Demikianlah mereka
akhirnya terlibat dalam perkelahian yang sengit. Meskipun kaki Empu Pedek itu
timpang namun tandangnya bukan main. Keras dan kasar. Serangan-serangannya
datang beruntun seperti ombak yang menghentak-hentak pantai. Tak henti-hentinya
memukul-mukul dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Agni pun mampu mengimbanginya
dengan kelincahan dan ketangkasan yang mengagumkan. Seperti seekor burung yang
bermain-main di atas ombak lautan. Sekali menukik menyentuh gelombang lautan
dengan sayap-sayapnya, namun kemudian dengan tangkasnya menghindarkan diri
apabila gelombang yang deras melandanya.
Mahisa Agni pernah
bertempur melawan hantu padang rumput Karautan yang dengan kasar menyerangnya.
Namun kekuatan mereka berbeda. Hantu padang Karautan itu sama sekali bukan
seorang yang tangkas dan mampu menghindari serangan-serangan lawannya, namun
tubuhnyalah yang seakan-akan menjadi kebal. Tetapi hantu kaki Gunung Semeru ini
benar-benar memiliki ketangkasan dan kecepatan bergerak. Namun kekuatannya tidak
sebesar hantu Karautan. Sekali-sekali apabila kekuatan mereka berbenturan, maka
Empu Pedek itu pun terdorong surut meskipun Mahisa Agni pun tergetar pula.
Tetapi sekali-kali Mahisa Agni mendengar orang timpang itu berdesis menahan
sakit seperti dirinya yang kadang-kadang harus menyeringai oleh
sengatan-sengatan tangan orang timpang itu.
Perkelahian itu semakin
lama menjadi semakin dahsyat. Dalam malam yang kelam itu, keduanya seolah-olah
telah menjelma menjadi bayangan-bayangan kabut yang berputar-putar karena angin
pusaran. Masing-masing melihat lawannya dari arah yang membingungkan, meskipun
mereka berdua kadang-kadang terpelanting pula, terbanting di atas tanah yang
lembab itu.
Meskipun mereka
masing-masing telah berkelahi dengan segenap tenaga, namun tak seorang pun di
antara mereka yang mengalahkan lawannya. Orang timpang itu ternyata bertenaga
sekuat tenaga seekor harimau belang, namun Mahisa Agni pun mampu bertempur
setangguh banteng jantan.
Namun betapa pun mereka
berdua memiliki tenaga yang melampaui tenaga orang kebanyakan, serta betapa
mereka mampu mengungkit tenaga-tenaga cadangan yang tak dapat dilakukan oleh
orang lain, namun karena mereka telah memeras diri dalam perkelahian itu, maka
tenaga mereka pun semakin lama menjadi semakin susut. Tidak saja karena mereka
kehilangan banyak tenaga, namun tubuh mereka pun telah menjadi merah biru dan
perasaan nyeri hampir membakar segenap tulang daging mereka.
Demikianlah, maka
perkelahian yang dahsyat, yang seolah-olah benturan dari dua angin pusaran yang
berlawanan arah itu, semakin lama menjadi surut. Dengan sisa-sisa tenaga mereka
yang terakhir mereka mencoba untuk menenangkan perkelahian itu.
“Gila!” terdengar Empu
Pedek mengumpat, “kau mampu bertahan melampaui orang dari Gunung Merapi itu?”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Namun ia pun menggeram, “Bukan main. Tetapi jangan coba halangi aku.”
“Kembalilah sebelum
tulang-tulangmu remuk.”
“Tulangku tak selunak
lempung,” sahut Mahisa Agni.
Orang itu menggeram pula.
Sekali-kali ia masih menyerang dengan gerak yang berbahaya. Namun kecepatan
telah jauh berkurang, sehingga meskipun Mahisa Agni pun telah kelelahan, namun
ia masih mampu untuk setiap kali menghindarinya. Bahkan Agni pun masih juga
sempat membalasnya dengan serangan-serangan yang tidak kalah berbahayanya.
Malahan kemudian dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, Mahisa Agni masih
mampu untuk mengenainya beberapa kali. Dengan sebuah sambaran kaki mendatar,
Mahisa Agni berhasil menghantam lambung orang timpang itu. Empu Pedek tidak
menyangka bahwa hal demikian masih bisa terjadi. Karena itu, tiba-tiba ia
terdorong beberapa langkah surut.
Mahisa Agni tidak
melepaskan kesempatan itu. Betapa pun kakinya terasa berat, namun dipaksanya
juga ia meloncat dua loncatan, kemudian tangan kanannya terayun deras sekali
mengenai dagu Empu Pedek. Terdengarlah sebuah rintihan yang patah, dan wajah itu
pun terangkat dan sekali lagi sebuah sentakan tangan Agni mengenai perutnya.
Kini Empu Pedek sekali lagi terdorong surut, dan kepalanya tertarik ke depan.
Namun orang timpang itu tidak mau mukanya jadi hancur sama sekali. Ketika ia
melihat tangan Mahisa Agni menyambar sekali lagi, orang itu sempat memiringkan
kepalanya, sehingga tangan itu meluncur di samping telinganya. Demikian kerasnya
Agni mengayunkan tangannya dengan sisa-sisa tenaganya maka kini ia
terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya sendiri. Empu Pedek pun tak
membiarkannya memperbaiki keseimbangannya. Sebuah pukulan menyentuh tengkuk
Mahisa Agni. Tidak terlalu keras, karena tenaga orang timpang itu telah hampir
habis pula, namun sentuhan itu telah cukup mendorongnya, sehingga Mahisa Agni
jatuh terjerembab. Mahisa Agni yang telah kehilangan sebagian besar dari
tenaganya itu, tidak mampu lagi untuk segera melenting berdiri, sehingga karena
itu, maka segera ia berguling dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Empu
Pedek itu.
Empu Pedek yang melihat
Agni terjerembab, dan kemudian berguling menengadah, tiba-tiba menyeringai
mengerikan sambil tertawa liar. Katanya hampir berteriak, “Akhirnya aku pun
berhasil membunuhmu.”
Mahisa Agni masih
menyadari keadaannya sepenuhnya. Ia mendengar orang timpang itu berkata
demikian. Karena itu, maka segera Agni pun mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya,
dan menanti apakah yang akan dilakukan oleh Empu Pedek itu.
Ternyata Empu Pedek itu
segera bersikap, kedua tangannya terjulur ke depan dengan jari-jari mengembang.
Dengan dahsyatnya ia berteriak. Kemudian dengan satu loncatan panjang ia menerka
m Mahisa Agni. Tetapi loncatannya telah tidak sedemikian garang. Namun Agni pun
tidak setangkas semula, sehingga ia tidak mampu menghindari terkaman itu. Dengan
jari-jari tangannya Empu Pedek berusaha untuk mencekik leher Mahisa Agni. Namun
Mahisa Agni tidak membiarkannya kuku-kuku orang timpang itu menembus kulit
lehernya. Dengan secepat yang dapat d lakukan, Agni memasukkan kedua tangannya
di antara tangan-tangan Empu Pedek. Dengan satu gerak yang menyentak ia
mengembangkan tangannya.
“Setan!” teriak Empu
Pedek. Dengan serta-merta tangannya itu pun terlepas, sehingga hampir saja
wajahnya terjerembab menghantam wajah Mahisa Agni.
Meskipun demikian, Empu
Pedek tak mau melepaskan Mahisa Agni. Dengan serta-merta pula, orang timpang itu
melingkarkan tangannya ke leher Agni, sehingga dengan sebuah tekanan yang kuat,
leher anak muda itu terjepit di antara kedua bagian tangan lawannya. Dengan
kedua tangannya Agni mencoba melepaskan jepitan itu. Namun sia-sia Bahkan terasa
tangannya seakan-akan telah lenyap.
Karena itu, maka kemudian
Agni pun berbuat serupa. Dilingkarkannya tangannya ke leher Empu Pedek, dan
dengan sisa-sisa tenaganya, ia pun menjepit leher itu dengan kedua bagian
tangannya.
Kini mereka berdua
ber-guling-guling di tanah yang lembab becek itu. Tangan mereka masing-masing
seakan-akan telah terkunci di leher lawan. Dengan segenap tenaga-tenaga yang
dikenal sehari-hari, tenaga ungkapan dari ilmu-ilmu mereka, serta tenaga-tenaga
cadangan telah mereka kerahkan. Seandainya peristiwa itu terjadi pada saat-saat
mereka baru mulai, mungkin kedua-duanya tak akan mampu untuk meneruskan
perkelahian itu, sebab nafas-nafas mereka akan terputus karenanya. Tetapi kini
mereka telah kelelahan, sehingga tenaga mereka pun telah jauh berkurang.
Dalam keadaan yang
demikian itu, dalam keadaan yang seakan-akan tak berakhir itu, Agni sempat
menyentakkan tangannya. Terdengar lawannya berdesah, namun tiba-tiba lawannya
itu memekik keras, dan dengan sebuah sentakan ia menggeliat, dan melepaskan diri
dari jepitan tangan Agni setelah tangannya sendiri dilepaskannya.
Mahisa Agni terkejut. Ia
berusaha menangkap kembali orang timpang itu, namun Empu Pedek segera
berguling-guling. Mahisa Agni pun segera menggulingkan dirinya pula. Tetapi ia
terlambat beberapa saat. Dengan terhuyung-huyung Empu Pedek berdiri dan dengan
serta-merta ia berlari tertatih-tatih masuk ke dalam semak-semak yang rimbun.
Mahisa Agni pun segera
berdiri pula. Tetapi kakinya serasa seberat timpah. Beberapa langkah ia maju
mengejar Empu Pedek, tetapi ketika kakinya terperosok sebuah lekukan tanah yang
kecil, ia kehilangan keseimbangan dan hampir saja ia jatuh kembali.
Namun ia masih mendengar
Empu Pedek itu berkata dari balik rimbunnya daun-daun belukar, “Sekarang kau
memenangkan perkelahian ini anak muda. Namun jangan mengharap kau dapat kembali.
Aku akan menunggumu sampai kau turun dari gua itu.”
“Kenapa kau licik?”
teriak Agni yang marah, “marilah kita selesaikan persoalan kita sekarang. Jangan
besok atau lusa atau kapan pun.”
Tetapi Empu Pedek tidak
menyahut. Yang terdengar kemudian adalah nafas Mahisa Agni sendiri.
Terengah-engah dan serasa hampir putus di dadanya. Bahkan kembali terasa Mahisa
Agni kehilangan keseimbangan. Kepalanya menjadi pening dan dunia ini seakan-akan
berputar. Ternyata anak muda itu telah memeras habis segenap tenaganya, sehingga
ia hampir-hampir menjadi pingsan karenanya.
Mahisa Agni menyadari
keadaannya. Segera ia duduk di atas tanah yang becek di samping bungkusannya.
Dipejamkannya matanya, dan dipusatkannya kekuatan batinnya untuk menemukan
kembali setiap tenaga yang ada di dalam tubuhnya. Perlahan-lahan Mahisa Agni
mencoba mengatur pernafasannya. Ditenangkannya getaran-getaran di dalam dadanya
yang bergelora
Akhirnya, meskipun lambat
sekali, namun Mahisa Agni berhasil menguasai kesadarannya sepenuhnya. Nafasnya
perlahan-lahan menjadi teratur kembali dan getaran-getaran di dadanya pun
menjadi berkurang. Darahnya kini telah tersalur sewajarnya. Namun betapa
lemahnya ia setelah dengan matian-matian ia mengerahkan segenap kemampuannya.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Ia bersyukur atas karunia Yang Maha Agung. Ternyata ia telah dapat
membebaskan dirinya dari orang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu.
Seandainya, ya seandainya Empu Pedek mampu bertahan untuk sesaat saja, maka
keadaannya pasti akan sangat berbeda. Sesaat lagi, apabila ia masih harus
memeras tenaganya, mungkin ia akan menjadi benar-benar pingsan. Apabila
demikian, betapa pun lemahnya Empu Pedek, tetapi ia akan dapat membunuhnya tanpa
perlawanan. Namun agaknya orang timpang itu pun telah kehabisan tenaga seperti
dirinya. Karena itu, nasibnya menjadi lebih baik dari nasib orang dari Gunung
Merapi yang datang tiga hari sebelumnya.
Ketika getar di dadanya
telah benar-benar menjadi tenang, Mahisa Agni menggeliat. Digerak-gerakkannya
tangan dan kakinya perlahan-lahan untuk menyalurkan darahnya secara wajar.
Dengan hati-hati ia berjongkok, kemudian dijulurkannya kaki-kakinya
berganti-ganti.
Apabila tubuhnya terasa
sudah wajar kembali, meskipun kekuatannya sama sekali belum pulih, maka kembali
Mahisa Agni duduk di samping bungkusannya. Di dalam bungkusan itu masih
ditemukannya beberapa buah-buahan segar. Dengan buah-buahan itu Mahisa Agni
berusaha untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Tubuhnya yang seakan-akan telah
dilolosi segala tulang belulangnya.
“Hem,” Mahisa Agni
menarik nafas. Buah-buahan itu terasa betapa segarnya dan tubuhnya pun terasa
semakin segar pula. Namun demikian keringatnya masih saja mengalir tanpa
henti-hentinya. Dari dahi dan keningnya, menitik di pangkuannya. Dari
punggungnya, dari seluruh wajah kulitnya. Belum pernah Mahisa Agni bertempur
seperti apa yang baru saja dilakukannya. Bahkan ia menjadi heran atas tenaganya
sendiri. Dengan tekad yang menyala-nyala, serta taruhan yang sangat berharga, ia
telah berjuang seakan-akan melampaui kemampuan yang wajar. Seakan-akan dorongan
tekadnya telah menambah kemampuannya bahkan berlipat-lipat. Kini Mahisa Agni
sempat mengenangkan orang timpang itu kembali sambil beristirahat. Orang itu
bertempur kasar dengannya. Untunglah ia mampu bertahan, meskipun ia tidak dapat
mengalahkan lawannya dengan mudah. Dan kini lawannya itu sempat melarikan
dirinya.
“Ke manakah larinya?” ia
bertanya kepada diri sendiri. Ia menyesal bahwa orang itu tidak dikejarnya.
Namun ketika disadarinya keadaannya, maka hal itu tak akan mungkin dilakukannya.
Apalagi mengejarnya, bahkan berdiri pun ia hampir tidak mampu lagi.
Tetapi kemudian timbullah
beberapa pertanyaan lain di dalam benaknya. Orang timpang itu mungkin pergi
mendahuluinya ke gua tempat penyimpanan akar wregu putih itu.
“Orang itu adalah orang
ketiga setelah gurunya dan aku sendiri yang mengetahui persoalan akar wregu
putih itu. Mungkin orang dari Gunung Merapi itu pun mengetahuinya pula, namun
orang itu kini telah tidak ada lagi,” gumamnya seorang diri. Tetapi tiba-tiba ia
menjadi cemas.
“Apakah akar wregu itu
benar-benar masih berada di dalam gua itu? Mungkin orang yang bernama Empu Pedek
itu telah mengambil lebih dahulu.”
“Hem,” Mahisa Agni
menggeram. Kalau demikian maka perjalanannya yang panjang, serta segala macam
kesulitan-kesulitan yang pernah dilampauinya itu akan menjadi tanpa arti.
“Aku harus membuktikannya
dahulu,” gumamnya, “apabila di dalam gua itu telah tidak dapat aku temukan akar
wregu putih itu, maka pekerjaanku akan berganti. Aku harus menemukan orang
timpang yang bernama Empu Pedek itu. Dan bernama Empu Pedek itu. Dan akan
kembali ke Panawijen tanpa akar wregu putih itu. Biar pun puluhan tahun, bahkan
sepanjang umurku sekali pun.”
Tiba-tiba saja dada
Mahisa Agni bergelora kembali. Meskipun tubuhnya masih lemah sekali, serta
persendian tulang-tulangnya masih terasa sakit, dan bahkan pedih-pedih di hampir
segenap tubuhnya, namun dengan susah payah ia berdiri. Diikatkannya bungkusan
kecilnya pada pundaknya, serta dengan tongkat di tangannya. Mahisa Agni
melangkah meneruskan perjalanannya. Tertatih-tatih, bertelekan tongkat dalam
malam yang gelap.
Namun Mahisa Agni sama
sekali tidak menyesal, bahwa ia telah menempuh perjalanannya yang berat itu.
Apapun yang akan terjadi adalah satu akibat yang wajar dari perjuangannya.
Karena itu, maka betapa pun beratnya, betapa perasaan sakit dan nyeri menjalar
hampir di seluruh tubuhnya, betapa penat dan lelahnya, bahkan betapa jiwanya
dipertaruhkan, namun hatinya telah bulat. Akar wregu putih itu harus ditemukan.
Kini ia berjalan setapak
demi setapak maju. Dalam kelamnya daun-daunan hutan. Dengan tongkatnya Mahisa
Agni meraba-raba jalan, dan dengan pandangan matanya yang tajam ia mencari arah.
Untunglah, meskipun belum sempurna, namun Mahisa Agni telah cukup terlatih,
sehingga ia dapat membedakan, tanah yang gembur berlumpur, tanah yang rapuh dan
tanah yang cukup keras.
Dalam perjalanannya yang
sangat lambat itu, Mahisa Agni selalu mencoba untuk menduga-duga, apakah akar
wregu putih itu masih berada di tempatnya, atau telah hilang diambil oleh orang
timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu.
Demikianlah, setiap
kegelisahannya melonjak di dadanya, maka kakinya pun seakan-akan ingin meloncat
berlari. Namun Agni tak dapat melakukannya. Kakinya masih lemah, selemah tangkai
bunga yang kehabisan air. Lesu. Sedang jalan yang terbentang di hadapannya
sangat gelapnya. Batang-batang pohon liar. Perdu berduri den segala macam
tumbuh-tumbuhan yang buahnya dapat dimakan, sampai tumbuh-tumbuhan beracun dan
buah-buahan makanan ular.
Tetapi Mahisa Agni
pantang mundur. Ia berjalan terus dalam gelapnya malam. Di selatan ia masih
melihat bintang Gubug Penceng yang dapat menuntunnya mencari arah. Ia harus
berjalan lurus ke barat apabila ia tidak ingin tersesat. Apa pun yang ada di
jalan yang akan dilampauinya. Binatang buas, orang-orang jahat atau apa pun,
meskipun seandainya hantu-hantu yang menghadangnya, maka ia pun tak akan dapat
digentarkan.
Jalan itu pun semakin
lama menjadi semakin sulit. Setelah lapangan yang sempit. Mahisa Agni sampai ke
daerah yang berlereng curam. Dengan demikian ia harus lebih berhati-hati.
Kadang-kadang Mahisa Agni merangkak, kadang-kadang bahkan berjalan sambil
berjongkok. Dan bahkan kadang-kadang ia terduduk dengan nafas terengah-engah.
Di kejauhan masih
terdengar auman harimau berebut mangsa, dan sekali-kali salak anjing-anjing
hutan menyobek sepi malam. Dan setiap suara yang terdengar, rasa-rasanya
menyentuh sampai ke ulu hati. Tetapi semuanya itu sama sekali tidak menarik
perhatian Mahisa Agni. Pikirannya bulat-bulat ditelan oleh gua, akar wregu putih
dan orang timpang.
Meskipun sangat lambat
namun Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan lereng gundul
yang ditujunya. Ketika embun malam menitik setetes di tubuhnya, terasa betapa
segarnya.
Ketika Mahisa Agni
menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya semburat merah membayang di timur.
Bintang Gubug Penceng kini telah berguling ke barat dan hampir hilang dibalik
cakrawala.
“Hampir fajar,” desis
Mahisa Agni. Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia dapat meneruskan
perjalanannya di siang hari? Gurunya berpesan mewanti-wanti kepadanya, supaya ia
berjalan di malam hari sejak batu padas di tengah rawa-rawa itu. Baru setelah
sampai di lereng gundul ia boleh mendakinya di siang hari. Karena itu, sebelum
hari menjadi terang, Mahisa Agni berusaha mempercepat langkahnya. Tetapi
kecepatan yang dapat dicapainya sangat terbatas. Dengan demikian Mahisa Agni
menjadi cemas, seakan-akan takut dikejar oleh matahari yang segera akan timbul
di timur. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat mencegah matahari itu. Bahkan ternyata
bahwa matahari itu datang terlampau cepat dari yang diharapkan.
Ketika cahayanya yang
pertama terlempar di atas daun-daun pepohonan dan menyangkut di atas ujung-ujung
batang-batang raksasa, Mahisa Agni menarik nafas. Sekali ia menggeliat dan
kemudian ia menguap. Lelah dan sakit-sakit di punggungnya masih terasa. Namun
kesegaran fajar telah menyegarkannya pula.
Ketika ia memandang ke
selatan, ia masih melihat di antara pepohonan yang tidak begitu pekat dan dari
atas ujung-ujung pepohonan yang tumbuh di lereng-lereng, jurang-jurang yang
dalam. Kemudian tampaklah sebuah dataran hutan yang lebat.
Mahisa Agni menarik
nafas. Alam di sekitarnya adalah alam yang dipenuhi oleh warna-warna hijau
segar. Daun yang hijau, rumput-rumput yang hijau dan batang-batang perdu yang
hijau. Tetapi ketika kemudian ia berpaling ke barat, ke arah yang akan
ditujunya, Mahisa Agni terkejut bukan kepalang. Dari balik kabut pagi, Mahisa
Agni melihat seakan-akan muncul di hadapannya sebuah dinding raksasa yang
berwarna kemerah-merahan. Dinding batu padas dan tanah liat yang terbentang
sedemikian luas. Mahisa Agni tegak seperti tonggak. Dilihatnya dinding itu
dengan dada yang bergelora. Ternyata dinding yang dicarinya itu seolah-olah
tiba-tiba saja muncul tidak jauh lagi di hadapannya.
Karena itulah, maka
tiba-tiba Mahisa Agni menjadi sangat gembira. Ia tidak usah menunggu sampai
besok. Tidak usah menunggu malam datang. Apakah jarak yang sudah tinggal
beberapa langkah lagi itu harus ditempuhnya malam nanti dan membiarkannya hari
ini lewat? Tidak. Jarak yang pendek itu akan segera dicapainya.
Mahisa Agni pun kemudian
melangkah pula. Semakin cepat yang dapat dilakukan. Kini ia dapat melihat
jalur-jalur yang dapat dilewatinya, sehingga dengan demikian perjalanannya pun
benar-benar menjadi semakin cepat. Kakinya yang luka-luka oleh ber-macam-macam
duri dan batu-batu yang runcing sama sekali tak terasa. Yang ada di dalam
hatinya adalah gua itu. Selebihnya tak dihiraukannya. Karena itu maka apapun
yang terjadi padi tubuhnya seakan-akan tak terjadi padanya.
Ketika matahari telah
menjadi semakin tinggi, dan ketika hari menjadi semakin terang, Mahisa Agni kini
dapat melihat, sebuah lubang yang hitam pada dinding raksasa itu.
Kini dada Mahisa Agni
menjadi semakin berdebar-debar. Gua di lereng yang gundul itulah yang harus
didaki.
Mahisa Agni itu pun
berhenti sejenak. Sekali lagi ditatapnya seluruh permukaan dinding raksasa itu.
Alangkah besar kekuasaan yang mampu membangunkannya. Ketika kemudian Mahisa Agni
memandang kepada dirinya sendiri, maka ia tidak lebih dari sebuah anak-anakan
yang sangat kecil dibanding dengan kebesaran alam yang dihadapinya. Apalagi
dengan Maha Penciptanya.
Tetapi tiba-tiba
disadarinya pula, bahwa dirinya adalah sebagian dari alam itu, justru merupakan
ciptaan yang paling berharga di antara segenap isi alam ini. Ia adalah manusia.
Dan Maha Pencipta telah menciptakan manusia untuk memelihara dan memanfaatkan
alam yang diciptakannya pula. Bahkan sebagai wadah dan sekaligus dikuasainya.
Maka sebenarnyalah Maha Pencipta menciptakan alam dan manusia di dalamnya dengan
sifat Maha Cintanya seolah-olah menempatkan seorang juru taman dalam pertamanan
yang indah. Namun bukan pertamanan sendiri. Apa yang dilakukan seharusnya
berdasarkan atas kehendak pemilik taman itu, bukan atas kehendak juru taman itu
sendiri, meskipun juru taman itu wenang melakukan apa pun atas pertamanan yang
diserahkan kepadanya. Ia dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat, namun ia
dapat juga mengkhianati dan merusak taman yang diserahkan kepadanya. Ia dapat
mempergunakan hasil taman itu untuk melakukan hal-hal yang menggembirakan
pemiliknya, namun ia dapat juga berbuat sebaliknya. Akibatnya, pemilik taman itu
dapat berterima kasih dan bersenang hati kepadanya, atau sebaliknya pula.
Dan kini Mahisa Agni
tegak di hadapan dinding raksasa itu seperti seorang juru taman tegak di antara
tanaman-tanaman yang maha luas. Ialah yang wenang melakukan apa pun atas
tanaman-tanaman itu, bukan sebaliknya. Dan kini Mahisa Agni pun merasakan
dirinya sebagai manusia yang berhadapan dengan alam. Alam itu harus
ditundukkannya.
Demikianlah, maka kini
Mahisa Agni memandang lereng yang curam gundul dan berbatu-batu itu sebagai
suatu tantangan yang harus diatasinya. Betapa pun sulitnya, ia tidak boleh
menyerah melawan kesulitan-kesulitan, namun kesulitan itu harus ditundukkannya.
Tiba-tiba terasa sesuatu
bergetar di dada Mahisa Agni. Tekadnya yang bulat kini menjadi semakin mantap.
Dengan dada tengadah ia berdoa di dalam hatinya, semoga Yang Maha Agung
memberkahinya.
Karena itu, maka
seakan-akan menjalarlah suatu kekuatan baru di dalam tubuhnya. Kekuatan yang
mengalir dari pusat kehendaknya. Dari pusat kehendaknya, dari pusat tekad yang
menyala di dalam dadanya. Sehingga dengan demikian segera Mahisa Agni
melangkahkan kakinya kembali. Kini lebih mantap dan lebih cepat. Apa pun yang
akan dihadapinya kelak, Empu Pedek, atau apa saja. Meskipun seandainya Empu
Pedek itu datang bersama seorang kawannya, dua orang, sepuluh atau berapa pun.
Mahisa Agni kini
seolah-olah berlari-lari mengejar tantangan yang dihadapinya. Lereng yang terjal
itu akan didakinya. Sekarang.
Mahisa Agni tidak
memerlukan waktu terlalu lama untuk mencapai lereng yang curam itu. Sebelum
matahari sampai ke pusat langit, Mahisa Agni telah sampai di bawah tebing gundul
itu. Sekali lagi ia mengagumi dinding raksasa itu. Ditengadahkannya wajahnya,
memandang jauh ke atas. Tinggi, tinggi sekali. Demikian tingginya seakan-akan
dinding itu akan roboh menimpanya.
Ketika tangan Mahisa Agni
meraba dinding itu, terasa di tangannya betapa dinding itu sekeras batu. Tetapi
beberapa ujung yang runcing menjorok seperti tonggak kayu yang aus.
Sekali-kali Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa tahun lampau ia pernah mengagumi
dinding itu pula. Bahkan saat itu ia lebih kagum lagi. Kini ia sudah semakin
dewasa. Dan kini ia telah berkeyakinan, bahwa betapapun curam dan terjalnya,
namun dinding harus ditaklukkannya.
Sekali lagi Mahisa Agni
meraba-raba lereng yang gundul itu. Kemudian dilepasnya bungkusan yang
tersangkut di pundaknya. Disangkutkannya pada batang-batang perdu beserta
tongkat kayunya.
Mahisa Agni kemudian
tegak seperti seseorang yang siap menunggu seorang lawan yang akan menerkamnya.
Kedua kakinya merenggang dan tangannya tergantung lurus di samping tubuhnya.
berpegangan pada pahanya, seakan-akan takut kakinya akan terlepas. Ditatapnya
batu-batu padas, batu-batu yang hitam kemerah-merahan serta sebuah lubang yang
hitam hampir di tengah-tengahnya. Kemudian dipandangnya matahari yang kini telah
tegak di atas kepalanya.
“Hem,” bergumam Agni
seorang diri, “aku akan menjadi silau karenanya. Biarlah aku menunggu sampai
matahari itu lewat di balik dinding ini.”
Namun Mahisa Agni masih
tegak di tempatnya. Ia menunggu matahari condong sedikit, sehingga matanya tidak
menjadi silau pada saat ia mendakinya.
Tetapi tiba-tiba saja
Mahisa Agni itu terloncat seperti didorong hantu. Langsung ia berjongkok di
bawah tebing yang curam dan tinggi itu. Dengan mata terbelalak ia mengamati
sesuatu yang sangat menggetarkan hatinya. Telapak kaki manusia.
“Apakah artinya ini?”
geramnya. Dan sekali lagi ia mengamati telapak kaki itu. Satu, dua dan beberapa
lagi dapat ditemukannya di sekitar tempat itu. Apalagi akhirnya Mahisa Agni
melihat, telapak kaki itu hilang timbul di kaki lereng gundul itu. Pada tanah
yang agak liat ia melihat telapak itu condong ke atas. Dan sekali lagi Mahisa
Agni menggeram. Dari sini seseorang pasti pernah naik ke gua ini.
“Pasti bukan telapak guru
beberapa tahun yang lalu,” katanya di dalam hati.
“Pasti,” ulangnya. Dan
Mahisa Agni pun memang pasti seperti apa yang sebenarnya, telapak itu masih agak
baru.
Dada Mahisa Agni menjadi
semakin berguncang karenanya. Kini ia pasti bahwa seseorang telah naik ke gua
itu. Dugaannya yang pertama adalah Empu Pedek.
“Kalau orang itu memanjat
setelah kami bertempur, maka orang itu pasti masih berada di dalam gua ini,”
pikirnya, “karena itu aku harus mendaki sekarang juga.”
Mahisa Agni kini tidak
mau menunggu apapun lagi. Kegelisahannya telah mendorongnya untuk segera mendaki
tebing itu. Dengan tergesa-gesa ia meloncat meraih bungkusannya. Diambilnya
keris pusaka peninggalan ayahnya, yang kemudian diselipkannya di pinggangnya.
Dengan keris itu ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.
Mungkin ia harus membunuh, meskipun karena terpaksa apabila ia tidak mau
dibunuh. Mungkin ia harus berbuat hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Dan
kemungkinan yang paling pahit, ia tidak akan keluar lagi dari gua itu.
Bungkusan dan tongkat
kayu Mahisa Agni itu pun ditinggalkannya. Selain keris dan tubuhnya, tidak ada
lagi yang perlu dalam perjalanannya yang berbahaya itu.
Ketika tubuh dan jiwanya
telah siap benar-benar, maka mulailah Mahisa Agni dengan pendakian itu. Kini ia
telah sampai pada taraf terakhir dari ujiannya. Mendaki tebing, menghadapi orang
yang telapak kakinya telah ditemukannya. Namun mungkin belum yang sebenarnya
terakhir. Di perjalanan pulang pun masih mungkin pula ditemuinya berbagai
kesulitan-kesulitan.
Kini Mahisa Agni telah
mulai dengan pendakian itu. Seperti seekor semut ia merayap-rayap berpegangan
dari satu batu yang menjorong ke batu yang lain. Dengan hati-hati kakinya setiap
kali mencari pancadan yang kuat. Setapak demi setapak. Untunglah bahwa matahari
segera melampaui titik tertinggi di pusat langit, sehingga kini Mahisa Agni
telah tidak sedemikian silaunya. Dengan pemusatan tenaga lahir batin, Mahisa
Agni merambat terus di tebing yang hampir tegak itu. Beberapa kali kakinya telah
menganjak batu yang salah, sehingga batu-batu itu berguguran jatuh ke bawah.
Namun Mahisa Agni cukup ber-hati-hati, sehingga ia sendiri selalu dapat
menghindarkan kakinya sebelum terlambat.
Tetapi batu-batu itu ada
yang terlalu runcing dan tajam, sehingga kaki-kaki Mahisa Agni pun kemudian
menjadi sakit dan pedih Tangannya telah luka di beberapa tempat. Meskipun
demikian Mahisa Agni masih tetap mendaki terus. Ia harus mencapai mulut gua itu
sebelum malam menjadi terlalu kelam.
Mahisa Agni yang muda itu
ternyata memiliki kekuatan melampaui manusia kebanyakan. Meskipun tenaganya
hampir terperas habis setelah ia bertempur melawan orang timpang yang menamakan
dirinya Empu Pedek, namun dengan waktu istirahat yang pendek itu, ia telah mampu
membawa dirinya pada suatu pendakian yang berbahaya. Bahkan di sana sini
batu-batu padas yang menjorok itu menjadi basah oleh tetesan-tetesan mata-mata
air yang kecil di dinding terjal itu. Dengan demikian maka pekerjaan Mahisa Agni
menjadi semakin berbahaya.
Sekali-kali Mahisa Agni
pun melihat pula, batu-batu padas yang patah di atas kepalanya. Dengan melihat
bekas-bekasnya, Mahisa Agni mengetahui, bahwa bekas-bekas itu masih sangat baru.
Dengan demikian maka ia menjadi semakin pasti, bahwa seseorang telah mendaki
tebing ini sampai ke gua di atas itu.
Mahisa Agni menjadi
semakin gelisah karenanya. Tetapi kegelisahannya itu mendorongnya untuk merayap
semakin cepat. Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan dirinya kehilangan pengamatan
atas alam yang sedang dihadapinya.
Tubuh Mahisa Agni itu pun
semakin lama menjadi semakin tinggi melekat padat tebing yang curam itu. Apabila
ia sekali-kali menengok ke bawah, dilihatnya pohon-pohon sudah berada di bawah
kakinya. Sekali-kali ia terpaksa berhenti merapatkan tubuhnya pada lereng yang
terjal itu untuk sekedar beristirahat. Betapapun besar hasratnya untuk segera
sampai ke mulut gua itu, namun tenaganya pun terbatas. Dan Mahisa Agni tidak
bisa mengingkarinya apabila ia ingin selamat sampai ke mulut gua itu.
Demikianlah perjalanan
Mahisa Agni itu menjadi lambat, tetapi ia tetap maju menuju sasaran.
Matahari di langit
semakin lama menjadi semakin condong juga. Sinarnya yang putih tampak
berkilat-kilat menampar wajah mega-mega yang putih pula. Di kejauhan tampak
berbagai warna bertebaran di permukaan bumi. Warna-warna hijau segar, padang
rumput yang kekuning-kuningan dan hutan belantara yang menyeramkan. Beberapa
batang sungai tampak seperti ular-ular raksasa yang menjalar ke pegunungan.
Mahisa Agni masih
merambat terus. Perlahan-lahan namun pasti. Betapa lelahnya dan betapa sulit
perjalanan itu. Seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Dan tangan dan
kakinya pun berkeringat pula. Sekali-kali ia merasakan pula kaki dan tangannya
menjadi pedih. Namun hanya sesaat, kemudian apabila teringat olehnya akar wregu
putih dan telapak- telapak kaki di bawah lereng ini serta beberapa bekas
batu-batu yang berguguran, maka perasaan pedih dan lelahnya itu seperti lenyap
disapu angin dari selatan yang bertiup perlahan-lahan.
Semakin dekat Mahisa Agni
dengan mulut gua itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kalau orang itu
masih di dalam gua, dan menunggunya di mulut gua itu, maka keadaan itu akan
sangat berbahaya baginya. Apalagi kalau orang itu, orang timpang yang baru saja
bertempur melawannya. Dengan satu sentuhan kecil, maka ia sudah akan
terpelanting jatuh ke bawah yang tingginya beberapa puluh depa itu.
Dengan demikian, dengan
kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan itu, maka Mahisa Agni tidak
langsung menuju ke mulut gua itu. Ia menuju beberapa depa di sampingnya,untuk
kemudian mendekati gua itu dari arah samping. Dengan demikian ia dapat
menghindari atau setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan yang dapat sangat
menyulitkannya.
Sebelum Mahisa Agni
mendekati gua itu, ia berhenti pula untuk beristirahat. Ketika didapatinya
bongkahan batu yang baik, maka ia pun berdiri di atas batu itu untuk beberapa
saat sambil bersandar lereng itu. Dicobanya untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa
tenaganya. Mungkin masih akan dihadapinya bahaya yang lebih besar lagi justru di
mulut gua itu. Mungkin seseorang menunggunya dan menyentuhnya, supaya ia
terlempar jatuh.
Kini Mahisa Agni tidak
perlu tergesa-gesa lagi. Ia telah berdiri beberapa langkah di samping mulut gua
itu. Baru ketika kekuatannya terasa telah tumbuh kembali meskipun lambat, ia
merayap pula semakin dekat semakin dekat.
Mahisa Agni itu pun
kemudian telah berdiri dekat di samping mulut gua itu. Sekali lagi ia berhenti.
Dicobanya untuk menangkap setiap suara yang ada di dalam gua. Namun yang
didengarnya hanyalah siul angin yang bertiup semakin kencang.
Dengan sangat hati-hati
Mahisa Agni berusaha untuk melihat gua itu. Alangkah gelapnya. Namun mulut gua
itu tidak terlalu gelap. Cahaya yang tidak langsung betapa lemahnya, yang
bertebaran di mulut gua itu telah cukup untuk meneranginya. Dan Mahisa Agni
tidak melihat apa pun. Apalagi seseorang.
Kembali dada Mahisa Agni
berdebar-debar. Dan kembali ia memusatkan segenap panca inderanya. Namun ia
tetap tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan. Gua itu tetap sepi.
Maka Mahisa Agni itu pun
segera bersiap. Diaturnya segenap geraknya untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Dengan gerak yang cepat Mahisa Agni menggeser dirinya, sehingga tiba-tiba ia
telah berada di dalam gua itu bersandar dinding tepinya, dengan penuh kesiagaan
untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Ternyata tak seorang pun yang berada di mulut gua itu. Dengan
demikian ia bergeser semakin dalam. Tetapi ia belum berani untuk langsung masuk
ke dalam gelapnya gua itu. Sebab firasatnya mengatakan kepadanya bahwa sesuatu
pasti akan dihadapinya. Dan firasat itu telah diperkuat oleh telapak- telapak
kaki yang ditemukan di bawah tebing ini.
Kini Mahisa Agni duduk
tepekur. Dicobanya untuk memulihkan tenaganya lebih dahulu. Sebab kemungkinan
yang dihadapinya adalah sama gelapnya dengan gua itu sendiri. Mungkin ia harus
bertempur mati-matian, dan mungkin pula, ia harus berkubur di dalam gua ini.
Ketika nafasnya telah
teratur kembali dan tenaganya telah sebagian besar dimilikinya, maka Mahisa Agni
pun bersiap pula. Sekali lagi ia berdoa kepada yang Maha Agung, semoga
perjalanannya kali ini akan berhasil.
Mahisa Agni itu pun
kemudian perlahan-lahan berdiri. Sekali-kali dirabanya keris dilambungnya.
Kemudian perlahan-lahan pula ia melangkah memasuki gua yang semakin pekat. Namun
lambat laun, matanya menjadi biasa pula dalam kegelapan, sehingga semakin lama,
meskipun hanya remang-remang ia dapat juga melihat beberapa bagian dari gua itu.
Apalagi mata Mahisa Agni yang cukup terlatih itu. Dilihatnya pula
dinding-dinding gua yang seolah-olah bergerigi tajam. Beberapa ujung yang
runcing menjorok mengerikan.
Kaki Mahisa Agni semakin
pedih juga. Luka-luka yang ditimbulkan oleh ujung-ujung batu dan karang telah
melukai kakinya, tetapi luka-luka itu kemudian tak terasa lagi, ketika segenap
perhatiannya terpusat pada pusat gua yang gelapnya bukan kepalang.
Ternyata gua itu cukup
dalam. Namun terasa oleh Mahisa Agni bahwa jalur-jalur di dalam gua itu semakin
lama semakin menanjak. Ternyata gua itu bertambah naik. Bahkan kadang-kadang
terasa Mahisa Agni seakan-akan naik di atas tingkatan tangga yang dibuat oleh
tangan manusia.
“Hem,” desahnya,
“ternyata guruku bukan satu-satunya orang yang pernah mengunjungi gua ini.”
Tetapi kemudian anak muda
itu bergumam pula, “Atau mungkin guru pula yang membuat anak tangga ini?”
Tetapi kemudian segenap
perhatian Mahisa Agni pun tenggelam dalam keasyikannya mendaki tangga-tangga
yang lebih sulit lagi. Semakin lama semakin tinggi. Dan jalur-jalur gua itu
masih menghunjam terus seakan-akan menembus ke pusat Gunung Semeru.
Mahisa Agni tidak tahu,
sudah berapa dalam ia masuk ke dalam lubang tanah yang menganga seperti mulut
seekor ular raksasa itu. Ia berjalan terus dan bahkan kadang-kadang harus
merangkak dengan susah payah. Bahkan kemudian Mahisa Agni masih terpaksa
beristirahat untuk beberapa saat lamanya.
Ketika kemudian Mahisa
Agni berjalan kembali, ia terkejut melihat cahaya di hadapannya. Gua itu pun
semakin lama menjadi semakin terang.
“Aneh,” katanya di dalam
hati, “apakah aku sudah akan sampai ke ujung yang lain?”
Namun pertanyaan itu
segera terjawab. Ternyata gua itu telah jauh menanjak, sehingga kemudian
tampaklah oleh Mahisa Agni sebuah lubang yang tegak lurus ke atas. Dari lubang
itulah sinar yang tak langsung menusuk ke dalam gua itu. Meskipun demikian,
setelah sekian lama Mahisa Agni tersekap di dalam kegelapan, maka sinar yang
lemah itu terasa betapa nyamannya. Terasa seakan-akan ia baru saja terlepas dari
satu kungkungan yang menjemukan. Dari lubang itu Mahisa Agni dapat memandang
langit yang biru. Meskipun lubang itu tidak begitu besar, bahkan karena
panjangnya, maka ujung lubang itu seakan-akan terkatup, namun daripadanya,
Mahisa Agni segera dapat mengetahuinya bahwa hari sudah menjelang senja.
Dilihatnya sepintas awan yang bergerak di langit, diwarnai oleh sinar yang
kemerah-merahan.
Tetapi karena itu Mahisa
Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Kalau sebentar kemudian malam tiba, maka
gua itu akan menjadi semakin gelap.
Karena itu, maka kemudian
Mahisa Agni itu pun berusaha mempercepat langkahnya. Secepat yang dapat
dilakukannya. Dengan berpegangan dinding gua ia berjalan setapak demi setapak.
Seperti yang sudah dilakukannya, kadang-kadang ia harus merangkak, sebab gua itu
masih cenderung naik.
Lubang yang tegak
menembus lambung Gunung Semeru itu ternyata tidak hanya sebuah. Di mukanya,
kembali Mahisa Agni melihat cahaya yang kemerah-merahan. Ia pasti, bahwa cahaya
itu pun jatuh dari lubang yang serupa dengan lubang yang pernah dilihatnya.
Tetapi langkah Mahisa
Agni itu pun segera terhenti. Dalam cahaya yang kemerah-merahan itu, dilihatnya
sesuatu yang bergerak-gerak. Sebuah desir yang tajam menggores dada anak muda
itu. Benda yang bergerak-gerak itu tampak remang-remang di seberang cahaya yang
kemerah-merahan sehingga Mahisa Agni tidak dapat segera melihatnya dengan
seksama. Namun kemudian anak muda itu melonjak. Dan terdengar nyaring di dalam
hati, “Seseorang telah mendahului aku.”
Mahisa Agni itu pun
menggeram, Kini ternyata dugaannya benar. Tapak kaki yang dilihatnya serta
bekas-bekas guguran batu-batu padas itu bukanlah sekedar karena angan-angannya
saja. Kini orang itu telah berada beberapa langkah di hadapannya.
Namun agaknya orang itu
belum melihat kehadiran iya. Karena itu Mahisa Agni pun berhenti di tempatnya.
Bahkan ia kemudian duduk di lantai gua yang lembab itu.
“Syukurlah, aku yang
lebih dahulu melihatnya,” pikir Mahisa Agni.
Kini ia benar-benar
menenangkan dirinya. Ia hanya tinggal mengawasi orang itu. Sementara itu ia
sempat untuk memulihkan kembali segenap tenaganya setelah ia bertempur melawan
Empu Pedek, dan setelah ia memeras sisa tenaganya untuk mendaki lereng gundul di
kaki Gunung Semeru itu.
Mahisa Agni telah
bertekad untuk tidak menyapanya lebih dahulu. Ia masih memerlukan waktu untuk
memulihkan tenaganya kembali. Mungkin orang itu telah beristirahat pula sehingga
orang telah memiliki kesegaran tenaganya kembali. Bahkan mungkin telah dua tiga
hari ia berada di tempat itu, atau bahkan mungkin ia telah berhasil mengambil
akar wregu putih itu.
Bahkan kemudian timbul
pula pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang itu Empu Pedek yang timpang?
Kalau demikian, maka ia harus mengulangi pertempuran sekali lagi seperti yang
pernah terjadi. Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya
melawan orang timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya.
Meskipun keris itu tidak sesakti trisula kecil pemberian gurunya, namun kerisnya
adalah pusaka yang berbentuk senjata, yang benar-benar dapat dipergunakannya
untuk bertempur dan menyobek dada lawannya. “Kalau aku harus bertempur sekali
lagi, maka aku terpaksa mempergunakannya,” katanya di dalam hati, “sebab akar
wregu itu pun sebuah pusaka rangkapan yang tak ternilai harganya.”
Di samping itu timbul
pula berbagai pertanyaan di dalam dadanya. Menurut gurunya, akar wregu putih itu
adalah rangkapan sebuah pusaka lain yang berbentuk trisula, seperti yang
dikatakan oleh Empu Pedek pula. Namun ternyata yang mencari akar wregu itu
terdapat seorang yang datang dari Kaki Gunung Merapi pula. Apakah di samping
sebagai pusaka rangkapan trisula, akar wregu putih itu mempunyai nilai yang lain
pula?”
Tetapi Mahisa Agni tidak
mau diganggu oleh berbagai pertanyaan itu. Apa pun yang akan dihadapinya, namun
ia telah bertekad untuk mendapatkan benda itu. Ia sudah siap menghadapi
kemungkinan yang paling pahit. Berkubur di dalam gua ini.
—–
Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya melawan orang
timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya.
—–
Cahaya yang kemerahan itu
pun semakin lama semakin pudar. Gua itu pun semakin lama menjadi semakin kelam.
Dengan demikian Mahisa Agni tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaannya kini,
kecuali apabila terpaksa. Karena itu, maka kemudian ia hanya dapat menggeser
dirinya, duduk tepat di tengah-tengah gua itu. Apapun yang dilakukan oleh orang
yang dilihatnya itu, namun apabila orang itu akan meninggalkan gua, maka pasti
ia melampauinya. Dalam kesempatan itu ia akan dapat mencegahnya.
Demikianlah malam yang
kelam turun menyelimuti Gunung Semeru itu. Yang terdengar kemudian adalah siulan
angin pada lubang-lubang di lereng-lereng gunung raksasa itu.
Mahisa Agni masih saja
duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba untuk menunggu sampai besok. Meskipun gua
itu hampir tak ada bedanya antara siang dan malam, namun di siang hari, masih
juga betapa pun lemahnya, samar-samar yang dapat membantunya. Di siang hari,
mata Mahisa Agni yang tajam itu, masih dapat melihat walaupun sama sekali tidak
jelas, setiap bayangan yang ada di dalam gua itu. Apalagi, ternyata bahwa di
dalam gua itu terdapat lubang-lubang yang dapat menampung sinar-sinar matahari
yang jatuh menghambur di lambung Gunung Semeru itu.
Tetapi terasa betapa
panjangnya waktu. Mahisa Agni merasa bahwa seakan-akan malam itu tidak akan
berujung. Akhirnya ia menjadi jemu. Menunggu baginya adalah pekerjaan yang
paling tidak menyenangkan.
Karena itu timbul dalam
pikirannya, untuk mendekati orang yang dilihatnya siang tadi. Mungkin ia dapat
menangkap desah nafasnya atau bunyi apa pun yang ditimbulkannya. Karena Mahisa
Agni telah melihatnya lebih dahulu, maka ia akan dapat lebih hati-hati daripada
orang itu. Ia akan dapat mengatur gerak dan pernafasannya sehingga tidak
menimbulkan bunyi.
Demikianlah akhirnya
Mahisa Agni tidak dapat menunda keinginannya itu. Perlahan-lahan sekali ia
menggeser dirinya mendekati bayangan seseorang yang dilihatnya tadi. Semakin
lama semakin dekat. Namun kadang-kadang timbul pula keragu-raguan di hati Mahisa
Agni. Apakah orang itu masih berada di tempatnya?
Tetapi kemudian dada
Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar. Akhirnya didengarnya juga desah
nafas orang yang dicarinya itu. Perlahan-lahan sekali dan betapa nafas itu
sangat teratur.
“Orang itu tertidur,”
bisik Agni di dalam hatinya.
Tiba-tiba timbullah
keinginan di dalam hati Mahisa Agni untuk mendahului orang itu. Namun ia menjadi
ragu-ragu. Kalau orang itu Empu Pedek, maka betapa pun untuk tidak menimbulkan
suara, namun pasti pendengaran orang itu cukup baik, sehingga maksudnya tak akan
dapat dilakukannya.
“Aku dapat
membinasakannya selagi ia masih tertidur,” terdengar suara di sudut hatinya,
namun terdengar suara yang lain, “Pengecut!”
Dalam keragu-raguan itu,
Mahisa Agni terduduk kembali. Ia menjadi bingung apa yang akan dilakukannya.
Tetapi ia terkejut ketika
ternyata suara nafas yang didengarnya itu semakin lama semakin jauh. Ternyata
orang itu sama sekali tidak tertidur. Bahkan orang itu ternyata sedang berjalan
semakin dalam masuk ke dalam gua ini.
Hati Mahisa Agni berdesir
karenanya. Dan tiba-tiba pula ia pun berdiri. Ia tidak mau kehilangan kesempatan
untuk mendapatkan akar wregu putih itu. Karena itu ia pun berjalan pula dengan
hati-hati menelusuri tepi gua mengikuti suara nafas orang yang telah berjalan
mendahuluinya.
Kini hati Mahisa Agni
tidak tenggelam lagi dalam kejemuan, namun kini hati itu menjadi tegang. Dengan
hati-hati dan penuh kewaspadaan ia mengikuti suara nafas orang di hadapannya,
namun karena malam demikian kelam, apalagi di dalam relung gua itu, maka Mahisa
Agni belum berhasil melihat orangnya. Tetapi karena pendengaran Mahisa Agni yang
tajam, maka ia dapat mengira-ngira apa yang sedang dilakukan oleh orang itu.
Mahisa Agni berjalan
cepat apabila engah nafas itu pun berjalan cepat pula, dan ia terpaksa berhenti
apabila orang itu pun berhenti.
Dalam pada itu Mahisa
Agni pun mencoba untuk menduga-duga, apakah orang yang berjalan itu telah
mengetahui kehadirannya pula
Dalam ketegangan itu,
Mahisa Agni telah lupa akan peredaran waktu. Ia tidak tahu lagi saat dan waktu.
Apakah ia telah berada di pertengahan malam, sebelumnya atau sesudahnya. Tetapi
ia merasa bahwa kakinya telah menjadi penat pula dan pedih-pedih di telapak kaki
dan tangannya menjadi semakin pedih. Namun ia tidak akan berhenti sebelum akar
wregu putih itu dikuasainya.
Ternyata bahwa ketegangan
yang mencengkeram dada Mahisa Agni itu telah merampas segenap perhatiannya atas
apa saja. Ternyata kemudian Mahisa Agni terkejut bukan kepalang, ketika
tiba-tiba saja dilihatnya di kejauhan bayangan yang meremang. Cahaya yang suram
yang jatuh ke dalam gua itu
Mahisa Agni menggigit
bibirnya. Katanya di dalam hati, “Ternyata hari telah pagi.” Dan sejalan dengan
itu, tubuhnya pun terasa semakin lemah.
Tetapi desah nafas orang
itu masih saja didengarnya semakin dalam masuk ke pusat gua. Dan karena itu,
berapa pun penatnya, Mahisa Agni tidak juga mau berhenti. Bahkan akhirnya Mahisa
Agni siap untuk mengambil keputusan, menentukan nasibnya di antara mereka
berdua. Mahisa Agni tidak akan membiarkan tenaganya menjadi terperas habis, baru
kemudian menghadapi orang itu. Kini selagi masih cukup tenaga padanya, apa pun
yang akan terjadi akan segera dihadapinya.
Karena itu, maka Mahisa
Agni segera mempercepat langkahnya. Semakin lama semakin mendekati orang itu.
Desah nafas orang itu pun semakin terdengar nyata. Namun tidak teratur seperti
yang didengarnya sebelumnya. Maka katanya di dalam hati, “Orang itu pun
kelelahan.”
Mahisa Agni kemudian
membiarkan orang itu sampai di bawah sinar keremangan pagi yang menembus dari
lubang-lubang dalam gua itu. Namun karena cahaya itu masih demikian lemahnya,
maka yang dilihatnya hanyalah sebuah bayangan yang kelam.
Tetapi bayangan itu sudah
cukup mengejutkan dada Mahisa Agni. Ternyata bayangan itu bukanlah seorang yang
timpang dan berperawakan mirip dengan Empu Pedek. Orang itu ternyata seorang
yang bongkok meskipun tidak timpang. Ia berjalan tersuruk-suruk berpegangan pada
dinding gua. Bahkan nafasnya pun terdengar semakin terengah-engah.
Tetapi Mahisa Agni hanya
dapat melihatnya untuk sesaat. Sebab sesaat kemudian orang itu pun telah lenyap
kembali dalam kelamnya relung gua.
Sesaat Mahisa Agni
menjadi ragu-ragu. Kini datanglah gilirannya untuk menyeberangi daerah yang
remang-remang itu. Namun ia telah bertekad untuk menghadapi setiap kemungkinan,
dan bahkan ia ingin mempercepat penyelesaian yang mendebarkan itu. Karena itu,
tiba-tiba terdengarlah Mahisa Agni itu berkata nyaring, dan suaranya menggelegar
memukul-mukul dinding gua, seolah-olah melingkar-lingkar di dalamnya.
“He, Ki Sanak,” katanya,
“berhentilah!”
Mahisa Agni tidak melihat
orang itu. Namun tiba-tiba ia melihat bayangan itu muncul kembali dalam
keremangan cahaya pagi yang jatuh ke dalam gua itu.
“Siapakah kau?” terdengar
orang itu bertanya dengan suara yang lemah.
“Aku!” jawab Mahisa Agni.
Dan kemudian ia bertanya pula, “Dan siapa kau ini?”
Orang itu tidak segera
menjawab. Ia masih mencoba memandang ke arah Mahisa Agni. Namun agaknya orang
itu masih belum melihat Mahisa Agni.
Mahisa Agni menjadi
heran, ketika ia melihat orang bongkok itu berjalan tersuruk-suruk, maju
mendekatinya tanpa prasangka apapun. Bahkan kemudian terdengar ia berkata, “Di
manakah kau?”
Mahisa Agni justru mundur
beberapa langkah. Ia melihat bayangan itu menjadi semakin dekat. Mahisa Agni
berdiri di tempat yang lebih baik, namun ia harus cukup waspada. Dari tempatnya
berdiri ia yakin bahwa orang itu belum melihatnya.
Meskipun demikian Mahisa
Agni berkata pula, “Berhenti di tempatmu!”
“He?” ternyata orang itu
terkejut ketika tiba-tiba itu mendengar suara Agni telah begitu dekat di
mukanya. Karena itu ia pun segera berhenti pula. Katanya, “Siapakah kau?”
Mahisa Agni tidak segera
menjawab. Dengan cermatnya ia mencoba melihat keseluruhan dari orang itu. Namun
ia masih terlalu lemah.
Sesaat gua itu menjadi
sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang bongkok itu terengah-engah.
Tangannya pun tampak berpegangan pada dinding gua untuk menahan berat badannya.
Dan sekali lagi tanpa prasangka apa pun ia maju selangkah. Namun langkahnya
tampak betapa beratnya. Dan terdengar ia bertanya pula, “Siapakah kau?”
Mahisa Agni menjadi
ragu-ragu. Namun ia masih belum merasa perlu menyatakan dirinya. Bahkan kemudian
terdengar ia pun bertanya, “Siapakah kau?”
Orang bongkok itu
mengangguk-angguk. Nafasnya masih terengah-engah dan bahkan kemudian ia
bergumam, “Aku lelah sekali. Biarlah aku duduk di sini.”
Kembali Mahisa Agni
menjadi keheranan. Orang itu sekali tidak berprasangka. Orang itu sama sekali
tidak dalam keadaan bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Bahkan dengan
tenangnya ia duduk bersandar dinding.
Terdengarlah orang itu
menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Ah. Betapa lelahnya.”
Namun Mahisa Agni tidak
mau terjerat oleh keadaan yang belum diketahuinya benar. Mungkin orang itu
adalah seorang yang sakti, yang merasa dirinya tak terkalahkan, sehingga ia
tidak perlu berkecil hati, siapa pun yang akan dihadapinya. Mungkin pula orang
itu sedang memancingnya untuk menghilangkan kewaspadaannya untuk kemudian dengan
serta-merta menyerangnya dan sekaligus membinasakannya. Karena itu, Mahisa Agni
masih tetap berdiri tegak dalam kesiagaan penuh.
Ketika kemudian Mahisa
Agni melihat orang itu masih saja duduk seakan-akan tak ada sesuatu yang
dipikirkannya, maka terdengarlah ia sekali lagi bertanya, “He, Ki Sanak.
Siapakah kau ini?”
Orang itu tersentak.
Kemudian terdengar ia menjawab, “Oh. Hampir aku lupa akan kehadiranmu Ki Sanak.
Aku adalah Buyut Ing Wangon.”
“Buyut dari Wangon?”
ulang Mahisa Agni.
“Ya,” sahut orang itu.
Kemudian ia menggeser duduknya menghadap ke arah suara Mahisa Agni, “Siapakah
kau Ki Sanak. Marilah, duduklah di sini. Kenapa kau berada di dalam gelap?”
Sekali lagi Mahisa Agni
menjadi heran. Kata-kata orang itu pun seperti sikapnya pula. Tanpa prasangka.
Namun Mahisa Agni pun yang masih tetap berprasangka. Karena itu maka ia tidak
segera menjawab pertanyaan orang itu. Bahkan kemudian terdengar ia bertanya
pula, “Apakah maksud Ki Buyut Wangon datang kemari?”
Orang itu mengangkat
alisnya. Tampaklah dalam keremangan pagi yang semakin terang, orang bongkok itu
menggerakkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kemarilah Ki Sanak. Duduklah, biarlah
kita dapat bercakap-cakap dengan baik. Aku sama sekali belum melihat bayanganmu.
Di sini, meskipun tidak jelas, aku akan dapat melihat di mana kau sedang duduk.”
Tetapi Mahisa Agni masih
tetap berada di tempatnya. Sejengkal pun ia tidak bergeser. Bahkan ia terkejut
ketika ia mendengar orang yang menyebut dirinya Buyut Ing Wangon itu tiba-tiba
mengeluh, “Bagus. Bagus jangan dekati aku. Kau akan dapat kejangkitan penyakit
terkutuk ini pula. Oh, alangkah malangnya apabila aku tak berhasil pulang
kembali dengan obat itu.”
Dada Mahisa Agni menjadi
ber-debar-debar karenanya. Dari kata-kata itu Mahisa Agni dapat mengetahuinya,
bahwa orang bongkok itu sedang mencari obat untuk penyakitnya. Penyakit menular.
Namun meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera dapat mengambil kesimpulan. Dan
terdengarlah ia bertanya, “Ki Buyut. Apakah sakit Ki Buyut itu. Dan apakah obat
yang sedang Ki Buyut cari di dalam gua ini?”
Sekali lagi Mahisa Agni
melihat, Buyut Wangon itu mencoba menatapnya di dalam gelap. Tetapi agaknya
orang bongkok itu masih belum berhasil melihatnya.
“Ki Sanak,” katanya
kemudian, “kenapa Ki Sanak bersembunyi?”
“Aku tidak bersembunyi,”
jawab Mahisa Agni.
“Oh,” orang itu menarik
nafas. Kemudian terdengar ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”
Tiba-tiba Mahisa Agni
menjadi semakin curiga. Apakah orang ini sedang memancingnya untuk mengetahui
siapakah sebenarnya dirinya, dengan perhitungan-perhitungan yang tertentu?
Mungkin orang itu ingin mengetahui nama dan tempat tinggalnya. Baru kemudian ia
berusaha untuk mencari trisulanya. Kalau kemudian dirinya dapat dikalahkan, dan
trisula itu tidak ada padanya, maka orang itu akan dapat mencarinya ke tempat
kediamannya. Bahkan Mahisa Agni kemudian menyangka, bahwa tidak mustahil orang
itu salah seorang kawan Empu Pedek. Karena itu tiba-tiba saja Mahisa Agni
menjawab, “Aku adalah Empu Pedek.”
Mahisa Agni menjadi
heran. Dan pertanyaan di dalam dadanya semakin menghunjam ke pusat jantungnya.
Ternyata orang itu sama sekali tidak terkejut mendengar jawabannya.
Dengan
mengangguk-anggukkan kepalanya terdengar orang itu bergumam, “Empu Pedek. Dari
manakah Ki Sanak datang?”
Kalau demikian maka
Mahisa Agni merasa dugaannya ternyata meleset. Dan tiba-tiba saja angan-angannya
segera bergeser kepada orang yang datang dari Gunung Merapi. Apakah orang ini
pun datang dari kaki Gunung Merapi itu? Untuk meyakinkan dugaannya itu maka
Mahisa Agni menjawab, “Aku datang dari Gunung Merapi.”
Orang itu kini terkejut.
“Gunung Merapi?” ulangnya.
“Ya,” sahut Mahisa Agni.
Namun kemudian Mahisa
Agni pun menjadi kecewa. Sebab orang itu tidak terkejut karena sesuatu hubungan
dengan dirinya sendiri. Bahkan orang itu kemudian bertanya, “Alangkah jauhnya.
Apakah yang telah memukau Ki Senak terpaksa menempuh jarak yang sedemikian
panjang?”
Kembali Mahisa Agni tidak
dapat segera menjawab pertanyaan itu. Kembali ia menjadi bimbang. Sesaat Mahisa
Agni diam mematung. Dan karena itu, maka suasana di dalam gua itu pun menjadi
sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang yang menamakan diri Buyut dari
Wangon itu.
Kesepian itu kemudian
dipecahkan oleh pertanyaan Mahisa Agni yang tiba-tiba, “Ki Sanak, apakah yang
sebenarnya kau cari di dalam gua ini? Kalau Ki Sanak sedang menderita sakit,
apakah penyakit itu dan obat apakah yang harus kau temukan?”
Sekali lagi orang bongkok
itu menatap gelapnya gua. Namun tak dilihatnya seorang pun. Meskipun demikian
terdengar ia menjawab dengan jujur, “Ki Sanak, kami, hampir semua orang dalam
padukuhan kami di Wangon terserang penyakit yang aneh. Mereka menjadi lemah dan
kemudian meninggal dunia. Tidak saja orang-orang dari Wangon, namun orang-orang
padukuhan di sekitarnya pun demikian pula. Akhirnya, kami mendapat petunjuk dari
seorang wiku sakti, bahwa penyakit itu akan dapat dilenyapkan dengan obat yang
terdapat di dalam gua ini. Akar wregu yang berwarna putih.”
Meskipun Mahisa telah
menduganya, namun ketika ia mendengar orang bongkok itu mengucapkan nama akar
wregu putih, hatinya berdesir pula. Ternyata orang itu pun mempunyai kepentingan
yang sama meskipun alasannya berbeda-beda. Dan ternyata pula, akar wregu putih
itu mempunyai nilai yang ganda pula. Tidak saja sebagai rangkapan trisulanya
sehingga kedua pusaka itu akan menjadi satu kesatuan yang sakti tiada taranya,
namun orang dari Wangon itu memerlukannya untuk obat penyakitnya.
Karena itu, maka Mahisa
Agni tidak dapat berbuat lain daripada berjuang kembali untuk mendapatkan pusaka
itu. Buyut dari Wangon yang telah berhasil memasuki gua ini pun pasti seorang
yang telah dibekali oleh ilmu yang cukup. Bahkan, Mahisa Agni menjadi heran,
apakah orang ini tidak berjumpa dengan Empu Pedek sebelum memasuki gua ini? Atau
Buyut dari Wangon ini telah berhasil mengalahkan orang timpang itu? Namun apa
pun yang telah terjadi, maka kini Buyut Ing Wangon itu harus berhadapan dahulu
dengan Mahisa Agni, murid dari padepokan Panawijen.
“Ki Sanak,” kemudian
terdengar suara Mahisa Agni “tidak adakah obat lain yang dapat menyembuhkan
penyakit-penyakit itu selain dari akar wregu putih dari dalam gua ini?”
Buyut Ing Wangon itu
menjadi heran. Katanya, “Kalau ada obat yang lain, maka obat itu pasti sudah
kami pergunakan. Beribu-ribu macam obat telah kami coba, namun tak ada yang
bermanfaat bagi kami. Bahkan dari hari ke hari, korban dari penyakit itu semakin
bertambah-tambah. Mula-mula hampir setiap lima enam hari sekali, ada korban yang
meninggal dunia. Kemudian dua tiga hari seorang meninggal, jarak itu menjadi
semakin dekat semakin dekat. Akhirnya kini setiap hari padukuhan kami selalu
diramaikan oleh jerit tangis anak yang kehilangan orang tua mereka, atau
orang-orang tua yang kehilangan anak-anak mereka. Tidak saja seorang sehari,
bahkan kadang-kadang saling berpapasan di perjalanan usungan-usungan mayat yang
akan dikubur. Bahkan kadang-kadang kami membakarnya lebih dahulu belum sempat
menguburkannya.”
“Akhirnya turunlah
seorang wiku sakti, petapa di dekat kepundan Gunung Bromo. Wiku itu telah
mendengar wisik dari Hyang Widi, bahwa penyakit yang sedang melanda padukuhan
Wangon itu dapat disembuhkan dengan akar wregu putih yang terdapat di dalam gua,
di lereng gundul Gunung Semeru. Nah, karena itulah aku datang kemari. Namun
ternyata sebelum aku berangkat, penyakit itu telah melekat pula dalam tubuhku,
sehingga kini aku merasa, tenagaku semakin lama menjadi semakin lemah. Tidak
saja karena aku kelelahan, namun penyakit itu telah menghisap sebagian dari
kekuatanku.”
Dada Mahisa Agni menjadi
semakin berdebar-debar pula. Akar wregu putih itu sangat berarti baginya. Ia
telah menempuh jarak yang demikian panjang, dari kaki Gunung Kawi. Telah
dilampauinya bermacam-macam bahaya. Binatang buas, orang-orang jahat di
perjalanan. Alam dan kesulitan-kesulitan yang lain. Yang terakhir adalah seorang
timpang yang bernama Empu Pedek, yang hampir saja merampas nyawanya. Kemudian
lereng gundul itu sendiri. Apakah kemudian, ia tidak akan berhak memiliki akar
wregu putih itu?
“Apakah yang akan aku
hadapi, akar wregu itu harus aku bawa pulang dan aku serahkan kepada guruku,
meskipun akan diberikan kepadaku,” katanya di dalam hati. Karena itu tiba-tiba
Mahisa Agni menggeram, selangkah ia maju dan dengan lantang ia berkata, “Ki
Sanak, Buyut dari Wangon. Sayang, bahwa kau tidak akan dapat memiliki akar wregu
putih itu.”
Ki Buyut dari Wangon itu
terkejut bukan buatan. Dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa? Kenapa Ki
Sanak?”
Terdengar pula jawaban
Mahisa Agni lantang, “Akar wregu putih itu adalah milikku!”
Ki Buyut Wangon itu
terdiam sejenak. Ia masih mencoba melihat bayangan Agni dalam kegelapan. Namun
tak satu pun yang dapat ditangkap oleh matanya. Sejenak kemudian ia berkata,
“Jadi adalah akar wregu putih itu milik seseorang?”
“Ya,” sahut Agni pendek.
Orang itu menggeleng.
Cahaya keremangan di belakang orang itu menjadi semakin terang. Namun wajah
orang itu pun masih belum dapat dilihat dengan jelas oleh Mahisa Agni.
“Aneh,” gumamnya, “Wiku
yang sakti itu berkata, bahwa akar wregu putih itu telah berada di tempat ini
sejak tujuh ratus empat puluh tiga tahun yang lampau. Seandainya akar itu milik
seseorang, apakah orang itu masih hidup sampai saat ini?”
“Aku adalah ahli
warisnya,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat.
“Oh,” gumam orang itu
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tujuh ratus tahun adalah waktu
yang panjang. Keturunan ke berapakah Ki Sanak ini?
Mahisa Agni terdiam untuk
sesaat. Pertanyaan itu sulit dijawabnya. Meskipun demikian Mahisa Agni itu
meneruskan jawaban pula, “Aku tidak tahu Ki Buyut, namun kami mendengar turun
temurun dari nenek-nenek kami, bahwa kami adalah ahli waris dari akar wregu di
dalam gua di lereng gundul Gunung Semeru.”
Orang itu diam pula
sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepala ia kemudian berkata, “Hem.
Bagaimanakah kalau aku juga berkata demikian. Aku juga mendapat hak dari
pewarisnya. Wiku sakti itu adalah ahli waris yang sah dari akar wregu itu.”
“Bohong!” potong Mahisa
Agni, “Bukankah Wiku itu mendengar dari wisik Sang Hyang Widi?”
“Aku belum mengatakan
bagaimana bunyi wisik itu,” sahut Buyut Wangon.
“Tidak perlu!” kembali
Agni memotong, “kau akan membuat suatu cerita tentang bunyi wisik itu.”
“Ki Sanak,” berkata Buyut
dari Wangon itu. Kemudian kata-katanya terdengar lemah dan perlahan-lahan,
“Baiklah. Seandainya ada ahli waris dari pemilik akar wregu itu sekali pun.
Namun kita berdua datang pada waktu yang berbeda. Aku ternyata lebih dahulu dari
Ki Sanak. Kita telah datang pada saat yang hampir bersamaan. Dan kita
masing-masing tak dapat menunjukkan kebenaran tentang ahli waris itu. Karena itu
biarlah aku yang datang lebih dahulu dapat memilikinya.”
Dan Mahisa Agni berdesir
mendengar perkataan Buyut Wangon itu. Dengan demikian, semakin yakinlah ia,
bahwa ia harus merebut akar itu dengan suatu perjuangan pula. Karena itu maka
jawabnya, “Ki Buyut, Kita tidak sedang berlomba berebut dahulu. Terapi kita
sekarang memperebutkan akar wregu putih itu.”
Buyut Wangon itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Ki Sanak
bersikeras untuk mendapatkan akar itu, apakah sebenarnya keperluan Ki Sanak
dengan akar itu? Apakah di daerah Ki Sanak juga terdapat wabah penyakit seperti
daerah Wangon?”
“Apapun yang akan aku
lakukan atas akar itu, bukanlah kepentinganmu,” sabut Mahisa Agni.
Kembali Ki Buyut itu
terdiam. Dengan lemahnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun agaknya orang
itu tidak berputus asa. Katanya, “Ki Sanak. Aku minta dengan sangat, biarlah aku
membawa akar ini, demi keselamatan beratus-ratus bahkan lebih dari seribu orang
di berbagai daerah sekitar Wangon.”
“Tidak!” jawab Agni
tegas.
Tiba-tiba orang bongkok
itu berdiri. Dengan berpegangan pada dinding gua ia berkata, “Aku akan mengambil
akar wregu itu. Aku tidak dapat membiarkan seluruh penduduk Wangon dan
sekitarnya menjadi tumpas karena penyakit terkutuk itu Dan tentu saja aku ingin
menyelamatkan nyawaku sendiri pula.”
Sebelum Mahisa Agni
menjawab orang itu sudah melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba ia terhenti pula
ketika Mahisa Agni membentak, “Berhenti! Jangan maju lagi meskipun hanya
selangkah!”
Orang itu berpaling.
Namun belum juga dilihatnya Mahisa Agni. Katanya, “Apakah Ki Sanak tidak juga
dapat mengerti? Apakah tidak ada rasa perikemanusiaan sama sekali di dalam dada
Ki Sanak?”
Namun akar wregu putih
itu, bagi Mahisa Agni adalah benda yang sangat berharga. Karena itu jawabnya
lantang, “Ki Buyut dari Wangon. Kita bersama-sama menganggap benda itu sangat
penting bagi diri kita masing-masing. Kita masing-masing sudah menempuh jarak
yang tak terkirakan jauh dan bahayanya. Kini kita berhadapan di dalam gua ini.
Karena itu, biarlah kita selesaikan persoalan kita, seperti persoalan-persoalan
lain yang timbul di perjalanan. Kita tentukan siapakah di antara kita yang
berhak memiliki akar wregu putih itu.”
Orang bongkok itu masih
berdiri di tempatnya sambil berpegangan dinding gua. Ketika ia mendengar
kata-kata Mahisa Agni itu pun ia menjadi terkejut. Maka katanya, “Apakah maksud
Ki Sanak itu? Bagaimanakah kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang
berhak memiliki wregu itu?”
“Kita adalah laki-laki,”
sahut Mahisa Agni, “Kita telah berani menempuh perjalanan ini. Karena itu nyawa
kita pertaruhkan. Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur sampai ada di antara kita
yang mencabut keinginan kita untuk memiliki benda itu. Hidup atau mati!”
“Oh,” ternyata Buyut
Wangon itu terkejut bukan buatan. Dan terlontarlah pertanyaan dari mulutnya,
“Jadi haruskah kita berkelahi?”
“Ya!” jawab Mahisa Agni
pendek.
“Oh,” orang itu tiba-tiba
mengelus dadanya, dan tampaklah tiba-tiba pula ia menjadi gemetar. Katanya, “Ki
Sanak, aku datang kemari dari jarak yang jauh itu untuk menghindarkan kematian
dari orang-orang di Wangon. Kenapa tiba-tiba aku di sini dihadapkan pada
kemungkinan untuk mati dengan cara yang demikian? Ki Sanak, aku tak pernah
membayangkan, bahwa seseorang dapat berbuat seperti Ki Sanak itu. Aku tidak
pernah dapat mengerti, kenapa seseorang harus berkelahi?”
“Sekarang kau akan
mengerti Ki Buyut,” sanggah Mahisa Agni, “dalam keadaan seperti keadaan kita
sekarang. Tak ada cara penyelesaian yang lain!”
“Aku kira Ki Sanak bisa
mengerti, demi perasaan ke perikemanusiaan yang ada di dalam dadamu, meskipun
hanya sepercik kecil.”
Mahisa Agni terdiam
sesaat. Namun benda itu sudah diusahakannya dengan melintasi bahaya. Karena itu
kembali tekad yang bulat mencengkam dadanya. Maka jawabnya,” Aku akan mengambil
akar itu.”
“Jangan Ki Sanak!” pinta
Buyut Wangon itu sambil gemetar, “Aku tidak pernah membayangkan untuk berkelahi
dengan siapa pun, namun ribuan orang di sekitar daerah Wangon menanti
kedatanganku dengan obat itu.”
“Aku tidak peduli!” jawab
Agni singkat.
Orang itu masih memegangi
dadanya seakan-akan takut akan pecah. Dan terdengarlah ia berkata lirih, “Ki
Sanak. Katakanlah, apakah gunanya akar itu bagi Ki Sanak? Apakah Ki Sanak akan
mempergunakannya sebagai obat seperti aku akan mempergunakannya? Apabila
demikian Ki Sanak, biarlah aku mengalah. Sebab kegunaan akar wregu itu akan sama
saja, di tempat Ki Sanak atau di Wangon. Kedua-duanya memungkinkan tertolongnya
ribuan jiwa, termasuk perempuan dan kanak-kanak. Atau apabila Ki Sanak rela, aku
hanya ingin mendapat sepotong daripadanya. Mudah-mudahan akan mampu menolong
jiwa orang-orang di sekitar tempat Ki Sanak dan orang-orang di Wangon
sekaligus.”
Kembali terasa sesuatu
berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Ribuan orang akan diselamatkan oleh akar
wregu putih itu. Tetapi ketika kembali diingatnya, bahwa akar itu adalah
rangkapan pusakanya, yang dapat menjadikannya sakti tiada taranya, maka kembali
ia berkata, “Jangan ributkan kegunaannya! Minggir! Aku akan mengambil akar wregu
itu.”
Kini Mahisa Agni tidak
menunggu jawaban lagi. Ia maju beberapa langkah sambil berkata, “Kalau kau ingin
menentukan siapa di antara kita yang berhak memiliki akar wregu itu, bersiaplah.
Kalau tidak, minggirlah!”
Orang itu tidak menjawab
pertanyaan Agni. Bahkan dengan serta-merta ia memutar tabuhnya, dan dengan
sekuat ia dapat, maka orang bongkok itu mencoba berlari tersuruk-suruk masuk ke
pusat gua itu.
Sesaat Mahisa Agni
tertegun. Ia menjadi sedemikian heran. Orang bongkok itu sama sekali tidak
bersiap untuk melawannya, tetapi orang itu telah mencoba untuk berlari
mendahuluinya.
Ketika Mahisa Agni
tersadar akan keadaan itu, maka ia pun tidak mau terlambat. Karena itu segera ia
berteriak nyaring, “He, Buyut Ing Wangon. Berhentilah!”
Tetapi orang bongkok itu
berlari terus. Terhuyung-huyung dan kadang-kadang tubuhnya terbanting-banting di
sisi gua. Namun ia berlari terus.
Mahisa Agni kemudian
menjadi marah karenanya. Dan terdengarlah sekali lagi ia berteriak, “He,
bongkok! Berhenti atau aku terpaksa menghentikanmu!”
Kali ini pun Buyut Ing
Wangon itu seolah-olah tidak mendengarnya. Ia masih berlari terus, namun larinya
tidak lebih dari kecepatan anak-anak yang sedang belajar berjalan.
Mahisa Agni itu kini
benar telah menjadi marah. Ia merasa seakan-akan Buyut Ing Wangon itu sama
sekali tak menghiraukan kehadirannya. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni itu pun
meloncat menyusulnya. Tidak lebih dari sepuluh langkah Mahisa Agni telah
mencapai buyut bongkok itu. Dengan satu sentuhan yang menyentak orang bongkok
itu telah terpelanting membentur mulut gua, dan kemudian jatuh terjerembab di
lantai yang lembab.
Mahisa Agni kemudian
berdiri di sisinya sambil menggeram. Dengan tajam ia memandangi Buyut Wangon itu
sambil berkata, “Jangan mencoba melawan kehendakku!”
Terdengar Buyut Ing
Wangon itu mengeluh. Sesaat terdengar pula ia merintih. Katanya, “Ki Sanak,
kenapa Ki Sanak menyakiti aku?”
“Kau tidak mau mendengar
kata-kataku. Kalau kau ingin mendapat akar wregu putih itu, marilah kita
bertempur. Kalau tidak jangan mencoba menghalangi aku,” sahut Mahisa Agni.
Dengan susah payah Buyut
Ing Wangon itu mencoba duduk. Mulutnya masih saja berdesis menahan hati. Dan
terdengarlah ia berkata terbata-bata, “Ki Sanak. Apakah hal yang demikian itu
wajar?”
“Lalu?” bertanya Agni,
“Apakah kau mempunyai cara lain?”
“Sudah aku katakan Ki
Sanak. Aku datang lebih dahulu diri Ki Sanak,” jawab Buyut Wangon itu. Sesaat ia
berhenti menelan ludahnya. Kemudian katanya, “Kalau hal itu Ki Sanak menganggap
tak sepantasnya, maka katakanlah, apakah keperluanmu dengan akar wregu itu.
Marilah kita bicarakan manakah yang paling penting penggunaannya. Ki Sanak atau
aku. Kalau ternyata keperluan Ki Sanak jauh lebih penting dari keperluanku,
biarlah aku mengalah Aku tak akan kembali lagi ke Wangon, sebab aku sendiri
pasti sudah akan mati karena penyakitku itu di sini.”
Sekali lagi terasa
sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia membulatkan
tekadnya. Pusaka itu akan ditebusnya dengan apa saja. Dengan tenaganya, dengan
darahnya dan dengan mengorbankan perasaannya.
Karena itu Mahisa Agni
itu pun menjawab, “Jangan bertanya lagi kegunaan akar wregu itu bagiku.”
Buyut Ing Wangon itu
menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia mengeluh kemudian katanya lemah, “Lalu
bagaimanakah kita bisa menentukan, siapakah yang lebih penting di antara kita?”
“Jangan ributkan
kepentingan kita masing-masing,” bantah Agni.
“Oh, alangkah malangnya
dunia ini,” desah Buyut Wangon, “apabila setiap persoalan hanya dapat ditentukan
dengan kekerasan. Akan lenyaplah martabat kita sebagai manusia yang berakal
budi.”
Kata-kata Buyut Wangon
itu langsung menghunjam ke jantung Mahisa Agni. Sesaat ia terbungkam, dan terasa
getaran-getaran di dadanya. Namun demikian dicobanya sekuat tenaga untuk menekan
perasaan itu, “Aku bukan perempuan yang cengeng, yang dapat terpengaruh oleh
persoalan-persoalan yang tak berarti.”
Dan tiba-tiba saja
meledaklah jawabnya, “Buyut dari Wangon. Jangan menjual belas kasihanku di sini.
Kalau aku berbuat seperti berbuat seperti perbuatanku kini, pastilah sudah aku
pertimbangkan baik buruknya. Kau hanya mampu berpikir pada masalah-masalah
sekitar daerahmu saja. Daerah Wangon dan sekitarnya. Namun aku telah menjelajahi
berbagai daerah, berbagai persoalan dan berbagai masalah. Karena itu akar itu
jauh bermanfaat bagiku daripada bagimu.”
Buyut Wangon itu menarik
nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi beribu-ribu jiwa di Wangon menanti
penyembuhannya. Kalau tidak, maka mereka akan menjadi seperti babatan paying.
Malang melintang, mati tak terurus. Sebab semua orang akan mati pula karenanya.”
Mahisa Agni
menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan melemparkan getaran kata-kata Buyut
Wangon yang menyentuh telinganya.
“Tidak! Tidak!” tiba-tiba
ia berteriak, “Aku tidak peduli urusanmu!”
Mahisa Agni tidak
menunggu orang bongkok itu berkata-kata pula. Seakan-akan ia menjadi takut
terhadap setiap persoalan yang dikatakan oleh orang bongkok itu. Dengan
serta-merta, Mahisa Agni itu pun segera memutar tubuhnya, dan bersiap untuk
segera memasuki gua itu lebih dalam lagi.
Tetapi ia terkejut,
ketika tiba-tiba terasa Buyut Ing Wangon itu memeluk kakinya sambil memeganginya
kuat-kuat. Kemudian terdengarlah ia berkata, “Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil
akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya tergantung dari perjalananku
sekarang.”
—–
“Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya
tergantung dari perjalananku sekarang.”
—–
Mahisa Agni
menghentak-hentakkan kakinya. Terdengar ia pun berteriak, “Lepaskan! Lepaskan!”
Namun Buyut Wangon tidak
mau melepaskannya. Bahkan orang bongkok itu mencoba untuk memegangnya lebih erat
lagi. Sehingga dengan demikian Mahisa Agni menjadi marah kembali. Dengan satu
hentakkan yang keras, Buyut Wangon itu terlempar beberapa langkah dan terbanting
di lantai gua itu. Terdengar ia berteriak kesakitan. Namun ia masih juga berkata
di antara desisnya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Tetapi Mahisa Agni tidak
mau mendengarnya lagi. Cepat-cepat ia berlari. Berlari. Sedang kedua tangannya
dengan kerasnya menyumbat kedua telinganya.
Mahisa Agni berusaha
secepat-cepatnya untuk menjauhi Buyut Ing Wangon – yang masih terkapar sambil
merintih-rintih – seakan-akan takut dikejarnya. Namun sebenarnya Mahisa Agni
tidak merasa takut sedikit pun seandainya Buyut Wangon itu mengejarnya dan
berusaha melawannya. Sejak semula ia sudah siap untuk bertempur. Tetapi ia takut
terhadap perasaannya sendiri. Keluhan orang bongkok itu ternyata selalu
menimbulkan getaran-getaran di dalam dadanya. Dan ia tidak mau perasaannya
menjadi runtuh karenanya.
Sekali-kali kaki Mahisa
Agni terperosok pada lubang-lubang di lantai gua. Bahkan beberapa kali Mahisa
Agni itu jatuh terjerembab, namun kemudian ia bangkit lagi dan berlari kembali
sambil meraba-raba dinding. Meskipun ia tidak dapat lari secepat-cepatnya, namun
semakin lama ia menjadi semakin jauh dari Buyut Wangon. Dan ketika ia sudah
tidak mendengar suara rintihan orang bongkok itu, Mahisa Agni pun berhenti
Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Namun yang dilihatnya adalah sebuah takbir
yang kelam di belakangnya. Kini barulah ia sadar, bahwa dirinya berada di dalam
cengkaman dinding-dinding gua yang hitam pekat.
Nafas Mahisa Agni itu pun
terdengar berkejar-kejaran dari lubang hidungnya. Terasa betapa cepatnya. Dengan
susah payah Agni mencoba menenangkan dirinya.
Buyut dari Wangon itu
ternyata mempunyai kesan yang aneh di dalam hati Mahisa Agni. Setelah ia
menempuh perjalanan yang berat, dan mengalami banyak rintangan-rintangan,
orang-orang jahat dan orang-orang yang mencoba mencegahnya tanpa menimbulkan
kecemasan di dalam dirinya, namun kini tiba-tiba ditemui seorang yang lemah,
sakit, bahkan hampir mati. Namun orang itu benar-benar mengganggu perasaannya
“Persetan dengan orang
itu!” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram. Ia ingin mencoba menekan perasaannya.
Akar wregu putih itu baginya adalah benda yang akan menjadi sangat berharga.
Mahisa Agni menggigit
bibirnya. Sekali lagi ia berjuang untuk tidak terpengaruh oleh setiap perasaan
yang mengganggu pekerjaannya. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun melangkahkan
kakinya. Ia harus segera menemukan akar wregu putih itu.
Ternyata Mahisa Agni
sudah tidak begitu jauh lagi dari pusat gua. Ketika sekali lagi menemui lubang
udara, maka segera ia pun mengetahui, bahwa matahari telah tinggi di langit yang
biru. Dari lubang itu Mahisa Agni melihat betapa cerahnya udara, dan cerahnya
sinar matahari. Namun ia masih harus berada di dalam gua yang hitam kelam itu.
Mahisa Agni berjalan
kembali beberapa langkah, kemudian terasa kakinya menyentuh tangga-tangga yang
membawanya mendaki. Namun tangga-tangga itu tidak begitu tinggi, sehingga,
segera ia sampai di ujungnya. Sekali ia membelok ke kiri, kemudian sekali lagi
Mahisa Agni melihat seberkas sinar jatuh di lantai gua.
Mahisa Agni masih
melangkah maju. Bahkan ia masih tetap berjalan dengan penuh kewaspadaan.
Ternyata beberapa orang telah ditemuinya. Dan di antara mereka telah mengetahui
pula adanya akar wregu putih itu sehingga tidak mustahil bahwa ada orang-orang
lain lagi yang telah mengetahuinya pula, selain Buyut dari Wangon, Empu Pedek,
orang dari Gunung Merapi yang tak diketahui namanya, dan gurunya.
Dada Mahisa Agni itu pun
menjadi semakin berdebar-debar pula. Tiba-tiba ia cemas. Tidak pula mustahil,
bahwa akar itu telah diambil pula oleh seseorang yang datang lebih dahulu
daripadanya beberapa hari atau beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun yang
lalu, setelah gurunya mengunjungi gua ini.
“Hem,” gumamnya, “kenapa
guru tidak mengambilnya saja pada waktu itu?”
Namun Mahisa Agni
menyadarinya kembali, bahwa pasti ada alasan-alasan tertentu, sehingga gurunya
berbuat demikian. Alasan-alasan yang tak diketahuinya dan tak diberitahukannya
kepadanya.
Tiba-tiba debar jantung
Mahisa Agni itu pun menjadi semakin cepat. Terasa sesuatu menyentuh perasaannya.
Firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa perjalanannya hampir sampai ke tujuannya.
Ketika sekali lagi Mahisa
Agni menikung ke kanan, dilihatnya kembali semakin terang. Dan ternyata lubang
ini agak lebih besar daripada yang pernah ditemuinya.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni melangkah maju. Dengan penuh kewaspadaan dipandangnya setiap sudut gua yang
terbentang di hadapannya. Tiba-tiba langkah Mahisa Agni itu pun terhenti. Di
bawah berkas sinar yang jatuh itu dilihatnya dinding gua itu terputus. Ia tidak
melihat lagi sebuah lubang pun pada dinding-dinding itu, sehingga tiba-tiba ia
bergumam, “Apakah aku sudah sampai ke ujung gua ini?”
Debar dada Mahisa Agni
menjadi kian cepat. Dan darahnya terasa seakan-akan membeku ketika matanya
terbentur pada sebuah lubang kecil di dinding gua. Di dalam lubang itu
dilihatnya, apa yang dicarinya selama ini. Kain yang berwarna merah, namun
karena tuanya, maka warna itu telah hampir lenyap dan bertapikan kain putih yang
sudah kekuning-kuningan.
Tiba-tiba tubuh Mahisa
Agni menjadi gemetar karenanya. Terasa sesuatu melonjak di dalam ruang dadanya.
Sesaat ia diam mematung, seolah-olah ia menjadi kehilangan kesadaran
Namun sesaat kemudian
dengan serta-merta ia meloncat untuk meraih benda yang akan dapat ikut serta
menentukan perjalanan hidupnya. Tetapi karena ia sedemikian tergesa-gesa
sehingga Agni itu pun terpeleset dan jatuh terbanting di lantai gua yang
berbatu-batu padas. Terdengar ia mengeluh pendek. Namun perasaan sakit di
lututnya sama sekali tak dihiraukannya. Sekali lagi ia bangkit, dan sekali lagi
ia meloncat. Kali ini ia berhasil. Digenggamnya benda itu erat-erat, dan
kemudian dengan tangan yang gemetar diurainya kain pembalutnya. Sekali lagi
dadanya berdesir. Kini digenggamnya sepotong akar wregu yang panjangnya
kira-kira dua cengkang. Dengan tangan yang gemetar diciumnya akar wregu itu
sambil bergumam dengan suara parau, “Terpujilah Namamu, Yang Maha Agung.”
Betapa besar hati Mahisa
Agni setelah ia memegang benda yang selama ini dicarinya dengan banyak
pengorbanan. Benda yang akan menjadikan manusia jantan yang pilih tanding. Benda
yang dapat menjadikannya manusia yang sukar dicari bandingnya. Karena itu untuk
sesaat Mahisa Agni seakan-akan tenggelam dalam sebuah mimpi yang indah. Mimpi
tentang masa depannya yang cerah. Terngianglah di sudut hatinya kata-katanya
sendiri, “Ayo, siapakah yang akan berani melawan kehendak Mahisa Agni? Apapun
yang akan aku lakukan tak seorang pun yang dapat mencegahnya. Dengan benda ini
dan trisula yang sakti itu, akan dapat aku gulung dunia ini.”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu
pun tertawa sendiri. Dan tiba-tiba ia berdiri bertolak pinggang sambil berkata
lantang, “Inilah Mahisa Agni. Manusia tersakti di muka bumi.”
Dan seperti orang yang
kehilangan ingatan, sekali lagi akar wregu putih itu diciuminya.
Namun semakin lama,
Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tenang. Seolah-olah anak muda itu tersadar
dari tidurnya yang ditandu dengan mimpi yang mengagumkan. Perlahan-lahan segenap
ingatan yang terang kembali merayapi hati Mahisa Agni kemudian berhasil kembali
menguasai dirinya, menguasai luapan perasaannya. Bahkan tiba-tiba ia menjadi
malu sendiri, setelah disadarinya, Apa yang baru saja dilakukannya
Maka Mahisa Agni itu
kemudian dengan langkah satu-satu berjalan menepi. Kemudian perlahan-lahan pula
ia meletakkan dirinya duduk bersandar dinding gua. Diambilnya sebuah tarikan
nafas yang panjang sekali. Dan baru kemudian ia mengamat-amati akar wregu di
tangannya.
Akar wregu itu adalah
akar wregu seperti yang pernah dilihatnya. Tidak ada kekhususannya, selain
warnanya yang memang agak keputih-putihan. Bahkan warna putih itu pun tidak
memberikan kesan apa pun pada penglihatan Mahisa Agni. Namun bagaimana pun juga,
gurunya telah berkata kepadanya bahwa benda itu akan dapat menjadi rangkapan
pusakanya, sehingga kedua pusaka itu akan merupakan sepasang pusaka yang tak ada
bandingnya.
Sekali-kali terasa juga
keragu-raguan di dalam dada Mahisa Agni itu. Apakah tidak mustahil bahwa
seseorang telah datang mendahuluinya dan menukar akar wregu ini dengan akar
wregu yang lain? Ketika sekali lagi Mahisa Agni memandang akar wregu dalam
cahaya yang jatuh lewat lubang-lubang di atas gua itu, sekali lagi tergores
suatu pertanyaan di dalam dadanya. Apakah benar akar yang dicarinya itu, adalah
yang kini digenggamnya?
“Ah, tentu,” gumamnya
tiba-tiba. Ia telah berjalan sampai ke ujung gua ini. Dan benda inilah
satu-satunya yang ditemukannya. Apabila seseorang telah datang lebih dahulu
daripadanya, apakah perlunya orang itu menukarnya? Kenapa tidak saja benda itu
pun diambilnya?
Dalam pada itu, Mahisa
Agni pun segera teringat kepada orang timpang di kaki lereng gundul ini. Empu
Pedek. Beberapa keanehan telah mengganggu otaknya. Kenapa Empu Pedek itu tidak
mendahuluinya mengambili pusaka ini. Seandainya demikian, bukankah akibatnya
akan sama saja baginya. Ia masih akan tetap pada keadaannya, dan kemungkinan
untuk mengetahui orang-orang lain yang akan mengambil akar itu, dengan harapan
untuk menemukan trisulanya. Sebab sebelum seseorang memiliki kedua-duanya, maka
ia belum seorang yang sakti tanpa tanding. Sehingga betapapun saktinya Empu
Pendek, namun tak semua orang di bawah kolong langit ini dapat dikalahkannya.
Juga belum pasti orang yang memiliki trisula itu pun dapat dikalahkannya pula.
Dalam pada itu timbul
pula dugaannya, bahwa sebenarnya seseorang telah mengambil akar wregu yang
sebenarnya. Namun telah ditukarkannya dengan benda yang lain, sehingga dengan
demikian, tak ada orang yang akan mengejarnya. Orang yang menemukan akar itu
kemudian akan menyangka bahwa akar itu adalah akar yang sebenarnya, dan tidak
dicarinya pula akar wregu putih itu, sehingga sampai pada saatnya, ditemukannya
rangkapannya. Trisula.
Berbagai-bagai persoalan
datang hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Namun akhirnya ia mengambil suatu
kesimpulan, “Biarlah apa yang ada ini aku bawa kembali. Guru telah pernah
melihatnya dahulu, sehingga Empu Purwa itu pasti akan dapat mengetahuinya,
apakah akar wregu inilah yang sebenarnya harus aku cari. Apabila ternyata
keliru, maka betapapun beratnya, aku harus berjalan kembali untuk menemukan akar
yang sebenarnya itu. Yang pertama-tama harus ditemukan adalah orang timpang yang
menamakan diri Empu Pedek itu.”
Kini Mahisa Agni telah
benar-benar menjadi tenang. Bahkan kini terasa olehnya, betapa tubuhnya menjadi
penat. Telah sehari semalam, bahkan lebih, ia berada dalam ketegangan lahir
batin. Apalagi setelah ia berjuang memeras tenaga melawan rintangan-rintangan
yang dihadapinya. Karena itu, maka baru kini terasa, persendiannya sakit-sakit
dan pedih-pedih menjalari di seluruh telapak tangan dan kakinya. Bahkan
dilihatnya pula beberapa goresan merah pada lutut dan lengannya.
“Aku harus beristirahat,”
gumamnya. Sebab Mahisa Agni itu pun sadar bahwa perjalanan pulang ke Panawijen
itu pun akan mempunyai persoalan-persoalannya sendiri. Tidak terlalu jauh. Di
bawah lereng ini, Empu Pedek masih menunggunya. Orang itu pasti belum akan
melepaskan niatnya untuk memiliki trisulanya dan sekaligus akar wregu putih ini.
“Sayang,” desah Agni
tiba-tiba, “Kalau trisula itu aku bawa serta maka aku akan keluar dari gua ini
dengan pasti, bahwa tak seorang pun akan dapat mengalahkan aku.”
Tetapi tiba-tiba pikiran
itu terdorong pula oleh sebuah pikiran yang lain, “Bagaimana kalau aku binasa
sebelum sampai ke gua ini, atau akar ini bukanlah akar wregu putih yang
sebenarnya?”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu
pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak mau berpikir lagi. Ia hanya
ingin beristirahat, untuk kemudian keluar dari gua ini dengan tenaga yang cukup
untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Demikianlah kemudian
Mahisa Agni itu duduk sambil menjulurkan kedua kakinya lurus-lurus sambil
bersandar ke dinding. Dicobanya untuk benar-benar dapat beristirahat dan
mengumpulkan segenap kekuatannya kembali.
Meskipun perlahan-lahan
namun pasti, Mahisa Agni telah menemukan kesegaran tenaganya kembali,
sekali-kali dipijitnya kakinya dan direntangkannya tangannya.
Sesaat kemudian Mahisa
Agni itu berdiri. Ketika kantuknya tiba-tiba menyerang, dicobanya pula untuk
melawannya. Ia tidak mau tertidur dan ia tidak mau seseorang datang kepadanya,
membunuhnya selagi ia tidur dan mengambil akar wregu yang sudah di tangannya
itu.
Setelah beberapa kali
menggeliat, serta telah digerak-gerakkannya tangan serta kakinya, maka Mahisa
Agni merasa, bahwa sebagian besar tenaganya telah pulih kembali. Meskipun hampir
dua hari ia tidak makan apapun, namun Mahisa Agni telah menjadi biasa dengan
keadaan itu. Di padepokannya pun ia sering melakukannya. Tidak makan dan tidak
minum sebagai laku prihatinnya. Dan kini, ternyata apa yang sejak lama telah
dilakukannya itu sangat bermanfaat baginya. Apalagi pada saat-saat ia
mempertaruhkan benda yang dianggapnya sangat berharga itu, maka Mahisa Agni itu
pun sama sekali tidak merasakan lapar.
Kini Mahisa Agni telah
bersiap untuk keluar kembali dari gua.
SEKALI LAGI MAHISA AGNI
MEMANDANGI AKAR WREGU itu, dan kemudian dibalutnya dengan rapi. Diselipkannya
akar itu di ikat pinggangnya di bawah bajunya. Kini tangannya sekali-kali meraba
hulu kerisnya. Seakan-akan ia berkata kepada pusaka itu. Kita akan menghadapi
setiap kemungkinan bersama-sama untuk melindungi akar wregu putih ini.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni melangkah keluar dari ujung gua itu. Setelah sekali ia membelok maka ia
sampai pada daerah yang gelap. Sekali ia masih menemui lubang udara lagi, namun
sesaat kembali ia terlempar ke daerah yang kelam.
Dengan sangat hati-hati
dan penuh kewaspadaan Mahisa Agni berjalan sambil meraba-raba dinding. Dengan
hati-hati pula ia menuruni tangga dan kemudian menyusur daerah yang lembab. Di
kejauhan Mahisa Agni melihat remang-remang sinar jatuh ke dalam gua. Sinar yang
masuk lewat lubang-lubang seperti yang beberapa kali telah dilihatnya.
Namun tiba-tiba langkah
Mahisa Agni terhenti. Di muka sinar yang samar-samar itu ia telah melemparkan
Buyut Ing Wangon. Karena ini tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar. Apakah orang
itu masih di sana? Pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Namun dijawabnya
sendiri, “Aku telah memiliki akar ini. Biarlah aku tidak menghiraukannya lagi.”
Kemudian Mahisa Agni itu
pun bahkan mempercepat langkahnya. Ia ingin segera melampaui orang bongkok dari
Wangon itu. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan semakin cepat
pula.
Tetapi sekali lagi
langkahnya terhenti. Lamat-lamat ia telah mendengar suara orang itu merintih.
“Gila!” desahnya, “Kenapa
orang itu masih belum pergi juga?”
Ketika sekali lagi Mahisa
Agni mendengar rintihan itu terasa dadanya berdesir. Namun sambil mengatupkan
giginya rapat-rapat sambil menggeram ia melangkah maju. Ia ingin melompati orang
itu untuk kemudian dengan cepat meninggalkannya. Namun, desir di dadanya itu
semakin lama menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian Mahisa Agni itu terpaku di
tempatnya. Ia tidak dapat maju lagi.
Kini Mahisa Agni harus
berjuang melawan perasaannya. Suara orang dari Wangon itu terdengar sangat
memelas. Tetapi apakah yang dapat dilakukan?
Tiba-tiba Mahisa Agni itu
pun berteriak sekeras-kerasnya untuk menindas perasaan yang semakin menggelora
di dalam dadanya. Katanya, “He, Buyut Ing Wangon. Menepilah! Aku akan lewat,
supaya kau tidak terinjak karenanya.”
“Oh,” terdengar orang itu
berdesis. Tidak terlalu keras, namun Mahisa Agni dapat mendengarnya, “kaukah
Empu dari Gunung Merapi itu?”
“Ya,” sahut Mahisa Agni
pendek. Tetapi kemudian ia berteriak, “Aku akan membunuh siapa saja yang
menghalangi aku!”
“Apakah kau sudah
berhasil menemukan akar wreguitu?” terdengar Buyut itu bertanya.
“Sudah!” jawab Agni
kasar, “Apakah maumu?”
“Syukur. Syukur,” gumam
orang itu.
Sekali lagi dada Mahisa
Agni berdesir. Dan sekali lagi ia berusaha menindas perbuatannya. Ia
berteriak-teriak untuk mengusir setiap bisikan di dalam hatinya, “Pergilah
supaya aku tidak membunuhmu!”
“Kau tak usah
melakukannya, Ki Sanak,” terdengar suara itu semakin lemah, “sebentar lagi aku
akan mati dengan sendirinya. Tidak hanya aku, tetapi beribu-ribu orang lain.”
“Persetan! Persetan!”
Mahisa Agni itu berteriak-teriak seperti orang gila. Katanya seterusnya, “Pusaka
ini sangat penting bagiku. Matilah orang Wangon. Matilah bersama segenap
keluarga dan orang-orangmu.”
“Ya,” jawab Buyut Ing
Wangon itu, “aku memang akan mati. Dan sebelum mati aku akan mengucapkan selamat
kepadamu, Ki Sanak. Namun, apakah aku boleh mendengar kegunaan akar itu padamu?
Biarlah aku mengetahuinya .Mungkin pengetahuan itu akan mempermudah perjalananku
ke alam yang langgeng.”
Terasa dada Mahisa Agni
itu bergelora. Namun seperti orang gila ia berteriak-teriak pula, “Ketahuilah,
he, Buyut Ing Wangon. Pusaka ini akan menjadikan aku seseorang yang sakti pilih
tanding.”
“Oh,” desah orang itu,
“hanya itu?”
“Kenapa hanya itu?” ulang
Mahisa Agni, “dengan kesaktianku aku akan dapat berbuat apa saja. Aku akan
berbuat kebajikan dan menjunjung kebenaran. Kau dengar?”
“Ya, ya. Aku dengar.
Syukurlah apabila demikian. Mudah-mudahan kau akan dapat mengamalkannya,” sahut
Buyut dari Wangon. Dan perlahan-lahan orang itu berkata pula, “Tetapi Ki Sanak,
apakah aku dapat menitipkan satu pesan kepadamu?”
Gelora di dalam dada
Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin keras. Setiap kata yang terpancar dari
mulut orang bongkok itu serasa sebuah tusukan yang menghunjam dadanya. Meskipun
demikian Mahisa Agni menyahut juga, “Apakah pesan itu?”
“Ki Sanak,” berkata Buyut
Ing Wangon yang sudah menjadi semakin lemah, “terima kasih.”
“Jangan berterima kasih
kepadaku!” bentak Mahisa Agni, “aku belum menyatakan kesediaanku. Aku ingin
mendengar dulu pesan itu.”
“Oh,” desah Buyut Wangon,
“baiklah. Aku ingin kau menyampaikan pesanku. Katakanlah kepada orang-orang
Wangon, bahwa Buyut Ing Wangon telah berusaha untuk mendapatkan obat itu. Namun
ia tidak berhasil. Sampaikan permintaan maafku yang sebesar-besarnya kepada
mereka, bahwa aku mati di dalam gua di mana akar wregu itu disimpan. Dengan
demikian..”
“Cukup!” bentak Agni
semakin keras, “jangan lanjutkan supaya aku tidak menjadi semakin marah.”
“Oh,” sekali lagi Buyut
Wangon itu berdesah, “kenapa Ki Sanak menjadi marah. Atau barangkali Ki Sanak
berkeberatan untuk singgah di Wangon.”
“Aku belum pernah
mendengar nama padukuhan Wangon,” jawab Mahisa Agni.
“Aku dapat memberimu
ancar-ancar.”
“Tidak! Tidak!” dan
tiba-tiba Mahisa Agni tersandar di dinding gua. Dan tiba-tiba pula kedua
telunjuk tangannya menyumbat telinganya. Teriaknya, “Jangan berbicara lagi!
Jangan berbicara lagi! Aku harus memenuhi perintah guruku. Akar wregu ini harus
aku bawa pulang.”
Terdengar Buyut Wangon
itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata. Meskipun Mahisa
Agni telah menyumbat kedua lubang telinganya namun suara itu masih terdengar,
“Ya. Ya. Bawalah Ki Sanak bawalah akar itu pulang.”
Mahisa Agni tiba-tiba
terbungkam. Tubuhnya pun kemudian bergetar secepat getaran di dadanya. Tanpa
sesadarnya Mahisa Agni itu berkata, “Bagaimanakah caramu mempergunakan akar ini
untuk mengobati sakitmu itu?”
“Tak ada gunanya,” jawab
orang bongkok itu. Mahisa Agni dapat mendengar kata-katanya dengan jelas.
Meskipun kedua ujung telunjuknya masih melekat di telinganya, namun ia berusaha
untuk mendengar jawaban Buyut Wangon itu.
“Bukankah Ki Sanak ingin
menolongku dengan mempergunakan akar itu dahulu kemudian akar itu tetap kau
miliki? Tidak bisa. Tidak bisa Ki Sanak. Sebab kami harus menyayat akar itu
lumat-lumat. Kemudian setiap orang yang sakit harus menelan meskipun hanya
sebagian kecil dari akar itu. Akar itu akan kami lumatkan dan kami aduk dengan
air sebanyak-banyaknya sehingga setiap orang dapat minum air itu sebagai obat
penyakitnya.”
“Gila!” teriak Mahisa
Agni, “Jadi kau ingin merampas akar ini?”
“Tidak,” sahut orang itu
cepat-cepat, “aku hanya mengatakan demikian.”
“Jangan berbicara lagi!”
perintah Mahisa Agni.
“Tidak. Aku tidak akan
berbicara lagi. Tetapi aku ingin menjelaskan. Aku sama sekali sudah tidak
bernafsu lagi memiliki akar wregu itu. Milikilah, karena padamu pun wregu itu
memiliki nilai kegunaan yang tinggi. Dengan kesaktian yang akan kau peroleh, kau
akan dapat melakukan pengabdian pada kemanusiaan. Kau akan dapat menolong sesama
yang mengalami kesulitan-kesulitan dan kau akan melakukan tindakan
perikemanusiaan. Karena itu aku sekali lagi mengucapkan selamat padamu. Kalau
kau tak mau pergi ke Wangon pun tak apa pula. Sebab di sana kau mungkin juga
tinggal akan menemui mayat-mayat mereka.”
Kembali Mahisa Agni
terdiam. Dan tiba-tiba perjuangan di dalam dadanya menjadi dahsyat. Mahisa Agni
telah mengalami berbagai rintangan dalam perjalanannya. Ia harus bertempur
dengan orang-orang jahat, dengan binatang-binatang buas sampai yang terakhir
dengan Empu Pedek. Semuanya dapat di atasi dengan penuh tekad dan hasrat untuk
melaksanakan perintah gurunya dan demi masa depannya.
Namun ketika ia harus
berhadapan dengan lawan yang terakhir maka Mahisa Agni menjadi seakan-akan
lumpuh. Kini ia tidak bertempur melawan orang-orang sakti dan binatang-binatang
buas. Tetapi ia harus bertempur melawan perasaan sendiri. Sebagai seorang anak
yang prihatin sejak masa kecilnya, yang merasakan duka derita manusia-manusia
yang sedang mengalami kesulitan-kesulitan, yang telah menerima banyak pelajaran
dan pendidikan mengenai manusia dan kemanusiaan dari gurunya, yang pernah
mendengar cerita tentang ibunya yang membuang diri karena tekanan perasaan yang
menghimpit hati, maka kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi dari
cengkeraman perasaannya.
Dengan akar wregu putih
itu ia masih harus melakukan pengabdian. Ia masih harus mencari persoalan. ia
masih harus menemukan ketidak adilan dan pelanggaran atas sendi-sendi
kemanusiaan untuk ditegakkan dan dibelanya. Ia masih harus mencari lawan, betapa
lawan yang dicarinya itu adalah orang-orang jahat. Dan sekarang kesempatan
pengabdian yang nyata telah ada di hadapannya. Bukankah dengan memberikan akar
wregu putih itu ia telah melakukan pengabdian kepada kemanusiaan dalam bentuk
yang nyata dan langsung. Beribu-ribu orang akan terbebas dari kematian yang
mengerikan. Sakit, semakin lama menjadi semakin lemah, dan akhirnya kematian
menerkamnya. Apakah dengan memiliki akar wregu putih itu kelak ia akan mendapat
kesempatan untuk membela, melindungi atau tindak apapun yang dapat menyelamatkan
jiwa sampai lebih dari seribu orang? Atau malahan dengan akar wregu itu ia akan
menjadi takabur dan menyombongkan diri?”
Pertempuran di dada
Mahisa Agni itu pun menjadi semakin dahsyat. Sekali-kali terbayang wajah gurunya
yang tenang sejuk dan dalam, namun sekali-kali terbayang mayat yang membujur
lintang di antara pekik anak-anak dan bayi yang mencari susu ibunya. Namun
ibunya telah mati, dan perlahan-lahan bayi itu akan mati pula.
Gambaran-gambaran yang
mengerikan semakin lama semakin jelas hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Dan
kini ia benar-benar tidak mampu lagi untuk mengelakkan diri dari
terkaman-terkaman peristiwa-peristiwa yang membayanginya.
Mahisa Agni yang perkasa,
yang mampu bertempur melawan orang-orang sakti dan binatang-binatang buas itu
kini terduduk dengan lemahnya bersandar dinding. Sekali-sekali ia menggelengkan
kepalanya untuk mengusir perasaannya yang telah melumpuhkannya. Namun perasaan
itu telah melekat dengan eratnya pada dinding hatinya.
Ketika terngiang kembali
pesan Buyut Ing Wangon itu kepadanya supaya disampaikan permintaan maafnya
kepada orang-orang Wangon, maka Mahisa Agni menundukkan kepalanya, bahkan
tiba-tiba sepasang tangannya yang kokoh seperti baja itu menutupi wajahnya.
Sebab di dalam dadanya, pesan itu diperpanjangnya sendiri, katanya kepada diri
sendiri di dalam hati, “Buyut Ing Wangon itu gagal dalam usahanya, dan
beribu-ribu orang mengalami bencana, karena seorang anak muda yang bernama
Mahisa Agni telah merampas akar wregu itu untuk membuat dirinya sakti tiada
bandingnya.”
“Oh,” Mahisa Agni
mengeluh. Kini ia tidak tahan lagi melawan perasaannya, sehingga tiba-tiba dari
mulutnya terdengar kata-katanya gemetar, “Ki Buyut Wangon, apakah kau yakin
bahwa akar wregu ini akan dapat menyembuhkan orang-orangmu yang sakit itu?”
“He,” Buyut Wangon itu
terkejut. Namun kemudian terdengar suaranya lemahnya, “aku yakin.”
Sekali lagi mereka berdua
berdiam diri. Dan kembali gua itu dicengkam oleh kesepian yang mengerikan.
“Ki Buyut,” berkata
Mahisa Agni kemudian, “apakah Ki Buyut ingin membuktikannya, bahwa akar wregu
ini akan bermanfaat bagi penyakitmu itu?”
“Tidak Ki Sanak,” jawab
Buyut Wangon itu.
“Kenapa tidak?” Mahisa
Agni menjadi heran.
“Ki Sanak,” jawab orang
bongkok itu, “aku bukan mencari akar wregu itu untukku sendiri. Tak ada gunanya
seandainya aku dapat sembuh karenanya, namun beribu-ribu orang lain akan mati
juga. Karena itu biarkanlah aku di sini.”
Tiba-tiba Mahisa Agni itu
menggeleng. Dan terloncatlah dari bibirnya, “Tidak. Aku tidak dapat membiarkan
kematian-kematian itu.”
“He,” sekali lagi Buyut
Wangon itu terkejut, “apa maksudmu. Ki Sanak?”
Mahisa Agni menarik nafas
panjang. Terdengarlah ia berkata lirih, “Ki Sanak. Bawalah akar ini kembali ke
Wangon. Mudah-mudahan kalian akan benar-benar sembuh karenanya.”
“Apa katamu? Apa katamu?”
orang bongkok itu tiba-tiba bergeser dan dengan susah payah ia berteriak
terbata-bata, “Kau ingin memberikan akar itu kepadaku?”
“Ya,” sahut Agni pendek.
“Oh,” tiba-tiba orang itu
menjadi lemah kembali. “Jangan!” katanya, “jangan. Aku ternyata terlalu
mementingkan kepentinganku sendiri. Milikilah, masa depanmu masih panjang.
Mudah-mudahan jagat yang gumelar ini akan dapat kau miliki dengan kesaktian
itu.”
Tetapi hati Mahisa Agni
menjadi semakin pedih mendengar kata-kata Buyut Wangon itu, jawabnya, “Tidak Ki
Buyut. Betapapun aku akan dapat menggulung dunia seisinya, namun aku tidak akan
dapat melupakan, bahwa aku telah berdiri di atas beribu-ribu mayat yang
seharusnya dapat diselamatkan. Aku akan selalu ingat, bahwa kematian-kematian
itu disebabkan karena keinginanku untuk menjadi seorang yang paling sakti di
dunia. Dan bagiku tebusan itu terlalu mahal, sedangkan manfaatnya masih belum
dapat dipastikan.”
“Oh,” orang itu pun
terdengar menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Apabila demikian Ki
Sanak, maka aku akan mengucapkan terima kasih yang tak ada batasnya. Juga
orang-orang Wangon dan sekitarnya akan berterima kasih pula kepadamu. Karena
itu, apabila benar kau ingin menyerahkan akar wregu itu. Marilah. Aku antarkan
kepadanya. Serahkanlah sendiri akar wregu milikmu itu. Dan kau akan diangkat
menjadi pelindung mereka, atau tetua mereka atau apa saja yang dapat diberikan
kepadamu.”
Mahisa Agni menggeleng
lemah. Jawabnya, “Tidak Ki Sanak. Kau adalah tetua di daerahmu. Bawalah akar ini
kepada mereka.”
“Kenapa kau tak mau
singgah ke Wangon?”
“Tidak. Bawalah. Marilah,
terimalah akar ini.”
Mahisa Agni dengan
lemahnya merangkak maju. Dan dengan tangan yang gemetar dicabutnya akar wregu
itu dari dalam bajunya. Ketika teraba benda itu, kembali ia menjadi ragu-ragu.
Namun ketika kembali bayangan mayat-mayat yang bergelimpangan hadir di dalam
rongga matanya, maka betapapun beratnya, akar wregu putih itu diserahkannya
pula.
“Inilah,” katanya.
Ternyata Buyut Ing Wangon
itu telah benar-benar menjadi sedemikian lemahnya. Tidak saja karena ia
terbanting di lantai gua dan membentur batu-batu padas, namun katanya,
“Penyakitku telah hampir sampai ke otakku. Sesaat lagi aku sudah akan mati.”
“Tidak!” sahut Agni,
“Karena itu cepat, terimalah akar ini. Dan kaulah yang pertama-tama akan tahu
khasiatnya, apakah akar ini benar-benar bermanfaat bagi penyakitmu.”
“Oh,” jawab Buyut bongkok
itu, “kau benar. Marilah, aku terima akar itu dengan mengucap syukur kepada Yang
Maha Agung.”
Tangan Buyut Wangon yang
sangat lemah itu pun bergerak-gerak menggapai akar yang diberikan Mahisa Agni
kepadanya. Demikian ia menyentuh benda itu, maka katanya, “Tolong Ki Sanak,
uraikan pembalutnya.”
Mahisa Agni pun memenuhi
permintaan itu. Dan diberikannya kemudian akar wregu putih itu kepada Buyut
Wangon yang sudah sedemikian lemahnya.
Dengan serta-merta,
tangan yang lemah dan gemetar itu telah membawa akar wregu putih itu ke
mulutnya. Digigitnya ujung akar itu sedikit. Dan bergumamlah Buyut Ing Wangon
itu, “Alangkah pahitnya.”
Mahisa Agni tidak
menyahut sepatah kata pun. Dibiarkannya Buyut Ing Wangon itu mengunyah sepotong
serat yang kecil, sekecil sebutir beras. Dengan berdebar-debar ia menunggu,
apakah akar itu benar-benar akan berpengaruh bagi penyakit yang aneh itu.
Sesaat kemudian Mahisa
Agni dicengkam oleh ketegangan. Kali ini bukan karena ia takut kehilangan akar
wregu putih itu, namun ia ingin menyaksikan, apa yang akan terjadi dengan Ki
Buyut Wangon itu.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni mendengar Buyut Ing Wangon itu berdesis, kemudian terdengar ia bergumam,
“Perutku dan seluruh tubuhku terasa dijalari oleh arus yang panas.”
Mahisa Agni tidak
menyahut. Ia tidak tahu, apakah arus panas di dalam tubuh Buyut Wangon itu
menguntungkan atau bahkan sebaliknya. Karena itu ia masih berdiam diri dan
memandangi bayangan Buyut Ing Wangon itu dengan wajah yang tegang.
Sesaat kemudian terdengar
Buyut Wangon itu berdesis. Tetapi kemudian, kembali ia mengeluh, “Alangkah
panasnya.”
Mahisa Agni ikut menjadi
gelisah karenanya. Namun ia ikut pula berdoa di dalam hatinya, “Mudah-mudahan
akar wregu itu benar-benar dapat menolongnya.”
Gua itu kemudian
seakan-akan telah tenggelam ke dalam kesepian yang tegang. Hanya kadang-kadang
Mahisa Agni melihat Buyut Ing Wangon itu menggeliat, namun kemudian diam
kembali. Hanya nafasnya sajalah yang terdengar berkejaran dari lubang hidungnya.
Dengan demikian Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah cemas. Jangan-jangan akar
wregu putih itu telah menambah sakit Buyut dari Wangon menjadi bertambah parah.
Tetapi kemudian Mahisa
Agni terkejut, ketika terdengar Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Dan
terdengarlah ia berkata, “Alangkah segarnya tubuhku kini.”
Mahisa Agni menggeser
maju. Terdengar ia bertanya, “Apakah keadaan Ki Buyut menjadi berangsur baik?”
“Ya,” jawab Ki Buyut,
“aku menjadi baik kembali. Setidak-tidaknya sakitku tidak menjadi bertambah
parah. Tetapi aku rasa bahwa sebagian kekuatanku justru telah pulih kembali.”
“Syukurlah,” desis Mahisa
Agni, “mudah-mudahan akar itu bermanfaat bagi Ki Buyut. Nah, selagi masih ada
kesempatan. Pulanglah ke Wangon dan selamatkanlah orang-orang di daerah itu.”
“Terima kasih,” sahut Ki
Buyut, “terima kasih. Namamu akan tetap kami kenangkan, Empu Pedek dari Gunung
Merapi.”
“Oh,” Mahisa Agni
menggeleng, “Aku bukan Empu Pedek dan Gunung Merapi.”
Buyut Ing Wangon itu
terkejut. Katanya, “Bukankah kau sebut namamu Empu Pedek? Dan bukankah kau
katakan kau datang dari kaki Gunung Merapi?”
“Bukan Ki Buyut,” sahut
Mahisa Agni, “aku adalah Mahisa Agni dari kaki Gunung Kawi.”
“Oh,” orang yang bongkok
itu menjadi heran, “jadi siapakah Empu Pedek dari kaki Gunung Merapi?”
“Aku tidak tahu, “ jawab
Mahisa Agni. Namun dengan demikian teringatlah olehnya seorang yang timpang yang
mungkin telah menunggunya di kaki lereng gundul ini. Karena itu maka katanya,
“Ki Buyut, yang kuketahui dengan Empu Pedek itu adalah, bahwa ia telah berusaha
untuk menahan perjalananku. Aku bertempur dengan orang itu di bawah lereng gua
ini.”
“Jadi kau bahkan telah
bertempur dengan orang itu?”
“Ya.”
“Kalau demikian, maka
nama Mahisa Agni akan tetap terpatri di dalam setiap hati penduduk Wangon.
Seorang tukang yang paling cakap akan menulis nama itu di gapura-gapura
padukuhan dan seorang pujangga yang paling baik akan menulis nama itu di
lontar-lontar yang akan disimpan di pura-pura di seluruh daerah Wangon dan
sekitarnya.”
“Jangan!” jawab Mahisa
Agni, “Aku akan bergembira apabila beribu-ribu orang itu akan sembuh. Dan aku
akan bergembira apabila mereka dapat melangsungkan hidup keturunan mereka
seterusnya.”
“Mengagumkan,” desah
Buyut dari Wangon itu.
Mahisa Agni terkejut
ketika ia mendengar Buyut Wangon itu tiba-tiba berkata dengan gemetar, “Sungguh
tak ada duanya. Kau benar-benar manusia yang terpuji.”
“Jangan memuji,” sahut
Mahisa Agni, dan kemudian dilanjutkannya, “Nah, sebaiknya, apabila Ki Buyut
telah dapat menempuh perjalanan pulang, pulanglah sebelum terlambat.”
“Baik,” jawab Buyut itu,
“aku akan segera pulang. Mudah-mudahan aku tidak terlambat. Apabila aku
terlambat, maka aku akan mengembalikan akar wregu putih ini kepadamu. Aku cari
kau ke kaki Gunung Kawi. Apakah nama padukuhanmu?”
“Panawijen,” jawab Mahisa
Agni tanpa sesadarnya.
Buyut Wangon itu pun
perlahan-lahan mencoba untuk berdiri. Dan ternyata ia berhasil. Bahkan kemudian
katanya, “Aku telah dapat berjalan seperti pada saat aku datang kemari.”
“Syukurlah,” sahut Mahisa
Agni.
Buyut dari Wangon itu pun
kemudian berjalan terbongkok-bongkok ke arah mulut gua. Seperti orang yang
kehilangan kesadaran, Mahisa Agni mengikutinya dari belakang. Mereka
berjalan-jalan menyusur jalan yang mereka lalui semula. Namun kini
perlahan-lahan sekali. Sebab orang bongkok itu benar-benar tak dapat berjalan
lebih cepat dari seekor siput. Meskipun demikian Mahisa Agni dengan telatennya
berjalan saja di belakangnya.
Perjalanan itu
benar-benar makan waktu yang panjang sekali. Ketika mereka telah sampai di mulut
gua, maka yang mereka lihat hanyalah warna-warna hitam melulu. Hari telah malam.
Ketika Mahisa Agni
melihat orang bongkok itu akan menuruni tebing, maka dicobanya untuk
mencegahnya, “Ki Buyut, adalah lebih baik Ki Buyut menuruni lereng ini besok
pagi, apabila hari telah menjadi terang Adalah berbahaya untuk melakukannya
sekarang.”
Ki Buyut itu menggeleng.
“Tidak,” jawabnya, “aku tidak mau terlambat. Biarlah aku menuruni tebing ini
perlahan-lahan, namun aku tidak banyak kehilangan waktu.”
Buyut itu benar-benar tak
mau dicegah lagi. Karena itu, justru Mahisa Agni tidak sampai hati membiarkannya
turun sendiri. Betapapun sulitnya, maka Agni itu pun turut serta menuruni lereng
yang curam itu pada saat itu juga.
Apalagi perjalanan
menuruni tebing ini. Buyut Ing Wangon itu dengan hati-hatinya merayap setapak
demi setapak. Tubuhnya yang bongkok itu ternyata menambah perjalanannya menjadi
semakin sulit. Mahisa Agni yang merayap di belakangnya kadang-kadang sangat
cemas, dan seakan-akan ingin ia mendukungnya. Tetapi Mahisa Agni itu terperanjat
ketika dengan gembiranya Buyut dari Wangon itu berkata, “Ki Sanak, tubuhku
benar-benar telah pulih kembali. Perjalananku menjadi sangat menggembirakan. Aku
tidak menemui kesulitan-kesulitan apapun.”
“Syukurlah, “sahut Mahisa
Agni.
Namun ternyata perjalanan
itu tidak bertambah cepat. Dalam kegelapan mereka hanya dapat mengenal jalan
dengan meraba-raba dan kadang-kadang mereka terpaksa berhenti untuk beberapa
lama.
Menuruni tebing yang
curam di malam hari adalah pekerjaan yang cukup berbahaya. Namun untunglah mata
Mahisa Agni yang terlatih itu cukup tajam untuk melihat batu-batu padas yang
menjorok di sekitarnya sehingga betapapun sulitnya, tetapi ia dapat juga
mempergunakan setiap keadaan untuk mempermudah penurunan itu. Meskipun demikian,
Mahisa Agni tidak dapat turun lebih cepat lagi. Buyut Ing Wangon itu benar-benar
merayap lambat sekali. Tetapi Mahisa Agni pun dapat menyadari keadaannya.
Seorang yang telah lanjut usia, bertubuh bongkok dan baru saja ia kehilangan
hampir segenap kekuatannya. Apalagi orang itu sama sekali tidak memiliki
kelebihan apapun dari manusia biasa. Ia tidak mempelajari apapun tentang
keterampilan jasmaniah, sehingga untuk melakukan pekerjaannya itu, ia harus
bekerja, dengan penuh ketekunan dan tekad. Inilah yang mengagumkan Mahisa Agni.
Ternyata tekad yang tersimpan di dalam dada orang Wangon itu pun tidak kalah
bulatnya dari tekad yang tersimpan di dalam dadanya. Sehingga betapapun sulitnya
perjalanan, namun Buyut dari Wangon itu sampai juga ke dalam gua. Dan tekad itu
ternyata juga pada saat mereka menuruni tebing itu. Perjalanan itu pun
memerlukan waktu yang sangat panjang. Tetapi Buyut dari Wangon itu berjalan
terus, seakan-akan ia tidak mengenal lelah dan tidak menemui kesulitan-kesulitan
apapun.
Demikian, meskipun
lambat, akhirnya mereka sampai juga di bawah lereng gundul itu. Mengagumkan
sekali. Bahkan hampir-hampir Mahisa Agni tidak percaya, bahwa orang bongkok itu
telah berhasil melampaui perjalanan yang sedemikian sulitnya di malam hari.
Sehingga dengan demikian Mahisa Agni bergumam, “Luar biasa, Ki Buyut. Ternyata
Ki Buyut memiliki tenaga yang luar biasa pula.”
“Tidak Ki Sanak.
Untunglah bahwa aku mencoba memperhatikan setiap lekuk dan batu-batu padas yang
menjorok, sehingga aku dapat memilih jalan meskipun malam begini gelap.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Nah, apakah yang
akan Ki Buyut lakukan?”
“Aku akan berjalan
kembali ke Wangon,” jawab orang bongkok itu, “Dan sekali lagi aku ingin
mempersilakan Ki Sanak untuk datang ke padukuhan itu. Mudah-mudahan kedatangan
Ki Sanak akan sangat menggembirakan kami.”
Kembali terasa debar
jantung Mahisa Agni bertambah cepat. Sebenarnya betapa ia ingin melihat,
orang-orang sakit di Wangon menjadi sembuh kembali. Ia hanya ingin melihatnya,
dan sama sekali ia tidak ingin mendapat penghormatan apapun dari mereka. Namun
ketika kemudian terbayang wajah gurunya yang sayu seperti pada saat gurunya itu
melepaskannya pergi, maka segera ia mengurungkan niatnya. Katanya, “Ki Buyut.
Sayang aku tak dapat memenuhi permintaan Ki Buyut. Aku harus segera kembali
kepada guruku. Melaporkan apa yang terjadi, dan menunggu apa yang akan
ditentukan bagiku karena aku tidak berhasil membawa akar wregu putih itu
untuknya.”
“Oh,” desis Buyut Ing
Wangon, “kalau demikian, biarlah akar ini aku serahkan kembali kepadamu.”
“Tidak. Tidak!” sahut
Agni cepat-cepat, “bukan maksudku demikian. Biarlah orang-orangmu menjadi sembuh
dan aku pun akan ikut berbahagia karenanya.”
“Terima kasih,” terdengar
suara Buyut Wangon itu bergetar, “kalau demikian, biarlah Ki Sanak pergi ke
Wangon setiap saat yang kau kehendaki.”
“Biarlah demikian,” jawab
Agni, “suatu saat apabila ada kesempatan, aku akan mengunjungi Wangon.”
“Baiklah aku memberimu
beberapa petunjuk.”
“Jangan sekarang,” pinta
Agni.
Buyut Wangon itu menjadi
heran. Namun terdengar Agni berkata, “Setiap saat pendirianku dapat
berubah-ubah. Karena itu biarlah aku tidak tahu, di manakah letak padukuhan itu,
supaya apabila kelak hatiku digelapkan oleh persoalan-persoalan yang timbul
kemudian, aku tidak pergi ke padukuhan itu untuk merampas kembali akar wregu itu
dari tanganmu. Seandainya aku akan berbuat demikian, maka aku akan memerlukan
waktu yang panjang untuk menemukan padukuhan itu, sehingga aku akan terlambat
karenanya.”
“Jangan berpikir begitu,”
sahut Buyut Ing Wangon, “Ki Sanak seharusnya mempunyai kepercayaan kepada diri.
Dan Ki Sanak sebenarnya seorang yang sebaik-baiknya yang pernah aku temui.”
“Pergilah Ki Buyut!”
potong Mahisa Agni, “Pergilah! Supaya aku tidak mengubah pendirianku.”
Buyut Wangon itu
mengerutkan keningnya. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah Ki
Sanak, baiklah. Sebentar lagi akan datang fajar. Tetapi biarlah aku pergi
meninggalkan tempat ini dengan penuh kekaguman di dalam hati. Aku tak akan
melupakan kau.”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Namun terasa kepalanya menjadi pening dan tubuhnya seakan-akan menjadi
lemah sekali. Betapa pikirannya menjadi bergolak. Akar wregu itu ternyata tidak
berhasil dimilikinya. Meskipun demikian ketika Buyut Wangon itu berjalan ke arah
timur sempat juga ia berkata, “Jangan tempuh perjalanan itu. Kau akan bertemu
dengan Empu Pedek. Biarlah aku lewat jalan itu. Dan biarlah Empu Pedek
mencegatku. Dengan demikian kau akan selamat dari tangannya.”
Buyut Wangon itu berhenti
sesaat, kemudian ia berpaling. Dari matanya memancar sebuah pertanyaan. Namun
sebelum pertanyaan itu terucapkan berkatalah Mahisa Agni, “Ki Buyut, carilah
jalan yang lain. Di jalan itulah kemarin aku bertempur dengan Empu Pedek. Adalah
suatu kemungkinan bahwa ia mencoba mencegat aku pula untuk merampas akar wregu
itu. Karena itu, ambillah jalan yang lain.”
Buyut dari Wangon itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar suara Buyut
tua itu bergetar, “Luar biasa. Apakah Angger masih akan mengorbankan diri sekali
lagi untuk kepentinganku? Ki Sanak, kenapa kita tidak ber-sama-sama saja mencari
jalan lain?”
“Tidak,” sahut Mahisa
Agni, “kalau Empu Pedek itu tidak melihat aku lewat, maka ia pasti akan mencari
aku di segenap sudut hutan ini. Tetapi apabila sudah ditemukannya aku, maka ia
tidak akan mencari orang lain.”
“Terima kasih. Terima
kasih Ki Sanak,” desis Buyuti ng Wangon yang kemudian dengan tersuruk-suruk ia
membelok menyelinap di antara batang alang-alang sambil berkata, “Biarlah aku
menempuh jalan ini. Mudah-mudahan aku tidak akan tersesat. Besok kalau matahari
sudah terbit aku akan tahu dengan pasti, ke mana aku harus pergi. Sebab Wangon
terletak tepat pada garis antara matahari terbit dan ujung Gunung Semeru itu
pada bulan ini.”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Ia melihat Buyut Ing Wangon itu hilang di antara batang-batang ilalang
dan gerumbul-gerumbul perdu. Namun pada saat itu pula terasa dadanya bergelora.
Akar wregu putih itu pun lenyap pula bersama lenyapnya Buyut Ing Wangon.
Mahisa Agni itu pun
kemudian dengan lemahnya duduk di atas batu padas di kaki lereng gundul itu.
Kembali kedua tangannya yang kokoh kuat itu menutupi wajahnya. Perlahan-lahan
terdengar anak muda itu menggeram, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak dapat membawa
akar wregu itu kembali, karena aku tidak berhasil dalam perjuanganku melawan
perasaanku.”
Angin yang basah bertiup
di antara daun-daun perdu dan batang-batang ilalang yang liar. Terdengar di
kejauhan suara-suara burung malam bersahut-sahutan.
Namun Mahisa Agni masih
duduk tepekur di atas batu padas itu. Berbagai persoalan datang pergi di dalam
kepalanya. Riuh seperti angin yang kencang bertiup berputaran. Sekali-kali
tampak kabut yang lebat bergulung-gulung, namun di kali lain beterbanganlah
daun-daun yang berguguran dari batang-batangnya. Semakin lama semakin kencang,
semakin kencang. Dan Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba di kejauhan terdengar
aum harimau lapar.
Mahisa Agni mengangkat
wajahnya. “Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam, “Bagaimanakah kalau Buyut Ing
Wangon itu bertemu dengan harimau itu?”
“Ah,” pertanyaan itu
dijawabnya sendiri, “ia sudah selamat sampai ke tempat ini. Ia pun akan selamat
juga sampai ke padukuhannya kembali”
—–
Perlahan-lahan terdengar anak muda itu menggeram, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak
dapat membawa akar wregu itu kembali, karena aku tidak berhasil dalam
perjuanganku melawan perasaanku.”
—–
Dan kini kembali Mahisa
Agni merenungi dirinya sendiri. Terasalah kini betapa penat dan lelahnya setelah
ia menempuh pendakian dan kemudian turun kembali dalam ketinggian yang cukup
besar. Juga kini mulai terasa, betapa lapar dan hausnya.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni berdiri dan berjalan ke tempat ia menyimpan bungkusannya. Ia menarik nafas
lega, ketika bungkusannya masih ditemukannya utuh seperti pada saat
ditinggalkan. Ketika bungkusan itu dibukanya, maka masih didapatinya beberapa
macam buah-buahan. Tetapi sebagian besar di antaranya telah tidak dapat
dimakannya lagi. Meskipun demikian, satu dua ia masih juga menemukan di
antaranya, yang masih baik untuk mengurangi hausnya.
Ketika Mahisa Agni
kemudian menengadahkan wajahnya, dilihatnya warna merah telah membayang di wajah
langit. Tanpa sesadarnya, tiba-tiba saja ia mengharap supaya fajar lekas
menyingsing. Namun agaknya ia tidak sabar lagi menunggu di tempat yang sesepi
itu. Setelah selesai dengan membenahi bungkusannya, kembali Mahisa Agni
menyangkutkan bungkusannya itu di ujung tongkat kayunya. Dan kembali Mahisa Agni
melangkahkan kakinya. Namun kini ia berjalan dengan lesunya. Menempuh perjalanan
yang berlawanan dengan jalan yang telah dilaluinya dengan gairah dan tekad yang
bulat untuk menemukan akar wregu putih sebagai pelengkap pusakanya, untuk
menjadikannya seorang manusia yang sakti pilih tanding. Tetapi kini ia berjalan
kembali masih seperti pada saat ia berangkat. Ia sama sekali tidak akan menjadi
seorang yang sakti. Apalagi maha sakti.
Namun apabila diingatnya,
bahwa dengan demikian ia telah berusaha untuk menegakkan kemanusiaan, maka
hatinya menjadi tenteram. Biarlah ia melepaskan cita-citanya untuk menjadi
seorang yang pilih tanding, namun keseimbangan dari kegagalannya itu pun cukup
memadainya.
Demikian maka Mahisa Agni
berjalan terus. Kini kerisnya tidak lagi dimasukkan ke dalam bungkusannya.
Bahkan sekali-sekali tangannya melekat di hulu kerisnya itu sambil berbisik,
“Akhirnya aku mempercayakan diriku kepada tuntunan Yang Maha Agung, kepada
karunia yang telah aku miliki sampai kini. Biarlah dimiliki yang menjadi hak
orang lain, dan biarlah aku miliki yang menjadi hakku.”
Tetapi Kini Mahisa Agni
harus berhati-hati. Ia hampir sampai ke tempat di mana Empu Pedek kemarin
mencegatnya. Mungkin orang timpang itu kini telah bergeser maju dari tempatnya
semula. Mungkin pula ia telah pergi. Namun sebagai seorang yang telah
berbulan-bulan menunggu, pasti ia sampai saat ini menunggunya pula. Mungkin
tidak sendiri.
Dan tiba-tiba langkah
Mahisa Agni itu pun terhenti. Ia mendengar suara gemeresik daun di sekitarnya.
Karena itu segera ia mempertajam telinganya. Dan ternyata pendengarannya itu
telah meyakinkannya, bahwa seseorang berada dibalik daun-daunan yang rimbun.
Mahisa Agni itu pun segera mempersiapkan dirinya. Diletakkannya bungkusan serta
tongkat kayunya, dan ditengadahkannya dadanya. Meskipun tempatnya berbeda, namun
yang pertama-tama terlintas di otak adalah Empu Pedek.
Beberapa saat Mahisa Agni
menanti. Dengan penuh kewaspadaan diamat-amatinya setiap gerumbul yang ada di
sekitarnya. Tetapi suara itu pun lenyap, seolah-olah hanyut dibawa angin malam.
Meskipun demikian, namun
telah diketahuinya, bahwa seseorang telah mengintip perjalaannya. Karena itu ia
harus sangat ber-hati-hati. Timbul niatnya untuk menunggu sampai matahari
memancarkan wajahnya di pagi yang cerah nanti. Namun Mahisa Agni justru menjadi
gelisah. Karena itu, meskipun lambat dan penuh dengan kewaspadaan ia berjalan
juga. Namun firasatnya telah menuntunnya untuk menjauhi setiap daun-daun yang
rimbun dan setiap pohon-pohon yang besar.
Kini Mahisa Agni tidak
membawa bungkusannya di ujung tongkatnya, namun disangkutkannya bungkusan itu di
pundak kirinya, sedang tangan kanannya memegangi tongkatnya. Setiap saat tongkat
kayu itu dapat diayunkannya untuk mempertahankan diri apabila seseorang dengan
tiba-tiba menyerangnya.
Tetapi untuk beberapa
saat Mahisa Agni tidak mendengar suara apapun lagi. Betapa ia mempertajam
pendengarannya yang telah terlatih baik, namun yang didengarnya hanyalah
gemeresik angin. Meskipun demikian Mahisa Agni sama sekali tidak lengah
seandainya bahaya dengan tiba-tiba datang menerkamnya.
Anak muda itu menerik
nafas dalam-dalam ketika dilihatnya samar-samar warna-warna yang cerah di balik
dedaunan. Ketika ia berpaling, alangkah cerahnya ujung Gunung Semeru itu. Hijau
kemerah-merahan oleh sinar-sinar yang pertama dari matahari yang bangkit dari
tidurnya.
Langkah Mahisa Agni pun
terhenti. Dipandanginya puncak Gunung Semeru itu dengan penuh kekaguman. Dan
terasa pula kesegaran pagi mengusap tubuhnya yang letih.
Kini Mahisa Agni itu pun
benar-benar ingin beristirahat. Hutan itu sudah tidak terlalu sepi. Hampir di
setiap dahan Mahisa Agni melihat burung-burung bermain dan bernyanyi. Betapa
riangnya. Tetapi apabila diingat akan dirinya, maka Mahisa Agni itu pun mengeluh
di dalam hatinya. Namun dicobanya juga melupakan segala-galanya dan dicobanya
menikmati kecerahan pagi yang segar itu.
Sesaat lagi ia akan
sampai ke sebuah dataran yang agak luas. Namun hatinya berdesir ketika sekali
lagi diingatnya orang timpang yang bernama Empu Pedek.
Dan dada Mahisa Agni itu
pun berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gemeresik halus di sampingnya.
cepat-cepat ia tegak berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh kuat.
Diletakkannya bungkusannya dan tongkatnya sekali. Dengan cermat diamatinya
setiap lebar daun di sekitarnya. Dan sekali lagi desir di dadanya itu menyentuh
jantungnya, ketika dilihatnya daun-daun yang bergoyang-goyang dengan kerasnya.
Kini Mahisa Agni menjadi pasti, di balik daun itulah seseorang telah
mengintipnya. Karena itu ia tidak mau berteka-teki lagi. Ia ingin segera
menyelesaikan persoalannya. Mungkin dengan Empu Pedek, mungkin dengan orang
lain. Maka terdengarlah anak muda itu berkata lantang, “He, siapakah kau.
Marilah, aku telah menunggumu.”
Suara Mahisa Agni itu pun
kemudian terpantul oleh dinding-dinding batu padas di lereng gunung dan oleh
batang-batang pohon yang rapat, seakan-akan melingkar-lingkar di dalam hutan.
Namun sesaat kemudian suara gemanya berangsur-angsur lenyap.
Namun tak seorang pun
yang menjawab.
Tetapi tiba-tiba Mahisa
Agni itu pun terkejut bukan buatan. Hampir ia tidak percaya akan telinganya.
Didengarnya dari balik gerumbul itu suara batuk-batuk beberapa kali. Suara yang
telah dikenalnya baik-baik. Sehingga dengan demikian dada Mahisa Agni itu pun
menjadi berdebar-debar.
Dan apa yang disangkanya
itu ternyata benar-benar terjadi. Dari balik gerumbul itu muncullah seorang tua
dengan wajah dalam yang bening. Dari bibirnya terbayanglah senyumnya yang segar.
Sesaat Mahisa Agni
terpaku, di tempatnya. Sama sekali tak disangka-sangkanya bahwa akan dijumpainya
orang itu di tempat itu. Terasa seakan-akan seluruh isi dadanya bergelora, dan
hampir segenap tubuhnya bergetar.
Ketika orang itu
mengangguk-anggukkan kepalanya, Mahisa Agni segera meloncat maju sambil berlutut
di hadapannya. Desahnya, “Guru.”
Orang itu adalah Empu
Purwa. Diangkatnya Mahisa Agni untuk berdiri. Katanya, “Ya Agni. Bagaimana
dengan keadaanmu?”
“Baik Empu,” jawab Agni,
“aku selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”
Empu Purwa itu pun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dituntunnya Mahisa Agni seperti
anak-anak yang sedang belajar berjalan. Diajaknya ia duduk di atas batu padas.
“Kau tampak letih sekali
Agni,” berkata gurunya.
Mahisa Agni mengangguk,
jawabnya, “Ya, Guru.”
“Tetapi aku bergembira
bahwa kau selamat. Aku ingin melihatmu ke dalam gua. Sebab aku menjadi cemas,
ketika kau terlalu lama belum juga kembali. Tetapi ternyata aku berpapasan
denganmu hampir sampai di kaki lereng gundul itu. Dan aku mengikutimu sampai di
sini.”
Perkataan gurunya itu
telah menggores jantung Mahisa Agni. Segera disadarinya, bahwa ia tidak berhasil
membawa kembali akar wregu putih itu. Karena itu, kini segenap tubuhnya menjadi
basah oleh peluh yang dingin. Namun ia masih belum dapat mengatakan sesuatu.
“Agni,” berkata gurunya
kemudian, “aku menjadi lebih bergembira lagi ketika aku melihat bahwa kau telah
pergi meninggalkan gua itu. Bukankah dengan demikian aku akan dapat
membanggakanmu?”
Kini wajah Mahisa Agni
tertunduk lesu. Dikenangnya segalanya yang pernah terjadi dalam perjalanannya.
Ditentangnya jurang dan ngarai. Dilawannya alam yang keras dan dilawannya pula
semua rintangan yang menghalanginya. Orang-orang jahat dan binatang buas.
Semuanya berhasil diatasinya. Namun, lawan yang tak dapat ditundukkan adalah
perasaannya sendiri. Karena itu, maka gelora di dalam dadanya itu pun menjadi
semakin gemuruh.
Apakah yang akan dapat
dikatakan kepada gurunya? Ternyata ia lebih mementingkan perasaan sendiri
daripada perintah gurunya itu. Namun kemudian timbul pula niatnya untuk berkata
berterus terang. Gurunya adalah seorang manusia yang baik, seperti apa yang
selalu diajarkan kepadanya. Apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Kasih
mengasihi antara sesama, sebagai pancaran kasih dari Yang Maha Agung. Meskipun
demikian getaran di dadanya menjadi semakin deras, ketika ia mendengar gurunya
itu bertanya, “Agni, apakah benar dugaanku bahwa kau telah berhasil mendaki gua
itu?”
Sesaat Agni memandang
wajah gurunya. Wajah yang dalam dan bening. Karena itu timbullah harapannya,
bahwa gurunya tidak akan marah kepadanya.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni menundukkan wajahnya kembali, dan dengan lemahnya ia mengangguk sambil
menjawab lirih, “Ya, Guru.”
“Syukur, Syukurlah kalau
kau telah berhasil mendaki gua itu,” gumam gurunya sambil menepuk pundak
muridnya. Namun dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tegang. Dan berdesirlah
dadanya seolah-olah sebuah goresan sembilu menyentuh hatinya, ketika ia
mendengar gurunya itu bertanya, “Apakah akar wregu putih itu masih kau temukan?”
Mulut Mahisa Agni itu
serasa terbungkam oleh gelora yang berkecamuk di dalam dadanya. Dan karena itu
maka tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Wajah yang tunduk menjadi semakin dalam
menekuri batu-batu di bawah kakinya. Karena itu ia tidak segera menjawab,
sehingga Empu Purwa mengulanginya, “Bagaimanakah anakku. Apakah kau masih
menemukan akar wregu itu?”
Gemuruh di dada Mahisa
Agni serasa akan memecahkan jantungnya. Hampir saja Mahisa Agni berdusta. Ingin
ia mengatakan bahwa akar wregu putih itu sudah tidak ada di tempatnya. Namun
kejujurannya telah melawannya sehingga betapapun beratnya, ia harus mengatakan
apa yang dilihat dan dialaminya. Maka dengan tegangnya ia menjawab, “Ya, Guru.”
“Oh,” sahut gurunya,
“Syukurlah, Syukurlah. Jadi kau masih menemukan akar wregu itu di dalam gua?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Pasti!” berkata gurunya,
“Akar itu pasti masih di sana. Sebab tak seorang pun yang mengetahui, selain
aku, bahwa akar itu ada di dalam gua.”
Empu Purwa itu terkejut
ketika Mahisa Agni menjawab, “Tidak, Guru. Ternyata ada orang lain yang
mengetahuinya pula.”
“Orang lain?” ulang Empu
Purwa.
“Ya,” jawab Agni,
“seorang dari Gunung Merapi, seorang bernama Empu Pedek dan seorang Buyut dari
Wangon.”
Empu Purwa itu mengangkat
keningnya. Tampaklah beberapa kerut di dahinya semakin nyata. Namun agaknya ia
tidak ingin mempersoalkan orang-orang yang juga mengetahui akar wregu putih itu.
Karena itu katanya, “Ah, biarlah orang-orang itu mengetahuinya. Namun asal kau
masih sempat menemukan akar wregu putih itu.”
Kata-kata itu benar-benar
menampar dada Mahisa Agni. Sebuah getaran yang keras telah mengguncangkan
jantungnya. Kini ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Mahisa Agni itu pun
kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di muka dadanya. Sambil
membungkukkan badannya ia berkata dengan suara yang gemetar, “Maafkan Guru. Aku
ternyata tidak dapat memenuhi perintah guru. Membawa akar wregu putih itu
kembali ke padepokan Panawijen.”
Sesaat mereka berdua
tenggelam dalam kesepian. Mahisa Agni masih menundukkan wajahnya. Ia menunggu
apa yang akan dikatakan oleh gurunya. Apa saja. Ia akan menerima keputusan itu
dengan ikhlas. Baru kemudian akan dikatakannya, alasan-alasan yang telah
memaksanya untuk menyerahkan akar wregu itu kepada orang lain. Bukan karena
kekerasan, dan bukan pula karena ketakutannya menghadapi bahaya. Ia telah
mengalahkan semua rintangan, kecuali satu yang justru datang dari dirinya
sendiri.
Perlahan-lahan ia
mendengar gurunya bertanya, “Kenapa Agni?”
Mahisa Agni menjadi
heran. Ketika ia mencoba mencuri pandang wajah gurunya, ia pun menjadi semakin
heran. Wajah itu masih saja dalam dan bening. Ia tidak mendapat kesan bahwa
gurunya terkejut dan marah kepadanya. Dan ia tidak tahu, keadaan apakah yang
sebenarnya sedang dihadapinya. Apakah gurunya sedang mempertimbangkan
alasan-alasan yang harus dikemukakan, ataukah gurunya sedang mencoba menahan
diri. Namun kini gurunya itu bertanya, kenapa.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Dicobanya untuk mengatur perasaannya supaya ia dapat mengatakan
segala sesuatu dengan teratur dan dimengerti. Baru kemudian setelah hatinya
menjadi tenang, maka diceritakannya kepada gurunya itu, apa yang dialaminya
sejak ia meninggalkan padukuhan Panawijen. Perjalanan yang berat, namun penuh
dengan gairah untuk menyelesaikannya. Ditantangnya kekerasan alam dan
ditantangnya kekerasan manusia. Akhirnya sampailah cerita Mahisa Agni kepada
seseorang yang datang dari Wangon, yang menyebut dirinya Buyut dari Wangon.
Seorang tua yang bongkok dan berjalan tersuruk-suruk. Namun tekadnya jauh
melalui keadaan jasmaniahnya. Betapa teguhnya kemauan yang tersimpan di dalam
dada orang itu, sehingga betapapun ia merasa dirinya tidak mampu melawan dalam
tindak kekerasan, namun orang itu dengan beraninya telah memeluk kakinya untuk
mencoba menahannya.
“Aku mengaguminya,”
berkata Mahisa Agni, “mengagumi tekadnya dan hasrat kemanusiaannya, di samping
tanggung jawabnya atas kewajibannya. Hidup dan mati beribu-ribu orang tergantung
kepadanya. Kepada akar wregu putih itu. Dan ternyata orang itu telah memasuki
gua tempat penyimpanan akar itu. Beberapa langkah lagi ia akan berhasil
menyelamatkan beribu-ribu orang itu. Pada saat harapannya telah memenuhi
dadanya, bukan saja harapan baginya, namun harapan bagi beribu-ribu orang itu,
maka datanglah Mahisa Agni itu. Aku. Guru, aku tidak sampai hati merampas
harapan itu. Merampas harapan beribu-ribu orang untuk memperpanjang hidupnya.
Mahisa Agni berhenti
sesaat. Terasa seluruh tubuhnya menjadi basah, dan detak jantungnya menjadi
semakin cepat. Namun ia tidak dapat meraba, bagaimanakah tanggapan gurunya atas
peristiwa itu. Ketika sekali lagi ia mencoba memandang wajah gurunya, wajah itu
masih saja sebening semula.
Dengan nafas yang
terengah-engah Mahisa Agni meneruskan, “Itulah, Bapa. Buyut Ing Wangon telah
berhasil merampas akar wregu putih itu tidak dengan kekerasan. Hatiku luluh
ketika aku mendengar ia bertanya, apakah kekerasan yang dapat menentukan
segala-galanya. Apakah hanya dengan kekerasan kita harus menilai semoa
persoalan?”
“Bapa, Buyut Ing Wangon
itu bertanya, apakah kepentinganku dengan akar wregu putih itu? Seandainya akar
itu mempunyai nilai yang lebih besar padaku, maka dengan ikhlas Buyut Ing Wangon
itu akan menyerahkannya, namun apabila nilai akar itu lebih bermanfaat padanya,
maka ia minta akar itu untuk dibawanya. Aku diajaknya untuk menilainya dengan
wajar. Manfaatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Dan manfaat itulah yang akan
menentukan. Bukan kekerasan, bukan kemenangan jasmaniah. Bukan perkelahian dan
pertempuran.”
Kembali Mahisa Agni
berhenti. Dan peluh yang dingin masih saja mengalir membasahi tubuhnya,
pakaiannya dan batu padas tempat duduknya. Angin yang lembut masih juga mengalir
perlahan-lahan. Dan jauh di sebelah selatan dilihatnya awan yang putih seputih
kapas terbang di atas kehijauan hutan dan lembah.
Yang terdengar kemudian
adalah kata-kata lembut Empu Purwa, selembut angin dari lembah, “Agni, jadi kau
tidak berhasil mendapatkan akar wregu itu?”
“Ampun, Guru,” jawab
Agni, “aku gagal menjalankan tugasku kali ini. Aku tidak sampai hati.”
Empu Purwa menarik nafas
dalam-dalam. Ditatapnya awan yang bertebaran di langit dan di pandangnya puncak
Gunung Semeru yang menjadi semakin cerah. Kemudian terdengarlah ia bertanya,
“Apakah kau masih akan dapat mengenal Empu Pedek dan Buyut Ing Wangon itu
apabila kau bertemu?”
Mahisa Agni berpikir
sejenak. Kemudian jawabnya, “Kedua-duanya memiliki kekhususannya, Bapa. Empu
Pedek itu ternyata timpang dan Buyut Ing Wangon itu bongkok.”
“Apakah kau tahu letak
padukuhan Wangon?”
Mahisa Agni menggeleng.
Namun hatinya menjadi berdebat. Apakah gurunya akan pergi sendiri mengambil akar
itu dari Wangon? Maka terdengar ia menjawab, “Tidak guru. Aku menghindari
petunjuk tentang padukuhan itu. Aku takut kalau pendirianku akan berubah. Dan
beribu-ribu orang itu tidak tertolong lagi karenanya.”
Kembali mereka berdua
terdiam. Dan kembali suara burung-burung di dahan-dahan menjadi semakin nyata.
Melengking dengan riangnya. Seriang daun-daun yang menari-nari ditiup angin
pagi. Namun hati Mahisa Agni tidak ikut serta menari-nari bersama angin pagi.
“Agni,” berkata Empu
Purwa kemudian, “apakah kausangka Empu Pedek itu masih belum melepaskan
keinginannya untuk mendapatkan akar wregu putih itu?”
Mahisa Agni menganggukkan
kepalanya, maka jawabnya, “Ya Empu, aku menyangka demikian.”
“Dan bagaimanakah dengan
Buyut dari Wangon itu?”
Mahisa Agni tidak segera
dapat mengetahui maksud gurunya. Buyut dari Wangon itu telah membawa serta akar
wregu putih itu pulang ke padukuhannya. Karena itu ia bertanya, “Apakah maksud
guru dengan Ki Buyut Ing Wangon?”
Mahisa Agni menjadi
bingung ketika dilihatnya gurunya itu tersenyum. Dan terjadilah kemudian hal
yang sama sekali tak disangka-sangka, sehingga Mahisa Agni itu pun terkejut
bukan kepalang. Sejengkal ia bergeser surut, dan dengan sinar mata yang penuh
dengan berbagai persoalan bercampur baur dipandanginya wajah gurunya seolah-olah
baru dikenalnya saat itu. Dan tebersitlah kata-katanya, “Guru, apakah guru telah
mendapatkannya?”
Empu Purwa masih
tersenyum. Katanya kemudian masih sesareh semula, “Agni, bukankah akar wregu ini
yang kaucari?”
—–
Empu Purwa masih tersenyum. Katanya kemudian masih sesareh semula, “Agni,
bukankah akar wregu ini yang kaucari?”
—–
Kini pandangan mata Agni
tertancap kepada sebuah benda di tangan gurunya. Akar wregu putih yang
diperebutkannya dengan Buyut Ing Wangon. Dan ternyata akar itu kini berada di
tangan gurunya. Aneh. Apakah gurunya telah berhasil mencegat Buyut Ing Wangon
dan merampas dari tangannya? Demikianlah beribu-ribu persoalan bergulat di dalam
dada Mahisa Agni. Namun karena itu, maka tak sepatah kata pun yang dapat
diucapkannya.
Yang terdengar kemudian
adalah kata-kata Empu Purwa pula mendesaknya, “Benarkah pengamatanku ini Agni.
Apakah benda ini pula yang kau lihat di dalam gua itu?”
“Ya. Ya Empu,” sahut Agni
terbata-bata. Namun terloncat pula pertanyaannya, “Tetapi bagaimanakah benda itu
dapat sampai di tangan Empu?”
Empu Purwa tersenyum.
Katanya, “Kepada siapa benda ini kau berikan?”
“Kepada orang bongkok
dari Wangon. Buyut Ing Wangon,” sahut Mahisa Agni.
Empu Purwa menarik nafas
dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Sudahlah, jangan
kau risaukan orang lain. Kau sekarang akan berhasil memiliki benda ini. Akar
wregu putih. Rangkapan pusakamu yang kecil itu. Bukankah dengan akar ini kau
dapat membuta tangkai trisula kecil itu?”
Mahisa Agni itu pun
menjadi semakin bingung. Bagaimanakah jadinya dengan Buyut dari Wangon? Apakah
yang akan dilakukannya seandainya akar wregu itu lenyap dari tangannya? Dan
bagaimanakah dengan beribu-ribu orang yang hampir mati karena penyakitnya? Dan
kini tiba-tiba tubuh Mahisa Agni itu pun bergetar kembali. Betapa ia menjadi
gelisah. Ia tidak tahu apakah sebenarnya yang terjadi. Tetapi yang dilihatnya
akar wregu putih itu sudah di tangan gurunya.
“Guru,” terdengar Mahisa
Agni bertanya dengan suara yang gemetar, “Di manakah Buyut Ing Wangon itu
sekarang?”
Empu Purwa itu tidak
segera menjawab. Namun ditatapnya Mahisa Agni itu dengan pandangan yang sejuk.
Dan kediamannya itu telah membuat hati Mahisa Agni menjadi semakin tegang.
Sehingga diulanginya pertanyaannya, “Guru, apakah guru bertemu dengan Buyut Ing
Wangon dan mendapatkan akar wregu itu daripadanya?”
Dan jantung Mahisa Agni
menjadi semakin bergolak ketika ia melihat gurunya tersenyum. Timbullah berbagai
sangkaan di dalam hatinya. Apakah gurunya telah mencederai Buyut dari Wangon
itu? Tak mungkin. Buyut dari Wangon bukan seorang yang mampu untuk berkelahi,
apalagi melawan gurunya. Sehingga dengan mudahnya akar itu akan dapat
diambilnya.
Mahisa Agni menjadi
semakin tidak mengerti ketika kemudian gurunya itu menepuk bahunya, dan dengan
lembut berkata, “Kenapa kau prihatin atas Buyut yang bongkok itu?”
“Ya, kenapa?” Mahisa Agni
mengulang pertanyaan itu di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat menjawab
pertanyaan itu. Karena itu maka dengan lemahnya ia menggeleng. Jawabnya,
“Entahlah, Bapa. Mungkin aku menjadi iba kepadanya, kepada orang-orangnya yang
menantinya dengan penuh kecemasan dan penderitaan.”
“Buyut Ing Wangon itu
kini telah tidak ada lagi.”
“He?” Agni terkejut
sehingga ia bergeser. Ditatapnya wajah gurunya dengan pancaran pertanyaan dari
bola matanya.
Ketika ia melihat gurunya
memandangnya dengan iba, maka desahnya di dalam hati, “Betapa aneh persoalan
yang aku hadapi.”
“Agni,” berkata gurunya,
“Buyut Ing Wangon itu benar-benar sudah tidak ada lagi. Yang ada kini adalah aku
gurumu.”
Nafas Mahisa Agni menjadi
semakin terengah-engah, melampaui pada saat ia mendaki lereng yang gundul itu.
Dan ketika ia mendengar gurunya menjelaskan, serasa ia sedang dibuai oleh mimpi
yang aneh. Didengarnya gurunya itu berkata, “Kauserahkan akar ini kepada orang
yang menamakan diri Buyut Ing Wangon, Agni. Dan sekarang kau lihat akar wregu
ini berada di tanganku. Tak ada perjuangan yang terjadi, tak ada perampasan dan
pemerkosaan. Aku terima akar ini langsung dari tanganmu.”
“He?” kini Mahisa Agni
benar-benar terkejut bukan buatan. Ia mendengar kata demi kata dengan jelas. Ia
mendengar dan mengerti maksud gurunya. Meskipun demikian dengan wajah yang
tegang ia bertanya, “Jadi, apakah mataku yang kurang wajar, atau apa akukah yang
tidak pada tempatnya. Apakah maksud guru mengatakan, bahwa yang bertemu dengan
aku di dalam gua itu guru sendiri?”
Empu Purwa mengangguk.
Tampaklah kebeningan matanya memancarkan keibaan hatinya. Karena itu ia berkata
seterang-terangnya, “Agni. Sadarilah. Akulah yang menamakan diri Buyut Ing
Wangon.”
Sekali lagi Mahisa
menangkupkan kedua telapak tangannya, di muka dadanya sambil membungkukkan
badannya dalam-dalam sehingga wajahnya hampir menyentuh tanah. Dengan suara
gemetar ia berkata, “Ampun, Bapa. Aku tidak tahu, apakah yang sudah aku lakukan.
Aku tidak tahu, bagaimana Bapa menilai diriku.”
Seterusnya Mahisa Agni
itu menekurkan wajahnya. Ia tidak berani memandang gurunya. Bahkan ujung kakinya
pun tidak. Ditatapnya tanah padas yang berlapis-lapis di bawah kakinya. Namun
hatinya sibuk dengan persoalan yang tak dapat dimengertinya. Ia melihat seorang
bongkok yang berjalan tersuruk-suruk di dalam gua itu. Namun betapa gelapnya. Ia
hanya melihat bayangan yang hitam dan garis-garis tubuh yang bongkok itu. Tetapi
apakah ia pernah melihat wajah orang itu dengan jelas? Tidak. Ia tidak
melihatnya. Dan bagaimanakah dengan pakaiannya? Pakaian ini pun tak jelas
diketahuinya. Tetapi yang dilihatnya sekarang, gurunya tidak mengenakan jubah
putih dan tidak pula mengenakan kain kelengan seperti kalau gurunya itu sedang
bepergian, tidak dalam kedudukannya sebagai seorang pendeta. Tetapi gurunya itu
mengenakan kain lurik yang dibalutkan di tubuhnya.
Mahisa kemudian
memejamkan matanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat bentuk tubuh orang yang
ditemuinya di dalam gua itu. Namun ia tidak berhasil.
Dalam pada itu
terdengarlah gurunya berkata, “Agni, jangan menyesal. Kau telah berbuat sesuatu
yang sebenarnya aku harapkan. Kau dihadapkan pada persoalan yang tak mudah kau
pecahkan. Di sinilah watak seseorang yang sebenarnya dapat dilihat. Apabila ia
dihadapkan pada kepentingan diri dan kepentingan manusia, namun di luar dirinya.
Betapa ia harus melihat kepentingan-kepentingan itu dengan wajar. Apakah
seseorang akan mementingkan dirinya sendiri, apakah ia akan mementingkan manusia
dan kemanusiaan di luar dirinya, namun kepentingan itu jauh lebih besar. Dan
ternyata kau berhasil melihatnya dengan mata hatimu yang bersih. Kau berhasil
menyingkirkan nafsu diri sendiri untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan di
luar dirimu. Bahkan kau telah sanggup mengorbankan kepentinganmu itu, namun
kepentingan sendiri, seorang Mahisa Agni, untuk kepentingan yang lebih besar.
Meskipun ternyata kepentingan yang lebih besar itu sebenarnya tidak ada, namun
itu tidak akan mengurangi nilai pribadimu. Tidak akan mengurangi kejernihan mata
hatimu. Sebenarnyalah bahwa Yang Maha Agung telah berkuasa di dalam hatimu
dengan cinta kasihnya, sehingga dari dalam hatimu itu pun memancar pula cinta
kasih itu.”
Kini dada Mahisa Agni itu
pun bergelora. Namun dalam bentuknya yang lain. Setelah sekian lama ia
ditegangkan oleh teka-teki tentang orang bongkok itu, tiba-tiba kini ia
mendengar kata-kata gurunya itu. Jelas dan hatinya pun menjadi terang. Gurunnya
itu ternyata membenarkan sikapnya. Dan karenanya, maka ia pun menjadi terharu.
Betapa ia bersyukur di dalam hatinya, bahwa Tangan Yang Maha Besar telah
menuntunnya untuk memilih sikap yang dibenarkan oleh gurunya dan benar pula
menurut keyakinannya.
Dan didengarnya gurunya
itu berkata seterusnya, “Meskipun demikian Mahisa Agni. Apa yang terpuji pada
saat ini bukan berarti untuk seterusnya tak akan terkena salah. Jangan menjadi
lupa diri. Akar wregu itu akan dapat menjadi alat untuk mengenangkan masa ini.
Sebenarnyalah hanya itu manfaat yang dapat kau ambil daripadanya.”
Sekali lagi Mahisa Agni
dikejutkan oleh kata-kata gurunya itu. Akar wregu putih itu hanya akan
bermanfaat baginya untuk mengenangkan masa ini. Suatu masa di mana ia harus
berjuang untuk menumbangkan nafsu yang menyala-nyala untuk menjadikan dirinya
orang pilih tanding, karena suatu pengabdian pada kemanusiaan memanggilnya.
Meskipun kemudian ternyata, bahwa perjuangan yang terjadi di dalam dirinya itu
adalah hasil ciptaan gurunya untuk mengetahui kematangan sifat dan wataknya
sebagai manusia, namun apakah itu mempunyai suatu pengaruh yang langsung atas
khasiat akar wregu putih itu?
Karena itu maka Mahisa
Agni itu memberanikan diri untuk bertanya, “Guru, apakah maksud guru dengan
mengecilkan arti akar wregu putih itu?”
Empu Purwa tertawa
pendek. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Agni, aku sama sekali
tidak mengecilkan arti akar wregu putih ini. Sebab sebenarnyalah demikian.
Lihatlah. Akar ini tidak lebih dari sebuah akar wregu biasa. Apakah bedanya? Kau
melihat akar ini agak keputih-putihan. Demikianlah sebenarnya warna akar wregu
itu apabila kau sayat kulit arinya.”
Mahisa Agni menjadi
semakin bingung. Jadi apakah artinya perjuangan yang selama ini dilakukan, sejak
ia meninggalkan padepokan Panawijen dan menempuh perjalanan yang sedemikian
jauh, melawan kegarangan alam dan melawan berbagai kejahatan manusia dan
kebuasan binatang-binatang?”
Empu Purwa melihat
beribu-ribu persoalan bergelut di dalam dada Mahisa Agni. Karena itu maka
katanya kemudian, “Mahisa Agni. Jangan menilai akar wregu ini ber-lebih-lebihan.
Meskipun demikian itu bukan salahmu. Aku memang mengatakan kepadamu, bahwa akar
ini akan mampu menjadikan kau seorang yang pilih tanding. Dan ternyatalah
demikian. Kau telah berjuang dengan tekad yang membara di dalam hatimu. Kau
telah melakukan apa saja yang jarang dapat dilakukan oleh orang lain. Dan yang
jarang dapat aku temui pada masa kini, masa-masa yang lampau dan bahkan mungkin
masa-masa yang akan datang, adalah kesediaanmu berkorban. Bukankah dengan
demikian kau telah menemukan nilai-nilai yang sangat berharga bagi dirimu.
Bukankah perjalanan yang kau lakukan itu adalah suatu penempaan jasmaniah yang
tak ada taranya dan bukankah penyerahan akar ini kepada orang lain itu pun akan
merupakan penempaan rohaniah yang tak kalah nilainya dari seluruh perjalananmu
itu, sebab hasil perjalananmu itulah yang telah kau korbankan bahkan masa depan
yang panjang telah kau serahkan pula. Karena itu ketahuilah anakku, akar wregu
ini sebagai suatu benda tak memiliki nilai apapun.”
Bergetarlah dada Mahisa
Agni mendengar keterangan gurunya itu. Benar-benar persoalan yang tak
disangka-sangkanya. Apakah ini yang dimaksud oleh gurunya suatu ujian baginya?
Dan gurunya sendiri telah hadir untuk mengujinya? Dan inilah sebabnya, maka pada
saat gurunya memerintahkannya pergi mencari akar wregu itu terasa beberapa
kejanggalan pada pesannya. Gurunya yang dalam masa-masa yang lewat, selalu
memandang hampir setiap persoalan dari segala segi, keseimbangan antara lahir
dan batinnya, namun pada saat-saat ia berangkat meninggalkan Panawijen, gurunya
seolah-olah sama sekali tak menghiraukan masalah- masalah yang lebih dalam dari
masalah- masalah lahiriah. Yang disebut-sebut oleh gurunya itu tidak lebih dari
akar wregu putih yang akan mampu menjadikannya manusia yang sakti. Lebih dari
itu tidak. Namun gurunya itu kemudian berkata bahwa ‘Hitam putih namamu,
tergantung kepadamu sendiri’.
Kini ternyata, bahwa
gurunya dengan sengaja berbuat demikian. Gurunya sengaja memberinya persoalan,
dan diserahkannya kepada dirinya, bagaimana ia akan memecahkannya.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Dalam sekali. Terasalah sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Tetapi
tiba-tiba Mahisa Agni itu menyadari, bahwa tidak hanya seorang gurunya sajalah
yang menginginkan akar itu, meskipun dengan maksud yang berbeda-beda. Apakah
orang lain percaya bahwa akar itu memiliki nilai yang dapat mempengaruhi
seseorang. Karena itu maka dengan serta-merta ia bertanya kepada gurunya, “Bapa,
seandainya akar itu dalam ujudnya sebagai benda tak memiliki nilaianya yang
khusus. Apakah artinya perjuangan Empu Pedek untuk mendapatkannya.
Berbulan-bulan ia berada di tempat ini untuk menunggu seseorang yang akan lewat
dengan membawa sebuah trisula rangkapan dari akar wregu itu.”
Empu Purwa itu tertawa,
namun dari sepasang matanya memancarlah keibaan hatinya kepada muridnya itu.
Sekali lagi Empu Purwa menepuk bahu Mahisa Agni. Dengan lembut ia berkata,
“Anakku. Tak seorang pun di dunia ini yang pernah mendengar tentang akar wregu
putih itu. Bukankah sudah aku katakan.”
“Tetapi Bapa,” bantah
Agni, “Empu Pedek itu menyebut-nyebutnya pula. Tepat diketahui nama dan kegunaan
dari akar wregu itu.”
“Agni,” sahut gurunya,
“ada dua kemungkinan. Aku yang salah sangka tentang akar itu bahwa tak seorang
pun yang mengetahuinya, atau akar itu benar-benar hanya diketahui oleh seseorang
saja. Sehingga setiap orang yang menyebut nama akar wregu putih itu adalah orang
yang sama.”
“Guru,” potong Agni,
“jadi juga yang menamakan diri Empu Pedek dan Buyut Ing Wangon itu guru
sendiri?”
Empu Purwa
mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Benar Agni. Dan telah aku
korbankan sebagian janggutku tersayang untuk kepentingan itu.”
“Oh,” Agni itu pun
tertunduk kembali. Berbagai masalah yang simpang siur, hilir mudik di dalam di
kepalanya. Sehingga kemudian ia berkata, “Jadi bagaimanakah dengan orang dari
Gunung Merapi yang datang tiga hari sebelum kedatanganku.”
“Itulah aku,” jawab
gurunya.
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini semuanya menjadi jelas. Itu pulalah
sebabnya gurunya berpesan kepadanya supaya ia berjalan dari batu karang itu pada
malam hari, supaya gurunya dapat mengganggunya.
Sesaat mereka berdua itu
pun berdiam diri. Matahari yang cerah telah semakin tinggi memanjat di kaki
langit,dan pagi itu pun menjadi semakin bening.
Namun masih ada satu soal
yang ingin diketahui oleh Mahisa Agni, bagaimanakah akar wregu itu berada di
dalam gua.
Maka kemudian
diberanikannya pula untuk bertanya kepada gurunya, “Bapa, bagaimanakah maka akar
wregu putih itu berada di dalam gua ini. Apakah guru telah meletakkannya tiga
tahun yang lampau?”
Kembali Empu Purwa
tersenyum. Jawabnya, “Bukankah Buyut dari Wangon itu telah memasuki gua lebih
dahulu? Alangkah mudahnya meletakkan akar wregu itu di sana, kemudian berbaring
kembali di tikungan dalam gua itu.”
Mahisa menggigit
bibirnya. “Sederhana sekali,” pikirnya. Sehingga anak muda itu tanpa sesadarnya
telah mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kini semuanya sudah jelas
bagi Mahisa Agni Apa yang dilakukan gurunya sebelum ia berangkat sampai saat
iri. Ternyata gurunya telah menjajaki kebulatan tekadnya dengan orang timpang
yang menamakan dirinya Empu Pedek. Apakah ia benar-benar pantang surut dalam
perjuangannya mencapai masa depannya dengan cita-cita yang diletakkan di
hatinya. Namun dengan Buyut Ing Wangon gurunya ingin mengetahui, apakah ia mampu
memandang kepentingan kemanusiaan yang lebih besar dengan mengorbankan
kepentingan diri sendiri.
Dalam pada itu kembali
Empu Purwa itu bertanya, “Mahisa Agni, apakah kau menjadi kecewa, setelah kau
mengetahui bahwa akar wregu putih itu sama sekali tak berarti bagimu dalam olah
kanuragan?”
Sebenarnya, di dalam hati
Mahisa Agni walau pun betapa kecilnya, ada juga rasa kecewa itu. Namun demikian,
dapat juga ia mengurangi keadaan, sehingga kemudian ia menjawab, “Tidak guru.
Kalau ada maka kekecewaan itu tak akan berarti, dibandingkan dengan kebanggaan
yang aku dapatkan karena Bapa telah membenarkan sikap dan tanggapanku atas
persoalan-persoalan yang Guru berikan.”
Empu Purwa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Nah, meskipun demikian simpanlah
akar wregu ini. Sudah aku katakan, bahwa akar ini akan bermanfaat pula bagimu.
Akan selalu memberimu peringatan, bahwa menurut pendapat gurumu, kau telah
melakukan sesuatu yang terpuji. Karena itu, setiap kau menghadapi persoalan yang
serupa, maka akar wregu ini akan membantumu memecahkan persoalanmu. Namun, kau
adalah manusia biasa Agni. Suatu ketika kau akan menghadapi persoalan-persoalan
yang lebih sulit dan suatu ketika kau akan mungkin melakukan pilihan yang salah.
Namun kau harus berusaha mengurangi kesalahan-kesalahan itu. Sadarilah ini,
supaya untuk seterusnya kau tidak menganggap bahwa pilihanmu selalu benar, dan
apabila ada perbedaan pikiran dan pendapat dengan orang lain, kau selalu merasa
bahwa kau sendirilah yang benar.”
Mahisa Agni kini
menundukkan wajahnya. Kata-kata gurunya itu menyentuh hatinya dan menumbuhkan
suatu pengertian yang mendalam. Mahisa Agni itu pun kemudian menjadi sadar akan
keadaannya. Manusia yang lemah, jasmaniah maupun rohaniah. Manusia yang selalu
diliputi oleh kesalahan-kesalahan dan kebodohan- kebodohan.
“Marilah Agni,” berkata
gurunya pula, “terimalah akar wregu ini. Jangan kau nilai benda itu
berlebih-lebihan. Namun jangan kau abaikan pula hikmah yang telah kau letakkan
sendiri pada benda itu.”
Mahisa Agni itu pun
mengangkat wajahnya. Dipandangnya akar wregu itu dengan perasaan yang aneh.
Namun dimengertinya pula nasihat gurunya. Karena itu, maka akar itu pun
diterimanya dengan hasrat yang mantap untuk mencoba memenuhinya. Meskipun
demikian terasa juga kehambaran di dalam dadanya.
Kembali mereka berdua
terlempar dalam kesenyapan. Dan kembali mereka membiarkan tubuh mereka dibelai
angin yang mengalir dari lembah. Namun angan-angan Mahisa Agni terbang melambung
ke daerah-daerah yang aneh. Ke masa-masa yang lewat dan ke masa-masa yang akan
datang.
Seperti orang tersentak
diri mimpinya ia mendengar gurunya berkata kepadanya, “Mahisa Agni. Aku tahu,
bahwa kau dengan peristiwa ini merasa kehilangan sesuatu, meskipun kau dapat
mengerti dan memahami artinya. Karena itu Anakku, sebenarnyalah bahwa kau akan
mendapatkannya sesuatu yang bermanfaat bagi hidupmu kelak. Bukan dari akar wregu
itu, tetapi dari dirimu sendiri.”
Mahisa Agni mengangkat
wajahnya. Terasa debar yang halus menyentuh hatinya. Dan didengarnya gurunya
berkata, “Agni, ada sesuatu yang ingin aku beri tahukan kepadamu. Bahwa aku
telah mendapat ilmu yang turun temurun mengalir dari guru ke muridnya yang
tepercaya. Itulah sebabnya, setiap guru yang akan memberikan kepada muridnya,
maka guru itu harus yakin akan sifat dan watak muridnya itu. Itulah yang memaksa
aku membuat cerita tentang akar wregu putih, karena aku ingin mengetahui, apakah
sudah masanya aku menurunkan ilmu itu kepadamu. Apakah ilmu itu akan bermanfaat
bagimu dan bagi bebrayan manusia. Sebab seandainya ilmu itu kau terima, namun
penggunaannya tidak seperti yang diharapkan, maka ilmu itu akan kehilangan
artinya, bahkan akan menjadi sangat berbahaya. Namun kini aku telah menemukan
suatu keyakinan, bahwa ilmu itu padamu akan menemukan sasaran pengamalan seperti
yang diharapkan.”
Debar yang halus di dalam
dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tajam. Bahkan kemudian terasa tubuhnya
bergetar. Kata-kata gurunya itu seperti tetesan embun yang menyentuh
ubun-ubunnya. Namun kemudian seperti menyalanya bara harapan di dalam hatinya.
Dan didengarnya gurunya
itu berkata seterusnya, “Mahisa Agni. Ilmu itu adalah ilmu yang didasari pada
kekuatan- kekuatan yang tersimpan di dalam dirimu sendiri. Karena itu kau harus
selalu ingat kepada sumbernya. Setiap penggunaan ilmu itu pun harus
diperuntukkan bagi sumber itu sendiri. Sumber kekuatan- kekuatan di tubuhmu itu,
dan lebih jelas lagi, adalah sumber hidupmu itu, Yang Menciptakanmu. Yang
Menciptakan manusia.”
Semuanya kini menjadi
semakin terang bagi Mahisa Agni. Dengan cepat ia dapat menghubungkan setiap
peristiwa yang pernah dialami dengan kata-kata gurunya itu. Sekali lagi
terucapkan puji dan sukur di dalam hati Mahisa Agni. Dan apa yang dikecewakannya
atas akar wregu putih itu, seakan-akan telah larut dihanyutkan oleh
harapan-harapan baru yang tumbuh di dalam hatinya. Harapan baru tentang ilmu
yang disebut oleh gurunya, namun dilandasi oleh semua penjelasan dan
nasihat-nasihat gurunya itu.
Maka kini ternyatalah
baginya, bahwa gurunya telah menganggapnya lulus dari ujian yang dibebankan di
atas pundaknya.
Sesaat kemudian gurunya
meneruskan pula, “Agni. Untuk menerima ilmu itu, maka kau tidak cukup memerlukan
waktu sehari dua hari. Namun sebenarnya sebagian besar dari dasar-dasarnya, dan
persiapan- persiapan jasmaniah telah kau miliki. Karena itu, kau tinggal harus
bekerja tidak lebih dari sebulan dua bulan.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Waktu itu tidak terlalu lama. Perjalanan yang
ditempuhnya itu pun telah memakan waktu lebih dari sebulan. Dan kalau ia harus
bekerja keras sebulan dua bulan lagi, maka waktu itu tak akan berarti baginya
dibandingkan dengan waktu yang panjang yang terbentang di hadapannya.
Dan berkata pulalah
gurunya, “Agni. Ilmu yang akan kauterima adalah ilmu yang harus kau tekuni untuk
seterusnya. Ilmu itu tidak sekaligus menjadi sempurna. Aku hanya akan memberikan
beberapa petunjuk dan membuka pintu saja bagimu. Seterusnya terserah kepadamu
sendiri.”
Gurunya berhenti
sebentar, seakan-akan menunggu kata-kata itu dicernakan oleh muridnya. Kemudian
sambungnya, “Anakku. Ilmu itu aku terima dari guruku dengan sebuah nama yang
dibuat oleh guruku sendiri. Nama ilmu itu tidak penting bagimu. Yang penting
adalah isi dan pengamalannya. Aku terima ilmu itu dengan nama Gundala Sasra.
Nah, sebaiknya kau sebut juga nama ilmu itu dengan nama Gundala Sasra.”
Dada Mahisa menjadi
berdebar-debar mendengar nama itu. Gundala Sasra. Nama itu tidak, segarang
nama-nama ilmu yang pernah didengarnya. Bajra Pati, Guntur Geni, Sapu jagat, dan
lain-lainnya. Nama-nama yang pernah didengarnya dari gurunya itu pula, sebagai
senjata-senjata pamungkas dari beberapa orang sakti. Memang sejak ia mendengar
nama-nama ilmu itu, terbelit pula pertanyaan di dalam dadanya, apakah gurunya
sendiri tidak memiliki aji yang dapat dibanggakan? Namun ia tidak pernah berani
menanyakannya. Mungkin gurunya tidak akan senang mendengar pertanyaan itu.
Apalagi seandainya gurunya itu benar-benar tidak memilikinya. Tetapi kini
ternyata pertanyaan itu telah terjawab. Gurunya pun memiliki ilmu yang
disimpannya baik-baik. Dan ilmu itu bernama Gundala Sasra, yang kini akan
diturunkannya kepadanya. Karena itu dengan penuh harapan ia menyambut kata-kata
gurunya itu. Bahkan telah dibayangkannya, bahwa ia harus memeras tenaga, mesu
diri untuk mendapatkan jalan menerima kesaktian gurunya.
Yang didengarnya kemudian
gurunya itu berkata, “Mahisa Agni, namun ilmu harus kau terima dengan kerja dan
usaha. Aku tidak dapat meniup tengkukmu, dan kemudian ilmu ini telah meresap
dengan sendirinya ke dalam tubuhmu. Atau mengusap ubun-ubunmu atau menghembus
hidungmu. Namun aku sendirilah yang harus menempatkan dirimu dalam keadaan yang
memungkinkan bagimu untuk menerima ilmu ini.”
Kembali gurunya itu
berhenti sesaat. Sedang dada Mahisa Agni pun menjadi semakin berdebar-debar. Dan
didengarnya gurunya itu berkata pula, “Agni. Marilah kita hidup di tengah-tengah
hutan ini untuk beberapa lama, supaya kau leluasa memperkembangkan dirimu dalam
ilmu yang akan kau terima. Prihatin dan mesu diri, menguasai tindak tanduk dan
angan-angan adalah sumber dari kekuatan ilmu ini. Namun kita manusia hanya dapat
berusaha, sedang ketentuan terakhir adalah di tangan Yang Maha Agung. Karena itu
jangan menyesal apabila kekuatan ilmu itu tidak seperti apa yang kau harapkan,
namun jangan sombong dan takabur apabila ilmumu akan berkembang menjadi ilmu
yang dahsyat. Sedahsyat seribu guntur yang menyala di langit.”
Debar di dada Mahisa Agni
menjadi semakin bergelora. Kini titik-titik keringatnya menetes satu-satu dari
keningnya. Apa yang harus dihadapinya ternyata tidak lebih ringan dari
perjalanannya yang telah dilakukannya. Meskipun demikian, dihadapinya masa-masa
yang berat itu dengan penuh tekad. Dengan penuh gairah, segairah pada saat ia
berangkat untuk menemukan akar wregu putih itu. Ternyata yang akan didapatnya
bukan khasiat dari akar wregu itu, namun ilmu yang tak akan kalah dahsyatnya.
Ternyata Empu Purwa tidak
menyia-nyiakan waktu. Setelah ia memberi kesempatan Mahisa Agni berburu sesaat
dan mendapatkan makanan secukupnya setelah berhari-hari ia menahan lapar, maka
Empu Purwa segera mulai dengan pekerjaannya, mengolah Mahisa Agni untuk dapat
mewarisi ilmunya.
Yang dilakukan oleh Empu
Purwa adalah membuka setiap kemungkinan pada setiap urat dan syaraf di dalam
tubuh Mahisa Agni. Dihilangkannya setiap simpul-simpul yang dapat mengganggu
mengalirnya kekuatan-kekuatan di dalam tubuhnya. Kekuatan-kekuatan yang
tersimpan dan kekuatan-kekuatan yang tersembunyi.
Dan sejak hari itu,
mulailah Agni melewati hari-hari yang maha berat. Setiap hari, bahkan siang dan
malam. Dipelajarinya beberapa unsur-unsur gerak pokok. Dan dilatihnya untuk
dapat menguasai tubuhnya dengan baik. Dilatihnya untuk dapat mengenal,
memerintah menurut kehendak setiap gumpal daging di dalam tubuhnya. Dilatihnya
untuk dapat merasakan setiap titik darah yang mengalir di dalam nadinya dan
dilatihnya untuk mengatur setiap tarikan nafas di dalam dadanya. Dan ternyatalah
bahwa sejak lama Empu Purwa telah menyiapkannya untuk pada suatu saat akan
mengalami masa-masa yang amat berat ini. Karena itu, maka betapapun beratnya,
namun jasmaniah dan rohaniah Mahisa Agni telah masak untuk melakukannya.
Namun bukan masalah
lahiriah yang paling berat harus diatasinya. Sebagai seorang manusia yang
mendapatkan kekuatan-kekuatan dari sumbernya, maka setiap hasrat dan
angan-angannya pun harus dikuasainya pula. Ditekuninya dirinya dalam setiap
tindak tanduk dan perbuatan, ditekuninya pula setiap pikiran, perasaan dan
angan-angan. Dipanjatkannya setiap hakikat dari gerak rohaniahnya, melambung
tinggi mencapai inti dari hidup dan kehidupan. Terpisahnya dan terpadunya dunia
yang besar di luar dirinya dengan dunia yang sempit di dalam dirinya. Sehingga
terbenamlah Mahisa Agni dalam suatu perjuangan, untuk menemukan keserasian gerak
timbal balik dalam hubungan antara dirinya dan sumbernya, antara dirinya dengan
wadaknya dan wadak yang tergelar di sekitarnya.
Sebenarnya apa yang
dilakukan Mahisa Agni sangat beratnya. Namun Mahisa Agni mampu untuk
melakukannya. Menerima ilmu gurunya itu ternyata tidak semudah seperti
dongeng-dongeng yang pernah didengarnya. Seorang murid menundukkan kepalanya,
kemudian dengan meniup ubun-ubunannya maka menjalarlah ilmu itu lewat hembusan
gurunya dan hadir di dalam diri murid itu. Ternyata yang dilakukan adalah jauh
lebih berat daripada itu. Ia harus bekerja keras siang dan malam. Menirukan
unsur-unsur gerak yang baru dan memahami sampai ke tujuan dan alasan-alasan
gerak itu. Mempelajari segenap guratan-guratan di dalam tubuhnya, urat darah dan
nadi, urat-urat daging dan segala macam unsur penggerak, unsur penguat dan unsur
perangsangnya.
Dan ternyata pula apa
yang pernah dimiliki, kekuatan-kekuatan di sisi-sisi telapak tangannya, hanyalah
sekedar kekuatan lahiriah yang sangat kecil dibandingkan dengan
ungkapan-ungkapan kekuatan yang tersimpan dalam-dalam di dalam dirinya.
Demikianlah, maka di
dalam hutan di kaki Gunung Semeru itu telah terjadi suatu peristiwa yang penting
bagi perguruan Panawijen. Di balik dinding-dinding yang seakan-akan membatasi
daerah itu, dengan pohon-pohonnya yang lebat, Mahisa Agni sedang berjuang untuk
menampakkan dirinya pada keadaan yang memungkinkan baginya, untuk menerima ilmu
gurunya.
Sehari dua hari, seminggu
dua minggu dan lambat laun, terasalah beberapa perubahan di dalam diri Mahisa
Agni itu. Setelah dengan penuh tekad ia berusaha di bawah tuntunan gurunya, maka
akhirnya ditemukannya juga dasar-dasar yang dalam dari ilmu itu. Gundala Sasra.
Pada taraf terakhir dari
masa penempaannya itu, Mahisa Agni benar-benar memeras segenap tenaga yang
mungkin di dalam tubuhnya. Setelah segenap petunjuk, tuntunan dan
latihan-latihan dengan gurunya dilakukan, maka akhirnya Mahisa Agni pun sampai
pada taraf menunjukkan hasil perjuangannya. Hasil perjuangan yang memiliki nilai
kembar yang saling bersangkut paut. Apa yang dicapainya adalah hasil hubungannya
timbal balik dengan sumbernya. Cinta kasih yang memancar dari Sumbernya yang
telah dapat dihayatinya, dan kemudian terpancarlah cinta kasih dari dalam
dirinya, dalam kesetiaan dan pengabdiannya, maka Yang Maha Agung telah
mengizinkannya, mengungkapkan semua kekuatan-kekuatan yang memang dianugerahkan
dalam dirinya untuk melakukan hubungan timbal balik yang kedua dengan sesamanya.
Hubungan cinta kasih antara sesama titah dalam pengamalan ilmunya.
Sehingga akhirnya
sampailah saatnya kini Mahisa Agni diliputi oleh getaran-getaran yang terakhir
dari penerapan ilmunya itu. Getaran-getaran yang seakan-akan menusuk-nusuk
tubuhnya dari segenap arah. Seakan-akan dunia ini pun kemudian ikut bergetar
pula dalam suatu gerak yang beraneka warna. Getaran-getaran yang kasar, yang
halus, yang tajam dan dalam segala bentuk. Kemudian menyusullah getaran-getaran
yang seakan-akan mengguncang-guncang tubuhnya. Seperti gempa yang melandanya
bertubi-tubi. Namun Mahisa Agni sadar, bahwa ia harus menyelesaikan taraf yang
terakhir ini. Karena itu dengan memejamkan matanya ia duduk bersila. Kedua
tangannya bersilang dan telapak-telapak tangannya terletak di kedua pundaknya
yang berlawanan. Dengan sepenuh tenaga lahir dan batin Mahisa Agni menghayati
masa-masa terakhir itu.
Getaran-getaran itu pun
semakin lama menjadi semakin terasa, dan bahkan kemudian, meskipun Agni telah
memejamkan matanya, namun seolah-olah dilihatnya dunia ini dengan jelasnya.
Semua warna yang ada, berputar-putar di dalam rongga matanya. Hijau, merah,
hitam, kuning, ungu, biru dan segala macam warna. Namun itu sendiri tidak
membawa arti apapun bagi Mahisa Agni. Yang kemudian dilihatnya adalah watak dari
warna-warna seakan-akan wajah-wajah yang bengis, pucat, licik, suram dan segala
macam. Namun akhirnya warna-warna itu berputaran dalam satu pusat. Bercampur
baur menjadi satu. Segala macam warna dengan wataknya masing-masing. Semakin
lama semakin cepat semakin cepat. Dan akhirnya luluhlah segala warna itu menjadi
warna yang tunggal. Putih.
Warna putih itu pun
berputar dengan cepatnya, Semakin lama menjadi semakin cepat. Dan seakan-akan
dari pusat warna itu memancarlah cahaya yang terang semakin terang semakin
terang. Akhirnya warna itu pun menjadi gemerlapan. Di dalam warna yang terang
itulah Mahisa Agni seolah-olah melihat dirinya sendiri. Betapa lemahnya dirinya.
Hanyut dalam pusaran warna yang putih dan gemerlap itu. Semakin cepat semakin
cepat. Namun Agni yang berputar itu pun telah berusaha untuk menahan dirinya.
Dengan segala usaha akhirnya gambaran dirinya yang berputar itu pun semakin
dapat menguasai keadaannya. Sehingga akhirnya Agni itu pun kemudian berhasil
tegak di atas kedua kakinya. Tegak dalam pancaran cahaya yang putih. Sehingga
putaran cahaya yang putih itu pun menjadi semakin lambat, semakin lambat. Namun
demikian cahaya itu berhenti, kembali tampak segala macam warna seolah-olah
melanda warna yang putih itu. Namun cahaya yang memancar dari dalam diri Agni
itu pun kemudian berhasil mengusirnya.
Kini dilihatnya bayangan
dirinya itu membentangkan tangannya. Kemudian bersilang di muka dadanya sudut
menyudut, kedua telapak tangannya terbuka dengan keempat jarinya merapat tegak.
Dan dengan satu loncatan maju bayangan itu telah mengayunkan tangannya. Betapa
dahsyat akibatnya. Seolah-olah angin Yang Maha Dahsyat melanda dirinya. Demikian
dahsyatnya sehingga kepala Mahisa Agni itu serasa berputar dalam saat-saat yang
terakhir itu, dunia telah menjadi gelap semakin gelap. Dan tubuh Mahisa Agni
yang lemah itu pun kemudian terjatuh di tanah.
Gurunya, yang duduk di
belakang Mahisa Agni, melihat perkembangan keadaan muridnya dengan tegang. Namun
terasa olehnya, bahwa muridnya telah berhasil memusatkan segenap panca inderanya
dalam satu karya. Bergabungnya segenap kekuatan, dan terungkitnya
kekuatan-kekuatan itu, telah membebani muridnya dengan keadaan yang sangat
berat. Demikian beratnya, sehingga akhirnya Mahisa Agni itu menjadi seolah-olah
pingsan. Namun itu adalah pertanda, bahwa muridnya telah berhasil membuka
hatinya dalam satu pemusatan pikiran yang akan dapat melandasi ilmu Gundala
Sasra dalam pelaksanaannya.
BAGIAN II – Bunga Kembang
Di Angin Kencang
Ketika Matahari menjenguk
dari punggung cakrawala di timur, maka warna-warna yang kelam di dalam hutan di
kaki Gunung Semeru itu pun menjadi cair pula karenanya.
Mahisa Agni
perlahan-lahan menggeliat. Kemudian memandang berkeliling. Dilihatnya gurunya
duduk menunggunya seperti seorang yang sedang bersemadi. Namun ketika dilihatnya
Mahisa Agni terbangun maka orang tua itu pun kemudian tersenyum.
“Tidur yang nyenyak,
Agni. Apakah kau bermimpi?”
Mahisa Agni pun tersenyum
pula. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di muka gurunya. Diamat-amatinya
tubuhnya seperti ada sesuatu yang tidak dikenalnya pada dirinya. Namun demikian,
sebelum ia bertanya kepada gurunya, dicobanya untuk mengetahuinya sendiri,
perubahan-perubahan apakah yang telah terjadi pada dirinya itu. Tubuhnya kini
terasa betapa segar dan ringan. Darahnya yang hangat serta detak jantungnya,
tarikan nafasnya dan simpul-simpul sarafnya seakan-akan menjadi semakin teratur
dan dikenalnya dengan sempurna.
Ketika kemudian
dikenangnya apa yang telah terjadi kemarin, maka segera disadarinya, bahwa pasti
ada perubahan di dalam dirinya itu.
Empu Purwa itu melihat
betapa muridnya menjadi heran atas keadaan diri. Karena itu maka katanya, “Agni,
adakah sesuatu yang lain kau rasakan dalam dirimu?”
“Ya, Guru,” jawab Mahisa
Agni.
Gurunya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dirabanya tubuh muridnya. Dipijatnya
setiap simpul-simpul syaraf dan nadinya pada punggung dan tengkuk muridnya.
Sebagai seorang yang telah mengenal setiap simpul-simpul tubuh manusia, maka
segera Empu Purwa mengetahui, bahwa tubuh Mahisa Agni pun telah terbuka. Maka
katanya, “Agni, apakah yang terjadi pada dirimu?”
Mahisa Agni mencoba
mengingat semua peristiwa yang tampak olehnya dalam pemusatan pikiran, perasaan
dan angan-angannya. Satu demi satu, sehingga akhirnya semuanya menjadi gelap.
“Mahisa Agni,” berkata
gurunya, “peristiwa yang terjadi dalam dunia yang tak kasatmata itu, tidak sama
bagi setiap orang yang menjalani pemusatan pikiran, perasaan dan angan-angan
seperti yang kau lakukan. Semuanya itu tergantung atas tanggapannya terhadap
dunia besar dari dunia kecilnya. Juga sikap yang kau lihat itu pun tergantung
pada unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu. Namun, adalah satu
persamaan, bahwa kau telah diizinkan oleh Yang Maha Agung, untuk menguasai
cara-cara yang se-baik-baiknya untuk mengungkapkan setiap kekuatan di dalam
tubuhmu.”
Terasa dada Mahisa Agni
berdesir halus. Sekali lagi ia mengucap syukur di dalam hatinya atas karunia itu
Dan karena itu maka betapa ia menjadi terharu. Dengan demikian, maka tak sepatah
pun yang dapat diucapkannya, karena kerongkongannya tiba-tiba serasa tersumbat.
Apalagi ketika kemudian
gurunya itu berkata kepadanya, “Agni. Berdirilah. Lihatlah ke sekelilingmu. Dan
cobalah, apakah kau benar-benar mampu menyalurkan kekuatan-kekuatan di dalam
tubuhmu.”
Dada Mahisa Agni kini
menjadi berdebar-debar. Ditatapnya wajah gurunya seakan-akan minta penjelasan.
Sehingga kemudian gurunya itu pun berkata, “Berdirilah. Bersikaplah menurut
ungkapan indramu dalam unsur-unsur gerak yang paling merangsang dalam dirimu.
Salurkanlah kekuatan di dalam tubuhmu ke bagian-bagian tubuh yang kau kehendaki.
Niscaya kau akan berhasil.”
Perlahan-lahan Mahisa
Agni itu pun berdiri. Meskipun dengan agak ragu-ragu, namun ia melangkah pula
agak menjauh. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya. Yang ada hanyalah
pokok-pokok kayu dan gumpalan-gumpalan batu padas yang berbongkah-bongkah.
“Mulailah Agni,” berkata
gurunya.
Mahisa Agni mengangguk
dalam-dalam sambil menjawab, “Akan aku coba, Guru.”
Mahisa Agni itu pun
kemudian berdiri tegak. Dipusatkannya segenap kekuatan batinnya, diaturnya jalan
pernafasannya seperti yang telah dipelajarinya. Ketika terasa di dalam dadanya
getaran-getaran yang bergerak-gerak, maka dicobanya untuk mengaturnya dan
menyalurkannya ke telapak tangannya.
Tiba-tiba seakan-akan
digerakkan oleh tenaga yang tak dikenalnya, Mahisa Agni itu pun mengangkat kedua
tangannya, kemudian disilangkannya kedua tangannya itu di muka dadanya, sedang
keempat jari-jarinya tegak merapat. Satu kakinya pun kemudian terangkat ke
depan. Dan ketika getaran yang mengalir dari pusat dadanya dan dari
bagian-bagian tubuhnya yang lain seakan-akan telah mengendap di telapak
tangannya, maka Mahisa Agni itu pun meloncat maju. Dengan telapak tangannya ia
memukul sebongkah batu padas yang telah menjadi kehitam-hitaman. Betapa dahsyat
tenaganya. Batu itu pun seolah-olah meledak dan pecah berserakan.
Mahisa Agni sendiri
terkejut melihat akibat dari pukulannya. Namun ketika ia berpaling kepada
gurunya, dilihatnya gurunya tersenyum.
“Bagus Agni,” berkata
gurunya, “sekarang lepaskanlah kekuatan-kekuatan itu dan salurkan kembali ke
tempatnya.”
—–
….maka Mahisa Agni itu pun meloncat maju. Dengan telapak tangannya ia memukul
sebongkah batu padas yang telah menjadi kehitam-hitaman. Betapa dahsyat
tenaganya. Batu itu pun seolah-olah meledak dan pecah berserakan.
—–
Mahisa Agni menarik
nafas. Diangkatnya kedua tangannya merentang. Dan terasa otot-ototnya
seakan-akan mengendur kembali.
“Kau harus melatihnya
setiap kali Agni,” berkata gurunya, “namun ingatlah bahwa ilmu itu, yang kau
sebut untuk seterusnya aji Gundala Sasra, bukan seperti permainan kanak-kanak
yang dapat kau pamerkan setiap saat. Tekunilah dan dalamilah. Namun aku akan
bergembira kalau kau tidak perlu mempergunakannya.”
Gurunya itu berhenti
sesaat, kemudian katanya pula, “Agni, kelak apabila ilmu itu telah mapan di
dalam tubuhmu, maka kau tidak akan memerlukan waktu lagi untuk melepaskannya.
Sesaat saja, setiap kau kehendaki. Namun mudah-mudahan itu tidak akan terjadi.”
Mahisa Agni itu pun
perlahan-lahan duduk kembali. Betapa dadanya seakan-akan bergolak. Berbagai
perasaan merayap-rayap tak menentu. Bangga, gembira namun disadarinya pula
tanggung jawabnya atas ilmunya itu. Dan wajah Mahisa Agni pun tertunduk
karenanya.
Namun pekerjaannya yang
berat kini telah lampau. Masa pengasingan di hutan yang sepi itu pun telah
lampau pula. Karena itu, maka akan datang masa berikutnya, kembali ke Panawijen
dalam pergaulan antar manusia untuk mendapatkan kesempatan mengamalkan ilmunya
dengan wajar dan bertanggung jawab.
Matahari yang merayap di
kaki langit itu semakin lama menjadi semakin tinggi pula. Empu Purwa yang masih
saja duduk di atas batu padas itu pun kemudian berdiri. Diamatinya beberapa
coretan pisau di sebatang pokok kayu. Dihitungnya setiap goresan dan kemudian
katanya, “Empat puluh dua. Ya, kau telah tinggal di dalam hutan ini selama empat
puluh dua hari Agni, selain hari-hari yang pernah kau tempuh untuk sampai ke
tempat ini. Hari ini adalah hari yang keempat puluh tiga.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Telah cukup lama ia meninggalkan padepokan
Panawijen. Meninggalkan sahabatnya Wiraprana. Ibunya dan gadis momongan ibunya,
Ken Dedes. Dan tiba-tiba tumbuhlah perasaan rindu kepada padukuhannya itu.
Meskipun demikian, Mahisa Agni menunggu apa yang akan dikatakan oleh gurunya. Ia
mengharap bahwa gurunya itu akan membawanya pulang ke padepokan.
Ternyata gurunya itu pun
kemudian berkata, “Mahisa Agni. Kita telah terlalu lama meninggalkan padepokan.
Karena itu, apabila telah memungkinkan, pulanglah kau ke Panawijen. Padepokan
itu telah hampir tiga bulan kesepian.”
Mahisa Agni menganggukkan
kepalanya, jawabnya, “Guru. Aku sebenarnya memang telah rindu pada padukuhan
itu. Tetapi bukankah kita akan kembali bersama-sama?”
Empu Purwa menggeleng
lemah. Katanya, “Berjalanlah dahulu Agni. Aku masih akan singgah beberapa hari
di tempat sahabat-sahabatku yang telah lama tak pernah aku kunjungi. Mumpung aku
sampai di tempat ini pula. Namun tak ada soal yang penting. Aku hanya akan
sekedar mengunjunginya. Bukankah kau berani berjalan sendiri?”
Mahisa Agni tersenyum
mendengar pertanyaan gurunya. Empu Purwa itu tersenyum pula.
Hari itu adalah hari
terakhir. Mahisa Agni seolah-olah berada di dalam pengasingan. Bersama gurunya
mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang tak akan terlupakan
bagi Mahisa Agni. Tempat ia menerima anugerah yang tak ternilai harganya bagi
masa depannya.
Tetapi mereka berdua
tidak seterusnya berjalan bersama-sama. Gurunya itu pun kemudian memisahkan
diri. Ia masih ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya yang telah lama tidak pernah
ditemuinya.
Kini kembali Mahisa Agni
berjalan seorang diri. Ditempuhnya jalan yang hampir dua bulan yang lalu
dilewatinya. Menyusur tepi rawa-rawa ke arah timur.
Dan Mahisa Agni itu pun
tidak takut lagi bertemu dengan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek.
Menggelikan sekali. Betapa ia tidak mengenal orang yang timpang itu.
Ia bergaul dengan gurunya
hampir setiap saat. Namun dengan berjalan seakan-akan timpang ia telah menjadi
pangling.
Kini Mahisa Agni dapat
berjalan jauh lebih cepat daripada saat ia datang. Jalan-jalan yang dilampauinya
seakan-akan telah dikenalnya baik-baik, sehingga ia tidak perlu lagi
bertanya-tanya kepada diri dan memilih-milih supaya tidak tersesat. Karena itu,
maka waktu yang diperlukannya pun jauh lebih pendek dari waktu yang
dipergunakannya dahulu.
Maka karena itu pula,
Mahisa Agni sebelum senja telah sampai ke padukuhan kecil yang dahulu
dilewatinya pula. Padukuhan yang oleh penduduknya disebut padukuhan Kajar.
Tetapi ketika Mahisa Agni sampai di ujung padukuhan, ia menjadi heran. Matahari
masih tampak di langit, walaupun sudah amat rendahnya, seakan-akan hinggap di
punggung gunung. Namun padukuhan itu tampaknya sudah terlalu sepi. Tak seorang
pun yang dapat ditemui oleh Mahisa Agni sebagaimana ia melihatnya dahulu.
Penduduk padukuhan kecil yang rajin itu kini seakan-akan telah lenyap ditelan
hantu. Rumah-rumah yang kecil di padukuhan itu pun tampaknya tertutup rapat,
seakan-akan menolak kedatangannya.
Tetapi karena itu justru
sangat menarik perhatian Mahisa Agni. Dalam waktu hampir dua bulan ia tidak
melihat perubahan apapun di padukuhan kecil itu, namun perubahan suasananya
terasa sekali.
Mahisa Agni masih saja
berjalan menyusuri jalan berbatu-batu di tengah-tengah padukuhan itu. Ia menjadi
berdebar-debar ketika dilihatnya sebuah pondok kecil di tepi jalan itu. Di dekat
pondok itu dahulu ia bertanya kepada seorang tua yarg ramah. Seorang tua yang
berjanggut putih dan berambut putih.
“Apakah rumah itu rumah
orang tua yang baik itu?” berpikir Mahisa Agni.
Sesaat ia menjadi
ragu-ragu. Namun kemudian katanya di dalam hati, “Ah, aku sama sekali tak
bermaksud jelek. Bukankah orang tua itu dahulu mengajak aku singgah ke
rumahnya?”
Maka kemudian dengan
ragu-ragu Mahisa Agni memasuki regol halaman itu dan perlahan-lahan berjalan
melintasi beberapa pokok pohon samboja dan tempat-tempat sesaji, langsung menuju
ke pintu rumah. Perlahan-lahan pula Mahisa Agni mengetuk pintu rumah itu.
Sekali, dua kali bahkan sampai tiga kali, suara ketukannya tidak mendapat
sambutan. Namun telinga Mahisa Agni yang tajam mendengar langkah orang di dalam
rumah itu. Gemeresik dinding pintu dan nafas orang di balik pintu itu.
“Ah, seseorang telah
mengintip dari balik pintu,” katanya di dalam hati. Karena itu ia tidak mengetuk
lagi. Ia menunggu, apakah kehadirannya akan diterima, atau tidak.
Sesaat kemudian ternyata
pintu itu terbuka. Benarlah dugaannya, rumah itu adalah rumah orang tua yang
dahulu pernah memberinya beberapa keterangan. Namun ia menjadi heran ketika
dengan tergesa-gesa orang itu bertanya, “Ngger, siapakah Angger ini?”
“Aku Mahisa Agni, Bapak.
Hampir dua bulan yang lalu aku pernah lewat di padukuhan ini. Bukankah Bapak
pernah memberi aku beberapa petunjuk untuk mencapai rawa-rawa di sebelah
selatan?”
Orang tua itu
mengingat-ingat sebentar. Kemudian katanya, “Oh, ya. Aku ingat sekarang. Angger
datang dari Gunung Kawi?”
Mahisa mengangguk sambil
menjawab, “Ya, Bapak.”
“Marilah, marilah masuk,”
ajak orang itu. Dan sebelum Mahisa Agni menjawab, dengan serta-merta orang tua
itu menarik lengan Mahisa Agni. Mahisa Agni tidak menolak. Dan demikian ia
melangkah pintu, demikian orang tua itu dengan tergesa-gesa menutup pintunya
kembali.
Mahisa Agni pun menjadi
semakin heran. Seolah-olah di luar rumah itu sedang berkeliaran hantu-hantu,
sehingga orang tua itu menjadi ketakutan.
Dengan nafas yang
terengah-engah seperti orang baru saja berlomba lari orang itu mempersilakan
Mahisa Agni duduk di atas selembar tikar anyaman, “Silakan Ngger, silakan
duduk.”
Mahisa Agni itu pun duduk
pula. Diletakkannya tongkat kayu serta bungkusannya. Dan dengan sebuah anggukan
Mahisa Agni menjawab, “Terima kasih, Bapak.”
“Ah,” desah orang tua
itu, “hampir aku melupakan Angger. Bukankah Angger pernah lewat di jalan di muka
rumah ini? Ah, Angger ternyata sekarang menjadi kurus. Jauh lebih kurus dari
saat Angger lewat dahulu.”
Tanpa sesadarnya Mahisa
Agni mengamat-amati tangannya. Memang ia menjadi bertambah kurus. Meskipun
demikian ia menjawab, “Tidak Bapak. Aku tidak menjadi kurus.”
Orang itu tertawa. Tetapi
tampaklah kegelisahan membayang di wajahnya. Namun demikian Mahisa Agni masih
belum menanyakan sesuatu kepadanya.
Orang tua itu pun
kemudian pergi sesaat ke belakang. Ketika ia kembali dibawanya dua bumbung
legen. Diserahkannya, “Marilah Ngger, barangkali Angger haus.”
Mahisa Agni menerima
bumbung itu. Alangkah segarnya setelah hampir tiga bulan tak pernah dihirupnya
minuman, selain air. Air dingin. Kini legen yang manis.
Namun kegelisahan orang
tua itu ternyata mempengaruhi perasaan Mahisa Agni. Ia pun menjadi gelisah pula.
Apakah kehadirannya itu tidak berkenan di hati orang tua itu. Atau ada sesuatu
yang lain. Karena, itu, akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menahan diri lagi,
sehingga kemudian katanya, “Bapak, alangkah sepi padukuhan ini. Masih jauh
menjelang senja, rumah-rumah sudah tertutup rapat. Di jalan padukuhan ini, aku
sudah tidak menjumpai seorang pun yang berjalan. Jangan berjalan, di halaman pun
tak aku lihat seseorang.”
Orang tua itu mengerutkan
keningnya. Kemudian setelah berdiam diri beberapa saat ia menjawab, “Untunglah
Angger tak bertemu seseorang?”
Mahisa Agni menjadi
semakin heran. Karena itu ia menyahut, “Kenapa?”
Orang itu dengan
gelisahnya memandangi pintu rumahnya. Setelah sesaat ia berdiam diri, maka
jawabnya perlahan-lahan sekali seakan-akan ia sedang mengucapkan sebuah rahasia
yang tak boleh didengar oleh orang lain, katanya, “Padukuhan ini sebenarnya
tidak sesepi sekarang ini, Ngger.”
Mahisa Agni mengangguk.
Memang pada saat ia lewat dahulu, dilihatnya penduduknya yang rajin dan ramah.
Rumah-rumah terbuka lebar dan anak-anak bermain-main di halaman. Maka
didengarnya orang tua itu berkata selanjutnya, “Namun saat ini padukuhan yang
kecil ini sedang mengalami ketakutan.”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Ia sudah menyangka bahwa sesuatu yang tidak wajar pasti sudah
terjadi. Maka Mahisa Agni itu pun kemudian bertanya, “Apakah yang mencemaskan
penduduk padukuhan ini?”
“Terkutuklah anak itu!”
desis orang tua itu. Tetapi dengan cemasnya ia berkali-kali menatap daun pintu
leregnya. Katanya selanjutnya, “bersedihlah ibunya yang telah melahirkannya dan
menyesallah padukuhan ini, yang telah memberinya kesempatan untuk dibesarkan.
Karena akhirnya, terkutuklah anak itu.”
“Kenapa?” bertanya Mahisa
Agni mendesak.
“Anak itu sebenarnya
bukan anak yang jahat,” sahut orang tua itu, “ia adalah salah satu dari
anak-anak keluarga padukuhan ini. Seperti anak-anak yang lain, ia adalah anak
yang rajin dan bekerja dengan tekun membantu orang tuanya. Tetapi ketika ia
menginjak umur sebelas dua belas tahun, anak itu dibawa oleh pamannya ke rantau.
Ternyata di sana bertemulah anak itu dengan seorang guru. Terkutuk pulalah guru
itu. Itulah sebabnya maka anak itu menjadi jahat. Diajarinya oleh gurunya
ilmu-ilmu yang kasar. Berkelahi dan bertempur. Oh, alangkah jahatnya ilmu itu.
Kenapa seseorang mesti belajar berbuat hal-hal semacam itu. Kenapa seseorang
mesti melatih diri untuk berbuat kekasaran antara sesama.”
“Aku benar-benar tidak
mengerti. Dan beberapa orang ternyata telah melakukannya. Di antaranya anak itu.
Dan ia kemudian menjadi sakti pula karenanya. Dan kesaktiannya itulah yang
menjadikan anak itu seperti anak yang gila.”
Mahisa Agni mendengar
kata demi kata itu dengan wajah yang tunduk. Inilah salah satu contoh dari
seorang anak muda yang lepas kendali. Anak muda yang memiliki kesaktian, namun
kesaktiannya itu akhirnya telah menakut-nakuti orang di sekitarnya. Tiba-tiba ia
merasa bahwa ia telah dihadapkan pada satu cermin di mana ia dapat melihat
dirinya sendiri.
Dalam pada itu orang itu
berkata seterusnya, “Siang malam aku berdoa mudah-mudahan dilenyapkanlah
ilmu-ilmu semacam itu dari dunia ini, sehingga kami, orang-orang lemah ini akan
dapat menikmati hidup kami dengan tenteram.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia sadar bahwa kata-kata itu sama
sekali tidak ditunjukkannya kepadanya, namun ia merasa perlu juga untuk
menjawab. Katanya, “Bapak. Yang salah menurut hematku bukan ilmunya. Tetapi
karena ilmu itu dimiliki oleh seseorang, maka segala sesuatu tergantung sekali
kepada orang itu. Ia dapat memanfaatkan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang
sebaliknya. Mempergunakan ilmunya untuk tujuan-tujuan yang baik.”
“Apakah tujuan yang baik
itu? Dapatkah tujuan yang baik itu dilandasi oleh kekerasan dan kekasaran
semacam itu?”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia sempat menjawab, ia pun menjadi
terkejut. Seorang perempuan yang telah melampaui umur setengah abad, berlari
terjingkat-jingkat dari ruang dalam. Kemudian dengan cemasnya ia berbisik,
“Kiai, o Kiai, jangan sekali-kali menyebut-nyebut tentang anak itu. Lihatlah, ia
lewat di jalan di muka rumah kita. Aku telah mengintipnya dari dapur.”
Orang tua itu pun
tiba-tiba menjadi pucat. Dengan gemetar ia merangkak ke dinding rumahnya.
Setelah ditemukannya sebuah lubang di antara anyaman dindingnya, maka ia pun
mengintip pula.
“Oh, apakah ia anak
hantu?” desisnya.
“Jangan Kiai,” potong
perempuan tua, yang ternyata adalah istrinya, “ia tahu apa yang diucapkan oleh
setiap orang tentang dirinya.”
Orang itu masih mengintip
dari lubang dinding. Dan tiba-tiba Mahisa Agni pun ingin mengintip pula. Ia
ingin melihat orang yang telah menakut-nakuti seluruh padukuhan ini. Karena itu
pun segera Mahisa Agni mencari lubang pula di antara anyaman.
Dan sebenarnyalah,
dilihatnya seorang laki-laki lewat di jalan di muka rumah itu. Meskipun tidak
begitu jelas, namun Mahisa Agni dapat melihatnya, seorang anak muda yang
bertubuh tinggi tegap berdada bidang. Namun ia tidak dapat mengenal wajah anak
muda itu dengan cermat.
“Oh, ampun,” tiba-tiba
orang tua itu berdesis. Mereka melihat orang yang mereka takuti itu berhenti di
depan regol halaman. Sesaat diamat-amatinya regol itu, kemudian dilontarkannya
pandangan matanya yang tajam itu ke pintu rumah. Mahisa Agni yang ikut serta
mengintip itu pun ikut berdebar-debar pula. Didengarnya dengan jelas, nafas
orang tua itu tersengal-sengal, bahkan perempuan tua di belakangnya itu pun
telah menjadi semakin pucat.
Tetapi orang tua itu
kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak muda yang mereka takuti itu
tidak masuk ke halaman. Setelah ia berhenti dengan ragu-ragu, maka kemudian anak
muda itu meneruskan langkahnya menyusuri jalan-jalan padukuhan tempat
kelahirannya.
“Oh,” desis orang tua itu
pula, “diselamatkannya kita oleh dewa-dewa.”
Meskipun demikian,
seakan-akan ia masih belum percaya pada penglihatannya, sehingga untuk beberapa
lama masih saja ia berjongkok mengintip. Baru setelah ia yakin, bahwa orang yang
mereka takuti itu telah pergi, maka beringsutlah orang tua itu dari tempatnya,
kembali duduk di atas tikar anyaman sambil mempersilakan Mahisa Agni, “Duduklah,
Ngger.”
Mahisa Agni pun kemudian
duduk kembali di tempatnya. Dilihatnya laki-laki tua itu masih gelisah dan
cemas. Namun ia mencoba tersenyum. Katanya, “Sudahlah Nyai, pergilah ke dapur.
Anak itu telah pergi.”
Perempuan itu menyahut,
“Jangan membicarakannya. Ia akan mendengarnya. Dan ia akan datang kemari.”
Laki-laki itu tidak
menjawab. Dipandanginya istrinya sampai di balik dinding. Kemudian setelah
istrinya itu tidak kelihatan lagi, maka katanya, “Semua orang menjadi sedemikian
ketakutan sampai orang tidak berani menyebut namanya. Ternyata istriku juga dan
aku agaknya akan menjadi takut pula.”
“Siapakah namanya,”
tiba-tiba saja Mahisa Agni melontarkan pertanyaan itu.
Orang tua itu terkejut
mendengar pertanyaan Mahisa Agni. Jawabnya, “Jangan bertanya namanya Angger.”
Mahisa Agni tersenyum.
Dan orang itu menjadi heran melihat senyum itu. Katanya, “Aku tidak sedang
berolok-olok, Ngger. Aku berkata sebenarnya.”
“Bapak tadi telah
mengutuknya. Kalau ia mengetahui setiap orang yang memerkarakan dirinya, kenapa
ia tidak singgah kemari dan mempersoalkannya?”
Laki-laki itu
menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Mungkin Angger benar.”
“Aku pasti Bapak,” sahut
Mahisa Agni, “ia tidak akan mendengar.”
Orang tua itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia menyebut nama itu, namun
diurungkannya ketika ia melihat istrinya datang untuk menyalakan, lampu minyak
yang melekat di dinding. Namun kemudian dengan selembar daun, nyala lampu itu
pun ditutupnya supaya tidak tampak terlalu terang dari luar.
Baru ketika perempuan itu
telah pergi, berkatalah orang tua itu, “Aku mengenalnya pada masa kanak-kanaknya
dengan nama Pasik. Tetapi kemudian nama itu diubahnya. Ketika ia datang untuk
pertama kalinya mengunjungi padukuhan ini sesudah berguru, maka namanya berganti
menjadi Waraha. Aku tidak tahu, mana yang lebih baik namun Waraha benar-benar
mempunyai kesan yang menakutkan.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kesan nama itu benar-benar menakutkan. Dan
bukanlah tanpa maksud bagi Pasik untuk mengubah namanya. Perubahan nama itu
telah menunjukkan, nafsu yang tersembunyi pada anak itu. Nafsu untuk menang dan
nafsu untuk menguasai. Maka bertanyalah Mahisa Agni kemudian, “Apakah yang
kemudian dilakukan di tempat kelahirannya ini, sehingga semua orang menjadi
takut kepadanya?”
“Oh, benar-benar terkutuk
anak itu!” jawab laki-laki tua itu, “Setiap kali ia kehabisan uang, harta dan
benda, selalu ia datang ke rumahnya. Mula-mula ayahnyalah yang diperas
habis-habisan. Namun setelah ayahnya tidak memiliki apapun lagi, maka
menjalarlah kepada tetangga-tetangganya. Apa saja yang diinginnya, diambilnya
tanpa menghiraukan orang yang memilikinya. Perhiasan dan kekayaan-kekayaan lain
yang kami kumpulkan sedikit-sedikit dengan kerja keras. Bahkan kemudian apabila
diinginnya, sampai juga akhirnya pada anak-anak gadis dan perempuan-perempuan
yang telah bersuami sekali pun.”
Mahisa Agni benar-benar
tertarik pada cerita itu. Karena itu maka katanya pula, “Tidak adakah seorang
pun yang dapat mencegah perbuatan itu?”
“Oh Ngger, Ngger. Ia
adalah seorang yang sakti. Dan ia tidak selalu datang sendiri. Pernah ia datang
bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya. Dan bahkan kali ini ia datang
bersama-sama dengan gurunya.”
Orang tua itu berhenti
sesaat. Sekali lagi ia menatap pintu rumahnya, kemudian katanya melanjutkan
perlahan-lahan sekali, “Ayahnya sendiri hampir saja dibunuhnya, ketika ayahnya
itu mengutuknya. Kata ayahnya itu, kalau Pasik itu mati saja, maka ayahnya akan
menyembelih tiga ekor kambing sebagai ucapan terima kasihnya. Tetapi ayahnya itu
dipukulnya sambil berteriak, ‘Biarlah kau mati dahulu tua bangka’. Dan ibunya
pun pernah juga dicekiknya hampir mati.”
Orang tua itu berhenti
sejenak. Sekali-kali ia berpaling ke arah pintu dengan cemasnya. Kemudian
katanya, “Ah. Sudahlah. Marilah kita berbicara tentang hal-hal yang lain, yang
dapat menggembirakan hati kita.”
“Baiklah, Bapak,” jawab
Mahisa Agni, “namun aku masih ingin bertanya sedikit tentang anak muda itu.
Apakah Pasik itu juga mengenal Bapak dengan baik?”
“Oh tentu, tentu,” jawab
orang tua itu, “ia mengenal aku seperti mengenal bapaknya sendiri pada masa
kanak-kanaknya. Ia adalah kawan bermain anak gadisku. Dan ibumu di sini pun
senang juga kepada anak itu dahulu. Apabila ia bermain-main kemari, diberinya
anak itu makanan dan dibuatkannya permainan-permainan yang mengasihkan.”
“Sudah barang tentu
sekarang tidak bukan bapak?” sela Mahisa Agni.
“Terkutuklah anak itu!”
umpat orang tua itu perlahan-lahan sekali, “Ibunya, ya ibunya sendiri pernah
dicekiknya hampir mati. Tetapi baik ayahnya maupun ibunya itu masih juga hidup
sampai sekarang.”
“Apakah yang sudah
dilakukannya sejak ia pulang kali terakhir ini, Bapak?” bertanya Mahisa Agni.
Orang tua itu menggeleng.
“Belum ada,” jawabnya, “dan karena kami selalu berdebar-debar. Ketika ia pulang
yang terakhir sebelum kali ini, diambilnya gadis anak tetangga sebelah untuk
seorang saudara seperguruannya. Ketika orang tuanya mencoba untuk mencegahnya,
maka orang itu diancamnya. Dan akhirnya tak seorang pun yang mampu untuk
mengurungkan niat itu.”
Cerita itu pun terhenti
pula ketika perempuan tua, istri laki-laki itu, masuk kembali sambil berbisik,
“Sudahlah, Kiai. Sudahlah. Jangan sebut-sebut lagi anak muda itu. Akan celakalah
nasib kita karenanya.”
Laki-laki tua itu
menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baik, baiklah, Nyai. Aku memang sudah akan
berhenti bercerita, namun Angger Agni ini masih bertanya pula.”
Perempuan tua itu
memandang wajah Mahisa Agni. Dari matanya memancar suatu permintaan, seakan-akan
berkata, “Sudahlah Ngger, jangan bertanya tentang anak itu lagi.”
Mahisa Agni pun memaklumi
permintaan itu. Dan ia pun menjadi iba juga kepada perempuan yang ketakutan itu.
Karena itu maka ia tidak bertanya-tanya lagi. Dan laki-laki tua itu pun tidak
bercerita lagi tentang anak muda yang menakutkan itu.
Kini laki-laki itu mulai
bercerita tentang anak perempuannya. Anak yang diperistri oleh tetangga sebelah.
Oleh kakak dari gadis yang dilarikan Pasik.
“Mudah-mudahan anak itu
menjadi bahagia,” desahnya, “dan mudah-mudahan anak itu tidak diganggu oleh anak
muda yang durhaka itu, atau oleh saudara-saudara seperguruannya.”
“Sst!” desis istrinya,
“Kiai sudah akan mulai lagi?”
“Oh, tidak, tidak,”
sahutnya cepat-cepat.
Dan sesaat orang itu
berdiam diri. Istrinya pun tidak berkata-kata pula. Dengan demikian maka ruang
itu menjadi sepi.
Namun betapa terkejutnya
mereka itu bertiga, lebih-lebih lagi laki-laki tua beserta istrinya, ketika
tiba-tiba didengarnya di muka pintu rumahnya suara tertawa perlahan-lahan, namun
terasa getarannya memukul-mukul dada. Suara tertawa itu seolah-olah menyusup ke
dalam rumah kecil itu dan melingkar-lingkar bergelombang.
“Mati aku!” desis
laki-laki tua itu.
Sedang istrinya tiba-tiba
saja menjadi gemetar seperti orang kedinginan. Terbata-bata ia berkata,” Oh
Kiai, Kiai, kau telah membunuh diri dan membunuh seluruh keluarga kita. Aku
sudah bilang, jangan kau memperkatakannya.”
Laki-laki itu pun menjadi
gemetar. Mulutnya seakan-akan tersumbat.
Ketika didengarnya pintu
rumah itu diketuk perlahan-lahan, perempuan tua itu dengan lemahnya terduduk d
ilantai sambil gemetar.
“Selamat sore Kiai,”
terdengar sapa halus di belakang pintu rumah itu. Namun suami istri itu
benar-benar seperti orang yang kehilangan tenaga.
“Kiai,” sekali lagi
terdengar suara di belakang pintu, “bukalah!”
Laki-laki tua itu masih
terduduk di tempatnya. Mulutnya bergerak-gerak tetapi suaranya tak terdengar.
“Bukalah, Kiai!” suara di
luar menjadi semakin keras. Dan orang tua itu pun terkejut. Jawabnya
terbata-bata,” Ya, ya Ngger. Ya. Ya aku buka.”
Namun ia masih belum
bergerak juga.
Tiba-tiba terdengarlah
pintu rumah itu berderak. Dan sebelum orang tua itu membuka pintunya, maka pintu
rumah itu pun telah terbuka. Ternyata orang yang berdiri di luar rumah itu sama
sekali tidak sabar lagi menunggu laki-laki itu membuka pintunya,
Mahisa Agni pun menggeser
duduknya pula menghadap pintu. Karena itu dilihatnya dalam cahaya lampu yang
remang-remang seorang anak muda yang gagah masuk ke dalam rumah itu.
“Selamat sore, Kiai,”
sapanya sambil membungkukkan kepalanya.
Suami istri itu
benar-benar telah menjadi gemetar. Meskipun demikian laki-laki itu menjawab
dengan kata-kata yang parau dan bergetar, “Selamat malam Ngger, selamat sore.”
Anak muda itu tersenyum.
Diraihnya selembar daun yang menutup cahaya lampu minyak di dinding. Karena itu
maka ruangan itu pun menjadi semakin terang.
Kini Mahisa Agni dapat
melihat anak muda itu dengan jelas. Dilihatnya setiap garis di wajahnya. Wajah
yang keras, namun tidak sedemikian bengis seperti yang disangkanya. Bahkan anak
itu kelihatan tampan pula. Dengan tersenyum ia maju beberapa langkah dan
kemudian ikut duduk pula di antara mereka.
Kemudian anak muda yang
mengubah namanya sendiri menjadi Waraha itu tersenyum. Katanya, “Ah, sudah lama
aku tidak berkunjung kemari Kiai.”
Orang tua itu menjadi
semakin gemetar. Namun ia menjawab pula, “Ya, ya Ngger.”
Anak muda itu tertawa.
Katanya, “Tetapi Kiai dan Nyai ternyata awet muda.”
Laki-laki tua itu pun
mencoba untuk tertawa. Namun tampaklah betapa masamnya. Dan wajah-wajah yang
pucat itu menjadi semakin pucat ketika anak muda itu berkata, “Ah. Ternyata Kiai
dan Nyai selama ini tidak pernah melupakan aku. Setiap pembicaraan Kiai selalu
masih menyebut-nyebut namaku.”
Kata-kata itu seolah-olah
ledakan petir di atas rumah yang kecil itu. Laki-laki tua dan istrinya menjadi
semakin menggigil karenanya, sehingga mereka tidak dapat mengucapkan sepatah
kata pun lagi.
Anak muda itu kemudian
memandang berkeliling ruangan itu. Ketika matanya hinggap di wajah Mahisa Agni,
maka anak muda itu tersenyum. Dengan ramah ia bertanya kepada laki-laki tua itu,
“Kiai, siapakah tamu Kiai ini?”
Laki-laki itu terkejut.
Sesat ia menjadi bingung, namun kemudian ia menjawab, “Mahisa Agni Ngger,
namanya Mahisa Agni.”
Pasik yang menamakan diri
Waraha itu mengangkat alisnya. Katanya, “Nama yang baik. Mahisa Agni.”
Kemudian kepada Mahisa
Agni ia bertanya, “Ki Sanak. Dari manakah Ki Sanak datang?”
Mahisa Agni menjadi
heran. Anak muda ini tampaknya cukup sopan. Karena itu ia menjawab dengan sopan
pula.
“Aku datang dari Gunung
Kawi, Ki Sanak.”
Waraha mengernyitkan
alisnya. Kemudian katanya, “Jauh sekali. Apakah keperluan Ki Sanak?”
“Aku adalah seorang
perantau,” sahut Mahisa Agni.
Anak muda itu tersenyum
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ditatapnya bungkusan Mahisa
Agni di samping tongkat kayunya. Katanya pula, “Ya. aku percaya kalau Ki Sanak
seorang perantau. Apakah yang Ki sanak simpan di dalam bungkusan itu?”
“Oh,” desah Agni, “bukan
apa-apa. Hanya sekedar kain usang.”
Laki-laki muda yang gagah
itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan sopan pula ia berkata,
“Apakah aku boleh melihatnya?”
Mahisa Agni menjadi
terkejut dan heran. Anak muda itu mengucapkan kata-katanya dengan sopan, namun
apa yang akan dilakukan benar-benar bukan suatu pekerjaan yang sopan. Kini
tahulah Mahisa Agni, bahwa anak muda itu melakukan perbuatan-perbuatan yang
menakutkan penduduk Kajar dengan tingkah laku yang sopan dibuat-buat. Karena itu
Mahisa Agni menjawab, “Tak ada apa-apa di dalamnya, Ki Sanak.”
Waraha tersenyum. Ia
tidak berbicara lagi. Beberapa langkah ia berjalan sambil berjongkok, dan dengan
sopannya ia berkata kepada laki-laki tua itu, “Maafkan aku Kiai.”
Dan sebelum Mahisa Agni
dapat mencegahnya, Waraha telah meraih bungkusannya.
Mahisa Agni hanya dapat
menarik nafas. Namun ia harus memperhatikan setiap perbuatan Pasik. Karena itu,
Mahisa Agni itu pun kemudian bergeser beberapa cengkang, mendekati Pasik yang
asyik membuka bungkusannya itu.
Anak muda itu terkejut
ketika di dalam bungkusan itu dilihatnya sebilah keris.
“Ah,” katanya, “keris
yang bagus.”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Keris itu adalah keris pusaka peninggalan ayahnya dan dibuat oleh
pamannya. Meskipun demikian masih dibiarkannya Pasik mengamat-amati keris itu.
Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya Pasik itu bergumam, “Keris yang bagus. Bagus
sekali. Dari manakah kau dapat keris ini Ki Sanak?”
Mahisa Agni mengangkat
keningnya jawabnya, “Aku menerimanya dari Ayah, Ki Sanak.”
“Apakah kau seorang yang
ahli mempergunakan senjata, khususnya keris?”
Mahisa Agni cepat-cepat
menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Keris pusaka. Aku bawa ke mana saja aku
pergi. Mudah-mudahan keris itu dapat memberi aku keselamatan.”
Waraha itu tiba-tiba
tertawa. Katanya, “Ah kau aneh Ki Sanak. Apakah kerismu ini juga dapat memberimu
keselamatan? Kau agaknya kurang dapat memahami kata-kata itu. Keris ini akan
dapat memberi keselamatan apabila kau mampu mempergunakannya. Apakah kau mampu
bertempur dengan keris?”
Mahisa Agni menggeleng
pula. Jawabnya, “Mudah-mudahan keris itu bermanfaat bagiku.”
Pasik itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata menyentak, “Hai perantau.
Apakah kau seorang petualang yang sakti?”
Mahisa Agni terkejut
ketika tiba-tiba ia melihat Waraha menarik kerisnya dari wrangkanya. Ujung keris
itu tiba-tiba telah terayun ke dadanya.
Mahisa Agni itu pun
kemudian bergeser surut. Ia tidak mau membuat perselisihan sejauh mungkin.
Karena itu ia menjawab, “Jangan Ki Sanak, jangan.”
Namun Waraha itu pun
beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa Agni. Sambil
membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”
Mahisa Agni pun bergeser
pula mundur. Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Tiba-tiba Waraha itu
tertawa. Tertawa sepuas-puasnya. Katanya, “Hem. Sebaiknya kau tidak usah membawa
senjata. Senjata ini akan berbahaya bagimu sendiri seandainya kau tidak mampu
mempergunakannya.”
Mahisa Agni itu pun
menjadi heran. Apakah maksud Waraha dengan kata-katanya. Tetapi ia tidak boleh
lengah. Ketika ia berpaling ke arah sepasang orang-orang tua itu, maka Mahisa
Agni menjadi iba. Keduanya telah menggigil seperti orang kedinginan. Demikian
takutnya sehingga perempuan tua itu berpegangan suaminya erat-erat.
Waraha itu pun kemudian
menyarungkan keris itu ke dalam wrangkanya. Kemudian dengan rapi keris itu
dikembalikan ke dalam bungkusannya pula. Dan kini kembali wajah Pasik itu
menjadi jernih. Dengan sopan ia berkata, “Ki Sanak. Ternyata keris itu
sedemikian bagusnya. Aku belum pernah melihat keris sebagus itu. Apakah Ki Sanak
benar-benar memerlukannya?”
“Tentu, tentu,” sahut
Mahisa Agni cepat-cepat, “keris itu adalah pusaka peninggalan ayahku. Dan keris
itu akan dapat memberi aku ketenangan.”
Waraha itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandangnya wajah Mahisa Agni yang
tunduk. Ketika Waraha itu berpaling ke arah laki-laki tua dan istrinya, ia
tertawa. Katanya, “Maafkan aku Kiai dan Nyai. Aku tidak ingin menakut-nakuti
kalian. Aku hanya bermain-main saja.” Dan tiba-tiba kepada Mahisa Agni ia
berkata, “Ki Sanak. Aku ingin kerismu itu.”
Mahisa Agni sudah
menyangka bahwa Pasik itu menginginkan kerisnya. Karena itu ia tidak terkejut.
Meskipun demikian ia menjawab, “Jangan Ki Sanak. Keris itu keris pusaka.”
—–
Namun Waraha itu pun beringsut maju pula. Kerisnya masih terarah ke dada Mahisa
Agni. Sambil membentak sekali lagi ia berkata, “Ayo, lawanlah!”
Mahisa Agni bergeser pula mundur Katanya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”
—–
Waraha tertawa. Sekali
lagi ia memandang ke wajah laki-laki tua dan istrinya. Katanya, “Jangan takut,
Kiai. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku sebenarnya hanya ingin berkunjung
saja. Bukankah Kiai dan Nyai telah banyak berbuat kebaikan kepadaku?”
Laki-laki tua itu
mengangguk-angguk kosong. Dari mulutnya terloncat kata-kata, satu-satu, “Ya
Ngger. Terima kasih, terima kasih.”
“Kenapa terima kasih?”
bertanya anak muda itu.
Orang tua itu menjadi
bingung, sedemikian bingungnya sehingga ia menjawab, “Terima kasih Ngger, karena
Angger tidak akan berbuat apa-apa.”
“He?” jawab Pasik,
“Apakah aku selalu mengganggu orang? Sehingga apabila aku tidak berbuat
demikian, maka itu dapat dianggap suatu kebaikan?”
Orang tua itu menjadi
semakin bingung. Terbata-bata ia menjawab, “Tidak, tidak. Maksudku tidak
sedemikian.”
Pasik itu tiba-tiba
tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Semakin lama
semakin tampaklah bahwa kesopanan yang berlebih-lebihan itu adalah
dibuat-buatnya saja. Ternyata apa yang dilakukan semakin menjadi kasar dan
memuakkan.
Kepada Mahisa Agni
kemudian anak muda itu berkata, “Anak muda. Aku ingin kerismu itu. Besok kau
harus menyerahkannya kepadaku di rumahku. Ingat besok. Aku tidak akan merampas
keris itu di sini supaya aku tidak menakut-nakuti penghuni rumah yang baik ini,
meskipun sekarang sudah menganggap aku sebagai anak durhaka, seperti orang
seluruh padukuhan ini menganggap aku demikian pula. Tetapi tak apa. Aku dapat
hidup tanpa orang-orang di padukuhan ini. Nah, ingat. Besok pagi. Jangan mencoba
melarikan diri malam nanti. Sebab nyawamu pasti akan melayang.”
Mahisa Agni itu pun
mencoba bertanya, “Kenapa aku mesti menyerahkan keris ini kepada Ki Sanak.”
Pasik mencibirkan
bibirnya. “Jangan banyak bertanya,” jawabnya, “Malanglah kau, karena kau telah
bertemu dengan aku. Nah kini aku akan pergi.”
Ketika Mahisa Agni akan
berkata sesuatu, maka Pasik itu segera membentaknya, “Jangan bertanya dan
berkata apapun! Kau hanya dapat melakukan. Datanglah besok ke rumahku. Serahkan
keris itu kepadaku. Aku juga sedang menunggu beberapa orang yang akan memberi
aku bekal perjalanan dua tiga hari yang akan datang. Mereka adalah sahabatku
yang baik, yang dapat mengerti keadaanku.”
Dan Mahisa Agni pun
kemudian tidak berkata-kata pula. Dan bahkan timbullah keinginannya untuk
melihat rumah Pasik besok dan melihat apa saja yang akan dilakukannya dan siapa
sajakah yang besok harus datang pula ke rumahnya.
Pasik itu pun kemudian
berdiri. Namun ia tidak segera pergi. Dilepaskannya ikat pinggangnya beserta
timang perak murni yang berkilat-kilat kena sinar lampu minyak. Heranlah Mahisa
Agni ketika Pasik itu memberikan timang itu kepada orang tua penghuni rumah itu.
Katanya, “Ah, Barangkali aku perlu memberikan sesuatu kepada Kiai. Bukan
apa-apa, hanya sekedar tanda mata, supaya untuk seterusnya Kiai tidak melupakan
aku, anak nakal yang pernah menerima kebaikan hati dari Kiai berdua.”
Orang tua itu pun menjadi
tercengang. Karena itu untuk sesaat ia diam memasung. Dipandangnya Pasik dengan
mata tak berkedip. Sehingga Pasik itu menyerahkannya sekali lagi, “Inilah Kiai,
terimalah tanda mata yang tak berarti.”
Seperti kena pukau, maka
orang tua itu pun berdiri. Selangkah maju sambil menerima pemberian yang tak
disangka-sangkanya.
“Terima kasih,” katanya
lirih, hampir tak terdengar.
“Jangan berterima kasih
Kiai,” jawab Pasik, “kenang-kenangan yang tak seberapa nilainya.”
Orang tua itu pun
menganggukkan kepalanya. Diamatinya timang perak itu dengan seksama. Baik juga
buatannya. Meskipun orang tua itu sebenarnya tak memerlukan timang itu, namun
tak habis juga herannya, kenapa pada suatu ketika orang yang bernama Pasik itu
sedemikian baik hati kepadanya.
“Sudahlah, Kiai,” Pasik
itu minta diri.
“Ya, ya Ngger,” sahut
laki-laki tua itu.
“Selamat malam, Nyai,”
katanya pula sambil melangkah ke pintu.
“Terima kasih Ngger,
terima kasih,” jawab perempuan tua yang kemudian menjadi bertambah berani.
Apalagi ketika ia melihat anak yang ditakuti itu justru memberikan timang dan
ikat pinggang kepada suaminya. Suatu hal yang tak disangkanya, setelah suaminya
tidak habisnya mengumpat dan mengutuk anak itu di hadapan tamu mereka.
Pasik itu pun kemudian
membuka pintu, dan satu kakinya melangkahi tlundak. Tetapi tiba-tiba ia berhenti
di tengah-tengah pintu. Sambil berpaling ia berkata, “Besok aku harap Kiai
datang juga ke rumah mengantarkan anak muda itu. Salam buat gadis kiai. Tolong
ajak juga ia serta. Jangan lupa, Kiai. Dan masih ada permintaanku kepada Kiai.
Aku juga ingin mendapat tanda mata barang sedikit. Apapun asal dapat memberi aku
kesan, bahwa Kiai pernah memberi aku kesenangan di masa kecilku.”
Orang tua itu menjadi
berdebar-debar. Besok ia harus datang ke rumah anak itu dengan gadisnya. Ah,
bukankah ia sudah bukan gadis lagi? Namun sebelum ia sempat menjelaskan, Pasik
itu sudah berkata pula, “Kiai, barangkali Kiai tidak usah berpikir terlalu repot
tentang tanda mata itu. Apapun jadilah. Misalnya ikat pinggang Kiai yang terbuat
dari kulit kerbau itu bersama timangnya sekali.”
Kini orang tua itu
benar-benar merasa seakan-akan disambar petir. Timangnya itu yang dimintanya.
Timang emas bersalut permata. Satu-satunya kekayaan yang ada padanya, yang
dikumpulkannya sejak mudanya.”
Karena itu, maka kembali
tubuh suami istri itu menggigil. Bahkan lebih keras dari semula, sehingga timang
perak murni itu terjatuh dari tangannya.
“Oh, oh,” berkata Pasik
yang dengan tergopoh-gopoh melangkah mengambil timang itu, “Jangan dibuang Kiai.
Simpanlah meskipun tak bernilai. Tetapi ingat, besok aku menunggu Kiai di
rumahku. Dan Kiai akan datang membawa tanda mata yang aku minta itu, selain
gadis kiai yang cantik dan anak muda tamu kiai itu.”
Pasik tidak menunggu
orang tua itu menjawab. Dikalungkannya ikat pinggangnya di leher orang tua itu.
Dan dengan langkah yang tegap tenang ia berjalan keluar dari rumah yang pernah
menjadi tempatnya bermain pada masa kanak-kanaknya.
Sepeninggal Pasik, sesaat
orang tua itu masih berdiri saja seperti patung. Baru kemudian ketika ia
menyadari keadaannya, diambilnya ikat pinggang yang tersangkut di lehernya itu.
Kemudian dibantingnya ikat pinggang itu sambil mengumpat, “Anak setan! Sampai
hati juga ia minta timang itu.”
Istrinya ternyata sudah
tidak dapat memberi sambutan apapun atas kejadian itu. Agaknya kepalanya menjadi
pening, dan tanpa berkata apapun juga, perempuan itu berjalan bergegas masuk ke
dalam biliknya.
Orang tua itu masih saja
gelisah. Bahkan kemudian ia berjalan mondar-mandir sambil mengumpat tak
habis-habisnya. Namun kata-kata Pasik itu merupakan perintah baginya selama ia
masih sayang akan dirinya. Dipertimbangkannya keadaannya sebaik-baiknya.
Berulang-ulang. Namun tak dilihatnya jalan apapun selain menyerahkan kekayaannya
itu. Tetapi apabila diingatnya, Pasik minta ia datang bersama anaknya yang
ternyata bukan gadis lagi, maka otaknya menjadi semakin pening, dan detak
jantungnya seakan-akan memecahkan dadanya yang sudah menjadi semakin tipis.
Mahisa Agni menjadi
kasihan juga melihat orang tua itu menjadi bingung. Tetapi ia tidak dapat
berbuat sesuatu. Meskipun demikian dicobanya juga untuk mengurangi penderitaan
perasaan itu. Katanya bertanya, “Kiai, apakah setiap perintah itu harus
dipenuhi?”
Orang tua itu mengerutkan
keningnya. “Hem,” desahnya, “kalau tidak, maka aku tidak akan menjadi gila
seperti ini.”
“Bagaimanakah kalau
sekali-kali permintaan itu ditolak?” bertanya Mahisa Agni pula.
“Belum pernah seseorang
berbuat demikian sejak Carub terbunuh.”
Dada Mahisa Agni berdesir
mendengar jawaban itu. Kalau demikian maka Pasik itu sudah melangkah terlalu
jauh sehingga telah jatuh korban karena tangannya.
“Jadi Pasik itu pernah
membunuh orang?” bertanya Agni
Orang tua itu mengangguk.
Jawabnya, “Tidak sendiri. Bertiga dengan saudara-saudara seperguruannya.”
“Dikerubut?” desak Agni
Orang tua itu menggeleng.
Jawabnya, “Salah seorang dari mereka telah cukup untuk membunuh Carub. Namun
mereka melakukannya bertiga. Beramai-ramai seperti membunuh tupai. Mula-mula
Pasik itu tidak akan melakukannya. Carub adalah kawannya bermain sejak kecil.
Ketika orang itu menolak memberikan seluruh simpanannya sepuluh keping emas,
maka Carub itu dipukul oleh Pasik. Namun kawan-kawannya tidak puas melihatnya.
Karena itu, maka mereka pun ikut serta. Dan tubuh Carub itu kemudian seperti
pisang busuk.”
Mahisa Agni mengangkat
wajahnya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Apakah
Pasik itu termasuk salah seorang tokoh sakti. Namun aku belum pernah mendengar
namanya. Waraha pun belum pernah didengarnya. Mungkin nama gurunya.”
Karena itu maka Agni pun
bertanya, “Siapakah gurunya itu?”
“Tak seorang pun yang
mengetahuinya. Ia datang dari jauh. Dan disebutnya namanya seperti nama daerah
asalnya. Menurut Pasik nama gurunya itu adalah Bahu Rekso Kali Elo.”
Sekali lagi dada Mahisa
Agni berdesir. Nama itu belum pernah didengarnya, tetapi gurunya pernah
menyebut-nyebut bahwa di sekitar Tumapel ada seorang guru yang datang dari
daerah pusat Pulau Jawa. Namun sayang, tabiatnya kurang menyenangkan, sehingga
orang itu tak begitu dikenal, dan bahkan agak terpencil dari pergaulan para
sakti. Murid-muridnya tidak hanya dua tiga orang. Hampir semuanya adalah para
penjudi dan penjahat. Apakah orang ini yang dimaksudkan, atau orang lain.
Apabila benar orang itu, alangkah jauh daerah pengaruhnya, sehingga orang di
kaki Gunung Semeru pun berguru pula kepadanya.
Dan ternyata orang itu
kini ikut serta dengan muridnya yang bernama Pasik itu berkunjung ke padukuhan
kecil ini. Dengan demikian kedatangan orang itu pasti akan mempunyai pengaruh
yang sangat jelek terhadap penduduk Kajar.
Namun betapapun juga,
Mahisa Agni terpaksa menilai diri dan orang-orang yang belum dikenalnya itu.
Apalagi gurunya, sedangkan muridnya pun belum diketahui tingkat ilmunya.
Seandainya, ya seandainya, Pasik memaksa untuk memiliki keris peninggalan
ayahnya itu, apakah ia harus tetap berdiam diri?
Malam itu, hampir tidak
ada di antara mereka bertiga,orang tua itu, istrinya dan Mahisa Agni yang sempat
memejamkan matanya. Orang tua suami istri itu selalu diganggu oleh ketakutan dan
kebingungan menghadapi permintaan Pasik. Sedang Mahisa Agni tak dapat melepaskan
perasaan ibanya kepada orang tua itu. Ingin ia menjanjikan sesuatu kepada mereka
namun apakah ia akan dapat memenuhinya, belumlah pasti. Sebab kalau benar, Bahu
Reksa Kali Elo itu adalah orang yang dikatakan gurunya, maka ia tidak tahu
apakah ia akan dapat meninggalkan padukuhan ini dengan selamat apabila ia ingin
mempertahankan kerisnya.
Tetapi malam berjalan
terus tanpa menghiraukan kegelisahan, ketakutan, kecemasan yang mencengkam
Padukuhan Kajar. Tidak hanya orang tua itu saja yang ternyata tidak dapat tidur
semalaman. Namun banyak yang lain. Banyak di antara mereka yang tidak dapat
tidur karena harus menyerahkan cincin mereka, kalung mereka atau apa saja yang
diinginkan oleh Pasik itu, yang sebagian besar adalah benda-benda berharga.
Emas, permata dan sebagainya.
Dan malam itu pun
berjalan menurut iramanya sendiri. Sekejap demi sekejap dilampauinya dengan ajeg
menuju kepada akhirnya,
Ketika ayam jantan
berkokok menjelang fajar, orang tua yang malang itu telah tidak dapat bertahan
lagi berbaring di pembaringannya. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dan duduk di
tlundak pintu. Sedang Mahisa Agni yang tidur di lantai, di atas alas selembar
tikar itu pun kemudian bangkit pula. Sekali ia menggeliat, kemudian kedua belah
tangannya ia menutupi mulutnya yang sedang menguap.
Orang tua itu berpaling
kepada Agni. Perlahan-lahan ia berkata, “Aku sudah hampir menjadi gila. Apakah
Ki Sanak tidak sayang kepada keris itu?”
“Tentu, Bapa, tentu,”
sahut Mahisa Agni terbata-bata.
“Pagi ini keris itu sudah
harus Angger serahkan kepada si Pasik gila itu,” sambung orang tua itu.
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian tiba-tiba ia berkata, “Bagaimanakah
kalau aku melarikan diri sekarang, Bapa?”
Orang tua itu mengerutkan
keningnya. Jawabnya, “Hampir tak ada gunanya Ngger. Pasik itu pasti segera akan
mengejarmu. Ke mana saja kau pergi, maka pasti akan dapat ditemukannya. Kalau
Angger lari, itu hanyalah seakan-akan menunda mala petaka untuk sesaat. Namun
Pasik pasti akan menebus susah payahnya itu dengan kegembiraan-kegembiraan yang
gila. Ia mungkin juga untuk menyiksa seseorang demi kesenangannya, atau karena
kejengkelannya.”
“Tetapi aku masih
mempunyai cukup waktu sampai ia yakin aku tidak datang ke rumahnya.”
Orang tua itu pun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Mungkin juga. Angger juga
seorang perantau, sehingga Angger dapat berjalan lebih cepat dan mencari
jalan-jalan yang sulit.”
Orang itu berhenti
sejenak, nampaklah ia berpikir. Sesaat kemudian ia meneruskan, “Mungkin bagi
Angger. Tetapi…….” Orang tua itu berhenti.
“Tetapi….?” ulang Mahisa
Agni.
Orang tua itu menggeleng,
“Tidak apa-apa Ngger. Namun kalau Angger ingin mencoba, cobalah, Biarlah aku
tinggal di sini. Aku sudah tua.”
Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Tetapi segera ia menangkap maksud
kata-kata itu, meskipun orang tua itu berusaha untuk menyimpannya di dalam hati.
Orang tua itu ternyata sedang membayangkan, apakah akibat yang akan terjadi,
kalau tamunya itu melarikan diri. Maka segala persoalan pasti akan ditimpakan
kepadanya. Dan sebenarnyalah Agni tidak ingin melarikan diri. Bahkan ia ingin
melihat, apa saja yang akan terjadi di rumah Pasik itu.
Sementara itu pun, langit
menjadi semakin lama semakin terang. Warna yang kelam seakan-akan sedikit demi
sedikit larut dihanyutkan oleh angin pagi. Bintang-bintang yang masih
gemerlapan, semua tenggelam dalam cahaya yang semakin terang. Dan bintang pagi
pun kemudian sinarnya menjadi pudar dan lenyap ditelan cerahnya sinar matahari
pagi.
Demikian akhirnya malam
itu pun lenyaplah. Padukuhan Kajar itu kini kembali ditimpa oleh sinar matahari.
Namun padukuhan itu tidak segera terbangun. Seakan-akan seseorang yang sedang
sakit parah, yang tetap tinggal di pembaringannya meskipun matahari telah
mencapai tinggi sepenggalah.
Tetapi akhirnya, beberapa
orang Kajar itu harus ke luar juga dari rumah-rumah mereka. Mereka adalah
orang-orang yang telah dikunjungi oleh Pasik serta diminta untuk datang ke
rumahnya mengantarkan barang-barang yang dikehendakinya.
MAHISA AGNI PUN KEMUDIAN
membenahi diri. Mencuci muka di sumur di belakang rumah. Memperbaiki letak
pakaiannya dan kemudian bersama-sama dengan orang tua yang ramah itu, duduk di
atas tikar anyaman menghadapi air jahe hangat dan sebongkah gula kelapa.
“Minumlah Ngger,” orang
tua itu mempersilakan, namun ia sendiri tidak mau minum. Lehernya yang telah
berkeriput itu seakan-akan telah tersumbat. Meskipun demikian, Mahisa Agni minum
juga beberapa teguk. Alangkah segarnya.
“Sebentar lagi kita harus
pergi memenuhi permintaan anak setan itu. Istriku sedang menjemput gadisnya di
rumah sebelah. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari malapetaka yang lebih besar.
Biarlah aku serahkan timang itu, asal anakku itu tidak diganggunya.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Alangkah sedihnya orang tua itu.
Sesaat kemudian istrinya
yang telah tua pula itu pun datang bersama anak perempuan beserta suaminya.
Sekilas Agni segera dapat melihat air mata yang membasahi mata yang jernih bulat
itu. Sedang suaminya, tidak lebih seorang petani biasa. Bertubuh kecil dan
berhati kecil. Sehingga dengan gemetar ia bertanya, “Apakah yang akan dilakukan
oleh Pasik, Kiai.”
Orang tua itu menggeleng.
Jawabnya, “Aku tidak tahu. Mudah-mudahan tak akan dilakukan sesuatu.”
“Aku telah membawa semua
perhiasan dan kekayaan yang aku miliki. Mudah-mudahan istriku tidak
diganggunya.”
Orang tua itu tidak
menyahut. Namun istrinya menangis terisak-isak, sehingga anaknya menangis pula.
Katanya, “Biarlah aku tinggal di rumah. “
Ayahnya menarik nafas.
Tak sepatah kata pun dapat diucapkan, sehingga anaknya itu berkata pula, “Ayah,
aku lebih baik mati daripada disentuhnya.
Ayahnya masih terbungkam.
Dan bahkan matanya pun menjadi basah pula.
Mahisa Agni benar-benar
tak dapat menahan perasaan harunya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Biarlah
anak bapa tinggal di rumah bersama suaminya.”
Yang mendengar kata-kata
Mahisa Agni itu terkejut. Orang tua itu berpaling kepadanya sambil berkata, “Aku
tidak dapat membayangkan akibatnya.”
“Mudah-mudahan Pasik
melupakannya setelah ia melihat timang bapa dan kerisku ini,” jawab Agni.
Orang tua itu berpikir
sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Hampir tak ada gunanya, Ngger. Ia tidak
dapat melihat keinginannya sepotong-sepotong terpenuhi. Ia ingin semuanya.”
“Tetapi apakah anak bapa
itu juga terpaksa dikorbankan seandainya nanti dikehendaki oleh Pasik itu?”
Orang tua itu terdiam.
Istrinya pun terdiam. Namun anak perempuannyalah yang menangis. Dan bahkan
suaminya pun menangis.
“Jangan menangis,” minta
Mahisa Agni kepada laki-laki itu, “seharusnya laki-laki tidak menangis.”
Tetapi laki-laki itu
menangis terus. Katanya di sela-sela tangisnya, “Ki Sanak tidak merasakan apa
yang aku rasakan. Itulah Ki Sanak dapat berkata demikian.”
Mahisa Agnilah kini yang
terdiam. Ia tidak tahu bagaimana mencoba menghibur mereka. Namun ia menjadi
semakin kasihan juga melihat keadaan keluarga yang sedang berduka itu.
Tiba-tiba perempuan tua
itu berkata, “Kiai biarlah suaminya saja pergi bersama-sama Kiai. Biarlah anak
ini tinggal bersama aku di rumah. Bawalah semua kekayaan yang ada sebagai
tebusannya.”
Laki tua itu
mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya ia pun berkata, “Biarlah ia tinggal di
rumah. Marilah kita pergi apa pun yang terjadi.”
Mahisa Agni menganggukkan
kepalanya sambil menjawab, “Marilah. Kita tebus putri bapa itu dengan kekayaan.
Mungkin Pasik akan bergembira karenanya.”
Orang tua itu tidak
menjawab. Ditatapnya wajah anaknya dan istrinya berganti-ganti. Kemudian kepada
menantunya ia berkata, “Marilah supaya Pasik tidak menjadi kesal menunggu
kedatangan kita.”
Maka pergilah mereka
bertiga ke rumah Pasik. Dengan wajah tunduk menantu orang tua itu berjalan di
sampingnya, sedang Mahisa Agni berjalan di belakang mereka.
Sekali orang tua itu
berpaling sambil bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah Angger sudah ikhlas akan
keris itu?”
Mahisa Agni menarik
nafas. Jawabnya, “Keris ini keris peninggalan Bapa.”
“Jadi?”
“Entahlah,” sahut Agni.
Kembali mereka berdiam
diri. Mereka berjalan menyusur jalan-jalan padukuhan yang sempit, menuju ke
rumah Pasik.
Akhirnya sampai jugalah
mereka ke rumah itu. Rumah yang tidak begitu besar, namun berhalaman luas. Di
halaman itu Mahisa Agni melibat beberapa orang telah berkumpul dengan berbagai
bungkusan di tangan mereka. Namun tampaklah wajah mereka yang suram dan
bersedih. Mereka harus menyerahkan beberapa macam benda bagian dari kekayaan
mereka.
Ketika orang tua itu
sampai di halaman rumah Pasik, maka semua orang yang sudah berada ditempai itu,
menjadi heran dan saling berpandangan. Sebagian dari mereka menjadi heran,
kenapa orang tua itu pula telah dijadikan korban o’eh Pasik ? Dan sebagian lagi
heran melihat kehadiran orang yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Seseorang yang telah
setengah umur segera mendekati orang tua itu sambil berbisik, “Kenapa Kakang
datang kemari?”
“Seperti juga kau datang
kemari,” jawab orang tua itu.
“Oh, apakah Pasik itu
sampai hati juga berbuat demikian kepada Kakang?”
“Ternyata demikianlah.”
Kemudian mereka itu
terdiam ketika mereka melihat Pasik keluar dan rumahnya. Dengan wajah yang cerah
anak muda itu tersenyum. Kemudian mengangguk kepada semua orang yang telah
berada di halaman. Namun seleret ia, memandang ke seberang halamannya. Dan
ternyata di kejauhan, beberapa orang dengan diam-diam ingin melihat apa yang
terjadi di halaman rumah Pasik itu. Namun Pasik itu masih saja tersenyum.
Kemudian dengan ramah ia berkata, “Alangkah senangnya aku, bahwa kalian masih
juga suka berkunjung ke rumah ini. Meskipun belum kalian nyatakan, tetapi aku
sudah tahu bahwa kalian telah bersusah payah datang untuk memberikan bekal
perjalananku lusa. Sebenarnyalah aku memang hendak bepergian. Jauh, ke Tumapel
mengikuti guruku yang hari ini datang juga ke padukuhan ini.”
Pasik itu diam sesaat,
namun orang yang datang di halamannya mengumpat di dalam hati mereka. Sesaat
kemudian Pasik itu berkata, “ Sayang, guruku pagi ini tidak dapat menerima
kalian. Mungkin sebentar lagi setelah guru datang dari melihat-lihat daerah
terpencil ini.”
Kembali Pasik itu berdiam
diri. Ditebarkannya pandangan matanya sekali lagi. Ketika ia melihat Mahisa
Agni, maka anak muda itu tersenyum, “Selamat datang Ki Sanak. Ternyata Ki Sanak
sudi juga berkunjung ke rumah ini.”
Mahisa Agni pun
menganggukkan kepalanya. Jawabnya,
“Tentu. Bukankah Ki Sanak
yang minta kepadaku untuk datang pagi ini?”
Pasik mengerutkan
keningnya, dan orang-orang yang mendengar jawaban itu pun menjadi terkejut.
Alangkah beraninya orang itu menjawab pertanyaan Pasik. Namun kemudian mereka
menyadari bahwa orang itu belum mengenal siapakah Pasik itu.
Pasik pun kemudian
tersenyum pula, “Memang, aku kemarin telah mempersilakan kau datang. Bukankah
lebih baik apabila kita memperbanyak sahabat?”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Dan dibiarkannya Pasik tersenyum puas. Ia ingin melihat apa saja yang
akan terjadi seterusnya di halaman itu. Ternyata Pasik itu pun tidak
memperpanjang perkataannya. Dengan singkat kemudian ia berkata, “Nah, aku akan
sangat berterima kasih atas pemberian kalian. Karena itu, marilah berikanlah apa
yang ingin saudara-saudara berikan itu.”
Suasana kemudian menjadi
hening sepi. Tampaklah beberapa orang menjadi ragu-ragu. Sehingga Pasik itu pun
berkata, “Marilah. Satu demi satu, supaya aku dapat melihat barang-barang yang
kalian berikan itu. Marilah!”
Maka, sesaat kemudian
mulailah orang yang pertama berdiri. Melangkah maju dan menyerahkan bungkusannya
kepada Pasik. Dengan tersenyum puas, Pasik membuka bungkusan itu. Sepotong cula
berukir berbentuk sebuah golek yang sangat manis. Namun wajah Pasik itu
tiba-tiba menjadi gelap. Katanya, “Apakah benda ini sama sekali tidak bersalut
emas?”
Orang yang membawa cula
berukir itu terkejut. Dandengan ketakutan ia menjawab, “Tidak, tidak Pasik.”
“He?” potong Pasik,
“Sebutlah namaku!”
“Oh,” orang itu semakin
ketakutan, “maksudku Angger Waraha.”
Pasik menarik napas.
Tetapi tiba-tiba ia membentak “Bohong! Benda-benda serupa ini biasanya bersalut
emas.”
“Tetapi yang ini tidak
Ngger,” jawab orang itu, “ini adalah peninggalan Bapakku. Dibuatnya benda ini
dengan tangannya sebagai kenang-kenangan pada masa mudanya, ketika Bapak itu
berhasil menangkap seekor badak yang jarang terdapat di daerah ini dalam
perburuannya. Sehingga sudah tentu kami tidak dapat memberinya emas. Sebab
sebenarnya kami tidak pernah melihat, apalagi memiliki emas. Maka …”
“Cukup!” bentak Waraha,
orang itu sedemikian terkejutnya sehingga tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetar,
“Aku tidak perlu sesorah itu.”
Orang itu ternyata masih
ingin memberi beberapa penjelasan, namun mulutnya sajalah yang bergeletar,
tetapi tak sepatah kata pun yang dapat lolos dari tenggorokannya. Apalagi ketika
kemudian ia mendengar Waraha membentaknya sekali lagi, “Pulang! Jangan menghina
aku! Ambil yang lain!”
“Itu, itu…,” sahut orang
itu terbata-bata, “itu adalah milikku yang paling berharga Ngger.”
“Pulang, dan ambil yang
lain! Dengar?”
“Aku, aku sudah tidak
punya apa-apa lagi.”
Waraha itu kemudian
menjadi marah. Dengan serta-merta golek cula yang amat manis itu dibantingnya
pada sebuah batu.
“Pasik!” teriak orang
itu. Tetapi ia hanya dapat melihat golek itu pecah berserakan. Bahkan Pasik itu
masih bertambah marah lagi, karena orang itu menyebut nama aslinya. Karena itu,
dengan kakinya yang kokoh kuat Pasik mendorong orang itu sehingga terpental
beberapa langkah dan jatuh berguling di tanah.
Halaman itu menjadi
tegang dan sepi. Sesepi perkuburan
Tak seorang pun yang
berani memandang wajah Pasik. Namun tiba-tiba mereka yang berada di halaman itu
terkejut ketika mereka mendengar Pasik itu tertawa. Kemudian ia berkata lemah,
“Ah. Maafkan aku. Aku tidak biasa berlaku kasar. Namun aku sebenarnya tidak mau
dihina. Aku tidak mau dihina. Aku tidak akan sakit hati seandainya kalian tidak
ingin memberi aku bekal apa pun. Namun aku tidak mau dihina dengan benda-benda
serupa itu.”
“Hem,” orang tua di
samping Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba ia terkejut
ketika Pasik itu tiba-tiba memandangnya sambil tersenyum. Kemudian dengan
hormatnya ia berkata, “Ah, Kiai. Agaknya Kiai datang juga ke tempat yang kotor
ini.”
Orang tua itu menjadi
berdebar-debar. Apalagi kemudian Pasik itu berkata, “Sebenarnya aku akan sangat
gembira apabila Kiai datang bersama gadis Kiai itu.”
Orang tua itu tidak
menjawab. Namun debar di dadanya menjadi semakin cepat. Karena ia tidak
menjawab,maka Pasik itu berkata pula, “Kiai, tidakkah Kiai datang dengan gadis
Kiai itu?”
Orang tua itu menjadi
bertambah gelisah. Keringat dinginnya telah mulai membasahi bajunya. Dengan
tergagap ia menjawab, “Tidak Ngger. Aku datang bersama suaminya.”
“Suaminya?” tiba-tiba
mata Pasik itu terbelalak. Apakah yang Kiai katakan?”
Orang tua itu telah
benar-benar menjadi gemetar. Sehingga kembali mulutnya terbungkam. yang menjawab
kemudian adalah Mahisa Agni.
“Ya Ki Sanak. Kiai ini
datang bersama menantunya.”
Mata Pasik itu kemudian
menjadi merah. Dengan liar ia menatap Mahisa Agni dan laki-laki tua itu
berganti-ganti. Kemudian katanya lantang “Kiai, buat apa menantumu itu bagiku?”
Mahisa Agni menjadi
ragu-ragu. Karena itu ia pun kemudian berdiam diri. Dibiarkannya Pasik menggeram
dan kemudian berkata, “Aku sudah mengatakan, seharusnya Kiai datang dengan
anakmu, bukan menantumu. Buat apa aku minta menantumu datang?”
Pasik berhenti sejenak.
Kemudian pandangan matanya jatuh kepada menantu orang tua itu. “Ha, kau agaknya
menantunya bukan? Jangan ingkar! Gadis itu memang cantik. Bukankah gadis itu
kawan kita bermain sejak anak-anak?”
Tiba-tiba Pasik itu
tertawa. Suaranya menggelegar memenuhi halaman. Karena itu setiap orang yang
mendengar menjadi ngeri karenanya. Kemudian katanya meneruskan, “Aku kenal kau
sejak kecil dan kau kenal aku sejak kecil pula. Karena itu, marilah kita berbaik
hati sesama kita. Tolonglah aku, panggillah istrimu itu!”
Kata-kata itu benar-benar
tak dapat dimengerti oleh Mahisa Agni. Dan ia menjadi semakin tidak mengerti,
ketika menantu orang tua itu menangis, “Bagaimana Kiai? Apakah aku harus
memanggilnya?”
Orang tua itu pun
terdiam. Dan suasana di halaman itu menjadi beku. yang terdengar kemudian adalah
suara Pasik tertawa sambil berkata lembut. “Bukankah kita bersahabat?” katanya,
“Nah, tolonglah aku.”
Tetapi tiba-tiba Pasik
itu terkejut ketika seorang perempuan menggamitnya. Ketika ia menoleh, maka
katanya “Oh, Ibu. Apakah ada sesuatu?”
“Pasik,” berkata ibunya.
Namun segera Pasik
memutus, “Sebut namaku!”
“Oh,” desah ibunya
“Waraha. Apa pun yang akan kaulakukan, namun jangan diganggu tetua padukuhan
kami itu.”
Pasik mengerutkan
keningnya. Namun kemudian ia berpaling kepada menantu orang tua yang disebut
sebagai tetua padukuhan itu. Katanya “Lekas, tolonglah aku.”
“Waraha,” panggil ibunya.
Namun Pasik itu
seakan-akan tidak mendengar, bahkan ia berteriak lebih keras “Cepat! Panggil
istrimu itu sekarang!”
“Angger,” berkata orang
tua itu dengan gemetar, “aku telah membawa timang yang Angger kehendaki, dan
menantuku telah membawa perhiasan yang dimilikinya. Sedang tamuku pun telah
merelakan kerisnya untuk Angger. Apakah Angger masih memerlukan anakku itu?”
Pasik sama sekali tidak
mau mendengar kata-kata itu. Ia kemudian berteriak tinggi, “Lekas, panggil ia
sekarang!”
Menantu tetua Padukuhan
Kajar itu masih terpaku di tempatnya dengan tubuh gemetar. Sedang mata Pasik itu
telah menjadi semakin merah. Namun ketika ia akan berteriak kembali, sekali lagi
ibunya menggamitnya dan berkata, “Jangan Waraha, jangan ganggu anak itu.”
Tetapi Waraha itu masih
saja tidak mau mendengar kata-kata ibunya itu, sehingga kemudian ibunya itu
menarik tangannya, “Orang tua itu kami hormati seperti orang tua kami sendiri.
Dan bukankah orang tua itu terlalu baik kepadamu pada masa kecilmu. Kini
seharusnya ….”
“Diam!” tiba-tiba Waraha
itu membentak. Ibunya menjadi sangat terkejut dan bahkan semua orang menjadi
terkejut pula. Meskipun demikian ibunya itu meneruskan, “Waraha, aku minta
sekali lagi, jangan.”
Waraha menarik tangannya,
dan bahkan tangan ibunya itu didorongnya. Kini ia menunjuk kepada orang tua
beserta menantunya itu, “Cepat! Panggil perempuan itu! Aku menghendaki timang,
keris, dan perempuan itu. Jangan dikurangi!”
Kini ibunya tidak lagi
hanya menarik tangannya, tetapi anaknya itu dipeluknya sambil meminta,
“Ingatlah, Waraha. Orang itu terlalu baik buat kita. Jangan nodai dengan
kekasaran dan nafsu.”
Waraha itu kini menjadi
benar-benar marah. Tiba-tiba digetarkannya tubuhnya keras-keras, dan perempuan
yang memeluknya itu, ibunya, terpelanting beberapa langkah. Kemudian jatuh
terbanting di tanah. Terdengar ia memekik kecil. Namun pekiknya sama sekali
tidak mempengaruhi kekerasan hati anaknya. Waraha itu hanya berpaling sesaat,
kemudian dengan tanpa memandang ibunya yang masih terbaring itu berkata, “Aku
tak mau dihalangi oleh siapa pun juga. Semua kehendakku harus terjadi!”
Kini kesan keramahan,
kesopanan dan kelembutan benar-benar telah lenyap dari Pasik. Matanya semakin
lama bahkan menjadi semakin liar. Sekali lagi ia berpaling ketika seorang
laki-laki dengan gemetar menolong perempuan yang terbanting itu. Dengan lantang
ia berkata, “Ayah, bawalah perempuan celaka itu pergi. Kalau tidak maka tidak
ada keberatan apa pun bagiku untuk memaksa kalian pergi. Jangan campuri
urusanku. Uruslah sendiri kepentingan Ayah dan Ibu!”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Alangkah buasnya anak muda itu. Menilik wajahnya, keluarganya dan
keadaan di sekitarnya maka mustahillah bahwa lingkungan itu dapat membentuk
orang sekasar Waraha itu. Tetapi kemudian Mahisa Agni pun memperhitungkan pula
kepergian Waraha itu beserta pamannya, kemudian berguru kepada gurunya itu
selama ia di rantau. Dengan demikian, menurut kesimpulan Mahisa Agni, pasti
lingkungan perguruannya yang telah merusak hidup anak muda itu.
Kini kembali Pasik itu
memandangi orang tua beserta menantunya. Sekali lagi ia berteriak, “Aku ingin
memberi kalian kesempatan sekali lagi. Panggil perempuan itu. Aku menghendaki
semuanya. Tidak sebagian-sebagian dari permintaanku itu.”
Orang tua itu menjadi
semakin gemetar, dan menantunya menangis lebih deras lagi sambil bertanya,
“Kiai, bagaimana Kiai?”
“Jangan bertanya lagi!
Berdiri dan pergi!” bentak Pasik.
Laki-laki itu menjadi
seperti orang kehilangan kesadaran. Dengan demikian ia tidak tahu lagi apa yang
harus dilakukan. Diguncang-guncangnya tangan mertuanya. Namun mertuanya itu pun
telah menjadi sangat bingung pula.
Dalam keadaan yang
demikian, maka halaman itu benar-benar dicengkam oleh suasana yang mengerikan.
Semua dada seakan-akan berdentingan. Mereka yang melihat tetua mereka itu
menjadi sangat kasihan. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Nasib mereka
masing-masing pun masih belum mereka ketahui. Dengan diam-diam mereka mencoba
menilai apa-apa yang sudah dibawanya. Jangan-jangan benda-benda itu tidak
menyenangkan hati Pasik, kecuali mereka yang sudah mendapat pesan untuk membawa
benda-benda tertentu. Memang kali ini Pasik berbuat lebih jauh dari masa-masa
yang lampau. Kali ini Pasik ingin memperlihatkan kepada gurunya, apa yang dapat
dilakukannya di kampung halamannya. Karena itu, maka apa yang dilakukannya kali
ini benar-benar mengejutkan dan sangat menakutkan bagi penduduk Kajar.
Pasik itu pernah datang
bersama-sama beberapa orang saudara seperguruan. Pernah diambilnya seorang gadis
untuk saudara seperguruan itu. Pernah dibunuhnya seorang anak muda kawannya
bermain semasa kanak-kanak. Pernah juga dilakukan hal-hal yang mengerikan. Namun
belum pernah Pasik mengundang orang sebanyak ini untuk datang di halaman
rumahnya. Apabila termasuk tetua padukuhan mereka. Bahkan anak perempuannya pula
dikehendakinya. Kali ini Pasik benar-benar ingin memperlihatkan kekuasaannya di
antara penduduk tempat ia dilahirkan.
Ketika Pasik itu masih
melihat menantu tetua padukuhan itu masih belum beranjak dari tempatnya, maka ia
pun menjadi semakin marah. Dengan nada yang tinggi ia berteriak, “He, apakah
yang kau tunggu? Apakah kau ingin kepalamu bengkak dahulu?”
Laki-laki itu benar-benar
menjadi ketakutan. Karena itu dengan gemetar ia berdiri untuk pergi memanggil
istrinya.
Tetapi laki-laki itu
terkejut, ketika Mahisa Agni menggamitnya. Dengan isyarat ia mencegah laki-laki
itu. Namun laki-laki itu tidak segera dapat menangkap isyaratnya, sehingga
perlahan-lahan Mahisa Agni berbisik, “Jangan pergi! Lindungilah istrimu itu.”
Laki-laki itu menjadi
bertambah bingung. Ia sependapat dengan Mahisa Agni. Namun ia tidak berani
menentang kehendak Waraha.
Ketika Waraha melihat
orang itu berhenti, maka sekali lagi ia berteriak, “Apakah kau benar-benar bosan
hidup?”
Dengan gemetar orang itu
melangkah kembali. Namun sekali lagi Mahisa Agni mencegahnya. Bahkan kali ini ia
menahan tangannya.
“Jangan!” katanya.
Kali ini Pasik melihat
tangan Mahisa Agni menarik tangan laki-laki itu. Karena itu betapa ia menjadi
sangat marah. Dengan serta-merta ia mengumpat sambil berkata, “Setan!Apakah yang
kau lakukan itu?”
“Tidak apa-apa,” jawab
Mahisa Agni, “aku hanya ingin memperingatkannya, biarlah istrinya berada di
rumah.”
Wajah Pasik itu
seakan-akan menjadi menyala mendengar jawaban Mahisa Agni, sehingga agaknya ia
perlu meyakinkan pendengarannya.
“He, apa katamu?” Ia
bertanya.
Sekali lagi Mahisa Agni
menjawab, “Aku hanya ingin memperingatkannya, sebaiknya istrinya tetap berada di
rumah.”
Tubuh Pasik itu kemudian
menjadi gemetar. Kini ia mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan oleh orang
yang baru saja dikenalnya itu. Katanya, “Ki Sanak, jangan membuat keributan di
sini. Apakah kau belum pernah mendengar nama Waraha, setidak-tidaknya dari orang
tua tempat kau menginap itu?”
“Sudah,” jawab Mahisa
Agni singkat.
“Setan!” Waraha itu
mengumpat, “sekarang berikan kerismu itu.”
Mahisa Agni masih tetap
berada di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergerak, apalagi memberikan kerisnya,
sehingga sekali lagi Pasik berteriak, “Berikan kerismu perantau, atau kau akan
berkubur di padukuhan yang asing bagimu ini?”
“Kedua-duanya tidak
menyenangkan Pasik,” jawab Mahisa Agni.
“He?” teriak Pasik,
“Sebut namaku!”
“Ya. Bukankah namamu
Pasik?”
“Diam! Sebut namaku
sepuluh kali!”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Pasik itu benar-benar telah memuakkan. Karena itu ia justru berdiam
diri. Bahkan dengan acuh tak acuh ia menarik tangan menantu tetua Padukuhan
Kajar sambil berkata, “Marilah! Duduklah di sini.”
Semua yang melihat, apa
yang telah dilakukan Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tegang. Kini mereka
melihat Waraha menggertakkan giginya. Seseorang yang duduk di samping Mahisa
Agni itu menggamitnya sambil berbisik, “Angger. Jangan membuat Angger Waraha itu
marah.”
Tetapi sebelum Mahisa
Agni sempat menjawab, terdengar kata-kata Pasik, “He, perantau yang malang.
Sebentar lagi guruku pasti datang. Karena itu cepat berikan keris itu, lalu kau
boleh meninggalkan tempat ini. Tetapi kalau kau mengganggu pertemuan ini, maka
terpaksa aku membunuhmu, meskipun Guru ada di sini. Sebenarnya bukanlah suatu
suguhan yang baik. Mayat seorang perantau. Tetapi apa boleh buat.”
Mahisa Agni mengambil
kerisnya yang terselip diikat pinggangnya. Kemudian dengan tenangnya keris itu
diamat-amatinya. Dan dengan tenang pula ia berkata, “Ki Sanak. Kerisku adalah
keris peninggalan ayahku. Karena itu, alangkah sayangnya kalau keris ini aku
berikan kepada seseorang. Apalagi seseorang yang tak memerlukannya lagi seperti
Ki Sanak. Tanpa senjata pun Ki Sanak adalah seorang yang sakti. Tetapi bagiku,
keris ini akan sangat berguna. Sebab…”
“Cukup!” bentak Pasik,
“Berikan sekarang. Dan biarlah laki-laki cengeng itu menjemput istrinya.”
“Jangan!” sahut Agni,
“keris ini tak akan aku berikan kepada siapa pun, dan laki-laki ini tak akan
menjemput istrinya.”
“Angger,” desis laki-laki
tetua padukuhan itu. Tubuhnya yang kurus itu semakin berkerut, “jangan membuat
Angger Waraha menjadi semakin marah. Maka akibatnya, seluruh penduduk Kajar akan
mengalami bencana.”
Kini Mahisa Agni sudah
tidak melihat kesempatan lain. Ia tidak dapat membiarkan kelaliman itu berjalan
terus. Ia sudah cukup melihat kenyataan yang berlaku di hadapan hidungnya. Dan
ini harus dihentikan. Apakah ia akan berhasil atau tidak, bukanlah menjadi soal.
Tetapi ia mengharap,bahwa usahanya akan berhasil. Karena itu, maka Mahisa Agni
itu pun kemudian berdiri. Ditariknya kerisnya dari wrangkanja. Kemudian
diangkatnya di atas kepalanya. Katanya “Pasik. Bagi seorang laki-laki, keris
atau curiga adalah lambang dari kelaki-lakiannya. Karena itu, betapa aku menilai
kerisku ini seperti aku sendiri.”
Semua hati yang tersimpan
di dalam dada setiap orang di halaman itu tergetar karenanya. Orang yang masih
asing bagi mereka itu, agaknya benar-benar belum mengenal Waraha. Karena itu,
mereka pun menjadi berdebar-debar. Apabila ada kesempatan bagi mereka, mereka
pasti akan memperingatkannya. Tetapi kini hal itu telah terjadi. Dan wajah
Waraha itu telah menjadi semerah darah.
“Hem,” Waraha menggeram.
Tetapi tiba-tiba ia tertawa. Di antara suara tertawanya itu ia berkata “He, para
tetangga yang baik. Sediakanlah sebuah lubang untuk mengubur orang gila ini. Aku
ingin mematahkan tulang belakangnya. Kemudian sebelum ia mati, biarlah ia
menikmati sejuknya tanah perkuburan.”
Mahisa Agni mendengar
kata-kata itu dengan kerut-kerut di keningnya. Agaknya Pasik itu benar-benar
dapat berbuat sebuas itu. Karena itu maka kemudian jawabnya “Jangan marah
Pasik.”
Suara Mahisa Agni itu
terputus karena Pasik berteriak, “Sebut namaku, orang gila!”
“Ya. Pasik. Pasik.
Sebenarnyalah nama itu baik sekali. Tidak sebuas nama Waraha.”
Pasik itu kini
benar-benar telah menjadi gemetar menahan kemarahannya. Matanya yang liar
menjadi semakin liar. Dan tiba-tiba ia meloncat, melanggar satu dua orang
sehingga jatuh berguling-guling, mendekati Mahisa Agni. Dengan gemetar pula ia
menggeram, “Setan! Bersiaplah untuk mati!”
Mahisa Agni itu pun
kemudian bergeser selangkah surut. Kerisnya itu pun kemudian disarungkannya. Dan
dengan tenang ia berkata “Pasik. Aku tidak akan memberikan kerisku ini. Apakah
kau akan memaksa?”
Pasik itu menggeram
seperti seekor harimau. Orang-orang yang berada di halaman itu pun kemudian
berloncatan menepi. Mereka kini melihat Pasik dan Mahisa Agni telah berdiri
berhadap-hadapan.
Pasik memandang mata
Mahisa Agni dengan buasnya. Kini Pasik itu dapat melihat, bahwa sikap Mahisa
Agni bukanlah sikap dari seorang yang ingin membunuh diri. Namun sikap Mahisa
Agni adalah sikap seekor banteng yang siap melawan seekor harimau yang betapa
pun garangnya dengan tanduk-tanduknya yang runcing tajam.
Kini Pasik tidak mau
berbicara lagi. Dengan garangnya ia meloncat maju menerkam wajah Mahisa Agni
yang masih saja tetap tenang dan teguh.
Orang tua, tetua
Padukuhan Kajar, ketika ia melihat Pasik meloncat menyerang Mahisa Agni,
terdengar mengeluh pendek, sedang menantunya benar-benar telah menjadi
seakan-akan membeku. Bukan saja mereka berdua, tetapi seluruh penduduk Kajar
yang menyaksikan peristiwa itu menahan nafasnya.
Tetapi Mahisa Agni tidak
membiarkan wajahnya disobek oleh Pasik. Selangkah ia mundur sambil berkata,
“Pasik. Apakah kau benar-benar ingin memaksa aku untuk berkelahi?”
Gerak Pasik itu terhenti
juga oleh kata-kata Mahisa Agni. Sekali lagi ia memandang wajah Mahisa Agni yang
masih tetap tenang. Sehingga karena itu maka Pasik mulai menyadari, dengan siapa
ia berhadapan. Maka katanya kemudian,”Sejak semula aku sudah menyangka, bahwa
kau bukan sekedar seorang perantau dungu. Kerismu telah mengatakan kepadaku,
bahwa kau sebenarnya seorang yang menyimpan ilmu di dalam dirimu. Tetapi
meskipun demikian, kau sekarang berhadapan dengan Waraha, andel-andel Padukuhan
Kajar. Karena itu jangan menyangka bahwa kau akan dapat meninggalkan padukuhan
ini dengan selamat.”
Mahisa Agni seakan-akan
tidak mendengar kata-kata Pasik itu. Bahkan ia berkata, “Pasik. Apakah kau tidak
menyadari,bahwa perbuatanmu itu telah menimbulkan bencana, justru di tanah
kelahiranmu sendiri?”
Pasik mengerutkan
keningnya. Jawabnya, “Apa pedulimu?”
“Kalau kau seorang yang
sakti, Pasik, maka sudah wajar bahwa kau akan menjadi andel-andel padukuhan
tempat kelahiranmu. Tetapi apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?”
Tampak Pasik itu
mengerutkan keningnya. Dan pertanyaan Agni itu sekali lagi terngiang di
telinganya, “Apakah benar kau andel-andel Padukuhan Kajar?”
Pertanyaan itu
benar-benar mengetuk hati Pasik. Namun tiba-tiba kembali nafsunya melonjak
sampai ke ubun-ubunnya. Karena itu ia berteriak, “Tutup mulutmu perantau yang
malang. Ternyata umurmu akan segera berakhir di padukuhan ini.”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Desisnya, “Pasik, aku bukan seorang yang biasa mencari
pertentangan. Tetapi kalau kau hendak memaksakan kehendakmu, maka aku terpaksa
akan menghadapimu dengan berperisai dada.”
“Tataplah langit dan
ciumlah bumi untuk kesempatan yang terakhir sebelum kau kehilangan setiap
kesempatan untuk melakukannya.”
Mahisa Agni tidak
mendapat kesempatan untuk menjawabnya. Sekali lagi Pasik meloncat dan menyerang
segarang harimau lapar. Namun sekali lagi Mahisa Agni mundur selangkah untuk
menghindarinya. Tetapi Pasik itu kini tidak membiarkan lawannya mempunyai
kesempatan lebih banyak lagi. Dengan cepatnya ia meloncat maju untuk dengan
berturut-turut melontarkan serangan berganda dengan kedua kakinya
berganti-ganti. Tetapi Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya. Karena itu,
serangan yang datang bertubi-tubi itu sama sekali tidak mengejutkan Mahisa Agni.
Dengan tangkasnya pula ia menghindari setiap bahaya yang akan menyentuhnya.
Untuk beberapa saat
sengaja Mahisa Agni tidak segera membalas setiap serangan dengan setangan. Ia
ingin meyakinkan dirinya dalam penilaiannya terhadap lawannya itu.
Orang-orang Kajar
menyaksikan perkelahian itu dengan tubuh gemetar. Mereka belum pernah melihat
seseorang berani melawan kehendak Pasik, sejak Caruk terbunuh. Kini datang orang
yang belum mereka kenal dan melakukan perlawanan terhadap Pasik. Dahulu Pasik
berhasil dengan sekali pukul melumpuhkan anak muda yang bernama Caruk, yang
mencoba melawan kehendaknya. Apalagi pada waktu itu dua saudara seperguruan
Pasik ikut campur, sehingga Caruk itu terbunuh. Kini Pasik itu tidak datang
bersama saudara-saudara seperguruannya. Tetapi ia dalang tersama gurunya. Karena
itu, maka setiap dada orang-orang Kajar itu diliputi oleh kecemasan dan
ketegangan. Mereka cemas akan nasib orang yang belum mereka kenal itu, dan
mereka cemas juga akan nasib mereka sendiri. Kemarahan Pasik pasti akan menimpa
mereka pula. Apalagi kemarahan gurunya.
Tetapi mereka tidak dapat
terbuat apa pun juga. Perkelahian itu telah berlangsung. Kini mereka melihat
Mahisa Agni itu beberapa kali melangkah mundur. Meskipun demikian, di sudut hati
mereka sebenarnya tersiratlah keinginan mereka, bahwa sekali-sekali biarlah
Pasik itu mendapat pelajaran tentang cara-cara yang baik bagi hidup berkeluarga
dalam lingkungan yang kecil itu. Karena itu sebenarnya mereka pun berdoa, semoga
orang yang belum mereka kenal itu dapat menolong mereka, membebaskan dari
ketamakan Pasik. Tetapi yang mereka lihat sekarang, orang itu selalu terdesak
surut.
Dalam pada itu, Mahisa
Agni semakin lama semakin melihat nilai dari lawannya. Sebenarnya Pasik bukanlah
seorang sakti yang perlu dicemaskan. Mahisa Agni meyakini dirinya, bahwa ia akan
dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Namun, kalau Pasik telah mampu berbuat
demikian,maka gurunyalah yang perlu mendapat perhatiannya. Tetapi sampai saat
itu, ia belum melihat kehadiran guru Pasik. Karena itu, ia harus berhati-hati.
Setiap tindakan perlu diperhatikannya dengan seksama.
Pasik itu masih menyerang
terus-menerus dengan buasnya. Tangannya, kakinya dan bahkan seluruh tubuhnya
bergerak-gerak dengan kasarnya, sehingga tampaklah betapa garangnya. Namun
gerakan-gerakan itu adalah gerakan-gerakan yang masih mentah. gerakan-gerakan
yang sebenarnya sangat sederhana.
Meskipun demikian, Mahisa
Agni melihat, bahwa nilai-nilai dari inti gerak itu adalah sangat berbahaya.
Apabila guru Pasik yang melakukannya dengan unsur-unsur yang sama, maka
akibatnya pasti akan sangat berlainan. Dan sebenarnyalah dalam penilaian Mahisa
Agni, bukanlah Pasik itu yang perlu diperhitungkan, tetapi gurunya.
Karena itu, setelah
Mahisa Agni menemukan nilai-nilai yang diperlukan, serta kemungkinan-kemungkinan
yang akan dihadapi atas guru Pasik itu, maka sampailah ia pada kesimpulan, bahwa
ia harus menyelesaikan perkelahian yang pertama ini secepat-cepatnya. Apabila
guru Pasik benar-benar belum ada di sekitar tempat itu, maka ia akan mempunyai
waktu untuk mempersiapkan dirinya lebih dahulu.
Demikianlah maka Mahisa
Agni kemudian tidak membiarkan Pasik itu menyerangnya terus menerus. Kini Mahisa
Agni telah siap untuk segera menyelesaikan permainan Pasik yang kasar itu.
Namun Pasik yang kurang
menyadari keadaan lawannya itu, menyerangnya dengan garangnya. Bertubi,” tubi,
karena ia pun segera ingin menyelesaikan perkelahian itu secepatnya. Ia ingin
segera mengambil barang-barang berharga dari orang-orang yang sudah berkumpul di
halaman itu. Perlawanan seorang tolol ini akan dijadikannya contoh, bahwa tak
seorang pun boleh melawan kehendaknya.
Tetapi Pasik itu menjadi
semakin marah, ketika serangan-serangannya seolah-olah tak pernah menyentuh
sasarannya. Meskipun lawannya itu selalu terdesak surut.
Namun tiba-tiba
pertempuran itu pun segera berubah. Mahisa Agni tiba-tiba tidak menghindari lagi
serangan Pasik. Dengan hati-hati Mahisa Agni mencoba untuk menangkis serangan
lawannya, sehingga terjadilah suatu benturan di antara mereka. Namun, alangkah
terkejutnya Pasik itu. Serangannya kali ini serasa menghantam batu karang. Dan
bahkan batu karang itu telah mendorongnya dengan satu kekuatan raksasa .Pasik
yang kurang dapat menilai diri dan lawannya itu terlempar beberapa langkah
surut, kemudian jatuh terbanting di tanah.
Bukan saja Pasik, tetapi
semua yang melihat peristiwa itu terkejut bukan buatan. Dan bahkan bukan saja
mereka, tetapi Mahisa Agni itu pun terkejut sekali melihat akibat dari dorongan
tenaganya. Sejak ia menekuni ilmunya di kaki Gunung Semeru, agaknya ia telah
terlepas dari setiap kemungkinan yang tersimpan di dalam dirinya sendiri,
sehingga karena itu,Mahisa Agni belum dapat mengukur kekuatan-kekuatan yang
dilontarkannya dengan baik. Kali ini Mahisa Agni hanya ingin sekedar memunahkan
serangan Pasik yang melanda dirinya, namun akibatnya betapa dahsyatnya. Pasik
itu terlempar surut dan terguling di tanah. Apalagi ketika Mahisa Agni itu
melihat akibatnya kemudian. Dengan tertatih-tatih Pasik itu mencoba berdiri,
namun sekali lagi ia terjerembab jatuh dan sesaat kemudian ia tidak sadarkan
dirinya.
Halaman rumah Pasik itu
kemudian seakan-akan diterkam oleh kesenyapan yang tegang. Mahisa Agni masih
berdiri tegak di tempatnya. Sedang orang-orang Kajar melihat peristiwa itu
seperti melihat kisaran kejadian di dalam mimpi. Mereka tidak akan menyangka
bahwa Waraha yang ganas itu dapat dengan mudahnya dilumpuhkan oleh seorang yang
sama sekali belum mereka kenal.
Tetapi sesaat kemudian
kesepian itu dipecahkan oleh jerit seorang perempuan. Dengan berlari-lari ia
melintasi halaman untuk kemudian menjatuhkan dirinya memeluk tubuh Pasik yang
masih terbaring diam di halaman itu.
“Pasik. Pasik,” panggil
perempuan itu.
Sekali lagi semua orang
di halaman itu terkejut. Juga Mahisa Agni terkejut. Perempuan itu adalah ibu
Pasik. Seorang ibu yang menangis karena melihat anaknya cedera.
“Pasik. Pasik,” perempuan
ini masih memanggil-manggil. Diguncang guncangnya tubuh anaknya yang masih
pingsan itu dan disiram wajahnya dengan air mata. Namun Pasik itu masih berdiam
diri. Seorang laki-laki, ayah Pasik itu pun kemudian berjalan mendekati istrinya
dan berjongkok di sampingnya. Dengan wajah sedih ia memandangi wajah anaknya.
Kemudian diangkatnya kepala anaknya itu sambil bergumam, “Pasik. Sadarlah
Anakku.”
Orang-orang yang berada
di halaman itu masih tetap tak beranjak dari tempat mereka. Hanya Mahisa Agnilah
kemudian yang melangkah setapak maju. Betapa pun juga, ia terharu melihat
seorang ibu yang sedang menangisi anaknya. Satu-satunya anaknya.
Sesaat kemudian, Pasik
itu pun membuka matanya. Perlahan-lahan ia mulai bergerak-gerak dan mencoba
menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia membuka matanya, yang pertama-tama
dilihatnya adalah wajah ayah dan ibunya.
Pasik itu mengerutkan
keningnya. Ia ingin melepaskan diri dari tangan ayahnya. Namun ketika ia mencoba
bergerak,terdengar ia mengaduh perlahan.
“Jangan bergerak anakku,”
desis ibunya.
Pasik mencoba mengangguk.
Punggungnya, tangannya dan hampir segenap sendi-sendi tulangnya terasa sakit
bukan buatan. Sehingga nafas Pasik itu pun menjadi terengah-engah.
“Sakit,” desisnya.
“Jangan bergerak dahulu
Pasik,” gumam ayahnya.
Terdengar Pasik itu
mengerang. Dan kemudian dengan susah payah Pasik itu berkata, “Air, Air, aku
haus sekali.”
“Air,” ayahnya mengulangi
sambil memandang ke sekeliling, seakan-akan ia minta kepada seseorang untuk
mengambil air. Tetapi orang-orang yang sedang terpukau oleh peristiwa yang tak
mereka duga-duga sebelumnya itu sama sekali tak ada yang beranjak dari
tempatnya, sehingga ayah Patik itu terpaksa mengulangi, “Air.”
—–
Pasik yang kurang dapat menilai diri dan lawannya, Mahisa Agni. itu, terlempar
beberapa langkah surut, kemudian jatuh terbanting di tanah.
—–
Sementara belum seorang
pun yang menyadari keadaannya, maka yang mula-mula bergerak adalah Mahisa Agni.
Dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang rumah Pasik, dan setelah ia
berputar-putar beberapa saat, ditemukannya sebuah kendi di atas grobogan. Ketika
ia menyerahkan kendi itu kepada ibu Pasik,dilihatnya setetes darah mengalir dari
mulut Pasik.
Sekali lagi ibu Pasik itu
menjerit. “Darah!” katanya.
Tetapi ayah Pasik
ternyata lebih tenang dari istrinya. Diilingnya air dari dalam kendi itu setetes
demi setetes. Dan karena itulah maka nampaknya nafas Pasik menjadi lebih
teratur.
“Sakit,” terdengar sekali
lagi Pasik itu mengeluh.
“Jangan bergerak-gerak
dahulu, Pasik,” minta ayahnya.
Perlahan-lahan Pasik
mengangguk. Namun darah dari mulutnya masih mengalir terus. Betapa ibunya
menjadi bertambah cemas melibat keadaan anaknya. Dan bahkan kemudian dengan
nanar ditatapnya wajah Mahisa Agni. tiba-tiba dengan serta-merta, tanpa
diduga-duga ibu Pasik itu berdiri sambil menunjuk wajah Mahisa Agni dengan
jarinya. Katanya dengan suara gemetar, “Kau, Kau yang telah membunuh Anakku.
Lihat, betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan
menahan sakit dan menantang maut. Membesarkannya. Kini kau datang membunuhnya.”
Mahisa Agni berdiri tegak
seperti patung. Ditatapnya wajah perempuan itu dan wajah Pasik berganti-ganti.
Dalam pada itu tampaklah Pasik bergerak-gerak. Tetapi ia masih sedemikian
lemahnya.
“Kalau kau mau membunuh,”
berkata ibu Pasik itu, “bunuhlah aku!”
“Aku sama sekali tidak
ingin membunuhnya, Bibi,” jawab Mahisa Agni.
“Bohong!” teriak
perempuan itu, “Kau lihat, akibat dari kejahatanmu itu?”
“Aku tidak sengaja,”
sahut Agni, “bukankah Bibi melihat apa yang telah terjadi?”
“Ya. Aku lihat. Kau
mencoba menghinanya. Dan karena itu aku pun merasa terhina pula.”
Mahisa Agni kini tidak
menjawab lagi. Seharusnya ia berdiam diri menghadapi perempuan yang sedang
marah. Dalam keadaan demikian maka perempuan itu tidak akan dapat mempergunakan
pikirannya, namun perasaannya sajalah yang berbicara.
Tetapi perempuan itu
berhenti berbicara ketika ia mendengar Pasik bergumam. cepat-cepat ia berjongkok
dan bertanya “Apa Pasik? Apakah yang kau minta?”
Pasik itu memandang wajah
ayah dan ibunya dengan pandangan mata yang aneh. Tiba-tiba ia berdesah “Bukankah
ayah akan menyembelih tiga ekor kambing kalau aku mati?”
“Tidak. Tidak Pasik,”
sahut ayahnya cepat-cepat, “aku akan menyembelih tiga ekor kambing kalau kau
sembuh.”
Pasik itu menarik nafas.
Baru saja ia mendorong ibunya sampai terbanting di tanah. Beberapa saat yang
lampau ayahnya itu hampir dibunuhnya dan ibunya itu telah dicekiknya pula.
Tetapi kini, ketika seseorang melukainya, maka ia mendengar ibunya itu berkata,
Betapa aku melahirkan dan memeliharanya sejak kecil. Melahirkan dengan menahan
sakit menentang maut. Memeliharanya dan membesarkannya. Kini kau datang
membunuhnya. Kemudian ibunya itu berkata pula, ‘Kalau kau mau membunuh, bunuhlah
aku’.
Dalam penderitaan karena
luka-luka di dalam dadanya, karena pantulan tenaganya sendiri serta dorongan
tenaga Agni itu, Pasik sempat memperbandingkan kasih ibu serta ayahnya kepadanya
dengan apa yang pernah dilakukannya. Alangkah jauh perbedaannya. Seandainya, ya
seandainya ayah atau ibunya yang mengalami bencana itu, maka Pasik itu tak akan
bersedih. Tetapi kini ayah serta ibunya itu meratap untuknya.
Tiba-tiba terasa sesuatu
bergetar di dalam dadanya. Sesuatu yang tumbuh karena keadaan yang sedang
dialaminya. Dan tiba-tiba terasa bahwa kasih sayang ibu serta ayahnya telah
memberinya ketenteraman. Ketika Pasik itu menggeser kepalanya, dilihatnya Mahisa
Agni tegak seperti batu karang. Tetapi orang itu tidak menyerangnya terus, dan
benar-benar tidak berusaha membunuhnya. Dengan demikian, maka berbagai perasaan
bergolak di dalam dadanya. Beberapa keanehan kini sedang bergolak di dalam
dirinya. Ibunya, ayahnya yang telah pernah hampir dibunuhnya dan orang yang
belum dikenalnya itu.
Beberapa orang yang
menyaksikan peristiwa itu pun menjadi berdiam diri seperti patung. Mereka kini
melihat orang yang mereka takuti terbaring dalam pelukan ayahnya. Betapa pun
mereka membenci Pasik, namun Pasik adalah anak yang dilahirkan di padukuhan
mereka, yang sejak kecilnya mereka lihat bermain-main di sepanjang jalan
padukuhan, di sawah bersama anak-anak mereka.
“Mudah-mudahan anak itu
menyadari keadaannya,” gumam tetua Padukuhan Kajar.
Namun tiba-tiba halaman
itu dikejutkan oleh kehadiran seorang yang bertubuh pendek kekar dan hampir di
seluruh kulit wajahnya dijalari oleh otot-ototnya yang kukuh kuat.
Orang itu terkejut ketika
ia melihat Pasik terbaring diam di tangan ayahnya. Cepat-cepat ia meloncat
seperti seekor kijang, dan dengan tangkasnya ia segera berjongkok di samping
Pasik.
“Apa yang terjadi
Waraha?” suaranya kecil melengking-lengking.
Halaman itu menjadi
tegang. Tiba-tiba pula seluruhnya yang berada di halaman itu menjadi cemas.
Orang ini adalah guru Pasik. Apakah ia akan berdiam diri melihat muridnya
terlukai?
Mahisa Agni pun melihat
orang itu pula. Segera ia mengetahuinya bahwa pasti orang ini guru Pasik. Namun
ia pun menjadi heran, guru Pasik itu masih sangat muda. Kalau demikian, pasti
orang ini bukan yang dikatakan oleh gurunya. Menurut gurunya orang itu sudah
agak lanjut umurnya,meskipun lebih tua dari Agni, namun tidak terpaut banyak.
Ketika Pasik melihat
gurunya datang, sesaat wajahnya menjadi cerah, namun sesaat kemudian wajah itu
menjadi suram kembali. Yang terdengar kemudian adalah suara guru Pasik, “Waraha,
apakah yang terjadi atas dirimu?”
Kembali halaman itu
menjadi sunyi. Orang-orang yang ada di halaman itu seakan-akan tinggal menunggu
nasib mereka. Kalau Pasik itu mengatakan sebab-sebabnya, maka gurunya itu pasti
akan marah. Dan kemarahannya pasti akan menimpa mereka.
Pasik menarik nafas
dalam-dalam. Dan tiba-tiba terdengarlah jawabnya yang sama sekali tak
disangka-sangka, “Aku tidak apa-apa, Guru.”
Guru Pasik itu menjadi
heran. Wajahnya yang keras itu terangkat. Kemudian diedarkannya pandangan
matanya berkeliling. Ketika ia memandang Mahisa Agni yang masih berdiri tegak,
maka tampaklah keningnya berkerut.
“Waraha,” katanya
kemudian “katakan apa sebabnya kau terluka?”
Sekali lagi Waraha
menggeleng. Kemudian katanya “Seseorang menyerangku guru. Tetapi itu bukan
salahnya.”
“He?” guru Pasik itu
terkejut, “kenapa bukan salahnya?”
“Aku menyerangnya lebih
dahulu,” jawab Pasik.
Sekali lagi guru Pasik
itu mengerutkan keningnya. Betapa anehnya kelakuan muridnya ini. Selama ini
belum pernah terjadi, salah seorang muridnya merasa bersalah dalam suatu
perkelahian. Di samping itu, timbul juga herannya, bahwa di padukuhan kecil itu
ada juga orang yang dapat mengalahkan muridnya. Karena itu tiba-tiba sekali lagi
ia memandang Mahisa Agni. Dan dengan serta-merta ia berkata, “Kau, kaukah itu?”
Mahisa Agni tidak
menjawab pertanyaan Bahu Reksa Kali Elo itu. Ia sudah bersedia untuk menerima
tuduhan itu. Sebab di antara sekian banyak orang-orang yang berada di halaman
itu, maka sikap Mahisa Agni tampaknya agak berbeda dengan orang-orang yang lain.
Guru Pasik itu pun
kemudian berdiri. Dengan wajah yang merah membara ia bertanya pula, “ He, anak
muda. Apakah kau yang telah berani melukai muridku?”
Mahisa Agni masih belum
menjawab. Namun terdengar Pasik itu berkata perlahan-lahan, “Biarkan anak itu,
Guru.”
Tetapi guru Pasik itu
sudah tidak mau mendengar kata-kata muridnya. Karena itu, tiba-tiba ia menyambar
lengan salah seorang yang berjongkok paling dekat. Dengan satu tangannya orang
itu ditariknya, sehingga kedua kakinya terangkat.
“Ampun,” teriak orang
itu.
Guru Pasik itu
memandangnya dengan bengis. Namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Katanya,
“Jangan takut tikus kecil. Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Siapakah yang
telah melukai Waraha?”
Orang itu menjadi
ragu-ragu, sesaat ia memandang wajah Mahisa Agni, dan sesaat pula ia memandang
wajah guru Pasik.
Tiba-tiba orang itu
terkejut ketika guru Pasik itu membentak,” jawab!”
“Bukan aku. Bukan aku,”
jawabnya tergagap,
Mata guru Pasik itu
menjadi semakin menyala. Bentaknya, “Aku sudah tahu, pasti bukan kau tikus yang
malang. Tetapi siapa? Kalau kau yang melakukan itu, maka aku akan menyembahmu
sepuluh kali.”
Kembali orang itu
terdiam. Tetapi kembali guru Pasik itu membentak-bentaknya. Bahkan kemudian
dipegangnya leher orang itu sambil menggeram, “Katakan! Siapa yang melukai
Waraha?”
Mahisa Agni akhirnya
tidak sampai hati melihat orang itu hampir mati ketakutan. Karena itu, maka
segera ia melangkah maju sambil berkata, “Lepaskan orang itu. Ia sama sekali tak
ada sangkut pautnya dengan luka Pasik.”
“Apa?” teriak guru Pasik,
“Kau memerintah aku? Dan coba sekali lagi, sebutlah nama muridku itu!”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Agaknya ia benar-benar berhadapan dengan seorang yang keras kepala.
Meskipun demikian Mahisa Agni menjawab, “Aku sama sekali tidak ingin memerintah
seseorang. Tetapi aku ingin kau berlaku bijaksana. Orang itu sama sekali tidak
tahu menahu tentang luka muridmu yang bernama Pasik itu.”
“Diam!” bentak Bahu Reksa
Kali Elo.
“Kau bertanya, dan aku
menjawab,” sahut Mahisa Agni.
Guru Pasik itu pun
kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia tertawa parau. Katanya,
“Hem, ternyata kau benar-benar menyadari apa yang kau lakukan. Agaknya kau
menepuk dada setelah kau berhasil melukai muridku. Lihat, aku adalah gurunya.
Aku tidak akan dapat membiarkan kau melukai muridku.”
Sebelum Mahisa Agni
menjawab, terdengarlah lamat-lamat suara Pasik, “Guru, biarkan anak itu.”
“Hem,” guru Pasik itu
menarik nafas, tetapi seakan-akan kata-kata itu tak didengarnya. Bahkan kini ia
melangkah mendekati Mahisa Agni sambil menarik orang yang masih digenggam
lengannya itu. Katanya, “He, anak muda. Siapa namamu?”
“Mahisa Agni,” jawab
Mahisa Agni pendek.
Guru Pasik itu
mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Nama yang bagus. Tetapi kenapa kau berlaku
kasar?”
“Bertanyalah kepada
muridmu,” sahut Mahisa Agni.
Guru Pasik itu menggeram.
Ditariknya orang yang masih dipegangnya itu dekat-dekat ke dadanya, “Ayo bilang.
Siapa yang bersalah di antara mereka?”
Orang itu menjadi
gemetar. Dengan tergagap ia menjawab, “Pasik. Pasik yang bersalah.”
“Apa? Apa?” guru Pasik
itu membentak-bentak sambil mengguncang-guncang tubuh orang yang sama sekali
tidak berdaya itu. Bahkan demikian takutnya, sehingga semua tulang-tulangnya
seakan-akan telah terlepas dari segenap persendiannya. Apalagi ketika ia
mendengar guru Pasik membentaknya kembali, “Ayo jawab, siapakah yang bersalah di
antara mereka?”
Kembali orang itu
tergagap. Dan seperti orang kehilangan akal ia menjawab, “Oh, anak itu. Anak
itulah yang bersalah. Mahisa Agni.”
“Ha,” guru Pasik itu
tiba-tiba tertawa. “Dengar,” katanya, “dengar. Kau dengar kesaksian orang ini.
Orang-orang Kajar adalah orang yang jujur. Mereka tak pernah berbohong seperti
kau. Bukankah kau bukan orang Kajar? Nah, apa katamu sekarang?”
Mahisa Agni
menggeretakkan giginya. Ia melihat suatu permainan yang benar-benar memuakkan.
Apalagi ketika guru Pasik itu berkata, “He, Mahisa Agni, Apakah kau perlu saksi
yang lain?”
“Tidak!” jawab Mahisa
Agni, “Apapun yang dikatakan tentang diriku, aku tidak peduli. Tetapi apakah
maksudmu sebenarnya?”
Mata guru Pasik itu pun
menjadi redup. Katanya, “Aku tidak biasa menghukum orang yang tak bersalah. Kini
bukti-bukti akan mengatakan bahwa kau bersalah. Karena itu jangan menyangkal dan
jangan mencoba membela diri. Setiap kesalahan harus mendapat hukuman tanpa
kecuali. Meskipun kau tamu di padukuhan ini, namun kau telah melakukan
kesalahan.”
“Cukup!” potong Mahisa
Agni. Ia telah benar-benar menjadi muak mendengar kata orang yang menamakan
dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu.
Guru Pasik itu terkejut
sehingga dengan demikian kata-katanya pun terhenti. Ditatapnya wajah Mahisa Agni
dengan tajamnya, kemudian katanya, “Kau berani membentak aku, he?”
Mahisa Agni tidak
menjawab pertanyaan itu, tetapi ia berkata, “He, Ki Sanak. Jangan berbuat
aneh-aneh di padukuhan ini .Pergilah dan biarlah Pasik menerima ketenteraman
hidup di antara keluarga dan sanak kadangnya. Jangan meracuni hidupnya dengan
perbuatan-perbuatan aneh seperti perbuatan-perbuatan orang-orang yang kehilangan
akal budi.”
Guru Pasik itu terkejut
mendengar kata-kata Mahisa Agni sehingga matanya terbelalak karenanya. Kemudian
dengan geramnya ia berkata, “Sekarang aku yakin bahwa ternyata kau benar-benar
anak yang sombong anak yang tak tahu diri. Maka bagiku tak ada pilihan lain
daripada mengajarimu sedikit sopan santun supaya kau dapat sedikit menghargai
orang lain.”
“Aku pun sedang berpikir
demikian juga atasmu,” sahut Mahisa Agni.
Guru Pasik itu menjadi
semakin marah. Ia terasa terhina karenanya. Karena itu beberapa langkah ia maju.
Diamatinya seluruh tubuh Mahisa Agni. Kemudian katanya
“Hem, muridku telah
berkata kepadaku semalam, bahwa seorang perantau telah membawa sebilah keris
yang sangat bagus.”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Ia melihat guru Pasik itu berkisar pada jari-jari kakinya. Karena itu
cepat Mahisa Agni bersiaga.
“He, Agni,” berkata orang
itu pula, “Kini kakinya yang sebelah telah beringsut ke belakang, manakah
kerismu itu?”
Mahisa Agni masih tetap
berdiam diri, tetapi ia melihat kaki itu bergerak Dan apa yang disangkanya
benar-benar terjadi. Guru Pasik itu tiba-tiba saja meloncat dengan garangnya
menyerang Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni telah bersiaga sepenuhnya, sehingga
dengan tangkasnya ia meloncat menghindari.
“Setan!” guru Pasik itu
mengumpat ketika ia melihat bahwa korbannya berhasil menghindar diri. Dan
wajahnya pun menjadi seakan-akan menyala ketika Mahisa Agni berkata, “Apakah kau
ingin aku menjawab pertanyaanmu yang kauajukan tetap pada saat kau bersiap untuk
menyerang.”
Orang yang menamakan diri
Bahu Reksa Kali Elo itu menggeram. Cepat ia memutar tubuhnya. Ia ingin menebus
kegagalannya. Karena itu sekali lagi ia menyerangnya dengan kecepatan yang luar
biasa.
Orang-orang yang berada
di halaman itu pun menjadi cemas hati. Mereka menyadari bahwa perkelahian itu
tak akan dapat dihindarkan. Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh perantau itu
melawan guru Waraha? Mungkin ia masih dapat mengalahkan Pasik. Tetapi melawan
gurunya?”
Dan ternyata serangan
guru Pasik itu pun datang seperti badai. Dengan penuh kemarahan yang meluap-luap
ia ingin segera membinasakan perantau yang bodoh dan sombong itu. Ia ingin
menebus kekalahan muridnya dengan satu pertunjukkan yang pasti akan menyenangkan
dirinya. Ia ingin berkata kepada muridnya, bahwa ia harus tetap di tempatnya,
dalam barisan yang berderap di jalan-jalan yang telah dipilihnya selama ini.
Kalau tiba-tiba muridnya bersikap aneh, itu karena kekecewaan yang dialaminya.
Kekalahan yang tak disangka-sangka itu pasti telah melemahkan keteguhan hatinya.
Dan kini kekalahan itu harus ditebusnya. Hati muridnya itu harus dibesarkannya
dengan melumpuhkan Mahisa Agni secepat-cepatnya, mematahkan tangannya dan
membiarkan Pasik untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, maka keteguhan hatinya
akan dapat dipulihkan kembali.
Tetapi guru Pasik itu
benar-benar menjadi seolah-olah menyala karena panas hatinya. Serangannya yang
kemudian itu pun ternyata tak dapat menyentuh lawannya.
Tetapi meskipun demikian,
serangannya itu benar-benar telah mengejutkan Mahisa Agni. Serangan guru Pasik
itu datang seperti tatit. Untunglah bahwa ia masih mempunyai kesempatan untuk
menghindar. Kalau tidak, maka dadanya pasti sudah akan pecah.
Dengan demikian, maka
dugaannya atas guru Pasik itu ternyata benar. Dengan unsur-unsur gerak yang
sama, guru Pasik itu melibat Mahisa Agni dalam perkelahian yang ribut. Namun
unsur-unsur gerak itu kini dilepaskan oleh guru Pasik, bukan oleh Pasik yang
mentah itu. Karena itu, terasa oleh Mahisa Agni, betapa berbahayanya.
Dan karena itu pula,
Mahisa Agni segera memusatkan,segenap perhatiannya pada perkelahian itu.
Dicobanya untuk melihat setiap gerak lawannya. setiap kemungkinan-kemungkinan
yang dapat terjadi dengan gerak-gerak itu.
Namun guru Pasik itu pun
segera menyadarinya pula, dengan siapa ia berhadapan.
“Pantaslah Waraha
dijatuhnya dengan mudah,” katanya di dalam hati. Dan sejalan dengan itu,maka
serangan-serangannya pun semakin membadai. Geraknya semakin lama menjadi semakin
cepat dan keras. Tubuhnya yang kokoh kuat itu melontar-lontar dengan kecepatan
yang mengagumkan, dan bahkan kadang-kadang orang itu berhasil membingungkan
Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni yang
baru saja menekuni inti dari ilmunya itu, segera dapat menyesuaikan diri. Bahkan
kadang-kadang ia pun menjadi heran sendiri. Tidak saja kekuatannya yang
bertambah, namun kecepatannya bergerak pun terasa men-jadi bertambah pula.
Bahkan kadang-kadang geraknya melampaui kecepatan perasaannya dalam suatu tujuan
tertentu.
“Ah,” katanya di dalam
hati, “kalau aku tidak segera menguasai diri,maka akan berbahaya bagiku
sendiri.”
Dengan demikian maka
Mahisa Agni itu pun kemudian mencoba melakukan pengamatan atas dirinya lebih
saksama. Perkelahiannya kali ini adalah penggunaan yang pertama segala macam
kekuatan dan ilmu yang tersimpan di dalam dirinya setelah ia menempa diri.Karena
itu, maka sekaligus Mahisa Agni dapat menilai apa pun yang pernah dicapainya
selama ini.
Dengan demikian, maka
pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Serang menyerang dan desak
mendesak. Keduanya memiliki bekal yang cukup, serta keduanya berusaha untuk
segera mengalahkan lawannya.
Orang-orang yang
menyaksikan perkelahian itu, kemudian berlari berpencaran. Mahisa Agni dan guru
Pasik itu kadang-kadang melontar jauh ke samping, kemudian melontar kembali
dalam serangan-serangan yang berbahaya. Karena itu, maka mereka yang
menyaksikannya menjadi gemetar dan ketakutan
Waraha yang masih dalam
kesakitan itu, menyaksikan perkelahian antara gurunya dan perantau yang bernama
Mahisa Agni itu dengan seksama. Ia mencoba menilai apa saja yang sudah terjadi.
Namun kemudian kembali ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.
Seakan-akan terasa sesuatu yang selama ini tak pernah dirasakannya. Namun
tiba-tiba dikenangnya, bapak ibunya yang mengasihinya, kampung halaman yang
memberinya kenangan yang menyenangkan.
Mata Pasik itu melihat
perkelahian yang terjadi antara gurunya dan Mahisa Agni, namun hatinya tiba-tiba
saja terbang ke masa-masa lampaunya. Seakan-akan ia menatap wajah gurunya yang
kasar bengis, dan kemudian ditatapnya wajah ibunya yang lembut, dan wajah
bapanya yang sedang berduka.
Sehingga tiba-tiba pula
melontarlah suatu pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah yang telah terjadi dengan
dirinya selama ini?” Kata-kata Mahisa Agni berkali-kali berputar di dalam
dadanya. Kata-kata yang selalu terngiang di telinganya, Pergilah, dan biarlah
Pasik menikmati ketenteraman hidup di antara keluarganya dan sanak kadangnya.
Jangan ganggu dia lagi, dan jangan meracuni hidupnya dengan perbuatan-perbuatan
aneh seperti perbuatan-perbuatan orang yang kehilangan akal budi.
Pasik itu kemudian
memejamkan matanya. Seolah-olah telah ditemukannya apa yang hilang selama ini.
Ketenteraman hidup di antara keluarga dan anak kadang.
Ketika sekali lagi ia
membuka matanya, dan ditatapnya wajah ibunya yang lembut, hatinya menjadi
meronta-ronta. Disadarinya kini apa yang telah dilakukannya selama ini. Bahkan
hampir saja ia membunuh ayah dan ibunya, namun ayah dan ibunya itu sama sekali
tak mendendamnya. Cinta kasihnya tak runtuh seujung rambut pun.
Dalam pada itu, di
halaman rumah Pasik itu masih berlangsung pertempuran yang semakin lama semakin
dahsyat. Mereka masing-masing benar-benar telah berjuang mati-matian. Guru Pasik
sekali-kali terdengar berteriak mengerikan sejalan dengan serangan-serangannya
yang keras dan cepat. Seperti seekor serigala kelaparan, orang yang bertubuh
kokoh kuat itu melonjak-lonjak menyergap dari segenap arah. Namun Mahisa Agni
benar-benar dapat menguasai dirinya dengan sebaik-baiknya. Betapa pun lawannya
menjadi bertambah ganas, tetapi Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah mapan
juga. Setelah dikenalnya dengan baik setiap unsur gerak lawannya, serta setelah
dikenalnya pula dengan baik segenap kemampuan yang dapat dipergunakannya yang
tersimpan di dalam tubuhnya, maka perlawanannya pun menjadi semakin kuat dan
tangguh.
Karena itu maka guru
Pasik itu pun menjadi semakin heran. Ternyata ia berhadapan dengan seorang anak
muda yang luar biasa. Bahkan kemudian ternyata bahwa Mahisa Agni itu akan
benar-benar dapat menguasai keadaan.
Orang yang menamakan Bahu
Reksa Kali Elo itu pun kemudian menyadari sepenuhnya, siapakah yang sedang
dihadapinya kini. Karena itu, maka sampailah ia kemudian pada tetapan hatinya,
untuk membinasakan Mahisa Agni dalam puncak ilmunya.
Demikianlah maka guru
Pasik itu pun kemudian meloncat beberapa langkah surut menjauhi Mahisa Agni.
Dengan berteriak nyaring ia merentangkan kedua tangannya, kemudian dengan
ganasnya sekali ia meloncat ke udara, dan dengan kedua kakinya yang kokoh itu ia
tegak kembali di atas tanah dalam kesiagaan penuh untuk melontarkan ilmu
tertinggi yang dimilikinya.
Pasik yang melihat
perkelahian itu tiba-tiba saja menjadi sangat terkejut. Ia melihat betapa
gurunya merentangkan tangannya, kemudian seperti seekor singgat melenting ke
udara untuk kemudian bersiap dalam sikap yang teguh kuat seperti gunung yang
siap untuk meledak.
Dan tiba-tiba pula, tanpa
sesadarnya Pasik itu merasa, bahwa Mahisa Agni berada dalam bahaya. Ia tidak
tahu, kenapa ia merasa wajib untuk menyelamatkannya. Karena itu tiba-tiba ia
berteriak “Guru, jangan dengan ilmu itu!”
Tetapi gurunya sama
sekali tidak mendengar. Bahkan terdengar ia tertawa nyaring. Kini ia sama sekali
tidak bergerak, seolah-olah ia menunggu Mahisa Agni menyerangnya, untuk kemudian
dengan satu pukulan, anak itu akan dibinasakannya.
Mahisa Agni melihat sikap
itu. Ia melihat tubuh orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu
bergetar. Sebagai seorang yang telah menekuni olah kanuragan, maka segera Mahisa
Agni pun mengetahuinya, bahwa lawannya sedang mengerahkan setiap kekuatan lahir
dan batinnya dalam puncak ilmu yang dimilikinya.
Karena itu, maka Mahisa
Agni pun tidak mau dirinya dibinasakan oleh Orang yang bengis itu. Ia menjadi
heran ketika lamat-lamat ia mendengar Pasik itu mencoba mencegah gurunya dan
bahkan kemudian Pasik itu berkata, “Mahisa Agni, jangan mendekat!”
Terasa sesuatu berdesir
di dalam dada Mahisa Agni. Dalam kesibukannya menghadapi lawannya, maka
perasaannya dapat menangkap suatu ungkapan yang jujur yang dilontarkan oleh
Pasik yang sedang terluka itu, tetapi ia tidak mempunyai waktu terlalu lama
memperhatikan anak muda yang agaknya dalam perkembangan keadaan yang dialaminya
di dalam jiwanya. Yang segera harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari
kemungkinan yang sangat mengerikan. Karena itu, maka dengan rasa syukur yang
sedalam-dalamnya, maka Mahisa Agni kini sama sekali tidak menyerang lawannya.
Bahwa ia pun meloncat atau langkah surat. Disilangkannya kedua tangannya di
dadanya, dan dipanjatkannya hasrat di dalam hatinya, pemusatan kekuatan lahir
dan batin.
Ketika Mahisa Agni
melihat kaki lawannya bergeser, maka segera Mahisa Agni pun menarik kakinya
kanannya setengah langkah ke belakang, sedang pada kedua lututnya kemudian
Mahisa Agni merendahkan dirinya, siap dalam kekuatan aji yang baru saja
ditekuninya, Gundala Sasra.
Dalam waktu sekejap,
Mahisa Agni sudah merasakan,seolah-olah ada getaran-getaran yang mengalir di
dalam dirinya. Getaran-getaran kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya. Yang
karena ketekunannya, maka ia telah berhasil mengungkap segenap kekuatan-kekuatan
yang tersimpan itu. Meskipun ilmu yang dimilikinya itu belum sempurna benar,
namun aji Gundala Sasra adalah aji yang nggerisi.
Kini Mahisa Agni masih
berdiri pada sikapnya. Meskipun sikap itu bukanlah sikap yang mutlak harus
dilakukan, sebagaimana gurunya berkata, bahwa sikap itu adalah suatu cara untuk
mengungkapkan ilmu itu, tetapi pengungkapan itu dapat dilakukannya dalam sikap
yang paling tepat pada saat-saat tertentu dalam unsur-unsur gerak pokok yang tak
dapat disingkirkan.
Orang yang menamakan diri
Bahu Reksa Kali Elo itu pun ternyata seorang yang telah banyak berpengalaman.
Itulah sebabnya, ketika ia melihat Mahisa Agni tidak menyerangnya, justru
meloncat mundur sambil menyilangkan tangannya, serta ketegangan di wajah anak
muda itu, maka guru Pasik itu pun segera menyadari, bahwa lawannya telah pula
bersiap dalam puncak ilmunya.
Karena itu, maka
terdengar orang itu menggeram, “Apa yang sedang kau lakukan itu?”
Mahisa Agni masih belum
bergerak dari tempatnya. Ia pun menunggu sampai lawannya datang menyerangnya.
Maka jawabnya, “Aku sedang berpikir, apakah kau sedang mengungkapkan kesaktianmu
yang tertinggi?”
Guru Pasik itu
mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni menyadari keadaannya. Katanya, “Kita
telah sampai pada saat penentuan. Aku masih ingin mencoba memperingatkan kau
sekali lagi anak yang malang. Berikan kerismu dan jangan melawan. Mungkin aku
akan membunuhmu dengan keris itu, tidak dengan cara-cara yang lain yang akan
dapat menyiksamu pada saat-saat terakhir.”
“Ki Sanak,” jawab Mahisa
Agni, “kau masih saja hidup di dunia yang gelap ini. Sebaiknya kau bangun dan
sadari keadaanmu kini. Kau berada di antara manusia dan hidup bersama-sama
dengan mereka. Kenapa berlaku demikian? Seolah-olah kau hidup di tengah-tengah
rimba dan memaksakan segala kehendakmu kepada pihak-pihak yang kau anggap lebih
lemah.”
“Tutup mulutmu!” bentak
Guru Pasik itu. Matanya yang merah menjadi semakin merah, “Jangan ribut. Berikan
keris itu, dan tundukkan kepalamu. Aku ingin melibat darah memancar dari
lehermu.”
“Ki Sanak ,” jawab Mahisa
Agni, “kalau aku harus mati, maka akan mati dengan wajah menengadah.”
Guru Pasik itu menggeram.
Terdengar giginya gemeretak,dan tiba-tiba ia berteriak nyaring. Dengan
dahsyatnya ia menerkam Mahisa Agni tepat seperti serigala yang buas menerkam
mangsanya. Tetapi Mahisa Agni telah sampai di puncak ilmunya. Karena itu betapa
cepatnya ia menghindarkan diri dari terkaman itu, sehingga orang yang menamakan
dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu terdorong oleh kekuatannya sendiri meluncur
beberapa langkah. Namun orang itu agaknya telah benar-benar menguasai segenap
gerak dan tubuhnya. Demikian ia menginjak tanah, demikian ia melenting dan
memutar tubuhnya siap untuk melontarkan serangan kembali. Mahisa Agni pun segera
mempersiapkan dirinya pula kembali, dan bahkan kini ia tidak ingin perkelahian
itu berlangsung berlarut-larut. Demikian ia melihat guru Pasik itu menyerangnya
kembali dengan dahsyatnya, maka segera ia bergeser ke samping dan merendahkan
dirinya. Kali ini Mahisa Agni tidak melepaskan kesempatan itu, dengan cepatnya
ia meloncat menyerang lambung lawannya. Namun lawannya itu pun dengan sigapnya
memperbaiki keadaannya, sehingga tepat pada saat serangan Mahisa Agni datang,
Guru Pasik itu pun telah siap pula melawannya dengan garangnya.
Demikianlah maka
terjadilah benturan yang dahsyat dari dua macam ilmu yang berlawanan. Benturan
itu seakan-akan meledaknya petir yang sedang bersabung.
Pasik yang melihat
benturan itu, tiba-tiba memejamkan matanya. Terdengar ia berdesah. Ia tidak mau
melihat peristiwa yang mengerikan itu berulang. Beberapa, saat yang lampau, ia
pernah melihat gurunya mempergunakan ilmu itu pula, ketika mereka gagal memaksa
seseorang untuk menyerahkan barang-barangnya di perjalanan. Ternyata orang itu
pun mampu melawan gurunya dalam pertarungan jasmaniah. Namun kemudian gurunya
itu mempergunakan ilmunya yang dahsyat itu.
—–
Benturan antara Bahu Reksa Kali Elo dengan Mahisa Agni itu seakan-akan
meledaknya petir yang sedang bersabung.
—–
Ilmu yang dinamai Kala Bama. Akibatnya sangat mengerikan. Dada itu pecah
berserakan. Tulang-tulangnya patah dan isi adanya pecah berhamburan bercampur
warna darah. Pada saat itu ia gembira menyaksikan pembunuhan yang dahsyat.
Tetapi kini tiba-tiba ia merasa muak. Bukan seharusnya Mahisa Agni mendapat
perlakuan yang demikian.
Tetapi sesaat kemudian
Pasik itu menjadi heran. Ia mendengar tubuh-tubuh yang berjatuhan, namun ia
tidak mendengar gurunya itu tertawa nyaring seperti pada saat ia membunuh orang
di jalan itu. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk melihat apa yang terjadi.
Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dan pertama-tama dilihatnya adalah Mahisa
Agni yang sedang berusaha untuk berdiri di halaman itu. Namun tampak betapa ia
menjadi sangat letih. Sekali-sekali ia masih terhuyung-huyung hampir jatuh.
Namun kemudian ia menemukan keseimbangannya kembali.
Sebenarnyalah pada saat
benturan itu terjadi, Mahisa Agni terdorong beberapa langkah surut, kemudian
betapa dahsyatnya tenaga lawannya sehingga ia terguling beberapa kali. Baru
kemudian dengan susah payah, ia berusaha berdiri.
Tetapi lawannya pun tidak
kurang pula parahnya. Seperti seonggok kayu ia terlempar, kemudian terbanting di
tanah. Sesaat orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seakan-akan tak
dapat lagi bernafas. Dadanya serasa pecah dan matanya berkunang-kunang. Karena
itu maka segera dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk segera
menemukan kesadarannya kembali. Dan akhirnya guru Pasik itu pun mampu pula
mengangkat kepalanya. Perlahan-lahan ia bangkit betapapunggungnya terasa sakit.
Ketika ia telah berhasil duduk dan bertelekan di atas kedua tangannya,
dilihatnya Mahisa Agni telah berdiri di hadapannya.
“Setan!” desisnya, “hantu
mana yang telah menyelamatkanmu dari aji Kala Bama?”
Mahisa Agni menarik
nafas. Kala Bama. Aji itu pun betapa dahsyatnya sehingga hampir saja dadanya
dipecahkannya. Namun Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu.
Ditatapnya wajah orang
itu dengan tajamnya. Dan dibiarkannya ia berusaha untuk berdiri pula.
Dengan tertatih-tatih
akhirnya orang itu pun tegak pula. Namun sesaat kemudian ia berdiam diri seperti
sedang merenung. Dan tiba-tiba pula tanpa disangka-sangka orang itu memutar
tubuhnya dan terhuyung-huyung meloncat berlari meninggalkan halaman yang celaka
itu.
Sesaat Mahisa Agni
terpaku di tempatnya, namun kemudian disadarinya bahwa orang itu akan tetap
berbahaya baginya. Karena itu maka segera ia pun berusaha untuk mengejarnya.
Tetapi keadaan tubuhnya sendiri betapa letihnya, sehingga tenaganya pun telah
menjadi sangat jauh berkurang. Meskipun demikian, orang yang dikejarnya itu pun
tidak dapat berlari terlalu cepat.
Mahisa Agni dan guru
Pasik itu pun kemudian dengan terhuyung-huyung berlari berkejaran. Tetapi
tiba-tiba ketika Mahisa Agni hampir meloncati dinding halaman yang rendah, guru
Pasik itu pun berhenti. Secepat kilat ia memutar tubuhnya dengan sisa-sisa
ketangkasannya yang terakhir, kemudian dengan tiba-tiba pula, Mahisa Agni
melihat sebilah pisau yang meluncur terbang ke arahnya.
Mahisa Agni terkejut
melihat pisau itu. Cepat ia mengendapkan diri dan pisau itu terbang beberapa
jengkal di atasnya. Namun karena ia tergesa-gesa dan kekuatannya pun telah
hampir habis, maka dengan tak disangka-sangka Mahisa Agni itu pun tergelincir
jatuh di tanah.
Mahisa Agni mengumpat di
dalam hatinya. Pada saat ia bangun ia mendengar orang itu tertawa tinggi sambil
berkata hampir berteriak, “Mahisa Agni. Kau menang kali ini. Tunggulah beberapa
lama, apabila guruku telah selesai dengan pekerjaannya menempa Kuda Sempana,
maka akan datang giliranmu untuk aku penggal lehermu.
Mahisa Agni itu pun
berusaha bangun secepat-cepatnya. Namun karena tenaganya yang lemah itu, maka
ketika ia berhasil berdiri masih di dalam pagar, maka guru Pasik itu telah tidak
dilihatnya lagi.
“Alangkah liat kulitnya,”
gumam Mahisa Agni. Bagaimanapun juga ia terpaksa mengagumi orang yang menamakan
diri Bahu Reksa Kali Elo itu, sebagaimana orang itu mengaguminya. Mereka
masing-masing telah mempergunakan ilmu tertinggi yang mereka miliki. Namun
mereka mampu untuk bertahan, meskipun dada mereka seakan-akan menjadi rontok
karenanya.
Tetapi yang mengejutkan
Mahisa Agni, orang itu telah menyebut nama Kuda Sempana. Karena itu maka ia
menjadi gelisah. Apakah hubungannya dengan Kuda Sempana
Tiba-tiba Mahisa Agni itu
ingat kepada Pasik. Anak itu masih berbaring di tangan ayahnya. Mungkin ia bisa
bertanya kepadanya apakah hubungan antara orang ini dan Kuda Sempana.
Karena itu, maka kemudian
dilepaskannya maksudnya untuk mencari guru Pasik itu sebelum keadaan tubuhnya
memungkinkan. Bahkan segera ia berjalan kembali ke halaman untuk menemui Pasik
yang masih dengan lemahnya berbaring. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Agni
datang kepadanya tiba-tiba ia tersenyum. Kemudian dengan lemahnya ia berusaha
untuk duduk.
“Tuan ternyata luar
biasa,” desisnya.
Mahisa Agni tidak
menjawab. Ditatapnya wajah ibu Pasik yang agaknya masih marah kepadanya. Tetapi
ketika perempuan itu mendengar kata-kata Pasik itu, dan dilihatnya anaknya
tersenyum, ia menjadi heran.
Dan tiba-tiba perempuan
itu bertanya kepada anaknya, “Apakah kau sudah berangsur baik?”
Pasik berpaling.
Dipandangnya wajah ibunya yang penuh kecemasan. Kemudian ditatapnya pula wajah
ayahnya yang sayu. Tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dadanya. Dan tanpa
sesadarnya ia berkata, “Maafkan aku Ibu, maafkan aku Ayah.”
Ibunya terkejut ketika
dengan tiba-tiba ia mendengar kata-kata anaknya itu. Beberapa saat ia terdiam
seperti patung. Namun tiba-tiba pula diraihnya kepala anaknya, dan dipeluknya
anaknya itu seperti ketika masih kanak-kanak. Ibu Pasik itu pun menangis
sejadi-jadinya.
Beberapa orang masih
tampak di halaman itu. Selangkah demi selangkah mendekat. Mereka merasakan
sesuatu yang berbeda dengan saat-saat sebelumnya. Dan mereka melibat Mahisa Agni
masih di halaman itu. Dengan demikian maka mereka menjadi tenang.
Ayah Pasik itu pun
menggosok-gosok matanya yang menjadi nyeri. Satu-satunya anaknya kini telah
kembali kepadanya, kepada ayah dan ibunya. seakan-akan anak yang telah hilang
itu datang kembali pulang.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Betapa ia ikut serta mengalami keharuan melihat peristiwa itu.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia mengucap syukur di dalam hatinya.
Mudah-mudahan untuk seterusnya Pasik menyadari keadaannya. Ia adalah anak Kajar,
dilahirkan di Kajar dan dibesarkan di Kajar pula.
Baru sesaat kemudian,
kepala Pasik itu pun dilepaskan. Namun air mata masih saja mengalir meleleh di
pipi perempuan yang telah dipenuhi oleh garis-garis umur dan duka.
Patik itu kemudian
menatap Mahisa Agni dengan mata yang buram. Katanya, “Tuan telah membuka hatiku.
Dan tuan telah mengampuni aku. Sebab kalau tuan mau membunuh aku, maka aku pun
pasti sudah mati. Ternyata tuan benar-benar menyelamatkan diri dari aji Kala
Bama, dan bahkan tuan berhasil mengusir Bahu Reksa Kali Elo dari halaman ini.”
Mahisa Agni menganggukkan
kepalanya. Katanya, “Jangan pikirkan itu. Sekarang sembuhkan luka-lukamu. Luka
badan dan luka jiwamu. Mudah-mudahan kedua-duanya akan lekas menjadi sembuh.”
Pasik menganggukkan
kepalanya. Katanya lirih kepada ayahnya, “Ayah. Mintakan aku maaf kepada
penduduk Kajar. Kepada tetua padukuhan ini, dan kepada siapa saja.”
“Mereka akan memaafkan
kau, Pasik,” terdengar suara di belakang mereka. Suara tetua padukuhan itu.
“Terima kasih Kiai,”
sahut Pasik.
Halaman itu kemudian
hening untuk sesaat. Masing-masing sedang tenggelam dalam angan-angannya. Mereka
sedang menilai peristiwa yang haru saja mereka saksikan. Peristiwa yang telah
menolong seorang anak padukuhan mereka yang selama ini tenggelam dalam arus yang
hitam.
Tetapi kegelisahan di
dada Mahisa Agni masih saja mengguncangnya. Ia ingin segera tahu hubungan guru
Pasik itu dengan Kuda Sempana. Dalam tangkapannya, maka Kuda Sempana yang
digarap pula oleh guru Pasik itu, adalah saudara seperguruan dengan orang yang
menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.
Karena itu, ketika
halaman itu telah menjadi tenang, maka Mahisa Agni itu pun segera melangkah
mendekati Pasik yang sudah dapat duduk bersandar kedua tangannya.
Dengan ragu-ragu Mahisa
Agni itu pun berkata kepada ayah Pasik. Katanya, “Paman, apakah tidak sebaiknya
Pasik dibawa masuk untuk mendapatkan perawatan yang baik?”
“Ya, ya,” jawab ayah
Pasik itu tergagap. Dan kemudian dibantu oleh Mahisa Agni, maka Pasik itu pun
dipapah masuk ke rumahnya. Dengan perlahan-lahan anak muda itu dibaringkannya di
atas pembaringan.
“Terima kasih,” desis
Pasik, “aku sudah mendingan.”
“Jangan banyak bergerak,
Pasik,” Mahisa Agni berpesan. Dan Pasik itu pun mengangguk.
Setelah Pasik itu minum
kembali beberapa teguk, maka keadaannya menjadi semakin baik. Dan kata-katanya
yang ke luar dari mulutnya pun menjadi semakin lancar.
Beberapa orang yang
berdiri di halaman satu-satu menengok juga dari lubang ke dalam rumah, namun
mereka tidak berkehendak masuk. Bahkan kemudian satu-satu mereka meninggalkan
halaman itu pulang ke rumah masing-masing. Namun di dalam dada mereka tersimpan
suatu perasaan yang lain daripada saat mereka datang dengan tergesa-gesa ke
halaman itu.
Rumah Pasik itu pun
kemudian menjadi sepi yang berdiri di pintu adalah tertua padukuhan Kajar, dan
menantunya berdiri di belakangnya. Walaupun ia melihat bahwa Pasik itu terluka,
namun ketakutannya masih juga belum mereda.
“Angger Mahisa Agni,”
berkata orang tua itu, “aku akan pulang dahulu. Apakah Angger pergi bersama-sama
aku ke rumahku?”
Mahisa Agni menggelengkan
kepalanya. Jawabnya, “Aku akan menyusul, Bapa.”
Orang itu pun kemudian
minta diri pulang bersama menantunya yang masih berdebar-debar
Ketika halaman itu telah
benar-benar sepi, maka barulah Mahisa Agni bertanya kepada Pasik. Katanya,
“Pasik, apakah kau pernah mendengar nama Kuda Sempana?”
Pasik itu mengerutkan
keningnya. Sesaat ia ragu-ragu, namun kemudian jawabnya, “Ya, Tuan. Aku pernah
mendengar.”
“Panggillah aku dengan
namaku,” sahut Mahisa Agni.
“Ya, ya Mahisa Agni,”
berkata Pasik dengan kaku.
“Nah. Demikianlah,”
sambut Mahisa Agni, kemudian katanya melanjutkan pertanyaannya, “siapakah Kuda
Sempana itu?”
“Dari mana tuan, eh, kau
tahu nama itu?´ bertanya Pasik.
“Aku mendengar dari
gurumu. Ia akan datang mencari aku setelah gurunya selesai dengan pekerjaannya,
menempa orang yang bernama Kuda Sempana.”
Pasik menganggukkan
kepalanya. Kembali ia beragu. Tetapi ketika ditatapnya wajah Mahisa Agni yang
bening ia berkata, “Kuda Sempana adalah adik seperguruan guruku.”
“Hem,” Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Siapakah dia?”
“Kuda Sempana adalah
seorang prajurit pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel.”
“Hem,” kembali Mahisa
Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi Kuda Sempana itu benar-benar Kuda
Sempana yang pernah dikenalnya. Bukan orang lain yang hanya kebetulan bernama
sama.
“Siapakah guru dari
gurumu itu?” bertanya Mahisa Agni.
Pasik menggeleng. “Aku
tak tahu. Guruku mempunyai saudara seperguruan yang cukup banyak. Ada di
antaranya prajurit, ada pula pejabat, namun ada pula penjudi dan penjahat.
Mereka akan diterima menjadi murid asal mereka dapat menyerahkan berbagai macam
imbalan. Namun jumlah murid itu tidak lebih dari sepuluh orang. Di antaranya
adalah guruku. Karena itulah maka guruku harus memeras orang-orang di sekitarnya
untuk dapat memberikan imbalan kepada gurunya.”
“Dan agaknya gurumu
berbuat serupa.”
“Ya. Ia pun menerima
beberapa orang murid dengan cara yang sama untuk menutup kebutuhannya.”
“Hem,” kembali Mahisa
Agni menarik nafas dalam-dalam. Guru orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali
Elo itu pasti seorang yang sakti pula. Ternyata bahwa muridnya memiliki
kesaktian yang mengagumkan. Namun agaknya orang itu telah memilih jalan yang
sesat, yang menjual kesaktiannya untuk kepentingan-kepentingan lahirlah. Itulah
sebabnya maka muridnya tersebar dari segala penjuru. Ternyata siapa pun yang
mampu memberinya imbalan sesuai dengan permintaannya, maka mereka akan dapat
menghisap ilmu daripadanya tanpa dihiraukannya akibat. Dan akibatnya, itu pada
umumnya adalah sangat tidak baik.
Tetapi dalam pada itu,
Mahisa Agni pun segera menghubungkan penempaan diri Kuda Sempana dengan
kekalahan yang pernah dialaminya di padukuhannya. Karena itu, maka ia bertanya
pula, “Apakah kau kenal dengan Kuda Sempana secara pribadi, Pasik?”
Pasik menggeleng.
“Tidak,” jawabnya, “namun aku pernah melihat orangnya Aku pernah mendengar ia
bercakap-cakap dengan guruku.”
“Kenapa Kuda Sempana itu
berguru pula pada guru Bahu Reksa Kali Elo itu?”
“Aku tidak tahu,” kembali
Pasik menggeleng.
“Apakah kau tahu, apa
yang mendorongnya sehingga ia dengan tergesa-gesa menempa diri? Apakah memang
sudah saatnya ia menerima ilmu itu, ataukah hanya karena Kuda Sempana sudah
mempunyai cukup uang untuk berbuat demikian?”
“Mungkin,” sahut Pasik,
“namun Kuda Sempana itu juga menyimpan dendam di dalam hatinya.:
Terasa sesuatu berdesir
di dada Mahisa Agni. Dan ia pun kemudian mendengar Pasik itu meneruskan, “Kuda
Sempana telah mengalami kekecewaan terhadap seorang gadis. Karena itu, ia telah
bersiap untuk menebus kekecewaannya.”
“He,” Mahisa Agni
terkejut, “dari mana kau tahu?”
Pasik menjadi heran atas
tanggapan Mahisa Agni itu. Kemudian katanya, “Apakah tuan, eh, kau kenal Kuda
Sempana.”
Mahisa Agni tidak
menjawab pertanyaan Pasik, tetapi ia berkata, “Dari mana kau tahu?”
“Aku pernah melihat Kuda
Sempana mengatakan itu kepada saudara-saudara seperguruannya, termasuk guruku.
Meskipun aku tidak sengaja mendengarkannya.”
Denyut jantung Mahisa
Agni pun terasa menjadi semakin cepat mengalir. Nafasnya pun kemudian
seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir berebut dahulu lewat lubang
hidungnya. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apa katanya?”
Pasik menjadi semakin
heran. Karena itu ia bertanya, “Kenapa tuan menaruh perhatian yang sangsi besar
atas orang itu?”
Sekali lagi Mahisa Agni
tidak mendengarkan pertanyaan Pasik. Bahkan ia mendesaknya, “Apa yang dikatakan
Kuda Sempana itu?”
Pasik tidak segera
menjawab. Namun Mahisa Agni itu pun mendesaknya sekali lagi, “ Apa?”
Pasik tidak dapat berbuat
lain daripada menjawab pertanyaan itu, katanya, “Kuda Sempana perah dikecewakan
oleh seorang gadis. Katanya, ‘Apabila aku tak dapat memetik bunga itu, maka
lebih baik akan aku gugurkan saja daun-daun mahkotanya’.
Darah di dalam tubuh
Mahisa Agni serasa mengalir lebih cepat. Kata-kata semacam itu pun pernah
didengarnya dahulu dari mulut Kuda Sempana sendiri, meskipun tidak sejelas itu.
Tetapi apa yang dikatakan itu adalah benar-benar mencemaskan hatinya.
Pasik yang melihat
perubahan wajah Mahisa Agni menjadi semakin heran. Sekali lagi ia mencoba
bertanya, “Mahisa Agni, apakah kau mengenal Kuda Sempana?”
“Aku pernah mendengar
namanya,” jawab Mahisa Agni.
“Tetapi kau terpengaruh
oleh berita yang kau dengar.”
“Setiap orang akan
terpengaruh mendengar cerita itu. Bukankah itu akan merupakan pelanggaran atar
sendi-sendi pergaulan. Ia akan memaksakan kehendaknya atas seorang gadis, sedang
gadis itu tidak menerimanya. Apakah haknya untuk memaksa gadis itu? Apalagi
orang tua gadis itu pun sama sekali tak menyetujuinya. Bahkan gadis itu dengan
resmi telah dipertunangkan. Bukankah itu suatu perkosaan atas nilai-nilai
kemanusiaan?”
Pasik mengerutkan
keningnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Mahisa Agni kau pasti mempunyai hubungan
dengan Kuda Sempana. Dari mana kau tahu bahwa gadis itu tak menerimanya?”
—–
Pasik tidak dapat berbuat lain daripada menjawab pertanyaan itu, katanya, “Kuda
Sempana pernah dikecewakan oleh seorang gadis. Katanya, ‘Apabila aku tak dapat
memetik bunga ini maka akan kugugurkan daun-daun mahkotanya’.
—–
“Dari mana kau tahu bahwa
ayah gadis itu tak menyetujuinya? Dan dari mana kau tahu bahwa gadis itu telah
dipertunangkannya?”
“Oh,” Mahisa Agni
terkejut mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia sudah terlanjur
mengatakannya. Karena itu maka ia harus menjawabnya. Namun sesaat ia menjadi
ragu-ragu. Pasik adalah orang yang jauh dari lingkungan pergaulan mereka,
sehingga tak ada perlunya untuk memberitahukannya. Namun mulutnya sudah
terlanjur mengucapkannya.
“Mahisa Agni,” bertanya
Pasik Tiba-tiba, “apakah kau anak muda yang dipertunangkan dengan gadis itu?”
“Tidak, tidak,” cepat
Mahisa Agni menjawab hampir berteriak sehingga Pasik itu pun terkejut. Ibunya
yang sedang berada di dapur pun berdiri sesaat menengok ke ruang depan. Tetapi
ketika dilihatnya Pasik masih berbaring, dan di sampingnya duduk Mahisa Agni dan
ayahnya, maka perempuan itu pun kembali merebus air. Sedang ayahnya yang duduk
di samping Pasik itu sama sekali tidak tabu, apakah yang sebenarnya mereka
percakapkan.
Bahkan Mahisa Agni
sendiri pun terkejut mendengar suaranya sendiri. Namun yang lebih berpengaruh di
hatinya adalah pertanyaan Pasik itu. Bukankah ia sendiri bukan laki-laki yang
dipertunangkan dengan gadis itu. Bukankah gadis itu telah mempunyai seorang
calon suami yang akan dapat melindunginya?
“Persetan dengan gadis
itu!” katanya di dalam hati, “Bukankah Ken Dedes menjadi kewajiban Wiraprana.”
Tetapi getar di dalam
dada Mahisa Agni pun menjadi semakin cepat. Betapa ia berusaha menekan
perasaannya, namun kegelisahannya bahkan menjadi semakin mengganggunya. Meskipun
Ken Dedes, gadis yang dikatakan oleh Kuda Sempana itu merupakan duri di dalam
hatinya, namun duri itu merupakan sebagian dari seluruh keindahan dari Bunga
kaki Gunung Kawi itu. Karena itu, maka jantungnya semakin lama menjadi semakin
keras berdentang. Meskipun betapa pedihnya luka-luka yang tergores di hatinya
karena tajamnya duri itu, namun ia tidak rela melihat seluruh keindahan Bunga
kaki Gunung Kawi itu akan digugurkan.
“Pasik,” tiba-tiba Mahisa
Agni itu berkata, “aku akan mohon diri.”
Pasik terkejut. Terkejut
sekali sehingga tiba-tiba ia bangkit. Namun kembali terasa dadanya akan pecah,
dan dengan lemahnya ia terkulai kembali.
“Jangan bergerak dahulu,”
minta Mahisa Agni ketika ia melihat mulut Pasik menyeringai.
“Kenapa kau menjadi
sedemikian tergesa-gesa. Apakah kau akan pergi ke tempat Kuda Sempana karena kau
mendengar ceritaku?”
Mahisa Agni menggeleng.
“Tidak,” jawabnya, “aku akan pergi ke rumah tetua Padukuhan Kajar.
“Oh,” Pasik menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian ia pun bergumam, “Aku menjadi sangat terkejut. Aku sangka
kau akan pergi ke rumah Kuda Sempana. Bukankah dengan demikian kau akan membunuh
diri?”
Sekali lagi Mahisa Agni
menggeleng. Namun terdengar ia bertanya, “Kenapa membunuh diri? Bukankah Kuda
Sempana itu adik seperguruan gurumu?”
“Ya,” jawab Pasik,
“tetapi penempaan yang dilakukan oleh gurunya ini merupakan penempaan yang
tertinggi. Apakah dengan demikian Kuda Sempana itu tidak akan menjadi lebih
dahsyat dari guruku?”
Mahisa Agni itu pun
merenung. Namun akhirnya ia mengambil kesimpulan, bahwa guru Kuda Sempana itu
pasti tak akan ikut terjun dalam setiap bahaya yang mengancam dirinya. Ia hanya
memberikan ilmu untuk sekedar mendapat upah. Kalau upah itu telah diterimanya
serta ilmu yang dibeli itu telah diberikannya, maka apapun yang akan dialami
oleh muridnya adalah tanggung jawab murid-murid itu sendiri. Guru yang demikian,
pasti tidak mau ikut seria melibatkan diri apabila persoalannya akan dapat
membahayakan dirinya pula. Karena itu, maka ilmu diberikannya pasti ilmu yang
hanya terbatas dalam tataran yang tertentu.
Karena itu, maka menurut
perhitungan Mahisa Agni, murid-murid guru Bahu Reksa Kali Elo itu pasti hanya
akan mendapat bagian yang sama dari ilmu gurunya itu. Kalau ada perbedaan
sedikit-sedikit, maka itu pasti hanya karena kemampuan murid-murid itu sendiri.
Dengan demikian, maka
Mahisa Agni itu pun dapat memperhitungkan kemungkinan yang dimiliki oleh Kuda
Sempana. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak boleh merendahkan siapa pun.
Satu-satunya jalan yang terbaik, ialah mematangkan ilmunya sendiri.
Tetapi Mahisa Agni tidak
boleh menunda-nunda waktu lagi. Kuda Sempana setiap saat dapat datang ke
Panawijen. Adalah berbahaya sekali apabila gurunya, Empu Purwa masih juga belum
pulang, sehingga dengan demikian Kuda Sempana akan dapat berbuat sesuatu yang
sama sekali tak disangka-sangkanya. Meskipun demikian, betapapun saktinya Kuda
Sempana, namun apakah Kuda Sempana mampu melawan kekuatan seluruh penduduk
Panawijen. Sebab apabila terjadi sesuatu dengan Ken Dedes, maka seluruh penduduk
Panawijen pasti akan membelanya. Tetapi kalau Kuda Sempana datang berdua atau
bertiga saja, apalagi lebih, maka keadaannya pasti akan menyulitkan, sekali.
Maka yang segera harus
dilakukan adalah pulang kembali ke Panawijen.
Mahisa Agni itu pun
kemudian sekali lagi minta diri ke pada Pasik. Betapa Pasik mencoba mencegahnya,
juga ayah ibunya, namun Mahisa Agni yang mencemaskan nasib padukuhannya,
ternyata sudah tidak dapat menunda rencananya. Meskipun yang dikatakannya kepada
Pasik, Mahisa Agni hanya akan kembali ke rumah tetua padukuhan Kajar, karena ia
sudah berjanji untuk segera menyusulnya.
“Ah,” berkata Pasik,
“nanti malam pun tak, mengapa. Bukankah kau tidak takut kepada apapun?”
“Terima kasih Pasik.
Tetapi orang tua itu nanti terlalu lama menunggu,” sahut Mahisa Agni, “nanti,
besok, atau kapan lagi aku akan dapat menengokmu kembali.”
Dan keluarga Pasik itu
benar-benar sudah tidak dapat mencegahnya. Dengan ucapan terima kasih yang tak
berhingga, maka Mahisa Agni itu pun kemudian dilepas pergi.
Mahisa Agni itu pun
kemudian benar-benar singgah di rumah tetua padukuhan Kajar, tetapi hanya untuk
minta diri. Kegelisahan yang menghentak-hentak dadanya tak dapat
ditunda-tundanya lagi. Seolah-olah selalu didengarnya, kampung halaman di mana
ia mendapatkan pendidikan dan keteguhan tabir batin, memanggilnya untuk segera
pulang kembali. Orang tua, tetua padukuhan Kajar itu pun mencoba mencegahnya.
Mereka mempersilakan Mahisa Agni untuk berada di lingkungan keluarga mereka
sehari atau dua liari. Apalagi anak serta menantunya, merasa bahwa Mahisa Ainlah
yang telah mengurungkan bencana yang akan menimpa mereka. Bencana yang akan
memisahkan mereka suami istri. Namun Mahisa Agni dengan menyesal sekali menolak
permintaan itu. Meskipun demikian, supaya orang tua itu tidak terlalu kecewa,
maka Mahisa Agni pun menunggu sesaat, sampai nasi jagung yang mereka masak
menjadi masak.
“Bawalah Ngger,” berkata
orang tua itu, “Angger memerlukan bekal di perjalanan Angger yang tak tentu
kapan akan berakhir.”
“Terima kasih Bapa,”
jawab Mahisa Agni, “demikianlah pekerjaan seorang perantau. Dan aku senang akan
pekerjaan itu.”
Mahisa Agni pun kemudian
menerima bekal itu dengan senang hati. Dimasukkannya bekal itu ke dalam
bungkusannya yang ditinggalkannya di rumah tetua padukuhan Kajar itu. Kemudian
disangkutkannya bungkusan itu di ujung tongkat kayunya.
Kembali kini Mahisa Agni
berjalan dengan memanggul bungkusan kecilnya sebagai seorang perantau. Selangkah
demi selangkah ia meninggalkan halaman rumah orang tua. Suami istri beserta anak
menantunya mengantarkan Mahisa Agni sampai ke regol halaman rumah mereka. Dan
kemudian mereka mengawasi langkah perantau yang baik hati itu sampai hilang di
tikungan jalan.
Ketika Mahisa Agni sampai
di mulut lorong padukuhan Kajar, sekali lagi ia berpaling. Tetapi ia tidak
melihat seseorang di belakangnya. jalan itu sepi. Di sebelah tikungan di
belakangnya didapatinya rumah tetua padukuhan Kajar. Dan di ujung yang lain
didapatinya rumah Pasik. Dua buah rumah yang meninggalkan kenangan di hati
Mahisa Agni.
Demikianlah Mahisa Agni
menempuh jalan kembali ke Panawijen. jalan yang pernah dilaluinya beberapa waktu
yang lampau. Namun kini perjalanan Mahisa Agni seolah-olah jauh lebih cepat
daripada saat ia berangkat, ia tidak perlu mencari-cari kemungkinan untuk tidak
tersesat. Dengan bekal ingatan serta pengenalannya yang baik, ia segera dapat
menemukan kembali jalan yang dahulu dilewatinya. Sehingga perjalanannya kali ini
hanya memerlukan waktu separuh dari waktu yang diperlukannya pada saat ia
berangkat.
Hutan dan ngarai yang
panjang, serta padang rumput yang luas dilewatinya dengan tergesa-gesa. Tenaga
Mahisa Agni seakan-akan menjadi jauh lebih besar dari tenaganya semula.
Ketangkasannya bergerak serta pernafasannya yang semakin teratur, telah menambah
kecepatan perjalanannya. Meskipun demikian, apabila ia bangun di pagi-pagi hari
setelah ia bermalam di cabang-cabang pepohonan, sekali-sekali diperlukannya juga
memperlancar getaran-getarannya bergerak-gerak di dalam tubuhnya dalam ilmunya
Gundala Sasra. Semakin sering ia menerapkan ilmunya, maka getaran-getaran itu
semakin cepat mencapai tempat-tempat yang dikehendakinya. Bahkan kemudian
seakan-akan Mahisa Agni sudah tidak memerlukan lagi waktu, sejak saat ia
menerapkan ilmunya itu, sampai pada penggunaannya. Apabila ia telah menyilangkan
tangannya di muka dadanya, sambil memusatkan pikiran serta segenap kekuatan
lahir dan batinnya, maka sesaat itu pula, ilmunya telah mapan untuk
dilontarkannya lewat, bidang-bidang permukaan tubuhnya yang dikehendakinya.
Berkali-kali ia telah mencoba di sepanjang perjalanan itu. Batu-batu padas,
batu-batu hitam dan bahkan pepohonan dan binatang-binatang buas yang
menyerangnya.
Sesuai tuntunan-tuntunan
yang diberikan oleh gurunya, Mahisa Agni selalu dengan tekun mencoba
meningkatkan setiap kemampuan dari ilmu Gundala Sasra itu. Di sepanjang jalan
dan di setiap kesempatan.
Akhirnya, pada suatu pagi
yang cerah, Mahisa Agni telah meninggalkan daerah-daerah hutan yang lebat, dan
di mukanya membentang daerah yang subur dan ramai. Mahisa Agni telah menginjak
batas jantung pemerintahan Tumapel.
Tiba-tiba saja Mahisa
Agni ingin berjalan melewati kota. Sudah beberapa lama ia berada di
tengah-tengah hutan yang sepi. Karena itu ia kini ingin melihat tempat-tempat
yang agak ramai, meskipun tanpa sesuatu maksud tertentu.
Maka Mahisa Agni itu pun
segera membersihkan dirinya di sebuah kali. Ia tidak ingin masuk kota sebagai
seorang yang tampaknya terlalu kotor. Dipakainya pakaiannya yang masih terlipat
di dalam bungkusannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Agni menjadi agak bersih
karenanya, setelah ia tinggal di antara rimbunnya dedaunan di hutan yang lebat,
serta bekas-bekas param yang diberikan oleh gurunya untuk mencegah keracunan
karena gigitan binatang-binatang serangga beracun. Ketika matahari kemudian
menjadi semakin tinggi, setinggi ujung rumah-rumah joglo, maka Mahisa Agni telah
masuk ke keramaian kota Tumapel.
Tetapi Tiba-tiba Mahisa
Agni terkejut. Dari kejauhan ia melihat seorang anak muda yang gagah dia tas
punggung kuda. Semakin lama semakin dekat. Dan hati Mahisa Agni itu pun menjadi
ber-debar-debar. Anak muda itu adalah Kuda Sempana.
Ketika kuda itu lewat di
sampingnya, Mahisa Agni mencoba melambaikan tangannya sambil tertawa. “Kuda
Sempana,” sapanya.
Kuda Sempana menarik
kekang kudanya. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Tak sepatah kata
pun keluar dari mulutnya. Namun dari matanya itu memancar sinar dendam yang
menyala-nyala meskipun demikian, Mahisa Agni masih mencoba untuk tersenyum.
Bahkan kemudian sekali lagi ia menyapa, “Kuda Sempana, akan ke manakah kau
sepagi ini?”
“Hem,” Kuda Sempana
menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba Kuda Sempana itu
menggerakkan kendali kudanya, dan sesaat kemudian kuda itu telah berlari kembali
di jalan-jalan kota.
Beberapa orang mengawasi
Mahisa Agni. Mereka menjadi heran, apakah anak yang berkuda itu bendaranya yang
sedang marah kepada budaknya. Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling juga, dan
dilibatnya wajah-wajah yang memandangnya dengan aneh. Bahkan ada di antaranya
yang tersenyum-senyum dan ada pula yang menjadi iba.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Kembali dikenangnya pergaulan di padukuhannya. Pergaulan yang rapat
dan jujur di antara sesama. Ia menjadi sangat kecewa terhadap Kuda Sempana.
Namun Mahisa Agni ini kemudian menyadarinya, bahwa Kuda Sempana masih sangat
marah kepadanya, Ia tidak ingin berprasangka terhadap anak-anak muda dari kota.
Tetapi ketika Mahisa Agni
melangkahkan kakinya, untuk meninggalkan tempat itu, Tiba-tiba ia mendengar
suara tertawa berderai tidak jauh di belakangnya, kemudian terdengar suara,
“Anak yang malang. Agaknya ia bersahabat karib dengan Kuda Sempana, pelayan
dalam Akuwu Tumapel itu.”
Mula-mula Mahisa Agni
tidak menghiraukan ejekan itu. Sebagai orang yang asing di kota itu, maka Mahisa
Agni tak ingin mengalami perselisihan. Karena itu, kembali ia melangkahkan
kakinya untuk meninggalkan tempat yang tak menyenangkannya itu.
Tetapi ketika ia baru
satu langkah maju, kembali suara tertawa itu terdengar. Bahkan kemudian disusul
oleh suara yang lain.
“Kenapa Kuda Sempana itu
tak menjawab,” sapanya.
Berkata yang lain,
“Bukankah Kuda Sempana juga anak Panawijen seperti anak itu.”
Keduanya tertawa-tawa.
Dan terdengar salah seorang berkata pula.
“Kuda Sempana takut
kepada anak Buyut padukuhannya yang garang itu. Takut kalau anak muda yang gagah
itu minta uang kepadanya.”
Mahisa Agni terkejut
mendengar kata-kata mereka. Cepat ia dapat menebak siapakah yang telah sengaja
membangkitkan kemarahannya itu. Yang menyangka bahwa dirinya adalah anak Buyut
Panawijen yang bernama Wiraprana adalah Mahendra.
Dan sebenarnyalah. Ketika
ia berpaling, dilihatnya Mahendra berdiri di tepi jalan di samping saudara
seperguruannya. Kebo Ijo.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Kedua anak itu masih tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian
Mahendra itu melangkah maju sambil berkata, “Selamat pagi Wiraprana yang
perkasa.”
Mahisa Agni menggigit
bibirnya. Namun ia mengangguk pula sambil menjawab, “Selamat pagi Mahendra.”
“Apa kerjamu sepagi ini
di sini, Wiraprana?” bertanya Mahendra.
“Aku baru datang dari
suatu perjalanan Mahendra,” jawab Mahisa Agni, “aku hanya singgah sebentar.”
Mahendra tertawa.
Kemudian sambil menunjuk arah Kuda Sempana pergi, anak muda itu berkata, “Kau
kenalan anak muda berkuda itu?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Ya,” jawabnya.
Mahendra masih tertawa,
“Tetapi ia tidak kenal kepada mu. Sayang kalau ia segera pergi, aku ingin
memperkenalkannya kepada anak Buyut Panawijen. Aku kenal baik kepadanya.”
“Terima kasih,” sahut
Agni pendek.
“Barangkali kau
memerlukan pekerjaan daripadanya di istana?” ejek Mahendra.
Sekali lagi Mahisa Agni
menggigit bibirnya ia menyadari bahwa Mahendra sedang mencoba membangkitkan
kemarahannya. Anak itu sedang mencari sebab yang memungkinkan timbulnya
pertengkaran. Seperti Kuda Sempana, maka Mahendra pun agaknya mendendamnya.
“Hem,” Mahisa Agni
menarik nafas. Tidak disangkanya, bahwa ia akan mempunyai banyak lawan yang tak
diharapkannya. Alangkah senangnya apabila hidupnya dipenuhi oleh rasa
persahabatan dengan siapa pun juga. Namun ia dihadapkan pada suatu keadaan yang
tak dapat disingkirkannya. Baik Kuda Sempana, maupun Mahendra seolah-olah memang
dilahirkannya sebagai lawan-lawannya. Meskipun demikian, Mahisa Agni benar-benar
tidak ingin berselisih di tengah-tengah kota yang ramai dan asing baginya. Maka
katanya, “Sudahlah Mahendra, aku akan meneruskan perjalananku.”
“Ke mana?” bertanya
Mahendra dengan nada tinggi.
“Pulang ke Panawijen.”
“Apakah kau sudah
mendapat pekerjaan di kota? Menjadi juru pekatik atau apapun? Kalau belum kau
dapat ikut aku. Kudaku memerlukan seorang perawat yang baik.”
Terasa dada Mahisa Agni
terguncang mendengar ejekan itu. Apalagi kemudian terdengar Kebo Ijo tertawa
berkepanjangan. Bahkan tidak saja Kebo Ijo, tetapi juga beberapa pemuda yang
lain. Agaknya Mahendra dan Kebo Ijo berada di tempat itu bersama-sama dengan
beberapa orang kawan-kawannya.
Sekali lagi Mahisa Agni
menarik nafas untuk meredakan gelora di dadanya. Ia mencoba untuk tidak
menampakkan perubahan di wajahnya. Bahkan kemudian ia berkata, “Mahendra,
sebaiknya kita tidak usah bertemu di tempat ini.”
Mahendra tertawa,
katanya, “Kita tidak ketemu di sini Ki Sanak. Aku tadi melihatmu di seberang
jembatan. Aku sengaja mengikutimu. Ternyata kau berjumpa dengan Kuda Sempana.
Aku kira kau akan minta pekerjaan kepadanya.”
“Tidak Mahendra,” jawab
Mahisa Agni, “aku tidak memerlukan pekerjaan.”
Mahendra tertawa semakin
keras. Kebo Ijo dan kawan-kawannya pun tertawa pula. Salah seorang dari mereka
bertanya, “Siapakah anak itu sebenarnya?”
“Putra Buyut Panawijen.
Wiraprana,” jawab Mahendra dengan menekankan setiap suku kata.
Kini Mahisa Agni tidak
berkata-kata lagi. Dengan sudut matanya ia melihat beberapa orang muda yang
berdiri di belakang Kebo Ijo. “Tujuh orang,” desisnya di dalam hati, “sembilan
dengan Mahendra dan Kebo Ijo.”
Dan anak-anak muda itu
tertawa berkepanjangan. “Kasihan,” berkata salah seorang daripadanya.
Mahendra yang berdiri
paling dekat dengan Mahisa Agni berkata, “Wiraprana, apakah tawaranku kau
terima?”
Mahisa Agni menggeram.
Jawabnya, “Mahendra, apakah maksudmu sebenarnya? Kau sebenarnya tahu benar,
bahwa aku sama sekali tidak sedang mencari Kuda Sempana. Kau tahu betul bahwa
sikapmu itu tidak pada tempatnya. Mahendra, apakah kau sengaja memancing
persoalan supaya kau mendapat alasan untuk berkelahi?”
Mahendra terdiam.
Tampaklah kerut-kerut di wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa Mahisa Agni akan
berkata langsung menebak maksudnya. Tetapi sesaat kemudian Mahendra itu sudah
tertawa lagi. Memang sudah disengaja olehnya, Mahisa Agni yang disangkanya
Wiraprana itu, akan dibuatnya marah. Ia ingin sekali lagi mengadu tenaga.
Sekarang kawan-kawannya akan menjadi saksi. Setelah beberapa bulan ia mencoba
mengembangkan ilmunya, maka apabila ada kesempatan bertemu dengan Mahisa Agni,
ia akan menebui kekalahannya.
Karena itu Mahendra
menjawab, “Apakah kau marah Wiraprana? Jangan lekas marah. Di Tumapel, jangan
kau samakan dengan padukuhan yang sepi Panawijen, meskipun kau di Panawijen
menjadi putra tetua padukuhanmu, tetapi kau tidak dapat mengangkat wajahmu di
Tumapel. Seorang Buyut pun apabila masuk ke kota ini harus menundukkan wajahnya.
Apalagi kau, hanya anak seorang buyut. Kau tidak dapat memperlakukan anak-anak
muda di sini seperti anak-anak muda di desamu. Kau, bagi kami di sini sama
sekali tidak berarti.”
Mahisa Agni kini sudah
pasti, bahwa sebenarnyalah Mahendra sedang memancingnya ke dalam suatu
bentrokan. Karena itu, maka untuk yang terakhir kalinya ia mencoba menghindari
bentrokan itu apabila mungkin. Jawabnya, “Baik Mahendra. Baik. Aku adalah anak
Panawijen. Anak dari pedesaan. Dan aku memang tidak ingin berbuat apapun di
sini. Aku hanya akan lewat, seperti anak-anak desa yang lain yang tak pernah
mendapat gangguan dari siapa pun apabila ia lewat di jalan kota. Sekarang
biarlah aku berlalu.”
Mahendra terkejut
mendengar jawaban itu. Sama sekali tak disangkanya bahwa Mahisa Agni itu tidak
segera marah mendengar ejekan-ejekan yang telah dilontarkannya. Karena itu
sesaat ia menjadi bingung untuk membangkitkan kemarahan anak muda itu.
Ketika Mahendra melihat
Mahisa Agni itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi, maka dengan tergesa-gesa
ia memanggilnya, “Wiraprana. Jangan pergi!”
Wiraprana terhenti.
Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahendra melangkah maju mendekatinya.
“Jangan pergi!” bentak
Mahendra.
“Apakah hakmu melarang
aku pergi,” sahut Agni.
Mahendra menjadi bingung.
Ketika ia terpaling ke arah kawan-kawannya melihat Kebo Ijo menjadi tegang.
beberapa orang kawan-kawannya itu pun sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian
Kebo Ijo itu berkata, “Jangan biarkan anak itu pergi. Ia telah menghina kita.”
Mahisa Agni terkejut
mendengar kata-kata Kebo Ijo. Tetapi sekali lagi ia merasa, bahwa apapun yang
dikatakan oleh anak-anak muda itu adalah suatu kesengajaan untuk memancing
persoalan. Karena itu Mahisa Agni kemudian tidak melihat lagi kemungkinan untuk
meninggalkan daerah itu tanpa timbulnya suatu perselisihan. Maka kini Mahisa
Agni sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Ia berdiri saja menunggu
apapun yang akan terjadi.
Mahendra yang melihat
sikap Mahisa Agni itu pun menjadi marah. Karena itu, maka ia pun tidak ingin
melingkar-lingkar lagi. Ternyata Mahisa Agni tidak dapat dipancingnya untuk
marah dan mendahuluinya menyerang. Dengan demikian, maka Mahendra tidak dapat
menghindari tuduhan, ialah yang mulai apabila timbul perkelahian. Tetapi kini
mau tidak mau ia harus mendahuluinya, sebab Mahisa Agni benar-benar dapat
menguasai dirinya.
Ketika Mahendra ini
sekali lagi berpaling, maka dilihatnya beberapa orang yang lewat, tertarik juga
melihat ketegangan yang terjadi. Apabila semula mereka hanya melihat anak-anak
muda itu tertawa-tawa, kini mereka melihat sikap-sikap yang keras dan tegang.
Karena itu beberapa orang yang melihat mereka itu pun berhenti. Beberapa di
antaranya saling mendekat dan berdiri di sekitar anak-anak muda itu. Beberapa
orang saling berpandangan dan bertanya sesamanya, “Apakah yang terjadi?”
Mahendra kini melangkah
beberapa langkah maju. Dengan wajah yang menyala ia berdiri tegak seperti
tonggak di hadapan Mahisa Agni.
Seorang yang telah
menjelang setengah abad, menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam, “Anak-anak
muda. Kerjanya tak ada lain membuat ribut saja.”
Seorang kawan Kebo Ijo
yang mendengar gumam orang tua itu memandang dengan tajamnya. Dan orang tua itu
menjadi ketakutan. Sambil merunduk-runduk ia berjalan pergi menjauhi
pertengkaran itu.
Anak-anak muda kawan
Mahendra itu pun kemudian berdesakan maju di antara beberapa orang yang lain.
Seorang yang berkumis tebal mencoba melerai mereka. Katanya, “Apakah yang kalian
perselisihkan?”
Kebo Ijo sama sekali
tidak senang melihat kehadiran orang itu. Meskipun ia berkumis tebal dan
bertubuh tegap, namun dengan sekali dorong orang itu terpental beberapa langkah.
Dan seterusnya ia tidak berani mendekat lagi. Hanya perlahan-lahan ia berkata,
“Anak-anak muda tak ubahnya seperti kuda-kuda liar yang lepas kendali.”
Mahisa Agni- mendengar
beberapa orang yang menyesal atas peristiwa itu. Dan ia pun sebenarnya lebih
menyesal dari mereka itu. Tetapi ia dihadapkan pada dua pilihan. Dihinakan atau
mempertahankan harga diri.
Dan Mahisa Agni pun
ternyata bukan anak dewa-dewa yang lepas dari segala macam kesalahan, kekhilafan
dan kebanggaan lahiriah. Sehingga dengan demikian, betapapun yang terjadi,
Mahisa Agni tidak mau menjadi permainan anak-anak muda dari kota yang kehilangan
pengekangan diri.
Mahendra kini benar-benar
sudah sampai ke puncak rencananya. Sekali lagi bertempur dengan anak Panawijen
itu. Meskipun ia sudah tidak akan dapat mengharapkan Ken Dedes lagi, namun
setidak-tidaknya ia dapat melepaskan sakit hatinya dengan melumpuhkan Mahisa
Agni Bahkan menjadikan anak itu cacat atau apapun yang akan membuat anak
Panawijen itu menyesal sepanjang hidupnya atas keberaniannya mendesak Mahendra
dari arena sayembara pilih.
Dengan senyum yang
menyakitkan hati Mahendra itu maju setapak sambil berkata, “Nah, Wiraprana.
Apakah kata mu sekarang? Apakah kau masih akan menengadahkan wajahmu? Aku sama
sekali sudah melupakan gadis kaki Gunung Kawi itu. Namun aku sama sekali tak
dapat melupakan kekalahan yang pernah aku alami. Kekalahan yang tidak adil,
hanya karena kakak seperguruanku menganggap aku kalah. Kini kita dihadapkan
kepada saksi yang lebih banyak lagi. Apakah kau masih berkata bahwa Mahendra
dapat dikalahkan oleh anak pedesaan?”
“Aku sama sekali tidak
pernah mempersoalkan tentang kalah dan menang,” jawab Mahisa Agni yang telah
mulai kehilangan kesabarannya, “Katakan saja, apakah maksudmu sebenarnya?
Menantang aku berkelahi atau apa?”
Dada Mahendra berdesir
mendengar ketegasan sikap Mahisa Agni. Namun ia pun harus bersikap setegas itu
pula. Maka jawabnya, “Ya. Marilah kini buktikan kebenaran dari keseimbangan di
antara kita. Kita akan yakin, sebab kita dihadapkan kepada saksi-saksi.”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Tetapi ia meletakkan bungkusannya serta tongkat kayunya. Kemudian ia
bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan.
Sekali lagi dada Mahendra
berdesir. Sikap Mahisa Agni benar-benar meyakinkan, seolah-olah tak ada suatu
apapun yang ditakutinya. Sehingga meskipun ia dihadapkan pada suatu keadaan yang
pasti tidak disangka-sangkanya, namun ia tidak kehilangan ketenangannya.
Tetapi tiba-tiba
terdengar suara Kebo Ijo, “He, Wiraprana. Apakah yang ada di dalam bungkusan mu
itu? Ular atau jampi-jampi?”
Kata-kata ini disusul
oleh derai suara tertawa dari beberapa orang kawannya.
Alangkah sakit hati
Mahisa Agni. Ketika ia melihat Mahendra tertawa pula, maka berkatalah Agni
dengan lantangnya, “Ayo Mahendra, apakah yang sebenarnya kau kehendaki?”
Mahendra berhenti
tertawa. Dengan tajam ia memandang wajah Mahisa Agni yang telah mulai menjadi
kemerah-merahan. Bahkan Mahisa Agni itu kemudian berkata, “Mumpung hari masih
pagi. Aku akan segera meneruskan per jalanan.”
“Jangan mengigau!” bentak
Mahendra, “Kau sangka kau berhadapan dengan seekor tikus?”
“Aku berhadapan dengan
seorang manusia. Karena itu, maka ia pun akan berlaku sopan dan menghargai orang
lain.”
Bukan main marahnya
Mahendra mendengar sindiran itu. Kini ia sudah siap dengan setiap kemungkinan.
Ketika Mahendra itu bergeser setapak ke samping, maka kaki Mahisa Agni pun
segera merenggang.
“Hem,” geram Mahendra,
“kau yakin akan dirimu Wiraprana. Tetapi sebentar lagi kau akan menyesal.”
“Aku menyesal sejak
semula ketika aku sadari, bahwa pertemuan ini tidak bermanfaat sama sekali,”
sahut Agni.
“Diam!” bentak Mahendra.
Kemudian katanya, “mulutmu setajam bisa ular. Ayo, minta maaf kepadaku.”
Mahisa Agni pun anak muda
semuda Mahendra. Karena itu darahnya pun masih hangat-hangat panas. Ketika ia
sudah tidak berhasil menahan diri lagi, maka ia pun menjawab, “Aku sudah bersiap
untuk mempertahankan harga diriku, bukan untuk menyembahmu.”
Jawaban itu seakan-akan
membakar telinga Mahendra. Karena itu tiba-tiba ia berteriak nyaring. Dengan
satu loncatan, maka Mahendra menyerang Mahisa Agni dengan dahsyatnya. Tangannya
terjulur lurus mengarah dada lawannya. Kecepatan gerak Mahendra benar-benar
mengagumkan. Namun Mahisa Agni benar-benar telah bersiap. Karena itu dengan
kecepatan yang sama, ia segera mencondongkan tubuhnya sehingga seakan-akan
tangan Mahendra yang terjulur itu terhenti beberapa cengkang saja di muka
dadanya.
Tetapi Mahendra tidak
membiarkan kegagalan itu. cepat ia meloncat sekali lagi. Kali ini kakinya
berputar setengah lingkaran pada tumitnya, dan kakinya yang lain menyambar
lambung Mahisa Agni. Namun sekali lagi Mahisa Agni dengan lincahnya, meloncat ke
samping menghindari kaki lawannya. Bahkan dengan cepat, Mahisa Agni berhasil
menyentuh kaki itu dengan telapak tangannya, sehingga Mahendra terdorong
selangkah ke samping.
Mahendra terkejut
mengalami kegagalan yang berulang itu. Ia merasa seakan-akan ilmunya sudah jauh
meningkat sejak beberapa bulan yang lampau. Tetapi ia masih gagal dalam
serangannya berganda atas lawannya. Karena itu, maka kemarahannya menjadi
semakin menyala. Apalagi kini beberapa orang kawannya menyaksikan perkelahian
itu. Sehingga setiap kegagalan yang dialaminya, pasti akan menyebabkan
kawan-kawannya itu menjadi kecewa. Mereka menganggap bahwa di antara mereka
Mahendra adalah seorang anak muda yang pilih ta ding. Sehingga tidak ada di
antara mereka yang berani melawannya.
Mahendra kali ini ingin
memamerkan kepada kawan-kawannya. bahwa sebenarnya ia memiliki ilmu yang tak
dapat diabaikan. Karena itu, maka sengaja dipancingnya persoalan atas Mahisa
Agni itu.
Dengan demikian, maka
Mahendra itu pun kemudian menyerang lawannya kembali. Bertubi-tubi seperti angin
ribut melanda ujung-ujung pepohonan. Tetapi ternyata lawannya kali ini sangat
mengejutkannya. Mahisa Agni mampu bertahan sekokoh batu karang. Betapa angin
melandanya, namun ia tetap tegak di tempatnya tanpa tergeser seujung rambut pun.
Namun Mahendra pun
kemudian mengerahkan segenap kemampuannya. Tangannya bergerak-gerak dengan
tangkasnya, menyambar-nyambar seperti ujung cambuk yang mematuk-matuk. Sepasang
tangan itu seakan-akan berubah menjadi sepuluh, bahkan ratusan pasang tangan
yang menyambar dari segala arah. Namun Mahisa Agni dapat pula bergerak selincah
burung sikatan. Tubuhnya melontar seperti bayangan melingkar, kemudian menyambar
seperti burung rajawali. Namun kemudian menyerbu dengan dahsyat, sedahsyat
banteng jantan.
Maka perkelahian itu pun
semakin lama semakin menjadi sengit. Dan orang-orang pun semakin lama semakin
banyak berkerumun di sekitar perkelahian itu. Beberapa orang perempuan
berteriak-teriak, dan beberapa orang laki-laki mencoba bertanya-tanya, apakah
sebab dari perkelahian itu. Tetapi tak seorang pun yang mendapat jawabnya.
Kawan-kawan Mahendra
melihat pertempuran itu dengan tegangnya. Kebo Ijo bahkan ikut meloncat ke sana
kemari, seakan-akan ikut terputar bersama gerakan-gerakan mereka yang berkelahi
itu.
Di panas yang semakin
lama semakin terik, di tepi jalan kota jantung pemerintahan Tumapel itu, terjadi
pergulatan yang semakin lama menjadi semakin seru. Beberapa orang yang
menyaksikan perkelahian itu mengenal, bahwa salah seorang dari mereka adalah
Mahendra, tetapi siapa yang seorang.
Seorang anak muda yang
bertubuh tinggi kekar mendesak maju mendekati Kebo Ijo. Digamitnya Kebo Ijo
sambil bertanya, “Dengan siapakah Mahendra itu berkelahi?”
Kebo Ijo berpaling.
Ketika dilihatnya orang bertubuh tinggi itu, ia terkejut. Tetapi kemudian ia
menjawab, “Dengan anak Panawijen. Wiraprana.”
“Apakah sebabnya?”
“Anak itu menghina kami.
Anak-anak muda Tumapel.”
“He?” bertanya orang
bertubuh kekar itu, “ia menghina kita?”
“Ya.”
“Apa katanya?”
Kebo Ijo tidak segera
dapat menjawab pertanyaan itu. Karena ia katanya, “Aku tidak jelas. Mahendra
yang mendengarnya, dan karena itu ia marah kepada anak Panawijen itu.”
“Hem,” geram orang yang
bertubuh kekar itu, “kenapa lehernya tidak dipatahkannya saja.”
Kebo Ijo sekali lagi
berpaling. Ia tersenyum di dalam hati. Orang yang tinggi besar itu adalah
seorang prajurit pengawal Akuwu Tumapel. Maka katanya untuk membakar hati
prajurit itu, “Kaulah yang berhak memutar lehernya.”
Tetapi prajurit itu
mengerutkan keningnya. Kemudian sekali lagi ia menggeram, “Aku tidak bersangkut
paut dengannya.”
“Kenapa? Apakah kau tidak
terhina pula?”
“Anak itu anak Panawijen
seperti Kuda Sempana, pelayan dalam Akuwu. Aku tidak mau berselisih dengan anak
muda itu.”
Kebo Ijo tertawa pendek.
Katanya, “Kuda Sempana tidak mengenalnya.”
Prajurit pengawal Akuwu
Tumapel itu mengerutkan keningnya..”Aneh,” pikirnya. Tetapi ia tidak bertanya.
Kini ia memperhatikan perkelahian itu. Mahendra agaknya telah mengerahkan
segenap tenaganya, namun ia nama sekali tidak dapat menguasai keadaan. Bahkan
kemudian tampaklah kelebihan-kelebihan yang mengagumkan dari lawannya itu.
Kelincahan dan ketangguhannya. Bahkan kekuatannya pun melampaui kekuatan
Mahendra.
Dan sebenarnyalah Mahisa
Agni telah meloncat lebih jauh dari lawannya itu. Meskipun selama ini Mahendra
telah berhasil meningkatkan ilmunya, namun kecepatan Mahisa Agni dalam olah
kanuragan jauh lebih pesat daripadanya. Sehingga dengan demikian jarak dari
keduanya menjadi semakin jauh.
Orang yang tinggi besar
itu menjadi heran. Mahendra adalah anak muda yang pilih tanding. Tetapi kini,
berhadapan dengan anak yang datang dari pedesaan, agaknya ia mengalami
kesulitan-kesulitan.
Prajurit itu menarik
nafas. Seorang-seorang ia tidak lebih dan Mahendra. Tetapi bukankah ia prajurit
pengawal Akuwu yang mempunyai lingkungan yang cukup banyak. Bahkan di antara
mereka, pemimpinnya adalah seorang yang pasti melampaui keunggulan Mahendra,
yaitu kakak seperguruannya. Witantra. Maka prajurit itu pun menarik nafas
dalam-dalam. Ketika ia melihat bahwa Mahendra tidak segera dapat mengatasi
keadaan, bahkan semakin lama tampaknya semakin terdesak, maka prajurit itu pun
segera melangkah pergi, menerobos di antara para penonton yang semakin lama
semakin berjejal-jejal.
“Anak itu harus mendapat
sedikit pelajaran,” gumamnya sepanjang jalan.
Dengan tergesa-gesa ia
pergi ke rumah Witantra. Ia ingin mendapatkan pujian darinya. Namun dengan
menyesal ia tidak menemuinya di rumah. Maka, karena itu segera ia pergi ke barak
penjagaan prajurit pengawal Akuwu Tumapel. Namun di sana Witantra itu pun tak
ditemuinya. Ia takut terlambat karenanya. Sehingga akhirnya ia ingin bertindak
sendiri. Dengan beberapa orang kawannya, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu
pergi ke tempat Mahendra berkelahi melawan Mahisa Agni.
Sementara itu,
pertempuran antara Mahendra dan Mahisa Agni masih berlangsung terus. Mahendra
benar-benar telah kehilangan pengamatan diri. Kalau mula-mula ia hanya ingin
menunjukkan kemampuannya yang telah bertambah-tambah, serta membuat Mahisa Agni
menyesali diri atas keberaniannya bersaing dengan Mahendra, maka kemudian
Mahendra telah melupakan segala-galanya. Ia telah sampai pada puncak
kemarahannya. Bertempur antara hidup dan mati.
Sedang Mahisa Agni justru
bersikap lain. Ketika ia telah dapat menjajaki kekuatan lawannya, maka ia
menjadi bertambah tenang. Ternyata ilmunya telah meloncat sedemikian jauhnya,
sehingga Mahendra sebenarnya bukanlah lawan yang dapat memancarkan keringat.
Kalau kemudian ia bertempur, maka sebenarnya ia tidak lebih daripada melayani
lawannya. Hanya sekali-sekali ia memberi tekanan-tekanan yang berat, supaya
Mahendra cepat menjadi lelah dan berhenti dengan sendirinya. Tetapi ternyata
Mahendra pun mempunyai tenaga yang kuat. Betapa ia terdesak, namun ia masih juga
berjuang sekuat tenaganya. Bahkan geraknya masih nampak garang, dan
serangan-serangannya tetap berbahaya.
Namun demikian, betapa
kecemasan merayapi dadanya. Anak muda itu benar-benar menjadi heran. Apakah
Mahisa Agni itu anak gendruwo.? Mahendra yang merasa bahwa ilmunya telah
meningkat, namun Mahisa Agni itu masih belum dapat dikalahkan. Bahkan semakin
lama tandangnya menjadi semakin mantap dan serangan-serangannya menjadi semakin
dahsyat.
Tetapi Mahendra tidak mau
menunjukkan kekurangannya di hadapan kawan-kawannya. Ia harus dapat mengalahkan
lawannya supaya namanya tetap dikagumi oleh kawan-kawannya itu. Karena itu maka
diperasnya tenaganya habis-habisan. Geraknya menjadi semakin cepat, secepat
burung seriti menari-nari di udara, selincah anak kijang berkejar-kejaran di
padang rumput. Tubuhnya melontar-lontar dengan cepatnya, berputar dan melibat
lawannya seperti angin pusaran.
Namun Mahisa Agni sama
sekali tidak menjadi bingung karenanya. Dengan tenangnya ia melawan serangan
angin pusaran yang melibat dirinya dari segala arah itu. Seperti gunung anakan,
ia tegak menghadapi badai yang betapapun kencangnya.
Mahendra semakin lama
menjadi semakin cemas. Mahisa Agni benar-benar sekukuh batu karang. Sekali-kali
terasa bahwa tenaganya menjadi semakin susut, sedang lawannya masih belum juga
mampu dikuasainya. Malahan Mahisa Agni itu sekali-sekali menekannya dan
memaksanya untuk meloncat mundur dan mundur.
Kebo Ijo yang mengikuti
perkelahian itu dengan seksama menjadi heran. Kakak seperguruannya ternyata
telah benar-benar mengerahkan ilmunya. Namun agaknya lawannya itu benar-benar
seperti asap yang tak dapat disentuh tangan. Dari perkelahian itu Kebo Ijo pun
dapat menilai, bahwa sebenarnya ilmu Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu
benar-benar melampaui ilmu kakaknya. Karena itu, maka. Kebo Ijo pun menjadi
bingung. Ia tidak mau melihat seandainya kakak seperguruannya itu dikalahkan.
Tetapi ia tidak dapat terjun membantunya. Apabila demikian, dan kakak
seperguruan mereka yang lebih tua, Witantra, mendengarnya, maka akibatnya akan
tidak menyenangkan sekali. Namun demikian ia mempunyai satu harapan lagi.
Kawannya, prajurit yang bertubuh tinggi kekar, datang kembali bersama kakak
seperguruannya itu. Mahendra, dirinya dan beberapa kawannya akan dapat dijadikan
saksi, bahwa Mahisa Agni telah menghina mereka. Mudah-mudahan kakaknya
mempercayainya dan merasa terhina pula.
Demikianlah perkelahian
itu semakin lama semakin nampak, bahwa kekuatan Mahendra menjadi semakin
berkurang. Sehingga akhirnya Mahendra menjadi hampir berputus asa, dan bertempur
tanpa kendali. Ia menyerang dengan garangnya dan dengan penuh kegelisahan Namun
serangan-serangan itu seperti angin yang lewat di antara batu-batu karang yang
kokoh kuat. Lewat, tanpa kesan dan tanpa meninggalkan bekas.
Tiba-tiba, beberapa orang
yang menonton perkelahian itu terkejut ketika mereka mendengar beberapa bunyi
cambuk berledakan di belakang mereka. Ketika mereka berpaling, mereka melihat
beberapa orang prajurit pengawal Akuwu berada di sekitar mereka. Karena itu
dengan gugupnya mereka berpencaran dan berlarian menjauh.
Seorang yang berperawakan
tinggi tegap berdada bidang setegap kawan Kebo Ijo, namun tidak berkumis, segera
tampil ke depan. Dengan cambuk di tangan ia berteriak lantang, “Berhenti!”
Mahendra segera meloncat
mundur. Dan Mahisa Agni pun tidak mengejarnya, sehingga perkelahian itu pun
berhenti.
“Kenapa kalian
berkelahi?” bertanya orang yang tinggi besar itu.
Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar. Persoalan ini akan menjadi semakin berlarut-larut. Ia
tergesa-gesa pulang ke Panawijen karena kegelisahannya atas nasib padukuhannya
dan nasib Ken Dedes, tetapi tiba-tiba ia akan terpaksa berhenti beberapa lama di
Tumapel.
Yang mula-mula menjawab
adalah Mahendra. “Bertanyalah kepada mereka yang melihat persoalan ini dari
permulaan,” katanya sambil menunjuk Kebo Ijo dan beberapa anak muda yang lain.
Kebo Ijo kemudian
melangkah selangkah maju. Meski pun ia belum begitu mengenal prajurit itu, namun
ia pernah melihatnya sekali dua kali. Kemudian katanya, “Anak itu menghina kami,
Kakang.”
Orang itu mengerutkan
alisnya. Kemudian ia bertanya pula, “Apakah yang sudah dilakukan?”
Kebo Ijo berpaling kepada
Mahendra. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Mahendra pun kemudian
mengerutkan keningnya. Setelah berpikir sejenak ia berkata, “Anak Panawijen ini
menganggap kami, anak-anak muda Tumapel sebagai anak-anak liar. Apakah demikian
keadaan kami?”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Mahendra akan sampai hati
berkata demikian atas dirinya. Ia tidak menyangka bahwa Mahendra dapat melakukan
fitnah. Alangkah mengherankan. Dan bahkan hampir tak masuk di akalnya.
Sebenarnya Mahendra
sendiri terkejut mendengar kata-katanya itu. Namun ia tidak dapat berbuat lain.
Semula sesekali memang tidak terkandung maksud untuk melakukan perbuatan itu,
tetapi ia dihadapkan pada peristiwa yang sama sekali tak diperhitungkannya.
Maksudnya mula-mula
hanyalah untuk menghinakan Mahisa Agni. Menebus sakit hatinya atas kekalahan
yang pernah dialaminya. Namun tanpa diduganya, ternyata ia sama sekali tidak
mampu untuk melakukan pembalasan dendam itu. Bahkan sekali lagi ia dikalahkan.
Karena itu, ketika ia dihadapkan pada pertanyaan yang tiba-tiba itu, maka
dijawabnya tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya.
Prajurit itu, yang
bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang, dengan cemeti di tangannya,
mengerutkan keningnya. Dipandangnya Mahisa Agni dari ujung rambut sampai ke
ujung hatinya. Kemudian dipandanginya Mahendra dengan tajamnya. Kepada Mahendra
prajurit itu pernah melihatnya sekali dua kali. Dan pernah dikenalnya pula
namanya.
Suasana di sekitar tempat
itu menjadi sepi tegang. Semua mata tertancap kepada prajurit yang memegang
cambuk itu. Ketika kakinya bergeser setapak, tiba-tiba saja Mahisa Agni pun
menggeser kakinya.
Namun Prajurit itu tidak
berbuat apa-apa. Ia menjadi bimbang. Pernah didengarnya nama Mahendra sebagai
seorang arak muda yang perkasa. Dikenalnya nama itu sebagai adik seperguruan
pemimpinnya.
Tiba-tiba terdengarlah
suara prajurit itu parau,” He, anak muda, siapakah namamu?”
Mahisa Agni menjadi
ragu-ragu sejenak. Mahendra, Kebo Ijo mengenalnya sebagai Wiraprana, putra Buyut
Panawijen.
Karena Mahisa Agni masih
belum menjawab, maka prajurit itu membentaknya, “He siapakah namamu?”
“Wiraprana,” jawab Agni
gemetar.
Prajurit itu mengerutkan
keningnya. Sekali lagi ia berpaling kepada Mahendra, dan sekali lagi ia
bertanya, “Apa yang dikatakan tentang kalian?”
Kini Mahendra menjadi
ragu-ragu. Ia malu untuk mengurungkan tuduhannya. Namun yang menyahut Kebo Ijo,
“Ia menganggap kami, anak-anak muda Tumapel sebagai anak yang liar. Bukankah itu
suatu penghinaan?”
Prajurit itu mengangkat
alisnya. Dalam waktu y mg singkat ia mampu membuat perhitungan. Mahendra adalah
anak yang memiliki ilmu tata bela diri tinggi. Namun sudah lama anak muda dari
Panawijen itu tak dapat dikalahkan. Dengan demikian, maka anak mula itu
setidak-tidaknya memiliki ilmu setingkat dengan Mahendra.
Jawaban prajurit itu
kemudian benar-benar mengejutkan Kebo Ijo dan kawan-kawannya, katanya, “Hem. Aku
sangka kata-kata anak muda itu tidak terlalu salah.”
“Apa?” teriak Kebo Ijo,
“Kau berkata sebenarnya?”
Prajurit itu mengangguk.
Sahutnya, “Aku menganggap bahwa kata-katanya tidak terlalu salah. Anak ini
datang dari pedesaan. Apakah kau sangka bahwa ia berani berbuat sesuatu kalau
kalian tidak memulainya?”
Wajah Kebo Ijo, Mahendra
dan anak-anak muda yang lain menjadi merah padam Sehingga Kebo Ijo kemudian
berteriak lantang, “Jadi kau membenarkan binaan itu?”
Prajurit itu menggeleng,
katanya, “Aku tidak membenarkan suatu penghinaan dari siapa pun untuk siapa pun.
Namun aku ragu-ragu akan kebenaran kata-katamu.”
“Kami menjadi saksi,”
sahut salah seorang anak muda kawan Kebo Ijo, “dan kalian dapat bertindak
atasnya.”
“Anak ini anak
Panawijen,” berkata Prajurit itu, “aku tidak mau berselisih dengan anak-anak
Panawijen yang tinggal juga di dalam istana.”
“Kuda Sempana?” sahut
Mahendra.
Prajurit itu mengangguk.
“Kuda Sempana tak
mengenal anak ini. Baru saja Kuda Sempana lewat berkuda di jalan ini, dan ia
memandang anak ini seperti memandang hantu.”
Prajurit itu kini
benar-benar mengerutkan dahinya. Sejenak ia berpikir. Dan sekali lagi
kata-katanya mengejutkan, “Aku sangka anak-anak pedesaan lebih bersikap jujuur
dari kalian. Biarlah aku bertanya kepadanya.”
“Bohong!” sahut Kebo Ijo
sambil melangkah maju. Wajahnya yang merah menyala menunjukkan kemarahannya.
Sebenarnya Kebo Ijo adalah anak yang berani. Seandainya Mahendra tidak
menggamitnya maka prajurit itu pasti sudah ditantangnya berkelahi. Namun
meskipun demikian ia masih berkata, “Anak-anak pedesaan adalah anak-anak muda
yang licik.”
Tetapi jawab prajurit itu
tegas, “Aku adalah anak pedesaan.”
Wajah Kebo Ijo menjadi
semakin merah karenanya. Dan karena itu maka justru ia terdiam. Namun terdengar
giginya gemeretak menahan kemarahannya yang telah memuncak. Sedang Mahendra pun
menjadi marah pula. Diamat-amatinya prajurit itu dengan seksama. Katanya di
dalam hati, “Suatu ketika kita akan membuat perhitungan.”
Tetapi Prajurit itu bukan
seorang penakut. Karena itu dengan lantang ia bertanya kepada Mahisa Agni,
“Wiraprana, apakah kata-kata mereka itu benar?”
Mahisa Agni menggeleng.
“Tidak!” sahutnya.
Prajurit itu menarik
nafas. Kemudian kepada Mahendra ia berkata, “Kau dengar?”
Dari mata Mahendra telah
menyala kemarahan yang tiada taranya. Namun sebelum ia menjawab, maka prajurit
kawan Kebo Ijo maju selangkah. Tubuhnya tidak kalah garangnya dengan prajurit
yang bercemeti itu. Dengan wajah yang tegang ia berkata lantang, “Aku anak muda
Tumapel. Anak-anak muda Tumapel bukan anak-anak muda yang liar.
Prajurit yang bercemeti
itu terkejut. Tak disangkanya sama sekali kalau seorang kawannya tiba-tiba telah
berbuat demikian. Karena itu ia mencoba membetulkan kata-katanya, “Tidak semua
anak-anak muda dari kota Tumapel berbuat demikian. Tetapi apakah kau tidak kenal
sebagian dari anak-anak muda ini?”
Prajurit kawan Kebo Ijo
itu menjawab, “Aku kenal mereka. Mereka adalah kawan-kawan ku.”
“Nah,” sahut prajurit
itu, “kalau demikian kau pasti sudah tahu, apa saja yang sudah mereka lakukan.”
“Mungkin mereka sering
melakukan kenakalan-kenakalan anak-anak. Tetapi kami, anak-anak muda dan Tumapel
tidak mau dihinakan.”
Prajurit bercemeti itu
menggigit bibirnya. Namun kemudian katanya, “Marilah kita lihat, siapakah yang
sebenarnya bersalah. Jangan bertanya kepada mereka, dan jangan bertanya kepada
anak Panawijen itu.”
“Hanya akan
membuang-buang waktu,” sahut prajurit kawan Kebo Ijo, “anak itu harus ditangkap.
Biarlah ia tahu, bahwa seseorang tidak boleh melakukan penghinaan.”
Prajurit bercemeti itu
menjadi bingung. Ditatapnya beberapa wajah yang ada di sekitarnya. Kemudian
katanya berbisik, “Terserahlah kepadamu. Semuanya ini bukan tanggung jawabku.
Aku tidak mau ikut serta. Sebab kau sudah berpihak. Kalau aku kemudian berpihak
pula, maka kita tidak akan dapat menegakkan peraturan-peraturan yang berlaku.
Kita akan ditelan oleh perasaan kita sendiri-sendiri. Dan kita akan melihat
kebenaran dari pihak kita masing-masing. Karena itu, aku lebih baik tidak
berbuat sesuatu. Supaya kita tidak saling bertengkar sesama kita di hadapan
orang banyak.”
Kawannya itu tidak
menjawab. Tetapi ia merasa bahwa kawannya yang bercemeti itu segan kepadanya.
Karena itu, maka ia pun melangkah maju sambil berkata lantang, “Wiraprana, kau
aku tangkap!”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Dilihatnya beberapa orang prajurit yang lain maju pula. Mereka adalah
kawan-kawan prajurit yang akan menangkap Agni itu. Sedang prajurit yang
bercemeti itu masih berdiri di tempatnya. Tetapi ia kini berdam diri. Dengan
penuh kesadaran ia lebih baik tidak ikut campur dalam persoalan ini supaya tidak
menimbulkan kesan yang jelek bagi orang-orang yang melihat, bahwa di antara para
prajurit itu timbul pendapat yang berbeda-beda tentang masalah yang sama.
Sedang kawan Kebo Ijo itu
melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan dapat menyenangkannya. Orang itu akan
diserahkannya kepada Witantra, kakak seperguruan Mahendra. Pasti orang itu akan
memujinya dan seterusnya biarlah Mahendra yang mengatakan, apa yang sudah
dilakukan oleh anak Panawijen itu.
Tetapi Mahisa Agni sudah
mendapat ketetapan hati. Ketika ia melihat bahwa tidak semua prajurit dengan
membabi buta menelan saja pengaduan yang sama sekali tidak benar itu, ia menjadi
tenang. Karena itu, maka ia bertekad untuk menurut saja, apa yang akan dilakukan
oleh prajurit-prajurit itu. Ketika sekali lagi ia mendengar prajurit itu berkata
kepadanya, maka jawab Mahisa Agni, “Baiklah. Aku tidak akan melawan kalian,
sebab kalian adalah prajurit-prajurit Tumapel.”
“Jangan banyak mulut,”
bentak prajurit kawan Kebo Ijo itu sambil menarik lengan Mahisa Agni. Tetapi
prajurit itu terkejut Mahisa Agni itu sama sekali tak dapat digesernya walaupun
setapak.
Karena itu maka wajahnya
tiba-tiba menjadi merah. “Jangan melawan!” bentaknya.
“Tidak,” sahut Mahisa
Agni, “aku tidak akan melawan. Tetapi aku sudah dapat berjalan sendiri.”
“Setan!” desis prajurit
itu.
Mahisa Agni itu pun
kemudian sama sekali tidak melawan ketika ia dibawa oleh para prajurit itu ke
barak mereka
Mahendra, Kebo Ijo dan
beberapa orang yang lain ikut pula beramai-ramai di belakang para prajurit itu.
Sekali-kali terdengar mereka berteriak-teriak. Kebo Ijo benar-benar tak dapat
menguasai luapan perasaannya sehingga kata-katanya semakin lama menjadi semakin
kotor. Tetapi sekali-kali Mahendra membentaknya pula, “Kebo Ijo, jangan
berteriak-teriak!”
“Biarlah ia jera. Untuk
lain kali ia tidak berani menghina kita lagi, Kakang.”
Mahendra mengerutkan
keningnya. Namun terasa sesuatu berdesir di dadanya. Dengan tanpa disengaja Kebo
Ijo telah memperingatkan akan kesalahannya, sehingga perlahan-lahan ia berdesis,
“Apakah benar Wiraprana menghina kita Kebo Ijo?”
Kebo Ijo itu terdiam.
Tetapi kebenciannya kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana itu melampaui
Mahendra. Sedang Mahendra sendiri tiba-tiba menjadi malu atas perbuatannya.
Namun semuanya telah terlanjur. Dan ia kini tinggal mempertahankan
ketelanjurannya itu. Sekali ia berdusta, maka ia akan berbuat serupa terus
menerus untuk mempertahankan kedustaannya itu.
Iring-iringan itu
berjalan semakin lama semakin panjang. Beberapa orang yang melihat mereka
bertanya di antara sesama. Anak-anak muda yang lain pun ikut serta di antara
kawan-kawannya, sedang mereka yang sebenarnya anak-anak nakal, seakan-akan
mendapat suatu permainan. Tetapi sekali-kali prajurit yang bercemeti, yang
berjalan di paling belakang, membentak mereka, dan mengusir mereka itu pergi.
Mahendra yang berjalan di
belakang prajurit bercemeti itu menundukkan wajahnya. Ia menyesal akan sikapnya.
Lebih baik ia menerima kekalahan yang dialaminya daripada menjerumuskan dirinya
dalam suatu sikap yang memalukan itu.
“Hem,” Mahendra menarik
nafas dalam-dalam. “Sudah terlanjur,” gumamnya berkali-kali.
Tetapi berbeda sekali
dengan sikap Kebo Ijo. Bahkan anak itu meloncat ke sana kemari, membisiki
kawan-kawannya yang baru saja mereka temui di perjalanan itu. Mereka yang
mendengar ceritanya dengan serta-merta tertawa tergelak-gelak. Ada juga di
antara mereka yang dengan sengaja bertanya dengan suara keras-keras, supaya
Mahisa Agni mendengarnya. Namun mereka itu terdiam apabila mereka mendengar
meledaknya cambuk dari prajurit yang bertubuh kekar itu. Bahkan sekali-sekali
didorongnya beberapa anak muda sampai jatuh berguling. Namun setiap kali ia
hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba iring-iringan
itu terkejut, ketika mendengar derap kuda berlari. Kemudian muncullah dari
tikungan jalan di depan mereka, dua orang berkuda kencang-kencang ke arah
iring-iringan itu.
Ketika prajurit kawan
Kebo Ijo melihat orang berkuda itu, maka ia pun tersenyum. Kepada Mahisa Agni ia
berkata, “Itulah pemimpin kami. Kau akan dihadapkan kepadanya.”
Mahisa Agni pun terkejut
melihat orang itu. Ia pernah melihatnya. Meskipun pada waktu itu di dalam
gelapnya malam, namun ia masih cukup dapat mengenalnya. Orang itu adalah kakak
seperguruan Mahendra.
Demikian kuda itu sampai
di hadapan mereka, maka Witantra, penunggang kuda itu, segera menarik kekang
kudanya sambil berkata lantang, “Aku dengar, kau bertengkar Mahendra?”
Mahendra mengangguk.
Tetapi sebelum ia menyahut, terdengar Kebo Ijo berkata, “Itulah Kakang. Anak
Panawijen yang barangkali telah Kakang kenal. Ternyata ia masih merindukan
kemenangan yang pernah dilakukan. Ketika ia bertemu dengan Kakang Mahendra, maka
dengan serta-merta ia menghinanya. Tetapi ternyata bahwa Kakang Mahendra
bukanlah Kakang Mahendra beberapa bulan yang lalu. Untunglah bahwa beberapa
orang prajurit sempat melerainya, dan membawa anak itu kepada Kakang. Kalau
tidak entahlah, apa yang akan dilakukan oleh Kakang Mahendra atasnya.”
Sekali lagi Mahisa Agni
heran mendengar pengaduan itu. Apakah sebabnya maka Kebo Ijo itu sedemikian
mendendamnya?
Witantra pun ternyata
terkejut sekali melihat Mahisa Agni, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Apakah
kau Wiraprana?”
Mahisa Agni mengangguk. “Ya,”
jawabnya.
Witantra memandangnya
dengan kecewa. Sama sekali tak disangkanya bahwa anak Panawijen itu dapat
berlaku sombong. Karena itu ia bertanya kepada Mahendra, “Apakah kata-kata
adikmu Kebo Ijo itu benar?”
Mahendra ragu-ragu
sejenak. Tetapi ia harus menjawab. Karena itu ia tidak dapat berbuat lain,
selain menganggukkan kepalanya.
Witantra itu menarik
nafas panjang. Mula-mula ia mengagumi Mahisa Agni itu, ketika mereka bertemu
untuk pertama kalinya. Namun kini ia menjadi kecewa, kenapa anak itu dapat
menyombongkan dirinya. Bahkan kemudian didengarnya seorang anak muda berkata, “Ia
tidak saja menghina Kakang Mahendra, tetapi ia menghina kami. Disebutnya
anak-anak muda Tumapel sebagai anak-anak yang liar. Karena itu kami marah pula
karenanya.”
Witantra
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia pun berkata lantang, “Bawa ia ke
rumahku.”
Mahisa Agni masih mencoba
untuk menjelaskan persoalannya. Namun ia tidak mendapat kesempatan lagi.
Witantra segera menarik kekang kudanya dan berlari meninggalkan mereka bersama
seorang kawannya.