Pelangi di Langit Singosari 01

Bagian I – Bunga di Kaki Gunung Kawi

HAMPIR BERSAMAAN KEDUANYA mengangkat wajahnya, memandang ke dataran langit yang biru bersih. Warna-warna semburat merah yang dilontarkan oleh matahari yang kelelahan di punggung-punggung bukit di sebelah barat masih tampak menyangkut di ujung pepohonan.

“Langit bersih,” desis salah seorang di antaranya. Seorang tua dengan rambut yang telah memutih.

“Ya,” sahut orang kedua. Seorang pemuda yang berwajah jantan, namun penuh kelembutan. Matanya yang bening memancarkan cahaya keteguhan hatinya, yang memandang hari depan dengan penuh pengharapan, namun penuh pergulatan dan perjuangan yang dilandasi dengan pasrah diri tulus ikhlas kepada takdir Yang Maha Agung.

Keduanya diam sejenak. Tetapi kaki mereka masih terayun dalam langkah yang berirama. Lambat-lambat mereka maju terus menyusur dataran sebelah timur Gunung Kawi, menuju ke rumah mereka di Desa Panawijen.

“Mahisa Agni,” kembali orang tua berambut putih itu berbicara.

“Ya, Bapa Pendeta,” sahut pemuda yang bernama Mahisa Agni itu.

“Kita akan kemalaman di perjalanan,” sambung pendeta tua itu.

“Tak apalah. Kalau kita berjalan terus, sebelum tengah malam kita akan sampai,” sahut Mahisa Agni.

“Kau tidak lelah?” bertanya pendeta itu kembali.

Mahisa Agni menarik nafas. Bertahun-tahun ia berguru kepada pendeta itu. Dan bertahun-tahun ia mendapat gemblengan lahir dan batin. Namun setelah bertahun-tahun itu, masih saja ia dianggapnya anak-anak yang selalu mendapat perhatian yang berlebih-lebihan.

Meskipun demikian Mahisa Agni dapat mengerti sepenuhnya. pendeta tua yang bernama Empu Purwa itu tak beranak laki-laki. Ia hanya beranak seorang perempuan. Dinamainya anak itu Ken Dedes yang didapatnya sebelum ia mengenakan pakaian pendeta. Bahkan dirasanya bahwa sikap gurunya jauh melampaui sikap seorang guru biasa. Diperlakukannya Mahisa Agni seperti anak sendiri. Kadang-kadang Mahisa Agni menangkap juga hasrat yang tersirat dari sikap gurunya. Ken Dedes telah menjelang dewasa. Dan gadis itu cantiknya bukan main. Seolah-olah bunga melati yang putih berkembang di antara semak-semak yang lebat dan besar di lereng Gunung Kawi. Bahkan diam-diam ia bersyukur pula atas kesempatan yang pernah ditemuinya itu. Berdiam dalam satu rumah dengan seorang gadis yang tiada taranya. Kecantikannya dan kejernihan hatinya.

Tetapi angan-angannya segera terpecah ketika didengarnya Empu Purwa berkata mengulangi, “Kau tidak lelah Agni?”

“Tidak, Bapa,” cepat-cepat Mahisa Agni menjawab.

“Bagus,” sahut Empu Purwa, “kakimu telah cukup terlatih. Bagaimana dengan pernafasanmu?”

“Baik, Bapa,” jawab Mahisa Agni.

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah senyumnya menghiasi bibirnya yang tebal. Tetapi senyum itu tiba-tiba lenyap seperti asap ditiup angin.

Dengan penuh minat Mahisa Agni memandang wajah gurunya. Mula-mula ia menjadi ragu. Apakah sebabnya? Tetapi ketika ia memandang ke depan, dilihatnya padang rumput Karautan. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Agaknya padang rumput yang di sana-sini diselingi oleh gerumbul-gerumbul itulah yang telah mempengaruhi pikiran gurunya.

Meskipun tak sepatah kata pun yang terlontar melontar dari mulut anak muda itu, namun pandangan matanya memancarkan beberapa pertanyaan tentang padang rumput yang terkenal itu kepada gurunya. Agaknya gurunya pun tanggap pada pertanyaan muridnya, sehingga dari sela-sela bibirnya terdengar ia berkata, “Itulah padang rumput Karautan. Padang rumput yang terkenal sepi. Dijauhi oleh setiap orang yang menempuh perjalanan. Mereka lebih suka melingkar agak jauh. Lewat pedukuhan Talrampak atau desa Kaligeneng.”

Mahisa Agni memandang tanah yang terbentang di hadapannya dengan tajam. Sebentar kemudian ia memandang matahari. Namun matahari yang dicarinya telah tenggelam di balik gunung. Dan malam yang hitam pun perlahan-lahan telah turun menyelimuti Gunung Kawi.

“Apakah hantu itu benar-benar ada?” bertanya Mahisa Agni. Namun sama sekali ketakutan tidak mempengaruhi hatinya. Ia hanya ingin meyakinkan pendengarannya atas hantu Padang Karautan.

“Kau percaya kepada hantu?” terdengar Empu Purwa bertanya pula.

“Entahlah,” Mahisa Agni tersenyum. Dan gurunya tersenyum pula.

“Aku terlalu sering mendengar cerita tentang hantu di padang rumput Karautan,” berkata Mahisa Agni.

“Apakah kau bermaksud supaya kita mengambil jalan melingkar?” bertanya gurunya.

“Tidak Guru,” cepat-cepat Mahisa Agni menyahut menyambut. Ia memang tidak takut. Bahkan ia ingin melihat hantu itu. Karena itu ia meneruskan, “Aku ingin membuktikannya.”

“Apa yang pernah kau dengar tentang hantu itu?” bertanya gurunya pula.

“Hantu itu suka mengganggu. Bahkan memiliki sifat-sifat kejam dan bengis. Beberapa orang pernah menjadi korban,” jawab Mahisa Agni.

“Banyak orang yang mati oleh hantu itu. Begitu saja?” sela Empu Purwa.

“Tidak. Kadang-kadang orang yang berani lewat dalam rombongan-rombongan besar menemukan korban-korban itu dalam keadaan telanjang. Darahnya kering dihisap oleh hantu itu,” sahut Mahisa Agni.

“Cerita itu memang mengerikan. Dan apa yang sering terjadi di padang rumput itu pun memang benar-benar mengerikan. Namun tidak seperti yang kau dengar,” potong gurunya.

“Apakah yang pernah Bapa guru ketahui tentang hantu itu?” bertanya Mahisa Agni.

“Marilah kita lihat,” jawab Empu Purwa, “yang aku dengar pun terlalu mengerikan.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Meskipun ia tidak takut, namun perasaan yang aneh menjalari hatinya. Tetapi ketika ia melihat gurunya berjalan dengan tetap dan tenang, langkahnya pun menjadi tenang pula.

Ketika bintang gubuk penceng menjadi semakin jelas di ujung langit sebelah selatan, maka sampailah mereka di padang rumput yang mengerikan itu. Ketika Mahisa Agni menginjakkan kakinya di atas batu-batu padas dan kemudian menjejakkannya pada rumput-rumput alang-alang, kembali hatinya berdebar-debar. Ditatapnya dalam kekelaman malam, gerumbul-gerumbul berserakan. Seonggok demi seonggok, seperti batu-batu besar yang berserak-serak di dalam telaga yang luas.

Tak sepatah kata pun yang meloncat dari mulut kedua orang itu. Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni berjalan di samping gurunya, sedang gurunya tetap berjalan dengan tenang. Seakan-akan mereka sedang menikmati sinar bulan yang cemerlang.

Ketika seekor kelinci meloncat dari semak-semak di depan mereka Mahisa Agni terkejut. Kemudian ia tersenyum sendiri. Dirabanya dadanya yang berdebar-debar.

“Apakah aku sudah menjadi seorang penakut?” pikirnya.

Tanpa sengaja diingatnya cerita Ken Dedes yang didengarnya dari kawan-kawannya. Hantu itu mirip seperti manusia. Gagah tegap. Wajahnya sama sekali tak menakutkan. Bahkan seseorang pernah melihatnya di bawah sinar obor yang dibawanya. Wajah itu tampan meskipun kotor. Tetapi sifat-sifatnyalah yang mengerikan. Hantu itu tidak biasa membiarkan korbannya hidup. Meskipun kadang-kadang ada juga yang tak di bunuhnya. Dan yang tinggal hidup itulah yang menyebarkan cerita tentang hantu di padang rumput Karautan. Tak seorang pun yang dapat mengalahkannya, apalagi menangkapnya. Jagabaya-jagabaya dari pedukuhan di sekitar padang rumput itu pun telah mencobanya. Bahkan bersama-sama dalam rombongan yang besar. Namun hantu itu pandai menghilang dengan meninggalkan lima atau enam orang korban.

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba gurunya berhenti. Ia pun segera berhenti pula. Diikutinya arah pandang mata pendeta tua itu. Dan kemudian perlahan-lahan terdengar Empu Purwa berkata dengan ramahnya, “Nah Ki Sanak. Aku sudah mengira kalau kau menunggu kedatanganku.”

Mahisa Agni masih belum melihat seorang pun. Namun telinganya yang tajam kemudian mendengar pula gemeresik daun-daun di dalam semak-semak di samping mereka. Dan kemudian terdengarlah dengus kasar dan sebuah bayangan meloncat dengan cepatnya, seperti petir yang berlari di langit. Sesaat kemudian bayangan itu telah berdiri di hadapan mereka.

Dada Mahisa Agni bergetar cepat sekali. Hantu itu bukan sekedar cerita untuk menakut-nakuti gadis seperti Ken Dedes saja, namun kini benar-benar telah berdiri di hadapannya. Tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar kembali. Apalagi kemudian ketika didengarnya hantu itu tertawa. Nadanya tinggi seperti memanjat tebing Gunung Kawi menggapai langit. Karena itu maka terasa telinganya menjadi sakit.

Ketika suara itu kemudian lenyap, terdengarlah hantu itu berkata, “Kau sudah tahu kalau aku akan menghadangmu?”

“Hantu itu dapat berbicara seperti manusia,” pikir Mahisa Agni.

“Ya, Ki Sanak,” terdengar gurunya menjawab.

“Dan kau sengaja menemui aku?” bertanya hantu itu pula.

“Ya,” jawab gurunya pula.

“Kau terlalu sombong,” kembali bantu itu tertawa menyakitkan telinga. Kemudian katanya pula, “Ada keperluanmu menemui aku?”

“Bisa juga ia diajak berbicara,” pikir Mahisa Agni.

“Ada,” sahut Empu Purwa, “sekedar singgah di padang rumputmu ini. Aku sedang menempuh perjalanan pulang dari Tumapel.”

“Katakan keperluanmu!” potong hantu itu.

“Jangan tergesa-gesa,” berkata Empu Purwa dengan tenangnya, “Apakah waktumu terlalu sempit?”

“Aku tidak mau mendengar ayam jantan berkokok,” jawabnya.

Mahisa Agni berpikir pula, “Kalau begitu benar kata orang, hantu tidak mau mendengar suara ayam berkokok.”

Tetapi gurunya menjawab dengan kata yang mengejutkan hatinya. “Jangan menakut-nakuti aku Ki Sanak. Aku lebih takut kepada orang daripada kepada hantu.”

Hantu itu menggeram. Kemudian membentak, “Jawab! Apa keperluanmu!”

“Ada beberapa pertanyaan untukmu Ki Sanak,” sahut Empu Purwa. Suaranya tetap renyah dan ramah.

Dalam kesempatan itu Mahisa Agni dapat memandang wajah hantu itu dengan seksama. Benar mirip seperti manusia. Bahkan ia tidak melihat perbedaannya sama sekali selain rambutnya yang panjang terurai dengan liarnya berjuntai di atas pundaknya yang bidang. Dalam keremangan malam, tak dilihatnya apa-apa yang mengerikan pada tubuh hantu itu. Bahkan ia sependapat dengan kabar yang pernah didengarnya, hantu itu berwajah tampan.

“Tak ada waktu. Aku akan membunuh kalian dan minum darah kalian,” teriak hantu itu.

Bulu kuduk Mahisa Agni serentak berdiri. Ngeri juga ia mendengar kata-kata itu. Meskipun ia tidak takut mati, namun mati dibunuh hantu sama sekali belum pernah terlintas di dalam benaknya. Apalagi kemudian darahnya akan diminumnya pula.

“Darahku tidak sesegar air degan Ki Sanak,” jawab Empu Agni dengan tenang, “Apakah kau selalu haus?”

“Jangan berbicara lagi! Berjongkok dan aku hisap tengkukmu sampai kau mati,” hantu itu berteriak semakin keras.

Adalah di luar dugaan Mahisa Agni kalau tiba-tiba Empu Purwa menjawab, “Kalau demikian kehendakmu, apa boleh buat.”

Kemudian kepada Mahisa Agni gurunya itu berkata, “Agni adalah sudah menjadi kebiasaan hantu-hantu penghisap darah, menghisap korbannya lewat luka di tengkuknya yang ditimbulkan oleh gigi-gigi hantu itu. Kalau hantu ini akan menggigit tengkukku dan kemudian menghisap darahku aku tak akan melawannya. Karena itu lihatlah dengan seksama, bagaimana caranya melubangi tengkukku.”

Empu Purwa tidak menunggu jawaban. Segera ia berlutut di hadapan hantu itu sambil menundukkan kepalanya.

Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Apa yang dilakukan gurunya itu sama sekali tidak masuk di akalnya. Tetapi tidak saja Mahisa Agni yang menjadi bingung. Hantu itu pun tiba-tiba menjadi bingung pula. Ketika ia melihat orang tua itu berlutut di mukanya, maka segera ia bergeser surut.

“Apa yang akan kau lakukan?” bentaknya.

“Memenuhi perintahmu. Berjongkok dan kau akan menghisap darahku,” jawab Empu Purwa.

Kembali hantu itu menjadi bingung. Matanya tiba-tiba bertambah liar. Kemudian katanya berteriak, “Bagus. Kau juga anak muda. Berjongkoklah dan tundukkan kepalamu.”

“Biarlah ia hidup,” potong Empu Purwa, “Biarlah ia menjadi saksi, bahwa hantu di padang rumput Karautan telah melubangi tengkukku dengan giginya, kemudian minum darahku dari lubang itu pula.”

Terdengarlah gigi hantu itu gemeretak. Ia telah benar-benar menjadi marah. Kemudian katanya, “Tidak peduli apa yang kau ketahui tentang diriku. Sebab sesaat lagi kau berdua akan mati di padang rumput ini.”

Bersamaan dengan kata-katanya itu, tiba-tiba Mahisa Agni melihat benda yang berkilat-kilat di tangan hantu itu, yang ditariknya dari pinggangnya.

“Pisau?” desis hatinya, “Adakah hantu memerlukan sebuah pisau untuk membunuh seseorang? Bukankah gurunya berkata kalau hantu melubangi tengkuk korbannya dengan giginya?”

Otak Mahisa Agni adalah otak yang cerah. Karena itu segera ia tanggap atas sasmita gurunya. Demikian ia melihat hantu itu mengayunkan pisaunya, segera ia meloncat menyerang secepat tatit.

Hantu itu terkejut melihat serangan Mahisa Agni yang demikian cepat dan dahsyat. Karena itu ia tidak sempat menancapkan pisau itu di tengkuk orang tua yang berjongkok di hadapannya. Beberapa langkah ia meloncat mundur. Dengan merendahkan diri hantu itu berhasil membebaskan diri dari serangan Mahisa Agni. Bahkan segera hantu itu pun telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.

Mahisa Agni tidak mau membuang waktu lagi. Demikian serangannya yang pertama gagal, segera ia mempersiapkan diri untuk mengulangi serangannya pula. Namun sebelum ia meloncat maju, hantu itu telah menyerangnya pula. Serangannya cepat dan berbahaya. Bahkan terasa betapa kuat tenaganya. Satu kakinya terjulur ke depan, sedang kedua tangannya seperti akan menerkamnya.

Untunglah bahwa Mahisa Agni itu murid Empu Purwa. Apa yang telah dipelajari dan didalaminya sampai kini, benar-benar merupakan bekal yang cukup baginya. Karena itu, ketika serangan hantu itu tiba, Mahisa Agni segera menghindar dengan cepatnya. Menarik satu kakinya ke belakang dan mencondongkan tubuhnya. Hantu itu seperti terbang beberapa cengkang di hadapannya. Dengan cepatnya Mahisa Agni mempergunakan kesempatan itu. Tangan kirinya segera terayun deras sekali ke arah tengkuk lawannya. Terasa pukulannya mengena. Mahisa Agni mempergunakan sebagian besar tenaganya. Maka lawannya segera terdorong ke depan dan jatuh tersungkur di tanah. Namun benar-benar mengherankan. Segera tubuh itu berguling-guling untuk kemudian melenting bangun. Sesaat kemudian hantu itu telah berdiri tegak di atas kedua kakinya. Bahkan segera pula ia melontar maju dengan tangan dan jari-jari yang mengembang seperti hendak meremas muka Mahisa Agni.

Mahisa Agni adalah anak muda yang cukup terlatih. Pengetahuannya tentang tata bela diri cukup baik. Bahkan beberapa pengetahuan dari perguruan lain pun banyak diketahuinya pula. Tetapi ia belum pernah menyaksikan cara bertempur seperti yang dilakukan hantu ini. Cepat, kuat, namun kasarnya bukan main. Bahkan seakan-akan hantu itu bertempur tanpa aturan apapun yang mengikatnya. Ia menyerang dan melawan dengan cara yang tak berketentuan. Tetapi satu kenyataan, pukulannya yang tepat mengenai tengkuk hantu itu seakan-akan tak berbekas. Kulit hantu itu benar-benar seperti berlapis batu. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera menjadi cemas. Pikirnya, “Asal Aku dapat merabanya seperti kulit daging manusia biasa.”

Memang Mahisa Agni pernah mendengar cerita, bahwa tubuh hantu tak akan dapat disentuh tangan. Tetapi kali ini ia telah dapat menyentuh dan merasakan sentuhan itu. Bahkan hantu itu pun jatuh tersungkur terdorong oleh tenaganya. Karena itu hatinya menjadi semakin besar. Dan sejalan dengan itu, ia bertempur semakin sengit.

Hantu itu masih bertempur dengan kasarnya. Seperti angin pusaran ia membelit kemudian menghantam dari segala arah. Kadang-kadang pukulannya sama sekali tak terarah, demikian saja meluncur dengan derasnya seperti batu meluncur dari tangan.

Mahisa Agni terpaksa harus menyesuaikan dirinya. Dengan tangkasnya ia meloncat, menghindar dan menyerang. Dicarinya celah-celah dari gerakan-gerakan yang sama sekali tak teratur itu.

Sebenarnya Mahisa Agni banyak mempunyai kesempatan. Kalau saja ia tidak sedang bertempur dengan hantu dari padang rumput Karautan, maka pukulannya yang pertama pasti telah meruntuhkan lawannya yang sama sekali tidak memiliki ilmu tata bela diri itu. Namun sekali hantu itu jatuh tersungkur sekali ia meloncat bangkit, sepuluh kali ia terguling di tanah, sepuluh kali ia melenting berdiri. Semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin heran. Ia telah hampir mengerahkan segenap tenaganya. Namun hantu itu masih saja melayaninya dengan caranya yang khusus.

Mula-mula anggapannya tentang hantu itu telah hampir larut, sejak ia melihat pisau di tangan lawannya itu. Tetapi kenyataan yang dihadapinya telah menimbulkan keraguan pula.

“Aneh,” pikirnya, “aku tidak mengharap bahwa pada suatu kali aku akan bertempur melawan hantu berpisau.”

Empu Purwa sudah tidak berjongkok lagi. Ia berdiri tegak mengawasi muridnya yang lagi bertempur. Ia melihat betapa Mahisa Agni dengan lancar mempergunakan ilmu yang telah diturunkannya kepada anak muda itu. Cepat, lincah dan tangguh. Kadang-kadang muridnya itu seperti terbang melingkar-lingkar, tetapi kadang-kadang seperti batu karang yang tegak tertanam di pasir pantai. Sekali-kali orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, namun sekali-kali tampak ia mengerutkan keningnya. Lawan muridnya itu benar-benar aneh. Ia melihat dengan pasti, tangan muridnya telah menyentuh tubuh lawannya, namun lawannya itu benar-benar seperti kebal, kalis dari segala macam bahaya yang menimpanya.

Mahisa Agni masih bertempur dengan sengitnya. Kini ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Bahkan segala macam ilmu yang dimilikinya telah ditumpahkannya untuk melawan hantu yang tidak pandai dalam ilmu tata bela diri, namun tak dapat dijatuhkannya itu. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin kabur. Hantu padang rumput itu menyerang membabi buta. Semakin lama semakin kasar. Ia meloncat-loncat maju dan menerjang dengan kaki, tangan dan pisaunya. Sekali-kali ia terpental surut oleh pukulan lawannya dan jatuh terjerembab, namun sesaat kemudian ia telah maju pula.

Bukan saja Mahisa Agni yang menjadi bingung, bagaimana menyelesaikan pertempuran itu, bahkan Empu Purwa pun beberapa kali menarik nafas dalam-dalam. Muridnya memiliki tenaga yang kuat seperti seekor banteng. Namun tenaga muridnya itu seakan-akan tak berarti.

Tiba-tiba Empu Purwa mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang. Matanya yang lunak bening menjadi seakan-akan menyala. Dan dadanya bergetar seperti gempa.

Empu Purwa yang tua itu melihat bayangan cahaya yang kemerah-merahan di atas kepala hantu padang Karautan itu. Samar-samar, namun jelas baginya. Jelas bagi orang setua pendeta itu. pendeta yang telah masak dalam berbagai ilmu lahir batin, yang kasatmata dan tidak kasatmata. Namun pendeta itu yakin bahwa muridnya pasti tak dapat melihatnya. Karena itu Empu Purwa menjadi gelisah. Sekali-sekali ia menarik nafas panjang.

Malam yang kelam, semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin mengalir perlahan-lahan membelai batang-batang rumput di padang Karautan. Meskipun demikian betapa panas hati Mahisa Agni, dan betapa panas pula hati lawannya. Sebenarnyalah bahwa lawannya itu pun menjadi marah sekali. Tak pernah ia menemukan lawan setangguh Mahisa Agni. Karena itu segera dikerahkannya segenap kekuatannya. Dengan menggeram ia menyerang sejadi-jadinya. Dan kemarahannya itulah yang telah menyalakan warna semburat merah di ubun-ubunnya.

Dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Gerak Mahisa Agni menjadi semakin cepat dan kuat, sedang lawannya menjadi semakin keras dan kasar.

Empu Purwa melihat bayangan warna merah itu dengan cemas. Ia masih memerlukan beberapa saat untuk meyakinkannya. Dan akhirnya sekali lagi pendeta tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dari mulutnya terdengar ia berdesis, “Brahma. Hem, aneh. Kenapa Dewa Brahma membiarkan anak itu menjadi hantu di padang rumput ini? Tidak adakah pekerjaan yang lebih baik daripada menyamun, membunuh dan memerkosa?”

Kembali ia memandangi warna merah di ubun-ubun lawan muridnya. Warna itu masih ada. Bahkan semakin jelas baginya.

“Menurut pendengaranku, beberapa orang menyatakan bahwa warna itu adalah ciri keturunan Brahma,” sambungnya.

Tiba-tiba pendeta tua teringat pada pusakanya. Sebuah trisula. Amat kecil dan berwarna kuning. Didapatnya trisula itu dari almarhum gurunya. Turun temurun dari guru ke murid. Dan trisula itu pun kelak akan diserahkannya kepada Mahisa Agni. Menurut cerita gurunya, trisula itu pertama-tama turun ke bumi sebagai sinar yang membelah langit, kemudian seperti guruh meledak di lereng Gunung Semeru.

Yang pertama-tama menemukan trisula itu adalah Empu Wikan. Seorang Empu Sakti yang bertapa di kaki bukit Semeru. Ketika Empu Wikan mendengar guruh meledak di malam hening, maka timbullah kecurigaan di dalam hatinya. Maka dengan hati yang berdebar-debar dipanjatnya tebing Gunung Semeru. Dari kejauhan ia masih melihat sinar yang memancar tegak sebesar lidi jantan menusuk langit. Ketika ia mendekati sinar itu terasa betapa panasnya, sehingga Empu sakti itu pun harus bersemadi. Dalam semadinya terdengar suara gemuruh di atas kepalanya.

Berkata suara itu, “Empu Wikan yang bijaksana, yang dijauhi oleh segala bencana di sekitarnya. Apabila sinar itu nanti lenyap, datanglah ke titik tegaknya di bumi. Kau akan menemukan sebuah trisula sebagai tanda kebesaran Siwa. Aku hadiahkan trisula itu kepadamu sebagai tanda kebesaran namamu. Simpanlah pusaka itu dan serahkanlah turun temurun kepada murid-murid terkasih. Tetapi ingat Empu Wikan, pusaka itu sama sekali bukan alat pembunuh. Tetapi ia akan dapat mempengaruhi hati musuh yang bagaimanapun saktinya.”

Kenangan Empu Purwa pecah ketika lawan muridnya jatuh hampir menimpanya. Sekali terguling, namun sesaat kemudian telah tegak kembali dan dengan garangnya menerkam muridnya seperti seekor serigala lapar menerkam kambing. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seekor kambing. Dengan merendahkan diri, diangkatnya kaki kanannya langsung menghantam perut lawannya. Sekali lagi lawannya terpental dan terbanting. Namun sekali lagi hantu padang rumput itu meloncat bangkit. Telah berpuluh kali ia terjatuh, namun ia masih segar, sesegar mula-mula mereka bertemu.

Akhirnya Empu Purwa kasihan juga melihat muridnya. Tandangnya sudah mulai susut. Peluh telah membalut seluruh tubuhnya dilekati debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki-kaki mereka yang bergulat antara hidup dan mati itu.

“Agni, kau tak akan mampu mengalahkannya,” pikir pendeta tua itu. Karena itu, maka segera ia harus menolongnya. Membebaskan muridnya dari libatan lawannya yang keras dan kasar.

Tetapi ia tidak dapat menghilangkan pengaruh warna merah di kepala lawan muridnya itu dari angan-angannya.

Sekali lagi ia menimbang-nimbang. Hantu padang rumput itu adakah kekasih Brahma, sedang pusaka di tangannya adalah hadiah Siwa. Karena itu maka perlahan-lahan ia maju mendekati titik pertempuran.

Lawan muridnya itu, ketika melihat Empu Purwa mendekati mereka, berkata dengan parau, “Ayo, kau yang tua sekali. Majulah bersama-sama. Selama kau masih belum mampu menangkap angin, selama itu kau jangan mengharap lepas dari padang rumput ini.”

“Agni,” berkata Empu Purwa tanpa menjawab kata-kata hantu itu, “Lepaskan lawanmu!”

Mahisa Agni heran mendengar tegur gurunya. Selama ini apabila gurunya melepasnya bertempur, tak pernah ditariknya kembali sebelum tubuhnya menjadi lemas atau bahaya maut telah hampir menelannya. Meskipun ia merasa tenaganya telah surut, namun hantu itu pun tak mampu menyentuhnya. Karena itu ia merasakan suatu keanehan pada gurunya kali ini. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak berani menolak perintah itu. Dengan satu loncatan panjang ia melepaskan lawannya.

“Jangan lari!” terdengar kembali suara hantu itu. Suara parau dan kasar.

“Tak ada gunanya ia meneruskan.”

“Tidak!” jawab Agni, “Aku tak akan lari.”

“Ia tak akan lari,” sahut Empu Purwa, “tetapi ia tak akan melawanmu dengan cara demikian.”

“Cara apapun yang akan dipergunakannya. Mari maju bersama-sama,” potong hantu itu.

“Tidak,” jawab Empu Purwa, “Aku sudah terlalu tua. Tetapi aku ingin berlaku adil.”

“Kenapa?” sahut lawan Agni.

“Kau mempergunakan senjata,” jawab pendeta tua itu.

“Pakailah senjata!” teriak hantu padang Karautan itu.

“Aku akan memberinya senjata,” sahut Empu Purwa.

“Jangan banyak bicara. Berikan sekarang. Kemudian aku akan segera membunuhnya,” lagi-lagi hantu itu berteriak.

Perlahan-lahan Empu Purwa menarik trisula dari dalam sarung kecilnya, berwarna kuning berkilauan.

“Agni,” katanya, “pergunakan trisula ini. Tetapi ingat, jangan kau tusukkan ke tubuhnya. Pengaruhi saja perasaannya dengan senjata itu.”

“Gila!” potong lawan Agni, “Kau berkata demikian sengaja supaya aku mendengarnya. Tusukkan ke tubuhku. Aku tak akan mati.”

Tetapi tiba-tiba suara terhenti. trisula itu di mata hantu seakan-akan cahaya yang menyilaukan matanya.

Karena itu ia berteriak, “Kalian curang. Sekarang kalian yang tidak berlaku adil. Kalian bertempur dengan alat untuk menyilaukan mataku.”

Empu Purwa menarik nafas. Ia sendiri tidak tahu, kenapa lawan muridnya itu menjadi silau, sedang muridnya sendiri tidak. Demikianlah agaknya khasiat trisula itu meskipun kali ini harus berhadapan dengan kekasih Brahma.

Maka terdengar jawaban pendeta tua itu, “Senjata itu sama sekali tak menyilaukan mataku dan mata anakku. Kenapa kau menjadi silau?”

“Senjata itu agaknya kau peroleh dari setan-setan yang mempunyai daya seperti tenung,” bantah lawan Agni dengan kasarnya, “sekarang kau akan menenungku.”

“Seandainya senjata itu aku terima dari setan-setan, bukankah hantu dapat melawan setan-setan. Sebab hantu dan setan mempunyai persamaan tabiat. Keduanya tidak mau mendengar ayam jantan berkokok,” sahut Empu Purwa.

Hantu padang rumput itu menggeram keras sekali. Ia tidak mau berbicara lagi, dengan satu loncatan panjang ia menyerang Empu Purwa. Meskipun serangan itu datangnya tiba-tiba sekali, namun Empu Purwa dengan cepat dapat menghindarkan dirinya. ia adalah seorang pendeta yang mumpuni. Meskipun tak ada hasratnya untuk berkelahi, namun adalah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya.

Mahisa Agni pun tidak tinggal diam. Segera ia meloncat menyerang hantu padang rumput. Dan kembali terjadi perkelahian yang sengit antara hantu berpisau dan Mahisa Agni dengan trisula di tangan. Meskipun demikian Mahisa Agni sama sekali tidak tahu apakah gunanya senjata itu apabila sama sekali tidak boleh ditusukkan ke tubuh lawannya. Namun ia tidak berani melanggar pantangan itu.

Karena itu dipegangnya trisula itu dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya dengan tangkas menangkis setiap serangan dan bahkan beberapa kali untuk menyerang lawannya. Dengan trisula di tangan kiri itu sebenarnya gerak Mahisa Agni justru terganggu. Tetapi terasa suatu keanehan terjadi atas lawannya itu. Tiba-tiba ia tidak segarang semula. Berkali-kali lawannya terpaksa meloncat menjauhi dan kadang-kadang tangannya terpaksa melindungi matanya. Mahisa Agni menjadi heran. Agaknya lawannya itu benar-benar menjadi silau.

“Inilah khasiat trisula ini,” pikir Mahisa Agni. Dengan demikian ia dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Digerakkannya trisula itu melingkar-lingkar seperti kemamang yang menari-nari di udara. Dan lawannya menjadi semakin terdesak. Dengan demikian Mahisa Agni dapat mengenainya lebih banyak, dan betapapun keras kulit hantu itu namun lambat laun terasa juga nyeri-nyeri di kulit dagingnya. Tenaga Mahisa Agni benar-benar sekuat raksasa. Pada umurnya menjelang seperempat abad itu, Mahisa Agni benar-benar merupakan seorang pemuda yang pilih tanding.

Akhirnya terasa bahwa tandang lawannya menjadi semakin susut meskipun tenaga Agni sendiri seakan-akan telah terperas habis. Berkali-kali hantu itu meloncat surut dan mundur. Semakin lama semakin jauh. Hingga akhirnya hantu itu berteriak, “Kalau kau jantan lepaskan trisula itu. Aku juga akan melepaskan pisauku.”

“Pisaumu itu tak berarti apa-apa,” sahut Empu Purwa, “Tetapi kau memiliki tanda-tanda yang aneh di atas kepalamu.”

“Jangan mencari-cari. Pertimbangkan tantanganku,” jawabnya.

Sekali lagi Empu Purwa mendekati mereka. Katanya dengan nada penuh kedamaian, “Berhentilah berkelahi.”

“Kalian menyerah?” jawab lawan Agni.

Mahisa Agnilah yang menyahut, “Tidak!”

Kembali terdengar suara Empu Purwa, “Berhentilah berkelahi.! Dengarkan kata-kataku!”

Suaranya seakan-akan mengandung suatu wibawa yang agung. Mahisa Agni adalah muridnya sehingga ia sama sekali tak dapat berbuat lain daripada menghentikan perkelahian. Tetapi tidak saja Mahisa Agni yang terpengaruh oleh kata-kata itu, bahkan lawannya pun tiba-tiba meloncat mundur. Sehingga dengan demikian, pertempuran pun menjadi terhenti karenanya.

Empu Purwa melangkah semakin dekat di antara kedua lawan itu. Katanya kemudian, “Ki Sanak, kau memiliki tanda-tanda yang khusus pada dirimu. Karena itu aku dapat mengenalmu.”

“Kau kenal aku?” sahut hantu itu.

“Ya.” jawab Empu Purwa.

“Aku adalah penjaga padang rumput ini. Sato mara satu mati, jalma mara jalma mati. Aku lubangi tengkuknya dan aku hisap darahnya.”

“Tetapi beberapa orang menemukan korbanmu tanpa mengenakan pakaiannya. Tanpa ikat pinggang, tanpa uang dan perhiasan,” potong Empu Purwa.

Hantu itu menggeram. Tetapi sebelum ia menjawab Empu Purwa telah meneruskan kata-katanya, “Jangan menyembunyikannya dirimu. Kau adalah kekasih dewa-dewa.”

Tampak lawan Mahisa Agni itu mengerutkan keningnya.

“Siapakah namamu Ki Sanak?” desak Empu Purwa.

“Hantu tidak pernah punya nama ,” jawabnya.

“Siapakah namamu Ki Sanak?” ulang Empu Purwa.

“Aku tak punya nama!” teriaknya keras-keras, sehingga suaranya menggema di seluruh padang rumput Karautan.

Tetapi kembali terdengar suara Empu Purwa tenang perlahan-lahan, namun pasti, “Siapakah namamu Ki Sanak?”

Hantu yang menakutkan setiap orang itu tiba-tiba menundukkan kepalanya. Rambutnya yang liar berjuntai di atas bahunya. Angin yang lembut mengalir perlahan-lahan menggerakkan ujung-ujung rambut yang terurai lepas sebebas rumput alang-alang di padang rumput itu.

Tanpa diduga oleh Mahisa Agni tiba-tiba terdengar mulut hantu itu menjawab, “Namaku Ken Arok.”

Mahisa Agni terkejut mendengar nama itu. Tidak saja Mahisa Agni, tetapi yang menyebutkan nama itu pun terkejut pula. Dengan lantangnya ia berteriak, “Jangan ulangi namaku! Dan untuk seterusnya kau tak akan sempat menyebut namaku. Sebab kalian berdua akan kubunuh malam ini, agar Ken Arok tetap tak dikenal orang,”

Tiba-tiba Mahisa Agni bersiap kembali. Nama Ken Arok adalah nama yang menakutkan. Tak ada bedanya dengan hantu di padang rumput Karautan, yang ternyata adalah Ken Arok itu sendiri.

“Kau adalah orang buruan,” berkata Agni dengan lantang, “selagi kau bernama hantu pun aku tidak takut. Apalagi ternyata kau adalah manusia terkutuk. Bersiaplah, kita bertempur sampai hayat kita menentukan, siapakah di antara kita yang akan berhasil keluar dari padang rumput ini.”

“Bagus!” teriak hantu yang ternyata bernama Ken Arok itu.

“Berpuluh, bahkan beratus orang yang telah aku bunuh. Apa artinya kalian berdua?”

Sesaat kemudian Ken Arok dan Mahisa Agni telah siap untuk bertempur kembali, namun segera Empu Purwa berkata, “Perkelahian di antara kalian tak ada gunanya. Sebab perkelahian itu tak akan sampai pada ujungnya. Ken Arok memiliki kelebihan dari manusia biasa, sedang Agni membawa pusaka yang tak ada duanya di dunia ini.”

“Aku akan melayaninya, Bapa,” sahut Agni, “sehari, dua hari bahkan selapan pun aku tak akan meninggalkannya.”

“Sebelum ayam jantan berkokok kau sudah mati,” potong Ken Arok.

“Tak ada artinya, Agni,” berkata Empu Purwa.

Kemudian kepada Ken Arok, pendeta tua itu berkata, “Arok, apakah kau dapat berkelahi dengan mata yang silau? Bagai manakah kalau trisula itu berada di tanganku, kemudian Agni memukulmu semalam suntuk? Kau tak akan dapat membalasnya, sebab aku akan menggerakkan trisula itu di tentang matamu.”

“Curang!” teriak Ken Arok dengan marah.

“Kau juga curang ,” bantah Empu Purwa.

“Kenapa? Hanya karena aku memegang pisau ini? Baiklah. Kalau demikian pisauku akan aku buang. Kita bertempur tanpa senjata.”

“Bukan,” sahut Empu Purwa, “Bukan karena senjatamu. Tetapi kenapa kau seolah-olah menjadi kebal?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu benar-benar aneh. Akhirnya ia menjawab, “Bukan kehendakku. Sejak aku sadar tentang diriku, aku telah menjadi kebal. Dewa-dewalah yang membuat aku demikian. Bertanyalah kepada Dewa-dewa. Kalau itu kau anggap kecurangan, Dewalah yang membekali aku dengan kecurangan itu.”

“Bagus. Dewa pulalah yang memberi aku trisula itu,” sahut Empu Purwa, “Adakah itu juga suatu kecurangan?”

Ken Arok menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Wajahnya menjadi tegang dan tangannya yang memegang pisau menjadi gemetar. Tetapi sesaat kemudian terdengar suara Empu Purwa lunak, “Kemarilah. Duduklah.”

Ken Arok dan Mahisa Agni sama sekali tidak tahu maksud pendeta tua itu. Karena itu untuk sesaat mereka berdiri mematung. Sehingga orang tua itu mengulangi kata-katanya, “Mahisa Agni dan Ken Arok. Kemarilah! Duduklah!”

Meskipun masih diliputi oleh keragu-raguan, namun Mahisa Agni kemudian duduk di samping gurunya. Ken Arok masih tegak seperti tonggak.

“Kemarilah Arok,” panggil Empu Purwa dengan ramahnya.

Seperti orang yang kehilangan kesadaran Ken Arok melangkah dua langkah maju. Kemudian menjatuhkan dirinya di samping pendeta tua itu.

“Arok,” kata pendeta tua itu, “seharusnya kau sadar dirimu. Siapakah engkau dan apakah yang akan terjadi atas dirimu. Kau memiliki beberapa kelebihan dari orang lain Tetapi kelebihan itu telah kau salah gunakan.”

Ken Arok tidak segera menjawab. Ditatapnya mata orang tua itu. Di dalam malam yang gelap, mata itu seakan-akan memancarkan cahaya yang putih bening.

“Ken Arok. Apabila kau sedang berbaring menjelang tidur, tidakkah kau pernah menghitung berapa orang yang telah menjadi korbanmu? Tidakkah kau pernah membayangkan, bahwa orang yang menggeletak mati di padang rumput Karautan ini, atau di tempat-tempat lain yang pernah kau diami, tidak saja menimbulkan kengerian pada saat-saat matinya, tetapi peristiwa itu juga akan meninggalkan goresan yang dalam bagi keluarganya? Bagi anak-anak dan istri mereka yang menunggunya di rumah? Tidakkah kau pernah membayangkan bahwa seorang laki-laki pergi merantau untuk mendapatkan sesuap nasi. Tetapi di jalan pulang laki-laki itu bertemu dengan seorang anak muda yang bernama Ken Arok. Di rumah anak-anaknya yang lapar menunggunya. Tetapi laki-laki itu tak akan pernah pulang.”

Ken Arok belum pernah mendengar seorang pun berkata demikian kepadanya. Kawan-kawannya pada masa kanak-kanaknya, ayah angkatnya yang bernama Lembong, Bango Samparan dan orang-orang yang pernah datang pergi dalam perjalanan hidupnya. yang dikenalnya hanyalah daerah-daerah yang gelap. Judi, tuak, perempuan dan segala macam kejahatan. Sekali dua kali hidupnya terdampar juga ke rumah-rumah yang wajar. Namun tak sempat didengarnya nasihat dan petuah-petuah. Karena itu, maka kata-kata Empu Purwa itu mula-mula asing baginya. Tetapi kalimat-kalimat itu seperti embun yang menetes dari langit. Perlahan-lahan daun-daun rumput yang kering menjadi basah pula. Demikianlah kata-kata asing itu di hati Ken Arok. Meskipun ia belum mengenal seluruhnya, namun terasa bahwa ada dunia lain daripada dunianya yang gelap.

“Ken Arok,” kembali terdengar suara Empu Purwa, “Kau masih muda. Masa depanmu masih panjang.”

Tiba-tiba Ken Arok menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan diamatinya tangannya. Tangan yang kotor, karena darah dan air mata. Dan kini tangan itu menjadi gemetar.

“Tak ada jalan lain yang dapat aku tempuh,” terdengar suaranya parau. Tetapi tidak sekeras semula.

“Banyak,” sahut Empu Purwa.

“Aku telah asing dari hidup manusia wajar. Semua orang menjauhi aku,” katanya.

“Mereka takut kepadamu. Kepada perbuatan-perbuatanmu,” jawab Empu Purwa.

Ken Arok menggeleng. Matanya menjadi sayu. Katanya, “Tidak. Sejak aku lahir di luar kehendakku. Aku adalah anak panas. Ayahku mati ketika ibuku diceraikannya. Dan orang menyalahkan aku. Kemudian menurut kata orang, pada masa aku masih bayi merah, aku dibuang di perkuburan. Aku dipelihara oleh Bapak Lembong. Seorang pencuri. Salahkah aku kalau aku kemudian mengikuti cara hidupnya?”

“Tidak,” sahut Empu Purwa, “Kau tidak bersalah. Tetapi kau akan lebih berbahagia kalau kau dapat menempuh cara hidup yang lain.”

Ken Arok memandang wajah pendeta tua itu dengan seksama. Kesan wajahnya telah berubah sama sekali dari semula. Matanya kini sudah tidak liar dan ganas. Bahkan kini menjadi suram.

Sekali lagi ia menggeleng, “Aku tidak tahu apakah masih ada cara hidup yang lain yang dapat aku jalani. Aku telah dijauhi oleh sanak kadang.”

“Jangan risau,” sahut Empu Purwa, “meskipun kau dijauhi oleh sanak kadang dan handai tolan, namun apabila kau tundukkan kepalamu dan bersujud kepadanya, maka adalah sahabat manusia yang jauh lebih berharga dari sanak kadang, handai dan tolan.”

“Siapakah dia? bertanya Ken Arok.

“Yang Maha Agung,” jawab Empu Purwa. Perlahan-lahan namun langsung menusuk kalbu Ken Arok. Mahisa Agni telah sering mendengar gurunya berkata demikian kepadanya. Berkata tentang yang Maha Kuasa yang menciptakan langit dan bumi, kemudian memeliharanya dan kelak akan datang masanya langit dan bumi akan dihancurkannya.

Tetapi Ken Arok belum pernah mendengar sebutan itu. Karena itu ia masih berdiam diri menunggu penjelasan.

“Ken Arok,” Empu Purwa melanjutkan, “meskipun kau hidup sendiri di dunia ini, namun kau akan berbahagia kalau yang Maha Agung itu tidak meninggalkanmu.”

Ken Arok masih berdiam diri. Kata-kata pendeta tua itu belum begitu jelas baginya. Ia sama sekali tidak kenal kepada Yang Maha Agung itu.

Tetapi dalam kesibukan berpikir, tiba-tiba Ken Arok teringat pada pengalamannya. Ketika ia dikejar-kejar oleh orang Kemundungan. Ketika ia sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka memanjatlah ia ke atas pada sebatang pohon tal. Tetapi orang-orang yang mengejarnya memotong batangnya. Pada saat itu, pada saat ia telah kehilangan akal, maka terdengarlah suara dari langit, “Ken Arok, potonglah dua helai daun tal. Pakailah sebagai sayap. Dan kau akan dapat terbang melintasi sungai di bawah pohon tal itu.”

Kemudian ketika dipotongnya dua pelepah daun tal, serta dinaiknya, maka seakan-akan ia terbang melintasi sungai.

Maka tiba-tiba melontarlah pertanyaan menusuk benaknya, “Suara apakah yang telah menyelamatkannya itu?”

Suara itu telah lama dilupakannya. Bahkan dianggapnya tidak pernah ada. Tetapi suara itu kini terngiang kembali. Jelas, seperti baru saja diucapkan. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan. Itulah suara Yang Maha Agung.

Ken Arok terkejut sendiri pada kesimpulan yang ditemukannya. Bersamaan dengan itu, terbayanglah di matanya peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Perampokan, pembunuhan, perkosaan dan segala jenis kejahatan. Tiba-tiba Ken Arok menjadi takut. Takut kepada penemuannya. Pada kesimpulan yang didapatnya. Kalau benar Yang Maha Agung itu ada, maka akan diketahuinya semua perbuatannya.

Ken Arok menjadi gemetar seperti orang kedinginan, wajahnya menjadi pucat. Dan dengan suara yang bergetar Ken Arok bertanya meyakinkan, “Adakah Yang Maha Agung itu kenal kepadaku?”

“Ya,” sahut Empu Purwa, “Yang Maha Agung itu kenal kepadamu, kepadaku, kepada Agni dan kepada semua manusia di dunia ini seperti seorang bapa mengenal anak-anaknya.”

“Tahukah Yang Maha Agung itu atas apa yang pernah dan sedang aku lakukan?” bertanya Ken Arok pula.

“Pasti,” jawab Empu Purwa.

Mendengar jawaban itu Ken Arok menjadi menggigil karenanya. Keringat dingin mengalir di seluruh wajah kulitnya.

Tiba-tiba Mahisa Agni menjadi terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok itu meloncat berdiri. Terdengarlah ia berteriak, “Bohong! Bohong! Kau akan menakut-nakuti aku?”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni pun meloncat berdiri Dengan ke-siagaan penuh ia mengawasi Ken Arok yang berdiri tegang di muka gurunya. Matanya yang sayu suram, kini menjadi liar kembali. Dengan ujung pisaunya ia menunjuk ke wajah Empu Purwa yang masih duduk dengan tenangnya. Katanya, “Kau ingin melawan aku dengan cara pengecut itu? Berdirilah bersama-sama. Kita bertempur sampai binasa.”

Mahisa Agni telah bersiap. Ia akan dapat menyerang Ken Arok dengan satu loncatan. Tetapi ketika hampir saja ia meloncat menyerang, sekali lagi ia terkejut. Dilihatnya Ken Arok itu meloncat mundur dan tiba-tiba hantu padang rumput Karautan itu memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya seperti kuda lepas dari ikatannya. Sesaat Agni diam mematung. Namun kemudian ia pun meloncat mengejar hantu yang mengerikan itu. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena suara gurunya, “Agni! Biarkan ia lari. Kemarilah!”

Sekali lagi Agni tidak dapat memahami tindakan gurunya. Ken Arok adalah orang buruan yang berbahaya. Apakah orang itu akan dilepaskannya? Tetapi Mahisa Agni berhenti juga. Dengan wajah yang tegang karena pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dadanya ia berjalan tergesa-gesa mendekati gurunya.

“Bapa,” katanya terbata-bata, “kenapa orang itu kita biarkan pergi?”

Empu Purwa menarik nafas. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri.

“Marilah kita lanjutkan perjalanan kita,” berkata orang tua itu. Seakan-akan ia tak mendengar pertanyaan muridnya, bahkan katanya kemudian, “Kita tidak akan sampai tengah malam nanti.”

Karena pertanyaannya tidak dijawab, Agni menjadi semakin tidak puas. Tetapi ia diam saja. Ia pun kemudian berjalan di samping gurunya. Sekali-kali matanya dilemparkannya jauh ke belakang tabir kelamnya malam. Hantu padang rumput Karautan telah hilang seakan-akan ditelan oleh raksasa hitam yang maha besar. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak bertanya-tanya lagi.

Bintang gemintang di langit masih bercahaya gemerlapan. Beberapa pasang telah semakin bergeser ke barat. Dan embun pun perlahan-lahan turun.

Agni masih berjalan di samping gurunya. Dengan matanya yang tajam ditatapnya padang rumput yang terbentang di hadapannya. Beberapa tonggak lagi ia masih harus berjalan.

Dalam keheningan malam itu kemudian terdengar suara gurunya lirih, “Agni, masihkah kau berpikir tentang hantu padang Karautan?”

Mahisa Agni menoleh. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya Bapa.”

“Apa yang kau lihat pada anak muda itu?” bertanya gurunya.

Mahisa Agni tidak tahu maksud gurunya. Karena itu untuk sesaat ia tidak menjawab, sehingga Empu Purwa mengulangi, “Adakah sesuatu yang aneh yang kau lihat pada Ken Arok?”

“Apakah yang aneh itu?” bertanya Mahisa Agni.

“Itulah yang aku tanyakan kepadamu. Sesuatu yang tidak ada pada kebanyakan manusia,” sahut gurunya.

Mahisa Agni termenung sejenak. Dicobanya untuk membayangkan kembali tubuh lawannya. Dada yang bidang, sepasang tangan yang kokoh kuat, rambut yang liar berjuntai sampai ke pundaknya dan wajahnya yang tampan namun penuh kekasaran dan kederasan. Tiba-tiba Agni menggeleng, gumamnya seperti kepada diri sendiri, “Tak ada. Tak ada yang aneh padanya.”

Empu Purwa mengangguk-angguk. Pikirnya, “Aku sudah menduga bahwa Agni tak melihat cahaya di ubun-ubun Ken Arok.”

Tetapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Memang tidak ada Agni, namun ada cerita yang aneh tentang anak muda yang menjadi buruan itu.”

Mahisa Agni mengawasi wajah gurunya dengan seksama. Tetapi tak dilihatnya kesan apapun pada wajah yang tua itu. Mungkin karena gelapnya malam. Mungkin karena di wajah pendeta tua itu segala sesuatu menjadi tenang, setenang permukaan telaga yang terlindung dari sentuhan angin.

Tetapi kemudian terdengar Empu Purwa berkata, “Agni, tak banyak yang aku dengar tentang asal usul Ken Arok. Tetapi aku pernah mendengarnya dari mulut beberapa orang pendeta. Di antaranya pendeta di Sagenggeng. Bahwa dari kepala Ken Arok itu memancar cahaya yang ke-merah-merahan. Dan cahaya yang demikian adalah ciri dari mereka yang dikasihi oleh Brahma.”

“Kalau demikian…?” kata-kata Mahisa Agni terputus.

“Ya,” Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ken Arok adalah kekasih Brahma. Bahkan orang pernah menganggap bahwa Ken Arok adalah pecahan Dewa Brahma sendiri.”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya, ditatapnya ujung kakinya berganti-ganti. Seakan-akan ia sedang menghitung setiap langkah yang dibuatnya. Kembali menjalar di benaknya beberapa macam pertanyaan yang kadang-kadang sangat aneh baginya. Tiba-tiba teringatlah ia kepada trisula di tangannya. Ya, di tangan kirinya masih digenggamnya tangkai trisula yang terlalu kecil baginya. Tanpa sesadarnya, diamatinya trisula itu dengan seksama. Trisula itu benar-benar berkilauan, namun tidak sampai menyilaukan baginya.

Mahisa Agni terkejut ketika didengarnya gurunya berkata, “Agni cerita tentang trisula itu sama anehnya dengan cerita tentang orang buruan itu.”

Agni mengangkat wajahnya. Sekali lagi dipandangnya wajah gurunya. Wajah yang sepi hening.

“Trisula itu adalah hadiah dari Siwa,” Empu Purwa meneruskan.

Memang cerita itu aneh bagi Mahisa Agni. Karena itu ia menjadi heran. Kekasih Brahma yang hampir setiap saat menjalankan kejahatan, dan senjata hadiah Siwa di tangannya. Adakah dengan demikian berarti bahwa membenarkan segala macam kejahatan itu?

Meskipun pertanyaan itu tidak terucapkan, namun Empu Purwa telah dapat menangkapnya dari wajah muridnya, maka katanya, “Agni. Jangan kau risaukan apa yang sedang dilakukan oleh Brahma, Siwa dan Wisnu sekali pun. Kalau pada suatu saat, orang-orang yang menurut cerita, bersumber pada kekuatan Brahma harus berhadapan dengan orang-orang bersumber pada kekuatan Siwa ataupun Wisnu, itu bukanlah hal yang perlu kau herankan. Sebab baik Siwa, Brahma maupun Wisnu itu sendiri merupakan pancaran dari Maha Kekuasaan Yang Esa. Dan Keesaan Kekuasaan itulah yang mengatur mereka. Apa yang dilakukan Brahma, Wisnu dan Siwa adalah satu rangkaian yang bersangkut paut dengan tujuan tunggal. Apa yang diadakan oleh kekuasaan itu, kemudian dipeliharanya untuk kemudian apabila sampai saatnya dihancurkannya.”

Kini kembali Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Ia dapat mengerti apa yang dikatakan oleh gurunya. Dan itulah sebabnya maka gurunya tak mengizinkannya untuk mengejar Ken Arok, yang menurut kata orang adalah pecahan Dewa Brahma itu sendiri.

Kemudian gurunya itu tidak berkata-kata lagi. Mereka berjalan saja menembus malam yang gelap dingin. Dan setapak demi setapak mereka mendekati rumah mereka. Desa Panawijen.

Ketika mereka menjadi semakin dekat semakin dekat, maka lupalah Mahisa Agni kepada Ken Arok, kepada trisula di tangannya, kepada cerita tentang Brahma dan Siwa, serta kepada perkelahian yang baru saja dialami. Yang ada di dalam angan-angannya kemudian adalah kampung halamannya. Kampung halaman di mana ia meneguk ilmu dari gurunya Empu Purwa.

Tetapi kampung halaman itu tidak akan demikian memukaunya, apabila di sana tidak ada orang-orang tersangkut di dalam hatinya, selain gurunya, pendeta tua yang sabar dan tawakal itu.

Yang mula-mula hadir di dalam angan-angannya adalah seorang gadis yang memiliki kecantikan seperti yang dirindukan oleh bidadari sekali pun. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi heran, apabila dibandingkannya wajah gadis itu dengan wajah ayahnya. Ayahnya bukanlah seorang yang berwajah tampan pada masa mudanya. Entahlah kalau ibunya seorang bidadari yang kamanungsan. Mahisa Agni belum pernah melihatnya. Bahkan anak gadis itu sendiri pun tak dapat mengingat wajah ibunya lagi. Dan gadis yang bernama Ken Dedes itu di matanya, tak adalah yang memadainya. Sehingga tidaklah aneh bahwa setiap mulut yang tersebar dari lereng timur Gunung Kawi sampai ke Tumapel pernah menyebut namanya.

Tetapi gadis itu terlalu bersikap manja kepadanya, seperti seorang adik kepada seorang kakak yang sangat mengasihinya. Mahisa Agni tidak begitu senang pada sikap itu. Seharusnya Ken Dedes tidak menganggapnya sebagai seorang kakak.

Tiba-tiba wajah Agni menjadi kemerah-merahan. Ia tidak berani meneruskan angan-angannya. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri.

Perlahan-lahan Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terkejut ketika terdengar gurunya berkata, “Agni, sebaiknya kau kembalikan trisula itu kepadaku. Aku mengharap bahwa kelak kau akan dapat memilikinya.”

“Oh,” terdengar sebuah desis perlahan dari mulut Agni. Cepat-cepat ia menyerahkan senjata aneh itu kepada gurunya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Sudah tidak seberapa jauh lagi. Dari desa di hadapan mereka terdengarlah kokok ayam jantan bersahut-sahutan.

“Hari menjelang pagi,” desis Empu Purwa.

“Kita Kami terhalang di padang Karautan,” sahut Mahisa Agni.

Kembali mereka berdiam diri. Dan kembali Mahisa Agni ber-angan-angan. Kini yang hadir di dalam benaknya adalah sahabatnya. Seorang pemuda yang tampan. Bertubuh tinggi tegap, bermata hitam mengkilat. Anak muda itu adalah putra Ki Buyut Panawijen. Hampir setiap hari Mahisa Agni bermain-main bersamanya. Menggembala kambing bersama. Bekerja di sawah bersama. Saling membantu seperti kakak beradik yang rukun. Mereka berdua mempunyai banyak persamaan tabiat. Keduanya senang pada pekerjaan mereka se-hari-hari.

Keduanya bekerja di antara penduduk Panawijen yang rajin. Menggali parit, membuat bendungan di sungai dan membersihkan jalan-jalan desa, memelihara pura-pura dan segala macam pekerjaan. Namun ada yang tak dapat dipersamakan di antara mereka. Mahisa Agni adalah seorang pemuda yang tangguh, yang hampir sempurna dalam ilmu tata bela diri dan tata bermain senjata. Berkelahi seorang diri dan bertempur dalam gelar-gelar perang. Sedang Wiraprana, anak muda putra Ki Buyut Panawijen, adalah seorang anak muda yang tak banyak perhatiannya pada ilmu tata bela diri meskipun dipelajarinya serba sedikit dari ayahnya. Meskipun anak muda itu rajin bekerja namun ia tidak setekun Mahisa Agni dalam menempa diri. Meskipun demikian, karena Agni tidak biasa menunjukkan kelebihannya, maka keduanya dapat bergaul dengan rapatnya.

Mereka memasuki desa mereka pada saat cahaya merah membayang di timur. Di telinga mereka masih menghambur suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Sekali-kali telah terdengar pula gerit senggot orang menimba air dari perigi-perigi di belakang rumah mereka.

Ketika mereka, Empu Purwa dan Mahisa Agni, memasuki halaman rumah mereka yang dikelilingi oleh pagar batu setinggi orang, mereka melihat api menyala di ujung dapur.

“Ken Dedes sudah bangun,” berkata Empu Purwa perlahan.

Mahisa Agni tidak menjawab. Sejak semula ia sudah menyangka bahwa Ken Dedes dan para endanglah yang sedang merebus air sambil menunggu kedatangan mereka.

Sekali mereka berjalan melingkari pertamanan di tengah-tengah halaman yang luas itu. Kemudian mereka berjalan di tanggul kolam yang berair bening. Di siang hari kolam itu dipenuhi oleh itik, angsa dan berati, berenang dengan riangnya.

Kedatangan mereka disambut oleh Ken Dedes dengan penuh kemanjaan. Dengan bersungut-sungut terdengar ia bergumam, “Ayah terlalu lama pergi bersama Kakang Agni. Semalam aku tidak tidur. Ayah berkata bahwa selambat-lambatnya senja kemarin sampai di rumah. Tetapi baru pagi ini ayah sampai.”

“Agni kerasan di Tumapel,” jawab Empu Purwa.

“Ah,” desah Ken Dedes, “barangkali gadis-gadis Tumapel menahannya.”

Mahisa Agni tersenyum ke-malu-maluan. Ia tidak mau disangka demikian, namun ia tidak dapat mengatakan keadaan yang sebenarnya di padang Karautan. Karena itu menyahut, “Aku berburu kelinci di Padang Karautan.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Katanya, “Ayah melewati padang rumput itu?”

Empu Purwa mengangguk.

“Tidaklah Ayah takut kepada hantu yang sering menghadang orang lalu di padang rumput itu?” desak Ken Dedes.

Sekali lagi Empu Purwa menggeleng. Katanya, “Tak ada hantu di sana. Yang ada adalah kelinci-kelinci dan anak-anak rusa.”

Ken Dedes tidak bertanya lagi, tetapi wajahnya nampak ber-sungguh-sungguh. Tiba-tiba Ken Dedes melangkah maju mendekati Mahisa Agni. Ditatapnya sesuatu pada wajah anak muda itu.

“Kenapa wajahmu, Kakang?” bertanya Ken Dedes kemudian sambil meraba pipi Mahisa Agni.

Baru pada saat itu Mahisa Agni merasa wajahnya nyeri. Sebuah jalur kemerah-merahan membujur di wajahnya, di samping noda yang ke-biru-biruan. Sekilas terasalah tangan hantu Karautan menghantam wajahnya itu pada saat ia berkelahi.

“Pipiku tersangkut dahan, pada saat aku merunduk menangkap kelinci,” jawab Agni.

Meskipun Ken Dedes tidak bertanya lagi, namun tampaklah kerut-kerut di keningnya sebagai pertanyaan hatinya. Kemudian tanpa disengajanya Ken Dedes mencibirkan bibirnya.

Sesaat kemudian mereka telah duduk menghadapi minuman hangat. Air daun sereh dengan gula aren telah menyegarkan tubuh mereka.

“Kau terlalu lelah Agni,” berkata Empu Purwa, “Beristirahatlah.”

Sebenarnyalah bahwa Agni terlalu lelah. Perkelahiannya dengan Ken Arok telah memeras hampir seluruh tenaganya. Karena itu ia pun segera beristirahat pula. Karena kelelahan itulah maka ia pun segera jatuh tertidur.

Betapapun lelahnya, namun Agni tidak dapat tidur terlalu lama. Sudah menjadi kebiasaan anak muda itu bangun pagi-pagi sebelum matahari melampaui punggung bukit-bukit di sebelah timur.

Tetapi kali ini Mahisa Agni terlambat juga. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya cahaya matahari telah memanasi dinding-dinding ruang tidurnya. Karena itu segera ia bangkit dan segera pula dengan tergesa-gesa pergi ke belakang membersihkan diri.

Ketika ia melangkah kembali masuk ke ruang dalam, Mahisa Agni terkejut mendengar sapa perlahan-lahan, “Kau kerinan, Agni.”

Agni menoleh. Dilihatnya di sudut bale-bale besar yang terbentang di ruangan itu, Wiraprana duduk bersila. Senyumnya yang segar membayang di antara kedua bibirnya.

Agni pun tersenyum pula. Jawabnya, “Aku terlalu lelah.”

“Kau baru pulang semalam?” bertanya Prana.

“Bukan semalam,” jawab Agni, “pagi ini.”

“Lama benar kau pergi,” sahut Prana.

“Sepekan,” jawab Agni.

“Selesaikan dirimu. Kita pergi ke sawah kalau kau tidak terlalu lelah,” ajak Wiraprana.

Agni tidak menjawab. Segera ia membenahi diri. Sesaat kemudian mereka berdua telah turun ke halaman. Beberapa kali mata Agni mengitari seluruh ruangan dan halaman rumahnya untuk mencari Ken Dedes. Namun gadis itu tak ditemuinya. Ketika di halaman ia berpapasan dengan seorang cantrik, maka ia bertanya, “Ke mana Ken Dedes?”

“Ke sungai, Ngger,” jawab cantrik itu.

“Apa yang dilakukan?” desak Agni.

“Ken Dedes membawa kelenting dan dijinjingnya bakul cucian,” jawab cantrik itu pula.

“Bapa Pendeta?” bertanya Agni pula.

“Di sanggar, sejak beliau datang bersama Angger,” jawab cantriknya itu.

Agni tidak bertanya lagi. Dan keduanya berjalan pula keluar halaman.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika mereka melihat debu yang berhamburan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari tidak terlalu kencang. Kuda itu berjalan searah dengan Agni dan Wiraprana.

Agni melihat kuda yang besar dan tegar itu dengan kagumnya. Di punggung kuda itu duduk seorang pemuda dengan pakaian yang rapi dan teratur. Kain lurik merah bergaris-garis cokelat, celana hitam mengkilat dan timang bermata berlian. Di punggungnya terselip sebuah pusaka, keris berwrangka emas.

Melihat anak muda yang duduk di atas punggung kuda itu wajah Agni menjadi terang. Ia tertawa sambil melambaikan tangannya, dan dari sela-sela tertawanya terdengar ia menyapa, “Kuda Sempana!”

Wiraprana berdiri saja di tempatnya. Ia melihat Agni dengan bibir yang ditarik ke sisi. Bisiknya, “Kau akan kecewa, Agni.”

Meskipun Agni mendengar bisik sahabatnya, namun ia tidak segera menangkap maksudnya. Ia masih tegak di tepi jalan menanti anak muda yang berkuda dengan gagahnya itu.

Mula-mula Mahisa menyangka bahwa Kuda Sempana tidak melihatnya. Karena itu sekali lagi menyapa, “He, Kuda Sempana!”

Anak muda yang bernama Kuda Sempana itu memperlambat kudanya. Dilemparkannya pandangannya ke arah Mahisa Agni. Namun hanya sebentar. Ia mengangguk tanpa kesan. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kuda Sempana baru beberapa tahun meninggalkan kampung halaman. Apakah anak itu telah melupakannya? Untuk meyakinkan dirinya Mahisa Agni masih tetap berdiri menanti Kuda Sempana. Tetapi ia menjadi kecewa ketika tiba-tiba kuda yang dinaikinya membelok masuk ke halaman. Justru halaman rumah gurunya.

“Bukankah itu Kuda Sempana?” tanpa sesadarnya Agni bertanya.

“Ya,” jawab Wiraprana.

“Kawan kita bermain dahulu?” Agni menegaskan.

“Ya,” jawab Prana.

“Bukankah anak itu baru beberapa tahun meninggalkan kita,” Agni meneruskan.

“Ya,” sahut Prana pula.

“Aneh,” berkata Agni seperti orang yang menyesal.

“Sudah aku katakan,” jawab Prana, “kau akan kecewa. Dua hari yang lampau, aku menyesal pula seperti kau sekarang. Anak itu sekarang menjadi pelayan dalam dari Akuwu Tunggul Ametung. Ia menjadi kaya, dan tak mengenal kita lagi.”

“Barangkali ia tergesa-gesa,” Agni mencoba untuk memuaskan hatinya sendiri.

“Aku telah mengalami dua hari yang lampau. Ia memandangku seperti orang asing,” sahut Prana.

Tetapi Mahisa Agni masih belum yakin. Tak termasuk di akalnya bahwa hanya karena menjadi pelayan dalam Akuwu Tumapel, seseorang dapat melupakan kawan-kawan bermain sejak masa kanak-kanaknya.

Wiraprana melihat keragu-raguan itu. Maka katanya sambil tersenyum, “Agni, agaknya kau tidak yakin akan kata-kataku. Cobalah kau temui anak itu.”

“Marilah,” ajak Agni.

Wiraprana menggeleng. Jawabnya, “Aku segan. Tak ada gunanya. Aku akan mendahului. Aku tunggu kau di atas tanggul.”

Mahisa Agni sejenak menjadi ragu-ragu. Tetapi bagaimanapun juga ia melihat sikap yang aneh pada Kuda Sempana. Apalagi anak muda itu masuk ke halaman rumah gurunya. Karena itu akhirnya ia berkata, “Baiklah Prana, tunggulah aku di atas Tanggul. Aku segera menyusul.”

Sekali lagi Wiraprana tersenyum. Kemudian ia memutar tubuhnya berjalan perlahan-lahan mendahului Agni, yang karena keinginannya untuk mengetahui keadaan Kuda Sempana, berjalan kembali ke halaman rumahnya.

Ketika ia memasuki halaman, dilihatnya Kuda Sempana masih berada di atas punggung kudanya. Dengan sikap seorang bangsawan ia sedang bercakap-cakap dengan seorang cantrik.

“Sudah lama ia pergi?” terdengar Kuda Sempana itu bertanya.

“Sudah Angger,” jawab cantrik itu.

“Sendiri?” bertanya Kuda Sempana.

“Dengan beberapa endang, Angger,” jawab cantrik itu.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditebarkannya pandangannya ke seluruh sudut halaman. Dan ketika dilihatnya Mahisa Agni, Kuda Sempana mengerutkan keningnya.

Mahisa Agni tersenyum dengan ramahnya. Dengan akrabnya ia berkata, “Sempana. Alangkah gagahnya kau sekarang.”

Anak muda itu memandang Mahisa Agni dengan tajam. Kemudian katanya, “Ya.”

Jawaban itu terlalu pendek bagi dua orang kawan yang telah lama tidak bertemu. Meskipun demikian Agni masih menyapanya lagi, “Apakah keperluanmu? Adakah aku dapat membantumu?”

Kuda Sempana menggeleng, “Aku ter-gesa-gesa.”

Perasaan kecewa mulai menjalari dada Mahisa Agni. Percayalah ia sekarang kepada Wiraprana, bahwa hal yang diragukan itu benar-benar dapat terjadi.

Namun sekali lagi Agni bertanya, “Adakah sesuatu pesan untuk Bapa Pendeta?”

Sempana menggeleng.

“Tidak,” katanya, “Aku tidak mempunyai sesuatu keperluan dengan Empu Purwa. Aku datang untuk putrinya.”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Agni. Tetapi ia mencoba menguasai perasaannya. Dan tahulah ia sekarang, siapakah yang ditanyakan oleh Sempana kepada cantrik itu.

Mahisa Agni terkejut ketika kemudian terdengar Kuda Sempana berkata, “Aku tidak mempunyai banyak waktu.”

Anak muda yang gagah itu tidak menunggu jawaban siapa pun. Segera ia menarik kekang kudanya, dan kuda yang tegar itu pun berputar. Sesaat kemudian kuda itu telah menghambur meninggalkan halaman yang luas dan sejuk itu.

Ketika Kuda Sempang telah hilang di balik pagar, bertanyalah cantrik itu kepada Mahisa Agni, “Bukankah anak muda itu Angger Kuda Sempana?”

“Ya,” jawab Agni sambil mengangguk-angguk kepalanya.

“Tetapi,” cantrik itu meneruskan, “bukankah anak muda itu kawan Angger Agni bermain-main seperti Angger Wiraprana?”

Agni mengangguk. Ditatapnya sisa-sisa debu yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang mengagumkan itu, Jawabnya, “Begitulah.”

Cantrik itu tidak bertanya lagi ketika dilihatnya sorot mata Agni yang aneh. Karena itu segera ia kembali kepada pekerjaannya membersihkan halaman dan tanam-tanam.

Agni pun kemudian tidak berkata-kata pula. Diayunkan kakinya keluar halaman. Ia telah berjanji pergi ke tanggul. Di sana Wiraprana menunggunya. Ia masih melihat Kuda Sempana melarikan kudanya lewat jalan yang akan dilaluinya, namun ia sama sekali sudah tidak menaruh perhatian terhadap anak muda yang sombong itu. Karena itu segera angan-angannya kembali kepada sahabatnya. Wiraprana.

Tanggul yang dimaksud Wiraprana adalah tanggul sebuah bendungan dari sebuah sungai kecil yang membujur agak jauh dari desanya. Dari sungai itulah sawah-sawahnya mendapat aliran air. Karena itu, baik Agni maupun Wiraprana sering benar pergi ke tanggul itu. Bahkan bukan saja anak-anak muda, namun gadis-gadis pun selalu pergi ke sungai itu untuk mencuci pakaian-pakaian mereka dan mandi di belumbang kecil di bawah bendungan.

Tetapi Agni tidak langsung pergi ke tanggul itu. Ketika ia lewat di samping sawah Empu Purwa yang menjadi garapannya, ia berhenti. Dilihatnya beberapa batang rumput liar tumbuh di antara tanaman-tanamannya meskipun masa matun baru saja lampau. Karena itu ia memerlukan waktu sejenak untuk menyiangi tanamannya itu.

Wiraprana yang sudah sampai di pinggir kali, duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas yang menjorok agak tinggi. Ketika ia melihat bahwa tanggul dan bendungan cukup baik, maka yang dikerjakannya adalah menunggu Mahisa Agni, yang akan diajaknya untuk melihat apakah rumpon yang mereka buat telah masak untuk dibuka.

Wiraprana meredupkan matanya ketika ia melihat seekor kuda berlari kencang ke arahnya. Segera ia mengenal bahwa di atas punggung kuda itu duduk Kuda Sempana. Meskipun ia tidak tahu maksud kedatangan anak muda itu, namun perasaan tidak senang telah menjalari dirinya, sehingga tanpa sesadarnya ia turun dan duduk di balik batu padas itu. Ia sama sekali tidak ingin untuk bertemu dengan anak yang sombong itu, meskipun timbul juga keinginannya untuk mengetahui, apakah maksud kedatangan anak mada itu ke bendungan.

Ketika Wiraprana melayangkan pandangannya ke belumbang kecil di bawah bendungan itu, dilihatnya beberapa orang gadis sedang mencuci. Satu di antara mereka adalah gadis yang dikenalnya dengan baik, sebaik ia mengenal Mahisa Agni. Gadis yang namanya selalu disebut oleh hampir setiap pemuda di kaki Gunung Kawi itu. Gadis itu adalah Ken Dedes.

Wiraprana menarik nafas. Tetapi kemudian ia dikejutkan oleh derap kaki kuda di sampingnya. Sekali lagi ia berkisar ke balik batu itu. Ia benar-benar tidak mau bertemu lagi dengan Kuda Sempana setelah hatinya dikecewakan dua hari yang lampau.

Tetapi didesak oleh perasaannya, maka dengan hati-hati ia mengintip apakah keperluan anak muda yang sombong itu. Ia menahan nafas ketika ia melihat Sempana berjalan hanya beberapa langkah di mukanya, kemudian membelok ke kanan, menuruni tebing sungai.

Beberapa orang gadis yang melihat kedatangan anak muda itu menjadi heran. Mereka telah biasa melihat Wiraprana, Mahisa Agni dan anak-anak muda dari desa mereka berada di atas tanggul bendungan itu. Namun anak muda dengan pakaian yang sedemikian lengkapnya adalah jarang mereka lihat. Tetapi ketika anak muda itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengarlah hampir persamaan dari mulut gadis-gadis itu sebuah sapa yang riang, “Kuda Sempana!”

Tetapi sapa itu sama sekali tak berbekas di wajah Kuda Sempana yang seakan-akan telah membeku.

Meskipun kemudian gadis-gadis itu menjadi riuh, namun Sempana sama sekali tak terpengaruh olehnya, sehingga akhirnya gadis-gadis itu pun menjadi heran dan berhenti dengan sendirinya.

Tetapi di antara mereka, tampaklah Ken Dedes menjadi pucat. Tiba-tiba terasa tubuhnya gemetar seperti kedinginan. Ia melihat ke-datangan Kuda Sempana seperti melihat hantu. Bagaimanapun ia mencoba menguasai dirinya, namun tampak juga tubuhnya bergetar. Untunglah tak seorang pun dari kawan-kawannya memperhatikannya.

Kuda Sempana kemudian berdiri tegak di tepi belumbang kecil itu. Gadis-gadis yang berada di hadapannya itu seakan-akan tak dilihatnya selain seorang gadis yang dengan gemetar memperhatikan segala tingkah lakunya.

“Ken Dedes,” kemudian terdengar kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Meskipun ia berdiri dengan garangnya, namun terdengar kata-katanya itu lunak dan lambat. Oleh kata-kata Sempana itu, maka gadis-gadis itu pun seperti terpikat oleh sebuah pesona, bersama-sama menoleh ke arah Ken Dedes yang kemudian menundukkan wajahnya.

Ken Dedes sama sekali tidak menjawab sapa itu. Bahkan tubuhnya seraya menjadi lemas. Detak jantung di dadanya seakan-akan berdentang seperti guntur. Ketika sekali lagi ia mendengar anak muda itu memanggilnya, maka ditundukkannya wajahnya semakin dalam.

“Ken Dedes,” berkata Sempana kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu. Tinggalkan cucianmu sebentar. Ada sesuatu yang akan aku katakan kepadamu.”

Gadis-gadis yang lain pun saling berpandangan. Mereka memuji ketampanan Kuda Sempana, namun mereka berteka-teki pula, mengapa Kuda Sempana menemui seorang gadis di pemandian. Sudah tidak adakah waktu yang lain?

“Aku telah datang ke rumahmu Ken Dedes,” Kuda Sempana meneruskan, “Tetapi kau tak ada. Karena itu aku terpaksa menyusulmu.”

“Kakang Sempana,” akhirnya Ken Dedes terpaksa menjawabnya, “Tunggulah aku di rumah. Aku akan dapat membicarakannya dengan Ayah dan Kakang Agni.”

“Marilah kita pulang bersama-sama,” ajak Sempana.

“Aku belum mandi,” bantah Ken Dedes, “dan cucianku belum selesai. Bukankah hari masih terlampau pagi?”

“Besok aku harus kembali ke Tumapel,” sahut Kuda Sempana, “siang nanti aku akan berkemas. Seandainya kau aku bersedia…”

Sempana tak meneruskan kata-katanya. Ketika ia mendengar beberapa orang gadis menahan senyumnya, ditatapnya wajah gadis-gadis itu dengan tajamnya, sehingga gadis-gadis itu pun menjadi ketakutan dan menjatuhkan pandangan mereka ke atas pasir.

Ken Dedes menjadi semakin gemetar. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan. Tetapi pasti bahwa ia tak dapat memenuhi permintaan Kuda Sempana. Karena Ken Dedes tidak segera menjawab, Sempana mendesaknya, “Ken Dedes, berpakaianlah!”

Nafas Ken Dedes menjadi sesak. Apalagi ketika didengarnya Kuda Sempana meneruskan, “Bukankah tidak baik apabila aku menyatakan maksudku di sini?”

Sekali lagi terdengar suara-suara tertawa yang tertahan. Dan sekali lagi mata Sempana yang tajam beredar ke setiap wajah gadis-gadis di belumbang itu, dan sekali lagi gadis-gadis itu melemparkan pandangannya jauh-jauh.

Mulut Ken Dedes telah benar-benar seperti membeku. Karena itu tak sepatah kata pun dapat diutarakan meskipun hatinya meronta-ronta. Adalah suatu aib yang mencoreng di wajahnya apabila kemudian Sempana tak dapat menahan hatinya dan melamarnya langsung tidak setahu ayahnya. Meskipun ia dapat menolaknya, tetapi sikap yang demikian dari seorang pemuda adalah sikap yang tercela. Hanya gadis-gadis yang tak berhargalah yang akan pernah mengalami perlakuan demikian.

Maka merataplah Ken Dedes di dalam hatinya, “Apakah aku ini termasuk dalam lingkaran gadis-gadis yang demikian, maka Sempana memperlakukan aku begini?”

Hampir saja air mata Ken Dedes meledak seandainya ia tidak berusaha sekuat-kuatnya untuk menahannya.

Tetapi Sempana, pelayan dalam Akuwu Tumapel itu benar-benar seperti orang mabuk. Katanya, “Ken Dedes, bukankah sejak aku pulang, aku telah berkata kepadamu, bahwa suatu ketika aku akan datang ke rumahmu? Seharusnya kau tahu akan maksudku itu. Karena itu sekarang marilah kita pulang.”

Ken Dedes masih saja menundukkan wajahnya. Karena itu kemudian Kuda Sempana menjadi tidak sabar lagi. Sorot matanya menjadi semakin tajam. Beberapa orang gadis pergi menjauhinya. Mereka takut melihat sikap Sempana yang menjadi semakin garang. Dada Ken Dedes pun menjadi semakin sesak. Hatinya menjadi tegang. Tak ada yang dapat dilakukannya. Sekali ia mencoba menatap wajah Sempana, tetapi wajah itu terlalu menakutkan baginya, sehingga akhirnya kembali kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.

Dalam kebingungannya itu, tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang lain dari suara Kuda Sempana. Tidak terlalu keras, namun kata demi kata dapat didengarnya dengan baik. Katanya, “Kuda Sempana, adakah kau akan ikut serta mencuci pakaianmu di belumbang ini?”

Kuda Sempana terkejut. Ketika ia menoleh dilihatnya Wiraprana berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Karena itu wajah Sempana segera menjadi merah. Dengan cepatnya ia memutar tubuhnya menghadap Wiraprana. Dan dengan suara lantang ia berkata, “Apa kerjamu di sini?”

“Menunggui tanggul,” jawab Wiraprana singkat.

Kuda Sempana menggeram. Ia benar-benar menjadi marah. Katanya, “Kau mencoba mencampuri urusanku?”

Wiraprana mengerutkan keningnya, “Apa yang aku campuri? Setiap hari aku berada di tempat ini. Mengail, membuka parit, mencuci pakaian dan segala macam pekerjaan anak desa. Kaulah yang aneh. Seorang pelayan dalam Tumapel berada di bendungan.”

“Tutup mulutmu!” bentak Sempana.

Gadis-gadis yang melihat peristiwa itu, menjadi ketakutan pula. Tubuh mereka bergetaran dan dada mereka menjadi sesak. Apalagi Ken Dedes sendiri. Di samping perasaan takut yang membelit hatinya, maka ia pun merasa, bahwa dirinyalah sebab dari pertengkaran itu. Karena itu maka ia menjadi semakin cemas. Meskipun ia merasa bersyukur pula atas ke-hadiran Wiraprana, namun agaknya Kuda Sempana memandang kehadiran Wiraprana sebagai tantangan. Kuda Sempana tidak menjadi malu atau segan, bahkan ia bersikap sebagai lawan.

Pada saat Wiraprana berada di balik batu padas, dilihatnya sikap Kuda Sempana yang kurang wajar. Karena itu perlahan-lahan ia merunduk di balik-balik batu mendekatinya. Meskipun ia tidak jelas, apa yang sebenarnya terjadi, namun adalah pasti baginya, bahwa Ken Dedes berada dalam kesulitan. Maka sikap Sempana itu adalah merupakan penjelasan baginya. Anak muda yang sombong itu benar-benar telah berbuat suatu kesalahan. Karena itu jawabnya tatag, “Kuda Sempana. Jangan terlalu kasar. Bukankah dahulu kau setiap hari juga berada di bendungan ini. Bahkan malam hari pun kau kadang-kadang tidur di atas pasir di tepian itu bersama-sama aku? Marilah kita bersikap wajar. Juga terhadap gadis-gadis kau sebaiknya bersikap wajar.”

“Jangan gurui aku anak desa yang sombong. Selama hidupmu kau dikungkung oleh kepicikan akal dan kesempitan pengetahuan,” jawab Sempana, “Aku telah mencoba berlaku sopan kepada Ken Dedes. Aku hanya ingin persoalanku cepat selesai.”

“Soalmu dan Ken Dedes benar-benar bukan urusanku,” sahut Wiraprana, “Kalau kalian berdua telah bersepakat, maka adalah suatu dosa bagiku, apabila aku datang kepadamu sekarang. Tetapi aku melihat sikap Ken Dedes lain dari sikap yang kau harapkan. Dan kau terlalu bersikap garang kepadanya.”

“Wiraprana!” bentak Kuda Sempana, “sekali lagi aku peringatkan, tinggalkan tempat ini!”

“Jangan bersikap demikian, Sempana,” jawab Wiraprana, “Jangan bersikap seperti orang hendak berkelahi. Aku bukan orang yang biasa berbuat demikian. Namun aku hanya ingin memperingatkan kepadamu. Pulanglah. Pergilah kepada ayahnya, dan biarlah ayahnya bertanya kepadanya, apakah ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam perjalanan hidupnya.”

Kuda Sempana yang sombong itu tidak mau lagi mendengar kata-kata Wiraprana. Karena itu selangkah ia meloncat maju. Tangan kanannya terayun menampar mulut Wiraprana. Gerak Sempana cepat seperti kilat, sehingga Wiraprana tak sempat mengelaknya. Terdengarlah seperti sebuah ledakan cambuk di pipi Wiraprana. Wiraprana terkejut. ia terdorong beberapa langkah ke samping. Terasa betapa nyeri pukulan itu. Tetapi untunglah bahwa ia tidak terbanting ke air.

“Sempana,” katanya sambil berdesis menahan sakit, “jangan terlalu kasar.”

“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Tinggalkan tempat ini!”

“Kau telah melanggar kebiasaan kampung halaman kita, Sempana,” berkata Wiraprana lantang, “adat itu tetap kita hormati.”

Sekali lagi Kuda Sempana tidak dapat mengendalikan dirinya. Tangannya terayun kembali ke wajah Wiraprana, Namun kali ini Wiraprana tidak mau dikenainya untuk kedua kalinya. Karena itu cepat-cepat ia membungkukkan badannya. Tangan Kuda Sempana hanya sejari terbang di atas kepalanya. Tetapi Sempana adalah pelayan dalam istana, sehingga dengan cepat ia dapat membetulkan kesalahannya. Ketika dirasa tangannya tak menyentuh tubuh Wiraprana, segera ia mengulangi serangannya yang lain. Geraknya benar-benar tak diduga oleh Wiraprana, karena itu selagi ia masih membungkuk, terasa sebuah tamparan menyengat pipinya yang lain. Sekali lagi Wiraprana terdorong ke samping dan sekali lagi ia berdesis menahan sakit.

Ketika Wiraprana telah tegak kembali terdengarlah giginya gemeretak dan matanya memancarkan sinar kemarahan. Telah dua kali pipinya di kedua sisi merasakan betapa berat tangan Kuda Sempana. Bagaimanapun juga Wiraprana adalah laki-laki juga seperti Kuda Sempana. Karena itu katanya lantang, “Kuda Sempana. Jangan membusungkan dada hanya karena kau telah mendapat kedudukan baik di samping Akuwu Tunggul Ametung. Persoalanmu adalah persoalan adat kampung halaman.”

“Apa pedulimu!” bentak Kuda Sempana, “Kalau aku tidak dapat menemui ayah gadis yang aku senangi, aku masih mempunyai cara lain. Aku akan melarikannya. Kelak aku akan kembali dengan seorang cucu yang manis bagi Empu Purwa. Dan ia harus menerima kedatangan kami.”

Wajah Wiraprana menjadi merah padam. Katanya kepada Ken Dedes, “Adakah kau telah bersepakat untuk kawin lari?”

“Tidak! Tidak!” teriak Ken Dedes serta-merta.

“Hem,” geram Wiraprana kepada Kuda Sempana, “kalau kau telah bersepakat, aku tak dapat mengalamimu. Tetapi kalau tidak, dan kau akan memaksakan cara itu, aku akan mencegahmu.”

Kuda Sempana tertawa dengan sombongnya. Katanya, “Bagus. Seseorang dibenarkan untuk melakukan pencegahan. Tetapi tata cara itu pun menuntut pengorbanan bagi gadis yang diidamkan. Nyawaku menjadi taruhan.”

Wiraprana mengangkat alisnya. Ia ngeri mendengar kata-kata Kuda Sempana. Mengorbankan nyawa berarti kematian. Dan ia ngeri memikirkan kematian. Tetapi ia harus mencegahnya. Karena itu katanya, “Aku tidak menghendaki bencana apapun. Baik bagimu, maupun bagiku. Tetapi aku hanya akan mencegahmu.

Kuda Sempana tidak sabar lagi. Dengan berteriak nyaring ia meloncat menyerang Wiraprana. Tetapi kali ini Wiraprana telah bersiaga. Karena itu, ia pun berhasil mengelakkan serangan Kuda Sempana. Tetapi Kuda Sempana tidak puas dengan serangannya yang gagal, segera ia pun memperbaiki kedudukannya, dan dengan garangnya ia mengulangi serangannya.

Segera terjadilah perkelahian antara keduanya. Wiraprana yang bertubuh tinggi tegap itu cukup mempunyai kekuatan, namun Kuda Sempana yang tidak sebesar Wiraprana, mempunyai kelincahan yang mengagumkan. Serangannya benar-benar datang seperti sikatan yang menari-nari di padang rumput yang hijau.

Gadis-gadis yang melihat perkelahian itu menjadi semakin ke-takutan. Mereka berlari bercerai berai sambil memekik-mekik. Namun ada di antara mereka yang sedemikian takutnya, sehingga mereka terduduk lemas, seakan-akan tulang belulangnya dicopoti.

Ken Dedes sendiri, seperti orang yang kehilangan kesadarannya, duduk di atas pasir di tepi belumbang. Beberapa kali ia mencoba menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Tetapi kadang-kadang ia terpaksa mengintip perkelahian itu dari celah-celah jarinya. Ia takut melihat perkelahian itu, namun ia terpaksa untuk melihatnya. Perkelahian yang demikian benar-benar jarang terjadi di Panawijen yang tenteram. Hampir tak pernah terdengar perselisihan di antara anak-anak muda. Namun tiba-tiba mereka harus melihat sebuah perkelahian yang mengerikan.

Kuda Sempana benar-benar memiliki kelincahan dan ketangkasan. Sebagai seorang abdi yang dipercaya, Sempana mempunyai bekal yang cukup. Karena itu ia pun memiliki ilmu tata berkelahi yang baik. Sedang Wiraprana, meskipun dari ayahnya Buyut Panawijen, telah pernah dipelajarinya ilmu itu, namun anak muda itu sama sekali tidak menekuninya. Ketenteraman hidup dan kedamaian hati penduduk Panawijen tidak pernah menuntunnya ke dalam persoalan yang dapat memaksanya untuk menekuni ilmu semacam itu.

Karena itu, sesaat kemudian terasa, bahwa Wiraprana yang tinggi tegap itu tak akan dapat mengimbangi kelincahan dan ketangkasan lawannya. Berkali-kali ia terdorong surut, dan berkali-kali ia terhuyung karena pukulan-pukulan lawannya.

Untunglah bahwa pekerjaan-pekerjaan berat yang selalu dilakukan dapat menolongnya. Tubuhnya menjadi kuat dan untuk beberapa lama ia dapat menahan sakit yang menjalar hampir di setiap bagian tubuhnya. Pukulan yang bertubi-tubi telah mematangkan kulit wajahnya. Merah biru, dan dari bibirnya mengalir darah yang merah segar.

Tetapi betapa kuat tubuh Wiraprana, akhirnya terasa juga semakin lama semakin menjadi lemah. Nyeri dan pedih menyengat-nyengat tak henti-hentinya, dan setiap kali pula tangan Kuda Sempana masih saja mengenainya. Namun Wiraprana tak mau melepaskan lawannya. Kalau ia melepaskan Sempana dan melarikan dirinya, maka Kuda Sempana pasti akan melaksanakan maksudnya.

Telah terucapkan dari bibirnya bahwa ia akan dapat menempuh cara yang keji terhadap gadis idamannya. Karena itu tidak mustahil bahwa ia pada saat itu pula akan memaksa Ken Dedes mengikutinya ke Tumapel. Ia akan dapat bersembunyi di istana Tunggul Ametung sampai kelahiran anaknya. Dan sesudah itu, tak seorang pun dapat menuntutnya. Tetapi di samping itu, terasa pula pada Wiraprana bahwa akhirnya ia tak akan mampu berbuat apa-apa. Sesaat kemudian ia akan jatuh terjerembab. Mungkin pingsan dan mungkin terjadi peristiwa yang mengerikan itu. Nyawanya harus dipertaruhkan.

Kuda Sempana masih berkelahi dengan penuh nafsu. Meskipun ia sadar bahwa Wiraprana tak akan mampu menandinginya, namun ia tetap berlaku kasar. Tangannya menjambak bertubi-tubi, dan bahkan Kuda Sempana menjadi semakin marah, karena Wiraprana tidak segera jatuh. Karena itu akhirnya ia berketetapan hati untuk menyelesaikan perkelahian itu. Dengan garangnya ia menyerang lawannya, dan dengan kedua tangannya ia menghantam wajah Wiraprana bertubi-tubi. Sekali wajah Wiraprana terangkat karena pukulan Kuda Sempana yang tepat mengenai rahangnya, namun sesaat kemudian kepalanya terkulai ke samping oleh tangan lawannya yang lain.

Oleh keadaannya itu hampir Wiraprana menjadi putus asa. Ia merasa bahwa ia tak akan dapat berbuat banyak. Terbayang di matanya kesudahan dari peristiwa itu. Panawijen akan berkabung. Anak Buyut Panawijen terbunuh dan putri Pendeta Panawijen dilarikan orang.

Ketika Wiraprana hampir menyerahkan dirinya kepada nasib, lamat-lamat didengarnya Ken Dedes memekik kecil. Gadis itu menjadi ngeri ketika dilihatnya darah mengalir dari bibir dan hidung Wiraprana. Namun bagi Wiraprana pekik itu seakan-akan telah menggugah kembali semangatnya. Tiba-tiba terpikir olehnya, kenapa gadis itu tidak saja lari dan pulang ke rumah. Karena itu tiba-tiba dengan tidak menghiraukan keadaan dirinya, Wiraprana mendekap subuh Kuda Sempana erat-erat. Bersamaan dengan itu terdengar ia berkata parau, “Ken Dedes, tinggalkan tempat ini. Cepat, sebelum aku kehabisan tenaga!”

Ken Dedes pun kemudian seperti orang bangkit dari mimpi. Segera ia meloncat berdiri dan berlari meninggalkan belumbang yang mengerikan itu. Tak diingatnya lagi barang-barang cuciannya, serta pakaiannya yang basah kuyup.

Sementara itu Kuda Sempana menjadi marah bukan kepalang. Ketika Wiraprana mendekap tubuhnya, ia tidak sempat mengelak, karena hal itu sama sekali tak diduganya. Tangan Wiraprana itu kemudian seakan-akan terkunci di pinggangnya. Meskipun dengan sekuat tenaga ia menghantam tengkuk, punggung dan kepala Wiraprana, namun tangan itu seperti tangan yang telah melekat dengan jaringan kulitnya sendiri. Sehingga karena marah, jengkel bercampur baur ia pun berteriak, “Wiraprana, jangan gila. Kau tidak berkelahi seperti laki-laki. Lepaskan dan marilah kita berhadapan secara jantan.”

Tetapi Wiraprana tak mendengar kata-kata itu. Telinganya seolah-olah telah tuli dan mulutnya membisu. Tangannya yang melingkar itu menjadi kaku seperti tangan golek kayu.

Kuda Sempana menghempas-hempaskan tubuhnya, menendang memukul dan segala macam. Apalagi ketika dilihatnya Ken Dedes telah berlari memanjat tebing.

Tetapi tiba-tiba langkah Ken Dedes terhenti. Hampir saja ia melanggar sesosok tubuh yang tiba-tiba saja muncul dengan tergesa-gesa. Terdengarlah gadis itu memekik kecil, tetapi kemudian terdengar ia berteriak nyaring, “Kakang Mahisa Agni!”

Mahisa Agni berdiri tegak seperti batu karang yang kokoh kuat di tepi lautan. Sesaat wajahnya menyapu berkeliling, kemudian terhenti pada tubuh-tubuh yang sedang bergulat di bawah bendungan. Dilihatnya Kuda Sempana dengan bengisnya menghujani tubuh Wiraprana yang menjadi semakin lemas. Dan bahkan akhirnya dilihatnya pelukan Wiraprana terlepas, dan anak muda itu jatuh terkulai di atas pasir tepian.

Ketika tangan Wiraprana terlepas dari tubuhnya, segera Kuda Sempana meloncat berlari. Ia tidak mau melepaskan Ken Dedes lagi. Telah bulat hatinya untuk melarikan saja gadis itu. Kalau ia sempat menangkapnya dan membawanya ke atas kudanya. Ia tak perlu pulang. Berita tentang dirinya akan memberitahukan kepada keluarganya, bahwa ia telah kembali ke Tumapel. Ia yakin pula, bahwa tak seorang pun berani mengganggu keluarganya itu, sebab ia akan dapat menakut-nakuti mereka dengan kedudukannya sekarang.

Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dilihatnya Ken Dedes berdiri rapat di belakang seorang anak muda yang tegak seperti patung raksasa. Kakinya yang renggang seakan-akan berakar jauh terhunjam ke dalam tanah. Serta wajahnya yang tengadah membayangkan betapa teguh hatinya.

Sebelum ia sempat berkata sepatah kata pun, terdengar batu karang itu seperti menggeram, “Kuda Sempana. Apakah yang telah kau lakukan?”

Mata Kuda Sempana seakan-akan menyala karena kemarahannya. Mahisa Agni itu pun akan mencoba menghalang-halanginya. Maka katanya, “Agni. Jangan bersikap seperti seorang perwira tamtama. Lihatlah Wiraprana. Ia telah mencoba melawan kehendakku.”

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kuda Sempana itu dahulu adalah kawannya bermain pula seperti Wiraprana. Tetapi tiba-tiba ia menjadi muak melibat wajah yang sombong itu. Maka katanya, “Kuda Sempana. Jangan kau mencoba memperkecil arti kami anak-anak Panawijen. Kau juga anak dari tanah ini. Kau mampu menjabat pekerjaanmu sekarang. Demikian juga anak-anak yang lain. Kau telah menghina kampung halamanmu sendiri.”

“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Kalau kau ingin mengalami nasib seperti Wiraprana, bilanglah.”

Selangkah demi selangkah Mahisa Agni berjalan maju, menuruni tebing. Wajahnya menjadi tegang dan matanya menjadi bercahaya. Kemarahan di dadanya telah menjalari kepalanya. Ditatapnya wajah Kuda Sempana seperti menatap wajah hantu. Ya, baru semalam Mahisa Agni berkelahi melawan hantu padang Karautan. Dan hantu itu tidak dapat mengalahkannya, meskipun ia pun tak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Tetapi yang berdiri di hadapannya sekarang bukan hantu Karautan yang menakutkan setiap orang. Yang ada di hadapannya tidak lebih dari Kuda Sempana.

Tetapi Mahisa Agni tak pernah merendahkan orang lain. Karena itu tak pernah ia kehilangan kewaspadaan. Demikianlah pada saat ia berhadapan dengan Kuda Sempana. Diamatinya setiap lekuk kulit anak yang sombong itu. Pakaian yang mewah, namun sudah kusut dan kotor karena perkelahiannya melawan Wiraprana.

Kuda Sempana, yang telah mendapat tempaan keprajuritan beberapa tahun di Istana Tumapel itu pun tidak sabar lagi. Dengan garangnya ia berlari menyongsong Mahisa Agni. Tak ada sepatah kata pun lagi yang meluncur dari mulutnya. Yang dilakukannya adalah langsung menyerang lawannya.

Mahisa Agni telah bersiaga sepenuhnya. Karena itu, dengan cepat mengelakkan diri. Sekali ia melingkar, dan dengan sapuan yang cepat, ia berhasil menyentuh lambung lawannya dengan tumitnya. Sentuhan itu tidak terlalu keras, dan Kuda Sempana pun tidak merasakan sesuatu karena sentuhan itu. Namun sentuhan itu telah benar-benar mengejutkannya.

Ia sama sekali tidak menduga, bahwa Mahisa Agni mampu bergerak sedemikian cepatnya. Karena itu, sentuhan itu telah memperingatkannya, bahwa Mahisa Agni mampu mengelak dan sekaligus menyerang dengan cepatnya, sehingga ia tidak seharusnya melayani Mahisa Agni seperti melayani Wiraprana yang tegap tinggi itu. Tetapi Kuda Sempana terlalu percaya kepada dirinya. Dikenalnya seluruh anak-anak muda di Panawijen. Di antara mereka tak seorang pun yang pernah menerima gemblengan seperti yang dialaminya di Istana Tunggul Ametung. Wiraprana tidak dan Mahisa Agni pun juga tidak. Karena itu kembali ia membusungkan dadanya. Dengan penuh keyakinan kepada diri sendiri, Kuda Sempana meloncat dan menyerang kembali dengan garangnya. Namun Mahisa Agni menyambut serangan itu dengan tangkas. Disadarinya bahwa lawannya kali ini telah memiliki bekal yang cukup bagi kesombongannya. Karena itu Mahisa Agni sadar, bahwa ia harus berhati-hati.

Kuda Sempana menyerang Agni seperti badai yang melandai. Cepat, keras dan kuat. Tangan dan kakinya bergerak terayun-ayun membingungkan. Berputar, melingkar, tetapi kadang-kadang menempuh dadanya seperti angin ribut menghantam gunung.

Namun Mahisa Agni benar-benar seperti gunung yang tegak tak tergoyahkan. Angin ribut dan badai yang betapapun kuatnya, seakan-akan hanya sempat mengusap tubuhnya, seperti angin yang silir membelai kulitnya. Serangan-serangan Kuda Sempana, betapapun cepat dan kerasnya, tak banyak dapat menyentuh kulit Mahisa Agni. Sehingga dengan demikian Kuda Sempana menjadi semakin marah. Sama sekali tak diduganya bahwa Mahisa Agni telah memiliki ilmu tata bela diri sedemikian baiknya. Anak itu dikenalnya beberapa tahun yang lalu sebagai anak yang patuh kepada gurunya, patuh melakukan ibadah, dan rajin bekerja di sawah ladang dan di rumah gurunya. Tetapi sama sekali tak diketahuinya, bahwa dibalik dinding-dinding batu yang memagari rumah Empu Purwa, Agni mendapat tempaan lahir dan batin. Di setiap perjalanan yang mereka lakukan, di setiap kesempatan yang ada. Bahkan hampir di setiap tarikan nafas, Agni selalu menekuni dan mendalami ilmu lahir dan batin dari gurunya. Ilmu yang akan dapat menjadi penguat tubuh dan nyawanya. Tubuhnya yang harus melawan setiap tantangan lahiriah, dan nyawanya yang harus dipersiapkan untuk menghadap Yang Maha Agung.

Demikianlah maka perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Kuda Sempana telah kehilangan pengamatan diri. Anaki itu telah lupa segala-gala selain secepat-cepatnya mengalahkan lawannya.

Wiraprana, yang kemudian telah mendapat seluruh kesadarannya kembali, dengan susah payah mencoba mengangkat wajahnya yang penuh berlumuran darah. Dari sela-sela pelupuk matanya yang bengkak ia melihat perkelahian yang sengit antara Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Sekali-kali tampak mulutnya menyeringai menahan sakit, namun kemudian tampak ia tersenyum. Tetapi senyum itu pun segera lenyap dari bibirnya. Bahkan ia menjadi cemas, apabila Mahisa Agni akan mengalami nasib seperti dirinya.

Wiraprana mencoba mengumpulkan segenap sisa-sisa kekuatannya. Perlahan-lahan ia mencoba mengangkat tubuhnya dan duduk di atas pasir. Kedua tangannya yang lemah dengan susah payah berhasil menyangga tubuhnya.

Pandangan matanya yang semula agak kabur, kini berangsur terang. Lambat laun ia dapat melihat perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni dengan jelas. Desak mendesak, hantam menghantam singa lena.

Meskipun Wiraprana tidak memiliki ilmu sebaik Mahisa Agni maupun Kuda Sempana, namun Wiraprana telah mampu menilai keduanya. Dengan bekal ilmunya yang sedikit, Wiraprana dapat mengetahui bahwa keadaan Mahisa Agni cukup baik. Diam-diam ia berbangga dan berharap di dalam hatinya. Ia mengharap Mahisa Agni dapat memenangkan perkelahian itu.

Kuda Sempana yang dibakar oleh kemarahan dan kesombongannya bertempur dengan seluruh tenaganya. Matanya yang menyala memancarkan dendam yang tersimpan di hatinya. Sekali-sekali ia melontarkan pandangannya kepada Ken Dedes. Ia masih melihat gadis itu berdiri kaku di tanggul bendungan. Kuda Sempana mengharap gadis itu untuk tetap tinggal di sana. Sehabis pekerjaannya ini, ia akan menangkap gadis itu dan membawanya lari. Perkelahian yang terjadi di antara anak-anak muda itu, akan menutup kemungkinan yang sebaik-baiknya baginya untuk menempuh cara yang wajar dan sopan. Ia takut kalau Empu Purwa akan keberatan.

Tetapi Mahisa Agni tidak segera dapat dikalahkan. Bahkan anak itu semakin lama seakan-akan menjadi semakin kuat dan cekatan. Memang, ketika tubuh Agni telah dibasahi oleh peluhnya, maka tenaganya menjadi seakan-akan bertambah.

Akhirnya Kuda Sempana benar-benar menjadi mata gelap. Ia sudah tidak dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lagi dengan otaknya. Hanya ada satu pilihan yang ada padanya. Membawa Ken Dedes bersamanya ke Tumapel saat itu juga. Karena itu siapa yang menghalang-halangi harus disingkirkan. Dengan cara kasar atau halus. Wiraprana telah dilumpuhkan, dan kini Mahisa Agni melintang di hadapannya. Tiba-tiba terdengar Kuda Sempana berteriak nyaring, “Rawe rawe rantas, malang-malang putung!”

Bersamaan dengan itu terdengar pula Ken Dedes berteriak nyaring dibarengi geram Wiraprana parau. Katanya, “Agni, hati-hatilah!”

Mahisa Agni meloncat surut. Ditatapnya Kuda Sempana dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia berdesis, “Adakah itu pilihanmu Kuda Sempana yang perkasa?”

“Wanita adalah sama berharganya dengan pusaka,” sahut Sempana, “taruhannya adalah nyawa. Kau atau aku yang binasa.”

Mahisa Agni menggeram. Terdengar gemeretak giginya oleh ke-marahannya yang meluap-luap. Ternyata Kuda Sempana tega pada pati uripnya untuk mendapatkan gadis idamannya. Dilihatnya di tangan anak muda itu sebilah keris.

Kini Mahisa Agni tak dapat berbuat, lain kecuali berkelahi mati-matian. Ia sama sekali tak bersenjata. Namun ia pun tak dapat disilaukan hatinya oleh Kuda Sempana yang kini bersenjata.

Perlahan-lahan Mahisa Agni menggosokkan kedua telapak tangannya, Tetapi tiba-tiba ia menggeleng lemah. Diamatinya kedua telapak tangannya itu. Terdengar ia bergumam perlahan sekali, sehingga hanya dapat didengarnya sendiri, “Tidak. Belum waktunya aku mempergunakan pusaka pula. Aku akan mencoba menyelesaikan perkelahian ini dengan wajar.”

Namun yang terdengar adalah suara Kuda Sempana, “Agni, aku masih memberimu sekedar waktu. Tinggalkan tempat ini!”

Mahisa Agni menggeleng lemah, jawabnya, “Harus ada seseorang yang mencegah perbuatan gilamu itu.”

Kuda Sempana tidak menunggu mulut Agni mengatub. Seperti tatit ia menyambar dada lawannya dengan ujung kerisnya.

Untunglah bahwa Agni tetap bersiaga, sehingga ia berhasil menyelamatkan dirinya. Dengan tangkas ia menghindari ujung maut yang menghampirinya. Berbareng dengan kemarahannya yang merayap ke ubun-ubunnya. Kuda Sempana telah benar-benar bertempur antara hidup dan mati.

Mahisa Agni pun kemudian tidak mau diombang-ambingkan oleh ketidaktentuan dari ujung dan pangkal perkelahian itu. Meskipun anak muda, murid Empu Purwa itu, belum mempergunakan senjata apapun, namun ia telah melepaskan segenap ilmu lahiriahnya. Telah diperasnya tenaga serta keprigelannya untuk melawan keris Kuda Sempana. Dan keris Kuda Sempana memang berbahaya. Ujungnya seperti seekor lalat yang mendesing-desing di sekeliling tubuhnya. Tetapi Agni cukup lincah, sehingga lalat itu tidak sempat hinggap di kulitnya. Meskipun demikian, seluruh tubuh Agni telah basah kuyup oleh keringatnya yang mengalir semakin lama semakin deras.

Namun Mahisa Agni adalah murid Empu Purwa yang tekun. Tak ada kesempatan yang dilepaskannya. Karena itu Agni memiliki beberapa kelebihan dari Kuda Sempana. Meskipun anak muda itu bersenjata, namun akhirnya terasa, bahwa ujung kerisnya sama sekali tak dapat mengimbangi ujung jari-jari Mahisa Agni. Ujung jari-jari Agni dengan lincahnya menyentuh-nyentuh Kuda Sempana hampir di setiap bagian tubuhnya yang dikehendaki. Dan jari-jari Mahisa Agni benar-benar seperti batang-batang besi. Sehingga kedua tangan Agni itu mirip benar seperti dua batang tombak yang masing-masing bermata lima. Tetapi keris Kuda Sempana pun keris yang ampuh pula. Namun meskipun keris itu berbisa setajam bisa ular bandotan, serta meskipun Mahisa Agni tak berani terkena akibat meskipun sentuhan seujung rambut sekali pun dengan keris itu, tetapi lambat laun namun pasti, Mahisa Agni tampak selalu menguasai lawannya.

Ken Dedes yang tidak dapat menilai perkelahian itu mengikutinya dengan gemetar. Perasaan takut dan ngeri menjalari dadanya. Tetapi setiap kali ia menutup matanya, setiap kali ia mengintipnya dari sela-sela jarinya, bahkan kemudian, seperti terpukau ia memandang pergulatan itu dengan hati yang tegang dan kehilangan kesadaran.

Dada Wiraprana pun tak kalah tegangnya. Masih terasa betapa berat tangan Kuda Sempana. Dan di tangan itu kini tergenggam keris. Namun ia percaya bahwa Mahisa Agni ternyata memiliki ketangkasan jauh melampaui ketangkasannya.

“Aku tidak mengira,” desisnya lemah, “Aku tidak pernah melihat anak itu membentuk dirinya menjadi seekor burung rajawali yang perkasa.”

Mahisa Agni kini benar-benar bertempur seperti seekor rajawali yang garang. Sekali-sekali ia menyambar dengan tangkasnya, dan sekali-sekali ia mematuk dengan cepatnya. Jari-jari Mahisa Agni benar-benar tidak kalah berbahayanya dari keris Kuda Sempana. Mula-mula Kuda Sempana tidak mau melihat kenyataan itu. Matanya benar-benar dibutakan oleh kesombongannya.

Namun lambat laun hatinya digetarkan oleh kenyataan. Mahisa Agni melawannya dengan gigih. Karena itu hatinya menjadi semakin gelap, dan anak muda itu bertempur membabi buta.

Akhirnya Mahisa Agni menjadi tidak sabar lagi. Perkelahian itu sudah berlangsung terlalu lama. Matahari yang merambat dari kaki langit kini telah hampir mencapai puncak ketinggian.

Meskipun hampir segenap perhatian Mahisa Agni tertumpah pada perkelahian itu, namun didengarnya pula, suara riuh yang semakin lama semakin dekat. Terlintaslah di dalam benaknya, bahwa suara riuh itu pasti suara orang-orang Panawijen yang telah mendengar berita perkelahian itu. Beberapa orang gadis yang lari ketakutan telah menceritakan tentang peristiwa itu kepada orang-orang tua mereka, kepada kawan-kawan mereka dan kepada anak-anak muda seluruh desa. Karena itu maka beramai-ramailah mereka pergi ke sungai.

Agaknya Kuda Sempana pun mendengar suara riuh itu. Maka ia pun menjadi gelisah. Tetapi ia yakin, meskipun dikerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, namun Agni tak akan dapat dikalahkan. Bahkan tiba-tiba tanpa diduganya, Agni menyerangnya bertubi-tubi seperti prahara. Beberapa kali ia melangkah surut. Namun putaran angin prahara itu seakan-akan telah memeluknya.

Sebenarnya Agni telah berusaha sedapat ia lakukan untuk memperpendek perkelahian itu. Ia ingin menyelesaikannya sebelum orang-orang Panawijen datang. Agni tidak akan dapat mengira-ngira apakah yang akan mereka lakukan terhadap Kuda Sempana.

Agaknya usaha Mahisa Agni itu berhasil. Dengan sebuah serangan lambung yang mendatar, Mahisa Agni berhasil memutar tubuh Kuda Sempana yang berusaha untuk menghindar, namun tiba-tiba Mahisa Agni meloncat ke sisi, dengan tangannya ia menghantam tengkuk lawannya. Sekali lagi Kuda Sempana berusaha menghindari. Dengan merendahkan diri ia berputar menghadap lawannya. Tangan kanannya tiba-tiba terjulur lurus, dan ujung kerisnya mengarah ke dada Agni. Namun Agni cukup tangkas. Setengah langkah ia miring. Ketika keris itu lewat secengkang di hadapan dadanya, cepat-cepat ia memukul pergelangan tangan Kuda Sempana. Pukulan itu demikian Kerasnya, sehingga terdengarlah seakan-akan tulang pergelangan tangan itu retak. Kuda Sempang terkejut bukan kepalang. Gerak yang sedemikian cepatnya itu sama sekali tak pernah diduganya. Apalagi dilakukan oleh Mahisa Agni, anak yang menghabiskan waktu remajanya di belakang dinding desa Panawijen.

Tetapi yang terjadi adalah, kerisnya terlepas dan terpelanting lebih dari tiga langkah daripadanya. Sedang perasaan sakit yang menyengat pergelangan tangannya, seakan-akan merambat sampai ke ubun-ubunnya. Terdengar Kuda Sempana mengaduh tertahan. Kemudian wajahnya menjadi semakin membara. Ia hanya dapat menunggu apa yang akan dilakukan Mahisa Agni atasnya. Meremukkan tulang-tulang iganya, atau merobek wajahnya. Kuda Sempana telah mengakui di dalam hatinya, bahwa ia tak akan mampu membela diri seandainya Mahisa Agni akan membunuhnya.

Suara riuh di kejauhan semakin lama menjadi semakin dekat. Karena itu Kuda Sempana menjadi semakin gelisah. Kalau penduduk Panawijen menganggap bahwa ia telah mencoba melarikan Ken Dedes, serta penduduk itu berhasil menangkapnya, maka akibatnya dapat mengerikan sekali. Sekali-sekali terlintas di dalam otaknya, bahwa lebih baik berkelahi mati-matian daripada menyerahkan diri. Kalau ia mati, maka dua tiga orang pasti dapat dibunuhnya. Kuda Sempana tahu benar bahwa penduduk Panawijen yang tenteram itu, tidak terlalu berbahaya baginya. Bahkan mungkin tak seorang pun yang akan berani menangkapnya Apalagi anak Buyut Panawijen telah ditundukkannya. Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana menyadari, bahwa di hadapannya berdiri Mahisa Agni. Karena itu, maka terdengar giginya gemeretak menahan hati.

“Kuda Sempana,” terkejut ketika terdengar Mahisa Agni berkata perlahan-lahan, “Kuda Sempana, ambil kerismu.”

Kuda Sempana memandang wajah Agni dengan mata yang memancarkan keragu-raguan hatinya. Benarkah Agni berkata demikian, atau telinganya telah rusak karena pukulan-pukulan Agni yang keras. Tetapi sekali lagi ia mendengar Sempana berkata, “Ambillah kerismu.”

Kuda Sempana masih ragu. Kakinya masih tetap tak beranjak dari tempatnya, sehingga Mahisa Agni mengulangnya sekali lagi, “Ambillah kerismu.”

Seperti mimpi Kuda Sempana berjalan beberapa langkah, kemudian membungkuk memungut pusaka. Tetapi ia tidak tahu, apa yang harus dilakukan kemudian,

Mahisa Agni pun kemudian menjadi bingung. Apa yang sebaiknya dilakukan. Kuda Sempana adalah pelayan dalam Akuwu Tumapel. Kalau terjadi sesuatu atasnya di desa kelahirannya, apakah Tunggul Ametung akan berdiam diri.

Selagi Mahisa Agni menimbang-nimbang, suara riuh itu pun telah dekat benar di belakangnya. Ketika ia menoleh, di atas tanggul muncullah beberapa orang laki-laki, yang langsung berlari menghambur menuruni tebing sungai.

Kuda Sempana melihat mereka itu pula. Dengan gerak naluriah ia bersiap. Meskipun perasaan sakit pada tubuhnya semakin terasa seakan-akan menggigit tulang, namun ia masih berdiri dengan kokohnya.

Yang mula-mula mencapai tepian, tempat perkelahian antara anak-anak muda itu terjadi, adalah seorang yang bertubuh tinggi kekar, berdada bidang. Ia adalah Buyut Panawijen. Rambutnya yang digelung tinggi di kepalanya tampak sudah mulai ditumbuhi uban di pelipisnya. Dengan penuh wibawa ia memandang berkeliling. Kepada Mahisa Agni yang masih tegak seperti tonggak, Kuda Sempana yang berdiri dengan kaki renggang dan berwajah tegang. Kemudian kepada anaknya Wiraprana. Anak muda itu dengan susah payah mencoba berdiri. Ketika ditatapnya wajah ayahnya tiba-tiba ia tersenyum.

“Latihan yang jelek, Ayah,” katanya.

Tetapi Buyut Panawijen itu sama sekali tidak tersenyum. Bahkan tampak ia menyesal. Desisnya, “Kalian telah menjadikan pedukuhan yang damai ini menjadi gempar.”

Wiraprana tidak tersenyum lagi. Tertatih-tatih ia berjalan mendekati ayahnya. Sementara itu, beberapa orang laki-laki tiba-tiba saja telah melingkari mereka bertiga. Seakan-akan sengaja mengepung rapat-rapat.

“Apakah yang telah terjadi?” geram Buyut Panawijen itu.

Suasana kemudian dicengkam oleh kesepian. Wiraprana, Mahisa Agni dan Kuda Sempana menundukkan wajah mereka. Apalagi ketika kemudian mereka mendengar suara nyaring dari tebing, “Agni, apakah yang kau lakukan?”

Agni mengangkat wajahnya. Hatinya berdebar-debar ketika ia melihat gurunya yang tua itu berlari tersuruk-suruk. Sesaat kemudian semua mata memandang ke arahnya, Empu Purwa, ayah gadis yang menimbulkan perkelahian tanpa dikehendakinya itu.

Kuda Sempana pun melihat orang tua itu. Timbullah beribu-ribu pertanyaan di dalam dadanya. Orang tua itu sama sekali tidak tampak sebagai seorang sakti selain seorang yang tekun beribadah. Apakah Agni mempunyai guru yang lain dalam pengolahan badan wadagnya? Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa anak muda itu telah mengalahkannya.

“Agni,” berkata Empu Purwa terengah-engah setelah ia sampai ke tempat orang-orang Panawijen itu berkerumun, “Adakah kau telah membuat onar?”

Mahisa Agni tak berani memandang wajah gurunya. Ingin ia mengatakan apa yang sudah terjadi sebenarnya, tetapi mulutnya seperti terkunci. Ia takut kalau dengan demikian ia akan menyinggung Ken Dedes, dan menjadi semakin malu karenanya.

“Agni,” terdengar Empu Purwa berkata pula, “Apakah pula sebabnya engkau berkelahi? Apakah kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah laki-laki muda yang pandai bertengkar?”

Mahisa Agni menarik nafas. Namun mulutnya tetap membisu, sehingga terdengar Wiraprana berkata, “Bukan salah Agni, Empu.”

Empu Purwa menoleh. Dilihatnya Wiraprana yang wajahnya menjadi merah biru. Katanya, “Adakah itu perbuatan Agni?”

“Bukan, Empu,” jawab Wiraprana cepat-cepat, “Agni tak akan berbuat demikian.”

Orang tua itu kemudian merenungi Mahisa Agni, seakan-akan anak itu belum pernah dilihatnya. Kemudian matanya beredar dan sehingga di wajah Kuda Sempana. Dengan terbata-bata Empu Purwa itu bertanya, “Angger Kuda Sempana, kenapa Angger nganggar keris. Apakah Agni mengganggumu?”

Kuda Sempana pun tak dapat menjawab pertanyaan itu, sehingga tanpa disadarinya kembali pandangan matanya terkulai di atas pasir tepian.

“Empu,” terdengar kemudian Buyut Panawijen berkata, “aku pun sedang berusaha mengerti, apakah yang sedang terjadi di sini.”

Empu Purwa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, ya Ki Buyut. Aku menjadi gemetar ketika aku mendengar anak-anak berteriak-teriak di jalan, katanya Angger Kuda Sempana, Angger Wiraprana dan Mahisa Agni saling berkelahi. Aku jadi sedemikian bingung sehingga aku tidak sempat bertanya-tanya lagi.”

“Aku pun mendengar dari anak-anak itu,” sahut Ki Buyut Panawijen. Kemudian kepada Wiraprana ia bertanya, “Benarkah itu Prana?”

“Tidak seluruhnya,” jawab anak muda itu, “Yang mula-mula berkelahi adalah aku dan Kuda Sempana.”

“Kau?” ulang ayahnya.

“Ya,” jawab Wiraprana, “tidakkah anak-anak itu berkata demikian?”

“Aku tak sempat mendengarnya,” sahut ayahnya.

“Dan akhir dari perkelahian itu,” Wiraprana meneruskan, “Aku kalah. Tidakkah Ayah lihat mukaku yang bengap?”

“Aku tidak bertanya akhir dari perkelahian itu,” potong ayahnya, “tetapi kenapa perkelahian itu mulai?”

Wiraprana pun menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang masih tunduk dalam-dalam. Kemudian ketika ia melayangkan pandangannya ke atas tanggul, dilihatnya beberapa kepala gadis-gadis tampak berderet-deret mengintip. Dan tiba-tiba dilihatnya Ken Dedes masih berdiri menggigil di tebing sungai.

Orang-orang yang berdiri memagari itu pun menjadi gelisah. Beberapa orang sebenarnya telah mendengar apa yang sebenarnya terjadi dari anak-anak mereka, namun ketika di tempat itu hadir pula Empu Purwa maka mereka pun menjadi ragu-ragu pula untuk mengatakannya.

Tetapi sesaat kemudian Ki Buyut itu pun mendesak pula, “Wiraprana, tidakkah kau bisa berkata?”

Wiraprana menarik nafas dalam-dalam dan ketika ia sudah tidak dapat mengelak lagi, maka katanya, “Ayah, bertanyalah kepada mereka yang menceritakan perkelahian itu. Itulah mereka, anak-anak yang tadi sedang mencuci pakaian di belumbang ini. Mereka kini sedang mengintip apa pula yang akan terjadi di sini.”

Mendengar jawaban itu, maka semua mata tiba-tiba bergerak ke atas tanggul. Sehingga tampak pulalah oleh mereka itu, kepala-kepala gadis yang sedang mengintip dengan keinginan tahu, bagaimanakah akhir dari peristiwa itu.

Ken Dedes yang melihat, semua mata memandang ke arah tanggul di atasnya, merasa seolah-olah mata itu memandangnya dengan penuh hinaan dan penyesalan. ia merasa bahwa dirinya sebab dari keributan itu. Karena itu maka perasaan bersalah, malu, sesal dan segala macam bercampur baur di dalam dadanya. Alangkah rendah martabatnya, sehingga beberapa orang laki-laki terpaksa berkelahi karenanya. Karena itu maka tiba-tiba perasaan yang bergolak di dadanya itu tak dapat dibendungnya lagi, sehingga tiba-tiba gadis itu berlari menghambur sambil berteriak, “Ayah, akulah yang bersalah.”

Empu Purwa terkejut mendengar teriakan itu. Ketika ia melihat anaknya berlari kepadanya, ia pun menyongsongnya.

Demikian Ken Dedes sampai kepada ayahnya itu, maka dengan serta-merta ia menjatuhkan dirinya sambil menangis sejadi-jadinya. Katanya di sela-sela tangis itu, “Ayah. Akulah sumber dari malapetaka yang menimpa padukuhan kita yang damai. Karena itu Ayah, betapa hinanya aku. Maka adalah lebih baik bagiku kalau Ayah sudi membunuhku. Biarlah aku mati di hadapan penduduk Panawijen yang tenteram ini untuk menebus kesalahan dan arang yang mencoreng di wajah keluarga.”

“Ken Dedes,” sahut ayahnya, “kenapakah kau ini?”

“Bunuh saja aku, Ayah,” tangis gadis itu.

Empu Purwa kemudian tegak seperti patung. Ditatapnya rambut anaknya yang panjang berombak, terurai menutup punggungnya.

“Bangunlah anakku,” bisiknya, “katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku adalah ayahmu.”

“Tidak!” teriak Ken Dedes, “Bunuh aku, Ayah.”

Ki Buyut Panawijen pun kemudian mendekatinya pula. Dengan lembut ia berkata, “Ken Dedes, jangan menyalahkan diri sendiri. Berkatalah apa yang terjadi.”

Mula-mula gadis itu tidak juga mau berkata. Tetapi lambat laun, setelah beberapa orang membujuknya, maka Ken Dedes pun mengangkat wajahnya, memandang ayahnya dengan sayu. Katanya, “Apakah ada gunanya?”

“Berkatalah, supaya kami mendengar,” sahut Ki Buyut Panawijen. Sebenarnya Ki Buyut itu pun telah dapat menduga, apa sebabnya maka tiba-tiba saja pedukuhannya yang tenteram itu diributkan oleh sebuah perkelahian yang mengerikan. Dan tiba-tiba pula ia pun menjadi malu. Satu di antara mereka yang berkelahi adalah anaknya.

“Hem,” pikirnya. “adakah anakku berkelahi karena seorang gadis?”

Ken Dedes pun kemudian bercerita terbata-bata. Dikatakannya apa yang telah terjadi, sejak awal sampai orang-orang itu melihat apa yang terjadi di tepi sungai itu.

Kuda Sempana pun mendengar kisah itu pula. Setiap kata yang diucapkan oleh gadis itu, serasa sebuah pukulan yang menampar dadanya. Diamat-amatnya setiap wajah dari orang-orang Panawijen. Terbayanglah pada wajah-wajah itu, perasaan sesal dan marah. Kuda Sempana tahu pasti, bahwa orang-orang itu pasti akan menyalahkannya. Lalu apakah yang akan mereka lakukan? Nafas anak muda itu pun menjadi semakin cepat mengalir, dan karena itu maka digenggamnya hulu kerisnya semakin erat.

Tetapi kemudian Kuda Sempana itu pun sadar, bahwa di hadapannya berdiri Mahisa Agni. Ketika dipandangnya wajah anak muda itu, hati Kuda Sempana berdesir. Dilihatnya Mahisa Agni pun telah bersiap pula.

“Hem,” geram Ki Buyut Panawijen setelah Ken Dedes selesai berbicara. Dipandanginya wajah Kuda Sempana yang kaku tegang. Kemudian terdengar Buyut Panawijen itu berkata, “Angger Kuda Sempana. Benarkah cerita putri Empu Purwa itu?”

Kuda Sempana mengerling ke setiap wajah laki-laki Panawijen yang berdiri melingkar di sekitarnya. Kemudian disambarnya pula wajah Mahisa Agni dan Wiraprana dengan sudut pandangannya. Kuda Sempana tak dapat mengelak lagi. Di hadapannya berdiri beberapa orang saksi. Selain Wiraprana dan Mahisa Agni, dilihatnya pula beberapa orang gadis berderet-deret di atas tanggul. Sehingga karena itu terpaksa ia mengangguk sambil berkata, “Ya, Ki Buyut. Tetapi aku terdesak oleh keadaan. Aku telah mencoba datang ke rumah Ken Dedes. Tetapi gadis itu tak ada di rumah,”

“Adakah demikian adat di pedukuhan kita?” desak Ki Buyut, “Kenapa angger Kuda Sempana tidak mencari ayahnya. Bahkan seharusnya dengan sebuah upacara?”

“Aku ingin mendapat kepastian, sedang waktuku terlalu pendek. Besok aku harus terus kembali ke Tumapel,” jawab anak muda itu.

“Di pinggir sungai?” bertanya Ki Buyut.

Kuda Sempana tak dapat menjawab. Tetapi hatinya mengumpat. Hampir saja ia menyebut ada yang akan ditempuhnya. Melarikan Ken Dedes, dan menyembunyikannya sampai terdapat keturunan daripadanya. Tetapi niat itu urung. Akibat dari adat itu pun tak akan mau ditanggungkan. Sebab bila niat itu gagal, dan keluarga gadis yang dilarikan itu menuntutnya, ia akan dapat perlakuan yang mengerikan. Mati dirampok orang seperti seekor harimau yang masuk ke dalam padukuhan.

Karena Kuda Sempana tidak menjawab, maka sejenak suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah gemericik air yang mengalir dan jatuh berderai dari atas bendungan. Bulatan demi bulatan melingkar di wajah air yang jernih itu, semakin lama semakin besar. Dan kemudian pecah membentur tepian. Yang satu disusul dengan yang lain. Tak henti-hentinya sejak bendungan itu selesai dibuat beberapa tahun lampau.

Di dalam kepala Ki Buyut Panawijen itu pun melingkar-lingkar pula berbagai pertanyaan. Tanpa terucapkan, namun a tahu apa yang akan ditempuh oleh Kuda Sempana. Dikenalnya anak itu sebagai anak yang cenderung menuruti kemauan sendiri. Karena itu tiba-tiba ia berdesis, “Sayang. Sebenarnya kami, penduduk dari pedukuhan ini merasa bangga, bahwa seorang anaknya telah berhasil merebut hati sang Akuwu Tumapel, sehingga mendapat tempat yang baik di sisinya. Kepercayaan itu sebenarnya kami rasakan sebagai suatu kepercayaan pula buat kami, penduduk Panawijen yang sepi. Angger Kuda Sempana akan dapat menjadi tempat kami untuk berteduh jika hujan turun, dan bernaung jika terik matahari membakar tubuh. Tetapi sayang. Sayang….”

Penyesalan yang dalam membayang di wajah Buyut Panawijen itu.

Tak seorang pun menyambung kata-kata itu. Mereka tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh pimpinan pedukuhan itu. Namun timbullah di dalam setiap kepala, keragu-raguan untuk berbuat sesuatu. Pikiran itu bertolak dari pendapat yang sama pula. Kuda Sempana adalah pengawal dalam Akuwu Tumapel. Sedang setiap orang tahu sifat dan tabiat yang aneh dari Tunggul Ametung itu. Tunggul Ametung dapat berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang Akuwu, namun ia dapat pula berbuat se-kejam-kejamnya. Akuwu itu benar-benar orang yang keras hati, sekeras batu akik, namun pada suatu saat hati itu dapat selunak kapas.

Karena itu tak seorang pun dapat membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh Tunggul Ametung, jika salah seorang pengawalnya mengalami perlakuan yang jelek di kampung halamannya. Meskipun demikian adat harus ditegakkan. Meskipun Kuda Sempana itu senapati sekali pun, maka seharusnya ia mendapat perlakuan yang sama, apabila telah dilakukan sesuatu kesalahan.

Dan semuanya itu tergantung kepada Empu Purwa, ayah dari gadis yang akan dilarikan itu.

Maka akhirnya semua mata pun tertuju kepadanya. Apakah yang akan dikatakan oleh orang tua itu. Apabila orang tua itu menganggap bahwa Kuda Sempana telah melarikan anak gadisnya, dan maksud itu dapat dicegah, maka ia dapat menuntut hukuman atas anak muda itu.

Kuda Sempana pun sadar akan hal itu. Namun telah bulat tekad di dalam hatinya, bahwa wanita, pusaka dan nyawanya tak berbeda nilainya. Karena itu maka ia pun telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Menghadapi Mahisa Agni sekali pun, meskipun akan berakibat maut baginya.

Empu Purwa menyadari keadaannya. Ditatapnya setiap wajah dari tetangga-tetangganya itu. Dilihatnya keragu-raguan dan kecemasan di wajah-wajah itu. Sekali dipandangnya wajah anaknya pula. Pucat dan gemetar. Hatinya masih saja dicengkam oleh perasaan malu dan hina. Ketika kemudian Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni, dilihatnya wajah itu merah membara. Dengan tajam anak muda itu tak melepaskan pandangannya atas Kuda Sempana.

“Angger Kuda Sempana,” kemudian terdengar orang tua itu berkata, “adakah angger tadi benar-benar bermaksud melarikan Ken Dedes?”

Kuda Sempana menggigit bibirnya. Ketika terpandang olehnya wajah Wiraprana yang bengap merah biru, dilihatnya anak muda yang tinggi besar itu tersenyum sambil mengangguk kecil.

“Persetan!” umpatnya di dalam hati, namun mulutnya terpaksa menyahut, “Ya, Empu.”

Empu Purwa menarik nafas, dan hampir setiap mulut kemudian mengucap berbagai kata-kata yang tidak jelas.

Ketika untuk sesaat kemudian Empu Purwa terdiam, maka keadaan menjadi tegang. Orang-orang Panawijen itu melihat wajah Empu Purwa seakan-akan tanggul yang sudah penuh dengan air. Apabila tanggul itu bobol, maka akan datanglah banjir. Dan orang-orang yang berdiri tegak memagari itu pun harus ikut serta. Dan Kuda Sempana adalah biduk yang akan digulung oleh kedahsyatan banjir itu.

Tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh pertanyaan Empu Purwa kepada Kuda Sempana, “Angger, adakah angger menyesal?”

Pertanyaan itu benar-benar tak terduga. Baik oleh Kuda Sempana sendiri maupun oleh orang-orang Panawijen. Karena itu Kuda Sempana tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Empu Purwa dengan ragu. Sehingga Empu Purwa yang tua itu mengulangi pertanyaannya, “Angger, adakah Angger menyesal atas perbuatan itu?”

Pertanyaan itu jelas. Kata demi kata. Setiap orang tahu maksud pertanyaan itu. Karena itu setiap orang menarik nafasnya. Seakan-akan mereka melihat air yang memenuhi tanggul itu menjadi surut. Namun Kuda Sempana masih belum menjawab. Di dalam dadanya timbullah suatu pergolakan yang riuh. Sudah pasti sama sekali tak dihendakinya, apabila orang-orang sekampungnya akan beramai-ramai mengeroyoknya seperti seekor harimau yang tersesat masuk ke kampung. Tetapi untuk menarik diri terasa bahwa harga dirinya tersentuh. Ketika dilihatnya Mahisa Agni tegak seperti karang, sekali lagi ia mengumpat di dalam hatinya, “Kalau saja anak gila itu tidak ada di sini, maka orang-orang Panawijen. laki-laki perempuan, tua muda, akan dihadapinya. Tetapi kini Agni yang garang itu masih berdiri tegak di hadapannya. Maka sesaat Kuda Sempana pun membuat perhitungan-perhitungan. Ia tidak takut mati. Namun ia masih ingin menunda kematian itu. Meskipun demikian anak muda yang gagah itu pun tidak segera menjawab, sehingga kemudian kembali terdengar suara pendeta tua itu, “Angger, aku tahu, betapa berat untuk mengucapkan kata-kata yang tak pernah terucapkan. Apalagi oleh seorang satria seperti Angger Kuda Sempana. Karena itu, maka baiklah aku pakai cara seorang tua. Kalau Angger Kuda Sempana menyesal, sarungkanlah keris angger.”

Kembali keadaan menjadi tegang. Semua mata terpaku pada tangan Kuda Sempana yang menggenggam kerisnya erat-erat. Kuda Sempana sendiri pun memandang tangannya itu. Dan tangan itu menjadi gemetar. Setiap orang yang memandang tangan itu pun kemudian menjadi ngeri. Keris itu benar-benar pusaka yang menakjubkan. Kalau Kuda Sempana tak mau menyarangkan keris itu, maka keris itu pun segera akan menari-nari. Setiap orang akan dapat mengalami nasib yang jelek karenanya.

Ketika tangan Kuda Sempana itu bergerak perlahan-lahan maka orang-orang yang terdekat pun bergeser. Namun semua orang menarik nafas lega ketika mereka melihat, ujung keris yang gemetar itu manjing ke dalam wrangkanya.

“Syukurlah berkata Empu Purwa kemudian sambil mengangguk-angguk kecil, “ternyata Angger berjiwa besar.”

Kemudian pendeta tua itu pun berkata kepada Buyut Panawijen, “Ki Buyut marilah persoalan ini kita hadapi dengan jiwa besar pula. Marilah semuanya ini kita lupakan.”

Ki Buyut Panawijen mengangguk-angguk pula. Di dalam hatinya pun tersimpan perasaan semacam itu. Meskipun di sudut hati itu yang paling dalam melengking pula pertanyaan, “Adakah Kuda Sempana itu akan dibiarkan membawa kesalahannya tanpa hukuman apapun?”

Namun terdengar pula jawaban dari sudut yang lain, “Ayah gadis itu tak menuntutnya. Dan, bukankah anak muda itu pengawai dalam istana Tumapel.”

Ki Buyut Panawijen memandangi Kuda Sempana yang gagah itu. Pakaian kelengkapannya yang indah meskipun kotor dan kusut, sabuk bertimang emas dengan mata berlian.

Akhirnya Buyut Panawijen itu pun berkata, “Angger Kuda Sempana. Angger telah berbuat Kesalahan. Tetapi untunglah segala sesuatu masih belum terlanjur. Aku tak dapat menyalahkan Wiraprana dan Angger Mahisa Agni, bukan karena Wiraprana itu anakku. Berterima kasihlah Angger Sempana kepada anak-anak muda yang mencegah Angger, sebelum Angger sempat menyentuh gadis yang akan Angger larikan, sehingga kebebasan Angger dari setiap hukuman tidak terasa sebagai pelanggaran yang mutlak atas adat di kampung kita. Namun janganlah hal ini menjadi contoh. Kalau Empu Purwa menghendaki, hukuman itu mempunyai alasan yang cukup untuk dijatuhkan. Tetapi dengan demikian, peristiwa ini akan benar-benar mengganggu ketenteraman pedukuhan kita. Maka bijaksanalah Empu Purwa. Meskipun demikian, tak dapat angin lalu tanpa menggoyangkan daun-daun pepohonan. Karena itu, baiklah aku minta, sebagai orang yang diserahi tanggung jawab atas pedukuhan ini, agar Angger Kuda Sempana segera meninggalkan kampung kita. Jangan kembali sebelum sampai pada bilangan tahun.”

Kuda Sempana yang gagah itu mengerutkan keningnya. Ia memandang hampir semua orang yang berdiri di sekelilingnya. Hukuman yang jauh lebih ringan dari yang diduganya itu tidak juga menyenangkan hatinya. Terasa bahwa sejak saat itu, ia akan dipisahkan dari tanah kelahirannya, sedikitnya untuk setahun.

“Persetan tanah kelahiran yang beku ini!” pikirnya, “Di Tumapel aku mempunyai lingkungan yang jauh lebih baik dari orang-orang yang bodoh dan keras kepala ini. Apakah artinya bagiku, bendungan, belumbang, rumpon, sawah, parit dan segala macam yang pasti akan menjemukan. Di Tumapel, aku dapat bermain-main dengan kuda, tombak, dan kemewahan.”

Tetapi Kuda Sempana memandang Ken Dedes yang masih duduk di pasir tepian. Terasa hatinya berdesir. Dan tiba-tiba menyalalah dendam yang membakar hatinya atas kampung halamannya, atas orang-orang yang melingkungi hidupnya semasa kanak-kanaknya. Dan dendam itu harus ditumpahkan. Kalau ia tak dapat memetik Bunga dari lereng Gunung Kawi itu, maka biarlah bunga itu akan digugurkan saja dari tangkainya. Sama sekali ia tidak rela melihat orang lain, apalagi pemuda-pemuda desa seperti Agni atau Wiraprana kelak akan memetiknya.

Sekali lagi Kuda Sempana memandangi setiap wajah itu dengan muaknya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia meloncat pergi meninggalkan mereka dengan dendam yang membara di dadanya.

Berpuluh-puluh pasang mata mengikuti langkah pemuda yang gagah itu. Sesaat kemudian Kuda Sempana telah meloncat ke atas punggung kudanya yang sedang asyik makan rerumputan segar. Namun ketika terasa sentuhan pada lambungnya, segera kuda yang tegar itu menengadah, dan meloncatlah ia dengan lajunya meninggalkan tepian sungai itu.

Beberapa orang menarik nafas lega. Mereka seakan merasa terlepas dari bencana. Ki Buyut Panawijen dan Empu Purwa pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Anak yang keras kepala,” desis Ki Buyut.

Tak seorang pun yang menyahut.

“Marilah kita tinggalkan tempat ini,” berkata Buyut Panawijen itu pula.

Beberapa orang yang lain pun segera bergerak mengikuti Buyut Panawijen itu. Tanpa berkata-kata sepatah pun mereka mendaki tebing dan hilang di belakang tanggul.

Yang tinggal kemudian adalah Empu Purwa, Ken Dedes, Mahisa Agni dan Wiraprana. Sedang gadis-gadis yang mengintip dari atas tanggul, satu demi satu menuruni tebing untuk mengambil cucian-cucian mereka yang tinggal di belumbang.

Untuk beberapa saat Empu Purwa, Mahisa Agni dan Wiraprana masih memandang ke arah Kuda Sempana menghilang. Empu yang tua dan bijaksana itu mengeluh di dalam hatinya Sebenarnya Empu Purwa yang telah cukup banyak mengenyam pahit manisnya kehidupan, segera dapat mengerti bahwa Kuda Sempana sama sekali tidak ikhlas atas keputusan yang diambilnya. Namun perasaan itu sama sekali tak diungkapnya. Tetapi betapa pendeta tua itu terkejut ketika terdengar suara Mahisa Agni lirih, “Bapa, adakah Kuda Sempana menerima keputusan ini dengan jujur?”

Empu Purwa memandang Agni dengan seksama. ia pun sadar, bahwa tidak mustahil orang-orang lain pun menyimpan pertanyaan yang demikian di dalam hatinya. Meskipun demikian ia menjawab, “Angger Kuda Sempana adalah seorang satria yang berjiwa besar. Seorang yang demikian akan melihat kenyataan dengan jujur.”

Mahisa Agni kecewa mendengar jawaban itu. Tetapi ia sadar, bahwa di kampung halamannya, gurunya itu tidak lebih dari seorang pendeta yang meluluhkan diri dalam ketekunan beribadah. Dalam pedukuhan yang tenteram damai itu, tak seorang pun yang pernah melihat, bahwa Empu Purwa yang tua dan alim itu mampu menggenggam segala macam senjata di kedua sisi tangannya. Mampu menghantam hancur lawan yang betapa pun tangguhnya hanya dengan tangannya. Tetapi masa-masa yang demikian telah lampau bagi pendeta tua itu. Namun demikian, ia tidak menutup mata atas suatu kenyataan, bahwa kadang-kadang kebenaran harus dibela dengan kemampuan yang demikian. Kadang-kadang diperlukan kekuatan jasmaniah untuk menegakkan keadilan dan terutama untuk melawan segala bentuk kejahatan dan pengingkaran atas kebenaran dan keadilan itu. Kebenaran dan keadilan yang sebenar-benarnya. Kebenaran dan keadilan yang dibenarkan oleh Yang Maha Agung. Karena itulah maka ia menempa anak muda yang bernama Agni itu. Semoga anak itu dapat mengamalkan ilmunya. Mengamalkan, dan bukan sebaliknya.

Pendeta tua itu tersentak ketika kemudian Wiraprana berkata, “Empu, aku melihat sesuatu membayang di wajah Kuda Sempana.”

“Apakah itu?” bertanya Empu Purwa.

“Dendam,” jawab Wiraprana.

“Oh,” sahut Empu Purwa, “Tidak. Jangan berprasangka, Ngger. Tak baik orang menyimpan dendam di dalam dirinya.”

“Yang menyimpan dendam itu bukan aku Empu,” jawab Wiraprana sambil tersenyum, “tetapi Kuda Sempana.”

“Ya, ya,” potong pendeta itu cepat-cepat, “maksudku bukan Angger. Tetapi siapa saja. semua orang.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun wajahnya masih merah biru, namun anak muda itu selalu tersenyum saja. Hanya kadang-kadang tampak ia menyeringai, kalau nyeri-nyeri di punggungnya terasa seperti menyengat-nyengat sampai ke ubun-ubun.

Sesaat kemudian Empu Purwa itu teringat kepada anaknya yang masih duduk lesu di atas pasir. Dengan lembut orang tua itu berkata sambil menarik lengan putrinya, “Ken Dedes, marilah kita pun pulang. Ambillah cucianmu.”

Ken Dedes menatap wajah ayahnya. Wajah seorang yang paling dikasihi dari semua orang yang dikenalnya.

“Adakah kau sudah selesai dengan cucianmu?” bertanya ayahnya.

Ken Dedes menggeleng.

“Apakah kau ingin menyelesaikannya,” bertanya ayahnya pula.

Sekali lagi gadis itu menggeleng.

“Kalau demikian marilah kita pulang. Biarlah kau selesaikan di rumah,” ajak Empu Purwa.

Perlahan-lahan Ken Dedes berdiri dan berjalan ke belumbang untuk mengambil cuciannya. Namun wajahnya yang pucat itu selalu ditundukkannya. Tak berani ia menatap wajah kawan-kawannya yang seakan-akan memandangnya dengan penuh persoalan.

Sesaat kemudian mereka itu pun pulang bersama-sama. Empu Purwa berjalan membimbing putrinya. Di belakang mereka berjalan Mahisa Agni dan Wiraprana, Namun kadang-kadang Wiraprana masih harus berpegangan pundak sahabatnya itu.

Di perjalanan itu pun mereka tak banyak bercakap-cakap. Mereka sedang asyik bermain-main dengan angan-angan. Di dalam kepala Mahisa Agni masih saja membayang wajah Kuda Sempana yang menyala-nyala liar. Karena itu, mau tidak mau Mahisa Agni harus berpikir, “Bagaimanakah kalau anak itu datang sebelum waktu yang ditentukan? Apalagi kalau anak itu datang tidak seorang diri, tetapi dengan beberapa kawannya dari Tumapel?”

Tetapi kemudian dihiburnya sendiri hatinya, “Empu Purwa pasti tidak akan membiarkan anaknya mengalami nasib sedemikian Kalau perlu, perlu sekali, maka orang tua itu pasti akan membela anaknya. Kalau terpaksa, pasti ia akan mempertahankan dengan kekerasan pula.”

Demikianlah batin Mahisa Agni menjadi agak tenteram karenanya.

Setelah menghantarkan Wiraprana, Agni pun segera pulang ke rumah gurunya. Dan sehari itu sama sekali tak dijumpainya Ken Dedes, yang kemudian merendam diri di dalam biliknya.

Empu Purwa pun tidak dijumpainya di halaman atau di pendapa. Seorang cantrik berkata kepadanya, bahwa Empu Purwa sedang berada di sanggarnya.

Terasa sehari-hari rumah itu menjadi sepi. Mahisa Agni berjalan hilir mudik dengan gelisahnya. Sekali dipegangnya senggot timba untuk mengisi jambangan, tetapi belum lagi pekerjaan itu selesai Mahisa Agni telah berpindah pekerjaan. Diambilnya cangkul dan sabit. Dicobanya melupakan kegelisahannya dengan menyiangi pertamanan di belakang. Namun pekerjaan ini pun tak menyenangkannya. Burung-burung peliharaannya yang bernyanyi riuh itu pun tak menarik perhatiannya.

Akhirnya Mahisa Agni pun menyekap diri di bilik belakang. Bilik yang dipergunakannya untuk mesu diri, melatih tubuh wadagnya sejak ia mulai berguru kepada Empu Purwa itu. Dengan serta-merta dilepasnya ikat pinggangnya, diikatkan di pinggangnya. Dengan sebuah loncatan tinggi Mahisa Agni mulai dengan latihannya. Latihan yang lain daripada saat-saat berlatih. Ia hanya ingin melepaskan kesepian dan kegelisahan yang mencengkamnya. Dilakukannya berbagai gerakan, dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit yang pernah dipelajarinya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat seperti kijang. Melingkar, berputar dan melambung ke udara. Ketika ia telah menjadi jemu dengan segala gerakan itu, tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pedang yang diraihnya dari dinding biliknya. Dengan lincahnya Mahisa Agni mempermainkan pedangnya. Kadang-kadang ia mencoba membuat gerakan-gerakan yang indah, namun tiba-tiba gerakannya menjadi cepat dan kaku.

Demikianlah Mahisa Agni melepaskan kejemuan dengan berbagai-bagai senjata. Pedang, tombak, cemeti dan jenis-jenis senjata lain. Sehingga akhirnya Mahisa Agni menjadi lelah. Satu demi satu senjata-senjata itu dikembalikannya pada tempatnya, dan yang terakhir Mahisa Agni meletakkan tubuhnya di sudut bilik itu. Demikian lelahnya setelah semalam ia harus bertempur melawan hantu Karautan, pagi itu dengan Kuda Sempana dan masa latihannya berlebih-lebihan, maka akhirnya Mahisa Agni pun tertidurlah dengan nyenyaknya.

Betapa mimpi yang aneh-aneh telah mengganggunya. Dilihatnya di dalam mimpi itu, Ken Dedes meloncat ke dalam perahu yang megah di sebuah danau yang tenang. Tetapi tiba-tiba air danau itu pun bergolaklah. Sebuah angin yang kencang telah mengguncang perahu yang megah itu sehingga perahu itu bergoyang dengan kerasnya. Ken Dedes yang berada di dalam perahu itu terlempar dan segera ditelan oleh gelombang yang ganas. Dan yang terakhir Mahisa Agni melihat perahu itu tenggelam. Bagaimana- pun ia mencoba untuk menolong Ken Dedes maupun perahunya, namun sia-sia. Bahkan akhirnya dirinya pun terguncang keras-keras.
Balas
#
On 10 November 2009 at 08:24 ki sunda Said: |Sunting Ini

lanjutannya…

Mahisa Agni terkejut. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dilihatnya bilik itu telah menjadi gelap. Seorang tua dengan lampu di tangan berdiri di sampingnya. Berkata orang itu, “Apakah kau sedang bermimpi?”

Perlahan-lahan Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya keadaan di sekelilingnya. Ternyata ia masih berada di dalam biliknya.

Sekali ia menggeliat, kemudian jawabnya, “Ya Guru, sebuah mimpi yang jelek.”

“Aku sudah menduga. Di dalam tidur kau menggeram,” sahut gurunya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Syukurlah bahwa semuanya itu hanya terjadi di dalam mimpi. Namun meskipun demikian mimpi itu sangat mengganggunya. Sehingga kemudian terluncur juga dari mulutnya, “Guru, mimpiku menggelisahkan sekali. Adakah setiap mimpi itu mempunyai arti?”

“Apakah mimpimu itu?” bertanya gurunya.

Mahisa Agni mencoba untuk menceritakan mimpinya. Sejak awal sampai betapa ia meronta-ronta melawan ombak yang menghempas-hempaskannya.

Empu Purwa mengerutkan keningnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Namun kemudian ia tersenyum, katanya, “Waktu mimpimu itu adalah waktu yang tak membawa arti. Mimpi yang mengandung makna adalah mimpi pada saat-saat antara ayam jantan berkokok untuk kedua dan ketiga kalinya. Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Tetapi senyumnya itu pun sama sekali tidak meyakinkan. Mahisa Agni telah mengenal gurunya baik-baik, sehingga ia tahu benar tabiat orang tua itu. Meskipun orang tua itu mencoba menghapuskan kesannya atas mimpi Mahisa Agni, namun tertangkap juga oleh Mahisa Agni, kegelisahan yang membayang di wajah itu, meskipun hanya sesaat. Tetapi ia tidak berani bertanya lebih lanjut.

“Agni,” berkata Empu Purwa kemudian, “bersihkanlah dirimu. Kami sudah makan malam. Makanlah dahulu, kemudian datanglah kepadaku. Ada yang akan aku bicarakan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Gurunya memanggilnya. Pasti ada sesuatu yang penting.

Mahisa Agni pun kemudian berdiri dan perlahan-lahan berjalan keluar. Panggilan gurunya itu agak mengganggunya, di samping mimpi yang menggelisahkan itu.

“Mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur,” gumamnya, “Mudah-mudahan.”

Namun meskipun demikian Mahisa Agni tak dapat melupakannya.

Setelah membersihkan diri, Mahisa Agni segera pergi ke dapur. Dilihatnya Ken Dedes duduk di atas bale-bale bambu. Ketika dilihatnya ia datang, segera gadis itu menyapanya, “Kau tertidur di bilik belakang Kakang?”

Mahisa Agni mengangguk. Ditatapnya wajah gadis itu. Pucat, dan tampak bendul di kedua pelupuk matanya. Agaknya gadis itu sehari-harian menangis di dalam biliknya.

Ken Dedes memalingkan wajahnya. Ia merasa Mahisa Agni memandang bendul di pelupuk matanya itu.

“Apa yang kau tatap itu Kakang? Apakah kau belum pernah melihat mataku?” katanya sambil mencoba tersenyum.

“Bukan apa-apa,” jawab Agni. Dan tiba-tiba saja sikapnya menjadi canggung. Ia telah berkumpul dengan Ken Dedes dalam satu rumah bertahun-tahun lamanya. Namun kini terasa gadis itu menjadi asing baginya.

KARENA MAHISA AGNI masih tegak di pintu, berkatalah Ken Dedes, “Apakah kau akan berdiri saja di situ?”

“Oh,” dan Mahisa Agni pun berjalan memasuki ruangan itu. Dilihatnya beberapa endang sedang sibuk membersihkan piring-piring tanah dan mangkuk.

“Kau terlambat makan Kakang. Ayah, para cantrik dan endang, dan aku sudah makan. Ayah mencarimu tadi. Ternyata kau ditemukannya di bilik belakang,” berkata Ken Dedes sambil mempersiapkan makan Agni.

“Aku lelah sekali,” jawab Agni.

Ken Dedes menundukkan wajahnya. Jawaban Agni itu bagi Ken Dedes terdengar seolah-olah berkata ‘Aku sangat lelah Ken Dedes, setelah aku berkelahi mempertahankan kau’.

Dan tiba-tiba terdengar Ken Dedes berdesis, “Terima kasih, Kakang.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Maka ia pun bertanya, “Kenapa terima kasih?”

Ken Dedes tersadar dari angan-angannya. Karena itu ia pun menjadi tersipu-sipu. Sahutnya, “Terima kasih, bahwa kau masih akan memberi aku pekerjaan dengan bekas-bekas makan itu.”

“Oh,” Mahisa Agni pun tersenyum, “maafkan aku.”

Dan Mahisa Agni pun makanlah. Anak muda itu duduk bersila di atas bale-bale bambu, sedang Ken Dedes duduk pula di sampingnya. Dilayaninya Mahisa Agni dengan cermatnya. Tidak bedanya ia melayani ayahnya.

Bagi Mahisa Agni, hal yang demikian itu sudah sering benar dialami. Ken Dedes yang bersikap sebagai seorang adik itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk ayah dan saudara tuanya. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. Ken Dedes tidak banyak berbicara seperti biasanya. Bahkan kadang-kadang ia tunduk diam dan sekali-sekali dipandanginya titik-titik yang jauh di dalam kegelapan malam.

Dan tiba-tiba terdengar gadis itu bergumam tanpa melepaskan pandangannya yang menghunjam ke gelap malam, “Kakang, Ayah memanggil aku menghadap setelah Kakang selesai makan malam.”

Jantung Mahisa Agni pun berdesir. Gadis itu pun dipanggil pula oleh ayahnya.

“Kalau demikian,” pikir Mahisa Agni, “masalahnya pasti masalah gadis itu. Mungkin akibat sikap Kuda Sempana siang tadi. Agaknya gurunya pun melihat ketidak ikhlasan anak itu. Tetapi mungkin, meskipun terdorong oleh peristiwa pagi tadi, ada juga persoalan-persoalan lain.”

Mahisa Agni menarik nafas panjang.

“Kenapa kau berdesah?” bertanya Ken Dedes.

Mahisa Agni terkejut. Dicobanya tersenyum. Jawabnya, “Aku lupa bahwa aku sudah terlalu kenyang.”

“Bohong!” bantah Ken Dedes.

Sikap manjanya kadang-kadang masih tampak, meskipun ia mencoba bersikap sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba saja Ken Dedes kini telah benar-benar menjadi gadis dewasa di dalam tangkapan Mahisa Agni.

Dan tiba-tiba gadis itu memberengut. Katanya, “Kau tidak mengacuhkan aku.”

“Kenapa?” bertanya Agni, “bukankah aku memperhatikan setiap kata-katamu.”

“Tidak,” sahut gadis itu, “aku berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi mendengar pun kau tidak.

“Aku mendengar,” jawab Agni.

“Apa yang aku katakan?” ia bertanya.

“Bapa Pendeta memanggil kau menghadap,” Agni mengulangi kata-kata Ken Dedes.

“Kau mendengarnya?” desis Ken Dedes, “kalau demikian kau benar-benar tidak menaruh perhatian.”

“Aku memperhatikan dengan sungguh-sungguh pula,” Agni mencoba membela diri.

“Kau tidak memberikan tanggapan apa-apa. Kau tidak terkejut dan kau tidak bertanya, kenapa aku dipanggil Ayah. Bahkan kau malahan berdesah karena kau makan terlalu kenyang. Mungkin kau baru merenungkan sesuatu sehingga perut kakang sendiri pun Kakang lupakan. Apakah Kakang Agni sedang merenungkan Witri atau Sita yang manis itu?” tuduh Ken Dedes.

“Ah,” bantah Mahisa Agni, “jangan mengada-ada Ken Dedes. Aku mendengar kata-katamu dan aku merenungkannya. Aku sedang berpikir apakah kira-kira sebabnya.”

“Bohong,” Ken Dedes mencibirkan bibirnya.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tersenyum melibat putri gurunya yang manja namun bersungguh-sungguh itu.

“Aku benar-benar terlalu kenyang,” Mahisa Agni bergumam, “justru karena aku merenungkan kata-katamu.”

“Bohong. Bohong,” sekali lagi gadis itu mencibirkan bibirnya.

“Sudahlah Ken Dedes. Nanti Bapa Pendeta terlalu lama menunggu. Disangkanya aku terlalu lama makan,” berkata Agni kemudian.

“Bukankah sebenarnya demikian. Kakang makan terlalu lama meskipun Kakang makan terlalu cepat,” jawab Ken Dedes.

Mahisa Agni diam saya. Dipandangnya Ken Dedes itu, yang kemudian berdiri membenahi piring-piring dan mangkuk-mangkuk. Diambilnya kendi dari glodog dan disodorkannya kepada Mahisa Agni.

“Terima kasih Ken Dedes,” sambut Mahisa Agni.

Ken Dedes yang hampir melangkah pergi berhenti memandangi Mahisa Agni, katanya, “Sejak kapan Kakang berterima kasih kepadaku?”

Agni menundukkan wajahnya. Ia tidak menjawab kata-kata itu. Sehingga Ken Dedes pun melangkah pergi. Dengan sudut matanya Mahisa Agni melihat gadis itu. Tidak terlalu tinggi, bulat dan langsing. Pekerjaannya sehari-hari telah membentuk tubuh gadis itu menjadi serasi. Kuat namun tidak terlalu kasar. Dan tiba-tiba Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya, “Hem, benar juga kata anak-anak muda. Putri Bapa Pendeta itu bagaikan Bunga di lereng Gunung Kawi. Dan bunga itu kini mulai kembang.”

Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kembali ia tunduk dalam-dalam ketika Ken Dedes datang kepadanya dan kembali duduk di sampingnya.

“Kakang,” gadis itu berkata pula. Kali ini bersungguh-sungguh, “Ayah memanggil aku.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya, katanya, “Kenapa kau dipanggil?”

Tetapi tiba-tiba gadis itu memberengut kembali. Katanya, “Kakang, kau menggodaku sejak tadi.”

“He,” Agni tidak mengerti, “kenapa?”

“Kau tidak bersungguh-sungguh. Kau bertanya karena aku tadi berkata demikian,” Ken Dedes bersungut.

“Ah,” desah Mahisa Agni, “lalu bagaimanakah aku harus bersikap. Ken Dedes, sebenarnyalah aku ingin mengetahui, apakah sebabnya kau dipanggil oleh Bapa Pendeta. Bukankah hal yang demikian itu bukan menjadi kebiasaan?”

Ken Dedes mengangguk. Dan kembali ia bersungguh-sungguh. Katanya, “Aku tak tahu. Mungkin Ayah marah kepadaku.”

“Aku sangka tidak. Sebab kau tidak bersalah. Namun mungkin pula ada hubungannya dengan peristiwa pagi tadi.”

Mahisa Agni diam sebentar, kemudian ia meneruskan perlahan-lahan, “Aku pun dipanggilnya.”

“Oh,” desis Ken Dedes. Tetapi tak ada sepatah kata pun lagi yang melontar dari sela-sela bibirnya yang tipis itu.

Untuk sesaat mereka berdua berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan angan-angannya sendiri. Para endang telah hampir selesai dengan pekerjaan mereka. Sehingga kemudian Agni pun berkata, “Ken Dedes, pergilah kau dahulu. Bapa Pendeta sudah lama menunggu.”

“Mungkin,” sahut Ken Dedes, “Baiklah aku pergi dahulu. Kapankah Kakang akan menghadap Ayah?”

“Sebentar lagi aku datang,” jawab Agni

Ken Dedes pun kemudian berdiri. Ketika ia berjalan keluar. Mahisa Agni mengikutnya dengan pandangan matanya. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar seorang cantrik batuk-batuk di sudut dapur.

“Apa kerjamu di situ?” pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Agni.

“Mengisi jambangan,” jawabnya sambil tersenyum.

“Ah,” Mahisa Agni kemudian tidak memedulikan lagi. Segera ia pun berdiri dan dengan langkah panjang-panjang ia pun pergi meninggalkan ruangan itu

Di pringgitan Empu Purwa duduk di sudut ruangan, di atas tikar pandan yang putih. Dilipatnya kedua tangannya di dadanya, sambil duduk bersandar dinding. Kadang-kadang dikecupnya mangkuk air sere hangat-hangat sambil menggigit gula kelapa. Sedap.

Dengan sabarnya ia menunggu putrinya dan Mahisa Agni datang kepadanya seperti permintaannya. Hal yang demikian hampir tak pernah dilakukan. Ia berbicara dengan kedua anak itu di mana saja mereka bertemu. Di pendapa, di pertamanan, di tepi kolam atau di perjalanan. Namun agaknya kali ini ada sesuatu yang dianggapnya sedemikian pentingnya sehingga ia harus berbicara bersungguh-sungguh.

Ketika kemudian putrinya muncul dari balik pintu, Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Duduklah Ken Dedes, di mana Mahisa Agni? Hampir aku mengantuk menunggumu di sini.”

Ken Dedes adalah gadis yang manja. Ayahnya itu pun suka pula bergurau. Namun kali ini tampaklah wajahnya bersungguh-sungguh. Hening. Namun sepi.

Karena itu Ken Dedes pun tidak berani bersikap manja seperti sikapnya sehari-hari. Dengan wajah tunduk ia pun segera duduk di muka ayahnya.

“Di mana Agni?” ayahnya bertanya.

“Di dapur Ayah,” jawab Ken Dedes, “baru saya Kakang Agni selesai makan.”

Empu Purwa mengangguk-angguk. “Biarlah kita tunggu,” katanya.

Ken Dedes menjadi semakin berdebar-debar. Apakah persoalan itu penting sekali? Meskipun demikian ia sudah dapat meraba-raba. Pasti ayahnya akan bertanya kepadanya, hubungan apakah yang pernah dilakukan dengan Kuda Sempana. Dan Ayahnya itu akan menjadikan Mahisa Agni sebagai saksi.

Sesaat kemudian Agni pun datang pula. Langsung ia duduk di atas tikar pandan itu. Seperti Ken Dedes, dada anak muda itu pun berdebar-debar pula.

Setelah keduanya duduk beberapa saat, berkatalah Empu Purwa, “Mahisa Agni dan Ken Dedes. Aku sangka kalian menduga-duga di dalam hati, persoalan yang agak bersungguh-sungguh ini. Namun aku rasa kalian telah menemukan jawabannya”

Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Belum Bapa. Sewaktu Bapa minta aku datang sampai pada saat ini, tak ada yang dapat aku kira-kirakan.

Empu Purwa tersenyum. Dipandanginya anak gadisnya. Kemudian katanya, “Benarkah begitu Ken Dedes?”

Ken Dedes mengangguk.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal bahwa peristiwa pagi tadi harus terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan menjadi buah percakapan.”

Ken Dedes pun menjadi semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada berbagai perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam, Karena itu, tiba-tiba terasa air matanya mengambang di pelupuk matanya yang masih bendul.

Ketika Empu Purwa melihat anaknya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi itu bukan salahmu, Anakku. Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak menyalahkanmu.”

Justru karena kata-kata itu, air mata Ken Dedes menjadi semakin banyak, dan kemudian setetes demi setetes membasahi pangkuannya,

“Jangan menangis,” sambung ayahnya, “aku belum selesai. Bahkan aku belum sampai kepada persoalannya.”

Ketika Empu Purwa diam sejenak maka pringgitan itu menjadi sepi. Di kejauhan terdengar bunyi jangkrik sahut-menyahut dengan siul angkup nangka dihembus angin. Ngelangut.

Nyala lampu di dapur pun telah padam. Tak terdengar lagi suara cantrik dan endang yang lagi bergurau, Padepokan Empu Purwa telah mulai lelap tertidur.

“Ken Dedes,” suara Empu Purwa lirih, namun dalam malam yang sepi itu terdengar jelas kata demi kata, “kalau kau sekali-sekali becermin di belumbang di samping rumah kita ini, kau akan sempat memperhatikan dirimu. Telah hampir dua puluh tahun kau menikmati sinar matahari, Karena itu, sadari anakku, kau telah menginjak masa dewasa.”

Wajah Ken Dedes yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai searang gadis remaja Ken Dedes sudah merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Banyaklah keinginan- keinginan yang tak dimengertinya sendiri Kadang-kadang timbullah nafsunya untuk selalu menghias diri. Tiba-tiba gadis itu menjadi malu. Apakah ayahnya sering melihatnya becermin di wajah air kolam yang tenang diam itu?

Bahkan pernah gadis itu melempari angsa dengan batu ketika tiba-tiba saja angsa itu menggoyang-goyang permukaan air selagi ia becermin. Apalagi ketika terasa perubahan-perubahan yang terjadi pada wadagnya, ketika tubuhnya mekar seperti bunga yang sedang kembang. Dan sekarang jawaban atau persoalan-persoalan yang tak dimengertinya itu didengarnya dari ayahnya. Ken Dedes sudah dewasa.

“Karena itu, Anakku,” terdengar ayahnya berkata pula, “banyaklah persoalan-persoalan yang akan timbul karenanya, karena kedewasaanmu itu.”

Kembali Empu Purwa berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu ingin mengetahui. apakah yang terasa di hati anak gadisnya.

Ken Dedes diam seperti patung. Hanya sekali-kali terdengar isaknya. Dan sekali-kali pula ia mengusap hidungnya dengan ujung kainnya.

“Tetapi kau jangan cemas anakku,” sambung ayahnya, “persoalan-persoalan yang timbul karena kedewasaanmu adalah persoalan-persoalan yang wajar, yang pasti akan timbul pula pada orang-orang lain. Sebab setiap orang pada dasarnya akan mengalami persoalan yang sama. Setelah ia menjadi dewasa maka akan dilampauinya suatu masa yang penting dalam hidup ini.”

Mahisa Agni pun masih duduk tepekur. Namun terasa seakan-akan jantungnya berdentang-dentang. Orang tua itu berbicara terlalu lambat baginya. Ia ingin Empu Purwa berkata langsung sampai ke ujungnya, untuk mengurangi ketegangan di hatinya. Tetapi agaknya Empu Purwa ingin berhati-hati sehingga kata-katanya tidak akan menyinggung perasaan anaknya.

“Ken Dedes,” berkata orang tua itu, “setelah kau menyadari keadaanmu, maka apa yang terjadi pagi tadi adalah persoalan yang wajar. Hanya bentuknyalah yang berbeda-beda bagi setiap gadis. Ada yang langsung mengalami masa baik, namun ada pula yang pernah melewati kesulitan-kesulitan yang panjang. Bahkan bagi mereka yang tak beruntung, masa ini dilampauinya dengan melangkah bencana. Karena itu anakku. Selagi bencana yang tak dikehendaki itu datang, aku ingin memberi tahukan kepadamu, bahwa sebenarnyalah hal ini pernah terjadi, namun aku belum pernah menyampaikan kepadamu. Sejak beberapa minggu yang lampau telah datang berturut-turut kepadaku beberapa orang dengan upacara yang tak kau mengerti maknanya. Yang pasti, hanya kau sangka upacara-upacara keagamaan biasa. Namun ketahuilah anakku, mereka adalah utusan-utusan yang datang untuk menanyakan, apakah Ken Dedes telah cukup waktunya untuk meninggalkan masa remajanya.”

Ken Dedes berdesir mendengar kata-kata ayahnya itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa hal itu pernah terjadi. Dan kini ia mengerti, bahwa beberapa anak muda pernah datang melamarnya.

Karena itu maka terasa jantungnya semakin berdebar-debar. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan Ken Dedes menahan hatinya dengan menggigit bibirnya.

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Belum pernah ia mendengar dari siapa pun bahwa hal itu pernah terjadi. Dan tiba-tiba saja ia ingin benar mengetahui, siapa sajakah yang pernah datang kepada gurunya untuk melamar gadis itu. Tetapi ia tak sampai hati untuk bertanya. Karena itu Mahisa Agni menjadi gelisah,

“Ken Dedes,” berkata Empu Purwa seterusnya, “aku adalah ayahmu. Karena itu aku wenang untuk menolak atau menerima lamaran itu.”

Mahisa Agni menjadi bertambah gelisah. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah pula, sehingga tak disengajanya ia menggeser duduknya.

Tetapi ayahnya meneruskan, “Anakku. Adalah suatu kesulitan bagiku untuk menentukan pilihan dari sekian lamaran-lamaran yang pernah aku terima. Seandainya, ya, seandainya kau dilahirkan sebagai putri seorang raja atau setidak-tidaknya putri seorang akuwu, maka aku dapat mendirikan sayembara untukmu. Sayembara tanding atau sayembara ketangkasan. Tetapi kau tidak lebih dari seorang anak pendeta yang hidup di pedukuhan yang terpencil. Kau tidak lebih dari anak seorang kecil yang miskin. Karena itu anakku, aku tak akan pantas untuk membuat sayembara apa pun.”

Kembali orang tua itu berhenti. Dan kembali ruangan itu dicengkam kesepian. Hanya detak jantung Mahisa Agni dan Ken Dedeslah yang serasa terdengar berdentingan di dalam dada mereka.

Karena itu ketika Empu Purwa meneruskan kata-katanya maka perhatian kedua anak muda itu tercurah seluruhnya kepada setiap kata yang mereka dengar, “Meskipun demikian, Anakku. Masa depanmu adalah di tanganmu. Karena itu, meskipun aku tidak mengadakan sayembara terbuka, aku mengenal satu bentuk sayembara yang dapat aku selenggarakan. Tetapi sudah pasti, aku tidak akan mengumumkannya kepada siapa pun juga, sebab dengan demikian maka akan berteriaklah segenap tetangga kita dengan tawa mereka yang asam. Empu Purwa tidak berpijak di atas buminya, dan merasa dirinya terlalu besar. Karena itu anakku, akan aku selenggarakan sayembara ini dengan diam-diam”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kata-kata gurunya. Bagaimana mungkin sayembara dapat diselenggarakan dengan diam-diam. Bukankah sayembara itu diselenggarakan untuk diikuti oleh mereka yang mengetahui dan dengan penuh kesadaran akan tujuan sayembara itu. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin berminat kepada setiap kata yang akan didengarnya

“Adapun bentuk sayembara itu, Anakku,” Empu Purwa berkata seterusnya, “adalah sayembara pilih.”

“Sayembara pilih?” Mahisa Agni bergumam.

“Sayembara ini,” kata orang tua itu, “sering terjadi pula untuk putri-putri luhur. Sayembara semacam ini biasanya diselenggarakan di tempat-tempat terbuka. Putri yang diperebutkan itu berada di menara, sedang para pengikut berjalan berturut-turut di bawah menara itu. Siapa yang menerima selendang putri itu, ialah yang terpilih dan memenangkan sayembara.”

Malam yang sepi menjadi semakin sepi. Yang terdengar kini adalah angin malam yang lembut membelai daun-daun pepohonan yang sedang tertidur nyenyak. Gemeresik seperti suara orang berbisik-bisik.

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. “Adil,” serunya di dalam hati.

Himpitan ketegangan di hati Ken Dedes pun tiba-tiba serasa berguguran. Sejak semula ia mendengarkan kata-kata ayahnya dengan penuh kecemasan. Mula-mula ia menyangka bahwa ayahnya akan menyebut untuknya sebuah nama dari nama-nama mereka yang datang melamarnya. Apabila demikian, Ken Dedes memejamkan matanya. Ia tak tahu, apakah yang terjadi dengan dirinya. Dan tiba-tiba disadarinya bahwa ia pasti akan keberatan seandainya ayahnya menerima baginya siapa pun dari mereka.

Ken Dedes menjadi malu sendiri. Seakan-akan ayahnya dapat membaca setiap perasaan yang bergolak di dalam dadanya. Apalagi ketika ayahnya meneruskan, “Tetapi Ken Dedes. Aku tidak akan dapat menyelenggarakan sayembara pilih yang demikian itu. Aku tidak akan membuat untukmu sebuah menara, dan di bawah menara itu beberapa orang satria berkuda dengan pakaian yang indah-indah lewat berturut-turut dengan penuh harapan untuk menerima kemurahan hatimu. Tidak, Anakku. Yang akan aku selenggarakan adalah sebuah sayembara pilih yang sederhana sekali. Dengarlah baik-baik Ken Dedes. Apabila diperkenankan oleh Yang Maha Agung, maka menilik tata lahir yang kasatmata, engkau masih akan menempuh suatu masa yang panjang. Karena itu masa-masa itu harus kau lewati dengan gairah dan ketenteraman. Maka adalah menjadi kewajibanmu untuk ikut serta menentukannya sendiri masa depan itu, meskipun aku tak akan melepaskan tanganku.”

Empu Purwa berhenti sejenak. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah kembali. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Empu Purwa pula, “Anakku, supaya tak terulang peristiwa yang tidak aku ingini dan tentu saja kalian juga, maka sudah sampai saatnya kini, kau menentukan pilihan.”

Wajah Ken Dedes yang kemerah-merahan menjadi panas. Terasa seluruh bulu-bulu tubuhnya meremang. Kata-kata itu sudah diduganya. Namun ketika diucapkan juga oleh ayahnya, perasaannya tersentuh pula. Untuk sesaat Ken Dedes menjadi bingung. Tak tahu apa yang akan dilakukan. Hanya tiba-tiba saja, tanpa sesadarnya ia mengerling kepada Mahisa Agni. Namun dilihatnya pemuda itu tunduk kaku. Tetapi wajah itu kemudian menengadah ketika terdengar Empu Purwa berkata, “Nah Ken Dedes, dapatkah kini sayembara pilih yang sederhana ini kita mulai?”

Ken Dedes tidak menjawab. Namun desir di jantungnya serasa semakin tajam menggores. Dan ia menjadi semakin gelisah. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi tak sepatah kata pun dapat diucapkan.

Karena Ken Dedes tidak menjawab, maka berkatalah Empu Purwa, “Biarlah kau berapa dalam keadaanmu, seorang gadis yang harus memilih satu di antara beberapa anak muda. Dan biarlah aku menyebut nama-nama itu. Kalau nama itu berkenan di hatimu, Anakku, maka aku harap kau menganggukkan kepalamu, supaya aku segera dapat menjawab kepada orang-orang tua mereka.”

Ken Dedes menjadi bertambah bingung karenanya. Sekali lagi tanpa disadarinya, gadis menatap wajah Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni itu telah menundukkan wajahnya kembali.

“Dengarlah nama itu baik-baik, Ken Dedes,” berkata ayahnya, “kalau pada suatu saat kau menganggukkan kepala mu, biarlah Mahisa Agni menjadi saksi.”

Tetapi mulut Ken Dedes terbungkam. Dan ayahnya pun tidak memaksanya untuk menjawab Gadis itu hanya dimintanya menganggukkan kepalanya, apabila telah jatuh pilihannya.

“Yang pertama,” berkata Empu Purwa. Ken Dedes menjadi bertambah bingung. Bahkan Mahisa Agni pun menjadi sangat gelisah.

“Seorang anak muda yang kaya, putra Buyut Tatrampak, Namanya Jumna. Bukankah anak muda itu pernah kau kenal?”

Wajah Ken Dedes masih terpaku pada anyaman tikar pandan tempat duduknya. Dan ia sama sekali tidak menggerakkan kepalanya. Meskipun anak muda itu tampan dan gagah, namun sama sekali tak terlintas di kepala Ken Dedes, bahwa pada suatu saat ia akan hidup bersamanya.

Empu Purwa menarik nafas. Tampaklah kerut keningnya, “Baiklah. Kau tak menghendakinya,” gumamnya, “Sekarang, dengarlah. Orang kedua. Kau pasti telah mengenalnya. Putra, pamanmu Paniat. Saudagar yang terkenal sampai ke daerah Tumapel. Bukankah anak itu kawan bermain Mahisa Agni? Namanya Pandaya.

Mahisa Agni mengangguk kosong. Setiap nama yang disebut gurunya, serasa sebuah goresan, di dadanya. Dua luka telah menganga. Jumna dan yang kedua, Pandaya. Dengan tegang, Mahisa Agni menatap wajah Ken Dedes yang tepekur. Sesaat ia menunggu, dan Ken Dedes tetap mematung.

Empu Purwalah yang kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian disebutnya anak muda yang ketiga, Mahendra, seorang anak muda dari Tumapel, putra sahabat Empu Purwa. Ken Dedes belum pernah mengenal anak muda itu, sehingga nama itu sama sekali tak menarik perhatiannya.

Nama-nama berikutnya adalah Lembu Santan, Jumerut dan Galung Paran. Namun seperti Mahendra, nama-nama itu baru didengarnya kali ini, sehingga dengan demikian, jangankan mengangguk, bahkan Ken Dedes menjadi jemu dan penat oleh ketegangan yang menekannya. Sedang Mahisa Agni pun tak kalah tegangnya. Setiap kali anak muda itu menarik nafas panjang, dan setiap Empu Purwa menyebut nama yang lain, keningnya tampak berkerut.

Empu Purwa tak dapat melepaskan tangkapan perasaan Mahisa Agni, namun ia masih akan menyebut satu nama lagi, katanya, “Ken Dedes, nama ini, adalah nama yang terakhir. Terserah kepada keputusanmu. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kini sedang berlangsung sebuah sayembara? Akulah pengganti dari setiap pemuda yang datang berturut-turut di bawah menaramu. Nah, dengarlah nama ini. Putra sahabatku seorang empu yang bijaksana, ahli membuat senjata. Beberapa kali anak muda itu pernah berkunjung kemari bersama ayahnya. Nama anak itu Wajastra. Bukankah anak itu pernah kau kenali?”

“Wajastra?” nama itu diulang oleh Mahisa Agni di dalam hatinya. Nama yang baik dan anak muda itu pun baik pula kepadanya.

Wajastra adalah seorang pendiam. Seperti ayahnya, anak muda itu berminat benar pada pekerjaan ayahnya. Dengan tekun ia pun ikut pula membantu dan bahkan dengan pesatnya ia maju dalam bidangnya.

Ken Dedes telah mengenal anak muda itu dengan baik, seperti Mahisa Agni mengenalnya.

Mendengar nama itu Mahisa Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba kecemasan menjalar di dadanya. Ia sadar kini, bahwa ia mencemaskan Ken Dedes. Diam-diam ia berdoa, mudah-mudahan Ken Dedes kali ini pun tidak menganggukkan kepalanya.

Sesaat ruangan itu menjadi kaku dan tegang. Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes dengan tajamnya, seakan-akan kedua tangannya akan terjulur dan menahan kepala itu supaya tidak bergerak. Sedang Empu Purwa masih duduk sambil melipat tangannya. Orang tua itu pun memandangi putrinya dengan baik.

Tetapi kali ini pun nama itu tidak dapat menggerakkan hati Ken Dedes. Karena itulah maka kepalanya pun tidak bergerak pula. Meskipun Empu Purwa menunggunya beberapa saat. Namun Ken Dedes itu sama sekali tidak mengangguk.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata, “Anakku, sayembara pilih itu kini sudah selesai. Namun tak seorang pun yang dapat memenangkan sayembara ini. Karena itu, anakku, masalah ini, masalahmu, masih belum dapat dipecahkan. Aku tidak tahu, apa yang tersimpan di dalam dadamu. Namun demikian, adalah menjadi harapanku, apabila Ken Dedes segera menentukan pilihan. Nah, kalau demikian, biarlah aku menunggu beberapa lama lagi, tetapi tidak terlalu lama. Mudah-mudahan sepanjang waktu itu,aku akan mendengar, bahwa salah seorang anak muda akan dapat menggerakkan hatimu.”

Ken Dedes menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tahu benar, betapa ayahnya mencemaskan nasibnya. Apabila masalahnya itu akan berkepanjangan, maka orang tuanya pasti akan bersedih. Tetapi, di dalam hatinya Ken Dedes merasa, betapa besar kesempatan yang telah diberikan oleh ayahnya itu kepadanya, sehingga ia diberi kesempatan untuk mengemukakan pendiriannya. Tidak seperti beberapa orang ayah yang lain, yang dengan serta-merta menentukan jodoh anaknya tanpa setahu anak itu sendiri. Karena itu, betapa besar rasa terima kasih itu menggores di hatinya, sehingga tiba-tiba terasa bahwa memang sudah seharusnya ia membantu ayahnya segera. Tetapi sebagai seorang gadis, Ken Dedes tidak dapat berbuat banyak.

Sebenarnyalah, di dalam dada Ken Dedes telah terukir sebuah nama. Nama yang telah dikenalnya baik-baik, yang telah disebutnya beratus, bahkan beribu kali. Tetapi alangkah kecewanya, ketika ayahnya menyebutkan sekian nama yang telah melamarnya, namun nama itu tak tersebutkan. Karena itu,maka tak sebuah nama pun yang menarik minatnya. Ia menunggu nama yang telah tersimpan di hatinya. Namun ia menunggu sampai nama yang terakhir. Dan ia masih harus menunggu lagi.

”Sampai kapan?” desahnya di dalam hati. Ken Dedes pun kemudian menjadi cemas. Kalau anak muda itu tidak segera datang kepada ayahnya, maka jangan-jangan ayahnya akan kehabisan kesabaran. Dan dipaksanya ia memilih satu di antara mereka. Dan di antara mereka itu tak ada nama yang diharapkannya.

Sebagai seorang gadis, adalah tidak mungkin baginya, untuk meminta ayahnya justru datang kepada pemuda itu. Memintanya untuk menjadi menantunya. Dengan demikian tidak saja ayahnya akan mendapat aib, namun dirinya pun demikian.

Ken Dedes masih menundukkan wajahnya, Bahkan kini tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Tak berani ia menggerakkan, meskipun hanya ujung jarinya. Dan gadis itu tidak berani pula mengerling lagi kepada Mahisa Agni.

Mahisa Agni pun kemudian menekurkan kepalanya, Namun terasa kini dadanya telah menjadi lapang kembali. Kini ia tidak akan dapat mengingkari dirinya sendiri. Selama ini ia telah dicengkam oleh ketakutan. Sebagai seorang laki-laki, Agni tidak pernah merasa ngeri menghadapi setiap persoalan. Namun tiba-tiba ia merasa ngeri mendengar beberapa nama disebut oleh gurunya.

Akhirnya Mahisa Agni sampai pada suatu kesimpulan, meskipun selama ini ia telah mencoba untuk menyembunyikannya. Ken Dedes baginya, bukanlah sekedar putri gurunya, atau gadis yang menganggapnya seorang kakak saja. Lebih daripada itu.

Tetapi apakah yang dapat dilakukan? Kini ia sudah tidak berayah dan tidak beribu. Tak ada orang yang dapat dimintanya untuk datang kepada gurunya dengan upacara, sebagai lazimnya. Tak ada orang yang akan menempelkan namanya pada deretan nama-nama yang pada suatu saat akan disebut oleh gurunya, seperti nama-nama anak-anak muda yang lain. Jumna, Pandaya, Mahendra dan sebagainya. Dan tiba-tiba Mahisa Agni mengeluh di dalam hatinya. Tak pernah hal yang demikian itu dipikirkannya dahulu. Sepeninggal ayah dan ibunya, Agni telah mencoba melupakannya dan meletakkan dirinya dengan tawakal dalam asuhan Empu Purwa yang menerimanya sebagai seorang murid. Tetapi kini, tiba-tiba timbullah suatu persoalan. Persoalan yang rumit baginya.

Empu Purwa melihat kedua anak muda yang duduk, di hadapannya itu. Agaknya perasaan mereka selama ini menjadi tegang dan penat. Karena itu katanya, “Nah, Ken Dedes. Keperluanku hari ini telah selesai. Namun persoalannya yang belum selesai. Ingatlah bahwa banyak persoalan yang dapat terjadi. Susul menyusul. Karena itu jangan menunggu sehingga persoalan-persoalan itu menjadi bertambah banyak dan rumit. Sekarang kalian berdua, beristirahatlah.”

Ken Dedes mengangguk. Izin itulah yang ditunggu-tunggunya setelah sekian lama ia harus menahan hati. Perlahan-lahan ia bangkit, dan kemudian ditinggalkannya ruangan yang serasa menyesakkan nafasnya itu.

Mahisa Agni pun kemudian mohon diri. Ingin ia duduk di halaman di belakang untuk melapangkan dadanya.

Empu Purwa melibat anak muda itu berjalan keluar pintu dengan langkah yang pasti dan tenang. Langkah seorang laki-laki yang menyimpan berbagai ilmu di dalam dirinya. Ilmu yang bermanfaat bagi tubuh dan jiwanya.

Sejak hari itu, para cantrik dan endang dari padepokan Empu Purwa melihat beberapa perubahan dalam tata pergaulan di dalam padepokan mereka. Meskipun Empu Purwa sendiri tidak pernah mengubah sikapnya kepada siapa pun juga. Namun Ken Dedes dan Mahisa Agni tidak demikian.

Tak seorang pun dari para cantrik dan endang yang mengetahui, apakah sebabnya. Namun yang mereka lihat, Ken Dedes tiba-tiba saja telah berganti sikap. Meskipun sifat kemanjaannya belum lagi dapat ditinggalkannya, tetapi ia tidak lagi bersifat terlalu kekanak-kanakan. Bahkan gadis itu menjadi lebih banyak tinggal di dalam biliknya dan mengurung diri. Yang aneh bagi para pemomongnya, putri Empu Purwa itu kadang-kadang menjadi bersedih tanpa sebab. Malahan gadis itu kadang-kadang menangis di tengah malam.

Empu Purwa pun melihat perubahan itu. Namun tak pernah ia bertanya. Sebab orang tua itu tahu pasti, mengapa anaknya menjadi demikian.

Sedang Mahisa Agni pun kemudian menjadi perenung. Anak muda yang rajin itu, kini, apabila pekerjaannya telah selesai, lebih senang duduk seorang diri di halaman belakang, atau di tepi kolam. Hanya kadang-kadang saja, Agni masih memerlukan pergi kepada sahabatnya, putra Buyut Panawijen, Wiraprana. Tetapi Wiraprana sendiri tak pernah memperhatikan perubahan itu. Karena itu, setelah tubuhnya kuat kembali, maka diulangnya kebiasaannya dahulu. Hampir setiap hari ia berkunjung ke rumah Empu Purwa. Bermain-main dengan Mahisa Agni. Maka apabila anak itu datang, Mahisa Agni terpaksa menerimanya seperti biasa. Bermain seperti biasa dan bekerja di sawah bersama seperti biasa. Ke bendungan dan mengairi sawah di malam hari. Tetapi apabila anak itu pergi, kembali Mahisa Agni menyepikan dirinya. Namun dengan demikian, anak muda itu menjadi semakin tekun dengan ilmunya. Lahir maupun batin.

Tetapi akhirnya Agni sadar, bahwa perasaan yang bergelut di dalam dirinya, bahwa keadaan yang dialaminya itu, tak akan dapat selesai dengan sendirinya. Kegelisahan dan keadaan yang tak menentu itu harus segera diakhiri. Namun bagaimana mengakhirinya.

Itulah sebabnya Mahisa Agni semakin bertambah murung. Terasa jarak yang menabiri antara dirinya dan Ken Dedes menjadi bertambah luas. Gadis itu kini jarang benar dapat ditemuinya. Hanya kadang-kadang ia melihat dari mata gadis itu sebuah ucapan yang tak dimengertinya. Namun benar-benar terasa di dalam hatinya, Ken Dedes ingin mengucapkan sesuatu kepadanya. Dan karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah.

Di saat-saat yang sepi, selalu datang kembali ingatan tentang ayah bundanya yang hampir tak dapat diingatnya lagi. Meskipun kepergian orang tuanya itu telah diikhlaskannya, namun dalam kesempitan keadaan seperti keadaannya kini, Mahisa Agni berulang kali menyebut namanya. Tetapi anak itu sadar, bahwa ayah dan bundanya itu, sudah tidak akan dapat berbuat sesuatu untuknya.

Ketika langit bersih, dan bulan mengapung di udara, Mahisa Agni mencoba mencari ketenangan di luar biliknya. Seperti biasa anak muda itu duduk di atas batu hitam di sudut pertamanan. Dalam malam yang sepi, di taburan warna cahaya bulan yang kekuning-kuningan, dipandangnya malam yang suram dengan hati yang suram. Bunga-bunga yang beraneka warna. Daun-daun dan batang-batang perdu yang ditanamnya berpetak-petak. Namun semuanya tak menyegarkan hatinya. Yang tampil di hatinya, adalah kegelisahan dan kecemasan.

Tetapi Agni itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Bulan yang kuning itu seakan-akan menjadi cerah seperti hatinya. Perlahan-lahan bibirnya tergerak. Agni tersenyum sendiri. Ia puas dengan penemuannya. Di dalam hatinya yang sepi itu, tiba-tiba saja tampil sebuah nama yang hampir dilupakannya. Pamannya. Bukankah pamannya itu dapat dimintanya untuk mengganti ayah bundanya?”

“Empu Gandring,” desisnya, “kenapa aku melupakan paman itu?”

Sekali lagi Mahisa Agni tersenyum. Seakan-akan jalan yang terbentang di hadapannya adalah sebuah jalan yang lurus dan licin. Direka-rekanya di dalam angan-angannya, besok atau lusa ia akan mohon izin dari gurunya untuk menengok pamannya di Lulumbang. Dan dua hari kemudian ia akan kembali beserta pamannya. Tidak berdua saja, tetapi dengan beberapa orang membawa sebuah upacara. Pamannya akan melamar Ken Dedes untuknya.

Tetapi tiba-tiba pula, kecemasannya tumbuh kembali. Apakah gurunya akan mengizinkannya untuk berbuat demikian. Bukankah Empu Purwa telah menganggapnya sebagai anak sendiri, sebagai saudara tua Ken Dedes.

“Alangkah malangnya nasib ini, apabila terjadi demikian,” gumamnya. Namun ia masih mencoba menghibur diri, “Bukankah aku berhak ikut serta dalam sayembara pilih itu,” bisiknya kepada diri sendiri.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba di matanya, bunga-bunga di pertamanannya itu menjadi bertambah asri. Bunga kaca piring di tengah-tengah pertamanan itu menebarkan bau yang harum tajam. Terasa di bahu Agni yang telanjang, angin menyapu kulitnya perlahan-lahan. Sejuk.

Dalam kesejukan angan-angan yang penuh harapan itu, Mahisa Agni kemudian berdiri dan berjalan perlahan-lahan mengambil serulingnya di amben bambu di teritisan. Dengan tenangnya anak muda itu duduk bersandar dinding dan kedua tangannya melekat pada lubang-lubang serulingnya. Dengan hati yang lapang, Mahisa Agni melekatkan seruling itu di bibirnya. Maka mengalunlah lagu yang sejuk merdu. Lagu yang menggambarkan gairah cinta manusia. Cinta yang luhur dan suci, seperti cinta Ratih dan Kama. Demikianlah nada kasih itu membakar jiwa Agni dan malam itu pun dihangatkannya dengan kesyahduan lagunya.

Beberapa orang cantrik menjadi terbangun karenanya. Mereka seakan-akan mendengar bunyi gamelan lokananta di atas langit yang dibunyikan oleh dewa-dewa. Sedang para endang yang mendengar lagu itu, tersenyum-senyum di antara kesadaran dan mimpinya. Didengarnya lagu yang syahdu itu lewat telinganya, namun dilihatnya di dalam mimpinya Arjuna sedang tersenyum kepadanya. Dan ketika mereka terbangun oleh gigitan nyamuk, maka mereka menjadi kecewa. Namun lagu yang merdu itu masih didengarnya.

“Siapa?” bisik salah seorang dari mereka.

“Mahisa Agni. Siapa lagi?” jawab yang lain. Namun serentak mereka memandang warana yang memagari ruangan itu dengan pintu bilik Ken Dedes.

Endang itu pun kemudian saling berpandangan. Terdengar salah seorang berbisik, “Alangkah bahagianya Ken Dedes mendengar lagu itu.”

Para endang itu pun tertawa lirih.

Dan lagu itu masih menyusup lewat lubang-lubang dinding, membuaikan mereka yang terkantuk-kantuk. Para endang itu pun kemudian kembali menguap dan tertidur dengan senyum di bibir mereka. Dan kembali pula mereka bermimpi indah.

Di belakang pintu bilik di sebelah warana itu Ken Dedes mendengar pula lagu yang hening namun penuh gairah atas masa depan yang gemilang. Gadis itu pun segera mengetahuinya bahwa yang meniup seruling itu adalah Mahisa Agni. Dan karena lagu itu pula hatinya bergetaran.

“Kenapa lagu itu?” desahnya di dalam hati, “apakah Kakang Agni tahu, apa yang tersimpan di dalam dadaku?”

Gadis itu pun kemudian berangan-angan di antara oleh kesyahduan lagu Mahisa Agni. Sebagai seorang gadis, maka Ken Dedes pun merindukan kasih dan kebahagiaan di masa depan. Diangan-angankannya suatu masa yang mesra dalam perjalanan hidupnya.

Namun sebagai seorang gadis yang tahu akan harga dirinya, maka gairah yang membakar dadanya itu pun disimpannya di dalam hati. Tetapi sejak ayahnya memanggilnya bersama Agni, sejak ayahnya menyebut beberapa nama untuknya, maka api yang menyala di dalam dadanya itu menjadi semakin berkobar-kobar. Berbagai perasaan telah bergulat di dalam dirinya. Takut, cemas namun tak dapat ia berbuat banyak. Ingin ia berlari-lari kepada ayahnya, dan dengan manjanya memeluk pinggangnya sambil berkata, “Ayah, aku telah jatuh cinta kepada seorang anak muda. Tolong Ayah katakan kepadanya, supaya ia segera datang melamar.”

“Tidak. Tidak,” desisnya.

Ia dapat berbuat demikian, apabila gadis itu ingin sehelai kain tenun yang baru, atau subang bermata berlian. Dan ayahnya selalu akan berkata, “Jangan ribut Ken Dedes. Besok biarlah ayah belikan.”

Dan kalau ayahnya tidak mampu untuk membelinya ayahnya selalu menghiburnya, “Mintalah yang lain anakku, mintalah yang ayah mampu mengadakannya.”

Tetapi tidak demikian dengan seorang kekasih. Mungkin seorang pemuda dapat berbuat demikian. Tetapi tidak bagi seorang gadis.

Apabila kemudian para endang tertidur dengan nyamannya, maka sebaliknya dengan Ken Dedes. Lagu itu telah menggelitik hatinya, sehingga bahkan ia bertambah gelisah. Ketika di luar biliknya, telah menjadi sepi, maka Ken Dedes justru bangkit dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia menjengukkan kepalanya dan memanggil lirih, “Endang.”

Tak ada jawaban. Dicobanya sekali lagi, namun sepi

“Mereka telah tertidur,” desis Ken Dedes.

Gadis yang gelisah itu, dengan hati-hati melangkah di antara para endang yang tertidur nyenyak. Perlahan-lahan sekali supaya mereka tidak terbangun. Ken Dedes sendiri tidak tahu, mengapa ia bangun dan ke mana ia akan pergi. Tetapi ketika telah dilangkahinya tlundak pintu terasa perasaannya makin gelisah.

Ken Dedes berjalan selangkah demi selangkah, menyusuri jalan- jalan sempit di halaman. Angin yang silir, mengalir lembut dan bermain-main dengan rambutnya yang terurai di punggungnya.

Tanpa sesadarnya, Ken Dedes berjalan ke arah suara lagu yang beralun di antara daun-daun perdu pertamanan. Dan tiba-tiba saja gadis itu terkejut ketika suara lagu itu terhenti.

Mahisa Agni melihat Ken Dedes datang ke arahnya. Karena itu pemuda itu menjadi berdebar-debar. Tak disangkanya, bahwa di malam yang telah lama lelap itu, Ken Dedes akan datang menghampirinya. Karena itu, maka anak muda itu menjadi gugup, dan hilanglah nada-nada lagunya dari kepalanya, sehingga akhirnya ia berhenti.

Langkah Ken Dedes pun terhenti pula. Gadis itu pun kemudian melihat Mahisa Agni duduk di teritisan. Sesaat ia menjadi bimbang. Tetapi gadis itu tidak melangkah kembali. Bahkan dihampirinya Mahisa Agni.

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Perasaan yang belum pernah terjadi padanya. Ken Dedes telah bertahun-tahun tinggal sehalaman dengan anak muda itu. Setiap hari mereka bertemu, bercakap, bergurau. Tak pernah Agni berdebar karenanya. Tetapi kali ini perasaannya menjadi lain.

Mahisa Agni masih berdiam diri ketika Ken Dedes kemudian duduk di sampingnya, di amben bambu itu.

Sesaat mereka saling membisu. Hanya nafas Mahisa Agnilah yang terdengar berkejaran. Sehingga ia tak dapat lagi menyapa putri gurunya.

Ken Dedeslah yang mula-mula berkata. Namun suaranya benar-benar telah mencerminkan kedewasaannya, “Lagumu indah, Kakang,” katanya.

Agni berdesir mendengar pujian itu. Pujian yang jauh lebih merdu dari suara serulingnya. jawabnya terbata-bata, “Tidak Ken Dedes. Aku tidak pandai meniup seruling.”

“Lagumu bercerita tentang kesyahduan cinta,” berkata gadis itu pula.

“Aku tak tahu,” jawab Agni, “demikian saja aku meniup seruling itu. Dan apakah yang terpancar daripadanya?”

“Cinta dan gairah bagi masa depan,” sahut Ken Dedes.

Mahisa Agni tidak menjawab. Dan untuk sesaat Ken Dedes pun berdiam diri. Namun tiba-tiba di dalam dada gadis itu pun tumbuh sebuah persoalan. Persoalan yang lama terpendam di dalam dadanya. Beberapa waktu yang lalu, putri itu pun telah mengambil keputusan untuk mengatakan persoalannya kepada Mahisa Agni. Namun ia menjadi ragu-ragu. Apakah hal itu tidak akan menodai namanya. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan persoalan itu semakin berlarut-larut. Dan selalu terngiang kembali kata-kata ayahnya, ‘Jangan terlalu lama anakku’.

Gadis itu pun kemudian menjadi gelisah. Terdorong oleh keinginannya untuk mengungkapkan perasaan yang menghimpit dadanya. Namun kemudian yang terloncat dari bibirnya, “Kakang, tiuplah serulingmu kembali.”

“Tidak, Ken Dedes,” jawab Mahisa Agni.

“Kenapa?” bertanya gadis itu.

Agni menggeleng. “Tak tahu,” desisnya.

Kembali mereka membisu. Angin yang lembut membelai mahkota dan daun-daun bunga.

“Kakang…,” terdengar kemudian suara Ken Dedes lirih tertahan.

Agni tidak menjawab, tetapi hatinya berdesir.

Ken Dedes tidak segera meneruskan kata-katanya. Matanya yang suram jauh memandang puncak-puncak pepohonan yang bergoyang-goyang disentuh angin. Dan malam pun bertambah malam.

Gelora yang melanda dada Ken Dedes menjadi semakin dahsyat. Akhirnya meledak juga kata-katanya, “Kakang, bukankah kau telah mendegar sendiri, apa yang dikatakan Ayah kepadaku?”

Mahisa Agni mengangguk. Dan terasa tangannya bergetar.

“Bagaimanakah menurut pertimbanganmu, Kakang?” bertanya gadis itu.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Bahkan terasa keringat dinginnya mengalir dari segenap lubang-lubang kulitnya. Sehingga karena anak muda itu diam saja, Ken Dedes mendesaknya, “Apakah pertimbanganmu Kakang?”

Mahisa Agni menjadi gugup. Namun dicobanya juga untuk me-nenangkan detak jantungnya. Bahkan kemudian Agni dapat juga menjawab dengan suara bergetar, “Sebagian terbesar adalah tergantung padamu sendiri Ken Dedes.”

Seandainya jawaban Mahisa Agni itu diucapkan beberapa hari yang lalu, serta dalam persoalan yang berbeda, Ken Dedes pasti akan mencubitnya dan berteriak dengan manjanya, “Buat apa aku bertanya kepadamu, kepada kakakku, apabila persoalannya akan diserahkan kembali kepadaku?”

Tetapi kali ini Ken Dedes bersikap lain. Dengan sayunya gadis itu menundukkan wajahnya.

“Ya,” desisnya, “sebagian terbesar adalah tergantung kepadaku.”

Tetapi gadis itu bergumam pula, “Tetapi tidakkah ada orang lain yang dapat menolongku?”

Mahisa Agni mendengar kata-kata itu. Ingin ia menjawab. Bahkan ingin ia berteriak sambil menepuk dada, “Aku Ken Dedes, aku yang akan menolongmu.”

Namun kata-kata itu terhenti, tersangkut di kerongkongan. Dan yang terdengar oleh Ken Dedes adalah, “Adakah orang lain yang dapat menolongmu?”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Agni yang gelisah. Jawaban Agni sama sekali tak memberinya keyakinan. Dan sekali lagi wajah Ken Dedes terkulai lemah. Terasa matanya menjadi panas, dan tak disadarinya mata itu pun menjadi basah.

“Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku Kakang,” desah Ken Dedes perlahan-lahan, “Malahan kau menjadikan aku bertambah bingung.”

Tetapi Mahisa Agnilah yang lebih dahulu bertambah bingung. Dalam kebingungannya itu, ia mencoba memperbaiki kesalahannya. Dan tanpa terkendali ia berkata, “Ya. Ya, Ken Dedes. Aku akan mencoba menolongmu.”

Sekali lagi Ken Dedes memandang wajah Mahisa Agni. Dan tiba-tiba matanya yang redup menjadi sedikit menyala. Katanya, “Benarkah Kakang akan menolong aku?”

Mahisa Agni mengangguk, tetapi dadanya bergetar.

Ken Dedes menarik nafas dalam sekali, Katanya perlahan-lahan sekali, “Aku tidak tahu, apakah Kakang Agni dapat merasakan perbedaan perasaan antara seorang anak muda dan seorang gadis. Namun yang aku rasakan Kakang, alangkah rumitnya perjalanan hidup ini.”

Ken Dedes berhenti sejenak, kemudian meneruskan, “Aku tidak mengeluh karena aku seorang gadis. Bahkan menurut Ayah aku harus berbangga, bahwa yang Maha Agung mempercayakan kepadaku jenisku untuk menurunkan, membesarkan dan mengasuh angkatan yang bakal datang Tetapi….”

Suara Ken Dedes terputus Dan kembali lehernya terasa tersekat.

Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ketika Ken Dedes kemudian terisak, maka dengan gelisahnya Mahisa Agni berdiri dan berjalan hilir mudik. Ingin ia menghibur gadis itu, namun ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sebab tiba-tiba saja gadis itu seakan-akan menjadi orang asing baginya.

“Kakang,” desah Ken Dedes, “aku takut kalau peristiwa di belumbang itu akan terulang kembali, seperti Ayah pun takut pula. Apalagi kalau pada suatu ketika, tak seorang pun yang melihat peristiwa semacam itu. Apakah akan jadinya. Karena itu Kakang, aku tak akan dapat menghindari permintaan Ayah.”

Mahisa Agni berhenti sesaat dan tegak seperti tonggak di hadapan Ken Dedes. Namun mulutnya masih terkunci.

“Tetapi Kakang,” Ken Dedes masih berkata terus, “di hadapan Ayah, aku tak dapat berbuat sesuatu. Aku hanya dapat mendengarkan Ayah menyebut nama demi nama. Tetapi aku tak dapat mengucapkan sebuah nama pun. Tidak. Aku tidak dapat Kakang….”

Tangis Ken Dedes semakin menjadi-jadi. Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin bingung. Sekali-kali ia memandang dengan gelisahnya di antara daun-daun pertamanannya. Ia takut kalau ada seseorang yang melihat mereka.

Akhirnya tangis Ken Dedes itu mereda sendiri. Patah-patah gadis itu meneruskan, “Kakang, sekarang aku mencoba datang kepadamu. Aku menyangka bahwa aku akan dapat mengatakan sesuatu.”

Dada Mahisa Agni pun kemudian menjadi sesak, seperti terhimpit. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai perasaannya yang bergolak, sehingga setelah ia berjuang mati-matian, maka dapatlah ia mengucapkan kata-kata, “Berkatalah Ken Dedes.”

Ken Dedeslah yang kemudian menjadi gelisah. Kalimat demi kalimat telah disusunnya. Namun kalimat-kalimat itu seakan-akan tersangkut di dalam dadanya. Sehingga tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan.

Malam pun menjadi semakin tetap. Sehelai demi sehelai awan hanyut di wajah bulan yang kuning. Seperti buih di lautan yang biru bersih.

“Tetapi, “terdengar suara Ken Dedes di antara isaknya, “bukankah kau mau menolong aku, Kakang?”

Sekali lagi Ken Dedes ingin meyakinkan.

Dan sekali lagi Mahisa Agni mengangguk dan terloncat jawabannya singkat, “Tentu.”

Tetapi Agni terkejut ketika tangis Ken Dedes kembali meledak. Dengan kedua telapak tangannya gadis itu menutup mulutnya seakan-akan takut apabila kata-katanya akan berloncatan keluar.

Karena itu kembali Mahisa Agni mematung. Tetapi dengan penuh harapan ia menanti. Namun tak sepatah kata pun yang didengarnya. Bahkan Agni menjadi sangat terkejut ketika tiba-tiba saja Ken Dedes berdiri, dan dengan tergesa-gesa ia berlari kembali ke biliknya.

Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya Hanya satu kali terdengar ia memanggil, “Ken Dedes.”

Ketika Ken Dedes tidak berhenti, Mahisa Agni tidak meng-ulanginya. Ia takut kalau-kalau ada orang lain yang mendengar panggilannya. Karena itu dengan gelisah dan cemas dipandangnya gadis putri gurunya itu lenyap di sudut rumah.

Ketika Ken Dedes sudah tidak tampak lagi, Mahisa Agni mengusap dadanya. Dilepasnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Tetapi ia kecewa. Dari Ken Dedes, ia belum mendengar apapun tentang dirinya.

Sesaat kemudian, setelah gelora di dadanya mereda, Mahisa Agni duduk kembali di amben bambu di teritisan. Bahkan kemudian ia menyesal, kenapa bukan ia sendiri yang mengatakannya kepada gadis itu.

“Kenapa aku harus menunggu?” pikirnya. Mahisa Agni menggeleng. “Mulutku pun terkunci.” desahnya.

Mahisa Agni kemudian menjadi gelisah sendiri. Ia menjadi iri hati, kepada pemuda yang terbuka hatinya. Dalam kesempitan yang demikian pasti tidak perlu lagi berteka-teki. Tetapi Mahisa Agni, bukanlah pemuda yang demikian. Sejak ayahnya meninggal, maka ia lebih banyak menyimpan perasaan daripada menyatakannya. Kepada siapa pun juga. Demikian pula dalam persoalan ini.

Anak muda itu mencoba menghibur hatinya dengan serulingnya. Tetapi ia tidak mampu lagi meniupnya. Karena itu, kembali serulingnya diletakkannya. Dan tanpa dikehendakinya, ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di pertamanan itu.

Bulan di langit mengapung dengan tenangnya. Mahisa Agni me-ngerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah lingkaran putih di sekeliling bulan itu.

“Bulan berkalang,” gumamnya. Dan dilihatnya sebuah bintang yang menyala dengan terangnya pada lingkaran itu. Tidak di dalam, tetapi tidak pula di luar. Namun hati Mahisa Agni sama sekali tidak tertarik pada bulan, lingkaran dan bintang yang menyala pada lingkaran itu. Karena itu ia berjalan terus sambil menunduk, menyusuri jalan-jalan kerikil di halaman rumah itu

Di dalam biliknya, Ken Dedes menjatuhkan dirinya di pembaringannya. Ditelungkupkannya wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun tangisnya meloncat juga. Ketika ia menahannya, maka terdengar isaknya menjadi semakin keras.

“Nini,” didengarnya suara lirih di depan pintunya.

Cepat-cepat Ken Dedes mengusap matanya. Dan dicobanya menjawab perlahan-lahan, “Tinggalkan aku sendiri.”

“Nini,” terdengar kembali, “bolehkah aku masuk?”

“Pergi,” jawabnya, “aku akan tidur.”

“Tidak,” katanya pula, “kau tidak akan tidur. Kenapa kau menangis?”

Ken Dedes tidak menjawab lagi. Dan dibiarkannya orang itu masuk. Ken Dedes mengenal orang itu seperti ia mengenal dirinya sendiri. Seorang perempuan tua yang mengasuhnya sejak kecil. Apalagi setelah ibunya meninggal .Perempuan itu mengasuhnya melampaui anak sendiri.

“Kenapa kau bersedih, Nini,” terdengar suara perempuan tua itu sambil duduk bersimpuh di samping amben Ken Dedes.

Tangis Ken Dedes menjadi semakin deras betapapun ia me-nahannya. Dan terdengar di antara isaknya, “Tidak apa-apa, Bibi.”

“Jangan berbohong,” sahut orang tua itu, yang seakan-akan turut serta menghayati kepedihan hati gadis itu, “aku mengenalmu sejak kau kanak-kanak. Aku mengenal tabiatmu seperti aku melihat matahari. Karena itu, jangan bersembunyi di balik lidi sehelai. Anakku, aku dapat menduga sebagian besar dari kedudukanmu.”

Sedikit demi sedikit tangis Ken Dedes mereda. Seakan-akan orang tua itu dapat menjadi kawan berbagi duka. Perlahan-lahan diangkatnya wajahnya. Dan di antara isaknya ia berkata, “Kau tahu bibi?”

“Ya,” sahut pengasuhnya itu, “setiap gadis remaja akan mengalaminya. Aku sudah mendengar apa yang dikatakan Empu kepadamu dan Angger Mahisa Agni.”

Ken Dedes terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Dari manakah kau mendengarnya?”

“Ayahmu berkata kepadaku, embanmu yang tua ini,” sahut perempuan itu.

“Ayah?” bertanya Ken Dedes.

“Ya. Tetapi Ayahmu pun menjadi gelisah, karena tak seorang pun yang kau kehendaki,” jawab pengasuh itu, “Tetapi jangan kau sangka, bahwa kami orang-orang tua ini tidak dapat meraba hati gadisnya.”

“Oh,” Ken Dedes menarik nafas, “apakah yang diketahuinya?”

Orang tua itu diam untuk sesaat. Ditatapnya gadis itu dengan pandangan lembut. Tangannya yang telah dipenuhi oleh garis-garis umur itu kemudian dengan mesranya membelai rambut momongannya. “Jangan menangis anakku,” bisiknya.

Hati Ken Dedes menjadi berdebar-debar karenanya. Apakah yang diketahui tentang dirinya oleh pengasuh dan ayahnya. Dengan penuh pertanyaan ditatapnya wajah orang tua itu. Namun untuk sesaat mereka masih berdiam diri.

Di luar angin masih bermain-main dengan daun-daun talas dan kelopak-kelopak bunga. Dengan tak disengaja, Mahisa Agni, lewat melintas di samping bilik Ken Dedes. Ketika ia mendengar isak gadis itu, ia berhenti. Dan didengarnya kemudian Ken Dedes bercakap-cakap. Anak muda itu tak kuasa untuk mencegah keinginannya, mendengarkan percakapan dibalik dinding bilik itu Karena itu, dengan hati-hati sekali ia melekatkan kepalanya dan mencoba menangkap setiap kata-kata yang menggetarkan udara malam yang sepi.

“Nini,” terdengar pengasuh tua itu berkata dengan hati-hati, “jangan berahasia kepadaku seperti aku juga tidak berahasia kepadamu. Ketahuilah Nini, bahwa Empu Purwa pernah bertanya kepadaku tentang dirimu. Disangkanya aku mengetahui seluruhnya, apa yang tersimpan di hatimu. Karena itu anakku, untuk kepentinganmu, berkatalah kepadaku.”

Ken Dedes tidak segera menjawab pertanyaan pengasuhnya itu. Hanya isaknya sajalah yang terdengar memecah sepi malam. yang terdengar kemudian adalah suara pemomongnya, “Tak ada orang tua ingin melihat anaknya menderita di hari tuanya. Karena itu, orang tua yang baik, pasti akan mendengarkan tangis anaknya. Nah tangismu pasti akan didengarnya. Empu Purwa tidak akan marah apabila kau minta kepadanya apapun yang ia dapat memberinya. juga kesempatan untuk menentukan hari depanmu. Namun jangan dibiarkan kami, orang-orang tua ini meraba-raba. Berilah kami penjelasan. Apakah yang kau tunggu, dan siapakah anak muda itu?”

Dengan susah payah Mahisa Agni mencoba menguasai pernafasannya yang mendesak. Seperti orang yang tertarik oleh sebuah pesona yang tak dapat disingkiri, anak muda itu menjadi kaku tegang melekat dinding.

“Bibi,” jawab Ken Dedes, “apakah Ayah tidak akan marah kepadaku?”

“Tidak Ngger, tidak,” sahut orang tua itu, “Ayahmu telah mengatakan kepadaku, bahwa kau akan mendapat kesempatan untuk memilih sisihanmu itu. Meskipun kami dapat menduganya, namun kau sendirilah yang harus mengucapkannya. Dan Ayahmu pasti akan menunggu, pada saatnya orang-orang yang dianggapnya dapat mewakili anak muda itu, pasti akan datang kepada Ayahmu.”

“Bibi, anak itu bukanlah anak yang terbuka hatinya. Tetapi sinar matanya serta tutur katanya apabila kami bercakap-cakap telah meyakinkan aku, bahwa pada suatu saat jalan hidup kami akan bertemu.”

Ken Dedes berhenti sesaat, dan nafas Mahisa Agni serasa akan berhenti juga.

“Ya, ya Nini,” sela pengasuhnya itu.

“Aku telah mencoba mengatakannya kepada Kakang Agni, namun mulutku seperti terkunci,” Ken Dedes meneruskan.

Pengasuhnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Bibi,” berkata Ken Dedes pula, namun suaranya menjadi serak dan seakan-akan sedemikian pepat dadanya, sehingga kata-katanya itu menjadi terpotong-potong, “aku ingin berkata kepada anak itu, supaya segera dipenuhinya adat dan tata cara.”

Ken Dedes berhenti sesaat untuk menelan ludahnya.

“Ya, Nini,” potong emban tua itu, “namun kau belum menyebut namanya.”

Ken Dedes menatap langsung ke dalam mata orang tua yang bening itu. Dan tiba-tiba ia yakin bahwa orang tua itu benar-benar akan menolongnya. Maka katanya, “Namanya Wiraprana.”

“Oh,” orang tua itu terkejut seperti disengat lebah biru. Tanpa disengaja kedua tangannya menutup mulutnya yang berteriak lirih itu, “Adakah kau menyebut nama Angger Wiraprana?”

Ken Dedes mengangguk. Dan orang tua itu pun kemudian tepekur.

Di luar dinding, Mahisa Agni mendengar percakapan itu. Pada saat Ken Dedes mengucapkan nama itu, terasa seakan-akan di malam yang terang itu, Mahisa Agni mendengar suara petir meledak di kepalanya. Betapa ia terkejut mendegarnya, Wiraprana. Wiraprana.

Tubuh Mahisa Agni menggigil seperti orang kedinginan. Dadanya terbakar oleh suatu perasaan yang aneh. Seperti belanga yang terbanting di atas batu, maka hatinya pecah re muk berkeping-keping. Hampir ia tidak percaya pada pendengarannya. Apakah yang didengarnya benar-benar nama Wiraprana?

Dari dalam bilik Ken Dedes itu kemudian masih terdengar Ken Dedes menyebut namanya. Namanya sendiri.

“Emban,” berkata Ken Dedes, “tak ada orang lain yang dapat menyampaikannya kepada Kakang Wiraprana selain Kakang Mahisa Agni. Kakang Agni adalah sahabat yang paling dekat daripadanya. Kakang Agni akan dapat mendesaknya untuk segera melangsungkan tata cara adat itu. Sehingga kemudian nama Kakang Wiraprana pasti akan disebut oleh Ayah, apabila pada suatu kali aku dipanggilnya kembali.”

“Oh,” orang tua itu mengeluh. Tetapi ia menahan gejolak perasaannya. Nama itu benar-benar tak disangka-sangkanya.

Mahisa Agni pun menggigit bibirnya sehingga berdarah. Terdengar giginya kemudian gemeretak. Ia mencoba menguasai keseimbangan perasaannya. “Persetan!” umpatnya di dalam hati, “Terkutuk kau, Wiraprana!”

Mahisa Agni itu pun kemudian tidak tahan lagi untuk tetap berdiri di tempatnya. Dengan berjingkat ia berjalan tergesa-gesa ke biliknya sendiri. Dengan serta-merta dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya, sehingga terdengar amben itu berderak-derak. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat terbaring tenang. Tubuhnya masih menggigil dan perasaannya menggigil pula. Tak disangkanya bahwa pada suatu saat Wiraprana akan memotong hari depan yang diidamkannya. Apakah ia akan berdiam diri?

“Kenapa aku turut campur pada saat Kuda Sempana sedang bertempur dengan anak itu?” gumamnya. “Biarlah ia mati, supaya tak ada orang yang melintang, di hadapanku,” Ia melanjutkan. Bahkan kemudian timbul pula pikirannya, “Aku adalah Mahisa Agni. Apakah aku tak akan mampu bersaing dengan anak muda itu? Biarlah besok aku datang kepadanya. Kita adalah laki-laki jantan. Aku tantang ia bertempur buat menentukan masa depan.”

“Tidak besok pagi. Sekarang!” geramnya dengan kemarahan yang meluap-luap.

Dan Mahisa Agni itu pun segera meloncat dari pembaringannya. Dengan gerakan yang cepat ia melambung di udara dan kemudian tegak di atas kedua kakinya. Cepat ia membenahi pakaiannya. Ikat pinggangnya dan kainnya ditariknya ke belakang. Mahisa Agni kini siap untuk bertempur. Dengan satu loncatan panjang anak muda itu meraih pusakanya. Bukan sekedar senjata untuk berlatih. Tetapi sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya, seorang Empu yang sakti. Empu Gandring.

Dengan cepat anak muda itu meloncati tlundak pintunya, dan kemudian berlari menghambur di antara batang-batang perdu di pertamanannya.

“Kubunuh Wiraprana dan aku larikan Ken Dedes,” Mahisa Agni menggeram di sepanjang jalan, “Kuda Sempana berani berbuat demikian. Mengapa aku tidak. Aku tak perlu perlindungan dari istana Tumapel. Akan aku bawa Ken Dedes ke Lulumbang. Apakah pamanku itu tidak dapat melindungi aku seandainya Empu Purwa marah. Pamanku adalah empu sakti pula.”

Mahisa Agni berlari semakin kencang Ditelusurinya jalan desanya yang setiap hari selalu dilewatinya. Berpuluh bahkan beratus kali. Setiap kali ia mengunjungi Wiraprana dan pulang dari rumah anak itu, jalan ini pula yang selalu dilaluinya. Tetapi terasa jalan itu, kali ini bertambah panjang.

Mahisa Agni hampir tak sabar dengan langkahnya sendiri. Ia berlari dengan langkah yang panjang-panjang.

Waktu yang diperlukan untuk mencapai rumah Buyut Panawijen itu tidak selalu lama. Hanya beberapa saat ia telah berdiri di muka regol halaman Buyut Panawijen. Dilihatnya regol itu tertutup, meskipun ia tahu pasti bahwa regol itu tidak terkunci. Kalau ia mendorongnya sedikit, regol itu pasti terbuka.

Tetapi halaman itu begitu sepi.

Mahisa Agni ragu sejenak. Meskipun gelora di dadanya serasa tak dapat dihambatnya lagi namun ia masih sempat membuat perhitungan-perhitungan. Kalau ia masuk ke halaman, dan memaksa bertemu dengan Wiraprana, maka Buyut Panawijen itu pun akan terbangun. Dengan demikian, maka akibat yang akan timbul mempunyai banyak kemungkinan. Mungkin ia harus bertempur melawan mereka berdua, Wiraprana dan Buyut Panawijen. Meskipun kedua orang itu sama sekali tak berarti bagi Mahisa Agni, namun peristiwa itu pasti akan menimbulkan keonaran. Kalau Empu Purwa kelak mengetahuinya maka segala rencananya akan gagal. Orang tua itu pasti akan menjaga anaknya baik-baik. Dan apakah ia masih akan diperbolehkan tinggal di padepokan itu?

Dengan susah payah Mahisa Agni menyabarkan dirinya. Gumamnya, “Biarlah aku tunggu sampai besok. Aku ajak anak itu ke bendungan. Di sana dapat kita buat perhitungan.”

Mahisa Agni menggeram penuh kemarahan. Sekali lagi ditatapnya rumah yang senyap itu. Dan sekali lagi ia mengancam, “Awas kau Wiraprana!”

Kemudian tanpa disadarinya Mahisa Agni berkata seperti yang pernah didengarnya dari Kuda Sempana, “Wanita sama harganya dengan curiga. Taruhannya adalah nyawa.”

Kemudian Mahisa Agni itu pun melangkah pergi, dengan menyimpan bara di dalam dadanya. Betapapun juga, dada itu serasa akan meledak. Karena itu, Mahisa Agni berjalan dengan tanpa tujuan. Kakinya yang kokoh itu menyepak apa saja yang dijumpainya. Batu, kayu, bahkan pohon-pohon kayu pun tidak luput dari sasaran kemarahannya. Sekali-sekali diraihnya cabang kayu di tepi jalan. Kemudian dengan tenaganya yang luar biasa, cabang-cabang itu direnggutnya, sehingga patah berderak-derak.

Beberapa orang yang rumahnya dekat di pinggir jalan itu terkejut, namun mereka tak berprasangka apapun. Dan kembali mereka tetap di dalam pelukan malam.

Mahisa Agni masih, berjalan terus Tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang mengejarnya. Bulan di langit serasa tersenyum mengejeknya. Dilihatnya sekali lagi lingkaran yang mengelilingi bulan itu, dan dilihatnya sebuah bintang menyala di dalam lingkaran.

“Bintang itu telah berada di dalam lingkaran,” geramnya, “besok pagi satu jiwa akan melayang.”

Dan Mahisa Agni masih berjalan menyusur jalan itu. Terus. Sehingga tak dirasanya, Mahisa Agni telah meninggalkan desa Panawijen dan berjalan di daerah persawahan. Dilihatnya kemudian batang-batang padi yang hijau kekuning-kuningan di dalam limpahan cahaya bulan.

Mahisa Agni adalah seorang pengagum keindahan. Ia dapat duduk seperempat malam menatap gunung- gunung yang berselimut mega, atau menunggui bendungan, mendengarkan gemericik air di antara batu-batu kali. Tetapi kali ini perasaan itu seakan-akan terbunuh mati. Yang tampak adalah malam yang suram sesuram hatinya.

Tiba-tiba Mahisa Agni tersentak ketika ia melihat takbir malam yang terentang di hadapannya. Kalau ia berjalan terus, maka ia akan sampai ke padang rumput Karautan.

“Ha,” tiba-tiba Mahisa Agni berkata sendiri, “apakah demit padang rumput itu masih di sana?”

Mahisa Agni merasa, seakan-akan ia mendapat tempat untuk menumpahkan kemarahannya. Karena itu ia menggeram, “Besok aku baru dapat membunuh Wiraprana pengecut itu. Biarlah sekarang aku cari hantu Karautan. Setan itu pun harus mati. Empu Purwa mencegah aku dahulu. Sekarang biarlah aku ulangi tanpa orang tua itu. Biarlah aku tangkap atau bunuh sekali hantu Karautan yang sering mengganggu orang.”

Dan tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni meloncat berlari. Seperti sedang dikejar hantu ia berlari semakin lama semakin cepat. Diloncatinya batu-batu besar yang berserak-serak di padang rumput itu, dan disasaknya gerumbul-gerumbul kecil yang berada di garis perjalanannya. Kelinci-kelinci dan binatang-binatang kecil lainnya terkejut, dan berloncatan menjauh. Namun Mahisa Agni tak sempat memperhatikannya. Matanya tertancap jauh-jauh ke tengah padang rumput itu. Di sana ia beberapa waktu yang lampau bertemu dengan orang yang ditakutinya, dan bernama Ken Arok. Dalam kemarahannya itu, ia tidak ingat apa-apa lagi, selain membunuh, menghancurkan dan apa saja yang dapat memberinya kepuasan.

Sekali-kali terlintas juga di kepalanya, menurut kata gurunya, ia tak akan mampu mengalahkan hantu itu. “Omong kosong!” geramnya dan diteruskannya kata-kata itu, “Aku dahulu dapat menyentuhnya dengan tanganku. Kalau sekarang tersentuh keris Pamanku, muka umur setan itu tak akan sampai esok pagi.”

Padang rumput Karautan adalah padang rumput yang luas. Karena itu Mahisa Agni memerlukan waktu untuk sampai ke tengah padang itu. Ia langsung menuju ke tempat ia bertemu dengan Ken Arok di perjalanannya pulang bersama gurunya. Ia mengharap Ken Arok masih berada di sana, dan mencegatnya. Hantu itu harus sadar, bahwa di dunia ini ada orang yang tak takut kepadanya, dan tak dapat dikalahkannya.

Mahisa Agni yang berlari-lari itu akhirnya sampai juga ke tengah padang itu. Namun bulan telah jauh di sisi cakrawala. Sebentar lagi bola langit itu segera akan tenggelam dibalik punggung Gunung Kawi. Mahisa Agni kemudian berhenti. Nafasnya terasa berkejaran, secepat ia berlari. Sesaat ia tegak di tengah-tengah padang itu sambil mencoba menenangkan dirinya.

Beberapa kali Mahisa Agni menghisap nafasnya dalam-dalam dan dihirupnya udara padang yang segar. Perlahan-lahan nafasnya pun dapat diaturnya kembali.

Kini Mahisa Agni itu bertolak pinggang dengan kaki renggang. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya. Namun sepi. Tak seorang pun dilihatnya. Tiba-tiba ia menjadi semakin marah. Maka seperti orang yang kehilangan kesadarannya ia berteriak, “He, hantu Karautan! Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kaujadikan umpan keganasanmu. Keluarlah dari persembunyianmu!”

Suara Mahisa Agni itu seperti membelah langit. Mengumandang dan melingkar-lingkar seluas padang Karautan. Namun setelah gema suaranya itu berhenti, kembali malam menjadi sepi.

Mahisa Agni mengumpat-umpat tak habis-habisnya, “Setan pengecut! Apakah kau sedang bersembunyi karena kau lihat Mahisa Agni lewat?”

“He, hantu Karautan! Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kau jadikan umpan keganasan. Keluarlah dari persembunyianmu!”

Sekali lagi suaranya disahut oleh sepinya malam. Dan sekali lagi Mahisa Agni memandang berkeliling dengan nanar.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar gemeresik daun-daun perdu di sisinya. Cepat ia memutar tubuhnya dan bersiaga.

“Nah, kaukah itu?” ia berteriak keras-keras, meskipun rumpun perdu itu tak jauh daripadanya.

Apa yang ditunggunya itu ternyata datang. Dari balik daun-daunan yang rimbun itu, muncullah sebuah kepala. Mahisa Agni segera mengenal orang itu. Sambil tertawa berderai ia berkata, “Keluarlah dari persembunyianmu, hei setan yang menakutkan orang seluruh wilayah Tumapel. Tetapi aku, Mahisa Agni, jangan kau sangka takut seperti mereka itu. Marilah sekali lagi kita membuat perhitungan. Dan kali ini biarlah salah satu dari kita membayar taruhan ini dengan nyawa.”

Orang yang muncul dari balik gerumbul itu sebenarnyalah orang yang bernama Ken Arok. Untuk sesaat ditatapnya wajah Mahisa Agni yang menyalakan kemarahan hatinya. Tetapi hantu padang rumput Karautan itu tidak segera menanggapinya. Bahkan perlahan-lahan ia melangkahi ranting-ranting perdu dan dengan tenangnya ia berjalan selangkah demi selangkah maju.

“Ayo, bersiaplah!” tantang Mahisa Agni, “Meskipun kau bernyawa rangkap tujuh, kau tak akan mampu mempertahankan hidupmu apabila kau tersentuh kerisku.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang, tetapi pandangannya tidak menjadi liar seperti pada saat Mahisa Agni bertemu untuk yang pertama kalinya.

“Apa yang kau tunggu?” bentak Mahisa Agni.

Mahisa Agni menjadi heran ketika dilihatnya hantu Karautan itu mengangguk-angguk. Kemudian terdengar ia berkata tenang, “Mahisa Agni. Adakah kau mendendam?”

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya mata Ken Arok. Dan seakan-akan dilihatnya wajah yang lain dari wajahnya dahulu. Meskipun demikian, Agni itu pun berkata, “Jangan mencoba merajuk! Cerita tentang hantu Karautan harus segera tamat.”

“Ya,” sahut Ken Arok, “cerita tentang hantu Karautan memang sudah tamat.”

Kembali Mahisa Agni terkejut. Sekali lagi ditatapnya wajah Ken Arok, dan sekali lagi ia mendapat kesan lain pada wajah itu. Karena itu kemudian Mahisa Agni menjadi bingung.

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok. Suaranya pun lain dari suara yang pernah didengarnya beberapa waktu yang lampau, “Aku memang sedang menunggumu di sini. Berhari-hari. Aku mengharap bahwa aku akan dapat bertemu dengan kau dan orang tua yang lewat bersamamu dahulu.”

“Adakah kau tidak puas dengan pertemuan kita yang pertama itu,” bertanya Mahisa Agni dengan penuh prasangka.

“Ya,” jawab Ken Arok sambil mengangguk.

“Nah, sekarang aku telah datang. Apa maumu? Apakah kau masih ingin mencoba kesaktianmu?” bertanya Mahisa Agni.

Ken Arok menggeleng lemah. Rambutnya yang terurai lepas ke pundaknya itu bergerak-gerak ditiup angin malam. Tetapi rambut itu sudah tidak seliar seperti yang pernah dilihatnya. Perlahan-lahan terasa pada Mahisa Agni, bahwa ia melihat perubahan pada hantu Karautan itu. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok menjawab, “Tidak Mahisa Agni. Sudah kukatakan, cerita tentang hantu Karautan telah tamat.”

“Lalu apa maumu menghadang aku?” bertanya Agni.

“Berhari-hari aku menunggumu. Setiap malam aku tidur di gerumbul ini. Tetapi aku tidak pernah lagi berniat untuk menghentikan orang-orang yang lewat di padang ini. Aku hanya menunggumu dan orang tua itu,” berkata Ken Arok.

“Ya, sudah kau katakan,” potong Mahisa Agni, “tetapi apa maksudmu?”

“Duduklah Agni,” pinta Ken Arok.

Mahisa Agni menggeleng, “Kau akan membuat aku tidak bersiaga?”

Wajah Ken Arok itu menjadi suram. Katanya, “Aku sadar, bahwa kesan perkelahian itu tak akan terhapus di sepanjang umurmu. Tetapi duduklah Agni.”

Agni menjadi semakin heran. Di mata anak muda itu memancar sesuatu yang tak dimengertinya. Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni duduk di samping anak muda yang belum begitu dikenalnya.

“Mahisa Agni, apakah orang tua dahulu itu benar gurumu?” bertanya Ken Arok

“Ya,” jawab Agni singkat.

“Aku iri kepadamu,” gumam Ken Arok.

“Kenapa?”

“Agni, kata-kata itu terdengar terlalu dalam. Aku melihat perubahan pada sikapmu. Apakah kau bersikap baik hanya apabila gurumu ada?”

Mahisa Agni menjadi semakin heran mendengar pertanyaan itu. Dan kembali ia bertanya, “Kenapa?”

“Sikapmu dahulu tidak segarang sekarang, meskipun aku melihat kejantananmu sejak saat itu.”

Pertanyaan Ken Arok itu benar menembus dada sehingga langsung menyentuh hatinya. Dicobanya untuk melihat sikapnya sendiri. Kenapa orang yang hidupnya seliar Ken Arok berkata demikian kepadanya. Meskipun demikian Mahisa Agni bertanya, “Apakah yang berubah. Sejak dahulu guruku berkata kepadaku, bahwa setiap kejahatan harus ditumpas. Sekarang aku sedang berusaha menumpas kejahatan yang merajalela di padang rumput ini.”

Ken Arok seakan-akan tidak mendengar jawaban itu. Bahkan ia berkata terus, “Aku melihat, pada waktu kau datang bersama gurumu. Betapa kagumnya aku melihat kejantananmu. Namun sikap itu wajar. Sekarang sikapmu benar-benar lain daripada sikapmu waktu itu. Adakah sesuatu yang terjadi? Atau karena gurumu kini tidak ada?”

“Jangan mengigau!” bentak Mahisa Agni, ”Ayo berdirilah, kita bertempur. Aku tetap dalam perjuanganku.”

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok lirih, “Adakah kau sempat mendengar sebuah kisah yang pendek?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia terpengaruh oleh permintaan Ken Arok itu. Karena itu ia berdiam diri di tempatnya.

“Mahisa Agni,” Ken Arok mulai dengan kisahnya, “aku telah bertemu dengan seorang Brahmana di tempat perjudian. Brahmana itu bernama Danghyang Lohgawe.”

Tiba-tiba Mahisa Agni memotong, “Apa peduliku dengan Danghyang Lohgawe. Apakah kau sedang menakut-nakuti aku dengan gurumu yang baru itu?”

Ken Arok menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “orang itu bukan guruku. Dimintanya aku menjadi anaknya.”

“Nah. Suruhlah bapa angkatmu itu datang kemari!” sahut Agni.

“Hem,” Ken Arok menarik nafas, “kau benar-benar tak seperti yang aku sangka.”

Kembali kata-kata itu langsung menyentuh hatinya. Dan kembali Mahisa Agni berdiam diri. Sehingga Ken Arok sempat meneruskan, “Orang tua itu berkata kepadaku seperti yang pernah dikatakan gurumu kepadaku dahulu.”

“Apa katanya?” bertanya Mahisa Agni tak sesadarnya.

“Bukankah gurumu pernah berkata, bahwa aku akan lebih berbahagia apabila aku dapat menempuh cara hidup yang lain dari cara hidupku yang liar itu?” sahut Ken Arok.

“Adakah sekarang kau sependapat dengan nasihat guru?” bertanya Mahisa Agni pula.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku pernah bertanya kepada Brahmana itu. Apakah seorang yang telah berjalan jauh dan ditempuhnya jalan yang sesat, ia akan dapat menemukan jalan kembali?”

Ken Arok berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Brahmana itu berkata, jalan kembali itu tak akan pernah tertutup selama-lamanya buat siapa pun juga.”

Kembali Ken Arok berhenti sejenak. Kepalanya itu pun tertunduk lesu, dan seterusnya ia berkata, “Menurut Danghyang Lohgawe, jalan itu terbuka pula bagiku.”

Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Dan untuk sesaat mereka berdua tenggelam dalam sepi hati mereka berdua.

Sesaat kemudian terdengar kembali Ken Arok berkata, “Brahmana itu pernah berkata pula kepadaku, bahwa jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah itu selalu lapang dan licin, sehingga karena itu maka banyak orang yang tersesat karenanya. Lebih banyak yang memilih jalan yang lapang dan licin daripada yang sempit dari jelek. Namun jalan itu akhirnya akan sampai ke daerah yang gelap, sedang yang jelek itu akan sampai ke daerah ketenteraman abadi.”

Ken Arok menarik nafas sekali, namun dalam sekali. Kemudian ia meneruskan, “Mahisa Agni, aku ingin berkata kepadamu dan gurumu, bahwa aku akan berusaha memilih jalan yang sempit dan jelek. Gerbang di ujung jalan itu selalu terbuka, namun jarang-jarang orang yang memasukinya. Aku sangka kau dari dulu telah berada di jalan yang sempit itu pula. Mudah-mudahan sangkaanku itu benar.”

Kata-kata Ken Arok itu benar-benar menghunjam langsung ke pusat dadanya. Karena itu Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar. Dilihatnya dirinya sendiri yang sedang dibakar oleh perasaan yang tidak menentu. Hantu yang liar itu kini sedang berusaha mencari jalan kembali. Lalu apakah yang akan dilakukan itu?

Mahisa Agni menarik nafas sedalam luka di hatinya. Namun tiba-tiba hantu itu telah menariknya dari kealpaan. Hampir saja ia terjerumus ke jalan yang lapang dan licin, yang disebut-sebut oleh Ken Arok itu. Memang alangkah mudahnya terjun ke daerah yang akan bermuara di dalam kegelapan. Dan hampir saja dirinya terjun ke dalamnya. Kekecewaan yang memukul dadanya, pada saat ia mendengar nama Wiraprana disebut oleh Ken Dedes, telah hampir saja menyeretnya ke dalam daerah yang kelam itu. Dan kini, seakan-akan dilihatnya sebuah cahaya yang menerangi hatinya yang gelap. Justru dikatakan oleh hantu yang menakutkan itu.

Karena itu untuk sesaat Mahisa Agni jadi terbungkam. Tak sepatah kata pun yang dapat dikatakannya. Sedang Ken Arok pun kemudian berdiam diri, sehingga kembali padang rumput Karautan itu menjadi sepi.

Tetapi hati Mahisa Agni kini tidak sesepi padang rumput itu. Terjadilah di dalam dadanya suatu pergulatan yang sengit. Penilaiannya atas perbuatannya sendiri, serta kisah yang diucapkan oleh Ken Arok telah menolongnya, membebaskannya dari suatu tindakan yang kotor. Karena itu, sesaat kemudian terdengar ia berkata parau, “Maafkan aku Ken Arok.”

Ken Arok terkejut, “Apa yang harus aku maafkan?”

“Pada saat kau menemukan jalan kebenaran itu,” sahut Mahisa Agni, “justru bersamaan waktunya dengan keadaan yang sebaliknya yang terjadi padaku. Pada saat-saat aku hampir terjebak oleh kekecewaan dan nafsu.”

“Oh,” desis Ken Arok, “kini terasa pula olehmu, bahwa kau agak berubah.”

“Mudah-mudahan,” sahut Mahisa Agni.

“Kenapa mudah-mudahan?” bertanya Ken Arok.

“Mudah-mudahan tidaklah menjadi watakku sejak semula. Mudah-mudahan apa yang aku lakukan kini benar-benar karena hatiku yang gelap. Dan mudah-mudahan aku dapat meyakini kesalahan itu,” jawab Mahisa Agni.

Ken Arok menatap wajah Mahisa Agni seperti baru sekali itu dilihatnya. Dan wajah itu kini sedang diliputi oleh kabut yang suram. Karena itu maka terdengar Ken Arok bertanya, “Aku yakin bahwa bukan sifatmu sekasar itu. Tetapi apakah yang sudah terjadi?”

Mahisa Agni menggeleng lemah, “Bukan apa-apa. Suatu kesalahan kecil di dalam lingkunganku.”

“Hem,” Ken Arok menarik nafas, “kesalahan kecil yang hampir berakibat besar. Hati-hatilah untuk lain kali. Apabila hal yang sekasar itu dilakukan oleh Ken Arok, maka itu bukanlah sesuatu yang pantas disesalkan. Tetapi kalau itu dilakukan oleh Mahisa Agni, maka kau pasti akan menyesal sepanjang hidupmu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih,” gumamnya, “untunglah bahwa kau pun banyak mengalami perubahan. Apabila tidak, akibatnya dapat dibayangkan.”

“Untunglah,” sahut Ken Arok, “aku menyadari sepenuhnya perubahan-perubahan yang terjadi dalam diriku. Tanggapanku kepada dunia, kepada manusia di sekelilingku kini telah berubah. Karena itulah sebenarnya aku ingin bertemu denganmu dan gurumu. Aku minta kepadamu, supaya orang-orang di sekitar padang ini mendengar, bahwa cerita tentang hantu Karautan telah tamat. Selebihnya aku akan mohon diri kepadamu dan gurumu, bahwa aku akan segera pergi ke Tumapel mengikuti Brahmana itu.”

“Apakah kau ingin berjumpa dengan Empu Purwa?” bertanya Mahisa Agni,

“Sayang, waktuku sudah terlalu sempit,” jawab Ken Arok, “kesempatan ini adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk mengakhiri cara hidup yang liar ini. Danghyang Lohgawe akan membawaku ke istana Akuwu. Mudah-mudahan aku diterima pengabdianku, meskipun sebagai juru pakatik sekali pun.

“Syukurlah, “gumam Mahisa Agni, “kau akan menempuh suatu kehidupan yang lain dari masa-masa lampaumu.”

Ken Arok itu pun mengangguk lemah.

“Tekunilah kehidupan yang baru itu,” Mahisa Agni meneruskan, “mudah-mudahan kau sabar melampaui masa-masa peralihan itu.”

Kembali Ken Arok mengangguk. “Mudah-mudahan,” desisnya.

“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku belum tahu pasti,” sahut Ken Arok, “tetapi aku harus segera pergi kepada Danghyang Lohgawe.”

Mereka berdua pun kemudian terdiam. Langit di timur telah membayangkan warna fajar. cahaya yang ke merah-merahan memancar di wajah langit yang biru. Bulan yang semalaman berkisar dari satu titik kesatu titik di udara, kini telah tenggelam d balik Gunung.
Sesaat kemudian terdengar Ken Arok berkata, “Aku akan segera pergi.”

“Adakah kau masih takut mendengar ayam jantan berkokok,” bertanya Mahisa Agni,

Ken Arok tersenyum. “Tidak,” jawabnya, “Ada soal lain. Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan hantu di padang ini.”

Mahisa Agni pun tersenyum. Meskipun mereka belum rapat berkenalan, namun pertemuan yang aneh itu, menyebabkan hati mereka menjadi berat menghadapi perpisahan yang bakal terjadi.

Ken Arok dan Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Ketika Ken Arok akan meninggalkan padang rumput, yang selama ini menjadi daerah pengembaraannya di malam hari, maka sekali lagi ia berpamitan, katanya, “Mahisa Agni. Baktiku buat gurumu. Ialah orang yang pertama-tama membangunkan sebuah teka-teki di dalam hatiku. Teka-teki tentang Yang Maha Agung. Doakan semoga aku dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup yang baru ini.”

“Aku akan berdoa untukmu,” sahut Mahisa Agni.

Ken Arok itu pun segera meninggalkan Mahisa Agni. Dengan cepatnya ia berjalan melintasi padang rumput yang selama ini telah mengikatnya. Ken Arok itu seakan-akan telah menjadi bagian yang hidup dari padang Karautan. Dan kini daerah itu ditinggalkannya.

Namun terngiang di telinga Mahisa Agni, kata-kata Ken Arok, meskipun ia hanya ingin bergurau, “Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan hantu di padang ini.”

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas panjang, “Untunglah, semuanya belum terjadi. Seandainya ia berhasil membunuh hantu itu dengan kerisnya. dan seandainya pula ia telah terlanjur membunuh Wiraprana. Apakah akan jadinya? Dengan demikian, mungkin aku akan benar-benar menggantikan anak muda itu menjadi hantu di padang ini.”

Mahisa Agni menjadi ngeri sendiri. Dan mengucaplah ia di dalam hatinya puji syukur kepada yang Maha Agung, bahwa ia telah dibebaskan dari bencana itu.

Mahisa Agni pun kemudian melangkah pergi. Tetapi ia tidak berlari lagi seperti pada saat ia datang. Di sepanjang jalan itu, terasa betapa hatinya menjadi pedih. Pedih atas hilangnya harapan bagi masa depan yang manis, pedih karena ia hampir-hampir tenggelam dalam kegelapan.

“Wiraprana itu sama sekali tak bersalah,” gumamnya, “Akulah yang bersalah. Kenapa aku selama ini berdiam diri. Kenapa aku lebih senang menyimpan perasaanku daripada melimpahkannya? Karena itu jangan menyalahkan orang lain.”

Namun betapapun juga, luka di dadanya terasa betapa sakitnya. Tetapi Mahisa Agni kini telah menemukan dirinya kembali. Karena itu tak seorang pun yang didendamnya. Wiraprana tidak dan Ken Dedes pun tidak.

“Ayahnya, Empu Purwa tak bisa memaksanya,” katanya di dalam hati, “Apalagi aku.”

Bahkan tiba-tiba timbullah di dalam hati Mahisa Agni itu, “Biarlah gadis itu menemukan kebahagiaannya. Dan mudah-mudahan dengan demikian aku akan ikut berbahagia karenanya.”

Mahisa Agni itu berjalan perlahan-lahan di dalam sentuhan angin pagi. Tetesan embun yang hinggap di dedaunan, membentuk butiran-butiran, seakan-akan butiran mutiara yang satu-satu lepas dari untaiannya, seperti butiran-butiran mutiara harapan yang pecah dari ikatan hati Mahisa Agni.

Sebagai seorang anak muda yang sedang melambungkan cita-citanya setinggi bintang, maka peristiwa itu tak akan dapat dilupakannya. Namun ia pun dapat mengetahui bahwa tak seorang pun akan mampu mengubah perasaan orang lain dengan paksa dalam tanggapannya atas cinta.

Padang rumput itu adalah padang yang luas. Karena itu maka kini terasa, bahwa perjalanan yang telah ditempuhnya semalam adalah perjalanan yang cukup jauh. Mahisa Agni pun tiba-tiba menjadi cemas, apakah kata orang apabila salah seorang di antara tetangga-tetangganya melihatnya berlari-lari.

Matahari yang semakin tinggi di langit, terasa panasnya semakin tajam menyengat kulit. Namun sinarnya yang bertebaran di segenap wajah padang rumput itu sama sekali tak terasa. Mahisa Agni sedang bergelut dengan angan-angannya, “Apakah yang harus aku lakukan kini?”

Namun di sepanjang perjalanan itu tak ditemuinya jawaban yang memuaskan hatinya. Kadang-kadang timbul keinginannya untuk pergi saja meninggalkan gurunya dan desa Panawijen, namun kadang-kadang ada juga maksudnya untuk melihat betapa Ken Dedes dan Wiraprana berbahagia. Tetapi di dalam sudut hatinya yang lain terdengar pula suara, “Biarlah apa saja yang akan mereka lakukan, jangan mencampurinya dalam segala segi.”

Mahisa Agni menggeleng-geleng lemah. Wiraprana ternyata belum tahu apa yang semestinya harus dilakukan, dan Ken Dedes semalam menemuinya, bukan untuk menyatakan cintanya kepadanya, tetapi gadis itu akan minta kepadanya untuk menyampaikannya kepada Wiraprana. Mahisa Agni menarik nafas dalam sekali. Gumamnya, “Ternyata Wiraprana datang setiap hari ke rumah Empu Purwa tidak semata-mata menemui aku. Ternyata di belakang tirai persahabatannya itu terkandung maksud-maksud yang lain.”

Perjalanan pulang itu terasa betapa menjemukan. Baru kemudian terasa, betapa lelahnya setelah semalam suntuk matanya tak terpejamkan. Bahkan kemudian ia berlari-lari sepanjang hampir setengah malam. Dan kini ia harus menempuh jalan itu kembali.

Ketika matahari telah hampir mencapai puncak langit, maka tampaklah di hadapan Mahisa Agni beberapa buah desa yang membujur di pinggir padang rumput itu. Sekali dilampauinya desa yang pertama, kemudian ia akan segera sampai ke rumah gurunya. Namun desa-desa yang hijau itu kini sama sekali tak memikatnya seperti beberapa waktu yang lampau. Ikatan yang selama ini. terasa menjerat dirinya, tiba-tiba kini telah terurai lepas. Desa itu tak menarik lagi baginya, selain sebagai tempat tinggalnya.

Mahisa Agni memasaki desanya dengan hati yang kosong. Selangkah demi selangkah ia menyusuri jalan yang semalam dilaluinya. Masih dilihatnya beberapa ranting yang patah sebagai tempat untuk menumpahkan kemarahan dan kegelapan hatinya semalam.

Ketika dari kejauhan dilihatnya pagar batu yang melingkari halaman rumah gurunya, hatinya berdesir. Tak ada gairah lagi untuk segera pulang. Tetapi apabila diingatnya, apa yang telah dilakukan oleh gurunya untuknya, dan apa yang telah diberikan oleh orang tua itu kepadanya, maka timbullah sedikit niatnya untuk kembali masuk ke dalamnya.

Tetapi kembali hatinya berdesir ketika ia melihat Wiraprana telah berdiri di muka regol halaman itu. Terungkit kembalilah perasaan yang pedih di dadanya. Sekilas tebersitlah kemarahannya kepada anak muda itu. Namun kemudian perasaan itu ditekannya kuat-kuat.

Wiraprana tersenyum ketika ia melibat Mahisa Agni. Anak muda itu kemudian berjalan menyongsongnya. Tak ada suatu kesan apapun di wajahnya. Bersih.

Mahisa Agni melihat wajah yang jujur itu. Dan kembali ia berkata di dalam hatinya, “Anak itu tidak bersalah.”

“Dari mana kau, Agni?” bertanya anak muda itu.

Mahisa Agni menjadi agak bingung. Terasa betapa canggungnya kali ini berhadapan dengan Wiraprana. Anak muda yang telah bertahun-tahun bergaul dengan rapatnya, tiba-tiba terasa sebuah jurang telah membujur di antaranya.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Wiraprana mengulangi pertanyaannya seramah semula, “Dari mana kau Agni?”

Mahisa Agni merasa seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi. Dengan terbata-bata ia menjawab sekenanya, “Aku tidur di bendungan, Prana.”

Wiraprana terperanjat. “He,” sahutnya, “aku juga pergi ke bendungan semalam. Kenapa kita tidak bertemu?”

Mahisa Agni bertambah bingung. “Aku pergi sesudah tengah malam,” jawab Agni sekenanya.

“Oh,” berkata Prana, “tengah malam aku sudah pulang. Kenapa kau tak mengajak aku serta?”

Pertanyaan itu melingkar-lingkar seperti putaran yang sangat membingungkan. Maka jawabnya, “Aku tak bermaksud pergi ke bendungan. Aku hanya berjalan-jalan saja. Tetapi kemudian aku sampai ke sana.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika dilihatnya keris terselip di pinggang sahabatnya, Wiraprana mengerutkan keningnya. Mahisa Agni melihat sambaran mata Wiraprana atas kerisnya itu. Karena itu ia menjadi semakin bingung. Apabila anak itu bertanya tentang keris itu, apakah jawabnya. Tetapi untunglah Wiraprana tak bertanya-tanya lagi.

“Ayolah,” ajak Wiraprana, “kau tampak lelah.”

Mahisa Agni tak menjawab. Maka berjalanlah mereka berdua memasuki regol halaman rumah Empu Purwa yang luas. Mahisa Agni melihat tanam-tanamnya yang hijau subur. Bunga-bungaan, rerumputan dan perdu. Dilihatnya pula tanah yang berpetak-petak dan di samping rumah itu sebuah kolam. Tetapi semuanya itu kini terasa hambar. Bunga-bunga yang sedang kembang sama sekali tak menarik perhatiannya. Batang-batang anggrek yang dipeliharanya dengan hati-hati, serta bunga-bunganya yang putih bersih tampak betapa suramnya.

Mereka berdua langsung pergi ke bilik Mahisa Agni. Wiraprana duduk di sebuah bale-bale besar di ruangan dalam, sedang Mahisa Agni langsung masuk ke biliknya. Dilihatnya biliknya itu kotor dan barang-barangnya berhambur-hamburan. Agaknya semalam ia telah dengan tidak sengaja menghambur-hamburkan barang-barangnya itu. Dengan dada yang serasa akan retak, Mahisa Agni menarik keris dari pinggangnya. Ketika ia menatap keris itu, terasa hatinya berdesir. Untunglah bahwa keris itu belum ditariknya dari wrangkanya. Tanpa disengajanya, diciumnya ukiran keris itu sambil berbisik, “Betapapun kau telah diselamatkan dari penggunaan yang sia-sia.”

Mahisa Agni pun kemudian segera membenahi barang-barangnya. Pakaiannya, beberapa alat-alat lain dan lontar-lontar bacaannya. Adalah menjadi kebiasaannya untuk membersihkan biliknya sendiri, sehingga jaranglah orang lain masuk ke dalamnya. Dengan demikian, maka tak seorang pun yang mengetahui, bahwa bilik itu menjadi kotor dan bercerai berai.

Setelah pekerjaan itu selesai, Agni pun tidak segera keluar dari biliknya. Dengan lesunya ia duduk di sudut pembaringannya. Matanya yang sayu. beredar dari satu benda ke benda yang lain di dalam bilik itu. Terasa betapa ia menjadi asing. Dinding-dinding, tiang, dan sebuah gelodog bambu. Dan tiba-tiba tebersit pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah aku masih akan dapat tinggal di tempat ini?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia tersadar ketika didengarnya Wiraprana terbatuk-batuk di ruang dalam. Perlahan-lahan Mahisa Agni berdiri, dan dengan lunglai ia berjalan keluar menemui sahabatnya yang telah memadamkan harapannya di masa depan.

Wiraprana tersenyum melihat Agni keluar dari biliknya. Katanya sambil tertawa, “Ah, aku sangka kau tertidur Agni. Aku takut kalau aku harus menunggumu sampai senja.

Kelakar itu pun demikian hambar di hati Mahisa Agni.

Meskipun demikian dipaksanya juga bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang pahit. Dan hatinya pun bertambah pahit ketika ia melihat kenyataan bahwa Wiraprana itu sama sekali tak berprasangka apa pun kepadanya. Tak ada perubahan pada tingkah lakunya dan tak ada setitik kecurigaan apa pun dalam sikapnya. Hatinya tidak akan sepedih itu seandainya Wiraprana itu bersikap kasar dan keras. Seperti Kuda Sempana. Seandainya Wiraprana itu berkata kepadanya, “Agni, marilah kita selesaikan persoalan kita dengan bertaruh nyawa.”

Meskipun seandainya ia kalah, bahkan sampai pada ajalnya pun, maka ia akan mati dengan bangga. Tetapi Wiraprana sama sekali tak bersikap demikian. Matanya yang bening memancar seperti mata kanak-kanak yang belum mengenal dosa. Karena itu Mahisa Agni mengeluh di dalam hatinya.

Dengan lesu Mahisa Agni duduk di samping Wiraprana. Dan dengan kaku ia bertanya, “Dari mana kau sepagi ini Prana?”

Wiraprana terperanjat, “He? Apakah kau sedang bermimpi? Lihatlah, bayangan matahari telah tegak di lantai.”

Mahisa Agni menyadari, kesalahannya, dan dipaksanya juga dirinya untuk tertawa, “Ah, agaknya aku benar-benar lelah dan bingung. Maksudku, apakah kau telah datang sejak pagi-pagi?”

Wiraprana memandang wajah Mahisa Agni dengan herannya. Dilihatnya pada wajah itu suatu pancaran yang aneh. Tak pernah ia melihat kerut-kerut di kening sahabatnya itu. Mahisa Agni adalah anak yang selalu gembira. Ah, Mahisa Agni terlalu lelah, katanya di dalam hati, namun yang terlontar dari mulutnya adalah, “Seharusnya akulah yang bertanya Agni, dari mana kau sampai sesiang ini. Apakah kau tidur di bendungan sampai matahari merambat ke puncak langit? Apakah kau kemudian mencuci pakaianmu tanpa membawa rangkapan, dan kau tunggu pakaian itu kering sambil merendam diri?”

Mahisa Agni benar-benar menjadi bingung. Tak tahu bagaimana ia akan menjawab pertanyaan Wiraprana. Karena itu ia hanya dapat tertawa, namun hatinya merintih.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni teringat kepada Ken Arok yang baru dijumpainya di padang Karautan. Diingatnya pesan anak muda itu kepadanya. Supaya orang-orang di sekitar padang ini mendengar, bahwa cerita tentang hantu Karautan telah tamat. Karena itu, maka Mahisa Agni bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Katanya, “Wiraprana, sebenarnya aku tidak tidur di bendungan semalam.”

Sekali lagi Wiraprana terkejut, “Lalu ke manakah kau semalam malaman?”

“Ke padang Karautan,” sahut Mahisa Agni.

“He,” Wiraprana benar-benar terkejut mendengar jawaban itu sehingga ia bergeser maju, “adakah kau pergi ke sana?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Siapakah yang memaksamu, sehingga kau pergi ke daerah hantu yang mengerikan itu?’ bertanya Wiraprana pula.

“Tak ada,” jawab Agni, “aku hanya ingin melihat hantu. Karena itu kau lihat aku membawa senjata?”

“Ya, ya, Aku lihat kerismu.”

Mahisa Agni pun kemudian bercerita tentang padang itu. Tentang pertemuannya dengan hantu itu untuk pertama kali dan tentang pertemuannya yang terakhir. Mahisa Agni bercerita sedemikian asyiknya dan kadang-kadang tak sesadarnya, diceritakannya kemampuannya melawan hantu itu. Ia bercerita demikian saja untuk melepaskan himpitan-himpitan yang menekan dadanya. Tidak saja sebagai pelarian untuk menghindarkan pertanyaan Wiraprana, tetapi lambat laun dengan tak diketahuinya sendiri, cerita itu telah berubah sebagai suatu cerita untuk menolong kekerdilan perasaannya. Pilihan Ken Dedes atas Wiraprana, telah menyebabkan Mahisa Agni merasa tak berharga. Dan kini ia sedang menutupi perasaan itu dengan menceritakan kedahsyatannya.

“Alangkah dahsyatnya kau Agni,” Wiraprana menyela dengan penuh kekaguman. Dengan jujur anak muda itu berkata pula, “Sejak kau berkelahi dengan Kuda Sempana, aku telah menjadi kagum dan tidak mengerti. Dari mana kau mendapat ilmu itu. Kini ternyata kau pun sanggup melawan hantu itu. Ah. Alangkah kecilnya aku. Kenapa baru sekarang aku tahu?”

Mendengar pujian yang diucapkan dengan ikhlas itu, Mahisa Agni tersadar dari pelariannya. Karena itu betapa ia menyesal. Namun semuanya terjadi, dan cerita itu tak akan dapat ditelannya kembali. Dengan demikian, maka Agni pun justru terdiam, dan luka di hatinya menjadi semakin parah.

Ketika ia sedang merenungkan dirinya, kesombongannya dan ceritanya, didengarnya langkah kaki lewat di sampingnya. Mahisa Agni mengangkat wajahnya, dilihatnya Ken Dedes berjalan dengan tergesa-gesa. Ketika gadis itu melihatnya, segera ia berhenti dan berkata, “Kakang, ke mana kau semalam? Ayah mencarimu.”

Hati Mahisa Agni berdesir. Apalagi ketika dilihatnya, betapa Ken Dedes menundukkan wajahnya yang kemerah-merahan ketika terpandang olehnya Wiraprana yang duduk di sampingnya.

Mahisa Agni harus berjuang sekuat tenaga untuk menenangkan hatinya yang bergelora seperti angin ribut di lautan. Dengan gemetar ia menjawab, “Adakah guru menanti aku?”

“Tidak sekarang,” sahut Ken Dedes perlahan-lahan, namun wajahnya masih menatap lantai, “Ayah sedang di sanggar pamujan.”

“Oh,” Agni pun terdiam,

Suasana di ruang dalam itu menjadi kaku, seperti garis-garis tiang yang lurus. Ken Dedes sama sekali tak berani mengangkat wajahnya. Kehadiran Wiraprana benar-benar menjadikannya segan. Apakah Kakang Agni telah mengatakannya, pertanyaan itu merayap di hatinya. Kalau pengasuhnya yang tua itu telah menyampaikan perasaannya kepada Mahisa Agni, maka ada kemungkinan Agni telah mengatakannya kepada Wiraprana. Perasaan Ken Dedes sebagai seorang gadis menjadi bergelora. Tiba-tiba ia tak dapat menahannya. Betapa ia malu seandainya Wiraprana tak memenuhi harapannya. Bahwa apa yang dilihatnya di mata anak muda itu, dan apa yang dirasakan di dalam kata-katanya saat-saat bila mereka bercakap-cakap dan bergurau itu keliru.

Wiraprana merasakan kekakuan itu. Suasana itu demikian anehnya pada perasaannya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Agni, apakah Ken Dedes menunggumu makan?”

Agni sadar, bahwa Wiraprana hanya bergurau. Tetapi akibatnya kata-kata seperti air yang tepercik di lukanya. Pedih. Maka jawabnya terbata-bata, “Tidak Prana.”

Tiba-tiba sekali lagi dada Agni berdesir ketika Ken Dedes berkata lirih dengan sama sekali tak mengangkat wajahnya, “Kakang. Aku mencari Kakang sejak tadi. Bukankah Kakang belum makan?”

“Oh,” Agni mengeluh di hatinya. Pergaulan ini benar-benar menyiksanya.

“Nah,” sahut Wiraprana sambil tertawa, “pantaslah. Ceritamu dan kata-katamu selama ini bersimpang siur tak keruan. Makanlah Agni, supaya hatimu menjadi terang. Dan kau tidak akan gemetar lagi.”

Perasaan Mahisa Agni benar seperti biduk yang kecil di dalam permainan gelombang yang ganas. Tetapi ketika sekali lagi ia menatap wajah sahabatnya itu, sekali lagi ia mengeluh di dalam hatinya. Wajah itu sedemikian bersih dan jujur. Karena itu kembali terdiam. Dan kembali suasana menjadi kaku.

Timbullah suatu harapan di hati Ken Dedes, agar Wiraprana ikut makan bersama Agni seperti kebiasaan mereka. Adalah menjadi kebiasaannya pula mengajak anak muda itu berbuat demikian. Tetapi kali, ini mulutnya serasa terkunci. Dan tak sepatah kata pun dapat diucapkan. Ken Dedes menjadi bingung ketika Wiraprana berkata, “Ken Dedes, kenapa kau tidak minta aku makan bersama Kakang Agni?”

Hati Ken Dedes berdesir mendengar pertanyaan itu, dan hati Mahisa Agni pun berdesir. Pertanyaan itu bukan untuk pertama kali diucapkan. Sepuluh, dua puluh bahkan anak itu sudah sedemikian seringnya datang ke rumah ini, sesering Mahisa Agni datang ke rumahnya. Mahisa Agni pun tidak tahu lagi berapa kali ia pernah dipersilakan makan di rumah Ki Buyut Panawijen. Tetapi senda gurau Wiraprana kali ini benar-benar memusingkan kepalanya.

Ken Dedes tidak dapat mengucapkan sepatah jawaban pun. Bahkan tiba-tiba gadis itu berlari meninggalkan mereka.

Wiraprana menjadi heran. Kenapa sikap gadis itu tidak seperti biasanya. Apakah ia berbuat suatu kesalahan. Wiraprana itu pun kemudian sibuk melihat dirinya, sikapnya dan kata-katanya. Aku tidak berbuat kesalahan, katanya di dalam hati. Namun perubahan sikap Ken Dedes yang manja itu benar-benar mencemaskan.

Betapa jujurnya hati Wiraprana ketika ia mengucapkan sebuah pertanyaan kepada sahabatnya, “Agni, apakah kau bertengkar dengan Ken Dedes?”

Mahisa Agni menjawab dengan gugup, “Tidak Prana. Tidak.”

“Syukurlah,” sahut anak muda itu, “aku melihat sesuatu yang agak lain.”

“Mungkin,” jawab Mahisa Agni sekenanya.

Tetapi ia terkejut sendiri atas jawabannya itu. Apalagi ketika Wiraprana bertanya, “Benarkah dugaan itu?”

Mahisa Agni merenung. Ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu.

Wiraprana menarik nafas. Kini ia tidak bergurau lagi. Tiba-tiba ia mencoba menilai, apakah yang dilihatnya sejak Mahisa Agni datang. Lesu dan berwajah sayu. Anak muda itu seakan-akan menjadi bingung dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya sekenanya saja, bahkan kadang-kadang menjadi gugup. Tertawanya yang kosong dan keningnya yang berkerut-kerut.

“Hem,” Wiraprana berdesah. “Alangkah tumpulnya perasaanku,” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak dapat segera berpamitan. Ia takut kalau Mahisa Agni salah mengerti, dan menyangkanya kurang bersenang hati. Karena itu ia masih duduk saja di amben yang besar.

Sesaat mereka saling berdiam diri, Wiraprana menebak-nebak di dalam hati, sedang Mahisa Agni dengan susah payah berusaha menekan perasaannya.

Kemudian terdengar Wiraprana berkata, “Agni, makanlah. Biarlah aku menunggumu di tepi kolam. Adakah guramemu sudah bertambah banyak?”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Dengan demikian setidak-tidaknya ia dapat melepaskan ketegangan perasaannya meskipun hanya sesaat ia makan. Karena itu jawabnya, “Baiklah Prana. Tetapi tidakkah kau ikut makan pula?”

Wiraprana menggeleng. Kemudian ia pun berdiri dan berjalan keluar. Mahisa Agni melihat pemuda itu pada punggungnya. Tinggi, berdada bidang. Rambutnya yang lebat digelungnya di belakang kepalanya. Langkahnya yang tegap tenang. Tiba-tiba terdengar ia bergumam lirih. Lirih sekali, “Berbahagialah kau Wiraprana. Mudah-mudahan aku dapat ikut berbahagia karenanya.”

Dan tiba-tiba saja terloncat dari mulut Mahisa Agni, “Wiraprana, pulanglah. Datanglah kembali nanti senja.”

Wiraprana terkejut , sehingga ia berputar. Ditatapnya wajah Agni. Betapa ia menjadi heran. Tak sahabatnya itu berkata demikian.

Mata Wiraprana yang bening itu pun menjadi suram. Dari dalamnya memancar pertanyaan melingkar-lingkar di dadanya. Kini terasa benar, bahwa ada sesuatu yang terjadi di rumah itu. Namun Wiraprana tidak bertanya lagi. Ketika ia melihat wajah Mahisa Agni yang sayu, maka Wiraprana pun mengangguk sambil menjawab, “Baiklah Agni. Senja nanti aku akan datang kembali.”

Tetapi hati Wiraprana itu pun menjadi gelisah. Di perjalanan pulang, di rumah, di setiap saat ia berteka-teki, “Apakah kira-kira yang akan dilakukan Mahisa Agni senja nanti?”

Sepeninggal Wiraprana, Mahisa Agni pergi ke dapur. Dilihatnya makan baginya telah tersedia di amben. Tetapi ia tidak melihat Ken Dedes. Memang ia tidak mengharap gadis itu menungguinya makan seperti biasanya.

Meskipun demikian, setiap gumpal nasi yang masuk ke mulutnya terasa seakan-akan menyumbat lehernya. Dan Agni pun tidak dapat merasakannya, apakah yang sedang dimakan itu. Asin, manis, masam atau apapun. Mahisa Agni benar-benar tidak mempunyai nafas untuk makan.

Setelah makan, Mahisa Agni langsung masuk ke biliknya. Ken Dedes tidak tahu, apakah yang sedang dilakukannya, dan apakah yang terjadi atasnya, sebab Ken Dedes sendiri itu pun kemudian merendam dirinya di dalam biliknya pula.

Mahisa perlahan-lahan meletakkan tubuhnya di atas pembaringannya. Ia kini tidak membanting diri lagi seperti semalam, sehingga ambennya berderak-derak. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengatur perasaannya. Sehingga kemudian tumbuhlah pikirannya yang hening. Kini ia tinggal menunda sampai senja. Ia mengharap Wiraprana akan datang dan dengan demikian ia akan menyelesaikan pekerjaannya. Ia menyadari, bahwa Ken Dedes benar memerlukan pertolongannya. Betapa pun sakitnya. Ia tidak dapat berbuat lain, daripada berkata dengan hati yang pedih kepada Wiraprana, seperti yang didengarnya dari mulut Ken Dedes semalam. Diminta atau tidak diminta. Biarlah mereka menemukan kebahagiaan, gumamnya.

Mahisa Agni terkejut, ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu biliknya. Kemudian didengarnya sebuah pertanyaan lirih, “Ngger, apakah Angger sedang tidur?”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Suara itu adalah suara emban tua, pengasuh Ken Dedes. Orang itu pasti akan datang kepadanya, dan akan mengulangi permintaan Ken Dedes kepadanya.

“Persetan!” teriaknya di dalam hati.

Tetapi sesaat kemudian ia menjadi tenang kembali. Perlahan-lahan ia bangkit, dan membuka pintu biliknya.

“Masuklah, Bibi,” terdengar Mahisa Agni mempersilakan. Namun suaranya bergetar.

Orang tua itu pun masuk ke dalam bilik Agni dan duduk di amben di samping anak muda itu. Wajahnya yang telah berkerut-kerut itu ditundukkan jauh-jauh menghujam ke jantung bumi.

Nafas Mahisa Agni pun serasa tertahan-tahan di hidungnya. Ia menanti kata-kata emban tua itu. Kata-kata yang sudah didengarnya sendiri. Kata-kata yang telah menyobek jantungnya. Tetapi untuk beberapa saat emban tua itu tidak berkata apa pun. Bahkan terdengar betapa ia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam.

Bilik itu pun kemudian diliputi oleh suasana sepi. Sepi yang tegang. Namun orang tua itu masih berdiam diri.

Alangkah terkejutnya Mahisa Agni, ketika kemudian ia melihat, air mata orang tua itu satu-satu menetes di pangkuannya. Mahisa Agni menjadi heran. Apakah sebabnya? Seharusnya, seandainya dirinya seorang perempuan, maka ialah yang harus menangis melolong-lolong. Bukankah perempuan itu hanya harus datang kepadanya, mengatakan seperti apa yang dikatakan Ken Dedes kepadanya? Tetapi kenapa ia menangis?

“Kenapa Bibi menangis?” tiba-tiba terdengar Mahisa Agni bertanya.

Orang tua itu mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang suram. Kemudian orang tua itu berdesah, “Ah. Alangkah anehnya hidup ini.”

“Apa yang aneh, Bibi?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku tidak menyangka Ngger, bahwa perjalanan hidupmu dan Ken Dedes, pada suatu saat akan sampai di persimpangan,” jawab orang tua itu.

Melonjaklah hati Mahisa Agni mendengar kata-kata itu. Ia ingin meyakinkan pendengarannya, maka ia pun bertanya, “Kenapa?”

“Aku adalah orang tua Ngger,” sahut orang tua itu, “sudah belasan tahun aku hidup di padepokan ini sebagai emban pemomong putri Empu Purwa itu. Dan sudah belasan tahun pula aku mengenalmu. Betapa aku melihat tingkah laku kalian berdua, hubungan kalian berdua sebagai kakak beradik. Aku, yang hidup di luar ikatan itu, merasa betapa kalian tak akan terpisahkan. Namun tiba-tiba semalam aku mendengar suatu keajaiban. Keajaiban yang tak pernah aku sangka-sangka.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ditatapnya kembali wajah orang tua itu. Orang tua yang seakan-akan memancarkan perasaan belas kasihan kepadanya. Karena itu tiba-tiba luka di hati Mahisa Agni seperti diungkit-ungkitnya. Sebagai seorang laki-laki Mahisa Agni tidak akan tenggelam dalam kegagalan itu. Maka justru harga dirinyalah yang tersinggung. Tetapi, jauh di dasar dadanya terdengar hatinya menangis. Tidak, ia mencoba menutupi tangis itu. Karena itu dengan gagahnya ia berkata, “Ada yang bibi tangiskan? Apakah bibi menyangka bahwa aku dan gadis itu akan dapat tetap hidup bersama-sama. Aku adalah laki-laki. Suatu ketika aku akan meninggalkan padepokan ini. Bukankah aku di sini hanya sekedar berguru?”

Orang tua itu tidak menjawab. Tetapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang mulai berkeriput.

“Jangan Bibi berprasangka,” Agni meneruskan, “tak ada hubungan apa pun antara aku dan gadis itu, selain sebagai anak guruku. Apabila kemudian aku dan gadis itu akan sampai di persimpangan jalan, itu adalah wajar. Aku atau gadis itulah yang akan pergi dahulu meninggalkan padepokan ini. Aku akan dapat segera pergi untuk merantau menambah pengalaman hidup dan pengalaman ilmu yang aku miliki, atau gadis itulah yang pergi dahulu mengikuti suaminya di rumah Buyut Panawijen.”

“Oh?” perempuan tua itu terkejut, sehingga ia berkisar maju.

Mahisa Agni pun terkejut, ketika ia melihat emban tua itu sedemikian terkejutnya mendengar jawabannya. Barulah kemudian ia sadar, bahwa kata-kata yang terloncat dari mulutnya agaknya telah mendahului kabar yang akan dibawa perempuan itu kepadanya. Ternyata pula kemudian orang tua itu bertanya, “Adakah Ken Dedes telah mengatakannya kepadamu?”

Mahisa menjadi bingung. Ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu, sehingga kemudian wajahnya pun tunduk lesu. Dan mulutnya serasa terbungkam. Hanya tubuhnyalah yang kemudian bergetar.

Emban tua itu menjadi sedemikian heran, sehingga ia mengulangi pertanyaannya, “Angger, dari manakah Angger tahu, bahwa Ken Dedes pada suatu ketika akan meninggalkan padepokan ini dan mengikuti suaminya ke rumah Buyut Panawijen?”

Mahisa Agni akhirnya merasa, bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu. Tak mungkin ia mengelak lagi. Maka dengan angkuhnya ia berkata untuk menutupi kekurangan yang mencengkam perasaannya, “Kenapa tidak? Aku telah mengatakan kepadanya, Wiraprana adalah pilihan satu-satunya baginya. Aku, yang telah menganggap Ken Dedes itu sebagai adik kandungku, telah menyetujuinya gadis itu berbuat demikian, daripada ia harus memilih salah satu dari anak-anak yang belum dikenal watak dan tabiatnya.”

“Oh,” desah perempuan itu, namun ia bertanya, “sejak kapan kau mengatakan kepadanya?”

“Sudah lama aku berkata demikian kepadanya,” jawab Agni. Ia sudah terdorong masuk ke lubang yang digalinya. Karena ia tidak dapat meloncat keluar. Bahkan ia akan menjadi semakin dalam terbenam ke dalamnya, sehingga kemudian terdengar perempuan itu bertanya, “Sudah lama? Sehari?”

“Sebulan,” sahut Mahisa Agni.

“Oh,” kembali emban tua itu berdesah. Dan alangkah gelisahnya Mahisa Agni, ketika ia melihat mata orang tua itu, yang seakan-akan menjadi semakin kasihan kepadanya. Sedemikian gelisahnya, sehingga Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa bibi memandang aku sedemikian?”

“Aku kasihan kepadamu, Ngger,” jawabnya jujur.

“He?” Agni hampir berteriak, “kenapa kasihan? Aku laki-laki yang tidak perlu belas kasihan orang lain. Juga belas kasihan darimu, Bibi. Juga tidak dari Ken Dedes.”

Perempuan itu mengerutkan keningnya, “Kenapa Ken Dedes?”

Kembali Agni terbungkam. Dan kembali ia tidak tahu, bagaimana ia akan menjawabnya.

“Angger,” berkata perempuan itu kemudian perlahan-lahan, “jangan membohongi aku. Pasti kau belum mengatakannya kepada Ken Dedes, bahwa sebaiknya gadis itu memilih Wiraprana.”

Orang tua itu berhenti sejenak, lalu lanjutnya, “Baru semalam gadis itu minta kepadaku untuk menyampaikannya kepadamu. Tetapi kau sudah mendengarnya. Adakah semalam kau mendengarkan percakapan kami?”

Mahisa Agni benar-benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga ia menjadi bingung dan gugup. Namun ia tidak mau melihat kekurangan dirinya. Ia tidak mau seseorang menganggapnya bahwa ia tidak dapat memadai Wiraprana, sehingga seorang gadis lebih menyukai Wiraprana daripadanya. Karena itu maka katanya, “Apa salahnya aku mendengar percakapan kalian. Aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku sudah berjanji, bahwa aku akan menyampaikannya kepada Wiraprana. Membawanya kepada gadis itu. Kenapa tidak? Aku sama sekali tak berkepentingan dengan keduanya, selain Ken Dedes adalah adikku dan Wiraprana adalah sahabatku.”

Mahisa Agni masih berkata terus, namun orang tua itu memotong kata-katanya, “Adakah sedemikian juga kata hati mu?”

“Jangan mengada-ada, Bibi,” sahut Mahisa Agni sambil berdiri. Kemudian ia melangkah beberapa langkah, dan berdiri di pintu sambil bersandar tiang. Pandangannya jauh menyeberangi ruang dalam seakan-akan menembus dinding-dinding rumah Empu Purwa.

Tetapi Mahisa Agni kemudian memutar tubuhnya, dan sekali lagi ia heran. Perempuan itu menangis. Karena itu sekali lagi Mahisa Agni bertanya, “Kenapa kau menangis?”

Kini emban tua itu menunduk. Dari sela-sela isak tangisnya ia berkata, “Angger, aku ingin melihat kau berbahagia. Aku ingin melihat kau dan Ken Dedes, hidup bersama-sama dalam ikatan keluarga.”

“Tidak,” potong Mahisa Agni, “tidak! Jangan Bibi mencoba mempengaruhi kemurnian anggapanku terhadap gadis itu. Aku tidak lebih dari kakak kandungnya.”

“Agni,” kata perempuan itu, “jangan berbohong kepadaku. Dan jangan berbohong kepada diri sendiri.”

“Cukup!” Mahisa Agni membentak. Tetapi ia menyesal. Karena itu ia berkata lirih sambil mendekati perempuan itu, “Maaf, Bibi. Tetapi Bibi jangan menyebut-nyebut itu lagi.”

Mahisa Agni menjadi gelisah ketika kembali wanita tua itu memandangnya. Sinar matanya itu seakan-akan langsung menghunjam ke jantungnya. Karena itu sekali lagi Mahisa Agni melangkah, bersandar uger-uger pintu.

“Aku menjadi bersedih, Ngger,” bisik emban itu, “ketika aku mendengar Ken Dedes menyebut sebuah nama. Dan nama itu bukan namamu.”

“Jangan pedulikan aku Bibi,” potong Agni.

“Tidak dapat Ngger. Aku menitipkan harapan di hari depanmu.”

Mahisa Agni tersentak. Cepat-cepat ia berpaling dan bertanya, “Kenapa?”

“Kau masih mau mendengar?”

“Tentang harapan itu, bukan tentang seorang gadis.”

Perempuan itu menunduk. Kemudian ia berkata-kata, namun seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, “Kau adalah satu-satunya harapan bagi masa depan yang panjang Agni. Bukankah kau tidak bersaudara? Kalau masa depanmu suram, masa depanku pun menjadi gelap. Lebih gelap daripada masamu itu. Sebab umurku tidak akan melebihi hitungan jari sebelah tangan.”

Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu arah pembicaraan perempuan tua itu. -Apakah hubungannya hari depannya dengan hari depan orang tua itu. Karena itu, maka dengan berbagai pertanyaan di dadanya ia mendengar perempuan itu berkata, “Kalau kalian tidak terpisahkan. Maka aku pun akan selalu bersama kalian. Aku pasti akan ikut Ken Dedes sebagai pemomongnya. Kalau kau terpisah daripadanya, maka aku pun tak akan melihatmu lagi setiap hari.”

“Oh,” Agni menjadi kecewa mendengar alasan itu. Betapa sederhana. Maka jawabnya, “Bibi terlalu mementingkan kepentingan sendiri. Bibi hanya ingin mengikuti Ken Dedes dan melihat aku setiap hari. Itu saja? Baik. Baik. Kelak aku juga akan ikut Ken Dedes dan Wiraprana. Biarlah aku menjadi juru pengangsu atau menjadi pakatik pemelihara kuda.”

Kata-kata Agni terputus ketika orang tua itu menutup kedua wajahnya dengan tangannya yang kisut. Terdengarlah orang tua itu terisak.

Dan Agni pun menjadi semakin tidak sabar. Maka katanya, “Kenapa Bibi menangis saja? Bukankah Ken Dedes minta Bibi menyampaikan kepadaku permintaan supaya aku berkata kepada Wiraprana bahwa Ken Dedes menunggunya. Bahkan Wiraprana harus datang kepada Empu Purwa dengan sebuah upacara lamaran. Dan bahwa lamaran itu pasti akan diterimanya? Bukankah begitu?”

“Ya, ya, Agni,” potong perempuan itu, “demikianlah.”

“Nah. Kenapa Bibi tidak mengatakannya? Malahan Bibi menangis saja?”

“Aku ingin mengatakannya kepadamu. Tetapi bukankah kau sudah mengetahuinya?” sahut emban itu, “karena itu tentu sudah tidak akan menarik lagi bagimu. Tetapi Ngger, keinginanku melihat kalian berdua hidup bersama bukan karena alasan yang terlalu sederhana itu. Bukan itu. Dan aku tidak berkeinginan untuk memaksamu atau mempengaruhi keikhlasanmu, seandainya kau benar-benar melihat kenyataan itu. Bahkan aku ingin melihat kau melampaui kegagalan ini dengan hati jantan.”

“Ah,” Agni berdesah.

“Tetapi,” orang tua itu meneruskan, “aku menjadi gelisah karena aku melihat keadaanmu.”

“Biar, biarlah aku dalam keadaanku,” sahut Agni.

“Angger, kau masih mau mendengar sebuah cerita?”

Agni menoleh. Ditatapnya kembali wajah yang sudah berkeriput oleh garis-garis ketuaannya. Tetapi kembali Mahisa Agni menatap titik di kejauhan. Gumamnya acuh tak acuh, “Cerita tentang harapan di masa depan. Bukan tentang gadis.”

Orang tua itu menggeser duduknya. Kemudian sambil menundukkan kepala ia mulai dengan kisahnya, “Dahulu adalah seorang gadis yang sederhana. Sederhana ujudnya dan sederhana hatinya. Tetapi di luar setahunya dan kemauannya, beberapa orang pemuda telah mencintainya bersama-sama. Sudah tentu bahwa gadis itu tak akan dapat memilih lebih dari satu di antaranya. Karena itu di luar pengetahuan siapa pun, gadis itu telah berjanji untuk hidup bersama-sama dengan salah seorang dari mereka. Seorang laki-laki yang keras hati dan berkemauan teguh. Untuk bekal hidup mereka kelak maka laki-laki itu memutuskan untuk pergi merantau, mencari daerah-daerah baru yang akan dapat memberi mereka tanah untuk garapan, supaya mereka dapat hidup dengan tenang dan tidak kekurangan makan. Gadis itu pun tidak berkeberatan. Dilepasnya laki-laki itu dengan janji, bahwa gadis itu akan menunggunya sampai ia kembali.”

Mahisa Agni mendengar juga cerita itu. Kata demi kata. Tetapi ia sama sekali tidak menaruh minat. Ia mendengarkan hanya karena ia tidak mau menyakitkan hati emban tua itu. Apalagi ternyata cerita itu sama sekali tak menyinggung-nyinggung hubungan antara masa depan perempuan tua itu dengan masa depannya. Dan ia masih mendengar emban itu berkisah terus, “Setahun, dua tahun sehingga akhirnya sampai pada tahun ketiga. Namun laki-laki itu tak kunjung datang. Harapan-harapan yang telah dianyam oleh mereka berdua, sedikit demi sedikit rontok dari hati gadis itu. Apalagi kemudian ayah bundanya, dan keluarga di sekitarnya, telah mendesaknya untuk segera meninggalkan masa-masa mudanya. Akhirnya gadis itu tak dapat berbuat lain daripada memilih satu dari sekian banyak pemuda yang melamarnya. Laki-laki yang pergi itu tak akan dapat diharapnya kembali.”

Perempuan tua itu berhenti sejenak Dipandanginya wajah Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Anak muda itu masih memandang jauh ke depan, melewati pintu biliknya, menyeberangi ruang dalam dan menembus dinding di sebelah sana.

“Kau mendengar ceritaku?” bertanya emban itu.

“Ya, ya, tentu,” Agni terperanjat.

Perempuan tua itu menarik nafas. Ia tahu bahwa Mahisa Agni tidak berminat atas ceritanya, namun ia bercerita terus. Pada suatu saat anak muda itu pasti akan menaruh perhatian kepada ceritanya itu. Maka ia pun meneruskan, “Maka sampailah masanya gadis itu memanjat ke hari-hari perkawinannya. Laki-laki yang dipilihnya kali ini pun adalah laki-laki yang berhati teguh. Ia mengharap bahwa suaminya akan dapat melindunginya apabila sekali-sekali kesulitan datang. Sebab tidak mustahil, apabila anak-anak muda yang menjadi kecewa kelak akan bermata gelap. Namun meskipun laki-laki itu berhati teguh. dan beradat keras, namun ternyata adalah seorang suami yang baik. Dilihatnya kepentingan sendiri, namun. tak diabaikannya kepentingan istrinya itu Sehingga akhirnya, perkawinan itu menjadi semakin terjalin oleh anaknya yang pertama. Laki-laki.”

Sekali lagi perempuan itu berhenti. Matanya menjadi semakin sayu, dan wajahnya menjadi semakin tunduk. Hampir-hampir ia tidak dapat meneruskan ceritanya, karena lehernya serasa tersekat oleh setiap kata-kata yang akan diucapkannya. Namun ia memaksa bercerita terus. Katanya, “Tetapi pada suatu saat, datanglah badai yang mengguncangkan ketenteraman hidup mereka. Laki-laki yang telah disangkanya hilang itu, akhirnya datang kembali. Dengan bangga ia mencari gadis yang telah berjanji menunggunya. Dengan luka-luka di tubuhnya yang didapatnya dalam setiap persoalan di sepanjang jalan, namun dengan dada menengadah ia berkata, ‘Aku sekarang adalah seorang yang kaya raya’ ”

Tetapi akhirnya Mahisa Agni menjadi jemu mendengar cerita itu. Karena itu ia mendahului, “Aku sudah tahu kelanjutan cerita itu. Kedua laki-laki itu akan bertempur satu sama lain. Laki-laki yang merantau itu akan menang, dan perempuan itu akan kembali kepadanya.”

Emban tua itu menjadi sedih. Katanya, “Sayang Ngger, cerita itu berkesudahan lain.”

“Oh,” sahut Agni, “jadi laki-laki yang pulang dari rantau itulah kalah?”

“Tidak,” jawab perempuan tua itu.

“Juga tidak. Jadi bagaimana?” bertanya Mahisa Agni.

Perempuan itu menarik nafas. Seakan-akan sedang mengatur gelora di dadanya. Kemudian ia meneruskan, “Gadis yang telah menjadi ibu itu pun mendengar bahwa laki-laki yang pernah ditunggunya itu datang. Maka ia pun menjadi bingung. Terkenanglah ia pada masa-masa gadisnya. Janjinya kepada anak muda itu. Dan kembali terkenang masa-masa yang penuh gairah menghadapi masa depan. Sebenarnyalah ia masih belum dapat melenyapkan laki-laki itu dari hatinya. Namun disadarinya, bahwa untuk meninggalkan suaminya tak akan dapat dilakukannya. Pergaulan hidup yang selama ini dialaminya, adalah kehidupan yang manis. Karena itu, perempuan itu tak tahu bagaimana ia harus menyelesaikan persoalannya. Apalagi ketika disadarinya, bahwa kedua-duanya adalah orang-orang sakti yang sukar dicari tandingnya.”

“Maka ketika ia tidak dapat menyembunyikan keadaan itu, akhirnya ia memutuskan untuk berkata berterus terang kepada suaminya, dan ia mengharap daripadanya ia akan mendapat pikiran-pikiran baru untuk menyelesaikan persoalan itu.”

“Ketika laki-laki itu mendengar pengaduan istrinya, perasaan-perasaannya dan pengalaman-pengalamannya dengan jujur, laki-laki itu terkejut. Ditatapnya mata istrinya dengan penuh keganjilan. Tetapi laki-laki itu tidak berkata sepatah kata pun. Dibiarkannya istrinya menangis. Bahkan kemudian laki-laki itu pun meninggalkannya seorang diri. Perempuan itu menjadi cemas, bahwa suaminya akan menemui laki-laki yang seorang lagi. Ia takut kalau terjadi perkelahian di antara mereka. Karena itu, maka ia pun segera berlari ke rumahnya. Tetapi suaminya tak ditemuinya di sana. Bahkan laki-laki yang telah pulang dari rantau itulah yang menemuinya. Namun perempuan itu pun tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat menangis. Akhirnya laki-laki itulah yang berkata, ‘Pulanglah. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Dan aku akan merantau kembali membawa hatiku yang terbelah. Aku pulang dengan membawa harapan. Tetapi laki-laki itu lebih memerlukan kau daripada aku. Kembalilah kepadanya, dan peliharalah baik-baik’”

“Perempuan itu mengeluh. Diterimanya nasihat itu, namun disadarinya bahwa ia telah merusak sebuah hati. Ia tidak tahu, apakah hati yang dilukainya itu akan dapat sembuh kembali. Dengan sedih perempuan itu pulang ke suaminya. Namun suaminya tak ditemuinya di rumah. Akhirnya di dengarnya bahwa malapetaka telah menimpanya tanpa disangka-sangkanya. Seorang pembantunya yang setia datang kepadanya sambil berkata ‘Suamimu telah pergi. Ditinggalkannya pesan untuk Nyai, hidup berbahagia dengan laki-laki yang telah bertahun-tahun ditunggunya’”

“Perempuan itu hampir pingsan mendengar berita itu, apalagi ketika pembantu setianya itu berkata, ‘Anakmu laki-laki telah dibawa serta oleh suamimu, Nyai’”

Emban tua itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang tiba-tiba menjadi merah. Dengan tiba-tiba pula Mahisa Agni berdiri, dan dengan suara yang bergetar ia berkata lantang, “Bibi, adakah kau sedang menyindir aku. Apakah kau sangka aku laki-laki cengeng seperti kedua laki-laki itu? Tidak. Atau kau sedang menganjurkan kepadaku, supaya aku menjadi seperti kedua laki-laki yang hanya mampu berpura-pura itu?”

“Katakanlah ia berbuat kebajikan. Keluhuran budi, namun kedua-duanya tidak jujur. Bukankah Bibi mengatakan bahwa hati mereka terbelah?”

“Agni..,” potong perempuan tua itu.

Namun Agni berkata terus, “Ataukah kau menghendaki supaya aku bersikap jantan? Menantang laki-laki yang menghalang-halangi aku. Dengan bertaruh nyawa untuk mencapai idaman hati? Tidak. Tidak. Jangan gurui aku. Sebab aku mempunyai pendirian sendiri. Perempuan itulah yang bersalah. Bukankah dengan demikian, ia memecah dua buah hati sekaligus, atau apabila mereka laki-laki yang rakus, bukankah mereka telah bertempur. Apabila salah seorang dari mereka itu mati atau kedua-duanya, siapakah yang bersalah? Pasti perempuan itu. Gadis itu.”

“Agni. Agni,” perempuan tua itu memekik kecil. Sehingga Agni terkejut. Dengan demikian ia menjadi terdiam. Bahkan ia pun kemudian sadar, bahwa ia telah berbicara terlalu keras, sehingga apabila seseorang mendengarnya, pastilah orang itu menyangka bahwa ia sedang bertengkar.

Tetapi Mahisa Agni menjadi lebih terkejut lagi ketika dilihatnya mata perempuan tua itu. Mata itu tiba-tiba menjadi bercahaya, dan mata itu menatapnya dengan tajam. Dan dilihatnya bibir wanita itu bergetar. Perlahan-lahan namun pasti perempuan tua itu berkata, “Kau benar Agni. Perempuan itulah yang bersalah. Ia telah mengecewakan kedua-duanya. Karena itulah maka perempuan itu harus dihukum. Kau benar anak muda. Perempuan itu harus dihukum. Dan perempuan itu pun telah menghukum diri sendiri. Betapa ia membuang diri dari lingkungannya. Dari keluarga dan sanak kadang. Hiduplah ia kemudian sebagai seorang budak yang hina.”

Emban itu berhenti sejenak. Matanya masih menyala. Kemudian ia meneruskan, “Tetapi apakah yang dilakukan oleh kedua laki-laki itu. Meskipun mereka tidak bertempur satu sama lain, namun tak banyaklah artinya daripada itu. Mereka menumpahkan kepahitan hidupnya pada orang-orang lain. Dan kedua laki-laki itu pun tak berumur panjang. Sebelum matinya, laki-laki yang membawa anaknya itu selalu berkata kepada anaknya, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Dan akhirnya ayahnya pun meninggal pula.”

Ketika perempuan tua, emban Ken Dedes itu berhenti sejenak Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Masih dilihatnya mata emban itu memandangnya dengan tajam. Dan tiba-tiba saja terasa seakan-akan sinar mata itu menusuk ulu hatinya, sehingga Mahisa Agni pun dengan tergesa-gesa berpaling.

Kemudian terdengar emban itu meneruskan, “Tetapi ke tahuilah Agni. Perempuan itu, ibu anak yang ditinggalkan ayahnya itu, sebenarnya belum mati.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Terasa sesuatu bergolak di dalam rongga dadanya. Apalagi ketika ia mendengar emban itu meneruskan dengan suara lembut, namun dalam sekali, “Agni, kau ingin melihat perempuan yang berdosa itu. Yang telah mengecewakan dua orang lelaki sekaligus?”

Agni tidak menjawab. Tetapi ia memandang mata perempuan tua itu. Dan telinganya mendengar emban itu berkata, “Inilah perempuan itu.”

“Oh,” Agni terperanjat. Dan tak sesadarnya ia berkata, “Maafkan aku Bibi.”

“Kau benar Ngger. Tak ada yang harus aku maafkan,” perempuan tua itu menundukkan wajahnya. Dan kembali air matanya menetes satu-satu. Tetapi kini Agni melihat betapa sedih hati perempuan itu. Justru karena ia menyadari, bahwa ia telah menghancurkan harapan dari dua orang laki-laki bersama-sama.

Agni pun menundukkan wajahnya. Ia menyesal akan ketelanjurannya. Ia menyesal bahwa ia telah bersikap terlalu kasar kepada perempuan tua itu. Kini sedikit demi sedikit terguratlah di dinding hatinya, maksud sebenarnya dari perempuan itu. Mungkin perempuan itu akan mengatakan kepadanya, bahwa Ken Dedes pun tak dapat disalahkannya. Meskipun perempuan itu tidak membantah, bahkan mengakui, bahwa dirinya telah berdosa, tetapi tersimpan juga pertanyaan di hatinya ‘Apakah sebenarnya aku bersalah?’.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Mungkin, katanya di dalam hati. Mungkin perempuan itu akan memberi nasihat kepadaku, supaya aku tidak mendendam dan menjalani sisa-sisa hidup dengan pedih dan duka. Tetapi Mahisa Agni tak berkata sepatah pun.

Untuk sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Dan perempuan tua itu sedang sibuk mengusap air matanya dengan ujung kainnya.

Tetapi sampai saat itu Mahisa Agni masih belum dapat menghubungkan, betapa perempuan itu menyimpan harapan sejalan dengan masa depannya.

Sesaat kemudian terdengar emban itu berkata, “Angger, kini kau tahu dengan siapa kau berhadapan. Bagaimanakah anggapanmu kepada perempuan yang demikian? Masihkah ia berhak menyebut dirinya di antara keluarganya?”

Mendengar pertanyaan itu, Mahisa Agni menjadi bimbang. Apakah perempuan itu bercerita tentang dirinya, ataukah ia sedang menjajaki tanggapannya terhadap Ken Dedes? Tetapi melihat sinar matanya, maka Agni merasa, bahwa perempuan itu berkata dengan jujur. Meskipun demikian Agni tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Sehingga perempuan itu terpaksa sekali lagi mengulangi.

“Angger, bagaimanakah anggapanmu terhadap perempuan yang demikian? Apakah ia mutlak bersalah dan harus dihukum untuk seumur hidupnya?”

Dengan serta merta Agni menjawab di luar kemauannya, “Tidak. Tidak Bibi.”

Perempuan itu menarik nafas. Kemudian ia bertanya pula, “Bagaimanakah seandainya, perempuan itu termasuk salah seorang keluargamu. Kakakmu misalnya atau adikmu perempuan?”

Kini Agni menjadi semakin bimbang. Hampir ia kecewa terhadap perempuan itu. Apakah aku harus menentukan tanggapanku terhadap Ken Dedes? Sekali lagi tebersit pertanyaan di dalam hati. Namun akhirnya Mahisa Agni tak dapat lagi menyimpan pertanyaan itu, sehingga akhirnya terlontar dari mulutnya, “Adakah Bibi sedang ingin mengetahui, apakah aku mendendam kepada Ken Dedes?”

“Tidak Ngger. Tidak,” jawab perempuan tua itu cepat-cepat, lalu disambungnya, “Aku bertanya kepadamu sejujur hatiku. Kalau perempuan itu datang kepadamu Agni, apakah akan kau usir dia?”

Agni memandang perempuan tua itu dengan tajamnya. Ketika dilihatnya wajah yang sayu, maka ibalah hatinya. Ia tidak mau menambah pedih hati yang luka itu. Karena itu ia menjawab, “Tentu Bibi. Seandainya aku salah seorang dari keluarga bibi, maka akan aku terima Bibi kembali kepadaku.”

“Oh,” perempuan itu akan berkata, namun tiba-tiba kembali ia menangis. Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin tidak mengerti. Apakah sebenarnya yang terjadi dengan perempuan itu?

Disela-sela tangisnya Agni mendengar ia berkata, “Agni. Aku tidak tahu, apakah kau berkata sebenarnya, atau kau hanya ingin menyenangkan hatiku. Tetapi ketahuilah, bahwa perempuan itu, aku, benar-benar ingin kembali kepada satu-satunya keluarganya yang diketahuinya. Bahkan satu-satunya orang yang dapat menyebutnya orang tua. Agni. Ketahuilah bahwa perempuan itu ingin datang kepada anak laki-lakinya. Dan anak laki-laki itu kini telah ditemukannya. Bahkan sebenarnya sudah sejak lama. Namun perempuan itu takut melihat bayangannya sendiri.”

Perempuan itu berhenti sejenak. Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan dada Mahisa Agni. Apalagi ketika perempuan itu berkata seterusnya. Kata demi kata, bagaikan guruh yang menggelegar di tengah-tengah hari yang cerah, “Agni. Anak-anak laki-laki itu kini berada di sini pula. Di ruangan ini.”

“Bibi,” potong Agni terbata-bata, “Apakah yang dimaksudkan dengan anak laki-laki itu aku?”

Perempuan itu mengangguk. Lemah dan ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata pasti, “Ya Agni. Kau.”

“Jadi….?” Agni ingin berkata lagi. Namun tiba-tiba terasa mulutnya seperti tersumbat dan jantung serasa beku. Tubuhnya yang kokoh itu pun bergetar dan akhirnya terhuyung-huyung ia melangkah maju, sambil berdesis, “Ibu. Benarkah?”

Perempuan itu mengangguk lemah. Lemah sekali.

Peristiwa itu benar-benar tak akan disangka-sangka sebelumnya. Karena itu Mahisa Agni menjadi bingung. Sesaat ia berdiri mematung, namun kemudian ia meloncat dua langkah maju dan berjongkok di hadapan perempuan tua itu. Katanya, “Jadi benarkah bahwa yang duduk di hadapanku ini ibuku?”

“Ya, Agni,” jawab perempuan itu, “ibu yang melumuri tubuhnya dengan dosa. Tak ada yang pernah aku kerjakan sebagai seorang ibu untuk anaknya. Dan sekarang terserah kepadamu Agni. Apakah kau ingin menerimanya atau kau akan menolaknya.”

Agni tidak menjawab. Tetapi dengan gemetar ia memeluk kaki perempuan tua itu. Dadanya yang bergelora serasa akan meledak. Setetes demi setetes air mata perempuan tua itu menitik di atas kepalanya.

Kembali bilik itu menjadi sepi. Yang terdengar adalah nafas Mahisa Agni yang berdesak-desakan memburu keluar dari lubang-lubang hidungnya. Seperti orang yang kehilangan kesadaran. Agni tenggelam dalam suatu gelora perasaan yang dahsyat. Pertemuan itu benar-benar mengejutkannya. Sebab telah tertanam di dalam hatinya suatu pengertian, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Kini perempuan itu berkata, bahwa ia adalah ibunya. Meskipun kata-kata itu tak akan dapat dibuktikannya, namun Agni mempercayainya. Dengan suatu keyakinan, yang tumbuh di dalam hatinya, ia pasti, bahwa perempuan itu adalah ibunya.

KEMUDIAN Agni merasa tangan-tangan yang berkeriput itu membelai rambutnya dan kemudian menepuk pundaknya, “Bangkitlah Mahisa Agni. Duduklah supaya orang tidak melihat kejanggalan ini.”

Mahisa Agni pun kemudian bangkit dan duduk di samping emban tua itu. Tetapi wajahnya masih ditundukkannya, memandang dalam-dalam ke dalam gambaran-gambaran di benaknya. Wajah perempuan itu, matanya, hidungnya, dahinya.

“Ah,” desah Agni di dalam hati kenapa aku tidak melihatnya sebelumnya. Hampir saya aku melukai hatinya.”

Yang terdengar kemudian ibunya berkata, “Agni. Sekarang kau melihat, apakah sebabnya aku menggantungkan harapan masa depanku sejalan dengan keadaanmu. Namun anakku, bahwa apa yang terjadi sebenarnya adalah satu peristiwa timbal balik, hutang piutang dan sebab akibat. Kau yang sama sekali tidak bersalah, kini harus menerima akibat dari kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan sebelumnya. Aku telah mengecewakan hati laki-laki, bahkan dua orang sekaligus. Dan kini kau, anakku, agaknya telah dikecewakan oleh seorang gadis pula.”

Agni masih menundukkan wajahnya. Ia tidak membantah lagi. Tidak seharusnya ia menyembunyikan perasaannya kepada ibunya. Ibu yang meskipun baru saja dikenalinya.

“Tetapi anakku,” berkata ibunya, “kau telah mendengar cerita tentang ibumu, ayahmu dan laki-laki yang merantau itu. Meskipun kau kini mengalami nasib yang mirip dengan laki-laki itu, tetapi kau jangan kehilangan masa depanmu. Kau dapat memilih satu di antara dua. Namun dengan ikhlas dan jujur. Merebut gadis itu atau melepaskan dengan ikhlas. Sudah temu kau tidak akan mengorbankan hubunganmu sebagai seorang murid terhadap gurunya yang telah bertahun-tahun memeliharamu. Tidak saja sebagai seorang murid, namun sebagai seorang anak yatim piatu. Nah Agni, aku ingin mendengar dari mulutmu, apakah yang akan kau lakukan?”

Agni masih diam menekurkan kepalanya. Ia tidak merasa tersinggung lagi kini. Bahkan serasa ia mendapat saluran yang wajar untuk meluapkan perasaannya. Karena itu maka ia pun menjawab, “Ibu. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya dengan ikhlas Sebab aku merasa, bahwa aku tidak akan dapat memaksanya untuk mengalihkan perasaannya dengan paksa. Meskipun seandainya aku berhasil berbuat sesuatu yang dapat memaksa gadis itu mengubah pendiriannya, namun aku tidak yakin, apakah gadis itu tidak akan tersiksa sepanjang hidupnya. Dan apakah aku tidak tersiksa pula karena aku hanya dapat memiliki tubuhnya, namun bukan hatinya.”

Perempuan tua itu mengangguk-angguk. “Syukurlah,” katanya. Tetapi kau jangan mengorbankan masa depanmu yang panjang. Kalau kau sudah menerima keadaan itu, jangan kau bunuh hari depanmu dengan keputusasaan.”

Agni menggeleng lemah. “Tidak ibu,” jawabnya.

“Demikianlah, Anakku,” sahut ibunya, “terimalah akibat ini. Akibat dari perbuatan ibumu.”

“Karma,” desah Agni di dalam hatinya.

Dan terdengar ibunya melanjutkan, “Dan akibat itu datang terlampau cepat.”

Ibunya diam untuk sesaat. Tetapi kemudian ia berkata pula, “Sepeninggal ayahmu Agni, aku telah mencarimu. Akhirnya aku temukan kau dalam asuhan orang lain yang baik hati kepadamu. Tetapi aku tidak dapat mengambil kau sebagai seorang ibu mengambil anaknya. Karena itu, apabila selama masa pembuangan diri itu aku mengabdikan diriku di sini, di padepokan Empu Purwa maka aku minta dengan sangat, supaya Empu Purwa mengambil seorang anak laki-laki kecil sebagai muridnya. Tentu aku tidak mengatakan, bahwa laki-laki itu adalah anakku. Tetapi aku berhasil membujuknya dengan mengungkit rasa belas kasihannya.”

Kini Agni menjadi jelas. Dan terasa kemudian, betapa emban Ken Dedes itu sangat baik kepadanya. Mula-mula ia menyangka bahwa emban itu baik hati kepadanya, karena ia murid Empu Purwa, yang seakan-akan telah menjadi saudara kandung putrinya. Namun kalau demikian halnya maka sikap emban itu agak berlebih-lebihan. Dan kini perempuan itu meneruskan kata-katanya, “Aku menjadi cemas dengan keadaanmu sejak semalam. Tetapi kini aku sudah mendengar dari mulutmu sendiri. Karena itu aku menjadi berlega hati. Nah, Agni, sebagai emban Ken Dedes, maka biarlah aku minta kepadamu. Sampaikan permintaan yang telah kau ketahui itu kepada Wiraprana. Demi kelangsungan masa depanmu dengan perguruanmu. Sudah tentu kau tak akan mengatakan kepada siapa pun juga, siapakah sebenarnya aku ini.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Dan terdengar ia berkata lirih, “Senja nanti Wiraprana akan datang kemari.”

Perempuan tua itu tersenyum. Sekali lagi ditepuknya bahu Mahisa Agni. Katanya, “Aku harap kau berjiwa besar.”

“Mudah-mudahan,” jawab Mahisa Agni.

Emban tua itu pun kemudian bangkit. Perlahan-lahan ia melangkah keluar. Namun di muka pintu ia berhenti sejenak, berpaling dan berkata, “Aku akan pergi kepada gadis putri Empu Purwa itu. Mengatakan kepadanya, bahwa Mahisa Agni telah menyanggupinya, menyampaikan pesannya kepada Wiraprana. Begitu?”

Mahisa Agni mengangguk lemah.

“Baiklah,” gumam ibunya. Dan sesaat kemudian perempuan tua itu telah hilang di balik pintu.

Kini kembali Mahisa Agni seorang diri di dalam biliknya. Bilik yang semula. Tetapi terasa betapa ada perbedaan di dalam dirinya. Kini ia tidak lagi merasa terlalu sepi. Tiang-tiang, dinding dan sudut-sudut biliknya tidak setegang tadi. Dan terasa oleh Mahisa Agni, bahwa padepokan itu masih mengikatnya kembali. Ibunya berada di padepokan itu pula. Dengan demikian, maka masih diharapkannya untuk tinggal di tempat ini. Mudah-mudahan ia memberikan baktinya kepada ibunya itu. Meskipun ibunya seakan-akan tak pernah berbuat sesuatu untuknya, namun perempuan itu telah berjuang melawan maut pada saat melahirkannya, kemudian menyusuinya dengan penuh harapan, bahwa bayinya akan dapat hidup terus dan menjadi besar. Dan kini ia telah menjadi besar. Lalu apakah yang akan dilakukan untuk ibunya itu?

Beberapa saat berselang, ibunya memberinya beberapa petunjuk dan pesan-pesannya. Pesan seorang ibu. Dan tiba-tiba hati Mahisa Agni menjadi besar. Dengan dada tengadah ia menanti kedatangan Wiraprana, “Aku akan berkata kepadanya. Mudah-mudahan akan dapat memberinya kegembiraan.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali ia meletakkan tubuhnya di pembaringannya. Betapa penat telah menjalari seluruh tubuhnya. Namun ia tidak dapat memejamkan matanya. Kini ia sedang mereka-reka, bagaimana ia harus mengatakan kepada Wiraprana.

Matahari di langit berjalan di dalam garis edarnya. Semakin lama semakin condong ke barat. Cahaya-cahaya merah telah bertebaran di atas pohon-pohon kelapa dan mewarnai lereng-lereng perbukitan. Burung-burung seriti beterbangan menangkapi belalang di padang-padang rumput. Dan hari yang cerah itu pun berangsur-angsur menjadi suram.

Menjelang senja Mahisa Agni telah membersihkan dirinya. Mandi di sumur belakang rumah gurunya. Kemudian duduk dengan gelisahnya di regol halaman menunggu Wiraprana. Ia harus segera menyampaikan pesan itu sebelum ia bertemu dengan gurunya. Mungkin gurunya pun akan bertanya kepadanya, apakah pesan putrinya telah sampai kepada anak buyut Panawijen itu. Meskipun ia sadar, bahwa gurunya pun akan memaksa dirinya sendiri untuk menuruti permintaan putri satu-satunya. Tetapi, ada juga kemungkinan lain. Ken Dedes sama sekali tidak mengatakan kepada ayahnya sampai pada suatu ketika ayahnya mengadakan permainan sayembara pilih kembali.

“Biarlah, apa yang akan dilakukan,” berkata Agni di dalam hati, “namun aku harus menyampaikannya kepada Wiraprana.

Hati Mahisa Agni menjadi berdebar-debar ketika dari kejauhan ia melihat anak muda yang ditunggunya itu datang. Karena itu segera ia pun berdiri. Sesaat ia tegak di tengah-tengah regol itu, namun kemudian ia melangkah menepi bersandar pada tiang pintu. Tetapi sesaat lagi ia telah berjalan hilir mudik melintasi jalan di muka regol halaman itu.

Wiraprana yang berjalan ke arahnya itu pun tidak kalah gelisahnya. Anak muda itu melihat Mahisa Agni berjalan hilir mudik, berdiri tegak, kemudian berjongkok kembali. Karena itu maka Wiraprana pun tak ada habis-habisnya berpikir, “Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan kepadanya, atau kepada Ken Dedes?”

Tetapi ia berjalan terus. Apapun yang dihadapinya, akan diterimanya dengan baik. Seandainya ternyata ia bersalah, maka adalah menjadi kewajibannya untuk minta maaf. Baik kepada Mahisa Agni maupun kepada Ken Dedes.

Akhirnya Wiraprana itu pun sampai di regol itu pula. Dilihatnya Mahisa Agni tersenyum dan kemudian berkata, “Aku menunggumu sejak tadi Wiraprana.”

Wiraprana pun tersenyum pula. “Bukankah kau minta aku datang sesudah senja?”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Wiraprana, apakah sudah mengairi sawahmu?”

Wiraprana mengangguk. “Sudah,” jawabnya.

“Bagus,” jawab Agni, “kalau demikian kau tidak akan tergesa-gesa.”

Dada Wiraprana berdesir. Selama ini ia sealu datang ke rumah ini. Tidur di sini, makan di sini. Kenapa tiba-tiba kini Mahisa Agni bersikap demikian. Apalagi kemarin ia tampak terlalu tergesa-gesa. Namun ia menjawab juga, “Semua pekerjaanku sudah selesai Agni.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Marilah kita pergi ke bendungan.”

Wiraprana mengangguk. Meskipun terasa betapa canggungnya pertemuannya kali ini. Berpuluh kali ia telah pernah mendengar Mahisa Agni mengajaknya ke bendungan, namun kali ini hatinya berdebar-debar juga. Meskipun demikian Wiraprana mengangguk juga sambil menjawab, “Marilah.”

Agni tidak berkata apa-apa lagi. Keduanya kemudian berjalan bersama-sama ke bendungan. Kemarin, dua hari yang lampau, tiga hari yang lampau, lima, sepuluh dan beratus-ratus kali di saat-saat lampau, keduanya sering pula berjalan ke bendungan. Tetapi kali ini keduanya seperti asing. Mereka berjalan sambil berdiam diri. Cepat-cepat seperti takut terlambat.

Ketika mereka telah tegak di bedungan, berkatalah Mahisa Agni, “Duduklah Wiraprana.”

“Hem,” desah Wiraprana.

“Agni memang aneh akhir-akhir ini,” katanya di dalam hati, “biasanya tak pernah ia mempersilakan demikian. Apakah aku akan berjungkir balik, atau akan terjun sekalipun, tak pernah ia menegurku.”

Meskipun terasa betapa kaku pertemuan itu, namun Wiraprana kemudian duduk juga di samping Mahisa Agni. Untuk sejenak mereka masih berdiam diri. Wiraprana memandang jauh-jauh ke kelokan sungai, memandang air yang berputar-putar dan kemudian lenyap seperti ditelan hantu, hilang di balik kelokan.

Beberapa kali Mahisa Agni menarik nafas. Ketika melihat warna-warna yang semakin kelam di ujung pepohonan ia menjadi gelisah. Sebenarnya Mahisa Agni ingin langsung menyampaikan pesan Ken Dedes. Namun ia tidak segera menemukan cara untuk memulainya. Tetapi ia sadar, lambat atau cepat ia harus berkata. Karena itu akhirnya di cobanya juga berkata, “Wiraprana, kali ini aku ingin menyampaikan sebuah pesan untukmu.”

Wiraprana kemudian berpaling. Ditatapnya wajah Agni yang menunduk. Karena Mahisa Agni tidak segera meneruskan kata-katanya maka Wiraprana pun menyahut, “Agni. Sudah terasa betapa janggal sikapmu akhir-akhir ini. Supaya aku tidak selalu berteka teki, maka sudah sepantasnya kalau kau mengatakan sesuatu kepadaku. Apakah aku telah berbuat kesalahan, atau apapun yang mengecewakanmu atau mengecewakan Ken Dedes.”

“Tidak!” Mahisa Agni menggeleng, “Kau tidak mengecewakan siapa pun. Aku tidak, Ken Dedes apalagi.”

Mahisa Agni diam sesaat. Dicobanya mengatur perasaannya. Ia harus mengatakan sesuatu yang dirasakannya terlalu pahit. Namun ketika diingatnya pesan ibunya, maka ia pun menjadi agak tenang. Maka katanya, “Sudah lama aku mengenalmu, dan sebaliknya. Kau pun telah mengenal seluruh keluarga kami. Guruku, aku dan Ken Dedes. Wiraprana, hampir setiap hari kau berkunjung ke rumah guru. Apakah benar-benar hanya karena aku ada di sana?”

Wiraprana terkejut mendengar pertanyaan itu. Sahutnya, “Apakah maksudmu Agni?”

Agni menarik nafas. Dengan sangat berhati-hati ia mengulangi supaya tidak menimbulkan salah mengerti, “Wiraprana, maksudku, apakah kehadiranmu setiap hari di rumah Empu Purwa itu benar-benar karena kau ingin menemui aku?”

“Tentu!” jawab Wiraprana cepat-cepat.

Wajah anak muda itu pun menjadi merah, dan hatinya semakin berdebar-debar, “Apakah kau menyangka lain, Agni?”

“Tidak,” sahut Agni, “mula-mula aku tidak menyangka lain, namun sekarang aku mengharap, semoga kau mempunyai maksud yang lain.”

“Ah,” desah Wiraprana, “aku tidak mengerti. jangan membuat aku bingung, Agni. Katakanlah.”

“Prana,” berkata Mahisa Agni, “betapa berat pesan yang dititipkan kepadaku untukmu. Sebagai seorang kakak, aku wajib memenuhinya. Namun aku mengharap kau tidak menjadi kecewa, justru karena pesan itu. Kau jangan salah menilai, bahwa seorang gadis sedemikian berani memberikan pesan yang tak ternilai harganya kepada seorang anak muda. Prana, besuk atau lusa kau akan tahu sebabnya. Kini, dengarlah pesan dari adikku itu. Ia mengharap kehadiranmu dalam perjalanan hidupnya.”

Kembali Wiraprana terperanjat. Dan kembali warna merah membersit di wajahnya. Karena itu ia menjadi seakan terbungkam. Mahisa Agni telah memberitahukan pesan itu terlalu langsung. Agni pun kemudian merasakan pula kekakuan kata-katanya. Namun untuk mengucapkannya ia sudah harus berjuang di dalam dirinya. Karena itu ia tidak dapat berbuat lebih baik daripada apa yang telah dilakukannya.

Sejenak kemudian keduanya dicengkam oleh debar yang cepat di dada masing-masing. Wiraprana bahkan menjadi bingung. Apakah yang dapat dikatakannya? Sedang Mahisa Agni sibuk menguasai perasaannya. Dengan sekuat tenaga ia berjuang untuk menenangkan diri. Baru kemudian ia dapat berkata pula, “Wiraprana, jangan menyangka bahwa Ken Dedes dengan tiba-tiba saja merendahkan dirinya dengan pesannya itu. Ia tidak akan berbuat demikian seandainya, sikapmu, kata-katamu sebelumnya tidak meyakinkannya. Setidaknya menumbuhkan harapan di dalam hatinya. Sehingga pada saat gadis itu terdesak oleh keadaan, seperti yang terjadi dengan Kuda Sempana, ia harus menjatuhkan pilihan.”

Wiraprana mengangkat wajahnya. Kemudian dengan gemetar ia bertanya, “Kenapa pilihan itu jatuh atasku?”

Agni menarik nafas. Kemudian ia meneruskan, “Sudah aku katakan, sikapmu dan kata-katamu menumbuhkan harapan di hati adikku. Ketika Ken Dedes mengeluh atas keadaannya, atas sikap Kuda Sempana dan lamaran-lamaran lain yang datang kepada ayahnya, namun tak seorang pun sesuai dengan hatinya, maka aku nasihatkan kepadanya untuk segera menentukan pilihan. Wiraprana, adikku itu telah lama mengenalmu. Aku pun telah mengenalmu pula, hampir segenap watak dan tabiatmu. Karena itu, aku nasihatkan kepada Ken Dedes, supaya ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam masa-masa hidupnya yang akan datang. Agaknya kami, aku dan Ken Dedes sependapat, bahwa tak ada orang lain yang lebih baik dari padamu. Karena itu, apakah Ken Dedes akan memberikan pesan untukmu atau tidak, suatu saat aku pasti akan mengatakannya kepadamu.”

Terasa sesuatu bergelora di dalam dada Wiraprana. Kini ia tidak dapat berbohong lagi. juga kepada dirinya sendiri. Sejak lama terasa sesuatu di dalam sudut hatinya. Tetapi ia tidak berani melihatnya. Ia merasa bahwa tak sepantasnya ia berangan-angan tentang seorang gadis putri pendeta yang menenggelamkan hidupnya dalam pengabdiannya terhadap sumber hidupnya. Ia merasa, bahwa dirinya akan terlalu kasar untuk itu. Wiraprana merasa, bahwa ia tidak lebih dari seorang petani yang lebih mengenal dirinya sendiri, alam dan semesta ini pada wadagnya. Karena itu ia telah bertekad untuk menekan segenap perasaan yang timbul di dalam dadanya. Namun demikian, setiap kali selalu timbul keinginannya untuk datang ke rumah guru sahabatnya itu. Karena itu, tiba-tiba timbul pula pertanyaan di hatinya, “Apakah aku datang setiap hari mengunjungi Mahisa Agni itu benar-benar karena aku ingin bertemu dengan anak itu?”

Wiraprana menjadi malu sendiri. Agni pun bertanya demikian kepadanya. Dan ia tidak dapat menjawabnya.

Wiraprana kemudian menundukkan wajahnya. Di dalam dadanya bergolak berbagai perasaan. Terkejut, gelisah namun tebersit pula kegembiraan di dalam hatinya. Karena itu, selagi ia sibuk dengan persoalannya sendiri, maka ia tidak melihat betapa Mahisa Agni berjuang untuk menguasai perasaannya. Di dalam dadanya pun bergelora pula berbagai perasaan.

Pedih, sakit dan kecewa. Namun ia sudah bertekad untuk menghayatinya.

Gemericik air di bendungan terdengar seperti sebuah lagu yang lincah. Nadanya meloncat-loncat dalam irama yang cepat. Ketika Wiraprana memandang ke dalamnya, tampaklah bayangan bintang-bintang di langit seakan-akan meloncat-loncat dipermainkan oleh getaran permukaan air yang riang.

“Agni,” tiba-tiba ia berkata. Agni mengangkat wajahnya, dan ditatapnya wajah Wiraprana yang cerah.

“Adakah kau berkata sebenarnya?” bertanya anak muda itu.

“Tentu,” jawab Agni.

“Apakah Ken Dedes benar-benar bermaksud demikian? Agni, aku takut kalau Ken Dedes sekedar menuruti permintaanmu,” Wiraprana menegaskan.

Agni menarik nafas. Terasa dadanya menjadi sesak. Namun ia menjawab, “Tidak Ken Dedes benar-benar menyadari pesannya itu.”

“Ah,” desah Wiraprana.

Kembali mereka berdiam dari. Wiraprana kini melihat masa depan yang cerah terbentang di hadapannya. Nanti ia akan berkata kepada ayahnya apa yang didengarnya dari Mahisa Agni. Ayahnya segera pasti akan memenuhi adat itu. Datang kepada ayah Ken Dedes dengan sebuah upacara.

“Hem,” katanya di dalam hati, “Bukankah ayahku Buyut Panawijen? Seharusnya aku tak perlu merasa terlalu kecil untuk melakukannya?.

Dan tiba-tiba Wiraprana itu tersenyum sendiri. Meskipun demikian, Wiraprana masih ingin meyakinkan. Karena itu ia bertanya, “Agni, bagaimanakah pendapatmu tentang pesan itu. Apakah sudah sepantasnya aku menerimanya?”

Sekali lagi sebuah goresan melukai hati Mahisa Agni. Tetapi ia menjawab, “Tentu Wiraprana. Seharusnya kau penuhi permintaan itu. Pandanglah dirimu dengan jujur, apakah tak ada perasaanmu untuk melakukannya. Jangan hiraukan tanggapan orang lain tentang dirimu, tentang gadis itu dan tentang masa depan kalian berdua. Kebahagiaan kalian di masa mendatang tergantung kepada kalian sendiri. Tidak kepada orang lain dan tidak pula tergantung kepadaku.”

Wiraprana mengangguk-angguk. Senyumnya kembali membayang di wajahnya. Katanya, “Terima kasih Agni. Aku tidak menyangka bahwa aku akan tertimpa ndaru. Aku sebenarnya gelisah melihat sikapmu yang aneh akhir-akhir ini. Tetapi kini aku menjadi sangat berterima kasih kepadamu.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Tetapi kemudian ia mengatupkan giginya. Desahnya di dalam hati, “Berbahagialah kau, anak muda.”

Tetapi Wiraprana tak melihat luka di dalam dada Agni. Yang dilihatnya adalah keriangannya sendiri. Dan tiba-tiba ia berkata, “Agni. Marilah kita pulang. Aku akan mengatakannya kepada Ayah. Supaya Ayah segera dapat melakukannya. Besok atau lusa.”

Mahisa Agni mengangguk. Tetapi ia masih belum ingin pulang. Maka jawabnya, “Pulanglah dahulu, Prana. Aku masih akan ke sawah.”

Wiraprana tidak dapat merasakan apapun selain keinginannya untuk segera menyampaikan kabar itu kepada ayahnya. Ayahnya pasti tidak akan menolaknya. Meskipun ia harus meyakinkan, bahwa keluarga Ken Dedes seluruhnya telah menerima kehadirannya apabila dikehendaki. Karena itu, maka katanya, “Baiklah, aku pulang dahulu.”

Mahisa Agni mengangguk, “Pulanglah. Aku segera menyusul.”

Wiraprana tidak berkata apa-apa lagi. Segera ia melangkah dari batu ke batu. Kemudian meloncat dan berjalan cepat-cepat pulang.

Mahisa Agni kemudian berdiri. Dipandangnya Wiraprana yang berjalan tergesa-gesa itu. Semakin lama semakin dalam membenam di hitamnya malam.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas. Perlahan-lahan pandangan matanya berkisar di seputar bendungan. Air di grojoggan masih memercik beruntun. Di langit ujung timur, Mahisa Agni melihat semburat kuning membayang di atas ujung-ujung pepohonan. Bulan sesaat lagi akan melambung di langit yang biru.

Selangkah demi selangkah Mahisa Agni berjalan menuruni bendungan. Dilangkahinya anak-anak tangga di tebing kali. Sehingga akhirnya sampailah ia di pinggir belumbang kecil.

“Di sinilah aku telah menyelamatkan kedua-duanya,” desisnya.

Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika ia melihat wajahnya di air belumbang yang terang itu, seakan-akan dilihatnya masa-masa lampaunya yang penuh dengan keprihatinan. Tetapi justru karena itulah, maka Mahisa Agni mampu menahan arus perasaannya, betapapun sakitnya.

Ketika bulan telah tersembul di atas punggung bukit, Agni teringat bahwa gurunya memerlukannya. Karena itu dengan langkah yang berat, seberat beban di hatinya, ia melangkah pulang. Ketika dilewatinya sawah gurunya itu, diperlukannya membuka tutup pematang, untuk mengalirkan air ke dalamnya.

Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, dilihatnya halaman rumah itu sangat sepi. Lampu-lampu minyak telah menyala di setiap ruang di dalam rumah. Seseorang telah menyalakan lampu di biliknya pula. Di pendapa Agni melihat seorang cantrik melintas. Kepadanya Agni bertanya, “Di manakah Empu Purwa sekarang?”

“Di pringgitan,” jawabnya.

Mahisa Agni mengangguk. Ia ingin langsung menemui gurunya. Mungkin ada sesuatu yang penting Mungkin ada hubungannya dengan Ken Dedes mungkin pula tidak.

Perlahan-lahan Mahisa Agni membuka pintu. Dilihatnya gurunya duduk bersila. Di hadapannya terhidang bintang, teko dan sebuah mangkuk kecil.

“Marilah, Agni,” berkata gurunya. Dan Agni pun kemudian berjongkok dan duduk di muka Empu Purwa. Meskipun telah berbilang ribuan ia duduk menghadap gurunya namun kali ini hatinya berdebar-debar juga.

Tetapi debar jantung Agni pun menjadi semakin kusut ketika ia melihat wajah gurunya yang bening tenang.

“Marilah, Agni. Mumpung masih hangat,” ajak gurunya sambil menyodorkan mangkuk kecil untuknya.

Mahisa Agni pun mengangguk, dan seperti biasanya segera ia meraih teko dan kemudian segumpal gula kelapa. Adalah menjadi kebiasaan gurunya, mengajaknya minum bersama. Menurut gurunya minum bersama terasa jauh lebih nikmat daripada sendiri.

Ketika setengah mangkuk kecil telah terminum, Mahisa Agni meletakkannya kembali di dalam nampan kuningan.

Sejenak mereka berdua masih berdiam diri. yang terdengar kemudian hanyalah bunyi-bunyi jangkrik dan angkup-angkup nangka yang meringkik-ringkik di kejauhan.

Kemudian Empu Purwa itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mencarimu tadi pagi, Agni. Tetapi tak ada keperluan apa-apa. Aku hanya ingin minum bersama seseorang. tetapi ternyata kau tidak ada. Tak seorang pun yang melihat. Aku sangka kau sedang pergi sawah.”

Kembali Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ditundukkannya kepalanya, dan dibiarkannya gurunya berkata meneruskan, “Apakah kau benar-benar pergi ke sawah?”

Mahisa Agni menjadi bingung. Meskipun demikian ia menjawab, “Baru saja aku pulang dari sawah guru.”

Empu Purwa tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Apakah padimu telah merunduk?”

“Hampir Empu, tidak sampai berbilang hari,” jawab Mahisa Agni.

“Ah, syukurlah,” sahut orang tua itu, “mudah-mudahan tanaman itu dijauhkan dari hama den kerusakan.”

“Mudah-mudahan,” gumam Mahisa Agni.

“Kalau demikian, Agni,” berkata Empu Purwa, “itu sudah hampir sampai masanya kau membuat gubuk untuk menjaga sawahmu dari gangguan burung.”

“Ya, Empu,” jawab Agni, “sebentar lagi akan aku buat.”

Empu Purwa mengangguk-angguk. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan seksama, seakan-akan ada sesuatu yang aneh pada anak muda itu. Sehingga ketika Mahisa Agni menyadarinya, maka ia pun menjadi gelisah. Dan kembali wajahnya terpaku di dalam anyaman tikar yang didudukinya.

Sesaat kemudian Empu Purwa itu berkata pula, “Agni. Adalah menjadi hak kita untuk mengusir setiap burung yang akan mencuri padi kita di sawah, sebab kitalah yang menanamnya, memeliharanya dan dengan tertib berbuat untuk kepentingan tanaman itu.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Kata-kata gurunya itu agak mengherankannya. Bukankah hal itu sudah wajar. Tak ada sesuatu yang terasa baru pada kata-kata itu.

Empu Purwa melihat pula wajah Agni yang memancarkan berbagai pertanyaan itu. Maka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Empu Purwa berkata, “Kita akan merasa kehilangan Agni, apabila meskipun hanya sebutir padi kita yang dimakan oleh burung-burung pipit liar itu. Karena itu kita akan selalu mengusirnya apabila mereka datang.”

Mahisa Agni menjadi semakin heran. Namun ia tidak bertanya. Bahkan kembali ia menundukkan wajahnya.

“Tetapi Agni,,” sambung gurunya. Suaranya menjadi berat dan dalam, “Padi yang kita pertahankan dari serbuan burung-burung pipit, dan kadang-kadang kita harus bekerja siang dan malam, apabila hujan lebat dan parit-parit menjadi melimpah itu, ada kalanya tidak sampai ke lumbung-lumbung kita.”

Empu Purwa berhenti sejenak, lalu katanya seterusnya, “Meskipun kita tidak mengikhlaskan sebutir padi pun kepada burung-burung pipit Agni, namun kadang-kadang kita berikan tidak hanya sebutir, bahkan lebih dari itu, seikat, kepada orang lain, apabila kita yakin orang itu membutuhkannya. Dan kita yakin karena itu maka orang itu menjadi berbahagia karenanya.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata gurunya itu. Sekejap ia mengangkat wajahnya, namun sekejap kemudian wajah itu pun terkulai kembali dengan lemahnya. Kini ia tahu, apakah yang akan dikatakan gurunya itu.

“Agni,” berkata Empu Purwa, “aku tidak dapat menolak apabila seseorang yang kelaparan datang kepadaku, dan minta supaya aku memberinya padi. Sedang padi itu ada padaku.”

“Tentu saja Agni. Aku dapat memberikannya kepada siapa saja sesuka hatiku, tetapi bagaimanakah kalau yang dapat aku berikan itu sangat terbatas?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika teringat pesan ibunya, maka Mahisa Agni pun segera dapat menguasai perasaannya. Karena itu berangsur-angsur kegelisahannya pun menjadi lenyap. Bahkan kini ditengadahkannya wajahnya, dan didengarnya kata-kata gurunya itu dengan hati yang terang.

Maka gurunya itu pun berkata, “Ah, Anakku. Aku tidak dapat menyamakannya dengan butiran padi itu. Mungkin orang lain berbuat demikian. Tetapi aku tidak. Kadang-kadang aku mengingat juga lumbung-lumbung atau tempat penyimpanan orang yang datang itu. Bahkan lebih dari itu, Agni”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak gelisah. Karena itu ketika Empu Purwa bertanya kepadanya, maka dengan tatag ia menjawabnya.

Berkatalah empu tua itu, “Agni. Ternyata kau turut memelihara sawahku itu dengan tekun. Bahkan kaulah yang setiap saat melakukannya. Bagaimanakah pendapatmu, kalau suatu ketika hasil sawah itu aku serahkan kepada rakyat Panawijen, atau orang yang dapat mewakilinya?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kini ia tidak menundukkan wajahnya. Bahkan dengan tenang ia menyahut, “Guru, adalah menjadi kewajibanku untuk ikut memelihara setiap milik guru. Sawah, ladang, halaman ini bahkan dengan segala isinya. Dan apabila kemudian Empu mempunyai keputusan tentang itu semuanya, adalah sudah seharusnya aku pun menjadi bergembira karenanya.”

Empu Purwa itu pun tersenyum, katanya, “Tetapi, Agni. Bagaimanakah kalau lumbung kita sendiri menjadi kosong. Dan apakah kita tidak takut, suatu ketika kita sendiri akan menjadi lapar?”

Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata gurunya. Tetapi ia telah menjadi tenang benar. Karena itu sama sekali tak tampak kegelisahan dan perubahan di wajahnya. Selalu diingatnya pesan ibunya. Cerita ibunya tentang dirinya dan ayahnya. Maka jawabnya, “Guru, apabila kita masih mencemaskan keadaan diri sendiri, maka pemberian kita itu menjadi tidak dilambari dengan keikhlasan.”

“Hem,” Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Dan ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan penuh haru. Maka terdengar ia berkata, “Kau telah menemukan nilai-nilai dirimu Mahisa Agni. Nilai-nilai yang hampir rontok dalam usia mudamu. Usia yang paling berbahaya dalam hidup ini.”

Kini Mahisa Agni benar-benar terkejut. Apakah gurunya tahu, betapa ia hampir menjadi gila mendengar pengakuan Ken Dedes di hadapan ibunya?

Tetapi Mahisa Agni justru menjadi terbungkam karenanya. Kemudian ia mendengar gurunya itu berkata pula, “Agni, pagi tadi aku ikuti kau bertamasya.”

“Oh,” Mahisa Agni mengeluh.

Gurunya benar-benar mengetahui apa yang sudah terjadi. Dan gurunya itu masih berkata, “Aku melihat kau hampir-hampir kehilangan keseimbangan, Anakku.”

Ketika Agni akan menjawab, Empu Purwa mendahului, “Jangan kau sembunyikan perasaanmu. Orang setua aku, Agni, adalah orang-orang yang pernah mengalami masa-masa semuda kau. Dan apa yang kau lakukan adalah wajar. Sewajar orang mengusir burung pipit di sawahnya. Aku melihat sejak kau bermain-main dengan serulingmu. Aku melihat Ken Dedes datang kepadamu. Aku melihat, betapa kau menempelkan telingamu, untuk mendengar apa yang dikatakan Ken Dedes kepada pemomongnya. Dan aku ikut berlari-lari sepanjang tengah malam itu. Dan aku mendengarkan semua percakapanmu dengan hantu di padang rumput itu, Agni. Aku tidak akan berani mengatakan semua ini kepadamu, apabila kau masih belum menemukan nilai-nilai yang tersimpan di hatimu. Meskipun apa yang dikatakan oleh Ken Arok itu membantumu, namun keikhlasan yang terpancar di wajahmu, membayangkan betapa kau memiliki nilai-nilai di dalam hatimu melampaui dugaanku.”

Mahisa Agni mendengar kata-kata gurunya dengan hati yang berdebar-debar. Namun satu hal yang tak diketahui oleh gurunya, ibunya kini telah hadir pula di dalam hatinya. Namun Mahisa Agni tak berkata sepatah kata pun.

Sesaat kemudian terdengar gurunya berkata, “Agni. Seorang setia berkata bahwa wanita sana harganya dengan curiga. Dan sama pula harganya dengan nyawanya. Aku tidak keberatan Agni. Namun aku ingin memberinya arti yang agak berbeda dengan arti yang pernah diberikan oleh anak-anak muda. Wanita, curiga, pusaka dan sebagainya adalah lambang dari cita-cita. Setiap cita-cita memang mempunyai nilainya sendiri-sendiri. Kalau cita-cita itu dinilai sama dengan nyawa kita, maka adalah sudah seharusnya kita mengejar cita-cita itu sepanjang umur kita. Dan kau telah sampai pada nilai-nilai yang lebih tinggi dari nilai-nilai wadagnya Agni.”

“Bukan wanita dalam wadagnya, tetapi wanita sebagai lambang yang memancarkan kehalusan, yang memancarkan sifat-sifat pengabdian pada anak-anaknya, pada penerus hidup kita. Pengabdian bagi masa yang akan datang. Wanita tidak sekedar hidup untuk hidupnya, tetapi wanita hidup untuk hidup masa mendatang. Dan adakah kita telah melakukannya. Adakah kita telah menerapkan hidup kita tidak sekedar untuk hidup kita sendiri. Adakah kita sudah menempatkan diri kita dalam pengabdian bagi masa datang?”

“Agni, curiga dan pusaka yang harus kita udipun(?), janganlah dinilai sebagai bentuk wadagnya. Keris, tombak, bahkan segala jenisnya. Namun setiap kita menempatkan pusaka apapun di hati kita, maka kita menilainya dari setiap unsur yang dapat kita lihat daripadanya. Unsur yang dipancarkan olehnya. Kejantanan, keperkasaan dan keluhuran budi. Atau apapun menurut penilaian kita atasnya.”

Empu Purwa itu pun berhenti sejenak. Dicobanya untuk mengetahui, apakah kata-katanya itu dapat dimengerti oleh muridnya yang masih muda itu. Agni kini menekurkan kepalanya. Didengarnya semua nasihat gurunya itu. Dan dicobanya untuk mencernakannya di dalam hatinya.

Seterusnya gurunya itu berkata perlahan-lahan, namun langsung menyusup ke jantung Mahisa Agni, “Agni. Betapapun juga, aku menyadari, bahwa ada sesuatu yang hilang dari hatimu. Hanya orang-orang yang tabah, dan telah menemukan nilai-nilai kemanusiaannyalah yang dapat menghadapi peristiwa semacam itu dengan tenang dan berhati terang. Dan kau telah melakukannya dalam umur mudamu. Karena itu mudah-mudahan kau selalu diselamatkan oleh Maha Pencipta. Namun, meskipun demikian Agni, aku akan mencoba mengurangi tekanan-tekanan yang berat itu. Meskipun kau pasti akan kuat memanggulnya, namun sebaiknya, aku, gurumu, ikut pula membantumu. Maksudku, aku tidak akan mengubah pendirian anakku, sebab dengan demikian aku akan merampas kebahagiaannya. Dan menurut penilaianku, kau telah memaafkannya.”

“Dan kini, aku akan memberimu imbangannya. Sebuah pusaka.”

Mahisa Agni tersentak sehingga ia bergeser madu. Diangkatnya wajahnya, dan dipandangnya wajah gurunya yang sejuk bening. Dan didengarnya gurunya itu meneruskan kata-katanya, “Agni, kau pernah melihat sebuah trisula yang kecil itu? Sudah pernah aku katakan kepadamu, pusaka itu diberikan turun temurun dari guru kepada muridnya yang tepercaya. Dan kini, aku telah mengambil keputusan untuk memberikannya kepadamu. Namun, ingatlah Agni. Pusaka yang berbentuk senjata itu bukan alat pembunuh. Pusaka itu adalah alat untuk menegakkan sendi-sendi kebenaran dan kemanusiaan menurut Sumbernya. Jadi menurut sumbernya, Agni. Bukan menurut kehendakmu dan kepentinganmu. Meskipun kau tak akan mengerti seluruhnya, kebenaran menurut Sumbernya itu, namun kau harus berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Kalau kau menemui keingkaran pada kebenaran itu Agni, yang pertama-tama kau lakukan adalah melenyapkan keingkaran itu. Bukan melenyapkan seseorang. Jangan kau lenyapkan seseorang yang mengingkari kebenaran, selagi kau melihat kemungkinan untuk melenyapkan keingkarannya tanpa mengorbankan orangnya.”

Kini Mahisa Agni menundukkan wajahnya dalam-dalam. Meskipun gurunya pernah berkata kepadanya di padang rumput Karautan, bahwa pusaka berbentuk trisula itu adalah pusaka turun temurun, dan bahkan gurunya pernah berkata pula, bahwa suatu ketika pusaka itu akan diberikan kepadanya, namun pada sangkanya, tidak secepat yang terjadi. Justru karena itu, maka dada Mahisa Agni terasa menjadi sesak oleh berbagai perasaan yang bergulat di dalamnya. Bahkan kemudian terasa matanya menjadi panas, dan terasa sesuatu menyumbat mulutnya.

Demikianlah, malam itu, dengan penuh keharuan dan terima kasih, Mahisa Agni menerima sebuah pusaka dari gurunya. Apapun bentuknya, namun itu adalah suatu pertanda bahwa gurunya telah menumpahkan kepercayaan kepadanya. Kepercayaan pada ilmu yang telah dimilikinya, dan kepercayaan pada pengalaman yang akan dilakukannya.

Dalam keharuannya, sekilas Mahisa Agni teringat kepada gadis putri gurunya itu. Karena itu hatinya berdesir. Tetapi kemudian perasa hatinya menjadi tenang kembali setelah disadarinya, bahwa sebagai gantinya, telah didapatnya dua penemuan yang sangat berarti dalam hidupnya. Ibunya dan sebuah pusaka.

Maka, meskipun tak terucapkan, namun betapa Mahisa Agni mengucapkan syukur di dalam hatinya kepada Maha Pengasih atas karunianya yang tak ternilai.

Ketika malam telah menjadi semakin malam, dan bulan di langit telah membuat garis-garis tegak di atas padepokan, maka Empu Purwa melepaskan Mahisa Agni kembali ke biliknya.

Di samping pendapa Mahisa Agni melihat sebuah bayangan di bawah rimbun daun kemuning, Pandangan matanya yang tajam segera mengenalinya. Orang itu adalah ibunya.

“Apa yang terjadi?” bisik ibunya, ketika Mahisa Agni telah dekat di sampingnya.

Dengan bangga Mahisa Agni menceritakan kepercayaan gurunya kepadanya. Dan dengan bangga pula ditunjukkannya pusakanya kepada ibunya. Namun ibunyalah yang lebih berbangga dari Mahisa Agni sendiri. Sedemikian bangganya sehingga perempuan itu tak dapat menguasai perasaannya. Setetes demi setetes, air matanya menitik. Tetapi ia tidak bersedih. Bahkan dengan sebuah senyum ia berkata, “Berbahagialah kau Agni, dan aku pun berbahagia pula. Pandanglah hari depanmu dengan penuh gairah di dalam dadamu.”

Malam itu adalah malam yang tak akan dilupakan oleh Mahisa Agni. Namun demikian, anak muda itu tidak menjadi takabur. Dengan tekun ia justru menempa dirinya. Setiap saat ada kesempatan, dengan tekad, bahwa nama perguruannya, nama gurunya dan kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya, harus dijunjungnya tinggi-tinggi. Dan karena itu pulalah maka Empu Purwa pun berbangga pula karenanya. Ternyata muridnya benar-benar seorang anak muda yang baik.

Karena itu, maka Empu Purwa pun untuk selanjutnya telah menempa Mahisa Agni dalam tataran ilmunya yang tertinggi.

Dalam pada itu, ketika Mahisa Agni tenggelam dalami penekunan tanpa henti atas ilmunya, maka Wiraprana telah pula berhasil meyakinkan ayahnya. Sehingga akhirnya Buyut Panawijen itu pun tak dapat berbuat lain daripada memenuhi permintaan anaknya.

Ternyata semuanya berlangsung seperti yang diharapkan, Empu Purwa tidak mau menunda persoalan itu berlarut-larut. Ketika ia menerima sebuah utusan dari Buyut Panawijen, maka dilambari dengan penuh pengertian atas hasrat yang tersimpan di dalam dada anaknya, maka dipanggillah Ken Dedes menghadapnya.

“Ken Dedes,” berkata Empu Purwa kemudian, “pengikut sayembara kali ini hanya seorang, Wiraprana, putra Buyut Panawijen. Bagaimanakah pendapatmu?”

Ken Dedes menundukkan wajahnya dalam-dalam. Berbagai perasaan bergolak di dadanya. Ia gembira, menerima pertanyaan itu, tetapi ia tidak kuasa untuk menganggukkan kepalanya. Karena itu ia menjawab lirih, “Ayah. Terserahlah kepada Ayah.”

Empu Purwa tersenyum. Seorang yang telah berumur lanjut, segera mengetahui isi hati seorang gadis yang telah ditunggunya setiap saat. Ken Dedes tidak menolak.

“Nah, Anakku,” kata ayahnya, “aku harap kau tidak menemui persoalan-persoalan yang sulit di kemudian hari, seperti apa yang telah terjadi. Sebab segera semua orang di Panawijen akan mendengar kabar, bahwa lamaran Buyut Panawijen telah diterima. Kita tinggal memperhitungkan hari yang sebaik-baiknya untuk keperluanmu itu.”

Ken Dedes tidak menjawab. Kepalanya masih ditundukkannya dalam-dalam. Namun ia berdoa, mudah-mudahan semuanya segera selesai.

Ketika ayahnya mengizinkannya pergi, Ken Dedes langsung berlari-lari ke bilik Mahisa Agni. Dengan serta-merta ia mengguncang-guncang tubuh Agni yang sedang berbaring, setelah dengan sekuat tenaga memeras diri dalam latihannya.

Betapa terkejutnya anak muda itu. Segera ia bangkit bertanya, “Ada apa Ken Dedes?”

“Kakang,” berkata gadis itu terbata-bata, namun wajahnya tampak betapa cerahnya, secerah bintang pagi, “Ayah telah menerima lamaran dari Buyut Panawijen.”

“He?” Agni tersentak. Dan warna merah tiba-tiba tebersit di wajah Ken Dedes. Ia menjadi malu kepada kakaknya, dan malu kepada diri sendiri. Karena itu, kemudian ia terduduk di samping Agni sambil menundukkan wajahnya.

Sesaat darah Agni bergolak. Namun hanya sesaat. Kemudian terasa darahnya mendingin kembali. Dengan tenang ia berkata, kata-kata yang sudah sewajarnya diucapkan oleh seorang kakak kepada adiknya yang berbahagia, “Syukurlah, Ken Dedes. Wiraprana tidak mengecewakan kita.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan, “Aku berterima kasih kepadamu, Kakang.”

“Bukankah sudah menjadi kewajibanku Ken Dedes? Kau adalah adikku. Adalah menjadi kewajiban saudara tua untuk mendengarkan tangis adiknya,” jawab Mahisa Agni, kemudian ia meneruskan, “Kalau kau berbahagia adikku, aku pun berbahagia pula karenanya. Mudah-mudahan Wiraprana dapat menempatkan diri, dan mudah-mudahan kau pun dapat menyesuaikan dirimu pula.”

Di hari-hari berikutnya, tampaklah betapa cerah wajah Ken Dedes. Ia kini tidak mengurung diri lagi di dalam biliknya. Dengan rajin ia bekerja seperti dahulu, sebelum hatinya menjadi murung. Mencuci pakaian, membersihkan halaman dan bekerja di dapur bersama-sama gadis-gadis pembantunya.

Kini Ken Dedes tidak pernah membuang waktunya dengan berbagai pekerjaan tak berarti. Setiap kali ia sibuk membersihkan rumah dan biliknya. Seakan-akan besok pagilah perhelatan perkawinannya akan diselenggarakan.

Mahisa Agni pun telah berusaha sekuat-kuatnya untuk melupakan luka-luka yang pernah ada di hatinya. Diusahakannya untuk berbuat seperti apa yang selalu dilakukan. Ke sawah, mencangkul halaman, belumbang, tanaman-tanaman dan petak-petak di belakang rumahnya.

Namun, sama sekali tak pernah diketahuinya, bahwa setiap kali gurunya, mengawasinya diri sudut sanggarnya sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Dengan pandangannya yang penuh iba, kadang-kadang orang tua itu bergumam, “Kasihan kau, Anakku. Mudah-mudahan kau mendapat karunia, kesabaran.”

Kabar tentang hubungan yang telah diikat antara Wiraprana dan Ken Dedes itu pun segera tersebar di segala sudut-sudut padukuhan Panawijen. Ramailah anak-anak muda membicarakannya. Bunga di kaki Gunung Kawi itu kini akan dipetik orang. Sambil tertawa-tawa, kawan-kawan Wiraprana selalu mengganggunya. Di rumah, di sawah di bendungan bahkan di mana saja mereka bertemu.

“Mahisa Agni,” berkata salah seorang dari mereka, “kenapa bukan aku yang kau ambil menjadi adikmu?”

Mahisa Agni tersenyum. Betapa pedih luka di hatinya. Namun dijawabnya sambil tertawa, “Kau bukan Wiraprana. Namun kau belum pernah berkelahi dengan Kuda Sempana.”

Yang mendengar jawaban itu pun tertawa riuh. Sambil menunjuk wajah kawannya itu mereka bersorak, “Kalau menjadi adik Mahisa Agni, dan Kuda Sempana itu datang kembali, apa katamu?”

“Lari,” jawabnya sambil tertawa pula.

Wiraprana sendiri tak pernah menyahut. Ia hanya tersenyum-senyum saja. Meskipun kadang-kadang ia mengeluh atas gangguan kawan-kawannya, namun sebenarnya ia berbangga juga.

Tetapi sejak saat itu Wiraprana tidak pernah lagi mengunjungi Mahisa Agni di rumah Empu Purwa. Ia menjadi segan, dan adalah kurang baik apabila ia datang ke rumah itu, sebab Ken Dedes berada di rumah itu pula. Bahkan Mahisa Agnilah yang selalu datang kepadanya. Mahisa Agni sama sekali tidak mau mengubah hubungan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Mereka masih saja bergaul seperti biasa, ke sawah, ke bendungan dan membersihkan parit bersama kawan mereka. Tak ada kesan apapun dalam tingkah laku Mahisa Agni. Dan karena itu Wiraprana tidak pernah mengetahuinya, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan sahabatnya itu.

Berita tentang hubungan yang telah disetujui bersama antara Wiraprana dan Ken Dedes itu ternyata tidak saja menggemparkan desanya sendiri, namun berita itu kemudian tersebar sampai jauh di luar daerah pergaulan mereka. Lebih-lebih bagi mereka yang pernah mengirimkan utusan untuk melamar gadis itu.

Berbagai tanggapan telah tumbuh di dada anak-anak muda itu. Ada di antara mereka yang acuh tak acuh.

“Biarlah,” katanya di dalam hati, “gadis di dunia ini tidak hanya seorang Ken Dedes saja.”

Namun ada juga yang kemudian dengan sedihnya meratapi nasibnya. Mengurung diri di dalam biliknya. Kerjanya siang dan malam menggurat-gurat rontal untuk menumpahkan kepedihan hatinya. Berhelai-helai. Dan disimpannya rontal itu di bawah bantalnya.

Tetapi di antara mereka ada juga yang mempunyai tanggapan lain pula. Ketika kabar itu sampai di telinganya, maka seakan-akan telinganya itu terjilat api.

“Benarkah?” geramnya.

Tetapi kabar itu benar-benar meyakinkannya, bahwa Ken Dedes telah menerima lamaran dari seorang anak muda. Bukan dirinya. Sehingga akhirnya datanglah kepadanya, utusan Empu Purwa, yang mengabarkan, bahwa dengan rendah hati dan permintaan maaf yang sebesar-besarnya lamarannya tak dapat diterima.

Anak muda itu adalah Mahendra. Putra sahabat Empu Purwa di Tumapel. Seorang anak muda yang tangkas dan tanggon. Dengan wajah yang merah membara ia datang kepada ayahnya. Katanya, “Ayah, Bukankah penolakan itu berarti penghinaan bagi keluarga kita?”

Ayahnya menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak, Anakku. Seharusnya kau sadari, seandainya datang dua tiga lamaran. Apakah yang harus dilakukan oleh Empu Purwa itu, Tentu ada di antaranya yang harus ditolak. Dan itu sama sekali bukan suatu penghinaan.”

“Ayah,” sahut Mahendra, “kalau Ken Dedes itu menolak kami, tetapi ia kemudian menerima orang lain yang lebih tinggi tingkat dan derajatnya, maka aku tak akan tersinggung karenanya. Tetapi Ken Dedes itu telah menerima lamaran seorang anak muda yang bernama Wiraprana yang menurut pendengaranku tidak lebih dari anak Buyut Panawijen. Tidakkah itu suatu Penghinaan?”

Kembali ayahnya menggeleng. Katanya, “Ken Dedes adalah gadis Panawijen. Anak itu adalah anak muda Panawijen.”

Mahendra terdiam. Namun hatinya masih berbicara terus. “Siapakah gerangan anak muda yang bernama Wiraprana itu? Apakah ia seorang maha sakti tak ada bandingnya di seluruh daerah Tumapel?”

Ayahnya melihat betapa dendam menjalar di dada enaknya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Anaknya adalah anak yang sukar dikendalikan. Tetapi ia tidak menyangka bahwa anak itu tidak saja merasa terhina, dan mengumpatnya habis-habisan, namun anak itu benar-benar berhasrat untuk menilai anak muda yang bernama Wiraprana.

Karena itu, maka pada suatu malam, tanpa setahu ayahnya, Mahendra pergi meninggalkan rumahnya. Dengan dikawani oleh dua orang saudara seperguruannya ia pergi ke Panawijen.

“Dengan tekad yang teguh. Kita bertukar darah, Wiraprana!” gumamnya.

Mereka sampai ke Panawijen menjelang senja berikutnya. Tetapi mereka tidak segera menciri rumah Buyut Panawijen. Mereka menunggu sampai malam tiba. Di malam yang kelam, tak ada orang yang akan mengganggu pertemuan itu.

Awan yang kelabu, mengalir seperti lembaran-lembaran kapuk yang diterbangkan angin. Bintang satu demi satu mulai menyala di langit yang biru.

Ketika seorang petani tua berjalan pulang dari sawahnya, Mahendra menghentikannya dan berkata, “Kaki, apakah Kaki kenal dengan Wiraprana?”

Petani tua itu mengamat-amati ketiga anak muda itu dengan seksama, kemudian ia pun bertanya, “Siapakah Angger bertiga?”

“Kami datang dari jauh, Kami adalah sahabat-sahabat Wiraprana,” jawab Mahendra,

Orang tua itu mengangguk-angguk, katanya, “Adakah yang Anakmas maksud itu putra Buyut Panawijen?”

“Ya,” jawab Mahendra pendek.

“Apakah Angger akan menemuinya?”

“Ya.”

“Marilah, biarlah Anakmas bertiga saya antarkan ke rumahnya.”

Mahendra menggeleng. Jawabnya, “Tidak Kaki. Aku tidak akan datang ke rumahnya. Tolonglah sampaikan kepadanya sahabatnya dari Tumapel menunggunya. Namanya Mahendra.”

Orang tua itu memandangnya dengan heran. Maka bertanyalah orang tua itu, “Kenapa Anakmas tidak mau datang ke rumahnya?”

“Tidak apa-apa,” jawab Mahendra singkat, “kami menunggu di sini.”

Orang tua itu tidak bertanya lagi. Diangguk-anggukkannya kepalanya sambil berkata, “Baiklah, nanti aku sampaikan kepadanya.”

Meskipun demikian petani tua itu pun tak habisnya berpikir, “Aneh, tamu yang datang sedemikian jauhnya, tetapi tidak mau diantarkannya ke rumahnya.”

Namun petani tua itu memenuhi pula permintaan ketiga anak-anak muda dari Tumapel itu. Ia tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi diperlukannya singgah ke rumah Buyut Panawijen. Di muka regol halaman dilihatnya Mahisa Agni. Karena itu orang tua itu pun berkata, “Mahisa Agni, apakah Wiraprana ada di rumahnya?”

“Ada Kaki,” jawab Mahisa Agni, “kita berjanji akan pergi ke sawah bersama. Dan aku sedang menunggunya. Apakah Kaki akan menemuinya?”

“Oh. Tidak,” berkata orang itu pula, “aku hanya ingin menyampaikan pesan untuknya. Nah, Katakanlah kepadanya Agni. Tiga orang anak-anak muda dari Tumapel menunggunya di ujung desa.”

“Tumapel?” bertanya Mahisa Agni dengan herannya.

Orang tua itu mengangguk. “Ya,” jawabnya, “namanya Mahendra.”

“Mahendra?” ulang Agni. Dan dada Mahisa Agni ini menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar nama itu. Mahendra, adalah salah sebuah nama yang pernah disebut-sebut oleh gurunya. Karena itu segera ia menghubungkannya dengan Ken Dedes.

“Nah Agni,” berkata petani tua itu, “bukankah kau sedang menunggu Wiraprana? Sampaikanlah pesan itu kepadanya.”

“Baik. Baik kaki,” sahut Agni terbata-bata. Sedang angan-angannya masih sibuk dengan anak muda yang bernama Mahendra itu.

Sepeninggal petani tua itu. Mahisa Agni sibuk berpikir, “Apakah keperluan Mahendra dengan Wiraprana?” bertanya Mahisa Agni di dalam hatinya, “Ada dua kemungkinan.”

Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Mungkin Mahendra akan memberikan ucapan selamat kepada Wiraprana. Tetapi ada kemungkinan lain. Anak muda itu membawa dendam yang membara di hatinya.”

Namun anak muda yang telah banyak mengenyam berbagai pengalaman itu, mempunyai firasat, bahwa kemungkinan yang terakhirlah yang akan terjadi. Kalau anak-anak muda dari Tumapel itu, bermaksud baik, maka mereka pasti akan datang ke rumah ini.

“Bagaimanapun juga, Wiraprana harus berhati-hati,” desisnya.

Dalam pada itu Wiraprana pun telah turun dari pendapa rumahnya. Dengan senyumnya yang selalu memancar di wajahnya, ia berjalan seenaknya melintasi halaman rumahnya.

“Apakah kau tidak singgah dahulu,” bertanya Wiraprana.

Agni menggeleng. Jawabnya, “Nanti, apabila pekerjaan kita sudah selesai.”

“Baiklah,” jawab Wiraprana, “marilah kita pergi.”

“Tetapi Wiraprana,” berkata Agni kemudian, “seseorang memberikan pesan untukmu. Tiga anak-anak muda dari Tumapel.”

“Dari Tumapel?” bertanya Wiraprana sambil mengangkat alisnya, “Apakah keperluannya?”

“Tak disebutkan,” jawab Mahisa Agni, “mereka menunggu di ujung desa.”

Wiraprana berpikir sejenak. “Aneh,” gumamnya.

“Kenalkah kau dengan anak muda yang bernama Mahendra?” bertanya Agni.

Wiraprana menggeleng.

“Mahendra adalah salah seorang yang pernah melamar Ken Dedes pula,” berkata Agni seterusnya.

“Oh,” desis Wiraprana, “lalu apakah keperluannya dengan aku? Bukankah aku tidak mempunyai persoalan dengan anak itu?”

“Demikianlah Wiraprana,” sahut Mahisa Agni, “tetapi tidak semua orang berpikir seperti itu. Mungkin ia mempunyai tanggapan tersendiri. Karena itu, berhati-hatilah.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Direnunginya malam yang gelap seakan-akan ada yang sedang dicarinya. Kemudian terdengar ia berkata,” Baiklah aku menemuinya Agni. Aku tak pernah merasa membuat persoalan dengan siapa pun. Karena itu, di antara aku dan anak muda itu pun tak pernah terdapat persoalan apa-apa.”

Tiba-tiba Mahisa Agni pun teringat, apa yang pernah dilakukan pada malam ia mendengar pengakuan Ken Dedes terhadap emban tua yang ternyata adalah ibunya. Karena itu ia menjadi berdebar-debar. Tidak mustahil bahwa orang lain pun akan berbuat serupa itu. Bahkan diingatnya pula anak muda yang bernama Kuda Sempana. Apakah salah seorang dari ketiga anak muda itu Kuda Sempana?

“Ah,” bantahnya sendiri, “pasti bukan. Kalau demikian anak itu pasti sudah dikenal.”

Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Wiraprana, aku akan ikut dengan kau.”

Wiraprana mengangkat alisnya. Katanya, “Apakah kehadiranmu tidak akan mengganggu pertemuan itu?”

“Mungkin Wiraprana, namun mungkin pula tidak. Bukankah mereka datang bertiga?” jawab Agni.

Wiraprana berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Kita pergi bersama-sama.”

Maka pergilah mereka berdua ke ujung desa. Dengan hati yang dirisaukan oleh berbagai pertanyaan Mahisa Agni berjalan di samping Wiraprana. Namun ia hampir pasti, bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan yang menyenangkan.

“Apakah sangkamu maksud kedatangan anak-anak muda itu Agni,” bertanya Wiraprana.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Jauh di relung hatinya terdengar sebuah suara yang sumbang, “Biarkanlah Agni. Biarlah Wiraprana menyelesakan masalahnya sendiri. Biarlah ia mengetahui, bahwa seorang istri itu memerlukan perlindungannya. Apakah ia akan mampu melakukan? Apalagi seorang istri seperti Ken Dedes yang telah menggerakkan hampir setiap hati anak-anak muda di lereng Gunung Kawi ini. Biarlah ia belajar untuk tidak mengenyam nangkanya saja, tetapi juga berlumur getahnya. Kalau karena pertemuan ini Wiraprana ditelan oleh bencana, syukurlah. Pintu untukmu terbuka kembali.”

Suara itu terdengar melengking berulang-ulang, meskipun perlahan-lahan. Karena itulah maka wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya keras-keras sambil bergumam, “Tidak, Tidak.”

“Apa yang tidak?” bertanya Wiraprana.

“Oh?” Mahisa Agni tersadar. Jawabnya, “Aku sedang berpikir tentang mereka bertiga.”

“Ya. Lalu apakah yang akan mereka lakukan?”

“Aku tak dapat menebaknya dengan pasti Prana. Tetapi firasatku mengatakan, bahwa kau harus berhati-hati.”

Wiraprana tersenyum, “Kita adalah manusia-manusia yang beradab. Yang memiliki tata pergaulan dalam hubungan kita antara manusia. Karena itu seandainya ada persoalan antara aku dan Mahendra itu, maka tidak perlu kita risaukan. Kita akan dapat menyelesaikannya dengan baik.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Apabila setiap orang berpikir seperti kau Prana, aku sangka dunia ini akan lekas mengenyam perdamaian yang dirindukan oleh hampir setiap manusia. Tetapi orang lain ternyata berpendapat lain. Kadang-kadang orang ingin menyelesaikan persoalan tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Seseorang mengulurkan tangan kanannya untuk bersahabat, namun di tangan kirinya digenggamnya senjata sambil berkata, ‘Marilah kita selesaikan persoalan kita dengan baik. Dan marilah kau turuti saja sekehendakku. Dengan demikian tak ada masalah lagi di antara kita’.”

Wiraprana menundukkan wajahnya. Seakan-akan ia sedang menghitung jumlah batu-batu yang dilampaui kakinya. Sedang terdengar Mahisa Agni berkata terus, “Ternyata Wiraprana, kau pernah bertemu dengan anak muda yang bernama Kuda Sempana.”

Wiraprana menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih bergumam di dalam hatinya, “Ah. Apapun yang akan dilakukan, apabila aku tak melayaninya, aku sangka tak akan timbul peristiwa yang tak diinginkan.”

Kemudian mereka berdua itu pun saling berdiam diri. Mereka berjalan sambil berangan-angan. Masing-masing diliputi oleh berbagai pertanyaan yang melingkar-lingkar di dadanya.

Ketika mereka sampai di ujung desa, hati Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar. Ditatapnya jalan yang menjelujur di hadapannya. Dan hatinya kemudian berdesir ketika dilihatnya tiga anak muda sedang duduk dengan tenangnya di tanggul parit di tepi jalan. Di samping mereka, kuda-kuda mereka terikat pada batang-batang perdu liar yang tumbuh di atas tanggul.

Tiba-tiba saja Mahisa Agni menggamit, Wiraprana, sehingga mereka berdua itu pun berhenti.

“Mengapa,” bertanya Wiraprana.

“Jangan terlampau tergesa-gesa. Tak ada gunanya. Waktumu masih panjang,” jawab Agni.

Sementara itu, Mahendra pun telah melihat kehadiran mereka. Karena itu, maka serentak mereka bertiga berdiri, berjajar tegak dengan kaki renggang.

Mahisa Agni menarik nafas. Sikap itu tidak menyenangkannya. Kenapa mereka bertiga segera bersikap demikian, seakan-akan mereka sedang menanti lawan-lawan mereka yang sudah bertahun-tahun dilumuri dendam.

Karena itu Mahisa Agni berbisik, “Wiraprana, sambutan mereka benar-benar tidak menyenangkan. Karena itu sekali lagi, hati-hatilah.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun hatinya berkata, “Apa saja yang akan mereka lakukan. Aku harus bersikap baik.”

Selangkah demi selangkah Wiraprana dan Mahisa Agni pun berjalan maju. Dan ketiga anak muda itu kini telah berdiri benar-benar di tengah jalan, seakan-akan mereka ingin menutup jalan itu, supaya Wiraprana tidak lewat melampauinya.

Tiba-tiba mereka mendengar salah seorang dari anak muda itu bertanya, “Adakah di antara kalian bernama Wiraprana.”

“Hem,” Agni menarik nafas, “jarak mereka masih cukup jauh. Kenapa anak muda itu ber-teriak-teriak?”

Tetapi Wiraprana itu pun menjawab juga, “Ya, akulah Wiraprana.”

“Bagus,” sahut suara itu, “aku adalah Mahendra. Ternyata kau jantan juga.”

“Oh,” desah Mahisa Agni. Kemudian ia berbisik, “Sambutan yang benar-benar menyenangkan.”

Wiraprana menggigit bibirnya. Kemudian gumamnya, “Aku tidak peduli, apa yang akan dilakukan . Aku harus menemuinya.”

Namun Mahisa Agni pun sekali lagi menggamitnya. Dan ketika mereka berhenti, mereka tiba-tiba terkejut. Mahendra telah mulai menggertak dengan gerakan yang mengagumkan. Sekali ia meloncat, dan diraihnya sebuah cabang pohon cangkring yang tegak di tepi jalan. Dengan satu renggutan, cabang itu patah berderak-derak. Kemudian dengan lantangnya ia berkata, “Aku telah mendapat senjata, apa senjatamu?”

Mahisa Agni dan Wiraprana masih tegak di tempatnya. Dada mereka pun menjadi berdebar-debar karenanya. Maka bisik Mahisa Agni, “Apakah mereka dapat diajak berbicara?”

“Apakah sebenarnya yang mereka kehendaki,” gumam Wiraprana.

“Perkelahian,” sahut Mahisa Agni.

“Hem,” Wiraprana menarik nafas, “Akan aku coba untuk menghindarkannya.”

“Tak mungkin,” jawab Agni, “kau lihat sendiri, apa yang telah dilakukannya.”

“Mengagumkan,” desahnya, “setan manakah yang telah memberinya kekuatan.”

Sejenak mereka berdiam diri. Wiraprana pun menjadi bimbang. Kekuatan yang ditunjukkan Mahendra benar-benar mengejutkan. Anak muda itu tidak kalah berbahayanya dari Kuda Sempana. Tetapi kini ia tidak dapat menggantungkan diri kepada orang lain. Ken Dedes adalah tanggung jawabnya. Apapun yang terjadi, namun tidak sepantasnya ia bergantung kepada Mahisa Agni seperti pada saat ia di lumpuhkan oleh Kuda Sempana. Namun meskipun demikian Wiraprana masih berpikir, “Tidakkah aku dapat menemuinya dan berbicara dengan baik?”

Wiraprana terkejut ketika dengan lantang Mahendra itu berkata, “Siapakah di antara kalian yang bernama Wiraprana. Marilah kita berkenalan. Inilah Mahendra yang sudah kau hinakan. Apakah benar-benar kau berhak berbuat demikian.”

Sekali lagi dada Wiraprana berguncang. Namun ia tidak dapat berbuat lain daripada menyambutnya.

Sedang Mahisa Agni masih berdiri seperti patung. Dengan melihat kekuatan Mahendra, maka Mahisa Agni segera dapat mengetahuinya, bahwa Mahendra adalah seorang yang luar biasa. Bahkan mungkin melampaui Kuda Sempana. Namun dalam pada itu, suara di relung hatinya yang jauh, kembali terdengar mengganggunya, “Biarkan saja Agni, biarlah.”

Di depan mereka kembali terdengar Mahendra bertanya, “Ayo, yang manakah yang bernama Wiraprana?”

Hampir saja Wiraprana melangkah maju dan menjawab pertanyaan itu. Tetapi ia terkejut bukan kepalang. Bahkan ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang dirasakannya, adalah tangan Mahisa Agni menahannya, kemudian mendorongnya ke samping. Kemudian sahabatnya itulah yang melangkah maju sambil menjawab lantang, “Inilah Wiraprana.”

“Ha,” sahut Mahendra, “ternyata kau benar-benar jantan. Majulah. Kita melihat, apakah benar-benar kau berhak menghinakan Mahendra. Kalau kau berhasrat meniadakan hadirnya Mahendra dalam kehidupan Ken Dedes, maka seharusnya kau berkenalan dengan orang itu. Nah. jangan buang-buang waktu. Apakah senjatamu?”

“Oh. Apakah aku harus bersenjata? Aku tak tahu, apakah gunanya senjata. Bukankah kita tidak memerlukannya. Mahendra, aku ingin mempersilakan kau datang ke rumahku. Bukankah perkenalan itu menjadi lebih akrab.”

Meskipun Mahisa Agni hampir yakin, bahwa Mahendra tidak dapat diajaknya berbicara, namun ia mencobanya juga, seperti apa yang akan dilakukan oleh Wiraprana, supaya anak itu menyalahkannya kelak.

Tetapi ternyata, Mahendra yang sejak dari rumahnya sudah dibekali oleh hasrat untuk berkelahi dan memamerkan kelebihannya dari anak-anak muda sebayanya, tak mau mendengarkannya. Yang ada di dalam dadanya adalah, memaksa Wiraprana untuk membatalkan niatnya, memetik bunga di kaki Gunung Kawi itu.

Karena itu, ketika ia mendengar jawaban Mahisa Agni, ia menyahut, “Wiraprana, aku datang dari Tumapel untuk melihat, betapa anak Panawijen mampu menjaga kembang di halamannya. Ayo, jangan merengek seperti anak-anak. Aku sudah siap dengan dahan ini.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling kepada Wiraprana, seakan-akan berkata, “Nah, kau lihat? Orang itu benar-benar tidak dapat diajak berbicara.”

Wiraprana masih tegak mematung. Berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Tetapi ia tidak dapat melangkah surut. Namun Agni itu pun telah melangkah pula beberapa langkah maju. Katanya untuk meyakinkan dirinya sendiri dan Wiraprana, “ Mahendra, aku hormati kedatanganmu. Seorang yang berhati jantan dan penuh dengan rasa harga diri. Namun perkelahian tak akan dapat mengubah hati seseorang. Apakah kalau kau memenangkan perkelahian ini dengan tiba-tiba saja hati gadis itu tertarik kepadamu?”

“Ha,” sahut Mahendra, “ternyata aku salah sangka. Aku kira kau adalah seorang laki-laki jantan. Ternyata kau seorang banci yang tak tahu diri. Wiraprana, seorang gadis pun pasti akan dapat menghargai kejantanan. Nilai seseorang juga dapat ditentukan dengan nilai-nilainya sebagai seorang laki-laki.”

“Mahendra,” jawab Agni, “nilai-nilai kemanusiaan pasti akan lebih tinggi dari setiap bentuk perbuatan kita. Ingatlah, gadis itu adalah putri seorang pendeta? Apakah ia akan dapat menghargai kekasaran dan kekerasan jiwa, betapa pun dapat dikatakan sebagai sikap kejantanan?”

“Omong kosong!” bantah Mahendra, “kau jangan menggurui aku. Jangan kita bicarakan lagi perasaan orang lain. Marilah kita bicarakan nilai-nilai kita sendiri. Ayo, Wiraprana, katakanlah bahwa kita akan bertaruh. Siapa yang kalah, harus melepaskan niatnya untuk mendapatkan gadis itu.”

Tiba-tiba dada Agni itu seperti terbakar mendengar kata-kata Mahendra, Ken Dedes seakan-akan dianggapnya sebagai benda yang mati, yang hanya dapat dijadikan barang taruhan. Dan tiba-tiba pula, Mahisa Agni lupa pada keadaannya. Seakan-akan dirinya sendirilah yang kini sedang mempertahankan gadis yang dicintainya itu dari kerakusan hati seorang laki-laki. Karena itu, maka gigi Mahisa Agni terkatup rapat, dan matanya memancarkan sinar kemarahan yang membakar jantung. Ketika ia melihat Mahendra itu melangkah maju. Agni pun maju pula beberapa langkah sambil menggeram, “Mahendra. Jangan kau hinakan gadis itu. Ken Dedes bukan sekedar barang taruhan. Nilainya sama dengan nilai nyawaku sendiri.”

Dada Mahendra berdesir mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Ternyata laki-laki yang disangkanya Wiraprana itu benar-benar jantan. Dilihatnya Mahisa Agni telah benar-benar bersiap untuk bertempur. “Pasti ia akan bertempur mati-matian,” berkata Mahendra di dalam hatinya. Tetapi ia sendiri sudah lama bersiap. Sejak ia berangkat dari Tumapel, telah bulat tekad di dalam dadanya. Bertempur.

“Apakah yang dapat dilakukan oleh anak-anak desa seperti Wiraprana itu,” pikirnya, “Ia hanya memiliki keberanian, tetapi ia tidak akan mampu melihat, bahwa Mahendra adalah seorang anak muda yang tidak saja memiliki kekuatan tubuh, namun memiliki pula pengetahuan yang luas dalam tata perkelahian.”

Maka terdengar sekali lagi Mahendra berkata, “Ayo,Wiraprana, mana senjatamu?”

Agni menggeleng. Sahutnya, “Tak ada gunanya senjata bagiku.”

Dada Mahendra menggelegar mendengar jawaban itu. Benar-benar suatu penghinaan. Anak desa Panawijen itu begitu sombongnya sehingga dengan beraninya ia melawannya tanpa senjata. Karena itu Mahendra pun berteriak pula, “Baik. Kau takut melihat senjata.”

Dan terkejutlah mereka yang menyaksikan. Dahan kayu cangkring itu dengan serta-merta ditekankannya pada lututnya dan patah berderak-derak. Kemudian kedua potongan itu pun dilemparkannya jauh-jauh. Demikian jauhnya sehingga mereka tidak dapat melihat lagi, di mana kedua potongan kayu itu terjatuh. Benda-benda itu seakan-akan terbang dan lenyap ditelan awan yang kelam.

Wiraprana melihat semuanya itu dengan dada yang berdebar-debar. Sebuah pameran kekuatan yang mengerikan. Dan kini ia merasakan kebenaran kata-kata Mahisa Agni. Laki-laki yang sedang dibakar oleh kekecewaan yang berlebih-lebihan itu tak dapat diajaknya berbicara.

Mahendra dan Mahisa Agni itu pun kini telah maju pula beberapa langkah. Dengan dada yang bergelora oleh kemarahan yang membakar dada masing-masing, mereka mempersiapkan diri.

Kedua orang saudara seperguruan Mahendra pun kini telah berdiri berseberangan. Mereka memperhatikan keadaan dengan seksama. Sedang Wiraprana pun telah berdiri mendekat. Seperti tonggak ia tegak di tengah-tengah jalan.

“Nah,” berkata Mahendra, “berjanjilah. Siapakah yang kalah di antara kita, akan membatalkan niatnya.”

“Persetan dengan igauan itu!” sahut Agni dengan marah.

“Kau menolak perjanjian itu?”

“Sudah aku katakan, Ken Dedes bukan barang taruhan.”

“Bagus, kalau demikian nyawa kita yang kita pertaruhkan.”

“Mahendra!” tiba-tiba terdengar salah seorang saudara seperguruan itu mencegahnya, “Jangan!”

Tetapi Mahendra tidak mendengarnya. Apalagi ketika kemudian Agni pun menjawab, “Bagus. Lebih baik nyawa kita, kita pertaruhkan.”

Mahendra telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Demikian ia mendengar jawaban Mahisa Agni, segera ia melontarkan diri dengan cepatnya menyerang lawannya. Namun Mahisa Agni pun telah bersiap pula.

Karena itu, dengan tangkasnya pula ia berhasil membebaskan dirinya dari serangan itu. Namun Mahendra yang sedang dibakar oleh kemarahannya, segera melepaskan serangan beruntun. Geraknya sedemikian cepat dan lincah, dilambari oleh suatu keyakinan, bahwa tulang-tulang lawarnya, anak desa Panawijen yang disangkanya hanya mengenal cangkul dan bajak itu, akan segera dipatahkannya.

Tetapi Mahendra terkejut. Betapa anak desa itu dengan kecepatan yang mengagumkan, selalu berhasil mengelakkan serangan-serangannya. Karena itu, Mahendra menjadi semakin marah. Dilepaskannya serangan-serangan yang semakin berbahaya, menyambar-nyambar ke segenap bagian tubuh Mahisa Agni. Sehingga sesaat kemudian Mahendra itu pun seakan-akan tinggal sebuah bayang-bayang yang melontar melingkar-lingkar dengan cepatnya.

Tetapi lawannya adalah Mahisa Agni, Seorang anak muda yang hampir sempurna dalam menekuni ilmu yang mengalir dari gurunya, Empu Purwa. Karena itu, betapapun juga, Mahisa Agni menghadapinya dengan ketabahan dan ketenangan. Lawannya yang melandanya seperti angin pusaran itu tidak berhasil membingungkannya. Bahkan, Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin tangguh. Setangguh seekor banteng muda yang perkasa.

Demikianlah kedua anak muda itu bertempur semakin lama semakin sengit. Mahendra adalah seorang anak muda yang berhati keras dan memiliki harga diri yang berlebih-lebihan. Namun setelah ia bertempur beberapa saat, terasa bahwa lawannya, anak desa Panawijen itu bukan sekadar anak-anak yang hanya mampu menggerakkan cangkul saja, tetapi anak itu ternyata memiliki bekal yang cukup untuk melawannya. Karena itu, kemarahan Mahendra menjadi semakin menyala.

“Gila!” umpatnya di dalam hati, “anak ini benar-benar melawan dengan kemampuan yang baik.”

Tetapi Mahendra telah bertekad untuk bertempur mati-matian. Telah dibulatkannya tekad di dalam hatinya. Anak Panawijen itu harus dilumpuhkannya, Apabila terpaksa anak itu terbunuh karenanya, maka beberapa saksi telah mendengar, adalah menjadi persetujuan mereka berdua, bertempur sampai mati.

Itulah sebabnya Mahendra kemudian mengerahkan segala kemampuan yang ada padanya, apapun yang akan terjadi dengan lawannya. Apakah lawannya itu akan hancur lumat, atau akan luluh sekali pun.

Tetapi kedua saudara seperguruan Mahendra itu melihat suatu keanehan pada lawan Mahendra itu. Betapapun Mahendra menyerangnya, namun lawannya itu selalu dapat menghindarkan dirinya, dan bahkan semakin lama tampaklah betapa anak Panawijen itu dapat bergerak semakin cepat. Mahisa Agni ternyata kemudian tidak membiarkan dirinya dihujani oleh serangan-serangan beruntun. Ketika ia telah berhasil melihat, titik-titik kekuatan dan titik-titik kelemahan lawannya, segera ia mulai dengan serangan-serangannya yang membadai. Kini keduanya bertempur dengan riuhnya. Semakin lama semakin seru. Mahendra akhirnya merasa perlu untuk menunjukkan kekuatan-kekuatan tubuhnya, sehingga dengan sengaja ia membenturkan kekuatannya dengan serangan Mahisa Agni yang datang seperti tatit menyambarnya.

Mahisa Agni, yang sedang menyerang lawannya itu melihat, bahwa Mahendra sama sekali tak berusaha menghindari serangannya. Karena itu, segera Mahisa Agni tahu, bahwa anak muda dari Tumapel itu siap melawan serangannya dengan kekuatannya yang penuh. Maka Mahisa Agni pun segera memusatkan tenaganya untuk menggempur lawannya.

Terjadilah kemudian suatu benturan kekuatan yang dahsyat. Sedang akibatnya pun mengejutkan pula. Mahisa Agni terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah ia mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sehingga ia tidak terpelanting jatuh. Sedang akibat yang dialami oleh Mahendra ternyata lebih berat daripadanya. Anak muda itu terlempar beberapa langkah, dan kemudian terbanting di tanggul parit di tepi jalan. Ketika Mahendra mencoba untuk melenting berdiri, kaki kirinya terperosok dan tergelincir masuk ke dalam air.

Sesaat kemudian Mahendra telah tegak berdiri di dalam parit dengan pakaian yang basah kuyup. Tubuhnya yang kokoh itu menggigil. Bukan karena kedinginan, tetapi karena kemarahan yang meluap di dalam dadanya.

Maka terdengarlah anak muda itu menggeram, “Dahsyat kau Wiraprana. Namun aku telah berjanji, nyawa kita menjadi taruhan. Nah, marilah kita mengadu keprigelan olah senjata.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia maju selangkah ketika dilihatnya Mahendra dengan lincahnya meloncat ke atas tanggul di tepi jalan. Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika dilihatnya Mahendra menggenggam senjata di tangannya. Sebilah keris yang seakan-akan dapat menyala di malam hari.

Ketika Agni masih berdiam diri, terdengar sekali lagi Mahendra menggeram, “Carilah senjata!”

Mahisa Agni tidak membawa senjata. Tetapi menilik nafsu lawannya yang meluap-luap agaknya ia benar-benar harus bertempur mati-matian.

Belum lagi Mahisa Agni tahu, apa yang dilakukan, tiba-tiba Mahendra meloncat dengan tangkasnya ke arah salah seorang temannya, dan terdengarlah ia berkata lantang, “Berikan kerismu!”

Kawannya terkejut. Sama sekali tak diduganya, Mahendra akan menarik kerisnya dengan serta-merta. Karena itu ia tidak dapat mencegahnya, sehingga dengan demikian di kedua sisi tangan Mahendra tergenggam dua bilah keris.

“Wiraprana,” berkata Mahendra, “pilihlah, manakah yang kau sukai?”

Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Aku tidak pandai memilih.”

“Jangan merajuk,” sahut Mahendra, “sebelum kau terbunuh, aku beri kesempatan kau berbuat yang sama. Supaya perkelahian ini adil dan jujur.”

Mahisa Agni memandang kedua senjata itu dengan seksama. Keduanya adalah senjata-senjata yang baik. Karena itu maka dijawabnya, “Kalau kau ingin bertempur dengan senjata, Mahendra. Berikan kepadaku, mana yang tidak kau sukai.”

Kemarahan Mahendra menjadi semakin memuncak. Dengan wajah yang menyala ia berkata, “Bagus. Inilah!”

Dengan baiknya Mahendra melemparkan keris di tangan kirinya kepada Mahisa Agni. Senjata itu meluncur cepat, dan dengan baiknya pula Mahisa Agni berhasil menangkapnya.

Demikian tangan Agni menggenggam keris itu, demikian ia mendengar Mahendra berkata lantang, “Kita tentukan nasib kita sebelum fajar.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Dipandangnya lawannya dengan tajamnya. Dilihatnya setiap geraknya dan didengarnya setiap kata-katanya. Anak itu benar-benar anak yang memiliki keteguhan hati, namun sayang, agaknya ia masih terlalu muda. Terlalu muda dalam menanggapi setiap persoalan meskipun umurnya sebaya dengan umurnya sendiri.

Mahisa Agni melihat Mahendra telah siap untuk menyerangnya. Karena itu ia pun segera bersiap pula. Sesaat kemudian dilihatnya anak muda dari Tumapel itu meluncur menyerangnya, langsung mengarah ke dadanya. Dengan tangkasnya Mahisa Agni mengelakkan serangan itu. Tangannya sendiri pun mampu mempermainkan segala jenis senjata. Maka keris di tangannya itu pun menjadi sangat berbahaya karenanya.

Kembali perkelahian itu menjadi sengit. Kira mereka sudah sampai ke puncak ilmu masing-masing. Mereka menyerang dalam setiap kesempatan. Setiap gerak masing-masing benar-benar diperhitungkan, sehingga setiap gerak tangan mereka seakan-akan mereka menaburkan biji kematian.

Malam pun semakin lama menjadi semakin dalam membenam dalam tambah banyak. Namun mereka berdua yang sedang bertempur itu masih saja bertempur dengan sepenuh tenaga.

Tetapi semakin lama, betapapun Mahendra memiliki kekuatan melampaui kekuatan tangan sesamanya serta ketangkasannya olah senjata, namun kini ia bertemu dengan anak muda yang sama sekali tak diduganya. Anak muda yang disangkanya hanya mampu mengayunkan cangkul itu ternyata memiliki ketangguhan dan kelincahan yang luar biasa.

Demikianlah Mahendra harus melihat kenyataan. Keris di tangan Mahisa Agni itu seakan-akan mematuknya dari segenap penjuru. Bahkan seakan-akan menjadi bersayap dan menyambar-nyambarnya dengan dahsyatnya. Mahisa Agni tidak saja menyerang dengan tangan kanannya, namun keris itu seperti meloncat-loncat dari satu tangan ke tangan lainnya dan dengan cepatnya pula meluncur ke perut lawannya.

Dengan demikian maka mau tidak mau Mahendra lebih banyak bertahan daripada menyerang. Setiap kali ia terpaksa melangkah surut, menghindari sentuhan keris kawannya di tangan Mahisa Agni. Karena ia pun menyadarinya, sentuhan keris itu pasti akan berakibat maut, seperti seandainya ia berhasil menyentuh tubuh lawannya. Namun karena keduanya harus berhati-hati dan menghindari setiap sentuhan, maka perkelahian itu seakan-akan tidak akan berakhir. Seperti anak-anak yang asyik dengan permainan yang menyenangkan sehingga mereka lupa segala-galanya.

Tetapi semakin lama, menjadi semakin jelas, bahwa perkelahian itu akan menuju ke akhirnya. Ternyata semakin lama Mahendra semakin terdesak. Mahisa Agni seolah-olah menyimpan nafas rangkap di dadanya, sehingga ketika lawannya telah mulai diganggu oleh pernafasannya, maka Agni pun masih tetap segar sesegar ketika mereka baru mulai.

Mahendra yang mencoba untuk bertahan mati-matian itu, benar-benar telah memeras tenaganya, sehingga segenap kekuatannya telah dicurahkannya. Dengan demikian, maka tenaganya itu pun lebih dahulu surut daripada Mahisa Agni. Meskipun demikian, Mahendra yang keras hati itu masih saja bertempur mati-matian. Ia sudah bertekad mempertaruhkan nyawanya. Dan akan diakhirinya perkelahian ini dengan jantan.

Tetapi Mahisa Agni pun bertempur dengan seluruh kemampuannya. Sehingga anak muda itu benar-benar dapat bergerak secepat sikatan menyambar belalang namun mampu pula bertahan setangguh batu karang.

Maka akhirnya ternyatalah bahwa Mahisa Agni mampu menguasai lawannya. Dengan suatu tusukan rendah, Agni memaksa lawannya untuk menghindar ke samping, namun Agni kemudian memutar kerisnya dan menyambar lambung. Mahendra melihat sambaran yang cepat itu. Dihindarinya keris itu dengan memutar tubuhnya, dan ketika Agni belum sempat menarik tangannya, Mahendra berusaha menggurat pergelangan tangan Agni dengan ujung kerisnya. Tetapi Agni dapat bergerak melampaui lawannya, sehingga tangannya dapat dibebaskannya, bahwa dengan tak terduga-duga, tangan kiri Agni dengan cepatnya menyambar pergelangan tangan Mahendra.

Sambaran tangan itu demikian cepat dan kerasnya, sehingga Mahendra tidak sempat mengelakkannya. Terdengarlah sebuah seruan tertahan dan dalam pada itu semua mata yang mengikuti perkelahian itu melihat dengan dada yang gemuruh. Keris Mahendra terlepas dari tangannya. Mahendra sendiri terkejut bukan buatan, sehingga ia melangkah surut. Namun Agni segera meloncat dan ujung kerisnya telah melekat di dada lawannya.

Kini keduanya tegak dengan tegangnya. Mahendra menunggu apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni. Sedang saudara-saudara seperguruannya pun tegak seperti patung. Demikian pula Wiraprana. Perasaannya telah bergelora dan seakan-akan menjadi sedemikian kacaunya, sehingga ia tidak mampu untuk melakukan sesuatu apapun.

Mahisa Agni berdiri tegak dengan keris di dalam genggamannya. Ujungnya masih mengarah ke dada lawannya.

“Apa yang kau tunggu,” geram Mahendra. Meskipun ia tidak bergerak, namun matanya menyalakan kemarahan yang membakar dadanya.

Tetapi Mahisa Agni tetap tidak bergerak. Ketika ia memandang wajah Mahendra yang membara itu, seakan-akan dilihatnyalah wajahnya sendiri pada saat ia mendengar pengakuan Ken Dedes kepada ibunya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Perasaan itu sangat mengganggunya. Karena itu maka kemarahannya pun menjadi semakin susut. Ia akan dapat melakukan apa saja yang dikehendaki atas anak muda yang bernama Mahendra itu. Tetapi apakah akan dilakukannya?

Sesaat Mahisa Agni terbenam dalam kebimbangan. Dan sesaat itu dilihat oleh Mahendra. Mahendra adalah seorang anak muda yang keras hati. Karena itu, ketika dilihatnya wajah Agni yang ragu, Mahendra dapat mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Dengan tidak disangka-sangka oleh Mahisa Agni. Mahendra dengan cepatnya merendahkan dirinya, dan dengan satu tendangan yang keras pada pergelangan tangan Agni, maka Mahendra telah berhasil melemparkan keris di tangan lawannya.

Mahisa Agni terkejut bukan main. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hal itu akan dilakukan oleh Mahendra. Karena itu maka ia tidak kuasa untuk mempertahankan kerisnya. Dilihatnya keris itu melambung tinggi dan kemudian jatuh beberapa langkah daripadanya.

Tetapi Agni tidak sempat berbuat lain, karena Mahendra telah mulai menyerangnya beruntun dengan kakinya. Untunglah bahwa Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang terlatih matang. Dengan demikian, meskipun dengan lontaran yang panjang ia berhasil membebaskan dirinya dari serangan Mahendra yang mengalir seperti banjir bandang.

Mahisa Agni menjadi semakin terkejut pada saat ia mendengar salah seorang kawan Mahendra itu berkata nyaring, “Mahendra, inilah senjatamu!”

Mahisa Agni masih sempat melihat anak muda itu meloncat dengan tangkasnya memungut keris Mahendra yang terlepas, kemudian dilontarkannya kepada Mahendra. Dada Mahisa Agni berdesir melihat kecurangan itu. Tetapi ia dikejutkan pula oleh kawan Mahendra yang seorang lagi. Anak muda itu pun meloncat dengan lincahnya, lebih lincah dari yang lain. Tangannya dengan cepatnya menyambar keris yang sedang meluncur ke arah Mahendra itu. Ketika keris itu sudah ditangkapnya, terdengar ia berkata, “Jangan Kebo Ijo!”

Semuanya terkejut melihat peristiwa-peristiwa yang berturut-turut itu. Mahisa Agni, Mahendra dan anak muda yang disebutnya Kebo Ijo dan Wiraprana. Anak muda yang menyambar keris itu berdiri tegak di antara mereka sambil memandang berkeliling. Katanya, “Jangan menodai nama perguruan kami.”

“Bukankah itu keris Mahendra sendiri,” bantah Kebo Ijo.

“Keris itu sudah terlepas dari tangannya. Biarlah ia memungut kerisnya sendiri apabila mampu.”

Mahendra memandang saudara seperguruannya itu dengan penuh pertanyaan. Apakah sudah tidak ada rasa kesetiakawanan lagi di antara mereka. Maka katanya, “Apakah salahnya ia menolong aku?”

“Tidak adil,” sahut anak muda itu, “akulah yang tertua di antara kalian. Aku tidak rela melihat kecurangan itu. Meskipun aku bersedih karena Mahendra tidak dapat memenangkan perkelahian ini, namun aku akan lebih bersedih lagi, apabila kalian berbuat curang.”

Mahendra tidak menjawab dan Kebo Ijo itu pun menundukkan wajahnya. Kemudian terdengar anak muda itu berkata kembali, “Mahendra kau kalah.”

Mendengar kata-kata kakak seperguruannya, yang seakan-akan merupakan keputusan tentang kekalahannya itu, wajah Mahendra menjadi merah membara. Terdengar giginya gemeretak dan matanya seakan-akan memancarkan api. Maka jawabnya, “Kakang, aku masih hidup. Kekalahan bagiku hanya ditandai dengan kematian.”

Kakak seperguruannya itu menarik alisnya, katanya, “Kau benar-benar seorang anak muda yang berani Mahendra, yang tak mengenal takut meskipun menghadapi kematian sekali pun. Namun keberanianmu itu belum sempurna. Kau masih memiliki ketakutan.”

“Tidak!” sahut Mahendra, “Aku tidak takut apapun yang terjadi. Sudah aku katakan, mati pun aku tidak takut. Apalagi? Apakah yang lebih jauh dari mati itu?”

Kakak seperguruannya menarik nafas. Katanya, “Mahendra, kau masih takut melihat kenyataan.”

Mahendra tersentak mendengar jawaban itu. Dipandanginya wajah kakak seperguruannya dengan tajamnya, namun ketika kakak seperguruannya itu memandang langsung ke biji matanya, maka Mahendra pun menundukkan wajahnya.

“Mahendra,” berkata kakaknya itu pula, “seorang yang jantan tidak perlu membunuh dirinya dalam perkelahian. Seorang yang berjiwa besar harus dapat melihat kenyataan. Dan kenyataan yang terjadi sekarang, kau kalah. Apakah yang lebih jantan dari melihat kenyataan itu? Adakah yang lebih besar dari mengakui kekalahan? Mahendra, kaudapat bertempur mati-matian, bahkan sampai tetes darahmu yang terakhir. Namun dalam persoalan yang berbeda. Persoalan di mana hakmu dilanggar oleh sesama. Tetapi sekarang kau menghadapi persoalan yang lain. Hakmu dan hak Wiraprana itu sama jauhnya. Bahkan secara jujur harus kauakui, bahwa hak Wiraprana untuk berkelahi lebih besar dari padamu.”

Mahendra tidak menjawab. Wajahnya yang membara itu pun menjadi semakin tunduk. Namun hatinya masih juga bergelora. Sedang Kebo Ijo tidak begitu senang mendengar kata-kata kakak tertuanya itu. Katanya, “Kakang, Mahendra datang lebih dahulu kepada gadis itu. Apakah bukan haknya untuk mempertahankannya. Bukankah dengan demikian Wiraprana telah merampas masa depannya?”

“Bukan salah Wiraprana,” sahut kakak seperguruannya itu, “apakah Mahendra datang yang pertama kepada gadis itu. Kalau ada orang lain yang lebih dahulu, apakah Mahendra tidak melanggar haknya pula?”

Kebo Ijo terdiam. Namun usianya yang muda itu masih belum dapat mengerti kata-kata kakak seperguruannya. Bahkan dengan agak memaksa ia kemudian berkata, “Perkelahian ini belum selesai. Wiraprana datang berdua. Biarlah kami berdua melawannya.”

“Bagus,” sambut Mahendra.

Kakak seperguruannya ternyata seorang yang berpandangan tajam. Segera ia mengetahui, bahwa kawan anak muda yang disangkanya bernama Wiraprana itu tidak memiliki kemampuan berkelahi seperti Kebo Ijo dan Mahendra. Karena itu maka sekali lagi ia menyesal atas sikap adik-adik seperguruannya itu. Maka katanya, “Tidak ada gunanya. Kawan Wiraprana itu tak mempunyai sangkut paut dengan perkelahian ini.”

“Ada,” sahut Kebo Ijo, “ia datang bersama Wiraprana, seperti aku datang bersama Mahendra. Meskipun tak ada persoalan apapun dengan gadis itu, biarlah kita melihat, apakah perguruan kami tidak mampu melawan anak-anak Panawijen yang sombong itu.”

Dada Wiraprana pun berdebar-debar pula. Telah dilihatnya, betapa Mahendra mampu bertempur seperti seekor harimau lapar. Maka saudara seperguruannya itu pun pasti tidak terpaut jauh. Apabila ia harus melawannya, maka apakah yang dapat dilakukan? Namun Wiraprana tidak takut menghadapi apapun, meskipun ia sadar, bahwa pada serangan yang pertama, pasti ia sudah tidak akan dapat bangkit kembali.

Tetapi Wiraprana itu terkejut mendengar jawaban saudara seperguruan Mahendra. Bukan saja Wiraprana, tetap: Mahisa Agni, dan bahkan Mahendra dan Kebo Ijo sendiri. Katanya, “Kebo Ijo, kalau kau akan memaksakan perkelahian, karena hanya kau ingin berkelahi, maka baiklah kita hadapkan kalian berdua dengan Wiraprana berdua. Tetapi Wiraprana berdua dengan aku sendiri.”

“Kakang?” potong Kebo Ijo, “Apakah katamu itu?”

“Aku di pihak Wiraprana,” sahut arak muda itu, “biarkan kawan Wiraprana menjadi saksi.”

Kebo Ijo dan Mahendra terdiam. Betapa ia melihat kakak seperguruannya itu benar-benar marah kepada mereka. Karena itu maka mereka pun menundukkan wajah-wajah mereka.

Dalam pada itu dada Mahisa Agni pun bergelora melihat sikap yang mengagumkan itu. Sikap yang benar-benar jantan. Tidak saja jantan dalam menghadapi bahaya apapun namun kejantanan dalam menghadapi kebenaran. Diam-diam Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya, “Sebenarnyalah lebih mudah menghadapi kematian daripada menghadapi kebenaran.”

Sesaat mereka dicengkam kesepian. Kesepian yang tegang. Namun tiba-tiba terdengar kakak seperguruan Mahendra itu berkata, “Marilah kita pulang! Persoalanmu sudah selesai Mahendra.”

Mahendra dan Kebo Ijo saling berpandangan. Namun mereka tidak berkata apapun. Per lahan-lahan mereka memungut keris yang masih tergeletak di tanah, dan kemudian berjalan ke kuda-kuda mereka, dan kakak seperguruan Mahendra itu pun berkata kepada Mahisa Agni, “Selamat tinggal. Mudah-mudahan kau berbahagia. Kembang di kaki gunung Kawi itu telah mendapatkan juru taman yang tangguh dan berhati jantan. Selamat.”

Mahisa Agni melihat anak muda itu pun kemudian berjalan meninggalkannya. Ketika mereka bertiga meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan lenyap ditelan gelap malam, maka gemuruhlah dada Mahisa Agni. Pesan kakak seperguruan Mahendra itu menghantam dadanya melampaui tangan Mahendra. Kini ia sadar, bahwa apa yang dilakukan itu, bukanlah untuk dirinya sendiri. Ia telah mempertahankan Ken Dedes dengan bertaruh nyawa. Tetapi nama yang dipergunakannya adalah Wiraprana. Ya, Wiraprana.

Tiba-tiba wajah Mahisa Agni pun terkulai dengan lemahnya. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni terkejut mendengar tegur Wiraprana, “Agni, sungguh mengagumkan.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya wajah Wiraprana yang tegang memandang jauh ke dalam gelap, ke arah anak-anak muda dari Tumapel itu lenyap. Sesaat kemudian Wiraprana itu menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Bukan main. Aku menjadi bertanya-tanya di dalam hati, betapa kecilnya Wiraprana berada di antara kau dan anak-anak itu.”

“Semuanya sudah lampau. jangan kau pikirkan lagi, Prana,” jawab Agni, “Masa-masa berbahaya telah lewat. Apakah masih ada di antara mereka yang akan datang pula seperti Mahendra? Aku sangka tidak. Dan mudah-mudahan sebenarnya tidak.”

“Agni,” perlahan-lahan terdengar Wiraprana berkata, namun terasa memancar dari sudut hatinya yang paling dalam, “telah dua kali kau menyelamatkan nyawaku.”

“Jangan kau sebut-sebut itu Prana. Adalah menjadi kewajibanku untuk menyelamatkan hubunganmu dengan adikku itu,” jawab Agni.

Wiraprana tidak menjawab. Matanya yang selalu riang, kini tampak sayu.

“Marilah kita pulang, Prana. Lupakan semuanya,” ajak Agni.

Wiraprana tidak menjawab. Tetapi ia melangkah perlahan-lahan di samping Agni. Mereka berjalan pulang ke rumah Ki Buyut Panawijen.

Malam yang sudah semakin malam itu ditandai oleh kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Angin yang dingin mengalir perlahan menggerakkan daun-daun padi yang basah oleh embun. Di kejauhan terdengar lamat-lamat bunyi kentongan beruntun.

“Tengah malam,” gumam Mahisa Agni.

Wiraprana mengangkat wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang di langit berhamburan seakan-akan biji-biji mutiara yang ditaburkan di atas permadani yang biru gelap. Bulan tua masih tampak bertengger di ujung gunung. Cahayanya yang suram memancar kekuning-kuningan mewarnai dedaunan yang hijau.

Ketika mereka hampir memasuki desa Panawijen, tiba-tiba Wiraprana berhenti. Dengan pandangan yang suram ditatapnya wajah Mahisa Agni. Kemudian terdengar ia berkata lirih, “Agni. Adakah aku berhak atas gadis itu?”

Mahisa Agni terkejut. Katanya, “Apa yang sedang kaupikirkan Wiraprana? Persoalanmu sudah selesai. Jangan membuat persoalan-persoalan baru.”

Wiraprana menundukkan wajahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Agni, bukankah gadis itu bukan adikmu.”

Dada Agni pun menjadi berdebar-debar karenanya. Dan didengarnya Wiraprana meneruskan, “Agni. Tidakkah pernah timbul di dalam hatimu untuk mengubah hubunganmu dengan gadis itu? Tidak sebagai kakak beradik seperti sekarang ini?”

“Prana!” potong Agni. Namun terasa betapa nafasnya menekan jantungnya. Katanya kemudian, “Jangan mempersulit keadaanmu. Jangan berpikir tentang sesuatu yang tak pernah ada. Prana, aku adalah kakaknya. Meskipun aku bukan kakak yang dilahirkan dari kandungan seorang ibu yang sama, namun demikianlah keadaan kami sekarang. Berapa tahun aku tinggal di rumah itu sebagai seorang anak yatim piatu, di bawah asuhan Empu Purwa yang baik hati.”

“Dijadikannya aku anak laki-lakinya yang tunggal dan dipersaudarakannya aku dengan Ken Dedes. Nah, Wiraprana. Apakah dengan demikian Ken Dedes itu bukan adikku? Adakah dengan demikian akan dapat timbul di dalam hatiku untuk memutuskan ikatan persaudaraan itu menjadi ikatan yang lain?” Agni menekankan kata demi kata untuk meyakinkan kebenaran pendapatnya itu. Namun sebenarnya, kata-kata itu lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri. Dicobanya untuk menekan hatinya yang bergolak dengan kata-katanya itu.

Wiraprana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Namun ia tidak bertanya-tanya lagi. Hanya nafas mereka berdualah yang terdengar di antara gemeresik daun-daun ditiup angin,

“Marilah kita pulang, Prana,” ajak Agni.

Wiraprana mengangguk, dan kembali mereka berjalan memasuki jalan yang gelap oleh rimbunnya daun-daun di atas mereka. Hanya kadang-kadang saja mereka masih melihat bulan dan bintang-bintang di antara sela-sela dedaunan.

Tak seorang pun penduduk Panawijen yang tahu, apakah yang pernah terjadi dengan Wiraprana dan Mahisa Agni. Adalah kebetulan bahwa pada malam itu tak seorang pun yang pergi ke sawahnya. Karena itu, maka Wiraprana pun lambat laun berhasil menghilangkan kenangan pahit itu. Meskipun Wiraprana sama sekali bukan seorang pengecut namun, apakah yang dapat dilakukan di antara orang-orang berilmu seperti Mahisa Agni dan Mahendra. Karena itu, maka timbullah keinginannya untuk setidak-tidaknya dapat menambah ilmunya. Mungkin pada suatu saat akan berguna. Tetapi dalam pada itu selalu diingatnya pula kata-kata kakak seperguruan Mahendra, bahwa seseorang akan dapat berjuang sampai tetes darah yang penghabisan, namun untuk mempertahankan haknya yang dilanggar oleh sesama. Dan berjanjilah ia di dalam dirinya, bahwa ilmu yang kelak akan dimilikinya, bukanlah alat untuk melanggar hak orang lain.

Ketika maksudnya itu disampaikannya kepada Mahisa Agni, Mahisa Agni pun menjadi gembira.

“Bagus,” katanya, “kita akan berlatih setiap malam di bendungan.”

“Kau menjadi guruku,” berkata Wiraprana.

Agni menggeleng, “Tidak. Aku tidak berhak menjadi guru sebelum guruku mengizinkannya. Kita hanya dapat berlatih bersama. Itu pun kalau guru memperkenankan.”

Demikianlah mereka berjanji untuk melakukan latihan-latihan itu, namun Mahisa Agni telah memesan kepada sahabatnya, bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu yang tidak perlu diberitahukannya kepada siapa pun juga.

Ketika Mahisa. Agni berhasrat untuk menghadap gurunya, untuk menyampaikan maksud Wiraprana, itu tiba-tiba ditemuinya Ken Dedes datang kepadanya.

“Kakang,” berkata gadis itu, “Ayah memanggilmu. Sekarang!”

“Oh. Apakah ada sesuatu yang perlu?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku tidak tahu. Baru saja seorang tamu meninggalkan sanggar. Sahabat ayah. Lalu Ayah memanggilmu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Siapakah tamu itu?”

Ken Dedes menggeleng, “Entahlah. Sahabat ayah.”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Siapakah sahabat gurunya itu? Ia menjadi cemas, apakah seseorang telah datang dan menuntut atas kekalahan Mahendra oleh seorang yang disangkanya bernama Wiraprana, namun yang sebenarnya adalah Mahisa Agni. Mau tidak mau Agni pun melihat kesalahan di dalam dirinya. Kakak seperguruan Mahendra tidak mau melihat seseorang membantu adik seperguruannya itu, bahkan saudara mereka pula. Namun apakah yang dilakukannya? Jauh lebih banyak dari membantu. Bahkan ialah yang bertempur melawan Mahendra. Apakah sikap itu dapat disebut sikap yang jantan. Namun Mahisa Agni mempunyai pertimbangan lain. Ia telah bersedia jawaban yang akan diberikannya kepada gurunya yang penting baginya bukan siapakah yang harus bertempur, namun bagaimana ia mempertahankan hak Ken Dedes dalam menentukan pilihannya sendiri. Jangankan Mahendra, bahkan suara hatinya sendiri pun telah ditindasnya.

Mahisa Agni sadar ketika ia mendengar suara Ken Dedes, “Kakang, Ayah menunggumu!”

“Oh, baiklah,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat.

Ketika Ken Dedes telah meninggalkannya, kembali Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Selangkah demi selangkah ia pergi kepada gurunya yang masih berada di bagian depan dari sanggarnya. Detak jantungnya serasa semakin cepat mengalir ketika ia melihat gurunya duduk menantinya. Wajahnya yang bening tampaknya seakan-akan sedang disaput oleh mendung yang tebal. Suram.

Ketika ia melihat Mahisa Agni, Empu Purwa itu pun tersenyum. Namun terasa oleh Agni, senyum yang lain dari senyumnya sehari-hari.

“Duduklah Agni,” gurunya itu mempersilakan.

Agni pun kemudian duduk bersila di hadapannya. Wajahnya yang tegang ditundukkannya dalam-dalam.

“Udara terlalu panas,” gumam gurunya.

“Ya, Empu,” sahut Agni.

“Agaknya mendung di langit akan menjadi semakin tebal.”

“Mungkin Empu. Awan mengalir dari selatan.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia memandang ke halaman. Bayangan mendung di langit tampak mengalir dihanyutkan angin. Sesaat sinar matahari menjadi buram karena awan yang kelam membayangi wajahnya.

Dan tiba-tiba Empu Purwa itu berkata, “Aku baru saja menerima seorang tamu Agni. Sahabatku dari Tumapel.”

Mahisa Agni tersentak. Apakah dugaannya tenang peristiwa beberapa hari yang lalu itu benar?

Dan didengarnya gurunya itu berkata pula, “Sahabat yang baik. Ia tahu apa yang benar dan apa yang salah.”

Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi hatinya masih tegang. Apalagi ketika Empu Purwa itu meneruskan, “Tamuku adalah ayah Mahendra, Agni.”

Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir. Apakah yang telah dikatakan oleh tamu itu tentang dirinya. Dicobanya mencuri pandang atas wajah gurunya. Ia mencoba untuk mendapat kesan daripadanya. Apakah gurunya sedang marah, kecewa atau sedih. Tetapi ia tidak dapat menemukan kesan apapun dari wajah itu. Yang dilihatnya bahwa wajah itu suram, sesuram langit yang sedang dilapisi awan itu. Ketika gurunya itu berkata pula, Mahisa Agni kembali menundukkan wajahnya.

“Agni,” berkata Empu Purwa pula. Nadanya rendah, namun jelas kata demi kata, “tamuku itu bercerita tentang peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu di ujung desa kita ini.”

Wajah Mahisa Agni pun menjadi semakin tunduk. Dan didengarnya gurunya meneruskan, “Agni, apakah Wiraprana bertengkar dengan Mahendra?”

Mulut Mahisa Agni serasa terkunci. Karena itu untuk beberapa lama ia tidak menjawab, sehingga gurunya berkata pula, “Aku sangka kau tahu atau setidak-tidaknya pernah mendengar peristiwa itu karena hubunganmu yang erat dengan Wiraprana.”

Mahisa Agni masih tenggelam dalam kebingungan dan kebimbangan. Hanya tiba-tiba saja mulutnya berkata, “Aku mendengar guru.”

“Nah, kalau demikian peristiwa itu benar-benar pernah terjadi. Menurut ayahnya, Mahendra menjadi sakit hati, karena lamarannya ditolak. Bahkan kemudian ia berhasrat untuk mengadakan semacam sayembara tanding. Begitu?”

“Ya guru,” jawab Mahisa Agni tergagap. Namun ia berusaha untuk menutupi kesalahan yang mungkin akan dilimpahkan kepadanya. Katanya, “Namun apakah Mahendra berhak mengadakan sayembara semacam itu?”

“Tentu tidak, Agni,” jawab gurunya, “Tetapi tantangan itu diterima oleh Wiraprana.”

“Ya,” jawab Agni.

“Dan mereka pun berkelahi.”

“Ya.”

“Menurut ayah Mahendra, Mahendra dapat dikalahkan.”

“Ya.”

“Oleh Wiraprana?”

Mahisa Agni terdiam. Gejolak di dalam dadanya serasa melanda jantungnya, sehingga akan meledak. Ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun sehingga gurunya berkata, “Agni, Mahendra adalah seorang anak yang tanggon. Aku telah mengenal anak itu, sebab ayahnya adalah sahabatku. Aku tidak menyangka bahwa Wiraprana dapat mengalahkannya.”

Empu Purwa berhenti sejenak. Kemudian orang tua itu berkata pula, “Menurut ayah Mahendra, Wiraprana itu datang berdua. Apakah kau ikut serta?”

Kini Agni tidak dapat menyimpan sesuatu lagi di dalam dadanya yang hampir pecah itu. Karena itu maka seperti bendungan yang pecah meledaklah jawabnya, “Ampun guru. Wiraprana sama sekali tak berkelahi melawan Mahendra. Tetapi aku terpaksa melawannya, meskipun aku memakai nama Wiraprana.”

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ditatapnya muridnya itu dengan mata yang sayu. Sebenarnya ia telah menduga bahwa demikianlah yang terjadi. Namun ketika ia mendengar pengakuan itu, hatinya masih juga terharu. Terharu karena ia tahu, apa sebenarnya yang bergolak di dalam dada muridnya. Perasaan apakah yang telah melandanya terhadap anak gadisnya.

Mahisa Agni sama sekali tak berani mengangkat wajahnya. Ia duduk tumungkul memandang ibu jari kakinya.

“Kenapa kau Agni?” tiba-tiba terdengar gurunya bertanya.

Mahisa Agni tidak dapat menjawab pertanyaan itu. jawaban yang telah disusunnya tiba-tiba seperti hilang dari ingatannya. Sehingga yang terdengar adalah kata-kata gurunya pula, “Mahendra adalah anak yang tangkas. Menurut ayahnya, ia agak keras kepala. Apakah dengan demikian kau tidak mempertaruhkan nyawamu untuk itu?”

Mahisa Agni tidak tahu apa yang tersimpan di hati gurunya. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawabnya. Maka setelah sesaat ia berjuang, maka jawabnya, “Ya guru. Terpaksa aku harus menghadapinya.”

“Ya, kenapa? Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk itu?”

Mahisa Agni mencoba menenangkan hatinya. Kemudian jawabnya, “Aku tidak dapat melihat, kemungkinan lain guru. Sebab mereka mempertaruhkan Ken Dedes dalam perkelahian itu. Kalau Wiraprana kalah, akibatnya akan tidak baik bagi Ken Dedes.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya muridnya itu dengan penuh kekaguman di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak membiarkan Wiraprana dilumpuhkan untuk mendapat kesempatan menjadi pahlawan. Dengan demikian maka kemungkinan bagi dirinya sendiri akan menjadi lebih baik.

Sejenak kemudian Empu Purwa itu pun berkata kepada Mahisa Agni, “Mahisa Agni, jangan cemas. Ayah Mahendra yang baik itu datang untuk minta maaf kepadaku atas kelakuan anaknya.”

Mahisa Agni terkejut, sehingga tak disengajanya ia mengangkat wajahnya. Dilihatnya Empu Purwa itu tersenyum. Meskipun senyum yang hambar. Dan orang tua itu meneruskannya, “Ia sama sekali tidak marah atas kekalahan anaknya. Malahan ia mengharap, bahwa dengan demikian anaknya akan melihat, bahwa di dunia ini ada orang-orang lain yang tak dapat dikalahkannya. Mudah-mudahan ia menyadari keadaannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dugaannya keliru. Ayah Mahendra sama sekali tidak menuntut atas kekalahan anaknya, bahkan ia telah minta maaf atas perbuatan Mahendra. Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Seandainya, dirinya sendiri yang telah melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Mahendra itu, siapakah yang akan minta maaf untuknya? Tiba-tiba diingatnya ibunya yang tua. Yang selama ini seakan-akan telah hilang dari hidupnya. Maka bersyukurlah Mahisa Agni di dalam hatinya, bahwa yang Maha Agung telah mempertemukannya dengan ibunya, dan membekalinya dengan ketabahan dan kesabaran menghadapi cobaan dalam usianya yang masih muda itu. Dengan demikian maka telah pula ditemuinya suatu pelajaran yang bermanfaat bagi hidupnya kelak. Ternyata Mahendra itu telah mengagumkan baginya. Ternyata kekaguman seorang laki-laki tidak saja ditujukan kepada mereka yang dengan berani memainkan pedangnya dan bahkan yang telah berhasil membunuh lawan-lawannya dengan sikap-sikap yang disangkanya jantan. Namun sikap ayah Mahendra itu pun tak kalah jantannya. Memang kejantanan seseorang tidak dapat diukur dengan senjata, tetapi diukur dengan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan itu.

Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Di langit awan masih mengalir lambat. Dan mendung pun menjadi semakin tebal di langit.

“Agni,” berkata Empu Purwa kemudian, “ternyata kau sekali lagi telah menyelamatkan anakku dari kehancuran. Kau telah berjuang dan meskipun tidak secara langsung, ikut serta membina masa depannya. Mahisa Agni, masa depan gadisku satu-satunya itu adalah masa depanku sebagai seorang ayah. Karena itu, betapa aku berbesar hati atas sikapmu itu. Aku tidak menilai, apakah dengan demikian perkelahian itu wajar, namun aku menilai dari segi lain. Aku melihat pengorbananmu yang tanpa pamrih.”

Mahisa Agni mendengar pujian itu dengan hati yang berdebar-debar. Tiba-tiba terasa betapa dadanya menjadi sesak. Ia pun terharu karenanya. Ternyata gurunya tidak memarahinya, bahkan dengan tulus telah menyatakan kebesaran hatinya atas sikapnya.

“Karena itu Agni,” berkata gurunya pula, “aku harus memberimu pertanda dari terima kasihku. Sebagai seorang ayah, aku menggantungkan masa depanku kepada Ken Dedes, namun sebagai seorang guru dalam olah kanuragan jaya kesantikan, aku menggantungkan harapanku kepadamu. Dengan demikian Agni, maka sudah sampai saatnya kini aku memberikan kesempurnaan ilmu kepadamu. Kesempurnaan yang aku miliki. Kesempurnaan manusia yang selalu tidak sempurna. Kau mengerti maksudku itu?”

Mahisa Agni masih menundukkan wajahnya. Betapa hatinya menjadi bergejolak mendengar kata-kata gurunya. Sebagai seorang murid, maka kesempurnaan ilmu gurunya itu selalu didambanya. Kini, setelah dengan tekun ia mesu diri dalam pengabdian kepada gurunya itu, gurunya berkata bahwa kesempurnaan ilmunya itu akan diberikannya kepadanya. Meskipun kesempurnaan seorang manusia yang selalu tidak sempurna, yang selalu masih jauh daripada kesempurnaan yang sejati. Namun apa yang akan diterimanya itu akan dapat menjadi bekal yang tak ternilai bagi hidupnya.

Namun tiba-tiba Agni menjadi bimbang. Kalau kesempurnaan ilmu gurunya itu telah diterimanya, apakah yang akan dilakukannya. Apakah ia akan pergi ke segenap penjuru negeri. Berkelahi dengan orang-orang sakti untuk menunjukkan kemampuannya? Apakah ia akan menjadi seorang prajurit yang akan selalu memenangkan setiap pertempuran? Dan apakah kesaktian itu kelak tidak akan membawanya ke dalam lembah ketakaburan. Ia bersyukur bahwa ia menyadarinya. Ia bersyukur bahwa pertanyaan-pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Sebab dengan demikian, ia akan selalu ingat pula kepada jawabnya.

Kemudian didengarnya gurunya itu berkata pula kepadanya, “Agni. Aku pernah memberimu sebuah pusaka. Namun pusaka itu sama sekali bukan alat pembunuh. Pusaka itu tak akan dapat kau pergunakan untuk menyobek jantung lawan. Dan kini aku akan memberimu sebuah senjata yang lain. Kelengkapan dari pusaka yang aneh itu. Namun pusaka itu tidak akan dapat berdiri sendiri. Trisula itu bermanfaat bagimu, meskipun tak ada rangkapannya. Namun rangkapannya itu sama sekali tak berarti tanpa trisula yang kecil itu.”

Mahisa Agni mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan seksama. Disadarinya kemudian, bahwa pusaka yang diberikan kepadanya itu belum sempurna.

Kemudian gurunya melanjutkan, “Tetapi Agni. Ketahuilah, bahwa pusaka yang aku janjikan itu kini belum berada di padepokan Panawijen.”

Mahisa Agni menengadahkan wajahnya. Terbayanglah suatu pertanyaan pada cahaya matanya. Karena itu Empu Purwa menjelaskannya, “Agni. Pusaka yang aku katakan itu, masih harus dicari. Aku hanya dapat menunjukkan kepadamu, tempat dan bentuknya. Semoga kau akan dapat menemukannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sadarlah ia kini, bahwa gurunya memberinya kepercayaan untuk mencari sebuah pusaka yang tak ternilai harganya. Lebih-lebih lagi, apabila ia dapat menemukan, maka pusaka itu akan dimilikinya. Tetapi Mahisa Agni masih berdiam diri.

Maka gurunya itu meneruskan, “Apabila kau berhasil Agni, maka kedua pusaka itu akan menjadi pasangan pusaka yang tak ternilai. Pusaka itu akan menjadi sedemikian saktinya, sehingga orang yang mempergunakannya akan kalis dari kekalahan. Siapa pun lawannya. Kau mengerti?”

Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Hatinya tergetar mendengar keterangan gurunya itu. Apabila ia memiliki kedua pusaka itu bersama-sama, maka ia akan menjadi manusia yang pilih tanding.

“Hem,” Mahisa Agni bergumam. Kemudian katanya di dalam hatinya, “Suatu anugerah yang tak terduga. Dengan pusaka-pusaka itu, maka banyak persoalan yang dapat aku atasi. Tetapi persoalan-persoalan apa? Pusaka-pusaka itu adalah alat untuk bertempur dan berkelahi. Haruskah aku mengatasi semuanya dengan perkelahian dan pertempuran?”

Namun kemudian ditemukannya jawabnya, “Suatu ketika aku harus mempergunakan pusaka-pusaka itu. Tetapi untuk persoalan-persoalan yang imbang. Memang kadang-kadang ada hal-hal yang tak dapat diatasi dengan cara lain. Mudah-mudahan aku dapat membedakannya.”

Kemudian Mahisa Agni mendengar gurunya berkata pula, “Agni. Aku ingin mendengar jawabanmu. Adakah kau bersedia mencari pusaka-pusaka itu?”

Mahisa Agni mengangguk kembali, jawabnya dengan penuh kesungguhan hati, “Tentu guru. Aku bersedia apapun yang Empu perintahkan. Jangankan sebuah pusaka untukku sendiri. Apapun akan aku lakukan dengan keikhlasan.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya muridnya dengan tajam. Kemudian katanya, “Mahisa Agni. Kau harus menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Perjalanan yang mungkin sama sekati tidak menyenangkan bagimu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan demikian berarti bahwa ia harus meninggalkan Panawijen. Meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Meninggalkan rumah gurunya dan ibunya. Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk melakukan perintah-perintah gurunya. Apalagi perintah untuk kepentingannya sendiri.

Karena itu, maka jawabnya, “Apapun yang harus aku lakukan guru, bagiku tak ada yang lebih menggairahkan daripada menjalankannya dengan senang hati.”

“Bagus,” sahut gurunya, “kalau kau temukan rangkapan pusakamu itu, kau akan menjadi seorang laki-laki yang sakti. Sukar untuk mencari tanding. Kau akan dapat melakukan semua kehendakmu. Siapa pun yang menghalangimu, maka itu tak akan banyak berarti. Karena itu, pusaka itu harus kau temukan. Apapun rintangan yang akan kau temui.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Akan aku coba untuk melakukannya.”

“Nah Agni,” berkata gurunya, “dengarlah. Perjalanan yang harus kau tempuh adalah cukup jauh. Kau harus melingkari Gunung Semeru. Bukankah kau pernah pergi ke kaki gunung itu dari arah timur bersama aku?”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Perjalanan itu pernah ditempuhnya tiga tahun yang lalu. Perjalanan yang berat di antara belukar dan lereng-lereng gunung. Hanya kadang-kadang saja ditemuinya padukuhan-padukuhan kecil atau kelompok-kelompok penduduk yang tidak menetap, yang berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari tanah yang mungkin diusahakan oleh mereka. Kini ia harus menempuh perjalanan itu kembali.

Mahisa Agni kemudian menekurkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat kembali jalan-jalan yang pernah dilaluinya. Hutan-hutan dan lereng-lereng terjal. Kemudian diingatnya pula, apa yang pernah dilihatnya pada kaki Gunung Semeru itu, sebagai pertanda yang akan dapat dipergunakannya untuk menemukan jalan kembali.

“Agni,” terdengar gurunya itu menyambung kata-katanya, “mungkin kau akan dapat mengingatnya kembali jalan-jalan yang pernah kau tempuh. Kalau tidak Agni, maka kau dapat mencari jalan lain. Namun kau dapat menandai daerah yang pernah kita kunjungi di kaki Gunung Semeru itu. Kau pernah melihat sebuah rawa yang luas bukan?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Kau melihat batu karang di tengah rawa-rawa itu?”

“Ya, Guru,” jawab Agni.

“Agni,” berkata gurunya, “aku harap rawa-rawa itu masih ada sekarang. Aku mengharap bahwa batu karang itu pun masih dapat kau temukan. Nah. Apabila batu karang itu kau temukan, maka kau akan menempuh jalan yang pendek. Kau dapat menyusurinya ke barat dan kau akan sampai pada sebuah dinding yang terjal, dinding yang gundul. Kau ingat?”

“Ya, Guru,” jawab Agni.

“Agni,” nada suara gurunya menjadi semakin rendah, “Ketahuilah bahwa di dalam gua, yang pernah kita kunjungi itu, yang terdapat di tengah-tengah dinding yang gundul, terdapat benda yang sangat berharga itu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam sekali. Pada saat itu ia hanya dapat melihat gua itu. Tetapi ia tidak dapat mencapainya. Ia pada waktu itu tidak sanggup untuk mendaki tebing yang gundul dan curam.

Dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Pada tiga tahun yang lampau, ia hanya dapat melihat gurunya itu mendaki tebing yang sengat curam dan berbahaya. Dan ditinggalkannya ia sendiri menanti di bawahnya.

Dan sekarang ia sendiri harus mendaki tebing itu, untuk mencapai gua di tengah lereng gundul di kaki Gunung Semeru.

“Suatu perjalanan yang berat,” desisnya di dalam hati.

Gurunya yang melihat wajah Mahisa Agni itu menjadi suram segera berkata pula, “Agni, kesempatan ini akan menjadi satu ujian bagimu. Ketika kau berhasil Agni, maka hidupmu di kemudian hari akan penuh ditandai dengan kemenangan-kemenangan dalam setiap persoalan. Kau akan menjadi seorang jantan yang namamu akan ditakuti oleh setiap orang yang mendengarnya. Sedang apa yang akan kau lakukan kemudian tergantung kepada keadaanmu dan tujuan hidupmu. Sebab sesudah taraf yang terakhir ini, maka aku tidak akan dapat ikut serta menarik garis yang melingkari hidupmu. Kau adalah seorang murid yang sudah dewasa, yang seharusnya sudah lepas dari induknya. Hitam putih namamu tergantung padamu sendiri.”

Mahisa Agni masih menekurkan kepalanya. Dengan penuh kecermatan ia mengamati persoalannya. Namun tak ada yang dapat dilakukan selain melakukan tugas itu. Meskipun demikian, sempat juga ia merenungkan kata-kata gurunya itu, dan yang terakhir, ‘Hitam putih namamu tergantung padamu sendiri’.

Tetapi terasa pula di dada Mahisa Agni sesuatu yang agak lain dari kebiasaan gurunya. Gurunya yang penuh dengan pengabdian dan kebaktian diri kepada sumber hidupnya itu tiba-tiba memberinya beberapa petunjuk yang seakan-akan hanya diwarnai oleh tata lahiriahnya saja. Ia akan menjadi seorang yang sakti. Seorang yang hampir tak akan dapat dikalahkan. Seorang yang hidupnya akan ditandai oleh kemenangan-kemenangan dalam setiap persoalan. Mahisa Agni tidak mengerti seluruhnya apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Apakah hanya itu? Namun ia tidak berani bertanya. Mungkin ada sesuatu yang perlu direnungkannya.

“Pada suatu ketika aku akan menemukan jawabnya,” pikirnya.

Yang kemudian dikatakan oleh gurunya adalah, “Mahisa Agni. Sejak hari ini kau harus mempersiapkan dirimu. Lahir batin untuk menempuh perjalaran itu. Kamu harus menguasai setiap persoalan yang akan kau temui di sepanjang perjalananmu. Amati persoalan itu dengan seksama. Baru kemudian kau cari pemecahannya.”

Mahisa Agni mengangguk dengan khidmatnya. Jawabnya, “Ya, Guru.”

“Mungkin kau harus mengalami gangguan lahir batin. Nah. kemudian tergantung kepadamu, karena kau akan pergi seorang diri. Ingatlah, perjalanan itu akan merupakan ujian bagimu. Kalau kau berhasil memecahkan persoalan-persoalan yang diberikan oleh pengujimu sesuai dengan maksudnya, maka pasti kau akan lulus dalam ujian itu. Namun kalau tidak, maka kesempatan itu tidak akan terulang kembali.”

“Aku akan melakukan dengan kesungguhan hatiku,” jawab Agni, “Mudahkan yang Maha Agung memberikan tuntunan kepadaku.”

“Mudah-mudahan,” sahut gurunya. Terdengar suara menjadi serak. Dan ketika Agni mencoba melihat wajah gurunya, ia terkejut. Wajah itu sedemikian sayunya, dan bahkan ketika terpandang olehnya mata gurunya itu, bergolaklah perasaan Mahisa Agni. Dilihatnya meskipun hanya sekejap, bahwa sepasang mata gurunya itu menjadi basah.

“Apakah yang sebenarnya terjadi?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Bahkan timbul pula prasangka di dalam dadanya, “Apakah sebenarnya Guru marah kepadaku? Apakah sebenarnya yang diminta oleh ayah Mahendra?”

Dan tiba-tiba saja mengianglah di sudut hatinya, “Apakah aku sedang dibuang oleh guruku?”

Tidak, dicobanya untuk mengatasi perasaannya yang sedang bergelora dengan riuhnya di dalam dirinya. Timbullah bermacam-macam prasangka. Namun akhirnya ia mendapatkan suatu kesimpulan. “Guru akan memberikan hadiah itu kepadaku. Adalah wajar kalau aku harus mengambilnya sendiri. Kalau guru akan menghukumku atas permintaan ayah Mahendra, maka guru pasti akan berterus terang kepadaku. Sebab aku adalah muridnya sejak kecilku.”

Mahisa Agni tersadar dari renungannya ketika gurunya berkata dengan nada yang dalam, “Agni. Masih ada beberapa pesanku untukmu. Apabila sudah kau temukan rawa-rawa itu dan kau temukan batu karang di dalamnya, maka untuk seterusnya kau harus menempuh jalan di malam hari sampai kau capai dinding yang gundul itu. Kemudian baru kau akan mendakinya di siang hari.”

Syarat itu bertambah memberatinya. Karena itu maka debar jantung Agni pun bertambah-tambah pula. Meskipun demikian jawabnya, “Ya. Guru, akan aku lakukan semuanya.”

“Bagus Agni. Sekarang beristirahatlah. Kau tentukan sendiri kapan kau akan berangkat,” kata gurunya pula.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. kemudian ia mohon diri untuk beristirahat. Ia sudah tidak ingat lagi akan permintaan Wiraprana untuk memberinya beberapa petunjuk tata bela diri.

Mahisa Agni langsung pergi ke biliknya. Perlahan-lahan ia berbaring di pembaringannya. Ditatapnya kayu-kayu yang malang melintang di atap rumahnya. Dan akhirnya ia menarik nafas panjang-panjang.

“Ujian,” desisnya. Dan diulanginya, “ujian yang berat.”

Dicobanya untuk membayangkan apa yang kira-kira akan dialaminya dalam perjalanan itu. Binatang buas. Kelompok-kelompok orang jahat yang akan dapat ditemuinya di perjalanannya. Berjuang melawan alam yang garang. Kalau itu semua dapat diatasinya, maka akan didapatnya kesaktian.

“Aku berguru dalam olah kanuragan untuk mendapatkan kesaktian,” gumamnya, “dengan kesaktian banyak yang dapat aku lakukan. Aku akan dapat mencapai dan menegakkan nilai-nilai kebenaran, melawan kesaktian-kesaktian yang akan memaksakan kemungkaran dan kejahatan.”

“Hem,” Agni menarik nafas. Katanya kepala dirinya sendiri, “Tetapi kau harus ingat, hitam putih namamu ditentukan oleh perbuatanmu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, namun terdengar kata-kata di dalam dirinya, “Apapun yang akan aku lakukan, kalau aku orang yang maha sakti, adakah yang akan merintanginya?”

Wajah Mahisa Agni pun kemudian menjadi tegang. Kata-kata itu kembali terngiang di hatinya, “Aku akan menjadi seorang yang maha sakti. Betapapun hitam namaku kelak, namun apa peduliku. Tak seorang akan berani menghalangi aku. Seandainya aku ingin membunuh Wiraprana, Mahendra, bahkan siapa saja, siapakah yang dapat menuntut aku? Kekuasaan Tumapel tak akan berarti bagiku, juga kekuasaan Kediri. Semua akan hancur oleh kesaktianku.”

Dada Mahisa Agni menjadi bergemuruh karenanya. Kesaktian, kekuatan berarti kekuasaan. Kalau kesaktian dan kekuatan ini tak terkalahkan, maka kekuasaannya pun tak akan tergoyahkan.

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar langkah seseorang masuk ke dalam biliknya. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya ibunya. Seorang emban yang sudah tua.

Agni pun kemudian bangkit dan duduk di tepi pembaringannya.

“Adakah kau menghadap gurumu Agni?” bertanya ibunya sambil duduk di sisinya.

“Ya, Ibu,” jawab Agni.

“Kau menghadap seperti biasa, ataukah ada sesuatu yang penting?”

“Ada sesuatu yang penting. Bahkan penting sekali bagi masa depanku.”

“Apakah itu?”

“Sekali lagi guru memberi aku hadiah.”

“Hadiah?” ibunya mengerutkan keningnya.

Mahisa Agni mengangguk. Lalu diceritakannya apa yang baru saja didengarnya untuk mengambil rangkapan pusaka di kaki Gunung Semeru.

“Oh,” ibunya menarik nafas panjang, “Apakah gunanya pusaka itu?”

Agnilah yang kemudian menjadi terkejut. Ditatapnya wajah ibunya yang telah mulai berkeriput oleh garis-garis umur. Maka katanya, “Bukankah pusaka itu idaman setiap lelaki? Aku berguru pada Empu Purwa karena aku ingin mendapatkan kesaktian sebagai bekal hidupku kelak. Kini aku akan mendapat pusaka rangkapan trisula itu, dan aku akan menjadi seseorang laki-laki yang pilih tanding. Bukankah itu satu kebahagiaan bagiku. Apa yang aku kehendaki akan berlaku.”

“Itu saja?” bertanya ibunya pendek.

Kembali Agni terkejut. Ia tidak tahu maksud ibunya. Sehingga terdengar pertanyaannya, “Apakah yang ibu maksudkan?”

“Kau berguru kepada Empu Purwa hanya untuk mendapat kesaktian, sehingga semua kehendakmu akan berlaku?”

“Apa lagi?”

“Oh,” ibunya mengeluh. Dan Mahisa Agni menjadi bingung.

“Agni,” berkata ibunya, “adakah Empu Purwa tidak memberimu pesan, apa yang harus kau lakukan setelah kau mendapat pusaka-pusaka itu?”

Mahisa Agni menggeleng. Tetapi kemudian ia berkata, “ Empu Purwa hanya sekedar memberi aku peringatan, ‘Hitam putih namaku tergantung atas perbuatanku’.”

Ibunya mengangguk-angguk. Namun ia bergumam, “Nah, kata-kata itu pendek saja. Cobalah mengerti artinya.”

Mahisa Agni mengangkat keningnya. Katanya, “Tetapi kalau aku seorang yang tak ada bandingnya, apakah artinya pesan itu? Apapun kata orang tentang diriku, tentang namaku, namun mereka tak akan dapat berbuat apapun atasku. Sebab aku tak akan terkalahkan.”

Sekali lagi ibunya terkejut. Dengan wajah yang tegang perempuan tua itu bertanya, “Agni. Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh gurumu? Hanya itu saja? Mengambil pusaka supaya kau menjadi sakti tanpa tanding? Kemudian membiarkan kau menentukan namamu sendiri?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Aneh?” gumam ibunya.

“Kenapa aneh?” bertanya Mahisa Agni. Namun pertanyaan itu memang sudah tersimpan di dalam dirinya, sejak ia mendengar gurunya memberinya beberapa petunjuk mengenai letak tempat-tempat yang harus ditujunya.

Perempuan tua itu pun merasakan sesuatu yang agak berbeda dari kebiasaan Empu Purwa. Kali ini Empu itu hanya memandang persoalannya dari sudut lahiriah. Pusaka dan kesaktian. Apakah itu sudah cukup?

“Mahisa Agni,” berkata ibunya kemudian, Perlahan-lahan, namun penuh dengan tekanan sebagai seorang ibu, “aku senang mendengar kau akan menerima pusaka rangkapan dan kau akan menjadi seorang yang sakti. Namun sebagai seorang ibu, aku pun mencemaskan nasibmu. Perjalanan itu bukan perjalanan yang menyenangkan. Namun yang lebih mencemaskan aku adalah, bagaimanakah kau sesudah memiliki pusaka-pusaka itu, Agni.”

“Kenapa?”

“Kalau kau salah langkah, maka kau akan terjerumus ke dalam satu dunia yang penuh dengan pertentangan dan permusuhan”

“Bukankah kalau aku menjadi seorang yang tak terkalahkan, aku tak usah cemas, meskipun seandainya orang di seluruh dunia ini memusuhi aku?”

“Benar Agni. Tetapi apakah kau sangka bahwa kau tak perlu mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatanmu itu?”

“Bertanggung jawab kepada siapa? Akuwu Tumapel? Maharaja Kediri atau siapa? Mereka tak akan mampu mengalahkan aku meskipun semua laskarnya dikerahkan.”

Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya keragu-raguan memancar di mata anaknya. Karena itu ia menjadi gembira. Katanya, “Kau tidak yakin akan kata-katamu Agni. Aku menjadi berbahagia karenanya. Karena masih ada suara lain di dalam hatimu Nah, Agni. Aku ingin mempertegas suara hatimu yang lain itu. Kau tidak akan bertanggung jawab kepada Akuwu Tumapel atau kepada Maharaja Kertajaya. Mereka adalah manusia-manusia biasa. Kalau kau menjadi sakti tanpa tanding dan melampaui kesaktian-kesaktian mereka, malahan, kau akan dapat mengusir mereka dari kedudukannya, dan kesaktianmu benar-benar dapat membentuk kekuasaan melampaui kekuasaan mereka itu.”

“Lalu kepada siapa?”

“Kekuasaan yang tak dapat dilampaui oleh kekuasaan apapun, Yang Maha Agung.”

“Oh,” Mahisa Agni mengeluh.

Dan wajahnya pun kemudian ditundukkannya dalam-dalam. Ia tidak pernah melupakan Yang Maha Agung, yang telah menjadikannya. bahkan seluruh alam dan isinya. Namun kadang-kadang gelora jiwa jantannya sering mengganggunya. Kerinduannya pada kesempurnaan ilmu kanuragan kadang-kadang telah membawanya ke alam yang penuh dengan kekerasan dan permusuhan. Kadang-kadang direka-rekanya juga permusuhan-permusuhan yang akan terjadi.

“Kalau tidak ada permusuhan-permusuhan, kapankah aku dapat menunjukkan kesaktianku dan kapankah orang lain akan mengagumi aku?”

Namun setiap kali ia berhasil menyadari kesalahannya, meskipun baru di dalam angan-angan.

Maka kemudian didengarnya ibunya berkata pula, “Agni, sebenarnyalah bahwa kesaktian dan kekuatan yang dipancarkannya, kemenangan dalam setiap pertentangan dan permusuhan, bukanlah kekuasaan. Apabila demikian, maka hidup manusia ini tidak akan lebih baik dari kehidupan binatang-binatang di dalam rimba. Harimau yang kuat, dan memiliki senjata yang kuat, pula pada tubuhnya, kuku, gigi dan taring-taringnya akan dapat memaksakan kehendaknya kepada binatang-binatang yang lemah. Kijang, rusa dan sebagainya, yang hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri apabila mampu. Bahkan sampai merampas nyawanya sekali pun. Namun binatang tidak memiliki kesadaran akan ‘adanya dan diadakannya’. Karena itulah maka binatang tidak memiliki sifat-sifatnya yang langgeng. Hidup sesudah hidup ini. Di mana akan diperhitungkan semua perbuatan dan tingkah laku manusia. Itulah sebabnya manusia mengenal nilai-nilai hidupnya. Nilai-nilai hidup kemanusiaan. Nah, Agni. Apakah sekarang artinya kesaktian dan kekuasaan duniawi ini?”

Wajah Agni menjadi semakin tunduk. Kata-kata ibunya itu mengetuk-ngetuk dadanya. Sudah sering kali ia mendengar nasihat-nasihat gurunya tentang hidupnya dan hidup di masa-masa langgeng. Namun ketika ibunya sendiri yang mengucapkannya berasa seakan-akan meresap sampai ke tulang sumsumnya.

“Agni,” berkata ibunya, “aku hidup di padepokan ini telah bertahun-tahun. Karena itu aku telah sering kali mendengar Empu Purwa mengatakannya itu semua, meskipun tidak kepadaku. Mungkin kepada anaknya, atau kepada muridnya, kau. Atau kadang-kadang aku mendengarnya diri balik dinding apabila ada beberapa orang tamu, sahabat-sahabat Empu Purwa yang kadang-kadang mengadakan sarasehan.”

“Karena itu apa yang aku katakan, mungkin telah kaudengar langsung dari gurumu. Namun aku adalah ibumu. Umurku telah berlipat dari umurmu. Karena itu aku ingin mengatakannya kembali kepadamu. Aku sangka umur mudamu kadang-kadang masih mengganggumu.”

Agni tidak menjawab. Namun kepalanya masih tunduk. Diangguk-anggukkannya kepalanya perlahan-lahan dan dengan penuh minat ibunya berkata pula, “Karena itu Anakku. Kesaktian baru bermanfaat apabila ia dipergunakan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Kalau ada kekuasaan di muka bumi ini, kekuasaan manusia, maka ia harus dilambari atas nilai-nilai itu pula, nilai-nilai hidup bersama yang ditentukan bersama pula dalam pergaulan hidup yang memberikan kebahagiaan bersama. Nah, terhadap kekuasaan yang demikian itulah kesaktian wajib diamalkan untuk menegakkannya. Bukan untuk merampasnya.”

Ibunya berhenti sejenak. Ditatapnya anak laki-lakinya yang bertubuh kokoh kuat dengan jalur-jalur ototnya menjalar di seluruh permukaan kulitnya.

Kemudian terdengar kembali perempuan itu berkata, “Nah, Agni. Pergilah ke kaki Gunung Semeru. Usahakan supaya perintah gurumu dapat kau penuhi. Dan sadarilah apa yang akan kau perbuat kelak sesudah pusaka-pusaka itu berada di tanganmu.”

“Baik, Ibu,” jawab Mahisa Agni lirih, namun sampai ke dasar hatinya.

Ibunya menganggukkan kepalanya. Kemudian sambil berdiri ia berkata, “Kalau sampai saatnya kau pergi anakku, pergilah dengan tekad yang bulat. Dengan janji di dalam hati, bahwa apa yang kau capai semata-mata untuk tujuan yang baik, maka Yang Maha Agung akan selalu memberkahi.”

“Baik, Ibu,” sahut Mahisa Agni sambil mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berdiri pula dan melepaskan ibunya pergi dari mulut pintu biliknya.

Kata-kata ibunya itu merupakan penegasan dari segenap perasaan-perasaan yang bergolak di dalam dadanya. Dan ia bersyukur karenanya. Maka kemudian dibulatkannya tekad di dalam dadanya, “Aku akan pergi ke Gunung Semeru.”

Kepada Wiraprana, Mahisa Agni terpaksa membatalkan janjinya untuk sementara, katanya, “Prana, besok kalau aku kembali dari perantauan ini, aku berjanji akan memenuhi permintaan itu. Bukankah aku menjadi bergembira pula dengan hasratmu itu. Tetapi sayang aku terpaksa menundanya.”

Wiraprana pun menjadi kecewa karenanya. Tetapi ia menyadari bahwa pasti ada sesuatu yang penting dalam perjalanan yang akan ditempuh oleh sahabatnya itu.

“Mudah-mudahan kau lekas kembali Agni. Apakah perjalanan itu jauh?”

Agni menggeleng. “Tidak. Tidak begitu jauh.”

Wiraprana memandang wajah Agni dengan penuh pertanyaan. Tetapi pertanyaan itu tak diucapkannya. Ia sadar, bahwa bukan menjadi haknya untuk mengetahui segala persoalan sahabatnya itu. Namun kepergian itu pasti akan memerlukan waktu yang cukup panjang sehingga dengan demikian, Panawijen akan terasa sepi baginya. Meskipun banyak anak-anak muda yang lain, tetapi di samping Mahisa Agni,Wiraprana merasa tenang dan sejuk.

“Ah,” katanya di dalam hati, “aku harus dapat menyejukkan hatiku sendiri. Kelak kalau aku sudah meyakini diriku sendiri sesudah Mahisa Agni kembali, maka aku akan tegak di atas kemampuan sendiri.”

Setelah sampai saatnya Mahisa Agni merasa dirinya siap untuk berangkat menempuh perjalanan itu, maka sekali lagi ia menghadap gurunya. Diharapkannya gurunya akan memberinya pesan-pesan terakhir yang bermanfaat bagi perjalanannya lahir dan batin. Namun Mahisa Agni menjadi kecewa. Gurunya tidak memberinya pesan-pesan baru kepadanya, selain bentuk dari benda yang dicarinya.

Mahisa Agni mendengarkan setiap kata-kata gurunya dengan tekun, supaya ia kelak tidak keliru. Setelah ia menempuh perjalanan yang sulit itu ia tidak ingin menemukan benda yang sama sekali bukan benda yang dikehendakinya.

“Agni,” berkata gurunya, “benda itu tampaknya memang tidak berharga sama sekali. Bentuknya tidak lebih dari sebatang akar wregu. Namun akar itu berwarna putih. Panjangnya kurang lebih hanya dua cengkang. Benda itu terbalut kain berwarna merah muda bertepi putih.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa ia menjadi heran. Sebatang akar wregu berwarna putih dan sudah dibalut dengan kain. Siapakah yang meletakkannya di sana?

Meskipun pertanyaan itu tidak diucapkan, tetapi Empu Purwa dapat merasakan perasaan itu. Maka katanya, “Tak seorang pun yang tahu, siapakah yang meletakkan benda itu di sana. Dan mungkin pula tak seorang pun yang tahu, bahwa ada benda itu di sana. Aku mengetahuinya dari sebuah mimpi. Dan aku pernah membuktikannya melihat sendiri benda itu beberapa tahun yang lampau. Namun pada saat itu aku belum dapat mengambilnya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ingin ia bertanya kenapa pada saat itu gurunya belum dapat mengambilnya. Tetapi ia tidak berani.

“Ah. Pasti ada sebab-sebab yang penting,” katanya di dalam hati.

“Agni,” berkata gurunya pula. Nadanya menjadi semakin dalam, “Ingat! Apabila kau telah menemukan batu karang itu, kau harus menempuh perjalananmu di malam hari. Ada banyak sebabnya. Yang terpenting, perjalananmu tidak boleh dilihat oleh seorang pun. Meskipun hanya oleh seorang pencari kayu sekali pun. Namun aku sangka daerah itu tak pernah dikunjungi orang.”

“Ya, Guru,” jawab Agni, “akan aku penuhi semua perintah.”

“Bagus,” sahut Empu Purwa sambil mengangguk-anggukkan kepala, “mudah-mudahan kau berhasil.”

“Pangestu Guru untukku,” pinta Mahisa Agni.

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah pada wajahnya yang suram, sepasang matanya yang sayu. Setelah ia berdiam diri sejenak, maka katanya, “Agni, bawalah obat penawar racun ini. Mungkin kau aku bertemu dengan ular-ular berbisa, atau serangga yang tak kalah tajam bisanya. Sebuah sengatan sudah cukup untuk membunuhmu dalam waktu sekejap.”

Diberikannya oleh Empu Purwa sebuah tabung kecil. Ketika tabung itu dibuka dilihatnya di dalamnya beberapa gelintir ramuan obat.

“Agni,” berkata gurunya, “aku membuat param itu dari akar-akar dan beberapa jenis racun. Kalau kau akan mempergunakannya, cairkanlah param itu dengan air. Kemudian gosokkanlah pada seluruh tubuhmu. Atau apabila kau telah terlanjur tergigit ular atau terkena racun apapun, gosokkanlah obat itu di lukamu. Tetapi kalau racun itu masuk ke dalam tubuhmu melalui mulutmu Agni, maka pakailah ramuan yang lain.”

Empu Purwa itu berhenti sejenak. Sebuah tabung yang lain diberikannya pula kepada Mahisa Agni. Di dalam tabung itu pun terdapat beberapa butiran ramuan obat-obatan. Namun jauh lebih kecil dari butiran-butiran obat yang pertama.

“Ingat Agni,” berkata gurunya, “Jangan sampai keliru! Kalau kau keliru mempergunakan, maka akibatnya akan sebaliknya. Obat yang pertama hanya boleh kau gosokkan di tubuhmu, sedang obat yang kecil itu, harus kau telan.”

“Ya, Guru,” sahut Mahisa Agni.

Empu Purwa memandang muridnya dengan pandangan yang aneh. Sedang Mahisa Agni masih saja menundukkan wajahnya. Tetapi tiba-tiba wajahnya itu pun menjadi tegang ketika gurunya berkata pula, “Mahisa Agni. Tinggallah kini pesan terakhir bagimu. Dalam perjalanan yang berbahaya itu Agni, sebaiknya trisulamu kau tinggalkan saja di padepokan ini.”

Mahisa Agni terkejut mendengarnya justru dalam perjalanan yang berbahaya itu diperlukannya kawan dalam perjalanannya. Bukankah pusaka itu dapat dijadikannya kawan yang baik apabila ia berhadapan dengan bahaya. Tetapi sebelum ia berkata apapun didengarnya gurunya meneruskan, “Agni. Trisula itu adalah benda yang sangat berharga. Karena itu apabila pusaka itu hilang, maka hilanglah semuanya bagi padepokan kita. Semua perjuangan masa lampau akan lenyap bersamanya apalagi harapan bagi masa mendatang. Karena itu janganlah hal itu terjadi. Kau ingin menemukan rangkapannya, namun pusaka itu sendiri jangan sampai lepas dari tangan kita.”

Mahisa meng-angguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak tahu seluruh persoalannya. Namun ia tidak berani membantahnya. Ia percaya saja kepada gurunya yang tentu jauh lebih bijaksana daripadanya. Meskipun kadang-kadang juga timbul prasangkanya, namun segera perabaan itu dihimpitnya ke dasar hatinya. Ayah Mahendra, sahabat guru sama sekali tidak marah atas kekalahan anaknya. Berkali-kali ia menegaskan kepada dirinya sendiri karena itu guru pun sama sekali tidak marah kepadaku.

Demikianlah maka sampailah pada saatnya Mahisa Agni meninggalkan padepokan itu. Di pagi yang cerah, ketika matahari membangunkan wajah bumi yang tetap, Mahisa Agni mohon diri kepada ibunya. Perempuan itu memandang wajah anaknya yang teguh sambil tersenyum, namun di matanya menitik beberapa butir air mata. Diciumnya kening anak itu sambil berbisik, “Pergilah, Anakku. Mudah-mudahan kau capai cita-citamu. Harapan masa depanmu masih panjang.”

Mahisa Agni yang berlutut di muka ibunya itu meneium pada tangan ibunya yang dingin. Katanya, “Ibu, doakan aku, semoga Yang Maha Agung memberkahi.”

“Tentu anakku, yang Maha Agung memberkahi perjalananmu.”

Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri. Diambilnya sebuah bungkusan dari pembaringannya. Bungkusan bekal di perjalanannya. Beberapa potong pakaian, bahan-bahan makanan dan sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya Empu Gandring. Dihiburnya dirinya sendiri dengan pusaka ayahnya itu, karena Trisulanya harus ditinggalkannya di padepokan.

Setelah sekali lagi Agni mencium tangan ibunya, maka melangkahlah ia meninggalkan biliknya.

Di muka pintu bilik itu Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya air mata ibunya semakin deras mengalir di pipinya yang berkeriput. Namun perempuan itu tersenyum kepadanya. Dianggukkannya kepalanya sambil bergumam, “Selamat jalan anakku.”

Terasa sesuatu merambat di tenggorokkan Mahisa Agni. Matanya pun menjadi panas sehingga ditengadahkannya wajahnya memandang langit-langit rumah Empu Purwa itu. Baru kemudian ia menjawab, “Terima kasih ibu.”

Di pendapa Agni melihat gurunya dan Ken Dedes berdiri memandang cahaya matahari pagi. Ketika mereka melihat Agni dengan sebuah bungkusan kecil yang diikatnya di ujung tongkat kayu, gurunya menggigit bibirnya.

Kemudian katanya, “Perjalanan yang berat, Agni. Mudah-mudahan kau berhasil.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Juga tangan gurunya itu diciumnya. “Mudah-mudahan aku berhasil memenuhi harapan guru,” berkata Mahisa Agni. Suaranya seakan-akan tertahan di dadanya.

“Aku selalu berdoa untukmu Agni.”

“Terima kasih, Guru.”

Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu akan memerlukan waktu yang panjang Kakang?”

Mahisa Agni memandang wajah gurunya, seakan-akan ia akan bertanya kepadanya. Namun gurunya berdiam diri sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

Karena itu, maka Mahisa Agni menjawabnya, “Mudah-mudahan tidak terlalu lama, Ken Dedes.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya, namun tangannya masih saja sibuk mengusap matanya.

“Nah, Agni,” berkata gurunya, “mumpung hari masih pagi. Selamat jalan.”

“Terima kasih, Guru,” sahut Agni, yang kemudian dengan hati yang berat dilangkahinya satu persatu tangga pendapa yang sudah bertahun-tahun didiaminya.

Ketika sekali lagi ia berpaling, hatinya berdesir. Ia hanya sempat melihat gurunya berjalan tergesa-gesa meninggalkan pendapa langsung masuk ke sanggarnya. Yang berdiri di pendapa itu kini tinggal Ken Dedes dan di belakangnya embannya, perempuan tua yang memandang Agni dengan mata berkaca-kaca.

—–
Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu memerlukan waktu yang panjang, Kakang?”
—–

Ketika Agni sudah sampai di halaman, didengarnya Ken Dedes berteriak, “Lekaslah kembali Kakang, supaya padepokan ini tidak menjadi sepi.”

Mahisa Agni berpaling sekali lagi. Perlahan-lahan ia mengangguk. Jawabnya, “Tentu. Tentu aku akan segera kembali.”

Agni menarik nafas panjang. Gadis itu benar-benar telah menumbuhkan seribu macam persoalan pada dirinya. Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar sebuah tangis yang meledak. Ketika ia menoleh, dilihatnya Ken Dedes menangis di pelukan embannya yang tua. Tetapi Mahisa Agni tidak berhenti. Dengan tetap ia melangkah meninggalkan rumah itu, betapa pun berat hatinya. Di rumah itu tinggal gurunya yang telah menempanya siang malam pada tingkat yang mula-mula sekali, kemudian berturut-turut membuatnya menjadi seorang yang teguh lahir dan batin. Juga di rumah itu tinggal seorang gadis yang hampir-hampir saja menghancurkan masa depannya. Apalagi kemudian diketahuinya, bahwa ibunya berada di rumah itu pula. Ibunya yang telah melahirkannya.

“Aku pergi untuk kembali,” gumamnya seorang diri.

Akhirnya dilangkahinya regol halaman, dan dengan tergesa-gesa ia membelok menurut jalan desanya hampir melekat pagar. Dengan demikian maka ia akan segera lenyap dari pandangan mata orang-orang yang mengikutinya dari halaman dan pendapa rumahnya.

Tetapi kembali hatinya berdebar-debar. Dilihatnya dari kejauhan dengan tergesa-gesa Wiraprana datang kepadanya. Anak muda itu sudah beberapa lama tidak pernah datang ke rumah itu, justru karena hubungannya dengan Ken Dedes.

“Agni,” katanya hampir berteriak, “benarkah kau berangkat pagi ini?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Aku mendengar dari seorang cantrik di sudut desa. Kenapa kau tak memberitahukan kepadaku?”

“Aku bermaksud singgah sebentar di rumahmu Prana,” sahut Mahisa Agni.

“Oh. Marilah,” ajak Wiraprana.

“Kita sudah bertemu di sini.

“Lalu?”

“Aku tak usah singgah ke sana.”

“Oh,” Wiraprana menjadi kecewa.

“Sampaikan baktiku kepada Bapa Buyut Panawijen. Aku mohon diri untuk beberapa lama.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik. Baik,” katanya, “Tetapi apakah kau tidak singgah meskipun hanya sebentar?”

“Terima kasih Prana, terima kasih,” jawab Agni.

Wiraprana benar-benar menjadi kecewa. Ditatapnya wajah sahabatnya. Kemudian katanya,”Selamat jalan Agni.”

Mahisa Agni tersenyum. Senyum yang memancar dari berbagai perasaan di dalam dirinya. Terdengar anak muda itu berkata perlahan-lahan, “Prana, meskipun kau belum menjadi suami Ken Dedes, tetapi jagalah dia dari jarak yang ada sekarang. Kalau kau mengalami kesulitan-kesulitan apa pun, terutama apabila terjadi kekerasan karena persoalan gadis itu, sampaikanlah secepatnya kepada ayahnya.”

Wiraprana mengerutkan keningnya. Timbullah pengakuan di dadanya atas kekurangannya, sehingga orang lain harus menolongnya dalam persoalan yang seharusnya ditanggungkannya. Karena itu maka katanya, “Kepergianmu sangat mengecewakan aku, Agni. Keinginanku untuk mendapatkan kemampuan setidak-tidaknya untuk menjaga diriku tertunda karenanya. Namun aku tak dapat mementingkan diriku sendiri. Aku menghormati kepentinganmu pula. Karena itu mudah-mudahan kau lekas kembali.”

Akhirnya Wiraprana dan Mahisa Agni pun berpisah pula. Diantarkannya Agni sampai ke sudut desa, kemudian dilepasnya sahabatnya itu dengan hati yang berat.

“Aku hanya pergi untuk beberapa lama,” berkata Mahisa Agni, “Jangan risaukan aku. Sampaikan kepada Ken Dedes apabila kau sempat bertemu, juga kepada pemomongnya, perempuan tua itu. Aku tidak sedang berangkat perang. Tetapi hanyalah sebuah perjalanan biasa. Mungkin akan merupakan sebuah tamasya yang menyenangkan. Melihat lembah dan ngarai yang belum pernah aku lihat.”

Wiraprana tersenyum. Senyum yang masam. Jawabnya, “Apakah bedanya perjalananmu dengan sepasukan prajurit yang sedang berangkat ke medan perang? Mungkin daerah pertempuran yang kau jumpai jauh lebih luas dari daerah peperangan. Mungkin musuh yang kau jumpai pun jauh lebih banyak dari musuh setiap prajurit dolan peperangan.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Kemudian katanya, “Nah, Selamat tinggal Wiraprana, selamat tinggal sahabat-sahabat yang lain. Sampaikan salamku kepada mereka.”

Wiraprana mengangguk, dan Mahisa Agni pun kemudian memutar tubuhnya, dan berjalan dengan hati yang tetap meninggalkan padukuhan yang telah bertahun-tahun didiaminya.

Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, memandang langit yang biru bersih, dilihatnya burung-burung manyar beterbangan. Awan yang putih sehelai-sehelai hanyut dalam arus angin yang lembut.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya di sekitarnya, alam yang maha luas. Pepohonan, burung-burung di udara, air dan binatang-binatang di dalamnya, rumput dan perdu. Terasalah betapa tangan yang Maha Agung telah memelihara semuanya itu. Dan karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin berbesar hati. Ternyata di segala sudut bumi, di antara hutan-hutan belukar, di antara lembah dan ngarai, di segala tempat, bahkan di manapun yang diangan-angankannya, hadirlah Yang Maha Agung itu. Dan pada-Nya Mahisa Agni memperoleh ketenteraman.

Mahisa Agni berjalan terus dengan cepat. Tujuannya adalah ukup jauh, sehingga setiap saat harus dimanfaatkannya. Ketika ia berpaling, lamat-lamat dilihatnya padukuhan Panawijen. Anak muda itu menarik nafas dalam. Padukuhan itu seakan-akan melambai kepadanya. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk-angguk. “Aku akan segera kembali padamu Panawijen.

Tetapi tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri terkejut karenanya. Ketika ia memandang berkeliling tak dilihatnya apa pun, selain dataran, sawah yang sudah semakin tipis, pepohonan dan di kejauhan gunung yang biru.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian dihiburnya hatinya sendiri. “Ah, alangkah cengengnya aku ini. Aku adalah seorang laki-laki yang dewasa. Sudah sepantasnya aku melakukan perjalanan-perjalanan yang berbahaya.”

Namun terdengar suara di hatinya, “Aku tidak mencemaskan perjalanan ini, tetapi justru mencemaskan nasib Panawijen, nasib Ken Dedes.”

Apalagi ketika tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat pada mimpinya beberapa waktu yang lalu. Mimpinya tentang Ken Dedes yang meloncat ke dalam sebuah perahu. Namun akhirnya, baik Ken Dedes sendiri mau pun perahunya tenggelam ditelan oleh ombak yang ganas.

Mahisa Agni tiba-tiba menggeram. Namun kemudian diingatnya pula gurunya berkata, “Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”

“Mudah-mudahan,” gumamnya, “mudah-mudahan mimpiku hanyalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur.”

Meskipun demikian ia masih menjadi gelisah karenanya. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginannya untuk kembali ke Panawijen.

“Hambatan yang pertama,” katanya menggeram, “memang hambatan yang paling sulit di atasi, adalah hambatan- hambatan yang timbul dari diri sendiri.”

Karena itu, segera Agni berusaha untuk membulatkan tekadnya kembali. Digelengkan kepalanya seperti akan melepaskan setiap kenangan yang akan dapat menghambatnya. Dan kembali Mahisa Agni berjalan cepat-cepat menjauhi Panawijen.

Matahari pun semakin lama menjadi semakin tinggi, dan Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin jauh dari desanya. Kini telah dilampauinya daerah-daerah persawahan yang paling jauh sekali pun. Di hadapannya terbentang sebuah padang rumput yang diselingi oleh gerumbul-gerumbul perdu.

Mahisa Agni pun masih berjalan terus. Ia dapat menempuh jalan yang berbeda-beda. Yang mana pun tak ada bedanya. Namun arahnyalah yang harus dijaganya supaya ia tidak tersesat. Gunung Semeru. Dan ia harus melingkari Gunung itu dan mencapai kakinya dari arah timur. Ia tidak tahu berapa hari perjalanannya itu berlangsung.

Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin berjalan lewat padang rumput Karautan. Ia tidak tahu, kenapa padang rumput itu menariknya. Sebenarnya ia dapat menempuh jalan lain, lewat Talrampak atau Kaligeneng. Meskipun telah diketahuinya bahwa kini hantu yang bernama Ken Arok itu telah tidak ada di sana, namun sebuah kenangan yang aneh telah menariknya.

Sebelum Mahisa Agni menyadari, ia telah berjalan menurut jalan ke padang rumput Karautan. Meskipun betapa panasnya. Ditaruhnya bungkusan bekalnya di atas kepalanya, untuk mengurangi panas yang seakan-akan membakar rambutnya.

Tetapi padang rumput itu tampaknya masih sepi. Jalan yang menjelujur di antaranya masih belum tampak banyak dilewati orang, bahkan masih ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Hanya rombongan- rombongan yang besarlah yang berani lewat di padang rumput itu.

“Jalan ini sebenarnya sudah aman,” gumamnya, “tetapi belum juga banyak orang yang berani lewat di sini. Ah, mungkin para pedagang masih meragukan kebenaran berita, bahwa hantu Karautan telah berpindah tempat.” Agni tersenyum sendiri. Alangkah lucunya seandainya ia sendiri menggantikannya di sini. “Kalau saat itu aku bunuh Ken Arok, mungkin sekali aku menjadi penghuni di padang rumput ini.”

Tetapi kini padang rumput itu telah tidak menakutkan lagi. Meskipun masih terlalu sepi. Mahisa Agni berjalan dengan langkah yang cepat dan tetap. Matahari yang terik semakin lama telah semakin condong ke barat.

Sebuah kenangan yang aneh telah menyentuh perasaan Mahisa Agni ketika ia berjalan di antara gerumbul-gerumbul di mana hantu Karautan sering bersembunyi. Di antara gerumbul-gerumbul itu pulalah ia mendengar Ken Arok berkata kepadanya, bahwa jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah itu selalu licin dan lapang.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Kata-kata itu disimpannya di dalam hatinya.

Akhirnya, ketika senja turun, Mahisa Agni telah melampaui padang rumput yang sepi itu. Dilewatinya beberapa buah padukuhan kecil dan akhirnya ia sampai ke tepi sebuah hutan yang rindang. Hutan yang setiap hari dikunjungi orang yang sedang mencari kayu. Di situlah Mahisa Agni berhasrat untuk beristirahat. Hutan itu telah sering dilewatinya dengan gurunya. Dengan setiap kali ia pergi ke daerah-daerah yang agak jauh bersama gurunya, maka diajarinya ia mencari tempat-tempat untuk bermalam.

Demikianlah Mahisa Agni telah melampaui perjalanannya untuk satu hari. Namun apa yang dicapainya barulah sebuah permulaan yang pendek. Di hadapannya masih terbentang perjalanan yang berlipat-lipat jauhnya.

Malam itu Mahisa Agni tidur dengan nyenyaknya. Perjalanan itu seakan-akan betapa lancarnya. Di pagi harinya, dengan sebuah bandil Agni berusaha untuk berburu binatang. Dan ternyata Agni adalah seorang anak muda yang tangkas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia telah mendapatkan buruannya untuk makan paginya.

Demikianlah, Agni melampauinya hari demi hari. Perjalanannya semakin lama menjadi semakin berat. Hutan yang kadang- kadang sedemikian rapatnya ditumbuhi oleh segala jenis tumbuh- tumbuhan. Sungai-sungai yang deras dan apa pun yang melintang di hadapannya.

Tetapi di samping itu perjalanan Agni pun tidak sepi dari persoalan-persoalan yang sudah diduganya sejak semula. Binatang buas, dan orang-orang jahat yang dijumpainya. Namun karena ketabahan hatinya, satu demi satu semuanya berhasil diatasinya.

Akhirnya, sampailah pada suatu ketika, Mahisa Agni mencapai kaki Gunung Semeru. Kaki gunung yang tak terkirakan tingginya. Hutan-hutan yang padat tumbuh melingkarinya.

Ketika dilihatnya pohon-pohon raksasa yang tumbuh di hutan-hutan itu, serta daun-daunnya yang menjulang ke langit, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Telah banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di perjalanan. Telah banyak penderitaan yang dialami. Namun kini keadaan yang terakhir terbentang di hadapannya. Apakah ia akan berhasil menempuh ujiannya?

Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya gunung yang tegak di hadapannya. Pohon-pohonan yang seakan-akan mendaki tebingnya. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya sampai juga menutupi lambung bukit itu.

Tetapi perjalanannya masih belum akan berhenti. Meskipun gunung itu seakan-akan telah tegak di hadapannya, namun perjalanan yang harus ditempuhnya masih jauh. Apalagi ia harus menemukan sebuah rawa-rawa di lereng sebelah timur gunung itu. Sehingga dengan demikian ia masih harus berjalan melingkar.

Kembali Mahisa Agni melangkahkan kakinya. Kini ia tidak berjalan terlalu cepat. Perlahan-lahan, sedang berbagai persoalan membelit hatinya. Ia merasa, betapa kecil dirinya di antara pohon-pohon raksasa, batu-batu besar dan gunung yang menjulang itu. Dan betapa kecil pula dirinya, lebih-lebih lagi dihadapkan kepada yang telah menciptakan alam ini.

Namun, betapa pun juga, Mahisa Agni merasa bersyukur bahwa sebagian perjalanannya telah dilampauinya. Jarak yang ditempuhnya telah melampaui jarak yang akan dilaluinya.

Kini Mahisa Agni mencoba untuk menghindari hutan-hutan yang lebat itu, meskipun jaraknya menjadi agak jauh. Diselusupnya daerah-daerah yang tidak begitu padat, yang tidak terlalu sulit dilaluinya. Meskipun jaraknya makin jauh, namun dengan demikian ia mengharap, perjalanannya menjadi semakin cepat.

Di daerah- daerah yang demikian, Mahisa Agni tidak melupakan pesan gurunya. Setiap saat ia akan dapat digigil ular-ular kecil yang berkeliaran di tanah, dan serangga- serangga yang berbisa. Karena itu, tubuhnya dilumurinya dengan param pemberian Empu Purwa. Sekali ia merasakan pula, sentuhan-sentuhan pada tubuhnya oleh binatang-binatang kecil. Namun binatang-binatang itu segera meloncat menghindar. Mungkin di dalam ramuan param itu, terdapat berbagai ramuan yang tak disukai oleh jenis-jenis serangga berbisa.

Setelah Mahisa Agni bermalam satu malam lagi, sampailah ia di daerah sebelah timur Gunung Semeru. Dilewatinya padang- padang rumput dan perdu, kemudian Mahisa Agni menarik nafas, ketika ia sampai pada suatu daerah yang berpenghuni. Dilihatnya ladang- ladang hijau ditumbuhi oleh berbagai tanaman. Meskipun sama sekali kurang teratur, namun Agni yakin, bahwa tanaman-tanaman itu ditanam orang.

Dugaannya ternyata benar. Tidak sedemikian jauh lagi, dilihatnya sebuah padukuhan kecil. Padukuhan yang dipagari oleh pagar batu setinggi orang. Rumah-rumah kecil dan batang-batang semboja di halaman. Tempat-tempat sesajen dan kandang-kandang sederhana.

Ketika Mahisa Agni menghampiri padukuhan itu, dilihatnya beberapa orang laki-laki dan perempuan lagi sibuk bekerja di halaman masing-masing, di ladang-ladang dan di sawah-sawah.

“Penduduk yang rajin,” katanya di dalam hati.

Ketika mereka melihat kedatangan Mahisa Agni, tampaklah keheranan membayang di wajah mereka. Mereka satu dengan yang lain saling berpandangan, seakan-akan mereka ingin bertanya, “Siapakah orang asing yang datang ini?”

Dengan demikian Mahisa Agni mengetahuinya, bahwa daerah ini adalah daerah yang jarang-jarang didatangi orang lain.

Meskipun demikian, Mahisa Agni pun telah memaksa dirinya untuk mendekati salah seorang di antaranya. Ia ingin menanyakan apakah di sekitar daerah itu terdapat sebuah rawa-rawa seperti yang pernah dilihatnya dahulu.

Tetapi, sudah barang tentu Mahisa Agni tidak dapat bertanya berterus terang. Sebab selalu diingatnya pula gurunya berkata, bahwa jangan seorang pun yang tahu akan kedatangannya ke gua di lereng gundul Gunung Semeru itu.

Orang yang di dekati oleh Mahisa Agni adalah seorang tua, berambut putih dan berjenggot putih. Dengan sinar mata yang keheran-heranan ia memandang Mahisa Agni dari ujung kepalanya sampai ke ujung kakinya. Serta ketika Mahisa Agni mengangguk hormat padanya, maka dengan tergopoh-gopoh orang itu pun menganggukkan kepalanya pula.

“Bapak,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah aku dapat bertanya kepada Bapak?”

Orang tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab dengan serta-merta, “Tentu,tentu Ngger, tentu.”

Mahisa Agni menarik nafas. Melihat sikap orang tua ini, maka segera Mahisa Agni menduga, bahwa penduduk padukuhan ini, atau setidak-tidaknya orang tua itu adalah seorang yang ramah. Karena itu maka ia bertanya, “Apakah aku boleh mengetahui Bapak, apakah nama padukuhan ini?”

“Tentu Ngger,” jawab orang itu pula, kemudian katanya meneruskan, “nama padukuhan ini adalah Padukuhan Kajar.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat, apakah beberapa tahun yang lampau, dilaluinya juga Padukuhan Kajar ini? Tetapi nama itu belum pernah didengarnya, dan agaknya daerah ini pun belum pernah dilihatnya.

Sebelum Mahisa Agni bertanya lagi, terdengarlah orang tua itu berkata, “Siapakah Angger ini? Dari mana atau ke manakah tujuan Angger?”

“Namaku Mahisa Agni, Bapak,” jawab Agni, “aku datang dari daerah yang jauh. Dari kaki Gunung Kawi.”

“Oh,” orang tua itu terkejut, “alangkah jauhnya.” Tetapi kemudian orang itu tersenyum, “Ah, tidak begitu jauh. Seseorang pernah lewat di padukuhan ini. Ketika kami tanyakan kepadanya, dari mana ia datang, katanya ia datang dari kaki Gunung Merapi.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Gunung Merapi terletak jauh sebelah barat dari Gunung Kawi. Tiba-tiba ia tertarik pada keterangan itu, sehingga ia bertanya, “Siapakah orang itu Bapak?”

Orang itu mencoba mengingat-ingat, namun beberapa saat ia belum juga menjawab. Akhirnya ia berkata, “Aku telah tidak ingat lagi namanya.”

“Apakah keperluannya?” bertanya Mahisa Agni.

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya, “Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia hanya lewat dan lenyap lagi dari antara kita.”

“Kapankah itu terjadi?” bertanya Mahisa Agni pula.

“Belum lama. Tiga hari yang lampau?”

Dada Mahisa Agni tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tiga hari yang lampau. “Apakah tak ditanyakan sesuatu kepada Bapak atau kepada seseorang?”

Orang tua itu menggeleng. “Tidak,” katanya.

Mahisa Agni tiba-tiba mencoba menghubungkan kedatangan orang itu dengan akar wregu di dalam gua seperti yang ditunjukkan gurunya. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada orang tua itu. yang ditanyakan kemudian adalah, “Ke manakah orang itu pergi Bapak?”

“Ke selatan,” jawabnya.

“Sampai ke manakah jalan yang ke selatan ini?” bertanya Mahisa Agni.

“Jalan itu buntu, Ngger,” jawab orang itu.

“Lalu ke manakah orang dari kaki Gunung Merapi itu pergi?”

Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Entahlah. Yang kami ketahui jalan ke selatan ini akan menuju ke rawa-rawa.”

“Ke rawa-rawa?” Mahisa Agni mengulang.

Orang itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menjadi heran. Mahisa Agni ternyata menaruh minat pada keterangannya.

“Apakah rawa-rawa itu masih jauh?”

“Tidak terlalu jauh,” jawabnya, “tidak sampai sehari Angger akan sampai ke rawa-rawa itu.”

Dahi Mahisa Agni pun kemudian tampak berkerut-kerut. Orang dari Gunung Merapi itu benar-benar menarik perhatiannya. “Ah, mudah-mudahan orang itu mempunyai keperluan yang lain,” katanya di dalam hati.

Kemudian terdengar Mahisa Agni bertanya pula, “Bapak, apakah masih ada padukuhan lain di sekitar padukuhan ini?”

“Ada Ngger. Di sebelah utara,” jawab orang itu.

“Yang lebih dekat di bawah kaki Gunung Semeru?”

Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Hutan itu masih terlampau padat. Tak seorang pun yang ingin menebangnya. Di daerah-daerah lain, tanah masih berlimpah-limpah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Baiklah Bapak. Aku hanya ingin lewat di padukuhan ini. Lima enam hari lagi, mungkin aku akan kembali lewat jalan ini pula.”

Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya, “Apakah Angger juga akan pergi ke selatan?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Ke rawa-rawa itu?”

Mahisa Agni ragu-ragu sebentar. Namun kemudian ia mengangguk pula sambil menjawab, “Aku hanya ingin melihat rawa itu.”

Tampaklah sinar mata yang aneh memancar dari wajah orang tua itu. Gumamnya, “Aneh. Rawa itu sangat berbahaya. Banyak binatang-binatang berbisa di sekitarnya. Dan tak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat.”

“Apakah Bapak pernah mengunjungi rawa itu?”

“Tentu. Setiap laki-laki di daerah ini harus mengenal daerah-daerah di sekitarnya. Aku pernah juga mendaki kaki gunung itu meskipun begitu tinggi. Tetapi seperti yang aku katakan, bagi Angger, tak ada yang dapat menarik perhatian.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Terima kasih, Bapak. Mungkin tak ada yang akan menarik perhatian setelah aku melihatnya. Namun aku ingin membuktikannya.”

Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya pula, “Angger hanya akan membuang-buang waktu saja. Atau apakah Angger mengenal orang dari Gunung Merapi itu?”

Mahisa Agni menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “Aku sama sekali tidak mempunyai kepentingan dengan orang itu, juga dengan rawa-rawa di sebelah selatan. Aku adalah seorang perantau. Aku hanya ingin melihat apa saja.”

“Aneh,” gumam orang tua itu, “Tetapi terserahlah kepada Angger. Namun kami, penduduk Kajar, ingin mempersilakan Angger untuk mampir di padukuhan kami.”

Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Terima kasih Bapak. Nanti apabila aku kembali.”

Orang tua itu tidak berhasil mempersilakan Agni untuk singgah di kampungnya. Mahisa Agni tiba-tiba menjadi tergesa-gesa. Orang yang lewat tiga hari yang lalu sangat mempengaruhi perasaannya. “Adakah orang lain yang pernah mendengar pula tentang akar wregu yang berwarna putih itu?” katanya di dalam hati.

Karena itu dengan tergesa-gesa Mahisa Agni meneruskan perjalanannya lurus ke selatan.

Tiba-tiba setelah ia berjalan beberapa lama, segera ia tertegun. Dilihatnya sebuah sungai yang curam menjalar di tepi jalan setapak yang semakin lama menjadi semakin sempit. Dilihatnya pula sebatang pohon mahoni raksasa di tepi lereng sungai yang curam itu. Dan tiba-tiba saja tumbuh kembali dalam ingatannya. Daerah ini pernah dilihatnya. Dengan serta-merta ia meloncat ke bawah pohon Mahoni raksasa itu. Beberapa tahun lampau ia pernah menggoreskan pedang pada batang mahoni itu. Dan Mahisa Agni tersenyum. Dilihatnya goresan bersilang itu masih ada, meskipun tidak begitu jelas lagi. Namun ia masih melihat dan mengingatnya. Goresan bersilang itu telah dibuatnya dengan pedangnya.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditepuk-tepuknya batang mahoni raksasa itu seakan-akan menepuk pundak seorang sahabat yang telah bertahun-tahun tak berjumpa. Pohon mahoni itu ternyata telah mengungkap segenap ingatannya kembali. Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya batang-batang pohon raksasa yang pernah dilihatnya dahulu.

“Ah,” gumamnya seorang diri, “aku telah mengambil jalan yang lain. Dahulu aku sampai ke tempat ini dari jurusan yang berbeda.”

Dan suaranya itu disaut oleh gemeresik daun-daun kering yang berjatuhan dihembus angin yang semakin lama menjadi semakin keras. Sejalan dengan kegembiraan itu, maka Mahisa Agni pun mengucap syukur di dalam hatinya kepada Yang Maha Agung. Jalan yang akan ditempuhnya sudah tidak begitu sulit lagi dicarinya.

Kemudian Mahisa Agni pun segera berjalan kembali. Satu-satu masih dapat dikenalnya. Batu-batu besar, pohon-pohon raksasa. Lereng-lereng yang curam dan beberapa macam benda yang lain.

“Belum banyak perubahan yang terjadi,” katanya kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan rawa-rawa dan batu karang itu masih ada di tempatnya pula.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar ketika akhirnya terasa tanah di bawah kakinya semakin lama menjadi semakin basah. Dilihatnya beberapa jenis tumbuh-tumbuhan air telah banyak bertebaran di antara rumput-rumput dan pohon-pohon perdu yang tumbuh di antara batang-batang raksasa. Dan hutan pun menjadi semakin lama semakin padat.

Tetapi kalau ia berjalan ke arah yang benar, maka ia akan sampai ke daerah rawa-rawa. Daerah yang menampung arus sungai di lereng timur Gunung Semeru.

Perjalanan Mahisa Agni pun semakin dipercepat. Meskipun tumbuh-tumbuhan menjadi semakin padat, namun dengan tekad yang menyala, semuanya itu sama sekali tidak memperlambat perjalanannya. Sehingga ketika matahari telah hampir tenggelam, maka sampailah Mahisa Agni di tempat yang dapat dipergunakannya sebagai ancar-ancar untuk menemukan titik tujuannya.

Mahisa Agni menjadi semakin gembira, ketika dalam keremangan senja dilihatnya sebuah bayangan yang kehitam-hitaman. Kini Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Meskipun matahari telah lenyap di balik gunung, namun Mahisa Agni sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia kemudian berlari-lari kecil, melompati pohon-pohon perdu dan menyusup batang-batang menjalar yang tersangkut, di pepohonan. Semakin dekat, menjadi semakin jelaslah, bahwa bayangan raksasa yang kehitam-hitaman di tengah rawa-rawa itu adalah sebuah batu padas yang menjulang ke atas, seakan-akan batu karang yang kokoh di tengah-tengah lautan.

Mahisa Agni menarik nafas. Sekali lagi ia bersyukur di dalam hatinya. Kini jalan yang harus ditempuhnya tidak begitu jauh lagi. Ia harus menyusur tepi-tepi rawa ke arah barat. Dan nanti akan ditemuinya sebuah lereng yang gundul, seakan-akan sebuah dinding raksasa yang membatasi dua dunia yang berlainan.

Tetapi tiba-tiba diingatnya kembali pesan gurunya. Seterusnya ia harus berjalan malam hari. Banyak alasan yang menyebabkan gurunya berpekan demikian kepadanya. Dan ia pun percaya sepenuhnya, bahwa apabila tak ada sesuatu yang sedemikian pentingnya, maka tak akan gurunya berpesan demikian kepadanya.

Ketika Mahisa Agni menebarkan pandangannya, dilihatnya daerah sekitarnya pun menjadi semakin kelam. Bahkan kemudian warna-warna yang hitam seakan-akan turun dari langit menyelimuti seluruh permukaan bumi.

Namun Mahisa Agni masih ingin beristirahat. Duduklah ia di atas sebuah batu yang cukup besar. Diurainya bungkusan bekalnya. Masih ditemukannya beberapa jenis buah-buahan yang didapatnya di perjalanannya.

“Sebentar lagi aku harus berjalan kembali,” katanya di dalam hati, “kalau aku beristirahat malam ini, maka ini berarti bahwa malam besok aku baru dapat berjalan kembali. Dengan demikian aku akan banyak kehilangan waktu.”

Dan kembali hatinya berdesir ketika diingatnya kata-kata orang tua di Kajar, bahwa seseorang telah berjalan ke rawa-rawa ini tiga hari yang lalu. “Apakah orang itu juga akan mengambil akar wregu di gua itu?” Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalam dadanya. Dan karena itu maka tiba-tiba Agni berdiri. Katanya, “Ah aku harus berangkat sekarang.”

Sekali lagi Mahisa Agni menebarkan pandangannya berkeliling. Gelap dan yang dilihatnya hanyalah warna-warna hitam, seakan-akan dunianya telah dibatasi oleh dinding hitam kelam.

Mahisa Agni itu pun kemudian membenahi bungkusan-bungkusannya kembali. Kini bungkusan itu tidak disangkutkannya lagi di tongkatnya. Dipergunakannya tongkatnya untuk meraba-raba jalan yang akan dilaluinya.

“Ah,” desahnya, “aku rasa jalan sudah tidak terlampau jauh. Namun gelapnya bukan main. Mudah-mudahan sebelum pagi aku telah mencapai dinding gundul itu.”

Mahisa Agni pun kemudian mulai melangkahkan kakinya kembali. Perasaan penatnya tiba-tiba tersapu oleh kegelisahannya. Gelisah karena seseorang pun telah pergi ke daerah rawa-rawa ini.

“Kalau orang itu pergi juga ke gua itu, maka pasti ia belum kembali. Aku sangka, ia pun akan kembali lewat jalan ini, sebagaimana ia datang,” katanya di dalam hati untuk menghibur kegelisahannya sendiri.

Sementara itu, setapak demi setapak Mahisa Agni itu maju juga. Alangkah sulitnya berjalan di malam hari di daerah-daerah yang hampir tak dikenalnya. Untunglah bahwa gurunya telah membekalinya dengan sejenis param yang dapat menghalau binatang berbisa dari tubuhnya.

Malam itu kelamnya bukan main. Seleret ia melihat bayangan bintang-bintang dan sinar dari kutub yang dipantulkan oleh wajah air rawa yang kotor. Selebihnya hitam.

Namun Mahisa Agni mencoba untuk tidak tersesat. Ia berusaha berjalan sepanjang pinggir rawa-rawa yang tidak begitu dapat ditumbuhi pepohonan. Bahkan kemudian sampailah ia di satu dataran yang luas, yang hanya ditumbuhi oleh rumput liar dan beberapa jenis perdu.

“Tetapi,” katanya kemudian, “daerah seberang padang rumput ini adalah daerah yang terjal. Aku harus sangat berhati-hati, supaya aku tidak terguling masuk ke dalam rawa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Suasana ujian yang berat,” gumamnya. Namun hatinya yang bulat itu sama sekali tak tergerak oleh kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Sebab sadar, bahwa taruhannya pun sangat berharga.

Kemudian katanya kepada diri sendiri, “Apakah aku akan dapat mencapai lereng gundul itu sebelum pagi?”

Kemudian dijawabnya sendiri, “Aku tidak perlu tergesa-gesa. Besok atau lusa tak ada bedanya.”

“Tetapi orang yang lewat tiga hari yang lalu itu?” terdengar sebuah pertanyaan di sudut hatinya. Karena itu, maka kegelisahan di hati Mahisa Agni menjadi semakin melonjak-lonjak. Dan karena itu, ia berusaha untuk mempercepat langkahnya.

“Kalau orang itu pergi juga ke sana,” katanya di dalam hati, “semoga aku sempat menyusulnya.”

Dan Mahisa Agni pun berusaha untuk berjalan lebih cepat. Dilihat bintang- bintang di langit supaya ia tetap pada arahnya. Bintang Gubug Penceng yang menolongnya menentukan arah perjalanannya.

Tetapi tiba-tiba langkah Mahisa Agni terhenti. Perlahan-lahan ia mendengar gemeresik daun di dalam gerumbul perdu. Mahisa Agni mencoba untuk mempertajam pendengarannya. Dan gemeresik itu didengarnya kembali.

Ketika ia memandang daun-daun di sekitarnya, ternyata angin tidak cukup kencang untuk menimbulkan bunyi itu, sehingga segera diketahuinya bahwa pasti ada sesuatu di dalam gerumbul itu. Binatang atau manusia.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat datang. Kalau yang bersembunyi itu binatang, maka akan sangat menggelikan sekali. Namun ingatannya sealu saja tersangkut kepada orang yang lewat tiga hari yang lalu di daerah ini.

Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang aneh. Namun kemudian ia pasti, suara itu adalah suara seseorang yang sedang mengerang. Maka, dengan gerak naluriah Mahisa Agni segera meletakkan bungkusannya dan bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Sesaat kemudian meledaklah suara tertawa dari dalam gerumbul itu. Semakin lama semakin jelas. Nadanya tinggi melengking memekakkan telinga. Semakin lama suara itu menjadi semakin keras. Bahkan kemudian terasa seperti menghentak-hentak pada Mahisa Agni. Dengan demikian Mahisa Agni pun harus memusatkan segenap daya tahannya. Lahir dan batin untuk melawan suara tertawa itu. Suara yang pengaruhnya seakan-akan dapat mengguncangkan kesadarannya.

Dengan mendengar suara itu Mahisa Agni segera dapat meraba-raba betapa berbahayanya orang yang bersembunyi itu. Suara tertawanya sudah mampu mengguncangkan dadanya tanpa menyentuhnya. Apalagi tangannya. Namun Mahisa Agni telah dibekali dengan berbagai ilmu oleh gurunya, sehingga dengan demikian, maka betapa pun ia masih mampu untuk mempertahankan kesadaran dan keseimbangan perasaannya. Bahkan kemudian terdengar Mahisa Agni itu berkata lantang, “Ah tuan ternyata menunggu aku di sini.”

Suara tertawa itu tiba-tiba berhenti. Dan meloncatlah dari dalam gerumbul itu sebuah bayangan hitam yang tidak begitu jelas di dalam malam yang kelam. Namun Mahisa Agni masih juga dapat melihat ujud dan bentuk rubuh itu. Tidak terlalu tinggi, namun tampaknya dadanya lebar dan perutnya besar. Tetapi ia tidak dapat melihat tubuh itu dengan jelas. Yang terdengar kemudian orang itu berkata dengan suaranya yang parau, “He, akhirnya kau lewat juga di sini setelah berbulan-bulan aku menunggumu.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata orang itu. Berbulan-bulan ia menunggu. Dengan demikian maka orang ini sama sekali bukan orang yang digelisahkannya, yang tiga hari yang lampau berjalan mendahuluinya. Meskipun demikian Mahisa Agni masih harus mencoba mengetahui, siapakah yang sedang dihadapinya itu.

Orang itu, yang baru saja meloncat dari dalam gerumbul itu, kemudian berjalan perlahan-lahan mendekatinya. Dalam malam yang gelap itu, jelas dapat dilihat oleh Mahisa Agni bahwa orang itu berjalan agak timpang. Meskipun demikian nampaknya orang timpang, itu cukup tangkas dan lincah.

Beberapa langkah di hadapan Mahisa Agni, orang timpang itu berhenti. Ditatapnya wajah Agni dan kemudian dengan suaranya yang parau ia bertanya, “Nah, anak muda. Akhirnya kau datang juga.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar sapa itu. Jawabnya, “Apakah kau sedang menunggu seseorang di sini?”

“Ah, jangan berpura-pura. Aku sudah menunggumu sejak berbulan-bulan yang lalu. Hampir aku menjadi putus asa. Namun akhirnya kau datang juga,” sahut orang timpang itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian tiba-tiba ia berkata menyentak, “Jangan bohong! Kau baru tiga hari datang di tempat ini. Bukankah kau baru datang dari Gunung Merapi?”

Orang timpang itu terkejut. Sesaat ia berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengar kemudian tawanya berderai. Jawabnya, “Jangan mengada-ada. Apakah kau sedang bermimpi?”

Mahisa Agni pun tertawa. Ia tidak mau tenggelam dalam pembicaraan yang melingkar-lingkar, yang seakan-akan ingin menyeretnya dalam persoalan yang tak dimengertinya. “Orang ini sedang menjebak aku,” katanya di dalam hati. Karena itu ia menjawab, “Apakah kau melihat aku sedang tidur?”

Orang timpang itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menatap wajah Mahisa Agni dengan seksama. Gumamnya, “Sayang, malam begini gelap. Namun aku dapat menduga bahwa kau adalah seorang anak muda yang tampan. Siapakah namamu?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia menjadi ragu-ragu sejenak. Apakah orang itu perlu mengetahui namanya? Maka sebelum persoalannya menjadi jelas, maka ia tidak ingin menyebut namanya. Karena itu ia tidak menjawab pertanyaan orang timpang itu, bahkan terdengar ia bertanya, “Siapakah kau?”

Orang itu menjadi heran mendengar pertanyaan Agni. Katanya, “He, anak muda. Kau benar-benar tidak mengenal sopan santun pergaulan. Meskipun telah berbulan-bulan aku menyingkir dari pergaulan, namun aku masih menerapkannya. Apakah kau sangka meskipun di dalam rimba yang sepi ini, di antara kita, manusia-manusia ini, sudah tidak perlu lagi tata kesopanan?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tertawa pendek ia menjawab, “Apakah kau memperkenalkan dirimu dengan sopan kepadaku? Apakah suara tertawamu itu pun menunjukkan tata pergaulan orang-orang beradab? Ki Sanak, aku telah mencoba menyesuaikan diriku dengan caramu menyambut kedatanganku.”

Terdengar orang timpang itu menggeram. Suaranya yang parau menjadi semakin parau. Dalam keremangan malam itu, semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin jelas melihat wajah orang timpang itu. Wajahnya pun agaknya telah berkerut-kerut dan beberapa bagian tampaknya telah menjadi cacat.

“Hem,” sahut orang timpang itu, “jangan terlalu sombong.”

“Tidak,” jawab Agni, “pertemuan kita adalah pertemuan yang aneh. Apakah dalam pertemuan yang demikian kau perlu mengenal namaku? Kalau kau merasa, bahwa kedatangan seseorang yang telah kau tunggu-tunggu, maka aku sangka kau telah mengenal aku.”

“Kau memang pandai berbicara anak muda,” berkata orang timpang itu, “tetapi kepandaianmu berbicara belum mencerminkan kejantananmu, meskipun aku yakin, bahwa kau pasti bukan orang kebanyakan. Ternyata kau telah berani penempuh perjalanan ini.”

“Nah, sekarang katakan, apa perlumu?” bertanya Agni tiba-tiba.

Kembali orang itu terkejut. Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian ia menjawab, “Kau belum menjawab, siapa namamu.”

“Pertanyaanmu tak akan kujawab. Kau pun menyembunyikan beberapa persoalan. Kau sama sekali belum lama berada di daerah ini. Kenapa kau katakan telah berbulan-bulan.”

“Aku memang telah berbulan-bulan berada di tempat ini. Ketahuilah, orang yang kau katakan, yang datang tiga hari yang lampau ke daerah ini, dan datang dari Gunung Merapi itu, selamanya tidak akan kembali lagi.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Matanya tiba-tiba menjadi semakin tajam memandang wajah orang timpang yang menyeramkan ini. Dan tiba-tiba saja, Mahisa Agni telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Yang terdengar kemudian ia bertanya, “Ke mana orang itu?”

“Orang itu pun terlalu sombong seperti kau. Ia tidak mau menyebut namanya, selain asalnya itu, dari Gunung Merapi. Nah, sekarang tak seorang pun yang tahu, mayat siapakah yang telah terapung-apung di rawa-rawa itu.”

“Orang itu kau bunuh?”

“Ya. Ia menjengkelkan sekali seperti kau.”

“Hanya karena itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”

“Tentu. Orang itu tidak mau menjawab pertanyaanku. Karena itu, aku menyangka bahwa orang itulah yang aku tunggu-tunggu selama ini. Namun akhirnya setelah orang itu mati, ternyata yang aku cari tak ada padanya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Orang ini agaknya benar-benar orang yang telah menjadi buas. Namun ia masih bertanya, “Apakah sebenarnya yang kau cari?”

“Baik, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi kalau bersikap seperti orang Gunung Merapi itu kau pun akan mengalami nasib yang sama,” orang itu berhenti sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kau datang dari mana?”

Mahisa Agni berpikir sejenak. Kemudian jawabnya,Aku datang dari kaki Gunung Kawi.”

“Hem,” gumam orang itu, “orang-orang dari berbagai gunung datang ke kaki Gunung Semeru. Nah, sekarang katakan kepadaku, apakah kau akan mengambil akar di dalam gua di lereng itu?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Mahisa Agni. Ternyata bahwa selain gurunya ada orang lain yang mengetahui akar wregu putih di dalam gua tersebut. Namun Mahisa Agni bukan menjadi bingung karenanya. Jawabnya, “Apakah orang yang kau bunuh itu juga mencari benda yang kausebutkan itu?”

—–
“Orang itu kau bunuh?”
“Ya, ya menjengkelkan sekali seperti kau.”
“Hanya karena itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”
—–

“Jangan membuat aku marah!” bentak orang itu, “Kau tidak pernah menjawab pertanyaanku. Kau selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Sekarang jawab pertanyaanku, apakah kau juga sedang mencari akar wregu putih itu?”

“Kau juga jangan membuat aku marah,” jawab Agni dengan berani. Perjalanan telah ditempuh sekian lamanya. Kini gua itu sudah di depan hidungnya. Karena itu, apa pun yang akan dihadapinya ia tidak akan gentar.

Mendengar jawaban Mahisa Agni, orang timpang itu menjadi bertambah heran. Terdengar ia menggeram, “Alangkah beraninya kau anak muda. Apakah kau belum pernah mendengar sebuah nama yang cukup terkenal di sekitar daerah Gunung Semeru ini. Akulah yang bernama Empu Pedek.”

Dada Mahisa Agni bergetar mendengar nama itu. Meskipun nama itu belum pernah didengarnya, namun terasa sesuatu yang telah menggetarkan dadanya. Meskipun demikian ia tetap pada sikapnya. Siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan jawabnya, “Hem. Baru sekarang kau mau menyebut namamu. Tetapi kau belum menyebut apakah yang sebenarnya sedang kau cari, sehingga kau bunuh orang dari kaki Gunung Merapi itu.”

Orang timpang itu memandang Mahisa Agni seperti hendak membelah dadanya dengan sinar matanya. Kepalanya dimiringkannya ke kanan, dan kemudian terdengar suaranya parau, “Ternyata kau pun akan mengalami nasib yang sama. Orang dari Gunung Merapi itu pun akan mengambil akar wregu putih itu. Tetapi ia benar-benar orang gila. Akar itu sendiri tak akan bermanfaat bagi seseorang. Sekarang katakan kepadaku hai anak muda, supaya nyawamu aku biarkan tinggal di dalam tubuhmu. Manakah trisula itu?”

Dada Mahisa Agni seakan-akan tertimpa guruh yang langsung menyambar dirinya. Pertanyaan itu benar-benar mengejutkannya. Ternyata orang yang menamakan diri Empu Pedek itu, tidak saja mengetahui akar wregu putih di dalam gua yang sedang ditujunya, namun ia tahu juga tentang trisula, rangkapan akar wregu itu. Karena itu, kini Mahisa Agni pun menjadi semakin pasti, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan tempat itu tanpa beradu kesaktian. Karena itu, maka segera diaturnya perasaannya. Disiapkannya segala ilmu yang telah dimilikinya, untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tidak mustahil, bahwa Empu Pedek ini adalah seorang yang sakti. Dan ia sama sekali tidak dapat menduga, apakah ia akan mampu untuk menahan kemarahan orang timpang itu..

Namun betapa pun juga, Mahisa Agni pantang surut. Telah banyak bahaya yang diatasinya di sepanjang perjalanan. Namun ia sadar bahwa bahaya kali ini, jauh lebih berarti dari segenap rintangan yang pernah ditemuinya.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka kembali terdengar suara parau Empu Pedek, “He anak muda. Manakah trisula itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia menjawab, “Ternyata bukan aku yang sedang bermimpi, tetapi kau.”

“Setan!” sahut orang itu. Suaranya yang parau itu bergetar. Mahisa Agni merasakan, betapa orang timpang itu mengendalikan kemarahannya. Katanya, “Anak muda. Bagimu akan berakibat sama. Kau pasti akan kehilangan trisula itu. Hidup atau mati.”

“Trisula apakah yang sedang kau katakan itu?”

“Jangan bohong seperti orang Gunung Merapi itu. Kau pasti memiliki sebuah trisula kecil yang bernama kekuning-kuningan. Kalau tidak, tak akan kau cari akar wregu itu.”

“Apakah orang dari Gunung Merapi itu juga berbohong?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian sambil membentak ia berkata, “Apa pedulimu? Orang itu telah mati.”

“Dan trisula itu tak ada padanya,” potong Agni.

“Karena itu pasti ada padamu.”

“Kau akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Aku tidak membawa Trisula itu,” jawab Agni.

Mata orang timpang itu tiba-tiba menjadi liar. Sekali-kali ia memandang wajah langit yang biru gelap, kemudian merayap ke segenap penjuru. Namun akhirnya kembali hinggap di wajah Mahisa Agni.

“Aku tidak peduli. Akan aku bunuh semua orang yang lewat di sini. Akan aku cari pada mayatnya, trisula itu.”

Betapa pun kata-kata itu membuat bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Bukan karena ia menjadi ketakutan, namun betapa orang yang dihadapinya itu benar-benar telah menjadi buas. Karena itu maka hatinya justru menjadi semakin teguh. Dan bahkan tiba-tiba ia berkata, “Empu Pedek. Sebenarnya di antara kita tidak ada persoalan. Aku minta kepadamu supaya kau batalkan niatmu.”

Terdengar Empu Pedek itu tertawa nyaring. Sedemikian nyaringnya sehingga seakan-akan daun-daun pepohonan menjadi bergoyang karenanya. Bahkan semakin lama menjadi semakin keras dan memuakkan. Perlahan-lahan terasa di dada Mahisa Agni getaran-getaran aneh yang merayap-rayap seakan-akan melibat jantungnya. Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan jantungnya menjadi beku. Ia sadar, bahwa orang timpang itu telah mulai menyerangnya. Karena itu ia harus mengadakan perlawanan. Namun karena orang timpang itu belum menyerang dengan tubuhnya, Mahisa Agni pun masih ingin bertahan dengan kekuatan batinnya Dalam keadaan yang demikian, betapa Agni berterima kasih kepada gurunya. Ilmu diberikan kepadanya ternyata telah cukup banyak, sehingga ia telah berhasil mengatasi sebagian dari rintangan-rintangan di dalam perjalanannya. Bukan saja perjalanan kali ini, namun perjalanan seluruh hidupnya, yang pasti akan ditemuinya rintangan-rintangan yang tak kalah beratnya. Juga Mahisa Agni kini menyadari kebenaran perhitungan gurunya, supaya trisulanya tidak dibawanya serta. Ternyata setidak-tidaknya Empu Pedek ini pun telah mengetahuinya, kedahsyatan pusaka rangkap itu.

(hilang beberapa paragraph)

….. bersiaga penuh. Dengan tangkasnya ia menghindari serangan itu, dan setangkas itu pula Mahisa Agni membalas serangan itu dengan sebuah pukulan pada tengkuknya selagi ia masih ditarik oleh tenaga serangannya. Namun orang itu pun cekatan pula. Dengan cepat ia merendahkan tubuhnya, meskipun kemudian ia harus berguling sekali. Tetapi dengan lincahnya ia melenting berdiri tegak. Bahkan sudah siap pula dengan serangan-serangannya. Sekali lagi Mahisa Agni melihat jari-jari tangan orang itu mengembang seperti hendak mencengkeram. Dan sekali lagi Mahisa Agni melihat orang itu dengan kasarnya menyerangnya dengan satu terkaman. Kali ini pun Mahisa Agni sempat menghindarkan diri dan bahkan membalasnya dengan serangan kaki yang mendatar, namun dengan menggeliat orang timpang itu pun berhasil lepas dari garis serangannya.

[ bersambung ke part 2 ]