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah
sekarang gadis itu tertidur?”
Emban itu menggeleng, “Tidak Tuanku.”
“Apakah aku boleh masuk?” bertanya akuwu itu.
Emban itu heran mendengar pertanyaan Tunggul Ametung.
Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel. Tunggul Ametung adalah
pemilik istana ini, dan semua orang akan tunduk pada perintahnya.
Tetapi tiba-tiba akuwu itu bertanya kepadanya, apakah ia boleh
masuk ke dalam bilik ini. Karena itu, maka emban itu pun menjadi
bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.
“Bagaimana, apakah boleh masuk?” desak Tunggul Ametung.
“Ya. Ya.” emban itu tergagap, “sekehendak Tuankulah.”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sambil
menganggukkan kepalanya ia berkata, “Terima kasih. Aku akan
masuk ke sentong tengen.”
Emban itu menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa Akuwu
berterima kasih kepadanya. Namun Akuwu itu tidak berkata apa-apa
lagi. Perlahan-lahan ia melangkah maju. Melampaui tlundak pintu,
kemudian melingkari warana memasuki ruang tidur Ken Dedes yang
masih saja ditunggui oleh Nyai Puroni.
Tetapi demikian Tunggul Ametung masuk, akuwu itu terkejut
bukan buatan. Tiba-tiba saja, ketika Ken Dedes melihatnya, dengan
serta-merta gadis itu bangkit dan menunjuk wajahnya. Sambil
berkata lantang, “Nah, kaulah Tunggul Ametung. Kaulah sumber
dari bencana yang menimpa keluargaku. Ayo kembalikan aku ke
Panawijen, atau bunuh aku sama sekali.”
Sesaat akuwu berdiri mematung. Ia adalah akuwu yang
memegang seluruh kekuasaan Tumapel di tangannya. Ia adalah
orang yang paling berkuasa di dalam dan di luar istana. Juga di
Panawijen. Tiba-tiba gadis itu menudingnya sambil membentaknya
tanpa takut.
Yang terdengar kemudian adalah suara Nyai Puroni cemas, “Nini,
tenanglah Ngger. Tenanglah. Tidurlah, biarlah nanti aku
memberitahukan kepadamu, apa yang telah terjadi, Jangan risau
anakku dan jangan menjadi bingung. Tuanku Tunggul Ametung
adalah Akuwu Tumapel.”
“Apa peduliku, apakah Tunggul Ametung menjadi Akuwu, apakah
ia menjadi Maharaja sekalipun, namun ia tidak lebih dari seorang
perampok yang keji. Ayo, Tunggul Ametung. Bunuhlah aku.”
Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Seorang yang
mudah tersinggung, dan seorang yang mudah pula menjadi sangat
cemas apabila tiba-tiba akuwu itu kehilangan kesabaran. Ia tidak
tahu, apakah yang telah terjadi, namun mengumpati Tunggul
Ametung adalah berbahaya sekali bagi keselamatannya.
Tetapi Nyai Puroni itu benar-benar menjadi heran. Ia melihat
akuwu yang garang itu, berdiri kaku di tempatnya. Kepalanya
terkulai tunduk dalam-dalam. Sepatah kata pun ia tidak menyahut
dan bahkan akuwu itu sama sekali tidak berani menatap wajah
gadis yang sedang marah itu.
Sekali-kali Tunggul Ametung mencoba mengangkat wajahnya,
namun kembali ia tertunduk. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi
gemetar dan terasa seakan-akan dadanya bergetaran.
“Apakah aku benar-benar sudah gila,” desahnya di dalam hati.
Karena ketika ia mencoba memandang gadis itu, ia dikejutkan oleh
cahaya yang berkilat cerah. Namun setiap kali ia berusaha
memandang cahaya itu tak dapat tertangkap oleh wadagnya.
Sementara itu masih terdengar suara Ken Dedes lantang, “Ayo
Tunggul Ametung. Kenapa kau berdiri saja seperti patung?
Bukankah kau mempunyai seribu pusaka di istanamu. Ayo, ayo,
bukankah di lambungmu itu tergantung senjata sipat kandel
Tumapel? Kenapa kau diam saja seperti patung?”
Desir di dada Tunggul Ametung menjadi semakin tajam. Baru kini
disadarinya, bahwa pusakanya masih tergantung pada ikat
pinggangnya. Pusaka yang tidak setiap orang pernah melihatnya.
Nyai Puroni menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat
berbuat sesuatu. Usahanya untuk meluluhkan hati Ken Dedes selalu
sia-sia.
Tetapi kembali Nyai Puroni terkejut ketika mendengar sendiri
mulut Akuwu Tunggul Ametung itu berdesis, “Maafkan aku Ken
Dedes. Aku sama sekali tidak sengaja membuat kau mengalami
nasib yang sedemikian jeleknya.”
Mata Ken Dedes itu pun menjadi semakin menyala karenanya.
Dan terdengar suaranya lantang, “Jangan bersembunyi Tunggul
Ametung! Kau datang membawa bencana di padepokan ayahku.
Kau telah membawa bencana bagi keluargaku, bagi hidupku.
Kenapa kau tidak saja membunuh aku? Kenapa kau lindungi Kuda
Sempana yang biadab itu? Kenapa?”
Akuwu masih menundukkan kepalanya. Suatu hal yang hampir
tidak pernah dilakukan. Di hadapan setiap utusan maharaja di Kediri
sekalipun Tunggul Ametung selalu menengadahkan wajahnya.
Namun kini, di hadapan seorang gadis pedesaan Tunggul Ametung
itu tunduk tumungkul seperti seorang tawanan.
Dan terdengar kemudian Tunggul Ametung itu menjawab
perlahan-lahan, “Ken Dedes. Aku telah mencoba memperbaiki
kesalahanku. Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi.”
Ken Dedes itu terhenyak sejenak. Tampaklah kerut-kerut di
wajahnya yang pucat.
“Apa katamu?” terdengar ia bertanya untuk meyakinkan.
“Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi,” sahut
Akuwu.
“Kenapa?”
Seperti anak-anak yang mendapat pertanyaan-pertanyaan dari
ibunya yang sedang marah, Tunggul Ametung menjawab dengan
jujur. “Kuda Sempana telah dikalahkan dalam perang tanding,
dengan perjanjian, untuk seterusnya ia harus melepaskan
tuntutannya atas dirimu.”
Ken Dedes tidak segera mengerti keterangan Akuwu Tunggul
Ametung itu. Apakah yang dimaksud dengan perang tanding yang
dapat melepaskan tuntutan Kuda Sempana atas dirinya? Karena itu
maka untuk sejenak Ken Dedes terdiam. Tanpa mengenal takut,
ditatapnya wajah Tunggul Ametung, yang tunduk. Tetapi Akuwu itu
tidak meneruskan kata-katanya sebagai penjelasan.
Karena itu, maka terdengarlah suara Ken Dedes, “Apakah
maksudmu Tunggul Ametung?”
Alangkah janggalnya panggilan itu di telinga Nyai Puroni serta
emban yang duduk di pintu. Ken Dedes langsung menyebut nama
Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun.
Kalau Akuwu itu kemudian menyadarinya, maka ia pasti akan
sangat marah. Bahkan seandainya dirinya sendiri, atau emban yang
duduk di pintu itu, bahkan seorang senapati pun, apabila berani
mengucapkan nama akuwu itu tanpa sebutan apapun maka adalah
suatu pertanda bahwa hidupnya akan mendapat kesulitan.
Tetapi sekarang, gadis pedesaan itu dengan beraninya bahkan
dengan menuding wajah akuwu itu. Aneh. Apakah yang sebenarnya
telah terjadi?
Tunggul Ametung sendiri tidak segera menjawab pertanyaan Ken
Dedes itu. Sekali ia mengangkat wajahnya namun ketika dilihatnya
mata gadis itu, kembali ia menunduk. Mata yang memancarkan
tuntutan atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Mata yang
memancarkan jeritan hatinya yang duka. Dan mata yang memancar
itu adalah mata seorang gadis yang aneh. Seorang gadis yang
seakan-akan memiliki cahaya yang bersinar dari tubuhnya. Cahaya
yang membuat Akuwu Tunggul Ametung itu merasa dirinya hampir
menjadi gila. “Gadis itu bukan gadis kebanyakan,” desis Akuwu
Tunggul Ametung di dalam hatinya.
Karena Tunggul Ametung tidak segera menjawab, maka
terdengar Ken Dedes mengulangi pertanyaannya, “He Tunggul
Ametung, apakah yang kau maksud dengan perang tanding? Dan
apakah hubungannya dengan Kuda Sempana?”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.
Bagaimanapun juga ia ingin mencoba menyampaikan beberapa
penjelasan mengenai perang tanding itu. Mencoba mengatakan
kepada Ken Dedes bahwa dengan kekalahan Kuda Sempana dalam
perang tanding itu, maka tuntutannya atas Ken Dedes telah
digugurkan. Ia mengambil gadis itu dengan kekerasan, maka
dengan kekerasan pula usaha itu telah digagalkan.
“Gila!” teriak Ken Dedes. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan
dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa aku, kau perlakukan
seperti itu Tunggul Ametung. Kenapa aku kalian perlakukan seperti
barang yang dapat kalian perebutkan dengan berkelahi dan saling
membunuh sekalipun. Tunggul Ametung, Akuwu yang memiliki
kekuasaan tertinggi di Tumapel, kenapa kau berbuat demikian?
Kenapa kau menganggap bahwa aku tidak lebih daripada barang
yang seandainya paling berharga sekalipun, sehingga dipertaruhkan
dengan nyawa? Tidak. Aku mempunyai pendirianku sendiri. Aku
mempunyai kehendak, akal dan penilaian atas persoalanku. Bukan
kalian yang akan menentukan jalan hidupku. Tetapi aku. Aku
sendiri.”
Peristiwa itu adalah peristiwa yang benar-benar aneh bagi Nyai
Puroni. Aneh, karena semang gadis pedesaan dengan beraninya
menentang Akuwu, membaluti kata-katanya kata dengan kata,
kalimat dengan kalimat. Tak pernah dijumpai sepanjang umurnya
seorang gadis yang sedemikian beraninya. Setiap perempuan di
Tumapel, setiap gadis, pada umumnya selalu menundukkan
kepalanya, menerima nasib yang diletakkan oleh orang Tuanya, oleh
suaminya apalagi seorang akuwu atasnya. Tetapi gadis ini tidak
berbuat demikian.
Namun, Akuwu Tunggul Ametung adalah orang yang benarbenar
aneh. Semakin banyak Ken Dedes berbicara, semakin tajam
Ken Dedes mengumpat-umpatinya, hatinya menjadi semakin tertarik
kepada gadis itu. Gadis itu baginya menjadi seakan-akan sebuah
mutiara yang bercahaya dengan sinarnya. yang tajam menusuk
langsung ke ulu hatinya.
Gadis yang berani itu pasti memiliki kekhususannya dari gadisgadis
yang lain. bahkan gadis kota sekalipun. Meskipun gadis itu
gadis pedesaan, namun tanda-tanda yang dirasakan oleh Akuwu
Tunggul Ametung menjadikannya semakin yakin, bahwa gadis itu
adalah gadis yang memiliki kelebihan-kelebihan.
Karena itulah maka sekali lagi Akuwu ingin menjelaskan
persoalan yang dikehendakinya dengan perang tanding itu. Katanya,
“Ken Dedes. Karena aku mempunyai penilaian yang demikian
atasmu, bahwa kau memiliki pendirian, penilaian dan lebih-lebih
lagi
adalah hak atas dirimu sendiri dan jalan hidupmu, maka aku telah
melepaskan kau dari Kuda Sempana.”
“Apakah artinya itu?” bertanya Ken Dedes.
“Kau kini dapat menentukan hidupmu sendiri. Tidak ada
keharusan bagimu untuk tunduk pada setiap kehendak orang lain
kecuali atas kerelaan hatimu.”
“Tetapi apa artinya kedatangan kalian ke Panawijen. Kau tidak
mencegah perbuatan Kuda Sempana, dan bahkan kau
melindunginya.”
“Aku terdorong dalam kekhilafan, Ken Dedes. Kuda Sempana
telah menipuku.”
“Kau dapat menghukumnya, bahkan menghukum mati
sekalipun.”
“Ya. Tetapi aku sendiri telah melakukan kesalahan pula. Karena
itu aku tidak dapat menghukumnya karena alasan itu, sebab ia
berbuat dalam perlindunganku. Satu-satunya cara untuk menebus
kesalahanku itu adalah membebaskan kau dari tangannya dengan
cara yang sama seperti yang dilakukannya atas keluargamu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia merasakan di dalam
hatinya bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu berkata dengan jujur.
Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya, seakan-akan
semua kemarahan dan luapan perasaannya perlahan-lahan menjadi
tenang.
Meskipun demikian, hati Ken Dedes itu masih juga gelap. Apakah
yang akan terjadi atas dirinya selanjutnya. Apabila seseorang telah
berhasil melepaskannya dari Kuda Sempana, lalu apakah hak orang
itu atas dirinya? Apakah dengan demikian ia hanya akan berpindah
tangan kepada orang yang bahkan sama-sama sekali tak
dikenalnya? Bagaimana kalau ada orang lain yang berbuat demikian
pula atas orang yang kedua itu?
Tiba-tiba teringatlah Ken Dedes itu kepada Mahisa Agni. Kenapa
kakaknya itu membiarkannya dilarikan oleh Kuda Sempana? Apakah
Mahisa Agni tidak tahu apa yang terjadi atasnya? Kalau saja Mahisa
mengetahui, bahwa dengan perang tanding dirinya akan dapat
dibebaskan, ia mengharap, bahwa pada waktu ketika Mahisa Agni
datang ke Tumapel dan melepaskannya. Tetapi kapan? Sehari,
seminggu atau sebulan. Atau sesudah ia kehilangan harapan untuk
dapat kembali ke padepokan?
Dalam pada itu, maka kembali terdengar Ken Dedes bertanya,
“Akuwu Tunggul Ametung. Setelah perang tanding ini berlangsung,
dan menurut katamu, setelah aku dapat dibebaskan dari Kuda
Sempana, lalu apakah aku akan dapat segera pulang?”
Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Tunggul Ametung.
Tiba-tiba ia dihadapkan pula suatu masalah yang sangat berat
baginya. Seharusnya, menurut rencananya semula, ia hanya ingin
membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana sebagai
tebusan atas kesalahannya. Tetapi tiba-tiba alangkah beratnya
untuk melepaskan gadis itu pulang kembali ke Panawijen. Alangkah
sulitnya untuk memenuhi rencananya. Setelah ia melihat Ken Dedes
dari dekat, setelah ia mendengar Ken Dedes menangis, dan setelah
ia sendiri melihat Ken Dedes dengan beraninya mempertahankan
kebebasannya untuk menentukan jalan hidupnya, serta setelah ia
melihat gadis itu dengan tabahnya mengumpat-umpatinya, maka
tiba-tiba Tunggul Ametung benar-benar telah terpesona. Ken Dedes
telah benar-benar menarik hatinya. Karena itu, ketika ia mendengar
pertanyaan Ken Dedes itu, hatinya seolah-olah membeku. Tak ada
jawaban yang dapat diberikannya.
“Akuwu,” Ken Dedes mengulang,” bagaimana?”
Tunggul Ametung tergagap. Ia harus menjawab. Tetapi ia tidak
segera mendapatkan jawaban itu. Sehingga kembali terdengar Ken
Dedes mendesaknya, “Akuwu Tunggul Ametung, apakah aku segera
dapat kembali pulang?”
Tiba-tiba dalam kebingungan Tunggul Ametung bertanya, “Ken
Dedes. Kalau kau ingin segera pulang, apakah yang menarik bagimu
di Panawijen?”
Ken Dedes merasa aneh mendengar pertanyaan itu sehingga
sahutnya, “Panawijen adalah tempat kelahiranku. Panawijen adalah
padepokan ayahku. Panawijen adalah tempat aku bermain bersama
kakakku Mahisa Agni, dan Panawijen adalah tempat aku
menyongsong masa depanku.”
Tunggul Ametung menjadi semakin bingung. Dan dalam
kebingungan itu ia menjawab, “Ya. Ken Dedes. Sebenarnya kau
akan segera dapat pulang ke kampung halaman, tetapi aku takut,
apabila dengan demikian luka di hatimu akan menjadi semakin
parah,”
Mendengar jawaban itu, maka kegelisahan di hati Ken Dedes
menjadi menyala kembali. Dengan penuh ketegangan ia
memandang Akuwu Tunggul Ametung.
Terdengarlah kemudian suaranya gemetar, ”Kenapa Akuwu?”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi raguragu
sesaat. Tetapi ia telah terdorong menyatakan tentang luka di
hati gadis itu. Karena itu ia menjawab, ”Ken Dedes, Terserahlah
kepadamu seandainya kelak kau ingin kembali ke Panawijen. Tetapi
jangan segera.”
“Kenapa? Ya, kenapa?”
Tunggul Ametung terdiam sesaat. Dicobanya menatap wajah
gadis itu. Namun kembali ia menundukkan kepalanya. Di dalam
mata Ken Dedes itu seakan-akan tercermin segenap kesalahan,
kekhilafan dan ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya.
Seakan-akan dilihatnya kembali bagaimana Kuda Sempana datang
kepadanya, dan mengusulkan untuk pergi berburu ke arah lain
daripada arah Panawijen. Diingatnya bagaimana Kuda Sempana
merajuknya, mengatakan kepadanya bahwa ia ditolak karena
seorang pelayan dalam Akuwu Tumapel.
“Gila!” geramnya di dalam hati. Ia menyesal bahwa ia terlalu
cepat mengambil keputusan. Namun itu adalah sifat-sifatnya yang
dibawanya sejak ia dilahirkan. Tergesa-gesa, lekas marah dan
kadang-kadang kurang pertimbangan.
Sekarang ia mengalami keguncangan akibat sifat-sifatnya itu.
Sifat-sifatnya yang kurang menguntungkannya. Baik sebagai
seorang akuwu, maupun sebagai manusia yang bergaul di antara
sesama.
Dan sekarang ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes yang
mendesak itu, ”Kenapa?”
“Ken Dedes,” jawab Tunggul Ametung, “tinggallah di sini
beberapa saat. Kemudian kau akan dapat mengambil keputusan
menurut kehendakmu. Tetapi jangan tergesa-gesa kembali. Biarlah
kelak aku sendiri akan mengantarkanmu.”
“Tetapi aku ingin tahu, kenapa luka hatiku akan menjadi semakin
parah?”
Ketika Akuwu tidak segera menjawab, maka angan-angan Ken
Dedes sendiri telah beredar, mencoba mencari jawabnya. Tiba-tiba
dikenangnya, bahwa pada saat Kuda Sempana mengambilnya,
Wiraprana telah dijatuhkannya. Apakah yang terjadi atas anak muda
itu seterusnya? Dalam kegelisahan, kebingungan dan ketakutan
pada saat itu ia melihat Wiraprana terbanting jatuh. Ia masih dapat
mengingat kembali, ketika tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya. pada
anak muda itu. Dikenangnya betapa pucat wajah Wiraprana saat itu.
Dan apakah saat itu Wiraprana masih bernafas? Tiba-tiba Ken
Dedes yang duduk dengan tegangnya itu memekik kecil. Ditutupinya
wajahnya dengan kedua tangannya seakan-akan ingin
menghilangkan bayangan-bayangan yang hilir mudik di dalam
rongga mata hatinya.
“Wiraprana,” desisnya, “bagaimana dengan Wiraprana?”
Tunggul Ametung terkejut mendengar Ken Dedes memekik dan
kemudian menyebut nama anak muda yang ternyata telah terbunuh
itu.
Sentong tengen itu sesaat dicengkam oleh kesepian yang tegang.
Ken Dedes mencoba menunggu apakah Akuwu Tunggul Ametung
dapat memberinya keterangan tentang Wiraprana. Namun Akuwu
Tunggul Ametung itu menjadi terpaku diam, keragu-raguan dan
kecemasan merayap-rayap di dalam dadanya. Apakah akibatnya
seandainya diberitahukannya tentang nasib Wiraprana itu?
Tetapi Ken Dedes itu kemudian mendesaknya, “Akuwu,
bagaimanakah dengan Wiraprana itu?”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
dicobanya mengingkari, katanya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi
kemudian Ken Dedes. Aku pergi bersama Kuda Sempana
meninggalkan Panawijen. Aku melihat Wiraprana terjatuh, tetapi
aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Bukankah kau juga
melihatnya.”
“Ya. Aku melihat. Tetapi aku segera menjadi tak sadar lagi. Nah,
apakah yang telah terjadi?”
“Aku tidak tahu.”
“Bohong!”
Sekali lagi Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia kini
benar-benar menjadi bingung. Nyai Puroni yang melihat percakapan
itu dengan penuh keheranan, melihat, seakan-akan yang berdiri
dengan gelisah dan cemas itu bukan Akuwu Tunggul Ametung yang
dikenalnya sehari-hari. Bukan seorang yang keras hati, yang
membentak-bentak dan berteriak-teriak. Bukan seorang yang aneh
seperti yang sering dilakonkannya atas hamba-hambanya. Sekali
waktu dipukulnya seorang pelayan dalam, namun tiba-tiba orang itu
dipanggilnya, dan diberinya ia hadiah sepotong kain panjang. Atau
pernah seorang emban disiramnya dengan air jahe yang terlalu
pedas, tetapi ketika ia melihat emban itu menangis, maka segera
diberinya emban itu uang.
Sekarang Tunggul Ametung benar-benar seperti seorang anak
yang merasa dirinya berdosa terhadap orang Tuanya. Seperti
seorang anak yang menghadapi ibunya yang sangat diseganinya.
Tunduk dan gelisah.
Yang terdengar kemudian adalah suara Ken Dedes serak,
“Akuwu, bagaimanakah nasib Wiraprana itu?”
Tiba-tiba pecahlah ketahanan Tunggul Ametung mendengar
pertanyaan itu. Seperti orang yang berbuat tidak atas kehendaknya
sediri ia berkata, “Wiraprana terbunuh.”
Alangkah dahsyatnya suara itu terdengar di telinga Ken Dedes,
seperti petir yang langsung menyambar dinding-dinding hatinya.
Meledak dan seakan-akan memecahkan jantungnya. Sesaat Ken
Dedes terpaku seperti patung. Namun tiba-tiba gadis itu
menjatuhkan dirinya di pembaringan sambil menelungkupkan
wajahnya. Sekali ia memekik, menyebut nama Wiraprana, kemudian
ia tenggelam dalam tangisnya yang sedih.
“Hem,” Akuwu Tunggul Ametung berdesah. Ditatapnya gadis
yang malang itu. Ketika terdengar olehnya tangis itu semakin keras,
maka kembali penyesalan menghentak-hentak dada Akuwu Tunggul
Ametung. Dan sejalan dengan itu, maka keinginannya untuk
menebus kesalahannya pun menjadi semakin besar.
Tiba-tiba terdengarlah suara Tunggul Ametung itu dalam nada
yang rendah, “Maafkan aku, Ken Dedes.”
Ken Dedes masih menangis terus, seakan-akan ia tidak
mendengar kata-kata itu. Tetapi akuwu itu kemudian melangkah
maju, benar-benar seperti tidak atas kehendak sendiri. Dua langkah
dari pembaringan Ken Dedes, Tunggul Ametung berhenti. Dari
antara bibirnya itu kemudian terloncat kata-kata, “Ken Dedes. aku
minta maaf kepadamu. Aku telah berusaha berbuat apa saja untuk
mengurangi kesalahanku. Kalau apa yang sudah aku lakukan itu
masih belum cukup bagimu Ken Dedes, maka apa saja yang kau
ingini seterusnya pasti akan aku penuhi. Aku adalah Akuwu
Tumapel. Kekuasaanku atas tanah ini berada di tanganku.”
“Tuanku,” potong Nyai Puroni yang menyangka bahwa Tunggul
Ametung benar-benar telah kehilangan segala pengamatan diri. Ia
ingin memperingatkan kepadanya, supaya setiap kata dan
perbuatannya benar-benar dipertimbangkan sebaik-baiknya. Tetapi
sebelum ia berkata lebih lanjut, Akuwu Tunggul Ametung telah
berkata, “Ken Dedes. Berkatalah. Apakah yang kau kehendaki dariku
untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada
padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan
atas Tumapel.”
“Tuanku,” sekali lagi Nyai Puroni memotong.
Namun Tunggul Ametung seakan-akan tidak mendengarnya.
Bahkan Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Tak ada yang lebih
berharga yang ada padaku daripada itu. Sehingga dengan
sejujurjujurnya
aku berkata, bahwa apa yang ada padaku telah aku
sediakan untuk menebus kesalahanku. Karena itu Ken Dedes,
jangan kau sedihkan yang telah terlanjur terjadi. Akulah orang yang
paling menyesal atas peristiwa yang menyedihkan itu. Tinggallah
untuk sementara di sini. Tenangkan hatimu, dan barulah kau
berpikir apakah yang akan kau lakukan kemudian. Namun ada
harapanku yang akan dapat kau pertimbangkan. Menyerahkan
istana ini kepadamu dengan segenap isinya.”
Ken Dedes mendengar kata-kata itu dengan jelas. Kalimat demi
kalimat. Namun ia tidak memperhatikannya. Kepalanya yang
tertelungkup itu masih saja tersentak-sentak oleh isaknya. Sehingga
karena itu, ia sama sekali tidak menjawab, apalagi mengangkat
wajahnya. Dibiarkannya Akuwu Tunggul Ametung berdiri mematung
di samping pembaringannya.
Tunggul Ametung itu terkejut ketika ia merasa Nyai Puroni
menggamit ujung kakinya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Nyai
Puroni yang tegang.
Tunggul Ametung segera menyadari apa yang terkandung di
dalam hati orang tua itu. Tetapi seakan-akan ia telah terbenam
dalam tekad yang bulat. Menebus kesalahannya dengan apa saja
yang ada padanya. Tetapi dalam penilaian Nyai Puroni, Tunggul
Ametung itu tidak saja menyesal atas kesalahan-kesalahan yang
pernah dilakukan dan yang tidak diketahui oleh perempuan tua itu,
namun Tunggul Ametung itu benar-benar sedang jatuh cinta. Cinta
bagi seorang yang masih semuda Tunggul Ametung adalah
bagaikan kekuatan yang tersimpan di dalam perut Gunung Semeru.
Setiap saat akan meledak dengan dahsyat, sedahsyat ledakan yang
terjadi saat ini. Menyerahkan apa saja yang ada padanya kepada
gadis Panawijen itu.
Tetapi Nyai Puroni itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.
Ia sudah tidak mungkin lagi mencegah perbuatan Akuwu Tunggul
Ametung itu, atau setidak-tidaknya memberinya peringatan.
Semuanya sudah dikatakan oleh akuwu dan perkataan seorang
akuwu adalah janji yang sulit untuk dicabut kembali tanpa
alasanalasan
yang terlalu kuat.
Namun di samping itu, dukun tua itu benar-benar merasa
kecewa, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah benar-benar
tenggelam dalam arus perasaannya. Bukankah dengan demikian
berarti bahwa Ken Dedes akan dapat menjadi permaisurinya dan
langsung dapat mencampuri tata pemerintahan. Bukankah dengan
demikian maka gadis pedesaan itu dapat membuat putih hitam atas
tanah Tumapel?
Nyai Puroni, yang telah mengabdikan diri sejak bertahun-tahun
itu menjadi sangat menyesalkan keadaan itu. Kenapa Akuwu tidak
dapat mengendalikan perasaannya?
Tetapi bukan saja ia menyesalkan sikap Tunggul Ametung,
namun tiba-tiba ia menjadi sangat kecewa pula kepada Ken Dedes.
Gadis itu seakan-akan telah melanggar segala adat dan kebiasaan
istana Tumapel. Gadis itu sama sekali tidak tunduk pada setiap
peraturan yang berlaku bahkan ia telah berani menyebut nama
Tunggul Ametung begitu saja. Betapapun juga kemarahan
seseorang, namun kepada akuwu ia tidak akan dapat berbuat
demikian. Tetapi Ken Dedes itu telah melakukannya. Namun dukun
tua itu menyimpan kekecewaan itu di dalam dadanya. Ia tidak
berani mengatakannya di muka Tunggul Ametung yang sedang
jatuh cinta itu.
Sesaat kemudian bilik itu menjadi sepi, yang terdengar adalah
suara isak Ken Dedes yang pedih. Nyai Puroni yang telah menjadi
kecewa itu, sama sekali tidak bernafsu lagi untuk menghiburnya.
Bahkan ia menjadi jemu menunggui gadis itu di sentong tengen.
Telah hampir satu hari satu malam ia berada dalam bilik itu, dan
hanya keluar sesaat apabila ia pergi ke belakang dan makan,
berganti-gantian dengan emban yang sekarang duduk di luar.
Namun ternyata bahwa ia menemui kekecewaan. Ketika Akuwu
Tunggul Ametung kemarin mengucapkan janjinya, Nyai Puroni telah
merasa aneh dan heran. Tetapi ia mengharap bahwa Akuwu akan
berubah pendirian selagi janji itu belum didengar oleh orang lain,
apalagi Ken Dedes sendiri. Tetapi kini janji itu langsung telah
diberikan kepada gadis Panawijen itu. Gadis pedesaan yang terlalu
kecil dibandingkan dengan kebesaran Akuwu Tumapel.
Tetapi Tunggul Ametung sendiri memandang Ken Dedes tidak
terlampau kecil. Bahkan akuwu itu melihat kebesaran yang
memancar dari diri gadis itu. Dari sikapnya dan dari balik
kewadagannya.
Sejenak kemudian, ketika Ken Dedes masih juga menangis,
berkatalah Tunggul Ametung, “Ken Dedes, aku tidak ingin kau
mengambil sikap dengan tergesa-gesa. Pikirkanlah semua katakataku.
Aku sama sekali tidak bermaksud buruk. Semuanya aku
katakan dengan jujur. Seperti aku dengan jujur mengakui segenap
kesalahanku. Sekarang cobalah tenangkan hatimu. Apa yang sudah
terjadi tak akan dapat diulang kembali. Namun pertimbangan apa
yang aku katakan, menjelang hari depanmu yang masih panjang.”
Kali ini pun Ken Dedes seolah-olah tidak mendengar kata-kata
Akuwu Tunggul Ametung. Ia masih saja terbenam dalam isak
tangisnya, kekecewaan dan penyesalan yang tiada taranya.
“Baiklah aku pergi dulu Ken Dedes,” berkata Tunggul Ametung
itu. Namun kata-kata lenyap tiada jawaban. Sambil
menganggukanggukkan
kepalanya Tunggul Ametung melangkah surut, kemudian
kepada Nyai Puroni ia berkata, “Nyai, rawatlah gadis ini
baik-baik.”
Nyai Puroni menganggukkan kepalanya, tetapi betapa hambar
perasaannya. Jawabnya, “Hamba Tuanku.”
Tunggul Ametung kemudian tidak berkata apapun lagi. Segera ia
melangkah meninggalkan ruang itu. Di muka pintu dilihatnya
seorang emban duduk bersimpuh dan menyembahnya ketika ia
lewat.
“Layani gadis itu seperti kau melayani aku,” perintah Tunggul
Ametung.
Emban itu menjadi heran. Dipandanginya wajah Akuwu sesaat,
namun kemudian jawabnya, “Hamba Tuanku.”
Tunggul Ametung itu pun kemudian pergi ke biliknya, kepada
seorang pelayan diperintahkannya memanggil Daksina.
“Hamba Tuanku,” sahut pelayan itu.
“Cepat. Ia harus datang sekarang membawa kitab yang paling
baik yang dikenalnya.”
“Hamba Tuanku,” sahut pelayan itu yang kemudian berlari-lari
pergi ke rumah Daksina di halaman belakang istana.
Sejenak kemudian Daksina datang sambil membawa Kidung yang
lagi dibacanya di rumahnya, Smaradahana.
“Ya, bacalah!” perintah Akuwu.
Dengan suaranya yang lembut Daksina kemudian membaca
lontar kidung Smaradahana.
Akuwu yang sedang dilanda oleh berbagai perasaan itu merasa
betapa hatinya menjadi penat. Suara Daksina itu seolah-olah
langsung menyentuh membelai seisi dadanya. perlahan-lahan
akuwu dapat mengendapkan kesibukan perasaannya, sehingga
sesaat kemudian Tunggul Ametung itu tertidur.
Ken Dedes yang kemudian ditinggalkan oleh Akuwu Tunggul
Ametung, masih saja meratapi nasibnya yang pahit. Ia tidak dapat
mengerti kenapa hal itu harus menimpa pada dirinya. Namun
sekejap-sekejap terngiang juga kata-kata Akuwu Tunggul Ametung
di telinganya. Terasa bahwa Tunggul Ametung telah mencoba
berkata setulus hatinya. Terasa bahwa Akuwu itu benar-benar telah
menumpahkan segenap perasaan yang tersimpan di dalam
dadanya. Bahkan kadang-kadang di telinga Ken Dedes itu masih
juga terulang-ulang kata-kata Tunggul Ametung, “Ken Dedes,
berkatalah. Apakah yang kau kehendaki dariku untuk menebus
kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu.
Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.”
Kemudian Tunggul Ametung itu berkata pula, “Ken Dedes, tak
ada yang lebih berharga yang ada padaku daripada itu. Sehingga
dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa yang ada padaku telah
aku sediakan untuk menebus kesalahanku.”
Ketika Ken Dedes kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya
Nyai Puroni duduk tepekur di sisi pembaringannya. Karena tidak ada
orang lain, maka kepada Nyai Puroni itulah Ken Dedes ingin
menceritakan dan menumpahkan segenap tekanan yang
menghimpit dadanya selama ini. Ketika dilihatnya Nyai Puroni masih
saja menundukkan wajahnya, maka perlahan-lahan terdengar Ken
Dedes itu memanggil, “Nyai.”
Nyai Puroni mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu sudah tidak
sebening ketika ia pertama-tama memasuki ruangan itu.
“Apa Ngger?” sahutnya.
“Apakah Nyai mengetahui maksud Akuwu Tunggu Ametung
dengan segenap kata-katanya itu?”
Nyai Puroni mengangkat keningnya. Kemudian sambil
mencibirkan bibirnya ia berkata, “Perkataan seorang laki-laki
biasa.”
“Kenapa Nyai?” bertanya Ken Dedes.
Nyai Puroni tidak segera menjawab. Sekali dipandangnya wajah
gadis pedesaan itu.
“Memang cantik,” gumamnya di dalam hati. Tetapi tiba-tiba pula
merayap pada dinding jantungnya, perasaan iri hati atas nasib Ken
Dedes yang sangat baik itu. Telah berapa tahun ia mengabdikan diri
pada Akuwu Tunggul Ametung, namun tidak pernah ia menerima
limpahan kebaikan hati sepersepuluh dari yang diterima oleh Ken
Dedes. Sebagai seorang dukun, ia masih saja harus melakukan
pekerjaannya dengan keadaan yang sama seperti dua tiga tahun
yang lampau.
Kemenakannya, seorang gadis yang cantiknya menyamai bidadari
dan diabdikannya pula di istana ini, sejak ia menginjak gerbang
istana dua tahun yang lampau sampai saat ini masih saja tidak lebih
dari seorang emban juru makanan. Sekali-kali Akuwu Tunggul
Ametung memuji kepandaiannya memasak. Namun besok Akuwu
telah melupakannya pula. Sekarang tiba-tiba di istana itu hadir
seorang gadis desa, berkain lurik kasar, berkulit kehitam-hitaman
dibakar oleh terik matahari, namun langsung di tempatkan oleh
Akuwu di sentong tengen. Dan bahkan telinganya sendiri
mendengar betapa Tunggul Ametung telah mengucapkan suatu janji
yang tak ternilai.
Ketika dukun tua itu tidak segera menjawab, maka kembali Ken
Dedes bertanya, “Kenapa Nyai? Kenapa dengan seorang laki-laki
biasa?”
Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya,
“Kau masih terlalu muda Ngger. Kau belum tahu apa yang dikatakan
oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bukankah kau
mendengar bahwa Tunggul Ametung itu akan menyerahkan apa
saja yang ada padanya kepadamu? Nah, itulah suatu pertanda
bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu sedang mencoba merayumu.
Tetapi jangan kau harap bahwa kau akan dapat menjadi seorang
permaisuri yang benar-benar memiliki kekuasaan di Tumapel
melampaui kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Dedes memandang Nyai Puroni dengan heran. Ia mendengar
Akuwu berkata demikian kepadanya. Tetapi ia melihat perubahan
sikap, nada dan tekanan kata-kata Nyai Puroni.
Dan sebelum Ken Dedes berkata apapun, maka kembali Nyai
Puroni itu berkata, “Nah, karena itu jangan terlalu berbangga
dengan dirimu Ngger. Kau kini berani menyebut nama Akuwu
Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun. Mungkin kini Akuwu
masih dapat menahan kemarahannya karena keinginannya untuk
mendapat kesediaanmu. Tetapi nanti, apabila ibarat bunga,
madumu telah habis dihisapnya, maka kau akan dilemparkan ke
dalam parit.”
“Nyai,” potong Ken Dedes.
Nyai Puroni, dukun tua yang berwajah bening dan lembut itu
tiba-tiba tertawa. Suaranya bernada tinggi meskipun perlahanlahan.
Katanya, “Jangan takut. Itu adalah akibat biasa bagi seorang
gadis yang diingini oleh Tunggul Ametung. Pembaringan ini dapat
menjadi saksi. Berapa banyak gadis seperti Angger ini, yang
mulamula
berbaring di sentong tengen akhirnya berkeliaran di sepanjang
jalan Tumapel. Ada di antara mereka yang menjadi gila dan ada
pula yang membunuh dirinya sendiri.”
“Nyai terlalu mengerikan.”
“Ya. Aku berkata sebenarnya.”
“Tetapi, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi
apapun di sini, apalagi seorang permaisuri.”
Nyai Puroni tersenyum. Senyumnya menjadi semakin
menakutkan. Wajahnya kini sama sekali berubah. Sinar matanya
yang lembut tiba-tiba kini seakan-akan membakar jantung Ken
Dedes. Katanya, “Oh, oh. Jangan mengelabui orang tua Ngger.
Adakah di dunia ini seseorang yang menolak kebahagiaan itu tanpa
mengetahui akibatnya?”
“Nyai,” bantah Ken Dedes, “bukankah Nyai melihat keadaanku
pada saat aku datang? Kalau aku benar-benar berkeinginan seperti
yang Nyai katakan, maka aku sekarang akan terbakar oleh
kegirangan tiada bandingnya.”
“Aku orang tua Ngger. Aku memang pernah melihat, seorang
gadis tanpa diminta pendapatnya, langsung dibawa oleh Akuwu.
Gadis itu menjadi ketakutan seperti Angger ini. Tetapi ketika
diketahuinya bahwa yang akan didapatnya adalah istana dan
kekuasaan atas Tumapel, maka dengan serta-merta ia
menerimanya. Tetapi akibatnya?”
“Oh,” Ken Dedes menutup wajahnya. Tetapi bagaimanapun juga
Ken Dedes bukan seorang yang sangat bodoh. Ia melihat pada saatsaat
Akuwu Tunggul Ametung datang bersama Kuda Sempana. Ia
melihat, bahwa Akuwu belum mengenal dirinya. Dan ia mengetahui
apa yang pernah dilakukan oleh Kuda Sempana atasnya. Karena itu
ia menjadi bimbang atas keterangan Nyai Puroni itu. Mungkin
Akuwu pernah berbuat demikian, namun kehadiran dirinya di
Tumapel bukan atas kehendak Tunggul Ametung, tetapi atas
kehendak Kuda Sempana. Meskipun demikian, Ken Dedes tidak
membantah lagi. Dibiarkannya Nyai Puroni berkata terus.
“ Nah Ngger. Terserah kepada Angger. Apakah Angger akan
menerima nasib seperti itu? Seperti gadis-gadis yang kemudian
membunuh diri atau berkeliaran sepanjang jalan karena terganggu
ingatannya.”
Ken Dedes menutupi wajahnya semakin rapat. Suara itu benarbenar
seperti suara hantu di tengah-tengah tanah perkuburan.
Nyai Puroni yang melihat Ken Dedes ketakutan, menjadi gembira.
Ia mengharap gadis itu menolak. Dengan demikian ia tidak harus
menyembah seorang gadis desa apabila ia benar diangkat menjadi
seorang permaisuri. Mungkin Nyai Puroni dapat mencari gadis-gadis
terhormat atau bahkan seorang gadis dari istana Kediri untuk
permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Bukan hanya seorang gadis
dari Panawijen.
Sebelum Akuwu berhasil mendapatkan seorang permaisuri, dapat
saja Tunggul Ametung mengambil satu atau dua orang selir. Kalau
berkenan di hati Akuwu, maka kemenakannya yang kini menjadi
juru makanan dapat juga diambilnya. Tetapi jangan gadis desa ini.
Gadis yang menjadi seorang selir pun kurang pantas meskipun
cantik.
Ketika kemudian Nyai Puroni masih saja menakut-nakuti, maka
akhirnya hati Ken Dedes menjadi tidak tahan lagi. Sahutnya, “Nyai,
bukankah Nyai telah mendengarnya sendiri, bahwa yang membawa
aku kemari adalah Kuda Sempana. Sama sekali bukan Akuwu
Tunggul Ametung. Apalagi atas persetujuanku.”
Nyai Puroni terdiam sesaat, sejak semula memang ia telah
menyangka bahwa semua itu adalah pokal Kuda Sempana. Bahkan
semula menaruh belas yang dalam kepada gadis yang malang itu.
Tetapi tiba-tiba perataan iri dan dengki telah menyala di dalam
hatinya, seolah-olah telah membakar hangus segala sifatnya. Sifat
seorang dukun yang pengasih dan berhati lembut. Harga dirinya
sebagai seorang perempuan istana menghadapi seorang gadis desa,
mendorongnya untuk menolak kehadiran Ken Dedes di dalam istana
Tumapel.
Setelah berdiam diri sejenak maka Nyai Puroni itu kemudian
menjawab, “Apapun sebabnya Ngger, namun kau sekarang telah
berada di sentong tengen ini. Kalau kau mau mendengar nasihatku,
jangan kau penuhi permintaan Akuwu. Meskipun dikatakannya
untuk menebus kesalahan dan apa saja. Kau harus dapat
membedakan. Seorang laki-laki berkata sungguh-sungguh atau
seorang laki-laki sedang merayu. Kalau benar Tunggul Ametung
akan menebus kesalahannya, dan segenap permintaanmu akan
dipenuhi, cobalah, mintalah kau dikembalikan ke rumahmu. Mintalah
tanah yang luas dan mintalah ternak dan iwen untuk bekal hidupmu
kelak. Mudah-mudahan kau akan menemukan suami yang baik
kelak dan kau akan dapat hidup dengan baik pula Ngger.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab
lagi. Kata-kata Nyai Puroni mempunyai pengaruh yang sangat aneh
di dalam dirinya. Ken Dedes, gadis desa yang manja, yang kurang
sekali memiliki pengalaman itu, ternyata dapat membedakan nada
dan tekanan kata-kata yang diucapkan oleh Tunggul Ametung dan
Nyai Puroni. Ia melihat kejujuran membayang di wajah akuwu yang
suram dan dalam. Tetapi di balik kata-kata Nyai Puroni terasa ada
yang kurang wajar. Orang tua yang baik dan lembut itu tiba-tiba
saja berubah menjadi seorang yang berlidah tajam. Tetapi Ken
Dedes sama sekali tidak segera dapat menarik kesimpulan dari
semua pembicaraan yang didengarnya.
Tetapi karena itu, maka ia terpaksa berpikir. Dengan demikian
maka ia tidak lagi tenggelam dalam arus perasaannya. Perasaan
duka dan hampir putus asa. Justru karena itu, maka tiba-tiba ia
mulai dengan pertimbangan-pertimbangan yang semakin lama
menjadi semakin bening. Ia mulai berpikir dan mempertimbangkan
semua peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atas dirinya, atas
keluarganya dan atas Wiraprana yang malang.
Ketika kemudian tebersit di dalam hatinya. bahwa segala akhir
dari peristiwa adalah terletak di tangan Yang Maha Agung, maka
Ken Dedes benar-benar dapat mengendapkan hatinya. Adalah
wewenang dari setiap orang untuk mempertimbangkan,
merencanakan dan mengusahakan jalan dan arah hidupnya. Namun
kadang-kadang yang Maha Agung berkehendak lain dari kehendak
orang itu sendiri. Namun yang berlaku itulah keadilan yang
sebenarnya yang dianugerahkan oleh Sumber Hidup manusia
kepada manusia. Sedang Yang Maha Agung itu pun pasti akan
mendengar setiap permohonan dari makhluk terkasihnya, sepanjang
permohonannya itu wajar menurut penilaian tertinggi, bukan
penilaian manusia. Itulah sebabnya maka manusia diwajibkan
berusaha, sebagai ungkapan kesungguhan atas permohonannya.
Beberapa saat kemudian Nyai Puroni masih saja memberikan
beberapa pendapat kepada Ken Dedes. Berbagai-bagai hal
dikemukakan dan diberikannya beberapa contoh yang dapat
menambah kecemasan hati gadis Panawijen itu. Namun kini Ken
Dedes sama sekali tidak menjawab. Satu patah kata pun tidak.
Sehingga akhirnya Nyai Puroni itu berhenti dengan sendirinya.
Namun dukun tua itu, sama sekali tidak dapat menangkap kesan
wajah Ken Dedes. Ia mengharap gadis itu ketakutan, dan nanti
apabila Tunggul Ametung datang kembali, maka ia akan minta
dikembalikan ke Panawijen, sesuai dengan janji akuwu, akan
memberi apa saja yang dimintanya.
Karena Ken Dedes sama sekali tidak menjawab semua katakatanya,
dan tidak segera dapat memberinya kesan atas semua
kata-katanya, maka Nyai Puroni itu menjadi kecewa. Meskipun
demikian ia mengharap bahwa gadis desa itu akan menuruti
katakatanya.
Untuk memberinya waktu, maka Nyai Puroni itu pun
kemudian berkata, “Pikirkan nasihatku Ngger. Aku ingin Akuwu tidak
membuat korban-korban baru. Aku akan pergi ke belakang
sebentar. Biarlah emban di luar itu mengawasimu di sini. Tetapi
ingat, jangan kau katakan nasihatku kepada siapa pun, supaya kau
tidak terancam oleh kekerasan. Sebab Akuwu dapat merayumu
dengan kata-kata, namun dapat juga memaksamu dengan senjata.
Bukankah kau seorang gadis yang lemah? Nah, simpanlah nasihatku
dan pertimbangkanlah seorang diri.”
Kali ini Ken Dedes mengangguk sambil berkata, “Baik Nyai.”
Nyai Puroni itu pun kemudian berdiri dan melangkah keluar. Di
luar dijumpainya seorang emban duduk sambil mengantuk.
“He,” desis Nyai Puroni sambil menyentuh pundaknya.
Emban itu terkejut. “Ada apa Nyai,” sahutnya tergagap.
“Aku akan pergi sejenak. Tungguilah gadis itu. Jangan kau
ganggu dengan cerita-cerita yang aneh-aneh. Ia masih saja
mengigau. Mungkin ia masih dibayangi oleh ketakutan, sehingga
pertanyaannya sangat aneh.”
Emban yang masih menguap sekali dua kali itu mengangguk
sambil menjawab, “Baik Nyai. Dan sekarang Nyai akan pergi ke
mana?”
“Aku akan ke belakang sebentar.”
“Bukankah Nyai tidak pergi terlalu lama? Aku takut menunggui
gadis itu seorang diri. Kalau tiba-tiba ia pingsan kembali, maka
aku
akan menjadi pingsan pula.”
“Tidak, aku tidak terlalu lama. Tetapi ingat. Gadis itu masih
dipengaruhi oleh ketakutan. Karena itu, jangan membantah
pertanyaannya. Biarkan saja apa yang dikatakan. Kau dengar?”
Meskipun emban itu tidak mengerti maksud Nyai Puroni namun ia
menganggukkan kepalanya, “Baik Nyai,” jawabnya.
“Pertanyaannya sangat aneh,” Nyai Puroni meneruskan, “tetapi
ingat-ingat, jangan dibantah, sebab ia akan menjadi kecewa dan
pingsan kembali. Ia mendendam Akuwu, sehingga ia menganggap
Akuwu terlalu jahat. Tetapi ingat, jangan dibantah.”
“Ya, ya,” sahut emban itu.
Nyai Puroni itu pun kemudian melangkah pergi. Menuruni tangga
di ruang dalam dan kemudian menyeberang serambi dan sampailah
ia ke halaman belakang.
Sepeninggal Nyai Puroni, emban yang ditinggalkan di muka pintu
pun segera melangkah masuk. Ditemuinya Ken Dedes berbaring di
pembaringan sambil mengusapi air matanya, namun gadis itu sudah
tidak menangis lagi.
Ketika dilihatnya seorang emban berjalan masuk ke bilik itu, Ken
Dedes bangkit dan menganggukkan kepalanya.
“Silakan berbaring, putri … eh …”
“Jangan panggil aku demikian. Aku adalah seorang gadis desa,
gadis Panawijen.”
“Bagaimana aku harus memanggil?”
“Panggil namaku, Ken Dedes. Siapakah namamu?”
“Oh,” emban itu menjadi gelisah. Katanya selanjutnya, “Namaku
Madri.”
“Madri,” ulang Ken Dedes, “nama yang bagus.”
Emban itu menjadi heran mendengar Ken Dedes memuji
namanya. Kesan yang dikatakan oleh Nyai Puroni sama sekali tak
ditemuinya pada wajah gadis Panawijen itu. Bahkan gadis itu
sempat menanyakan namanya dan memuji nama itu. Meskipun
demikian emban itu tidak berkata-kata untuk sejenak. Diletakkannya
tubuhnya di samping pembaringan Ken Dedes.
“Duduklah di sini Madri,” ajak Ken Dedes.
“Oh. Jangan. Jangan. Aku adalah seorang emban meskipun
namaku bagus.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Gadis emban ini menarik
perhatiannya. Agaknya gadis ini, gadis yang cukup jujur.
“Apakah emban tidak boleh di pembaringan ini?” bertanya Ken
Dedes.
“Tidak. Emban hanya boleh duduk di lantai.”
Kembali Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ditatapnya wajah emban yang menunduk itu. Kemudian
dipandanginya tubuhnya sendiri. Ternyata emban itu tampak lebih
bersih daripadanya. Kulitnya, pakaiannya dan rambutnya. Tetapi kini
Ken Dedes tidak mau lagi hanyut dalam arus perasaannya. Ia
mencoba untuk menghadapi setiap persoalan dengan akal
pikirannya.
Karena itu, meskipun ia melihat kekurangannya, namun ia tidak
segera merasa betapa kecil dirinya.
Setelah mereka terdiam sesaat, maka timbullah keinginan Ken
Dedes untuk mengetahui kebenaran kata-kata Nyai Puroni.
Meskipun semula ia menjadi ragu-ragu, namun kemudian terdengar
ia bertanya, “Emban, siapakah yang pernah berbaring di
pembaringan ini?”
Emban itu mengangkat wajahnya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu.
Teringat pula olehnya pesan Nyai Puroni untuk tidak membantah
setiap kata-kata gadis itu. Namun pertanyaan ini tidak berkesan
apa-apa baginya, bukan pertanyaan seorang yang ketakutan dan
akan jatuh pingsan. Karena itu maka dijawabnya. “Belum ada.
Belum pernah ada seorang pun yang dibaringkan di pembaringan
ini.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Pada pertanyaannya yang
pertama ia telah semakin meragukan kebenaran keterangan Nyai
Puroni. Karena itu, maka ia bertanya pula, “Madri, sentong apakah
ini namanya. Begitu baiknya, penuh dengan ukiran dan
perhiasanperhiasan.”
“Sentong ini adalah sentong yang selama ini selalu kosong.
Sentong ini disediakan untuk permaisuri.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban itu. Kalau
demikian apakah maksud Tunggul Ametung sebenarnya? Kenapa ia
di tempatkan di sentong ini sejak permulaan?
Kembali Ken Dedes bertanya kepada emban yang muda itu,
“Kenapa bukan kau Madri? Kenapa bukan kau yang cantik itu
dibaringkan di pembaringan ini?”
“Ah,” desah Madri sambil menggigit ujung kainnya. Tetapi ia
tidak menjawab.
“Jadi Akuwu Tunggul Ametung belum pernah bepermaisuri?”
“Belum. Belum,” jawab emban itu.
“Belum berselir?”
“Belum, belum.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia ingin
mencoba bertanya. Kali ini Ken Dedes ingin mengetahui, kenapa
Nyai Puroni tidak memberi gadis itu pesan, agar ia berbohong pula
kepadanya. Katanya, “Tetapi Madri. Aku pernah mendengar bahwa
Akuwu Tunggul Ametung pernah beberapa kali mengambil gadisgadis
dan kemudian segeralah tidak dipakainya lagi, maka gadisgadis
itu dibuangkannya ke tepi-tepi jalan? Begitu?”
Madri terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian
teringatlah ia akan pesan Nyai Puroni supaya ia mengiakan semua
pertanyaan gadis yang sedang mendendam itu, supaya gadis itu
tidak gusar dan pingsan kembali. Tetapi sebenarnya Madri bukanlah
gadis yang terlalu bodoh. Bahkan ia mempunyai otak yang cukup
baik, apalagi emban itu adalah emban yang jujur. Meskipun
demikian ia tidak berani menolak pesan Nyai Puroni. Seandainya
terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada gadis itu, maka pasti
dirinyalah yang akan dipersalahkan. Namun emban itu masih ingin
bertanya kepada Ken Dedes katanya, “Dari manakah berita itu?”
Ken Dedes menggeleng, “Tidak dari seorang pun di sini.”
Emban itu mengerutkan keningnya. Sekali ditatapnya wajah Ken
Dedes. Namun pada wajah itu sama sekali tidak dilihatnya kesan
yang dikatakan oleh Nyai Puroni kepadanya, kesan bahwa gadis itu
sedang dalam ketakutan dan mendendam.
“Bagaimana Madri?” bertanya Ken Dedes itu pula.
Madri menjadi ragu-ragu. Ia tidak dapat menduga maksud Nyai
Puroni yang sebenarnya. Tetapi kembali ia merasa takut untuk
melanggar pesan itu. Karena itu, meskipun sama sekali tidak
memancar dari lubuk hatinya ia menjawab ragu-ragu, “Ya. ya Tuan
…”
“Panggil namaku, Ken Dedes,” sahut Ken Dedes.
“Ya, demikianlah.”
“Jadi pendengaranku itu benar?”
Emban itu mengangguk penuh kebimbangan, “Ya. Ya benar.”
Tetapi Ken Dedes menjadi semakin tidak yakin akan jawaban itu.
Maka desaknya, “Jadi, adakah seandainya pembaringan ini dapat
mendengar, maka ia akan mendengar banyak sekali keluhan gadisgadis
korban Akuwu Tunggul Ametung itu, dan seandainya ia dapat
bercerita maka akan banyak sekali cerita sedih yang dapat diberikan
kepada kita, Madri.”
Madri menjadi semakin bimbang. Namun kembali ia
mengangguk, tetapi sama sekali tidak meyakinkan, “Ya.
Demikianlah.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah menemukan
keyakinan, bahwa Nyai Puroni tidak berkata sebenarnya, dan emban
yang jujur itu pun telah mencoba untuk membohonginya.
Meskipun demikian Ken Dedes tidak menanyakan kepada Madri,
manakah yang benar menurut kata-kata emban itu sendiri, bahwa
pembaringan ini masih belum pernah dipergunakan, atau
pembaringan ini telah menyimpan banyak sekali kisah pahit dari
gadisi yang kemudian dilemparkan begitu saja di tepi-tepi jalan.
Namun emban itu agaknya telah merasa kejanggalan jawabnya
sendiri. Berkali-kali ia menelan ludahnya. Ingin ia, memberikan
beberapa penjelasan. Tetapi suaranya seakan-akan tersumbat di
kerongkongan. Sehingga karena itu, maka tubuhnya menjadi basah
oleh keringat dingin yang mengalir dari seluruh lubang-lubang
kulitnya. Dadanya terasa seolah-olah bergelora, karena detik
jantungnya yang semakin cepat, namun di dalam kepalanya sempat
ia membuat perhitungan-perhitungan.
“Tak seorang pun pernah mengatakan seperti berita yang pernah
didengar gadis itu,” desisnya di dalam hati, “sanak kadang ku yang
tinggal di desa-desa dan yang tinggal di dalam kota ini sekalipun,
tidak pernah ada yang menyebut-nyebut tentang cerita semacam
itu. Dan tidak pernah pula mendengar dari seorang pun bahwa
Akuwu pernah mengambil seorang gadis dan mengorbankan gadis
itu dengan amat kejinya. Apalagi melihat. Tidak, Akuwu tidak
pernah berbuat demikian, dan tak ada seorang pun yang pernah
memfitnahkan demikian.”
Tetapi emban itu tiba-tiba mengerutkan lehernya. Serasa seluruh
bulu-bulunya tegak berdiri, ketika ia sampai pada kesimpulan yang
ditemui oleh gadis ini pertama-tama adalah Nyai Puroni. Apakah
orang tua itulah yang telah membuat cerita yang mengerikan itu?
Emban itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Bukan Nyai Puroni.
Orang itu tidak mempunyai kepentingan apapun dengan Ken Dedes
maupun Akuwu Tunggul Ametung,” desisnya di dalam hati, “tetapi
siapa? Atau benar seperti yang dikatakan oleh Nyai Puroni, bahwa
Ken Dedes selalu dikejar-kejar oleh perasaan takut dan dendam,
sehingga dikarangnya sendiri cerita semacam itu atau
dibayangkannya, bahwa sebelum dirinya sendiri, banyak gadis-gadis
yang mengalami bencana semacam itu? Tetapi wajah gadis itu
sedemikian tenangnya.”
Emban itu menjadi bingung sendiri. Tetapi kemudian ia menarik
nafas dalam-dalam, “Ah, apa peduliku? Dengan berpusing-pusing
tentang gadis ini gajiku belum pasti akan mendapat kenaikan.
Biarlah aku melakukan pekerjaanku seperti yang diperintahkan.”
Tetapi emban itu terkejut ketika Ken Dedes berkata, “Jadi cerita
itu benar-benar telah terjadi, Madri?”
“Ya,” jawab emban itu singkat.
“Tetapi kenapa kau tidak takut menghambakan dirimu di istana
ini? Kau terlalu cantik Madri. Jauh lebih cantik dari setiap gadis
yang
pernah aku jumpai. Apalagi kau masih muda dan sehat. Apakah
senyummu itu tidak sangat berbahaya bagimu?”
Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu maka
emban itu pun menundukkan wajahnya yang menjadi kemerahmerahan.
Ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab
pertanyaan itu, namun ia menjadi malu atas pujian yang
berlebihlebihan.
karena itu, maka Madri itu pun sama sekali tidak
menjawab.
Ken Dedes pun tidak mendesaknya pula. Ia telah menemukan
keyakinan. Dan karena ini ia menjadi senang. Gadis Panawijen itu
ternyata menjadi heran sendiri atas ketenangan yang menyelimuti
jiwanya. Pasrah diri pada sumber hidupnya, dan agaknya peristiwa
yang telah mengguncangkan jiwa dan raganya ini, benar-benar
telah mengguncangkan segala macam sifat kekanak-kanakan dan
kemanjaannya. Dalam beberapa hari, Ken Dedes telah benar-benar
berubah menjadi seorang gadis dewasa. Kejutan atas perasaannya
telah mempercepat dan mematangkan jiwanya. Sehingga karena itu
pula, ia mampu kini berpikir dalam alam kedewasaannya.
Karena itulah, maka ia tidak ingin membuat emban itu bertambah
bingung. Dikisarkannya pembicaraannya ke segi-segi yang sama
sekali jauh menghindar dari persoalan-persoalan dirinya.
“Madri, emban yang manis,” berkata Ken Dedes, “sudah berapa
lamakah kau berada di dalam istana ini?”
Mendengar pertanyaan itu dada Madri berdesir. Dijawabnya
sambil menundukkan kepalanya, “Hampir dua tahun, Tuan.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
sambungnya, “Jadi kau sudah melihat hampir segenap sudut istana
bukan?”
Madri mengangguk.
“Kau pernah melihat, di mana seisi istana ini harus mandi?”
Madri kini mengangkat wajahnya, “Ya,” sahutnya.
“Madri, sudah dua hari aku tidak menyentuh air.”
Emban itu menarik keningnya. Dua hari terpisah dengan air bagi
seorang perempuan adalah cukup lama. Seandainya Ken Dedes
dalam dua hari itu tidak sedang dilanda oleh berbagai keguncangan
maka yang dua hari itu pasti benar-benar memusingkan kepalanya
untuk menyentuh air.
“Jadi apakah Tuan akan mandi?” bertanya emban itu.
“Panggil namaku, Ken Dedes.”
“Ya,” sahut Madri dengan kaku, “apakah Tuan akan mandi?”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya
kehadirannya di ruangan ini sangat berpengaruh baginya sehingga
emban itu tidak berani menyebut namanya. Tetapi Ken Dedes tidak
ingin memperbincangkannya lebih banyak. Karena itu jawabnya,
“Aku ingin mencuci muka dan tanganku.”
Madri dapat mengerti, bahwa Ken Dedes benar-benar
memerlukan air. Tetapi apakah ia dapat mengantarkan gadis itu ke
belakang? Apakah dengan demikian ia tidak bersalah, dan
bagaimanakah seandainya gadis itu melarikan diri?
Madri benar-benar menjadi bingung, sehingga untuk sejenak ia
tidak dapat menjawab.
“Bagaimana Madri?”
“Ya Tuan, tetapi apakah Tuan dapat menunggu Nyai Puroni?”
“Kenapa aku harus menunggu?”
Kembali emban itu menjadi bingung. Sekali-kali dijenguknya bilik
pintu itu, dan sambil berdesis ia menunggu Nyai Puroni.
“Siapa yang kau tunggu?” bertanya Ken Dedes itu tiba-tiba.
“Nyai Puroni, Tuan,” sahut Madri.
“Aku tidak perlu menunggunya. Marilah antarkan aku ke
belakang.”
“Ya, ya. Tetapi …. “ emban itu tidak meneruskan kata-katanya.
Ken Dedes melihat keragu-raguan itu. Akhirnya ia pun dapat
memahami kesulitan Madri. Karena itu maka kemudian katanya,
“Baiklah aku menunggu Nyai Puroni.”
Madri menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjadi gelisah.
Demikian gelisahnya, sehingga ia berkata, “Aku akan keluar
sebentar Tuan, menjenguk apakah Nyai Puroni ada di emper
belakang.”
Ken Dedes mengangguk, “Pergilah. Cepat kembali, aku tidak
tahan lagi.”
Emban itu berlari-lari keluar. Ketika ia menjenguk ke serambi
belakang, alangkah terkejutnya. Yang mondar-mandir di serambi
adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu segera berjongkok
sujud menyembah.
“Apa?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.
Pertanyaan itu benar-benar membingungkan. Sehingga emban
itu menjadi tergagap karenanya.
“Mau ke mana?” bertanya Akuwu itu pula.
“Ampun Tuanku, hamba akan mencari Nyai Puroni.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. “Ke mana Nyai
Puroni.”
“Ke belakang Tuanku.”
“Kau tinggalkan gadis itu sendiri?”
“Ampun Tuanku, gadis itu akan pergi ke belakang. Hamba takut
mengantarkannya sebelum hamba minta izin dahulu kepada Nyai
Puroni.”
“Kenapa minta izin Nyai Puroni?”
Kembali emban itu menjadi bingung. Ia tidak tahu, bagaimana
menjawab pertanyaan akuwu itu, sehingga emban itu pun
menundukkan wajahnya yang pucat.
“Nah, antarkan gadis itu sekarang.”
“Hamba Tuanku,” sahut emban itu sambil menyembah.
Kemudian sambil berjongkok ia beringsut kembali masuk ke dalam
bilik kanan di ruang dalam.
Ken Dedes itu pun segera diberitahukannya, bahwa akuwu
sendiri telah mengizinkannya untuk pergi.
“Apakah aku seorang tawanan Madri?” bertanya Ken Dedes.
Pertanyaan itu sama sekali tidak diduga-duga. Sekali lagi ia
dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak dimengerti
jawabnya. Kali ini Madri itu menjawab dengan jujur, “Tuan, aku
adalah seorang emban, sehingga tidak banyaklah yang aku ketahui
tentang diri Tuan. Bahkan tentang diriku sendiri di dalam istana
ini.”
Ken Dedes tersenyum. Ditepuknya bahu emban itu sambil
berkata, “Kau jujur Madri.”
Ken Dedes itu pun kemudian mengikuti Madri berjalan lewat
pintu samping, menyeberangi serambi jauh di ujung untuk
menghindari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi tiba-tiba mereka
terkejut ketika mereka mendengar tepuk tangan. Ketika mereka
berpaling, mereka melihat akuwu berjalan bergegas-gegas kepada
mereka, sehingga dengan serta-merta emban itu pun menjatuhkan
diri berjongkok sambil menyembah. Ken Dedes yang sudah
menemukan ketenangannya pun segera berjongkok pula di
belakang Madri.
Tetapi terdengar Tunggul Ametung berkata dari tempat yang
masih agak jauh, “Berdirilah. Berdirilah.”
Madri menjadi bingung. Kenapa ia harus berdiri. Ketika ia
mencoba memandang Akuwu, dilihatnya tangannya memberi isyarat
untuk berdiri.
Dengan ketakutan Madri perlahan-lahan berdiri. Terasa kakinya
menjadi gemetar. Tetapi kembali ia membanting dirinya ketika ia
mendengar Akuwu berkata lantang, “Bukan kau emban yang bodoh!
Bukan kau yang harus berdiri!”
Madri menjadi semakin gemetar. Terasa seolah-olah ubunubunnya
telah terbuka. Karena itu, segera ia menyembah sambil
berkata gemetar, “Ampun Tuanku. Ampun. Hamba menjadi sangat
bingung.”
Ternyata Akuwu sama sekali tidak memedulikannya. Sekali lagi ia
berkata kepada Ken Dedes, “Berdirilah.”
“Terima kasih Tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba tidak dapat
melakukannya di hadapan Tuanku.”
“Hem,” Tunggul Ametung menggeram. Perubahan sikap Ken
Dedes itu menjadikan kepalanya semakin pening, dan wajah Ken
Dedes itu baginya semakin mempesona.
Karena itu, maka untuk sesaat Akuwu Tunggul Ametung terpaku
diam seperti patung. Sedang Madri masih saja duduk dengan
gemetar. Pandangan matanya menghunjam dalam-dalam ke ujung
kaki Tunggul Ametung yang kemudian berdiri di mukanya.
Baru sejenak kemudian Akuwu itu berkata, “Nah, antarkanlah
Ken Dedes ke pakiwan.”
“Hamba Tuanku,” sembah Madri.
Maka setelah menyembah keduanya pun lalu bergeser surut, dan
kemudian menuruni tangga serambi istana menuju halaman
belakang.
Tiba-tiba mereka terhenti ketika mereka mendengar Akuwu
bertanya, “He, mau ke mana?”
Madri benar-benar tidak mengerti. Akuwu Tunggul Ametung itu
kini benar-benar seperti orang yang tidak punya pekerjaan lain
daripada mengawasi mereka. Apakah akuwu itu sekarang memang
sudah kehilangan semua gairahnya untuk melakukan pekerjaannya
yang lain daripada mengurusi pakiwan?
Namun Madri menyembah, “Hamba akan mengantarkan gadis ini
ke pakiwan.”
“Kenapa ke sana?”
Madri benar-benar menjadi bingung. Hampir dua tahun ia
menghambakan diri di istana. Tetapi ia belum pernah mengalami
kebingungan seperti ini. Sehingga karena itu ia tidak mampu untuk
menjawab.
“Emban,” teriak Tunggul Ametung keras-keras.
Tetapi emban itu sudah terlalu biasa mendengarnya. Meskipun ia
masih juga gemetar tetapi ia tidak sedemikian terkejut seperti Ken
Dedes.
“Hamba Tuanku,” sahut emban itu.
“Apakah kau gila. Bukankah pakiwan dalam ada di ujung serambi
ini. Kenapa kau bawa gadis itu ke halaman belakang?”
Sekali ini dada Madri berdesir kembali. Pakiwan dalam adalah
bilik mandi khusus untuk Akuwu Tunggul Ametung. Sekarang ia
mendapat perintah untuk membawa Ken Dedes ke bilik itu. Dengan
demikian maka kepala emban itu seakan-akan benar-benar akan
terlepas dari lehernya.
Tetapi ia tidak dapat berbuat lain dari menurut perintah itu.
Setelah ia menyembah sambil membungkuk dalam-dalam, maka
berbisiklah emban itu kepada Ken Dedes, “Marilah Tuan, Tuan
diperkenankan mempergunakan bilik mandi di ujung serambi itu.”
Ken Dedes tidak menjawab. Ia tidak tahu bedanya pakiwan yang
manapun. Karena itu ia mengikuti Madri di belakangnya menyusur
serambi belakang menuju ke pakiwan yang disebut pakiwan dalam.
Sekali dua kali Madri ini berpaling ketika tidak dilihatnya lagi
Akuwu
Tunggul Ametung, maka ia menarik nafas dalam-dalam.
“Kenapa Akuwu marah?” bertanya Ken Dedes.
“Tidak,” sahut Madri, “Akuwu tidak marah. Adalah menjadi
kebiasaannya untuk berteriak-teriak dan memaki.”
Ken Dedes menarik nafas pula. Ia sejak saat itu harus
membinasakan diri mendengar Akuwu Tunggul Ametung berteriakteriak
dan memaki-maki.
Mereka sekali lagi terhenti ketika mereka mendengar seseorang
memanggil, “Madri! Madri!”
Serentak mereka berpaling, dan mereka melihat Nyai Puroni
berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.
“Akan ke manakah kalian?” bertanya Nyai Puroni itu.
“Aku akan mengantarnya ke pakiwan, Nyai.”
“Kenapa ke sana?”
“Ke pakiwan dalam.”
“He?” Nyai Puroni terkejut sehingga wajahnya menjadi merah,
“apakah kau sudah gila emban?”
Emban itu memandangi wajah Nyai Puroni yang kemerahmerahan.
Sekali lagi ia dihadapkan pada persoalan yang dapat
merontokkan rambutnya. Namun demikian emban itu menjawab,
“Nyai, Akuwu sendiri memerintahkan aku mengantarkannya ke
sana.”
“Bohong!” sahut Nyai Puroni, yang kemudian berkata kepada Ken
Dedes, “Jangan berbuat hal-hal yang dapat merugikan dirimu sendiri
Ngger. Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Aku kasihan
kepadamu. Betapa kau mengalami guncangan-guncangan yang
dahsyat. Mungkin kau sedang ketakutan dan mendendam, atau
mungkin kau ingin menunjukkan bahwa kau tidak mau dihinakan,
namun jangan melampaui batas-batas kesopanan. Betapapun buruk
perangainya, namun Akuwu Tunggul Ametung memiliki kekuasaan
yang tiada taranya di Tumapel.”
Ken Dedes pun kemudian menjadi bingung. Ia belum pernah
tinggal di dalam istana. Bahkan melihat bagian dalamnya pun baru
kali ini. Alangkah sulitnya hidup di istana. Soal pakiwan saja
telah
membuatnya pening. Dalam kebingungannya Ken Dedes itu
bertanya kepada Madri, “Madri, aku sama sekali tidak mengerti apa
yang sebaiknya aku lakukan.”
Emban itu menggeleng lemah, “Jangankan Tuan. Aku pun rasarasanya
benar-benar menjadi gila.”
“Kalau kau tidak berbuat aneh-aneh emban, maka kau tidak
akan menjumpai persoalan-persoalan yang membuatmu menjadi
bingung. Nah, antarkan Angger Ken Dedes ini ke belakang, ke
halaman belakang.”
“Aku sudah akan membawanya ke sana, Nyai, tetapi Akuwu
Tunggul Ametung membuat perintah lain. Aku harus membawanya
kemari.”
Nyai Puroni tertawa. Katanya, “Kau benar-benar telah menjadi
gila emban. Kau merasakan hal-hal yang tidak pernah dan tidak
mungkin terjadi.”
“Ah,” desah Ken Dedes kemudian, “aku hanya ingin
mendapatkan air. Ke manapun aku dibawa, bukan soal bagiku.
Janganlah terlalu dirisaukan ke mana aku dibawa. Aku perlu air.”
Tetapi Ken Dedes itu pun terkejut ketika ia melihat Madri
menangis. Betapa ia menahan diri, namun air matanya meleleh juga
di pipinya. Desahnya, “Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan.
Aku tidak berani melawan perintah Akuwu. Kepalaku akan
dipancungnya nanti.”
Nyai Puroni memandangi wajah Madri dengan kemarahan yang
memancar dari kedua matanya. Ketika ia melihat Madri menangis
maka katanya, “He, emban cengeng! Kenapa kau menangis?”
Madri tidak menjawab. Bahkan air matanya semakin banyak
meleleh di pipinya.
Namun yang menjawab adalah Ken Dedes, “Nyai, aku pun
mendengar pula perintah Akuwu itu. Aku diperintahkannya dibawa
ke pakiwan dalam.”
“He?” Nyai Puroni menjadi semakin marah, “Ngger kau belum
seorang permaisuri. Kau masih harus mengikuti adat dan peraturan
yang berlaku di sini.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah
hubungan antara permaisuri dan pakiwan itu?”
“Hem,” geram dukun tua itu. Namun di dalam hatinya ia
mengumpat, “pantaslah gadis desa yang bodoh. Kau tidak tahu
perbedaan penggunaan bangunan-bangunan di dalam istana ini.”
“Nini,” jawab Nyai Puroni itu kemudian, “pakiwan itu adalah
pakiwan khusus untuk Akuwu dan sudah tentu permaisurinya
kelak.”
“Oh,” Ken Dedes berdesah, “kalau demikian Madri, bawa aku ke
belakang.”
“Akuwu akan murka kepadaku.”
“Biarlah aku menanggung kesalahan itu,” sahut Ken Dedes.
Madri tidak menjawab. Dengan ragu-ragu ia berjalan ke
belakang. Ketika mereka berpaling dilihatnya Nyai Puroni berdiri
mengawasi mereka sambil tertawa. Suara tertawanya sedemikian
anehnya sehingga emban itu hampir-hampir tak mengenal bahwa
suara itu adalah suara Nyai Puroni.
Ken Dedes berjalan sambil menundukkan kepalanya. Mudahmudahan
Akuwu tidak melihat mereka lagi. Sehingga Madri akan
mengalami kesulitan pula.
Dan ternyata kemudian, bahwa Akuwu benar-benar tidak melihat
mereka lagi di halaman belakang. Karena Akuwu kemudian masuk
ke dalam biliknya.
Yang kemudian terpancang di dalam hati Ken Dedes, bukanlah
tentang pakiwan itu lagi. Meskipun soalnya adalah soal pakiwan,
namun gadis itu ternyata mampu mengurangi persoalannya lebih
jauh. Apakah keberatan Nyai Puroni tentang kesempatan yang
diberikan oleh Akuwu kepadanya? Ken Dedes yang telah didorong
ke dalam suatu dunia yang lain dari dunianya, dunia kekanakkanakan,
kemanjaan dan lingkungan padepokan yang sepi ke dalam
dunia yang penuh dengan keguncangan, dunia yang memerlukan
akal dan pikirannya untuk mengimbangi perasaannya, maka
mulailah ia mencoba menghubung-hubungkan. Semua
keteranganketerangan
yang didengarnya dari Akuwu Tunggul Ametung dari
Nyai Puroni dan dari Madri. perlahan-lahan ia mulai menemukan
beberapa kesimpulan yang mantap. Dirasakannya nada penyesalan
yang terungkapkan dalam setiap kata Akuwu Tumapel, perubahan
sikap dan kekasaran Nyai Puroni dan kejujuran Madri yang selalu
diliputi oleh kebingungan, ketakutan dan kecemasan.
Ketika Ken Dedes telah kembali ke biliknya, maka segera ia
membaringkan dirinya di pembaringan sentong tengen, seakan-akan
pembaringan itu adalah pembaringan yang memang tersedia
untuknya. Dengan tenang ia berkata kepada Madri dan Nyai Puroni,
“Nyai, aku akan beristirahat.”
Nyai Puroni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.
Dibiarkannya Ken Dedes berbaring dan dibiarkannya emban yang
mengawaninya pergi keluar. Ia sendiri duduk bersimpuh di lantai
bersandar dinding.
Dalam pada itu, Ken Dedes masih juga menganyam anganangannya.
Hilir mudik kembali ke dalam rongga kenangannya. Kuda
Sempana, Wiraprana yang malang, Mahisa Agni, kemudian Tunggul
Ametung, Nyai Puroni, Madri dan seorang emban tua yang
merawatnya sejak ia masih kecil dan kini ditinggalkannya di
Panawijen.
Tetapi Ken Dedes kini berada di dalam bilik itu seorang diri. Ia
tidak dapat minta pertimbangan kepada siapa pun setelah ia
menyadari, bahwa Nyai Puroni ternyata tidak jujur menghadapinya.
Namun terasa sesuatu merayapi dinding hatinya. Terasa seolaholah
Nyai Puroni telah menghinakannya. Ia hanya seorang gadis
desa. Terngiang kembali bentakan orang tua itu dalam nada
penghinaan, “Ngger, kau belum seorang permaisuri.”
Alangkah sakit hatinya. Ia sendiri tidak pernah bermimpi untuk
menjadi permaisuri. Ia sudah puas apabila ia dapat hidup rukun
dengan pemuda sedesanya, Wiraprana. Namun Wiraprana itu telah
mati. Dan akalnya mengatakan kepadanya, bahwa yang mati itu tak
akan hidup kembali.
“Alangkah pahit hidupku ini,” desahnya di dalam hati. Namun
terasa sesuatu yang merayap di dinding hatinya itu datang kembali.
Lamat-lamat, namun semakin lama semakin kuat. Ken Dedes
menggeleng lemah. Ia mencoba membunuh perasaan itu. Tetapi
setiap kali ia menyingkirkannya dari dinding hatinya, setiap kali
perasaan itu datang kembali. Dan perasaan itu berkata kepadanya,
”Ken Dedes, apakah kau menerima hinaan itu? Tidakkah kau ingin
membuktikan bahwa kau bukan seorang gadis yang hina-dina.
Bahwa kau benar-benar mampu menjadi seorang permaisuri. Ken
Dedes, kau akan dapat melawan hinaan itu tanpa membantah katakata
itu, dan kau dapat menunjukkan kepada Kuda Sempana,
bahwa anak yang kasar itu tidak cukup bernilai bagimu.”
Ken Dedes memejamkan matanya. Ia ngeri mendengar suara
perasaannya sendiri. Kembali ia mencoba memutar nalarnya.
Apakah hal itu dapat dilakukannya. Namun ternyata nalarnya
memperkuat perasaan itu. Harga diri dan kemarahannya yang tiada
taranya kepada Kuda Sempana, sehingga tanpa disadarinya,
tumbuhlah dendam di dalam hatinya. Dan dendamnya itu pun
merupakan salah satu unsur yang mendorongnya untuk mengambil
sikap untuk menempatkan dirinya, tidak lagi sebagai seorang gadis
yang malang, yang mengeluh akan nasibnya, yang selalu disaput
oleh kepedihan. Ken Dedes itu kemudian menelungkupkan
wajahnya ketika ia mendengar lagi hatinya berkata, “Wiraprana
telah mati. Karena itu maka aku tidak mengkhianatinya. Sebab yang
mati tidak akan hidup kembali.”
Beberapa lama Ken Dedes bergulat dengan perasaan sendiri.
Berbagai pertimbangan datang dan pergi. Berbagai masalah hilir
mudik di dalam rongga dadanya.
Dada Ken Dedes itu pun seakan-akan hampir meledak
karenanya. Ia tidak dapat melupakan Wiraprana. Cintanya kepada
pemuda itu adalah cinta yang kudus. Namun ia tahu pasti bahwa
Wiraprana itu sudah tidak ada lagi.
Nyai Puroni yang duduk bersandar dinding, memandangi Ken
Dedes dengan senyum di bibirnya. Terasa bahwa ia akan berhasil
mengurungkan niat Akuwu Tunggul Ametung dengan menakutnakuti
gadis ini. Karena itu maka dibiarkannya Ken Dedes bergulat
dengan angan-angannya sendiri. Tetapi sama sekali tidak
disangkasangka
bahwa Ken Dedes sama sekali tidak berpikir tentang
kemungkinan-kemungkinan yang pedih bagi dirinya. Ia sudah
menemukan keyakinan, bahwa cerita Nyai Puroni, sama sekali tidak
dapat dipercaya. Dan karena itu maka cerita itu tidak perlu
dipikirkannya. Yang menjadi persoalan di dalam diri Ken Dedes kini
adalah, bagaimana ia dapat membebaskan dirinya dari himpitan
perasaan yang selalu mengejarnya. Sebenarnyalah bahwa hilangnya
Wiraprana benar-benar telah mengguncangkan perasaannya. Bahwa
cintanya yang tumbuh telah direnggut patah dari dahannya.
Tanpa mereka sadari, maka waktu pun berjalan terus. Lambatlambat
namun pasti, merayap dari saat ke saat. Di langit matahari
mengapung dengan lambatnya, seperti seorang perantau yang lesu
menghadapi hari-hari mendatang yang kelam. Namun ia berjalan
terus. Beredar menurut garis edarnya. Seperti saat-saat yang
pernah dilampauinya. Dari timur ke barat, dan bergeser dari utara
ke selatan dan dari selatan ke utara dalam lintasan tahun ke tahun.
Ketika ruangan sentong tengen itu kemudian berangsur menjadi
gelap, maka seorang emban telah memasang lampu minyak dan
menggantungkannya pada sebuah gantungan yang indah. Nyalanya
yang kemerah-merahan memancar menerangi seluruh ruangan.
Ketika emban itu pergi, maka Nyai Puroni berkata kepada Ken
Dedes yang masih terbaring di pembaringan itu dengan kepala yang
semakin pening.
“Nini, baiklah aku pergi ke belakang. Tinggallah bersama emban
yang bernama Madri itu sebentar. Kalau kau ingin membersihkan
dirimu pula Nini, pergilah ke pakiwan belakang. Jangan terlalu
bangga bahwa kau telah dibaringkan di sentong ini.”
Ken Dedes mengangkat wajahnya. Sesaat ia memandangi wajah
orang tua. Wajah yang telah berubah tidak lagi seperti saat ia
pertama-tama melihatnya. Senyumnya kini tidak lagi sesejuk
senyumnya kemarin. Tetapi senyumnya kini terasa menusuk sampai
ke pusat jantung. Alangkah pedihnya. Meskipun demikian Ken
Dedes menjawab, “Baik Nyai. Aku tidak ingin pergi ke pakiwan.”
Nyai Puroni tidak menjawab. Tetapi ia tertawa dengan nada yang
tinggi. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan sekali lagi ia
menarik
nafas dalam-dalam ketika ia melihat Madri duduk terkantuk-kantuk
di muka pintu.
“Madri,” tegurnya, “tak ada yang pernah kau lakukan selain
menguap dan mengantuk.”
(bersambung )
Jilid 12
EMBAN ITU TERKEJUT. Tersentak ia mengangkat wajahnya dan
dilihatnya Nyai Puroni berdiri di sampingnya.
“Aku akan ke belakang sebentar emban,” berkata Nyai Puroni,
“tunggulah kau di dalam, mengawani Angger Ken Dedes. Tetapi
ingat semua pesan-pesanku.”
“Baik Nyai,” sahut Madri yang kemudian melangkah memasuki
sentong tengen mengawani Ken Dedes.
Dalam pada itu, di ruang yang lain Akuwu Tunggul Ametung
sudah siap menerima Witantra dan Ken Arok. Ketika kemudian
seorang pelayan menyampaikan kepada Tunggul Ametung bahwa
kedua orang itu telah berada di halaman belakang, maka segera
mereka berdua dipanggilnya menghadap.
Setelah ditanyakan oleh Akuwu Tunggul Ametung berbagai hal
mengenai keselamatan mereka sebagai adat kebiasaan, maka
kemudian bertanyalah Tunggul Ametung kepada Witantra, “Witantra
bagaimanakah keadaanmu? Apakah kau tidak mendapat cedera
apapun mengalami benturan kekuatan aji Kuda Sempana?”
“Tidak Akuwu. Hamba tidak mengalami sesuatu, Meskipun
hamba kemudian menjadi lemah. Apalagi ketika Adi Kuda Sempana
menghantam dada hamba dengan sebuah tendangan yang keras, di
mana hamba sama sekali tidak menyangka.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kemudian sambil
mengangguk-angguk ia berkata, “Aji Kala Bama adalah aji yang
dahsyat. Tetapi kau berhasil memunahkannya.”
Witantra mengerutkan keningnya. Ternyata aji yang
dipergunakan oleh Kuda Sempana itulah aji Kala Bama yang pernah
didengar namanya. Untunglah bahwa ia telah memiliki perisai untuk
melawannya. Aji Bajra Pati.
Yang terdengar kemudian Akuwu Tunggul Ametung meneruskan,
“Aku sangat berterima kasih kepadamu Witantra. Kau tentu akan
menerima hadiah yang pantas untuk segenap jasa-jasa itu.”
Witantra menundukkan wajahnya, jawabnya perlahan, “Tuanku.
Adalah jauh dari pamrih tentang hadiah atau kesempatan apapun
yang akan Tuanku limpahkan kepada hamba. Tetapi hamba hanya
sekedar melakukan tugas hamba.”
“Kau telah berbuat melampaui tugas keprajuritanmu Witantra.”
“Mungkin Tuanku, tetapi belum memadai tugas kemanusiaanku.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia menjadi
bertambah kagumnya kepada perwiranya yang satu ini. Dan kepada
orang yang demikianlah kemudian Tunggul Ametung telah
melimpahkan kepercayaan untuk memperbincangkan masalahmasalah
yang akan menentukan jalan hidupnya kemudian.
Maka berkata Akuwu Tunggul Ametung itu, “Witantra, aku telah
melihat kesetiaanmu yang tiada taranya. Kesetiaanmu kepadaku,
namun lebih tinggi lagi adalah kesetiaanmu kepada kemanusiaan,
sehingga kau berani menolak perintahku di Panawijen. Karena itu,
maka biarlah kepadamu berdua aku ingin menyatakan perasaanku
untuk mendapatkan pertimbangan-pertimbangan.”
Witantra dan Ken Arok sama sekali tidak menjawab. Mereka
menundukkan wajah mereka sambil menunggu, apakah yang akan
diberitahukan oleh akuwu itu kepada mereka.
“Witantra dan Ken Arok. Dengarlah. Demikian mendalam kesan
yang menusuk hatiku atas kesalahan yang telah aku lakukan itu,
maka aku ingin menebus kesalahan itu dengan kemungkinan yang
paling bernilai yang ada padaku. Witantra, bagaimanakah
pertimbanganmu seandainya gadis itu tidak usah dikembalikan ke
Panawijen?”
Witantra mengangkat wajahnya. Sedang Ken Arok tergeser
beberapa jari. Dengan dada yang berdebar-debar mereka
menunggu akuwu memberi penjelasan lebih jauh.
Maka berkatalah Tunggul Ametung, “Aku ingin gadis itu tetap
berada di istana seandainya itu dapat menyenangkannya. Tetapi
sudah tentu bahwa apabila ia menolak, aku tidak akan
memaksanya.”
Witantra menarik keningnya. Kemudian ia kembali menundukkan
wajahnya. Namun membayang di antara bibirnya sebuah senyum
tertahan.
Tetapi berbeda benar dengan perasaan Ken Arok pada saat itu.
Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung benar-benar memukul
jantungnya. Sekali ia mengangkat wajahnya, memandang wajah
akuwu yang tampak suram, namun bersungguh-sungguh. Tetapi
kemudian wajah itu kembali terbanting di atas anyaman tikar
pandan di muka lipatan kakinya. Ken Arok hampir tidak percaya
mendengar kata-kata akuwu itu meskipun ia sudah menduga
sebelumnya. Ia mengharap bahwa dugaannya salah sehingga ia
masih tetap pada anggapannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu.
Tetapi kini, tiba-tiba kebanggaannya terhadap Akuwu Tunggul
Ametung langsung surut seribu kali. Meskipun beberapa saat yang
lalu, ia merasa kecewa pula terhadap Tunggul Ametung, tetapi
kekecewaannya kali ini terasa semakin memuncak.
Terdengar hatinya berteriak lantang, “O, jadi apa yang Tuanku
katakan itu semata-mata hanya rangkaian kalimat penghias bibir.
Ternyata Tuanku sendiri mempunyai pamrih atas gadis Panawijen
itu. Kalau Kakang Witantra, Tuanku dorong terjun ke arena, bukan
semata-mata sekedar untuk membebaskannya dari Kuda Sempana,
namun sekaligus untuk membuka kesempatan kepada akuwu
sendiri. Hem. Alangkah kisruhnya perasaanku sekarang ini.”
Namun demikian tak sepatah kata pun yang dapat diucapkannya
di hadapan Akuwu Tunggul Ametung yang memiliki kekuasaan
tertinggi di Tumapel.
“Witantra,” terdengar Akuwu Tunggul Ametung itu berkata lirih,
“Bagaimana pertimbanganmu?”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba adalah
seorang yang sama sekali tidak mempunyai wewenang untuk
memberikan pertimbangan tentang hal yang sangat penting dalam
perjalanan hidup Akuwu pribadi. Mungkin Tuanku dapat memanggil
beberapa orang tua-tua untuk mendapat pertimbangan daripada
mereka itu.”
Tunggul Ametung menggelengkan kepalanya. “Tidak,” katanya,
“mereka tidak berkepentingan apa-apa bagi masa depanku.”
“Tetapi mereka memiliki pandangan yang luas, dan pengalaman
serta pengetahuan yang cukup. Mereka memiliki
pertimbanganpertimbangan
dan nasihat-nasihat yang pasti akan sangat berguna
bagi Tuanku. Mungkin Tuanku dapat memanggil beberapa orang
pendeta, atau orang-orang tua yang lain.”
“Tidak perlu Witantra,” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “aku
akan menemukan jalan hidupku sendiri.”
Witantra terdiam sejenak. Ia tidak dapat memberikan
pertimbangan apapun karena keseganannya. Namun sekali ia
berpaling kepada Ken Arok, tetapi dilihatnya Ken Arok itu duduk
diam sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“Kau tidak memberikan pendapatmu Witantra,” desak Akuwu
Tunggul Ametung.
Witantra menjawab sambil membungkukkan badannya dalamdalam,
“Ampun Tuanku. Hamba sama sekali tidak cukup
pengetahuan untuk menjawab pertanyaan Tuanku.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya, perlahan-lahan ia
berkata, “Tetapi kau tidak akan menolak bukan Witantra?”
“Apakah hakku untuk menolak Tuanku?”
“Aku tidak berbicara tentang apakah kau berhak atau tidak,
tetapi aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu terhadap maksud ini.
Perasaanmu. Berhak atau tidak berhak.”
Witantra tidak dapat mengelak lagi. Sebenarnya sejak semula, ia
tidak berkeberatan atas maksud akuwu itu untuk memberi tempat
yang agak baik bagi Ken Dedes. Karena itu maka jawabnya, “Ampun
Akuwu. Perasaan hamba sama sekali tidak menentang maksud
Akuwu itu.”
“Terima kasih Witantra. Kaulah sebenarnya yang telah
membebaskan gadis itu. Menurut perjanjian, yang menang dapat
berbuat atas dasar kemenangannya.”
“Tetapi Tuanku,” sela Witantra tambahnya, “bukanlah benda
mati, sehingga yang berkepentinganlah yang paling berhak untuk
menentukan sikapnya.”
“Tentu, tentu Witantra. Aku tidak akan berbuat kesalahan untuk
kedua kalinya.”
Witantra pun kemudian berdiam diri untuk sejenak. Sekali-sekali
ia berpaling kepada Ken Arok yang masih saja menundukkan
wajahnya dalam-dalam. Terasa sesuatu yang kurang wajar pada
anak muda itu. Dan Witantra telah dapat menduganya. Seperti yang
dikatakannya siang tadi, anak muda kecewa atas maksud Tunggul
Ametung itu. Namun apabila hal itu dikehendaki oleh yang
berkepentingan, maka apakah salahnya?
Ternyata akuwu itu tidak juga membiarkan Ken Arok tanpa
mendapat kesempatan menyalakan perasaannya. Karena itu, maka
Akuwu Tunggul Ametung itu pun bertanya pula kepadanya, “Ken
Arok bagaimana pertimbanganmu? Jangan berkata bahwa kau tidak
berhak menjawab pertanyaan ini. Tetapi bagaimanakah kata
hatimu?”
Bukan main terkejut Ken Arok mendengar pertanyaan itu. Ia
tidak menyangka bahwa ia akan mendapat pertanyaan pula. Ia
menyangka bahwa ia hadir di tempat itu hanya sebagai pelengkap
saja. Karena itu tiba-tiba terasa keringat dinginnya mengalir ke
segenap kulit tubuhnya. Sejenak Ken Arok itu terbungkam. Dengan
wajah yang tegang ia sekali-sekali berpaling memandangi wajah
Witantra. Namun ia tidak mendapatkan kesan apa-apa pada wajah
perwira pengawal itu.
“Bagaimana Ken Arok,” desak Akuwu Tunggul Ametung.
Ken Arok benar-benar menjadi gelisah. Betapa hatinya meronta
mendengar keputusan Tunggul Ametung untuk mencoba memiliki
sendiri gadis itu. Tetapi apakah ia dapat mengatakannya di hadapan
akuwu itu sendiri?
Setelah sejenak Ken Arok berjuang di dalam dirinya sendiri maka
jawabnya sambil menyembah, “Ampun Tuanku. Hamba hanyalah
seorang pelayan dalam.”
“Jangan menjawab demikian. Sudah aku katakan. Siapa pun kau,
namun kau mempunyai pertimbangan di dalam dirimu. Nah,
jawablah dengan jujur.”
Sekali lagi Ken Arok terdesak dalam kebimbangan yang dahsyat.
Ia tidak dapat menutup perasaannya, namun apakah ia dapat pula
membukanya?
Ketika ia sedang sibuk dalam pertentangan itu, maka sekali lagi
ia mendengar Tunggul Ametung berkata, “Apa pertimbanganmu?”
Ken Arok harus segera menjawab. Namun Ia masih mencoba
mencari kemungkinan-kemungkinan yang paling baik. Ia tidak harus
menyembunyikan perasaannya, tetapi sejauh mungkin jangan
menjadikan Tunggul Ametung marah. Karena itu maka akhirnya ia
menjawab, “Tuanku. Menurut perasaan hamba, maka alangkah
mulianya apabila Akuwu mengambil keputusan untuk
mengembalikan gadis itu ke Panawijen. tetapi meskipun demikian,
segala sesuatu adalah dalam kebijaksanaan Tuanku. Apalagi kalau
gadis itu sendiri tidak berkeberatan untuk tinggal di dalam
istana.”
Warna merah memancar sekilas pada wajah Tunggul Ametung.
Terdengarlah giginya gemeretak. Namun kemudian Tunggul
Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, dan
wajahnya yang merah itu pun berangsur tenang kembali.
Sedang Witantra pun terkejut mendengar jawaban Ken Arok itu.
Ia tidak menyangka bahwa di hadapan Tunggul Ametung sendiri,
Ken Arok akan berkata terus terang menurut kata hatinya.
Tetapi kembali Witantra terkejut, ketika terdengar suara Akuwu
gemetar, “Kau jujur Ken Arok. Aku senang mendengar
pertimbanganmu. Kau benar-benar telah mengatakan perasaanmu
seperti Witantra mengatakan apa yang tersembunyi di dalam
hatinya. Adalah mungkin sekali bahwa pertimbanganmu dan
pertimbangan Witantra berbeda.”
Sekali Ken Arok mengangkat wajahnya. Ia pun terkejut
mendengar tanggapan akuwu atas pendapatannya. Sehingga
karena itu maka terasalah dadanya bergetar.
Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berkata, “Aku telah
mendengar pertimbangan kalian berdua. Dengan demikian maka
hatiku kini telah menjadi lapang. Apapun yang kau katakan
kepadaku, adalah pertimbangan-pertimbangan yang bernilai bagiku.
Aku melihat bahwa kalian telah berkata sejujur-jujurnya. Aku lebih
senang mendengar pertimbangan dan pendapat kalian. Aku sama
sekali tidak ingin mendengar pendapat penasihat-penasihatku yang
tua-tua. Mereka adalah orang yang hanya ingin menyenangkan
hatiku tanpa mempertimbangkan akibat dari pertimbangannya.
Mereka ingin mendapat kesempatan yang sebaik-baiknya di dalam
lingkunganku. Karena itu maka mereka adalah penjilat-penjilat yang
memuakkan. Mereka bukanlah orang-orang yang jujur menghadapi
setiap persoalan seperti kalian. Bahkan Witantra dengan jujur,
sesuai dengan panggilan kemanusiaannya telah berani menentang
perintahku. Ken Arok pun di hadapan mataku telah berani
membunuh seorang prajurit yang bertindak tidak Adil. Dan kini kau
berani memberi pertimbangan yang jujur pula. Terima kasih. Kalian
ternyata lebih bernilai bagiku daripada penjilat-penjilat itu.
Daripada
orang yang ingin mendapat hadiah-hadiah dan kedudukankedudukan
dengan memuji-muji dan menyanjung aku.”
Witantra menundukkan wajahnya semakin dalam. Ternyata
Tunggul Ametung adalah seorang yang jujur pula menilai dirinya.
Meskipun seakan-akan orang itu adalah orang yang selalu
dihanyutkan oleh perasaannya yang meledak-ledak, marah,
berteriak-teriak dan memaki-maki, namun dalam pertimbangan
yang penting ia adalah seorang yang jujur. Mungkin sikapnya itu
disebabkan karena guncangan yang dahsyat setelah ia berbuat
suatu kesalahan yang sangat besar, karena hasutan Kuda Sempana.
Namun bagaimanapun juga, kesadaran akan dirinya, akan orangorang
yang berada di sekitarnya itu telah melibatkan Akuwu
Tunggul Ametung pada tempat yang semakin kuat.
Di samping Witantra, Ken Arok duduk dengan dada yang
bergelora. Betapa kekecewaannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu
kian memuncak, namun tumbuh pula di sisinya kekaguman yang
semakin memuncak pula. Tunggul Ametung itu bagi Ken Arok
benar-benar merupakan seorang yang aneh. Seorang yang dikagumi
atas segala sifat kejantanan, kejujuran dan tanggapannya atasi
sikapnya, sikap Witantra dan sikap para penasihatnya yang
berusaha menyenangkan akuwu itu untuk menerima hadiah dan
kedudukan yang baik, namun akuwu telah mengecewakannya pula
karena sikapnya terhadap gadis Panawijen. Pamrihnya atas gadis itu
setelah ia menyingkirkan Kuda Sempana. Apakah itu sikap yang
jujur seperti penilaian terhadap sikap para penasihatnya? Ken Arok
menjadi semakin pening. Akuwu itu hatinya seperti dewa yang
bersih dari nodai duniawi, namun jaga seperti iblis yang mengotori
dirinya dengan segala macam pamrih dan nafsu.
Ruangan itu sejenak dicengkam oleh kesunyian. Tunggul
Ametung, Witantra dan Ken Arok, masing-masing telah terbenam di
dalam angan-angan mereka sendiri. Berbagai persoalan yang
berbeda-beda telah melanda hati masing-masing.
Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu Tunggul Ametung
berkata, “Ternyata ada suatu kesimpulan yang bersamaan. Kalian
berdua menyerahkan keputusan terakhir pada gadis itu. Baiklah.
Aku hanya akan menawarkan keinginanku. Terserah kepadanya,
apakah ia akan menerima atau ia akan menolaknya.”
Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab,
“Demikianlah Tuanku.”
Ken Arok masih tetap berdiam diri. Baginya, kesediaan Ken
Dedes atau seandainya gadis itu menolaknya sama sekali tidak
penting. Tetapi hasrat yang sudah tumbuh di dalam hati Akuwu
Tunggul Ametung itu benar-benar telah mengecewakannya. Apakah
hasrat itu akan terpenuhi atau tidak.
Yang terdengar kembali adalah suara Akuwu Tunggul Ametung.
“Kalau demikian, maka kehadiranmu kali ini sudah cukup. Besok aku
akan mengadakan pertemuan dengan para penjabat pemerintahan
dan para perwira, apabila aku sudah menemukan kepastian. Aku
hanya ingin memberitahukan kepada mereka. Supaya mereka tidak
terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku. Hubungan antara
seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Adalah hakku untuk
menentukan pilihan, dan adalah hak gadis itu untuk menerima atau
menolak.”
Witantra tidak menjawab. Akuwu Tunggul Ametung ternyata
telah memilih jalan yang terdekat yang dapat ditempuhnya. Ia tidak
ingin terlalu banyak orang mempersoalkan kepentingan pribadinya.
Namun Witantra masih juga menyampaikan kata-katanya kepada
akuwu, “Tuanku, apakah hamba masih diperkenankan
menyampaikan sesuatu kepada Tuanku?”
Akuwu Tunggul Ametung mengernyitkan alisnya. Kemudian ia
bertanya, “Apakah itu?”
“Tuanku,” sambung Witantra, “di rumah hamba kini telah
menunggu seorang tua pemomong gadis Panawijen itu. Ia ingin
menemui momongannya, Ken Dedes. Apakah Tuanku
memperkenankannya?”
Akuwu Tunggul Ametung terdiam sejenak. Tampaklah ia berpikir.
Di dalam hatinya timbullah beberapa pertimbangan mengenai
kehadiran orang baru itu di dalam istananya. Berbagai masalah
menjadikannya bimbang. Sehingga akhirnya ia berkata, “Tentu
Witantra. Aku pasti akan mengizinkannya. Tetapi tidak sekarang.
Aku ingin mendengar pendapat gadis itu sendiri, sebelum ia
mendapat pengaruh dan nasihat dari orang-orang lain. Aku ingin
mendengar kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia
menolak. Kalau ia menerima, sebenarnyalah ia menerima.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Ken Arok
nampak mengerutkan keningnya. Pertimbangan itu dapat
dimengertinya. Tetapi, apakah salahnya kalau emban tua itu
menungguinya? Apakah emban itu mempunyai pengaruh yang kuat
atas gadis Panawijen itu. Namun meskipun demikian, ia tidak
mengemukakannya. Persoalan itu baginya bukanlah persoalan yang
penting. Bahkan ia sependapat dengan Akuwu Tunggul Ametung,
bahwa sebaiknya gadis itu menyatakan pendapatnya sendiri.
Meskipun baginya pendapat itu hampir tidak berpengaruh atas rasa
kecewanya terhadap Tunggul Ametung.
Witantra pun kemudian tidak lagi mempunyai persoalan apapun.
Karena itu, maka sejenak kemudian mereka berdua, Witantra dan
Ken Arok segera mohon diri meninggalkan ruangan itu.
Di halaman depan, setelah mereka mengambil kuda-kuda mereka
dari tambatan, maka berkatalah Witantra, “Adi, apakah kau akan
bermalam di rumahku lagi?”
Ken Arok menggeleng, jawabnya, “Tidak Kakang. Aku akan
kembali ke barak. Persoalanku dengan Kakang Kuda Sempana
sudah jelas. Sebenarnya aku sama sekali tidak bersangkut paut
dengan usahanya yang gagal itu. Namun kalau ia akan membuat
persoalan, maka kini aku tidak akan menghindar lagi.”
Witantra mengangguk, jawabnya, “Kau benar. Namun apabila
mungkin jauhilah setiap hubungan yang tidak baik.”
“Mudah-mudahan Kakang. Aku tidak akan membuat persoalan.
Kecuali kalau aku tersudut pada sebuah persoalan.”
Witantra tersenyum, katanya, “Sikapmu terpuji.”
Ken Arok pun tersenyum, jawabnya “ Jangan memuji Kakang.
Seperti Akuwu pun tidak senang mendapat pujian yang
berlebihlebihan.”
“Tetapi aku tidak memujimu karena pamrih apapun,” sahut
Witantra, “aku tidak ingin kau tingkatkan pangkatku atau aku tidak
ingin mendapat hadiah apapun darimu.”
Ken Arok kini tertawa. Bukan saja karena kata-kata Witantra
yang jenaka, namun ia tertawa untuk melepaskan berbagai
perasaan yang menggelitik hatinya. Tetapi ia masih menjawab
katakata
Witantra untuk tidak menimbulkan kesan yang kurang baik,
“Seandainya aku Akuwu Tumapel Kakang, maka hadiahku akan
segera melimpah.”
Witantra pun tertawa pula. Tetapi sama sekali tidak disadarinya,
bahwa di belakang dinding hati Ken Arok, telah tergores perasaan
kecewa yang dalam atas akuwunya.
“Adi,” berkata Witantra pula, “kalau demikian kita berpisah di
sini. Aku akan pulang dan Adi akan kembali ke barak. Mudahmudahan
kita tidak akan menemui persoalan-persoalan lagi.”
“Mudah-mudahan Kakang,” sahut Ken Arok.
Keduanya pun kemudian menuntun kuda-kuda mereka sampai di
luar regol halaman, kemudian dengan satu loncatan mereka telah
berada di punggung kuda masing-masing. Tetapi arah merekalah
yang kemudian berbeda-beda.
Di sepanjang jalan kembali, Ken Arok masih saja dipengaruhi
oleh perasaannya tentang Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi
akhirnya ia mencoba untuk menenangkan hatinya, “Biarlah apa saja
yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung. itu sama sekali
tidak menyangkut persoalan pribadiku.”
Berbeda dengan Ken Arok, maka hati Witantra kini telah menjadi
lapang. Ia seakan-akan telah terlepas dari sebuah himpitan dosa
yang selalu mengganggunya. Ia merasa betapa rendah budinya
pada saat ia membiarkan kelaliman berlaku di hadapan hidungnya
hanya karena ia takut kehilangan kedudukan dan segala macam
yang telah dimilikinya. Pangkat, berbagai macam kesenangan dan
kekayaan. Tetapi kini seolah ia telah membetulkan kesalahan itu. Ia
telah membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana, yang
telah memerkosa masa depan gadis itu.
“Mudah-mudahan gadis itu dapat menyadari keadaannya.
Mudah-mudahan ia dapat melihat, bahwa yang lampau itu tak akan
datang kembali. Dengan demikian, maka aku akan terlepas sama
sekali dari dosa itu,” gumamnya sepanjang jalan kembali.
Tetapi Witantra itu mengerutkan keningnya ketika dikenangnya
kata-kata Akuwu Tunggul Ametung tentang perempuan tua yang
berada di rumahnya. “Tetapi tidak sekarang. Aku ingin mendengar
kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia menolak. Kalau ia
menerima sebenarnyalah ia menerima.”
“Biarlah perempuan tua itu menunggu di rumahku,” desisnya
kepada diri sendiri.
Dan sesaat kemudian tanpa disadarinya, tangannya telah
menggerakkan kekang kudanya, mempercepat perjalanannya.
Di istana, Akuwu Tunggul Ametung, sepeninggal Witantra dan
Ken Arok tidak langsung pergi ke biliknya. Sekali lagi ia pergi ke
sentong tengen. Hatinya pun kini menjadi semakin mantap. Setelah
ia mendengar pendapat Witantra, yang seolah-olah merupakan
orang yang berhak ikut menentukan nasib Ken Dedes karena
kemenangannya, maka hatinya menjadi semakin bulat.
Ketika ia memasuki sentong tengen, maka yang berada di
dalamnya hanyalah Ken Dedes dan seorang emban, Madri. Apabila
mereka berdua melihat kedatangan akuwu, maka segera mereka
menundukkan wajah-wajah mereka sambil menyembah. Ken Dedes
pun segera turun dari pembaringan dan duduk di sisi Madri.
“Tetaplah di tempatmu Ken Dedes,” berkata Tunggul Ametung.
Tetapi Ken Dedes segera menyahut, “Bukan sepantasnya hamba
berbuat demikian Tuanku.”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ken Dedes
seakan-akan menjadi semakin cantik di bawah cahaya lampu yang
terbuai oleh angin malam yang lembut.
Selelah Tunggul Ametung itu sempat mengatur getar di dadanya,
maka barulah ia dapat mengucapkan kata-kata. Namun kata-kata
itu pun meloncat seperti berebut dahulu, sehingga maksudnya
menjadi sukar dimengerti. Meskipun demikian, lambat laun, Ken
Dedes dapat pula mendengar dan mengertinya dengan jelas. Seperti
yang pernah didengarnya. Akuwu menyerahkan segala-galanya
kepadanya.
Hati Madri pun melonjak-lonjak mendengar segala macam janji
yang diucapkan oleh akuwunya. Janji yang disangkanya tak
mungkin akan pernah terucapkan. Tetapi janji itu kini benar-benar
telah didengarnya.
“Alangkah bahagianya gadis ini,” pikirnya.
Tetapi ia terkejut bukan buatan ketika ia mendengar gadis yang
seakan-akan tertimpa bulan itu menjawab, “Tuanku.
Perkenankanlah hamba berpikir dahulu. Supaya jawab hamba tidak
hanya sekedar ledakan perasaan hamba yang tidak berakar di hati
hamba. Karena itu Tuanku, berilah hamba waktu.”
Gelora hati Tunggul Ametung seakan-akan tidak dapat
ditahannya lagi ketika ia melihat gadis itu berbicara dalam bahasa
yang utuh sebagaimana ia harus berbicara kepada seorang akuwu.
Gadis itu tidak lagi memanggilnya tanpa sebutan karena luapan
kemarahan dan tidak menuding-nuding wajahnya lagi dengan mata
yang menyala.
Namun Tunggul Ametung tidak dapat memaksanya untuk
menjawab seketika. Dengan hati yang berat, maka akuwu itu
berkata, “Baiklah Ken Dedes. Aku beri kau waktu, tetapi waktu itu
jangan terlalu lama.”
Dengan takzimnya Ken Dedes menyembah, “Hamba Tuanku.
Hamba sama sekali tidak mempertimbangkan, apakah hamba
berwenang untuk menentukan sikap, namun hamba sedang
menimbang-nimbang apakah sudah sepantasnya hamba menerima
kemuliaan itu.”
Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Sekali lagi ia
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menunggu
keputusanmu, Ken Dedes.”
“Hamba, Tuanku,” sahut gadis itu tenang. Dan ketenangan gadis
itu telah merupakan persoalan tersendiri bagi Akuwu Tunggul
Ametung.
Namun demikian Akuwu Tunggul Ametung meninggalkan bilik itu,
maka meledaklah tangis Ken Dedes tanpa dapat ditahannya.
Berbagai perasaan telah melanda dinding hatinya. Berbagai
kenangan tentang dirinya, tentang kampung halaman dan tentang
masa depannya seakan-akan bercampur baur di dalam rongga
matanya. Kacau dan membingungkannya.
Madri pun menjadi bingung pula. Ia tidak tahu, bagaimana ia
akan menghibur hati Ken Dedes itu. Karena itu maka ia hanya dapat
sekali-sekali menggamit lengan Ken Dedes, dan sekali-sekali
berkata, “Jangan menangis Tuan. Jangan menangis.”
Tetapi Madri sendiri bahkan kemudian ikut menangis. Katanya di
antara isaknya, “Kalau demikian, akan aku panggil Nyai Puroni.”
“Jangan!” tiba-tiba Ken Dedes menyahut, “Jangan kau panggil
Nyai Puroni. Aku takut.”
“Tetapi Tuan menangis,” berkata Madri pula, tetapi ia menjadi
heran kenapa Ken Dedes menjadi takut.
“Tidak. Aku sudah tidak menangis lagi,” potong Ken Dedes sambil
berusaha untuk menahan air matanya yang mengalir dengan
derasnya.
“Kalau Tuan tidak menangis, aku tidak akan memanggil Nyai
Puroni,” berkata Madri.
“Baik Madri. Aku tidak menangis lagi. Aku lebih senang tinggal
bersamamu di sini daripada Nyai Puroni.”
Madri mengerutkan keningnya. Meskipun air matanya sendiri
masih membasahi matanya, namun perkataan Ken Dedes itu benarbenar
telah mempengaruhi perasaannya.
Madri itu menjadi semakin heran. Kenapa Ken Dedes menjadi
takut kepada Nyai Puroni? Menurut Nyai Puroni, seharusnya Ken
Dedes menjadi takut dan mendendam kepada Akuwu Tunggul
Ametung. Mungkin karena gadis itu telah dilarikan oleh akuwu.
Tetapi sama sekali tanda-tanda itu tak dilihatnya, bahkan kemudian
ternyata bahwa Ken Dedes takut kepada Nyai Puroni.
Tetapi kini Ken Dedes itu benar-benar telah tidak menangis lagi.
Ia telah dapat mencoba mempergunakan pikirannya kembali. Kini
yang menyala di dalam hatinya adalah kemarahannya yang
memuncak kepada Kuda Sempana, sumber dari segala malapetaka.
Kekecewaan atas hinaan yang diterimanya dari Nyai Puroni.
Seakanakan
derajatnya sedemikian rendahnya sehingga orang tua itu
selalu menyindir-nyindirnya, bahwa ia bukan permaisuri.
Namun persoalan itulah yang sebenarnya telah mendorong Ken
Dedes ke dalam suatu pilihan yang tak pernah diimpikan
sebelumnya. Ia ingin membuktikan, baik kepada Kuda Sempana
maupun kepada Nyai Puroni, bahwa ia bukan seorang gadis yang
dikodratkan menjadi seorang gadis yang hina-dina. Apalagi setelah
ia sempat mengurai maksud Nyai Puroni dengan cerita-ceritanya
yang mengerikan tentang gadis-gadis yang pernah menjadi korban
Akuwu Tunggul Ametung, maka prasangkanya tentang
ketidakjujuran Nyai Puroni menjadi semakin dalam.
Karena itulah, maka dalam keheningan malam itu, perlahanlahan
Ken Dedes terdorong ke dalam satu pilihan yang sebenarnya
hanya merupakan tindak keseimbangan dari kepedihan dan
kepahitan yang menimpanya selama ini. Ia hanya ingin menyatakan
kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, bahwa Ken Dedes
bukanlah gadis yang semalang-malangnya di dunia.
Ketika malam kemudian menjadi semakin malam, maka Ken
Dedes itu pun kemudian terlena ke dalam alam mimpi. Mimpi yang
menggelisahkan namun kadang-kadang mengasyikkan. Simpang
siur dan kusut. Tetapi menjelang fajar, mimpi Ken Dedes menjadi
sangat mengesankannya, seolah-olah gadis itu duduk di atas
punggung seekor gajah yang besar. Di mukanya berjalan dengan
gagahnya Akuwu Tunggul Ametung, sedang di belakangnya berjalan
tertatih-tatih Kuda Sempana dan Nyai Puroni. Namun tiba-tiba jauh
di belakang sebuah gerumbul yang lebat ia melihat seorang anak
muda. Anak muda yang ada di dalam rombongan Akuwu Tunggul
Ametung pada saat mengambilnya, mengintai dengan sepasang
matanya yang menyala. Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak takut
melihat api yang menyala itu, bahkan wajahnya pun sama sekali
tidak mengerikan.
Di hari-hari yang mendatang, maka Ken Dedes selalu dipengaruhi
oleh mimpinya. Sehingga akan datang masanya, Tunggul Ametung
datang kepadanya untuk menanyakan keputusannya.
Dalam pada itu di Panawijen, Mahisa Agni terbaring di dalam
biliknya. Meskipun lukanya sudah berangsur-angsur sembuh, namun
terasa bahwa hatinyalah kini yang seakan-akan menjadi bertambah
pedih. Peristiwa-peristiwa yang datang beruntun, malapetaka dan
bencana, seakan-akan benar-benar telah menghancurkan segenap
kemungkinan dibasa depan. Hilangnya Ken Dedes, terbunuhnya
Wiraprana, benar-benar menusuk jantungnya. Ia tidak tahu
perasaan apakah yang telah mencengkamnya kini. Tetapi setiap
saat ia merasa dadanya berdesir tajam. Kadang-kadang ia menjadi
bingung, seakan-akan ada sesuatu yang belum terselesaikan.
Panawijen kini terasa menjadi kian hari kian bertambah sepi.
Ibunya pun telah pergi pula ke Tumapel. Dan gurunya masih juga
belum datang kembali.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. perlahan-lahan ia
bangkit dan berjalan keluar. Di halaman dilihatnya beberapa orang
cantrik membersihkan halaman.
Dengan langkah yang lemah, Mahisa Agni datang kepada
mereka. Namun kembali ia menemukan wajah-wajah yang suram
sesuram wajahnya sendiri. Agaknya para cantrik itu pun menjadi
pedih seperti hatinya. Karena itu maka Mahisa Agni sama sekali
tidak menegurnya. Perlahan-lahan ia berjalan terus menyusuri
jalanjalan
sempit di halaman, di antara kebun-kebun bunga yang
menjadi pudar. Di teritisan Mahisa Agni menemukan serulingnya.
Seruling yang terselip pada dinding rumahnya.
“Hem,” desahnya. Sudah lama seruling itu tak disentuhnya. Sejak
malam itu. Sejak malam hatinya terbanting hancur. Sejak malam ia
mendengar pengakuan Ken Dedes bahwa hatinya terikat pada
seorang anak muda yang bernama Wiraprana. Tetapi semuanya itu
benar-benar seperti mimpi. Mimpi yang mengerikan. Dan tiba-tiba
Mahisa Agni itu benar-benar teringat pula pada mimpinya. Tentang
biduk yang ditumpangi oleh Ken Dedes. Biduk yang kemudian
hancur dilanda oleh ombak yang dahsyat.
“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni berdesah. Perlahan-lahan
dihentakkannya dirinya pada sebuah amben bambu di teritisan itu.
Dilayangkannya pandangan matanya yang redup ke halaman, kebun
dan dinding halaman rumah gurunya. Sepi. Sepi dan diam. Ia
melihat juga seorang cantrik yang berjalan membawa air dengan
sepotong bumbung. Tetapi cantrik itu pun berdiam diri.
“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya,
“mimpiku itu bukan sekedar mimpi karena aku terlampau banyak
tidur.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Padepokan ini seakanakan
sama sekali tidak dapat mengikatnya lagi. Ken Dedes, Ibunya,
gurunya tak ada di padepokan ini. Seandainya pada saat itu Empu
Purwa telah kembali, maka ia tidak perlu menunggunya dalam
kesepian.
“Apakah aku harus mencari guru,” gumamnya tiba-tiba.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Angannya itu seakan-akan
telah mendorong untuk melakukan sesuatu. Tetapi kemudian
wajahnya tertunduk kembali. “Ke mana, dan jangan-jangan nanti
kita berselisih jalan. Aku pergi dan guru kembali. Apa katanya
kalau
ditemuinya padukuhan ini kosong. Kosong bagi hati guru yang tua
itu?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat
meninggalkan padepokan itu. Ia harus menunggu gurunya kembali.
Memberitahukan apa yang telah terjadi, dan mengharap gurunya
mempunyai jalan untuk mengambil anak satu-satunya itu.
Mahisa Agni itu pun kemudian melangkahkan kakinya kembali. Ia
tidak tahu ke mana ia akan pergi. Tetapi dibiarkannya kakinya
melangkah. Dan Mahisa Agni itu menuju ke regol depan halaman
rumahnya.
Di regol halaman Mahisa Agni berhenti. Ia melihat beberapa
orang berjalan membawa cangkul dan seorang gadis lewat
menjinjing bakul cucian. Agaknya gadis itu datang dari bendungan.
Ketika gadis itu tersenyum kepadanya, Mahisa Agni sama sekali
tidak mempunyai gairah untuk menegurnya. Karena itu ia pun
tersenyum hambar sambil mengangguk.
Ketika gadis itu kemudian hilang di kelokan, timbullah keinginan
Mahisa Agni untuk berjalan-jalan ke bendungan. Ia tidak tahu, apa
yang telah menariknya ke sana, namun perlahan-lahan ia
melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri tepi jalan padukuhan
Panawijen.
Seorang laki-laki tua yang berpapasan dengan Agni,
memandangnya dengan iba. Sambil membungkukkan badannya
dalam-dalam ia menegurnya. “Ke mana Ngger?”
Dengan segan Mahisa Agni menjawab, “Ke sungai, Ki.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Agaknya air telah mulai naik Ngger. Mungkin telah jatuh
hujan di udik, sehingga air sungai itu menjadi semakin deras.”
Mahisa Agni tertarik akan cerita itu, sehingga ia bertanya, “Tetapi
bukankah bendungan itu tidak apa-apa?”
“Oh, tentu tidak Ngger. Bendungan itu adalah bendungan yang
sangat kuat. Anyaman brujung dan batu-batu sebesar perut kerbau.
Ah. Bendungan itu telah lebih tua dari umurmu Ngger. Setiap tahun
sungai itu melimpah. Namun bendungan itu tetap di tempatnya.
Hanya kerusakan-kerusakan kecil yang setiap kali harus kita
perbaiki.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sejak
ia datang ke padukuhan ini ia telah melihat bendungan itu.
“Bendungan itu adalah sumber hidup kami Ngger. Karena
bendungan itulah maka sawah-sawah kami dapat kita airi.”
Mahisa Agni masih mengangguk-angguk.
Orang tua itu pun kemudian melangkah kembali sambil berkata,
“Silakan Ngger. Silakan pergi ke bendungan.”
“Baik, Ki,” sahut Mahisa Agni. Dan Mahisa Agni pun kemudian
berjalan pula perlahan-lahan. Diamatinya setiap pohon yang tumbuh
di tepi-tepi jalan, seolah-olah baru kali ini dilihatnya atau
seolaholah
diamatinya untuk yang terakhir kalinya.
Mahisa Agni itu pun kemudian berhenti sejenak ketika dari
kejauhan dilihatnya sebuah tanggul yang membujur, menyusuri
jelujur sungai. Hatinya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tanggul
itu adalah tempatnya bermain dengan kawan-kawannya, tempatnya
bergurau dan kadang-kadang beristirahat setelah mengairi sawah
semalam suntuk di tanggul bendungan itu. Dan ternyata bendungan
itu telah mengingatkannya kepada Wiraprana dan Ken Dedes.
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Hampir ia tidak mampu
meneruskan langkahnya. Namun tanpa dikehendakinya sendiri, ia
telah memaksa dirinya untuk berjalan terus ke bendungan.
Bendungan itu tampaknya demikian sepinya. Tak seorang pun
yang dilihatnya di sana. Tak ada anak-anak muda yang
membersihkan alat-alat pertaniannya dan tak ada gadis-gadis yang
sedang mencuci pakaiannya. Namun Mahisa Agni itu berjalan terus.
Ketika ia telah berdiri dekat samping bendungan, maka
dijatuhkannya dirinya di atas pasir yang kering.
Angin yang lembut mengalir membelai wajahnya yang muram.
Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya daun turi yang
rimbun telah melindunginya dari sinar matahari. Betapa daun-daun
yang kecil itu terayun disentuh angin. Sehelai demi sehelai daun
yang kuning terlempar dari tangkainya dan terbang hinggap di atas
pasir yang putih. Ada di antaranya yang terlempar jatuh ke dalam
air yang memang sudah menjadi semakin tinggi.
“Benar juga kata orang tua itu,” gumam Mahisa Agni, “air sudah
semakin tinggi.”
Ketika terasa angin yang silir menyapu tubuhnya, maka terasa
alangkah sejuknya. Tiba-tiba Mahisa Agni merebahkan dirinya di
atas pasir yang lembut. Ditatapnya mega putih yang berarak-arak di
langit dari sela-sela rimbunnya daun turi. Sehelai demi sehelai
hanyut ke utara, seperti iringan armada di laut biru, menyerbu ke
pantai lawan.
Mahisa Agni mengangkat alisnya ketika lamat-lamat didengarnya
suara seruling. Alangkah halus suaranya terselip di antara suara
gemericik air gerojogan di bawah bendungan. Seolah-olah sengaja
disusun dalam perpaduan yang serasi. Suara seruling yang
menanjak tinggi seperti burung elang yang terbang di angkasa
dalam hembusan angin yang semakin kencang. Tetapi suara
gerojogan itu seperti hilang-hilang datang. Justru pada saat-saat
suara seruling dari kejauhan itu melengking tinggi menggapai
megamega
di langit.
“Seruling anak-anak yang sedang menggembala kambing,” desah
Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri senang meniup seruling, bahkan ia
termasuk salah seorang yang pandai. Bahkan mungkin lebih pandai
dari anak gembala yang kini sedang meniup serulingnya di kejauhan
itu.
Tetapi perpaduan antara lagu, angin dan gemericik air, telah
menyebabkan Mahisa Agni itu mengantuk. Hatinya yang lelah
seakan-akan mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sehingga
tanpa dikehendakinya sendiri, anak muda itu pun jatuh tertidur di
bendungan, di atas pasir yang lembut, di bawah rimbunnya daun
turi yang hijau.
Mahisa Agni itu kemudian sama sekali tidak menyadari, bahwa di
kejauhan berjalan seorang tua dengan sebuah tongkat di tangannya
menuju ke bendungan itu.
Orang tua berjubah putih itu mengusap keningnya. Keringatnya
mengalir membasahi hampir seluruh tubuhnya. Sebuah bungkusan
kecil di ujung tongkatnya, seakan-akan merupakan pertanda bahwa
orang tua itu adalah seorang perantau.
Tetapi betapa wajah orang tua itu terbakar oleh terik matahari,
namun ketika di kejauhan dilihatnya jelujur tanggul sungai, maka ia
tersenyum. Desisnya, “Hem, aku telah cukup lama meninggalkan
kampung halaman. Mudah-mudahan aku menjumpai keadaan yang
jauh lebih baik daripada saat aku tinggalkan.”
Orang tua itu berjalan terus dengan langkah yang tetap. Semakin
dekat ia dengan bendungan, hatinya menjadi semakin rindu kepada
padepokannya dan kepada para penghuninya.
Meskipun sejak mudanya, orang tua itu adalah seorang pejalan
dari satu tempat ke tempat yang lain, namun setelah ia menetap di
Panawijen dan ditinggalkan di padepokan itu seorang putri dewasa,
maka perjalanannya kali ini seakan-akan telah ditempuhnya
bertahun-tahun. Ia selalu tergesa-gesa meninggalkan tempattempat
yang harus dikunjunginya menurut rencana perjalanannya.
Saudara-saudaranya, kawan-kawannya yang telah lama tak
dijumpainya.
Orang tua itu, Empu Purwa, menarik nafas dalam-dalam ketika
kakinya menginjak tanggul sungai. Dilayangkannya pandangan
matanya menyusuri getaran-getaran air, hinggap di tepian yang
lain.
Empu Purwa mengerutkan keningnya ketika ia melihat di bawah
sebatang pohon turi di seberang, sesosok tubuh terbaring diam.
Alangkah nyamannya tidur di bawah daun yang hijau rimbun.
“Mahisa Agni,” desisnya. “hem, agaknya ia terlalu lelah.”
Ketika dilihatnya Agni tidur di tepian itu, maka hati Empu Purwa
menjadi lapang. Seakan-akan Mahisa Agni itu sama sekali tidak
sedang diganggu oleh kerisauan apapun juga. Namun sebagai
seorang pendeta tua yang telah kenyang mengalami berbagai soal
kehidupan, maka tiba-tiba hatinya berdesir. Tanpa setahunya, maka
firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa sesuatu telah terjadi di
Panawijen.
Empu Purwa itu melayangkan pandangan matanya ke sekeliling
bendungan. Sepi. Mahisa Agni itu beristirahat sendiri. Tidak dengan
Wiraprana.
“Bukankah itu mungkin sekali terjadi?” desis orang tua itu kepada
dirinya sendiri, “Apakah Mahisa Agni dan Wiraprana sama sekali
tidak boleh terpisah?”
Empu Purwa tersenyum sendiri.
Perlahan-lahan orang tua itu melangkah maju. Mencelupkan
kakinya ke dalam air yang tergenang semakin tinggi.
“Oh, alangkah segarnya. Setelah beberapa lama aku tidak
menyentuh air di padepokanku sendiri.”
Orang tua itu pun kemudian berjalan melingkar, lewat di atas
bendungan menyeberangi sungai. “Air telah mulai naik,” gumamnya.
Ketika Empu Purwa telah sampai di seberang, maka perlahanlahan
orang tua itu mendekati Mahisa Agni. Selangkah demi
selangkah ia maju. Ia tidak mau mengejutkan anak muda yang
sedang tidur dengan nyenyaknya itu.
Ketika Empu Purwa telah berdiri di sampingnya, maka orang tua
itu tersenyum.
“Nyenyak sekali,” desisnya. Dan karena itulah maka Empu Purwa
berkata di dalam hatinya, “Ah, biarlah ia tidur sepuas-puasnya.
Biarlah aku pulang dahulu. Kalau Mahisa Agni nanti kembali, maka
ia pasti akan terkejut melihat aku sudah berada di padepokan.”
Tiba-tiba orang tua itu ingin mengganggu Mahisa Agni. Perlahanlahan
ia membungkukkan badannya sambil berkata pula di dalam
hatinya, “Biarlah aku letakkan tongkatku ini pada tubuhnya. Kalau
ia
bangun ia pasti akan terkejut. Bukankah Agni merasa tidak
membawa tongkat ini?”
Tetapi ketika Empu Purwa membungkuk semakin dalam, tiba-tiba
dahinya yang sudah berkeriput itu semakin berkeriput. Dilihatnya
pada tubuh anak muda itu lumuran obat luka, meskipun telah tidak
demikian jelas.
“Luka,” desisnya, “Mahisa Agni terluka. Apakah yang terjadi
atasnya?”
Sejenak Empu Purwa menjadi ragu-ragu. Tongkatnya tidak jadi
diletakkannya. Bahkan kemudian ia tegak kembali sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya pasti ada sesuatu yang terjadi.
Tetapi Empu Purwa tidak segera dapat melihat luka Mahisa Agni.
Karena itu maka orang tua itu kembali bergumam, “Luka itu
mungkin berada di punggungnya. Kenapa?”
Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera memiringkan
tubuh Mahisa Agni untuk melihat luka yang sebenarnya di
punggungnya. Apakah luka itu disebabkan karena kecelakaan atau
karena apa? Tetapi Empu Purwa hampir pasti, bahwa Mahisa Agni
benar-benar telah terluka. Ia dapat mengenal dengan pasti,
bekasbekas
obat yang masih tampak bekas-bekasnya di sisi lambungnya.
Dalam kebimbangan itu, Empu Purwa melihat Mahisa Agni
bergerak-gerak perlahan-lahan. Bahkan kemudian anak muda itu
menggeliat, namun kembali Mahisa Agni itu tertidur. Tetapi kali itu
Mahisa Agni telah memiringkan tubuhnya sambil meletakkan
kepalanya di atas tangannya.
Dengan hati-hati Empu Purwa berjongkok. Kini ia dapat melihat
punggung Mahisa Agni. Sekali lagi dahi Empu Purwa berkerut. Ia
melihat jelas, punggung anak muda itu masih bertapal obat lukanya.
Meskipun punggung itu dikotori oleh pasir, namun Empu Purwa
dapat melihatnya. Luka, ya punggung Mahisa Agni telah terluka,
perlahan-lahan Empu Purwa membersihkan butiran-butiran pasir
yang melekat di punggung itu. Perlahan-lahan pula Empu Purwa
meraba-raba punggung Mahisa Agni. Namun ternyata, bahwa
rabaan tangan Empu Purwa itu telah mengejutkan Mahisa Agni.
Sekali anak muda itu berguling menjauh, dan dengan tangkasnya
Mahisa Agni bangkit. Dengan segera ia mencoba menguasai
kesadarannya untuk melihat siapakah orang yang telah
mengganggunya itu.
Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang terlatih baik. Itulah
sebabnya maka segera ia berhasil menguasai dirinya, menguasai
kesadarannya. Segera ia mengenalnya, siapakah orang tua yang
berjongkok di hadapannya.
Dada Mahisa Agni berdesir cepat sekali. Sesaat ia terpaku di
tempatnya, seperti seonggok batu yang mati. Namun tiba-tiba ia
meloncat maju, bersujud di hadapan gurunya sambil berdesis,
“Guru!”
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dibelainya
kepala muridnya seperti membelai anak sendiri. Memang Mahisa
Agni bagi Empu Purwa bukanlah sekedar seorang murid yang akan
meneruskan ciri-ciri dan cita-cita perguruannya, namun Mahisa Agni
baginya adalah seorang anak laki-laki yang baik. Anak laki-laki
yang
dapat menjadi penggantinya di rumah apabila ia sedang pergi. Dan
bahkan kelak seandainya ia harus menghadap kembali kepada Yang
Maha Agung.
Dada Mahisa Agni yang bergelora itu penuh dengan cerita yang
seakan-akan saling berdesakan dahulu mendahului untuk meloncat
keluar. Namun justru karena itu, tak sepatah kata pun yang dapat
diucapkan.
Yang terdengar kemudian adalah suara gurunya lirih, “Agni.
Apakah kalian selamat di padepokan?”
Pertanyaan itu benar-benar menghantam dada Mahisa Agni
sehingga ia menjadi semakin terbungkam.
“Agni,” berkata Empu Purwa pula, “apakah tidak ada sesuatu
yang terjadi? Aku harap demikian, dan bahkan aku harap semuanya
menjadi semakin baik.”
Gelora di dada Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Perlahan ia
mengangkat wajahnya, dan sekilas dilihatnya wajah gurunya.
Mahisa Agni terkejut melihat wajah itu. Terbayang pada sinar
mata gurunya, bayangan kecemasan hati orang tua itu.
“Apakah Guru telah mendengar apa yang terjadi di padepokan
ini?” keluh Mahisa Agni di dalam hatinya.
Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Hatinya menjadi
semakin cemas. Sekali lagi terasa ada firasat yang kurang baik
berbisik di dalam dadanya. Apalagi setelah orang tua itu melihat
wajah Mahisa Agni. Muram, dan di punggungnya terdapat sebuah
luka.
Karena itu, muka orang tua itu berkata, “Agni, bagaimana
dengan dirimu sendiri?”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian
ia mencoba menjawab pertanyaan gurunya. Perlahan-lahan hampir
tak terdengar, “Aku selamat guru.”
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa
hatinya semakin berdebar-debar.
“Bagaimana dengan yang lain?”
“Baik guru,” sahut Mahisa Agni. Tetapi suaranya sama sekali
tidak meyakinkan.
Empu Purwa adalah orang tua yang memiliki banyak sekali
pengalaman dan pengetahuan. Karena itu, kini terasa benar, bahwa
sesuatu telah terjadi di padepokannya. Meskipun demikian ia tidak
tergesa-gesa menanyakannya kepada Mahisa Agni.
Ia tidak ingin hatinya sendiri terbentur kepada kenyataan akan
adanya peristiwa yang mungkin dapat mengecewakannya. Orang
tua itu ingin mengetahui dengan perlahan-lahan, sehingga ia
sempat mengatur perasaannya sendiri.
Karena itu maka yang mula-mula ditanyakannya adalah keadaan
Mahisa Agni sendiri, katanya, “Agni, kenapa kau tertidur di
bendungan.”
“Aku lelah sekali guru,” jawab Mahisa Agni.
Empu Purwa mengangguk-angguk. Ia ingin segera mengetahui,
apakah sebabnya punggung Mahisa Agni terluka, namun yang
terloncat dari mulutnya adalah, “Kenapa kau seorang diri? Apakah
tidak ada kawan-kawanmu bersamamu di sini?”
Dada Mahisa Agni berdesir. Pertanyaan itu mendekati persoalan
yang selama ini menggetarkan dadanya. Namun jawabnya, “Ya
guru. Aku sendiri.”
Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Kemudian kembali ia
mengajukan pertanyaan yang disangkanya tidak langsung menusuk
ke persoalannya. Katanya, “Tidak dengan Wiraprana?”
Namun ternyata Empu Purwa salah sangka. Pertanyaan itu telah
benar-benar menyebabkan Mahisa Agni tergetar. Hatinya yang
terpecah seakan-akan menjadi semakin berkeping.
Sesaat ia terbungkam. Dari keningnya mengalir keringat dingin
membasahi sisi wajahnya.
Empu Purwa melihat ketegangan wajah Mahisa Agni itu. Hatinya
menjadi semakin berdebar pula. Apakah yang sebenarnya telah
terjadi?
Tiba-tiba kecemasan di hati Empu Purwa itu memuncak. Mahisa
Agni dan Wiraprana pada saat ditinggalkannya memiliki persoalan
yang tajam. Meskipun pada saat itu tampaknya Mahisa Agni mampu
mengendalikan dirinya, bahkan menguasai perasaan sepenuhnya,
namun ia adalah seorang anak muda yang sedang tumbuh. Seorang
anak muda yang sedang mengalami masa hiruk-pikuk di dalam
dirinya. Suatu waktu mungkin Mahisa Agni benar-benar dapat
mengendalikan perasaannya seperti yang pernah dilihatnya, bahkan
Wiraprana pernah pula mendapat perlindungannya. Namun apabila
hatinya sedang dibakar oleh masa remajanya, maka bahaya akan
dapat meledak setiap saat. Apalagi kini Empu Purwa melihat luka di
punggung Mahisa Agni. Apakah telah terjadi pula perselisihan antara
mereka? Tetapi kenapa luka itu berada di punggung? Apakah
seseorang telah menyerang Mahisa Agni dari belakang?
“Tidak mungkin Wiraprana,” desis Empu Purwa di dalam hatinya,
“betapapun juga, mereka bukan merupakan tanding yang seimbang.
Meskipun seandainya Wiraprana menyerang dari belakang pun, Agni
tidak akan dapat dilukainya. Karena itu, penyerangnya pasti orang
yang memiliki kemampuan yang cukup, sehingga Mahisa Agni
terlambat menghindarinya.”
Justru karena itulah maka keinginan Empu Purwa untuk
mengetahui keadaan padepokannya menjadi semakin mendesak. Ia
kini tidak dapat lagi menahan pertanyaan yang telah berdesakan di
dalam hatinya.
Karena itu maka wajah orang tua itu pun menjadi semakin
berkerut-kerut. Ditatapnya Mahisa Agni semakin tajam dan tiba-tiba
dari sela-sela bibirnya Empu Purwa bertanya, “Mahisa Agni. Apakah
punggungmu terluka?”
Keringat Mahisa Agni semakin banyak mengalir. Sekali-sekali
dilayangkan pandangan matanya berkeliling. Kalau-kalau dilihatnya
seseorang yang akan dapat membantunya mengatakan apa yang
telah terjadi di padepokan orang tua itu. Tetapi bendungan itu
terlalu sepi. Tak seorang pun yang tampak di sekitarnya. Bahkan
suara seruling di kejauhan yang didengarnya sebelum Mahisa Agni
tertidur, kini sudah tidak lagi menggetarkan udara.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin mendapatkan
seorang teman untuk mengatakan kepada Empu Purwa apakah
yang telah terjadi. Karena itu maka katanya, “Guru, marilah kita
kembali ke padepokan. Di sana akan banyak peristiwa-peristiwa
yang dapat aku ceritakan.”
Orang tua itu mengangkat alisnya. Keinginannya untuk
mengetahui sebab luka di punggung Mahisa Agni itu semakin
mendesak, sehingga jawabnya sambil tersenyum, meskipun
senyumnya itu terasa hambar, “Bagiku sama saja Agni. Di
padepokan atau di sini. Aku hanya ingin tahu, apakah sebabnya
punggungmu terluka.”
Kembali Mahisa Agni tergagap. Kembali ia menebarkan
pandangan matanya berkeliling. Namun kembali ia kecewa karena
tak seorang pun yang dilihatnya.
Tetapi ia tidak dapat berdiam diri atas pertanyaan gurunya itu.
Meskipun hatinya menjadi berdebar-debar namun ia terpaksa
menjawab juga, katanya, “Guru, lukaku ini hampir tak berarti
bagiku. Apalagi kini sudah hampir sembuh.”
Empu Purwa tersenyum kembali. Juga senyumnya kali ini terasa
hambar, diulanginya pertanyaannya, “Agni. Aku ingin tahu kenapa
punggungmu terluka? Apakah kau terjatuh dari bendungan, dan
punggungmu tepat menimpa sebuah patok? Atau kebetulan kau
tertidur di bawah bendungan dan sepotong batu karang menimpa
punggungmu? Tetapi luka itu bukanlah sebuah luka karena sebabsebab
yang aku katakan. Luka itu terlalu kecil namun menilik
bekasnya kau pernah menderita karena luka itu.”
Dada Mahisa Agni bergetar semakin cepat. Disadarinya, bahwa
gurunya adalah seorang yang memiliki pengamatan yang baik atas
segala jenis luka. Karena itu, apakah ia dapat berbohong? Akhirnya
Mahisa Agni tidak dapat berbuat lain. Meskipun hatinya
terguncangguncang,
namun ia menjawab, “Ya. Guru. Luka di punggungku
adalah luka karena senjata.”
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku sudah menduga,” katanya, “tetapi aku sedang berpikir,
senjata apakah yang meninggalkan bekas luka seperti luka di
punggungmu. Cis atau apa? Kalau kau bertempur dalam lingkaran
pertempuran, maka mungkin sebuah anak panah mengenaimu.
Tetapi aku meragukannya.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin riuh. Gurunya dapat meraba
dengan tepat. Namun kemungkinan itu sebenarnya memang sangat
kecil sehingga gurunya meragukan. Tetapi ternyata bahwa
sebenarnya memang telah terjadi. Punggungnya terluka karena
anak panah. Sehingga Mahisa Agni untuk seterusnya tidak berani
lagi berkata lain daripada yang sebenarnya.
“Sebenarnyalah Guru, punggung terluka karena anak panah.”
Empu Purwa mengerutkan keningnya. Ia memang sudah
menyangka bahwa luka itu adalah luka karena anak panah. Tetapi
bagaimana mungkin Mahisa Agni terkena anak panah? Apakah anak
itu sama sekali tidak dapat mengelakkan dirinya? Penyerangnya
pasti seorang yang mampu menyembunyikan diri dengan baiknya,
sehingga geraknya sama sekali tak didengar oleh Mahisa Agni. Atau
barangkali Mahisa Agni sedang tidur?
Tetapi Empu Purwa tidak mau berteka-teki lebih jauh. Segera ia
bertanya, “Anak panah siapa, Agni?”
Sambil menundukkan kepalanya Mahisa Agni menjawab,
“Seorang prajurit Tumapel, Guru.”
Jawaban ini benar-benar mengejutkan. Segera Empu Purwa
menghubungkan peristiwa ini dengan Kuda Sempana, sehingga
terloncat dari mulutnya, “Kuda Sempana?”
“Bukan Kuda Sempana sendiri,” sahut Mahisa Agni.
“Tentu. Tentu bukan Kuda Sempana sendiri. Tetapi bagaimana
peristiwa itu terjadi?”
Kembali dada Mahisa Agni bergetaran. Ia masih tetap dalam
keinginannya mendapat seorang kawan untuk menceritakan
peristiwa yang telah terjadi. Karena itu sekali lagi ia mencoba
berkata, “Marilah kita kembali ke padepokan guru.”
“Tidak!” jawab Empu Purwa tegas-tegas, “Aku ingin segera
mendengarnya.”
Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Sekali ia menarik
nafas dalam-dalam, dan kemudian terbata-bata ia berkata, “Cerita
itu panjang, Guru.”
“Sampai seminggu aku akan mendengarkannya.”
Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Dicobanya untuk
menatap wajah gurunya. Dan wajah itu pun tampaknya tegang
sekali.
“Seseorang telah melukai muridku di punggungnya. Itu bukan
perbuatan jantan,” desis Empu Purwa.
“Oh,” keluh Agni di dalam hatinya, “bukan saja muridnya terluka.
Tetapi gadis satu-satunya telah hilang dari Panawijen. Hem.
Bagaimana aku akan mengatakannya?”
Tetapi Agni itu terkejut ketika Empu Purwa berkata, “Ceritakanlah
Agni. Seandainya kau terbunuh sekalipun, namun secara jantan aku
akan menangisimu. Tetapi aku tidak mendendam. Mungkin aku
akan menuntut balas hanya dalam batas-batas kebenaranmu. Tetapi
luka di punggung adalah hasil perbuatan yang licik, kecuali kalau
kau sengaja bertempur sambil membelakangi musuhmu.”
Mahisa Agni kini tidak melihat jalan lain untuk menghindarkan
dirinya. Karena itu, maka dengan suara tertahan-tahan dan nafas
yang terengah-engah, diceritakannya apa yang telah terjadi di
padepokan Panawijen. Hati-hati, namun berurutan, lengkap
semuanya yang diketahuinya dan dialaminya.
Gurunya, Empu Purwa mendengarkan setiap kata Mahisa Agni
dengan seksama. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya, namun
kemudian wajah itu menjadi tegang.
“Kau berhasil mengusir Kuda Sempana?” bertanya gurunya.
“Ya Guru, di hari pertama.”
“Kenapa di hari pertama?”
“Aku mencoba mengejarnya ke Tumapel. Mungkin aku akan
mendapat penyelesaian yang baik. Mungkin akan dapat minta
pertolongan Witantra.”
“Witantra kakak seperguruan Mahendra?”
“Ya, Guru.”
Orang tua itu menganggukkan kepalanya. Gumamnya, “Aku
sangka orang-orang itu menyadari keadaannya. Mahendra masih
mengganggumu di Tumapel dan Kuda Sempana masih juga
berusaha mengambil gadisku.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin bergelora, ia ingin berhenti
sampai sekian dan melanjutkan di padepokan. Namun gurunya tibatiba
bertanya, “Tapi kau belum mengatakan apakah sebabnya
punggungmu terluka?”
Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Jawabannya sama sekali tidak
ada hubungannya dengan pertanyaan gurunya. “Tetapi Mahendra
telah menyadari keadaannya. Ia banyak memberi aku pertolongan
bersama kakak seperguruannya Witantra.”
Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Tetapi ia mendesak,
“Syukurlah. Tetapi siapakah yang melukai punggungmu?”
Mahisa Agni menjadi semakin terdesak ke sudut. Sehingga
dengan penuh keragu-raguan ia menjawab, “Luka ini terjadi di hari
berikutnya guru.”
“Hari berikutnya? Apa yang terjadi di hari itu?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia terpaksa berkata,
“Kuda Sempana mengulangi niatnya.”
“Oh. Kasihan anak itu,” keluh Empu Purwa, “apakah anak muda
itu membawa kawan-kawannya?”
“Ya, Guru.”
“Hem, lalu bagaimana?”
Kembali Mahisa Agni terpaksa menceritakan kelanjutan peristiwa
yang menyakitkan hati itu. Meskipun ia tidak melihat sendiri apa
yang terjadi di Panawijen, saat Kuda Sempana mengambil Ken
Dedes, namun ia telah mendengarnya dari para cantrik, sehingga
karena itu, maka Mahisa Agni pun dapat mengulangnya dengan
baik. Meskipun ia mencoba mengatakannya sangat berhati-hati.
Namun betapapun juga ia merasa bahwa tampak perubahan yang
nyata pada wajah gurunya.
“Akuwu Tunggul Ametung sendiri datang?”
“Ya, Guru.”
“Dan merela memasuki padepokan kita?”
“Ya, Guru.”
“Apa yang mereka lakukan?”
Mulut Mahisa Agni benar-benar seakan-akan tersumbat. Dengan
dada yang gemetar ia menatap wajah gurunya yang tegang.
“Apa yang mereka lakukan Agni?”
“Ampun guru,” desah Mahisa Agni. Namun ia terdiam kembali.
Empu Purwa segera dapat menangkap peristiwa itu. Ia dapat
membayangkan bahwa sesuatu yang pahit telah terjadi. Karena itu
maka katanya, “Mereka mengambil anakku itu?”
“Ampun Guru. Peristiwa itu terjadi di luar pengamatanku. Aku
pada saat itu masih berada di Tumapel.”
“Benarkah seperti apa yang aku katakan? Mereka membawa
anakku?”
“Ya, Guru,” suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar. Namun
meskipun demikian, suara yang lirih itu cukup menggemparkan
dada Empu Purwa. Dada itu serasa meledak. Anak itu adalah anak
satu-satunya. Anak yang dikasihinya melampaui seluruh isi dunia
ini.
Dan anak itu ternyata telah hilang.
Empu Purwa yang tua itu, tiba-tiba menegangkan tubuhnya.
Hampir ia kehilangan penguasaan diri. Meskipun ia seorang pendeta
yang tekun. Namun ia adalah seorang manusia pula. Manusia yang
terdiri dari kulit daging. Manusia yang wadagnya masih memerlukan
air untuk minum dan nasi untuk makan. Manusia yang berjiwa kerdil
betapapun ia melampaui yang lain. Manusia yang lemah dan berakal
sempit, betapapun ia menguasai segala macam ilmu.
Dengan suara yang gemetar Empu Purwa bertanya pula kepada
Mahisa Agni, “Agni. Apakah di padepokan itu tidak ada seorang
manusia pun pada saat itu?”
“Ada garu.”
Empu Purwa menggeram. Dari sepasang matanya memencar api
kemarahan tiada berhingga. Belum pernah Mahisa Agni melihat
mata gurunya menyala sedemikian dahsyatnya, seakan-akan
seluruh bumi ini akan dibakarnya.
Mahisa Agni kemudian menundukkan wajahnya. Ia tidak berani
lagi menatap gurunya itu.
Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika gurunya bertanya
kepadanya.
“Agni kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”
Agni tidak tahu maksud pertanyaan gurunya. Sekali lagi ia
mengangkat wajahnya, namun kembali wajahnya tertunduk.
Meskipun demikian ia merasa aneh akan gurunya itu. Wajahnya
merah menyala, tetapi pertanyaannya itu diucapkannya perlahanlahan.
Namun dibalik ucapannya yang tampaknya tenang itu, terasa
bahwa di bawahnya tergenang air yang berputar sedahsyat
pusaran.
“Agni,” terasa suaranya menjadi semakin keras. Dan Agni
terkejut pula karenanya.
“Ya, Guru,” jawabnya.
“Kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”
“Tidak, Guru,” jawab Agni tergagap,
“Bendungan itu umurnya lebih dari umurmu. Akulah yang
membuat bendungan itu pada masa aku masih berguru. Sekali aku
dibawa oleh guruku merantau, dan sampailah aku ke daerah ini. Oh,
alangkah keringnya daerah ini dahulu,” desis orang tua itu.
Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu ke mana arah
pembicaraan gurunya. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia
mendengar gigi gurunya itu gemeretak.
“Alangkah marahnya Empu Purwa,” desah Mahisa Agni di dalam
hatinya. Tetapi ia tidak berani memandang wajah gurunya itu.
Kembali Mahisa Agni terkejut ketika terasa gurunya menarik
lengannya. Oh, alangkah dahsyat tenaga itu. Hampir ia jatuh
terjerembab. Dan dirasanya tangan gurunya gemetar.
“Agni,” berkata gurunya. Suaranya bergetar. Kini Mahisa Agni
tahu, bahwa gurunya mencoba menahan perasaannya.
“Ketika kami, aku dan guruku, melihat daerah ini sedemikian
keringnya, padahal dataran ini merupakan dataran yang baik sekali
untuk tanah-tanah persawahan, maka guruku memerintahkan
kepadaku, katanya, ‘Kalau kau benar-benar setia pada
perguruanmu, jadikanlah bendungan di sungai yang membelah
dataran ini. Dengan demikian kau tidak saja berjasa dalam
perjuangan melawan kekerasan dan kejahatan dengan ilmu tata
berkelahi dan bela diri, namun kau pun akan berjasa bagi
kemanusiaan dengan memberi lapangan hidup yang baru. Memberi
tanah pertanian yang subur’.”
“Demikianlah aku mulai dengan pekerjaanku. Bersama beberapa
orang cantrik dan seorang saudara seperguruanku. Nah, akhirnya
aku dapat memenuhi perintah guruku itu.”
“Dua tahun, aku ulangi Agni, dua tahun kami mengumpulkan
bahan-bahan untuk bendungan ini, dan hampir satu tahun kami
meletakkannya dan menyusunnya menjadi sebuah bendungan
sehingga dapat menaikkan air ke sawah-sawah. Bendungan itu pada
dasarnya tidak pernah rusak. Hanya perbaikan-perbaikan kecil
memang harus selalu dilakukan.”
“Sesudah itu Agni. Sesudah bendungan itu berhasil menaikkan
air, maka mulailah daerah ini menjadi daerah yang semakin lama
semakin ramai. Banyak orang mulai membuka tanah pertanian di
sini.”
“Oh, Agni. Aku tidak akan memperagakan jasa-jasa itu
kepadamu. Setiap orang-orang tua di Panawijen tahu, akulah yang
membuat bendungan itu.” Empu Purwa berhenti sejenak. Namun
nafasnya menjadi semakin deras mengalir, dan terdengar giginya
masih saja gemeretak. Dan tiba-tiba suara orang itu mengeras,
“Agni. Bukankah anakku itu hilang?”
Mahisa Agni benar-benar terkejut dan berdebar-debar
mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terbungkam, sehingga Empu
Purwa mengulanginya dengan nyala kemarahan yang memancar
dari sepasang matanya, “Agni. Bukankah begitu?”
“Ya, Guru,” sahut Agni ketakutan.
“Dan lukamu itu?”
“Aku berpapasan dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul
Ametung. Aku mencoba mencegah mereka. Dan sekali lagi aku
harus bertempur dengan Ken Arok.”
“He? Siapa? Hantu Karautan itu yang kau maksud?”
“Ya, Guru.”
“Lalu kau dilukainya dari belakang?”
“Tidak, Guru. Bukan hantu Karautan itu yang melukaiku. Tetapi
seorang Prajurit Tumapel memanahku pada saat aku sedang
bertempur dengan Ken Arok.”
“Dan anakku dibawanya ke Tumapel?”
Mahisa Agni mengangguk penuh kebimbangan.
“Oh, kasihan Ken Dedes itu. Kasihan anakku itu.” suaranya Empu
Purwa merendah. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya.
Anak itu adalah anak satu-satunya. Dibayangkannya bagaimana
gadisnya itu menjadi ketakutan. Dibayangkannya betapa kasar Kuda
Sempana itu menarik tangan anaknya, kemudian dengan nafsu yang
menyala-nyala membawa anaknya itu ke Tumapel dalam
perlindungan Akuwu Tunggul Ametung.
Tiba-tiba orang tua itu kehilangan keseimbangan nalarnya.
Betapapun mumpuninya Empu Purwa dalam olah ilmu lahir dan
batin, namun ia adalah seorang manusia biasa. Sehingga karena
itulah maka apabila kelemahannya sebagai manusia telah
menguasai perasaannya, hilanglah segala macam ilmu dan
kelebihannya dari manusia lain. Empu Purwa itu pun kemudian
kehilangan segala macam kelebihan-kelebihannya, kesabaran,
kelapangan dada dan kelunakan hati.
Sehingga tiba-tiba terdengarlah dari sela bibir orang tua itu
katakata
yang nyaring membelah kesepian. “Agni, semoga suaraku ini
didengar oleh Yang Maha Agung. Semoga suaraku ini akan terjadi
kelak. Terkutuklah! Terkutuklah mereka itu yang telah bersepakat
untuk melarikan anakku! Hai, orang yang melarikan anakku, semoga
tidak langsung mengenyam kenikmatan, matilah ia dibunuh dengan
keris.”
“Guru!” teriak Mahisa Agni memotong kata-kata gurunya. Anak
muda itu dapat merasakan getar suara gurunya yang benar-benar
telah menjatuhkan kutuk yang dahsyat. Namun Empu Purwa sama
sekali tidak mendengarkannya. Bahkan kemudian orang tua itu
berpaling memandangi bendungan yang selama ini merupakan
sumber kesuburan Panawijen. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar
gurunya itu berkata dengan suara gemetar terbakar oleh kemarahan
yang meluap-luap, “Bendungan itu menjadi saksi apa yang telah aku
lakukan untuk Panawijen. Tetapi orang-orang Panawijen sama sekali
tidak mengimbanginya. Dibiarkannya anakku dilarikan orang tanpa
perlindungan. Apakah orang sepadukuhan ini sama sekali tidak
berdaya untuk mencegahnya. Oh, semoga terjadi pula kata-kataku
ini atas Panawijen. Semoga keringlah tempat mereka mengambil air,
semoga keringlah semua kolam-kolamnya, karena mereka berdosa
membiarkan anakku dilarikan orang dengan paksa.”
“Guru!” sekali lagi terdengar suara Mahisa Agni melengking.
Namun sekali lagi Empu Purwa tidak mendengar suara Mahisa Agni
itu. Bahkan dengan serta-merta orang itu meloncat dengan
cepatnya. Seakan-akan lebih cepat dari kilat yang menyambar di
udara. Mahisa Agni tidak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya mampu
berdiri tegak sambil ternganga melihat gurunya dengan kecepatan
yang mengagumkan berlari ke arah bendungan.
Mahisa Agni sama sekali tidak dapat meraba maksud gurunya itu.
Karena itu maka ia sama sekali tidak mencoba untuk berbuat
sesuatu.
Namun dada Mahisa Agni itu kemudian berdesir tajam ketika ia
melihat Empu Purwa meloncat dan meluncur ke bawah bendungan
itu, sehingga orang tua itu hilang dari pengamatannya.
Mahisa Agni yang ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan
oleh gurunya, tanpa dikehendakinya sendiri, ia pun melompat berlari
meloncati tanggul di sisi bendungan itu. dari sana ia melihat
gurunya yang berdiri tegak di bawah air yang melontar dari atas
bendungan.
Semula Mahisa Agni tidak segera dapat mengetahui apa yang
akan dilakukan oleh gurunya. Namun tiba-tiba terasa sesuatu
menampar dadanya. Terasa seakan-akan darahnya membeku dan
tubuhnya menjadi lemas. Dengan mata terbelalak ia melihat
gurunya itu berdiri tegak seperti tertanam jauh ke pusat bumi.
Namun tiba-tiba ia melihat gurunya menarik satu kakinya ke
belakang dan menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya.
Apa yang dilihat oleh Mahisa Agni itu benar-benar telah
menghantam jantungnya, seakan-akan jantung di dalam dadanya
itu akan pecah. Dalam puncak kecemasan anak muda itu berteriak
nyaring, “Jangan Guru! Jangan!”
Tetapi suara Mahisa Agni itu seperti desau angin yang meluncur
tanpa bekas. Empu Purwa itu benar-benar telah memusatkan
segenap kekuatan lahir dan batinnya.
Tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni berteriak. Tinggi dan
melengking, memancarkan kekhawatiran, namun juga
keputusasaan, “Guru, Guru, Jangan!”
Tetapi Mahisa Agni itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi
perasaan gurunya yang sedang gelap pepat. Perasaan seorang ayah
yang kehilangan gadis satu-satunya.
Mahisa Agni itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua
tangannya. Namun ia ingin juga melihat apa yang terjadi, sehingga
tanpa dikehendakinya anak muda itu telah mengintip dari sela-sela
jari tangannya sendiri.
Mahisa Agni itu melihat Empu Purwa meloncat tinggi seolah-olah
melenting seperti seekor belalang. Sedemikian kuat daya loncatnya
sehingga orang tua itu hampir-hampir dapat mencapai bibir
bendungan itu. Tetapi apa yang dilakukan adalah mengerikan sekali.
Dengan penuh luapan kemarahan, Empu Purwa telah melepaskan
kekuatannya, lewat ajinya yang dahsyat, Gundala Sasra,
menghantam bibir bendungan itu.
Mahisa Agni mendengar suara gemuruh pada bendungan itu.
Dilihatnya permukaan air berguncang. Berguncang seperti
guncangan-guncangan di dalam dada Mahisa Agni sendiri.
Apalagi ketika ia melihat gurunya itu sekali lagi melenting, sekali
lagi mengayunkan ke bibir bendungan itu.
Seakan-akan dadanya sendirilah yang terhantam oleh kekuatan
yang dahsyat. Kekuatan aji Gundala Sasra.
Mahisa Agni sekali lagi mendengar suara gemuruh di bendungan
itu. Sekali lagi ia melihat dari sela-sela jari-jarinya air
terguncang
dengan kerasnya. Namun kali ini ia melihat juga batu yang meloncat
berhamburan. Bibir bendungan itu kini benar-benar telah pecah.
Pecah berserakan. Berunjung-berunjung batu berguguran seperti
dihantam oleh ledakan gunung Semeru.
Mahisa Agni benar-benar menjadi ngeri. Terdengar ia menjerit
tinggi. Melengking di antara suara reruntuhan batu-batu dan
kemudian disusul oleh luapan air yang meluncur dengan cepatnya,
lewat celah-celah bendungan yang runtuh itu.
Sekejap Mahisa Agni masih melihat gurunya meloncat
menghindari air yang meluap. Dan sekejap Mahisa Agni melihat
betapa air yang meluap itu telah menambah luka bendungan itu
menjadi semakin parah. Batu demi batu hanyut meluncur di antara
air yang mengalir sangat derasnya. Sejengkal demi sejengkal luka
bendungan itu menjadi semakin lebar. Sehingga kemudian Mahisa
Agni tidak tahan lagi melihatnya.
Sekali lagi terdengar ia berteriak, “Hancur! Bendungan itu
hancur!”
Mahisa Agni itu pun kemudian memutar tubuhnya membelakangi
bendungan yang semakin lama semakin parah. Di tutupnya kedua
lubang telinganya. Ia tidak mau mendengar suara yang gemuruh
itu. Suara yang ditimbulkan oleh guguran-guguran batu bendungan
yang semakin lama semakin keras. Seperti guguran-guguran di
hatinya. Terbayang sudah apa yang akan terjadi atas padukuhan ini.
Panawijen benar-benar akan menjadi kering. Akan keringlah tempat
mengambil air dan akan kering pulalah seluruh kolam-kolamnya.
Sawah-sawah akan tidak lagi dapat diairi, sebab selokan-selokan
pun akan menjadi kering pula karenanya.
Terbayang kini, apa yang selama ini pernah dilakukannya di
Panawijen. Hampir separuh dari waktunya sehari-hari dihabiskannya
di sawah-sawah dan di bendungan ini. Bendungan yang menjadi
lambang kesuburan padukuhan Panawijen dan padepokan gurunya.
Bendungan yang dapat menjadi tempat yang menenangkan bagi
anak-anak muda. Pasir yang putih dan air yang tergenang. Wajah
air yang tenang, di mana kawan-kawannya dan dirinya sendiri
sering bermain-main di dalamnya. Berenang, berkejaran di dalam air
dan bahkan beradu ketangkasan.
Tetapi kini bendungan itu runtuh. Runtuh dan runtuhnya
bendungan ini akan menjadi pertanda pula keruntuhan padukuhan
Panawijen.
Mahisa Agni menjadi semakin ngeri. Tangannya masih saja
menyumbat kedua telinganya. Ia masih tidak mau mendengar dan
melihat gemuruhnya bendungan itu hancur.
Namun dengan demikian, ia sama sekali tidak merasa bahwa
tanah yang dipijaknya itu pun sedikit demi sedikit menjadi goyah.
Air yang deras itu telah menggugurkan tebing sungai itu pula,
sehingga sisi tanggul itu pun sedikit demi sedikit runtuh pula
dibawa
arus.
Mahisa Agni baru menyadari keadaannya ketika ia merasa dirinya
terguncang. Betapa ia terkejut, ketika tanah yang dipijaknya
seolaholah
meluncur turun. Mula-mula perlahan-lahan sekali, namun
semakin lama semakin cepat.
Mahisa Agni segera dapat menduga apa yang telah terjadi.
Dengan gerak naluriah ia meloncat, untuk menghindarkan diri dari
bencana yang menyeretnya. Tetapi, tanah yang meluncur itu sama
sekali tidak dapat dipakainya sebagai tempat berjejak.
Dalam kesibukannya berusaha untuk menyelamatkan diri, tibatiba
Mahisa Agni merasa, sepasang tangan menyambar lengannya,
kemudian dengan satu kekuatan yang besar, ia terlempar ke
samping dan kemudian jatuh berguling di atas pasir. tetapi ia tidak
ikut runtuh bersama tanggul sungai itu. Dalam keadaannya itu
Mahisa Agni masih sempat melihat, seseorang yang menariknya itu
meloncat dan jatuh pula di sampingnya.
Cepat-cepat Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya orang yang
menolongnya itu bangkit pula. Ternyata bahwa orang itu adalah
gurunya, Empu Purwa.
Sebuah getaran yang dahsyat telah melanda dada anak muda
itu. Sedemikian dahsyatnya sehingga ia tidak mampu lagi untuk
menahannya. Karena itu maka dengan serta-merta Mahisa Ani
meloncat berjongkok di hadapan gurunya. Bahkan kemudian sambil
memeluk kaki orang tua itu Mahisa Agni berdesis, “Guru, Guru,
kenapa semua ini harus terjadi? Panawijen sedang berkabung. Dan
kini Panawijen menjadi semakin hancur.”
Sejenak orang tua itu berdiam diri. Matanya kini tidak lagi
menyalakan kemarahan hatinya yang meluap-luap. Bahkan mata itu
kini menjadi redup, bagaikan pelita yang kehabisan minyak.
“Agni,” berkata Empu Purwa perlahan-lahan, “aku tidak dapat
menahan perasaanku. Kenapa orang-orang Panawijen sama sekali
tidak memiliki rasa kesetiakawanan. Kenapa dibiarkan anakku
satusatunya
itu dibawa orang.”
“Tidak Empu,” bantah Agni, “Panawijen tidak berdiam diri. Dan
Panawijen bahkan telah mengorbankan seorang anak mudanya.”
“Agni,” Empu Purwa terkejut mendengar keterangan itu, “apakah
yang kau maksudkan?”
“Guru. Dalam mempertahankan Ken Dedes, Wiraprana
terbunuh.”
“He,” sebuah bentakan telah mengguncangkan dada Empu
Purwa. Baru kini ia mendengar bahwa telah terjadi perjuangan
untuk mempertahankan anaknya. Bahkan anak Buyut Panawijen itu
terbunuh.
Kembali Empu Purwa terdiam. Terasa hatinya terpecah-pecah.
Ketika ia berpaling, dan dilihatnya air yang cokelat
bergulung-gulung
mengalir menurut jalur-jalur sungai, Empu Purwa menarik nafas
dalam-dalam. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Mahisa Agni
berkata, “Guru. Akuwu Tunggul Ametung datang dengan para
prajuritnya. Mereka membawa tombak, panah dan perlengkapan
perang yang cukup. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh
penduduk Panawijen itu. Apakah mereka dapat menghadapi ujung
tombak, pedang dan bedor-bedor panah?”
Kepala Empu Purwa tertunduk mendengarkan kata-kata Mahisa
Agni itu. Tumbuhlah penyesalan di dalam dirinya. Penyesalan atas
kelemahannya, kelemahan jiwanya.
Namun Ken Dedes itu adalah satu-satunya. Tempat ia
meletakkan harapan untuk memperpanjang namanya. Kalau anak
itu menemui kesulitan, maka hari yang akan datang bagi orang tua
itu, adalah hari yang gelap. Lenyaplah urutan saluran darahnya.
Tetapi ternyata, kecintaannya kepada satu-satunya anaknya itu
telah menggelapkan hatinya. Menggelapkan perasaannya, sehingga
ia tidak menyadari apakah yang telah dilakukannya.
Dan benarlah kata-kata Mahisa Agni. Panawijen sedang
berkabung, dan kini Panawijen menjadi hancur.
Empu Purwa itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.
Disuruhnya muridnya duduk pula. Dengan mata yang sayu
keduanya memandangi air yang masih saja meluap-luap
menghanyutkan batu-batu bendungan. Dan luka pada bendungan
itu pun menjadi semakin lama selebar.
“Agni,” desis gurunya, “ternyata aku telah khilaf.”
Agni menundukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa bendungan
itu telah hancur.
“Agni,” berkata orang tua itu pula, “tak ada kata-kata yang dapat
aku pakai untuk menjelaskan, apa sebabnya aku telah menjadi mata
gelap. Tetapi aku mengharap kau dapat merasakannya.”
Mahisa Agni mengangguk. Perasan seseorang memang kadangkadang
serupa dengan seekor kuda. Betapa kuda itu dapat
dijinakkan, namun suatu ketika, dalam keadaan yang tidak dapat
dimengerti kuda itu dapat menjadi liar dan tanpa dapat dikuasainya.
Seperti yang pernah terjadi pada dirinya sendiri. Apabila pada saat
itu Wiraprana dapat ditemukan, pada saat ia merasa kehilangan
kesempatan untuk mendapatkan Ken Dedes, mungkin ia sendirilah
yang telah membunuh anak muda itu.
Tetapi Empu Purwa adalah seorang pendeta. Bukan lagi seorang
anak muda yang binal seperti dirinya sendiri. Empu Purwa selama
ini selalu berbuat baik. Sabar dan seolah-olah tidak lagi mempunyai
kepentingan dengan masalah-masalah duniawi. Banyak
nasihatnasihatnya
yang dapat mengendapkan perasaannya. Namun tibatiba
orang tua itu sendiri telah berbuat sesuatu yang tanpa
pengendalian diri. Tetapi Mahisa Agni tidak berani bertanya. Ia
hanya dapat memandangi wajah orang tua itu. Wajah yang sayu
suram. Dan dengan tiba-tiba Empu Purwa itu telah menjadi jauh
semakin tua.
“Agni,” berkata orang tua itu, “jadikanlah peristiwa ini peringatan
bagimu. Mungkin kau menganggap aku seorang guru yang baik.
Seorang guru yang tanpa cacat tanpa cela. Tetapi kau kini
menyaksikan sendiri, bahwa aku adalah manusia biasa. Manusia
yang bagaimanapun juga, adalah manusia yang dikuasai oleh segala
macam masalah duniawi. Dan aku telah tergelincir pula ke
dalamnya. Masalah yang sangat mementingkan diriku sendiri. Agni.
Jadikanlah peristiwa ini suatu peringatan. Bahwa manusia itu selalu
dilumuri oleh kekerdilan jiwa, nafsu dan kepentingan diri sendiri.”
Ketika Mahisa Agni mencoba memandang wajah orang tua itu,
hati Mahisa Agni pun berdesir. Dilihatnya sepasang mata orang tua
itu menjadi semakin muram. Dan dilihatnya pula selapis air yang
tergenang.
“Agni,” katanya lirih, “aku menyesal. menyesal sekali. Tetapi
semuanya telah terlanjur. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa
Wiraprana telah terbunuh. Dan kini aku menjadikan Panawijen
semakin berkabung.”
Kata-kata itu terhenti, seakan-akan sesuatu menyumbat
kerongkongan Empu Purwa. Sekali orang tua itu berpaling. Tetapi
ketika dilihatnya bendungan itu semakin hancur dilanda air, maka
segera ia melemparkan pandangan matanya ke kejauhan. Ke
puncak Gunung Kawi yang megah.
Angin yang lembut masih saja mengalir mengusap tubuh mereka
yang duduk lemah di atas pasir tepian. Awan yang hanyut ke utara.
Di ujung barat, awan berarak-arak menggamit tubuh Gunung Kawi
yang seolah-olah acuh tak acuh saja.
“Mahisa Agni,” kembali terdengar gurunya berkata, “betapa besar
kesalahan yang telah aku lakukan, namun aku ingin kau muridku,
jangan membuat kesalahan yang sama berhati-hatilah anakku.
Namun jangan pernah merasa dirimu lepas dari segala kemungkinan
yang jahat. Karena itu, apabila kau melihat kesalahan, jangan kau
maki yang melakukan kesalahan itu. Jangan kau hinakan, dan
jangan kau campakkan dari pergaulanmu. Tetapi ingatlah bahwa
kau pun akan dapat jatuh ke dalam kesalahan. Kepada mereka,
usahakanlah, luruskan jalannya, supaya kesalahanmu diluruskan
pula. Adalah keluhuran bagimu di hadapan Yang Maha Agung,
apabila kau dapat meluruskan yang bengkok menyadarkan yang
bersalah, daripada membinasakannya. Sebab bagi Yang Maha
Agung, setiap kesalahan yang disesali sepenuh hati, pastilah akan
dimaafkannya. Yang Maha Agung pasti akan memaafkan
kesalahanmu pula Agni, apabila kau memaafkan kesalahan orang
lain. Tetapi aku tidak tahu, apakah orang-orang Panawijen akan
memaafkan aku.”
Mahisa Agni menunduk dalam-dalam. Dalam keadaan yang
sepahit-pahitnya gurunya masih sempat mengambil contoh yang
terdekat, contoh dari dirinya sendiri. Namun apa yang dikatakannya
itu, langsung menghunjam ke dalam hatinya.
Tetapi Mahisa Agni itu kemudian terkejut ketika gurunya berkata,
“Agni. Meskipun orang-orang Panawijen akan memaafkan
kesalahanku, tetapi aku tidak akan dapat hidup lagi di padepokanku
itu. Padepokan itu akan selalu mengingatkan aku kepada anakku
yang tunggal itu. Karena itu Agni, aku akan pergi. Aku akan
menghabiskan sisa umurku ini untuk melakukan pendekatan diri.
Pendekatan diri untuk menghadap Yang Maha Agung, supaya aku
dibebaskan dari kemungkinan mengalami sengsara pada masa yang
langgeng.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dari sela-sela bibirnya
terdengar ia berdesah, “Guru, apakah guru akan meninggalkan
Panawijen?”
“Ya.”
“Ke mana?”
“Aku tidak tahu Agni. Aku akan pergi menurut langkah kakiku.
Tetapi hatiku akan menuntunku untuk mendekatkan diri pada
Sumber Hidupku.”
“Jangan guru,” Mahisa Agni mencoba mencegahnya, “biarlah
guru tetap di Panawijen. Aku akan berbuat untuk kepentingan guru.
Akulah yang akan mempertanggung jawabkan apabila orang-orang
Panawijen menjadi marah karena bendungan pecah. Bukankah aku
akan dapat juga mencoba memperbaikinya?”
“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang-orang Panawijen?”
“Aku akan memintakan maaf kepada mereka.”
“Kalau mereka tidak memaafkan?”
“Mustahil.”
“Bukan mustahil Agni. Mereka pun sedang diamuk oleh gelora
perasaannya seperti aku.”
Mahisa Agni diam sejenak. Tiba-tiba ia berkata lantang, “Guru.
Aku adalah seseorang yang pernah mendapatkan limpahan
kemurahan Empu. Apakah aku tidak dapat berbuat sesuatu untuk
Empu di sini? Seandainya orang-orang Panawijen itu marah dan
tidak mendengarkan permintaanku. Baiklah, apakah yang akan
mereka kehendaki. Kasar, halus, aku tidak akan gentar.”
Wajah Empu Purwa itu pun menjadi semakin muram. Ditepuknya
punggung Mahisa Agni sambil berkata, “Terima kasih Agni. Aku
mengucapkan terima kasih akan kesetiaanmu itu. Tetapi apakah kau
sudah berbuat dengan tepat, apabila benar-benar terjadi demikian?
Mungkin aku dapat juga berbuat seperti apa yang akan kau lakukan
itu Agni, namun akibatnya adalah benturan-benturan perasaan yang
meluap-luap tanpa terkendali. Korban akan berjatuhan, dan akan
terkutuk pulalah namaku dan namamu di hadapan orang-orang
Panawijen. Bukan sekadar di hadapan orang-orang Panawijen Agni,
namun akan terkutuklah namaku dan namamu di hadapan Yang
Maha Agung. Karena aku dan kau telah memperlihatkan
kemenangan-kemenangan jasmaniah untuk melindungi kesalahan
yang telah aku lakukan.”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban gurunya itu. ia
pun kemudian menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah
karena malu. Ternyata bahwa perasaannya benar-benar seperti
kuda liar yang tidak tunduk pada kendalinya.
“Alangkah bodohnya aku,” gumamnya di dalam hati, “seandainya
demikian apakah aku lebih sakti daripada guruku itu? Seandainya
harus bertahan dengan kekerasan. Oh, alangkah bodohnya aku.”
Namun terdengar gurunya berkata, “Sudahlah Agni. Kembalilah
ke Panawijen. Mintalah maaf kepada orang-orang Panawijen atas
namaku. Aku akan pergi sebelum aku menyentuh halaman
padepokanku dengan ujung kakiku.”
“Tentang bendungan ini Agni, ingat-ingatlah. Jangan kau bangun
kembali di bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil. Di
sekitar tempat ini kau tidak mendapat cukup bahan untuk
membangunkannya. Batu-batu yang tidak begitu banyak telah habis
aku kumpulkan beberapa puluh tahun yang lalu.”
“Tetapi aku dan anak-anak muda Panawijen akan mampu
mengumpulkannya,” jawab Mahisa Agni.
Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni yang bersungguhsungguh.
Terpancar dari kedua belah matanya, tekadnya yang
menyala untuk membangun bendungan itu kembali.
Namun gurunya itu berkata, “Tidak Agni. Di daerah ini tidak
cukup bahan untuk keperluan itu. Beberapa puluh tahun yang lalu
aku dan beberapa orang cantrik memerlukan waktu dua tahun
untuk mengumpulkan bahan-bahannya. Dan bahan-bahan itu kini
sudah tidak ada lagi di sekitar tempat ini. Karena itu, Agni. Kalau
kau mau mendengarkan kata-kataku, berjalanlah menyusur sungai
ini ke hulu. Bawalah orang-orang Panawijen untuk membangun
bendungan di daerah Padang Karautan. Padang rumput itu akan
menjadi tanah persawahan yang subur.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang di daerah itu
banyak terdapat batu-batu besar kecil. Tetapi daerah itu bukanlah
daerah yang telah siap untuk dikerjakan. Di daerah itu masih harus
dibangun parit-parit dan jalur-jalur air ke tengah padang rumput
itu.
Empu Purwa melihat keraguan di wajah muridnya. Katanya,
“Agni. Kalau kau bangun bendungan yang jebol itu, maka kau akan
menemui banyak kesulitan. Selain daripada itu Agni. Bendungan itu
akan selalu membangunkan kenangan pahit bagiku. Seandainya
suatu ketika aku berkesempatan lewat di daerah ini, maka hatiku
pasti akan terluka kembali karena kenangan yang pedih itu. Karena
itu, cobalah. Biarlah rakyat Panawijen bangun dari tidurnya. Rakyat
Panawijen yang selama ini seakan-akan tinggal memetik buah dari
pepohonan yang ditanam oleh orang lain itu, biarlah mencoba untuk
menilai kekuatan mereka sendiri. Sebab selama ini ternyata
Panawijen telah menjadi suatu daerah yang sangat lemah. Daerah
yang diliputi oleh suasana yang terlalu sepi dan diam. Cobalah
Agni,
Cobalah membangunkannya, supaya mereka mengenal arti kerja
yang sebenarnya. Usaha mengadakan yang belum ada. Bukan
sekedar puas apa yang telah dimilikinya.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat membantah
perintah gurunya. Alasan-alasannya memang dapat dimengerti
seluruhnya. Bahan-bahan yang terlalu kurang, alasan-alasan
perasaan gurunya yang pahit dan kerja untuk membangunkan
Panawijen yang selama ini telah tertidur nyenyak.
Mahisa Agni itu kemudian terperanjat ketika gurunya berkata
sekali lagi kepadanya, “Agni. Biarlah sekarang aku pergi membawa
sisa hidupku. Aku dahulu pernah menjadi seorang perantau.
Sekarang aku akan mengulangi cara hidupku itu.”
“Tetapi Guru,” bantah Agni terbata-bata, “Guru sekarang sudah
semakin tua. Dahulu Guru mungkin masih semuda aku.”
“Sekarang hatiku sudah semakin mengendap Agni. Aku tidak
akan mengulangi cara-cara hidupku pada masa-masa itu. Sisa
hidupku adalah kesempatan terakhir untuk menilai diriku di hadapan
Yang Maha Agung.”
“Jangan Guru. Tinggallah sementara di Panawijen, Guru dapat
mengawasi pekerjaan kami, membangun bendungan di tengah
padang rumput itu.”
Empu Purwa menggeleng, “Tidak Agni.”
“Kenapa?” desak Agni.
“Kau adalah muridku. Umurmu sudah cukup dewasa. Aku tidak
perlu lagi menganggapmu anak-anak yang harus aku tunggui siang
malam dalam tugasmu. Cobalah. Kalau kau muridku, maka kau akan
mampu melakukannya, seperti aku dahulu melakukan. Aku
membangun bendungan ini, dan sekarang kau pun harus berbuat
seperti aku. Melihat kemampuan diri.”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat menjawab
lagi. Karena itu, maka yang terasa kemudian adalah debar yang
semakin keras di dalam hatinya.
Ketika ia kemudian melihat gurunya berdiri, dengan serta-merta
ia pun meloncat berdiri sambil berdesis, “Guru. Ke manakah aku
harus pergi, seandainya suatu ketika aku ingin bertemu dengan
Guru.”
“Bukan kau yang akan mencari aku Agni. Tetapi akulah yang
akan datang kepadamu apabila aku masih mendapat kesempatan.”
“Mungkin suatu ketika aku harus menghadap guru, apabila aku
melihat perkembangan yang terjadi atas Ken Dedes di Tumapel.”
Tiba-tiba Empu Purwa itu mengerutkan keningnya. Terasa bahwa
sesuatu bergetar di dalam hatinya.
“Guru,” berkata Agni kemudian, “aku minta izin guru, untuk suatu
ketika mengambil Ken Dedes dari Kuda Sempana.”
Empu Purwa menggeleng, “Agni. Apabila Kuda Sempana sudah
mendapat perlindungan Akuwu Tunggul Ametung, maka
persoalannya sudah menjadi semakin sulit. Kalau kau tentang
perbuatan itu dengan kekerasan, maka apakah kau dan bahkan
mungkin aku, akan dapat melawan seluruh Tumapel? Agni, jangan
melawan Akuwu Tunggul Ametung dalam kedudukannya. Dengan
demikian berarti kau melawan kekuasaannya. Karena itu Agni, aku
menyesal, bahwa aku telah menghancurkan bendungan itu,
mengeringkan sumber air bagi Panawijen, tetapi aku benar-benar
tidak menyesal seandainya Yang Maha Agung benar-benar berkenan
membebaskan anakku dari mereka yang telah melarikannya dengan
paksa.”
Sekali lagi Mahisa Agni tertunduk. Dipandanginya pasir yang
memutih di bawah kakinya.
Dan kembali ia mendengar gurunya berkata, “Agni. Aku akan
pergi. Aku akan berdoa, semoga Yang Maha Agung mendengarkan
aku pula kali ini. Semoga anakku akan selamat dan mendapat
kebahagiaan yang besar.”
Demikian Empu Purwa selesai mengucapkan kata-katanya, maka
segera ia melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni
itu berjalan pula di belakangnya sambil berkata, “Guru, Guru.
Jangan pergi.”
Empu Purwa berpaling. Jawabnya, “Agni. Kau bukan anak-anak
lagi. Berbuatlah seperti seorang yang telah dewasa. Aku akan pergi.
Jangan kau ikuti aku. Bawalah rakyat Panawijen ke dalam suatu
suasana kerja. Mengadakan yang belum ada. Memperbaharui yang
telah rusak.”
Tetapi Mahisa Agni masih saja berjalan mengikuti gurunya sambil
berkata, “Jangan Empu. Kami masih memerlukan tuntunan Guru.”
Empu Purwa berhenti. Ditatapnya mata Mahisa Agni tajam-tajam.
Kemudian katanya, “Agni. Kau adalah muridku. Jangan
mengecewakan gurumu. Seorang anak muda yang seumurmu itu
seharusnya sudah mampu berdiri sendiri. Nah. Kembalilah ke
Panawijen. Di sanggarku akan kau temui Trisula kecil itu. Simpanlah
benda itu baik-baik. Sebagaimana aku telah menyimpannya. Kalau
kemudian kau mempercayai seseorang kelak Agni, kau dapat
memberikannya kepada orang itu. Seperti aku menyerahkan
kepadamu.”
Mahisa Agni tertegun diam. Ketika gurunya menyebut Trisula
kecil itu hatinya bergetar. Apalagi ketika gurunya berkata, “Agni,
dengan Trisula itu, maka kau telah mewakili aku di padepokanku.
Kalau kau kelak bertekun diri, maka ilmumu yang telah lengkap itu
akan menjadi semakin masak. Tanpa aku kau akan dapat menjadi
seorang yang kuat. Namun ingat Agni, ingat bahwa tak ada
kekuatan, kecakapan dan kemampuan yang sempurna. Yang satu
akan mengalahkan yang lain, dan yang lain lagi akan mengatasinya.
Karena itu jangan sombong dengan ilmu dan pusaka yang telah kau
miliki.”
Perlahan-lahan sekali terdengar Mahisa Agni bergumam, “Ya,
Guru.”
“Nah, baiklah. Aku akan berjalan terus. Sekali-sekali aku akan
mengunjungimu.”
Mahisa Agni masih berdiri mematung. Ketika dilihatnya gurunya
melangkah kembali maka dari mulutnya meluncur kata-katanya,
“Selamat jalan, Guru.”
“Terima kasih Agni,” sahut gurunya.
Mahisa Agni kemudian hanya dapat melihat gurunya berjalan.
Langkahnya adalah langkah seorang tua yang kelelahan. Perlahanlahan
dan bahkan tampak betapa sukar ia mengayunkan kakinya.
Sebuah tongkat tergenggam di tangannya.
“Hem,” Mahisa Agni berdesah. Alangkah jauh bedanya dengan
Empu Purwa ketika meloncat dan memecahkan bendungan itu.
Alangkah jauh bedanya dengan orang yang pernah ditemuinya di
kaki Gunung Semeru dan menamakan dirinya Empu Pedek.
Meskipun orang itu berbuat seolah-olah timpang, namun geraknya
tangkas dan lincah. Sekarang dilihatnya Empu Purwa itu berjalan
tertatih-tatih.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya langkah
gurunya sampai jauh menyusur pinggir sungai. Tiba-tiba di kejauhan
Mahisa Agni melihat gurunya itu menuruni tebing, dan dengan
hatihati
berjalan menyeberangi sungai. Sungai di atas bendungan itu
ternyata telah menjadi semakin dangkal.
Anak muda itu diam mematung sampai Empu Purwa hilang
dibalik tanggul di seberang sungai. Lamat-lamat ia melihat orang
tua itu seperti hilang ditelan bumi.
Tetapi alangkah terkejut Mahisa Agni kemudian ketika ia
mendengar suara hiruk-pikuk. Ketika Mahisa Agni berpaling,
dilihatnya empat anak-anak muda berlari-lari menuju ke bendungan
itu. Dari jauh telah terdengar mereka berteriak, “Agni. Apakah yang
telah terjadi, kenapa sungai ini banjir, sedang hujan tidak turun?
Apakah bendungan itu rusak?”
Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi terasa hatinya berdesir.
Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan anak-anak muda itu
apabila mereka bertanya, kenapa bendungan itu pecah?
Dengan gelisah Mahisa Agni melihat keempat anak-anak muda
itu menjadi semakin dekat.
Demikian mereka sampai ke pinggir sungai, maka segera mereka
meloncat ke dekat bendungan yang pecah itu. Dengan terbata-bata
mereka serentak berdesah, “Oh. Bendungan ini pecah?”
Keempatnya memandangi arus air yang masih saja mengalir
dengan derasnya itu seperti memandang bencana yang sudah
terbayang di depan matanya.
“Pecah! Pecah!” mereka mengulangi.
Kemudian salah seorang dari mereka berpaling kepada Mahisa
Agni sambil bertanya, “Agni. Kenapa bendungan itu pecah?”
Agni tidak segera menjawab. Ia masih dikuasai oleh
kebimbangan hatinya. Sekali-sekali dipandanginya keempat anakanak
muda itu. Betapa wajah mereka menjadi pucat seperti mayat.
Bibir mereka bergetar seperti orang kedinginan. Namun kemudian
dilayangkannya matanya ke bendungan yang pecah itu.
“Kenapa Agni?” desak mereka.
Agni menggeleng lemah. Katanya tanpa menjawab pertanyaan
itu, pertanyaan tentang bendungan, katanya, “Dari manakah
kalian?”
“Aku sedang berada di sawah Agni,” jawab salah seorang dari
mereka, “Ketika aku mendengar suara riuh di dalam sungai segera
aku menengok. Ternyata sungai itu tiba-tiba banjir, sedangkan
udara sangat cerah. Di hulu pun sama sekali tidak tampak awan
atau mendung. Karena itu aku menjadi cemas. Mencemaskan
bendungan ini, ternyata bendungan ini benar-benar pecah.”
“Kenapa bendungan ini pecah Agni? Bukankah kau berada di
tempat ini? Mungkin kau melihat sebabnya,” bertanya yang lain.
Mahisa Agni masih belum menjawab pertanyaan mereka.
Katanya, “Apakah Ki Buyut Panawijen telah diberi tahu?”
“Belum,” sahut salah seorang dari mereka. Dan tiba-tiba ia
berkata pula, “Aku akan memberitahukan kepada Ki Buyut.”
Anak itu tidak menunggu jawaban. Segera ia meloncat berlari
sekencang-kencangnya menuju ke padukuhan mereka.
Ketiga kawannya dan Mahisa Agni masih merenungi bendungan
yang pecah itu. Kini bendungan itu telah benar-benar runtuh.
Batubatunya
telah hanyut berserakan. Bahkan arus airnya yang meluapluap
telah menggugurkan tebing-tebing sungai itu, sehingga sungai
itu seakan-akan menjadi semakin lebar.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kepalanya
masih terngiang suara gurunya, “Jangan kau bangun kembali di
bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil.”
Dan ternyata kini ia melihat di bekas bendungan sungai itu
seakan-akan menjadi semakin lebar dan curam. Ternyata air tidak
saja menggugurkan tebing, tetapi juga menggali dasar sungai itu
menjadi semakin dalam.
Tak seorang pun yang mulai berbicara. Mereka masing-masing
sedang merenungi angan-angan masing-masing. Ketiga anak-anak
muda itu tenggelam dalam kecemasan yang sangat. Pecahnya
bendungan itu berarti sawah-sawah mereka akan menjadi kering.
Kolam-kolam ikan, dan dengan demikian Panawijen akan menjadi
kering pula. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa
bendungan itu tiba-tiba menjadi pecah.
Sesaat kemudian, sekali lagi terdengar hiruk-pikuk mendekati
tebing itu. Ketika anak-anak muda itu berpaling, mereka melihat
berbondong-bondong orang berlari-larian. Bukan saja Ki Buyut
Panawijen, tetapi juga orang-orang lain, laki-laki, perempuan tua
muda. Mereka ingin menyaksikan sumber hidup mereka yang rusak.
Seakan-akan berita itu sama sekali tidak pernah akan terjadi.
Ketika mereka sampai di pinggir kali itu, maka serentak tertegun
diam. Mereka hampir tidak percaya akan mata mereka sendiri.
Bendungan itu telah jebol. Hancur. Dan air yang tergenang naik ke
parit-parit kini telah semakin susut. Sebentar lagi air itu akan
semakin berkurang, sehingga bendungan itu nanti akan menjadi
sedangkal mata kaki.
Ki Buyut Panawijen berdiri dengan wajah yang pucat. Sekali ia
memandang rakyatnya yang tidak kalah cemasnya dari dirinya
sendiri.
Kemudian kepada anak muda yang memberitahukannya
kepadanya, Ki Buyut bertanya, “Bagaimana mungkin bendungan ini
pecah?”
Anak muda itu menggeleng, “Aku tidak tahu Ki Buyut.”
“Tidak adakah yang melihat sebab dari pecahnya bendungan ini,”
kembali terdengar suara Ki Buyut parau.
Anak muda itu menggeleng. Namun tiba-tiba salah seorang dari
ketiga anak muda yang ditinggal di tepi sungai itu berkata, “Ketika
kami sampai di bendungan ini, Agni telah berdiri di sini.”
Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia
berpaling ke arah Mahisa Agni. Katanya, “Agni. Apakah kau melihat
sebab dari pecahnya bendungan ini?”
Semua orang kini berdiam diri. Mereka menunggu jawaban
Mahisa Agni. Karena itu maka tepi sungai itu pun kemudian menjadi
sunyi. Yang terdengar hanya gemuruh arus air yang meluap lewat
pecahan bendungan yang sudah semakin menganga lebar. Bahkan
hampir musnah sama sekali.
Mahisa Agni berdiri dengan tegangnya. Ia menjadi bingung,
bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen itu.
Ketika Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka kembali
terdengar Ki Buyut bertanya, “Bagaimana Agni?”
Kembali suasana menjadi hening. Dan kembali yang terdengar
adalah gemuruh air.
Ketika Mahisa Agni memandang berkeliling, maka dilihatnya
semua mata tertuju kepadanya, seakan-akan mereka sudah tahu
apa yang terjadi, dan seakan-akan mereka telah menyalahkannya.
Karena itu maka dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebardebar.
Ketika kemudian matanya tertumbuk pada sorot mata Ki Buyut
Panawijen, maka dadanya terasa berdesir, dan tanpa sesadarnya
Mahisa Agni mengangguk.
“Oh,” desah Ki Buyut. Dan hampir setiap orang yang melihat
Mahisa Agni itu mengangguk, berdesis pula. Debar di dada mereka
menjadi semakin cepat, seakan-akan mereka tidak sabar lagi
menunggu apakah sebabnya maka bendungan itu pecah.
“Kenapa Ngger,” bertanya Ki Buyut, “kenapa?”
Kembali Mahisa Agni diamuk oleh kebingungan di hatinya.
Apakah ia harus berkata berterus terang?
Sekali lagi orang-orang yang berdiri di sekitarnya berdesis,
mereka segera ingin tahu kenapa bendungannya itu pecah. Dan
sekali lagi Ki Buyut Panawijen mendesak, “Kenapa Ngger?”
Mahisa Agni tidak mempunyai cara lagi untuk mengelakkan diri
dari pertanyaan itu. Karena itu maka ditenangkannya hatinya. Sekali
ia menarik nafas dalam-dalam, dan baru kemudian ia berkata, “Ki
Buyut. Aku memang melihat saat bendungan ini pecah. Dan aku
memang ingin mengatakannya kepada Ki Buyut Panawijen beserta
rakyatnya. Namun sebelumnya baiklah aku menyampaikan
permohonan maaf dari guruku Empu Purwa.”
Ki Buyut Panawijen itu mengerutkan keningnya. Katanya,
“Apakah gurumu telah kembali?”
“Sudah Ki Buyut. Tetapi Empu Purwa tidak sampai hati untuk
menjenguk padepokannya, karena anaknya yang hilang itu.”
“Gurumu sekarang di mana?”
“Empu Purwa itu kemudian pergi meninggalkan padepokannya
untuk waktu yang tidak terbatas. Ia mencoba menghindarkan diri
dari kepahitan hidupnya, meskipun ia tahu, bahwa kepahitan
hatinya itu akan selalu ikut ke mana ia pergi. Namun dengan
kepergiannya kali ini ia mengharap bahwa dengan mendekatkan diri
kepada Yang Maha Agung, maka Empu Purwa akan mendapat
damai di hatinya.”
“Kasihan orang tua itu,” gumam Ki Buyut. Tetapi kemudian ia
bertanya, “Tetapi bagaimana dengan bendungan ini?”
“Aku juga sedang mencoba mengatakan kenapa bendungan ini
pecah,” sahut Agni.
“Tetapi kau bercerita tentang gurumu?”
“Ya. Guru yang sedang dilanda oleh duka yang hampir tak
tertanggungkan karena kehilangan anak tunggalnya.”
“Apakah hubungannya dengan bendungan yang pecah ini?”
desak beberapa orang yang kehabisan kesabaran.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya
untuk menenangkan debar jantungnya. Baru kemudian ia menjawab
dengan sangat hati-hati, “Ki Buyut. Pagi tadi aku tertidur di tepi
bendungan itu. Aku terbangun karena tiba-tiba terasa seseorang
menyentuh tubuhku. Ternyata orang itu adalah guruku yang telah
agak lama meninggalkan padepokan ini. Pada saat itu, ternyata aku
tidak dapat menghindarkan diri, untuk mengatakan apa yang telah
terjadi di Panawijen. Demikian berat pukulan yang menimpa
perasaan Empu Purwa atas hilangnya anak satu-satunya itu, maka
tiba-tiba Empu Purwa itu kehilangan kesabarannya,” Agni berhenti
sejenak. Ia mencoba melihat perasaan apakah yang bergolak di
setiap dada orang yang mendengarnya.
Orang-orang Panawijen mendengarkan kata-kata Mahisa Agni
dengan sepenuh perhatian. Namun sampai sedemikian jauh mereka
masih belum tahu, ke mana arah cerita Mahisa Agni itu.
Sehingga dengan demikian, mereka masih saja berdiri mematung
dengan tegangnya, menunggu Mahisa Agni meneruskan ceritanya
itu.
Baru sejenak kemudian Mahisa Agni berkata pula, “Pada saat
Empu Purwa kehilangan keseimbangan diri itulah segalanya terjadi.”
“Ya. Pada saat itu bendungan itu pecah. Tetapi apa sebabnya,”
desak salah seorang dari mereka yang mengerumuni Mahisa Agni.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata orang-orang itu
sama sekali belum mampu menghubungkan ceritanya dengan
pecahnya bendungan itu. Maka jawabnya, “Bendungan itu pecah
karena Empu Purwa merasa bahwa ia kehilangan miliknya yang
paling berharga dalam hidupnya. Yaitu anak satu-satunya.”
“Agni,” sahut Ki Buyut Panawijen, “kenapa jawabmu sama sekali
tidak dapat kami mengerti. Angger, cobalah. Katakanlah, apa yang
kau lihat? Apakah karena Empu Purwa merasa bahwa ia menjadi
sangat menderita tekanan atas hilangnya putrinya itu, lalu
bendungan itu meledak?”
“Oh,” keringat dingin mengalir di seluruh tubuh Mahisa Agni. Ia
sadar, bahwa tak seorang pun dari penduduk Panawijen yang
mampu melihat betapa besar kekuatan ilmu yang tersimpan di
dalam tubuh gurunya yang tua itu. Namun untuk mengatakannya,
sangatlah terasa berat.
Tetapi ia tidak dapat terus menerus menghindar dari pertanyaan
itu. Disadarinya bahwa pada suatu ketika ia harus mengatakan apa
yang diketahuinya, atau ia harus membuat suatu cerita bohong
yang dapat menipu rakyat Panawijen.
Namun cerita semacam itu sama sekali tak akan
menguntungkannya. Seterusnya ia harus mempertahankan
kebohongan itu. Kalau kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan
yang sukar dijawabnya mengenai cerita bohongnya, maka ia harus
berbohong pula. Semakin lama semakin jauh dan jauh. Karena
itulah maka Mahisa kemudian mengambil keputusan untuk segera
mengatakannya, apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu maka
katanya, “Ki Buyut. Bahwa Empu Purwa merasa kehilangan segala
miliknya itulah permulaan dari bencana itu. Empu Purwa merasa
bahwa rakyat Panawijen sama sekali tidak mempunyai belas kasihan
terhadap anaknya. Terhadap Ken Dedes, anaknya yang tunggal.
Karena itu maka betapa marahnya. Dan kemarahannya itu ternyata
tersalur lewat kekuatannya yang dahsyat. Dan sebenarnyalah, aku
tidak dapat menutup kenyataan yang telah terjadi itu. Empu
Purwalah yang telah memecah bendungan itu.”
Semua dada terasa berdesir mendengar penjelasan Mahisa Agni.
Sesaat orang-orang di sekitarnya itu terbungkam karena jantungnya
serasa terhenti. Namun sesaat kemudian warna-warna merah telah
merayap nada wajah-wajah mereka. Timbullah kemudian di dalam
dada mereka nyala kemarahan atas perbuatan Empu Purwa itu.
Bendungan itu adalah sumber hidup mereka, adalah jantung dari
padukuhan Panawijen. Dan sumber hidup itu dihancurkan orang.
Terdengarlah kemudian di antara mereka suara bergumam.
Beberapa orang menjadi sangat marah dan tanpa sesadarnya
mereka telah melangkah semakin maju.
Ki Buyut Panawijen sendiri, sesaat tidak dapat berkata sepatah
kata pun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Empu Purwalah
yang telah memecahkan bendungan itu. Baru ketika ia telah berhasil
mengatur perasaannya kembali maka berkatalah Ki Buyut itu
dengan suara bergetar, “Agni. Apakah kau berkata sebenarnya?”
Agni mengangguk ragu. Namun terdengar mulutnya berkata, “Ya,
Ki Buyut. Aku berkata seperti apa yang terjadi sebenarnya.”
Sekali lagi Ki Buyut terdiam. Tetapi seorang anak muda berkata
lantang, “Agni, kenapa Empu Purwa memecah bendungan itu.
Bendungan yang menjadi sumber hidup kita sekalian di Panawijen
ini?”
“Sudah aku katakan,” jawab Agni, “Empu Purwa merasa sangat
menyesal bahwa putrinya itu hilang.”
“Itu bukan salah kami,” teriak anak muda yang lain.
“Ya. Bukan salah kalian. Tetapi Empu Purwa merasa bahwa
kalian tidak melindunginya.”
“Itu pun bukan salah kami. Apakah kami harus mati seperti putra
Ki Buyut Panawijen seluruhnya? Sehingga rakyat Panawijen menjadi
tumpas?”
Mahisa Agni tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Keringatnya
semakin banyak mengalir membasahi tubuhnya.
“Agni,” berkata Ki Buyut Panawijen, “aku menyesal bahwa hal itu
telah terjadi. Empu Purwa benar-benar telah menghancurkan
hidupku. Anakku mati karena gadis yang hilang itu. Sekarang Empu
Purwa telah menghancurkan bendungan ini.”
“Ya,” teriak seorang anak muda pula, “kami menghormati
pendeta tua itu. Tetapi ia merusak kehidupan kami di sini.”
Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ia semakin tidak tahu apa
yang harus dikatakannya. Maka untuk mencoba menenangkan
mereka, ia berkata, “Guruku menyesal bahwa bendungan itu
dipecahkannya. Guruku minta maaf karena kesalahan itu.”
“Apa?” teriak seorang yang bertubuh tinggi besar dan berbulu di
dadanya, “apakah permintaan maaf itu sudah cukup bernilai untuk
menebus kesalahannya.”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya.
“Agni,” berkata yang lain, “kau adalah murid pendeta itu.
Sekarang, bawalah gurumu itu kemari.”
“Guru telah pergi. Aku tidak tahu ke mana perginya,” jawab
Mahisa Agni.
“Bohong! Ia sedang bersembunyi. Dan kau pasti tahu di mana ia
bersembunyi. Jangan menunggu kami memaksamu Agni,” terdengar
beberapa orang berteriak hampir bersamaan.
Mahisa Agni terkejut bukan kepalang mendengar teriakan itu.
Rakyat Panawijen selama ini dikenalnya sebagai rakyat yang diam.
Hampir tak pernah didengarnya atau dilihatnya, salah seorang atau
beberapa orang di antaranya menunjukkan sifat-sifat yang keras,
apalagi kasar. Mereka hampir acuh tak acuh terhadap apa saja yang
terjadi. Mereka hanya mengenal pekerjaan mereka sehari-hari. Ke
sawah, ke ladang, nderes kelapa, ke bendungan, ke kolam untuk
memelihara ikan. itu saja. Setiap hari diulanginya. Mereka telah
menjadi puas apabila mereka dapat memetik tanaman mereka,
menangkap ikan-ikan peliharaan mencetak gula kelapa dengan
tempurung. Itu saja.
Kini tiba Mahisa Agni melihat wajah-wajah itu menjadi merah
membara. Tiba-tiba Mahisa Agni mendengar mereka berteriak
dengan keras dan kasarnya.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram di dalam hatinya, “ternyata
betapapun lemahnya rakyat Panawijen, namun apabila tersentuh
kepentingan hidupnya yang paling dalam, maka hati mereka itu pun
tergetar pula. Mereka yang berdiri membatu ketika mereka melihat
Kuda Sempana berusaha menangkap Ken Dedes, kini aku lihat
mereka menggeretakkan giginya.”
Tetapi angan-angan Mahisa Agni terputus ketika didengarnya
suara di sekitarnya menjadi semakin riuh, “Mahisa Agni. Di manakah
pendeta tua itu? Ayo Tunjukkan kepada kami Biarlah kami
menghakiminya.”
Mahisa Agni memandang berkeliling. Satu-satu ditatapnya
pandangan-pandangan mata yang menyala. Beberapa anak muda
yang tidak lagi dapat menahan diri telah mengacungkan tinjunya.
Terdengar suara di antara mereka, “Agni, kami telah menerima
gurumu di antara kami. Bertahun-tahun ia hidup seperti keluarga
sendiri. Tetapi tiba-tiba ia mengkhianati kami dengan merusak
bendungan itu hanya karena anaknya hilang. Satu orang itu apakah
sudah cukup berharga untuk menghancurkah kehidupan kami di
sini?”
“Ayo Agni.” sahut yang lain, “jangan termenung seperti kera
kedinginan.”
“Hem,” kali ini Mahisa Agni benar-benar menggeram. Kata-kata
yang didengarnya agaknya telah terlalu tajam baginya. Meskipun
demikian ia masih berusaha menahan hatinya. Bahkan ia masih
mencoba berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Apakah Ki
Buyut memperkenankan aku berkata seorang diri di hadapan Ki
Buyut sehingga Ki Buyut akan dapat mengetahui persoalan yang
sebenarnya?”
Buyut Panawijen pun ternyata benar-benar telah marah. Ia
merasa bahwa daerahnya telah dikorbankan oleh Empu Purwa.
Karena itu maka jawabnya lantang, “Angger. Aku adalah salah satu
dari rakyat Panawijen ini. Tak ada persoalan yang dapat kau
sampaikan kepadaku tanpa didengar oleh seluruh rakyat. Jangan
mencoba membujuk aku!”
“Tidak Ki Buyut,” potong Agni cepat-cepat, “tetapi aku
mengharap bahwa Ki Buyut akan mampu berpikir lebih tenang
daripada orang lain.”
“He, kau sudah mulai menghina pula,” jawab Ki Buyut sama
sekali di luar dugaan Mahisa Agni, “kau sangka orang-orang
Panawijen ini tidak mampu berpikir?”
Terdengar suara yang ribut di sekitar Mahisa Agni. Beberapa
anak muda berkata, “Jangan menghina kami Agni. Ayo di mana
gurumu. Kesabaran kami telah sampai ke ubun-ubun.”
“Bukan begitu Ki Buyut,” sahut Agni cepat-cepat, “maksudku, di
dalam suasana ini, maka sulitlah dikemukakan pendapat yang
jernih. Dalam suasana yang tenang, maka akan tampaklah
persoalannya, seperti sebutir batu di dasar air. Kalau airnya
bergolak, maka bentuk batu itu tidak akan kita lihat sewajarnya.
Tetapi kalau air itu tenang, maka apa yang kita lihat akan
mendekati
bentuk yang sebenarnya.”
“Jangan mempersulit diri, Ngger,” jawab Ki Buyut, “Aku
sependapat dengan orang-orang lain, bawalah gurumu kemari. Kau
akan terlepas dari segala tuntutan. Dan bukankah gurumu itu lebih
mengetahui persoalannya daripada kau Agni? Kalau gurumu nanti
dapat memberi kami penjelasan sebaik-baiknya, dan penjelasan itu
dapat kami mengerti, maka selesailah sudah persoalannya.”
Kembali Mahisa Agni terdiam. Hampir setiap kata yang diucapkan
terasa salah. Ia hampir tidak mendapat kesempatan sama sekali
untuk mengatakan seluruh persoalan. Di hadapan suasana yang
panas itu, maka hampir dapat dipastikan bahwa kata-katanya akan
mengalir seperti angin yang menggoyangkan daun-daun turi yang
kini telah condong, karena tanahnya tempat berpegangan sedikit
demi sedikit telah dihanyutkan air.
Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar Ki Buyut yang semakin
marah itu membentak, “Agni, di manakah gurumu?”
Agni kini tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kepalanya
menjadi pening. Pikirannya yang jernih pun berangsur-angsur
menjadi keruh. Dilihatnya orang-orang yang berdiri di sekitarnya
itu
sebagai hantu-hantu yang akan menghisap darahnya. Karena itu
tiba-tiba dadanya bergolak. Kini Agni tidak lagi menundukkan
wajahnya, tetapi menjalarlah darah kemudaannya. Betapapun
gurunya mencoba berpesan kepadanya untuk berlaku sareh, namun
ia adalah seorang anak muda. Ketika sekali lagi ia mendengar Ki
Buyut Panawijen membentaknya, maka tiba-tiba ia merasa hatinya
menjadi sangat pedih. Gurunya, yang mengasuhnya sejak kanakkanak,
sama sekali tidak pernah membentaknya. Apabila gurunya
marah kepadanya, maka kemarahannya itu selalu dapat diterimanya
dengan hati terbuka. Tetapi kini, orang-orang itu
membentakbentaknya
seperti membentak-bentak orang buronan. Maka di luar
dugaan sekian banyak orang, Agni menjawab lantang. “Jangan cari
guruku! Jangan cari Empu Purwa yang tua itu. Di sini berdiri
muridnya. Mahisa Agni! Segala kesalahan yang dilakukannya, segala
permintaan maaf yang tulus yang telah dipesankannya kepadaku,
apabila itu sama sekali tidak dapat kalian mengerti, maka adalah
tanggung jawabku untuk menyelesaikannya. Kini yang ada adalah
Mahisa Agni. Mahisa Agni, kalian dengar?”
Sesaat orang-orang yang berdiri di sekitar Mahisa Agni itu
terbungkam. Mereka memandang Mahisa Agni yang berdiri tegak
seperti patung.
Tetapi orang-orang Panawijen itu sudah benar-benar dikuasai
oleh kemarahannya, sehingga mereka sudah tidak dapat berpikir
tenang. Mereka telah kehilangan segala macam
pertimbanganpertimbangan.
Ketika mereka melihat Mahisa Agni keras hati tidak
mau menunjukkan Empu Purwa, yang disangkanya bersembunyi
maka terdengar beberapa orang berkata, “Agni. Tunjukkan gurumu,
atau kau akan mengalami nasib yang jelek seperti bendungan itu.”
Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menyala seperti wajah-wajah orang
Panawijen yang berdiri di sekitarnya. Kini ia tegak di atas kedua
kakinya. Bahkan semakin kokoh. Dipandangnya sekali lagi wajahwajah
orang-orang yang berdiri mengitarinya. Hampir semuanya
telah dikenalnya baik-baik. Anak-anak muda, orang-orang setengah
umur, orang-orang tua dan di antara mereka berdiri Ki Buyut
Panawijen yang pernah mengaku anak terhadapnya. Tetapi
sahabatnya itu, dalam keadaan yang langsung menyentuh sumber
hidup mereka, maka mereka seakan-akan telah melupakannya.
Mereka tidak lagi dapat diajak berbicara. Dan sama sekali tidak
memberinya kesempatan untuk menjelaskan persoalannya dengan
tenang. Mereka keras menuduh gurunya bersembunyi.
Ketika sejenak Mahisa Agni tidak menjawab, maka terdengar
kembali suara di antara mereka, “Ayo. Jangan mematung. Cepat
sebelum kami kehilangan kesabaran.”
Kata-kata benar-benar tidak menyenangkan hati Mahisa Agni.
Tanpa sesadarnya ia berpaling, mencari siapakah yang berkata itu.
Dengan matanya ia menatap seorang anak muda yang tegap kekar
dan berwajah keras.
Tiba-tiba sekali lagi jawaban Mahisa Agni mengejutkan mereka.
Benar-benar tidak mereka sangka. Katanya, “Hai anak-anak muda
Panawijen. Aku kenal kalian dengan baik, seperti kalian mengenal
aku. Kalau kau sekarang keras menuduh aku menyembunyikan
guruku, dan kalian menganggap itu suatu kesalahan. Nah, kalian
mau apa?”
Pertanyaan Mahisa Agni benar-benar langsung menusuk setiap
dada anak-anak muda yang sedang marah itu. Hampir bersamaan
mereka menjawab, “Agni. Jangan terlalu sombong. Hal ini agaknya
merupakan hari yang jelek bagimu.”
Mahisa Agni melihat anak-anak muda itu bergerak selangkah
maju. Tetapi Mahisa Agni masih tetap di tempatnya. Ia benar-benar
tidak takut mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga. Ia
sudah siap untuk berkelahi sekalipun melawan semua orang yang
berdiri di sekitarnya. Namun dalam pada itu tiba-tiba kembali
terngiang suara gurunya. Suaranya yang sejuk damai.
Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Apakah ia harus
menyerahkan kepalanya dalam keadaan seperti itu. Apalah ia harus
berbaring dan dibiarkannya anak-anak muda Panawijen itu
bergantiganti
melemparinya dengan batu sehingga ia tertimbun mati. Sesaat
Mahisa kembali menjadi bimbang. Tetapi anak-anak muda itu maju
lagi beberapa langkah sambil mengumpat-umpatinya.
Mahisa Agni yang kemudian menjadi bimbang kembali itu berkata
parau, “Ki Buyut apakah Ki Buyut tidak dapat menahan mereka.”
Ki Buyut itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Agni ternyata kau
benar-benar keras kepala. Kau tidak mau menunjukkan di mana
Empu Purwa itu berada. Dengan demikian maka aku tidak punya
keinginan untuk menolongmu. Selagi kau tidak mau menolong kami
pula menemukan gurumu. Gurumu yang telah benar-benar merusak
hidup padukuhan ini, dan hidupku. Anakku mati karena anaknya dan
padukuhanku akan mati juga karena perbuatannya.”
Kini Mahisa Agni tidak mempunyai kesempatan lain. Namun tibatiba
timbullah akalnya. Tak apalah seandainya ia terpaksa sedikit
menyombongkan dirinya, namun dalam pada itu ia masih berusaha
untuk yang terakhir kalinya menghindarkan perkelahian atau
bentrokan-bentrokan yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Karena itu,
maka tiba-tiba Mahisa Agni menengadahkan dadanya. Sepasang
tangannya bertolak pinggang. Dengan lantangnya ia berkata kepada
Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Kalau Ki Buyut masih menggugat
kematian anakmu itu, maka menyesallah aku bahwa aku telah
pernah menyelamatkannya. Di sini, di bawah bendungan ini
Wiraprana itu hampir mati pula dibunuh oleh Kuda Sempana. Pada
saat itu, Wiraprana mencoba bersombong diri, mencoba melawan
Kuda Sempana meskipun maksudnya baik. Tetapi seandainya aku
tidak menolongnya, maka umur Wiraprana telah putus pada saat itu
pula. Pada saat belum tampak hubungan yang rapat antara putramu
itu dengan putri guruku. Untuk kedua kalinya aku menyelamatkan
nyawa putramu itu ketika ia menerima tantangan seorang anak
muda dari Tumapel. Apakah Wiraprana tidak pernah
mengatakannya? Anak muda itu bernama Mahendra. Akulah yang
pada saat itu menamakan diriku Wiraprana dan bertempur
melawannya. Kalau kemudian Wiraprana itu akhirnya terbunuh juga
oleh Kuda Sempana, itu pun bukan sekedar salah putri guruku. Ki
Buyut sendiri tidak pernah mencoba menjatuhkan hukuman apapun
kepada Kuda Sempana. Dua kali aku dapat mengalahkannya di
Panawijen, disaksikan oleh Ki Buyut sendiri. Di mana anak-anak
muda Panawijen tak seorang pun yang berani berbuat apa-apa
terhadap Kuda Sempana itu. Di mana anak-anak Panawijen sama
sekali tidak berani marah kepada anak muda yang telah berusaha
menodai padukuhan ini.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya
setiap wajah yang berdiri mengitarinya. Ki Buyut, anak-anak muda
dan kemudian orang-orang tua laki-laki perempuan. Kemudian
katanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Nah. Apa yang telah
kalian lakukan untuk melindungi gadis itu. Tidak hanya pada saat
terakhir, pada saat Kuda Sempana datang bersama akuwu. Tetapi
sebelum itu. Sehari sebelum itu? Kalian lebih senang bersembunyi.
Kalian sama sekali tidak berani berbuat apa-apa melawan Kuda
Sempana. Sekarang ternyata kalian dapat menjadi marah. Marah
karena kepentingan kalian langsung yang kalian persoalkan. Karena
kebutuhan kalian sendiri.”
Sekali lagi Mahisa Agni berhenti, sekali lagi ia memandang
berkeliling.
Kata-kata itu kata-kata pameleh yang diucapkan oleh Mahisa
Agni itu, terasa menghunjam ke dalam dada setiap anak muda di
Panawijen. Mereka merasa kebenaran kata-kata itu, bahwa mereka
sama sekali tidak berani berbuat apa-apa atas Kuda Sempana.
Ketika Ken Dedes minta perlindungan mereka maka mereka hanya
berjejal-jejal tanpa berbuat sesuatu. Bahkan, ketika Kuda Sempana
maju selangkah, mereka berloncatan tercerai berai, meskipun
kemudian ada juga keinginan mereka membela Ken Dedes, namun
ketakutan merekalah yang selalu mencegah mereka.
Meskipun demikian sudah tentu, anak-anak Panawijen yang
merasa kehilangan sumber hidupnya, dan sedang dibakar oleh
kemarahan itu tidak mau menerima ucapan itu begitu saja. Dalam
nyala kemarahan, mereka merasa Mahisa Agni telah mengungkitungkit
hal-hal yang memilukan bagi mereka.
Maka jawab anak muda yang tinggi besar, berdada bidang dan
berwajah keras, “Agni, ternyata kau mencoba menggugat lagi.
Apapun yang kami lakukan sama sekali bukan suatu kesalahan.
Kami benar-benar tidak berani melawan Kuda Sempana. Apa salah
kami? Apakah ada seorang yang dapat memaksa kami untuk
melakukan perbuatan yang kami tidak berani melakukan? Apalagi
gadis itu bukanlah langsung berhubungan dengan kepentingan
kami. Nah, bendungan adalah sumber hidup kami. Bendungan bagi
kami jauh lebih berharga dari seorang gadis, meskipun gadis itu
bernama Ken Dedes putri Empu Purwa. Biarlah orang mengatakan
bahwa kami terlalu mementingkan diri kami. Tetapi bukan diriku
sendiri. Diri kami adalah seluruh penduduk Panawijen.”
Mahisa Agni menggeletakkan giginya. Dengan lantang ia
menjawab, “Bagus. Kalau kau sekarang menjadi seorang pemberani
karena kepentinganmu. Kepentingan kamu sekalian. Nah, ayo
lakukan kehendakmu atasku. Aku adalah Mahisa Agni, murid Empu
Purwa yang telah mampu mengalahkan Kuda Sempana yang kau
takuti. Kalau kalian tidak berani melawan Kuda Sempana, dan Kuda
Sempana itu dapat aku kalahkan, bahkan kalau aku mau aku dapat
membunuhnya, maka apa arti kalian itu bagiku. Setiap langkah yang
kalian buat, tebusan adalah nyawa kalian. Tanganku akan mampu
membunuh seseorang dengan satu pukulan. Nah, marilah. Marilah,
siapa yang ingin mati lebih dahulu. Barangkali kalian berpikir,
lebih
baik mati karena tanganku daripada mati kelaparan. Mungkin
kemudian aku akan mati pula karena lawan terlalu banyak. Tetapi
aku berkata sesungguhnya, bahwa lebih dari separuh dari kalian
akan mati juga bersama aku.”
Kata-kata itu bergetar seperti getaran guruh yang menggelegar
di langit. Kata-kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni yang dengan
sepenuh tenaga mencoba menahan perasaannya. Disusunnya
kalimat-kalimat itu dengan cermatnya. Dicobanya menyombongkan
dirinya untuk menakut-nakuti anak-anak muda Panawijen. Ia
mengharap anak-anak muda itu menjadi ngeri, dan mengurungkan
niatnya, memaksanya untuk mempertahankan diri.
Sesaat Mahisa Agni menunggu apa yang akan mereka lakukan.
Mahisa sadar, apabila anak-anak Panawijen benar-benar menjadi
pemberani, maka kata-katanya akan mempercepat peristiwa yang
sama sekali tidak dikehendaki oleh gurunya.
Namun beberapa saat anak-anak muda Panawijen itu masih
berdiam diri. Ketika Mahisa Agni sekali lagi memandangi mereka
maka tampaklah perubahan pada wajah-wajah mereka.
Sebenarnyalah kata-kata Mahisa Agni itu telah berhasil
mempengaruhi perasaan anak-anak Panawijen. Mereka sama sekali
bukanlah pemberani, sebab mereka bisa hidup dalam suasana yang
tenteram damai. Itulah sebabnya ketika Mahisa Agni mengatakan,
bahwa ia mampu membunuh separuh dari mereka, maka tiba-tiba
mereka menjadi ngeri. Seperti mereka menghadapi Kuda Sempana,
maka mereka hanya berani berdiri saja melingkarinya. Dan ternyata
Mahisa Agni dapat mengalahkan Kuda Sempana itu.
Apa yang dikatakan Mahisa Agni telah mengingatkan mereka,
bahwa sebenarnya mereka telah melihat sendiri, Mahisa Agni
benarbenar
dapat mengalahkan Kuda Sempana. Benar-benar apabila anak
muda itu mau, Kuda Sempana dapat dibunuhnya. Tetapi Mahisa
Agni tidak melakukannya. Sekarang, Mahisa Agni itu pun berdiri
teguh seperti Kuda Sempana. Bahkan karena kata-katanya, seakanakan
Mahisa Agni menjadi bertambah garang.
Mahisa Agni melihat perubahan itu. Segera ia mencoba menekan
mereka lebih dalam lagi, katanya, “Ayo. Kenapa kalian berdiam diri?
Aku akan mengatakan sekali lagi kepastian tekadku. Jangan mencari
guruku! Aku akan mewakilinya!”
Wajah-wajah di sekitarnya tampak menjadi semakin buram.
Warna-warna merah yang merayapi wajah itu menjadi semakin
padam. Dan terdengar Mahisa Agni meneruskan, “Nah. Ingat, apa
yang dapat aku lakukan atas Kuda Sempana itu. Aku seorang murid
Empu Purwa. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh guruku itu?
Kalau kalian benar-benar ingin menemuinya dan akan
menghukumnya, dengarlah lebih dahulu. Empu Purwa telah
memecahkan bendungan ini karena luapan perasaannya.
Bendungan yang tak dapat digoyahkan oleh banjir yang setiap
tahun, setiap musim hujan itu, ternyata pecah oleh tangannya.
Kalian dengar? Pecah karena tangannya. Bagaimana kalau tangan
itu menyentuh kepala kalian?”
Yang mendengar kata-kata itu segera mengerutkan lehernya.
Alangkah mengerikan. Tangan itu dapat memecahkan bendungan.
Ya, bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala mereka?
Mahisa Agni tidak melepaskan kemungkinan yang semakin baik
itu. Dengan suara gemuruh ia meneruskan, “Nah, anak-anak muda
Panawijen. Apakah yang akan kalian lakukan sekarang? Kalau kalian
merasa bahwa kalian telah berbuat untuk kepentingan kalian, maka
Empu Purwa pun berbuat untuk kepuasannya. Hai, orang-orang tua
di Panawijen. Katakanlah kepada anak cucumu yang sedang dibakar
oleh kemarahannya. Siapakah yang telah membuat bendungan itu.
Siapa? Apakah kalian pada saat kalian membuka tanah pertanian di
Panawijen ini telah membuat bendungan itu? Ayo, katakanlah
dengan jujur, siapa yang telah membuat bendungan itu untuk
kalian, dan apakah yang telah kalian buat untuknya?”
Ketika Mahisa Agni diam sesaat, maka suasana benar-benar
menjadi sepi dan tegang. Gemuruh air di bendungan semakin lama
telah menjadi semakin berkurang. Hanya kadang-kadang masih
terdengar guguran-guguran tanah tebing sungai yang menjadi
semakin aus dibawa arus air yang seakan-akan mengamuk.
Mereka terkejut ketika mereka mendengar gemuruh tanah di
samping mereka. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya pohon turi
yang telah miring itu dengan cepatnya jadi semakin condong dan
akhirnya meluncur ke dalam arus air, Namun arus air sudah tidak
begitu deras lagi, sehingga sisa-sisa akar-akarnya masih juga dapat
menahannya. Pohon turi itu kini seperti seorang yang sangat
malang, terbaring di permukaan air, berpegangan pada beberapa
lembar akarnya yang sudah lemah.
Sebenarnya Mahisa Agni sendiri, hatinya terasa tersayat melihat
keruntuhan tebing sungai di sekitar bendungan itu. Seperti juga
anak-anak muda yang lain, bendungan itu mempunyai arti yang
sangat banyak baginya, bagi Panawijen dan bagi kehidupan di
padukuhan itu.
Meskipun demikian, ketika suasana sepi itu menjadi semakin
sepi, terdengar suaranya memecah, “Ayo, siapakah di antara kalian
yang berani berkata dengan jujur, siapakah yang telah membuat
bendungan itu? Siapa?”
Belum seorang pun yang menjawab pertanyaan itu, sehingga
Mahisa Agni bertanya kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Ki
Buyut tentu mengetahui, siapakah yang telah merencanakan dan
membuat bendungan itu dengan susah payah dan diserahkannya
kepada Panawijen?”
Dada Buyut Panawijen itu berdesir mendengar pertanyaan
Mahisa Agni. Pertanyaan itu benar-benar tidak disangkanya akan
diberikan kepadanya. Karena itu sesaat ia berdiam diri. Dicobanya
untuk mengatasi debar jantungnya. Sehingga kini Mahisa Agnilah
yang mendesaknya, “Siapa? Siapa Ki Buyut. Biarlah anak-anak muda
yang sedang marah itu mendengarnya, siapakah yang telah
menyediakan sumber hidup mereka. Supaya mereka menyadari apa
arti kata-kata mereka, bahwa bendungan itu bagi mereka jauh lebih
berharga dari seorang gadis meskipun gadis itu bernama Ken
Dedes, putri Empu Purwa.”
Ki Buyut Panawijen menjadi semakin bingung. Anak-anak muda
Panawijen pun menjadi semakin bingung pula. Mereka masih diliputi
oleh suasana kecemasan, karena Mahisa Agni benar-benar akan
bertahan, yang pasti akan melampaui kekuatan Kuda Sempana. Kini
mereka melihat betapa Buyut Panawijen menjadi kebingungan.
Akhirnya, anak-anak muda Panawijen itu terkejut bukan kepalang
ketika mereka mendengar Ki Buyut itu menjawab lirih dan penuh
keragu-raguan, “Empu Purwa Ngger. Yang membuat bendungan itu
adalah Empu Purwa.”
Betapa wajah-wajah di sekitar Mahisa Agni menjadi sangat
gelisah. Sesaat mereka tidak dapat mengerti jawaban itu, bahkan
mereka hampir tidak dapat mempercayainya. Namun terdengar
Mahisa berkata, “Nah, anak-anak muda Panawijen. Kalian dengar?
Yang membangun bendungan itu adalah Empu Purwa. Tiga tahun ia
bekerja untuk itu. Tiga tahun ia membanting tulang untuk
menyediakan sumber hidup kalian, yang kalian katakan jauh lebih
bernilai dari seorang gadis, yang meskipun gadis itu anak Empu
Purwa.”
Tak seorang pun kini yang berani menatap wajah Mahisa Agni.
Betapa wajah itu membayangkan getaran perasaannya yang
bergelora. Meskipun Mahisa Agni tidak mengatakannya, namun
terasa betapa tuntutan keadilan memancar dari jiwanya.
Kembali suasana menjadi senyap. Namun kini terasa betapa
anak-anak muda Panawijen menjadi bimbang dan bingung.
Ternyata tidak banyak di antara mereka yang mengerti, siapakah
yang telah membuat bendungan itu untuknya, seperti dirinya sendiri
yang baru saja mendengar dari gurunya.
Tetapi tiba-tiba suara Mahisa Agni memecah kesepian, “Empu
Purwa tidak melakukannya, karena ia merasa berhak berbuat apa
saja atas bendungan yang dibuatnya sendiri. Empu Purwa
melakukannya karena ia sedang kehilangan keseimbangan
perasaan, seperti kalian pernah juga mengalaminya dan bahkan
baru saja mengalaminya. Meskipun Empu Purwa seorang pendeta
yang baik, namun ia adalah manusia biasa seperti yang
dikatakannya sendiri. Manusia yang kerdil dan penuh dengan
kesalahan-kesalahan dan dosa. Manusia yang khilaf dan tidak
melihat kesalahan sendiri. Manusia yang hanya tahu kepentingan
sendiri lebih dari apapun. Nah, Empu Purwa pun mempunyai sifatsifat
itu. Namun sifat itu diakuinya. Disadarinya kesalahannya, dan
ia telah berpesan untuk minta maaf kepada kalian.”
Yang menundukkan kepalanya menjadi semakin tunduk. Bahkan
kemudian Mahisa Agni melihat wajah itu menjadi semakin suram.
Akhirnya terasa nafas keputusasaan telah melanda mereka.
Bendungan itu telah pecah, dan mereka tidak dapat berbuat apaapa.
“Nah, apa kata kalian kini?” bertanya Mahisa.
Tak seorang pun dapat menjawab, sehingga Mahisa Agni
mendesaknya, “Apa? Apa yang akan kalian lakukan?”
Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya. Desahnya,
“Hancur. Semuanya sudah hancur. Kami tidak dapat lagi menuntut
Empu Purwa seperti jalan pikiranmu Ngger. Kau benar, Empu Purwa
telah berbuat atas barang yang dibuatnya sendiri. Tetapi kami akan
mengalami bencana karenanya. Bencana, yang tidak dapat kami
hindari. Sawah-sawah kami akan kering dan sumber hidup kami pun
akan kering pula.”
“Apakah cukup demikian?” bertanya Mahisa Agni.
Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga terloncat
pertanyaannya, “Apakah maksudmu Agni. Apakah yang cukup
begitu?”
Mahisa Agni memandang wajah Ki Buyut yang putus asa itu. Dan
hampir setiap wajah memancar perasaan yang Serupa. Putus asa.
“Apakah cukup dengan berputus asa,” desis Mahisa Agni.
Tak seorang pun yang tahu akan maksud Mahisa Agni. Karena itu
mereka masih saja berdiam diri. Bahkan ada di antara para pemuda
yang menjadi sedemikian sedihnya, sedih tentang bendungan yang
pecah, sedih tentang Panawijen dan sedih tentang dirinya sendiri,
sehingga wajahnya menjadi pucat dan matanya berkaca-kaca.
Mahisa Agni melihat wajah yang pucat dan berkaca-kaca itu.
Karena itu tiba-tiba katanya lantang, “Kenapa kalian hanya bersedih
dan berputus asa saja?”
Ki Buyut Panawijen mengangkat wajahnya, kemudian ia
bertanya, “Lalu apakah yang harus kami kerjakan Agni? Sumber
hidup kami telah hancur. Kami tidak akan dapat bersawah tanpa
air.”
Mahisa Agni kini merasa kebenaran kata-kata gurunya. Ia harus
membangunkan rakyat Panawijen yang sedang tertidur itu. Maka
katanya kemudian, “Nah, kalau demikian marilah kita bersama-sama
memandang ke hari depan. Jangan kita kini saling salah
menyalahkan dan menganggap diri kita masing-masing dalam
kebenaran. Karena di lain persoalan yang kita tanggapi, mungkin
tanggapan kita berbeda-beda. Dengan demikian kita seakan-akan
menganggap kebenaran ada pada diri kita masing-masing. Kini
marilah kita lupakan. Marilah kita melihat sumber kesalahan yang
paling dalam. Semuanya ini adalah karena nafsu Kuda Sempana
yang berlebih-lebihan. Nafsunya yang tidak terkendali. Namun kita
semua pun telah berbuat kesalahan pula. Kenapa kita tidak berbuat
sesuatu atas Kuda Sempana itu dahulu? Aku telah mengalahkannya,
tetapi aku tidak membinasakannya sama sekali, sebab aku sangka ia
akan menyadari kesalahannya. Tetapi ternyata akibatnya menjadi
semakin panjang. Wiraprana terbunuh, Empu Purwa kehilangan
keseimbangan meskipun untuk sesaat, tetapi yang sesaat itu telah
menentukan kehidupan Panawijen di kemudian hari. Kalian pun
hampir-hampir terjerumus pula dalam persoalan yang tidak ada
gunanya seperti aku juga.” Mahisa Agni berhenti sesaat untuk
menelan ludahnya. Ia tidak melihat perubahan sikap dari wajah
orang-orang Panawijen. Namun ia meneruskan, “Karena itu marilah.
Jangan tangisi bendungan yang telah pecah itu. Kita adalah
laki-laki
seperti Empu Purwa pula. Kalau beberapa puluh tahun Empu Purwa
mampu membuat bendungan, kenapa kita tidak?”
Tiba-tiba Mahisa Agni melihat beberapa orang mengangkat wajah
mereka. Mula-mula mereka heran melihat sikap Mahisa Agni yang
meyakinkan. Namun tiba-tiba wajah mereka pun menjadi semakin
terang. Apalagi ketika sekali lagi Mahisa Agni berkata. “Dahulu
Empu Purwa melakukannya berdua dengan beberapa orang cantrik
selama tiga tahun. Nah, berapakah jumlah kita? Ayo, siapa yang
cinta akan kampung halaman ini, kita bertekad untuk membangun
kembali bendungan ini. Tetapi tidak di sini. Lihat tebing sungai
ini
telah terlalu parah. Sungai ini seolah-olah menjadi jauh lebih
lebar
dari sebelumnya. Marilah kita lihat. Kita susuri sungai ini
kemudian
kita bangun bendungan baru. Kalau kita berhasil, maka kita akan
dapat membangun daerah persawahan baru. Kita akan dapat
bangkit kembali dari kehancuran akibat kelemahan perasaan guru
atas hilangnya anak tunggalnya, seperti diakuinya sendiri.”
“Sekarang, ayo, siapakah yang mau bersama-sama dengan aku
melakukannya? Membangun bendungan baru dengan cucuran
keringat kita sendiri untuk kepentingan kita sendiri. Bukan sekedar
hadiah dari orang lain.”
Anak-anak muda Panawijen itu tergetar hatinya mendengar katakata
Mahisa Agni. Mereka benar-benar seakan-akan tergugah dari
dunia mimpinya yang indah. Mimpi yang tenteram sejuk seperti
langit senja hari. Namun tiba-tiba mendung dan petir menggelegar
di langit yang berwarna cerah itu. Dalam kecemasan dan ketakutan
terasa Mahisa Agni telah membangunkannya.
Kini dihadapinya kenyataan itu. Mereka benar-benar harus
berbuat sesuatu. Dan terdengar sekali lagi Mahisa Agni berkata,
“Marilah kita bekerja. Kita tandai penderitaan rakyat kita dengan
kerja. Kalau kerja itu berhasil, maka air yang akan kita teguk dan
makanan yang akan kita telan, terasa akan semakin nikmat daripada
air dan makan yang kita terima dari orang lain. Meskipun mula-mula
kita harus makan apa saja yang dapat kita makan. Mungkin mulamula
kita akan menjadi kurus karenanya, tetapi kita tidak
mengorbankan anak cucu kita karena kemalasan kita.”
Anak-anak muda Panawijen itu kini sudah tidak menundukkan
wajah mereka masing-masing lagi. Bahkan tampak wajah Ki Buyut
yang tua itu pun menjadi cerah. Dalam keheningan suasana yang
mencengkam kemudian, terdengar suara Ki Buyut parau, “Kau
benar-benar jantan Agni. Tanpa kau maka Panawijen sudah akan
hancur. Dan kita terpaksa mengungsi bercerai berai mencari sesuap
nasi. Kini timbul kembali harapan di dada kami, meskipun kami tidak
akan dapat membangun tanah persawahan di daerah ini, tetapi di
daerah lain, kita masih akan tetap bersama-sama dalam satu
perjuangan untuk hidup kami dan anak cucu kami tanpa
menggantungkan diri kami kepada belas kasihan orang lain.”
“Sekarang siapakah yang bersedia bekerja bersama aku,” teriak
Mahisa Agni tiba-tiba.
Sesaat suaranya itu bergetar saja di udara, seakan-akan tak
seorang pun yang mendengarnya. Tetapi Mahisa Agni menyadari,
bahwa suaranya itu sedang bergolak di dalam dada anak-anak
muda Panawijen. Semakin lama semakin dahsyat, sehingga akhirnya
meledaklah sambutan atas ajakan itu. Anak-anak muda itu
berteriak-teriak seperti orang mabuk tuak, kata mereka, “Aku! Aku
Agni! Aku akan turut membangun bendungan itu bersamamu!”
Mahisa Agni melihat tangan-tangan yang terangkat tinggi-tinggi
untuk menyambung tubuh-tubuh mereka supaya dapat dilihat oleh
Mahisa Agni. Dan teriakan-teriakan itu masih terus beruntun sahut
menyahut. Bahkan, kemudian bukan saja anak-anak muda, tetapi
orang-orang tua dan perempuan pun berteriak nyaring, “Aku, aku,
aku, Agni. Aku ikut serta dalam pekerjaan itu!”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa sesuatu
berdesir di dalam dadanya. Tetapi ia tersenyum karenanya.
Anak-anak muda Panawijen itu masih saja berteriak-teriak tak
habis-habisnya. Mereka sudah melupakan kemarahan mereka
terhadap Mahisa Agni. Mereka telah melupakan kemarahan mereka
terhadap Empu Purwa. Kini yang ada di kepala mereka, adalah
sebuah bendungan baru.
“Kalau kalian bersedia,” berkata Mahisa Agni kemudian, “marilah
pekerjaan itu segera kita mulai. Jangan menunggu padi di dalam
lumbung-lumbung kita habis. Jangan menunggu air semakin deras
karena hujan menjadi sering. Kalau kita bekerja keras dan penuh
kemauan, maka pekerjaan itu akan segera selesai. Tidak perlu
menunggu tiga tahun, seperti yang dilakukan oleh Empu Purwa
yang hanya beberapa orang itu, tetapi karena kita bekerja dengan
tenaga yang berlipat dua puluh kali, maka kita harus dapat
menyelesaikannya dalam tiga bulan. Apakah kalian sanggup?”
“Sanggup Agni! Sanggup!” teriak mereka.
Mahisa Agni kini menjadi semakin puas. Ia telah berhasil
membangunkan rakyat yang selama ini seakan-akan tertidur dibuai
oleh kesuburan tanahnya, sehingga seakan-akan makan dan minum
mereka dapat datang sendiri tanpa mereka berbuat sesuatu. Namun
kini mereka harus bekerja keras. Bekerja dengan tenaga sendiri
untuk kepentingan sendiri dan anak cucu. Supaya di masa-masa
mendatang anak cucu mereka tidak mengutuk mereka, sebagai
orang-orang malas yang hanya mampu makan apabila disuapi oleh
orang lain.
“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sekarang
marilah kita pulang. Pulang ke rumah masing-masing. Kita lihat
apakah cukup alat pada kita untuk membangun bendungan baru.
Besok, aku dan beberapa anak-anak muda ingin berjalan menyusur
sungai itu ke udik untuk mencari tempat yang sebaik-baiknya, di
manakah bendungan baru itu harus kita bangun. Tempat itu harus
memenuhi beberapa syarat. Tidak terlalu dalam dan tidak terlalu
lebar, supaya air segera dapat naik. Tetapi juga tempat yang cukup
sarana untuk membangun bendungan itu. Batu dan kayu.”
“Aku ikut dengan kau Agni,” terdengar suara bersahut-sahutan di
antara mereka.
“Terima kasih, tetapi sementara ini aku hanya memerlukan dua
tiga orang saja di antara kalian. Sekarang pulanglah. Nanti aku
akan
menghubungi kalian yang akan pergi bersama aku besok.”
(bersambung )
Jilid 13
Ki BUYUT PANAWIJEN mengangguk-anggukkan kepalanya.
Meskipun ia masih juga bersedih atas bendungan yang pecah itu,
tetapi ia berbesar hati pula, bahwa anak-anak muda di
padukuhannya kini telah bangkit untuk menyelamatkan
padukuhannya.
Maka sejenak kemudian. Orang-orang Panawijen yang berdiri
mengitari Mahisa Agni itu pun semakin lama semakin susut.
Satu demi satu mereka meninggalkan tepian dan bendungan
yang telah pecah itu. Sekali-sekali mereka berpaling, dan
sekalisekali
mereka masih juga tergetar hatinya. Bendungan yang selama
ini memberi mereka air sebagai sumber hidup mereka. Kini
Panawijen itu benar akan menjadi kering, seperti kutuk yang telah
diucapkan oleh Empu Purwa yang dunianya menjadi gelap, karena
lekatan kasihnya, putri satu-satunya itu hilang. Putri yang baginya
sangat berharga, melampaui segalanya yang ada di dunia ini.
Ketika orang-orang itu kemudian telah habis kembali ke
padukuhan, maka kembali Mahisa Agni berdiri seorang diri.
perlahan-lahan itu berjalan semakin ke tepi. Sekali lagi
diamatamatinya
bendungan yang pecah itu. Air berpancaran dan telah
menggugurkan tebingnya. Bahkan dasarnya pun seakan-akan telah
menghunjam semakin dalam.
“Memang tak mungkin,” gumamnya, “tak mungkin dibangun
bendungan di tempat ini.”
Namun bagaimanapun juga hati Mahisa Agni terpecah pula
seperti bendungan itu. Bukan saja karena Panawijen menjadi kering,
namun semua harapan dan anyaman perasaannya kini benar-benar
telah buntu. Empu Purwa ternyata sama sekali tidak ingin untuk
mengambil anaknya dengan cara yang sama. Empu Purwa benarbenar
tidak mau melawan Tumapel, sebagai tempat ia bernaung.
Orang tua itu tidak mau menimbulkan huru-hara dan menimbulkan
kekacauan di antara penduduk Tumapel. Tetapi ia mendendam
orang-orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dengan
mengucapkan ipat-ipat.
Dengan demikian, maka harapannya untuk melihat Ken Dedes
kembali ke Panawijen kini lenyap seperti lenyapnya harapannya atas
bendungan itu. Apalagi gurunya pun kemudian pergi
meninggalkannya tanpa singgah dahulu di padepokannya.
Tetapi Mahisa Agni tidak harus menundukkan kepalanya,
mengeluh dan berputus asa. Ia baru saja berbicara di hadapan
orang-orang Panawijen. Apakah mereka hanya cukup berputus asa?
Ternyata kata-katanya itu tidak saja bermanfaat bagi orang-orang
Panawijen, tetapi juga bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ternyata
kata-kata itu pun tertuju pula kepada dirinya sendiri dalam
segi-segi
yang berbeda.
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dadanya terasa berdebat.
Tetapi kemudian ia mendapat kekuatan pula dalam dirinya.
Kekuatan seperti yang didapatkan oleh orang-orang Panawijen yang
lain. Karena itu, maka Mahisa Agni kini tidak lagi memandang
bendungan itu dengan kepala tunduk. Pecahnya bendungan itu
baginya merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Ia tidak
boleh menghindarinya, melarikan diri dari kewajiban seperti yang
dikatakannya sendiri kepada orang-orang Panawijen.
Dan Mahisa Agni pun kemudian segera menyiapkan dirinya
menjawab tantangan itu.
Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan pula meninggalkan
bendungan yang telah pecah itu. Di kejauhan masih dilihatnya
punggung-punggung orang Panawijen yang berjalan perlahan-lahan
meninggalkan bendungan itu pula.
“Mereka telah bangun dari tidurnya yang nyenyak, dan aku pun
harus bangun pula dari tidurku yang dipenuhi oleh mimpi yang
mengerikan,” desis Mahisa Agni.
Demikianlah Mahisa Agni, di keesokan harinya mulai dengan
pekerjaannya. Ia telah memilih beberapa anak-anak muda, dan tiga
di antaranya akan dibawanya menyusuri sungai memilih tempat
yang paling tepat untuk membangunkan bendungan barunya.
Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Mahisa Agni.
Membuat bendungan, betapapun sederhananya, namun diperlukan
pengenalan atas tempat di mana bendungan itu akan dibangun, alat
dan bahan-bahan yang dapat dipergunakannya. Meskipun demikian
Mahisa Agni telah membulatkan tekadnya, bahwa ia akan mampu
membangunkannya bersama-sama dengan anak-anak muda
Panawijen.
Hari itu, Mahisa Agni bersama tiga orang kawan-kawannya
berjalan menyusuri sungai itu. Pagi-pagi benar mereka berangkat.
Mereka mengharap bahwa hari itu juga, mereka akan mendapatkan
tempat yang mereka cari.
Bagi Mahisa Agni perjalanan itu sendiri, bukanlah perjalanan
yang berarti baginya. Kesulitan yang akan dihadapi adalah memilih
tempat yang baik, yang mungkin dibuat bendungan. Tetapi bagi
ketiga kawan-kawannya, yang seakan-akan tidak pernah mengenal
jalan yang keluar dari padukuhan mereka, merasa bahwa perjalanan
itu adalah perjalanan yang sangat berat. Perjalanan yang akan
memerlukan keterampilan, kekuatan dan tekad yang menyala-nyala.
Namun Mahisa Agni selalu menguatkan hati mereka. Bahwa apa
yang akan mereka lakukan adalah sebuah tamasya yang
menyenangkan.
“Apakah kita akan menyusur sungai itu sampai ke padang rumput
Karautan?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Ya. Bahkan padang rumput Karautan merupakan kemungkinan
yang pertama-tama. Padang itu apabila mungkin dialiri, maka pasti
akan menjadi tanah yang subur,” jawab Agni.
“Tetapi bagaimana dengan hantu Karautan itu?”
“Kau terlambat,” sahut Agni sambil tertawa, “hantu itu telah
pergi.”
Ketiga anak muda itu terdiam. Tetapi mereka masih
mencemaskan hantu yang menakutkan itu, sehingga Mahisa Agni
terpaksa menjelaskan, “Aku mendengar dari hantu itu sendiri,
bahwa ia akan segera meninggalkan padang rumput ini.”
Tampaklah ketiga kawan-kawannya itu kurang percaya. Salah
seorang daripadanya berkata, “Ah, apakah kau pernah bertemu
dengan hantu itu.”
“Ya.”
“Dan kau masih tetap hidup?”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Hantu itu tidak sejahat kata
orang. Kalau kita tidak mengganggunya, maka hantu itu pun tidak
akan marah.”
Kembali tampak wajah-wajah anak muda itu kurang percaya.
Berkata salah seorang, “Mungkin hantu itu menipumu Agni.
Bukankah hantu sering menipu orang.”
“Tidak, dan bukankah di padang rumput sekarang tidak pernah
lagi terdengar berita tentang hantu itu? Bukankah hantu itu
menetapi janjinya?”
Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar kawannya itu
menjawab, “Aku masih mendengar bahwa seseorang bertemu
dengan hantu itu lagi Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera
menjawab, sehingga kawannya itu berkata, “Agni. Mungkin kau
terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan lukamu dan
mungkin juga hilangnya Adikmu dan terbunuhnya bakal iparmu itu,
sehingga kau tidak pernah mendengar bahwa dalam beberapa hari
ini hantu Karautan itu telah menampakkan dirinya kembali.”
Mahisa Agni benar-benar heran mendengar keterangan itu.
Katanya, “Aku tidak dapat mengerti kata-katamu itu. Hantu itu
sudah berjanji kepadaku.”
“Apakah kau dapat mempercayai mulut hantu,” bertanya
kawannya yang lain.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa
Ken Arok kini telah berada di istana Tumapel. Tetapi apabila
benarbenar
hantu Karautan itu timbul lagi, pasti sama sekali bukan Ken
Arok. Tetapi siapa?
Meskipun demikian Mahisa Agni itu menjawab, “Ah, mungkin
berita itu berita yang belum pasti kebenarannya. Mungkin seseorang
yang ketakutan karena bertemu dengan orang lain, disangkanya
hantu Karautan itu datang kembali.”
“Tidak Agni. Kabar itu telah aku dengar dari orang yang
mendengar langsung cerita seseorang yang mengalami sendiri.”
“Apa katanya?”
“Ketika orang itu menyangka bahwa hantu Karautan benar-benar
sudah tidak ada, setelah sekian lama hilang beritanya maka ia
memberanikan diri pulang sendiri di malam hari dari Tumapel,
setelah ia mengunjungi saudaranya dan menukarkan kerisnya
dengan milik saudaranya itu. Tetapi tiba-tiba di padang ia bertemu
dengan hantu itu.”
“Apa yang dilakukan oleh hantu itu?”
“Mencegatnya. Dan memukulnya seperti memukuli seorang
penjahat.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Keris yang dibawanya
dari Tumapel itu dirampasnya.”
“Tidak. Hantu itu tidak mengambil apa-apa darinya. Tetapi orang
itu dipukuli sampai pingsan. Kemudian ditinggalkannya.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Aneh. Hantu yang
dikenalnya dahulu, selalu merampas dan merampok orang-orang
yang lewat. Tetapi hantu yang sekarang itu hanya memukuli saja
sampai pingsan.
“Aneh,” desisnya tanpa disengajanya.
“Apa yang aneh?” bertanya seorang kawannya.
“Hantu itu,” sahut Mahisa Agni.
“Kenapa aneh? Bukankah hantu dapat saja berbuat apa saja
sekehendaknya.”
“Sifat hantu itu berubah. Bukankah kita dahulu selalu mendengar
bahwa korban hantu Karautan, sebagian besar pasti mati. Dan
semua kekayaan yang dibawanya habis dirampas?”
“Mungkin orang itu disangkanya mati pula.”
Mahisa Agni terdiam. Dicobanya untuk mencari kemungkinan,
apakah kira-kira yang telah terjadi di padang Karautan itu. Tetapi
dengan kabar itu ia menduga bahwa hantu yang baru ini sama
sekali bukan hantu yang sudah dikenalnya. hantu ini seakan-akan
hanya ingin melepaskan dendam di hatinya, bukan merampok
apalagi membunuh.
Sesaat mereka masih saling berdiam diri. Mereka berjalan
perlahan-lahan menyusuri sungai naik ke udik. Tetapi Mahisa Agni
tidak dapat segera mempercayainya, bahwa di padang rumput itu
kini telah dijumpai hantu yang menakutkan itu kembali.
Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir. Gurunya telah
meninggalkan padepokan dengan luka di hatinya. Tetapi segera
Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia takut sampai
pada kesimpulan itu. Bahkan segera ia mencari alasan untuk
menindas perasaannya.
“Guru baru kemarin meninggalkan padukuhan Panawijen. Sedang
hantu itu telah dijumpai beberapa hari yang lalu.”
Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, di sudut hatinya terdengar
suara, “Mungkin guru sudah tahu, bahwa anaknya hilang beberapa
lama. Karena itu ia mendendam. Ketika ia datang menemui aku di
bendungan, ia hanya akan memberikan beberapa pesan saja dan
kemudian memecahkan bendungan itu. Seterusnya Guru akan
kembali ke padang rumput ini.”
“Gila!” desisnya.
Ketiga kawan-kawannya terkejut. Serentak mereka berpaling,
dan salah seorang daripadanya bertanya, “Apa Agni?”
Agnilah yang kemudian terkejut. Dengan terbata-bata ia
menjawab sekenanya, “Hantu itu.”
“Kenapa?”
Mahisa Agni tidak menjawab. Kini kepalanya tertunduk, dan
hatinya menjadi risau. Kembali di dalam dadanya terdengar
suaranya sendiri melengking, “Tidak. itu tidak mungkin, betapa guru
kehilangan keseimbangan, tetapi ia tidak akan melakukan pekerjaan
semacam itu. Dan bukankah guru tampaknya terkejut sekali ketika
aku memberitahukan apa yang telah terjadi di Panawijen?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia
menjadi malu akan kecemasannya itu, seakan-akan ia belum
mengenal watak dan tabiat gurunya. Sehingga dengan demikian,
maka Mahisa Agni itu pun dapat menenteramkan hatinya sendiri.
Katanya di dalam hati, “Aku yakin. Pasti bukan Empu Purwa. Kalau
hantu itu ternyata guruku, biarlah aku dibunuhnya sekali. Tetapi
aku
yakin, bahwa orang itu adalah orang lain.”
Mereka berempat itu pun semakin lama menjadi semakin jauh
dari padukuhan mereka. Mereka berjalan perlahan-lahan sambil
mengamat-amati sungai yang mereka telusuri. Mungkin mereka
segera menemukan tempat yang baik untuk membangun
bendungan. Semakin dekat dengan padukuhan mereka semakin
baik. Tetapi sungai itu semakin lama agaknya menjadi curam.
Tebingnya yang terdiri dari batu padas menjorok tinggi.
Tumbuhtumbuhan
liar seolah-olah menutup tebingnya dengan daundaunnya
yang rimbun.
“Tebingnya menjadi semakin curam Agni. Semakin tidak mungkin
lagi untuk membangun bendungan.”
“Kita berjalan terus. Suatu ketika akan menemukan tempat itu.
Tempat yang baik untuk membangun bendungan.”
Mereka berempat pun berjalan terus. Semakin lama semakin
jauh. Semakin jauh dari padukuhan mereka, tetapi semakin dekat
dengan padang rumput Karautan.
“Kita akan sampai ke padang rumput itu Agni,” berkata salah
seorang dari mereka.
“Ya,” sahut Agni, “sudah aku katakan, kita akan memasuki
padang rumput itu.”
“Tetapi hantu itu?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,
“Hantu itu berada di bagian lain. Ia mencegat orang-orang yang
lewat. Daerah ini sama sekali tidak pernah dilewati orang. Orang
mencari ikan pun tak pernah sampai ke tempat ini.”
“Tetapi bukankah hantu itu mengetahui dengan matanya yang
tajam apa saja yang ingin dilihatnya? Bukankah hantu itu dapat
melihat juga kehadiran kita di padang rumput ini, dan hantu itu
dapat terbang dalam waktu sekejap untuk mencegat kita?”
Mahisa Agni terpaksa tersenyum. Tetapi justru karena itu
kawankawannya
menjadi kurang senang, seakan-akan Mahisa Agni itu
tidak mempercayainya.
“Jangan cemas. Kalau hantu itu benar-benar kembali ke padang
Karautan. Biarlah ia menemui aku. Aku sudah kenal baik dengan
hantu itu.”
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Mereka merasa bahwa Mahisa
Agni tidak mempercayai cerita mereka, atau seandainya anak muda
itu percaya, agaknya ia sama sekali tidak takut, sehingga ketiga
kawan Agni itu mempunyai tanggapan yang aneh kepadanya.
Campur baur antara cemas, curiga dan berbangga.
Sementara itu matahari semakin lama semakin tinggi memanjat
langit. Sinarnya yang terik bertebaran di atas pepohonan dan
tubuhtubuh
mereka yang sedang melakukan perjalanan menyusuri sungai
ke udik. Burung-burung liar tampak beterbangan di udara, dan
awan yang putih mengapung dihanyutkan angin ke utara.
Terasa panasnya seakan-akan membakar kulit. Keringat mereka
seolah-olah terperas dari tubuh mereka sehingga pakaian-pakaian
mereka menjadi basah kuyup.
“Panasnya bukan main.” salah seorang kawan Mahisa Agni
mengeluh.
“Ya,” sahut yang lain.
Tetapi Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia sudah terlalu biasa
dengan panas di perjalanan. Meskipun kawan-kawan mereka adalah
petani-petani yang biasa berjemur di sawah, namun kali ini mereka
dirayapi oleh perasaan takut dan cemas, sehingga seakan-akan
sinar matahari itu menjadi jauh lebih panas dari matahari di
Panawijen.
“Apalagi ketika kemudian mereka melihat sebuah padang rumput
terkapar di hadapan mereka. Di sana-sini mereka melihat
gerumbulgerumbul
liar bertebaran. Padang rumput itu adalah padang yang
langsung berhubungan dengan padang rumput Karautan.
Ketika mereka mulai menginjakkan kaki-kaki mereka di atas
padang itu, Mahisa Agni melihat, betapa kecurigaan mencengkam
hati mereka.
“Jangan cemas,” desis Mahisa Agni. “padang ini belum padang
Karautan.”
Tetapi kata-kata penenang itu sama sekali tidak menenangkan
hati mereka. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu masih saja diliputi
oleh perasaan cemas dan ngeri. Mereka mengharap bahwa sebelum
mereka memasuki padang Karautan, mereka telah menemukan
tempat itu. Tempat yang baik untuk membuat bendungan.
Mahisa Agni melihat bahwa ketiga orang itu hampir tak sanggup
lagi berjalan karena kecemasannya. Pada ketiga kawannya itu
tampak sifat-sifat anak-anak muda Panawijen yang sebenarnya.
Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi geli melihat bagaimana anakanak
itu dengan nafsu yang menyala-nyala berteriak.
Aku sanggup, aku sanggup. Namun apabila di hadapannya
membayang kesulitan dan bahaya, maka terasa hatinya berkerut
sebesar menir.
Seperti apa yang pernah terjadi atas mereka di hadapan Kuda
Sempana. Dan apa yang akan dilakukan terhadapnya sendiri. Kini
ketakutan itu berulang kembali menghadapi hantu Karautan yang
belum pasti adanya.
Dalam pada itu mereka masih berjalan terus. Sungai itu masih
bertebing curam dan dalam. Tetapi Mahisa Agni melihat tanda-tanda
bahwa semakin lama tebing itu sudah menjadi semakin rendah.
“Kalian lihat,” berkata Mahisa Agni, “tebing ini sudah menjadi
semakin rendah. Kalau kita berjalan terus, maka aku yakin bahwa
akan kita temukan tempat yang tepat untuk membuat bendungan.”
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah
seorang berkata, “Mungkin tebing ini akan menjadi rendah dan
dasar sungai akan menjadi semakin tinggi. Tetapi belum pasti
bahwa di tempat itu akan banyak terdapat bahan-bahan untuk
bendungan.”
“Ya. Mungkin begitu. Tetapi kita masih harus melihat dahulu.”
“Ternyata tempat yang paling baik adalah tempat yang lama
Agni,” berkata kawannya yang lain.
“Bagaimana mungkin,” jawab Agni, “sungai itu seakan-akan
menjadi semakin lebar, dua kali lipat. Semakin dalam dan
bahanbahannya
sukar kita cari. Bahan-bahan yang lama, kalau misalnya
masih mungkin kita kumpulkan, tidak akan cukup separuh dari
kebutuhan.”
“Kita cari bahan-bahannya di tempat lain,” berkata yang lain
pula.
“Terlalu sulit. Dan bukankah bendungan itu akan menjadi
lambang dari kerja yang kalian hasilkan sendiri. Kerja yang kalian
persembahkan kepada anak cucu. Kalian bisa dengan bangga
berkata, ‘Bendungan ini kita buat bersama-sama’. Lebih bangga
daripada, ‘Bendungan peninggalan Empu Purwa ini kita perbaiki’.
Ketiga kawan-kawannya terdiam. Sebenarnya mereka tidak
berkeberatan untuk melakukannya. Bahkan mereka ingin
menunjukkan bahwa mereka pun mampu melakukan. Tetapi ketika
tiba-tiba mereka melihat padang Karautan, maka hati mereka
menjadi ragu-ragu. Bukan karena kesulitan untuk mendapatkan
tempat dan bahan-bahan, tetapi mereka ragu-ragu apakah hantu
Karautan akan membiarkan mereka membuat bendungan dan
mengubah padang rumput kekuasaannya.
Mahisa Agni seakan-akan dapat meraba gejolak hati mereka,
sehingga tiba-tiba pula ia berkata, “Jangan takut akan hantu itu.
Yakini kata-kataku. Hantu itu tidak terlalu berbahaya. Dan bukankah
kita berempat.”
Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Mereka berjalan
sambil menundukkan wajah-wajah mereka. Hanya sekali-sekali
mereka memandang tebing sungai yang curam dan ditumbuhi oleh
gerumbul-gerumbul liar.
Sementara itu matahari menjadi semakin lama semakin jauh
menuju ke puncak langit. Bahkan sesaat kemudian, matahari itu
telah melampaui titik tertinggi, dan perlahan-lahan merayap turun
ke barat. Semakin lama semakin rendah menuju ke balik bukit.
Semakin rendah matahari, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni
menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian salah seorang di antara
mereka berkata, “Apakah kita berjalan terus Agni?”
“Ya, sampai kita menemukan tempat itu.”
“Bagaimana kalau kita kemalaman di perjalanan?”
“Ah. itu sama sekali bukan soal. Bukankah kita membawa bekal
untuk keperluan itu?” Tetapi Mahisa Agni tahu maksud pertanyaan
itu sebenarnya. Mereka sama sekali tidak cemas tentang bekal
mereka, tetapi mereka cemas apabila mereka bertemu dengan
hantu Karautan.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu kembali berdiam diri. Hanya
sekali-sekali mereka memandang langit yang semakin sejuk. Tetapi
hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.
“Apakah kita tidak kembali saja dahulu Agni. Besok kita teruskan
perjalanan kita di siang hari?”
“He,” mau tidak mau Mahisa Agni harus tertawa, katanya,
“bagaimana hal itu mungkin. Kalau kita kembali, dan besok
berangkat lagi seperti hari ini, maka kita akan sampai di tempat
ini
pada saat yang sama seperti sekarang. Dengan demikian kita akan
mengulangi perjalanan ini setiap hari.”
Kawannya itu pun tersenyum pula, ketika disadarinya bahwa
pendapatnya itu menggelikan.
Kemudian mereka berjalan pula sambil berdiam diri. Mereka telah
berjalan jauh menjorok ke dalam padang rumput. Keringat mereka
telah terperas membasahi seluruh tubuh mereka, seakan-akan
mereka sedang mandi.
“Apakah kalian lelah?” bertanya Mahisa Agni.
Serentak ketiga kawannya mengangguk sambil menjawab, “Ya.
Aku lelah sejak tadi.”
“Baiklah kita beristirahat,” ajak Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Kalau mereka
beristirahat, maka perjalanan mereka akan menjadi semakin lama.
Mungkin mereka benar-benar akan kemalaman di padang rumput
itu. Tetapi untuk berjalan terus, mereka telah benar-benar lelah
dan
lapar.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu segera mengetahui
perasaan ketiga kawan-kawannya itu. Maka katanya, “Makanlah
dahulu. Apapun yang akan kita jumpai, namun kita sudah kenyang.”
Seorang, kawannya tiba-tiba bertanya, “Manakah batas dari
padang rumput Karautan itu?”
“Kita sudah berada di padang rumput Karautan,” jawab Agni.
Jawaban itu benar-benar mengejutkan ketiga kawan-kawannya,
terasa dada mereka berdesir. Tanpa mereka sadari mereka telah
berada di padang yang mereka takuti.
Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Batas antara
padang Karautan dan padang rumput Panawijen tidak jelas. Tak ada
tanda-tanda yang dapat dipergunakan. Tetapi kita hanya dapat
menduga, bahwa setelah kita menempuh jarak tertentu kita berada
di padang rumput yang bernama Karautan.”
Kawan-kawannya tidak menjawab, seakan-akan mereka benarbenar
menjadi ketakutan menyebut sesuatu yang berhubungan
dengan padang itu. Mereka merasa seakan-akan hantu Karautan
selalu mengintai mereka, dan menerkam mereka setiap saat. Hanya
karena harga diri, mereka tetap berada di sisi Mahisa Agni. Mereka
malu untuk menyatakan keinginan mereka, mengajak Agni kembali
saja ke Panawijen karena hantu Karautan, sebab ternyata Mahisa
Agni agaknya sama sekali tidak memperhitungkan hantu itu, bahkan
mengabaikannya.
Mahisa Agni melihat kecemasan yang membayang di wajah
kawan-kawannya, tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak
mengacuhkannya. Dibawanya kawan-kawannya itu duduk di bawah
gerumbul dan katanya kemudian, “Marilah kita buka bekal kita. Kita
makan dahulu. Nanti kita lanjutkan perjalanan kita.”
Dengan ragu-ragu kawan-kawannya membuka bungkusan bekal
mereka. Namun sekali-sekali mereka selalu menebarkan pandangan
mereka sekeliling padang itu. Setiap gerak dan setiap suara, yang
betapapun lembutnya, benar-benar telah mengejutkan mereka itu.
Hanya Mahisa Agnilah yang seolah-olah tidak memedulikan apa saja
di sekitarnya. Dengan lahapnya ia menyuapi mulutnya.
“Marilah,” katanya, “apakah kalian tidak lapar seperti aku?”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian
makan pula, tetapi mereka benar-benar tidak dihinggapi nafsu.
Seakan-akan perut mereka masih saja terasa kenyang.
Sambil makan terdengar Mahisa Agni bergumam, “Sudah pasti
kita bermalam di padang ini.”
Wajah ketiga kawan-kawannya menjadi pucat, tetapi mereka
belum bertanya.
“Kita akan berjalan sampai matahari terbenam. Dan kita akan
bermalam di tempat itu. Besok pagi-pagi kita teruskan perjalanan
kita. Mudah-mudahan besok kita menemukan tempat yang kita
cari.”
Kawan-kawannya masih berdiam diri. Mereka tidak dapat berbuat
lain daripada mengikut saja ke mana Mahisa Agni pergi. Untuk
kembali bertiga pun mereka agaknya kurang berani. Dengan
demikian maka hidup mereka kini seakan-akan hanya tergantung
saja kepada Mahisa Agni.
Tetapi ada juga di antara mereka yang menjadi semakin cemas
karena melihat bayangan sendiri. Dihubungkannya perjalanan ini
dengan peristiwa di bendungan. Jangan-jangan Mahisa Agni marah
kepada mereka, dan sengaja membawa mereka jauh-jauh dari
Panawijen untuk menumpahkan kemarahannya itu.
Karena itulah maka hanya Mahisa Agni sajalah yang dapat
menelan makannya dengan gairah karena kelelahan dan lapar.
Ketiga kawan-kawannya hampir tidak mampu untuk menelan
makanan mereka.
Selesai makan, Mahisa Agni masih juga duduk-duduk di bawah
gerumbul itu, seolah-olah ia sudah tidak mempunyai rencana yang
lain daripada beristirahat.
“Kita tidak tergesa-gesa,” katanya, “sebab bagaimanapun juga
kita pasti akan kemalaman dan bermalam di padang ini. Karena itu
lebih baik kita bekerja perlahan-lahan tetapi lebih cermat dan
hatihati
memilih tempat.”
Ketiga kawan-kawannya benar-benar menjadi seolah-olah bisu.
Mereka hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Tak ada
keinginan mereka untuk mengucapkan satu kata pun, apabila tidak
terpaksa. Seakan-akan mereka takut suaranya akan didengar oleh
hantu Karautan.
Akhirnya Mahisa Agni jemu melihat sikap-sikap itu.
Diusahakannya untuk melupakan kecemasan itu, dengan makan,
istirahat seenaknya dan apa saja. Tetapi kecemasan itu masih juga
terasa melekat di hati ketiga kawannya itu. Karena itu maka Mahisa
Agni pun terpaksa sekali lagi memberi mereka peringatan, katanya,
“Kenapa kalian tampaknya selalu cemas? Sudah aku katakan,
jangan hiraukan hantu Karautan itu. Dan ia tidak akan mengganggu
aku lagi.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-angguk. Namun
hatinya sama sekali tidak meyakini kata-kata Mahisa Agni itu.
Meskipun demikian mereka sama sekali tidak menjawab.
“Marilah kita teruskan perjalanan kita. Kita akan menerobos
padang Karautan. Akan kita telusur sungai ini terus sampai kita
menemukan tempat yang baik untuk bendungan itu. Seandainya
hantu itu benar-benar kembali, maka ia berada jauh di sebelah
timur, di tepi jalan sidatan ke Tumapel. Tidak di pinggir kali
ini.”
Mahisa Agni tidak menunggu jawaban ketiga kawannya. Segera
ia membenahi bekalnya. Kawan-kawannya yang melihat itu pun
segera berbuat serupa. Mereka takut Mahisa Agni akan
meninggalkan mereka di tengah-tengah padang yang mengerikan
itu.
Kembali mereka berempat berjalan menyusur sungai. Di
perjalanan itu Mahisa Agni selalu berusaha untuk melupakan
ketakutan dengan menilai setiap lekuk liku sungai itu. Tetapi
jawaban yang didengarnya dari kawan-kawannya terlalu pendek.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia
berbicara terus tentang sungai itu.
Semakin jauh mereka berjalan, matahari pun menjadi semakin
rendah. Kini mereka pun benar-benar telah berada di padang yang
luas dan mengerikan. Di sana-sini yang mereka lihat hanyalah
gerumbul-gerumbul liar dan batu-batu padas yang menjorok di
antaranya.
Ketika kemudian malam membayang di langit, maka Mahisa Agni
pun berhenti. Ia harus mendapatkan tempat yang baik untuk
bermalam bersama kawan-kawannya.
Diamat-amatinya tempat di sekitarnya. Gerumbul-gerumbul liar
dan rerumputan.
“Kita bermalam di sini,” bertanya Mahisa Agni kepada kawankawannya.
Perasaan ngeri dan cemas semakin menghunjam ke dalam
jantung ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu. Demikian cemasnya
sehingga salah seorang daripada mereka, yang tidak dapat
menahan diri lagi, telah kehilangan perasaan malunya, sehingga
dengan gemetar ia berkata, “Apakah kita bermalam di padang ini
Agni?”
“Ya. Bukankah sebentar lagi hari akan malam?”
“Apakah tidak lebih baik kita berjalan?”
“Tidak. Lebih baik kita berhenti. Kalau kita berjalan di malam
hari, maka kita akan tidak dapat melihat sungai itu. Kita akan
mengetahui, apakah kita sudah sampai pada tebing yang rendah.”
Kawannya itu terdiam. Tetapi bukan berarti bahwa ia telah
kehilangan kecemasannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian berkata pula, “Di sinilah. Di atas
rumput kering ini kita akan bermalam. Kita harus berganti-gantian
bangun, supaya kita tidak kehilangan kewaspadaan. Mungkin ada
binatang yang berbahaya.”
Bulu-bulu kuduk ketiga kawan Mahisa Agni meremang. Meskipun
mereka membawa senjata, namun senjata itu hampir-hampir tak
berarti bagi mereka.
Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mahisa Agni itu
kemudian meletakkan dirinya duduk di atas rumput-rumput liar yang
kering. Tempat itu adalah tempat yang tidak menjadi rimbun karena
batang-batang ilalang, karena tanah di bawahnya adalah tanah yang
berbatu padas.
Dengan dada yang berdebar-debar ketiga kawan-kawannya pun
duduk pula dekat-dekat di samping Mahisa Agni. Sekali-sekali
mereka memandang daerah sekeliling mereka dengan hati yang
kecut. Seakan-akan di sekeliling mereka, di belakang
gerumbulgerumbul
liar, dibalik batang-batang ilalang, bersembunyi berpuluhpuluh
hantu dan binatang-binatang buas yang siap menerkam, dan
menyobek kulit daging mereka. Tetapi mereka mengumpat-umpat
tak habis-habisnya di dalam hati, apabila mereka melihat, Mahisa
Agni hampir acuh tak acuh saja terhadap keadaan di sekelilingnya.
“Marilah kita bentangkan tikar,” berkata Mahisa Agni.
Kawannya yang membawa tikar, tidak menjawab. Tetapi dengan
dada dan tangan yang gemetar, ia membuka ikatan sehelai tikar
dan dengan hati-hati ia membentangkannya.
Demikian tikar itu terbentang, demikian Mahisa Agni merebahkan
dirinya sambil bergumam, “Ah, alangkah enaknya. Setelah seharian
berjalan, kita dapat beristirahat di bawah selimut mega yang putih
dan langit yang biru bersih.”
Kawan-kawannya sama sekai tidak dapat ikut merasakannya.
Mereka sama sekali tidak merasa lelah, apalagi keinginan untuk
berbaring seperti Mahisa Agni. Mereka tidak juga melihat helaian
awan putih yang beterbangan di langit dan warna yang biru bersih
di atas kepala mereka. Yang ada di dalam hati mereka, adalah
bayangan-bayangan yang mengerikan.
Tiba-tiba Mahisa Agni yang berbaring itu bangkit. Katanya, “Kita
akan membuat api.”
“He,” kawan-kawannya terkejut mendengarnya. Berkata salah
seorang dari mereka, “Api akan menunjukkan, bahwa di sini ada
seseorang.”
“Apa salahnya?” sahut Mahisa Agni, “kita tidak akan beku
kedinginan. Apalagi kalau kita sempat menangkap binatang buruan.
Maka malam ini akan menjadi malam yang tidak akan kalian
lupakan.”
Mahisa Agni tidak menunggu kawan-kawannya menjawab. Dalam
keremangan ujung malam, Agni segera bangkit dan mencari dahandahan
dari gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Kemudian
dengan seonggok rumput kering, Agni segera membuat api dengan
batu yang dibawanya. Sepotong batu yang digosoknya keras-keras
dengan sepotong kecil kepingan baja. Lontaran bunga apinya dapat
membakar gelugut aren yang sudah dikeringkan. Dengan api itulah
Agni membakar onggokkan rumput kering.
Sesaat kemudian api telah menyala. Lidahnya yang menjulur
naik, seakan-akan ingin menjilat langit.
“Hangat,” gumamnya, “biarlah api ini bertahan sampai pagi.
Jangan sampai padam. Meskipun hanya baranya.”
Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun semakin besar api itu
menyala, hatinya menjadi semakin kecut. Namun api itu segera
menjadi susut. Dilemparkannya oleh Mahisa Agni beberapa potong
kayu, supaya apabila api itu padam, maka akan masih tinggal
baranya yang dapat dipakainya untuk memanaskan tubuh.
“Biarlah nyala itu padam,” berkata Agni, “tetapi jagalah supaya
masih ada bara yang tertinggal. Supaya apabila malam nanti kita
kedinginan, kita dapat melemparkan rumput-rumput kering ke
atasnya dan api akan menyala kembali.”
Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi
mereka seakan-akan menjadi beku. Mereka melihat Mahisa Agni
kemudian menumpuk beberapa potong kayu lagi di atas api dan
membiarkan api itu menjadi bertambah kecil, ketika dalam sesaat
rumput-rumput yang kering telah habis terbakar.
Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Mata mereka
menghunjam ke pusat api yang sudah tidak lagi menjalar ke udara.
Malam pun semakin lama menjadi semakin gelap, dan bintangbintang
di langit menjadi semakin banyak menggantung dengan
cerahnya.
“Kita perlu air,” tiba-tiba Agni memecah kesepian.
Kawan-kawannya saling berpandangan. Mereka memang merasa
haus, tetapi mereka tidak menjawab.
“Siapa yang akan mengambil air ke sungai?”
Tak ada yang menjawab. Sehingga Agni meneruskannya, “Kalau
demikian, aku akan pergi.”
“Lalu, bagaimana dengan kami,” bertanya seorang kawannya.
“Tinggallah kalian di sini sebentar. Hanya sebentar.”
Sejenak ketiga kawan-kawannya itu menjadi saling
berpandangan. Mulut-mulut mereka ternganga namun hati mereka
berkerut.
Ketika kemudian mereka melihat Mahisa Agni bergerak
menyambar bumbung yang sudah kosong, salah seorang dari
mereka berkata, “Jangan tinggalkan kami di sini, Agni.”
Mahisa Agni tertegun sejenak. Ditatapnya ketiga kawankawannya
yang gemetar. Katanya, “Kenapa? Kenapa kalian tidak
berani tinggal di sini bertiga?”
Dengan nanar mereka memandang berkeliling. Padang rumput
ini adalah padang rumput Karautan. Tetapi mulut-mulut mereka
tidak berani mengucapkannya.
“Aku haus,” berkata Mahisa Agni, “karena itu aku perlu air. Kalau
ada di antara kalian yang mau mengambilnya untuk kita berempat,
aku akan tinggal di sini.”
“Kita mengambil bersama-sama,” minta salah seorang
daripadanya.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun
kemudian ia berkata, “Jangan. Tungguilah bekal-bekal kita,
kalaukalau
ada anjing liar. Apakah kalian takut kepada anjing-anjing liar
itu? Bukankah kalian laki-laki yang di lambung kalian tergantung
pedang? Apakah gunanya pedang itu?”
Tanpa mereka sadari, tangan-tangan mereka meraba hulu-hulu
pedang yang tergantung di lambung masing-masing. Ada juga
ketenteraman yang menjalari di hati mereka. Pedang itu akan dapat
membantu mereka melindungi diri mereka. Tetapi mereka bukan
seorang yang cakap bermain-main dengan pedang.
Mereka hanya sekedar dapat menggerakkannya dan sedikit
memutar dan mengayunkan. Tetapi apabila yang datang benarbenar
hanya anjing-anjing liar, maka tiga bilah pedang itu sudah
berlebihan.
“Atau, kalian dapat menyalakan api itu kembali supaya
binatangbinatang
buas menjadi ketakutan dan tidak mendekati kalian.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala
mereka. Tetapi hati mereka serasa membeku.
“Nah, bagaimana? “ bertanya Mahisa Agni, “aku membawa kalian
untuk kawan di perjalanan bukan sebagai momongan.”
Kata-kata itu benar-benar menyentuh hati mereka. Sehingga
dengan demikian tumbuh kembali rasa harga diri mereka sebagai
laki-laki. Bagaimanapun mereka bercemas hati, namun ketika sekali
lagi Mahisa Agni bertanya, terdengar mereka menjawab, “Baiklah
Agni, kami bertiga tinggal di sini. Tetapi jangan terlalu lama, dan
jangan terlalu jauh, sehingga apabila kami memanggilmu, kau akan
dapat mendengarnya.”
“Baiklah,” sahut Agni sambil berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan ke
arah tebing sungai. Sekali-sekali ia berpaling melihat ketiga
kawannya yang duduk hampir berdesak-desakan. Pedang mereka
telah tidak lagi tergantung di lambung mereka, tetapi pedang itu
telah siap di pangkuan.
Ketika Mahisa Agni melangkah terus, dilihatnya bayangan
tubuhnya di bawah kakinya. Memanjang ke barat. Ketika ia
berpaling dilihatnya bulan yang telah tidak bulat lagi mengambang
di langit yang biru.
Tiba-tiba Mahisa Agni tertegun. Dilihatnya bulan, dataran rumput
yang luas, diseling oleh gerumbul dan padas yang menjorok, awan
yang putih dan bintang yang berdesakan di langit.
Mahisa Agni menarik nafas. Di wajahnya seakan-akan terbayang
seluruh bumi. Keindahan bulan, rumput-rumput liar, hati yang bulat
untuk melakukan sesuatu, tetapi diliputi oleh kecemasan dan
ketakutan, seperti kawan-kawannya yang duduk melipat diri,
kelelawar yang bebas di udara, namun juga kelinci yang hidupnya
selalu terancam oleh kekerasan binatang-binatang yang lebih besar
dan buas.
Mahisa Agni itu pun kemudian menundukkan kepalanya.
Terbayang di mata hatinya, betapa besar kekuasaan Yang Maha
Agung yang telah menjadikan semuanya itu.
Selangkah Mahisa Agni berjalan terus. Semakin lama semakin
dekat ke tebing sungai yang dalam. Tetapi beruntunglah bahwa
bulan telah membantunya menunjukkan jalan yang dapat dilaluinya
untuk menuruni tebing.
Meskipun demikian, Mahisa Agni melangkah dengan penuh
kewaspadaan. Ia tidak takut kepada hantu Karautan yang akan
mencegatnya di tepian, atau harimau yang bersembunyi di dalam
rimbunnya belukar menunggu rusa mencari minum, atau
binatangbinatang
buas yang lain, tetapi yang menjadi perhatian Mahisa Agni
adalah ular dan sebangsanya. Meskipun ia masih mempunyai
ramuan obat penawar bisa, tetapi baginya lebih baik tidak usah
mempergunakannya, daripada ia harus digigit ular. Apalagi ular
yang bisanya sangat tajam, maka meskipun ia akan dapat
menawarkannya, namun ia pasti akan mengalami demam.
Perlahan-lahan Mahisa Agni merayapi tebing yang curam, turun
ke bawah. Telah didengarnya gemercik air sungai yang mengalir di
bawahnya. Sekali-sekali ia melihat kilatan pantulan cahaya bulan
pada wajah air yang beriak kecil. Di lambung kanannya tergantung
bumbung tempat air, dan di lambung kiri tergantung pedangnya.
Adalah jarang sekali Mahisa Agni menyandang pedang atau senjata
apapun. Tetapi karena perjalanannya yang penting kali ini, maka ia
pun bersenjata pula seperti ketiga kawan-kawannya. Mungkin
senjata itu berguna tidak saja untuk berkelahi, tetapi untuk
menebas pepohonan dan kayu-kayuan apabila diperlukan.
Dalam pada itu ketiga kawannya masih duduk mematung,
seakan-akan mereka sama sekali tidak berani bergerak. Hanya
sekali-sekali mereka memandang jauh ke tempat Mahisa Agni
menghilang. Tetapi sekali-sekali mereka juga sempat melihat bulan
yang jernih. Namun tak seorang pun dari mereka yang mulai
bercakap-cakap.
Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka menjadi pucat. Ketika
ia memandang bulan yang kekuning-kuningan, tiba-tiba di bawah
bayangan cahaya bulan ia melihat sesuatu yang bergerak. Mulamula
ia hanya menyangka, bahwa itu adalah daun-daun yang di
sentuh angin. Tetapi gerak itu ternyata terlalu jauh bergeser.
Dengan tangan yang gemetar digamitnya kawan-kawannya dan
dengan dagunya ia menunjuk ke arah bayangan itu.
Kawan-kawannya yang kemudian berpaling pula, merasa seperti
disengat lebah di tengkuknya. Mereka terkejut bukan kepalang.
Bayangan itu bergerak cepat sekali seperti hantu yang terbang di
atas padang rumput Karautan tanpa menyentuh tanah.
Tubuh mereka itu pun menjadi gemetar. Hampir seluruh sendisendi
tulang mereka serasa terlepas. Tiba-tiba merayaplah di dalam
dada mereka anggapan bahwa sebenarnya hantu itu dapat bergerak
cepat sekali tanpa menyentuh tanah.
Pedang-pedang yang berada di pangkuan mereka itu sama sekali
sudah tidak mereka ingat lagi. Apalagi untuk berbuat sesuatu.
Mereka hanya dapat duduk membeku tanpa berani menggerakkan
ujung jarinya sekalipun.
Meskipun demikian, mereka mencoba juga untuk melihat
bayangan itu bergerak-gerak. Sekali-sekali cepat, namun kemudian
lambat, berkisar dari satu garis ke garis yang lain.
Dalam pada itu yang dapat dilakukan oleh ketiga kawan Mahisa
Agni hanyalah berdoa, semoga hantu itu tidak datang kepada
mereka. Dengan dada bergetar dan tubuh gemetar, mulut mereka
berkomat-kamit.
Tetapi bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat.
Namun mereka melihat bayangan itu berada pada garis yang
menyilang di hadapan mereka, sehingga mereka mengharap, bahwa
bayangan itu tidak berbelok lurus ke arah mereka.
Dengan mata terbelalak mereka menyaksikan gerak bayangan
itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan itu. Hati
mereka berdesir ketika mereka menyaksikan bayangan itu berhenti.
Tetapi hanya sesaat, kemudian kembali bergerak berputar. Mereka
melihat gerak itu menjadi lebih lambat dan yang hampir menjadikan
mereka pingsan, bayangan itu berjalan ke arah mereka bertiga,
seolah-olah mereka bertiga itu sudah dilihatnya.
Ketakutan yang bergolak di dalam dada mereka itu pun menjadi
semakin memuncak. Tiba-tiba terdengar salah seorang berdesis
dengan gemetar, “Menuju kemari.”
Kawan-kawannya menyahut, “Ya.”
Mereka itu kemudian melihat bayangan itu sudah semakin dekat.
Di belakang bayangan itu mereka melihat selapis asap yang
bergulung-gulung. Asap putih yang tipis.
“Hantu itu berasap,” gumam mereka di dalam hati. Karena itulah
maka mereka menjadi semakin ketakutan.
Namun telinga mereka kini telah mendengar derap kehadiran
bayangan itu. Derap itu seperti derap seekor kuda.
“Suara kuda,” desis salah seorang dari mereka.
“Hantu itu naik kuda sembrani,” sahut yang lain.
Hati mereka semakin lama menjadi semakin kalut, sehingga
akhirnya mereka sampai ke puncak kecemasan.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Lari!”
“Ke mana?” sahut yang lain.
“Ke mana saja.”
“Tetapi kita tidak dapat berlari secepat kuda sembrani.”
Sesaat mereka terdiam. Mereka memang tidak dapat berlari
secepat kuda sembrani. Karena itu mereka menjadi semakin
bingung, sedang bayangan itu semakin lama semakin dekat dengan
mereka.
“Bersembunyi,” desis yang lain.
Mereka segera mencoba mencari tempat untuk bersembunyi.
Yang ada di dekat mereka adalah sebuah gerumbul yang cukup
lebat, sehingga dengan serta-merta kedua kawannya menyambut,
“Ya, kita bersembunyi.”
Serentak mereka bertiga merangkak cepat-cepat memasuki
gerumbul yang ada di samping mereka. Dengan tersuruk-suruk
mereka menyibak daun-daun perdu dan menyusup ke dalamnya.
Sama sekali tidak mereka rasakan, goresan-goresan duri yang tajam
pada tubuh mereka.
Demikian mereka hilang di dalam belukar, maka segera mereka
mendengar derap kuda semakin dekat. Dan sesaat kemudian
mereka mendengar derap kuda itu berhenti.
Dari celah-celah rimbun dedaunan yang melindungi mereka,
mereka dapat melihat seekor kuda yang tegar kuat. Di
punggungnya duduk seorang dalam pakaian yang aneh. Pakaian
yang tidak teratur dan memakai tutup di wajahnya. Sesobek kain
melingkar di bawah mata dan diikat di bagian belakang kepalanya,
di bawah gelungnya yang tidak terpelihara.
Melihat kuda dan penunggangnya itu, ketiga kawan-kawan
Mahisa Agni benar-benar tidak lagi bergerak. Bernafas pun
rasarasanya
menjadi sangat sulit. Gambarannya tentang hantu itu sama
sekali tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya kini. Meskipun
demikian, ketakutannya menjadi bertambah-tambah. Wajah hantu
itu tidak sedahsyat yang disangkanya. Namun tidak juga tampan
seperti cerita-cerita yang pernah didengarnya, bahwa hantu
Karautan adalah hantu yang tampan, meskipun liar. Tetapi kali ini
hantu itu mencoba menutupi wajahnya, sehingga wajah itu sama
sekali tidak dapat mereka kenal.
“Apakah mulut hantu itu seperti mulut raksasa dalam cerita-cerita
itu,” pikir mereka.
Perasaan ketiga orang itu benar-benar menjadi kacau. Campur
baur antara cerita yang pernah mereka dengar tentang hantu yang
tampan berambut liar, gambaran-gambaran mereka tentang hantu
yang berkepala besar dan bermata merah, dan kenyataan yang
dilihatnya kini. Meskipun demikian, mereka masih menduga bahwa
sebenarnya hantu itu adalah hantu yang tampan.
Hati mereka benar-benar membeku ketika mereka melihat hantu
itu turun dari kudanya. Mereka seakan-akan berusaha mengerutkan
tubuh mereka sekecil mungkin, supaya hantu itu tidak dapat
melihatnya Meskipun demikian, mereka merasa bahwa mereka telah
berada di ujung ubun-ubun.
Satu-satunya harapan mereka adalah, menunggu Mahisa Agni
datang. Tetapi kalau hantu itu, melihatnya sebelum Agni datang,
maka mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Mereka kemudian melihat hantu itu perlahan-lahan berjalan
mendekati perapian dan memperhatikan setiap benda yang ada di
sekitar perapian itu.
Dengan kakinya hantu itu menyentuh benda-benda yang
berserakan. Sebungkus bekal dan makanan. Beberapa macam alatalat,
bumbung-bumbung kecil dan mangkuk. Dan yang terakhir
adalah pedang-pedang kawan-kawan Mahisa Agni itu.
Terdengar hantu itu menggeram. Suaranya mengerikan seperti
suara sangkakala Dewa Maut. Perlahan-lahan, namun dalam
menusuk pusat jantung.
Ketiga kawan Mahisa Agni benar-benar berkerut seperti tikus di
hadapan seekor kucing yang garang. Hanya bibir-bibir mereka
sajalah yang bergerak-gerak. Namun seluruh tubuh mereka
menggigil seperti orang kedinginan.
Tiba-tiba hantu itu tertawa perlahan-lahan. Diputarnya tubuhnya
dan sambil menunjuk ke dalam gerumbul itu terdengar suara
bergumam, seakan-akan melingkar-lingkar saja di dalam perutnya.
Dada ketiga kawan Mahisa Agni itu benar-benar hampir meledak
karena kecemasan melihat sikap hantu itu. Seakan-akan hantu itu
telah menunjuk hidung mereka masing-masing, dan suara
tertawanya adalah pertanda, bahwa maut telah siap untuk
menerkamnya.
“Siapa bersembunyi di sana?” terdengar suara hantu itu berat.
Pertanyaan itu benar-benar seperti ledakan petir di dalam kepala
kawan-kawan Mahisa Agni itu. Tulang-tulang mereka serasa benarbenar
telah terlepas dari kulit daging mereka. Dan karena itulah
maka mereka dengan lemahnya terkulai di tanah, di dalam
gerumbul yang rimbun. Seandainya sebilah pisau menyentuh kulit
mereka, maka seakan-akan dari kulit itu tidak akan menetes darah
yang merah. Demikian takut dan cemas mereka, sehingga tubuhtubuh
mereka menjadi putih seperti mayat, dan dingin membeku
seperti air embun yang menetes di malam hari.
Sejenak hantu itu tegak berdiri dengan garangnya. Di tunggunya
jawaban dari pertanyaannya. Tetapi tak ada yang berani
mengucapkan sepatah kata pun. Apalagi menjawab pertanyaannya
hantu itu.
“He,” teriak hantu itu lebih keras, “siapa bersembunyi dalam
gerumbul itu?”
Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Bahkan hati
mereka menjadi semakin membeku.
“Hem,” hantu itu menggeram lagi, “jangan menghina aku. Jawab
siapa kalian?”
Angin malam berhembus dengan lemahnya menggerakkan daun
gerumbul itu. Di langit bulan masih tergantung di antara
bintangbintang
yang bertaburan. Tetapi betapa kecutnya hati ketiga orang
yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Mulut mereka benarbenar
serasa terkunci.
Selangkah hantu itu maju mendekati gerumbul itu, ternyata di
lambungnya tergantung sebilah pedang yang panjang. Terjuntai
hampir menyentuh tanah.
Pedang itu semakin mengguncangkan dada mereka yang sedang
bersembunyi. Mula-mula mereka heran melihat pedang itu. Tetapi
kemudian terasa dada mereka menjadi pedih, seakan-akan ujung
pedang itu telah menghunjam menembus tulang-tulang iganya.
Hantu itu rupa-rupanya menjadi marah ketika pertanyaanpertanyaannya
tidak berjawab. Dengan lantang diulanginya
pertanyaan, “He, siapa yang bersembunyi di situ? Aku minta kalian
menjawab pertanyaanku!”
Suara itu lepas, selepas angin yang bertiup di padang rumput.
Hilang tanpa kesan dan jawaban.
Dengan demikian maka hantu itu menjadi semakin marah.
Selangkah lagi ia maju. Dan kali ini ia mengancam, “Aku sudah
mengucapkan beberapa kali pertanyaan. Tetapi kalian tidak
menjawab. Kalau kalian tidak memedulikan kehadiranku di sini,
maka kalian akan mengalami nasib yang malang. Sekarang jawab
pertanyaanku, siapakah kalian?”
Ketiga orang yang bersembunyi itu benar-benar menjadi
ketakutan. Mereka harus menjawab pertanyaan hantu itu supaya
hantu itu tidak menjadi semakin marah. Tetapi tak seorang pun
yang mampu mengucapkan jawaban. Karena itu, hantu itu hanya
mendengar desah nafas yang berkejar-kejaran.
“He,” geram hantu itu pula. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Keluar!
Keluar dari gerumbul itu! Kalau tidak, maka gerumbul ini akan aku
bakar.”
Mereka yang bersembunyi di dalam gerumbul itu menggigil
semakin cepat. Tubuh mereka seakan-akan tidak lagi dapat mereka
kuasai. Meskipun mereka mendengar dan melihat, namun seakanakan
mata mereka dan telinga mereka itu tidak lagi ada
hubungannya dengan anggota badan mereka yang lain. Meskipun
telinga dan mata mereka mempengaruhi kehendak mereka untuk
merangkak keluar karena ancaman hantu itu, namun anggota badan
mereka seolah-olah telah terlepas satu sama lain, sehingga tidak
lagi mampu bergerak.
Hantu itu kemudian berdiri bertolak pinggang. Kakinya
merenggang dan dadanya menengadah. Terasa kesabarannya
semakin tipis, dan dengan penuh luapan kemarahan ia berteriak,
“Keluar! Keluar! Sekali lagi aku peringatan. Kalau tidak, kalian
akan
mati terbakar di dalam gerumbul ini.”
Ketakutan ketiga orang itu sudah memuncak. Apalagi ketika
mereka melihat hantu itu kemudian melangkah ke perapian.
Diambilnya seonggok rumput-rumput kering yang sudah mereka
kumpulkan. Kemudian rumput-rumput kering itu diletakkannya di
sisi gerumbul itu. Agaknya hantu itu benar-benar akan melakukan
apa yang dikatakannya.
Karena itu, maka ketiga orang yang bersembunyi itu menjadi
bingung. Demikian bingungnya sehingga seolah-olah mereka telah
menjadi gila. Meskipun demikian, dengan sisa-sisa kekuatan dan
keberanian yang terakhir, mereka masih mencoba menghindarkan
diri dari kemungkinan terbakar hangus di dalam gerumbul itu.
Seperti orang berjanji, mereka saling berpandangan. Dan dengan
tersuruk-suruk mereka merangkak keluar dari gerumbul itu.
Ketiga hantu itu melihat mereka muncul dari gerumbul itu,
terdengarlah derai tertawanya, seakan-akan memecahkan telinga.
Suara tertawa itu benar-benar telah mengguncangkan dada
ketiga anak-anak muda Panawijen. Mereka merasa seakan-akan
dada mereka bergelora. Sehingga tubuh-tubuh mereka itu menjadi
semakin gemetar karenanya.
“Hem,” geram hantu itu, “ternyata di dalam gerumbul itu
bersembunyi kelinci-kelinci. Nah, bukankah dugaanku benar. Tiga
ekor kelinci.”
Ketiga anak muda itu sama sekali tidak berani memandang wajah
hantu yang bertutup sesobek kain. Mereka duduk dengan lemahnya,
sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
“Kemari!” bentak hantu itu.
Ketika anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Mereka
seakan-akan tidak mampu lagi untuk bergerak maju.
“Kemari!” teriak hantu padang itu.
Suara itu menggelegar seperti petir menyambar di langit. Kembali
mereka tersuruk-suruk merangkak mendekati hantu yang berdiri
bertolak pinggang dan kaki renggang.
Ketiga anak muda itu seakan-akan seorang hamba yang sedang
menghadap Tuannya. Duduk dengan kepala tunduk dan hati yang
bergolak penuh kecemasan, ketakutan dan kengerian.
Rupa-rupanya sikap mereka benar-benar menyenangkan hantu
padang itu. Sekali lagi terdengar hantu itu tertawa berderai.
Suaranya bergulung-gulung melontar ke segenap sudut padang
Karautan.
Tetapi ketika ketiga anak muda Panawijen itu semakin dekat,
maka tiba-tiba suara tertawa itu berhenti. Dengan mata terbelalak
hantu itu memandangi anak-anak muda yang duduk di hadapannya.
Bahkan kemudian tanpa sesadarnya hantu itu berdesis, “Anak-anak
Panawijen. Bukankah kalian anak-anak Panawijen?”
Ketiga anak-anak muda itu menjadi semakin kecut. Wajahnya
semakin pucat karena mereka mendengar hantu itu menyebut
mereka dengan tepat sebagai anak-anak muda Panawijen.
Namun sesaat kemudian hantu itu sudah tertawa lagi. Dengan
nyaring ia berkata, “Hai anak-anak Panawijen. Jangan heran. Aku
tahu siapa kalian. Adalah suatu kesenangan yang sukar dicari di
kesempatan lain.”
Hantu itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Jangan
ingkar! Bukankah kalian anak-anak muda Panawijen?”
Ketiga anak-anak muda itu tidak segera menjawab. Mereka
benar-benar telah membeku. Sehingga hantu itu terpaksa
membentak keras, “Ayo jawab! Kalau tidak aku cekik kalian sampai
mati.”
Ngeri. Dan kengerian itu telah memaksa salah seorang dari
ketiga anak muda itu menjawab dengan suara parau gemetar.
“Ya.”
Mereka sama sekali tidak berani mengingkari, sebab menurut
dugaan mereka, hantu dapat melihat apa saja dan mengerti apa
saja.
“Bagus,” sahut hantu itu. Dan tiba-tiba hantu itu semakin
mengejutkan dan menakutkan. Suaranya menjadi semakin kasar.
Dengan tajamnya hantu itu berkata, “Aku mempunyai dendam yang
dalam terhadap anak-anak muda Panawijen.”
Mendengar kata-kata terakhir dari hantu itu, maka nyawa-nyawa
mereka serasa telah bergerak ke ubun-ubun. Dengan satu sentuhan
dari hantu itu, maka nyawa-nyawa itu sudah akan terlepas dari
tubuh-tubuh mereka. Sehingga sedemikian ketakutan itu
mencengkam hati mereka, salah seorang dari mereka, terpaksa
mencoba berkata, “Kenapa Tuan mendendam kami?”
Kembali terdengar derai tertawa hantu itu. Jawabnya, “Aku
mendendam setiap orang yang berani menginjakkan kakinya di
padang ini. Tetapi lebih-lebih lagi anak-anak muda Panawijen,
apalagi yang datang dengan membawa senjata. Nah, apakah kalian
ingin melawan aku dengan senjatamu itu? Ambillah! Lawan aku oleh
kalian bertiga bersama-sama.”
“Tidak. Tidak,” cepat-cepat salah seorang mereka berdesis, “kami
tidak berani melawan Tuan. Pedang-pedang kami hanya sekedar
untuk menjaga diri kami dari sergapan binatang buas dan untuk
menebas pepohonan.”
“Apa? Jadi kalian ingin membunuh binatang-binatang
peliharaanku di padang ini, he, Jinan, Patalan dan Sinung Sari?”
bentak hantu itu.
Hampir pingsan mereka bertiga, ketika mereka mendengar
nama-nama mereka disebutkan. Benar-benar di luar kemampuan
berpikir mereka. Dan dengan demikian telah mempertebal
kepercayaan mereka, bahwa hantu itu dapat mengetahui apa saja
dan dapat mengerti apa saja, sampai nama-nama mereka pun
dikenal pula oleh hantu itu.
“Jangan terkejut kalau aku mengenal nama-nama kalian. Aku
dapat mengenal setiap nama orang-orang yang lewat di padang ini
meskipun baru untuk pertama kali. Aku dapat mengenal tempat
mereka dan mengenal orang tua mereka.”
“Ternyata nasibmu memang lagi malang. Jangan menyesal
bahwa kalian telah bertemu dengan hantu padang Karautan ini.”
“Tetapi,” berkata salah seorang dari mereka tergagap-gagap,
“tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu.”
“Jangan ribut!” teriak hantu itu, “Aku mendendam Panawijen.
Semua anak-anak muda Panawijen. Termasuk kalian.”
Tubuh-tubuh itu kini, sudah semakin lemah. Mereka benar-benar
telah kehilangan harapan untuk dapat melepaskan diri dari tangan
hantu itu. Yang dapat mereka lakukan adalah duduk bertelekan
tangan mereka yang lemah dan memohon kemurahan hantu itu.
“Ampun Tuan. Aku minta ampun.”
Hantu itu tertawa berkepanjangan. Jawabnya, “Tidak ada maaf
untuk kalian dan untuk semua anak-anak muda yang berani
menyentuh padang ini. Apalagi kalian telah berusaha membunuh
binatang peliharaanku, tebusannya adalah nyawa-nyawamu.”
Kini ketiga anak muda itu telah terlempar dalam suatu suasana
yang tidak dimengertinya. Dada mereka seolah-olah tidak lagi
mampu bergerak untuk menarik nafas dan darah mereka serasa
telah berhenti mengalir.
Mereka masih dapat melihat hantu itu bertolak pinggang dan
kemudian melangkah maju, tetapi mereka sudah tidak mampu
berbuat apa saja.
Mereka sama sekali tidak dapat lagi berusaha untuk
menghindarkan diri dari bencana yang semakin lama semakin
mendekati mereka.
Sejenak kemudian mereka masih mendengar hantu itu berkata,
“Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Apakah kalian tidak akan mencoba
melawan untuk memperpanjang umurmu?”
Ketiga anak-anak muda itu sama sekali benar-benar sudah tidak
berdaya. Yang terloncat dari mulut mereka adalah suatu keluhan,
“Ampun. Ampunkan kami Tuan. Kami tidak akan mengganggu
padang rumput ini lagi.”
“Persetan!” sahut hantu itu, “Aku harus melepaskan dendamku.
Karena kalian tidak melawan, maka kalian akan aku bunuh dengan
senjata, supaya kalian tidak tersiksa oleh penderitaan sebelum
kematian kalian.”
“Ampun, ampun Tuan,” ketiga anak-anak muda itu merangkakrangkak
dan bahkan kemudian mereka bertiarap di bawah kaki
hantu itu.
Tetapi yang mereka dengar jawaban hantu itu, “Hanya ada dua
kemungkinan bagi kalian. Melawan, namun kalian akan mengalami
penderitaan di saat-saat terakhir, atau menurut kehendakku dan
kalian akan mengalami saat-saat yang menyenangkan menjelang
kematian kalian.”
Ketiga anak muda itu sudah tidak mampu menjawab. Tubuh
mereka menggigil ketakutan dan nyawa mereka benar-benar terasa
telah terlepas dari tubuh-tubuh mereka.
Hantu itu kini sudah berdiri tepat di hadapan ketiga anak-anak
Panawijen yang menggigil. Tampaklah matanya membayangkan
dendam dan kepuasan. Hantu itu agaknya senang sekali melihat
sikap ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan dan hampir
pingsan karenanya. Semakin menggigil anak-anak muda itu,
semakin senang hati hantu itu. Dan karena itulah maka hantu itu
ingin berbuat hal-hal yang aneh-aneh yang dapat menimbulkan
kesan-kesan yang mengerikan. Ia ingin menyebarkan berita bahwa
sebenarnya hantu Karautan telah timbul kembali. Bahkan semakin
menakutkan dan semakin mengerikan dari tabiat hantu itu dahulu
sebelum menghilang beberapa lama.
Karena itu maka terdengar hantu itu berkata, “He anak-anak
muda Panawijen. Karena belas kasihanku kepada kalian maka aku
ingin salah seorang dari kalian yang akan tetap hidup untuk
mengabarkan apa yang telah terjadi di sini. Tetapi yang hidup itu
akan mengalami cacat sepanjang umurnya. Aku ingin memotong
kedua pergelangan tangannya dan melepaskannya pergi. Nah,
siapakah yang ingin hidup di antara kalian?”
Hati ketiga anak muda yang sudah terguncang-guncang itu
semakin ngeri mendengar pertanyaan itu. Namun mereka benarbenar
hampir menjadi pingsan sebelum hantu itu menyentuh tubuh
mereka.
“Siapa?” terdengar hantu itu berteriak, “beberapa hari yang lalu
aku juga menangkap seorang yang lewat di padang ini. Aku pukuli
dia, tetapi aku tidak membunuhnya, sebab aku ingin berita itu
tersebar. Tetapi orang itu pun pasti cacat sepanjang umurnya.
Karena ia ingin melawan, maka aku patahkan tulang punggungnya.
Dengan demikian ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya.
Nah, sekarang pilihlah di antara kalian, siapakah yang masih ingin
hidup dan mengabarkan cerita ini kepada segenap penduduk
Panawijen?”
Ketiga anak muda itu sama sekali tidak mampu untuk
menentukan pilihan yang mengerikan itu. Mereka kini benar-benar
telah berputus asa, dan mereka tinggal menunggu saat-saat yang
dahsyat itu tiba.
Sejenak suasana padang rumput itu menjadi hening. Hantu itu
masih saja berdiri memandangi ketiga korbannya yang ketakutan.
Agaknya ia sedang memilih, siapakah yang akan dihidupinya.
Karena itu, dengan kakinya ia meraba-raba ketiga-tiganya pada
punggungnya. Namun, sentuhan-sentuhan itu terasa seakan-akan
ujung jari Dewa Maut telah meraba-raba mereka.
Tetapi dalam ketakutan, kecemasan dan kengerian itu, mereka
tiba-tiba dikejutkan oleh suara tertawa melengking di belakang
gerumbul yang tidak sedemikian jauhnya dari mereka. Suara itu
melonjak dalam kesepian malam di padang rumput Karautan dalam
nada yang parau dan liar.
Bukan saja ketiga anak-anak muda yang berputus asa itu, tetapi
hantu itu pun terkejut pula, sehingga dengan serta-merta ia
memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.
Dalam keremangan cahaya bulan, mereka melihat sebuah
bayangan muncul dari balik gerumbul itu. Sebuah bayangan yang
melonjak-lonjak seperti bayangan seorang gila yang sedang
menarinari.
Semakin lama semakin dekat.
Ketika bayangan itu menjadi semakin jelas, maka sekali lagi dada
anak-anak muda Panawijen dan bahkan hantu yang berdiri di
sampingnya itu berdesir. Bayangan itu adalah bayangan sesosok
tubuh yang menakutkan. Ternyata seseorang telah menghampiri
mereka dalam pakaian yang liar. Orang itu sama sekali tidak
mengenakan sepotong kain pun, kecuali sebuah celana yang dibeliti
oleh daun-daun dan sulur-sulur perdu. Orang ini pun
mempergunakan secarik kain untuk menutup wajahnya seperti
hantu yang telah berdiri di samping ketiga anak muda Panawijen
itu, namun orang yang datang itu rambutnya dengan liar terurai
sama sekali.
Semakin dekat, tampaklah gerak-gerik orang itu benar-benar
menakutkan. Sekali-sekali meloncat-loncat namun kemudian
merunduk sambil tertawa seperti orang gila.
Terdengar hantu yang berdiri di samping Sinung Sari dan
kawannya itu menggeram, “He, siapakah kau orang gila?”
Yang disebut orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian
dengan nada suaranya yang melengking menjawab, “He, akulah
hantu Karautan. Aku sudah lama menghilang dari padang ini. Tetapi
tiba-tiba ada orang yang menamakan diri hantu Karautan. Nah, kini
kita bertemu. Dengar, akulah hantu Karautan itu.”
Yang mendengar jawaban itu benar-benar menjadi pening.
Apalagi ketiga anak muda Panawijen itu. Dadanya terguncangguncang
tak menentu sehingga hampir-hampir pecah karenanya.
Hantu yang datang pertama-tama di atas punggung kuda itu pun
tidak kurang gelisahnya. Ditatapnya hantu yang datang kemudian
dengan seksama. Kemarahannya merayap membakar seluruh
tubuhnya, sehingga tubuh itu bergetar karenanya.
“Jangan mencoba mengacaukan rencanaku,” bentak hantu yang
datang berkuda, “atau kau yang pertama-tama aku bunuh?”
Hantu yang mirip orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh.
Tubuhnya terguncang dan dengan langkah-langkah kecil ia
meloncat-loncat. Sahutnya dalam nada yang tinggi. “Oh, oh. Kau
akan membunuh aku. Pernahkah kau mendengar cerita tentang
hantu Karautan yang sebenarnya? Bukan hantu seperti tampangmu?
Hantu Karautan tidak bisa mati. Hantu Karautan akan tetap hidup
untuk seterusnya.”
Api kemarahan yang memancar dari mata hantu yang datang
pertama-tama menjadi semakin menyala. Kini ia maju setapak dan
suaranya menggelegar, “Kalau benar kau hantu Karautan, kau pasti
tahu, siapakah ketiga anak-anak muda yang ketakutan ini?”
“Oh, oh, oh,” teriak hantu gila itu mengerikan, “kenapa kau
tanyakan nama-nama mereka?”
“Hantu tahu segala-galanya. Aku tahu namanya, rumahnya dan
orang Tuanya. Nah, kalau kau benar-benar hantu Karautan,
sebutlah namanya.”
“Baik. Baik Aku akan menyebut namanya. Tetapi aku ingin
melihat wajahnya dengan jelas.” hantu yang mirip orang gila itu
melangkah kecil-kecil mendekati ketiga anak muda Panawijen yang
ketakutan. Satu-satu dirabanya tengkuk anak-anak muda itu. Dan
dengan nyaring ia berkata, “Hantu Karautan membunuh korbannya
dengan luka di lehernya. Aku suka menghisap darah. Apalagi
darahdarah
anak muda semuda anak-anak ini. Alangkah segarnya. Dan
apabila darah mereka bertiga belum cukup, maka darahmu akan
aku hisap pula. Darah orang yang mengaku dirinya hantu Karautan.”
“Diam!” bentak hantu berkuda, “Sebutkan namanya, sebelum
kepalamu terpancung.”
“Hantu tidak pernah memancung kepala korbannya,” jawab
hantu yang lain, “dan aku belum pernah sekalipun naik kuda. Aku
dapat berlari melampaui kecepatan kuda dengan kakiku.”
“Persetan. Tetapi kau tidak mampu menyebut nama anak-anak
muda itu.”
“Oh, oh, oh,” suaranya melengking-lengking, “Baik. Baik aku
sebut namanya satu-satu.”
Kemudian hantu itu menyentuh ketiga anak muda itu satu demi
satu. “Yang ini bernama Jinan. He. Bukankah aku tahu. Yang ini
Patalan dan yang satu lagi Sinung Sari.”
Terdengar hantu berkuda itu menggeram. Dengan lantang ia
berkata, “Kau mendengar aku menyebut namanya.”
“O, maaf. Aku mendengar dan melihat apa yang kau lakukan.
Mengintai di kejauhan. Melihat apa yang menyala di sini. Kemudian
kau datang ke arah api itu, begitu? Kau kemudian menakut-nakuti
mereka dengan menamakan dirimu hantu Karautan.”
“Cukup!” hantu berkuda itu menjadi marah sekali. Selangkah ia
maju mendekati hantu yang mirip orang gila itu.
Dalam luapan kemarahan ia berkata, “Jangan banyak bicara.
Sekarang kita tentukan, siapakah yang berhak menguasai padang
ini dengan kekuatan.”
“Oh, oh, oh. Bagus, Bagus,” jawab hantu yang mirip orang gila
itu, “taruhannya adalah ketiga anak-anak muda itu. Siapa yang
menang berhak memilikinya. Jinan, Patalan dan Sinung Sari.
Alangkah segar darahnya dan darahmu sekali.”
“Tutup mulutmu! Bersiagalah!” bentak hantu berkuda itu. Dan
tiba-tiba saja pedangnya telah ditariknya dari wrangkanya.
“Eh, kau akan bertempur dengan pedang?”
“Cepat, bersiagalah!”
“Baik. Baik. Aku juga akan bertempur dengan pedang. Hantu
mampu bertempur dengan apa saja. Bahkan dengan batu dan
pasir.” Hantu gila itu kemudian berjalan-jalan tersuruk-suruk
memungut pedang Patalan yang terletak di samping perapian.
Katanya kepada Patalan, “Aku pinjam pedangmu. Mudah-mudahan
aku menang, sehingga kau akan mati dengan nikmat. Aku akan
menghisap darahmu perlahan-lahan. Aku tidak sekejam hantu
berkuda ini.”
Tetapi hantu berkuda itu sama sekali tidak sabar lagi. Cepat ia
meloncat dengan pedang terjulur, langsung mengarah ke dada
hantu yang lain. Namun hantu yang lain itu pun cepat menghindar
ke samping dan dengan tangkas pula ia menggerakkan pedangnya.
Demikianlah mereka berdua terlibat dalam perkelahian dengan
pedang. Ternyata masing-masing dapat menggerakkan pedangnya
dengan tangkas dan cepat. Kelincahan mereka menunjukkan bahwa
mereka benar-benar mampu bertempur dengan pedang di tangan.
Hantu berkuda itu bergerak dengan mantap. Langkahnya tetap
dan berat. Ayunan pedangnya mencampakkan angin yang kencang
dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sedang hantu yang lain
bergerak dengan lincahnya. Langkahnya pendek-pendek dan
melonjak-lonjak. Pedangnya pun bergerak dengan ayunan yang
kecil-kecil. Sekali mendatar, namun kemudian mematuk-matuk.
Ketiga anak-anak Panawijen melihat perkelahian itu. Mereka
masih juga mendengar apa saja yang dipercakapkan oleh hantuhantu
itu, dan apa yang dibicarakannya. Bahkan mereka masih juga
mendengar hantu yang datang kemudian itu membuat taruhan atas
mereka. Dan mereka juga mendengar betapa hantu yang gila itu
mengatakan alangkah segarnya darah mereka.
Tetapi seakan-akan mereka telah mati sejak lama, seakan-akan
mereka sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa atas tubuh mereka
sendiri. Kehendak yang ada di dalam hati mereka, tidak mampu lagi
untuk menggerakkan tubuh mereka. Sebenarnya mereka kini tidak
lebih dari seonggok tanah mati. Pertanda bahwa mereka masih
hidup adalah matanya yang berkedip-kedip meskipun memancarkan
sinar yang aneh. Beku. Serta arus nafas mereka yang
tersendatsendat.
Sehingga apapun yang terjadi di hadapan wajah-wajah
mereka, namun mereka sudah tidak mampu untuk membuat
tanggapan apapun atas semua kejadian itu. Seperti juga mereka kini
melihat kedua hantu itu bertempur. Tetapi hati mereka telah beku.
Dengan demikian ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali
tidak beranjak dari tempatnya. Duduk bersimpuh dengan nafas yang
hampir-hampir terputus. Dalam keremangan cahaya bulan mereka
dipaksa melihat perkelahian yang semakin lama semakin dahsyat
tanpa dapat berbuat sesuatu dan bahkan apa yang tampak itu
seolah-olah bayangan saja di dalam mimpi yang menakutkan. Dan
apa yang terjadi atas dirinya seperti juga di dalam mimpi, sama
sekali tidak dapat dikendalikannya sendiri.
Perkelahian di antara kedua bayangan yang mengaku diri
masing-masing hantu Karautan itu semakin lama menjadi semakin
sengit. Masing-masing telah bergerak dalam tata perkelahian yang
aneh yang lain daripada tata perkelahian yang biasa. Mereka
mengayunkan pedang-pedang mereka diiringi oleh teriakan nyaring
dan pekik yang melengking-lengking.
Hantu yang datang berkuda benar-benar mampu bergerak
dengan langkah-langkah yang penuh melontarkan tenaga, namun
hantu yang lain mampu menyusup dalam setiap gerak lawannya
dengan patukan-patukan pedang yang sangat berbahaya.
Semakin lama perkelahian itu menjadi semakin sengit. Seperti
dua ekor ayam jantan yang berlaga. Ketika tubuh-tubuh mereka
telah dibasahi oleh keringat, maka tenaga mereka pun menjadi
semakin dahsyat. Desak mendesak, dorong mendorong dalam
kekuatan yang seimbang.
Ketiga anak muda Panawijen sama sekali tidak dapat menilai,
bagaimanakah perkelahian itu terjadi. Mereka hanya melihat saja
gerak yang liar dan kasar. Lontar melontar dalam sikap yang ganas
dan buas, seperti binatang buas yang berlaga berebut mangsa.
Keduanya sama sekali tidak pernah mempertimbangkan apa saja
yang sedang mereka lakukan untuk mengalahkan lawannya.
Sesaat perkelahian itu menjadi semakin jelas karena tiba-tiba
onggokkan kayu di atas bara di perapian menyala dengan
sendirinya. Menyalanya tidak begitu besar, namun cukup
melontarkan sinar yang kemerah-merahan jatuh di atas tubuh-tubuh
mereka yang sedang bertempur, sehingga tubuh-tubuh yang basah
oleh keringat itu seolah-olah berlapis tembaga yang merah
mengkilap.
Namun sesuatu yang tidak diketahui oleh ketiga anak-anak muda
Panawijen itu adalah perkembangan dari perkelahian itu.
Perkelahian yang kasar dan liar itu justru semakin lama menjadi
semakin teratur. Ketika tenaga mereka telah menjadi semakin susut,
maka mulailah mereka dengan sungguh-sungguh berusaha untuk
memusnahkan lawan-lawan mereka. Karena itulah maka kemudian
mereka lelah didorong dalam suatu keadaan yang memaksa. Mereka
tidak dapat lagi bergerak-gerak dengan liar dan asal saja
mengayunkan pedang-pedang mereka. Bagaimanapun juga, maka
akhirnya, mereka akan sampai pada tata gerak perkelahian yang
sebenarnya.
Ketika kedua belah pihak telah merasa jemu dengan segala
macam tingkah laku yang gila itu, tanpa mereka sadari, maka
mulailah perkelahian itu meningkat dalam perkelahian yang
sebenarnya. Hantu yang berkuda benar-benar telah kehilangan
kesabarannya melawan hantu gila yang memekik-mekik dan
melonjak-lonjak seperti monyet kepanasan, sehingga lambat laun,
maka tata geraknya pun berubah pula. Semakin mantap dan
semakin tenang. Hantu itu tidak lagi menyambar-nyambar dengan
lontaran-lontaran yang panjang dan gerak-gerak yang dahsyat.
Justru semakin lama geraknya semakin dibatasi dan semakin
mapan.
Ternyata lawannya pun mengimbanginya. Hantu gila itu kini
sudah tidak memekik-mekik lagi. Meskipun mula-mula ia masih
mencoba melawan hantu berkuda itu dengan cara yang gila, namun
lambat laun hantu itu pun dipaksa untuk mengubah tata gerak
perkelahiannya. Karena hantu berkuda itu menjadi semakin tenang
dan mapan, maka hantu yang gila itu pun menjadi semakin tenang
pula. Berbareng dengan itu, maka teriakan-teriakan dan pekik yang
melengking-lengking itu pun berkurang pulalah.
Kini mereka bertempur semakin wajar. Hantu berkuda itu dengan
tangkasnya memutar senjatanya dalam arah-arah yang berbahaya
dan mengerikan. Ujung pedangnya tidak lagi asal menyambarnyambar
dengan dahsyatnya seperti orang menakut-nakuti burung
di sawah. Demikian pula hantu yang gila itu. Pedangnya seakanakan
menjadi semakin tenang pula. Meskipun kadang-kadang
pedang itu berputar seperti baling-baling dan mematuk dari segenap
arah, tetapi semuanya telah diperhitungkan dengan cermat
Hantu-hantu itu sendiri semakin lama semakin menyadari
kedudukannya pula. Mereka tidak lagi dapat membuat dirinya
berbuat aneh-aneh lagi. Kini mereka telah tenggelam dalam
pertempuran antara hidup dan mati dengan ilmu-ilmu mereka yang
semakin lama semakin wajar.
Namun sekali-sekali masih terdengar hantu yang datang berkuda
itu mengumpat-umpat dalam bahasa yang kasar. Seakan-akan ia
sama sekali tidak rela menghadapi lawan yang mampu
mengimbanginya. Dan bahkan ternyata semakin lama hantu yang
gila itu semakin menggelisahkannya. Ketika pertempuran itu
kemudian mencapai puncaknya, maka menggeramlah hantu yang
gila itu. Dengan sinar mata yang menyala-nyala ia menyerang
lawannya sejadi-jadinya, sehingga beberapa kali hantu yang datang
berkuda itu melangkah surut. Namun hantu yang datang berkuda
itu pun tidak kurang marahnya. Dicobanya untuk memeras segenap
kemampuan yang ada padanya, dan dicobanya untuk segera
membinasakan lawannya dengan pedangnya yang berkilat-kilat
memantulkan cahaya api kemerah-merahan.
Akhirnya mereka sampai pada saat-saat yang akan menentukan
perkelahian itu. Mereka telah memeras tenaga mereka habishabisan.
Kini mereka tidak lagi bertempur dengan kasar dan liar.
Tetapi mereka seakan-akan dua panglima perang yang bertemu
dalam satu pertempuran atau antara dua orang kesatria yang
sedang berkelahi untuk mempertaruhkan kebesaran nama masingmasing.
Dalam pada itu angin malam masih juga berhembus perlahan.
Daun-daun perdu di gerumbul-gerumbul di sekitar perkelahian itu
bergerak-gerak dalam belaian malam yang lembut. Suaranya
gemercik memilukan, seakan-akan mereka sedang merintih melihat
perkelahian antara hidup mati dari dua orang yang menamakan diri
masing-masing hantu padang Karautan.
Dalam saat-saat terakhir itu, mereka tidak dapat lagi
menyembunyikan kedahsyatan ilmu-ilmu mereka masing-masing.
Ilmu-ilmu itu tanpa mereka kehendaki, telah melancar dalam
kedahsyatan perkelahian, karena keadaan mereka yang semakin
lama menjadi semakin sulit. Libatan-libatan serangan lawan telah
memaksa mereka masing-masing untuk mempergunakan ilmu
puncak yang mereka miliki.
Dengan demikian, maka mereka tidak lagi sekedar bertempur
karena mereka masing-masing ingin mempertahankan gelar yang
mereka perebutkan. Hantu Karautan. Namun mereka telah benarbenar
dibakar oleh nyala dendam di dalam hati mereka masingmasing.
Dalam pada itu, api di perapian semakin lama menjadi semakin
besar juga. Onggokkan kayu yang begitu saja ditimbun di atasnya
kini telah menyala seluruhnya, sehingga tempat di sekitar
perkelahian itu menjadi semakin terang.
Api itu ternyata tidak saja menerangi tempat di sekitarnya,
namun nyalanya lepas sampai ke tempat yang jauh. Seperti juga
hantu berkuda itu melihat api dari kejauhan dan mendekatinya,
maka tiba-tiba orang-orang yang berada di dekat perapian itu sekali
lagi terkejut. Kedua hantu yang sedang bertempur itu pun terkejut
pula, sedang ketiga anak-anak muda Panawijen hampir tidak tahu
apakah yang dirasakannya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi
kemudian. Dalam keremangan cahaya bulan, dan disela-sela dering
senjata beradu, sekali lagi bergemalah suara derap kaki kuda. Mau
tidak mau hantu yang sedang bertempur itu berusaha untuk melihat
siapakah yang datang mengganggu perkelahian itu.
Sebenarnyalah dari kejauhan mereka melihat seekor kuda
berpacu cepat sekali mendatangi mereka. Debu yang putih melontar
naik ke udara. Rupa-rupanya api yang menyala itu telah menarik
perhatian penunggangnya.
Tanpa dikehendaki sendiri, maka pertempuran itu mengendur
sesaat. Mereka bersama-sama ingin melihat siapakah yang baru
datang itu. Apakah orang itu juga akan mengaku hantu padang
Karautan dan akan turut serta bertempur di antara mereka, atau
orang lain yang hanya tertarik oleh nyala api itu saja.
Demikian penunggang kuda itu semakin dekat, maka dada kedua
hantu yang bertempur itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang
berkuda, itu adalah seorang yang berpakaian lengkap sebagai
seorang Pelayan Dalam Istana Tumapel. Pelayan dalam itu agaknya
terkejut pula melihat perkelahian di padang rumput Karautan.
Karena itu, maka segera ia memacu kudanya semakin cepat.
Ketika pelayan dalam istana itu sudah semakin dekat, tiba-tiba
terdengar salah seorang hantu itu melengking, “He, apa kerjamu di
sini?”
Pelayan dalam itu tidak segera menjawab. Demikian sampai di
tempat itu, maka segera ia menarik kekang kudanya dan
mengamat-amati daerah di sekitarnya dengan seksama. Ia melihat
kemudian tiga anak-anak muda yang duduk membeku. Dilihatnya
pula beberapa alat dan perlengkapan yang berserakan di dekat
perapian. Dan dilihatnya pula kedua hantu yang berpakaian anehaneh.
Kehadiran penunggang kuda itu benar mempengaruhi perasaan
kedua hantu yang sedang bertempur itu. Namun hantu gila tiba-tiba
berteriak sambil meluncurkan ujung pedangnya. “Jangan hiraukan
kehadirannya. Marilah kita selesaikan persoalan kita. Akulah hantu
padang Karautan.”
Hantu yang datang berkuda terkejut. Namun segera ia berhasil
menguasai dirinya. Dengan cepatnya ia menghindari serangan itu,
dan dengan cepatnya pula ia telah melibatkan diri dalam
perkelahian yang semakin sengit.
Senjata-senjata mereka berputar dengan dahsyatnya,
melontarkan udara maut. Dari mata mereka memancar dendam
yang tiada taranya satu sama lain, sehingga seakan-akan hanya
mautlah yang dapat menghentikan perkelahian itu.
Penunggang kuda yang berpakaian seorang pelayan dalam itu,
melihat perkelahian kedua hantu itu dengan seksama.
Sekali-sekali tampak keningnya berkerut, namun sekali tampak
wajah itu menjadi tegang. perlahan-lahan ia meloncat turun dari
kudanya dan berjalan mendekati titik perkelahian itu. Sebuah
pedang yang besar tergantung di sisi tubuhnya dalam sarungnya
yang putih gemerlap.
Hantu yang gila itu tiba-tiba berteriak nyaring, “He, pedang
kalian berdua mirip benar bentuk dan sarungnya.”
Hantu berkuda itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab, sedang
penunggang kuda yang datang itu mengerutkan keningnya.
Dicobanya untuk menangkap setiap gerak yang terlontar dan
setiap ilmu yang memancar dari kedua hantu itu.
Tetapi orang itu belum berbuat sesuatu. Hanya kadang-kadang
tampak tangannya meraba-raba hulu pedangnya. Tetapi kembali
kedua tangannya tergantung lepas di sisi tubuhnya.
Namun ketika sekali lagi terpandang olehnya ketiga anak-anak
muda yang ketakutan itu, maka kembali dahinya berkerut-kerut.
perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya sambil bertanya, “He,
siapakah kalian bertiga?”
Ketiga anak-anak muda itu memandanginya dengan wajah
kosong. Tetapi ketika tampak olehnya bahwa orang itu sama sekali
bukan sejenis kedua hantu yang bertempur, maka tiba-tiba di sudut
hatinya memancar kembali harapan betapapun kecilnya. Karena itu,
maka dengan penuh ketakutan salah seorang dari mereka
menjawab, “Kami anak-anak Panawijen, Tuan.”
“Kenapa kalian berada di tempat ini?”
Pertanyaan itu telah mengingatkannya kepada tugas yang
menyeretnya ke tempat terkutuk itu. Maka dengan terbata-bata
Patalan menjawab, “Kami datang bersama Mahisa Agni, Tuan. Kami
ingin mencari tempat untuk membuat bendungan.”
Penunggang Kuda yang berpakaian pelayan dalam istana itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Di mana Mahisa
Agni sekarang?”
“Ke sungai, Tuan. Mencari air,” jawab Sinung Sari.
Pelayan dalam itu mengangguk-angguk, desisnya, “Jangan takut.
Aku akan mengatasi keadaan.”
Harapan yang tumbuh di dalam dada anak-anak muda Panawijen
itu menjadi semakin berkembang. Sekali lagi dicobanya untuk
menatap wajah pelayan dalam yang tegap, tampan dan
meyakinkan. Bahkan terdengar Jinan berkata, “Tuan, hantu-hantu
itu telah menakutkan kami. Mereka akan membunuh kami.”
Pelayan dalam itu berpaling. Dilihatnya kedua hantu itu masih
bertempur dengan sengitnya. Terdengar ia berkata, “Keduanya
memiliki tenaga yang luar biasa. Siapakah mereka?”
“Kami tidak tahu, Tuan,” sahut Sinung Sari, “mereka menamakan
diri mereka hantu padang rumput Karautan.”
Pelayan Dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia
berdiri tegak dengan kaki renggang. Sebagai seorang petugas istana
maka ia memiliki keberanian untuk menghadapi setiap
kemungkinan. Juga terhadap sepasang hantu yang sedang
bertempur itu.
Sinung Sari yang masih gemetar itu tiba-tiba berkata, “Apakah
Tuan dapat mengusir mereka berdua?”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya. Ia tidak segera
menjawab. Tetapi dicobanya untuk melihat pertempuran itu dengan
seksama.
“Bagaimana, Tuan,” desak Patalan, “apakah Tuan dapat
mengusir hantu-hantu itu?”
“Hantu-hantu itu benar-benar menakutkan,” desisnya, “tetapi
jangan takut. Mudah-mudahan ia tidak akan berbahaya bagiku.”
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi agak tenang.
Setidak-tidaknya mereka akan mendapat perlindungan dari pelayan
dalam ini. Sebagai seorang pejabat istana, maka ia pasti akan
berbuat sesuatu. Bukankah ia seorang yang perkasa menilik sikap
dan ketenangannya? Sementara itu, ketiga anak-anak muda itu
masih mengharap kehadiran Mahisa Agni. Mungkin bersama-sama
Mahisa Agni, maka pelayan dalam itu akan dapat mengalahkan
kedua hantu itu. Atau salah satu di antaranya sesudah yang lain
dikalahkan oleh hantu itu sendiri.
Sekali-sekali ketiga anak muda itu memandangi tebing sungai
yang kelam dan ditutupi oleh rimbunnya dedaunan. Di sana tadi
Mahisa Agni menghilang. Dan dari sana pula mereka mengharap
Mahisa Agni akan muncul.
Tetapi Mahisa Agni itu tidak segera datang kembali. Sungai itu
tebingnya terlalu curam. Memang agak terlalu sulit untuk menuruni
dan kemudian mendaki tebing itu di malam hari. Namun
beruntunglah ketiga anak-anak muda itu, bahwa tiba-tiba hadir di
padang rumput ini seorang pejabat dari istana.
Kedua hantu itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Bahkan
semakin lama semakin sengit. Hantu yang berkuda itu kini tidak lagi
melontar-lontarkan dirinya, dan hantu gila itu sudah tidak
melonjaklonjak
lagi sambil memekik-mekik. Mereka bertempur dengan
serunya, sebagai sepasang burung elang yang berlaga di udara.
Sambar menyambar, patuk-mematuk dengan ujung-ujung senjata
masing-masing.
Namun semakin lama pelayan dalam itu melihat, bahwa hantu
yang datang berkuda, semakin lama menjadi semakin sulit. Ia
terpaksa beberapa kali melontar mundur, dan seolah-olah sudah
tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang hantu itu hanya
mampu bertahan dan menghindar.
Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seakanakan
ia sudah dapat menemukan siapakah yang akan
memenangkan pertempuran itu. Bahkan ia sedang menilai kesaktian
keduanya. Tetapi tiba-tiba pelayan dalam itu tersenyum.
Kedua hantu yang bertempur itu benar-benar telah memeras
segenap kemampuan yang ada di dalam diri masing-masing. Namun
seperti pengamatan pelayan dalam itu, mereka pun agaknya telah
menyadari akhir dari perkelahiannya. Hantu yang datang berkuda
itu benar-benar telah terdesak. Beberapa kali ia meloncat surut dan
beberapa kali ia mengeluh di dalam hatinya.
Namun tiba-tiba terjadilah sesuatu di luar dugaan. Di luar dugaan
pelayan dalam yang menyaksikan perkelahian itu, dan di luar
dugaan hantu yang mirip orang gila.
Tiba-tiba saja, hantu yang datang berkuda itu melontar mundur
beberapa langkah. Kemudian ujung pedangnya mengungkit tanah
berdebu di bawah kakinya di arahkan ke wajah lawannya. Segumpal
tanah melontar menghambur ke wajah hantu gila itu. Dengan
demikian, maka ia terpaksa berhenti dan berusaha menutup
matanya supaya tidak kemasukan debu.
Kesempatan itulah yang ingin didapat oleh hantu berkuda itu.
Ketika ia melihat lawannya menutup matanya dan bahkan dengan
tangan kirinya mengusapi debu di wajah, cepat-cepat ia berlari dan
meloncat ke punggung kudanya. Dengan satu sentakan kuda itu
melonjak dan kemudian meloncat berlari meninggalkan perapian,
hantu gila dan pelayan dalam yang berdiri keheranan. Namun
dengan demikian pelayan dalam itu menyadari keadaan, ia pun siap
berlari ke arah kudanya, untuk mengejar hantu berkuda itu. Tetapi
alangkah kecewanya. Dengan menggeram ia mengumpat tak
habisnya. Hantu berkuda itu sempat menyentuh pantat kuda
pelayan dalam itu sehingga kuda itu terkejut dan melonjak
melingkar-lingkar.
“Gila!” gerutu pelayan dalam itu sambil berusaha menenangkan
kudanya kembali. perlahan-lahan ditepuk-tepuknya leher kudanya
dan dengan siulan ia mencoba menguasai kudanya itu. Lambat laun
kuda itu dapat ditenangkannya. Namun hantu berkuda yang akan
dikejarnya telah menghilang jauh ke tengah-tengah padang rumput.
Dalam keremangan cahaya bulan masih tampak lamat-lamat debu
yang mengepul. Tetapi untuk mengejarnya, adalah sangat sulit bagi
pelayan dalam itu. Jaraknya telah terlampau jauh.
Karena itu maka ia sama sekali tidak berusaha untuk
mengejarnya. Kini yang dihadapinya adalah hantu yang gila itu.
Hantu yang rambutnya terurai dan sama sekali tidak
mempergunakan secarik kain pun kecuali hanya celananya yang
disangkuti dedaunan dan sulur-sulur perdu.
Sesaat mereka berdiri dengan tegangnya. Hantu gila itu masih
menggenggam pedangnya. Selangkah ia maju, dan sambil tertawa
ia berkata melengking, “Kenapa tidak kau kejar orang yang
mencoba menamakan diri Hantu Karautan itu?”
Pelayan dalam itu tertawa. Wajahnya kini sudah tidak tegang
lagi. ia pun melangkah maju sambil menjawab, “Kenapa kau juga
tidak mengejarnya?”
“Aku tidak membawa kuda,” jawab hantu itu.
“Apakah hantu memerlukan kuda?” sahut pelayan dalam.
Hantu itu terdiam sesaat. Diamat-amatinya pelayan dalam yang
berdiri tegak dalam pakaian yang lengkap dan pedang di
lambungnya.
“Apa kerjamu di sini,” bertanya hantu itu.
“Melihat hantu-hantu berkelahi,” jawabnya.
“Hanya ada satu hantu di padang Karautan. Kau lihat, orang
yang menamakan dirinya hantu itu telah pergi.”
“Itulah yang ingin aku ketahui. Siapakah yang sebenarnya hantu
Karautan. Kau atau yang terpaksa lari berkuda itu?”
Hantu itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah pelayan dalam itu
dengan seksama. Baru kemudian terdengar jawabnya melengking,
“Aku. Akulah hantu Karautan.”
Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang sesudah orang yang
menamakan hantu itu pergi?”
Kembali hantu itu ragu-ragu sejenak. Kemudian dipalingkannya
wajahnya memandangi ketiga anak-anak muda Panawijen yang
ketakutan itu. Namun kini hati mereka telah agak tenteram.
Sebab mereka akan dapat mencari perlindungan kepada pelayan
dalam yang perkasa dan meyakinkan itu.
Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu terkejut bukan
buatan ketika hantu itu menjawab, “Aku kini akan menikmati
kemenanganku.”
Pelayan dalam itu mengerutkan keningnya, kemudian terdengar
ia bertanya, “Apakah yang kau dapatkan dari kemenangan itu?”
“Ketiga anak-anak muda itu akan menjadi korbanku. Korban
hantu Karautan.”
Sekali lagi pelayan dalam itu mengerutkan keningnya, dan sekali
lagi hati ketiga anak muda Panawijen menjadi berdesir.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Hantu Karautan itu memiringkan kepalanya. Kemudian dengan
suara melengking ia menjawab, “Menghisap darahnya.”
“Tuan,” terdengar Sinung Sari memekik kecil, “Tolonglah kami.”
Pelayan dalam itu menarik nafas. Sekali dipandangnya wajah
ketiga anak-anak muda yang ketakutan.
Ketiga anak-anak muda itu menggigil ketika ia mendengar
pelayan dalam itu berkata, “Nah, hantu itu tinggal satu. Apakah
kalian bertiga tidak berani melawannya?”
Jinan yang gemetar berkata tergagap, “Tolonglah kami. Kami
tidak pernah berkelahi. Apalagi melawan hantu.”
“Jangan banyak bicara,” teriak hantu gila itu, “sekarang kalian
satu demi satu, bersimpuh di hadapanku. Aku akan menghisap
darahmu lewat tengkukmu.”
Dan kepada pelayan dalam hantu itu berkata, “Bukankah begitu
kebiasaan hantu-hantu. Menghisap darah lewat tengkuk korbannya
yang harus bersimpuh sambil menundukkan kepalanya?”
Pelayan dalam itu menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian
sahutnya. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”
Terdengar hantu itu menggeram. Kemudian suara tertawanya
melonjak tinggi. Berkepanjangan membelah kesepian Padang
Karautan.
Tanpa dikehendakinya pelayan dalam itu pun tersenyum. Tetapi
segera ia membentak, “He, kenapa kau tertawa?”
Hantu itu menjawab, “Kau pun akan menjadi korban yang
seharga. Ayo, apakah kau yang pertama-tama akan duduk
bersimpuh di hadapanku sambil menundukkan kepala?”
“Aku datang terakhir. Karena itu, kalau kau kehendaki, aku
adalah korban yang terakhir.”
“Bagus. Bagus. Sekarang biarlah ketiga anak-anak muda itu
dahulu.”
“Tuan,” Patalan menjerit, “tolonglah kami Tuan. Bukankah Tuan
telah sanggup?”
“Kenapa kalian menjadi ketakutan menghadapi hantu yang hanya
satu ini,” bertanya pelayan dalam itu, “bukankah kalian bertiga dan
bersenjata?”
“Aku tidak. Senjatakulah yang dibawa oleh hantu itu.”
“Oh, kalau demikian, biarlah senjata itu aku minta untukmu. Atau
kau ingin memakai senjataku?”
“Tidak Tuan,” minta Jinan, “tuan akan menolong kami.”
“Baik. Aku akan menolong kalian, kalau kalian telah berbuat
sesuatu. Karena itu, lawanlah hantu itu, nanti kalau kalian
ternyata
tidak mampu, biarlah aku melawannya.”
Ketiga anak-anak itu terdiam. Namun tubuhnya menggigil karena
ketakutan. Hanya sorot mata merekalah yang berbicara. Mohon
belas kasihan pelayan dalam yang perkasa itu.
“Bagaimana?” bertanya pelayan dalam itu.
Mulut ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan telah
terbungkam. Mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk
berbuat sesuatu. Apalagi melawan hantu itu.
Tetapi tiba-tiba adalah seorang dari mereka teringat, bahwa
mereka sedang menunggu Mahisa Agni. Mereka mengharap bahwa
Mahisa Agni itu akan segera kembali. Karena itu maka katanya
kepada pelayan dalam itu. “Tuan Kami mempunyai seorang kawan
lagi. Kalau kawan kami itu segera datang, maka kami mengharap,
bahwa ia akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu Tuan, kami
mengharap Tuan menolong kami sampai kawan itu datang.”
Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, “Siapakah yang kau
maksud?”
“Mahisa Agni, Tuan,” jawab Patalan, “seperti yang sudah kami
katakan.”
“Apakah kau pasti bahwa ia akan datang?”
“Pasti, Tuan. Ia akan segera datang.”
Pelayan dalam itu berpaling kepada hantu yang gila itu. Katanya,
“Apakah kau sudah bertemu dengan seorang anak muda yang
bernama Mahisa Agni di tebing sungai? Atau barang kali darahnya
sudah kau hisap pula?”
Sebelum hantu itu menjawab, terdengar Sinung Sari berkata,
“Tuan, Mahisa Agni berkata, bahwa ia sudah kenal dengan hantu
Karautan.”
Hantu itu sesaat berdiam diri. Hanya matanya sajalah yang
tampak berkedip-kedip di atas secarik kain yang menutupi
wajahnya.
“Bagaimana,” desak pelayan dalam itu, “bagaimana dengan
Mahisa Agni. Apakah sudah kau hisap darahnya, apakah betul kata
anak muda itu, bahwa Mahisa Agni telah mengenal hantu
Karautan?”
Hantu itu mengangguk-angguk, kemudian terdengar ia
menggeram.
“Bagaimana sebaiknya,” katanya kepada pelayan dalam itu,
“apakah sebaiknya aku minum darahnya atau tidak?”
“Kenapa kau bertanya kepadaku?” sahut pelayan dalam itu.
“Kau lebih tahu, apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,”
jawab hantu itu.
“Jangan mengigau!” bentak pelayan dalam itu, tetapi kemudian
ia tersenyum. Hantu itu pun tertawa melengking.
Ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi semakin tidak
mengerti. Kenapa pembicaraan keduanya terasa bersimpang siur tak
menentu. Bahkan kemudian hantu Karautan itu berkata, “Lalu,
bagaimana dengan ketiga anak-anak muda itu?”
Dada ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi kembali
bergetaran. Harapannya untuk mendapat perlindungan pelayan
dalam itu semakin tipis. Bahkan kemudian timbullah ketakutan yang
lain di dalam hatinya, apakah yang berpakaian pelayan dalam itu
hantu pula yang sedang menyamar?
Dalam ketakutan itu ia mendengar pelayan dalam berkata,
“Apapun yang akan kau lakukan, perhitungkanlah baik-baik. Apabila
Mahisa Agni nanti datang, maka kau harus bertanggung jawab
kepadanya.”
Hantu gila itu memiringkan kepalanya, kemudian terdengar ia
bertanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Apakah betul Mahisa
Agni akan datang kemari?”
Tiba-tiba tanpa sesadarnya Patalan menyahut, “Ya. Ia pasti akan
datang kemari.”
“Omong kosong!” teriak hantu itu.
“Benar,” sahut Sinung Sari dan Jinan hampir bersamaan, “Ia pasti
akan datang.”
Tiba-tiba hantu itu menjadi gelisah. Ditebarkannya pandangan
matanya berkeliling. Kemudian katanya, “Kau hanya ingin
menakutnakuti
aku.”
“Tidak. Sebenarnya ia akan datang.”
Hantu itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba ia meloncat berlari
meninggalkan tempat itu sambil berteriak nyaring. “Lebih baik aku
pergi sebelum Mahisa Agni datang. Meskipun hantu Karautan tidak
takut terhadap siapa pun, namun aku tak mau bertengkar dengan
Mahisa Agni itu.”
Kemudian kepada pelayan dalam itu ia berkata lantang,
“Bukankah begitu? Bukankah hantu padang Karautan tidak takut
kepada siapa pun juga. Kepada hantu berkuda yang lari itu, dan
kepada Mahisa Agni?”
“Gila!” gumam pelayan dalam itu. Tetapi ia tidak menjawab.
Dibiarkannya hantu gila itu berlari melonjak-lonjak dan kemudian
menghilang dibalik gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran di
padang itu.
Ketiga anak-anak muda Panawijen memandangi hantu yang gila
itu dengan berdebar-debar. Mudah-mudahan apa yang dikatakan itu
benar. Meskipun ia tidak takut kepada Mahisa Agni, namun ia tidak
akan mau menemui dan bertengkar dengannya.
Tetapi sepeninggal hantu itu, ketiga anak-anak muda Panawijen
menjadi gelisah pula karena pelayan dalam yang aneh itu. Apakah
benar di malam hari yang sepi ada seorang pelayan dalam
berkeliaran di padang Karautan ini? Apakah pelayan dalam ini bukan
sekedar hantu yang lain yang sedang menyamar, bahkan lebih
berbahaya dari hantu yang lari itu? Kalau demikian maka pasti ada
lebih dari satu hantu di padang ini, seperti hantu yang dikatakan
oleh Mahisa Agni tidak akan lagi berada di padang ini, namun
ternyata masih ada hantu-hantu yang lain yang berkeliaran.
Dalam kecemasan dan kegelisahan itu, mereka bertiga melihat
pelayan dalam itu datang kepada mereka sambil tersenyumsenyum.
Meskipun pelayan dalam itu tersenyum, namun senyumnya
itu sama sekali tidak memberi ketenangan kepada mereka seperti
ketika ia baru datang.
Tiba-tiba pelayan dalam itu bertanya, “Kau belum mengenal
hantu padang Karautan?”
Pertanyaan itu menjadi semakin mendebarkan hati mereka.
Dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Belum Tuan. Baru kali ini
aku melihat mereka berdua bertempur.”
Pelayan Dalam itu tertawa. Katanya, “Kenapa kalian menjadi
sangat ketakutan?”
“Kami tidak pernah bertemu dengan hantu.”
“Seharusnya kalian tidak takut. Bukankah kalian laki-laki yang
tegap dan gagah?”
“Tetapi hantu-hantu adalah makhluk yang sakti.”
“Kau percaya?”
Ketiga anak-anak muda itu mengangguk bersama-sama. Karena
itulah maka orang yang berpakaian pelayan dalam itu tertawa
terbahak-bahak.
“Terlalu,” katanya, “kalian adalah penakut-nakut yang sama
sekali tidak percaya kepada diri sendiri. Seharusnya kalian
berusaha
untuk melindungi diri kalian dengan ketegapan dan kekekaran tubuh
kalian. Aku kira tenaga kalian tidak akan kalah dengan tenaga hantu
yang paling dahsyat sekalipun seandainya kalian berusaha.”
Ketiganya tidak menjawab. Namun darah mereka serasa berhenti
ketika tiba-tiba mereka mendengar pelayan dalam itu berkata
lantang, “Akulah sebenarnya hantu Karautan.”
Orang yang berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana
itu bertolak pinggang. Dengan sinar yang tajam menusuk jantung,
dipandanginya ketiga anak-anak Panawijen yang hampir menjadi
pingsan.
“Nah. Apakah kalian tidak percaya bahwa akulah sebenarnya
hantu Karautan? Lihat, kedua orang yang mengaku-ngaku hantu itu
semuanya telah melarikan dirinya. Dan bukankah kau dengar hantu
yang terakhir itu mengatakan bahwa aku lebih tahu apa yang harus
dilakukan oleh hantu Karautan,” berkata orang itu lebih lanjut.
Darah ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan sudah
benar-benar membeku, sehingga mereka sudah tidak dapat
memberikan tanggapan apapun atas pertanyaan orang itu. Hanya
mata mereka sajalah yang berkedip-kedip dan nafas merekalah
yang berkejaran semakin cepat.
Tetapi tiba-tiba, dari balik gerumbul di hadapan mereka, sekali
lagi mereka melihat sesosok bayangan yang berjalan semakin lama
semakin dekat menjinjing bumbung bambu.
Dengan serta-merta hampir bersamaan, ketiga anak muda
Panawijen itu berdesis, “Agni. Mahisa Agni telah datang.”
Orang yang berpakaian dalam itu mengerutkan keningnya, “Apa?
Kau menyebut-nyebut nama Mahisa Agni?”
“Ya. Mahisa Agni telah datang,” jawab mereka bersamaan.
Wajah-wajah mereka tiba-tiba menjadi agak cerah dan harapan
timbul kembali di dalam dada mereka.
Sebenarnya orang yang datang itu adalah Mahisa Agni.
Orang yang berpakaian hamba istana dan menamakan diri hantu
Karautan pula itu pun berpaling. ia pun segera melihat Mahisa Agni
berjalan ke arah mereka. Semakin lama semakin dekat.
“Itukah yang kau sebut Mahisa Agni,” geram pelayan dalam itu.
“Ya.”
Pelayan dalam itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya
sosok tubuh yang semakin dekat itu.
Mahisa Agni, yang berjalan dengan tenangnya, segera sampai
pula di antara anak muda Panawijen yang masih menggigil
ketakutan. Dengan heran Mahisa Agni memandang wajah-wajah
mereka, sehingga kemudian ia bertanya, “Kenapa kalian menggigil
seperti orang kedinginan?”
Sinung Sari menunjuk kepada orang yang berpakaian pelayan
Dalam itu sambil berkata gemetar, “Hantu Karautan.”
“He?” Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
Sekali lagi Sinung Sari menunjuk orang itu. Tetapi mulutnya
terbungkam.
Mahisa Agni kemudian meletakkan barang-barang yang
dijinjingnya. Bumbung-bumbung bambu dan sebilah pedang
terhunus. Sedang pedangnya sendiri masih tergantung di
lambungnya.
“Benarkah kau hantu padang Karautan,” bertanya Mahisa Agni.
Pelayan dalam itu mengangguk sambil bertolak pinggang, “Ya,
Akulah hantu Karautan.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
selangkah ia maju. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Adalah
kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan hantu padang Karautan.
Duduklah!”
Pelayan dalam yang menamakan dirinya hantu padang Karautan
itu tertegun sejenak. Namun Mahisa Agni telah mendahului duduk di
samping perapian, di antara barang-barangnya yang berserakan.
“Duduklah!” ia mempersilakan sekali lagi.
Ketiga anak muda Panawijen itu terbelalak ketika mereka
melihat, hantu itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.
“He, kemarilah!” panggil Mahisa Agni sambil berpaling kepada
ketiga kawan-kawannya, “mungkin kau belum mengenal hantu ini.
Aku mula-mula agak lupa melihat tampangnya yang gagah. Tetapi
akhirnya aku dapat mengenalnya meskipun ia menyamar sebagai
pelayan dalam Istana Tumapel.”
Sesaat ketiga kawan-kawannya saling berpandangan Namun
kembali terdengarlah Mahisa Agni memanggil, “Kemarilah! Hantu ini
sama sekali tidak menakutkan. Ia adalah hantu yang baik hati.”
Ketika mereka melihat Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi
cemas dan tegang menghadapi hantu itu, maka perlahan-lahan
mereka bertiga pun beringsut maju mendekati perapian. Satu demi
satu mereka duduk di belakang Mahisa Agni.
“Inilah hantu itu sebenarnya,” berkata Mahisa Agni, “kenapa
kalian menjadi sangat ketakutan. Apakah hantu ini sudah menyakiti
atau menakut-nakuti kalian.”
Ketiga anak muda itu menggeleng.
“Sudah aku katakan. Hantu Karautan sama sekati tidak
menakutkan. Bahkan sekarang kau dapat membuktikan sendiri,
bahwa hantu itu benar-benar berwajah tampan setampan Panji
Asmara Bangun.”
“Ah,” desis hantu itu sambil tersenyum.
Ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali tidak mengerti,
bagaimanakah sebenarnya persoalan yang mereka hadapi. Karena
itu, setelah hatinya agak tenang, Sinung Sari berkata, “Agni. Kalau
yang satu ini benar-benar hantu pula, maka ada tiga hantu di
padang Karautan ini.”
“He,” Mahisa Agni berpaling, “tiga hantu?”
“Ya. ketiga-tiganya baru saja berkumpul di sini. Mengitari
perapian itu.”
“Ah,” sahut Agni, “apakah hantu-hantu itu kedinginan?”
Sinung Sari memandang hantu berpakaian pelayan dalam itu
dengan sudut matanya. Kemudian katanya, “Bertanyalah
kepadanya.”
“Kepada siapa?” bertanya Mahisa Agni.
“Kepada hantu itu,” sahut Sinung Sari.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera
bertanya tentang hantu-hantu itu. Tetapi kepada kawan-kawannya
ia berkata, “Apakah kalian tidak haus. Minumlah. Jalan menuruni
tebing itu sangat sulit, sehingga aku harus sangat berhati-hati.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak merasa haus,
karena perasaan mereka yang masih dicengkam oleh ketakutan atas
apa yang sedang dihadapinya. Karena itu mereka sama sekali tidak
ada minat untuk menyentuh bumbung Mahisa Agni.
“Apakah kalian tidak haus?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya.
Patalan memandangi wajah Agni dengan penuh pertanyaan yang
membayang. Sekali-sekali anak muda itu menggigit bibirnya, dan
sekali-sekali dicobanya untuk menatap wajah pelayan dalam yang
seakan-akan penuh menyimpan rahasia. Rahasia padang rumput
Karautan.
Mahisa Agni melihat pertanyaan yang bergelut di dalam dada
kawan-kawannya. Namun ia tidak segera menjelaskan siapakah
yang menyebut dirinya hantu Karautan yang sedang menyamar
sebagai pelayan dalam itu, bahkan ia bertanya, “Jadi menurut kata
kalian, di sini tadi ada tiga hantu yang berkumpul bersama-sama?”
Ketiga kawannya serentak mengangguk. Dan terdengar Jinan
berkata, “Ya, bertiga. Satu di antaranya adalah yang masih tinggal
itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah yang mereka kerjakan di sini?” bertanya Agni pula.
“Yang dua saling berkelahi. Yang satu itu datang kemudian,”
sahut Jinan.
“Lupakanlah hantu yang dua itu. Mereka tidak akan berani
mengganggu kalian, selagi hantu yang baik hati ini masih di sini,”
gumam Mahisa Agni seolah-olah kepada dirinya sendiri.
Tetapi gumam itu masih belum menjawab pertanyaan yang
bergelut di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu. Sehingga
akhirnya Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Bagaimana Agni.
Apakah kau tidak bertanya kepadanya, tentang kedua hantu yang
lain itu?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Baik,” jawabnya, “tetapi apakah kalian tidak ingin mendengar
nama hantu yang satu ini?”
Anak-anak muda Panawijen itu saling berpandangan, memang
hantu-hantu pun biasanya memiliki sebuah nama. Karena itu, maka
serentak mereka menyahut, “Ya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat hantu yang
berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana itu tersenyum
sambil berdesah, “Ah. Ada-ada kau ini Agni.”
“Bukankah kau hantu padang ini, Hantu yang berhak mendapat
segala macam gelar untuknya. Hantu yang tampan. Hantu yang
mengerikan, menakutkan dan sekarang hantu yang baik hati? Bukan
hantu-hantu yang lain-lain.”
“Sekehendakmulah,” sahut pelayan dalam itu.
“Nah, dengarlah,” berkata Mahisa Agni, “bukankah sudah aku
katakan bahwa aku sudah mengenal hantu Karautan yang
sebenarnya ini? Kalau ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu
itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Hantu yang sebenarnya
tidak akan membiarkan daerahnya menjadi sumber malapetaka.
Karena itu sebagaimana kau lihat, hantu ini hadir pula di sini
menyelamatkanmu. Sebab hantu-hantu yang lain itu pun telah
pergi.”
Jantung Jinan, Patalan dan Sinung Sari menjadi berdebar-debar.
Mereka ingin segera tahu nama hantu yang tampan itu. Tetapi
mereka tidak bertanya, seakan-akan mereka takut kalau-kalau
pertanyaannya tidak menyenangkan hati hantu itu.
Mahisa Agni pun kemudian meneruskan, “Bukankah kau ingin
tahu nama hantu itu? Baiklah. Dengar, namanya Ken Arok.”
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya.
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada mereka. Ken Arok. Namun
namanya itu masih asing bagi mereka.
Mahisa Agni sejenak berdiam diri. Ia ingin melihat getaran
apakah yang timbul di dalam dada kawan-kawannya itu setelah
mereka mendengar nama hantu itu. Namun Mahisa Agni hanya
melihat wajah-wajah itu berkerut. Sesudah itu tidak ada tanggapan
apapun lagi.
Ternyata kawannya belum pernah mendengar nama Ken Arok.
Nama itu akan sama artinya bagi kawan-kawannya apabila ia
menyebut nama yang lain. Witantra misalnya, atau Mahendra atau
Kebo Ijo atau siapa pun. Sebab nama-nama itu pun pasti belum
pernah mereka dengar. Tetapi apabila Mahisa Agni menyebutkan
nama hantu berkuda yang melarikan diri itu, pastilah mereka akan
terkejut sekali.
Ken Arok sendiri menarik nafas dalam-dalam ketika sama sekali
tidak tampak persoalan-persoalan yang tumbuh karena namanya.
Mula-mula ia menjadi bimbang. Mungkin namanya sudah dikenal
oleh ketiga anak-anak muda itu dahulu sebagai orang buruan,
sebelum ia bersembunyi di padang Karautan. Dan menyebut dirinya
dan disebut orang hantu padang Karautan.
“Bukankah sekarang telah kalian saksikan sendiri,” berkata
Mahisa Agni, “bahwa hantu Karautan adalah hantu yang baik hati.
Dan seandainya ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu yang
lain dan jahat itu sama sekali bukan hantu Karautan.”
“Siapakah mereka itu?” perlahan-lahan terdengar Sinung Sari
bertanya.
“Hantu tiruan,” sahut Agni cepat-cepat, “dan bukankah nyata
bahwa tak ada satu pun dari mereka yang berani melawan hantu
ini?”
Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk.
“Hantu ini pun kini telah menjelma menjadi seorang manusia
biasa. Ia sama sekali tidak sedang menyamar sebagai pelayan
dalam Istana Tumapel. Tetapi ia benar-benar menjadi pelayan
dalam.”
Ketiga anak-anak muda itu menjadi beragu sejenak. Mereka tidak
dapat mengerti bagaimana seorang pelayan dalam istana itu
sebenarnya adalah hantu.
Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia
menjelaskan, “Jangan ragu-ragu akan keteranganku. Ken Arok
bukan hantu. Ia adalah seorang manusia biasa. Hantu Karautan itu
sama sekali tidak ada.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi bingung. Sekali-sekali mereka
saling berpandangan, namun sekali-sekali mata mereka
berpindahpindah
dari Mahisa Agni kepada Ken Arok berganti-ganti.
Apalagi ketika Mahisa Agni itu berkata seterusnya, “Yang dua,
yang bertempur itu pun sama sekali bukan hantu. Mereka hanya
ingin menakut-nakuti kalian dan menamakan diri mereka hantu
padang Karautan.”
“Jadi siapakah mereka itu?” sela Patalan.
Mahisa Agni diam sesaat. Ditatapnya wajah ketiga kawankawannya
berganti-ganti dan sesaat kemudian ditatapnya wajah
Ken Arok yang duduk di sampingnya. Dilihatnya wajah ketiga
kawannya itu menjadi tegang karena kebingungan yang semakin
mendesak di dalam dada mereka.
Baru sesaat kemudian Mahisa Agni berkata, “Apakah kau juga
ingin tahu siapakah yang datang berkuda dan menamakan dirinya
hantu Karautan itu?”
Ketiga kawan-kawannya mengangguk.
“Orang itulah yang telah membuat bencana selama ini,” desis
Mahisa Agni, “Pasti orang itu pula yang telah melakukan pencegatan
di padang rumput Karautan beberapa hari yang lalu seperti berita
yang kau katakan pada saat kita akan memasuki padang ini.”
Ketiga kawan-kawannya mengangguk.
“Seharusnya kau mengenalnya,” berkata Mahisa Agni pula,
“seperti hantu jadi-jadian itu mengenal namamu. Bukankah hantu
itu mengenalmu, mengenal namamu satu persatu?”
Jinan, Patalan dan Sinung Sari mengangguk, tetapi mereka
menjadi semakin bingung. Bagaimana mungkin mereka dapat
mengenal nama hantu itu, meskipun hantu jadi-jadian sekalipun?
Namun mereka hampir menjadi pingsan ketika Mahisa Agni
benar-benar menyebut nama hantu itu, katanya, “Nah, ketahuilah,
hantu itu bernama Kuda Sempana.”
“Kuda Sempana?” berbareng ketiga anak-anak muda Panawijen
itu mengulangi nama itu.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
tersenyum, “Ya, hantu itulah Kuda Sempana.”
Sesaat ketiga anak muda itu diam mematung. Sesaat mereka
tenggelam dalam perasaan yang aneh. Kuda Sempana. Bagaimana
mungkin anak itu berada di padang rumput dalam pakaian yang tak
teratur dan kusut. Bukankah anak muda itu berada di istana.
Dengan penuh kebimbangan Sinung Sari bertanya, “Mahisa Agni.
Apakah mungkin terjadi, Kuda Sempana yang perkasa itu berada di
padang ini? Bukankah ia berada di Tumapel?”
“Orang itu sebenarnya Kuda Sempana,” jawab Mahisa Agni,
“Tetapi aku tidak tahu, apa sebabnya ia berada di padang ini.
Mungkin Ken Arok dapat menjawab pertanyaan itu, dan mungkin
Ken Arok pun akan dapat mengatakan, kenapa ia sendiri pun berada
di padang ini pula.”
Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Mungkin aku dapat mengatakan
kepada kalian, kenapa Kuda Sempana berada di padang rumput ini,
meskipun apa yang aku ketahui pun tidak terlalu banyak. Yang
paling aku ketahui tentang diriku sendiri, kenapa aku berada di
padang rumput ini.”
“Ya. Juga tentang dirimu,” sahut Agni.
“Aku datang kembali ke padang rumput ini karena aku juga
mendengar bahwa hantu padang Karautan telah timbul kembali,”
berkata Ken Arok, “adalah benar-benar menyinggung perasaanku,
bahwa hantu yang telah hilang itu datang kembali di padang ini
untuk melakukan pekerjaannya. Karena itulah, maka aku minta izin
kepada atasanku untuk berusaha menangkap hantu itu.”
Mahisa Agni tertawa mendengar keterangan Ken Arok, katanya,
“Bukankah kau merasa bahwa pekerjaanmu disaingi?”
Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Orang masih akan tetap
menyangka bahwa hantu yang dahulu itu pulalah yang datang
kemudian.”
“Apakah pemimpinmu tahu, bahwa hantu yang dahulu bernama
Ken Arok?”
“Tidak seorang pun tahu, selain Empu Purwa bersama muridnya.
Dan kini, karena kau, ketiga kawan-kawanmu itu tahu pula.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
kemudian, “Kau mendapat izin itu agaknya. Tetapi kau belum
berhasil menangkap hantu itu.”
“Ya. Tetapi aku sudah melihat hantu itu dan aku dapat
mengenalnya pula, setelah beberapa malam aku berkeliaran di
padang ini.”
“Tetapi kenapa kau tertarik ke tempat ini? Bukankah daerah
perburuan hantu-hantu itu tidak di sini?”
“Aku melihat api. Barangkali karena api itu pula, maka hantu itu
datang kemari.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia
berpaling kepada kawan-kawannya. Katanya, “Nah, sekarang kau
dengar serba sedikit cerita tentang hantu Karautan. Sekarang kau
akan percaya bahwa hantu itu bernama Kuda Sempana?”
Ketiga kawannya pun mengangguk-angguk pula. Tetapi tiba-tiba
Patalan bertanya, “Tetapi hantu itu ada dua.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya.
“Dua?” ia mengulang.
“Ya. Dua,” sahut Sinung Sari, “yang satu yang kau sebut
bernama Kuda Sempana itu. Ia datang berkuda dan menakut-nakuti
kami. Hantu itu akan membunuh kami berdua, dan membiarkan
salah seorang dari kami tetap hidup, namun tubuhnya akan
dijadikan cacat. Kemudian datang hantu yang kedua. Hantu yang
aku sangka orang gila. Keduanya bertempur sampai hantu yang
ketiga itu datang.”
“Itu bukan hantu,” potong Mahisa Agni, “sudah aku katakan ia
memang bekas hantu. Tetapi sekarang tidak.”
Ken Arok tersenyum, dan Sinung Sari membetulkan katakatanya,
“Ya. Maksudku Tuan yang bernama Ken Arok itu datang.
Dan Tuan itu pun tahu, bahwa memang ada hantu yang lain selain
Kuda Sempana.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali
seakan-akan ia mencoba untuk mengetahui dengan pasti kata-kata
Sinung Sari itu, bahwa ada hantu lain yang telah datang di tempat
ini. hantu yang menurut Sinung Sari adalah hantu yang mirip
dengan orang gila.
Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan kawannya itu.
Bahkan kemudian ditatapnya gerumbul-gerumbul di kejauhan dan
kemudian ditatapnya pula bulan yang berwarna kekuning-kuningan,
di belakang awan tipis yang mengalir dengan lesu ke tenggara.
Suasana di padang rumput itu sejenak dicengkam oleh
kesenyapan. Masing-masing terdiam sambil memandang api di
perapian yang telah padam. Hanya bara-bara kayunya sajalah yang
masih memancar kemerahan.
Yang terdengar kemudian adalah Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian ia berdiri mengambil beberapa potong
bekal makanannya dan kemudian ditaruhkan di hadapan Ken Arok,
katanya. “Apakah kau juga mau makan makanan pedesaan seperti
ini?”
Ken Arok tersenyum. Diambilnya sepotong makanan dan
langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.
Jinan, Patalan dan Sinung Sari memandangi mereka berdua
dengan penuh kebimbangan. Seakan-akan ada sesuatu yang
tersimpan di dalam diri mereka. Sebuah rahasia yang tidak mereka
mengerti. Demikian desakan keinginan mereka untuk mengetahui,
maka sekali lagi Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Agni. Kau
belum menjawab pertanyaanku.”
Mahisa Agni berpaling. Tampaklah keningnya berkerut.
Jawabnya, “Tak ada yang menarik yang dapat kau ketahui dari
hantu-hantuan itu. Yang perlu kau ketahui sudah aku katakan. Yang
ada di sini sekarang inilah yang dahulu bernama hantu Karautan,
meskipun itu pun hanya hantu jadi-jadian. Ia adalah seorang
manusia biasa, seperti aku, seperti kalian. Dan hantu yang datang
berkuda itu adalah Kuda Sempana. Juga seorang manusia biasa.
Seperti aku, seperti kalian. Itulah yang penting. Yang lain-lain
sama
sekali tidak ada hubungannya dengan kalian dan kalian pasti tidak
akan mengenalnya.”
Patalan mengerutkan dahinya. Mungkin ia belum mengenal hantu
yang gila itu. Tetapi ia masih juga berkeinginan untuk mendengar
serba sedikit tentang hantu-hantuan itu. Maka katanya, “Tetapi ia
datang juga kemari dan menamakan dirinya hantu padang
Karautan, bahkan dapat mengalahkan Kuda Sempana. Atau
barangkali Tuan sudah mengenalnya?” bertanya Patalan kepada Ken
Arok.
“Sudah,” sahut Ken Arok sambil tersenyum, “aku mengenalnya
menilik caranya memutar pedang dan melontarkan kakinya.”
“Ah,” desah Mahisa Agni, “terlalu banyak yang ingin kau ketahui
Patalan. Jangan menyebut-nyebut tentang dirinya. Mungkin ia akan
datang lagi dan mengganggu kalian.”
“Bukankah sekarang kau ada di sini dan Tuan Ken Arok, yang
berhak mendapat sebutan hantu Karautan itu ada pula?”
“Sebenarnya aku sama sekali tidak berbangga atas sebutan itu,”
sahut Ken Arok.
“Oh, maafkan kami,” potong Patalan cepat-cepat.
“Aku tidak apa-apa. Tetapi mungkin sebutan itu akan sangat
menyenangkan bagi hantu-hantuan itu.”
“Tetapi siapakah dia?” desak Sinung Sari pula.
Sekali lagi Ken Arok tersenyum. Senyum yang memancarkan
rahasia yang justru menjadikan ketiga anak-anak muda Panawijen
semakin ingin tahu.
“Hantu yang satu itu,” berkata Ken Arok, “adalah yang lebih
dekat dari kalian. Ia adalah Bahu Reksa Panawijen.”
Ketika anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya.
“Bahu Reksa Panawijen. Apakah artinya?”
Ken Arok kini tertawa kecil. Dipandanginya wajah Agni yang
berkerut. Bahkan Ken Arok itu berkata pula, “Kau tahu Bahu Reksa
Panawijen. Ia lebih dahsyat dari hantu Karautan.”
Sinung Sari mengangguk-angguk. Tetapi ia melihat Ken Arok
masih tertawa, sehingga katanya, “Bagaimanakah sebenarnya?”
Ken Arok itu kemudian bertanya kepada Patahan, “He, di mana
pedangmu?”
Patalan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan serta-merta
ia menjawab, “Diambil hantu yang mirip dengan orang gila itu.”
Ken Arok mengangguk-angguk. Kemudian ia beringsut beberapa
langkah maju. Ketika ia meraih sesuatu di hadapan Mahisa Agni,
maka katanya, “Apakah ini pedangmu?”
Patalan menjadi heran. Pedang itu sudah berada di dekat
perapian.
“Ya,” katanya.
Ken Arok meneruskan, “Kau lihat siapakah yang membawa
pedang ini kembali?”
Patalan menjadi bingung. Tiba-tiba ia teringat bahwa ketika
Mahisa Agni datang, ia menjinjing pedang. Bukan pedangnya
sendiri, karena pedang itu masih berada di dalam sarungnya.
“Agni,” teriak Patalan, “kau yang membawa pedangku kembali?”
“Ya,” jawab Agni. “aku berjumpa dengan hantu itu. Dan
menitipkannya pedang itu kepadaku.”
Ken Arok kini tertawa keras-keras. Hampir-hampir tak dapat
ditahannya lagi. Disela-sela derai tertawanya terdengar ia berkata,
“Kenapa hantu itu tidak memakai kain dan memakai daun perdu
untuk menutupi celananya? He? Untunglah tidak ada yang gatal
pada daun-daun itu. Kalau ada kalian akan cepat mengetahui
siapakah yang sibuk menggaruk-garuk tubuhnya. Itulah hantu gila
itu.”
Ketiga anak-anak Panawijen itu semakin bingung. Tetapi lamatlamat
mereka dapat menangkap maksud Ken Arok itu. Apalagi
ketika Ken Arok itu menjelaskan.
“Kalian pasti pernah melihat, siapakah yang pernah mengalahkan
Kuda Sempana? Nah itulah. Hantu-hantuan yang datang berkuda itu
kembali dikalahkan oleh hantu-hantuan Bahu Reksa Panawijen.”
Sinung Sari beringsut maju sambil berkata, “Agni. Apakah
demikian?”
Agni tersenyum.
“Jadi kaukah hantu-hantu jadi-jadian yang aku sangka orang gila
itu?”
Agni mengangguk.
“Gila kau Agni!” teriak Jinan, “Kenapa kau menakut-nakuti kami.
Kenapa kau tidak saja datang dalam keadaanmu yang sewajarnya?”
Agni kini tertawa, seperti juga Ken Arok tertawa. Maka jawab
Mahisa Agni, “Ah. Sebuah permainan yang menyenangkan. Aku
ingin tahu, siapakah sebenarnya hantu Karautan yang baru itu. Aku
ingin mengetahuinya tanpa ia mengetahui aku, sebab aku yakin
bahwa hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Bukan hantu
yang lama.”
Wajah ketiga anak-anak muda Panawijen tiba-tiba menjadi
merah. Mereka merasa malu sekali pada diri mereka sendiri. Mereka
merasa betapa mereka benar-benar seorang penakut.
“Tetapi Agni,” berkata Sinung Sari,” bukankah kau akan dapat
mengenalnya juga seandainya kau datang dengan wajar. Bukankah
orang berkuda itu lari sebelum membuka tutup mukanya?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin.
Tetapi apabila ia telah mengenal aku sebelumnya, mungkin ia akan
segera lari sebelum kami sempat bertempur.”
“Apakah yang kau dapat dari pertempuran itu?” bertanya
Patalan.
“Dari pertempuran itulah aku dapat mengenalnya.”
“Apanya yang dapat kau kenal?” desak Sinung Sari.
Mahisa Agni dan Ken Arok tersenyum. Jawab Mahisa Agni, “Ken
Arok mengenal aku dan Kuda Sempana sesudah ia melihat kami
bertempur. Ken Arok mengenal aku sejak aku masih menjadi orang
gila itu. Karena itu, ia tidak bersikap melindungi kalian, karena
ia
tahu benar bahwa hantu itu tidak berbahaya bagi kalian.”
“Tetapi apakah yang dapat menunjukkan bahwa orang itu
bernama kuda Sempana dan yang lain Mahisa Agni?”
Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Gerak kami. Sifat dan watakwatak
dari gerak kami masing-masing.”
Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Pengenalan itu berada di luar kemampuannya, karena
mereka sama sekali tidak mengenal ilmu gerak. Meskipun demikian
Sinung Sari masih saja menggerutu dengan jengkelnya, “Tetapi
Agni, setelah Kuda Sempana pergi, kau masih juga menakut-nakuti
kami. Apakah maksudmu?”
Mahisa Agni tertawa semakin keras. Jawabnya, “Aneh.
Seharusnya kalian tidak takut. Seperti kata Ken Arok itu. Bukankah
kalian bertiga dan membawa senjata? Seandainya benar-benar kami
bertemu dengan bahaya yang tidak dapat aku atasi seorang diri,
apakah kalian akan membiarkan aku sendiri? Nah, sekarang renungi
diri kalian sendiri. Manakah yang lebih baik. Mengangkat senjata
menghadapi keadaan seperti itu, atau membiarkan diri kalian
dihisap darah kalian lewat tengkuk kalian. Ingat, bahwa Kuda
Sempana benar-benar akan dapat berbuat demikian atas tanah
yang akan kita bangunkan nanti. Kalau kalian tidak dapat
melindungi diri kalian dan tanah kalian, maka apa yang akan kalian
capai dengan susah payah, akan merupakan tanah sadapan yang
menyenangkan bagi orang lain. Orang lain akan dapat menghisap
darah dan di jalur-jalur nadi penghidupan kampung halamanmu.
Karena itu, tengadahkan wajahmu dalam menghadapi setiap
persoalan. Jawablah semua tantangan. Asal kau yakin, bahwa kau
sedang mempertahankan hakmu, bukan sedang melanggar hak
orang lain.”
Jinan, Patalan dan Sinung Sari menundukkan kepalanya. Kembali
wajah-wajah mereka dijalari oleh warna-warna merah karena
sindiran-sindiran yang tepat itu. Mau tidak mau mereka harus
mengakui kebenaran kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka sama
sekali tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengatasi kesulitan
sendiri.
Kembali untuk sesaat mereka terbenam dalam kesepian. Mahisa
Agni sejenak berdiam diri sambil memandangi bulan yang semakin
jauh dari cakrawala. Kini bulan itu telah hampir sampai ke ujung
langit. Namun malam telah melampaui pusatnya.
Dibiarkannya ketiga kawan-kawannya merenungkan katakatanya.
Mahisa Agni merasa, mungkin kata-katanya akan
menjadikan kawan-kawannya malu kepadanya dan kepada diri
sendiri. Namun ia mengharap, bahwa dengan demikian, maka akan
timbul perubahan di dalam kehidupan anak-anak muda Panawijen
yang terlalu lama tenggelam dalam suasana yang terlampau tenang
dan diam. Tak ada perubahan, tak ada gerak dan nyala di dalam
kehidupan orang-orangnya. Jebolnya bendungan itu pun ternyata
dapat dicari manfaatnya di samping bencana yang telah melanda
Panawijen. Ternyata dengan jebolnya bendungan itu, anak-anak
muda Panawijen mendapat pelajaran untuk mencoba mengatasi
kesulitan yang menimpa diri sendui tanpa menggantungkan kepada
orang lain.
Namun yang pertama-tama memecah kesepian itu adalah Mahisa
Agni pula. Bukan tentang hantu-hantu yang berkeliaran di padang
Karautan, tetapi ia benar-benar ingin tahu, kenapa Kuda Sempana
telah mencoba hidup di padang yang sepi ini. Apakah anak muda itu
merasa bahwa ia memerlukan harta benda menjelang hari-hari di
mana ia hidup dalam satu keluarga. Mungkin Kuda Sempana merasa
perlu untuk membuat istrinya bahagia dengan menyimpan harta
benda yang berlebihan sebagai keseimbangan cara yang
ditempuhnya sewaktu mengambil istrinya itu. Atau barangkali Ken
Dedes mempunyai permintaan-permintaan sehingga Kuda Sempana
terpaksa berbuat demikian merampok dan menyamun?
“Ken Arok,” bertanya Mahisa Agni kemudian, “kenapa Kuda
Sempana itu berkeliaran di padang ini? Bukankah kau sekarang
menjadi kawan selingkungannya di istana?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan
kepalanya ia menjawab, “Aku tidak tahu persoalan
seluruhnya. Tetapi sebagian aku akan dapat menceritakan
sebabnya.”
“Biarlah yang sebagian itu aku dengar dahulu,” sahut Mahisa
Agni.
Sekali lagi Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian katanya, “Nasib anak itu tidak terlalu baik.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba tanpa
sesadarnya ia memotong, “Bagaimanakah dengan Ken Dedes?
Bukankah ia sehat walafiat?”
Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Gadis itu sehat-sehat saja.”
“Di manakah gadis itu sekarang?”
“Di Istana Tumapel.”
“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa di istana. Apakah Kuda
Sempana tinggal di istana pula?”
“Itulah sebagian yang aku ketahui. Tentang gadis itu dan tentang
Kuda Sempana.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Baginya terdengar aneh,
bahwa Ken Dedes berada di istana Tumapel.
“Ah,” desahnya di dalam hati, “ternyata Tunggul Ametung benarbenar
berusaha melindungi Kuda Sempana. Disembunyikannya Ken
Dedes itu di istana sampai mereka melahirkan anaknya yang
pertama, untuk menghindarkan Kuda Sempana dari setiap
kemungkinan yang berbahaya. Sesudah itu, maka semuanya akan
menjadi baik bagi Kuda Sempana. Tetapi kenapa Kuda Sempana itu
berkeliaran di sini dalam keadaan yang kusut?”
Pertanyaan itu ternyata semakin menyentuh hatinya, sehingga
sekali lagi ia berkata, “Katakanlah Ken Arok. Katakanlah apa yang
kau ketahui itu tentang Kuda Sempana dan Ken Dedes.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tampak keningnya
berkerut-kerut. Terbayanglah di wajahnya perasaannya yang
gelisah. Menurut pengetahuannya. Mahisa Agni adalah kakak Ken
Dedes, sehingga ia menjadi ragu-ragu sejenak untuk mengatakan
apa yang telah terjadi atas adiknya itu. Tetapi karena Mahisa Agni
selalu mendesaknya, maka terloncat pulalah cerita tentang Ken
Dedes di Tumapel. Cerita sejak Ken Dedes sampai di istana, sejak
mereka berdua, Ken Arok dan Witantra dipanggil menghadap
Akuwu, tentang Witantra yang harus masuk ke dalam arena atas
nama Tunggul Ametung. Namun dengan kecewa Ken Arok itu
kemudian berkata, “Tetapi sayang. Ternyata Tunggul Ametung itu
mempunyai pamrih sendiri. Adikmu diambilnya.”
Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Mahisa Agni. Ia
bersyukur bahwa Ken Dedes telah terlepas dari tangan Kuda
Sempana. Namun ia tidak tahu, perasaan apa yang berdentangdentang
di dalam dadanya itu, setelah ia mendengar bahwa Ken
Dedes kini berada di istana bukan sebagai istri Kuda Sempana,
namun karena gadis itu dikehendaki oleh Tunggul Ametung sendiri.
Dalam pada itu, terdengar Ken Arok berkata, “Untunglah bahwa
Akuwu mengambilnya sebagai permaisurinya. Bukan sekedar
sebagai seorang selir.”
Mahisa Agni terperanjat juga mendengar keterangan itu. Ken
Dedes, seorang gadis pedesaan, telah diangkat menjadi permaisuri
seorang akuwu yang besar dari Tumapel. Tetapi masih saja
bergelora perasaan yang tidak menentu di dalam dirinya. Ia
bergembira bahwa Ken Dedes menemukan tempat yang baik,
namun ada juga kekecewaan yang dalam menusuk jantungnya. Ia
sebenarnya mengharap Ken Dedes kembali ke Panawijen.
“Tetapi ia akan menjumpai kepahitan di Panawijen,” gumamnya
di dalam hati, “ayahnya telah pergi, dan orang yang dicintainya
telah pergi pula untuk selama-lamanya.”
Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya.
Direnunginya tanah yang kering di bawah kakinya yang bersilang.
Dikais-kaisnya tanah itu dengan jari-jarinya seolah-olah ia ingin
mengetahui, apakah tanah itu cukup subur untuk daerah pertanian.
Namun hatinya bergumul dalam keadaan yang tidak menentu.
Kebanggaan, kekecewaan harapan dan putus asa, bergulat menjadi
satu.
Mahisa Agni itu mengangkat. wajahnya ketika ia mendengar Ken
Arok bertanya kepadanya, “Bagaimana Agni. Apakah kau menjadi
berbangga hati bahwa adikmu kini menjadi seorang permaisuri
Akuwu Tumapel?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Adalah anugerah yang tiada
taranya bagi seorang gadis dari padepokan Panawijen. Adalah suatu
kebanggaan buat keluarganya. Pahit getir yang dialami oleh orang
Tuanya, keprihatinan dan ketekunan pengabdiannya kepada sesama
dan kebaktiannya yang tulus kepada Yang Maha Agung telah
menempatkan putri tunggal itu dalam kedudukan yang baik. Tetapi
jauh di sudut hatinya, Mahisa Agni masih mendengar jerit yang
pedih dari perasaannya sendiri. Meskipun demikian perlahan-lahan
ia menjawab, “Aku berbangga Ken Arok.”
“Ya,” sahut Ken Arok, “adalah wajar bahwa kau dan keluargamu
akan berbangga hati.”
Tetapi wajah Mahisa Agni sama sekali tidak membayangkan
kebanggaan yang dikatakannya itu. Apalagi ketika diingatnya
sumpah kutukan Empu Purwa, maka dadanya pun berdesir.
Demikian marahnya orang tua itu, sehingga disumpahnya mereka
yang telah ikut serta mengambil anaknya. Disumpahnya mereka
bahwa mereka akan terbunuh dengan keris.
Wajah Mahisa Agni menjadi semakin suram. Seandainya Ken
Dedes dapat menemukan kebahagiaan sebagai seorang permaisuri,
tetapi seandainya sumpah Empu Purwa itu pun akan berlaku, maka
akan putus pulalah kebahagiaan itu. Tunggul Ametung adalah salah
seorang dari mereka yang turut mengambil Ken Dedes, sehingga
akan matilah ia ditusuk dengan keris.
Tetapi kecemasan dan kegelisahan itu disimpannya di dalam
hatinya, sehingga hati itu telah dipenuhi oleh berbagai perasaan
yang tak dapat dilahirkannya. Perasaan yang mencengkamnya
tentang gadis putri gurunya, tentang kekhawatirannya atas nasib
gadis itu kemudian, dan atas banyak hal lagi yang tertimbun.
Bahkan yang terucapkan dari mulutnya adalah, “Betapa besar
terima kasihku kepada kalian. Kepada Witantra dan kepadamu.
Betapa kalian telah berusaha menolong Adikku itu dari lembah
penderitaan di sepanjang hidupnya. Penderitaan yang tidak akan
ada habis-habisnya.”
“Tetapi kami tidak berhasil mengembalikannya kepadamu,” sahut
Ken Arok, “kami telah gagal sebagian dari maksud kami
memisahkannya dari Kuda Sempana. Karena Tunggul Ametung
sendiri ternyata menghendakinya.”
“Mudah-mudahan nasibnya akan menjadi lebih baik,” gumam
Mahisa Agni.
“Mudah-mudahan,” sahut Ken Arok, “menurut pendengaranku,
Tunggul Ametung akan datang kepada ayah gadis itu untuk
memintanya.”
Mahisa Agni terkejut. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi suram.
Jauh lebih suram dari wajah itu sebelumnya. Dari antara giginya
terdengar ia berdesis, kemudian menggelengkan kepala sambil
berkata, “Tak ada gunanya.”
Ken Arok mengerutkan dahinya, Kini ialah yang menjadi terkejut
mendengar desis Mahisa Agni itu, sehingga ia bertanya, “Kenapa?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sorot matanya jauh menembus
ke dalam keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang
redup.
“Ayah gadis itu tidak ada lagi di padepokannya.”
“Apakah ia belum kembali?” bertanya Ken Arok, “pada saat gadis
itu diambil oleh Kuda Sempana, ayahnya memang tidak tampak di
rumahnya.”
“Sudah. Orang tua itu sudah kembali,” jawab Mahisa Agni, “tetapi
setelah ia mendengar bahwa anaknya itu hilang, anak yang
dikasihinya melampaui segala isi dunia ini yang lain, maka orang
tua
itu mengalami keguncangan perasaan yang tak terkendali.”
“Apakah syarafnya terganggu?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Gila?”
“Tidak sejauh itu. Ia adalah seorang pendeta yang taat-taat
kepada kewajibannya,” berkata Mahisa Agni dalam nada yang
rendah, “Hanya karena ketebalan hatinyalah maka orang tua itu
tidak menjadi gila. Ia pasti akan dapat menemukan ketenangannya
kembali dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Tetapi
kejutan pertama dari berita itu telah mendorongnya untuk
meninggalkan padepokannya. Ia ingin melupakan segala-galanya.
Kepahitan yang paling pahit dalam hidupnya.”
Ken Arok menganggukkan kepalanya, gumamnya, “Kasihan
orang tua itu. Untunglah ia dapat menemukan penghibur dalam
dirinya sendiri. Kalau tidak, ia pasti tidak akan hanya sekedar
menyingkir dari padepokannya. Bukankah ia sekaligus gurumu?”
Mahisa Agni mengangguk. “Kalau orang tua itu marah, maka ia
akan dapat berbuat hal-hal yang mengerikan.”
“Pasti tidak akan dilakukan.”
Ken Arok terdiam sesaat. Kemudian katanya, “Aku mengharap
kau akan dapat mewakilinya. Bukankah kau muridnya, tetapi juga
putranya?”
Mahisa Agni menggeleng.
“Bukankah gadis itu adikmu? Atau saudara sepupu?”
Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Ia tidak segera
menemukan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga Ken Arok
mendesaknya.
“Bagaimana? Kau akan dapat mewakili ayahmu. Menerima Akuwu
itu sebagai wakil orang tuanya, merestui perkawinan adikmu.”
“Jangan. Jangan,” sahut Mahisa Agni serta-merta. Tetapi
kemudian ia terdiam kembali. Terasa luka di hatinya yang
perlahanlahan
hampir dapat dilupakan itu, seakan-akan kembali menggores
tajam. Terasa hatinya menjadi pedih. Ia harus melihat kenyataan
itu. Namun dengan sekuat tenaganya ia mencoba menghilangkan
segala macam kesan yang dapat membayangkan perasaannya yang
sedang bergolak.
Ken Arok masih memandangi wajah anak muda yang muram itu.
Namun ia tidak tahu perasaan apa yang sedang bergolak di dalam
dadanya. Ia hanya dapat menyangka betapa sedihnya anak muda
yang merasa kehilangan adiknya itu. Meskipun seandainya bukan
adik sekandung, tetapi adik sepupu.
Tetapi Mahisa Agni sama sekali, tidak mau menjelaskan
hubungan apakah yang ada antara dirinya dan Ken Dedes. Ketika
Ken Arok mendesaknya sekali lagi maka jawabnya, “Tidak. Jangan
datang kepadaku. Biarlah Ken Dedes menentukan kehendaknya
sendiri. Kalau ia bersedia biarlah perkawinan itu berlangsung,
tetapi
kalau tidak, jangan dipaksa.”
Ken Arok menciutkan keningnya. Katanya, “Ya. Terserahlah
kepadamu. Tetapi aku sendiri kecewa melihat sikap Akuwu itu.”
(bersambung )
Jilid 14
MAHISA AGNI memandangi wajah Ken Arok tajam-tajam. Tetapi
ia tidak melihat kesan apapun dari wajah itu. Ken Arok itu ternyata
berkata demikian saja tanpa ungkapan yang mendalam, sehingga
Mahisa Agni pun tidak dapat menangkap perasaan lain daripada
kekecewaan itu.
“Kenapa kau kecewa,” bertanya Mahisa Agni.
“Aku ingin mengembalikan kepadamu untuk menebus
kebodohanku. Aku sama sekali tidak mencoba menghalangi
perbuatan Tunggul Ametung dan Kuda Sempana, pada saat mereka
mengambil gadis itu. Ternyata sikap Witantra jauh lebih baik
dariku.
Tetapi kini ternyata Witantra menyetujui sikap Tunggul Ametung,
meskipun alasannya dapat aku mengerti. Maksudnya adalah, untuk
mengurangi penderitaan yang menimpa perasaan gadis itu.”
Mahisa Agni kembali memandang ke kejauhan, menembus
keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup.
Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa Kuda Sempana itu tiba-tiba
berkeliaran di sini?”
“Mungkin ia menjadi kecewa,” sahut Ken Arok.
“Aku sudah menyangka, tetapi sampai sejauh itu? Bukankah
dengan demikian ia telah melakukan pemberontakan terhadap
Akuwu Tunggul Ametung?”
Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Ya. Anak itu benar-benar
telah memberontak. Tetapi kemungkinan itu memang akan terjadi.
Hukuman atasnya memang terlalu berat baginya.”
“Hukuman atas kesalahannya mengambil Ken Dedes?”
Ken Arok mengangguk.
“Aneh. Bukankah Akuwu sendiri ikut serta?”
“Itulah keanehan yang dapat saja terjadi. Akuwu sendiri turut
melakukan kesalahan itu. Tetapi ternyata ia ingin memperbaiki
kesalahannya dengan mengorbankan Kuda Sempana. Kau tahu,
apakah hukuman itu?”
“Bagaimana aku bisa tahu,” sahut Agni.
“Hukuman itu benar-benar aneh. Hukuman itu semula sama
sekali bukan atas kehendak Tunggul Ametung sendiri. Tetapi atas
kehendak gadis yang dilarikannya itu,” berkata Ken Arok seterusnya.
Mendengar kata itu Mahisa Agni terperanjat. Tanpa disengaja
ditatapnya wajah ketiga kawannya yang mendengarkan
pembicaraannya dengan keheran-heranan.
Ken Arok melihat keheranan yang membayang di wajah Mahisa
Agni. Maka katanya, “Ya. Demikianlah. Hukuman itu sebenarnya
datang dari adikmu itu.”
“Bagaimana hal itu dapat terjadi?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia melihat kudanya
yang makan dengan asyiknya, dan sekali ditatapnya wajah ketiga
kawan Mahisa Agni.
Baru sesaat kemudian katanya, “Ternyata adikmu menerima
lamaran Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah
menyangka dan bahkan ia berdoa mudah-mudahan dengan
demikian Ken Dedes, merasa terhibur atas hilangnya dua orang
yang dicintainya sekaligus. Ayahnya dan Wiraprana. Namun di
dalam sudut hatinya yang paling dalam luka hatinya serasa
seolaholah
meneteskan darah.
Meskipun demikian ia bertanya, “Bagaimana mungkin gadis itu
menerima lamaran Tunggul Ametung. Ia mencintai Wiraprana lebih
dari semua orang selain ayahnya. Apakah gadis itu sudah
mendengar kabar tentang bakal suaminya.”
Ken Arok mengangguk. Katanya, “Emban tua, pemomongnya
telah menyampaikan kabar itu. Sebelumnya kami pun telah
mengatakannya, tetapi ia lebih percaya kepada embannya.”
Mahisa Agni berdesir mendengar Ken Arok menyebut pemomong
Ken Dedes. Tak seorang pun tahu bahwa orang itu adalah ibunya.
Ken Dedes juga tidak.
“Tetapi bagaimana Ken Dedes dapat menghukum Kuda Sempana
itu?” bertanya Mahisa Agni kemudian.
“Mudah sekali baginya,” sahut Ken Arok, “Tunggul Ametung itu
akhirnya tergila-gila kepadanya. Apa yang diucapkannya akan
terjadi.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Desir di dadanya menjadi
semakin tajam. Ada semacam pergolakan yang terjadi dalam
dirinya. Meskipun ia merasa bahwa Ken Dedes akan menemukan
sekedar penghibur atas segala dukanya, tetapi apakah ia dapat
mendengar bahwa seseorang tergila-gila kepadanya?
Tetapi Mahisa Agni tidak berkata sepatah kata pun. Dan Ken
Aroklah yang berkata pula, “Dan salah satu dari permintaan Ken
Dedes ternyata adalah pelepasan dendamnya kepada Kuda
Sempana itu.”
Mahisa Agni masih diam mematung. Ia mendengar Ken Arok
meneruskan, “Nah, apa yang diminta oleh Ken Dedes itu atas Kuda
Sempana? Aneh sekali. Adikmu itu minta Kuda Sempana mendapat
hukuman atas kesalahannya apabila Akuwu benar-benar
menghendakinya. Hukuman itu adalah, Kuda Sempana harus
menjadi pelayan yang paling rendah baginya. Membersihkan lantai,
mencuci pakaian dan waktu selebihnya, duduk di bawah tangga di
serambi di belakang biliknya.”
Mahisa Agni terperanjat mendengarnya. Benar-benar terperanjat.
Apalagi ketika Ken Arok meneruskan, “Agaknya Ken Dedes itu ingin
membalas sakit hatinya dengan penghinaan atas Kuda Sempana.
Hina yang sehina-hinanya.”
“Ken Arok,” potong Mahisa Agni, “apakah benar Ken Dedes
menghendakinya?”
Ken Arok mengangguk, “Ya, sebenarnyalah bahwa Ken Dedes
menghendakinya. Dan Ken Dedes mempunyai cukup pengaruh atas
Tunggul Ametung. Ketahuilah, bahwa Tunggul Ametung yang
garang itu seakan-akan benar-benar telah bersimpuh di bawah kaki
adikmu.”
Darah Mahisa Agni tersirap. Ia sama sekali tidak menyangka
bahwa Ken Dedes dapat berlaku sekasar itu. Dendam yang
betapapun dalamnya, namun penghinaan itu telah terlampau jauh.
Dan didengarnya kemudian Ken Arok meneruskan, “Itulah
keadaan adikmu dan Kuda Sempana yang aku dengar. Itu pulalah
sebabnya, kenapa Kuda Sempana kemudian melarikan diri dari
istana yang menjadi tempat yang sehinanya baginya. Sebagai
seseorang yang masih mempunyai harga diri, maka sudah tentu ia
tidak menelan penghinaan itu begitu saja.”
Mahisa Agni mengangguk perlahan-lahan. Terdengar ia berdesis.
Dadanya semakin terasa menghentak-hentak. Ia sama sekali tidak
dapat mengerti, perubahan-perubahan yang tajam telah terjadi atas
Ken Dedes itu. Ledakan-ledakan di dalam jantung gadis itu telah
menyeretnya dalam suatu keadaan yang sama sekali tidak
disangkasangka
oleh Mahisa Agni.
“Ken Arok,” terdengar suara Mahisa Agni dengan nada yang
rendah, “apakah aku dapat minta tolong kepadamu?”
Ken Arok menarik nafasnya. Katanya bertanya, “Apakah yang
harus aku lakukan?”
“Sampaikan pesanku kepada gadis itu,” berkata Mahisa Agni,
“yang pertama kali adalah kabar keselamatan.”
Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat Ken Arok menggeleng,
“Aku kini jarang sekali masuk ke istana selain di tempat-tempat
tugasku. Hampir aku tak pernah melihat adikmu itu setelah aku ikut
Akuwu mengambilnya dari Panawijen. Sampai kini aku belum begitu
mengenal wajahnya. Apalagi kini Ken Dedes telah benar-benar
sebagai seorang permaisuri meskipun ketetapannya dan upacaranya
masih akan menyusul, sehingga aku tak akan sempat menemuinya.”
Kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya
terbayang di dalam kepalanya, Ken Dedes kini telah menjadi
seorang permaisuri. Menjadi seorang yang berada dalam lingkungan
kebesaran dan kebahagiaan. Namun ia masih tetap tidak dapat
mengerti, bahwa di dalam diri gadis itu timbul perubahan sikap dan
watak yang terlampau tajam.
“Mungkin keparahan hati yang tak tertanggungkan telah
mendorongnya ke dalam suatu sikap yang berlebih-lebihan sebagai
keseimbangan,” gumamnya di dalam hati.
“Kalau begitu,” sambung Mahisa Agni kemudian, “apakah kau
pernah bertemu dengan emban pemomongnya itu?”
Ken Arok menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Aku sering
bertemu pemomong Ken Dedes itu tinggal di rumah Witantra
beberapa hari sebelum diizinkan menemui momongannya.”
“Apakah orang tua itu sekarang masih berada di rumah
Witantra?”
“Tidak,” jawab Ken Arok, “perempuan tua itu kini telah berada di
istana atas permintaan Ken Dedes.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya, “Kalau demikian, aku minta tolong kepadamu.
Sampaikanlah kepada perempuan tua itu.”
“Pesan?”
“Ya. Pesan untuknya dan untuk Ken Dedes.”
“Akan aku coba.”
“Terima kasih,” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ia menjadi raguragu
untuk mengatakan pesannya kepada Ken Arok. Ia belum tahu
pasti, bagaimanakah sikap Ken Dedes kini terhadapnya. Meskipun
demikian akhirnya ia berkata, “Ken Arok. Kalau kau bertemu dengan
perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, sampaikan baktiku
kepadanya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Perempuan itu adalah seorang
pemomong, namun agaknya Mahisa Agni memang suka
merendahkan dirinya, sehingga ia menyampaikan bakti kepada
seorang emban. Tetapi Ken Arok tidak berkeberatan apapun
terhadap sikap itu, sehingga sahutnya, “Baik. Aku sampaikan
baktimu apabila aku bertemu nanti di istana.”
“Terima kasih,” Mahisa Agni meneruskan, “kemudian kalau
emban itu dapat menyampaikan kepada Ken Dedes, yang sekarang
sudah berada di istana itu, kecuali kabar keselamatan adalah pesan,
supaya gadis itu tidak melupakan dirinya, asalnya dan segenap
keadaan masa lampaunya sebagai keseimbangan berpikir untuk
menentukan hari-hari mendatangnya.”
Ken Arok mengerutkan keningnya, katanya, “Kenapa pesanmu
berbunyi demikian?”
“Tidak apa-apa,” sahut Agni, “aku hanya ingin
memperingatkannya, supaya ia tidak tenggelam dalam dunia yang
asing baginya, sehingga ia kehilangan dasar tempat berpijak. Ia
adalah seorang gadis pedesaan yang biasa hidup di pedesaan. Ia
adalah seorang putri dari seorang pendeta yang hidup bersahaja
dan penuh ketekunan dalam kebaktiannya kepada Yang Maha
Agung. Ia kemudian adalah seorang gadis yang mengalami
kepahitan yang menghunjam terlalu dalam di hatinya. Nah, semua
peristiwa-peristiwa itu akan dapat mengguncangkan keseimbangan
antara perasaan dan pikirannya. Yang kini dapat kita lihat adalah
sikapnya terhadap Kuda Sempana. Bagaimanapun juga dendam
tersimpan di dadanya, namun dengan penghinaan yang berlebihlebihan
itu, Ken Dedes telah melakukan kesalahan menurut
penilaianku.”
Ken Arok menganggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti pesan
itu. Dan ia dapat membenarkannya. Betapa bencinya kepada Kuda
Sempana, namun Ken Arok heran juga melihat hukuman yang
dijatuhkan atas anak muda itu. Lebih baik Kuda Sempana digantung
di alun-alun, atau dirajam dengan panah daripada dihinakan
sedemikian rendah. Karena itu, adalah sudah sewajarnya apabila
anak muda itu meninggalkan istana.
Tetapi Tunggul Ametung tidak dapat mempertimbangkannya lagi.
Ia sedang dilanda oleh perasaan yang meluap-luap. Apapun yang
dikehendaki oleh Ken Dedes, selagi Tunggul Ametung dapat
memberikannya, pasti akan dipenuhinya. Apalagi hanya seorang
Kuda Sempana, bahkan Tumapel sekalipun sudah diserahkannya.
Dada Ken Arok berdesir. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada
Mahisa Agni, “Agni keberuntungan adikmu tidak saja sejauh itu.
Tetapi lebih daripada itu. Menurut pendengaranku, di istana telah
menjalar kabar, bahwa bukan saja Kuda Sempana telah
dikorbankan, tetapi kepada gadis itu telah diserahkan hak atas
pemerintahan Tumapel.”
Alangkah terkejutnya Mahisa Agni mendengar kabar itu, sehingga
ia beringsut maju. Dengan wajah tegang ia bertanya, “Benarkah
kabar yang kau dengar itu?”
“Aku benar-benar mendengar kabar itu,” sahut Ken Arok, “tetapi
kebenaran atas kabar itulah yang aku tidak tahu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, kalau kabar itu benarbenar
terjadi, maka alangkah besar karunia atas gadis itu. Karunia
yang diterimanya lewat kepahitan dan kedukaan.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun luka di
hatinya serasa menjadi semakin dalam.
Dalam nada yang rendah ia berkata, “Berbahagialah anak itu.
Mudah-mudahan ia menemukan masa depan yang baik. Kalau benar
kabar yang kau dengar Ken Arok, bukankah berarti bahwa Ken
Dedes akan mendapat kesempatan menurunkan akuwu-akuwu
berikutnya?”
Ken Arok mengangguk, “Ya. Itulah adalah suatu karunia yang
tiada taranya.”
Keduanya kemudian terdiam untuk sesaat. Kembali bergelut di
dalam dada Mahisa Agni berbagai perasaan. Bangga, gembira,
sedih, dan kecewa. Ia bersyukur kepada Yang Maha Agung atas
karunia itu, namun ia menjadi cemas, apakah kebahagiaan itu akan
dapat kekal sepanjang umur Ken Dedes, di samping perasaannya
sendiri yang masih saja menyentuh-nyentuh hati. Perasaan seorang
lelaki terhadap seorang perempuan.
Namun baik Mahisa Agni maupun Ken Arok tidak mengetahui,
apakah yang telah mendorong Tunggul Ametung terbenam dalam
keadaannya itu. Tunggul Ametung telah disilaukan oleh cahaya yang
seakan-akan memancar dari tubuh gadis Padepokan Panawijen itu.
Cahaya yang hanya dapat dilihatnya sendiri.
Akuwu itu kemudian ternyata dengan diam-diam menemui
seorang ahli nujum yang meramalkan, bahwa seorang gadis yang
bercahaya dari dalam tubuhnya itu, kelak akan dapat menurunkan
bukan saja akuwu-akuwu seperti Tunggul Ametung, tetapi gadis itu
akan dapat menurunkan raja-raja yang akan berkuasa melampaui
kekuasaan akuwu, dan bahkan akan melampaui kekuasaan raja di
Kediri.
Ramalan itulah yang mendorong Tunggul Ametung untuk berbuat
seperti orang yang kehilangan kesadaran. Setiap patah kata yang
diucapkan oleh Ken Dedes pasti akan berlaku baginya, melampaui
semua undang-undang dan peraturan yang telah ada.
Kembali untuk sejenak mereka terbenam dalam kediaman. Angin
malam yang lembut mengalir mengusap tubuh mereka yang basah
karena keringat. Daun-daun perdu berdesir seperti sedang
melagukan lagu yang rawan.
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Di dalam dadanya
bergetar berbagai persoalan yang saling membelit. Namun
kemudian ia tidak sampai hati untuk berpesan kepada Ken Arok,
bahwa Empu Purwa telah menghilang dari Panawijen. Ada banyak
pertimbangan yang mengurungkan niatnya untuk mengucapkan
pesan itu. Ia tidak sampai hati untuk membuat luka di hati Ken
Dedes menjadi semakin parah, dan ia tidak sampai hati pula untuk
mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan yang sedang berada di
ambang pintu hati gadis itu.
Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketiga Ken Arok itu berdiri.
Katanya, “Aku tidak akan terlalu lama tinggal di sini.”
“Apakah kau akan kembali ke Tumapel?”
Ken Arok mengangguk.
“Ya,” jawabnya, “pekerjaanku sebagian sudah selesai. Aku sudah
tahu, siapakah yang menamakan dirinya hantu Karautan itu kini.”
“Hanya cukup mengetahui saja.”
Ken Arok tersenyum.
“Tentu tidak,” katanya, “bukankah kau juga tidak akan
membiarkannya.”
Mahisa Agni pun tersenyum pula ia pun kemudian berdiri dan
berkata, “Tetapi Akuwu Tumapel tidak akan membiarkan
pemberontakan ini meluas. Hantu Karautan itu ternyata bukan saja
seorang hantu, tetapi ia adalah seorang pemberontak.”
“Salahnya sendiri. Nafsunya terhadap gadis itu terlampau
berlebih-lebihan. Sehingga akhirnya ia sendiri terjerumus dalam
kesulitan karenanya.”
“Tetapi akibatnya tidak hanya melihat diri Kuda Sempana. Tetapi
padang ini akan menjadi daerah yang menakutkan kembali.”
“Mudah-mudahan tidak berlangsung terlalu lama. Aku akan
mengadakan perondaan di daerah ini apabila akuwu mengizinkan
beberapa orang prajurit. Mungkin Witantra akan menaruh perhatian
pula atas hantu Karautan ini.”
“Mudah-mudahan,” desis Mahisa Agni. Namun angan-angannya
telah menjorok jauh meliputi rencana pembuatan bendungan ini.
Kuda Sempana adalah seorang yang perkasa. Ia tidak akan dapat
menjadi sedemikian kuatnya dengan tiba-tiba. Ia pasti mempunyai
seorang guru, dan bahkan saudara seperguruan yang telah pernah
dikenalnya dalam perjalanannya dari Lereng Gunung Semeru.
Apakah mereka akan membiarkan Kuda Sempana hidup dalam
keadaannya itu, meskipun gurunya adalah seorang guru upahan?
Apakah Kuda Sempana tidak dapat menjanjikan sesuatu kepada
guru serta saudara-saudara seperguruannya untuk bantuan mereka
kepadanya. Yang pertama-tama akan mengalami kesulitan adalah
dirinya dan rencana bendungannya. Kemudian apabila Kuda
Sempana berhasil mengumpulkan murid-murid dari saudara-saudara
seperguruannya, yang memakai cara yang sama dengan gurunya
sendiri dalam mendapatkan ilmunya, maka Kuda Sempana tidak
dapat diabaikan dalam-dalam tata pemerintahan Akuwu Tunggul
Ametung.
Mahisa Agni itu pun kemudian mengangkat wajahnya ketika ia
mendengar Ken Arok berkata, “Agni, aku akan kembali ke Tumapel.
Sudah tentu aku akan menyampaikan apa yang kau ketahui tentang
hantu Karautan ini kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku kemudian
akan menjalankan perintahnya. Apakah aku akan mendapat
perintah untuk menangkapnya, atau aku hanya sekedar menjadi
penunjuk jalan bagi prajuritnya yang akan menangkap Kuda
Sempana itu.”
“Bukankah kau berkepentingan langsung Ken Arok? Sebab nama
hantu Karautan itu pasti akan menyangkut namamu.”
“Tak seorang pun yang tahu bahwa hantu Karautan itu pernah
berganti.”
Mahisa Agni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya,
meskipun senyumnya muram.
“Sudahlah,” berkata Ken Arok, “pergilah ke Tumapel kalau kau
ingin bertemu dengan adikmu. Mungkin Akuwu tidak akan
berkeberatan.”
“Terima kasih,” sahut Mahisa Agni. Namun hatinya berkata, “Tak
akan ada artinya. Pertemuan yang demikian itu hanya akan
menambah parah perasaanku.”
Ken Arok itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya,
dan sambil menyentuh perut kudanya dengan tumitnya ia berkata,
“Sampai bertemu Agni.”
Kepada ketiga kawan Mahisa Agni Ken Arok berkata sambil
tertawa, “Jangan takut terhadap hantu Karautan. Hantu itu
sekarang sudah jinak.”
Ketiga kawan Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya.
Terdengar Sinung Sari berkata, “Selamat jalan. Mudah-mudahan
kita dapat bertemu lagi.”
Ken Arok tertawa. Sementara itu kudanya sudah mulai bergerak
maju menusuk keremangan malam. Mahisa Agni masih melihat anak
muda yang gagah itu melambaikan tangannya, kemudian kudanya
meluncur semakin cepat. Debu yang putih menghambur di belakang
derap kaki kuda itu bergulung-gulung semakin lama semakin jauh.
Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Baru ketika kuda itu
telah semakin kecil dan semakin kabur, ia berpaling kepada ketiga
kawan-kawannya. Katanya, “Itulah hantu Karautan yang
sebenarnya. Tetapi ia tidak senang apabila hal itu diketahui oleh
orang lain. Karena kalian telah terlanjur mengetahuinya, maka aku
minta apa yang kalian ketahui itu harus kalian rahasiakan.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk. Yang terdengar
adalah desis Patalan, “Kalau demikian, benar kata orang, bahwa
hantu Karautan sebenarnya adalah hantu yang tampan.”
“Tidak saja tampan, tetapi hantu itu sangat sakti pula. Namun
kini hantu itu sudah tidak ada lagi. Apakah kau percaya kepadaku?
Hantu itu kini benar-benar sudah menjadi seorang pelayan dalam di
Istana Tumapel.”
Ketiga kawan-kawannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi bagi mereka, siapa pun yang menjadi hantu, namun hati
mereka tidak akan dapat tenteram. Meskipun hantu itu bernama
Kuda Sempana.
Betapa sempitnya pengetahuan mereka, namun mereka tahu
pula, bahwa Kuda Sempana menyimpan dendam kepada Mahisa
Agni, kepada Ken Dedes dan dendam itu akan dapat melimpah
kepada seluruh penduduk Panawijen. Kuda Sempana itu kelak akan
dapat merupakan bahaya bagi mereka, bagi orang-orang Panawijen
yang sedang membuat bendungan.
Kalau Kuda Sempana itu datang seorang diri maka soalnya tidak
akan terlalu sulit. Ternyata sampai saat ini Mahisa Agni masih
dapat
mengatasinya. Tetapi bagaimana kalau Kuda Sempana itu kemudian
mendapat kawan dalam penumpahan dendamnya? Dalam
keadaannya maka Kuda Sempana tidak akan memilih kawan.
Mungkin para penjahat, para perompak dan para penyamun.
Mungkin orang-orang jahat yang sedang menjadi buruan. Dan hati
mereka, kawan-kawan Mahisa Agni itu, pasti akan menjadi semakin
kecut apabila mereka mengetahui, apa yang sedang diperhitungkan
oleh Mahisa Agni, yaitu kawan-kawan seperguruan Kuda Sempana
beserta murid-muridnya dan bahkan gurunya pula.
Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada ketiga kawankawannya
itu. Ia menyadari akibatnya apabila kawan-kawannya
mengetahui tentang Kuda Sempana beserta perguruannya.
Bahkan kemudian ia berkata, “Nah. Sekarang kalian telah melihat
sendiri, bahwa yang menamakan diri hantu Karautan itu tidak lebih
dari Kuda Sempana. Karena itu jangan takut. Mudah-mudahan aku
akan dapat mencegahnya apabila ia mencoba mengganggu
pekerjaan kita.”
Ketiga kawan-kawannya mengangguk. Tetapi tampaklah
wajahnya tidak meyakinkan. Sehingga Mahisa Agni bertanya,
“Bagaimana? Apakah masih ada yang kalian cemaskan?”
Kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Baru sejenak kemudian
Sinung Sari berkata, “Bagaimana dengan Kuda Sempana itu?”
“Ia tidak berbahaya,” sahut Agni.
“Kalau ia seorang diri,” sambung Sinung Sari.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab,
“Aku juga tidak seorang diri. Bukankah aku akan melakukan
pekerjaan yang berat itu bersama-sama seluruh rakyat Panawijen?
Seandainya Kuda Sempana akan datang kembali bersama
kawannya, maka aku pun akan siap menyambutnya bersama-sama
kawan-kawanku. Anak-anak muda Panawijen yang lain, di antaranya
kalian bertiga.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu terdiam. Mereka sebenarnya masih
ingin menjelaskan bahwa mungkin Kuda Sempana mendapat
kawan-kawan yang berbahaya. Sedang anak-anak muda Panawijen
bukanlah orang-orang yang siap bertempur seperti Mahisa Agni.
Tetapi mereka malu kepada diri mereka sendiri. Mereka malu,
bahwa mereka sama sekali tidak mampu berbuat apapun dalam
keadaan yang sangat berbahaya.
Dalam pada itu, maka merayaplah perasaan yang lain di dalam
diri ketiga anak-anak muda itu. Tumbuhlah pertanyaan di dalam diri
mereka sendiri, kenapa mereka sama sekali tidak mempunyai
keberanian untuk berbuat sesuatu? Apakah mereka masih juga akan
tetap berdiam diri seandainya kelak datang Kuda Sempana bersama
para penyamun, penjahat dan perampok mencelakai Mahisa Agni?
Apakah merela akan tetap berdiam diri sebagai penonton yang tidak
mempunyai sangkut paut sama sekali?”
Mereka berempat kini duduk berdiam diri. Masing-masing
terbenam dalam angan-angan yang berbeda-beda. Mahisa Agni
dengan gambaran-gambaran tentang bendungan, Kuda Sempana,
saudara-saudara seperguruannya, sedang ketiga kawannya sedang
mencoba melihat ke diri mereka masing-masing. Namun terasa
bahwa mereka kini menjadi sangat malu kepada diri mereka sendiri,
kepada Mahisa Agni dan kepada Ken Arok. Juga kepada Kuda
Sempana.
Tiba-tiba menyalalah di dalam hati mereka, suatu tekad yang
belum pernah dimilikinya sejak. mereka menyadari diri mereka,
sejak mereka masih kanak-kanak. “Kita harus berbuat sesuatu
apabila bahaya datang menimpa kita kembali. Kita tidak boleh
menyerahkan diri kita kepada orang lain, kepada pertolongan yang
belum pasti akan datang pada waktunya. Kita tidak boleh
menggantungkan diri kepada kekuatan di luar diri kita sendiri. Diri
pribadi kita, dan diri kita dalam satu kesatuan. Rakyat Panawijen!”
Angin malam masih berembus mengusap tubuh mereka. Semakin
lama semakin terasa, dingin malam menyentuh-nyentuh. Embun
yang sejuk turun perlahan, hinggap di dedaunan dan pada
batangbatang
rumput kering. Di kejauhan terdengar suara burung kedasih
melas asih, seperti ratapan biyung yang kehilangan anaknya.
Bulu kuduk kawan-kawan Mahisa Agni meremang. Bunyi burung
kedasih mempunyai kesan yang khusus. Terasa malam menjadi
semakin muram.
Ketika mereka menyadari diri kembali, dan mereka melihat
Mahisa Agni duduk merenungi bara api yang sudah semakin muram
pula, sekali lagi perasaan malu hinggap di sudut hati mereka. Bunyi
burung kedasih adalah bunyi yang dikenalnya sejak kecil. Dan
burung itu tidak akan dapat mengucapkan bunyi yang lain daripada
bunyi itu. Bahkan jantung mereka pasti akan berhenti berdegup
apabila mereka mengetahui, bahwa seekor burung kedasih bersiul
dengan nada suara burung kutilang.
Tetapi mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar
suara membelah sepi malam, “Aku sudah mengantuk.”
Ketiga kawannya menarik nafas.
“Hem,” Patalan mengeluh, “kau mengejutkan kami, Mahisa Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, kemudian sambil
tersenyum ia menjawab, “Ah, kalian membuat bayangan-bayangan
yang aneh di dalam hati kalian, sehingga kalian menjadi sangat
mudah terkejut.”
Kawan-kawannya tidak menjawab. Mahisa Agni telah menebak
dengan tepat.
“Nah, sekarang marilah kita tidur.”
“Bersama-sama?” bertanya Jinan.
“Ya. Kenapa?”
“Bagaimana kalau ada bahaya yang mendatang selagi kita tidur?”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Bagus,
marilah kita bergantian. Aku dan dua di antara kalian akan tidur
dahulu. Siapa yang pertama bangun?”
“Berdua-dua,” sahut Sinung Sari, “supaya ada kawan bercakapcakap.”
“Baik,” jawab Agni, “siapa yang tidur kemudian atau dahulu
bersama aku.”
“Aku,” jawab ketiganya hampir bersamaan.
Mahisa Agni menarik nafas panjang sekali. Ternyata mereka
masih saja dikuasai oleh kecemasan. Karena itu maka katanya, “Jadi
apakah kalian bertiga berjaga bersama aku dahulu, kemudian kalian
bertiga berjaga lagi sesudah itu bersama aku pula? Sehingga
dengan demikian kita semuanya tidak jadi beristirahat bergantian?”
Ketiga kawan Mahisa Agni menundukkan kepalanya, mereka
masing-masing ingin mendapat giliran bersama Mahisa Agni. Namun
mereka tertawa juga di dalam hati mendengar kata-kata Mahisa
Agni itu.
Tetapi tiba-tiba mereka mendengar Mahisa Agni itu berkata,
“Tidak perlu berjaga-jaga bergantian.”
“Kenapa?” bertanya Sinung Sari.
“Lihat, fajar telah membayang di langit. Sebentar lagi kita akan
melihat matahari terbit.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menarik nafas dalam. Ketika mereka
hampir bersamaan mengangkat wajah mereka dan melihat warna
semburat merah membayang di ujung timur, hati mereka tiba pula
menjadi sejuk, seakan-akan mereka terbangun dari sebuah mimpi
yang menakutkan.
“Hem,” desah Patalan, “kita telah dibebaskan dari malam yang
mengerikan.”
Mahisa Agni tidak menjawab meskipun ia menjadi sedih melihat
kenyataan itu. Kenyataan tentang kawan-kawannya dan anak-anak
Panawijen pada umumnya. Namun yang dikatakannya adalah, “Ya,
kita telah melampaui malam yang akan sangat berkesan ini. Tetapi
pekerjaan kita belum selesai. Kita masih harus berjalan menyusur
sungai ini.”
Dada ketiga kawan Mahisa Agni berdesir.
“Kita meneruskan perjalanan?” bertanya Sinung Sari.
“Apakah kita akan kembali tanpa hasil apapun,” bertanya Mahisa
Agni kembali.
Sinung Sari terdiam. Mereka memang pergi untuk mencari
kemungkinan membuat bendungan. Bukan sekedar bertamasya di
padang Karautan. Namun hatinya masih juga dibayangi oleh
peristiwa semalam, meskipun kini di sudut hatinya telah tumbuh
keinginan untuk tidak sekedar menonton saja, apabila peristiwa itu
terulang kembali atas Mahisa Agni. Namun mereka masih belum
memiliki keberanian untuk itu.
Karena Sinung Sari tidak menjawab, maka Mahisa Agni
meneruskan, “Kita adalah duta dari rakyat Panawijen. Duta yang
harus dapat menyelesaikan pekerjaan kita. Bukan duta yang harus
melamar gadis-gadis cantik, bukan duta untuk menyampaikan bulu
bekti dan persembahan, tetapi kita adalah duta-duta yang akan
menentukan hidup dan mati rakyat kita. Duta yang akan menjadi
tempat bergantung bagi masa depan. Kalau kita yang muda-muda
ini gagal melakukan tugas kita, maka kita semuanya akan
tenggelam dalam kegelapan.”
Ketiga kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Mereka dapat
mengerti kata-kata itu. Mereka sependapat dengan Mahisa Agni,
tetapi keadaan mereka sebelumnya telah terlampau banyak
mempengaruhi sifat-sifat mereka, sehingga mereka tidak
mendapatkan keseimbangan antara tekad mereka dan keberanian
mereka.
Sementara itu langit menjadi semakin lama semakin terang.
Cahaya yang kemerah-merahan di timur, semakin lama menjadi
sesaat semakin jelas, dan kemudian matahari yang cerah mulai
menampakkan dirinya di punggung bukit.
“Kalian lihat matahari,” bertanya Mahisa Agni. Kembali ketiga
kawannya menengadahkan wajahnya. Cahaya yang masih kemerahmerahan
tercurah ke wajah-wajah mereka.
“Sebentar lagi kita akan berjalan kembali. Kalau kalian masih
ingin beristirahat, beristirahatlah sebentar. Mungkin kalian ingin
makan atau minum lebih dahulu.”
Ketiga kawannya mengangguk. Kini tiba-tiba terasa perut mereka
menjadi sangat lapar. Jinan segera mencoba mencari sisa-sisa bara
yang masih ada di perapian, dihembus-hembusnya bara itu dan
ditaruhkannya beberapa genggam rumput kering ke atasnya. Ketika
kemudian api menyala kembali meskipun kecil, mereka meletakkan
makanan yang mereka bawa ke atas api itu.
Sesudah mereka selesai dengan makan, maka segera Mahisa
Agni bersiap kembali untuk berangkat. Kawannya telah
mengumpulkan alat-alat yang mereka bawa sebagai bekal di
perjalanan. Bumbung-bumbung kecil, bahan-bahan makanan dan
beberapa macam barang yang lain.
Ketika matahari kemudian merayap semakin tinggi, maka
keempat orang itu kembali menempuh perjalanannya, dengan
segan ketiga kawan Mahisa Agni menyeret kaki-kaki mereka sambil
mengeluh di dalam hati. Tetapi apabila mereka teringat kepada
harapan yang disertakan kepada mereka oleh rakyat Panawijen,
maka hati mereka menjadi besar kembali.
Kini mereka berjalan menyusur sungai. Batu-batu padas
menjorok di sana sini, sehingga sekali-sekali mereka harus
berloncatan dari batu ke batu. Pohon-pohon perdu yang rimbun
kadang-kadang menghalangi mereka dan dengan pedang-pedang
mereka, mereka terpaksa menebasi ranting-ranting kecil dan
bahanbahan
yang melintang bujur di hadapan mereka, dibeliti oleh
tumbuh-tumbuhan yang merambat dan bahkan berduri.
“Tebing ini semakin tinggi,” gumam Mahisa Agni.
“Ya,” sahut kawannya, “perjalanan kita akan sia-sia”
“Belum tentu,” jawab Agni, “mungkin di sebelah kita akan
menemukan dasar sungai itu naik pula.”
Kawannya tidak menjawab. Mereka kini tinggal berjalan saja di
belakang Mahisa Agni. Bahkan Jinan hampir-hampir telah menjadi
berputus asa dan kehabisan tenaga untuk berjalan terus.
Tetapi Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak
memperhatikan mereka itu. Ia berjalan terus, dan perhatiannya
bulat-bulat tertuju kepada kemungkinan mendapat tempat untuk
membuat bendungan.
Matahari semakin lama semakin tinggi. Panasnya seolah-olah
menembus sampai ke tulang. Keringat keempat orang yang berjalan
di bawah terik panas itu seakan-akan diperas dari dalam tubuhnya.
Namun sama sekali tidak tampak kelesuan di wajah Mahisa Agni.
Dengan tekad yang menyala sepanas api, Mahisa Agni berjalan
terus. Meskipun dahinya kadang-kadang tampak berkerut-kerut
apabila dilihatnya jarak antara bibir tebing dan dasar sungai
menjadi
semakin jauh. Tetapi ia masih memiliki harapan seakan-akan tak
akan kunjung padam, meskipun kadang-kadang dirayapi keraguraguan.
Mereka berjalan terus di bawah panas cahaya matahari. Jinan
yang berjalan di ujung paling belakang sekali terdengar mengeluh.
Patalan dan Sinung Sari masih juga berjalan dengan hati yang
kosong dekat-dekat di belakang Mahisa Agni.
Sekali-sekali Mahisa Agni berhenti, menjenguk sungai di
sampingnya. Dari sela-sela rumput-rumput liar, batang-batang
perdu dan ilalang, Mahisa Agni melihat air yang bening gemericik
mengalir di antara batu-batu yang berserakan.
Tiba-tiba ia terhenti. Dengan serta-merta ia berkata kepada
kawannya, “Kau lihat, di sini batu berserakan melimpah-limpah.
Tetapi dengan muramnya Sinung Sari menjawab, “Tebing di sini
terlampau tinggi. Apakah kita dapat menaiki air setinggi ini?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang
pekerjaan itu hampir tidak mungkin dilakukan. Tetapi di sini batu
terlampau banyak, dan cukup besar-besar. Ada yang sebesar
kerbau, ada yang sebesar kambing. Dan ada juga yang jauh lebih
besar, namun hampir memenuhi dasar sungai itu, batu-batu sebesar
kepala kucing.
“Tetapi tebing terlampau tinggi,” gumam Mahisa Agni.
Sinung Sari menganggukkan kepalanya, “Ya. Terlampau tinggi
dan curam.”
“Marilah kita berjalan terus. Mudah-mudahan batu-batu itu akan
terdapat di sepanjang sungai ini.”
“Apakah kita akan berjalan lagi,” sela Jinan.
“Ya,” Mahisa Agni mengangguk.
Jinan mengeluh. Katanya, “Kita harus bermalam semalam lagi di
padang ini.”
“Tidak,” jawab Agni, “kalau tempat itu sudah kita temukan, kita
segera kembali.”
“Tetapi jarak kembali itu akan kita tempuh lebih dari satu hari
seperti kita datang.”
“Kita dapat berjalan terus. Kalau kita pulang, kita tidak perlu
lagi
melihat sungai itu. Meskipun betapa gelapnya, kita akan tetap dapat
meneruskan perjalanan.”
“Kakiku akan patah,” sahut Jinan.
“Ya,” sambung Patalan dan Sinung Sari hampir bersamaan, “kita
akan lelah sekali.”
Mahisa Agni terdiam. Ia tidak dapat berkata apapun lagi.
Meskipun perjalanan ini sama sekal, tak berarti dibandingkan
dengan perjalanan yang pernah dilakukan, baik bersama gurunya,
maupun seorang diri, dan yang terakhir adalah perjalanannya ke sisi
seberang Gunung Semeru, maka apa yang dilakukannya kali ini
adalah sebuah tamasya yang tak berarti bagi sepasang kakinya,
namun ia tidak dapat menyangkal, bahwa ketiga kawan-kawannya
benar-benar telah kelelahan.
Meskipun demikian sejenak kemudian ia berkata, “Kita mencoba
sedikit lagi. Kita berjalan beberapa saat, mungkin dekat di atas
ini
sungai menjadi semakin tinggi.”
Ketiga kawannya saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun
yang membantah.
“Apakah kita akan beristirahat dulu?”
Ketiga kawan-kawannya masih diam. Mereka dihadapkan pada
kebimbangan, kecemasan dan hampir keputusasaan. Kalau mereka
kini beristirahat, maka waktu yang akan dipergunakannya akan
bertambah panjang. Dengan demikian, mereka mungkin akan
bermalam dua malam lagi di padang rumput ini sebelum mereka
sampai ke Panawijen. Tetapi kalau mereka berjalan terus, kaki
mereka seolah-olah benar-benar telah akan patah.
Dalam kebimbangan itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Biarlah
kita berjalan sebentar lagi. Kalau kita masih juga belum menemukan
tempat itu, kita akan beristirahat.”
Kata-kata itu sama sekali bukanlah yang diharapkan oleh ketiga
kawan-kawannya. Beristirahat sekarang atau nanti, bagi mereka
akan berakibat sama. Memperpanjang perjalanan.
“Agni,” berkata Sinung Sari, “apakah kita masih akan membuangbuang
waktu, menyusuri sungai yang menjadi semakin dalam ini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tak
ada pilihan lain Sinung Sari. Kita harus berjalan terus sampai kita
menemukan tempat itu.”
“Kita tidak akan berhasil,” potong Patalan, “bukankah tempat ini
menjadi semakin sulit bagi pembangunan sebuah bendungan.
Mungkin bekas bendungan yang lama itu lebih baik daripada tempat
ini.”
“Tidak,” bantah Agni, “seandainya kita tidak menemukan tempat
lain, maka tempat ini lebih baik dari bekas bendungan itu. Di sini
kita dapatkan batu berlimpah ruah. Kita tinggal membuat
brunjungbrunjung
bambu sebanyak yang dapat kita buat. Kita isi brujung itu
dengan batu, dan kita susun bertimbun-timbun. Tetapi apa yang
dapat kita lakukan di bekas bendungan itu? Kita harus membuat
brujung, kita isi dengan sampah dan dedaunan di antara batu-batu
yang tidak terlampau banyak. Setiap kali kita masih harus
menimbuni dengan tanah yang akan selalu hanyut dibawa air.
Berapa banyak dedaunan dan tanah yang kita perlukan. Pepohonan
seluruh padukuhan itu kita tebang semuanya, agaknya masih belum
akan mencukupi. Setiap kali daun-daun itu membusuk, setiap kali
itu pula kita harus menambahnya.”
Ketiga kawan Mahisa Agni terdiam. Memang pekerjaan itu pun
tak mungkin dilakukannya. Tetapi untuk berjalan terus, mereka
benar-benar telah kehilangan gairah.
“Atau kita kembali dan tidak lagi berpikir tentang bendungan?”
bertanya Mahisa Agni, “kita biarkan Panawijen menjadi kering, dan
sawah-sawah kita menjadi kering pula tanpa membuat tanah
persawahan yang baru?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun masih terbungkam. Pertanyaan
Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat dijawabnya. Bahkan
betapapun kecilnya, namun pertanyaan itu telah mempengaruhi
mereka pula. Bendungan itu adalah harapan bagi seluruh rakyat
Panawijen. Karena mereka tidak menjawab, maka Mahisa Agni
kemudian berkata, “Aku tahu bahwa kalian telah menjadi sangat
lelah. Aku pun menjadi sangat lelah pula. Tetapi aku merasa bahwa
seluruh rakyat Panawijen menitipkan harapan pada perjalanan kita
ini. Karena itu aku akan berjalan terus. Apabila kalian merasa,
bahwa kalian sudah tidak mungkin lagi meneruskan usaha ini, maka
aku persilakan kalian berjalan kembali. Aku tidak akan berjalan
kembali. Aku akan berjalan terus.”
Kawan-kawan Mahisa Agni itu terkejut mendengar kata-kata itu.
Dengan serta-merta Patalan menjawab, “Tidak Agni. Kami tidak
akan kembali.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia melihat kecemasan
membayang di wajah ketiga kawan-kawannya itu, “Mereka tidak
akan memilih,” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya. Ia tahu benar
bahwa ketiga kawan-kawannya itu tidak akan berani menempuh
perjalanan kembali tanpa dirinya.
Meskipun demikian ia masih bertanya, “Kenapa kalian tidak akan
kembali? Bukankah kalian telah hampir tidak percaya lagi bahwa
usaha ini akan berhasil?”
“Tidak. Bukan begitu. Kami masih mempunyai harapan yang
besar untuk menemukan tempat yang kita cari,” sahut Jinan dengan
wajah yang pucat.
Mahisa Agni diam sesaat. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kalian
tidak berjalan terus karena keyakinan kalian bahwa usaha ini akan
berhasil, tetapi kalian berjalan terus kalian tidak berani berjalan
kembali.”
Serentak ketiga kawan Mahisa Agni mengangkat wajahnya.
Mereka pandangi wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun
sesaat kemudian wajah-wajah itu tertunduk lesu. Tebakan itu tepat
seperti sebuah cermin yang dihadapkan di muka wajah hati
masingmasing.
Wajah-wajah yang pucat dan ketakutan.
Mahisa Agni melihat ketiga kawannya itu tertunduk. Wajah
mereka yang pucat menjadi semakin pucat dan suram. Tiba-tiba
timbullah iba di hatinya. Katanya, “Sudahlah. Aku hanya ingin
bergurau. Sekarang marilah kita beristirahat sejenak. Mudahmudahan
kita akan mendapatkan kesegaran kembali.”
Mereka, kawan-kawan Mahisa Agni tidak membantah. Ketika
kemudian Mahisa Agni menjatuhkan dirinya di bawah pohon-pohon
perdu di tepi tebing sungai, maka mereka pun duduk pula di
sampingnya.
Dengan tanpa gairah, mereka kemudian mencoba mengisi perut
mereka dengan makanan yang mereka bawa dari padukuhan.
Namun ketika mereka minum beberapa teguk, maka bumbungbumbung
mereka telah menjadi kering kembali
“Kita perlu air,” desis Mahisa Agni.
Ketiga kawannya mengangguk serentak.
“Ya,” sahut Sinung Sari, “aku haus sekali.”
Tetapi mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka
memperhatikan tebing sungai yang curam. Tebing yang mengeras
karena batu padas yang basah.
“Tebing ini sangat curam dan licin,” gumam Mahisa Agni.
Ketiga kawannya hanya dapat menganggukkan kepala mereka
tanpa dapat memberikan pertimbangan apapun. Namun dalam
keadaan yang demikian wajah-wajah mereka menjadi semakin
putih. Seakan-akan darah mereka terhenti di leher mereka sebelum
merayap ke wajah-wajah itu.
Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Dipandanginya tebing yang
curam dengan beberapa jenis perdu yang tumbuh hampir rapat.
Tetapi Mahisa Agni tidak yakin, bahwa akar-akar perdu itu cukup
kuat apabila ia mencoba menuruni tebing sambil berpegangan pada
batangnya. Apabila ternyata akar perdu itu terlepas, maka ia pasti
akan terlempar jatuh di atas batu-batu padas yang menjorok
runcing-runcing di pinggir sungai itu. Tetapi apabila terpandang
olehnya pantulan sinar matahari di atas air yang jernih itu,
lehernya
serasa terbakar karena kehausan.
“Hem,” desahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Marilah kita berjalan
kembali. Mudah-mudahan kita segera mendapatkan tebing yang
dapat aku turuni. Aku pun haus sekali.”
Mereka bertiga segera berdiri dan berjalan kembali tersuruksuruk
di belakang Mahisa Agni. Kini mereka bersama-sama,
kehausan di bawah terik sinar matahari. Namun tekad Mahisa Agni
yang membaja telah menyeretnya untuk berjalan terus.
Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketiga kawannya
menjadi semakin lelah dan lemah. Jinan seolah-olah sudah tidak
mampu untuk berjalan. Kakinya yang lemah itu diseretnya sambil
mengeluh di dalam hati, “Apakah aku akan mati di padang rumput
ini?”
Patalan dan Sinung Sari masih agak baik keadaannya daripada
Jinan. Tetapi matahari serasa membakar tubuhnya. Perasaan haus
yang sangat telah menyerangnya, sehingga seakan-akan ludahnya
menjadi kering dan lehernya menjadi lekat.
Berkali-kali mereka menjilat-jilat bibir-bibir mereka. Tetapi bibir
itu pun telah menjadi kering pula. Sedang di bawah kaki-kaki
mereka, terdengar gemericik air yang bening.
“Agni,” desis Patalan yang tidak dapat menahan diri, “aku haus
sekali.”
Langkah Mahisa Agni terhenti. Sekali lagi ia memandangi
bumbung kecil yang tersangkut diikat pinggangnya. Bumbung itu
telah kosong, bahkan telah kering sampai ke dasarnya.
Sekali ia menarik nafas. Kini disadarinya bahwa ia tidak akan
dapat berjalan terus. Karena itu, sekali lagi dipandanginya tebing
yang curam itu, apabila ia menemukan kemungkinan untuk merayap
turun.
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Tebing itu ternyata terlalu
curam, seakan-akan sama sekali tidak memberi kesempatan
kepadanya untuk mendapatkan pancadan. Tetapi untuk berjalan
tanpa air, agaknya benar-benar tidak mungkin bagi ketiga
kawankawannya.
Sesaat Mahisa Agni berdiri mematung. Sementara itu ia masih
saja mendengar kawan-kawannya berdesah. Ketika ia berpaling
memandangi wajah-wajah itu, Mahisa Agni melihat, bahwa ketiga
kawannya itu benar-benar telah kehausan. Karena itu ia menjadi
bingung.
“Bagaimana Agni,” terdengar suara Sinung Sari serak, “apakah
kau dapat mengambil air untuk kita?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Tebing itu terlalu curam,” desahnya.
“Lalu bagaimana?” desak Jinan. Anak itu kini telah duduk dengan
lesunya di atas rerumputan kering.
“Berteduhlah di bawah perdu itu,” berkata Mahisa Agni kepada
kawan-kawannya.
“Kami tidak kepanasan,” jawab Patalan, “tetapi kami kehausan.”
“Dengan berteduh, maka badan kita akan merasa segar. Mungkin
rasa haus itu pun akan berkurang.”
“Tidak. Kami perlu air.”
Mahisa Agni menjadi bertambah cemas. Ketiga anak-anak muda
itu kini benar-benar menjadi seperti anak kecil yang sedang
merengek minta minum kepada ayahnya. Mereka sama sekali bukan
kawan yang baik untuk menghadapi kesulitan dan mencoba
mengatasinya. Namun Mahisa Agni tidak sampai hati untuk
mengatakannya kepada mereka. Sebab Mahisa Agni mengetahui
sebab dan pengaruh yang telah membentuk anak-anak muda
Panawijen tidak mampu mengatasi kesulitan.
Kini Mahisa Agni tidak boleh hanya sekedar mencari kesalahan
dan alasan-alasan untuk menghindarkan diri dari kewajibannya
menyelamatkan kawan-kawannya itu. Kembali ia berpikir dan
kembali ia merenungi tebing. Beberapa pepohonan tampak tumbuh
melekat pada batu-batu padas namun ia tidak yakin, bahwa
akarakarnya
mampu untuk menahan berat tubuhnya.
Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat dadanya. Setelah berdiam diri
sejenak, maka katanya lantang, “Kalian mau menolong aku turun?”
“Tentu,” sahut mereka tanpa berpikir.
“Lepaslah kain panjangmu.”
Ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Tetapi mereka
sudah sangat haus, sehingga mereka menjawab serentak, “Baik,
adalah dengan demikian kau mendapatkan air. Apakah kami harus
menukar air itu dengan kain kami?”
Dahi Mahisa Agni berkerut. Apalagi ketika ia mendengar Sinung
Sari berkata, “Agni. Di rumah kami masih mempunyai kain yang
lebih baik dari ini. Nanti aku akan menukarnya dengan yang baik
itu.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Betapa ia menjadi jengkel mendengar
jawaban-jawaban itu. Tetapi sekali lagi disadarinya bahwa pikiran
ketiga kawannya itu agaknya telah benar-benar terganggu oleh
perasaan haus yang mencengkam mereka.
“Aku memang memerlukan kain-kain itu,” berkata Mahisa Agni.
“Tetapi aku tidak akan menukarnya dengan air. Aku minta kalian
menyambung-nyambung kain itu. Empat kain dengan yang aku
pakai, aku kira akan dapat menolong aku turun ke bawah di
samping akar-akar perdu di sepanjang tebing itu. Tetapi jangan
sayang kalau kain itu masih harus dibelah supaya panjangnya
mencapai dasar.
Sekali lagi ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Dan
terdengar Mahisa Agni berkata pula, “Kalau kalian sayang akan kain
itu, maka kalian tidak akan mendapatkan air, sebab aku tidak
mempunyai cara lain untuk turun. Nanti apabila kita kembali ke
padukuhan, biarlah kita memasuki rumah kita masing-masing di
malam hari supaya tidak terlihat oleh siapa pun bahwa kain kita
sudah terbelah.”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun segera menyetujui. Mereka
sudah tidak tahan lagi menderita haus yang amat sangat. Sedang
matahari di langit masih saja memancarkan panasnya, seakan-akan
ingin membakar seluruh bola bumi.
Segera mereka berempat melepaskan kain-kain panjang mereka.
Kain itu pun kemudian disobek di tengah-tengah membujur, dan
kemudian satu sama lain diikat dalam satu jalur yang panjang.
“Mudah-mudahan aku dapat sampai ke dasar sungai dan
memanjat naik kembali lewat sambungan kain itu. Pegang ujungnya
kuat-kuat. Kalau kalian bertiga gagal menahan berat badanku, dan
aku terpelanting jatuh, maka kalian pun akan kehausan di sini.
Mungkin kalian akan mati pula seperti aku. Karena itu kalian
bertiga
harus mampu menahan berat badanku apabila kalian benar-benar
ingin minum.”
Kata-kata itu merupakan ancaman yang sangat mereka takuti.
Apabila mereka gagal menahan tubuh Mahisa Agni, mereka pasti
akan mati kehausan, bukan mati terpelanting ke dalam jurang.
Karena itu, maka mereka berjanji kepada diri sendiri bahwa
mereka akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian
akan merupakan dorongan bagi mereka untuk mengerahkan sisasisa
kekuatan mereka. Demikian besar nafsu mereka untuk
mendapatkan air. Maka tenaga mereka pun seakan-akan menjadi
bertambah-tambah kuatnya.
Mereka bertiga dengan hati-hati memegangi ujung dari kain yang
bersambungan itu, sedang Mahisa Agni perlahan-lahan merayap
turun. Kaki-kakinya yang kuat, mencoba mencari pancadan yang
dapat memperingan berat tubuhnya di atas batu-batu yang
menjorok dan pada pokok batang-batang perdu. Ternyata di antara
batang-batang perdu itu ada juga yang cukup kuat untuk menahan
berat badannya.
Dengan sangat hati-hati akhirnya Mahisa Agni dengan selamat
dapat mencapai dasar sungai itu. Dasar yang keras. Di antara
batubatu
yang berserakan hampir memenuhi dasar sungai, maka di
tepian, batu-batu padas yang runcing menjorok di sana sini.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Sekali ia
menengadahkan kepalanya. Dilihatnya ketiga kawannya
menelungkup di atas tebing melihatnya dengan penuh harapan.
Ketiga kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak membantunya
dalam kesulitan, bahkan seakan-akan mereka adalah momonganmomongan
yang hanya dapat mengganggu saja.
Tetapi mereka bertiga telah terlanjur dibawanya sampai ke
tempat ini. Apabila terjadi sesuatu atas mereka, maka orang-orang
Panawijen akan menjadi mudah berprasangka terhadapnya. Karena
itu, maka ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan ketiga
kawan-kawannya itu.
Kini Mahisa Agni berpaling memandangi arus sungai yang bening
jernih. Suaranya gemericik di antara batu-batu yang berserakan
besar kecil.
Ketika Mahisa Agni memandang lurus ke depan, dilihatnya
sebuah jalur jurang yang menganga panjang. Seolah-olah sebuah
jalur perak yang putih di antara sepasang dinding baja yang tegak
sebelah menyebelah.
Ketika ia memandang jauh ke depan, tiba-tiba Mahisa Agni itu
tertegun. Wajahnya menegang dan darahnya menjadi seolah-olah
beku. Jauh di hadapannya, di ujung jalur sungai yang keputihan,
dilihatnya sebuah dinding yang putih mengkilap.
Dengan sigapnya Mahisa Agni meloncat semakin menepi sungai
itu. Bahkan kemudian ia menceburkan diri, dan berjalan ke tengah.
Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi celananya menjadi basah
kuyup oleh arus air hampir setinggi perutnya.
Ketiga kawannya yang melihat Mahisa Agni berjalan ke tengah
sungai menjadi heran. Apakah yang dilakukannya di sana? Bahkan
Patalan yang kehausan berteriak tidak sabar, “Agni. Apakah kau
menunggu aku mati?”
Mahisa Agni masih berdiri dengan tegangnya. Bahkan setelah ia
bersentuhan dengan air ia menjadi lupa akan perasaan hausnya.
Semula ia hanya ingin menahan diri untuk tidak tergesa-gesa
meneguk air, supaya perutnya tidak menjadi sakit dan gembung.
Namun kini bahkan ia tidak lagi mengingat perasaan hausnya itu.
“Agni!” teriak Sinung Sari dan Jinan hampir bersama.
Mahisa Agni terkejut mendengar teriakan itu, seolah-olah ia
sedang terbangun dari sebuah mimpi.
“Agni, cepat sebelum aku mati.”
Kini Agni berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Tetapi ia
tidak segera mengisi bumbungnya. Dengan lincahnya ia meloncat ke
tepian sambil berteriak, “Naik, naiklah menurut arus air.”
“He,” sahut Patalan.
“Naiklah. Lihatlah beberapa ratus langkah di atas kita sepanjang
sungai ini.”
“Apa,” teriak Jinan, “maksudmu supaya aku berlari-lari dan mati
karena leherku tersekat kering.”
“Tidak, cepat berlari beberapa ratus langkah.”
“Apakah kau gila Agni. Ada apa di atas jalur sungai itu?”
“Apakah kalian tidak melihat,” sahut Agni seperti orang yang
dilanda oleh kegelisahan, “pergilah cepat.”
Kawan-kawannya pun menjadi gelisah dan heran. Bahkan
mereka menjadi bingung.
“He,” teriak Agni, “apakah kalian tidak melihat?”
“Kami tidak melihat apa-apa selain sungai itu,” jawab
kawankawannya.
“Dan tidak mendengar?”
“Tidak.”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Dimiringkannya kepalanya dalam
keasyikan mendengarkan sesuatu, “Aku mendengarnya meskipun
lamat-lamat.”
“Kau mendengar apa?” bertanya Sinung Sari.
“Pergilah menyusur sungai ini. Aku akan lewat di bawah.”
“Ya, tapi ke mana dan kenapa?”
“Jeram. Apakah, kau tidak mendengar suara air itu terjun? He. Di
atas kita ada jeram yang cukup tinggi. Tebing sungai di sebelah
jeram itu pasti tidak akan terlalu tinggi. Marilah kita lihat
apakah kita
dapat membuat bendungan di atasnya.”
Kawan-kawannya yang kehausan itu pun tiba-tiba terpengaruh.
Jeram? Kalau benar kata Mahisa Agni, maka mereka akan
menemukan dasar sungai yang cukup dangkal, sehingga mereka
akan dapat langsung terjun ke dalam air dan minum sepuaspuasnya.
Karena itu, maka tiba-tiba kekuatan mereka serasa
tumbuh kembali. Harapan untuk mendapatkan air sebanyak yang
diinginkan, akan terpenuhi.
Tiba-tiba seperti disentakkan oleh tenaga ajaib mereka serentak
berdiri dan berlari ke hulu. Kain panjang yang bersambung-sambung
itu mereka tarik saja seperti ekor yang panjang sekali, yang
kadangkadang
tersangkut pada batang perdu. Karena itu, maka kain-kain
mereka menjadi tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting.
Bahkan sekali-sekali mereka tersentak dan hampir-hampir jatuh
menelentang karena kain itu tertahan oleh sebuah sangkutan yang
agak kuat. Namun betapapun juga mereka masih cukup sadar,
bahwa kain itu harus tetap mereka seret bersama mereka.
Kini panas yang terik seolah-olah tidak terasa lagi. Mereka
sedang digerakkan oleh tenaga ajaib yang demikian saja tumbuh
dari desakan harapan yang kuat. Seakan-akan mereka telah
digerakkan bukan oleh diri mereka sendiri. Namun mereka sama
sekali tidak menyadarinya, bahwa kekuatan-kekuatan yang demikian
itulah, yang lazim disebut kekuatan-kekuatan cadangan.
Kekuatankekuatan
yang bagi mereka yang terlatih dapat dimanfaatkan setiap
saat dengan penuh kesadaran. Tetapi bagi mereka yang tidak
memeliharanya dan bahkan tidak menyadarinya, kekuatan itu hanya
akan timbul dalam saat-saat tertentu justru di luar kehendak wajar
dan kesadaran.
Demikian mereka bertiga berlari seperti sedang berpacu,
berkejar-kejaran. Sedang jauh dibawa dinding tebing sungai itu
Mahisa Agni pun berlari jauh lebih kencang dari mereka bertiga,
sehingga Mahisa Agni yang pertama-tama sampai ke bawah jeramjeram
itu. Namun Mahisa Agni sama sekali tidak puas melihat jeramjeram
itu dari bawah. Tidak puas mendapat siraman air sejuk dingin
yang gemercik jatuh di atas batu-batu. Yang telah memantulkan
sinar matahari dalam tujuh warna seperti, warna pelangi. Ingatlah
Mahisa Agni saat itu sedang terpancang pada bendungan. Karena
itu, maka segera ia berusaha mencari kemungkinan untuk memanjat
tebing yang kini tidak securam tebing-tebing di sepanjang yang
pernah dilaluinya.
Meskipun demikian untuk memanjat tebing itu sama sekali bukan
pekerjaan yang mudah. Mahisa Agni harus mendapat pancadan
pada batu-batu padas yang menjorok tidak lebih dari tebal telapak
kakinya. Sedangkan tangannya harus berpegangan pada batu-batu
yang serupa atau pada akar-akar perdu.
Dengan hati-hati Mahisa Agni merayap naik. Tubuhnya menjadi
kotor oleh lumpur dan tanah yang hitam kemerah-merahan.
Tetapi Mahisa Agni pernah merayap lereng gunung semeru.
Merayap masuk ke dalam gua di lereng gunung itu. Meskipun apa
yang dilakukan kali ini tidak lebih mudah dari memanjat dinding
Gunung Semeru, namun tebing yang dihadapinya kali ini jauh lebih
rendah dari lereng gua di kaki gunung itu. Karena itu, meskipun
tenaga Mahisa Agni yang lelah itu menurut ukuran kawankawannya,
namun ia dapat melakukannya dengan baik dan cepat.
Ketika ia sampai ke atas jeram-jeram itu, maka yang pertama
dilihatnya adalah sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih.
Tepian sungai itu, yang terdiri dari tanah-tanah padas, menanjak
pada sebuah tebing sungai itu pula, di sisi Padukuhan Panawijen.
Karena itu, maka yang pertama-tama meledak dari bibir Mahisa Agni
adalah, “Terpujilah Yang Maha Agung. Di sini kita akan membangun
bendungan itu.”
Sejenak terasa debar jantung Mahisa Agni seolah-olah berhenti.
Betapa ia merasakan karunia tiada taranya, karena ia telah dituntun
untuk menemukan jeram itu. Dengan demikian, maka sungai di atas
jeram itu, merupakan tempat yang tepat untuk membangun
bendungan seperti yang diimpikannya.
“Hem,” gumam Mahisa Agni kemudian, “ternyata apa yang
dikatakan Empu Purwa itu tepat benar. Di padang ini kita akan
dapat membangun sebuah bendungan, sebuah saluran yang baik
dan tanah persawahan menurut perencanaan yang baik pula.
Apakah sebelumnya guru telah melihat daerah ini pula?”
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara parau di
belakangnya, “Air. Air. Kita mendapatkan air.”
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketika kawannya berlari
tertatih-tatih. Sinung Sari masih menyeret kain panjang mereka
yang sudah tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting perdu.
Namun ketika dilihatnya air sungai yang jernih itu, tiba-tiba kain
itu
dilepaskannya. Dengan penuh gairah dan nafsu ia meluncur
bersama Jinan dan Patalan. Mata mereka seolah-olah menjadi liar
dan lidah mereka menjilat-jilat bibir.
Mahisa Agni menjadi cemas melihat mereka itu. Seandainya
mereka dibiarkannya, maka mereka pasti akan langsung
menyurukkan kepala mereka ke dalam air karena perasaan harus
yang menyekat leher. Dengan demikian, maka mungkin mereka
akan mendapat bahaya karenanya. Air yang tiba-tiba saja mengalir
lewat kerongkongan mereka tanpa diperhitungkan akan dapat
mengganggu pernafasan mereka, dan kemudian adalah mungkin
sekali mereka akan minum terlalu banyak.
Karena itu ketika Mahisa Agni melihat mereka semakin dekat
maka segera ia berteriak, “Berhenti. Berhentilah sebentar.”
Ketiga anak-anak muda itu berpaling sesaat, namun segera
mereka berlari semakin kencang.
“Berhenti,” teriak Mahisa Agni sambil berlari di samping mereka.
Tetapi mereka tidak mendengar suara itu. Mereka berlari terus
dan dengan mata yang liar memandangi aliran air yang gemericik.
Bahkan jarak yang sudah semakin dekat itu seakan-akan tidak
pernah dapat dicapainya.
“Berhenti,” teriak Mahisa Agni sekali lagi.
Namun kali ini pun mereka seolah-olah sama sekali tak
mendengarnya. Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Beberapa
langkah, ia berlari mendahului. Kini mereka telah sampai ke tebing
sungai. Beberapa saat lagi mereka berloncatan turun ke tepian.
Tetapi karena tubuh-tubuh mereka yang lemah, maka mereka
bertiga jatuh berguling bersama-sama. Tetapi usaha mereka untuk
segera mendapat air sama sekali tidak terpengaruh. Meskipun
mereka kini telentang di tepian, namun dengan penuh nafsu mereka
merayap-rayap seperti ular menuju ke pinggir sungai. Luka-luka
yang timbul pada tubuh mereka, sama sekali tak terasa.
“Jangan minum dengan menyurukkan kepala kalian ke dalam
air,” minta Mahisa Agni, “duduklah, dan ambillah air dengan
tangan.”
Seruan itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian mereka.
Beberapa langkah lagi mereka akan dapat memasukkan mulut
mereka langsung ke dalam air.
Tiba-tiba Mahisa Agni meloncat maju di hadapan mereka, tepat
di pinggir sungai. Kakinya membenam setinggi mata kaki di dalam
air. Dengan serta-merta dicabutnya pedangnya dan diacungkannya
kepada ketiga kawan-kawannya yang hampir saja membenamkan
wajah-wajah mereka.
Ketiga kawan-kawannya itu terkejut. Betapapun juga ketika mata
mereka menatap tajam pedang Mahisa Agni, hati mereka berdebardebar
dan karena itu tanpa mereka sengaja, maka mereka pun
berhenti tepat ketika setapak lagi mereka telah menyentuh air.
Tetapi tajam pedang Agni itu pun hanya sejengkal saja di hadapan
hidung mereka.
“Duduk!” terdengar perintah Mahisa Agni.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu telah hampir kehilangan
perasaan mereka. Namun dengan ujung pedang Mahisa Agni
berhasil memaksa mereka untuk duduk.
“Nah, minumlah dengan cara yang baik supaya kalian tidak mati
justru ketika kalian menemukan air.” minta Agni, “ambillah air
dengan kedua telapak tanganmu, dan minumlah air itu sedikit demi
sedikit.”
Mahisa Agni kemudian melihat mereka bertiga dengan tergesagesa
mengambil air di atas. telapak tangan masing-masing dan
langsung dihisapnya. Sekali dua kali, namun mereka seakan-akan
tidak menjadi puas. Tetapi ketika mereka mengerling, mereka masih
melihat pedang Agni seolah-olah telah melekat di ujung hidung
mereka.
“Cukup!” bentak Agni sesaat kemudian.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mendengar pula bentakan
itu, tetapi leher mereka serasa masih saja kering. Karena itu maka
mereka sama sekali tidak menghiraukannya seandainya Mahisa Agni
tidak menggerakkan pedangnya sambil mengulangi, “Cukup!”
Ketiganya terpaksa berhenti minum. Ditatapnya wajah Mahisa
Agni dengan wajah yang memancarkan kekecewaan hati mereka.
Bahkan dengan terbata-bata Sinung Sari bertanya, “Apakah artinya
ini Agni. Apakah kau benar-benar ingin melihat kami kehausan?”
“Bukankah kalian telah minum?” bertanya Agni.
“Hanya seteguk.”
“Tidak. Coba sekarang kalian tenangkan hati kalian. Cobalah
menyadari keadaan. Apakah kalian masih terlalu haus?”
“Ya. Kami masih terlalu haus,” sahut Patalan.
“Tetapi kalian telah minum dan telah membasahi kerongkongan
kalian. Sekarang datang giliranku untuk minum.”
“Agni, air sungai ini tidak akan habis kita minum bersama-sama.
Minumlah dan biarlah kami minum.”
“Tidak, sekarang akulah yang akan minum. Kalau kalian masih
juga akan minum, maka aku bunuh kalian di sini.”
Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi kecewa. Sangat kecewa. Tibatiba
timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka yang masih
belum terlampau jernih. Apakah memang Mahisa Agni ingin
membunuh mereka?
Kini mereka melihat bagaimana Mahisa Agni itu minum. Ia
berlutut di pinggir sungai itu. Dengan tangannya ia mengambil air
sungai yang melimpah-limpah itu, dan dihirupnya seteguk-seteguk.
Tidak lebih dari tiga kali. Kemudian ia pun berhenti minum, dan
berpaling kepada kawan-kawannya.
Jinan. Patalan dan Sinung Sari melihat cara Mahisa Agni itu
minum perlahan-lahan dan tidak terlampau banyak meskipun tak
ada yang mencegahnya. Tidak lebih dari yang mereka minum itu
pula. Sehingga dengan demikian, timbullah berbagai pertanyaan
dalam hati mereka.
“Apakah kalian masih haus?” bertanya Agni tiba-tiba. Ketiga
kawan-kawannya mengangguk.
“Tunggulah sesaat. Nanti kalian akan dapat minum lagi
sepuaspuasnya.
Air ini tidak akan habis.”
“Kenapa nanti?”
“Supaya kalian tidak mati.”
Ketiga kawan-kawan Agni itu menarik nafas dalam-dalam.
Perlahan-lahan disadarinya ketergesa-gesaannya. Kalau Mahisa Agni
tidak mencegahnya, mungkin perut mereka kini telah menjadi
gembung. Atau mungkin air yang diteguknya akan mengalir tidak
lewat jalan yang sewajarnya di dalam kerongkongan mereka karena
masih belum siap untuk dialiri air sebanyak-banyaknya setelah
hampir melekat karena kekeringan.
Kini mereka baru mengerti, apakah maksud Mahisa Agni
sebenarnya. Dan karena itu maka terasa pula, kerongkongan
mereka tidak lagi terlalu kering. Ketika mereka kemudian menjadi
tenang, barulah mereka berkata, “Terima kasih Agni. Kau telah
mencegah kami, sehingga kami tidak mendapat bencana karena
perasaan haus yang tak tertahankan.”
Mahisa Agni tersenyum. Terbayang di wajahnya sinar matanya
yang cerah. Sambil mengangguk ia berkata, “Kalian telah kehilangan
ketenangan dan kejernihan otak kalian karena perasaan haus itu.
Tetapi kini kalian telah menyadarinya.”
“Ya,” jawab mereka serentak.
“Kini, kalian harus mengingat kepentingan kalian datang ke
tempat ini. Bukan sekedar mencari minum. Tetapi ada yang lebih
penting. Ternyata yang pertama-tama kalian ingat waktu kalian
sampai ke tempat ini adalah air untuk minum. Bukan bentuk sungai
ini.”
“He,” ketiga kawan-kawannya tersentak mendengar keterangan
itu. Tiba-tiba mereka dengan nanar memandang keadaan di
sekelilingnya. Tebing sungai ini tidak terlampau dalam, bahkan
cukup rendah. Karena itu maka terloncatlah dari mulut mereka.
“Tebing ini cukup rendah. Kita akan dapat menaikkan airnya dengan
mudah. Agni, di sini kita dapat membuat bendungan itu.”
Mahisa Agni tersenyum kembali. Dengan puas ia berkata, “Nah,
kenalilah tempat ini baik-baik. Bukan sekedar tempat untuk
mendapatkan minum. Tebing ini memang cukup rendah, sehingga
kalian yang meloncat terjun sama sekali tidak mengalami cedera,
selain lecet-lecet di beberapa tempat pada tubuh kalian.”
Ketiga kawannya tersenyum pula. Serentak mereka berdiri.
Memang kini mereka merasa bahwa tubuh-tubuh mereka menjadi
pedih, namun kegembiraan mereka ternyata telah melonjak,
sehingga mereka sama sekali tidak merasakannya.
“Agni,” berkata Sinung Sari, “bukankah tempat ini amat
baiknya?”
“Ya,” jawab Agni, “tebingnya rendah, dan di sekitar tempat ini
cukup banyak bahan yang dapat kita pergunakan. Batu dan
dedaunan, ranting-ranting kecil dan sebagainya. Kita akan dapat
segera membangun bendungan itu di sini.”
Penemuan itu ternyata telah melenyapkan segala perasaan sakit
dan lelah. Mereka merasa bahwa tugas mereka berhasil.
Menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan.
Karena itu maka kini mereka dapat beristirahat dengan tenang,
tanpa takut lagi akan kehausan. Sebab di hadapan mereka, air yang
jernih mengalir melimpah-limpah.
Namun dalam pada itu, timbul pulalah gangguan yang lain bagi
ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Matahari ternyata semakin
condong ke barat, dan bahkan menjadi terlalu rendah.
“Agni. Bagaimanakah dengan kita kini. Apakah kita akan segera
kembali?” bertanya Jinan.
“Apakah kalian tidak lelah?” bertanya Agni.
Jinan terdiam. Ia memang lelah sekali. Tetapi perasaan cemas
dan takut kembali merayap di hatinya.
“Kita bermalam di sini,” berkata Agni, “jangan takut. Bukankah
hantu Karautan telah tidak ada lagi. Bukankah Kuda Sempana pun
telah terusir?”
Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala
mereka, tetapi tampaklah bahwa wajah-wajah mereka sama sekali
tidak meyakinkan kebenaran kata-kata Mahisa Agni.
Mahisa Agni pun menyadarinya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi.
Dengan tenangnya ia membaringkan dirinya pada sisa-sisa sinar
matahari yang telah menjadi semakin rendah untuk mengeringkan
celananya yang basah kuyup dan kotor karena lumpur. Namun pada
bibirnya membayang kepuasan hatinya bahwa usahanya selama dua
hari ini, kini telah berhasil. Meskipun dengan susah payah dan
berbagai kesulitan, tetapi apabila kemudian di tempat ini
benarbenar
dapat dibangun sebuah bendungan, maka manfaat dari jerih
payahnya adalah berlipat-lipat.
Mahisa Agni yang lelah tetapi mendapat kepuasan hati itu pun
bahkan kemudian tertidur tetap. Meskipun celananya masih basah
dan tubuhnya dikotori dengan butiran-butiran batu padas dan
lumpur.
Ketiga kawan-kawannya bahkan menjadi sangat gelisah. Tetapi
mereka tidak berani membangunkan Mahisa Agni. Selama matahari
masih bersinar, mereka masih dapat menahan kecemasan mereka.
Tetapi ketika cahaya kemerahan di ujung barat semakin lama
menjadi semakin kelam, dan burung-burung liar telah beterbangan
pulang ke sarang, maka mereka tidak dapat lagi menahan
kegelisahan mereka. Meskipun tidak langsung, namun mereka pun
mencoba membuat suara-suara yang akan dapat membangunkan
Mahisa Agni.
Ternyata usaha mereka itu pun berhasil. Mereka merasa
tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni menggeliat dan
kemudian bangkit duduk di samping mereka.
“Senja,” desisnya.
“Ya. Senja hampir lampau,” jawab Sinung Sari.
“Alangkah segarnya tubuhku kini. Apakah kalian tidak ingin
tidur?”
“Sebenarnya. Tetapi kami menjadi gelisah. Kami tidak akan dapat
tidur bersama-sama.”
“Kalau demikian, apabila kalian inginkan, tidurlah. Aku akan
berjaga-jaga setelah aku mendahului tidur nyenyak.”
Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika
mereka melihat Mahisa Agni berdiri, terentak mereka bertanya, “Ke
mana Agni?”
“Mencari rumput-rumput kering dan ranting?”
“Untuk apa?”
“Perapian.”
“Jangan,” teriak mereka bersama-sama, “tempat kita akan segera
diketahui orang. Mungkin Kuda Sempana yang datang membawa
kawan-kawannya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat
dengan mereka, meskipun hanya disimpannya di dalam hati, supaya
kawannya itu tidak menjadi semakin cemas. Bahkan katanya, “Hem.
Kalian masih saja dibayangi oleh ketakutan.”
Ketiga kawan-kawannya tidak menjawab. Namun mereka merasa
agak tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni seakan-akan tidak
menjadi gelisah sama sekali meskipun senja menjadi semakin gelap.
Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali. Tetapi ketika angin
senja menyentuh tubuhnya terata alangkah dinginnya. Dan tiba-tiba
diingatnya kain panjangnya yang masih bersambung sambungan
dengan kain kawan-kawannya. Karena itu, maka segera kembali ia
berdiri.
“Ke mana Agni,” serentak kawan-kawannya pun bertanya
kembali.
“Kain panjang kita,” sahut Agni.
Ketiga kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mahisa Agni
kemudian berjalan memungut kain panjangnya yang terbelah dan
terikat satu sama lain. Dicobanya untuk mengurai ikatan itu. Tetapi
ternyata kemudian bahwa kain itu telah hampir menjadi
compangcamping.
Meskipun demikian, dipakainya juga kain yang telah
berlubang-lubang dan kotor itu untuk menutup badannya menahan
dingin. Ketiga kawan-kawannya pun berbuat serupa. Hanya karena
itu, maka badan mereka menjadi gatal-gatal.
Meskipun kemudian Mahisa Agni tetap duduk berjaga-jaga,
namun ketiga kawan-kawannya tidak segera dapat tertidur. Betapa
perasaan lelah merayapi segenap tulangnya, namun perasaan
cemas dan gelisah ternyata telah menindasnya. Sekali-sekali terasa
angin yang sejuk menghanyutkan mereka sekejap-sekejap, tetapi
segera mereka tergagap bangun. Seakan-akan sesuatu telah siap
untuk menerkam mereka satu demi satu. Namun ketika terpandang
oleh mereka dalam keremangan malam Mahisa Agni masih duduk
memeluk kedua lututnya, maka mereka pun menarik nafas dalamdalam.
Ujung malam itu semakin lama menjadi semakin dalam. Langit
yang biru gelap terbentang di atas padang rumput yang luas
bertaburkan bintang-bintang yang semakin lama seolah-olah
menjadi semakin banyak. Sehelai-sehelai awan yang putih
dihanyutkan oleh angin perlahan-lahan mengalir ke utara.
Hati kawan-kawan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat
tenteram. Di kejauhan kembali terdengar suara burung kedasih
sayup-sayup melas asih. Seperti suara tangis biyung yang
kehilangan anaknya tersayang. Sayup-sayup menyusup di hati di
antara desir angin yang lembut.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mengeluh di dalam hati.
Mereka belum pernah mengalami pekerjaan seberat ini. Bukan saja
tenaga mereka yang terperas habis, tetapi juga perasaan mereka
yang gelisah, cemas, takut dan segala macam perasaan yang
mengerikan.
Sekali-sekali mereka mencoba juga menghibur diri mereka. Di
samping mereka masih ada Mahisa Agni. Tetapi agaknya kecemasan
dan ketakutan mereka benar-benar telah memenuhi segenap
rongga dada mereka.
Padang itu semakin lama menjadi semakin sunyi. Sehingga suara
burung kedasih itu pun menjadi semakin jelas bergema memenuhi
padang Karautan. Kadang-kadang perlahan-lahan, namun kadangkadang
menjadi semakin jelas.
Tetapi tiba-tiba di antara keluh burung kedasih itu, terdengar
suara yang lain. Lamat-lamat dalam irama yang seakan-akan
teratur. Semakin lama semakin jelas.
Ketika suara itu telah mereka yakini, maka serentak terdengar
ketiga kawan Agni itu berkata parau, “Kuda. Derap kuda.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya. Sebenarnya
telah didengarnya pula suara derap kuda itu. Namun ia masih saja
berdiam diri untuk tidak mencemaskan hati kawan-kawannya.
Tetapi kini kawan-kawannya itu telah mendengar sendiri. Bahkan
mereka telah dapat menyebutnya, bahwa suara itu adalah suara
derap kaki kuda. Karena itu, maka Mahisa Agni pun menjawab, “Ya.
Derap kaki kuda.”
“Oh,” desah Patalan, “pasti Kuda Sempana datang bersama
kawan-kawannya.”
Mahisa Agni mempertajam pendengarnya. Sesaat kemudian ia
menjawab, “Pasti bukan. Suara itu hanya suara derap kaki seekor
kuda.”
“Kenapa hanya seekor?” bertanya Sinung Sari.
Mahisa Agni heran mendengar pertanyaan itu.
“Kenapa?” ulangnya, “ya kenapa?”
“Maksudku, apakah kau tahu benar bahwa suara itu suara derap
kaki seekor kuda?” Sinung Sari menjelaskan.
“Ah,” sahut Agni, “bukankah kalian dapat juga membedakan.”
Sinung Sari kemudian terdiam. Kawan-kawannya pun terdiam.
Namun gelora di dalam dada mereka mulai bergolak kembali.
“Kali ini jangan memperbodoh diri,” berkata Mahisa Agni
kemudian, “seandainya yang datang itu orang yang akan membawa
bencana, jangan kau serahkan kepalamu untuk dipenggalnya. Kalau
tidak ada jalan lain, maka kalian harus memilih, dipenggal atau
memenggal kepala orang itu. Bukankah kalian membawa pedang?
Selama aku masih dapat melindungi kalian, aku akan mencobanya.
Tetapi kalau tidak, bukan salahku kalau kalian mati di padang
rumput ini. Ayo. Tengadahkan wajahmu. Sambutlah setiap
tantangan untuk di atasi. Jangan menyerah.”
Terasa kebenaran kata-kata Mahisa Agni itu. Sebuah getaran
menyusup ke dalam hati mereka. Mereka pun sebenarnya ingin pula
berbuat demikian. Tetapi mereka sama sekali belum pernah
bertempur melawan apapun. Ada juga di antara mereka di masa
kanak-kanaknya berkelahi satu sama lain. Bahkan kadang-kadang
mereka pun sering melakukan permainan yang menyerupai
perkelahian, binten, bantingan dan sebagainya. Tetapi sama sekali
tidak berbahaya bagi keselamatan mereka.
Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya,
“Seterusnya terserah kepada kalian. Apakah kalian ingin mati,
apakah kalian akan mencoba menghindarinya dengan sebuah
usaha.”
Sekali lagi sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka.
Mereka dihadapkan pada dua buah pilihan, Mati atau berusaha
menyelamatkan diri.
Derap kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun
Mahisa Agni yang jauh lebih berpengalaman dari ketiga kawankawannya
segera dapat mengetahuinya, bahwa kuda itu tidak
berjalan terlalu cepat. Derap kakinya yang memukul batu-batu
padas pun tidak terdengar terlalu keras meskipun kuda itu sudah
menjadi semakin dekat.
“Kita bersembunyi,” bisik Mahisa Agni kepada kawan-kawannya,
“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita adalah pengecut. Namun kita
harus mengetahui lebih dahulu siapakah yang datang itu. Kalau
tidak ada persoalan yang memaksa, kita akan dapat menghindari
setiap persoalan yang tidak kita kehendaki.”
Sebelum Mahisa Agni berbuat sesuatu, ketiga kawan-kawannya
telah mendahuluinya, menyurukkan diri mereka sendiri ke dalam
semak-semak. Mereka mengumpat-umpat di dalam hati mereka,
apabila pedang-pedang mereka ternyata malahan mengganggu,
karena tangkai-tangkainya, dan kadang-kadang sarungnya
menyangkut ranting-ranting kecil
Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata
pun. Yang terakhir, ia sendiri berusaha menyembunyikan diri pula
dibalik-balik gerumbul kecil sambil berusaha mengawasi
penunggang kuda yang sudah menjadi semakin dekat.
Sesaat kemudian, seakan-akan muncul dari keremangan malam,
sesosok tubuh duduk di atas seekor kuda yang besar. Semakin lama
semakin dekat. Dan mata Mahisa Agni yang tajam, segera dapat
melihat sebilah pedang tergantung di lambung penunggangnya.
Sebenarnya kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Bahkan
sekalisekali
berhenti dan seakan-akan memang ada yang dicarinya.
Dada Mahisa Agni berdesir ketika baru saja disadarinya,
beberapa macam barang-barang milik kawannya tertinggal di
tempat mereka beristirahat. Bumbung-bumbung kecil dan sebuah
bungkusan bekal makanan.
“Hem,” Mahisa Agni berdesah di dalam dadanya. Sebenarnya ia
ingin menghindari setiap persoalan dengan menyembunyikan
dirinya. Tetapi kalau penunggang kuda itu melihat beberapa macam
benda-benda yang berserakan itu, maka pasti orang itu menyangka
bahwa setidak-tidaknya tempat ini merupakan tempat yang harus
mendapat perhatian. Meskipun Mahisa Agni sama sekali tidak takut
seandainya ia harus berhadapan dengan siapa pun yang
mengganggu usahanya tetapi baginya, kemungkinan-kemungkinan
yang demikian akan dihindarinya sejauh mungkin.
Mahisa Agni menggigit bibirnya ketika ia melihat kuda itu menjadi
bertambah dekat. Dan apa yang dicemaskannya itu ternyata benarbenar
terjadi. Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa benda
yang terserak-serak, maka segera ia menghentikan langkah
kudanya. Dengan lincahnya ia meloncat turun, dan kemudian
dengan seksama ia memperhatikan benda-benda yang berserakan
itu.
Kini Mahisa Agni seakan-akan menahan nafasnya. Ia berada
dibalik sebuah gerumbul yang tidak terlalu dekat dengan orang yang
baru datang itu. Apalagi daun-daun perdu di gerumbul itu selalu
saja mengganggunya, apabila ia mencoba untuk melihat orang yang
baru saja datang itu. Namun lamat-lamat disela-sela dedaunan,
meskipun tidak jelas ia melihat orang itu membongkokkan
badannya, memungut beberapa macam benda-benda yang
terserak-serak itu.
Tetapi orang itu masih berdiam diri. Ketika kemudian ia berdiri
tegak terdengar tarikan nafasnya. Sambil berjalan beberapa
langkah, orang itu bergumam, “Pasti di sini. Di sekitar tempat
ini.”
Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kata-kata itu hanya
didengarnya lamat-lamat. Namun tiba-tiba terasa olehnya, bahwa ia
pernah mengenal orang yang baru datang itu.
Mahisa Agni kemudian melihat orang itu memperhatikan keadaan
di sekitarnya. Sesaat orang itu berdiam diri. Dan kemudian
terdengar ia tertawa. Dari dalam sebuah gerumbul ia mendengar
dengus nafas berdesah semakin cepat.
“Ha,” katanya, “di situ kalian bersembunyi.”
Jinan, Patalan dan Sinung Sari mendengar kata-kata itu. Darah
mereka seakan-akan berhenti mengalir. Tetapi sesaat kemudian
teringatlah mereka akan kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka
jangan menyerahkan kepala mereka tanpa perlawanan. Namun,
sangatlah berat tangan mereka untuk bergerak menarik pedang
mereka itu.
“Kenapa kalian bersembunyi?” terdengar orang itu bertanya
sambil berjalan beberapa langkah maju. Sedang nafas di dalam
gerumbul itu menjadi semakin cepat memburu lewat lubang-lubang
hidung mereka.
Namun tiba-tiba orang itu terkejut. Selangkah ia turut, dan
dengan tangkai ia memutar tubuhnya ketika ia mendengar suara di
belakangnya, “Di sini aku. Bukan di situ.”
Suara itu adalah suara Mahisa Agni. Ketika ternyata orang itu
mengetahui tempat persembunyian kawannya, ia tidak dapat
langsung bersembunyi sambil berdiam diri. Mahisa Agni terpaksa
menampilkan dirinya untuk melindungi ketiga kawannya.
Tetapi Mahisa Agnilah yang kemudian terkejut mendengar orang
itu menyebut namanya, “Mahisa Agni.”
“Ya.”
Orang itu berjalan mendekatinya. Semakin lama semakin dekat.
“Kau telah mengenal namaku,” bertanya Mahisa Agni.
“Ken Arok berkata kepadaku, bahwa kau berada di padang ini
bersama ketiga kawan-kawanmu. Salah seorang yang berani
menyatakan dirinya, pastilah hanya Mahisa Agni.”
Mahisa Agni mengawasi orang itu dengan seksama. Ketika orang
itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berkata,
“Oh, kau Mahendra. Kau mengejutkan kami di sini.”
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak sengaja. Tetapi Ken
Arok telah bercerita kepadaku, bahwa kau berada di padang
Karautan bersama tiga orang yang aneh.”
“Di situlah mereka,” sahut Mahisa Agni sambil menunjuk ke
gerumbul tempat kawan-kawannya bersembunyi.
“Ya. Aku telah mendengar tarikan nafas mereka.”
“He, Jinan, Patalan dan Sinung Sari,” panggil Mahisa Agni,
“Kemarilah. Yang datang adalah kawan kita sendiri.”
Kembali ketiga kawan Mahisa Agni itu tersuruk-suruk keluar dari
tempat persembunyian mereka. Dengan agak malu-malu mereka
berjalan mendekati.
“Inilah mereka,” berkata Mahisa Agni memperkenalkan kawankawannya.
“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya Mahendra.
Ketiganya tunduk tersipu-sipu. Namun kemudian Sinung Sari
menjawab, “Mahisa Agni menyuruh kami bersembunyi.”
“Oh,” desis Mahendra sambil tersenyum, “benar begitu?”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Jawabnya, “Ya. Akulah yang
menyuruh mereka bersembunyi, meskipun sama sekali tidak mereka
kehendaki, sebab aku ingin menghindari persoalan yang dapat
timbul kemudian, seandainya yang datang bukan kawan sendiri.
Persoalan yang mungkin tidak ada gunanya, selain hanya untuk
memenuhi kesenangan mereka bertiga. Bukan begitu Sinung Sari?”
Seandainya terlihat oleh mereka, maka wajah Sinung Sari
menjadi kemerah-merahan. Ia sama sekali tidak menjawab
pertanyaan Mahisa Agni itu, dan bahkan kepalanya menjadi semakin
tunduk dalam-dalam.
Mahisa Agni dan Mahendra tidak dapat menahan senyum
mereka. Dari Ken Arok, Mahendra telah mendengar cerita tentang
ketiga kawan Mahisa Agni itu. Karena itu serba sedikit ia dapat
mengetahui sifat-sifat mereka.
Ketika Sinung Sari sama sekali tidak menjawab, dan bahkan
dengan perasaan malu ia berkisar ke samping, maka berkatalah
Mahisa Agni, “Mari, Mahendra, duduklah.”
Mereka itu pun kemudian duduk melingkar di atas tanah yang
berdebu. Di sana-sini rumput liar tumbuh dengan lebatnya.
Sesaat malam menjadi hening, sehening padang yang tidak
berpenghuni. Sayup-sayup di kejauhan masih terdengar suara
burung kedasih menggetarkan sepi malam.
“Mahendra,” terdengar suara Mahisa Agni kemudian, “apakah
kau juga ingin menjadi hantu padang Karautan?”
Mahendra mengangkat wajahnya. Sekilas tampak senyumnya.
menggerakkan bibirnya.
“Sebetulnya,” sahutnya, “tetapi aku tidak tahan dingin, karena itu
maksud itu aku urungkan.”
“Lalu apakah keperluanmu berada di padang ini?” bertanya
Mahisa Agni.
“Kakang Witantra menyuruhku datang kemari, setelah pagi-pagi
tadi kami bertemu dengan Ken Arok.”
“Apa katanya?”
“Ken Arok melihat hantu padang Karautan saling berkelahi.”
Keduanya tertawa pendek. Lalu Mahendra meneruskan, “Tetapi
Kakang Witantra tidak tertarik kepada hantu-hantu itu. Ia lebih
tertarik pada cerita Ken Arok yang lain”
“Cerita yang manakah itu?”
“Mahisa Agni,” berkata Mahendra dengan nada yang lain.
Tampaknya kini ia mulai bersungguh-sungguh, “Apakah benar Ken
Arok telah mengatakan kepadamu tentang adikmu itu?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Bahwa Akuwu Tunggul Ametung menghendakinya?”
“Tetapi kenapa kau tidak mau menerimanya seandainya Akuwu
itu akan datang kepadamu untuk mewakili ayah gadis itu.”
Mahisa Agni kini menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia
menjawab, “Tidak, tidak perlu. Gadis itu dibawa dengan cara yang
kasar. Biarlah cara itu dilakukan untuk seterusnya.”
“Tetapi yang melakukan itu adalah Kuda Sempana.”
“Bukankah Akuwu Tunggul Ametung bersamanya pada waktu
itu?”
Mahendra terdiam sesaat. Jawaban Mahisa Agni itu dapat
dimengertinya. Luka hatinya pada saat ia kehilangan adiknya
ternyata terlampau parah, sehingga setiap sentuhan padanya, masih
juga akan terasa betapa sakitnya.
Mahisa Agni sendiri kemudian menundukkan kepalanya.
Sakit di hatinya itu jauh lebih parah dari yang disangka oleh
Mahendra. Meskipun demikian, sama sekali tidak terucapkan kepada
siapa pun juga. Yang dapat mengetahui, apa sebenarnya yang
mencengkam jantungnya, hanyalah emban tua, pemomong Ken
Dedes, yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan gurunya yang tua,
ayah Ken Dedes.
Sesaat mereka duduk berdiam diri. Gelap malam semakin lama
menjadi semakin dekat dan bintang-gemintang di langit yang biru
bertebaran dari ujung ke ujung. Terasa udara menjadi semakin
dingin sampai menggigit tulang.
Dalam keheningan itu, kemudian terdengar Mahendra berkata,
“Agni. Aku tahu betapa hatimu tersinggung karena sikap Kuda
Sempana yang pada saat itu datang dalam lindungan Akuwu
Tumapel. Tetapi menurut Kakang Witantra, Akuwu Tunggul
Ametung menjadi kecewa sedalam-dalamnya terhadap
perbuatannya, dan bahkan atas nama Akuwu, Kakang Witantra
telah berhasil memisahkan Ken Dedes dari Kuda Sempana. Bahkan
kemudian, setelah Akuwu Tunggul Ametung mendengar bahwa
Wiraprana telah terbunuh, jatuhlah perasaan ibanya yang tulus
kepada Ken Dedes.”
Mahendra berhenti sesaat seolah-olah ia menunggu katanya itu
menghunjam ke pusat jantung Mahisa Agni. Namun masih saja
dilihatnya Mahisa Agni menunduk.
Maka berkatalah ia seterusnya, “Agni. Secara jujur aku katakan,
bahwa aku pun kecewa melihat Ken Dedes akan menjadi seorang
permaisuri, sebab bagiku belum ada seorang gadis yang lain yang
mampu menyentuh hatiku. Namun adalah lebih baik baginya, bagi
gadis itu sendiri, apabila ia akan dapat menemukan ketenteraman
dan kebahagiaan sebagai permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali,
sedalam luka yang menusuk ke dalam jantungnya. Tetapi ia belum
menjawab. Dibiarkannya Mahendra berkata terus, “Agni, Akuwu
telah menetapkan hari perkawinannya. Karena itu, atas namanya,
Kakang Witantra mengharap kau akan dapat menerimanya,
mewakili ayahmu menyerahkan Ken Dedes kepada Akuwu Tunggul
Ametung.”
Mahendra menatap wajah Mahisa Agni dalam-dalam. Sesaat ia
menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni itu.
Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mahisa Agni
menggelengkan kepalanya, “Tak ada gunanya Mahendra. Akuwu
telah mengambil keputusan. Mungkin Ken Dedes telah menerima
lamarannya pula. Karena itu, biarlah mereka memutuskan kehendak
mereka sendiri. Mereka telah cukup dewasa.”
“Tetapi itu tidak lazim, Agni.”
“Sejak permulaan peristiwa itu sudah berjalan tidak sewajarnya.”
Kini Mahendralah yang menarik nafas dalam-dalam. Agaknya
pendirian Mahisa Agni telah tidak mungkin dapat diubahnya.
Meskipun demikian ia masih mencobanya, “Agni. Witantra minta
dengan sangat kau mengubah pendirianmu. Sebab dengan
demikian, Ken Dedes akan merasa kau lepaskan seorang diri.
Mungkin ia merasa bahwa kau tidak merestuinya.”
Mahendra menjadi semakin kecewa ketika ia melihat Mahisa Agni
menggeleng sekali lagi.
“Kau tetap pada pendirianmu Agni?”
“Maaf Mahendra. Aku tidak dapat menerima Tunggal Ametung.
Pembicaraan telah berlangsung tanpa aku. Biarlah persoalan itu
selesai tanpa aku pula.”
“Agni. Kau terlalu perasa.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Perkataan Mahendra itu tepat
menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatasi
perasaannya. Sehingga dengan demikian kembali ia berdiam diri
sambil menundukkan kepalanya.
Tetapi Mahendra dengan itu telah dapat mengetahui, bahwa
Mahisa Agni benar-benar tidak dapat memaafkan Kuda Sempana
dan Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan demikian sakit hatinya,
sehingga ia sama sekali tidak mengingat lagi kepentingan gadis
yang disangka adiknya.
“Agni,” berkata Mahendra kemudian, “Perkawinan itu akan
berlangsung segera. Aku mengharap kau sempat
mempertimbangkan keputusanmu, supaya adikmu tidak seolah-olah
sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Ia tidak dapat
menolak keinginan Akuwu, tetapi ia merasa diasingkan dari
keluarganya.”
Mahisa Agni terdiam. Kepalanya masih ditundukkannya. Namun
ia masih tidak mampu mengatasi perasaan sendiri.
Kembali mereka terlempar ke dalam suasana sunyi. Masingmasing
terbenam dalam pikiran sendiri. Ketiga kawan-kawan Mahisa
Agni pun mendengar percakapan itu dengan pertanyaan yang
membelit hati. Kenapa Mahisa Agni menolak bertemu dengan
Akuwu? Bukankah suatu karunia tiada taranya, gadis sedesanya
dapat menjadi seorang permaisuri, dan gadis itu adalah saudara
Mahisa Agni, meskipun kawan-kawannya tahu bahwa gadis itu
adalah saudara angkatnya, karena Agni menjadi murid Empu Purwa.
Tetapi mereka sama sekali tidak mau mencampuri persoalan yang
tidak diketahui benar ujung pangkalnya. Mereka takut kalau-kalau
dengan demikian mereka berbuat kesalahan.
Dalam kesenyapan itu tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Ah,
lupakanlah semua itu Mahendra. Marilah kita berbicara tentang hal
yang lain.”
Mahisa Agni itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia berdiri sambil
berkata lantang, “Lihat, di sini aku akan membuat bendungan.
Bendungan itu akan mengaliri tanah padang rumput ini, sehingga
padang ini akan menjadi tanah persawahan.”
Mahendra pun memandang ke arah sungai yang ditunjuk oleh
Mahisa Agni. Namun ia tidak dapat melepaskah persoalannya
dengan tiba-tiba. Ia masih dicengkam oleh perasaan yang aneh
tentang sikap Mahisa Agni terhadap Akuwu Tunggul Ametung.
Karena itu meskipun ia memandangi arus air yang gemercik di
sampingnya, namun ia tidak segera menjawab kata-kata Mahisa
Agni. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni,
“Mahendra, apabila kami telah berhasil mengangkat air, dan
menyalurkannya ke dalam parit-parit yang akan kita buat pula,
maka tanah ini akan menjadi tanah subur. Tidak kalah suburnya
dengan tanah-tanah persawahan di Panawijen yang sekarang
menjadi kering. Bahkan apabila air nanti cukup banyak, kami akan
menyalurkannya pula ke tanah-tanah yang sekarang menjadi kering
di Panawijen,”
Mahisa Agni berhenti sebentar, kemudian katanya melanjutkan,
“Tetapi jarak untuk itu terlalu jauh.”
Ketika Mahisa Agni kemudian berpaling memandangi wajah
Mahendra, maka Mahendra itu mengangguk kosong. Katanya, “Ya.
Mudah-mudahan.”
Mahisa Agni pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tetapi ia tidak berkata lagi. Kini ia berjalan perlahan-lahan
mendekati air yang mengalir tanpa ada henti-hentinya. Berpuluhpuluh
tahun bahkan mungkin telah beratus-ratus tahun.
Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika Mahendra berkata
kepadanya, “Mahisa Agni. Jadi bagaimana jawabmu yang harus aku
sampaikan kepada Kakang Witantra?”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiri di
pinggiran sungai. Bahkan ujung kakinya telah menyentuh air yang
gemercik di bawah kakinya, mencerminkan bayangan bintangbintang
di langit. Berkilat-kilat dan bergetar karena arusnya.
“Maaf. Aku minta maaf kepada kakak seperguruanmu itu. Aku
minta maaf kepada Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu itu tidak perlu
datang kepadaku. Katakanlah kepada Witantra agar disampaikannya
kepada Akuwu, bahwa segala sesuatu tergantung kepada Ken
Dedes sendiri. Kalau ia menghendakinya, maka biarlah dilakukannya
apa yang baik untuknya.”
“Hem,” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia
bertanya, “Tetapi bagaimana sikapmu secara jujur? Apakah kau
berkenan di hati atau sebaliknya?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. Kemudian
jawabnya, “Aku tidak dapat memandang persoalan ini dengan
sejujur hatiku. Persoalan ini sudah terlanjur masuk ke dalam
keadaan yang tidak aku kehendaki.”
“Mungkin ada soal-soal yang dapat dibicarakan, dicari
kemungkinan yang dapat memberimu kepuasan.”
Mahisa Agni itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Tetapi
kemudian terdengar giginya gemeretak. Tiba-tiba sekali lagi ia
berkata lantang, “Mahendra. Jangan kau risaukan lagi persoalan itu.
Lihat. Lihat arus sungai ini. Cukup besar dan cukup kuat untuk
mengaliri padang ini. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau melihat
pula kemungkinan itu?”
Tiba-tiba suaranya menurun, “Maaf jangan kau singgung lagi
tentang adikku itu. Biarlah ia menentukan jalannya sendiri. Aku
akan
selalu merestuinya. Tetapi bagaimana dengan rencanaku membuat
bendungan di sini?”
Sekali lagi Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata
Mahisa Agni itu benar-benar sudah tidak mau lagi diajaknya untuk
membicarakan masalah adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung.
Karena itu maka ia tidak mau bertanya lagi, sebab dengan demikian
akan dapat menyinggung perasaan anak muda perasa itu.
Bahkan Mahendra itu pun kemudian berdiri dan melangkah maju
mendekati Mahisa Agni. diamat-amatinya sungai yang mengalir
dalam gelap malam itu.
Mahendra itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya Mahisa
Agni menepuk punggungnya sambil berkata, “He, bagaimana?
Bukankah tempat ini akan menjadi tempat yang sangat baik untuk
membangun bendungan?”
Dengan serta-merta, di luar sadarnya Mahendra menjawab, “Ya.
Baik. Tempat ini baik sekali untuk membuat bendungan.”
Mahisa Agni tertawa masam. Ia sadar bahwa jawaban Mahendra
itu demikian saja meluncur dari bibirnya. Tetapi Mahisa Agni tidak
mendesaknya lagi.
Ketika kemudian mereka terdiam sesaat, terdengar suara
gemercik air itu menjadi semakin keras. Di bawah mereka, sayupsayup
terdengar gemerajak air jeram. Bahkan apabila angin
mengalir semakin keras, maka suara jeram-jeram itu pun terbawa
pula ke telinga Mahisa Agni, Mahendra, dan ketiga kawankawannya,
semakin keras pula. Namun dalam pada itu, ternyata di
dalam dada Mahisa Agni terdengar suara yang jauh lebih riuh lagi
dari suara arus sungai itu dan bahkan lebih gemuruh dari suara
gerojogan jeram-jeram di sebelah.
Untuk menindas kegelisahannya tiba-tiba Mahisa Agni berkata.
“He, Mahendra, dari mana kau tahu bahwa aku berada di tempat
ini?”
Mahendra mengerutkan keningnya. Dengan segan ia menjawab
pendek, “Dari Ken Arok.”
“Aku bertemu dengan Ken Arok tidak di sini.”
“Kau menelusur sungai ini,” sahut Mahendra, “aku pun berbuat
demikian menurut petunjuk Ken Arok.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara di
dalam dadanya masih saja berdesingan. Sehingga kembali ia
mencoba melepaskan tekanan perasaan itu, “Kenapa kau berjalan
sendiri? Di mana saudara seperguruanmu yang nakal itu, Kebo Ijo?”
“Ia kini bekerja di istana.”
“He, apakah yang dikerjakannya?”
“Seperti Kakang Witantra. Baru beberapa hari atas ajakan Kakang
Witantra, supaya ia tidak berkeliaran saja sepanjang jalan sambil
mengganggu gadis-gadis.”
“Bagus. Itu lebih baik baginya,” sahut Mahisa Agni.
Tetapi Mahendra tidak berkata apa-apa lagi, sehingga kembali
suasana menjadi kaku dan sepi. Kembali suara air gemericik itu
menyentuh-nyentuh sepinya malam.
Namun tiba-tiba Mahisa Agni dan Mahendra mendengar suara
yang lain-lain. Bukan suara gemercik air, dan bukan pula suara
jeram-jeram di sebelah. Suara itu semakin lama menjadi semakin
jelas, semakin jelas.
Sesaat Mahendra dan Mahisa Agni saling berpandangan. Hampir
bersamaan pula mereka berpaling memandangi ketiga kawan
Mahisa Agni yang duduk membeku memeluk lutut-lutut mereka.
Bersamaan pula mereka segera mendapat kesimpulan, bahwa
bukan mereka bertiga itulah yang sedang berbisik-bisik. Tetapi
pasti
orang lain. Karena itu, maka dengan matanya Mahisa Agni memberi
isyarat kepada Mahendra, dan Mahendra pun segera menangkap
maksudnya.
Tanpa berkata sepatah kata pun mereka kemudian berjalan
kembali ke samping kawannya. Namun mereka tidak segera duduk
bersama mereka, bahkan kemudian Mahisa Agni dan Mahendra itu
pun berdiri berhadapan, sehingga mereka masing-masing dapat
melihat, apa yang ada di belakang mereka sebelah menyebelah.
Sejenak mereka tidak lagi mendengar apapun. Suara berbisik itu
seakan-akan lenyap. Dengan demikian mereka mendapat
kesimpulan, bahwa suara itu berada lebih dekat pada tempat
mereka berdiri semula, atau orang-orang yang sedang berbisik-bisik
itu kini telah berdiam diri.
Tetapi Mahisa Agni dan Mahendra tidak kehilangan kewaspadaan.
Segera mereka mempertajam pendengaran mereka, untuk mencoba
menangkap setiap suara yang betapapun lemahnya, menyentuh
telinga mereka.
Dan sejenak kemudian kembali mereka mendengar suara itu
perlahan-lahan. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara
tertawa yang menggetarkan udara malam.
Mahisa Agni dan Mahendra segera menyadari bahaya yang
datang. Apalagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Tubuh mereka
tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Namun mereka sama
sekali tidak berani beranjak dari tempat mereka masing-masing,
sebab mereka tidak melihat siapakah yang sedang tertawa
menyakitkan telinga itu.
“Orang itukah yang bernama Mahisa Agni,” terdengar suara dari
balik-balik gerumbul di pinggir sungai.
“Ya,” jawab suara yang lain.
“Bagus. Aku ingin melihatnya dari dekat,” berkata suara yang
pertama.
Mahisa Agni segera memutar tubuhnya menghadap ke arah
suara itu. Mahendra pun kemudian melangkah maju, dan tanpa
sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya.
Sejenak kemudian mereka melihat tiga orang yang muncul dari
balik gerumbul. Seorang tua bertongkat hampir sepanjang
tubuhnya. Seorang lagi anak muda yang berpakaian seperti pakaian
pelayan dalam namun dalam keadaan yang kusut, yang segera
mereka kenal, Kuda Sempana. Sedang di sampingnya masih ada lagi
seorang yang lain.
Dada Mahisa Agni berdesir. Dugaannya ternyata terjadi. Seperti
yang dicemaskan oleh ketiga kawan-kawannya itu, Kuda Sempana
datang dengan kawan-kawannya.
Dalam pada itu terdengar Mahendra berbisik, “Kuda Sempana.
Aku mendengar pula dari Ken Arok. apa yang telah dilakukan di
padang ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Hatinya yang sedang
risau itu tiba-tiba seperti terbakar melihat kedatangan Kuda
Sempana kembali. Anak muda itu adalah sumber dari segala
bencana yang menimpa gurunya, Ken Dedes dan dirinya sendiri.
Bahkan akibatnya telah menimpa Panawijen pula, sehingga malam
ini ia terpaksa berada di padang Karautan. Karena itu, maka Mahisa
Agni itu tiba-tiba menggeretakkan giginya.
Tiga orang yang datang itu pun semakin lama menjadi semakin
dekat. Orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu
ternyata seorang yang telah lanjut usia. Janggutnya tidak seberapa
panjang, namun dalam kelam malam, Mahisa Agni dapat
membedakannya, bahwa janggut itu telah mulai memutih. Tetapi
Mahisa Agni lebih terkejut lagi ketika kemudian dilihatnya kawan
Kuda Sempana yang seorang lagi. Ternyata orang itu pernah
dikenalnya.
Orang itu adalah saudara seperguruan Kuda Sempana yang
pernah bertempur dengannya di sebuah padukuhan di kaki Gunung
Semeru. Padukuhan Kajar. Dan orang itulah yang dahulu pernah
dikenalnya dengan nama Bahu Reksa Kali Elo. Kini orang yang
menyimpan dendam di hatinya itu datang kembali kepadanya.
Dahulu orang itu pernah berkata kepadanya, bahwa ia pada suatu
saat akan menebus kekalahannya. Kini ternyata orang itu benarbenar
datang. Bukan seorang diri, namun bersama-sama dengan
orang lain yang menyimpan dendam pula kepadanya, sebagaimana
ia mendendamnya, Kuda Sempana.
Tanpa disadarinya Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah
Mahendra yang tegang. Tangannya masih melekat di hulu
pedangnya. Namun Mahisa Agni tidak dapat menangkap kata hati
anak muda itu. Apakah yang kira-kira akan dilakukannya,
seandainya ia terlibat dalam perkelahian yang seru dan bahkan ia
harus melawan orang-orang yang datang itu sekaligus. Apalagi
ketika kemudian Mahisa Agni mencoba menduga siapakah orang tua
yang berjanggut putih jarang-jarang itu? Apakah orang itu guru
mereka? Guru Kuda Sempana dan Bahu Reksa Kali Elo itu?
Ketiga orang itu pun kemudian berhenti beberapa langkah di
hadapan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka memandangi Mahisa
Agni seperti memandangi hantu. Namun kemudian terdengar orang
tua itu bertanya, “Bukankah yang ini yang bernama Mahisa Agni
itu?”
Kuda Sempana mengangguk. Jawabnya, “Ya. Itulah.”
Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali
dipandanginya pula Mahendra, namun ia tidak berkata apapun,
tentang anak muda itu.
Yang kemudian berkata adalah Bahu Reksa Kali Elo. Suaranya
terdengar parau di antara suara tertawanya yang menyakitkan hati,
“He, Mahisa Agni. Apakah kau masih ingat kepadaku?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah itu tajamtajam.
Tiba-tiba ia menjadi muak melihat mukanya, karena itu maka
sama sekali ia tidak bernafsu untuk menjawab pertanyaannya.
Karena Mahisa Agni masih saja berdiam diri, maka berkatalah
orang itu pula, “Agni, jangan berpura-pura tidak mengenal aku lagi.
Apakah kau takut aku membalas sakit hatiku saat itu?”
Warna merah menjalar di wajah Mahisa Agni mendengar katakata
orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Alangkah
memuakkan. Apalagi ketika kemudian ia mendengar orang itu
tertawa, “Ha. Kau sekarang menjadi pucat melihat kehadiranku di
sini? Tetapi sayang, semuanya sudah terlambat. Aku tidak dapat
menarik diri lagi, sebab aku sudah bertekad untuk melepaskan
dendamku.”
Gigi Mahisa Agni menjadi gemeretak karena kemarahan yang
membakar dadanya. Namun justru karena itu, terasa mulutnya
seakan-akan terbungkam. berjejal-jejal kata-kata yang akan
diucapkan, namun tak sepatah kata pun yang dapat meloncat keluar
selain suara gemeretak giginya.
Yang menjawab kata-kata itu justru Mahendra. Anak itu menjadi
muak juga melihat tampang orang yang berkata seenaknya seolaholah
ia sendiri orang laki-laki di kulit bumi ini. “Jangan membual.
Siapa kau?”
Orang itu berpaling. Ditatapnya wajah Mahendra. Kemudian
masih sambil tertawa ia bertanya, “Siapa kau?”
Mahendra menggeram. Ia menjadi semakin tidak senang
mendengar orang itu tidak menjawab pertanyaannya, malahan ia
bertanya seperti kepada pelayannya. Karena itu maka Mahendra
membentak, “Jangan membadut. Jawab pertanyaanku, siapa kau?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia mengusap
wajahnya yang kasar.
“Kau ingin tahu namaku?” katanya.
Mahendra tidak menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam
seakan-akan dari matanya memancar api yang langsung akan
menjilat wajah itu.
Orang itu berpaling kepada Kuda Sempana. Dengan kata-kata
yang sangat menyakitkan hati ia berkata, “Inikah cucurut yang
bernama Ken Arok itu?”
Kuda Sempana menggeleng, “Bukan. Itu bukan Ken Arok.”
“Oh,” orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu
menganggukkan kepalanya. Bahkan orang tua yang bertongkat
hampir sepanjang tubuhnya menganggukkan kepalanya pula.
“Siapa orang ini? Apakah kau mengenalnya juga?”
“Namanya Mahendra,” jawab Kuda Sempana.
“Nama yang bagus,” sahut orang yang menamakan diri Bahu
Reksa Kali Elo. Kemudian kepada Mahendra ia bertanya, “Apakah
kau saudara seperguruan Mahisa Agni?”
Mahendra itu pun kemudian menjadi sedemikian muaknya,
sehingga ia tidak mau lagi menjawab pertanyaannya.
“He, apakah kau tidak mendengar?”
Mahendra masih berdiam diri.
“Kedua-duanya menjadi bisu,” teriak orang yang menamakan diri
Bahu Reksa Kali Elo.
Namun baik Mahendra maupun Mahisa Agni sama sekali tidak
mengucapkan sepatah kata pun.
Akhirnya orang yang bertongkat dan berjanggut putih, maju
selangkah. Diamat-amatinya kedua anak muda itu dengan seksama.
Kemudian katanya, “Agaknya kalian telah saling mengenal. Kalian
berdua dengan kedua anak ini. Tetapi baiklah aku memperkenalkan
diriku, dan barangkali ada di antara kalian berdua yang belum
mengenal salah seorang anak ini. Yang pertama adalah Kuda
Sempana, agaknya kalian sudah mengenal. Sedang yang lain yang
lebih tua ini bernama Cundaka. Tetapi ia lebih senang disebut Ki
Bahu Reksa Kali Elo,” orang tua itu berhenti sesaat. Sedang Mahisa
Agni dan Mahendra masih berdiri dengan tegangnya.
Tanpa mereka sangka-sangka orang tua itu menunjuk kepada
ketiga kawan Mahisa Agni yang benar-benar telah membeku, “Kuda
Sempana, itukah ketiga kawanmu yang kau katakan?”
“Ya,” sahut Kuda Sempana.
Orang tua itu tertawa. Suaranya yang benar-benar menyakitkan
telinga dan hati. “Pantas. Orang-orang yang demikian itulah yang
malahan akan mati lebih dahulu. Orang-orang yang sangat
memuakkan.”
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni mendengar pula kata-kata itu.
Dan sebelum sesuatu menyentuh tubuhnya, mereka sudah merasa,
seakan-akan mereka telah benar-benar mati.
“Sekarang,” berkata orang tua itu kepada Mahisa Agni dan
Mahendra, “kalian pasti ingin mengenal aku bukan? Nah, sebut saja
aku dengan nama Empu Sada. Ya, itulah namaku.”
Dada Mahisa Agni dan Mahendra menjadi berdebar-debar. Orang
ini agaknya mempunyai kelebihan dari Kuda Sempana dan Cundaka
yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Mungkin Kuda
Sempana sengaja membawanya untuk melepaskan dendamnya
kepada Mahisa Agni. Bahkan mungkin pula orang ini adalah
gurunya.
Dalam derap jantungnya yang semakin cepat, Mahisa Agni dan
Mahendra mendengar orang itu berkata lebih lanjut, “Ketahuilah,
akulah guru kedua anak-anak ini.”
Darah Mahisa Agni dan Mahendra serasa berhenti mengalir
mendengar penjelasan itu, meskipun mereka telah menyangka pula.
Guru Kuda Sempana pasti bukan orang yang dapat disejajarkan
dengan diri mereka. Karena itu, maka segera kecemasan merayap
ke dalam jantung mereka. Apakah yang dapat mereka lakukan
terhadap guru Kuda Sempana itu?”
Namun Mahisa Agni dan Mahendra bukanlah laki-laki pengecut.
Apapun yang akan dihadapinya, namun mereka tidak akan berlutut
dan mohon belas kasihannya.
Kemudian terdengar orang itu berkata, “Nah Mahisa Agni,
Kepadamulah kami berkepentingan. Anak ini, yang bernama
Mahendra sama sekali tidak kami kenal. Namun karena ia hadir juga
di sini, maka ia akan mendapat bagian juga, meskipun tidak
sebanyak Mahisa Agni.”
Kembali dada Mahisa Agni dan Mahendra berdesir. Namun katakata
itu ternyata telah membulatkan tekad mereka, untuk
menghadapi setiap kemungkinan dengan sikap jantan. Karena itu,
justru pada saat-saat yang tegang Mahisa Agni menggeram, “Hem.
Ternyata Kuda Sempana dan setan itu sama sekali tidak berani
menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”
Telinga Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan diri Bahu
Reksa Kali Elo itu seperti disengat api mendengar kata-kata Mahisa
Agni. Karena itu, maka sambil mengumpat Cundaka menjawab,
“Demit busuk! Ayo, sekarang kau masih juga mencoba
menyombongkan dirimu? Hari ini adalah hari terakhirmu. Celakalah
kau bertemu aku di padang Karautan.”
“Jangan banyak bicara,” potong Mahisa Agni, “apa maumu?”
Cundaka itu mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa ia pernah
dikalahkan oleh Mahisa Agni. Sedang apa yang dicapainya selama
ini, setelah ia berjanji untuk lain kesempatan bertemu kembali,
hampir tidak ada sama sekali. Ia lebih senang berjalan dari satu
tempat ke tempat yang lain mencari apa saja yang dapat
dimilikinya. Bahkan ia telah pula kembali ke Kajar mencari Pasik.
Tetapi Pasik telah menghilang. Karena itulah maka dendamnya
kepada Mahisa Agni menjadi semakin bertambah-tambah.
Seandainya Pasik masih ada padanya, maka ia akan dapat
dipergunakannya untuk memungut bulu bekti di daerah kaki
Gunung Semeru yang jauh itu. Sedang apabila ia sendiri harus pergi
ke sana setiap kali, maka rasanya ia tidak akan sanggup.
Untuk sesaat Cundaka itu berdiam diri. Ditatapnya wajah Mahisa
Agni dan Mahendra berganti-ganti. Kemudian ia berpaling kepada
Kuda Sempana seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangannya.
Kuda Sempana itu pun mengumpat di dalam hatinya. Ia
membawa saudara seperguruannya untuk melepaskan sakit hatinya
atas Mahisa Agni itu, seperti juga Cundaka ingin melepaskan sakit
hatinya. Namun tiba-tiba di tempat itu hadir pula Mahendra. Karena
itu maka ia pun menjadi ragu-ragu.
Namun di antara mereka, hadir pula guru mereka. Empu Sada.
Apakah gurunya itu akan membiarkan mereka dalam kebimbangan?
Ternyata Empu Sada itu pun tersinggung pula mendengar katakata
Mahisa Agni. Meskipun ia tidak menganggap murid-muridnya
sebagai saluran cita-citanya, bahkan murid-muridnya baginya tidak
lebih dari sapi perahan untuk mendapatkan kekayaan, namun ketika
ia langsung melihat di hadapannya, muridnya seakan-akan menjadi
kecut, mau tidak mau harga diri perguruan Empu Sada pun tidak
dapat membiarkannya.
Sejenak kemudian ketika kedua muridnya seakan-akan terdiam
membeku, maka terdengar ia berkata, “Kuda Sempana dan
Cundaka. Bagaimana dengan rencana kalian. Bukankah kalian
berdua ingin mengikat Mahisa Agni dan menarik di belakang kuda
kalian ke arah yang berlawanan?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. “Gila!”
geramnya di dalam dadanya. Bahkan Mahendra pun terdengar
menggeretakkan giginya.
“Ya, Guru,” jawab Kuda Sempana, tetapi jawaban itu sama sekali
kurang meyakinkan.
“Kenapa kau sekarang menjadi ragu-ragu,” bertanya gurunya,
“apakah kau menjadi iba setelah kau melihat wajahnya yang pucat
seperti mayat itu.”
“Tidak!” sahut Cundaka lantang, “Aku akan melakukan
rencanaku. Bukan begitu Kuda Sempana?”
Kuda Sempana mengangguk. Tetapi ia cukup mengenal
Mahendra. Dan apakah Mahendra akan tetap berdiam diri?
“Nah, apakah yang kalian tunggu?” bertanya gurunya.
Kuda Sempana menggeram. Ditatapnya wajah Mahendra yang
tegang setegang wajahnya sendiri.
Tiba-tiba terdengar Mahendra itu berkata, “Kuda Sempana.
Dendammu itulah yang kelak pasti akan menghancurkan dirimu
sendiri. Agaknya kau tidak mau melihat kenyataan.”
“Tutup mulutmu Mahendra! Kau tidak bersangkut paut dengan
urusanku.”
“Kau pasti telah pernah mendengar pula apa yang terjadi atasku.
Aku hampir gila seperti kau pula ketika aku tidak berhasil mendapat
gadis Panawijen itu. Tetapi kemudian aku menyadari keadaan. Aku
melihat kenyataan. Karena itu aku tidak menjadi gila seperti kau.”
“Persetan dengan bicaramu! Kalau kau ingin selamat tinggalkan
tempat ini.”
“Jangan mengancam! Tak ada gunanya. Aku sudah dapat
mengukur sampai di mana kemampuanmu Kuda Sempana. Kau
tidak mampu mengalahkan Witantra. Meskipun aku adik
seperguruannya, namun aku pasti akan mampu pula melawan ajimu
Kala Bama yang tidak berarti itu.”
Wajah Kuda Sempana menjadi merah padam mendengar
tantangan Mahendra itu. Namun bukan saja Mahendra tetapi juga
Cundaka merasa tersinggung karena anggapan yang menyakitkan
hati atas Kala Bama, ilmu yang dibanggakan. Apalagi guru Kuda
Sempana itu. Betapapun juga, ia adalah sumber dari ilmu itu. Ia
adalah guru yang telah menurunkan ilmu itu, sehingga kata-kata
Mahendra itu benar-benar menyinggung perasaannya.
Karena itu maka orang yang bertongkat hampir sepanjang
tubuhnya itu maju selangkah. Ditatapnya wajah Mahendra baikbaik.
Kemudian katanya sambil memiringkan kepalanya, “He, anak
muda. Apakah kau sadari kata-katamu? Kau menghina
perguruanku.”
“Sebaiknya kau tidak usah mencampuri urusan ini,” sahut
Mahendra dengan beraninya. Sebab ia merasa bahwa ia sudah
terjerumus dalam pertentangan yang mendalam dengan perguruan
Empu Sada, karena ia telah terlanjur menghinakan ilmunya. Tetapi
sebagai laki-laki Mahendra tidak juga beranjak surut.
Tiba-tiba guru Kuda Sempana yang bernama Empu Sada itu
tertawa. Suara tertawanya benar-benar menyakitkan telinga.
Katanya, “He, Kuda Sempana dan Cundaka. Biarlah aku turut dalam
permainan ini. Semula aku hanya ingin melihat anak muda yang
bernama Mahisa Agni itu, tetapi tiba-tiba aku ingin menangkap
kelinci di padang ini. Kini, teruskan rencanamu. Kau berdua harus
dapat menangkap Mahisa Agni. Ikat ia dengan kedua kuda kalian
dan paculah ke arah yang berbeda. Aku akan mengikat anak ini
pada kudaku, nanti aku akan melihatnya terkelupas seperti pisang.”
Kembali terdengar suara tertawa menyakitkan hati
berkepanjangan memenuhi padang Karautan itu.
Terasa dada Mahisa Agni dan Mahendra bergetar mendengar
kata-kata itu. Menurut pernilaian Mahisa Agni dan Mahendra, maka
Empu Sada itu pasti tidak sekedar bergurau dan mengancam.
Menilik sikap dan nada tertawanya, ia pasti akan dapat
melakukannya seperti yang dikatakannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian menduga, bahwa mereka pasti
telah menyembunyikan kuda mereka, atau sengaja mereka
menuntun kuda-kuda mereka, sebelum mereka menemukan
tempatnya. Tetapi ia tidak sempat berpikir tentang kuda. Ia kini
harus bersikap menghadapi hantu-hantu yang melampaui
kebiadaban hantu Karautan yang pernah menggemparkan seluruh
Tumapel.
Yang terdengar kemudian adalah sisa-sisa nada tertawa Empu
Sada. Kemudian katanya pula, “Sebenarnya aku harus
mengucapkan terima kasih kepadamu Mahendra, bahwa dengan
mengikutimu, ternyata kau telah menunjukkan kepada kami, di
mana Mahisa Agni bersembunyi. Nah, karena kau telah menghina
perguruanku, maka sekarang aku terpaksa berbuat sesuatu atasmu.
Karena itu, supaya aku tidak mengubah rencanaku dengan rencana
lain yang lebih dahsyat, marilah ikuti aku ke tempat kudaku aku
tambatkan, sebelum aku mengikutimu dengan berjalan kaki. Sebab
menurut perhitunganku, Agni yang mimpi membuat bendungan itu
pasti akan tertarik perhatiannya pada jeram-jeram ini. Ternyata
perhitunganku benar, sehingga aku tidak menyimpan kuda itu
terlampau jauh.”
Sekali lagi Mahendra menggeram. Kata-kata itu benar-benar
merupakan penghinaan baginya. Karena itu jawabnya lantang,
“Jangan banyak bicara tikus tua. Kalau kau mau membunuh
Mahendra, bunuhlah dengan cara yang kau sukai. Tetapi jangan
mencoba menakut-nakuti aku dengan segala macam kata-kata yang
bagiku tak akan berarti.”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Tampaklah alisnya yang
tebal bergerak-gerak. Sekali-sekali ia mengerling kepada Mahisa
Agni, namun kemudian kembali ditatapnya wajah Mahendra, “Huh,
kau terlampau kasar. Seharusnya kau mati dengan cara lain.”
Empu Sada itu kini sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian
katanya kasar kepada kedua muridnya, “Ayo, apa yang kalian
tunggu. Tangkap Mahisa Agni. Biarlah anak ini aku selesaikan.”
Kedua murid Empu Sada itu terkejut, dan dada Mahisa Agni pun
berdesir. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus melawan
dengan segenap kekuatan yang ada padanya.
Untuk menghadapi kedua lawannya Mahisa Agni tidak boleh
kehilangan waktu. Sebab kecuali mereka hadir pula guru mereka,
Empu Sada yang pasti memiliki banyak kelebihan dari kedua
muridnya. Sudah tentu ia tidak akan dapat membiarkan Mahendra
mengalami bencana pula. Karena itu, maka tidak ada pertimbangan
lain, daripada segera membinasakan lawan-lawannya.
Demikianlah maka diam-diam Mahisa Agni memusatkan segenap
kekuatan lahir dan batinnya. Tanpa bersikap disusunnya
getarangetaran
di dalam dadanya. Dialirkannya segenap kekuatannya ke
dalam telapak tangannya.
Sementara itu ia mendengar Cundaka tertawa. Meskipun tidak
setajam suara gurunya namun suara itu pun benar-benar telah
menyakitkan hati Mahisa Agni.
“Kuda Sempana,” berkata orang yang menamakan diri Bahu
Reksa Kali Elo itu, “kali ini jangan lepas lagi. Kita akan dapat
melepaskan dendam kita sekehendak hati. Kalau anak itu telah kami
ikat kaki dan tangannya, maka kita akan mendapatkan permainan
yang mengasyikkan.”
Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Tetapi mulut pada
wajahnya yang selalu gelap itu sama sekali tidak tertawa.
Tersenyum pun tidak. Namun ialah yang mendekat lebih dahulu
sambil bergeremang, “Agni. Beberapa kali kau menggagalkan
rencanaku untuk dapat memiliki Ken Dedes. Kalau bukan kau yang
selalu menghalangi, maka aku tidak akan mengalami nasib sejelek
sekarang ini. Aku tidak perlu menyangkutkan kepentinganku dengan
Akuwu yang ternyata curang. Ternyata Akuwu sendiri mempunyai
pamrih atas gadis itu. Nah, jangan menyesal sekarang. Sudah jauh
terlambat. Terimalah nasibmu yang jelek sebagaimana nasibku
sendiri.”
Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab. Ketika dengan sudut
matanya, ia memandangi wajah Mahendra, dilihatnya wajah anak
muda itu menjadi tegang. Ternyata Mahendra sama sekali tidak
memperhatikan dirinya sendiri dan Empu Sada. Perhatiannya sama
sekali tercurah pada Mahisa Agni.
Sekali lagi terdengar gigi Mahisa Agni gemeretak. Ketika ia
melihat Kuda Sempana bergerak, maka dituntaskannya segenap
getaran di dalam dadanya. Kini ia tinggal memerlukan dorongan
untuk melepaskan puncak kekuatan yang tersimpan di dalam
dirinya, sebab ia sudah tidak melihat kemungkinan lain. Dengan
demikian ia mengharap segera dapat mengurangi satu lawannya
untuk kemudian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat
daripadanya.
Meskipun sesaat Mahisa Agni menjadi bimbang untuk dengan
tiba-tiba saja mempergunakan puncak ilmu pada gerak yang
pertama, namun diamatinya perjuangannya yang akan menjadi jauh
lebih berat dari setiap perjuangan yang pernah dilakukan. Melawan
Empu Sada.
Kuda Sempana dan Cundaka pun kemudian berjalan semakin
dekat. Kedua wajah itu bagaikan bumi dan langit. Kuda Sempana
memandang Mahisa Agni dengan penuh dendam dan gejolak
kemarahan, sedang orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali
Elo itu masih saja tertawa penuh hinaan. Namun keduanya bagaikan
wajah-wajah hantu yang haus melihat maut.
Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana dan Cundaka tertegun. Sesaat
mereka justru diam mematung. Baru kemudian disadarinya, bahwa
bahaya maut justru telah mengancam mereka.
Dalam gerak yang cepat secepat tatit, mereka melihat Mahisa
Agni menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya. Hanya
sesaat sebagai unsur daya penggerak dan pelontar kekuatannya.
Sesaat kemudian, anak muda itu telah meloncat dengan
dahsyatnya sambil mengayunkan tangannya dalam gerak pelepasan
kekuatan puncaknya, Aji Gundala Sasra, mengarah kepala Kuda
Sempana.
Bukan main terkejut Kuda Sempana dan Cundaka. Loncatan itu
sedemikian cepatnya, sehingga sama sekali tak memberi mereka
waktu untuk berbuat sesuatu. Apalagi Kuda Sempana. Ia melihat
Mahisa Agni seolah-olah anak panah yang meluncur seperti tatit
menyambarnya. Ia tidak dapat berbuat sesuatu untuk
menyelamatkan dirinya. Tak ada waktu baginya untuk
membangunkan kekuatan aji Kala Bama untuk mengimbangi
kekuatan aji lawannya. Meskipun seandainya kekuatan kedua aji itu
kurang seimbang, namun ia pasti tidak akan dapat dilumatkan oleh
lawannya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan itu. Satu-satunya
usaha yang dapat dilakukan adalah mengelak dan meloncat jauhjauh.
Namun Mahisa Agni pasti akan memburunya, dan kemudian
memukul tengkuknya sehingga tulang lehernya akan terpatahkan.
Meskipun demikian, Kuda Sempana masih juga berusaha.
Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia melontar ke samping,
untuk mencoba menghindarkan diri dari sambaran maut di tangan
Mahisa Agni.
Mahisa Agni melihat gerak lawannya. Cepat ia menggeliatkan dan
sekali lagi menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga geraknya
pun berubah arah. Ia benar-benar ingin membinasakan Kuda
Sempana untuk segera dapat melakukan perlawanannya atas
lawan-lawannya yang tinggal dan yang jauh lebih kuat dari dirinya
sendiri meskipun berdua dengan Mahendra.
Kuda Sempana terkejut melihat perubahan sikap Mahisa Agni.
Sekali lagi ia melihat maut menyambarnya. Karena itu, maka sekali
lagi ia terpaksa menghindar. Kuda Sempana itu kemudian
menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali menjauhi Mahisa
Agni.
Namun yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Ketika
sekali lagi Mahisa Agni menjejakkan kakinya di tanah dan
melontarkan diri mengejar Kuda Sempana, ia melihat sebuah
bayangan yang melontar cepat sekali di hadapannya. Demikian
cepatnya sehingga Mahisa Agni tidak sempat menghentikan dirinya
sendiri. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Mahisa Agni
dengan menghentakkan giginya, menyambar bayangan itu dengan
telapak tangannya. Telapak tangan yang telah dipenuhinya dengan
kekuatan yang disebutnya Gundala Sasra.
Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Bayangan itu tergetar.
Namun tetap tegak di tempatnya. Sedang Mahisa Agni sendiri
terpental surut beberapa langkah. Terdengar tubuhnya terbanting
jatuh di tanah. Dan terdengar pula ia mengeluh tertahan.
Ternyata ayunan tangan Mahisa Agni itu telah membentur tubuh
Empu Sada. Guru Kuda Sempana. Betapapun juga ia tidak dapat
melihat muridnya dihancur lumatkan di hadapan hidungnya.
Meskipun ia sekedar seorang guru upahan, yang mengajar muridnya
bukan karena keyakinannya, namun hubungan yang telah terjalin
sedemikian lamanya, antara dirinya dan muridnya itu, telah
mendorongnya untuk mencoba menyelamatkannya.
Ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri saja seperti patung melihat
wajahnya yang tegang, melihat cahaya matanya yang bergetar dan
dadanya yang menggelombang, maka Empu Sada yang sudah
kenyang melihat hitam putihnya berbagai macam ilmu, segera
menyadari bahaya yang sedang disusun oleh anak muda itu. Karena
itu maka ia tidak melepaskan kesiagaan seandainya muridnya
menjadi lengah. Dan ternyata hal itu terjadi. Muridnya hampir saja
dapat dibinasakan oleh anak muda yang akan ditangkapnya, karena
itu, maka ia tidak dapat membiarkannya. Segera ia meloncat
memotong gerakan Mahisa Agni yang sedang mengejar Kuda
Sempana yang mencoba menghindari lawannya sambil bergulingguling
di tanah.
Benturan yang terjadi itulah yang kemudian telah melemparkan
Mahisa Agni. Betapa dahsyat ilmunya, namun ia masih belum
mampu melawan keteguhan ilmu Empu Sada. Meskipun Empu Sada
tidak menyerangnya, namun benturan itu telah menghentakkan
kekuatan Mahisa Agni sendiri, sehingga ia tidak mampu untuk
menjaga keseimbangannya. Bahkan dadanya seakan-akan diketuk
oleh suatu kekuatan yang dahsyat, sehingga terasa sesaat nafasnya
menjadi sesak.
Mahendra melihat apa yang terjadi itu dengan getaran yang
dahsyat di dadanya. Sesaat ia hanya dapat mengikuti peristiwa yang
terjadi sedemikian cepatnya itu dengan matanya. Tubuhnya sendiri
seolah-olah terpaku sehingga untuk sesaat ia tetap berdiri saja
mematung.
Baru kemudian setelah ia melihat Mahisa Agni berguling di tanah
disadarinya apa yang terjadi. Ia melihat bahaya tidak saja
mengancam Mahisa Agni, tetapi akan mengancam dirinya sendiri.
Karena itu, maka segera ia bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Ia ingin berbuat seperti Mahisa Agni. Langsung
menyiapkan ilmu puncak di tangannya, sehingga setiap waktu ia
akan dapat mempergunakannya. Meskipun ilmu itu belum dikuasai
sesempurnanya, namun ia sudah mampu mempergunakan untuk
menjaga dirinya.
Tetapi apa yang dilihatnya telah menggetarkan dadanya. Ketika
ia sedang mencoba menyusun ilmunya, tiba-tiba ia mendengar
Empu Sada tertawa dengan nada yang tinggi menyakitkan hati.
Namun yang lebih mencemaskannya, adalah, tiba-tiba saja orang
yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang melihat Mahisa
Agni terbanting di tanah dan belum mampu bangkit berdiri, segera
ingin mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepatnya ia
meloncat menyerang Mahisa Agni yang masih terbaring di tanah.
Mahendra tidak dapat membiarkannya terjadi, cepat ia
mengambil sikap. Ia mengurungkan niatnya, untuk membangkitkan
ilmunya, tetapi segera ia pun meloncat secepat Cundaka meloncat.
Langsung dengan kakinya ia melontarkan serangan ke arah
lambung Bahu Reksa Kali Elo.
Cundaka terkejut melihat kesiagaan Mahendra. Karena itu,
segera ia menggeliat, dan mencoba menghindari serangan itu.
Dengan sebuah hentakan di tanah. Cundaka berhasil melontarkan
ke samping menghindari serangan Mahendra yang meluncur
secepat kilat di sampingnya.
Demikian kaki Mahendra berjejak di atas tanah, cepat-cepat ia
memutar tubuhnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Tetapi ternyata Cundaka belum menyusulnya dengan sebuah
serangan balasan. Meskipun Mahendra melihat sikap orang yang
menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sebagai suatu sikap
yang berbahaya, namun ia masih berada di tempatnya.
Ternyata gurunya, Empu Sadalah yang telah mencegahnya. Kini
yang terdengar adalah suara tertawanya yang melengking
menyakitkan telinga. Di antara suara tertawanya terdengar ia
berkata, “Hem, anak-anak muda yang perkasa. Meskipun kalian
tidak berasal dari satu perguruan, namun kalian ternyata memiliki
kemampuan yang cukup untuk saling bekerja bersama-sama.”
Mahendra tidak menjawab. Ia menarik nafas ketika ia melihat
Mahisa Agni telah berdiri. Sekali-sekali dikibaskannya tangannya
dan
diaturnya pernafasannya. Agaknya Mahisa Agni telah berhasil
mengurangi perasaan sakitnya dan perlahan-lahan kekuatan yang
ada di dalam tubuhnya telah mampu untuk bangkit kembali.
Empu Sada itu masih tertawa, meskipun semakin lama semakin
perlahan-lahan. Kemudian katanya pula, “Anak-anak muda, aku
telah mengenal berbagai macam ilmu dari berbagai macam
perguruan. Meskipun aku tidak bergaul dengan orang-orang sakti
itu, namun sedikit-sedikit aku dapat mengenal nama mereka.
Ternyata kalian adalah murid dari orang-orang sakti yang disegani.
Namun nasib kalian agaknya memang kurang baik. Kalian telah
melakukan pekerjaan yang berbahaya di tempat yang berbahaya.
Karena itu untuk menghilangkan setiap usaha pembalasan dendam,
maka kalian harus binasa. Kalau kalian masih hidup, maka kalian
akan menyampaikan peristiwa ini kepada guru-guru kalian sehingga
mereka pasti tidak akan tinggal diam. Nah, mudah-mudahan guruguru
kalian tidak bermimpi buruk di rumah malam ini.”
Kemudian kepada ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni
yang seakan-akan membeku orang tua bertongkat hampir
sepanjang tubuhnya itu berkata, “Sayang. Kalian pun harus mati
untuk melenyapkan saksi-saksi yang akan mungkin menyebar
luaskan berita tentang peristiwa ini. Tetapi jangan takut, kalian
akan
mati dengan cara yang baik. Kalian akan ditusuk langsung di arah
jantung, sehingga kalian tidak akan mengalami derita. Kematian
yang demikian itulah yang dicari oleh hampir setiap orang. Mati
tanpa menderita. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni dan
Mahendra. Mereka akan mati dengan cara yang lain sebab mereka
telah berani melawan Empu Sada dan murid-muridnya.”
Suasana segera meningkat semakin tegang. Kini Mahisa Agni
telah hampir menguasai segenap kekuatannya kembali. Dengan gigi
gemeretak ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang.
Beberapa langkah daripadanya, Mahendra pun telah siap untuk
menghadapi segenap kemungkinan.
“Nah, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan kau dekati Mahisa
Agni dalam kewajaran. Siapkan aji Kala Bama. Hantamkan
kepadanya bersama-sama apabila seorang-seorang daripada kalian
belum dapat memadainya. Ia akan jatuh sekali lagi. Tetapi ia cukup
tahan untuk tidak mati. Nah, kemudian kalian akan dapat
menangkapnya dan menariknya di belakang kuda-kuda kalian selagi
ia masih hidup. Sedang yang satu ini serahkan kepadaku. Bukankah
kalian tidak berurusan dengan anak muda yang bersama Mahendra
ini?”
Tak seorang pun yang menyahut kata-kata itu. Tetapi mereka
kemudian segera memusatkan kekuatan lahir dan batin. tanpa
berjanji, keempat anak muda itu telah membangunkan kekuatan
puncaknya. Kuda Sempana dan Cundaka telah menyusun aji Kala
Bama, Mahendra dengan aji Bajra Pati seperti yang dimiliki oleh
Witantra dan Mahisa Agni telah memperbaharui kekuatannya dalam
ilmunya, aji Gundala Sasra.
Dalam ketegangan yang memuncak itu kembali terdengar suara
tertawa Empu Sada sambil berkata, “Lucu. Aku melihat kelucuan di
sini. Kalian, keempat anak-anak muda, sedang membangkitkan ilmu
kepercayaan masing-masing. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan itu
telah siap berbenturan. Namun apakah gunanya kau melawan
Mahisa Agni? Dan apa pula gunanya kau mempersiapkan permainan
yang buruk itu. Mahendra? Melihat sikapnya, aku menyangka bahwa
kau sedang mempersiapkan kekuatan yang dinamai oleh
penyusunnya, aji Bajra Pati. Kau sudah melihat Gundala Sasra tak
berarti apa-apa bagiku. Karena itu, lebih baik kalian menyerah.
Kalian akan segera diikat dan ditarik di belakang kuda. Bukankah
semakin cepat semakin baik?”
“Tutup mulutmu!” bentak Mahendra tanpa mengenal takut,
justru setelah ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat menghindar
lagi dari bahaya maut, “Ayo, jangan banyak bicara. Kalau aku tak
mampu membunuhmu, biarlah aku mati di padang Karautan.”
Orang tua itu menarik nafas. Pandangan matanya kini menjadi
semakin buas, seperti burung elang yang melihat anak ayam di
pelataran.
“Hem,” desahnya, “kau memang berani. Tetapi kau sedang
membuat dirimu sendiri sengsara.”
“Kau hanya mampu berbicara,” potong Mahendra. “tetapi kau
tidak mampu berbuat apa-apa.”
Orang tua itu agaknya menjadi marah sekali. Sebelum Mahendra
dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba ia merasa sebuah tamparan di
pipinya. Tamparan tangan orang tua bertongkat itu. Gerak itu
sedemikian cepatnya sehingga Mahendra seakan-akan tidak lebih
dari sebuah patung. Terasa pipi Mahendra disengat oleh perasaan
pedih. Ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping. Dengan
sekuat tenaga ia mencoba menguasai keseimbangannya.
“Anak gila!” terdengar suara Empu Sada berat parau, “Nah, kau
lihat apa yang dapat aku lakukan. Meskipun kau tengah
membangun aji yang kau bangga-banggakan namun kau tidak
berdaya melawan sebuah pukulan yang sangat sederhana. Apa
katamu sekarang?”
Mahendra menggeram. Namun ia masih menjawab, “Persetan!
Kau mulai dengan curang sebelum aku bersiap.”
Dada Empu Sada benar-benar terbakar oleh jawaban itu. karena
itu maka katanya, “Aku memang tidak mempunyai banyak waktu.”
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang telah bersiap dengan aji
Gundala Sasra itu pun tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia
mengerling ke arah Kuda Sempana yang sedang dengan asyiknya
melihat gurunya yang sedang marah itu.
Mahisa Agni masih tetap dalam pendiriannya, bahwa ia harus
segera dapat mengurangi jumlah lawan-lawannya. Tetapi anak
muda itu mengumpat di dalam hatinya ketika ia mendengar Empu
Sada memperingatkan muridnya, “Kuda Sempana jangan tidur.
Sekali lagi kau akan diserang oleh Gundala Sasra. Jangan kau lawan
seorang diri. Lawanlah bersama-sama. Kalian akan mendapatkan
Mahisa Agni itu seperti seonggok sampah. Nah, kau akan dapat
berbuat apa saja atasnya.”
Kini tidak ada jalan lain bagi Mahisa Agni daripada melawan
kedua orang itu bersama-sama. Karena itu, maka segera Mahisa
Agni mengambil sikap. Ia harus berusaha mendapatkan arah, yang
memungkinkan ia melawan kedua lawannya itu satu demi satu.
Karena itu, maka ia harus menjadi semakin berhati-hati.
Dalam pada itu Empu Sada pun telah melangkah maju mendekati
Mahendra. Perlahan-lahan sekali, seperti seekor kucing sedang
menakut-nakuti seekor tikus yang kecil. Namun dalam pada itu ia
masih berkata kepada murid-muridnya, “Hati-hatilah! Meskipun
musuhmu itu hanya seorang, tetapi ia cerdik seperti demit.”
Mahisa Agni menggeram. Kedua lawannya selalu mendapat
peringatan dari gurunya. Namun ia tidak dapat mengeluh saja di
dalam hatinya. Ia harus menghadapi bahaya itu, dan ia harus
melawan sekuat tenaga yang ada di dalam dirinya. Ia sama sekali
tidak akan dapat minta bantuan kepada ketiga kawan-kawannya,
yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.
Dan Mahisa Agni pun sama sekali tidak menyesali mereka. Sebab
apapun yang mereka lakukan sama sekali akan tak berarti.
Ketika Kuda Sempana dan orang yang menamakan diri Bahu
Reksa Kali Elo itu melangkah semakin dekat, serta keduanya
kemudian mengambil jarak yang cukup untuk memecah perhatian
Mahisa Agni, maka terdengar suara Cundaka menggeram, “Mampus
kau kerbau gila. Sebut nama ayah bundamu. Tataplah langit untuk
yang terakhir kalinya sebelum kau memeluk bumi. Supaya kau tidak
menyesal di dalam alam lain kelak.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Ia benar-benar telah bersiap
menghadapi sepasang kekuatan aji Kala Bama.
Tetapi ketika kedua lawannya itu melangkah semakin dekat,
terjadilah sesuatu yang sama sekali di luar perhitungan mereka.
Tiba-tiba meluncurlah sebuah batu dari arah ketiga kawan-kawan
Mahisa Agni yang duduk membeku. Demikian kerasnya dan
langsung mengenai dada Cundaka sehingga terdengar orang itu
mengaduh pendek.
“Gila!” ia mengumpat keras-keras, “He, kelinci betina. Apakah
kau akan ikut campur dalam persoalan ini sehingga kau akan ikut
aku ikat di belakang kudaku?”
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar telah membeku
sehingga mereka sama sekali tidak dapat menjawab. Bahkan tubuh
mereka menjadi semakin gemetar dan tulang-tulang mereka seperti
dilolosi.
“Kalau sekali lagi kalian berbuat gila, maka kalianlah yang akan
mengalami nasib yang paling mengerikan.”
Tak ada jawaban sama sekali. Ketiganya masih saja duduk
seperti patung batu. Diam kaku.
Empu Sada pun melihat sesuatu terbang dari arah ketiga anakanak
muda itu. Ia mengetahui pula, bahwa salah seorang muridnya
telah terkena lemparan batu. Namun ia tidak melihat salah seorang
dari ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu bergerak. Karena
itu, timbullah kecurigaannya, sehingga ia berkata, “He, Cundaka,
apakah kau dapat dikenainya?”
“Ya, Guru, batu sebesar telur merpati. Tepat mengenai dadaku.
Alangkah sakitnya.”
“Batu sebesar telur merpati dapat membuat kau kesakitan selagi
kau mateg aji Kala Bama?”
“Ya, Guru.”
“Setan!” geram Empu Sada. Kemudian kepada ketiga anak muda
itu ia berteriak, “He, apabila ada di antara kalian seorang yang
sakti,
yang mampu melempar tanpa menggerakkan tangan, bahkan
mampu menyakiti muridku, kenapa kalian atau salah satu dari kalian
berpura-pura takut? Sungguh tidak jujur. Ayo, kalau salah satu dari
kalian ternyata mampu berbuat demikian, sebutlah namamu dan
tampillah ke dalam arena.”
Ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni itu mendengar katakata
Empu Sada. Namun mereka sama sekali tidak mengerti
maksudnya, sehingga justru dada mereka seolah-olah telah
tersobek-sobek oleh pedang di lambung Kuda Sempana, atau
berlubang ditusuk tongkat orang tua itu.
Tetapi Empu Sada masih saja berkata kepada mereka. “Ayo,
jangan curang. Jangan menyerang sambil bersembunyi dalam
selubung ketakutan. Kalau salah seorang dari kalian tidak ada yang
mengaku, maka kalian bertigalah yang akan aku binasakan dengan
cara yang tidak pernah dapat kalian bayangkan. Sebab aku akan
dapat memotong setiap anggota badanmu perlahan-lahan, dari
yang paling tidak berbahaya dan yang terakhir adalah lehermu. Ayo
cepat katakan.”
Tubuh-tubuh itu kini benar-benar telah menjadi lemas. Demikian
takutnya, sehingga dengan tangan gemetar mereka menutupi
wajah-wajah mereka sendiri. Bahkan Jinan sudah menangis seperti
kanak-kanak yang ditinggalkan ibunya seorang diri di gelapnya
malam.
“Ha,” berkata Empu Sada lantang, “kau pura-pura menangis?
Mungkin kaulah yang telah melakukan keajaiban itu. Melempar
sedemikian kerasnya tanpa menggerakkan tanganmu. Kini kau purapura
menangis melolong-lolong. Apakah kau akan menyerang
muridku dengan aji yang dapat kau lontarkan lewat lolonganmu?”
Jinan menjadi semakin ketakutan. Karena itu maka tangisnya
menjadi semakin pedih. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak berbuat
apa-apa, tetapi suaranya tersekat di kerongkongannya karena
ketakutan yang mencengkam dadanya.
Empu Sada yang marah bukan buatan itu tidak sabar lagi.
Selangkah ia mendekati ketiga anak-anak muda itu. Namun kini,
bukan Cundaka yang akan terkena lemparan batu, tetapi batu itu
mengarah kepada dirinya. Namun ia adalah seorang yang cukup
sakti, sehingga ketika butiran batu itu menyambarnya, ia masih
mampu memukulnya dengan tongkatnya.
Namun ketika tongkatnya membentur batu kecil itu, Empu Sada
terkejut dan mengumpat, “He. Demit buruk! Siapa kau?”
(bersambung )
Jilid 15
TERNYATA SENTUHAN batu kecil itu benar-benar tidak di
duganya. Tenaga dorongnya telah mampu menggetarkan
tongkatnya. Karena itu, maka dengan demikian segera Empu Sada
mengetahui bahwa kekuatan orang yang melemparkan batu itu
benar-benar kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan.
Kini ia telah dapat meyakini, bahwa sebenarnya memang bukan
salah seorang anak-anak Panawijen itulah yang melemparkan batu
itu. Ketika ia sedang menghadap kepada ketiga anak itu dan
memandangi mereka, maka dilihatnya batu itu melontar dari
gerumbul di belakang anak-anak yang membeku itu. Dengan
demikian maka segera Empu Sada mengetahuinya, bahwa seorang
telah bersembunyi di balik gerumbul itu.
Empu Sada itu pun kini tidak mau melangkah maju lagi.
Seseorang yang melampaui kekuatan kebanyakan orang sedang
menunggunya. Mungkin suatu ketika orang yang bersembunyi itu
tidak melemparnya dengan batu, tetapi suatu kali dapat terjadi
orang itu melempar dengan sebilah pisau, atau dengan jarum-jarum
baja yang runcing sebangsa paser yang kecil.
Yang dapat dilakukan oleh orang tua itu kemudian adalah
berteriak-teriak lantang, “He, pengecut yang bersembunyi di balik
gerumbul. Ayo keluarlah! Jangan menyerang sambil bersembunyi!”
Namun suaranya itu lepas saja tanpa ada yang menyahut.
Gemanya menggelentang memukul tebing-tebing perbukitan dan
menelusuri dinding sungai, mengatasi desir air terjun di bawah
jeram-jeram.
Sesaat Empu Sada itu terdiam. Dipandanginya gerumbul itu
dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya ingin menembus
rimbunnya daun-daun perdu di dalam alam yang semakin gelap.
Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Empu Sada sama sekali tidak dapat
menangkap tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya, siapa dan
berapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul itu. Namun
dengan demikian, menilik cara orang itu mengatur pernafasannya,
cara orang itu sampai ke sana dan bersembunyi di sana tanpa
diketahuinya, maka pasti orang itu bukan orang kebanyakan.
Agak di belakang Empu Sada sebelah menyebelah, berdiri
keempat anak-anak muda dengan tegangnya. Mahisa Agni,
Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka terpaku di
tempatnya seperti sebatang tonggak yang kokoh. Namun perhatian
mereka pun sama sekali terampas oleh peristiwa yang mendebarkan
itu. Lebih-lebih Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka menyangka,
bahkan hampir pasti, bahwa orang yang bersembunyi itu, akan
berdiri di pihak Mahisa Agni dan Mahendra. Ternyata ia telah
mencoba menghalangi Cundaka dan Empu Sada sendiri.
Meskipun demikian, kedua orang itu terlampau percaya kepada
gurunya. Gurunya adalah seorang sakti yang pilih tanding. Seorang
yang disegani oleh orang-orang sakti yang lain, sehingga tidak
banyak di antara mereka yang sanggup bergaul, bersaing dan
bertemu dalam ilmu dengan gurunya.
Sesaat padang rumput itu terbenam dalam suasana yang sunyi.
Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh-tubuh yang
kaku tegang, menggetarkan dedaunan dan membuat suara yang
sayu. Sekali-sekali suara jeram-jeram yang dihanyutkan oleh
silirnya
angin terdengar gemeresik beruntun susul menyusul. Namun
kemudian semakin lama menjadi seolah-olah semakin jauh.
Empu Sada masih berdiri dengan tegangnya. Tongkatnya siap
untuk menghadapi setiap kemungkinan, ia menyangka bahwa orang
yang bersembunyi adalah seorang yang sakti.
Namun tidak berani beradu dada dengannya, sehingga orang itu
hanya dapat melawannya dari tempat yang tersembunyi.
Kemarahan Empu Sada semakin lama menjadi semakin
memuncak pula. Ia tidak sabar lagi menunggu keadaan berkembang
semakin jelas. Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak, “He, Kuda
Sempana dan Cundaka. Jangan hiraukan kelinci yang bersembunyi
di dalam semak-semak itu. Ayo, selesaikan pekerjaanmu, mengikat
Mahisa Agni di belakang punggung kudamu. Biarlah orang ini
berada di tempat persembunyiannya sampai kita meninggalkan
tempat ini.”
Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Babu Reksa
Kali Elo itu seolah-olah tersadar. Sekali mereka menghentakkan
dirinya, maka kini mereka siap menghadapi lawannya. Mahisa Agni.
Tetapi kembali mereka tertegun, karena tiba-tiba Mahendra
berkata, “Nah, Agni. Marilah kita melawan keduanya. Pilihlah
olehmu, manakah yang lebih menarik perhatianmu satu di antara
mereka.
Mahisa Agni berpaling ke arah Mahendra sesaat. Cepat ia dapat
menangkap maksudnya. Ia menganggukkan kepalanya dan berdesis
di dalam hatinya, “Mahendra cukup cerdik menanggapi keadaan.”
Namun dalam pada itu Empu Sada menggeretakkan giginya
sambil berteriak, “He, Mahendra. Jangan turut campur! Biarlah
mereka menyelesaikan persengketaan mereka sendiri.”
Sebelum Mahendra menjawab terdengar suara Mahisa Agni
parau.
“Dan kau biarkan Mahendra terlalu lama menunggu kau
membunuhnya. Ia tidak cukup sabar. Biarlah salah seorang
muridmu mewakilmu.”
“Tidak!” teriak Empu Sada, “Aku sendiri akan membunuh
Mahendra.”
“Silakan,” sahut Mahisa Agni pula, “tetapi agaknya kau lebih
tertarik pada permainan baru itu.”
Sekali lagi Empu Sada menggeretakkan giginya. Kedua anak itu
ternyata mampu mempergunakan kesempatan. Meskipun tak
seorang pun di antara mereka yang mengetahui, siapakah yang
berada di dalam semak-semak itu, tetapi mereka merasa bahwa
orang yang berada di dalam semak-semak ini, tidak ingin melihat
Mahisa Agni dan Mahendra mengalami nasib yang sangat buruk.
Setidak-tidaknya orang itu ingin melihat persoalan ini berakhir
dengan jujur. Tanpa ikut campurnya orang-orang luar seperti Empu
Sada.
Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Mahendra sendiri pun
diliputi oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti,
apa yang dikehendaki oleh orang yang bersembunyi itu. Yang dapat
dilakukan kini hanyalah kemungkinan yang dapat menguntungkan
saja dalam keadaan yang sangat berbahaya itu.
Sesaat Empu Sada berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera
meloncat mencekik Mahendra, namun sebagian perhatiannya terikat
pada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Kalau ia
lengah, mungkin sebuah pisau dapat menembus lambungnya.
Karena itu, yang terdengar kemudian orang tua itu mengutuk
habishabisan,
“Setan pengecut! Ayo keluarlah! Kalau tidak, maka aku
segera akan membunuh Mahendra. Mungkin kau saudaranya atau
gurunya sekali atau apa?”
Masih tak ada jawaban. Namun pertanyaan Empu Sada itu
bahkan mengungkit dugaan Mahendra atas orang yang bersembunyi
itu. Gurunya memang berada di Tumapel saat ini. Gurunya melihat
kakak seperguruannya menyuruhnya pergi ke padang Karautan.
Gurunya mendengar pula, apa yang diceritakan oleh Ken Arok
kepada Witantra.
Tetapi kembali Mahendra menghapus dugaannya itu. Gurunya
tidak berkepentingan apa-apa dengan padang Karautan, dengan
Mahisa Agni, Ken Dedes maupun Tunggul Ametung.
“Aku tidak peduli siapa yang bersembunyi itu,” katanya di dalam
hati, “tetapi aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya
seandainya aku masih tetap hidup dan dapat keluar dari padang ini,
karena ia telah menyelamatkan aku dan Mahisa Agni.”
Namun kesenyapan padang itu kembali tersayat oleh suara Empu
Sada, “Bagus. Kalau kau tidak menampakkan dirimu. Aku sudah
kehabisan waktu. Tunggulah, aku akan memutar leher Mahendra
sehingga ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Aku ingin melihat
tubuhnya terkelupas di belakang kudaku yang berlari kencang.”
Empu Sada itu pun dengan hati-hati melangkah surut. Ia ingin
menjauhi gerumbul itu untuk kemudian meloncat mencekik
Mahendra. Namun kembali ia mengumpat. Dengan sigapnya ia
terpaksa menggerakkan tongkatnya memukul sebutir batu yang
terbang ke arah dadanya.
“Gila! Gila!” teriaknya, “Ayo pengecut, jangan bersembunyi saja!
Kalau kau tidak berani berhadapan muka dengan Empu Sada,
jangan mengganggu. Pulang saja ke rumah. Ambil periuk, dan lebih
baik menanak nasi daripada berada di medan.”
Empu Sada menunggu sesaat. Ia menjadi semakin gelisah ketika
ia melihat Mahisa Agni ternyata telah mempersiapkan dirinya. Ia
kini
cukup yakin bahwa orang di gerumbul itu memang berusaha untuk
mengikat Empu Sada, sehingga orang itu sama sekali tidak sempat
mengganggu perkelahian anak-anak muda itu. Mahendra yang
melihat Mahisa Agni bersiap, segera menyiapkan dirinya pula. Ia
pun telah mendapat keyakinan seperti Mahisa Agni, sehingga
dengan tenang, akan dihadapinya lawannya. Salah satu dari kedua
murid Empu Sada itu.
Tetapi keduanya segera terganggu. Ternyata orang yang
bersembunyi di dalam gerumbul itu tidak ingin bersembunyi terus.
Sejenak kemudian terdengar suara tertawa lirih, dalam nada yang
rendah.
“Hm,” terdengar suara dari dalam gerumbul itu, “ternyata
nyamuknya bukan main banyaknya, sehingga aku tidak betah
tinggal di dalam gerumbul ini terlampau lama.”
Kembali terdengar gemeretak gigi Empu Sada. Ternyata orang itu
sengaja menghinanya. Bukan karena dirinya, tetapi justru hanya
karena digigit nyamuk, maka orang itu keluar dari
persembunyiannya. Namun Empu Sada masih berdiam diri.
Betapapun kemarahannya menyala di dalam dadanya, tetapi orang
itu, yang bersembunyi di belakang gerumbul masih belum
menampakkan diri, selain baru suaranya.
Bahkan kembali suara itu terdengar, “Bukan hanya nyamuk,
tetapi semutnya pun banyak sekali. He Empu Sada, apakah kau
membawa param untuk menghampiri gigitan semut ngangrang?”
“Gila! Setan betina! Ayo jangan banyak bicara,” bentak Empu
Sada yang tidak dapat menahan kemarahannya, “Ayo keluarlah dan
marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.”
Kembali terdengar suara tertawa dalam nada yang rendah.
“Jangan marah,” terdengar jawaban, “baiklah aku keluar dari
persembunyian ini.”
Sesaat kemudian Empu Sada membelalakkan matanya. Ia
melihat daun-daun yang bergerak. Ternyata orang yang
bersembunyi itu benar-benar akan meloncat keluar.
Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan orang yang
menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, tertegun kaku. Pandangan
mata mereka pun melekat pada daun-daun yang bergerak-gerak itu.
Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah
yang akan muncul dari dalamnya.
Tiba-tiba mereka melihat bayangan itu. Tidak meloncat dengan
atau sigap melangkah dengan gagahnya. Tetapi bayangan itu
perlahan-lahan menyibak dedaunan dan dengan langkah satu-satu
maju menyusup di antara daun-daun dan ranting-ranting kecil.
Empu Sada benar-benar tidak sabar melihat orang itu. Dengan
nada yang tinggi ia berteriak, “Cepat, he siput tua. Aku tidak
sabar
menunggu kau merayap.”
“Jangan tergesa-gesa,” sahut orang itu, “aku sudah tua, dan
malam gelapnya bukan main.”
“Jangan mengada-ada. Kau mampu melemparkan batu sekeras
itu. Kenapa kau tidak meloncat dan menepuk dada, inilah aku.”
“Tidak-tidak. Kalau aku menepuk dadaku sendiri aku akan
terbatuk-batuk.”
“Kau benar-benar setan. Kau ingin mempengaruhi tanggapanku
atasmu, supaya aku menjadi lengah. Pengecut!” geram Empu Sada.
“Itu pun tidak. Bersiagalah, supaya kau tidak mati melawan aku.
Tetapi jangan membentak-bentak. Biarlah aku berbuat sesuka
hatiku.”
Dada Empu Sada serasa benar-benar telah menyala. Kini ia
melihat bayangan itu telah melangkahkan kakinya, menerobos
lembaran daun terakhir. Demikian orang itu tampak di luar
gerumbul demikian terdengar Empu Sada berkata lantang, “Setan!
Benar-benar Setan. Jadi kau yang telah mengganggu pekerjaanku.
Kenapa tiba-tiba saja berada di tempat ini?”
Bukan saja Empu Sada yang terkejut melihat kehadiran orang itu,
tetapi juga Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka.
Meskipun sebab dari kejutan itu berbeda-beda, namun sesaat
mereka justru terpaku di tempatnya.
Empu Sada terkejut karena tiba-tiba saja ia melihat orang yang
sama sekali tak disangkanya akan hadir di tempat itu. Sedang
Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka terkejut
karena sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Demikian
orang itu ada di antara mereka, demikian orang itu telah memilih
pihak.
Orang itu sendiri berdiri sambil mengibaskan pakaiannya.
Sekalisekali
ia tersenyum dan kemudian katanya, “Hm. Bukan main
gatalnya. Nyamuk, semut dan segala macam serangga.”
“He, Ki Sanak,” potong Empu Sada kemudian, “kenapa kau tibatiba
saja berada di tempat ini?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,
“Kebetulan saja aku berada di tempat ini. Berhari-hari aku
membayangi anak yang bernama Mahisa Agni. Aku mencarinya dan
kini aku telah menemukannya.”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Orang itu
juga mencarinya. Siapa dan kenapa?
Namun dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Untuk apa
kau cari anak itu?”
“Seperti kau. Seperti apa yang akan kau lakukan atasnya.”
“He, apakah kau mempunyai kepentingan yang sedemikian
penting dan menyangkut persoalan yang langsung menyinggung
dirimu, sehingga kau berusaha merebutnya dari tangan muridku?”
“Ya,” sahut orang itu, “lepaskan Mahisa Agni. Akulah yang akan
menyelesaikannya.”
Mereka berdua sesaat berdiam diri. Empu Sada mengawasi orang
itu dengan tajamnya. Namun sekali-sekali ia berpaling juga kepada
Mahisa Agni dan kedua muridnya.
Tetapi sesaat kemudian Empu Sada itu tertawa. Suaranya
melengking tinggi menyakitkan telinga. Di antara suara tertawanya
itu terdengar kata-katanya, “Ha, Mahisa Agni. Nasibmu memang
terlampau jelek. Agaknya kau sudah menyangka bahwa seseorang
telah datang menolongmu. Tetapi keledai tua ini ternyata sedang
mencarimu pula, karena kau telah berbuat dosa atasnya. Hem. Anak
semuda kau ini telah mempunyai musuh di segala penjuru angin.
Hanya orang-orang yang berwatak jail, suka mencampuri urusan
orang lain seperti kau inilah, maka kau mempunyai musuh di
manamana.”
“Nah, aku minta tinggalkan Mahisa Agni,” berkata orang itu.
Namun sekali lagi terdengar Empu Sada tertawa, “Jangan
mengigau. Aku tahu bahwa kau akan dapat melakukan apa saja
yang kau kehendaki atasnya. Terapi aku ingin memberi sekedar
permintaan kepada kedua muridku. Mungkin kau ingin melihat
permainan itu pula.”
“Permainan apa?”
“Apakah kau belum mendengar? Sejak tadi aku telah
menyebutnyebutnya.”
“Menariknya di belakang seekor kuda?”
“Ya.”
Orang itu terdiam sesaat. Namun tiba-tiba ia menjawab, “Aku
dapat juga melakukannya.”
Jawaban itu benar-benar menggetarkan dada Mahisa Agni. Ia
belum pernah berbuat sesuatu atas orang itu. Ia belum pernah
mempunyai persoalan apapun. Namun tiba-tiba orang itu datang
membawa dendam kepada dirinya.
Dada Mahisa Agni benar-benar diguncangkan oleh berbagai
perasaan. Bingung, cemas dan beribu pertanyaan melingkar-lingkar.
Ia sama sekali tidak mencemaskan nasibnya kini. Ia sama sekali
tidak gentar menghadapi apapun, apalagi setelah ia mendapat
kesimpulan bahwa ia kini sedang menjelang harinya yang terakhir,
namun ia merasa bingung dan cemas, bahwa ternyata ia telah
menyalahi dan menumbuhkan dendam kepada orang lain atas
dirinya tanpa disadarinya. Kalau demikian, maka alangkah rendah
budinya. Alangkah bodohnya. Ia sama sekali tidak ingin membuat
orang lain menjadi sakit hati, apalagi mendendamnya. Kini tiba-tiba
ia berhadapan dengan orang semacam itu. Sakit hati dan
mendendam.
Namun Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia ingin mendengar
apa saja yang akan dipercakapkan oleh Empu Sada. Mungkin dalam
percakapan itu ia akan dapat menangkap, siapa dan apa saja yang
menumbuhkan dendam itu kepadanya.
Kini yang terdengar adalah suara Empu Sada, “Aku ragu-ragu
akan kata-katamu.”
“Kenapa?” sahut orang itu, “apakah kau ragu-ragu bahwa aku
akan dapat menangkapnya hidup-hidup dan mengikatnya di
belakang seekor kuda. Namun kini aku tidak sedang membawa
kuda. Meskipun demikian kau tentu akan memberi kesempatan aku
meminjam kudamu.”
“Tidak,” sahut Empu Sada, “aku tidak ragu-ragu. Aku kenal
kesaktianmu. Tetapi adalah bukan kebiasaanmu berbuat demikian.
Selama ini kau selalu menentang tindakan-tindakan yang
menyenangkan itu. Kau selalu menganggapnya sebagai suatu
kebiadaban dan keganasan, sehingga kau menganggap orang-orang
yang harus dijauhkan dari pergaulan. Nah, sekarang kau datang dan
akan melakukan perbuatan yang serupa.”
“Khusus untuk anak itu,” sahut orang itu.
Empu Sada tertawa terbahak-bahak, sehingga tongkatnya
terguncang-guncang. Katanya, “Huh, ternyata sifatmu yang selama
ini kau bangga-banggakan adalah hanya sekedar pulasan. Ternyata
apabila kau sendiri langsung tersentuh perasaanmu, maka
sifatsifatmu
yang asli itu terungkapkan. Kalau demikian, maka akulah
yang lebih jujur darimu. Aku tidak pernah menyembunyikan segala
macam sifat watak dan kesenanganku seperti kau. Dan lihat,
muridku pun bukan hanya sekedar anak-anak pedesaan. Kuda
Sempana adalah seorang pelayan dalam istana.”
“Jangan ribut,” potong orang itu, “serahkan Mahisa Agni
kepadaku.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat ia masih dicengkam
keraguan. Dikenalnya orang yang datang itu sebagai seorang yang
selama ini menentang hampir segala perbuatannya. Meskipun
mereka berdua berkawan sejak kecil, namun setelah mereka
menempuh jalan hidup masing-masing, maka seakan-akan mereka
berdua selalu bermusuhan meskipun tidak berterus terang.
Hampir setiap usaha Empu Sada bertentangan dengan selera
orang itu. Sehingga setiap kali mereka pasti berselisih pendapat.
Akhirnya mereka berdua dipisahkan oleh keadaan. Masing-masing
menuruti jalannya sendiri-sendiri. Hanya kadang-kadang mereka
masih bertemu dalam pertentangan pendirian. Semakin lama
semakin tajam. Sehingga setelah mereka kemudian tumbuh menjadi
orang-orang sakti menurut saluran ilmunya masing-masing yang
diterima dari guru yang berbeda-beda, maka mereka hampir tidak
ingin berjumpa kembali yang satu dengan yang lain. Mereka masih
menghormati persahabatan masa kanak-kanak mereka, namun
mereka saling membenci karena pandangan hidup mereka yang
jauh berbeda, bahkan berlawanan.
Tetapi pada suatu saat mereka harus berjumpa kembali. Di
padang rumput Karautan yang sepi.
Apabila Empu Sada mengenang segala peristiwa yang pernah
terjadi dalam hubungannya dengan orang itu, maka ia yakin, bahwa
orang itu datang untuk meneruskan usahanya, menghalang-halangi
semua perbuatannya, yang dianggap oleh orang itu bertentangan
dengan sendi-sendi kemanusiaan. Karena itu, akhirnya Empu Sada
pun mampu menarik kesimpulan atas segala macam kata-kata
orang yang baru datang itu.
Tiba-tiba padang rumput Karautan yang sepi itu tersayat oleh
suara tertawa Empu Sada yang tinggi melengking. Semua orang
yang mendengar suara itu terkejut. Hanya orang yang masih berdiri
di muka gerumbul itu sajalah yang seakan-akan sama sekali tidak
mendengar suara Empu Sada itu.
Lebih-lebih Mahisa Agni sendiri. Hatinya selama ini selalu
terguncang-guncang oleh berbagai persoalan. Kini tiba-tiba ia
menghadapi persoalan baru yang sama sekali tak dikenal ujung dan
pangkalnya. Orang yang sama sekali belum dikenalnya, tiba-tiba
merasa menyimpan dendam di dalam hatinya.
Mahisa Agni yang merasakan keanehan itu masih juga berusaha
memandangi wajah orang baru itu. Namun agaknya kepekatan
malam telah mengaburkan pandangan matanya ia tidak berhasil
mengenal wajah itu. Apalagi ia berdiri tidak begitu dekat. Namun
betapapun ia mencoba mengingat-ingat bentuk tubuhnya, suaranya
dan apa saja yang memungkinkan ia mengenalnya, tetapi usaha itu
sia-sia. Malam gelap dan hati Mahisa Agni pun gelap. Dan kini suara
tertawa Empu Sada itu benar-benar telah menyakitkan telinganya
dan mengguncang-guncang isi dadanya.
Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu surut dengan cepatnya ketika
terdengar orang yang baru datang itu mendehem beberapa kali.
Bahkan tiba-tiba orang itu menguap sambil berkata, “Aku
mengantuk sekali. Apakah malam ini telah terlampau dalam?”
Empu Sada mengerutkan keningnya. Suara tertawanya kini telah
berhenti. Ditatapnya wajah orang yang baru datang itu dengan
tajam. Lalu katanya, “Hem, kau sangka aku termasuk anak-anak
yang dapat kau kelabui. Apa hubunganmu dengan Mahisa Agni
sehingga kau akan melepaskan dendammu kepadanya? Aku tahu
apa yang akan kau lakukan atasnya. Sekali lagi kau akan
menghalang-halangi maksudku.”
“He,” orang itu seperti acuh tak acuh saja berkata, “apa begitu?”
“Gila!” Empu Sada mengumpat, “Kau masih saja gila sejak
dahulu. Setelah umurmu melampaui pertengahan abad, kau masih
saja berbicara tanpa ujung pangkal. Ayo, katakan yang
sebenarnya.”
“Kau telah menyebutnya Empu.”
“Hmm, jadi benar dugaanku. Kau akan mencegah murid-muridku
membuat permainan yang dapat menyenangkan hati mereka.”
Pembicaraan itu telah membuat Mahisa Agni menjadi pening
karenanya. Ia sama sekali tidak mampu membuat tanggapan yang
sebenarnya dari pembicaraan itu. Dan sampai sejauh itu, baik Empu
Sada maupun orang yang baru datang itu sendiri belum pernah
menyebut namanya.
Karena itu, dalam kepepatan perasaan tiba-tiba terdengar Mahisa
Agni berteriak, “Kalian membicarakan tentang nasibku. Tetapi aku
belum mengenal siapakah kau orang yang baru datang?”
Orang itu berpaling. Dipandanginya Mahisa Agni dari ujung kaki
sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Mahisa
Agni, apakah kau ingin mengenal aku?”
“Tentu. Meskipun aku tidak tahu maksudmu sebenarnya, apakah
kau akan membunuh aku apakah kau akan berbuat apa saja, namun
aku ingin tahu siapakah kau ini.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia
berpaling kepada Empu Sada sambil berkata, “Anak itu belum
mengenal aku Empu.”
“Hem,” geram Empu Sada, “apakah aku harus memperkenalkan
Ki Sanak kepada anak itu?”
“Silakan,” sahut orang itu.
“Sebutlah namamu sendiri. Kau yang datang mencampuri
urusanku. Mustahil kalau kau belum mengenalnya Atau kalau
demikian, aku menjadi semakin pasti, bahwa kau pasti hanya ingin
menggagalkan maksudku. Lain tidak.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya
kepada Mahisa Agni, “Agni, aku kenal kepada gurumu meskipun
tidak begitu rapat. Aku kenal guru anak yang bernama Mahendra
itu, juga meskipun tidak begitu rapat. Tetapi hubunganku dengan
kau Agni, jauh lebih rapat dari hubunganku dengan gurumu atau
guru Angger Mahendra.”
Mahisa Agni mendengarkan kata orang itu dengan terheranheran.
Hubungan apakah yang ada antara dirinya dan orang itu.
Namun Mahisa Agni tidak bertanya. Dibiarkannya orang itu berkata
terus.
“Sejak beberapa hari aku sengaja membayangimu Agni. Aku
sudah mendengar kabar tentang gurumu yang beberapa hari yang
lalu pergi meninggalkan Panawijen. Karena itu, aku harus
menemuimu.”
Agni masih saja berdiri seperti patung. Dan ketika orang itu akan
berkata terus terdengar Empu Sada memotong, “He, apakah yang
sedang kau katakan itu? Rupa-rupanya kau sedang mengarang
sebuah cerita supaya kau mempunyai alasan untuk berbuat
sesuatu.”
Orang itu tertawa, “Kau terlalu curiga kepadaku Empu.”
“Tentu aku mempunyai alasan untuk curiga. Selama ini kau selalu
berusaha mencampuri urusan orang lain.”
“Tetapi kali ini bukan urusan orang lain, Mahisa Agni bagiku sama
sekali bukan orang lain.”
“Omong kosong!”
Orang itu tertawa kembali. Suara lunak dalam nada yang rendah.
Katanya kemudian, “Aku melihat kau malam kemarin bertempur
melawan Angger Kuda Sempana yang menamakan dirinya hantu
Karautan dan menyembunyikan wajahnya di belakang secarik kain.
Sejak itu aku merasa bangga kepadamu Agni. Kau benar-benar
mewarisi ketangkasan ayahmu dahulu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Orang itu menyebut-nyebut ayahnya
yang telah meninggal. Dan didengarnya orang itu berkata, “Aku
sangka bahwa aku tidak akan dapat bertemu dengan kau lagi, Agni.
Tetapi beberapa waktu yang lampau aku mendengar dari seseorang
yang datang kepadaku atas suruhan ibumu, bahwa kau masih ada,
dan kau berada di dalam asuhan Empu Purwa. Dan ternyata kau
mencerminkan perguruan Panawijen dengan baiknya.”
“Jangan melantur!” bentak Empu Sada yang kehilangan
kesabaran, “Perkenalkan dirimu. Lalu kau mau apa? Kalau kau mau
berbuat sesuatu untuk anak itu, melindunginya misalnya. maka aku
tidak mempunyai cara lain dari menyingkirkan kau, Ki Sanak.”
“Aku minta waktu sesaat lagi,” jawab orang itu. Kemudian
kepada Mahisa Agni ia berkata, “Agni, kau mempunyai sebilah keris
peninggalan ayahmu?”
Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk. Keris peninggalan
ayahnya buatan pamannya itu hampir tak pernah terpisah
daripadanya apabila ia sedang melakukan tugas-tugas yang penting
dan mungkin berbahaya. Meskipun ia membawa pedang, namun ia
lebih tenang apabila kerisnya itu dibawanya pula. Keris yang
baginya bukan sebagai senjata biasa. Karena itulah maka keris itu
justru jarang sekali atau bahkan tidak pernah dipergunakannya.
Sebab ia tahu benar betapa tajam kekuatan yang tersimpan
padanya. Setiap goresan, meskipun hanya seujung rambut akan
dapat berarti maut.
Dalam pada itu terdengar orang itu berkata, “Apakah kau pernah
mendengar baik dari ibumu atau dari orang lain bahwa keris
peninggalan ayahmu itu dibuat oleh seseorang.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
“Siapakah yang membuatnya?”
“Paman,” jawab Agni, “Paman Empu Gandring.”
“Apakah kau pernah mengenal pamanmu itu?”
“Pernah,” sahut Agni demikian saja meluncur dari bibirnya.
“Kapan?”
Mahisa Agni terdiam sesaat. Ia pernah mengenal pamannya
dahulu. Dahulu, pada waktu ia masih kecil. Pamannya adalah
seorang yang bertubuh gemuk, kekar dan berwajah bulat.
Pamannya adalah seorang Empu yang riang. Namun itu sudah
berlalu jauh di belakang, belasan tahun yang lampau.
Orang yang berdiri di dekat gerumbul itu tersenyum. Orang itu
bertubuh kecil meskipun tidak pendek. Yang dengan
menganggukanggukkan
kepalanya ia berkata, “Nah Agni. Akulah yang membuat
keris itu.”
Dada Mahisa Agni tersentak mendengar pengakuan itu. Orang itu
sama sekali tidak gemuk seperti pamannya. Karena itu maka
dengan serta-merta Agni berkata, “Paman Empu Gandring bertubuh
gemuk.”
Kini orang itu tertawa, “Umurku telah memanjat dari tahun ke
tahun. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Banyak persoalan
yang harus aku selesaikan. Ternyata aku semakin tua menjadi
semakin kurus.”
Mata Mahisa Agni masih memancarkan keragu-raguan. Namun
terdengar Empu Sada kemudian memutus pembicaraan mereka,
“He, Ki Sanak. Apakah monyet ini kemenakanmu?”
“Ya,” sahut orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu, “ia
adalah kemenakanku.”
“Setan!” umpat Empu Sada, “Kau bohong! Kau hanya mencari
sebab untuk mencegah perbuatanku.”
“Kali ini tidak,” sahut Empu Gandring, “meskipun aku akan
mencegah perbuatanmu, tetapi bukan sekedar mencampuri
persoalan orang lain. Tetapi Mahisa Agni adalah kemenakanku.”
Padang rumput Karautan itu sesaat tenggelam dalam keheningan
yang tegang. Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung memandangi
orang yang berdiri di dekat gerumbul itu. Tiba-tiba terangkatlah
kembali kenangannya yang lamat-lamat tentang pamannya. Ciri itu
masih dirasakannya. Pamannya adalah seorang yang suka bergurau.
Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah paman ini Paman Empu
Gandring yang sebenarnya?”
Orang itu tertawa, “Apakah ada Empu Gandring yang lain?”
Mahisa Agni terdiam. Ditatapnya wajah orang itu dengan
seksama, dan melonjaklah keharuan di dalam dadanya seakan-akan
ia menemukan sesuatu yang hilang yang tak pernah disangkanya
akan ditemukannya lagi. Beberapa saat yang lampau, hampir ia lari
mencari pamannya ini untuk membantunya mendapatkan anak
gurunya. Tetapi maksud itu tak pernah dilakukannya.
Dan kini tiba-tiba pamannya itu telah berdiri di hadapannya tanpa
dicarinya. Karena itu terasa dada Mahisa Agni berguncang-guncang.
Meskipun ia masih berdiri tegak seperti sebuah patung batu.
keragu-raguan yang dahsyat telah melanda hatinya.
“Kau ragu-ragu,” terdengar Empu Gandring itu bertanya,
“baiklah. Kau sudah bertahun-tahun tidak melihat aku lagi. Adalah
wajar kalau kau menjadi ragu-ragu. Tetapi itu tidak penting. Yang
penting sekarang bagaimana caranya supaya kau tetap melakukan
pekerjaan yang dipercayakan kepadamu oleh orang-orang
Panawijen itu.”
“Jangan mengigau!” potong Empu Sada, “Aku sudah menyangka
sejak aku melihat tampangmu, bahwa kau masih saja selalu
menghalang-halangi aku. Jangan kau ganggu muridku yang sedang
menemukan permainan yang baik sekali bagi mereka.”
“Tidak!” sahut Empu Gandring, “Aku tidak akan mengganggu
mereka.”
“Kalau begitu pergilah, sebelum aku marah.”
“Baik,” sahut orang itu pula, “marilah kita pergi. Sudah lama aku
tidak bertemu dengan kau, Empu. Aku sudah rindu. Rindu pada
masa kanak-kanak yang tak akan kembali lagi di masa mendatang.
Tetapi marilah kita pulang bersama-sama, sehingga dengan
demikian kita akan dapat mengenang sebagian masa itu. Masa
kanak-kanak yang manis.”
“Jangan mimpi! Aku bukan pemimpi seperti kau. Aku adalah
seseorang yang melihat masa kini dan masa depan.”
“Tetapi masa lampau adalah kenangan yang menyenangkan.
Apakah kau dapat menghapuskan masa-masa itu? Apakah kau
dapat menghapus peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masamasa
lampau? Bukankah masa-masa lampau itu yang menentukan
keadaanmu sekarang?”
“Aku tidak peduli masa lampau. Sekarang pergi dari tempat ini.
Tinggalkan kami. Tinggalkan anak muda yang kau katakan
kemenakanmu itu.”
Orang tua itu menggeleng. Bahkan setapak ia maju sambil
berkata, “Empu Sada. Aku pun bukan seorang pemimpi melulu. Aku
juga ingin melihat masa depan yang baik bagiku dan bagi orangorang
yang bersangkut paut dengan darah keturunanku. Mahisa
Agni adalah kemenakanku. Apakah aku harus membiarkannya
kehilangan masa depannya. Empu Sada, aku sendiri mempunyai
anak-anak di rumah. Aku pernah merasakan betapa cemasnya
orang-orang tua yang anak-anaknya mengalami bahaya. Nah,
bagaimana aku akan dapat membiarkan kau berbuat curang. Biarlah
anak-anak muda menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”
Empu Sada menggeram. Ia tidak menjawab perkataan-perkataan
itu, tetapi ia pun melangkah maju.
Kedua orang tua itu kini berdiri saling berhadapan. Empu
Gandring kini sudah tidak tertawa-tawa lagi. Wajahnya kemudian
menjadi bersungguh-sungguh.
“Jadi kau tetap pada pendirianmu?” bentak Empu Sada.
“Seperti apa yang akan kau lakukan. Kalau kau tetap dalam
usahamu menciderai anak kemenakanku itu, maka aku tetap dalam
usahaku menyelamatkannya.”
Wajah Empu Sada menjadi merah padam. Tetapi ketika ia
berpaling memandang ke arah kedua muridnya, maka hatinya
berdesir. Ia melihat kedua muridnya berhadapan dengan kedua
anak-anak muda yang sudah siap untuk melawan mereka. Mahisa
Agni dan Mahendra. Karena itu hatinya menjadi berguncang. Sesaat
ia menjadi ragu-ragu. Apakah kedua muridnya mampu melawan
kedua anak muda itu?
Dalam keragu-raguan itu terdengar Empu Gandring berkata,
“Nah, apakah katamu Empu?”
Sejenak Empu Sada tidak menyahut. Timbullah kini pergolakan di
dalam hatinya. Betapapun juga ia masih sempat memperhitungkan,
apa yang sedang dihadapinya. Empu Gandring adalah seorang yang
cukup sakti untuk mengimbanginya. Sedang Mahisa Agni sudah
pasti dapat mengalahkan Kuda Sempana. Apabila Mahendra dapat
mengimbangi Cundaka maka keadaannya akan menjadi sulit.
Mungkin salah seorang muridnya atau kedua-duanya akan
terbunuh. Karena itu tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Sambil
menganggukkan kepalanya ia berkata, “Hem. Sayang kau datang.
Aku tidak sampai hati merusak kenanganmu yang manis itu. Aku
tidak sampai hati mematahkan mimpimu yang menyenangkan.
Seandainya bukan kau yang datang sambil merajuk tentang masamasa
lampau, maka hatiku sudah tidak akan dapat dilunakkan.
Tetapi terhadapmu aku masih belum dapat melenyapkan perasaan
belas kasihan. Sejak anak-anak kau seorang pemimpi dan perajuk.
Karena itu, baiklah aku penuhi permintaanmu kali ini. Ingat hanya
kali ini.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab
terdengar Empu Sada berkata, “Kuda Sempana, ternyata Mahisa
Agni adalah kemenakan sahabatku. Karena itu, maafkanlah anak
muda itu kali ini. Tetapi hanya kali ini.”
Kuda Sempana berdiri membeku di tempatnya. Tiba-tiba dari
matanya memancar beribu-ribu pertanyaan yang bergolak di dalam
dadanya. Namun akhirnya ia mengetahui pula maksud gurunya.
Bahwa orang yang datang itu adalah orang yang cukup sakti pula,
sehingga gurunya menganggap perlu untuk menunda maksudnya
sampai di saat-saat yang lain.
Namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat mengertinya. Karena
itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah Kuda Sempana kali ini masih akan
dilepaskan lagi?”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar
persoalan yang terjadi antara Mahisa Agni, Kuda Sempana, Ken
Dedes dan bahkan sampai orang-orang lain dalam persoalan ini
menurut cerita seseorang. Tetapi ia tidak tahu dengan pasti, sebab
Empu Gandring sendiri jarang-jarang meninggalkan kampung
halamannya, Lulumbung, karena pekerjaannya yang terlampau
banyak, membuat keris. Hanya karena dorongan keadaan yang
sangat penting, untuk menemukan kemenakannya, kini ia
meninggalkan rumah dan tugasnya. Sehingga karena itu, maka ia
menjawab pertanyaan Mahisa Agni, “Biarkan Kuda Sempana dibawa
gurunya. Biarlah gurunya mengajarnya untuk berlaku sopan dan
baik.”
Empu Sada menggeram mendengar sindiran Empu Gandring,
namun Mahisa Agni tidak kalah kecewanya. Kuda Sempana baginya
adalah penyebab dari segala macam bencana yang menimpa
keluarga gurunya dan bahkan seluruh penduduk Panawijen.
Mungkin orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu tidak
merasakan, betapa ia menderita lahir dan batin karena anak muda
yang bernama Kuda Sempana itu.
Tetapi Mahisa Agni pun masih mampu berpikir. Bahwa guru Kuda
Sempana baginya adalah lawan yang tidak seimbang. Sedangkan
Mahisa Agni merasa pula, bahwa ia tidak akan dapat memaksa
Empu Gandring itu untuk bertempur apabila memang tak
dikehendakinya. Karena itu, yang terdengar kemudian adalah
gemeretak gigi Mahisa Agni. Teraba perasaannya melonjak-lonjak,
seakan-akan ingin ia menerkam anak muda yang bernama Kuda
Sempana itu. Namun nalarnya telah mencegahnya.
Ternyata bukan saja Mahisa Agni yang dicengkam oleh
kekecewaan. Bahkan Mahendra pun menjadi sangat kecewa pula.
Namun seperti Mahisa Agni, ia menyadari kedudukannya. Menyadari
kemampuannya.
“Hem,” desahnya di dalam hati, “kalau saja guruku ada di tempat
ini. Mungkin Kuda Sempana dan orang yang bernama Cundaka itu
pasti sudah dapat kami lumpuhkan.”
Tetapi Empu Gandring ternyata berpendirian lain. Empu Gandring
ingin melepaskan mereka, dan mengharap Empu Sada dapat
memberi tuntunan kepada murid-muridnya untuk berlaku lebih baik.
“Sia-sia. Seperti guru dahulu berpendirian begitu,” pikir Mahisa
Agni. Tetapi sekali lagi ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia
tidak akan dapat memaksa Empu Gandring bertempur tanpa
dikehendakinya sendiri.
Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Jangan terlalu
sombong. Murid-muridku sama sekali tidak perlu lagi mendapat
ajaran tentang kesopanan dan kebaikan budi. Mereka adalah orang
baik-baik. Mereka adalah seorang hamba Istana Tumapel, dan
seorang lagi adalah seorang pedagang keliling yang terhormat.
Kaulah yang harus mengajari kemenakanmu itu untuk melihat
dirinya. Ia tidak lebih dari anak pedesaan. Anak Panawijen.”
Empu Gandring tidak menjawab kata-kata itu, bahkan kemudian
ia berkata, “Selamat malam Empu. Selamat beristirahat. Kalau Empu
ingin meninggalkan tempat ini, segera kami persilakan. Namun
untuk seterusnya, ajarilah murid-murid Empu untuk tidak
mengganggu Mahisa Agni.”
“Jangan gurui aku. Sudah aku katakan, lain kali kami tidak dapat
memaafkan kalian lagi. Apabila Mahisa Agni masih kembali ke
padang Karautan, maka saat itu pula, akan kami ikat tubuhnya di
belakang kuda-kuda kami.”
“Ah. Jangan berbicara seperti kepada anak-anak Empu. Aku
sudah tahu, seperti kau tahu pula. Siapa Empu Sada, siapa Empu
Gandring, siapa Empu Purwa dan siapa Panji Bojong Santi, guru
Angger Mahendra itu. Nah, apa katamu sekarang?”
Wajah Empu Sada menjadi merah padam mendengar Empu
Gandring menyebut-nyebut nama beberapa orang sakti. Tiba-tiba
orang tua itu menggeram keras sekali sambil menghentakkan
tongkatnya di tanah. Katanya, “Kau mengancam?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku sama
sekali tidak mengancam. Aku hanya menyebutkan beberapa nama
yang dapat terlibat dalam persoalan seterusnya, apabila kau tetap
berbuat gila.”
Empu Sada tidak segera menjawab. Terasa darahnya seakanakan
mendidih di dalam jantungnya.
Sementara itu, dada Mahendra berdesir mendengar Empu
Gandring menyebut nama gurunya. Dengan serta-merta ia
bertanya, “Apakah Empu mengenal guruku?”
Empu Gandring berpaling. Jawabnya, “Mustahil seseorang tidak
mengenal Panji Bojong Santi. Apalagi orang tua sebaya aku dan
Empu Sada.”
Mahendra menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi Empu
Gandring termasuk salah seorang sahabat guru?”
“Aku belum mengenal terlampau rapat. Tetapi sekali-sekali dua
kali kami pernah bertemu. Seperti aku pernah bertemu dengan
Empu Purwa meskipun baru satu kali. Namun meskipun belum,
namanya pasti sudah dikenal oleh setiap orang-orang setua aku.
Dan dari namanya itu pun aku akan dapat mengetahui, siapa-siapa
mereka itu.”
Mahendra kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
menjadi gembira ketika diketahuinya bahwa Empu Gandring pernah
mengenal gurunya. Ia masih ingin mengatakan beberapa hal lagi,
namun terdengar suara Empu Sada memecah ketegangan yang
mencengkam hatinya sendiri, “Baik. Baik. Kau telah menyebut
beberapa nama. Kau sangka aku akan gentar menghadapi mereka
semua. Kau, Empu Purwa dan Bojong Santi yang kurus kering itu.
Empu Gandring, kau pun pasti sudah mengenal nama-nama lain dari
mereka. Kebo Sindet, Wong Sarimpat. Nah, apa katamu?”
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ah. Apakah kau akan
memaklumkan perang bersama orang-orang dengki itu? Sayang
Empu. Meskipun kadang-kadang kau juga berbuat hal-hal yang
aneh-aneh misalnya muridmu kau biarkan membuat permainan
yang mengerikan, menarik seseorang di belakang seekor kuda,
namun namamu masih jauh lebih terhormat daripada Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat.”
Terdengar kemudian Empu Sada tertawa. Suaranya melengking
menyakitkan hati. Kemudian katanya, “Jangan gemetar mendengar
nama-nama itu. Mereka adalah orang-orang bodoh yang dapat saja
aku peralat. Meskipun mereka mempunyai kesaktian-kesaktian yang
mengerikan, namun otak mereka adalah otak yang sangat tumpul.
Kau tahu maksudku.”
Empu Gandring menganggukkan kepalanya, “Terserahlah
kepadamu.”
“Bagus. Kalau kau berani menghadapinya, biarlah aku sekarang
meninggalkan tempat ini.”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Pergilah. Tetapi pikirkan sekali lagi kalau kau akan mempergunakan
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka tidak sebodoh yang kau
sangka.”
Mendengar kata-kata Empu Gandring itu, Empu Sada tertawa.
Jawabnya, “Hem. Kau belum mengenal kedua orang itu baik-baik.
Mungkin kau tidak dapat mempergunakannya seperti apa yang kau
inginkan. Tetapi terhadapku, mereka tidak akan dapat berbuat
apaapa.”
“Terserahlah kepadamu,” sahut Empu Gandring, “tetapi
bagaimanapun juga, aku tidak senang melihat kau mengganggu
kemenakanku.”
Empu Sada tidak menjawab. Ia berpaling kepada kedua muridnya
dan berkata, “Kali ini sahabatku, Empu Gandring, minta kau
memaafkan kemenakannya. Nah, maafkanlah. Biarlah ia menikmati
hari-hari yang akan datang, memandang matahari terbit dan
terbenam. Tetapi apabila kesombongannya tidak juga berkurang,
maka kesempatan itu tidak akan berlangsung lama.”
Mahisa Agni menggeram. Hampir saja ia berteriak, tetapi Empu
Gandring mendahuluinya, “Biarkan Agni. Jangan kau dengarkan
kata-katanya. Adalah wajar, apabila seseorang yang merasa ada
kekurangan dalam dirinya, berusaha untuk menyembunyikannya,
menutupinya dengan berbagai perbuatan dan perkataan yang justru
berlebih-lebihan dan menertawakan.”
Empu Sada berpaling. Wajahnya masih menyala. Tetapi yang
terdengar hanyalah gemeretak giginya.
Kuda Sempana bukanlah seorang penakut. Ia kadang-kadang
tidak dapat melihat dan mendengar pertimbangan-pertimbangan,
apabila maksudnya telah memanjat sampai ke kepalanya. Tetapi kali
ini gurunya telah memperingatkannya. Dan ia dapat mengerti
sepenuhnya. Karena itu, betapa sakit hatinya mendengar
sindiransindiran
Empu Gandring yang tepat menusuk jantungnya, namun ia
tidak membantah maksud gurunya.
Demikian pula orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali
Elo, yang disebut oleh gurunya sebagai seorang pedagang keliling.
Namun ternyata ia lebih licik dari Kuda Sempana. Karena itu,
demikian ia melihat gurunya berputar, cepat-cepat ia melangkah
menjauhi Mahendra yang memandanginya seakan-akan hendak
menelannya bulat-bulat.
Empu Gandring, Mahisa Agni dan Mahendra berdiri saja tegak di
tempatnya ketika mereka melihat Empu Sada membawa kedua
muridnya pergi. Mereka berjalan tergesa-gesa menghilang di
gelapnya malam. Namun sebelum mereka terlampau jauh terdengar
Empu Sada berkata, “Empu Gandring, kau pasti akan menyesal
kelak, bahwa kau telah mencampuri urusan aku. Kami, muridmuridku
yang tersebar di banyak tempat akan membantu aku di
samping Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kalau kelak kau dengar
rencanaku, maka kau akan jatuh pingsan karenanya.”
Empu Gandring tidak menjawab. Orang tua itu hanya sekedar
tersenyum. Namun yang terdengar adalah suara Mahisa Agni,
“Paman. Kalau benar Paman Empu Gandring, mungkin Paman
belum mengenal Kuda Sempana sebaik-baiknya.”
Empu Gandring masih tersenyum. Jawabnya, “Biarkan saja Agni.
Orang itu tidak akan berbuat apa-apa.”
“Telah terlampau banyak yang dilakukan Paman.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Apa saja? Tetapi
percayalah itu semua hanyalah ungkapan kekecewaannya, bahwa ia
gagal mendapat gadis yang dikehendaki. Apabila kemudian hatinya
telah menjadi tenang, maka ia akan menemukan keseimbangan
kembali, seperti Angger Mahendra. Bukankah begitu?”
Mahendra menundukkan kepalanya. Terasa seperti api menyala
di dadanya. Namun kemudian padam kembali. Ia telah bertekad
untuk melupakan Ken Dedes, yang kini telah hampir menjadi
seorang permaisuri.
Tetapi Mahisa Agni Kemudian menjawab, “Kuda Sempana terlalu
keras kepala.”
“Darahnya memang panas. Namun akan datang saatnya darah
itu menjadi sejuk. Apalagi apabila ia menyadari keadaannya dan
kenyataan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia ragu-ragu
mendengar kata-kata itu. Apalagi apabila diingatnya kata-kata Empu
Sada, sehingga kemudian ia bertanya kembali, “Paman, apakah
Empu Sada tidak akan benar membawa orang-orang yang bernama
Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? Dan siapakah mereka berdua itu?”
Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. perlahanlahan
ia berjalan mendekati Mahisa Agni dan Mahendra, kemudian
berpaling kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk lemah
seperti tak bertulang.
“Hem. Kenapa kalian menjadi ketakutan?” Empu Gandring itu
bertanya kepada mereka. Tetapi Jinan, Patalan dan Sinung Sari
masih dikuasai oleh kebingungan yang sangat, sehingga mereka
tidak segera dapat menjawab.
“Nah, tenangkan dahulu hatimu. Dua malam di padang Karautan
ini akan menjadi kenangan seumur hidupmu. Tetapi mudahmudahan
kalian dapat mempergunakannya sebagai pelajaran,
bahwa menghadapi orang-orang seperti Empu Sada dan muridmuridnya
apalagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, kita tidak boleh
mengharap belas kasihannya. Juga terhadap murid-murid mereka.
Kita harus berbelas kasihan kepada diri sendiri dan melindunginya.”
Ketiga anak-anak muda itu masih belum dapat menjawab. Tetapi
mereka mencoba mengangguk.
Empu Gandring itu pun kemudian duduk pula di atas rumputrumput
kering.
“Duduklah,” katanya mempersilakan Mahisa Agni dan Mahendra.
Mahisa Agni dan Mahendra pun kemudian duduk pula. Terasa
suasana yang aneh meliputi dada Mahisa Agni. Pamannya itu telah
bertahun-tahun tak ditemuinya, dan kini ketika mereka bertemu,
suasananya terasa tidak terlalu akrab, karena persoalan-persoalan
yang melingkar-lingkar di dalam hati masing-masing. Meskipun
demikian, hati Mahisa Agni merasa berkembang pula. Apabila kelak
gurunya tak dapat dicarinya, maka ia menemukan tempat lain untuk
mengadu apabila orang-orang yang berhati dengki seperti Empu
Sada dan kawan-kawannya datang mengganggunya, mengganggu
rencananya membangun bendungan, saluran-saluran air, dan tanah
persawahan.
“Agni,” terdengar Empu Gandring itu bertanya, “apakah ibumu
sekarang berada di Tumapel?”
Mahisa Agni ragu-ragu untuk menjawab. Ibunya sedang
berusaha untuk selalu menunggui Ken Dedes. Karena itu, sekali ia
memandang Mahendra dengan sudut matanya, dan kemudian
menundukkan kepalanya.
Tetapi Mahendra sama sekali tidak memedulikan pertanyaan itu.
Yang sedang berkecamuk di dalam otaknya adalah orang-orang
semacam Empu Sada, dan orang-orang lain yang disebut-sebut
namanya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.
“Aku akan mengatakannya kepada Guru,” berkata Mahendra di
dalam hatinya, “mungkin Guru telah mengenal mereka itu.”
Dalam pada itu Empu Gandring agaknya dapat menangkap
perasaan Mahisa Agni. Agaknya anak muda itu belum bersedia
diajak berbicara mengenai ibunya. Karena itu maka segera
pembicaraannya dialihkannya katanya, “Agni, apakah kau benarbenar
akan membangun sebuah bendungan?”
“Ya, Paman,” jawab Agni.
“Di tempat ini?”
“Ya, Paman.”
“Bagus. Tempat ini adalah tempat yang baik untuk membangun
sebuah bendungan. Tebing sungai di sini tidak begitu dalam.”
“Ya, Paman.”
“Kapan akan kau mulai rencanamu itu.”
“Secepatnya, Paman.”
“Bagus.” Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.
Terasa jawaban Mahisa Agni terlampau pendek-pendek. Dan terasa
bahwa masih ada sesuatu yang tersangkut di dalam perasaan anak
muda. itu. Karena itu maka Empu Gandring untuk sesaat berdiam
diri. Dibiarkannya Mahisa Agni mendapat kesempatan mengatakan
perasaannya.
Ketika Empu Gandring kemudian berdiam diri sambil
mengangguk-angguk maka bertanyalah Mahisa Agni, “Paman.
Apakah Paman mengenal orang-orang yang bernama Kebo Sindet
dan Wong Sarimpat.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Terdengar ia berdesis,
dan kemudian berkata, “Jangan hiraukan mereka.”
“Tetapi orang-orang itu akan dapat berbahaya bagi rencanaku
membangun bendungan ini.”
“Jangan hiraukan yang lain-lain. Sekarang bagaimana dengan
rencanamu? Apakah kau sudah membayangkan, di mana saluran air
akan kau buat. Agni, tanah ini akan dapat menjadi tanah yang subur
apabila cukup mendapat air. Kalau kau berhasil menaikkan air dari
sungai itu, maka daerah ini akan segera menjadi daerah yang
sangat ramai.”
“Ya, Paman.”
Empu Gandring tersenyum. Kembali ia mendengar jawaban itu.
Dan kembali Empu Gandring mendengar pertanyaan yang serupa,
“Paman. Mereka pasti tidak akan membiarkan bendungan ini
terwujud. Bukan karena mereka berkepentingan atas sungai dan
padang Karautan, tetapi mereka hanya sekedar ingin menggagalkan
usaha ini.”
“Mungkin,” sahut Empu Gandring sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya. Pikiran kemenakannya itu memang bukan suatu
gambaran yang dibuat-buat. Karena itu, ia kini tidak dapat
menghindar lagi. Semula ia sama sekali tidak ingin berbicara
tentang orang-orang yang mengerikan itu. Empu Gandring tidak
ingin mempengaruhi rencana kemenakannya terganggu karena
gambaran-gambaran yang mencemaskan yang belum pasti akan
datang. Tetapi kemudian disadarinya bahwa kemenakannya
bukanlah seorang penakut. Tetapi ia hanya ingin membuat
perhitungan-perhitungan yang cermat dan melihat
kemungkinankemungkinan
yang dapat terjadi.
Karena itu maka jawabnya kemudian, “Kedua orang itu memang
orang yang aneh. Tetapi jangan terlampau kau pikirkan. Mereka
adalah orang-orang yang selalu menuruti keinginan sendiri. Mungkin
Empu Sada dapat mempergunakan mereka. Tetapi mungkin tidak.
Namun seandainya mungkin sekalipun, maka kedua orang itu bukan
orang yang perlu terlampau dikagumi. Mereka masih belum
melampaui Empu Sada sendiri. Belum dapat menyamai guru Angger
Mahendra, Panji Bojong Santi, dan belum dapat menyamai gurumu,
Empu Purwa.”
“Tetapi Guru tidak ada di sini, Paman.”
Empu Gandring tersenyum. Jawabnya, “Ia tidak pergi terlampau
jauh. Bukankah gurumu mengetahui bahwa kau akan membuat
bendungan di sini?”
“Bukankah gurumu tahu bahwa kau berselisih dengan Kuda
Sempana?”
“Ya.”
“Gurumu tahu, tahu dengan pasti, siapakah guru Kuda Sempana
meskipun tidak pernah mengatakannya. Gurumu pasti telah
memperhitungkan apa yang dapat terjadi di padang Karautan ini.
Bahkan aku menduga bahwa gurumu kali ini pun tidak melepaskan
kau sendiri. Seandainya aku dapat menahan diri sekejap lagi di
belakang gerumbul itu, mungkin gurumulah yang akan mencegah
perbuatan Empu Sada.”
Dada Mahisa Agni berdebar-debar mendengar kata-kata
pamannya. Tiba-tiba tanpa dikehendakinya sendiri, ia memandang
berkeliling. Namun yang dilihatnya adalah takbir yang hitam
mengelilinginya di atas padang rumput yang luas. Beberapa onggok
gerumbul tampak tersembul dalam keremangan malam. Selebihnya
adalah hitam pekat.
Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Nah beristirahatlah.
Sementara aku akan bersamamu Agni. Aku ingin melihat apa yang
akan kau lakukan atas sungai dan padang ini.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni mengembang. Ternyata tanpa
dimintanya, pamannya bersedia tinggal beberapa lama di antara
orang-orang Panawijen yang akan membuat bendungan untuk
mengubah padang Karautan menjadi tanah persawahan.
Namun sebelum ia menjawab, pamannya tiba-tiba telah
menjatuhkan dirinya, begitu saja tanpa alas, berbaring di atas
rerumputan yang telah dibasahi oleh embun. Tetapi Mahisa Agni
tidak mengusiknya. Dibiarkannya pamannya berbaring dan bahkan
kemudian ia berkata kepada Mahendra, “Beristirahatlah Mahendra.”
Mahendra mengangguk, jawabnya, “Aku ingin beristirahat. Tetapi
besok aku harus sudah menghadap Kakang Witantra kembali
membawa jawabanmu, Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba angannya tentang
bendungan itu tersentak bergeser kepada putri gurunya, Ken Dedes
yang kini berada di Istana Tumapel.
Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Terasa jantungnya
berdegupan. Matanya jauh terlempar ke dalam kelamnya malam,
seakan-akan ingin menembus sampai ke ujung padang Karautan.
Mahendra pun untuk sesaat berdiam diri. Tanpa sesadarnya
pandangan matanya pun mengikuti arah pandangan Mahisa Agni.
Jauh, menghunjam ke dalam kelam.
Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Jinan dan Patalan
berdesah dan Sinung Sari terbatuk-batuk kecil.
“Tidurlah,” berkata Mahisa Agni kepada mereka.
Mereka menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tetap
duduk membeku saling berdesak-desakan seperti orang yang
kedinginan.
Sejenak kemudian kembali padang itu menjadi sepi. Kembali
terdengar angin yang silir mengusap dedaunan, mendendangkan
kidung yang melangut.
“Mahendra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sebaiknya kau
sampaikan jawabku itu kepada Witantra. Aku mohon maaf kepada
Akuwu, bahwa sebenarnya Akuwu tidak perlu datang menemui aku.
Biarlah Ken Dedes membuat keputusannya sendiri.”
Mahendra menggigit bibirnya. Sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya kemudian ia berkata, “Apakah keputusanmu sudah
bulat?”
“Ya.”
“Apakah kau sakit hati Agni? Apakah kau tidak dapat melupakan
peristiwa yang menyakiti hatimu itu.”
Mahisa Agni terdiam. Dan Mahendra pun terdiam pula. Tetapi
dalam pada itu Mahendra telah menemukan kesimpulan, bahwa
Mahisa Agni tidak akan bersedia mengubah keputusannya.
“Baiklah kalau demikian,” berkata Mahendra di dalam hatinya,
“besok akan aku sampaikan jawaban itu.”
Malam pun kemudian menjadi bertambah malam. Bahkan
kemudian menjelang ke akhirannya. Mahisa Agni dan Mahendra
masih duduk sambil memeluk lutut mereka. Tetapi mereka tidak
berbicara lagi. Mereka mencoba memejamkan mata mereka sambil
meletakkan dahi mereka di atas lutut.
Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun kemudian mencoba
membaringkan diri mereka masing-masing. Tetapi sekejap pun
mereka tidak segera berhasil memejamkan mata mereka. Apabila
mereka mencoba juga memejamkan mata mereka, tiba-tiba
datanglah berbagai gambaran yang mengerikan mengganggu otak
mereka. Seolah-olah berduyun-duyun hantu berdatangan dari
segenap penjuru padang rumput Karautan.
Ketika Mahisa Agni mengangkat wajahnya ditatapnya bintang
cemerlang di tenggara, Panjer esuk. Bintang yang seakan-akan
memberinya pertanda bahwa sebentar lagi, fajar akan memerah di
ujung timur.
Dan fajar itu datang terlampau lambat. Seakan-akan Mahisa Agni
tidak dapat menyabarkan diri lagi. Berbagai kejemuan telah melanda
dinding jantungnya. Padang yang sepi. Bendungan dan saluransaluran
air yang terbayang di pelupuk matanya, semuanya itu
seakan-akan telah terbentang di hadapannya. Sawah yang hijau dan
air gemericik di parit-parit, melingkari setiap pematang kotak demi
kotak.
Tetapi Mahisa Agni itu seakan-akan direnggut dari dunia yang
penuh dengan harapan dan terdorong ke dalam lembah yang
bernafaskan kecemasan dan kegelisahan.
“Persetan dengan Ken Dedes,” ia mencoba menghentakkan
dirinya di dalam hati, “betapa aku mencoba melindunginya, apabila
ia telah setuju menjadi istri Tunggul Ametung yang telah membantu
melarikannya itu. Tak ada lagi hakku untuk turut mencampuri
persoalannya. Ia bukan adikku, bukan sanak bukan kadang.”
Mahisa Agni itu terkejut ketika ia kemudian melihat Mahendra
bangkit perlahan-lahan ia melangkah mencari kudanya sambil
berkata, “Aku akan melepas pelana kudaku dan memandikannya.
Sebentar lagi aku harus sudah kembali ke Tumapel.”
Mahisa Agni tidak menyahut. Dengan matanya ia mengikuti
langkah anak muda itu berjalan ke belakang gerumbul. Kemudian
terdengar ia bersiul memanggil kudanya, dan sesaat kemudian
Mahendra telah menuntun kudanya menuju ke tepian sungai.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian fajar
yang ditunggunya membayang di langit dengan hamparan warna
merah, anak muda itu menggeliat. Ketika ia berdiri ia melihat
Mahendra telah datang kembali.
“Aku akan segera kembali ke Tumapel Agni,” berkata Mahendra.
“Aku juga,” sahut Agni, “pagi ini aku kembali ke Panawijen.
Beberapa hari lagi aku harus sudah mulai dengan bendungan ini.”
“Mudah-mudahan kau berhasil,” Mahendra bergumam seakanakan
diperuntukkannya kepada diri sendiri.”
“Terima kasih.”
Ketika kemudian matahari melepaskan sinarnya menghampar di
atas padang rumput itu, maka Mahendra segera minta diri kepada
Mahisa Agni, kepada Empu Gandring yang sudah duduk bersila,
kepada ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang sudah terbangun
pula. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan
dengan sigapnya pula kudanya meloncat. Seperti anak panah kuda
itu berlari. Kepulan debu yang putih beterbangan di belakang kuda
itu.
Bukan saja Mahendra, namun Mahisa Agni pun segera berkemaskemas
pula. Dengan berbagai gambaran di dalam dadanya.
Mahisa Agni kemudian membawa ketiga kawan-kawannya itu
kembali ke Panawijen bersama pamannya Empu Gandring.
Tak ada yang penting bagi Mahisa Agni beserta kawan-kawannya
itu dalam perjalanan pulang. Mereka harus menginap satu malam
lagi di padang rumput itu. Tetapi bersama Empu Gandring dan
Mahisa Agni ketiga kawan-kawannya tidak begitu ketakutan lagi.
Hanya kadang-kadang mereka mengeluh karena terik matahari dan
haus yang menyengat-nyengat leher mereka.
Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka memasuki
Panawijen di malam hari, supaya tak seorang pun yang melihat,
bagaimana pakaian mereka menjadi compang-camping.
Namun pada pagi harinya, Panawijen seolah-olah telah menerima
seseorang yang membawa harapan bagi mereka, bagi anak cucu
mereka. Itulah sebabnya dengan penuh gairah mereka menyambut
Mahisa Agni beserta kawan-kawannya di halaman rumah Ki Buyut
Panawijen.
Rakyat Panawijen menunggu keterangan Mahisa Agni tentang
hasil perjalanannya. Mereka tidak dapat menunggu terlalu lama.
Sawah-sawah mereka telah mulai mengering dan isi lumbunglumbung
mereka telah mulai menipis. Mereka harus segera
menemukan tempat untuk meletakkan diri menghadapi masa-masa
yang masih terlampau panjang. Anak cucu dan keturunan mereka.
Alangkah besar dosa mereka, apabila mereka tidak sempat
memberikan peninggalan bagi keturunan mereka di masa-masa
datang.
Mungkin mereka masih dapat mengharap hasil sawah di musimmusim
basah. Namun di musim kemarau, apabila mereka itu tidak
mendapat air dari saluran-saluran, maka sawah-sawah mereka akan
menjadi padang yang kering dan mati.
Pagi itu Mahisa Agni sudah bersedia memberikan beberapa
keterangan menjadi perjalanannya kepada para tertua Panawijen.
Dan bahkan para tetua Panawijen yang tidak sabar lagi, telah siap
pula untuk melakukan apa saja yang menurut Mahisa Agni dianggap
baik.
Namun di luar pendapa rumah Ki Buyut Panawijen, di mana
Mahisa Agni duduk di antara beberapa orang-orang tua, anak-anak
muda sibuk mengerumuni Jinan, Patalan dan Sinung Sari.
Seperti air banjir mereka bertiga bercerita berganti-ganti. Yang
satu tidak mau kalah dahsyatnya dari yang lain.
“Sayang waktu itu pedangku tidak di tanganku,” berkata Patalan
kepada kawan-kawannya, “sehingga aku tidak dapat sempat
membantu Mahisa Agni melawan hantu Karautan.”
Kawan-kawannya memandangi dengan penuh kekaguman.
kemudian disusulnya oleh Jinan, “Sayang. Keduanya berkelahi
terlampau kasar, sehingga aku tidak mendapat kesempatan untuk
mengayunkan pedangku. Mereka saling berdesakan, saling dorong
mendorong dengan senjata masing-masing dan berputaran seperti
baling-baling. Aku takut apabila pedangku justru akan mengenai
Agni sendiri.”
Anak-anak muda Panawijen menjadi semakin asyik
mendengarkannya. Apalagi ketika Sinung Sari berkata, “Hem. Aku
sengaja berdiam diri. Aku ingin melihat, apakah Mahisa Agni mampu
melawan hantu Karautan. Hantu yang namanya ditakuti oleh semua
orang di sekitarnya padang rumput ini. Tetapi ternyata hantu itu
sama sekali tidak menakutkan. Aku biarkan Mahisa Agni bertempur
sendiri sebab aku sudah dapat memperhitungkan, bahwa hantu itu
tidak akan dapat mengalahkannya. Meskipun demikian, apabila
keadaan memaksa aku pasti tidak akan sampai hati membiarkan
Agni mengalami cidera.”
“Bukan main,” desah anak-anak itu. Kemudian salah seorang dari
mereka bertanya, “He, siapakah yang datang bersama kalian. Itu
orang tua yang duduk di samping Mahisa Agni?”
“O, pamannya,” jawab Sinung Sari, “orang itu adalah paman
Mahisa Agni yang berjumpa saja di perjalanan. Orang itu sengaja
akan meninjau kemenakannya di sini.”
Anak-anak muda itu kembali mengangguk-angguk kepalanya.
Mereka benar-benar terpesona oleh cerita Jinan, Patalan dan Sinung
Sari yang dengan penuh gairah menceritakan pengalamannya.
Bahkan kadang-kadang dengan tangan dan kaki bersilangan,
menirukan beberapa macam gerak yang dilihatnya.
“Sayang,” berkata Sinung Sari, “Agni kurang lincah sedikit,
sehingga sekali-sekali ia dapat dikenai lawannya. Ia telah berbuat
beberapa kesalahan kecil yang dapat memperlambat penyelesaian
perkelahian itu sehingga orang Tumapel itu datang.”
“Ah, hampir aku salah sangka,” berkata Jinan, “untunglah aku
belum mulai. Kalau orang Tumapel itu tidak segera
memperkenalkan dirinya sebagai orang istana, mungkin kami pun
sudah bertempur pula.”
Kawan-kawannya yang mengangguk-anggukkan kepalanya itu
menjadi semakin kagum. Perjalanan itu ternyata merupakan
perjalanan yang dahsyat. Ada di antaranya yang menjadi ngeri,
namun ada yang kemudian berangan-angan, “Ah, seandainya aku
mendapat kesempatan turut dalam perjalanan itu. Aku akan melihat
berbagai kejadian-kejadian yang dahsyat dan mengasyikkan.”
“Huh,” potong Patalan, “kau akan mati ketakutan.”
Kawan-kawannya yang lain serentak tertawa. Dan anak muda
yang berangan-angan itu tersenyum tersipu-sipu.
“Tetapi betapapun sulit perjalanan kami, namun kami telah
berhasil menemukan tempat itu. Tempat yang tepat sekali untuk
membangun sebuah bendungan, menaikkan air dan membuat
saluran-saluran di tanah yang tidak terlampau keras. Tanah yang
datar dan ditumbuhi rumput yang lebat. Tanah itu akan merupakan
tanah yang subur. Kalian dapat mengambil tanah sekuat-kuat kalian
dapat mengerjakannya. Dan bendungan itu segera akan kita
bangun,” berkata Sinung Sari dengan bersungguh-sungguh.
Kembali anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan
kepala mereka. Mereka telah berjanji berbuat apa saja untuk
kepentingan rakyat Panawijen.
Tetapi di pendapa pembicaraan antara Mahisa Agni, Empu
Gandring dan orang-orang tua Panawijen berjalan lebih
bersungguh-sungguh. Orang-orang tua itu mendengarkan
penjelasan Mahisa Agni dengan penuh minat. Justru hanya tentang
jeram-jeram, air terjun dan bendungan itu sendiri. Sama sekali
tidak
disentuh-sentuhnya mengenai hantu Karautan, Empu Sada yang
akan dapat mengganggu kerja mereka dan orang-orang lain lagi.
Bagi Mahisa Agni hal itu dianggap belum waktunya untuk
menguraikannya. Sebab dengan demikian, hal-hal tersebut hanya
akan dapat memperkecil hati orang-orang Panawijen yang pada
dasarnya sudah tidak begitu tatag.
“Jadi kita buat bendungan itu di sana?” bertanya seseorang.
“Ya, Ki,” sahut Mahisa Agni, “tempat itu adalah satu-satunya
yang aku temukan.”
“Kita harus mulai lagi,” desahnya. “Kalau Empu Purwa tidak
menjadi waringuten dan kehabisan akal, maka kita tidak akan
bersusah-payah membangun sebuah bendungan.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia dapat mengerti bahwa
orang-orang tua itu seharusnya sudah tinggal menikmati hari-hari
Tuanya saja.
Karena itu Mahisa Agni tidak menjawab. Dibiarkannya orang tua
itu menyesali gurunya. Betapapun hatinya merasa tersinggung
namun ia mencoba menyimpan perasaan itu dalam-dalam di dalam
dadanya.
“Sekarang kita harus mulai dari permulaan lagi,” berkata orang
tua itu.
Tetapi seseorang yang duduk di belakang Ki Buyut Panawijen
menjawab, “Sudahlah, biarlah yang sudah terjadi itu. Orang tua itu
sudah merasa bersalah. Dan ia sudah berusaha untuk menebus
kesalahannya.”
“Huh,” desah orang yang pertama, “itu hanya sekedar untuk
memperkecil kesalahan.”
“Sama sekali tidak,” berkata orang yang duduk di belakang Ki
Buyut. “Orang itu sama sekali tidak mengingkari kesalahannya
Tetapi kita harus merasa bersalah pula. Empu Purwa telah memberi
kita bendungan, saluran-saluran air dan apa saja. Tetapi ketika
anaknya mengalami bencana, kita tidak dapat menolongnya. Bahkan
seakan-akan kita mencuci tangan kita, hanya karena kita takut
menjadi sasaran kemarahan Kuda Sempana dan Akuwu waktu itu.
Kemudian karena kekecewaan yang menghentakkan
keseimbangannya, maka ia telah berbuat kesalahan itu. Mengambil
bendungan itu kembali. Bendungan yang sudah diserahkan kepada
kita.”
“Kenapa hal itu dilakukannya? Bukankah disadarinya bahwa
dengan memecahkan bendungan itu, meskipun bendungan itu
dibuatnya sendiri, akibatnya akan menimpa seluruh Rakyat
Panawijen?”
“Ia adalah seorang manusia biasa. Manusia yang mempunyai
sifat khilaf dan salah. Dan Empu Purwa tidak mengingkari
kesalahannya. Tetapi terkutuklah Kuda Sempana, sumber dari
segala bencana ini.”
“Sudahlah,” potong Ki Buyut Panawijen, “jangan mengada-ada.
Kita jangan selalu dicengkam oleh peristiwa-peristiwa yang telah
lampau. Dengan demikian kita tidak akan dapat menghadapi hari
depan kita. Kini, yang penting bagi kita adalah bendungan itu.
Bendungan dan saluran-saluran air. Semua tenaga di padukuhan ini
kita perlukan. Kalau kita masih saja menyalahkan, maka kita tidak
akan dapat mulai. Nah. Siapa yang tidak ingin melihat bendungan
itu kita bangun?”
Semuanya terdiam. Semuanya menundukkan kepalanya.
Pendapa itu sesaat menjadi sepi. Mahisa Agni mencoba
memandangi setiap wajah yang ada di sekitarnya. Namun wajahwajah
itu tunduk menusuk lantai. Betapa hatinya sendiri menjadi
pedih mendengar seseorang tidak habis-habisnya mengumpati
gurunya, namun ia masih dapat menahan diri. Yang penting bagi
Mahisa Agni adalah, bagaimana bendungan itu harus terwujud.
Bagaimana ia dapat mewujudkan sesuatu yang telah hilang karena
gurunya yang sedang kehilangan keseimbangan berpikir. Bagaimana
Mahisa Agni dapat melakukan petunjuk-petunjuk dari gurunya itu.
Membangun bendungan dan saluran-saluran air.
Karena tidak seorang pun yang menjawab, maka Ki Buyut
Panawijen itu berkata, “Nah, kalau demikian, maka kita semuanya
sependapat. Kita kerahkan semua tenaga, kekuatan dan apa saja
yang kita miliki untuk membangun bendungan itu. Bendungan itu
harus segera selesai sebelum kita akan mengalami paceklik yang
panjang.”
Pendapa itu kembali menjadi sepi. Tetapi Mahisa Agni
mendengar nafas yang memburu dari setiap dada mereka yang
duduk melingkar di pendapa itu. Bahkan kemudian Mahisa Agni pun
melihat beberapa orang di antara mereka mengangkat wajahnya.
Dari wajah-wajah itu menyalalah tekad mereka membangun
bendungan, saluran-saluran air dan persawahan baru. Arti daripada
kerja itu bukan sekedar menyambung hidup mereka sendiri. Tetapi
arti dari kerja itu adalah menentukan masa depan anak cucu
mereka.
Pada hari itu pula, Panawijen mulai dihangatkan oleh rencana
pembangunan yang akan menelan segenap tenaga, pikiran, tekad
dan kemauan dari segenap penduduk Panawijen. Dari kakek-kakek
sampai kepada anak-anak, seakan-akan serentak mengucapkan
rencana itu di segenap kesempatan. Bahkan anak-anak gembala
yang menunggui domba dan kambing di pangonan, telah menyusun
lagu menurut irama mereka sendiri. Sebuah tembang, tentang
bendungan dan parit-parit. Sawah yang hijau segar serta
padukuhan yang subur dan makmur. Rakyat yang sejahtera dan
makmur. Rakyat sejahtera merata. Gemah-ripah kerta-raharja.
Mulailah segala persiapan diadakan. Alat, bahan-bahan, dan apa
saja yang akan diperlukan nanti dalam pembangunan bendungan
itu.
Tetapi meskipun demikian ada juga di antara mereka yang
menanggapinya dengan acuh tak acuh. Mereka yang masih saja
merasa bahwa mereka tidak seharusnya bekerja berat untuk itu.
Mereka ingin bahwa bendungan itu akan jadi dengan sendirinya.
Sawah-sawah akan tercetak di padang rumput Karautan tanpa
dikerjakan oleh tangan. Mereka ingin kampung halaman mereka
menjadi hijau subur tanpa meneteskan keringat. Dan mereka itu
masih saja bermimpi pada saat guntur di langit bersabung dan
gunung-gunung menggelegar menggetarkan bumi.
Berhari-hari persiapan dilakukan, berhari-hari Mahisa Agni
memeras keringat bersama kawan-kawannya mempersiapkan segala
perlengkapan yang dianggapnya perlu. Namun ia masih sempat
tersenyum apabila ia mendengar Jinan, Patalan dan Sinung Sari
berkata sambil menepuk dada, ‘Kalau tidak ada aku, maka
Panawijen akan menjadi kering kerontang. Akulah yang telah
menemukan jeram-jeram itu bersama beberapa kawan yang
mengikuti aku di belakang’. Tetapi segera mereka mengerutkan
leher mereka, apabila mereka melihat Mahisa Agni lewat sambil
tertawa di hadapan mereka.
Namun Jinan sempat juga berbisik kepada Agni, “Agni, jangan
kau katakan kepada mereka, bahwa aku hampir mati ketakutan di
padang Karautan.”
Dan menanggapi bisikan itu Mahisa Agni hanya dapat tersenyum
kecil.
Pada saat-saat yang demikian itu, pada saat-saat Panawijen
tenggelam dalam kesibukan, maka jalan-jalan di pedesaan itu telah
dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Beberapa orang-orang
penunggang kuda, berdatangan ke padukuhan itu.
Kepada seseorang, salah seorang penunggang kuda itu bertanya,
“Di mana rumah putri Ken Dedes?”
Orang itu mengerutkan keningnya.
“Putri Ken Dedes,” desisnya di dalam hati.
Orang yang ditanya itu menjadi heran. Ken Dedes, anak Empu
Purwa itukah yang dimaksud dengan Putri Ken Dedes. Karena itu
untuk mendapat kepastian orang itu bertanya, “Apakah yang Tuan
maksud itu, Ken Dedes putri Empu Purwa?”
Penunggang kuda itu mengerutkan keningnya. Sesaat mereka
saling berpandangan, dan kemudian terdengar salah seorang dari
mereka menyahut, “Putri Ken Dedes, adik dari anak muda yang
bernama Mahisa Agni.”
“Oh,” orang Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kini ia tidak akan salah lagi. Ken Dedes yang dimaksud adalah anak
Empu Purwa. Meskipun demikian ia menyahut, “Tetapi Ken Dedes
kini tidak ada di rumahnya.”
“Ya, kami sudah tahu,” sahut penunggang kuda itu, “justru kami
adalah utusan dari Tuan Putri itu.”
“Oh,” orang Panawijen itu menjadi semakin tidak mengerti.
Tetapi ia tidak berani bertanya terlampau banyak.
“Di manakah rumah itu?” desak penunggang kuda itu, “dan
apakah kakaknya berada di rumah?”
“Ya. Ya,” sahut orang Panawijen itu tergagap, “Tuan dapat
menyusur jalan ini. Kemudian Tuan akan menembus desa
Panawijen. Di ujung yang lain dari jalan ini Tuan akan menemukan
sebuah padepokan. Itulah rumah Empu Purwa, ayah gadis itu.”
“Terima kasih,” sahut orang-orang berkuda itu, yang sesaat
kemudian telah memacu kudanya kembali menuju ke padepokan
Empu Purwa.
Ketika kuda-kuda itu berderap di depan regol padepokan,
beberapa orang cantrik yang dengan setia menunggui padepokan
Empu Purwa menjadi sangat terkejut. Berkali-kali mereka
dikejutkan, bahkan mengalami banyak peristiwa-peristiwa yang
tidak menyenangkan apabila mereka mendengar derap kuda
berhenti di halaman. Kali ini pun derap kuda itu mengejutkan
mereka. Karena itu segera mereka berlarian mengambil senjata, apa
saja yang dapat dipegangnya. Mereka tidak mau menjadi barangbarang
mati yang hanya dapat melihat peristiwa demi peristiwa
berlangsung tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak mau berdiri saja
dengan mulut ternganga seperti masa-masa yang lalu, yang
ternyata telah membawa malapetaka bagi padepokan itu, bahkan
bagi segenap padukuhan Panawijen.
Mahisa Agni yang sedang berada di belakang rumah pun
mendengar derap kuda itu. Tidak hanya seekor, tetapi empat atau
lima.
Mahisa Agni itu pun kemudian tegak berdiri dengan wajah
tengadah. Seperti para cantrik, maka ia pun curiga. Peristiwa demi
peristiwa telah mengajarnya untuk setiap kali berhati-hati.
Ketika ia melihat seorang cantrik dengan tergesa-gesa
mengambil sebatang besi pengupas sahut kelapa, ia berkata,
“Siapakah yang berkuda itu?”
“Kami belum tahu.”
“Kenapa kau mengambil potongan besi itu?”
“Kami akan menghadapi segala kemungkinan dengan senjata.
Tidak seperti masa-masa yang lampau,” sahut cantrik itu.
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Tetapi ia
tahu benar, bahwa para cantrik itu sama sekali tidak mendapat
didikan untuk berkelahi. Sehingga mereka hampir dapat dianggap
tidak berarti, apabila mereka ingin membuat perlawanan, apalagi
bagi mereka yang sudah masak dengan berbagai pengalaman.
Namun, hati Mahisa Agni sendiri pun terpengaruh juga melihat
para cantrik yang mencoba mendapatkan senjata. Ia sadar bahwa
apabila ada bahaya, maka tak akan ada orang lain yang dapat
membantunya, selain dirinya sendiri dan apabila dikehendaki,
pamannya Empu Gandring yang berada di dalam rumah itu pula.
Tetapi Mahisa Agni tidak ingin mengusik pamannya. Ia tidak ingin
membuat kesan yang tidak menyenangkan baginya. Karena itu,
maka Mahisa Agni berhasrat untuk menjumpai para penunggang
kuda itu sendiri.
Meskipun demikian, tanpa disengaja Mahisa Agni itu berjalan
lewat biliknya sendiri. Diraihnya sebilah keris di dalam glodok
pakaiannya dan diselipkannya di punggungnya, Keris itu adalah keris
buatan pamannya. Sebab sedapat mungkin, terjadi bahaya yang
tidak diinginkannya.
Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni itu pun kemudian
berjalan ke rumah depan. Dari pendapa ia sudah melihat beberapa
orang berkuda di luar halaman. Namun menilik kesan yang ada
pada mereka, mereka sama sekali bukan orang-orang yang pantas
dicurigai.
Kepada seorang cantrik Mahisa Agni menyuruhnya,
mempersilakan para penunggang kuda itu masuk ke halaman.
Sekali lagi Mahisa Agni mendapat kesan yang baik dari para
penunggang kuda itu. Mereka tidak memasuki halaman di atas
punggung kuda, tetapi segera mereka berloncatan turun, dan sambil
menuntun kuda mereka, mereka berjalan ke pendapa.
Menilik pakaian yang mereka kenakan, segera Mahisa Agni dapat
mengenal, bahwa mereka adalah pasukan pengawal Istana
Tumapel. Anak buah dari Witantra. Apalagi ketika di antara mereka
itu, dilihatnya seorang anak muda yang telah dikenalnya, Kebo Ijo.
“Selamat bertemu kembali Kakang Mahisa Agni,” sapa Kebo Ijo
sambil tertawa.
Mahisa Agni mengganggukan kepalanya. Sambil tersenyum ia
menyahut, “Selamat Adi. Marilah, naiklah ke pendapa.”
Dengan penuh hormat Mahisa Agni menerima mereka.
Dipersilakannya tamunya duduk di atas sehelai tikar pandan yang
putih. Disapanya tamunya dengan segala tata cara.
Namun dalam pembicaraan itu, Mahisa Agni menjadi sangat
heran dan tidak mengerti, kenapa para prajurit itu menjadi sangat
hormat kepadanya, kecuali Kebo Ijo. Bahkan agaknya terlampau
berlebih-lebihan. Meskipun demikian Mahisa Agni segan untuk
bertanya sebab-sebab itu.
Ketika Mahisa Agni selesai dengan pertanyaan-pertanyaan tata
cara, maka sampailah para tamunnya itu kepada persoalan yang
dibawanya. Persoalan yang harus disampaikannya sebagai utusan
Tuan Putri Ken Dedes. Bakal Permaisuri Akuwu Tumapel.
Dan Mahisa Agni masih saja terheran-heran melihat sikap para
prajurit itu, selain Kebo Ijo yang tersenyum-tersenyum saja.
Seorang yang paling tua di antara mereka berkata dengan
takzimnya, “Tuan Muda Mahisa Agni. Kami adalah utusan dari Tuan
Putri Ken Dedes untuk menyampaikan pesan kepada Tuan.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan kaku ia menjawab,
“Tuan, apakah pesan yang Tuan bawa itu?”
“Tuan Putri telah mendengar laporan Kakang Witantra kepada
Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, bahwa Tuan tidak ingin menerima
Akuwu Tunggul Ametung sebagai wakil ayahanda.”
“Ya,” sahut Mahisa Agni.
“Tuan Putri menjadi sangat berduka atas keputusan Tuan itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata itu langsung
menyentuh hatinya, sehingga terasa sesuatu berdesir di dadanya.
Tiba-tiba terbayanglah wajah gadis yang murung itu. Seperti pada
saat ia melihat gadis itu menangis di sampingnya, di atas
balai-balai
bambu pada saat bulan sedang mengambang di langit. Pada saatsaat
ia sedang dirisaukan pula oleh gadis itu. Terbayang di mata
Mahisa Agni, betapa Ken Dedes menyampaikan perasaannya kepada
seorang emban tua, pemomongnya. Betapa suara gadis itu seperti
petir yang menyambar kepalanya, pada saat ia mendengar bahwa
yang diharapkan olehnya adalah sebuah nama yang lain dari
namanya. Nama itu adalah Wiraprana.
Kini Wiraprana itu telah terbunuh. Betapa mungkin ia akan
mengalami peristiwa yang serupa untuk kedua kalinya. Bagaimana
dapat menahan dirinya menerima Akuwu Tunggul Ametung yang
datang untuk melamar adiknya itu. Adik yang telah pernah melukai
hatinya. Dan luka itu kini seakan-akan menjadi kambuh kembali.
Karena Mahisa Agni masih berdiam diri, maka prajurit itu berkata,
“Tuan, apakah Tuan tidak menjadi iba dan belas mendengar bahwa
Tuan Putri itu menjadi berduka?”
Mahisa Agni masih terdiam. kepalanya ditundukkannya dalamdalam.
Dan prajurit itu berkata pula, “Apakah Tuan tidak dapat
mengubah keputusan itu?”
Terasa dada Mahisa Agni seakan-akan bergolak. Kata-kata itu
benar-benar telah menggerakkan hatinya. Tetapi apabila kemudian
bayangan-bayangan yang aneh hilir mudik di kepalanya, maka
kembali hatinya menjadi pedih. Dan sambil menggelengkan
kepalanya ia berkata, “Tidak Tuan. Aku tidak akan mengubah
pendirianku. Ken Dedes kini telah cukup dewasa untuk menentukan
pilihannya sendiri.”
“Tuan benar,” sahut prajurit tertua itu, “Tuan benar. Tuan Putri
telah menjatuhkan pilihan. Tuan Putri memang telah menerima
lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi Tuan Putri tidak mau
meninggalkan adat tata cara. Tuan adalah satu-satunya wakil bagi
ayahanda yang menurut berita yang sampai di istana telah
meninggalkan padepokan.”
“Ya,” sahut Mahisa Agni, “Empu Purwa telah meninggalkan
padepokan justru karena ia kehilangan gadisnya. Justru ia
kehilangan Ken Dedes itu.”
“Kalau Empu Purwa itu dapat ditemukan, ia akan mendapatkan
putrinya itu kembali. Justru setelah Putrinya menerima anugerah.”
“Orang tua itu telah kehilangan segenap harapan. Empu Purwa
menjadi sakit hati karena gadisnya dilarikan orang. Bagaimana
mungkin ia dapat menerima Akuwu itu menghadap seandainya ia
masih berada di padepokan sekalipun?”
“Terapi bukankah yang membawa Tuan Putri pada saat itu
adalah Adi Kuda Sempana?”
“Bukankah Kuda Sempana mendapat perlindungan dari Akuwu
Tunggul Ametung.”
“Akuwu kini telah menyesal.”
“Tetapi ia tidak mengembalikan gadis itu. Malahan gadis itu
diambilnya sendiri.”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Terbayanglah keheranan
yang memancar pada sepasang matanya. Ia tidak dapat mengerti
kenapa Mahisa Agni menjadi kecewa, justru adiknya akan diangkat
menjadi seorang permaisuri. Bahkan bukan itu saja. Telah tersebar
desas-desus yang luas, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah
berjanji untuk menyerahkan kekuasaan atas Tumapel kepada gadis
Panawijen itu.
Namun untuk sesaat prajurit itu berdiam diri. Ia menjadi bingung
dan tidak mengerti apa yang harus dikatakannya lagi.
Tiba-tiba mereka yang sedang duduk termenung dalam anganangan
masing-masing itu dikejutkan oleh suara tertawa yang
meledak di antara mereka. Ketika semuanya berpaling, mereka
segera melihat, bahwa yang tertawa itu adalah Kebo Ijo.
“Mahisa Agni,” katanya, “apakah kau masih tetap sakit hati?
Sayang, adikmu telah bermimpi untuk menjadi seorang permaisuri.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Prajurit yang tertua dan
bahkan semuanya yang ada di pendapa itu pun menjadi heran,
kenapa Kebo Ijo tiba-tiba saja tertawa.
Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Kebo Ijo
itu dengan seksama. Namun anak muda itu masih saja tertawa
sambil berkata, “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki Agni.
Adikmu telah diangkat menjadi permaisuri. Kau harus berterima
kasih karenanya. Dan kau harus berterima kasih pula kepada Kuda
Sempana. Kalau Kuda Sempana tidak menjadi gila, mata Akuwu
Tunggul Ametung tidak akan pernah melihat adikmu itu.”
Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menjadi merah. Terasa nafasnya
menjadi semakin cepat mengalir. Namun ia masih berdiam diri.
Prajurit yang tertua itulah kemudian yang berkata, “Sudahlah Adi
Kebo Ijo. Jangan berkata yang aneh-aneh. Sekarang baiklah aku
menyampaikan pesan Tuan Putri itu. Apabila Tuan Mahisa Agni
masih tetap pada pendiriannya itu, maka Tuan Putri minta Tuan
menghadap adik tuan itu ke istana.”
Tetapi warna merah di wajah Mahisa Agni masih saja membara.
Kata-kata Kebo Ijo benar-benar telah menusuk jantungnya.
Meskipun demikian, Mahisa Agni masih berusaha untuk menahan
dirinya.
Dan prajurit yang tertua di antara mereka itu masih berkata
terus, “Tuan. Sebaiknya Tuan menaruh belas akan Tuan Putri itu.
Apabila Tuan sudi datang, maka Tuan Putri akan merasa bahwa
Tuan telah merestuinya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan
hatinya yang gelisah. Perkataan prajurit itu memang dapat
menyentuh perasaannya. Alangkah sedihnya Ken Dedes apabila ia
menolak semua permintaannya itu. Namun kemudian penyakitnya
kambuh kembali, sebuah goresan yang pedih di dalam dadanya,
akibat segala macam peristiwa yang terjadi, sejak ia mendengar
nama Wiraprana disebut, kemudian Kuda Sempana yang telah
memeras segala tenaganya untuk mempertahankan gadis itu,
bahkan hampir saja nyawanya sendiri melayang. Dan yang
kemudian sekali gurunya telah meninggalkannya pula. Namun
akhirnya gadis itu tanpa setahunya telah menerima lamaran Akuwu
Tunggul Ametung. Dada Mahisa Agni menjadi pedih, sehingga
terloncatlah jawabnya, “Sayang Tuan. aku tidak dapat datang
menghadap gadis itu. Kalau ia memerlukan aku, biarlah ia datang
kepadaku. Bukan aku yang harus menghadapnya.”
Dada prajurit itu berdesir. Tetapi ia berpaling ketika ia
mendengar Kebo Ijo tertawa.
“Adi Kebo Ijo,” katanya, “akulah yang diserahi pertanggungan
jawab atas kalian, dan seluruh tugas ini.”
Dengan senyum yang menyakitkan hati Kebo Ijo menahan suara
tertawanya. Kemudian ia berusaha untuk melepaskan perhatiannya
atas pembicaraan itu. Dengan nanar ia memandang berkeliling.
Kepada pepohonan, bunga-bunga dan rumput yang bertebaran di
halaman. Namun daun-daun dan mahkota bunga tampak olehnya
tidak begitu segar.
Prajurit itulah kemudian yang berkata kepada Mahisa Agni,
“Tuan. Mungkin aku salah mengatakannya kepada Tuan. Maksudku,
Tuan Putri mengutus kami untuk menyampaikan kepada Tuan,
bahwa Tuan Putri ingin bertemu dengan Tuan. Ingin berbincang
mengenai beberapa hal dan mungkin Tuan Putri akan minta izin
kepada Tuan, untuk menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung.
Karena Tuan Putri tidak dapat meninggalkan istana, maka apakah
Tuan sudi datang mengunjunginya?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Sayang. Aku
tidak dapat pergi ke Tumapel. Padukuhan ini tidak dapat aku
tinggalkan. Aku sekarang sedang terikat oleh suatu pekerjaan yang
besar. Besar bagi padukuhan kami, meskipun hanya membuat
sebuah bendungan. Sebab bendungan kami telah pecah beberapa
waktu yang lampau.”
Prajurit itu menggigit bibirnya. Agaknya Mahisa Agni akan tetap
pada pendiriannya. Karena itu ia menjadi ragu-ragu untuk berbuat
sesuatu. Ia tidak mendapat kekuasaan untuk melakukan tugasnya
dengan segala cara, menghadapkan Mahisa Agni ke Tumapel. Ia
hanya mendapat tugas untuk menyampaikan pesan itu. Dan
ternyata pesan itu telah ditolaknya.
Namun prajurit itu masih mencoba untuk meyakinkan Mahisa
Agni, bahwa sebaiknya ia datang, katanya, “Tuan Kasihanilah Adik
Tuan itu. Mungkin adik tuan ingin datang mengunjungi Tuan, tetapi
adik tuan sama sekali tidak mendapat kesempatan. Bukan karena
adik tuan itu tidak ingin, apalagi tidak sudi, tetapi sebagai
seorang
putri istana ia terikat pada beberapa ketentuan yang tidak dapat
dilanggarnya.”
“Anak itu adalah anak Panawijen,” sahut Mahisa Agni, “gadis
padepokan yang berada di istana karena dilarikan orang. Ia sama
sekali bukan seorang putri yang wajar menerima berbagai tata cara
kebesaran sebelum ia benar-benar menjadi seorang permaisuri.”
Sekali lagi prajurit itu mengangguk-angguk sambil menggigit
bibirnya. Kini seakan-akan semua jalan yang dapat ditempuhnya
telah buntu. Ia benar-benar tidak dapat mengatasi kekerasan hati
Mahisa Agni dengan kata-kata.
Namun kembali mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat
Kebo Ijo dengan serta-merta meloncat berdiri dan berjalan turun
dari pendapa. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Kakang, aku
tidak telaten. Jangan kau bujuk dengan rayuan cengeng anak manja
itu. Kakang hanya tinggal menyampaikan pesan gadis Panawijen itu,
kemudian apakah kakaknya akan memenuhi atau tidak, bukanlah
urusan kita. Kita bukan budak-budak yang harus merendahkan diri,
merajuk seperti jejaka yang sedang jatuh cinta.”
“Kebo Ijo!”
Teriakan itu benar-benar mengejutkan. Hampir bersamaan
Mahisa Agni dan prajurit itu memotong kata-katanya. Hampir
bersamaan pula mereka berdua serentak berdiri. Bahkan Mahisa
Agni dan prajurit itu pun terkejut pula melihat sikap masing-masing
menghadapi Kebo Ijo.
Namun Kebo Ijo itu masih berdiri di bawah tangga pendapa
dengan dada tengadah. Bahkan kemudian ia berkata, “Tak ada
gunanya membujuk Mahisa Agni yang keras kepala.”
Mahisa Agni kemudian tidak dapat menahan dirinya lagi. Tibatiba
ia meloncat turun pula dari pendapa. Namun prajurit yang
tertua itu meloncat pula secepat Mahisa Agni meloncat. Dengan
penuh hormat, seperti pada saat ia datang dan berbicara, ia berkata
kepada Mahisa Agni, “Tuan. Aku adalah tetua rombongan kecil ini.
Aku minta maaf atas perbuatan Adi Kebo Ijo. Mudah-mudahan aku
akan dapat mencegahnya lain kali.”
Tetapi belum lagi kata-kata itu berakhir, telah terdengar suara
tertawa Kebo Ijo itu kembali.
Betapa wajah prajurit tertua itu menjadi merah padam. Seakanakan
ia menerima tamparan langsung di wajahnya. Meskipun
demikian ia menyadari, bahwa Kebo Ijo adalah adik seperguruan
Witantra. itu pulalah agaknya, yang menyebabkan anak muda itu
menjadi keras kepala. Ia merasa bahwa di belakangnya berdiri
seorang yang disegani. Baik oleh Mahisa Agni maupun oleh tetua
rombongan prajurit itu.
Prajurit yang tertua itu pun kemudian menyadari, bahwa lebih
baik baginya untuk segera meninggalkan halaman itu sebelum
terjadi sesuatu. Ia telah mengenal sikap dan sifat Kebo Ijo
meskipun
belum begitu banyak, dan ia telah mendengar beberapa macam
cerita tentang anak muda kakak Ken Dedes itu. Prajurit itu telah
mendengar pula cerita tentang Mahisa Agni, ketika ia terpaksa
berkelahi melawan Mahendra di Tumapel beberapa waktu yang lalu.
Namun sebelum prajurit itu berkata sesuatu dilihatnya Kebo Ijo
berjalan dengan senyum-senyum yang menyakitkan hati ke arah
kudanya. Dengan satu loncatan yang cepat, anak muda itu telah
berada di punggung kuda.
“Selamat tinggal sampai bertemu kembali Agni. Mudah-mudahan
kau tidak terlalu murung menghayati kenyataan seharusnya kau
menjadi gembira mendengar kabar tentang adikmu. Tetapi tiba-tiba
kau malahan menjadi bersedih.”
“Cukup!” bentak prajurit yang memimpin rombongan itu, “Jangan
mengigau terus Adi Kebo Ijo!”
Kebo Ijo tertawa. Digerakkannya kendali kudanya, dan perlahanlahan
kudanya bergerak meninggalkan halaman rumah itu. Namun
suara tertawanya masih saja terdengar menggeletar di halaman.
“Maaf, sekali lagi aku minta maaf atas segala tingkah lakunya,”
minta prajurit itu.
Mahisa Agni berdesis. Seandainya prajurit itu tidak bersikap
manis, maka Mahisa Agni sudah tidak dapat lagi menahan dirinya.
Namun ketika sekali lagi prajurit itu minta maaf kepadanya, maka
sadarlah Mahisa Agni, bahwa ia berhadapan dengan Kebo Ijo.
Seharusnya ia telah mengenal sifat anak yang bengal itu. Maka
dengan mengangguk-anggukkan kepalanya Agni menjawab,
“Baiklah Tuan. Seharusnya aku tahu, bahwa demikian itulah sifat
Kebo Ijo. Sejak aku mengalami singgungan perasaan yang kadangkadang
hampir tak tertahankan.”
“Ya,” sahut prajurit itu, “mudah-mudahan setelah ia berada
dalam lingkungan yang lebih luas, dalam lingkungan keprajuritan,
sifat-sifatnya akan berkurang.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, meskipun terasa degup
jantungnya masih belum tenang kembali.
“Kini, kami akan mohon diri Tuan,” berkata prajurit itu, “aku akan
menyampaikan segala jawaban Tuan atas permintaan Tuan Putri.”
“Baik,” sahut Agni, “sampaikan kepadanya, aku sedang
terlampau sibuk.”
Prajurit itu membungkuk hormat. Beberapa orang kawannya pun
berbuat serupa, “Kami segera akan kembali.”
Ketika kuda-kuda para tamu itu berderap, dada Mahisa Agni pun
serasa berderap sekeras derap kuda itu. Hampir ia berteriak
memanggil mereka, dan menyatakan kesediaannya untuk pergi
bersama mereka ke Tumapel menemui Ken Dedes. Namun tiba-tiba
terdengar giginya gemeretak. Terdengar suaranya parau
perlahanlahan,
“Tidak. Aku tidak akan datang menemuinya. Aku tidak akan
dapat merestui perkawinan itu. Guru sendiri telah berkata dalam
kutuknya, bahwa matilah mereka dengan keris, yang ikut serta
melarikan anaknya. Bukankah Tunggul Ametung termasuk pula di
antaranya?” Namun Mahisa Agni segera memejamkan matanya
ketika timbul pertanyaan dalam hatinya, “Apakah itu alasanmu
satusatunya?”
Mahisa Agni itu pun kemudian terkejut ketika terasa pundaknya
tersentuh tangan. Ketika ia berpaling dilihatnya pamannya berdiri
di
belakangnya sambil tersenyum.
Dada Mahisa Agni berdesir. Kemudian tatapan wajahnya
tertunduk menghunjam disela-sela jari kakinya.
“Kenapa kau tidak pergi bersama mereka. Bukankah gadis itu
putri gurumu?” bertanya pamannya.
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kepalanya masih tunduk
dalam-dalam dan hatinya bergolak semakin cepat.
Empu Gandring yang bijaksana melihat kerusuhan hati
kemenakannya. Karena itu ia tidak mendesaknya. Bahkan kemudian
ia berkata, “Sudahlah Agni. Kalau kau sudah berketetapan hati tidak
akan pergi baiklah. Tetapi perasaanmu jangan terbenam dalam
keragu-raguan. Nah, sekarang bagaimana dengan bendunganmu?”
Seperti orang yang terbangun dari tidurnya, Mahisa Agni
menengadahkan wajahnya. Tiba-tiba ia tersenyum dan menjawab,
“Semua persiapan telah selesai, Paman.”
“Bagus,” sahut pamannya, “lalu apa yang akan dikerjakan hari
ini?”
“Brunjung harus mulai dibawa ke jeram-jeram itu,” jawab Agni
“Bagus,” sahut pamannya, “apakah sudah kau sediakan gerobakgerobak
yang akan membawanya?”
“Sudah, Paman.”
“Mari, biarlah aku mempunyai pekerjaan di sini, daripada hanya
duduk termenung setiap hari. Apakah aku dapat turut membawa
brunjung-brunjung itu?”
“Ah,” Mahisa Agni berdesah, “sebaiknya Paman tidak usah terlalu
bersusah-payah.”
“Jangan beranggapan bahwa aku seorang yang hanya pantas
diberi makan dan minum saja, Agni. Biarlah aku pergi bersamasama
membawa brunjung itu ke jeram-jeram di padang Karautan.”
“Apabila Paman kehendaki, aku akan mempersilakan.”
“Dari mana brunjung-brunjung itu dibawa?”
“Dari rumah Ki Buyut, Paman. Di sana semuanya telah siap, Ki
Buyut sendiri akan membawa brunjung-brunjung itu ke sana.
Tinggal menanti aku yang masih harus mempersiapkan beberapa
pekerjaan di sini.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Baik. Kalau kau belum
sempat pergi, biarlah aku bersama mereka. Mungkin aku dapat
membantu mereka.”
Mahisa Agni pun kemudian menyadari kata-kata itu. Ki Buyut
belum menyadari bahaya yang akan dapat mengancam mereka,
karena Mahisa Agni belum mengatakannya. Sedang apa yang
didengar oleh Ki Buyut dari Jinan, Patalan dan Sinung Sari hanya
dianggapnya sebagai sebuah lelucon yang dahsyat. Dan kini
pamannya bersedia pergi bersama mereka.
Karena itu Mahisa Agni merasa bahwa pamannya bersedia untuk
melakukan sebagian dari pekerjaannya. Terutama melindungi orang
yang sedang mengantarkan peralatan bagi bendungan yang akan
mereka bangun.
Maka jawab Mahisa Agni, “Terima kasih, Paman. Apabila Paman
bersedia berangkat bersama dengan Ki Buyut, maka pekerjaan akan
terbagi. Brunjung itu akan sampai di jeram-jeram itu, sementara
aku sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini. Dengan
demikian kita tidak kehilangan waktu hanya untuk menunggu aku.”
Empu Gandring tersenyum, “Bukankah lebih baik begitu?”
Demikianlah maka pada hari itu juga Mahisa Agni segera
mempersiapkan, brunjung-brunjung untuk dibawa ke padang
Karautan. Hampir semua gerobak yang ada di padukuhan itu dipakai
oleh Ki Buyut Panawijen untuk mengangkut brunjung-brunjung dan
berbagai macam peralatan yang lain.
Kepada mereka Mahisa Agni berpesan, bahwa mereka harus
menaruh banyak perhatian terhadap air, supaya mereka tidak
kehausan di jalan.
Maka pada pagi harinya, berangkatlah iring-iringan gerobak dan
sebagian orang-orang Panawijen, berjalan menuju ke padang
rumput Karautan. Di antara mereka terdapat Ki Buyut Panawijen,
Empu Gandring dan sebagai penunjuk jalan adalah Jinan, Patalan
dan Sinung Sari. Hampir segenap penduduk Panawijen melepas
iring-iringan itu dengan doa dan harapan, semoga mereka
menemukan kembali kesuburan dan kesejahteraan seperti yang
pernah dialami.
Sementara itu Mahisa Agni dan beberapa anak-anak muda yang
lain masih sibuk menyiapkan patok-patok dan tali temali dari ijuk
untuk bendungan itu pula. Mereka mengharap, bahwa apabila
pekerjaan mereka itu telah siap, maka segera mereka akan dapat
pergi menyusul gerobak-gerobak yang berjalan jauh lebih lambat
dari berjalan kaki biasa. Apalagi Mahisa Agni dan kawan-kawannya
kelak akan dapat menyusul mereka berkuda. Patok-patok bambu
dan tali temali itu akan dapat dimasukkan ke dalam krenengkreneng
yang besar dan digantungkan pada sisi-sisi kuda sebelah
menyebelah.
Dengan demikian maka pekerjaan itu berjalan menurut tugas
masing-masing. Dengan penuh kesungguhan dan harapan, rakyat
Panawijen bekerja keras untuk kesejahteraan mereka dan anak cucu
mereka.
Kalau kemudian malam tiba, maka Mahisa Agni dengan kelelahan
beristirahat di padepokan. Sebelum ia ingin tidur, maka ia selalu
berbaring-baring di pendapa atau duduk di teritisan. Betapa sepinya
padepokan itu kini. Sekali-sekali Mahisa Agni masih juga sempat
mengenangkan masa-masa lampaunya. Ketika ia masih menghayati
padepokan ini dengan segenap penghuninya. Penghuni yang
masing-masing mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya.
Empu Purwa, gurunya yang telah menuntunnya dalam olah
kanuragan dan olah kebatinan. Yang menuntunnya menanggapi
kehadirannya di dunia namun juga menanggapi cinta kasih
Penciptanya. Kemudian Ken Dedes, gadis yang aneh baginya. Dan
seorang emban tua, ibunya.
Malam itu Mahisa Agni setelah membersihkan dirinya, berjalanjalan
di pekarangan rumahnya. Dicobanya untuk mengenal kembali
setiap tanaman yang ada di taman-taman. Bunga-bunga yang
pernah ditanamnya dan rerumputan yang pernah dipeliharanya.
Meskipun kini terkadang ia sama sekali tidak lagi tertuju kepada
tanam-tanaman itu, namun para cantrik agaknya telah meneruskan
pemeliharaan atas tanaman-tanaman itu, sehingga meskipun telah
sekian lama tidak disentuhnya, namun tanaman-tanaman itu masih
tetap terpelihara rapi.
Ketika ia melangkah terus, tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya
sebuah balai-balai bambu di teritisan. Balai-balai yang dulu itu
juga.
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Bukan saja balai-balai bambu itu,
tetapi dilihatnya pula sebatang seruling terselip pada dinding
rumah.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Tanpa sesadarnya ia
melangkah dan menjatuhkan dirinya dialas balai-balai itu. Terdengar
suaranya berderak dan terdengar pula nafas Mahisa Agni terputus
sesaat.
Namun kemudian anak muda itu menjulurkan tangannya, meraih
serulingnya yang telah lama terselip di situ.
Dengan hati yang tersentuh-sentuh oleh kepahitan perasaan,
Mahisa Agni membersihkan serulingnya. Perlahan-lahan diangkatnya
seruling itu dan dilekatkan ke mulutnya.
Sesaat kemudian melontarkan sebuah lagu menelusur sepi
malam. Menjerit tinggi di antara desir dedaunan yang digerakkan
oleh angin malam yang lembut, seakan-akan ikut pula berlagu,
mendendangkan sebuah kidung yang sedih.
Para cantrik yang masih duduk-duduk di belakang rumah terkejut
mendengar suara seruling itu. Serentak merela mengangkat wajahwajah
mereka, namun segera wajah-wajah itu tertunduk kembali.
Lagu itu adalah lagu yang murung. Dan wajah-wajah para cantrik
itu pun menjadi murung pula.
Sedang di ruang samping, para endang yang sedang bergurau
pun tiba-tiba berhenti. Seperti dikejutkan oleh suara hantu, mereka
memasang telinga mereka tajam-tajam. Dan mereka pun
mendengar suara seruling itu.
“Hem,” desis seorang endang.
“Kenapa?” bertanya yang lain.
“Lagu itu.”
“Kenapa?”
Endang itu tidak menjawab. Tetapi matanya menjadi sayu. Ia
adalah endang yang selalu melayani Ken Dedes pada saat gadis itu
masih berada di padepokan. Dan suara seruling itu telah
menuntunnya ke dalam suatu kenangan atas gadis padepokan yang
bernama Ken Dedes itu.
Tetapi kawan-kawannya tidak sempat bertanya kenapa ia
menjadi sedih. Bahkan kawan-kawannya pun segera menundukkan
wajah-wajah mereka. Terasa sebuah kenangan yang pahit telah
menyentuh-nyentuh hati mereka pula.
Tetapi tiba-tiba suara seruling itu menyentak berhenti, sehingga
baik para cantrik maupun para endang menjadi bertanya-tanya di
dalam hati. Namun mereka tidak tahu, bahwa Mahisa Agni yang
sedang meniup seruling itu telah dikejutkan oleh suara langkah
tergesa-gesa mendekatinya.
Langkah itu masih belum terlalu dekat. Tetapi telinga Mahisa
Agni yang tajam telah dapat mendengarnya. Langkah itu adalah
langkah seseorang yang berjalan ke arahnya.
Namun demikian suara serulingnya berhenti, suara langkah itu
pun berhenti pula. Betapapun Mahisa Agni memasang
pendengarannya baik-baik, tetapi ia kini sudah tidak mendengar
suara itu lagi.
Hati anak muda itu pun menjadi berdebar-debar. Berbagai
pertanyaan hinggap di dalam hatinya. Namun Mahisa Agni yang
cukup terlatih itu merasakan bahwa langkah itu bukanlah langkah
seseorang yang cukup mempunyai kecakapan untuk
menyembunyikan suara langkahnya. Dengan demikian Mahisa Agni
menjadi agak tenang. Mungkin langkah itu adalah langkah seorang
cantrik atau seorang endang yang ingin mengintipnya dan
bersembunyi dibalik sudut rumah itu.
Tetapi ketika Mahisa Agni itu berdiri dan berjalan menyusuri
jalan-jalan di taman, kembali ia terkejut. Didengarnya suara
memanggilnya perlahan-lahan, “Mahisa Agni.”
Agni berpaling. Dilihatnya sebuah bayangan di dalam gelap
berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Terasa dada Mahisa Agni
berdesir melihat bayangan itu. Dan sekali lagi terdengar bayangan
itu memanggilnya, “Agni.”
“Ibu,” desis Mahisa Agni sambil melangkah tergesa-gesa ke arah
bayangan yang ternyata adalah ibunya.
“Ya,” sahut ibunya, “aku ibumu.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa
hatinya menjadi berdebar-debar. Ibunya memerlukan datang
kepadanya. Pasti ada sesuatu yang penting.
“Marilah ibu,” Agni mempersilakan ibunya masuk ke dalam
rumah. Tetapi ibunya menjawab, “Aku adalah seorang emban tua di
sini, Agni.”
“Oh,” desah Mahisa Agni, “lalu?”
“Bawalah aku ke pendapa. Aku datang bersama dengan dua
orang prajurit Tumapel.”
“Kenapa ibu membawa prajurit-prajurit itu?”
“Aku tidak membawanya, tetapi kedua orang itu mendapat
perintah untuk mengantarku.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalau begitu marilah,” ia mempersilakan.
“Tidak sekarang Agni.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud
ibunya sehingga karena itu ia bertanya, “Kenapa?”
Ibunya memandang wajah Mahisa Agni dengan lembut. Terasa
sinar keibuan memancar dari sepasang mata yang redup di antara
kerut-kerut wajah yang telah dijalari oleh garis-garis umur.
“Marilah, duduklah di sini sebentar Agni,” minta ibunya.
Sebelum Mahisa Agni menjawab, terasa tangan ibunya menarik
lengannya, dan dituntunnya ke balai-balai di teritisan.
“Duduklah Agni.”
Seperti anak yang baru pandai berjalan di dalam bimbingan
ibunya, Mahisa Agni sama sekali tidak mengelak.
Ketika kemudian Mahisa Agni terhenyak di atas balai-balai itu,
maka ibunya pun segera duduk pula di sampingnya.
Sejenak mereka masih saling berdiam diri. Ibunya sedang
mencoba mengatur pernafasannya yang terengah-engah. Baru saja
ia menempuh perjalanan yang terlalu jauh bagi seorang perempuan
tua, meskipun di atas punggung kuda. Namun karena ia bukan
seorang penunggang kuda yang baik, maka terasa seluruh
badannya menjadi penat dan sakit. Jarak yang sama antara
Tumapel dan Panawijen telah ditempuh dalam waktu dua kali
bahkan tiga kali lipat, daripada waktu yang diperlukan oleh mereka
yang pandai berkuda dengan kecepatan yang sedang saja. Karena
itulah maka perempuan tua itu datang terlampau malam di
Panawijen.
Sedangkan Mahisa Agni, kini dirisaukan oleh berbagai dugaan
atas kedatangan ibunya. Namun segera ia menghubungkan
kedatangan ibunya itu dengan kedatangan serombongan prajurit
beberapa hari yang lalu. Karena itu, maka hatinya menjadi
berdebar-debar.
Baru sesaat kemudian terdengar ibunya berkata, “Agni. Aku
sangat penat. Tetapi aku ingin segera mendengar beberapa
persoalan dari mulutmu sendiri. Karena itu, biarlah kita bicarakan
dahulu beberapa persoalan tanpa didengar oleh para prajurit yang
mengantarkan aku itu, kemudian barulah aku dan prajurit-prajurit
itu kau jamu sekedarnya. untuk menghilangkan haus dan lapar.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, seperti sudah
seharusnya saja ia berbuat demikian.
“Agni,” berkata ibunya, “apakah beberapa hari yang lalu datang
beberapa orang prajurit kemari?”
Kembali Mahisa Agni mengangguk. Debar di dadanya terasa
semakin keras.
“Apakah mereka minta kepadamu supaya kau pergi ke Tumapel?”
Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk.
“Dan kau menolak.”
Mahisa Agni menggigit bibirnya. Pertanyaan itu sudah diduganya.
Namun terasa bahwa pertanyaan itu menyulitkannya.
“Agni. Kenapa kau menolak? Dua persoalan telah diberikan
kepadamu. Yang pertama, Akuwu Tunggul Ametung, seorang
Akuwu telah bersedia datang kepadamu untuk mewakili gurumu,
menerima lamarannya atas Ken Dedes, karena kau dianggap
sebagai kakaknya, meskipun bukan kakak kandungnya. Bukankah
Ken Dedes sudah tidak mempunyai keluarga seorang pun selain
ayahnya itu? Yang kedua, karena kau menolak, maka Ken Dedes
ingin menemuimu. Dan kau menolak pula. Apakah sebabnya Agni?”
Kini dada Mahisa Agni tidak lagi sekedar berdebar-debar. Tetapi
terasa dada itu kini bergelora. Sebenarnya ia telah jemu mendengar
pertanyaan-pertanyaan serupa itu. Sejak ia bertemu dengan Ken
Arok di padang Karautan, kemudian Mahendra yang menemuinya
atas perintah Witantra, seterusnya beberapa orang prajurit datang
lagi kepadanya atas perintah Ken Dedes. Dan kini, yang datang itu
adalah ibunya. Karena itu maka terasa dada Mahisa Agni menjadi
sesak karenanya. Sesak oleh berbagai persoalan yang diberati pula
oleh persoalan yang serupa, namun kini ibunyalah yang
membebankannya.
Justru karena itu, karena pertanyaan-pertanyaan yang terakhir
itu meluncur dari mulut ibunya, maka terasa bahwa sentuhansentuhan
pada dinding hatinya terasa menjadi semakin tajam.
Mahisa Agni yang menundukkan kepalanya, tidak segera dapat
menjawab. Nafasnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir,
namun jantungnya serasa akan berhenti berdetak.
“Agni,” desak ibunya, “kenapa kau tidak bersedia pergi ke
Tumapel untuk menemui Ken Dedes? Gadis itu perlu kedatanganmu.
Ia sampai kini, merasa bahwa hidupnya terlalu jauh terpencil dari
keluarganya. Ketika ia mendengar bahwa ayahnya pergi dari
Panawijen, ia menjadi pingsan. Satu-satunya harapan yang akan
dapat menenteramkan hatinya adalah kau, Agni. Kalau kau juga
menolak, maka gadis itu akan berputus asa. Ia akan merasa
hidupnya terlalu sepi. Sendiri dalam kesibukan hidup sehari-hari.”
Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya. Kata-kata itu seperti
mengetuk-ngetuk otaknya. Bahkan menusuk-nusuk seakan-akan
sedang mengorek dinding otaknya untuk membuat sebuah lubang
yang dalam. Alangkah sakitnya.
“Kau dengar Agni?”
Suara itu bagaikan derak gunung yang meledak, menggelegar di
atas kepalanya.
Mahisa Agni menjadi pening, perlahan-lahan ia mengangkat
kepalanya. Tetapi ia tidak memandang wajah ibunya.
Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh menembus kelamnya
malam, hinggap pada sinar-sinar delupak yang mengintip dari
lubang-lubang dinding dapur.
“Bagaimana Agni?”
“Tidak!” tiba-tiba suara Agni menyentak, sehingga ibunya
terkejut.
“Jangan membentak!” sahut ibunya.
“Aku tidak akan pergi. Ia tidak akan menjadi kesepian. Gadis itu
akan menjadi seorang permaisuri. Hidupnya akan dikelilingi oleh
dayang-dayang dan emban. Semua kata-katanya akan terjadi, dan
semua keinginannya akan terpenuhi. Apa gunanya aku lagi. Apa?”
“Agni,” potong ibunya, “tetapi kau tidak memandang ke dalam
hatinya. Kau hanya melihat tata lahiriahnya, Agni.”
“Kalau hatinya merasa kesepian, kalau hatinya tidak tertimbuni
oleh keinginan-keinginan lahiriah, maka apakah ia akan menerima
lamaran Akuwu sebelum ia berbicara dengan siapa pun? Sebelum ia
berbicara dengan ayahnya, atau dengan aku yang dianggap dapat
mewakili ayahnya?”
“Agni,” potong ibunya semakin keras. Sehingga suara Agni itu
pun terputus pula.
“Kau tidak dapat mengerti perasaan hati seorang perempuan.
Ken Dedes sudah cukup mengalami derita batin yang hampir tak
tertanggungkannya. Matinya Wiraprana, hilangnya Empu Purwa dan
kini kau masih akan menyiksanya dengan berbagai tuntutan yang
tak masuk akal. Apa yang dihadapi Ken Dedes saat itu bukanlah
keadaan yang wajar. Tetapi ia tersekap dalam satu ruang yang
sempit dengan himpitan perasaan yang tajam. Tiba-tiba ia melihat
uluran tangan dari seorang laki-laki yang dianggapnya sangat baik
kepadanya. Laki-laki yang telah membebaskannya dari Kuda
Sempana yang sangat dibencinya. Laki-laki yang dapat memberinya
harapan bagi masa-masa depannya sepeninggal Wiraprana. Laki-laki
yang berusaha menghiburnya pada waktu hatinya sedang pedih.
Apalagi, Agni? Apalagi? Tetapi laki-laki itu tidak akan berbuat
sekehendak hatinya dan liar. Ia masih ingat tata cara yang
meskipun tidak sepenuhnya, tetapi sejauh yang dapat dilakukan. Ia
bersedia datang kepadamu. Dan laki-laki itu adalah seorang Akuwu.
Nah, apa katamu?”
“Sejak semula aku tidak mencampuri urusannya dengan Akuwu
itu. Akuwu yang telah melarikannya, melindungi Kuda Sempana,
merampas anak orang. Aku telah mencoba mempertahankannya,
bahkan nyawaku hampir diambilnya. Kini, peristiwa itu sudah
dilupakan. Kini mereka menemukan jalan sendiri yang akan
membahagiakan, sedang luka di punggungku masih berbekas.
Bahkan ayahnya sendiri, Empu Purwa telah mengutuknya. Betapa
kecewa hati orang tua itu. Betapa kecewa pula hatiku. Orang
memandang setiap persoalan dari kepentingan sendiri.”
“Agni?” potong ibunya.
Tetapi Mahisa Agni masih berkata terus, “Apa yang aku peroleh
dari setiap usahaku mempertahankannya dari Kuda Sempana?
Apakah yang aku lakukan tidak senilai apa yang dilakukan oleh
Akuwu itu. Justru Akuwu yang melindungi perbuatan hina itu pula.”
“Agni, Apakah kau sedang menimbang jasa? He?”
Kini suara Agni benar-benar terpotong. Dan ibunya berkata terus,
“Jadi kau ingin mendapatkan imbalan dari jasamu itu? Agni. Aku
adalah seorang tua. Aku tahu apa yang tersimpan di dadamu.
Ternyata kau sama sekali tidak ikhlas melepaskan Ken Dedes. Nah,
katakanlah kepadaku Agni. Apakah kau masih menghendakinya.
Apakah kau masih menyimpan keinginan dalam dadamu, bahwa
suatu ketika kau sendiri akan mengawininya. Kalau benar-benar
demikian, aku, ibumu akan sanggup memenuhi keinginan itu. Aku
berkewajiban Agni. Kalau demikian, besok aku akan kembali ke
Tumapel. Aku akan membunuh Tunggul Ametung. Kau tidak
percaya? Aku yakin bahwa aku akan dapat melakukannya. Aku
dapat meracuninya. Kalau Akuwu itu sudah terbunuh, ke mana
larinya gadis itu? Ia akan kembali ke padepokan ini, meskipun aku
akan digantung karena pembunuhan itu. Nah, setelah ia berada di
padepokan ini seorang diri, kau dapat berbuat apa saja atasnya. Kau
dapat berbuat apa saja sekehendak hatimu. Tanpa memikirkan
perasaan gadis itu. Tanpa menimbang apakah itu dapat
membahagiakannya atau menghancurkannya.”
“Cukup! Cukup!” suara Agni menggelepar menggetarkan udara
malam yang sepi. Beberapa orang cantrik dan emban mendengar
suara itu. Namun mereka tidak berani berbuat sesuatu. Mereka
tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan mereka menyangka bahwa Agni
sedang marah kepada pembantu-pembantunya yang sedang
menyiapkan bendungan.
Suara ibunya terputus karenanya. Sesaat malam dicengkam oleh
kesepian yang menggelisahkan. Sepi, namun dada Mahisa Agni
sedang dibelit oleh kegelisahan yang dahsyat.
Yang terdengar kemudian adalah suara angin yang berdesir
menyentuh dedaunan. Kelopak dan mahkota-mahkota bunga
bergerak-gerak seperti sedang menggelengkan kepalanya melihat
betapa Mahisa Agni menahan gelora di dadanya.
Dengan serta-merta anak muda itu berdiri. Tatapan matanya
masih menyangkut di kejauhan, menembus gelapnya malam.
“Agni,” bisik ibunya.
Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Tetapi ia menjawab, “Ibu
telah mengorek luka di hatiku.”
“Jadi apakah maksudmu sebenarnya?”
“Aku sudah tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan Ken
Dedes. Aku kini sedang sibuk dengan kewajibanku sendiri.
Menyelesaikan bendungan itu atas perintah Empu Purwa untuk
mengganti bendungan yang pecah. Aku tidak ada waktu untuk
mengurusinya. Bagiku, rakyat Panawijen jauh lebih penting daripada
Ken Dedes itu seorang diri.”
“Jangan mengada-ada, Agni. Bendungan itu adalah pekerjaan
yang memerlukan waktu. Sedang Ken Dedes hanya memerlukan
kau tidak lebih dari sehari saja. Pagi-pagi kau dapat berangkat
berkuda ke Tumapel untuk menemuinya, maka di malam harinya
kau sudah berada di Panawijen kembali.”
“Tak ada waktu.”
“Jangan menunggu Akuwu marah. Akuwu masih dapat menahan
dirinya ketika ia mendengar bahwa utusan Ken Dedes kau tolak,
karena Ken Dedes masih akan berusaha memanggilmu. Dan aku
telah menyanggupkan diriku, karena aku adalah ibumu. Aku
menyangka bahwa betapapun kecilnya, aku masih mempunyai
pengaruh atas anakku. Tetapi ternyata aku keliru. Aku sama sekali
sudah tidak memiliki apapun lagi. Dan itu adalah salahku, karena
aku memisahkan kau sejak kanak-kanak. Adalah wajar kalau kau
sekarang merasa, bahwa ibumu tidak berarti lagi bagimu.”
Kembali terasa dada Mahisa Agni itu bergelora. Betapa sakitnya
ia mendengar kata-kata ibunya. Betapa pedihnya. Hampir-hampir ia
berteriak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit jantungnya.
Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar suara isak di
belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya ibunya menundukkan
kepalanya dalam-dalam. Dengan ujung kainnya, orang tua itu
menyeka matanya yang basah.
Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa dikehendakinya sendiri, tibatiba
ia terkenang kepada seorang perempuan tua yang menangisi
anaknya yang hampir mati dibunuhnya. Perempuan tua itu adalah
ibu Pasik. Meskipun perempuan itu pernah mengalami perlakuan
yang kasar dari anaknya, namun ketika anaknya terluka, maka anak
itu ditangisinya.
“Alangkah jauh bedanya. Kasih seorang ibu dibandingkan dengan
kasih seorang anak,” katanya di dalam hati. Dan kini ia melihat
ibunya itu menangis. Menangis karena sikapnya yang kasar.
Menangis karena ia menolak nasihatnya.
Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Dikenangnya kembali apa
saja yang diucapkan oleh ibunya. Dikatakannya bahwa ia tidak
dapat mengerti perasaan seorang perempuan.
“Hem,” Mahisa Agni berdesah di dalam hati, “kenapa hanya lakilaki
saja yang harus mengerti perasaan perempuan. Kenapa tidak
sebaliknya pula? Aku harus mencoba mengerti betapa hati Ken
Dedes akan menjadi pedih apabila aku tidak memenuhi
permintaannya. Tetapi kenapa Ken Dedes tidak mau mengerti,
betapa hatiku lebih-lebih akan menjadi parah. Kalau aku datang lagi
kepadanya.”
Tetapi ketika sekali lagi ia memandangi wajah ibunya yang
tunduk, maka hatinya menjadi luluh. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun
kembali menghenyakkan dirinya di samping ibunya. Dengan suara
yang terpatah-patah ia berkata, “Jangan menangis ibu.”
Ibunya menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni. Aku mencoba
untuk tidak menangis. Aku akan mencoba mengerti apa yang baru
saja terjadi. Aku tidak menyalahkanmu.”
Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Kini ia tidak dapat lagi
melawan perasaan seorang anak yang ingin mencoba berbakti
kepada ibunya. Karena itu katanya, “Ibu, aku akan memenuhi
permintaan ibu.”
Ibunya terkejut mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba ia
menengadahkan kepalanya sambil bertanya, “Bagaimana?”
“Aku akan pergi ke Tumapel, semata-mata karena permintaan
ibu.”
“Agni. Jadi kau bersedia?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya
“Oh,” ibunya berdesah. Sekali lagi ia menundukkan dan
terdengar ia bergumam, “Aku tahu betapa hatimu seperti tergores
sembilu. Namun Agni, pengorbanan akan bermanfaat bagi gadis
yang malang itu.”
Mahisa Agni tidak menjawab.
Kembali untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Kembali
terdengar di telinga mereka suara angin yang berdesir menyentuh
dedaunan.
Baru sejenak kemudian terdengar ibu Mahisa Agni itu berkata,
“Agni, di pendapa ada tamu. Prajurit-prajurit dari Tumapel yang
mengantarkan aku. Apakah kau akan menemui mereka?”
Keduanya pun kemudian melangkah ke pendapa untuk menemui
pengantar emban tua itu. Ketika Mahisa Agni telah sampai di
pendapa dan bercakap-cakap dengan kedua prajurit itu, maka
emban tua itu segera pergi ke belakang. Alangkah terperanjatnya
para endang dan cantrik melihat kehadirannya. Beberapa endang
memeluknya sambil menangis, dan yang lain lagi bertanya tidak ada
henti-hentinya.
“Sekarang,” berkata emban tua itu, “di pendapa ada tamu.
Apakah kalian masih bersedia merebus air dan menanak nasi?”
“Tentu. Tentu,” sahut para endang. Dan segera mereka pun
menyalakan api di dapur. Merebus air dan menanak nasi. Sementara
itu, para endang dan cantrik masih saja sibuk dengan berbagai
pertanyaan. Mereka ingin mendengar cerita tentang Ken Dedes.
Namun sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ibu Mahisa
Agni itu selalu saja dibayangi oleh perasaan sendiri, “Alangkah
kejamnya aku sebagai seorang ibu terhadap anak laki-lakiku. Aku
telah menyiksa perasaannya dan aku telah menyakiti hatinya.”
Tetapi ibu Mahisa Agni itu pun tidak sampai hati melihat Ken
Dedes merasa hidupnya menjadi terlampau pedih. Orang tua itu
merasa sangat kasihan kepada Ken Dedes, yang telah kehilangan
laki-laki tempat ia menggantungkan kasihnya, kemudian ayahnya
telah meninggalkannya pula.
Malam itu, emban tua pemomong Ken Dedes beserta dua orang
prajurit pengantarnya bermalam di padepokan. Kedua prajurit itu
merasa sangat heran, kenapa tiba-tiba saja Mahisa Agni bersedia
pergi ke Tumapel. Prajurit itu telah mendengar cerita
kawankawannya,
bahkan Kebo Ijo telah menyebarkan berita, bahwa
Mahisa Agni sedang bermanja-manja, menolak permintaan Ken
Dedes untuk menemuinya.
Tetapi kedua prajurit itu tidak mau pening kepala memikirkan
persoalan yang tak diketahuinya. Mereka hanya menyimpan
keheranannya itu di dalam hatinya. Kemudian karena lelah mereka
segera jatuh tertidur setelah mendapat jamuan makan dan minum.
Pagi-pagi benar Mahisa Agni telah bangun. Ketika ayam jantan
berkokok untuk yang terakhir kalinya, dengan tergesa-gesa Mahisa
Agni menemui beberapa orang kawan-kawannya, ia minta izin untuk
dua hari meninggalkan Panawijen.
“Kau akan pergi ke mana Agni?” bertanya salah seorangnya
kawannya.
“Aku harus pergi ke Tumapel,” jawab Agni.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku mempunyai keperluan keluarga yang cukup
penting.”
“Tetapi kau akan segera kembali?”
“Tentu. Hanya dua hari satu malam.”
Kawan-kawannya tidak dapat mencegahnya. Dan pagi itu pula
Mahisa Agni pergi ke Tumapel bersama ibunya dan kedua orang
prajurit pengantarnya.
Alangkah pepat hati Mahisa Agni di sepanjang jalan. Ketika terik
matahari menyengat tubuhnya, terasa betapa panasnya. Tetapi
panas matahari itu masih belum sepanas hati di dadanya.
Ibunya yang dapat mengerti sepenuhnya, betapa pedihnya hati
anak laki-lakinya itu, hampir tidak berkata sepatah kata pun di
sepanjang perjalanan. Kedua prajurit itu pun hampir berdiam diri
pula. Hanya sekali-sekali ibu Mahisa Agni itu menawarkan minum
atau makanan yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan.
Namun setiap kali Mahisa Agni hanya menggelengkan kepalanya
sambil menjawab, “Terima kasih, Bibi.”
Tetapi berbeda dengan kedua prajurit yang mengantarkan itu.
Dengan serta-merta mereka memungut jenang alot yang disodorkan
kepada mereka. Dua tiga potong sekaligus.
“Alangkah enaknya,” gumam mereka.
“Jenang itu dibuat oleh para endang di padepokan,” berkata
emban tua itu.
“Kami tidak melihat para endang itu, Bibi,” berkata salah seorang
dari kedua prajurit itu.
“Mereka bersembunyi di belakang. Mereka malu menampakkan
dirinya di hadapan para prajurit-prajurit muda yang tampan seperti
kalian.”
Kedua prajurit itu tertawa. Namun mulut mereka masih saja
bergerak-gerak mengunyah jenang alot dari Panawijen. Emban tua
itu tersenyum pula, meskipun hanya bibirnya bukan hatinya. Sebab
ketika ia memandang wajah Mahisa Agni dengan sudut matanya,
dilihatnya wajah anak muda itu masih juga tegang. Senda gurau itu
sama sekali tidak dapat mempengaruhi kepahitan perasaannya.
Karena itu emban tua itu tidak bergurau lagi. Kini bahkan ia ikut
merasakan sedalamnya betapa risaunya hati anaknya.
Perjalanan itu terasa terlampau lambat bagi Mahisa Agni. Kalau ia
pergi seorang diri, maka jarak yang telah ditempuhnya akan berlipat
tiga empat kali dari jarak yang dilampauinya kini. Tetapi ia tidak
dapat memacu kudanya. Ibunya bukanlah seorang penunggang
kuda yang baik.
Meskipun perjalanan itu terasa terlampau lambat, namun setapak
demi setapak mereka maju juga. Tumapel menjadi semakin lama
semakin dekat.
Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar ketika kudakuda
itu mulai menginjakkan kaki-kakinya di atas jalan-jalan kota.
Gemeretakan kakinya di atas batu terasa seperti gemeretak jantung
di dalam dada Mahisa Agni menghentak-hentak tiada hentinya.
Betapa ramainya jalan-jalan kota itu, namun terasa di hati Mahisa
Agni, alangkah sunyi hidupnya. Sekali-sekali ia berpaling ke arah
perempuan tua yang duduk di atas punggung kuda berpegangan
erat pada kendali. Sekali-sekali ia mencoba untuk memandangi
rumah-rumah yang berserakan di pinggir jalan. Namun semuanya
hampir tak menyentuh perasaannya yang kosong.
Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit
sudah menjadi suram. Matahari telah terlampau rendah untuk dapat
menyentuh ujung pepohonan dengan sinarnya, meskipun tepi-tepi
mega di langit masih juga diwarnai oleh cahayanya yang
kemerahmerahan.
Dada Mahisa Agni berdentang semakin keras ketika di
hadapannya kemudian terbentang tanah lapang yang luas. Alunalun
Tumapel. Di sisi alun-alun itulah berdiri dengan megahnya
Istana Tumapel. Istana Tunggul Ametung. Dan di dalam istana
itulah ia harus menjumpai Ken Dedes.
Debar hati Mahisa Agni hampir tak dapat dikuasainya ketika
mereka berhenti di samping regol alun-alun. Satu-satu mereka
berloncatan turun untuk kemudian menuntun kuda mereka,
memasuki regol halaman belakang Istana Tumapel.
Seorang penjaga segera menyapa mereka, tetapi ketika mereka
melihat kedua orang kawannya, maka mereka berempat pun segera
dipersilakan masuk.
Mereka kemudian berhenti di regol dalam, halaman belakang
istana. Prajurit itu pun kemudian berkata kepada Mahisa Agni,
“Tuan tunggu di sini. Kami, beserta Bibi emban, akan masuk untuk
berusaha menghadap Akuwu, mohon izin untuk Tuan, sebelum
Tuan menemui Tuan Putri.”
Wajah Mahisa Agni segera menjadi merah. Tiba-tiba ia menyahut
dengan tegangnya, “Aku datang bukan atas kehendakku sendiri.
Kenapa aku harus menunggu izin untuk itu?”
Kedua prajurit itu terkejut mendengar kata-kata itu sehingga
mereka menjadi saling berpandangan. Namun emban tua itulah
yang kemudian menjawab, “Adalah menjadi adat di sini, Agni. Adat
istana, bahwa setiap orang pasti mendapat izin dahulu untuk
bertemu dengan keluarga Akuwu.”
“Aku tidak hendak bertemu dengan keluarga Akuwu. Tetapi Ken
Dedeslah yang memanggil aku untuk menemuinya.”
“Ya. Demikianlah,” sahut emban tua itu, “maksudku, untuk
menemui orang-orang yang dianggap penting, kita memerlukan izin
lebih dahulu sesuai dengan tingkat orang yang ingin kita temui.
Kadang-kadang izin para penjaga sudah cukup kuat bagi kita,
apabila kita ingin menemui keluarga kita yang tinggal di dalam
istana apabila keluarga kita itu seorang pelayan atau seorang juru
masak. Tetapi kita memerlukan izin seorang pimpinan peronda dari
pengawal istana apabila kita ingin menemui seorang pejabat
kepujanggaan atau yang setingkat dengan itu. Kini meskipun atas
panggilannya, namun kau ingin menemui seorang bakal Permaisuri
Akuwu, sehingga kau memerlukan izin dari orang yang paling
berkuasa di dalam istana ini. Orang itu adalah Akuwu Tunggul
Ametung.”
“Bagaimana kalau aku tidak diizinkan masuk? Apakah dengan
demikian aku masih tetap seorang yang tidak tahu perasaan
perempuan? Apakah aku masih orang yang tidak mempunyai belas
kasihan dan masih seorang yang dibakar oleh nafsunya sendiri?”
“Tidak, tidak Agni,” jawab ibunya tergesa-gesa, “jangan berpikir
terlampau jauh. Izin bagimu seakan hanyalah suatu sikap resmi dari
Akuwu, supaya kau tidak melanggar adat dan tata cara utama.
Kedatanganmu sebenarnya memang sudah lama ditunggu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu
menekan perasaannya. Ia datang bukan atas kehendaknya, bahkan
ia datang dengan perasaan yang sangat berat. Kini ia masih harus
menunggu di luar regol dalam untuk menunggu izin baginya.
Alangkah kecil dirinya. Seolah-olah ia tidak lebih dari segumpal
tanah liat yang tidak dapat menolak untuk dibentuk menjadi apapun
juga. Ia harus datang, kemudian dengan rendah hati ia harus
menunggu izin masuk. Ia baru dapat masuk kalau izin itu telah
diberikan kepadanya dari orang yang turut berkepentingan atas
kehadirannya.
“Mungkin Akuwu akan mempunyai banyak syarat untuk
mengizinkan aku masuk,” katanya di dalam hati, “mungkin aku
harus melepaskan beberapa kepentingan rakyat Panawijen, atau
mungkin banyak hal-hal yang tidak dapat aku penuhi.”
Mahisa Agni menggeretakkan giginya, kemudian suara di hatinya
itu berkata lagi, “Kalau demikian, kalau banyak kesulitan yang aku
hadapi, lebih baik aku kembali ke Panawijen.”
Mahisa Agni itu terkejut ketika ibunya, emban tua itu berkata,
“Nah, Agni. Tunggulah di sini. Jangan terlalu dipengaruhi oleh
berbagai prasangka. Aku akan segera kembali.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab
singkat, “Silakan. Aku akan menunggu. Tetapi tidak terlalu lama.
Kalau aku nanti menjadi jemu menunggu, maka aku akan kembali
ke Panawijen.”
Ibu Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
membantahnya, namun ia berkata, “Aku akan berusaha secepatnya
kembali.”
Kemudian bersama kedua prajurit itu Ibu Mahisa Agni berjalan
memasuki halaman, langsung ke serambi belakang. Meskipun tidak
terucapkan, namun kedua orang prajurit kawan seperjalanan ibu
Mahisa Agni itu, menjadi heran melihat sikap Mahisa Agni.
Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi atasnya? Tetapi kedua
prajurit itu saling berdiam diri.
Di depan regol Mahisa Agni menunggu kedua orang prajurit
beserta ibunya dengan gelisah. Sekali ia berdiri dan berjalan
mondar-mandir, namun kemudian ia menghenyakkan dirinya, duduk
di atas batu kerikil yang berserak-serak di halaman.
Ia berusaha untuk menenangkan hatinya. Namun justru semakin
lama ia menunggu, maka debar jantungnya seakan-akan menjadi
semakin cepat. Berkali-kali ia berdiri, dan mencoba melihat ke arah
ibunya menghilang. Namun emban tua itu masih belum juga
menampakkan dirinya. Bahkan semakin lama malam menjadi
semakin gelap, sehingga karena itulah maka Mahisa Agni menjadi
semakin gelisah karenanya.
“Terlalu,” gumamnya kepada diri sendiri, “aku seakan-akan
dijadikan barang mainan yang menyenangkan. Dipanggilnya aku ke
Tumapel, kemudian dibiarkan aku di sini menjadi makanan nyamuk.
Hem.”
Di sana-sini Mahisa Agni kemudian melihat beberapa lampu telah
dinyalakan. Di pinggir-pinggir halaman dan di regol. Sehingga
karena itulah maka Mahisa Agni itu seakan-akan menjadi tidak
dapat bersabar lagi. Tenaganya akan lebih bermanfaat apabila ia
berada di Panawijen, membantu membuat tambang-tambang ijuk
dan patok-patok bambu yang akan sangat berguna bagi
bendungannya, daripada duduk sambil menggaruk-garuk
punggungnya di depan regol istana Tumapel.
Tiba-tiba kejemuan Mahisa Agni memuncak. Dengan serta-merta
ia meloncat berdiri dan berdesis, “Lebih baik aku kembali ke
Panawijen.”
Namun sebelum Mahisa Agni melangkah meninggalkan regol itu,
tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya dua orang prajurit datang
kepadanya.
“Hem,” geram Mahisa Agni, “baru sekarang mereka datang
sesudah membiarkan aku duduk di sini hampir satu senja.”
Tetapi Mahisa Agni itu menjadi sangat kecewa. Ternyata
bayangan dua orang prajurit yang mendekat itu, setelah menjadi
semakin dekat, sama sekali bukan kedua prajurit kawan ibunya.
Sehingga dengan demikian kejemuan Mahisa Agni kembali merayapi
kepalanya.
Ternyata kedua prajurit itu pun terkejut pula melihat Mahisa Agni
berdiri di samping regol. Salah seorang daripadanya segera
bertanya, “Siapa kau?”
Mahisa Agni memindangi keduanya dengan seksama. “Hem,”
geramnya di dalam hati. Namun ia menjawab sambil mengangguk
hormat, “Aku Mahisa Agni dari Panawijen.”
Kedua prajurit itu berhenti beberapa langkah dari Mahisa Agni.
Dicobanya untuk mengenalnya di dalam keremangan malam.
“Nyalakan lampu itu,” berkata salah seorang daripadanya.
Yang lain pun kemudian melangkah mendekati lampu yang
tersangkut di regol. Agaknya mereka memang sedang bertugas
menyalakan lampu-lampu. Dengan batu titikan dan dimik belerang,
maka prajurit itu membuat api. Ketika lampu itu telah menyala,
maka cahayanya yang kemerah-merahan langsung memancar dan
jatuh di atas wajah-wajah ketiga laki-laki yang berdiri di depan
regol
itu.
“Hem,” geram salah seorang dari kedua prajurit itu, “aku belum
pernah mengenalmu.”
Mahisa Agni yang sedang dibakar oleh kejengkelannya terhadap
kedua prajurit dan ibunya, menjawab, “Aku juga belum
mengenalmu.”
Kedua prajurit itu saling berpandangan. Jawaban itu memang
aneh bagi mereka, sehingga kemudian salah seorang dari kedua
prajurit itu berkata, “Kenapa kau berada di sini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang
sudah diduganya. Maka jawabnya, “Aku menunggu di sini,
menunggu izin untuk menemui Ken Dedes.”
“Ken Dedes, siapa?”
“Ken Dedes yang menurut pendengaranku akan diangkat menjadi
Permaisuri Tunggul Ametung.”
“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?”
“Ya. Akuwu Tunggul Ametung.”
Kembali kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka memang
pernah mendengar dari para pemimpin mereka bahwa Akuwu akan
mengambil seorang permaisuri. Dan permaisuri itu kini telah berada
di dalam istana. Bahkan banyaklah yang mereka dengar desasdesus
tentang putri bakal permaisuri itu. Namun demikian, mereka
tidak dapat mengerti bahwa seorang yang akan menemuinya
datang seorang diri dan berdiri saja di muka regol halaman dalam.
Kenapa ia menunggu di tempat itu?
Karena itu maka kedua prajurit itu pun bertanya pula. “Apakah
keperluanmu bertemu dengan Putri.”
“Aku tidak tahu. Bukan aku yang berkepentingan, tetapi Ken
Dedes.”
Jawaban Mahisa Agni itu pun terdengar terlampau aneh bagi
kedua prajurit itu. Apalagi Mahisa Agni yang sedang berhati pepat
itu, tampaknya menjawab pertanyaan mereka dengan jawabanjawaban
yang tidak mereka mengerti, bahkan hampir seperti acuh
tak acuh saja.
“Apakah kau salah seorang dari keluarganya?”
Mahisa Agni menjadi semakin jengkel mendengar pertanyaanpertanyaan
itu. Ia datang karena Ken Dedes memerlukannya. Kini ia
terpaksa menunggu dan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang
sama sekali tak menyenangkannya. Dalam keadaan itu, Mahisa Agni
benar-benar kehilangan kesabarannya. Ia dapat berlapang dada
menghadapi lawan dalam perkelahian, namun menghadapi keadaan
ini, di mana hatinya sendiri seakan-akan tersayat-sayat, maka
sikapnya pun menjadi jauh berbeda dengan sikapnya sehari-hari.
“Apakah kau keluarganya?” terdengar prajurit itu mendesak.
Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya.”
“Apakah hubungan keluarga itu? Paman, kakak atau apa?”
“Kakak. Aku adalah kakaknya,” sahut Mahisa Agni. Kedua prajurit
itu mengerutkan keningnya. Mungkin anak ini memang kakaknya,
sebab menurut pendengarannya Ken Dedes itu pun datang dari
Panawijen. Tetapi mungkin juga bukan. Mungkin orang yang
mengaku kakak calon permaisuri ini, sekedar orang yang ingin
mendapat keuntungan saja daripadanya. Maka kembali terdengar
pertanyaan prajurit itu, “Apakah kau kakak kandungnya?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia ragu-ragu untuk
menjawab.
Kalau pertanyaan itu diiakan, maka jangan-jangan Ken Dedes
telah mengatakan, bahwa ia adalah anak tunggal Empu Purwa.
Tetapi Mahisa Agni yang sedang dirisaukan oleh berbagai persoalan
itu tidak mau pening kepala memikirkannya, maka jawabnya,
“Bukan, aku bukan kakak kandungnya. Aku adalah kakak
angkatnya.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi di dalam
kepala mereka, merayaplah kecurigaan atas anak muda yang
mengaku kakak bakal permaisuri itu. Karena itu, maka salah
seorang dari mereka berkata, “Sebaiknya kau tidak menunggu di
sini. Mari, ikutlah kami ke gardu regol pertama.”
Mahisa Agni menjadi makin tidak senang. Katanya, “Aku telah
melewati regol pertama itu.”
“Kenapa kau dapat masuk sebelum kau mendapatkan izin?
Kenapa baru di sini kau menunggu izin itu?”
“Aku tidak tahu. Aku datang berempat, dua orang prajurit,
seorang emban tua dan aku.”
“Siapakah nama prajurit-prajurit itu?”
Kembali Mahisa Agni tidak dapat menjawab. Kemarin ia
mendengar juga nama itu di sebut-sebut oleh sesama mereka.
Tetapi sejak pertama, Agni sudah diliputi oleh kegelapan pikiran,
maka ia sama sekali tak memperhatikan nama kedua prajurit itu.
“Siapa?” desak mereka.
Mahisa Agni menggeleng, “Aku tak tahu nama-nama mereka.”
“Hem,” prajurit itu menarik nafas. Kemudian mereka berkata
pula. “Marilah ikut aku ke gardu pertama.”
“Aku sudah melampauinya. Kuda-kuda kami berada di dalam
regol di samping gardu itu.”
“Ikut kami,” berkata prajurit itu pula, “nanti kami akan
menyelesaikan izin itu.”
“Bukan salahku aku berada di sini. Kedua prajurit yang membawa
aku seharusnya tahu, bahwa aku harus menunggu di regol pertama,
tetapi kenapa mereka membawa aku kemari?”
Kedua prajurit itu menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka curiga
namun jawaban Mahisa Agni yang jujur itu hampir meyakinkan
mereka. Namun kedua prajurit itu menjadi kurang senang atas sikap
yang seolah-olah acuh tak acuh. Sebab mereka sama sekali tidak
tahu, bahwa perasaan Mahisa Agni benar-benar dirisaukan oleh
keadaan dirinya sendiri.
Tetapi kedua prajurit yang sedang bertugas itu tidak dapat
berbuat dalam kebimbangan. Bagi mereka lebih baik ditempuh jalan
yang paling dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu maka
berkata salah seorang dari mereka, “Aku terpaksa membawamu ke
gardu pertama, Ki Sanak. Aku sama sekali tidak berkeberatan atas
kehadiranmu. Tetapi sebaiknya kau tidak membuat kami ragu-ragu.”
Barulah kini Mahisa Agni menyadari, bahwa ia berhadapan
dengan dua orang yang sedang bertugas. Ia tidak dapat
menyalahkan mereka, sebab apa yang dapat dikatakannya tentang
dirinya sama sekali kurang meyakinkan kedua prajurit yang sedang
bertugas itu. Apabila kemudian kejengkelan Mahisa Agni itu
memuncak, maka kejengkelannya itu ditujukannya kepada kedua
prajurit kawan seperjalanan ibunya. Seharusnya mereka tahu apa
yang harus dilakukannya. Namun Mahisa Agni yang sedang sibuk
dengan perasaannya sendiri itu tidak mau membuat persoalanpersoalan
baru. Baginya lebih baik menghindarkan diri dari segala
persoalan yang dapat menambah kesulitan-kesulitannya. Karena
itulah maka kemudian Mahisa Agni berkata, “Baik. Aku akan ikut
dengan kalian. Tetapi aku tidak akan menunggu di gardu pertama.
Aku sudah terlalu lama menunggu di sini.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Lebih baik bagiku kembali ke Panawijen.”
“Bukan maksud kami mengusir kau, Ki Sanak. Tetapi kami ingin
meyakinkan diri kami sendiri, bahwa kau benar-benar berhak untuk
masuk ke istana.”
“Terima kasih,” jawab Agni, bahkan kemudian ditambahkannya,
“aku terpaksa kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan nanti
kepada kedua prajurit dan emban tua yang datang bersama mereka
itu, bahwa aku tidak sabar menunggu.”
Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian berkata salah
seorang dari mereka, “Marilah ke gardu pertama.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Ia berjalan saja di samping kedua
prajurit yang sedang bertugas itu.”
(bersambung )