Pelangi di Langit Singosari 03

Jilid 7

PRAJURIT KAWAN KEBO IJO itu tertawa. Ketika debu yang

dihambur-hamburkan oleh kuda-kuda itu telah hilang bersama

hilangnya Witantra di belakang tikungan, berkatalah prajurit itu,

“Witantra adalah seorang prajurit yang tidak saja tegas dalam setiap

tindakan, namun ia adalah kakak seperguruan Mahendra. Kau lihat,

bahwa tangan-tangannya yang besar itu pasti akan mampu

memutar lehermu sampai patah.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kini sampailah gilirannya

untuk menjadi kecewa. Dikaguminya kejantanan kakak seperguruan

Mahendra itu dahulu, ketika Kebo Ijo berbuat curang. Namun tibatiba

kini demikian saja ia mempereayai segala cerita-cerita kosong

itu. Meskipun demikian, belum juga timbul maksudnya untuk

berbuat sesuatu. Dibiarkannya prajurit yang tinggi besar itu

mendorongnya terus. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang

membawa cemeti masih berjalan di belakangnya, maka Mahisa Agni

tersenyum di dalam hati. Masih juga dilihatnya di antara orangorang

yang terlalu bernafsu untuk kemenangan sendiri itu, orangorang

yang dapat berpikir tenang.

Perjalanan mereka semakin lama semakin desak pula dengan

rumah Witantra. Kebo Ijo semakin lama menjadi semakin gembira.

Ia menyangka, bahwa kakak seperguruannya akan menyelesaikan

masalah ini dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan Kakang

Witantra marah pula kepada Wiraprana. Apabila demikian, maka

Wiraprana itu pasti akan ditantangnya, berkelahi. Seorang lawan

seorang, Seperti juga kebiasaan Kakang Witantra menghadapi

lawan-lawannya.

Tetapi Kebo Ijo itu heran melihat Mahendra berjalan sambil

menunduk. Berbeda dengan Kebo Ijo, maka Mahendra itu menjadi

gelisah. Katanya di dalam hati, “Bagaimanakah nanti akibatnya,

kalau kakak seperguruannya itu menyuruh untuk menyelesaikan

perkelahian di hadapannya? Mudah-mudahan para prajurit itu

menuntut Mahisa Agni dalam persoalan yang lain. Penghinaan,

misalnya. Atau membuat gaduh di dalam kota. Atau apapun yang

harus ditindak oleh para petugas.”

Akhirnya sampai juga mereka di halaman rumah Witantra itu.

Beberapa prajurit segera menahan orang-orang lain untuk tidak

masuk ke dalam halaman yang luas itu. Hanya beberapa orang yang

dapat dianggap sebagai saksi sajalah yang mereka perbolehkan

masuk di samping Mahisa Agni dan Mahendra Sendiri.

Witantra sedang duduk di atas sebuah amben kayu di dalam

rumahnya. Ketika ia melihat beberapa orang masuk ke pekarangan

segera ia berdiri dan menyambut mereka di pintu.

Kepada prajurit yang membawa Wiraprana ia berkata, “Bawa

anak muda itu masuk bersama Mahendra dan Kebo Ijo.”

Sesaat kemudian mereka telah duduk di amben kayu itu pula.

Dengan tajamnya ia memandangi wajah Mahisa Agni. Namun ketika

matanya beradu dengan mata Mahisa Agni yang seakan-akan

menyala Witantra itu mengalihkan pandangannya ke arah

Mahendra, sambil berkata, “Kenapa kalian berkelahi?”

Kembali yang mendahului menjawab adalah Kebo Ijo, “Sudah

aku katakan sebabnya Kakang.”

Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada

Mahisa Agni, “Aku sangat menyesal bahwa hal ini terjadi. Kenapa

kau berbuat demikian?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan

hatinya.

Peristiwa ini benar-benar tak menyenangkannya. Ia ingin

segalanya segera selesai, kemudian cepat-cepat pulang ke

Panawijen. Tetapi Mahisa Agni itu pun tidak perlu terlalu tergesagesa,

karena yang ditakutkannya, Kuda Sempana masih dilihatnya di

dalam kota.

Meskipun demikian, maka sudah pasti Mahisa Agni tidak mau

menjadi korban dari perbuatan-perbuatan yang memuakkan itu.

maka dengan tenangnya ia menjawab, “Witantra, apakah kau dapat

mempereayai kata-kata Kebo Ijo?”

“Aku menjadi saksi,” tiba-tiba teriak salah seorang anak muda

kawan Kebo Ijo.

“Aku juga,” teriak yang lain.

Dan yang terakhir prajurit kawan Kebo Ijo itu pun berkata, “Aku

juga menjadi saksi.”

Witantra mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri. Dan

tiba-tiba ia memandang kepada prajurit Yang bereemeti, “Apakah

yang akan kau katakan?”

Prajurit yang bereemeti itu sebenarnya akan mengatakan

sesuatu, namun belum mendapat kesempatan. Ketika Witantra itu

bertanya kepadanya segera ia membungkuk hormat sambil

menjawab, “Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku tidak dapat

menjadi saksi, sebab aku datang setelah perkelahian itu

berlangsung.”

Kembali Witantra mengerutkan keningnya, kemudian kepada

prajurit kawan Kebo Ijo ia bertanya, “Apakah kau melihat sebab

perkelahian itu?”

“Ya tentu,” sahut prajurit itu, “aku datang lebih dahulu sebelum

aku mengajak beberapa orang kawan untuk menangkap anak

Panawijen itu.”

Witantra mengangguk-anggukkan. kepalanya, Meskipun demikian

ia masih bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah benar kata

mereka?”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak!”

“Bohong!” bentak prajurit kawan Kebo Ijo.

“Aku yang bertanya kepadanya,” potong Witantra. Prajurit itu

pun terdiam.

Kini Witantra melihat sikap-sikap yang kurang wajar dari adik

seperguruannya. Ia melihat sikap Kebo Ijo yang agak berlebihlebihan.

Ia melihat pemuda-pemuda itu pun bersikap kurang wajar

pula karena itu justru ia menjadi curiga. Dengan tajamnya

dipandangnya wajah Mahendra. Dan ketika terasa tatapan mata

kakak seperguruannya itu, maka Mahendra pun segera

menundukkan wajahnya.

Kemudian sekali lagi Witantra itu bertanya kepada Mahisa Agni,

“’Wiraprana, apakah yang sebenarnya terjadi?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kali ini ia benar-benar

ingin melihat, sampai di mana kejujuran yang dimiliki oleh adik-adik

seperguruan Witantra itu. Karena itu, sebelum ia menjawab

pertanyaan itu, maka katanya, “Witantra. Cobalah kau bertanya

kepada Mahendra. Biarlah ia berkata di bawah saksi Yang Maha

Agung.

Tiba-tiba terasa dada Mahendra itu berdesir. Terasa keringat

dinginnya mengalir membasahi tubuhnya. Dan sebenarnyalah

Witantra itu berpaling kepadanya. Sejenak Witantra itu melihat

perubahan wajah adik seperguruannya itu. Karena itu maka ia

menjadi semakin curiga. Karena itu, maka Witantra ingin mendapat

kepastian dari persoalan- persoalan yang dihadapinya. Kepada

Mahendra ia bertanya, “Mahendra, demi Yang Maha Agung

katakanlah sebenarnya apa yang telah terjadi. Apakah Wiraprana

benar-benar telah menghinamu?”

“Benar Kakang,” jawab kebo Ijo.

Tetapi ia terkejut ketika Witantra membentaknya, “Diam kau

Kebo Ijo!”

Mahendra kini benar-benar dihadapkan pada suatu keadaan yang

sulit. Terjadilah perjuangan di dalam dadanya. Sekali-kali ia melihat

Kebo Ijo dan beberapa anak muda yang lain dengan sudut matanya.

Hampir saja ia menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika terpandang

olehnya pancaran mata kakak seperguruannya, maka mulutnya

seakan-akan tergetar hendak mengatakan sesuatu.

“Mahendra, jawablah pertanyaanku!” desak kakak

seperguruannya.

Ruang itu menjadi semakin tegang. Kebo Ijo, anak-anak muda

yang lain, prajurit kawan Kebo Ijo dan beberapa prajurit yang lain,

di antara yang membawa cambuk itu.

Tiba-tiba semua yang memandang wajah Mahendra itu menjadi

terkejut bukan main. Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain, para

prajurit dan bahkan Witantra dan Mahisa Agni sendiri. Mereka

melihat, perlahan-lahan Mahendra menggelengkan kepalanya.

“Apa?” bertanya Witantra hampir berteriak, “jadi Wiraprana itu

sebenarnya tidak menghinamu dan menghina anak-anak Tumapel?”

Sekali lagi Mahendra menggeleng.

“Lalu apakah yang telah terjadi?”

“Aku ingin membalas dendam,” berkata Mahendra perlahan-lahan

sekali

Witantra itu pun menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia terkejut

ketika ia mendengar suara Kebo Ijo dalam nada yang tinggi, “Tidak

Kakang. Kakang Mahendra terlalu baik hati. Sebenarnya anak

Panawijen itu telah menghina kami. Karena…”

Kata-kata Kebo Ijo itu terputus. Betapa ia terkejut dan semua

orang pun terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar Kebo Ijo itu

mengaduh. Anak muda itu tergeser beberapa jengkal sehingga

hampir saja ia terguling. Dengan serta-merta tangannya meraba

pipinya yang tampak kemerah-merahan. Ternyata Witantra itu telah

menamparnya. Dengan tajam kakak seperguruannya itu

membentaknya, “Jagalah mulutmu Kebo Ijo!”

Kebo Ijo itu menjadi gemetar. Alangkah malunya. Karena itu

maka ia pun menjadi marah bukan buatan. Tetapi ia tidak berani

berbuat apapun kepada kakaknya.

“Jadi kalian semua telah mencoba berbohong?” bentak Witantra

dengan marahnya, “Apakah sebabnya kalian berbuat demikian.

Kenapa?”

—–

….. Kebo Ijo mengaduh, dia tergeser beberapa jengkal sehingga

hampir saja ia tergulingi. Ternyata Witantra telah menamparnya.

—–

Ruangan itu kembali menjadi sunyi. Hanya nafas Kebo Ijo sajalah

yang terdengar terengah-engah. Sedang matanya menjadi merah

pula karena marahnya.

Witantra yang kemudian menjadi sangat, marah pula berkata

kepada prajurit kawan Kebo Ijo, “Jadi kau pun ikut pula dalam

kebohongan ini?”

Prajurit kawan Kebo Ijo itu benar-benar menjadi bingung. Ia

sama sekali tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan

itu. Karena itu, ia hanya berdiri saja seperti patung.

Karena prajurit itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi

Witantra membentaknya, “He. Kau juga ikut berbohong?”

“Tidak. Tidak,” jawabnya tergagap, “aku tidak sengaja.”

“Apa yang tidak sengaja,” desak Witantra.

Kembali prajurit itu menjadi bingung. Dengan tanpa berpikir

panjang ia menjawab, “Aku tidak bermaksud berbohong: Tetapi aku

menyangka bahwa hal itu benar-benar terjadi.”

“Jadi kau tidak melihat sendiri?”

“Tidak,” prajurit itu menggeleng, “aku mendengar dari Kebo Ijo.”

Kebo Ijo menjadi semakin bergetar mendengar pengaduan itu.

Tetapi ia tidak dapat, berbuat apa-apa. Tetapi Witantra itu masih

membentak bawahannya, “Kau menjadi pereaya tanpa penyelidikan

lebih lanjut?”

Prajurit itu menjadi semakin bingung. Akhirnya ia menjawab, “Ya.

Aku begitu saja pereaya, sebab Kebo Ijo adalah kawanku sendiri.”

“Itulah sebabnya, maka anak-anak muda itu benar-benar

menjadi liar.”

Meskipun Wiraprana sebenarnya tidak mengatakan, namun hati

kecil kalian telah berkata sendiri, ‘Kalian benar-benar menjadi liar,

karena kawan-kawan kalian, di antaranya prajurit, selalu

membesarkan hati kalian. Dengan demikian kalian merasa aman

untuk berbuat apa saja sekehendak kalian’.

Ruangan itu menjadi sepi kembali. Dan kembali Mahisa Agni

mengagumi kakak seperguruan Mahendra itu. Ia benar-benar

seorang prajurit yang berpegang teguh pada sumpahnya sebagai

prajurit. Meskipun Mahendra, Kebo Ijo adalah adik seperguruannya,

namun ia berkata salah apabila salah dan ia akan berkata benar

apabila benar. Dengan demikian maka kebenaran benar-benar akan

dapat ditegakkan.

Kini ia melihat adiknya itu berbuat curang. Bahkan telah

meninggalkan sifat-sifat ke kesatriaan, karena itu alangkah

marahnya. Apalagi seorang anak buahnya telah ikut serta berbuat

kesalahan itu.

Dengan wajah yang menyala-nyala ia memandang Kebo Ijo.

Anak itu benar-benar anak yang bengal. Sekali-sekali ditatapnya

juga wajah Mahendra. Anak muda ini, biasanya tidak suka

berbohong dari mengorbankan nama baiknya Tetapi kali ini ia

hampir tergelincir dalam perbuatan yang memalukan itu. Untunglah

bahwa kesalahan itu segera disadarinya. Namun meskipun

demikian. Mahendra telah berbuat kesalahan. Karena itu dengan

marahnya Witantra menggeram, “Perkelahian akan dilanjutkan.”

Namun terdengar kemudian Mahendra yang telah menyadari

keadaannya menyahut dengan jujur, “Tidak. Aku sudah

dikalahkannya.”

Witantra menarik nafas. Tetapi mata Kebo Ijo menyala

karenanya.

Suasana kemudian dicengkam oleh kesepian.

Dalam keheningan suasana itu, terdengarlah Mahisa Agni

berkata, “Witantra, aku akan mengucapkan terima kasih kepadamu

dan kepada adikmu, Mahendra. Sebenarnya tak ada niatku untuk

membuat hal-hal yang kecil ini menjadi persoalan. Karena itu,

marilah persoalan ini kita anggap selesai. Sebab aku masih ada

mempunyai beberapa keperluan yang lain.”

Witantra tidak segera menjawab. Kini seperti juga Mahisa Agni

mengaguminya, maka Witantra itu pun kembali mengagumi

kebesaran jiwa Mahisa Agni yang disangkanya bernama Wiraprana

itu. Meskipun beberapa orang telah berusaha menghinanya, namun

ia sama sekali tidak mendendam.

Sesaat kemudian, maka barulah Witantra itu berkata, “Tinggalkan

kami di sini bersama Wiraprana. Pergilah semuanya!”

Mahendra yang masih menundukkan kepalanya, itu pun segera

bergerak dan meninggalkan tempat itu. Berbagai perasaan

berkecamuk di dalam dirinya. Sesal, malu, kecewa dan segala

macam bereampur baur di dalam dadanya..

Kebo Ijo, anak-anak muda yang lain, para prajurit itu pun segera

pergi pula meninggalkan mereka. Dengan tergesa-gesa Kebo Ijo

menyusul Mahendra sambil berkata, “Kakang, kenapa Kakang

menarik tuduhan itu?”

Mahendra berpaling sesaat. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan

langkahnya semakin dipereepat.

Kebo Ijo yang berjalan di sampingnya memandangnya dengan

penuh penyesalan. Anak-anak muda yang beriringan di belakangnya

pun menyesal pula atas sikap Mahendra itu Namun mereka tidak

berkata apa-apa.

Di rumah Witantra, kini tinggallah Mahisa Agni seorang diri

bersama Witantra duduk berhadapan di atas amben kayu. Setelah

mereka diam sejenak, maka berkatalah Witantra , “Wiraprana,

biarlah aku minta maaf kepadamu atas nama anak-anak muda yang

bengal itu.”

“Sudah aku katakan Witantra, persoalan ini aku anggap selesai.

Dan secepatnya aku akan mohon diri untuk satu keperluan yang

lain.”

“Terima kasih. Aku hormati pendirianmu itu. Tetapi apakah

keperluan itu sedemikian tergesa-gesa?”

“Tidak, tetapi aku ingin segera pulang ke Panawijen, setelah aku

agak lama meninggalkannya?”

“Apakah kau baru datang dari suatu perjalanan?”

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya sebuah

bungkusan terikat erat di lambung Mahisa Agni. Namun ia tidak

sempat lagi membawa tongkat setelah ia berkelahi melawan

Mahendra. Untunglah bahwa bungkusannya itu tidak terlepas dari

ikatannya. Sehingga tanpa disengaja Witantra itu bertanya, “Apakah

isi bungkusanmu itu?”

“Ah, hanya dua lembar pakaian,” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-angguk pula. Namun tiba-tiba ia berkata,

“He, apakah kau akan pulang ke Panawijen?”

Mahisa Agni mengangguk. “Ya,” sahutnya.

“Baru saja aku bertemu dengan Kuda Sempana. Ia pun agaknya

sedang menuju ke kampung halamannya. Ketika aku bertanya

kepadanya, ia hanya menjawab, ‘Aku pergi untuk satu dua hari’.

Kata-kata terdengar seperti guntur yang meledak di telinga

Mahisa Agni. Kuda Sempana pulang ke kampung halaman

Panawijen, selagi ia tidak di rumah.

Witantra melihat perubahan wajah Mahisa Agni. Karena itu ia

menjadi heran.

Sejenak kemudian bertanyalah Mahisa Agni dengan suara yang

bergetar, “Kapankah Kuda Sempana itu pulang ke Panawijen?”

“Belum lama,” jawab Witantra.

“Belum lama aku melihatnya.”

“Mungkin. Aku melihat Kuda Sempana memacu kudanya. Dan

demikianlah jawabnya ketika aku bertanya kepadanya.”

“Gila!” geram Mahisa Agni di dalam hatinya. Segera ia tahu apa

yang dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Ketika Kuda Sempana itu

melihat Mahisa Agni berada di Tumapel, maka segera ia

mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Dalam pada itu keheranan Witantra semakin menjadi, maka

kemudian ia pun bertanya, “Kenapa kau menjadi gelisah?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Semula ia menjadi agak raguragu.

Namun kemudian terpaksa ia berkata, “Maksud Kuda

Sempana pulang ke kampung halaman sangat mencurigakan.”

“Kenapa?”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun tiba-tiba Witantra itu pun

menjadi gelisah. Dengan serta-merta ia berkata, “He, apakah gadis

Panawijen itu bernama Ken Dedes?”

Terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Namun ia

menganggukkan kepalanya.

“Ya. Itulah nama gadis itu. Bunga di kaki Gunung Kawi, yang

telah membuat Mahendra hampir-hampir gila. Yang telah membuat

Mahendra mendendam kepadamu. Namun sebenarnya aku pernah

mendengar Kuda Sempang mempereakapkan gadis itu pula.”

“Mungkin kau benar,” sahut Mahisa Agni.

“Kalau demikian, apakah kau sangka bahwa Kuda Sempana akan

mempergunakan kesempatan selama kau berada di Tumapel?”

“Mungkin,” sahut Mahisa Agni dengan suara parau, “kalau

demikian biarlah aku segera kembali.”

“Aku tidak dapat mencegahmu, Wiraprana. Mudah-mudahan kau

tidak terlambat.”

Mahisa Agni menggeram sekali lagi, kemudian dengan tergesagesa

ia minta diri. Dengan penuh pengertian Witantra itu

melepaskan Mahisa Agni sampai ke regol halamannya.

Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan hampir berlari-lari. Dari

kejauhan Witantra memandangnya dengan iba.

“Anak yang baik,” gumamnya., “Kasihan. Tanpa dikehendakinya,

ia mempunyai banyak lawan. Agaknya Kuda Sempana yang tadi

melihat anak itu, segera mempergunakan kesempatan.”

Dan Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin jauh.

Akhirnya anak muda itu seakan-akan hilang ditelan oleh kelokan

jalan.

Mahisa Agni sendiri menjadi sangat gelisah karenanya. Ia

menjadi pasti, bahwa bencana akan menimpa Ken Dedes dan

Wiraprana. Kuda Sempana pasti akan mempergunakan segenap

kemampuan yang ada padanya untuk menebus kekalahannya.

Bahkan kalau mungkin membunuh sekali.

Dengan demikian maka Mahisa Agni itu benar-benar seperti

orang yang kehilangan kesadaran. Ia sama sekali tidak menaruh

perhatian terhadap keadaan di sekelilingnya. Ia sama sekali tidak

memedulikan bahwa beberapa orang yang dijumpainya

memandanginya dengan penuh pertanyaan. Kenapa anak muda itu

berlari-lari?

Tetapi jarak Panawijen dan Tumapel bukan jarak yang pendek.

Jarak itu akan ditempuh lebih dari sehari penuh. Meskipun Mahisa

Agni kemudian berlari, namun ia tak akan dapat mencapai jarak itu

secepat-cepatnya. Selisih waktu yang dialaminya dari Kuda

Sempana, agaknya akan dapat memberi kesempatan bagi Kuda

Sempana melakukan niatnya. Apalagi setelah didengarnya bahwa

Kuda Sempana kini telah memiliki puncak ilmu dari perguruannya

seperti juga Bahu Reksa Kali Elo. Karena itu, maka kembali Kuda

Sempana itu akan berkata, ‘Rawe-rawe rantas, malang-malang

putung’.

Mahisa Agni menjadi semakin gelisah. Apalagi kalau diingatnya

bahwa Kuda Sempana pasti tidak hanya berlari-lari seperti dirinya,

tetapi anak muda yang gagah itu pasti berkuda.

Mahisa Agni itu pun menggeram berkali-kali. Namun ia benarbenar

masih harus berlari. Langkahnya semakin lama semakin

panjang. Namun terik matahari yang membakar tubuhnya menjadi

semakin panas. Bekas-bekasnya yang putih menghambur di

sepanjang jalan yang dilalui oleh Mahisa Agni. Menyusup disela-sela

dedaunan dan jatuh di atas batu-batu padas yang bertebaran di

sepanjang jalan.

Mahisa Agni itu terasa akan terbang. Langkahnya terasa

sedemikian lambatnya. Kalau sekali-kali ia memandang ke depan

maka segera jantungnya berdebar-debar. Di hadapannya masih

terbentang sawah yang sangat luas. Tetapi apabila sawah ini sudah

dilampaui, ia sama sekali belum mendekati Panawijen. Sebuah

hutan terbentang jauh di muka. Seleret pepohonan yang semakin

lama seolah-olah menjadi semakin besar. Hutan itu pun bukanlah

layar yang terakhir yang menakbiri Panawijen. Di seberang hutan

itu, terentang sebuah sungai. Kembali ia akan melampaui daerah

persawahan. Sawah hutan, sawah, hutan berkali-kali. Kemudian ia

dapat lewat di tengah-tengah padang rumput Karautan, atau lewat

jalan lain. Namun selisih jarak daripadanya tidak begitu banyak.

Baru setelah itu ia akan sampai ke Panawijen. Namun secepatcepatnya,

apabila ia tidak perlu berhenti sama sekali, besok pagi ia

baru akan sampai. Tetapi apakah tenaganya akan mampu untuk

berlari terus dalam jarak yang sekian jauh.

Tetapi Mahisa Agni tidak boleh berhenti. Ia berlari terus.

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun terkejut mendengar derap kuda di

belakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya debu mengepul. Putih

dan semakin lama semakin tinggi terbang ke udara.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. “Siapa?” desisnya. Tetapi ia

terkejut ketika ia melihat penunggangnya adalah Mahendra.

Karena itu maka Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya.

Ia masih belum dapat melupakan, apa yang baru saja dilakukan

oleh Mahendra itu. Mahisa Agni berdebar-debar karena

kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Mahendra,

tetapi juga berdebar-debar karena dengan demikian, kedatangannya

di Panawijen akan menjadi semakin lambat.

Kuda yang berlari kencang itu semakin kencang juga. Semakin

lama semakin dekat. Dan sejalan dengan hati Mahisa Agni menjadi

semakin berdebar-debar juga.

“Kalau anak muda itu berhasrat menghambat perjalananku,”

desah Mahisa Agni dalam hatinya, “maka aku tidak akan dapat

memaafkannya lagi.”

Tetapi kuda itu sudah sedemikian dekatnya, sehingga Mahisa

Agni pun berhenti pula karenanya. Dengan penuh kewaspadaan

anak muda dari Panawijen itu berdiri tegak seperti tonggak yang

kokoh kuat terhunjam jauh ke dalam tanah.

Ketika Mahendra melihat Mahisa Agni itu berhenti, maka segera

ia menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berhenti beberapa

langkah di hadapan Mahisa Agni. Demikian kuda itu berhenti,

demikian Mahendra itu segera meloncat turun.

Mahisa Agni itu pun segera menggeser diri selangkah surut, siap

menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Mahendra itu menganggukkan

kepalanya sambil berkata, “Aku datang untuk minta maaf

kepadamu, Wiraprana.”

Mahisa Agni menarik nafas panjang. Panjang sekali. Ia menjadi

kecewa terhadap peresaannya sendiri. Ternyata ia terlalu

berprasangka. Karena itu, maka segera ia menjawab, “Ah

Mahendra. Hampir aku salah sangka. Ternyata aku pun harus minta

maaf kepadamu. Dan karena itulah maka biarlah persoalan di antara

kita, kita anggap selesai.”

“Terima kasih,” sahut Mahendra. Yang kemudian diteruskannya,

“Tetapi kedatanganku menyusulmu ada juga kepentingan yang lain

dari kepentinganku sendiri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Apakah kepentingan yang

lain itu?”

“Kakang Witantra baru saja datang kepadaku. Disuruhnya aku

menyusulmu untuk mengantarkan kuda ini kepadamu.”

“Kuda?” sahut Mahisa Agni dengan serta-merta.

“Ya,” Mahendra mengangguk, “kata Kakang Witantra kau

memerlukannya untuk menyusul Kuda Sempana.”

“Kuda? Kuda?” hampir tak pereaya Mahisa Agni bergumam.

Tetapi Mahendra itu menegaskan, “Ya Wiraprana, inilah kuda

Kakang Witantra. Bawalah!”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Begitu besar

terima kasihnya sehingga untuk sesaat ia tidak dapat

mengucapkannya. Ketika Mahendra memberikan kendali kuda itu

kepadanya, barulah Mahisa Agni berkata, “Terima kasih. Terima

kasih Mahendra. Dan terima kasihku kepada Witantra. Aku tak akan

melupakan kebaikan budi kalian.”

“Aku hanya seorang pesuruh Wiraprana. Akan aku sampaikan

terima kasihmu itu kepada Kakang Witantra.”

“Tidak saja Witantra. Tetapi kau pun berjasa pula kepadaku.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Selamat jalan Wiraprana. Bukankah kau tergesa-gesa.

Sebenarnya aku pun tak akan dapat melihat Kuda Sempana

mencapai maksudnya. Bukankah anak muda itu pun akan

merampas hak yang sudah kau miliki?”

Dada Mahisa Agni berdesir. Alangkah manisnya kata-kata itu,

namun alangkah pahitnya pula. Mahendra tidak dapat melihat Kuda

Sempana merampas Ken Dedes yang pasti didengarnya dari

Witantra, namun Ken Dedes itu sama sekali bukan hak yang telah

dimilikinya. Tetapi apa yang dilakukan itu adalah atas nama

Wiraprana. Dan Wiraprana kelak pasti hanya akan mengucapkan

terima kasihnya saja kepadanya.

Tetapi sebenarnya Mahisa Agni tidak mempunyai pamrih.

Seandainya Wiraprana kelak tidak mengucapkan terima kasih pun,

ia tidak akan menyesal. Dengan kesetiaannya ia berusaha membuat

Ken Dedes bahagia. Kesetiaan yang tidak diketahui sama sekali oleh

orang lain. Namun kesetiaan itu benar-benar telah membakar

dadanya.

Kini Mahisa Agni menerima kuda itu. Kuda yang tegar, berwarna

sawo. Tidak kalah tegarnya dengan kuda yang dipergunakan oleh

Kuda Sempana tadi.

Setelah sekali lagi Mahisa Agni mengucapkan terima kasih, maka

ia segera meloncat ke punggung kuda itu. Meskipun demikian ia

masih bertanya, “Sekarang, kau tidak lagi berkendaraan Mahendra?”

Mahendra tertawa pendek. “Jarak yang harus kutempuh terlalu

pendek dibandingkan dengan perjalananmu. Biarlah aku pulang

dengan berjalan kaki. Hampir setiap hari aku sampai di sini pula.”

“Selamat tinggal Mahendra, mudah-mudahan aku tidak terlalu

terlambat.”

Mahendra mengangguk. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku akan

lebih berbahagia kalau kau berhasil, Wiraprana.”

“Terima kasih, terima kasih.”

Mahisa Agni itu pun segera memacu kudanya seperti angin. Ia

ingin cepat-cepat sampai ke Panawijen. Namun ia pun ingin cepatcepat

melupakan setiap kata-kata Mahendra. Karena itu, maka

kudanya yang telah berlari kencang itu, masih saja terasa, alangkah

lambatnya. Seakan-akan suara Mahendra masih mengiang di

telinganya, ‘Aku akan lebih berbahagia kalau kau berhasil,

Wiraprana’.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Kuda itu dipacu semakin cepat.

Namun hatinya telah berlari lebih cepat daripada kaki-kaki kuda itu.

Kuda Mahisa Agni itu meluncur seperti anak panah yang lepas

dari busurnya. Kepulan debu yang putih bergulung-gulung di

belakang kaki kudanya. Pepohonan yang tegak di pinggir-pinggir

jalan, seakan-akan berlari cepat ke belakang, Sedang hutan-hutan

yang terbujur di hadapannya, seperti berlari menyongsongnya.

Semakin lama semakin besar. Dan semakin lama, semakin jelas

setiap batang-batang yang tumbuh di sepanjang tepinya.

Tetapi gelora di dalam dada Mahisa Agni sendiri itu pun menjadi

semakin keras. Bermacam-macam persoalan hilir mudik di dalam

dadanya. Sekali-kali jauh di dasar hatinya terdengar pula suara,

‘Mahisa Agni Kenapa kau menjadi sedemikian cemasnya? Bulankah

Ken Dedes telah mempunyai seorang pelindung yang harus

melindunginya. Kalau Wiraprana tak sanggup bertanggung jawab

terhadapnya maka lebih baik ia melepaskan ikatan yang telah

dijalinnya. Ia menginginkan hak itu, namun ia tak mampu memikul

kewajibannya’.

Namun kemudian terdengar suara yang lain, ‘Itu bukan salahnya.

Dunia di sekitarnya yang masih sebuas hutan rimba. Kalau setiap

orang menyadari hak dan kewajiban masing-masing, maka tak akan

ada persoalan lagi. Meskipun Wiraprana tak mampu untuk berkelahi,

namun dalam peradaban yang baik tak perlu ia harus berkelahi.

Karena Wiraprana bukan tidak mengerti akan kewajibannya, tetapi

ia sebenarnya tidak mampu menghadapi kebuasan lingkungannya,

maka apa salahnya aku menyelamatkannya’.

Terdengar Mahisa Agni itu menggeram di atas punggung

kudanya. Dan kuda itu masih berlari secepat angin. Sekali-kali

Mahisa Agni mengusap wajahnya yang dipenuhi oleh debu yang

melekat karena peluhnya yang membasahi kulitnya. Sekali-sekali

dirabanya bungkusannya yang melingkari lambungnya, berbelitan

dengan ikat pinggangnya. Dan terasa di dalamnya, keris

peninggalan ayahnya. Kalau Kuda Sempana menjadi gila, maka ia

pun kini bersenjata.

Matahari yang mengapung di langit bergeser setapak demi

setapak. Kini matahari itu telah melampaui puncak langit, dan telah

mulai dengan perjalanannya untuk bersembunyi di balik

pegunungan. Namun sinarnya masih juga terasa membakar kulit.

Debu yang putih yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda Mahisa

Agni, tampak bergulung-gulung. Kemudian buyar ditiup angin dari

selatan. Jauh di langit kadang-kadang tampak burung-burung

cangak beterbangan di atas tanah yang basah. Namun Mahisa Agni

tidak sempat untuk memperhatikannya. Kudanya yang berpacu itu

serasa seakan-akan betapa malasnya. Sekali disentuhnya perut kuda

itu dengan kakinya, sehingga kuda itu meloncat semakin cepat.

Sesaat kemudian Mahisa Agni telah masuk melintas jalan-jalan di

tengah-tengah hutan. Perjalarannya kini tidak dapat secepat

semula. Sekali-sekali beberapa potong dahan-dahan kayu yang

patah, serta sulur beringin tua, mengganggu perjalanannya. Sedang

jalan menjadi bertambah sempit. Tetapi kuda itu masih berlari terus,

tanpa menghiraukan apapun yang mungkin akan memperlambat.

Demikianlah Mahisa Agni berpacu melawan waktu. Sebab Kuda

Sempana telah jauh mendahuluinya. Ia harus sampai di Panawijen

sebelum Kuda Sempana telah melarikan Ken Dedes. Mudahmudahan

gurunya telah kembali. Tetapi agaknya Empu Purwa masih

di perjalanan, bahkan menurut keterangannya, gurunya itu masih

akan singgah di rumah sahabat-sahabatnya setelah ia merasa

menurunkan ilmunya yang tertinggi kepada muridnya. Seolah-olah

pekerjaan Empu Purwa itu telah selesai, dan kini ia tinggal

menikmati masa istirahatnya.

Agaknya Empu yang sudah lanjut usia itu telah mempereayakan

segala sesuatunya kepada Mahisa Agni, satu-satunya muridnya yang

lahir batinnya benar-benar mengagumkan baginya.

Karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah. Sesudah hutan

ini masih terentang jalan yang sangat panjang. Namun berterima

kasihlah ia kepada Witantra dan Mahendra yang telah menolongnya

mempereepat perjalanannya dengan kecepatan yang berlipat

ganda. Kalau ia harus berjalan, maka sudah hampir dapat dipastikan

bahwa ia akan jauh terlambat. Dan ia tinggal akan menemukan

bekas- bekas dari bencana itu. Meskipun demikian, kegelisahan

masih saja menyala-nyala di dalam dadanya. Meskipun ia kini telah

dapat mempereepat perjalanannya, namun ia masih mencemaskan,

bahwa Kuda Sempana benar-benar tidak mampu mengekang

dirinya, sehingga sejak langkahnya yang pertama, ia telah bermata

gelap.

Sebenarnyalah pada saat itu, Kuda Sempana pun sedang berpacu

menuju ke Panawijen.

Ketika anak muda itu bertemu dengan Mahisa Agni di Tumapel,

maka tiba-tiba timbul niatnya untuk menumpahkan kemarahannya

dan dendamnya. Sebab kini ia merasa, bahwa ia telah memiliki

bekal yang jauh lebih banyak daripada saat ia dikalahkan oleh

Mahisa Agni. Tetapi keadaan Tumapel agaknya tidak

menguntungkannya. Mungkin beberapa orang melihat, bahwa

Mahisa Agni tidak bersalah pada waktu itu sehiugga akibatnya akan

tidak menguntungkan baginya. Karena itu, maka ia mengambil jalan

yang lain untuk menumpahkan dendamnya. Segera ia memacu

kudanya menemui pimpinannya untuk mohon diri dua tiga hari. Ia

dapat saja memberikan segala macam alasan untuk pulang ke

kampung halaman. Kalau kelak Ken Dedes telah dapat

dirampasnya,dan dilarikannya, maka apa yang akan terjadi akan

dihadapinya dengan dada tengadah. Wiraprana, Mahisa Agni dan

siapa lagi. Tetapi gadis itu harus sudah di tangannya dan

disembunyikannya dahulu.

Karena itu, maka ia pun kemudian berpacu kembali ke

Panawijen. Ia harus langsung pergi ke rumah Empu Purwa. Minta

gadis itu untuk dibawanya. Kalau tidak boleh, maka ia akan

mempergunakan kekerasan. Ia tidak takut seandainya seluruh

cantrik dari padepokan itu akan mengeroyoknya. Bahkan orangorang

seluruh padukuhan. Dengan ayunan tangannya ia mampu

membunuh siapa saja yang mendekatinya.

Kuda Sempana itu kemudian tersenyum sendiri. Ia tidak

menyangka bahwa ia harus mengambil seorang gadis dengan cara

yang aneh itu. Tetapi betapapun bahaya yang akan dihadapinya,

namun ia tidak akan surut. Ia pernah mendengar juga bahwa

Mahendra pun pernah menginginkan Ken Dedes itu pula. Maka

seandainya Mahendra itu pun datang kepadanya, maka ia pun tidak

akan gentar. Bahkan seandainya Witantra sekali pun. Meskipun

Kuda Sempana itu agak seimbang juga menilai kekuatan Witantra.

Sebab ia tahu benar, apa saja yang pernah dilakukan oleh Witantra

itu sebagai seorang prajurit.

Tetapi Kuda Sempana itu menggeram, “Persetan semuanya!

Akulah Kuda Sempana!”

Dengan demikian maka Kuda Sempana kemudian berusaha

menindas semua persoalan yang tumbuh di dalam hatinya.

Tekadnya telah bulat, melarikan Ken Dedes dengan segala

akibatnya.

Kini Kuda Sempana itu tertawa seorang diri. Tertawa untuk

melepaskan kegelisahan-kegelisahan yang merayapi hatinya. Ia

benar-benar tidak mau tahu apapun yang mungkin terjadi karena

perbuatannya itu. Anak muda itu telah berusaha untuk membutakan

matanya dan menulikan telinganya. Persetan semuanya! Persetan!

Maka kudanya kini menjadi semakin laju. Terasa angin yang

kencang menghembus wajahnya. Namun wajah itu pun

ditengadahkannya. Bahkan ia bergumam, “Siapakah yang berani

menghalangi Kuda Sempana?”

Meskipun demikian, Kuda Sempana itu berdebar-debar pula

ketika ia meninggalkan daerah-daerah hutan yang terakhir. Ia tidak

menempuh jalan yang biasa dilalui oleh Mahisa Agni, padang

rumput Karautan. Namun Kuda Sempana melingkar sedikit, lewat

padukuhan Talrampak. Meskipun seperti Mahisa Agni anak muda itu

sama sekali tidak takut kepada apapun, juga yang dahulu sering

disebut hantu padang rumput, namun Kuda Sempana tidak mau

perjalanannya dihambat. Meskipun ia mendengar juga, bahwa hantu

padang rumput itu kini telah tidak ada lagi, namun lebih baik

baginya melewati jalan yang paling aman, daripada ia terlambat.

Demikianlah Kuda Sempana akhirnya telah melampaui

perjalanannya yang tergesa-gesa. Dengan gagahnya ia memacu

kudanya, masuk .ke padukuhan tempat kelahirannya. Panawijen.

Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah melihatnya

dengan heran. Bukankah anak itu seakan-akan telah disingkirkan

untuk waktu yang tertentu. Maka tiba-tiba kini ia datang kembali

dengan tergesa-gesa. Apakah waktu yang ditentukan itu telah

habis?

Orang itu pun kemudian ber-bisik-bisik satu sama lain. Sehingga

kemudian seorang arak muda berkata, “He, apakah Kuda Sempana

telah sampai waktunya pulang?”

Seorang yang berdahi lebar menjawab, “Aku sangka belum.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “He.

Bukankah Mahisa Agni belum kembali?”

“Kenapa?”

“Bukankah dahulu Mahisa Agnilah yang berhasil mencegahnya

mengambil langsung Ken Dedes dari pinggir belumbang?”

Orang berdahi lebar itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana sudah tidak

tampak lagi di mata mereka.

“Marilah kita lihat. Apakah anak muda yang gagah itu masih saja

melakukan perbuatan-perbuatan yang tereela itu.”

Kedua orang itu pun kemudian bergegas-gegas meninggalkan

sawah mereka. Beberapa orang yang lain pun segera mengikutinya.

Sampai di sudut padukuhan mereka, mereka bertanya kepada

seorang anak kecil, “Kau lihat searang penunggang kuda?”

Anak itu mengangguk, “Ya.”

“Ke mana?”

“Masuk kemari. Dan berbelok ke kiri.

“Ke kiri?”

“Ya. Kenapa?” anak kecil itu menjadi keheranan.

“Tidak apa-apa nak. Tetapi jangan ber-main-main di tengah

jalan. Kau lihat kuda yang berlari kencang ini tadi bukan?”

Anak itu mengangguk.

Kedua orang itu pun berjalan pula menuruti jalan yang ditempuh

oleh Kuda Sempana dengan berdebar-debar.

“Jalan ini menuju ke rumah Empu Purwa.”

“Ya,” jawab yang lain.

“Apakah anak itu masih gila seperti dahulu?”

“Mungkin.

Beberapa orang yang mendengar suara kaki kuda berderap itu

pun memerlukan untuk melihatnya. Ketika mereka melihat kedua

orang yang kuat itu, maka mereka kemudian saling berbicara.

“Aku ikut,” berkata beberapa anak muda.

“Apakah Wiraprana di rumah?” bertanya salah seorang di

antaranya.

“Mudah-mudahan. Sejak Mahisa Agni pergi, kemudian Empu

Purwa pergi pula, Wirapranalah yang diserahi untuk mengawasi

padepokan itu. Mudah-mudahan ia berada di sana.”

“Tetapi Wiraprana tak dapat mencegahnya seperti dahulu.”

“Wiraprana tidak sendiri. Di padepokan itu ada beberapa orang

cantrik.”

“Mari kita lihat. Kita tidak akan membiarkan kawan-kawan kita

dicederainya.”

“Anak-anak muda Panawijen bukanlah anak-anak muda yang

senang bertengkar. Kehidupan yang damai selama ini, sama sekali

tidak menggerakkan mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan

kekerasan. Karena itu, maka tidak banyak di antara mereka, yang

telah mempelajari cara-cara tata bela diri. Meskipun demikian,

mereka memiliki kesetia kawanan yang tinggi. Kebiasaan mereka

bekerja bersama-sama. Membuat parit-parit, bendungan dan

sambatan membangun rumah, adalah pencerminan dari cara hidup

mereka yang rukun.

Dengan tergesa-gesa beberapa anak muda itu berjalan mengikuti

telapak kaki kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana. Semakin lama

mereka menjadi semakin berdebar-debar. Kuda itu benar-benar

menuju ke padepokan Empu Purwa.

Sebenarnya Kuda Sempana langsung menuju ke rumah Empu

Purwa. Ia takut kalau Mahisa Agni segera pulang, dan

menggagalkan maksudnya pula. Karena itu, maka akan

dipergunakannya waktu sebaik-baiknya. Langsung mengambil gadis

itu, dan dibawanya ke Tumapel. Disembunyikannya gadis itu di

rumah sahabatnya, dan akan dihadapinya setiap bencana yang akan

mengancamnya. Sampai nanti saatnya Ken Dedes melahirkan.

Setelah itu, semuanya akan beres. Tak seorang pun yang akan

dapat menuntutnya. Meskipun di Tumapel tinggal pula Mahendra,

namun ia tidak takut melawan anak itu, meskipun ia belum pasti

apakah ia akan dapat mengalahkannya

Meskipun tekadnya telah bulat, namun semakin dekat Kuda

Sempana dengan rumah Empu Purwa, hatinya menjadi semakin

berdebar-debar juga.

Kedatangan Kuda Sempana di padepokan itu benar-benar

mengejutkan. Deru kaki kudanya seakan-akan membelah

kedamaian halaman yang sunyi itu. Beberapa orang cantrik yang

sedang bekerja di halaman, segera meletakkan alat-alat mereka.

Dengan bergegas mereka menengok ke pintu gerbang. Siapakah

yang datang berkuda itu?

Ketika mereka melihat seorang anak muda yang tampan, maka

mula-mula mereka menjadi kecewa. Yang mereka harapkan sejak

berhari-hari adalah Mahisa Agni, atau Empu Purwa sendiri. Namun

yang datang bukanlah salah seorang dari mereka.

Tetapi ketika mereka sadar, siapakah anak muda yang masih saja

duduk di punggung kuda itu mereka terperanjat.

“Kuda Sempana,” terdengar beberapa orang di antara mereka

berdesis.

Kuda Sempana telah menghentikan kudanya. Namun ia masih

duduk di atas punggung kuda itu. Ditebarkannya pandangannya

berkeliling. Dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban satu demi

satu muncul dari balik pepohonan dan dinding-dinding rumah. Dan

dilihatnya pula mereka menjadi terkejut karenanya.

Hati Kuda Sempana itu berdesir ketika tiba-tiba muncul dari balik

pintu pringgitan, seorang anak muda yang tegap tampan.

Wiraprana.

Alangkah terkejutnya Wiraprana itu. Beberapa saat ia tegak saja

seperti patung. Ditatapnya Kuda Sempana yang masih duduk di atas

punggung kuda seperti menatap wajah hantu.

Ketika pada saat itu seorang gadis yang berlari-lari dari belakang

muncul pula di ambang pintu, maka dengan serta-merta Wiraprana

mendorongnya sambil bergumam, “Masuklah. Setan itu datang lagi.”

Ken Dedes masih belum sempat melihat siapakah yang datang

berkuda itu. Namun ia sadar, bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti

terjadi. Karena itu maka ia pun bertanya perlahan-lahan, “Siapa?”

“Kuda Sempana,” desis Wiraprana.

“He?” Ken Dedes itu pun terkejut bukan buatan. Terasa tiba-tiba

kakinya gemetar dan darahnya seakan-akan membeku. Dengan

suara yang parau ia mencoba menjelaskan, “Kuda Sempana

katamu?”

Wiraprana mengangguk. Desisnya, “Masuklah.”

Ken Dedes tidak membantah. Segera ia beringsut masuk kembali

ke dalam rumah, bahkan langsung bersembunyi ke dalam biliknya.

“Emban,” desahnya.

Seorang emban tua datang menghampirinya. Ketika dilihatnya

momongannya menggigil maka dengan heran ia bertanya,

“Siapakah yang datang itu?”

Ken Dedes terbungkam. Ia tidak berani menyebut nama Kuda

Sempana. Bibirnya seakan-akan tabu menyebut nama itu. Namun

tiba-tiba air matanya mengambang di antara pelupuknya. Patahpatah

ia bergumam, “Kenapa ayah tidak segera pulang? Atau

Kakang Mahisa Agni?”

Emban tua itu menjadi bingung. Sekali lagi ia bertanya,

“Siapakah yang datang itu?”

“Anak itulah yang telah menghina namaku di belumbang di

tepian sungai beberapa bulan yang lalu.”

“Angger Kuda Sempana?”

“Jangan Bibi, jangan kau sebut nama itu. Aku dapat menjadi

pingsan karenanya.”

Emban tua itu mengerutkan keningnya. Ia mendengar pula, apa

yang pernah terjadi di pinggir sungai itu. Karena itu maka ia pun

ikut berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian emban tua

itu masih mencoba menghiburnya, “Jangan cemaskan anak muda

itu. Bukankah Angger Wiraprana sedang berada di rumah ini?”

Ken Dedes menggelengkan kepalanya. Namun ia tidak berkata

apa-apa. Hanya di dalam hatinya terdengar kata-katanya,

“Wiraprana tidak dapat melawannya.”

Karena itu maka Ken Dedes menjadi semakin cemas. Sekali-sekali

matanya beredar di antara dinding-dinding rumahnya, seolah-olah ia

sedang mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya. Namun

halaman rumahnya dikelilingi oleh sebuah pagar batu yang rapat.

Sehingga jalan satu-satunya yang dapat dilaluinya, hanya regol

depan. Dan ia tidak berani menampakkan dirinya ke halaman.

Sementara itu di halaman rumah Empu Purwa yang luas itu Kuda

Sempana masih duduk saja di atas punggung kudanya. Di pintu

rumah itu, Wiraprana berdiri tegak dengan tegangnya. Sesaat

mereka hanya saling memandang dengan tajamnya, seakan-akan

dari kedua pasang mata itu memancar dendam yang menyala-nyala.

Ketika kemudian Kuda Sempana meloncat turun dari kudanya,

maka Wiraprana pun melangkah melampaui tlundak pintu. Perlahanlahan

ia berjalan melewati pendapa dan dengan getar yang semakin

cepat di dalam dadanya, ia melangkah turun tangga dan berdiri

tegak di halaman pula.

Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa depa. Kuda Sempana

masih sempat memandang berkeliling. Dan di sekitar halaman itu

dilihatnya beberapa orang cantrik dan emban berdiri pula dengan

tegangnya.

Kini Kuda Sempana kembali menatap wajah Wiraprana. Dan tibatiba

terdengar suaranya bergetar, “Apa kerjamu di rumah ini

Wiraprana?”

Wiraprana menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Karena itu

maka ia menjawab tegas, “Aku berada di rumah bakal mertuaku.”

“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan kau ulangi!”

Wiraprana menjadi berdebar-debar karenanya. Namun ia

mengulangi kata-katanya, “Aku berada di rumah mertuaku.”

Kuda Sempana menggeram. Ia tidak berani berbuat tergesagesa.

Ia belum yakin benar, apakah selama ini Wiraprana sama

sekali tidak berusaha untuk mempelajari ilmu yang mungkin dapat

menolong dirinya.

Meskipun demikian, anak muda itu benar-benar telah membakar

dadarnya. Sehingga karena itu ia berkata lantang, “Wiraprana,

jangan menyombongkan dirimu. Seandainya kau kini berkawan

dengan dewa-dewa di langit sekali pun, namun kau bagiku tidak

lebih dari seorang anak yang manja. Karena itu, Wiraprana, jangan

mencoba menghalangi aku kali ini. Aku sangat tergesa-gesa.”

“Kau belum mengatakan, apa maksud kedatanganmu?” sahut

Wiraprana.

Kuda Sempana menarik alisnya. Ditatapnya wajah Wiraprana

dengan tajamnya. Sesaat kemudian terdengar ia menjawab,

“Jangan memperbodoh diri Wiraprana. Aku datang untuk

menjemput bakal istriku.”

Terasa dada Wiraprana itu berdesir. Ia sudah menduga apa yang

akan dilakukan oleh Kuda Sempana itu. Namun ketika ia mendengar

sendiri jawaban itu, maka mau tidak mau ia menjadi berdebardebar.

Betapapun ia mencoba menenangkan diri sendiri, namun

sebenarnyalah ia mengetahui dengan pasti, bahwa ia tidak akan

mampu mencegahnya seandainya Kuda Sempana kemudian

melakukan kekerasan. Kuda Sempana kali ini sudah pasti tidak akan

mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya di tepian sungai

beberapa bulan yang lalu. Karena itu maka tanpa disengajanya,

Wiraprana melemparkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya

beberapa orang cantrik memandangnya dengan tegang, namun ada

di antara mereka yang berdiri saja dengan wajah yang kosong.

Wiraprana terkejut ketika Kuda Sempana membentak, “Carilah di

antara mereka, siapakah yang akan berani menghalangi Kuda

Sempana.”

Wiraprana menggigit bibirnya. Kuda Sempana benar-benar

menyadari keunggulannya. Dan tiba-tiba Wiraprana itu menyesal,

kenapa Mahisa Agni pergi sudah sekian lamanya masih juga belum

kembali? Apakah ada sesuatu yang terjadi di sepanjang

perjalanannya? Bahkan Wiraprana itu kemudian seakan-akan

menyalahkan Mahisa Agni. Seakan-akan Mahisa Agni itulah yang

mempunyai keharusan untuk menjaga adik angkatnya. Dan

kepergiannya yang terlalu lama itu merupakan suatu kelengahan.

Kini ternyata Kuda Sempana itu benar datang. Apalagi ketika

kemudian terdengar Kuda Sempana itu berkata, “Jangan mengharap

Mahisa Agni akan membantu, Wiraprana. Anak itu masih berada di

Tumapel.”

Wiraprana menggeram. “Apa pula kerja Mahisa Agni itu di

Tumapel?” desah Wiraprana di dalam hatinya, “ternyata Mahisa Agni

lebih mementingkan kesenangannya sendiri daripada melindungi

adik angkatnya itu.”

Meskipun demikian, Wiraprana tidak akan dapat tinggal berdiam

diri. Di sekitarnya berdiri beberapa orang cantrik. Apapun yang akan

terjadi, maka Ken Dedes itu harus dipertahankan mati-matian. Ia

akan berjuang mati-matian, dan para cantrik itu pasti akan

membantunya. Karena itu maka Wiraprana itu pun menjawab, “

Kuda Sempana. Rumah ini adalah rumah Empu Purwa yang

dikuasakan kepadaku selama Empu Purwa dan Mahisa Agni tidak

ada di rumahnya. Hampir setiap hari aku datang kemari. Karena itu,

jangan mencoba melampaui hak yang ada padaku itu. Dengan baik

aku akan mencoba mempersilakanmu pergi meninggalkan halaman

ini.”

Kuda Sempana itu tertawa untuk melepaskan kejengkelannya.

Kenapa Wiraprana itu tidak lebih baik bersembunyi saja, atau

melarikan diri? Maka katanya, “Wiraprana, apakah kau sekarang

mampu memecah langit, sehingga kau berani berdiri tegak di

hadapan Kuda Sempana?”

Betapapun juga, namun Wiraprana tersinggung mendengar katakata

itu. Maka dengan marahnya ia menjawab, “Kuda Sempana,

jangan terlalu sombong! Jangan kau sangka bahwa kau akan

mampu menundukkan seluruh isi jagat. Jika setiap usahamu yang

kasar itu kau teruskan, maka aku pasti akan berusaha untuk

mencegahnya.”

Sekali lagi Kuda Sempana tertawa terbahak-bahak untuk

melepaskan perasaan yang menghimpit dadanya. Kemudian katanya

lantang, “Sudah aku katakan, waktuku amat sempit. Minggir, atau

aku paksa kau pergi? Bahkan lebih baik bagimu untuk memanggil

Ken Dedes dan antarkan gadis itu kepadaku.”

“Gila!” geram Wiraprana dengan marahnya. Tetapi

bagaimanapun juga ia menyadari keadaannya. Karena itu, ia masih

saja berdiri tegak di tempatnya.

“Jangan bergeser dari tempatmu, Wiraprana. Aku akan masuk

dan membawa Ken Dedes pulang. Sampaikan kepada Empu Purwa

bahwa dengan menyesal aku tidak dapat datang dalam keadaan

yang lebih baik dari sekarang, apabila ia tidak ada di rumah saat

ini.”

Wiraprana belum beranjak dari tempatnya. Namun ia berkata,

“Empu Purwa tidak ada di padepokan. Segala kekuasaan ada di

tanganku.”

“Kalau begitu, berikan gadis itu sekarang!”

“Tidak.!

“Jangan keras kepala! Aku bisa memaksamu.”

“Tak ada gunanya.”

“Aku bisa menyingkirkanmu. Tegasnya aku bisa membunuhmu.”

Sekali lagi Wiraprana menebarkan pandangannya berkeliling.

Para cantrik yang setia kepada Empu Purwa itu sudah tentu tidak

dapat membiarkan hal itu terjadi. Karena itu, tanpa berjanji mereka

melangkah beberapa langkah maju.

“Kau lihat?” geram Wiraprana.

“Huh. Barisan kelinci yang malang. Mereka akan menyesal atas

kesombongan mereka. Juga kau akan menyesal. Sekali lagi aku

minta, bahwa Ken Dedes kemari, atau aku akan mengambilnya.

“Pergi!” bentak Wiraprana dengan marahnya, “Pergi, atau kami

memaksa pergi?”

Kuda Sempana tidak menghiraukannya. Dengan tenangnya ia

melangkah maju. Selangkah ia menghindari Wiraprana untuk terus

langsung naik ke pendapa. Namun perbuatannya itu benar-benar

telah membakar hati Wiraprana. Ia merasa seakan-akan dianggap

sebagai tidak ada. Karena itu, alangkah sakit hatinya. Betapapun ia

menyadari keadaannya, namun ia berbesar hati ketika melihat

beberapa orang cantrik pun segera melangkah maju untuk

mencegah perbuatan yang gila itu. Karena itu Wiraprana pun

melangkah satu langkah ke samping, langsung menghadang

langkah Kuda Sempana sambil berteriak, “Jangan gila!”

Kuda Sempana sama sekali tidak memperhatikannya. Ia

melangkah terus sehingga dengan demikian, Wiraprana itu

dilanggarnya. Dengan pundaknya ia mendesak dada Wiraprana

yang gagah itu, namun sebenarnya Kuda Sempana kini sudah

menjadi semakin garang, sehingga Wiraprana itu terdorong

beberapa langkah surut.

Wiraprana terkejut bukan buatan mengalami dorongan tenaga

Kuda Sempana yang luar biasa itu. Untunglah bahwa ia tidak

terbanting jatuh. Meskipun demikian, Wiraprana terpaksa

mengerahkan tenaganya untuk menjaga keseimbangannya.

Tetapi, meskipun ia telah merasakan dorongan tenaga Kuda

Sempana yang tampaknya masih seenaknya saja itu, serta dengan

demikian dapat mengira-irakan kekuatannya, namun menjadi

kewajibannya untuk mencoba mencegah perbuatan gila itu, apapun

akibatnya. Karena itu maka Wiraprana menjadi mata gelap

karenanya. Ia sudah tidak lagi sempat memperhitungkan apakah

kira-kira yang akan terjadi atasnya.

Maka, dengan serta-merta Wiraprana itu menangkap lengan

Kuda Sempana, menariknya dan kemudian dengan sekuat

tenaganya, Wiraprana itu mengayunkan tinjunya tepat mengarah ke

wajah Kuda Sempana.

Namun, Kuda Sempana kini telati memiliki ketangkasan jauh

lebih maju dari beberapa bulan yang lampau. Karena itu, ketika ia

melihat tangan Wiraprana terayun dengan derasnya ke wajahnya,

maka segera ia menarik kepalanya itu beberapa jengkal ke belakang

sambil memiringkan pundaknya. Namun gerakan yang sederhana itu

telah melepaskannya dari serangan Wiraprana.

Wiraprana yang mengayunkan tangannya dengan sekuat

tenaganya, serta ternyata tangannya tak menyentuh sesuatu itu,

seakan-akan terseret oleh kekuatannya sendiri. Beberapa langkah ia

terdorong ke samping. Namun tak disangka-sangkanya, bahwa pada

saat itu, Kuda Sempana memukulnya pada punggungnya.

Wiraprana yang sedang kehilangan keseimbangannya, benarbenar

tak mampu lagi menolong dirinya. Dengan tanpa dapat

berbuat sesuatu ia terbanting di tanah. Bulat-bulat ia terjerembab.

Sedang wajahnya yang merah membara karena kemarahannya itu

menyentuh tanah.

Para cantrik yang melihat peristiwa itu terkejut bukan main.

Namun pukulan Kuda Sempana itu seolah-olah menjadi isyarat bagi

para cantrik itu untuk bangun dari tidur mereka. Setelah mereka

menyaksikan semuanya yang terjadi dengan mulut ternganga, maka

tiba-tiba mereka merasa bahwa mereka pun berkewajiban untuk

mencegah perbuatan Kuda Sempana yang gila itu. Maka dengan

serta-merta mereka pun berloncatan maju dan hampir bersama pula

mereka menyerang Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana telah

memperhitungkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi.

Demikian ia melihat para cantrik itu menyerangnya, maka segera ia

meloncat menyongsong mereka. Dengan satu gerakan yang

sederhana, maka seorang cantrik telah terpelanting jatuh menimpa

tangga pendapa. Terdengar cantrik itu mengaduh. Namun sesaat

kemudian dengan ter-tatih-tatih ia berusaha untuk bangun kembali.

Pada saat itu ia melihat Wiraprana pun telah bangun pula.

Tampaklah wajahnya yang merah padam. Jantungnya serasa telah

menyala mendidihkan darahnya.. Terdengar giginya gemeretak dan

tangannya menjadi gemetar. Karena itu dengan sepenuh tenaga,

segera ia melepaskan kembali sebuah serangan mengarah ke dada

Kuda Sempana.

Kuda Sempana yang melayani serangan-serangan para cantrik,

melihat serangan Wiraprana yang dilontarkan dengan sepenuh

tenaga itu. Namun Kuda Sempana itu menarik alisnya sambil

tertawa pendek.

“Apakah selama ini kau masih saja tertidur Wiraprana? Seranganseranganmu

datang seperti serangan seekor babi hutan. Keras,

namun sama sekali tak berarti. Dengan satu gerakan yang

sederhana, seranganmu telah dapat dihindari.”

Tetapi Wiraprana telah melontarkan diri. Karena itu ia tidak dapat

menarik serangannya. Dan sebenarnyalah dengan menarik satu

kakinya ke samping, memutar tubuhnya setengah lingkaran,

serangan Wiraprana itu telah dapat dihindari. Sekali lagi Kuda

Sempana mengayunkan tangannya ke arah punggung Wiraprana,

dan sekali lagi Wiraprana yang malang itu terdorong dengan

kerasnya, dan jatuh terjerembab.

Kembali terdengar suara tertawa Kuda Sempana. Kini suaranya

menjadi semakin keras. Serangan para cantrik yang datang bertubitubi

itu, dengan mudahnya dapat dihindarinya satu demi satu.

Bahkan beberapa orang cantrik telah terlempar jatuh. Meskipun

kemudian mereka berusaha untuk berdiri tetapi mereka telah

menjadi semakin jera. Kini mereka menyerang dengan ragu-ragu.

Meskipun demikian, satu kesadaran telah mengikat mereka dalam

perkelahian itu. Mencegah perbuatan Kuda Sempana.

Wiraprana yang terjerembab itu pun kemudian bangun kembali.

Kemarahannya menjadi semakin menggelegak di dalam dadanya.

Matanya seakan-akan menjadi menyala, dan mulutnya terkatup

rapat. Dengan cermat ia memandang Kuda Sempana seperti hendak

ditelannya. Dan kemarahannya menjadi semakin membakar ketika

ia melihat Kuda Sempana itu dengan tenangnya berkelahi melawan

beberapa orang cantrik sambil tertawa. Katanya, “Aku masih

mencoba berbuat dengan sebaik-baiknya. Tetapi waktuku tidak

banyak. Karena itu sebaiknya kalian menghentikan perlawanan

kalian. Ambillah Ken Dedes dan serahkan kepadaku. Sebab

perlawanan kalian ini pun tak akan berarti.”

“Tulip mulutmu!” bentak Wiraprana.

“Jangan membuat aku semakin marah,” sahut Kuda Sempana.

Tetapi Wiraprana tidak memedulikannya lagi. Kembali ia

mencoba menyerang Kuda Sempana. Serangan Wiraprana itu telah

membangkitkan keberanian para cantrik itu kembali. Karena itu,

maka bersama-sama mereka menyerang Kuda Sempana itu pula

Kuda Sempana kini sudah tidak sabar lagi. Ia pun takut, kalau

Mahisa Agni akan segera datang, meskipun menurut perhitungannya

masih agak jauh. Karena itu, maka segera ia ingin mengakhiri

pertempuran.

Ketika serangan Wiraprana datang kembali, maka Kuda Sempana

sama sekali tidak berusaha untuk menghindarinya. Dengan sebagian

besar tenaganya, ia melawan serangan pula, sehingga segera

terjadi benturan di antara mereka. Tetapi sebenarnyalah bahwa

benturan itu sama sekali tidak seimbang. Wiraprana segera

terlempar beberapa langkah dan kemudian kembali ia jatuh

terbanting di tanah.

Yang terdengar adalah suara Kuda Sempana tertawa dan

berkata, “Sudahlah Wiraprana. Tak akan ada gunanya melakukan

perlawanan. Sekali lagi aku peringatkan, jangan membuat aku

menjadi semakin marah.”

Tetapi belum lagi Kuda Sempana selesai, Wiraprana yang

terguling itu telah berusaha berdiri. Sementara itu para cantrik telah

berebutan menyerangnya..

Kuda Sempana kini telah benar-benar menjadi marah. Karena itu,

maka segera ia membalas setiap serangan para cantrik. Sehingga

dengan demikian, maka para cantrik yang hanya pandai mengatur

padepokan dan meladeni upacara-upacara keagamaan itu menjadi

kalang kabut. Satu demi satu, bahkan kadang-kadang dua tiga

sekaligus, yang datang menyerang bersama-sama, berbareng

terlempar jauh.

Namun sementara itu Wiraprana telah berdiri. Dengan marahnya

ia menggeram, dan dengan membabi buta ia menyerang lawannya

sejadi-jadinya. Namun Kuda Sempana itu pun menjadi marah pula

Ketika Wiraprana datang menyerangnya, maka selangkah ia

meloncat ke samping sehingga serangan Wiraprana itu tak

menyentuhnya. Tetapi dalam pada itu, maka serangan Kuda

Sempana itu pun segera mengalir seperti bendungan pecah. Sekali

tangan Kuda Sempana memukul lambung Wiraprana sehingga anak

muda yang tegap tinggi itu terdorong ke samping, namun sebelum

Wiraprana berhasil memperbaiki keseimbangannya, tiba-tiba Kuda

Sempana yang marah itu meloncat maju. Sebuah pukulan yang

keras mengenai dagu Wiraprana. Ketika wajahnya itu mengangkat,

maka sekali lagi tangan Kuda Sempana terayun deras sekali. Kali ini

ke perut lawannya.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Dan ketika Kuda Sempana

melangkah selangkah mundur, maka tubuh Wiraprana itu pun

kemudian jatuh terkulai di tanah.

Kuda Sempana menarik nafas panjang. Dengan mata yang

merah menyala ia memandang wajah-wajah yang berdiri di

sekitarnya. Para cantrik yang melihat peristiwa itu menjadi ngeri

karenanya

“Siapa lagi?” desis Kuda Sempana.

Tak seorang pun yang berani beranjak dari tempatnya.

“Kalau tak ada yang mau mencoba lagi, jangan halangi aku

mengambil Ken Dedes. Di mana ia sekarang?”

Para cantrik itu pun menjadi gelisah. Namun tak seorang pun

menjawab. Mereka terpaku seperti tonggak. Berdiri saja dengan

mata tak berkedip.

“Hem,” geram Wiraprana, “kalau tak ada di antara kalian yang

mau menunjukkan, biarlah aku cari sendiri.”

—–

Ketika wajah Wiraprana terangkat, maka sekali lagi tangan Kuda

Sempana terayun keras sekali. Kali ini ke perut lawannya.

—–

Tetapi para cantrik itu tak dapat membiarkan Kuda Sempana

mengambil Ken Dedes. Karena itu tanpa mereka sengaja, mereka

berteriak, “Jangan!”

Mata Kuda Sempana menjadi semakin menyala. Ditatapnya

wajah para cantrik itu sambil berteriak, “Siapa yang akan

menghalangi?”

Kembali para cantrik itu terdiam. Dan kembali Kuda Sempana

melangkah maju. Namun langkahnya itu terhenti ketika para cantrik

pun bergerak maju.

“Apakah yang akan kalian lakukan?” bentak Kuda Sempana.

Para cantrik itu terdiam.

Kuda Sempana yang melihat tingkah laku para cantrik itu menjadi

sangat marah. Dengan serta-merta ia meloncat menyerbu. Setiap

kali tangan dan kakinya bergerak, setiap kali seorang cantrik

terpelanting jatuh sambil mengeluh pendek. Tubuh-tubuh yang

terbanting itu merasa, seakan-akan segenap tulang belulangnya

menjadi remuk. Dan karena itulah maka mereka tidak lagi sempat

untuk berdiri, ketika mereka melihat Kuda Sempana meloncat dan

berlari memasuki pringgitan lewat pendapa rumah Empu Purwa itu.

Yang terdengar adalah suara Wiraprana terbata-bata, “Jangan,

jangan. Namun tubuhnya terasa sangat lemahnya. Tulang-tulang

iganya seperti lepas terpecah-pecah. Sekali ia mencoba bergerak,

namun perasaan nyeri menyengat seluruh tubuhnya.

Karena itu, maka kini tak seorang pun yang dapat menahan Kuda

Sempana. Ia berlari saja masuk ke dalam rumah.

Namun rumah itu sedemikian sunyinya.

Sekali-kali ia mencoba menengok bilik-bilik yang ada di dalam

rumah itu. Sentong tengah, sentong kiri dan kanan, namun tak

dijumpai seorang pun. Dengan gelisah ia meloncat dari satu

ruangan ke ruangan yang lain. Namun ruangan-ruangan itu telah

kosong.

Kini dengan geramnya Kuda Sempana meloncat ke gandok

sebelah kiri. Namun gandok ini pun ditemuinya kosong. Dan

karenanya Kuda Sempana segera berlari ke gandok sebelah kanan.

Diloncatinya setiap pintu, dan dijenguknya setiap ruangan.

“Gila!” desahnya. Dan Kuda Sempanalah yang sebenarnya hampir

gila. Sekali lagi ia berlari- lari di dalam rumah itu. Seluruh ruangan

telah dimasukinya dan hampir seluruh sudut-sudutnya telah

dilihatnya. Namun Ken Dedes tidak ditemukannya.

Ketika sekali ia meloncati pintu belakang, dan dilihatnya seorang

perempuan yang bersembunyi di balik sebuah tumpukan batu,

dengan serta-merta Kuda Sempana meloncat menghampiri. Namun

ternyata perempuan itu adalah seorang yang sedang ketakutan.

“Gila!” umpatnya sekali lagi.

“Di mana Ken Dedes?” bentaknya.

Endang yang ketakutan itu menjadi semakin takut. Tiba-tiba ia

terduduk lemas karena kakinya yang gemetar.

“Di mana Ken Dedes?” Kuda Sempana berteriak.

Endang itu menggeleng lemah. Dan tubuhnya menggigil ketika

tangan Kuda Sempana memegang bahunya kuat-kuat sambil

mengguncang-guncang tubuhnya.

“Di mana Ken Dedes? Cepat!”

“Aku tidak tahu,” jawab endang itu tergagap.

“Bohong. Ayo, tunjukkan di mana Ken Dedes.

Endang itu menjadi semakin takut. Meskipun bibirnya bergerakgerak

namun tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan, sehingga

Kuda Sempana menjadi semakin marah. Tetapi ketika sekali lagi ia

mengguncang tubuh endang yang ketakutan itu, maka ia

mengumpat, “Setan!” Dibiarkannya endang yang ketakutan itu

terbaring pingsan.

Kini Kuda Sempana tidak mencari Ken Dedes di dalam rumah.

Cepat ia berlari ke dapur. Di sekitar dapur itu dilihatnya beberapa

bilik tempat para endang. Karena itu, maka dengan marahnya satu

demi satu bilik itu dimasukinya.

Ketika Kuda Sempana sampai di bilik yang paling ujung, bilik

seorang emban tua, maka dengan serta-merta ditariknya pintu bilik

yang masih tertutup itu. Demikian pintu itu terbuka, maka alangkah

terkejutnya. Kuda Sempana itu tegak di muka pintu dengan wajah

yang tegang. Sedang di dalam bilik itu terdengar sebuah jerit

pendek.

“Hem,” geram Kuda Sempana, “akhirnya kau kutemukan juga.”

Ken Dedes yang berada di dalam bilik itu bersama pemomongnya

yang telah mencoba menyembunyikannya menjadi terkejut pula.

Dengan gemetar ia memandang Kuda Sempana yang menakutkan

itu. Dengan demikian, maka Ken Dedes dapat membayangkan

bahwa Wiraprana dan para cantrik tidak berhasil mencegah orang

yang hampir menjadi gila ini.

Dengan demikian, maka ketakutan yang amat sangat menjalar di

dada Ken Dedes. Apa yang pernah terjadi, ternyata kini berulang

kembali.

“Ken Dedes,” berkata kuda Sempana dengan suara parau,

“maafkan aku, kalau aku memilih cara ini untuk mengambilmu.

Kalau kau tidak keras hati, maka pasti aku akan menempuh jalan

lain. Tetapi jalan lain itu kini telah tertutup sama sekali. Karena itu,

maka jalan satu-satunya adalah cara ini.”

Ken Dedes memandang Kuda Sempana dengan muaknya.

Betapapun ia menjadi takut, namun ia tidak dapat membiarkan

dirinya dijamah oleh iblis itu. Karena itu maka katanya, “Kuda

Sempana, itu sama sekali bukan cara seorang jantan.”

Kuda Sempana terkejut, katanya, “Aku telah berhadapan dengan

Wiraprana. Laki-laki yang akan menjadi suamimu itu. Aku telah

bertempur melawannya. Bukan aku yang tidak bersikap jantan,

namun Wirapranalah yang berlaku demikian. Sebab ia tidak

bertempur seorang melawan seorang. Ia telah bertempur bersamasama

para cantrik melawan aku. Apakah dengan demikian aku

kurang bersikap jantan?”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Wiraprana telah dikalahkan.

Tetapi bagaimanakah nasibnya? Apakah anak muda itu telah

terbunuh?

Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Ken Dedes. Takut,

cemas dan pertanyaan- pertanyaan yang timbul tentang nasib

Wiraprana. Namun dengan demikian, tiba-tiba gadis itu mengangkat

wajahnya. Ketika ia tidak melihat lagi jalan untuk melepaskan diri,

maka dengan lantangnya ia berkata, “Kuda Sempana. Jangan

mencoba menyentuh kulitku!”

Wajah Kuda Sempana yang merah padam itu kini menjadi

semakin menyala. Dengan geramnya ia berkata, “Ken Dedes, aku

telah mengalahkan setiap laki-laki yang ada di padepokan ini.

Apakah yang akan dapat kau lakukan?”

Ken Dedes itu kini justru tidak menjadi gemetar lagi. Dengan

dada tengadah ia berkata, “Kuda Sempana, kau mungkin dapat

mengalahkan sedap orang yang menghalang-halangi maksudmu.

Namun kau tak akan dapat mengalahkan aku sendiri. Sebab bagiku,

lebih baik aku mati daripada menjadi istri pelarian.”

“Jangan gila!” sahut Kuda Sempana, “kau tak akan mati. Mungkin

kau belum merasakan keindahan rumah tangga kita kelak. Tetapi

jangan kau coba membunuh dirimu sendiri.”

“Apa pedulimu? Dan ternyata kau tidak akan mengalahkan maut

itu.”

Kuda Sempana itu terdiam sesaat. Dilihatnya di belakang Ken

Dedes berdiri seorang emban tua dengan mata yang

memandangnya dengan penuh kebencian. Namun Kuda Sempana

sama sekali tidak memperhatikannya. Baru ketika emban itu

berkata, “Kuda Sempana, adakah Angger telah berpikir masakmasak

tentang apa yang Angger lakukan?”

“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Apa kau sangka, kau cukup

bernilai untuk memberi aku nasihat?”

“Aku tidak memberi nasihat, Ngger. Tetapi sebagai seorang tua

aku heran melihat tingkah Angger. Bukankah Angger seorang yang

cukup jantan?”

l

“Sudah aku katakan. Aku telah bertempur melawan lebih dari

tujuh orang laki-laki di halaman?”

“Tetapi apakah Angger tidak mendengar, bahwa di padepokan ini

akan dilangsungkan sayembara tanding?”

“Gila! Apakah kau mengigau?”

“Tidak. Sesudah Nini dipertunangkan dengan Angger Wiraprana,

masih saja banyak sekali lamaran-lamaran yang datang. Karena itu,

maka segera akan diadakan sayembara tanding.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia

berteriak, “Bohong! Jangan banyak bicara!”

Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Jangan mencoba

melawan!”

Tetapi Kuda Sempana menjadi sangat terkejut. Demikian ia

melangkah maju maka tiba-tiba dilihatnya sebuah patrem di tangan

emban itu. Dan dengan tidak disangka-sangka maka emban itu

berkata, “Jangan jamah momonganku!”

“Gila! Apa yang akan kau lakukan?”

Emban tua itu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi Kuda Sempana

tidak menyangka, bahwa emban tua itu menarik kainnya, dan

disangkutkannya pada ikat pinggangnya. Kemudian hilanglah wajah

yang suram. Kini wajah emban itu menjadi tegang. Dengan patrern

di tangan ia melangkah maju. Katanya, “Angger Kuda Sempana. Kau

telah mengalahkan setiap laki-laki di padepokan ini. Namun kau

belum mengalahkan aku.”

Ken Dedes sendiri menjadi terkejut bukan buatan. Tidak

disangkanya bahwa embannya itu sedemikian setianya kepadanya.

Sehingga karena itu, maka ia tertegun diam seperti patung.

Kuda Sempana terpaku diam di tempatnya. Namun ketika ia

menyadari keadaannya, maka ia terdengar tertawa terbahak-bahak

seperti akan meruntuhkan rumah itu.

Kuda Sempana itu menjadi marah bereampur geli. Seakan-akan

ia sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan lawak yang lucu,

namun memuakkannya. Karena itu, maka untuk melepaskan

kejengkelannya, kemarahannya dan segala macam perasaan yang

bereampur baur di dalam dadanya, Kuda Sempana itu tertawa

seperti orang kerasukan setan.

Ken Dedes yang masih terpaku karena keheranannya melihat

sikap embannya itu, kemudian menjadi tersadar pula akan

keadaannya. Di mukanya berdiri hantu yang sedang tertawa,

seakan-akan mendapat mangsa yang menyenangkan. Sedang apa

yang dilakukan oleh embannya itu sama sekali tak akan dapat

menolongnya.

Tetapi ketika Kuda Sempana sedang melepaskan benturanbenturan

perasaan yang menghimpit dadanya, terdengar emban itu

berbisik lirih, “Nini. Biarlah aku mencoba mengikat anak muda ini

meskipun hanya sesaat. Dan cobalah mempergunakan waktu itu

untuk melarikan diri ke luar halaman.”

Ken Dedes mendengar bisikan itu. Tetapi sejenak ia ragu-ragu.

Apakah usaha itu berhasil? Namun segala usaha akan.

Ditempuhnya. Ia akan mencoba melakukan nasihat embannya itu.

Tetapi apakah yang akan terjadi dengan emban tua itu?”

Dalam pada itu Kuda Sempana telah hampir berhenti tertawa.

Matanya yang menyala itu memandang emban tua itu dengan

penuh nafsu, seakan-akan emban tua itu akan diremasnya sampai

lumat.

“He, perempuan tua! Jangan membuat aku bertambah marah.

Dengan ujung jariku aku akan dapat membunuhmu. Dan kalau aku

menjadi bertambah-tambah marah, rumah ini akan aku bakar dan

kalian yang telah menentang kehendakku akan aku benamkan ke

dalam api.”

“Itu akan menjadi lebih baik,” jawab emban itu, “kematian kami

akan menjadi sempurna.”

“Gila! Kau benar-benar gila!” teriak Kuda Sempana. Namun

kemudian ia mencoba untuk mengabaikan perempuan itu. Katanya

kepada Ken Dedes, “Ken Dedes ikut aku!”

Ken Dedes itu menjadi gemetar kembali. Namun terdengar ia

menjawab lantang, “Tidak!”

“Kalau tidak, aku akan memaksamu. Menangkapmu dan

membawamu lari dengan kudaku.”

Ken Dedes itu terbungkam. Alangkah ngerinya. Tetapi ia tidak

dapat berbuat sesuatu. Kuda Sempana itu berdiri di ambang pintu

bilik itu satu-satunya.

Kuda Sempana itu pun kemudian tidak bersabar lagi. Sekali ia

meloncat untuk menangkap Ken Dedes. Namun kembali anak muda

pelayan dalam Akuwu Tumapel itu terkejut bukan buatan. Demikian

ia meloncat maju, maka perempuan tua itu meloncat pula dengan

lincahnya menghalanginya. Sambil berdiri di muka Ken Dedes,

emban itu berkata, “Sudah aku katakan. Selama aku masih berdiri di

sini, jangan jamah momonganku.”

Mata Kuda Sempana seperti akan meloncat keluar melihat sikap

emban tua itu. Bukan sekedar sikap seorang tua yang bunuh diri.

Tetapi kakinya miring, serta lututnya yang merendah sedikit, adalah

sikap yang meyakinkan. Karena itulah maka Kuda Sempana itu

tertegun sejenak. Ditatapnya perempuan tua itu dengan tajamnya.

Dan kemudian terdengar ia menggeram, “Jangan menghalangi aku!

Sisa-sisa umurmu itu akan terempas habis bersama

kesombonganmu.”

Perempuan itu tidak menjawab. Namun patremnya terangkat

setinggi dada mengarah kepada lawannya.

Kuda Sempana menjadi semakin marah karenanya. Dan

perempuan itu masih juga menghalanginya.

Namun dalam pada itu, Kuda Sempana itu tidak mengetahuinya,

bahkan Ken Dedes pun tidak, bahwa perempuan yang berdiri di

hadapannya itu adalah ibu Mahisa Agni. Perempuan itu adalah

bekas istri seorang laki-laki yang mendambakan dirinya pada

kekuatan-kekuatan kanuragan dan kesaktian. Meskipun perempuan

itu belum pernah berguru kepada siapa pun juga, namun untuk

menyenangkan hati suaminya, ia telah mencoba untuk mengikuti

setiap kesenangan dan kebiasaannya. Bahkan sebelum itu pun ia

adalah seorang gadis yang sedang dilanda oleh angan-angan

tentang seorang laki-laki yang sakti, yang merantau dari satu

tempat ke tempat yang lain. Berjuang untuk menemukan buat bekal

hari depannya. Karena itulah maka hidupnya pun selalu diliputi oleh

angan-angan yang demikian. Sedikit demi sedikit ia mampu juga

untuk menirukan suaminya, dan bahkan mencoba untuk berbuat

serupa. Meskipun setiap kali suaminya menertawakannya, namun ia

berbuat terus. Mula-mula hanyalah sebuah permainan dalam senda

gurau pengantin baru. Namun semakin lama, gerak-gerak itu

dipahami pula.

Tetapi bukan itulah yang telah menempa perempuan itu. Sejak ia

membuang diri, menjauhi pergaulan manusia karena dosa-dosa

yang mengejarnya, maka kemampuan-kemampuan yang tersimpan

di dalam tubuhnya itu sedikit demi sedikit terungkapkan. Sekali-kali

ia mencoba juga menolong perempuan-perempuan yang ketakutan

dikejar-kejar oleh beberapa perampok kecil di perjalanan. Sekali-kali

ia mampu juga untuk melindungi dirinya dari segenap bahaya.

Waktu itu ia adalah seorang janda muda yang kadang-kadang masih

dapat menyalakan hati laki-laki. Dalam masa pembuangan diri

itulah, maka perempuan itu menemukan berbagai hal yang

mematangkan lahir dan batinnya.

Kini, setelah sekian lamanya, kemampuan-kemampuan yang

aneh bagi kebiasaan perempuan itu disimpannya, tiba-tiba seperti

bendungan yang pecah, maka terngangalah kesempatan untuk

menyalurkannya. Meskipun perempuan itu, sadar, sesadarnya,

bahwa Kuda Sempana itu bukan lawannya. Bahwa kekuatannya

jasmaniahnya, telah susut. Bukan saja karena umurnya, namun

karena ia sama sekali tidak pernah mempergunakannya lagi sejak ia

tinggal di padepokan Empu Purwa.

Tetapi kini sebenarnya ia sama sekali memang tidak akan

mengalahkan Kuda Sempana, Ia hanya ingin memberi waktu kepada

Ken Dedes untuk melarikan dirinya keluar halaman dan bersembunyi

di mana saja. Meskipun kemudian dirinya sendiri menjadi korban

karenanya, namun ia benar-benar ingin menyelamatkan gadis yang

menjadi momongannya itu.

Kuda Sempana yang marah itu, kini sudah tidak dapat

mengendalikan dirinya lagi. Karena itu segera ia berteriak, “Minggir!

Atau mampus kau perempuan sekarat!”

Tetapi Kuda Sempana itu menjadi kecewa. Ternyata perempuan

itu mampu meloncat menghindari serangannya. Bahkan kemudian

tangannya yang kecil berkeriput itu terjulur lurus ke lambungnya.

Cepat Kuda Sempana mengelakkan ujung patrem yang hampir saja

menyengatnya sambil berdesis, “Setan! Kau benar-benar ingin

kuremukkan kepalamu.”

Namun perempuan tua itu tidak memedulikannya. Sekali lagi ia

bergeser maju sambil memutar patremnya. Dan sekali lagi Kuda

Sempana terpaksa bergeser mundur. Timbullah berbagai pertanyaan

di dalam dadanya, siapakah gerangan perempuan aneh ini? Setelah

sekali dua kali ia melihat geraknya, maka Kuda Sempana dapat

meraba-raba bahwa sebenarnya perempuan itu telah mengenal gula

ilmu tata bela diri. Karena itu, maka dengan mengumpat-umpat tak

habis-habis ia terpaksa melayani.

Tetapi dengan demikian, Kuda Sempana lupa, bahwa satusatunya

pintu bilik itu telah terbuka bagi Ken Dedes. Ketika

perkelahian itu berkisar dari tempatnya, maka pada suatu saat Kuda

Sempana berdiri bertentangan dengan pintu itu. Kesempatan itulah

yang ditunggu-tunggu oleh perempuan tua itu. Seperti orang yang

kehilangan kesadaran perempuan itu menyerang sejadi-jadinya.

Ternyata tangannya yang kecil itu mampu juga mempermainkan

patrem dengan baiknya.

Dalam pada itu, maka ketika Kuda Sempana menjadi agak lupa

atas pintu itu, berkatalah perempuan itu, “Nini, tinggalkan ruangan

ini!”

“Gila!” teriak Kuda Sempana, “Jangan kau coba!”

Ken Dedes yang terpaku melihat perkelahian itu, seakan-akan

tersadar dari tidurnya. Pintu itu kini tidak lagi dihantui oleh

bayangan Kuda Sempana. Karena itu, maka dengan serta-merta ia

berlari menghambur keluar;

“Ken Dedes!” teriak Kuda Sempana. Namun Ken Dedes berlari

terus.

Karena itulah maka perhatian Kuda Sempana menjadi terpecah.

Sebagian perhatiannya terikat kepada perkelahian itu, sedang

sebagian lagi mengikuti langkah Ken Dedes. Namun Kuda Sempana

adalah seorang anak muda yang perkasa. Karena itu segera ia

mampu menemukan keseimbangan pikirannya kembali. Perempuan

yang menghalanginya itu harus disingkirkan, baru ia akan berlari

mengejar Ken Dedes.

Ternyata perempuan itu memang bukan lawan Kuda Sempana.

Ia hanya sekedar dapat memancing perhatian Kuda Sempana.

Karena itu, ketika Kuda Sempana itu menjadi marah, maka dengan

sekali loncat ia berhasil mendesak perempuan itu ke sudut.

Kemudian dengan garangnya ia menyerangnya dengan kakinya.

Tetapi perempuan tua itu masih juga membela dirinya untuk

memberi kesempatan kepada Ken Dedes meninggalkan halaman itu.

Karena itu, maka ketika kaki Kuda Sempana terjulur ke arahnya,

maka segera ia menarik patremnya menyongsong setangan kaki itu.

Tetapi Kuda Sempana tidak membiarkan kakinya terluka. Cepat ia

menarik serangannya, dan dengan cepatnya ia berputar di atas satu

kakinya, sedang kaki yang lain segera menyambar tangan

perempuan tua yang memegang patrem itu. Namun Kuda Sempana

mengumpat. Tangan yang telah kurus itu ternyata masih juga

cekatan, sehingga kaki Kuda Sempana tak menyentuhnya.

Demikianlah Kuda Sempana menjadi semakin marah karenanya.

Tetapi di samping itu, ia menjadi gelisah pula atas gadis yang

melarikan diri. Tetapi kegelisahannya itu telah mendorongnya untuk

lebih mempercepat penyelesaian atas perempuan tua itu.

Ken Dedes, yang telah berhasil keluar dari bilik itu, segera berlari

ke halaman depan. Maksudnya akan berlari keluar halaman dan

bersembunyi di rumah di sekitarnya. Tetapi ketika ia turun dari

pendapa, Ken Dedes itu terkejut bukan main. Dilihatnya beberapa

orang cantrik terbaring di tanah, dan beberapa orang yang lain

mencoba merangkak bangkit. Tetapi Ken Dedes itu lebih terkejut

lagi ketika dilihatnya di antara mereka Wiraprana pun yang dengan

susah payah berusaha untuk bangkit.,

“Kakang!” teriak Ken Dedes

Wiraprana menggigit bibirnya. Dengan suram ia memandang

gadis itu. Desahnya, “Di manakah Kuda Sempana?”

“Di belakang,” sahut Ken Dedes yang dengan serta-merta

bersimpuh di sampingnya.

“Kau dapat lepas dari tangannya?”

“Ya. Bibi emban sedang berkelahi melawannya?”

“Emban yang mana?” bertanya Wiraprana heran.

“Emban tua. Pemomongku.”

Wiraprana tidak mengerti akan keterangan itu. Emban tua,

pemomong Ken Dedes. Aneh. Tetapi ia tidak sempat untuk bertanya

terlalu banyak. Wiraprana itu pun kemudian berpikir tentang nasib

Ken Dedes. Karena itu katanya, “Lalu apakah yang akan kau lakukan

sekarang.”

“Bersembunyi selagi masih ada kesempatan.”

“Baik. Bersembunyilah di rumah tetangga. Apakah Kuda

Sempana akan memasukinya satu demi satu?”

“Ya.”

“Nah. Pergilah.”

Tetapi Ken Dedes tidak segera berdiri, sehingga Wiraprana itu

menegurnya, “Pergilah selagi ada kemungkinan.

“Lalu bagaimanakah dengan kau, Kakang?”

“Biarkan aku. Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi bagaimanakah nanti kalau Kuda Sempana itu kembali

kemari?”

“Biarkan aku. Pergilah. Pergilah secepatnya sebelum Kuda

Sempana datang.”

Ken Dedes pun berdiri. Namun ia masih ragu-ragu karenanya. Ia

tidak sampai hati meninggalkan Wiraprana yang wajahnya merah

biru sedang darah mengalir dari hidungnya.

Wajah yang demikian itu pulalah yang pernah dilihatnya

beberapa waktu yang lalu di bendungan. Dan ternyata kini berulang

kembali.

“Ken Dedes pergilah cepat. Cepat!”

Ken Dedes itu pun segera melangkah, namun ia sudah terlambat.

Dari balik pintu pringgitan muncullah Kuda Sempana berlari-lari.

Ternyata dengan cepat Kuda Sempana telah berhasil mendorong

emban tua itu jatuh terbanting. Betapa berat tangan Kuda Sempana

itu, sehingga emban yang sudah tua itu tidak mampu untuk segera

bangkit kembali. Dengan nafas terengah-engah perempuan itu

mencoba untuk bangun, namun tubuhnya terasa seperti tidak

bertulang lagi. Meskipun demikian, selagi Kuda Sempana masih

tampak di matanya, segera ia melemparkan patremnya, ke arah

anak muda itu. Tetapi sama sekali tidak berarti. Sebab dengan

cepatnya Kuda Sempana berhasil menghindarinya.

Oleh kemarahan Kuda Sempana yang telah memuncak sampai ke

ubun-ubunnya, maka anak muda itu bermaksud membunuh saja

emban yang telah mencoba mengganggunya, tetapi segera ia

teringat kepada Ken Dedes. Dengan demikian ia menggeram, “He

perempuan celaka. Biarlah kau hidup sampai aku berhasil

menangkap Ken Dedes.”

Kuda Sempana itu segera meloncat berlari, dan sampai di

halaman ia menarik nafas lega. Ia masih melihat Ken Dedes di situ.

Ken Dedes yang melihat kedatangan Kuda Sempana itu kembali

menjadi gemetar. Kin tak ada lagi yang dapat diharapkan untuk

melindungi dirinya. Karena itu, maka dalam kebingungan ia

melangkah terus. Berlari meninggalkan halaman rumahnya. Tetapi

Kuda Sempana pun berlari pula mengejarnya. Wiraprana yang

masih belum dapat bergerak memandangnya dengan penuh

kecemasan. Sehingga karenanya tanpa sesadarnya ia berteriak,

“Kuda Sempana. Kau benar-benar telah kepanjingan setan.

Kemarilah kalau kau jantan.”

“Mampuslah kau Wiraprana,” sahut Kuda Sempana, “ambil berlari

mengejar Ken Dedes.”

Demikian Ken Dedes meloncat keluar dari pintu halamannya,

dilihatnya beberapa anak muda berdiri di luar. Dengan serta-merta

ia berteriak, “Tolong! Tolonglah aku.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Kuda Sempana bukan

orang yang dapat mereka lawan. Mereka tidak lebih dari beberapa

orang cantrik yang telah terbaring di halaman Empu Purwa itu.

Namun meskipun demikian anak-anak muda itu masih tetap berdiri

tegak di tempatnya. Sudah barang tentu mereka tak akan dapat

membiarkan seorang gadis dari lingkungannya mengalami nasib

yang memedihkan.

Sesaat kemudian muncullah Kuda Sempana dari pintu gerbang

itu pula. Ketika ia melihat beberapa anak muda berdiri di

hadapannya, maka langkahnya tertegun. Dengan kemarahan yang

menyala-nyala ia berteriak, “Apakah yang akan kalian lakukan?”

Tak seorang pun dari anak-anak muda itu yang menjawab.

Mereka telah melihat apa yang terjadi di halaman. Tetapi mereka

pun tak sampai hati melepaskan Ken Dedes dibawanya. Karena itu

mereka masih saja berdiri tegak hampir berhimpitan. Sedang Ken

Dedes yang gemetar berdiri di belakang mereka.

Kuda Sempana yang marah itu menjadi semakin marah. Ketika

selangkah ia maju, maka anak-anak muda Panawijen itu pun

berdesakan mundur. Mereka tidak berani langsung menentang

kekerasan yang memancar dari mata Kuda Sempana Itu.

Alangkah kecewanya Ken Dedes melihat kawan-kawannya yang

ketakutan itu. Karena itu, maka ia tidak akan dapat

menggantungkan dirinya kepada mereka. Sebab ternyata pula,

ketika Kuda Sempana maju selangkah lagi, maka mereka pun telah

berebut untuk menghindar.

Kuda Sempana yang marah itu pun kemudian berteriak, “Pergi!

Pergi. Biarkan aku berbuat menurut kehendakku.”

Anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu. Sekali lagi mereka saling

berpandangan. Meskipun demikian, terpancarlah dari wajah-wajah

mereka, bahwa mereka sama sekali tidak ikhlas melihat peristiwa

itu. Tetapi mereka kurang keberanian untuk mencegahnya. Sebab

mereka tahu, siapakah Kuda Sempana itu.

Kuda Sempana itu pun kemudian tidak bersabar lagi. Sekali lagi

ia berteriak, “Pergi! Pergi, atau siapakah yang akan mati dahulu di

antara kalian? Beberapa orang telah mencoba mencegah

kemauanku. Sekarang kalian memperlambat pula. Karena itu, maka

kemarahan yang bertumpuk undung di dalam dadaku, akan aku

tumpahkan kepada kalian. Siapa yang tidak menuruti kemauanku

meninggalkan tempat ini maka merelalah yang akan mati lebih

dahulu.”

Anak-anak muda itu menjadi semakin cemas. Kuda Sempana

benar-benar akan membunuh mereka yang mencoba menghalangi

kemauannya. Tetapi apakah Kuda Sempana itu akan dibiarkannya

untuk membawa Ken Dedes pergi.

Ken Dedes yang menggigil di belakang mereka itu menjadi

semakin takut. Anak-anak muda Panawijen ternyata kurang memiliki

keberanian. Karena itu ia berbisik dengan suara gemetar, “Tolonglah

aku, Tolonglah.”

Sesaat ketika anak-anak muda itu mendengar suara Ken Dedes,

mereka menjadi iba, dan seolah-olah mereka pun segera akan

melindunginya. Namun apabila terpandang oleh mereka itu mata

Kuda Sempana, maka kembali hati mereka keriput.

Kuda Sempana yang marah itu pun kemudian berkata, “Aku akan

melangkah langsung mengambil gadis itu. Mingggir,atau siapa yang

masih berdiri di hadapanku akan aku binasakan.”

Kuda Sempana tidak menunggu apapun lagi. Selanglah ia maju,

dan anak-anak muda itu pun mundur pula. Ketika Kuda Sempana

maju lagi, mereka pun mundur lagi selangkah. Dan ketika langkah

Kuda Sen paria menjadi semakin cepat, maka tiba-tiba mereka itu

pun menyibak.

“Tolong, tolonglah aku!” jerit Ken Dedes. Namun anak-anak

muda itu telah menyibak, seakan-akan sengaja memberi jalan

kepada Kuda Sempana untuk langsung dapat menangkap Ken

Dedes.

Ken Dedes menjadi bertambah ketakutan. Terbayanglah

peristiwa yang mengerikan akan menimpanya. Karena itu tanpa

malu-malu ia mengguncang-guncang tubuh seorang anak muda

yang berdiri di dekatnya, “Cegahlah, cegahlah. Aku tidak mau! Aku

tidak mau!”

Hati anak muda itu pun terguncang pula. Alangkah ibanya

kepada gadis itu. Tetapi ia tidak mau mati. Karena itu ia menjadi

ragu-ragu.

Dalam pada itu Kuda Sempana melangkah terus. Setiap langkah

yang diayunkan, terasa seakan-akan sebuah tusukan sembilu di

dada Ken Dedes. Sekali lagi ia mencoba menjerit sambil

mengguncang-guncang tubuh anak muda yang berdiri di

hadapannya, “Aku tidak mau! Aku tidak mau!”

Tetapi pemuda itu tidak berani menatap nyala yang memancar

dari mata Kuda Sempana. Karena itu, maka ia pun kemudian

bergeser mundur.

Pada saat yang demikian, pada saat Ken Dedes menjadi berputus

asa, serta pada saat anak-anak muda Panawijen kehilangan akal,

maka mereka dikejutkan oleh suara derap kuda yang menggema di

padukuhan itu. Suaranya gemeretak seperti suara guruh yang sahut

menyahut berputaran.

Kuda Sempana terkejut mendengar derap kuda itu. Sesaat

langkahnya tertegun. Diangkatnya wajahnya dan dicobanya untuk

mengetahui, dari manakah arah suara itu.

Terasa sesuatu bergetar di dada anak muda itu. Sekilas tebersit

gambaran anak muda yang bernama Mahisa Agni. “Tidak mungkin,”

katanya di dalam hati, “anak itu berjalan kaki. Kalau ia tergesa-gesa

pulang, secepatnya tengah malam nanti ia akan sampai.” Kemudian

katanya pula di dalam hatinya itu, “Seandainya anak muda itu

datang, maka aku sekarang tidak akan gentar lagi untuk

menghadapnya.”

Meskipun demikian Kuda Sempana itu menjadi gelisah pula.

Ketika tampak di matanya anak-anak muda Panawijen itu pun

menjadi terkejut dan memerhatikan suara derap kuda itu, maka

terdengar ia berteriak, “Minggir, cepat!”

Namun sebelum Kuda Sempana meloncat menangkap Ken

Dedes, maka terasa sesuatu berdesir di dalam hatinya. Dari

tikungan dilihatnya seekor kuda meluncur secepat anak panah yang

lepas dari busurnya. Debu putih mengepul berhamburan di belakang

kaki-kaki kuda itu. Dan ketika Kuda Sempana melihat

penunggangnya, jantung serasa berhenti berdenyut.

“Mahisa,” Agni desisnya.

Anak muda itu adalah Mahisa Agni. Hatinya tersirap ketika ia

melihat beberapa orang berkerumun di muka gerbang halaman

rumah gurunya. Kudanya yang berlari kencang itu dicambuknya

sehingga seakan-akan kuda itu terbang.

Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama. Segera ia sampai di

antara anak-anak muda yang berkerumun itu. Dengan sekuat

tenaga ditariknya kekang kudanya, sehingga kuda itu meringkik

sambil tegak di atas kedua kaki belakangnya. Demikian kuda itu

menjejakkan kaki depannya, demikian Mahisa Agni meloncat turun.

Yang mula-mula terdengar adalah suara Ken Dedes menjerit,

“Kakang. Kakang Mahisa Agni!”

Sebelum Kuda Sempana sempat menangkapnya, gadis itu

meloncat berlari ke arah Mahisa Agni. Gadis yang ketakutan dan

hampir berputus asa itu, dengan serta-merta memeluk tubuh

Mahisa Agni sambil memuntahkan segenap himpitan perasaan di

dalam dadanya. Ken Dedes itu menangis seperti kanak-kanak.

Ketika tersentuh olehnya tubuh Mahisa Agni, yang dianggapnya

sebagai kakak kandungnya itu, maka terasa seakan-akan ia telah

menemukan perlindungan. Sebagai anak ayam yang bersembunyi

dibalik sayap induk ketika seekor elang mengintainya, demikianlah

apa yang dilakukan oleh Ken Dedes itu.

—–

Sebelum Kuda Sempana menangkapnya, gadis itu meloncat

berlari ke arah Mahisa Agni. Gadis yang ketakutan dan hampir

berputus asa itu,dengan serta-merta memeluk tubuh Mahisa Agni

…..

—–

Kuda Sempana menyaksikan perbuatan itu dengan gigi yang

gemeretak. Matanya yang menyala karena kemarahan yang

membakar dadanya. seakan-akan hendak meloncat dari pelupuknya.

Sehingga kemudian terdengar ia menggeram parau, “Ken Dedes.

Ikutlah aku!”

Ken Dedes tidak mendengar kata-kata itu. Ia baru tenggelam ke

dalam tangisnya yang menyesakkan dadanya. Namun Mahisa

Agnilah yang mendengar kata-kata itu. Karena itu didorongnya Ken

Dedes perlahan-lahan ke samping sambil berkata, “Minggirlah, Ken

Dedes, biarlah anak muda itu aku layani.”

Ken Dedes mendengar kata-kata Mahisa Agni itu sebagai suatu

peringatan, bahwa di belakangnya bahaya masih selalu

mengintainya. Karena itu, maka segera dilepaskannya tangannya,

dan bergeser menepi.

Kini Mahisa Agni itu berdiri dengan kokohnya menghadap ke arah

Kuda Sempana yang telah bersiap pula. Dari wajah2-wajah mereka,

terbayang kemarahan yang telah memuncak.

Sesaat mereka hanya berdiri raja saling berpandangan. Meskipun

tak sepatah kata pun yang terloncat dari bibir mereka, namun dari

mata mereka telah memancar perasaan dendam, benci dan segala

macam.

Suasana pun segera meningkat menjadi semakin tegang.

Seakan-akan tanah tempat mereka berpijak itu telah menyala.

Dalam keheningan yang membara itu terdengar suara Mahisa

Agni berat, “Apa yang telah kau lakukan di sini Kuda Sempana?”

Kuda Sempana memandang Ken Dedes sesaat, kemudian

jawabnya, “Tak usah kau bertanya., kau sudah dapat menebaknya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan.

Katanya, “Hem. Masih juga kau ulangi niatmu yang gila itu?”

“Sebelum aku berhasil, maka aku tak akan berhenti berusaha.

Hanya orang-orang kerdil sajalah yang melupakan cita-citanya.”

“Kuda Sempana. Untuk yang terakhir kalinya aku

memperingatkanmu. Urungkan niatmu. Kau akan dapat mencari

gadis yang tak kalah cantiknya di Tumapel.”

i

“Gila. Kau jangan mengigau Mahisa Agni. Kau sangka nilai

seorang gadis sama dengan nilai seekor ayam aduan? Yang dapat

dipilih di pasar-pasar atau di kalangan adu jago? Agni aku mau

menilai gadis yang aku kehendaki seperti aku menilai jiwaku

sendiri.”

“Aku menghormati penilaian itu,” sahut Mahisa Agni, “tetapi kau

tidak berpijak atas nilai timbal balik. Kau menilai dirimu dan

nyawamu sendiri. Tetapi pernahkah kau bertanya kepadanya,

kepada Ken Dedes, bagaimana ia menilai dirimu?”

Kuda Sempana diam sesaat. Kemarahannya kini menjadi semakin

memuncak. Dan karena itulah maka matanya menjadi makin merah

membara.

Dihentak Kuda Sempana itu pun terbayang kembali peristiwa

beberapa waktu yang lampau di pinggir kali. Mahisa Agni itu pula

yang telah menggagalkan usahanya. Dan kini anak muda itu telah

berdiri di hadapannya pula dalam persoalan yang sama.

Tetapi beberapa waktu yang lampau Kuda Sempana bukan Kuda

Sempana yang sekarang. Kini ia telah menempa dirinya menjadi

seorang yang jarang dicari bandingnya. Kini di dalam dirinya telah

tersimpan kekuatan- kekuatan yang beberapa waktu yang lampau

diungkapkannya.

Karena itu, menyadari keadaan diri, maka tiba-tiba Kuda

Sempana itu tertawa. Suaranya terdengar aneh, di antara

kemarahan yang menggelegak sampai ke kepalanya dan

penghinaan terhadap setiap orang yang tidak menyadari, bahwa

mereka berhadapan dengan Kuda Sempana. Dan disela-sela suara

tertawanya itu terdengar ia berkata, “He, Mahisa Agni, Apaknya kau

berbangga atas kemenanganmu beberapa saat yang lampau di

pinggir belumbang di bendungan. Huh. Kau sangka bahwa aku

sedemikian bodohnya untuk kembali lagi ke Panawijen masih dalam

tataranku yang dahulu? Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan

bahwa Kuda Sempana mampu memaksakan kehendaknya atas

siapa saja. Tetapi ternyata kau tidak menyadari keadaanmu. Karena

itu, maka aku masih akan mencoba untuk mencegah peristiwaperistiwa

yang semakin buruk terjadi di sini.”

“Peristiwa itu tidak akan terjadi kalau kau dapat mengerti

perasaan orang lain, Kuda Sempana. Kalau dapat mengerti perasaan

anak-anak muda Panawijen, dan kalau kau dapat mengerti perasaan

Ken Dedes sendiri,” sahut Mahisa Agni.

“Hem,” Kuda Sempana menggeram, “apakah kau benar-benar

tidak mau melihat kenyataan tentang dirimu dan diriku?”

“Aku belum melihat kenyataan itu.”

“Baiklah,” berkata Kuda Sempana dengan suara parau. Kemudian

matanya yang merah itu menjadi semakin membara, “Apakah aku

harus membunuhmu?”

“Aku adalah kakak Ken Dedes. Kalau kau akan mengambilnya

dengan bertaruh nyawa, maka aku pun akan mempertahankannya

dengan taruhan yang sama.”

“Bagus!” teriak Kuda Sempana. Selangkah ia maju dan tiba-tiba

anak muda itu bersiap untuk menyerang.

Beberapa anak muda yang melihat sikap itu segera berdesakan

mundur. Mereka tidak mau tersentuh oleh kekuatan-kekuatan yang

tidak dapat mereka duga sebelumnya. Karena itu maka lebih baik

mereka menyingkir sejauh-jauhnya.

Kuda Sempana menjadi bangga melihat anak-anak muda

sebayanya, kawan-kawannya bermain semasa mereka masih kanakkanak

sampai menginjak dewasa itu menjadi sedemikian takutnya

melihat sikapnya yang garang. Tetapi ia menjadi sangat marah

ketika ia melihat Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Berdiri

tegak seakan 2 tidak lagi dapat digoyahkan oleh kekuatan apapun.

Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya. apapun yang akan

terjadi. Dengan penuh kewaspadaan anak muda itu siap

mempertahankan kehormatan keluarga gurunya.

“Tetapi apakah karena itu?” tiba-tiba tersembul pertanyaan di

dalam hati Mahisa Agni itu sendiri, “hanya karena mempertahankan

kehormatan keluarga gurunya?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Dengan tanpa disadarinya ia

menggelengkan kepalanya untuk mengusir kebimbangan yang

merayap di hatinya. Justru pada saat ia telah siap untuk

mempertaruhkan nyawanya.

Perasaan yang pernah menghunjam melukai jantungnya itu

masih saja sering mengganggunya. Dan kali ini pun perasaan itu

mengusiknya pula. Bukankah Ken Dedes itu bukan saudaramu?

Bukan pula gadis yang dapat mengerti perasaanmu? Kalau

kemudian terjadi bencana atas dirinya, kenapa kau mempertaruhkan

nyawamu untuknya?

Mahisa Agni itu pun kemudian mengatupkan giginya rapat-rapat.

Dicobanya untuk menindas semua perasaan yang simpang siur di

kepalanya. Dan ketika sekali lagi terpandang olehnya Kuda Sempana

yang telah siap melontarkan serangan itu, maka Mahisa Agni pun

segera bergeser setapak.

Kuda Sempana melihat keragu-raguan yang membayang di

wajah Mahisa Agni. Karena itu ia berkata, ” Agni, apakah kau

mempunyai pertimbangan lain?”

Pertanyaan itu justru semakin membakar hati anak muda itu.

Justru semakin membulatkan tekadnya untuk mempertahankan Ken

Dedes itu.

“Persetan! Apapun sebabnya,” teriaknya di dalam hatinya untuk

menindas segala perasaan yang mencoba untuk mengabulkan

tekadnya.

Karena itulah maka terdengar Mahisa Agni itu menjawab, “Ya.

Aku menjadi ragu-ragu. Apakah aku sebaiknya membunuhmu atau

tidak.”

Kuda Sempana yang marah itu menggeram, “Jangan terlalu

sombong!”

Mahisa tidak menjawab. Tetapi ia siap menunggu serangan

sudah hampir terlontar.

Sebenarnya Kuda Sempana pun tidak menunggu Mahisa Agni

menjawab. Secepat kilat anak muda itu melontarkan sebuah

serangan ke arah dada Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni pun telah

siap pula menanti serangan itu, sehingga dengan cepatnya pula ia

sempat menghindarinya.

Kuda Sempana menyadari bahwa serangannya yang pertama itu

pasti tidak akan dapat mengenai lawannya, karena itu, secepatnya

pula ia menyerang berganda. Tetapi Agni pun tidak kalah

tangkasnya, sehingga serangan- serangan itu tak mengenai

sasarannya.

Namun untuk seterunya Mahisa Agni tidak saja membiarkan

dirinya menjadi sasaran serangan-serangan Kuda Sempana. Sekali

ia berputar dan untuk seterusnya maka dengan garangnya ia pun

melancarkan serangan pula.

Demikianlah maka kini mereka berdua terlibat dalam suatu

perkelahian yang seru. Masing-masing telah dibakar oleh

kemarahan, dan masing-masing telah bertekad untuk

mempertaruhkan nyawa mereka. Karena itu, maka seranganserangan

mereka pun meluncur tanpa pengendalian.

Kuda Sempana yang merasa dirinya telah mendapatkan bekal

yang cukup, bertempur dengan penuh kebanggaan diri. Setiap kali

ia menyangka bahwa lawannya akan segera jatuh terjerembab dan

dengan demikian ia akan segera berhasil membawa Ken Dedes

pergi. Tetapi setiap kali pula ia menjadi kecewa, sebab lawannya

mampu untuk menghindari setiap serangan-serangan mautnya.

Bahkan semakin lama, Kuda Sempana itu menyadari, bahwa

lawannya kali ini, meskipun kekuatannya sendiri telah jauh

melampaui masa-masa yang lewat, namun yang dihadapinya itu

pun bukan Mahisa Agni yang dahulu.

Beberapa kali Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya. Ia

sama sekali tidak menyangka bahwa Mahisa Agni itu pun memiliki

kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuannya.

Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin cepat,

sehingga, kemudian mereka seakan-akan menjadi luluh dalam

sebuah putaran yang membingungkan. Yang dilihat oleh anak-anak

muda Panawijen itu adalah sebuah pusaran yang kalut. Hanya

beberapa kali mereka melihat bentuk-bentuk Mahisa Agni dan Kuda

Sempana, namun sesaat kemudian mereka telah meloncat dan

melontar berputaran, sehingga yang tampak hanyalah semacam

gumpalan debu yang hitam putih bercampur baur.

Kuda Sempana itu ternyata benar-benar memiliki kelebihan dari

anak-anak muda kebanyakan. Tangannya yang tangkas dan cepat

bergerak menyambar-nyambar seperti sayap sepasang garuda yang

berlaga di udara. Namun lawannya adalah seekor burung rajawali

yang tangkas. Itulah sebabnya, maka keduanya kemudian menjadi

seolah-olah dua ekor burung raksasa yang sedang bertempur,

berebut sakti untuk merajai kerajaan langit yang terbentang dari

kaki langit ke kaki langit di seputar bumi.

Tetapi semakin seru mereka bertempur, maka semakin nyata

bahwa Kuda Sempana menjadi sangat heran. Mahisa Agni itu

seakan-akan bahkan menjadi semakin segar, dan tenaganya

bertambah-tambah. Kuda Sempana mengharap ia akan segera

dapat mengakhiri perkelahian itu. Namun harapannya itu ternyata

tak akan dapat dihayatinya. Kuda Sempana sama sekali tidak tahu,

bahwa Mahisa Agni itu pun baru saja kembali dari sebuah

perjalanan yang berat. Perjalanan yang memerlukan waktu

berbulan-bulan untuk menempa dirinya. Menyadap kesempurnaan

ilmu yang dimiliki oleh gurunya. Meskipun kesempurnaan yang

dimilikinya adalah kesempurnaan yang tidak sempurna. Sebab tidak

ada sesuatu yang sempurna di permukaan bumi ini. Yang tampak

maupun yang tidak tampak. Yang sempurna hanyalah Yang Maha

Sempurna.

Mahisa Agni menyadari sepenuhnya hal ini, sebagaimana

gurunya mengatakan kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Agni

selalu menyadari pula, bahwa tidak ada ilmu yang tak dapat

dilampaui. Yang paling sakti akan dikalahkan pula oleh yang lain,

dan yang lain itu pun akhirnya akan jatuh pula. Sedang mereka

yang terlalu cepat menepuk dada, maka ialah yang paling cepat

akan jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Dan mereka yang

tidak menyadarinya, maka alangkah pahit hidupnya.

Itulah sebabnya Mahisa Agni tidak menyombongkan dirinya. Ia

bertempur dengan hati-hati. Setiap kali ia berusaha untuk

mengetahui letak kekuatan lawannya dan baru dalam saat-saat

yang pasti ia menyerangnya. Ia tidak berani menduga, apakah

ilmunya jauh lebih baik dari ilmu lawannya, sebab tidak mustahil

bahwa lawannya memiliki Kunci untuk menghancurkan ilmunya.

Tetapi Mahisa Agni bertempur dengan tabah. Ia tidak takut apapun

yang terjadi, namun ia tidak mengharap untuk dikalahkan oleh

lawannya. Karena itu, maka ia tidak kehilangan kewaspadaan.

Sehingga dengan demikian, maka Kuda Sempana yang

dikendalikan oleh nafsunya yang meluap-luap, dihambari oleh

kepercayaan kepada diri yang berlebih-lebihan, maka ia pun cepat

menjadi cemas. Ketika ia tidak segera dapat mengalahkan

lawannya, maka ia menjadi gelisah.

Justru karena kegelisahannya itu, maka tandangnya pun menjadi

semakin kehilangan pengamatan. Sekali-sekali Kuda Sempana telah

membuat kesalahan-kesalahan kecil, sehingga Mahisa Agni yang

cermat itu segera dapat mempergunakan kesempatan itu.

Kelemahan-kelemahan yang betapapun kecilnya, akan dapat

dipergunakan oleh lawannya dalam perkelahian yang demikian. Dan

kesalahan-kesalahan kecil itu pulalah yang sering membawa mereka

ke dalam suatu bencana yang besar.

Beberapa kali terasa oleh Kuda Sempana tangan lawannya telah

berhasil menerobos pertahanannya. Meskipun sentuhan-sentuhan

itu belum merupakan bahaya yang sebenarnya, namun bahwa

beberapa kali lawannya berhasil menembus ilmunya adalah

merupakan suatu pertanda yang kurang menyenangkan.

Tetapi lambat laun Kuda Sempana itu menyadari pula

keadaannya. Akhirnya ia merasa, bahwa Mahisa Agni benar-benar

mampu melawannya, bukan karena ia lengah. Bukan karena Kuda

Sempana itu belum menumpahkan segenap ilmunya. Namun Mahisa

Agni benar-benar telah memiliki ilmu tata bela diri yang setidaktidaknya

menyamainya.

Sekali terdengar Kuda Sempana itu menggeram. Dahulu ia

menjadi sangat marahnya, dan dipergunakannya sebilah keris untuk

mencoba membunuh Mahisa Agni. Tetapi kali ini Kuda Sempana

sama sekali tidak ingin mempergunakan sebilah keris. Ia

meyakinkan bahwa tangannya akan mampu meremukkan tulang

belulang lawannya, melampaui sebuah tusukan keris. Karena itulah,

maka ia tidak dapat berbuat lain daripada menumpahkan

kemarahannya dalam ilmunya yang paling utama.

Karena itu, maka Kuda Sempana itu pun meloncat mundur.

Direntangkannya kedua tangannya, kemudian dengan cepat ia

melenting ke udara, untuk sesaat kemudian bersiap dalam sikap

yang teguh kuat seperti gunung yang siap untuk meledak.

Mahisa Agni terkejut melihat sikap itu. Sesaat segera ia teringat

kepada cerita Pasik tentang Kuda Sempana. Karena itu maka segera

ia pun bersiap. Dari bibirnya itu terdengar ia berdesis, “Kala Bama.”

Kuda Sempana terkejut mendengar desis itu. Mahisa Agni dapat

menyebut dengan tepat nama ilmu yang akan dipergunakannya.

Tetapi Kuda Sempana tidak sempat mengetahui dari mana

Mahisa Agni mendengar nama Kala Bama itu. Dan Kuda Sempana

pun tidak sempat memikirkan hal itu.

Mahisa Agni telah pernah membenturkan diri dengan Aji Kala

Bama itu. Karena itu, ketika ia melihat sikap Kuda Sempana yang

siap melontarkan kesaktiannya, maka Mahisa Agni pun segera

membentengi dirinya. Tidak saja ia mempertahankan namun karena

kemarahan yang telah memuncak pula, maka Mahisa Agni itu pun

bersiap untuk membentur aji lawannya dengan ajinya sendiri,

Gundala Sasra.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu segera memusatkan

segenap kekuatan lahir batin. Disilangkannya tangannya di muka

dadanya, dan pada lututnya ia merendahkan dirinya sedikit. Terasa

getaran di dadanya cepat mengalir ke segenap tubuhnya dan ke

telapak tangannya. Getaran-getaran yang sudah dikenalnya. Dan

kini getaran-getaran itu terasa semakin mudah dikuasainya.

Sehingga waktu yang diperlukannya untuk mempersiapkan diri

menjadi semakin pendek pula.

Sesaat kemudian, ketika Kuda Sempana siap mengayunkan aji

pamungkasnya, maka Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya

pula untuk melawannya. Karena itu, demikian ia melihat Kuda

Sempana meloncat mengayunkan tangannya, maka Mahisa Agni

pun segera melontar pula menyongsong serangan Kuda Sempana.

Untuk kedua kalinya, terjadilah benturan yang dahsyat antara Aji

Kala Bama dan Aji Gundala Sasra. Benturan antara dua kekuatan

yang tiada taranya. Dan seperti yang pernah terjadi, maka kali ini

pun keduanya mengalami dorongan yang terasa seperti ledakan

Gunung Merapi.

Mahisa Agni terlontar beberapa langkah surut, sekali ia terguling

dan dengan mata yang berkunang-kunang ia mencoba mengawasi

keadaan lawannya.

Kuda Sempana pun terlempar pula. Dengan kerasnya ia

terbanting wajahnya yang merah menyala, tiba-tiba menjadi putih

pucat. Sesaat ia memejamkan matanya untuk memusatkan segenap

sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, untuk menjaga dirinya,

supaya tidak kehilangan kesadaran.

Demikianlah anak-anak muda Panawijen melihat sesuatu yang

belum dilihatnya selama hidup mereka. Mereka tidak tahu lagi,

bagaimana mereka harus menilai pertempuran itu. Beberapa di

antara mereka berloncatan mundur pada saat terjadi benturan

antara dua kekuatan raksasa itu. Bahkan ada di antara mereka yang

tanpa sesadarnya telah menekan dada sendiri. Seakan-akan

dadanyalah yang telah terbentur oleh kekuatan aji yang dahsyat itu.

Beberapa orang menjadi ngeri. Dengan telapak-telapak tangan

mereka menutupi wajah masing-masing.

Namun sesaat kemudian mereka menarik nafas ketika mereka

melihat Mahisa Agni telah bangkit dan berdiri bertelekan kedua

lututnya. Tetapi sesaat yang pendek, Mahisa Agni itu pun telah

tegak kembali. Terasa pula kini padanya,bahwa ada kelebihan

kekuatan dari Aji Gundala Sasra dibandingkan dengan Kala Bima,

sehingga karena itulah maka keadaan Mahisa Agni masih lebih baik

dari keadaan Kuda Sempana.

Meskipun demikian Kuda Sempana yang keras hati itu perlahanlahan

dapat juga menguasai dirinya kembali. Ketika ia membuka

matanya dan dilihatnya Mahisa Agni masih tegak berdiri dengan

garangnya terdengar anak itu menggeram.

Dengan susah payah Kuda Sempana itu pun memaksa dirinya

untuk berdiri. Betapa sakit isi dadanya, namun dengan

mengatupkan giginya rapat-rapat ia mencoba menahan perasaan

itu.

Dengan nafas terengah-engah Kuda Sempana kemudian mampu

juga untuk bangkit dan mencoba berdiri. Betapa lemahnya tubuh

yang kesakitan itu, namun akhirnya Kuda Sempana itu pun berbasil

tegak pula di atas kedua kakinya yang gemetar. Dengan mata yang

menyala ia memandang Mahisa Agni tanpa berkedip, sedang Mahisa

Agni pun memandangnya dengan nyala kemarahan di hatinya.

Karena itu, maka ketika nafasnya telah teratur kembali, terdengar

suaranya bernada rendah, “Kuda Sempana Kesempatan terakhir

bagi kita masing-masing. Kau atau aku yang binasa.”

Kuda Sempana menggeram. Kalau Mahisa Agni menyerangnya

pada saat ia masih dalam keadaan itu, maka sudah pasti ia tidak

akan mampu untuk melawannya. Karena itu, maka ia mencoba

untuk mendapatkan waktu sejenak, mengatur jalan pernafasan dan

mengurangi perasaan sakit yang menyengat-nyengat segenap

tubuhnya.

Ketika Mahisa Agni itu bergeser setapak, maka Kuda Sempana itu

berkata, “Hem, Agni. Dari mana kau tahu, bahwa aku sedang

menyiapkan aji Kala Bama?”

Mahisa Agni memandang Kuda Sempana dengan seksama.

Kemudian jawabnya, “Apakah pedulimu, dari mana aku tahu nama

itu?”

Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun tiba-tiba mereka

terkejut ketika mereka mendengar suara gemetar di samping

mereka, “Sudahlah Anakmas. Jangan bertengkar lagi.”

Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang yang berdiri

dengan ragu-ragu di antara anak-anak muda Panawijen. Seorang

yang bertubuh tinggi kekar, namun wajahnya membayangkan

kecemasan yang membakar dirinya. Orang itu adalah Ki Buyut

Panawijen.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan berat terdengar

suaranya, “Ki Buyut. Kuda Sempana telah berbuat untuk kedua

kalinya. Apakah kita masih akan memberi kesempatan kepadanya

untuk berbuat untuk ketiga kalinya?”

Buyut Panawijen itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian

kembali terbayang di wajahnya kecemasannya atas nasib

padukuhannya. Ia tahu benar siapa Kuda Sempana itu. Ia melihat

anak muda itu bertempur melawan Mahisa Agni. Dan ia melihat

benturan ilmu yang dahsyat itu. Karena itu, maka Buyut Panawijen

itu telah membuat perhitungan tersendiri. Kalau Kuda Sempana itu

binasa di padukuhannya, maka apakah kawannya akan tetap

berdiam diri, dan apakah guru serta saudara-saudara

seperguruannya juga akan tetap berdiam diri. Seandainya mereka

itu mencoba menuntut balas, maka apakah Mahisa Agni dapat

melindungi padukuhan itu dari bencana.

Tetapi Mahisa Agni tidak dapat melihat kemungkinan itu. Kuda

Sempana adalah seorang yang keras kepala. Karena itu maka

katanya, “Ki Buyut. Beberapa saat yang lampau,anak muda itu telah

mendapat kesempatan pula. Ki Buyut pada waktu itu telah

memberinya peringatan, sedang Empu Purwa pun saat itu

memaafkannya. Tetapi kini ternyata ia datang kembali selagi rumah

ini kosong, Empu Purwa tidak ada dan aku pun tidak ada. Untunglah

aku segera kembali sebelum terlambat sekali.”

Buyut Panawijen mengerutkan keningnya. Ia dapat mengerti

sepenuhnya pendapat Mahisa Agni itu. Tetapi sekali lagi ia

dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi sebagai

akibat dari peristiwa ini.

Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu membayang di

wajah Ki Buyut Panawijen, berkata, “Ki Buyut. Persoalan ini bukan

persoalan penduduk Panawijen dengan Kuda Sempana. Tetapi

jadikanlah persoalan ini persoalan antara Kuda Sempana dan Mahisa

Agni. Kalau Akuwu Tumapel merasa perlu untuk mengusut dan

menghukum orang yang telah mencederai Kuda Sempana, biarlah

Mahisa Agni menjalani hukuman itu.”

Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Mahisa Agni

itu. Apakah yang akan dilakukan Mahisa Agni atasnya? Namun

dibiarkannya Mahisa Agni dan Ki Buyut itu berbicara. Ia mencoba

mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ditenangkannya

hatinya diperasnya segenap kemampuan yang ada dalam dirinya

untuk memulihkan kekuatannya. Dan ternyata kekuatan Kuda

Sempana itu lambat laun menjadi bertambah baik, meskipun nyerinyeri

masih terasa menyengat-nyengat bagian dalam dadanya, serta

pedih-pedih di kulitnya.

Dalam pada itu Ki Buyut Panawijen berkata pula, “Apakah yang

akan Angger lakukan atas Angger Kuda Sempana?”

“Aku akan menangkapnya, membawanya kepada Sang Akuwu.

Apakah Sang Akuwu tidak akan mengambil sesuatu tindakan atas

orangnya yang bersalah?” sahut Mahisa Agni.

Sekali lagi Kuda Sempana berdesir. Kalau benar Mahisa Agni

berhasil menangkapnya dan membawanya kepada Akuwu Tunggul

Ametung, maka akibatnya sama sekali tak akan dapat diduga.

Mungkin ia akan mendapat pengampunan dan hanya akan

mendapat peringatan. Namun apabila hati Akuwu itu sedang gelap,

maka tidak mustahil seketika itu juga, perutnya akan disobek

dengan pusakanya. Akuwu itu mempunyai sifat-sifat yang aneh.

Yang tak dapat disangka-sangka dan diperhitungkan. Sehingga

karena itulah maka ada di antara naraprada yang terlalu setia

kepadanya, namun ada juga yang menyimpan dendam di dalam

hatinya.

Mendengar jawaban Mahisa Agni itu. Buyut Panawijen

mengerutkan keningnya. Kalau demikian, maka apakah ia tidak akan

terbawa pula. Setidak-tidaknya akan menjadi saksi? Buyut

Panawijen adalah seorang yang hampir sepanjang hidupnya, hidup

dalam suasana yang tenteram damai. Hampir sepanjang jabatannya

ia tidak pernah menjumpai persoalan-persoalan yang

mengharuskannya berhadapan dengan Akuwu Tumapel.

Pada saat Buyut Panawijen itu berbimbang hati maka tiba-tiba ia

terkejut melihat Wiraprana dengan wajah yang merah biru tertatihtatih

keluar dari halaman Empu Purwa. Demikian Wiraprana itu

melihat Mahisa Agni, maka dengan serta-merta ia berkata, “Hem.

Syukurlah kau sudah datang Agni.”

Mahisa Agni berdesir melihat wajah yang biru lebam itu. Agaknya

Wiraprana pun telah berjuang mati-matian. Namun keadaannya

tidak memungkinkan untuk mencegah perbuatan Kuda Sempana itu.

Dalam pada itu terdengarlah Ki Buyut Panawijen bertanya kepada

anaknya itu, “Wiraprana, apakah yang telah terjadi?”

“Seperti yang Ayah lihat. Untuk kedua kalinya aku hampir mati

dibunuh oleh Kuda Sempana. Apabila ada kesempatan, Kuda

Sempana pasti akan membunuhku dalam pertikaian yang ketiga.”

Mendengar kata-kata anaknya itu, maka mau tidak mau dada

Buyut Panawijen itu terguncang pula, Agaknya apa yang dikatakan

anaknya itu benar-benar dapat terjadi. Kuda Sempana benar-benar

tidak mau melepaskan maksudnya untuk mendapatkan Ken Dedes

yang sudah dipertunangkan dengan anaknya itu. Karena itu, maka

kini Buyut Panawijen itu terpaksa mengambil beberapa bebahu baru

untuk memperhitungkan setiap kemungkinan.

Dengan wajah yang tegang, maka sekali lagi ia memandangi

Kuda Sempana, Mahisa Agni dan anaknya berganti-ganti. Sekali ia

menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian kembali ia menjadi

bingung.

Kuda Sempana yang berdiri tegak seperti patung itu, Kini telah

mendapat waktu untuk sedikit mendapatkan kekuatannya kembali

Namun disadarinya, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan

Mahisa Agni. Ternyata Mahisa Agni pun telah mendapatkan

kekuatan-kekuatan baru, sehingga ia mampu melawan Aji Kala

Bama, dan bahkan dapat melampauinya. Karena itu, maka sesaat ia

menjadi bimbang pula. Apakah ia masih harus melawannya?

Dengan demikian, maka hampir pasti bahwa Mahisa Agni akan

berhasil menangkapnya.

Ketika Kuda Sempana itu masih sibuk mempertimbangkan setiap

kemungkinan, terdengarlah Mahisa Agni menggeram, “Ki Buyut

yang bijaksana. Serahkan semua persoalan kepadaku, dan serahkan

semua pertanggungan jawab kepadaku. Kuda Sempana harus

mendapat hukuman yang wajar. Tidak di Panawijen, tetapi di

Tumapel. Sehingga meyakinkan kita, bahwa untuk seterusnya ia

tidak akan membuat kegaduhan kembali.”

Buyut Panawijen itu masih bimbang sesaat, namun kemudian

tampaklah ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi belum

sepatah kata pun yang terloncat dari mulutnya. Semua orang yang

berdiri di sekitarnya menjadi tegang. Semua memandang kepada

orang tua itu Dalam ketegangan itu terdengar suara Wiraprana,

“Apakah Ayah masih ingin melihat perkelahian dan keributan di

Panawijen ini? Atau Ayah ingin melihat setan itu kelak membunuh

aku?”

Ki Buyut Panawijen itu mengangkat wajahnya. Seakan-akan ada

yang dicarinya di antara awan yang mengalir dihanyutkan oleh

pegunungan yang lembut. Orang tua itu menarik nafas ketika

dilihatnya segerombolan burung terbang melintas di atas kepalanya

Burung itu kemudian seperti lenyap ditelan kebiruan langit di atas

cakrawala.

Hati orang tua itu berdesir. Dari arah yang lain Buyut Panawijen

melihat seekor alap-alap terbang ke arah burung yang bergerombol

itu. Kalau burung alap-alap itu kemudian menyambar salah seekor

burung yang bergerombol itu, maka tak ada seekor pun yang akan

berani mencoba mencegah dan melawannya. Bersama-sama pun

tidak, karena Burung alap-alap itu jauh lebih kuat dari burungburung

itu.

Orang-orang yang berdiri mengitari Mahisa Agni masih tegak

seperti patung ,Agak jauh dari mereka berdiri dengan tegangnya

Kuda Sempana yang terpelanting karena benturan aji masingmasing.

Sedang Ki Buyut Panawijen masih saja ragu-ragu

mengambil keputusan.

Dalam kekakuan suasananya itu, sekali-kali Kuda Sempana

mengerling ke segenap sudut. Ia sedang berpikir untuk mencoba

mencari jalan yang akan dapat menyelamatkannya. Kalau ia

bertempur sekali lagi, maka ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat

melawan Mahisa Agni. Apalagi kalau beberapa orang membantu

Mahisa Agni untuk menangkapnya.

Sementara itu Mahisa Agni sedang menunggu dengan

gelisahnya, apa yang akan dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen.

Bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus tetap menghormati

keputusannya sebagai seorang tetua dari padukuhan itu, sedang

anaknya, yang wajahnya biru lebam itu, hampir-hampir tidak sabar

menunggunya.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba terjadilah sesuatu yang sama

sekali tidak mereka sangka. Kuda Sempana itu tiba-tiba meloncat

dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, berlari kencang

meninggalkan orang yang sedang kebingungan itu. Sesaat tak

seorang pun yang bergerak diri tempatnya. Mereka terkejut melihat

sikap Kuda Sempana. Yang mula-mula menyadari keadaan itu

adalah Mahisa Agni. Tanpa menghiraukan apapun lagi, Mahisa Agni

itu segera berlari mengejarnya.

Tetapi dada anak muda murid Empu Purwa itu segera berdesir

tajam. Kuda Sempana yang memiliki kelebihan beberapa kejap serta

jarak beberapa langkah itu ternyata berlari menuju ke kuda Mahisa

Agni yang sedang sibuk makan dedaunan di pagar-pagar dan

rerumputan liar di tepi-tepi jalan.

“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni, “Manakah kejantananmu

itu?”

Kuda Sempana tidak memedulikannya. Ia berlari sekuat tenaga

yang masih ada padanya. Dan sebelum Mahisa Agni berhasil

menangkapnya, anak muda itu telah meloncat ke atas punggung

kuda.

“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni sekali lagi.

Tetapi Kuda Sempana tidak menghiraukannya lagi. Cepat-cepat

ditariknya kendali kudanya, dan dengan sebuah sentuhan pada

perutnya, maka larilah kuda itu menghambur seperti angin.

Meskipun demikian Kuda Sempana itu masih sempat berteriak

nyaring, “Mahisa Agni. Sekali akan datang waktunya, aku membalas

semua sakit hatiku kepadamu, kepada penduduk Panawijen, kepada

semuanya.”

“Licik!” teriak Mahisa Agni. Dengan serta ia meraih sebutir batu

dan dilemparkannya kepada Kuda Senapan. Namun kuda yang

dinaiki oleh anak muda itu sudah semakin jauh. Meskipun demikian

batu itu masih juga mengenai tengkuk Kuda Sempana.

“Setan!| desis Kuda Sempana. Terasa tengkuknya menjadi sakit.

Tetapi ia sudah semakin jauh dan Mahisa Agni itu tidak akan dapat

menyusulnya lagi.

Mahisa Agni kini berdiri tegak seperti sebuah tonggak yang

membeku. Wajahnya membara karena kemarahannya, sekali-sekali

terdengar ia menggeram. Dipandanginya debu yang mengepul

tinggi yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari seperti

dikejar hantu.

Nafas Mahisa Agni itu pun terasa berkejaran lewat lubang

hidungnya. Terdengar giginya gemeretak di antara suaranya yang

menggeram seperti harimau yang sedang marah.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba ia mendengar Wiraprana

berteriak, “Agni! Di halaman rumah ini ada seekor kuda. Kuda yang

tadi dipakai oleh Kuda Sempana.”

Mahisa Agni terkejut Segera ia berpaling sambil bertanya,

“Adakah seekor kuda di halaman?”

“Ya,” sahut Wiraprana.

Namun Mahisa Agni kemudian menjadi kecewa kembali. Ia telah

kehilangan beberapa waktu. Kuda yang tadi dinaikinya adalah kuda

yang luar biasa. Dengan seekor kuda yang lain. apakah ia akan

mampu mengejar Kuda Sempana? Kalau Kuda Sempana itu sampai

di Tumapel lebih dahulu, maka ia tidak akan dapat mencarinya.

Apalagi kalau Kuda Sempana itu bersembunyi di dalam istana.

Karena itu dengan penuh kekecewaan yang mencengkam dadanya

akhirnya ia berkata, “Tidak ada gunanya. Kuda itu sudah terlalu

jauh.”

“Kuda itu baik dan tegar. Kuda yang biasa dipakai oleh Kuda

Sempana,” jawab Wiraprana

Sekali lagi sekilas harapan Mahisa Agni untuk menyusul anak

muda itu. Kuda itu adalah kuda yang tegar seperti yang dilihatnya di

Tumapel. Karena itu, maka Mahisa Agni itu meloncat tanpa berkata

sepatah kata pun langsung masuk ke halaman. Dan. dilihatnya kuda

itu masih berdiri di sana.

Dengan tangkasnya Mahisa Agni itu segera meloncat ke atas

punggungnya, dan dengan tergesa-gesa ditariknya kekang kuda itu.

Sesaat kemudian kuda itu pun segera meloncat pula berlari. Sambil

memacu kudanya Mahisa Agni berteriak, “Hati-hatilah di rumah. Aku

akan mengejar Kuda Sempana sampai ke manapun. Aku tak akan

kembali sebelum aku menyelesaikan pekerjaan ini.”

Tak seorang pun sempat menjawab. Kuda yang dinaikinya itu

pun ternyata kuda yang sangat baik. Karena itu, maka kuda itu

berlari lepas seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Mereka yang menyaksikan perlombaan berkuda itu menahan

napas mereka. Mereka melihat peristiwa demi peristiwa seperti di

dalam mimpi, sehingga untuk beberapa saat mereka terpesona dan

diam mematung di tempat masing-masing.

Mahisa Agni yang telah dibakar oleh kemarahannya itu memacu

kudanya secepat angin. Tetapi disadarinya pula bahwa kuda yang

dipakai oleh Kuda Sempana itu pun kuda yang baik pula, sebaik

kuda yang dipakainya. Karena itu, maka kemungkinan untuk dapat

menyusulnya adalah kecil sekali. Tetapi meskipun Mahisa Agni tidak

akan dapat menyusulnya, namun ia akan pergi ke Tumapel, mencari

kesempatan untuk bertemu dengan anak muda itu. Mahisa Agni

sudah tidak memperhitungkan lagi, apa yang dapat terjadi atas

dirinya seandainya Kuda Sempana mengerahkan beberapa orang

kawan untuk melawannya. Namun ia yakin, bahwa ia berada di

pihak yang benar. Karena itu, maka Akuwu Tumapel pasti akan

menghukum Kuda Sempana kalau ia mempunyai kesempatan untuk

menyampaikannya, atau Akuwu itu dapat mendengar dari siapa

pun.

“Kalau aku tidak dapat menemui Kuda Sempana atau menghadap

Akuwu, maka aku akan mencoba minta pertolongan Witantra,”

katanya di dalam hati, “anak muda itu pun seorang yang agak dekat

pula dengan Akuwu.”

Mendapat cara yang dianggapnya baik itu, Mahisa Agni semakin

mantap. Kudanya berpacu melewati jalan-jalan berdebu. Dilihatnya

kemudian di hadapannya terbentang padang rumput Karautan.

“Apakah Kuda Sempana juga melewati padang itu?” pertanyaan

itu timbul di dalam hatinya, “Kalau ia memilih jalan lain, lewat

Talrampak misalnya, maka ada kemungkinan bagiku untuk

menyusulnya sebelum ia sampai ke Tumapel.”

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Ia melihat telapak kuda

yang baru menghunjam dalam-dalam di muka kaki kudanya

menjelujur ke arah yang ditempuhnya pula,

“Hem,” geramnya, “anak itu lewat padang ini pula.”

Karena itu Mahisa Agni menjadi kecewa. Harapannya untuk

menyusul Kuda Sempana menjadi semakin tipis. Tetapi ia tidak

berputus asa. Kini ia tidak menempuh jalan setapak yang dilewati

Kuda Sempana. Dipotongnya arah menerobos padang rumput itu

dan dilewatinya gerumbul-gerumbul kecil yang bertebaran di sanasini.

“Mudah-mudahan aku berhasil,” gumamnya.

Kuda yang dipakai Mahisa Agni itu sebenarnya adalah kuda yang

sangat baik. Betapa lincahnya kuda itu menghindari rintanganrintangan

yang berada di hadapannya. Dengan tangkas kuda itu

meloncati gerumbul-gerumbul kecil dan lubang-lubang yang digali

oleh air hujan.

Ketika kemudian Mahisa Agni telah melampaui padang itu, serta

diikutinya pula jalan yang meninggalkan padang rumput itu,

dilihatnya jauh di hadapannya debu yang naik ke udara.

“Itulah!” gumamnya, “Mudah-mudahan aku tidak kehilangan

Kuda Sempana kali ini.”

Meskipun kudanya itu telah berlari sekencang angin, namun

Mahisa Agni merasa seakan-akan kuda itu merangkak saja dengan

malasnya. Berkali-kali dilecutinya kuda itu dengan ujung kekangnya.

namun masih saja terasa bahwa kuda itu berlari terlalu lamban.

Beberapa orang yang bekerja di sawah-sawah mereka,

memandangnya dengan penuh pertanyaan di dalam hati. Apakah

sedang ada perlombaan berpacu kuda?

Para petani itu saling berpandangan satu sama lain. Tetapi tak

seorang pun yang tahu, apakah yang sedang dilakukan oleh anakanak

muda yang memacu kudanya seperti takut dikejar hantu.

“Anak-anak muda memang kadang-kadang aneh,” gumam salah

seorang dari mereka, “mereka memacu kudanya seperti dikejar

setan. Apakah mereka tidak takut seandainya kudanya itu tergelincir

dan terguling?”

Tetapi sesaat kemudian kembali mereka melakukan pekerjaan

mereka Dua anak muda yang berpacu berturut-turut itu tentu akan

menjadi bahan pembicaraan mereka nanti di gardu-gardu atau di

banjar-banjar desa.

Mahisa Agni sama sekali tidak menghiraukan apa yang telah

dilewatinya. Matanya tertancap pada debu yang keputih-putihan

yang seakan-akan merayap dengan cepatnya di jalan-jalan berdebu

di hadapannya Tetapi Mahisa Agni itu menjadi kecewa karena jarak

di antara mereka tidak menjadi semakin pendek.

Kuda Sempana yang berpacu di muka itu pun telah

memperhitungkan kemungkinan, bahwa Mahisa Agni akan

mempergunakan kudanya untuk mengejarnya. Karena itu sejak

loncatan pertama kudanya telah dipacunya secepat mungkin. Dan

Kuda Sempana itu menjadi. berbesar hati, karena ternyata kuda

yang dipakainya itu pun merupakan kuda yang tidak kalah kuatnya

dari kudanya sendiri.

Ketika Kuda Sempana itu kemudian menengadahkan wajahnya

maka ia pun tersenyum. Setelah ia berpacu beberapa lama, maka di

langit seakan-akan terbentang cahaya yang suram dan di bumi

mulailah gelap merayap dari kaki-kaki bukit, merambat ke

puncaknya. Namun sesaat Kuda Sempana masih melihat debu

mengepul jauh di belakangnya. Dan disadarinya bahwa Mahisa Agni

sedang mengejarnya. Tetapi apabila malam tiba, maka

kesempatannya untuk melepaskan diri menjadi semakin besar.

Mahisa Agni menjadi sengat kecewa ketika malam datang

meskipun perlahan-lahan. Warna keputih-putihan yang mengepul di

hadapannya menjadi semakin lama semakin kabur. Dan akhirnya

Mahisa Agni kehilangan kesempatan untuk dapat melihat debu yang

dilemparkan oleh kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana itu.

“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Tetapi kemudian ia bergumam,

“Kalau aku tidak dapat menemukannya malam ini, biarlah aku

menunggu sampai besok atau lusa. Kalau aku menunggunya di

alun-alun maka suatu waktu aku pasti akan melihatnya keluar atau

memasuki istana Akuwu.”

Karena itu Mahisa Agni tidak berhenti berpacu. Ia mengharap

seandainya ada sesuatu yang menghambat perjalanan Kuda

Sempana maka ia akan mendapat kesempatan itu.

Tetapi Kuda Sempana berjalan tanpa hambatan. Kudanya berlari

dengan kencangnya menuju ke kota kebanggaannya, di mana ia

mendapat kesempatan yang baik di dalam hidupnya. Tumapel. Dan

Tumapel itu semakin lama semakin dekat.

Itulah sebabnya, maka kembali Kuda Sempana tersenyum. Ketika

ia berpaling, dilihatnya di belakangnya warna hitam yang kelam.

Karena itulah maka hati Kuda Sempana menjadi semakin besar.

Maka kini dapatlah dipastikan, bahwa kali ini ia akan dapat

menghindarkan diri dari Mahisa Agni.

“Kali ini aku masih kalah Agni,” katanya di dalam hati, “tetapi aku

akan datang kembali membawa kemenangan. Ternyata aku tidak

akan berhasil memetik bunga itu. Karena itu, maka biarlah angin

yang lebih kencang menggugurkannya.”

Sementara itu, Mahisa Agni benar-benar kehilangan jejak

buruannya. Ketika malam menjadi semakin kelam, ia tidak tahu lagi,

ke mana Kuda Sempana melarikan diri. Apalagi ketika Kuda

Sempana telah mematuki kota. Berpuluh-puluh jalan simpang yang

dapat ditempuhnya. Dan berpuluh-puluh pintu yang dapat

dimasukinya.

Karena itu, maka ketika kuda Mahisa Agni memasuki gerbang

kota Tumapel, maka segera ia memperlambat jalan kudanya. Ia

takut kalau derap kaki kuda itu akan mengejutkan setiap orang yang

tinggal sebelah menyebelah jalan yang dilewatinya. Meskipun

demikian, hati Mahisa Agni menjadi sangat kecewa. Serta ia menjadi

bingung, ke mana ia harus pergi.

Yang mula-mula tersirat di dalam hatinya adalah rumah Witantra.

Orang itu belum banyak dikenalnya, namun dalam waktu yang

pendek ia mendapat kesan, bahwa anak muda itu adalah anak

muda yang jujur meskipun agaknya terlalu keras memegang

ketetapan. Ketetapan yang berlaku dalam tata pergaulannya

sebagai seorang prajurit, ketetapan yang berlaku di dalam tata

pergaulannya sehari-hari di luar lingkungan keprajuritan dan bahkan

ketetapan-ketetapan yang dibuatnya di dalam hatinya sendiri.

Tetapi tak ada orang lain yang dapat disinggahinya di Tumapel.

Di kota itu belum banyak orang-orang yang dikenalnya dengan baik.

Ada satu dua orang sahabat-sahabat gurunya, tetapi sahabatsahabat

gurunya itu pun belum begitu mengenalnya. Karena itu,

maka tak ada yang dapat ditempuhnya selain pergi ke rumah

Witantra itu. Kecuali ia akan mendapat tempat untuk bermalam

apabila anak muda itu tidak berkeberatan, maka banyak hal-hal

yang dapat ditanyakannya kepadanya tentang Kuda Sempana dan

tentang Akuwu Tumapel.

Maka dengan agak ragu-ragu akhirnya Mahisa Agni pergi juga ke

rumah Witantra.

Meskipun malam belum terlalu dalam, namun rumah itu sudah

tampak sepi. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin raguragu.

Di muka regol halaman dihentikannya kudanya, dan perlahanlahan

kuda itu dituntunnya masuk ke halaman.

Tetapi Mahisa Agni melihat nyala pelita yang terang di pringgitan

rumah itu. Karena itu ia menjadi gembira. Agaknya penghuni rumah

itu ada di rumahnya.

Dengan, hati-hati Mahisa Agni mengetuk pintu depan, dan

terdengarlah sebuah sapa dari dalam, “Siapa?”

“Aku, Wiraprana,” sahut Agni.

“He?” terdengar seseorang terkejut mendengar jawaban Agni.

Sesaat kemudian terdengar pula langkah seseorang membuka pintu.

Ketika pintu itu terbuka, Mahisa Agni melihat Witantra berdiri di

muka pintu sambil menatapnya.

“Kau,” desis Witantra terkejut.

“Ya,” sahut Mahisa Agni, “aku datang kembali.”

“Mari, masuklah,” Witantra itu mempersilakan.

Mahisa Agni itu pun kemudian masuk ke dalam pringgitan.

Dengan membungkukkan badannya ia memberi hormat kepada dua

orang perempuan yang kemudian berdiri dan

membalas anggukan kepala itu.

“Silakan,” berkata perempuan yang tua, “kami akan ke

belakang.”

Mahisa Agni itu pun kemudian duduk bersama Witantra. Ternyata

kedua perempuan itu adalah ibu dan istrinya.

Dengan penuh keheranan Witantra itu pun kemudian bertanya,

“Kenapa kau cepat kembali? Apakah kau terlambat datang?”

Mahisa Agni menggeleng. “Tidak. Aku datang kembali untuk

menyampaikan terima kasihku kepadamu. Karena pertolonganmu,

mala aku masih sempat menggagalkan maksud Kuda Sempana itu.”

“Syukurlah,” gumam Witantra, “sebenarnya kuda itu tidak terlalu

tergesa-gesa. Aku masih memiliki yang lain.”

“Terima kasih,” sahut Agni. Namun kemudian diceritakan apa

yang telah terjadi, dan dikatakannya pula, bahwa kuda yang

dibawanya adalah kuda milik Kuda Sempana.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Bukan main,” gumamnya,

“anak itu benar-benar keras kepala.”

“Witantra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku ingin

mendapatkan nasihatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan atas

anak muda itu. Apakah aku harus menyampaikannya kepada Akuwu

Tunggul Ametung atau aku harus menemuinya sendiri?”

Witantra menggelengkan kepalanya. “Sulit,” desisnya, “Akuwu

Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Aku adalah

pengawalnya yang hampir setiap hari bergaul. Namun aku masih

belum juga mengenal sifat-sifatnya dengan baik. Akuwu itu adalah

seorang yang ramah dan baik hati, namun ia adalah seorang yang

kejam dan kasar.”

Witantra itu berhenti sesaat, dan Mahisa Agni pun menundukkan

kepalanya. Direnungkannya setiap kemungkinan yang dapat

ditempuhnya. Tetapi ia tidak menemukan cara apapun yang

dianggapnya baik. Tanpa sesadarnya tiba-tiba terloncat dari

mulutnya, “Tetapi aku harus mencegahnya untuk mengulangi

perbuatannya.”

“Ya,” sahut Witantra, “kau benar.”

“Tetapi bagaimana?”

Witantra itu pun kemudian berdisain diri pula. Karena itu, maka

pringgitan itu menjadi sepi. Lampu minyak yang menyala tersangkut

di dinding di atas gelodok melemparkan sinar kemerah-merahan.

Lidahnya yang seolah-olah melonjak-lonjak telah mencetak

bayangan yang hitam dan bergerak-gerak.

Witantra itu kemudian mengangkat wajahnya sambil berkata,

“Besok Akuwu akan berburu. Aku telah mendapat perintah untuk

mengikutinya.”

“Berburu?” bertanya Mahisa Agni, “ke mana?”

Witantra itu tidak segera menjawab. Ia memang tidak tahu ke

mana Akuwu akan berburu. Sehingga sejenak kemudian katanya,

“Akuwu Tunggul Ametung tidak pernah merencanakan, ke mana

akan berburu. Apabila rombongan telah bersiap, barulah Akuwu

bertanya kepada para pengiringnya, ke mana sebaiknya mereka

pergi. Namun kadang-kadang Akuwu sendiri menentukan arah

perjalanan rombongan itu. Karena itulah maka sampai sekarang aku

belum tahu ke mana besok aku akan pergi.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia belum

tahu apakah hubungannya dengan keperluannya mencegah

perbuatan Kuda Sempana seterusnya. Baru kemudian setelah

Witantra itu berkata, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Wiraprana,” berkata Witantra, “kau besok bisa tinggal di sini

selama aku pergi. Biasanya Kuda Sempana ikut pula mengantarkan

Akuwu, sehingga dengan demikian, aku akan dapat selalu

mengawasinya. Dengan demikian maka kita mempunyai waktu

sehari untuk memikirkan persoalanmu itu. Apabila besok Kuda

Sempana tidak ikut, biarlah aku memberitahukan kepadamu, dan

segeralah pulang ke Panawijen.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia

mengucapkan terima kasih kepada Witantra itu. Kemudian katanya,

“Aku selalu mengganggumu dengan pekerjaan-pekerjaan yang

menjemukan.”

Witantra menggeleng, jawabnya, “Kita saling memerlukan dalam

setiap kesempatan. Aku tahu, bahwa Kuda Sempana telah

melakukan kesalahan. Karena itu aku harus membantu mencegah

kesalahan-kesalahan berikutnya, meskipun aku tidak dapat berbuat

secara langsung. Sebab dengan demikian akan dapat menimbulkan

keretakan dalam lingkungan istana. Setidak-tidaknya antara aku dan

Kuda Sempana yang kedua-duanya hamba-hamba istana.

--ooo00oo--

Jilid 8

MAHISA AGNI DAPAT MENGERTI SELURUHNYA. Karena itu,

maka ia tidak akan minta lebih banyak lagi dari Witantra. Apa yang

dilakukan telah lebih dari cukup. Apalagi kesanggupan Witantra

untuk ikut serta memecahkan persoalan itu besok, kalau Akuwu

sudah pulang dari berburu.

“Berapa lamakah masa perburuan itu?”

“Pendek. Sehari, dua hari. Bahkan kadang-kadang baru tengah

hari Sang Akuwu telah menjadi jemu dan kembali ke istana. Tetapi

kadang-kadang sampai tiga empat hari berkemah di dalam hutan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari cara-cara

itu telah dapat diketahui bahwa Akuwu Tumapel itu selalu berbuat

menurut kehendak sendiri, tanpa mempertimbangkan pendapat

orang lain. Meskipun demikian, maka Mahisa Agni percaya, apabila

Akuwu itu mendengar peristiwa yang sebenarnya telah terjadi atas

Ken Dedes, maka Sang Akuwu itu pasti akan membantu mencegah

Kuda Sempana melakukan kesalahan serupa untuk ketiga kalinya.

Witantra itu pun kemudian mempersilakan Mahisa Agni untuk

beristirahat. Sebab ia sendiri harus mempersiapkan diri untuk

menempuh masa perburuan yang tak diketahui ke mana dan berapa

lama. Karena itu, maka Witantra itu harus menyiapkan anak panah

serta busurnya. Bahkan senjata-senjatanya yang lain. Mungkin akan

dipergunakan pula tombak berburunya untuk melawan binatangbinatang

buas yang tiba-tiba saja menyerangnya.

Mahisa Agni itu pun kemudian dipersilahkannya untuk beristirahat

di gandok kanan. Besok ia dapat tinggal di tempat itu pula sambil

menunggu Witantra kembali. Mungkin tidak terlalu lama. Dan

selama itu ia tidak perlu mencemaskan Kuda Sempana. Sebab

Witantra akan dapat mengawasinya. Sedang apabila Kuda Sempana

tidak ikut serta, dan karena itu ia mempunyai kesempatan untuk

berbuat sesuatu, maka Witantra itu akan memberitahukannya dan ia

harus segera pulang.

Karena itu, Mahisa Agni yang lelah setelah membersihkan diri

segera membaringkan dirinya di atas sebuah pembaringan bambu.

Dicobanya untuk menenangkan hatinya dan dicobanya untuk

memejamkan matanya. Namun kegelisahannya selalu

mengganggunya.

Demikianlah di tempat yang lain, Kuda Sempana pun berbaring di

pembaringannya. Beberapa orang kawannya serumah, para pelayan

dalam Akuwu, melihatnya dengan penuh keheranan. Namun,

dibiarkannya Kuda Sempana itu terbaring diam, meskipun matanya

tidak terpejamkan. Kuda Sempana itu sedang merenungkan apakah

yang baru saja terjadi atasnya. Ia berbesar hati, karena ia

mendapat kesempatan melepaskan diri dari Mahisa Agni yang akan

menangkapnya, namun ia tidak dapat melupakan kekalahannya.

Kekalahan yang pahit. Apalagi kekalahannya itu sama sekali bukan

kekalahannya yang pertama. Dua kali ia mengalami kekalahan dari

Mahisa Agni. Karena itu, maka dendam di dalam dadanya membara

setinggi gunung.

“Kuda Sempana,” terdengar seorang kawannya berkata

kepadanya, “Besok Akuwu akan pergi berburu.”

“Persetan!” jawab Kuda Sempana.

Kawannya itu mengerutkan keningnya. “Kenapakah kau? Apakah

kau sedang mabuk tuak?”

“Jangan ribut!” bentak Kuda Sempana. Tetapi kawannya itu

malahan tertawa. Alangkah menjengkelkannya.

“Akuwu telah memerintahkan, di antara kita, tiga orang harus

mengikutinya di samping beberapa orang prajurit.”

“Pergilah. Ajaklah dua orang yang lain.”

“Akuwu menyebut nama di antara kita. Aku, kau dan pelayan

yang baru itu. Ken Arok.”

Kuda Sempana menggigit bibirnya. “Menjemukan,” desisnya,

“Katakan kepada Akuwu, Kuda Sempana sedang sakit.”

“Jangan membual, Kuda Sempana. Berkatalah sendiri.”

Kuda Sempana diam sesaat. “Kenapa anak itu harus ikut pula?”

“Siapa? Ken Arok maksudmu?”

“Ya.”

“Entahlah. Itu adalah urusan Akuwu.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Ia sedang sibuk berpikir tentang

dirinya sendiri. Tentang kegagalannya dan tentang kekalahannya.

Namun wajah Ken Dedes tidak dapat dilupakannya. Ia akan dapat

mati membeku apabila ia melihat gadis itu diperistri oleh Wiraprana

kelak.

Kuda Sempana sama sekali tidak tertarik kepada kabar yang

disampaikan oleh kawannya itu. Meskipun pada masa-masa yang

lampau ia adalah seorang pemburu yang baik, dan berita tentang

masa perburuan sangat menarik hatinya.

Kini ia sedang dirisaukan oleh persoalannya sendiri.

Tetapi, tiba-tiba wajah Kuda Sempana itu menjadi terang. Tibatiba

saja ia bangkit dan berteriak kepada kawannya yang masih

duduk dekat pembaringannya, “He, kau bilang Sang Akuwu akan

berburu besok?”

Kawannya terkejut melihat perubahan yang tiba-tiba Itu. Sesaat

ia memandangi wajah Kuda Sempana, dan kemudian bahkan

kawannya itu bertanya,” Apakah kau tertarik kabar itu?”

“Tentu. Tentu,” sahut Kuda Sempana, “bukankah aku selalu

mengikuti Akuwu berburu?”

“Tetapi kenapa kau menjadi seperti orang mabuk tuak, sehingga

pada waktu aku sampaikan kabar itu, kau sama sekali tidak

menaruh perhatian atasnya?”

“Siapa bilang aku tidak menaruh perhatian?”

“Kalau begitu kau benar-benar mabuk.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian katanya,

“Mungkin aku agak mabuk. Tetapi aku sekarang sudah baik. Nah,

apakah kau tahu ke mana Akuwu akan berburu?”

Kawannya itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak.

Akuwu belum mengatakan kepadaku ke mana besok akan berburu.

Bukankah biasanya kau dapat membujuknya menurut kehendakmu

saja.”

Kuda Sempana tersenyum. Besok pagi-pagi ia harus menghadap.

Perburuan kali ini adalah perburuan yang pasti akan mengasyikkan.

Mudah-mudahan Sang Akuwu mau mendengarkan ceritanya.

Malam itu Kuda Sempana sama sekali tidak dapat tidur. Dengan

gelisahnya ia berbaring di pembaringannya. Sekali ia berputar ke

kiri, sekali ke kanan. Di kepalanya sedang tersusun sebuah cerita

yang pasti akan sangat menarik. Cerita tentang dirinya, dan cerita

tentang kampung halamannya.

“Biarlah Sang Akuwu mendengar dari aku sendiri daripada Akuwu

mendengar dari orang lain, dari Mahisa Agni misalnya. Kalau Akuwu

mendengar dari aku lebih dahulu, maka aku kira Sang Akuwu akan

lebih percaya kepadaku, daripada kepada orang lain yang belum

dikenalnya.”

Kembali Kuda Sempana tersenyum. Kemudian seperti orang yang

kehilangan kesadaran diri ia tertawa sendiri dan bahkan terdengar ia

bergumam lirih, “Hem. Kalau Akuwu mau mendengar ceritaku. maka

tak seorang pun akan dapat mencegah maksudku besok. Mahisa

Agni tidak, dan seluruh penduduk Panawijen pun tidak. Besok aku

akan melewati padukuhan itu, dan besok atas perintah Sang Akuwu

gadis itu akan dapat aku bawa serta bersama ke Tumapel. Apakah

Mahisa Agni akan dapat mencegahnya, apalagi kalau besok ia masih

berada di Tumapel”

Kuda Sempana yang sedang ditelan oleh angan-angannya itu

benar-benar seperti orang gila. Sekali ia tersenyum sendiri,

kemudian bergumam perlahan-lahan. Sesaat kemudian ia bangkit

dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya. Ketika ia melihat

kawannya telah tidur nyenyak maka ia berkata, “Hem. Kau tidak

tahu, bahwa besok aku akan memetik kembang yang tumbuh di

kaki Gunung Kawi itu. Kau besok pasti akan menjadi gila setelah kau

melihat wajahnya. Dan aku akan tertawa melihat kegilaanmu

melampaui orang yang sedang mabuk tuak.”

Tetapi kawannya itu sudah tidak mendengarnya lagi. Karena itu

ia mendengkur terus.

Kuda Sempana pun kemudian berbaring kembali. Sambil

tersenyum ia menarik selimutnya menutupi seluruh badannya. Dan

sesaat kemudian anak muda itu pun tertidur dipeluk mimpi yang

indah.

Pagi-pagi benar Kuda Sempana telah bangun. Setelah

membersihkan dirinya, maka dengan tergesa-gesa ia masuk ke

istana, mohon menghadap Akuwu yang sedang menggosok busur

yang akan dibawanya berburu.

Akuwu Tumapel adalah seorang yang gagah dan berbadan

tegap. Alisnya yang tebal dan hampir bertemu kedua pangkalnya,

memberinya wibawa yang besar. Umurnya masih belum terlampau

banyak. Tidak banyak terpaut dengan Kuda Sempana. Namun

pengaruh kehidupan istana, telah membentuknya menjadi seorang

yang agak terlampau masak dibandingkan dengan umurnya.

Seorang emban yang terdekat dengan Akuwu segera

mempersilakannya dan menyampaikan permohonan itu kepada akuwu.

“Siapa?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

Emban itu menyembah sambil berkata, “Seorang hamba, pelayan

dalam mohon menghadap.”

“Ya, siapa?” bentak Akuwu itu.

Seseorang yang belum pernah mengenalnya pasti segera akan

menjadi ketakutan. Tetapi baik emban itu, maupun Kuda Sempana

telah mengenal tabiatnya, sehingga mereka sama sekali tidak

terkejut mendengar bentakan-bentakan itu.

Meskipun demikian Kuda Sempana menjadi berdebar-debar juga.

Apakah Akuwu akan mendengarkan ceritanya dan tidak menjadi

marah karenanya?

Yang terdengar kemudian adalah emban itu menjawab. “Yang

akan menghadap adalah pelayan dalam Kuda Sempana.”

“Kuda Sempana?” ulang Tunggul Ametung.

“Hamba Sang Akuwu.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kuda Sempana

termasuk salah seorang hambanya yang dekat. Kepandaiannya

menyanjung dan meladeni keinginan-keinginan akuwu telah

membuatnya seorang yang dipercaya. Karena itu, maka kali ini pun

Tunggul Ametung itu berkata, “He, apa maksudnya? Bukankah nanti

Kuda Sempana akan aku bawa serta berburu?”

Emban itu menjawab, “Hamba tidak tahu.”

“Panggil anak gila itu!”

Emban itu menyembah, kemudian beringsut keluar untuk

memanggil Kuda Sempana yang menunggu di luar pintu.

Sampai di luar pintu emban itu berbisik kepada Kuda Sempana,

“Kau dipanggil Akuwu.”

“Aku sudah dengar,” sahut Kuda Sempana pendek.

“Apa yang sudah kau dengar?”

“Akuwu memanggil aku.”

“Heh,” berkata emban itu, “kau meminta-minta aku

menyampaikan permohonanmu kepada Akuwu. Sekarang kau tidak

berterima kasih kepadaku.”

“Kenapa aku harus berterima kasih? Bukankah itu sudah

kewajibanmu?”

Emban itu bersungut-sungut. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan

tergesa-gesa ia pergi ke belakang, meninggalkan Kuda Sempana

yang termangu-mangu di muka pintu.

Sesaat kemudian terdengar suara Tunggul Ametung, “He, Kuda

Sempana!”

Dada Kuda Sempana berdesir. Kemudian hampir merangkak ia

memasuki pintu dan kemudian duduk bersila di hadapan Akuwu

yang masih sibuk membersihkan busurnya, menggosoknya dengan

angkup keluwih, sehingga busurnya itu mengkilat seperti cermin.

Tanpa berpaling Akuwu itu bertanya, “Apakah keperluanmu, he?”

Kembali Kuda Sempana ragu, Sesaat itu berdiam diri. Sehingga ia

terkejut ketika Tunggul Ametung itu berteriak, “Apa keperluanmu?”

Cepat-cepat Kuda Sempana menyembah sambil menjawab

terbata-bata, “Oh, ampunkan hamba, Sang Akuwu.”

Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Kenapa kau

gemetar seperti kera kedinginan?”

“Tidak, tidak Sang Akuwu,” sahut Kuda Sempana, “hamba tidak

kedinginan.”

Akuwu Tunggul Ametung itu tertawa terus. Dipandanginya wajah

Kuda Sempana yang pucat. Kemudian katanya, “He, Kuda Sempana,

ke mana kau pergi kemarin sehari?”

Kuda Sempana menjadi tergagap. Ia tidak menyangka bahwa ia

akan menerima pertanyaan yang tiba-tiba itu. Karena itu maka

jawabnya, “Ampun Akuwu. Hamba kemarin harus pulang ke

kampung memenuhi panggilan orang tua hamba. Bukankah hamba

telah minta izin kepada pimpinan hamba, Kakang Trihatma?”

“Ya. Trihatma sudah mengatakannya kepadaku. Apakah kau

sudah tahu, bahwa hari ini aku akan berburu?”

“Hamba Tuanku.”

“Kau harus ikut!”

“Hamba Tuanku,” sahut Kuda Sempana dengan suara gemetar,

“Ke mana Tuanku akan berburu?”

Tiba-tiba Tunggul Ametung itu memandang wajah Kuda

Sempana dengan tajamnya. Sambil menggosok busurnya Akuwu itu

berkata, “Sejak kapan kau bertanya ke mana aku akan berburu?”

“Ampun Akuwu. Apakah kali ini hamba diperkenankan bertanya?”

“Aku belum tahu, ke mana aku akan berburu.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya

dengan sedih ia berkata, “Sang Akuwu. Aku adalah seorang hamba

yang sangat senang pergi berburu. Apalagi kalau aku mendapat

perintah untuk mengikuti Akuwu berburu. Sebenarnya kali ini pun

aku menjadi bergembira sekali, tetapi ada sesuatu yang ingin

hamba hindari dari daerah perburuan Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya Kemudian

katanya, “Aku tidak tahu maksudmu. Katakan, jangan melingkarlingkar!”

Kuda Sempana menarik nafas panjang. Kemudian katanya,

“Hamba mempunyai beberapa pantangan Sang Akuwu.”

Akuwu Tumapel itu menjadi tidak sabar. Keras-keras ia

membentak “Jangan berputar-putar. Ayo bicara!”

Kuda Sempana dengan tergesa-gesa membungkukkan badannya

sambil menyembah. Jawabnya “Hamba belum tahu ke mana Sang

Akuwu akan berburu. Karena itu hamba belum dapat mengadakan

kesulitan-kesulitan hamba itu.”

“Ke mana? Ke mana?” Tunggul Ametung berteriak. Kemudian

setelah dipandanginya kepala Kuda Sempana maka katanya

perlahan-lahan, “Aku belum tahu. Nah, katakan kepadaku Kuda

Sempana, ke mana sebaiknya kita berburu?”

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Kemudian sahutnya,

“Sang Akuwu, ke manapun bagi hamba tidak ada keberatannya.

Hanya satu arah yang hamba pantang pergi. Tetapi …”

“Diam!” bentak Tunggul Ametung pula keras, “Aku bertanya

kepadamu, ke mana kau akan pergi. Aku akan ikut bersamamu.”

Kuda Sempana telah biasa sekali dengan sikap Akuwu itu. Maka

jawabnya, “Ya. Ya. Baiklah kita pergi ke timur.”

“Kenapa ke timur?”

“Itulah yang akan hamba katakan. Hamba tidak akan dapat pergi

berburu ke barat. Apalagi ke daerah hutan di sekitar, Talrampak dan

padang rumput Karautan. Lebih-lebih lagi di sekitar tempat asal

hamba, Panawijen.”

Akuwu Tumapel menjadi heran, Kemudian sambil mengerutkan

keningnya ia bertanya “Kenapa tidak ke daerah itu?”

Kuda Sempana menundukkan wajahnya. Sesaat ia tidak dapat

menjawab pertanyaan itu. Namun kemudian didengarnya akuwu itu

berkata “Jangan takut Kuda Sempana. Bukankah selama ini kita

tidak pernah pergi berburu ke sana? Kenapa tiba-tiba saja kau

berkata bahwa kau tidak dapat ikut ke Panawijen? Kenapa he?”

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, sabutnya, “Itu

persoalan hamba sendiri Sang Akuwu. Persoalan terlalu pribadi.”

Tiba-tiba Kuda Sempana terkejut ketika Akuwu Tumapel itu

meloncatinya sambil menarik lengannya keras-keras. Terdengar

Akuwu itu membentak. “Kuda Sempana. Kau sangka aku tidak

berhak mencampuri urusan pribadimu? He? Ayo katakan sebabnya.

Kalau tidak aku bunuh kau sekarang.”

Kuda Sempana menjadi gemetar Dengan tergagap ia menjawab

“Ya, ya, baiklah Tuanku Baiklah hamba katakan persoalan itu.

Persoalan yang sebenarnya sangat memalukan.”

Tunggul Ametung kemudian melepaskan tangan Kuda Sempana

sambil bergumam “Ingat, aku adalah Akuwu Tumapel. Aku berhak

mengetahui apa saja di daerah Tumapel.”

Kuda Sempana menjadi gemetar karenanya. Matanya menjadi

sayu suram. Perlahan-lahan ia berkata, “Sang Akuwu, cerita tentang

diri hamba adalah suatu cerita yang memalukan. Karena itu

sebenarnya hamba takut menyampaikannya kepada Tuanku.”

“Hem,” desah Tunggul Ametung, “jangan membuat aku marah.

Aku dapat menangkap kepalamu dan memutar leher mu sampai

patah.”

“Ampun Tuanku,” jawab Kuda Sempana, “bukan karena hamba

tidak mau, tetapi semata-mata karena hormat hamba kepada

Tuanku. Karena bakti hamba kepada Sang Akuwu, sehingga

amatlah memalukan bahwa seorang hamba Akuwu yang besar

sebesar Tuanku, harus mengalami perlakuan seperti hamba ini.”

Tunggul Ametung itu mengerutkan bibirnya. Dengan

mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata sareh, “Katakan,

katakan Kuda Sempana. Katakanlah apa yang menyebabkan kau

bersedih?”

Kuda Sempana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sekali ia

menyembah ia berkata, “Ampun Tuanku. Janganlah Tuanku murka

kepadaku.”

“Tidak. Tidak Kuda Sempana.”

“Tuanku, ampun,” berkata Kuda Sempana terputus-putus,

“seperti yang hamba katakan kemarin hamba dipanggil oleh orang

tua hamba pulang ke kampung halaman. Sebab menurut orang tua

hamba, sudah sepantasnya hamba menjalani masa berumah

tangga.”

Tiba-tiba Tunggul Ametung itu tertawa terbahak-bahak, sehingga

perutnya terguncang-guncang. Dengan busurnya itu, dipukulnya

kepala Kuda Sempana sambil berkata, “Itukah yang memedihkan

itu? Itukah sebabnya kau tidak mau berburu ke sekitar kampung

halamanmu?”

Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun dibiarkannya Tunggul

Ametung itu tertawa sepuas-puasnya. “Kau akan berbahagia Kuda

Sempana. Kau akan mendapat seorang istri. Begitu?” tetapi sebelum

Kuda Sempana menjawab Tunggul Ametung itu membentaknya,

“Hanya itu? He? Hanya karena itu kau merasa malu mengatakannya

kepadaku? Atau hanya karena aku sendiri belum kawin, kau menjadi

takut untuk kawin?”

Kuda Sempana menyembah. Sahutnya, “Sebagian demikian

Tuanku. Tuanku belum bepermaisuri. Apakah hamba akan kawin

sebelum Sang Akuwu? Bukankah hamba tidak sepantasnya. Apalagi

umur hamba masih lebih muda dari usia Tuanku.”

Sekali lagi akuwu itu tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi ia

memukul kepala Kuda Sempana dengan busurnya, “Kau anak yang

baik. Kau benar-benar tahu bagaimana kau menghormati aku.”

Kemudian dengan bersungguh-sungguh Akuwu itu berkata,

“Tetapi itu bukan apa-apa, Kuda Sempana. Kau boleh kawin

sesukamu. Sekarang, besok atau kapan saja. Kau akan mendapat

hadiah yang berharga dari aku. Dan istrimu akan mendapat

perhiasan sepengadeg dariku. Nah, katakan kapan kau akan

kawin?”

“Ampun Tuanku. Cerita hamba belum selesai.”

“He? Apalagi? Kau akan merajuk supaya aku memberimu

sepasang kuda yang baik?”

Kuda Sempana menyembah sampai dahinya menyentuh tanah.

“Tidak Tuanku,” sahutnya cepat-cepat, “tidak.”

“Lalu apa?”

Kuda Sempana berhenti sejenak Dengan sudut matanya ia

mencoba menyusuri pandang wajah Sang Akuwu. Tetapi Kuda

Sempana itu terkejut ketika Akuwu itu membentaknya “He. Kau ada

apa sebenarnya? Mempermainkan aku?”

“Tidak Tuanku, tidak,” sahut Kuda Sempana, “hamba hanya takut

saja mengatakan.”

“Jangan takut!” Tunggul Ametung itu berteriak, “kalau kau sekali

lagi berkata takut kepadaku, maka aku cekik kau sampai lidahmu

keluar.”

“Ya, ya Tuanku,” berkata Kuda Sempana cepat-cepat, “akan

hamba katakan persoalanku itu kepada Tuanku.”

Kuda Sempana itu berhenti sekejap untuk menelan ludahnya,

namun kemudian ia meneruskan, “Kemarin hamba telah memenuhi

permintaan orang tua hamba itu, pulang ke kampung halaman

hamba. Di rumah, orang tua hamba memberitahukan kepada

hamba, bahwa sebenarnya hamba telah dipertunangkan dengan

seorang gadis sepadukuhan dengan hamba.”

“Hem,” terdengar Akuwu Tumapel itu menggeram, “Siapakah

nama gadis itu?”

“Ampun Tuanku,” jawab Kuda Sempana, “namanya Ken Dedes.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Kuda Sempana, sudah bertahun-tahun kau hidup di dalam

lingkungan istanaku. Apakah kau mau juga kawin dengan gadis

desa itu? Apakah ia nanti akan dapat menyesuaikan dirinya dengan

cara hidupmu? He? Kenapa kau tidak memilih gadis-gadis kota?

Bukankah banyak gadis-gadis yang dapat kau ambil di Tumapel ini,

gadis-gadis yang akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan

cara hidupmu, sebab di antara mereka dapat kau pilih anak-anak

gadis dari para hamba-hamba istana yang lain.”

“Ampun Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “sebenarnya

demikianlah cita-cita hamba. Namun orang tua hamba telah berbuat

di luar tahu hamba. Karena bakti hamba kepada orang tua itu, maka

hamba tidak dapat menolaknya.”

“Hem,” Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya, “Kau memang anak yang baik.”

“Tetapi Sang Akuwu,” berkata Kuda Sempana seterusnya, “hari

itu ternyata hari yang celaka bagi hamba. Hamba yang sebenarnya

sama sekali tidak menginginkan gadis pedesaan itu, akhirnya hamba

justru mendapat malu karenanya.”

“He,” Tunggul Ametung terkejut, “kenapa?”

“Hamba takut mengatakan Tuanku.”

Tiba-tiba Kuda Sempana itu terkejut ketika tangan Tunggul

Ametung tanpa disangka-sangkanya telah melekat di lehernya.

“Aku harus mencekikmu sampai lidahmu keluar,” Sempana

menjadi gemetar karenanya Tetapi kemudian Akuwu itu berkata,

“Tetapi, aku maafkan kali ini. Kalau sekali lagi kau berkata takut

pula, maka kau akan mati di sini.”

Kuda Sempana itu menjadi pucat. Tetapi ketika kemudian

lehernya dilepaskan, maka ia pun menarik nafas panjang.

“Katakan, Katakan. Cepat! Jangan membuat aku menjadi gila

mendengar ceritamu yang berputar-putar!” bentak Tanggul

Ametung.

“Baiklah Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “biarlah hamba

mengadukan nasib hamba kepada Tuanku, sebab tidak ada orang

lain yang akan dapat…”

“Cukup!” teriak Akuwu itu keras-keras sehingga seakan-akan

dinding istana itu bergetar karenanya.

Kuda Sempana itu segera menyembah hampir mencium tanah.

Dengan terbata-bata ia berkata, “Ampun Tuanku. Begini. Beginilah

ceritanya. Pada saat itu, kemarin, hamba pulang ke kampung.

Hamba dibawa oleh orang tua hamba ke rumah gadis yang sudah

dipertunangkan dengan hamba itu. Maksud orang tua hamba,

adalah karena hamba telah cukup dewasa, dan sudah mempunyai

pegangan hidup pula, mengabdi kepada Sang Akuwu di sini. Tetapi

apa kata orang tua gadis itu?”

“Aku tidak tahu,” sahut Tunggul Ametung tiba-tiba, “kenapa kau

bertanya kepadaku?”

“Tidak Akuwu,” jawab Kuda Sempana, “Bukan maksud hamba

bertanya kepada Sang Akuwu. Tetapi hamba hanya ingin

memberikan tekanan kepada kata-kata hamba itu.”

“Oh,” desah Tunggul Ametung.

“Tuanku. Ternyata orang tua gadis itu mengingkarinya. Aku

sudah tidak diterima lagi olehnya,” Kuda Sempana itu meneruskan.

Akuwu Tunggul Ametung itu menganggukkan kepalanya.

Kemudian katanya, “Hanya itu?”

“Hamba Tuanku.”

Kuda Sempana menjadi sangat kecewa ketika Tunggul Ametung

itu berkata, “Jangan bersedih Kuda Sempana. Bukankah kau

memang tidak menginginkannya? Bukankah kau mengambil gadis

itu karena orang tuamu? Kalau demikian, maka peristiwa itu akan

menguntungkan bagimu. Kau akan dapat mengambil seorang gadis

lain. Gadis kota yang akan dapat menyesuaikan hidupnya dengan

cara hidupmu di sini. Bahkan mungkin akan dapat kau ikutkan

dalam pengabdianmu. Menjadi pengatur perabot istana atau

apapun.”

“Hamba Tuanku,” sahut Kuda Sempana. Wajahnya menjadi

semakin, suram, dan dadanya menjadi semakin berdebar-debar.

“Tetapi Akuwu. Soalnya tidak sedemikian sederhana. Kalau orang

itu mengingkari janjinya hanya karena hamba kurang tampan atau

karena hamba sudah terlalu tua, bukanlah soal bagi hamba. Tetapi

orang tua itu kemudian menolak hamba karena hamba ini hanyalah

seorang abdi. Hanya seorang pelayan dalam.”

“Hem,” mata Tunggul Ametung itu pun terbelalak, “karena kau

pelayan dalam?”

“Hamba Tuanku.”

Tunggul Ametung menarik nafas. Katanya “Nasibmu memang

kurang baik. Tetapi sebenarnya demikian. Kau memang hanya

seorang abdi. Ternyata orang tua itu ingin seorang menantu yang

bukan seorang pelayan dalam.”

Kuda Sempana menarik alisnya. Dengan sudut matanya ia

memandang wajah Tunggul Ametung. Namun hanya sesaat, sebab

sesaat kemudian ia telah menundukkan wajahnya kembali.

Dan terdengar Tunggul Ametung itu berkata pula, “Lupakan

gadis itu, Kuda Sempana. Supaya kau tidak menjadi sakit

karenanya. Lupakan persoalan itu, sebab pada dasarnya bukankah

kau memang tidak ingin kawin dengan Ken Dedes?”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia tersenyum.

Senyum yang hanya sepintas melintas di bibirnya, tetapi sekejap

kemudian kembali wajahnya menjadi suram.

Sambil menyembah ia berkata, “Ampun Tuanku. Hamba tidak

akan sakit hati seandainya orang tua Ken Dedes menolak hamba

karena hamba hanya seorang abdi, seorang pelayan dalam.”

“Lalu apa? Apa he?” Tunggul Ametung tiba-tiba kembali

berteriak, “Kau mau berkata apa saja Kuda Sempana?”

Kuda Sempana menyembah kembali sambil berkata, “Ampun

Tuanku. Hamba tidak takut mengatakannya kepada Tuanku, tetapi

hamba ragu-ragu.”

“Bagus!” sahut Akuwu itu, “bagus, kau sudah tidak takut lagi.

Tetapi jangan ragu-ragu. Kalau kau ragu-ragu, maka kau akan aku

cekik juga sampai mati.”

“Tuanku,” Kuda Sempana menggeser duduknya, “Sebenarnyalah

bahwa hamba ditolak karena hamba hanya seorang abdi. Tetapi

seandainya hamba seorang abdi di Kediri, misalnya, maka hamba

tidak akan mengalami nasib yang jelek itu. Hamba tidak menyesal

atas gadis itu, tetapi hamba menyesal, bahwa orang tua itu telah

merendahkan nama Akuwu Tumapel, Kuda Sempana hanya seorang

abdi dari seorang akuwu, bukan seorang maharaja.”

“Apa? He? Apa katamu?” mata Tunggul Ametung tiba-tiba

menjadi merah menyala. Dengan gemetar ia meloncat maju dan

berjongkok di hadapan Kuda Sempana yang duduk bersedeku,

“Katakan, katakan sekali lagi!”

Kuda Sempana pun kemudian beringsut mundur. Sekali lagi ia

menyembah, “Ampun Tuan. Hamba telah mengatakannya, bahwa

orang tua itu menganggap bahwa abdi seorang akuwu tidak pantas

untuk menjadi menantunya.”

“Siapa orang itu? He?” teriak Tunggul Ametung, “Siapa?”

“Orang tua gadis itu Akuwu. Seorang pendeta bernama Empu

Purwa.”

“Gila!” katanya lantang. Kemudian Tunggul Ametung itu pun

berteriak keras-keras, “Kuda Sempana, aku akan berburu ke

Panawijen.”

“Ampun Tuanku. Ampun,” sahut Kuda Sempana, “sebaiknya

Tuanku berburu ke timur.”

“Tidak, Aku akan ke Panawijen. Akan aku lihat orang tua itu.”

“Ampun Tuanku, hamba sudah tidak lagi mengharap gadis itu.

Biarlah gadis itu kelak berbahagia dengan suaminya.”

“Tidak. Akan aku ambil gadis itu untukmu. Untuk seorang

pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa. Kau dengar?

Gadis itu akan aku ambil. Akan aku hadiahkan kepadamu Kuda

Sempana. Akuwu berhak berbuat apa saja di daerahnya. Kau

dengar?”

Kuda Sempana itu menyembah dengan takzimnya. Dengan suara

yang parau ia berkata, “Tuanku. Hamba telah mengikhlaskannya

seperti nasihat Tuanku. Biarlah gadis itu menemui kebahagiaan. Aku

akan merasa bahagia kalau ia kemudian menemukan sisihan yang

dapat membahagiakannya.”

“Jangan membantah perintahku! Siapkan para pengikut. Aku

akan segera berangkat.”

“Tetapi tidak ke Panawijen Tuanku.”

“Tutup mulutmu! Adalah hakku untuk menentukan, ke mana aku

akan pergi.”

Kuda Sempana menjadi semakin tunduk. Tetapi ia tidak berkata

sepatah kata pun lagi Bahkan yang terdengar suara akuwu itu

lantang, “Kuda Sempana. Aku hargai kebaikan hatimu. Kau adalah

seorang yang tidak mau memerkosa perasaan orang lain. Tetapi

aku, Akuwu Tumapel, tidak mau dihina orang, meskipun lewat

seorang pelayan dalamnya.”

Kuda Sempana masih tunduk dalam-dalam. Maka didengarnya

Tunggul Ametung itu berkata pula, “Siapkan kudaku! Bunyikan

tanda untuk bersiap bagi para pengikut yang sudah aku tentukan.”

Kuda Sempana tidak dapat berbuat lain kecuali mematuhi

perintah itu. Segera ia menyembah dan kemudian beringsut

meninggalkan ruangan itu.

Demikian ia keluar pintu, maka wajahnya yang lesu itu tiba-tiba

berubah menjadi cerah. Betapa sebuah senyum yang segar

terbayang di bibirnya. Dengan suara yang jernih ia berkata lirih,

“Inilah aku, Kuda Sempana!”

Kemudian Kuda Sempana itu pun berjalan tergesa-gesa ke luar

halaman istana. Hampir-hampir ia lupa kepada perintah akuwu

untuk segera membunyikan tanda. Ia baru mabuk atas kemenangan

yang dicapainya. Akuwu telah dapat dipaksanya untuk menuruti

kehendaknya dengan caranya. Karena itu, maka Kuda Sempana itu

kadang-kadang tertawa dengan sendirinya. Kadang-kadang tampak

alisnya terangkat dari wajahnya menjadi bersungguh-sungguh,

namun kadang-kadang ia menutupi mulutnya dengan tangannya,

karena ia tidak dapat menahan kegembiraannya.

“Sekarang, malang-malang putung, rawe-rawe rantas,”

gumamnya seorang diri, “mudah-mudahan Mahisa Agni ada di

rumah. Akuwu pasti akan membunuhnya.”

Sesaat kemudian terdengarlah bunyi kentongan di menara di

sudut dinding luar istana. Bunyinya menggema memancar hampir

ke segenap penjuru kota. Para prajurit dan pelayan istana segera

mengetahuinya, bahwa Sang Akuwu akan pergi berburu.

Witantra pun kemudian mendengar suara itu. Maka segera ia pun

menyiapkan dirinya. Namun kepada Mahisa Agni ia berkata, “Terlalu

pagi. Biasanya Akuwu berangkat apabila Matahari telah

sepenggalah.”

“Mungkin Sang Akuwu akan memilih daerah perburuan yang

agak jauh,” sahut Mahisa Agni.

“Mungkin,” desis Witantra, dan kemudian katanya, “sudahlah

Wiraprana, aku akan berangkat. Kentong pertama sudah berbunyi.

Kentong kedua kami harus sudah berkumpul, dan kentong ke tiga

kami akan berangkat.”

“Silakan Witantra. Aku akan menunggu di sini. Aku mengucapkan

terima kasih atas semua kebaikan hatimu.”

“Jangan berterima kasih Wiraprana. Aku hanya berbuat

sekedarnya. Mudah-mudahan bermanfaat bagimu.”

Setelah bermohon diri kepada ibu dan istrinya, maka Witantra itu

pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan berlari ke

istana Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung.

Ketika Witantra sampai di alun- alun, beberapa orang telah

berkumpul. Rombongan itu ternyata tidak begitu besar. Di antara

lima orang prajurit pilihan yang dipimpin oleh Witantra, terdapat tiga

orang pelayan dalam yang ternyata tidak kalah tangguhnya dengan

para prajurit itu. Mereka adalah Kuda Sempana, Watangan dan

seorang pelayan dalam yang baru, yang diserahkan oleh seorang

pendeta kepada akuwu, Ken Arok. Meskipun pengabdiannya belum

lama, namun betapa ia dapat menarik hati Tunggul Ametung karena

betapa anak itu sangat patuh akan kewajibannya. Di samping

beberapa kelebihan yang sering dilakukannya tanpa sesadarnya.

“Ke mana kita akan berburu?” terdengar seorang prajurit

bertanya kepada Witantra.

Witantra menggelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya, “aku

belum mendengar titah Sang Akuwu.”

Kuda Sempana yang sedang diliputi oleh kegembiraan yang

meluap-luap di dadanya tiba-tiba menjawab, “Ke barat, ke sekitar

daerah padang rumput Karautan dan Padukuhan Panawijen.”

Hati Witantra itu berdesir mendengar jawaban Kuda Sempana.

Panawijen. Adalah sangat kebetulan, bahwa semalam ia sedang

mendengar persoalan yang terjadi di Panawijen. Jadi apakah ada

hubungan antara apa yang didengarnya semalam dengan rencana

perburuan ini.

Karena itu, Witantra segera bertanya meskipun ia seakan kau

acuh tak acuh, “Karautan adalah sebuah padang rumput. Apakah

kita sekarang akan berburu kelinci?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Di utara

Karautan terbentang sebuah hutan yang sangat banyak menyimpan

binatang-binatang pemakan rumput yang besar. Kijang, menjangan

dan sebagainya.

“Hem,” sahut Witantra, “Apakah Akuwu kali ini ingin berburu

kijang? Akuwu adalah seorang yang gemar kepada pengalamanpengalaman

yang dahsyat. Bukankah Akuwu senang berburu

harimau atau orang hutan raksasa di hutan Roban Kibar?”

Kuda Sempana mengangkat pundaknya, “Entahlah. Kali ini

Akuwu ingin berburu ke sana.”

Witantra itu mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ia

menjadi gelisah. Tanpa dikehendakinya ia telah terlibat dalam

persoalan antara Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Karena itu maka

setelah berpikir sejenak, ia berkata, “Apakah Akuwu sudah siap

untuk berangkat?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak

tahu apakah yang tersimpan di hati Witantra itu. Karena itu maka

kemudian ia menjawab, “Sudah. Akuwu sudah siap.”

“Aku akan menghadap,” gumam Witantra.

“Untuk apa?” bertanya Kuda Sempana dengan penuh kecurigaan.

“Aku akan mohon izin kepada Sang Akuwu, adikku ingin turut

dalam perburuan ini.”

“Adikmu? Siapa?” Kuda Sempana menjadi semakin curiga.

“Mahendra,” jawab Witantra.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, ia kenal Mahendra,

namun belum begitu akrab. Karena itu maka Kuda Sempana belum

mendengar apakah yang pernah terjadi atas anak muda yang

bernama Mahendra itu. Karena itu katanya, “Cobalah, mohonlah

kepada Sang Akuwu.”

Witantra itu pun kemudian masuk ke halaman belakang istana.

Setelah permohonannya disampaikan oleh seorang emban, maka

Sang Akuwu yang sudah siap untuk berangkat itu memanggilnya,

“He Witantra, ada apa? Apakah kau juga akan kawin?”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud Akuwu.

Namun ia tidak berani bertanya. Setelah menyembah maka katanya,

“Sang Akuwu, perkenankanlah kamba mengajukan sebuah

permohonan sebelum Akuwu berangkat berburu?”

“Apa? Kau minta aku berburu ke timur, ke selatan atau ke mana?

Aku sudah menentukan arah. Tak seorang pun dapat mengubah.

Aku akan berburu ke barat.”

“Ampun Tuanku,” sembah Witantra, “hamba tidak berani berbuat

demikian. Hamba hanya memohon izin kepada Tuanku. Apabila

Tuanku berkenan di hati, adik hamba akan ikut serta berburu

bersama dalam rombongan ini.”

“Siapakah adikmu itu?” bertanya Tunggul Ametung sambil

mengerutkan bibirnya.

“Mahendra Tuanku.

Akuwu Tumapel itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Kenapa

ia mau turut?”

“Tuanku. Adikku adalah seorang penakut. Mudah-mudahan

dengan pengalaman ini adikku akan dapat menjadi seorang yang

berpengalaman. Kalau Tuanku hendak pergi ke barat, maka

menurut perhitungan hamba perburuan ini tidak akan sedemikian

berat daripada apabila Tuanku pergi ke hutan Roban Kibar. Karena

di sekitar padang Karautan hutannya tidak begitu lebat, sehingga

tidak banyaklah binatang-binatang buas yang berbahaya.”

“Dari mana kau dengar he?” benak akuwu itu.

“Dari Kuda Sempana.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Demikianlah, bahwa Sang Akuwu akan berburu ke barat.”

“Hanya begitu?”

“Hamba Tuanku.”

“Bagus. Bawa adikmu. Kalau ia terampil, maka ia akan mendapat

kesempatan bekerja di istana.”

“Terima kasih Tuanku.”

Witantra itu pun kemudian mohon diri untuk memanggil adiknya.

Mahendra sama sebali tidak menyangka bahwa sepagi itu

Witantra telah datang ke rumahnya. Mula-mula Mahendra heran,

kenapa ia harus ikut serta berburu bersama akuwu. Namun akhirnya

ia tahu juga maksudnya. Karena itu, maka dengan senang hati,

Mahendra ikut serta bersama Witantra ke alun-alun dengan tergesagesa.

“Apakah aku tidak perlu membawa bekal apapun, Kakang?”

bertanya Mahendra.

“Tidak usah, bekalku cukup banyak.”

Akhirnya Mahendra pun menyiapkan kudanya pula, dan ikut serta

bersama Witantra.

Ketika mereka sampai di alun-alun, maka semuanya telah benarbenar

siap. Demikian Witantra dan Mahendra memasuki alun-alun

itu, demikian mereka mendengar kentongan dipukul untuk kedua

kalinya. Pertanda bahwa rombongan itu sudah siap untuk

berangkat.

Sesaat kemudian, mereka melihat Akuwu keluar dari istana

dengan sebuah busur yang sangat bagusnya melintang di

punggungnya. Seorang pekatik telah siap di ujung tangga dengan

seekor kuda berwarna hitam mengkilat. Kuda yang telah siap

berangkat berburu. Di sisi kuda itu tergantung sebuah endong berisi

sejumlah anak panah dan sebilah pedang panjang yang berwrangka

emas.

Sekilas, Akuwu Tumapel itu melayangkan pandangan matanya

berkeliling, ke arah beberapa orang yang sudah menunggu.

Dilihatnya ketiga orang pelayan dalam istana, di antaranya Kuda

Sempana. Lima orang prajurit di bawah pimpinan Witantra dan

seorang anak muda yang belum dikenalnya.

“Itukah adikmu Witantra?”

Witantra mengangguk dalam-dalam, kemudian jawabnya,

“Hamba Akuwu.”

“Hem adikmu itu gagah juga, segagah kau. Mudah-mudahan ia

mampu membunuh kelinci.”

Mahendra menggigit bibirnya. Namun ia tidak berkata apapun

juga.

Dengan tangannya Akuwu Tumapel memberi tanda kepada

rombongannya untuk berangkat. Maka terdengarlah suara

kentongan yang ketiga kalinya. Demikian kentongan itu berbunyi,

maka meloncatlah Akuwu Tunggul Ametung ke atas punggung

kudanya.

Para pengiringnya itu pun segera meloncat pula ke atas kuda

masing-masing. Dan sesaat kemudian mereka mendengar Tunggul

Ametung berkata, “Ayo, kita berangkat!”

Iring-iringan itu kemudian mulai bergerak. Di depan sendiri

Akuwu Tumapel berkuda dengan gagahnya. Akuwu itu benar-benar

seorang yang gagah, apalagi di atas kuda hitam mengkilat. Kuda

yang tegar dan besar. Di belakangnya Kuda Sempana mengiringinya

sambil tersenyum. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling

bahagia baginya. Akuwu Tumapel itu ternyata dapat

dikendalikannya untuk membantu mengambil gadis yang telah

menyakitkan hatinya itu.

Di belakang Kuda Sempana berkuda berjajar dua orang kawan

Kuda Sempana. Salah seorang daripadanya bernama Ken Arok.

Seorang anak muda pendiam, namun di balik kediamannya itu

tersimpan beberapa keanehan dan kekuatan-kekuatan yang tak

dimiliki oleh anak-anak sebayanya.

Baru di belakang mereka, di belakang para pelayan dalam itu,

berkuda para prajurit. Lima orang ditambah dengan seorang adik

seperguruan Witantra.

Di sepanjang perjalanan itu, Witantra benar menjadi bingung.

Apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh rombongan ini? Apakah

kebetulan saja kalau akuwu memilih arah ke barat, atau ada

hubungan yang erat dengan maksud Kuda Sempana? Witantra

menjadi ragu-ragu. Ia ingin segera memberitahukan persoalan itu

apabila keadaan memaksa. Kalau tidak, maka biarlah ia tidak

menggelisahkan Mahisa Agni yang sampai saat terakhir masih

disangkanya Wiraprana.

Tetapi, semakin lama hatinya semakin gelisah. Meskipun

demikian ia masih ingin tahu ke mana mereka sebenarnya akan

pergi.

Penduduk kota Tumapel, melihat kepergian akuwunya dengan

berbagai tanggapan. Seorang di antaranya memujinya setinggi

langit, katanya, “Tak ada akuwu segagah Akuwu Tumapel. Carilah di

seluruh Kediri. Tubuhnya yang kokoh kuat. Masih muda lagi. Kalau

ia pergi berburu seperti kali ini, maka benar-benar seperti Dewa

Ngejawantah.”

Namun ada orang lain yang mencemoohkannya, “Huh, ia tidak

mampu berbuat selain berburu. Apakah kemajuan yang pernah

dicapainya selama ia menjadi akuwu. Lihat, meskipun ia sudah

setua itu, namun ia masih belum juga berani kawin.”

Seperti apa yang dilakukannya, maka akuwu itu mempunyai

beberapa bentuk tanggapan dari rakyat. Ada yang mencintainya

sebagal seorang yang paling bermurah hati di dunia ini, namun ada

yang mengumpatinya sebagai seorang yang paling kejam di muka

bumi. Sebab akuwu itu berbuat apa saja yang ingin dilakukan

sesaat-sesaat. Kadang-kadang ia lupa apa yang dikatakannya

kemarin dan ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya besok.

Tetapi sebagian dari rakyat Tumapel melihat kemegahan Tunggul

Ametung pada para pengiringnya. Dilihatnya seorang yang gagah

berkuda di belakangnya, kemudian beberapa orang yang bertubuh

tegap kekar. Mereka semuanya telah siap dalam kelengkapan

seorang pemburu. Namun para prajurit itu tidak saja siap untuk

berburu, namun apabila ada bahaya di sepanjang perjalanan

mereka maka mereka pun siap untuk bertempur. Meskipun jumlah

pengiring itu tidak demikian banyak, namun kekuatan itu telah

berlebih-lebihan untuk menjelajahi daerah Tumapel yang aman.

Demikianlah, maka perjalanan itu tampaknya sebagai sebuah

rombongan tamasya. Pada pagi yang cerah, ketika matahari pagi

melemparkan sinarnya yang segar ke puncak-puncak pepohonan,

menyentuh daun-daunan yang bergerak-gerak ditiup angin yang

lembut. Di sebelah barat menjulang Gunung Kawi yang perkasa.

Puncaknya tampak ke merah-merahan, bermandikan cahaya

matahari yang berkilat-kilat.

Tetapi hati Witantra tidaklah secerah pagi itu. Meskipun ia tidak

berkepentingan langsung dengan persoalan yang menyangkut

Wiraprana, namun hatinya telah terlanjur terlibat ke dalamnya.

Karena itu, di sepanjang perjalanan itu. Ia selalu berusaha

mengetahui, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Akuwu

Tunggul Ametung itu. Karena itu, maka kemudian ia mempercepat

langkah kudanya dan menyampingi Ken Arok yang berkuda di

belakang Kuda Sempana.

Setelah dekat Witantra bertanya kepada Ken Arok. “Adi, ke

manakah kita ini sebenarnya akan pergi?”

Ken Arok menjawab dengan jujur. “Entahlah Kakang aku belum

tahu pasti. Menurut Kuda Sempana kita akan pergi ke hutan di

sekitar padang Karautan.”

Dada Ken Arok berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun

dicobanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dijawabnya, “Ya

pernah Kakang, sekali dua kali aku pernah lewat di hutan itu.”

“Aku pernah juga ke sana,” sahut Witantra, “tetapi hutan itu

bukan tempat yang baik untuk berburu.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi debar di jantungnya menjadi

semakin cepat. Hutan itu adalah hutan yang dikenalnya baik. Hutan

dan padang rumput itu. Ia pernah tinggal di padang rumput itu

beberapa lama. Dan ia selalu bersembunyi di hutan itu, apabila

beberapa orang mengejarnya. Karena itu ia pun menjadi gelisah.

Kalau ia boleh memilih, maka lebih baik baginya untuk tidak ikut di

dalam rombongan itu. Sebab baik hutannya maupun padang rumput

Karautan membawa kenangan yang pedih di dalam hatinya.

Teringatlah ia akan pertemuannya dengan seorang Empu yang

bernama Empu Purwa beserta muridnya. Berkata Empu itu

kepadanya, bahwa apabila ia dapat menempuh cara hidup yang

lain, maka ia akan menjadi lebih berbahagia karenanya. Kini ia

telah, menemukan jalan lain itu. Dan ia benar-benar merasa lebih

berbahagia. Tetapi ia tidak dapat menolak. Ia harus turut

menjelajahi hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan. Daerah

yang pernah dipakainya untuk melakukan pembantaian, perkosaan

dan perampokan.

Bulu kuduk Ken Arok itu berdiri serentak. Dan ia pun

menundukkan wajahnya.

Witantra melihat perubahan wajah itu dengan heran. Tiba-tiba ia

menjadi curiga. Apakah ada maksud-maksud yang tersembunyi

dalam perburuan kali ini? Tetapi ia tidak dapat mendesaknya.

Mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan.

Meskipun demikian Witantra tidak segera mengambil ke

simpulan. Ia tidak mau membuat keributan apabila persoalannya

belum jelas. Karena itu ia kemudian berdiam diri sambil mengikuti

Akuwu Tunggul Ametung dengan hati yang gelisah.

Hati Witantra itu kemudian tergetar ketika tiba-tiba Akuwu

Tumapel memperlambat kudanya. Kemudian ia berpaling kepada

Kuda Sempana sambil berkata, “Apakah aku berjalan ke arah yang

benar?”

“Hamba Tuanku,” jawab Kuda Sempana.

“Aku pernah pergi ke Panawijen. Namun sudah terlalu lama.

Sesudah itu, aku senang berburu ke timur. Karena itu, maka

berjalanlah di depan Kuda Sempana, supaya arahnya tidak salah.”

Hati Witantra berdesir mendengar kata-kata Akuwu Tumapel itu.

Perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup jauh. Dan tiba-tiba

Kuda Sempanalah yang harus menentukan arah. Karena itu maka

hatinya menjadi semakin gelisah.

Sekali-sekali Witantra itu berpaling kepada adik seperguruannya

yang berada di paling belakang. Di dalam hatinya Witantra berkata,

“Hem. Apakah semuanya ini suatu hal yang kebetulan saja, atau

Kuda Sempana telah sempat mempengaruhi hati Akuwu?”

Dan hati Witantra itu menjadi semakin gelisah.

Tiba-tiba Witantra itu mempunyai dugaan yang kuat bahwa Kuda

Sempana yang memegang peran kali ini. Apapun yang akan

dilakukan oleh Sang Akuwu, namun Kuda Sempana akan mungkin

untuk memanfaatkan setiap keadaan. Karena itu maka berkata

Witantra itu di dalam hatinya, “Kenapa aku tidak memberitahukan

saja kepada Wiraprana apa yang akan dilakukan oleh Kuda

Sempana. Sebaiknya Wiraprana berusaha untuk mencegah hal-hal

yang tidak diharapkan. Sebaiknya Wiraprana itu pulang saja dan

menyembunyikan Ken Dedes. Sebab kalau usaha Kuda Sempana

mendapat persetujuan akuwu, maka tak ada seorang pun yang akan

dapat mencegahnya.”

Meskipun demikian Witantra itu untuk beberapa saat masih raguragu.

Namun akhirnya jalan itulah yang dapat ditempuh sebaiknya.

Seandainya kemudian akuwu tidak mempunyai kepentingan apa-apa

atas gadis itu, maka sebagai usaha penyelamat tak akan ada

ruginya.

Karena itu, maka kemudian Witantra itu memperlambat kudanya

dan berjalan di samping Mahendra. Sambil berbisik ia berkata,

“Mahendra. Kembalilah. Beri tahukanlah kepada Wiraprana bahwa

kami sekarang berburu ke barat. Mungkin kami akan melewati

Panawijen. Karena itu, usahakanlah selekas mungkin pulang dan

sembunyikanlah Ken Dedes. Syukurlah bahwa akuwu tidak akan

melihatkan diri atas hasutan Kuda Sempana.

Mahendra menganggukkan kepalanya. “Baik Kakang.”

“Tetapi biarlah aku minta izin dahulu kepada Akuwu. Nanti kami

masih mengharap perjalanan kami berhenti di hutan perburuan

meskipun hanya sebentar, sehingga Wiraprana akan dapat

mendahului perjalanan kami. Tetapi kalau mungkin biarlah

Wiraprana mencari jalan lain, selain padang rumput Karautan.”

“Baik Kakang.”

Witantra itu kemudian mempercepat kudanya dan dengan hatihati

ia mencoba berkuda di samping akuwu.

Akuwu Tumapel itu berpaling sesaat. Ia mengerutkan keningnya.

Kemudian ketika melihat Witantra menganggukkan kepalanya

dalam-dalam maka ia pun bertanya, “Ada apa Witantra?”

Kuda Sempana yang berkuda di depannya berpaling dengan

penuh kecurigaan. Dengan hati-hati ia berusaha mendengar

percakapan itu.

“Ampun, Tuanku,” jawab Witantra, “adik hamba benar-benar

belum berpengalaman. Apalagi ketika kami berangkat, adik hamba

terlalu tergesa-gesa. Kini perkenankanlah adik hamba itu pulang

untuk mengambil busurnya. Sebab alangkah janggalnya, apabila

kami harus berburu tanpa busur.”

Akuwu itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kemudian, ia pun

tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Adikmu itu gagah, segagah kau

Witantra, namun ternyata ia lebih bodoh dari keledai. Apakah yang

akan dilakukan kalau anak itu tidak membawa busur?”

“Itulah Tuanku. Anak itu hanya membawa anak panah.”

Kembali akuwu tertawa terbahak-bahak. Katanya “Aku tidak

berkeberatan anak itu pulang mengambil busurnya. Tetapi aku tidak

senang melihat kecerobohannya.”

Witantra itu mengangguk sekali lagi. Namun sebelum ia surut ke

belakang, maka tiba-tiba akuwu itu berkata “Tak ada gunanya

adikmu itu mengambil busurnya. Kali ini sama sekali tidak

memerlukan busur.”

Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata akuwu itu,

sehingga sekali lagi ia berpaling. Witantra pun tidak kalah

terkejutnya pula. Bahkan ia bertanya “Kenapa tidak Akuwu?”

Akuwu mengangkat alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Dilihatnya

Kuda Sempana. Kemudian akuwu itu tertawa. Namun tiba-tiba ia

membentak, “Apapun yang akan dilakukan oleh adikmu itu aku tidak

peduli. Kalau ia mau mengambil busurnya, biarlah ia mengambilnya

Kalau ia mau berburu dengan giginya itu pun bukan urusanku.”

Witantra mengangguk dalam-dalam sambil berkata “Hamba

Tuanku.”

Kini hati Witantra menjadi semakin gelisah. Maka kemudian

katanya kepada Mahendra “Cepat! Pulanglah beri tahukan kepada

Wiraprana supaya ia cepat-cepat pulang dan menyelamatkan

gadisnya. Mungkin bahaya benar-benar akan mengancam.”

Mahendra tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia memutar

kuda dan seperti angin ia berpacu kembali ke Tumapel. Debu yang

putih melonjak naik ke udara, dan suara telapak kaki-kaki kuda itu

gemeretak memekakkan telinga.

Ketika Sang Akuwu berpaling, dilihatnya kuda Mahendra itu

seperti anak panah yang meluncur cepat sekali. Tiba-tiba, akuwu itu

melambaikan tangannya memanggil Witantra “Itukah adikmu?”

“Hamba. Akuwu.”

“Ternyata adikmu itu pandai berkuda. Aku senang kepada

keterampilannya”

“Terima kasih Tuanku.”

“Tetapi otaknya terlalu tumpul. Kalau ia pergi berperang, dan ia

lupa membawa senjatanya, apa yang akan dilakukan?”

“Anak itu masih terlalu muda dan kurang pengalaman.”

Tunggul Ametung tidak menjawab. Kini diangkatnya wajahnya

dan dipandanginya jalur-jalur jalan yang menjelujur di hadapannya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Akuwu itu berkata

“Sawah-sawah di sini cukup baik.” Kemudian kepada Kuda

Sempana ia berkata “Kuda Sempana. Kaulah yang memimpin

perburuan kali ini.”

Kembali dada Witantra berdesir. Agaknya kemungkinankemungkinan

yang kurang baik semakin nyata akan terjadi. Karena

itu maka ia menyesal bahwa agak terlambat mengabarkannya

kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Meskipun

demikian, maka Witantra itu akan berusaha untuk memperlambat

perjalanan mereka. Katanya, “Akuwu. Hutan-hutan di sekitar

Karautan memang banyak menyimpan binatang-binatang yang baik

untuk diburu. Kijang, menjangan dan beberapa jenis harimau.

Karena itu, maka kami akan mengharap bahwa Akuwu akan menjadi

bergembira karenanya. Bukankah Akuwu belum pernah memiliki

kijang yang berkulit belang?”

Agaknya Akuwu Tumapel itu tertarik juga kepada kata-kata

Witantra. Katanya, “Apakah di Panawijen ada kijang berbulu

belang?”

“Tidak di Panawijen Tuanku, tetapi di hutan-hutan di sekitar

padang rumput Karautan.”

“He, Kuda Sempana,” berkata Akuwu itu, “kita berburu kijang

berbulu belang di padang rumput Karautan.”

Kuda Sempana itu terkejut mendengar perintah Akuwu itu.

Karena itu ia bertanya, “Apakah kita pergi berburu dahulu Tuanku?”

Pertanyaan itu benar-benar aneh bagi Witantra. Mereka

berangkat untuk berburu. Kenapa pertanyaan Kuda Sempana itu

justru tentang perburuan itu sendiri? Karena itu, maka Witantra itu

seolah-olah mendapatkan beberapa petunjuk apa sebenarnya yang

akan dilakukan oleh Kuda Sempana.

“Hem,” desahnya di dalam hati, “ternyata aku terlalu bodoh

sehingga aku terlambat memberitahukannya kepada Wiraprana.

Mudah-mudahan Akuwu tertarik kepada kijang berbulu belang.”

Mendengar pertanyaan Kuda Sempana, Akuwu Tumapel itu

mengerutkan alisnya. Segera ia teringat kepada cerita Kuda

Sempana tentang seorang Empu yang telah merendahkan

derajatnya sebagai seorang akuwu, karena itu, maka dengan

geramnya ia berkata, “Kita ke Panawijen.”

Witantra kini hampir yakin karenanya, bahwa Kuda Sempana

pasti sudah berhasil membujuk akuwu untuk kepentingannya.

Karena itu maka penyesalan yang bergolak di dalam dadanya

menjadi semakin melonjak-lonjak. “Mudah-mudahan Wiraprana

tidak terlambat.”

Meskipun demikian, Witantra itu berkata, “Ampun Akuwu, tidak di

Panawijen, tetapi di sebelah padang Karautan.”

“Apa?” bertanya akuwu itu sambil mengangkat wajahnya.

Hati Witantra tergetar karenanya. Namun jawabnya, “Kijang

berbulu belang. Tidak saja bulunya Tuanku, tetapi kulitnya. Hamba

pernah mendapatkannya dahulu. Kulitnya kini menghias dinding

paman hamba di Kediri.”

Akuwu Tumapel itu menyipitkan sebelah matanya. Sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.

Kita mencari kijang berbulu belang.”

“Kalau nanti kita mendapatkannya Tuanku, biarlah nanti hamba

mengolah kulitnya sebaik-baiknya untuk sebuah permadani di

bawah kaki di muka tempat duduk Tuanku di istana, atau di muka

bilik tempat peraduan Tuanku.”

“Bagus-bagus. Akan aku dapatkan kijang berbulu belang itu.

Kalau tidak, maka aku akan mengulangi perburuan ini sampai aku

mendapatkannya.”

Tiba-tiba Kuda Sempana yang kecemasan berkata, “Kijang itu

telah lama punah.”

“He,” Akuwu Tumapel terkejut, “Apakah kau berkata benar?”

“Tidak!” sahut Witantra, “belum lama aku telah melihatnya,

seorang pemburu membawa kijang serupa itu.”

“Kijang itu tidak terlalu baik. Raja Kediri pernah memesannya.

Tetapi Akuwu Tumapel bukan Raja Kediri. Kenapa mesti menirunya?

Biarlah suatu ketika Kediri meniru Akuwu Tumapel, meskipun

Tumapel berada di dalam lingkungan kerajaan Kediri.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya mendengar kata-kata

Kuda Sempana itu. Dan sebelum ia menjawab, Kuda Sempana telah

berkata pula “Apakah kau sangka dalam menilai keindahan, Akuwu

Tumapel iri ada di bawah Baginda Kertajaya. Kalau Baginda

Kertajaya itu senang kepada Kijang berbulu belang, maka Akuwu

Tumapel akan membuat perhiasan yang lain, yang jauh lebih indah

dari Kijang berbulu belang itu.”

“Apakah itu?” tiba-tiba Akuwu Tumapel itu bertanya.

Kuda Sempana menjadi gelisah mendapat pertanyaan itu. Karena

itu maka jawabnya, “Kita belum menemukan itu Tuanku. Namun

suatu ketika akan kita dapatkan.”

“Ya. Suatu ketika akan kita dapatkan,” gumam Tunggul Ametung.

Witantra kemudian terdiam. Tetapi hatinya menjadi semakin

gelisah. Apa lagi ketika Kuda Sempana mempercepat langkah

kudanya.

“Setan itu telah berhasil mempengaruhi Akuwu Tumapel,”

katanya di dalam hati. Karena itulah maka detak jantungnya terasa

semakin cepat. Beberapa persoalan menghentak- hentak dadanya

sehingga akhirnya Witantra itu tidak tahan lagi menyimpan

pertanyaan-pertanyaan yang menghimpit perasaannya. Dengan

cemas maka diberanikan dirinya bertanya, “Akuwu, apakah kita

tidak berburu kali ini?”

“Siapa bilang?” sahut akuwu itu.

“Tuanku, aku hanya menjadi bingung saja. Aku tadi mendengar

adi Kuda Sempana bertanya, apakah kita pergi berburu dahulu.

Apakah sesudah itu kita mempunyai suatu rencana yang lain?”

Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Sambil

meraba-raba suri kudanya Tunggul Ametung itu berkata, “Kita

sedang berburu. Apapun yang kita buru.”

Tunggul Ametung itu berhenti sejenak, kemudian katanya

seterusnya, “Apakah kau sudah beristri Witantra?”

Witantra bingung mendengar pertanyaan itu. Meskipun demikian

dijawabnya “Sudah Tuanku.”

“Nah. Siapakah di antara kalian yang belum kawin he?” bertanya

Akuwu itu kepada para pengiringnya.

Tak seorang pun yang tahu maksud Akuwu itu. Meskipun

demikian beberapa orang lantarannya menjawab, “Hamba Tuanku.”

“Nah, nanti akan sempat giliran kalian kawin. Sekarang marilah

kita memberi kesempatan pertama kepada Kuda Sempana. Kita

sekarang sedang menjemput pengantin perempuan.”

Dada Witantra itu benar-benar hampir meledak mendengar kata

Akuwu itu. Sebenarnyalah apa yang telah diduganya. Karena itu,

tanpa disadarinya ia berpaling. Dan Mahendra telah hilang jauh di

balik pedesaan.

“Gila!” Witantra itu menggeram di dalam hati.

Bukan saja Witantra, namun semua orang menjadi heran

karenanya. Apakah yang harus mereka lakukan?”

Tiba-tiba mereka mendengar akuwu itu berkata lantang, “Aku

tidak mau dihinakan oleh siapa pun juga. Penghinaan terhadap

orang-orangku hanya karena ia hamba akuwu adalah penghinaan

bagiku. Karena itu maka sekarang aku sedang menunjukkan

kekuasaanku.”

Kini Witantra sudah merasa pasti, apakah yang akan

dihadapinya. Mengantarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes

dengan paksa. Dengan kekerasan. Karena itu maka alangkah ia

menjadi bersedih hati. Ia tidak tahu, alasan-alasan apakah yang

dipakai oleh akuwu itu untuk meluluskan permintaan Kuda

Sempana. Kalau semula akuwu ingin berangkat berburu, maka tibatiba

maksud itu telah disimpangkannya oleh Kuda Sempana.

Rombongan Akuwu Tumapel itu berjalan berderap-derap di atas

tanah berbatu-batu. Setiap bunyi telapak kaki kuda-kuda itu seakanakan

suara sangkakala yang meneriakkan kekuasaan di tangan

Akuwu Tumapel kekuasaan. Tidak lebih daripada kekuasaan lahiriah.

Dan Akuwu Tunggul Ametung itu sedang menunjukkan kekuasaan.

Sebenarnya Tunggul Ametung itu berpikir di dalam hatinya, “ Tak

ada orang dapat menentang kehendakku. Kalau ada orang yang

mencoba menolak keputusanku, maka aku akan memaksanya

dengan kekerasan. Aku mempunyai cukup prajurit, cukup senjata

dan cukup apa saja untuk menindas mereka. Apalagi mereka yang

telah menghina aku.”

Witantra semakin lama menjadi semakin berdebar-debar.

Semakin dekat mereka dengan Panawijen, maka hatinya menjadi

semakin sedih, sehingga ketika ia tidak dapat menahan hati lagi,

diberanikannya sekali lagi bertanya kepada Akuwu itu, “Tuanku,

apakah yang harus hamba lakukan nanti, apabila kita tidak pergi

berburu?”

“Gila!” bentak Akuwu itu, “kau adalah seorang prajurit. Kau

adalah alatku untuk menunjukkan kekuasaanku. Kalau aku sedang

melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa Akuwu Tumapellah

yang berkuasa di Tumapel, maka kau harus melindungi kekuasaan

itu.”

“Hamba Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Hamba pun akan

berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini, kekuasaan Tuanku yang

manakah yang harus hamba amankan.”

“Apakah kau sudah uli?” teriak Akuwu itu dengan marahnya.

Suaranya menggelegar memenuhi dataran di sebelah timur Gunung

Kawi itu, “aku akan mengambil seorang gadis bernama Ken Dedes

di desa Panawijen. Orang tua itu menolak Kuda Sempana yang telah

dipertunangkan sejak kecil, karena Kuda Sempana adalah pelayan

dalam Akuwu Tumapel.”

Witantra menarik nafas. Dan di dengarnya Tunggul Ametung itu

berkata pula, “Nah, apakah itu bukan suatu penghinaan bagi Akuwu

Tumapel?”

Witantra menarik bibirnya. Terasa betapa hatinya menjadi sakit.

Ia tahu pasti bahwa Empu Purwa telah memberi keleluasaan kepada

Ken Dedes untuk menjatuhkan pilihannya. Bahkan adiknya

seperguruannya pun pernah terluka hatinya, sehingga hampir ia

kehilangan keseimbangan pula dengan menantang Wiraprana

berkelahi. Bahkan baru kemarin rasa-rasanya sekali lagi Mahendra

berkelahi dengan Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Tetapi

ia menentang perbuatan yang nurani dari adiknya itu. Kini ternyata

Kuda Sempana lah yang berbuat curang. Karena itu Witantra itu

benar-benar menjadi sedih. Sedih atas peristiwa yang akan terjadi

Peristiwa yang pasti akan menyinggung rasa keadilan. Sebagai

seorang prajurit Witantra menyadari tugasnya. Ia tidak dapat

mengingkari perintah yang diberikan oleh atasannya. Oleh Akuwu

Tumapel itu. Namun ia tahu pasti, bahwa apa yang dilakukan itu

telah berkisar dari kebenaran dan telah melanggar keadilan. Dengan

kekuatan dan kekuasaan yang ada padanya, akuwu akan dapat

berbuat apa saja. Merampas, membunuh, mengambil istri orang dan

apa saja. Kalau ia melakukan perampasan, pemerasan dan

sebagainya, maka ia adalah jauh lebih jahat dari perampok yang

paling jahat sekalipun. Sebab sebenarnya akuwu lah yang harus

melindungi rakyatnya dari ketakutan dan kesewenang-wenangan.

Tetapi Akuwu Tumapel telah mengatakan kepadanya, bahwa kini

ia sedang menunjukkan kekuasaan. Dan dirinyalah alat dari

kekuasaan itu.

Dirinya sebagai manusia dan pedang yang tergantung di

pinggangnya itu.

Kuda Sempana yang berkuda di ujung rombongan itu kemudian

mempercepat jalan kudanya. Di hadapannya kini telah terbentang

padang rumput Karautan. Agaknya mereka akan menerobos di

tengah-tengah padang rumput itu.

Ken Arok tiba-tiba mengerutkan keningnya. Ditatapnya padang

yang terbentang luas di hadapannya itu dengan wajah yang sayu.

Padang yang telah menggoreskan kenangan yang suram.

“Apakah aku akan dapat melupakan semua yang telah terjadi?”

bisiknya di dalam hati.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Timbullah pertanyaan di

dalam hatinya. “Apakah yang Maha Agung mau menerima aku

menghadap dengan tangan yang dikotori oleh darah? Berpuluhpuluh

orang telah menjadi korbanku di padang rumput ini.”

Tetapi Ken Arok tidak mendapat kesempatan untuk beranganangan.

Kini kuda mereka berjalan semakin cepat, dan sebentar lagi

mereka akan sampai ke Panawijen. Tempat tinggal seorang gadis

yang baru tumbuh dan berkembang. Namun tiba-tiba angin yang

kencang telah melandanya. Angin prahara, yang tak akan dapat

dibendung oleh siapa pun.

Demikianlah rombongan itu telah mengejutkan seluruh penduduk

Panawijen. Ketika mereka melihat sebuah iring-iringan, dan di

depan sendiri mereka melihat Kuda Sempana, maka seluruh

penduduk Panawijen, apalagi anak-anak mudanya, menjadi

ketakutan. Langsung mereka dapat menebak, bahwa Kuda Sempana

telah datang kembali dengan kawan-kawannya. Apalagi ketika

seorang tua berkata di antara mereka, “He, lihat! Di belakang Kuda

Sempana itu adalah Akuwu Tunggul Ametung. Aku pernah

melihatnya, ketika aku pergi ke Tumapel dahulu.”

“Akuwu?” bertanya yang lain dengan tubuh gemetar.

“Ya.”

Penduduk Panawijen itu menjadi semakin takut. Dan Witantra

pun benar-benar telah berputus asa untuk menyelamatkan gadis itu.

Mahendra pasti terlambat, sehingga Mahisa Agni yang disangkanya

Wiraprana pasti tak akan sempat menyembunyikan gadis itu.

Sedang dirinya sendiri tidak mungkin untuk melakukannya. Ia

adalah prajurit akuwu, sehingga dengan demikian, maka mau tidak

mau ia harus berdiri di pihaknya.

Witantra itu tiba-tiba menangis dalam hatinya. Ia tidak pernah

menyangka bahwa pada suatu saat ia harus melakukan pekerjaan

yang bertentangan dengan rasa keadilannya. Ia harus melindungi

suatu perbuatan yang ia tahu, bahwa perbuatan itu melanggar sendi

penghidupan dan kebenaran. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Ia harus menyaksikan perbuatan yang tercela itu terjadi di hadapan

hidungnya tanpa dapat mencegahnya.

Maka terjadilah pergulatan di dalam dirinya. Pergulatan antara

kesetiaannya kepada Akuwu Tumapel dan kesetiaannya kepada

kebenaran.

Witantra itu menarik nafas dalam-dalam. Diingatnya tiba-tiba

istrinya yang masih muda dan ibunya yang sudah tua. “Hem,” ia

berdesah di dalam hatinya. Orang-orang itu pun harus menjadi

bahan pertimbangannya. Kalau ia menentang perintah Akuwu

Tunggul Ametung, maka akibatnya, ia akan kehilangan pangkat dan

jabatannya Bahkan mungkin ia akan diusir dari Tumapel. Lalu ke

manakah ia akan pergi? Bagaimanakah kemudian dengan istri dan

ibunya? Istri Witantra bukanlah seorang gadis yang dapat

mengalami kesulitan-kesulitan.

Istrinya adalah seorang perempuan yang manja, yang hanya

dapat menikmati kebesaran nama dan jabatannya. Bahkan istrinya

itu bersedia dikawininya, karena Witantra adalah salah seorang

pemimpin prajurit pengawal akuwu. Kalau kemudian ia kehilangan

pangkat dan jabatannya, maka ia pasti akan kehilangan istrinya itu

pula.

Kuda-kuda yang ditumpangi oleh rombongan dari Tumapel itu

berjalan terus. Derap kakinya mengejutkan setiap penduduk

Panawijen. Beberapa orang menjadi gemetar karenanya, dan

beberapa orang mengeluh d dalam hatinya, “Kasihan Empu Purwa.

Gadisnya benar-benar akan hilang ditelan oleh Kuda Sempana.”

Berita tentang kedatangan akuwu itu pun segera menjalar ke

telinga Ki Buyut Panawijen. Dengan debar di dalam dadanya ia

bertanya, “Kau melihat Akuwu sendiri datang?”

“Ya,” sahut orang yang memberitahukan kepada Buyut itu.

“Di manakah Wiraprana?”

“Mungkin di rumah Empu Purwa.”

“Jangan melawan. Usahakan saja untuk menyembunyikan gadis

itu. Cepat!”

“Tetapi orang-orang dari Tumapel itu berkuda. Aku tak akan

dapat mendahuluinya.”

“Cobalah!” berkata Buyut itu, “aku akan segera dalang pula ke

sana.”

Orang itu pun berusaha memenuhi permintaan tetua

padukuhannya. Dengan penuh belas kasihan orang itu berlari

menerobos halaman-halaman rumah tetangga-tetangganya dan

memintasi kebun-kebun yang rimbun. Akhirnya ia sampai juga ke

rumah Empu Purwa sebelum iring-iringan kuda yang harus berjalan

melingkar-lingkar itu datang.

Degan penuh kecemasan, maka segera ia bercerita tentang apa

yang diketahuinya.

Wiraprana dan Ken Dedes menjadi terkejut bukan buatan. Wajah

gadis itu tiba-tiba menjadi pucat dan tubuh Wiraprana bergetaran.

“Apakah mereka sedang menuju kemari?”

“Ya.”

Wiraprana menjadi bingung Dan tiba-tiba ia bergumam, “Kenapa

Agni belum juga pulang. Ternyata ia hanya berbuat menurut

kemauannya sendiri. Ia tidak berpikir tentang kami di sini.”

“Jangan hanya menyalahkan Kakang Agni,” potong Ken Dedes,

“lalu apa yang harus kita lakukan?”

Wiraprana diam sesaat. Kemudian katanya “Pendapat ayah baik

sekali. Mari kita bersembunyi di luar rumah ini.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada

seorang cantrik ia berkata “Katakan bahwa kami tidak ada di rumah.

Sejak kemarin kami meninggalkan rumah ini.”

Cantrik itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baik. Baik

akan kukatakan kepada mereka.”

“Cepat pergilah!” desak emban tua yang masih sangat lemahnya

setelah ia kemarin dicederai oleh Kuda Sempana.

“Tetapi apakah mereka tidak akan mencari kita di seluruh

padukuhan ini,” desah Wiraprana.

“Cepat!” tiba-tiba emban tua itu membentak, “Jangan ributkan

hal yang lain-lain. Bersembunyi.”

Wiraprana tidak membantah. Ia tidak sempat menjadi heran atas

sikap emban yang tiba-tiba menjadi garang itu. Karena itu maka

segera ia melangkah turun dari pendapa.

Tetapi keduanya terlambat. Sebelum mereka mencapai regol

halaman, maka tiba-tiba mereka mendengar derap kuda mendekati

regol itu.

“Cepat kembali!” teriak emban tua itu, “panjatlah dinding

belakang.”

Tetapi Wiraprana tidak sempat berbuat demikian. Sebelum

sempat memutar tubuhnya, maka muncullah seekor kuda yang

tegar dari regol pagar. Seekor, disusul oleh yang lain dan akhirnya

halaman itu pun telah hampir penuh dengan kuda-kuda dan

penunggangnya. Meskipun demikian, di luar regol itu pun masih ada

dua tiga ekor kuda yang di punggungnya duduk prajurit-prajurit

yang sudah siap untuk berbuat apa saja.

Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi lemah seakan-akan

kehilangan segenap tulang belulangnya. Dilihatnya Kuda Sempana

tersenyum di atas punggung kuda dan di sampingnya seorang yang

gagah dengan pakaian gemerlapan.

Tunggul Ametung sesaat diam terpaku. Inikah gadis yang disebut

oleh Kuda Sempana itu? Karena itu, maka terdengar suaranya berat

parau, “Kuda Sempana, adakah gadis ini yang kau sebut-sebut

bernama Ken Dedes?”

Kuda Sempana menarik keningnya. Sahutnya “Dari mana Tuanku

tahu?”

Tunggul Ametung tertawa. “Aku hanya menduga. Gadis ini

adalah gadis yang cantik sekali.”

Sekali lagi Kuda Sempana menarik keningnya. Ketika kemudian ia

memandangi gadis itu, dilihatnya Ken Dedes menjadi pucat sepucat

mayat. Tetapi Kuda Sempana tidak memedulikannya. Dengan

lantang ia berkata, “Atas nama Tuanku Akuwu Tumapel, maka aku

diperintahkan untuk membawa Ken Dedes ke Tumapel.”

Meskipun hal itu sudah diduganya sejak Kuda Sempana itu

memasuki regol halaman, namun kata-kata telah menampar hati

Ken Dedes dan Wiraprana seperti gunung yang runtuh menimpa

dadanya. Tanpa sesadarnya, Ken Dedes itu berpegangan lengan

Wiraprana dengan eratnya seolah-olah tak akan dapat dipisahkan

oleh kekuatan apapun. Namun mereka adalah manusia biasa.

Manusia yang memiliki kekuatan dan ketahanan yang terbatas.

Karena itu, maka mereka tak akan dapat mencegah kekuatankekuatan

yang berat melanda mereka dan menghanyutkan mereka

ke dalam arus yang mengerikan

Kuda Sempana menjadi panas melihat sikap Ken Dedes itu.

Karena itu maka ia membentak sekali lagi, “Ken Dedes. Kali ini

jangan menentang kehendak Akuwu. Meskipun aku sendiri tidak

terlalu bernafsu untuk membawamu serta, sebab kau adalah

seorang gadis pedesaan, namun demikianlah kehendak Akuwu.”

Tidak hanya Wiraprana dan Ken Dedes saja yang terkejut

mendegar kata-kata Kuda Sempana, namun timbullah berbagai

persoalan pula di dalam hati Witantra.

“Kuda Sempana,” tiba-tiba Wiraprana itu berkata dengan suara

yang bergetar, “apakah sebenarnya kehendakmu?”

“Jangan banyak cakap!” potong Kuda Sempana, “kau harus

melepaskan Ken Dedes dan Ken Dedes harus pergi ke Tumapel.”

“Tidak!” bantah Ken Dedes.

“Sekali lagi, jangan menyangkal!” Kuda Sempana menjadi sangat

marah, ia tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, sebab

dengan demikian, maka persoalan yang sebenarnya akan mungkin

didengar oleh Tunggul Ametung. Karena itu maka ia berteriak,

“Wiraprana. Tinggalkan Ken Dedes, atau aku memaksamu?”

Witantra menjadi bingung mendengar nama itu disebut.

Wiraprana sepanjang pengetahuannya berada di rumahnya. Tetapi

tiba-tiba di sini ia berhadapan dengan Wiraprana pula. Namun

sementara itu ia tidak mau memikirkan keanehan itu yang berputarputar

di dalam kepalanya adalah kekejian Kuda Sempana. Karena itu

maka tiba-tiba kembali memberanikan diri bertanya kepada Tunggul

Ametung, “Tuanku, apakah peristiwa ini Tuanku lakukan atas

permintaan Kuda Sempana itu?”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba akuwu

menjawab, “Ya.”

Dada Witantra berdesir karenanya. Juga Kuda Sempana terkejut

mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia sempat menyahut,

Witantra telah bertanya pula, “Apakah Tuanku telah menimbang

baik buruknya, Akuwu memenuhi pemintaannya?”

“Aku tidak mau dihinanya!” teriak Akuwu itu, sehingga orangorang

yang belum pernah melihat Tunggul Ametung itu menjadi

terkejut sehingga Ken Dedes menjadi gemetar ketakutan.

Witantra itu mendesak terus. Ia sudah terlalu biasa mendengar

Tunggul Ametung berteriak-teriak. Apalagi kini dadanya sedang

dipenuhi oleh perasaan muak atas perbuatan Kuda Sempana

Katanya, “Tuanku, apakah Tuanku yakin, bahwa orang tua gadis itu

pernah menghina Tuanku?”

Tunggul Ametung menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi.

Kemudian ditatapnya wajah Kuda Sempana sambil berkata, “Kuda

Sempana mengatakan itu kepadaku.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada

Kuda Sempana, “Kau berkata sebenarnya Adi?”

“Kakang,” potong Kuda Sempana, “Jangan ikut campur dalam

persoalan ini. Apakah kau akan ikut menghina Akuwu di hadapan

orang Panawijen?”

Sebelum Witantra menjawab, tiba-tiba kata-kata Kuda Sempana

itu mengena sasarannya, sehingga sekali lagi Akuwu itu berteriak,

“He, Witantra, apa kepentinganmu atas persoalan ini? Aku telah

memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Kuda Sempana

mengambil gadis itu. Apa pedulimu?”

Namun Witantra telah tidak dapat menahan lagi sentuhansentuhan

atas rasa keadilannya. Maka dengan tatagnya ia

menjawab, “Akuwu. Hamba adalah seorang prajurit yang selama ini

selalu setia akan tugas-tugas hamba. Namun selama ini hamba

belum pernah melihat Akuwu Tunggul Ametung berbuat tergesagesa

seperti kali ini. Tuanku, kali ini, Tuanku berhadapan dengan

Kuda Sempana dan orang-orang yang dikatakan telah menghina

Tuanku itu. Apakah Tuanku Tunggul Ametung sama sekali tidak

berhasrat untuk menanyakan kebenarannya kepada pihak-pihak

yang bersangkutan?”

“He,” tiba-tiba Akuwu itu menjadi ragu-ragu. Ketika Kuda

Sempana akan menyahut, maka Akuwu itu membentak, “Jangan

berteriak Kuda Sempana. Kata-kata Witantra mengandung

kebenaran.”

“Tetapi Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “orang yang licik itu

akan dapat memutar balik kenyataan, Selain itu, maka bukanlah

hamba telah mengatakan bahwa hamba telah memutuskan untuk

menerima nasib hamba yang malang itu. Namun Tuanku memaksa

hamba untuk melakukan perbuatan ini. Sekarang, apakah hamba

harus menanggung malu untuk yang kedua kalinya, justru karena

perintah Tuanku?”

“He,” kembali Akuwu itu menjadi bimbang. Sesaat kemudian ia

berkata, “Ya, ya. Aku telah memerintahkan kepadamu.”

“Tuanku,” potong Witantra, “Tuanku dapat mencabut setiap

perintah yang hanya berdasarkan keterangan-keterangan yang tidak

benar. Sekarang, apakah perintah Tuanku itu sudah didasari atas

keterangan-keterangan yang benar? Kalau Tuanku mencabut

perintah itu, sama sekali bukan kesalahan Tuanku, namun yang

memberi keterangan itulah yang bersalah.”

Akuwu Tumapel itu menjadi bingung. Namun tiba-tiba sekali lagi

dipandangnya wajah gadis yang berdiri ketakutan di halaman

rumahnya itu. Wajah seorang gadis yang tulus dan wajar, sewajar

gadis pedesaan yang lain. Tanpa pulasan apapun wajah Ken Dedes

telah memancar seperti bulan tanggal setengah.

Semua yang berdiri di halaman itu menjadi tegang. Semuanya

memandang wajah Akuwu Tumapel. Alisnya yang tebal bergerakgerak

tak hentinya.

Tiba-tiba Akuwu itu mengangkat dadanya dan berteriak nyaring,

“Aku lah Akuwu Tumapel. Semua kekuasaan berada di tanganku.”

Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Kuda Sempana, ambil

gadis itu!”

“Tuanku,” potong Witantra.

Namun Tunggul Ametung berteriak lebih keras untuk menutup

segala kemungkinan yang membisiki relung hatinya, “Cepat!

Sebelum aku berubah pendirian.”

Kuda Sempana tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia

meloncat dari kudanya dan berjalan menuju ke arah Ken Dedes

yang gemetar ketakutan.

“Jangan melawan,” bisik emban tua yang cukup makan pahit

asamnya kehidupan, “Ikutlah, sementara kita dapat merencanakan

pertolongan.”

Namun Wiraprana tidak mau mendengarkan nasihat itu. Bahkan

ia bergumam, “Kenapa Agni tidak juga kembali?”

“Jangan ributkan Agni!”

Sementara itu Kuda Sempana menjadi semakin dekat. Di

sekitarnya beberapa orang berkuda memandangnya dengan tegang.

Semuanya seakan-akan menahan nifasnya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Apa yang dilihatnya itu,

tak ubahnya seperti apa yang pernah dilakukannya di rimba-rimba

dan di padang-padang. Ia pernah mencegat seorang anak petani

yang sedang pergi mengantarkan makanan buat ayahnya yang

bekerja di sawah. Ia pernah berbuat hal-hal yang serupa dengan

apa yang disaksikannya, meskipun caranya berbeda. Cara yang

pernah dilakukannya adalah cara seorang hantu yang hidup di

padang-padang rumput dan hutan-hutan. Namun kini ia melihat

cara yang lain, cara seorang yang sedang memiliki kekuasaan dan

pedang. Ken Arok itu tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ia pernah

melihat gadis-gadis menjadi ketakutan seperti Ken Dedes pada saat

itu. Dan ia menyesal karenanya. Tetapi ternyata orang-orang yang

dianggapnya terhormat itu pun melakukannya pula.

Tetapi kali ini ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sedang mencoba

mengubah nasibnya. Dan ia belum sempat melihat perkembangan

nasib itu. Karena itu, ia tidak mau berbuat sesuatu yang dapat

melemparkannya kembali ke di padang-padang rumput dan hutanhutan.

Kini Kuda Sempana telah berdiri berhadapan dengan Wiraprana.

Dan Wiraprana itu berkata di dalam hatinya, “Kali ini untuk ketiga

kalinya.”

Tunggul Ametung menjadi sangat marah hatinya ketika ia

melihat seorang anak muda yang mencoba menghalangi Kuda

Sempana. Karena itu maka ia pun berteriak, “He. Siapakah anak

itu?”

“Wiraprana,” sahut Kuda Sempana.

“Pergi jangan halangi Kuda Sempana mengambil gadis itu. Itu

adalah perintah Akuwu Tumapel!”

Tetapi Wiraprana tidak beranjak dari tempatnya, Sehingga Akuwu

Tumapel itu berteriak pula “Witantra Kau adalah alat kekuasaan

Akuwu Tumapel. Singkirkan anak itu!”

Witantra menggigit bibirnya. Sekali lagi terjadi pertempuran yang

sengit di dalam dadanya. Apakah ia harus ikut serta dalam

perbuatan itu?

Karena kebimbangan itu maka ia mendengar sekali lagi Tunggul

Ametung berkata lantang “Witantra apakah kau tuli, he?”

Namun alangkah terkejutnya Tunggul Ametung ketika ia

mendengar Witantra itu menjawab “Tuanku. Aku tidak ikut dalam

perkosaan ini.”

Tunggul Ametung itu tiba-tiba menjadi gemetar karena

marahnya. Belum pernah ia mendengar jawaban yang sedemikian

dari bawahannya. Namun kini Witantra itu menolak melakukan

perintahnya. Karena tiba-tiba ia memutar kudanya menghadap ke

arah prajurit-prajuritnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata

“Tangkap Witantra!”

Namun suara Tunggul Ametung itu benar-benar seperti burung

hantu di padang pasir. Hilang tak berkesan. Tak seorang pun dari

para prajuritnya yang bergerak. Merela menjadi ragu-ragu. Witantra

adalah seorang pemimpin yang mereka segani dan mereka senangi.

Meskipun kadang-kadang Witantra itu sering berbuat terlalu keras,

namun ia dapat tegak pada kewajibannya. Itulah sebabnya maka

para prajurit itu menjadi ragu-ragu.

Sekali lagi dada Tunggul Ametung seperti akan pecah. Namun ia

tidak dapat berbuat apa-apa. Di sini, di tempat yang cukup jauh,

dan ia sendiri berada di antara para prajuritnya itu, muka ia tidak

berani berbuat lebih daripada mengumpat-umpat. Namun ia masih

berbesar hati, bahwa Witantra itu tidak berbuat apa-apa yang dapat

mencegah maksudnya.

Dalam pada itu, Akuwu Tumapel itu masih mendengar Witantra

berkata “Aku akan pergi dari halaman ini. Aku tetap setia kepada

tugasku sebagai seorang prajurit. Namun tidak untuk memerkosa

hak dan peradaban.”

Witantra tidak menunggu Akuwu itu menjawab kata-katanya.

Dengan segera ia memutar kudanya dan pergi keluar halaman.

Beberapa orang tiba-tiba mengikutinya pula. Ke luar halaman.

“Witantra, apakah kau sadari perbuatanmu itu?” teriak Tunggul

Ametung dengan marahnya, “besok aku dapat memerintahkan

menggantung kau di alun-alun. Kau sangka bahwa prajurit Tumapel

hanya terdiri dari pengawalnya saja?”

Witantra menoleh pun tidak. Dan segera ia hilang di balik regol

beserta beberapa orang prajurit. Namun ada di antara mereka yang

menjadi ragu-ragu. Namun ada pula seorang yang berkumis tebal

menjadi gembira melihat perselisihan itu. Dengan membungkukbungkuk

ia menyembah, “Akuwu, biarlah Witantra menolak perintah

Akuwu. Biarlah aku saja yang akan melaksanakan perintah Akuwu.”

“Bagus. Kau akan mendapat pangkat yang baik,” teriak Tunggul

Ametung.

Tetapi terdengar kemudian Kuda Sempana berkata, “Tak perlu

bantuan orang lain. Biarlah anak ini aku selesaikan sendiri.”

Namun ternyata perselisihan di antara mereka telah

membesarkan hati Wiraprana. Mula-mula ia mengharap seseorang

di antara mereka memberinya bantuan. Tetapi ia menjadi kecewa

ketika Witantra itu tidak berbuat sesuatu selain pergi ke luar

halaman. Meskipun demikian, Wiraprana masih mengharap

perkembangan keadaan.

Tetapi kini Kuda Sempana itu telah melangkah maju. Karena itu

maka segera ia melangkah pula maju sambil berkata, “Kuda

Sempana. Apakah kau masih belum juga menyadari keadaanmu?”

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi langsung ia menampar

mulut Wiraprana. Wiraprana terkejut bukan buatan. Namun

mulutnya telah menjadi panas Dan darah yang merah meleleh dari

sela-sela bibirnya. Perbuatan Kuda Sempana benar-benar telah

membangkitkan kemarahannya. Meskipun baru kemarin ia

dilumpuhkan oleh Kuda Sempana itu. Kini Wiraprana ingin

mendahuluinya. Ia ingin mencoba mengurangi kekuatan Kuda

Sempana. Karena itu tiba-tiba saja Wiraprana itu melompat

menyerang dengan garangnya. Tetapi yang diserangnya adalah

Kuda Sempana. Karena itu dengan lincahnya maka serangan itu

dihindarinya.

Dan malanglah nasib Wiraprana. Kuda Sempana benar-benar

ingin menunjukkan kepada Akuwu Tumapel, bahwa Kuda Sempana

bukanlah pelayan dalam yang hanya mampu melayani keperluan

akuwu itu sehari-hari. Tetapi ia pun tidak kalah tangkasnya dengan

para prajurit yang beberapa orang di antaranya sedang

menontonnya. Karena itu, maka Wiraprana itu pun telah

dijadikannya alat untuk menunjukkan keterampilannya.

Maka kembali mereka berdua berkelahi dengan serunya.

Namun kembali Wiraprana mengalami peristiwa yang

mengerikan. Dengan geramnya Kuda Sempana menyerang anak

muda yang tinggi besar itu dengan tanpa ampun. Hampir segenap

wajah Wiraprana menjadi merah biru.

Sebuah pukulan yang dahsyat telah tepat mengenai dagu

Wiraprana, sehingga wajah itu terangkat, namun Kuda Sempana

telah menyusulnya dengan sebuah pukulan di perutnya. Wiraprana

itu pun menjadi terhuyung-huyung. Tetapi Kuda Sempana tidak

puas. Sekali lagi ia menghantam pipi Wiraprana.

Ketika Wiraprana terdorong ke samping, maka sampailah Kuda

Sempana pada puncak permainannya. Ia tidak mau diganggu oleh

anak mula itu lagi. Sehingga dengan demikian ia benar-benar

berhasrat untuk meniadakan anak muda itu. Demikianlah dengan

garangnya Kuda Sempana meloncat dan memukul tengkuk

Wiraprana dengan sisi telapak tangannya.

Terdengar Wiraprana mengaduh pendek disusul oleh jerit Ken

Dedes. Tetapi suara itu lenyap dalam derai tawa Akuwu Tunggul

Ametung. Dengan bangga Akuwu itu berkata, “He, Kuda Sempana.

Kau tak ubahnya seorang prajurit yang tangguh. Nah. Aku benarbenar

tidak lagi memerlukan Witantra yang gila itu.”

Tetapi kata-kata Akuwu itu tiba-tiba terputus ketika ia melihat

Ken Dedes menjatuhkan diri sambil menangis di atas tubuh

Wiraprana yang diam terbaring di halaman itu.

Akuwu itu kemudian mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dilihatnya

Kuda Sempana berdiri tegak dengan kaki renggang dan dada

tengadah. Namun kemudian dilihatnya pula Ken Dedes mengangkat

wajahnya, menatap kepadanya, kepada Akuwu Tumapel yang

mempunyai kekuasaan tidak terbatas itu, sambil menunjuk mukanya

gadis itu berteriak “Biadab. Biadab. Apakah kau tidak dapat berbuat

sesuatu untuk mencegah perbuatan gila ini?”

Akuwu itu menarik bibirnya ke samping. Matanya yang sebelah

seakan-akan menjadi bertambah sipit. Ia adalah Akuwu yang dapat

berbuat apa saja. Namun gadis itu tidak takut kepadanya, bahkan

mengumpat-umpatinya. Kenapa?

Dan suara gadis itu masih terdengar, “Akuwu Tumapel, apakah

kau tidak melihat kebenaran diinjak-injak di hadapan hidungmu?

Atau kau ikut dalam kebiadaban ini?”

“Hem,” Akuwu itu menjadi semakin heran. Namun tiba-tiba

Akuwu itu pun berteriak tak kalah kerasnya, “Kuda Sempana. Bawa

gadis itu ke Tumapel!”

Kuda Sempana tak menunggu perintah itu diulangi. Dengan

tangkasnya ia meloncat menangkap Ken Dedes. Namun gadis itu

sama sekali tidak membiarkannya. Karena itu ia berusaha melawan.

Namun ia sama sekali tidak berdaya.

Matahari di langit memancar dengan teriknya. Selembar awan

yang Putih hanyut dalam arus angin yang lembut. Ketika Witantra

mengangkat wajahnya, dilihatnya dalam lembaran langit yang biru,

burung beterbangan dengan lincahnya. Bebas lepas di udara.

Namun tiba-tiba dilihatnya seekor elang yang berputar-putar untuk

mencari mangsanya.

Witantra menarik nafas dalam . Terjadilah suatu pergolakan di

dalam dadanya. Pergolakan yang hampir meledak. Namun ia tidak

akan dapat mencegah perbuatan yang terkutuk itu. Ia harus puas

dengan menyingkirkan dirinya, mencuci tangannya.

“Aku tidak turut melakukannya,” desahnya.

Ia terkejut ketiga ia melihat beberapa ekor kuda berlari keluar

halaman. Kencang sekali seperti angin. Sekali lagi Witantra menarik

nada. Dibiarkannya kuda itu berlari. Ketika ia berpaling ia masih

melihat beberapa orang prajurit berada di sekitarnya. Bahkan ia

melihat seorang prajurit yang hampir seluruh wajahnya ditumbuhi

rambut yang lebat bertubuh tegap kekar dengan sebatang tombak

di tangannya sedang menundukkan wajahnya. Ketika Witantra

melihat wajah prajurit itu, ia terharu juga. Prajurit yang dikenal

sebagai alap-alap dalam medan peperangan itu menitikkan air mata.

“Kenapa kau?” bertanya Witantra

“Aku juga punya seorang anak gadis.”

Witantra menarik nafas. Ia hanya dapat melakukan itu, menarik

nafas dan mengeluh. Prajurit itu pun tersinggung rasa keadilannya

seperti dirinya. Namun seperti dirinya, prajurit itu tidak dapat

berbuat apa.

Witantra tidak dapat untuk membiarkan kudanya berdiri saja di

situ, sehingga kemudian dengan hati yang kosong ia menarik

kekang kudanya dan jalan searah dengan kuda-kuda yang

terdahulu,

Tetapi tiba-tiba Witantra itu terhenti. Seorang perempuan tua

memegangi kakinya dengan eratnya.

“Kenapa?” bertanya Witantra dengan nada kosong.

“Apakah tuan tidak dapat membantu kami?” tangis perempuan

tua itu.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Membebaskan Ken Dedes.”

Witantra itu pun tergetar hatinya Namun yang dihadapinya

adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu mata dengan berat hati

ia menggeleng, “Sayang aku tidak akan dapat berbuat sesuatu.”

“Tuan, bukanlah tuan bersenjata seperti orang-orang yang telah

merampas gadis itu?”

“Tetapi orang-orang itu di antaranya adalah Akuwu Tumapel.”

“Jadi apakah seorang akuwu boleh berbuat sewenang-wenang?”

Witantra terdiam. Ia benar-benar tidak dapat menjawab

pertanyaan itu. Tetapi, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Karena

itu sekali lagi ia menggeleng, “Sayang. Aku tidak dapat

menolongmu.”

Perempuan tua itu menjadi putus asa. Dilepaskannya kaki

Witantra. Namun terdengar ia bergumam, “Tuan, aku, perempuan

tua ini, akan menjadi saksi, bahwa di sini telah terjadi perkosaan

atas kemanusiaan oleh kekuasaan. Di sini telah terjadi noda-noda

yang hitam yang mengotori kekuasaan Akuwu Tumapel.”

Witantra itu pun menundukkan wajahnya. Bahkan ia bergumam

di dalam hatinya, “Kau benar Bibi tua. Di sini telah terjadi perkosaan

atas sendi-sendi peradaban dan kemanusiaan oleh kekuasaan yang

berada di tangan Akuwu Tunggui Ametung”

Witantra itu pun kemudian tidak tahan lagi ketika ia melihat

perempuan itu menangis. Karena itu, maka kemudian ia

menggerakkan kudanya dan berlari menjauhi tempat yang telah

menggoreskan suatu kenangan di dalam hatinya. Kenangan yang

suram dari sejarah Tumapel.

Jauh di hadapan Witantra itu, beberapa ekor kuda berlari

kencang sekali seperti angin. Mereka adalah Kuda Sempana,

Tunggul Ametung dan beberapa orang pengiring. Mereka adalah

orang-orang yang telah kehilangan kesadaran diri mereka, sehingga

bersama mereka itu, mereka bawa Ken Dedes yang sedang pingsan.

Debu yang putih mengepul tinggi. Debu yang dilemparkan oleh

berpasang kaki kuda itu. Di paling depan, Kuda Sempana berpacu

sambil membawa seorang gadis yang telah dirampasnya. Sedang di

belakangnya Akuwu Tunggul Ametung memegangi kendali kudanya

dengan eratnya. Namun wajahnya kini tiba-tiba menjadi suram.

Setelah dilihatnya gadis yang bernama Ken Dedes itu, tiba-tiba

timbullah sesuatu di dalam benaknya. Gadis itu hanya seorang gadis

yang hidup di dalam sebuah padukuhan kecil. Namun terasa di

dalam tatapan matanya, sesuatu yang tidak ada pada gadis

kebanyakan. Akuwu itu sama sekali tidak tahu. Apakah yang lain

pada gadis itu. Bahwa gadis itu adalah seorang gadis yang cantik

sekali, akuwu itu tidak dapat memungkirinya. Sejak ia memandang

wajah itu untuk pertama kali hatinya telah terguncang dan berkata,

“Ken Dedes adalah gadis yang cantik sekali.”

Tetapi, bukan kecantikannya itu sajalah yang telah

menggerakkan Akuwu Tunggal Ametung. Ada yang lain. Namun ia

tidak tahu, apakah yang lain itu.

Demikianlah, maka terjadi pula sesuatu yang seakan-akan

mendidih di dalam hati Tunggul Ametung. Sesuatu yang tidak

diketahui ujung pangkalnya. Sebagai seorang akuwu, ia mempunyai

kesempatan yang jauh lebih besar dari orang-orang lain sebayanya.

Tetapi Tunggul Ametung itu sama sekali belum berhasrat untuk

kawin. Tiba-tiba kini ia melihat sesuatu yang dapat

mengguncangkan hatinya. Ken Dedes. Kecantikannya dan sesuatu

yang tak dapat dimengertinya yang seakan-akan memancar dari

wajahnya.

Ketika Akuwu Tumapel itu mengangkat wajahnya, dilihatnya

Kuda Sempana berpacu di hadapannya. Tiba-tiba terasa ia menjadi

muak melihat keangkuhan sikap Kuda Sempana. Baru beberapa saat

ia berusaha memenuhi permintaan pelayannya itu, namun kini

terasa bahwa ia menyesal karenanya. Tetapi ia tidak dapat

menemukan apakah sebenarnya yang bergolak di dalam dirinya itu.

Awan di langit selembar-selembar mengalir ke utara. Seperti

belasan daun-daun raksasa yang terapung hanyut di wajah lautan

yang biru bersih. Matahari yang cerah memancarkan sinarnya

membakar kulit, sehingga peluh yang hangat membasahi seluruh

tubuh. Debu-debu yang dilemparkan dari kaki-kaki kuda itu pun

satu-satu melekat pada kulit-kulit mereka yang telah basah itu.

Tunggul Ametung mengusap wajahnya dengan tangannya. Ketika

ia mengangkat wajahnya, tiba ia terkejut. Di hadapannya dilihatnya

segumpal debu yang meloncat ke udara.

Dada Akuwu itu pun menjadi berdebar-debar pula karenanya.

Tetapi kemudian ia menarik nafas. “Itu pasti anak gila adik

Witantra,” katanya di dalam hati.

Namun belum lagi ia berkata apapun juga kepada pengiringnya

maka Akuwu itu pun terkejut ketika Kuda Sempana memperlambat

kudanya.

“Kenapa he?” teriak Tunggul Ametung.

“Kuda itu,” sahut Kuda Sempana.

Kini Akuwu itu pun melihat, bahwa kuda itu sama sekali bukan

Kuda Mahendra. Dan anak muda yang duduk di punggung kuda itu

pun sama sekali bukan Mahendra.

“Kenapa dengan kuda itu?” kembali Tunggul Ametung bertanya.

Kuda Sempana diam sesaat. Kemudian jawabnya, “Anak muda

itu adalah kakak Ken Dedes.”

“He,” Tunggul Ametung itu berteriak. Namun kemudian ia

berkata “Apakah ia akan membuat persoalan?”

“Tentu. Anak itu anak gila,” jawab Kuda Sempana.

Akuwu itu pun kemudian berpaling. Dilihatnya prajurit yang

berkumis tebal tersenyum sambil mengangguk. Meskipun akuwu itu

belum berkata apapun juga, namun prajurit itu pun menyembah,

“Ampun Tuanku. Jangan cemas. Biarlah hamba selesaikan anak itu.”

Tunggul Ametung tertawa. “Bagus. Percepat kudamu singkirkan

anak itu.”

Prajurit yang berkumis tebal itu mengangguk sambil tertawa

kemudian ia mendului Tunggul Ametung dan Kuda Sempana. Ia

berpaling ketika ia mendengar Kuda Sempana berkata, “Hati-hatilah

dengan anak muda itu.”

Prajurit itu tertawa semakin keras dan menjawab, “Apakah anak

Panawijen itu berbahaya?”

“Ya,” jawab Kuda Sempana.

Prajurit itu tertawa terbahak-bahak . Anak pedesaan itu pasti

hanya mampu memanggul cangkul dan bertanam ubi. Karena itu

maka segera ia memacu kudanya menyongsong Mahisa Agni.

Tetapi Mahisa Agni telah benar-benar seperti anak yang

kerasukan setan. Dari kejauhan ia melihat debu yang mengapung

tinggi dan beberapa orang berkuda berlari kencang. Kemudian di

lihatnya seseorang yang berkuda paling depan membawa gadis

bersamanya. Cepat Mahisa Agni mengetahui, bahwa pasti itulah

Kuda Sempana. Namun jumlah pengiringnya tidak sebanyak yang

dikatakan Mahendra kepadanya.

Namun apa yang dilihatnya itu benar-benar telah membakar

jantungnya, sehingga ia sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan,

siapakah yang akan dihadapinya. Apakah ia akuwu yang berkuasa di

Tumapel, atau bahkan seandainya Maharaja dari Kediri sekali pun.

Karena itu, ketika ia melihat seorang berkuda mendahului

rombongan Kuda Sempana itu, hatinya semakin menyala. Pasti

orang inilah yang akan mencoba melawannya. Karena itu, maka

segera ia pun memacu kudanya pula.

Jarak mereka berdua, Mahisa Agni dan prajurit berkumis tebal itu

semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian Mahisa

Agni dapat melihat, bahwa Prajurit itu tertawa- tawa, seakan-akan

seorang anak sedang menyongsong permainan yang lucu, oleh-oleh

bapanya dari rantau. Dengan demikian, Mahisa Agni menjadi

semakin marah. Tidak ada kemungkinan lain padanya, daripada

melumpuhkan prajurit itu.

Akhirnya Mahisa Agni itu pun menjadi semakin dekat. Prajurit

berkumis tebal itu menghentikan kudanya sambit berteriak, “He,

berhenti!”

Mahisa Agni sama sekali tidak mau berhenti, bahkan ia berteriak,

“Minggir! Kalau tidak, aku injak kepalamu.”

Prajurit itu benar-benar terkejut mendengar jawaban Mahisa

Agni. Ia sama Sekali tidak menyangka bahwa ia akan mendapat

jawaban yang sangat mewakilkan hati. Maka katanya di dalam hati,

“Apakah anak itu benar-benar gila?”

Tetapi ia tidak sempat bertanya-tanya lagi. Mahisa Agni sudah

sedemikian dekatnya. Karena itu, maka segera ia menyilangkan

kudanya untuk menahan Mahisa Agni.

Kuda Mahisa Agni terkejut melihat kuda yang tiba-tiba saja

menyilang jalan. Mahisa Agni pun segera menarik kekangnya,

sehingga kuda itu tegak pada kedua kali belakangnya. Untunglah

bahwa Mahisa Agni tidak terlempar karenanya. Namun hal itu telah

menjadikannya semakin marah. Mahisa Agni sama sekali tidak

berkata apapun lagi. Segera ia memutar kudanya dan menyerang

prajurit berkumis tebal itu. Tetapi Prajurit itu pun telah

mempersiapkan diri, karena itu maka segera ia mengelakkan

serangan Mahisa Agni itu.

Namun prajurit itu benar-benar tidak menyangka, bahwa anak

Panawijen itu mampu bergerak sedemikian cepatnya, sehingga

hampir-hampir ia terlambat. Meskipun demikian, masih juga terasa

tangan Mahisa Agni itu menyentuh rambutnya, sehingga terasa

dadanya bergetar karenanya.

“Gila!” prajurit itu mengumpat. Tetapi ia tidak dapat mengumpat

terus. Mahisa Agni telah mengulangi serangannya, bahkan lebih

keras dari serangannya yang pertama.

Prajurit itu terpaksa menarik diri sambil memutar kudanya.

Dengan demikian sekali lagi ia dapat membebaskan diri dari

serangan Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni yang marah itu sama

sekali tidak memberinya kesempatan. Berkali-kali ia menyambar dari

atas kudanya seperti seekor burung rajawali yang bertempur di

udara. Sehingga sesaat kemudian segera tampak bahwa prajurit itu

hampir tidak berdaya menghadapinya.

Tunggul Ametung dan Kuda Sempana berhenti beberapa puluh

langkah dari perkelahian itu. Wajah akuwu itu pun kemudian

menjadi cemas. Ternyata Akuwu Tumapel segera dapat

mengetahui, bahwa prajuritnya yang sombong itu, sama sekali tidak

berdaya menghadapi lawannya.

Sekali Tunggul Ametung itu berpaling. Dadanya berdesir ketika

Witantra tidak nampak mengiringkannya. Ia percaya betul akan

kekuatan Witantra itu, namun kini anak madu itu tidak mau ikut

serta bersamanya. Karena itu, maka ia sesaat menjadi bimbang.

Meskipun Tunggul Ametung sendiri tidak akan takut menghadapi

siapa pun. Namun harga dirinya masih mencegahnya. Seorang

akuwu yang berkuasa, apakah harus menangani sendiri seorang

lawan yang tidak lebih dari anak pedesaan? Sedang ia tidak akan

dapat memerintahkan Kuda Sempana untuk melawan anak gila itu,

sebab Kuda Sempana sedang memegangi Ken Dedes yang pingsan.

Ketika sekali lagi Tunggul Ametung berpaling dilihatnya di

belakangnya beberapa orang diam kaku di atas kuda mereka.

“Tiga orang kecuali Kuda Sempana, aku sendiri dan prajurit yang

bertempur itu,” desisnya di dalam hati.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu tersenyum ketika dilihatnya Ken Arok

memandangi perkelahian itu dengan tegang. Dan tiba-tiba pula

Tunggul Ametung itu memanggilnya, “He, kau, kemari!”

Ken Arok terkejut. Namun ia mendekat juga.

“Aku melihat beberapa keanehan dalam dirimu. Tetapi aku belum

pernah melihat kau berkelahi. Apakah kau dapat juga berkelahi?”

Jantung Ken Arok benar-benar terguncang. Anak muda itu adalah

Mahisa Agni yang dikenalnya dengan baik. Namun kini, apakah ia

harus berkelahi dengan Mahisa Agni itu. Dahulu ia pernah juga

berkelahi melawannya, namun selagi otaknya masih gelap. Kini ia

telah berusaha untuk berbuat menurut nasihat-nasihat yang baik.

Tetapi kenapa tiba-tiba ia masih harus mengulangi perbuatannya

itu. Berkelahi. Apalagi melawan Mahisa Agni.

Karena itu maka untuk sesaat Ken Arok itu menjadi bimbang, dan

dengan demikian ia tidak segera menjawab. Akuwu Tumapel itu pun

mengerutkan keningnya, dan kemudian membentaknya “He, Ken

Arok. Apakah kau tuli atau bisu?”

“Ampun Tuanku,” jawab Ken Arok tergagap.

Sementara itu Tunggul Ametung melihat prajurit yang berkumis

tebal itu telah terlempar dari kudanya, jatuh terbanting di atas

tanah, tampaklah betapa wajahnya menjadi pucat, dan mulutnya

menyeringai menahan sakit. Meskipun demikian ia masih mencoba

berdiri. Namun Mahisa Agni yang marah datang menyerangnya

dengan garang. Sebuah pukulan bersarang di wajahnya, dan

prajurit yang berkumis tebal itu sekali lagi terlempar dan jatuh

berguling ke dalam parit. Oleh karena itu, maka jiwanya telah

tertolong karenanya. Sebab Mahisa Agni yang benar telah

kehilangan segala pertimbangannya itu ingin melanda prajurit itu

dengan kudanya dan menginjaknya. Tetapi karena ia terbaring di

dalam parit, maka kuda Mahisa Agni tidak dapat mencapainya

dengan mudah.

Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berteriak, “Ken Arok.

Lawanlah anak gila itu!”

Ken Arok benar-benar tidak dapat berbuat lain daripada menaati

perintah itu. Tetapi sebenarnya hatinya menjadi sangat kecewa.

Benar-benar kecewa. Dengan demikian maka kehidupan di dalam

rimba yang pernah dialaminya, kini terpaksa terulang kembali.

Perampasan dan perkelahian. Ken Arok pernah melihat seekor

harimau merampas anak seekor kijang yang lemah. Dan kijang itu

tidak dapat berbuat apa-apa selain melarikan diri. Ia sendiri pernah

mencegat dan merampas milik orang di padang Karautan. Dan

orang-orang itu tidak berdaya untuk mempertahankannya. Kini

setelah ia berada di lingkungan orang-orang yang terhormat dan

berkuasa, maka pekerjaan itu harus diulangnya. Merampas dan

berkelahi.

Dengan hati yang berat, Ken Arok itu mendorong kudanya maju

beberapa langkah. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekati

Mahisa Agni yang sedang marah bukan buatan.

Ketika Mahisa Agni itu melihat Ken Arok, maka ia pun terkejut

bukan kepalang. Bahkan dengan serta-merta ia berteriak, “Kau Ken

Arok. Kau turut dalam perampokan ini pula?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Hatinya terguncang

mendengar pertanyaan itu, sehingga ia tidak segera dapat

menjawabnya.

Mahisa Agni pun bergeser maju mendekati Ken Arok itu. Betapa

marahnya hati anak muda itu. Dan tiba-tiba ia berhadapan dengan

seorang yang pernah dikenalnya. Karena Ken Arok tidak segera

menjawab, maka Mahisa Agni itu berkata pula, “He, Ken Arok.

Apakah kau termasuk dalam gerombolan itu pula?”

“Agni,” jawab Ken Arok perlahan, “jangan menuduh aku

demikian. Kau harus tahu, siapakah aku dan siapakah yang

melakukan perampasan itu. Aku tidak mempunyai pilihan lain, sebab

aku adalah seorang hamba.”

“Ha,” sahut Agni, “Apakah arti kata-katamu dahulu? Apakah kau

kini berdiri di jalan yang sempit yang akan sampai ke gerbang

kedamaian abadi? Apakah kau telah menghindarkan dirimu dari

jalan yang lebar dan halus, namun akan sampai pada pusar

kehancuran?”

Ken Arok tiba-tiba menundukkan wajahnya. Namun ia terkejut

ketika ia mendengar Akuwu Tumapel berteriak, “Ken Arok.

Pecahkan kepalanya. Atau kau aku gantung di alun-alun.”

Ken Arok itu mengangkat wajahnya. Desahnya, “Agni aku tidak

dapat berbuat lain.”

“Bagus,” sahut Agni lantang, “aku sudah menyangka, betapapun

kau mencoba membersihkan dirimu, tetapi kau sebenarnya adalah

seorang pembunuh. Di manapun kau berada, dalam kesempatan

apapun, maka kau akan kembali ke jalan yang kotor itu. Kalau kau

telah pernah mencoba mencuci tanganmu yang kau kotori dengan

darah korbanmu di sepanjang hutan Karautan, maka sekarang

kotori tanganmu dengan darahku, dengan darah adikku itu, Ken

Dedes.”

“Agni,” Ken Arok itu berteriak keras-keras, “Cukup! Cukup!”

“Tidak!” sahut Agni tidak kalah kerasnya, “kau harus becermin.

Kau harus melihat wajahmu itu. Wajah yang dipenuhi oleh kotoran

duniawi. Huh. Apakah seorang pendeta yang kau katakan bernama

Lohgawe itu mendidikmu untuk membunuh, merampok dan

memerkosa dengan cara yang terhormat ini.”

“Cukup! Cukup!” Wajah Ken Arok itu tiba menyala, dan

digesernya kudanya beberapa langkah maju. Tetapi Mahisa Agni

pun benar-benar sudah siap. Ia kini bukan Mahisa Agni yang

bertempur di padang rumput Karautan itu. Namun sebenarnya Ken

Arok itu pun bukan Ken Arok yang berada di padang itu pula.

Dengan bekal kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya sejak ia

dilahirkan, ia telah menerima beberapa tuntunan dalam tata

perkelahian. Dan karena tuntunan yang sedikit itu saja, Ken Arok

benar-benar menjadi seorang anak muda yang luar biasa.

Tetapi ketika ia telah benar-benar berhadapan dengan

pandangan mata Mahisa Agni yang tajam, tiba-tiba disadarinya akan

dirinya. Bahkan dikenangnya, waktu Mahisa Agni menjadi seperti

orang gila berteriak di padang rumput menantangnya. Kenapa

waktu itu ia tidak menjadi marah, dan bahkan ia dapat meredakan

kemarahan anak muda itu?

Kini kembali ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Ken Arok. Kalau

kini kita bertempur, maka bertanyalah kepada hati nuranimu.

Siapakah yang berpijak pada kebenaran seperti yang pernah kau

impikan.”

Tiba-tiba Ken Arok itu menggeleng. Wajahnya menjadi suram.

Dan ia pun berbisik, “Agni. Kalau kau akan membinasakan aku,

binasakanlah. Aku harus melawanmu. Tetapi percayalah, aku tidak

akan bertempur sungguh-sungguh. Aku harus menghalangimu,

meskipun tidak demikian kata hatiku. Kau berada di atas kebenaran,

sedang aku berada dalam kesulitan-kesulitan karena kedudukanku.

Nah. Terserahlah kepadamu.

“Jangan banyak ribut, aku sudah siap.”

“Jangan berteriak-teriak. Aku sudah menyerah, meskipun aku

harus bertempur.”

Mahisa Agni yang marah itu tidak sabar lagi. Apapun yang akan

dilakukan oleh Ken Arok, namun ia harus menyingkirkan semua

orang yang mencoba menculik Ken Dedes itu.

Ketika sekali Mahisa Agni itu mengerling ke arah Kuda Sempana,

maka nyala di dalam hatinya seakan-akan tersiram minyak,

sehingga melonjaklah api yang memanasi dadanya.

Dengan serta-merta Mahisa Agni itu meluncur dengan

dahsyatnya, langsung menghantam pelipis Ken Arok. Namun

dengan gerak naluriah Ken Arok menghindarkan dirinya, sehingga

Mahisa Agni itu seakan-akan terbang di sampingnya. Cepat Ken

Arok mengangkat tangannya dan sebuah ayunan yang keras

mengarah ke tengkuk Agni. Namun tiba-tiba tangan itu seakan-akan

tersentak, sehingga ketika tangan itu benar-benar menyentuh tubuh

Agni yang terdorong oleh kekuatan tangannya dan kemarahan yang

meluap-luap, serta kecepatan bergerak Ken Arok yang seperti tatit,

maka sentuhan itu benar-benar tidak berarti. Ken Arok menahan

sekuat-kuatnya, untuk tidak melukai lawannya. Namun Mahisa Agni

merasakan sentuhan itu seperti pernah dirasakannya. Sentuhan

hantu padang rumput Karautan. Namun kini, gerak Ken Arok benarbenar

mencerminkan kematangan gerak dalam unsur yang teratur.

Karena itu, maka dada Mahisa Agni berdesir karenanya. Hantu itu

tidak lagi berbuat sekasar pada saat ia pertama kali bertemu.

Sehingga dengan demikian, kekuatan- kekuatan yang ada di dalam

tubuh Ken Arok sejak ia dilahirkan, dilambari dengan kecepatan

gerak yang mengagumkan, maka Ken Arok benar-benar seorang

yang memiliki kemampuan yang luar biasa.

Mahisa Agni yang marah itu benar-benar tidak dapat melihat

kemungkinan-kemungkinan lain daripada bertempur mati-matian.

Bahkan dengan penuh kemarahan ia berteriak “Ayo, kenapa kalian

tidak maju bersama-sama.”

Ken Arok menarik nafas. Ia bersiap kembali ketika kuda Mahisa

Agni berputar, dan kembali sebuah serangan melandanya. Namun

kali ini, Ken Arok benar-benar menjadi terkejut. Mahisa Agni itu

sama sekali tidak menyerang tubuhnya, namun tiba-tiba anak muda

itu langsung meloncat dari kudanya, dan menghantamkan tubuhnya

kepadanya. Sehingga dengan demikian maka Ken Arok pun

kehilangan keseimbangannya, dan keduanya jatuh berguling dari

atas kuda mereka. Namun sesaat kemudian mereka telah bangkit

kembali. Bahkan masing-masing telah bersiap dalam sikap yang

meyakinkan-

Tunggul Ametung yang melihat perkelahian itu mengerutkan

keningnya. Perkelahian itu benar-benar menarik perhatiannya,

sehingga untuk sesaat dilupakannya Kuda Sempana yang duduk di

atas kudanya dengan tegang. Berbagai perasaan timbul di dalam

benak Kuda Sempana itu. Ia ingin perjalanannya tidak terganggu.

Namun anak muda itu menjadi iri melihat kelincahan Ken Arok.

Sebab apabila Akuwu Tumapel itu benar-benar tertarik melihat

keterampilan anak muda itu, maka kedudukan pelayan baru itu akan

menjadi semakin baik di sampingnya. Bahkan Kuda Sempana itu

takut bahwa perhatian Tunggul Ametung akan seluruhnya tercurah

kepada Ken Arok itu. Namun apabila Ken Arok itu tidak dapat

memenangkan perkelahian itu, maka ia sendiri harus berhadapan

dengan Mahisa Agni. Dan ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat

mengalahkannya.

Dalam pada itu, perkelahian antara Mahisa Agni .dan Ken Arok

itu pun menjadi semakin sengit. Mahisa Agni benar-benar telan

mengerahkan segenap kemampuannya. Ditumpahkannya semua

kecakapan yang dimilikinya. Namun lawannya pun memiliki

kelincahan yang luar biasa. Apalagi, kembali pengalamannya

berulang. Tubuh Ken Arok itu benar-benar seperti menjadi kebal.

Betapapun juga, ia berhasil mengenainya dengan segenap

kekuatan, dan bahkan sekali ia berhasil melemparkan anak muda

itu, namun kembali Ken Arok meloncat bangkit dan bertempur

selincah burung sriti yang menyambar di udara. Tetapi karena

kemarahan yang telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, Mahisa

Agni sama sekali tidak melihat, bahwa Ken Arok telah melewatkan

berpuluh puluh kesempatan yang akan dapat melumpuhkan Mahisa

Agni itu. Setiap kali serangannya akan berhasil, maka dengan tanpa

disadarinya Ken Arok itu menjadi bingung, sehingga serangannya itu

menjadi urung. Dan bahkan kadang-kadang dengan serta-merta

tangannya yang tepat mendarat ke tengkuk lawannya itu,

digesernya beberapa jari, sehingga hanya menyentuh pundaknya.

Namun Mahisa Agni kemudian menjadi tidak sabar lagi. Ketika

mereka telah bertempur beberapa saat, dan Mahisa Agni merasa

bahwa ia tidak akan berhasil melumpuhkan lawannya, maka tidak

ada alasan yang dapat menahan dirinya, mempergunakan ilmunya

yang tertinggi Gundala Sasra. Ilmu simpanan yang seharusnya tidak

dipancarkan apabila keadaan tidak memaksa. Tetapi kini ia

berhadapan dengan kekuatan di luar kemampuannya untuk

melawan dengan tenaganya yang wajar. Karena itu, maka tidak ada

cara lain untuk menyelamatkan Ken Dedes, selain ilmunya itu.

Karena itu, maka dengan cepatnya Mahisa Agni meloncat surut.

Dengan serta-merta disilangkannya tangannya di muka dadanya

dan dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batin, untuk

menyalurkan getaran di dalam dadanya dalam ilmunya Aji Gundala

Sasra.

Ken Arok melihat sikap Mahisa Agni itu. Terasa sesuatu berdesir

di dalam dadanya. Segera ia pun mengerti, bahwa Mahisa Agni

sedang memusatkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Ken

Arok itu pun sadar, bahwa ia harus menghadapi kekuatan yang pasti

bukan main dahsyatnya.

Sesaat Ken Arok itu tegak mematung. Namun kemudian tampak

ia memiringkan tubuhnya. Ia sudah berjanji di dalam dirinya, bahwa

ia sama sekati tidak berhasrat memenangkan perkelahian itu. Ia

sudah bertempur dan ia sudah melakukan kewajibannya. Kalau

kemudian ia dikalahkan oleh lawannya adalah kemungkinan yang

wajar, sewajar kalau ia memenangkan pertempuran itu, atau

sewajar kalau perkelahian itu berakhir dengan luluhnya kedua belah

pihak. Sebab memang hanya ada kemungkinan itu yang dapat

terjadi. Kalah, menang atau bersama-sama menjadi lumpuh.

Dengan demikian, maka Ken Arok itu pun segera mempersiapkan

diri untuk menerima kedahsyatan ilmu lawannya. Dibangkitkannya

segenap daya tahan di dalam tubuhnya menurut petunjuk yang

pernah diterimanya. Namun tenaga yang tersimpan itu terlalu

banyak, sehingga tubuh Ken Arok itu tiba-tiba seakan-akan telah

berubah menjadi sebuah patung baja. Namun sama sekali tak

terlintas di dalam otaknya untuk mencederai Mahisa Agni. Ia

berbuat demikian hanya sekedar untuk tidak mati meskipun

seandainya ia terluka.

Namun sebenarnyalah bahwa Ken Arok itu mempunyai beberapa

keanehan yang tidak dimiliki orang lain, dan bahkan tidak

disadarinya sendiri.

Tetapi kemudian terjadilah hal yang tidak disangka-sangka.

Selagi Mahisa Agni sedang membangunkan kekuatan yang berada di

dalam tubuhnya, dan selagi kekuatan itu masih belum sempurna,

tiba-tiba Mahisa Agni itu mengeluh pendek. Selangkah ia terdorong

ke depan, dan kemudian terhuyung-huyung ia memutar tubuhnya.

Terdengarlah suaranya menggeram, “Curang!”

Bukan saja Mahisa Agni menjadi sangat terkejut, namun Ken

Arok pun menjadi terkejut bukan buatan. Ketika ia memandang

punggung Mahisa Agni, maka dilihatnya darah mengalir dari sebuah

luka. Dan pada luka itu masih menancap sebatang anak panah.

Darah Ken Arok itu pun tiba-tiba menggelegak melihat peristiwa

itu. Hilanglah segala suba sita, dan hilanglah segala akal dari

kepalanya. Ia melihat suatu yang sama sekali tidak adil. Karena itu

dengan serta-merta Ken Arok itu meloncat ke arah prajurit yang

berdiri di tepi parit. Ternyata prajurit itu telah berhasil menguasai

dirinya kembali, dan dengan panah berburunya ia telah melukai

punggung Mahisa Agni.

Namun ia menjadi sangat terkejut ketika Ken Arok itu tiba-tiba

meloncat ke arahnya dengan wajah yang menyala-nyala.

Pada saat itu pun Ken Arok sedang membangunkan kekuatan

yang ada pada dirinya. Meskipun cara-cara yang dipakainya berbeda

dengan cara-cara yang lazim, namun ternyata anak muda itu telah

berhasil pula. Karena itu, maka kekuatannya seakan-akan menjadi

berlipat-lipat. Daya loncatnya pun menjadi jauh lebih panjang

dibandingkan dengan saat-saat yang wajar. Karena itu segera ia

mencapai prajurit yang curang itu.

Semua orang menjadi terkejut bukan kepalang. Bahkan jantung

mereka seakan-akan membeku, ketika mereka melihat apa yang

kemudian terjadi. Akuwu Tunggul Ametung, Kuda Sempana dan

bahkan Mahisa Agni sendiri. Dengan serta-merta, Ken Arok itu

menghantam dada orang berkumis tebal itu sambil menggeram,

“Setan yang licik.”

Tetapi prajurit itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Ia

memang mencoba menahan pukulan Ken Arok itu dengan kedua

belah tangannya. Namun ternyata akibatnya nggerisi. Terdengar

prajurit berkumis tebal itu berteriak, dan disusul dengan derak

tulang-tulang patah. Tulang tangannya dan beberapa tulang iganya.

Tangan Ken Arok yang marah itu seakan-akan berubah menjadi

segumpal besi yang menghantam dada prajurit berkumis tebal itu,

sehingga prajurit yang malang itu kemudian terlempar beberapa

langkah, terbanting di tanah, dan mati seketika itu juga.

Kuda Sempana yang melihat peristiwa itu, menjadi sangat cemas.

Ia menjadi tidak mengerti sama sekali, apakah sebenarnya yang

sedang dilakukan oleh Ken Arok itu. Apakah ia sedang membela

kepentingannya melawan Mahisa Agni, atau apa? Ternyata anak

muda itu menjadi sangat marah ketika ada orang lain yang

membantunya. Apakah hanya sekedar karena harga dirinya

dilanggar dengan memberikan bantuan itu”

Ternyata bukan saja Kuda Sempana yang menjadi bingung

Akuwu Tumapel itu pun melihat semua peristiwa itu dengan wajah

yang tegang. Bahkan akhirnya ia menjadi curiga, apakah Ken Arok

sebenarnya tidak berpihak kepada Mahisa Agni. Sebagai seorang

yang cukup memiliki ilmu yang tinggi, Akuwu Tunggul Ametung

telah menyimpan beberapa keraguan ketika ia melihat cara Ken

Arok bertempur. Apalagi kini ia melihat apa yang dilakukan oleh Ken

Arok itu. Karena itu, tiba-tiba tangannya meraba pelana kudanya

dan disentuhnya tangkai pusakanya. Sebuah tongkat penggada

yang terbuat dari besi yang berwarna kuning menyala. Pusaka yang

luar biasa, yang tak pernah terpisah daripadanya. Ketika terasa

pada jari-jarinya sentuhan tangkai pusakanya itu, maka Tunggul

Ametung itu pun menjadi tenang. Ia percaya betul bahwa tak ada

manusia di dunia yang mampu mempertahankan dirinya melawan

pusaka itu.

Namun Tunggul Ametung itu masih tetap tidak berbuat sesuatu.

Bahkan ia sependapat ketika Kuda Sempana berkata, “Tuanku,

marilah kita mendahului mereka kembali ke Tumapel.”

Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi segera kudanya

dikejutkannya. Dan dengan satu loncatan panjang, maka kuda itu

pun mulai berpacu diikuti oleh Kuda Sempana.

Mahisa Agni terkejut melihat kuda-kuda yang berlari itu. Dengan

suara yang serak parau ia berteriak, “Kuda Sempana. Berbuatlah

sebagai jantan sejati!”

Tetapi Kuda Sempana tidak mau mendengarnya. Kudanya berlari

semakin kencang. Mahisa Agni yang terluka itu menjadi bingung.

Ketika ia mencoba untuk berlari ke kudanya, maka tubuhnya serasa

menjadi semakin lemah. Bahkan kemudian ia pun jatuh

tertelungkup ketika ujung kakinya menyentuh seonggok batu di tepi

jalan.

Ken Arok yang melihat Mahisa Agni itu jatuh, segera berlari

kepadanya. Dicobanya untuk menolongnya, namun terdengar

Mahisa Agni itu membentaknya, “Ken Arok. Apakah kita akan

bertempur terus sampai salah seorang di antara kita mati?”

Ken Arok menundukkan wajahnya. Desisnya, “Mahisa Agni. Aku

tidak tahu, apakah sebenarnya yang sedang bergolak di dalam

kepalaku. Aku menjadi sedemikian bingungnya menghadapi

keadaan ini. Keadaanku sebagai hamba akuwu dan keadaan

perasaanku sendiri.”

Mahisa Agni menyeringai sesaat. Terasa punggungnya menjadi

pedih. Namun ia masih belum melepaskan kekuatan yang telah

dibangkitkan dalam ilmunya Gundala Sasra. Tetapi betapa tubuh

manusia itu mempunyai kemampuan yang sangat terbatas. Betapa

seseorang merasa dirinya pilih tanding, kuat tanpa lawan, namun

akhirnya harus mengakui, bahwa dirinya hanya seorang makhluk

yang kecil. Yang hanya dapat berkehendak, bertekad dan berikhtiar.

Tetapi akhirnya harus diakuinya, bahwa kekuatan dan kekuasaan

yang ada di dalam dirinya adalah sedemikian kecilnya. Dan kini

Mahisa Agni yang memiliki ilmu yang pilih tanding. Gundala Sasra

itu pun harus menderita karena luka di punggungnya. Meskipun ilmu

itu telah menolongnya, memperkecil kemungkinan yang dapat

ditimbulkan karena anak panah itu.

Untunglah bahwa pada saat anak panah prajurit yang berkumis

tebal itu mengenai punggungnya, maka Mahisa Agni telah siap

dengan ilmunya Gundala Sasra, sehingga demikian kulitnya

tersentuh ujung panah itu, maka segera kekuatan-kekuatan yang

berada di dalam tubuhnya melawannya. Tetapi Mahisa Agni

bukanlah seorang yang kebal, sehingga karena itulah maka kulitnya

ternyata tembus juga oleh tajamnya anak panah. Namun anak

panah itu tidak menghunjam terlalu dalam. Meskipun demikian,

cukup untuk melumpuhkannya, meskipun tidak dapat

membunuhnya.

Ken Arok yang melihat Mahisa Agni terbaring itu pun menjadi

bersedih. Tetapi Mahisa Agni tidak mau ditolongnya. Dengan susah

payah anak muda itu berusaha bangkit dan duduk bertelekan kedua

tangannya. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya menjadi gemetar.

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok, “kau terluka. Kau harus segera

mendapat pertolongan.”

“Jangan mengigau Ken Arok!” sahut Mahisa Agni, “Kau ingin

membunuh aku dengan tanganmu. Karena itu kau tidak mau

melihat prajurit itu melukai aku. Nah, sekarang terserah kepadamu.

Apakah kau akan membunuh aku atau kau akan menunggu

sehingga aku sembuh dan kita dapat berhadapan sebagai laki-laki.”

“Tidak Agni,” jawab Keri Arok, “aku tidak ingin berbuat demikian.

Aku benar-benar berada dalam kebingungan.”

“Itu telah mencerminkan kegoyahan pendirianmu. Kegoyahan

sikapmu. Kalau kau benar melihat bahwa kebenaran telah dilanggar

oleh Akuwu Tunggul Ametung, kenapa kau tidak berani

menghalanginya? Meskipun berakibat mati?”

“Ya,” Ken Arok itu menundukkan wajah, “Aku sadari keadaan itu.

Aku menjadi bimbang dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Namun aku sebenarnya telah berusaha untuk setidak-tidaknya tidak

membantu perbuatan itu. Aku tidak melawanmu dengan segenap

kekuatanku.”

“Kau terlalu sombong!” bentak Mahisa Agni keras. Namun

kemudian ia menjadi semakin lemah, “Kenapa kau tidak berkelahi

dengan sekuat tenagamu? Apakah kau ingin mengatakan, bahwa

tidak dengan sekuat kemampuanmu kau telah dapat mengimbangi

kekuatanku.”

“Tidak. Tidak,” potong Kera Arok cepat-cepat, “maksudku aku

tidak hendak melawan ilmumu yang terakhir, yang akan kau

lepaskan dengan ilmu yang tersimpan rapat-rapat di dalam diriku.

Aku hanya ingin melindungi diriku supaya aku tidak mati. Sesudah

itu, biarlah seandainya aku kau kalahkan.”

Mahisa Agni tidak dapat membantah kata-kata itu. Sebenarnya

secara jujur ia pun merasakannya, bahwa Ken Arok telah

melepaskan beberapa kesempatan yang sebenarnya dapat

dipergunakan, sekurang-kurangnya untuk memperlemah

serangannya. Namun kesempatan-kesempatan itu dibiarkannya atau

dipergunakannya dengan ragu-ragu. Apalagi, ketika kemudian

Mahisa Agni menatap wajah Ken Arok yang tunduk. Tampaklah

bahwa kejujuran memancar dari wajah itu. Wajah yang suram,

seakan-akan penuh penyesalan. Karena itu, maka hati Mahisa Agni

pun menjadi agak mereda. Kemarahannya tidak lagi menyala di

dalam dadanya. Itulah sebabnya, maka kini pedih dan nyeri pada

punggungnya itu mulai terasa semakin menyengat-nyengatinya.

Sekali lagi Mahisa Agni berdesis. Perlahan-lahan ia bergerak

maju.

“Kau terluka?” terdengar Ken Arok itu berdesis.

“Ya,” jawab Agni.

Ken Arok mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Mahisa

Agni yang pucat pasi. Tetapi di wajah itu tidak lagi terbayang

kemarahan yang meluap-luap. Karena itu, maka Ken Arok bertanya

pula, “Apakah aku dapat menolongmu?”

“Apakah yang dapat kau lakukan?”

Ken Arok menjadi bingung. Ia bukan seorang yang tahu benar

akan cara-cara untuk memberi pertolongan kepada orang-orang

yang terluka seperti itu. Karena itu, maka sesaat ia terdiam.

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara derap kuda

mendekat. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, maka mereka

melihat beberapa ekor kuda muncul dari tikungan, dan berlari ke

arah mereka.

“Witantra,” tiba-tiba Ken Arok berdesis.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia mendengar peristiwa

yang terjadi ini dari Mahendra menurut petunjuk Witantra.

Ketika Witantra itu kemudian melihat Mahisa Agni dan Ken Arok,

maka segera ia mempercepat kudanya. Demikian ia sampai di

hadapan Mahisa Agni yang terluka itu, maka segera Witantra

meloncat dari kudanya. Dengan tajamnya Witantra memandang

kepada Ken Arok sambil menggeram -

“Kaukah yang melukainya.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tidak senang melihat sikap

itu. Ia telah mengenal siapakah Witantra, dan ia menghormati

keberaniannya untuk tidak menuruti saja perintah akuwu seperti

dirinya. Namun ia bukan seorang yang wajar untuk mendapat

perlakuan demikian. Karena itu, maka Ken Arok itu pun berdiri

sambil menjawab “Bertanyalah kepada Mahisa Agni.”

Witantra menaikkan alisnya. Ia mengenal orang itu dengan nama

Wiraprana. Namun Ken Arok itu menyebutnya Mahisa Agni. Tetapi

hal itu belum merupakan persoalan bagi Witantra. Dan jawaban

pelayan dalam itu tidak diharapkannya. Karena itu maka sekali lagi

Witantra berkata lebih tajam, “Aku berkata kepadamu.”

Ken Arok menjadi semakin tidak senang. Tetapi sebelum ia

menyahut, segera Mahisa Agni berkata, “Bukan, Witantra. Bukan

olehnya. Tetapi oleh prajurit yang terbaring mati di pinggir parit itu.

Dan prajurit itu telah dibunuh oleh Ken Arok.”

Witantra memalingkan wajahnya. Dilihatnya tubuh prajurit yang

mati itu. Tiba-tiba dada Witantra berdesir. Prajurit itu adalah

prajuritnya. Dan dilihatnya bahwa orang itu tidak terluka oleh

senjata. Sehingga dengan serta-merta sesadarnya ia berdesis,

“Dibunuh dengan tangannya?”

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian

ia berkata, “Maafkan Adi. Aku terlalu berprasangka. Memang kita

kini saling berprasangka. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang

sedang terjadi di sini.”

Ken Arok menarik nafas dalam . Sebenarnyalah bahwa mereka

kini sedang saling berprasangka. Apa yang tersimpan di dalam dada

masing-masing adalah kecurigaan di antara sesama mereka. Seperti

Kuda Sempana, Tunggul Ametung, Mahisa Agni, Ken Arok, Witantra

dan para pengikut yang lain. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang

sebenarnya dilakukan oleh kawan-kawan mereka, atau yang sedang

diangan-angankannya. Mereka berbuat dalam kebimbangan dan

ketidakpastian. Bahkan mereka telah berbuat di luar rasa keadilan

mereka sendiri.

Witantra itu pun kemudian turun dari kudanya dan mendekati

Mahisa Agni. Tiba-tiba ia menjadi terkejut, ketika dilihatnya di

punggung Mahisa Agni masih terhunjam sebuah anak panah.

“Kau dilukai dengan cara ini?” bertanya Witantra. Mahisa Agni

mengangguk. Sekali lagi ia bergumam, “Prajuritmu itulah yang

melukai aku.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya pula,

“Anak panah itu harus dicabut segera.”

“Cabutlah,” minta Mahisa Agni.

Witantra berpaling sesaat kepada semua orang yang berada di

tempat itu. Dan tanpa ditanya, mereka telah mengerti, bahwa

Witantra memerlukan bantuan mereka.

Beberapa orang kemudian memegangi pundak Mahisa Agni,

sedang Witantra kemudian dengan perlahan-lahan mencabut anak

panah itu. Mahisa Agni berdesis menahan nyeri yang menghentakhentak

punggungnya. Bahkan hampir-hampir saja ia mengeluh

untuk mengurangi rasa sakit. Namun untunglah, bahwa daya tahan

tubuh Mahisa Agni benar-benar mengagumkan. Sehingga ia tetap

dalam kesadarannya ketika anak panah itu tercabut dari

punggungnya. Tetapi demikian anak panah itu lepas, maka

darahnya menjadi semakin banyak mengalir dari luka itu.

“Kau memerlukan pertolongan secepatnya.”

Mahisa Agni mengangguk.

“Adi,” berkata Witantra kepada Ken Arok, “marilah kita bawa

Wiraprana ke Panawijen. Mungkin di rumahnya akan kita dapatkan

obat-obatan yang dapat mengurangi arus darahnya.”

Kini Ken Aroklah yang menjadi heran. Tetapi ia tidak menjawab.

Ia tahu benar bahwa yang dimaksud adalah Mahisa Agni. Karena

itu, maka Mahisa Agni itu segera dibangkitkannya dan ditolongnya

naik ke atas punggung kuda.

“Kita naiki kuda ini berdua,” bisik Ken Arok.

Mahisa Agni tidak menjawab, sementara Ken Arok telah meloncat

duduk di belakangnya. Dengan sobekan kain Mahisa Agni maka Ken

Arok mencoba untuk menahan atau setidak-tidaknya mengurangi

darah yang mengalir dari luka itu.

Demikianlah maka segera mereka berpacu ke Panawijen kembali.

Mereka mengharap bahwa luka Mahisa Agni tidak menjadi

bertambah parah karena darah yang terlalu banyak mengalir.

Meskipun demikian, Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah-tambah

lemahnya.

Ketika mereka memasuki padukuhan Panawijen, maka kembali

mereka mengejutkan penduduknya. Beberapa orang yang

mendengar derap kuda, menjadi ketakutan dan berlari-larian untuk

menyembunyikan dirinya.

Kuda-kuda itu pun kemudian berlari menuju ke rumah Empu

Purwa. Derap kakinya menghentak-hentak tanah yang keras, dan

menimbulkan bunyi yang benar-benar mengerikan bagi penduduk

Panawijen.

Ketika mereka mendekati rumah Empu Purwa itu, maka orangorang

yang berada di halaman segera mendengarnya. Mereka pun

menjadi ketakutan, dan dengan serta-merta mereka berlari-larian

pula. Tetapi ketika kuda-kuda itu memasuki halaman, maka di

halaman itu masih berdiri Ki Buyut Panawijen, seorang emban tua,

beberapa orang cantrik yang sedang menunggu sesosok tubuh yang

terbaring diam.

Mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka melihat Mahisa

Agni duduk dengan lemahnya di hadapan Ken Arok. Segera mereka

menjadi cemas. Mula-mula mereka menyangka bahwa Mahisa Agni

terluka, dan anak muda itu menjadi seorang tawanan.

Tetapi mereka menjadi heran, ketika mereka melihat, demikian

kuda-kuda itu berhenti, demikian Ken Arok meloncat turun dan

menolong Mahisa Agni turun pula dari kudanya.

Halaman itu menjadi sedemikian tegangnya. Semua orang

melihat Mahisa Agni yang luka itu. Dan tiba-tiba saja ketegangan

halaman itu dipecahkan oleh jerit emban tua sambil berlari memeluk

Mahisa Agni, “Agni, apakah yang terjadi?”

Mahisa Agni menelan ludahnya. Lehernya terasa seakan-akan

menjadi kering. Karena itu ia berdesis, “Air.”

Perempuan tua itu segera berteriak kepada salah seorang

cantrik, “Air, ambilkan air!”

Sementara itu Mahisa Agni itu pun kemudian dipapah naik ke

pendapa. Dibaringkannya anak muda itu pada selembar tikar.

Emban tua itu menjadi sedemikian cemasnya, sehingga tubuhnya

bergetaran serta wajah menjadi sangat pucat, sepucat Mahisa Agni

sendiri.

“Kenapa kau Agni,” bertanya emban tua itu.

Mahisa Agni mencoba tersenyum, jawabnya, “Aku tidak apa-apa,

Bibi.”

“Kau terluka.”

“Tidak berbahaya,” sahut Mahisa Agni. Untuk meyakinkan emban

tua itu Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok, “Ken Arok, bukankah

lukaku tidak berbahaya?”

Ken Arok mengangguk kaku. “Tidak,” desisnya.

Namun kecemasan masih membayang di wajahnya. Nafasnya

menjadi semakin cepat mengalir dan bibirnya bergerak-gerak tetapi

tidak sepatah kata pun yang meloncat dari mulutnya.

Ketika seorang cantrik kemudian membawa air kepadanya, dan

dituangkannya kepada mulutnya, maka tubuh Mahisa Agni itu

serasa menjadi semakin segar.

“Bibi, apakah bibi mengenal obat untuk luka ini,” desis Ken Arok

kemudian.

Perempuan tua itu memandang Ken Arok dengan tajamnya. Ia

melihat orang itu pergi bersama-sama dengan Akuwu Tumapel. Dan

kini orang itu datang kembali membawa Mahisa Agni. Apalagi ketika

ia melihat Witantra yang berdiri mematung di pendapa itu, masa

perempuan itu menjadi bertambah tidak mengerti, apa yang telah

terjadi.

Witantra itu pun kemudian berjongkok pula di samping Ken Arok.

Ia melihat keheranan yang memancar dari mata perempuan tua

yang menangisi Mahisa. Agni Karena itu ia berkata, “Bibi, semuanya

nanti akan dapat Bibi ketahui. Sekarang, apakah Bibi mempunyai

reramuan obat-obatan untuk luka itu?”

Emban tua itu tersadar dari keheranannya. Maka dengan sertamerta

ia berdiri dan berlari ke dalam biliknya. Ia bukanlah seorang

yang dapat memberikan obat kepada beberapa jenis penyakit,

namun reramuan obat untuk luka-luka ia ada menyimpannya. Obat

itu adalah pemberian Empu Purwa, seandainya ada para cantrik dan

para endang menjadi terluka karena sesuatu sebab.

Ketika emban itu datang kembali, maka reramuan itu pun

kemudian dicairkannya ke dalam beberapa tetes air. Dan dengan

obat itulah kemudian luka Mahisa Agni diobati. Ternyata obat itu

pun bermanfaat pula baginya. Darah yang mengalir dari luka itu pun

kemudian berangsur terhenti.

Tetapi demikian luka itu menjadi bertambah pampat, maka

segera perhatian mereka tertarik kepala beberapa orang, yang

masih saja berdiri di halaman. Mahisa Agni yang lemah itu pun

mencoba mengangkat kepalanya. Ketika terpandang olehnya wajah

Buyut Panawijen yang suram, terdengarlah anak muda itu bertanya,

“Bibi, apakah yang telah terjadi di rumah ini?”

Perempuan tua itu menelan ludahnya, seakan-akan ludah itu

telah menyumbat kerongkongannya sehingga ia tidak dapat berkata

apapun. Baru sesaat kemudian ia berkata, “Kau terlambat datang

Agni. Bahkan kau datang dengan luka di punggungmu? Apakah kau

bertemu dengan Kuda Sempana?”

“Ya, Bibi,” sahut Mahisa Agni.

“Dengan sekalian yang berada di sini sekarang?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Lalu apakah yang terjadi atasmu?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tanpa disengajanya ia memandang

kepada Ken Arok. Sehingga Ken Aroklah yang menjawab, “Agni

terluka karena ia ingin mempertahankan gadis yang dibawa oleh

Kuda Sempana itu.”

“Siapakah yang telah melukainya? Tuan?”

Ken Arok menggeleng. Tetapi wajahnya terbanting di lantai.

Meskipun ia tidak melukai Mahisa Agni, namun ia bertempur pula

melawan anak muda itu. Sehingga dengan demikian maka mau

tidak mau, perasaannya pun tersentuh pula.

Yang menjawab kemudian adalah Witantra. Katanya, “Seorang

prajurit yang licik telah melukainya.”

Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

terdengar ia bergumam “Mereka telah melakukan pembunuhan dan

perampasan.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Sehingga dengan

serta-merta ia bertanya “Apakah telah terjadi pembunuhan? Bibi,

aku belum mati. Adakah yang telah terbunuh?”

Emban tua itu tidak segera menjawab. Namun kemudian ia

berpaling ke halaman. Ditatapnya beberapa orang yang tegak di

bawah tangga, dan dilihatnya Ki Buyut Panawijen yang berjongkok.

“Bibi,” desak Mahisa Agni, “siapakah yang terbunuh? Seorang

cantrik atau . . .?”

Tiba-tiba kata Mahisa Agni terputus. Ia melihat seseorang

terbaring ketika ia memasuki halaman. Namun lukanya itu telah

merampas segenap perhatiannya sehingga ia tidak sempat untuk

memperhatikannya, selain berdesis menahan sakit yang

menghentak-hentak. Sekali lagi Mahisa Agni mencoba mengangkat

wajahnya. Dan sekali lagi dilihatnya beberapa orang berada di

halaman itu.

“Siapa yang terbaring itu?” tiba Mahisa Agni berteriak,

Dilibatnya Buyut Panawijen itu berpaling. Kemudian tampaklah ia

berdiri dan berjalan perlahan-lahan naik ke pendapa. Wajahnya

yang sayu memandangi beberapa orang yang berjongkok di sekitar

Mahisa Agni.

“Ki Buyut,” bertanya Mahisa Agni tidak sabar, “siapakah yang

terbaring di halaman itu? Kenapa ia tidak dibawa naik?”

“Tidak perlu, Ngger Mahisa Agni. Biarlah ia terbaring di halaman.

Ia akan segera aku bawa kembali.”

“Siapa? Siapa?”

“Wiraprana.”

“Wiraprana?” ulang Mahisa Agni. Alangkah terkejutnya anak

muda itu. Meskipun perasaan itu telah menyentuh hatinya sejak ia

mendengar bahwa seseorang telah terbunuh.

(bersambung ke Jilid 9)

Jilid 9

NAMUN KETIKA IA MENDENGAR JAWABAN Ki Buyut Panawijen

itu, tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Dengan serta-merta ia

bangkit dan menggertakkan giginya, “Gila. Gila. Siapakah yang telah

membunuhnya?”

“Kuda Sempana.”

“Kuda Sempana?” ulangnya. Namun tubuhnya kemudian menjadi

lemah kembali. Hampir saja ia terjatuh, seandainya Ken Arok tidak

segera menangkapnya, dan membaringkannya kembali perlahanlahan.

Bahkan darahnya yang telah mampat itu tiba-tiba mengalir

kembali Meskipun tidak sedemikian derasnya.

Tetapi kembali mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat

wajah Witantra itu menjadi merah padam. Dengan geramnya ia

berdesis, “Mahisa Agni. Jadi kau bernama Mahisa Agni?”

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun segera

memakluminya. Karena itu segera ia menjawab singkat, “Ya. Aku

Mahisa Agni.”

“Aku mendengar orang menyebutmu Mahisa Agni. Namun aku

sangka bahwa kau mempunyai beberapa nama dan sebutan. Namun

kini ternyata bahwa kau sama sekali tidak bernama dan sebutan

Wiraprana.”

“Ya. Aku bukan Wiraprana.”

“Hem,” Witantra itu menggeram, “aku pernah mendengar pula

Kuda Sempana menyebut nama Wiraprana, namun baru sekarang

aku tahu.”

“Ya. Sekarang kau tahu, bahwa aku bukan Wiraprana.”

Sekali lagi Witantra menggeram. Dan semua orang menjadi

terkejut dan heran karenanya. Bahkan Ken Arok pun menjadi heran

pula.

“Agni,” desis Witantra, “aku telah mencegah adikku berbuat

curang. Namun aku tidak menyangka bahwa kau bukan Wiraprana

yang sebenarnya.”

Semua yang berada di sekitar Mahisa Agni terbaring itu menjadi

bertambah tidak mengerti, apa yang sedang dibicarakan oleh

Witantra dan Mahisa Agni itu. Apalagi ketika Witantra meneruskan,

“Kalau kau tidak mengkhianati kejantanan Wiraprana pada waktu itu

maka keadaan akan menjadi lain. Mungkin Kuda Sempana tidak

akan berbuat seperti sekarang, dan mungkin Mahendra akan dapat

mempertahankan dirinya daripadanya. Ketika Kebo Ijo memberikan

keris kepada Mahendra, aku berkata, bahwa aku akan berada di

pihakmu kalau mereka berdua bersama dengan Mahendra

memaksakan perkelahian dua melawan dua, sebab aku tahu bahwa

kawanmu waktu itu sama sekali tidak akan mampu untuk melawan

Kebo Ijo. Ya, kawanmu waktu itu.”

Witantra berhenti sesaat, Kemudian ia meneruskan, “Aku ingat

sekarang, ternyata kawanmu waktu itulah yang bernama Wiraprana,

yang terbunuh oleh Kuda Sempana.”

Witantra terdiam. Namun wajahnya masih tampak menyalanyala.

Seakan-akan ia menuntut sesuatu yang telah pernah terjadi

atas Mahisa Agni yang terbaring luka itu. Sehingga tiba-tiba Ken

Arok menyela, “Kakang Witantra. Meskipun aku tidak mengetahui

persoalan yang kau katakan, tetapi adalah tidak bijaksana kalau

persoalan itu kau ungkapkan sekarang, selagi Mahisa Agni sedang

terluka.”

“Tetapi kini ternyata, bahwa luka itu adalah akibat dari

kecurangan yang pernah dilakukan masa lampaunya. Ia telah

menipu aku, adik seperguruanku dan dirinya sendiri. Ketika

persoalan timbul antara Wiraprana dan Mahendra, maka Mahisa

Agnilah yang mencoba menyelesaikannya atas nama Wiraprana.

Nah, sekarang akibatnya menjadi semakin panjang. Kuda Sempana

ternyata turut pula terlibat dalam persoalan ini.”

“Apa pun yang terjadi, Kakang. Tunggulah sampai luka-lukanya

sembuh.”

“Aku tidak peduli lagi atas luka-lukanya. Aku menuntut keadilan

atas adik seperguruanku. Kalau ia telah berbuat atas nama

Wiraprana, maka aku akan berbuat atas nama Mahendra.”

“Kau terlalu mementingkan persoalanmu sendiri Kakang,” sahut

Ken Arok, “sekali lagi aku minta, biarlah ia beristirahat dan berusaha

sembuh kembali.”

“Kau tidak tersangkut dalam persoalan ini Adi,” jawab Witantra,

“persoalan ini adalah persoalanku dan Mahisa Agni.”

“Tetapi ia sedang terluka.”

“Luka akibat kesalahannya. Apakah yang perlu disesalkan?”

“Kakang, jangan berpikir tentang sebab-sebab yang sama sekali

tidak langsung itu. Biarlah itu berlaku masa-masa lampau. Tetapi

biarlah kita melihat masa ini, keadaannya kini.”

“Keadaan ini adalah kelanjutan dari masa lampau itu. Dari sebab

yang dibuatnya sendiri.”

“Baik. Kalau kau masih berbicara tentang sebab, akulah yang

menyebabkan luka itu. Sebab yang lebih langsung dari yang kau

katakan itu. Dari sebab-sebab yang sama sekali tidak aku ketahui

ujung dan pangkalnya. Namun kalau kau memaksakan persoalan

sebab yang menimbulkan akibat ini, maka aku akan tidak

sependapat. Seandainya luka itu adalah akibat dari perbuatannya,

maka biarlah akibat itu ditanggungkannya dengan tenang.”

“Tetapi apa yang pernah dilakukan telah menutup kemungkinan

bagi adik seperguruanku, yang waktu itu aku cegah untuk berbuat

tidak jantan. Sekarang persoalan itu ternyata telah diambil alih oleh

Kuda Sempana. Sedang Mahendra tinggal dapat merasakan

kepahitan hidupnya. Kepahitan dari kegagalannya.”

“Lupakanlah itu, Kakang. Setidak-tidaknya untuk sementara.”

“Tidak. Tidak. Aku adalah seseorang yang akan tetap tegak

kepada keadilan.”

“Lakukanlah, namun lurus dengan bijaksana. Buatlah

perhitungan, tetapi apabila luka itu telah disembuhkan.”

“Jangan campuri urusanku Ken Arok!” bentak Witantra dengan

marahnya.

Tetapi Ken Arok pun tiba-tiba menjadi gemetar. Untuk kedua

kalinya ia dibentak oleh Witantra dalam persoalan yang sama sekali

berlawanan. Ketika Witantra membentaknya dengan pandangan

yang menyala dan disangkanya ia melukai Mahisa Agni, maka

perasaannya telah tersinggung. Kini Witantra membentaknya lagi

dalam persoalan yang bertolak belakang. Karena itu, maka Ken Arok

itu pun menjawab dengan suara gemetar “Witantra. Aku sadari

bahwa kau adalah seorang prajurit yang linuwih. Namun apabila kau

kehilangan kebijaksanaan yang bening, maka kau akan sama artinya

dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tumapel. Kau dapat

mempergunakan kekuasaanmu untuk kepentinganmu.”

“Aku bukan orang-orang yang licik dan pengecut. Aku akan

menyelesaikan persoalanku pribadi dalam tindak pribadi. Aku akan

membuat persoalan menjadi adil. Atas nama adikku Mahendra aku

menuntut pengakuan Mahisa Agni yang mencoba dirinya menjelma

menjadi Wiraprana.”

“Witantra!” sahut Ken Arok tiba-tiba suaranya menjadi parau.

Suara yang pernah didengar oleh Mahisa Agni di padang rumput

Karautan. Suara hantu padang yang menakutkan, “Kalau tetap pada

pendirianmu, biarlah aku bertindak atas nama Mahisa Agni yang

terluka. Ayo cara yang mana yang kau kehendaki.”

Witantra terkejut mendengar tantangan itu. Tiba-tiba dengan

serta-merta ia meloncat berdiri. Dan hampir dalam saat yang

bersamaan Ken Arok telah berdiri pula. Suaranya yang parau itu

masih terdengar, “Akulah yang harus berbuat atas namanya.”

Keadaan segera menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba

terdengar Mahisa Agni tertawa. Tertawa aneh. Sedemikian anehnya

sehingga suara tertawa itu benar-benar mengejutkan. Lebih-lebih

bagi Witantra dan Ken Arok. Suara tertawa itu lebih mengejutkan

bagi mereka daripada gemuruhnya suara guruh yang meledak di

telinganya.

“Kenapa kau tertawa Agni?” bertanya Ken Arok.

“Duduklah. Duduklah kalian,” berkata Mahisa Agni.

Witantra dan Ken Arok itu masih berdiri mematung. Beberapa

orang yang duduk di sekitar mereka itu telah bergeser mundur

dengan penuh keheranan tersimpan di dalam dadanya.

Witantra dan Ken Arok masih belum bergerak dari tempatnya.

Mereka masih mendengar Mahisa Agni tertawa. Namun akhirnya

mereka menyadari, bahwa suara tertawa yang aneh itu adalah

suara tertawa yang melontarkan kepedihan yang menghunjam

perasaannya. Suara tertawa yang memancarkan kepahitan hidup

yang selama ini harus ditanggungkannya.

“Duduklah Ken Arok,” kembali terdengar suara Mahisa Agni di

antara suara tertawanya yang menjadi semakin pahit. Kemudian

katanya pula, “Jangan halangi Witantra berbuat menurut suara

keadilannya. Aku membenarkan semua kata-katanya. Aku telah

mengkhianati kejantanan Wiraprana menurut istilahnya. Kalau

Witantra itu menuntut pengakuanku atas kecurangan itu, maka

biarlah aku mengakuinya. Kalau itu merupakan kesalahan yang tak

dapat dilupakan olehnya, biarlah ia berbuat menurut kehendaknya

untuk menghukum kesalahan itu.”

“Mahisa Agni,” potong Ken Arok, “apakah sebetulnya yang

pernah kau lakukan?”

“Jangan kau tanyakan sekarang,” sahut Mahisa Agni, “aku

sedang tidak bernafsu untuk banyak berbicara Aku lebih senang

menikmati perasaan nyeri di punggungku. Namun dalam pada itu,

aku akan mempersilakan Witantra berbuat sesuka hatinya.”

Ken Arok terdiam karenanya. Meskipun berbagal pertanyaan

berputar-putar di dalam benaknya, namun ia tidak dapat berbuat

sesuatu. Kini ia berdiri saja seperti tiang-tiang pendapa yang diam

kaku.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Mahisa Agni

yang terbaring diam. Bahkan seakan-akan ia tidak

memperhatikannya sama sekali.

“Mahisa Agni,” geram Witantra, “aku menjadi sangat kecewa atas

perbuatanmu itu. Sekarang kau pergunakan kesempatan sebaikbaiknya.

Dengan lukamu itu kau akan dapat menghindari setiap

pertanggungan jawab yang harus kau berikan kepadaku, atas nama

adikku Mahendra. Dengan lukamu itu kau akan dapat mengatakan,

bahwa semua persoalan akan ditunda. Sebab kau mengharap

bahwa aku tidak akan membuat perhitungan dengan seseorang

yang sedang terluka.

Kembali Mahisa Agni tertawa. Alangkah pahitnya. Dipalingkannya

wajahnya memandang kepada Witantra yang berdiri dengan

garangnya. Kemudian katanya, “Lucu sekali.”

“Apa yang lucu!” bentak Witantra.

“Kau, Ken Arok, aku, Kuda Sempana, Akuwu Tumapel dan semua

orang.”

Witantra memandang Mahisa Agni semakin tajam. Bahkan

kemudian ia menggeram “Jangan mengigau Agni!”

“Tidak. Aku tidak mengigau. Aku berkata sebenarnya, bahwa

orang-orang yang pernah aku kenal, ternyata tidak lebih daripada

badut-badut yang menggelikan.”

“Jangan menghina!”

“Aku tidak menghina. Kalau aku mengatakan apa yang

sebenarnya bukankah aku tidak menghina? Coba, Witantra, apakah

yang kau lakukan itu wajar. Baru saja kau marah-marah kepada Ken

Arok. Kau sangka anak muda itu melukai aku. Aku sangka kau

benar-benar berbuat dengan jujur. Dengan sepenuh hati. Aku

sangka kau benar-benar tidak ikut dalam perkosaan ini.”

“Aku tidak turut dalam perkosaan ini!” potong Witantra dengan

lantangnya. Wajahnya menjadi semakin merah karena kemarahan

yang melanda dadanya.

“Kenapa kau tidak turut?”

“Aku tidak mau melihat kesewenang-wenangan. Aku tidak mau

melihat penindasan yang tidak semena-mena.”

“Oh,” desis Mahisa Agni. Meskipun anak muda itu tersenyum,

namun matanya memancarkan kepedihan yang tiada taranya.

Katanya kemudian “Itulah Witantra. Bukankah dunia ini hanya

dipenuhi oleh badut-badut yang sama sekali tidak berarti. Kau

tersentuh rasa keadilanmu karena aku menamakan diriku

Wiraprana. Kau tidak mau ikut serta dalam tindakan yang

sewenang-wenang Namun apakah sebenarnya yang kau lakukan

itu? Huh. Kau menentang perbuatan Akuwu Tunggul Ametung yang

melindungi Kuda Sempana bukan karena kau tidak mau melibat

kesewenang-wenangan. Namun kau menjadi iri bati karenanya. Kau

iri, kenapa kesempatan itu diberikan oleh Akuwu kepada Kuda

Sempana. Tidak kepada adikmu Mahendra?”

“Bohong!” teriak Witantra. Dengan jari-jari yang gemetar ia

menunjuk kepada perempuan tua di samping Mahisa Agni,

“perempuan itu melihat apa yang telah aku lakukan. Perempuan itu

melihat, bahwa Akuwu telah mengeluarkan perintah untuk

menangkap Witantra. Perempuan itu melihat bahwa Akuwu telah

mengancam aku untuk menggantung aku besok. Nah, apalagi? Aku

tidak mau ikut serta dalam perbuatan yang terkutuk itu. Perbuatan

yang meninggalkan kebebasan perseorangan untuk berbuat

menurut pilihan sendiri. Dan aku akan menanggung akibatnya. Aku

sama sekali tidak berpikir tentang Mahendra. Aku sudah

melupakannya seandainya aku tidak tahu, bahwa kau telah menipu

aku, menipu Mahendra sehingga kesempatan Kuda Sempana

menjadi lebih baik daripadanya.

“Nah. Jangan kau pungkiri kata-katamu sendiri. Kau tidak mau

melihat kesewenang-wenangan. Kau tidak mau melihat perbuatan

yang meninggalkan kebebasan perseorangan untuk berbuat

menurut pilihan sendiri. Kau tidak mau melihat bahwa dengan

kekuatan orang memaksakan kehendaknya? Benar? Nah katakan

kepadaku Witantra, seorang prajurit yang jujur, yang mencoba

berdiri tegak di atas keadilan. Kau menentang semuanya itu, karena

semuanya itu akan menguntungkan orang lain. Menguntungkan

Kuda Sempana. Bukan menguntungkan adikmu Mahendra. Tetapi

Witantra yang bijaksana. Kau melihat sendiri, apa yang akan

dilakukan oleh Mahendra. Keadilan yang kau katakan itu benarbenar

timpang. Kalau Mahendra ingin memaksakan kehendaknya

dengan kekuatan yang diagung-agungkan saat itu. Kalau Mahendra

ingin mengadakan pertandingan untuk merebut Ken Dedes dengan

kekuatan. ya, seandainya aku tidak menyebut diriku Wiraprana saat

itu? Apakah yang terjadi Witantra? Apa? Mungkin Wiraprana telah

mati saat itu. Apakah kau dapat menjamin bahwa perkelahian yang

demikian tidak akan dapat berakibat maut? Sedang apakah kau

menasihati adikmu itu untuk menanyakan saja kepada Ken Dedes,

pilihannya menurut kebebasan yang dimilikinya? He?”

Witantra menjadi gemetar mendengar kata-kata Mahisa Agni itu.

Wajahnya yang merah seakan-akan memancarkan nyala

kemarahannya. Tetapi ketika ia bergeser setapak maju, maka Ken

Arok pun bergerak pula setapak.

Dengan suara yang bergetar karena menahan gejolak

perasaannya Witantra berkata “Mahisa Agni. Kau mencoba mencari

alasan untuk melindungi kesalahanmu. Kau mencoba mencari

sebab, kenapa kau seakan-akan sudah seharusnya berbuat

demikian.”

“Tidak!” potong Agni, “Aku tidak pernah mengingkari kesalahan

itu. Aku sudah mengakuinya. Dan aku tidak akan mencari dalih apa

pun yang dapat menutupi kesalahan itu. Tetapi sekarang marilah

kita melibat diri kita masing-masing. Aku melihat diriku dan kau

melihat ke dirimu.”

“Tetapi pada saat itu Mahendra berbuat dengan penuh tanggung

jawab. Ia tidak memperalat kekuasaan atau orang lain. Ia berbuat

sendiri. Ia memperjuangkan cita-citanya sendiri.”

“Jadi apakah dengan demikian perbuatannya itu dapat

dibenarkan. Bukankah dengan demikian, maka kekuatan

jasmaniahlah yang harus menentukan keputusan. Bukan kebenaran

menurut penilaianmu. Kebebasan seseorang untuk menentukan

pilihan. Bagaimanakah kalau kemudian Mahendra menang atas

Wiraprana? Sedang Ken Dedes telah memilih Wiraprana sebagai

calon suaminya? Bagaimana?”

Witantra terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Mahisa

Agni itu Bahkan lamat-lamat dapat dilihatnya pula bahwa

sebenarnya adik seperguruannya ada saat itu pun akan

mempergunakan kekuatannya untuk

memaksakan kehendaknya.

Dalam pada itu terdengar Mahisa

Agni yang terluka itu berkata lantang

“Nah, Witantra. Sekarang lihatlah. yang

terbaring di halaman itu adalah

Wiraprana. Ia mati karena orang lain

ingin merampas haknya dengan

kekuatan dan kekuasaan. Wiraprana

ternyata telah menjadi korban dari sikap

damainya. Sejak semula ia tidak pernah

membayangkan bahwa pada suatu

ketika ia harus menghadapi kekerasan.

Karena itu, maka ia tidak pernah dengan

sungguh-sungguh menekuni ilmu tata berkelahi dan tata bela diri. Ia

percaya akan peradaban manusia yang semakin tinggi. Ia percaya

akan kedamaian hati dan ia percaya bahwa manusia akan

menentukan sikapnya dengan baik di antara sesama manusia,

Namun ia menjadi korban. Ternyata bahwa Wiraprana tidak dapat

hidup di antara manusia pada masa kini dengan sikapnya. Di mana

manusia mengorbankan manusia yang lain untuk kepentingannya.

Untuk memenuhi nafsunya. Termasuk Mahendra, Kuda Sempana

dan mungkin aku pula, kau dan Ken Arok. Kita semua telah hanyut

dalam arus kebiadaban di antara peradaban manusia.”

Mahisa Agni itu terdiam. tiba-tiba terasa sesuatu menyumbat

lehernya. Terasa pedih masih menyengat-nyengat punggungnya.

Namun ia sama sekali tidak memperhatikannya. Perlahan-lahan

darahnya kembali meleleh membasahi tikar tempatnya berbaring.

Meskipun luka itu telah dibalut dengan kain bersih beberapa lapis,

namun darahnya yang merah masih juga menembusnya.

“Agni,” bisik perempuan tua yang berlutut di sampingnya,

“beristirahatlah. Jangan pikirkan yang bukan-bukan. Kau sedang

terluka.”

“Tidak. Tidak apa-apa Bibi. Luka tidak sakit,” jawab Agni. Dan

sebenarnyalah bahwa pedih lukanya seakan-akan tidak terasa

karena pedih hatinya yang menusuk-nusuk.

Bahkan kemudian ia berkata perlahan-lahan, “Witantra. Kini

Wiraprana telah mati. Aku tidak dapat lagi menamakan diriku

Wiraprana. Tidak ada gunanya. Dan terserahlah kepadamu,

penilaianmu atas diriku dan terserahlah kepadamu, apa yang akan

kau lakukan. Kesalahan yang telah aku perbuat itu ternyata tidak

ada gunanya. Aku hanya dapat menunda bencana yang menimpa

Wiraprana. Tetapi sekarang, Wiraprana telah mati, dan Ken Dedes

telah hilang dari rumah ini. Hilang dan aku tidak tahu, apakah masih

ada kemungkinan untuk menyelamatkannya.”

Witantra itu menundukkan wajahnya. Tiba-tiba ia meletakkan

tubuhnya duduk di samping Mahisa Agni. Namun sepatah kata pun

tidak diucapkannya.

Ken Arok kini sudah dapat membayangkan, Meskipun belum

sedemikian jelas, apakah yang telah terjadi. Ia pun kemudian duduk

pula di samping Witantra dan dengan sepenuh hati ia berkata,

“Mahisa Agni. Aku akan mencoba melepaskan gadis itu dari Kuda

Sempana.”

“Apa yang akan kau lakukan?” terdengar suara Mahisa Agni

parau.

Ken Arok menggeleng lemah, “Aku belum tahu. Tetapi setidaktidaknya

Ken Dedes harus dibebaskan dari himpitan kedukaannya.

Kalau ia menjadi istri Kuda Sempana maka setiap hari ia akan

mengalami derita yang tak akan ada habisnya.”

“Mudah-mudahan kau berhasil. Tetapi arti daripada itu pun

sangat jauh daripada yang diharapkannya. Wiraprana, laki-laki yang

dicintainya telah mati.”

Pendapa itu pun kemudian menjadi sepi hening. Ki Buyut

Panawijen yang selama ini diam mematung tiba-tiba berkata,

“Angger Mahisa Agni. Meskipun Wiraprana telah mati, tetapi aku

masih akan mengucapkan terima kasih kepadamu. Sebab baru

sekarang aku tahu bahwa anakku itu telah pernah mendapat banyak

sekali pertolonganmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang

wajah Buyut Panawijen itu, maka dilihatnya betapa duka yang telah

menggores di dinding hatinya. Wiraprana adalah anak satu-satunya.

Dan kini anak itu mati.

Mahisa Agni hampir tidak dapat menahan hatinya ketika Buyut

tua itu berkata, “Angger. Sepeninggal Wiraprana, maka

perkenankanlah aku mengambil kau sebagai gantinya. Aku ingin

menumpang kebanggaan Empu Purwa yang telah memiliki seorang

anak laki-laki yang mengagumkan. Kalau kau sudi Ngger, jangan

kau rubah kebiasaanmu berkunjung ke rumahku. Rumah itu kini

menjadi rumahmu pula.

“Terima kasih,” desis Mahisa Agni. Tetapi ia tidak dapat

meneruskan kata-katanya. Hatinya menjadi bertambah pedih, sakit

dan pahit. Ia harus menghadapi persoalan-persoalan yang tak akan

dapat dilupakannya sepanjang hidupnya.

Ki Buyut Panawijen itu pun menjadi semakin suram. Terasa

betapa ia berusaha untuk menguasai perasaannya. Dengan suara

yang hampir tidak terdengar ia berkata, “Akhirnya hal ini terjadi.

Wiraprana pernah berkata kepadaku, kalau Kuda Sempana

mendapat kesempatan untuk yang ketiga kalinya, maka ia pasti

akan dibunuhnya. Ternyata yang dikatakannya itu benar-benar telah

terjadi.”

Kembali pendapa itu menjadi sepi. Isak perempuan tua yang

duduk di samping Mahisa Agni menjadi semakin jelas. Dan Ki Buyut

Panawijen pun kemudian menyeka matanya yang menjadi basah

pula,

“Sebuah bencana telah menimpa padukuhan ini,” desah Ki Buyut

Panawijen, “hanya karena di padukuhan ini dilahirkan seorang anak

muda yang bernama Kuda Sempana.”

Tak seorang pun yang menyahut. Wajah Witantra kini tidak lagi

tampak menyala-nyala. Bahkan kemudian matanya pun menjadi

redup. Ken Arok duduk tepekur sambil menggores-gores lantai

dengan kuku-kukunya. Sedang emban pemomong Ken Dedes yang

tua itu, masih mencoba menguasai tangisnya. Sekali-sekali

diusapnya dahi Mahisa Agni yang menjadi bertambah pucat.

“Angger,” kemudian Ki Buyut Panawijenlah yang memecahkan

kesepian itu, “biarlah aku pulang dahulu membawa Wiraprana.

Mayat itu akan aku rawat dan akan merupakan peringatan bagi kita,

bahwa seorang anak muda yang dilahirkan di tanah ini telah

menyebabkan sebuah bencana bagi tanah kelahirannya.”

Mahisa Agni mencoba untuk bangkit, tetapi terasa punggungnya

masih sakit, sehingga Ki Buyut Panawijen itu menahannya, “Jangan

Ngger. Tidak usah Angger bangun. Beristirahatlah. Dan lekaslah

menjadi sembuh.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Desahnya, “Sayang.

Aku tidak dapat turut merawat jenazah itu.”

“Sudahlah Ngger,” sahut Ki Buyut, “kau sendiri terluka.

Berbaringlah.”

Mahisa Agni menggeleng. Katanya perlahan-lahan, “Ken Arok.

Tolonglah aku. Aku ingin melihat wajah Wiraprana untuk yang

terakhir kalinya.”

Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Katanya, “Apakah tidak

lebih baik kau tetap berbaring di tempatmu?”

Sekali lagi Mahisa Agni menggeleng “Tidak tolonglah aku turun

ke halaman.”

Ken Arok tidak dapat mencegahnya lagi. Dengan hati-hati,

dipapahnya Mahisa Agni turun ke halaman, untuk melihat wajah

sahabatnya terakhir kalinya. Witantra dan emban tua itu pun tanpa

sesadarnya ikut juga berdiri dan berjalan mengiringkannya turun ke

halaman.

Di samping tubuh Wiraprana yang terbaring diam, Mahisa Agni

menekurkan kepalanya. Alangkah pedih hatinya. Sahabatnya itu

telah pergi mendahuluinya.

Tiba-tiba dada Mahisa Agni itu tersentak. Ia melepaskan Ken

Dedes, karena mencintai Wiraprana. Sekarang Wiraprana telah mati

jadi bagaimanakah dengan gadis itu? Namun kembali wajahnya

terkulai lemah. Ken Dedes telah pergi jauh. Jarak Panawijen sampai

ke Tumapel adalah jarak yang sama sekali tidak berarti bagi Mahisa

Agni. Tetapi ia rasa-rasanya, Ken Dedes yang telah berada di

Tumapel itu tak akan dapat dicapainya.

Mahisa Agni itu pun kemudian menggigit bibirnya. Kini ia dapat

merasakan pula, betapa Witantra menyesali kejadian itu seperti

penyesalan yang lama-lama timbul di dalam hatinya. Seandainya,

ya, seandainya Ken Dedes tidak pernah dilepaskannya kepada

Wiraprana, apakah peristiwa seterusnya akan berbeda? Seperti

pikiran Witantra itu pula, seandainya Mahendra tidak dihalanginya,

maka Kuda Sempana tidak akan mendapat kesempatan untuk

melakukan perbuatan yang terkutuk ini.

Namun semuanya telah terjadi. Yang lewat biarlah lewat, tetapi

bagaimana yang akan datang?

Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Ki Buyut Panawijen

berkata, “Angger, biarlah mayat ini aku bawa pulang.”

Mahisa Agni mengangguk lemah. Namun betapa pun juga, ia

tidak dapat membendung gelora perasaannya. Terasa setetes air

menitik dari matanya yang suram.

“Silakan Ki Buyut,” desis Mahisa Agni perlahan sekali.

Ki Buyut itu pun kemudian mengangkat tubuh anaknya yang

telah membeku. Beberapa orang cantrik segera membantunya

memanggul jenazah itu kembali ke rumahnya.

“Mengerikan,” desis Mahisa Agni.

Witantra dan Ken Arok pun memandangi jenazah itu sampai

hilang di balik regol halaman. Sesaat mereka masih terpaku di

tempatnya, seperti membeku pula.

Sekali Mahisa Agni menyeringai menahan pedih di punggungnya

dan pedih di hatinya. Kemudian katanya, “Tolonglah aku ke dalam

bilikku Ken Arok.”

Ken Arok dan Witantra tersadar dari angan-angannya.

Dipapahnya Mahisa Agni masuk ke dalam biliknya. Witantra dan

emban tua itu pun masih saja berjalan mengiringi mereka.

Ketika Mahisa Agni itu berbaring diambilnya, terasa perasaan

yang asing menyentuh jantungnya. Bilik ini telah lama

ditinggalkannya. Tetapi tak sehelai benang pun yang berubah sejak

ia pergi. Bahkan tak sebutir debu pun yang mengotori setiap

perabotnya. Ambennya, glodok tempat pakaiannya, sosok kendi di

sudut dan tlundak lampu pada tiang di sisi bilik itu.

Tetapi bilik itu pun kemudian telah menyeretnya kembali ke

masa-masa yang lewat itu. Ke masa-masa ia hidup bertahun-tahun

bersama-sama dengan seorang gadis yang bernama Ken Dedes dan

seorang sahabat yang hampir setiap hari datang berkunjung

kepadanya, Wiraprana. Sekarang keduanya telah pergi. Hilang dan

tak akan ditemuinya kembali.

Sekali lagi Mahisa Agni berdesah. Dilihatnya Ken Arok, Witantra

berdiri kaku di samping pembaringannya. Dan dilihatnya perempuan

tua itu dengan penuh kecemasan memandanginya.

Wajah-wajah yang hadir di dalam biliknya itu adalah wajah-wajah

baru bagi Mahisa Agni selain emban tua itu. Sepeninggal Wiraprana,

maka hadirlah Ken Arok dan Witantra itu di dalam bilik ini. Tetapi

bagaimanakah seterusnya dengan mereka itu.

Bilik Mahisa Agni itu pun menjadi sunyi. Yang terdengar hanyalah

tarikan nafas mereka yang terengah-engah Mahisa Agni yang

terbaring itu pun kemudian mencoba untuk menenteramkan

hatinya, supaya ia dapat beristirahat. Bukan saja tubuhnya, tetapi

juga perasaan serta angan-angannya.

Tetapi ternyata ia tidak segera dapat melakukannya. Sebab

emban tua itu pun berkata, “Mahisa Agni. Bagaimana dengan Ken

Dedes kemudian?”

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tidak tahu. Aku sudah meminta

kepada Ken Arok untuk mengamat-amatinya. Mudah-mudahan gadis

itu tidak menderita.”

“Aku tidak dapat berpisah dengan gadis itu,” desah emban tua

itu, “aku adalah pemomongnya sejak anak itu masih terlalu kecil.”

Mahisa Agni terdiam. Ia tidak tahu, bagaimana memenuhi

permintaan itu. Namun tiba-tiba Witantra itu berkata, “Bibi, apakah

kau pemomong Ken Dedes itu?”

“Ya Ngger,” sahut perempuan itu.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya

kepada Ken Arok, “Adi, biarlah perempuan tua itu ikut ke Tumapel.

Sebelum itu dapat menemui Ken Dedes di manapun, biarlah ia

tinggal bersama keluargaku. Atau keluarga Mahendra.”

Ken Arok memandang Witantra dengan penuh keragu-raguan.

Apakah orang itu berkata dengan jujur? Baru saja ia mengumpatumpat

Mahisa Agni.

Tetapi wajah Witantra menunjukkan kesungguhan hatinya.

Sehingga karena itu maka Ken Arok itu pun mempercayainya.

Meskipun, demikian ia tidak menjawab. Ditatapnya wajah Agni yang

pucat itu, berganti-ganti dengan wajah perempuan yang telah

berkeriput penuh tekanan-tekanan di masa-masa lampau dan

kesuraman di masa kini.

Mahisa Agni pun tidak dapat menentukan jawabnya. Karena itu

maka ia bertanya kepada emban tua itu, “Bagaimanakah Bibi? Bibi

untuk sementara tinggal bersama keluarga Witantra atau keluarga

Mahendra di Tumapel. Setiap kesempatan akan segera dapat

dipergunakan. Bibi dapat bertemu dan selalu melayani Ken Dedes.

Mungkin ada hal-hal yang dapat bibi berikan kepada gadis itu.”

Perempuan tua itu tidak dapat melihat kemungkinan lain yang

lebih baik daripada itu. Karena itu, maka jawabnya, “Aku

sebenarnya tidak ingin menyibukkan keluarga Angger atau keluarga

siapa pun.”

“Kami tidak akan berkeberatan Bibi.”

Akhirnya, maka emban itu pun dengan penuh rasa terima kasih

menerima tawaran Witantra untuk pergi bersama ke Tumapel dan

singgah sementara di dalam lingkungan keluarganya. Mungkin

kesempatan itu akan datang, berada di dekat Ken Dedes kembali

sebagai emban yang telah mengenalnya hampir setiap persoalan

lahir dan batinnya.

Mahisa Agni pun kemudian tidak dapat berbuat lain daripada

melepaskan perempuan tua itu pergi. Dengan penuh harapan

Mahisa Agni berpesan kepada Ken Arok dan Witantra, menitipkan

perempuan tua itu untuk mendapatkan perlindungan mereka.

“Kami akan mencoba,” sahut Ken Arok.

Perempuan tua itu pun kemudian dengan tergesa-gesa

membenahi pakaiannya. Beberapa lembar kain lungset, kemben dan

sepotong kain setagen.

“Aku sudah siap,” katanya kemudian.

“Marilah kita berangkat,” berkata Ken Arok sambil berpaling

kepada Witantra.

Witantra menganggukkan kepalanya. Namun ia melangkah

mendekati Mahisa Agni. Bisiknya, “Agni lupakan kata-kataku. Aku

minta maaf.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Dadanya terasa berdentingan

oleh kata-kata Witantra itu. Karena itu maka ia pun menjawab, “Aku

juga minta maaf kepadamu, kepada Mahendra dan kalau kau

sempat bertemu, kepada Ken Dedes.”

“Marilah kita lupakan persoalan itu,” desis Witantra.

Mahisa Agni tidak menjawab, tetapi ia hanya mengangguk kecil.

“Marilah!” berkata Witantra kemudian kepada Ken Arok.

Mereka pun kemudian bermohon diri. Tetapi tiba-tiba perempuan

itu kembali dan memeluk tubuh Mahisa Agni. Di dalam tangisnya

perempuan itu berkata, “Agni. Lekaslah sembuh. Aku terpaksa pergi

ke Tumapel. Mudah-mudahan aku dapat berbuat sesuatu untuk Ken

Dedes. Beberapa orang cantrik akan merawatmu. Obat-obat yang

ada padaku telah aku tinggalkan.”

Mahisa Agni itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Terasa sesuatu yang semakin menekan di dalam rongga dadanya.

Perpisahan di antara orang-orang yang hampir setiap hari bertemu,

bercakap dan bergurau. Tetapi perempuan ini bukan sekedar orang

asing yang sudah menjadi kerabat dalam satu keluarga. Tetapi

perempuan itu adalah ibunya. Karena terasa betapa sesak

napasnya. Meskipun demikian dipaksanya juga mulutnya berkata,

“Berangkatlah bibi. Marilah kita saling berdoa yang Maha Agung

akan melindungi kita masing-masing.”

Akhirnya tubuh Mahisa Agni yang telah menjadi basah karena air

mata itu dilepaskannya. Perlahan-lahan perempuan tua itu berjalan

meninggalkan pembaringan Agni. Namun sampai di pintu sekali lagi

ia berpaling. Ditatapnya wajah Agni yang pucat. Dan bibir

perempuan itu bergetar-getar, namun tak sepatah kata pun yang

terloncat keluar. Tetapi di dalam hatinya terdengarlah suara yang

riuh, “Anakku. Aku tidak tahu apakah aku masih mempunyai

kesempatan untuk mengambil gadis itu untukmu. Tetapi jalan telah

terlalu jauh.”

Perempuan tua itu pun kemudian lenyap pula dari halaman

rumah Empu Purwa. Meskipun semula ia menolak, namun akhirnya

perempuan itu mau juga naik ke atas punggung kuda dengan

dilayani oleh Ken Arok. Mereka berdua naik di atas satu punggung

kuda. Sedang Witantra dan beberapa orang yang lain, prajurit yang

berwajah kasar namun bermata basah dan beberapa kawannya,

berkuda di belakangnya.

Mereka pergi membelakangi padukuhan yang muram ke kota

yang cerah. Namun di belakang kecerahan wajah kota itu

tersembunyi berbagai noda-noda hitam mengerikan.

Bilik Mahisa Agni pun kemudian menjadi sepi, sesepi hatinya.

Orang-orang yang pernah tersangkut di hatinya, satu-satu telah

meninggalkannya. Wiraprana telah pergi untuk tidak akan kembali

lagi. Ken Dedes telah pergi pula jauh sekali.

“Gadis itu telah pergi sejak lama dariku,” gumamnya seorang diri.

Tetapi ia tidak dapat menghibur dirinya sendiri dengan kata-kata itu.

Kepergian Ken Dedes kali ini tidak diikhlaskannya seperti

kepergiannya yang dahulu. Kepergiannya dari rongga hatinya.

Dan yang terakhir ibunya pun telah pergi. Tetapi ia melepaskan

ibunya dengan penuh harapan. Setidak-tidaknya ibunya akan dapat

menghibur hati Ken Dedes.

Tetapi tiba-tiba hatinya memercik seperti api yang tiba-tiba saja

menyala. Gurunya. ya Empu Purwa sampai sekarang belum juga

pulang. Bagaimanakah kalau gurunya itu kembali? Apakah orang tua

itu akan menjadi marah, ataukah menjadi sedih dan berputus asa?

Apakah Empu Purwa yang sakti itu tidak akan mampu mengambil

putrinya kembali?

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tumapel adalah suatu

negeri yang dikuasai oleh seorang Akuwu lengkap dengan tata

pemerintahan dan alat-alat kekuasaannya. Tunggul Ametung

memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan hanya melawan satu

orang. Empu Purwa. Betapa saktinya gurunya dan dengan dirinya

sendiri sekali pun, bahkan dengan seluruh penduduk Panawijen,

apakah mereka akan dapat melawan Tumapel? Sedang Mahisa Agni

pun tahu, setidak-tidaknya dapat menduga, bahwa di dalam istana

itu pun pasti ada orang-orang sakti, guru-guru dari para prajurit dan

akuwu sendiri. Meskipun mereka orang seorang seandainya tidak

ada yang menyamai kesaktian Empu Purwa, namun mereka akan

dapat bersama-sama melawannya.”

Mahisa Agni pun menjadi bersedih karenanya. Usaha yang dapat

dilakukan untuk membebaskan Ken Dedes menjadi semakin jauh

dari otaknya. Tetapi, betapa pun juga ia masih mengharap, gurunya

segera datang kembali.

“Kalau guru tidak segera kembali,” desisnya, “apabila lukaku

telah menjadi agak baik, aku akan pergi mencarinya.”

Mahisa Agni itu terkejut ketika seorang cantrik menjenguknya di

ambang pintu. Cantrik yang telah agak tua itu dengan iba

memandangnya sambil berkata, “Adakah sesuatu yang perlu aku

kerjakan Ngger?”

“Tidak Paman,” sahut Agni.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya masih dari luar

pintu, “Emban tua, pemomong Ken Dedes minta aku merawatmu.”

“Terima kasih, Paman. Kalau perlu, aku akan memanggilmu.”

“Baik. Aku tidak akan berada terlalu jauh dari bilik ini.”

Orang tua itu pun kemudian pergi meninggalkannya. Kembali

bilik itu menjadi sepi, sesepi hatinya.

Dalam pada itu, di jalan yang menuju ke Tumapel, Tunggul

Ametung dan Kuda Sempana memacu kudanya cepat sekali. Mereka

sama sekali tidak menghiraukan, bahwa beberapa pasang mata

penduduk Tumapel memandangi mereka itu dengan pertanyaan

yang memukul-mukul dada.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” desis salah seorang dari

mereka.

Kawannya berbicara menggelengkan kepalanya. “Entah,”

jawabnya. Namun mata mereka tetap memancarkan keheranan

mereka.

Kuda Sempana masih berpacu di depan sambil menjagai Ken

Dedes yang belum juga sadar. Hanya sekali ia menggeliat, namun

kemudian ia menjadi pingsan kembali.

Kuda Sempana itu pun menjadi cemas melihat keadaan Ken

Dedes itu. Karena itu ia berpacu lebih cepat lagi. Ia ingin segera

sampai ke Tumapel dan dengan demikian maka Ken Dedes itu

segera dapat dirawatnya.

Akuwu dari Tumapel, Tunggul Ametung yang berkuda di

belakang Kuda Sempana, memandang debu yang mengepul di

bawah kaki kuda yang berpacu di hadapannya dengan pandang

yang kosong. Tiba-tiba otaknya dirayapi oleh berbagai pertanyaan

yang tumbuh di sepanjang jalan.

Akuwu itu melihat apa yang telah terjadi di Panawijen. Dan ia

melihat pula, apa yang telah dilakukan oleh Kuda Sempana.

Dihubungkannya apa yang telah dikatakan oleh Kuda Sempana

sebelum mereka berangkat berburu, dan apa yang telah

dilakukannya di rumah gadis itu. Dirasakannya apa yang telah

dilakukan oleh Witantra dan kemudian oleh Ken Arok.

Tunggul Ametung itu pun kemudian menggeram. Tiba-tiba ia

melihat bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap Kuda Sempana.

Karena itu, maka timbullah niatnya untuk melihat keadaan

sewajarnya. Kalau nanti ia sampai di Tumapel, akan dipanggilnya

Witantra, Ken Arok, Kuda Sempana dan Ken Dedes itu. Bahkan

kalau perlu akan dipanggilnya kakak Ken Dedes yang terluka karena

anak panah prajuritnya yang kemudian telah dibunuh oleh Ken Arok

hanya dengan sebuah pukulan di dadanya.

“Hem,” gumamnya, “anak yang diberikan oleh Lohgawe padaku

itu benar-benar luar biasa. Namun ternyata kakak gadis yang

dibawa oleh Kuda Sempana itu pun luar biasa pula.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Mulutnya kemudian

berkomat-kamit, namun matanya tiba-tiba menjadi tajam.

Dipandanginya punggung Kuda Sempana, dan dilihatnya gadis di

tangan Kuda Sempana itu. Sekali lagi dada Tunggul Ametung

berdesir. Gadis itu adalah gadis yang aneh di dalam pandangan

matanya. Cantik bagai bidadari. Tidak. Meskipun Ken Dedes itu

cantik, namun ia adalah seorang gadis biasa. Seperti gadis-gadis

lain yang cantik pula. Namun kecantikan Ken Dedes itu bukannya

menakjubkan. Tetapi ada yang lain menarik perhatiannya. Tunggul

Ametung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku tidak tahu,” gumamnya seorang diri, “Aku tidak tahu.

Apakah yang aneh pada gadis itu?”

Hati Tunggul Ametung itu tiba-tiba terguncang ketika ia melihat

Kuda Sempana membelok pada suatu tikungan. Dilihatnya gadis itu

seperti sebuah golek yang indah. Namun dari tubuh gadis itu tibatiba

dilihatnya seakan-akan nyala yang memancar daripadanya.

Mata Tunggul Ametung pun terbelalak pula karenanya. Karena

nyala yang dilihatnya itu. Karena itu maka segera ia berpacu lebih

cepat. Tunggul Ametung itu kini ingin berkuda di samping Kuda

Sempana.

Tetapi ketika Tunggul Ametung itu telah berada di samping Kuda

Sempana dan diamatinya tubuh Ken Dedes, maka akuwu itu

menjadi heran. Tubuh itu benar-benar tubuh seorang gadis biasa.

Bahkan terlalu pucat.

Tunggul Ametung menggelengkan kepalannya.

“Apakah aku sudah menjadi gila?” desahnya di dalam hati “aku

benar-benar melihat nyala pada tubuh itu. Bersinar seperti bara api

baja. Tetapi sinar itu sekarang lenyap. Hem. Apakah yang aku lihat

hanyalah pantulan sinar matahari?”

Tetapi akuwu itu tidak menemukan jawabannya. Karena itu ia

menjadi bingung dan berdebar-debar. Diketahuinya bahwa Ken

Dedes itu adalah putri seorang pendeta. Dan tiba-tiba ia menjadi

cemas.

Perjalanan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan

Istana Tunggul Ametung Kuda Sempana yang masih belum

berkeluarga itu pun tinggal pula di dalam barak di samping istana

bersama beberapa orang kawannya. Karena itu, maka Kuda

Sempana menjadi bimbang. Apakah Ken Dedes itu akan dibawa ke

sana? Apakah dengan demikian tidak akan menimbulkan persoalan

pula dengan beberapa orang kawannya mengenai gadis yang cantik

itu? Karena itu, maka ia menjadi

bimbang, sehingga lari kudanya pun

menjadi semakin lambat.

“Kenapa?” bentak Tunggul Ametung

tiba-tiba.

Kuda Sempana terkejut mendengar bentakan itu. Tetapi segera

ia menjawab, “Apakah gadis ini hamba bawa ke barak hamba?”

“Bawa dia ke istana,” jawab Tunggul Ametung.

Kuda Sempana tersenyum Akuwu Tumapel benar-benar berbaik

hati kepadanya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk

menyingkirkan gadis itu dan menyembunyikannya dari ayahnya di

istana. Ia yakin bahwa Empu Purwa dan Mahisa Agni tidak akan

berani mengganggunya seandainya gadis itu berada di istana.

Tetapi Kuda Sempana itu sama sekali tidak tahu apa yang tersimpan

di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung. Kebimbangan, kecemasan,

ketakjuban dan perasaan-perasaan yang bercampur baur. Bahkan

akuwu itu hampir-hampir merasa bahwa perasaannya telah tidak

dapat dikendalikan lagi.

Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian

langsung masuk ke halaman dalam Istana Tumapel. Beberapa orang

pelayan, juru taman dan emban terkejut bukan kepalang. Kenapa

tiba-tiba Akuwu telah kembali tanpa tengara apa pun. Baru pagi tadi

mereka berangkat. Dan agaknya Akuwu tidak bermalam di

perburuan. Biasanya apa bila akuwu itu kembali, beberapa orang

telah mendahuluinya dan membunyikan tengara kentongan dan

sangkakala. Tetapi tiba-tiba saja akuwu telah berada di halaman

bersama dengan Kuda Sempana yang memapah seorang gadis yang

pingsan.

“Bawa ia masuk!” perintah Akuwu itu kemudian.

Dengan hati-hati Kuda Sempana turun dari kudanya, dan

membawa masuk ke istana dalam.

Beberapa orang pelayan yang lain memandangi mereka itu

dengan penuh pertanyaan di dalam dada mereka. Sehingga karena

itu mereka bahkan berdiri saja dengan mulut ternganga.

Mereka terkejut bukan buatan ketika mereka mendengar Akuwu

Tumapel berteriak dengan lantangnya, “He, kenapa kalian diam saja

seperti patung? Cepat, bersihkan bilik untuk gadis itu. Cepat!”

Para emban menjadi bingung. Cepat mereka berlari

berhamburan. Tetapi mereka belum tahu bilik mana yang harus

dibersihkannya sehingga dengan demikian mereka hanya berlarilarian

saja berputar-putar.

“He, kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi gila?” teriak Akuwu

Tumapel itu keras. “Bersihkan bilik untuk Ken Dedes!”

Para emban menjadi semakin takut. Namun mereka masih juga

belum tahu, bilik manakah yang harus dibersihkannya. Seorang

yang paling tenang di antara mereka itu mencoba memberanikan

diri bertanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, katanya gemetar,

“Tuanku, bilik manakah yang harus hamba bersihkan?”

Akuwu itu pun tiba-tiba menyadari pula kebingungan para emban

itu. Tetapi ia pun menjadi bingung pula sendiri. Bilik yang mana?

Tiba-tiba akuwu itu menjawab, “Sentong tengen!”

Bukan main terkejutnya Kuda Sempana. Ken Dedes itu harus

dibaringkan di dalam bilik kanan istana Akuwu Tunggul Ametung di

Tumapel. Bilik yang selama ini belum pernah terisi. Akuwu sendiri

tidak pernah tidur di dalam bilik itu. Sebenarnyalah demikian

kebiasaan yang harus dilakukan. Bilik itu akan selalu kosong

sebelum Akuwu Tumapel mempunyai sisihan, seorang permaisuri

yang akan mendampingi akuwu itu dalam memerintah negerinya.

Karena itu maka Kuda Sempana itu pun menjadi gemetar dan

bertanya-tanya di dalam hati, “Apakah artinya ini?”

Para emban pun terkejut pula mendengar perintah itu. Namun

segera mereka menjadi gembira. Berlari-larian mereka pergi ke

sentong tengen dan membersihkannya dengan penuh hormat.

Ditaburnya pembaringan di sentong itu dengan bunga dan

dialasinya dengan kain paling baik di dalam istana itu. Salah seorang

dari mereka berbisik perlahan-lahan, “Kau mengenal gadis itu?”

Yang ditanya menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak gembira

seperti kawan-kawannya.

“Kenapa kau bersedih?” bertanya kawannya. Tetapi emban yang

satu itu tetap berdiam diri.

“He,” goda yang lain, “apakah kau ingin dibaringkan di

pembaringan ini?”

Emban yang diganggu itu menjawab serta-merta, “Aku tidak gila.

Tetapi kalian sudah melihat gadis itu?”

“Kenapa?”

“Kalian melihat pakaian yang dipakainya? Kain lurik kasar dan

bersanggul urai?”

“Oh,” tiba-tiba yang mendengar menjadi kecewa pula, sehingga

mereka berdesis, “Seorang gadis dari pedesaan saja?”

Para emban itu pun kemudian saing berpandangan. Kalau gadis

itu hanya gadis pedesaan, maka apakah sudah sepantasnya

dibaringkan di sentong kanan ini? Tetapi mereka tidak berani

menanyakan kepada Tunggul Ametung. Mereka tinggal menjalankan

perintah itu. Mereka membersihkan bilik sebelah kanan.

Tetapi yang paling berdebar-debar di antara semua orang itu

adalah Kuda Sempana. Ia sama sekali tidak tahu, apakah maksud

sebenarnya dari Akuwu Tunggul Ametung dengan perintahnya itu.

Meskipun demikian Kuda Sempana tidak berani bertanya pula

kepada Akuwu Tumapel, seperti para emban itu juga. Karena itu,

maka dengan hati yang penuh pertanyaan, Ken Dedes itu

dibawanya ke bilik istana yang sebelah kanan.

Namun ternyata Akuwu Tumapel itu terkejut pula ketika ia sadar

akan perintahnya sendiri. Perintah itu seakan-akan demikian saja

meluncur dari mulutnya. Ketika mereka telah sampai di muka bilik

itu, bahwa bilik yang sebelah kanan ini adalah bilik yang

dikosongkannya. Bilik yang hanya akan dipakai kelak apabila Akuwu

sudah bepermaisuri. Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia memerintahkan

membawa Ken Dedes ini ke bilik itu. Akuwu itu pun menjadi

berdebar-debar pula. Ia seperti Kuda Sempana. Sesaat ia

termenung dan berdiri saja mematung. Dibiarkannya Kuda Sempana

berdiri dengan penuh kebimbangan di muka bilik itu.

Akuwu itu terkejut ketika seorang emban berkata kepadanya,

“Ampun Tuanku. Bilik kanan sudah hamba siapkan bersama-sama.”

“He,” sahut Akuwu itu, “kenapa bilik itu?”

Emban itu menjadi berheran-heran. Bukankah Akuwu

memerintahkan membersihkan sentong tengen. Para emban itu pun

kemudian saling berpandang-pandangan dengan penuh kecemasan.

Mereka melihat wajah Tunggul Ametung menjadi tegang. Sekali

ditatapnya wajah Ken Dedes yang pucat itu. Kini dilihatnya gadis itu

bergerak-gerak. Karena itu maka Akuwu itu pun menjadi semakin

bingung. Gadis itu harus segera dibaringkan untuk mendapat

perawatan.

Kuda Sempana menjadi bingung pula. Terasa di tangannya Ken

Dedes mulai menggeliat. Dan terdengar ia merintih perlahan-lahan.

Sehingga tanpa sengaja ia bertanya, “Ampun Akuwu, di mana gadis

ini harus aku letakkan?”

Akuwu Tumapel menjadi gelisah. Karena itu, maka sekali lagi

tanpa dipikirkannya, ia berkata, “Baringkan di bilik itu!”

Kuda Sempana tidak sempat berpikir lagi. Ken Dedes luluh mulai

ber-gerak-gerak semakin banyak. Karena itu maka segera ia masuk

ke sentong tengen, dan dibaringkannya Ken Dedes di pembaringan

yang telah menjadi bersih dan ditaburi oleh bunga-bunga yang

baunya dapat memberikan ketenangan, sedap.

Ken Dedes yang dengan perlahan-lahan diletakkan di

pembaringan itu membuka matanya. Dicobanya untuk mengenal

tempat itu. Tetapi ia menjadi bingung. Dan ketika tiba-tiba di

lihatnya wajah Kuda Sempana yang berjongkok di samping, tiba-tiba

Ken Dedes itu menjerit. Sekali lagi ia jatuh pingsan.

Kuda Sempana yang bingung menjadi semakin bingung. Dengan

gelisahnya ia memandangi wajah Akuwu Tunggul Ametung yang

berdiri bersilang tangan di dada.

“Gadis ini pingsan lagi Tuanku,” desah Kuda Sempana.

Adalah di luar kehendak Akuwu Tunggul Ametung sendiri, bahwa

seakan-akan menjadi kewajibannya untuk membantu Kuda

Sempana menolong gadis itu. Tunggul Ametung adalah seorang

akuwu yang berkuasa. Yang berbuat menurut apa saja yang

dikehendakinya. Namun kini tiba-tiba ia menjadi gelisah pula. Dan

dengan tergopoh-gopoh ia berjalan keluar sambil berteriak

memanggil, “He emban, kemari!”

Emban yang duduk berjajar-jajar di ruangan itu terkejut

mendengar teriakan akuwu itu. Seorang emban yang tertua datang

menghadap sambil menyembah, “Hamba Tuanku.”

“cepat, panggil Bibi Puroni. Suruh ia merawat gadis yang pingsan

itu!”

“Hamba Tuanku,” sembah emban itu sambil bergeser

meninggalkan ruangan itu.

Sesaat kemudian datanglah seorang dukun tua. Seorang

perempuan yang berwajah sayu namun penuh ketenangan seakanakan

di dalam wajah itu terpendam berbagai macam pengalaman

hidup yang telah ditempuhnya hampir delapan puluh tahun.

“Bibi,” berkata Akuwu Tunggul Ametung ketika orang tua itu

telah datang, “di dalam bilik itu ada seorang gadis yang pinggan.

Bukan karena sakit dan bukan karena sebab-sebab lain. Tetapi ia

pingsan karena ketakutan. Nah, rawatlah. Tenangkanlah dan

terserah apa saja yang akan kau lakukan atasnya.”

Perempuan tua itu, yang bernama Puroni, menyembah sambil

berkata, “Hamba Tuanku. Kalau berkenan di hati Tuanku, biarlah

aku mencobanya. Di manakah gadis itu sekarang?”

“Di situ. Di dalam bilik itu,” jawab Akuwu Tumapel sambil

menunjuk sentong kanan.

Perempuan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya pintu

sentong tengen yang menganga itu. Namun yang dilihatnya hanya

sebuah rana yang menakbiri pembaringan di dalam sentong itu.

“Masuklah! Jangan ditunggu anak itu mati!” teriak Akuwu

Tunggul Ametung.

Perempuan tua itu sama sekali tidak terkejut. Telah berpuluh,

bahkan beratus dan beribu kali ia mendengar Akuwu Tunggul

Ametung membentak-bentak dan berteriak-teriak. Karena itu maka

ia masih tetap tenang. Sambil menyembah ia menyahut, “Baiklah

Tuanku. Biarlah aku mencobanya.”

Bibi Puroni itu pun kemudian pergi ke sentong tengen. Ia terkejut

ketika dilihatnya Kuda Sempana ada di dalamnya.

“Oh,” desahnya, “apakah Angger sedang menungguinya?”

“Ya,” sahut Kuda Sempana pendek.

Perempuan itu menjadi semakin heran. Apakah sebenarnya yang

telah terjadi sehingga Akuwu Tumapel itu benar-benar seperti orang

yang bingung sehingga dibiarkannya Kuda Sempana berada di

dalam bilik itu? Dan dibiarkannya berlaku di luar kebiasaan? Seharihari

di saat-saat yang lewat.

Betapa ia menahan diri, namun ia tidak dapat menahan lagi

keinginannya untuk mengetahui serba sedikit, apakah yang telah

dilakukan oleh akuwu atau oleh Kuda Sempana terhadap gadis itu,

atau siapakah sebenarnya gadis yang pingsan itu. Karena itu maka

katanya bertanya, “Angger Kuda Sempana. Siapakah gadis yang

pingsan itu, dan kenapakah mula-mula sebabnya, sehingga ia

menjadi ketakutan?”

“Gadis itu bakal istriku Nyai Puroni,” jawab Kuda Sempana.

Sekali lagi Nyai Puroni itu terkejut. Kalau gadis itu benar-benar

bakal istri Kuda Sempana, kenapa ia dibaringkan di sentong tengen

istana Tumapel?”

Bibi Puroni itu menjadi semakin bingung. Sepengetahuannya

Kuda Sempana tidak lebih dari seorang pelayan dalam. Meskipun

pelayan dalam yang paling dekat dengan akuwu. Tetapi apakah

demikian besar pengaruhnya, sehingga bakal istrinya diizinkan

menempati sentong tengen itu.

Tetapi Nyai Puroni tidak sempat untuk memikirkannya terlampau

lama. Ia harus segera menolong gadis itu. Karena itu, maka ia tidak

lagi menghiraukan Kuda Sempana. Apakah gadis itu calon istrinya,

atau apapun, namun sudah menjadi kewajibannya untuk

menolongnya.

Nyai Puroni itu pun kemudian berjongkok di samping

pembaringan Ken Dedes. Perlahan-lahan dirabanya tangannya,

dadanya dan kemudian keningnya. Telah berpuluh bahkan beratus

kali ia menolong orang-orang yang pingsan seperti itu. Sehingga

segera ia dapat menentukan, apakah yang harus dilakukan.

Diambilnya beberapa macam ramuan obat-obatan dari sebuah

bungkusan dan dengan ragu-ragu ia berkata kepada Kuda

Sempana, “Angger, apakah ada seorang emban yang dapat

membantu aku?”

“Ya. ya Nyai. Biarlah aku panggilkan emban itu,” sahut Kuda

Sempana dengan gugup.

Ketika Kuda Sempana itu keluar dari ruangan, dilihatnya Akuwu

Tunggul Ametung sedang duduk merenung. Ditundukkannya

kepalanya sedang kedua tangannya menyangga keningnya.

“Tuanku,” berkata Kuda Sempana perlahan-lahan.

Akuwu Tumapel mengangkat wajahnya. Ditatapnya Kuda

Sempana dengan pandangan yang aneh.

“Apa,” bertanya akuwu itu lemah.

“Nyai Puroni memerlukan seorang emban untuk membantunya.”

“Oh,” Akuwu itu terkejut. Kemudian sambil menunjuk seorang

emban ia berkata, “Masuklah!”

Dengan tergopoh-gopoh emban itu segera masuk ke dalam

sentong kanan itu. Kuda Sempana pun segera mengikutinya pula.

Namun demikian ia sampai di ambang pintu, maka segera Bibi

Puroni berkata, “Tunggulah di luar Ngger.”

“Oh,” desah Kuda Sempana, “kenapa?”

“Aku sedang mengobatinya.”

“Ya. Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya akan

menungguinya.”

“Jangan, tidak baik. Gadis ini belum istrimu.”

“Kenapa tidak baik?”

Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya

berdesah “Aku sedang akan mengurut seluruh tubuhnya. Tunggulah

di luar. Gadis ini tidak akan berkurang cantiknya.”

“Lakukanlah. Biarlah aku masuk.”

“Jangan,” sahut Bibi Puroni, “kalau Angger masuk, aku tidak akan

mengobatinya.”

“Jangan mengada-ada, Nyai!” benak Kuda Sempana.

Tetapi Kuda Sempana tidak sampai meneruskan katanya. Tibatiba

ia terkejut ketika didengarnya Akuwu Tumapel membentaknya

lebih keras, “Kuda Sempana, apakah kau sudah gila? Jangan

masuk!”

Kuda Sempana berpaling. Dipandanginya wajah Akuwu Tumapel,

dan ia menjadi semakin terkejut karenanya. Wajah itu menjadi

merah menyala, seakan-akan sedang memancarkan kemarahan

yang meluap-luap. Kuda Sempana telah mendengar beribu kali

Tunggul Ametung berteriak dan membentak. Namun kali ini Akuwu

itu benar-benar sedang marah, Meskipun Kuda Sempana sama

sekali tidak tahu, kenapa akuwu itu tiba-tiba menjadi marah.

Dengan demikian, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berani lagi

membantahnya. Dengan kepala terkulai lemah, ia duduk dilamai di

samping pintu bilik kanan itu.

Ia mengangkat wajahnya, ketika ia mendengar sebuah desah

lirih. Desah Ken Dedes. Namun ia masih juga berdebar-debar ketika

desah itu kembali diam. Kuda Sempana benar-benar seperti seorang

ayah yang untuk pertama kali menunggu bayinya yang akan lahir.

Wajahnya menjadi tegang dan pucat. Keringat dingin mengalir

dengan derasnya di segenap tubuhnya.

Akhirnya Kuda Sempana tidak sabar lagi. Segera ia beringsut

untuk memasuki bilik itu. Namun kembali ia berhenti ketika

didengarnya sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung berteriak, “Kuda

Sempana, kalau kau memasuki ruangan itu, aku bunuh kau!”

Kuda Sempana benar-benar menjadi berdebar-debar mendengar

ancaman itu. Bukan karena ia takut, namun ia merasakan sesuatu

keanehan pada nada suara Akuwu Tunggul Ametung itu. Kuda

Sempana sama sekali tidak dapat meraba, apakah sebenarnya yang

sedang dipikirkan oleh Tunggul Ametung.

Apalagi ketika Tunggul Ametung itu kemudian berkata, “Kuda

Sempana, daripada kau menunggu dengan gelisah di muka bilik itu,

tinggalkanlah ruangan ini. Kembalilah ke barakmu, dan tunggulah di

sana sambil beristirahat.”

Kuda Sempana memandang wajah Akuwu Tumapel itu dengan

hampir tak berkedip. Dicobanya untuk mengerti kata-kata itu,

namun semakin direnungkannya, maka dadanya menjadi semakin

ber-debar-debar.

Ketika Kuda Sempana belum beringsut dari tempatnya, maka

sekali lagi Tunggul Ametung itu berkata, “Tinggalkan Kuda

Sempana! Tinggalkan! Tinggalkan! Kau dengar?”

Wajah Kuda Sempana menjadi tegang. Dicobanya untuk

menjawab kata-kata itu, katanya, “Akuwu. Kalau Akuwu tidak

berkenan aku di sini, biarlah gadis aku bawa ke dalam barak

hamba.”

Wajah Tunggul Ametung yang merah, menjadi semakin

membara. Sekali ia meloncat berdiri dan sambil menunjuk pintu

keluar ia berteriak, “Keluarlah lewat pintu ini, atau kau tidak akan

dapat keluar sendiri untuk seterusnya!”

Terasa sesuatu bergelora dengan dahsyatnya di dalam dada

Kuda Sempana. Ia sama sekali tidak dapat meraba, apakah yang

tersimpan di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung itu. Namun ia kini

menyadari bahwa Akuwu Tunggul Ametung benar-benar sedang

marah atau sedang menjadi bingung. Sehingga dengan demikian,

maka tak ada lain yang dapat dilakukan kecuali menuruti perintah

itu.

Maka Kuda Sempana itu pun membungkukkan kepalanya sambil

menyembah.

“Baik Tuanku,” katanya. Terdengar suaranya gemetar, “tetapi

bagaimanakah dengan Ken Dedes?”

Kemarahan Tunggul Ametung itu pun menjadi semakin

memuncak sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi bergetar. Dengan

lantangnya ia berteriak, “Kuda Sempana. Kali ini kesempatan yang

terakhir. Keluar dari pintu ini!”

Kini Kuda Sempana benar-benar tidak berani untuk bertanya lagi.

Perlahan ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan kepala tunduk.

Di luar pintu ia masih berpaling. Tetapi ketika dilihatnya Akuwu

Tunggul Ametung memandangnya dengan wajah yang menyala,

yang maka kembali ia menundukkan kepalanya dan berjalan

meninggalkan ruangan itu.

Betapa hati Kuda Sempana itu menjadi risau. Tiba-tiba ia menjadi

sangat cemas. Ia cemas akan kehilangan Ken Dedes. Sejak semula

telah terkandung tekad di dalam batinya, bahwa ia harus

mendapatkan gadis itu. Ketika gadis itu masih berada di Panawijen

meskipun telah dipertunangkannya dengan Wiraprana, serta

mendapat perlindungan dari Mahisa Agni yang tak dapat

dikalahkannya, namun setiap kali masih juga tumbuh di dalam

hatinya, harapan untuk dapat mengambil gadis itu. Tetapi kini,

ketika Ken Dedes telah berada di Tumapel, maka ia menjadi sangat

cemas, melampaui masa-masa yang lalu. Gigi Kuda Sempana itu

gemeretak ketika ia sampai pada sebuah pikiran, “Apakah Akuwu

akan membatalkan niatku ini? Apakah Ken Dedes seterusnya akan

tinggal di dalam istana?”

“Tidak!” Kuda Sempana itu menggeram. Namun ia untuk

seterusnya tidak berani lagi mencoba memikirkan apakah yang kirakira

akan terjadi.

Sepeninggal Kuda Sempana Tunggul Ametung menjadi seperti

seorang yang kehilangan keseimbangan. Berbagai perasaan telah

memburunya. Sekali-kali ia mendengar suara dari bilik kanan. Suara

Nyai Puroni dan seorang emban yang membantunya. Sekali-kali ia

melihat emban itu pergi keluar, mengambil air dan beberapa buah

jeruk. Kemudian kembali mereka tenggelam di balik pintu bilik itu.

Tunggul Ametung itu pun kemudian berjalan hilir mudik

sedemikian gelisahnya di muka bilik itu.

Tetapi tiba-tiba ia menggeram, “He, apakah aku sudah gila?

Apakah peduliku atas gadis itu. Biar saja aku mati atau tidak.

Kenapa aku menjadi risau karenanya.”

Tunggul Ametung itu menghentakkan kakinya. Kemudian ia

berjalan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu, masuk ke dalam

biliknya sendiri. Seorang juru panebah terkejut bukan kepalang,

ketika tiba-tiba saja Akuwu Tunggul Ametung sudah meloncat

masuk ke dalam bilik itu. Demikian terkejutnya sehingga ia terloncat

berdiri. Tetapi Akuwu yang masuk ke dalam bilik itu pun terkejut

pula.

“Gila!” teriak akuwu, “apa kerjamu di sini?”

“Ampun Tuanku. Hamba sedang membenihkan pembaringan

Tuanku.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Hamba sangka Tuanku tidak segera kembali berburu.”

“Apa? He!” akuwu tiba-tiba menangkap rambut juru panebah itu

sambil membentak, “Jadi kalau aku tidak ada bilik ini tidak pernah

kau bersihkan?”

“Ampun Tuanku,” juru panebah itu tiba-tiba menangis, “ampun.

Bukan maksud hamba berkata demikian. Maksud hamba, baru nanti

senja akan hamba bersihkan, setelah sehari ini dua kali hamba

bersihkan. Tadi pagi-pagi setelah Tuanku bangun dan siang tadi

ketika hamba membersihkan segenap ruangan ini.”

“Pergi! Pergi!” bentak akuwu yang marah itu.

Demikian rambut juru panebah itu dilepaskan, maka segera ia

terjatuh duduk di lantai sambil menyembah. Kemudian perlahanlahan

ia bergeser dan keluar dari ruangan itu. Tetapi begitu ia

keluar dari pintu bilik, maka segera lenyaplah tangisnya. Bahkan

dengan tersenyum-senyum ia mengumpat, “Bukan main. Baru saja

aku menyisir rambutku.”

Tetapi juru panebah itu tidak berpaling. Ditinggalkannya ruang

dalam kembali ke dalam biliknya jauh di belakang. Di sepanjang

halaman itu ia masih bergumam, “Kalau marah kepadaku, maka

alamat aku akan mendapat rezeki.”

Akuwu yang sedang kebingungan itu segera membaringkan

dirinya di pembaringannya tanpa melepas pakaiannya. Ia

menggeliat ketika terasa sesuatu mengganggu punggungnya.

“Ah,” desahnya sambil bangkit kembali. Kerisnya pun ternyata

masih terselip di antara ikat pinggangnya, sehingga sambil

mengumpat-umpat maka terpaksa akuwu itu bangkit melepas

kerisnya dan diletakkannya di samping bantalnya.

Sambil berbaring Tunggul Ametung mencoba menenangkan

pikirannya. Ia adalah seorang akuwu yang keras hati. Namun

kadang-kadang hatinya selunak malam. Sehingga demikian, maka

akuwu itu seakan-akan tidak mempunyai suatu sikap yang tetap.

Namun sebenarnya Akuwu adalah seorang yang sulit untuk

dimengerti. Bahkan pelayan-pelayannya yang terdekat pun selama

ini masih belum mampu untuk mengetahui, apakah sebenarnya

yang berkenan di hati akuwu itu.

Bahkan suatu ketika Tunggul Ametung sendiri tidak dapat

mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Demikian gelapnya

sehingga Akuwu itu menjadi sangat gelisah. Kehadiran gadis itu

benar-benar telah merampas ketenangan hatinya.

“Apakah Kuda Sempana berkata sebenarnya?” desisnya, dan

diteruskannya, “Melihat keadaan di rumah gadis itu, maka agaknya

Kuda Sempana telah menipuku.”

Tunggul Ametung menggeram, “Aku harus mengetahui keadaan

yang sebenarnya.”

Di bilik kanan Nyai Puroni berusaha sedapat-dapatnya untuk

menolong Ken Dedes yang sedang pingsan. Kakinya yang dingin

seolah-olah membeku telah digosok-gosoknya dengan reramuan

penghangat. Jahe, minyak kelapa dan beberapa macam lagi.

Dahinya, tengkuknya dan perutnya, menurut pengalaman yang

sudah ber-tahun-tahun didapatnya.

Lambat laun gadis itu pun menggeliat. Perlahan-lahan

digerakkannya tangannya, kakinya dan akhirnya sekali lagi Ken

Dedes membuka matanya.

“Eling, Angger,” bisik Nyai Puroni perlahan-lahan.

Ken Dedes terkejut mendengar suara itu. Cepat-cepat ia

berpaling dan dipandangi orang tua yang bersimpuh di sampingnya

itu dengan seksama. Namun alangkah kecewanya. Orang tua itu

bukan embannya. Bukan pemomongnya yang seakan-akan sudah

menjadi ibunya sendiri. Karena itu sekali lagi ia menjadi bingung.

Diamat-amatinya ruangan itu. Ruangan yang belum, pernah,

dilihatnya. Ruangan yang dihiasi dengan berbagai macam bendabenda

yang berharga, dengan dinding papan yang berukir.

“Apakah aku sedang bermimpi?” desis Ken Dedes.

“Tidak Nini. Kau sama sekali tidak bermimpi,” sahut Nyai Puroni.

Sekali lagi Ken Dedes berpaling. Dipandanginya wajah dukun tua

itu. Kemudian katanya, “Siapakah engkau Nyai?”

“Aku adalah seorang dukun, Nini. Dukun yang diminta oleh

Akuwu mengobati Nini. yang sedang pingsan.”

“Akuwu?” ulang Ken Dedes.

“Ya. Nini datang bersama Akuwu dan Kuda Sempana bukankah

demikian?”

“Oh,” Desah gadis itu. Dicobanya untuk mengingat-ingat apakah

yang telah terjadi. Selapis demi selapis dikenangnya kembali apa

yang sudah terjadi itu. Kuda Sempana, akuwu dan beberapa orang

prajurit. Wiraprana dan para cantrik.

“Tiba-tiba Ken Dedes itu memekik kecil. Tangisnya meledak

seperti bendungan pecah. Ditelungkupkannya tubuhnya sambil

menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangannya.

Nyai Puroni tiba-tiba menjadi bingung. Kenapa gadis ini tiba-tiba

menangis. Karena itu maka untuk sesaat Nyai Puroni itu

terbungkam. Meskipun tangannya membelai rambut Ken Dedes

dengan kasih seorang tua, tetapi ia tidak dapat menghiburnya

dengan kata-kata. Ia tidak tahu persoalan apa yang telah terjadi.

Sesaat bilik itu menjadi sepi. Hanya isak Ken Dedes sajalah yang

terdengar. Sekali-kali terdengar desah Ken Dedes menyebut nama

ayahnya, Mahisa Agni dan Wiraprana. Namun tidak sedemikian jelas

sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung karenanya.

Demikian bingungnya sehingga tiba saja ia bertanya, “Nini, kenapa

kau menangis?”

Mendengar pertanyaan itu tangis Ken Dedes menjadi semakin

keras dan bahkan hampir tak dapat ditahannya.

Nyai Puroni yang meskipun tidak tahu sama sekali apa sebabnya

gadis itu menangis, tiba-tiba air matanya telah meleleh pula tanpa

setahunya.

“Diamlah Angger,” Nyai Puroni mencoba menghiburnya,

“Damlah! Jangan menangis, Nini.”

Tetapi Ken Dedes menangis, terus Bahkan semakin lama semakin

keras, sehingga Nyai Puroni menjadi semakin bingung ia tidak tahu

apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia tidak dapat menghibur gadis

itu tanpa mengetahui sebab-sebabnya ia menangis.

Akhirnya, dalam kebingungan Nyai Puroni itu berbisik kepada

emban yang duduk di sampingnya, “Sampaikan kepada Akuwu apa

yang kau lihat.”

Emban itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia pun

bangkit dan berjalan keluar. Namun di ruang dalam itu tak

dilihatnya Tunggul Ametung, sehingga sesaat ia tertegun. Namun

kemudian dari seorang emban yang lain, diketahuinya bahwa Akuwu

Tunggul Ametung berada di pembaringannya.

“Tolong. Sampaikan kepada Akuwu, bahwa gadis itu telah sadar.

Tetapi ia menangis saja,” berkata emban itu.

Emban yang lain menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tidak.

Aku tidak mau masuk ke dalam bilik selagi Akuwu ada di dalamnya.”

“Kenapa?”

Emban itu tidak menjawab.

“Cepat! Sampaikanlah kepada Akuwu!”

Emban itu tidak juga menjawab, tetapi ia menggeleng.

“Kenapa? Kenapa?”

Sekali lagi ia hanya menggeleng saja.

“Oh. Anak bengal,” gerutu emban itu. Dan dengan tergesa-gesa

ia sendiri pergi ke bilik akuwu. Meskipun hatinya berdebar-debar.

Apakah Akuwu tidak akan menjadi marah.”

Emban yang lain, yang tidak mau menghadap akuwu di biliknya

mencibirkan bibirnya. Sambil memandangi bayangan wajahnya yang

buram pada permukaan air di jambangan bunga ia berkata, “Aku

terlalu cantik. Aku tidak mau masuk ke dalam bilik Akuwu. Bukankah

Akuwu belum beristri. Huh, Kalau Akuwu memintaku baik-baik

kepada orang tuaku, entahlah. Mungkin aku akan memikirkannya.”

Emban itu kemudian tersenyum-senyum sendiri.

Emban yang lain dengan gelisah mendekati pintu bilik akuwu.

Meskipun pintu itu tidak tertutup, namun ia sama sekali tidak

berani masuk ke dalamnya. Dengan demikian maka emban itu

hanyalah mondar-mandir saja di depan pintu, kemudian dengan

keringat yang membasahi tubuhnya, ia duduk bersimpuh di hadapan

pintu bilik itu sambil menunggu, juru panebah lewat. Kepada juru

panebah ia akan minta tolong untuk menyampaikannya kepada

akuwu. Juru panebah sudah terlalu biasa masuk ke dalam bilik itu.

Dipanggil atau tidak dipanggil oleh Tunggul Ametung. Tetapi emban

itu hampir tidak pernah masuk ke dalamnya apabila tidak ada

sesuatu yang harus dilakukannya. Mengganti kain selintru atau alas

pembaringan untuk dicuci. Pekerjaannya adalah membersihkan dan

merawat sentong-sentong kiwa, tengen dan sentong tengah.

Tetapi ternyata Akuwu mendengar langkah yang mondar-mandir

itu, sehingga karena itu maka segera ia bangun dan berjalan.

Ketika Akuwu Tumapel itu melihat emban yang menunggui Ken

Dedes, maka dengan tergesa-gesa Tunggul Ametung bertanya

“Bagaimana? Bagaimana dengan gadis itu?”

Emban itu pun kemudian duduk bersimpuh sambil menyembah,

katanya, “Ampun Tuanku. Gadis itu telah sadar. Tetapi sejak tadi

selalu menangis saja. Nyai Puroni tidak berhasil menghiburnya.”

Wajah Akuwu itu pun tiba-tiba menjadi bertambah tegang.

“Baiklah,” katanya, “baiklah, aku segera datang.”

Akuwu Tunggul Ametung segera masuk kembali ke dalam

biliknya, membetulkan letak pakaiannya dan kemudian dengan

tergesa-gesa pergi ke bilik dalam sebelah kanan. Tetapi begitu ia

sampai di pintu bilik, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah

yang. dapat dilakukan terhadap gadis itu. Apakah dapat ia dapat

menenteramkan hati Ken Dedes atau menghiburnya?

Akuwu itu pun terhenti. Direnunginya pintu bilik itu. Tetapi ia

tidak jadi memasukinya. Diurungkannya niatnya untuk mencoba

menemui Ken Dedes. Gadis itu pasti masih mendendamnya. Karena

itu, maka akuwu itu dengan gelisahnya berjalan kembali ke dalam

biliknya. Ketika ditemuinya emban yang memanggilnya tadi, maka

katanya “Biarlah Bibi Puroni mencoba menenangkannya. Aku tidak

perlu datang kepada gadis itu. Aku juga belum kenal dia, dan dia

pun belum mengenal aku. Tidak ada gunanya.”

Emban itu memandangi Akuwu Tumapel dengan penuh

keheranan. Bagaimana mungkin Akuwu Tunggul Ametung itu belum

mengenal gadis itu. Kenapa dengan tiba-tiba gadis itu harus

dibaringkannya di sentong tengen.

Tunggul Ametung yang merasa emban itu memandanginya

dengan tak berkedip, tiba-tiba membentak, “Kenapa kau

memandangi aku sedemikian?”

“Oh. Ampun Tuanku,” emban itu menjadi gemetar. Cepat-cepat

ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan terdengar desahnya,

“Hamba tidak bermaksud apa-apa.”

“Tetapi kenapa kau pandangi saja wajahku? He? Apakah kau

belum pernah melihat aku? Atau barangkali wajahku tiba-tiba saja

menjadi bopeng?”

“Ampun. Ampun Tuanku.”

“Ayo, cepat pergi! Katakan kepada Bibi Puroni!”

“Hamba Tuanku.”

Cepat-cepat emban itu pun pergi memasuki bilik sebelah kanan.

Dijumpainya Ken Dedes masih menangis dan Nyai Puroni masih juga

berusaha menghiburnya.

Ketika Nyai Puroni melihat emban itu datang, mala segera ia

berbisik, “Bagaimana dengan Akuwu?”

“Akuwu tidak mau masuk ke dalam bilik ini. Ternyata Akuwu

belum mengenal gadis ini.”

“Oh,” Nyai Puroni pun terkejut bukan main. Lalu bagaimana

mungkin Ken Dedes dibaringkan di sentong tengen. Nyai Puroni itu

pun menjadi semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Kalau Akuwu

belum mengenal gadis ini, dan gadis ini adalah benar-benar bakal

istri Kuda Sempana, tidak lebih, maka apakah haknya maka ia

dibaringkan di dalam bilik Ini?

Tetapi Nyai Puroni tidak mau mempersoalkannya lagi. Hatinya

dicengkam oleh keibaannya atas gadis itu. Alangkah sedih

tangisnya. Karena itu, maka dicobanya sejauh-jauhnya untuk

menghiburnya. Namun Ken Dedes seakan-akan tidak juga

mendengarnya. Ia masih saja menangis. Lewat air matanya

dituangkannya kepedihan yang menghimpit hatinya. Pedih dan

nyeri. Bahkan sekali-sekali terluncur disela-sela tangisnya, sah yang

dalam.

Nyai Puroni adalah seorang tua yang sudah mengenyam pahit

manis kehidupan. Pernah dijumpainya seribu macam peristiwa.

Pernah dialaminya seribu macam kejadian. Pernah dihadapinya

seribu macam persoalan. Karena itu, maka pengalaman yang

tersimpan di dadanya, seakan-akan telah merupakan suatu

kebulatan dari peristiwa-peristiwa di dunia ini. Peristiwa- peristiwa

yang pernah dilihat, dialami dan dihadapinya. Karena itu, maka

menghadapi Ken Dedes ini pun Nyai Puroni segera dapat merabaraba,

apakah agaknya yang telah mendorong gadis itu kemari dalam

keadaan yang menyedihkan.

“Kuda Sempana,” desisnya di dalam hati, “pasti pokal Kuda

Sempana.”

Tetapi dukun tua itu sama sekali tidak mau mengatakan sesuatu.

Ia masih saja menghibur sedapat-dapatnya. Dibelainya rambut Ken

Dedes yang panjang terurai. Namun Ken Dedes masih saja

menangis.

Akuwu yang kembali ke dalam biliknya pun menjadi semakin

gelisah. Ketika dipandanginya udara di luar biliknya lewat daun pintu

yang terbuka, maka ia terkejut. Di kejauhan dari balik tirai dilihatnya

seseorang membawa pelita menyala di kedua tangannya.

“He, apakah ini sudah malam?”

Barulah akuwu itu sadar, bahwa senja semakin kelam. Beberapa

pelayan istana telah menyalakan lampu-lampu di segenap ruangan.

Namun karena akuwu masih berada di dalam biliknya, maka para

pelayan itu belum berani memasuki ruangan itu. Dinyalakannya saja

lampu-lampu yang lain dan nanti apabila akuwu tidak juga keluar,

barulah seseorang juru panebah harus menyalakan lampu di dalam

bilik itu.

Perlahan-lahan akuwu bangkit dari pembaringannya. Bilik pun

telah mulai gelap pula. Agaknya karena kegelisahan yang

mencengkeram kepalanya, sehingga tanpa disadarinya ia telah

berbaring di keremangan senja. Karena itu cepat-cepat ia

meninggalkan biliknya.

Ketika akuwu yang sedang kebingungan itu melihat seorang

pelayan yang duduk menunggu perintahnya di tangga ruang dalam,

maka segera ia berteriak, “He. Kau kemari!”

Pelayan itu pun mendekatinya sambil berjongkok. Kemudian

duduk bersimpuh di hadapannya

“Sediakan aku air panas!” perintah Tunggul Ametung, “Aku akan

mandi. Sementara itu, perintahkan seorang pelayan dalam untuk

memanggil Witantra dan Ken Arok. Sore ini.”

Pelayan itu menyembah, kemudian ia pun segera meninggalkan

Akuwu yang gelisah itu.

Kepada seorang emban, pelayan itu minta akuwu disediakan air

hangat, sedang kepada pelayan yang lain dimintanya untuk

menyampaikan perintah Akuwu Tunggul Ametung, memanggil

Witantra dan Ken Arok.

Ketika pelayan itu sampai di rumah Witantra, ternyata Witantra

itu baru saja memasuki rumahnya bersama Ken Arok dan seorang

perempuan tua, pemomong Ken Dedes.

Dengan dada berdebar-debar Witantra bertanya kepada pelayan

itu, “Apa perintah Akuwu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi Kakang Witantra diperintah menghadap

sore ini bersama-sama dengan Kakang Ken Arok. Kalau aku temui

Kakang Ken Arak di sini, maka adalah kebetulan sekali.”

“Baru apakah Akuwu ketika kau berangkat?”

“Akuwu sedang duduk termenung, menunggu air hangat,”

“He?”

“Ya. Akuwu baru akan mandi.”

“Ah,” Witantra berdesah. Kemudian katanya, “Baik, Aku akan

segera menghadap. Bersama Adi Ken Arok.”

Pelayan itu pun segera meninggalkan rumah Witantra.

Sementara itu Witantra dan Ken Arok pun beristirahat untuk sesaat,

duduk-duduk sambil minum air hangat.

“Mandilah di sini Adi,” minta Witantra, “kita harus segera

menghadap. Pasti ada sesuatu yang penting.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mungkin akuwu marah.

Marah kepadanya dan marah kepada Witantra. Telah terucapkan,

bahwa akuwu mengancam Witantra untuk menggantungnya besok

di alun-alun.

Ketika mereka berdua telah selesai

berbenah, maka mereka pun segera

minta diri kepada istri Witantra dan

menyerahkan pemomong Ken Dedes itu.

“Biarlah Bibi tua ini untuk sementara

tinggal bersama kita,” berkata Witantra.

Ternyata istrinya pun tidak

berkeberatan.

“Jangan terlalu mengharap aku

segera kembali,” desis Witantra.

Istrinya terkejut. Tampaklah keningnya berkerut. Katanya,

“Apakah Kakang akan mendapat tugas baru?”

Witantra menggelengkan kepalanya lemah sekali. Ditatapnya

wajah istrinya yang masih terlalu muda untuk ditinggalkan. Namun

lebih baik kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang itu

diberitahukannya sekarang. Ia tidak dapat menunda-nundanya

sampai bencana itu datang, apabila akuwu benar-benar akan

melakukan apa yang telah dikatakannya. Mungkin malam ini akuwu

telah memerintahkan beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Mungkin

Kuda Sempana telah bersiap pula di sekitar istana.

“Nyai,” berkata Witantra kepada istrinya, “Akuwu sedang murka

kepadaku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan atasku dan Adi

Ken Arek.”

“Murka?” tubuh istrinya tiba-tiba menjadi gemetar, “Kenapa?”

Witantra menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian gumamnya

kepada diri sendiri, “Aku tidak dapat melakukan perintahnya.”

“Mengapa?”

“Aku tidak sampai hati, Nyai.”

“Apakah perintah yang harus kau lakukan?”

Witantra mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling, dan

ditatapnya wajah perempuan tua yang duduk bersimpuh di sudut

ruangan.

“Bertanyalah kepada Bibi tua itu. Ia akan dapat mengatakan, apa

yang sudah terjadi.”

Istrinya memandang perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu

dengan penuh pertanyaan yang memancar dari wajahnya. Tetapi

sebelum ia berkata sesuatu, maka kembali Witantra berkata,

“Sudahlah Nyai. Biarlah aku menghadap Akuwu. Hati-hatilah di

rumah. Bukankah kau telah mempunyai banyak kawan di sini?”

“Kakang,” sahut istrinya, wajahnya menjadi gelisah dan tiba-tiba

suaranya menjadi gemetar, “apakah kira-kira yang akan terjadi,

Kakang?”

“Aku tidak tahu, Nyai.”

“Oh,” desahnya, “Apakah Kakang tidak segera akan kembali?”

Witantra menggeleng lemah, “Aku tidak tahu. Apakah aku akan

kembali malam nanti, besok, lusa atau waktu-waktu yang tidak

dapat aku katakan.”

“Lalu bagaimana dengan aku?”

Sekali lagi Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Jangan risau

Nyai. Mudah-mudahan aku segera kembali. Namun kemungkinankemungkinan

yang lain harus kau ketahui pula, seperti aku sedang

berangkat berperang. Istri seorang prajurit pasti tahu, apakah yang

mungkin terjadi dengan suaminya. Karena itu jangan berduka.”

“Oh,” tiba-tiba istri Witantra itu menangis. Seorang perempuan

tua, ibu Witantra segera datang menghiburnya, katanya, “Jangan

menangis anakku. Aku dahulu juga menjadi istri seorang prajurit.

Aku juga melihat setiap kemungkinan yang bakal terjadi dengan

suamiku dahulu. Sekarang anakku pun seorang prajurit. Biarlah ia

menyerahkan dirinya atas kekuasaan tangan Yang Maha Agung.

Jangan kau tangisi, supaya perjalanannya tidak meragukannya.”

Istri Witantra itu menjadi agak tenang sedikit. Namun tiba-tiba

muncullah seorang gadis dari ruang dalam. Gadis yang sedang

menginjak masa remaja. Dengan wajah tengadah ia berkata,

“Kakang Witantra, kenapa Kakang tidak dapat melakukan perintah

Baginda?”

Witantra berpaling. Dilihatnya adik istrinya berada di rumahnya

pula. Karena itu segera ia bertanya, “Kapan kau datang?”

“Siang ini.”

“Baik. Adalah kebetulan sekali kau datang. Kawanilah kakak

perempuanmu di sini.”

“Ya Kakang. Tetapi aku ingin tahu, kenapa Kakang tidak dapat

menuruti perintah Akuwu itu?”

“Tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan itu lagi.”

“Tidak. Aku merasa aneh sekali. Bukankah Kakang seorang

prajurit?”

“Benar. Benar Ken Umang. Aku adalah seorang prajurit.”

Ken Umang itu memandangi Witantra dengan tajamnya. Sambil

mengangkat dagunya ia berkata, “Kenapa seorang prajurit terpaksa

menghindari perintah, justru perintah Akuwu sendiri?”

“Jangan berpikir tentang hal itu Umang. Sudahlah, kawanilah

kakakmu. Biarlah besok kau dibelikan selembar kain tenun yang

berwarna merah jambu.”

“Aku tidak ingin selembar kain berwarna merah jambu.

“Nah, apalah yang kau ingini?” sahut Witantra.

“Tak ada. Aku hanya ingin tahu, kenapa Kakang menolak

perintah Akuwu.”

“Jangan tanyakan itu lagi. Mintalah sebuah golek yang besar atau

sehelai selendang sura yang berwarna hijau.”

“Kakang, aku sekarang bukan anak-anak lagi. Lihatlah, aku sudah

dewasa.”

Witantra menggeleng. Kemudian jawabnya, “Belum Umang.

Kesadaranmu, bahwa kau telah mulai dewasa menunjukkan bahwa

kau belum dewasa. Kau masih pantas berkain sabukwala. Jangan

risaukan aku.”

“Kakang,” tiba-tiba terdengar istri Witantra berkata, “pertanyaan

Umang ada benarnya. Apakah sebabnya maka Kakang terpaksa

menolak perintah Akuwu?”

“Bertanyalah kepada perempuan itu sepeninggalku,” sahut

Witantra, “biarlah kini aku berjalan dengan tenang. Apapun yang

akan aku hadapi.”

Nyai Witantra tidak bertanya lagi. Namun gadis yang menjelang

dewasa itu tampak sama sekali tidak puas atas jawaban kakak

iparnya. Tetapi ia pun sudah tidak bertanya lagi. Dipalingkannya

wajahnya memandang perempuan tua yang duduk di sudut

ruangan. Sekali lagi ia mengangkat dagunya, kemudian hilang

masuk ke ruang dalam.

Witantra berjalan meninggalkan halaman rumahnya. Seorang

pelayannya telah membenahi dan menyediakan kuda-kuda mereka.

Dan sesaat kemudian bunyi derap telapak kuda itu pun menghilang.

Nyai Witantra dan ibu mertuanya pun kemudian duduk bersama

dengan pemomong Ken Dedes. Dengan tidak sabarnya segera

mereka bertanya, “Bibi apakah yang telah dilakukan oleh Kakang

Witantra sehingga ia terpaksa mendapat murka?”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia menjawab, “Angger Witantra berpijak pada

rasa perikemanusiaan. Karena itulah maka ketika Angger Witantra

menerima perintah, maka terpaksa Angger Witantra tidak dapat

melakukannya.”

“Apakah perintah itu?”

Emban tua itu pun segera menceritakan apa yang telah dilihatnya

di halaman rumah Empu Purwa. Bagaimana Akuwu Tumapel

menjadi sangat marah kepada Witantra karena Witantra tidak mau

ikut serta dalam perbuatan yang terkutuk itu.

“Jadi Akuwu telah menculik gadis itu?” terdengar ibu Witantra

bertanya.

“Ya.”

“Oh, ampun,” desah ibu Witantra itu. Untunglah bahwa Witantra

tidak mau ikut melakukannya.

Istri Witantra pun kemudian mengerutkan keningnya.

Dipandanginya emban tua itu dengan seksama. Ketika ia

mendengar cerita itu maka seluruh bulu-bulunya serasa telah tegak

berdiri.

“Ngeri,” desisnya

Tetapi kembali Ken Umang keluar dari ruang dalam. Ditatapnya

ketiga perempuan yang duduk melingkar di sudut ruangan itu.

Dengan menyesal ia berkata “Hah, ternyata Kakang Witantra terlalu

perasa. Apakah salahnya kala ia mematuhi perintah itu?”

Semuanya, ketiga perempuan itu terkejut. Serentak mereka

berpaling, dan dilihatnya Ken Umang berdiri sambil menyilangkan

kedua tangannya di dadanya.

“Umang,” berkata Nyai Witantra “Jangan berkata begitu!”

“Kenapa? Bukankah dengan demikian Kakang Witantra tidak

akan mendapat kesulitan?”

“Tetapi itu melanggar perikemanusiaan, Umang.”

“Itu adalah tanggung jawab Akuwu. Bukankah Kakang Witantra

hanya sekedar melakukan perintah?”

“Ia bahkan harus mencegahnya?” desah ibu Witantra.

“Jadi melawan Akuwu?” bertanya Ken Umang.

Ibu Witantra itu pun terdiam. Nyai Witantra dan pemomong Ken

Dedes pun tidak berkata sesuatu. yang terdengar kembali adalah

suara Ken Umang itu, “Sekarang Kakang berada dalam kesulitankesulitan.

Apakah dengan demikian Akuwu menggagalkan niatnya?

Bukankah gadis itu dibawa juga ke Tumapel? Nah, kalau Kakang

Witantra ikut serta dan mematuhi perintah Akuwu, maka ia tidak

akan bersalah. Sebab dengan atau tidak dengan Kakang Witantra,

perbuatan itu telah terjadi.”

“Ken Umang,” jawab ibu Witantra “kau benar-benar kurang dapat

memahami persoalan ini. Kau seorang gadis pula Umang, yang

sebentar lagi, tidak sampai tiga tahun kau telah benar-benar

menjadi dewasa. Apakah yang akan kau katakan, seandainya

peristiwa itu menimpa dirimu?”

“Oh, aku akan berterima kasih. Kalau aku menjadi gadis desa itu,

dan diambil oleh seorang pegawai istana, maka aku akan

berterimakasih. Aku Akan bangga karenanya. Apa lagi kalau diambil

langsung oleh Akuwu sendiri meskipun menjadi seorang selir.

Alangkah senangnya. Dan aku menjadi iri hati karenanya.”

“Umang,” potong kakak perempuannya, “apakah kau sedang

mengigau?”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Dan aku ingin menjadi istri

Akuwu.”

“Juga kalau kau sudah memiliki pilihan hatimu sendiri.”

“Oh. Jadi gadis itu sudah mempunyai bakal suaminya? Seorang

anak Buyut Panawijen, menurut cerita yang aku dengar tadi dari

balik dinding. Buat apa harus memberatkan anak pedesaan itu?

Bukankah lebih berbahagia hidup di kota setidak-tidaknya daripada

menjadi seorang pedesaan yang harus turun ke sawah setiap hari?”

Ibu Witantra mengerutkan keningnya, sedang pemomong Ken

Dedes menarik nafas panjang-panjang. Nyai Witantra sendiri

menundukkah wajahnya. Kata-kata itu benar-benar merupakan

sindiran yang tajam bagi dirinya. Pada masa gadisnya ia pun

memiliki idaman seperti adiknya itu. Ia ingin menjadi seorang istri

dari orang-orang yang memiliki kebanggaan di hari-hari depannya.

Seorang perwira atau. seorang yang kaya raya atau seorang perwira

yang kaya raya. Namun ketika ia telah merasakan kemesraan rumah

tangga, maka terasa beberapa perubahan di dalam jiwanya. Terasa

betapa ia mencintai suaminya lebih dari segala-galanya. Meskipun

seandainya Witantra itu kehilangan semua yang dahulu

dikaguminya, dan bahkan yang mendorongnya untuk menerima

lamaran Witantra, maka Witantra baginya adalah seorang suami

yang baik. Seorang suami yang dicintai dengan sepenuh hati.

Karena itu, maka kini ia pun ikut bersedih bersama suaminya.

Namun ia tidak menyesal bahwa suaminya telah menolak perintah

itu. Bagaimanakah seandainya dirinya sendiri, tiba-tiba kini harus

dipisahkan dengan paksa dari suaminya? Mungkin dahulu ia berpikir

seperti adiknya itu, Ken Umang. Tetapi sekarang tidak. Mungkin Ken

Dedes telah memiliki perasaan cintanya yang jernih sejak mereka

belum berumah tangga seperti cintanya yang sekarang telah

tumbuh di dalam dadanya kepada suaminya. Cintanya kepada lakilaki

itu. Bukan karena Witantra seorang perwira. Namun keserasian,

saling mengerti dan isi mengisi dalam hidup mereka sehari-hari

telah mengikatnya dalam hidup mereka sehari-hari telah

mengikatnya dalam suatu kesetiaan yang belum pernah dimilikinya

di masa-masa gadisnya.

Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat suaminya itu berada di dalam

kesulitan-kesulitan. Kesulitan-kesulitan yang mungkin

membahayakan ketenteraman rumah tangganya itu. Ia, Nyai

Witantra itu kini sama sekali bukan seorang istri yang melihat bulan

yang selalu bersinar terang. Ternyata ia sama sekali bukan seorang

pengecut yang lari di kala kesulitan-kesulitan datang. Sifatnya yang

berkembang itu bahkan telah mendorongnya untuk ikut serta

menanggung apa saja yang akan terjadi atas suaminya. Karena itu

tiba-tiba ia berkata, “Ibu, biarlah aku pergi juga ke istana.”

“He,” ibu Witantra terkejut, “apa yang akan kau lakukan?”

“Aku mempunyai kepentingan dengan Kakang Witantra. Aku

ingin melihat apa yang terjadi.”

“Jangan. Kau tidak mendapat perintah untuk menghadap.

Mungkin kedatanganmu akan menambah murka Akuwu.”

“Apapun yang akan terjadi. Aku ingin melihat penyelesaian atas

Kakang Witantra.”

Ken Umang tiba-tiba memandang wajah kakak perempuannya

dengan pandangan penuh penyesalan. Katanya, “Buat apa

sebenarnya kau pergi ke sana?”

“Ken Umang. Aku sekarang berpendapat lain daripada masamasa

kanak-kanakku. Aku tidak dapat menerima pikiranmu.

Mungkin kau akan mengatakan kepadaku, bahwa biar saja apa yang

terjadi dengan Kakang Witantra. Mungkin kau akan mengatakan

bahwa aku masih muda. Masih mungkin untuk mendapatkan suami

yang lebih baik dari Kakang Witantra. Begitu? Sekarang biarlah

Kakang Witantra menerima hukuman atas kesalahannya? Umang,

mungkin aku dahulu akan berkata begitu. Tetapi sekarang tidak

Umang. Karena itu aku akan pergi.”

“Jangan Nyai,” cegah ibu Witantra, “para penjaga tidak akan

mengizinkan kau masuk ke regol dalam halaman istana.”

“Aku istri Kakang Witantra. Para penjaga mengenal siapa aku.

Dan karenanya mereka akan mengizinkan aku masuk. Sudah

beberapa kali aku masuk ke istana. Akuwu sering benar minta aku

masak untuknya.”

“Ya. Tetapi sekarang suamimu sedang dalam persoalan.”

“Justru karena itu ibu. Biarlah aku pergi.”

Ken Umang menjadi semakin heran. Ia tidak dapat mengerti apa

yang akan dilakukan oleh kakak perempuannya. Meskipun tuduhan

kakaknya atas pikirannya itu terlampau jauh, namun ia tidak

membantahnya, sebab sebagian adalah benar. Namun kemudian ia

berkata, “Urusan itu sebenarnya bukan urusanmu. Tunggulah di

rumah. Aku tidak menganjurkan kau berkhianat atas suamimu.

Namun jangan mengorbankan dirimu tanpa arti.”

“Umang,” wajah Nyai Witantra menjadi merah. Ia menjadi

sedemikian marahnya kepada adiknya itu. Tetapi ibu Witantra

segera berkata tenang kepadanya, “Biarkan adikmu itu. Ia adalah

seorang gadis yang sedang berkembang. Angan-angannya akan

jauh terbang melampaui setiap kenyataan yang dihadapinya. Itulah

sebabnya maka kadang gadis yang seumur itu kehilangan

keseimbangan.”

“Ah,” desah Ken Umang. Namun ia tidak berani berbantah

dengan ibu iparnya. Namun hatinya berteriak lantang, “Ah, orang

tua-tua selalu menganggap anak-anak muda sebagai seorang yang

sedang menempuh masa pancaroba. Mereka menganggap bahwa

kami anak-anak muda selalu tidak waras. Tetapi mereka sendiri

telah menenggelamkan dirinya dalam wawasan yang usang.”

Namun ternyata bahwa istri Witantra itu keras hati untuk pergi ke

istana . Ia menjadi gelisah benar apabila dikenangnya kata-kata

suaminya dan cerita perempuan tua yang dibawa suaminya dari

Panawijen. Karena itu maka akhirnya ia tidak dapat ditahan-tahan

lagi.

“Kalau kau bersikeras untuk pergi Ngger. Hati-hatilah.”

“Ya, Ibu. Aku akan berusaha untuk menjaga diriku dan

mengetahui apa yang akan terjadi dengan Kakang Witantra.

“Nyai,” tiba-tiba perempuan tua yang sejak tadi berdiam diri

mendengarkan setiap pembicaraan itu berkata, “apakah aku

diizinkan untuk turut serta masuk ke dalam istana?”

Nyai Witantra dan ibunya terkejut mendengar permintaan itu.

Sehingga karena itu mereka bertanya, “Untuk apa Bibi ikut masuk

ke dalam istana.”

“Ken Dedes adalah momonganku. Mudah-mudahan aku dapat

bertemu dengan gadis itu.”

“Apakah gadis itu dibawa ke istana?”

Pemomong Ken Dedes menjadi bingung. Ia tidak tahu ke mana

Ken Dedes dibawa. Tetapi Nyai Witantra itulah yang menjawab, “Ya.

Mungkin di istana kau akan mendengar, ke mana gadis itu dibawa.

Karena itu, marilah, biarlah Bibi ikut dengan aku.”

Kedua Perempuan itu pun kemudian turun ke halaman dan dalam

keremangan ujung malam, mereka berjalan ke istana Akuwu

Tumapel.

Dalam pada itu, maka Witantra dan Ken Arok pun telah sampai

pula di istana. Di halaman luar mereka menambatkan kuda-kuda

mereka. Dengan berjalan kaki memasuki halaman dalam istana

Tunggul Ametung.

Dada Witantra dan Ken Arok pun menjadi berdebar-debar. Di

regol mereka melihat beberapa orang prajurit berjaga-jaga. Ketika

mereka melihat Witantra lewat di hadapan mereka, segera mereka

membungkukkan badan mereka memberikan hormat.

Dengan langkah yang ragu Witantra kemudian naik ke ruang

belakang. Mereka menunggu sesaat sehingga dilihatnya seorang

emban lewat di samping mereka. Perlahan-lahan dipanggilnya

emban itu dan dengan perlahan-lahan pula Witantra bertanya,

“Apakah Akuwu sudah siap menerima kedatanganku dan Adi Ken

Arok.”

Emban itu memandangi Witantra dengan herannya. Kemudian

katanya, “Apakah Akuwu akan mengadakan pertemuan malam ini?”

Witantra mengerutkan keningnya, katanya, “Di mana Akuwu

sekarang?”

“Di dalam biliknya,” sahut emban itu.

“Jangan asal menjawab saja, Akuwu memanggil aku dan Adi Ken

Arok.”

Emban itu menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Siapakah pelayan dalam yang sedang bertugas hari ini?”

bertanya Ken Arok.

Emban itu menggeleng, “Aku belum tahu namanya.”

“Tolong. Panggilkan sebentar kemari.”

Emban itu memandang Witantra dengan penuh keheranan. Ia

tidak mendapat perintah untuk membersihkan ruang pertemuan

kecil di dalam istana di saat-saat khusus. Dan ternyata Akuwu pun

tidak berada di ruang palenggahan. Tetapi sejak mandi, Akuwu

langsung masuk kembali ke dalam biliknya. Sehingga para pelayan

yang menunggu perintahnya menjadi bingung. Sebab bukanlah

kebiasaan Akuwu berbuat demikian.

Sesaat kemudian datanglah seorang pelayan dalam mendekati

Witantra. Dengan hormatnya ia membungkukkan ke palanya sambil

bertanya, “Adakah sesuatu yang dapat aku kerjakan, Kakang

Witantra.”

“Kami berdua dipanggil Akuwu.”

“Oh,” sahut orang itu, “marilah silakan masuk. Tetapi Akuwu

tampaknya tidak sedang menunggu seseorang Bahkan Akuwu

agaknya menjadi sangat lelah sehabis berburu sehari ini.”

“Terima kasih,” Witantra tidak menunggu lebih lama. Langsung ia

masuk ke ruang dalam istana dan duduk di ruang dalam, yang biasa

dipakai oleh Akuwu untuk mengadakan pertemuan-pertemuan

khusus.

Tetapi Witantra benar-benar menjadi heran. Ruangan itu masih

terlalu gelap dan tidak sehelai tikar pun yang telah terbentang.

Bahkan batu hitam, yang biasa dipakai duduk Akuwu pun masih

dikerukup dengan sebuah kain putih.

“Aku tidak tahu, apakah yang terjadi dengan Akuwu,” desis

Witantra.

“Akuwu telah berbuat di luar sadarnya,” sahut Ken Arok, “hari ini

Akuwu benar-benar seperti orang yang sedang kebingungan.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ternyata

bukan Akuwu saja. Kita semua telah menjadi bingung pula

karenanya.”

“Itu adalah akibat perbuatan Akuwu Tunggul Ametung. Kalau kita

bersama-sama ini merupakan tubuh dari seekor ular, maka Akuwu

adalah kepala ular itu. Apabila kepalanya menjadi bingung, maka

seluruh tubuhnya akan kebingungan pula.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” sahutnya

pendek.

Mereka pun kemudian terdiam. Namun di dalam kepala mereka

seakan-akan terdapat sebuah baling-baling yang berputar. Bingung.

Mereka tidak tahu apakah yang sebenarnya terjadi dan akan terjadi.

Mereka semula menyangka, bahwa mereka akan datang ke istana

dan akan ditemuinya para prajurit telah bersiap di setiap sudut

halaman dan ruangan. Mereka menyangka bahwa Akuwu telah siap

pula menunggu mereka dengan murkanya dan langsung

memerintahkan menangkap mereka. Tetapi yang mereka jumpai

adalah ruangan yang kosong, gelap dan benar-benar

membingungkannya. Para pengawal pun tidak lebih dari para

pengawal yang biasa bertugas di tempat masing-masing.

Ketika mereka menunggu beberapa lama, Akuwu masih belum

juga keluar ke ruangan itu, dan bahkan pelita yang menyala itu pun

tidak ditambah, maka Witantra akhirnya tidak sabar lagi. Kemudian

ia berdiri dan memanggil seorang juru panebah. Katanya,

“Sampaikanlah kepada Akuwu, bahwa Witantra dan Ken Arok telah

siap menghadap di balai dalam.”

Juru panebah itu menjadi bingung. Jawabnya, “Akuwu sedang

tidur. Apakah tuan berdua tidak saja menghadap besok pagi?”

“Jangan ribut! Sampaikan kepada Akuwu. Akuwu memanggil

kami berdua.”

Panebah itu mengangguk hormat, kemudian tanpa berkata

sepatah kata pun ia berjalan ke bilik Akuwu. Tetapi sampai di muka

pintu ia sama sekali tidak berani masuk ke dalamnya. Hilir mudik ia

berjalan. Mudah-mudahan Akuwu mendengarnya dan

memanggilnya. Dan ternyata harapannya itu benar-benar terjadi.

Dengan suara serak terdengar Akuwu bertanya, “He, siapa itu?”

“Hamba Tuanku,” sahut juru panebah itu.

Perlahan-lahan ia menghampiri pintu dan kemudian duduk bersila

di luar tirai.

“Ada apa?” bertanya Tunggul Ametung.

“Ada yang ingin menghadap Tuanku.”

“He? Gila. Suruh dia pergi. Cepat! Aku tidak mau menerima

seorang pun. Apa disangkanya besok sudah akan kiamat?” teriak

Tunggul Ametung itu.

Juru panebah itu menjadi ragu-ragu. Namun dengan tergagap ia

berkata, “Ampun Tuanku. Menurut mereka, ternyata mereka telah

Tuanku panggil menghadap.”

“He?” suara Akuwu itu pun menjadi lunak, “Siapa mereka?”

“Tuan Witantra dan Ken Arok.”

“Oh. Ya. Ya. Hampir aku lupa. Aku memang telah memanggil

mereka itu,” sahut Tunggul Ametung.

Juru panebah itu menarik nafas lega. Ia surut ke belakang ketika

didengarnya Akuwu bangkit dari pembaringannya dan berjalan

keluar.

“Di manakah mereka sekarang?” bertanya Akuwu itu.

Juru panebah itu menyembah. Jawabnya “Di balai paseban

dalam, Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi keningnya kemudian berkerut, “Apakah tempat itu sudah kau

sediakan?”

“Belum Tuanku. Hamba belum menerima perintah Tuanku.”

Akuwu itu pun berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Panggil

mereka kemari! Aku akan menerima mereka di ruang dalam.”

Panebah itu menjadi heran. Adalah bukan kebiasaan akuwu

menerima seseorang di ruang itu. Tetapi ia tidak berani bertanya

apapun. Perlahan-lahan ia berkisar, dan setelah menyembah, maka

segera ia pergi ke balai dalam untuk memanggil Witantra dan Ken

Arok ke ruangan di muka bilik Akuwu itu.”

Witantra dan Ken Arok pun menjadi heran. Kembali mereka

menjadi curiga. Apakah di ruangan itu telah bersedia beberapa

orang prajurit yang akan menangkap mereka? Tetapi mereka tidak

dapat berbuat lain daripada datang menghadap Akuwu.

Kembali mereka terkejut, ketika ruangan itu benar-benar kosong.

Tak seorang pun yang dilihatnya berada di tempat itu. Karena itu

maka segera mereka pun pergi ke sudut ruangan dan duduk di atas

sehelai tikar yang telah direntangkan.

Sesaat kemudian mereka mendengar suara akuwu terbatukbatuk.

Dan kemudian mereka melihat Akuwu Tunggul Ametung

keluar dari dalam biliknya.

Witantra dan Ken Arok segera menundukkan wajah mereka

dengan hormat menyembah akuwunya.

“Apakah kalian telah lama menunggu?” bertanya akuwu itu.

“Belum Tuanku,” sahut Witantra.

Akuwu Tunggul Ametung berjalan perlahan-lahan mendekati

mereka, dan di luar dugaan Witantra dan Ken Arok, maka Akuwu itu

duduk di tikar yang sehelai itu pula.

Witantra dan Ken Arok menjadi bingung. Mereka segera

beringsut ke belakang sehingga mereka tidak lagi duduk di atas tikar

itu.

“Jangan menjadi segan. Duduklah sebaik-baiknya.”

“Tetapi …”

“Tidak apa-apa,” potong Tunggul Ametung.

Witantra dan Ken Arok benar-benar menjadi heran melihat sikap

akuwu itu. Demikian juga juru penebah yang duduk di kejauhan, di

tangga ruangan itu untuk menunggu perintah akuwu. Tetapi juru

panebah itu tiba-tiba terkejut ketika akuwu itu berteriak “Pergi!

Pergi! Kau mau apa duduk di situ?”

Juru panebah itu menjadi semakin heran. Meskipun demikian ia

pergi juga. Ia tidak tahu, kenapa ia harus pergi, sebab setiap hari ia

sendiri atau kawannya yang sedang bertugas, selalu duduk di

tangga itu untuk menanti perintah akuwu setiap saat. Namun ia

tidak mau memikirkan lagi. Dengan lesu ia melangkah ke sudut

istana.

Dua orang pelayan dalam yang bertugas di tempat itu segera

bertanya, “He, kenapa kau datang kemari?”

Juru panebah itu kemudian duduk pula di antara mereka sambil

bersungut-sungut, “Akuwu sedang menjadi bingung Aku diusirnya

dari tempat itu.”

“Dari mana?”

“Dari tangga ruang dalam.”

Kedua pelayan dalam itu tertawa, “Apakah kau tidak dapat

mencari tangga yang lain, dan duduk di sana?”

Juru panebah itu memandang kedua pelayan dalam itu dengan

wajah yang gelap. Jawabnya, “Kau sangka hidupku hanya berurusan

dengan tangga-tangga saja?”

Kembali kedua pelayan dalam itu tertawa. Tetapi mereka tidak

mau mengganggu juru panebah itu lagi.

Di ruangan dalam, di hadapan bilik Akuwu Tunggul Ametung,

Witantra dan Ken Arok duduk bersila sambil menundukkan wajah

mereka dalam-dalam. Akuwu Tunggul Ametung sendiri duduk

beberapa jengkal saja di hadapan mereka.

“Witantra,” berkata Tunggul Ametung itu kemudian, “kenapa kau

tadi siang tidak mau melakukan perintahku?”

Witantra menjadi berdebar-debar. Ia sudah menyangka bahwa ia

akan menerima pertanyaan itu. Namun ia tidak menyangka bahwa

nada pertanyaan itu sedemikian lunaknya. Disangkanya Akuwu

Tunggul Ametung akan membentaknya dan menuding hidungnya

sambil memerintahkan beberapa orang prajurit untuk

menangkapnya.

Kini ia harus menjawab pertanyaan itu. Dan ia tidak dapat

berkata melingkar-lingkar. Ia harus mengemukakan alasan

sebenarnya. Kenapa ia tidak dapat turut saja melakukan penculikan

itu. Maka katanya kemudian, “Tuanku. Hamba tidak sampai hati

untuk ikut serta berbuat sedemikian terhadap seorang gadis.”

“Kenapa?”

“Tuanku. Bukankah dengan demikian berarti bahwa kita sudah

tidak lagi menghargai sesama? Dan bukankah dengan demikian kita

sudah merusakkan kemanusiaan?”

“Tetapi, bukankah menjadi kewajibanmu untuk melakukan setiap

perintahku?”

“Hamba Tuanku. Hamba dihadapkan pada kewajiban yang

bertentangan dengan perasaan hamba. Dan bukankah hamba juga

mempunyai kewajiban yang lain? Kewajiban untuk menegakkan

kemanusiaan dan melindungi sesama? Tuanku. Hari ini hamba

benar-benar merasa bahwa hidup hama benar-benar tak berarti.”

“Kenapa?”

“Hamba sama sekali tidak dapat melakukan kewajiban hamba

keduanya. Tidak dapat melakukan kewajiban hamba sebagai

seorang prajurit, karena hamba tidak melakukan perintah Akuwu,

namun hamba juga tidak dapat melakukan kewajiban kemanusiaan

itu.”

Akuwu tidak segera menyahut. Direnungkannya kata-kata

Witantra itu dan dicernakannya di dalam hatinya.

Ruangan itu sesaat menjadi sepi. Akuwu Tunggul Ametung

mengangguk-anggukkan kepalannya, sedang Witantra dan Ken Arok

menundukkan wajahnya, menatap anyaman tikar pandan yang

bersilang-silang.

Tunggul Ametung mencoba sebali lagi membayangkan apa saja

yang sudah terjadi hari itu atasnya. Pagi-pagi Kuda Sempana datang

menghadap kepadanya. Memberitahukan bahwa ia tidak sependapat

apabila mereka pergi berburu ke barat. Sebab ia tidak berani

melewati padukuhan Panawijen setelah hatinya dilukai oleh Empu

Purwa, ayah Ken Dedes. Kuda Sempana ditolak karena ia seorang

pelayan dalam. Bukan karena ia seorang pelayan dalam, tetapi

karena pelayan dalam seorang akuwu saja.

“Hem,” Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia telah

dengan tergesa-gesa menelan saja kata-kata Kuda Sempana itu.

Tetapi apakah yang dilihatnya di Panawijen sama sekali bukannya

seperti yang dikatakan oleh Kuda Sempana. Bukan seperti yang

dikatakan bahwa ia sama sekali tidak ingin lagi memiliki gadis itu.

Bukankah Ken Dedes hanya seorang gadis desa saja? Tetapi yang

dilihat oleh Akuwu adalah, gadis itu sama sekali tidak senang

melihat kehadiran Kuda Sempana. Dan bahwa seorang anak muda

telah mempertahankan dengan sekuat tenaganya meskipun di

hadapannya berdiri beberapa orang prajurit yang melingkari

mereka. Bukan itu saja. Di sepanjang jalan pulang pun mereka

bertemu dengan seorang anak muda pula, yang menurut Kuda

Sempana adalah kakak gadis itu.

Gambaran-gambaran itu hilir mudik kembali di dalam kepala.

Dicobanya untuk mencari kesimpulan, apakah Kuda Sempana

berkata sebenarnya, atau telah menjebaknya dalam tindak

kekerasan yang memalukan.

Akuwu itu pun kemudian menarik nafasnya dan berkata “Ken

Arok, bagaimana pendapatmu tentang peristiwa yang terjadi itu?”

“Hamba menyesal Tuanku.”

“Apakah yang kau sesalkan?”

“Bahwa peristiwa itu telah terjadi.”

Akuwu mengernyitkan alisnya. Kemudian kepada Witantra dan

Ken Arok itu diceritakan olehnya, apa yang didengarnya dari Kuda

Sempana dan apa yang telah mendorongnya untuk melakukan

perbuatan itu.

Witantra menggigit bibirnya untuk menahan gejolak hatinya

sedang Ken Arok tergeser surut. Diangkatnya wajahnya dan

ditatapnya wajah Akuwu sesaat. Namun kembali Ken Arok

menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu bergetar di dalam hatinya

dan dengan tiba-tiba saja ia merasa menjadi semakin kecewa

terhadap Tunggul Ametung. Akuwu itu benar-benar seorang yang

aneh. Sekarang semuanya telah terjadi. Setiap orang di Panawijen

dan seterusnya setiap orang di Tumapel akan menyebut namanya

sebagai seorang yang telah merusakkan hidup sepasang anak muda

dan melukai hati segenap penduduk Panawijen.

Tetapi Tunggul Ametung itu pun ternyata menyesal pula di dalam

hatinya. Disesalinya pula wataknya yang agak terlalu tergesa-gesa

menentukan suatu sikap. Ia dapat berbuat demikian di dalam

istananya tanpa akibat yang dapat mencelakakan orang lain. Ia

dapat berbuat demikian untuk hal-hal yang kecil. Tetapi untuk hal

yang penting seperti peristiwa ini adalah benar-benar menyesatkan.

Dengan suara parau maka Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken

Arok. Bagaimanakah pendapatmu tentang gadis itu?”

Mereka menggelengkan kepala mereka. Dan Witantra menjawab,

“Apakah yang akan Tuanku perbuat?”

Akuwu memandang Witantra dengan tajamnya. Tetapi ia tidak

segera dapat menjawab. Sekali-kali dipandanginya tubuh Witantra

yang tegap kuat. Seorang prajurit yang mengagumkan. Seorang

prajurit yang baik, yang tidak pernah mengabaikan tugasnya.

Namun ia terpaksa menolak perintahnya, karena ia tidak dapat

dipaksa untuk mengkhianati kemanusiaan. Tetapi sebagaimana

dikatakannya sendiri ia telah gagal melakukan kewajibannya.

Kewajibannya sebagai seorang prajurit dan kewajiban kemanusiaan.

Sedang di sampingnya duduk seorang pelayan dalam yang belum

lama berada di dalam istana. Namun orang itu benar telah

mengejutkan akuwu. Ketika dilihatnya ia bertempur melawan

Mahisa Agni, maka tampaklah betapa ia mampu berbuat sebagai

seorang prajurit yang baik. Melampaui Kuda Sempana. Bahkan

tangannya telah membunuh seorang prajurit dengan sebuah

pukulan. Meskipun mula-mula Ken Arek tidak melawan perintahnya,

bahkan mencoba melakukannya namun ternyata bahwa desakan

hatinya telah membuatnya berbuat sebaliknya. Bahkan telah

dibunuhnya seorang prajurit di hadapannya. Di hadapan seorang

akuwu.

Tetapi Mahisa Agni itu pun telah menarik perhatiannya. Ia adalah

seorang anak pedesaan. Namun memilik caranya berkelahi, maka ia

bukanlah anak pedesaan kebanyakan.

Dalam berbagai perasaan dan angan-angan itu, maka

terluncurlah kata-kata Akuwu, “Witantra, apakah kau melihat

seseorang yang telah dilukai Kuda Sempana?”

“Ya,” jawab Witantra pendek.

“Siapakah dia?”

“Anak muda itulah bakal suami Ken Dedes.”

Akuwu Tumapel menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya,

“Besok panggillah dia kemari!”

Witantra dan Ken Arok mengangkat wajahnya bersama-sama.

Mereka saling berpandangan dan di dalam hati mereka terdengarlah

sebuah pertanyaan, “Apakah Akuwu belum tahu bahwa anak muda

itu telah mati?”

Akuwu memandang kedua orang itu dengan heran. Karena itu

maka katanya, “Kenapa?”

“Tuanku,” jawab Witantra dengan nada yang rendah, “anak

muda bakal suami Ken Dedes yang bernama Wiraprana, putra Buyut

Panawijen itu telah meninggal dunia.”

“He?” akuwu ternyata terkejut mendengar berita itu, “Jadi anak

itu mati?”

Witantra menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya,

Tuanku. Anak itu mati.”

“Jadi Kuda Sempana telah membunuhnya?”

“Ya.”

“Setan Kuda Sempana itu!” desis Akuwu Tunggul Ametung.

“Tetapi ia sendiri pasti tidak akan berani berbuat begitu Tuanku.”

“Oh,” Tunggul Ametung menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan

terdengar ia berkata, “Ya. Aku tahu maksudmu. Bukankah kau ingin

mengatakan bahwa kesalahan itu terletak padaku. Bukankah aku

telah melindunginya untuk melakukan kejahatan itu.”

Witantra dan Ken Arok tidak menyahut. Sesaat mereka berdiam

diri, dan dibiarkan Akuwu Tunggul Ametung tenggelam dalam

penyesalan.

Kemudian terdengar Akuwu itu berkata, “Witantra dan Ken Arok.

Aku maafkan segala kesalahanmu. Aku lupakan katakku dan

ancamanku. Meskipun telah terucapkan oleh seorang akuwu untuk

menghukum kau Witantra, namun ucapan itu meluncur dalam

ketidakwajaran ingatanku.”

Witantra dan Ken Arok menundukkan wajahnya dalam-dalam

sambil menjawab “Terima kasih Tuanku.”

Namun di dalam hati mereka tebersitlah suatu pertanyaan

“Bagaimanakah kalau hukuman itu telah terlanjur jatuh atas

Witantra?”

“Dan sekarang Witantra, apakah yang harus aku lakukan atas

Kuda Sempana?”

Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tuanku,

semua ini adalah akibat dari kelicikannya, sehingga Akuwu Tunggul

Ametung terseret dalam perbuatan tercela. Karena itu, maka

hukuman yang diberikan kepadanya adalah hukuman yang harus

sesuai dengan perbuatannya. Karena perbuatannya pula maka

sebuah jiwa yang melayang, dan sebuah hati telah pecah berkepingkeping.

Apakah yang dapat ditemukan kembali dalam hidup seorang

gadis seperti Ken Dedes itu?”

“Ya. ya,” jawab Tunggul Ametung terbata-bata, “Aku

sependapat. Tetapi Witantra. Aku adalah seorang Akuwu. Sudah

tentu aku tidak dapat menjilat ludah kembali tanpa alasan. Aku

telah menyetujui, bahkan mengantar Kuda Sempana sendiri

mengambil gadis itu ke Panawijen. Sekarang, apakah aku dapat

menghukum Kuda Sempana karena perbuatannya itu. Bukankah

dengan demikian hukuman itu pun pantas jatuh atasku pula?”

Witantra dan Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katakata

akuwu itu dapat dimengertinya. Apakah dengan demikian,

maka orang akan semakin menjadi kecewa atas perbuatanperbuatan

akuwu yang seakan-akan sama sekali tidak bertanggung

jawab. Namun sudah tentu bahwa mereka tidak akan membiarkan

Kuda Sempana mengambil Ken Dedes. Sebab dengan demikian

mereka akan membiarkan sebuah kebiadaban berlangsung.

Bukankah dengan demikian maka Ken Dedes akan menjadi

bertambah parah. Dan bukankah Ken Dedes akan kehilangan

segala-galanya. Bahkan tubuhnya sendiri seakan-akan tak

dimilikinya, karena tubuhnya itu harus diserahkannya kepada Kuda

Sempana tanpa kehendaknya.

Ruangan itu menjadi sepi sesaat. Masing-masing mencoba

mencari kemungkinan yang sebaik-baiknya ditempuh.

Angin malam di luar istana terdengar gemeresik mengusap

dinding dan dedaunan. Di kejauhan terdengar jangkrik memekikmekik

seolah-olah memanggil-manggil. Sekali-kali angin yang

kencang menolak daun-daun pintu yang sudah terkatup.

Dalam keheningan itu kemudian terdengar suara Witantra,

“Tuanku. Hukuman yang pertama yang harus dijatuhkan kepada

Kuda Sempana adalah melepaskan Ken Dedes dari tangannya.”

“Ya. ya,” sahut Akuwu Tumapel, “Aku sependapat. Tetapi kepada

siapa gadis itu harus di serahkan. Ia telah kehilangan seseorang

yang akan dapat dijadikannya pegangan buat masa-masa depannya.

Bakal suaminya itu telah mati.”

“Bukankah ia masih mempunyai ayah dan ibu?” bertanya Ken

Arok.

Witantra menggeleng. Katanya, “Dari Mahisa Agni aku pernah

mendengar, bahwa gadis itu tidak beribu lagi.”

“Oh,” sahut Ken Arok, “kalau demikian kepada ayahnya.”

“Ayahnya adalah seorang pendeta,” berkata Witantra.

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba

terbayanglah kembali wajah gadis itu. Putih pucat dan ketakutan,

sehingga tiba-tiba ia menjadi pingsan. Terbayang kembali betapa

lekuk-lekuk di wajahnya telah memahatkan sebuah bentuk yang

seindah-indahnya yang pernah dilihatnya. Dan betapa ia terpesona

oleh cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis itu.

Namun cahaya itu sama sekali tidak pernah dapat dipandangnya.

Cahaya itu seakan-akan lenyap apabila ia berusaha melihatnya.

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Apakah yang

dapat dilakukannya kemudian? Mengembalikan gadis itu? Atau apa?

Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi pening. Dan karena itu ia

berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku

lakukan. Tetapi gadis itu pasti tidak akan aku serahkan kepada Kuda

Sempana.”

Namun kemudian perlahan-lahan Akuwu Tumapel itu berkata,

“Tetapi apakah alasanku?”

“Tuanku,” berbisik Witantra kemudian, “Kuda Sempana

mengambil gadis itu dengan kekerasan. Sehingga menuntut

penilaiannya, maka kekerasan akan menentukan segalanya atas

gadis itu. Karena itu, maka harus terpancang pula di dalam

dadanya, bahwa ia harus dapat mempertahankan gadis itu. Itu pula

atas kekerasan.”

“Maksudmu?” bertanya Tunggul Ametung cepat-cepat.

“Ken Dedes akan aku ambil dengan kekerasan.”

“He?” Akuwu itu pun terbelalak, “bagaimana dengan istrimu?”

Witantra tersenyum, “Bukan untuk aku sendiri. Istriku tidak kalah

cantiknya dari gadis itu. Tetapi barangkali aku akan dapat membuat

alasan lain.”

Ken Arok menarik alisnya tinggi-tinggi. Ia belum melihat gadis itu

dengan jelas. Ia baru melihat Ken Dedes sepintas, dalam kekisruhan

yang tidak menentu. Karena itu ia belum dapat menilai

kecantikannya. Namun tak diingkarinya bahwa gadis itu memang

cantik sekali.

Dalam pada itu Witantra berkata pula, “Akuwu. Ternyata apa

yang terjadi telah menghancurkan hari depan gadis itu. Karena itu

maka sebaiknya Akuwu mempertimbangkan, apakah Akuwu dapat

berbuat sesuatu yang dapat sedikit menghiburnya buat masa yang

akan datang.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangkat wajahnya. Tiba-tiba

nafasnya menjadi berangsur cepat dan keringatnya mengalir dari

segenap lubang-lubang kulitnya. Dengan nada yang rendah dan

ragu-ragu ia bertanya, “Bagaimana maksudmu Witantra?”

“Maksudku Akuwu, apabila mungkin maka Akuwu akan dapat

memberi sedikit hiburan kepada gadis itu. Kalau dikehendaki oleh

gadis itu, biarlah Akuwu mengambilnya menjadi menantu. Akuwu

dapat memandang salah seorang hamba Akuwu yang dapat Akuwu

timbang, sesuai dengan gadis itu. Sudah tentu atas kerelaan Ken

Dedes sendiri. Dengan demikian maka apabila Akuwu berhasil, maka

sedikit banyak Akuwu akan dapat meringankan penderitaannya

meskipun tidak akan dapat ganti seperti yang hilang itu baginya.

Dalam hal ini biarlah Ken Dedes memilih sendiri atas orang-orang

yang Akuwu tunjukkan kepadanya. Mungkin dengan demikian maka

penderitaan hatinya akan dapat diringankan, karena bakal suaminya

terbunuh oleh Kuda Sempana itu.”

“Kalau demikian Witantra, dalam waktu yang pendek kau masih

belum menemukan alasan untuk itu. Untuk mengambilnya dengan

kekerasan. Sedang dalam waktu yang singkat Kuda Sempana pasti

sudah akan datang mengambilnya. Mungkin besok, lusa atau

bahkan nanti malam.”

“Bukan soal yang sulit bagi Akuwu. Biarlah Akuwu

memerintahkan kepadanya, supaya gadis itu tetap di istana.”

Akuwu mengerutkan keningnya. Alasan itu akan dapat

dikemukakan. Tetapi harus dicarinya seorang laki-laki yang

berkenan d hati Ken Dedes. Baru Witantra akan merebut gadis itu

atas namanya.

Akuwu itu menggelengkan kepalanya, “Terlalu lama Witantra.

Terlalu lama. Belum pasti nama itu akan disetujui oleh Ken Dedes.

Baru setelah mendapat nama yang tepat dan disetujui oleh gadis itu

kau berbuat untuknya.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi ia memandang Ken Arok

dengan sudut matanya. Kalau Ken Arok mau menyebut dirinya,

bahkan mau berbuat untuk dirinya, maka dalam takaran Witantra

maka Ken Arok pun memiliki kemampuan yang dahsyat. Sebab

dengan tangannya ia mampu membunuh seorang prajuritnya dalam

satu ayuna n.

Ken Arok masih saja menundukkan wajahnya. Ia tidak berani

berkata apapun juga, sebab ia pun belum juga beristri. Kalau Akuwu

nanti menunjuknya maka akan kisruhlah hatinya. Ia sama sekali

belum ingin berumah tangga mengingat keadaan dirinya dan

hidupnya yang baru saja dibinanya. Ketika terasa olehnya Witantra

dan Akuwu Tunggul Ametung memandanginya, maka Ken Arok

segera menunduk dalam-dalam.

Dalam pada itu tiba-tiba Witantra berkata “Akuwu sekarang

biarlah aku berbuat untuk siapa saja. Apabila ternyata nanti Ken

Dedes tidak bersedia maka biarlah Ken Dedes menentukan nasibnya

sendiri, tetapi ia sudah bukan milik Kuda Sempana lagi.”

Akuwu Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Jawabnya,

“Sekehendakmulah Witantra. Asal gadis itu dapat kau bebaskan dari

Kuda Sempana dengan alasan yang dapat dimengerti oleh beberapa

orang yang mengetahui persoalannya, terutama para prajurit yang

ikut serta ke Panawijen pada saat Kuda Sempana mengambilnya.”

“Baik Tuanku,” wajah Witantra itu menjadi merah karena

perasaan yang aneh di dalam dadanya. Meskipun gadis itu bukan

sanak bukan kadang, tetapi ia merasa bahagia apa bila ia akan

dapat melepaskannya dari tangan Kuda Sempana. Ia sudah sedikit

mendengar apa saja yang pernah dilakukan Kuda Sempana atas Ken

Dedes dari Mahisa Agni, yang dahulu disangkanya Wiraprana. Dalam

pada itu Witantra meneruskan, “Mungkin akan dapat meminjam

nama Adi Ken Arok. Bukankah Adi masih belum berkeluarga pula?”

“Jangan. Jangan,” seperti disengat lebah Ken Arok menolak,

“Jangan Kakang.”

“Tidak. Adi tidak harus bersungguh-sungguh.”

“Aku takut.”

Witantra memandang Ken Arok itu tajam-tajam. Kenapa ia takut?

Tetapi Witantra kemudian tersenyum. Disangkanya Ken Arok takut

apabila namanya dihubungkan dengan seorang gadis, dan apabila

pada saat yang dekat ia benar-benar harus berumah tangga. Karena

itu Witantra menjelaskan, “Adi tidak perlu takut untuk

melaksanakannya. Aku hanya akan berkata kepada Kuda Sempana.

Atas nama Adi Ken Arok yang juga menginginkan gadis itu, maka

aku rebut Ken Dedes dengan kekerasan, seperti pada saat Kuda

Sempana mengambilnya. Tetapi kemudian bukankah dapat

diumumkan pula, misalnya, karena Ken Dedes tidak bersedia kawin

dengan Ken Arok, maka gadis itu dikembalikan ke rumahnya kepada

kakak dan ayahnya.”

“Jangan. Jangan hubungkan namaku dengan gadis itu.”

Sekali lagi Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak melihat, apakah

sebenarnya yang bergolak di hati Ken Arok. Setiap ia mendengar

nama seorang gadis, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia

merasa dikejar-kejar oleh kesalahan-kesalahan yang pernah

dilakukan. Sebagai hantu di padang-padang rumput dan di hutanhutan.

Bahkan di mana saja daerah-daerah yang pernah dijelajahi,

maka ia telah berbuat hal-hal yang mengerikan atas gadis-gadis

yang ditemuinya. Karena itulah, maka setiap kali ia mengingatnya,

maka setiap kali ia menjadi ketakutan. Apalagi ketika ia melihat

bagaimana Kuda Sempana melarikan gadis Panawijen itu. Maka

hampir kepercayaannya kepada semua orang menjadi pudar. Apa

yang dilakukan Kuda Sempana mirip dengan apa yang pernah

dilakukan. Namun caranyalah yang berbeda. Cara yang ditempuh

adalah cara hantu ladang dan padang.

Penolakan Ken Arok itu ternyata

mendorong Akuwu untuk berbuat di luar

dugaan. Di luar dugaan Witantra dan di

luar dugaan Ken Arok, tiba-tiba saja

dalam kegelapan nalar, Akuwu itu

berkata, “Baiklah, kalau tak ada nama

yang kau pergunakan, pergunakanlah namaku. Akuwu Tunggul

Ametung.”

Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar mengejutkan

Witantra dan Ken Arok. Sehingga dengan serta-merta Witantra

berkata, “Jangan Tuanku. Adalah kurang baik apa bila Akuwu sendiri

yang akan mengambilnya. Meskipun hanya sekedar untuk

menyingkirkan Kuda Sempana. Gadis itu adalah gadis pedesaan,

dan kurang sepantasnyalah apabila nama Akuwu dihubungkan

dengan namanya.”

“Biarlah. Biarlah kau pakai namaku. Aku telah merusakkan masa

depan gadis itu. Seandainya dengan demikian namaku menjadi

susut, bukankah itu hukuman yang harus aku alami karena

perbuatan yang terkutuk itu. Biarlah orang menyangka bahwa

Tunggul Ametung telah menculik gadis dari padukuhan Panawijen.

Biarlah orang yang tidak melihat dan mengetahui apa yang terjadi

menuduhku berbuat demikian. Adalah lebih baik bagiku daripada

aku telah melindungi orang untuk menculik seorang tanpa

pertimbangan. Kalau orang menyebutkan langsung menculik gadis

itu, maka orang akan mengutukku sebagai seorang laki-laki yang

tidak berperasaan dan sebagai seorang Akuwu yang sewenangwenang.

Namun adalah menjadi tanggung jawabku pula apabila

seseorang berkata, Kuda Sempana telah menculik seorang gadis

atas perlindungan Akuwu.”

“Adalah lebih baik, apabila aku berbuat sewenang-wenang

karena terdorong oleh kebutuhanku sendiri. Kebutuhan hidup

seorang Akuwu, daripada aku berbuat hal yang sama, sewenangwenang

untuk melindungi orang-orangku. Dengan menyebut bahwa

Ken Dedes telah aku perlukan sendiri, adalah memperkuat alasanku

untuk berbuat sewenang-wenang. Adalah lebih mungkin aku

lakukan daripada sekedar melindungi Kuda Sempana.”

Witantra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata Akuwu

Tunggul Ametung telah benar-benar kebingungan oleh kejaran

penyesalannya. Sehingga karena itu maka Witantra berkata,

“Tuanku, alasan itu hanya diberikan kepada Kuda Sempana. Tidak

kepada siapa pun juga. Sehingga apa yang terjadi kemudian

hanyalah Kuda Sempana yang akan tahu.”

“Tidak. Tidak,” berkata Akuwu itu lantang, “tidak hanya untuk

Kuda Sempana. Besok semua orang Tumapel harus tahu, bahwa

Akuwu Tunggul Ametung telah merampas seorang gadis putri

seorang pendeta di Panawijen, karena Akuwu jatuh cinta kepada

gadis itu. Biarlah semua orang mengutukku, dan biarlah semua

orang membenci aku.”

“Akuwu,” potong Witantra.

“Perintah! Kau dengar?” teriak Akuwu Tunggul Ametung, “Ini

perintahku. Apakah kau akan mengingkari perintahku lagi?”

Witantra dan Ken Arok mengusap dadanya. Apabila sudah

demikian maka Akuwu telah kehilangan nalarnya yang bening.

Sulitlah untuk mencoba memperbincangkan suatu keputusan.

Karena itu, maka mereka hanya dapat berdiam diri. Persoalan itu

telah bergeser dari maksud Witantra semula. Namun Witantra dapat

juga mengerti jalan pikiran Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu akan

mengangkat persoalan itu dengan menengadahkan dadanya,

meskipun dengan demikian telah dikorbankan namanya. Bukankah

Akuwu dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa

Kuda Sempana telah menipunya dan memberikan laporan palsu?

Tetapi rupa-rupanya Akuwu benar-benar telah disiksa oleh

penyesalan yang tak berhingga, sehingga dengan demikian ia

bermaksud menghukum diri sendiri.

Dalam pada itu Akuwu itu berkata pula, kali ini perlahan-lahan,

“Witantra, pergilah kepada Kuda Sempana. Katakan kepadanya,

bahwa Ken Dedes dikehendaki sendiri oleh Akuwu Tunggul

Ametung. Kalau ia tidak rela, berbuatlah atas namaku. Kali ini aku

tidak akan mempergunakan kekuasaan. Tetapi aku minta kepadamu

sebagai seorang sahabat untuk mewakili aku. Kalau Kuda Sempana

menghendaki, biarlah kau mengadakan sayembara tanding

dengannya. Kalau kau tidak bersedia, aku tidak memaksa. Ini bukan

perintah seorang Akuwu. Sudah aku katakan, aku tidak akan

mempergunakan kekuasaan. Kalau tak ada seorang pun yang akan

mewakili Tunggul Ametung, biarlah Tunggul Ametung sendiri yang

maju ke arena.”

“Jangan Tuanku. Jangan Tuanku sendiri. Biarlah hamba yang

melakukannya. Tidak perlu di muka umum. Dapat hamba lakukan di

tempat tertutup. Kecuali Kuda Sempana menghendaki.”

“Terima kasih. Nah, pergilah. Sampaikan maksud itu kepada

Kuda Sempana.”

“Hamba Tuanku.”

Kemudian perintahnya kepada Ken Arok, “Arok, kau pergi

bersama Witantra. Kau pun harus berusaha supaya semua orang

Tumapel mendengar, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah

menculik seorang gadis untuk permaisurinya.”

“Hamba Tuanku,” sahut Ken Arok.

“Nah sebelum pergi, panggilkan Daksina.”

Ken Arok keran mendengar perintah itu. Apakah hubungannya

peristiwa ini dengan Daksina. Anak-anak yang belum genap

berumur lima belas tahun itu.

Ketika Ken Arok masih memandanginya saja dengan heran, maka

Akuwu itu pun membentak, “Panggil Daksina! Kau dengar?”

“Ya, ya Tuanku,” sembah Ken Arok. Namun kepalanya menjadi

pening memikirkan tingkah laku Akuwu itu. Setelah bergeser

beberapa langkah, maka Ken Arok pun kemudian sambil berjongkok

meninggalkan ruangan itu dan turun lewat tangga samping

memanggil seorang anak muda yang bernama Daksina

Daksina, seorang anak dari seorang pelayan istana, seorang juru

dang, terkejut mendengar panggilan Akuwu di malam hari itu.

Karena itu ia menjadi pucat, dan dengan terbata-bata bertanya,

“Apakah yang akan diperintahkan kepadaku, Paman?”

Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Entahlah.”

Dengan tergesa-gesa Daksina pergi menghadap Tunggul

Ametung. Matanya masih merah karena kantuknya. Sekali ia

menguap, dan kemudian dengan wajah yang pucat ia merayapi

tangga ruang dalam.

“Daksina,” panggil Tunggul Ametung, “ambil rontal Kakawin

Arjuna Wiwaha. Bacakan rontal untukku malam ini. Aku jemu

memikirkan semua persoalan yang memusingkan kepalaku.”

Anak itu menarik nafas panjang. “Oh,” katanya di dalam hatinya,

“hampir aku pingsan dibuatnya.”

Daksina itu pun segara mengundurkan dirinya dengan tergesagesa.

Sekali-sekali ia masih menguap dan mengumpat di dalam hati.

Malam-malam begini Akuwu ingin mendengarkan aku membaca

rontal. Bukan main. Kenapa tidak sejak sore tadi atau besok malam.

Tetapi anak itu tidak berani membantah. Langsung pergi ke

ruang penyimpanan rontal. Dari berbagai-bagai rontal yang

bersusun dalam sebuah rak-rakan, Daksina mencari rontal yang

dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung.

Ketika ia keluar dari ruang itu, pelayan dalam yang melihatnya

menyapa, “He, Daksina, apa kerjamu malam-malam di sini?”

“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung inginkan aku membaca

untuknya malam ini.”

“Malam sudah terlampau jauh.”

“Ya.”

“Kenapa Akuwu minta kau membaca rontal itu?”

“Tidak tahu.”

“He? Jangan main-main. Kenapa?”

Daksina berhenti. Lalu memandangi wajah pelayan dalam itu

dengan heran. Katanya, “Kenapa kau bertanya kepadaku?

Bertanyalah kepada Akuwu, kenapa malam-malam begini Akuwu

minta aku membaca rontal. Kalau Akuwu mengurungkan niatnya,

aku akan berterima kasih kepadamu. Besok ransumku boleh kau

ambil.

“Hus, jangan gila, anak mabuk. Kau kira kau dapat menipu aku?

Ayo kembalikan rontal itu.”

“Baik,” sahut Daksina, lalu Daksina itu pun memutar tubuhnya

dan melangkah kembali ke ruang penyimpanan rontal, sambil

bergumam, “Rontal ini akan aku kembalikan. Besok ransumku boleh

kau ambil, sebab aku besok sudah digantung di alun-alun karena

aku tidak mematuhi perintah Akuwu malam ini.”

“Persetan! Jangan menggerutu!”

“Tidak. Besok aku sudah tidak dapat menggerutu lagi, dan kau

tidak akan dapat membentak-bentak lagi. Sebab kau pun akan

dipancung di tengah-tengah pasar.”

“Kenapa?”

“Karena kau menghalangi aku mematuhi perintah Akuwu.”

“He? Jadi benar, Akuwu memerintahkan kau mengambil rontal

itu?”

“Kau sangka aku berbohong?”

“Jadi bukan karena kau sendiri yang ingin membaca?”

“Sudah aku katakan.”

“Oh, anak gila. Kenapa kau tidak membantah? Malahan kau akan

mengembalikan rontal itu.”

“Aku atau kau yang gila. Kau tidak mau mendengar aku

menjelaskan. Kau ingin aku mematuhi perintahmu.”

“Pergi! Pergi! Bawa rontal itu kepada Akuwu. cepat sebelum kau

digantung.”

“Tidak mau!”

“Kenapa?”

“Aku takut kepadamu.”

“Gila!”

“Kau yang gila.”

“Ayo pergi! Cepat! Bawa rontal itu!” bentak pelayan dalam itu

sambil mengacungkan tombaknya, “Atau aku lubangi perutmu?”

“Supaya ransumku dapat kau ambil besok?”

“Tutup mulutmu! Ayo pergi! Kenapa kau mengigau tentang

ransum saja sejak tadi. Apakah kau sekarang sedang lapar?”

Tiba-tiba Daksina mengangguk. “Ya. Aku lapar.”

“Setan kecil! Pergi ke garduku. Aku mempunyai sepotong jenang

alot.”

Daksina betul pergi ke gardu pelayan dalam itu, dan dimakannya

sepotong jenang alot. Namun dengan demikian ia sudah tidak

terkantuk-kantuk lagi. Kini matanya telah terbuka lebar-lebar setelah

ia mengganggu pelayan dalam itu. Apalagi setelah mulutnya

mengunyah sepotong jenang alot, maka Daksina benar-benar sudah

tidak mengantuk lagi. Setelah minum semangkuk air jahe, maka

segara ia berjalan cepat-cepat ke bilik Akuwu Tunggul Ametung.

Dalam pada itu Witantra dan Ken Arok pun segera minta diri.

Witantra mengharap Akuwu Tunggul Ametung memberinya

wewenang dan wewenang itu telah benar-benar diberikannya.

Meskipun demikian maka Witantra berkata, “Akuwu. Hamba akan

mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun Kuda Sempana

bukanlah anak-anak lagi. Ia mampu membunuh Wiraprana dalam

perkelahian itu di hadapan Akuwu, sehingga ia dapat membebaskan

dirinya dari segenap tuntutan. Namun apabila aku tidak berhasil,

aku minta maaf sebesar-besarnya.”

“Jangan cemas. Aku mengharap kau berhasil.”

Witantra dan Ken Arok pun segera mohon diri meninggalkan

ruangan itu, dan Akuwu Tunggul Ametung pun segera masuk

kembali ke dalam biliknya. Setelah sesaat ia terbaring, maka ia

mendengar langkah di muka biliknya.

(bersambung ke jilid 10)

Jilid 10

DAKSINA BERJALAN PERLAHAN-LAHAN MENDEKATI

pintu. Ruangan itu telah kosong. Kedua orang yang menghadap

akuwu telah pergi.

“He, siapa itu?” teriak akuwu dari dalam biliknya.

“Hamba Tuanku, Daksina.”

“Kenapa kau pergi terlalu lama?”

“Hamba masih harus mencari lontar yang Tuanku kehendaki.”

“Bukankah kau juga yang dahulu menyimpannya, he?”

“Hamba Akuwu.”

“Kenapa terlalu lama?”

“Hamba, hamba lupa di deretan yang mana hamba dahulu

meletakkan Tuanku,” sahut Daksina tergagap.

“Sekarang kau mau apa?”

“Hamba akan membaca.”

“Pergi! Pergi! Aku tidak mau mendengar kau membaca di malam

begini. Apakah kau sangka besok sudah tidak ada waktu? Dan

apakah sengaja kau cari berlama-lama sehingga aku mengantuk dan

menjadi jemu menunggu?”

“Tidak Tuanku. Tidak. Perintah Tuanku pun telah terlalu malam.”

“Apa. Kau menyalahkan aku?”

“Bukan Tuanku. Bukan maksud hamba.”

“Sekarang kau pergi. Pergi!”

Daksina menjadi ketakutan. Tersuruk-suruk ia berjalan cepatcepat

menjauhi bilik Tunggul Ametung sambil bersungut-sungut

akuwu benar-benar aneh. Tetapi kemudian ia menyesal karena ia

terlalu lama pergi mengambil lontar itu. “Pelayan dalam itu benarbenar

gila, ia memberi aku jenang alot, sehingga aku menjadi

terlalu lama,” gumamnya sambil berjalan ke biliknya sendiri.

Beberapa orang pelayan yang sedang bertugas memandanginya

dengan malas sambil sekali-sekali menguap. Apa saja yang

dilakukan anak itu malam-malam begini.

Tetapi tiba-tiba anak itu terkejut ketika lengannya ditangkap oleh

sebuah tangan yang kuat. Ketika ia berpaling di lihatnya pelayan

dalam yang tadi mencegahnya di muka bilik penyimpanan lontar.

“He. Mau ke mana kau?”

“Tidur.”

“Jadi kau benar-benar berbohong ya?”

“Kenapa?”

“Akuwu tidak memerintahkanmu membaca lontar itu.”

“ Oh,” Daksina menjadi tergagap. Namun ia berhasil juga

menjelaskan, “Aku sudah mulai membaca. Tetapi karena jenang

alotmu itu maka suaraku menjadi serak tidak seperti biasanya,

sehingga akuwu marah, dari aku diusirnya. Nah, sekarang kau harus

menebus kesalahanmu itu. Kalau aku tidak makan jenang alotmu,

maka aku tidak akan mendapat marah.”

“Anak setan! Bukankah itu salahmu sendiri?”

“Besok ransum pagimu harus kau berikan kepadaku. Kalau tidak,

maka aku akan menyampaikan kepada Akuwu, bahwa kau

menyimpan makanan di gardumu.”

“Apa salahnya? Tidak ada larangan berbuat demikian.

“Tetapi karena makananmu itu suaraku menjadi parau.”

“Pergi! Pergi, jangan mengigau!” bentak pelayan dalam itu sambil

mendorong Daksina pergi.

Suasana halaman istana itu menjadi sepi. Tiga orang perempuan

duduk diam di samping regol halaman dalam. Dalam keremangan

cahaya obor di kejauhan, mereka tampaknya seperti bayang-bayang

hitam yang duduk mematung.

Dengan gelisah mereka menunggu. Bahkan hampir tidak sabar

salah seorang berkata, “Bibi emban. Tolong tengoklah ke ruang

dalam apakah Kakang Witantra masih berada di sana?”

“Masih Ngger. Masih. Baru saja aku melihat mereka turun dari

ruangan itu. Tetapi mereka tidak segera berjalan keluar.”

“Ke mana mereka itu?”

“Mungkin Anakmas Witantra perlu melihat-lihat beberapa buah

gardu penjagaan. Penjagaan di halaman belakang yang dilakukan

oleh para prajurit pengawal.

Orang yang bertanya itu, yang tidak lain adalah Nyai Witantra

menarik nafas panjang. Ingin ia berlari masuk ke dalam istana,

namun ia menjadi ragu-ragu.

Untuk melepaskan kejemuannya, maka ia bertanya, “Bibi emban.

Apakah kau melihat Akuwu membawa seorang gadis dari

pedesaan?”

Emban itu mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya raguragu,

“Aku kira demikian Nyai. Apakah ada hubungannya dengan

Anakmas Witantra?”

Perempuan yang lain, yang sejak semula selalu berdiam diri

mendengarkan percakapan mereka tersentak mendengar jawaban

itu, dan tiba-tiba bertanya, “Apakah gadis itu berada di dalam istana

ini pula?”

Kembali emban itu menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu, dari mana

dan kenapa akuwu membawa gadis itu. Sehingga karena itu maka

jawabnya, “Entahlah. Aku tidak tahu.”

Pemomong Ken Dedes menjadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat

mendesaknya lagi. Sehingga kembali mereka berdiam diri. Duduk

mematung dalam kegelisahan hati masing-masing.

Mereka tersentak ketika tiba-tiba mereka melihat dua sosok

tubuh yang berjalan ke arah mereka. Ketika mereka sudah dapat

melihat dengan jelas, maka berbisiklah emban itu, “Nah. Itulah.

Baiklah aku meninggalkan kalian di sini.”

“Tunggu!” cegah Nyai Witantra.

“Apa yang harus aku tunggu?”

Nyai Witantra tidak menjawab. Tetapi ujung kain emban itu

dipeganginya, sehingga emban itu tidak dapat meninggalkannya.

Witantra pun terkejut melihat tiga orang perempuan duduk di

samping regol. Ia menjadi semakin terkejut lagi ketika diketahuinya

bahwa salah seorang dari mereka adalah istrinya.

“He. Kaukah itu Nyai?”

“Ya Kakang ,” jawab Nyai Witantra.

“Apakah kerjamu di sini?”

Nyai Witantra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak tahu

benar apa yang sudah terjadi, namun kini ia melihat suaminya

berjalan berdua dengan Ken Arok tanpa pengawalan. Menurut

tangkapan perasaannya, maka suaminya tidak sedang dalam

kesulitan-kesulitan. Namun meskipun demikian ia menjawab, “Aku

mencemaskan kau Kakang. Aku ingin tahu, apakah yang terjadi

denganmu dan Adi Ken Arok.”

“Oh,” Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

kemudian ia tersenyum —Marilah pulang Nyai.

“Tetapi bagaimana dengan Kakang dan Adi Ken Arok

“Tidak apa-apa. Marilah pulang. Biarlah aku nanti bercerita

tentang diriku, tentang Adi Ken Arok dan tentang yang lain-lain.

Nyai Witantra sekali lagi menarik nafas lega. Katanya, “Syukurlah

kalau tidak ada apa-apa dengan Kakang dan Adi Ken Arok.”

“Nah. Marilah kita pulang,” ajak Witantra.

“Tetapi,” suara Nyai Witantra terputus. Di palingkannya wajahnya

dan ditatapnya wajah pemomong Ken Dedes yang menjadi semakin

gelisah.

“Tetapi?” ulang Witantra,”Adakah soal lain yang akan kau

kerjakan pula?”

“Bukan aku Kakang, tetapi Bibi ini.”

“Oh, apakah yang akan dilakukan?”

“Ia mencari momongannya Ken Dedes. Apakah gadis itu berada

di dalam istana ini?”

Witantra diam sejenak. Ia tahu benar bahwa Ken Dedes berada

di dalam istana. Tetapi ia tidak tahu, apakah ke hadiran

pemomongnya itu akan berkenan di hati akuwu. Karena itu maka

katanya berterus terang, “Ya. Gadis itu berada di dalam istana.

Tetapi aku tidak tahu, apakah dengan demikian, maka akuwu akan

mengizinkan orang lain masuk ke dalamnya. Karena itu, baiklah

besok aku bawa Bibi itu menghadap.

Pemomong Ken Dedes menjadi tidak bersabar menunggu hari

esok. Namun ia tidak dapat memaksa. Ia tidak mau kehilangan

kesempatan. Apabila akuwu menjadi marah dan kecewa, maka

kesempatan baginya akan tertutup rapat-rapat. Karena itu, ia tidak

membantah. Namun dengan demikian, pemomong Ken Dedes itu

menjadi sedikit tenang. Ia kini sudah tahu, di mana momongannya

berada.

Kemudian Witantra dan istrinya beserta pemomong Ken Dedes

itu pun kembali ke rumahnya. Kepada emban yang mengawani Nyai

Witantra menunggu suaminya, Witantra berpesan

“Emban. Kalau kau dapat masuk ke sentong tengen,

sampaikanlah kepada gadis itu, bahwa pemomongnya telah berada

di Tumapel. Besuk ia akan dapat bertemu. Mudah-mudahan dengan

demikian ia menjadi agak tenang.

Emban itu mengangguk hormat.

Malam telah menjadi semakin larut. Bintang-bintang di langit

bergayutan pada dataran yang biru pekat. Satu-satu tampak

bintang-bintang yang seakan-akan lepas dari tangkainya, meluncur

jauh ke arah barat dan hilang meresap di dalam kelam.

Malam itu Witantra menceritakan segala yang diketahuinya

dengan berterus terang. Dari yang paling awal, hingga yang paling

akhir.

Nyai Witantra mengangkat wajahnya memandang asap pelita

yang menggapai-gapai kepanasan. Ditahankannya perasaan yang

bergolak di dalam dirinya. Meskipun suaminya terlepas dari segenap

hukuman, namun ia akan menghadapi pekerjaan yang berbahaya

Witantra telah pula menceritakan, bahwa ia harus memisahkan

Kuda Sempana dari gadis itu dengan cara yang sudah ditempuh

oleh Kuda Sempana sendiri. Kekerasan.

Persoalan itu akan menjadi persoalan yang aneh sekali. Persoalan

yang tidak lazim terjadi di antara manusia-manusia yang

menghargai kemanusiaannya. Persoalan yang seakan-akan dapat

dipecahkan dengan kekerasan oleh satu pihak tanpa menghiraukan

pihak yang berkepentingan. Dalam persoalan yang sulit itu, Ken

Dedes sendiri tidak dapat turut menentukan sikapnya.

Tetapi suaminya akan merebut gadis itu bukan karena nafsu

seperti apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana. Bahkan sebaliknya.

Ia ingin melepaskan gadis itu dari penderitaan yang akan dialaminya

sepanjang hidupnya. Meskipun Witantra pada suatu saat akan

bertempur, namun kini ia akan melakukannya dengan hati yang

terang, untuk tujuan yang terang pula. Sehingga meskipun Nyai

Witantra tidak dapat menekan kecemasan hatinya, tetapi suaminya

berbuat di atas lindasan yang kuat. Sebagai seorang prajurit maka

adalah menjadi kewajiban Witantra untuk melepaskan perbuatanperbuatan

yang dapat membahayakan jiwanya. Bertempur. Namun

bukanlah untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Tetapi

sebaliknya.

Dan kini Witantra itu telah dihadapkan pada kemungkinan itu.

Perang tanding, melawan Kuda Sempana.

Ken Arok malam itu tidak ikut kembali ke rumah Witantra. Anak

muda itu langsung kembali ke baraknya sendiri. Di perjalanan itu

kepalanya selalu dipenuhi oleh berbagai persoalan yang bercampur

baur. Heran, kecewa, ngeri dan cemas. Seakan-akan terbayang

kembali di muka wajahnya, apa yang pernah dilakukannya dan

disusul kemudian oleh apa yang telah dilakukan oleh Kuda Sempana

dan Tunggul Ametung. Apapun yang akan dilakukan oleh Tunggul

Ametung, namun Ken Dedes itu hatinya telah terluka. Dan luka itu

amat parahnya. Tak mungkin seseorang akan dapat menyembuhkan

luka itu, bahkan seandainya Ken Dedes itu dijadikannya permaisuri

sekalipun.

“Kasihan gadis itu,” desisnya di dalam hati, dan diteruskannya,

“untunglah Witantra bersedia untuk melepaskannya. Setidaktidaknya

akan mengurangi penderitaan yang akan dialaminya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. “Kasihan,” desahnya

berulang-ulang. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sendiri

takut melibatkan dirinya dalam persoalan itu. Ia takut apabila ia

benar-benar harus mengalami akibat dari persoalan-persoalan itu.

Bukan takut seandainya ia harus bertempur melawan siapa pun,

tetapi ia takut apabila ia harus menjadi pengganti orang yang telah

hilang dari hati Ken Dedes. “Aku adalah orang yang paling kotor di

dunia ini,” gumamnya, “Lebih kotor dari Kuda Sempana. Mungkin

Kuda Sempana baru melakukan hal ini untuk pertama kalinya,

sedang aku telah melakukannya berulang-ulang. Meskipun ada

beberapa perbedaan, namun pada hakikatnya adalah sama saja.”

Ken Arok itu terkejut, ketika tiba-tiba seseorang meloncat ke

tengah-tengah jalan yang dilewatinya. Dengan isyarat tangannya

orang itu menghentikannya.

Ken Arok menarik kekang kudanya yang memang berjalan

perlahan-lahan. Ketika diamatinya orang itu maka kemudian

diketahuinya, bahwa orang itu adalah Kuda Sempana.

“Adi Ken Arokkah itu?”

“Ya,” sahut Ken Arok pendek.

“Kau datang dari istana bersama Witantra?”

“Ya.”

Kuda Sempana berjalan perlahan-lahan mendekati Ken Arok yang

masih duduk di punggung kudanya. Dengan suara parau Kuda

Sempana bertanya, “Apa kerjamu di istana?”

Ken Arok mengerutkan keningnya Kemudian jawabnya, “Dari

mana kau tahu aku dari istana?”

“Kau sendiri mengatakannya.”

“Aku menjawab pertanyaanmu.”

“Beberapa orang melihat kau masuk ke istana. Beberapa orang

pelayan dalam dan para emban. Aku telah datang ke istana. Namun

kalian baru menghadap akuwu, sehingga aku membatalkan niatku.”

“Oh. Jadi kau sudah tahu.”

Kuda Sempana mengangkat alisnya. Dengan tajamnya ia

mencoba melihat wajah Ken Arok dalam kegelapan malam. Namun

Kuda Sempana tidak menemukan kesan apa-apa pada wajah itu.

“Apa yang kalian bicarakan?” bertanya Kuda Sempana kemudian.

“Bukan apa-apa.”

“Mustahil! Akuwu memanggil kalian pada saat-saat yang tidak

sewajarnya. Pasti ada yang penting kalian bicarakan dengan Akuwu

Tunggul Ametung.”

“Ya.”

“Apa?”

“Akuwu marah kepada Kakang Witantra dan kepadaku atas sikap

kami berdua.”

“Hanya marah?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Kemudian dijawabnya, “Ya.

Hanya marah. Apakah kau ingin tindakan lebih dari itu?”

“Telah terucapkan oleh Akuwu Tunggul Ametung, bahwa

Witantra akan digantung di alun-alun. Apakah ucapan itu telah

dicabut?”

“Ya.”

“Akh. Gila! Dengan demikian maka setiap keputusan akan dapat

dicabut tanpa alasan. itu tidak bijaksana. Seorang Akuwu harus

tetap pada pendiriannya. Sekali ia menjatuhkan keputusan, maka

keputusan itu harus dilaksanakan.”

Ken Arok tidak menjawab. Ia sudah sedemikian lelahnya,

sehingga segera ia ingin kembali ke biliknya, menjatuhkan diri dan

kalau mungkin tidur. Karena itu dibiarkannya Kuda Sempana

melepaskan perasaannya, tanpa diganggunya.

Namun Kuda Sempana menjadi jengkel karenanya. Seakan-akan

Ken Arok itu telah tidak mengacuhkannya. Karena itu maka ia

berkata lebih keras, “He, Adi Ken Arok. Bukankah aku berkata

sebenarnya. Bukankah Akuwu harus menepati keputusannya

menghukum Witantra di alun-alun?”

“Itu terserah kepada Akuwu,” sahut Ken Arok yang menjadi

semakin jemu mendengar kata-kata Kuda Sempana.

“Tetapi adalah tidak bijaksana dan menurunkan kewibawaannya

apabila seorang Akuwu mencabut keputusan tanpa alasan. Akuwu

sudah mengucapkan perintah untuk menggantung Witantra karena

menentang perintah Akuwu dalam saat yang sulit. itu adalah suatu

pemberontakan. Dan hukuman bagi seorang pemberontak adalah

hukum gantung di alun-alun. Kenapa tiba-tiba Akuwu mengubah

keputusan itu, hanya dengan memarahinya. itu tidak Adil! itu tidak

Adil!”

Ken Arok masih duduk terkantuk-kantuk di atas punggung

kudanya. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Kuda Sempana. Ia

tidak mau menyinggung perasaannya. Tetapi kata-katanya semakin

lama semakin menjemukan, sehingga kemudian dengan suara parau

ia menjawab, “Kakang. Sebaiknya pertanyaan itu Kakang sampaikan

saja kepada Akuwu. Tidak kepadaku.”

Kuda Sempana memandang Ken Arok seperti hendak di telannya

bulat-bulat. Dengan wajah tegang ia berkata, “He, Adi Ken Arok.

Apakah sebenarnya yang telah kalian bicarakan sehingga akuwu

membatalkan hukumannya?”

“Itulah. Akuwu marah kepada kami. Dan tanpa kami duga- duga,

Akuwu telah membatalkan hukumannya.”

“Bohong!” bentak Kuda Sempana, “kalian mesti membuat

rencana- rencana yang lain, yang memberikan kemungkinankemungkinan

untuk melepaskan kalian dari hukuman.”

“Ken Arok mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Pelupuk matanya

hampir-hampir tak dapat lagi ditariknya. Sekali ia menguap, dan

telapak tangannya menutup mulutnya yang terbuka itu. Dengan

malasnya ia menjawab, “Kakang. Bertanyalah kepada Kakang

Witantra. Hari ini telah terlampau malam untuk berbicara. Biarlah

aku beristirahat. Bukankah sebentar lagi kami sudah di bangunkan

oleh kokok ayam. Marilah kita pergunakan kesempatan yang tinggal

sesaat ini sebaik-baiknya.”

“Aku juga belum beristirahat. Tetapi aku tidak lelah. Aku tidak

mengantuk. Dan aku akan berbicara sampai aku mendapat

penjelasan yang memuaskan.”

“Silakan Kakang. Kalau Kakang tidak mengantuk, kalau Kakang

tidak lelah, dan kalau Kakang mau bangun sampai fajar, silakan.

Tetapi aku lelah dan mengantuk. Aku ingin beristirahat.”

“Tidak. Sebelum kau menjelaskan apa yang telah kalian

bicarakan.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Di langit dilihatnya bintang

berhamburan. Sekali-kali kelelawar terbang di atas kepalanya.

Kelelawar yang sedang mencari mangsanya. Ketika dilihatnya

beberapa kelelawar yang beterbangan itu. Ken Arok tersenyum di

dalam hati. Ia sendiri tidak tahu, kenapa pendeta di Sagenggeng

pernah berkata kepadanya, bahwa dari kepalanya telah keluar

berbondong-bondong kelelawar yang merusak buah jambunya.

“Lucu,” gumam Ken Arek di dalam hatinya, “apakah kepalaku ini

sarang kelelawar?”

Namun Ken Arok terkejut ketika Kuda Sempana membentaknya,

“He, Adi. Kenapa kau berdiam diri?”

“Ah,” desah Ken Arok, “aku benar-benar mengantuk.”

“Jawab pertanyaanku ini! Kenapa akuwu membatalkan

hukumannya kepada Witantra?”

“Hanya Akuwulah yang dapat menjawab. Bertanyalah kepada

Akuwu. Jangan kepadaku.”

Kuda Sempana menjadi marah mendengar jawaban Ken Arok itu.

Karena itu ia melangkah semakin dekat. Dengan dada tengadah ia

berkata, “Adi. Kau adalah seorang hamba yang belum lama berada

di lingkungan istana. Sedang aku, dapatlah dikatakan sejak bayi aku

berada di sini. Karena itu jangan mencoba menghina aku.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia

menjawab, “Tidak Kakang. Aku sama sekali tidak menghina. Aku

berkata sebenarnya. Karena itu biarkan aku pergi supaya Kakang

tidak tersinggung melihat sikapku. Sebenarnyalah karena aku tidak

dapat mencegah kantukku.”

Tetapi jawaban Ken Arok itu benar-benar tidak menyenangkan

Kuda Sempana, karena itu ia berkata pula, “Adi. Sekarang turunlah

dari kudamu. Beri aku penjelasan. Semakin cepat itu kau lakukan,

maka semakin cepat kau dapat beristirahat.

Ken Arok memandang Kuda Sempana dengan penuh keraguraguan.

Tetapi bukan kewajibannyalah untuk memberitahukan

persoalan yang terjadi di istana. Biarlah besok atau kapan saja

Witantra yang menemui Kuda Sempana dan mengatakan persoalan

itu. Bukan dirinya, sebab ia tidak mau terlibat semakin jauh.

Karena itulah maka ia menjawab, “Kakang Kuda Sempana. Sekali

lagi aku beri tahukan, bertanyalah kepada Akuwu Tumapel atau

kepada Kakang Witantra.”

“Jangan keras kepala!” bentak Kuda Sempana semakin marah.

Namun Ken Arok pun menjawab tegas, “Jangan memaksa!”

Selangkah Kuda Sempana maju mendekati Ken Arok sambil

berkata, “Turunlah! Jangan membuat aku marah!”

“Kau yang membuat aku marah,” sahut Ken Arok, “sebab bukan

hanya Kuda Sempana saja yang dapat menjadi marah.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya, namun hatinya menjadi

semakin menyala. Dengan gigi gemeretak ia berkata, “Adi Ken Arok.

Apakah kau membanggakan tanganmu yang mampu membunuh

seorang prajurit dengan tangan itu? jangan sombong karenanya.

Kau lihat, aku juga mampu membunuh Wiraprana dengan tanganku.

Kau lihat dengan kedua belah matamu yang bulat itu bukan? Nah,

sekarang katakan kepadaku, apa yang kalian bicarakan dengan

Akuwu, atau aku terpaksa memaksamu?”

Tubuh Ken Arok tiba-tiba menjadi gemetar. Ia sama sekali tidak

menyangka bahwa Kuda Sempana dapat berlaku sekasar itu. Tetapi

ia sendiri adalah bekas seorang penyamun, pembunuh, perampok

dan bahkan seorang hantu di padang rumput Karautan. Kini ia telah

mendapat tuntunan yang dapat mengatur segala gerak dan tingkah

lakunya, sehingga kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan

kepadanya, telah dapat disusunnya menjadi suatu kekuatan yang

dahsyat. Karena itu, maka ia sama sekali tidak takut menghadapi

Kuda Sempana seandainya terpaksa ia harus berkelahi. Tetapi

kembali ia menjadi ragu-ragu. Ketika ia hampir saja meloncat dari

punggung kudanya, maka diingatnya kembali kata-kata Akuwu

Tumapel kepada Witantra, bahwa ia harus merebut Ken Dedes

dengan kekerasan. Bukan untuk dirinya atau untuk Witantra, namun

perbuatan itu dilakukan asal saja dapat membebaskan Ken Dedes

dari Kuda Sempana. Karena itu, maka kali ini Ken Arok menjadi

bimbang. Kalau sampai dirinya terlibat dalam perkelahian dengan

Kuda Sempana, maka apa yang akan di lakukan oleh Witantra akan

menjadi hambar. Mungkin Witantra dan Akuwu Tunggul Ametung

akan marah kepadanya. Karena itu, maka biarlah Witantra kelak

berhadapan dengan Kuda Sempana dalam persoalan itu. Ia tidak

akan mendahului.

Dengan demikian, ketika Ken Arok itu melihat Kuda Sempana

selangkah lagi maju. maka dengan serta-merta ditariknya kendali

kudanya dan dengan ujung kendali dilecutnya kuda itu.

Kuda itu terkejut bukan kepalang. Dengan kerasnya kuda itu

meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya. Namun sejenak

kemudian kuda itu meloncat dan menghambur ke dalam kelamnya

malam.

Kuda Sempana pun terkejut melihat kuda itu meloncat. Dengan

tangkasnya ia meloncat ke samping dan dengan marahnya ia

melihat kuda itu berlari menjauhinya.

“Pengecut!” umpatnya, “aku sangka kau seorang jantan.”

Dari kejauhan Ken Arok menjawab, “Aku menghindar kali ini

Kakang. Kalau kau tidak puas, buatlah persoalan yang lain pada

kesempatan yang lain. Aku akan mencoba melayani.”

“Setan! Berhenti kalau kau laki-laki!”

Tetapi Ken Arok telah semakin jauh. Derap kudanya gemeretak di

atas batu-batu di jalanan. Semakin lama semakin lambat dan

akhirnya lenyap dalam keheningan malam.

“Pengecut!” gumamnya.

Kuda Sempana itu terkejut ketika ia mendengar gerit pintu di

belakangnya. Agaknya penghuninya mencoba melihat apa yang

terjadi di jalan. Ketika ia mendengar suara ribut-ribut, ia mencoba

mengintip dari lubang-lubang dinding, namun ketika ia tidak melihat

apa-apa, maka terpaksa dibukanya pintu rumahnya. Seberkas sinar

pelita yang lemah meluncur dari secercah pintu yang terbuka itu.

Namun hanya sebentar, kemudian pintu itu telah tertutup kembali.

Kuda Sempana mengumpat-umpat tidak habis-habisnya.

Kemudian dengan tergesa-gesa ia berjalan ke barak Ken Arok. Ia

tidak puas dengan pertemuan yang menyakitkan hati itu. Anak itu

akan dicarinya dan dipaksanya untuk berkata. Tetapi kemudian ia

menjadi ragu-ragu. Ken Arok berhasil melawan Mahisa Agni dengan

baik. Bahkan belum dapat dilihat apakah ia akan dikalahkan. Kuda

Sempana melihat bahwa dalam perkelahian itu, Mahisa Agni itu

telah berusaha melepaskan kekuatan tertinggi yang disimpan dalam

dirinya. Ah, mungkin Mahisa Agni menjadi bingung menghadapi

persoalan itu. Kalau ia masih senang, maka aku sangka Ken Arok itu

akan dengan mudah dikalahkan. Kalau ia berani melawan aku, maka

aku kira ia akan luluh menjadi debu, apabila tersentuh kekuatan aji

Kala Bama.

Kuda Sempana itu pun semakin mempercepat langkahnya. ia

hampir tidak sabar lagi ketika tampak olehnya barak Ken Arok yang

membujur di belakang sebuah halaman yang luas.

Seorang penjaga yang bertugas di pintu gerbang tiba-tiba

merundukkan tombaknya sambil bertanya, “Siapa?”

“Minggir! Aku pecahkan kepalamu nanti,” sahut Kuda Sempana

kasar.

“Oh. Kau Kakang Kuda Sempana?”

“Apakah Ken Arok sudah pulang?”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,

“Belum Kakang.”

“Jangan bohong. Kau mau mencoba melindunginya?”

Penjaga itu menjadi bingung. Ia tidak tahu persoalan apakah

yang sudah terjadi. Karena itu sekali lagi ia menjawab, “Belum. Aku

tahu pasti, Ken Arok belum kembali ke barak.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ken Arok yang

mendahuluinya berkuda itu pasti sudah sampai di sini. Karena itu ia

menjadi jengkel mendengar jawaban itu. Sehingga sekali lagi ia

membentak, “Jangan bohong! Atau kau tertidur dalam tugasmu?”

“Tidak,” jawab penjaga itu.

“Apa yang tidak?”

“Tidak bohong dan tidak tertidur.”

“Kalau begitu kau sengaja melindunginya. Minggir! Biarlah aku

cari sendiri anak itu di dalam biliknya.”

Penjaga itu sudah kenal betul siapakah Kuda Sempana. Ia adalah

anggota yang lebih tua daripadanya. Karena itu maka dibiarkannya

Kuda Sempana itu masuk.

Dengan langkah yang panjang-panjang Kuda Sempana langsung

menuju ke bilik Ken Arok. Dengan serta-merta ditariknya daun pintu

leregan yang terkatup.

Ketika pintu itu bergerit, maka terkejutlah tiga orang penghuni

bilik itu. Dengan tangkasnya mereka berloncatan dari pembaringan

mereka. Tetapi ketika mereka melihat Kuda Sempana berdiri di

muka pintu, maka terdengarlah mereka berdesah dan mengumpat

di dalam hati mereka.

“Kau mengejutkan kami Kakang,” berkata salah seorang

daripadanya.

Kuda Sempana sama sekali tak acuh mendengar perkataan itu.

Dengan nanar ditebarkannya pandangan matanya ke segenap sudut

ruang itu. Namun Ken Arok benar tidak ada di dalam biliknya itu.

“Siapakah yang kau cari?” bertanya yang lain.

“Ken Arok,” jawab Kuda Sempana singkat.

“Bukankah Ken Arok pergi bersamamu berburu sejak pagi tadi?”

Kuda Sempana tidak menjawab, bahkan berpaling ke pada orang

yang berkata itu pun tidak. Segera ia melangkah meninggalkan bilik

itu sambil mengumpat di dalam hatinya, “Ke mana anak setan ini

pergi?”

Tetapi Kuda Sempana sudah kehilangan nafsu untuk mencarinya.

Karena itu, maka ia pun segera meninggalkan barak itu untuk

kembali ke baraknya sendiri. Namun kepalanya selalu diganggu oleh

persoalan-persoalan yang tidak menentu. Tentang Akuwu Tunggul

Ametung, tentang Witantra dan tentang Ken Dedes. Kalau akuwu

melepaskan perlindungannya kepadanya, maka dikhawatirkan

bahwa Mahisa Agni akan segera datang menyusul Adiknya. Atau ….

Kuda Sempana menghentakkan giginya.

“Akuwu itu pun tidak ubahnya seperti hantu-hantu yang

berkeliaran di kuburan. Setiap saat ia dapat menerkam dan

mencelakakan. Kenapa gadis itu aku biarkan tinggal di dalam

istana?”

Tetapi Kuda Sempana tidak pergi ke istana. Di regol masih

dilihatnya penjaga yang berdiri terkantuk-kantuk.

“He, kau kantuk lagi?”

“Tidak,” sahut penjaga itu. Dan dilihatnya Kuda Sempana

berjalan tergesa-gesa meninggalkan halaman itu.

Ketika Kuda Sempana telah hilang di dalam kegelapan malam,

maka barulah penjaga itu teringat bahwa baru saja dilihatnya seekor

kuda yang berlari kencang dan membelok di ujung jalan sebelum

melampaui penjagaannya.

“Kalau Ken Arok masih membawa kudanya, maka pasti kuda

yang membelok itu tadi,” gumam penjaga itu kepada diri sendiri.

Dan sebenarnyalah Ken Arok mengurungkan niatnya kembali ke

pondoknya. Ia merasa tidak tenang di dalam barak itu. Menurut

perhitungannya. Kuda Sempana pasti akan menyusulnya dan

mengganggunya lagi, sehingga ia tidak akan sempat untuk

beristirahat. Karena itu Ken Arok memacu kudanya ke rumah

Witantra. Ia mengharap dapat beristirahat di rumah itu. Dan

seandainya Kuda Sempana mencarinya ke sana, biarlah Witantra

yang memberinya jawaban

Ketika ia memasuki halaman rumah Witantra, ternyata Witantra

pun baru saja sampai. Sebab ia terpaksa menuntun kudanya dan

berjalan bersama istri dan pemomong Ken -Dedes.

Kehadiran Ken Arok itu benar-benar mengejutkannya, tetapi

ketika Ken Arok telah menceritakan apa yang terjadi, maka Witantra

itu pun tersenyum. Katanya, “Nah, kalau Adi mau tidur, tidurlah,

meskipun hanya di atas sehelai tikar.”

“Biarlah. Aku ingin beristirahat tampak diganggu oleh siapa pun.

Karena itu aku berlari kemari.”

Ken Arok itu pun segera dipersilakan tidur di ruang tengah,

namun Ken Arok itu berkata, “Biarlah aku tidur di luar Kakang,

udara terlalu panas.”

“Di luar terlalu dingin,” sahut Witantra.

“Tidak. Di luar udara segar dan sejuk.”

Sambil menjinjing sehelai tikar Ken Arok pergi ke samping rumah.

Seperti pada masa-masanya yang telah lampau segera ia memanjat

ke atas kedogan kuda dan tidur dengan nyenyaknya beralaskan

tikar dan jerami.

Tetapi di dalam rumah itu, Witantra tidak segera dapat

memejamkan matanya. Ia sedang membuat gambaran-gambaran

tentang usahanya untuk menolong Ken Dedes dari ketakutan dan

derita sepanjang umurnya.

“Besok aku harus menemui Kuda Sempana,” desisnya. Dan

dipaksanya dirinya melupakan sejenak apa saja yang akan terjadi.

Ketika malam sudah hampir menjelang pagi, barulah Witantra dapat

tertidur sesaat.

Namun seisi rumah itu pun segera terkejut ketika terdengar

derap kaki-kaki kuda memasuki halaman rumah itu. Sebelum

mereka menjadi sadar benar, maka terdengarlah ketokan yang

keras pada pintu depan.

Witantra meloncat dari pembaringannya. Namun ia tidak segera

beralih membuka pintu rumahnya. Sesaat ia memperhatikannya

dengan sungguh-sungguh. Ketika ketokan itu masih saja berulang

berkali-kali maka terdengar Witantra bertanya, “Siapa?”

“Aku,” terdengar jawaban di luar pintu, “Kuda Sempana.”

“Oh,” Witantra menarik nafas panjang, dan gumamnya di dalam

hati, “Ternyata anak ini tidak bersabar sampai matahari memancar

kembali.”

Perlahan-lahan Witantra pergi ke pintu rumahnya. Istrinya yang

terbangun pula, berdiri dengan tegang di muka sentongnya. Ketika

Witantra lewat di sampingnya, maka terdengar istrinya berbisik,

“Hati-hatilah Kakang.”

“Anak itu tidak akan apa-apa. Ia belum tahu segenap persoalan

yang harus dilakukannya. Kedatangannya pasti hanya di dorong

oleh kegelisahan yang tak dapat ditundanya.

Istrinya tidak menjawab. Namun wajahnya masih saja tegang

seperti hatinya yang tegang pula.

Di muka pintu Witantra masih bertanya, “Adi Kuda Sempana,

kenapa Adi datang di pagi-pagi buta ini?”

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan Kakang,” jawab Kuda

Sempana.

Sesaat kemudian terdengar pintu bergerit terbuka. Di muka pintu

berdiri Kuda Sempana dengan nafas terengah-engah.

Dipandanginya wajah Witantra dengan penuh kecurigaan.

“Marilah,” Witantra mempersilakan.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak

Kakang. Aku hanya ingin tahu, apakah yang Kakang perbincangkan

dengan Akuwu bersama Adi Ken Arok?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa Adi tidak

menunggu sampai besok siang?”

“Aku tidak tahan. Hatiku seakan-akan selalu diganggu oleh

pertemuan kalian.

“Kenapa?” bertanya Witantra.

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Hatinya menjadi

berdebar-debar dan kata-katanya seakan-akan tersangkut di

kerongkongan.

Di samping rumah itu, di atas kandang kuda, Ken Arok

mendengar pula kehadiran Kuda Sempana. Namun dengan

malasnya ia menggeliat dan berusaha untuk tidur kembali.

Tetapi percakapan antara Witantra dan Kuda Sempana ternyata

menarik perhatiannya, sehingga justru ia mencoba menangkap

setiap kata yang meluncur dari sela-sela Bibir mereka.

Sejenak kemudian terdengar Kuda Sempana menjawab, “Kakang,

pertemuan yang terjadi di istana malam tadi adalah tidak wajar.”

“Apa yang tidak wajar?”

“Akuwu tidak biasa memanggil seseorang di malam hari apabila

tidak terlalu penting.”

“Ya. Memang Akuwu memanggil pada sore hari. Namun aku

masih harus mandi dan makan dahulu, sehingga aku datang

terlambat.”

“Kalau Kakang yang terlambat, tidak mungkin Akuwu akan

menerima Kakang. Bahkan mungkin Kakang telah diusirnya.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia menjadi raguragu

Apakah ia akan mengatakan apa yang didengarnya dari Akuwu

saat itu juga. Tetapi tebersit di dalam hatinya, apabila mungkiri

biarlah ditemuinya saja Kuda Sempana pada kesempatan yang lebih

baik. Tidak di pagi-pagi buta dan apabila ia tidak sedang dibakar

oleh kebingungan.

Karena itu, maka sekali lagi Witantra itu berkata, “Adi Kuda

Sempana. Duduklah. Dan marilah kita berbicara dengan tenang.

Apabila Adi tidak juga mau duduk, maka setiap pembicaraan pasti

akan tergesa-gesa.”

“Tidak Kakang. Aku hanya perlu sepatah dua patah kata dari

Kakang. Apakah yang dibicarakan akuwu malam tadi?”

Witantra mengerutkan keningnya. Sambil menebarkan

pandangan matanya ke seluruh halaman ia berkata, “Apakah Adi

Kuda Sempana belum mendengarnya dari Adi Ken Arok.”

Kuda Sempana menggeleng. “Belum,” jawabnya.

“Kenapa Adi tidak bertanya saja kepadanya?”

Anak muda yang bernama Kuda Sempana itu mengernyitkan

alisnya. Dengan jengkel ia menjawab, “Aku sudah bertanya

kepadanya, tetapi ia minta kepadaku untuk menanyakan saja

kepada Kakang Witantra.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih

mencoba menunggu sampai siang. Katanya, “Baiklah, nanti aku

akan datang ke barakmu. Aku akan minta Adi Ken Arok

menceritakan apa yang telah didengarnya dari akuwu.

“Kenapa nanti? Dan kenapa Ken Arok?” sahut Kuda Sempana

semakin jengkel, “Ken Arok minta kepadaku untuk menghubungi

Kakang. Kakang sekarang berkata, akan membawa Ken Arok.

Apakah aku ini kalian sangka seperti sebuah balok permainan yang

dapat dilemparkan ke sana kemari.”

“Bukan itu maksudku Adi. Tetapi kali ini adalah bukan waktu

yang tepat untuk berbincang. Biarlah istri dan ibuku tidur sampai

fajar. Kedatangan Adi benar-benar mengejutkan mereka.”

“Kalian selalu mementingkan kepentingan diri. Ken Arok juga

berkata demikian. Ia ingin segera tidur. Kakang juga hanya berpikir

tentang keluarga Kakang. Tetapi Kakang tidak mau mengerti

perasaanku. Semalam aku tidak dapat tidur. Semalam aku selalu

diburu oleh kegelisahan.”

“Bukankah itu juga suatu perbuatan yang hanya mementingkan

kepentinganmu sendiri? Kalau kita berbuat dengan memperhatikan

kepentingan orang lain, maka kau tidak akan datang kemari di pagi

buta ini. Kau pasti akan menunggu sampai hari besok.”

Kuda Sempana terdiam. Namun kemudian ia menjawab, “Nah.

Sekarang aku minta Kakang mengatakan. Dua tiga patah kata saja.

Bagaimana sikap Akuwu terhadap gadis itu?”

“Gadis itu menjadi sakit karenanya.”

“Aku bertanya tentang sikap Akuwu terhadap gadis itu.

“Oh. Akuwu mencoba mengobatinya. Telah dipanggil olehnya

seorang dukun yang baik.”

“Bukan itu!” Kuda Sempana tiba-tiba membentak, “Sikap

perasaan Akuwu sebagai laki-laki terhadap perempuan.”

Witantra menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian katanya, “Kuda

Sempana tinggalkan tempat ini. Kau tahu siapa aku? Perwira prajurit

pengawal istana dan akuwu. Kau dengar perintah ini, hai pelayan

dalam?”

Telinga Kuda Sempana seakan-akan seperti tersentuh api

mendengar kata-kata itu.

Sesaat ia terpaku, namun giginya gemeretak menekan

kemarahan yang melonjak-lonjak di hatinya. Hampir-hampir ia

kehilangan pengamatan diri. Sebagai seorang laki-laki yang telah

berani melakukan perbuatan yang berbahaya, melarikan seorang

gadis, maka apapun yang akan menghalanginya, pasti akan

diterjangnya. Tetapi kali ini ia berhadapan dengan seorang perwira

pengawal istana dan akuwu. Karena itu ia menjadi ragu-ragu. Bukan

karena ia takut untuk berkelahi melawannya, tetapi apakah dengan

demikian ia tidak melanggar ketentuan sebagai seorang hamba

istana.

Sejenak Kuda Sempana berdiri tegang. Dipandanginya mata

Witantra yang seakan-akan menyala membakar jantungnya Namun

kemudian pandangan matanya itu terlempar jauh ke sudut halaman.

Yang terdengar kemudian adalah suara Witantra, “Tinggalkan

tempat ini!”

Dada Kuda Sempana berdebar-debar keras sekali. Selangkah ia

surut namun kemudian jawabnya, “Kakang Witantra, ternyata

Kakang tidak mau menolong meringankan perasaanku. Baik. Selagi

aku terikat pada ketentuan dan peraturan, aku menaati perintahmu.

Tetapi pada suatu ketika kita akan berdiri di luar garis jabatan kita

masing-masing. Dalam kesempatan itu kita akan bertemu sebagai

dua orang laki-laki. Kali ini kau masih dapat mempergunakan

kekuasaanmu untuk mengusir aku. Namun pada saatnya kau akan

terbungkam.”

“Kuda Sempana!” geram Witantra, “Saat itu tidak akan lama lagi

datang. Di mana kita akan berhadapan sebagai dua orang laki-laki

tanpa tanda- tanda jabatan masing-masing.”

Kuda Sempana membelalakkan matanya. Timbullah kecurigaan

yang semakin besar di dalam dirinya. Sehingga karena itu ia

berkata, “Aku tidak sabar lagi menunggu saat itu datang.”

“Pergilah!” hardik Witantra, “Kau tidak akan menunggu sampai

matahari terbenam di hari yang akan datang nanti.”

Sekali lagi Kuda Sempana menggeretakkan giginya.

Dipandangnya wajah Witantra sekali lagi. Kemudian cepat-cepat ia

memutar tubuhnya. dan berjalan tergesa-gesa ke kudanya. Sesaat

kemudian terdengarlah langkah kudanya menderu di keremangan

fajar yang sudah mulai membayang di timur.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ditengadahkan wajahnya,

dan dilihatnya bintang pagi berkilauan di tenggara. Cahaya yang

kemerah-merahan sudah mulai membayangi langit. Dan di kejauhan

ayam jantan riuh berkokok bersahutan.

Ketika Witantra akan melangkah memasuki rumahnya, dilihatnya

Ken Arok berjalan dari samping rumahnya. Sekali ia menggeliat

kemudian katanya, “Kakang Kuda Sempana benar-benar diombangambingkan

oleh perasaannya sendiri.

“Itu adalah hukumannya yang pertama,” sahut Witantra.

“Ya. Hukuman itu masih akan bertambah-tambah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya pula,

“Perbuatan-perbuatan yang demikian tidak akan mendatangkan

ketenteraman di dalam hati. Nah, marilah, Masuklah. Apakah kau

dapat tidur pagi ini?”

“Sebentar. Derap kaki kuda Kakang Kuda Sempana telah

membangunkan aku.”

Kembali Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan

kembali Witantra itu berkata, “Marilah. Masuklah.”

“Terima kasih. Biarlah aku mandi dahulu.”

Setelah mereka membersihkan diri masing-masing, barulah

mereka duduk di ruang depan rumah Witantra itu sambil

menghangatkan diri dengan air daun sere. Meskipun demikian,

angan-angan mereka sama sekali tidak melekat pada keadaan

mereka saat itu. Mereka sedang sibuk membayangkan, apa yang

akan terjadi seterusnya.

“Apakah kita akan menghadap Akuwu?” bertanya Ken Arok.

“Tidak, Akuwu telah mengeluarkan perintah. Aku akan langsung

datang kepada Kuda Sempana. Hari ini persoalan harus selesai.

Sehingga besok, gadis itu sudah tidak lagi terlibat dalam arus

ketakutan dan kecemasan.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalau

demikian apakah kita langsung pergi ke barak Kakang Kuda

Sempana.”

“Ya,” jawab Witantra, “marilah kita pergi ke sana.”

Keduanya segera berdiri. Ketika Ken Arok berjalan ke luar,

Witantra masuk ke dalam mencari istrinya.

“Aku akan pergi Nyai,” pamitnya.

Nyai Witantra sudah tahu, apa yang akan dilakukan oleh

suaminya. Karena itu mau tidak mau, maka hatinya pun menjadi

cemas.

“Hati-hatilah Kakang,” suaranya lirih, hampir tidak dapat

meloncat dari Bibirnya yang tipis.

“Aku akan mencoba menjaga diriku baik-baik,” sahut Witantra.

Ibunya, yang kemudian datang pula, menepuk pundak anaknya

sambil berkata, “Kau adalah seorang prajurit.”

“Ya. Dan kali ini aku tidak sedang menghadapi musuh-musuh

Tumapel, tetapi aku sedang berjuang untuk mencoba

menyelamatkan sesama.”

“Itu juga pekerjaan seorang kesatria,” bisik ibunya.

Namun mereka terkejut ketika mereka mendengar suara yang

bernada tinggi, “Kakang Witantra selalu mencari kesulitan.”

Witantra berpaling. Dilihatnya Ken Umang bersandar tiang pintu

sentongnya. Dengan mengangkat dadanya ia berkata, “Kalau

Kakang tidak mencampuri persoalan itu, maka Kakang tidak akan

dihadapkan pada persoalan-persoalan yang rumit. Kalau Kakang

pergi berperang pedang di tangan, menghadapi musuh-musuh

Tumapel, maka akan berbanggalah seluruh rakyat Tumapel. Tetapi

kali ini? Kakang berkelahi untuk seorang perempuan yang tak tahu

diri. Perempuan pedesaan apa yang dicita-citakan? Menjadi istri

Akuwu barangkali? Istri Tunggul Ametung?”

“Umang!” potong Nyai Witantra, “Jangan berkata lagi tentang

persoalan yang tidak kau ketahui.”

“Aku tahu seluruh persoalannya.”

“Tidak!” potong Witantra, “Persoalan ini tidak terlalu sederhana.

Bukan sekedar persoalan merebut perempuan. Tetapi persoalan ini

adalah persoalan kemanusiaan. Persoalan yang lebih berharga dari

segenap persoalan.”

Ken Umang mencibirkan Bibirnya sambil mengangkat wajahnya.

Hidungnya yang kecil, runcing seakan-akan membayangkan hatinya

yang runcing pula.

Kemudian sambil tersenyum Ken Umang itu berkata, “Kakang

Witantra ingin menjadi pahlawan kemanusiaan.”

Wajah Witantra menjadi semburat merah. Tetapi ia tidak mau

melayani anak-anak sebaya Ken Umang. Seorang anak yang sedang

dilanda oleh arus pancaroba. Seorang anak gadis yang belum

menemukan alas berpijak. Karena itu maka bisiknya kepada istrinya,

“Awasi Adikmu. Ia sedang berada di daerah yang paling berbahaya

di sepanjang perjalanan hidupnya. Ia memandang dunia dari dirinya

dan berpusar pada dirinya pula. Dalam usia yang demikian, maka

berkecamuklah di dalam dadanya, iri, cemburu, cita-cita dan nafsu.

Kalau sekali ia salah berpijak maka ia akan tersesat untuk

seterusnya.”

“Alangkah sulitnya menguasai anak itu,” desak kakak

perempuannya.

“Mudah-mudahan kau berhasil,” sahut Witantra, yang kemudian

sekali lagi ia minta diri.

Istrinya, ibunya dan Ken Umang mengantar Witantra dan Ken

Arok sampai ke muka regol. Wajah Nyai Witantra masih saja disaput

oleh kecemasan hatinya. Ia tahu benar, apa yang akan dilakukan

oleh suaminya. Mengemban tugas kemanusiaan, memisahkan gadis

yang malang dari Panawijen itu dari Kuda Sempana.

Agak jauh dari mereka, berdirilah emban pemomong Ken Dedes

dengan penuh kebimbangan. Sekali ia melangkah maju, dan

langkah itu terhenti ketika Ken Umang berpaling kepadanya.

“He, Nini tua,” bertanya Ken Umang, “Apakah momonganmu itu

terlalu amat cantik, sehingga seisi istana menjadi bingung

karenanya?”

Pemomong Ken Dedes mengerutkan keningnya. Namun katakata

itu dijawabnya, “Tidak Ngger. Momonganku adalah seorang

gadis pedesaan yang sederhana.”

“Nah, bukankah kau ikut berbangga karenanya? Lihat, semua

orang di dalam Istana Akuwu Tumapel memperbincangkannya. Ken

Dedes. Ken Dedes. Kau lihat, Kakang Witantra, perwira pengawal

istana dan pengawal akuwu itu pun menjadi sangat sibuknya.

Seorang anak muda pelayan dalam yang tidur di sini semalam pun

menjadi ribut. Belum lagi pelayan dalam yang bernama Kuda

Sempana yang hampir gila dibuatnya.”

Emban tua itu tidak menjawab Bahkan ditundukkannya

wajahnya. Banyak kata-kata yang bergolak di dalam dadanya.

Namun ditahannya kata-kata itu kuat-kuat, dan disimpannya baikbaik,

Tetapi ternyata terloncat jawaban dari Nyai Witantra, kakak

perempuan Ken Umang itu sendiri.

“Umang, Bibi tua tidak tahu apa-apa. Dan apakah salah Ken

Dedes, apabila seluruh isi istana menjadi ribut. Bahkan seandainya

seluruh laki-laki di Tumapel terbakar pula hatinya melihat

kehadirannya di istana serta melihat kecantikannya. Umang, kau

juga seorang gadis yang cantik. Namun beruntunglah nasibmu,

bahwa kau tidak usah mengalami bencana seperti Ken Dedes.

Sebentar lagi kau juga akan meningkat dewasa sepenuhnya. Hatihatilah.”

Sekali lagi Ken Umang mengangkat dagunya. Kedua matanya

yang redup memandang emban tua itu dengan pancaran yang

aneh. Namun ia tidak membantah kata-kata kakaknya. Di dalam

hatinya tebersitlah kebanggaannya atas kecantikannya. Seperti yang

didengarnya dari kakaknya perempuan itu, dari mertua kakaknya

dan dari beberapa orang lagi. Sekali-kali ia becermin juga di wajah

air yang tenang. Dan memang wajahnya pun tidak kurang

cantiknya. Sebentarlah lagi, seandainya bunga, maka bunga itu

akan berkembang.

Tetapi kenapa kecantikannya itu tidak mampu menggetarkan

istana seperti Ken Dedes? Ia akan berbangga seandainya laki-laki

datang bersimpuh kepadanya. Ia akan dapat berbuat banyak

dengan kesempatan seperti yang didapatkan oleh Ken Dedes itu.

Tetapi ternyata Ken Dedes menyesali nasibnya itu.

“Alangkah bodohnya,” geram Ken Umang di dalam hatinya,

“Kalau aku, maka aku akan dapat memilih di antara mereka.

Dengan berbagai sayembara, maka akhirnya aku mendapatkan yang

paling baik di antara mereka. Mungkin sayembara tanding. Mungkin

sayembara pilih. Mungkin sayembara bebana atau apapun yang

menyenangkan. Ah. Dasar gadis pedesaan. Gadis yang dikungkung

oleh perasaan yang sempit. Yang menilai cinta sebagai nyawanya

sendiri. Bagiku, cinta adalah kehidupan ini. Kehidupan yang

memberi aku kepuasan. Yang memberi aku apa yang aku inginkan

kini. Itulah cinta yang bijaksana. Cinta yang terasa segarnya sebagai

meneguk air kelapa ketika kita sedang kehausan. Bukan cinta yang

selalu dirundung malang. Cinta yang dibungai oleh air mata dan

penyesalan.”

Tetapi ia tidak berkata apa-apa. Disimpannya penilaiannya atas

cinta itu di dalam hatinya. Tetapi seolah-olah ia berjanji kepada diri

sendiri, bahwa ia akan dapat menemukan cinta seperti yang

diharapkannya itu.

Dengan langkah yang pendek-pendek Ken Umang berjalan

kembali masuk ke dalam rumah. Sekali ia berpaling dan dilihatnya

ketiga orang perempuan masih berdiri di tempatnya. Nyai Witantra

memandanginya sampai ia hilang masuk ke balik pintu.

“Anak itu anak yang terlalu bengal,” desisnya.

“Sabarlah Nyai,” sahut ibu Witantra, “mudah-mudahan semakin

banyak umurnya, ia akan menjadi semakin menyadari arti hidupnya.

Hidup seorang gadis, yang kelak akan menjadi seorang perempuan

dan syukurlah menjadi seorang ibu.”

Nyai Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata,

“Mudah-mudahan. Tetapi tidak semua gadis mengalami masa yang

tajam setajam pergolakan yang terjadi dalam diri Ken Umang. Aku

juga pernah merasakan ketidaktentuan dalam hidup dan cita-cita.

Namun segera aku dapat menemukan keseimbangan. Namun anak

itu tidak.

“Ajarilah perlahan-lahan,” berkata mertuanya.

Nyai Witantra pun kemudian terdiam. Dipandanginya pintu

rumahnya yang masih terbuka. Namun Adiknya sudah tidak tampak

lagi. Karena itu maka segera ia mempersilakan ibunya masuk dan

mempersilakan emban tua pemomong Ken Dedes itu pula beserta

mereka.

Malam itu, Akuwu Tunggul Ametung hampir tidak dapat tertidur

pula. Sekali-kali ia bangkit berjalan hilir mudik di dalam biliknya.

Namun ketika terasa udara terlalu panas, maka akuwu itu pun

berjalan keluar ruangan dengan sebuah kepet di tangannya. Di

serambi, di luar ruangan dalam dilihatnya seorang pelayan duduk

terkantuk-kantuk menunggu seandainya ada perintah daripadanya

Sedang di sudut halaman dilihatnya pelita yang suram dalam gardu

penjagaan para prajurit.

Tetapi di serambi itu pun terasa panasnya masih menyengat

tubuhnya. Keringatnya mengalir membasmi seluruh wajah kulitnya.

Tetapi Tunggul Ametung tidak menyadari, bahwa sebenarnya yang

paling panas malam itu adalah nyala kegelisahan di dalam dadanya

sendiri. Karena itu, ke manapun ia pergi, dan bahkan seandainya ia

berendam di dalam air dingin sekalipun, maka tubuhnya pasti masih

akan terasa panas.

Tanpa disengajanya, maka akuwu itu kemudian berjalan ke

samping, menembus pintu dan sampailah ia di ruangan pusat istana

Tumapel. Di belakang ruangan itulah berjajar tiga buah ruangan

yang disebut sentong kiwa, sentong tengah dan sentong tengen.

Kakinya seolah-olah bergerak saja dengan sendiri, sehingga akuwu

itu terkejut ketika dilihatnya seorang emban tidur mendengkur

beralaskan selendangnya di muka pintu sentong tengen.

Hampir-hampir Tunggul Ametung membentaknya. Tetapi

untunglah segera ia teringat kepada gadis yang pingsan di dalam

bilik kanan itu. Karena itu maka niatnya diurungkan Bahkan

perlahan-lahan sambil berjingkat Tunggul Ametung berjalan

mendekati sentong tengen itu. Ketika ia menjenguk ke dalam

dilihatnya Nyai Puroni pun tertidur sambil meletakkan kepalanya di

pembaringan Ken Dedes.

Akuwu menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya gadis yang

pingsan itu kini telah tertidur pula, meskipun tampak gelisah. Sekalikali

dilihatnya gadis itu menggeliat, kemudian terdengar suara

keluhan perlahan-lahan. Namun gadis itu tertidur kembali.

“Gadis itu tertidur karena kelelahan. Lelah lahir dan batinnya,”

gumam Tunggul Ametung kepada diri sendiri.

Tetapi Tunggul Ametung itu tidak segera beranjak dari

tempatnya. Tiba-tiba ia terpaku kepada wajah gadis yang sedang

tidur di pembaringan itu. Wajahnya yang pedih menahan sakit hati,

matanya yang bendul karena menangis dan bibinya yang tipis

bergerak-gerak melontarkan keluhan yang sedih. Namun semuanya

itu benar-benar telah memukau hatinya. Baru kini ia sempat

memandang wajah itu dengan seksama. Wajah yang wajar bersih

tanpa selapis pulasan apapun. Bahkan tampaklah air matanya masih

juga membasahi ujung-ujung rambut dan bantalnya.

“Hem,” akuwu itu menarik nafas dalam-dalam, “Kasihan. Gadis

yang bersih itu kini kehilangan kegemitangan masa depannya.

Kehitangan kekasih yang dicintainya. Kehitangan kemerdekaan

dirinya dan kehilangan apapun yang dimilikinya apa bila ia benarbenar

jatuh ke tangan Kuda Sempana.

“Hem, setan itu benar-benar telah menjebak aku.”

Tetapi desah itu pun terputus. Akuwu menggelengkan kepalanya.

Ia telah berbuat di hadapan saksi-saksi. Ia tidak akan dapat

melemparkan tanggung jawab kepada orang lain. Ia tidak akan

berkata bahwa perbuatan itu dilakukan oleh Kuda Sempana. Ia tidak

akan bisa menghukum orang lain karena perkosaan atas

kemanusiaan. Semua telah terjadi di hadapan hidungnya.

“Hem,” sekali lagi Tunggul Ametung itu menggeram. Dan sekali

dipandanginya wajah gadis yang sedang tertidur itu. Wajah yang

wajar bersin tanpa selapis pulasan apapun.

“Kalau aku dapat mencarikan ganti yang hilang dari gadis itu,”

katanya di dalam hati, “Seandainya aku memiliki seseorang yang

bernama Wiraprana. Seandainya aku dapat menghidupkannya

kembali. Seandainya, ya seandainya semua itu belum terjadi Tetapi

itu adalah angan-angan yang mustahil terjadi. Sekarang, ya, apa

yang dapat dilakukannya?”

Hati Tunggul Ametung berdesir ketika Ken Dedes itu bergerak.

Namun kembali gadis itu diam. Namun tampaklah wajah itu

berkerut seakan-akan menahan pedih yang menggores-gores

hatinya.

“Kasihan,” desis akuwu.

Dan tiba-tiba saja melonjaklah sesuatu di dalam hati akuwu itu.

Darahnya yang gelisah. seakan-akan mendidih karenanya. Matanya

itu tajam-tajam memandangi wajah Ken Dedes yang wajar, bersih

dan muram ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja tebersitlah suara di

dalam hatinya, “Tunggul Ametung, kesalahan ini terletak di

pundakmu. Karena itu kaulah yang harus menebusnya. Semua

milikmu tidak akan cukup banyak untuk mengganti kepedihan hati

gadis itu. Gadis yang sebenarnya bukan gadis pedesaan kebanyakan

seperti yang kau saksikan sendiri. Dari tubuh gadis memancar

cahaya yang tidak dapat kau lihat dengan mata wadagmu. Namun

sekali-sekali tampak oleh mata hatimu.”

Tunggul Ametung itu menjadi berdebar-debar suara itu terngiang

di dalam rongga hatinya. Semakin lama semakin keras. Sehingga

Akuwu Tumapel itu menjadi bingung karenanya.

Dalam kebingungan itu sekali lagi mata hatinya melihat

keganjilan itu. Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi bercahaya. Hanya

sekilas saja, sekilas pada saat Tunggul Ametung seakan-akan

kehilangan kesadarannya. Namun ketika ia mencoba membuka

matanya lebar-lebar kembali ia melihat gadis itu terbujur diam.

Gadis pedesaan, dengan kain lurik kasar dan rambut yang terurai

lepas.

Tunggul Ametung itu menjadi gemetar. Ia mengalami suat u

peristiwa yang tidak dimengertinya. Sedang suara yang terngiang di

telinga hatinya menjadi semakin keras Dan seolah-olah mengguntur

tidak henti-hentinya.

Akuwu itu benar-benar diganggu oleh indera halusnya. Meskipun

wadagnya sama sekali tidak mengalami rangsang apapun, namun

telinga hatinya telah mendengar suara itu, dan mata hatinya telah

melihat cahaya ini. Perpaduan dari penghayatan hatinya itu,

menumbuhkan akibat yang luar biasa pada dirinya. Dan tiba-tiba

pula, di luar kemauannya. terdengar akuwu itu bergumam perlahanlahan,

“Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang

hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk tanah

Tumapel.”

Kata-kata janji itu seakan-akan disambut oleh suara guruh yang

menggelegar dan guntur yang bersahut-sahutan di antara kilat yang

bersambung. Suaranya bergelora seolah-olah menggugurkan

Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Semeru.

Akuwu itu pun kemudian menjadi gemetar. Hampir-hampir ia

tidak dapat lagi berdiri tegak pada kedua kakinya. Dengan tangan

yang menggigil dicobanya untuk berpegangan pada tiang-tiang

pintu sentong tengen sambil memejamkan matanya. Seandainya

istana ini roboh karena petir dan guntur, biarlah ia tidak

menyaksikannya.

Namun tiang-tiang itu masih tegak di tempatnya. Istana itu sama

sekali tidak bergoyang. Sehingga sesaat kemudian, ketika gemuruh

itu telah mereda, terasa dada Tunggul Ametung menjadi sesak. Kini

disadarinya, bahwa guruh yang bergelora dan kilat yang

bersambung di antara gemuruhnya guntur adalah bergolaknya

dadanya sendiri. Dadanya yang pepat dan seakan-akan sebuah

waduk raksasa yang dilanda banjir empat puluh malam. Dadal, jebol

tanpa dapat ditahankan lagi. Gulung gemulungnya air bah itu

ternyata telah melanda segenap dinding hatinya.

Tunggul Ametung itu perlahan-lahan membuka matanya. Masih

dilihatnya pelita yang tersangkut di thundaknya. Masih dilihatnya

perhiasan-perhiasan dinding ukiran masih berada di tempatnya. Dan

ketika ia meraba tubuhnya, terasa alangkah dinginnya.

Namun sekali lagi Tunggul Ametung terkejut, sehingga ia

terlonjak di tempatnya. Tepat ia berpaling dan kembali didengarnya

suara itu. Perlahan-lahan menghantam dadanya seperti runtuhnya

Gunung Semeru, “Tuanku, Akuwu Tunggul Ametung. Apakah katakata

Tuanku telah Tuanku pertimbangkan sebaik-baiknya?”

Kembali rubuh Tunggul Ametung menjadi gemetar. Keringat

dinginnya mengalir membasahi segenap tubuhnya. Kini diketahuinya

dengan pasti, bahwa Nyai Puroni, dukun tua itulah yang berkata

kepadanya. Dukun tua yang telah terbangun dari tidurnya.

Dengan terbata-bata Tunggul Ametung bertanya, “Nyai, apakah

yang kau dengar?”

“Kata-kata Tuanku?”

“Apa yang aku katakan?”

Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Sambil menyembah ia

berkata, “Tuanku telah mengucapkan sebuah janji.”

Tubuh Tunggul Ametung menjadi semakin gemetar. Dengan

nada parau ia bertanya, “Apakah yang aku ucapkan?”

“Janji,” sahut Nyai Puroni, “dan janji itu terlampau berat untuk

dapat dipenuhi.”

Kini Tunggul Ametung tidak saja berpegangan tiang-tiang pintu

bilik itu, tetapi kini ia terpaksa menyandarkan seluruh tubuhnya

pada tiang itu. Ya, kini semuanya jelas baginya. Ia telah

mengucapkan janji, dan janji itu benar-benar sangat berat untuk

dipenuhi. Namun ia tidak dapat mengingkarinya. Janji itu telah

terucapkan dan seseorang telah mendengarnya. Meskipun orang itu

akan dapat menyimpan rahasia apa bila dimintanya, namun ia tidak

dapat mengingkari pendengarannya sendiri. Telinga hatinya yang

dengan pasti telah mendengar janji itu. Dan bahkan janji itu seakanakan

telah terngiang kembali di telinganya. Semakin jelas, kata demi

kata, Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang

hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk Tanah

Tumapel ini.

Tunggul Ametung memejamkan matanya.

Ruangan itu untuk sesaat dilanda oleh kesepian. Yang terdengar

hanyalah tarikan nafas mereka yang semakin cepat mengalir. Di luar

pintu terdengar emban itu masih tidur mendengkur. Seakan-akan

tidak pernah terpikir olehnya apa saja yang pernah terjadi dan apa

saja yang akan terjadi.

Namun sejenak kemudian terdengarlah suara Nyai Puroni

perlahan-lahan, “Tuanku. Meskipun janji itu telah Tuanku ucapkan,

tetapi belum seorang pun yang mendengarnya selain aku. Karena

itu, Tuanku, seandainya pertimbangan Tuanku kemudian berkata

lain, sebaliknya Tuanku menyadari keadaan Tuanku sebagai seorang

akuwu.”

Tunggul Ametung masih memejamkan matanya. Kata-kata itu

didengarnya dengan baik. Sehingga terjadilah suatu per golakan

yang dahsyat di dalam hatinya. Ketika ia membuka matanya

dilihatnya Ken Dedes terbaring diam di pembaringan. Sebuah kain

lurik yang kasar dan kesederhanaan wajahnya benar-benar telah

mengungkapkan kesederhanaannya sebagai gadis pedesaan.

Kini hati akuwu itu menjadi ragu-ragu. Gadis itu adalah gadis

pedesaan. Apakah pedulinya seandainya ia menjadi sengsara dan

kehilangan masa depannya. Ia adalah satu dari ribuan gadis desa.

Gadis yang tidak akan berarti apa-apa bagi tanah ini, bagi Tumapel.

Kenapa selama ini ia dipusingkan olehnya. Hanya oleh seorang gadis

desa. Kalau ia ingin menolongnya, maka dapatlah ia menolong

dengan cara yang semudah-mudahnya. Mengembalikan gadis itu ke

kampungnya. Mengancam Kuda Sempana untuk tidak

mengganggunya lagi. Dan selesailah pekerjaannya.

Tetapi bagaimana dengan Wiraprana yang telah mati itu. Dan

bagaimana dengan masa depan gadis itu.

“Ah,” terdengar sebuah keluhan di dalam hati Tunggul Ametung,

“ada beribu-ribu anak muda di pedesaan itu. Biarlah ia memilih.

Nanti biarlah aku yang membawa anak muda itu kepadanya sebagai

ganti Wiraprana.”

Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba mata Tunggul Ametung

menjadi terbelalak. Sekali lagi ia melihat cahaya yang memancar

dari tubuh Ken Dedes, seakan-akan memancar dari dalam tubuh itu.

Namun kembali cahaya itu tidak tertangkap oleh matanya.

“Oh,” akuwu itu mengeluh, “Nyai. Nyai Puroni. Apakah aku sudah

menjadi gila he?”

Nyai Puroni menjadi cemas melihat Tunggal Ametung kemudian

menutupi wajahnya dengan kedua belah tangannya.

“Tuanku,” desis Nyai Puroni.

“Nyai, aku melihat lagi cahaya itu. Aku melihat lagi. Namun

mataku tidak kuasa untuk menangkap.”

“Apa Tuanku. Apakah yang Tuanku lihat?”

Akuwu Tunggul Ametung masih menutupi kedua belah matanya

dengan tangannya sambil bersandar di uger-uger pintu. Ia kini

benar-benar menjadi pening, dan dengan terbata-bata mencoba

menjawab pertanyaan Nyai Puroni, “Aku melihat cahaya itu Nyai.

Cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis Panawijen

itu. Namun aku tidak kuasa menatap cahaya itu. Demikian akan

mencoba memandangnya, maka cahaya itu pun lenyaplah.”

Nyai Puroni menjadi bingung pula. Ia tidak melihat apa-apa pada

gadis itu. Tidak melihat cahaya dan tidak melihat sesuatu sama

sekali. Namun demikian dibiarkannya saja Akuwu meratapi dirinya,

sebab Nyai Puroni itu pun tidak tahu, bagaimana ia harus

menjawab.

Tiba-tiba Tunggul Ametung itu mengangkat wajahnya. Perlahanlahan

ia berkata kepada Nyai Puroni, “Nyai. Bagaimana pendapatmu

tentang aku? Apakah aku sudah gila atau aku masih cukup sehat?”

“Tuanku,” jawab Nyai Puroni, “pertanyaan Tuanku masih

menyatakan bahwa Tuanku sehat sesehat-sehatnya. Mungkin

Tuanku lelah atau bingung. Namun setelah Tuanku tenang kembali,

maka Tuanku pasti akan menemukan kesegaran pikiran. Juga

tentang janji yang Tuanku ucapkan.”

“Ya. Mungkin kau benar Nyai,” berkata Tunggul Ametung, “tetapi

janji itu sudah terlanjur aku ucapkan. Aku wajib untuk

memenuhinya.”

Nyai Puroni tidak segera menjawab. Ketika ia mencoba

memandang wajah Tunggul Ametung, maka dilihatnya cahaya mata

Akuwu Tumapel itu melekat pada wajah Ken Dedes, sehingga

karena itu maka Nyai Puroni bergumam di dalam hatinya, “Hem.

ternyata Akuwu Tunggul Ametung sedang jatuh cinta. Bagi orang

yang sedang jatuh cinta, maka semuanya pasti akan direlakan.

Bahkan nyawanya sekalipun. Apalagi miliknya yang lain.”

Kesimpulan itu telah menenangkan Nyai Puroni sendiri. Ia tidak

lagi heran melihat sikap Tunggul Ametung. Sebagai seorang yang

telah lanjut usia, telah banyak yang dilihatnya tentang seorang yang

jatuh cinta. Bahkan dalam cerita-cerita pun banyak yang telah

didengarnya, seorang raja yang jatuh cinta pada seorang gadis

padepokan, gadis seorang pendeta. Meskipun gadis itu melontarkan

permintaan yang hampir tak masuk di akal, namun raja itu

memenuhinya dengan janji, apabila kelak mereka berputra, maka

kerajaan harus diserahkan kepada putra itu. Dan kini Akuwu

Tunggul Ametung pun sedang dalam keadaan demikian. Tumapel

telah dipertaruhkan, meskipun istilah yang dipergunakannya

berbeda.

Sejenak mereka saling berdiam diri dengan angan-angan di

kepala masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi

semakin gelisah dan Nyai Puroni yang telah menemukan sebab dari

kegelisahan itu. Di luar pintu seorang emban masih saja tidur

dengan nyenyaknya tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi di

dalam bilik itu. Bahkan seandainya Gunung Kawi itu runtuh, maka

seakan-akan ia tidak akan dapat mendengarnya.

Baru sesaat kemudian, Tunggul Ametung menjadi seolah-olah

menyadari dirinya sepenuhnya. Tertatih-tatih ia berjalan beberapa

langkah, kemudian kepada Nyai Puroni ia berkata, “Rawat gadis itu

baik-baik Nyai. Gadis itu adalah gadis yang sangat malang.”

Nyai Puroni menyembah sambil menjawab, “Ya Tuanku. Akan

hamba coba.”

Akuwu itu pun kemudian berjalan keluar bilik sebelah kanan Di

muka pintu masih dilihatnya seorang emban yang tidur nyenyak.

Tiba-tiba timbullah iri di hatinya. Emban itu saja dapat tidur

sedemikian nyenyaknya di lantai serta hanya beralaskan selembar

selendang yang tipis. Kenapa ia, seorang Akuwu yang telah

disediakan pembaringan yang hangat dan baik untuknya, masih

juga tidak dapat tidur senyenyak itu? Karena itu, maka ketika Akuwu

berjalan di samping emban yang tidur, dengan sengaja kakinya

menginjak tangan emban itu, sehingga emban itu terkejut bukan

main. Dengan serta-merta ia memekik kecil dan hampir saja ia

mengumpat-umpat sejadinya. Untunglah segera ia membuka

matanya, dan ketika dilihatnya akuwu berjalan menjauh segera ia

bangkit sambil berkata tersendat-sendat, “Ampun Tuanku. Ampun.”

Tetapi Tunggul Ametung sama sekali tidak berpaling ia berjalan

terus meninggalkan ruangan pusat istananya dan masuk ke ruangan

dalam. Langsung ia masuk ke dalam biliknya serta menjatuhkan

dirinya di atas pembaringannya.

Ketika didengarnya langkah di luar pintu, ia membentak keraskeras,

“Siapa itu?”

“Hamba Tuanku. Pelayan dalam yang sedang bertugas.”

“Gila! Pergi! Aku mau tidur, mengerti?”

“Hamba Tuanku,” sahut pelayan dalam itu sambil berjalan

menjauh.

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin jauh menuju ke

ujung pagi. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahutsahutan.

Semakin lama semakin riuh seperti suara hati Tunggul

Ametung. Namun dengan demikian akuwu itu menjadi jengkel

bukan buatan. Ia ingin tidur sepulas-pulasnya, namun suara ayam

jantan itu sangat mengganggunya. Bahkan ayam-ayamnya sendiri

yang jumlahnya belasan itu pun berkokok pula bergantian.

“Hem. Aku sumbat mulutnya besok,” desisnya. Tetapi akuwu tak

akan kuasa menghentikan kokok ayam itu. Ayam itu pasti akan

berkokok selagi matahari masih akan terbit. Mereka baru akan

berhenti apabila leher mereka telah patah. Namun ayam-ayam

jantan yang lain masih akan berkokok pula. Demikianlah akuwu

tidak dapat pula menindas perasaan yang tumbuh di dalam hatinya.

Sekali ia berhasil menolak perasaan itu dengan alasan-alasan yang

dibuat, namun perasaan yang lain telah mengguncangkan pula.

Sehingga kini Tunggul Ametung tidak dapat mengingkari lagi,

bahwa wajah gadis pedesaan itu selalu mengganggu

ketenangannya.

Namun akhirnya malam itu pun dilampauinya pula. Ketika pagi

yang jernih telah tumbuh, maka teringatlah ia akan pesannya

kepada Witantra untuk membuat penyelesaian dengan Kuda

Sempana.

Tunggul Ametung itu menjadi semakin gelisah. Apakah Witantra

berhasil melakukan tugasnya? Tunggul Ametung telah melihat

ketangkasan Kuda Sempana dalam olah kesaktian. Dengan

tangannya ia telah membunuh Wiraprana.

“Kalau Witantra gagal,” desis akuwu itu sambil bangkit dari

pembaringannya, “maka aku sendiri yang akan menundukkannya.”

Tunggul Ametung kemudian tidak dapat lagi berbaring di

pembaringannya. Cahaya Matahari yang segar telah menusuk-nusuk

lubang dinding menerangi biliknya. Semakin lama semakin terang,

sehingga sinar pelita di dalam bilik itu hilang tenggelam dalam

cahaya matahari pagi.

Ketika Akuwu Tunggul Ametung berteriak-teriak untuk

menyiapkan air hangat, maka pada saat itulah kuda Witantra dan

Ken Arok berlari kencang menuju ke barak Kuda Sempana, yang

terletak beberapa puluh langkah dari barak Ken Arok.

Demikian mereka melewati gerbang baraknya sendiri, seorang

kawannya berteriak memanggil, “He, Ken Arok. Dari mana kau?”

Ken Arok memperlambat jalan kudanya, kemudian berhenti sama

sekali. Sedang Witantra berhenti beberapa depa di sampingnya.

“Kenapa?” bertanya Ken Arok.

“Semalam kau tidak pulang,

“Ya.”

“Kenapa kau tidak pulang?”

“Aku ikut Kakang Witantra.”

Kawan Ken Arok itu berpaling. Ketika dilihatnya Witantra

berpaling pula kepadanya kawan Ken Arok itu mengangguk-angguk

dalam sambil berkata, “Selamat pagi Kakang Witantra.”

“Selamat pagi,” sahut Witantra.

Kawan Ken Arok itu pun kemudian berkata pula kepada Ken

Arok, “Ken Arok semalam seseorang mencarimu.”

“Siapa?”

“Kuda Sempana. Kakang Kuda Sempana.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia

tersenyum. Jawabnya, “Aku sudah menyangka.”

Witantra pun menganggukkan kepalanya. Di dalam hati ia

bergumam, “Kuda Sempana. benar-benar menjadi hampir gila.

Sekali ia terjerumus dalam perbuatan terkutuk itu, maka ia akan

benar-benar menjadi orang yang kehilangan kejernihan pikiran.”

Kawan Kuda Sempana itu pun berkata, “Agaknya Kakang Kuda

Sempana mempunyai kepentingan yang mendesak, sehingga lewat

tengah malam ia datang.”

“Apa katanya?: bertanya Ken Arok.

Kawannya menggeleng sambil menjawab, “Tak ada yang

dikatakan. Tetapi bukankah kau semalam telah hampir kembali ke

barak ini? Menurut seorang yang bertugas, ia melihat seekor kuda

membelok di kelokan sebelah. Apakah kuda itu kudamu, dan kau

mengurungkan niatmu kembali ke barak ini?”

“Tidak. Bukan aku,” sahut Ken Arok sambil menarik kekang

kudanya, “Saat ini pun aku belum akan pulang. Aku masih harus

mengikuti Kakang Witantra.”

Ken Arok tidak menunggu jawaban dari kawannya itu, kepada

Witantra ia berkata, “Marilah Kakang.”

Kuda-kuda itu pun kemudian bergerak kembali. Kawan Ken Arok

memandangi mereka dengan penuh keheranan. Terasa suatu

kesibukan telah terjadi. Tetapi ia tidak tahu, apakah, sebenarnya

yang telah terjadi. Dari seorang kawannya ia mendengar, bahwa

Kuda Sempana telah mengambil seorang gadis Panawijen atas izin

akuwu. Tetapi kenapa kemudian beberapa orang menjadi sibuk?

“Persetan!” gumam kawan Ken Arok itu sambil melangkah ke

parit di belakang barak mereka.

Witantra dan Ken Arok itu pun kemudian sampai pula di muka

regol barak Kuda Sempana. Betapapun juga, namun perasaan

mereka menjadi berdebar-debar. Mereka tahu, bahwa Kuda

Sempana bukanlah seorang yang berhati kecil, juga bukan orang

yang tidak berkesaktian. Apalagi dilambari oleh nafsunya yang

meluap-luap untuk memiliki gadis itu, maka sudah tentu Kuda

Sempana akan berjuang mati-matian untuk mempertahankannya.

Witantra pun menyadari keadaannya. Ia akan dihadapkan pada

suatu perjuangan yang berat. Mungkin Kuda Sempana tidak akan

dapat diajak berunding dengan baik untuk membuat ketentuanketentuan

dari tantangan yang akan disampaikan. Kuda Sempana

tidak akan ingat lagi kepada suba sita dan tata tertib perang

tanding. Sehingga perkelahian mereka, baru akan diakhiri dengan

kematian. Setidak-tidaknya salah seorang harus menjadi lumpuh

dan tidak berdaya lagi. Kalau Kuda Sempana berhasil

melumpuhkannya, maka sudah pasti, Witantra itu tidak akan punya

harapan untuk hidup. Sebab Kuda Sempana sedang dicengkam oleh

nafsu dan kemarahan. Tetapi Witantra tidak menjadi kecut.

Disadarinya tugasnya kali ini. Agak berbeda dengan tugas seorang

prajurit dalam menghadapi lawan-lawan tanah pusakanya. Tetapi

kini ia berdiri di atas kejantanan kemanusiaan. Betapapun Kuda

Sempana kehilangan kesadaran diri, namun Witantra harus menjaga

supaya dirinya tidak juga kehilangan keseimbangan perasaan.

Perlahan-lahan kuda-kuda itu memasuki halaman. Seorang yang

bertugas di dalam regol segera melangkah maju. Tetapi ketika

dilihatnya Witantra, maka segera ia menundukkan wajahnya sambil

menyapa, “Kakang Witantra.”

“Ya,” sahut Witantra masih di atas punggung kudanya, “Apakah

Kuda Sempana sudah bangun?”

Orang itu mengangkat wajahnya. Ditatapnya mata Witantra

sesaat, namun kembali ia menundukkan wajahnya sambil

menjawab, “Sudah Kakang. Tetapi Kakang Kuda Sempana telah

pergi.”

“He?” dada Witantra berdesir, dan Ken Arok pun terkejut pula

karenanya.

“Ke mana?” bertanya Witantra serta-merta.

Penjaga regol itu menggeleng. Namun tiba-tiba seperti orang

yang baru tersadar dari lamunannya ia berkata, “Mungkin ke istana.

Baru saja ia datang dari rumah seseorang sambil mengumpatumpat,

tetapi segera ia pergi lagi dengan tergesa-gesa. Kakang

Kuda Sempana semalam benar-benar seperti orang bingung.”

Witantra dan Ken Arok itu pun saling berpandangan. Apakah

Kuda Sempana itu pergi ke rumahnya atau benar-benar ke istana?

Namun kemudian Witantra itu pun bertanya meyakinkan, “Apakah

Kuda Sempana tidak meninggalkan pesan?”

Penjaga itu menggeleng, “Tidak.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia pun mulai gelisah.

Kalau benar Kuda Sempana itu pergi ke istana, maka apakah yang

akan dilakukan? Karena itu maka ia berkata, “Marilah kita lihat.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik

Kakang, marilah kita pergi.”

Kepada penjaga itu pun kemudian Witantra berkata, “ Aku akan

menyusulnya ke istana.”

“Silakan Kakang.”

“Kalau Kuda Sempana datang sebelum menemui aku di

manapun, katakanlah bahwa aku menunggunya di istana.”

“Baik Kakang,” sahut penjaga itu.

Witantra dan Ken Arok pun segera berpacu ke istana. Di

sepanjang jalan mereka hampir tidak berkata-kata. Masing-masing

sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. Bahkan mereka pun

kadang-kadang merasa geli. Seorang gadis desa, telah benar-benar

menggemparkan seisi Istana Tumapel. Seorang akuwu, perwiraperwira,

prajurit dan pelayan-pelayan dalam yang terkemuka.

Demikian mereka sampai di halaman luar istana, maka segera

mereka berloncatan turun. Kepada penjaga regol mereka

menyerahkan kuda-kuda mereka, dan kepada mereka, para

penjaga, Witantra bertanya, “Apakah kalian melihat Kuda

Sempana?”

Penjaga itu mengangguk. Jawabnya, “Ya. Ya, Tuan. Aku

melihatnya. Belum lama ia masuk ke dalam.”

“Sendiri?”

“Ya Tuan. Sendiri.”

“Apakah keperluannya?”

“Katanya, Kakang Kuda Sempana akan menghadap Akuwu.”

“Bukankah hari ini bukan hari paseban dan hari penghadapan?”

“Khusus, Tuan. Ada keperluan khusus.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada

para penjaga itu ia berkata, “Aku juga akan menghadap Akuwu.”

Para penjaga sudah mengenal siapakah Witantra dan Ken Arok.

Karena itu, maka dibiarkannya mereka memasuki halaman dalam

istana untuk menghadap Akuwu Tunggul Ametung.

Ketika mereka memasuki halaman dalam dan melingkari dinding

samping menyusur ke ruang dalam, maka mereka terkejut. Segera

langkah mereka terhenti. Di bawah pohon kemuning dilihatnya Kuda

Sempana berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Namun ketika

Kuda Sempana melihat kehadiran Witantra Ken Arok, maka ia pun

terkejut. Dengan serta-merta ia berjalan menyongsong mereka

sambil bertanya, “Akan ke manakah kalian berdua?”

“Mencarimu,” sahut Witantra singkat.

“Oh,” desah Kuda Sempana.

“Aku telah datang ke pondokmu. Namun penjaga regol

mengatakan bahwa kau telah pergi ke istana.”

“Ya. Aku tidak sabar menunggu lebih lama lagi. Aku ingin

mendengar langsung dari Akuwu.”

Witantra tersenyum. Meskipun senyumnya, senyum yang

hambar.

“Kau sama sekali tidak dapat menyabarkan diri, Adi Kuda

Sempana. Sebenarnya tak ada yang memaksa kau terlalu tergesagesa.

Semuanya telah diserahkan kepadaku oleh Akuwu.”

“Mungkin,” sahut Kuda Sempana, “tetapi kau terlalu lamban. Aku

sudah bertemu dengan Ken Arok semalam, dan aku telah datang

pula ke rumahmu pagi-pagi benar. Namun kalian tidak

memberitahukannya kepadaku.”

“Kami hanya ingin kau bersabar sampai hari ini.”

“Kalian mempermainkan aku. Dan sekarang aku sama sekali tidak

membutuhkan kalian. Aku akan menghadap Akuwu langsung.”

“Akuwu telah berpesan kepadaku. Dan pesan itu akan aku

sampaikan kepadamu sekarang. Tidak di rumahku. Sebab dengan

demikian maka persoalan ini akan diketahui oleh istri dan orangorang

lain di rumahku. Dan itu tidak perlu.”

“Bohong. Kau senang melihat aku kebingungan.”

“Terserahlah kalau kau tidak percaya. Nah, sekarang, marilah kita

ke belakang istana. Kau tidak perlu menghadap Akuwu.”

“Tidak. Aku tidak memerlukan kalian. Aku harus menghadap

Akuwu sendiri. Dan aku akan mendapat penjelasan langsung

daripadanya. Apa saja yang telah kalian per cakapkan dan

perbincangkan semalam.”

Witantra menarik alisnya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang

merah padam. Matanya yang menyala, bukan saja karena hatinya

yang bergelora, tetapi juga karena semalam ia sama sekati tidak

tidur sekejap pun.

“Adi Kuda Sempana,” berkata Witantra kemudian, “Jangan

menghadap Akuwu pagi ini. Akuwu sedang sibuk.”

“Apakah yang disibukkannya? Akuwu pasti akan menerima aku.

Gadis itu masih berada di dalam istana. Aku datang untuk

mengambilnya.”

Witantra menarik nafas. Katanya, “Dengarlah pesan Akuwu itu.”

“Tidak. Aku tidak perlu.”

“Hem,” Witantra menggeram. Namun kemudian ia bertanya,

“Kenapa kau masih saja di sini?”

“Aku telah menyampaikan pesan lewat seorang juru panebah.

Aku masih harus menunggu beberapa saat. Akuwu sedang

mendengarkan Daksina membaca kakawin.”

“He?” Witantra terkejut, “sepagi ini?”

“Ya.”

Witantra terdiam. Sekali dipandangnya wajah Ken Arok yang

tegang Ketika mereka mencoba mendengarkan baik-baik,

terdengarlah lamat-lamat suara Daksina dalam alunan kakawin

Bharatayudha.

“Jadi Daksina itu membaca untuk Akuwu?”

“Ya,” sahut Kuda Sempana pendek.

Witantra menggelengkan kepalanya. Ditemuinya Kuda Sempana

dan Tunggul Ametung dalam keadaan yang sama. Bingung.

Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri. Dalam keheningan

itu terdengar suara Daksina semakin jelas.

Angin pagi yang lembut berhembus perlahan menggerakkan

daun kemuning, serta menggugurkan bunga-bunganya yang kering.

Lamat-lamat terdengar suara burung-burung liar yang beterbangan

dari dahan ke dahan, berkicau seperti suara senda yang riang.

Seperti kanak-kanak yang sedang berkejaran, mereka berloncatan

dari satu pohon ke pohon yang lain.

Namun hati mereka bertiga, Witantra, Ken Arok dan Kuda

Sempana sama sekali tidak seriang pagi itu.

Sekali-sekali Witantra berpaling, memandang wajah Ken Arok

seperti sedang minta pertimbangan. Namun Ken Arok hanya dapat

menundukkan wajahnya, memandangi butiran-butiran batu-batu

kecil yang bertebaran di halaman.

Namun kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Witantra

kepada Kuda Sempana, “ Adi Kuda Sempana. Lebih baik kau tidak

usah menunggu Akuwu yang sedang mendengarkan Daksina

membaca kakawin itu. Marilah aku beri tahukan, apa yang harus

kau dengar.”

“Tidak!” sahut Kuda Sempana tegas, “Kalau kalian benar-benar

mendapat pesan Akuwu, maka kalian pasti sudah mengatakannya.

Sekarang ternyata kalian hanya mencoba mencegah aku bertemu

dengan Akuwu. Mungkin kalian kemarin mendengar hal-hal yang

tidak kalian senangi tentang diriku, sehingga kalian mencoba

menahan keterangan itu.”

“Hem,” Witantra menggeram. Dicobanya untuk menahan gelora

di dalam hatinya. Baru kemudian ia berkata, “Mungkin kau benar

Adi. Mungkin aku menahan beberapa persoalan yang harus aku

sampaikan kepadamu. Tetapi aku mempunyai pertimbanganpertimbangan

lain. Aku ingin dapat menyampaikan kepadamu dalam

suasana yang tenang. Tidak dalam suasana yang tergesa-gesa dan

tegang. Aku ingin setiap persoalan dapat kau mengerti dengan baik.

Dan aku ingin kita masing-masing dapat menempatkan diri kita

pada keadaan yang sewajarnya.”

“Huh,” desah Kuda Sempana, “kalau benar demikian, tunggulah

sampai aku menghadap Akuwu.”

“Tidak ada gunanya.”

“Mungkin bagi kalian. Tetapi bagiku kesempatan itu akan sangat

bermanfaat. Setidak-tidaknya aku dapat mengambil gadis itu

dahulu.”

“Kau tidak akan dapat mengambilnya,” tiba-tiba terdengar suara

Ken Arok yang agaknya sudah kehabisan kesabarannya.

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan Kuda Sempana. Dan

bahkan Witantra pun terkejut pula. Dengan serta-merta Kuda

Sempana melangkah maju mendekatinya sambil membelalakkan

matanya. Katanya, “Apa katamu? Aku tidak dapat mengambil gadis

itu?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam ia menjadi sangat

menyesal akan ketelanjurannya, Namun kata-kata itu telah terloncat

dari bibirnya dan Kuda Sempana pun telah mendengarnya. Karena

itu dengan penuh kebimbangan ia memandang wajah Witantra,

seakan-akan bertanya kepadanya, apa yang harus dikatakannya

seterusnya. Namun Witantra sendiri masih belum dapat menguasai

perasaannya, sehingga karena itu ia masih saja berdiri mematung.

Kuda Sempana yang seakan-akan mendengar meledaknya guruh

di telinganya itu mendesak Ken Arok, “Kenapa aku tidak dapat

mengambil gadis itu?”

Setelah berpikir sejenak. Witantralah akhirnya menemukan

jawaban juga, “Gadis itu jatuh sakit dan pingsan berkali-kali. Kalau

kau ganggu lagi dia, mungkin gadis itu akan mati.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Namun tampaklah

betapa ia ragu-ragu mendengar jawaban itu. Dalam pada itu Ken

Arok menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia tidak sependapat

dengan Witantra yang terlalu berhati-hati, dan tidak langsung

mengatakan keperluannya. Bukankah akhirnya Kuda Sempana akan

mendengarnya juga. Sebaiknya Witantra berkata berterus terang.

Tetapi bukan dirinya. Karena itu, maka ia menjadi lebih berhati-hati

supaya mulutnya tidak melonjak-lonjak, didesak hatinya yang tidak

dapat bersabar lagi.

Yang terdengar kemudian adalah jawaban Kuda Sempana, “Aku

tidak percaya. Aku akan menghadap Akuwu sekarang.”

“Apakah Akuwu sudah memanggilmu?”

“Belum, tetapi aku akan masuk ke ruang dalam.”

“Akuwu akan menjadi marah.”

“Tidak. Aku akan mengulangi permohonanku untuk menghadap

lewat juru panebah yang berada di muka pintu itu.”

Kuda Sempana tidak menunggu jawaban Witantra dan Ken Arok.

Dengan tergesa-gesa ia berjalan melingkari sudut belakang istana

dan menjumpai juru panebah yang duduk di tangga istana. Dengan

wajah yang merah pada Kuda Sempana membentak meskipun

suaranya tidak terlalu keras, “He, kenapa kau hanya duduk

terkantuk-kantuk?”

Juru panebah itu terkejut, “Ya, ya Tuan.”

Kuda Sempana menjadi semakin marah mendengar jawaban itu

dan berkata kasar, “Apa kau tidak tahu, bahwa aku mempunyai

keperluan yang sangat penting. Ayo, kembali masuk ke bilik

peraduan Akuwu. Sampaikan kepada akuwu, bahwa Kuda Sempana

ingin menghadap.”

“Tetapi aku sudah menyampaikan Tuan. Dan Tuan di perintahkan

untuk menunggu.”

“Sampai kapan, he? Sampai aku menjadi tua?”

“Entahlah. Aku tidak tahu. Tetapi Daksina masih membaca

kakawin itu di dalam bilik Baginda.”

“Cobalah, sekali lagi.”

“Aku takut.”

“Kalau kau tidak mau menyampaikan sekali lagi, awas, aku

bunuh kau anak cucu!”

“Oh. Ampun Tuan. Kenapa Tuan marah kepadaku?”

Sebelum Kuda Sempana menjawab, terdengarlah suara di

belakang Kuda Sempana, “Sampaikan kepada Akuwu, bahwa kali ini

Witantra yang akan menghadap.”

“Gila!” desis Kuda Sempana sambil memutar tubuhnya

menghadap Witantra, “Kali ini kau akan merusak rencanaku pula?”

Witantra sama sekali tidak menanggapi sikap Kuda Sempana,

bahkan dengan tersenyum ia berkata, “Jangan marah Kuda

Sempana. Kalau juru panebah itu mengulangi permohonanmu untuk

menghadap Akuwu, maka Akuwu pasti akan sangat marah. Mungkin

kau malahan diusir dari istana. Kalau permohonan ini diajukan oleh

orang lain, maka pertimbangannya akan lain. Mungkin Akuwu akan

berhenti mendengarkan kakawin d«n menerima aku. Dalam pada itu

kau akan mendapat kesempatan untuk menghadap pula. Bukankah

dengan demikian sekaligus kau akan tahu, apakah aku telah

menyembunyikan beberapa keterangan atau tidak. Dan kau akan

tahu pula, apakah aku berbuat demikian karena perasaan iri dan

semacam itu.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata, “Baik. Baik. Kita bersama

menghadap Akuwu.”

“Aku hormati sikapmu,” desis Ken Arok.

Sekali lagi Kuda Sempana membelalakkan matanya Ia tidak

senang mendengar kata-kata itu dari mulut Ken Arok. Kalau

Witantra yang mengucapkannya, maka ia akan berbangga. Tetapi

Ken Arok adalah seorang pelayan dalam yang baru saja masuk di

istana. Sehingga ucapannya itu kurang bernilai baginya. Terapi

ternyata Ken Arok sama sekali tidak berpaling ketika sinar mata

Kuda Sempana menghunjam di biji matanya. Bahkan mata Ken Arok

itu pun menjadi seakan-akan bersinar langsung menembus selaput

mata Kuda Sempana dan menusuk langsung ke dalam otaknya.

Kuda Sempana yang kemudian memalingkan wajahnya. Untuk

menyembunyikan perasaannya, segera ia membentak kepada juru

panebah yang masih duduk kebingungan, “Ayo cepat. Pergi sekali

lagi menghadap Akuwu. Kakang Witantra akan menghadap.”

“Ya, ya Tuan,” sahut orang itu sambil merangkak naik ke istana.

Kemudian Kuda Sempana, Witantra dan Ken Arok diam dalam

ketegangan. Mereka tinggal menunggu, apakah akuwu bersedia

menerima mereka atau mereka harus menunggu lagi. Ken Arok

yang agaknya jemu berdiri, segera melangkah ke tangga, dan

duduk di sana sambil bersandar dinding.

Sekali ia menguap, kemudian gumamnya, “Hem, semalam aku

hampir tak dapat tidur sama sekali.”

Kuda Sempana dan Witantra berpaling, kepadanya. Sahut

Witantra, “Barangkali di antara kita bertiga kaulah yang paling lama

dapat beristirahat.”

“Ken Arok tersenyum, “Mungkin.”

Kuda Sempana yang akan memotong percakapan itu,

mengurungkan niatnya ketika didengarnya suara Daksina berhenti.

Mereka menduga, bahwa juru panebah itu sudah masuk ke dalam

bilik Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka dada mereka

menjadi semakin berdebar-debar. Kuda Sempana benar-benar

hampir tidak sabar menunggu.. Ingin ia langsung meloncat masuk

ke dalam ruang dalam itu dan langsung ke ruang pusat istana. Dari

sana ia akan dapat melihat sentong tengen, di mana Ken Dedes

dibaringkannya kemarin.

Tetapi ia tidak dapat berbuat begitu. Istana itu adalah istana

Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, betapapun ia bernafsu,

namun ia terpaksa menunggu dengan hati yang gelisah.

Sesaat kemudian mereka mendengar langkah-langkah di dalam

ruangan dalam. Langkah itu seolah-olah terlalu lambat sehingga

hampir-hampir Kuda Sempana berteriak memanggilnya.

Ketika juru panebah itu muncul dari balik pintu, Kuda Sempana

dengan serta-merta bertanya, “Bagaimana?”

“Akuwu menunggu Tuan-tuan di ruang paseban dalam.”

Kuda Sempana tidak menunggu apa-apa lagi. Segera ia

melangkah menaiki tangga, masuk ke ruang dalam dan langsung

berjalan ke ruang paseban dalam. Witantra dan Ken Arok pun

kemudian melangkah pula mengikutinya.

Namun mereka menjadi kecewa ketika ruangan itu masih

kosong. Akuwu belum nampak. Tetapi mereka lega ketika mereka

melihat batu hitam, tempat duduk Akuwu Tunggul Ametung, telah

terbuka kerudung putihnya yang telah diambil oleh salah seorang

juru panebah.

Suara Daksina telah tidak terdengar lagi. Dengan demikian

mereka mengharap bahwa segera akuwu akan datang menerima

mereka.

Ternyata akuwu itu pun tidak terlalu lama membiarkan mereka

menunggu. Sejenak kemudian masuklah Akuwu Tunggul Ametung

ke dalam ruangan itu, diantar oleh seorang emban, Daksina dan

seorang juru panebah, dan seorang juru panginang

Ketika akuwu itu duduk di atas batu hitam palenggahannya,

maka dada Kuda Sempana seolah-olah hampir meledak karena

ketidaksabarannya. Akuwu itu berjalan seperti seorang pengantin

sakit-sakitan, duduk dengan lesunya dan kemudian mengipaskan

kainnya.

Kuda Sempana itu menarik nafas dalam.

Baru sejenak kemudian akuwu itu mulai bertanya ke pada

mereka. Dengan segala macam adat dan upacara. Menanyakan

keselamatan dan kesejahteraan masing-masing.

“Aneh. Tunggul Ametung adalah akuwu yang hampir tak pernah

mengacuhkan adat itu. Ia berbuat sesuka hatinya. Sekali-sekali ia

bertanya tentang keselamatan orang-orangnya, namun lain kali ia

mulai dengan bentakan-bentakan dan umpatan-umpatan. Tetapi kali

ini Akuwu agaknya sedang menikmati kedudukannya sebagai

seorang akuwu,” keluh Kuda Sempana di dalam hatinya.

Namun sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun sedang

mencoba menenangkan perasaan yang bergolak. Ketika ia melihat

ketiga orang itu bersama-sama menghadap, maka berdesirlah

dadanya. Untuk sekedar menenteramkan hatinya, maka mulailah

akuwu dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berarti. Tetapi ia

tidak akan dapat bertanya hal-hal yang demikian itu terus menerus.

Disadarinya bahwa akhirnya pembicaraan mereka akan menginjak

ke persoalannya. Karena itu, maka akuwu tidak merasa perlu untuk

memperpanjang segala macam pertanyaan yang aneh-aneh.

Maka akuwu pun kemudian tidak membiarkan dirinya diamuk

oleh keragu-raguan dan kecemasan. Biarlah seandainya orangorang

itu bertiga menemukan titik-titik pertemuan untuk bersamasama

menghadapinya. Mungkin Witantra tidak sampai hati

mengatakan pesannya, tetapi mungkin pula mereka bersama-sama

akan menghancurkannya. Tetapi apapun yang akan dihadapi, maka

akuwu akan menengadahkan wajahnya dan akan berperisai

dadanya. Tunggul Ametung bukan seorang pengecut.

Karena itu, maka sesaat kemudian terdengar akuwu itu bertanya,

“Kuda Sempana. Kaulah yang pertama-tama menyampaikan pesan

untuk menghadap. Apakah kepentinganmu?”

Kuda Sempana menarik nafas. Sembari ia bergeser maju, seolaholah

takut suaranya tidak akan dapat didengar oleh Tunggul

Ametung. Katanya serak, “Tuanku. Hamba hanya ingin menjemput

gadis Panawijen itu.”

Tunggul Ametung terkejut mendengar permintaan itu. Dengan

serta-merta ia berpaling memandangi wajah Witantra yang gelap.

Bahkan kemudian wajah akuwu itu pun menjadi semburat merah.

Berbagai persoalan bergulung-gulung di dalam dadanya. Apakah

Witantra benar-benar belum menyampaikannya kepada Kuda

Sempana? Apakah justru Witantra datang untuk membantu Kuda

Sempana? Akuwu menjadi gelisah. Benar-benar tidak diketahuinya

bagaimanakah sebenarnya hati Witantra dan Ken Arok.

Akuwu yang selama ini tidak pernah ragu-ragu kepada Witantra,

tiba-tiba menjadi curiga. Sejak Witantra menolak perintahnya di

Panawijen. Meskipun kemarin perwira pengawalnya itu seolah-olah

sependapat dengan pendapatnya tentang gadis Panawijen itu,

namun kenapa tiba-tiba saja ia menghadap bersama Kuda

Sempana. Kalau ia benar-benar melakukan apa yang dikatakannya,

maka Kuda Sempana tidak akan berkata seperti itu. Atau mereka

benar-benar telah bersepakat untuk melawannya, meskipun kelak

akan timbul persoalan di antara mereka sendiri? Apakah Witantra

kemarin hanya memancing, agar Kuda Sempana dapat diperalat

olehnya?

Witantra merasakan keraguan Tunggul Ametung. Karena itu

maka segera ia berkata, “Akuwu, hamba memang belum

mengatakan pesan Tuanku.”

“Kenapa?” dengan serta-merta terloncat pertanyaan dari mulut

Tunggul Ametung. Namun sekali lagi Tunggul Ametung

menengadahkan wajahnya ia adalah seorang yang memiliki

berbagai kekuatan di dalam tubuhnya, yang seandainya perlu, akan

dibangunkannya pada saat-saat itu.

“Hamba belum mendapat kesempatan. Ketika pagi-pagi tadi

hamba datang ke pondok Adi Kuda Sempana, Adi Kuda Sempana

telah pergi ke istana.”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Agaknya

perasaannya sendirilah yang telah menggelapkan nalarnya.

Kesalahan-kesalahan yang telah membebani perasaannya itulah

yang telah menimbulkan berbagai prasangka dan kecurigaan.

Namun jawaban Witantra itu sama sekali belum memuaskannya,

sehingga ia bertanya pula, “Kau telah bertemu dengan Kuda

Sempana sebelum datang menghadap. Kenapa kau tidak berkata

apa-apa kepadanya?”

“Kuda Sempana tidak mau mendengarkan, Tuanku. Ia ingin

menghadap Tuanku dan mendengar langsung tentang persoalan y

mg kita bicarakan dari Tuanku sendiri.”

Akuwu mengerutkan keningnya. Kini ditatapnya wajah Kuda

Sempana dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia menggeram,

“Benarkah demikian Kuda Sempana?”

“Ya, Tuanku.”

“Aku telah memberikan perintah kepada Witantra. Kenapa kau

menolak?”

“Sikapnya sangat menyakitkan hatiku.”

“Kenapa?”

“Semalam aku telah menemui kedua-duanya. Adi Ken Arok dan

Kakang Witantra, tetapi mereka menolak memberitahukan sesuatu

kepadaku, Dibiarkannya aku menunggu dalam kegelisahan.”

Tunggul Ametung sekali lagi mengerutkan keningnya. Kemudian

kepada Witantra dan Ken Arok ia bertanya, “Benarkah demikian?”

“Hamba Tuanku,” sahut Witantra, “hamba ingin

menyampaikannya pagi ini.”

Dalam pada itu Kuda Sempana menyahut, “Sengaja mereka

membiarkan aku mengalami guncangan-guncangan batin di malam

itu. Sebenarnya aku tidak melihat perbedaan apa-apa. Malam tadi

atau pagi ini.”

“Tidak ada bedanya,” sahut Akuwu Tumapel itu, “Kenapa kau

tunda-tunda sehingga Kuda Sempana terpaksa datang sendiri

kepadaku?”

Witantra mengangkat wajahnya sesaat, kemudian kembali ia

tunduk sambil menjawab, “Maksud hamba, hamba ingin

mengatakannya dengan tenang setiap persoalan, setiap

kemungkinan, dan setiap perjanjian.”

“Perjanjian?” potong Kuda Sempana, wajahnya tampak berkerutkerut

penuh persoalan.

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun

kemudian ia berkata pula, “Apakah semalam kau tidak menemukan

ketenangan itu. Justru malam hari?”

“Tuanku benar,” sahut Kuda Sempana, “sebenarnya di malam

hari segalanya menjadi lebih tenang. Tetapi Kakang Witantra

sengaja membiarkan aku menghadap Akuwu sendiri.”

Witantra menarik nafas panjang. Kemudian sekali ia berpaling

kepada Ken Arok. Dilihatnya Ken Arok menggigit Bibirnya untuk

menahan perasaannya yang bergelora. Ia sudah benar-benar

kehilangan kesabaran. Kalau saja tidak di hadapan akuwu, maka ia

akan berkata lantang, ‘Kuda Sempana. Gadis itu sudah bukan

hakmu lagi. Kalau kau marah, kau mau apa. Kita dapat berkelahi,

sebab kami tidak takut kepadamu’. Tetapi di Hadapan Tunggul

Ametung, ia hanya dapat mengumpat-umpat di dalam hati

Akhirnya Witantra itu pun berkata, “Ampun Tuanku. Kuda

Sempana datang ke rumah hamba. Adalah tidak mungkin hamba

membicarakannya di hadapan istri hamba. sebab hamba tidak yakin

Adi Kuda Sempana dapat menahan hatinya. Karena itu hamba

datang ke pondoknya. Seandainya Adi Kuda Sempana tidak dapat

menahan diri, maka akan hamba layani apa saja yang akan

dilakukannya. Tidak di rumahku, tidak di hadapan istriku yang akan

banyak mempengaruhi perasaan hamba.”

Telinga Kuda Sempana benar-benar serasa tersengat mendengar

penjelasan Witantra itu. Terasa kini bahwa ada sesuatu yang tidak

wajar. Karena itu, maka hatinya menjadi semakin gelisah dan

kehilangan kesabaran. Dari dahi dan keningnya mengalir keringat

yang dingin. Sekali-kali tampak ia mengusap wajahnya, namun

kemudian terdengar ia menggeretakkan giginya.

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.

Perlahan-lahan ia berkata, “Ya. Alasanmu dapat aku mengerti

Witantra. Nah. Kalau demikian katakanlah sekarang.”

“Jangan Kakang Witantra,” potong Kuda Sempana, “Kenapa

bukan Tuanku sendiri yang memberikan perintah kepada hamba

untuk berbuat apa saja.”

Tunggul Ametung menarik nafas. Sesaat ia menjadi ragu-ragu.

Persoalan ini benar membuatnya pening. Namun kemudian

ditemukannya keseimbangannya dengan baik, sehingga akuwu itu

berkata lantang, “Aku perintahkan kepadamu, he Kuda Sempana,

untuk mendengarkan penjelasan dari Witantra.”

Kuda Sempana menggeram. Namun ia tidak berani membantah.

Karena itu maka ia hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun

hatinya serasa melonjak-lonjak hampir tak. terkendali.

Witantra membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian

sahutnya, “Titah Akuwu akan hamba laksanakan.”

“Berkatalah,” potong Kuda Sempana.

Witantra memandang akuwu untuk sepintas. Ketika Akuwu

mengangguk, maka mulailah Witantra berkata, “Adi Kuda Sempana.

Adalah sudah Adi ketahui, bahwa persoalan timbal balik dan saling

berturutan akan dapat terjadi. Apa yang Adi lakukan dapat pula

dilakukan oleh orang lain. Dan apa yang Adi kehendaki dapat pula

dikehendaki oleh orang lain.”

“Aku tidak tahu, apakah maksud Kakang dengan kata-kata yang

tak dapat aku mengerti itu. Katakanlah, apa yang harus Kakang

katakan kepadaku. Nah, itulah sebabnya aku lebih senang

mendengarnya dari orang lain daripada Kakang Witantra yang tidak

pernahi berterus terang.”

Akuwu mengerutkan keningnya dan Witantra menarik nafas

dalam-dalam. Namun yang terdengar adalah gumam Ken Arok lirih,

“Ya, sebaiknya Kakang Witantra berterus terang. Akan dibuka

kembali sayembara tanding.”

“He?” alangkah terkejutnya Kuda Sempana. Dan bahkan Witantra

dan Tunggul Ametung pun terkejut pula. Tetapi segera mereka

mencoba menguasai diri mereka masing-masing.

Witantra mengangguk-angguk. Disadarinya bahwa agaknya ia

mencoba terlalu hati-hati sehingga baik Kuda Sempana maupun Ken

Arok, menjadi tidak bersabar. Karena itu maka Katanya, “Baiklah.

Baiklah aku akan berkata berterus terang supaya semuanya menjadi

lekas jelas. Supaya tidak menimbulkan berbagai pertanyaan yang

terlalu lama mengganggu perasaan meskipun maksudku, supaya

aku dapat menjelaskan dengan baik

dan hati-hati, namun agaknya kalian tidak bersabar, sehingga….”

“Itukah yang akan kau katakan? Alasan-alasan yang menjadi

semakin melingkar-lingkar. Aku menjadi semakin pening

mendengarnya,” potong Kuda Sempana. Sementara itu Ken Arok

menggaruk-garuk kepalanya dengan ujung telunjuknya.

“Oh,” desah Witantra. ia adalah seorang prajurit. Ia lebih pandai

memainkan pedang daripada berbicara. Karena itu, maka ia menjadi

bingung. Namun ia tidak mau gagal hanya untuk mengucapkan

sebuah tantangan. Meskipun tantangan ini agak berbeda dengan

tantangan yang harus diucapkan kepada lawan yang sesungguhnya.

Maka kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam, meloncatlah

dari mulutnya, “Ya, ya. Akan aku katakan, bahwa Adi Kuda

Sempana harus mengalami sikap yang sama dengan yang pernah

dilakukannya. Kini seseorang berusaha mengambil gadis Panawijen

itu dengan cara yang sama dengan yang telah kau lakukan.”

Wajah Kuda Sempana segera memerah bara, Sejenak ia

terbungkam, namun terdengar giginya gemeretak menahan marah.

Sepasang matanya memandang Witantra dengan sinar yang ganjil.

Ruang paseban dalam itu menjadi sepi. Hanya desah nafas yang

memburu terdengar bersahut-sahutan.

Tetapi sejenak kemudian terdengarlah suara Kuda Sempana

meledak dalam kesepian itu, “Setan belang! Siapakah yang akan

merebut gadis itu dari tanganku? Aku telah mengambilnya dengan

susah payah. Aku sadari kemungkinan yang sama itu terjadi. Tetapi

aku pun laki-laki. Aku pertahankan gadis itu dengan nyawaku.”

“Aku telah menyangka,” sahut Witantra. Meskipun suaranya agak

gemetar, namun ia masih tetap tenang, “bahwa Adi tidak akan

membiarkannya diambil orang setelah Adi menempuh segala macam

cara untuk mendapatkannya.”

“Nah. Katakan kepadaku, siapakah laki-laki itu? Kakang sendiri

atau siapa?”

“Aku telah beristri. Aku tidak akan mengambil istri yang lain dari

istriku itu.”

“Ya. Itu bukan urusanku. Tetapi siapa?”

Witantra ragu-ragu sejenak. Sekali ditatapnya wajah akuwu.

Namun Tunggul Ametung yang garang itu menundukkan wajahnya.

“Adi Kuda Sempana,” sahut Witantra, “siapa pun yang akan

mengambil gadis itu bukan soal. Tetapi aku ingin menjelaskan

siapakah, yang akan melakukan sayembara tanding untuk itu.”

“Sama sekali bukan sayembara,” potong Kuda Sempana,

“sayembara adalah tuntutan gadis itu. Tetapi apa yang akan terjadi

adalah kebiadaban. Perkosaan dan perampasan. Nah siapakah

orangnya?”

“Oh,” desah Ken Arok mendengar kata-kata Kuda Sempana.

Namun ia tidak meneruskannya. Tetapi di dalam hatinya

berkecamuk perasaan yang aneh. Kuda Sempana itu dapat berkata

dengan mulutnya sendiri. Kebiadaban, perkosaan dan perampasan.

Alangkah anehnya manusia ini. Ia dapat mengatakannya untuk

orang lain, tetapi terhadap tingkah lakunya sendiri?

Dan terdengar Witantra menjawab, “Mungkin Adi benar. Namun

ini adalah akibat perbuatan Adi yang serupa pula.”

Wajah Kuda Sempana menjadi semakin membara mendengar

jawaban Witantra itu. Ditatapnya mata Witantra seperti hendak

ditembus sampai ke jantungnya untuk melihat siapakah orang yang

telah berkhianat itu.

Dalam kemarahan terdengar ia menggeram, “Kakang Witantra,

sebutkan orang itu! Apakah akan dinamakan sayembara tanding,

apakah akan dinamakan apa saja. Aku tidak akan berkeberatan.

Sekarang, besok atau kapan. Namun bagiku lebih cepat lebih baik.”

“Baiklah Adi,” sahut Witantra, “meskipun demikian, marilah kita

sebutkan peraturan yang akan berlaku dalam perang tanding itu.”

“Omong kosong dengan segala macam peraturan. Aku tidak

berbicara tentang peraturan, pada saat aku mengambil gadis itu,”

jawab Kuda Sempana.

“Tetapi itu kurang baik. Marilah kita bersikap seperti orang-orang

yang mempunyai adat. Adat yang akan menampakkan sifat-sifat

kejantanan kita. Kita tidak sekedar ingin menang, tetapi kita uji,

apakah kita laki-laki jantan, apakah kita selicik setan.”

“Bagus. Apakah peraturanmu?”

“Yang kalah harus mengaku kalah. Tak ada persoalan lagi di

kemudian hari. Gadis itu berada di tangan yang menang. Apapun

yang akan dilakukan atas gadis itu.”

“Apakah tandanya kalah?”

“Menyerah, atau menjadi tidak berdaya.”

“Sampai mati.”

“Itu tidak perlu.”

“Pengecut. Kalau salah seorang terbunuh apakah yang lain masih

harus dihukum karena melakukan pembunuhan?”

Witantra mengerutkan keningnya. Kuda Sempana benar-benar

sulit untuk diredakan. Namun Witantra dapat mengerti pula

perasaannya. Karena itu, disadarinya bahwa pekerjaannya adalah

pekerjaan yang sangat berat. Sejenak ia mengalami kesulitan

mendengar pertanyaan Kuda Sempana itu, sehingga ia berdiam diri

untuk menirnbang-nimbang.

Yang terdengar adalah suara Ken Arok perlahan-lahan, “Tidak.”

Witantra berpaling. Ken Arok yang merasa terlanjur

mengucapkan kata-kata itu, segera menundukkan wajahnya. Ketika

Witantra memandang wajah Tunggul Ametung sesaat tampaklah

wajah itu menjadi tegang.

“Apa yang kau maksud Adi?” bertanya Witantra.

Ken Arok menjadi ragu-ragu, Meskipun demikian ia menjawab

sambil menundukkan wajahnya, “Maksudku, kalau terpaksa

terbunuh, bukankah itu berarti suatu kecelakaan? Kecelakaan yang

tidak dapat dihindarkan, sehingga pihak yang lain tidak dapat

dinyatakan bersalah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian

gumamnya lirih, “Ya demikianlah.”

“Bagus!” sambut Kuda Sempana sambil menggosokkan telapak

tangannya. Seolah-olah pada saat itu juga telah siap melepaskan

kekuatan pamungkasnya, Aji Kala Bama.

Kemudian terdengar Witantra berkata, “Kau sependapat?”

“Aku sependapat,” sahut Kuda Sempana, “Tetapi sebutkan

kepadaku. Siapakah yang akan memasuki gelanggang?”

“Itu tidak penting, kau akan melihatnya nanti di arena.”

“Tidak perlu kau rahasiakan Kakang, Sekarang atau nanti aku

akan melihatnya,” bantah Kuda Sempana. Tetapi ia menjadi raguragu

untuk sesaat, apakah orang itu Mahisa Agni?

“Agni terluka,” katanya di dalam hati.

Witantra ragu-ragu sejenak. Sekali-sekali ia melihat Kuda

Sempana memandang Ken Arok dengan tajamnya. Kuda Sempana

itu pun menaruh curiga, pula kepada pelayan dalam yang baru itu.

Tetapi ketika dilihatnya Ken Arok menundukkan wajahnya, maka

segera ia mendesak, “Siapa?”

Witantra menggigit Bibirnya. Banyak persoalan yang

mengganggu perasaannya saat itu. tetapi kemudian hatinya menjadi

bulat, gadis itu harus diselamatkan.

Karena itu, maka kemudian ia menjawab perlahan-lahan, “Aku,

Adi.”

“Kau. Kau?” teriak Kuda Sempana hampir tidak percaya, Matanya

seolah-olah hampir meloncat dari kepalanya. Sesaat ia terpukau,

namun kemudian ia tertawa, Tertawa aneh sekali. Di antara suara

tertawanya ia berkata, “Kau, jadi kau yang telah beristri seperti

yang kau katakan tadi jatuh cinta kepada gadis Panawijen itu? Kalau

demikian, maka aku benar-benar berbahagia. Gadis itu pasti gadis

cantik sekali. Kalau tidak, maka tidak akan ia membuatmu gila

Kakang Witantra. Lalu mau kau apakah istrimu yang tua itu? Kau

buang? Kau buang? Atau kau madu?”

Witantra membiarkan Kuda Sempana mengumpat-umpat.

Dibiarkannya anak muda itu melepaskan perasaan yang menghimpit

dadanya dengan suara tertawanya yang menyakitkan hati itu.

Tetapi, ternyata Ken Aroklah yang tidak tahan mendengarnya,

sehingga sekali-kali ia mengangkat dagunya. Tetapi sebelum ia

berkata apa-apa, terdengar suara Tunggul Ametung menggelegar

memenuhi ruangan itu. Agaknya Akuwu Tumapel itu pun menjadi

muak mendengar kata-kata Kuda Sempana.

“Tutup mulutmu Kuda Sempana! Jangan terlalu sombong!

Dengar, gadis itu sama sekali tidak untuk Witantra. Tetapi aku. Aku.

Ya. Akuwu Tunggul Ametung yang akan mengambilnya. Tetapi aku

tidak mau memaksakan kehendak ini dengan kekuasaan, meskipun

aku dapat melakukannya. Witantra akan berkelahi untukku. Tetapi

kalau itu kau anggap tidak adil, maka ayo, pilihlah di antara kami.

Aku sendiri atau Witantra yang akan maju ke arena. Aku sebagai

Tunggul Ametung. Sama sekali tidak membawa kekuasaan Akuwu

Tumapel untuk persoalan ini.”

Mulut Kuda Sempana segera terkatup rapat. Meskipun demikian

hatinya bergelora dahsyat sekali. Ternyata Akuwu Tunggul

Ametunglah yang akan mengambil Ken Dedes. Benar-benar tidak

diduganya. Sesaat ia menyesal bahwa ia telah memungkinkan

akuwu itu melihat wajah Ken Dedes. Namun kemudian ia menjadi

tatag kembali. Akuwu tidak akan membawa kekuasaannya dalam

persoalan ini. Sehingga ia diberinya izin memilih lawan Tunggul

Ametung atau Witantra yang akan mewakilinya.

Untuk sesaat mulut orang-orang di ruangan itu tertutup rapatrapat.

Tak seorang pun yang segera mengucapkan kata-kata. Yang

terdengar adalah nafas mereka bersahut-sahutan seakan-akan

sedang berpacu.

Kuda Sempana yang dicengkam oleh kedahsyatan gelora di

dadanya duduk terpaku dengan tubuh gemetar. Sekejap

dipandanginya wajah Tunggul Ametung yang tegang, sejenak

kemudian ia berpaling ke arah Witantra yang duduk terpekur.

Sekali-sekali ditatapnya juga kepala Ken Arok yang tunduk. Namun

Tunggul Ametung tidak menunjuknya menjadi salah seorang yang

dapat dipilihnya untuk menjadi lawannya.

Sesaat Kuda Sempana menimbang-nimbang. Apakah ia harus

memilih Tunggul Ametung atau ia harus menunjuk Witantra? Kuda

Sempana pernah mendengar kesaktian mereka berdua. Meskipun

Kuda Sempana sebagai seorang pelayan dalam belum pernah pergi

berperang bersama dengan salah seorang dari mereka, namun telah

didengarnya, betapa nama-nama mereka menjadi buah bibir kawan

dan lawan. Kini ia harus memilih salah seorang daripadanya. Tetapi

Kuda Sempana kemudian menengadahkan wajahnya.

“Aku bukan prajurit pengawal raja,” katanya di dalam hati,

“tetapi aku dipercaya untuk menjadi seorang pelayan dalam. Aku

adalah seorang yang telah mendalami ilmu yang jarang dimiliki

orang, Kala Bama. Meskipun seandainya mereka memiliki kekuatan

melampaui kekuatan manusia biasa, maka dengan Kala Bama

mereka pasti akan luluh.”

Tetapi Kuda Sempana menjadi ragu-ragu sesaat. Mahisa Agni

adalah contoh dari mereka yang tidak dapat dihancurkan dengan

Kala Bama. Berbeda dengan Wiraprana, yang mati oleh tangannya

tanpa kesaktiannya itu dipergunakan.

Ketika ia sedang sibuk menimbang-nimbang terdengar Tunggul

Ametung yang hampir pingsan karena ketegangan itu, berteriak,

“Ayo, apakah kau tiba-tiba menjadi bisu? Pilih di antara kami

berdua, aku atau Witantra!”

Kuda Sempana menarik keningnya. Ia harus cepat-cepat

memberikan keputusan. Yang pernah didengarnya, Tunggul

Ametung adalah seorang yang sakti tiada taranya. Ia memiliki

sebuah pusaka, sebuah tongkat, atau lebih mirip sebuah penggada

yang berwarna kekuning-kuningan. Sebuah penggada dari besi baja

kuning. Alangkah saktinya pusaka itu, sehingga dengan agak

berlebih-lebihan dikatakan orang, bahwa gunung akan runtuh dan

lautan akan kering disambar oleh pusaka itu.

Kuda Sempana meraba kerisnya. Keris ini pun sakti bukan

buatan. Dengan menunjukkan ujungnya, tanpa menyentuhnya,

maka hutan rimba akan terbakar dan bintang bulan akan runtuh ke

bumi. Tetapi segera ia menjadi kecewa, Mahisa Agni mampu

meruntuhkan keris itu dari tangannya. Mahisa Agni tidak terbakar

seperti hutan rimba, dan tidak runtuh seperti bulan bintang.

“Hem,” ia menggeram, “keris ini akan mampu membunuh

lawannya, apabila aku berhasil menggoreskan pada kulit lawan.”

Karena itu, maka ia tidak akan memilih Tunggul Ametung.

Akhirnya setelah bulat tekadnya, maka diangkatnya wajahnya

sambil berkata, “Ampun Tuanku. Hamba akan memilih Kakang

Witantra untuk maju, meskipun Tuanku yang menghendaki gadis

itu.”

Tunggul Ametung memandang Kuda Sempana dengan tajamnya.

“Kenapa?” ia bertanya

“Kakang Witantra lebih baik bagi hamba,” jawab Kuda Sempana

lancar.

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sesaat ia menjadi

bimbang. Apakah Witantra dapat memenuhi janjinya, membebaskan

gadis Panawijen itu, sebab sudah dilihatnya Kuda Sempana mampu

membunuh Wiraprana dengan tangannya tanpa kesulitan. Namun

Witantra adalah prajuritnya yang tepercaya, sehingga akhirnya ia

mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Jadilah. Aku

akan menyaksikan perang tanding ini. Kapan akan kalian lakukan?”

“Sekarang,” sahut Kuda Sempana.

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu

benar perasaan yang sedang bergolak di dalam dada Kuda

Sempana. Karena itu ia bertanya kepada Witantra, “Bagaimana

pendapatmu?”

“Aku sudah menyangka bahwa Adi Kuda Sempana tidak akan

dapat bersabar. Aku tidak berkeberatan. Sekarang,” jawab Witantra.

“Bagus. Aku siap menunggumu di luar Kakang Witantra,” berkata

Kuda Sempana sambil beringsut dari tempatnya.

“Tunggu!” Tunggul Ametung menahannya. Katanya kemudian,

“Aku akan memanggil beberapa orang saksi. Beberapa orang

prajurit dan beberapa orang pelayan dalam.”

“Terserah pada Tuanku. Aku tunggu kau di alun-alun, Kakang.”

“Tidak di alun-alun,” potong Tunggul Ametung, “tetapi di

halaman belakang istana ini.”

“Kenapa? Biarlah rakyat Tumapel menyaksikan perang tanding

ini. Menyaksikan betapa Kuda Sempana mempertahankan haknya

yang akan direbut orang.”

“Gila kau!” sahut Tunggul Ametung, “Apa kau sangka gadis itu

sudah menjadi hakmu? Tidak, Kuda Sempana. Gadis itu belum

hakmu. Akuwu Tunggul Ametung yang sengaja datang ke

Panawijen untuk melindungnya dari kekotoran tanganmu, tahu?”

Kuda Sempana terkejut mendengar jawaban akuwu itu. Tetapi

Witantra dan Ken Arok sama sekali tidak, sebab mereka sudah

berjanji, bahwa akuwu akan mempertanggungjawabkan

pengambilan gadis itu, seolah-olah untuknya sendiri. Hal itu akan

lebih baik baginya. Sedang, apabila ternyata Ken Dedes telah bebas

dari tangan Kuda Sempana, maka biarlah gadis itu menentukan

kehendaknya sebagai tebusan atas kesalahan yang telah terlanjur

dilakukan oleh Tunggul Ametung itu.

Dan sebelum Kuda Sempana menjawab akuwu itu meneruskan,

“Aku beri kesempatan kau melakukan perang tanding, sebab aku

tahu bahwa kau pun merasa berhak pula atas gadis itu. Tetapi tidak

di muka rakyat Tumapel. Rakyat Tumapel pasti akan menuntutmu,

memenggal lehermu di alun-alun sebab kau telah berani mencoba

merebut gadis itu dari tanganku, tangan Akuwu Tumapel.”

Kuda Sempana menjadi bingung mendengar keterangan akuwu

itu Namun kemudian ia tidak peduli lagi. Cepat-cepat ia beringsut

dan berjalan keluar dengan tanpa berkata sepatah kata pun.

Sesaat kemudian Witantra pun mundur pula dari hadapan akuwu,

sehingga tinggallah kemudian Ken Arok yang mendapat perintah

dari akuwu untuk mengundang beberapa orang perwira prajurit dari

berbagai kesatuan dan para pimpinan pelayan dalam.

Sepeninggal Ken Arok, maka Tunggul Ametung segera masuk ke

dalam biliknya, mengenakan pakaian kebesarannya untuk menanti

persiapan yang dibuat oleh Witantra di halaman belakang istana.

Sebuah arena kecil.

Kepada beberapa orang juru taman Witantra memerintahkan

menyiapkan tempat itu. Membentangkan tikar pandan di

sekelilingnya dan beberapa perlengkapan yang lain.

Kuda Sempana yang melihat itu sama sekali tidak bersabar.

Dengan lantang ia berkata, “Apa perlunya segala macam persiapan

itu? Di sini kita bisa bertempur. Di manapun dan tanpa persiapan

apapun.”

“Biarlah kali ini kita lakukan dengan baik, Adi. Meskipun tidak

sempurna, biarlah kita lakukan dengan upacara perang tanding

antara kesatria.”

“Persetan!” sahut Kuda Sempana yang kemudian berjalan

mendekati Witantra, “Kakang Witantra, coba katakan kepadaku,

hadiah apa yang dijanjikan kepadamu, sehingga demikian bernafsu

kau memisahkan Ken Dedes dariku. Apakah kau dijanjikan untuk

menjabat pangkat yang lebih tinggi, bukan sekedar perwira

pengawal akuwu, tetapi akan diangkat menjadi senapati agung

misalnya, atau Panglima Tumapel atau apa?”

Witantra memandang wajah Kuda Sempana yang penuh hinaan

itu dengan tenang. Sekali ia mengangguk-anggukkan kepala, dan

kemudian menjawab, “Aku tidak akan menerima hadiah apapun,

Adi.”

“Omong kosong!” Kuda Sempana mencibirkan bibirnya, “Lalu

apakah pamrihmu? Perempuan itu sendiri?”

Witantra menggelengkan kepalanya, tetapi sebelum ia menjawab

Kuda Sempana telah mendahuluinya, “Atau kau sudah diganggu

oleh penyakit syaraf. Lihat istana Tumapel gempar hanya karena

seorang gadis. Akuwu ternyata curang. Ia mengantarkan aku dan

merestui aku mengambil Ken Dedes, tetapi akhirnya ia berkata

bahwa ia melindungi gadis itu dari kekotoran tanganku. Apakah

demikian nilai janji Akuwu sekarang?”

“Tetapi kau telah menipunya. Nah, apakah demikian, nilai

kemanusiaan sekarang?”

“Omong kosong!” kembali Kuda Sempana mencibirkan bibirnya

dan kembali ia berkata, “Seluruh isi istana sudah gila. Karena

seorang gadis desa, maka istana Tumapel menjadi gempar. Seorang

perwira pengawal istana turun ke arena untuk merebut gadis desa

itu. Huh!”

Witantra memandang Kuda Sempana dengan tajamnya.

Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Kuda Sempana, persoalan ini

bagiku bukan sekedar persoalan seorang gadis. Bukan sekedar soal

perempuan itu. Tetapi persoalan ini merupakan contoh dari

persoalan yang jauh lebih besar. Persoalan kemanusiaan,

kebenaran, hak dan kewajiban.”

“Oh?” Kuda Sempana mengangkat wajahnya sambil menarik

bibirnya ke sisi. Matanya diredupkannya sambil berkata, “Kakang

Witantra ingin menjadi pahlawan?”

“Mungkin,” sahut Witantra sambil mengerutkan keningnya,

“tetapi pahlawan atau bukan pahlawan adalah kewajibanku untuk

mencegah kelaliman. Gadis itu adalah perwujudan dari tindak

sewenang-wenang itu. Kali ini seorang gadis, keluarganya dan

bahkan perasaan seluruh rakyat Panawijen. Namun gadis itu dapat

berbentuk lain. Kalau kau telah berani merampas kebebasan

seorang gadis untuk memenuhi keinginanmu, maka lain kali kau

akan berbuat jauh lebih besar. Kalau kau memiliki kekuasaan, maka

kau akan melakukannya melampaui apa yang kau lakukan sekarang.

Mungkin kau akan merampas hak-hak yang jauh lebih berharga.

Tidak hanya satu jiwa, tetapi beribu-ribu. Yang penting bukan gadis

itu, gadis yang hanya satu gadis pedesaan. Tetapi yang penting

adalah persoalannya. Kau merampas hak kemanusiaannya, dan

adalah kewajibanku untuk mencegahnya. Itulah. Dan perkosaan

yang kau lakukan dapat berupa perkosaan atas seorang gadis,

tetapi juga dapat lain.”

Kuda Sempana menjadi tegang. Ia kini tidak mencibirkan bibirnya

lagi. Tidak menarik bibir itu ke sisi dan tidak meredupkan matanya.

Tetapi wajahnya menjadi tegang. Katanya, “Kau mencoba

menghubungkannya, dengan persoalan yang disebut persoalannya,

bukan bentuknya. Tetapi kau lupa bahwa untuk kepentingan yang

lebih besar maka aku berbuat demikian. Dengan gadis itu di sisiku,

aku akan lebih banyak berbuat untuk Tumapel untuk tanah ini.”

“Alasan yang terlalu dibuat-buat. Kau ingin mengatakan bahwa

apa yang terjadi adalah suai u pengorbanan buat masalah yang

lebih besar? Omong kosong! Yang terjadi adalah korban nafsumu

yang tak terkendali. Kali ini kau bernafsu atas gadis itu, tetapi lain

kali kau bernafsu untuk menjadi akuwu. Dapatkah kau katakan

bahwa jabatan akuwu akan memberi kesempatan kepadamu

berbuat lebih banyak atas tanah ini? Tumapel?”

“Persetan dengan uraianmu yang bodoh! Nah, kalau demikian

apalagi yang kita tunggu?”

“Akuwu,” sahut Witantra.

Kuda Sempana menggeram. Ia benar-benar tidak dapat bersabar

lagi. Namun Kuda Sempana itu tidak perlu menunggu terlalu lama.

Sebentar kemudian datang Akuwu Tunggul Ametung diiringi oleh

beberapa orang perwira. Di wajah-wajah mereka terbayanglah

berbagai pertanyaan dan keragu-raguan. Namun di antara mereka,

telah juga beredar kabar dari mulut ke mulut, bahwa Istana

Tumapel sedang digemparkan oleh seorang gadis Panawijen.

Namun beberapa orang perwira dapat mengerti, kenapa Witantra

telah menyediakan dirinya dalam persoalan yang tampaknya tidak

lebih dari rebutan seorang gadis itu, tetapi yang bagi Witantra,

pandangannya jauh menembus pada pokok persoalannya.

Kemanusiaan, kebenaran dan kemungkinan-kemungkinan yang

bakal terjadi di hari-hari berikutnya, supaya tidak semua orang

dapat berbuat seperti Kuda Sempana. Memenuhi nafsu sendiri

dengan mengorbankan apa saja, bahkan nama Akuwu Tunggul

Ametung sendiri.

Ketika Kuda Sempana melihat beberapa orang yang datang ke

arena itu, maka ia menjadi gelisah. Ia menjadi cemas kalau akuwu

sekali lagi mengingkari janji. Apabila ia berhasil mengalahkan

Witantra maka akuwu akan dapat membuat alasan-alasan lain untuk

menyingkirkannya. Sebab di tangan Tunggul Ametung terletak

kekuasaan Tumapel. Ia ragu-ragu, apakah benar akuwu dalam hal

ini tidak ingin mempergunakan kekuasaan? Bukankah karena

kekuasaan akuwu pula maka Witantra dapat mewakilnya.

Tetapi Kuda Sempana tidak mau memusingkan dengan anganangan

yang mencemaskan. Ia akan berteriak di hadapan para satria

itu perjanjian yang telah dibuatnya dengan Witantra dan akuwu.

Apabila akuwu mengingkarinya biarlah para perwira itu akan dapat

menilainya

Sesaat kemudian Kuda Sempana dengan tidak sabar sama sekali

telah meloncat ke tengah-tengah gelanggang yang dikelilingi oleh

beberapa orang perwira yang duduk di atas selapis tikar pandan.

Witantra pun kemudian maju pula setelah menyembah dan berkata

kepada Tunggul Ametung, “Hamba akan mencoba berbuat sebaikbaiknya.”

Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Ia hanya mengangguk

kecil penuh kebimbangan. Perasaan kini justru tidak setenang

malam tadi. Perasaannya kini mulai bergolak kembali. Ia takut,

sebenarnya takut, bahwa Witantra tidak akan dapat mengalahkan

Kuda Sempana. Perasaan akuwu kini bukanlah sekedar ingin

membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana, namun tanpa

diketahuinya sendiri, perasaan itu telah terdorong semakin jauh. Ia

benar-benar ingin memenangkan sayembara ini. Memenangkan

untuk memiliki hasil kemenangannya.

Beberapa orang perwira duduk acuh tak acuh. Bahkan ada di

antara mereka menggerutu tak habis-habisnya. Kenapa ia harus

menyaksikan perkelahian yang berpusar pada persoalan seorang

gadis. Namun beberapa perwira yang lain menjadi cemas. Mereka

memuji kejujuran Witantra dalam per kelahian itu. Ia benar-benar

seorang yang tidak terlibat dalam suatu kepentingan pribadi atas

gadis itu.

Ken Arok yang duduk di tepi arena itu pun memandang mereka

yang telah siap bertempur dengan pandangan yang suram. Hatinya

menjadi berdebar-debar dan bahkan suatu perasaan aneh telah

merayapi hatinya. Seperti beberapa orang yang lain, maka Ken Arok

jauh lebih dalam memuji Witantra di dalam hatinya. Ia benar-benar

satu-satunya orang yang berjuang tanpa pamrih. Ia bertempur

benar-benar untuk menegakkan kemanusiaan, hak atas dasar

kewajiban.

Ketika ia berpaling dan menyambar wajah Akuwu Tunggul

Ametung yang tunduk, maka katanya di dalam hati, “Akuwu berbuat

seperti sekarang ini karena ia dikejar oleh perasaan bersalah, ia

ingin menembus kesalahannya itu dengan membebaskan kembali

Ken Dedes dan menghukum Kuda Sempana dengan cara lain. Cara

yang tidak semata-mata mengingkari tingkah laku sendiri. Sedang

Mahisa Agni yang terluka itu, berjuang untuk menyelamatkan

adiknya. Untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Kuda

Sempana bersedia bertempur di arena karena ia dilanda oleh nafsu

yang tak terkendali. Nafsu untuk memiliki Ken Dedes meskipun

hanya wadagnya saja.”

Tetapi tidak demikian dengan Witantra. Ken Dedes bukan sanak

bukan kadang, bukan pula seorang gadis yang telah menyeret

nafsunya, dan bukan pula gustinya. Bukan apa-apa. Ia benar-benar

dapat mencuci tangannya seperti perwira-perwira yang lain, yang

acuh tak acuh atas persoalan itu. Ia dapat tidur nyenyak dengan

istri dan keluarganya di rumah. Atau apabila ia harus melihat

perkelahian di arena ia dapat memuji, namun dapat pula mencela

salah seorang daripadanya sambil membelai kumisnya tanpa

bahaya. Namun kini ia telah terjun ke arena dengan suka rela,

karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kemanusiaan

telah diperkosa oleh kesewenang-wenangan. Ia melihat

ketidakadilan dan ia melihat seseorang yang dapat memperalat

kekuasaan dan pedang untuk mencapai maksudnya. Karena itu,

Witantra yang merasa memiliki pedang pula di lambungnya, telah

turun ke arena untuk melawan pedang dalam kesewenangwenangannya.

Tak sepatah kata pun yang diucapkan Akuwu Tunggul Ametung

sebelum perang tanding itu dimulai. Tak ada orang lain yang

diperintahkannya untuk berbicara. Ia hanya menganggukkan

kepalanya dan bergumam lirih, “Mulailah.”

Witantra mengangguk hormat, kemudian memutar tubuhnya

menghadap Kuda Sempana. Namun Kuda Sempanalah yang

kemudian berkata lantang, “Para perwira prajurit, kawan-kawanku

pelayan dalam dan para pimpinan pemerintahan. Tuanku Akuwu

telah melepaskan janji, arena ini adalah keputusan tertinggi. Siapa

yang menang ia berhak menentukan sikapnya atas gadis Panawijen

yang sekarang sedang sakit di istana. Dan aku sengaja turun karena

untuk mempertahankan hakku atasnya.”

Belum lagi mulut Kuda Sempana terkatup rapat, terdengar akuwu

membentak, “Jangan banyak bicara! Kalau kau tidak segera mulai,

maka lawanmu adalah aku sendiri.”

Semua orang terkejut mendengar akuwu membentak. Beberapa

orang menjadi kecut dan bingung, apakah sebenarnya yang telah

terjadi. Namun beberapa orang tersenyum di dalam hati, “Keduanya

adalah orang-orang muda.”

Kuda Sempana pun terdiam pula. Ketika ia mencoba mencuri

pandang, di pangkuan Tunggul Ametung terletak sebuah benda

yang kuning gemerlap. Itulah pusakanya, yang dapat

menggugurkan gunung dan dapat mengeringkan lautan. Sekali lagi

tanpa disengajanya, Kuda Sempana meraba kerisnya. Kerisnya itu

ada di lambungnya. Tetapi ketika ia memandangi tubuh Witantra

keseluruhannya, maka Witantra sama sekali tidak membawa senjata

apapun.

Meskipun demikian. Kuda Sempana itu masih juga berkata,

bahkan ditujukan kepada Akuwu Tunggul Ametung, “Tidak, Tuanku

hamba junjung. Hamba hanya ingin supaya para perwira

mengetahui, apakah yang harus kami lakukan.”

“Diam! Diam! Diam!” teriak Akuwu Tunggul Ametung.

Secengkang ia beringsut. Tetapi Witantra yang menjadi cemas kalau

Tunggul Ametung itu kemudian berdiri dan menerjunkan diri ke

arena, maka segera ia meloncat menyerang sambil berteriak, “Adi

Kuda Sempana, aku akan segera mulai.”

Kuda Sempana melihat Witantra mulai dengan serangannya,

namun tidak berbahaya. Meskipun demikian, Kuda Sempana

menggeser ke samping untuk menghindari serangan itu.

Tetapi agaknya Kuda Sempana itu masih belum puas dengan apa

yang dikatakannya. Ia masih ingin berteriak lagi memperkecil arti

tindakan Tunggul Ametung itu. Membatasi persoalannya sebagai

suatu persoalan berebut gadis di antara dua orang jejaka. Bukan

soal seperti yang dikatakan oleh Witantra, yang memandangnya dari

segi lain. Dari segi hak, kemanusiaan dan beban kewajibannya

sebagai seorang kesatria. Karena itu, maka sekali lagi ia mencoba

berteriak sambil meloncat surut. Namun Witantra melihat gelagat

itu. Betapapun ia tetap dalam ketenangannya, tetapi perbuatan

Kuda Sempana itu benar-benar tak menyenangkan. Karena itu, demi

kian Kuda Sempana mulai membuka mulutnya, maka mulai pulalah

serangan Witantra berikutnya. Bukan sekedar serangan untuk

mengejutkan lawannya. tetapi serangan kali ini benar-benar

mengarah ke titik-titik yang berbahaya bagi lawannya. Sambil

melontarkan diri, Witantra menyambar leher Kuda Sempana dengan

ibu jarinya. Sedang tangannya yang lain masih berusaha menyerang

perut lawannya dengan ujung-ujung jari pula.

Kuda Sempana kali ini benar-benar terkejut melihat gerak itu.

Gerak yang langsung berusaha menyelesaikan perkelahian dengan

menutup lubang pernafasannya. Karena itu, maka ia tidak sempat

untuk berteriak lantang, namun sekali ia harus bergeser surut

sambil merendahkan dirinya, sedang tangannya berusaha untuk

memukul tangan Witantra ke samping. Tetapi Witantra dengan

cepatnya menarik tangannya. Sekali ia berputar di atas satu

kakinya, dan tiba tumitnya melayang dalam gerak melingkar

menyambar lambung Kuda Sempana.

Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya. Witantra benarbenar

tidak memberinya kesempatan. Karena itu, maka segera

dilepaskannya maksudnya untuk berteriak-teriak di hadapan para

perwira. Kini dipusatkannya segenap perhatiannya kepada Witantra.

“Hem,” Kuda Sempana menggeram, gumamnya di dalam hati,

“Alangkah banyak rintangan yang harus aku lampaui. Untuk

mendapatkan seorang istri yang cantik, aku harus berkali-kali

mempertaruhkannya nyawaku. Tetapi Ken Dedes bagiku adalah

lambang keteguhan tekadku. Kalau aku tidak mampu

mempertahankannya maka dalam persoalan-persoalan yang lain aku

pun akan selalu gagal.”

Dengan demikian, maka gerak Kuda Sempana menjadi semakin

mantap. Kepada Wiraprana, kepada Mahisa Agni ia pernah berkata

bahwa bagi seorang kesatria, wanita sama harganya dengan pusaka

dan nyawanya. Karena itu, maka apapun yang akan ditempuh,

maka Ken Dedes harus menjadi miliknya.

Ketika Matahari merambat semakin tinggi di langit, maka angin

lembah pun semakin cepat mengalir, mendorong awan yang putih

kelabu mengalir ke utara. Segumpal-segumpal. Dan kadang-kadang

menyapu wajah matahari yang suram, seolah-olah matahari itu

ingin menyembunyikan wajahnya dalam kecemasan melihat

perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru.

Demikian perkelahian itu mulai, demikian segenap perhatian

tercurah ke dalam arena. Beberapa perwira yang semula acuh tak

acuh saja, kini terpaksa melihat, bahwa keduanya tidak hanya

sekedar bermain-main.

Tunggul Ametung sendiri, seakan-akan sebuah patung batu yang

diam membeku. Namun betapa tegang wajahnya memandangi

perkelahian itu. Semula, sebenarnyalah bahwa ia hampir saja

meloncat ke dalam arena dan mendorong Witantra pergi,

seandainya Witantra tidak segera mulai dengan serangannya.

Akuwu sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan, apakah dengan

demikian namanya tidak akan terganggu karenanya. Sebab

beberapa orang akan tetap menganggap bahwa Akuwu Tunggul

Ametung bertempur dengan tangannya hanya untuk mendapatkan

seorang gadis desa. Tetapi kini, akuwu masih memiliki kewibawaan.

Seandainya yang terjadi itu sebuah sayembara tanding, maka

seseorang perwira prajuritnya telah melakukan perintahnya.

Seandainya ia berhasil maka namanya akan menjadi semakin baik,

bahwa prajuritnya saja telah mampu menyelesaikan pekerjaan itu.

Apalagi kalau ditanganinya sendiri.

Tetapi apapun yang terjadi, maka adalah pasti, bahwa masih

akan ada orang yang mencibirkan bibirnya sambil berkata, “Kenapa

Tunggul Ametung, seorang akuwu yang berkuasa di Tumapel, telah

terlibat dalam persoalan seorang gadis dengan pelayan dalamnya

sendiri?”

Namun mungkin ada orang lain yang menjawab, “Tetapi akuwu

tidak berbuat sewenang-wenang. Ia memberi kesempatan kepada

pelayan dalam itu untuk berjuang, meskipun seandainya ia mau,

maka pelayan dalam itu dapat dibunuhnya tanpa sebab.”

Tetapi akuwu tidak dapat berbuat begitu. Meskipun di sudut

hatinya yang paling jauh tersimpan pula kata-kata itu,

mempergunakan kekuasaan untuk membunuh Kuda Sempana,

namun beberapa orang telah menjadi saksi, bahwa akuwu sendiri

telah mengantarkan Kuda Sempana mengambil gadis itu ke

Panawijen.

Perkelahian antara Witantra dan Kuda Sempana itu semakin lama

menjadi semakin seru. Masing-masing adalah seorang yang

mendalami ilmu tata perkelahian dengan tekunnya. Meski pun umur

Witantra terpaut beberapa tahun lebih tua, namun tenaga mereka

berdua masih dalam tingkat yang sedang berkembang. Baik

Witantra maupun Kuda Sempana. Karena itulah maka keduanya

menjadi seperti sepasang burung rajawali yang bersabung di udara.

Saling menyambar dan saling menerkam. Lontar melontar dalam

kekuatan orang-orang muda. Desak mendesak silih berganti.

Meskipun demikian, Akuwu Tunggul Ametung selalu mengumpat

di dalam hatinya. Ia melihat betapa gerak Witantra terlalu lamban.

Kalau dirinya sendiri yang berada di arena itu, maka ia sudah akan

menemukan beberapa kesempatan untuk menjatuhkan, atau

setidak-tidaknya menekan lawannya. Dan sebenarnyalah akuwu

dapat melakukannya. Ia tidak hanya sekedar dapat mencela, sebab

akuwu sendiri mampu bergerak secepat burung walet yang

menyambar ikan di wajah lautan. Namun apabila Tunggul Ametung

memperhatikan Kuda Sempana, maka akuwu itu menarik nafasnya

dalam-dalam. Witantra terlalu lamban dibanding dengan lawannya.

Sehingga dengan demikian maka perkelahian itu berlangsung

dalam suasana yang semakin lama semakin tegang. Apalagi Kuda

Sempana semakin lama menjadi semakin kehilangan pertimbangan.

Yang ada di dalam kepalanya tinggallah suatu tekad untuk

menghancurkan lawannya. Bukan saja sekedar mengalahkan,

menundukkan untuk mendapat kemenangan, namun Kuda Sempana

yang marah itu benar-benar ingin mengalahkan lawannya dalam

tingkat yang tertinggi. Mati. Itulah sebabnya ia memeras segenap

kemampuan dan ilmunya. Ia ingin mencengangkan semua orang

yang melihatnya. Seorang pelayan dalam telah berhasil

mengalahkan sampai mati seorang perwira prajurit. Dengan

demikian maka tidak saja ia akan berhasil memiliki seorang gadis

yang telah menjadikannya gila, namun ia akan mendapat tempat

yang baik di hati para pemimpin Tumapel. Tetapi apabila teringat

olehnya, bahwa Witantra itu sedang mewakili Akuwu Tunggul

Ametung, maka hatinya menjadi suram. Ia benar-benar dihadapkan

pada persoalan yang amat pelik. Maju tatu, mundur ajur. Kalau ia

berhasil mengalahkan Witantra, maka apakah akuwu benar-benar

akan memenuhi janjinya? Tetapi apabila ia dapat dikalahkan,

lenyaplah semua impiannya atas seorang gadis yang selama ini

telah membungai lereng Gunung Kawi.

“Persetan dengan keputusan Akuwu nanti!” katanya di dalam

hati, “Namun semua orang yang hadir ini telah mengetahui

persoalan yang sedang terjadi. Kalau Akuwu tidak menepati

janjinya, maka para kesatria akan mengutuknya.”

Karena itulah maka Kuda Sempana benar-benar berkelahi tanpa

pengekangan diri. Setiap kesempatan dipergunakannya sebaikbaiknya

untuk membinasakan lawannya. Ia sama sekali tidak

canggung dan ragu-ragu. Apa saja yang dilakukan meluncur lepas

dengan sekuat tenaganya. Geraknya semakin lama semakin lincah,

menyambar-nyambar tanpa mempertimbangkan, apa yang sedang

dilakukan oleh lawannya.

Witantra yang masih berusaha membatasi semua geraknya,

merasakan tekanan Kuda Sempana semakin lama semakin keras.

Bahkan kemudian ia melihat serangan-serangan Kuda Sempana atas

bagian-bagian tubuhnya yang benar-benar berbahaya. Lambung

leher dan bahkan mata. Witantra yang tenang itu akhirnya merasa

juga, bahwa Kuda Sempana bertempur dalam tingkatan yang

menentukan hidup atau mati.

Witantra menggeram perlahan-lahan. Ia masih saja dijalari oleh

kebimbangan. Apakah ia akan mengimbangi kegilaan Kuda

Sempana itu? Apabila demikian, maka tidak ada bedanya antara

mereka keduanya. Tetapi apabila ia tidak berbuat serupa, dengan

mengekang semua serangan maka ia semakin lama pasti akan di

sudutkan ke dalam kesulitan.

Ketika sekali ia mencoba memandang wajah Akuwu Tumapel,

dilihatnya wajah itu merah padam seolah-olah hampir meledak.

Tunggul Ametung itu menggigit bibirnya sambil mengepalkan kedua

tangannya, yang bahkan sekali-kali memukul kaki-kakinya sendiri.

Witantra menyadari kegelisahan Tunggul Ametung. Akuwu itu

pasti melihat keragu-raguannya. Akuwu itu pasti melihat bahwa ia

dalam kebimbangan. Sehingga karena kebimbangannya itu ia

banyak terdesak. Dan itu menggelisahkan sekali.

(bersambung jilid 11)

Jilid 11

TERNYATA BUKAN SAJA Tunggul Ametung, yang menjadi

gelisah. Beberapa orang perwira menjadi gelisah pula. Namun

sebagian dari mereka sama sekali tidak memikirkan nasib gadis

Panawijen itu apabila Witantra dikalahkan, sebab mereka hampir

tidak tahu menahu persoalan itu. Yang mereka cemaskan,

seandainya Witantra dapat dikalahkan oleh Kuda Sempana, maka

sebagai prajurit-prajurit Tumapel, mereka akan menjadi malu.

Harga diri mereka akan tersinggung karenanya. Mereka menjadi

cemas benar-benar karena nama mereka sendiri. Karena

kepentingan mereka masing-masing. Meskipun di dalam hati mereka

tersimpan juga perasaan heran akan kelincahan Kuda Sempana.

Sebagai pelayan dalam yang mempunyai kedudukan setengah

prajurit itu, Kuda Sempana benar-benar dapat dibanggakan.

Berbeda dengan beberapa pelayan dalam yang hadir di tepi

arena itu, Seperti juga para prajurit, mereka tidak menghiraukan

persoalan yang tengah mereka perjuangkan. Mereka kini hanya

dapat melihat suatu kebanggaan di dalam lingkungannya. Kuda

Sempana ternyata tidak kalah tangkas dan lincahnya, meskipun ia

sedang bertempur melawan seorang perwira prajurit pengawal

istana. Salah seorang dari mereka tidak dapat mengendalikan

perasaannya. Sehingga dengan penuh gelora kebanggaan ia

berbisik kepada seorang pelayan dalam lain yang duduk di

sampingnya, “Lihat, bukankah di lingkungan kita, ada juga seorang

yang tidak kalah tangkasnya dari mereka yang telah disebut prajurit

sepenuhnya?”

“Gila kau!” sahut kawannya itu, “Itu bukan suatu keistimewaan.

Sedang seorang petani, anak pedesaan mampu mengalahkan Kuda

Sempana itu. Bahkan membunuhnya pun ia mampu.”

“Ah. Petani yang mana?”

Kawannya itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku

mendengar dari seorang perempuan tua, keluarga petani itu. Kuda

Sempana pernah diampuninya, meskipun seandainya ia mau, maka

ia akan dapat memenggal leher Kuda Sempana itu dengan

mudahnya.”

Pelayan dalam yang sedang berbangga itu mengerutkan

keningnya. Apakah yang dikatakan kawannya itu sebenarnya telah

terjadi atau hanya kawannya itu menjadi iri hati atas keterampilan

Kuda Sempana.

Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya,

atau perempuan tua itu membuat?”

“Sebenarnya. Kuda Sempana belum apa-apa. Lihat, kalau

Witantra telah dapat menindas keragu-raguannya maka Kuda

Sempana akan segera dapat dilemparkan dari arena.”

“Gila! Apakah kau tidak berbangga atas kemenangan kawan kita

itu?”

“Tidak! Terkutuklah Kuda Sempana itu.”

“Kau iri hati.”

“Tidak. Aku berani melawannya. Aku pernah bertempur dengan

anak pedesaan yang mampu mengalahkan Kuda Sempana itu. Dan

anak muda itu belum mampu mengalahkan aku.”

Pelayan dalam itu berpaling. Ia terkejut ketika dilihat wajah

kawannya yang merah membara. Kawannya itu ternyata adalah Ken

Arok.

Pelayan dalam, kawan Ken Arok yang tidak banyak mengetahui

persoalannya itu menjadi sangat heran. Kenapa Ken Arok seolaholah

menjadi marah melihat perkelahian itu, sehingga tanpa

sesadarnya ia bertanya, “Kenapa kau Ken Arok?”

Ken Arok tidak menjawab. Matanya yang bulat masih saja

memandang perkelahian itu hampir tanpa berkedip.

“Ken Arok,” berkata kawannya, “bukankah dengan demikian

maka orang tidak akan dapat menganggap kami orang-orang banci

yang tidak berarti di halaman istana ini, selain menjadi pesuruh.

Mengantarkan perintah Akuwu untuk melihat gedung-gedung

perbendaharaan, memelihara pusaka-pusaka dan pekerjaanpekerjaan

yang semacamnya. Bukankah dengan demikian mata

seluruh penduduk Tumapel akan terbuka, bahwa kami pun prajuritprajurit

yang mampu mengerahkan tenaga dan bertempur seperti

selayaknya prajurit.

“Tidak perlu!” sahut Ken Arok pendek.

Kawan itu menjadi semakin heran. Dengan dahi berkerut-kerut ia

bertanya pula, “Kenapa? Apakah kita tidak memiliki kebanggaan

atas kesatuan kita?”

“Kali ini yang penting bukan kesatuan. Bukan seorang pelayan

dalam dan seorang prajurit. Kalau kau berpikir demikian, dan para

prajurit itu juga berpikir seperti kamu, maka akan segera timbul

pertengkaran antara kita.”

“Bukan begitu Ken Arok. Bukan begitu.”

“Sudahlah. Lihat, sekarang Witantra sudah agak maju. Ia sudah

hampir berhasil menindas kebimbangannya. Ia terlalu jujur dan baik

hati.”

Kawannya masih tetap tidak dapat mengerti, kenapa Ken Arok

tidak berpihak kepada Kuda Sempana. Sehingga sekali lagi ia

bertanya, “Kenapa kau berpihak pada perwira itu, apakah sebentar

lagi akan berpindah ke kesatuannya?”

“Tidak. Tetapi aku melihat persoalannya. Bukan siapakah yang

sedang melakukan. Aku tidak peduli apakah Kuda Sempana itu dari

kesatuanku, apakah ia Adikku atau ayahku sekalipun. Ia berada di

pihak yang salah.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Sekali ia menarik nafas.

Kenapa Kuda Sempana bersalah. Kalau ia bersalah, maka Akuwu

pasti akan menangkap dan menghukumnya. Pasti ada sesuatu

sebab, kenapa Akuwu memberinya kesempatan. Tetapi ketika ia

hampir membuka mulutnya, terdengar Ken Arok berdesis tajam,

“Jangan bicara lagi. Aku tidak senang mendengarnya. Sebab kau

berpihak tanpa mengetahui persoalannya. Sedang aku berpihak

pada kebenaran. Nanti kita akan bertengkar sendiri. Besok kalau

kau sudah mendengar cerita yang sebenarnya kau akan sependapat

dengan aku.”

Orang itu mengurungkan niatnya. Ketika ia memperhatikan

perkelahian di arena, maka kembali keningnya berkerut. Perkelahian

itu telah berubah sama sekali. Ia tidak melihat lagi Kuda Sempana

mendesak Witantra terus menerus. Kini yang dilihatnya perkelahian

itu menjadi agak seimbang. Hanya sekali-kali Kuda Sempana

berhasil mendorong Witantra surut dan mencoba memburunya.

Namun sesaat kemudian Witantra telah menemukan

keseimbangannya kembali, sehingga dengan cepatnya ia

mendahului menyerang dan segera ia mendapatkan tempatnya

kembali.

Pelayan dalam kawan Ken Arok, mengerutkan keningnya. Ia

mulai ragu-ragu dengan penglihatannya. Apakah benar Witantra

akan dapat mengalahkan Kuda Sempana? Namun kemungkinan itu

masih jauh. Sekali-kali ia masih melihat Kuda Sempana menguasai

arena. Karena itu ia menarik nafas dalam-dalam.

Bahkan kembali ia bergumam, “Kedudukan Kuda Sempana masih

cukup baik.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia menggigit bibirnya untuk

menahan kejengkelannya. Namun kawannya itu agaknya sama

sekali tidak puas dengan pendirian Ken Arok, sehingga ia berkata,

“Huh, aku sangka, Witantra itu tidak akan bertahan lebih lama. Ia

hanya sekedar orang yang berlagak sakti. Lihat itu Adik-adik

seperguruannya yang nakalnya bukan main. Kebo Ijo. Untung ia

tidak jadi kawin dengan Adikku. Sekarang bakal istrinya hampirhampir

tak pernah diperhatikannya lagi. Ia sudah akan kawin

meskipun masih terlalu muda karena kebengalannya. Masih

terpandanglah Adiknya yang lain, Mahendra.”

Ken Arok menjadi semakin jemu mendengar kata-kata itu. Kalau

tidak di lingkungan orang banyak maka mulut orang itu pasti sudah

disumbatnya. Namun kini ia hanya dapat menggeser untuk

beberapa jengkal.

Tetapi orang itu benar-benar menjengkelkan. Ia bergeser pula

mengikutinya sambil berkata, “He, Ken Arok. Apakah kau ingin

supaya kau yang mengganti Kuda Sempana bertempur melawan

Witantra supaya kau mendapat hadiah itu?”

Ken Arok menggeram. Akhirnya ia menjawab, “Aku ingin

menggantikan Witantra dan mencekik leher Kuda Sempana.”

Kawannya tertawa perlahan. Desisnya, “Kau benar-benar iri.

Kalau tidak kau tidak akan berbuat begitu.”

Ken Arok hampir tak dapat menguasai dirinya. Sesaat ia bingung

bagaimana caranya membungkam mulut kawannya itu. Tiba-tiba

itu, tangannya yang kuat itu perlahan-lahan menyobek tikar tempat

duduknya, dan dari bawah tikar itu diambilnya sebuah batu.

Ketika kawan di sampingnya masih berkata pula, Ken Arok

memotongnya, “Kau mau diam atau tidak?”

Orang itu bahkan tertawa meskipun perlahan-lahan. Kemudian

jawabnya, “Itu adalah urusanku. Apakah aku mau berkata terus,

atau aku mau diam.”

“Tetapi kau mengganggu aku.”

“Salahmu. Kalau kau terasa terganggu.”

“Jangan tunggu sampai aku membungkam mulutmu.”

Orang itu membelalakkan matanya dengan marahnya. Bahkan ia

berkata, “Jangan sombong orang baru. Aku bunuh kau nanti!”

Kini Ken Arok benar tidak dapat menahan dirinya. Sehingga

dengan geramnya ia menunjukkan sebuah batu di tangannya itu

sambil berkata, “Lihat, inilah mulutmu itu.”

“Mau apa kau?” tantang kawannya.

Ken Arok tidak menjawab, tetapi tiba-tiba kedua tangannya

meremas batu di tangannya sehingga pecah menjadi tiga.

Ternyata karena luapan kemarahannya, Ken Arok telah

menghimpun kekuatannya di dalam tangannya itu, sehingga dengan

satu gerakan yang luar biasa dahsyatnya, tangannya berhasil

memecahkan batu itu tanpa berkisar dari tempat duduknya.

Kawannya, pelayan dalam yang duduk di samping, yang dengan

bicaranya telah membakar kemarahan Ken Arok itu terkejut bukan

alang kepalang. Seperti melihat hantu di bawah terik matahari, ia

membelalakkan matanya.

“Batu itu pecah,” gumamnya di dalam hati, “ya, pecah.”

Dan sepasang mata ini telah melihat.

Tiba-tiba tubuhnya menggigil menahan perasaannya yang

bergolak itu. Hampir tidak mungkin terjadi, dan ia tidak akan

percaya seandainya orang lain yang mengatakan kepadanya, bahwa

sambil duduk tepekur Ken Arok mampu memecahkan batu-batu

dengan jari-jarinya. Tetapi itu telah terjadi.

Mulut orang itu bergetar, namun ia tidak dapat mengucapkan

sepatah kata pun. Ketika Ken Arok meletakkan pecahan batu itu di

pangkuannya, orang itu sama sekali tidak mampu untuk menerima

dengan tangannya. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok berdesis,

“Nah. Lihat batu itu. Kalau kau berkata sepatah kata lagi, apalagi

memuji Kuda Sempana atau mengancam membunuh aku, maka

mulutmulah yang akan aku remas seperti batu itu. Aku yakin bahwa

mulutmu pasti lebih lunak daripada batu. Bagaimana?”

Seperti dikuasai oleh kekuatan yang tak dimengerti maka orang

itu menganggukkan kepalanya berkali-kali, seakan-akan ia ingin

meyakinkan, bahwa ia benar-benar tidak akan berkata sepatah kata

pun lagi.

“Lihat arena itu!” geram Ken Arok.

Orang itu mengangkat wajahnya, dan dilihatnya apa yang terjadi

di arena.

Kembali ia terkejut. Keseimbangan perkelahian itu benar-benar

telah berubah. Ternyata, Witantra yang mendapat tekanan terus

menerus tanpa terkendali, akhirnya sedikit demi sedikit

kesabarannya berguguran seperti batu padas di pinggir lautan.

Sedikit demi sedikit gelombang menggamitnya, siang dan malam.

Sehingga akhirnya, selapis demi selapis, betapapun tipisnya, batu

padas itu pun akan rontok.

Demikianlah Witantra kemudian telah hampir kehilangan

kesabarannya. Dengan sekuat tenaga ia telah berhasil menindas

keragu-raguannya. Namun meskipun demikian, ia sama sekali tidak

kehilangan ketenangan dan kesadarannya, bahwa apa yang

dilakukan bukanlah suatu nyala dendam di dalam hati, bukan suatu

keharusan untuk memusnahkan, tetapi sekedar untuk menundukkan

hati Kuda Sempana yang keras sekeras batu hitam.

Demikianlah kemudian ternyata, bahwa prajurit perwira

pengawal istana itu dapat menguasai keadaan sebaik-baiknya.

Betapapun dahsyatnya tenaga dan kemampuan Kuda Sempana,

namun ilmu yang tersimpan di dalam diri Witantra mampu

mengimbanginya. Witantra adalah seorang yang memiliki

perbendaharaan pengalaman yang sangat luas. Perang tanding,

gelar-gelar perang dan bahkan dalam perang-perang berubuh yang

kacau. Itulah sebabnya, maka ia mempunyai banyak cara untuk

menundukkan musuh-musuhnya.

Kali ini Witantra menempuh cara yang sangat sederhana.

Dibiarkannya lawannya bekerja mati-matian. Dilayaninya lawan itu

secukupnya, asal dirinya sendiri tidak terjatuhkan karenanya. Dan

kemudian dibiarkannya lawan itu menjadi sedemikian bernafsu.

Akhirnya lawannya akan berhenti kelelahan.

Demikianlah maka setiap kali Witantra hanya memancing nafsu

Kuda Sempana yang sedang meluap-luap. Sekali ia menyerang,

menyentuhnya apabila mungkin, atau menekannya seketatketatnya.

Apabila Kuda Sempana kemudian melepaskan semua

kekuatan, kemampuan dan tenaganya, maka dibiarkannya Kuda

Sempana menghabiskan nafasnya sendiri. Witantra melawannya

sekedar untuk membebaskan dirinya dari serangan yang berbahaya.

Beberapa orang melihat cara yang ditempuh Kuda Sempana itu.

Akuwu Tumapel pun melihat pula. Dalam kebingungannya Akuwu

Tumapel tidak dapat menilai, apakah cara itu adalah cara yang

sebaik-baiknya. Sekali-kali ia berpaling, dicarinya orang-orang yang

akan dapat diajaknya berbicara untuk mengurangi ketegangan yang

menghimpit perasaannya. Tetapi orang-orang yang duduk di

belakangnya adalah orang-orang yang sama sekali tidak tahu

menahu persoalan itu dengan baik, sehingga akuwu takut,

seandainya ada kata-katanya yang terloncat tanpa disadarinya.

Tetapi agak jauh di belakang, tiba-tiba dilihatnya Ken Arok

dengan wajah yang tidak kalah tegangnya dengan wajah Tunggul

Ametung sendiri. Karena itu dengan serta-merta, Tunggul Ametung

melambaikan tangannya, memanggil Ken Arok untuk maju dan

duduk di sampingnya.

Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Sekali-sekali ditebarkannya

pandangan matanya berkeliling. Ia mengerutkan keningnya ketika

dirasanya semua mata sejenak melepaskan perkelahian di arena

dan memandang kepadanya.

Sekali lagi Tunggul Ametung melambaikan tangannya. Dan Ken

Arok tidak dapat menolaknya. Apabila ia tidak segera datang, maka

Tunggul Ametung itu pasti akan berteriak-teriak membentaknya.

Karena itu, sambil berjongkok ia beringsut maju. Melampaui

beberapa pemimpin pelayan dalam dan kemudian beberapa perwira

dari berbagai kesatuan. Akhirnya ia duduk di belakang Tunggul

Ametung. Namun terasa Tunggul Ametung itu menyambar

tangannya dan menariknya dekat di sampingnya.

Alangkah kuatnya tangan itu. Ketika jari-jari Tunggul Ametung

menyentuhnya, serasa sebuah himpitan besi melingkari tangannya.

Sehingga sebelum ia menyadari keadaannya, ia sudah terpaksa

beringsut maju.

Ken Arok menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena ia duduk di

samping akuwu, di muka para perwira dan pimpinan pemerintahan,

namun demikian, diketahuinya, betapa kuatnya tangan Akuwu

Tunggul Ametung. Betapa tenaga yang tersirat dan di dalam

tubuhnya.

Baru Sejenak kemudian, tubuh Ken Arok telah dibasahi oleh

keringat dinginnya. Sebagai seorang pelayan dalam dari tingkat

yang paling rendah, maka tiba-tiba ia harus duduk di samping

Akuwu Tunggul Ametung, di muka para perwira dan pimpinan

pemerintahan. Betapapun juga hati Ken Arok bergetar semakin

cepat. Mungkin akuwu lebih mengenalnya dari kawan-kawannya,

dan itu hanya karena seorang pendeta langsung menyerahkannya

untuk menghamba kepada Tunggul Ametung sendiri. Tetapi untuk

kemudian langsung duduk di sampingnya dalam keadaan yang

resmi itu benar-benar mendebarkan.

Ternyata beberapa orang pun menjadi heran, kenapa Akuwu

memanggil seorang pelayan dalam yang belum lama

menghambakan diri di Tumapel. Namun segera mereka kehilangan

perhatian atas persoalan itu, sebab mereka semuanya telah

mengenal tabiat dari Akuwu Tunggul Ametung.

Di samping kegelisahannya tentang dirinya, Ken Arok tak habis

pikirnya, kekuatan apakah yang menyebabkan tangan Akuwu itu

serasa sekeras besi. Seorang pelayan dalam, kawannya, hampir

mati beku melihat jari-jarinya mampu memecahkan sebutir batu.

Apalagi kalau dirasakannya betapa keras dan kuatnya tangan

Tunggul Ametung dalam keadaan yang wajar itu. Bagaimanakah

kira-kira kekuatan tangan itu apabila dilambari oleh pemusatan

kekuatan lahir dan batinnya. Mustahil seorang akuwu tidak

menyimpan ilmu yang kuat di dalam dirinya.

“Kalau Akuwu Tunggul Ametung sendiri yang tampil di arena,

maka aku kira Kuda Sempana akan menjadi lumat,” pikir Ken Arok.

Sementara perkelahian masih berlangsung terus. Witantra masih

membiarkan lawannya menyerangnya dengan sepenuh nafsu

kemarahannya. Witantra masih melayaninya dengan cara yang

sama, membiarkan lawannya berhenti kelelahan.

Akuwu Tunggul Ametung menggeram perlahan dan demikian

katanya kepada Ken Arok perlahan-lahan, “Apa yang kau lihat dalam

perkelahian itu?”

Ken Arok menjadi bingung. Bagaimana ia harus menjawab

pertanyaan itu. Apakah sebenarnya yang dilihatnya? Kuda Sempana

bertempur mati-matian dan Witantra berjuang untuk

mempertahankan dirinya?

Sekali lagi Tunggul Ametung mendesaknya, “He apa yang kau

lihat? Apakah kau tidur?”

Ken Arok tidak dapat menjawab lain daripada yang dilihatnya.

Karena itu dengan terburu-buru ia berkata, “Hamba melihat Kakang

Witantra mencoba mengalahkan lawannya dengan memberinya

kesempatan berbuat sebanyak-banyaknya sehingga kemudian ia

akan menjadi sangat lelah.

“Ya. Kedua-duanya tolol!” geram Tunggul Ametung, “Alangkah

bodohnya Kuda Sempana. Ia dapat berbuat lain daripada

menghabiskan nafasnya. Dan alangkah bodohnya Witantra. Ia dapat

mempersingkat perkelahian itu dan ia akan cepat selesai pula.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Pendapat Akuwu

Tunggul Ametung itu tepat benar menurut penilaian Ken Arok.

Sekali ia berpaling memandangi wajah akuwu yang tegang, namun

kemudian kembali matanya terlempar ke arena, kepada Witantra

dan Kuda Sempana yang lagi memeras tenaganya.

Tetapi, Witantra dan Kuda Sempana sendiri ternyata berada

dalam keadaan yang berbeda. Meskipun di dalam dada Witantra

kadang-kadang timbul pula keinginannya untuk segera mengakhiri

perkelahian, namun untuk menundukkan Kuda Sempana bukanlah

pekerjaan yang terlalu mudah baginya. Sekali-kali ia telah mencoba

pula, menyerang seperti badai menghantam gunung meskipun ia

masih selalu diganggu oleh kesadarannya bahwa ia tidak harus

mencederai lawannya, namun Kuda Sempana mampu saja

menyelamatkan dirinya, dan masih saja berhasil bertahan dan

menyerangnya. Meskipun demikian terasa oleh Witantra bahwa

agaknya Kuda Sempana tidak dapat mengendalikan dirinya sehingga

geraknya seakan-akan mengerahkan segenap kemarahan dan sakit

hatinya. Kecerobohan yang kemudian dipergunakan oleh Witantra.

Dalam pada itu Kuda Sempana yang sedang berkelahi matimatian

itu, benar-benar kehilangan pengamatan. Bagi mereka yang

duduk di luar arena, segera dapat melihat, bahwa Witantra

menunggunya sampai tenaganya terperas habis. Tetapi bagi Kuda

Sempana sendiri yang berada di arena, yang melihat perkelahian itu

tanpa jarak, tidaklah segera ia dapat merasakan siasat Witantra itu.

Apalagi Witantra melakukan dengan baik dan cermat. Sekali-kali

Witantra ia memancingnya dalam pemerasan tenaga dan nafas,

namun kemudian dibiarkannya Kuda Sempana menyerangnya

bertubi-tubi.

Ia hanya berusaha menghindari serangan-serangan itu dan

mencoba membiarkan Kuda Sempana menjadi semakin garang.

Namun perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat

pula. Kuda Sempana benar-benar telah mengerahkan segenap

kemampuan dan kecakapannya. Sehingga beberapa orang yang

berada di luar arena menjadi semakin tegang. Apakah Witantra

akan tetap pada pendiriannya? Membiarkan Kuda Sempana berhenti

dengan sendirinya?

Tetapi keadaan ternyata segera berubah. Witantra semakin lama

semakin kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.

Serangan-serangan Kuda Sempana mengalir seperti banjir bandang.

Dilandanya semua yang menghalang-halanginya. Semakin lama

semakin dahsyat, dan semakin lama derunya semakin cepat.

Sehingga kemudian Witantra pun selalu terdesak.

Akhirnya Witantra tidak dapat bertahan dengan caranya.

Meskipun ia akan dapat lebih lama bertahan, namun apabila pada

suatu ketika serangan Kuda Sempana benar-benar berhasil

mengenainya di tempat-tempat yang berbahaya, maka ia pasti akan

kehilangan semua kesempatan. Karena itu, maka tiba-tiba ia

mengubah caranya. Meskipun ia tidak ingin mencelakakan Kuda

Sempana, tetapi melawan seseorang yang bertempur di antara

hidup dan mati, maka adalah bukan salahnya apabila ia terpaksa

mengerahkan segenap kemampuan yang ada pula.

Itulah sebabnya kemudian Witantra menggeram dan dengan

dahsyatnya ia mulai membalas setiap serangan dengan serangan.

Perubahan pada tata gerak Witantra benar-benar menarik

perhatian mereka yang berada di luar arena. Mereka melihat bahwa

Witantra berusaha untuk menemukan keseimbangan dalam

perkelahian itu. Namun dengan demikian, maka dapat terjadi

kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tidak dikehendaki.

Dalam perkelahian yang sama-sama keras dan tegang, maka

perkelahian itu akan benar-benar menjadi perang tanding dalam

tingkat yang tertinggi. Sampai mati.

Witantra semula sama sekali tidak menghendakinya. Namun ia

tidak mau menjadi korban karenanya. Ia menghindari pembunuhan,

tetapi ia juga tidak mau terbunuh dalam arena itu.

Serangan-serangan Witantra yang kemudian menjadi semakin

dahsyat, terasa pula oleh Kuda Sempana. Anak muda yang semula

merasa bahwa ia akan berhasil mengusai lawannya, tiba-tiba

menjadi cemas dan ragu-ragu. Kenapa tiba-tiba saja Witantra

mampu melawan semua serangan-serangannya dan bahkan dengan

dahsyatnya segera menyerang kembali?

Dalam kecemasan itu, Witantra mendesaknya terus. Bahkan

kemudian terdengar Witantra berdesis, ”Sampai kapan perkelahian

itu akan berlangsung Adi?”

Kuda Sempana menggeram. Ia tidak peduli apa saja yang akan

terjadi atas dirinya. dan diri lawannya sehingga karena itu ia

menjawab, “Sampai setiap orang tahu bahwa memang akulah yang

berhak atas gadis itu.”

“Jangan keras kepala!” sahut Witantra, “Aku akan memperketat

serangan seterusnya, apabila kau tidak segera mengakui, bahwa

kau akan melepaskan niatmu memiliki Ken Dedes itu.”

“Setan!” hampir saja Kuda Sempana berteriak, namun untunglah

bahwa suaranya seolah-olah tersangkut di kerongkongan. Namun

dengan demikian kemarahannya menanjak sampai ke puncak ubunubunnya.

Sehingga tanpa sesadarnya, Kuda Sempana telah benarbenar

memeras segenap tenaga yang ada di dalam dirinya.

Tetapi ternyata Kuda Sempana benar-benar tidak mampu

melampaui ketangguhan tenaga Witantra yang mempunyai

pengalaman yang sangat luas itu. Apalagi ketika Witantra tidak lagi

sekedar menunggu Kuda Sempana kelelahan, setelah ia

menentukan tekad, bahwa apabila terjadi sesuatu di dalam arena

itu, ia sama sekali tidak menghendakinya. Namun adalah mungkin

sekali bahwa bermain air akan dapat menjadi basah.

Meskipun demikian, Witantra masih saja menyadari keadaan. Ia

benar-benar tidak ingin mencelakakan lawannya, apalagi

membunuhnya. Ia hanya ingin menjatuhkannya, dan apabila

terpaksa melukainya, maka luka itu akan segera dapat

disembuhkan.

Tetapi tidak demikian dengan Kuda Sempana. Ia telah kehilangan

segala macam ketenangan berpikir. Kini ia merasa bahwa tenaganya

semakin lama menjadi semakin surut sebelum ada tanda-tanda

bahwa ia akan segera mampu mengalahkan Witantra, bahkan

Witantra itu nampaknya semakin lama menjadi semakin garang.

Karena itu, setelah ia kehabisan segenap pertimbangannya, setelah

ia kehilangan setiap kesempatan untuk memenangkan pertandingan

itu, maka sampailah ia pada kesimpulan yang berbahaya. Ia kini

sedang melakukan perang tanding, sehingga apapun yang

dilakukan, yang bersumber pada dirinya, baginya sama sekali tidak

menyalahi ketentuan dan kejantanan. Karena setiap kemampuan

yang ada pada dirinya adalah bagian dari dirinya itu, dirinya yang

sedang melangsungkan perang tanding di arena.

Maka dengan demikian, Kuda Sempana sampai pada kesimpulan

bahwa suatu ketika akan dipergunakannya kemampuannya yang

tertinggi.

Tunggul Ametung yang menyaksikan perubahan-perubahan di

dalam tata gerak Witantra, mengangguk-anggukkan kepalanya.

Wajahnya kini tidak lagi setegang beberapa saat sebelumnya,

seakan-akan ia telah menemukan keyakinan, bahwa Witantra akan

dapat menguasai keadaan betapapun lambatnya.

Semula Tunggul Ametung benar-benar tidak telaten melihat cara

Witantra bertempur. Menunggu, membiarkan lawannya berbuat

terlampau banyak. Itu membuang waktu dan waktu baginya adalah

sangat penting pada saat-saat itu. Karena tiba-tiba saja ia ingin

melihat, apakah gadis yang sedang sakit itu telah menjadi

berkurang, atau bahkan menjadi semakin keras.

“Mudah-mudahan dukun tua itu mampu mengurangi

penderitaannya,” gumamnya di dalam hati.

Namun dengan demikian, nafsunya untuk segera melihat

perkelahian itu berakhir menjadi semakin besar. Ia ingin segera

meninggalkan tempat itu dan pergi ke sentong tengen melihat gadis

Panawijen yang telah menggemparkan Istana Tumapel itu.

Ketika Akuwu Tunggul Ametung itu berpaling, dilihatnya Ken

Arok menarik nafas dalam-dalam. Ken Arok itu pun segera

menemukan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkelahian

itu. Karena itu, maka ia pun menjadi berlega hati.

“Apa?” desis Tunggul Ametung.

Ken Arok terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga tanpa

sesadarnya ia menyembah, “Ampun Tuanku. Hamba tidak apa-apa.”

“Ada sesuatu yang kau lihat?”

“Hamba Tuanku.”

“Witantra mau mati?”

“Tidak Tuanku. Kakang Witantra mengubah tata geraknya.”

“Anak yang bodoh itu masih saja membuang-buang waktu. Ia

takut Kuda Sempana lecet kulitnya. Apa pedulinya kalau Kuda

Sempana sendiri bertempur dengan sepenuh tenaganya, bahkan

dengan kasar dan keras.”

Ken Arok tidak menjawab. Ia hanya dapat menganggukanggukkan

kepalanya.

Namun tiba-tiba mata Ken Arok itu pun terbelalak. Bukan saja

Ken Arok tetapi hampir semua orang yang berada di tepi arena itu.

Apalagi Tunggul Ametung sendiri. Sesaat ia terdiam seperti patung,

namun kemudian mulutnya berdesis, “Gila, Kuda Sempana itu!”

Tetapi Kuda Sempana berbuat terus. Ia sudah bertekad untuk

membunuh atau dibunuh, sehingga karena itulah maka tidak ada

pilihan lain daripada melepaskan puncak kesaktiannya, aji Kala

Bama.

Apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana benar-benar

mengejutkan para perwira dan kesatria yang berada di luar arena.

Segera mereka memaklumi apa yang akan dilakukan oleh Kuda

Sempana. Sebagian dari mereka menjadi cemas, heran dan

sebagian lagi merasa aneh bahwa Kuda Sempana memiliki kekuatan

yang akan disalurkan lewat sebuah ilmu yang pasti dahsyat sekali.

Namun mereka masih harus menilai, sampai sejauh mana kekuatan

itu dapat menembus kekuatan lawannya.

Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa menahan nafasnya.

Mereka yang merasa dalam dirinya tidak memiliki rangkapan apapun

selain kekuatan-kekuatan tenaganya serta keterampilan geraknya

menjadi ngeri. Apakah Witantra akan mampu melawan Kuda

Sempana dalam puncak kekuatannya. Mereka hanya mengharap

keterampilan dan kelincahan Witantra, sehingga ia mampu

menghindari setiap sentuhan dari kekuatan yang akan dipancarkan

oleh lawannya.

Ketika Kuda Sempana merentangkan tangannya dan kemudian

sekali meloncat ke udara sambil menggeram mengerikan, maka

semua orang menjadi tegang. Bahkan demikian tegangnya Akuwu

Tunggul Ametung, sehingga tanpa sesadarnya, akuwu itu bangkit

berdiri dengan serta-merta dan gigi gemeretak. Lamat-lamat

terdengar suaranya yang seolah-olah ditelannya kembali, “Kala

Bama.”

Sebenarnya Tunggul Ametung adalah seorang sakti yang luas

pengetahuan serta pengalamannya, sehingga dengan gerak-gerak

pemusatan tenaga, segera ia mengenal bahwa Kuda Sempana telah

menyiapkan sebuah ilmu yang mengerikan, Kala Bama.

Dengan cemasnya Tunggul Ametung memandangi Witantra yang

betapa terkejutnya melihat lawannya memusatkan segenap

kekuatan lahir batinnya dalam sebuah aji yang dahsyat. Sekilas

Witantra melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri dan Ken Arok

menegakkan kepalanya dengan mata yang terbelalak. Disadarinya

apa yang sedang dihadapinya. Ternyata Kuda Sempana benar-benar

telah menempatkan dirinya dalam pertempuran antara hidup dan

mati.

“Alangkah mahalnya nilai gadis itu bagi Kuda Sempana,” desis

Witantra di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat membiarkan

dirinya binasa. Tidak dapat membiarkan dirinya lumat digilas oleh

nafsu Kuda Sempana yang menyala-nyala. Nafsu untuk menguasai

apa saja yang dikehendakinya tanpa mempertimbangkan keperluan,

hak dan kepentingan orang lain.

Witantra adalah seorang prajurit yang pilih tanding, Seorang

yang hampir seluruh hidupnya diserahkan dalam satu perjuangan

dalam lingkungan keprajuritan. Karena itu, maka adalah sudah

diketahuinya, sudah diduganya, bahwa suatu ketika ia akan

berhadapan dengan bahaya yang mengancam jiwanya. Karena

itulah maka Witantra pun telah menyiapkan dirinya menghadapi

bahaya-bahaya yang demikian.

Demikianlah, ketika ia melihat Kuda Sempana menyiapkan dirinya

dalam puncak ilmunya, maka Witantra pun segera merendahkan

dirinya pada kedua lututnya. Digenggamnya kedua tangannya dan

disilangkannya kedua lengannya di muka dadanya. Sesaat Witantra

terpaku di tempatnya, seolah-olah kedua kakinya menghunjam ke

dasar bumi. Wajahnya menegang, dan tubuhnya seperti menjadi

kejang. Namun sesaat kemudian terpancarlah dari wajahnya,

seakan-akan ungkapan dari kekuatan yang terhimpun di dalam

dirinya.

Ketika Tunggul Ametung melihat sikap dan kemudian wajah

Witantra yang tegang itu, tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam.

Kengerian yang membayang di matanya kini telah berkurang.

Dengan demikian, maka Witantra pun memiliki bekal untuk melawan

aji Kala Bama, dan bahkan Tunggul Ametung itu pun berdesis

meskipun seolah-olah hanya di dalam mulutnya, “Ayolah Witantra,

apapun kekuatanmu itu, lawanlah Kala Bama dengan sekuat tenaga.

Bukankah kau tengah menyiapkan aji Bajra Pati.”

Namun waktu seakan-akan berjalan cepat sekali. Yang mereka

lihat, kemudian adalah Kuda Sempana menggeram dahsyat dan

dengan sebuah loncatan yang cepat, secepat petir meloncat di

langit, tangannya menyambar dada Witantra.

Witantra masih tegak seperti tonggak. Ia sama sekali tidak

berkisar dari tempatnya. Namun ketika ia melihat Kuda Sempana

seperti terbang memekik dari udara menerkam dirinya, maka

kembali tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Kedua tangannya

yang bersilang itu digerakkannya beberapa jari ke depan

menyongsong tangan Kuda Sempana yang menyambarnya dengan

dahsyatnya.

Sesaat kemudian terjadilah benturan antara keduanya. Kala

Bama melawan kekuatan yang terpancar dari tubuh Witantra dalam

lambaran aji yang diterima dari gurunya, Bajra Pati.

Benturan itu benar-benar menggeletarkan setiap hati mereka

yang menyaksikannya. Benturan antara dua kekuatan yang dahsyat,

dua kekuatan yang sukar dicari tandingannya. Dan di arena itu, di

belakang istana, kedua kekuatan itu telah berbenturan.

Kuda Sempana yang telah menjadi mata gelap dan melontarkan

kekuatannya yang terakhir, mengharap bahwa dengan demikian ia

akan segera dapat mengakhiri perkelahian yang menjemukan itu. Ia

mengharap, meskipun ia terpaksa membunuh Witantra, namun Ken

Dedes akan tetap menjadi miliknya. Seandainya akuwu kemudian

mengingkari janjinya dan bahkan menangkapnya, maka namanya

akan menjadi buah bibir dan semua orang akan mengaguminya

sebagai seorang pahlawan dalam bercinta. Ia telah membuktikan

bahwa seorang wanita bagi kesatria sama harganya dengan pusaka

dan nyawanya.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba ia melihat sikap

Witantra yang meyakinkan. Namun ia masih tidak percaya bahwa

ada orang lain kecuali anak Panawijen yang gila, Mahisa Agni, yang

mampu melawan aji Kala Bama.

Tetapi ternyata, demikian tangannya menyentuh tangan

Witantra, terasa seakan-akan tangannya itu membentur benteng

baja. Demikian hatinya berdesir tajam, demikian ia menyadari,

bahwa kekuatan Witantra ternyata mampu mengimbanginya, seperti

kekuatan Mahisa Agni seakan-akan telah melumpuhkannya

beberapa hari yang lampau. Sesaat matanya menjadi gelap kunangkunang.

Meskipun demikian ia masih melihat Witantra terdorong

dan terhuyung-huyung ke belakang.

Tetapi Kuda Sempana tidak melihat apa yang terjadi dengan

Witantra seterusnya. Tiba-tiba saja dadanya serasa menjadi sesak,

dan nafasnya seakan-akan tersumbat.

Kuda Sempana memejamkan matanya ketika langit seolah-olah

runtuh menimpa kepalanya. Sekali ia merasa dirinya berputar,

kemudian terbanting di atas tanah. Ketika ia berusaha untuk bangkit

kembali, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berhasil

menggerakkan tubuhnya yang menjadi sangat lemah. Seakan-akan

segala otot-ototnya telah terlepas dari kulit dagingnya. Meskipun

demikian ia berusaha sekuat tenaganya, untuk mempertahankan

kesadarannya.

Kuda Sempana masih mendengar suara bergemeremang di

sekitar arena. Suara yang bersahut-sahutan namun tidak jelas

baginya. Ia masih juga merasakan langkah-langkah kaki

mendekatinya. Namun ia masih tetap berdiam diri, mengatur semua

kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya. Memusatkan segenap

pikiran dan perasaan supaya ia tidak menjadi pingsan.

Perlahan-lahan, karena hembusan angin yang lemah, maka

terasa tubuh Kuda Sempana menjadi semakin segar, perlahan-lahan

terasa darahnya yang seolah-olah membeku mengalir kembali

menelusuri urat nadinya. Sedikit demi sedikit kekuatannya terasa

timbul kembali.

Ketika terasa beberapa pasang tangan menyentuhnya dan

mencoba mengangkatnya, Kuda Sempana telah dapat

menggerakkan tangannya. Didorongnya tangan yang akan

membantunya atau mengangkatnya menepi. Dengan sepenuh sisa

tenaganya, Kuda Sempana membuka matanya dan berdesis, “Aku

tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.”

Tangan-tangan yang telah menyentuhnya dan mencoba

mengangkatnya itu pun kemudian serentak melepaskannya.

Beberapa orang yang berdiri di sekitarnya surut selangkah, dan

membiarkan Kuda Sempana mencoba bangkit dan duduk bertelekan

kedua tangannya.

“Aku tidak apa-apa,” desisnya. Meskipun demikian nafasnya

masih mengalir tidak teratur dan matanya serasa masih berkunangkunang.

Namun ia mengharap bahwa keadaannya masih lebih baik

dari Witantra.

Tetapi ketika memandang orang-orang yang berdiri di sekitarnya,

dadanya bergetar serasa akan pecah. Kembali matanya menjadi

gelap dan hatinya berguncangan sedahsyat ombak didorong prahara

di tengah lautan.

Kuda Sempana menggeram. Di hadapannya berdiri Witantra

tegak di atas kedua kakinya.

“Setan!” geramnya, “Kau tidak mampus Witantra?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Selangkah ia maju, namun

ketika ia berjongkok di hadapan Kuda Sempana untuk menjawab

pertanyaannya itu tiba-tiba dengan tidak disangka-sangka, Kuda

Sempana menendangnya dengan sekuat tenaga yang masih ada

padanya. Aneh. Aneh. Kuda Sempana yang lemah itu tiba-tiba dapat

melepaskan kekuatan yang cukup besar, sehingga tiba-tiba Witantra

terlempar selangkah dan jatuh menimpa beberapa orang yang

berdiri di belakangnya.

Sebenarnya tubuh Witantra masih belum cukup kuat setelah ia

menerima hantaman yang dahsyat dari kekuatan aji Kala Bama.

Meskipun itu tidak pingsan, dan meskipun ia segera dapat bangkit

kembali setelah jatuh terduduk, namun daya tahannya telah

menjadi jauh berkurang, seakan-akan terperas habis untuk melawan

aji Kala Bama. Itulah sebabnya, maka ketika tanpa disangkasangkanya,

dadanya terhantam oleh kaki Kuda Sempana betapapun

kekuatan Kuda Sempana sendiri tidak lagi sepenuh kekuatan

wajarnya, namun karena Witantra sama sekali tidak bersedia, maka

serasa dadanya menjadi hancur karenanya. Hantaman itu benarbenar

mengguncangkan kesadarannya. Meskipun ia dapat menerima

pukulan aji Kala Bama, namun pada saat ia sudah siap untuk

menerimanya, dalam lambaran ajinya pula. Tetapi kini tiba-tiba saja

serangan itu menghantam dadanya. Meskipun demikian, meskipun

mata Witantra menjadi berkunang-kunang namun Witantra tidak

menjadi pingsan. Ia merasa beberapa orang berusaha menyangga

tubuhnya dan perlahan-lahan meletakkannya di atas tanah.

Witantra sendiri segera berusaha melawan guncanganguncangan

yang terjadi pada dirinya. Perlahan-lahan namun pasti,

bahwa ia akan segera dapat berhasil.

Mereka yang melihat perbuatan Kuda Sempana itu tiba-tiba

merasa, alangkah liciknya anak muda itu. Betapapun kemarahan

menguasai kepalanya, namun seharusnya ia tidak berbuat demikian.

Akuwu Tunggul Ametung yang melihat perbuatan itu menjadi marah

bukan buatan. Namun ia tertegun, ketika ia melihat seorang anak

muda meloncat seperti tatit ke tengah-tengah arena, menyelusup di

antara beberapa orang yang berdiri mengitari Kuda Sempana. Orang

itu adalah Ken Arok yang kehilangan kesabaran. Tetapi segera ia

diam mematung ketika dilihatnya, setelah melepaskan segenap

kekuatan terakhirnya, justru Kuda Sempana menjadi pingsan.

“Hem,” geram Ken Arok, “untunglah anak itu menjadi pingsan.”

“Kenapa?” bertanya seorang perwira yang berdiri di sampingnya.

Ketika Ken Arok berpaling dan dilihatnya perwira itu bertolak

pinggang, segera Ken Arok membungkukkan dadanya sambil

berkata, “Tidak apa-apa, Tuan.”

Namun di dalam hatinya ia berkata, “Kalau saja Kuda Sempana

tidak pingsan, mungkin aku sudah membunuhnya. Hem, alangkah

jahatnya hati ini. Kenapa aku masih saja mudah menjadi kehilangan

penguasaan diri?”

Ternyata apa yang terjadi itu telah menyudutkan Kuda Sempana

sendiri dalam keadaan yang sulit. Beberapa orang yang berdiri di

sekitar arena, dan yang kemudian mencoba menolong mereka yang

seakan-akan hampir pingsan kedua-duanya itu, menjadi tidak

senang melihat sikap Kuda Sempana. Mereka mendapat kesan yang

sangat buruk terhadap sifat anak muda yang sebenarnya memiliki

beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, bahkan dari beberapa

orang prajurit.

Karena itu, ketika tiba-tiba terdengar Akuwu bertanya kepada

mereka siapakah yang menang dalam perang tanding itu, maka

jawab mereka mbata rubuh, “Witantra! Witantra telah menang!”

Suara itu bergema terus menerus beberapa lama. Hampir setiap

orang mengulang-ulang kalimat itu, “Witantralah yang menang!

Witantralah yang menang!”

Suara yang bergemuruh itu seakan-akan telah membangunkan

Kuda Sempana dari pingsannya. Lamat-lamat ia mendengar suara

itu, yang semula disangkanya suara Gunung Kawi yang runtuh

menimpanya. Namun ketika kesadarannya telah hampir pulih

kembali maka semakin jelaslah apa yang didengarnya itu. Bahkan

akhirnya dapat didengarnya dengan pasti kalimat-kalimat yang telah

diulang-ulang diucapkan oleh beberapa orang meskipun tinggal satu

dua kali, “Witantralah yang menang!”

Bunyi dan makna kata-kata itu ternyata bagi Kuda Sempana jauh

lebih dahsyat daripada seandainya Gunung Kawi runtuh

menimpanya. Karena itu, maka tiba-tiba terasa darahnya mengalir

semakin cepat dan semakin panas, sehingga seakan-akan

terhimpunlah kembali segenap kekuatan di dalam tubuhnya.

Dengan serta-merta ia bangkit berdiri sambil berteriak lantang,

“Tidak! Witantra belum menang! Kuda Sempana masih hidup!”

Namun kembali ia dihinggapi oleh keadaannya yang wajar.

Lemah dan hampir-hampir tak berdaya. Seperti orang yang

kehilangan segenap tulang belulangnya, Kuda Sempana terhuyunghuyung.

Untunglah beberapa orang lain cepat menangkapnya

sehingga Kuda Sempana tidak lagi terbanting jatuh.

Ketika mata Kuda Sempana yang menjadi liar itu menatap

berkeliling maka dilihatnya Witantra dengan lemahnya duduk di

tanah sambil meraba-raba dadanya. Dan apa yang dilihatnya itu

telah membangkitkan kembali harapannya, sehingga Kuda Sempana

itu berteriak pula dengan suara gemetar, “Lihat! Lihat Witantra

hampir mati. Mungkin dadanya pecah, atau bagian dalam dadanya

remuk berkeping-keping.”

Namun kembali mata Kuda Sempana menjadi gelap ketika ia

mendengar akuwu mengulangi pertanyaannya kepada orang-orang

yang berdiri di sekitar dan di dalam arena. “Siapakah yang

menang?”

Tetapi kali ini tidak semua orang menyahut seperti pertanyaan itu

diucapkan untuk yang pertama kali. Hanya beberapa orang yang

yakin akan dirinya menjawab, “Witantralah yang menang.”

Dan di antara suara mereka terdengar suara Ken Arok paling

keras, “Witantralah yang menang!”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ditatapnya mereka yang kini menundukkan kepalanya tanpa berani

menyebut nama Witantra, apalagi menjawab pertanyaannya.

Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu pasti, apakah dirinya

dapat menyamai kesaktian Kuda Sempana. Mereka tidak mau

menjawab ketika diketahuinya Kuda Sempana telah sadar akan

dirinya dan sadar tentang apa yang dihadapinya. Mereka tidak mau

mendapatkan dendam dari anak muda itu. Tetapi mereka heran

tidak habis-habisnya, bahwa seorang pelayan dalam yang baru,

dengan beraninya menyatakan kemenangan Witantra di hadapan

Kuda Sempana. Apakah ia tidak takut seandainya Kuda Sempana

mendendamnya. Namun mereka tidak tahu bahwa Ken Arok sama

sekali tidak takut kepada Kuda Sempana. Ken Arok sama sekali tidak

heran, melihat Kala Bama, dan bahkan sama sekali tidak tercengang

melihat tandang Kuda Sempana.

Beberapa orang yang belum mengenal Ken Arok merasa kasihan

kepadanya, bahwa apa yang telah dilakukan itu akan dapat

membuat Kuda Sempana marah kepadanya.

“Mungkin anak itu tidak tahu akan bahaya yang setiap saat dapat

menerkamnya,” gumam mereka di dalam hati, “atau mungkin ia

sedang berusaha mendapatkan nama di hadapan Akuwu Tunggul

Ametung. Dan bukankah anak itu pula yang tadi telah dipanggil

untuk duduk di samping Akuwu.”

Dalam pada itu terdengar Akuwu Tunggul Ametung berkata,

“Nah, Kuda Sempana semua orang menjadi saksi. Witantra telah

memenangkan perang tanding ini.”

Terdengar gigi Kuda Sempana gemeretak. Dengan terbata-bata

ia menjawab, “Tidak adil! Siapakah yang telah mengambil

keputusan itu? Bukankah Tuanku lihat, alangkah lemahnya Kakang

Witantra kini? Hamba telah mampu untuk berdiri tegak sendiri tanpa

bersandar kepada orang lain namun apakah Kakang Witantra

mampu berbuat demikian.”

“Tetapi kau berbuat curang atasnya,” bantah Tunggul Ametung,

“ketika Witantra mencoba mendekatimu, pada saat kau terbanting

karena kekuatan Aji Kala Bama itu sendiri, kau telah menyerangnya

tanpa disangka-sangka.”

“Itu adalah salahnya sendiri,” sahut Kuda Sempana, “hamba

belum dinyatakan kalah. Sehingga perkelahian itu belum berhenti.

Apapun yang hamba lakukan masih dapat dianggap syah.”

“Tidak!” potong Akuwu Tunggul Ametung, “Semua orang melihat

itu sebagai suatu kecurangan.”

“Siapa? Ayo siapa yang berani menjadi saksi bahwa aku telah

berbuat curang,” teriak Kuda Sempana tiba-tiba. Matanya dengan

nanar memandangi setiap orang yang berdiri di sekitarnya. Kini ia

telah tidak lagi memerlukan bantuan orang lain. Ia telah dapat

berdiri sendiri betapapun lemahnya.

“Ayo siapa? Siapa yang berani menyatakan dirinya menjadi

saksi?”

Tak seorang pun yang segera menjawab. Beberapa orang

perwira prajurit sekalipun yang menjadi ngeri melihat Aji Kala Bama

menjadi ragu-ragu. Namun ada pula di antaranya yang sudah siap

untuk menerima akibat apapun dalam menyatakan kesaksiannya

dengan jujur. Namun yang mula-mula menjawab adalah Ken Arok,

“Aku! Aku adalah salah seorang saksi yang melihat kecuranganmu,

Kakang Kuda Sempana. Kau menyerang bukan pada saatnya. Nah,

apa katamu?”

Bukan main marahnya Kuda Sempana mendengar jawaban itu,

sehingga tanpa sesadarnya ia melangkah maju. Meskipun

langkahnya masih belum tegak benar, namun ia berkata,

“Berkatalah sekali lagi Ken Arok. Mungkin aku masih mampu

menyobek mulutmu itu.”

Beberapa orang tergetar hatinya melihat kemarahan Kuda

Sempana kepada Ken Arok. Beberapa orang menyesalkan anak

muda yang lancang mulut itu. Sebaiknya ia berdiam diri saja. Biarlah

orang lain yang menjawab pertanyaan Akuwu Tumapel. Sebab

dengan demikian, maka jawaban itu akan membahayakan dirinya.

Dan kini ternyata Kuda Sempana itu menjadi sangat marahnya

kepada Ken Arok. Mungkin saat ini Kuda Sempana yang lemah itu

tidak akan mampu berbuat apa-apa, tetapi nanti atau besok atau

lusa, maka dendam yang tersimpan di dalam dadanya akan dapat

meledak setiap saat.

Dengan cemas mereka melihat Kuda Sempana melangkah

tertatih-tatih mendekati Ken Arok yang tidak bergerak dari

tempatnya. Tetapi ada beberapa orang di antara mereka yang sama

sekali tidak menjadi cemas melihat peristiwa itu. Akuwu Tunggul

Ametung sendiri, Witantra dan kawan Ken Arok yang melihat anak

muda itu memecahkan batu dengan jarinya.

“Ken Arok!” desis Kuda Sempana dengan marahnya, “Jangan

membuat persoalan dengan Kuda Sempana. Apa kau sudah jemu

hidup?”

Ken Arok masih tegak di tempatnya. Ketika Kuda Sempana

menjadi semakin dekat, maka orang-orang yang melihatnya menjadi

semakin cemas.

Di antara para perwira terdengar salah seorang berkata, “Kuda

Sempana. Anak muda itu berkata sebenarnya. Witantralah yang

menang. Apakah kau tidak mengakui kemenangannya?”

Kuda Sempana berpaling ke arah suara itu. Seorang perwira yang

bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Ia mencoba menarik

perhatian Kuda Sempana kepadanya, sebab ia sendiri merasa

bahwa betapa saktinya Kuda Sempana, namun ia akan dapat

mengimbanginya seandainya Kuda Sempana kelak mendendamnya.

Tetapi terdengar Kuda Sempana berdesis, “Bagus! Ada dua orang

yang harus aku ingat di dalam arena ini. Pertama Ken Arok, dan

kedua adalah seorang perwira yang perkasa itu.”

Namun semua orang tiba-tiba terkejut mendengar Ken Arok

tertawa. Sangat menyakitkan hati. Katanya, “Jangan ribut Kuda

Sempana! Kalau kau ingin membuat soal-soal baru, aku tidak akan

ingkar. Namun kali ini kau dikalahkan oleh Kakang Witantra.”

“Diam!” teriak Kuda Sempana, “Diam, atau wajahmu aku

hancurkan!”

“Kakang Kuda Sempana,” sahut Ken Arok, “keadaanmu sekarang

lemah sekali. Apakah yang dapat kau lakukan dalam keadaan itu.

Nah. Biarlah tubuhmu menjadi kuat kembali. Marahlah kepada Ken

Arok. Besok atau lusa. Tetapi sekarang sadarilah keadaanmu.”

Tubuh Kuda Sempana bergetar karena kemarahan yang

memuncak. Tetapi ia tidak dapat mengingkari keadaannya.

Dikenangnya pada saat Ken Arok memukul mati seorang prajurit di

perjalanan kembali dari Panawijen dengan satu kali pukulan.

Dikenangnya apa yang dapat dilakukan anak muda itu ketika ia

bertempur melawan Mahisa Agni. Karena itu, maka Kuda Sempana

hanya dapat menggeretakkan giginya. Namun ia tidak berbuat apaapa

atas anak muda itu.

Meskipun demikian banyak di antara mereka yang semakin

menyesalkan sikap Ken Arok itu, di samping mereka menjadi

semakin muak melihat kesombongan Kuda Sempana. Namun di

antara mereka tumbuh juga di dalam hatinya pertanyaan, “Apakah

yang dapat dilakukan oleh Ken Arok itu sehingga ia berani

menentang Kuda Sempana yang sudah dilihatnya memiliki ilmu yang

sedahsyat itu?”

Demikianlah maka ketegangan itu dipecahkan oleh suara Akuwu

Tunggul Ametung, “Kuda Sempana. Jangan mengingkari kenyataan.

Witantra telah memenangkan perkelahian ini. Apakah kau tidak

mengakuinya?”

Alangkah Kuda Sempana mendengar keputusan itu. ketika ia

memandang berkeliling, dilihatnya segenap mata memandang

kepadanya dengan penuh tekanan, seakan-akan mereka itu telah

bersekutu untuk menyatakan kekalahannya. Ketika sinar matanya

sampai pada Witantra, maka dilihatnya orang itu telah berdiri tegak

dan memandanginya pula dengan tajamnya.

Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Di antara sekian banyak

orang, ia merasa seorang diri. Semua orang seolah-olah telah

memihak kepada Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan beberapa orang

kawan-kawannya pelayan dalam pun sama sekali tidak

menunjukkan kesetiakawanan mereka. Apalagi pelayan dalam yang

bernama Ken Arok itu. Karena itu maka hatinya serasa terbakar oleh

kemarahan yang meluap-luap. Marah kepada Witantra, kepada

Akuwu Tunggul Ametung, kepada semua orang yang berada di

sekitarnya. Tetapi ia tidak segera dapat berbuat apa-apa.

Tiba-tiba otak Kuda Sempana yang licik itu mulai berputar. Ia kini

mulai berpikir, apakah sebaiknya yang dilakukan. Disadarinya bahwa

dalam keadaan yang demikian, ia tidak akan dapat menuruti

perasaannya saja. Lambat laun disadarinya, bahwa para perwira

yang berdiri di sekitarnya itu pun bukanlah anak-anak yang dapat

ditakut-takutinya. Karena itu, maka tiba-tiba Kuda Sempana

menganggukkan kepalanya sambil berkata lirih, “Tuanku Akuwu

Tunggul Ametung, hamba mengakui kekalahan hamba kali ini.”

Beberapa orang menjadi lega mendengar pengakuan itu. Namun

Witantra dan Ken Arok mengerutkan keningnya tinggi-tinggi seakanakan,

tersirat di dalam hati mereka bahwa Kuda Sempana tidak

berkata sejujur hatinya. Dan ternyata mereka kemudian mendengar

Akuwu Tunggul Ametung bertanya, “Kenapa kali ini? Apakah pada

saat yang lain kau merasa bahwa kekalahan ini tidak wajar?”

Kuda Sempana menarik dahinya tinggi-tinggi. Sekali lagi ia

mengangguk hormat sambil menjawab, “Ampun Tuanku. Hamba

merasa kekalahan hamba.”

Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu merasakan pula sesuatu yang

tidak wajar pada Kuda Sempana, yang hanya dimiliki oleh akuwu itu

sendiri. Jauh lebih tajam dari yang dirasakan oleh Witantra dan Ken

Arok. Sehingga karena itu maka Akuwu itu berkata, “Kuda Sempana,

kalau suatu ketika kau merasa bahwa kekalahanmu kali ini tidak adil

maka biarlah kau mencoba untuk lain kali. Aku sendirilah yang akan

turun ke arena.”

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Namun dari kedua

matanya memacar sinar yang aneh. Sudah tentu ia tidak akan dapat

berkata apapun di hadapan Tunggul Ametung saat ini. Tetapi amat

banyaklah kata-kata yang tersimpan di hatinya. Amat banyaklah

janji yang diucapkan di dalam hati itu. Janji untuk menuntut

dendam.

“Biarlah kali ini aku melepaskan keinginanku untuk sesaat,”

geramnya di dalam hati, “bagiku hanya ada dua kemungkinan.

Memiliki bunga dari lereng Gunung Kawi itu meskipun aku harus

melenyapkan akuwu, atau memusnahkannya.”

Tetapi Tunggul Ametung ternyata berprasangka pula atas sinar

mata Kuda Sempana itu, sehingga sekali lagi ia berkata, “Kuda

Sempana, dendammu kau simpan di dalam hati. Tetapi jangan kau

sangka bahwa aku akan memusnahkanmu dengan kekuasaanku.

Tidak. Dalam persoalan ini kita berhadapan sebagai laki-laki. Bukan

sebagai orang yang berkuasa dan bawahannya. Yakinkanlah ini.

Karena itu aku, Tunggul Ametung akan siap menghadapi setiap

persoalan yang akan timbul karenanya.”

Kuda Sempana menundukkan kepalanya. Tetapi terdengar

giginya gemeretak. Sedang beberapa orang lain menjadi bingung.

Bagaimana mungkin orang dapat memisahkan dirinya sendiri apabila

akan dihadapinya kesulitan. Bagaimana mungkin Tunggul Ametung

melepaskan hak dan kekuasaannya untuk mempertahankan

keinginannya. Dan bagaimana mungkin Kuda Sempana sebagai

seorang pelayan dalam masih harus keras kepala bersaing dengan

Akuwunya.

“Gila!” desah beberapa orang di antara mereka, “Kenapa di

istana ini timbul persoalan yang sedemikian anehnya, sehingga

membuat beberapa orang pemimpin terpenting di Tumapel menjadi

seakan-akan gila. Mereka telah melupakan adat dan tata cara.

Mungkin mereka masing-masing ingin mempertahankan harga diri

mereka sebagai seorang laki-laki. Atau gadis itu benar-benar

memiliki daya yang dapat membuat orang-orang menjadi gila?”

Dalam pada itu Akuwu Tunggul Ametung pun segera bersiap-siap

untuk meninggalkan tempat itu. Sesaat ia memandang berkeliling

kemudian katanya, “Sayembara tanding ini telah selesai. Witantra

memenangkan pertandingan sehingga ia mempunyai wewenang

atas kemenangannya.”

Kemudian kepada Witantra ia berkata, “Kau boleh beristirahat

dahulu Witantra, nanti malam datanglah ke istana bersama Ken

Arok. Sekarang biarlah Ken Arok mengantarmu pulang.”

Sekali lagi para perwira dan para pemimpin pelayan dalam yang

lain, kecuali Kuda Sempana terkejut. Ken Arok sekali lagi mendapat

kehormatan untuk menghadap akuwu. Sehingga mau tidak mau

mereka terpaksa mengaitkan anak muda itu dengan peristiwaperistiwa

yang terjadi di saat-saat terakhir. Mungkin karena Ken

Arok pada saat itu ikut serta dalam rombongan akuwu ke Panawijen

sehingga anak muda itu dianggap banyak mengetahui persoalanpersoalan

yang telah timbul. Mungkin akuwu melihat beberapa

kelebihan pada anak muda itu. Namun ada juga yang sedang

berpikir, “Mungkin Akuwu sedang menyuap Ken Arok, supaya ia

tidak mengatakan apa yang diketahuinya tentang gadis Panawijen

itu.”

Tetapi orang-orang itu kemudian melepaskan semua kesibukan

angan-angan serta pikirannya. Sambil menggelengkan kepala,

seakan-akan mengusir persoalan-persoalan yang tak mereka ketahui

dengan pasti itu, mereka pergi meninggalkan halaman belakang

istana setelah akuwu pun kemudian berjalan kembali ke istana

diantar oleh beberapa orang pelayan dalam dan beberapa orang.

Beberapa orang masih bercakap-cakap mempercakapkan apa

yang telah mereka lihat. Namun beberapa orang lagi menganggap

persoalan itu telah selesai. Berkata di antara mereka, “Ah, biarlah

persoalan itu berlaku. Aku tidak berkepentingan sama sekali.

Bukankah dengan perang tanding ini semuanya telah selesai?”

Kawannya yang berjalan-jalan di samping tersenyum sambil

menjawab, “Barangkali kau tidak mau dipusingkan oleh soal-soal

yang tak berarti. Tetapi kami lupa bahwa Kuda Sempana masih

menyimpan dendam di dalam hatinya. Nah, bukankah itu bagaikan

api disimpan dalam sekam.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun

tersenyum sambil berkata, “He, apakah kau telah melihat gadis itu?”

Kawannya menggeleng lemah.

“Kalau sudah, mungkin kau akan turut serta dalam sayembara

tanding itu,” berkata kawan itu lagi.

Orang yang berjalan di samping tertawa. Ketika disadarinya

beberapa orang berpaling kepadanya, maka dengan serta-merta

suara tertawanya terputus. “Jangan main-main,” gumamnya, “kalau

istriku mendengarnya, maka ia akan berontak.”

Kedua orang itu tersenyum, tetapi mereka tidak berkata-kata

lagi. Mereka melihat kemudian Kuda Sempana berjalan tergesa-gesa

melampaui mereka, meskipun masih nampak betapa ia sangat

lemah. Beberapa orang menarik nafas dalam melihat anak muda

yang keras kepala itu. Namun yang lain memalingkan wajahnya.

Sesaat kemudian arena itu telah menjadi sunyi kembali. Semua

orang telah pergi. Yang tinggal hanyalah Witantra dan Ken Arok.

Mereka berdiri saja mengawasi punggung-punggung yang

membelakangi mereka, semakin lama semakin jauh.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Kuda

Sempana tidak akan tinggal diam untuk seterusnya. Namun Ken

Arok pun mengetahui pula, bahwa Kuda Sempana mendendamnya.

“Anak yang keras kepala,” gumam Witantra.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya.

Sungguh-sungguh keras kepala.”

Sesaat mereka terdiam. Di regol halaman belakang masih dilihat

oleh mereka, punggung-punggung yang terakhir meninggalkan

halaman itu.

“Marilah Adi, kita pulang.”

“Aku mendapat perintah untuk mengantar Kakang.”

Witantra tersenyum. Namun ia menjawab, “Marilah antarkan

aku.”

Ketika keduanya mulai melangkah meninggalkan tempat itu, tibatiba

langkah mereka terhenti. Lamat-lamat mereka mendengar

suara Daksina.

“Hem,” gumam Ken Arok, “anak itu sama sekali tidak

memedulikan apa saja.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Suara Daksina

memang baik, seperti desir angin yang kadang-kadang lembut,

namun kadang-kadang deras menyentak, bahkan kadang-kadang

bagaikan prahara yang melanda pepohonan dan menghentak

gelombang di lautan. Namun kemudian kembali terdengar suaranya

yang lembut, selembut gemeresik angin pagi mengusap ujung

dedaunan.

“Smaradahana,” gumam Witantra.

Ken Arok hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah

banyak pula belajar tentang banyak hal mengenai kitab-kitab dan

pengetahuan dari seorang pendeta yang memungutnya dari padang

rumput Karautan, tetapi pengetahuan itu masih jauh dari cukup.

Meskipun demikian, ternyata jiwanya mampu pula menerima

sentuhan yang halus dari suara Daksina.

“Apakah kau pernah membaca kakawin itu?” bertanya Witantra.

Ken Arok menggeleng, “Belum.”

“Cerita tentang Dewa Cinta, Kama dan istrinya Ratih.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama

sekali belum pernah membaca cerita itu, meskipun sedikit ia pernah

juga mendengar tentang Dewa Kama yang terbakar oleh sinar mata

Siwa yang sedang tiwikrama menjadi Rudra.

“Cerita yang amat menarik,” Witantra meneruskan, “terutama

bagi anak-anak muda. Sindiran terhadap Baginda Kameswara dari

Kediri beberapa puluh tahun hampir seabad yang lampau.”

Kembali Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Daksina memilih cerita itu,” Witantra melanjutkan, “karena ia

tahu, bahwa di arena ini menyala persoalan yang langsung

menjangkiti cinta anak-anak muda. Meskipun aku yang harus maju

ke arena, namun aku hampir tidak berkepentingan selain aku ingin

melihat kesewenang-wenangan Kuda Sempana dibatasi.”

Ken Arok masih belum menjawab selain mengangguk-anggukkan

kepalanya. Namun ia senang pula mendengar suara Daksina yang

bening bersih.

“Sebaiknya anak itu berhenti membaca,” tiba-tiba Witantra

bergumam.

“Kenapa?” bertanya Ken Arok.

“Apabila Akuwu mendengar, maka ia marah. Ia merasa bahwa

anak itu menyindir.”

“Tidak. Bukankah Akuwu bersungguh-sungguh dengan alasannya

itu. Bukankah kemudian gadis itu akan dikembalikan ke Panawijen?”

Witantra tersenyum, jawabnya, “Kalau gadis itu bersedia, maka

apakah halangannya seandainya Akuwu pun benar-benar

menghendakinya, bukankah dengan demikian Ken Dedes akan

merasa sedikit terhibur karenanya?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Tidak baik.

Sebaiknya Akuwu menyerahkannya kembali kepada ayahnya.”

“Kecuali kalau gadis itu menolak Akuwu. Seharusnya Akuwu

menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Tetapi kalau gadis itu

bersedia, apakah salahnya?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab, tetapi

hatinya berkata, “Tidak. Seharusnya Akuwu benar-benar bersih dari

segenap pamrih mengenai gadis itu. Kalau Akuwu bersedia

mengembalikan Ken Dedes kepada ayahnya, maka Akuwu benar

seorang yang berhati jantan. Seorang yang bersedia mengakui

kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Meskipun Wiraprana

tak akan mungkin dihidupkan lagi, tetapi setidak-tidaknya di dalam

lingkungan keluarganya Ken Dedes akan mendapatkan hiburan.”

Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lain di dalam lubuk hatinya,

“Bagaimanakah kalau Ken Dedes merasa terhibur, apabila ia

menjadi permaisuri akuwu.”

Tiba-tiba wajah Ken Arok menjadi tegang, ia tidak tahu apakah

sebabnya ia menjadi risau mengenai nasib gadis itu seterusnya.

“Persetan!” geramnya di dalam hati.

Ken Arok itu kemudian terkejut ketika Witantra berkata, “Marilah

Adi, apakah kau akan mengantarkan aku pulang?”

“Oh,” sahut Ken Arok tergagap, “Ya, aku akan mengantarkan

Kakang pulang. Sebaiknya aku tidak kembali ke barak. Kalau Kuda

Sempana datang ke bilikku, dan aku kehilangan kesabaran, maka

kami pasti akan bertengkar.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya,

“Tinggallah sehari ini di rumahku. Mudah-mudahan besok atau lusa

Kuda Sempana telah dapat berpikir bening, sehingga ia akan dapat

melupakan segala peristiwa yang telah terjadi atasnya.”

“Mudah-mudahan,” desis Ken Arok. Namun kemudian ia berkata,

“Sebentar, aku akan menyuruh Daksina berhenti membaca.”

Witantra tersenyum. Dibiarkannya Ken Arok melangkah ke gubuk

di sudut dibalik dinding halaman belakang istana. Sesaat setelah

Ken Arok itu menghilang dibalik dinding, maka suara Daksina pun

berhenti.

Keduanya itu pun kemudian pergi meninggalkan halaman

belakang istana itu pergi ke rumah Witantra. Kuda-kuda mereka

masih tertambat di tempatnya. Dan sejenak kemudian terdengarlah

kaki-kaki sepasang kuda berlari meninggalkan istana Tumapel.

Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung berjalan tergesa-gesa

kembali ke istana. Tetapi ia sama sekali tidak langsung menuju ke

biliknya. Dengan tergesa-gesa seakan-akan ia akan kehilangan

kesempatan, akuwu itu berjalan masuk ke ruang dalam, dan

langsung menuju ke sentong tengen.

Sejenak Tunggul Ametung berdiri diam di muka bilik itu. Ia tidak

mendengar sesuatu kecuali nafas yang memburu. Namun sesaat

kemudian terdengar langkah seorang keluar dari bilik itu.

Demikian melampaui warana, emban yang ikut merawat Ken

Dedes terkejut melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri tegak di

muka pintu, sehingga dengan tergesa-gesa ia bersimpuh sambil

menyembah, “Ampun Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak

apa-apa. Aku ingin menengok gadis itu.”

Emban itu masih bersimpuh sambil menundukkan wajahnya.

Perlahan-lahan ia berkata, “Gadis itu masih belum tenang benar,

Tuanku.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah

sekarang gadis itu tertidur?”

Emban itu menggeleng, “Tidak Tuanku.”

“Apakah aku boleh masuk?” bertanya akuwu itu.

Emban itu heran mendengar pertanyaan Tunggul Ametung.

Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel. Tunggul Ametung adalah

pemilik istana ini, dan semua orang akan tunduk pada perintahnya.

Tetapi tiba-tiba akuwu itu bertanya kepadanya, apakah ia boleh

masuk ke dalam bilik ini. Karena itu, maka emban itu pun menjadi

bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.

“Bagaimana, apakah boleh masuk?” desak Tunggul Ametung.

“Ya. Ya.” emban itu tergagap, “sekehendak Tuankulah.”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sambil

menganggukkan kepalanya ia berkata, “Terima kasih. Aku akan

masuk ke sentong tengen.”

Emban itu menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa Akuwu

berterima kasih kepadanya. Namun Akuwu itu tidak berkata apa-apa

lagi. Perlahan-lahan ia melangkah maju. Melampaui tlundak pintu,

kemudian melingkari warana memasuki ruang tidur Ken Dedes yang

masih saja ditunggui oleh Nyai Puroni.

Tetapi demikian Tunggul Ametung masuk, akuwu itu terkejut

bukan buatan. Tiba-tiba saja, ketika Ken Dedes melihatnya, dengan

serta-merta gadis itu bangkit dan menunjuk wajahnya. Sambil

berkata lantang, “Nah, kaulah Tunggul Ametung. Kaulah sumber

dari bencana yang menimpa keluargaku. Ayo kembalikan aku ke

Panawijen, atau bunuh aku sama sekali.”

Sesaat akuwu berdiri mematung. Ia adalah akuwu yang

memegang seluruh kekuasaan Tumapel di tangannya. Ia adalah

orang yang paling berkuasa di dalam dan di luar istana. Juga di

Panawijen. Tiba-tiba gadis itu menudingnya sambil membentaknya

tanpa takut.

Yang terdengar kemudian adalah suara Nyai Puroni cemas, “Nini,

tenanglah Ngger. Tenanglah. Tidurlah, biarlah nanti aku

memberitahukan kepadamu, apa yang telah terjadi, Jangan risau

anakku dan jangan menjadi bingung. Tuanku Tunggul Ametung

adalah Akuwu Tumapel.”

“Apa peduliku, apakah Tunggul Ametung menjadi Akuwu, apakah

ia menjadi Maharaja sekalipun, namun ia tidak lebih dari seorang

perampok yang keji. Ayo, Tunggul Ametung. Bunuhlah aku.”

Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Seorang yang

mudah tersinggung, dan seorang yang mudah pula menjadi sangat

cemas apabila tiba-tiba akuwu itu kehilangan kesabaran. Ia tidak

tahu, apakah yang telah terjadi, namun mengumpati Tunggul

Ametung adalah berbahaya sekali bagi keselamatannya.

Tetapi Nyai Puroni itu benar-benar menjadi heran. Ia melihat

akuwu yang garang itu, berdiri kaku di tempatnya. Kepalanya

terkulai tunduk dalam-dalam. Sepatah kata pun ia tidak menyahut

dan bahkan akuwu itu sama sekali tidak berani menatap wajah

gadis yang sedang marah itu.

Sekali-kali Tunggul Ametung mencoba mengangkat wajahnya,

namun kembali ia tertunduk. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi

gemetar dan terasa seakan-akan dadanya bergetaran.

“Apakah aku benar-benar sudah gila,” desahnya di dalam hati.

Karena ketika ia mencoba memandang gadis itu, ia dikejutkan oleh

cahaya yang berkilat cerah. Namun setiap kali ia berusaha

memandang cahaya itu tak dapat tertangkap oleh wadagnya.

Sementara itu masih terdengar suara Ken Dedes lantang, “Ayo

Tunggul Ametung. Kenapa kau berdiri saja seperti patung?

Bukankah kau mempunyai seribu pusaka di istanamu. Ayo, ayo,

bukankah di lambungmu itu tergantung senjata sipat kandel

Tumapel? Kenapa kau diam saja seperti patung?”

Desir di dada Tunggul Ametung menjadi semakin tajam. Baru kini

disadarinya, bahwa pusakanya masih tergantung pada ikat

pinggangnya. Pusaka yang tidak setiap orang pernah melihatnya.

Nyai Puroni menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat

berbuat sesuatu. Usahanya untuk meluluhkan hati Ken Dedes selalu

sia-sia.

Tetapi kembali Nyai Puroni terkejut ketika mendengar sendiri

mulut Akuwu Tunggul Ametung itu berdesis, “Maafkan aku Ken

Dedes. Aku sama sekali tidak sengaja membuat kau mengalami

nasib yang sedemikian jeleknya.”

Mata Ken Dedes itu pun menjadi semakin menyala karenanya.

Dan terdengar suaranya lantang, “Jangan bersembunyi Tunggul

Ametung! Kau datang membawa bencana di padepokan ayahku.

Kau telah membawa bencana bagi keluargaku, bagi hidupku.

Kenapa kau tidak saja membunuh aku? Kenapa kau lindungi Kuda

Sempana yang biadab itu? Kenapa?”

Akuwu masih menundukkan kepalanya. Suatu hal yang hampir

tidak pernah dilakukan. Di hadapan setiap utusan maharaja di Kediri

sekalipun Tunggul Ametung selalu menengadahkan wajahnya.

Namun kini, di hadapan seorang gadis pedesaan Tunggul Ametung

itu tunduk tumungkul seperti seorang tawanan.

Dan terdengar kemudian Tunggul Ametung itu menjawab

perlahan-lahan, “Ken Dedes. Aku telah mencoba memperbaiki

kesalahanku. Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi.”

Ken Dedes itu terhenyak sejenak. Tampaklah kerut-kerut di

wajahnya yang pucat.

“Apa katamu?” terdengar ia bertanya untuk meyakinkan.

“Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi,” sahut

Akuwu.

“Kenapa?”

Seperti anak-anak yang mendapat pertanyaan-pertanyaan dari

ibunya yang sedang marah, Tunggul Ametung menjawab dengan

jujur. “Kuda Sempana telah dikalahkan dalam perang tanding,

dengan perjanjian, untuk seterusnya ia harus melepaskan

tuntutannya atas dirimu.”

Ken Dedes tidak segera mengerti keterangan Akuwu Tunggul

Ametung itu. Apakah yang dimaksud dengan perang tanding yang

dapat melepaskan tuntutan Kuda Sempana atas dirinya? Karena itu

maka untuk sejenak Ken Dedes terdiam. Tanpa mengenal takut,

ditatapnya wajah Tunggul Ametung, yang tunduk. Tetapi Akuwu itu

tidak meneruskan kata-katanya sebagai penjelasan.

Karena itu, maka terdengarlah suara Ken Dedes, “Apakah

maksudmu Tunggul Ametung?”

Alangkah janggalnya panggilan itu di telinga Nyai Puroni serta

emban yang duduk di pintu. Ken Dedes langsung menyebut nama

Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun.

Kalau Akuwu itu kemudian menyadarinya, maka ia pasti akan

sangat marah. Bahkan seandainya dirinya sendiri, atau emban yang

duduk di pintu itu, bahkan seorang senapati pun, apabila berani

mengucapkan nama akuwu itu tanpa sebutan apapun maka adalah

suatu pertanda bahwa hidupnya akan mendapat kesulitan.

Tetapi sekarang, gadis pedesaan itu dengan beraninya bahkan

dengan menuding wajah akuwu itu. Aneh. Apakah yang sebenarnya

telah terjadi?

Tunggul Ametung sendiri tidak segera menjawab pertanyaan Ken

Dedes itu. Sekali ia mengangkat wajahnya namun ketika dilihatnya

mata gadis itu, kembali ia menunduk. Mata yang memancarkan

tuntutan atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Mata yang

memancarkan jeritan hatinya yang duka. Dan mata yang memancar

itu adalah mata seorang gadis yang aneh. Seorang gadis yang

seakan-akan memiliki cahaya yang bersinar dari tubuhnya. Cahaya

yang membuat Akuwu Tunggul Ametung itu merasa dirinya hampir

menjadi gila. “Gadis itu bukan gadis kebanyakan,” desis Akuwu

Tunggul Ametung di dalam hatinya.

Karena Tunggul Ametung tidak segera menjawab, maka

terdengar Ken Dedes mengulangi pertanyaannya, “He Tunggul

Ametung, apakah yang kau maksud dengan perang tanding? Dan

apakah hubungannya dengan Kuda Sempana?”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam.

Bagaimanapun juga ia ingin mencoba menyampaikan beberapa

penjelasan mengenai perang tanding itu. Mencoba mengatakan

kepada Ken Dedes bahwa dengan kekalahan Kuda Sempana dalam

perang tanding itu, maka tuntutannya atas Ken Dedes telah

digugurkan. Ia mengambil gadis itu dengan kekerasan, maka

dengan kekerasan pula usaha itu telah digagalkan.

“Gila!” teriak Ken Dedes. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan

dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa aku, kau perlakukan

seperti itu Tunggul Ametung. Kenapa aku kalian perlakukan seperti

barang yang dapat kalian perebutkan dengan berkelahi dan saling

membunuh sekalipun. Tunggul Ametung, Akuwu yang memiliki

kekuasaan tertinggi di Tumapel, kenapa kau berbuat demikian?

Kenapa kau menganggap bahwa aku tidak lebih daripada barang

yang seandainya paling berharga sekalipun, sehingga dipertaruhkan

dengan nyawa? Tidak. Aku mempunyai pendirianku sendiri. Aku

mempunyai kehendak, akal dan penilaian atas persoalanku. Bukan

kalian yang akan menentukan jalan hidupku. Tetapi aku. Aku

sendiri.”

Peristiwa itu adalah peristiwa yang benar-benar aneh bagi Nyai

Puroni. Aneh, karena semang gadis pedesaan dengan beraninya

menentang Akuwu, membaluti kata-katanya kata dengan kata,

kalimat dengan kalimat. Tak pernah dijumpai sepanjang umurnya

seorang gadis yang sedemikian beraninya. Setiap perempuan di

Tumapel, setiap gadis, pada umumnya selalu menundukkan

kepalanya, menerima nasib yang diletakkan oleh orang Tuanya, oleh

suaminya apalagi seorang akuwu atasnya. Tetapi gadis ini tidak

berbuat demikian.

Namun, Akuwu Tunggul Ametung adalah orang yang benarbenar

aneh. Semakin banyak Ken Dedes berbicara, semakin tajam

Ken Dedes mengumpat-umpatinya, hatinya menjadi semakin tertarik

kepada gadis itu. Gadis itu baginya menjadi seakan-akan sebuah

mutiara yang bercahaya dengan sinarnya. yang tajam menusuk

langsung ke ulu hatinya.

Gadis yang berani itu pasti memiliki kekhususannya dari gadisgadis

yang lain. bahkan gadis kota sekalipun. Meskipun gadis itu

gadis pedesaan, namun tanda-tanda yang dirasakan oleh Akuwu

Tunggul Ametung menjadikannya semakin yakin, bahwa gadis itu

adalah gadis yang memiliki kelebihan-kelebihan.

Karena itulah maka sekali lagi Akuwu ingin menjelaskan

persoalan yang dikehendakinya dengan perang tanding itu. Katanya,

“Ken Dedes. Karena aku mempunyai penilaian yang demikian

atasmu, bahwa kau memiliki pendirian, penilaian dan lebih-lebih lagi

adalah hak atas dirimu sendiri dan jalan hidupmu, maka aku telah

melepaskan kau dari Kuda Sempana.”

“Apakah artinya itu?” bertanya Ken Dedes.

“Kau kini dapat menentukan hidupmu sendiri. Tidak ada

keharusan bagimu untuk tunduk pada setiap kehendak orang lain

kecuali atas kerelaan hatimu.”

“Tetapi apa artinya kedatangan kalian ke Panawijen. Kau tidak

mencegah perbuatan Kuda Sempana, dan bahkan kau

melindunginya.”

“Aku terdorong dalam kekhilafan, Ken Dedes. Kuda Sempana

telah menipuku.”

“Kau dapat menghukumnya, bahkan menghukum mati

sekalipun.”

“Ya. Tetapi aku sendiri telah melakukan kesalahan pula. Karena

itu aku tidak dapat menghukumnya karena alasan itu, sebab ia

berbuat dalam perlindunganku. Satu-satunya cara untuk menebus

kesalahanku itu adalah membebaskan kau dari tangannya dengan

cara yang sama seperti yang dilakukannya atas keluargamu.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia merasakan di dalam

hatinya bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu berkata dengan jujur.

Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya, seakan-akan

semua kemarahan dan luapan perasaannya perlahan-lahan menjadi

tenang.

Meskipun demikian, hati Ken Dedes itu masih juga gelap. Apakah

yang akan terjadi atas dirinya selanjutnya. Apabila seseorang telah

berhasil melepaskannya dari Kuda Sempana, lalu apakah hak orang

itu atas dirinya? Apakah dengan demikian ia hanya akan berpindah

tangan kepada orang yang bahkan sama-sama sekali tak

dikenalnya? Bagaimana kalau ada orang lain yang berbuat demikian

pula atas orang yang kedua itu?

Tiba-tiba teringatlah Ken Dedes itu kepada Mahisa Agni. Kenapa

kakaknya itu membiarkannya dilarikan oleh Kuda Sempana? Apakah

Mahisa Agni tidak tahu apa yang terjadi atasnya? Kalau saja Mahisa

mengetahui, bahwa dengan perang tanding dirinya akan dapat

dibebaskan, ia mengharap, bahwa pada waktu ketika Mahisa Agni

datang ke Tumapel dan melepaskannya. Tetapi kapan? Sehari,

seminggu atau sebulan. Atau sesudah ia kehilangan harapan untuk

dapat kembali ke padepokan?

Dalam pada itu, maka kembali terdengar Ken Dedes bertanya,

“Akuwu Tunggul Ametung. Setelah perang tanding ini berlangsung,

dan menurut katamu, setelah aku dapat dibebaskan dari Kuda

Sempana, lalu apakah aku akan dapat segera pulang?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Tunggul Ametung.

Tiba-tiba ia dihadapkan pula suatu masalah yang sangat berat

baginya. Seharusnya, menurut rencananya semula, ia hanya ingin

membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana sebagai

tebusan atas kesalahannya. Tetapi tiba-tiba alangkah beratnya

untuk melepaskan gadis itu pulang kembali ke Panawijen. Alangkah

sulitnya untuk memenuhi rencananya. Setelah ia melihat Ken Dedes

dari dekat, setelah ia mendengar Ken Dedes menangis, dan setelah

ia sendiri melihat Ken Dedes dengan beraninya mempertahankan

kebebasannya untuk menentukan jalan hidupnya, serta setelah ia

melihat gadis itu dengan tabahnya mengumpat-umpatinya, maka

tiba-tiba Tunggul Ametung benar-benar telah terpesona. Ken Dedes

telah benar-benar menarik hatinya. Karena itu, ketika ia mendengar

pertanyaan Ken Dedes itu, hatinya seolah-olah membeku. Tak ada

jawaban yang dapat diberikannya.

“Akuwu,” Ken Dedes mengulang,” bagaimana?”

Tunggul Ametung tergagap. Ia harus menjawab. Tetapi ia tidak

segera mendapatkan jawaban itu. Sehingga kembali terdengar Ken

Dedes mendesaknya, “Akuwu Tunggul Ametung, apakah aku segera

dapat kembali pulang?”

Tiba-tiba dalam kebingungan Tunggul Ametung bertanya, “Ken

Dedes. Kalau kau ingin segera pulang, apakah yang menarik bagimu

di Panawijen?”

Ken Dedes merasa aneh mendengar pertanyaan itu sehingga

sahutnya, “Panawijen adalah tempat kelahiranku. Panawijen adalah

padepokan ayahku. Panawijen adalah tempat aku bermain bersama

kakakku Mahisa Agni, dan Panawijen adalah tempat aku

menyongsong masa depanku.”

Tunggul Ametung menjadi semakin bingung. Dan dalam

kebingungan itu ia menjawab, “Ya. Ken Dedes. Sebenarnya kau

akan segera dapat pulang ke kampung halaman, tetapi aku takut,

apabila dengan demikian luka di hatimu akan menjadi semakin

parah,”

Mendengar jawaban itu, maka kegelisahan di hati Ken Dedes

menjadi menyala kembali. Dengan penuh ketegangan ia

memandang Akuwu Tunggul Ametung.

Terdengarlah kemudian suaranya gemetar, ”Kenapa Akuwu?”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi raguragu

sesaat. Tetapi ia telah terdorong menyatakan tentang luka di

hati gadis itu. Karena itu ia menjawab, ”Ken Dedes, Terserahlah

kepadamu seandainya kelak kau ingin kembali ke Panawijen. Tetapi

jangan segera.”

“Kenapa? Ya, kenapa?”

Tunggul Ametung terdiam sesaat. Dicobanya menatap wajah

gadis itu. Namun kembali ia menundukkan kepalanya. Di dalam

mata Ken Dedes itu seakan-akan tercermin segenap kesalahan,

kekhilafan dan ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya.

Seakan-akan dilihatnya kembali bagaimana Kuda Sempana datang

kepadanya, dan mengusulkan untuk pergi berburu ke arah lain

daripada arah Panawijen. Diingatnya bagaimana Kuda Sempana

merajuknya, mengatakan kepadanya bahwa ia ditolak karena

seorang pelayan dalam Akuwu Tumapel.

“Gila!” geramnya di dalam hati. Ia menyesal bahwa ia terlalu

cepat mengambil keputusan. Namun itu adalah sifat-sifatnya yang

dibawanya sejak ia dilahirkan. Tergesa-gesa, lekas marah dan

kadang-kadang kurang pertimbangan.

Sekarang ia mengalami keguncangan akibat sifat-sifatnya itu.

Sifat-sifatnya yang kurang menguntungkannya. Baik sebagai

seorang akuwu, maupun sebagai manusia yang bergaul di antara

sesama.

Dan sekarang ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes yang

mendesak itu, ”Kenapa?”

“Ken Dedes,” jawab Tunggul Ametung, “tinggallah di sini

beberapa saat. Kemudian kau akan dapat mengambil keputusan

menurut kehendakmu. Tetapi jangan tergesa-gesa kembali. Biarlah

kelak aku sendiri akan mengantarkanmu.”

“Tetapi aku ingin tahu, kenapa luka hatiku akan menjadi semakin

parah?”

Ketika Akuwu tidak segera menjawab, maka angan-angan Ken

Dedes sendiri telah beredar, mencoba mencari jawabnya. Tiba-tiba

dikenangnya, bahwa pada saat Kuda Sempana mengambilnya,

Wiraprana telah dijatuhkannya. Apakah yang terjadi atas anak muda

itu seterusnya? Dalam kegelisahan, kebingungan dan ketakutan

pada saat itu ia melihat Wiraprana terbanting jatuh. Ia masih dapat

mengingat kembali, ketika tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya. pada

anak muda itu. Dikenangnya betapa pucat wajah Wiraprana saat itu.

Dan apakah saat itu Wiraprana masih bernafas? Tiba-tiba Ken

Dedes yang duduk dengan tegangnya itu memekik kecil. Ditutupinya

wajahnya dengan kedua tangannya seakan-akan ingin

menghilangkan bayangan-bayangan yang hilir mudik di dalam

rongga mata hatinya.

“Wiraprana,” desisnya, “bagaimana dengan Wiraprana?”

Tunggul Ametung terkejut mendengar Ken Dedes memekik dan

kemudian menyebut nama anak muda yang ternyata telah terbunuh

itu.

Sentong tengen itu sesaat dicengkam oleh kesepian yang tegang.

Ken Dedes mencoba menunggu apakah Akuwu Tunggul Ametung

dapat memberinya keterangan tentang Wiraprana. Namun Akuwu

Tunggul Ametung itu menjadi terpaku diam, keragu-raguan dan

kecemasan merayap-rayap di dalam dadanya. Apakah akibatnya

seandainya diberitahukannya tentang nasib Wiraprana itu?

Tetapi Ken Dedes itu kemudian mendesaknya, “Akuwu,

bagaimanakah dengan Wiraprana itu?”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian

dicobanya mengingkari, katanya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi

kemudian Ken Dedes. Aku pergi bersama Kuda Sempana

meninggalkan Panawijen. Aku melihat Wiraprana terjatuh, tetapi

aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Bukankah kau juga

melihatnya.”

“Ya. Aku melihat. Tetapi aku segera menjadi tak sadar lagi. Nah,

apakah yang telah terjadi?”

“Aku tidak tahu.”

“Bohong!”

Sekali lagi Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia kini

benar-benar menjadi bingung. Nyai Puroni yang melihat percakapan

itu dengan penuh keheranan, melihat, seakan-akan yang berdiri

dengan gelisah dan cemas itu bukan Akuwu Tunggul Ametung yang

dikenalnya sehari-hari. Bukan seorang yang keras hati, yang

membentak-bentak dan berteriak-teriak. Bukan seorang yang aneh

seperti yang sering dilakonkannya atas hamba-hambanya. Sekali

waktu dipukulnya seorang pelayan dalam, namun tiba-tiba orang itu

dipanggilnya, dan diberinya ia hadiah sepotong kain panjang. Atau

pernah seorang emban disiramnya dengan air jahe yang terlalu

pedas, tetapi ketika ia melihat emban itu menangis, maka segera

diberinya emban itu uang.

Sekarang Tunggul Ametung benar-benar seperti seorang anak

yang merasa dirinya berdosa terhadap orang Tuanya. Seperti

seorang anak yang menghadapi ibunya yang sangat diseganinya.

Tunduk dan gelisah.

Yang terdengar kemudian adalah suara Ken Dedes serak,

“Akuwu, bagaimanakah nasib Wiraprana itu?”

Tiba-tiba pecahlah ketahanan Tunggul Ametung mendengar

pertanyaan itu. Seperti orang yang berbuat tidak atas kehendaknya

sediri ia berkata, “Wiraprana terbunuh.”

Alangkah dahsyatnya suara itu terdengar di telinga Ken Dedes,

seperti petir yang langsung menyambar dinding-dinding hatinya.

Meledak dan seakan-akan memecahkan jantungnya. Sesaat Ken

Dedes terpaku seperti patung. Namun tiba-tiba gadis itu

menjatuhkan dirinya di pembaringan sambil menelungkupkan

wajahnya. Sekali ia memekik, menyebut nama Wiraprana, kemudian

ia tenggelam dalam tangisnya yang sedih.

“Hem,” Akuwu Tunggul Ametung berdesah. Ditatapnya gadis

yang malang itu. Ketika terdengar olehnya tangis itu semakin keras,

maka kembali penyesalan menghentak-hentak dada Akuwu Tunggul

Ametung. Dan sejalan dengan itu, maka keinginannya untuk

menebus kesalahannya pun menjadi semakin besar.

Tiba-tiba terdengarlah suara Tunggul Ametung itu dalam nada

yang rendah, “Maafkan aku, Ken Dedes.”

Ken Dedes masih menangis terus, seakan-akan ia tidak

mendengar kata-kata itu. Tetapi akuwu itu kemudian melangkah

maju, benar-benar seperti tidak atas kehendak sendiri. Dua langkah

dari pembaringan Ken Dedes, Tunggul Ametung berhenti. Dari

antara bibirnya itu kemudian terloncat kata-kata, “Ken Dedes. aku

minta maaf kepadamu. Aku telah berusaha berbuat apa saja untuk

mengurangi kesalahanku. Kalau apa yang sudah aku lakukan itu

masih belum cukup bagimu Ken Dedes, maka apa saja yang kau

ingini seterusnya pasti akan aku penuhi. Aku adalah Akuwu

Tumapel. Kekuasaanku atas tanah ini berada di tanganku.”

“Tuanku,” potong Nyai Puroni yang menyangka bahwa Tunggul

Ametung benar-benar telah kehilangan segala pengamatan diri. Ia

ingin memperingatkan kepadanya, supaya setiap kata dan

perbuatannya benar-benar dipertimbangkan sebaik-baiknya. Tetapi

sebelum ia berkata lebih lanjut, Akuwu Tunggul Ametung telah

berkata, “Ken Dedes. Berkatalah. Apakah yang kau kehendaki dariku

untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada

padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan

atas Tumapel.”

“Tuanku,” sekali lagi Nyai Puroni memotong.

Namun Tunggul Ametung seakan-akan tidak mendengarnya.

Bahkan Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Tak ada yang lebih

berharga yang ada padaku daripada itu. Sehingga dengan sejujurjujurnya

aku berkata, bahwa apa yang ada padaku telah aku

sediakan untuk menebus kesalahanku. Karena itu Ken Dedes,

jangan kau sedihkan yang telah terlanjur terjadi. Akulah orang yang

paling menyesal atas peristiwa yang menyedihkan itu. Tinggallah

untuk sementara di sini. Tenangkan hatimu, dan barulah kau

berpikir apakah yang akan kau lakukan kemudian. Namun ada

harapanku yang akan dapat kau pertimbangkan. Menyerahkan

istana ini kepadamu dengan segenap isinya.”

Ken Dedes mendengar kata-kata itu dengan jelas. Kalimat demi

kalimat. Namun ia tidak memperhatikannya. Kepalanya yang

tertelungkup itu masih saja tersentak-sentak oleh isaknya. Sehingga

karena itu, ia sama sekali tidak menjawab, apalagi mengangkat

wajahnya. Dibiarkannya Akuwu Tunggul Ametung berdiri mematung

di samping pembaringannya.

Tunggul Ametung itu terkejut ketika ia merasa Nyai Puroni

menggamit ujung kakinya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Nyai

Puroni yang tegang.

Tunggul Ametung segera menyadari apa yang terkandung di

dalam hati orang tua itu. Tetapi seakan-akan ia telah terbenam

dalam tekad yang bulat. Menebus kesalahannya dengan apa saja

yang ada padanya. Tetapi dalam penilaian Nyai Puroni, Tunggul

Ametung itu tidak saja menyesal atas kesalahan-kesalahan yang

pernah dilakukan dan yang tidak diketahui oleh perempuan tua itu,

namun Tunggul Ametung itu benar-benar sedang jatuh cinta. Cinta

bagi seorang yang masih semuda Tunggul Ametung adalah

bagaikan kekuatan yang tersimpan di dalam perut Gunung Semeru.

Setiap saat akan meledak dengan dahsyat, sedahsyat ledakan yang

terjadi saat ini. Menyerahkan apa saja yang ada padanya kepada

gadis Panawijen itu.

Tetapi Nyai Puroni itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.

Ia sudah tidak mungkin lagi mencegah perbuatan Akuwu Tunggul

Ametung itu, atau setidak-tidaknya memberinya peringatan.

Semuanya sudah dikatakan oleh akuwu dan perkataan seorang

akuwu adalah janji yang sulit untuk dicabut kembali tanpa alasanalasan

yang terlalu kuat.

Namun di samping itu, dukun tua itu benar-benar merasa

kecewa, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah benar-benar

tenggelam dalam arus perasaannya. Bukankah dengan demikian

berarti bahwa Ken Dedes akan dapat menjadi permaisurinya dan

langsung dapat mencampuri tata pemerintahan. Bukankah dengan

demikian maka gadis pedesaan itu dapat membuat putih hitam atas

tanah Tumapel?

Nyai Puroni, yang telah mengabdikan diri sejak bertahun-tahun

itu menjadi sangat menyesalkan keadaan itu. Kenapa Akuwu tidak

dapat mengendalikan perasaannya?

Tetapi bukan saja ia menyesalkan sikap Tunggul Ametung,

namun tiba-tiba ia menjadi sangat kecewa pula kepada Ken Dedes.

Gadis itu seakan-akan telah melanggar segala adat dan kebiasaan

istana Tumapel. Gadis itu sama sekali tidak tunduk pada setiap

peraturan yang berlaku bahkan ia telah berani menyebut nama

Tunggul Ametung begitu saja. Betapapun juga kemarahan

seseorang, namun kepada akuwu ia tidak akan dapat berbuat

demikian. Tetapi Ken Dedes itu telah melakukannya. Namun dukun

tua itu menyimpan kekecewaan itu di dalam dadanya. Ia tidak

berani mengatakannya di muka Tunggul Ametung yang sedang

jatuh cinta itu.

Sesaat kemudian bilik itu menjadi sepi, yang terdengar adalah

suara isak Ken Dedes yang pedih. Nyai Puroni yang telah menjadi

kecewa itu, sama sekali tidak bernafsu lagi untuk menghiburnya.

Bahkan ia menjadi jemu menunggui gadis itu di sentong tengen.

Telah hampir satu hari satu malam ia berada dalam bilik itu, dan

hanya keluar sesaat apabila ia pergi ke belakang dan makan,

berganti-gantian dengan emban yang sekarang duduk di luar.

Namun ternyata bahwa ia menemui kekecewaan. Ketika Akuwu

Tunggul Ametung kemarin mengucapkan janjinya, Nyai Puroni telah

merasa aneh dan heran. Tetapi ia mengharap bahwa Akuwu akan

berubah pendirian selagi janji itu belum didengar oleh orang lain,

apalagi Ken Dedes sendiri. Tetapi kini janji itu langsung telah

diberikan kepada gadis Panawijen itu. Gadis pedesaan yang terlalu

kecil dibandingkan dengan kebesaran Akuwu Tumapel.

Tetapi Tunggul Ametung sendiri memandang Ken Dedes tidak

terlampau kecil. Bahkan akuwu itu melihat kebesaran yang

memancar dari diri gadis itu. Dari sikapnya dan dari balik

kewadagannya.

Sejenak kemudian, ketika Ken Dedes masih juga menangis,

berkatalah Tunggul Ametung, “Ken Dedes, aku tidak ingin kau

mengambil sikap dengan tergesa-gesa. Pikirkanlah semua katakataku.

Aku sama sekali tidak bermaksud buruk. Semuanya aku

katakan dengan jujur. Seperti aku dengan jujur mengakui segenap

kesalahanku. Sekarang cobalah tenangkan hatimu. Apa yang sudah

terjadi tak akan dapat diulang kembali. Namun pertimbangan apa

yang aku katakan, menjelang hari depanmu yang masih panjang.”

Kali ini pun Ken Dedes seolah-olah tidak mendengar kata-kata

Akuwu Tunggul Ametung. Ia masih saja terbenam dalam isak

tangisnya, kekecewaan dan penyesalan yang tiada taranya.

“Baiklah aku pergi dulu Ken Dedes,” berkata Tunggul Ametung

itu. Namun kata-kata lenyap tiada jawaban. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya Tunggul Ametung melangkah surut, kemudian

kepada Nyai Puroni ia berkata, “Nyai, rawatlah gadis ini baik-baik.”

Nyai Puroni menganggukkan kepalanya, tetapi betapa hambar

perasaannya. Jawabnya, “Hamba Tuanku.”

Tunggul Ametung kemudian tidak berkata apapun lagi. Segera ia

melangkah meninggalkan ruang itu. Di muka pintu dilihatnya

seorang emban duduk bersimpuh dan menyembahnya ketika ia

lewat.

“Layani gadis itu seperti kau melayani aku,” perintah Tunggul

Ametung.

Emban itu menjadi heran. Dipandanginya wajah Akuwu sesaat,

namun kemudian jawabnya, “Hamba Tuanku.”

Tunggul Ametung itu pun kemudian pergi ke biliknya, kepada

seorang pelayan diperintahkannya memanggil Daksina.

“Hamba Tuanku,” sahut pelayan itu.

“Cepat. Ia harus datang sekarang membawa kitab yang paling

baik yang dikenalnya.”

“Hamba Tuanku,” sahut pelayan itu yang kemudian berlari-lari

pergi ke rumah Daksina di halaman belakang istana.

Sejenak kemudian Daksina datang sambil membawa Kidung yang

lagi dibacanya di rumahnya, Smaradahana.

“Ya, bacalah!” perintah Akuwu.

Dengan suaranya yang lembut Daksina kemudian membaca

lontar kidung Smaradahana.

Akuwu yang sedang dilanda oleh berbagai perasaan itu merasa

betapa hatinya menjadi penat. Suara Daksina itu seolah-olah

langsung menyentuh membelai seisi dadanya. perlahan-lahan

akuwu dapat mengendapkan kesibukan perasaannya, sehingga

sesaat kemudian Tunggul Ametung itu tertidur.

Ken Dedes yang kemudian ditinggalkan oleh Akuwu Tunggul

Ametung, masih saja meratapi nasibnya yang pahit. Ia tidak dapat

mengerti kenapa hal itu harus menimpa pada dirinya. Namun

sekejap-sekejap terngiang juga kata-kata Akuwu Tunggul Ametung

di telinganya. Terasa bahwa Tunggul Ametung telah mencoba

berkata setulus hatinya. Terasa bahwa Akuwu itu benar-benar telah

menumpahkan segenap perasaan yang tersimpan di dalam

dadanya. Bahkan kadang-kadang di telinga Ken Dedes itu masih

juga terulang-ulang kata-kata Tunggul Ametung, “Ken Dedes,

berkatalah. Apakah yang kau kehendaki dariku untuk menebus

kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu.

Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.”

Kemudian Tunggul Ametung itu berkata pula, “Ken Dedes, tak

ada yang lebih berharga yang ada padaku daripada itu. Sehingga

dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa yang ada padaku telah

aku sediakan untuk menebus kesalahanku.”

Ketika Ken Dedes kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya

Nyai Puroni duduk tepekur di sisi pembaringannya. Karena tidak ada

orang lain, maka kepada Nyai Puroni itulah Ken Dedes ingin

menceritakan dan menumpahkan segenap tekanan yang

menghimpit dadanya selama ini. Ketika dilihatnya Nyai Puroni masih

saja menundukkan wajahnya, maka perlahan-lahan terdengar Ken

Dedes itu memanggil, “Nyai.”

Nyai Puroni mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu sudah tidak

sebening ketika ia pertama-tama memasuki ruangan itu.

“Apa Ngger?” sahutnya.

“Apakah Nyai mengetahui maksud Akuwu Tunggu Ametung

dengan segenap kata-katanya itu?”

Nyai Puroni mengangkat keningnya. Kemudian sambil

mencibirkan bibirnya ia berkata, “Perkataan seorang laki-laki biasa.”

“Kenapa Nyai?” bertanya Ken Dedes.

Nyai Puroni tidak segera menjawab. Sekali dipandangnya wajah

gadis pedesaan itu.

“Memang cantik,” gumamnya di dalam hati. Tetapi tiba-tiba pula

merayap pada dinding jantungnya, perasaan iri hati atas nasib Ken

Dedes yang sangat baik itu. Telah berapa tahun ia mengabdikan diri

pada Akuwu Tunggul Ametung, namun tidak pernah ia menerima

limpahan kebaikan hati sepersepuluh dari yang diterima oleh Ken

Dedes. Sebagai seorang dukun, ia masih saja harus melakukan

pekerjaannya dengan keadaan yang sama seperti dua tiga tahun

yang lampau.

Kemenakannya, seorang gadis yang cantiknya menyamai bidadari

dan diabdikannya pula di istana ini, sejak ia menginjak gerbang

istana dua tahun yang lampau sampai saat ini masih saja tidak lebih

dari seorang emban juru makanan. Sekali-kali Akuwu Tunggul

Ametung memuji kepandaiannya memasak. Namun besok Akuwu

telah melupakannya pula. Sekarang tiba-tiba di istana itu hadir

seorang gadis desa, berkain lurik kasar, berkulit kehitam-hitaman

dibakar oleh terik matahari, namun langsung di tempatkan oleh

Akuwu di sentong tengen. Dan bahkan telinganya sendiri

mendengar betapa Tunggul Ametung telah mengucapkan suatu janji

yang tak ternilai.

Ketika dukun tua itu tidak segera menjawab, maka kembali Ken

Dedes bertanya, “Kenapa Nyai? Kenapa dengan seorang laki-laki

biasa?”

Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya,

“Kau masih terlalu muda Ngger. Kau belum tahu apa yang dikatakan

oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bukankah kau

mendengar bahwa Tunggul Ametung itu akan menyerahkan apa

saja yang ada padanya kepadamu? Nah, itulah suatu pertanda

bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu sedang mencoba merayumu.

Tetapi jangan kau harap bahwa kau akan dapat menjadi seorang

permaisuri yang benar-benar memiliki kekuasaan di Tumapel

melampaui kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.”

Ken Dedes memandang Nyai Puroni dengan heran. Ia mendengar

Akuwu berkata demikian kepadanya. Tetapi ia melihat perubahan

sikap, nada dan tekanan kata-kata Nyai Puroni.

Dan sebelum Ken Dedes berkata apapun, maka kembali Nyai

Puroni itu berkata, “Nah, karena itu jangan terlalu berbangga

dengan dirimu Ngger. Kau kini berani menyebut nama Akuwu

Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun. Mungkin kini Akuwu

masih dapat menahan kemarahannya karena keinginannya untuk

mendapat kesediaanmu. Tetapi nanti, apabila ibarat bunga,

madumu telah habis dihisapnya, maka kau akan dilemparkan ke

dalam parit.”

“Nyai,” potong Ken Dedes.

Nyai Puroni, dukun tua yang berwajah bening dan lembut itu

tiba-tiba tertawa. Suaranya bernada tinggi meskipun perlahanlahan.

Katanya, “Jangan takut. Itu adalah akibat biasa bagi seorang

gadis yang diingini oleh Tunggul Ametung. Pembaringan ini dapat

menjadi saksi. Berapa banyak gadis seperti Angger ini, yang mulamula

berbaring di sentong tengen akhirnya berkeliaran di sepanjang

jalan Tumapel. Ada di antara mereka yang menjadi gila dan ada

pula yang membunuh dirinya sendiri.”

“Nyai terlalu mengerikan.”

“Ya. Aku berkata sebenarnya.”

“Tetapi, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi

apapun di sini, apalagi seorang permaisuri.”

Nyai Puroni tersenyum. Senyumnya menjadi semakin

menakutkan. Wajahnya kini sama sekali berubah. Sinar matanya

yang lembut tiba-tiba kini seakan-akan membakar jantung Ken

Dedes. Katanya, “Oh, oh. Jangan mengelabui orang tua Ngger.

Adakah di dunia ini seseorang yang menolak kebahagiaan itu tanpa

mengetahui akibatnya?”

“Nyai,” bantah Ken Dedes, “bukankah Nyai melihat keadaanku

pada saat aku datang? Kalau aku benar-benar berkeinginan seperti

yang Nyai katakan, maka aku sekarang akan terbakar oleh

kegirangan tiada bandingnya.”

“Aku orang tua Ngger. Aku memang pernah melihat, seorang

gadis tanpa diminta pendapatnya, langsung dibawa oleh Akuwu.

Gadis itu menjadi ketakutan seperti Angger ini. Tetapi ketika

diketahuinya bahwa yang akan didapatnya adalah istana dan

kekuasaan atas Tumapel, maka dengan serta-merta ia

menerimanya. Tetapi akibatnya?”

“Oh,” Ken Dedes menutup wajahnya. Tetapi bagaimanapun juga

Ken Dedes bukan seorang yang sangat bodoh. Ia melihat pada saatsaat

Akuwu Tunggul Ametung datang bersama Kuda Sempana. Ia

melihat, bahwa Akuwu belum mengenal dirinya. Dan ia mengetahui

apa yang pernah dilakukan oleh Kuda Sempana atasnya. Karena itu

ia menjadi bimbang atas keterangan Nyai Puroni itu. Mungkin

Akuwu pernah berbuat demikian, namun kehadiran dirinya di

Tumapel bukan atas kehendak Tunggul Ametung, tetapi atas

kehendak Kuda Sempana. Meskipun demikian, Ken Dedes tidak

membantah lagi. Dibiarkannya Nyai Puroni berkata terus.

“ Nah Ngger. Terserah kepada Angger. Apakah Angger akan

menerima nasib seperti itu? Seperti gadis-gadis yang kemudian

membunuh diri atau berkeliaran sepanjang jalan karena terganggu

ingatannya.”

Ken Dedes menutupi wajahnya semakin rapat. Suara itu benarbenar

seperti suara hantu di tengah-tengah tanah perkuburan.

Nyai Puroni yang melihat Ken Dedes ketakutan, menjadi gembira.

Ia mengharap gadis itu menolak. Dengan demikian ia tidak harus

menyembah seorang gadis desa apabila ia benar diangkat menjadi

seorang permaisuri. Mungkin Nyai Puroni dapat mencari gadis-gadis

terhormat atau bahkan seorang gadis dari istana Kediri untuk

permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Bukan hanya seorang gadis

dari Panawijen.

Sebelum Akuwu berhasil mendapatkan seorang permaisuri, dapat

saja Tunggul Ametung mengambil satu atau dua orang selir. Kalau

berkenan di hati Akuwu, maka kemenakannya yang kini menjadi

juru makanan dapat juga diambilnya. Tetapi jangan gadis desa ini.

Gadis yang menjadi seorang selir pun kurang pantas meskipun

cantik.

Ketika kemudian Nyai Puroni masih saja menakut-nakuti, maka

akhirnya hati Ken Dedes menjadi tidak tahan lagi. Sahutnya, “Nyai,

bukankah Nyai telah mendengarnya sendiri, bahwa yang membawa

aku kemari adalah Kuda Sempana. Sama sekali bukan Akuwu

Tunggul Ametung. Apalagi atas persetujuanku.”

Nyai Puroni terdiam sesaat, sejak semula memang ia telah

menyangka bahwa semua itu adalah pokal Kuda Sempana. Bahkan

semula menaruh belas yang dalam kepada gadis yang malang itu.

Tetapi tiba-tiba perataan iri dan dengki telah menyala di dalam

hatinya, seolah-olah telah membakar hangus segala sifatnya. Sifat

seorang dukun yang pengasih dan berhati lembut. Harga dirinya

sebagai seorang perempuan istana menghadapi seorang gadis desa,

mendorongnya untuk menolak kehadiran Ken Dedes di dalam istana

Tumapel.

Setelah berdiam diri sejenak maka Nyai Puroni itu kemudian

menjawab, “Apapun sebabnya Ngger, namun kau sekarang telah

berada di sentong tengen ini. Kalau kau mau mendengar nasihatku,

jangan kau penuhi permintaan Akuwu. Meskipun dikatakannya

untuk menebus kesalahan dan apa saja. Kau harus dapat

membedakan. Seorang laki-laki berkata sungguh-sungguh atau

seorang laki-laki sedang merayu. Kalau benar Tunggul Ametung

akan menebus kesalahannya, dan segenap permintaanmu akan

dipenuhi, cobalah, mintalah kau dikembalikan ke rumahmu. Mintalah

tanah yang luas dan mintalah ternak dan iwen untuk bekal hidupmu

kelak. Mudah-mudahan kau akan menemukan suami yang baik

kelak dan kau akan dapat hidup dengan baik pula Ngger.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab

lagi. Kata-kata Nyai Puroni mempunyai pengaruh yang sangat aneh

di dalam dirinya. Ken Dedes, gadis desa yang manja, yang kurang

sekali memiliki pengalaman itu, ternyata dapat membedakan nada

dan tekanan kata-kata yang diucapkan oleh Tunggul Ametung dan

Nyai Puroni. Ia melihat kejujuran membayang di wajah akuwu yang

suram dan dalam. Tetapi di balik kata-kata Nyai Puroni terasa ada

yang kurang wajar. Orang tua yang baik dan lembut itu tiba-tiba

saja berubah menjadi seorang yang berlidah tajam. Tetapi Ken

Dedes sama sekali tidak segera dapat menarik kesimpulan dari

semua pembicaraan yang didengarnya.

Tetapi karena itu, maka ia terpaksa berpikir. Dengan demikian

maka ia tidak lagi tenggelam dalam arus perasaannya. Perasaan

duka dan hampir putus asa. Justru karena itu, maka tiba-tiba ia

mulai dengan pertimbangan-pertimbangan yang semakin lama

menjadi semakin bening. Ia mulai berpikir dan mempertimbangkan

semua peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atas dirinya, atas

keluarganya dan atas Wiraprana yang malang.

Ketika kemudian tebersit di dalam hatinya. bahwa segala akhir

dari peristiwa adalah terletak di tangan Yang Maha Agung, maka

Ken Dedes benar-benar dapat mengendapkan hatinya. Adalah

wewenang dari setiap orang untuk mempertimbangkan,

merencanakan dan mengusahakan jalan dan arah hidupnya. Namun

kadang-kadang yang Maha Agung berkehendak lain dari kehendak

orang itu sendiri. Namun yang berlaku itulah keadilan yang

sebenarnya yang dianugerahkan oleh Sumber Hidup manusia

kepada manusia. Sedang Yang Maha Agung itu pun pasti akan

mendengar setiap permohonan dari makhluk terkasihnya, sepanjang

permohonannya itu wajar menurut penilaian tertinggi, bukan

penilaian manusia. Itulah sebabnya maka manusia diwajibkan

berusaha, sebagai ungkapan kesungguhan atas permohonannya.

Beberapa saat kemudian Nyai Puroni masih saja memberikan

beberapa pendapat kepada Ken Dedes. Berbagai-bagai hal

dikemukakan dan diberikannya beberapa contoh yang dapat

menambah kecemasan hati gadis Panawijen itu. Namun kini Ken

Dedes sama sekali tidak menjawab. Satu patah kata pun tidak.

Sehingga akhirnya Nyai Puroni itu berhenti dengan sendirinya.

Namun dukun tua itu, sama sekali tidak dapat menangkap kesan

wajah Ken Dedes. Ia mengharap gadis itu ketakutan, dan nanti

apabila Tunggul Ametung datang kembali, maka ia akan minta

dikembalikan ke Panawijen, sesuai dengan janji akuwu, akan

memberi apa saja yang dimintanya.

Karena Ken Dedes sama sekali tidak menjawab semua katakatanya,

dan tidak segera dapat memberinya kesan atas semua

kata-katanya, maka Nyai Puroni itu menjadi kecewa. Meskipun

demikian ia mengharap bahwa gadis desa itu akan menuruti katakatanya.

Untuk memberinya waktu, maka Nyai Puroni itu pun

kemudian berkata, “Pikirkan nasihatku Ngger. Aku ingin Akuwu tidak

membuat korban-korban baru. Aku akan pergi ke belakang

sebentar. Biarlah emban di luar itu mengawasimu di sini. Tetapi

ingat, jangan kau katakan nasihatku kepada siapa pun, supaya kau

tidak terancam oleh kekerasan. Sebab Akuwu dapat merayumu

dengan kata-kata, namun dapat juga memaksamu dengan senjata.

Bukankah kau seorang gadis yang lemah? Nah, simpanlah nasihatku

dan pertimbangkanlah seorang diri.”

Kali ini Ken Dedes mengangguk sambil berkata, “Baik Nyai.”

Nyai Puroni itu pun kemudian berdiri dan melangkah keluar. Di

luar dijumpainya seorang emban duduk sambil mengantuk.

“He,” desis Nyai Puroni sambil menyentuh pundaknya.

Emban itu terkejut. “Ada apa Nyai,” sahutnya tergagap.

“Aku akan pergi sejenak. Tungguilah gadis itu. Jangan kau

ganggu dengan cerita-cerita yang aneh-aneh. Ia masih saja

mengigau. Mungkin ia masih dibayangi oleh ketakutan, sehingga

pertanyaannya sangat aneh.”

Emban yang masih menguap sekali dua kali itu mengangguk

sambil menjawab, “Baik Nyai. Dan sekarang Nyai akan pergi ke

mana?”

“Aku akan ke belakang sebentar.”

“Bukankah Nyai tidak pergi terlalu lama? Aku takut menunggui

gadis itu seorang diri. Kalau tiba-tiba ia pingsan kembali, maka aku

akan menjadi pingsan pula.”

“Tidak, aku tidak terlalu lama. Tetapi ingat. Gadis itu masih

dipengaruhi oleh ketakutan. Karena itu, jangan membantah

pertanyaannya. Biarkan saja apa yang dikatakan. Kau dengar?”

Meskipun emban itu tidak mengerti maksud Nyai Puroni namun ia

menganggukkan kepalanya, “Baik Nyai,” jawabnya.

“Pertanyaannya sangat aneh,” Nyai Puroni meneruskan, “tetapi

ingat-ingat, jangan dibantah, sebab ia akan menjadi kecewa dan

pingsan kembali. Ia mendendam Akuwu, sehingga ia menganggap

Akuwu terlalu jahat. Tetapi ingat, jangan dibantah.”

“Ya, ya,” sahut emban itu.

Nyai Puroni itu pun kemudian melangkah pergi. Menuruni tangga

di ruang dalam dan kemudian menyeberang serambi dan sampailah

ia ke halaman belakang.

Sepeninggal Nyai Puroni, emban yang ditinggalkan di muka pintu

pun segera melangkah masuk. Ditemuinya Ken Dedes berbaring di

pembaringan sambil mengusapi air matanya, namun gadis itu sudah

tidak menangis lagi.

Ketika dilihatnya seorang emban berjalan masuk ke bilik itu, Ken

Dedes bangkit dan menganggukkan kepalanya.

“Silakan berbaring, putri … eh …”

“Jangan panggil aku demikian. Aku adalah seorang gadis desa,

gadis Panawijen.”

“Bagaimana aku harus memanggil?”

“Panggil namaku, Ken Dedes. Siapakah namamu?”

“Oh,” emban itu menjadi gelisah. Katanya selanjutnya, “Namaku

Madri.”

“Madri,” ulang Ken Dedes, “nama yang bagus.”

Emban itu menjadi heran mendengar Ken Dedes memuji

namanya. Kesan yang dikatakan oleh Nyai Puroni sama sekali tak

ditemuinya pada wajah gadis Panawijen itu. Bahkan gadis itu

sempat menanyakan namanya dan memuji nama itu. Meskipun

demikian emban itu tidak berkata-kata untuk sejenak. Diletakkannya

tubuhnya di samping pembaringan Ken Dedes.

“Duduklah di sini Madri,” ajak Ken Dedes.

“Oh. Jangan. Jangan. Aku adalah seorang emban meskipun

namaku bagus.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Gadis emban ini menarik

perhatiannya. Agaknya gadis ini, gadis yang cukup jujur.

“Apakah emban tidak boleh di pembaringan ini?” bertanya Ken

Dedes.

“Tidak. Emban hanya boleh duduk di lantai.”

Kembali Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ditatapnya wajah emban yang menunduk itu. Kemudian

dipandanginya tubuhnya sendiri. Ternyata emban itu tampak lebih

bersih daripadanya. Kulitnya, pakaiannya dan rambutnya. Tetapi kini

Ken Dedes tidak mau lagi hanyut dalam arus perasaannya. Ia

mencoba untuk menghadapi setiap persoalan dengan akal

pikirannya.

Karena itu, meskipun ia melihat kekurangannya, namun ia tidak

segera merasa betapa kecil dirinya.

Setelah mereka terdiam sesaat, maka timbullah keinginan Ken

Dedes untuk mengetahui kebenaran kata-kata Nyai Puroni.

Meskipun semula ia menjadi ragu-ragu, namun kemudian terdengar

ia bertanya, “Emban, siapakah yang pernah berbaring di

pembaringan ini?”

Emban itu mengangkat wajahnya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu.

Teringat pula olehnya pesan Nyai Puroni untuk tidak membantah

setiap kata-kata gadis itu. Namun pertanyaan ini tidak berkesan

apa-apa baginya, bukan pertanyaan seorang yang ketakutan dan

akan jatuh pingsan. Karena itu maka dijawabnya. “Belum ada.

Belum pernah ada seorang pun yang dibaringkan di pembaringan

ini.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Pada pertanyaannya yang

pertama ia telah semakin meragukan kebenaran keterangan Nyai

Puroni. Karena itu, maka ia bertanya pula, “Madri, sentong apakah

ini namanya. Begitu baiknya, penuh dengan ukiran dan perhiasanperhiasan.”

“Sentong ini adalah sentong yang selama ini selalu kosong.

Sentong ini disediakan untuk permaisuri.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban itu. Kalau

demikian apakah maksud Tunggul Ametung sebenarnya? Kenapa ia

di tempatkan di sentong ini sejak permulaan?

Kembali Ken Dedes bertanya kepada emban yang muda itu,

“Kenapa bukan kau Madri? Kenapa bukan kau yang cantik itu

dibaringkan di pembaringan ini?”

“Ah,” desah Madri sambil menggigit ujung kainnya. Tetapi ia

tidak menjawab.

“Jadi Akuwu Tunggul Ametung belum pernah bepermaisuri?”

“Belum. Belum,” jawab emban itu.

“Belum berselir?”

“Belum, belum.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia ingin

mencoba bertanya. Kali ini Ken Dedes ingin mengetahui, kenapa

Nyai Puroni tidak memberi gadis itu pesan, agar ia berbohong pula

kepadanya. Katanya, “Tetapi Madri. Aku pernah mendengar bahwa

Akuwu Tunggul Ametung pernah beberapa kali mengambil gadisgadis

dan kemudian segeralah tidak dipakainya lagi, maka gadisgadis

itu dibuangkannya ke tepi-tepi jalan? Begitu?”

Madri terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian

teringatlah ia akan pesan Nyai Puroni supaya ia mengiakan semua

pertanyaan gadis yang sedang mendendam itu, supaya gadis itu

tidak gusar dan pingsan kembali. Tetapi sebenarnya Madri bukanlah

gadis yang terlalu bodoh. Bahkan ia mempunyai otak yang cukup

baik, apalagi emban itu adalah emban yang jujur. Meskipun

demikian ia tidak berani menolak pesan Nyai Puroni. Seandainya

terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada gadis itu, maka pasti

dirinyalah yang akan dipersalahkan. Namun emban itu masih ingin

bertanya kepada Ken Dedes katanya, “Dari manakah berita itu?”

Ken Dedes menggeleng, “Tidak dari seorang pun di sini.”

Emban itu mengerutkan keningnya. Sekali ditatapnya wajah Ken

Dedes. Namun pada wajah itu sama sekali tidak dilihatnya kesan

yang dikatakan oleh Nyai Puroni kepadanya, kesan bahwa gadis itu

sedang dalam ketakutan dan mendendam.

“Bagaimana Madri?” bertanya Ken Dedes itu pula.

Madri menjadi ragu-ragu. Ia tidak dapat menduga maksud Nyai

Puroni yang sebenarnya. Tetapi kembali ia merasa takut untuk

melanggar pesan itu. Karena itu, meskipun sama sekali tidak

memancar dari lubuk hatinya ia menjawab ragu-ragu, “Ya. ya Tuan

…”

“Panggil namaku, Ken Dedes,” sahut Ken Dedes.

“Ya, demikianlah.”

“Jadi pendengaranku itu benar?”

Emban itu mengangguk penuh kebimbangan, “Ya. Ya benar.”

Tetapi Ken Dedes menjadi semakin tidak yakin akan jawaban itu.

Maka desaknya, “Jadi, adakah seandainya pembaringan ini dapat

mendengar, maka ia akan mendengar banyak sekali keluhan gadisgadis

korban Akuwu Tunggul Ametung itu, dan seandainya ia dapat

bercerita maka akan banyak sekali cerita sedih yang dapat diberikan

kepada kita, Madri.”

Madri menjadi semakin bimbang. Namun kembali ia

mengangguk, tetapi sama sekali tidak meyakinkan, “Ya.

Demikianlah.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah menemukan

keyakinan, bahwa Nyai Puroni tidak berkata sebenarnya, dan emban

yang jujur itu pun telah mencoba untuk membohonginya.

Meskipun demikian Ken Dedes tidak menanyakan kepada Madri,

manakah yang benar menurut kata-kata emban itu sendiri, bahwa

pembaringan ini masih belum pernah dipergunakan, atau

pembaringan ini telah menyimpan banyak sekali kisah pahit dari

gadisi yang kemudian dilemparkan begitu saja di tepi-tepi jalan.

Namun emban itu agaknya telah merasa kejanggalan jawabnya

sendiri. Berkali-kali ia menelan ludahnya. Ingin ia, memberikan

beberapa penjelasan. Tetapi suaranya seakan-akan tersumbat di

kerongkongan. Sehingga karena itu, maka tubuhnya menjadi basah

oleh keringat dingin yang mengalir dari seluruh lubang-lubang

kulitnya. Dadanya terasa seolah-olah bergelora, karena detik

jantungnya yang semakin cepat, namun di dalam kepalanya sempat

ia membuat perhitungan-perhitungan.

“Tak seorang pun pernah mengatakan seperti berita yang pernah

didengar gadis itu,” desisnya di dalam hati, “sanak kadang ku yang

tinggal di desa-desa dan yang tinggal di dalam kota ini sekalipun,

tidak pernah ada yang menyebut-nyebut tentang cerita semacam

itu. Dan tidak pernah pula mendengar dari seorang pun bahwa

Akuwu pernah mengambil seorang gadis dan mengorbankan gadis

itu dengan amat kejinya. Apalagi melihat. Tidak, Akuwu tidak

pernah berbuat demikian, dan tak ada seorang pun yang pernah

memfitnahkan demikian.”

Tetapi emban itu tiba-tiba mengerutkan lehernya. Serasa seluruh

bulu-bulunya tegak berdiri, ketika ia sampai pada kesimpulan yang

ditemui oleh gadis ini pertama-tama adalah Nyai Puroni. Apakah

orang tua itulah yang telah membuat cerita yang mengerikan itu?

Emban itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Bukan Nyai Puroni.

Orang itu tidak mempunyai kepentingan apapun dengan Ken Dedes

maupun Akuwu Tunggul Ametung,” desisnya di dalam hati, “tetapi

siapa? Atau benar seperti yang dikatakan oleh Nyai Puroni, bahwa

Ken Dedes selalu dikejar-kejar oleh perasaan takut dan dendam,

sehingga dikarangnya sendiri cerita semacam itu atau

dibayangkannya, bahwa sebelum dirinya sendiri, banyak gadis-gadis

yang mengalami bencana semacam itu? Tetapi wajah gadis itu

sedemikian tenangnya.”

Emban itu menjadi bingung sendiri. Tetapi kemudian ia menarik

nafas dalam-dalam, “Ah, apa peduliku? Dengan berpusing-pusing

tentang gadis ini gajiku belum pasti akan mendapat kenaikan.

Biarlah aku melakukan pekerjaanku seperti yang diperintahkan.”

Tetapi emban itu terkejut ketika Ken Dedes berkata, “Jadi cerita

itu benar-benar telah terjadi, Madri?”

“Ya,” jawab emban itu singkat.

“Tetapi kenapa kau tidak takut menghambakan dirimu di istana

ini? Kau terlalu cantik Madri. Jauh lebih cantik dari setiap gadis yang

pernah aku jumpai. Apalagi kau masih muda dan sehat. Apakah

senyummu itu tidak sangat berbahaya bagimu?”

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu maka

emban itu pun menundukkan wajahnya yang menjadi kemerahmerahan.

Ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab

pertanyaan itu, namun ia menjadi malu atas pujian yang berlebihlebihan.

karena itu, maka Madri itu pun sama sekali tidak

menjawab.

Ken Dedes pun tidak mendesaknya pula. Ia telah menemukan

keyakinan. Dan karena ini ia menjadi senang. Gadis Panawijen itu

ternyata menjadi heran sendiri atas ketenangan yang menyelimuti

jiwanya. Pasrah diri pada sumber hidupnya, dan agaknya peristiwa

yang telah mengguncangkan jiwa dan raganya ini, benar-benar

telah mengguncangkan segala macam sifat kekanak-kanakan dan

kemanjaannya. Dalam beberapa hari, Ken Dedes telah benar-benar

berubah menjadi seorang gadis dewasa. Kejutan atas perasaannya

telah mempercepat dan mematangkan jiwanya. Sehingga karena itu

pula, ia mampu kini berpikir dalam alam kedewasaannya.

Karena itulah, maka ia tidak ingin membuat emban itu bertambah

bingung. Dikisarkannya pembicaraannya ke segi-segi yang sama

sekali jauh menghindar dari persoalan-persoalan dirinya.

“Madri, emban yang manis,” berkata Ken Dedes, “sudah berapa

lamakah kau berada di dalam istana ini?”

Mendengar pertanyaan itu dada Madri berdesir. Dijawabnya

sambil menundukkan kepalanya, “Hampir dua tahun, Tuan.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

sambungnya, “Jadi kau sudah melihat hampir segenap sudut istana

bukan?”

Madri mengangguk.

“Kau pernah melihat, di mana seisi istana ini harus mandi?”

Madri kini mengangkat wajahnya, “Ya,” sahutnya.

“Madri, sudah dua hari aku tidak menyentuh air.”

Emban itu menarik keningnya. Dua hari terpisah dengan air bagi

seorang perempuan adalah cukup lama. Seandainya Ken Dedes

dalam dua hari itu tidak sedang dilanda oleh berbagai keguncangan

maka yang dua hari itu pasti benar-benar memusingkan kepalanya

untuk menyentuh air.

“Jadi apakah Tuan akan mandi?” bertanya emban itu.

“Panggil namaku, Ken Dedes.”

“Ya,” sahut Madri dengan kaku, “apakah Tuan akan mandi?”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya

kehadirannya di ruangan ini sangat berpengaruh baginya sehingga

emban itu tidak berani menyebut namanya. Tetapi Ken Dedes tidak

ingin memperbincangkannya lebih banyak. Karena itu jawabnya,

“Aku ingin mencuci muka dan tanganku.”

Madri dapat mengerti, bahwa Ken Dedes benar-benar

memerlukan air. Tetapi apakah ia dapat mengantarkan gadis itu ke

belakang? Apakah dengan demikian ia tidak bersalah, dan

bagaimanakah seandainya gadis itu melarikan diri?

Madri benar-benar menjadi bingung, sehingga untuk sejenak ia

tidak dapat menjawab.

“Bagaimana Madri?”

“Ya Tuan, tetapi apakah Tuan dapat menunggu Nyai Puroni?”

“Kenapa aku harus menunggu?”

Kembali emban itu menjadi bingung. Sekali-kali dijenguknya bilik

pintu itu, dan sambil berdesis ia menunggu Nyai Puroni.

“Siapa yang kau tunggu?” bertanya Ken Dedes itu tiba-tiba.

“Nyai Puroni, Tuan,” sahut Madri.

“Aku tidak perlu menunggunya. Marilah antarkan aku ke

belakang.”

“Ya, ya. Tetapi …. “ emban itu tidak meneruskan kata-katanya.

Ken Dedes melihat keragu-raguan itu. Akhirnya ia pun dapat

memahami kesulitan Madri. Karena itu maka kemudian katanya,

“Baiklah aku menunggu Nyai Puroni.”

Madri menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjadi gelisah.

Demikian gelisahnya, sehingga ia berkata, “Aku akan keluar

sebentar Tuan, menjenguk apakah Nyai Puroni ada di emper

belakang.”

Ken Dedes mengangguk, “Pergilah. Cepat kembali, aku tidak

tahan lagi.”

Emban itu berlari-lari keluar. Ketika ia menjenguk ke serambi

belakang, alangkah terkejutnya. Yang mondar-mandir di serambi

adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu segera berjongkok

sujud menyembah.

“Apa?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

Pertanyaan itu benar-benar membingungkan. Sehingga emban

itu menjadi tergagap karenanya.

“Mau ke mana?” bertanya Akuwu itu pula.

“Ampun Tuanku, hamba akan mencari Nyai Puroni.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. “Ke mana Nyai

Puroni.”

“Ke belakang Tuanku.”

“Kau tinggalkan gadis itu sendiri?”

“Ampun Tuanku, gadis itu akan pergi ke belakang. Hamba takut

mengantarkannya sebelum hamba minta izin dahulu kepada Nyai

Puroni.”

“Kenapa minta izin Nyai Puroni?”

Kembali emban itu menjadi bingung. Ia tidak tahu, bagaimana

menjawab pertanyaan akuwu itu, sehingga emban itu pun

menundukkan wajahnya yang pucat.

“Nah, antarkan gadis itu sekarang.”

“Hamba Tuanku,” sahut emban itu sambil menyembah.

Kemudian sambil berjongkok ia beringsut kembali masuk ke dalam

bilik kanan di ruang dalam.

Ken Dedes itu pun segera diberitahukannya, bahwa akuwu

sendiri telah mengizinkannya untuk pergi.

“Apakah aku seorang tawanan Madri?” bertanya Ken Dedes.

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduga-duga. Sekali lagi ia

dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak dimengerti

jawabnya. Kali ini Madri itu menjawab dengan jujur, “Tuan, aku

adalah seorang emban, sehingga tidak banyaklah yang aku ketahui

tentang diri Tuan. Bahkan tentang diriku sendiri di dalam istana ini.”

Ken Dedes tersenyum. Ditepuknya bahu emban itu sambil

berkata, “Kau jujur Madri.”

Ken Dedes itu pun kemudian mengikuti Madri berjalan lewat

pintu samping, menyeberangi serambi jauh di ujung untuk

menghindari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi tiba-tiba mereka

terkejut ketika mereka mendengar tepuk tangan. Ketika mereka

berpaling, mereka melihat akuwu berjalan bergegas-gegas kepada

mereka, sehingga dengan serta-merta emban itu pun menjatuhkan

diri berjongkok sambil menyembah. Ken Dedes yang sudah

menemukan ketenangannya pun segera berjongkok pula di

belakang Madri.

Tetapi terdengar Tunggul Ametung berkata dari tempat yang

masih agak jauh, “Berdirilah. Berdirilah.”

Madri menjadi bingung. Kenapa ia harus berdiri. Ketika ia

mencoba memandang Akuwu, dilihatnya tangannya memberi isyarat

untuk berdiri.

Dengan ketakutan Madri perlahan-lahan berdiri. Terasa kakinya

menjadi gemetar. Tetapi kembali ia membanting dirinya ketika ia

mendengar Akuwu berkata lantang, “Bukan kau emban yang bodoh!

Bukan kau yang harus berdiri!”

Madri menjadi semakin gemetar. Terasa seolah-olah ubunubunnya

telah terbuka. Karena itu, segera ia menyembah sambil

berkata gemetar, “Ampun Tuanku. Ampun. Hamba menjadi sangat

bingung.”

Ternyata Akuwu sama sekali tidak memedulikannya. Sekali lagi ia

berkata kepada Ken Dedes, “Berdirilah.”

“Terima kasih Tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba tidak dapat

melakukannya di hadapan Tuanku.”

“Hem,” Tunggul Ametung menggeram. Perubahan sikap Ken

Dedes itu menjadikan kepalanya semakin pening, dan wajah Ken

Dedes itu baginya semakin mempesona.

Karena itu, maka untuk sesaat Akuwu Tunggul Ametung terpaku

diam seperti patung. Sedang Madri masih saja duduk dengan

gemetar. Pandangan matanya menghunjam dalam-dalam ke ujung

kaki Tunggul Ametung yang kemudian berdiri di mukanya.

Baru sejenak kemudian Akuwu itu berkata, “Nah, antarkanlah

Ken Dedes ke pakiwan.”

“Hamba Tuanku,” sembah Madri.

Maka setelah menyembah keduanya pun lalu bergeser surut, dan

kemudian menuruni tangga serambi istana menuju halaman

belakang.

Tiba-tiba mereka terhenti ketika mereka mendengar Akuwu

bertanya, “He, mau ke mana?”

Madri benar-benar tidak mengerti. Akuwu Tunggul Ametung itu

kini benar-benar seperti orang yang tidak punya pekerjaan lain

daripada mengawasi mereka. Apakah akuwu itu sekarang memang

sudah kehilangan semua gairahnya untuk melakukan pekerjaannya

yang lain daripada mengurusi pakiwan?

Namun Madri menyembah, “Hamba akan mengantarkan gadis ini

ke pakiwan.”

“Kenapa ke sana?”

Madri benar-benar menjadi bingung. Hampir dua tahun ia

menghambakan diri di istana. Tetapi ia belum pernah mengalami

kebingungan seperti ini. Sehingga karena itu ia tidak mampu untuk

menjawab.

“Emban,” teriak Tunggul Ametung keras-keras.

Tetapi emban itu sudah terlalu biasa mendengarnya. Meskipun ia

masih juga gemetar tetapi ia tidak sedemikian terkejut seperti Ken

Dedes.

“Hamba Tuanku,” sahut emban itu.

“Apakah kau gila. Bukankah pakiwan dalam ada di ujung serambi

ini. Kenapa kau bawa gadis itu ke halaman belakang?”

Sekali ini dada Madri berdesir kembali. Pakiwan dalam adalah

bilik mandi khusus untuk Akuwu Tunggul Ametung. Sekarang ia

mendapat perintah untuk membawa Ken Dedes ke bilik itu. Dengan

demikian maka kepala emban itu seakan-akan benar-benar akan

terlepas dari lehernya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain dari menurut perintah itu.

Setelah ia menyembah sambil membungkuk dalam-dalam, maka

berbisiklah emban itu kepada Ken Dedes, “Marilah Tuan, Tuan

diperkenankan mempergunakan bilik mandi di ujung serambi itu.”

Ken Dedes tidak menjawab. Ia tidak tahu bedanya pakiwan yang

manapun. Karena itu ia mengikuti Madri di belakangnya menyusur

serambi belakang menuju ke pakiwan yang disebut pakiwan dalam.

Sekali dua kali Madri ini berpaling ketika tidak dilihatnya lagi Akuwu

Tunggul Ametung, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kenapa Akuwu marah?” bertanya Ken Dedes.

“Tidak,” sahut Madri, “Akuwu tidak marah. Adalah menjadi

kebiasaannya untuk berteriak-teriak dan memaki.”

Ken Dedes menarik nafas pula. Ia sejak saat itu harus

membinasakan diri mendengar Akuwu Tunggul Ametung berteriakteriak

dan memaki-maki.

Mereka sekali lagi terhenti ketika mereka mendengar seseorang

memanggil, “Madri! Madri!”

Serentak mereka berpaling, dan mereka melihat Nyai Puroni

berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.

“Akan ke manakah kalian?” bertanya Nyai Puroni itu.

“Aku akan mengantarnya ke pakiwan, Nyai.”

“Kenapa ke sana?”

“Ke pakiwan dalam.”

“He?” Nyai Puroni terkejut sehingga wajahnya menjadi merah,

“apakah kau sudah gila emban?”

Emban itu memandangi wajah Nyai Puroni yang kemerahmerahan.

Sekali lagi ia dihadapkan pada persoalan yang dapat

merontokkan rambutnya. Namun demikian emban itu menjawab,

“Nyai, Akuwu sendiri memerintahkan aku mengantarkannya ke

sana.”

“Bohong!” sahut Nyai Puroni, yang kemudian berkata kepada Ken

Dedes, “Jangan berbuat hal-hal yang dapat merugikan dirimu sendiri

Ngger. Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Aku kasihan

kepadamu. Betapa kau mengalami guncangan-guncangan yang

dahsyat. Mungkin kau sedang ketakutan dan mendendam, atau

mungkin kau ingin menunjukkan bahwa kau tidak mau dihinakan,

namun jangan melampaui batas-batas kesopanan. Betapapun buruk

perangainya, namun Akuwu Tunggul Ametung memiliki kekuasaan

yang tiada taranya di Tumapel.”

Ken Dedes pun kemudian menjadi bingung. Ia belum pernah

tinggal di dalam istana. Bahkan melihat bagian dalamnya pun baru

kali ini. Alangkah sulitnya hidup di istana. Soal pakiwan saja telah

membuatnya pening. Dalam kebingungannya Ken Dedes itu

bertanya kepada Madri, “Madri, aku sama sekali tidak mengerti apa

yang sebaiknya aku lakukan.”

Emban itu menggeleng lemah, “Jangankan Tuan. Aku pun rasarasanya

benar-benar menjadi gila.”

“Kalau kau tidak berbuat aneh-aneh emban, maka kau tidak

akan menjumpai persoalan-persoalan yang membuatmu menjadi

bingung. Nah, antarkan Angger Ken Dedes ini ke belakang, ke

halaman belakang.”

“Aku sudah akan membawanya ke sana, Nyai, tetapi Akuwu

Tunggul Ametung membuat perintah lain. Aku harus membawanya

kemari.”

Nyai Puroni tertawa. Katanya, “Kau benar-benar telah menjadi

gila emban. Kau merasakan hal-hal yang tidak pernah dan tidak

mungkin terjadi.”

“Ah,” desah Ken Dedes kemudian, “aku hanya ingin

mendapatkan air. Ke manapun aku dibawa, bukan soal bagiku.

Janganlah terlalu dirisaukan ke mana aku dibawa. Aku perlu air.”

Tetapi Ken Dedes itu pun terkejut ketika ia melihat Madri

menangis. Betapa ia menahan diri, namun air matanya meleleh juga

di pipinya. Desahnya, “Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan.

Aku tidak berani melawan perintah Akuwu. Kepalaku akan

dipancungnya nanti.”

Nyai Puroni memandangi wajah Madri dengan kemarahan yang

memancar dari kedua matanya. Ketika ia melihat Madri menangis

maka katanya, “He, emban cengeng! Kenapa kau menangis?”

Madri tidak menjawab. Bahkan air matanya semakin banyak

meleleh di pipinya.

Namun yang menjawab adalah Ken Dedes, “Nyai, aku pun

mendengar pula perintah Akuwu itu. Aku diperintahkannya dibawa

ke pakiwan dalam.”

“He?” Nyai Puroni menjadi semakin marah, “Ngger kau belum

seorang permaisuri. Kau masih harus mengikuti adat dan peraturan

yang berlaku di sini.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah

hubungan antara permaisuri dan pakiwan itu?”

“Hem,” geram dukun tua itu. Namun di dalam hatinya ia

mengumpat, “pantaslah gadis desa yang bodoh. Kau tidak tahu

perbedaan penggunaan bangunan-bangunan di dalam istana ini.”

“Nini,” jawab Nyai Puroni itu kemudian, “pakiwan itu adalah

pakiwan khusus untuk Akuwu dan sudah tentu permaisurinya

kelak.”

“Oh,” Ken Dedes berdesah, “kalau demikian Madri, bawa aku ke

belakang.”

“Akuwu akan murka kepadaku.”

“Biarlah aku menanggung kesalahan itu,” sahut Ken Dedes.

Madri tidak menjawab. Dengan ragu-ragu ia berjalan ke

belakang. Ketika mereka berpaling dilihatnya Nyai Puroni berdiri

mengawasi mereka sambil tertawa. Suara tertawanya sedemikian

anehnya sehingga emban itu hampir-hampir tak mengenal bahwa

suara itu adalah suara Nyai Puroni.

Ken Dedes berjalan sambil menundukkan kepalanya. Mudahmudahan

Akuwu tidak melihat mereka lagi. Sehingga Madri akan

mengalami kesulitan pula.

Dan ternyata kemudian, bahwa Akuwu benar-benar tidak melihat

mereka lagi di halaman belakang. Karena Akuwu kemudian masuk

ke dalam biliknya.

Yang kemudian terpancang di dalam hati Ken Dedes, bukanlah

tentang pakiwan itu lagi. Meskipun soalnya adalah soal pakiwan,

namun gadis itu ternyata mampu mengurangi persoalannya lebih

jauh. Apakah keberatan Nyai Puroni tentang kesempatan yang

diberikan oleh Akuwu kepadanya? Ken Dedes yang telah didorong

ke dalam suatu dunia yang lain dari dunianya, dunia kekanakkanakan,

kemanjaan dan lingkungan padepokan yang sepi ke dalam

dunia yang penuh dengan keguncangan, dunia yang memerlukan

akal dan pikirannya untuk mengimbangi perasaannya, maka

mulailah ia mencoba menghubung-hubungkan. Semua keteranganketerangan

yang didengarnya dari Akuwu Tunggul Ametung dari

Nyai Puroni dan dari Madri. perlahan-lahan ia mulai menemukan

beberapa kesimpulan yang mantap. Dirasakannya nada penyesalan

yang terungkapkan dalam setiap kata Akuwu Tumapel, perubahan

sikap dan kekasaran Nyai Puroni dan kejujuran Madri yang selalu

diliputi oleh kebingungan, ketakutan dan kecemasan.

Ketika Ken Dedes telah kembali ke biliknya, maka segera ia

membaringkan dirinya di pembaringan sentong tengen, seakan-akan

pembaringan itu adalah pembaringan yang memang tersedia

untuknya. Dengan tenang ia berkata kepada Madri dan Nyai Puroni,

“Nyai, aku akan beristirahat.”

Nyai Puroni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab.

Dibiarkannya Ken Dedes berbaring dan dibiarkannya emban yang

mengawaninya pergi keluar. Ia sendiri duduk bersimpuh di lantai

bersandar dinding.

Dalam pada itu, Ken Dedes masih juga menganyam anganangannya.

Hilir mudik kembali ke dalam rongga kenangannya. Kuda

Sempana, Wiraprana yang malang, Mahisa Agni, kemudian Tunggul

Ametung, Nyai Puroni, Madri dan seorang emban tua yang

merawatnya sejak ia masih kecil dan kini ditinggalkannya di

Panawijen.

Tetapi Ken Dedes kini berada di dalam bilik itu seorang diri. Ia

tidak dapat minta pertimbangan kepada siapa pun setelah ia

menyadari, bahwa Nyai Puroni ternyata tidak jujur menghadapinya.

Namun terasa sesuatu merayapi dinding hatinya. Terasa seolaholah

Nyai Puroni telah menghinakannya. Ia hanya seorang gadis

desa. Terngiang kembali bentakan orang tua itu dalam nada

penghinaan, “Ngger, kau belum seorang permaisuri.”

Alangkah sakit hatinya. Ia sendiri tidak pernah bermimpi untuk

menjadi permaisuri. Ia sudah puas apabila ia dapat hidup rukun

dengan pemuda sedesanya, Wiraprana. Namun Wiraprana itu telah

mati. Dan akalnya mengatakan kepadanya, bahwa yang mati itu tak

akan hidup kembali.

“Alangkah pahit hidupku ini,” desahnya di dalam hati. Namun

terasa sesuatu yang merayap di dinding hatinya itu datang kembali.

Lamat-lamat, namun semakin lama semakin kuat. Ken Dedes

menggeleng lemah. Ia mencoba membunuh perasaan itu. Tetapi

setiap kali ia menyingkirkannya dari dinding hatinya, setiap kali

perasaan itu datang kembali. Dan perasaan itu berkata kepadanya,

”Ken Dedes, apakah kau menerima hinaan itu? Tidakkah kau ingin

membuktikan bahwa kau bukan seorang gadis yang hina-dina.

Bahwa kau benar-benar mampu menjadi seorang permaisuri. Ken

Dedes, kau akan dapat melawan hinaan itu tanpa membantah katakata

itu, dan kau dapat menunjukkan kepada Kuda Sempana,

bahwa anak yang kasar itu tidak cukup bernilai bagimu.”

Ken Dedes memejamkan matanya. Ia ngeri mendengar suara

perasaannya sendiri. Kembali ia mencoba memutar nalarnya.

Apakah hal itu dapat dilakukannya. Namun ternyata nalarnya

memperkuat perasaan itu. Harga diri dan kemarahannya yang tiada

taranya kepada Kuda Sempana, sehingga tanpa disadarinya,

tumbuhlah dendam di dalam hatinya. Dan dendamnya itu pun

merupakan salah satu unsur yang mendorongnya untuk mengambil

sikap untuk menempatkan dirinya, tidak lagi sebagai seorang gadis

yang malang, yang mengeluh akan nasibnya, yang selalu disaput

oleh kepedihan. Ken Dedes itu kemudian menelungkupkan

wajahnya ketika ia mendengar lagi hatinya berkata, “Wiraprana

telah mati. Karena itu maka aku tidak mengkhianatinya. Sebab yang

mati tidak akan hidup kembali.”

Beberapa lama Ken Dedes bergulat dengan perasaan sendiri.

Berbagai pertimbangan datang dan pergi. Berbagai masalah hilir

mudik di dalam rongga dadanya.

Dada Ken Dedes itu pun seakan-akan hampir meledak

karenanya. Ia tidak dapat melupakan Wiraprana. Cintanya kepada

pemuda itu adalah cinta yang kudus. Namun ia tahu pasti bahwa

Wiraprana itu sudah tidak ada lagi.

Nyai Puroni yang duduk bersandar dinding, memandangi Ken

Dedes dengan senyum di bibirnya. Terasa bahwa ia akan berhasil

mengurungkan niat Akuwu Tunggul Ametung dengan menakutnakuti

gadis ini. Karena itu maka dibiarkannya Ken Dedes bergulat

dengan angan-angannya sendiri. Tetapi sama sekali tidak disangkasangka

bahwa Ken Dedes sama sekali tidak berpikir tentang

kemungkinan-kemungkinan yang pedih bagi dirinya. Ia sudah

menemukan keyakinan, bahwa cerita Nyai Puroni, sama sekali tidak

dapat dipercaya. Dan karena itu maka cerita itu tidak perlu

dipikirkannya. Yang menjadi persoalan di dalam diri Ken Dedes kini

adalah, bagaimana ia dapat membebaskan dirinya dari himpitan

perasaan yang selalu mengejarnya. Sebenarnyalah bahwa hilangnya

Wiraprana benar-benar telah mengguncangkan perasaannya. Bahwa

cintanya yang tumbuh telah direnggut patah dari dahannya.

Tanpa mereka sadari, maka waktu pun berjalan terus. Lambatlambat

namun pasti, merayap dari saat ke saat. Di langit matahari

mengapung dengan lambatnya, seperti seorang perantau yang lesu

menghadapi hari-hari mendatang yang kelam. Namun ia berjalan

terus. Beredar menurut garis edarnya. Seperti saat-saat yang

pernah dilampauinya. Dari timur ke barat, dan bergeser dari utara

ke selatan dan dari selatan ke utara dalam lintasan tahun ke tahun.

Ketika ruangan sentong tengen itu kemudian berangsur menjadi

gelap, maka seorang emban telah memasang lampu minyak dan

menggantungkannya pada sebuah gantungan yang indah. Nyalanya

yang kemerah-merahan memancar menerangi seluruh ruangan.

Ketika emban itu pergi, maka Nyai Puroni berkata kepada Ken

Dedes yang masih terbaring di pembaringan itu dengan kepala yang

semakin pening.

“Nini, baiklah aku pergi ke belakang. Tinggallah bersama emban

yang bernama Madri itu sebentar. Kalau kau ingin membersihkan

dirimu pula Nini, pergilah ke pakiwan belakang. Jangan terlalu

bangga bahwa kau telah dibaringkan di sentong ini.”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Sesaat ia memandangi wajah

orang tua. Wajah yang telah berubah tidak lagi seperti saat ia

pertama-tama melihatnya. Senyumnya kini tidak lagi sesejuk

senyumnya kemarin. Tetapi senyumnya kini terasa menusuk sampai

ke pusat jantung. Alangkah pedihnya. Meskipun demikian Ken

Dedes menjawab, “Baik Nyai. Aku tidak ingin pergi ke pakiwan.”

Nyai Puroni tidak menjawab. Tetapi ia tertawa dengan nada yang

tinggi. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan sekali lagi ia menarik

nafas dalam-dalam ketika ia melihat Madri duduk terkantuk-kantuk

di muka pintu.

“Madri,” tegurnya, “tak ada yang pernah kau lakukan selain

menguap dan mengantuk.”

(bersambung )

Jilid 12

EMBAN ITU TERKEJUT. Tersentak ia mengangkat wajahnya dan

dilihatnya Nyai Puroni berdiri di sampingnya.

“Aku akan ke belakang sebentar emban,” berkata Nyai Puroni,

“tunggulah kau di dalam, mengawani Angger Ken Dedes. Tetapi

ingat semua pesan-pesanku.”

“Baik Nyai,” sahut Madri yang kemudian melangkah memasuki

sentong tengen mengawani Ken Dedes.

Dalam pada itu, di ruang yang lain Akuwu Tunggul Ametung

sudah siap menerima Witantra dan Ken Arok. Ketika kemudian

seorang pelayan menyampaikan kepada Tunggul Ametung bahwa

kedua orang itu telah berada di halaman belakang, maka segera

mereka berdua dipanggilnya menghadap.

Setelah ditanyakan oleh Akuwu Tunggul Ametung berbagai hal

mengenai keselamatan mereka sebagai adat kebiasaan, maka

kemudian bertanyalah Tunggul Ametung kepada Witantra, “Witantra

bagaimanakah keadaanmu? Apakah kau tidak mendapat cedera

apapun mengalami benturan kekuatan aji Kuda Sempana?”

“Tidak Akuwu. Hamba tidak mengalami sesuatu, Meskipun

hamba kemudian menjadi lemah. Apalagi ketika Adi Kuda Sempana

menghantam dada hamba dengan sebuah tendangan yang keras, di

mana hamba sama sekali tidak menyangka.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kemudian sambil

mengangguk-angguk ia berkata, “Aji Kala Bama adalah aji yang

dahsyat. Tetapi kau berhasil memunahkannya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ternyata aji yang

dipergunakan oleh Kuda Sempana itulah aji Kala Bama yang pernah

didengar namanya. Untunglah bahwa ia telah memiliki perisai untuk

melawannya. Aji Bajra Pati.

Yang terdengar kemudian Akuwu Tunggul Ametung meneruskan,

“Aku sangat berterima kasih kepadamu Witantra. Kau tentu akan

menerima hadiah yang pantas untuk segenap jasa-jasa itu.”

Witantra menundukkan wajahnya, jawabnya perlahan, “Tuanku.

Adalah jauh dari pamrih tentang hadiah atau kesempatan apapun

yang akan Tuanku limpahkan kepada hamba. Tetapi hamba hanya

sekedar melakukan tugas hamba.”

“Kau telah berbuat melampaui tugas keprajuritanmu Witantra.”

“Mungkin Tuanku, tetapi belum memadai tugas kemanusiaanku.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia menjadi

bertambah kagumnya kepada perwiranya yang satu ini. Dan kepada

orang yang demikianlah kemudian Tunggul Ametung telah

melimpahkan kepercayaan untuk memperbincangkan masalahmasalah

yang akan menentukan jalan hidupnya kemudian.

Maka berkata Akuwu Tunggul Ametung itu, “Witantra, aku telah

melihat kesetiaanmu yang tiada taranya. Kesetiaanmu kepadaku,

namun lebih tinggi lagi adalah kesetiaanmu kepada kemanusiaan,

sehingga kau berani menolak perintahku di Panawijen. Karena itu,

maka biarlah kepadamu berdua aku ingin menyatakan perasaanku

untuk mendapatkan pertimbangan-pertimbangan.”

Witantra dan Ken Arok sama sekali tidak menjawab. Mereka

menundukkan wajah mereka sambil menunggu, apakah yang akan

diberitahukan oleh akuwu itu kepada mereka.

“Witantra dan Ken Arok. Dengarlah. Demikian mendalam kesan

yang menusuk hatiku atas kesalahan yang telah aku lakukan itu,

maka aku ingin menebus kesalahan itu dengan kemungkinan yang

paling bernilai yang ada padaku. Witantra, bagaimanakah

pertimbanganmu seandainya gadis itu tidak usah dikembalikan ke

Panawijen?”

Witantra mengangkat wajahnya. Sedang Ken Arok tergeser

beberapa jari. Dengan dada yang berdebar-debar mereka

menunggu akuwu memberi penjelasan lebih jauh.

Maka berkatalah Tunggul Ametung, “Aku ingin gadis itu tetap

berada di istana seandainya itu dapat menyenangkannya. Tetapi

sudah tentu bahwa apabila ia menolak, aku tidak akan

memaksanya.”

Witantra menarik keningnya. Kemudian ia kembali menundukkan

wajahnya. Namun membayang di antara bibirnya sebuah senyum

tertahan.

Tetapi berbeda benar dengan perasaan Ken Arok pada saat itu.

Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung benar-benar memukul

jantungnya. Sekali ia mengangkat wajahnya, memandang wajah

akuwu yang tampak suram, namun bersungguh-sungguh. Tetapi

kemudian wajah itu kembali terbanting di atas anyaman tikar

pandan di muka lipatan kakinya. Ken Arok hampir tidak percaya

mendengar kata-kata akuwu itu meskipun ia sudah menduga

sebelumnya. Ia mengharap bahwa dugaannya salah sehingga ia

masih tetap pada anggapannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu.

Tetapi kini, tiba-tiba kebanggaannya terhadap Akuwu Tunggul

Ametung langsung surut seribu kali. Meskipun beberapa saat yang

lalu, ia merasa kecewa pula terhadap Tunggul Ametung, tetapi

kekecewaannya kali ini terasa semakin memuncak.

Terdengar hatinya berteriak lantang, “O, jadi apa yang Tuanku

katakan itu semata-mata hanya rangkaian kalimat penghias bibir.

Ternyata Tuanku sendiri mempunyai pamrih atas gadis Panawijen

itu. Kalau Kakang Witantra, Tuanku dorong terjun ke arena, bukan

semata-mata sekedar untuk membebaskannya dari Kuda Sempana,

namun sekaligus untuk membuka kesempatan kepada akuwu

sendiri. Hem. Alangkah kisruhnya perasaanku sekarang ini.”

Namun demikian tak sepatah kata pun yang dapat diucapkannya

di hadapan Akuwu Tunggul Ametung yang memiliki kekuasaan

tertinggi di Tumapel.

“Witantra,” terdengar Akuwu Tunggul Ametung itu berkata lirih,

“Bagaimana pertimbanganmu?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba adalah

seorang yang sama sekali tidak mempunyai wewenang untuk

memberikan pertimbangan tentang hal yang sangat penting dalam

perjalanan hidup Akuwu pribadi. Mungkin Tuanku dapat memanggil

beberapa orang tua-tua untuk mendapat pertimbangan daripada

mereka itu.”

Tunggul Ametung menggelengkan kepalanya. “Tidak,” katanya,

“mereka tidak berkepentingan apa-apa bagi masa depanku.”

“Tetapi mereka memiliki pandangan yang luas, dan pengalaman

serta pengetahuan yang cukup. Mereka memiliki pertimbanganpertimbangan

dan nasihat-nasihat yang pasti akan sangat berguna

bagi Tuanku. Mungkin Tuanku dapat memanggil beberapa orang

pendeta, atau orang-orang tua yang lain.”

“Tidak perlu Witantra,” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “aku

akan menemukan jalan hidupku sendiri.”

Witantra terdiam sejenak. Ia tidak dapat memberikan

pertimbangan apapun karena keseganannya. Namun sekali ia

berpaling kepada Ken Arok, tetapi dilihatnya Ken Arok itu duduk

diam sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Kau tidak memberikan pendapatmu Witantra,” desak Akuwu

Tunggul Ametung.

Witantra menjawab sambil membungkukkan badannya dalamdalam,

“Ampun Tuanku. Hamba sama sekali tidak cukup

pengetahuan untuk menjawab pertanyaan Tuanku.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya, perlahan-lahan ia

berkata, “Tetapi kau tidak akan menolak bukan Witantra?”

“Apakah hakku untuk menolak Tuanku?”

“Aku tidak berbicara tentang apakah kau berhak atau tidak,

tetapi aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu terhadap maksud ini.

Perasaanmu. Berhak atau tidak berhak.”

Witantra tidak dapat mengelak lagi. Sebenarnya sejak semula, ia

tidak berkeberatan atas maksud akuwu itu untuk memberi tempat

yang agak baik bagi Ken Dedes. Karena itu maka jawabnya, “Ampun

Akuwu. Perasaan hamba sama sekali tidak menentang maksud

Akuwu itu.”

“Terima kasih Witantra. Kaulah sebenarnya yang telah

membebaskan gadis itu. Menurut perjanjian, yang menang dapat

berbuat atas dasar kemenangannya.”

“Tetapi Tuanku,” sela Witantra tambahnya, “bukanlah benda

mati, sehingga yang berkepentinganlah yang paling berhak untuk

menentukan sikapnya.”

“Tentu, tentu Witantra. Aku tidak akan berbuat kesalahan untuk

kedua kalinya.”

Witantra pun kemudian berdiam diri untuk sejenak. Sekali-sekali

ia berpaling kepada Ken Arok yang masih saja menundukkan

wajahnya dalam-dalam. Terasa sesuatu yang kurang wajar pada

anak muda itu. Dan Witantra telah dapat menduganya. Seperti yang

dikatakannya siang tadi, anak muda kecewa atas maksud Tunggul

Ametung itu. Namun apabila hal itu dikehendaki oleh yang

berkepentingan, maka apakah salahnya?

Ternyata akuwu itu tidak juga membiarkan Ken Arok tanpa

mendapat kesempatan menyalakan perasaannya. Karena itu, maka

Akuwu Tunggul Ametung itu pun bertanya pula kepadanya, “Ken

Arok bagaimana pertimbanganmu? Jangan berkata bahwa kau tidak

berhak menjawab pertanyaan ini. Tetapi bagaimanakah kata

hatimu?”

Bukan main terkejut Ken Arok mendengar pertanyaan itu. Ia

tidak menyangka bahwa ia akan mendapat pertanyaan pula. Ia

menyangka bahwa ia hadir di tempat itu hanya sebagai pelengkap

saja. Karena itu tiba-tiba terasa keringat dinginnya mengalir ke

segenap kulit tubuhnya. Sejenak Ken Arok itu terbungkam. Dengan

wajah yang tegang ia sekali-sekali berpaling memandangi wajah

Witantra. Namun ia tidak mendapatkan kesan apa-apa pada wajah

perwira pengawal itu.

“Bagaimana Ken Arok,” desak Akuwu Tunggul Ametung.

Ken Arok benar-benar menjadi gelisah. Betapa hatinya meronta

mendengar keputusan Tunggul Ametung untuk mencoba memiliki

sendiri gadis itu. Tetapi apakah ia dapat mengatakannya di hadapan

akuwu itu sendiri?

Setelah sejenak Ken Arok berjuang di dalam dirinya sendiri maka

jawabnya sambil menyembah, “Ampun Tuanku. Hamba hanyalah

seorang pelayan dalam.”

“Jangan menjawab demikian. Sudah aku katakan. Siapa pun kau,

namun kau mempunyai pertimbangan di dalam dirimu. Nah,

jawablah dengan jujur.”

Sekali lagi Ken Arok terdesak dalam kebimbangan yang dahsyat.

Ia tidak dapat menutup perasaannya, namun apakah ia dapat pula

membukanya?

Ketika ia sedang sibuk dalam pertentangan itu, maka sekali lagi

ia mendengar Tunggul Ametung berkata, “Apa pertimbanganmu?”

Ken Arok harus segera menjawab. Namun Ia masih mencoba

mencari kemungkinan-kemungkinan yang paling baik. Ia tidak harus

menyembunyikan perasaannya, tetapi sejauh mungkin jangan

menjadikan Tunggul Ametung marah. Karena itu maka akhirnya ia

menjawab, “Tuanku. Menurut perasaan hamba, maka alangkah

mulianya apabila Akuwu mengambil keputusan untuk

mengembalikan gadis itu ke Panawijen. tetapi meskipun demikian,

segala sesuatu adalah dalam kebijaksanaan Tuanku. Apalagi kalau

gadis itu sendiri tidak berkeberatan untuk tinggal di dalam istana.”

Warna merah memancar sekilas pada wajah Tunggul Ametung.

Terdengarlah giginya gemeretak. Namun kemudian Tunggul

Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, dan

wajahnya yang merah itu pun berangsur tenang kembali.

Sedang Witantra pun terkejut mendengar jawaban Ken Arok itu.

Ia tidak menyangka bahwa di hadapan Tunggul Ametung sendiri,

Ken Arok akan berkata terus terang menurut kata hatinya.

Tetapi kembali Witantra terkejut, ketika terdengar suara Akuwu

gemetar, “Kau jujur Ken Arok. Aku senang mendengar

pertimbanganmu. Kau benar-benar telah mengatakan perasaanmu

seperti Witantra mengatakan apa yang tersembunyi di dalam

hatinya. Adalah mungkin sekali bahwa pertimbanganmu dan

pertimbangan Witantra berbeda.”

Sekali Ken Arok mengangkat wajahnya. Ia pun terkejut

mendengar tanggapan akuwu atas pendapatannya. Sehingga

karena itu maka terasalah dadanya bergetar.

Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berkata, “Aku telah

mendengar pertimbangan kalian berdua. Dengan demikian maka

hatiku kini telah menjadi lapang. Apapun yang kau katakan

kepadaku, adalah pertimbangan-pertimbangan yang bernilai bagiku.

Aku melihat bahwa kalian telah berkata sejujur-jujurnya. Aku lebih

senang mendengar pertimbangan dan pendapat kalian. Aku sama

sekali tidak ingin mendengar pendapat penasihat-penasihatku yang

tua-tua. Mereka adalah orang yang hanya ingin menyenangkan

hatiku tanpa mempertimbangkan akibat dari pertimbangannya.

Mereka ingin mendapat kesempatan yang sebaik-baiknya di dalam

lingkunganku. Karena itu maka mereka adalah penjilat-penjilat yang

memuakkan. Mereka bukanlah orang-orang yang jujur menghadapi

setiap persoalan seperti kalian. Bahkan Witantra dengan jujur,

sesuai dengan panggilan kemanusiaannya telah berani menentang

perintahku. Ken Arok pun di hadapan mataku telah berani

membunuh seorang prajurit yang bertindak tidak Adil. Dan kini kau

berani memberi pertimbangan yang jujur pula. Terima kasih. Kalian

ternyata lebih bernilai bagiku daripada penjilat-penjilat itu. Daripada

orang yang ingin mendapat hadiah-hadiah dan kedudukankedudukan

dengan memuji-muji dan menyanjung aku.”

Witantra menundukkan wajahnya semakin dalam. Ternyata

Tunggul Ametung adalah seorang yang jujur pula menilai dirinya.

Meskipun seakan-akan orang itu adalah orang yang selalu

dihanyutkan oleh perasaannya yang meledak-ledak, marah,

berteriak-teriak dan memaki-maki, namun dalam pertimbangan

yang penting ia adalah seorang yang jujur. Mungkin sikapnya itu

disebabkan karena guncangan yang dahsyat setelah ia berbuat

suatu kesalahan yang sangat besar, karena hasutan Kuda Sempana.

Namun bagaimanapun juga, kesadaran akan dirinya, akan orangorang

yang berada di sekitarnya itu telah melibatkan Akuwu

Tunggul Ametung pada tempat yang semakin kuat.

Di samping Witantra, Ken Arok duduk dengan dada yang

bergelora. Betapa kekecewaannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu

kian memuncak, namun tumbuh pula di sisinya kekaguman yang

semakin memuncak pula. Tunggul Ametung itu bagi Ken Arok

benar-benar merupakan seorang yang aneh. Seorang yang dikagumi

atas segala sifat kejantanan, kejujuran dan tanggapannya atasi

sikapnya, sikap Witantra dan sikap para penasihatnya yang

berusaha menyenangkan akuwu itu untuk menerima hadiah dan

kedudukan yang baik, namun akuwu telah mengecewakannya pula

karena sikapnya terhadap gadis Panawijen. Pamrihnya atas gadis itu

setelah ia menyingkirkan Kuda Sempana. Apakah itu sikap yang

jujur seperti penilaian terhadap sikap para penasihatnya? Ken Arok

menjadi semakin pening. Akuwu itu hatinya seperti dewa yang

bersih dari nodai duniawi, namun jaga seperti iblis yang mengotori

dirinya dengan segala macam pamrih dan nafsu.

Ruangan itu sejenak dicengkam oleh kesunyian. Tunggul

Ametung, Witantra dan Ken Arok, masing-masing telah terbenam di

dalam angan-angan mereka sendiri. Berbagai persoalan yang

berbeda-beda telah melanda hati masing-masing.

Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu Tunggul Ametung

berkata, “Ternyata ada suatu kesimpulan yang bersamaan. Kalian

berdua menyerahkan keputusan terakhir pada gadis itu. Baiklah.

Aku hanya akan menawarkan keinginanku. Terserah kepadanya,

apakah ia akan menerima atau ia akan menolaknya.”

Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab,

“Demikianlah Tuanku.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri. Baginya, kesediaan Ken

Dedes atau seandainya gadis itu menolaknya sama sekali tidak

penting. Tetapi hasrat yang sudah tumbuh di dalam hati Akuwu

Tunggul Ametung itu benar-benar telah mengecewakannya. Apakah

hasrat itu akan terpenuhi atau tidak.

Yang terdengar kembali adalah suara Akuwu Tunggul Ametung.

“Kalau demikian, maka kehadiranmu kali ini sudah cukup. Besok aku

akan mengadakan pertemuan dengan para penjabat pemerintahan

dan para perwira, apabila aku sudah menemukan kepastian. Aku

hanya ingin memberitahukan kepada mereka. Supaya mereka tidak

terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku. Hubungan antara

seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Adalah hakku untuk

menentukan pilihan, dan adalah hak gadis itu untuk menerima atau

menolak.”

Witantra tidak menjawab. Akuwu Tunggul Ametung ternyata

telah memilih jalan yang terdekat yang dapat ditempuhnya. Ia tidak

ingin terlalu banyak orang mempersoalkan kepentingan pribadinya.

Namun Witantra masih juga menyampaikan kata-katanya kepada

akuwu, “Tuanku, apakah hamba masih diperkenankan

menyampaikan sesuatu kepada Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung mengernyitkan alisnya. Kemudian ia

bertanya, “Apakah itu?”

“Tuanku,” sambung Witantra, “di rumah hamba kini telah

menunggu seorang tua pemomong gadis Panawijen itu. Ia ingin

menemui momongannya, Ken Dedes. Apakah Tuanku

memperkenankannya?”

Akuwu Tunggul Ametung terdiam sejenak. Tampaklah ia berpikir.

Di dalam hatinya timbullah beberapa pertimbangan mengenai

kehadiran orang baru itu di dalam istananya. Berbagai masalah

menjadikannya bimbang. Sehingga akhirnya ia berkata, “Tentu

Witantra. Aku pasti akan mengizinkannya. Tetapi tidak sekarang.

Aku ingin mendengar pendapat gadis itu sendiri, sebelum ia

mendapat pengaruh dan nasihat dari orang-orang lain. Aku ingin

mendengar kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia

menolak. Kalau ia menerima, sebenarnyalah ia menerima.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Ken Arok

nampak mengerutkan keningnya. Pertimbangan itu dapat

dimengertinya. Tetapi, apakah salahnya kalau emban tua itu

menungguinya? Apakah emban itu mempunyai pengaruh yang kuat

atas gadis Panawijen itu. Namun meskipun demikian, ia tidak

mengemukakannya. Persoalan itu baginya bukanlah persoalan yang

penting. Bahkan ia sependapat dengan Akuwu Tunggul Ametung,

bahwa sebaiknya gadis itu menyatakan pendapatnya sendiri.

Meskipun baginya pendapat itu hampir tidak berpengaruh atas rasa

kecewanya terhadap Tunggul Ametung.

Witantra pun kemudian tidak lagi mempunyai persoalan apapun.

Karena itu, maka sejenak kemudian mereka berdua, Witantra dan

Ken Arok segera mohon diri meninggalkan ruangan itu.

Di halaman depan, setelah mereka mengambil kuda-kuda mereka

dari tambatan, maka berkatalah Witantra, “Adi, apakah kau akan

bermalam di rumahku lagi?”

Ken Arok menggeleng, jawabnya, “Tidak Kakang. Aku akan

kembali ke barak. Persoalanku dengan Kakang Kuda Sempana

sudah jelas. Sebenarnya aku sama sekali tidak bersangkut paut

dengan usahanya yang gagal itu. Namun kalau ia akan membuat

persoalan, maka kini aku tidak akan menghindar lagi.”

Witantra mengangguk, jawabnya, “Kau benar. Namun apabila

mungkin jauhilah setiap hubungan yang tidak baik.”

“Mudah-mudahan Kakang. Aku tidak akan membuat persoalan.

Kecuali kalau aku tersudut pada sebuah persoalan.”

Witantra tersenyum, katanya, “Sikapmu terpuji.”

Ken Arok pun tersenyum, jawabnya “ Jangan memuji Kakang.

Seperti Akuwu pun tidak senang mendapat pujian yang berlebihlebihan.”

“Tetapi aku tidak memujimu karena pamrih apapun,” sahut

Witantra, “aku tidak ingin kau tingkatkan pangkatku atau aku tidak

ingin mendapat hadiah apapun darimu.”

Ken Arok kini tertawa. Bukan saja karena kata-kata Witantra

yang jenaka, namun ia tertawa untuk melepaskan berbagai

perasaan yang menggelitik hatinya. Tetapi ia masih menjawab katakata

Witantra untuk tidak menimbulkan kesan yang kurang baik,

“Seandainya aku Akuwu Tumapel Kakang, maka hadiahku akan

segera melimpah.”

Witantra pun tertawa pula. Tetapi sama sekali tidak disadarinya,

bahwa di belakang dinding hati Ken Arok, telah tergores perasaan

kecewa yang dalam atas akuwunya.

“Adi,” berkata Witantra pula, “kalau demikian kita berpisah di

sini. Aku akan pulang dan Adi akan kembali ke barak. Mudahmudahan

kita tidak akan menemui persoalan-persoalan lagi.”

“Mudah-mudahan Kakang,” sahut Ken Arok.

Keduanya pun kemudian menuntun kuda-kuda mereka sampai di

luar regol halaman, kemudian dengan satu loncatan mereka telah

berada di punggung kuda masing-masing. Tetapi arah merekalah

yang kemudian berbeda-beda.

Di sepanjang jalan kembali, Ken Arok masih saja dipengaruhi

oleh perasaannya tentang Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi

akhirnya ia mencoba untuk menenangkan hatinya, “Biarlah apa saja

yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung. itu sama sekali

tidak menyangkut persoalan pribadiku.”

Berbeda dengan Ken Arok, maka hati Witantra kini telah menjadi

lapang. Ia seakan-akan telah terlepas dari sebuah himpitan dosa

yang selalu mengganggunya. Ia merasa betapa rendah budinya

pada saat ia membiarkan kelaliman berlaku di hadapan hidungnya

hanya karena ia takut kehilangan kedudukan dan segala macam

yang telah dimilikinya. Pangkat, berbagai macam kesenangan dan

kekayaan. Tetapi kini seolah ia telah membetulkan kesalahan itu. Ia

telah membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana, yang

telah memerkosa masa depan gadis itu.

“Mudah-mudahan gadis itu dapat menyadari keadaannya.

Mudah-mudahan ia dapat melihat, bahwa yang lampau itu tak akan

datang kembali. Dengan demikian, maka aku akan terlepas sama

sekali dari dosa itu,” gumamnya sepanjang jalan kembali.

Tetapi Witantra itu mengerutkan keningnya ketika dikenangnya

kata-kata Akuwu Tunggul Ametung tentang perempuan tua yang

berada di rumahnya. “Tetapi tidak sekarang. Aku ingin mendengar

kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia menolak. Kalau ia

menerima sebenarnyalah ia menerima.”

“Biarlah perempuan tua itu menunggu di rumahku,” desisnya

kepada diri sendiri.

Dan sesaat kemudian tanpa disadarinya, tangannya telah

menggerakkan kekang kudanya, mempercepat perjalanannya.

Di istana, Akuwu Tunggul Ametung, sepeninggal Witantra dan

Ken Arok tidak langsung pergi ke biliknya. Sekali lagi ia pergi ke

sentong tengen. Hatinya pun kini menjadi semakin mantap. Setelah

ia mendengar pendapat Witantra, yang seolah-olah merupakan

orang yang berhak ikut menentukan nasib Ken Dedes karena

kemenangannya, maka hatinya menjadi semakin bulat.

Ketika ia memasuki sentong tengen, maka yang berada di

dalamnya hanyalah Ken Dedes dan seorang emban, Madri. Apabila

mereka berdua melihat kedatangan akuwu, maka segera mereka

menundukkan wajah-wajah mereka sambil menyembah. Ken Dedes

pun segera turun dari pembaringan dan duduk di sisi Madri.

“Tetaplah di tempatmu Ken Dedes,” berkata Tunggul Ametung.

Tetapi Ken Dedes segera menyahut, “Bukan sepantasnya hamba

berbuat demikian Tuanku.”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ken Dedes

seakan-akan menjadi semakin cantik di bawah cahaya lampu yang

terbuai oleh angin malam yang lembut.

Selelah Tunggul Ametung itu sempat mengatur getar di dadanya,

maka barulah ia dapat mengucapkan kata-kata. Namun kata-kata

itu pun meloncat seperti berebut dahulu, sehingga maksudnya

menjadi sukar dimengerti. Meskipun demikian, lambat laun, Ken

Dedes dapat pula mendengar dan mengertinya dengan jelas. Seperti

yang pernah didengarnya. Akuwu menyerahkan segala-galanya

kepadanya.

Hati Madri pun melonjak-lonjak mendengar segala macam janji

yang diucapkan oleh akuwunya. Janji yang disangkanya tak

mungkin akan pernah terucapkan. Tetapi janji itu kini benar-benar

telah didengarnya.

“Alangkah bahagianya gadis ini,” pikirnya.

Tetapi ia terkejut bukan buatan ketika ia mendengar gadis yang

seakan-akan tertimpa bulan itu menjawab, “Tuanku.

Perkenankanlah hamba berpikir dahulu. Supaya jawab hamba tidak

hanya sekedar ledakan perasaan hamba yang tidak berakar di hati

hamba. Karena itu Tuanku, berilah hamba waktu.”

Gelora hati Tunggul Ametung seakan-akan tidak dapat

ditahannya lagi ketika ia melihat gadis itu berbicara dalam bahasa

yang utuh sebagaimana ia harus berbicara kepada seorang akuwu.

Gadis itu tidak lagi memanggilnya tanpa sebutan karena luapan

kemarahan dan tidak menuding-nuding wajahnya lagi dengan mata

yang menyala.

Namun Tunggul Ametung tidak dapat memaksanya untuk

menjawab seketika. Dengan hati yang berat, maka akuwu itu

berkata, “Baiklah Ken Dedes. Aku beri kau waktu, tetapi waktu itu

jangan terlalu lama.”

Dengan takzimnya Ken Dedes menyembah, “Hamba Tuanku.

Hamba sama sekali tidak mempertimbangkan, apakah hamba

berwenang untuk menentukan sikap, namun hamba sedang

menimbang-nimbang apakah sudah sepantasnya hamba menerima

kemuliaan itu.”

Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Sekali lagi ia

menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menunggu

keputusanmu, Ken Dedes.”

“Hamba, Tuanku,” sahut gadis itu tenang. Dan ketenangan gadis

itu telah merupakan persoalan tersendiri bagi Akuwu Tunggul

Ametung.

Namun demikian Akuwu Tunggul Ametung meninggalkan bilik itu,

maka meledaklah tangis Ken Dedes tanpa dapat ditahannya.

Berbagai perasaan telah melanda dinding hatinya. Berbagai

kenangan tentang dirinya, tentang kampung halaman dan tentang

masa depannya seakan-akan bercampur baur di dalam rongga

matanya. Kacau dan membingungkannya.

Madri pun menjadi bingung pula. Ia tidak tahu, bagaimana ia

akan menghibur hati Ken Dedes itu. Karena itu maka ia hanya dapat

sekali-sekali menggamit lengan Ken Dedes, dan sekali-sekali

berkata, “Jangan menangis Tuan. Jangan menangis.”

Tetapi Madri sendiri bahkan kemudian ikut menangis. Katanya di

antara isaknya, “Kalau demikian, akan aku panggil Nyai Puroni.”

“Jangan!” tiba-tiba Ken Dedes menyahut, “Jangan kau panggil

Nyai Puroni. Aku takut.”

“Tetapi Tuan menangis,” berkata Madri pula, tetapi ia menjadi

heran kenapa Ken Dedes menjadi takut.

“Tidak. Aku sudah tidak menangis lagi,” potong Ken Dedes sambil

berusaha untuk menahan air matanya yang mengalir dengan

derasnya.

“Kalau Tuan tidak menangis, aku tidak akan memanggil Nyai

Puroni,” berkata Madri.

“Baik Madri. Aku tidak menangis lagi. Aku lebih senang tinggal

bersamamu di sini daripada Nyai Puroni.”

Madri mengerutkan keningnya. Meskipun air matanya sendiri

masih membasahi matanya, namun perkataan Ken Dedes itu benarbenar

telah mempengaruhi perasaannya.

Madri itu menjadi semakin heran. Kenapa Ken Dedes menjadi

takut kepada Nyai Puroni? Menurut Nyai Puroni, seharusnya Ken

Dedes menjadi takut dan mendendam kepada Akuwu Tunggul

Ametung. Mungkin karena gadis itu telah dilarikan oleh akuwu.

Tetapi sama sekali tanda-tanda itu tak dilihatnya, bahkan kemudian

ternyata bahwa Ken Dedes takut kepada Nyai Puroni.

Tetapi kini Ken Dedes itu benar-benar telah tidak menangis lagi.

Ia telah dapat mencoba mempergunakan pikirannya kembali. Kini

yang menyala di dalam hatinya adalah kemarahannya yang

memuncak kepada Kuda Sempana, sumber dari segala malapetaka.

Kekecewaan atas hinaan yang diterimanya dari Nyai Puroni. Seakanakan

derajatnya sedemikian rendahnya sehingga orang tua itu

selalu menyindir-nyindirnya, bahwa ia bukan permaisuri.

Namun persoalan itulah yang sebenarnya telah mendorong Ken

Dedes ke dalam suatu pilihan yang tak pernah diimpikan

sebelumnya. Ia ingin membuktikan, baik kepada Kuda Sempana

maupun kepada Nyai Puroni, bahwa ia bukan seorang gadis yang

dikodratkan menjadi seorang gadis yang hina-dina. Apalagi setelah

ia sempat mengurai maksud Nyai Puroni dengan cerita-ceritanya

yang mengerikan tentang gadis-gadis yang pernah menjadi korban

Akuwu Tunggul Ametung, maka prasangkanya tentang

ketidakjujuran Nyai Puroni menjadi semakin dalam.

Karena itulah, maka dalam keheningan malam itu, perlahanlahan

Ken Dedes terdorong ke dalam satu pilihan yang sebenarnya

hanya merupakan tindak keseimbangan dari kepedihan dan

kepahitan yang menimpanya selama ini. Ia hanya ingin menyatakan

kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, bahwa Ken Dedes

bukanlah gadis yang semalang-malangnya di dunia.

Ketika malam kemudian menjadi semakin malam, maka Ken

Dedes itu pun kemudian terlena ke dalam alam mimpi. Mimpi yang

menggelisahkan namun kadang-kadang mengasyikkan. Simpang

siur dan kusut. Tetapi menjelang fajar, mimpi Ken Dedes menjadi

sangat mengesankannya, seolah-olah gadis itu duduk di atas

punggung seekor gajah yang besar. Di mukanya berjalan dengan

gagahnya Akuwu Tunggul Ametung, sedang di belakangnya berjalan

tertatih-tatih Kuda Sempana dan Nyai Puroni. Namun tiba-tiba jauh

di belakang sebuah gerumbul yang lebat ia melihat seorang anak

muda. Anak muda yang ada di dalam rombongan Akuwu Tunggul

Ametung pada saat mengambilnya, mengintai dengan sepasang

matanya yang menyala. Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak takut

melihat api yang menyala itu, bahkan wajahnya pun sama sekali

tidak mengerikan.

Di hari-hari yang mendatang, maka Ken Dedes selalu dipengaruhi

oleh mimpinya. Sehingga akan datang masanya, Tunggul Ametung

datang kepadanya untuk menanyakan keputusannya.

Dalam pada itu di Panawijen, Mahisa Agni terbaring di dalam

biliknya. Meskipun lukanya sudah berangsur-angsur sembuh, namun

terasa bahwa hatinyalah kini yang seakan-akan menjadi bertambah

pedih. Peristiwa-peristiwa yang datang beruntun, malapetaka dan

bencana, seakan-akan benar-benar telah menghancurkan segenap

kemungkinan dibasa depan. Hilangnya Ken Dedes, terbunuhnya

Wiraprana, benar-benar menusuk jantungnya. Ia tidak tahu

perasaan apakah yang telah mencengkamnya kini. Tetapi setiap

saat ia merasa dadanya berdesir tajam. Kadang-kadang ia menjadi

bingung, seakan-akan ada sesuatu yang belum terselesaikan.

Panawijen kini terasa menjadi kian hari kian bertambah sepi.

Ibunya pun telah pergi pula ke Tumapel. Dan gurunya masih juga

belum datang kembali.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. perlahan-lahan ia

bangkit dan berjalan keluar. Di halaman dilihatnya beberapa orang

cantrik membersihkan halaman.

Dengan langkah yang lemah, Mahisa Agni datang kepada

mereka. Namun kembali ia menemukan wajah-wajah yang suram

sesuram wajahnya sendiri. Agaknya para cantrik itu pun menjadi

pedih seperti hatinya. Karena itu maka Mahisa Agni sama sekali

tidak menegurnya. Perlahan-lahan ia berjalan terus menyusuri jalanjalan

sempit di halaman, di antara kebun-kebun bunga yang

menjadi pudar. Di teritisan Mahisa Agni menemukan serulingnya.

Seruling yang terselip pada dinding rumahnya.

“Hem,” desahnya. Sudah lama seruling itu tak disentuhnya. Sejak

malam itu. Sejak malam hatinya terbanting hancur. Sejak malam ia

mendengar pengakuan Ken Dedes bahwa hatinya terikat pada

seorang anak muda yang bernama Wiraprana. Tetapi semuanya itu

benar-benar seperti mimpi. Mimpi yang mengerikan. Dan tiba-tiba

Mahisa Agni itu benar-benar teringat pula pada mimpinya. Tentang

biduk yang ditumpangi oleh Ken Dedes. Biduk yang kemudian

hancur dilanda oleh ombak yang dahsyat.

“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni berdesah. Perlahan-lahan

dihentakkannya dirinya pada sebuah amben bambu di teritisan itu.

Dilayangkannya pandangan matanya yang redup ke halaman, kebun

dan dinding halaman rumah gurunya. Sepi. Sepi dan diam. Ia

melihat juga seorang cantrik yang berjalan membawa air dengan

sepotong bumbung. Tetapi cantrik itu pun berdiam diri.

“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya,

“mimpiku itu bukan sekedar mimpi karena aku terlampau banyak

tidur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Padepokan ini seakanakan

sama sekali tidak dapat mengikatnya lagi. Ken Dedes, Ibunya,

gurunya tak ada di padepokan ini. Seandainya pada saat itu Empu

Purwa telah kembali, maka ia tidak perlu menunggunya dalam

kesepian.

“Apakah aku harus mencari guru,” gumamnya tiba-tiba.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Angannya itu seakan-akan

telah mendorong untuk melakukan sesuatu. Tetapi kemudian

wajahnya tertunduk kembali. “Ke mana, dan jangan-jangan nanti

kita berselisih jalan. Aku pergi dan guru kembali. Apa katanya kalau

ditemuinya padukuhan ini kosong. Kosong bagi hati guru yang tua

itu?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat

meninggalkan padepokan itu. Ia harus menunggu gurunya kembali.

Memberitahukan apa yang telah terjadi, dan mengharap gurunya

mempunyai jalan untuk mengambil anak satu-satunya itu.

Mahisa Agni itu pun kemudian melangkahkan kakinya kembali. Ia

tidak tahu ke mana ia akan pergi. Tetapi dibiarkannya kakinya

melangkah. Dan Mahisa Agni itu menuju ke regol depan halaman

rumahnya.

Di regol halaman Mahisa Agni berhenti. Ia melihat beberapa

orang berjalan membawa cangkul dan seorang gadis lewat

menjinjing bakul cucian. Agaknya gadis itu datang dari bendungan.

Ketika gadis itu tersenyum kepadanya, Mahisa Agni sama sekali

tidak mempunyai gairah untuk menegurnya. Karena itu ia pun

tersenyum hambar sambil mengangguk.

Ketika gadis itu kemudian hilang di kelokan, timbullah keinginan

Mahisa Agni untuk berjalan-jalan ke bendungan. Ia tidak tahu, apa

yang telah menariknya ke sana, namun perlahan-lahan ia

melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri tepi jalan padukuhan

Panawijen.

Seorang laki-laki tua yang berpapasan dengan Agni,

memandangnya dengan iba. Sambil membungkukkan badannya

dalam-dalam ia menegurnya. “Ke mana Ngger?”

Dengan segan Mahisa Agni menjawab, “Ke sungai, Ki.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Agaknya air telah mulai naik Ngger. Mungkin telah jatuh

hujan di udik, sehingga air sungai itu menjadi semakin deras.”

Mahisa Agni tertarik akan cerita itu, sehingga ia bertanya, “Tetapi

bukankah bendungan itu tidak apa-apa?”

“Oh, tentu tidak Ngger. Bendungan itu adalah bendungan yang

sangat kuat. Anyaman brujung dan batu-batu sebesar perut kerbau.

Ah. Bendungan itu telah lebih tua dari umurmu Ngger. Setiap tahun

sungai itu melimpah. Namun bendungan itu tetap di tempatnya.

Hanya kerusakan-kerusakan kecil yang setiap kali harus kita

perbaiki.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sejak

ia datang ke padukuhan ini ia telah melihat bendungan itu.

“Bendungan itu adalah sumber hidup kami Ngger. Karena

bendungan itulah maka sawah-sawah kami dapat kita airi.”

Mahisa Agni masih mengangguk-angguk.

Orang tua itu pun kemudian melangkah kembali sambil berkata,

“Silakan Ngger. Silakan pergi ke bendungan.”

“Baik, Ki,” sahut Mahisa Agni. Dan Mahisa Agni pun kemudian

berjalan pula perlahan-lahan. Diamatinya setiap pohon yang tumbuh

di tepi-tepi jalan, seolah-olah baru kali ini dilihatnya atau seolaholah

diamatinya untuk yang terakhir kalinya.

Mahisa Agni itu pun kemudian berhenti sejenak ketika dari

kejauhan dilihatnya sebuah tanggul yang membujur, menyusuri

jelujur sungai. Hatinya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tanggul

itu adalah tempatnya bermain dengan kawan-kawannya, tempatnya

bergurau dan kadang-kadang beristirahat setelah mengairi sawah

semalam suntuk di tanggul bendungan itu. Dan ternyata bendungan

itu telah mengingatkannya kepada Wiraprana dan Ken Dedes.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Hampir ia tidak mampu

meneruskan langkahnya. Namun tanpa dikehendakinya sendiri, ia

telah memaksa dirinya untuk berjalan terus ke bendungan.

Bendungan itu tampaknya demikian sepinya. Tak seorang pun

yang dilihatnya di sana. Tak ada anak-anak muda yang

membersihkan alat-alat pertaniannya dan tak ada gadis-gadis yang

sedang mencuci pakaiannya. Namun Mahisa Agni itu berjalan terus.

Ketika ia telah berdiri dekat samping bendungan, maka

dijatuhkannya dirinya di atas pasir yang kering.

Angin yang lembut mengalir membelai wajahnya yang muram.

Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya daun turi yang

rimbun telah melindunginya dari sinar matahari. Betapa daun-daun

yang kecil itu terayun disentuh angin. Sehelai demi sehelai daun

yang kuning terlempar dari tangkainya dan terbang hinggap di atas

pasir yang putih. Ada di antaranya yang terlempar jatuh ke dalam

air yang memang sudah menjadi semakin tinggi.

“Benar juga kata orang tua itu,” gumam Mahisa Agni, “air sudah

semakin tinggi.”

Ketika terasa angin yang silir menyapu tubuhnya, maka terasa

alangkah sejuknya. Tiba-tiba Mahisa Agni merebahkan dirinya di

atas pasir yang lembut. Ditatapnya mega putih yang berarak-arak di

langit dari sela-sela rimbunnya daun turi. Sehelai demi sehelai

hanyut ke utara, seperti iringan armada di laut biru, menyerbu ke

pantai lawan.

Mahisa Agni mengangkat alisnya ketika lamat-lamat didengarnya

suara seruling. Alangkah halus suaranya terselip di antara suara

gemericik air gerojogan di bawah bendungan. Seolah-olah sengaja

disusun dalam perpaduan yang serasi. Suara seruling yang

menanjak tinggi seperti burung elang yang terbang di angkasa

dalam hembusan angin yang semakin kencang. Tetapi suara

gerojogan itu seperti hilang-hilang datang. Justru pada saat-saat

suara seruling dari kejauhan itu melengking tinggi menggapai megamega

di langit.

“Seruling anak-anak yang sedang menggembala kambing,” desah

Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri senang meniup seruling, bahkan ia

termasuk salah seorang yang pandai. Bahkan mungkin lebih pandai

dari anak gembala yang kini sedang meniup serulingnya di kejauhan

itu.

Tetapi perpaduan antara lagu, angin dan gemericik air, telah

menyebabkan Mahisa Agni itu mengantuk. Hatinya yang lelah

seakan-akan mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sehingga

tanpa dikehendakinya sendiri, anak muda itu pun jatuh tertidur di

bendungan, di atas pasir yang lembut, di bawah rimbunnya daun

turi yang hijau.

Mahisa Agni itu kemudian sama sekali tidak menyadari, bahwa di

kejauhan berjalan seorang tua dengan sebuah tongkat di tangannya

menuju ke bendungan itu.

Orang tua berjubah putih itu mengusap keningnya. Keringatnya

mengalir membasahi hampir seluruh tubuhnya. Sebuah bungkusan

kecil di ujung tongkatnya, seakan-akan merupakan pertanda bahwa

orang tua itu adalah seorang perantau.

Tetapi betapa wajah orang tua itu terbakar oleh terik matahari,

namun ketika di kejauhan dilihatnya jelujur tanggul sungai, maka ia

tersenyum. Desisnya, “Hem, aku telah cukup lama meninggalkan

kampung halaman. Mudah-mudahan aku menjumpai keadaan yang

jauh lebih baik daripada saat aku tinggalkan.”

Orang tua itu berjalan terus dengan langkah yang tetap. Semakin

dekat ia dengan bendungan, hatinya menjadi semakin rindu kepada

padepokannya dan kepada para penghuninya.

Meskipun sejak mudanya, orang tua itu adalah seorang pejalan

dari satu tempat ke tempat yang lain, namun setelah ia menetap di

Panawijen dan ditinggalkan di padepokan itu seorang putri dewasa,

maka perjalanannya kali ini seakan-akan telah ditempuhnya

bertahun-tahun. Ia selalu tergesa-gesa meninggalkan tempattempat

yang harus dikunjunginya menurut rencana perjalanannya.

Saudara-saudaranya, kawan-kawannya yang telah lama tak

dijumpainya.

Orang tua itu, Empu Purwa, menarik nafas dalam-dalam ketika

kakinya menginjak tanggul sungai. Dilayangkannya pandangan

matanya menyusuri getaran-getaran air, hinggap di tepian yang

lain.

Empu Purwa mengerutkan keningnya ketika ia melihat di bawah

sebatang pohon turi di seberang, sesosok tubuh terbaring diam.

Alangkah nyamannya tidur di bawah daun yang hijau rimbun.

“Mahisa Agni,” desisnya. “hem, agaknya ia terlalu lelah.”

Ketika dilihatnya Agni tidur di tepian itu, maka hati Empu Purwa

menjadi lapang. Seakan-akan Mahisa Agni itu sama sekali tidak

sedang diganggu oleh kerisauan apapun juga. Namun sebagai

seorang pendeta tua yang telah kenyang mengalami berbagai soal

kehidupan, maka tiba-tiba hatinya berdesir. Tanpa setahunya, maka

firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa sesuatu telah terjadi di

Panawijen.

Empu Purwa itu melayangkan pandangan matanya ke sekeliling

bendungan. Sepi. Mahisa Agni itu beristirahat sendiri. Tidak dengan

Wiraprana.

“Bukankah itu mungkin sekali terjadi?” desis orang tua itu kepada

dirinya sendiri, “Apakah Mahisa Agni dan Wiraprana sama sekali

tidak boleh terpisah?”

Empu Purwa tersenyum sendiri.

Perlahan-lahan orang tua itu melangkah maju. Mencelupkan

kakinya ke dalam air yang tergenang semakin tinggi.

“Oh, alangkah segarnya. Setelah beberapa lama aku tidak

menyentuh air di padepokanku sendiri.”

Orang tua itu pun kemudian berjalan melingkar, lewat di atas

bendungan menyeberangi sungai. “Air telah mulai naik,” gumamnya.

Ketika Empu Purwa telah sampai di seberang, maka perlahanlahan

orang tua itu mendekati Mahisa Agni. Selangkah demi

selangkah ia maju. Ia tidak mau mengejutkan anak muda yang

sedang tidur dengan nyenyaknya itu.

Ketika Empu Purwa telah berdiri di sampingnya, maka orang tua

itu tersenyum.

“Nyenyak sekali,” desisnya. Dan karena itulah maka Empu Purwa

berkata di dalam hatinya, “Ah, biarlah ia tidur sepuas-puasnya.

Biarlah aku pulang dahulu. Kalau Mahisa Agni nanti kembali, maka

ia pasti akan terkejut melihat aku sudah berada di padepokan.”

Tiba-tiba orang tua itu ingin mengganggu Mahisa Agni. Perlahanlahan

ia membungkukkan badannya sambil berkata pula di dalam

hatinya, “Biarlah aku letakkan tongkatku ini pada tubuhnya. Kalau ia

bangun ia pasti akan terkejut. Bukankah Agni merasa tidak

membawa tongkat ini?”

Tetapi ketika Empu Purwa membungkuk semakin dalam, tiba-tiba

dahinya yang sudah berkeriput itu semakin berkeriput. Dilihatnya

pada tubuh anak muda itu lumuran obat luka, meskipun telah tidak

demikian jelas.

“Luka,” desisnya, “Mahisa Agni terluka. Apakah yang terjadi

atasnya?”

Sejenak Empu Purwa menjadi ragu-ragu. Tongkatnya tidak jadi

diletakkannya. Bahkan kemudian ia tegak kembali sambil

mengangguk-anggukkan kepalanya pasti ada sesuatu yang terjadi.

Tetapi Empu Purwa tidak segera dapat melihat luka Mahisa Agni.

Karena itu maka orang tua itu kembali bergumam, “Luka itu

mungkin berada di punggungnya. Kenapa?”

Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera memiringkan

tubuh Mahisa Agni untuk melihat luka yang sebenarnya di

punggungnya. Apakah luka itu disebabkan karena kecelakaan atau

karena apa? Tetapi Empu Purwa hampir pasti, bahwa Mahisa Agni

benar-benar telah terluka. Ia dapat mengenal dengan pasti, bekasbekas

obat yang masih tampak bekas-bekasnya di sisi lambungnya.

Dalam kebimbangan itu, Empu Purwa melihat Mahisa Agni

bergerak-gerak perlahan-lahan. Bahkan kemudian anak muda itu

menggeliat, namun kembali Mahisa Agni itu tertidur. Tetapi kali itu

Mahisa Agni telah memiringkan tubuhnya sambil meletakkan

kepalanya di atas tangannya.

Dengan hati-hati Empu Purwa berjongkok. Kini ia dapat melihat

punggung Mahisa Agni. Sekali lagi dahi Empu Purwa berkerut. Ia

melihat jelas, punggung anak muda itu masih bertapal obat lukanya.

Meskipun punggung itu dikotori oleh pasir, namun Empu Purwa

dapat melihatnya. Luka, ya punggung Mahisa Agni telah terluka,

perlahan-lahan Empu Purwa membersihkan butiran-butiran pasir

yang melekat di punggung itu. Perlahan-lahan pula Empu Purwa

meraba-raba punggung Mahisa Agni. Namun ternyata, bahwa

rabaan tangan Empu Purwa itu telah mengejutkan Mahisa Agni.

Sekali anak muda itu berguling menjauh, dan dengan tangkasnya

Mahisa Agni bangkit. Dengan segera ia mencoba menguasai

kesadarannya untuk melihat siapakah orang yang telah

mengganggunya itu.

Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang terlatih baik. Itulah

sebabnya maka segera ia berhasil menguasai dirinya, menguasai

kesadarannya. Segera ia mengenalnya, siapakah orang tua yang

berjongkok di hadapannya.

Dada Mahisa Agni berdesir cepat sekali. Sesaat ia terpaku di

tempatnya, seperti seonggok batu yang mati. Namun tiba-tiba ia

meloncat maju, bersujud di hadapan gurunya sambil berdesis,

“Guru!”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dibelainya

kepala muridnya seperti membelai anak sendiri. Memang Mahisa

Agni bagi Empu Purwa bukanlah sekedar seorang murid yang akan

meneruskan ciri-ciri dan cita-cita perguruannya, namun Mahisa Agni

baginya adalah seorang anak laki-laki yang baik. Anak laki-laki yang

dapat menjadi penggantinya di rumah apabila ia sedang pergi. Dan

bahkan kelak seandainya ia harus menghadap kembali kepada Yang

Maha Agung.

Dada Mahisa Agni yang bergelora itu penuh dengan cerita yang

seakan-akan saling berdesakan dahulu mendahului untuk meloncat

keluar. Namun justru karena itu, tak sepatah kata pun yang dapat

diucapkan.

Yang terdengar kemudian adalah suara gurunya lirih, “Agni.

Apakah kalian selamat di padepokan?”

Pertanyaan itu benar-benar menghantam dada Mahisa Agni

sehingga ia menjadi semakin terbungkam.

“Agni,” berkata Empu Purwa pula, “apakah tidak ada sesuatu

yang terjadi? Aku harap demikian, dan bahkan aku harap semuanya

menjadi semakin baik.”

Gelora di dada Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Perlahan ia

mengangkat wajahnya, dan sekilas dilihatnya wajah gurunya.

Mahisa Agni terkejut melihat wajah itu. Terbayang pada sinar

mata gurunya, bayangan kecemasan hati orang tua itu.

“Apakah Guru telah mendengar apa yang terjadi di padepokan

ini?” keluh Mahisa Agni di dalam hatinya.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Hatinya menjadi

semakin cemas. Sekali lagi terasa ada firasat yang kurang baik

berbisik di dalam dadanya. Apalagi setelah orang tua itu melihat

wajah Mahisa Agni. Muram, dan di punggungnya terdapat sebuah

luka.

Karena itu, muka orang tua itu berkata, “Agni, bagaimana

dengan dirimu sendiri?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian

ia mencoba menjawab pertanyaan gurunya. Perlahan-lahan hampir

tak terdengar, “Aku selamat guru.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa

hatinya semakin berdebar-debar.

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Baik guru,” sahut Mahisa Agni. Tetapi suaranya sama sekali

tidak meyakinkan.

Empu Purwa adalah orang tua yang memiliki banyak sekali

pengalaman dan pengetahuan. Karena itu, kini terasa benar, bahwa

sesuatu telah terjadi di padepokannya. Meskipun demikian ia tidak

tergesa-gesa menanyakannya kepada Mahisa Agni.

Ia tidak ingin hatinya sendiri terbentur kepada kenyataan akan

adanya peristiwa yang mungkin dapat mengecewakannya. Orang

tua itu ingin mengetahui dengan perlahan-lahan, sehingga ia

sempat mengatur perasaannya sendiri.

Karena itu maka yang mula-mula ditanyakannya adalah keadaan

Mahisa Agni sendiri, katanya, “Agni, kenapa kau tertidur di

bendungan.”

“Aku lelah sekali guru,” jawab Mahisa Agni.

Empu Purwa mengangguk-angguk. Ia ingin segera mengetahui,

apakah sebabnya punggung Mahisa Agni terluka, namun yang

terloncat dari mulutnya adalah, “Kenapa kau seorang diri? Apakah

tidak ada kawan-kawanmu bersamamu di sini?”

Dada Mahisa Agni berdesir. Pertanyaan itu mendekati persoalan

yang selama ini menggetarkan dadanya. Namun jawabnya, “Ya

guru. Aku sendiri.”

Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Kemudian kembali ia

mengajukan pertanyaan yang disangkanya tidak langsung menusuk

ke persoalannya. Katanya, “Tidak dengan Wiraprana?”

Namun ternyata Empu Purwa salah sangka. Pertanyaan itu telah

benar-benar menyebabkan Mahisa Agni tergetar. Hatinya yang

terpecah seakan-akan menjadi semakin berkeping.

Sesaat ia terbungkam. Dari keningnya mengalir keringat dingin

membasahi sisi wajahnya.

Empu Purwa melihat ketegangan wajah Mahisa Agni itu. Hatinya

menjadi semakin berdebar pula. Apakah yang sebenarnya telah

terjadi?

Tiba-tiba kecemasan di hati Empu Purwa itu memuncak. Mahisa

Agni dan Wiraprana pada saat ditinggalkannya memiliki persoalan

yang tajam. Meskipun pada saat itu tampaknya Mahisa Agni mampu

mengendalikan dirinya, bahkan menguasai perasaan sepenuhnya,

namun ia adalah seorang anak muda yang sedang tumbuh. Seorang

anak muda yang sedang mengalami masa hiruk-pikuk di dalam

dirinya. Suatu waktu mungkin Mahisa Agni benar-benar dapat

mengendalikan perasaannya seperti yang pernah dilihatnya, bahkan

Wiraprana pernah pula mendapat perlindungannya. Namun apabila

hatinya sedang dibakar oleh masa remajanya, maka bahaya akan

dapat meledak setiap saat. Apalagi kini Empu Purwa melihat luka di

punggung Mahisa Agni. Apakah telah terjadi pula perselisihan antara

mereka? Tetapi kenapa luka itu berada di punggung? Apakah

seseorang telah menyerang Mahisa Agni dari belakang?

“Tidak mungkin Wiraprana,” desis Empu Purwa di dalam hatinya,

“betapapun juga, mereka bukan merupakan tanding yang seimbang.

Meskipun seandainya Wiraprana menyerang dari belakang pun, Agni

tidak akan dapat dilukainya. Karena itu, penyerangnya pasti orang

yang memiliki kemampuan yang cukup, sehingga Mahisa Agni

terlambat menghindarinya.”

Justru karena itulah maka keinginan Empu Purwa untuk

mengetahui keadaan padepokannya menjadi semakin mendesak. Ia

kini tidak dapat lagi menahan pertanyaan yang telah berdesakan di

dalam hatinya.

Karena itu maka wajah orang tua itu pun menjadi semakin

berkerut-kerut. Ditatapnya Mahisa Agni semakin tajam dan tiba-tiba

dari sela-sela bibirnya Empu Purwa bertanya, “Mahisa Agni. Apakah

punggungmu terluka?”

Keringat Mahisa Agni semakin banyak mengalir. Sekali-sekali

dilayangkan pandangan matanya berkeliling. Kalau-kalau dilihatnya

seseorang yang akan dapat membantunya mengatakan apa yang

telah terjadi di padepokan orang tua itu. Tetapi bendungan itu

terlalu sepi. Tak seorang pun yang tampak di sekitarnya. Bahkan

suara seruling di kejauhan yang didengarnya sebelum Mahisa Agni

tertidur, kini sudah tidak lagi menggetarkan udara.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin mendapatkan

seorang teman untuk mengatakan kepada Empu Purwa apakah

yang telah terjadi. Karena itu maka katanya, “Guru, marilah kita

kembali ke padepokan. Di sana akan banyak peristiwa-peristiwa

yang dapat aku ceritakan.”

Orang tua itu mengangkat alisnya. Keinginannya untuk

mengetahui sebab luka di punggung Mahisa Agni itu semakin

mendesak, sehingga jawabnya sambil tersenyum, meskipun

senyumnya itu terasa hambar, “Bagiku sama saja Agni. Di

padepokan atau di sini. Aku hanya ingin tahu, apakah sebabnya

punggungmu terluka.”

Kembali Mahisa Agni tergagap. Kembali ia menebarkan

pandangan matanya berkeliling. Namun kembali ia kecewa karena

tak seorang pun yang dilihatnya.

Tetapi ia tidak dapat berdiam diri atas pertanyaan gurunya itu.

Meskipun hatinya menjadi berdebar-debar namun ia terpaksa

menjawab juga, katanya, “Guru, lukaku ini hampir tak berarti

bagiku. Apalagi kini sudah hampir sembuh.”

Empu Purwa tersenyum kembali. Juga senyumnya kali ini terasa

hambar, diulanginya pertanyaannya, “Agni. Aku ingin tahu kenapa

punggungmu terluka? Apakah kau terjatuh dari bendungan, dan

punggungmu tepat menimpa sebuah patok? Atau kebetulan kau

tertidur di bawah bendungan dan sepotong batu karang menimpa

punggungmu? Tetapi luka itu bukanlah sebuah luka karena sebabsebab

yang aku katakan. Luka itu terlalu kecil namun menilik

bekasnya kau pernah menderita karena luka itu.”

Dada Mahisa Agni bergetar semakin cepat. Disadarinya, bahwa

gurunya adalah seorang yang memiliki pengamatan yang baik atas

segala jenis luka. Karena itu, apakah ia dapat berbohong? Akhirnya

Mahisa Agni tidak dapat berbuat lain. Meskipun hatinya terguncangguncang,

namun ia menjawab, “Ya. Guru. Luka di punggungku

adalah luka karena senjata.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah menduga,” katanya, “tetapi aku sedang berpikir,

senjata apakah yang meninggalkan bekas luka seperti luka di

punggungmu. Cis atau apa? Kalau kau bertempur dalam lingkaran

pertempuran, maka mungkin sebuah anak panah mengenaimu.

Tetapi aku meragukannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin riuh. Gurunya dapat meraba

dengan tepat. Namun kemungkinan itu sebenarnya memang sangat

kecil sehingga gurunya meragukan. Tetapi ternyata bahwa

sebenarnya memang telah terjadi. Punggungnya terluka karena

anak panah. Sehingga Mahisa Agni untuk seterusnya tidak berani

lagi berkata lain daripada yang sebenarnya.

“Sebenarnyalah Guru, punggung terluka karena anak panah.”

Empu Purwa mengerutkan keningnya. Ia memang sudah

menyangka bahwa luka itu adalah luka karena anak panah. Tetapi

bagaimana mungkin Mahisa Agni terkena anak panah? Apakah anak

itu sama sekali tidak dapat mengelakkan dirinya? Penyerangnya

pasti seorang yang mampu menyembunyikan diri dengan baiknya,

sehingga geraknya sama sekali tak didengar oleh Mahisa Agni. Atau

barangkali Mahisa Agni sedang tidur?

Tetapi Empu Purwa tidak mau berteka-teki lebih jauh. Segera ia

bertanya, “Anak panah siapa, Agni?”

Sambil menundukkan kepalanya Mahisa Agni menjawab,

“Seorang prajurit Tumapel, Guru.”

Jawaban ini benar-benar mengejutkan. Segera Empu Purwa

menghubungkan peristiwa ini dengan Kuda Sempana, sehingga

terloncat dari mulutnya, “Kuda Sempana?”

“Bukan Kuda Sempana sendiri,” sahut Mahisa Agni.

“Tentu. Tentu bukan Kuda Sempana sendiri. Tetapi bagaimana

peristiwa itu terjadi?”

Kembali dada Mahisa Agni bergetaran. Ia masih tetap dalam

keinginannya mendapat seorang kawan untuk menceritakan

peristiwa yang telah terjadi. Karena itu sekali lagi ia mencoba

berkata, “Marilah kita kembali ke padepokan guru.”

“Tidak!” jawab Empu Purwa tegas-tegas, “Aku ingin segera

mendengarnya.”

Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Sekali ia menarik

nafas dalam-dalam, dan kemudian terbata-bata ia berkata, “Cerita

itu panjang, Guru.”

“Sampai seminggu aku akan mendengarkannya.”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Dicobanya untuk

menatap wajah gurunya. Dan wajah itu pun tampaknya tegang

sekali.

“Seseorang telah melukai muridku di punggungnya. Itu bukan

perbuatan jantan,” desis Empu Purwa.

“Oh,” keluh Agni di dalam hatinya, “bukan saja muridnya terluka.

Tetapi gadis satu-satunya telah hilang dari Panawijen. Hem.

Bagaimana aku akan mengatakannya?”

Tetapi Agni itu terkejut ketika Empu Purwa berkata, “Ceritakanlah

Agni. Seandainya kau terbunuh sekalipun, namun secara jantan aku

akan menangisimu. Tetapi aku tidak mendendam. Mungkin aku

akan menuntut balas hanya dalam batas-batas kebenaranmu. Tetapi

luka di punggung adalah hasil perbuatan yang licik, kecuali kalau

kau sengaja bertempur sambil membelakangi musuhmu.”

Mahisa Agni kini tidak melihat jalan lain untuk menghindarkan

dirinya. Karena itu, maka dengan suara tertahan-tahan dan nafas

yang terengah-engah, diceritakannya apa yang telah terjadi di

padepokan Panawijen. Hati-hati, namun berurutan, lengkap

semuanya yang diketahuinya dan dialaminya.

Gurunya, Empu Purwa mendengarkan setiap kata Mahisa Agni

dengan seksama. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya, namun

kemudian wajah itu menjadi tegang.

“Kau berhasil mengusir Kuda Sempana?” bertanya gurunya.

“Ya Guru, di hari pertama.”

“Kenapa di hari pertama?”

“Aku mencoba mengejarnya ke Tumapel. Mungkin aku akan

mendapat penyelesaian yang baik. Mungkin akan dapat minta

pertolongan Witantra.”

“Witantra kakak seperguruan Mahendra?”

“Ya, Guru.”

Orang tua itu menganggukkan kepalanya. Gumamnya, “Aku

sangka orang-orang itu menyadari keadaannya. Mahendra masih

mengganggumu di Tumapel dan Kuda Sempana masih juga

berusaha mengambil gadisku.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin bergelora, ia ingin berhenti

sampai sekian dan melanjutkan di padepokan. Namun gurunya tibatiba

bertanya, “Tapi kau belum mengatakan apakah sebabnya

punggungmu terluka?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Jawabannya sama sekali tidak

ada hubungannya dengan pertanyaan gurunya. “Tetapi Mahendra

telah menyadari keadaannya. Ia banyak memberi aku pertolongan

bersama kakak seperguruannya Witantra.”

Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Tetapi ia mendesak,

“Syukurlah. Tetapi siapakah yang melukai punggungmu?”

Mahisa Agni menjadi semakin terdesak ke sudut. Sehingga

dengan penuh keragu-raguan ia menjawab, “Luka ini terjadi di hari

berikutnya guru.”

“Hari berikutnya? Apa yang terjadi di hari itu?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia terpaksa berkata,

“Kuda Sempana mengulangi niatnya.”

“Oh. Kasihan anak itu,” keluh Empu Purwa, “apakah anak muda

itu membawa kawan-kawannya?”

“Ya, Guru.”

“Hem, lalu bagaimana?”

Kembali Mahisa Agni terpaksa menceritakan kelanjutan peristiwa

yang menyakitkan hati itu. Meskipun ia tidak melihat sendiri apa

yang terjadi di Panawijen, saat Kuda Sempana mengambil Ken

Dedes, namun ia telah mendengarnya dari para cantrik, sehingga

karena itu, maka Mahisa Agni pun dapat mengulangnya dengan

baik. Meskipun ia mencoba mengatakannya sangat berhati-hati.

Namun betapapun juga ia merasa bahwa tampak perubahan yang

nyata pada wajah gurunya.

“Akuwu Tunggul Ametung sendiri datang?”

“Ya, Guru.”

“Dan merela memasuki padepokan kita?”

“Ya, Guru.”

“Apa yang mereka lakukan?”

Mulut Mahisa Agni benar-benar seakan-akan tersumbat. Dengan

dada yang gemetar ia menatap wajah gurunya yang tegang.

“Apa yang mereka lakukan Agni?”

“Ampun guru,” desah Mahisa Agni. Namun ia terdiam kembali.

Empu Purwa segera dapat menangkap peristiwa itu. Ia dapat

membayangkan bahwa sesuatu yang pahit telah terjadi. Karena itu

maka katanya, “Mereka mengambil anakku itu?”

“Ampun Guru. Peristiwa itu terjadi di luar pengamatanku. Aku

pada saat itu masih berada di Tumapel.”

“Benarkah seperti apa yang aku katakan? Mereka membawa

anakku?”

“Ya, Guru,” suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar. Namun

meskipun demikian, suara yang lirih itu cukup menggemparkan

dada Empu Purwa. Dada itu serasa meledak. Anak itu adalah anak

satu-satunya. Anak yang dikasihinya melampaui seluruh isi dunia ini.

Dan anak itu ternyata telah hilang.

Empu Purwa yang tua itu, tiba-tiba menegangkan tubuhnya.

Hampir ia kehilangan penguasaan diri. Meskipun ia seorang pendeta

yang tekun. Namun ia adalah seorang manusia pula. Manusia yang

terdiri dari kulit daging. Manusia yang wadagnya masih memerlukan

air untuk minum dan nasi untuk makan. Manusia yang berjiwa kerdil

betapapun ia melampaui yang lain. Manusia yang lemah dan berakal

sempit, betapapun ia menguasai segala macam ilmu.

Dengan suara yang gemetar Empu Purwa bertanya pula kepada

Mahisa Agni, “Agni. Apakah di padepokan itu tidak ada seorang

manusia pun pada saat itu?”

“Ada garu.”

Empu Purwa menggeram. Dari sepasang matanya memencar api

kemarahan tiada berhingga. Belum pernah Mahisa Agni melihat

mata gurunya menyala sedemikian dahsyatnya, seakan-akan

seluruh bumi ini akan dibakarnya.

Mahisa Agni kemudian menundukkan wajahnya. Ia tidak berani

lagi menatap gurunya itu.

Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika gurunya bertanya

kepadanya.

“Agni kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”

Agni tidak tahu maksud pertanyaan gurunya. Sekali lagi ia

mengangkat wajahnya, namun kembali wajahnya tertunduk.

Meskipun demikian ia merasa aneh akan gurunya itu. Wajahnya

merah menyala, tetapi pertanyaannya itu diucapkannya perlahanlahan.

Namun dibalik ucapannya yang tampaknya tenang itu, terasa

bahwa di bawahnya tergenang air yang berputar sedahsyat

pusaran.

“Agni,” terasa suaranya menjadi semakin keras. Dan Agni

terkejut pula karenanya.

“Ya, Guru,” jawabnya.

“Kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”

“Tidak, Guru,” jawab Agni tergagap,

“Bendungan itu umurnya lebih dari umurmu. Akulah yang

membuat bendungan itu pada masa aku masih berguru. Sekali aku

dibawa oleh guruku merantau, dan sampailah aku ke daerah ini. Oh,

alangkah keringnya daerah ini dahulu,” desis orang tua itu.

Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu ke mana arah

pembicaraan gurunya. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia

mendengar gigi gurunya itu gemeretak.

“Alangkah marahnya Empu Purwa,” desah Mahisa Agni di dalam

hatinya. Tetapi ia tidak berani memandang wajah gurunya itu.

Kembali Mahisa Agni terkejut ketika terasa gurunya menarik

lengannya. Oh, alangkah dahsyat tenaga itu. Hampir ia jatuh

terjerembab. Dan dirasanya tangan gurunya gemetar.

“Agni,” berkata gurunya. Suaranya bergetar. Kini Mahisa Agni

tahu, bahwa gurunya mencoba menahan perasaannya.

“Ketika kami, aku dan guruku, melihat daerah ini sedemikian

keringnya, padahal dataran ini merupakan dataran yang baik sekali

untuk tanah-tanah persawahan, maka guruku memerintahkan

kepadaku, katanya, ‘Kalau kau benar-benar setia pada

perguruanmu, jadikanlah bendungan di sungai yang membelah

dataran ini. Dengan demikian kau tidak saja berjasa dalam

perjuangan melawan kekerasan dan kejahatan dengan ilmu tata

berkelahi dan bela diri, namun kau pun akan berjasa bagi

kemanusiaan dengan memberi lapangan hidup yang baru. Memberi

tanah pertanian yang subur’.”

“Demikianlah aku mulai dengan pekerjaanku. Bersama beberapa

orang cantrik dan seorang saudara seperguruanku. Nah, akhirnya

aku dapat memenuhi perintah guruku itu.”

“Dua tahun, aku ulangi Agni, dua tahun kami mengumpulkan

bahan-bahan untuk bendungan ini, dan hampir satu tahun kami

meletakkannya dan menyusunnya menjadi sebuah bendungan

sehingga dapat menaikkan air ke sawah-sawah. Bendungan itu pada

dasarnya tidak pernah rusak. Hanya perbaikan-perbaikan kecil

memang harus selalu dilakukan.”

“Sesudah itu Agni. Sesudah bendungan itu berhasil menaikkan

air, maka mulailah daerah ini menjadi daerah yang semakin lama

semakin ramai. Banyak orang mulai membuka tanah pertanian di

sini.”

“Oh, Agni. Aku tidak akan memperagakan jasa-jasa itu

kepadamu. Setiap orang-orang tua di Panawijen tahu, akulah yang

membuat bendungan itu.” Empu Purwa berhenti sejenak. Namun

nafasnya menjadi semakin deras mengalir, dan terdengar giginya

masih saja gemeretak. Dan tiba-tiba suara orang itu mengeras,

“Agni. Bukankah anakku itu hilang?”

Mahisa Agni benar-benar terkejut dan berdebar-debar

mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terbungkam, sehingga Empu

Purwa mengulanginya dengan nyala kemarahan yang memancar

dari sepasang matanya, “Agni. Bukankah begitu?”

“Ya, Guru,” sahut Agni ketakutan.

“Dan lukamu itu?”

“Aku berpapasan dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul

Ametung. Aku mencoba mencegah mereka. Dan sekali lagi aku

harus bertempur dengan Ken Arok.”

“He? Siapa? Hantu Karautan itu yang kau maksud?”

“Ya, Guru.”

“Lalu kau dilukainya dari belakang?”

“Tidak, Guru. Bukan hantu Karautan itu yang melukaiku. Tetapi

seorang Prajurit Tumapel memanahku pada saat aku sedang

bertempur dengan Ken Arok.”

“Dan anakku dibawanya ke Tumapel?”

Mahisa Agni mengangguk penuh kebimbangan.

“Oh, kasihan Ken Dedes itu. Kasihan anakku itu.” suaranya Empu

Purwa merendah. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya.

Anak itu adalah anak satu-satunya. Dibayangkannya bagaimana

gadisnya itu menjadi ketakutan. Dibayangkannya betapa kasar Kuda

Sempana itu menarik tangan anaknya, kemudian dengan nafsu yang

menyala-nyala membawa anaknya itu ke Tumapel dalam

perlindungan Akuwu Tunggul Ametung.

Tiba-tiba orang tua itu kehilangan keseimbangan nalarnya.

Betapapun mumpuninya Empu Purwa dalam olah ilmu lahir dan

batin, namun ia adalah seorang manusia biasa. Sehingga karena

itulah maka apabila kelemahannya sebagai manusia telah

menguasai perasaannya, hilanglah segala macam ilmu dan

kelebihannya dari manusia lain. Empu Purwa itu pun kemudian

kehilangan segala macam kelebihan-kelebihannya, kesabaran,

kelapangan dada dan kelunakan hati.

Sehingga tiba-tiba terdengarlah dari sela bibir orang tua itu katakata

yang nyaring membelah kesepian. “Agni, semoga suaraku ini

didengar oleh Yang Maha Agung. Semoga suaraku ini akan terjadi

kelak. Terkutuklah! Terkutuklah mereka itu yang telah bersepakat

untuk melarikan anakku! Hai, orang yang melarikan anakku, semoga

tidak langsung mengenyam kenikmatan, matilah ia dibunuh dengan

keris.”

“Guru!” teriak Mahisa Agni memotong kata-kata gurunya. Anak

muda itu dapat merasakan getar suara gurunya yang benar-benar

telah menjatuhkan kutuk yang dahsyat. Namun Empu Purwa sama

sekali tidak mendengarkannya. Bahkan kemudian orang tua itu

berpaling memandangi bendungan yang selama ini merupakan

sumber kesuburan Panawijen. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar

gurunya itu berkata dengan suara gemetar terbakar oleh kemarahan

yang meluap-luap, “Bendungan itu menjadi saksi apa yang telah aku

lakukan untuk Panawijen. Tetapi orang-orang Panawijen sama sekali

tidak mengimbanginya. Dibiarkannya anakku dilarikan orang tanpa

perlindungan. Apakah orang sepadukuhan ini sama sekali tidak

berdaya untuk mencegahnya. Oh, semoga terjadi pula kata-kataku

ini atas Panawijen. Semoga keringlah tempat mereka mengambil air,

semoga keringlah semua kolam-kolamnya, karena mereka berdosa

membiarkan anakku dilarikan orang dengan paksa.”

“Guru!” sekali lagi terdengar suara Mahisa Agni melengking.

Namun sekali lagi Empu Purwa tidak mendengar suara Mahisa Agni

itu. Bahkan dengan serta-merta orang itu meloncat dengan

cepatnya. Seakan-akan lebih cepat dari kilat yang menyambar di

udara. Mahisa Agni tidak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya mampu

berdiri tegak sambil ternganga melihat gurunya dengan kecepatan

yang mengagumkan berlari ke arah bendungan.

Mahisa Agni sama sekali tidak dapat meraba maksud gurunya itu.

Karena itu maka ia sama sekali tidak mencoba untuk berbuat

sesuatu.

Namun dada Mahisa Agni itu kemudian berdesir tajam ketika ia

melihat Empu Purwa meloncat dan meluncur ke bawah bendungan

itu, sehingga orang tua itu hilang dari pengamatannya.

Mahisa Agni yang ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan

oleh gurunya, tanpa dikehendakinya sendiri, ia pun melompat berlari

meloncati tanggul di sisi bendungan itu. dari sana ia melihat

gurunya yang berdiri tegak di bawah air yang melontar dari atas

bendungan.

Semula Mahisa Agni tidak segera dapat mengetahui apa yang

akan dilakukan oleh gurunya. Namun tiba-tiba terasa sesuatu

menampar dadanya. Terasa seakan-akan darahnya membeku dan

tubuhnya menjadi lemas. Dengan mata terbelalak ia melihat

gurunya itu berdiri tegak seperti tertanam jauh ke pusat bumi.

Namun tiba-tiba ia melihat gurunya menarik satu kakinya ke

belakang dan menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya.

Apa yang dilihat oleh Mahisa Agni itu benar-benar telah

menghantam jantungnya, seakan-akan jantung di dalam dadanya

itu akan pecah. Dalam puncak kecemasan anak muda itu berteriak

nyaring, “Jangan Guru! Jangan!”

Tetapi suara Mahisa Agni itu seperti desau angin yang meluncur

tanpa bekas. Empu Purwa itu benar-benar telah memusatkan

segenap kekuatan lahir dan batinnya.

Tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni berteriak. Tinggi dan

melengking, memancarkan kekhawatiran, namun juga

keputusasaan, “Guru, Guru, Jangan!”

Tetapi Mahisa Agni itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi

perasaan gurunya yang sedang gelap pepat. Perasaan seorang ayah

yang kehilangan gadis satu-satunya.

Mahisa Agni itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua

tangannya. Namun ia ingin juga melihat apa yang terjadi, sehingga

tanpa dikehendakinya anak muda itu telah mengintip dari sela-sela

jari tangannya sendiri.

Mahisa Agni itu melihat Empu Purwa meloncat tinggi seolah-olah

melenting seperti seekor belalang. Sedemikian kuat daya loncatnya

sehingga orang tua itu hampir-hampir dapat mencapai bibir

bendungan itu. Tetapi apa yang dilakukan adalah mengerikan sekali.

Dengan penuh luapan kemarahan, Empu Purwa telah melepaskan

kekuatannya, lewat ajinya yang dahsyat, Gundala Sasra,

menghantam bibir bendungan itu.

Mahisa Agni mendengar suara gemuruh pada bendungan itu.

Dilihatnya permukaan air berguncang. Berguncang seperti

guncangan-guncangan di dalam dada Mahisa Agni sendiri.

Apalagi ketika ia melihat gurunya itu sekali lagi melenting, sekali

lagi mengayunkan ke bibir bendungan itu.

Seakan-akan dadanya sendirilah yang terhantam oleh kekuatan

yang dahsyat. Kekuatan aji Gundala Sasra.

Mahisa Agni sekali lagi mendengar suara gemuruh di bendungan

itu. Sekali lagi ia melihat dari sela-sela jari-jarinya air terguncang

dengan kerasnya. Namun kali ini ia melihat juga batu yang meloncat

berhamburan. Bibir bendungan itu kini benar-benar telah pecah.

Pecah berserakan. Berunjung-berunjung batu berguguran seperti

dihantam oleh ledakan gunung Semeru.

Mahisa Agni benar-benar menjadi ngeri. Terdengar ia menjerit

tinggi. Melengking di antara suara reruntuhan batu-batu dan

kemudian disusul oleh luapan air yang meluncur dengan cepatnya,

lewat celah-celah bendungan yang runtuh itu.

Sekejap Mahisa Agni masih melihat gurunya meloncat

menghindari air yang meluap. Dan sekejap Mahisa Agni melihat

betapa air yang meluap itu telah menambah luka bendungan itu

menjadi semakin parah. Batu demi batu hanyut meluncur di antara

air yang mengalir sangat derasnya. Sejengkal demi sejengkal luka

bendungan itu menjadi semakin lebar. Sehingga kemudian Mahisa

Agni tidak tahan lagi melihatnya.

Sekali lagi terdengar ia berteriak, “Hancur! Bendungan itu

hancur!”

Mahisa Agni itu pun kemudian memutar tubuhnya membelakangi

bendungan yang semakin lama semakin parah. Di tutupnya kedua

lubang telinganya. Ia tidak mau mendengar suara yang gemuruh

itu. Suara yang ditimbulkan oleh guguran-guguran batu bendungan

yang semakin lama semakin keras. Seperti guguran-guguran di

hatinya. Terbayang sudah apa yang akan terjadi atas padukuhan ini.

Panawijen benar-benar akan menjadi kering. Akan keringlah tempat

mengambil air dan akan kering pulalah seluruh kolam-kolamnya.

Sawah-sawah akan tidak lagi dapat diairi, sebab selokan-selokan

pun akan menjadi kering pula karenanya.

Terbayang kini, apa yang selama ini pernah dilakukannya di

Panawijen. Hampir separuh dari waktunya sehari-hari dihabiskannya

di sawah-sawah dan di bendungan ini. Bendungan yang menjadi

lambang kesuburan padukuhan Panawijen dan padepokan gurunya.

Bendungan yang dapat menjadi tempat yang menenangkan bagi

anak-anak muda. Pasir yang putih dan air yang tergenang. Wajah

air yang tenang, di mana kawan-kawannya dan dirinya sendiri

sering bermain-main di dalamnya. Berenang, berkejaran di dalam air

dan bahkan beradu ketangkasan.

Tetapi kini bendungan itu runtuh. Runtuh dan runtuhnya

bendungan ini akan menjadi pertanda pula keruntuhan padukuhan

Panawijen.

Mahisa Agni menjadi semakin ngeri. Tangannya masih saja

menyumbat kedua telinganya. Ia masih tidak mau mendengar dan

melihat gemuruhnya bendungan itu hancur.

Namun dengan demikian, ia sama sekali tidak merasa bahwa

tanah yang dipijaknya itu pun sedikit demi sedikit menjadi goyah.

Air yang deras itu telah menggugurkan tebing sungai itu pula,

sehingga sisi tanggul itu pun sedikit demi sedikit runtuh pula dibawa

arus.

Mahisa Agni baru menyadari keadaannya ketika ia merasa dirinya

terguncang. Betapa ia terkejut, ketika tanah yang dipijaknya seolaholah

meluncur turun. Mula-mula perlahan-lahan sekali, namun

semakin lama semakin cepat.

Mahisa Agni segera dapat menduga apa yang telah terjadi.

Dengan gerak naluriah ia meloncat, untuk menghindarkan diri dari

bencana yang menyeretnya. Tetapi, tanah yang meluncur itu sama

sekali tidak dapat dipakainya sebagai tempat berjejak.

Dalam kesibukannya berusaha untuk menyelamatkan diri, tibatiba

Mahisa Agni merasa, sepasang tangan menyambar lengannya,

kemudian dengan satu kekuatan yang besar, ia terlempar ke

samping dan kemudian jatuh berguling di atas pasir. tetapi ia tidak

ikut runtuh bersama tanggul sungai itu. Dalam keadaannya itu

Mahisa Agni masih sempat melihat, seseorang yang menariknya itu

meloncat dan jatuh pula di sampingnya.

Cepat-cepat Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya orang yang

menolongnya itu bangkit pula. Ternyata bahwa orang itu adalah

gurunya, Empu Purwa.

Sebuah getaran yang dahsyat telah melanda dada anak muda

itu. Sedemikian dahsyatnya sehingga ia tidak mampu lagi untuk

menahannya. Karena itu maka dengan serta-merta Mahisa Ani

meloncat berjongkok di hadapan gurunya. Bahkan kemudian sambil

memeluk kaki orang tua itu Mahisa Agni berdesis, “Guru, Guru,

kenapa semua ini harus terjadi? Panawijen sedang berkabung. Dan

kini Panawijen menjadi semakin hancur.”

Sejenak orang tua itu berdiam diri. Matanya kini tidak lagi

menyalakan kemarahan hatinya yang meluap-luap. Bahkan mata itu

kini menjadi redup, bagaikan pelita yang kehabisan minyak.

“Agni,” berkata Empu Purwa perlahan-lahan, “aku tidak dapat

menahan perasaanku. Kenapa orang-orang Panawijen sama sekali

tidak memiliki rasa kesetiakawanan. Kenapa dibiarkan anakku satusatunya

itu dibawa orang.”

“Tidak Empu,” bantah Agni, “Panawijen tidak berdiam diri. Dan

Panawijen bahkan telah mengorbankan seorang anak mudanya.”

“Agni,” Empu Purwa terkejut mendengar keterangan itu, “apakah

yang kau maksudkan?”

“Guru. Dalam mempertahankan Ken Dedes, Wiraprana

terbunuh.”

“He,” sebuah bentakan telah mengguncangkan dada Empu

Purwa. Baru kini ia mendengar bahwa telah terjadi perjuangan

untuk mempertahankan anaknya. Bahkan anak Buyut Panawijen itu

terbunuh.

Kembali Empu Purwa terdiam. Terasa hatinya terpecah-pecah.

Ketika ia berpaling, dan dilihatnya air yang cokelat bergulung-gulung

mengalir menurut jalur-jalur sungai, Empu Purwa menarik nafas

dalam-dalam. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Mahisa Agni

berkata, “Guru. Akuwu Tunggul Ametung datang dengan para

prajuritnya. Mereka membawa tombak, panah dan perlengkapan

perang yang cukup. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh

penduduk Panawijen itu. Apakah mereka dapat menghadapi ujung

tombak, pedang dan bedor-bedor panah?”

Kepala Empu Purwa tertunduk mendengarkan kata-kata Mahisa

Agni itu. Tumbuhlah penyesalan di dalam dirinya. Penyesalan atas

kelemahannya, kelemahan jiwanya.

Namun Ken Dedes itu adalah satu-satunya. Tempat ia

meletakkan harapan untuk memperpanjang namanya. Kalau anak

itu menemui kesulitan, maka hari yang akan datang bagi orang tua

itu, adalah hari yang gelap. Lenyaplah urutan saluran darahnya.

Tetapi ternyata, kecintaannya kepada satu-satunya anaknya itu

telah menggelapkan hatinya. Menggelapkan perasaannya, sehingga

ia tidak menyadari apakah yang telah dilakukannya.

Dan benarlah kata-kata Mahisa Agni. Panawijen sedang

berkabung, dan kini Panawijen menjadi hancur.

Empu Purwa itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.

Disuruhnya muridnya duduk pula. Dengan mata yang sayu

keduanya memandangi air yang masih saja meluap-luap

menghanyutkan batu-batu bendungan. Dan luka pada bendungan

itu pun menjadi semakin lama selebar.

“Agni,” desis gurunya, “ternyata aku telah khilaf.”

Agni menundukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa bendungan

itu telah hancur.

“Agni,” berkata orang tua itu pula, “tak ada kata-kata yang dapat

aku pakai untuk menjelaskan, apa sebabnya aku telah menjadi mata

gelap. Tetapi aku mengharap kau dapat merasakannya.”

Mahisa Agni mengangguk. Perasan seseorang memang kadangkadang

serupa dengan seekor kuda. Betapa kuda itu dapat

dijinakkan, namun suatu ketika, dalam keadaan yang tidak dapat

dimengerti kuda itu dapat menjadi liar dan tanpa dapat dikuasainya.

Seperti yang pernah terjadi pada dirinya sendiri. Apabila pada saat

itu Wiraprana dapat ditemukan, pada saat ia merasa kehilangan

kesempatan untuk mendapatkan Ken Dedes, mungkin ia sendirilah

yang telah membunuh anak muda itu.

Tetapi Empu Purwa adalah seorang pendeta. Bukan lagi seorang

anak muda yang binal seperti dirinya sendiri. Empu Purwa selama

ini selalu berbuat baik. Sabar dan seolah-olah tidak lagi mempunyai

kepentingan dengan masalah-masalah duniawi. Banyak nasihatnasihatnya

yang dapat mengendapkan perasaannya. Namun tibatiba

orang tua itu sendiri telah berbuat sesuatu yang tanpa

pengendalian diri. Tetapi Mahisa Agni tidak berani bertanya. Ia

hanya dapat memandangi wajah orang tua itu. Wajah yang sayu

suram. Dan dengan tiba-tiba Empu Purwa itu telah menjadi jauh

semakin tua.

“Agni,” berkata orang tua itu, “jadikanlah peristiwa ini peringatan

bagimu. Mungkin kau menganggap aku seorang guru yang baik.

Seorang guru yang tanpa cacat tanpa cela. Tetapi kau kini

menyaksikan sendiri, bahwa aku adalah manusia biasa. Manusia

yang bagaimanapun juga, adalah manusia yang dikuasai oleh segala

macam masalah duniawi. Dan aku telah tergelincir pula ke

dalamnya. Masalah yang sangat mementingkan diriku sendiri. Agni.

Jadikanlah peristiwa ini suatu peringatan. Bahwa manusia itu selalu

dilumuri oleh kekerdilan jiwa, nafsu dan kepentingan diri sendiri.”

Ketika Mahisa Agni mencoba memandang wajah orang tua itu,

hati Mahisa Agni pun berdesir. Dilihatnya sepasang mata orang tua

itu menjadi semakin muram. Dan dilihatnya pula selapis air yang

tergenang.

“Agni,” katanya lirih, “aku menyesal. menyesal sekali. Tetapi

semuanya telah terlanjur. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa

Wiraprana telah terbunuh. Dan kini aku menjadikan Panawijen

semakin berkabung.”

Kata-kata itu terhenti, seakan-akan sesuatu menyumbat

kerongkongan Empu Purwa. Sekali orang tua itu berpaling. Tetapi

ketika dilihatnya bendungan itu semakin hancur dilanda air, maka

segera ia melemparkan pandangan matanya ke kejauhan. Ke

puncak Gunung Kawi yang megah.

Angin yang lembut masih saja mengalir mengusap tubuh mereka

yang duduk lemah di atas pasir tepian. Awan yang hanyut ke utara.

Di ujung barat, awan berarak-arak menggamit tubuh Gunung Kawi

yang seolah-olah acuh tak acuh saja.

“Mahisa Agni,” kembali terdengar gurunya berkata, “betapa besar

kesalahan yang telah aku lakukan, namun aku ingin kau muridku,

jangan membuat kesalahan yang sama berhati-hatilah anakku.

Namun jangan pernah merasa dirimu lepas dari segala kemungkinan

yang jahat. Karena itu, apabila kau melihat kesalahan, jangan kau

maki yang melakukan kesalahan itu. Jangan kau hinakan, dan

jangan kau campakkan dari pergaulanmu. Tetapi ingatlah bahwa

kau pun akan dapat jatuh ke dalam kesalahan. Kepada mereka,

usahakanlah, luruskan jalannya, supaya kesalahanmu diluruskan

pula. Adalah keluhuran bagimu di hadapan Yang Maha Agung,

apabila kau dapat meluruskan yang bengkok menyadarkan yang

bersalah, daripada membinasakannya. Sebab bagi Yang Maha

Agung, setiap kesalahan yang disesali sepenuh hati, pastilah akan

dimaafkannya. Yang Maha Agung pasti akan memaafkan

kesalahanmu pula Agni, apabila kau memaafkan kesalahan orang

lain. Tetapi aku tidak tahu, apakah orang-orang Panawijen akan

memaafkan aku.”

Mahisa Agni menunduk dalam-dalam. Dalam keadaan yang

sepahit-pahitnya gurunya masih sempat mengambil contoh yang

terdekat, contoh dari dirinya sendiri. Namun apa yang dikatakannya

itu, langsung menghunjam ke dalam hatinya.

Tetapi Mahisa Agni itu kemudian terkejut ketika gurunya berkata,

“Agni. Meskipun orang-orang Panawijen akan memaafkan

kesalahanku, tetapi aku tidak akan dapat hidup lagi di padepokanku

itu. Padepokan itu akan selalu mengingatkan aku kepada anakku

yang tunggal itu. Karena itu Agni, aku akan pergi. Aku akan

menghabiskan sisa umurku ini untuk melakukan pendekatan diri.

Pendekatan diri untuk menghadap Yang Maha Agung, supaya aku

dibebaskan dari kemungkinan mengalami sengsara pada masa yang

langgeng.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dari sela-sela bibirnya

terdengar ia berdesah, “Guru, apakah guru akan meninggalkan

Panawijen?”

“Ya.”

“Ke mana?”

“Aku tidak tahu Agni. Aku akan pergi menurut langkah kakiku.

Tetapi hatiku akan menuntunku untuk mendekatkan diri pada

Sumber Hidupku.”

“Jangan guru,” Mahisa Agni mencoba mencegahnya, “biarlah

guru tetap di Panawijen. Aku akan berbuat untuk kepentingan guru.

Akulah yang akan mempertanggung jawabkan apabila orang-orang

Panawijen menjadi marah karena bendungan pecah. Bukankah aku

akan dapat juga mencoba memperbaikinya?”

“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang-orang Panawijen?”

“Aku akan memintakan maaf kepada mereka.”

“Kalau mereka tidak memaafkan?”

“Mustahil.”

“Bukan mustahil Agni. Mereka pun sedang diamuk oleh gelora

perasaannya seperti aku.”

Mahisa Agni diam sejenak. Tiba-tiba ia berkata lantang, “Guru.

Aku adalah seseorang yang pernah mendapatkan limpahan

kemurahan Empu. Apakah aku tidak dapat berbuat sesuatu untuk

Empu di sini? Seandainya orang-orang Panawijen itu marah dan

tidak mendengarkan permintaanku. Baiklah, apakah yang akan

mereka kehendaki. Kasar, halus, aku tidak akan gentar.”

Wajah Empu Purwa itu pun menjadi semakin muram. Ditepuknya

punggung Mahisa Agni sambil berkata, “Terima kasih Agni. Aku

mengucapkan terima kasih akan kesetiaanmu itu. Tetapi apakah kau

sudah berbuat dengan tepat, apabila benar-benar terjadi demikian?

Mungkin aku dapat juga berbuat seperti apa yang akan kau lakukan

itu Agni, namun akibatnya adalah benturan-benturan perasaan yang

meluap-luap tanpa terkendali. Korban akan berjatuhan, dan akan

terkutuk pulalah namaku dan namamu di hadapan orang-orang

Panawijen. Bukan sekadar di hadapan orang-orang Panawijen Agni,

namun akan terkutuklah namaku dan namamu di hadapan Yang

Maha Agung. Karena aku dan kau telah memperlihatkan

kemenangan-kemenangan jasmaniah untuk melindungi kesalahan

yang telah aku lakukan.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban gurunya itu. ia

pun kemudian menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah

karena malu. Ternyata bahwa perasaannya benar-benar seperti

kuda liar yang tidak tunduk pada kendalinya.

“Alangkah bodohnya aku,” gumamnya di dalam hati, “seandainya

demikian apakah aku lebih sakti daripada guruku itu? Seandainya

harus bertahan dengan kekerasan. Oh, alangkah bodohnya aku.”

Namun terdengar gurunya berkata, “Sudahlah Agni. Kembalilah

ke Panawijen. Mintalah maaf kepada orang-orang Panawijen atas

namaku. Aku akan pergi sebelum aku menyentuh halaman

padepokanku dengan ujung kakiku.”

“Tentang bendungan ini Agni, ingat-ingatlah. Jangan kau bangun

kembali di bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil. Di

sekitar tempat ini kau tidak mendapat cukup bahan untuk

membangunkannya. Batu-batu yang tidak begitu banyak telah habis

aku kumpulkan beberapa puluh tahun yang lalu.”

“Tetapi aku dan anak-anak muda Panawijen akan mampu

mengumpulkannya,” jawab Mahisa Agni.

Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni yang bersungguhsungguh.

Terpancar dari kedua belah matanya, tekadnya yang

menyala untuk membangun bendungan itu kembali.

Namun gurunya itu berkata, “Tidak Agni. Di daerah ini tidak

cukup bahan untuk keperluan itu. Beberapa puluh tahun yang lalu

aku dan beberapa orang cantrik memerlukan waktu dua tahun

untuk mengumpulkan bahan-bahannya. Dan bahan-bahan itu kini

sudah tidak ada lagi di sekitar tempat ini. Karena itu, Agni. Kalau

kau mau mendengarkan kata-kataku, berjalanlah menyusur sungai

ini ke hulu. Bawalah orang-orang Panawijen untuk membangun

bendungan di daerah Padang Karautan. Padang rumput itu akan

menjadi tanah persawahan yang subur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang di daerah itu

banyak terdapat batu-batu besar kecil. Tetapi daerah itu bukanlah

daerah yang telah siap untuk dikerjakan. Di daerah itu masih harus

dibangun parit-parit dan jalur-jalur air ke tengah padang rumput itu.

Empu Purwa melihat keraguan di wajah muridnya. Katanya,

“Agni. Kalau kau bangun bendungan yang jebol itu, maka kau akan

menemui banyak kesulitan. Selain daripada itu Agni. Bendungan itu

akan selalu membangunkan kenangan pahit bagiku. Seandainya

suatu ketika aku berkesempatan lewat di daerah ini, maka hatiku

pasti akan terluka kembali karena kenangan yang pedih itu. Karena

itu, cobalah. Biarlah rakyat Panawijen bangun dari tidurnya. Rakyat

Panawijen yang selama ini seakan-akan tinggal memetik buah dari

pepohonan yang ditanam oleh orang lain itu, biarlah mencoba untuk

menilai kekuatan mereka sendiri. Sebab selama ini ternyata

Panawijen telah menjadi suatu daerah yang sangat lemah. Daerah

yang diliputi oleh suasana yang terlalu sepi dan diam. Cobalah Agni,

Cobalah membangunkannya, supaya mereka mengenal arti kerja

yang sebenarnya. Usaha mengadakan yang belum ada. Bukan

sekedar puas apa yang telah dimilikinya.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat membantah

perintah gurunya. Alasan-alasannya memang dapat dimengerti

seluruhnya. Bahan-bahan yang terlalu kurang, alasan-alasan

perasaan gurunya yang pahit dan kerja untuk membangunkan

Panawijen yang selama ini telah tertidur nyenyak.

Mahisa Agni itu kemudian terperanjat ketika gurunya berkata

sekali lagi kepadanya, “Agni. Biarlah sekarang aku pergi membawa

sisa hidupku. Aku dahulu pernah menjadi seorang perantau.

Sekarang aku akan mengulangi cara hidupku itu.”

“Tetapi Guru,” bantah Agni terbata-bata, “Guru sekarang sudah

semakin tua. Dahulu Guru mungkin masih semuda aku.”

“Sekarang hatiku sudah semakin mengendap Agni. Aku tidak

akan mengulangi cara-cara hidupku pada masa-masa itu. Sisa

hidupku adalah kesempatan terakhir untuk menilai diriku di hadapan

Yang Maha Agung.”

“Jangan Guru. Tinggallah sementara di Panawijen, Guru dapat

mengawasi pekerjaan kami, membangun bendungan di tengah

padang rumput itu.”

Empu Purwa menggeleng, “Tidak Agni.”

“Kenapa?” desak Agni.

“Kau adalah muridku. Umurmu sudah cukup dewasa. Aku tidak

perlu lagi menganggapmu anak-anak yang harus aku tunggui siang

malam dalam tugasmu. Cobalah. Kalau kau muridku, maka kau akan

mampu melakukannya, seperti aku dahulu melakukan. Aku

membangun bendungan ini, dan sekarang kau pun harus berbuat

seperti aku. Melihat kemampuan diri.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat menjawab

lagi. Karena itu, maka yang terasa kemudian adalah debar yang

semakin keras di dalam hatinya.

Ketika ia kemudian melihat gurunya berdiri, dengan serta-merta

ia pun meloncat berdiri sambil berdesis, “Guru. Ke manakah aku

harus pergi, seandainya suatu ketika aku ingin bertemu dengan

Guru.”

“Bukan kau yang akan mencari aku Agni. Tetapi akulah yang

akan datang kepadamu apabila aku masih mendapat kesempatan.”

“Mungkin suatu ketika aku harus menghadap guru, apabila aku

melihat perkembangan yang terjadi atas Ken Dedes di Tumapel.”

Tiba-tiba Empu Purwa itu mengerutkan keningnya. Terasa bahwa

sesuatu bergetar di dalam hatinya.

“Guru,” berkata Agni kemudian, “aku minta izin guru, untuk suatu

ketika mengambil Ken Dedes dari Kuda Sempana.”

Empu Purwa menggeleng, “Agni. Apabila Kuda Sempana sudah

mendapat perlindungan Akuwu Tunggul Ametung, maka

persoalannya sudah menjadi semakin sulit. Kalau kau tentang

perbuatan itu dengan kekerasan, maka apakah kau dan bahkan

mungkin aku, akan dapat melawan seluruh Tumapel? Agni, jangan

melawan Akuwu Tunggul Ametung dalam kedudukannya. Dengan

demikian berarti kau melawan kekuasaannya. Karena itu Agni, aku

menyesal, bahwa aku telah menghancurkan bendungan itu,

mengeringkan sumber air bagi Panawijen, tetapi aku benar-benar

tidak menyesal seandainya Yang Maha Agung benar-benar berkenan

membebaskan anakku dari mereka yang telah melarikannya dengan

paksa.”

Sekali lagi Mahisa Agni tertunduk. Dipandanginya pasir yang

memutih di bawah kakinya.

Dan kembali ia mendengar gurunya berkata, “Agni. Aku akan

pergi. Aku akan berdoa, semoga Yang Maha Agung mendengarkan

aku pula kali ini. Semoga anakku akan selamat dan mendapat

kebahagiaan yang besar.”

Demikian Empu Purwa selesai mengucapkan kata-katanya, maka

segera ia melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni

itu berjalan pula di belakangnya sambil berkata, “Guru, Guru.

Jangan pergi.”

Empu Purwa berpaling. Jawabnya, “Agni. Kau bukan anak-anak

lagi. Berbuatlah seperti seorang yang telah dewasa. Aku akan pergi.

Jangan kau ikuti aku. Bawalah rakyat Panawijen ke dalam suatu

suasana kerja. Mengadakan yang belum ada. Memperbaharui yang

telah rusak.”

Tetapi Mahisa Agni masih saja berjalan mengikuti gurunya sambil

berkata, “Jangan Empu. Kami masih memerlukan tuntunan Guru.”

Empu Purwa berhenti. Ditatapnya mata Mahisa Agni tajam-tajam.

Kemudian katanya, “Agni. Kau adalah muridku. Jangan

mengecewakan gurumu. Seorang anak muda yang seumurmu itu

seharusnya sudah mampu berdiri sendiri. Nah. Kembalilah ke

Panawijen. Di sanggarku akan kau temui Trisula kecil itu. Simpanlah

benda itu baik-baik. Sebagaimana aku telah menyimpannya. Kalau

kemudian kau mempercayai seseorang kelak Agni, kau dapat

memberikannya kepada orang itu. Seperti aku menyerahkan

kepadamu.”

Mahisa Agni tertegun diam. Ketika gurunya menyebut Trisula

kecil itu hatinya bergetar. Apalagi ketika gurunya berkata, “Agni,

dengan Trisula itu, maka kau telah mewakili aku di padepokanku.

Kalau kau kelak bertekun diri, maka ilmumu yang telah lengkap itu

akan menjadi semakin masak. Tanpa aku kau akan dapat menjadi

seorang yang kuat. Namun ingat Agni, ingat bahwa tak ada

kekuatan, kecakapan dan kemampuan yang sempurna. Yang satu

akan mengalahkan yang lain, dan yang lain lagi akan mengatasinya.

Karena itu jangan sombong dengan ilmu dan pusaka yang telah kau

miliki.”

Perlahan-lahan sekali terdengar Mahisa Agni bergumam, “Ya,

Guru.”

“Nah, baiklah. Aku akan berjalan terus. Sekali-sekali aku akan

mengunjungimu.”

Mahisa Agni masih berdiri mematung. Ketika dilihatnya gurunya

melangkah kembali maka dari mulutnya meluncur kata-katanya,

“Selamat jalan, Guru.”

“Terima kasih Agni,” sahut gurunya.

Mahisa Agni kemudian hanya dapat melihat gurunya berjalan.

Langkahnya adalah langkah seorang tua yang kelelahan. Perlahanlahan

dan bahkan tampak betapa sukar ia mengayunkan kakinya.

Sebuah tongkat tergenggam di tangannya.

“Hem,” Mahisa Agni berdesah. Alangkah jauh bedanya dengan

Empu Purwa ketika meloncat dan memecahkan bendungan itu.

Alangkah jauh bedanya dengan orang yang pernah ditemuinya di

kaki Gunung Semeru dan menamakan dirinya Empu Pedek.

Meskipun orang itu berbuat seolah-olah timpang, namun geraknya

tangkas dan lincah. Sekarang dilihatnya Empu Purwa itu berjalan

tertatih-tatih.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya langkah

gurunya sampai jauh menyusur pinggir sungai. Tiba-tiba di kejauhan

Mahisa Agni melihat gurunya itu menuruni tebing, dan dengan hatihati

berjalan menyeberangi sungai. Sungai di atas bendungan itu

ternyata telah menjadi semakin dangkal.

Anak muda itu diam mematung sampai Empu Purwa hilang

dibalik tanggul di seberang sungai. Lamat-lamat ia melihat orang

tua itu seperti hilang ditelan bumi.

Tetapi alangkah terkejut Mahisa Agni kemudian ketika ia

mendengar suara hiruk-pikuk. Ketika Mahisa Agni berpaling,

dilihatnya empat anak-anak muda berlari-lari menuju ke bendungan

itu. Dari jauh telah terdengar mereka berteriak, “Agni. Apakah yang

telah terjadi, kenapa sungai ini banjir, sedang hujan tidak turun?

Apakah bendungan itu rusak?”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi terasa hatinya berdesir.

Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan anak-anak muda itu

apabila mereka bertanya, kenapa bendungan itu pecah?

Dengan gelisah Mahisa Agni melihat keempat anak-anak muda

itu menjadi semakin dekat.

Demikian mereka sampai ke pinggir sungai, maka segera mereka

meloncat ke dekat bendungan yang pecah itu. Dengan terbata-bata

mereka serentak berdesah, “Oh. Bendungan ini pecah?”

Keempatnya memandangi arus air yang masih saja mengalir

dengan derasnya itu seperti memandang bencana yang sudah

terbayang di depan matanya.

“Pecah! Pecah!” mereka mengulangi.

Kemudian salah seorang dari mereka berpaling kepada Mahisa

Agni sambil bertanya, “Agni. Kenapa bendungan itu pecah?”

Agni tidak segera menjawab. Ia masih dikuasai oleh

kebimbangan hatinya. Sekali-sekali dipandanginya keempat anakanak

muda itu. Betapa wajah mereka menjadi pucat seperti mayat.

Bibir mereka bergetar seperti orang kedinginan. Namun kemudian

dilayangkannya matanya ke bendungan yang pecah itu.

“Kenapa Agni?” desak mereka.

Agni menggeleng lemah. Katanya tanpa menjawab pertanyaan

itu, pertanyaan tentang bendungan, katanya, “Dari manakah

kalian?”

“Aku sedang berada di sawah Agni,” jawab salah seorang dari

mereka, “Ketika aku mendengar suara riuh di dalam sungai segera

aku menengok. Ternyata sungai itu tiba-tiba banjir, sedangkan

udara sangat cerah. Di hulu pun sama sekali tidak tampak awan

atau mendung. Karena itu aku menjadi cemas. Mencemaskan

bendungan ini, ternyata bendungan ini benar-benar pecah.”

“Kenapa bendungan ini pecah Agni? Bukankah kau berada di

tempat ini? Mungkin kau melihat sebabnya,” bertanya yang lain.

Mahisa Agni masih belum menjawab pertanyaan mereka.

Katanya, “Apakah Ki Buyut Panawijen telah diberi tahu?”

“Belum,” sahut salah seorang dari mereka. Dan tiba-tiba ia

berkata pula, “Aku akan memberitahukan kepada Ki Buyut.”

Anak itu tidak menunggu jawaban. Segera ia meloncat berlari

sekencang-kencangnya menuju ke padukuhan mereka.

Ketiga kawannya dan Mahisa Agni masih merenungi bendungan

yang pecah itu. Kini bendungan itu telah benar-benar runtuh. Batubatunya

telah hanyut berserakan. Bahkan arus airnya yang meluapluap

telah menggugurkan tebing-tebing sungai itu, sehingga sungai

itu seakan-akan menjadi semakin lebar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kepalanya

masih terngiang suara gurunya, “Jangan kau bangun kembali di

bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil.”

Dan ternyata kini ia melihat di bekas bendungan sungai itu

seakan-akan menjadi semakin lebar dan curam. Ternyata air tidak

saja menggugurkan tebing, tetapi juga menggali dasar sungai itu

menjadi semakin dalam.

Tak seorang pun yang mulai berbicara. Mereka masing-masing

sedang merenungi angan-angan masing-masing. Ketiga anak-anak

muda itu tenggelam dalam kecemasan yang sangat. Pecahnya

bendungan itu berarti sawah-sawah mereka akan menjadi kering.

Kolam-kolam ikan, dan dengan demikian Panawijen akan menjadi

kering pula. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa

bendungan itu tiba-tiba menjadi pecah.

Sesaat kemudian, sekali lagi terdengar hiruk-pikuk mendekati

tebing itu. Ketika anak-anak muda itu berpaling, mereka melihat

berbondong-bondong orang berlari-larian. Bukan saja Ki Buyut

Panawijen, tetapi juga orang-orang lain, laki-laki, perempuan tua

muda. Mereka ingin menyaksikan sumber hidup mereka yang rusak.

Seakan-akan berita itu sama sekali tidak pernah akan terjadi.

Ketika mereka sampai di pinggir kali itu, maka serentak tertegun

diam. Mereka hampir tidak percaya akan mata mereka sendiri.

Bendungan itu telah jebol. Hancur. Dan air yang tergenang naik ke

parit-parit kini telah semakin susut. Sebentar lagi air itu akan

semakin berkurang, sehingga bendungan itu nanti akan menjadi

sedangkal mata kaki.

Ki Buyut Panawijen berdiri dengan wajah yang pucat. Sekali ia

memandang rakyatnya yang tidak kalah cemasnya dari dirinya

sendiri.

Kemudian kepada anak muda yang memberitahukannya

kepadanya, Ki Buyut bertanya, “Bagaimana mungkin bendungan ini

pecah?”

Anak muda itu menggeleng, “Aku tidak tahu Ki Buyut.”

“Tidak adakah yang melihat sebab dari pecahnya bendungan ini,”

kembali terdengar suara Ki Buyut parau.

Anak muda itu menggeleng. Namun tiba-tiba salah seorang dari

ketiga anak muda yang ditinggal di tepi sungai itu berkata, “Ketika

kami sampai di bendungan ini, Agni telah berdiri di sini.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia

berpaling ke arah Mahisa Agni. Katanya, “Agni. Apakah kau melihat

sebab dari pecahnya bendungan ini?”

Semua orang kini berdiam diri. Mereka menunggu jawaban

Mahisa Agni. Karena itu maka tepi sungai itu pun kemudian menjadi

sunyi. Yang terdengar hanya gemuruh arus air yang meluap lewat

pecahan bendungan yang sudah semakin menganga lebar. Bahkan

hampir musnah sama sekali.

Mahisa Agni berdiri dengan tegangnya. Ia menjadi bingung,

bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen itu.

Ketika Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka kembali

terdengar Ki Buyut bertanya, “Bagaimana Agni?”

Kembali suasana menjadi hening. Dan kembali yang terdengar

adalah gemuruh air.

Ketika Mahisa Agni memandang berkeliling, maka dilihatnya

semua mata tertuju kepadanya, seakan-akan mereka sudah tahu

apa yang terjadi, dan seakan-akan mereka telah menyalahkannya.

Karena itu maka dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebardebar.

Ketika kemudian matanya tertumbuk pada sorot mata Ki Buyut

Panawijen, maka dadanya terasa berdesir, dan tanpa sesadarnya

Mahisa Agni mengangguk.

“Oh,” desah Ki Buyut. Dan hampir setiap orang yang melihat

Mahisa Agni itu mengangguk, berdesis pula. Debar di dada mereka

menjadi semakin cepat, seakan-akan mereka tidak sabar lagi

menunggu apakah sebabnya maka bendungan itu pecah.

“Kenapa Ngger,” bertanya Ki Buyut, “kenapa?”

Kembali Mahisa Agni diamuk oleh kebingungan di hatinya.

Apakah ia harus berkata berterus terang?

Sekali lagi orang-orang yang berdiri di sekitarnya berdesis,

mereka segera ingin tahu kenapa bendungannya itu pecah. Dan

sekali lagi Ki Buyut Panawijen mendesak, “Kenapa Ngger?”

Mahisa Agni tidak mempunyai cara lagi untuk mengelakkan diri

dari pertanyaan itu. Karena itu maka ditenangkannya hatinya. Sekali

ia menarik nafas dalam-dalam, dan baru kemudian ia berkata, “Ki

Buyut. Aku memang melihat saat bendungan ini pecah. Dan aku

memang ingin mengatakannya kepada Ki Buyut Panawijen beserta

rakyatnya. Namun sebelumnya baiklah aku menyampaikan

permohonan maaf dari guruku Empu Purwa.”

Ki Buyut Panawijen itu mengerutkan keningnya. Katanya,

“Apakah gurumu telah kembali?”

“Sudah Ki Buyut. Tetapi Empu Purwa tidak sampai hati untuk

menjenguk padepokannya, karena anaknya yang hilang itu.”

“Gurumu sekarang di mana?”

“Empu Purwa itu kemudian pergi meninggalkan padepokannya

untuk waktu yang tidak terbatas. Ia mencoba menghindarkan diri

dari kepahitan hidupnya, meskipun ia tahu, bahwa kepahitan

hatinya itu akan selalu ikut ke mana ia pergi. Namun dengan

kepergiannya kali ini ia mengharap bahwa dengan mendekatkan diri

kepada Yang Maha Agung, maka Empu Purwa akan mendapat

damai di hatinya.”

“Kasihan orang tua itu,” gumam Ki Buyut. Tetapi kemudian ia

bertanya, “Tetapi bagaimana dengan bendungan ini?”

“Aku juga sedang mencoba mengatakan kenapa bendungan ini

pecah,” sahut Agni.

“Tetapi kau bercerita tentang gurumu?”

“Ya. Guru yang sedang dilanda oleh duka yang hampir tak

tertanggungkan karena kehilangan anak tunggalnya.”

“Apakah hubungannya dengan bendungan yang pecah ini?”

desak beberapa orang yang kehabisan kesabaran.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya

untuk menenangkan debar jantungnya. Baru kemudian ia menjawab

dengan sangat hati-hati, “Ki Buyut. Pagi tadi aku tertidur di tepi

bendungan itu. Aku terbangun karena tiba-tiba terasa seseorang

menyentuh tubuhku. Ternyata orang itu adalah guruku yang telah

agak lama meninggalkan padepokan ini. Pada saat itu, ternyata aku

tidak dapat menghindarkan diri, untuk mengatakan apa yang telah

terjadi di Panawijen. Demikian berat pukulan yang menimpa

perasaan Empu Purwa atas hilangnya anak satu-satunya itu, maka

tiba-tiba Empu Purwa itu kehilangan kesabarannya,” Agni berhenti

sejenak. Ia mencoba melihat perasaan apakah yang bergolak di

setiap dada orang yang mendengarnya.

Orang-orang Panawijen mendengarkan kata-kata Mahisa Agni

dengan sepenuh perhatian. Namun sampai sedemikian jauh mereka

masih belum tahu, ke mana arah cerita Mahisa Agni itu.

Sehingga dengan demikian, mereka masih saja berdiri mematung

dengan tegangnya, menunggu Mahisa Agni meneruskan ceritanya

itu.

Baru sejenak kemudian Mahisa Agni berkata pula, “Pada saat

Empu Purwa kehilangan keseimbangan diri itulah segalanya terjadi.”

“Ya. Pada saat itu bendungan itu pecah. Tetapi apa sebabnya,”

desak salah seorang dari mereka yang mengerumuni Mahisa Agni.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata orang-orang itu

sama sekali belum mampu menghubungkan ceritanya dengan

pecahnya bendungan itu. Maka jawabnya, “Bendungan itu pecah

karena Empu Purwa merasa bahwa ia kehilangan miliknya yang

paling berharga dalam hidupnya. Yaitu anak satu-satunya.”

“Agni,” sahut Ki Buyut Panawijen, “kenapa jawabmu sama sekali

tidak dapat kami mengerti. Angger, cobalah. Katakanlah, apa yang

kau lihat? Apakah karena Empu Purwa merasa bahwa ia menjadi

sangat menderita tekanan atas hilangnya putrinya itu, lalu

bendungan itu meledak?”

“Oh,” keringat dingin mengalir di seluruh tubuh Mahisa Agni. Ia

sadar, bahwa tak seorang pun dari penduduk Panawijen yang

mampu melihat betapa besar kekuatan ilmu yang tersimpan di

dalam tubuh gurunya yang tua itu. Namun untuk mengatakannya,

sangatlah terasa berat.

Tetapi ia tidak dapat terus menerus menghindar dari pertanyaan

itu. Disadarinya bahwa pada suatu ketika ia harus mengatakan apa

yang diketahuinya, atau ia harus membuat suatu cerita bohong

yang dapat menipu rakyat Panawijen.

Namun cerita semacam itu sama sekali tak akan

menguntungkannya. Seterusnya ia harus mempertahankan

kebohongan itu. Kalau kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan

yang sukar dijawabnya mengenai cerita bohongnya, maka ia harus

berbohong pula. Semakin lama semakin jauh dan jauh. Karena

itulah maka Mahisa kemudian mengambil keputusan untuk segera

mengatakannya, apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu maka

katanya, “Ki Buyut. Bahwa Empu Purwa merasa kehilangan segala

miliknya itulah permulaan dari bencana itu. Empu Purwa merasa

bahwa rakyat Panawijen sama sekali tidak mempunyai belas kasihan

terhadap anaknya. Terhadap Ken Dedes, anaknya yang tunggal.

Karena itu maka betapa marahnya. Dan kemarahannya itu ternyata

tersalur lewat kekuatannya yang dahsyat. Dan sebenarnyalah, aku

tidak dapat menutup kenyataan yang telah terjadi itu. Empu

Purwalah yang telah memecah bendungan itu.”

Semua dada terasa berdesir mendengar penjelasan Mahisa Agni.

Sesaat orang-orang di sekitarnya itu terbungkam karena jantungnya

serasa terhenti. Namun sesaat kemudian warna-warna merah telah

merayap nada wajah-wajah mereka. Timbullah kemudian di dalam

dada mereka nyala kemarahan atas perbuatan Empu Purwa itu.

Bendungan itu adalah sumber hidup mereka, adalah jantung dari

padukuhan Panawijen. Dan sumber hidup itu dihancurkan orang.

Terdengarlah kemudian di antara mereka suara bergumam.

Beberapa orang menjadi sangat marah dan tanpa sesadarnya

mereka telah melangkah semakin maju.

Ki Buyut Panawijen sendiri, sesaat tidak dapat berkata sepatah

kata pun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Empu Purwalah

yang telah memecahkan bendungan itu. Baru ketika ia telah berhasil

mengatur perasaannya kembali maka berkatalah Ki Buyut itu

dengan suara bergetar, “Agni. Apakah kau berkata sebenarnya?”

Agni mengangguk ragu. Namun terdengar mulutnya berkata, “Ya,

Ki Buyut. Aku berkata seperti apa yang terjadi sebenarnya.”

Sekali lagi Ki Buyut terdiam. Tetapi seorang anak muda berkata

lantang, “Agni, kenapa Empu Purwa memecah bendungan itu.

Bendungan yang menjadi sumber hidup kita sekalian di Panawijen

ini?”

“Sudah aku katakan,” jawab Agni, “Empu Purwa merasa sangat

menyesal bahwa putrinya itu hilang.”

“Itu bukan salah kami,” teriak anak muda yang lain.

“Ya. Bukan salah kalian. Tetapi Empu Purwa merasa bahwa

kalian tidak melindunginya.”

“Itu pun bukan salah kami. Apakah kami harus mati seperti putra

Ki Buyut Panawijen seluruhnya? Sehingga rakyat Panawijen menjadi

tumpas?”

Mahisa Agni tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Keringatnya

semakin banyak mengalir membasahi tubuhnya.

“Agni,” berkata Ki Buyut Panawijen, “aku menyesal bahwa hal itu

telah terjadi. Empu Purwa benar-benar telah menghancurkan

hidupku. Anakku mati karena gadis yang hilang itu. Sekarang Empu

Purwa telah menghancurkan bendungan ini.”

“Ya,” teriak seorang anak muda pula, “kami menghormati

pendeta tua itu. Tetapi ia merusak kehidupan kami di sini.”

Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ia semakin tidak tahu apa

yang harus dikatakannya. Maka untuk mencoba menenangkan

mereka, ia berkata, “Guruku menyesal bahwa bendungan itu

dipecahkannya. Guruku minta maaf karena kesalahan itu.”

“Apa?” teriak seorang yang bertubuh tinggi besar dan berbulu di

dadanya, “apakah permintaan maaf itu sudah cukup bernilai untuk

menebus kesalahannya.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya.

“Agni,” berkata yang lain, “kau adalah murid pendeta itu.

Sekarang, bawalah gurumu itu kemari.”

“Guru telah pergi. Aku tidak tahu ke mana perginya,” jawab

Mahisa Agni.

“Bohong! Ia sedang bersembunyi. Dan kau pasti tahu di mana ia

bersembunyi. Jangan menunggu kami memaksamu Agni,” terdengar

beberapa orang berteriak hampir bersamaan.

Mahisa Agni terkejut bukan kepalang mendengar teriakan itu.

Rakyat Panawijen selama ini dikenalnya sebagai rakyat yang diam.

Hampir tak pernah didengarnya atau dilihatnya, salah seorang atau

beberapa orang di antaranya menunjukkan sifat-sifat yang keras,

apalagi kasar. Mereka hampir acuh tak acuh terhadap apa saja yang

terjadi. Mereka hanya mengenal pekerjaan mereka sehari-hari. Ke

sawah, ke ladang, nderes kelapa, ke bendungan, ke kolam untuk

memelihara ikan. itu saja. Setiap hari diulanginya. Mereka telah

menjadi puas apabila mereka dapat memetik tanaman mereka,

menangkap ikan-ikan peliharaan mencetak gula kelapa dengan

tempurung. Itu saja.

Kini tiba Mahisa Agni melihat wajah-wajah itu menjadi merah

membara. Tiba-tiba Mahisa Agni mendengar mereka berteriak

dengan keras dan kasarnya.

“Hem,” Mahisa Agni menggeram di dalam hatinya, “ternyata

betapapun lemahnya rakyat Panawijen, namun apabila tersentuh

kepentingan hidupnya yang paling dalam, maka hati mereka itu pun

tergetar pula. Mereka yang berdiri membatu ketika mereka melihat

Kuda Sempana berusaha menangkap Ken Dedes, kini aku lihat

mereka menggeretakkan giginya.”

Tetapi angan-angan Mahisa Agni terputus ketika didengarnya

suara di sekitarnya menjadi semakin riuh, “Mahisa Agni. Di manakah

pendeta tua itu? Ayo Tunjukkan kepada kami Biarlah kami

menghakiminya.”

Mahisa Agni memandang berkeliling. Satu-satu ditatapnya

pandangan-pandangan mata yang menyala. Beberapa anak muda

yang tidak lagi dapat menahan diri telah mengacungkan tinjunya.

Terdengar suara di antara mereka, “Agni, kami telah menerima

gurumu di antara kami. Bertahun-tahun ia hidup seperti keluarga

sendiri. Tetapi tiba-tiba ia mengkhianati kami dengan merusak

bendungan itu hanya karena anaknya hilang. Satu orang itu apakah

sudah cukup berharga untuk menghancurkah kehidupan kami di

sini?”

“Ayo Agni.” sahut yang lain, “jangan termenung seperti kera

kedinginan.”

“Hem,” kali ini Mahisa Agni benar-benar menggeram. Kata-kata

yang didengarnya agaknya telah terlalu tajam baginya. Meskipun

demikian ia masih berusaha menahan hatinya. Bahkan ia masih

mencoba berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Apakah Ki

Buyut memperkenankan aku berkata seorang diri di hadapan Ki

Buyut sehingga Ki Buyut akan dapat mengetahui persoalan yang

sebenarnya?”

Buyut Panawijen pun ternyata benar-benar telah marah. Ia

merasa bahwa daerahnya telah dikorbankan oleh Empu Purwa.

Karena itu maka jawabnya lantang, “Angger. Aku adalah salah satu

dari rakyat Panawijen ini. Tak ada persoalan yang dapat kau

sampaikan kepadaku tanpa didengar oleh seluruh rakyat. Jangan

mencoba membujuk aku!”

“Tidak Ki Buyut,” potong Agni cepat-cepat, “tetapi aku

mengharap bahwa Ki Buyut akan mampu berpikir lebih tenang

daripada orang lain.”

“He, kau sudah mulai menghina pula,” jawab Ki Buyut sama

sekali di luar dugaan Mahisa Agni, “kau sangka orang-orang

Panawijen ini tidak mampu berpikir?”

Terdengar suara yang ribut di sekitar Mahisa Agni. Beberapa

anak muda berkata, “Jangan menghina kami Agni. Ayo di mana

gurumu. Kesabaran kami telah sampai ke ubun-ubun.”

“Bukan begitu Ki Buyut,” sahut Agni cepat-cepat, “maksudku, di

dalam suasana ini, maka sulitlah dikemukakan pendapat yang

jernih. Dalam suasana yang tenang, maka akan tampaklah

persoalannya, seperti sebutir batu di dasar air. Kalau airnya

bergolak, maka bentuk batu itu tidak akan kita lihat sewajarnya.

Tetapi kalau air itu tenang, maka apa yang kita lihat akan mendekati

bentuk yang sebenarnya.”

“Jangan mempersulit diri, Ngger,” jawab Ki Buyut, “Aku

sependapat dengan orang-orang lain, bawalah gurumu kemari. Kau

akan terlepas dari segala tuntutan. Dan bukankah gurumu itu lebih

mengetahui persoalannya daripada kau Agni? Kalau gurumu nanti

dapat memberi kami penjelasan sebaik-baiknya, dan penjelasan itu

dapat kami mengerti, maka selesailah sudah persoalannya.”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Hampir setiap kata yang diucapkan

terasa salah. Ia hampir tidak mendapat kesempatan sama sekali

untuk mengatakan seluruh persoalan. Di hadapan suasana yang

panas itu, maka hampir dapat dipastikan bahwa kata-katanya akan

mengalir seperti angin yang menggoyangkan daun-daun turi yang

kini telah condong, karena tanahnya tempat berpegangan sedikit

demi sedikit telah dihanyutkan air.

Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar Ki Buyut yang semakin

marah itu membentak, “Agni, di manakah gurumu?”

Agni kini tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kepalanya

menjadi pening. Pikirannya yang jernih pun berangsur-angsur

menjadi keruh. Dilihatnya orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu

sebagai hantu-hantu yang akan menghisap darahnya. Karena itu

tiba-tiba dadanya bergolak. Kini Agni tidak lagi menundukkan

wajahnya, tetapi menjalarlah darah kemudaannya. Betapapun

gurunya mencoba berpesan kepadanya untuk berlaku sareh, namun

ia adalah seorang anak muda. Ketika sekali lagi ia mendengar Ki

Buyut Panawijen membentaknya, maka tiba-tiba ia merasa hatinya

menjadi sangat pedih. Gurunya, yang mengasuhnya sejak kanakkanak,

sama sekali tidak pernah membentaknya. Apabila gurunya

marah kepadanya, maka kemarahannya itu selalu dapat diterimanya

dengan hati terbuka. Tetapi kini, orang-orang itu membentakbentaknya

seperti membentak-bentak orang buronan. Maka di luar

dugaan sekian banyak orang, Agni menjawab lantang. “Jangan cari

guruku! Jangan cari Empu Purwa yang tua itu. Di sini berdiri

muridnya. Mahisa Agni! Segala kesalahan yang dilakukannya, segala

permintaan maaf yang tulus yang telah dipesankannya kepadaku,

apabila itu sama sekali tidak dapat kalian mengerti, maka adalah

tanggung jawabku untuk menyelesaikannya. Kini yang ada adalah

Mahisa Agni. Mahisa Agni, kalian dengar?”

Sesaat orang-orang yang berdiri di sekitar Mahisa Agni itu

terbungkam. Mereka memandang Mahisa Agni yang berdiri tegak

seperti patung.

Tetapi orang-orang Panawijen itu sudah benar-benar dikuasai

oleh kemarahannya, sehingga mereka sudah tidak dapat berpikir

tenang. Mereka telah kehilangan segala macam pertimbanganpertimbangan.

Ketika mereka melihat Mahisa Agni keras hati tidak

mau menunjukkan Empu Purwa, yang disangkanya bersembunyi

maka terdengar beberapa orang berkata, “Agni. Tunjukkan gurumu,

atau kau akan mengalami nasib yang jelek seperti bendungan itu.”

Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menyala seperti wajah-wajah orang

Panawijen yang berdiri di sekitarnya. Kini ia tegak di atas kedua

kakinya. Bahkan semakin kokoh. Dipandangnya sekali lagi wajahwajah

orang-orang yang berdiri mengitarinya. Hampir semuanya

telah dikenalnya baik-baik. Anak-anak muda, orang-orang setengah

umur, orang-orang tua dan di antara mereka berdiri Ki Buyut

Panawijen yang pernah mengaku anak terhadapnya. Tetapi

sahabatnya itu, dalam keadaan yang langsung menyentuh sumber

hidup mereka, maka mereka seakan-akan telah melupakannya.

Mereka tidak lagi dapat diajak berbicara. Dan sama sekali tidak

memberinya kesempatan untuk menjelaskan persoalannya dengan

tenang. Mereka keras menuduh gurunya bersembunyi.

Ketika sejenak Mahisa Agni tidak menjawab, maka terdengar

kembali suara di antara mereka, “Ayo. Jangan mematung. Cepat

sebelum kami kehilangan kesabaran.”

Kata-kata benar-benar tidak menyenangkan hati Mahisa Agni.

Tanpa sesadarnya ia berpaling, mencari siapakah yang berkata itu.

Dengan matanya ia menatap seorang anak muda yang tegap kekar

dan berwajah keras.

Tiba-tiba sekali lagi jawaban Mahisa Agni mengejutkan mereka.

Benar-benar tidak mereka sangka. Katanya, “Hai anak-anak muda

Panawijen. Aku kenal kalian dengan baik, seperti kalian mengenal

aku. Kalau kau sekarang keras menuduh aku menyembunyikan

guruku, dan kalian menganggap itu suatu kesalahan. Nah, kalian

mau apa?”

Pertanyaan Mahisa Agni benar-benar langsung menusuk setiap

dada anak-anak muda yang sedang marah itu. Hampir bersamaan

mereka menjawab, “Agni. Jangan terlalu sombong. Hal ini agaknya

merupakan hari yang jelek bagimu.”

Mahisa Agni melihat anak-anak muda itu bergerak selangkah

maju. Tetapi Mahisa Agni masih tetap di tempatnya. Ia benar-benar

tidak takut mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga. Ia

sudah siap untuk berkelahi sekalipun melawan semua orang yang

berdiri di sekitarnya. Namun dalam pada itu tiba-tiba kembali

terngiang suara gurunya. Suaranya yang sejuk damai.

Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Apakah ia harus

menyerahkan kepalanya dalam keadaan seperti itu. Apalah ia harus

berbaring dan dibiarkannya anak-anak muda Panawijen itu bergantiganti

melemparinya dengan batu sehingga ia tertimbun mati. Sesaat

Mahisa kembali menjadi bimbang. Tetapi anak-anak muda itu maju

lagi beberapa langkah sambil mengumpat-umpatinya.

Mahisa Agni yang kemudian menjadi bimbang kembali itu berkata

parau, “Ki Buyut apakah Ki Buyut tidak dapat menahan mereka.”

Ki Buyut itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Agni ternyata kau

benar-benar keras kepala. Kau tidak mau menunjukkan di mana

Empu Purwa itu berada. Dengan demikian maka aku tidak punya

keinginan untuk menolongmu. Selagi kau tidak mau menolong kami

pula menemukan gurumu. Gurumu yang telah benar-benar merusak

hidup padukuhan ini, dan hidupku. Anakku mati karena anaknya dan

padukuhanku akan mati juga karena perbuatannya.”

Kini Mahisa Agni tidak mempunyai kesempatan lain. Namun tibatiba

timbullah akalnya. Tak apalah seandainya ia terpaksa sedikit

menyombongkan dirinya, namun dalam pada itu ia masih berusaha

untuk yang terakhir kalinya menghindarkan perkelahian atau

bentrokan-bentrokan yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Karena itu,

maka tiba-tiba Mahisa Agni menengadahkan dadanya. Sepasang

tangannya bertolak pinggang. Dengan lantangnya ia berkata kepada

Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Kalau Ki Buyut masih menggugat

kematian anakmu itu, maka menyesallah aku bahwa aku telah

pernah menyelamatkannya. Di sini, di bawah bendungan ini

Wiraprana itu hampir mati pula dibunuh oleh Kuda Sempana. Pada

saat itu, Wiraprana mencoba bersombong diri, mencoba melawan

Kuda Sempana meskipun maksudnya baik. Tetapi seandainya aku

tidak menolongnya, maka umur Wiraprana telah putus pada saat itu

pula. Pada saat belum tampak hubungan yang rapat antara putramu

itu dengan putri guruku. Untuk kedua kalinya aku menyelamatkan

nyawa putramu itu ketika ia menerima tantangan seorang anak

muda dari Tumapel. Apakah Wiraprana tidak pernah

mengatakannya? Anak muda itu bernama Mahendra. Akulah yang

pada saat itu menamakan diriku Wiraprana dan bertempur

melawannya. Kalau kemudian Wiraprana itu akhirnya terbunuh juga

oleh Kuda Sempana, itu pun bukan sekedar salah putri guruku. Ki

Buyut sendiri tidak pernah mencoba menjatuhkan hukuman apapun

kepada Kuda Sempana. Dua kali aku dapat mengalahkannya di

Panawijen, disaksikan oleh Ki Buyut sendiri. Di mana anak-anak

muda Panawijen tak seorang pun yang berani berbuat apa-apa

terhadap Kuda Sempana itu. Di mana anak-anak Panawijen sama

sekali tidak berani marah kepada anak muda yang telah berusaha

menodai padukuhan ini.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya

setiap wajah yang berdiri mengitarinya. Ki Buyut, anak-anak muda

dan kemudian orang-orang tua laki-laki perempuan. Kemudian

katanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Nah. Apa yang telah

kalian lakukan untuk melindungi gadis itu. Tidak hanya pada saat

terakhir, pada saat Kuda Sempana datang bersama akuwu. Tetapi

sebelum itu. Sehari sebelum itu? Kalian lebih senang bersembunyi.

Kalian sama sekali tidak berani berbuat apa-apa melawan Kuda

Sempana. Sekarang ternyata kalian dapat menjadi marah. Marah

karena kepentingan kalian langsung yang kalian persoalkan. Karena

kebutuhan kalian sendiri.”

Sekali lagi Mahisa Agni berhenti, sekali lagi ia memandang

berkeliling.

Kata-kata itu kata-kata pameleh yang diucapkan oleh Mahisa

Agni itu, terasa menghunjam ke dalam dada setiap anak muda di

Panawijen. Mereka merasa kebenaran kata-kata itu, bahwa mereka

sama sekali tidak berani berbuat apa-apa atas Kuda Sempana.

Ketika Ken Dedes minta perlindungan mereka maka mereka hanya

berjejal-jejal tanpa berbuat sesuatu. Bahkan, ketika Kuda Sempana

maju selangkah, mereka berloncatan tercerai berai, meskipun

kemudian ada juga keinginan mereka membela Ken Dedes, namun

ketakutan merekalah yang selalu mencegah mereka.

Meskipun demikian sudah tentu, anak-anak Panawijen yang

merasa kehilangan sumber hidupnya, dan sedang dibakar oleh

kemarahan itu tidak mau menerima ucapan itu begitu saja. Dalam

nyala kemarahan, mereka merasa Mahisa Agni telah mengungkitungkit

hal-hal yang memilukan bagi mereka.

Maka jawab anak muda yang tinggi besar, berdada bidang dan

berwajah keras, “Agni, ternyata kau mencoba menggugat lagi.

Apapun yang kami lakukan sama sekali bukan suatu kesalahan.

Kami benar-benar tidak berani melawan Kuda Sempana. Apa salah

kami? Apakah ada seorang yang dapat memaksa kami untuk

melakukan perbuatan yang kami tidak berani melakukan? Apalagi

gadis itu bukanlah langsung berhubungan dengan kepentingan

kami. Nah, bendungan adalah sumber hidup kami. Bendungan bagi

kami jauh lebih berharga dari seorang gadis, meskipun gadis itu

bernama Ken Dedes putri Empu Purwa. Biarlah orang mengatakan

bahwa kami terlalu mementingkan diri kami. Tetapi bukan diriku

sendiri. Diri kami adalah seluruh penduduk Panawijen.”

Mahisa Agni menggeletakkan giginya. Dengan lantang ia

menjawab, “Bagus. Kalau kau sekarang menjadi seorang pemberani

karena kepentinganmu. Kepentingan kamu sekalian. Nah, ayo

lakukan kehendakmu atasku. Aku adalah Mahisa Agni, murid Empu

Purwa yang telah mampu mengalahkan Kuda Sempana yang kau

takuti. Kalau kalian tidak berani melawan Kuda Sempana, dan Kuda

Sempana itu dapat aku kalahkan, bahkan kalau aku mau aku dapat

membunuhnya, maka apa arti kalian itu bagiku. Setiap langkah yang

kalian buat, tebusan adalah nyawa kalian. Tanganku akan mampu

membunuh seseorang dengan satu pukulan. Nah, marilah. Marilah,

siapa yang ingin mati lebih dahulu. Barangkali kalian berpikir, lebih

baik mati karena tanganku daripada mati kelaparan. Mungkin

kemudian aku akan mati pula karena lawan terlalu banyak. Tetapi

aku berkata sesungguhnya, bahwa lebih dari separuh dari kalian

akan mati juga bersama aku.”

Kata-kata itu bergetar seperti getaran guruh yang menggelegar

di langit. Kata-kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni yang dengan

sepenuh tenaga mencoba menahan perasaannya. Disusunnya

kalimat-kalimat itu dengan cermatnya. Dicobanya menyombongkan

dirinya untuk menakut-nakuti anak-anak muda Panawijen. Ia

mengharap anak-anak muda itu menjadi ngeri, dan mengurungkan

niatnya, memaksanya untuk mempertahankan diri.

Sesaat Mahisa Agni menunggu apa yang akan mereka lakukan.

Mahisa sadar, apabila anak-anak Panawijen benar-benar menjadi

pemberani, maka kata-katanya akan mempercepat peristiwa yang

sama sekali tidak dikehendaki oleh gurunya.

Namun beberapa saat anak-anak muda Panawijen itu masih

berdiam diri. Ketika Mahisa Agni sekali lagi memandangi mereka

maka tampaklah perubahan pada wajah-wajah mereka.

Sebenarnyalah kata-kata Mahisa Agni itu telah berhasil

mempengaruhi perasaan anak-anak Panawijen. Mereka sama sekali

bukanlah pemberani, sebab mereka bisa hidup dalam suasana yang

tenteram damai. Itulah sebabnya ketika Mahisa Agni mengatakan,

bahwa ia mampu membunuh separuh dari mereka, maka tiba-tiba

mereka menjadi ngeri. Seperti mereka menghadapi Kuda Sempana,

maka mereka hanya berani berdiri saja melingkarinya. Dan ternyata

Mahisa Agni dapat mengalahkan Kuda Sempana itu.

Apa yang dikatakan Mahisa Agni telah mengingatkan mereka,

bahwa sebenarnya mereka telah melihat sendiri, Mahisa Agni benarbenar

dapat mengalahkan Kuda Sempana. Benar-benar apabila anak

muda itu mau, Kuda Sempana dapat dibunuhnya. Tetapi Mahisa

Agni tidak melakukannya. Sekarang, Mahisa Agni itu pun berdiri

teguh seperti Kuda Sempana. Bahkan karena kata-katanya, seakanakan

Mahisa Agni menjadi bertambah garang.

Mahisa Agni melihat perubahan itu. Segera ia mencoba menekan

mereka lebih dalam lagi, katanya, “Ayo. Kenapa kalian berdiam diri?

Aku akan mengatakan sekali lagi kepastian tekadku. Jangan mencari

guruku! Aku akan mewakilinya!”

Wajah-wajah di sekitarnya tampak menjadi semakin buram.

Warna-warna merah yang merayapi wajah itu menjadi semakin

padam. Dan terdengar Mahisa Agni meneruskan, “Nah. Ingat, apa

yang dapat aku lakukan atas Kuda Sempana itu. Aku seorang murid

Empu Purwa. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh guruku itu?

Kalau kalian benar-benar ingin menemuinya dan akan

menghukumnya, dengarlah lebih dahulu. Empu Purwa telah

memecahkan bendungan ini karena luapan perasaannya.

Bendungan yang tak dapat digoyahkan oleh banjir yang setiap

tahun, setiap musim hujan itu, ternyata pecah oleh tangannya.

Kalian dengar? Pecah karena tangannya. Bagaimana kalau tangan

itu menyentuh kepala kalian?”

Yang mendengar kata-kata itu segera mengerutkan lehernya.

Alangkah mengerikan. Tangan itu dapat memecahkan bendungan.

Ya, bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala mereka?

Mahisa Agni tidak melepaskan kemungkinan yang semakin baik

itu. Dengan suara gemuruh ia meneruskan, “Nah, anak-anak muda

Panawijen. Apakah yang akan kalian lakukan sekarang? Kalau kalian

merasa bahwa kalian telah berbuat untuk kepentingan kalian, maka

Empu Purwa pun berbuat untuk kepuasannya. Hai, orang-orang tua

di Panawijen. Katakanlah kepada anak cucumu yang sedang dibakar

oleh kemarahannya. Siapakah yang telah membuat bendungan itu.

Siapa? Apakah kalian pada saat kalian membuka tanah pertanian di

Panawijen ini telah membuat bendungan itu? Ayo, katakanlah

dengan jujur, siapa yang telah membuat bendungan itu untuk

kalian, dan apakah yang telah kalian buat untuknya?”

Ketika Mahisa Agni diam sesaat, maka suasana benar-benar

menjadi sepi dan tegang. Gemuruh air di bendungan semakin lama

telah menjadi semakin berkurang. Hanya kadang-kadang masih

terdengar guguran-guguran tanah tebing sungai yang menjadi

semakin aus dibawa arus air yang seakan-akan mengamuk.

Mereka terkejut ketika mereka mendengar gemuruh tanah di

samping mereka. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya pohon turi

yang telah miring itu dengan cepatnya jadi semakin condong dan

akhirnya meluncur ke dalam arus air, Namun arus air sudah tidak

begitu deras lagi, sehingga sisa-sisa akar-akarnya masih juga dapat

menahannya. Pohon turi itu kini seperti seorang yang sangat

malang, terbaring di permukaan air, berpegangan pada beberapa

lembar akarnya yang sudah lemah.

Sebenarnya Mahisa Agni sendiri, hatinya terasa tersayat melihat

keruntuhan tebing sungai di sekitar bendungan itu. Seperti juga

anak-anak muda yang lain, bendungan itu mempunyai arti yang

sangat banyak baginya, bagi Panawijen dan bagi kehidupan di

padukuhan itu.

Meskipun demikian, ketika suasana sepi itu menjadi semakin

sepi, terdengar suaranya memecah, “Ayo, siapakah di antara kalian

yang berani berkata dengan jujur, siapakah yang telah membuat

bendungan itu? Siapa?”

Belum seorang pun yang menjawab pertanyaan itu, sehingga

Mahisa Agni bertanya kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Ki

Buyut tentu mengetahui, siapakah yang telah merencanakan dan

membuat bendungan itu dengan susah payah dan diserahkannya

kepada Panawijen?”

Dada Buyut Panawijen itu berdesir mendengar pertanyaan

Mahisa Agni. Pertanyaan itu benar-benar tidak disangkanya akan

diberikan kepadanya. Karena itu sesaat ia berdiam diri. Dicobanya

untuk mengatasi debar jantungnya. Sehingga kini Mahisa Agnilah

yang mendesaknya, “Siapa? Siapa Ki Buyut. Biarlah anak-anak muda

yang sedang marah itu mendengarnya, siapakah yang telah

menyediakan sumber hidup mereka. Supaya mereka menyadari apa

arti kata-kata mereka, bahwa bendungan itu bagi mereka jauh lebih

berharga dari seorang gadis meskipun gadis itu bernama Ken

Dedes, putri Empu Purwa.”

Ki Buyut Panawijen menjadi semakin bingung. Anak-anak muda

Panawijen pun menjadi semakin bingung pula. Mereka masih diliputi

oleh suasana kecemasan, karena Mahisa Agni benar-benar akan

bertahan, yang pasti akan melampaui kekuatan Kuda Sempana. Kini

mereka melihat betapa Buyut Panawijen menjadi kebingungan.

Akhirnya, anak-anak muda Panawijen itu terkejut bukan kepalang

ketika mereka mendengar Ki Buyut itu menjawab lirih dan penuh

keragu-raguan, “Empu Purwa Ngger. Yang membuat bendungan itu

adalah Empu Purwa.”

Betapa wajah-wajah di sekitar Mahisa Agni menjadi sangat

gelisah. Sesaat mereka tidak dapat mengerti jawaban itu, bahkan

mereka hampir tidak dapat mempercayainya. Namun terdengar

Mahisa berkata, “Nah, anak-anak muda Panawijen. Kalian dengar?

Yang membangun bendungan itu adalah Empu Purwa. Tiga tahun ia

bekerja untuk itu. Tiga tahun ia membanting tulang untuk

menyediakan sumber hidup kalian, yang kalian katakan jauh lebih

bernilai dari seorang gadis, yang meskipun gadis itu anak Empu

Purwa.”

Tak seorang pun kini yang berani menatap wajah Mahisa Agni.

Betapa wajah itu membayangkan getaran perasaannya yang

bergelora. Meskipun Mahisa Agni tidak mengatakannya, namun

terasa betapa tuntutan keadilan memancar dari jiwanya.

Kembali suasana menjadi senyap. Namun kini terasa betapa

anak-anak muda Panawijen menjadi bimbang dan bingung.

Ternyata tidak banyak di antara mereka yang mengerti, siapakah

yang telah membuat bendungan itu untuknya, seperti dirinya sendiri

yang baru saja mendengar dari gurunya.

Tetapi tiba-tiba suara Mahisa Agni memecah kesepian, “Empu

Purwa tidak melakukannya, karena ia merasa berhak berbuat apa

saja atas bendungan yang dibuatnya sendiri. Empu Purwa

melakukannya karena ia sedang kehilangan keseimbangan

perasaan, seperti kalian pernah juga mengalaminya dan bahkan

baru saja mengalaminya. Meskipun Empu Purwa seorang pendeta

yang baik, namun ia adalah manusia biasa seperti yang

dikatakannya sendiri. Manusia yang kerdil dan penuh dengan

kesalahan-kesalahan dan dosa. Manusia yang khilaf dan tidak

melihat kesalahan sendiri. Manusia yang hanya tahu kepentingan

sendiri lebih dari apapun. Nah, Empu Purwa pun mempunyai sifatsifat

itu. Namun sifat itu diakuinya. Disadarinya kesalahannya, dan

ia telah berpesan untuk minta maaf kepada kalian.”

Yang menundukkan kepalanya menjadi semakin tunduk. Bahkan

kemudian Mahisa Agni melihat wajah itu menjadi semakin suram.

Akhirnya terasa nafas keputusasaan telah melanda mereka.

Bendungan itu telah pecah, dan mereka tidak dapat berbuat apaapa.

“Nah, apa kata kalian kini?” bertanya Mahisa.

Tak seorang pun dapat menjawab, sehingga Mahisa Agni

mendesaknya, “Apa? Apa yang akan kalian lakukan?”

Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya. Desahnya,

“Hancur. Semuanya sudah hancur. Kami tidak dapat lagi menuntut

Empu Purwa seperti jalan pikiranmu Ngger. Kau benar, Empu Purwa

telah berbuat atas barang yang dibuatnya sendiri. Tetapi kami akan

mengalami bencana karenanya. Bencana, yang tidak dapat kami

hindari. Sawah-sawah kami akan kering dan sumber hidup kami pun

akan kering pula.”

“Apakah cukup demikian?” bertanya Mahisa Agni.

Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga terloncat

pertanyaannya, “Apakah maksudmu Agni. Apakah yang cukup

begitu?”

Mahisa Agni memandang wajah Ki Buyut yang putus asa itu. Dan

hampir setiap wajah memancar perasaan yang Serupa. Putus asa.

“Apakah cukup dengan berputus asa,” desis Mahisa Agni.

Tak seorang pun yang tahu akan maksud Mahisa Agni. Karena itu

mereka masih saja berdiam diri. Bahkan ada di antara para pemuda

yang menjadi sedemikian sedihnya, sedih tentang bendungan yang

pecah, sedih tentang Panawijen dan sedih tentang dirinya sendiri,

sehingga wajahnya menjadi pucat dan matanya berkaca-kaca.

Mahisa Agni melihat wajah yang pucat dan berkaca-kaca itu.

Karena itu tiba-tiba katanya lantang, “Kenapa kalian hanya bersedih

dan berputus asa saja?”

Ki Buyut Panawijen mengangkat wajahnya, kemudian ia

bertanya, “Lalu apakah yang harus kami kerjakan Agni? Sumber

hidup kami telah hancur. Kami tidak akan dapat bersawah tanpa

air.”

Mahisa Agni kini merasa kebenaran kata-kata gurunya. Ia harus

membangunkan rakyat Panawijen yang sedang tertidur itu. Maka

katanya kemudian, “Nah, kalau demikian marilah kita bersama-sama

memandang ke hari depan. Jangan kita kini saling salah

menyalahkan dan menganggap diri kita masing-masing dalam

kebenaran. Karena di lain persoalan yang kita tanggapi, mungkin

tanggapan kita berbeda-beda. Dengan demikian kita seakan-akan

menganggap kebenaran ada pada diri kita masing-masing. Kini

marilah kita lupakan. Marilah kita melihat sumber kesalahan yang

paling dalam. Semuanya ini adalah karena nafsu Kuda Sempana

yang berlebih-lebihan. Nafsunya yang tidak terkendali. Namun kita

semua pun telah berbuat kesalahan pula. Kenapa kita tidak berbuat

sesuatu atas Kuda Sempana itu dahulu? Aku telah mengalahkannya,

tetapi aku tidak membinasakannya sama sekali, sebab aku sangka ia

akan menyadari kesalahannya. Tetapi ternyata akibatnya menjadi

semakin panjang. Wiraprana terbunuh, Empu Purwa kehilangan

keseimbangan meskipun untuk sesaat, tetapi yang sesaat itu telah

menentukan kehidupan Panawijen di kemudian hari. Kalian pun

hampir-hampir terjerumus pula dalam persoalan yang tidak ada

gunanya seperti aku juga.” Mahisa Agni berhenti sesaat untuk

menelan ludahnya. Ia tidak melihat perubahan sikap dari wajah

orang-orang Panawijen. Namun ia meneruskan, “Karena itu marilah.

Jangan tangisi bendungan yang telah pecah itu. Kita adalah laki-laki

seperti Empu Purwa pula. Kalau beberapa puluh tahun Empu Purwa

mampu membuat bendungan, kenapa kita tidak?”

Tiba-tiba Mahisa Agni melihat beberapa orang mengangkat wajah

mereka. Mula-mula mereka heran melihat sikap Mahisa Agni yang

meyakinkan. Namun tiba-tiba wajah mereka pun menjadi semakin

terang. Apalagi ketika sekali lagi Mahisa Agni berkata. “Dahulu

Empu Purwa melakukannya berdua dengan beberapa orang cantrik

selama tiga tahun. Nah, berapakah jumlah kita? Ayo, siapa yang

cinta akan kampung halaman ini, kita bertekad untuk membangun

kembali bendungan ini. Tetapi tidak di sini. Lihat tebing sungai ini

telah terlalu parah. Sungai ini seolah-olah menjadi jauh lebih lebar

dari sebelumnya. Marilah kita lihat. Kita susuri sungai ini kemudian

kita bangun bendungan baru. Kalau kita berhasil, maka kita akan

dapat membangun daerah persawahan baru. Kita akan dapat

bangkit kembali dari kehancuran akibat kelemahan perasaan guru

atas hilangnya anak tunggalnya, seperti diakuinya sendiri.”

“Sekarang, ayo, siapakah yang mau bersama-sama dengan aku

melakukannya? Membangun bendungan baru dengan cucuran

keringat kita sendiri untuk kepentingan kita sendiri. Bukan sekedar

hadiah dari orang lain.”

Anak-anak muda Panawijen itu tergetar hatinya mendengar katakata

Mahisa Agni. Mereka benar-benar seakan-akan tergugah dari

dunia mimpinya yang indah. Mimpi yang tenteram sejuk seperti

langit senja hari. Namun tiba-tiba mendung dan petir menggelegar

di langit yang berwarna cerah itu. Dalam kecemasan dan ketakutan

terasa Mahisa Agni telah membangunkannya.

Kini dihadapinya kenyataan itu. Mereka benar-benar harus

berbuat sesuatu. Dan terdengar sekali lagi Mahisa Agni berkata,

“Marilah kita bekerja. Kita tandai penderitaan rakyat kita dengan

kerja. Kalau kerja itu berhasil, maka air yang akan kita teguk dan

makanan yang akan kita telan, terasa akan semakin nikmat daripada

air dan makan yang kita terima dari orang lain. Meskipun mula-mula

kita harus makan apa saja yang dapat kita makan. Mungkin mulamula

kita akan menjadi kurus karenanya, tetapi kita tidak

mengorbankan anak cucu kita karena kemalasan kita.”

Anak-anak muda Panawijen itu kini sudah tidak menundukkan

wajah mereka masing-masing lagi. Bahkan tampak wajah Ki Buyut

yang tua itu pun menjadi cerah. Dalam keheningan suasana yang

mencengkam kemudian, terdengar suara Ki Buyut parau, “Kau

benar-benar jantan Agni. Tanpa kau maka Panawijen sudah akan

hancur. Dan kita terpaksa mengungsi bercerai berai mencari sesuap

nasi. Kini timbul kembali harapan di dada kami, meskipun kami tidak

akan dapat membangun tanah persawahan di daerah ini, tetapi di

daerah lain, kita masih akan tetap bersama-sama dalam satu

perjuangan untuk hidup kami dan anak cucu kami tanpa

menggantungkan diri kami kepada belas kasihan orang lain.”

“Sekarang siapakah yang bersedia bekerja bersama aku,” teriak

Mahisa Agni tiba-tiba.

Sesaat suaranya itu bergetar saja di udara, seakan-akan tak

seorang pun yang mendengarnya. Tetapi Mahisa Agni menyadari,

bahwa suaranya itu sedang bergolak di dalam dada anak-anak

muda Panawijen. Semakin lama semakin dahsyat, sehingga akhirnya

meledaklah sambutan atas ajakan itu. Anak-anak muda itu

berteriak-teriak seperti orang mabuk tuak, kata mereka, “Aku! Aku

Agni! Aku akan turut membangun bendungan itu bersamamu!”

Mahisa Agni melihat tangan-tangan yang terangkat tinggi-tinggi

untuk menyambung tubuh-tubuh mereka supaya dapat dilihat oleh

Mahisa Agni. Dan teriakan-teriakan itu masih terus beruntun sahut

menyahut. Bahkan, kemudian bukan saja anak-anak muda, tetapi

orang-orang tua dan perempuan pun berteriak nyaring, “Aku, aku,

aku, Agni. Aku ikut serta dalam pekerjaan itu!”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa sesuatu

berdesir di dalam dadanya. Tetapi ia tersenyum karenanya.

Anak-anak muda Panawijen itu masih saja berteriak-teriak tak

habis-habisnya. Mereka sudah melupakan kemarahan mereka

terhadap Mahisa Agni. Mereka telah melupakan kemarahan mereka

terhadap Empu Purwa. Kini yang ada di kepala mereka, adalah

sebuah bendungan baru.

“Kalau kalian bersedia,” berkata Mahisa Agni kemudian, “marilah

pekerjaan itu segera kita mulai. Jangan menunggu padi di dalam

lumbung-lumbung kita habis. Jangan menunggu air semakin deras

karena hujan menjadi sering. Kalau kita bekerja keras dan penuh

kemauan, maka pekerjaan itu akan segera selesai. Tidak perlu

menunggu tiga tahun, seperti yang dilakukan oleh Empu Purwa

yang hanya beberapa orang itu, tetapi karena kita bekerja dengan

tenaga yang berlipat dua puluh kali, maka kita harus dapat

menyelesaikannya dalam tiga bulan. Apakah kalian sanggup?”

“Sanggup Agni! Sanggup!” teriak mereka.

Mahisa Agni kini menjadi semakin puas. Ia telah berhasil

membangunkan rakyat yang selama ini seakan-akan tertidur dibuai

oleh kesuburan tanahnya, sehingga seakan-akan makan dan minum

mereka dapat datang sendiri tanpa mereka berbuat sesuatu. Namun

kini mereka harus bekerja keras. Bekerja dengan tenaga sendiri

untuk kepentingan sendiri dan anak cucu. Supaya di masa-masa

mendatang anak cucu mereka tidak mengutuk mereka, sebagai

orang-orang malas yang hanya mampu makan apabila disuapi oleh

orang lain.

“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sekarang

marilah kita pulang. Pulang ke rumah masing-masing. Kita lihat

apakah cukup alat pada kita untuk membangun bendungan baru.

Besok, aku dan beberapa anak-anak muda ingin berjalan menyusur

sungai itu ke udik untuk mencari tempat yang sebaik-baiknya, di

manakah bendungan baru itu harus kita bangun. Tempat itu harus

memenuhi beberapa syarat. Tidak terlalu dalam dan tidak terlalu

lebar, supaya air segera dapat naik. Tetapi juga tempat yang cukup

sarana untuk membangun bendungan itu. Batu dan kayu.”

“Aku ikut dengan kau Agni,” terdengar suara bersahut-sahutan di

antara mereka.

“Terima kasih, tetapi sementara ini aku hanya memerlukan dua

tiga orang saja di antara kalian. Sekarang pulanglah. Nanti aku akan

menghubungi kalian yang akan pergi bersama aku besok.”

(bersambung )

Jilid 13

Ki BUYUT PANAWIJEN mengangguk-anggukkan kepalanya.

Meskipun ia masih juga bersedih atas bendungan yang pecah itu,

tetapi ia berbesar hati pula, bahwa anak-anak muda di

padukuhannya kini telah bangkit untuk menyelamatkan

padukuhannya.

Maka sejenak kemudian. Orang-orang Panawijen yang berdiri

mengitari Mahisa Agni itu pun semakin lama semakin susut.

Satu demi satu mereka meninggalkan tepian dan bendungan

yang telah pecah itu. Sekali-sekali mereka berpaling, dan sekalisekali

mereka masih juga tergetar hatinya. Bendungan yang selama

ini memberi mereka air sebagai sumber hidup mereka. Kini

Panawijen itu benar akan menjadi kering, seperti kutuk yang telah

diucapkan oleh Empu Purwa yang dunianya menjadi gelap, karena

lekatan kasihnya, putri satu-satunya itu hilang. Putri yang baginya

sangat berharga, melampaui segalanya yang ada di dunia ini.

Ketika orang-orang itu kemudian telah habis kembali ke

padukuhan, maka kembali Mahisa Agni berdiri seorang diri.

perlahan-lahan itu berjalan semakin ke tepi. Sekali lagi diamatamatinya

bendungan yang pecah itu. Air berpancaran dan telah

menggugurkan tebingnya. Bahkan dasarnya pun seakan-akan telah

menghunjam semakin dalam.

“Memang tak mungkin,” gumamnya, “tak mungkin dibangun

bendungan di tempat ini.”

Namun bagaimanapun juga hati Mahisa Agni terpecah pula

seperti bendungan itu. Bukan saja karena Panawijen menjadi kering,

namun semua harapan dan anyaman perasaannya kini benar-benar

telah buntu. Empu Purwa ternyata sama sekali tidak ingin untuk

mengambil anaknya dengan cara yang sama. Empu Purwa benarbenar

tidak mau melawan Tumapel, sebagai tempat ia bernaung.

Orang tua itu tidak mau menimbulkan huru-hara dan menimbulkan

kekacauan di antara penduduk Tumapel. Tetapi ia mendendam

orang-orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dengan

mengucapkan ipat-ipat.

Dengan demikian, maka harapannya untuk melihat Ken Dedes

kembali ke Panawijen kini lenyap seperti lenyapnya harapannya atas

bendungan itu. Apalagi gurunya pun kemudian pergi

meninggalkannya tanpa singgah dahulu di padepokannya.

Tetapi Mahisa Agni tidak harus menundukkan kepalanya,

mengeluh dan berputus asa. Ia baru saja berbicara di hadapan

orang-orang Panawijen. Apakah mereka hanya cukup berputus asa?

Ternyata kata-katanya itu tidak saja bermanfaat bagi orang-orang

Panawijen, tetapi juga bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ternyata

kata-kata itu pun tertuju pula kepada dirinya sendiri dalam segi-segi

yang berbeda.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dadanya terasa berdebat.

Tetapi kemudian ia mendapat kekuatan pula dalam dirinya.

Kekuatan seperti yang didapatkan oleh orang-orang Panawijen yang

lain. Karena itu, maka Mahisa Agni kini tidak lagi memandang

bendungan itu dengan kepala tunduk. Pecahnya bendungan itu

baginya merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Ia tidak

boleh menghindarinya, melarikan diri dari kewajiban seperti yang

dikatakannya sendiri kepada orang-orang Panawijen.

Dan Mahisa Agni pun kemudian segera menyiapkan dirinya

menjawab tantangan itu.

Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan pula meninggalkan

bendungan yang telah pecah itu. Di kejauhan masih dilihatnya

punggung-punggung orang Panawijen yang berjalan perlahan-lahan

meninggalkan bendungan itu pula.

“Mereka telah bangun dari tidurnya yang nyenyak, dan aku pun

harus bangun pula dari tidurku yang dipenuhi oleh mimpi yang

mengerikan,” desis Mahisa Agni.

Demikianlah Mahisa Agni, di keesokan harinya mulai dengan

pekerjaannya. Ia telah memilih beberapa anak-anak muda, dan tiga

di antaranya akan dibawanya menyusuri sungai memilih tempat

yang paling tepat untuk membangunkan bendungan barunya.

Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Mahisa Agni.

Membuat bendungan, betapapun sederhananya, namun diperlukan

pengenalan atas tempat di mana bendungan itu akan dibangun, alat

dan bahan-bahan yang dapat dipergunakannya. Meskipun demikian

Mahisa Agni telah membulatkan tekadnya, bahwa ia akan mampu

membangunkannya bersama-sama dengan anak-anak muda

Panawijen.

Hari itu, Mahisa Agni bersama tiga orang kawan-kawannya

berjalan menyusuri sungai itu. Pagi-pagi benar mereka berangkat.

Mereka mengharap bahwa hari itu juga, mereka akan mendapatkan

tempat yang mereka cari.

Bagi Mahisa Agni perjalanan itu sendiri, bukanlah perjalanan

yang berarti baginya. Kesulitan yang akan dihadapi adalah memilih

tempat yang baik, yang mungkin dibuat bendungan. Tetapi bagi

ketiga kawan-kawannya, yang seakan-akan tidak pernah mengenal

jalan yang keluar dari padukuhan mereka, merasa bahwa perjalanan

itu adalah perjalanan yang sangat berat. Perjalanan yang akan

memerlukan keterampilan, kekuatan dan tekad yang menyala-nyala.

Namun Mahisa Agni selalu menguatkan hati mereka. Bahwa apa

yang akan mereka lakukan adalah sebuah tamasya yang

menyenangkan.

“Apakah kita akan menyusur sungai itu sampai ke padang rumput

Karautan?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Ya. Bahkan padang rumput Karautan merupakan kemungkinan

yang pertama-tama. Padang itu apabila mungkin dialiri, maka pasti

akan menjadi tanah yang subur,” jawab Agni.

“Tetapi bagaimana dengan hantu Karautan itu?”

“Kau terlambat,” sahut Agni sambil tertawa, “hantu itu telah

pergi.”

Ketiga anak muda itu terdiam. Tetapi mereka masih

mencemaskan hantu yang menakutkan itu, sehingga Mahisa Agni

terpaksa menjelaskan, “Aku mendengar dari hantu itu sendiri,

bahwa ia akan segera meninggalkan padang rumput ini.”

Tampaklah ketiga kawan-kawannya itu kurang percaya. Salah

seorang daripadanya berkata, “Ah, apakah kau pernah bertemu

dengan hantu itu.”

“Ya.”

“Dan kau masih tetap hidup?”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Hantu itu tidak sejahat kata

orang. Kalau kita tidak mengganggunya, maka hantu itu pun tidak

akan marah.”

Kembali tampak wajah-wajah anak muda itu kurang percaya.

Berkata salah seorang, “Mungkin hantu itu menipumu Agni.

Bukankah hantu sering menipu orang.”

“Tidak, dan bukankah di padang rumput sekarang tidak pernah

lagi terdengar berita tentang hantu itu? Bukankah hantu itu

menetapi janjinya?”

Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar kawannya itu

menjawab, “Aku masih mendengar bahwa seseorang bertemu

dengan hantu itu lagi Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera

menjawab, sehingga kawannya itu berkata, “Agni. Mungkin kau

terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan lukamu dan

mungkin juga hilangnya Adikmu dan terbunuhnya bakal iparmu itu,

sehingga kau tidak pernah mendengar bahwa dalam beberapa hari

ini hantu Karautan itu telah menampakkan dirinya kembali.”

Mahisa Agni benar-benar heran mendengar keterangan itu.

Katanya, “Aku tidak dapat mengerti kata-katamu itu. Hantu itu

sudah berjanji kepadaku.”

“Apakah kau dapat mempercayai mulut hantu,” bertanya

kawannya yang lain.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa

Ken Arok kini telah berada di istana Tumapel. Tetapi apabila benarbenar

hantu Karautan itu timbul lagi, pasti sama sekali bukan Ken

Arok. Tetapi siapa?

Meskipun demikian Mahisa Agni itu menjawab, “Ah, mungkin

berita itu berita yang belum pasti kebenarannya. Mungkin seseorang

yang ketakutan karena bertemu dengan orang lain, disangkanya

hantu Karautan itu datang kembali.”

“Tidak Agni. Kabar itu telah aku dengar dari orang yang

mendengar langsung cerita seseorang yang mengalami sendiri.”

“Apa katanya?”

“Ketika orang itu menyangka bahwa hantu Karautan benar-benar

sudah tidak ada, setelah sekian lama hilang beritanya maka ia

memberanikan diri pulang sendiri di malam hari dari Tumapel,

setelah ia mengunjungi saudaranya dan menukarkan kerisnya

dengan milik saudaranya itu. Tetapi tiba-tiba di padang ia bertemu

dengan hantu itu.”

“Apa yang dilakukan oleh hantu itu?”

“Mencegatnya. Dan memukulnya seperti memukuli seorang

penjahat.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Keris yang dibawanya

dari Tumapel itu dirampasnya.”

“Tidak. Hantu itu tidak mengambil apa-apa darinya. Tetapi orang

itu dipukuli sampai pingsan. Kemudian ditinggalkannya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Aneh. Hantu yang

dikenalnya dahulu, selalu merampas dan merampok orang-orang

yang lewat. Tetapi hantu yang sekarang itu hanya memukuli saja

sampai pingsan.

“Aneh,” desisnya tanpa disengajanya.

“Apa yang aneh?” bertanya seorang kawannya.

“Hantu itu,” sahut Mahisa Agni.

“Kenapa aneh? Bukankah hantu dapat saja berbuat apa saja

sekehendaknya.”

“Sifat hantu itu berubah. Bukankah kita dahulu selalu mendengar

bahwa korban hantu Karautan, sebagian besar pasti mati. Dan

semua kekayaan yang dibawanya habis dirampas?”

“Mungkin orang itu disangkanya mati pula.”

Mahisa Agni terdiam. Dicobanya untuk mencari kemungkinan,

apakah kira-kira yang telah terjadi di padang Karautan itu. Tetapi

dengan kabar itu ia menduga bahwa hantu yang baru ini sama

sekali bukan hantu yang sudah dikenalnya. hantu ini seakan-akan

hanya ingin melepaskan dendam di hatinya, bukan merampok

apalagi membunuh.

Sesaat mereka masih saling berdiam diri. Mereka berjalan

perlahan-lahan menyusuri sungai naik ke udik. Tetapi Mahisa Agni

tidak dapat segera mempercayainya, bahwa di padang rumput itu

kini telah dijumpai hantu yang menakutkan itu kembali.

Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir. Gurunya telah

meninggalkan padepokan dengan luka di hatinya. Tetapi segera

Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia takut sampai

pada kesimpulan itu. Bahkan segera ia mencari alasan untuk

menindas perasaannya.

“Guru baru kemarin meninggalkan padukuhan Panawijen. Sedang

hantu itu telah dijumpai beberapa hari yang lalu.”

Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, di sudut hatinya terdengar

suara, “Mungkin guru sudah tahu, bahwa anaknya hilang beberapa

lama. Karena itu ia mendendam. Ketika ia datang menemui aku di

bendungan, ia hanya akan memberikan beberapa pesan saja dan

kemudian memecahkan bendungan itu. Seterusnya Guru akan

kembali ke padang rumput ini.”

“Gila!” desisnya.

Ketiga kawan-kawannya terkejut. Serentak mereka berpaling,

dan salah seorang daripadanya bertanya, “Apa Agni?”

Agnilah yang kemudian terkejut. Dengan terbata-bata ia

menjawab sekenanya, “Hantu itu.”

“Kenapa?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Kini kepalanya tertunduk, dan

hatinya menjadi risau. Kembali di dalam dadanya terdengar

suaranya sendiri melengking, “Tidak. itu tidak mungkin, betapa guru

kehilangan keseimbangan, tetapi ia tidak akan melakukan pekerjaan

semacam itu. Dan bukankah guru tampaknya terkejut sekali ketika

aku memberitahukan apa yang telah terjadi di Panawijen?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia

menjadi malu akan kecemasannya itu, seakan-akan ia belum

mengenal watak dan tabiat gurunya. Sehingga dengan demikian,

maka Mahisa Agni itu pun dapat menenteramkan hatinya sendiri.

Katanya di dalam hati, “Aku yakin. Pasti bukan Empu Purwa. Kalau

hantu itu ternyata guruku, biarlah aku dibunuhnya sekali. Tetapi aku

yakin, bahwa orang itu adalah orang lain.”

Mereka berempat itu pun semakin lama menjadi semakin jauh

dari padukuhan mereka. Mereka berjalan perlahan-lahan sambil

mengamat-amati sungai yang mereka telusuri. Mungkin mereka

segera menemukan tempat yang baik untuk membangun

bendungan. Semakin dekat dengan padukuhan mereka semakin

baik. Tetapi sungai itu semakin lama agaknya menjadi curam.

Tebingnya yang terdiri dari batu padas menjorok tinggi. Tumbuhtumbuhan

liar seolah-olah menutup tebingnya dengan daundaunnya

yang rimbun.

“Tebingnya menjadi semakin curam Agni. Semakin tidak mungkin

lagi untuk membangun bendungan.”

“Kita berjalan terus. Suatu ketika akan menemukan tempat itu.

Tempat yang baik untuk membangun bendungan.”

Mereka berempat pun berjalan terus. Semakin lama semakin

jauh. Semakin jauh dari padukuhan mereka, tetapi semakin dekat

dengan padang rumput Karautan.

“Kita akan sampai ke padang rumput itu Agni,” berkata salah

seorang dari mereka.

“Ya,” sahut Agni, “sudah aku katakan, kita akan memasuki

padang rumput itu.”

“Tetapi hantu itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,

“Hantu itu berada di bagian lain. Ia mencegat orang-orang yang

lewat. Daerah ini sama sekali tidak pernah dilewati orang. Orang

mencari ikan pun tak pernah sampai ke tempat ini.”

“Tetapi bukankah hantu itu mengetahui dengan matanya yang

tajam apa saja yang ingin dilihatnya? Bukankah hantu itu dapat

melihat juga kehadiran kita di padang rumput ini, dan hantu itu

dapat terbang dalam waktu sekejap untuk mencegat kita?”

Mahisa Agni terpaksa tersenyum. Tetapi justru karena itu kawankawannya

menjadi kurang senang, seakan-akan Mahisa Agni itu

tidak mempercayainya.

“Jangan cemas. Kalau hantu itu benar-benar kembali ke padang

Karautan. Biarlah ia menemui aku. Aku sudah kenal baik dengan

hantu itu.”

Ketiga kawan-kawannya terdiam. Mereka merasa bahwa Mahisa

Agni tidak mempercayai cerita mereka, atau seandainya anak muda

itu percaya, agaknya ia sama sekali tidak takut, sehingga ketiga

kawan Agni itu mempunyai tanggapan yang aneh kepadanya.

Campur baur antara cemas, curiga dan berbangga.

Sementara itu matahari semakin lama semakin tinggi memanjat

langit. Sinarnya yang terik bertebaran di atas pepohonan dan tubuhtubuh

mereka yang sedang melakukan perjalanan menyusuri sungai

ke udik. Burung-burung liar tampak beterbangan di udara, dan

awan yang putih mengapung dihanyutkan angin ke utara.

Terasa panasnya seakan-akan membakar kulit. Keringat mereka

seolah-olah terperas dari tubuh mereka sehingga pakaian-pakaian

mereka menjadi basah kuyup.

“Panasnya bukan main.” salah seorang kawan Mahisa Agni

mengeluh.

“Ya,” sahut yang lain.

Tetapi Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia sudah terlalu biasa

dengan panas di perjalanan. Meskipun kawan-kawan mereka adalah

petani-petani yang biasa berjemur di sawah, namun kali ini mereka

dirayapi oleh perasaan takut dan cemas, sehingga seakan-akan

sinar matahari itu menjadi jauh lebih panas dari matahari di

Panawijen.

“Apalagi ketika kemudian mereka melihat sebuah padang rumput

terkapar di hadapan mereka. Di sana-sini mereka melihat gerumbulgerumbul

liar bertebaran. Padang rumput itu adalah padang yang

langsung berhubungan dengan padang rumput Karautan.

Ketika mereka mulai menginjakkan kaki-kaki mereka di atas

padang itu, Mahisa Agni melihat, betapa kecurigaan mencengkam

hati mereka.

“Jangan cemas,” desis Mahisa Agni. “padang ini belum padang

Karautan.”

Tetapi kata-kata penenang itu sama sekali tidak menenangkan

hati mereka. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu masih saja diliputi

oleh perasaan cemas dan ngeri. Mereka mengharap bahwa sebelum

mereka memasuki padang Karautan, mereka telah menemukan

tempat itu. Tempat yang baik untuk membuat bendungan.

Mahisa Agni melihat bahwa ketiga orang itu hampir tak sanggup

lagi berjalan karena kecemasannya. Pada ketiga kawannya itu

tampak sifat-sifat anak-anak muda Panawijen yang sebenarnya.

Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi geli melihat bagaimana anakanak

itu dengan nafsu yang menyala-nyala berteriak.

Aku sanggup, aku sanggup. Namun apabila di hadapannya

membayang kesulitan dan bahaya, maka terasa hatinya berkerut

sebesar menir.

Seperti apa yang pernah terjadi atas mereka di hadapan Kuda

Sempana. Dan apa yang akan dilakukan terhadapnya sendiri. Kini

ketakutan itu berulang kembali menghadapi hantu Karautan yang

belum pasti adanya.

Dalam pada itu mereka masih berjalan terus. Sungai itu masih

bertebing curam dan dalam. Tetapi Mahisa Agni melihat tanda-tanda

bahwa semakin lama tebing itu sudah menjadi semakin rendah.

“Kalian lihat,” berkata Mahisa Agni, “tebing ini sudah menjadi

semakin rendah. Kalau kita berjalan terus, maka aku yakin bahwa

akan kita temukan tempat yang tepat untuk membuat bendungan.”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah

seorang berkata, “Mungkin tebing ini akan menjadi rendah dan

dasar sungai akan menjadi semakin tinggi. Tetapi belum pasti

bahwa di tempat itu akan banyak terdapat bahan-bahan untuk

bendungan.”

“Ya. Mungkin begitu. Tetapi kita masih harus melihat dahulu.”

“Ternyata tempat yang paling baik adalah tempat yang lama

Agni,” berkata kawannya yang lain.

“Bagaimana mungkin,” jawab Agni, “sungai itu seakan-akan

menjadi semakin lebar, dua kali lipat. Semakin dalam dan bahanbahannya

sukar kita cari. Bahan-bahan yang lama, kalau misalnya

masih mungkin kita kumpulkan, tidak akan cukup separuh dari

kebutuhan.”

“Kita cari bahan-bahannya di tempat lain,” berkata yang lain

pula.

“Terlalu sulit. Dan bukankah bendungan itu akan menjadi

lambang dari kerja yang kalian hasilkan sendiri. Kerja yang kalian

persembahkan kepada anak cucu. Kalian bisa dengan bangga

berkata, ‘Bendungan ini kita buat bersama-sama’. Lebih bangga

daripada, ‘Bendungan peninggalan Empu Purwa ini kita perbaiki’.

Ketiga kawan-kawannya terdiam. Sebenarnya mereka tidak

berkeberatan untuk melakukannya. Bahkan mereka ingin

menunjukkan bahwa mereka pun mampu melakukan. Tetapi ketika

tiba-tiba mereka melihat padang Karautan, maka hati mereka

menjadi ragu-ragu. Bukan karena kesulitan untuk mendapatkan

tempat dan bahan-bahan, tetapi mereka ragu-ragu apakah hantu

Karautan akan membiarkan mereka membuat bendungan dan

mengubah padang rumput kekuasaannya.

Mahisa Agni seakan-akan dapat meraba gejolak hati mereka,

sehingga tiba-tiba pula ia berkata, “Jangan takut akan hantu itu.

Yakini kata-kataku. Hantu itu tidak terlalu berbahaya. Dan bukankah

kita berempat.”

Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Mereka berjalan

sambil menundukkan wajah-wajah mereka. Hanya sekali-sekali

mereka memandang tebing sungai yang curam dan ditumbuhi oleh

gerumbul-gerumbul liar.

Sementara itu matahari menjadi semakin lama semakin jauh

menuju ke puncak langit. Bahkan sesaat kemudian, matahari itu

telah melampaui titik tertinggi, dan perlahan-lahan merayap turun

ke barat. Semakin lama semakin rendah menuju ke balik bukit.

Semakin rendah matahari, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni

menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian salah seorang di antara

mereka berkata, “Apakah kita berjalan terus Agni?”

“Ya, sampai kita menemukan tempat itu.”

“Bagaimana kalau kita kemalaman di perjalanan?”

“Ah. itu sama sekali bukan soal. Bukankah kita membawa bekal

untuk keperluan itu?” Tetapi Mahisa Agni tahu maksud pertanyaan

itu sebenarnya. Mereka sama sekali tidak cemas tentang bekal

mereka, tetapi mereka cemas apabila mereka bertemu dengan

hantu Karautan.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu kembali berdiam diri. Hanya

sekali-sekali mereka memandang langit yang semakin sejuk. Tetapi

hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.

“Apakah kita tidak kembali saja dahulu Agni. Besok kita teruskan

perjalanan kita di siang hari?”

“He,” mau tidak mau Mahisa Agni harus tertawa, katanya,

“bagaimana hal itu mungkin. Kalau kita kembali, dan besok

berangkat lagi seperti hari ini, maka kita akan sampai di tempat ini

pada saat yang sama seperti sekarang. Dengan demikian kita akan

mengulangi perjalanan ini setiap hari.”

Kawannya itu pun tersenyum pula, ketika disadarinya bahwa

pendapatnya itu menggelikan.

Kemudian mereka berjalan pula sambil berdiam diri. Mereka telah

berjalan jauh menjorok ke dalam padang rumput. Keringat mereka

telah terperas membasahi seluruh tubuh mereka, seakan-akan

mereka sedang mandi.

“Apakah kalian lelah?” bertanya Mahisa Agni.

Serentak ketiga kawannya mengangguk sambil menjawab, “Ya.

Aku lelah sejak tadi.”

“Baiklah kita beristirahat,” ajak Mahisa Agni.

Ketiga kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Kalau mereka

beristirahat, maka perjalanan mereka akan menjadi semakin lama.

Mungkin mereka benar-benar akan kemalaman di padang rumput

itu. Tetapi untuk berjalan terus, mereka telah benar-benar lelah dan

lapar.

Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu segera mengetahui

perasaan ketiga kawan-kawannya itu. Maka katanya, “Makanlah

dahulu. Apapun yang akan kita jumpai, namun kita sudah kenyang.”

Seorang, kawannya tiba-tiba bertanya, “Manakah batas dari

padang rumput Karautan itu?”

“Kita sudah berada di padang rumput Karautan,” jawab Agni.

Jawaban itu benar-benar mengejutkan ketiga kawan-kawannya,

terasa dada mereka berdesir. Tanpa mereka sadari mereka telah

berada di padang yang mereka takuti.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Batas antara

padang Karautan dan padang rumput Panawijen tidak jelas. Tak ada

tanda-tanda yang dapat dipergunakan. Tetapi kita hanya dapat

menduga, bahwa setelah kita menempuh jarak tertentu kita berada

di padang rumput yang bernama Karautan.”

Kawan-kawannya tidak menjawab, seakan-akan mereka benarbenar

menjadi ketakutan menyebut sesuatu yang berhubungan

dengan padang itu. Mereka merasa seakan-akan hantu Karautan

selalu mengintai mereka, dan menerkam mereka setiap saat. Hanya

karena harga diri, mereka tetap berada di sisi Mahisa Agni. Mereka

malu untuk menyatakan keinginan mereka, mengajak Agni kembali

saja ke Panawijen karena hantu Karautan, sebab ternyata Mahisa

Agni agaknya sama sekali tidak memperhitungkan hantu itu, bahkan

mengabaikannya.

Mahisa Agni melihat kecemasan yang membayang di wajah

kawan-kawannya, tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak

mengacuhkannya. Dibawanya kawan-kawannya itu duduk di bawah

gerumbul dan katanya kemudian, “Marilah kita buka bekal kita. Kita

makan dahulu. Nanti kita lanjutkan perjalanan kita.”

Dengan ragu-ragu kawan-kawannya membuka bungkusan bekal

mereka. Namun sekali-sekali mereka selalu menebarkan pandangan

mereka sekeliling padang itu. Setiap gerak dan setiap suara, yang

betapapun lembutnya, benar-benar telah mengejutkan mereka itu.

Hanya Mahisa Agnilah yang seolah-olah tidak memedulikan apa saja

di sekitarnya. Dengan lahapnya ia menyuapi mulutnya.

“Marilah,” katanya, “apakah kalian tidak lapar seperti aku?”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian

makan pula, tetapi mereka benar-benar tidak dihinggapi nafsu.

Seakan-akan perut mereka masih saja terasa kenyang.

Sambil makan terdengar Mahisa Agni bergumam, “Sudah pasti

kita bermalam di padang ini.”

Wajah ketiga kawan-kawannya menjadi pucat, tetapi mereka

belum bertanya.

“Kita akan berjalan sampai matahari terbenam. Dan kita akan

bermalam di tempat itu. Besok pagi-pagi kita teruskan perjalanan

kita. Mudah-mudahan besok kita menemukan tempat yang kita

cari.”

Kawan-kawannya masih berdiam diri. Mereka tidak dapat berbuat

lain daripada mengikut saja ke mana Mahisa Agni pergi. Untuk

kembali bertiga pun mereka agaknya kurang berani. Dengan

demikian maka hidup mereka kini seakan-akan hanya tergantung

saja kepada Mahisa Agni.

Tetapi ada juga di antara mereka yang menjadi semakin cemas

karena melihat bayangan sendiri. Dihubungkannya perjalanan ini

dengan peristiwa di bendungan. Jangan-jangan Mahisa Agni marah

kepada mereka, dan sengaja membawa mereka jauh-jauh dari

Panawijen untuk menumpahkan kemarahannya itu.

Karena itulah maka hanya Mahisa Agni sajalah yang dapat

menelan makannya dengan gairah karena kelelahan dan lapar.

Ketiga kawan-kawannya hampir tidak mampu untuk menelan

makanan mereka.

Selesai makan, Mahisa Agni masih juga duduk-duduk di bawah

gerumbul itu, seolah-olah ia sudah tidak mempunyai rencana yang

lain daripada beristirahat.

“Kita tidak tergesa-gesa,” katanya, “sebab bagaimanapun juga

kita pasti akan kemalaman dan bermalam di padang ini. Karena itu

lebih baik kita bekerja perlahan-lahan tetapi lebih cermat dan hatihati

memilih tempat.”

Ketiga kawan-kawannya benar-benar menjadi seolah-olah bisu.

Mereka hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Tak ada

keinginan mereka untuk mengucapkan satu kata pun, apabila tidak

terpaksa. Seakan-akan mereka takut suaranya akan didengar oleh

hantu Karautan.

Akhirnya Mahisa Agni jemu melihat sikap-sikap itu.

Diusahakannya untuk melupakan kecemasan itu, dengan makan,

istirahat seenaknya dan apa saja. Tetapi kecemasan itu masih juga

terasa melekat di hati ketiga kawannya itu. Karena itu maka Mahisa

Agni pun terpaksa sekali lagi memberi mereka peringatan, katanya,

“Kenapa kalian tampaknya selalu cemas? Sudah aku katakan,

jangan hiraukan hantu Karautan itu. Dan ia tidak akan mengganggu

aku lagi.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-angguk. Namun

hatinya sama sekali tidak meyakini kata-kata Mahisa Agni itu.

Meskipun demikian mereka sama sekali tidak menjawab.

“Marilah kita teruskan perjalanan kita. Kita akan menerobos

padang Karautan. Akan kita telusur sungai ini terus sampai kita

menemukan tempat yang baik untuk bendungan itu. Seandainya

hantu itu benar-benar kembali, maka ia berada jauh di sebelah

timur, di tepi jalan sidatan ke Tumapel. Tidak di pinggir kali ini.”

Mahisa Agni tidak menunggu jawaban ketiga kawannya. Segera

ia membenahi bekalnya. Kawan-kawannya yang melihat itu pun

segera berbuat serupa. Mereka takut Mahisa Agni akan

meninggalkan mereka di tengah-tengah padang yang mengerikan

itu.

Kembali mereka berempat berjalan menyusur sungai. Di

perjalanan itu Mahisa Agni selalu berusaha untuk melupakan

ketakutan dengan menilai setiap lekuk liku sungai itu. Tetapi

jawaban yang didengarnya dari kawan-kawannya terlalu pendek.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia

berbicara terus tentang sungai itu.

Semakin jauh mereka berjalan, matahari pun menjadi semakin

rendah. Kini mereka pun benar-benar telah berada di padang yang

luas dan mengerikan. Di sana-sini yang mereka lihat hanyalah

gerumbul-gerumbul liar dan batu-batu padas yang menjorok di

antaranya.

Ketika kemudian malam membayang di langit, maka Mahisa Agni

pun berhenti. Ia harus mendapatkan tempat yang baik untuk

bermalam bersama kawan-kawannya.

Diamat-amatinya tempat di sekitarnya. Gerumbul-gerumbul liar

dan rerumputan.

“Kita bermalam di sini,” bertanya Mahisa Agni kepada kawankawannya.

Perasaan ngeri dan cemas semakin menghunjam ke dalam

jantung ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu. Demikian cemasnya

sehingga salah seorang daripada mereka, yang tidak dapat

menahan diri lagi, telah kehilangan perasaan malunya, sehingga

dengan gemetar ia berkata, “Apakah kita bermalam di padang ini

Agni?”

“Ya. Bukankah sebentar lagi hari akan malam?”

“Apakah tidak lebih baik kita berjalan?”

“Tidak. Lebih baik kita berhenti. Kalau kita berjalan di malam

hari, maka kita akan tidak dapat melihat sungai itu. Kita akan

mengetahui, apakah kita sudah sampai pada tebing yang rendah.”

Kawannya itu terdiam. Tetapi bukan berarti bahwa ia telah

kehilangan kecemasannya.

Mahisa Agni itu pun kemudian berkata pula, “Di sinilah. Di atas

rumput kering ini kita akan bermalam. Kita harus berganti-gantian

bangun, supaya kita tidak kehilangan kewaspadaan. Mungkin ada

binatang yang berbahaya.”

Bulu-bulu kuduk ketiga kawan Mahisa Agni meremang. Meskipun

mereka membawa senjata, namun senjata itu hampir-hampir tak

berarti bagi mereka.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mahisa Agni itu

kemudian meletakkan dirinya duduk di atas rumput-rumput liar yang

kering. Tempat itu adalah tempat yang tidak menjadi rimbun karena

batang-batang ilalang, karena tanah di bawahnya adalah tanah yang

berbatu padas.

Dengan dada yang berdebar-debar ketiga kawan-kawannya pun

duduk pula dekat-dekat di samping Mahisa Agni. Sekali-sekali

mereka memandang daerah sekeliling mereka dengan hati yang

kecut. Seakan-akan di sekeliling mereka, di belakang gerumbulgerumbul

liar, dibalik batang-batang ilalang, bersembunyi berpuluhpuluh

hantu dan binatang-binatang buas yang siap menerkam, dan

menyobek kulit daging mereka. Tetapi mereka mengumpat-umpat

tak habis-habisnya di dalam hati, apabila mereka melihat, Mahisa

Agni hampir acuh tak acuh saja terhadap keadaan di sekelilingnya.

“Marilah kita bentangkan tikar,” berkata Mahisa Agni.

Kawannya yang membawa tikar, tidak menjawab. Tetapi dengan

dada dan tangan yang gemetar, ia membuka ikatan sehelai tikar

dan dengan hati-hati ia membentangkannya.

Demikian tikar itu terbentang, demikian Mahisa Agni merebahkan

dirinya sambil bergumam, “Ah, alangkah enaknya. Setelah seharian

berjalan, kita dapat beristirahat di bawah selimut mega yang putih

dan langit yang biru bersih.”

Kawan-kawannya sama sekai tidak dapat ikut merasakannya.

Mereka sama sekali tidak merasa lelah, apalagi keinginan untuk

berbaring seperti Mahisa Agni. Mereka tidak juga melihat helaian

awan putih yang beterbangan di langit dan warna yang biru bersih

di atas kepala mereka. Yang ada di dalam hati mereka, adalah

bayangan-bayangan yang mengerikan.

Tiba-tiba Mahisa Agni yang berbaring itu bangkit. Katanya, “Kita

akan membuat api.”

“He,” kawan-kawannya terkejut mendengarnya. Berkata salah

seorang dari mereka, “Api akan menunjukkan, bahwa di sini ada

seseorang.”

“Apa salahnya?” sahut Mahisa Agni, “kita tidak akan beku

kedinginan. Apalagi kalau kita sempat menangkap binatang buruan.

Maka malam ini akan menjadi malam yang tidak akan kalian

lupakan.”

Mahisa Agni tidak menunggu kawan-kawannya menjawab. Dalam

keremangan ujung malam, Agni segera bangkit dan mencari dahandahan

dari gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Kemudian

dengan seonggok rumput kering, Agni segera membuat api dengan

batu yang dibawanya. Sepotong batu yang digosoknya keras-keras

dengan sepotong kecil kepingan baja. Lontaran bunga apinya dapat

membakar gelugut aren yang sudah dikeringkan. Dengan api itulah

Agni membakar onggokkan rumput kering.

Sesaat kemudian api telah menyala. Lidahnya yang menjulur

naik, seakan-akan ingin menjilat langit.

“Hangat,” gumamnya, “biarlah api ini bertahan sampai pagi.

Jangan sampai padam. Meskipun hanya baranya.”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun semakin besar api itu

menyala, hatinya menjadi semakin kecut. Namun api itu segera

menjadi susut. Dilemparkannya oleh Mahisa Agni beberapa potong

kayu, supaya apabila api itu padam, maka akan masih tinggal

baranya yang dapat dipakainya untuk memanaskan tubuh.

“Biarlah nyala itu padam,” berkata Agni, “tetapi jagalah supaya

masih ada bara yang tertinggal. Supaya apabila malam nanti kita

kedinginan, kita dapat melemparkan rumput-rumput kering ke

atasnya dan api akan menyala kembali.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi

mereka seakan-akan menjadi beku. Mereka melihat Mahisa Agni

kemudian menumpuk beberapa potong kayu lagi di atas api dan

membiarkan api itu menjadi bertambah kecil, ketika dalam sesaat

rumput-rumput yang kering telah habis terbakar.

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Mata mereka

menghunjam ke pusat api yang sudah tidak lagi menjalar ke udara.

Malam pun semakin lama menjadi semakin gelap, dan bintangbintang

di langit menjadi semakin banyak menggantung dengan

cerahnya.

“Kita perlu air,” tiba-tiba Agni memecah kesepian.

Kawan-kawannya saling berpandangan. Mereka memang merasa

haus, tetapi mereka tidak menjawab.

“Siapa yang akan mengambil air ke sungai?”

Tak ada yang menjawab. Sehingga Agni meneruskannya, “Kalau

demikian, aku akan pergi.”

“Lalu, bagaimana dengan kami,” bertanya seorang kawannya.

“Tinggallah kalian di sini sebentar. Hanya sebentar.”

Sejenak ketiga kawan-kawannya itu menjadi saling

berpandangan. Mulut-mulut mereka ternganga namun hati mereka

berkerut.

Ketika kemudian mereka melihat Mahisa Agni bergerak

menyambar bumbung yang sudah kosong, salah seorang dari

mereka berkata, “Jangan tinggalkan kami di sini, Agni.”

Mahisa Agni tertegun sejenak. Ditatapnya ketiga kawankawannya

yang gemetar. Katanya, “Kenapa? Kenapa kalian tidak

berani tinggal di sini bertiga?”

Dengan nanar mereka memandang berkeliling. Padang rumput

ini adalah padang rumput Karautan. Tetapi mulut-mulut mereka

tidak berani mengucapkannya.

“Aku haus,” berkata Mahisa Agni, “karena itu aku perlu air. Kalau

ada di antara kalian yang mau mengambilnya untuk kita berempat,

aku akan tinggal di sini.”

“Kita mengambil bersama-sama,” minta salah seorang

daripadanya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun

kemudian ia berkata, “Jangan. Tungguilah bekal-bekal kita, kalaukalau

ada anjing liar. Apakah kalian takut kepada anjing-anjing liar

itu? Bukankah kalian laki-laki yang di lambung kalian tergantung

pedang? Apakah gunanya pedang itu?”

Tanpa mereka sadari, tangan-tangan mereka meraba hulu-hulu

pedang yang tergantung di lambung masing-masing. Ada juga

ketenteraman yang menjalari di hati mereka. Pedang itu akan dapat

membantu mereka melindungi diri mereka. Tetapi mereka bukan

seorang yang cakap bermain-main dengan pedang.

Mereka hanya sekedar dapat menggerakkannya dan sedikit

memutar dan mengayunkan. Tetapi apabila yang datang benarbenar

hanya anjing-anjing liar, maka tiga bilah pedang itu sudah

berlebihan.

“Atau, kalian dapat menyalakan api itu kembali supaya binatangbinatang

buas menjadi ketakutan dan tidak mendekati kalian.”

Kawan-kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala

mereka. Tetapi hati mereka serasa membeku.

“Nah, bagaimana? “ bertanya Mahisa Agni, “aku membawa kalian

untuk kawan di perjalanan bukan sebagai momongan.”

Kata-kata itu benar-benar menyentuh hati mereka. Sehingga

dengan demikian tumbuh kembali rasa harga diri mereka sebagai

laki-laki. Bagaimanapun mereka bercemas hati, namun ketika sekali

lagi Mahisa Agni bertanya, terdengar mereka menjawab, “Baiklah

Agni, kami bertiga tinggal di sini. Tetapi jangan terlalu lama, dan

jangan terlalu jauh, sehingga apabila kami memanggilmu, kau akan

dapat mendengarnya.”

“Baiklah,” sahut Agni sambil berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan ke

arah tebing sungai. Sekali-sekali ia berpaling melihat ketiga

kawannya yang duduk hampir berdesak-desakan. Pedang mereka

telah tidak lagi tergantung di lambung mereka, tetapi pedang itu

telah siap di pangkuan.

Ketika Mahisa Agni melangkah terus, dilihatnya bayangan

tubuhnya di bawah kakinya. Memanjang ke barat. Ketika ia

berpaling dilihatnya bulan yang telah tidak bulat lagi mengambang

di langit yang biru.

Tiba-tiba Mahisa Agni tertegun. Dilihatnya bulan, dataran rumput

yang luas, diseling oleh gerumbul dan padas yang menjorok, awan

yang putih dan bintang yang berdesakan di langit.

Mahisa Agni menarik nafas. Di wajahnya seakan-akan terbayang

seluruh bumi. Keindahan bulan, rumput-rumput liar, hati yang bulat

untuk melakukan sesuatu, tetapi diliputi oleh kecemasan dan

ketakutan, seperti kawan-kawannya yang duduk melipat diri,

kelelawar yang bebas di udara, namun juga kelinci yang hidupnya

selalu terancam oleh kekerasan binatang-binatang yang lebih besar

dan buas.

Mahisa Agni itu pun kemudian menundukkan kepalanya.

Terbayang di mata hatinya, betapa besar kekuasaan Yang Maha

Agung yang telah menjadikan semuanya itu.

Selangkah Mahisa Agni berjalan terus. Semakin lama semakin

dekat ke tebing sungai yang dalam. Tetapi beruntunglah bahwa

bulan telah membantunya menunjukkan jalan yang dapat dilaluinya

untuk menuruni tebing.

Meskipun demikian, Mahisa Agni melangkah dengan penuh

kewaspadaan. Ia tidak takut kepada hantu Karautan yang akan

mencegatnya di tepian, atau harimau yang bersembunyi di dalam

rimbunnya belukar menunggu rusa mencari minum, atau binatangbinatang

buas yang lain, tetapi yang menjadi perhatian Mahisa Agni

adalah ular dan sebangsanya. Meskipun ia masih mempunyai

ramuan obat penawar bisa, tetapi baginya lebih baik tidak usah

mempergunakannya, daripada ia harus digigit ular. Apalagi ular

yang bisanya sangat tajam, maka meskipun ia akan dapat

menawarkannya, namun ia pasti akan mengalami demam.

Perlahan-lahan Mahisa Agni merayapi tebing yang curam, turun

ke bawah. Telah didengarnya gemercik air sungai yang mengalir di

bawahnya. Sekali-sekali ia melihat kilatan pantulan cahaya bulan

pada wajah air yang beriak kecil. Di lambung kanannya tergantung

bumbung tempat air, dan di lambung kiri tergantung pedangnya.

Adalah jarang sekali Mahisa Agni menyandang pedang atau senjata

apapun. Tetapi karena perjalanannya yang penting kali ini, maka ia

pun bersenjata pula seperti ketiga kawan-kawannya. Mungkin

senjata itu berguna tidak saja untuk berkelahi, tetapi untuk

menebas pepohonan dan kayu-kayuan apabila diperlukan.

Dalam pada itu ketiga kawannya masih duduk mematung,

seakan-akan mereka sama sekali tidak berani bergerak. Hanya

sekali-sekali mereka memandang jauh ke tempat Mahisa Agni

menghilang. Tetapi sekali-sekali mereka juga sempat melihat bulan

yang jernih. Namun tak seorang pun dari mereka yang mulai

bercakap-cakap.

Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka menjadi pucat. Ketika

ia memandang bulan yang kekuning-kuningan, tiba-tiba di bawah

bayangan cahaya bulan ia melihat sesuatu yang bergerak. Mulamula

ia hanya menyangka, bahwa itu adalah daun-daun yang di

sentuh angin. Tetapi gerak itu ternyata terlalu jauh bergeser.

Dengan tangan yang gemetar digamitnya kawan-kawannya dan

dengan dagunya ia menunjuk ke arah bayangan itu.

Kawan-kawannya yang kemudian berpaling pula, merasa seperti

disengat lebah di tengkuknya. Mereka terkejut bukan kepalang.

Bayangan itu bergerak cepat sekali seperti hantu yang terbang di

atas padang rumput Karautan tanpa menyentuh tanah.

Tubuh mereka itu pun menjadi gemetar. Hampir seluruh sendisendi

tulang mereka serasa terlepas. Tiba-tiba merayaplah di dalam

dada mereka anggapan bahwa sebenarnya hantu itu dapat bergerak

cepat sekali tanpa menyentuh tanah.

Pedang-pedang yang berada di pangkuan mereka itu sama sekali

sudah tidak mereka ingat lagi. Apalagi untuk berbuat sesuatu.

Mereka hanya dapat duduk membeku tanpa berani menggerakkan

ujung jarinya sekalipun.

Meskipun demikian, mereka mencoba juga untuk melihat

bayangan itu bergerak-gerak. Sekali-sekali cepat, namun kemudian

lambat, berkisar dari satu garis ke garis yang lain.

Dalam pada itu yang dapat dilakukan oleh ketiga kawan Mahisa

Agni hanyalah berdoa, semoga hantu itu tidak datang kepada

mereka. Dengan dada bergetar dan tubuh gemetar, mulut mereka

berkomat-kamit.

Tetapi bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat.

Namun mereka melihat bayangan itu berada pada garis yang

menyilang di hadapan mereka, sehingga mereka mengharap, bahwa

bayangan itu tidak berbelok lurus ke arah mereka.

Dengan mata terbelalak mereka menyaksikan gerak bayangan

itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan itu. Hati

mereka berdesir ketika mereka menyaksikan bayangan itu berhenti.

Tetapi hanya sesaat, kemudian kembali bergerak berputar. Mereka

melihat gerak itu menjadi lebih lambat dan yang hampir menjadikan

mereka pingsan, bayangan itu berjalan ke arah mereka bertiga,

seolah-olah mereka bertiga itu sudah dilihatnya.

Ketakutan yang bergolak di dalam dada mereka itu pun menjadi

semakin memuncak. Tiba-tiba terdengar salah seorang berdesis

dengan gemetar, “Menuju kemari.”

Kawan-kawannya menyahut, “Ya.”

Mereka itu kemudian melihat bayangan itu sudah semakin dekat.

Di belakang bayangan itu mereka melihat selapis asap yang

bergulung-gulung. Asap putih yang tipis.

“Hantu itu berasap,” gumam mereka di dalam hati. Karena itulah

maka mereka menjadi semakin ketakutan.

Namun telinga mereka kini telah mendengar derap kehadiran

bayangan itu. Derap itu seperti derap seekor kuda.

“Suara kuda,” desis salah seorang dari mereka.

“Hantu itu naik kuda sembrani,” sahut yang lain.

Hati mereka semakin lama menjadi semakin kalut, sehingga

akhirnya mereka sampai ke puncak kecemasan.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Lari!”

“Ke mana?” sahut yang lain.

“Ke mana saja.”

“Tetapi kita tidak dapat berlari secepat kuda sembrani.”

Sesaat mereka terdiam. Mereka memang tidak dapat berlari

secepat kuda sembrani. Karena itu mereka menjadi semakin

bingung, sedang bayangan itu semakin lama semakin dekat dengan

mereka.

“Bersembunyi,” desis yang lain.

Mereka segera mencoba mencari tempat untuk bersembunyi.

Yang ada di dekat mereka adalah sebuah gerumbul yang cukup

lebat, sehingga dengan serta-merta kedua kawannya menyambut,

“Ya, kita bersembunyi.”

Serentak mereka bertiga merangkak cepat-cepat memasuki

gerumbul yang ada di samping mereka. Dengan tersuruk-suruk

mereka menyibak daun-daun perdu dan menyusup ke dalamnya.

Sama sekali tidak mereka rasakan, goresan-goresan duri yang tajam

pada tubuh mereka.

Demikian mereka hilang di dalam belukar, maka segera mereka

mendengar derap kuda semakin dekat. Dan sesaat kemudian

mereka mendengar derap kuda itu berhenti.

Dari celah-celah rimbun dedaunan yang melindungi mereka,

mereka dapat melihat seekor kuda yang tegar kuat. Di

punggungnya duduk seorang dalam pakaian yang aneh. Pakaian

yang tidak teratur dan memakai tutup di wajahnya. Sesobek kain

melingkar di bawah mata dan diikat di bagian belakang kepalanya,

di bawah gelungnya yang tidak terpelihara.

Melihat kuda dan penunggangnya itu, ketiga kawan-kawan

Mahisa Agni benar-benar tidak lagi bergerak. Bernafas pun rasarasanya

menjadi sangat sulit. Gambarannya tentang hantu itu sama

sekali tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya kini. Meskipun

demikian, ketakutannya menjadi bertambah-tambah. Wajah hantu

itu tidak sedahsyat yang disangkanya. Namun tidak juga tampan

seperti cerita-cerita yang pernah didengarnya, bahwa hantu

Karautan adalah hantu yang tampan, meskipun liar. Tetapi kali ini

hantu itu mencoba menutupi wajahnya, sehingga wajah itu sama

sekali tidak dapat mereka kenal.

“Apakah mulut hantu itu seperti mulut raksasa dalam cerita-cerita

itu,” pikir mereka.

Perasaan ketiga orang itu benar-benar menjadi kacau. Campur

baur antara cerita yang pernah mereka dengar tentang hantu yang

tampan berambut liar, gambaran-gambaran mereka tentang hantu

yang berkepala besar dan bermata merah, dan kenyataan yang

dilihatnya kini. Meskipun demikian, mereka masih menduga bahwa

sebenarnya hantu itu adalah hantu yang tampan.

Hati mereka benar-benar membeku ketika mereka melihat hantu

itu turun dari kudanya. Mereka seakan-akan berusaha mengerutkan

tubuh mereka sekecil mungkin, supaya hantu itu tidak dapat

melihatnya Meskipun demikian, mereka merasa bahwa mereka telah

berada di ujung ubun-ubun.

Satu-satunya harapan mereka adalah, menunggu Mahisa Agni

datang. Tetapi kalau hantu itu, melihatnya sebelum Agni datang,

maka mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Mereka kemudian melihat hantu itu perlahan-lahan berjalan

mendekati perapian dan memperhatikan setiap benda yang ada di

sekitar perapian itu.

Dengan kakinya hantu itu menyentuh benda-benda yang

berserakan. Sebungkus bekal dan makanan. Beberapa macam alatalat,

bumbung-bumbung kecil dan mangkuk. Dan yang terakhir

adalah pedang-pedang kawan-kawan Mahisa Agni itu.

Terdengar hantu itu menggeram. Suaranya mengerikan seperti

suara sangkakala Dewa Maut. Perlahan-lahan, namun dalam

menusuk pusat jantung.

Ketiga kawan Mahisa Agni benar-benar berkerut seperti tikus di

hadapan seekor kucing yang garang. Hanya bibir-bibir mereka

sajalah yang bergerak-gerak. Namun seluruh tubuh mereka

menggigil seperti orang kedinginan.

Tiba-tiba hantu itu tertawa perlahan-lahan. Diputarnya tubuhnya

dan sambil menunjuk ke dalam gerumbul itu terdengar suara

bergumam, seakan-akan melingkar-lingkar saja di dalam perutnya.

Dada ketiga kawan Mahisa Agni itu benar-benar hampir meledak

karena kecemasan melihat sikap hantu itu. Seakan-akan hantu itu

telah menunjuk hidung mereka masing-masing, dan suara

tertawanya adalah pertanda, bahwa maut telah siap untuk

menerkamnya.

“Siapa bersembunyi di sana?” terdengar suara hantu itu berat.

Pertanyaan itu benar-benar seperti ledakan petir di dalam kepala

kawan-kawan Mahisa Agni itu. Tulang-tulang mereka serasa benarbenar

telah terlepas dari kulit daging mereka. Dan karena itulah

maka mereka dengan lemahnya terkulai di tanah, di dalam

gerumbul yang rimbun. Seandainya sebilah pisau menyentuh kulit

mereka, maka seakan-akan dari kulit itu tidak akan menetes darah

yang merah. Demikian takut dan cemas mereka, sehingga tubuhtubuh

mereka menjadi putih seperti mayat, dan dingin membeku

seperti air embun yang menetes di malam hari.

Sejenak hantu itu tegak berdiri dengan garangnya. Di tunggunya

jawaban dari pertanyaannya. Tetapi tak ada yang berani

mengucapkan sepatah kata pun. Apalagi menjawab pertanyaannya

hantu itu.

“He,” teriak hantu itu lebih keras, “siapa bersembunyi dalam

gerumbul itu?”

Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Bahkan hati

mereka menjadi semakin membeku.

“Hem,” hantu itu menggeram lagi, “jangan menghina aku. Jawab

siapa kalian?”

Angin malam berhembus dengan lemahnya menggerakkan daun

gerumbul itu. Di langit bulan masih tergantung di antara bintangbintang

yang bertaburan. Tetapi betapa kecutnya hati ketiga orang

yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Mulut mereka benarbenar

serasa terkunci.

Selangkah hantu itu maju mendekati gerumbul itu, ternyata di

lambungnya tergantung sebilah pedang yang panjang. Terjuntai

hampir menyentuh tanah.

Pedang itu semakin mengguncangkan dada mereka yang sedang

bersembunyi. Mula-mula mereka heran melihat pedang itu. Tetapi

kemudian terasa dada mereka menjadi pedih, seakan-akan ujung

pedang itu telah menghunjam menembus tulang-tulang iganya.

Hantu itu rupa-rupanya menjadi marah ketika pertanyaanpertanyaannya

tidak berjawab. Dengan lantang diulanginya

pertanyaan, “He, siapa yang bersembunyi di situ? Aku minta kalian

menjawab pertanyaanku!”

Suara itu lepas, selepas angin yang bertiup di padang rumput.

Hilang tanpa kesan dan jawaban.

Dengan demikian maka hantu itu menjadi semakin marah.

Selangkah lagi ia maju. Dan kali ini ia mengancam, “Aku sudah

mengucapkan beberapa kali pertanyaan. Tetapi kalian tidak

menjawab. Kalau kalian tidak memedulikan kehadiranku di sini,

maka kalian akan mengalami nasib yang malang. Sekarang jawab

pertanyaanku, siapakah kalian?”

Ketiga orang yang bersembunyi itu benar-benar menjadi

ketakutan. Mereka harus menjawab pertanyaan hantu itu supaya

hantu itu tidak menjadi semakin marah. Tetapi tak seorang pun

yang mampu mengucapkan jawaban. Karena itu, hantu itu hanya

mendengar desah nafas yang berkejar-kejaran.

“He,” geram hantu itu pula. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Keluar!

Keluar dari gerumbul itu! Kalau tidak, maka gerumbul ini akan aku

bakar.”

Mereka yang bersembunyi di dalam gerumbul itu menggigil

semakin cepat. Tubuh mereka seakan-akan tidak lagi dapat mereka

kuasai. Meskipun mereka mendengar dan melihat, namun seakanakan

mata mereka dan telinga mereka itu tidak lagi ada

hubungannya dengan anggota badan mereka yang lain. Meskipun

telinga dan mata mereka mempengaruhi kehendak mereka untuk

merangkak keluar karena ancaman hantu itu, namun anggota badan

mereka seolah-olah telah terlepas satu sama lain, sehingga tidak

lagi mampu bergerak.

Hantu itu kemudian berdiri bertolak pinggang. Kakinya

merenggang dan dadanya menengadah. Terasa kesabarannya

semakin tipis, dan dengan penuh luapan kemarahan ia berteriak,

“Keluar! Keluar! Sekali lagi aku peringatan. Kalau tidak, kalian akan

mati terbakar di dalam gerumbul ini.”

Ketakutan ketiga orang itu sudah memuncak. Apalagi ketika

mereka melihat hantu itu kemudian melangkah ke perapian.

Diambilnya seonggok rumput-rumput kering yang sudah mereka

kumpulkan. Kemudian rumput-rumput kering itu diletakkannya di

sisi gerumbul itu. Agaknya hantu itu benar-benar akan melakukan

apa yang dikatakannya.

Karena itu, maka ketiga orang yang bersembunyi itu menjadi

bingung. Demikian bingungnya sehingga seolah-olah mereka telah

menjadi gila. Meskipun demikian, dengan sisa-sisa kekuatan dan

keberanian yang terakhir, mereka masih mencoba menghindarkan

diri dari kemungkinan terbakar hangus di dalam gerumbul itu.

Seperti orang berjanji, mereka saling berpandangan. Dan dengan

tersuruk-suruk mereka merangkak keluar dari gerumbul itu.

Ketiga hantu itu melihat mereka muncul dari gerumbul itu,

terdengarlah derai tertawanya, seakan-akan memecahkan telinga.

Suara tertawa itu benar-benar telah mengguncangkan dada

ketiga anak-anak muda Panawijen. Mereka merasa seakan-akan

dada mereka bergelora. Sehingga tubuh-tubuh mereka itu menjadi

semakin gemetar karenanya.

“Hem,” geram hantu itu, “ternyata di dalam gerumbul itu

bersembunyi kelinci-kelinci. Nah, bukankah dugaanku benar. Tiga

ekor kelinci.”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak berani memandang wajah

hantu yang bertutup sesobek kain. Mereka duduk dengan lemahnya,

sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Kemari!” bentak hantu itu.

Ketika anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Mereka

seakan-akan tidak mampu lagi untuk bergerak maju.

“Kemari!” teriak hantu padang itu.

Suara itu menggelegar seperti petir menyambar di langit. Kembali

mereka tersuruk-suruk merangkak mendekati hantu yang berdiri

bertolak pinggang dan kaki renggang.

Ketiga anak muda itu seakan-akan seorang hamba yang sedang

menghadap Tuannya. Duduk dengan kepala tunduk dan hati yang

bergolak penuh kecemasan, ketakutan dan kengerian.

Rupa-rupanya sikap mereka benar-benar menyenangkan hantu

padang itu. Sekali lagi terdengar hantu itu tertawa berderai.

Suaranya bergulung-gulung melontar ke segenap sudut padang

Karautan.

Tetapi ketika ketiga anak muda Panawijen itu semakin dekat,

maka tiba-tiba suara tertawa itu berhenti. Dengan mata terbelalak

hantu itu memandangi anak-anak muda yang duduk di hadapannya.

Bahkan kemudian tanpa sesadarnya hantu itu berdesis, “Anak-anak

Panawijen. Bukankah kalian anak-anak Panawijen?”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi semakin kecut. Wajahnya

semakin pucat karena mereka mendengar hantu itu menyebut

mereka dengan tepat sebagai anak-anak muda Panawijen.

Namun sesaat kemudian hantu itu sudah tertawa lagi. Dengan

nyaring ia berkata, “Hai anak-anak Panawijen. Jangan heran. Aku

tahu siapa kalian. Adalah suatu kesenangan yang sukar dicari di

kesempatan lain.”

Hantu itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Jangan

ingkar! Bukankah kalian anak-anak muda Panawijen?”

Ketiga anak-anak muda itu tidak segera menjawab. Mereka

benar-benar telah membeku. Sehingga hantu itu terpaksa

membentak keras, “Ayo jawab! Kalau tidak aku cekik kalian sampai

mati.”

Ngeri. Dan kengerian itu telah memaksa salah seorang dari

ketiga anak muda itu menjawab dengan suara parau gemetar.

“Ya.”

Mereka sama sekali tidak berani mengingkari, sebab menurut

dugaan mereka, hantu dapat melihat apa saja dan mengerti apa

saja.

“Bagus,” sahut hantu itu. Dan tiba-tiba hantu itu semakin

mengejutkan dan menakutkan. Suaranya menjadi semakin kasar.

Dengan tajamnya hantu itu berkata, “Aku mempunyai dendam yang

dalam terhadap anak-anak muda Panawijen.”

Mendengar kata-kata terakhir dari hantu itu, maka nyawa-nyawa

mereka serasa telah bergerak ke ubun-ubun. Dengan satu sentuhan

dari hantu itu, maka nyawa-nyawa itu sudah akan terlepas dari

tubuh-tubuh mereka. Sehingga sedemikian ketakutan itu

mencengkam hati mereka, salah seorang dari mereka, terpaksa

mencoba berkata, “Kenapa Tuan mendendam kami?”

Kembali terdengar derai tertawa hantu itu. Jawabnya, “Aku

mendendam setiap orang yang berani menginjakkan kakinya di

padang ini. Tetapi lebih-lebih lagi anak-anak muda Panawijen,

apalagi yang datang dengan membawa senjata. Nah, apakah kalian

ingin melawan aku dengan senjatamu itu? Ambillah! Lawan aku oleh

kalian bertiga bersama-sama.”

“Tidak. Tidak,” cepat-cepat salah seorang mereka berdesis, “kami

tidak berani melawan Tuan. Pedang-pedang kami hanya sekedar

untuk menjaga diri kami dari sergapan binatang buas dan untuk

menebas pepohonan.”

“Apa? Jadi kalian ingin membunuh binatang-binatang

peliharaanku di padang ini, he, Jinan, Patalan dan Sinung Sari?”

bentak hantu itu.

Hampir pingsan mereka bertiga, ketika mereka mendengar

nama-nama mereka disebutkan. Benar-benar di luar kemampuan

berpikir mereka. Dan dengan demikian telah mempertebal

kepercayaan mereka, bahwa hantu itu dapat mengetahui apa saja

dan dapat mengerti apa saja, sampai nama-nama mereka pun

dikenal pula oleh hantu itu.

“Jangan terkejut kalau aku mengenal nama-nama kalian. Aku

dapat mengenal setiap nama orang-orang yang lewat di padang ini

meskipun baru untuk pertama kali. Aku dapat mengenal tempat

mereka dan mengenal orang tua mereka.”

“Ternyata nasibmu memang lagi malang. Jangan menyesal

bahwa kalian telah bertemu dengan hantu padang Karautan ini.”

“Tetapi,” berkata salah seorang dari mereka tergagap-gagap,

“tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu.”

“Jangan ribut!” teriak hantu itu, “Aku mendendam Panawijen.

Semua anak-anak muda Panawijen. Termasuk kalian.”

Tubuh-tubuh itu kini, sudah semakin lemah. Mereka benar-benar

telah kehilangan harapan untuk dapat melepaskan diri dari tangan

hantu itu. Yang dapat mereka lakukan adalah duduk bertelekan

tangan mereka yang lemah dan memohon kemurahan hantu itu.

“Ampun Tuan. Aku minta ampun.”

Hantu itu tertawa berkepanjangan. Jawabnya, “Tidak ada maaf

untuk kalian dan untuk semua anak-anak muda yang berani

menyentuh padang ini. Apalagi kalian telah berusaha membunuh

binatang peliharaanku, tebusannya adalah nyawa-nyawamu.”

Kini ketiga anak muda itu telah terlempar dalam suatu suasana

yang tidak dimengertinya. Dada mereka seolah-olah tidak lagi

mampu bergerak untuk menarik nafas dan darah mereka serasa

telah berhenti mengalir.

Mereka masih dapat melihat hantu itu bertolak pinggang dan

kemudian melangkah maju, tetapi mereka sudah tidak mampu

berbuat apa saja.

Mereka sama sekali tidak dapat lagi berusaha untuk

menghindarkan diri dari bencana yang semakin lama semakin

mendekati mereka.

Sejenak kemudian mereka masih mendengar hantu itu berkata,

“Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Apakah kalian tidak akan mencoba

melawan untuk memperpanjang umurmu?”

Ketiga anak-anak muda itu sama sekali benar-benar sudah tidak

berdaya. Yang terloncat dari mulut mereka adalah suatu keluhan,

“Ampun. Ampunkan kami Tuan. Kami tidak akan mengganggu

padang rumput ini lagi.”

“Persetan!” sahut hantu itu, “Aku harus melepaskan dendamku.

Karena kalian tidak melawan, maka kalian akan aku bunuh dengan

senjata, supaya kalian tidak tersiksa oleh penderitaan sebelum

kematian kalian.”

“Ampun, ampun Tuan,” ketiga anak-anak muda itu merangkakrangkak

dan bahkan kemudian mereka bertiarap di bawah kaki

hantu itu.

Tetapi yang mereka dengar jawaban hantu itu, “Hanya ada dua

kemungkinan bagi kalian. Melawan, namun kalian akan mengalami

penderitaan di saat-saat terakhir, atau menurut kehendakku dan

kalian akan mengalami saat-saat yang menyenangkan menjelang

kematian kalian.”

Ketiga anak muda itu sudah tidak mampu menjawab. Tubuh

mereka menggigil ketakutan dan nyawa mereka benar-benar terasa

telah terlepas dari tubuh-tubuh mereka.

Hantu itu kini sudah berdiri tepat di hadapan ketiga anak-anak

Panawijen yang menggigil. Tampaklah matanya membayangkan

dendam dan kepuasan. Hantu itu agaknya senang sekali melihat

sikap ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan dan hampir

pingsan karenanya. Semakin menggigil anak-anak muda itu,

semakin senang hati hantu itu. Dan karena itulah maka hantu itu

ingin berbuat hal-hal yang aneh-aneh yang dapat menimbulkan

kesan-kesan yang mengerikan. Ia ingin menyebarkan berita bahwa

sebenarnya hantu Karautan telah timbul kembali. Bahkan semakin

menakutkan dan semakin mengerikan dari tabiat hantu itu dahulu

sebelum menghilang beberapa lama.

Karena itu maka terdengar hantu itu berkata, “He anak-anak

muda Panawijen. Karena belas kasihanku kepada kalian maka aku

ingin salah seorang dari kalian yang akan tetap hidup untuk

mengabarkan apa yang telah terjadi di sini. Tetapi yang hidup itu

akan mengalami cacat sepanjang umurnya. Aku ingin memotong

kedua pergelangan tangannya dan melepaskannya pergi. Nah,

siapakah yang ingin hidup di antara kalian?”

Hati ketiga anak muda yang sudah terguncang-guncang itu

semakin ngeri mendengar pertanyaan itu. Namun mereka benarbenar

hampir menjadi pingsan sebelum hantu itu menyentuh tubuh

mereka.

“Siapa?” terdengar hantu itu berteriak, “beberapa hari yang lalu

aku juga menangkap seorang yang lewat di padang ini. Aku pukuli

dia, tetapi aku tidak membunuhnya, sebab aku ingin berita itu

tersebar. Tetapi orang itu pun pasti cacat sepanjang umurnya.

Karena ia ingin melawan, maka aku patahkan tulang punggungnya.

Dengan demikian ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya.

Nah, sekarang pilihlah di antara kalian, siapakah yang masih ingin

hidup dan mengabarkan cerita ini kepada segenap penduduk

Panawijen?”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak mampu untuk

menentukan pilihan yang mengerikan itu. Mereka kini benar-benar

telah berputus asa, dan mereka tinggal menunggu saat-saat yang

dahsyat itu tiba.

Sejenak suasana padang rumput itu menjadi hening. Hantu itu

masih saja berdiri memandangi ketiga korbannya yang ketakutan.

Agaknya ia sedang memilih, siapakah yang akan dihidupinya.

Karena itu, dengan kakinya ia meraba-raba ketiga-tiganya pada

punggungnya. Namun, sentuhan-sentuhan itu terasa seakan-akan

ujung jari Dewa Maut telah meraba-raba mereka.

Tetapi dalam ketakutan, kecemasan dan kengerian itu, mereka

tiba-tiba dikejutkan oleh suara tertawa melengking di belakang

gerumbul yang tidak sedemikian jauhnya dari mereka. Suara itu

melonjak dalam kesepian malam di padang rumput Karautan dalam

nada yang parau dan liar.

Bukan saja ketiga anak-anak muda yang berputus asa itu, tetapi

hantu itu pun terkejut pula, sehingga dengan serta-merta ia

memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.

Dalam keremangan cahaya bulan, mereka melihat sebuah

bayangan muncul dari balik gerumbul itu. Sebuah bayangan yang

melonjak-lonjak seperti bayangan seorang gila yang sedang menarinari.

Semakin lama semakin dekat.

Ketika bayangan itu menjadi semakin jelas, maka sekali lagi dada

anak-anak muda Panawijen dan bahkan hantu yang berdiri di

sampingnya itu berdesir. Bayangan itu adalah bayangan sesosok

tubuh yang menakutkan. Ternyata seseorang telah menghampiri

mereka dalam pakaian yang liar. Orang itu sama sekali tidak

mengenakan sepotong kain pun, kecuali sebuah celana yang dibeliti

oleh daun-daun dan sulur-sulur perdu. Orang ini pun

mempergunakan secarik kain untuk menutup wajahnya seperti

hantu yang telah berdiri di samping ketiga anak muda Panawijen

itu, namun orang yang datang itu rambutnya dengan liar terurai

sama sekali.

Semakin dekat, tampaklah gerak-gerik orang itu benar-benar

menakutkan. Sekali-sekali meloncat-loncat namun kemudian

merunduk sambil tertawa seperti orang gila.

Terdengar hantu yang berdiri di samping Sinung Sari dan

kawannya itu menggeram, “He, siapakah kau orang gila?”

Yang disebut orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian

dengan nada suaranya yang melengking menjawab, “He, akulah

hantu Karautan. Aku sudah lama menghilang dari padang ini. Tetapi

tiba-tiba ada orang yang menamakan diri hantu Karautan. Nah, kini

kita bertemu. Dengar, akulah hantu Karautan itu.”

Yang mendengar jawaban itu benar-benar menjadi pening.

Apalagi ketiga anak muda Panawijen itu. Dadanya terguncangguncang

tak menentu sehingga hampir-hampir pecah karenanya.

Hantu yang datang pertama-tama di atas punggung kuda itu pun

tidak kurang gelisahnya. Ditatapnya hantu yang datang kemudian

dengan seksama. Kemarahannya merayap membakar seluruh

tubuhnya, sehingga tubuh itu bergetar karenanya.

“Jangan mencoba mengacaukan rencanaku,” bentak hantu yang

datang berkuda, “atau kau yang pertama-tama aku bunuh?”

Hantu yang mirip orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh.

Tubuhnya terguncang dan dengan langkah-langkah kecil ia

meloncat-loncat. Sahutnya dalam nada yang tinggi. “Oh, oh. Kau

akan membunuh aku. Pernahkah kau mendengar cerita tentang

hantu Karautan yang sebenarnya? Bukan hantu seperti tampangmu?

Hantu Karautan tidak bisa mati. Hantu Karautan akan tetap hidup

untuk seterusnya.”

Api kemarahan yang memancar dari mata hantu yang datang

pertama-tama menjadi semakin menyala. Kini ia maju setapak dan

suaranya menggelegar, “Kalau benar kau hantu Karautan, kau pasti

tahu, siapakah ketiga anak-anak muda yang ketakutan ini?”

“Oh, oh, oh,” teriak hantu gila itu mengerikan, “kenapa kau

tanyakan nama-nama mereka?”

“Hantu tahu segala-galanya. Aku tahu namanya, rumahnya dan

orang Tuanya. Nah, kalau kau benar-benar hantu Karautan,

sebutlah namanya.”

“Baik. Baik Aku akan menyebut namanya. Tetapi aku ingin

melihat wajahnya dengan jelas.” hantu yang mirip orang gila itu

melangkah kecil-kecil mendekati ketiga anak muda Panawijen yang

ketakutan. Satu-satu dirabanya tengkuk anak-anak muda itu. Dan

dengan nyaring ia berkata, “Hantu Karautan membunuh korbannya

dengan luka di lehernya. Aku suka menghisap darah. Apalagi darahdarah

anak muda semuda anak-anak ini. Alangkah segarnya. Dan

apabila darah mereka bertiga belum cukup, maka darahmu akan

aku hisap pula. Darah orang yang mengaku dirinya hantu Karautan.”

“Diam!” bentak hantu berkuda, “Sebutkan namanya, sebelum

kepalamu terpancung.”

“Hantu tidak pernah memancung kepala korbannya,” jawab

hantu yang lain, “dan aku belum pernah sekalipun naik kuda. Aku

dapat berlari melampaui kecepatan kuda dengan kakiku.”

“Persetan. Tetapi kau tidak mampu menyebut nama anak-anak

muda itu.”

“Oh, oh, oh,” suaranya melengking-lengking, “Baik. Baik aku

sebut namanya satu-satu.”

Kemudian hantu itu menyentuh ketiga anak muda itu satu demi

satu. “Yang ini bernama Jinan. He. Bukankah aku tahu. Yang ini

Patalan dan yang satu lagi Sinung Sari.”

Terdengar hantu berkuda itu menggeram. Dengan lantang ia

berkata, “Kau mendengar aku menyebut namanya.”

“O, maaf. Aku mendengar dan melihat apa yang kau lakukan.

Mengintai di kejauhan. Melihat apa yang menyala di sini. Kemudian

kau datang ke arah api itu, begitu? Kau kemudian menakut-nakuti

mereka dengan menamakan dirimu hantu Karautan.”

“Cukup!” hantu berkuda itu menjadi marah sekali. Selangkah ia

maju mendekati hantu yang mirip orang gila itu.

Dalam luapan kemarahan ia berkata, “Jangan banyak bicara.

Sekarang kita tentukan, siapakah yang berhak menguasai padang

ini dengan kekuatan.”

“Oh, oh, oh. Bagus, Bagus,” jawab hantu yang mirip orang gila

itu, “taruhannya adalah ketiga anak-anak muda itu. Siapa yang

menang berhak memilikinya. Jinan, Patalan dan Sinung Sari.

Alangkah segar darahnya dan darahmu sekali.”

“Tutup mulutmu! Bersiagalah!” bentak hantu berkuda itu. Dan

tiba-tiba saja pedangnya telah ditariknya dari wrangkanya.

“Eh, kau akan bertempur dengan pedang?”

“Cepat, bersiagalah!”

“Baik. Baik. Aku juga akan bertempur dengan pedang. Hantu

mampu bertempur dengan apa saja. Bahkan dengan batu dan

pasir.” Hantu gila itu kemudian berjalan-jalan tersuruk-suruk

memungut pedang Patalan yang terletak di samping perapian.

Katanya kepada Patalan, “Aku pinjam pedangmu. Mudah-mudahan

aku menang, sehingga kau akan mati dengan nikmat. Aku akan

menghisap darahmu perlahan-lahan. Aku tidak sekejam hantu

berkuda ini.”

Tetapi hantu berkuda itu sama sekali tidak sabar lagi. Cepat ia

meloncat dengan pedang terjulur, langsung mengarah ke dada

hantu yang lain. Namun hantu yang lain itu pun cepat menghindar

ke samping dan dengan tangkas pula ia menggerakkan pedangnya.

Demikianlah mereka berdua terlibat dalam perkelahian dengan

pedang. Ternyata masing-masing dapat menggerakkan pedangnya

dengan tangkas dan cepat. Kelincahan mereka menunjukkan bahwa

mereka benar-benar mampu bertempur dengan pedang di tangan.

Hantu berkuda itu bergerak dengan mantap. Langkahnya tetap

dan berat. Ayunan pedangnya mencampakkan angin yang kencang

dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sedang hantu yang lain

bergerak dengan lincahnya. Langkahnya pendek-pendek dan

melonjak-lonjak. Pedangnya pun bergerak dengan ayunan yang

kecil-kecil. Sekali mendatar, namun kemudian mematuk-matuk.

Ketiga anak-anak Panawijen melihat perkelahian itu. Mereka

masih juga mendengar apa saja yang dipercakapkan oleh hantuhantu

itu, dan apa yang dibicarakannya. Bahkan mereka masih juga

mendengar hantu yang datang kemudian itu membuat taruhan atas

mereka. Dan mereka juga mendengar betapa hantu yang gila itu

mengatakan alangkah segarnya darah mereka.

Tetapi seakan-akan mereka telah mati sejak lama, seakan-akan

mereka sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa atas tubuh mereka

sendiri. Kehendak yang ada di dalam hati mereka, tidak mampu lagi

untuk menggerakkan tubuh mereka. Sebenarnya mereka kini tidak

lebih dari seonggok tanah mati. Pertanda bahwa mereka masih

hidup adalah matanya yang berkedip-kedip meskipun memancarkan

sinar yang aneh. Beku. Serta arus nafas mereka yang tersendatsendat.

Sehingga apapun yang terjadi di hadapan wajah-wajah

mereka, namun mereka sudah tidak mampu untuk membuat

tanggapan apapun atas semua kejadian itu. Seperti juga mereka kini

melihat kedua hantu itu bertempur. Tetapi hati mereka telah beku.

Dengan demikian ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali

tidak beranjak dari tempatnya. Duduk bersimpuh dengan nafas yang

hampir-hampir terputus. Dalam keremangan cahaya bulan mereka

dipaksa melihat perkelahian yang semakin lama semakin dahsyat

tanpa dapat berbuat sesuatu dan bahkan apa yang tampak itu

seolah-olah bayangan saja di dalam mimpi yang menakutkan. Dan

apa yang terjadi atas dirinya seperti juga di dalam mimpi, sama

sekali tidak dapat dikendalikannya sendiri.

Perkelahian di antara kedua bayangan yang mengaku diri

masing-masing hantu Karautan itu semakin lama menjadi semakin

sengit. Masing-masing telah bergerak dalam tata perkelahian yang

aneh yang lain daripada tata perkelahian yang biasa. Mereka

mengayunkan pedang-pedang mereka diiringi oleh teriakan nyaring

dan pekik yang melengking-lengking.

Hantu yang datang berkuda benar-benar mampu bergerak

dengan langkah-langkah yang penuh melontarkan tenaga, namun

hantu yang lain mampu menyusup dalam setiap gerak lawannya

dengan patukan-patukan pedang yang sangat berbahaya.

Semakin lama perkelahian itu menjadi semakin sengit. Seperti

dua ekor ayam jantan yang berlaga. Ketika tubuh-tubuh mereka

telah dibasahi oleh keringat, maka tenaga mereka pun menjadi

semakin dahsyat. Desak mendesak, dorong mendorong dalam

kekuatan yang seimbang.

Ketiga anak muda Panawijen sama sekali tidak dapat menilai,

bagaimanakah perkelahian itu terjadi. Mereka hanya melihat saja

gerak yang liar dan kasar. Lontar melontar dalam sikap yang ganas

dan buas, seperti binatang buas yang berlaga berebut mangsa.

Keduanya sama sekali tidak pernah mempertimbangkan apa saja

yang sedang mereka lakukan untuk mengalahkan lawannya.

Sesaat perkelahian itu menjadi semakin jelas karena tiba-tiba

onggokkan kayu di atas bara di perapian menyala dengan

sendirinya. Menyalanya tidak begitu besar, namun cukup

melontarkan sinar yang kemerah-merahan jatuh di atas tubuh-tubuh

mereka yang sedang bertempur, sehingga tubuh-tubuh yang basah

oleh keringat itu seolah-olah berlapis tembaga yang merah

mengkilap.

Namun sesuatu yang tidak diketahui oleh ketiga anak-anak muda

Panawijen itu adalah perkembangan dari perkelahian itu.

Perkelahian yang kasar dan liar itu justru semakin lama menjadi

semakin teratur. Ketika tenaga mereka telah menjadi semakin susut,

maka mulailah mereka dengan sungguh-sungguh berusaha untuk

memusnahkan lawan-lawan mereka. Karena itulah maka kemudian

mereka lelah didorong dalam suatu keadaan yang memaksa. Mereka

tidak dapat lagi bergerak-gerak dengan liar dan asal saja

mengayunkan pedang-pedang mereka. Bagaimanapun juga, maka

akhirnya, mereka akan sampai pada tata gerak perkelahian yang

sebenarnya.

Ketika kedua belah pihak telah merasa jemu dengan segala

macam tingkah laku yang gila itu, tanpa mereka sadari, maka

mulailah perkelahian itu meningkat dalam perkelahian yang

sebenarnya. Hantu yang berkuda benar-benar telah kehilangan

kesabarannya melawan hantu gila yang memekik-mekik dan

melonjak-lonjak seperti monyet kepanasan, sehingga lambat laun,

maka tata geraknya pun berubah pula. Semakin mantap dan

semakin tenang. Hantu itu tidak lagi menyambar-nyambar dengan

lontaran-lontaran yang panjang dan gerak-gerak yang dahsyat.

Justru semakin lama geraknya semakin dibatasi dan semakin

mapan.

Ternyata lawannya pun mengimbanginya. Hantu gila itu kini

sudah tidak memekik-mekik lagi. Meskipun mula-mula ia masih

mencoba melawan hantu berkuda itu dengan cara yang gila, namun

lambat laun hantu itu pun dipaksa untuk mengubah tata gerak

perkelahiannya. Karena hantu berkuda itu menjadi semakin tenang

dan mapan, maka hantu yang gila itu pun menjadi semakin tenang

pula. Berbareng dengan itu, maka teriakan-teriakan dan pekik yang

melengking-lengking itu pun berkurang pulalah.

Kini mereka bertempur semakin wajar. Hantu berkuda itu dengan

tangkasnya memutar senjatanya dalam arah-arah yang berbahaya

dan mengerikan. Ujung pedangnya tidak lagi asal menyambarnyambar

dengan dahsyatnya seperti orang menakut-nakuti burung

di sawah. Demikian pula hantu yang gila itu. Pedangnya seakanakan

menjadi semakin tenang pula. Meskipun kadang-kadang

pedang itu berputar seperti baling-baling dan mematuk dari segenap

arah, tetapi semuanya telah diperhitungkan dengan cermat

Hantu-hantu itu sendiri semakin lama semakin menyadari

kedudukannya pula. Mereka tidak lagi dapat membuat dirinya

berbuat aneh-aneh lagi. Kini mereka telah tenggelam dalam

pertempuran antara hidup dan mati dengan ilmu-ilmu mereka yang

semakin lama semakin wajar.

Namun sekali-sekali masih terdengar hantu yang datang berkuda

itu mengumpat-umpat dalam bahasa yang kasar. Seakan-akan ia

sama sekali tidak rela menghadapi lawan yang mampu

mengimbanginya. Dan bahkan ternyata semakin lama hantu yang

gila itu semakin menggelisahkannya. Ketika pertempuran itu

kemudian mencapai puncaknya, maka menggeramlah hantu yang

gila itu. Dengan sinar mata yang menyala-nyala ia menyerang

lawannya sejadi-jadinya, sehingga beberapa kali hantu yang datang

berkuda itu melangkah surut. Namun hantu yang datang berkuda

itu pun tidak kurang marahnya. Dicobanya untuk memeras segenap

kemampuan yang ada padanya, dan dicobanya untuk segera

membinasakan lawannya dengan pedangnya yang berkilat-kilat

memantulkan cahaya api kemerah-merahan.

Akhirnya mereka sampai pada saat-saat yang akan menentukan

perkelahian itu. Mereka telah memeras tenaga mereka habishabisan.

Kini mereka tidak lagi bertempur dengan kasar dan liar.

Tetapi mereka seakan-akan dua panglima perang yang bertemu

dalam satu pertempuran atau antara dua orang kesatria yang

sedang berkelahi untuk mempertaruhkan kebesaran nama masingmasing.

Dalam pada itu angin malam masih juga berhembus perlahan.

Daun-daun perdu di gerumbul-gerumbul di sekitar perkelahian itu

bergerak-gerak dalam belaian malam yang lembut. Suaranya

gemercik memilukan, seakan-akan mereka sedang merintih melihat

perkelahian antara hidup mati dari dua orang yang menamakan diri

masing-masing hantu padang Karautan.

Dalam saat-saat terakhir itu, mereka tidak dapat lagi

menyembunyikan kedahsyatan ilmu-ilmu mereka masing-masing.

Ilmu-ilmu itu tanpa mereka kehendaki, telah melancar dalam

kedahsyatan perkelahian, karena keadaan mereka yang semakin

lama menjadi semakin sulit. Libatan-libatan serangan lawan telah

memaksa mereka masing-masing untuk mempergunakan ilmu

puncak yang mereka miliki.

Dengan demikian, maka mereka tidak lagi sekedar bertempur

karena mereka masing-masing ingin mempertahankan gelar yang

mereka perebutkan. Hantu Karautan. Namun mereka telah benarbenar

dibakar oleh nyala dendam di dalam hati mereka masingmasing.

Dalam pada itu, api di perapian semakin lama menjadi semakin

besar juga. Onggokkan kayu yang begitu saja ditimbun di atasnya

kini telah menyala seluruhnya, sehingga tempat di sekitar

perkelahian itu menjadi semakin terang.

Api itu ternyata tidak saja menerangi tempat di sekitarnya,

namun nyalanya lepas sampai ke tempat yang jauh. Seperti juga

hantu berkuda itu melihat api dari kejauhan dan mendekatinya,

maka tiba-tiba orang-orang yang berada di dekat perapian itu sekali

lagi terkejut. Kedua hantu yang sedang bertempur itu pun terkejut

pula, sedang ketiga anak-anak muda Panawijen hampir tidak tahu

apakah yang dirasakannya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi

kemudian. Dalam keremangan cahaya bulan, dan disela-sela dering

senjata beradu, sekali lagi bergemalah suara derap kaki kuda. Mau

tidak mau hantu yang sedang bertempur itu berusaha untuk melihat

siapakah yang datang mengganggu perkelahian itu.

Sebenarnyalah dari kejauhan mereka melihat seekor kuda

berpacu cepat sekali mendatangi mereka. Debu yang putih melontar

naik ke udara. Rupa-rupanya api yang menyala itu telah menarik

perhatian penunggangnya.

Tanpa dikehendaki sendiri, maka pertempuran itu mengendur

sesaat. Mereka bersama-sama ingin melihat siapakah yang baru

datang itu. Apakah orang itu juga akan mengaku hantu padang

Karautan dan akan turut serta bertempur di antara mereka, atau

orang lain yang hanya tertarik oleh nyala api itu saja.

Demikian penunggang kuda itu semakin dekat, maka dada kedua

hantu yang bertempur itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang

berkuda, itu adalah seorang yang berpakaian lengkap sebagai

seorang Pelayan Dalam Istana Tumapel. Pelayan dalam itu agaknya

terkejut pula melihat perkelahian di padang rumput Karautan.

Karena itu, maka segera ia memacu kudanya semakin cepat.

Ketika pelayan dalam istana itu sudah semakin dekat, tiba-tiba

terdengar salah seorang hantu itu melengking, “He, apa kerjamu di

sini?”

Pelayan dalam itu tidak segera menjawab. Demikian sampai di

tempat itu, maka segera ia menarik kekang kudanya dan

mengamat-amati daerah di sekitarnya dengan seksama. Ia melihat

kemudian tiga anak-anak muda yang duduk membeku. Dilihatnya

pula beberapa alat dan perlengkapan yang berserakan di dekat

perapian. Dan dilihatnya pula kedua hantu yang berpakaian anehaneh.

Kehadiran penunggang kuda itu benar mempengaruhi perasaan

kedua hantu yang sedang bertempur itu. Namun hantu gila tiba-tiba

berteriak sambil meluncurkan ujung pedangnya. “Jangan hiraukan

kehadirannya. Marilah kita selesaikan persoalan kita. Akulah hantu

padang Karautan.”

Hantu yang datang berkuda terkejut. Namun segera ia berhasil

menguasai dirinya. Dengan cepatnya ia menghindari serangan itu,

dan dengan cepatnya pula ia telah melibatkan diri dalam

perkelahian yang semakin sengit.

Senjata-senjata mereka berputar dengan dahsyatnya,

melontarkan udara maut. Dari mata mereka memancar dendam

yang tiada taranya satu sama lain, sehingga seakan-akan hanya

mautlah yang dapat menghentikan perkelahian itu.

Penunggang kuda yang berpakaian seorang pelayan dalam itu,

melihat perkelahian kedua hantu itu dengan seksama.

Sekali-sekali tampak keningnya berkerut, namun sekali tampak

wajah itu menjadi tegang. perlahan-lahan ia meloncat turun dari

kudanya dan berjalan mendekati titik perkelahian itu. Sebuah

pedang yang besar tergantung di sisi tubuhnya dalam sarungnya

yang putih gemerlap.

Hantu yang gila itu tiba-tiba berteriak nyaring, “He, pedang

kalian berdua mirip benar bentuk dan sarungnya.”

Hantu berkuda itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab, sedang

penunggang kuda yang datang itu mengerutkan keningnya.

Dicobanya untuk menangkap setiap gerak yang terlontar dan

setiap ilmu yang memancar dari kedua hantu itu.

Tetapi orang itu belum berbuat sesuatu. Hanya kadang-kadang

tampak tangannya meraba-raba hulu pedangnya. Tetapi kembali

kedua tangannya tergantung lepas di sisi tubuhnya.

Namun ketika sekali lagi terpandang olehnya ketiga anak-anak

muda yang ketakutan itu, maka kembali dahinya berkerut-kerut.

perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya sambil bertanya, “He,

siapakah kalian bertiga?”

Ketiga anak-anak muda itu memandanginya dengan wajah

kosong. Tetapi ketika tampak olehnya bahwa orang itu sama sekali

bukan sejenis kedua hantu yang bertempur, maka tiba-tiba di sudut

hatinya memancar kembali harapan betapapun kecilnya. Karena itu,

maka dengan penuh ketakutan salah seorang dari mereka

menjawab, “Kami anak-anak Panawijen, Tuan.”

“Kenapa kalian berada di tempat ini?”

Pertanyaan itu telah mengingatkannya kepada tugas yang

menyeretnya ke tempat terkutuk itu. Maka dengan terbata-bata

Patalan menjawab, “Kami datang bersama Mahisa Agni, Tuan. Kami

ingin mencari tempat untuk membuat bendungan.”

Penunggang Kuda yang berpakaian pelayan dalam istana itu

mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Di mana Mahisa

Agni sekarang?”

“Ke sungai, Tuan. Mencari air,” jawab Sinung Sari.

Pelayan dalam itu mengangguk-angguk, desisnya, “Jangan takut.

Aku akan mengatasi keadaan.”

Harapan yang tumbuh di dalam dada anak-anak muda Panawijen

itu menjadi semakin berkembang. Sekali lagi dicobanya untuk

menatap wajah pelayan dalam yang tegap, tampan dan

meyakinkan. Bahkan terdengar Jinan berkata, “Tuan, hantu-hantu

itu telah menakutkan kami. Mereka akan membunuh kami.”

Pelayan dalam itu berpaling. Dilihatnya kedua hantu itu masih

bertempur dengan sengitnya. Terdengar ia berkata, “Keduanya

memiliki tenaga yang luar biasa. Siapakah mereka?”

“Kami tidak tahu, Tuan,” sahut Sinung Sari, “mereka menamakan

diri mereka hantu padang rumput Karautan.”

Pelayan Dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia

berdiri tegak dengan kaki renggang. Sebagai seorang petugas istana

maka ia memiliki keberanian untuk menghadapi setiap

kemungkinan. Juga terhadap sepasang hantu yang sedang

bertempur itu.

Sinung Sari yang masih gemetar itu tiba-tiba berkata, “Apakah

Tuan dapat mengusir mereka berdua?”

Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya. Ia tidak segera

menjawab. Tetapi dicobanya untuk melihat pertempuran itu dengan

seksama.

“Bagaimana, Tuan,” desak Patalan, “apakah Tuan dapat

mengusir hantu-hantu itu?”

“Hantu-hantu itu benar-benar menakutkan,” desisnya, “tetapi

jangan takut. Mudah-mudahan ia tidak akan berbahaya bagiku.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi agak tenang.

Setidak-tidaknya mereka akan mendapat perlindungan dari pelayan

dalam ini. Sebagai seorang pejabat istana, maka ia pasti akan

berbuat sesuatu. Bukankah ia seorang yang perkasa menilik sikap

dan ketenangannya? Sementara itu, ketiga anak-anak muda itu

masih mengharap kehadiran Mahisa Agni. Mungkin bersama-sama

Mahisa Agni, maka pelayan dalam itu akan dapat mengalahkan

kedua hantu itu. Atau salah satu di antaranya sesudah yang lain

dikalahkan oleh hantu itu sendiri.

Sekali-sekali ketiga anak muda itu memandangi tebing sungai

yang kelam dan ditutupi oleh rimbunnya dedaunan. Di sana tadi

Mahisa Agni menghilang. Dan dari sana pula mereka mengharap

Mahisa Agni akan muncul.

Tetapi Mahisa Agni itu tidak segera datang kembali. Sungai itu

tebingnya terlalu curam. Memang agak terlalu sulit untuk menuruni

dan kemudian mendaki tebing itu di malam hari. Namun

beruntunglah ketiga anak-anak muda itu, bahwa tiba-tiba hadir di

padang rumput ini seorang pejabat dari istana.

Kedua hantu itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Bahkan

semakin lama semakin sengit. Hantu yang berkuda itu kini tidak lagi

melontar-lontarkan dirinya, dan hantu gila itu sudah tidak melonjaklonjak

lagi sambil memekik-mekik. Mereka bertempur dengan

serunya, sebagai sepasang burung elang yang berlaga di udara.

Sambar menyambar, patuk-mematuk dengan ujung-ujung senjata

masing-masing.

Namun semakin lama pelayan dalam itu melihat, bahwa hantu

yang datang berkuda, semakin lama menjadi semakin sulit. Ia

terpaksa beberapa kali melontar mundur, dan seolah-olah sudah

tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang hantu itu hanya

mampu bertahan dan menghindar.

Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seakanakan

ia sudah dapat menemukan siapakah yang akan

memenangkan pertempuran itu. Bahkan ia sedang menilai kesaktian

keduanya. Tetapi tiba-tiba pelayan dalam itu tersenyum.

Kedua hantu yang bertempur itu benar-benar telah memeras

segenap kemampuan yang ada di dalam diri masing-masing. Namun

seperti pengamatan pelayan dalam itu, mereka pun agaknya telah

menyadari akhir dari perkelahiannya. Hantu yang datang berkuda

itu benar-benar telah terdesak. Beberapa kali ia meloncat surut dan

beberapa kali ia mengeluh di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba terjadilah sesuatu di luar dugaan. Di luar dugaan

pelayan dalam yang menyaksikan perkelahian itu, dan di luar

dugaan hantu yang mirip orang gila.

Tiba-tiba saja, hantu yang datang berkuda itu melontar mundur

beberapa langkah. Kemudian ujung pedangnya mengungkit tanah

berdebu di bawah kakinya di arahkan ke wajah lawannya. Segumpal

tanah melontar menghambur ke wajah hantu gila itu. Dengan

demikian, maka ia terpaksa berhenti dan berusaha menutup

matanya supaya tidak kemasukan debu.

Kesempatan itulah yang ingin didapat oleh hantu berkuda itu.

Ketika ia melihat lawannya menutup matanya dan bahkan dengan

tangan kirinya mengusapi debu di wajah, cepat-cepat ia berlari dan

meloncat ke punggung kudanya. Dengan satu sentakan kuda itu

melonjak dan kemudian meloncat berlari meninggalkan perapian,

hantu gila dan pelayan dalam yang berdiri keheranan. Namun

dengan demikian pelayan dalam itu menyadari keadaan, ia pun siap

berlari ke arah kudanya, untuk mengejar hantu berkuda itu. Tetapi

alangkah kecewanya. Dengan menggeram ia mengumpat tak

habisnya. Hantu berkuda itu sempat menyentuh pantat kuda

pelayan dalam itu sehingga kuda itu terkejut dan melonjak

melingkar-lingkar.

“Gila!” gerutu pelayan dalam itu sambil berusaha menenangkan

kudanya kembali. perlahan-lahan ditepuk-tepuknya leher kudanya

dan dengan siulan ia mencoba menguasai kudanya itu. Lambat laun

kuda itu dapat ditenangkannya. Namun hantu berkuda yang akan

dikejarnya telah menghilang jauh ke tengah-tengah padang rumput.

Dalam keremangan cahaya bulan masih tampak lamat-lamat debu

yang mengepul. Tetapi untuk mengejarnya, adalah sangat sulit bagi

pelayan dalam itu. Jaraknya telah terlampau jauh.

Karena itu maka ia sama sekali tidak berusaha untuk

mengejarnya. Kini yang dihadapinya adalah hantu yang gila itu.

Hantu yang rambutnya terurai dan sama sekali tidak

mempergunakan secarik kain pun kecuali hanya celananya yang

disangkuti dedaunan dan sulur-sulur perdu.

Sesaat mereka berdiri dengan tegangnya. Hantu gila itu masih

menggenggam pedangnya. Selangkah ia maju, dan sambil tertawa

ia berkata melengking, “Kenapa tidak kau kejar orang yang

mencoba menamakan diri Hantu Karautan itu?”

Pelayan dalam itu tertawa. Wajahnya kini sudah tidak tegang

lagi. ia pun melangkah maju sambil menjawab, “Kenapa kau juga

tidak mengejarnya?”

“Aku tidak membawa kuda,” jawab hantu itu.

“Apakah hantu memerlukan kuda?” sahut pelayan dalam.

Hantu itu terdiam sesaat. Diamat-amatinya pelayan dalam yang

berdiri tegak dalam pakaian yang lengkap dan pedang di

lambungnya.

“Apa kerjamu di sini,” bertanya hantu itu.

“Melihat hantu-hantu berkelahi,” jawabnya.

“Hanya ada satu hantu di padang Karautan. Kau lihat, orang

yang menamakan dirinya hantu itu telah pergi.”

“Itulah yang ingin aku ketahui. Siapakah yang sebenarnya hantu

Karautan. Kau atau yang terpaksa lari berkuda itu?”

Hantu itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah pelayan dalam itu

dengan seksama. Baru kemudian terdengar jawabnya melengking,

“Aku. Akulah hantu Karautan.”

Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang sesudah orang yang

menamakan hantu itu pergi?”

Kembali hantu itu ragu-ragu sejenak. Kemudian dipalingkannya

wajahnya memandangi ketiga anak-anak muda Panawijen yang

ketakutan itu. Namun kini hati mereka telah agak tenteram.

Sebab mereka akan dapat mencari perlindungan kepada pelayan

dalam yang perkasa dan meyakinkan itu.

Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu terkejut bukan

buatan ketika hantu itu menjawab, “Aku kini akan menikmati

kemenanganku.”

Pelayan dalam itu mengerutkan keningnya, kemudian terdengar

ia bertanya, “Apakah yang kau dapatkan dari kemenangan itu?”

“Ketiga anak-anak muda itu akan menjadi korbanku. Korban

hantu Karautan.”

Sekali lagi pelayan dalam itu mengerutkan keningnya, dan sekali

lagi hati ketiga anak muda Panawijen menjadi berdesir.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Hantu Karautan itu memiringkan kepalanya. Kemudian dengan

suara melengking ia menjawab, “Menghisap darahnya.”

“Tuan,” terdengar Sinung Sari memekik kecil, “Tolonglah kami.”

Pelayan dalam itu menarik nafas. Sekali dipandangnya wajah

ketiga anak-anak muda yang ketakutan.

Ketiga anak-anak muda itu menggigil ketika ia mendengar

pelayan dalam itu berkata, “Nah, hantu itu tinggal satu. Apakah

kalian bertiga tidak berani melawannya?”

Jinan yang gemetar berkata tergagap, “Tolonglah kami. Kami

tidak pernah berkelahi. Apalagi melawan hantu.”

“Jangan banyak bicara,” teriak hantu gila itu, “sekarang kalian

satu demi satu, bersimpuh di hadapanku. Aku akan menghisap

darahmu lewat tengkukmu.”

Dan kepada pelayan dalam hantu itu berkata, “Bukankah begitu

kebiasaan hantu-hantu. Menghisap darah lewat tengkuk korbannya

yang harus bersimpuh sambil menundukkan kepalanya?”

Pelayan dalam itu menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian

sahutnya. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”

Terdengar hantu itu menggeram. Kemudian suara tertawanya

melonjak tinggi. Berkepanjangan membelah kesepian Padang

Karautan.

Tanpa dikehendakinya pelayan dalam itu pun tersenyum. Tetapi

segera ia membentak, “He, kenapa kau tertawa?”

Hantu itu menjawab, “Kau pun akan menjadi korban yang

seharga. Ayo, apakah kau yang pertama-tama akan duduk

bersimpuh di hadapanku sambil menundukkan kepala?”

“Aku datang terakhir. Karena itu, kalau kau kehendaki, aku

adalah korban yang terakhir.”

“Bagus. Bagus. Sekarang biarlah ketiga anak-anak muda itu

dahulu.”

“Tuan,” Patalan menjerit, “tolonglah kami Tuan. Bukankah Tuan

telah sanggup?”

“Kenapa kalian menjadi ketakutan menghadapi hantu yang hanya

satu ini,” bertanya pelayan dalam itu, “bukankah kalian bertiga dan

bersenjata?”

“Aku tidak. Senjatakulah yang dibawa oleh hantu itu.”

“Oh, kalau demikian, biarlah senjata itu aku minta untukmu. Atau

kau ingin memakai senjataku?”

“Tidak Tuan,” minta Jinan, “tuan akan menolong kami.”

“Baik. Aku akan menolong kalian, kalau kalian telah berbuat

sesuatu. Karena itu, lawanlah hantu itu, nanti kalau kalian ternyata

tidak mampu, biarlah aku melawannya.”

Ketiga anak-anak itu terdiam. Namun tubuhnya menggigil karena

ketakutan. Hanya sorot mata merekalah yang berbicara. Mohon

belas kasihan pelayan dalam yang perkasa itu.

“Bagaimana?” bertanya pelayan dalam itu.

Mulut ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan telah

terbungkam. Mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk

berbuat sesuatu. Apalagi melawan hantu itu.

Tetapi tiba-tiba adalah seorang dari mereka teringat, bahwa

mereka sedang menunggu Mahisa Agni. Mereka mengharap bahwa

Mahisa Agni itu akan segera kembali. Karena itu maka katanya

kepada pelayan dalam itu. “Tuan Kami mempunyai seorang kawan

lagi. Kalau kawan kami itu segera datang, maka kami mengharap,

bahwa ia akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu Tuan, kami

mengharap Tuan menolong kami sampai kawan itu datang.”

Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, “Siapakah yang kau

maksud?”

“Mahisa Agni, Tuan,” jawab Patalan, “seperti yang sudah kami

katakan.”

“Apakah kau pasti bahwa ia akan datang?”

“Pasti, Tuan. Ia akan segera datang.”

Pelayan dalam itu berpaling kepada hantu yang gila itu. Katanya,

“Apakah kau sudah bertemu dengan seorang anak muda yang

bernama Mahisa Agni di tebing sungai? Atau barang kali darahnya

sudah kau hisap pula?”

Sebelum hantu itu menjawab, terdengar Sinung Sari berkata,

“Tuan, Mahisa Agni berkata, bahwa ia sudah kenal dengan hantu

Karautan.”

Hantu itu sesaat berdiam diri. Hanya matanya sajalah yang

tampak berkedip-kedip di atas secarik kain yang menutupi

wajahnya.

“Bagaimana,” desak pelayan dalam itu, “bagaimana dengan

Mahisa Agni. Apakah sudah kau hisap darahnya, apakah betul kata

anak muda itu, bahwa Mahisa Agni telah mengenal hantu

Karautan?”

Hantu itu mengangguk-angguk, kemudian terdengar ia

menggeram.

“Bagaimana sebaiknya,” katanya kepada pelayan dalam itu,

“apakah sebaiknya aku minum darahnya atau tidak?”

“Kenapa kau bertanya kepadaku?” sahut pelayan dalam itu.

“Kau lebih tahu, apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,”

jawab hantu itu.

“Jangan mengigau!” bentak pelayan dalam itu, tetapi kemudian

ia tersenyum. Hantu itu pun tertawa melengking.

Ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi semakin tidak

mengerti. Kenapa pembicaraan keduanya terasa bersimpang siur tak

menentu. Bahkan kemudian hantu Karautan itu berkata, “Lalu,

bagaimana dengan ketiga anak-anak muda itu?”

Dada ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi kembali

bergetaran. Harapannya untuk mendapat perlindungan pelayan

dalam itu semakin tipis. Bahkan kemudian timbullah ketakutan yang

lain di dalam hatinya, apakah yang berpakaian pelayan dalam itu

hantu pula yang sedang menyamar?

Dalam ketakutan itu ia mendengar pelayan dalam berkata,

“Apapun yang akan kau lakukan, perhitungkanlah baik-baik. Apabila

Mahisa Agni nanti datang, maka kau harus bertanggung jawab

kepadanya.”

Hantu gila itu memiringkan kepalanya, kemudian terdengar ia

bertanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Apakah betul Mahisa

Agni akan datang kemari?”

Tiba-tiba tanpa sesadarnya Patalan menyahut, “Ya. Ia pasti akan

datang kemari.”

“Omong kosong!” teriak hantu itu.

“Benar,” sahut Sinung Sari dan Jinan hampir bersamaan, “Ia pasti

akan datang.”

Tiba-tiba hantu itu menjadi gelisah. Ditebarkannya pandangan

matanya berkeliling. Kemudian katanya, “Kau hanya ingin menakutnakuti

aku.”

“Tidak. Sebenarnya ia akan datang.”

Hantu itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba ia meloncat berlari

meninggalkan tempat itu sambil berteriak nyaring. “Lebih baik aku

pergi sebelum Mahisa Agni datang. Meskipun hantu Karautan tidak

takut terhadap siapa pun, namun aku tak mau bertengkar dengan

Mahisa Agni itu.”

Kemudian kepada pelayan dalam itu ia berkata lantang,

“Bukankah begitu? Bukankah hantu padang Karautan tidak takut

kepada siapa pun juga. Kepada hantu berkuda yang lari itu, dan

kepada Mahisa Agni?”

“Gila!” gumam pelayan dalam itu. Tetapi ia tidak menjawab.

Dibiarkannya hantu gila itu berlari melonjak-lonjak dan kemudian

menghilang dibalik gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran di

padang itu.

Ketiga anak-anak muda Panawijen memandangi hantu yang gila

itu dengan berdebar-debar. Mudah-mudahan apa yang dikatakan itu

benar. Meskipun ia tidak takut kepada Mahisa Agni, namun ia tidak

akan mau menemui dan bertengkar dengannya.

Tetapi sepeninggal hantu itu, ketiga anak-anak muda Panawijen

menjadi gelisah pula karena pelayan dalam yang aneh itu. Apakah

benar di malam hari yang sepi ada seorang pelayan dalam

berkeliaran di padang Karautan ini? Apakah pelayan dalam ini bukan

sekedar hantu yang lain yang sedang menyamar, bahkan lebih

berbahaya dari hantu yang lari itu? Kalau demikian maka pasti ada

lebih dari satu hantu di padang ini, seperti hantu yang dikatakan

oleh Mahisa Agni tidak akan lagi berada di padang ini, namun

ternyata masih ada hantu-hantu yang lain yang berkeliaran.

Dalam kecemasan dan kegelisahan itu, mereka bertiga melihat

pelayan dalam itu datang kepada mereka sambil tersenyumsenyum.

Meskipun pelayan dalam itu tersenyum, namun senyumnya

itu sama sekali tidak memberi ketenangan kepada mereka seperti

ketika ia baru datang.

Tiba-tiba pelayan dalam itu bertanya, “Kau belum mengenal

hantu padang Karautan?”

Pertanyaan itu menjadi semakin mendebarkan hati mereka.

Dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Belum Tuan. Baru kali ini

aku melihat mereka berdua bertempur.”

Pelayan Dalam itu tertawa. Katanya, “Kenapa kalian menjadi

sangat ketakutan?”

“Kami tidak pernah bertemu dengan hantu.”

“Seharusnya kalian tidak takut. Bukankah kalian laki-laki yang

tegap dan gagah?”

“Tetapi hantu-hantu adalah makhluk yang sakti.”

“Kau percaya?”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk bersama-sama. Karena

itulah maka orang yang berpakaian pelayan dalam itu tertawa

terbahak-bahak.

“Terlalu,” katanya, “kalian adalah penakut-nakut yang sama

sekali tidak percaya kepada diri sendiri. Seharusnya kalian berusaha

untuk melindungi diri kalian dengan ketegapan dan kekekaran tubuh

kalian. Aku kira tenaga kalian tidak akan kalah dengan tenaga hantu

yang paling dahsyat sekalipun seandainya kalian berusaha.”

Ketiganya tidak menjawab. Namun darah mereka serasa berhenti

ketika tiba-tiba mereka mendengar pelayan dalam itu berkata

lantang, “Akulah sebenarnya hantu Karautan.”

Orang yang berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana

itu bertolak pinggang. Dengan sinar yang tajam menusuk jantung,

dipandanginya ketiga anak-anak Panawijen yang hampir menjadi

pingsan.

“Nah. Apakah kalian tidak percaya bahwa akulah sebenarnya

hantu Karautan? Lihat, kedua orang yang mengaku-ngaku hantu itu

semuanya telah melarikan dirinya. Dan bukankah kau dengar hantu

yang terakhir itu mengatakan bahwa aku lebih tahu apa yang harus

dilakukan oleh hantu Karautan,” berkata orang itu lebih lanjut.

Darah ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan sudah

benar-benar membeku, sehingga mereka sudah tidak dapat

memberikan tanggapan apapun atas pertanyaan orang itu. Hanya

mata mereka sajalah yang berkedip-kedip dan nafas merekalah

yang berkejaran semakin cepat.

Tetapi tiba-tiba, dari balik gerumbul di hadapan mereka, sekali

lagi mereka melihat sesosok bayangan yang berjalan semakin lama

semakin dekat menjinjing bumbung bambu.

Dengan serta-merta hampir bersamaan, ketiga anak muda

Panawijen itu berdesis, “Agni. Mahisa Agni telah datang.”

Orang yang berpakaian dalam itu mengerutkan keningnya, “Apa?

Kau menyebut-nyebut nama Mahisa Agni?”

“Ya. Mahisa Agni telah datang,” jawab mereka bersamaan.

Wajah-wajah mereka tiba-tiba menjadi agak cerah dan harapan

timbul kembali di dalam dada mereka.

Sebenarnya orang yang datang itu adalah Mahisa Agni.

Orang yang berpakaian hamba istana dan menamakan diri hantu

Karautan pula itu pun berpaling. ia pun segera melihat Mahisa Agni

berjalan ke arah mereka. Semakin lama semakin dekat.

“Itukah yang kau sebut Mahisa Agni,” geram pelayan dalam itu.

“Ya.”

Pelayan dalam itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya

sosok tubuh yang semakin dekat itu.

Mahisa Agni, yang berjalan dengan tenangnya, segera sampai

pula di antara anak muda Panawijen yang masih menggigil

ketakutan. Dengan heran Mahisa Agni memandang wajah-wajah

mereka, sehingga kemudian ia bertanya, “Kenapa kalian menggigil

seperti orang kedinginan?”

Sinung Sari menunjuk kepada orang yang berpakaian pelayan

Dalam itu sambil berkata gemetar, “Hantu Karautan.”

“He?” Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

Sekali lagi Sinung Sari menunjuk orang itu. Tetapi mulutnya

terbungkam.

Mahisa Agni kemudian meletakkan barang-barang yang

dijinjingnya. Bumbung-bumbung bambu dan sebilah pedang

terhunus. Sedang pedangnya sendiri masih tergantung di

lambungnya.

“Benarkah kau hantu padang Karautan,” bertanya Mahisa Agni.

Pelayan dalam itu mengangguk sambil bertolak pinggang, “Ya,

Akulah hantu Karautan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

selangkah ia maju. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Adalah

kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan hantu padang Karautan.

Duduklah!”

Pelayan dalam yang menamakan dirinya hantu padang Karautan

itu tertegun sejenak. Namun Mahisa Agni telah mendahului duduk di

samping perapian, di antara barang-barangnya yang berserakan.

“Duduklah!” ia mempersilakan sekali lagi.

Ketiga anak muda Panawijen itu terbelalak ketika mereka

melihat, hantu itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.

“He, kemarilah!” panggil Mahisa Agni sambil berpaling kepada

ketiga kawan-kawannya, “mungkin kau belum mengenal hantu ini.

Aku mula-mula agak lupa melihat tampangnya yang gagah. Tetapi

akhirnya aku dapat mengenalnya meskipun ia menyamar sebagai

pelayan dalam Istana Tumapel.”

Sesaat ketiga kawan-kawannya saling berpandangan Namun

kembali terdengarlah Mahisa Agni memanggil, “Kemarilah! Hantu ini

sama sekali tidak menakutkan. Ia adalah hantu yang baik hati.”

Ketika mereka melihat Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi

cemas dan tegang menghadapi hantu itu, maka perlahan-lahan

mereka bertiga pun beringsut maju mendekati perapian. Satu demi

satu mereka duduk di belakang Mahisa Agni.

“Inilah hantu itu sebenarnya,” berkata Mahisa Agni, “kenapa

kalian menjadi sangat ketakutan. Apakah hantu ini sudah menyakiti

atau menakut-nakuti kalian.”

Ketiga anak muda itu menggeleng.

“Sudah aku katakan. Hantu Karautan sama sekati tidak

menakutkan. Bahkan sekarang kau dapat membuktikan sendiri,

bahwa hantu itu benar-benar berwajah tampan setampan Panji

Asmara Bangun.”

“Ah,” desis hantu itu sambil tersenyum.

Ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali tidak mengerti,

bagaimanakah sebenarnya persoalan yang mereka hadapi. Karena

itu, setelah hatinya agak tenang, Sinung Sari berkata, “Agni. Kalau

yang satu ini benar-benar hantu pula, maka ada tiga hantu di

padang Karautan ini.”

“He,” Mahisa Agni berpaling, “tiga hantu?”

“Ya. ketiga-tiganya baru saja berkumpul di sini. Mengitari

perapian itu.”

“Ah,” sahut Agni, “apakah hantu-hantu itu kedinginan?”

Sinung Sari memandang hantu berpakaian pelayan dalam itu

dengan sudut matanya. Kemudian katanya, “Bertanyalah

kepadanya.”

“Kepada siapa?” bertanya Mahisa Agni.

“Kepada hantu itu,” sahut Sinung Sari.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera

bertanya tentang hantu-hantu itu. Tetapi kepada kawan-kawannya

ia berkata, “Apakah kalian tidak haus. Minumlah. Jalan menuruni

tebing itu sangat sulit, sehingga aku harus sangat berhati-hati.”

Kawan-kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak merasa haus,

karena perasaan mereka yang masih dicengkam oleh ketakutan atas

apa yang sedang dihadapinya. Karena itu mereka sama sekali tidak

ada minat untuk menyentuh bumbung Mahisa Agni.

“Apakah kalian tidak haus?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya.

Patalan memandangi wajah Agni dengan penuh pertanyaan yang

membayang. Sekali-sekali anak muda itu menggigit bibirnya, dan

sekali-sekali dicobanya untuk menatap wajah pelayan dalam yang

seakan-akan penuh menyimpan rahasia. Rahasia padang rumput

Karautan.

Mahisa Agni melihat pertanyaan yang bergelut di dalam dada

kawan-kawannya. Namun ia tidak segera menjelaskan siapakah

yang menyebut dirinya hantu Karautan yang sedang menyamar

sebagai pelayan dalam itu, bahkan ia bertanya, “Jadi menurut kata

kalian, di sini tadi ada tiga hantu yang berkumpul bersama-sama?”

Ketiga kawannya serentak mengangguk. Dan terdengar Jinan

berkata, “Ya, bertiga. Satu di antaranya adalah yang masih tinggal

itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah yang mereka kerjakan di sini?” bertanya Agni pula.

“Yang dua saling berkelahi. Yang satu itu datang kemudian,”

sahut Jinan.

“Lupakanlah hantu yang dua itu. Mereka tidak akan berani

mengganggu kalian, selagi hantu yang baik hati ini masih di sini,”

gumam Mahisa Agni seolah-olah kepada dirinya sendiri.

Tetapi gumam itu masih belum menjawab pertanyaan yang

bergelut di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu. Sehingga

akhirnya Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Bagaimana Agni.

Apakah kau tidak bertanya kepadanya, tentang kedua hantu yang

lain itu?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Baik,” jawabnya, “tetapi apakah kalian tidak ingin mendengar

nama hantu yang satu ini?”

Anak-anak muda Panawijen itu saling berpandangan, memang

hantu-hantu pun biasanya memiliki sebuah nama. Karena itu, maka

serentak mereka menyahut, “Ya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat hantu yang

berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana itu tersenyum

sambil berdesah, “Ah. Ada-ada kau ini Agni.”

“Bukankah kau hantu padang ini, Hantu yang berhak mendapat

segala macam gelar untuknya. Hantu yang tampan. Hantu yang

mengerikan, menakutkan dan sekarang hantu yang baik hati? Bukan

hantu-hantu yang lain-lain.”

“Sekehendakmulah,” sahut pelayan dalam itu.

“Nah, dengarlah,” berkata Mahisa Agni, “bukankah sudah aku

katakan bahwa aku sudah mengenal hantu Karautan yang

sebenarnya ini? Kalau ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu

itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Hantu yang sebenarnya

tidak akan membiarkan daerahnya menjadi sumber malapetaka.

Karena itu sebagaimana kau lihat, hantu ini hadir pula di sini

menyelamatkanmu. Sebab hantu-hantu yang lain itu pun telah

pergi.”

Jantung Jinan, Patalan dan Sinung Sari menjadi berdebar-debar.

Mereka ingin segera tahu nama hantu yang tampan itu. Tetapi

mereka tidak bertanya, seakan-akan mereka takut kalau-kalau

pertanyaannya tidak menyenangkan hati hantu itu.

Mahisa Agni pun kemudian meneruskan, “Bukankah kau ingin

tahu nama hantu itu? Baiklah. Dengar, namanya Ken Arok.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya.

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada mereka. Ken Arok. Namun

namanya itu masih asing bagi mereka.

Mahisa Agni sejenak berdiam diri. Ia ingin melihat getaran

apakah yang timbul di dalam dada kawan-kawannya itu setelah

mereka mendengar nama hantu itu. Namun Mahisa Agni hanya

melihat wajah-wajah itu berkerut. Sesudah itu tidak ada tanggapan

apapun lagi.

Ternyata kawannya belum pernah mendengar nama Ken Arok.

Nama itu akan sama artinya bagi kawan-kawannya apabila ia

menyebut nama yang lain. Witantra misalnya, atau Mahendra atau

Kebo Ijo atau siapa pun. Sebab nama-nama itu pun pasti belum

pernah mereka dengar. Tetapi apabila Mahisa Agni menyebutkan

nama hantu berkuda yang melarikan diri itu, pastilah mereka akan

terkejut sekali.

Ken Arok sendiri menarik nafas dalam-dalam ketika sama sekali

tidak tampak persoalan-persoalan yang tumbuh karena namanya.

Mula-mula ia menjadi bimbang. Mungkin namanya sudah dikenal

oleh ketiga anak-anak muda itu dahulu sebagai orang buruan,

sebelum ia bersembunyi di padang Karautan. Dan menyebut dirinya

dan disebut orang hantu padang Karautan.

“Bukankah sekarang telah kalian saksikan sendiri,” berkata

Mahisa Agni, “bahwa hantu Karautan adalah hantu yang baik hati.

Dan seandainya ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu yang

lain dan jahat itu sama sekali bukan hantu Karautan.”

“Siapakah mereka itu?” perlahan-lahan terdengar Sinung Sari

bertanya.

“Hantu tiruan,” sahut Agni cepat-cepat, “dan bukankah nyata

bahwa tak ada satu pun dari mereka yang berani melawan hantu

ini?”

Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk.

“Hantu ini pun kini telah menjelma menjadi seorang manusia

biasa. Ia sama sekali tidak sedang menyamar sebagai pelayan

dalam Istana Tumapel. Tetapi ia benar-benar menjadi pelayan

dalam.”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi beragu sejenak. Mereka tidak

dapat mengerti bagaimana seorang pelayan dalam istana itu

sebenarnya adalah hantu.

Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia

menjelaskan, “Jangan ragu-ragu akan keteranganku. Ken Arok

bukan hantu. Ia adalah seorang manusia biasa. Hantu Karautan itu

sama sekali tidak ada.”

Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi bingung. Sekali-sekali mereka

saling berpandangan, namun sekali-sekali mata mereka berpindahpindah

dari Mahisa Agni kepada Ken Arok berganti-ganti.

Apalagi ketika Mahisa Agni itu berkata seterusnya, “Yang dua,

yang bertempur itu pun sama sekali bukan hantu. Mereka hanya

ingin menakut-nakuti kalian dan menamakan diri mereka hantu

padang Karautan.”

“Jadi siapakah mereka itu?” sela Patalan.

Mahisa Agni diam sesaat. Ditatapnya wajah ketiga kawankawannya

berganti-ganti dan sesaat kemudian ditatapnya wajah

Ken Arok yang duduk di sampingnya. Dilihatnya wajah ketiga

kawannya itu menjadi tegang karena kebingungan yang semakin

mendesak di dalam dada mereka.

Baru sesaat kemudian Mahisa Agni berkata, “Apakah kau juga

ingin tahu siapakah yang datang berkuda dan menamakan dirinya

hantu Karautan itu?”

Ketiga kawan-kawannya mengangguk.

“Orang itulah yang telah membuat bencana selama ini,” desis

Mahisa Agni, “Pasti orang itu pula yang telah melakukan pencegatan

di padang rumput Karautan beberapa hari yang lalu seperti berita

yang kau katakan pada saat kita akan memasuki padang ini.”

Ketiga kawan-kawannya mengangguk.

“Seharusnya kau mengenalnya,” berkata Mahisa Agni pula,

“seperti hantu jadi-jadian itu mengenal namamu. Bukankah hantu

itu mengenalmu, mengenal namamu satu persatu?”

Jinan, Patalan dan Sinung Sari mengangguk, tetapi mereka

menjadi semakin bingung. Bagaimana mungkin mereka dapat

mengenal nama hantu itu, meskipun hantu jadi-jadian sekalipun?

Namun mereka hampir menjadi pingsan ketika Mahisa Agni

benar-benar menyebut nama hantu itu, katanya, “Nah, ketahuilah,

hantu itu bernama Kuda Sempana.”

“Kuda Sempana?” berbareng ketiga anak-anak muda Panawijen

itu mengulangi nama itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil

tersenyum, “Ya, hantu itulah Kuda Sempana.”

Sesaat ketiga anak muda itu diam mematung. Sesaat mereka

tenggelam dalam perasaan yang aneh. Kuda Sempana. Bagaimana

mungkin anak itu berada di padang rumput dalam pakaian yang tak

teratur dan kusut. Bukankah anak muda itu berada di istana.

Dengan penuh kebimbangan Sinung Sari bertanya, “Mahisa Agni.

Apakah mungkin terjadi, Kuda Sempana yang perkasa itu berada di

padang ini? Bukankah ia berada di Tumapel?”

“Orang itu sebenarnya Kuda Sempana,” jawab Mahisa Agni,

“Tetapi aku tidak tahu, apa sebabnya ia berada di padang ini.

Mungkin Ken Arok dapat menjawab pertanyaan itu, dan mungkin

Ken Arok pun akan dapat mengatakan, kenapa ia sendiri pun berada

di padang ini pula.”

Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Mungkin aku dapat mengatakan

kepada kalian, kenapa Kuda Sempana berada di padang rumput ini,

meskipun apa yang aku ketahui pun tidak terlalu banyak. Yang

paling aku ketahui tentang diriku sendiri, kenapa aku berada di

padang rumput ini.”

“Ya. Juga tentang dirimu,” sahut Agni.

“Aku datang kembali ke padang rumput ini karena aku juga

mendengar bahwa hantu padang Karautan telah timbul kembali,”

berkata Ken Arok, “adalah benar-benar menyinggung perasaanku,

bahwa hantu yang telah hilang itu datang kembali di padang ini

untuk melakukan pekerjaannya. Karena itulah, maka aku minta izin

kepada atasanku untuk berusaha menangkap hantu itu.”

Mahisa Agni tertawa mendengar keterangan Ken Arok, katanya,

“Bukankah kau merasa bahwa pekerjaanmu disaingi?”

Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Orang masih akan tetap

menyangka bahwa hantu yang dahulu itu pulalah yang datang

kemudian.”

“Apakah pemimpinmu tahu, bahwa hantu yang dahulu bernama

Ken Arok?”

“Tidak seorang pun tahu, selain Empu Purwa bersama muridnya.

Dan kini, karena kau, ketiga kawan-kawanmu itu tahu pula.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya

kemudian, “Kau mendapat izin itu agaknya. Tetapi kau belum

berhasil menangkap hantu itu.”

“Ya. Tetapi aku sudah melihat hantu itu dan aku dapat

mengenalnya pula, setelah beberapa malam aku berkeliaran di

padang ini.”

“Tetapi kenapa kau tertarik ke tempat ini? Bukankah daerah

perburuan hantu-hantu itu tidak di sini?”

“Aku melihat api. Barangkali karena api itu pula, maka hantu itu

datang kemari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia

berpaling kepada kawan-kawannya. Katanya, “Nah, sekarang kau

dengar serba sedikit cerita tentang hantu Karautan. Sekarang kau

akan percaya bahwa hantu itu bernama Kuda Sempana?”

Ketiga kawannya pun mengangguk-angguk pula. Tetapi tiba-tiba

Patalan bertanya, “Tetapi hantu itu ada dua.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Dua?” ia mengulang.

“Ya. Dua,” sahut Sinung Sari, “yang satu yang kau sebut

bernama Kuda Sempana itu. Ia datang berkuda dan menakut-nakuti

kami. Hantu itu akan membunuh kami berdua, dan membiarkan

salah seorang dari kami tetap hidup, namun tubuhnya akan

dijadikan cacat. Kemudian datang hantu yang kedua. Hantu yang

aku sangka orang gila. Keduanya bertempur sampai hantu yang

ketiga itu datang.”

“Itu bukan hantu,” potong Mahisa Agni, “sudah aku katakan ia

memang bekas hantu. Tetapi sekarang tidak.”

Ken Arok tersenyum, dan Sinung Sari membetulkan katakatanya,

“Ya. Maksudku Tuan yang bernama Ken Arok itu datang.

Dan Tuan itu pun tahu, bahwa memang ada hantu yang lain selain

Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali

seakan-akan ia mencoba untuk mengetahui dengan pasti kata-kata

Sinung Sari itu, bahwa ada hantu lain yang telah datang di tempat

ini. hantu yang menurut Sinung Sari adalah hantu yang mirip

dengan orang gila.

Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan kawannya itu.

Bahkan kemudian ditatapnya gerumbul-gerumbul di kejauhan dan

kemudian ditatapnya pula bulan yang berwarna kekuning-kuningan,

di belakang awan tipis yang mengalir dengan lesu ke tenggara.

Suasana di padang rumput itu sejenak dicengkam oleh

kesenyapan. Masing-masing terdiam sambil memandang api di

perapian yang telah padam. Hanya bara-bara kayunya sajalah yang

masih memancar kemerahan.

Yang terdengar kemudian adalah Mahisa Agni menarik nafas

dalam-dalam. Kemudian ia berdiri mengambil beberapa potong

bekal makanannya dan kemudian ditaruhkan di hadapan Ken Arok,

katanya. “Apakah kau juga mau makan makanan pedesaan seperti

ini?”

Ken Arok tersenyum. Diambilnya sepotong makanan dan

langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.

Jinan, Patalan dan Sinung Sari memandangi mereka berdua

dengan penuh kebimbangan. Seakan-akan ada sesuatu yang

tersimpan di dalam diri mereka. Sebuah rahasia yang tidak mereka

mengerti. Demikian desakan keinginan mereka untuk mengetahui,

maka sekali lagi Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Agni. Kau

belum menjawab pertanyaanku.”

Mahisa Agni berpaling. Tampaklah keningnya berkerut.

Jawabnya, “Tak ada yang menarik yang dapat kau ketahui dari

hantu-hantuan itu. Yang perlu kau ketahui sudah aku katakan. Yang

ada di sini sekarang inilah yang dahulu bernama hantu Karautan,

meskipun itu pun hanya hantu jadi-jadian. Ia adalah seorang

manusia biasa, seperti aku, seperti kalian. Dan hantu yang datang

berkuda itu adalah Kuda Sempana. Juga seorang manusia biasa.

Seperti aku, seperti kalian. Itulah yang penting. Yang lain-lain sama

sekali tidak ada hubungannya dengan kalian dan kalian pasti tidak

akan mengenalnya.”

Patalan mengerutkan dahinya. Mungkin ia belum mengenal hantu

yang gila itu. Tetapi ia masih juga berkeinginan untuk mendengar

serba sedikit tentang hantu-hantuan itu. Maka katanya, “Tetapi ia

datang juga kemari dan menamakan dirinya hantu padang

Karautan, bahkan dapat mengalahkan Kuda Sempana. Atau

barangkali Tuan sudah mengenalnya?” bertanya Patalan kepada Ken

Arok.

“Sudah,” sahut Ken Arok sambil tersenyum, “aku mengenalnya

menilik caranya memutar pedang dan melontarkan kakinya.”

“Ah,” desah Mahisa Agni, “terlalu banyak yang ingin kau ketahui

Patalan. Jangan menyebut-nyebut tentang dirinya. Mungkin ia akan

datang lagi dan mengganggu kalian.”

“Bukankah sekarang kau ada di sini dan Tuan Ken Arok, yang

berhak mendapat sebutan hantu Karautan itu ada pula?”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak berbangga atas sebutan itu,”

sahut Ken Arok.

“Oh, maafkan kami,” potong Patalan cepat-cepat.

“Aku tidak apa-apa. Tetapi mungkin sebutan itu akan sangat

menyenangkan bagi hantu-hantuan itu.”

“Tetapi siapakah dia?” desak Sinung Sari pula.

Sekali lagi Ken Arok tersenyum. Senyum yang memancarkan

rahasia yang justru menjadikan ketiga anak-anak muda Panawijen

semakin ingin tahu.

“Hantu yang satu itu,” berkata Ken Arok, “adalah yang lebih

dekat dari kalian. Ia adalah Bahu Reksa Panawijen.”

Ketika anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya.

“Bahu Reksa Panawijen. Apakah artinya?”

Ken Arok kini tertawa kecil. Dipandanginya wajah Agni yang

berkerut. Bahkan Ken Arok itu berkata pula, “Kau tahu Bahu Reksa

Panawijen. Ia lebih dahsyat dari hantu Karautan.”

Sinung Sari mengangguk-angguk. Tetapi ia melihat Ken Arok

masih tertawa, sehingga katanya, “Bagaimanakah sebenarnya?”

Ken Arok itu kemudian bertanya kepada Patahan, “He, di mana

pedangmu?”

Patalan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan serta-merta

ia menjawab, “Diambil hantu yang mirip dengan orang gila itu.”

Ken Arok mengangguk-angguk. Kemudian ia beringsut beberapa

langkah maju. Ketika ia meraih sesuatu di hadapan Mahisa Agni,

maka katanya, “Apakah ini pedangmu?”

Patalan menjadi heran. Pedang itu sudah berada di dekat

perapian.

“Ya,” katanya.

Ken Arok meneruskan, “Kau lihat siapakah yang membawa

pedang ini kembali?”

Patalan menjadi bingung. Tiba-tiba ia teringat bahwa ketika

Mahisa Agni datang, ia menjinjing pedang. Bukan pedangnya

sendiri, karena pedang itu masih berada di dalam sarungnya.

“Agni,” teriak Patalan, “kau yang membawa pedangku kembali?”

“Ya,” jawab Agni. “aku berjumpa dengan hantu itu. Dan

menitipkannya pedang itu kepadaku.”

Ken Arok kini tertawa keras-keras. Hampir-hampir tak dapat

ditahannya lagi. Disela-sela derai tertawanya terdengar ia berkata,

“Kenapa hantu itu tidak memakai kain dan memakai daun perdu

untuk menutupi celananya? He? Untunglah tidak ada yang gatal

pada daun-daun itu. Kalau ada kalian akan cepat mengetahui

siapakah yang sibuk menggaruk-garuk tubuhnya. Itulah hantu gila

itu.”

Ketiga anak-anak Panawijen itu semakin bingung. Tetapi lamatlamat

mereka dapat menangkap maksud Ken Arok itu. Apalagi

ketika Ken Arok itu menjelaskan.

“Kalian pasti pernah melihat, siapakah yang pernah mengalahkan

Kuda Sempana? Nah itulah. Hantu-hantuan yang datang berkuda itu

kembali dikalahkan oleh hantu-hantuan Bahu Reksa Panawijen.”

Sinung Sari beringsut maju sambil berkata, “Agni. Apakah

demikian?”

Agni tersenyum.

“Jadi kaukah hantu-hantu jadi-jadian yang aku sangka orang gila

itu?”

Agni mengangguk.

“Gila kau Agni!” teriak Jinan, “Kenapa kau menakut-nakuti kami.

Kenapa kau tidak saja datang dalam keadaanmu yang sewajarnya?”

Agni kini tertawa, seperti juga Ken Arok tertawa. Maka jawab

Mahisa Agni, “Ah. Sebuah permainan yang menyenangkan. Aku

ingin tahu, siapakah sebenarnya hantu Karautan yang baru itu. Aku

ingin mengetahuinya tanpa ia mengetahui aku, sebab aku yakin

bahwa hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Bukan hantu

yang lama.”

Wajah ketiga anak-anak muda Panawijen tiba-tiba menjadi

merah. Mereka merasa malu sekali pada diri mereka sendiri. Mereka

merasa betapa mereka benar-benar seorang penakut.

“Tetapi Agni,” berkata Sinung Sari,” bukankah kau akan dapat

mengenalnya juga seandainya kau datang dengan wajar. Bukankah

orang berkuda itu lari sebelum membuka tutup mukanya?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin.

Tetapi apabila ia telah mengenal aku sebelumnya, mungkin ia akan

segera lari sebelum kami sempat bertempur.”

“Apakah yang kau dapat dari pertempuran itu?” bertanya

Patalan.

“Dari pertempuran itulah aku dapat mengenalnya.”

“Apanya yang dapat kau kenal?” desak Sinung Sari.

Mahisa Agni dan Ken Arok tersenyum. Jawab Mahisa Agni, “Ken

Arok mengenal aku dan Kuda Sempana sesudah ia melihat kami

bertempur. Ken Arok mengenal aku sejak aku masih menjadi orang

gila itu. Karena itu, ia tidak bersikap melindungi kalian, karena ia

tahu benar bahwa hantu itu tidak berbahaya bagi kalian.”

“Tetapi apakah yang dapat menunjukkan bahwa orang itu

bernama kuda Sempana dan yang lain Mahisa Agni?”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Gerak kami. Sifat dan watakwatak

dari gerak kami masing-masing.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan

kepalanya. Pengenalan itu berada di luar kemampuannya, karena

mereka sama sekali tidak mengenal ilmu gerak. Meskipun demikian

Sinung Sari masih saja menggerutu dengan jengkelnya, “Tetapi

Agni, setelah Kuda Sempana pergi, kau masih juga menakut-nakuti

kami. Apakah maksudmu?”

Mahisa Agni tertawa semakin keras. Jawabnya, “Aneh.

Seharusnya kalian tidak takut. Seperti kata Ken Arok itu. Bukankah

kalian bertiga dan membawa senjata? Seandainya benar-benar kami

bertemu dengan bahaya yang tidak dapat aku atasi seorang diri,

apakah kalian akan membiarkan aku sendiri? Nah, sekarang renungi

diri kalian sendiri. Manakah yang lebih baik. Mengangkat senjata

menghadapi keadaan seperti itu, atau membiarkan diri kalian

dihisap darah kalian lewat tengkuk kalian. Ingat, bahwa Kuda

Sempana benar-benar akan dapat berbuat demikian atas tanah

yang akan kita bangunkan nanti. Kalau kalian tidak dapat

melindungi diri kalian dan tanah kalian, maka apa yang akan kalian

capai dengan susah payah, akan merupakan tanah sadapan yang

menyenangkan bagi orang lain. Orang lain akan dapat menghisap

darah dan di jalur-jalur nadi penghidupan kampung halamanmu.

Karena itu, tengadahkan wajahmu dalam menghadapi setiap

persoalan. Jawablah semua tantangan. Asal kau yakin, bahwa kau

sedang mempertahankan hakmu, bukan sedang melanggar hak

orang lain.”

Jinan, Patalan dan Sinung Sari menundukkan kepalanya. Kembali

wajah-wajah mereka dijalari oleh warna-warna merah karena

sindiran-sindiran yang tepat itu. Mau tidak mau mereka harus

mengakui kebenaran kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka sama

sekali tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengatasi kesulitan

sendiri.

Kembali untuk sesaat mereka terbenam dalam kesepian. Mahisa

Agni sejenak berdiam diri sambil memandangi bulan yang semakin

jauh dari cakrawala. Kini bulan itu telah hampir sampai ke ujung

langit. Namun malam telah melampaui pusatnya.

Dibiarkannya ketiga kawan-kawannya merenungkan katakatanya.

Mahisa Agni merasa, mungkin kata-katanya akan

menjadikan kawan-kawannya malu kepadanya dan kepada diri

sendiri. Namun ia mengharap, bahwa dengan demikian, maka akan

timbul perubahan di dalam kehidupan anak-anak muda Panawijen

yang terlalu lama tenggelam dalam suasana yang terlampau tenang

dan diam. Tak ada perubahan, tak ada gerak dan nyala di dalam

kehidupan orang-orangnya. Jebolnya bendungan itu pun ternyata

dapat dicari manfaatnya di samping bencana yang telah melanda

Panawijen. Ternyata dengan jebolnya bendungan itu, anak-anak

muda Panawijen mendapat pelajaran untuk mencoba mengatasi

kesulitan yang menimpa diri sendui tanpa menggantungkan kepada

orang lain.

Namun yang pertama-tama memecah kesepian itu adalah Mahisa

Agni pula. Bukan tentang hantu-hantu yang berkeliaran di padang

Karautan, tetapi ia benar-benar ingin tahu, kenapa Kuda Sempana

telah mencoba hidup di padang yang sepi ini. Apakah anak muda itu

merasa bahwa ia memerlukan harta benda menjelang hari-hari di

mana ia hidup dalam satu keluarga. Mungkin Kuda Sempana merasa

perlu untuk membuat istrinya bahagia dengan menyimpan harta

benda yang berlebihan sebagai keseimbangan cara yang

ditempuhnya sewaktu mengambil istrinya itu. Atau barangkali Ken

Dedes mempunyai permintaan-permintaan sehingga Kuda Sempana

terpaksa berbuat demikian merampok dan menyamun?

“Ken Arok,” bertanya Mahisa Agni kemudian, “kenapa Kuda

Sempana itu berkeliaran di padang ini? Bukankah kau sekarang

menjadi kawan selingkungannya di istana?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukanggukkan

kepalanya ia menjawab, “Aku tidak tahu persoalan

seluruhnya. Tetapi sebagian aku akan dapat menceritakan

sebabnya.”

“Biarlah yang sebagian itu aku dengar dahulu,” sahut Mahisa

Agni.

Sekali lagi Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian katanya, “Nasib anak itu tidak terlalu baik.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba tanpa

sesadarnya ia memotong, “Bagaimanakah dengan Ken Dedes?

Bukankah ia sehat walafiat?”

Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Gadis itu sehat-sehat saja.”

“Di manakah gadis itu sekarang?”

“Di Istana Tumapel.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa di istana. Apakah Kuda

Sempana tinggal di istana pula?”

“Itulah sebagian yang aku ketahui. Tentang gadis itu dan tentang

Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Baginya terdengar aneh,

bahwa Ken Dedes berada di istana Tumapel.

“Ah,” desahnya di dalam hati, “ternyata Tunggul Ametung benarbenar

berusaha melindungi Kuda Sempana. Disembunyikannya Ken

Dedes itu di istana sampai mereka melahirkan anaknya yang

pertama, untuk menghindarkan Kuda Sempana dari setiap

kemungkinan yang berbahaya. Sesudah itu, maka semuanya akan

menjadi baik bagi Kuda Sempana. Tetapi kenapa Kuda Sempana itu

berkeliaran di sini dalam keadaan yang kusut?”

Pertanyaan itu ternyata semakin menyentuh hatinya, sehingga

sekali lagi ia berkata, “Katakanlah Ken Arok. Katakanlah apa yang

kau ketahui itu tentang Kuda Sempana dan Ken Dedes.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tampak keningnya

berkerut-kerut. Terbayanglah di wajahnya perasaannya yang

gelisah. Menurut pengetahuannya. Mahisa Agni adalah kakak Ken

Dedes, sehingga ia menjadi ragu-ragu sejenak untuk mengatakan

apa yang telah terjadi atas adiknya itu. Tetapi karena Mahisa Agni

selalu mendesaknya, maka terloncat pulalah cerita tentang Ken

Dedes di Tumapel. Cerita sejak Ken Dedes sampai di istana, sejak

mereka berdua, Ken Arok dan Witantra dipanggil menghadap

Akuwu, tentang Witantra yang harus masuk ke dalam arena atas

nama Tunggul Ametung. Namun dengan kecewa Ken Arok itu

kemudian berkata, “Tetapi sayang. Ternyata Tunggul Ametung itu

mempunyai pamrih sendiri. Adikmu diambilnya.”

Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Mahisa Agni. Ia

bersyukur bahwa Ken Dedes telah terlepas dari tangan Kuda

Sempana. Namun ia tidak tahu, perasaan apa yang berdentangdentang

di dalam dadanya itu, setelah ia mendengar bahwa Ken

Dedes kini berada di istana bukan sebagai istri Kuda Sempana,

namun karena gadis itu dikehendaki oleh Tunggul Ametung sendiri.

Dalam pada itu, terdengar Ken Arok berkata, “Untunglah bahwa

Akuwu mengambilnya sebagai permaisurinya. Bukan sekedar

sebagai seorang selir.”

Mahisa Agni terperanjat juga mendengar keterangan itu. Ken

Dedes, seorang gadis pedesaan, telah diangkat menjadi permaisuri

seorang akuwu yang besar dari Tumapel. Tetapi masih saja

bergelora perasaan yang tidak menentu di dalam dirinya. Ia

bergembira bahwa Ken Dedes menemukan tempat yang baik,

namun ada juga kekecewaan yang dalam menusuk jantungnya. Ia

sebenarnya mengharap Ken Dedes kembali ke Panawijen.

“Tetapi ia akan menjumpai kepahitan di Panawijen,” gumamnya

di dalam hati, “ayahnya telah pergi, dan orang yang dicintainya

telah pergi pula untuk selama-lamanya.”

Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya.

Direnunginya tanah yang kering di bawah kakinya yang bersilang.

Dikais-kaisnya tanah itu dengan jari-jarinya seolah-olah ia ingin

mengetahui, apakah tanah itu cukup subur untuk daerah pertanian.

Namun hatinya bergumul dalam keadaan yang tidak menentu.

Kebanggaan, kekecewaan harapan dan putus asa, bergulat menjadi

satu.

Mahisa Agni itu mengangkat. wajahnya ketika ia mendengar Ken

Arok bertanya kepadanya, “Bagaimana Agni. Apakah kau menjadi

berbangga hati bahwa adikmu kini menjadi seorang permaisuri

Akuwu Tumapel?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Adalah anugerah yang tiada

taranya bagi seorang gadis dari padepokan Panawijen. Adalah suatu

kebanggaan buat keluarganya. Pahit getir yang dialami oleh orang

Tuanya, keprihatinan dan ketekunan pengabdiannya kepada sesama

dan kebaktiannya yang tulus kepada Yang Maha Agung telah

menempatkan putri tunggal itu dalam kedudukan yang baik. Tetapi

jauh di sudut hatinya, Mahisa Agni masih mendengar jerit yang

pedih dari perasaannya sendiri. Meskipun demikian perlahan-lahan

ia menjawab, “Aku berbangga Ken Arok.”

“Ya,” sahut Ken Arok, “adalah wajar bahwa kau dan keluargamu

akan berbangga hati.”

Tetapi wajah Mahisa Agni sama sekali tidak membayangkan

kebanggaan yang dikatakannya itu. Apalagi ketika diingatnya

sumpah kutukan Empu Purwa, maka dadanya pun berdesir.

Demikian marahnya orang tua itu, sehingga disumpahnya mereka

yang telah ikut serta mengambil anaknya. Disumpahnya mereka

bahwa mereka akan terbunuh dengan keris.

Wajah Mahisa Agni menjadi semakin suram. Seandainya Ken

Dedes dapat menemukan kebahagiaan sebagai seorang permaisuri,

tetapi seandainya sumpah Empu Purwa itu pun akan berlaku, maka

akan putus pulalah kebahagiaan itu. Tunggul Ametung adalah salah

seorang dari mereka yang turut mengambil Ken Dedes, sehingga

akan matilah ia ditusuk dengan keris.

Tetapi kecemasan dan kegelisahan itu disimpannya di dalam

hatinya, sehingga hati itu telah dipenuhi oleh berbagai perasaan

yang tak dapat dilahirkannya. Perasaan yang mencengkamnya

tentang gadis putri gurunya, tentang kekhawatirannya atas nasib

gadis itu kemudian, dan atas banyak hal lagi yang tertimbun.

Bahkan yang terucapkan dari mulutnya adalah, “Betapa besar

terima kasihku kepada kalian. Kepada Witantra dan kepadamu.

Betapa kalian telah berusaha menolong Adikku itu dari lembah

penderitaan di sepanjang hidupnya. Penderitaan yang tidak akan

ada habis-habisnya.”

“Tetapi kami tidak berhasil mengembalikannya kepadamu,” sahut

Ken Arok, “kami telah gagal sebagian dari maksud kami

memisahkannya dari Kuda Sempana. Karena Tunggul Ametung

sendiri ternyata menghendakinya.”

“Mudah-mudahan nasibnya akan menjadi lebih baik,” gumam

Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan,” sahut Ken Arok, “menurut pendengaranku,

Tunggul Ametung akan datang kepada ayah gadis itu untuk

memintanya.”

Mahisa Agni terkejut. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi suram.

Jauh lebih suram dari wajah itu sebelumnya. Dari antara giginya

terdengar ia berdesis, kemudian menggelengkan kepala sambil

berkata, “Tak ada gunanya.”

Ken Arok mengerutkan dahinya, Kini ialah yang menjadi terkejut

mendengar desis Mahisa Agni itu, sehingga ia bertanya, “Kenapa?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sorot matanya jauh menembus

ke dalam keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang

redup.

“Ayah gadis itu tidak ada lagi di padepokannya.”

“Apakah ia belum kembali?” bertanya Ken Arok, “pada saat gadis

itu diambil oleh Kuda Sempana, ayahnya memang tidak tampak di

rumahnya.”

“Sudah. Orang tua itu sudah kembali,” jawab Mahisa Agni, “tetapi

setelah ia mendengar bahwa anaknya itu hilang, anak yang

dikasihinya melampaui segala isi dunia ini yang lain, maka orang tua

itu mengalami keguncangan perasaan yang tak terkendali.”

“Apakah syarafnya terganggu?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Gila?”

“Tidak sejauh itu. Ia adalah seorang pendeta yang taat-taat

kepada kewajibannya,” berkata Mahisa Agni dalam nada yang

rendah, “Hanya karena ketebalan hatinyalah maka orang tua itu

tidak menjadi gila. Ia pasti akan dapat menemukan ketenangannya

kembali dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Tetapi

kejutan pertama dari berita itu telah mendorongnya untuk

meninggalkan padepokannya. Ia ingin melupakan segala-galanya.

Kepahitan yang paling pahit dalam hidupnya.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya, gumamnya, “Kasihan

orang tua itu. Untunglah ia dapat menemukan penghibur dalam

dirinya sendiri. Kalau tidak, ia pasti tidak akan hanya sekedar

menyingkir dari padepokannya. Bukankah ia sekaligus gurumu?”

Mahisa Agni mengangguk. “Kalau orang tua itu marah, maka ia

akan dapat berbuat hal-hal yang mengerikan.”

“Pasti tidak akan dilakukan.”

Ken Arok terdiam sesaat. Kemudian katanya, “Aku mengharap

kau akan dapat mewakilinya. Bukankah kau muridnya, tetapi juga

putranya?”

Mahisa Agni menggeleng.

“Bukankah gadis itu adikmu? Atau saudara sepupu?”

Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Ia tidak segera

menemukan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga Ken Arok

mendesaknya.

“Bagaimana? Kau akan dapat mewakili ayahmu. Menerima Akuwu

itu sebagai wakil orang tuanya, merestui perkawinan adikmu.”

“Jangan. Jangan,” sahut Mahisa Agni serta-merta. Tetapi

kemudian ia terdiam kembali. Terasa luka di hatinya yang perlahanlahan

hampir dapat dilupakan itu, seakan-akan kembali menggores

tajam. Terasa hatinya menjadi pedih. Ia harus melihat kenyataan

itu. Namun dengan sekuat tenaganya ia mencoba menghilangkan

segala macam kesan yang dapat membayangkan perasaannya yang

sedang bergolak.

Ken Arok masih memandangi wajah anak muda yang muram itu.

Namun ia tidak tahu perasaan apa yang sedang bergolak di dalam

dadanya. Ia hanya dapat menyangka betapa sedihnya anak muda

yang merasa kehilangan adiknya itu. Meskipun seandainya bukan

adik sekandung, tetapi adik sepupu.

Tetapi Mahisa Agni sama sekali, tidak mau menjelaskan

hubungan apakah yang ada antara dirinya dan Ken Dedes. Ketika

Ken Arok mendesaknya sekali lagi maka jawabnya, “Tidak. Jangan

datang kepadaku. Biarlah Ken Dedes menentukan kehendaknya

sendiri. Kalau ia bersedia biarlah perkawinan itu berlangsung, tetapi

kalau tidak, jangan dipaksa.”

Ken Arok menciutkan keningnya. Katanya, “Ya. Terserahlah

kepadamu. Tetapi aku sendiri kecewa melihat sikap Akuwu itu.”

(bersambung )

Jilid 14

MAHISA AGNI memandangi wajah Ken Arok tajam-tajam. Tetapi

ia tidak melihat kesan apapun dari wajah itu. Ken Arok itu ternyata

berkata demikian saja tanpa ungkapan yang mendalam, sehingga

Mahisa Agni pun tidak dapat menangkap perasaan lain daripada

kekecewaan itu.

“Kenapa kau kecewa,” bertanya Mahisa Agni.

“Aku ingin mengembalikan kepadamu untuk menebus

kebodohanku. Aku sama sekali tidak mencoba menghalangi

perbuatan Tunggul Ametung dan Kuda Sempana, pada saat mereka

mengambil gadis itu. Ternyata sikap Witantra jauh lebih baik dariku.

Tetapi kini ternyata Witantra menyetujui sikap Tunggul Ametung,

meskipun alasannya dapat aku mengerti. Maksudnya adalah, untuk

mengurangi penderitaan yang menimpa perasaan gadis itu.”

Mahisa Agni kembali memandang ke kejauhan, menembus

keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup.

Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa Kuda Sempana itu tiba-tiba

berkeliaran di sini?”

“Mungkin ia menjadi kecewa,” sahut Ken Arok.

“Aku sudah menyangka, tetapi sampai sejauh itu? Bukankah

dengan demikian ia telah melakukan pemberontakan terhadap

Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Ya. Anak itu benar-benar

telah memberontak. Tetapi kemungkinan itu memang akan terjadi.

Hukuman atasnya memang terlalu berat baginya.”

“Hukuman atas kesalahannya mengambil Ken Dedes?”

Ken Arok mengangguk.

“Aneh. Bukankah Akuwu sendiri ikut serta?”

“Itulah keanehan yang dapat saja terjadi. Akuwu sendiri turut

melakukan kesalahan itu. Tetapi ternyata ia ingin memperbaiki

kesalahannya dengan mengorbankan Kuda Sempana. Kau tahu,

apakah hukuman itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu,” sahut Agni.

“Hukuman itu benar-benar aneh. Hukuman itu semula sama

sekali bukan atas kehendak Tunggul Ametung sendiri. Tetapi atas

kehendak gadis yang dilarikannya itu,” berkata Ken Arok seterusnya.

Mendengar kata itu Mahisa Agni terperanjat. Tanpa disengaja

ditatapnya wajah ketiga kawannya yang mendengarkan

pembicaraannya dengan keheran-heranan.

Ken Arok melihat keheranan yang membayang di wajah Mahisa

Agni. Maka katanya, “Ya. Demikianlah. Hukuman itu sebenarnya

datang dari adikmu itu.”

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia melihat kudanya

yang makan dengan asyiknya, dan sekali ditatapnya wajah ketiga

kawan Mahisa Agni.

Baru sesaat kemudian katanya, “Ternyata adikmu menerima

lamaran Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah

menyangka dan bahkan ia berdoa mudah-mudahan dengan

demikian Ken Dedes, merasa terhibur atas hilangnya dua orang

yang dicintainya sekaligus. Ayahnya dan Wiraprana. Namun di

dalam sudut hatinya yang paling dalam luka hatinya serasa seolaholah

meneteskan darah.

Meskipun demikian ia bertanya, “Bagaimana mungkin gadis itu

menerima lamaran Tunggul Ametung. Ia mencintai Wiraprana lebih

dari semua orang selain ayahnya. Apakah gadis itu sudah

mendengar kabar tentang bakal suaminya.”

Ken Arok mengangguk. Katanya, “Emban tua, pemomongnya

telah menyampaikan kabar itu. Sebelumnya kami pun telah

mengatakannya, tetapi ia lebih percaya kepada embannya.”

Mahisa Agni berdesir mendengar Ken Arok menyebut pemomong

Ken Dedes. Tak seorang pun tahu bahwa orang itu adalah ibunya.

Ken Dedes juga tidak.

“Tetapi bagaimana Ken Dedes dapat menghukum Kuda Sempana

itu?” bertanya Mahisa Agni kemudian.

“Mudah sekali baginya,” sahut Ken Arok, “Tunggul Ametung itu

akhirnya tergila-gila kepadanya. Apa yang diucapkannya akan

terjadi.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Desir di dadanya menjadi

semakin tajam. Ada semacam pergolakan yang terjadi dalam

dirinya. Meskipun ia merasa bahwa Ken Dedes akan menemukan

sekedar penghibur atas segala dukanya, tetapi apakah ia dapat

mendengar bahwa seseorang tergila-gila kepadanya?

Tetapi Mahisa Agni tidak berkata sepatah kata pun. Dan Ken

Aroklah yang berkata pula, “Dan salah satu dari permintaan Ken

Dedes ternyata adalah pelepasan dendamnya kepada Kuda

Sempana itu.”

Mahisa Agni masih diam mematung. Ia mendengar Ken Arok

meneruskan, “Nah, apa yang diminta oleh Ken Dedes itu atas Kuda

Sempana? Aneh sekali. Adikmu itu minta Kuda Sempana mendapat

hukuman atas kesalahannya apabila Akuwu benar-benar

menghendakinya. Hukuman itu adalah, Kuda Sempana harus

menjadi pelayan yang paling rendah baginya. Membersihkan lantai,

mencuci pakaian dan waktu selebihnya, duduk di bawah tangga di

serambi di belakang biliknya.”

Mahisa Agni terperanjat mendengarnya. Benar-benar terperanjat.

Apalagi ketika Ken Arok meneruskan, “Agaknya Ken Dedes itu ingin

membalas sakit hatinya dengan penghinaan atas Kuda Sempana.

Hina yang sehina-hinanya.”

“Ken Arok,” potong Mahisa Agni, “apakah benar Ken Dedes

menghendakinya?”

Ken Arok mengangguk, “Ya, sebenarnyalah bahwa Ken Dedes

menghendakinya. Dan Ken Dedes mempunyai cukup pengaruh atas

Tunggul Ametung. Ketahuilah, bahwa Tunggul Ametung yang

garang itu seakan-akan benar-benar telah bersimpuh di bawah kaki

adikmu.”

Darah Mahisa Agni tersirap. Ia sama sekali tidak menyangka

bahwa Ken Dedes dapat berlaku sekasar itu. Dendam yang

betapapun dalamnya, namun penghinaan itu telah terlampau jauh.

Dan didengarnya kemudian Ken Arok meneruskan, “Itulah

keadaan adikmu dan Kuda Sempana yang aku dengar. Itu pulalah

sebabnya, kenapa Kuda Sempana kemudian melarikan diri dari

istana yang menjadi tempat yang sehinanya baginya. Sebagai

seseorang yang masih mempunyai harga diri, maka sudah tentu ia

tidak menelan penghinaan itu begitu saja.”

Mahisa Agni mengangguk perlahan-lahan. Terdengar ia berdesis.

Dadanya semakin terasa menghentak-hentak. Ia sama sekali tidak

dapat mengerti, perubahan-perubahan yang tajam telah terjadi atas

Ken Dedes itu. Ledakan-ledakan di dalam jantung gadis itu telah

menyeretnya dalam suatu keadaan yang sama sekali tidak disangkasangka

oleh Mahisa Agni.

“Ken Arok,” terdengar suara Mahisa Agni dengan nada yang

rendah, “apakah aku dapat minta tolong kepadamu?”

Ken Arok menarik nafasnya. Katanya bertanya, “Apakah yang

harus aku lakukan?”

“Sampaikan pesanku kepada gadis itu,” berkata Mahisa Agni,

“yang pertama kali adalah kabar keselamatan.”

Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat Ken Arok menggeleng,

“Aku kini jarang sekali masuk ke istana selain di tempat-tempat

tugasku. Hampir aku tak pernah melihat adikmu itu setelah aku ikut

Akuwu mengambilnya dari Panawijen. Sampai kini aku belum begitu

mengenal wajahnya. Apalagi kini Ken Dedes telah benar-benar

sebagai seorang permaisuri meskipun ketetapannya dan upacaranya

masih akan menyusul, sehingga aku tak akan sempat menemuinya.”

Kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya

terbayang di dalam kepalanya, Ken Dedes kini telah menjadi

seorang permaisuri. Menjadi seorang yang berada dalam lingkungan

kebesaran dan kebahagiaan. Namun ia masih tetap tidak dapat

mengerti, bahwa di dalam diri gadis itu timbul perubahan sikap dan

watak yang terlampau tajam.

“Mungkin keparahan hati yang tak tertanggungkan telah

mendorongnya ke dalam suatu sikap yang berlebih-lebihan sebagai

keseimbangan,” gumamnya di dalam hati.

“Kalau begitu,” sambung Mahisa Agni kemudian, “apakah kau

pernah bertemu dengan emban pemomongnya itu?”

Ken Arok menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Aku sering

bertemu pemomong Ken Dedes itu tinggal di rumah Witantra

beberapa hari sebelum diizinkan menemui momongannya.”

“Apakah orang tua itu sekarang masih berada di rumah

Witantra?”

“Tidak,” jawab Ken Arok, “perempuan tua itu kini telah berada di

istana atas permintaan Ken Dedes.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian

katanya, “Kalau demikian, aku minta tolong kepadamu.

Sampaikanlah kepada perempuan tua itu.”

“Pesan?”

“Ya. Pesan untuknya dan untuk Ken Dedes.”

“Akan aku coba.”

“Terima kasih,” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ia menjadi raguragu

untuk mengatakan pesannya kepada Ken Arok. Ia belum tahu

pasti, bagaimanakah sikap Ken Dedes kini terhadapnya. Meskipun

demikian akhirnya ia berkata, “Ken Arok. Kalau kau bertemu dengan

perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, sampaikan baktiku

kepadanya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Perempuan itu adalah seorang

pemomong, namun agaknya Mahisa Agni memang suka

merendahkan dirinya, sehingga ia menyampaikan bakti kepada

seorang emban. Tetapi Ken Arok tidak berkeberatan apapun

terhadap sikap itu, sehingga sahutnya, “Baik. Aku sampaikan

baktimu apabila aku bertemu nanti di istana.”

“Terima kasih,” Mahisa Agni meneruskan, “kemudian kalau

emban itu dapat menyampaikan kepada Ken Dedes, yang sekarang

sudah berada di istana itu, kecuali kabar keselamatan adalah pesan,

supaya gadis itu tidak melupakan dirinya, asalnya dan segenap

keadaan masa lampaunya sebagai keseimbangan berpikir untuk

menentukan hari-hari mendatangnya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya, katanya, “Kenapa pesanmu

berbunyi demikian?”

“Tidak apa-apa,” sahut Agni, “aku hanya ingin

memperingatkannya, supaya ia tidak tenggelam dalam dunia yang

asing baginya, sehingga ia kehilangan dasar tempat berpijak. Ia

adalah seorang gadis pedesaan yang biasa hidup di pedesaan. Ia

adalah seorang putri dari seorang pendeta yang hidup bersahaja

dan penuh ketekunan dalam kebaktiannya kepada Yang Maha

Agung. Ia kemudian adalah seorang gadis yang mengalami

kepahitan yang menghunjam terlalu dalam di hatinya. Nah, semua

peristiwa-peristiwa itu akan dapat mengguncangkan keseimbangan

antara perasaan dan pikirannya. Yang kini dapat kita lihat adalah

sikapnya terhadap Kuda Sempana. Bagaimanapun juga dendam

tersimpan di dadanya, namun dengan penghinaan yang berlebihlebihan

itu, Ken Dedes telah melakukan kesalahan menurut

penilaianku.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti pesan

itu. Dan ia dapat membenarkannya. Betapa bencinya kepada Kuda

Sempana, namun Ken Arok heran juga melihat hukuman yang

dijatuhkan atas anak muda itu. Lebih baik Kuda Sempana digantung

di alun-alun, atau dirajam dengan panah daripada dihinakan

sedemikian rendah. Karena itu, adalah sudah sewajarnya apabila

anak muda itu meninggalkan istana.

Tetapi Tunggul Ametung tidak dapat mempertimbangkannya lagi.

Ia sedang dilanda oleh perasaan yang meluap-luap. Apapun yang

dikehendaki oleh Ken Dedes, selagi Tunggul Ametung dapat

memberikannya, pasti akan dipenuhinya. Apalagi hanya seorang

Kuda Sempana, bahkan Tumapel sekalipun sudah diserahkannya.

Dada Ken Arok berdesir. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada

Mahisa Agni, “Agni keberuntungan adikmu tidak saja sejauh itu.

Tetapi lebih daripada itu. Menurut pendengaranku, di istana telah

menjalar kabar, bahwa bukan saja Kuda Sempana telah

dikorbankan, tetapi kepada gadis itu telah diserahkan hak atas

pemerintahan Tumapel.”

Alangkah terkejutnya Mahisa Agni mendengar kabar itu, sehingga

ia beringsut maju. Dengan wajah tegang ia bertanya, “Benarkah

kabar yang kau dengar itu?”

“Aku benar-benar mendengar kabar itu,” sahut Ken Arok, “tetapi

kebenaran atas kabar itulah yang aku tidak tahu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, kalau kabar itu benarbenar

terjadi, maka alangkah besar karunia atas gadis itu. Karunia

yang diterimanya lewat kepahitan dan kedukaan.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun luka di

hatinya serasa menjadi semakin dalam.

Dalam nada yang rendah ia berkata, “Berbahagialah anak itu.

Mudah-mudahan ia menemukan masa depan yang baik. Kalau benar

kabar yang kau dengar Ken Arok, bukankah berarti bahwa Ken

Dedes akan mendapat kesempatan menurunkan akuwu-akuwu

berikutnya?”

Ken Arok mengangguk, “Ya. Itulah adalah suatu karunia yang

tiada taranya.”

Keduanya kemudian terdiam untuk sesaat. Kembali bergelut di

dalam dada Mahisa Agni berbagai perasaan. Bangga, gembira,

sedih, dan kecewa. Ia bersyukur kepada Yang Maha Agung atas

karunia itu, namun ia menjadi cemas, apakah kebahagiaan itu akan

dapat kekal sepanjang umur Ken Dedes, di samping perasaannya

sendiri yang masih saja menyentuh-nyentuh hati. Perasaan seorang

lelaki terhadap seorang perempuan.

Namun baik Mahisa Agni maupun Ken Arok tidak mengetahui,

apakah yang telah mendorong Tunggul Ametung terbenam dalam

keadaannya itu. Tunggul Ametung telah disilaukan oleh cahaya yang

seakan-akan memancar dari tubuh gadis Padepokan Panawijen itu.

Cahaya yang hanya dapat dilihatnya sendiri.

Akuwu itu kemudian ternyata dengan diam-diam menemui

seorang ahli nujum yang meramalkan, bahwa seorang gadis yang

bercahaya dari dalam tubuhnya itu, kelak akan dapat menurunkan

bukan saja akuwu-akuwu seperti Tunggul Ametung, tetapi gadis itu

akan dapat menurunkan raja-raja yang akan berkuasa melampaui

kekuasaan akuwu, dan bahkan akan melampaui kekuasaan raja di

Kediri.

Ramalan itulah yang mendorong Tunggul Ametung untuk berbuat

seperti orang yang kehilangan kesadaran. Setiap patah kata yang

diucapkan oleh Ken Dedes pasti akan berlaku baginya, melampaui

semua undang-undang dan peraturan yang telah ada.

Kembali untuk sejenak mereka terbenam dalam kediaman. Angin

malam yang lembut mengalir mengusap tubuh mereka yang basah

karena keringat. Daun-daun perdu berdesir seperti sedang

melagukan lagu yang rawan.

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Di dalam dadanya

bergetar berbagai persoalan yang saling membelit. Namun

kemudian ia tidak sampai hati untuk berpesan kepada Ken Arok,

bahwa Empu Purwa telah menghilang dari Panawijen. Ada banyak

pertimbangan yang mengurungkan niatnya untuk mengucapkan

pesan itu. Ia tidak sampai hati untuk membuat luka di hati Ken

Dedes menjadi semakin parah, dan ia tidak sampai hati pula untuk

mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan yang sedang berada di

ambang pintu hati gadis itu.

Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketiga Ken Arok itu berdiri.

Katanya, “Aku tidak akan terlalu lama tinggal di sini.”

“Apakah kau akan kembali ke Tumapel?”

Ken Arok mengangguk.

“Ya,” jawabnya, “pekerjaanku sebagian sudah selesai. Aku sudah

tahu, siapakah yang menamakan dirinya hantu Karautan itu kini.”

“Hanya cukup mengetahui saja.”

Ken Arok tersenyum.

“Tentu tidak,” katanya, “bukankah kau juga tidak akan

membiarkannya.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula ia pun kemudian berdiri dan

berkata, “Tetapi Akuwu Tumapel tidak akan membiarkan

pemberontakan ini meluas. Hantu Karautan itu ternyata bukan saja

seorang hantu, tetapi ia adalah seorang pemberontak.”

“Salahnya sendiri. Nafsunya terhadap gadis itu terlampau

berlebih-lebihan. Sehingga akhirnya ia sendiri terjerumus dalam

kesulitan karenanya.”

“Tetapi akibatnya tidak hanya melihat diri Kuda Sempana. Tetapi

padang ini akan menjadi daerah yang menakutkan kembali.”

“Mudah-mudahan tidak berlangsung terlalu lama. Aku akan

mengadakan perondaan di daerah ini apabila akuwu mengizinkan

beberapa orang prajurit. Mungkin Witantra akan menaruh perhatian

pula atas hantu Karautan ini.”

“Mudah-mudahan,” desis Mahisa Agni. Namun angan-angannya

telah menjorok jauh meliputi rencana pembuatan bendungan ini.

Kuda Sempana adalah seorang yang perkasa. Ia tidak akan dapat

menjadi sedemikian kuatnya dengan tiba-tiba. Ia pasti mempunyai

seorang guru, dan bahkan saudara seperguruan yang telah pernah

dikenalnya dalam perjalanannya dari Lereng Gunung Semeru.

Apakah mereka akan membiarkan Kuda Sempana hidup dalam

keadaannya itu, meskipun gurunya adalah seorang guru upahan?

Apakah Kuda Sempana tidak dapat menjanjikan sesuatu kepada

guru serta saudara-saudara seperguruannya untuk bantuan mereka

kepadanya. Yang pertama-tama akan mengalami kesulitan adalah

dirinya dan rencana bendungannya. Kemudian apabila Kuda

Sempana berhasil mengumpulkan murid-murid dari saudara-saudara

seperguruannya, yang memakai cara yang sama dengan gurunya

sendiri dalam mendapatkan ilmunya, maka Kuda Sempana tidak

dapat diabaikan dalam-dalam tata pemerintahan Akuwu Tunggul

Ametung.

Mahisa Agni itu pun kemudian mengangkat wajahnya ketika ia

mendengar Ken Arok berkata, “Agni, aku akan kembali ke Tumapel.

Sudah tentu aku akan menyampaikan apa yang kau ketahui tentang

hantu Karautan ini kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku kemudian

akan menjalankan perintahnya. Apakah aku akan mendapat

perintah untuk menangkapnya, atau aku hanya sekedar menjadi

penunjuk jalan bagi prajuritnya yang akan menangkap Kuda

Sempana itu.”

“Bukankah kau berkepentingan langsung Ken Arok? Sebab nama

hantu Karautan itu pasti akan menyangkut namamu.”

“Tak seorang pun yang tahu bahwa hantu Karautan itu pernah

berganti.”

Mahisa Agni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya,

meskipun senyumnya muram.

“Sudahlah,” berkata Ken Arok, “pergilah ke Tumapel kalau kau

ingin bertemu dengan adikmu. Mungkin Akuwu tidak akan

berkeberatan.”

“Terima kasih,” sahut Mahisa Agni. Namun hatinya berkata, “Tak

akan ada artinya. Pertemuan yang demikian itu hanya akan

menambah parah perasaanku.”

Ken Arok itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya,

dan sambil menyentuh perut kudanya dengan tumitnya ia berkata,

“Sampai bertemu Agni.”

Kepada ketiga kawan Mahisa Agni Ken Arok berkata sambil

tertawa, “Jangan takut terhadap hantu Karautan. Hantu itu

sekarang sudah jinak.”

Ketiga kawan Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya.

Terdengar Sinung Sari berkata, “Selamat jalan. Mudah-mudahan

kita dapat bertemu lagi.”

Ken Arok tertawa. Sementara itu kudanya sudah mulai bergerak

maju menusuk keremangan malam. Mahisa Agni masih melihat anak

muda yang gagah itu melambaikan tangannya, kemudian kudanya

meluncur semakin cepat. Debu yang putih menghambur di belakang

derap kaki kuda itu bergulung-gulung semakin lama semakin jauh.

Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Baru ketika kuda itu

telah semakin kecil dan semakin kabur, ia berpaling kepada ketiga

kawan-kawannya. Katanya, “Itulah hantu Karautan yang

sebenarnya. Tetapi ia tidak senang apabila hal itu diketahui oleh

orang lain. Karena kalian telah terlanjur mengetahuinya, maka aku

minta apa yang kalian ketahui itu harus kalian rahasiakan.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk. Yang terdengar

adalah desis Patalan, “Kalau demikian, benar kata orang, bahwa

hantu Karautan sebenarnya adalah hantu yang tampan.”

“Tidak saja tampan, tetapi hantu itu sangat sakti pula. Namun

kini hantu itu sudah tidak ada lagi. Apakah kau percaya kepadaku?

Hantu itu kini benar-benar sudah menjadi seorang pelayan dalam di

Istana Tumapel.”

Ketiga kawan-kawannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi bagi mereka, siapa pun yang menjadi hantu, namun hati

mereka tidak akan dapat tenteram. Meskipun hantu itu bernama

Kuda Sempana.

Betapa sempitnya pengetahuan mereka, namun mereka tahu

pula, bahwa Kuda Sempana menyimpan dendam kepada Mahisa

Agni, kepada Ken Dedes dan dendam itu akan dapat melimpah

kepada seluruh penduduk Panawijen. Kuda Sempana itu kelak akan

dapat merupakan bahaya bagi mereka, bagi orang-orang Panawijen

yang sedang membuat bendungan.

Kalau Kuda Sempana itu datang seorang diri maka soalnya tidak

akan terlalu sulit. Ternyata sampai saat ini Mahisa Agni masih dapat

mengatasinya. Tetapi bagaimana kalau Kuda Sempana itu kemudian

mendapat kawan dalam penumpahan dendamnya? Dalam

keadaannya maka Kuda Sempana tidak akan memilih kawan.

Mungkin para penjahat, para perompak dan para penyamun.

Mungkin orang-orang jahat yang sedang menjadi buruan. Dan hati

mereka, kawan-kawan Mahisa Agni itu, pasti akan menjadi semakin

kecut apabila mereka mengetahui, apa yang sedang diperhitungkan

oleh Mahisa Agni, yaitu kawan-kawan seperguruan Kuda Sempana

beserta murid-muridnya dan bahkan gurunya pula.

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada ketiga kawankawannya

itu. Ia menyadari akibatnya apabila kawan-kawannya

mengetahui tentang Kuda Sempana beserta perguruannya.

Bahkan kemudian ia berkata, “Nah. Sekarang kalian telah melihat

sendiri, bahwa yang menamakan diri hantu Karautan itu tidak lebih

dari Kuda Sempana. Karena itu jangan takut. Mudah-mudahan aku

akan dapat mencegahnya apabila ia mencoba mengganggu

pekerjaan kita.”

Ketiga kawan-kawannya mengangguk. Tetapi tampaklah

wajahnya tidak meyakinkan. Sehingga Mahisa Agni bertanya,

“Bagaimana? Apakah masih ada yang kalian cemaskan?”

Kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Baru sejenak kemudian

Sinung Sari berkata, “Bagaimana dengan Kuda Sempana itu?”

“Ia tidak berbahaya,” sahut Agni.

“Kalau ia seorang diri,” sambung Sinung Sari.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab,

“Aku juga tidak seorang diri. Bukankah aku akan melakukan

pekerjaan yang berat itu bersama-sama seluruh rakyat Panawijen?

Seandainya Kuda Sempana akan datang kembali bersama

kawannya, maka aku pun akan siap menyambutnya bersama-sama

kawan-kawanku. Anak-anak muda Panawijen yang lain, di antaranya

kalian bertiga.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu terdiam. Mereka sebenarnya masih

ingin menjelaskan bahwa mungkin Kuda Sempana mendapat

kawan-kawan yang berbahaya. Sedang anak-anak muda Panawijen

bukanlah orang-orang yang siap bertempur seperti Mahisa Agni.

Tetapi mereka malu kepada diri mereka sendiri. Mereka malu,

bahwa mereka sama sekali tidak mampu berbuat apapun dalam

keadaan yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, maka merayaplah perasaan yang lain di dalam

diri ketiga anak-anak muda itu. Tumbuhlah pertanyaan di dalam diri

mereka sendiri, kenapa mereka sama sekali tidak mempunyai

keberanian untuk berbuat sesuatu? Apakah mereka masih juga akan

tetap berdiam diri seandainya kelak datang Kuda Sempana bersama

para penyamun, penjahat dan perampok mencelakai Mahisa Agni?

Apakah merela akan tetap berdiam diri sebagai penonton yang tidak

mempunyai sangkut paut sama sekali?”

Mereka berempat kini duduk berdiam diri. Masing-masing

terbenam dalam angan-angan yang berbeda-beda. Mahisa Agni

dengan gambaran-gambaran tentang bendungan, Kuda Sempana,

saudara-saudara seperguruannya, sedang ketiga kawannya sedang

mencoba melihat ke diri mereka masing-masing. Namun terasa

bahwa mereka kini menjadi sangat malu kepada diri mereka sendiri,

kepada Mahisa Agni dan kepada Ken Arok. Juga kepada Kuda

Sempana.

Tiba-tiba menyalalah di dalam hati mereka, suatu tekad yang

belum pernah dimilikinya sejak. mereka menyadari diri mereka,

sejak mereka masih kanak-kanak. “Kita harus berbuat sesuatu

apabila bahaya datang menimpa kita kembali. Kita tidak boleh

menyerahkan diri kita kepada orang lain, kepada pertolongan yang

belum pasti akan datang pada waktunya. Kita tidak boleh

menggantungkan diri kepada kekuatan di luar diri kita sendiri. Diri

pribadi kita, dan diri kita dalam satu kesatuan. Rakyat Panawijen!”

Angin malam masih berembus mengusap tubuh mereka. Semakin

lama semakin terasa, dingin malam menyentuh-nyentuh. Embun

yang sejuk turun perlahan, hinggap di dedaunan dan pada batangbatang

rumput kering. Di kejauhan terdengar suara burung kedasih

melas asih, seperti ratapan biyung yang kehilangan anaknya.

Bulu kuduk kawan-kawan Mahisa Agni meremang. Bunyi burung

kedasih mempunyai kesan yang khusus. Terasa malam menjadi

semakin muram.

Ketika mereka menyadari diri kembali, dan mereka melihat

Mahisa Agni duduk merenungi bara api yang sudah semakin muram

pula, sekali lagi perasaan malu hinggap di sudut hati mereka. Bunyi

burung kedasih adalah bunyi yang dikenalnya sejak kecil. Dan

burung itu tidak akan dapat mengucapkan bunyi yang lain daripada

bunyi itu. Bahkan jantung mereka pasti akan berhenti berdegup

apabila mereka mengetahui, bahwa seekor burung kedasih bersiul

dengan nada suara burung kutilang.

Tetapi mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar

suara membelah sepi malam, “Aku sudah mengantuk.”

Ketiga kawannya menarik nafas.

“Hem,” Patalan mengeluh, “kau mengejutkan kami, Mahisa Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, kemudian sambil

tersenyum ia menjawab, “Ah, kalian membuat bayangan-bayangan

yang aneh di dalam hati kalian, sehingga kalian menjadi sangat

mudah terkejut.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mahisa Agni telah menebak

dengan tepat.

“Nah, sekarang marilah kita tidur.”

“Bersama-sama?” bertanya Jinan.

“Ya. Kenapa?”

“Bagaimana kalau ada bahaya yang mendatang selagi kita tidur?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Bagus,

marilah kita bergantian. Aku dan dua di antara kalian akan tidur

dahulu. Siapa yang pertama bangun?”

“Berdua-dua,” sahut Sinung Sari, “supaya ada kawan bercakapcakap.”

“Baik,” jawab Agni, “siapa yang tidur kemudian atau dahulu

bersama aku.”

“Aku,” jawab ketiganya hampir bersamaan.

Mahisa Agni menarik nafas panjang sekali. Ternyata mereka

masih saja dikuasai oleh kecemasan. Karena itu maka katanya, “Jadi

apakah kalian bertiga berjaga bersama aku dahulu, kemudian kalian

bertiga berjaga lagi sesudah itu bersama aku pula? Sehingga

dengan demikian kita semuanya tidak jadi beristirahat bergantian?”

Ketiga kawan Mahisa Agni menundukkan kepalanya, mereka

masing-masing ingin mendapat giliran bersama Mahisa Agni. Namun

mereka tertawa juga di dalam hati mendengar kata-kata Mahisa

Agni itu.

Tetapi tiba-tiba mereka mendengar Mahisa Agni itu berkata,

“Tidak perlu berjaga-jaga bergantian.”

“Kenapa?” bertanya Sinung Sari.

“Lihat, fajar telah membayang di langit. Sebentar lagi kita akan

melihat matahari terbit.”

Ketiga kawan Mahisa Agni menarik nafas dalam. Ketika mereka

hampir bersamaan mengangkat wajah mereka dan melihat warna

semburat merah membayang di ujung timur, hati mereka tiba pula

menjadi sejuk, seakan-akan mereka terbangun dari sebuah mimpi

yang menakutkan.

“Hem,” desah Patalan, “kita telah dibebaskan dari malam yang

mengerikan.”

Mahisa Agni tidak menjawab meskipun ia menjadi sedih melihat

kenyataan itu. Kenyataan tentang kawan-kawannya dan anak-anak

Panawijen pada umumnya. Namun yang dikatakannya adalah, “Ya,

kita telah melampaui malam yang akan sangat berkesan ini. Tetapi

pekerjaan kita belum selesai. Kita masih harus berjalan menyusur

sungai ini.”

Dada ketiga kawan Mahisa Agni berdesir.

“Kita meneruskan perjalanan?” bertanya Sinung Sari.

“Apakah kita akan kembali tanpa hasil apapun,” bertanya Mahisa

Agni kembali.

Sinung Sari terdiam. Mereka memang pergi untuk mencari

kemungkinan membuat bendungan. Bukan sekedar bertamasya di

padang Karautan. Namun hatinya masih juga dibayangi oleh

peristiwa semalam, meskipun kini di sudut hatinya telah tumbuh

keinginan untuk tidak sekedar menonton saja, apabila peristiwa itu

terulang kembali atas Mahisa Agni. Namun mereka masih belum

memiliki keberanian untuk itu.

Karena Sinung Sari tidak menjawab, maka Mahisa Agni

meneruskan, “Kita adalah duta dari rakyat Panawijen. Duta yang

harus dapat menyelesaikan pekerjaan kita. Bukan duta yang harus

melamar gadis-gadis cantik, bukan duta untuk menyampaikan bulu

bekti dan persembahan, tetapi kita adalah duta-duta yang akan

menentukan hidup dan mati rakyat kita. Duta yang akan menjadi

tempat bergantung bagi masa depan. Kalau kita yang muda-muda

ini gagal melakukan tugas kita, maka kita semuanya akan

tenggelam dalam kegelapan.”

Ketiga kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Mereka dapat

mengerti kata-kata itu. Mereka sependapat dengan Mahisa Agni,

tetapi keadaan mereka sebelumnya telah terlampau banyak

mempengaruhi sifat-sifat mereka, sehingga mereka tidak

mendapatkan keseimbangan antara tekad mereka dan keberanian

mereka.

Sementara itu langit menjadi semakin lama semakin terang.

Cahaya yang kemerah-merahan di timur, semakin lama menjadi

sesaat semakin jelas, dan kemudian matahari yang cerah mulai

menampakkan dirinya di punggung bukit.

“Kalian lihat matahari,” bertanya Mahisa Agni. Kembali ketiga

kawannya menengadahkan wajahnya. Cahaya yang masih kemerahmerahan

tercurah ke wajah-wajah mereka.

“Sebentar lagi kita akan berjalan kembali. Kalau kalian masih

ingin beristirahat, beristirahatlah sebentar. Mungkin kalian ingin

makan atau minum lebih dahulu.”

Ketiga kawannya mengangguk. Kini tiba-tiba terasa perut mereka

menjadi sangat lapar. Jinan segera mencoba mencari sisa-sisa bara

yang masih ada di perapian, dihembus-hembusnya bara itu dan

ditaruhkannya beberapa genggam rumput kering ke atasnya. Ketika

kemudian api menyala kembali meskipun kecil, mereka meletakkan

makanan yang mereka bawa ke atas api itu.

Sesudah mereka selesai dengan makan, maka segera Mahisa

Agni bersiap kembali untuk berangkat. Kawannya telah

mengumpulkan alat-alat yang mereka bawa sebagai bekal di

perjalanan. Bumbung-bumbung kecil, bahan-bahan makanan dan

beberapa macam barang yang lain.

Ketika matahari kemudian merayap semakin tinggi, maka

keempat orang itu kembali menempuh perjalanannya, dengan

segan ketiga kawan Mahisa Agni menyeret kaki-kaki mereka sambil

mengeluh di dalam hati. Tetapi apabila mereka teringat kepada

harapan yang disertakan kepada mereka oleh rakyat Panawijen,

maka hati mereka menjadi besar kembali.

Kini mereka berjalan menyusur sungai. Batu-batu padas

menjorok di sana sini, sehingga sekali-sekali mereka harus

berloncatan dari batu ke batu. Pohon-pohon perdu yang rimbun

kadang-kadang menghalangi mereka dan dengan pedang-pedang

mereka, mereka terpaksa menebasi ranting-ranting kecil dan bahanbahan

yang melintang bujur di hadapan mereka, dibeliti oleh

tumbuh-tumbuhan yang merambat dan bahkan berduri.

“Tebing ini semakin tinggi,” gumam Mahisa Agni.

“Ya,” sahut kawannya, “perjalanan kita akan sia-sia”

“Belum tentu,” jawab Agni, “mungkin di sebelah kita akan

menemukan dasar sungai itu naik pula.”

Kawannya tidak menjawab. Mereka kini tinggal berjalan saja di

belakang Mahisa Agni. Bahkan Jinan hampir-hampir telah menjadi

berputus asa dan kehabisan tenaga untuk berjalan terus.

Tetapi Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak

memperhatikan mereka itu. Ia berjalan terus, dan perhatiannya

bulat-bulat tertuju kepada kemungkinan mendapat tempat untuk

membuat bendungan.

Matahari semakin lama semakin tinggi. Panasnya seolah-olah

menembus sampai ke tulang. Keringat keempat orang yang berjalan

di bawah terik panas itu seakan-akan diperas dari dalam tubuhnya.

Namun sama sekali tidak tampak kelesuan di wajah Mahisa Agni.

Dengan tekad yang menyala sepanas api, Mahisa Agni berjalan

terus. Meskipun dahinya kadang-kadang tampak berkerut-kerut

apabila dilihatnya jarak antara bibir tebing dan dasar sungai menjadi

semakin jauh. Tetapi ia masih memiliki harapan seakan-akan tak

akan kunjung padam, meskipun kadang-kadang dirayapi keraguraguan.

Mereka berjalan terus di bawah panas cahaya matahari. Jinan

yang berjalan di ujung paling belakang sekali terdengar mengeluh.

Patalan dan Sinung Sari masih juga berjalan dengan hati yang

kosong dekat-dekat di belakang Mahisa Agni.

Sekali-sekali Mahisa Agni berhenti, menjenguk sungai di

sampingnya. Dari sela-sela rumput-rumput liar, batang-batang

perdu dan ilalang, Mahisa Agni melihat air yang bening gemericik

mengalir di antara batu-batu yang berserakan.

Tiba-tiba ia terhenti. Dengan serta-merta ia berkata kepada

kawannya, “Kau lihat, di sini batu berserakan melimpah-limpah.

Tetapi dengan muramnya Sinung Sari menjawab, “Tebing di sini

terlampau tinggi. Apakah kita dapat menaiki air setinggi ini?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang

pekerjaan itu hampir tidak mungkin dilakukan. Tetapi di sini batu

terlampau banyak, dan cukup besar-besar. Ada yang sebesar

kerbau, ada yang sebesar kambing. Dan ada juga yang jauh lebih

besar, namun hampir memenuhi dasar sungai itu, batu-batu sebesar

kepala kucing.

“Tetapi tebing terlampau tinggi,” gumam Mahisa Agni.

Sinung Sari menganggukkan kepalanya, “Ya. Terlampau tinggi

dan curam.”

“Marilah kita berjalan terus. Mudah-mudahan batu-batu itu akan

terdapat di sepanjang sungai ini.”

“Apakah kita akan berjalan lagi,” sela Jinan.

“Ya,” Mahisa Agni mengangguk.

Jinan mengeluh. Katanya, “Kita harus bermalam semalam lagi di

padang ini.”

“Tidak,” jawab Agni, “kalau tempat itu sudah kita temukan, kita

segera kembali.”

“Tetapi jarak kembali itu akan kita tempuh lebih dari satu hari

seperti kita datang.”

“Kita dapat berjalan terus. Kalau kita pulang, kita tidak perlu lagi

melihat sungai itu. Meskipun betapa gelapnya, kita akan tetap dapat

meneruskan perjalanan.”

“Kakiku akan patah,” sahut Jinan.

“Ya,” sambung Patalan dan Sinung Sari hampir bersamaan, “kita

akan lelah sekali.”

Mahisa Agni terdiam. Ia tidak dapat berkata apapun lagi.

Meskipun perjalanan ini sama sekal, tak berarti dibandingkan

dengan perjalanan yang pernah dilakukan, baik bersama gurunya,

maupun seorang diri, dan yang terakhir adalah perjalanannya ke sisi

seberang Gunung Semeru, maka apa yang dilakukannya kali ini

adalah sebuah tamasya yang tak berarti bagi sepasang kakinya,

namun ia tidak dapat menyangkal, bahwa ketiga kawan-kawannya

benar-benar telah kelelahan.

Meskipun demikian sejenak kemudian ia berkata, “Kita mencoba

sedikit lagi. Kita berjalan beberapa saat, mungkin dekat di atas ini

sungai menjadi semakin tinggi.”

Ketiga kawannya saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun

yang membantah.

“Apakah kita akan beristirahat dulu?”

Ketiga kawan-kawannya masih diam. Mereka dihadapkan pada

kebimbangan, kecemasan dan hampir keputusasaan. Kalau mereka

kini beristirahat, maka waktu yang akan dipergunakannya akan

bertambah panjang. Dengan demikian, mereka mungkin akan

bermalam dua malam lagi di padang rumput ini sebelum mereka

sampai ke Panawijen. Tetapi kalau mereka berjalan terus, kaki

mereka seolah-olah benar-benar telah akan patah.

Dalam kebimbangan itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Biarlah

kita berjalan sebentar lagi. Kalau kita masih juga belum menemukan

tempat itu, kita akan beristirahat.”

Kata-kata itu sama sekali bukanlah yang diharapkan oleh ketiga

kawan-kawannya. Beristirahat sekarang atau nanti, bagi mereka

akan berakibat sama. Memperpanjang perjalanan.

“Agni,” berkata Sinung Sari, “apakah kita masih akan membuangbuang

waktu, menyusuri sungai yang menjadi semakin dalam ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tak

ada pilihan lain Sinung Sari. Kita harus berjalan terus sampai kita

menemukan tempat itu.”

“Kita tidak akan berhasil,” potong Patalan, “bukankah tempat ini

menjadi semakin sulit bagi pembangunan sebuah bendungan.

Mungkin bekas bendungan yang lama itu lebih baik daripada tempat

ini.”

“Tidak,” bantah Agni, “seandainya kita tidak menemukan tempat

lain, maka tempat ini lebih baik dari bekas bendungan itu. Di sini

kita dapatkan batu berlimpah ruah. Kita tinggal membuat brunjungbrunjung

bambu sebanyak yang dapat kita buat. Kita isi brujung itu

dengan batu, dan kita susun bertimbun-timbun. Tetapi apa yang

dapat kita lakukan di bekas bendungan itu? Kita harus membuat

brujung, kita isi dengan sampah dan dedaunan di antara batu-batu

yang tidak terlampau banyak. Setiap kali kita masih harus

menimbuni dengan tanah yang akan selalu hanyut dibawa air.

Berapa banyak dedaunan dan tanah yang kita perlukan. Pepohonan

seluruh padukuhan itu kita tebang semuanya, agaknya masih belum

akan mencukupi. Setiap kali daun-daun itu membusuk, setiap kali

itu pula kita harus menambahnya.”

Ketiga kawan Mahisa Agni terdiam. Memang pekerjaan itu pun

tak mungkin dilakukannya. Tetapi untuk berjalan terus, mereka

benar-benar telah kehilangan gairah.

“Atau kita kembali dan tidak lagi berpikir tentang bendungan?”

bertanya Mahisa Agni, “kita biarkan Panawijen menjadi kering, dan

sawah-sawah kita menjadi kering pula tanpa membuat tanah

persawahan yang baru?”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun masih terbungkam. Pertanyaan

Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat dijawabnya. Bahkan

betapapun kecilnya, namun pertanyaan itu telah mempengaruhi

mereka pula. Bendungan itu adalah harapan bagi seluruh rakyat

Panawijen. Karena mereka tidak menjawab, maka Mahisa Agni

kemudian berkata, “Aku tahu bahwa kalian telah menjadi sangat

lelah. Aku pun menjadi sangat lelah pula. Tetapi aku merasa bahwa

seluruh rakyat Panawijen menitipkan harapan pada perjalanan kita

ini. Karena itu aku akan berjalan terus. Apabila kalian merasa,

bahwa kalian sudah tidak mungkin lagi meneruskan usaha ini, maka

aku persilakan kalian berjalan kembali. Aku tidak akan berjalan

kembali. Aku akan berjalan terus.”

Kawan-kawan Mahisa Agni itu terkejut mendengar kata-kata itu.

Dengan serta-merta Patalan menjawab, “Tidak Agni. Kami tidak

akan kembali.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia melihat kecemasan

membayang di wajah ketiga kawan-kawannya itu, “Mereka tidak

akan memilih,” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya. Ia tahu benar

bahwa ketiga kawan-kawannya itu tidak akan berani menempuh

perjalanan kembali tanpa dirinya.

Meskipun demikian ia masih bertanya, “Kenapa kalian tidak akan

kembali? Bukankah kalian telah hampir tidak percaya lagi bahwa

usaha ini akan berhasil?”

“Tidak. Bukan begitu. Kami masih mempunyai harapan yang

besar untuk menemukan tempat yang kita cari,” sahut Jinan dengan

wajah yang pucat.

Mahisa Agni diam sesaat. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kalian

tidak berjalan terus karena keyakinan kalian bahwa usaha ini akan

berhasil, tetapi kalian berjalan terus kalian tidak berani berjalan

kembali.”

Serentak ketiga kawan Mahisa Agni mengangkat wajahnya.

Mereka pandangi wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun

sesaat kemudian wajah-wajah itu tertunduk lesu. Tebakan itu tepat

seperti sebuah cermin yang dihadapkan di muka wajah hati masingmasing.

Wajah-wajah yang pucat dan ketakutan.

Mahisa Agni melihat ketiga kawannya itu tertunduk. Wajah

mereka yang pucat menjadi semakin pucat dan suram. Tiba-tiba

timbullah iba di hatinya. Katanya, “Sudahlah. Aku hanya ingin

bergurau. Sekarang marilah kita beristirahat sejenak. Mudahmudahan

kita akan mendapatkan kesegaran kembali.”

Mereka, kawan-kawan Mahisa Agni tidak membantah. Ketika

kemudian Mahisa Agni menjatuhkan dirinya di bawah pohon-pohon

perdu di tepi tebing sungai, maka mereka pun duduk pula di

sampingnya.

Dengan tanpa gairah, mereka kemudian mencoba mengisi perut

mereka dengan makanan yang mereka bawa dari padukuhan.

Namun ketika mereka minum beberapa teguk, maka bumbungbumbung

mereka telah menjadi kering kembali

“Kita perlu air,” desis Mahisa Agni.

Ketiga kawannya mengangguk serentak.

“Ya,” sahut Sinung Sari, “aku haus sekali.”

Tetapi mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka

memperhatikan tebing sungai yang curam. Tebing yang mengeras

karena batu padas yang basah.

“Tebing ini sangat curam dan licin,” gumam Mahisa Agni.

Ketiga kawannya hanya dapat menganggukkan kepala mereka

tanpa dapat memberikan pertimbangan apapun. Namun dalam

keadaan yang demikian wajah-wajah mereka menjadi semakin

putih. Seakan-akan darah mereka terhenti di leher mereka sebelum

merayap ke wajah-wajah itu.

Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Dipandanginya tebing yang

curam dengan beberapa jenis perdu yang tumbuh hampir rapat.

Tetapi Mahisa Agni tidak yakin, bahwa akar-akar perdu itu cukup

kuat apabila ia mencoba menuruni tebing sambil berpegangan pada

batangnya. Apabila ternyata akar perdu itu terlepas, maka ia pasti

akan terlempar jatuh di atas batu-batu padas yang menjorok

runcing-runcing di pinggir sungai itu. Tetapi apabila terpandang

olehnya pantulan sinar matahari di atas air yang jernih itu, lehernya

serasa terbakar karena kehausan.

“Hem,” desahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Marilah kita berjalan

kembali. Mudah-mudahan kita segera mendapatkan tebing yang

dapat aku turuni. Aku pun haus sekali.”

Mereka bertiga segera berdiri dan berjalan kembali tersuruksuruk

di belakang Mahisa Agni. Kini mereka bersama-sama,

kehausan di bawah terik sinar matahari. Namun tekad Mahisa Agni

yang membaja telah menyeretnya untuk berjalan terus.

Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketiga kawannya

menjadi semakin lelah dan lemah. Jinan seolah-olah sudah tidak

mampu untuk berjalan. Kakinya yang lemah itu diseretnya sambil

mengeluh di dalam hati, “Apakah aku akan mati di padang rumput

ini?”

Patalan dan Sinung Sari masih agak baik keadaannya daripada

Jinan. Tetapi matahari serasa membakar tubuhnya. Perasaan haus

yang sangat telah menyerangnya, sehingga seakan-akan ludahnya

menjadi kering dan lehernya menjadi lekat.

Berkali-kali mereka menjilat-jilat bibir-bibir mereka. Tetapi bibir

itu pun telah menjadi kering pula. Sedang di bawah kaki-kaki

mereka, terdengar gemericik air yang bening.

“Agni,” desis Patalan yang tidak dapat menahan diri, “aku haus

sekali.”

Langkah Mahisa Agni terhenti. Sekali lagi ia memandangi

bumbung kecil yang tersangkut diikat pinggangnya. Bumbung itu

telah kosong, bahkan telah kering sampai ke dasarnya.

Sekali ia menarik nafas. Kini disadarinya bahwa ia tidak akan

dapat berjalan terus. Karena itu, sekali lagi dipandanginya tebing

yang curam itu, apabila ia menemukan kemungkinan untuk merayap

turun.

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Tebing itu ternyata terlalu

curam, seakan-akan sama sekali tidak memberi kesempatan

kepadanya untuk mendapatkan pancadan. Tetapi untuk berjalan

tanpa air, agaknya benar-benar tidak mungkin bagi ketiga kawankawannya.

Sesaat Mahisa Agni berdiri mematung. Sementara itu ia masih

saja mendengar kawan-kawannya berdesah. Ketika ia berpaling

memandangi wajah-wajah itu, Mahisa Agni melihat, bahwa ketiga

kawannya itu benar-benar telah kehausan. Karena itu ia menjadi

bingung.

“Bagaimana Agni,” terdengar suara Sinung Sari serak, “apakah

kau dapat mengambil air untuk kita?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Tebing itu terlalu curam,” desahnya.

“Lalu bagaimana?” desak Jinan. Anak itu kini telah duduk dengan

lesunya di atas rerumputan kering.

“Berteduhlah di bawah perdu itu,” berkata Mahisa Agni kepada

kawan-kawannya.

“Kami tidak kepanasan,” jawab Patalan, “tetapi kami kehausan.”

“Dengan berteduh, maka badan kita akan merasa segar. Mungkin

rasa haus itu pun akan berkurang.”

“Tidak. Kami perlu air.”

Mahisa Agni menjadi bertambah cemas. Ketiga anak-anak muda

itu kini benar-benar menjadi seperti anak kecil yang sedang

merengek minta minum kepada ayahnya. Mereka sama sekali bukan

kawan yang baik untuk menghadapi kesulitan dan mencoba

mengatasinya. Namun Mahisa Agni tidak sampai hati untuk

mengatakannya kepada mereka. Sebab Mahisa Agni mengetahui

sebab dan pengaruh yang telah membentuk anak-anak muda

Panawijen tidak mampu mengatasi kesulitan.

Kini Mahisa Agni tidak boleh hanya sekedar mencari kesalahan

dan alasan-alasan untuk menghindarkan diri dari kewajibannya

menyelamatkan kawan-kawannya itu. Kembali ia berpikir dan

kembali ia merenungi tebing. Beberapa pepohonan tampak tumbuh

melekat pada batu-batu padas namun ia tidak yakin, bahwa akarakarnya

mampu untuk menahan berat tubuhnya.

Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat dadanya. Setelah berdiam diri

sejenak, maka katanya lantang, “Kalian mau menolong aku turun?”

“Tentu,” sahut mereka tanpa berpikir.

“Lepaslah kain panjangmu.”

Ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Tetapi mereka

sudah sangat haus, sehingga mereka menjawab serentak, “Baik,

adalah dengan demikian kau mendapatkan air. Apakah kami harus

menukar air itu dengan kain kami?”

Dahi Mahisa Agni berkerut. Apalagi ketika ia mendengar Sinung

Sari berkata, “Agni. Di rumah kami masih mempunyai kain yang

lebih baik dari ini. Nanti aku akan menukarnya dengan yang baik

itu.”

“Terima kasih,” sahut Agni. Betapa ia menjadi jengkel mendengar

jawaban-jawaban itu. Tetapi sekali lagi disadarinya bahwa pikiran

ketiga kawannya itu agaknya telah benar-benar terganggu oleh

perasaan haus yang mencengkam mereka.

“Aku memang memerlukan kain-kain itu,” berkata Mahisa Agni.

“Tetapi aku tidak akan menukarnya dengan air. Aku minta kalian

menyambung-nyambung kain itu. Empat kain dengan yang aku

pakai, aku kira akan dapat menolong aku turun ke bawah di

samping akar-akar perdu di sepanjang tebing itu. Tetapi jangan

sayang kalau kain itu masih harus dibelah supaya panjangnya

mencapai dasar.

Sekali lagi ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Dan

terdengar Mahisa Agni berkata pula, “Kalau kalian sayang akan kain

itu, maka kalian tidak akan mendapatkan air, sebab aku tidak

mempunyai cara lain untuk turun. Nanti apabila kita kembali ke

padukuhan, biarlah kita memasuki rumah kita masing-masing di

malam hari supaya tidak terlihat oleh siapa pun bahwa kain kita

sudah terbelah.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun segera menyetujui. Mereka

sudah tidak tahan lagi menderita haus yang amat sangat. Sedang

matahari di langit masih saja memancarkan panasnya, seakan-akan

ingin membakar seluruh bola bumi.

Segera mereka berempat melepaskan kain-kain panjang mereka.

Kain itu pun kemudian disobek di tengah-tengah membujur, dan

kemudian satu sama lain diikat dalam satu jalur yang panjang.

“Mudah-mudahan aku dapat sampai ke dasar sungai dan

memanjat naik kembali lewat sambungan kain itu. Pegang ujungnya

kuat-kuat. Kalau kalian bertiga gagal menahan berat badanku, dan

aku terpelanting jatuh, maka kalian pun akan kehausan di sini.

Mungkin kalian akan mati pula seperti aku. Karena itu kalian bertiga

harus mampu menahan berat badanku apabila kalian benar-benar

ingin minum.”

Kata-kata itu merupakan ancaman yang sangat mereka takuti.

Apabila mereka gagal menahan tubuh Mahisa Agni, mereka pasti

akan mati kehausan, bukan mati terpelanting ke dalam jurang.

Karena itu, maka mereka berjanji kepada diri sendiri bahwa

mereka akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian

akan merupakan dorongan bagi mereka untuk mengerahkan sisasisa

kekuatan mereka. Demikian besar nafsu mereka untuk

mendapatkan air. Maka tenaga mereka pun seakan-akan menjadi

bertambah-tambah kuatnya.

Mereka bertiga dengan hati-hati memegangi ujung dari kain yang

bersambungan itu, sedang Mahisa Agni perlahan-lahan merayap

turun. Kaki-kakinya yang kuat, mencoba mencari pancadan yang

dapat memperingan berat tubuhnya di atas batu-batu yang

menjorok dan pada pokok batang-batang perdu. Ternyata di antara

batang-batang perdu itu ada juga yang cukup kuat untuk menahan

berat badannya.

Dengan sangat hati-hati akhirnya Mahisa Agni dengan selamat

dapat mencapai dasar sungai itu. Dasar yang keras. Di antara batubatu

yang berserakan hampir memenuhi dasar sungai, maka di

tepian, batu-batu padas yang runcing menjorok di sana sini.

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Sekali ia

menengadahkan kepalanya. Dilihatnya ketiga kawannya

menelungkup di atas tebing melihatnya dengan penuh harapan.

Ketiga kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak membantunya

dalam kesulitan, bahkan seakan-akan mereka adalah momonganmomongan

yang hanya dapat mengganggu saja.

Tetapi mereka bertiga telah terlanjur dibawanya sampai ke

tempat ini. Apabila terjadi sesuatu atas mereka, maka orang-orang

Panawijen akan menjadi mudah berprasangka terhadapnya. Karena

itu, maka ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan ketiga

kawan-kawannya itu.

Kini Mahisa Agni berpaling memandangi arus sungai yang bening

jernih. Suaranya gemericik di antara batu-batu yang berserakan

besar kecil.

Ketika Mahisa Agni memandang lurus ke depan, dilihatnya

sebuah jalur jurang yang menganga panjang. Seolah-olah sebuah

jalur perak yang putih di antara sepasang dinding baja yang tegak

sebelah menyebelah.

Ketika ia memandang jauh ke depan, tiba-tiba Mahisa Agni itu

tertegun. Wajahnya menegang dan darahnya menjadi seolah-olah

beku. Jauh di hadapannya, di ujung jalur sungai yang keputihan,

dilihatnya sebuah dinding yang putih mengkilap.

Dengan sigapnya Mahisa Agni meloncat semakin menepi sungai

itu. Bahkan kemudian ia menceburkan diri, dan berjalan ke tengah.

Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi celananya menjadi basah

kuyup oleh arus air hampir setinggi perutnya.

Ketiga kawannya yang melihat Mahisa Agni berjalan ke tengah

sungai menjadi heran. Apakah yang dilakukannya di sana? Bahkan

Patalan yang kehausan berteriak tidak sabar, “Agni. Apakah kau

menunggu aku mati?”

Mahisa Agni masih berdiri dengan tegangnya. Bahkan setelah ia

bersentuhan dengan air ia menjadi lupa akan perasaan hausnya.

Semula ia hanya ingin menahan diri untuk tidak tergesa-gesa

meneguk air, supaya perutnya tidak menjadi sakit dan gembung.

Namun kini bahkan ia tidak lagi mengingat perasaan hausnya itu.

“Agni!” teriak Sinung Sari dan Jinan hampir bersama.

Mahisa Agni terkejut mendengar teriakan itu, seolah-olah ia

sedang terbangun dari sebuah mimpi.

“Agni, cepat sebelum aku mati.”

Kini Agni berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Tetapi ia

tidak segera mengisi bumbungnya. Dengan lincahnya ia meloncat ke

tepian sambil berteriak, “Naik, naiklah menurut arus air.”

“He,” sahut Patalan.

“Naiklah. Lihatlah beberapa ratus langkah di atas kita sepanjang

sungai ini.”

“Apa,” teriak Jinan, “maksudmu supaya aku berlari-lari dan mati

karena leherku tersekat kering.”

“Tidak, cepat berlari beberapa ratus langkah.”

“Apakah kau gila Agni. Ada apa di atas jalur sungai itu?”

“Apakah kalian tidak melihat,” sahut Agni seperti orang yang

dilanda oleh kegelisahan, “pergilah cepat.”

Kawan-kawannya pun menjadi gelisah dan heran. Bahkan

mereka menjadi bingung.

“He,” teriak Agni, “apakah kalian tidak melihat?”

“Kami tidak melihat apa-apa selain sungai itu,” jawab kawankawannya.

“Dan tidak mendengar?”

“Tidak.”

Mahisa Agni terdiam sesaat. Dimiringkannya kepalanya dalam

keasyikan mendengarkan sesuatu, “Aku mendengarnya meskipun

lamat-lamat.”

“Kau mendengar apa?” bertanya Sinung Sari.

“Pergilah menyusur sungai ini. Aku akan lewat di bawah.”

“Ya, tapi ke mana dan kenapa?”

“Jeram. Apakah, kau tidak mendengar suara air itu terjun? He. Di

atas kita ada jeram yang cukup tinggi. Tebing sungai di sebelah

jeram itu pasti tidak akan terlalu tinggi. Marilah kita lihat apakah kita

dapat membuat bendungan di atasnya.”

Kawan-kawannya yang kehausan itu pun tiba-tiba terpengaruh.

Jeram? Kalau benar kata Mahisa Agni, maka mereka akan

menemukan dasar sungai yang cukup dangkal, sehingga mereka

akan dapat langsung terjun ke dalam air dan minum sepuaspuasnya.

Karena itu, maka tiba-tiba kekuatan mereka serasa

tumbuh kembali. Harapan untuk mendapatkan air sebanyak yang

diinginkan, akan terpenuhi.

Tiba-tiba seperti disentakkan oleh tenaga ajaib mereka serentak

berdiri dan berlari ke hulu. Kain panjang yang bersambung-sambung

itu mereka tarik saja seperti ekor yang panjang sekali, yang kadangkadang

tersangkut pada batang perdu. Karena itu, maka kain-kain

mereka menjadi tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting.

Bahkan sekali-sekali mereka tersentak dan hampir-hampir jatuh

menelentang karena kain itu tertahan oleh sebuah sangkutan yang

agak kuat. Namun betapapun juga mereka masih cukup sadar,

bahwa kain itu harus tetap mereka seret bersama mereka.

Kini panas yang terik seolah-olah tidak terasa lagi. Mereka

sedang digerakkan oleh tenaga ajaib yang demikian saja tumbuh

dari desakan harapan yang kuat. Seakan-akan mereka telah

digerakkan bukan oleh diri mereka sendiri. Namun mereka sama

sekali tidak menyadarinya, bahwa kekuatan-kekuatan yang demikian

itulah, yang lazim disebut kekuatan-kekuatan cadangan. Kekuatankekuatan

yang bagi mereka yang terlatih dapat dimanfaatkan setiap

saat dengan penuh kesadaran. Tetapi bagi mereka yang tidak

memeliharanya dan bahkan tidak menyadarinya, kekuatan itu hanya

akan timbul dalam saat-saat tertentu justru di luar kehendak wajar

dan kesadaran.

Demikian mereka bertiga berlari seperti sedang berpacu,

berkejar-kejaran. Sedang jauh dibawa dinding tebing sungai itu

Mahisa Agni pun berlari jauh lebih kencang dari mereka bertiga,

sehingga Mahisa Agni yang pertama-tama sampai ke bawah jeramjeram

itu. Namun Mahisa Agni sama sekali tidak puas melihat jeramjeram

itu dari bawah. Tidak puas mendapat siraman air sejuk dingin

yang gemercik jatuh di atas batu-batu. Yang telah memantulkan

sinar matahari dalam tujuh warna seperti, warna pelangi. Ingatlah

Mahisa Agni saat itu sedang terpancang pada bendungan. Karena

itu, maka segera ia berusaha mencari kemungkinan untuk memanjat

tebing yang kini tidak securam tebing-tebing di sepanjang yang

pernah dilaluinya.

Meskipun demikian untuk memanjat tebing itu sama sekali bukan

pekerjaan yang mudah. Mahisa Agni harus mendapat pancadan

pada batu-batu padas yang menjorok tidak lebih dari tebal telapak

kakinya. Sedangkan tangannya harus berpegangan pada batu-batu

yang serupa atau pada akar-akar perdu.

Dengan hati-hati Mahisa Agni merayap naik. Tubuhnya menjadi

kotor oleh lumpur dan tanah yang hitam kemerah-merahan.

Tetapi Mahisa Agni pernah merayap lereng gunung semeru.

Merayap masuk ke dalam gua di lereng gunung itu. Meskipun apa

yang dilakukan kali ini tidak lebih mudah dari memanjat dinding

Gunung Semeru, namun tebing yang dihadapinya kali ini jauh lebih

rendah dari lereng gua di kaki gunung itu. Karena itu, meskipun

tenaga Mahisa Agni yang lelah itu menurut ukuran kawankawannya,

namun ia dapat melakukannya dengan baik dan cepat.

Ketika ia sampai ke atas jeram-jeram itu, maka yang pertama

dilihatnya adalah sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih.

Tepian sungai itu, yang terdiri dari tanah-tanah padas, menanjak

pada sebuah tebing sungai itu pula, di sisi Padukuhan Panawijen.

Karena itu, maka yang pertama-tama meledak dari bibir Mahisa Agni

adalah, “Terpujilah Yang Maha Agung. Di sini kita akan membangun

bendungan itu.”

Sejenak terasa debar jantung Mahisa Agni seolah-olah berhenti.

Betapa ia merasakan karunia tiada taranya, karena ia telah dituntun

untuk menemukan jeram itu. Dengan demikian, maka sungai di atas

jeram itu, merupakan tempat yang tepat untuk membangun

bendungan seperti yang diimpikannya.

“Hem,” gumam Mahisa Agni kemudian, “ternyata apa yang

dikatakan Empu Purwa itu tepat benar. Di padang ini kita akan

dapat membangun sebuah bendungan, sebuah saluran yang baik

dan tanah persawahan menurut perencanaan yang baik pula.

Apakah sebelumnya guru telah melihat daerah ini pula?”

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara parau di

belakangnya, “Air. Air. Kita mendapatkan air.”

Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketika kawannya berlari

tertatih-tatih. Sinung Sari masih menyeret kain panjang mereka

yang sudah tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting perdu.

Namun ketika dilihatnya air sungai yang jernih itu, tiba-tiba kain itu

dilepaskannya. Dengan penuh gairah dan nafsu ia meluncur

bersama Jinan dan Patalan. Mata mereka seolah-olah menjadi liar

dan lidah mereka menjilat-jilat bibir.

Mahisa Agni menjadi cemas melihat mereka itu. Seandainya

mereka dibiarkannya, maka mereka pasti akan langsung

menyurukkan kepala mereka ke dalam air karena perasaan harus

yang menyekat leher. Dengan demikian, maka mungkin mereka

akan mendapat bahaya karenanya. Air yang tiba-tiba saja mengalir

lewat kerongkongan mereka tanpa diperhitungkan akan dapat

mengganggu pernafasan mereka, dan kemudian adalah mungkin

sekali mereka akan minum terlalu banyak.

Karena itu ketika Mahisa Agni melihat mereka semakin dekat

maka segera ia berteriak, “Berhenti. Berhentilah sebentar.”

Ketiga anak-anak muda itu berpaling sesaat, namun segera

mereka berlari semakin kencang.

“Berhenti,” teriak Mahisa Agni sambil berlari di samping mereka.

Tetapi mereka tidak mendengar suara itu. Mereka berlari terus

dan dengan mata yang liar memandangi aliran air yang gemericik.

Bahkan jarak yang sudah semakin dekat itu seakan-akan tidak

pernah dapat dicapainya.

“Berhenti,” teriak Mahisa Agni sekali lagi.

Namun kali ini pun mereka seolah-olah sama sekali tak

mendengarnya. Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Beberapa

langkah, ia berlari mendahului. Kini mereka telah sampai ke tebing

sungai. Beberapa saat lagi mereka berloncatan turun ke tepian.

Tetapi karena tubuh-tubuh mereka yang lemah, maka mereka

bertiga jatuh berguling bersama-sama. Tetapi usaha mereka untuk

segera mendapat air sama sekali tidak terpengaruh. Meskipun

mereka kini telentang di tepian, namun dengan penuh nafsu mereka

merayap-rayap seperti ular menuju ke pinggir sungai. Luka-luka

yang timbul pada tubuh mereka, sama sekali tak terasa.

“Jangan minum dengan menyurukkan kepala kalian ke dalam

air,” minta Mahisa Agni, “duduklah, dan ambillah air dengan

tangan.”

Seruan itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian mereka.

Beberapa langkah lagi mereka akan dapat memasukkan mulut

mereka langsung ke dalam air.

Tiba-tiba Mahisa Agni meloncat maju di hadapan mereka, tepat

di pinggir sungai. Kakinya membenam setinggi mata kaki di dalam

air. Dengan serta-merta dicabutnya pedangnya dan diacungkannya

kepada ketiga kawan-kawannya yang hampir saja membenamkan

wajah-wajah mereka.

Ketiga kawan-kawannya itu terkejut. Betapapun juga ketika mata

mereka menatap tajam pedang Mahisa Agni, hati mereka berdebardebar

dan karena itu tanpa mereka sengaja, maka mereka pun

berhenti tepat ketika setapak lagi mereka telah menyentuh air.

Tetapi tajam pedang Agni itu pun hanya sejengkal saja di hadapan

hidung mereka.

“Duduk!” terdengar perintah Mahisa Agni.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu telah hampir kehilangan

perasaan mereka. Namun dengan ujung pedang Mahisa Agni

berhasil memaksa mereka untuk duduk.

“Nah, minumlah dengan cara yang baik supaya kalian tidak mati

justru ketika kalian menemukan air.” minta Agni, “ambillah air

dengan kedua telapak tanganmu, dan minumlah air itu sedikit demi

sedikit.”

Mahisa Agni kemudian melihat mereka bertiga dengan tergesagesa

mengambil air di atas. telapak tangan masing-masing dan

langsung dihisapnya. Sekali dua kali, namun mereka seakan-akan

tidak menjadi puas. Tetapi ketika mereka mengerling, mereka masih

melihat pedang Agni seolah-olah telah melekat di ujung hidung

mereka.

“Cukup!” bentak Agni sesaat kemudian.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mendengar pula bentakan

itu, tetapi leher mereka serasa masih saja kering. Karena itu maka

mereka sama sekali tidak menghiraukannya seandainya Mahisa Agni

tidak menggerakkan pedangnya sambil mengulangi, “Cukup!”

Ketiganya terpaksa berhenti minum. Ditatapnya wajah Mahisa

Agni dengan wajah yang memancarkan kekecewaan hati mereka.

Bahkan dengan terbata-bata Sinung Sari bertanya, “Apakah artinya

ini Agni. Apakah kau benar-benar ingin melihat kami kehausan?”

“Bukankah kalian telah minum?” bertanya Agni.

“Hanya seteguk.”

“Tidak. Coba sekarang kalian tenangkan hati kalian. Cobalah

menyadari keadaan. Apakah kalian masih terlalu haus?”

“Ya. Kami masih terlalu haus,” sahut Patalan.

“Tetapi kalian telah minum dan telah membasahi kerongkongan

kalian. Sekarang datang giliranku untuk minum.”

“Agni, air sungai ini tidak akan habis kita minum bersama-sama.

Minumlah dan biarlah kami minum.”

“Tidak, sekarang akulah yang akan minum. Kalau kalian masih

juga akan minum, maka aku bunuh kalian di sini.”

Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi kecewa. Sangat kecewa. Tibatiba

timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka yang masih

belum terlampau jernih. Apakah memang Mahisa Agni ingin

membunuh mereka?

Kini mereka melihat bagaimana Mahisa Agni itu minum. Ia

berlutut di pinggir sungai itu. Dengan tangannya ia mengambil air

sungai yang melimpah-limpah itu, dan dihirupnya seteguk-seteguk.

Tidak lebih dari tiga kali. Kemudian ia pun berhenti minum, dan

berpaling kepada kawan-kawannya.

Jinan. Patalan dan Sinung Sari melihat cara Mahisa Agni itu

minum perlahan-lahan dan tidak terlampau banyak meskipun tak

ada yang mencegahnya. Tidak lebih dari yang mereka minum itu

pula. Sehingga dengan demikian, timbullah berbagai pertanyaan

dalam hati mereka.

“Apakah kalian masih haus?” bertanya Agni tiba-tiba. Ketiga

kawan-kawannya mengangguk.

“Tunggulah sesaat. Nanti kalian akan dapat minum lagi sepuaspuasnya.

Air ini tidak akan habis.”

“Kenapa nanti?”

“Supaya kalian tidak mati.”

Ketiga kawan-kawan Agni itu menarik nafas dalam-dalam.

Perlahan-lahan disadarinya ketergesa-gesaannya. Kalau Mahisa Agni

tidak mencegahnya, mungkin perut mereka kini telah menjadi

gembung. Atau mungkin air yang diteguknya akan mengalir tidak

lewat jalan yang sewajarnya di dalam kerongkongan mereka karena

masih belum siap untuk dialiri air sebanyak-banyaknya setelah

hampir melekat karena kekeringan.

Kini mereka baru mengerti, apakah maksud Mahisa Agni

sebenarnya. Dan karena itu maka terasa pula, kerongkongan

mereka tidak lagi terlalu kering. Ketika mereka kemudian menjadi

tenang, barulah mereka berkata, “Terima kasih Agni. Kau telah

mencegah kami, sehingga kami tidak mendapat bencana karena

perasaan haus yang tak tertahankan.”

Mahisa Agni tersenyum. Terbayang di wajahnya sinar matanya

yang cerah. Sambil mengangguk ia berkata, “Kalian telah kehilangan

ketenangan dan kejernihan otak kalian karena perasaan haus itu.

Tetapi kini kalian telah menyadarinya.”

“Ya,” jawab mereka serentak.

“Kini, kalian harus mengingat kepentingan kalian datang ke

tempat ini. Bukan sekedar mencari minum. Tetapi ada yang lebih

penting. Ternyata yang pertama-tama kalian ingat waktu kalian

sampai ke tempat ini adalah air untuk minum. Bukan bentuk sungai

ini.”

“He,” ketiga kawan-kawannya tersentak mendengar keterangan

itu. Tiba-tiba mereka dengan nanar memandang keadaan di

sekelilingnya. Tebing sungai ini tidak terlampau dalam, bahkan

cukup rendah. Karena itu maka terloncatlah dari mulut mereka.

“Tebing ini cukup rendah. Kita akan dapat menaikkan airnya dengan

mudah. Agni, di sini kita dapat membuat bendungan itu.”

Mahisa Agni tersenyum kembali. Dengan puas ia berkata, “Nah,

kenalilah tempat ini baik-baik. Bukan sekedar tempat untuk

mendapatkan minum. Tebing ini memang cukup rendah, sehingga

kalian yang meloncat terjun sama sekali tidak mengalami cedera,

selain lecet-lecet di beberapa tempat pada tubuh kalian.”

Ketiga kawannya tersenyum pula. Serentak mereka berdiri.

Memang kini mereka merasa bahwa tubuh-tubuh mereka menjadi

pedih, namun kegembiraan mereka ternyata telah melonjak,

sehingga mereka sama sekali tidak merasakannya.

“Agni,” berkata Sinung Sari, “bukankah tempat ini amat

baiknya?”

“Ya,” jawab Agni, “tebingnya rendah, dan di sekitar tempat ini

cukup banyak bahan yang dapat kita pergunakan. Batu dan

dedaunan, ranting-ranting kecil dan sebagainya. Kita akan dapat

segera membangun bendungan itu di sini.”

Penemuan itu ternyata telah melenyapkan segala perasaan sakit

dan lelah. Mereka merasa bahwa tugas mereka berhasil.

Menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan.

Karena itu maka kini mereka dapat beristirahat dengan tenang,

tanpa takut lagi akan kehausan. Sebab di hadapan mereka, air yang

jernih mengalir melimpah-limpah.

Namun dalam pada itu, timbul pulalah gangguan yang lain bagi

ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Matahari ternyata semakin

condong ke barat, dan bahkan menjadi terlalu rendah.

“Agni. Bagaimanakah dengan kita kini. Apakah kita akan segera

kembali?” bertanya Jinan.

“Apakah kalian tidak lelah?” bertanya Agni.

Jinan terdiam. Ia memang lelah sekali. Tetapi perasaan cemas

dan takut kembali merayap di hatinya.

“Kita bermalam di sini,” berkata Agni, “jangan takut. Bukankah

hantu Karautan telah tidak ada lagi. Bukankah Kuda Sempana pun

telah terusir?”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala

mereka, tetapi tampaklah bahwa wajah-wajah mereka sama sekali

tidak meyakinkan kebenaran kata-kata Mahisa Agni.

Mahisa Agni pun menyadarinya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi.

Dengan tenangnya ia membaringkan dirinya pada sisa-sisa sinar

matahari yang telah menjadi semakin rendah untuk mengeringkan

celananya yang basah kuyup dan kotor karena lumpur. Namun pada

bibirnya membayang kepuasan hatinya bahwa usahanya selama dua

hari ini, kini telah berhasil. Meskipun dengan susah payah dan

berbagai kesulitan, tetapi apabila kemudian di tempat ini benarbenar

dapat dibangun sebuah bendungan, maka manfaat dari jerih

payahnya adalah berlipat-lipat.

Mahisa Agni yang lelah tetapi mendapat kepuasan hati itu pun

bahkan kemudian tertidur tetap. Meskipun celananya masih basah

dan tubuhnya dikotori dengan butiran-butiran batu padas dan

lumpur.

Ketiga kawan-kawannya bahkan menjadi sangat gelisah. Tetapi

mereka tidak berani membangunkan Mahisa Agni. Selama matahari

masih bersinar, mereka masih dapat menahan kecemasan mereka.

Tetapi ketika cahaya kemerahan di ujung barat semakin lama

menjadi semakin kelam, dan burung-burung liar telah beterbangan

pulang ke sarang, maka mereka tidak dapat lagi menahan

kegelisahan mereka. Meskipun tidak langsung, namun mereka pun

mencoba membuat suara-suara yang akan dapat membangunkan

Mahisa Agni.

Ternyata usaha mereka itu pun berhasil. Mereka merasa

tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni menggeliat dan

kemudian bangkit duduk di samping mereka.

“Senja,” desisnya.

“Ya. Senja hampir lampau,” jawab Sinung Sari.

“Alangkah segarnya tubuhku kini. Apakah kalian tidak ingin

tidur?”

“Sebenarnya. Tetapi kami menjadi gelisah. Kami tidak akan dapat

tidur bersama-sama.”

“Kalau demikian, apabila kalian inginkan, tidurlah. Aku akan

berjaga-jaga setelah aku mendahului tidur nyenyak.”

Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika

mereka melihat Mahisa Agni berdiri, terentak mereka bertanya, “Ke

mana Agni?”

“Mencari rumput-rumput kering dan ranting?”

“Untuk apa?”

“Perapian.”

“Jangan,” teriak mereka bersama-sama, “tempat kita akan segera

diketahui orang. Mungkin Kuda Sempana yang datang membawa

kawan-kawannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat

dengan mereka, meskipun hanya disimpannya di dalam hati, supaya

kawannya itu tidak menjadi semakin cemas. Bahkan katanya, “Hem.

Kalian masih saja dibayangi oleh ketakutan.”

Ketiga kawan-kawannya tidak menjawab. Namun mereka merasa

agak tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni seakan-akan tidak

menjadi gelisah sama sekali meskipun senja menjadi semakin gelap.

Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali. Tetapi ketika angin

senja menyentuh tubuhnya terata alangkah dinginnya. Dan tiba-tiba

diingatnya kain panjangnya yang masih bersambung sambungan

dengan kain kawan-kawannya. Karena itu, maka segera kembali ia

berdiri.

“Ke mana Agni,” serentak kawan-kawannya pun bertanya

kembali.

“Kain panjang kita,” sahut Agni.

Ketiga kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mahisa Agni

kemudian berjalan memungut kain panjangnya yang terbelah dan

terikat satu sama lain. Dicobanya untuk mengurai ikatan itu. Tetapi

ternyata kemudian bahwa kain itu telah hampir menjadi compangcamping.

Meskipun demikian, dipakainya juga kain yang telah

berlubang-lubang dan kotor itu untuk menutup badannya menahan

dingin. Ketiga kawan-kawannya pun berbuat serupa. Hanya karena

itu, maka badan mereka menjadi gatal-gatal.

Meskipun kemudian Mahisa Agni tetap duduk berjaga-jaga,

namun ketiga kawan-kawannya tidak segera dapat tertidur. Betapa

perasaan lelah merayapi segenap tulangnya, namun perasaan

cemas dan gelisah ternyata telah menindasnya. Sekali-sekali terasa

angin yang sejuk menghanyutkan mereka sekejap-sekejap, tetapi

segera mereka tergagap bangun. Seakan-akan sesuatu telah siap

untuk menerkam mereka satu demi satu. Namun ketika terpandang

oleh mereka dalam keremangan malam Mahisa Agni masih duduk

memeluk kedua lututnya, maka mereka pun menarik nafas dalamdalam.

Ujung malam itu semakin lama menjadi semakin dalam. Langit

yang biru gelap terbentang di atas padang rumput yang luas

bertaburkan bintang-bintang yang semakin lama seolah-olah

menjadi semakin banyak. Sehelai-sehelai awan yang putih

dihanyutkan oleh angin perlahan-lahan mengalir ke utara.

Hati kawan-kawan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat

tenteram. Di kejauhan kembali terdengar suara burung kedasih

sayup-sayup melas asih. Seperti suara tangis biyung yang

kehilangan anaknya tersayang. Sayup-sayup menyusup di hati di

antara desir angin yang lembut.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mengeluh di dalam hati.

Mereka belum pernah mengalami pekerjaan seberat ini. Bukan saja

tenaga mereka yang terperas habis, tetapi juga perasaan mereka

yang gelisah, cemas, takut dan segala macam perasaan yang

mengerikan.

Sekali-sekali mereka mencoba juga menghibur diri mereka. Di

samping mereka masih ada Mahisa Agni. Tetapi agaknya kecemasan

dan ketakutan mereka benar-benar telah memenuhi segenap

rongga dada mereka.

Padang itu semakin lama menjadi semakin sunyi. Sehingga suara

burung kedasih itu pun menjadi semakin jelas bergema memenuhi

padang Karautan. Kadang-kadang perlahan-lahan, namun kadangkadang

menjadi semakin jelas.

Tetapi tiba-tiba di antara keluh burung kedasih itu, terdengar

suara yang lain. Lamat-lamat dalam irama yang seakan-akan

teratur. Semakin lama semakin jelas.

Ketika suara itu telah mereka yakini, maka serentak terdengar

ketiga kawan Agni itu berkata parau, “Kuda. Derap kuda.”

Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya. Sebenarnya

telah didengarnya pula suara derap kuda itu. Namun ia masih saja

berdiam diri untuk tidak mencemaskan hati kawan-kawannya.

Tetapi kini kawan-kawannya itu telah mendengar sendiri. Bahkan

mereka telah dapat menyebutnya, bahwa suara itu adalah suara

derap kaki kuda. Karena itu, maka Mahisa Agni pun menjawab, “Ya.

Derap kaki kuda.”

“Oh,” desah Patalan, “pasti Kuda Sempana datang bersama

kawan-kawannya.”

Mahisa Agni mempertajam pendengarnya. Sesaat kemudian ia

menjawab, “Pasti bukan. Suara itu hanya suara derap kaki seekor

kuda.”

“Kenapa hanya seekor?” bertanya Sinung Sari.

Mahisa Agni heran mendengar pertanyaan itu.

“Kenapa?” ulangnya, “ya kenapa?”

“Maksudku, apakah kau tahu benar bahwa suara itu suara derap

kaki seekor kuda?” Sinung Sari menjelaskan.

“Ah,” sahut Agni, “bukankah kalian dapat juga membedakan.”

Sinung Sari kemudian terdiam. Kawan-kawannya pun terdiam.

Namun gelora di dalam dada mereka mulai bergolak kembali.

“Kali ini jangan memperbodoh diri,” berkata Mahisa Agni

kemudian, “seandainya yang datang itu orang yang akan membawa

bencana, jangan kau serahkan kepalamu untuk dipenggalnya. Kalau

tidak ada jalan lain, maka kalian harus memilih, dipenggal atau

memenggal kepala orang itu. Bukankah kalian membawa pedang?

Selama aku masih dapat melindungi kalian, aku akan mencobanya.

Tetapi kalau tidak, bukan salahku kalau kalian mati di padang

rumput ini. Ayo. Tengadahkan wajahmu. Sambutlah setiap

tantangan untuk di atasi. Jangan menyerah.”

Terasa kebenaran kata-kata Mahisa Agni itu. Sebuah getaran

menyusup ke dalam hati mereka. Mereka pun sebenarnya ingin pula

berbuat demikian. Tetapi mereka sama sekali belum pernah

bertempur melawan apapun. Ada juga di antara mereka di masa

kanak-kanaknya berkelahi satu sama lain. Bahkan kadang-kadang

mereka pun sering melakukan permainan yang menyerupai

perkelahian, binten, bantingan dan sebagainya. Tetapi sama sekali

tidak berbahaya bagi keselamatan mereka.

Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya,

“Seterusnya terserah kepada kalian. Apakah kalian ingin mati,

apakah kalian akan mencoba menghindarinya dengan sebuah

usaha.”

Sekali lagi sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka.

Mereka dihadapkan pada dua buah pilihan, Mati atau berusaha

menyelamatkan diri.

Derap kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun

Mahisa Agni yang jauh lebih berpengalaman dari ketiga kawankawannya

segera dapat mengetahuinya, bahwa kuda itu tidak

berjalan terlalu cepat. Derap kakinya yang memukul batu-batu

padas pun tidak terdengar terlalu keras meskipun kuda itu sudah

menjadi semakin dekat.

“Kita bersembunyi,” bisik Mahisa Agni kepada kawan-kawannya,

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita adalah pengecut. Namun kita

harus mengetahui lebih dahulu siapakah yang datang itu. Kalau

tidak ada persoalan yang memaksa, kita akan dapat menghindari

setiap persoalan yang tidak kita kehendaki.”

Sebelum Mahisa Agni berbuat sesuatu, ketiga kawan-kawannya

telah mendahuluinya, menyurukkan diri mereka sendiri ke dalam

semak-semak. Mereka mengumpat-umpat di dalam hati mereka,

apabila pedang-pedang mereka ternyata malahan mengganggu,

karena tangkai-tangkainya, dan kadang-kadang sarungnya

menyangkut ranting-ranting kecil

Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata

pun. Yang terakhir, ia sendiri berusaha menyembunyikan diri pula

dibalik-balik gerumbul kecil sambil berusaha mengawasi

penunggang kuda yang sudah menjadi semakin dekat.

Sesaat kemudian, seakan-akan muncul dari keremangan malam,

sesosok tubuh duduk di atas seekor kuda yang besar. Semakin lama

semakin dekat. Dan mata Mahisa Agni yang tajam, segera dapat

melihat sebilah pedang tergantung di lambung penunggangnya.

Sebenarnya kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Bahkan sekalisekali

berhenti dan seakan-akan memang ada yang dicarinya.

Dada Mahisa Agni berdesir ketika baru saja disadarinya,

beberapa macam barang-barang milik kawannya tertinggal di

tempat mereka beristirahat. Bumbung-bumbung kecil dan sebuah

bungkusan bekal makanan.

“Hem,” Mahisa Agni berdesah di dalam dadanya. Sebenarnya ia

ingin menghindari setiap persoalan dengan menyembunyikan

dirinya. Tetapi kalau penunggang kuda itu melihat beberapa macam

benda-benda yang berserakan itu, maka pasti orang itu menyangka

bahwa setidak-tidaknya tempat ini merupakan tempat yang harus

mendapat perhatian. Meskipun Mahisa Agni sama sekali tidak takut

seandainya ia harus berhadapan dengan siapa pun yang

mengganggu usahanya tetapi baginya, kemungkinan-kemungkinan

yang demikian akan dihindarinya sejauh mungkin.

Mahisa Agni menggigit bibirnya ketika ia melihat kuda itu menjadi

bertambah dekat. Dan apa yang dicemaskannya itu ternyata benarbenar

terjadi. Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa benda

yang terserak-serak, maka segera ia menghentikan langkah

kudanya. Dengan lincahnya ia meloncat turun, dan kemudian

dengan seksama ia memperhatikan benda-benda yang berserakan

itu.

Kini Mahisa Agni seakan-akan menahan nafasnya. Ia berada

dibalik sebuah gerumbul yang tidak terlalu dekat dengan orang yang

baru datang itu. Apalagi daun-daun perdu di gerumbul itu selalu

saja mengganggunya, apabila ia mencoba untuk melihat orang yang

baru saja datang itu. Namun lamat-lamat disela-sela dedaunan,

meskipun tidak jelas ia melihat orang itu membongkokkan

badannya, memungut beberapa macam benda-benda yang

terserak-serak itu.

Tetapi orang itu masih berdiam diri. Ketika kemudian ia berdiri

tegak terdengar tarikan nafasnya. Sambil berjalan beberapa

langkah, orang itu bergumam, “Pasti di sini. Di sekitar tempat ini.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kata-kata itu hanya

didengarnya lamat-lamat. Namun tiba-tiba terasa olehnya, bahwa ia

pernah mengenal orang yang baru datang itu.

Mahisa Agni kemudian melihat orang itu memperhatikan keadaan

di sekitarnya. Sesaat orang itu berdiam diri. Dan kemudian

terdengar ia tertawa. Dari dalam sebuah gerumbul ia mendengar

dengus nafas berdesah semakin cepat.

“Ha,” katanya, “di situ kalian bersembunyi.”

Jinan, Patalan dan Sinung Sari mendengar kata-kata itu. Darah

mereka seakan-akan berhenti mengalir. Tetapi sesaat kemudian

teringatlah mereka akan kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka

jangan menyerahkan kepala mereka tanpa perlawanan. Namun,

sangatlah berat tangan mereka untuk bergerak menarik pedang

mereka itu.

“Kenapa kalian bersembunyi?” terdengar orang itu bertanya

sambil berjalan beberapa langkah maju. Sedang nafas di dalam

gerumbul itu menjadi semakin cepat memburu lewat lubang-lubang

hidung mereka.

Namun tiba-tiba orang itu terkejut. Selangkah ia turut, dan

dengan tangkai ia memutar tubuhnya ketika ia mendengar suara di

belakangnya, “Di sini aku. Bukan di situ.”

Suara itu adalah suara Mahisa Agni. Ketika ternyata orang itu

mengetahui tempat persembunyian kawannya, ia tidak dapat

langsung bersembunyi sambil berdiam diri. Mahisa Agni terpaksa

menampilkan dirinya untuk melindungi ketiga kawannya.

Tetapi Mahisa Agnilah yang kemudian terkejut mendengar orang

itu menyebut namanya, “Mahisa Agni.”

“Ya.”

Orang itu berjalan mendekatinya. Semakin lama semakin dekat.

“Kau telah mengenal namaku,” bertanya Mahisa Agni.

“Ken Arok berkata kepadaku, bahwa kau berada di padang ini

bersama ketiga kawan-kawanmu. Salah seorang yang berani

menyatakan dirinya, pastilah hanya Mahisa Agni.”

Mahisa Agni mengawasi orang itu dengan seksama. Ketika orang

itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berkata,

“Oh, kau Mahendra. Kau mengejutkan kami di sini.”

Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak sengaja. Tetapi Ken

Arok telah bercerita kepadaku, bahwa kau berada di padang

Karautan bersama tiga orang yang aneh.”

“Di situlah mereka,” sahut Mahisa Agni sambil menunjuk ke

gerumbul tempat kawan-kawannya bersembunyi.

“Ya. Aku telah mendengar tarikan nafas mereka.”

“He, Jinan, Patalan dan Sinung Sari,” panggil Mahisa Agni,

“Kemarilah. Yang datang adalah kawan kita sendiri.”

Kembali ketiga kawan Mahisa Agni itu tersuruk-suruk keluar dari

tempat persembunyian mereka. Dengan agak malu-malu mereka

berjalan mendekati.

“Inilah mereka,” berkata Mahisa Agni memperkenalkan kawankawannya.

“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya Mahendra.

Ketiganya tunduk tersipu-sipu. Namun kemudian Sinung Sari

menjawab, “Mahisa Agni menyuruh kami bersembunyi.”

“Oh,” desis Mahendra sambil tersenyum, “benar begitu?”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Jawabnya, “Ya. Akulah yang

menyuruh mereka bersembunyi, meskipun sama sekali tidak mereka

kehendaki, sebab aku ingin menghindari persoalan yang dapat

timbul kemudian, seandainya yang datang bukan kawan sendiri.

Persoalan yang mungkin tidak ada gunanya, selain hanya untuk

memenuhi kesenangan mereka bertiga. Bukan begitu Sinung Sari?”

Seandainya terlihat oleh mereka, maka wajah Sinung Sari

menjadi kemerah-merahan. Ia sama sekali tidak menjawab

pertanyaan Mahisa Agni itu, dan bahkan kepalanya menjadi semakin

tunduk dalam-dalam.

Mahisa Agni dan Mahendra tidak dapat menahan senyum

mereka. Dari Ken Arok, Mahendra telah mendengar cerita tentang

ketiga kawan Mahisa Agni itu. Karena itu serba sedikit ia dapat

mengetahui sifat-sifat mereka.

Ketika Sinung Sari sama sekali tidak menjawab, dan bahkan

dengan perasaan malu ia berkisar ke samping, maka berkatalah

Mahisa Agni, “Mari, Mahendra, duduklah.”

Mereka itu pun kemudian duduk melingkar di atas tanah yang

berdebu. Di sana-sini rumput liar tumbuh dengan lebatnya.

Sesaat malam menjadi hening, sehening padang yang tidak

berpenghuni. Sayup-sayup di kejauhan masih terdengar suara

burung kedasih menggetarkan sepi malam.

“Mahendra,” terdengar suara Mahisa Agni kemudian, “apakah

kau juga ingin menjadi hantu padang Karautan?”

Mahendra mengangkat wajahnya. Sekilas tampak senyumnya.

menggerakkan bibirnya.

“Sebetulnya,” sahutnya, “tetapi aku tidak tahan dingin, karena itu

maksud itu aku urungkan.”

“Lalu apakah keperluanmu berada di padang ini?” bertanya

Mahisa Agni.

“Kakang Witantra menyuruhku datang kemari, setelah pagi-pagi

tadi kami bertemu dengan Ken Arok.”

“Apa katanya?”

“Ken Arok melihat hantu padang Karautan saling berkelahi.”

Keduanya tertawa pendek. Lalu Mahendra meneruskan, “Tetapi

Kakang Witantra tidak tertarik kepada hantu-hantu itu. Ia lebih

tertarik pada cerita Ken Arok yang lain”

“Cerita yang manakah itu?”

“Mahisa Agni,” berkata Mahendra dengan nada yang lain.

Tampaknya kini ia mulai bersungguh-sungguh, “Apakah benar Ken

Arok telah mengatakan kepadamu tentang adikmu itu?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Bahwa Akuwu Tunggul Ametung menghendakinya?”

“Tetapi kenapa kau tidak mau menerimanya seandainya Akuwu

itu akan datang kepadamu untuk mewakili ayah gadis itu.”

Mahisa Agni kini menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia

menjawab, “Tidak, tidak perlu. Gadis itu dibawa dengan cara yang

kasar. Biarlah cara itu dilakukan untuk seterusnya.”

“Tetapi yang melakukan itu adalah Kuda Sempana.”

“Bukankah Akuwu Tunggul Ametung bersamanya pada waktu

itu?”

Mahendra terdiam sesaat. Jawaban Mahisa Agni itu dapat

dimengertinya. Luka hatinya pada saat ia kehilangan adiknya

ternyata terlampau parah, sehingga setiap sentuhan padanya, masih

juga akan terasa betapa sakitnya.

Mahisa Agni sendiri kemudian menundukkan kepalanya.

Sakit di hatinya itu jauh lebih parah dari yang disangka oleh

Mahendra. Meskipun demikian, sama sekali tidak terucapkan kepada

siapa pun juga. Yang dapat mengetahui, apa sebenarnya yang

mencengkam jantungnya, hanyalah emban tua, pemomong Ken

Dedes, yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan gurunya yang tua,

ayah Ken Dedes.

Sesaat mereka duduk berdiam diri. Gelap malam semakin lama

menjadi semakin dekat dan bintang-gemintang di langit yang biru

bertebaran dari ujung ke ujung. Terasa udara menjadi semakin

dingin sampai menggigit tulang.

Dalam keheningan itu, kemudian terdengar Mahendra berkata,

“Agni. Aku tahu betapa hatimu tersinggung karena sikap Kuda

Sempana yang pada saat itu datang dalam lindungan Akuwu

Tumapel. Tetapi menurut Kakang Witantra, Akuwu Tunggul

Ametung menjadi kecewa sedalam-dalamnya terhadap

perbuatannya, dan bahkan atas nama Akuwu, Kakang Witantra

telah berhasil memisahkan Ken Dedes dari Kuda Sempana. Bahkan

kemudian, setelah Akuwu Tunggul Ametung mendengar bahwa

Wiraprana telah terbunuh, jatuhlah perasaan ibanya yang tulus

kepada Ken Dedes.”

Mahendra berhenti sesaat seolah-olah ia menunggu katanya itu

menghunjam ke pusat jantung Mahisa Agni. Namun masih saja

dilihatnya Mahisa Agni menunduk.

Maka berkatalah ia seterusnya, “Agni. Secara jujur aku katakan,

bahwa aku pun kecewa melihat Ken Dedes akan menjadi seorang

permaisuri, sebab bagiku belum ada seorang gadis yang lain yang

mampu menyentuh hatiku. Namun adalah lebih baik baginya, bagi

gadis itu sendiri, apabila ia akan dapat menemukan ketenteraman

dan kebahagiaan sebagai permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali,

sedalam luka yang menusuk ke dalam jantungnya. Tetapi ia belum

menjawab. Dibiarkannya Mahendra berkata terus, “Agni, Akuwu

telah menetapkan hari perkawinannya. Karena itu, atas namanya,

Kakang Witantra mengharap kau akan dapat menerimanya,

mewakili ayahmu menyerahkan Ken Dedes kepada Akuwu Tunggul

Ametung.”

Mahendra menatap wajah Mahisa Agni dalam-dalam. Sesaat ia

menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni itu.

Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mahisa Agni

menggelengkan kepalanya, “Tak ada gunanya Mahendra. Akuwu

telah mengambil keputusan. Mungkin Ken Dedes telah menerima

lamarannya pula. Karena itu, biarlah mereka memutuskan kehendak

mereka sendiri. Mereka telah cukup dewasa.”

“Tetapi itu tidak lazim, Agni.”

“Sejak permulaan peristiwa itu sudah berjalan tidak sewajarnya.”

Kini Mahendralah yang menarik nafas dalam-dalam. Agaknya

pendirian Mahisa Agni telah tidak mungkin dapat diubahnya.

Meskipun demikian ia masih mencobanya, “Agni. Witantra minta

dengan sangat kau mengubah pendirianmu. Sebab dengan

demikian, Ken Dedes akan merasa kau lepaskan seorang diri.

Mungkin ia merasa bahwa kau tidak merestuinya.”

Mahendra menjadi semakin kecewa ketika ia melihat Mahisa Agni

menggeleng sekali lagi.

“Kau tetap pada pendirianmu Agni?”

“Maaf Mahendra. Aku tidak dapat menerima Tunggal Ametung.

Pembicaraan telah berlangsung tanpa aku. Biarlah persoalan itu

selesai tanpa aku pula.”

“Agni. Kau terlalu perasa.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Perkataan Mahendra itu tepat

menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatasi

perasaannya. Sehingga dengan demikian kembali ia berdiam diri

sambil menundukkan kepalanya.

Tetapi Mahendra dengan itu telah dapat mengetahui, bahwa

Mahisa Agni benar-benar tidak dapat memaafkan Kuda Sempana

dan Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan demikian sakit hatinya,

sehingga ia sama sekali tidak mengingat lagi kepentingan gadis

yang disangka adiknya.

“Agni,” berkata Mahendra kemudian, “Perkawinan itu akan

berlangsung segera. Aku mengharap kau sempat

mempertimbangkan keputusanmu, supaya adikmu tidak seolah-olah

sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Ia tidak dapat

menolak keinginan Akuwu, tetapi ia merasa diasingkan dari

keluarganya.”

Mahisa Agni terdiam. Kepalanya masih ditundukkannya. Namun

ia masih tidak mampu mengatasi perasaan sendiri.

Kembali mereka terlempar ke dalam suasana sunyi. Masingmasing

terbenam dalam pikiran sendiri. Ketiga kawan-kawan Mahisa

Agni pun mendengar percakapan itu dengan pertanyaan yang

membelit hati. Kenapa Mahisa Agni menolak bertemu dengan

Akuwu? Bukankah suatu karunia tiada taranya, gadis sedesanya

dapat menjadi seorang permaisuri, dan gadis itu adalah saudara

Mahisa Agni, meskipun kawan-kawannya tahu bahwa gadis itu

adalah saudara angkatnya, karena Agni menjadi murid Empu Purwa.

Tetapi mereka sama sekali tidak mau mencampuri persoalan yang

tidak diketahui benar ujung pangkalnya. Mereka takut kalau-kalau

dengan demikian mereka berbuat kesalahan.

Dalam kesenyapan itu tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Ah,

lupakanlah semua itu Mahendra. Marilah kita berbicara tentang hal

yang lain.”

Mahisa Agni itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia berdiri sambil

berkata lantang, “Lihat, di sini aku akan membuat bendungan.

Bendungan itu akan mengaliri tanah padang rumput ini, sehingga

padang ini akan menjadi tanah persawahan.”

Mahendra pun memandang ke arah sungai yang ditunjuk oleh

Mahisa Agni. Namun ia tidak dapat melepaskah persoalannya

dengan tiba-tiba. Ia masih dicengkam oleh perasaan yang aneh

tentang sikap Mahisa Agni terhadap Akuwu Tunggul Ametung.

Karena itu meskipun ia memandangi arus air yang gemercik di

sampingnya, namun ia tidak segera menjawab kata-kata Mahisa

Agni. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni,

“Mahendra, apabila kami telah berhasil mengangkat air, dan

menyalurkannya ke dalam parit-parit yang akan kita buat pula,

maka tanah ini akan menjadi tanah subur. Tidak kalah suburnya

dengan tanah-tanah persawahan di Panawijen yang sekarang

menjadi kering. Bahkan apabila air nanti cukup banyak, kami akan

menyalurkannya pula ke tanah-tanah yang sekarang menjadi kering

di Panawijen,”

Mahisa Agni berhenti sebentar, kemudian katanya melanjutkan,

“Tetapi jarak untuk itu terlalu jauh.”

Ketika Mahisa Agni kemudian berpaling memandangi wajah

Mahendra, maka Mahendra itu mengangguk kosong. Katanya, “Ya.

Mudah-mudahan.”

Mahisa Agni pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi ia tidak berkata lagi. Kini ia berjalan perlahan-lahan

mendekati air yang mengalir tanpa ada henti-hentinya. Berpuluhpuluh

tahun bahkan mungkin telah beratus-ratus tahun.

Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika Mahendra berkata

kepadanya, “Mahisa Agni. Jadi bagaimana jawabmu yang harus aku

sampaikan kepada Kakang Witantra?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiri di

pinggiran sungai. Bahkan ujung kakinya telah menyentuh air yang

gemercik di bawah kakinya, mencerminkan bayangan bintangbintang

di langit. Berkilat-kilat dan bergetar karena arusnya.

“Maaf. Aku minta maaf kepada kakak seperguruanmu itu. Aku

minta maaf kepada Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu itu tidak perlu

datang kepadaku. Katakanlah kepada Witantra agar disampaikannya

kepada Akuwu, bahwa segala sesuatu tergantung kepada Ken

Dedes sendiri. Kalau ia menghendakinya, maka biarlah dilakukannya

apa yang baik untuknya.”

“Hem,” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia

bertanya, “Tetapi bagaimana sikapmu secara jujur? Apakah kau

berkenan di hati atau sebaliknya?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. Kemudian

jawabnya, “Aku tidak dapat memandang persoalan ini dengan

sejujur hatiku. Persoalan ini sudah terlanjur masuk ke dalam

keadaan yang tidak aku kehendaki.”

“Mungkin ada soal-soal yang dapat dibicarakan, dicari

kemungkinan yang dapat memberimu kepuasan.”

Mahisa Agni itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Tetapi

kemudian terdengar giginya gemeretak. Tiba-tiba sekali lagi ia

berkata lantang, “Mahendra. Jangan kau risaukan lagi persoalan itu.

Lihat. Lihat arus sungai ini. Cukup besar dan cukup kuat untuk

mengaliri padang ini. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau melihat

pula kemungkinan itu?”

Tiba-tiba suaranya menurun, “Maaf jangan kau singgung lagi

tentang adikku itu. Biarlah ia menentukan jalannya sendiri. Aku akan

selalu merestuinya. Tetapi bagaimana dengan rencanaku membuat

bendungan di sini?”

Sekali lagi Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata

Mahisa Agni itu benar-benar sudah tidak mau lagi diajaknya untuk

membicarakan masalah adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung.

Karena itu maka ia tidak mau bertanya lagi, sebab dengan demikian

akan dapat menyinggung perasaan anak muda perasa itu.

Bahkan Mahendra itu pun kemudian berdiri dan melangkah maju

mendekati Mahisa Agni. diamat-amatinya sungai yang mengalir

dalam gelap malam itu.

Mahendra itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya Mahisa

Agni menepuk punggungnya sambil berkata, “He, bagaimana?

Bukankah tempat ini akan menjadi tempat yang sangat baik untuk

membangun bendungan?”

Dengan serta-merta, di luar sadarnya Mahendra menjawab, “Ya.

Baik. Tempat ini baik sekali untuk membuat bendungan.”

Mahisa Agni tertawa masam. Ia sadar bahwa jawaban Mahendra

itu demikian saja meluncur dari bibirnya. Tetapi Mahisa Agni tidak

mendesaknya lagi.

Ketika kemudian mereka terdiam sesaat, terdengar suara

gemercik air itu menjadi semakin keras. Di bawah mereka, sayupsayup

terdengar gemerajak air jeram. Bahkan apabila angin

mengalir semakin keras, maka suara jeram-jeram itu pun terbawa

pula ke telinga Mahisa Agni, Mahendra, dan ketiga kawankawannya,

semakin keras pula. Namun dalam pada itu, ternyata di

dalam dada Mahisa Agni terdengar suara yang jauh lebih riuh lagi

dari suara arus sungai itu dan bahkan lebih gemuruh dari suara

gerojogan jeram-jeram di sebelah.

Untuk menindas kegelisahannya tiba-tiba Mahisa Agni berkata.

“He, Mahendra, dari mana kau tahu bahwa aku berada di tempat

ini?”

Mahendra mengerutkan keningnya. Dengan segan ia menjawab

pendek, “Dari Ken Arok.”

“Aku bertemu dengan Ken Arok tidak di sini.”

“Kau menelusur sungai ini,” sahut Mahendra, “aku pun berbuat

demikian menurut petunjuk Ken Arok.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara di

dalam dadanya masih saja berdesingan. Sehingga kembali ia

mencoba melepaskan tekanan perasaan itu, “Kenapa kau berjalan

sendiri? Di mana saudara seperguruanmu yang nakal itu, Kebo Ijo?”

“Ia kini bekerja di istana.”

“He, apakah yang dikerjakannya?”

“Seperti Kakang Witantra. Baru beberapa hari atas ajakan Kakang

Witantra, supaya ia tidak berkeliaran saja sepanjang jalan sambil

mengganggu gadis-gadis.”

“Bagus. Itu lebih baik baginya,” sahut Mahisa Agni.

Tetapi Mahendra tidak berkata apa-apa lagi, sehingga kembali

suasana menjadi kaku dan sepi. Kembali suara air gemericik itu

menyentuh-nyentuh sepinya malam.

Namun tiba-tiba Mahisa Agni dan Mahendra mendengar suara

yang lain-lain. Bukan suara gemercik air, dan bukan pula suara

jeram-jeram di sebelah. Suara itu semakin lama menjadi semakin

jelas, semakin jelas.

Sesaat Mahendra dan Mahisa Agni saling berpandangan. Hampir

bersamaan pula mereka berpaling memandangi ketiga kawan

Mahisa Agni yang duduk membeku memeluk lutut-lutut mereka.

Bersamaan pula mereka segera mendapat kesimpulan, bahwa

bukan mereka bertiga itulah yang sedang berbisik-bisik. Tetapi pasti

orang lain. Karena itu, maka dengan matanya Mahisa Agni memberi

isyarat kepada Mahendra, dan Mahendra pun segera menangkap

maksudnya.

Tanpa berkata sepatah kata pun mereka kemudian berjalan

kembali ke samping kawannya. Namun mereka tidak segera duduk

bersama mereka, bahkan kemudian Mahisa Agni dan Mahendra itu

pun berdiri berhadapan, sehingga mereka masing-masing dapat

melihat, apa yang ada di belakang mereka sebelah menyebelah.

Sejenak mereka tidak lagi mendengar apapun. Suara berbisik itu

seakan-akan lenyap. Dengan demikian mereka mendapat

kesimpulan, bahwa suara itu berada lebih dekat pada tempat

mereka berdiri semula, atau orang-orang yang sedang berbisik-bisik

itu kini telah berdiam diri.

Tetapi Mahisa Agni dan Mahendra tidak kehilangan kewaspadaan.

Segera mereka mempertajam pendengaran mereka, untuk mencoba

menangkap setiap suara yang betapapun lemahnya, menyentuh

telinga mereka.

Dan sejenak kemudian kembali mereka mendengar suara itu

perlahan-lahan. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara

tertawa yang menggetarkan udara malam.

Mahisa Agni dan Mahendra segera menyadari bahaya yang

datang. Apalagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Tubuh mereka

tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Namun mereka sama

sekali tidak berani beranjak dari tempat mereka masing-masing,

sebab mereka tidak melihat siapakah yang sedang tertawa

menyakitkan telinga itu.

“Orang itukah yang bernama Mahisa Agni,” terdengar suara dari

balik-balik gerumbul di pinggir sungai.

“Ya,” jawab suara yang lain.

“Bagus. Aku ingin melihatnya dari dekat,” berkata suara yang

pertama.

Mahisa Agni segera memutar tubuhnya menghadap ke arah

suara itu. Mahendra pun kemudian melangkah maju, dan tanpa

sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya.

Sejenak kemudian mereka melihat tiga orang yang muncul dari

balik gerumbul. Seorang tua bertongkat hampir sepanjang

tubuhnya. Seorang lagi anak muda yang berpakaian seperti pakaian

pelayan dalam namun dalam keadaan yang kusut, yang segera

mereka kenal, Kuda Sempana. Sedang di sampingnya masih ada lagi

seorang yang lain.

Dada Mahisa Agni berdesir. Dugaannya ternyata terjadi. Seperti

yang dicemaskan oleh ketiga kawan-kawannya itu, Kuda Sempana

datang dengan kawan-kawannya.

Dalam pada itu terdengar Mahendra berbisik, “Kuda Sempana.

Aku mendengar pula dari Ken Arok. apa yang telah dilakukan di

padang ini.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Hatinya yang sedang

risau itu tiba-tiba seperti terbakar melihat kedatangan Kuda

Sempana kembali. Anak muda itu adalah sumber dari segala

bencana yang menimpa gurunya, Ken Dedes dan dirinya sendiri.

Bahkan akibatnya telah menimpa Panawijen pula, sehingga malam

ini ia terpaksa berada di padang Karautan. Karena itu, maka Mahisa

Agni itu tiba-tiba menggeretakkan giginya.

Tiga orang yang datang itu pun semakin lama menjadi semakin

dekat. Orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu

ternyata seorang yang telah lanjut usia. Janggutnya tidak seberapa

panjang, namun dalam kelam malam, Mahisa Agni dapat

membedakannya, bahwa janggut itu telah mulai memutih. Tetapi

Mahisa Agni lebih terkejut lagi ketika kemudian dilihatnya kawan

Kuda Sempana yang seorang lagi. Ternyata orang itu pernah

dikenalnya.

Orang itu adalah saudara seperguruan Kuda Sempana yang

pernah bertempur dengannya di sebuah padukuhan di kaki Gunung

Semeru. Padukuhan Kajar. Dan orang itulah yang dahulu pernah

dikenalnya dengan nama Bahu Reksa Kali Elo. Kini orang yang

menyimpan dendam di hatinya itu datang kembali kepadanya.

Dahulu orang itu pernah berkata kepadanya, bahwa ia pada suatu

saat akan menebus kekalahannya. Kini ternyata orang itu benarbenar

datang. Bukan seorang diri, namun bersama-sama dengan

orang lain yang menyimpan dendam pula kepadanya, sebagaimana

ia mendendamnya, Kuda Sempana.

Tanpa disadarinya Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah

Mahendra yang tegang. Tangannya masih melekat di hulu

pedangnya. Namun Mahisa Agni tidak dapat menangkap kata hati

anak muda itu. Apakah yang kira-kira akan dilakukannya,

seandainya ia terlibat dalam perkelahian yang seru dan bahkan ia

harus melawan orang-orang yang datang itu sekaligus. Apalagi

ketika kemudian Mahisa Agni mencoba menduga siapakah orang tua

yang berjanggut putih jarang-jarang itu? Apakah orang itu guru

mereka? Guru Kuda Sempana dan Bahu Reksa Kali Elo itu?

Ketiga orang itu pun kemudian berhenti beberapa langkah di

hadapan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka memandangi Mahisa

Agni seperti memandangi hantu. Namun kemudian terdengar orang

tua itu bertanya, “Bukankah yang ini yang bernama Mahisa Agni

itu?”

Kuda Sempana mengangguk. Jawabnya, “Ya. Itulah.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali

dipandanginya pula Mahendra, namun ia tidak berkata apapun,

tentang anak muda itu.

Yang kemudian berkata adalah Bahu Reksa Kali Elo. Suaranya

terdengar parau di antara suara tertawanya yang menyakitkan hati,

“He, Mahisa Agni. Apakah kau masih ingat kepadaku?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah itu tajamtajam.

Tiba-tiba ia menjadi muak melihat mukanya, karena itu maka

sama sekali ia tidak bernafsu untuk menjawab pertanyaannya.

Karena Mahisa Agni masih saja berdiam diri, maka berkatalah

orang itu pula, “Agni, jangan berpura-pura tidak mengenal aku lagi.

Apakah kau takut aku membalas sakit hatiku saat itu?”

Warna merah menjalar di wajah Mahisa Agni mendengar katakata

orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Alangkah

memuakkan. Apalagi ketika kemudian ia mendengar orang itu

tertawa, “Ha. Kau sekarang menjadi pucat melihat kehadiranku di

sini? Tetapi sayang, semuanya sudah terlambat. Aku tidak dapat

menarik diri lagi, sebab aku sudah bertekad untuk melepaskan

dendamku.”

Gigi Mahisa Agni menjadi gemeretak karena kemarahan yang

membakar dadanya. Namun justru karena itu, terasa mulutnya

seakan-akan terbungkam. berjejal-jejal kata-kata yang akan

diucapkan, namun tak sepatah kata pun yang dapat meloncat keluar

selain suara gemeretak giginya.

Yang menjawab kata-kata itu justru Mahendra. Anak itu menjadi

muak juga melihat tampang orang yang berkata seenaknya seolaholah

ia sendiri orang laki-laki di kulit bumi ini. “Jangan membual.

Siapa kau?”

Orang itu berpaling. Ditatapnya wajah Mahendra. Kemudian

masih sambil tertawa ia bertanya, “Siapa kau?”

Mahendra menggeram. Ia menjadi semakin tidak senang

mendengar orang itu tidak menjawab pertanyaannya, malahan ia

bertanya seperti kepada pelayannya. Karena itu maka Mahendra

membentak, “Jangan membadut. Jawab pertanyaanku, siapa kau?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia mengusap

wajahnya yang kasar.

“Kau ingin tahu namaku?” katanya.

Mahendra tidak menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam

seakan-akan dari matanya memancar api yang langsung akan

menjilat wajah itu.

Orang itu berpaling kepada Kuda Sempana. Dengan kata-kata

yang sangat menyakitkan hati ia berkata, “Inikah cucurut yang

bernama Ken Arok itu?”

Kuda Sempana menggeleng, “Bukan. Itu bukan Ken Arok.”

“Oh,” orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu

menganggukkan kepalanya. Bahkan orang tua yang bertongkat

hampir sepanjang tubuhnya menganggukkan kepalanya pula.

“Siapa orang ini? Apakah kau mengenalnya juga?”

“Namanya Mahendra,” jawab Kuda Sempana.

“Nama yang bagus,” sahut orang yang menamakan diri Bahu

Reksa Kali Elo. Kemudian kepada Mahendra ia bertanya, “Apakah

kau saudara seperguruan Mahisa Agni?”

Mahendra itu pun kemudian menjadi sedemikian muaknya,

sehingga ia tidak mau lagi menjawab pertanyaannya.

“He, apakah kau tidak mendengar?”

Mahendra masih berdiam diri.

“Kedua-duanya menjadi bisu,” teriak orang yang menamakan diri

Bahu Reksa Kali Elo.

Namun baik Mahendra maupun Mahisa Agni sama sekali tidak

mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya orang yang bertongkat dan berjanggut putih, maju

selangkah. Diamat-amatinya kedua anak muda itu dengan seksama.

Kemudian katanya, “Agaknya kalian telah saling mengenal. Kalian

berdua dengan kedua anak ini. Tetapi baiklah aku memperkenalkan

diriku, dan barangkali ada di antara kalian berdua yang belum

mengenal salah seorang anak ini. Yang pertama adalah Kuda

Sempana, agaknya kalian sudah mengenal. Sedang yang lain yang

lebih tua ini bernama Cundaka. Tetapi ia lebih senang disebut Ki

Bahu Reksa Kali Elo,” orang tua itu berhenti sesaat. Sedang Mahisa

Agni dan Mahendra masih berdiri dengan tegangnya.

Tanpa mereka sangka-sangka orang tua itu menunjuk kepada

ketiga kawan Mahisa Agni yang benar-benar telah membeku, “Kuda

Sempana, itukah ketiga kawanmu yang kau katakan?”

“Ya,” sahut Kuda Sempana.

Orang tua itu tertawa. Suaranya yang benar-benar menyakitkan

telinga dan hati. “Pantas. Orang-orang yang demikian itulah yang

malahan akan mati lebih dahulu. Orang-orang yang sangat

memuakkan.”

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni mendengar pula kata-kata itu.

Dan sebelum sesuatu menyentuh tubuhnya, mereka sudah merasa,

seakan-akan mereka telah benar-benar mati.

“Sekarang,” berkata orang tua itu kepada Mahisa Agni dan

Mahendra, “kalian pasti ingin mengenal aku bukan? Nah, sebut saja

aku dengan nama Empu Sada. Ya, itulah namaku.”

Dada Mahisa Agni dan Mahendra menjadi berdebar-debar. Orang

ini agaknya mempunyai kelebihan dari Kuda Sempana dan Cundaka

yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Mungkin Kuda

Sempana sengaja membawanya untuk melepaskan dendamnya

kepada Mahisa Agni. Bahkan mungkin pula orang ini adalah

gurunya.

Dalam derap jantungnya yang semakin cepat, Mahisa Agni dan

Mahendra mendengar orang itu berkata lebih lanjut, “Ketahuilah,

akulah guru kedua anak-anak ini.”

Darah Mahisa Agni dan Mahendra serasa berhenti mengalir

mendengar penjelasan itu, meskipun mereka telah menyangka pula.

Guru Kuda Sempana pasti bukan orang yang dapat disejajarkan

dengan diri mereka. Karena itu, maka segera kecemasan merayap

ke dalam jantung mereka. Apakah yang dapat mereka lakukan

terhadap guru Kuda Sempana itu?”

Namun Mahisa Agni dan Mahendra bukanlah laki-laki pengecut.

Apapun yang akan dihadapinya, namun mereka tidak akan berlutut

dan mohon belas kasihannya.

Kemudian terdengar orang itu berkata, “Nah Mahisa Agni,

Kepadamulah kami berkepentingan. Anak ini, yang bernama

Mahendra sama sekali tidak kami kenal. Namun karena ia hadir juga

di sini, maka ia akan mendapat bagian juga, meskipun tidak

sebanyak Mahisa Agni.”

Kembali dada Mahisa Agni dan Mahendra berdesir. Namun katakata

itu ternyata telah membulatkan tekad mereka, untuk

menghadapi setiap kemungkinan dengan sikap jantan. Karena itu,

justru pada saat-saat yang tegang Mahisa Agni menggeram, “Hem.

Ternyata Kuda Sempana dan setan itu sama sekali tidak berani

menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”

Telinga Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan diri Bahu

Reksa Kali Elo itu seperti disengat api mendengar kata-kata Mahisa

Agni. Karena itu, maka sambil mengumpat Cundaka menjawab,

“Demit busuk! Ayo, sekarang kau masih juga mencoba

menyombongkan dirimu? Hari ini adalah hari terakhirmu. Celakalah

kau bertemu aku di padang Karautan.”

“Jangan banyak bicara,” potong Mahisa Agni, “apa maumu?”

Cundaka itu mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa ia pernah

dikalahkan oleh Mahisa Agni. Sedang apa yang dicapainya selama

ini, setelah ia berjanji untuk lain kesempatan bertemu kembali,

hampir tidak ada sama sekali. Ia lebih senang berjalan dari satu

tempat ke tempat yang lain mencari apa saja yang dapat

dimilikinya. Bahkan ia telah pula kembali ke Kajar mencari Pasik.

Tetapi Pasik telah menghilang. Karena itulah maka dendamnya

kepada Mahisa Agni menjadi semakin bertambah-tambah.

Seandainya Pasik masih ada padanya, maka ia akan dapat

dipergunakannya untuk memungut bulu bekti di daerah kaki

Gunung Semeru yang jauh itu. Sedang apabila ia sendiri harus pergi

ke sana setiap kali, maka rasanya ia tidak akan sanggup.

Untuk sesaat Cundaka itu berdiam diri. Ditatapnya wajah Mahisa

Agni dan Mahendra berganti-ganti. Kemudian ia berpaling kepada

Kuda Sempana seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangannya.

Kuda Sempana itu pun mengumpat di dalam hatinya. Ia

membawa saudara seperguruannya untuk melepaskan sakit hatinya

atas Mahisa Agni itu, seperti juga Cundaka ingin melepaskan sakit

hatinya. Namun tiba-tiba di tempat itu hadir pula Mahendra. Karena

itu maka ia pun menjadi ragu-ragu.

Namun di antara mereka, hadir pula guru mereka. Empu Sada.

Apakah gurunya itu akan membiarkan mereka dalam kebimbangan?

Ternyata Empu Sada itu pun tersinggung pula mendengar katakata

Mahisa Agni. Meskipun ia tidak menganggap murid-muridnya

sebagai saluran cita-citanya, bahkan murid-muridnya baginya tidak

lebih dari sapi perahan untuk mendapatkan kekayaan, namun ketika

ia langsung melihat di hadapannya, muridnya seakan-akan menjadi

kecut, mau tidak mau harga diri perguruan Empu Sada pun tidak

dapat membiarkannya.

Sejenak kemudian ketika kedua muridnya seakan-akan terdiam

membeku, maka terdengar ia berkata, “Kuda Sempana dan

Cundaka. Bagaimana dengan rencana kalian. Bukankah kalian

berdua ingin mengikat Mahisa Agni dan menarik di belakang kuda

kalian ke arah yang berlawanan?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. “Gila!”

geramnya di dalam dadanya. Bahkan Mahendra pun terdengar

menggeretakkan giginya.

“Ya, Guru,” jawab Kuda Sempana, tetapi jawaban itu sama sekali

kurang meyakinkan.

“Kenapa kau sekarang menjadi ragu-ragu,” bertanya gurunya,

“apakah kau menjadi iba setelah kau melihat wajahnya yang pucat

seperti mayat itu.”

“Tidak!” sahut Cundaka lantang, “Aku akan melakukan

rencanaku. Bukan begitu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana mengangguk. Tetapi ia cukup mengenal

Mahendra. Dan apakah Mahendra akan tetap berdiam diri?

“Nah, apakah yang kalian tunggu?” bertanya gurunya.

Kuda Sempana menggeram. Ditatapnya wajah Mahendra yang

tegang setegang wajahnya sendiri.

Tiba-tiba terdengar Mahendra itu berkata, “Kuda Sempana.

Dendammu itulah yang kelak pasti akan menghancurkan dirimu

sendiri. Agaknya kau tidak mau melihat kenyataan.”

“Tutup mulutmu Mahendra! Kau tidak bersangkut paut dengan

urusanku.”

“Kau pasti telah pernah mendengar pula apa yang terjadi atasku.

Aku hampir gila seperti kau pula ketika aku tidak berhasil mendapat

gadis Panawijen itu. Tetapi kemudian aku menyadari keadaan. Aku

melihat kenyataan. Karena itu aku tidak menjadi gila seperti kau.”

“Persetan dengan bicaramu! Kalau kau ingin selamat tinggalkan

tempat ini.”

“Jangan mengancam! Tak ada gunanya. Aku sudah dapat

mengukur sampai di mana kemampuanmu Kuda Sempana. Kau

tidak mampu mengalahkan Witantra. Meskipun aku adik

seperguruannya, namun aku pasti akan mampu pula melawan ajimu

Kala Bama yang tidak berarti itu.”

Wajah Kuda Sempana menjadi merah padam mendengar

tantangan Mahendra itu. Namun bukan saja Mahendra tetapi juga

Cundaka merasa tersinggung karena anggapan yang menyakitkan

hati atas Kala Bama, ilmu yang dibanggakan. Apalagi guru Kuda

Sempana itu. Betapapun juga, ia adalah sumber dari ilmu itu. Ia

adalah guru yang telah menurunkan ilmu itu, sehingga kata-kata

Mahendra itu benar-benar menyinggung perasaannya.

Karena itu maka orang yang bertongkat hampir sepanjang

tubuhnya itu maju selangkah. Ditatapnya wajah Mahendra baikbaik.

Kemudian katanya sambil memiringkan kepalanya, “He, anak

muda. Apakah kau sadari kata-katamu? Kau menghina

perguruanku.”

“Sebaiknya kau tidak usah mencampuri urusan ini,” sahut

Mahendra dengan beraninya. Sebab ia merasa bahwa ia sudah

terjerumus dalam pertentangan yang mendalam dengan perguruan

Empu Sada, karena ia telah terlanjur menghinakan ilmunya. Tetapi

sebagai laki-laki Mahendra tidak juga beranjak surut.

Tiba-tiba guru Kuda Sempana yang bernama Empu Sada itu

tertawa. Suara tertawanya benar-benar menyakitkan telinga.

Katanya, “He, Kuda Sempana dan Cundaka. Biarlah aku turut dalam

permainan ini. Semula aku hanya ingin melihat anak muda yang

bernama Mahisa Agni itu, tetapi tiba-tiba aku ingin menangkap

kelinci di padang ini. Kini, teruskan rencanamu. Kau berdua harus

dapat menangkap Mahisa Agni. Ikat ia dengan kedua kuda kalian

dan paculah ke arah yang berbeda. Aku akan mengikat anak ini

pada kudaku, nanti aku akan melihatnya terkelupas seperti pisang.”

Kembali terdengar suara tertawa menyakitkan hati

berkepanjangan memenuhi padang Karautan itu.

Terasa dada Mahisa Agni dan Mahendra bergetar mendengar

kata-kata itu. Menurut pernilaian Mahisa Agni dan Mahendra, maka

Empu Sada itu pasti tidak sekedar bergurau dan mengancam.

Menilik sikap dan nada tertawanya, ia pasti akan dapat

melakukannya seperti yang dikatakannya.

Mahisa Agni itu pun kemudian menduga, bahwa mereka pasti

telah menyembunyikan kuda mereka, atau sengaja mereka

menuntun kuda-kuda mereka, sebelum mereka menemukan

tempatnya. Tetapi ia tidak sempat berpikir tentang kuda. Ia kini

harus bersikap menghadapi hantu-hantu yang melampaui

kebiadaban hantu Karautan yang pernah menggemparkan seluruh

Tumapel.

Yang terdengar kemudian adalah sisa-sisa nada tertawa Empu

Sada. Kemudian katanya pula, “Sebenarnya aku harus

mengucapkan terima kasih kepadamu Mahendra, bahwa dengan

mengikutimu, ternyata kau telah menunjukkan kepada kami, di

mana Mahisa Agni bersembunyi. Nah, karena kau telah menghina

perguruanku, maka sekarang aku terpaksa berbuat sesuatu atasmu.

Karena itu, supaya aku tidak mengubah rencanaku dengan rencana

lain yang lebih dahsyat, marilah ikuti aku ke tempat kudaku aku

tambatkan, sebelum aku mengikutimu dengan berjalan kaki. Sebab

menurut perhitunganku, Agni yang mimpi membuat bendungan itu

pasti akan tertarik perhatiannya pada jeram-jeram ini. Ternyata

perhitunganku benar, sehingga aku tidak menyimpan kuda itu

terlampau jauh.”

Sekali lagi Mahendra menggeram. Kata-kata itu benar-benar

merupakan penghinaan baginya. Karena itu jawabnya lantang,

“Jangan banyak bicara tikus tua. Kalau kau mau membunuh

Mahendra, bunuhlah dengan cara yang kau sukai. Tetapi jangan

mencoba menakut-nakuti aku dengan segala macam kata-kata yang

bagiku tak akan berarti.”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Tampaklah alisnya yang

tebal bergerak-gerak. Sekali-sekali ia mengerling kepada Mahisa

Agni, namun kemudian kembali ditatapnya wajah Mahendra, “Huh,

kau terlampau kasar. Seharusnya kau mati dengan cara lain.”

Empu Sada itu kini sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian

katanya kasar kepada kedua muridnya, “Ayo, apa yang kalian

tunggu. Tangkap Mahisa Agni. Biarlah anak ini aku selesaikan.”

Kedua murid Empu Sada itu terkejut, dan dada Mahisa Agni pun

berdesir. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus melawan

dengan segenap kekuatan yang ada padanya.

Untuk menghadapi kedua lawannya Mahisa Agni tidak boleh

kehilangan waktu. Sebab kecuali mereka hadir pula guru mereka,

Empu Sada yang pasti memiliki banyak kelebihan dari kedua

muridnya. Sudah tentu ia tidak akan dapat membiarkan Mahendra

mengalami bencana pula. Karena itu, maka tidak ada pertimbangan

lain, daripada segera membinasakan lawan-lawannya.

Demikianlah maka diam-diam Mahisa Agni memusatkan segenap

kekuatan lahir dan batinnya. Tanpa bersikap disusunnya getarangetaran

di dalam dadanya. Dialirkannya segenap kekuatannya ke

dalam telapak tangannya.

Sementara itu ia mendengar Cundaka tertawa. Meskipun tidak

setajam suara gurunya namun suara itu pun benar-benar telah

menyakitkan hati Mahisa Agni.

“Kuda Sempana,” berkata orang yang menamakan diri Bahu

Reksa Kali Elo itu, “kali ini jangan lepas lagi. Kita akan dapat

melepaskan dendam kita sekehendak hati. Kalau anak itu telah kami

ikat kaki dan tangannya, maka kita akan mendapatkan permainan

yang mengasyikkan.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Tetapi mulut pada

wajahnya yang selalu gelap itu sama sekali tidak tertawa.

Tersenyum pun tidak. Namun ialah yang mendekat lebih dahulu

sambil bergeremang, “Agni. Beberapa kali kau menggagalkan

rencanaku untuk dapat memiliki Ken Dedes. Kalau bukan kau yang

selalu menghalangi, maka aku tidak akan mengalami nasib sejelek

sekarang ini. Aku tidak perlu menyangkutkan kepentinganku dengan

Akuwu yang ternyata curang. Ternyata Akuwu sendiri mempunyai

pamrih atas gadis itu. Nah, jangan menyesal sekarang. Sudah jauh

terlambat. Terimalah nasibmu yang jelek sebagaimana nasibku

sendiri.”

Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab. Ketika dengan sudut

matanya, ia memandangi wajah Mahendra, dilihatnya wajah anak

muda itu menjadi tegang. Ternyata Mahendra sama sekali tidak

memperhatikan dirinya sendiri dan Empu Sada. Perhatiannya sama

sekali tercurah pada Mahisa Agni.

Sekali lagi terdengar gigi Mahisa Agni gemeretak. Ketika ia

melihat Kuda Sempana bergerak, maka dituntaskannya segenap

getaran di dalam dadanya. Kini ia tinggal memerlukan dorongan

untuk melepaskan puncak kekuatan yang tersimpan di dalam

dirinya, sebab ia sudah tidak melihat kemungkinan lain. Dengan

demikian ia mengharap segera dapat mengurangi satu lawannya

untuk kemudian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat

daripadanya.

Meskipun sesaat Mahisa Agni menjadi bimbang untuk dengan

tiba-tiba saja mempergunakan puncak ilmu pada gerak yang

pertama, namun diamatinya perjuangannya yang akan menjadi jauh

lebih berat dari setiap perjuangan yang pernah dilakukan. Melawan

Empu Sada.

Kuda Sempana dan Cundaka pun kemudian berjalan semakin

dekat. Kedua wajah itu bagaikan bumi dan langit. Kuda Sempana

memandang Mahisa Agni dengan penuh dendam dan gejolak

kemarahan, sedang orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali

Elo itu masih saja tertawa penuh hinaan. Namun keduanya bagaikan

wajah-wajah hantu yang haus melihat maut.

Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana dan Cundaka tertegun. Sesaat

mereka justru diam mematung. Baru kemudian disadarinya, bahwa

bahaya maut justru telah mengancam mereka.

Dalam gerak yang cepat secepat tatit, mereka melihat Mahisa

Agni menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya. Hanya

sesaat sebagai unsur daya penggerak dan pelontar kekuatannya.

Sesaat kemudian, anak muda itu telah meloncat dengan

dahsyatnya sambil mengayunkan tangannya dalam gerak pelepasan

kekuatan puncaknya, Aji Gundala Sasra, mengarah kepala Kuda

Sempana.

Bukan main terkejut Kuda Sempana dan Cundaka. Loncatan itu

sedemikian cepatnya, sehingga sama sekali tak memberi mereka

waktu untuk berbuat sesuatu. Apalagi Kuda Sempana. Ia melihat

Mahisa Agni seolah-olah anak panah yang meluncur seperti tatit

menyambarnya. Ia tidak dapat berbuat sesuatu untuk

menyelamatkan dirinya. Tak ada waktu baginya untuk

membangunkan kekuatan aji Kala Bama untuk mengimbangi

kekuatan aji lawannya. Meskipun seandainya kekuatan kedua aji itu

kurang seimbang, namun ia pasti tidak akan dapat dilumatkan oleh

lawannya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan itu. Satu-satunya

usaha yang dapat dilakukan adalah mengelak dan meloncat jauhjauh.

Namun Mahisa Agni pasti akan memburunya, dan kemudian

memukul tengkuknya sehingga tulang lehernya akan terpatahkan.

Meskipun demikian, Kuda Sempana masih juga berusaha.

Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia melontar ke samping,

untuk mencoba menghindarkan diri dari sambaran maut di tangan

Mahisa Agni.

Mahisa Agni melihat gerak lawannya. Cepat ia menggeliatkan dan

sekali lagi menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga geraknya

pun berubah arah. Ia benar-benar ingin membinasakan Kuda

Sempana untuk segera dapat melakukan perlawanannya atas

lawan-lawannya yang tinggal dan yang jauh lebih kuat dari dirinya

sendiri meskipun berdua dengan Mahendra.

Kuda Sempana terkejut melihat perubahan sikap Mahisa Agni.

Sekali lagi ia melihat maut menyambarnya. Karena itu, maka sekali

lagi ia terpaksa menghindar. Kuda Sempana itu kemudian

menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali menjauhi Mahisa

Agni.

Namun yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Ketika

sekali lagi Mahisa Agni menjejakkan kakinya di tanah dan

melontarkan diri mengejar Kuda Sempana, ia melihat sebuah

bayangan yang melontar cepat sekali di hadapannya. Demikian

cepatnya sehingga Mahisa Agni tidak sempat menghentikan dirinya

sendiri. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Mahisa Agni

dengan menghentakkan giginya, menyambar bayangan itu dengan

telapak tangannya. Telapak tangan yang telah dipenuhinya dengan

kekuatan yang disebutnya Gundala Sasra.

Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Bayangan itu tergetar.

Namun tetap tegak di tempatnya. Sedang Mahisa Agni sendiri

terpental surut beberapa langkah. Terdengar tubuhnya terbanting

jatuh di tanah. Dan terdengar pula ia mengeluh tertahan.

Ternyata ayunan tangan Mahisa Agni itu telah membentur tubuh

Empu Sada. Guru Kuda Sempana. Betapapun juga ia tidak dapat

melihat muridnya dihancur lumatkan di hadapan hidungnya.

Meskipun ia sekedar seorang guru upahan, yang mengajar muridnya

bukan karena keyakinannya, namun hubungan yang telah terjalin

sedemikian lamanya, antara dirinya dan muridnya itu, telah

mendorongnya untuk mencoba menyelamatkannya.

Ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri saja seperti patung melihat

wajahnya yang tegang, melihat cahaya matanya yang bergetar dan

dadanya yang menggelombang, maka Empu Sada yang sudah

kenyang melihat hitam putihnya berbagai macam ilmu, segera

menyadari bahaya yang sedang disusun oleh anak muda itu. Karena

itu maka ia tidak melepaskan kesiagaan seandainya muridnya

menjadi lengah. Dan ternyata hal itu terjadi. Muridnya hampir saja

dapat dibinasakan oleh anak muda yang akan ditangkapnya, karena

itu, maka ia tidak dapat membiarkannya. Segera ia meloncat

memotong gerakan Mahisa Agni yang sedang mengejar Kuda

Sempana yang mencoba menghindari lawannya sambil bergulingguling

di tanah.

Benturan yang terjadi itulah yang kemudian telah melemparkan

Mahisa Agni. Betapa dahsyat ilmunya, namun ia masih belum

mampu melawan keteguhan ilmu Empu Sada. Meskipun Empu Sada

tidak menyerangnya, namun benturan itu telah menghentakkan

kekuatan Mahisa Agni sendiri, sehingga ia tidak mampu untuk

menjaga keseimbangannya. Bahkan dadanya seakan-akan diketuk

oleh suatu kekuatan yang dahsyat, sehingga terasa sesaat nafasnya

menjadi sesak.

Mahendra melihat apa yang terjadi itu dengan getaran yang

dahsyat di dadanya. Sesaat ia hanya dapat mengikuti peristiwa yang

terjadi sedemikian cepatnya itu dengan matanya. Tubuhnya sendiri

seolah-olah terpaku sehingga untuk sesaat ia tetap berdiri saja

mematung.

Baru kemudian setelah ia melihat Mahisa Agni berguling di tanah

disadarinya apa yang terjadi. Ia melihat bahaya tidak saja

mengancam Mahisa Agni, tetapi akan mengancam dirinya sendiri.

Karena itu, maka segera ia bersiap menghadapi segala

kemungkinan. Ia ingin berbuat seperti Mahisa Agni. Langsung

menyiapkan ilmu puncak di tangannya, sehingga setiap waktu ia

akan dapat mempergunakannya. Meskipun ilmu itu belum dikuasai

sesempurnanya, namun ia sudah mampu mempergunakan untuk

menjaga dirinya.

Tetapi apa yang dilihatnya telah menggetarkan dadanya. Ketika

ia sedang mencoba menyusun ilmunya, tiba-tiba ia mendengar

Empu Sada tertawa dengan nada yang tinggi menyakitkan hati.

Namun yang lebih mencemaskannya, adalah, tiba-tiba saja orang

yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang melihat Mahisa

Agni terbanting di tanah dan belum mampu bangkit berdiri, segera

ingin mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepatnya ia

meloncat menyerang Mahisa Agni yang masih terbaring di tanah.

Mahendra tidak dapat membiarkannya terjadi, cepat ia

mengambil sikap. Ia mengurungkan niatnya, untuk membangkitkan

ilmunya, tetapi segera ia pun meloncat secepat Cundaka meloncat.

Langsung dengan kakinya ia melontarkan serangan ke arah

lambung Bahu Reksa Kali Elo.

Cundaka terkejut melihat kesiagaan Mahendra. Karena itu,

segera ia menggeliat, dan mencoba menghindari serangan itu.

Dengan sebuah hentakan di tanah. Cundaka berhasil melontarkan

ke samping menghindari serangan Mahendra yang meluncur

secepat kilat di sampingnya.

Demikian kaki Mahendra berjejak di atas tanah, cepat-cepat ia

memutar tubuhnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Tetapi ternyata Cundaka belum menyusulnya dengan sebuah

serangan balasan. Meskipun Mahendra melihat sikap orang yang

menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sebagai suatu sikap

yang berbahaya, namun ia masih berada di tempatnya.

Ternyata gurunya, Empu Sadalah yang telah mencegahnya. Kini

yang terdengar adalah suara tertawanya yang melengking

menyakitkan telinga. Di antara suara tertawanya terdengar ia

berkata, “Hem, anak-anak muda yang perkasa. Meskipun kalian

tidak berasal dari satu perguruan, namun kalian ternyata memiliki

kemampuan yang cukup untuk saling bekerja bersama-sama.”

Mahendra tidak menjawab. Ia menarik nafas ketika ia melihat

Mahisa Agni telah berdiri. Sekali-sekali dikibaskannya tangannya dan

diaturnya pernafasannya. Agaknya Mahisa Agni telah berhasil

mengurangi perasaan sakitnya dan perlahan-lahan kekuatan yang

ada di dalam tubuhnya telah mampu untuk bangkit kembali.

Empu Sada itu masih tertawa, meskipun semakin lama semakin

perlahan-lahan. Kemudian katanya pula, “Anak-anak muda, aku

telah mengenal berbagai macam ilmu dari berbagai macam

perguruan. Meskipun aku tidak bergaul dengan orang-orang sakti

itu, namun sedikit-sedikit aku dapat mengenal nama mereka.

Ternyata kalian adalah murid dari orang-orang sakti yang disegani.

Namun nasib kalian agaknya memang kurang baik. Kalian telah

melakukan pekerjaan yang berbahaya di tempat yang berbahaya.

Karena itu untuk menghilangkan setiap usaha pembalasan dendam,

maka kalian harus binasa. Kalau kalian masih hidup, maka kalian

akan menyampaikan peristiwa ini kepada guru-guru kalian sehingga

mereka pasti tidak akan tinggal diam. Nah, mudah-mudahan guruguru

kalian tidak bermimpi buruk di rumah malam ini.”

Kemudian kepada ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni

yang seakan-akan membeku orang tua bertongkat hampir

sepanjang tubuhnya itu berkata, “Sayang. Kalian pun harus mati

untuk melenyapkan saksi-saksi yang akan mungkin menyebar

luaskan berita tentang peristiwa ini. Tetapi jangan takut, kalian akan

mati dengan cara yang baik. Kalian akan ditusuk langsung di arah

jantung, sehingga kalian tidak akan mengalami derita. Kematian

yang demikian itulah yang dicari oleh hampir setiap orang. Mati

tanpa menderita. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni dan

Mahendra. Mereka akan mati dengan cara yang lain sebab mereka

telah berani melawan Empu Sada dan murid-muridnya.”

Suasana segera meningkat semakin tegang. Kini Mahisa Agni

telah hampir menguasai segenap kekuatannya kembali. Dengan gigi

gemeretak ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang.

Beberapa langkah daripadanya, Mahendra pun telah siap untuk

menghadapi segenap kemungkinan.

“Nah, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan kau dekati Mahisa

Agni dalam kewajaran. Siapkan aji Kala Bama. Hantamkan

kepadanya bersama-sama apabila seorang-seorang daripada kalian

belum dapat memadainya. Ia akan jatuh sekali lagi. Tetapi ia cukup

tahan untuk tidak mati. Nah, kemudian kalian akan dapat

menangkapnya dan menariknya di belakang kuda-kuda kalian selagi

ia masih hidup. Sedang yang satu ini serahkan kepadaku. Bukankah

kalian tidak berurusan dengan anak muda yang bersama Mahendra

ini?”

Tak seorang pun yang menyahut kata-kata itu. Tetapi mereka

kemudian segera memusatkan kekuatan lahir dan batin. tanpa

berjanji, keempat anak muda itu telah membangunkan kekuatan

puncaknya. Kuda Sempana dan Cundaka telah menyusun aji Kala

Bama, Mahendra dengan aji Bajra Pati seperti yang dimiliki oleh

Witantra dan Mahisa Agni telah memperbaharui kekuatannya dalam

ilmunya, aji Gundala Sasra.

Dalam ketegangan yang memuncak itu kembali terdengar suara

tertawa Empu Sada sambil berkata, “Lucu. Aku melihat kelucuan di

sini. Kalian, keempat anak-anak muda, sedang membangkitkan ilmu

kepercayaan masing-masing. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan itu

telah siap berbenturan. Namun apakah gunanya kau melawan

Mahisa Agni? Dan apa pula gunanya kau mempersiapkan permainan

yang buruk itu. Mahendra? Melihat sikapnya, aku menyangka bahwa

kau sedang mempersiapkan kekuatan yang dinamai oleh

penyusunnya, aji Bajra Pati. Kau sudah melihat Gundala Sasra tak

berarti apa-apa bagiku. Karena itu, lebih baik kalian menyerah.

Kalian akan segera diikat dan ditarik di belakang kuda. Bukankah

semakin cepat semakin baik?”

“Tutup mulutmu!” bentak Mahendra tanpa mengenal takut,

justru setelah ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat menghindar

lagi dari bahaya maut, “Ayo, jangan banyak bicara. Kalau aku tak

mampu membunuhmu, biarlah aku mati di padang Karautan.”

Orang tua itu menarik nafas. Pandangan matanya kini menjadi

semakin buas, seperti burung elang yang melihat anak ayam di

pelataran.

“Hem,” desahnya, “kau memang berani. Tetapi kau sedang

membuat dirimu sendiri sengsara.”

“Kau hanya mampu berbicara,” potong Mahendra. “tetapi kau

tidak mampu berbuat apa-apa.”

Orang tua itu agaknya menjadi marah sekali. Sebelum Mahendra

dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba ia merasa sebuah tamparan di

pipinya. Tamparan tangan orang tua bertongkat itu. Gerak itu

sedemikian cepatnya sehingga Mahendra seakan-akan tidak lebih

dari sebuah patung. Terasa pipi Mahendra disengat oleh perasaan

pedih. Ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping. Dengan

sekuat tenaga ia mencoba menguasai keseimbangannya.

“Anak gila!” terdengar suara Empu Sada berat parau, “Nah, kau

lihat apa yang dapat aku lakukan. Meskipun kau tengah

membangun aji yang kau bangga-banggakan namun kau tidak

berdaya melawan sebuah pukulan yang sangat sederhana. Apa

katamu sekarang?”

Mahendra menggeram. Namun ia masih menjawab, “Persetan!

Kau mulai dengan curang sebelum aku bersiap.”

Dada Empu Sada benar-benar terbakar oleh jawaban itu. karena

itu maka katanya, “Aku memang tidak mempunyai banyak waktu.”

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang telah bersiap dengan aji

Gundala Sasra itu pun tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia

mengerling ke arah Kuda Sempana yang sedang dengan asyiknya

melihat gurunya yang sedang marah itu.

Mahisa Agni masih tetap dalam pendiriannya, bahwa ia harus

segera dapat mengurangi jumlah lawan-lawannya. Tetapi anak

muda itu mengumpat di dalam hatinya ketika ia mendengar Empu

Sada memperingatkan muridnya, “Kuda Sempana jangan tidur.

Sekali lagi kau akan diserang oleh Gundala Sasra. Jangan kau lawan

seorang diri. Lawanlah bersama-sama. Kalian akan mendapatkan

Mahisa Agni itu seperti seonggok sampah. Nah, kau akan dapat

berbuat apa saja atasnya.”

Kini tidak ada jalan lain bagi Mahisa Agni daripada melawan

kedua orang itu bersama-sama. Karena itu, maka segera Mahisa

Agni mengambil sikap. Ia harus berusaha mendapatkan arah, yang

memungkinkan ia melawan kedua lawannya itu satu demi satu.

Karena itu, maka ia harus menjadi semakin berhati-hati.

Dalam pada itu Empu Sada pun telah melangkah maju mendekati

Mahendra. Perlahan-lahan sekali, seperti seekor kucing sedang

menakut-nakuti seekor tikus yang kecil. Namun dalam pada itu ia

masih berkata kepada murid-muridnya, “Hati-hatilah! Meskipun

musuhmu itu hanya seorang, tetapi ia cerdik seperti demit.”

Mahisa Agni menggeram. Kedua lawannya selalu mendapat

peringatan dari gurunya. Namun ia tidak dapat mengeluh saja di

dalam hatinya. Ia harus menghadapi bahaya itu, dan ia harus

melawan sekuat tenaga yang ada di dalam dirinya. Ia sama sekali

tidak akan dapat minta bantuan kepada ketiga kawan-kawannya,

yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu.

Dan Mahisa Agni pun sama sekali tidak menyesali mereka. Sebab

apapun yang mereka lakukan sama sekali akan tak berarti.

Ketika Kuda Sempana dan orang yang menamakan diri Bahu

Reksa Kali Elo itu melangkah semakin dekat, serta keduanya

kemudian mengambil jarak yang cukup untuk memecah perhatian

Mahisa Agni, maka terdengar suara Cundaka menggeram, “Mampus

kau kerbau gila. Sebut nama ayah bundamu. Tataplah langit untuk

yang terakhir kalinya sebelum kau memeluk bumi. Supaya kau tidak

menyesal di dalam alam lain kelak.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia benar-benar telah bersiap

menghadapi sepasang kekuatan aji Kala Bama.

Tetapi ketika kedua lawannya itu melangkah semakin dekat,

terjadilah sesuatu yang sama sekali di luar perhitungan mereka.

Tiba-tiba meluncurlah sebuah batu dari arah ketiga kawan-kawan

Mahisa Agni yang duduk membeku. Demikian kerasnya dan

langsung mengenai dada Cundaka sehingga terdengar orang itu

mengaduh pendek.

“Gila!” ia mengumpat keras-keras, “He, kelinci betina. Apakah

kau akan ikut campur dalam persoalan ini sehingga kau akan ikut

aku ikat di belakang kudaku?”

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar telah membeku

sehingga mereka sama sekali tidak dapat menjawab. Bahkan tubuh

mereka menjadi semakin gemetar dan tulang-tulang mereka seperti

dilolosi.

“Kalau sekali lagi kalian berbuat gila, maka kalianlah yang akan

mengalami nasib yang paling mengerikan.”

Tak ada jawaban sama sekali. Ketiganya masih saja duduk

seperti patung batu. Diam kaku.

Empu Sada pun melihat sesuatu terbang dari arah ketiga anakanak

muda itu. Ia mengetahui pula, bahwa salah seorang muridnya

telah terkena lemparan batu. Namun ia tidak melihat salah seorang

dari ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu bergerak. Karena

itu, timbullah kecurigaannya, sehingga ia berkata, “He, Cundaka,

apakah kau dapat dikenainya?”

“Ya, Guru, batu sebesar telur merpati. Tepat mengenai dadaku.

Alangkah sakitnya.”

“Batu sebesar telur merpati dapat membuat kau kesakitan selagi

kau mateg aji Kala Bama?”

“Ya, Guru.”

“Setan!” geram Empu Sada. Kemudian kepada ketiga anak muda

itu ia berteriak, “He, apabila ada di antara kalian seorang yang sakti,

yang mampu melempar tanpa menggerakkan tangan, bahkan

mampu menyakiti muridku, kenapa kalian atau salah satu dari kalian

berpura-pura takut? Sungguh tidak jujur. Ayo, kalau salah satu dari

kalian ternyata mampu berbuat demikian, sebutlah namamu dan

tampillah ke dalam arena.”

Ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni itu mendengar katakata

Empu Sada. Namun mereka sama sekali tidak mengerti

maksudnya, sehingga justru dada mereka seolah-olah telah

tersobek-sobek oleh pedang di lambung Kuda Sempana, atau

berlubang ditusuk tongkat orang tua itu.

Tetapi Empu Sada masih saja berkata kepada mereka. “Ayo,

jangan curang. Jangan menyerang sambil bersembunyi dalam

selubung ketakutan. Kalau salah seorang dari kalian tidak ada yang

mengaku, maka kalian bertigalah yang akan aku binasakan dengan

cara yang tidak pernah dapat kalian bayangkan. Sebab aku akan

dapat memotong setiap anggota badanmu perlahan-lahan, dari

yang paling tidak berbahaya dan yang terakhir adalah lehermu. Ayo

cepat katakan.”

Tubuh-tubuh itu kini benar-benar telah menjadi lemas. Demikian

takutnya, sehingga dengan tangan gemetar mereka menutupi

wajah-wajah mereka sendiri. Bahkan Jinan sudah menangis seperti

kanak-kanak yang ditinggalkan ibunya seorang diri di gelapnya

malam.

“Ha,” berkata Empu Sada lantang, “kau pura-pura menangis?

Mungkin kaulah yang telah melakukan keajaiban itu. Melempar

sedemikian kerasnya tanpa menggerakkan tanganmu. Kini kau purapura

menangis melolong-lolong. Apakah kau akan menyerang

muridku dengan aji yang dapat kau lontarkan lewat lolonganmu?”

Jinan menjadi semakin ketakutan. Karena itu maka tangisnya

menjadi semakin pedih. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak berbuat

apa-apa, tetapi suaranya tersekat di kerongkongannya karena

ketakutan yang mencengkam dadanya.

Empu Sada yang marah bukan buatan itu tidak sabar lagi.

Selangkah ia mendekati ketiga anak-anak muda itu. Namun kini,

bukan Cundaka yang akan terkena lemparan batu, tetapi batu itu

mengarah kepada dirinya. Namun ia adalah seorang yang cukup

sakti, sehingga ketika butiran batu itu menyambarnya, ia masih

mampu memukulnya dengan tongkatnya.

Namun ketika tongkatnya membentur batu kecil itu, Empu Sada

terkejut dan mengumpat, “He. Demit buruk! Siapa kau?”

(bersambung )

 

Jilid 15

TERNYATA SENTUHAN batu kecil itu benar-benar tidak di

duganya. Tenaga dorongnya telah mampu menggetarkan

tongkatnya. Karena itu, maka dengan demikian segera Empu Sada

mengetahui bahwa kekuatan orang yang melemparkan batu itu

benar-benar kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan.

Kini ia telah dapat meyakini, bahwa sebenarnya memang bukan

salah seorang anak-anak Panawijen itulah yang melemparkan batu

itu. Ketika ia sedang menghadap kepada ketiga anak itu dan

memandangi mereka, maka dilihatnya batu itu melontar dari

gerumbul di belakang anak-anak yang membeku itu. Dengan

demikian maka segera Empu Sada mengetahuinya, bahwa seorang

telah bersembunyi di balik gerumbul itu.

Empu Sada itu pun kini tidak mau melangkah maju lagi.

Seseorang yang melampaui kekuatan kebanyakan orang sedang

menunggunya. Mungkin suatu ketika orang yang bersembunyi itu

tidak melemparnya dengan batu, tetapi suatu kali dapat terjadi

orang itu melempar dengan sebilah pisau, atau dengan jarum-jarum

baja yang runcing sebangsa paser yang kecil.

Yang dapat dilakukan oleh orang tua itu kemudian adalah

berteriak-teriak lantang, “He, pengecut yang bersembunyi di balik

gerumbul. Ayo keluarlah! Jangan menyerang sambil bersembunyi!”

Namun suaranya itu lepas saja tanpa ada yang menyahut.

Gemanya menggelentang memukul tebing-tebing perbukitan dan

menelusuri dinding sungai, mengatasi desir air terjun di bawah

jeram-jeram.

Sesaat Empu Sada itu terdiam. Dipandanginya gerumbul itu

dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya ingin menembus

rimbunnya daun-daun perdu di dalam alam yang semakin gelap.

Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Empu Sada sama sekali tidak dapat

menangkap tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya, siapa dan

berapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul itu. Namun

dengan demikian, menilik cara orang itu mengatur pernafasannya,

cara orang itu sampai ke sana dan bersembunyi di sana tanpa

diketahuinya, maka pasti orang itu bukan orang kebanyakan.

Agak di belakang Empu Sada sebelah menyebelah, berdiri

keempat anak-anak muda dengan tegangnya. Mahisa Agni,

Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka terpaku di

tempatnya seperti sebatang tonggak yang kokoh. Namun perhatian

mereka pun sama sekali terampas oleh peristiwa yang mendebarkan

itu. Lebih-lebih Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka menyangka,

bahkan hampir pasti, bahwa orang yang bersembunyi itu, akan

berdiri di pihak Mahisa Agni dan Mahendra. Ternyata ia telah

mencoba menghalangi Cundaka dan Empu Sada sendiri.

Meskipun demikian, kedua orang itu terlampau percaya kepada

gurunya. Gurunya adalah seorang sakti yang pilih tanding. Seorang

yang disegani oleh orang-orang sakti yang lain, sehingga tidak

banyak di antara mereka yang sanggup bergaul, bersaing dan

bertemu dalam ilmu dengan gurunya.

Sesaat padang rumput itu terbenam dalam suasana yang sunyi.

Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh-tubuh yang

kaku tegang, menggetarkan dedaunan dan membuat suara yang

sayu. Sekali-sekali suara jeram-jeram yang dihanyutkan oleh silirnya

angin terdengar gemeresik beruntun susul menyusul. Namun

kemudian semakin lama menjadi seolah-olah semakin jauh.

Empu Sada masih berdiri dengan tegangnya. Tongkatnya siap

untuk menghadapi setiap kemungkinan, ia menyangka bahwa orang

yang bersembunyi adalah seorang yang sakti.

Namun tidak berani beradu dada dengannya, sehingga orang itu

hanya dapat melawannya dari tempat yang tersembunyi.

Kemarahan Empu Sada semakin lama menjadi semakin

memuncak pula. Ia tidak sabar lagi menunggu keadaan berkembang

semakin jelas. Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak, “He, Kuda

Sempana dan Cundaka. Jangan hiraukan kelinci yang bersembunyi

di dalam semak-semak itu. Ayo, selesaikan pekerjaanmu, mengikat

Mahisa Agni di belakang punggung kudamu. Biarlah orang ini

berada di tempat persembunyiannya sampai kita meninggalkan

tempat ini.”

Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Babu Reksa

Kali Elo itu seolah-olah tersadar. Sekali mereka menghentakkan

dirinya, maka kini mereka siap menghadapi lawannya. Mahisa Agni.

Tetapi kembali mereka tertegun, karena tiba-tiba Mahendra

berkata, “Nah, Agni. Marilah kita melawan keduanya. Pilihlah

olehmu, manakah yang lebih menarik perhatianmu satu di antara

mereka.

Mahisa Agni berpaling ke arah Mahendra sesaat. Cepat ia dapat

menangkap maksudnya. Ia menganggukkan kepalanya dan berdesis

di dalam hatinya, “Mahendra cukup cerdik menanggapi keadaan.”

Namun dalam pada itu Empu Sada menggeretakkan giginya

sambil berteriak, “He, Mahendra. Jangan turut campur! Biarlah

mereka menyelesaikan persengketaan mereka sendiri.”

Sebelum Mahendra menjawab terdengar suara Mahisa Agni

parau.

“Dan kau biarkan Mahendra terlalu lama menunggu kau

membunuhnya. Ia tidak cukup sabar. Biarlah salah seorang

muridmu mewakilmu.”

“Tidak!” teriak Empu Sada, “Aku sendiri akan membunuh

Mahendra.”

“Silakan,” sahut Mahisa Agni pula, “tetapi agaknya kau lebih

tertarik pada permainan baru itu.”

Sekali lagi Empu Sada menggeretakkan giginya. Kedua anak itu

ternyata mampu mempergunakan kesempatan. Meskipun tak

seorang pun di antara mereka yang mengetahui, siapakah yang

berada di dalam semak-semak itu, tetapi mereka merasa bahwa

orang yang berada di dalam semak-semak ini, tidak ingin melihat

Mahisa Agni dan Mahendra mengalami nasib yang sangat buruk.

Setidak-tidaknya orang itu ingin melihat persoalan ini berakhir

dengan jujur. Tanpa ikut campurnya orang-orang luar seperti Empu

Sada.

Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Mahendra sendiri pun

diliputi oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti,

apa yang dikehendaki oleh orang yang bersembunyi itu. Yang dapat

dilakukan kini hanyalah kemungkinan yang dapat menguntungkan

saja dalam keadaan yang sangat berbahaya itu.

Sesaat Empu Sada berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera

meloncat mencekik Mahendra, namun sebagian perhatiannya terikat

pada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Kalau ia

lengah, mungkin sebuah pisau dapat menembus lambungnya.

Karena itu, yang terdengar kemudian orang tua itu mengutuk habishabisan,

“Setan pengecut! Ayo keluarlah! Kalau tidak, maka aku

segera akan membunuh Mahendra. Mungkin kau saudaranya atau

gurunya sekali atau apa?”

Masih tak ada jawaban. Namun pertanyaan Empu Sada itu

bahkan mengungkit dugaan Mahendra atas orang yang bersembunyi

itu. Gurunya memang berada di Tumapel saat ini. Gurunya melihat

kakak seperguruannya menyuruhnya pergi ke padang Karautan.

Gurunya mendengar pula, apa yang diceritakan oleh Ken Arok

kepada Witantra.

Tetapi kembali Mahendra menghapus dugaannya itu. Gurunya

tidak berkepentingan apa-apa dengan padang Karautan, dengan

Mahisa Agni, Ken Dedes maupun Tunggul Ametung.

“Aku tidak peduli siapa yang bersembunyi itu,” katanya di dalam

hati, “tetapi aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya

seandainya aku masih tetap hidup dan dapat keluar dari padang ini,

karena ia telah menyelamatkan aku dan Mahisa Agni.”

Namun kesenyapan padang itu kembali tersayat oleh suara Empu

Sada, “Bagus. Kalau kau tidak menampakkan dirimu. Aku sudah

kehabisan waktu. Tunggulah, aku akan memutar leher Mahendra

sehingga ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Aku ingin melihat

tubuhnya terkelupas di belakang kudaku yang berlari kencang.”

Empu Sada itu pun dengan hati-hati melangkah surut. Ia ingin

menjauhi gerumbul itu untuk kemudian meloncat mencekik

Mahendra. Namun kembali ia mengumpat. Dengan sigapnya ia

terpaksa menggerakkan tongkatnya memukul sebutir batu yang

terbang ke arah dadanya.

“Gila! Gila!” teriaknya, “Ayo pengecut, jangan bersembunyi saja!

Kalau kau tidak berani berhadapan muka dengan Empu Sada,

jangan mengganggu. Pulang saja ke rumah. Ambil periuk, dan lebih

baik menanak nasi daripada berada di medan.”

Empu Sada menunggu sesaat. Ia menjadi semakin gelisah ketika

ia melihat Mahisa Agni ternyata telah mempersiapkan dirinya. Ia kini

cukup yakin bahwa orang di gerumbul itu memang berusaha untuk

mengikat Empu Sada, sehingga orang itu sama sekali tidak sempat

mengganggu perkelahian anak-anak muda itu. Mahendra yang

melihat Mahisa Agni bersiap, segera menyiapkan dirinya pula. Ia

pun telah mendapat keyakinan seperti Mahisa Agni, sehingga

dengan tenang, akan dihadapinya lawannya. Salah satu dari kedua

murid Empu Sada itu.

Tetapi keduanya segera terganggu. Ternyata orang yang

bersembunyi di dalam gerumbul itu tidak ingin bersembunyi terus.

Sejenak kemudian terdengar suara tertawa lirih, dalam nada yang

rendah.

“Hm,” terdengar suara dari dalam gerumbul itu, “ternyata

nyamuknya bukan main banyaknya, sehingga aku tidak betah

tinggal di dalam gerumbul ini terlampau lama.”

Kembali terdengar gemeretak gigi Empu Sada. Ternyata orang itu

sengaja menghinanya. Bukan karena dirinya, tetapi justru hanya

karena digigit nyamuk, maka orang itu keluar dari

persembunyiannya. Namun Empu Sada masih berdiam diri.

Betapapun kemarahannya menyala di dalam dadanya, tetapi orang

itu, yang bersembunyi di belakang gerumbul masih belum

menampakkan diri, selain baru suaranya.

Bahkan kembali suara itu terdengar, “Bukan hanya nyamuk,

tetapi semutnya pun banyak sekali. He Empu Sada, apakah kau

membawa param untuk menghampiri gigitan semut ngangrang?”

“Gila! Setan betina! Ayo jangan banyak bicara,” bentak Empu

Sada yang tidak dapat menahan kemarahannya, “Ayo keluarlah dan

marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.”

Kembali terdengar suara tertawa dalam nada yang rendah.

“Jangan marah,” terdengar jawaban, “baiklah aku keluar dari

persembunyian ini.”

Sesaat kemudian Empu Sada membelalakkan matanya. Ia

melihat daun-daun yang bergerak. Ternyata orang yang

bersembunyi itu benar-benar akan meloncat keluar.

Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan orang yang

menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, tertegun kaku. Pandangan

mata mereka pun melekat pada daun-daun yang bergerak-gerak itu.

Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah

yang akan muncul dari dalamnya.

Tiba-tiba mereka melihat bayangan itu. Tidak meloncat dengan

atau sigap melangkah dengan gagahnya. Tetapi bayangan itu

perlahan-lahan menyibak dedaunan dan dengan langkah satu-satu

maju menyusup di antara daun-daun dan ranting-ranting kecil.

Empu Sada benar-benar tidak sabar melihat orang itu. Dengan

nada yang tinggi ia berteriak, “Cepat, he siput tua. Aku tidak sabar

menunggu kau merayap.”

“Jangan tergesa-gesa,” sahut orang itu, “aku sudah tua, dan

malam gelapnya bukan main.”

“Jangan mengada-ada. Kau mampu melemparkan batu sekeras

itu. Kenapa kau tidak meloncat dan menepuk dada, inilah aku.”

“Tidak-tidak. Kalau aku menepuk dadaku sendiri aku akan

terbatuk-batuk.”

“Kau benar-benar setan. Kau ingin mempengaruhi tanggapanku

atasmu, supaya aku menjadi lengah. Pengecut!” geram Empu Sada.

“Itu pun tidak. Bersiagalah, supaya kau tidak mati melawan aku.

Tetapi jangan membentak-bentak. Biarlah aku berbuat sesuka

hatiku.”

Dada Empu Sada serasa benar-benar telah menyala. Kini ia

melihat bayangan itu telah melangkahkan kakinya, menerobos

lembaran daun terakhir. Demikian orang itu tampak di luar

gerumbul demikian terdengar Empu Sada berkata lantang, “Setan!

Benar-benar Setan. Jadi kau yang telah mengganggu pekerjaanku.

Kenapa tiba-tiba saja berada di tempat ini?”

Bukan saja Empu Sada yang terkejut melihat kehadiran orang itu,

tetapi juga Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka.

Meskipun sebab dari kejutan itu berbeda-beda, namun sesaat

mereka justru terpaku di tempatnya.

Empu Sada terkejut karena tiba-tiba saja ia melihat orang yang

sama sekali tak disangkanya akan hadir di tempat itu. Sedang

Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka terkejut

karena sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Demikian

orang itu ada di antara mereka, demikian orang itu telah memilih

pihak.

Orang itu sendiri berdiri sambil mengibaskan pakaiannya. Sekalisekali

ia tersenyum dan kemudian katanya, “Hm. Bukan main

gatalnya. Nyamuk, semut dan segala macam serangga.”

“He, Ki Sanak,” potong Empu Sada kemudian, “kenapa kau tibatiba

saja berada di tempat ini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,

“Kebetulan saja aku berada di tempat ini. Berhari-hari aku

membayangi anak yang bernama Mahisa Agni. Aku mencarinya dan

kini aku telah menemukannya.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Orang itu

juga mencarinya. Siapa dan kenapa?

Namun dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Untuk apa

kau cari anak itu?”

“Seperti kau. Seperti apa yang akan kau lakukan atasnya.”

“He, apakah kau mempunyai kepentingan yang sedemikian

penting dan menyangkut persoalan yang langsung menyinggung

dirimu, sehingga kau berusaha merebutnya dari tangan muridku?”

“Ya,” sahut orang itu, “lepaskan Mahisa Agni. Akulah yang akan

menyelesaikannya.”

Mereka berdua sesaat berdiam diri. Empu Sada mengawasi orang

itu dengan tajamnya. Namun sekali-sekali ia berpaling juga kepada

Mahisa Agni dan kedua muridnya.

Tetapi sesaat kemudian Empu Sada itu tertawa. Suaranya

melengking tinggi menyakitkan telinga. Di antara suara tertawanya

itu terdengar kata-katanya, “Ha, Mahisa Agni. Nasibmu memang

terlampau jelek. Agaknya kau sudah menyangka bahwa seseorang

telah datang menolongmu. Tetapi keledai tua ini ternyata sedang

mencarimu pula, karena kau telah berbuat dosa atasnya. Hem. Anak

semuda kau ini telah mempunyai musuh di segala penjuru angin.

Hanya orang-orang yang berwatak jail, suka mencampuri urusan

orang lain seperti kau inilah, maka kau mempunyai musuh di manamana.”

“Nah, aku minta tinggalkan Mahisa Agni,” berkata orang itu.

Namun sekali lagi terdengar Empu Sada tertawa, “Jangan

mengigau. Aku tahu bahwa kau akan dapat melakukan apa saja

yang kau kehendaki atasnya. Terapi aku ingin memberi sekedar

permintaan kepada kedua muridku. Mungkin kau ingin melihat

permainan itu pula.”

“Permainan apa?”

“Apakah kau belum mendengar? Sejak tadi aku telah menyebutnyebutnya.”

“Menariknya di belakang seekor kuda?”

“Ya.”

Orang itu terdiam sesaat. Namun tiba-tiba ia menjawab, “Aku

dapat juga melakukannya.”

Jawaban itu benar-benar menggetarkan dada Mahisa Agni. Ia

belum pernah berbuat sesuatu atas orang itu. Ia belum pernah

mempunyai persoalan apapun. Namun tiba-tiba orang itu datang

membawa dendam kepada dirinya.

Dada Mahisa Agni benar-benar diguncangkan oleh berbagai

perasaan. Bingung, cemas dan beribu pertanyaan melingkar-lingkar.

Ia sama sekali tidak mencemaskan nasibnya kini. Ia sama sekali

tidak gentar menghadapi apapun, apalagi setelah ia mendapat

kesimpulan bahwa ia kini sedang menjelang harinya yang terakhir,

namun ia merasa bingung dan cemas, bahwa ternyata ia telah

menyalahi dan menumbuhkan dendam kepada orang lain atas

dirinya tanpa disadarinya. Kalau demikian, maka alangkah rendah

budinya. Alangkah bodohnya. Ia sama sekali tidak ingin membuat

orang lain menjadi sakit hati, apalagi mendendamnya. Kini tiba-tiba

ia berhadapan dengan orang semacam itu. Sakit hati dan

mendendam.

Namun Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia ingin mendengar

apa saja yang akan dipercakapkan oleh Empu Sada. Mungkin dalam

percakapan itu ia akan dapat menangkap, siapa dan apa saja yang

menumbuhkan dendam itu kepadanya.

Kini yang terdengar adalah suara Empu Sada, “Aku ragu-ragu

akan kata-katamu.”

“Kenapa?” sahut orang itu, “apakah kau ragu-ragu bahwa aku

akan dapat menangkapnya hidup-hidup dan mengikatnya di

belakang seekor kuda. Namun kini aku tidak sedang membawa

kuda. Meskipun demikian kau tentu akan memberi kesempatan aku

meminjam kudamu.”

“Tidak,” sahut Empu Sada, “aku tidak ragu-ragu. Aku kenal

kesaktianmu. Tetapi adalah bukan kebiasaanmu berbuat demikian.

Selama ini kau selalu menentang tindakan-tindakan yang

menyenangkan itu. Kau selalu menganggapnya sebagai suatu

kebiadaban dan keganasan, sehingga kau menganggap orang-orang

yang harus dijauhkan dari pergaulan. Nah, sekarang kau datang dan

akan melakukan perbuatan yang serupa.”

“Khusus untuk anak itu,” sahut orang itu.

Empu Sada tertawa terbahak-bahak, sehingga tongkatnya

terguncang-guncang. Katanya, “Huh, ternyata sifatmu yang selama

ini kau bangga-banggakan adalah hanya sekedar pulasan. Ternyata

apabila kau sendiri langsung tersentuh perasaanmu, maka sifatsifatmu

yang asli itu terungkapkan. Kalau demikian, maka akulah

yang lebih jujur darimu. Aku tidak pernah menyembunyikan segala

macam sifat watak dan kesenanganku seperti kau. Dan lihat,

muridku pun bukan hanya sekedar anak-anak pedesaan. Kuda

Sempana adalah seorang pelayan dalam istana.”

“Jangan ribut,” potong orang itu, “serahkan Mahisa Agni

kepadaku.”

Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat ia masih dicengkam

keraguan. Dikenalnya orang yang datang itu sebagai seorang yang

selama ini menentang hampir segala perbuatannya. Meskipun

mereka berdua berkawan sejak kecil, namun setelah mereka

menempuh jalan hidup masing-masing, maka seakan-akan mereka

berdua selalu bermusuhan meskipun tidak berterus terang.

Hampir setiap usaha Empu Sada bertentangan dengan selera

orang itu. Sehingga setiap kali mereka pasti berselisih pendapat.

Akhirnya mereka berdua dipisahkan oleh keadaan. Masing-masing

menuruti jalannya sendiri-sendiri. Hanya kadang-kadang mereka

masih bertemu dalam pertentangan pendirian. Semakin lama

semakin tajam. Sehingga setelah mereka kemudian tumbuh menjadi

orang-orang sakti menurut saluran ilmunya masing-masing yang

diterima dari guru yang berbeda-beda, maka mereka hampir tidak

ingin berjumpa kembali yang satu dengan yang lain. Mereka masih

menghormati persahabatan masa kanak-kanak mereka, namun

mereka saling membenci karena pandangan hidup mereka yang

jauh berbeda, bahkan berlawanan.

Tetapi pada suatu saat mereka harus berjumpa kembali. Di

padang rumput Karautan yang sepi.

Apabila Empu Sada mengenang segala peristiwa yang pernah

terjadi dalam hubungannya dengan orang itu, maka ia yakin, bahwa

orang itu datang untuk meneruskan usahanya, menghalang-halangi

semua perbuatannya, yang dianggap oleh orang itu bertentangan

dengan sendi-sendi kemanusiaan. Karena itu, akhirnya Empu Sada

pun mampu menarik kesimpulan atas segala macam kata-kata

orang yang baru datang itu.

Tiba-tiba padang rumput Karautan yang sepi itu tersayat oleh

suara tertawa Empu Sada yang tinggi melengking. Semua orang

yang mendengar suara itu terkejut. Hanya orang yang masih berdiri

di muka gerumbul itu sajalah yang seakan-akan sama sekali tidak

mendengar suara Empu Sada itu.

Lebih-lebih Mahisa Agni sendiri. Hatinya selama ini selalu

terguncang-guncang oleh berbagai persoalan. Kini tiba-tiba ia

menghadapi persoalan baru yang sama sekali tak dikenal ujung dan

pangkalnya. Orang yang sama sekali belum dikenalnya, tiba-tiba

merasa menyimpan dendam di dalam hatinya.

Mahisa Agni yang merasakan keanehan itu masih juga berusaha

memandangi wajah orang baru itu. Namun agaknya kepekatan

malam telah mengaburkan pandangan matanya ia tidak berhasil

mengenal wajah itu. Apalagi ia berdiri tidak begitu dekat. Namun

betapapun ia mencoba mengingat-ingat bentuk tubuhnya, suaranya

dan apa saja yang memungkinkan ia mengenalnya, tetapi usaha itu

sia-sia. Malam gelap dan hati Mahisa Agni pun gelap. Dan kini suara

tertawa Empu Sada itu benar-benar telah menyakitkan telinganya

dan mengguncang-guncang isi dadanya.

Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu surut dengan cepatnya ketika

terdengar orang yang baru datang itu mendehem beberapa kali.

Bahkan tiba-tiba orang itu menguap sambil berkata, “Aku

mengantuk sekali. Apakah malam ini telah terlampau dalam?”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Suara tertawanya kini telah

berhenti. Ditatapnya wajah orang yang baru datang itu dengan

tajam. Lalu katanya, “Hem, kau sangka aku termasuk anak-anak

yang dapat kau kelabui. Apa hubunganmu dengan Mahisa Agni

sehingga kau akan melepaskan dendammu kepadanya? Aku tahu

apa yang akan kau lakukan atasnya. Sekali lagi kau akan

menghalang-halangi maksudku.”

“He,” orang itu seperti acuh tak acuh saja berkata, “apa begitu?”

“Gila!” Empu Sada mengumpat, “Kau masih saja gila sejak

dahulu. Setelah umurmu melampaui pertengahan abad, kau masih

saja berbicara tanpa ujung pangkal. Ayo, katakan yang

sebenarnya.”

“Kau telah menyebutnya Empu.”

“Hmm, jadi benar dugaanku. Kau akan mencegah murid-muridku

membuat permainan yang dapat menyenangkan hati mereka.”

Pembicaraan itu telah membuat Mahisa Agni menjadi pening

karenanya. Ia sama sekali tidak mampu membuat tanggapan yang

sebenarnya dari pembicaraan itu. Dan sampai sejauh itu, baik Empu

Sada maupun orang yang baru datang itu sendiri belum pernah

menyebut namanya.

Karena itu, dalam kepepatan perasaan tiba-tiba terdengar Mahisa

Agni berteriak, “Kalian membicarakan tentang nasibku. Tetapi aku

belum mengenal siapakah kau orang yang baru datang?”

Orang itu berpaling. Dipandanginya Mahisa Agni dari ujung kaki

sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Mahisa

Agni, apakah kau ingin mengenal aku?”

“Tentu. Meskipun aku tidak tahu maksudmu sebenarnya, apakah

kau akan membunuh aku apakah kau akan berbuat apa saja, namun

aku ingin tahu siapakah kau ini.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia

berpaling kepada Empu Sada sambil berkata, “Anak itu belum

mengenal aku Empu.”

“Hem,” geram Empu Sada, “apakah aku harus memperkenalkan

Ki Sanak kepada anak itu?”

“Silakan,” sahut orang itu.

“Sebutlah namamu sendiri. Kau yang datang mencampuri

urusanku. Mustahil kalau kau belum mengenalnya Atau kalau

demikian, aku menjadi semakin pasti, bahwa kau pasti hanya ingin

menggagalkan maksudku. Lain tidak.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya

kepada Mahisa Agni, “Agni, aku kenal kepada gurumu meskipun

tidak begitu rapat. Aku kenal guru anak yang bernama Mahendra

itu, juga meskipun tidak begitu rapat. Tetapi hubunganku dengan

kau Agni, jauh lebih rapat dari hubunganku dengan gurumu atau

guru Angger Mahendra.”

Mahisa Agni mendengarkan kata orang itu dengan terheranheran.

Hubungan apakah yang ada antara dirinya dan orang itu.

Namun Mahisa Agni tidak bertanya. Dibiarkannya orang itu berkata

terus.

“Sejak beberapa hari aku sengaja membayangimu Agni. Aku

sudah mendengar kabar tentang gurumu yang beberapa hari yang

lalu pergi meninggalkan Panawijen. Karena itu, aku harus

menemuimu.”

Agni masih saja berdiri seperti patung. Dan ketika orang itu akan

berkata terus terdengar Empu Sada memotong, “He, apakah yang

sedang kau katakan itu? Rupa-rupanya kau sedang mengarang

sebuah cerita supaya kau mempunyai alasan untuk berbuat

sesuatu.”

Orang itu tertawa, “Kau terlalu curiga kepadaku Empu.”

“Tentu aku mempunyai alasan untuk curiga. Selama ini kau selalu

berusaha mencampuri urusan orang lain.”

“Tetapi kali ini bukan urusan orang lain, Mahisa Agni bagiku sama

sekali bukan orang lain.”

“Omong kosong!”

Orang itu tertawa kembali. Suara lunak dalam nada yang rendah.

Katanya kemudian, “Aku melihat kau malam kemarin bertempur

melawan Angger Kuda Sempana yang menamakan dirinya hantu

Karautan dan menyembunyikan wajahnya di belakang secarik kain.

Sejak itu aku merasa bangga kepadamu Agni. Kau benar-benar

mewarisi ketangkasan ayahmu dahulu.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Orang itu menyebut-nyebut ayahnya

yang telah meninggal. Dan didengarnya orang itu berkata, “Aku

sangka bahwa aku tidak akan dapat bertemu dengan kau lagi, Agni.

Tetapi beberapa waktu yang lampau aku mendengar dari seseorang

yang datang kepadaku atas suruhan ibumu, bahwa kau masih ada,

dan kau berada di dalam asuhan Empu Purwa. Dan ternyata kau

mencerminkan perguruan Panawijen dengan baiknya.”

“Jangan melantur!” bentak Empu Sada yang kehilangan

kesabaran, “Perkenalkan dirimu. Lalu kau mau apa? Kalau kau mau

berbuat sesuatu untuk anak itu, melindunginya misalnya. maka aku

tidak mempunyai cara lain dari menyingkirkan kau, Ki Sanak.”

“Aku minta waktu sesaat lagi,” jawab orang itu. Kemudian

kepada Mahisa Agni ia berkata, “Agni, kau mempunyai sebilah keris

peninggalan ayahmu?”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk. Keris peninggalan

ayahnya buatan pamannya itu hampir tak pernah terpisah

daripadanya apabila ia sedang melakukan tugas-tugas yang penting

dan mungkin berbahaya. Meskipun ia membawa pedang, namun ia

lebih tenang apabila kerisnya itu dibawanya pula. Keris yang

baginya bukan sebagai senjata biasa. Karena itulah maka keris itu

justru jarang sekali atau bahkan tidak pernah dipergunakannya.

Sebab ia tahu benar betapa tajam kekuatan yang tersimpan

padanya. Setiap goresan, meskipun hanya seujung rambut akan

dapat berarti maut.

Dalam pada itu terdengar orang itu berkata, “Apakah kau pernah

mendengar baik dari ibumu atau dari orang lain bahwa keris

peninggalan ayahmu itu dibuat oleh seseorang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Siapakah yang membuatnya?”

“Paman,” jawab Agni, “Paman Empu Gandring.”

“Apakah kau pernah mengenal pamanmu itu?”

“Pernah,” sahut Agni demikian saja meluncur dari bibirnya.

“Kapan?”

Mahisa Agni terdiam sesaat. Ia pernah mengenal pamannya

dahulu. Dahulu, pada waktu ia masih kecil. Pamannya adalah

seorang yang bertubuh gemuk, kekar dan berwajah bulat.

Pamannya adalah seorang Empu yang riang. Namun itu sudah

berlalu jauh di belakang, belasan tahun yang lampau.

Orang yang berdiri di dekat gerumbul itu tersenyum. Orang itu

bertubuh kecil meskipun tidak pendek. Yang dengan menganggukanggukkan

kepalanya ia berkata, “Nah Agni. Akulah yang membuat

keris itu.”

Dada Mahisa Agni tersentak mendengar pengakuan itu. Orang itu

sama sekali tidak gemuk seperti pamannya. Karena itu maka

dengan serta-merta Agni berkata, “Paman Empu Gandring bertubuh

gemuk.”

Kini orang itu tertawa, “Umurku telah memanjat dari tahun ke

tahun. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Banyak persoalan

yang harus aku selesaikan. Ternyata aku semakin tua menjadi

semakin kurus.”

Mata Mahisa Agni masih memancarkan keragu-raguan. Namun

terdengar Empu Sada kemudian memutus pembicaraan mereka,

“He, Ki Sanak. Apakah monyet ini kemenakanmu?”

“Ya,” sahut orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu, “ia

adalah kemenakanku.”

“Setan!” umpat Empu Sada, “Kau bohong! Kau hanya mencari

sebab untuk mencegah perbuatanku.”

“Kali ini tidak,” sahut Empu Gandring, “meskipun aku akan

mencegah perbuatanmu, tetapi bukan sekedar mencampuri

persoalan orang lain. Tetapi Mahisa Agni adalah kemenakanku.”

Padang rumput Karautan itu sesaat tenggelam dalam keheningan

yang tegang. Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung memandangi

orang yang berdiri di dekat gerumbul itu. Tiba-tiba terangkatlah

kembali kenangannya yang lamat-lamat tentang pamannya. Ciri itu

masih dirasakannya. Pamannya adalah seorang yang suka bergurau.

Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah paman ini Paman Empu

Gandring yang sebenarnya?”

Orang itu tertawa, “Apakah ada Empu Gandring yang lain?”

Mahisa Agni terdiam. Ditatapnya wajah orang itu dengan

seksama, dan melonjaklah keharuan di dalam dadanya seakan-akan

ia menemukan sesuatu yang hilang yang tak pernah disangkanya

akan ditemukannya lagi. Beberapa saat yang lampau, hampir ia lari

mencari pamannya ini untuk membantunya mendapatkan anak

gurunya. Tetapi maksud itu tak pernah dilakukannya.

Dan kini tiba-tiba pamannya itu telah berdiri di hadapannya tanpa

dicarinya. Karena itu terasa dada Mahisa Agni berguncang-guncang.

Meskipun ia masih berdiri tegak seperti sebuah patung batu.

keragu-raguan yang dahsyat telah melanda hatinya.

“Kau ragu-ragu,” terdengar Empu Gandring itu bertanya,

“baiklah. Kau sudah bertahun-tahun tidak melihat aku lagi. Adalah

wajar kalau kau menjadi ragu-ragu. Tetapi itu tidak penting. Yang

penting sekarang bagaimana caranya supaya kau tetap melakukan

pekerjaan yang dipercayakan kepadamu oleh orang-orang

Panawijen itu.”

“Jangan mengigau!” potong Empu Sada, “Aku sudah menyangka

sejak aku melihat tampangmu, bahwa kau masih saja selalu

menghalang-halangi aku. Jangan kau ganggu muridku yang sedang

menemukan permainan yang baik sekali bagi mereka.”

“Tidak!” sahut Empu Gandring, “Aku tidak akan mengganggu

mereka.”

“Kalau begitu pergilah, sebelum aku marah.”

“Baik,” sahut orang itu pula, “marilah kita pergi. Sudah lama aku

tidak bertemu dengan kau, Empu. Aku sudah rindu. Rindu pada

masa kanak-kanak yang tak akan kembali lagi di masa mendatang.

Tetapi marilah kita pulang bersama-sama, sehingga dengan

demikian kita akan dapat mengenang sebagian masa itu. Masa

kanak-kanak yang manis.”

“Jangan mimpi! Aku bukan pemimpi seperti kau. Aku adalah

seseorang yang melihat masa kini dan masa depan.”

“Tetapi masa lampau adalah kenangan yang menyenangkan.

Apakah kau dapat menghapuskan masa-masa itu? Apakah kau

dapat menghapus peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masamasa

lampau? Bukankah masa-masa lampau itu yang menentukan

keadaanmu sekarang?”

“Aku tidak peduli masa lampau. Sekarang pergi dari tempat ini.

Tinggalkan kami. Tinggalkan anak muda yang kau katakan

kemenakanmu itu.”

Orang tua itu menggeleng. Bahkan setapak ia maju sambil

berkata, “Empu Sada. Aku pun bukan seorang pemimpi melulu. Aku

juga ingin melihat masa depan yang baik bagiku dan bagi orangorang

yang bersangkut paut dengan darah keturunanku. Mahisa

Agni adalah kemenakanku. Apakah aku harus membiarkannya

kehilangan masa depannya. Empu Sada, aku sendiri mempunyai

anak-anak di rumah. Aku pernah merasakan betapa cemasnya

orang-orang tua yang anak-anaknya mengalami bahaya. Nah,

bagaimana aku akan dapat membiarkan kau berbuat curang. Biarlah

anak-anak muda menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”

Empu Sada menggeram. Ia tidak menjawab perkataan-perkataan

itu, tetapi ia pun melangkah maju.

Kedua orang tua itu kini berdiri saling berhadapan. Empu

Gandring kini sudah tidak tertawa-tawa lagi. Wajahnya kemudian

menjadi bersungguh-sungguh.

“Jadi kau tetap pada pendirianmu?” bentak Empu Sada.

“Seperti apa yang akan kau lakukan. Kalau kau tetap dalam

usahamu menciderai anak kemenakanku itu, maka aku tetap dalam

usahaku menyelamatkannya.”

Wajah Empu Sada menjadi merah padam. Tetapi ketika ia

berpaling memandang ke arah kedua muridnya, maka hatinya

berdesir. Ia melihat kedua muridnya berhadapan dengan kedua

anak-anak muda yang sudah siap untuk melawan mereka. Mahisa

Agni dan Mahendra. Karena itu hatinya menjadi berguncang. Sesaat

ia menjadi ragu-ragu. Apakah kedua muridnya mampu melawan

kedua anak muda itu?

Dalam keragu-raguan itu terdengar Empu Gandring berkata,

“Nah, apakah katamu Empu?”

Sejenak Empu Sada tidak menyahut. Timbullah kini pergolakan di

dalam hatinya. Betapapun juga ia masih sempat memperhitungkan,

apa yang sedang dihadapinya. Empu Gandring adalah seorang yang

cukup sakti untuk mengimbanginya. Sedang Mahisa Agni sudah

pasti dapat mengalahkan Kuda Sempana. Apabila Mahendra dapat

mengimbangi Cundaka maka keadaannya akan menjadi sulit.

Mungkin salah seorang muridnya atau kedua-duanya akan

terbunuh. Karena itu tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Sambil

menganggukkan kepalanya ia berkata, “Hem. Sayang kau datang.

Aku tidak sampai hati merusak kenanganmu yang manis itu. Aku

tidak sampai hati mematahkan mimpimu yang menyenangkan.

Seandainya bukan kau yang datang sambil merajuk tentang masamasa

lampau, maka hatiku sudah tidak akan dapat dilunakkan.

Tetapi terhadapmu aku masih belum dapat melenyapkan perasaan

belas kasihan. Sejak anak-anak kau seorang pemimpi dan perajuk.

Karena itu, baiklah aku penuhi permintaanmu kali ini. Ingat hanya

kali ini.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab

terdengar Empu Sada berkata, “Kuda Sempana, ternyata Mahisa

Agni adalah kemenakan sahabatku. Karena itu, maafkanlah anak

muda itu kali ini. Tetapi hanya kali ini.”

Kuda Sempana berdiri membeku di tempatnya. Tiba-tiba dari

matanya memancar beribu-ribu pertanyaan yang bergolak di dalam

dadanya. Namun akhirnya ia mengetahui pula maksud gurunya.

Bahwa orang yang datang itu adalah orang yang cukup sakti pula,

sehingga gurunya menganggap perlu untuk menunda maksudnya

sampai di saat-saat yang lain.

Namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat mengertinya. Karena

itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah Kuda Sempana kali ini masih akan

dilepaskan lagi?”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar

persoalan yang terjadi antara Mahisa Agni, Kuda Sempana, Ken

Dedes dan bahkan sampai orang-orang lain dalam persoalan ini

menurut cerita seseorang. Tetapi ia tidak tahu dengan pasti, sebab

Empu Gandring sendiri jarang-jarang meninggalkan kampung

halamannya, Lulumbung, karena pekerjaannya yang terlampau

banyak, membuat keris. Hanya karena dorongan keadaan yang

sangat penting, untuk menemukan kemenakannya, kini ia

meninggalkan rumah dan tugasnya. Sehingga karena itu, maka ia

menjawab pertanyaan Mahisa Agni, “Biarkan Kuda Sempana dibawa

gurunya. Biarlah gurunya mengajarnya untuk berlaku sopan dan

baik.”

Empu Sada menggeram mendengar sindiran Empu Gandring,

namun Mahisa Agni tidak kalah kecewanya. Kuda Sempana baginya

adalah penyebab dari segala macam bencana yang menimpa

keluarga gurunya dan bahkan seluruh penduduk Panawijen.

Mungkin orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu tidak

merasakan, betapa ia menderita lahir dan batin karena anak muda

yang bernama Kuda Sempana itu.

Tetapi Mahisa Agni pun masih mampu berpikir. Bahwa guru Kuda

Sempana baginya adalah lawan yang tidak seimbang. Sedangkan

Mahisa Agni merasa pula, bahwa ia tidak akan dapat memaksa

Empu Gandring itu untuk bertempur apabila memang tak

dikehendakinya. Karena itu, yang terdengar kemudian adalah

gemeretak gigi Mahisa Agni. Teraba perasaannya melonjak-lonjak,

seakan-akan ingin ia menerkam anak muda yang bernama Kuda

Sempana itu. Namun nalarnya telah mencegahnya.

Ternyata bukan saja Mahisa Agni yang dicengkam oleh

kekecewaan. Bahkan Mahendra pun menjadi sangat kecewa pula.

Namun seperti Mahisa Agni, ia menyadari kedudukannya. Menyadari

kemampuannya.

“Hem,” desahnya di dalam hati, “kalau saja guruku ada di tempat

ini. Mungkin Kuda Sempana dan orang yang bernama Cundaka itu

pasti sudah dapat kami lumpuhkan.”

Tetapi Empu Gandring ternyata berpendirian lain. Empu Gandring

ingin melepaskan mereka, dan mengharap Empu Sada dapat

memberi tuntunan kepada murid-muridnya untuk berlaku lebih baik.

“Sia-sia. Seperti guru dahulu berpendirian begitu,” pikir Mahisa

Agni. Tetapi sekali lagi ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia

tidak akan dapat memaksa Empu Gandring bertempur tanpa

dikehendakinya sendiri.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Jangan terlalu

sombong. Murid-muridku sama sekali tidak perlu lagi mendapat

ajaran tentang kesopanan dan kebaikan budi. Mereka adalah orang

baik-baik. Mereka adalah seorang hamba Istana Tumapel, dan

seorang lagi adalah seorang pedagang keliling yang terhormat.

Kaulah yang harus mengajari kemenakanmu itu untuk melihat

dirinya. Ia tidak lebih dari anak pedesaan. Anak Panawijen.”

Empu Gandring tidak menjawab kata-kata itu, bahkan kemudian

ia berkata, “Selamat malam Empu. Selamat beristirahat. Kalau Empu

ingin meninggalkan tempat ini, segera kami persilakan. Namun

untuk seterusnya, ajarilah murid-murid Empu untuk tidak

mengganggu Mahisa Agni.”

“Jangan gurui aku. Sudah aku katakan, lain kali kami tidak dapat

memaafkan kalian lagi. Apabila Mahisa Agni masih kembali ke

padang Karautan, maka saat itu pula, akan kami ikat tubuhnya di

belakang kuda-kuda kami.”

“Ah. Jangan berbicara seperti kepada anak-anak Empu. Aku

sudah tahu, seperti kau tahu pula. Siapa Empu Sada, siapa Empu

Gandring, siapa Empu Purwa dan siapa Panji Bojong Santi, guru

Angger Mahendra itu. Nah, apa katamu sekarang?”

Wajah Empu Sada menjadi merah padam mendengar Empu

Gandring menyebut-nyebut nama beberapa orang sakti. Tiba-tiba

orang tua itu menggeram keras sekali sambil menghentakkan

tongkatnya di tanah. Katanya, “Kau mengancam?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku sama

sekali tidak mengancam. Aku hanya menyebutkan beberapa nama

yang dapat terlibat dalam persoalan seterusnya, apabila kau tetap

berbuat gila.”

Empu Sada tidak segera menjawab. Terasa darahnya seakanakan

mendidih di dalam jantungnya.

Sementara itu, dada Mahendra berdesir mendengar Empu

Gandring menyebut nama gurunya. Dengan serta-merta ia

bertanya, “Apakah Empu mengenal guruku?”

Empu Gandring berpaling. Jawabnya, “Mustahil seseorang tidak

mengenal Panji Bojong Santi. Apalagi orang tua sebaya aku dan

Empu Sada.”

Mahendra menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi Empu

Gandring termasuk salah seorang sahabat guru?”

“Aku belum mengenal terlampau rapat. Tetapi sekali-sekali dua

kali kami pernah bertemu. Seperti aku pernah bertemu dengan

Empu Purwa meskipun baru satu kali. Namun meskipun belum,

namanya pasti sudah dikenal oleh setiap orang-orang setua aku.

Dan dari namanya itu pun aku akan dapat mengetahui, siapa-siapa

mereka itu.”

Mahendra kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia

menjadi gembira ketika diketahuinya bahwa Empu Gandring pernah

mengenal gurunya. Ia masih ingin mengatakan beberapa hal lagi,

namun terdengar suara Empu Sada memecah ketegangan yang

mencengkam hatinya sendiri, “Baik. Baik. Kau telah menyebut

beberapa nama. Kau sangka aku akan gentar menghadapi mereka

semua. Kau, Empu Purwa dan Bojong Santi yang kurus kering itu.

Empu Gandring, kau pun pasti sudah mengenal nama-nama lain dari

mereka. Kebo Sindet, Wong Sarimpat. Nah, apa katamu?”

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ah. Apakah kau akan

memaklumkan perang bersama orang-orang dengki itu? Sayang

Empu. Meskipun kadang-kadang kau juga berbuat hal-hal yang

aneh-aneh misalnya muridmu kau biarkan membuat permainan

yang mengerikan, menarik seseorang di belakang seekor kuda,

namun namamu masih jauh lebih terhormat daripada Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat.”

Terdengar kemudian Empu Sada tertawa. Suaranya melengking

menyakitkan hati. Kemudian katanya, “Jangan gemetar mendengar

nama-nama itu. Mereka adalah orang-orang bodoh yang dapat saja

aku peralat. Meskipun mereka mempunyai kesaktian-kesaktian yang

mengerikan, namun otak mereka adalah otak yang sangat tumpul.

Kau tahu maksudku.”

Empu Gandring menganggukkan kepalanya, “Terserahlah

kepadamu.”

“Bagus. Kalau kau berani menghadapinya, biarlah aku sekarang

meninggalkan tempat ini.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Pergilah. Tetapi pikirkan sekali lagi kalau kau akan mempergunakan

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka tidak sebodoh yang kau

sangka.”

Mendengar kata-kata Empu Gandring itu, Empu Sada tertawa.

Jawabnya, “Hem. Kau belum mengenal kedua orang itu baik-baik.

Mungkin kau tidak dapat mempergunakannya seperti apa yang kau

inginkan. Tetapi terhadapku, mereka tidak akan dapat berbuat apaapa.”

“Terserahlah kepadamu,” sahut Empu Gandring, “tetapi

bagaimanapun juga, aku tidak senang melihat kau mengganggu

kemenakanku.”

Empu Sada tidak menjawab. Ia berpaling kepada kedua muridnya

dan berkata, “Kali ini sahabatku, Empu Gandring, minta kau

memaafkan kemenakannya. Nah, maafkanlah. Biarlah ia menikmati

hari-hari yang akan datang, memandang matahari terbit dan

terbenam. Tetapi apabila kesombongannya tidak juga berkurang,

maka kesempatan itu tidak akan berlangsung lama.”

Mahisa Agni menggeram. Hampir saja ia berteriak, tetapi Empu

Gandring mendahuluinya, “Biarkan Agni. Jangan kau dengarkan

kata-katanya. Adalah wajar, apabila seseorang yang merasa ada

kekurangan dalam dirinya, berusaha untuk menyembunyikannya,

menutupinya dengan berbagai perbuatan dan perkataan yang justru

berlebih-lebihan dan menertawakan.”

Empu Sada berpaling. Wajahnya masih menyala. Tetapi yang

terdengar hanyalah gemeretak giginya.

Kuda Sempana bukanlah seorang penakut. Ia kadang-kadang

tidak dapat melihat dan mendengar pertimbangan-pertimbangan,

apabila maksudnya telah memanjat sampai ke kepalanya. Tetapi kali

ini gurunya telah memperingatkannya. Dan ia dapat mengerti

sepenuhnya. Karena itu, betapa sakit hatinya mendengar sindiransindiran

Empu Gandring yang tepat menusuk jantungnya, namun ia

tidak membantah maksud gurunya.

Demikian pula orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali

Elo, yang disebut oleh gurunya sebagai seorang pedagang keliling.

Namun ternyata ia lebih licik dari Kuda Sempana. Karena itu,

demikian ia melihat gurunya berputar, cepat-cepat ia melangkah

menjauhi Mahendra yang memandanginya seakan-akan hendak

menelannya bulat-bulat.

Empu Gandring, Mahisa Agni dan Mahendra berdiri saja tegak di

tempatnya ketika mereka melihat Empu Sada membawa kedua

muridnya pergi. Mereka berjalan tergesa-gesa menghilang di

gelapnya malam. Namun sebelum mereka terlampau jauh terdengar

Empu Sada berkata, “Empu Gandring, kau pasti akan menyesal

kelak, bahwa kau telah mencampuri urusan aku. Kami, muridmuridku

yang tersebar di banyak tempat akan membantu aku di

samping Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kalau kelak kau dengar

rencanaku, maka kau akan jatuh pingsan karenanya.”

Empu Gandring tidak menjawab. Orang tua itu hanya sekedar

tersenyum. Namun yang terdengar adalah suara Mahisa Agni,

“Paman. Kalau benar Paman Empu Gandring, mungkin Paman

belum mengenal Kuda Sempana sebaik-baiknya.”

Empu Gandring masih tersenyum. Jawabnya, “Biarkan saja Agni.

Orang itu tidak akan berbuat apa-apa.”

“Telah terlampau banyak yang dilakukan Paman.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Apa saja? Tetapi

percayalah itu semua hanyalah ungkapan kekecewaannya, bahwa ia

gagal mendapat gadis yang dikehendaki. Apabila kemudian hatinya

telah menjadi tenang, maka ia akan menemukan keseimbangan

kembali, seperti Angger Mahendra. Bukankah begitu?”

Mahendra menundukkan kepalanya. Terasa seperti api menyala

di dadanya. Namun kemudian padam kembali. Ia telah bertekad

untuk melupakan Ken Dedes, yang kini telah hampir menjadi

seorang permaisuri.

Tetapi Mahisa Agni Kemudian menjawab, “Kuda Sempana terlalu

keras kepala.”

“Darahnya memang panas. Namun akan datang saatnya darah

itu menjadi sejuk. Apalagi apabila ia menyadari keadaannya dan

kenyataan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia ragu-ragu

mendengar kata-kata itu. Apalagi apabila diingatnya kata-kata Empu

Sada, sehingga kemudian ia bertanya kembali, “Paman, apakah

Empu Sada tidak akan benar membawa orang-orang yang bernama

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? Dan siapakah mereka berdua itu?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. perlahanlahan

ia berjalan mendekati Mahisa Agni dan Mahendra, kemudian

berpaling kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk lemah

seperti tak bertulang.

“Hem. Kenapa kalian menjadi ketakutan?” Empu Gandring itu

bertanya kepada mereka. Tetapi Jinan, Patalan dan Sinung Sari

masih dikuasai oleh kebingungan yang sangat, sehingga mereka

tidak segera dapat menjawab.

“Nah, tenangkan dahulu hatimu. Dua malam di padang Karautan

ini akan menjadi kenangan seumur hidupmu. Tetapi mudahmudahan

kalian dapat mempergunakannya sebagai pelajaran,

bahwa menghadapi orang-orang seperti Empu Sada dan muridmuridnya

apalagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, kita tidak boleh

mengharap belas kasihannya. Juga terhadap murid-murid mereka.

Kita harus berbelas kasihan kepada diri sendiri dan melindunginya.”

Ketiga anak-anak muda itu masih belum dapat menjawab. Tetapi

mereka mencoba mengangguk.

Empu Gandring itu pun kemudian duduk pula di atas rumputrumput

kering.

“Duduklah,” katanya mempersilakan Mahisa Agni dan Mahendra.

Mahisa Agni dan Mahendra pun kemudian duduk pula. Terasa

suasana yang aneh meliputi dada Mahisa Agni. Pamannya itu telah

bertahun-tahun tak ditemuinya, dan kini ketika mereka bertemu,

suasananya terasa tidak terlalu akrab, karena persoalan-persoalan

yang melingkar-lingkar di dalam hati masing-masing. Meskipun

demikian, hati Mahisa Agni merasa berkembang pula. Apabila kelak

gurunya tak dapat dicarinya, maka ia menemukan tempat lain untuk

mengadu apabila orang-orang yang berhati dengki seperti Empu

Sada dan kawan-kawannya datang mengganggunya, mengganggu

rencananya membangun bendungan, saluran-saluran air, dan tanah

persawahan.

“Agni,” terdengar Empu Gandring itu bertanya, “apakah ibumu

sekarang berada di Tumapel?”

Mahisa Agni ragu-ragu untuk menjawab. Ibunya sedang

berusaha untuk selalu menunggui Ken Dedes. Karena itu, sekali ia

memandang Mahendra dengan sudut matanya, dan kemudian

menundukkan kepalanya.

Tetapi Mahendra sama sekali tidak memedulikan pertanyaan itu.

Yang sedang berkecamuk di dalam otaknya adalah orang-orang

semacam Empu Sada, dan orang-orang lain yang disebut-sebut

namanya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Aku akan mengatakannya kepada Guru,” berkata Mahendra di

dalam hatinya, “mungkin Guru telah mengenal mereka itu.”

Dalam pada itu Empu Gandring agaknya dapat menangkap

perasaan Mahisa Agni. Agaknya anak muda itu belum bersedia

diajak berbicara mengenai ibunya. Karena itu maka segera

pembicaraannya dialihkannya katanya, “Agni, apakah kau benarbenar

akan membangun sebuah bendungan?”

“Ya, Paman,” jawab Agni.

“Di tempat ini?”

“Ya, Paman.”

“Bagus. Tempat ini adalah tempat yang baik untuk membangun

sebuah bendungan. Tebing sungai di sini tidak begitu dalam.”

“Ya, Paman.”

“Kapan akan kau mulai rencanamu itu.”

“Secepatnya, Paman.”

“Bagus.” Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya.

Terasa jawaban Mahisa Agni terlampau pendek-pendek. Dan terasa

bahwa masih ada sesuatu yang tersangkut di dalam perasaan anak

muda. itu. Karena itu maka Empu Gandring untuk sesaat berdiam

diri. Dibiarkannya Mahisa Agni mendapat kesempatan mengatakan

perasaannya.

Ketika Empu Gandring kemudian berdiam diri sambil

mengangguk-angguk maka bertanyalah Mahisa Agni, “Paman.

Apakah Paman mengenal orang-orang yang bernama Kebo Sindet

dan Wong Sarimpat.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Terdengar ia berdesis,

dan kemudian berkata, “Jangan hiraukan mereka.”

“Tetapi orang-orang itu akan dapat berbahaya bagi rencanaku

membangun bendungan ini.”

“Jangan hiraukan yang lain-lain. Sekarang bagaimana dengan

rencanamu? Apakah kau sudah membayangkan, di mana saluran air

akan kau buat. Agni, tanah ini akan dapat menjadi tanah yang subur

apabila cukup mendapat air. Kalau kau berhasil menaikkan air dari

sungai itu, maka daerah ini akan segera menjadi daerah yang

sangat ramai.”

“Ya, Paman.”

Empu Gandring tersenyum. Kembali ia mendengar jawaban itu.

Dan kembali Empu Gandring mendengar pertanyaan yang serupa,

“Paman. Mereka pasti tidak akan membiarkan bendungan ini

terwujud. Bukan karena mereka berkepentingan atas sungai dan

padang Karautan, tetapi mereka hanya sekedar ingin menggagalkan

usaha ini.”

“Mungkin,” sahut Empu Gandring sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya. Pikiran kemenakannya itu memang bukan suatu

gambaran yang dibuat-buat. Karena itu, ia kini tidak dapat

menghindar lagi. Semula ia sama sekali tidak ingin berbicara

tentang orang-orang yang mengerikan itu. Empu Gandring tidak

ingin mempengaruhi rencana kemenakannya terganggu karena

gambaran-gambaran yang mencemaskan yang belum pasti akan

datang. Tetapi kemudian disadarinya bahwa kemenakannya

bukanlah seorang penakut. Tetapi ia hanya ingin membuat

perhitungan-perhitungan yang cermat dan melihat kemungkinankemungkinan

yang dapat terjadi.

Karena itu maka jawabnya kemudian, “Kedua orang itu memang

orang yang aneh. Tetapi jangan terlampau kau pikirkan. Mereka

adalah orang-orang yang selalu menuruti keinginan sendiri. Mungkin

Empu Sada dapat mempergunakan mereka. Tetapi mungkin tidak.

Namun seandainya mungkin sekalipun, maka kedua orang itu bukan

orang yang perlu terlampau dikagumi. Mereka masih belum

melampaui Empu Sada sendiri. Belum dapat menyamai guru Angger

Mahendra, Panji Bojong Santi, dan belum dapat menyamai gurumu,

Empu Purwa.”

“Tetapi Guru tidak ada di sini, Paman.”

Empu Gandring tersenyum. Jawabnya, “Ia tidak pergi terlampau

jauh. Bukankah gurumu mengetahui bahwa kau akan membuat

bendungan di sini?”

“Bukankah gurumu tahu bahwa kau berselisih dengan Kuda

Sempana?”

“Ya.”

“Gurumu tahu, tahu dengan pasti, siapakah guru Kuda Sempana

meskipun tidak pernah mengatakannya. Gurumu pasti telah

memperhitungkan apa yang dapat terjadi di padang Karautan ini.

Bahkan aku menduga bahwa gurumu kali ini pun tidak melepaskan

kau sendiri. Seandainya aku dapat menahan diri sekejap lagi di

belakang gerumbul itu, mungkin gurumulah yang akan mencegah

perbuatan Empu Sada.”

Dada Mahisa Agni berdebar-debar mendengar kata-kata

pamannya. Tiba-tiba tanpa dikehendakinya sendiri, ia memandang

berkeliling. Namun yang dilihatnya adalah takbir yang hitam

mengelilinginya di atas padang rumput yang luas. Beberapa onggok

gerumbul tampak tersembul dalam keremangan malam. Selebihnya

adalah hitam pekat.

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Nah beristirahatlah.

Sementara aku akan bersamamu Agni. Aku ingin melihat apa yang

akan kau lakukan atas sungai dan padang ini.”

Sekali lagi dada Mahisa Agni mengembang. Ternyata tanpa

dimintanya, pamannya bersedia tinggal beberapa lama di antara

orang-orang Panawijen yang akan membuat bendungan untuk

mengubah padang Karautan menjadi tanah persawahan.

Namun sebelum ia menjawab, pamannya tiba-tiba telah

menjatuhkan dirinya, begitu saja tanpa alas, berbaring di atas

rerumputan yang telah dibasahi oleh embun. Tetapi Mahisa Agni

tidak mengusiknya. Dibiarkannya pamannya berbaring dan bahkan

kemudian ia berkata kepada Mahendra, “Beristirahatlah Mahendra.”

Mahendra mengangguk, jawabnya, “Aku ingin beristirahat. Tetapi

besok aku harus sudah menghadap Kakang Witantra kembali

membawa jawabanmu, Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba angannya tentang

bendungan itu tersentak bergeser kepada putri gurunya, Ken Dedes

yang kini berada di Istana Tumapel.

Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Terasa jantungnya

berdegupan. Matanya jauh terlempar ke dalam kelamnya malam,

seakan-akan ingin menembus sampai ke ujung padang Karautan.

Mahendra pun untuk sesaat berdiam diri. Tanpa sesadarnya

pandangan matanya pun mengikuti arah pandangan Mahisa Agni.

Jauh, menghunjam ke dalam kelam.

Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Jinan dan Patalan

berdesah dan Sinung Sari terbatuk-batuk kecil.

“Tidurlah,” berkata Mahisa Agni kepada mereka.

Mereka menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tetap

duduk membeku saling berdesak-desakan seperti orang yang

kedinginan.

Sejenak kemudian kembali padang itu menjadi sepi. Kembali

terdengar angin yang silir mengusap dedaunan, mendendangkan

kidung yang melangut.

“Mahendra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sebaiknya kau

sampaikan jawabku itu kepada Witantra. Aku mohon maaf kepada

Akuwu, bahwa sebenarnya Akuwu tidak perlu datang menemui aku.

Biarlah Ken Dedes membuat keputusannya sendiri.”

Mahendra menggigit bibirnya. Sambil mengangguk-anggukkan

kepalanya kemudian ia berkata, “Apakah keputusanmu sudah

bulat?”

“Ya.”

“Apakah kau sakit hati Agni? Apakah kau tidak dapat melupakan

peristiwa yang menyakiti hatimu itu.”

Mahisa Agni terdiam. Dan Mahendra pun terdiam pula. Tetapi

dalam pada itu Mahendra telah menemukan kesimpulan, bahwa

Mahisa Agni tidak akan bersedia mengubah keputusannya.

“Baiklah kalau demikian,” berkata Mahendra di dalam hatinya,

“besok akan aku sampaikan jawaban itu.”

Malam pun kemudian menjadi bertambah malam. Bahkan

kemudian menjelang ke akhirannya. Mahisa Agni dan Mahendra

masih duduk sambil memeluk lutut mereka. Tetapi mereka tidak

berbicara lagi. Mereka mencoba memejamkan mata mereka sambil

meletakkan dahi mereka di atas lutut.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun kemudian mencoba

membaringkan diri mereka masing-masing. Tetapi sekejap pun

mereka tidak segera berhasil memejamkan mata mereka. Apabila

mereka mencoba juga memejamkan mata mereka, tiba-tiba

datanglah berbagai gambaran yang mengerikan mengganggu otak

mereka. Seolah-olah berduyun-duyun hantu berdatangan dari

segenap penjuru padang rumput Karautan.

Ketika Mahisa Agni mengangkat wajahnya ditatapnya bintang

cemerlang di tenggara, Panjer esuk. Bintang yang seakan-akan

memberinya pertanda bahwa sebentar lagi, fajar akan memerah di

ujung timur.

Dan fajar itu datang terlampau lambat. Seakan-akan Mahisa Agni

tidak dapat menyabarkan diri lagi. Berbagai kejemuan telah melanda

dinding jantungnya. Padang yang sepi. Bendungan dan saluransaluran

air yang terbayang di pelupuk matanya, semuanya itu

seakan-akan telah terbentang di hadapannya. Sawah yang hijau dan

air gemericik di parit-parit, melingkari setiap pematang kotak demi

kotak.

Tetapi Mahisa Agni itu seakan-akan direnggut dari dunia yang

penuh dengan harapan dan terdorong ke dalam lembah yang

bernafaskan kecemasan dan kegelisahan.

“Persetan dengan Ken Dedes,” ia mencoba menghentakkan

dirinya di dalam hati, “betapa aku mencoba melindunginya, apabila

ia telah setuju menjadi istri Tunggul Ametung yang telah membantu

melarikannya itu. Tak ada lagi hakku untuk turut mencampuri

persoalannya. Ia bukan adikku, bukan sanak bukan kadang.”

Mahisa Agni itu terkejut ketika ia kemudian melihat Mahendra

bangkit perlahan-lahan ia melangkah mencari kudanya sambil

berkata, “Aku akan melepas pelana kudaku dan memandikannya.

Sebentar lagi aku harus sudah kembali ke Tumapel.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Dengan matanya ia mengikuti

langkah anak muda itu berjalan ke belakang gerumbul. Kemudian

terdengar ia bersiul memanggil kudanya, dan sesaat kemudian

Mahendra telah menuntun kudanya menuju ke tepian sungai.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian fajar

yang ditunggunya membayang di langit dengan hamparan warna

merah, anak muda itu menggeliat. Ketika ia berdiri ia melihat

Mahendra telah datang kembali.

“Aku akan segera kembali ke Tumapel Agni,” berkata Mahendra.

“Aku juga,” sahut Agni, “pagi ini aku kembali ke Panawijen.

Beberapa hari lagi aku harus sudah mulai dengan bendungan ini.”

“Mudah-mudahan kau berhasil,” Mahendra bergumam seakanakan

diperuntukkannya kepada diri sendiri.”

“Terima kasih.”

Ketika kemudian matahari melepaskan sinarnya menghampar di

atas padang rumput itu, maka Mahendra segera minta diri kepada

Mahisa Agni, kepada Empu Gandring yang sudah duduk bersila,

kepada ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang sudah terbangun

pula. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan

dengan sigapnya pula kudanya meloncat. Seperti anak panah kuda

itu berlari. Kepulan debu yang putih beterbangan di belakang kuda

itu.

Bukan saja Mahendra, namun Mahisa Agni pun segera berkemaskemas

pula. Dengan berbagai gambaran di dalam dadanya.

Mahisa Agni kemudian membawa ketiga kawan-kawannya itu

kembali ke Panawijen bersama pamannya Empu Gandring.

Tak ada yang penting bagi Mahisa Agni beserta kawan-kawannya

itu dalam perjalanan pulang. Mereka harus menginap satu malam

lagi di padang rumput itu. Tetapi bersama Empu Gandring dan

Mahisa Agni ketiga kawan-kawannya tidak begitu ketakutan lagi.

Hanya kadang-kadang mereka mengeluh karena terik matahari dan

haus yang menyengat-nyengat leher mereka.

Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka memasuki

Panawijen di malam hari, supaya tak seorang pun yang melihat,

bagaimana pakaian mereka menjadi compang-camping.

Namun pada pagi harinya, Panawijen seolah-olah telah menerima

seseorang yang membawa harapan bagi mereka, bagi anak cucu

mereka. Itulah sebabnya dengan penuh gairah mereka menyambut

Mahisa Agni beserta kawan-kawannya di halaman rumah Ki Buyut

Panawijen.

Rakyat Panawijen menunggu keterangan Mahisa Agni tentang

hasil perjalanannya. Mereka tidak dapat menunggu terlalu lama.

Sawah-sawah mereka telah mulai mengering dan isi lumbunglumbung

mereka telah mulai menipis. Mereka harus segera

menemukan tempat untuk meletakkan diri menghadapi masa-masa

yang masih terlampau panjang. Anak cucu dan keturunan mereka.

Alangkah besar dosa mereka, apabila mereka tidak sempat

memberikan peninggalan bagi keturunan mereka di masa-masa

datang.

Mungkin mereka masih dapat mengharap hasil sawah di musimmusim

basah. Namun di musim kemarau, apabila mereka itu tidak

mendapat air dari saluran-saluran, maka sawah-sawah mereka akan

menjadi padang yang kering dan mati.

Pagi itu Mahisa Agni sudah bersedia memberikan beberapa

keterangan menjadi perjalanannya kepada para tertua Panawijen.

Dan bahkan para tetua Panawijen yang tidak sabar lagi, telah siap

pula untuk melakukan apa saja yang menurut Mahisa Agni dianggap

baik.

Namun di luar pendapa rumah Ki Buyut Panawijen, di mana

Mahisa Agni duduk di antara beberapa orang-orang tua, anak-anak

muda sibuk mengerumuni Jinan, Patalan dan Sinung Sari.

Seperti air banjir mereka bertiga bercerita berganti-ganti. Yang

satu tidak mau kalah dahsyatnya dari yang lain.

“Sayang waktu itu pedangku tidak di tanganku,” berkata Patalan

kepada kawan-kawannya, “sehingga aku tidak dapat sempat

membantu Mahisa Agni melawan hantu Karautan.”

Kawan-kawannya memandangi dengan penuh kekaguman.

kemudian disusulnya oleh Jinan, “Sayang. Keduanya berkelahi

terlampau kasar, sehingga aku tidak mendapat kesempatan untuk

mengayunkan pedangku. Mereka saling berdesakan, saling dorong

mendorong dengan senjata masing-masing dan berputaran seperti

baling-baling. Aku takut apabila pedangku justru akan mengenai

Agni sendiri.”

Anak-anak muda Panawijen menjadi semakin asyik

mendengarkannya. Apalagi ketika Sinung Sari berkata, “Hem. Aku

sengaja berdiam diri. Aku ingin melihat, apakah Mahisa Agni mampu

melawan hantu Karautan. Hantu yang namanya ditakuti oleh semua

orang di sekitarnya padang rumput ini. Tetapi ternyata hantu itu

sama sekali tidak menakutkan. Aku biarkan Mahisa Agni bertempur

sendiri sebab aku sudah dapat memperhitungkan, bahwa hantu itu

tidak akan dapat mengalahkannya. Meskipun demikian, apabila

keadaan memaksa aku pasti tidak akan sampai hati membiarkan

Agni mengalami cidera.”

“Bukan main,” desah anak-anak itu. Kemudian salah seorang dari

mereka bertanya, “He, siapakah yang datang bersama kalian. Itu

orang tua yang duduk di samping Mahisa Agni?”

“O, pamannya,” jawab Sinung Sari, “orang itu adalah paman

Mahisa Agni yang berjumpa saja di perjalanan. Orang itu sengaja

akan meninjau kemenakannya di sini.”

Anak-anak muda itu kembali mengangguk-angguk kepalanya.

Mereka benar-benar terpesona oleh cerita Jinan, Patalan dan Sinung

Sari yang dengan penuh gairah menceritakan pengalamannya.

Bahkan kadang-kadang dengan tangan dan kaki bersilangan,

menirukan beberapa macam gerak yang dilihatnya.

“Sayang,” berkata Sinung Sari, “Agni kurang lincah sedikit,

sehingga sekali-sekali ia dapat dikenai lawannya. Ia telah berbuat

beberapa kesalahan kecil yang dapat memperlambat penyelesaian

perkelahian itu sehingga orang Tumapel itu datang.”

“Ah, hampir aku salah sangka,” berkata Jinan, “untunglah aku

belum mulai. Kalau orang Tumapel itu tidak segera

memperkenalkan dirinya sebagai orang istana, mungkin kami pun

sudah bertempur pula.”

Kawan-kawannya yang mengangguk-anggukkan kepalanya itu

menjadi semakin kagum. Perjalanan itu ternyata merupakan

perjalanan yang dahsyat. Ada di antaranya yang menjadi ngeri,

namun ada yang kemudian berangan-angan, “Ah, seandainya aku

mendapat kesempatan turut dalam perjalanan itu. Aku akan melihat

berbagai kejadian-kejadian yang dahsyat dan mengasyikkan.”

“Huh,” potong Patalan, “kau akan mati ketakutan.”

Kawan-kawannya yang lain serentak tertawa. Dan anak muda

yang berangan-angan itu tersenyum tersipu-sipu.

“Tetapi betapapun sulit perjalanan kami, namun kami telah

berhasil menemukan tempat itu. Tempat yang tepat sekali untuk

membangun sebuah bendungan, menaikkan air dan membuat

saluran-saluran di tanah yang tidak terlampau keras. Tanah yang

datar dan ditumbuhi rumput yang lebat. Tanah itu akan merupakan

tanah yang subur. Kalian dapat mengambil tanah sekuat-kuat kalian

dapat mengerjakannya. Dan bendungan itu segera akan kita

bangun,” berkata Sinung Sari dengan bersungguh-sungguh.

Kembali anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan

kepala mereka. Mereka telah berjanji berbuat apa saja untuk

kepentingan rakyat Panawijen.

Tetapi di pendapa pembicaraan antara Mahisa Agni, Empu

Gandring dan orang-orang tua Panawijen berjalan lebih

bersungguh-sungguh. Orang-orang tua itu mendengarkan

penjelasan Mahisa Agni dengan penuh minat. Justru hanya tentang

jeram-jeram, air terjun dan bendungan itu sendiri. Sama sekali tidak

disentuh-sentuhnya mengenai hantu Karautan, Empu Sada yang

akan dapat mengganggu kerja mereka dan orang-orang lain lagi.

Bagi Mahisa Agni hal itu dianggap belum waktunya untuk

menguraikannya. Sebab dengan demikian, hal-hal tersebut hanya

akan dapat memperkecil hati orang-orang Panawijen yang pada

dasarnya sudah tidak begitu tatag.

“Jadi kita buat bendungan itu di sana?” bertanya seseorang.

“Ya, Ki,” sahut Mahisa Agni, “tempat itu adalah satu-satunya

yang aku temukan.”

“Kita harus mulai lagi,” desahnya. “Kalau Empu Purwa tidak

menjadi waringuten dan kehabisan akal, maka kita tidak akan

bersusah-payah membangun sebuah bendungan.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia dapat mengerti bahwa

orang-orang tua itu seharusnya sudah tinggal menikmati hari-hari

Tuanya saja.

Karena itu Mahisa Agni tidak menjawab. Dibiarkannya orang tua

itu menyesali gurunya. Betapapun hatinya merasa tersinggung

namun ia mencoba menyimpan perasaan itu dalam-dalam di dalam

dadanya.

“Sekarang kita harus mulai dari permulaan lagi,” berkata orang

tua itu.

Tetapi seseorang yang duduk di belakang Ki Buyut Panawijen

menjawab, “Sudahlah, biarlah yang sudah terjadi itu. Orang tua itu

sudah merasa bersalah. Dan ia sudah berusaha untuk menebus

kesalahannya.”

“Huh,” desah orang yang pertama, “itu hanya sekedar untuk

memperkecil kesalahan.”

“Sama sekali tidak,” berkata orang yang duduk di belakang Ki

Buyut. “Orang itu sama sekali tidak mengingkari kesalahannya

Tetapi kita harus merasa bersalah pula. Empu Purwa telah memberi

kita bendungan, saluran-saluran air dan apa saja. Tetapi ketika

anaknya mengalami bencana, kita tidak dapat menolongnya. Bahkan

seakan-akan kita mencuci tangan kita, hanya karena kita takut

menjadi sasaran kemarahan Kuda Sempana dan Akuwu waktu itu.

Kemudian karena kekecewaan yang menghentakkan

keseimbangannya, maka ia telah berbuat kesalahan itu. Mengambil

bendungan itu kembali. Bendungan yang sudah diserahkan kepada

kita.”

“Kenapa hal itu dilakukannya? Bukankah disadarinya bahwa

dengan memecahkan bendungan itu, meskipun bendungan itu

dibuatnya sendiri, akibatnya akan menimpa seluruh Rakyat

Panawijen?”

“Ia adalah seorang manusia biasa. Manusia yang mempunyai

sifat khilaf dan salah. Dan Empu Purwa tidak mengingkari

kesalahannya. Tetapi terkutuklah Kuda Sempana, sumber dari

segala bencana ini.”

“Sudahlah,” potong Ki Buyut Panawijen, “jangan mengada-ada.

Kita jangan selalu dicengkam oleh peristiwa-peristiwa yang telah

lampau. Dengan demikian kita tidak akan dapat menghadapi hari

depan kita. Kini, yang penting bagi kita adalah bendungan itu.

Bendungan dan saluran-saluran air. Semua tenaga di padukuhan ini

kita perlukan. Kalau kita masih saja menyalahkan, maka kita tidak

akan dapat mulai. Nah. Siapa yang tidak ingin melihat bendungan

itu kita bangun?”

Semuanya terdiam. Semuanya menundukkan kepalanya.

Pendapa itu sesaat menjadi sepi. Mahisa Agni mencoba

memandangi setiap wajah yang ada di sekitarnya. Namun wajahwajah

itu tunduk menusuk lantai. Betapa hatinya sendiri menjadi

pedih mendengar seseorang tidak habis-habisnya mengumpati

gurunya, namun ia masih dapat menahan diri. Yang penting bagi

Mahisa Agni adalah, bagaimana bendungan itu harus terwujud.

Bagaimana ia dapat mewujudkan sesuatu yang telah hilang karena

gurunya yang sedang kehilangan keseimbangan berpikir. Bagaimana

Mahisa Agni dapat melakukan petunjuk-petunjuk dari gurunya itu.

Membangun bendungan dan saluran-saluran air.

Karena tidak seorang pun yang menjawab, maka Ki Buyut

Panawijen itu berkata, “Nah, kalau demikian, maka kita semuanya

sependapat. Kita kerahkan semua tenaga, kekuatan dan apa saja

yang kita miliki untuk membangun bendungan itu. Bendungan itu

harus segera selesai sebelum kita akan mengalami paceklik yang

panjang.”

Pendapa itu kembali menjadi sepi. Tetapi Mahisa Agni

mendengar nafas yang memburu dari setiap dada mereka yang

duduk melingkar di pendapa itu. Bahkan kemudian Mahisa Agni pun

melihat beberapa orang di antara mereka mengangkat wajahnya.

Dari wajah-wajah itu menyalalah tekad mereka membangun

bendungan, saluran-saluran air dan persawahan baru. Arti daripada

kerja itu bukan sekedar menyambung hidup mereka sendiri. Tetapi

arti dari kerja itu adalah menentukan masa depan anak cucu

mereka.

Pada hari itu pula, Panawijen mulai dihangatkan oleh rencana

pembangunan yang akan menelan segenap tenaga, pikiran, tekad

dan kemauan dari segenap penduduk Panawijen. Dari kakek-kakek

sampai kepada anak-anak, seakan-akan serentak mengucapkan

rencana itu di segenap kesempatan. Bahkan anak-anak gembala

yang menunggui domba dan kambing di pangonan, telah menyusun

lagu menurut irama mereka sendiri. Sebuah tembang, tentang

bendungan dan parit-parit. Sawah yang hijau segar serta

padukuhan yang subur dan makmur. Rakyat yang sejahtera dan

makmur. Rakyat sejahtera merata. Gemah-ripah kerta-raharja.

Mulailah segala persiapan diadakan. Alat, bahan-bahan, dan apa

saja yang akan diperlukan nanti dalam pembangunan bendungan

itu.

Tetapi meskipun demikian ada juga di antara mereka yang

menanggapinya dengan acuh tak acuh. Mereka yang masih saja

merasa bahwa mereka tidak seharusnya bekerja berat untuk itu.

Mereka ingin bahwa bendungan itu akan jadi dengan sendirinya.

Sawah-sawah akan tercetak di padang rumput Karautan tanpa

dikerjakan oleh tangan. Mereka ingin kampung halaman mereka

menjadi hijau subur tanpa meneteskan keringat. Dan mereka itu

masih saja bermimpi pada saat guntur di langit bersabung dan

gunung-gunung menggelegar menggetarkan bumi.

Berhari-hari persiapan dilakukan, berhari-hari Mahisa Agni

memeras keringat bersama kawan-kawannya mempersiapkan segala

perlengkapan yang dianggapnya perlu. Namun ia masih sempat

tersenyum apabila ia mendengar Jinan, Patalan dan Sinung Sari

berkata sambil menepuk dada, ‘Kalau tidak ada aku, maka

Panawijen akan menjadi kering kerontang. Akulah yang telah

menemukan jeram-jeram itu bersama beberapa kawan yang

mengikuti aku di belakang’. Tetapi segera mereka mengerutkan

leher mereka, apabila mereka melihat Mahisa Agni lewat sambil

tertawa di hadapan mereka.

Namun Jinan sempat juga berbisik kepada Agni, “Agni, jangan

kau katakan kepada mereka, bahwa aku hampir mati ketakutan di

padang Karautan.”

Dan menanggapi bisikan itu Mahisa Agni hanya dapat tersenyum

kecil.

Pada saat-saat yang demikian itu, pada saat-saat Panawijen

tenggelam dalam kesibukan, maka jalan-jalan di pedesaan itu telah

dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Beberapa orang-orang

penunggang kuda, berdatangan ke padukuhan itu.

Kepada seseorang, salah seorang penunggang kuda itu bertanya,

“Di mana rumah putri Ken Dedes?”

Orang itu mengerutkan keningnya.

“Putri Ken Dedes,” desisnya di dalam hati.

Orang yang ditanya itu menjadi heran. Ken Dedes, anak Empu

Purwa itukah yang dimaksud dengan Putri Ken Dedes. Karena itu

untuk mendapat kepastian orang itu bertanya, “Apakah yang Tuan

maksud itu, Ken Dedes putri Empu Purwa?”

Penunggang kuda itu mengerutkan keningnya. Sesaat mereka

saling berpandangan, dan kemudian terdengar salah seorang dari

mereka menyahut, “Putri Ken Dedes, adik dari anak muda yang

bernama Mahisa Agni.”

“Oh,” orang Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kini ia tidak akan salah lagi. Ken Dedes yang dimaksud adalah anak

Empu Purwa. Meskipun demikian ia menyahut, “Tetapi Ken Dedes

kini tidak ada di rumahnya.”

“Ya, kami sudah tahu,” sahut penunggang kuda itu, “justru kami

adalah utusan dari Tuan Putri itu.”

“Oh,” orang Panawijen itu menjadi semakin tidak mengerti.

Tetapi ia tidak berani bertanya terlampau banyak.

“Di manakah rumah itu?” desak penunggang kuda itu, “dan

apakah kakaknya berada di rumah?”

“Ya. Ya,” sahut orang Panawijen itu tergagap, “Tuan dapat

menyusur jalan ini. Kemudian Tuan akan menembus desa

Panawijen. Di ujung yang lain dari jalan ini Tuan akan menemukan

sebuah padepokan. Itulah rumah Empu Purwa, ayah gadis itu.”

“Terima kasih,” sahut orang-orang berkuda itu, yang sesaat

kemudian telah memacu kudanya kembali menuju ke padepokan

Empu Purwa.

Ketika kuda-kuda itu berderap di depan regol padepokan,

beberapa orang cantrik yang dengan setia menunggui padepokan

Empu Purwa menjadi sangat terkejut. Berkali-kali mereka

dikejutkan, bahkan mengalami banyak peristiwa-peristiwa yang

tidak menyenangkan apabila mereka mendengar derap kuda

berhenti di halaman. Kali ini pun derap kuda itu mengejutkan

mereka. Karena itu segera mereka berlarian mengambil senjata, apa

saja yang dapat dipegangnya. Mereka tidak mau menjadi barangbarang

mati yang hanya dapat melihat peristiwa demi peristiwa

berlangsung tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak mau berdiri saja

dengan mulut ternganga seperti masa-masa yang lalu, yang

ternyata telah membawa malapetaka bagi padepokan itu, bahkan

bagi segenap padukuhan Panawijen.

Mahisa Agni yang sedang berada di belakang rumah pun

mendengar derap kuda itu. Tidak hanya seekor, tetapi empat atau

lima.

Mahisa Agni itu pun kemudian tegak berdiri dengan wajah

tengadah. Seperti para cantrik, maka ia pun curiga. Peristiwa demi

peristiwa telah mengajarnya untuk setiap kali berhati-hati.

Ketika ia melihat seorang cantrik dengan tergesa-gesa

mengambil sebatang besi pengupas sahut kelapa, ia berkata,

“Siapakah yang berkuda itu?”

“Kami belum tahu.”

“Kenapa kau mengambil potongan besi itu?”

“Kami akan menghadapi segala kemungkinan dengan senjata.

Tidak seperti masa-masa yang lampau,” sahut cantrik itu.

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Tetapi ia

tahu benar, bahwa para cantrik itu sama sekali tidak mendapat

didikan untuk berkelahi. Sehingga mereka hampir dapat dianggap

tidak berarti, apabila mereka ingin membuat perlawanan, apalagi

bagi mereka yang sudah masak dengan berbagai pengalaman.

Namun, hati Mahisa Agni sendiri pun terpengaruh juga melihat

para cantrik yang mencoba mendapatkan senjata. Ia sadar bahwa

apabila ada bahaya, maka tak akan ada orang lain yang dapat

membantunya, selain dirinya sendiri dan apabila dikehendaki,

pamannya Empu Gandring yang berada di dalam rumah itu pula.

Tetapi Mahisa Agni tidak ingin mengusik pamannya. Ia tidak ingin

membuat kesan yang tidak menyenangkan baginya. Karena itu,

maka Mahisa Agni berhasrat untuk menjumpai para penunggang

kuda itu sendiri.

Meskipun demikian, tanpa disengaja Mahisa Agni itu berjalan

lewat biliknya sendiri. Diraihnya sebilah keris di dalam glodok

pakaiannya dan diselipkannya di punggungnya, Keris itu adalah keris

buatan pamannya. Sebab sedapat mungkin, terjadi bahaya yang

tidak diinginkannya.

Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni itu pun kemudian

berjalan ke rumah depan. Dari pendapa ia sudah melihat beberapa

orang berkuda di luar halaman. Namun menilik kesan yang ada

pada mereka, mereka sama sekali bukan orang-orang yang pantas

dicurigai.

Kepada seorang cantrik Mahisa Agni menyuruhnya,

mempersilakan para penunggang kuda itu masuk ke halaman.

Sekali lagi Mahisa Agni mendapat kesan yang baik dari para

penunggang kuda itu. Mereka tidak memasuki halaman di atas

punggung kuda, tetapi segera mereka berloncatan turun, dan sambil

menuntun kuda mereka, mereka berjalan ke pendapa.

Menilik pakaian yang mereka kenakan, segera Mahisa Agni dapat

mengenal, bahwa mereka adalah pasukan pengawal Istana

Tumapel. Anak buah dari Witantra. Apalagi ketika di antara mereka

itu, dilihatnya seorang anak muda yang telah dikenalnya, Kebo Ijo.

“Selamat bertemu kembali Kakang Mahisa Agni,” sapa Kebo Ijo

sambil tertawa.

Mahisa Agni mengganggukan kepalanya. Sambil tersenyum ia

menyahut, “Selamat Adi. Marilah, naiklah ke pendapa.”

Dengan penuh hormat Mahisa Agni menerima mereka.

Dipersilakannya tamunya duduk di atas sehelai tikar pandan yang

putih. Disapanya tamunya dengan segala tata cara.

Namun dalam pembicaraan itu, Mahisa Agni menjadi sangat

heran dan tidak mengerti, kenapa para prajurit itu menjadi sangat

hormat kepadanya, kecuali Kebo Ijo. Bahkan agaknya terlampau

berlebih-lebihan. Meskipun demikian Mahisa Agni segan untuk

bertanya sebab-sebab itu.

Ketika Mahisa Agni selesai dengan pertanyaan-pertanyaan tata

cara, maka sampailah para tamunnya itu kepada persoalan yang

dibawanya. Persoalan yang harus disampaikannya sebagai utusan

Tuan Putri Ken Dedes. Bakal Permaisuri Akuwu Tumapel.

Dan Mahisa Agni masih saja terheran-heran melihat sikap para

prajurit itu, selain Kebo Ijo yang tersenyum-tersenyum saja.

Seorang yang paling tua di antara mereka berkata dengan

takzimnya, “Tuan Muda Mahisa Agni. Kami adalah utusan dari Tuan

Putri Ken Dedes untuk menyampaikan pesan kepada Tuan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan kaku ia menjawab,

“Tuan, apakah pesan yang Tuan bawa itu?”

“Tuan Putri telah mendengar laporan Kakang Witantra kepada

Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, bahwa Tuan tidak ingin menerima

Akuwu Tunggul Ametung sebagai wakil ayahanda.”

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

“Tuan Putri menjadi sangat berduka atas keputusan Tuan itu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata itu langsung

menyentuh hatinya, sehingga terasa sesuatu berdesir di dadanya.

Tiba-tiba terbayanglah wajah gadis yang murung itu. Seperti pada

saat ia melihat gadis itu menangis di sampingnya, di atas balai-balai

bambu pada saat bulan sedang mengambang di langit. Pada saatsaat

ia sedang dirisaukan pula oleh gadis itu. Terbayang di mata

Mahisa Agni, betapa Ken Dedes menyampaikan perasaannya kepada

seorang emban tua, pemomongnya. Betapa suara gadis itu seperti

petir yang menyambar kepalanya, pada saat ia mendengar bahwa

yang diharapkan olehnya adalah sebuah nama yang lain dari

namanya. Nama itu adalah Wiraprana.

Kini Wiraprana itu telah terbunuh. Betapa mungkin ia akan

mengalami peristiwa yang serupa untuk kedua kalinya. Bagaimana

dapat menahan dirinya menerima Akuwu Tunggul Ametung yang

datang untuk melamar adiknya itu. Adik yang telah pernah melukai

hatinya. Dan luka itu kini seakan-akan menjadi kambuh kembali.

Karena Mahisa Agni masih berdiam diri, maka prajurit itu berkata,

“Tuan, apakah Tuan tidak menjadi iba dan belas mendengar bahwa

Tuan Putri itu menjadi berduka?”

Mahisa Agni masih terdiam. kepalanya ditundukkannya dalamdalam.

Dan prajurit itu berkata pula, “Apakah Tuan tidak dapat

mengubah keputusan itu?”

Terasa dada Mahisa Agni seakan-akan bergolak. Kata-kata itu

benar-benar telah menggerakkan hatinya. Tetapi apabila kemudian

bayangan-bayangan yang aneh hilir mudik di kepalanya, maka

kembali hatinya menjadi pedih. Dan sambil menggelengkan

kepalanya ia berkata, “Tidak Tuan. Aku tidak akan mengubah

pendirianku. Ken Dedes kini telah cukup dewasa untuk menentukan

pilihannya sendiri.”

“Tuan benar,” sahut prajurit tertua itu, “Tuan benar. Tuan Putri

telah menjatuhkan pilihan. Tuan Putri memang telah menerima

lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi Tuan Putri tidak mau

meninggalkan adat tata cara. Tuan adalah satu-satunya wakil bagi

ayahanda yang menurut berita yang sampai di istana telah

meninggalkan padepokan.”

“Ya,” sahut Mahisa Agni, “Empu Purwa telah meninggalkan

padepokan justru karena ia kehilangan gadisnya. Justru ia

kehilangan Ken Dedes itu.”

“Kalau Empu Purwa itu dapat ditemukan, ia akan mendapatkan

putrinya itu kembali. Justru setelah Putrinya menerima anugerah.”

“Orang tua itu telah kehilangan segenap harapan. Empu Purwa

menjadi sakit hati karena gadisnya dilarikan orang. Bagaimana

mungkin ia dapat menerima Akuwu itu menghadap seandainya ia

masih berada di padepokan sekalipun?”

“Terapi bukankah yang membawa Tuan Putri pada saat itu

adalah Adi Kuda Sempana?”

“Bukankah Kuda Sempana mendapat perlindungan dari Akuwu

Tunggul Ametung.”

“Akuwu kini telah menyesal.”

“Tetapi ia tidak mengembalikan gadis itu. Malahan gadis itu

diambilnya sendiri.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Terbayanglah keheranan

yang memancar pada sepasang matanya. Ia tidak dapat mengerti

kenapa Mahisa Agni menjadi kecewa, justru adiknya akan diangkat

menjadi seorang permaisuri. Bahkan bukan itu saja. Telah tersebar

desas-desus yang luas, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah

berjanji untuk menyerahkan kekuasaan atas Tumapel kepada gadis

Panawijen itu.

Namun untuk sesaat prajurit itu berdiam diri. Ia menjadi bingung

dan tidak mengerti apa yang harus dikatakannya lagi.

Tiba-tiba mereka yang sedang duduk termenung dalam anganangan

masing-masing itu dikejutkan oleh suara tertawa yang

meledak di antara mereka. Ketika semuanya berpaling, mereka

segera melihat, bahwa yang tertawa itu adalah Kebo Ijo.

“Mahisa Agni,” katanya, “apakah kau masih tetap sakit hati?

Sayang, adikmu telah bermimpi untuk menjadi seorang permaisuri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Prajurit yang tertua dan

bahkan semuanya yang ada di pendapa itu pun menjadi heran,

kenapa Kebo Ijo tiba-tiba saja tertawa.

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Kebo Ijo

itu dengan seksama. Namun anak muda itu masih saja tertawa

sambil berkata, “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki Agni.

Adikmu telah diangkat menjadi permaisuri. Kau harus berterima

kasih karenanya. Dan kau harus berterima kasih pula kepada Kuda

Sempana. Kalau Kuda Sempana tidak menjadi gila, mata Akuwu

Tunggul Ametung tidak akan pernah melihat adikmu itu.”

Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menjadi merah. Terasa nafasnya

menjadi semakin cepat mengalir. Namun ia masih berdiam diri.

Prajurit yang tertua itulah kemudian yang berkata, “Sudahlah Adi

Kebo Ijo. Jangan berkata yang aneh-aneh. Sekarang baiklah aku

menyampaikan pesan Tuan Putri itu. Apabila Tuan Mahisa Agni

masih tetap pada pendiriannya itu, maka Tuan Putri minta Tuan

menghadap adik tuan itu ke istana.”

Tetapi warna merah di wajah Mahisa Agni masih saja membara.

Kata-kata Kebo Ijo benar-benar telah menusuk jantungnya.

Meskipun demikian, Mahisa Agni masih berusaha untuk menahan

dirinya.

Dan prajurit yang tertua di antara mereka itu masih berkata

terus, “Tuan. Sebaiknya Tuan menaruh belas akan Tuan Putri itu.

Apabila Tuan sudi datang, maka Tuan Putri akan merasa bahwa

Tuan telah merestuinya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan

hatinya yang gelisah. Perkataan prajurit itu memang dapat

menyentuh perasaannya. Alangkah sedihnya Ken Dedes apabila ia

menolak semua permintaannya itu. Namun kemudian penyakitnya

kambuh kembali, sebuah goresan yang pedih di dalam dadanya,

akibat segala macam peristiwa yang terjadi, sejak ia mendengar

nama Wiraprana disebut, kemudian Kuda Sempana yang telah

memeras segala tenaganya untuk mempertahankan gadis itu,

bahkan hampir saja nyawanya sendiri melayang. Dan yang

kemudian sekali gurunya telah meninggalkannya pula. Namun

akhirnya gadis itu tanpa setahunya telah menerima lamaran Akuwu

Tunggul Ametung. Dada Mahisa Agni menjadi pedih, sehingga

terloncatlah jawabnya, “Sayang Tuan. aku tidak dapat datang

menghadap gadis itu. Kalau ia memerlukan aku, biarlah ia datang

kepadaku. Bukan aku yang harus menghadapnya.”

Dada prajurit itu berdesir. Tetapi ia berpaling ketika ia

mendengar Kebo Ijo tertawa.

“Adi Kebo Ijo,” katanya, “akulah yang diserahi pertanggungan

jawab atas kalian, dan seluruh tugas ini.”

Dengan senyum yang menyakitkan hati Kebo Ijo menahan suara

tertawanya. Kemudian ia berusaha untuk melepaskan perhatiannya

atas pembicaraan itu. Dengan nanar ia memandang berkeliling.

Kepada pepohonan, bunga-bunga dan rumput yang bertebaran di

halaman. Namun daun-daun dan mahkota bunga tampak olehnya

tidak begitu segar.

Prajurit itulah kemudian yang berkata kepada Mahisa Agni,

“Tuan. Mungkin aku salah mengatakannya kepada Tuan. Maksudku,

Tuan Putri mengutus kami untuk menyampaikan kepada Tuan,

bahwa Tuan Putri ingin bertemu dengan Tuan. Ingin berbincang

mengenai beberapa hal dan mungkin Tuan Putri akan minta izin

kepada Tuan, untuk menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung.

Karena Tuan Putri tidak dapat meninggalkan istana, maka apakah

Tuan sudi datang mengunjunginya?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Sayang. Aku

tidak dapat pergi ke Tumapel. Padukuhan ini tidak dapat aku

tinggalkan. Aku sekarang sedang terikat oleh suatu pekerjaan yang

besar. Besar bagi padukuhan kami, meskipun hanya membuat

sebuah bendungan. Sebab bendungan kami telah pecah beberapa

waktu yang lampau.”

Prajurit itu menggigit bibirnya. Agaknya Mahisa Agni akan tetap

pada pendiriannya. Karena itu ia menjadi ragu-ragu untuk berbuat

sesuatu. Ia tidak mendapat kekuasaan untuk melakukan tugasnya

dengan segala cara, menghadapkan Mahisa Agni ke Tumapel. Ia

hanya mendapat tugas untuk menyampaikan pesan itu. Dan

ternyata pesan itu telah ditolaknya.

Namun prajurit itu masih mencoba untuk meyakinkan Mahisa

Agni, bahwa sebaiknya ia datang, katanya, “Tuan Kasihanilah Adik

Tuan itu. Mungkin adik tuan ingin datang mengunjungi Tuan, tetapi

adik tuan sama sekali tidak mendapat kesempatan. Bukan karena

adik tuan itu tidak ingin, apalagi tidak sudi, tetapi sebagai seorang

putri istana ia terikat pada beberapa ketentuan yang tidak dapat

dilanggarnya.”

“Anak itu adalah anak Panawijen,” sahut Mahisa Agni, “gadis

padepokan yang berada di istana karena dilarikan orang. Ia sama

sekali bukan seorang putri yang wajar menerima berbagai tata cara

kebesaran sebelum ia benar-benar menjadi seorang permaisuri.”

Sekali lagi prajurit itu mengangguk-angguk sambil menggigit

bibirnya. Kini seakan-akan semua jalan yang dapat ditempuhnya

telah buntu. Ia benar-benar tidak dapat mengatasi kekerasan hati

Mahisa Agni dengan kata-kata.

Namun kembali mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat

Kebo Ijo dengan serta-merta meloncat berdiri dan berjalan turun

dari pendapa. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Kakang, aku

tidak telaten. Jangan kau bujuk dengan rayuan cengeng anak manja

itu. Kakang hanya tinggal menyampaikan pesan gadis Panawijen itu,

kemudian apakah kakaknya akan memenuhi atau tidak, bukanlah

urusan kita. Kita bukan budak-budak yang harus merendahkan diri,

merajuk seperti jejaka yang sedang jatuh cinta.”

“Kebo Ijo!”

Teriakan itu benar-benar mengejutkan. Hampir bersamaan

Mahisa Agni dan prajurit itu memotong kata-katanya. Hampir

bersamaan pula mereka berdua serentak berdiri. Bahkan Mahisa

Agni dan prajurit itu pun terkejut pula melihat sikap masing-masing

menghadapi Kebo Ijo.

Namun Kebo Ijo itu masih berdiri di bawah tangga pendapa

dengan dada tengadah. Bahkan kemudian ia berkata, “Tak ada

gunanya membujuk Mahisa Agni yang keras kepala.”

Mahisa Agni kemudian tidak dapat menahan dirinya lagi. Tibatiba

ia meloncat turun pula dari pendapa. Namun prajurit yang

tertua itu meloncat pula secepat Mahisa Agni meloncat. Dengan

penuh hormat, seperti pada saat ia datang dan berbicara, ia berkata

kepada Mahisa Agni, “Tuan. Aku adalah tetua rombongan kecil ini.

Aku minta maaf atas perbuatan Adi Kebo Ijo. Mudah-mudahan aku

akan dapat mencegahnya lain kali.”

Tetapi belum lagi kata-kata itu berakhir, telah terdengar suara

tertawa Kebo Ijo itu kembali.

Betapa wajah prajurit tertua itu menjadi merah padam. Seakanakan

ia menerima tamparan langsung di wajahnya. Meskipun

demikian ia menyadari, bahwa Kebo Ijo adalah adik seperguruan

Witantra. itu pulalah agaknya, yang menyebabkan anak muda itu

menjadi keras kepala. Ia merasa bahwa di belakangnya berdiri

seorang yang disegani. Baik oleh Mahisa Agni maupun oleh tetua

rombongan prajurit itu.

Prajurit yang tertua itu pun kemudian menyadari, bahwa lebih

baik baginya untuk segera meninggalkan halaman itu sebelum

terjadi sesuatu. Ia telah mengenal sikap dan sifat Kebo Ijo meskipun

belum begitu banyak, dan ia telah mendengar beberapa macam

cerita tentang anak muda kakak Ken Dedes itu. Prajurit itu telah

mendengar pula cerita tentang Mahisa Agni, ketika ia terpaksa

berkelahi melawan Mahendra di Tumapel beberapa waktu yang lalu.

Namun sebelum prajurit itu berkata sesuatu dilihatnya Kebo Ijo

berjalan dengan senyum-senyum yang menyakitkan hati ke arah

kudanya. Dengan satu loncatan yang cepat, anak muda itu telah

berada di punggung kuda.

“Selamat tinggal sampai bertemu kembali Agni. Mudah-mudahan

kau tidak terlalu murung menghayati kenyataan seharusnya kau

menjadi gembira mendengar kabar tentang adikmu. Tetapi tiba-tiba

kau malahan menjadi bersedih.”

“Cukup!” bentak prajurit yang memimpin rombongan itu, “Jangan

mengigau terus Adi Kebo Ijo!”

Kebo Ijo tertawa. Digerakkannya kendali kudanya, dan perlahanlahan

kudanya bergerak meninggalkan halaman rumah itu. Namun

suara tertawanya masih saja terdengar menggeletar di halaman.

“Maaf, sekali lagi aku minta maaf atas segala tingkah lakunya,”

minta prajurit itu.

Mahisa Agni berdesis. Seandainya prajurit itu tidak bersikap

manis, maka Mahisa Agni sudah tidak dapat lagi menahan dirinya.

Namun ketika sekali lagi prajurit itu minta maaf kepadanya, maka

sadarlah Mahisa Agni, bahwa ia berhadapan dengan Kebo Ijo.

Seharusnya ia telah mengenal sifat anak yang bengal itu. Maka

dengan mengangguk-anggukkan kepalanya Agni menjawab,

“Baiklah Tuan. Seharusnya aku tahu, bahwa demikian itulah sifat

Kebo Ijo. Sejak aku mengalami singgungan perasaan yang kadangkadang

hampir tak tertahankan.”

“Ya,” sahut prajurit itu, “mudah-mudahan setelah ia berada

dalam lingkungan yang lebih luas, dalam lingkungan keprajuritan,

sifat-sifatnya akan berkurang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, meskipun terasa degup

jantungnya masih belum tenang kembali.

“Kini, kami akan mohon diri Tuan,” berkata prajurit itu, “aku akan

menyampaikan segala jawaban Tuan atas permintaan Tuan Putri.”

“Baik,” sahut Agni, “sampaikan kepadanya, aku sedang

terlampau sibuk.”

Prajurit itu membungkuk hormat. Beberapa orang kawannya pun

berbuat serupa, “Kami segera akan kembali.”

Ketika kuda-kuda para tamu itu berderap, dada Mahisa Agni pun

serasa berderap sekeras derap kuda itu. Hampir ia berteriak

memanggil mereka, dan menyatakan kesediaannya untuk pergi

bersama mereka ke Tumapel menemui Ken Dedes. Namun tiba-tiba

terdengar giginya gemeretak. Terdengar suaranya parau perlahanlahan,

“Tidak. Aku tidak akan datang menemuinya. Aku tidak akan

dapat merestui perkawinan itu. Guru sendiri telah berkata dalam

kutuknya, bahwa matilah mereka dengan keris, yang ikut serta

melarikan anaknya. Bukankah Tunggul Ametung termasuk pula di

antaranya?” Namun Mahisa Agni segera memejamkan matanya

ketika timbul pertanyaan dalam hatinya, “Apakah itu alasanmu satusatunya?”

Mahisa Agni itu pun kemudian terkejut ketika terasa pundaknya

tersentuh tangan. Ketika ia berpaling dilihatnya pamannya berdiri di

belakangnya sambil tersenyum.

Dada Mahisa Agni berdesir. Kemudian tatapan wajahnya

tertunduk menghunjam disela-sela jari kakinya.

“Kenapa kau tidak pergi bersama mereka. Bukankah gadis itu

putri gurumu?” bertanya pamannya.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kepalanya masih tunduk

dalam-dalam dan hatinya bergolak semakin cepat.

Empu Gandring yang bijaksana melihat kerusuhan hati

kemenakannya. Karena itu ia tidak mendesaknya. Bahkan kemudian

ia berkata, “Sudahlah Agni. Kalau kau sudah berketetapan hati tidak

akan pergi baiklah. Tetapi perasaanmu jangan terbenam dalam

keragu-raguan. Nah, sekarang bagaimana dengan bendunganmu?”

Seperti orang yang terbangun dari tidurnya, Mahisa Agni

menengadahkan wajahnya. Tiba-tiba ia tersenyum dan menjawab,

“Semua persiapan telah selesai, Paman.”

“Bagus,” sahut pamannya, “lalu apa yang akan dikerjakan hari

ini?”

“Brunjung harus mulai dibawa ke jeram-jeram itu,” jawab Agni

“Bagus,” sahut pamannya, “apakah sudah kau sediakan gerobakgerobak

yang akan membawanya?”

“Sudah, Paman.”

“Mari, biarlah aku mempunyai pekerjaan di sini, daripada hanya

duduk termenung setiap hari. Apakah aku dapat turut membawa

brunjung-brunjung itu?”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah, “sebaiknya Paman tidak usah terlalu

bersusah-payah.”

“Jangan beranggapan bahwa aku seorang yang hanya pantas

diberi makan dan minum saja, Agni. Biarlah aku pergi bersamasama

membawa brunjung itu ke jeram-jeram di padang Karautan.”

“Apabila Paman kehendaki, aku akan mempersilakan.”

“Dari mana brunjung-brunjung itu dibawa?”

“Dari rumah Ki Buyut, Paman. Di sana semuanya telah siap, Ki

Buyut sendiri akan membawa brunjung-brunjung itu ke sana.

Tinggal menanti aku yang masih harus mempersiapkan beberapa

pekerjaan di sini.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Baik. Kalau kau belum

sempat pergi, biarlah aku bersama mereka. Mungkin aku dapat

membantu mereka.”

Mahisa Agni pun kemudian menyadari kata-kata itu. Ki Buyut

belum menyadari bahaya yang akan dapat mengancam mereka,

karena Mahisa Agni belum mengatakannya. Sedang apa yang

didengar oleh Ki Buyut dari Jinan, Patalan dan Sinung Sari hanya

dianggapnya sebagai sebuah lelucon yang dahsyat. Dan kini

pamannya bersedia pergi bersama mereka.

Karena itu Mahisa Agni merasa bahwa pamannya bersedia untuk

melakukan sebagian dari pekerjaannya. Terutama melindungi orang

yang sedang mengantarkan peralatan bagi bendungan yang akan

mereka bangun.

Maka jawab Mahisa Agni, “Terima kasih, Paman. Apabila Paman

bersedia berangkat bersama dengan Ki Buyut, maka pekerjaan akan

terbagi. Brunjung itu akan sampai di jeram-jeram itu, sementara

aku sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini. Dengan

demikian kita tidak kehilangan waktu hanya untuk menunggu aku.”

Empu Gandring tersenyum, “Bukankah lebih baik begitu?”

Demikianlah maka pada hari itu juga Mahisa Agni segera

mempersiapkan, brunjung-brunjung untuk dibawa ke padang

Karautan. Hampir semua gerobak yang ada di padukuhan itu dipakai

oleh Ki Buyut Panawijen untuk mengangkut brunjung-brunjung dan

berbagai macam peralatan yang lain.

Kepada mereka Mahisa Agni berpesan, bahwa mereka harus

menaruh banyak perhatian terhadap air, supaya mereka tidak

kehausan di jalan.

Maka pada pagi harinya, berangkatlah iring-iringan gerobak dan

sebagian orang-orang Panawijen, berjalan menuju ke padang

rumput Karautan. Di antara mereka terdapat Ki Buyut Panawijen,

Empu Gandring dan sebagai penunjuk jalan adalah Jinan, Patalan

dan Sinung Sari. Hampir segenap penduduk Panawijen melepas

iring-iringan itu dengan doa dan harapan, semoga mereka

menemukan kembali kesuburan dan kesejahteraan seperti yang

pernah dialami.

Sementara itu Mahisa Agni dan beberapa anak-anak muda yang

lain masih sibuk menyiapkan patok-patok dan tali temali dari ijuk

untuk bendungan itu pula. Mereka mengharap, bahwa apabila

pekerjaan mereka itu telah siap, maka segera mereka akan dapat

pergi menyusul gerobak-gerobak yang berjalan jauh lebih lambat

dari berjalan kaki biasa. Apalagi Mahisa Agni dan kawan-kawannya

kelak akan dapat menyusul mereka berkuda. Patok-patok bambu

dan tali temali itu akan dapat dimasukkan ke dalam krenengkreneng

yang besar dan digantungkan pada sisi-sisi kuda sebelah

menyebelah.

Dengan demikian maka pekerjaan itu berjalan menurut tugas

masing-masing. Dengan penuh kesungguhan dan harapan, rakyat

Panawijen bekerja keras untuk kesejahteraan mereka dan anak cucu

mereka.

Kalau kemudian malam tiba, maka Mahisa Agni dengan kelelahan

beristirahat di padepokan. Sebelum ia ingin tidur, maka ia selalu

berbaring-baring di pendapa atau duduk di teritisan. Betapa sepinya

padepokan itu kini. Sekali-sekali Mahisa Agni masih juga sempat

mengenangkan masa-masa lampaunya. Ketika ia masih menghayati

padepokan ini dengan segenap penghuninya. Penghuni yang

masing-masing mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya.

Empu Purwa, gurunya yang telah menuntunnya dalam olah

kanuragan dan olah kebatinan. Yang menuntunnya menanggapi

kehadirannya di dunia namun juga menanggapi cinta kasih

Penciptanya. Kemudian Ken Dedes, gadis yang aneh baginya. Dan

seorang emban tua, ibunya.

Malam itu Mahisa Agni setelah membersihkan dirinya, berjalanjalan

di pekarangan rumahnya. Dicobanya untuk mengenal kembali

setiap tanaman yang ada di taman-taman. Bunga-bunga yang

pernah ditanamnya dan rerumputan yang pernah dipeliharanya.

Meskipun kini terkadang ia sama sekali tidak lagi tertuju kepada

tanam-tanaman itu, namun para cantrik agaknya telah meneruskan

pemeliharaan atas tanaman-tanaman itu, sehingga meskipun telah

sekian lama tidak disentuhnya, namun tanaman-tanaman itu masih

tetap terpelihara rapi.

Ketika ia melangkah terus, tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya

sebuah balai-balai bambu di teritisan. Balai-balai yang dulu itu juga.

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Bukan saja balai-balai bambu itu,

tetapi dilihatnya pula sebatang seruling terselip pada dinding rumah.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Tanpa sesadarnya ia

melangkah dan menjatuhkan dirinya dialas balai-balai itu. Terdengar

suaranya berderak dan terdengar pula nafas Mahisa Agni terputus

sesaat.

Namun kemudian anak muda itu menjulurkan tangannya, meraih

serulingnya yang telah lama terselip di situ.

Dengan hati yang tersentuh-sentuh oleh kepahitan perasaan,

Mahisa Agni membersihkan serulingnya. Perlahan-lahan diangkatnya

seruling itu dan dilekatkan ke mulutnya.

Sesaat kemudian melontarkan sebuah lagu menelusur sepi

malam. Menjerit tinggi di antara desir dedaunan yang digerakkan

oleh angin malam yang lembut, seakan-akan ikut pula berlagu,

mendendangkan sebuah kidung yang sedih.

Para cantrik yang masih duduk-duduk di belakang rumah terkejut

mendengar suara seruling itu. Serentak merela mengangkat wajahwajah

mereka, namun segera wajah-wajah itu tertunduk kembali.

Lagu itu adalah lagu yang murung. Dan wajah-wajah para cantrik

itu pun menjadi murung pula.

Sedang di ruang samping, para endang yang sedang bergurau

pun tiba-tiba berhenti. Seperti dikejutkan oleh suara hantu, mereka

memasang telinga mereka tajam-tajam. Dan mereka pun

mendengar suara seruling itu.

“Hem,” desis seorang endang.

“Kenapa?” bertanya yang lain.

“Lagu itu.”

“Kenapa?”

Endang itu tidak menjawab. Tetapi matanya menjadi sayu. Ia

adalah endang yang selalu melayani Ken Dedes pada saat gadis itu

masih berada di padepokan. Dan suara seruling itu telah

menuntunnya ke dalam suatu kenangan atas gadis padepokan yang

bernama Ken Dedes itu.

Tetapi kawan-kawannya tidak sempat bertanya kenapa ia

menjadi sedih. Bahkan kawan-kawannya pun segera menundukkan

wajah-wajah mereka. Terasa sebuah kenangan yang pahit telah

menyentuh-nyentuh hati mereka pula.

Tetapi tiba-tiba suara seruling itu menyentak berhenti, sehingga

baik para cantrik maupun para endang menjadi bertanya-tanya di

dalam hati. Namun mereka tidak tahu, bahwa Mahisa Agni yang

sedang meniup seruling itu telah dikejutkan oleh suara langkah

tergesa-gesa mendekatinya.

Langkah itu masih belum terlalu dekat. Tetapi telinga Mahisa

Agni yang tajam telah dapat mendengarnya. Langkah itu adalah

langkah seseorang yang berjalan ke arahnya.

Namun demikian suara serulingnya berhenti, suara langkah itu

pun berhenti pula. Betapapun Mahisa Agni memasang

pendengarannya baik-baik, tetapi ia kini sudah tidak mendengar

suara itu lagi.

Hati anak muda itu pun menjadi berdebar-debar. Berbagai

pertanyaan hinggap di dalam hatinya. Namun Mahisa Agni yang

cukup terlatih itu merasakan bahwa langkah itu bukanlah langkah

seseorang yang cukup mempunyai kecakapan untuk

menyembunyikan suara langkahnya. Dengan demikian Mahisa Agni

menjadi agak tenang. Mungkin langkah itu adalah langkah seorang

cantrik atau seorang endang yang ingin mengintipnya dan

bersembunyi dibalik sudut rumah itu.

Tetapi ketika Mahisa Agni itu berdiri dan berjalan menyusuri

jalan-jalan di taman, kembali ia terkejut. Didengarnya suara

memanggilnya perlahan-lahan, “Mahisa Agni.”

Agni berpaling. Dilihatnya sebuah bayangan di dalam gelap

berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Terasa dada Mahisa Agni

berdesir melihat bayangan itu. Dan sekali lagi terdengar bayangan

itu memanggilnya, “Agni.”

“Ibu,” desis Mahisa Agni sambil melangkah tergesa-gesa ke arah

bayangan yang ternyata adalah ibunya.

“Ya,” sahut ibunya, “aku ibumu.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa

hatinya menjadi berdebar-debar. Ibunya memerlukan datang

kepadanya. Pasti ada sesuatu yang penting.

“Marilah ibu,” Agni mempersilakan ibunya masuk ke dalam

rumah. Tetapi ibunya menjawab, “Aku adalah seorang emban tua di

sini, Agni.”

“Oh,” desah Mahisa Agni, “lalu?”

“Bawalah aku ke pendapa. Aku datang bersama dengan dua

orang prajurit Tumapel.”

“Kenapa ibu membawa prajurit-prajurit itu?”

“Aku tidak membawanya, tetapi kedua orang itu mendapat

perintah untuk mengantarku.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau begitu marilah,” ia mempersilakan.

“Tidak sekarang Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud

ibunya sehingga karena itu ia bertanya, “Kenapa?”

Ibunya memandang wajah Mahisa Agni dengan lembut. Terasa

sinar keibuan memancar dari sepasang mata yang redup di antara

kerut-kerut wajah yang telah dijalari oleh garis-garis umur.

“Marilah, duduklah di sini sebentar Agni,” minta ibunya.

Sebelum Mahisa Agni menjawab, terasa tangan ibunya menarik

lengannya, dan dituntunnya ke balai-balai di teritisan.

“Duduklah Agni.”

Seperti anak yang baru pandai berjalan di dalam bimbingan

ibunya, Mahisa Agni sama sekali tidak mengelak.

Ketika kemudian Mahisa Agni terhenyak di atas balai-balai itu,

maka ibunya pun segera duduk pula di sampingnya.

Sejenak mereka masih saling berdiam diri. Ibunya sedang

mencoba mengatur pernafasannya yang terengah-engah. Baru saja

ia menempuh perjalanan yang terlalu jauh bagi seorang perempuan

tua, meskipun di atas punggung kuda. Namun karena ia bukan

seorang penunggang kuda yang baik, maka terasa seluruh

badannya menjadi penat dan sakit. Jarak yang sama antara

Tumapel dan Panawijen telah ditempuh dalam waktu dua kali

bahkan tiga kali lipat, daripada waktu yang diperlukan oleh mereka

yang pandai berkuda dengan kecepatan yang sedang saja. Karena

itulah maka perempuan tua itu datang terlampau malam di

Panawijen.

Sedangkan Mahisa Agni, kini dirisaukan oleh berbagai dugaan

atas kedatangan ibunya. Namun segera ia menghubungkan

kedatangan ibunya itu dengan kedatangan serombongan prajurit

beberapa hari yang lalu. Karena itu, maka hatinya menjadi

berdebar-debar.

Baru sesaat kemudian terdengar ibunya berkata, “Agni. Aku

sangat penat. Tetapi aku ingin segera mendengar beberapa

persoalan dari mulutmu sendiri. Karena itu, biarlah kita bicarakan

dahulu beberapa persoalan tanpa didengar oleh para prajurit yang

mengantarkan aku itu, kemudian barulah aku dan prajurit-prajurit

itu kau jamu sekedarnya. untuk menghilangkan haus dan lapar.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, seperti sudah

seharusnya saja ia berbuat demikian.

“Agni,” berkata ibunya, “apakah beberapa hari yang lalu datang

beberapa orang prajurit kemari?”

Kembali Mahisa Agni mengangguk. Debar di dadanya terasa

semakin keras.

“Apakah mereka minta kepadamu supaya kau pergi ke Tumapel?”

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk.

“Dan kau menolak.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Pertanyaan itu sudah diduganya.

Namun terasa bahwa pertanyaan itu menyulitkannya.

“Agni. Kenapa kau menolak? Dua persoalan telah diberikan

kepadamu. Yang pertama, Akuwu Tunggul Ametung, seorang

Akuwu telah bersedia datang kepadamu untuk mewakili gurumu,

menerima lamarannya atas Ken Dedes, karena kau dianggap

sebagai kakaknya, meskipun bukan kakak kandungnya. Bukankah

Ken Dedes sudah tidak mempunyai keluarga seorang pun selain

ayahnya itu? Yang kedua, karena kau menolak, maka Ken Dedes

ingin menemuimu. Dan kau menolak pula. Apakah sebabnya Agni?”

Kini dada Mahisa Agni tidak lagi sekedar berdebar-debar. Tetapi

terasa dada itu kini bergelora. Sebenarnya ia telah jemu mendengar

pertanyaan-pertanyaan serupa itu. Sejak ia bertemu dengan Ken

Arok di padang Karautan, kemudian Mahendra yang menemuinya

atas perintah Witantra, seterusnya beberapa orang prajurit datang

lagi kepadanya atas perintah Ken Dedes. Dan kini, yang datang itu

adalah ibunya. Karena itu maka terasa dada Mahisa Agni menjadi

sesak karenanya. Sesak oleh berbagai persoalan yang diberati pula

oleh persoalan yang serupa, namun kini ibunyalah yang

membebankannya.

Justru karena itu, karena pertanyaan-pertanyaan yang terakhir

itu meluncur dari mulut ibunya, maka terasa bahwa sentuhansentuhan

pada dinding hatinya terasa menjadi semakin tajam.

Mahisa Agni yang menundukkan kepalanya, tidak segera dapat

menjawab. Nafasnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir,

namun jantungnya serasa akan berhenti berdetak.

“Agni,” desak ibunya, “kenapa kau tidak bersedia pergi ke

Tumapel untuk menemui Ken Dedes? Gadis itu perlu kedatanganmu.

Ia sampai kini, merasa bahwa hidupnya terlalu jauh terpencil dari

keluarganya. Ketika ia mendengar bahwa ayahnya pergi dari

Panawijen, ia menjadi pingsan. Satu-satunya harapan yang akan

dapat menenteramkan hatinya adalah kau, Agni. Kalau kau juga

menolak, maka gadis itu akan berputus asa. Ia akan merasa

hidupnya terlalu sepi. Sendiri dalam kesibukan hidup sehari-hari.”

Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya. Kata-kata itu seperti

mengetuk-ngetuk otaknya. Bahkan menusuk-nusuk seakan-akan

sedang mengorek dinding otaknya untuk membuat sebuah lubang

yang dalam. Alangkah sakitnya.

“Kau dengar Agni?”

Suara itu bagaikan derak gunung yang meledak, menggelegar di

atas kepalanya.

Mahisa Agni menjadi pening, perlahan-lahan ia mengangkat

kepalanya. Tetapi ia tidak memandang wajah ibunya.

Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh menembus kelamnya

malam, hinggap pada sinar-sinar delupak yang mengintip dari

lubang-lubang dinding dapur.

“Bagaimana Agni?”

“Tidak!” tiba-tiba suara Agni menyentak, sehingga ibunya

terkejut.

“Jangan membentak!” sahut ibunya.

“Aku tidak akan pergi. Ia tidak akan menjadi kesepian. Gadis itu

akan menjadi seorang permaisuri. Hidupnya akan dikelilingi oleh

dayang-dayang dan emban. Semua kata-katanya akan terjadi, dan

semua keinginannya akan terpenuhi. Apa gunanya aku lagi. Apa?”

“Agni,” potong ibunya, “tetapi kau tidak memandang ke dalam

hatinya. Kau hanya melihat tata lahiriahnya, Agni.”

“Kalau hatinya merasa kesepian, kalau hatinya tidak tertimbuni

oleh keinginan-keinginan lahiriah, maka apakah ia akan menerima

lamaran Akuwu sebelum ia berbicara dengan siapa pun? Sebelum ia

berbicara dengan ayahnya, atau dengan aku yang dianggap dapat

mewakili ayahnya?”

“Agni,” potong ibunya semakin keras. Sehingga suara Agni itu

pun terputus pula.

“Kau tidak dapat mengerti perasaan hati seorang perempuan.

Ken Dedes sudah cukup mengalami derita batin yang hampir tak

tertanggungkannya. Matinya Wiraprana, hilangnya Empu Purwa dan

kini kau masih akan menyiksanya dengan berbagai tuntutan yang

tak masuk akal. Apa yang dihadapi Ken Dedes saat itu bukanlah

keadaan yang wajar. Tetapi ia tersekap dalam satu ruang yang

sempit dengan himpitan perasaan yang tajam. Tiba-tiba ia melihat

uluran tangan dari seorang laki-laki yang dianggapnya sangat baik

kepadanya. Laki-laki yang telah membebaskannya dari Kuda

Sempana yang sangat dibencinya. Laki-laki yang dapat memberinya

harapan bagi masa-masa depannya sepeninggal Wiraprana. Laki-laki

yang berusaha menghiburnya pada waktu hatinya sedang pedih.

Apalagi, Agni? Apalagi? Tetapi laki-laki itu tidak akan berbuat

sekehendak hatinya dan liar. Ia masih ingat tata cara yang

meskipun tidak sepenuhnya, tetapi sejauh yang dapat dilakukan. Ia

bersedia datang kepadamu. Dan laki-laki itu adalah seorang Akuwu.

Nah, apa katamu?”

“Sejak semula aku tidak mencampuri urusannya dengan Akuwu

itu. Akuwu yang telah melarikannya, melindungi Kuda Sempana,

merampas anak orang. Aku telah mencoba mempertahankannya,

bahkan nyawaku hampir diambilnya. Kini, peristiwa itu sudah

dilupakan. Kini mereka menemukan jalan sendiri yang akan

membahagiakan, sedang luka di punggungku masih berbekas.

Bahkan ayahnya sendiri, Empu Purwa telah mengutuknya. Betapa

kecewa hati orang tua itu. Betapa kecewa pula hatiku. Orang

memandang setiap persoalan dari kepentingan sendiri.”

“Agni?” potong ibunya.

Tetapi Mahisa Agni masih berkata terus, “Apa yang aku peroleh

dari setiap usahaku mempertahankannya dari Kuda Sempana?

Apakah yang aku lakukan tidak senilai apa yang dilakukan oleh

Akuwu itu. Justru Akuwu yang melindungi perbuatan hina itu pula.”

“Agni, Apakah kau sedang menimbang jasa? He?”

Kini suara Agni benar-benar terpotong. Dan ibunya berkata terus,

“Jadi kau ingin mendapatkan imbalan dari jasamu itu? Agni. Aku

adalah seorang tua. Aku tahu apa yang tersimpan di dadamu.

Ternyata kau sama sekali tidak ikhlas melepaskan Ken Dedes. Nah,

katakanlah kepadaku Agni. Apakah kau masih menghendakinya.

Apakah kau masih menyimpan keinginan dalam dadamu, bahwa

suatu ketika kau sendiri akan mengawininya. Kalau benar-benar

demikian, aku, ibumu akan sanggup memenuhi keinginan itu. Aku

berkewajiban Agni. Kalau demikian, besok aku akan kembali ke

Tumapel. Aku akan membunuh Tunggul Ametung. Kau tidak

percaya? Aku yakin bahwa aku akan dapat melakukannya. Aku

dapat meracuninya. Kalau Akuwu itu sudah terbunuh, ke mana

larinya gadis itu? Ia akan kembali ke padepokan ini, meskipun aku

akan digantung karena pembunuhan itu. Nah, setelah ia berada di

padepokan ini seorang diri, kau dapat berbuat apa saja atasnya. Kau

dapat berbuat apa saja sekehendak hatimu. Tanpa memikirkan

perasaan gadis itu. Tanpa menimbang apakah itu dapat

membahagiakannya atau menghancurkannya.”

“Cukup! Cukup!” suara Agni menggelepar menggetarkan udara

malam yang sepi. Beberapa orang cantrik dan emban mendengar

suara itu. Namun mereka tidak berani berbuat sesuatu. Mereka

tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan mereka menyangka bahwa Agni

sedang marah kepada pembantu-pembantunya yang sedang

menyiapkan bendungan.

Suara ibunya terputus karenanya. Sesaat malam dicengkam oleh

kesepian yang menggelisahkan. Sepi, namun dada Mahisa Agni

sedang dibelit oleh kegelisahan yang dahsyat.

Yang terdengar kemudian adalah suara angin yang berdesir

menyentuh dedaunan. Kelopak dan mahkota-mahkota bunga

bergerak-gerak seperti sedang menggelengkan kepalanya melihat

betapa Mahisa Agni menahan gelora di dadanya.

Dengan serta-merta anak muda itu berdiri. Tatapan matanya

masih menyangkut di kejauhan, menembus gelapnya malam.

“Agni,” bisik ibunya.

Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Tetapi ia menjawab, “Ibu

telah mengorek luka di hatiku.”

“Jadi apakah maksudmu sebenarnya?”

“Aku sudah tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan Ken

Dedes. Aku kini sedang sibuk dengan kewajibanku sendiri.

Menyelesaikan bendungan itu atas perintah Empu Purwa untuk

mengganti bendungan yang pecah. Aku tidak ada waktu untuk

mengurusinya. Bagiku, rakyat Panawijen jauh lebih penting daripada

Ken Dedes itu seorang diri.”

“Jangan mengada-ada, Agni. Bendungan itu adalah pekerjaan

yang memerlukan waktu. Sedang Ken Dedes hanya memerlukan

kau tidak lebih dari sehari saja. Pagi-pagi kau dapat berangkat

berkuda ke Tumapel untuk menemuinya, maka di malam harinya

kau sudah berada di Panawijen kembali.”

“Tak ada waktu.”

“Jangan menunggu Akuwu marah. Akuwu masih dapat menahan

dirinya ketika ia mendengar bahwa utusan Ken Dedes kau tolak,

karena Ken Dedes masih akan berusaha memanggilmu. Dan aku

telah menyanggupkan diriku, karena aku adalah ibumu. Aku

menyangka bahwa betapapun kecilnya, aku masih mempunyai

pengaruh atas anakku. Tetapi ternyata aku keliru. Aku sama sekali

sudah tidak memiliki apapun lagi. Dan itu adalah salahku, karena

aku memisahkan kau sejak kanak-kanak. Adalah wajar kalau kau

sekarang merasa, bahwa ibumu tidak berarti lagi bagimu.”

Kembali terasa dada Mahisa Agni itu bergelora. Betapa sakitnya

ia mendengar kata-kata ibunya. Betapa pedihnya. Hampir-hampir ia

berteriak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit jantungnya.

Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar suara isak di

belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya ibunya menundukkan

kepalanya dalam-dalam. Dengan ujung kainnya, orang tua itu

menyeka matanya yang basah.

Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa dikehendakinya sendiri, tibatiba

ia terkenang kepada seorang perempuan tua yang menangisi

anaknya yang hampir mati dibunuhnya. Perempuan tua itu adalah

ibu Pasik. Meskipun perempuan itu pernah mengalami perlakuan

yang kasar dari anaknya, namun ketika anaknya terluka, maka anak

itu ditangisinya.

“Alangkah jauh bedanya. Kasih seorang ibu dibandingkan dengan

kasih seorang anak,” katanya di dalam hati. Dan kini ia melihat

ibunya itu menangis. Menangis karena sikapnya yang kasar.

Menangis karena ia menolak nasihatnya.

Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Dikenangnya kembali apa

saja yang diucapkan oleh ibunya. Dikatakannya bahwa ia tidak

dapat mengerti perasaan seorang perempuan.

“Hem,” Mahisa Agni berdesah di dalam hati, “kenapa hanya lakilaki

saja yang harus mengerti perasaan perempuan. Kenapa tidak

sebaliknya pula? Aku harus mencoba mengerti betapa hati Ken

Dedes akan menjadi pedih apabila aku tidak memenuhi

permintaannya. Tetapi kenapa Ken Dedes tidak mau mengerti,

betapa hatiku lebih-lebih akan menjadi parah. Kalau aku datang lagi

kepadanya.”

Tetapi ketika sekali lagi ia memandangi wajah ibunya yang

tunduk, maka hatinya menjadi luluh. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun

kembali menghenyakkan dirinya di samping ibunya. Dengan suara

yang terpatah-patah ia berkata, “Jangan menangis ibu.”

Ibunya menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni. Aku mencoba

untuk tidak menangis. Aku akan mencoba mengerti apa yang baru

saja terjadi. Aku tidak menyalahkanmu.”

Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Kini ia tidak dapat lagi

melawan perasaan seorang anak yang ingin mencoba berbakti

kepada ibunya. Karena itu katanya, “Ibu, aku akan memenuhi

permintaan ibu.”

Ibunya terkejut mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba ia

menengadahkan kepalanya sambil bertanya, “Bagaimana?”

“Aku akan pergi ke Tumapel, semata-mata karena permintaan

ibu.”

“Agni. Jadi kau bersedia?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya

“Oh,” ibunya berdesah. Sekali lagi ia menundukkan dan

terdengar ia bergumam, “Aku tahu betapa hatimu seperti tergores

sembilu. Namun Agni, pengorbanan akan bermanfaat bagi gadis

yang malang itu.”

Mahisa Agni tidak menjawab.

Kembali untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Kembali

terdengar di telinga mereka suara angin yang berdesir menyentuh

dedaunan.

Baru sejenak kemudian terdengar ibu Mahisa Agni itu berkata,

“Agni, di pendapa ada tamu. Prajurit-prajurit dari Tumapel yang

mengantarkan aku. Apakah kau akan menemui mereka?”

Keduanya pun kemudian melangkah ke pendapa untuk menemui

pengantar emban tua itu. Ketika Mahisa Agni telah sampai di

pendapa dan bercakap-cakap dengan kedua prajurit itu, maka

emban tua itu segera pergi ke belakang. Alangkah terperanjatnya

para endang dan cantrik melihat kehadirannya. Beberapa endang

memeluknya sambil menangis, dan yang lain lagi bertanya tidak ada

henti-hentinya.

“Sekarang,” berkata emban tua itu, “di pendapa ada tamu.

Apakah kalian masih bersedia merebus air dan menanak nasi?”

“Tentu. Tentu,” sahut para endang. Dan segera mereka pun

menyalakan api di dapur. Merebus air dan menanak nasi. Sementara

itu, para endang dan cantrik masih saja sibuk dengan berbagai

pertanyaan. Mereka ingin mendengar cerita tentang Ken Dedes.

Namun sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ibu Mahisa

Agni itu selalu saja dibayangi oleh perasaan sendiri, “Alangkah

kejamnya aku sebagai seorang ibu terhadap anak laki-lakiku. Aku

telah menyiksa perasaannya dan aku telah menyakiti hatinya.”

Tetapi ibu Mahisa Agni itu pun tidak sampai hati melihat Ken

Dedes merasa hidupnya menjadi terlampau pedih. Orang tua itu

merasa sangat kasihan kepada Ken Dedes, yang telah kehilangan

laki-laki tempat ia menggantungkan kasihnya, kemudian ayahnya

telah meninggalkannya pula.

Malam itu, emban tua pemomong Ken Dedes beserta dua orang

prajurit pengantarnya bermalam di padepokan. Kedua prajurit itu

merasa sangat heran, kenapa tiba-tiba saja Mahisa Agni bersedia

pergi ke Tumapel. Prajurit itu telah mendengar cerita kawankawannya,

bahkan Kebo Ijo telah menyebarkan berita, bahwa

Mahisa Agni sedang bermanja-manja, menolak permintaan Ken

Dedes untuk menemuinya.

Tetapi kedua prajurit itu tidak mau pening kepala memikirkan

persoalan yang tak diketahuinya. Mereka hanya menyimpan

keheranannya itu di dalam hatinya. Kemudian karena lelah mereka

segera jatuh tertidur setelah mendapat jamuan makan dan minum.

Pagi-pagi benar Mahisa Agni telah bangun. Ketika ayam jantan

berkokok untuk yang terakhir kalinya, dengan tergesa-gesa Mahisa

Agni menemui beberapa orang kawan-kawannya, ia minta izin untuk

dua hari meninggalkan Panawijen.

“Kau akan pergi ke mana Agni?” bertanya salah seorangnya

kawannya.

“Aku harus pergi ke Tumapel,” jawab Agni.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku mempunyai keperluan keluarga yang cukup

penting.”

“Tetapi kau akan segera kembali?”

“Tentu. Hanya dua hari satu malam.”

Kawan-kawannya tidak dapat mencegahnya. Dan pagi itu pula

Mahisa Agni pergi ke Tumapel bersama ibunya dan kedua orang

prajurit pengantarnya.

Alangkah pepat hati Mahisa Agni di sepanjang jalan. Ketika terik

matahari menyengat tubuhnya, terasa betapa panasnya. Tetapi

panas matahari itu masih belum sepanas hati di dadanya.

Ibunya yang dapat mengerti sepenuhnya, betapa pedihnya hati

anak laki-lakinya itu, hampir tidak berkata sepatah kata pun di

sepanjang perjalanan. Kedua prajurit itu pun hampir berdiam diri

pula. Hanya sekali-sekali ibu Mahisa Agni itu menawarkan minum

atau makanan yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan.

Namun setiap kali Mahisa Agni hanya menggelengkan kepalanya

sambil menjawab, “Terima kasih, Bibi.”

Tetapi berbeda dengan kedua prajurit yang mengantarkan itu.

Dengan serta-merta mereka memungut jenang alot yang disodorkan

kepada mereka. Dua tiga potong sekaligus.

“Alangkah enaknya,” gumam mereka.

“Jenang itu dibuat oleh para endang di padepokan,” berkata

emban tua itu.

“Kami tidak melihat para endang itu, Bibi,” berkata salah seorang

dari kedua prajurit itu.

“Mereka bersembunyi di belakang. Mereka malu menampakkan

dirinya di hadapan para prajurit-prajurit muda yang tampan seperti

kalian.”

Kedua prajurit itu tertawa. Namun mulut mereka masih saja

bergerak-gerak mengunyah jenang alot dari Panawijen. Emban tua

itu tersenyum pula, meskipun hanya bibirnya bukan hatinya. Sebab

ketika ia memandang wajah Mahisa Agni dengan sudut matanya,

dilihatnya wajah anak muda itu masih juga tegang. Senda gurau itu

sama sekali tidak dapat mempengaruhi kepahitan perasaannya.

Karena itu emban tua itu tidak bergurau lagi. Kini bahkan ia ikut

merasakan sedalamnya betapa risaunya hati anaknya.

Perjalanan itu terasa terlampau lambat bagi Mahisa Agni. Kalau ia

pergi seorang diri, maka jarak yang telah ditempuhnya akan berlipat

tiga empat kali dari jarak yang dilampauinya kini. Tetapi ia tidak

dapat memacu kudanya. Ibunya bukanlah seorang penunggang

kuda yang baik.

Meskipun perjalanan itu terasa terlampau lambat, namun setapak

demi setapak mereka maju juga. Tumapel menjadi semakin lama

semakin dekat.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar ketika kudakuda

itu mulai menginjakkan kaki-kakinya di atas jalan-jalan kota.

Gemeretakan kakinya di atas batu terasa seperti gemeretak jantung

di dalam dada Mahisa Agni menghentak-hentak tiada hentinya.

Betapa ramainya jalan-jalan kota itu, namun terasa di hati Mahisa

Agni, alangkah sunyi hidupnya. Sekali-sekali ia berpaling ke arah

perempuan tua yang duduk di atas punggung kuda berpegangan

erat pada kendali. Sekali-sekali ia mencoba untuk memandangi

rumah-rumah yang berserakan di pinggir jalan. Namun semuanya

hampir tak menyentuh perasaannya yang kosong.

Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit

sudah menjadi suram. Matahari telah terlampau rendah untuk dapat

menyentuh ujung pepohonan dengan sinarnya, meskipun tepi-tepi

mega di langit masih juga diwarnai oleh cahayanya yang kemerahmerahan.

Dada Mahisa Agni berdentang semakin keras ketika di

hadapannya kemudian terbentang tanah lapang yang luas. Alunalun

Tumapel. Di sisi alun-alun itulah berdiri dengan megahnya

Istana Tumapel. Istana Tunggul Ametung. Dan di dalam istana

itulah ia harus menjumpai Ken Dedes.

Debar hati Mahisa Agni hampir tak dapat dikuasainya ketika

mereka berhenti di samping regol alun-alun. Satu-satu mereka

berloncatan turun untuk kemudian menuntun kuda mereka,

memasuki regol halaman belakang Istana Tumapel.

Seorang penjaga segera menyapa mereka, tetapi ketika mereka

melihat kedua orang kawannya, maka mereka berempat pun segera

dipersilakan masuk.

Mereka kemudian berhenti di regol dalam, halaman belakang

istana. Prajurit itu pun kemudian berkata kepada Mahisa Agni,

“Tuan tunggu di sini. Kami, beserta Bibi emban, akan masuk untuk

berusaha menghadap Akuwu, mohon izin untuk Tuan, sebelum

Tuan menemui Tuan Putri.”

Wajah Mahisa Agni segera menjadi merah. Tiba-tiba ia menyahut

dengan tegangnya, “Aku datang bukan atas kehendakku sendiri.

Kenapa aku harus menunggu izin untuk itu?”

Kedua prajurit itu terkejut mendengar kata-kata itu sehingga

mereka menjadi saling berpandangan. Namun emban tua itulah

yang kemudian menjawab, “Adalah menjadi adat di sini, Agni. Adat

istana, bahwa setiap orang pasti mendapat izin dahulu untuk

bertemu dengan keluarga Akuwu.”

“Aku tidak hendak bertemu dengan keluarga Akuwu. Tetapi Ken

Dedeslah yang memanggil aku untuk menemuinya.”

“Ya. Demikianlah,” sahut emban tua itu, “maksudku, untuk

menemui orang-orang yang dianggap penting, kita memerlukan izin

lebih dahulu sesuai dengan tingkat orang yang ingin kita temui.

Kadang-kadang izin para penjaga sudah cukup kuat bagi kita,

apabila kita ingin menemui keluarga kita yang tinggal di dalam

istana apabila keluarga kita itu seorang pelayan atau seorang juru

masak. Tetapi kita memerlukan izin seorang pimpinan peronda dari

pengawal istana apabila kita ingin menemui seorang pejabat

kepujanggaan atau yang setingkat dengan itu. Kini meskipun atas

panggilannya, namun kau ingin menemui seorang bakal Permaisuri

Akuwu, sehingga kau memerlukan izin dari orang yang paling

berkuasa di dalam istana ini. Orang itu adalah Akuwu Tunggul

Ametung.”

“Bagaimana kalau aku tidak diizinkan masuk? Apakah dengan

demikian aku masih tetap seorang yang tidak tahu perasaan

perempuan? Apakah aku masih orang yang tidak mempunyai belas

kasihan dan masih seorang yang dibakar oleh nafsunya sendiri?”

“Tidak, tidak Agni,” jawab ibunya tergesa-gesa, “jangan berpikir

terlampau jauh. Izin bagimu seakan hanyalah suatu sikap resmi dari

Akuwu, supaya kau tidak melanggar adat dan tata cara utama.

Kedatanganmu sebenarnya memang sudah lama ditunggu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu

menekan perasaannya. Ia datang bukan atas kehendaknya, bahkan

ia datang dengan perasaan yang sangat berat. Kini ia masih harus

menunggu di luar regol dalam untuk menunggu izin baginya.

Alangkah kecil dirinya. Seolah-olah ia tidak lebih dari segumpal

tanah liat yang tidak dapat menolak untuk dibentuk menjadi apapun

juga. Ia harus datang, kemudian dengan rendah hati ia harus

menunggu izin masuk. Ia baru dapat masuk kalau izin itu telah

diberikan kepadanya dari orang yang turut berkepentingan atas

kehadirannya.

“Mungkin Akuwu akan mempunyai banyak syarat untuk

mengizinkan aku masuk,” katanya di dalam hati, “mungkin aku

harus melepaskan beberapa kepentingan rakyat Panawijen, atau

mungkin banyak hal-hal yang tidak dapat aku penuhi.”

Mahisa Agni menggeretakkan giginya, kemudian suara di hatinya

itu berkata lagi, “Kalau demikian, kalau banyak kesulitan yang aku

hadapi, lebih baik aku kembali ke Panawijen.”

Mahisa Agni itu terkejut ketika ibunya, emban tua itu berkata,

“Nah, Agni. Tunggulah di sini. Jangan terlalu dipengaruhi oleh

berbagai prasangka. Aku akan segera kembali.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab

singkat, “Silakan. Aku akan menunggu. Tetapi tidak terlalu lama.

Kalau aku nanti menjadi jemu menunggu, maka aku akan kembali

ke Panawijen.”

Ibu Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak

membantahnya, namun ia berkata, “Aku akan berusaha secepatnya

kembali.”

Kemudian bersama kedua prajurit itu Ibu Mahisa Agni berjalan

memasuki halaman, langsung ke serambi belakang. Meskipun tidak

terucapkan, namun kedua orang prajurit kawan seperjalanan ibu

Mahisa Agni itu, menjadi heran melihat sikap Mahisa Agni.

Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi atasnya? Tetapi kedua

prajurit itu saling berdiam diri.

Di depan regol Mahisa Agni menunggu kedua orang prajurit

beserta ibunya dengan gelisah. Sekali ia berdiri dan berjalan

mondar-mandir, namun kemudian ia menghenyakkan dirinya, duduk

di atas batu kerikil yang berserak-serak di halaman.

Ia berusaha untuk menenangkan hatinya. Namun justru semakin

lama ia menunggu, maka debar jantungnya seakan-akan menjadi

semakin cepat. Berkali-kali ia berdiri, dan mencoba melihat ke arah

ibunya menghilang. Namun emban tua itu masih belum juga

menampakkan dirinya. Bahkan semakin lama malam menjadi

semakin gelap, sehingga karena itulah maka Mahisa Agni menjadi

semakin gelisah karenanya.

“Terlalu,” gumamnya kepada diri sendiri, “aku seakan-akan

dijadikan barang mainan yang menyenangkan. Dipanggilnya aku ke

Tumapel, kemudian dibiarkan aku di sini menjadi makanan nyamuk.

Hem.”

Di sana-sini Mahisa Agni kemudian melihat beberapa lampu telah

dinyalakan. Di pinggir-pinggir halaman dan di regol. Sehingga

karena itulah maka Mahisa Agni itu seakan-akan menjadi tidak

dapat bersabar lagi. Tenaganya akan lebih bermanfaat apabila ia

berada di Panawijen, membantu membuat tambang-tambang ijuk

dan patok-patok bambu yang akan sangat berguna bagi

bendungannya, daripada duduk sambil menggaruk-garuk

punggungnya di depan regol istana Tumapel.

Tiba-tiba kejemuan Mahisa Agni memuncak. Dengan serta-merta

ia meloncat berdiri dan berdesis, “Lebih baik aku kembali ke

Panawijen.”

Namun sebelum Mahisa Agni melangkah meninggalkan regol itu,

tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya dua orang prajurit datang

kepadanya.

“Hem,” geram Mahisa Agni, “baru sekarang mereka datang

sesudah membiarkan aku duduk di sini hampir satu senja.”

Tetapi Mahisa Agni itu menjadi sangat kecewa. Ternyata

bayangan dua orang prajurit yang mendekat itu, setelah menjadi

semakin dekat, sama sekali bukan kedua prajurit kawan ibunya.

Sehingga dengan demikian kejemuan Mahisa Agni kembali merayapi

kepalanya.

Ternyata kedua prajurit itu pun terkejut pula melihat Mahisa Agni

berdiri di samping regol. Salah seorang daripadanya segera

bertanya, “Siapa kau?”

Mahisa Agni memindangi keduanya dengan seksama. “Hem,”

geramnya di dalam hati. Namun ia menjawab sambil mengangguk

hormat, “Aku Mahisa Agni dari Panawijen.”

Kedua prajurit itu berhenti beberapa langkah dari Mahisa Agni.

Dicobanya untuk mengenalnya di dalam keremangan malam.

“Nyalakan lampu itu,” berkata salah seorang daripadanya.

Yang lain pun kemudian melangkah mendekati lampu yang

tersangkut di regol. Agaknya mereka memang sedang bertugas

menyalakan lampu-lampu. Dengan batu titikan dan dimik belerang,

maka prajurit itu membuat api. Ketika lampu itu telah menyala,

maka cahayanya yang kemerah-merahan langsung memancar dan

jatuh di atas wajah-wajah ketiga laki-laki yang berdiri di depan regol

itu.

“Hem,” geram salah seorang dari kedua prajurit itu, “aku belum

pernah mengenalmu.”

Mahisa Agni yang sedang dibakar oleh kejengkelannya terhadap

kedua prajurit dan ibunya, menjawab, “Aku juga belum

mengenalmu.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Jawaban itu memang

aneh bagi mereka, sehingga kemudian salah seorang dari kedua

prajurit itu berkata, “Kenapa kau berada di sini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang

sudah diduganya. Maka jawabnya, “Aku menunggu di sini,

menunggu izin untuk menemui Ken Dedes.”

“Ken Dedes, siapa?”

“Ken Dedes yang menurut pendengaranku akan diangkat menjadi

Permaisuri Tunggul Ametung.”

“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?”

“Ya. Akuwu Tunggul Ametung.”

Kembali kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka memang

pernah mendengar dari para pemimpin mereka bahwa Akuwu akan

mengambil seorang permaisuri. Dan permaisuri itu kini telah berada

di dalam istana. Bahkan banyaklah yang mereka dengar desasdesus

tentang putri bakal permaisuri itu. Namun demikian, mereka

tidak dapat mengerti bahwa seorang yang akan menemuinya

datang seorang diri dan berdiri saja di muka regol halaman dalam.

Kenapa ia menunggu di tempat itu?

Karena itu maka kedua prajurit itu pun bertanya pula. “Apakah

keperluanmu bertemu dengan Putri.”

“Aku tidak tahu. Bukan aku yang berkepentingan, tetapi Ken

Dedes.”

Jawaban Mahisa Agni itu pun terdengar terlampau aneh bagi

kedua prajurit itu. Apalagi Mahisa Agni yang sedang berhati pepat

itu, tampaknya menjawab pertanyaan mereka dengan jawabanjawaban

yang tidak mereka mengerti, bahkan hampir seperti acuh

tak acuh saja.

“Apakah kau salah seorang dari keluarganya?”

Mahisa Agni menjadi semakin jengkel mendengar pertanyaanpertanyaan

itu. Ia datang karena Ken Dedes memerlukannya. Kini ia

terpaksa menunggu dan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang

sama sekali tak menyenangkannya. Dalam keadaan itu, Mahisa Agni

benar-benar kehilangan kesabarannya. Ia dapat berlapang dada

menghadapi lawan dalam perkelahian, namun menghadapi keadaan

ini, di mana hatinya sendiri seakan-akan tersayat-sayat, maka

sikapnya pun menjadi jauh berbeda dengan sikapnya sehari-hari.

“Apakah kau keluarganya?” terdengar prajurit itu mendesak.

Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya.”

“Apakah hubungan keluarga itu? Paman, kakak atau apa?”

“Kakak. Aku adalah kakaknya,” sahut Mahisa Agni. Kedua prajurit

itu mengerutkan keningnya. Mungkin anak ini memang kakaknya,

sebab menurut pendengarannya Ken Dedes itu pun datang dari

Panawijen. Tetapi mungkin juga bukan. Mungkin orang yang

mengaku kakak calon permaisuri ini, sekedar orang yang ingin

mendapat keuntungan saja daripadanya. Maka kembali terdengar

pertanyaan prajurit itu, “Apakah kau kakak kandungnya?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia ragu-ragu untuk

menjawab.

Kalau pertanyaan itu diiakan, maka jangan-jangan Ken Dedes

telah mengatakan, bahwa ia adalah anak tunggal Empu Purwa.

Tetapi Mahisa Agni yang sedang dirisaukan oleh berbagai persoalan

itu tidak mau pening kepala memikirkannya, maka jawabnya,

“Bukan, aku bukan kakak kandungnya. Aku adalah kakak

angkatnya.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi di dalam

kepala mereka, merayaplah kecurigaan atas anak muda yang

mengaku kakak bakal permaisuri itu. Karena itu, maka salah

seorang dari mereka berkata, “Sebaiknya kau tidak menunggu di

sini. Mari, ikutlah kami ke gardu regol pertama.”

Mahisa Agni menjadi makin tidak senang. Katanya, “Aku telah

melewati regol pertama itu.”

“Kenapa kau dapat masuk sebelum kau mendapatkan izin?

Kenapa baru di sini kau menunggu izin itu?”

“Aku tidak tahu. Aku datang berempat, dua orang prajurit,

seorang emban tua dan aku.”

“Siapakah nama prajurit-prajurit itu?”

Kembali Mahisa Agni tidak dapat menjawab. Kemarin ia

mendengar juga nama itu di sebut-sebut oleh sesama mereka.

Tetapi sejak pertama, Agni sudah diliputi oleh kegelapan pikiran,

maka ia sama sekali tak memperhatikan nama kedua prajurit itu.

“Siapa?” desak mereka.

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tak tahu nama-nama mereka.”

“Hem,” prajurit itu menarik nafas. Kemudian mereka berkata

pula. “Marilah ikut aku ke gardu pertama.”

“Aku sudah melampauinya. Kuda-kuda kami berada di dalam

regol di samping gardu itu.”

“Ikut kami,” berkata prajurit itu pula, “nanti kami akan

menyelesaikan izin itu.”

“Bukan salahku aku berada di sini. Kedua prajurit yang membawa

aku seharusnya tahu, bahwa aku harus menunggu di regol pertama,

tetapi kenapa mereka membawa aku kemari?”

Kedua prajurit itu menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka curiga

namun jawaban Mahisa Agni yang jujur itu hampir meyakinkan

mereka. Namun kedua prajurit itu menjadi kurang senang atas sikap

yang seolah-olah acuh tak acuh. Sebab mereka sama sekali tidak

tahu, bahwa perasaan Mahisa Agni benar-benar dirisaukan oleh

keadaan dirinya sendiri.

Tetapi kedua prajurit yang sedang bertugas itu tidak dapat

berbuat dalam kebimbangan. Bagi mereka lebih baik ditempuh jalan

yang paling dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu maka

berkata salah seorang dari mereka, “Aku terpaksa membawamu ke

gardu pertama, Ki Sanak. Aku sama sekali tidak berkeberatan atas

kehadiranmu. Tetapi sebaiknya kau tidak membuat kami ragu-ragu.”

Barulah kini Mahisa Agni menyadari, bahwa ia berhadapan

dengan dua orang yang sedang bertugas. Ia tidak dapat

menyalahkan mereka, sebab apa yang dapat dikatakannya tentang

dirinya sama sekali kurang meyakinkan kedua prajurit yang sedang

bertugas itu. Apabila kemudian kejengkelan Mahisa Agni itu

memuncak, maka kejengkelannya itu ditujukannya kepada kedua

prajurit kawan seperjalanan ibunya. Seharusnya mereka tahu apa

yang harus dilakukannya. Namun Mahisa Agni yang sedang sibuk

dengan perasaannya sendiri itu tidak mau membuat persoalanpersoalan

baru. Baginya lebih baik menghindarkan diri dari segala

persoalan yang dapat menambah kesulitan-kesulitannya. Karena

itulah maka kemudian Mahisa Agni berkata, “Baik. Aku akan ikut

dengan kalian. Tetapi aku tidak akan menunggu di gardu pertama.

Aku sudah terlalu lama menunggu di sini.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Lebih baik bagiku kembali ke Panawijen.”

“Bukan maksud kami mengusir kau, Ki Sanak. Tetapi kami ingin

meyakinkan diri kami sendiri, bahwa kau benar-benar berhak untuk

masuk ke istana.”

“Terima kasih,” jawab Agni, bahkan kemudian ditambahkannya,

“aku terpaksa kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan nanti

kepada kedua prajurit dan emban tua yang datang bersama mereka

itu, bahwa aku tidak sabar menunggu.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian berkata salah

seorang dari mereka, “Marilah ke gardu pertama.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia berjalan saja di samping kedua

prajurit yang sedang bertugas itu.”

(bersambung )