Bagian I – Bunga di Kaki Gunung Kawi
HAMPIR BERSAMAAN KEDUANYA
mengangkat wajahnya, memandang ke dataran langit yang biru bersih. Warna-warna
semburat merah yang dilontarkan oleh matahari yang kelelahan di
punggung-punggung bukit di sebelah barat masih tampak menyangkut di ujung
pepohonan.
“Langit bersih,” desis
salah seorang di antaranya. Seorang tua dengan rambut yang telah memutih.
“Ya,” sahut orang kedua.
Seorang pemuda yang berwajah jantan, namun penuh kelembutan. Matanya yang bening
memancarkan cahaya keteguhan hatinya, yang memandang hari depan dengan penuh
pengharapan, namun penuh pergulatan dan perjuangan yang dilandasi dengan pasrah
diri tulus ikhlas kepada takdir Yang Maha Agung.
Keduanya diam sejenak.
Tetapi kaki mereka masih terayun dalam langkah yang berirama. Lambat-lambat
mereka maju terus menyusur dataran sebelah timur Gunung Kawi, menuju ke rumah
mereka di Desa Panawijen.
“Mahisa Agni,” kembali
orang tua berambut putih itu berbicara.
“Ya, Bapa Pendeta,” sahut
pemuda yang bernama Mahisa Agni itu.
“Kita akan kemalaman di
perjalanan,” sambung pendeta tua itu.
“Tak apalah. Kalau kita
berjalan terus, sebelum tengah malam kita akan sampai,” sahut Mahisa Agni.
“Kau tidak lelah?”
bertanya pendeta itu kembali.
Mahisa Agni menarik nafas.
Bertahun-tahun ia berguru kepada pendeta itu. Dan bertahun-tahun ia mendapat
gemblengan lahir dan batin. Namun setelah bertahun-tahun itu, masih saja ia
dianggapnya anak-anak yang selalu mendapat perhatian yang berlebih-lebihan.
Meskipun demikian Mahisa
Agni dapat mengerti sepenuhnya. pendeta tua yang bernama Empu Purwa itu tak
beranak laki-laki. Ia hanya beranak seorang perempuan. Dinamainya anak itu Ken
Dedes yang didapatnya sebelum ia mengenakan pakaian pendeta. Bahkan dirasanya
bahwa sikap gurunya jauh melampaui sikap seorang guru biasa. Diperlakukannya
Mahisa Agni seperti anak sendiri. Kadang-kadang Mahisa Agni menangkap juga
hasrat yang tersirat dari sikap gurunya. Ken Dedes telah menjelang dewasa. Dan
gadis itu cantiknya bukan main. Seolah-olah bunga melati yang putih berkembang
di antara semak-semak yang lebat dan besar di lereng Gunung Kawi. Bahkan
diam-diam ia bersyukur pula atas kesempatan yang pernah ditemuinya itu. Berdiam
dalam satu rumah dengan seorang gadis yang tiada taranya. Kecantikannya dan
kejernihan hatinya.
Tetapi angan-angannya
segera terpecah ketika didengarnya Empu Purwa berkata mengulangi, “Kau tidak
lelah Agni?”
“Tidak, Bapa,”
cepat-cepat Mahisa Agni menjawab.
“Bagus,” sahut Empu
Purwa, “kakimu telah cukup terlatih. Bagaimana dengan pernafasanmu?”
“Baik, Bapa,” jawab
Mahisa Agni.
Empu Purwa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah senyumnya menghiasi bibirnya yang
tebal. Tetapi senyum itu tiba-tiba lenyap seperti asap ditiup angin.
Dengan penuh minat Mahisa
Agni memandang wajah gurunya. Mula-mula ia menjadi ragu. Apakah sebabnya? Tetapi
ketika ia memandang ke depan, dilihatnya padang rumput Karautan. Mahisa Agni
mengerutkan keningnya. Agaknya padang rumput yang di sana-sini diselingi oleh
gerumbul-gerumbul itulah yang telah mempengaruhi pikiran gurunya.
Meskipun tak sepatah kata
pun yang terlontar melontar dari mulut anak muda itu, namun pandangan matanya
memancarkan beberapa pertanyaan tentang padang rumput yang terkenal itu kepada
gurunya. Agaknya gurunya pun tanggap pada pertanyaan muridnya, sehingga dari
sela-sela bibirnya terdengar ia berkata, “Itulah padang rumput Karautan. Padang
rumput yang terkenal sepi. Dijauhi oleh setiap orang yang menempuh perjalanan.
Mereka lebih suka melingkar agak jauh. Lewat pedukuhan Talrampak atau desa
Kaligeneng.”
Mahisa Agni memandang
tanah yang terbentang di hadapannya dengan tajam. Sebentar kemudian ia memandang
matahari. Namun matahari yang dicarinya telah tenggelam di balik gunung. Dan
malam yang hitam pun perlahan-lahan telah turun menyelimuti Gunung Kawi.
“Apakah hantu itu
benar-benar ada?” bertanya Mahisa Agni. Namun sama sekali ketakutan tidak
mempengaruhi hatinya. Ia hanya ingin meyakinkan pendengarannya atas hantu Padang
Karautan.
“Kau percaya kepada
hantu?” terdengar Empu Purwa bertanya pula.
“Entahlah,” Mahisa Agni
tersenyum. Dan gurunya tersenyum pula.
“Aku terlalu sering
mendengar cerita tentang hantu di padang rumput Karautan,” berkata Mahisa Agni.
“Apakah kau bermaksud
supaya kita mengambil jalan melingkar?” bertanya gurunya.
“Tidak Guru,” cepat-cepat
Mahisa Agni menyahut menyambut. Ia memang tidak takut. Bahkan ia ingin melihat
hantu itu. Karena itu ia meneruskan, “Aku ingin membuktikannya.”
“Apa yang pernah kau
dengar tentang hantu itu?” bertanya gurunya pula.
“Hantu itu suka
mengganggu. Bahkan memiliki sifat-sifat kejam dan bengis. Beberapa orang pernah
menjadi korban,” jawab Mahisa Agni.
“Banyak orang yang mati
oleh hantu itu. Begitu saja?” sela Empu Purwa.
“Tidak. Kadang-kadang
orang yang berani lewat dalam rombongan-rombongan besar menemukan korban-korban
itu dalam keadaan telanjang. Darahnya kering dihisap oleh hantu itu,” sahut
Mahisa Agni.
“Cerita itu memang
mengerikan. Dan apa yang sering terjadi di padang rumput itu pun memang
benar-benar mengerikan. Namun tidak seperti yang kau dengar,” potong gurunya.
“Apakah yang pernah Bapa
guru ketahui tentang hantu itu?” bertanya Mahisa Agni.
“Marilah kita lihat,”
jawab Empu Purwa, “yang aku dengar pun terlalu mengerikan.”
Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar. Meskipun ia tidak takut, namun perasaan yang aneh menjalari
hatinya. Tetapi ketika ia melihat gurunya berjalan dengan tetap dan tenang,
langkahnya pun menjadi tenang pula.
Ketika bintang gubuk
penceng menjadi semakin jelas di ujung langit sebelah selatan, maka sampailah
mereka di padang rumput yang mengerikan itu. Ketika Mahisa Agni menginjakkan
kakinya di atas batu-batu padas dan kemudian menjejakkannya pada rumput-rumput
alang-alang, kembali hatinya berdebar-debar. Ditatapnya dalam kekelaman malam,
gerumbul-gerumbul berserakan. Seonggok demi seonggok, seperti batu-batu besar
yang berserak-serak di dalam telaga yang luas.
Tak sepatah kata pun yang
meloncat dari mulut kedua orang itu. Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni
berjalan di samping gurunya, sedang gurunya tetap berjalan dengan tenang.
Seakan-akan mereka sedang menikmati sinar bulan yang cemerlang.
Ketika seekor kelinci
meloncat dari semak-semak di depan mereka Mahisa Agni terkejut. Kemudian ia
tersenyum sendiri. Dirabanya dadanya yang berdebar-debar.
“Apakah aku sudah menjadi
seorang penakut?” pikirnya.
Tanpa sengaja diingatnya
cerita Ken Dedes yang didengarnya dari kawan-kawannya. Hantu itu mirip seperti
manusia. Gagah tegap. Wajahnya sama sekali tak menakutkan. Bahkan seseorang
pernah melihatnya di bawah sinar obor yang dibawanya. Wajah itu tampan meskipun
kotor. Tetapi sifat-sifatnyalah yang mengerikan. Hantu itu tidak biasa
membiarkan korbannya hidup. Meskipun kadang-kadang ada juga yang tak di
bunuhnya. Dan yang tinggal hidup itulah yang menyebarkan cerita tentang hantu di
padang rumput Karautan. Tak seorang pun yang dapat mengalahkannya, apalagi
menangkapnya. Jagabaya-jagabaya dari pedukuhan di sekitar padang rumput itu pun
telah mencobanya. Bahkan bersama-sama dalam rombongan yang besar. Namun hantu
itu pandai menghilang dengan meninggalkan lima atau enam orang korban.
Mahisa Agni terkejut
ketika tiba-tiba gurunya berhenti. Ia pun segera berhenti pula. Diikutinya arah
pandang mata pendeta tua itu. Dan kemudian perlahan-lahan terdengar Empu Purwa
berkata dengan ramahnya, “Nah Ki Sanak. Aku sudah mengira kalau kau menunggu
kedatanganku.”
Mahisa Agni masih belum
melihat seorang pun. Namun telinganya yang tajam kemudian mendengar pula
gemeresik daun-daun di dalam semak-semak di samping mereka. Dan kemudian
terdengarlah dengus kasar dan sebuah bayangan meloncat dengan cepatnya, seperti
petir yang berlari di langit. Sesaat kemudian bayangan itu telah berdiri di
hadapan mereka.
Dada Mahisa Agni bergetar
cepat sekali. Hantu itu bukan sekedar cerita untuk menakut-nakuti gadis seperti
Ken Dedes saja, namun kini benar-benar telah berdiri di hadapannya. Tiba-tiba
hatinya menjadi berdebar-debar kembali. Apalagi kemudian ketika didengarnya
hantu itu tertawa. Nadanya tinggi seperti memanjat tebing Gunung Kawi menggapai
langit. Karena itu maka terasa telinganya menjadi sakit.
Ketika suara itu kemudian
lenyap, terdengarlah hantu itu berkata, “Kau sudah tahu kalau aku akan
menghadangmu?”
“Hantu itu dapat
berbicara seperti manusia,” pikir Mahisa Agni.
“Ya, Ki Sanak,” terdengar
gurunya menjawab.
“Dan kau sengaja menemui
aku?” bertanya hantu itu pula.
“Ya,” jawab gurunya pula.
“Kau terlalu sombong,”
kembali bantu itu tertawa menyakitkan telinga. Kemudian katanya pula, “Ada
keperluanmu menemui aku?”
“Bisa juga ia diajak
berbicara,” pikir Mahisa Agni.
“Ada,” sahut Empu Purwa,
“sekedar singgah di padang rumputmu ini. Aku sedang menempuh perjalanan pulang
dari Tumapel.”
“Katakan keperluanmu!”
potong hantu itu.
“Jangan tergesa-gesa,”
berkata Empu Purwa dengan tenangnya, “Apakah waktumu terlalu sempit?”
“Aku tidak mau mendengar
ayam jantan berkokok,” jawabnya.
Mahisa Agni berpikir
pula, “Kalau begitu benar kata orang, hantu tidak mau mendengar suara ayam
berkokok.”
Tetapi gurunya menjawab
dengan kata yang mengejutkan hatinya. “Jangan menakut-nakuti aku Ki Sanak. Aku
lebih takut kepada orang daripada kepada hantu.”
Hantu itu menggeram.
Kemudian membentak, “Jawab! Apa keperluanmu!”
“Ada beberapa pertanyaan
untukmu Ki Sanak,” sahut Empu Purwa. Suaranya tetap renyah dan ramah.
Dalam kesempatan itu
Mahisa Agni dapat memandang wajah hantu itu dengan seksama. Benar mirip seperti
manusia. Bahkan ia tidak melihat perbedaannya sama sekali selain rambutnya yang
panjang terurai dengan liarnya berjuntai di atas pundaknya yang bidang. Dalam
keremangan malam, tak dilihatnya apa-apa yang mengerikan pada tubuh hantu itu.
Bahkan ia sependapat dengan kabar yang pernah didengarnya, hantu itu berwajah
tampan.
“Tak ada waktu. Aku akan
membunuh kalian dan minum darah kalian,” teriak hantu itu.
Bulu kuduk Mahisa Agni
serentak berdiri. Ngeri juga ia mendengar kata-kata itu. Meskipun ia tidak takut
mati, namun mati dibunuh hantu sama sekali belum pernah terlintas di dalam
benaknya. Apalagi kemudian darahnya akan diminumnya pula.
“Darahku tidak sesegar
air degan Ki Sanak,” jawab Empu Agni dengan tenang, “Apakah kau selalu haus?”
“Jangan berbicara lagi!
Berjongkok dan aku hisap tengkukmu sampai kau mati,” hantu itu berteriak semakin
keras.
Adalah di luar dugaan
Mahisa Agni kalau tiba-tiba Empu Purwa menjawab, “Kalau demikian kehendakmu, apa
boleh buat.”
Kemudian kepada Mahisa
Agni gurunya itu berkata, “Agni adalah sudah menjadi kebiasaan hantu-hantu
penghisap darah, menghisap korbannya lewat luka di tengkuknya yang ditimbulkan
oleh gigi-gigi hantu itu. Kalau hantu ini akan menggigit tengkukku dan kemudian
menghisap darahku aku tak akan melawannya. Karena itu lihatlah dengan seksama,
bagaimana caranya melubangi tengkukku.”
Empu Purwa tidak menunggu
jawaban. Segera ia berlutut di hadapan hantu itu sambil menundukkan kepalanya.
Sesaat Mahisa Agni
menjadi bingung. Apa yang dilakukan gurunya itu sama sekali tidak masuk di
akalnya. Tetapi tidak saja Mahisa Agni yang menjadi bingung. Hantu itu pun
tiba-tiba menjadi bingung pula. Ketika ia melihat orang tua itu berlutut di
mukanya, maka segera ia bergeser surut.
“Apa yang akan kau
lakukan?” bentaknya.
“Memenuhi perintahmu.
Berjongkok dan kau akan menghisap darahku,” jawab Empu Purwa.
Kembali hantu itu menjadi
bingung. Matanya tiba-tiba bertambah liar. Kemudian katanya berteriak, “Bagus.
Kau juga anak muda. Berjongkoklah dan tundukkan kepalamu.”
“Biarlah ia hidup,”
potong Empu Purwa, “Biarlah ia menjadi saksi, bahwa hantu di padang rumput
Karautan telah melubangi tengkukku dengan giginya, kemudian minum darahku dari
lubang itu pula.”
Terdengarlah gigi hantu
itu gemeretak. Ia telah benar-benar menjadi marah. Kemudian katanya, “Tidak
peduli apa yang kau ketahui tentang diriku. Sebab sesaat lagi kau berdua akan
mati di padang rumput ini.”
Bersamaan dengan
kata-katanya itu, tiba-tiba Mahisa Agni melihat benda yang berkilat-kilat di
tangan hantu itu, yang ditariknya dari pinggangnya.
“Pisau?” desis hatinya,
“Adakah hantu memerlukan sebuah pisau untuk membunuh seseorang? Bukankah gurunya
berkata kalau hantu melubangi tengkuk korbannya dengan giginya?”
Otak Mahisa Agni adalah
otak yang cerah. Karena itu segera ia tanggap atas sasmita gurunya. Demikian ia
melihat hantu itu mengayunkan pisaunya, segera ia meloncat menyerang secepat
tatit.
Hantu itu terkejut
melihat serangan Mahisa Agni yang demikian cepat dan dahsyat. Karena itu ia
tidak sempat menancapkan pisau itu di tengkuk orang tua yang berjongkok di
hadapannya. Beberapa langkah ia meloncat mundur. Dengan merendahkan diri hantu
itu berhasil membebaskan diri dari serangan Mahisa Agni. Bahkan segera hantu itu
pun telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.
Mahisa Agni tidak mau
membuang waktu lagi. Demikian serangannya yang pertama gagal, segera ia
mempersiapkan diri untuk mengulangi serangannya pula. Namun sebelum ia meloncat
maju, hantu itu telah menyerangnya pula. Serangannya cepat dan berbahaya. Bahkan
terasa betapa kuat tenaganya. Satu kakinya terjulur ke depan, sedang kedua
tangannya seperti akan menerkamnya.
Untunglah bahwa Mahisa
Agni itu murid Empu Purwa. Apa yang telah dipelajari dan didalaminya sampai
kini, benar-benar merupakan bekal yang cukup baginya. Karena itu, ketika
serangan hantu itu tiba, Mahisa Agni segera menghindar dengan cepatnya. Menarik
satu kakinya ke belakang dan mencondongkan tubuhnya. Hantu itu seperti terbang
beberapa cengkang di hadapannya. Dengan cepatnya Mahisa Agni mempergunakan
kesempatan itu. Tangan kirinya segera terayun deras sekali ke arah tengkuk
lawannya. Terasa pukulannya mengena. Mahisa Agni mempergunakan sebagian besar
tenaganya. Maka lawannya segera terdorong ke depan dan jatuh tersungkur di
tanah. Namun benar-benar mengherankan. Segera tubuh itu berguling-guling untuk
kemudian melenting bangun. Sesaat kemudian hantu itu telah berdiri tegak di atas
kedua kakinya. Bahkan segera pula ia melontar maju dengan tangan dan jari-jari
yang mengembang seperti hendak meremas muka Mahisa Agni.
Mahisa Agni adalah anak
muda yang cukup terlatih. Pengetahuannya tentang tata bela diri cukup baik.
Bahkan beberapa pengetahuan dari perguruan lain pun banyak diketahuinya pula.
Tetapi ia belum pernah menyaksikan cara bertempur seperti yang dilakukan hantu
ini. Cepat, kuat, namun kasarnya bukan main. Bahkan seakan-akan hantu itu
bertempur tanpa aturan apapun yang mengikatnya. Ia menyerang dan melawan dengan
cara yang tak berketentuan. Tetapi satu kenyataan, pukulannya yang tepat
mengenai tengkuk hantu itu seakan-akan tak berbekas. Kulit hantu itu benar-benar
seperti berlapis batu. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera menjadi cemas.
Pikirnya, “Asal Aku dapat merabanya seperti kulit daging manusia biasa.”
Memang Mahisa Agni pernah
mendengar cerita, bahwa tubuh hantu tak akan dapat disentuh tangan. Tetapi kali
ini ia telah dapat menyentuh dan merasakan sentuhan itu. Bahkan hantu itu pun
jatuh tersungkur terdorong oleh tenaganya. Karena itu hatinya menjadi semakin
besar. Dan sejalan dengan itu, ia bertempur semakin sengit.
Hantu itu masih bertempur
dengan kasarnya. Seperti angin pusaran ia membelit kemudian menghantam dari
segala arah. Kadang-kadang pukulannya sama sekali tak terarah, demikian saja
meluncur dengan derasnya seperti batu meluncur dari tangan.
Mahisa Agni terpaksa
harus menyesuaikan dirinya. Dengan tangkasnya ia meloncat, menghindar dan
menyerang. Dicarinya celah-celah dari gerakan-gerakan yang sama sekali tak
teratur itu.
Sebenarnya Mahisa Agni
banyak mempunyai kesempatan. Kalau saja ia tidak sedang bertempur dengan hantu
dari padang rumput Karautan, maka pukulannya yang pertama pasti telah
meruntuhkan lawannya yang sama sekali tidak memiliki ilmu tata bela diri itu.
Namun sekali hantu itu jatuh tersungkur sekali ia meloncat bangkit, sepuluh kali
ia terguling di tanah, sepuluh kali ia melenting berdiri. Semakin lama Mahisa
Agni menjadi semakin heran. Ia telah hampir mengerahkan segenap tenaganya. Namun
hantu itu masih saja melayaninya dengan caranya yang khusus.
Mula-mula anggapannya
tentang hantu itu telah hampir larut, sejak ia melihat pisau di tangan lawannya
itu. Tetapi kenyataan yang dihadapinya telah menimbulkan keraguan pula.
“Aneh,” pikirnya, “aku
tidak mengharap bahwa pada suatu kali aku akan bertempur melawan hantu
berpisau.”
Empu Purwa sudah tidak
berjongkok lagi. Ia berdiri tegak mengawasi muridnya yang lagi bertempur. Ia
melihat betapa Mahisa Agni dengan lancar mempergunakan ilmu yang telah
diturunkannya kepada anak muda itu. Cepat, lincah dan tangguh. Kadang-kadang
muridnya itu seperti terbang melingkar-lingkar, tetapi kadang-kadang seperti
batu karang yang tegak tertanam di pasir pantai. Sekali-kali orang tua itu
mengangguk-anggukkan kepalanya, namun sekali-kali tampak ia mengerutkan
keningnya. Lawan muridnya itu benar-benar aneh. Ia melihat dengan pasti, tangan
muridnya telah menyentuh tubuh lawannya, namun lawannya itu benar-benar seperti
kebal, kalis dari segala macam bahaya yang menimpanya.
Mahisa Agni masih
bertempur dengan sengitnya. Kini ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Bahkan
segala macam ilmu yang dimilikinya telah ditumpahkannya untuk melawan hantu yang
tidak pandai dalam ilmu tata bela diri, namun tak dapat dijatuhkannya itu.
Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin kabur. Hantu padang rumput itu
menyerang membabi buta. Semakin lama semakin kasar. Ia meloncat-loncat maju dan
menerjang dengan kaki, tangan dan pisaunya. Sekali-kali ia terpental surut oleh
pukulan lawannya dan jatuh terjerembab, namun sesaat kemudian ia telah maju
pula.
Bukan saja Mahisa Agni
yang menjadi bingung, bagaimana menyelesaikan pertempuran itu, bahkan Empu Purwa
pun beberapa kali menarik nafas dalam-dalam. Muridnya memiliki tenaga yang kuat
seperti seekor banteng. Namun tenaga muridnya itu seakan-akan tak berarti.
Tiba-tiba Empu Purwa
mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang. Matanya yang lunak bening
menjadi seakan-akan menyala. Dan dadanya bergetar seperti gempa.
Empu Purwa yang tua itu
melihat bayangan cahaya yang kemerah-merahan di atas kepala hantu padang
Karautan itu. Samar-samar, namun jelas baginya. Jelas bagi orang setua pendeta
itu. pendeta yang telah masak dalam berbagai ilmu lahir batin, yang kasatmata
dan tidak kasatmata. Namun pendeta itu yakin bahwa muridnya pasti tak dapat
melihatnya. Karena itu Empu Purwa menjadi gelisah. Sekali-sekali ia menarik
nafas panjang.
Malam yang kelam, semakin
lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin mengalir perlahan-lahan membelai
batang-batang rumput di padang Karautan. Meskipun demikian betapa panas hati
Mahisa Agni, dan betapa panas pula hati lawannya. Sebenarnyalah bahwa lawannya
itu pun menjadi marah sekali. Tak pernah ia menemukan lawan setangguh Mahisa
Agni. Karena itu segera dikerahkannya segenap kekuatannya. Dengan menggeram ia
menyerang sejadi-jadinya. Dan kemarahannya itulah yang telah menyalakan warna
semburat merah di ubun-ubunnya.
Dengan demikian
perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Gerak Mahisa Agni menjadi semakin cepat
dan kuat, sedang lawannya menjadi semakin keras dan kasar.
Empu Purwa melihat
bayangan warna merah itu dengan cemas. Ia masih memerlukan beberapa saat untuk
meyakinkannya. Dan akhirnya sekali lagi pendeta tua itu menarik nafas
dalam-dalam. Dari mulutnya terdengar ia berdesis, “Brahma. Hem, aneh. Kenapa
Dewa Brahma membiarkan anak itu menjadi hantu di padang rumput ini? Tidak adakah
pekerjaan yang lebih baik daripada menyamun, membunuh dan memerkosa?”
Kembali ia memandangi
warna merah di ubun-ubun lawan muridnya. Warna itu masih ada. Bahkan semakin
jelas baginya.
“Menurut pendengaranku,
beberapa orang menyatakan bahwa warna itu adalah ciri keturunan Brahma,”
sambungnya.
Tiba-tiba pendeta tua
teringat pada pusakanya. Sebuah trisula. Amat kecil dan berwarna kuning.
Didapatnya trisula itu dari almarhum gurunya. Turun temurun dari guru ke murid.
Dan trisula itu pun kelak akan diserahkannya kepada Mahisa Agni. Menurut cerita
gurunya, trisula itu pertama-tama turun ke bumi sebagai sinar yang membelah
langit, kemudian seperti guruh meledak di lereng Gunung Semeru.
Yang pertama-tama
menemukan trisula itu adalah Empu Wikan. Seorang Empu Sakti yang bertapa di kaki
bukit Semeru. Ketika Empu Wikan mendengar guruh meledak di malam hening, maka
timbullah kecurigaan di dalam hatinya. Maka dengan hati yang berdebar-debar
dipanjatnya tebing Gunung Semeru. Dari kejauhan ia masih melihat sinar yang
memancar tegak sebesar lidi jantan menusuk langit. Ketika ia mendekati sinar itu
terasa betapa panasnya, sehingga Empu sakti itu pun harus bersemadi. Dalam
semadinya terdengar suara gemuruh di atas kepalanya.
Berkata suara itu, “Empu
Wikan yang bijaksana, yang dijauhi oleh segala bencana di sekitarnya. Apabila
sinar itu nanti lenyap, datanglah ke titik tegaknya di bumi. Kau akan menemukan
sebuah trisula sebagai tanda kebesaran Siwa. Aku hadiahkan trisula itu kepadamu
sebagai tanda kebesaran namamu. Simpanlah pusaka itu dan serahkanlah turun
temurun kepada murid-murid terkasih. Tetapi ingat Empu Wikan, pusaka itu sama
sekali bukan alat pembunuh. Tetapi ia akan dapat mempengaruhi hati musuh yang
bagaimanapun saktinya.”
Kenangan Empu Purwa pecah
ketika lawan muridnya jatuh hampir menimpanya. Sekali terguling, namun sesaat
kemudian telah tegak kembali dan dengan garangnya menerkam muridnya seperti
seekor serigala lapar menerkam kambing. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seekor
kambing. Dengan merendahkan diri, diangkatnya kaki kanannya langsung menghantam
perut lawannya. Sekali lagi lawannya terpental dan terbanting. Namun sekali lagi
hantu padang rumput itu meloncat bangkit. Telah berpuluh kali ia terjatuh, namun
ia masih segar, sesegar mula-mula mereka bertemu.
Akhirnya Empu Purwa
kasihan juga melihat muridnya. Tandangnya sudah mulai susut. Peluh telah
membalut seluruh tubuhnya dilekati debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki-kaki
mereka yang bergulat antara hidup dan mati itu.
“Agni, kau tak akan mampu
mengalahkannya,” pikir pendeta tua itu. Karena itu, maka segera ia harus
menolongnya. Membebaskan muridnya dari libatan lawannya yang keras dan kasar.
Tetapi ia tidak dapat
menghilangkan pengaruh warna merah di kepala lawan muridnya itu dari
angan-angannya.
Sekali lagi ia
menimbang-nimbang. Hantu padang rumput itu adakah kekasih Brahma, sedang pusaka
di tangannya adalah hadiah Siwa. Karena itu maka perlahan-lahan ia maju
mendekati titik pertempuran.
Lawan muridnya itu,
ketika melihat Empu Purwa mendekati mereka, berkata dengan parau, “Ayo, kau yang
tua sekali. Majulah bersama-sama. Selama kau masih belum mampu menangkap angin,
selama itu kau jangan mengharap lepas dari padang rumput ini.”
“Agni,” berkata Empu
Purwa tanpa menjawab kata-kata hantu itu, “Lepaskan lawanmu!”
Mahisa Agni heran
mendengar tegur gurunya. Selama ini apabila gurunya melepasnya bertempur, tak
pernah ditariknya kembali sebelum tubuhnya menjadi lemas atau bahaya maut telah
hampir menelannya. Meskipun ia merasa tenaganya telah surut, namun hantu itu pun
tak mampu menyentuhnya. Karena itu ia merasakan suatu keanehan pada gurunya kali
ini. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak berani menolak perintah itu. Dengan
satu loncatan panjang ia melepaskan lawannya.
“Jangan lari!” terdengar
kembali suara hantu itu. Suara parau dan kasar.
“Tak ada gunanya ia
meneruskan.”
“Tidak!” jawab Agni, “Aku
tak akan lari.”
“Ia tak akan lari,” sahut
Empu Purwa, “tetapi ia tak akan melawanmu dengan cara demikian.”
“Cara apapun yang akan
dipergunakannya. Mari maju bersama-sama,” potong hantu itu.
“Tidak,” jawab Empu
Purwa, “Aku sudah terlalu tua. Tetapi aku ingin berlaku adil.”
“Kenapa?” sahut lawan
Agni.
“Kau mempergunakan
senjata,” jawab pendeta tua itu.
“Pakailah senjata!”
teriak hantu padang Karautan itu.
“Aku akan memberinya
senjata,” sahut Empu Purwa.
“Jangan banyak bicara.
Berikan sekarang. Kemudian aku akan segera membunuhnya,” lagi-lagi hantu itu
berteriak.
Perlahan-lahan Empu Purwa
menarik trisula dari dalam sarung kecilnya, berwarna kuning berkilauan.
“Agni,” katanya,
“pergunakan trisula ini. Tetapi ingat, jangan kau tusukkan ke tubuhnya.
Pengaruhi saja perasaannya dengan senjata itu.”
“Gila!” potong lawan
Agni, “Kau berkata demikian sengaja supaya aku mendengarnya. Tusukkan ke
tubuhku. Aku tak akan mati.”
Tetapi tiba-tiba suara
terhenti. trisula itu di mata hantu seakan-akan cahaya yang menyilaukan matanya.
Karena itu ia berteriak,
“Kalian curang. Sekarang kalian yang tidak berlaku adil. Kalian bertempur dengan
alat untuk menyilaukan mataku.”
Empu Purwa menarik nafas.
Ia sendiri tidak tahu, kenapa lawan muridnya itu menjadi silau, sedang muridnya
sendiri tidak. Demikianlah agaknya khasiat trisula itu meskipun kali ini harus
berhadapan dengan kekasih Brahma.
Maka terdengar jawaban
pendeta tua itu, “Senjata itu sama sekali tak menyilaukan mataku dan mata
anakku. Kenapa kau menjadi silau?”
“Senjata itu agaknya kau
peroleh dari setan-setan yang mempunyai daya seperti tenung,” bantah lawan Agni
dengan kasarnya, “sekarang kau akan menenungku.”
“Seandainya senjata itu
aku terima dari setan-setan, bukankah hantu dapat melawan setan-setan. Sebab
hantu dan setan mempunyai persamaan tabiat. Keduanya tidak mau mendengar ayam
jantan berkokok,” sahut Empu Purwa.
Hantu padang rumput itu
menggeram keras sekali. Ia tidak mau berbicara lagi, dengan satu loncatan
panjang ia menyerang Empu Purwa. Meskipun serangan itu datangnya tiba-tiba
sekali, namun Empu Purwa dengan cepat dapat menghindarkan dirinya. ia adalah
seorang pendeta yang mumpuni. Meskipun tak ada hasratnya untuk berkelahi, namun
adalah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya.
Mahisa Agni pun tidak
tinggal diam. Segera ia meloncat menyerang hantu padang rumput. Dan kembali
terjadi perkelahian yang sengit antara hantu berpisau dan Mahisa Agni dengan
trisula di tangan. Meskipun demikian Mahisa Agni sama sekali tidak tahu apakah
gunanya senjata itu apabila sama sekali tidak boleh ditusukkan ke tubuh
lawannya. Namun ia tidak berani melanggar pantangan itu.
Karena itu dipegangnya
trisula itu dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya dengan tangkas
menangkis setiap serangan dan bahkan beberapa kali untuk menyerang lawannya.
Dengan trisula di tangan kiri itu sebenarnya gerak Mahisa Agni justru terganggu.
Tetapi terasa suatu keanehan terjadi atas lawannya itu. Tiba-tiba ia tidak
segarang semula. Berkali-kali lawannya terpaksa meloncat menjauhi dan
kadang-kadang tangannya terpaksa melindungi matanya. Mahisa Agni menjadi heran.
Agaknya lawannya itu benar-benar menjadi silau.
“Inilah khasiat trisula
ini,” pikir Mahisa Agni. Dengan demikian ia dapat mempergunakan kesempatan
sebaik-baiknya. Digerakkannya trisula itu melingkar-lingkar seperti kemamang
yang menari-nari di udara. Dan lawannya menjadi semakin terdesak. Dengan
demikian Mahisa Agni dapat mengenainya lebih banyak, dan betapapun keras kulit
hantu itu namun lambat laun terasa juga nyeri-nyeri di kulit dagingnya. Tenaga
Mahisa Agni benar-benar sekuat raksasa. Pada umurnya menjelang seperempat abad
itu, Mahisa Agni benar-benar merupakan seorang pemuda yang pilih tanding.
Akhirnya terasa bahwa
tandang lawannya menjadi semakin susut meskipun tenaga Agni sendiri seakan-akan
telah terperas habis. Berkali-kali hantu itu meloncat surut dan mundur. Semakin
lama semakin jauh. Hingga akhirnya hantu itu berteriak, “Kalau kau jantan
lepaskan trisula itu. Aku juga akan melepaskan pisauku.”
“Pisaumu itu tak berarti
apa-apa,” sahut Empu Purwa, “Tetapi kau memiliki tanda-tanda yang aneh di atas
kepalamu.”
“Jangan mencari-cari.
Pertimbangkan tantanganku,” jawabnya.
Sekali lagi Empu Purwa
mendekati mereka. Katanya dengan nada penuh kedamaian, “Berhentilah berkelahi.”
“Kalian menyerah?” jawab
lawan Agni.
Mahisa Agnilah yang
menyahut, “Tidak!”
Kembali terdengar suara
Empu Purwa, “Berhentilah berkelahi.! Dengarkan kata-kataku!”
Suaranya seakan-akan
mengandung suatu wibawa yang agung. Mahisa Agni adalah muridnya sehingga ia sama
sekali tak dapat berbuat lain daripada menghentikan perkelahian. Tetapi tidak
saja Mahisa Agni yang terpengaruh oleh kata-kata itu, bahkan lawannya pun
tiba-tiba meloncat mundur. Sehingga dengan demikian, pertempuran pun menjadi
terhenti karenanya.
Empu Purwa melangkah
semakin dekat di antara kedua lawan itu. Katanya kemudian, “Ki Sanak, kau
memiliki tanda-tanda yang khusus pada dirimu. Karena itu aku dapat mengenalmu.”
“Kau kenal aku?” sahut
hantu itu.
“Ya.” jawab Empu Purwa.
“Aku adalah penjaga
padang rumput ini. Sato mara satu mati, jalma mara jalma mati. Aku lubangi
tengkuknya dan aku hisap darahnya.”
“Tetapi beberapa orang
menemukan korbanmu tanpa mengenakan pakaiannya. Tanpa ikat pinggang, tanpa uang
dan perhiasan,” potong Empu Purwa.
Hantu itu menggeram.
Tetapi sebelum ia menjawab Empu Purwa telah meneruskan kata-katanya, “Jangan
menyembunyikannya dirimu. Kau adalah kekasih dewa-dewa.”
Tampak lawan Mahisa Agni
itu mengerutkan keningnya.
“Siapakah namamu Ki
Sanak?” desak Empu Purwa.
“Hantu tidak pernah punya
nama ,” jawabnya.
“Siapakah namamu Ki
Sanak?” ulang Empu Purwa.
“Aku tak punya nama!”
teriaknya keras-keras, sehingga suaranya menggema di seluruh padang rumput
Karautan.
Tetapi kembali terdengar
suara Empu Purwa tenang perlahan-lahan, namun pasti, “Siapakah namamu Ki Sanak?”
Hantu yang menakutkan
setiap orang itu tiba-tiba menundukkan kepalanya. Rambutnya yang liar berjuntai
di atas bahunya. Angin yang lembut mengalir perlahan-lahan menggerakkan
ujung-ujung rambut yang terurai lepas sebebas rumput alang-alang di padang
rumput itu.
Tanpa diduga oleh Mahisa
Agni tiba-tiba terdengar mulut hantu itu menjawab, “Namaku Ken Arok.”
Mahisa Agni terkejut
mendengar nama itu. Tidak saja Mahisa Agni, tetapi yang menyebutkan nama itu pun
terkejut pula. Dengan lantangnya ia berteriak, “Jangan ulangi namaku! Dan untuk
seterusnya kau tak akan sempat menyebut namaku. Sebab kalian berdua akan kubunuh
malam ini, agar Ken Arok tetap tak dikenal orang,”
Tiba-tiba Mahisa Agni
bersiap kembali. Nama Ken Arok adalah nama yang menakutkan. Tak ada bedanya
dengan hantu di padang rumput Karautan, yang ternyata adalah Ken Arok itu
sendiri.
“Kau adalah orang
buruan,” berkata Agni dengan lantang, “selagi kau bernama hantu pun aku tidak
takut. Apalagi ternyata kau adalah manusia terkutuk. Bersiaplah, kita bertempur
sampai hayat kita menentukan, siapakah di antara kita yang akan berhasil keluar
dari padang rumput ini.”
“Bagus!” teriak hantu
yang ternyata bernama Ken Arok itu.
“Berpuluh, bahkan beratus
orang yang telah aku bunuh. Apa artinya kalian berdua?”
Sesaat kemudian Ken Arok
dan Mahisa Agni telah siap untuk bertempur kembali, namun segera Empu Purwa
berkata, “Perkelahian di antara kalian tak ada gunanya. Sebab perkelahian itu
tak akan sampai pada ujungnya. Ken Arok memiliki kelebihan dari manusia biasa,
sedang Agni membawa pusaka yang tak ada duanya di dunia ini.”
“Aku akan melayaninya,
Bapa,” sahut Agni, “sehari, dua hari bahkan selapan pun aku tak akan
meninggalkannya.”
“Sebelum ayam jantan
berkokok kau sudah mati,” potong Ken Arok.
“Tak ada artinya, Agni,”
berkata Empu Purwa.
Kemudian kepada Ken Arok,
pendeta tua itu berkata, “Arok, apakah kau dapat berkelahi dengan mata yang
silau? Bagai manakah kalau trisula itu berada di tanganku, kemudian Agni
memukulmu semalam suntuk? Kau tak akan dapat membalasnya, sebab aku akan
menggerakkan trisula itu di tentang matamu.”
“Curang!” teriak Ken Arok
dengan marah.
“Kau juga curang ,”
bantah Empu Purwa.
“Kenapa? Hanya karena aku
memegang pisau ini? Baiklah. Kalau demikian pisauku akan aku buang. Kita
bertempur tanpa senjata.”
“Bukan,” sahut Empu
Purwa, “Bukan karena senjatamu. Tetapi kenapa kau seolah-olah menjadi kebal?”
Ken Arok mengerutkan
keningnya. Pertanyaan itu benar-benar aneh. Akhirnya ia menjawab, “Bukan
kehendakku. Sejak aku sadar tentang diriku, aku telah menjadi kebal.
Dewa-dewalah yang membuat aku demikian. Bertanyalah kepada Dewa-dewa. Kalau itu
kau anggap kecurangan, Dewalah yang membekali aku dengan kecurangan itu.”
“Bagus. Dewa pulalah yang
memberi aku trisula itu,” sahut Empu Purwa, “Adakah itu juga suatu kecurangan?”
Ken Arok menggeram.
Tetapi ia tidak menjawab. Wajahnya menjadi tegang dan tangannya yang memegang
pisau menjadi gemetar. Tetapi sesaat kemudian terdengar suara Empu Purwa lunak,
“Kemarilah. Duduklah.”
Ken Arok dan Mahisa Agni
sama sekali tidak tahu maksud pendeta tua itu. Karena itu untuk sesaat mereka
berdiri mematung. Sehingga orang tua itu mengulangi kata-katanya, “Mahisa Agni
dan Ken Arok. Kemarilah! Duduklah!”
Meskipun masih diliputi
oleh keragu-raguan, namun Mahisa Agni kemudian duduk di samping gurunya. Ken
Arok masih tegak seperti tonggak.
“Kemarilah Arok,” panggil
Empu Purwa dengan ramahnya.
Seperti orang yang
kehilangan kesadaran Ken Arok melangkah dua langkah maju. Kemudian menjatuhkan
dirinya di samping pendeta tua itu.
“Arok,” kata pendeta tua
itu, “seharusnya kau sadar dirimu. Siapakah engkau dan apakah yang akan terjadi
atas dirimu. Kau memiliki beberapa kelebihan dari orang lain Tetapi kelebihan
itu telah kau salah gunakan.”
Ken Arok tidak segera
menjawab. Ditatapnya mata orang tua itu. Di dalam malam yang gelap, mata itu
seakan-akan memancarkan cahaya yang putih bening.
“Ken Arok. Apabila kau
sedang berbaring menjelang tidur, tidakkah kau pernah menghitung berapa orang
yang telah menjadi korbanmu? Tidakkah kau pernah membayangkan, bahwa orang yang
menggeletak mati di padang rumput Karautan ini, atau di tempat-tempat lain yang
pernah kau diami, tidak saja menimbulkan kengerian pada saat-saat matinya,
tetapi peristiwa itu juga akan meninggalkan goresan yang dalam bagi keluarganya?
Bagi anak-anak dan istri mereka yang menunggunya di rumah? Tidakkah kau pernah
membayangkan bahwa seorang laki-laki pergi merantau untuk mendapatkan sesuap
nasi. Tetapi di jalan pulang laki-laki itu bertemu dengan seorang anak muda yang
bernama Ken Arok. Di rumah anak-anaknya yang lapar menunggunya. Tetapi laki-laki
itu tak akan pernah pulang.”
Ken Arok belum pernah
mendengar seorang pun berkata demikian kepadanya. Kawan-kawannya pada masa
kanak-kanaknya, ayah angkatnya yang bernama Lembong, Bango Samparan dan
orang-orang yang pernah datang pergi dalam perjalanan hidupnya. yang dikenalnya
hanyalah daerah-daerah yang gelap. Judi, tuak, perempuan dan segala macam
kejahatan. Sekali dua kali hidupnya terdampar juga ke rumah-rumah yang wajar.
Namun tak sempat didengarnya nasihat dan petuah-petuah. Karena itu, maka
kata-kata Empu Purwa itu mula-mula asing baginya. Tetapi kalimat-kalimat itu
seperti embun yang menetes dari langit. Perlahan-lahan daun-daun rumput yang
kering menjadi basah pula. Demikianlah kata-kata asing itu di hati Ken Arok.
Meskipun ia belum mengenal seluruhnya, namun terasa bahwa ada dunia lain
daripada dunianya yang gelap.
“Ken Arok,” kembali
terdengar suara Empu Purwa, “Kau masih muda. Masa depanmu masih panjang.”
Tiba-tiba Ken Arok
menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan diamatinya tangannya. Tangan yang kotor,
karena darah dan air mata. Dan kini tangan itu menjadi gemetar.
“Tak ada jalan lain yang
dapat aku tempuh,” terdengar suaranya parau. Tetapi tidak sekeras semula.
“Banyak,” sahut Empu
Purwa.
“Aku telah asing dari
hidup manusia wajar. Semua orang menjauhi aku,” katanya.
“Mereka takut kepadamu.
Kepada perbuatan-perbuatanmu,” jawab Empu Purwa.
Ken Arok menggeleng.
Matanya menjadi sayu. Katanya, “Tidak. Sejak aku lahir di luar kehendakku. Aku
adalah anak panas. Ayahku mati ketika ibuku diceraikannya. Dan orang menyalahkan
aku. Kemudian menurut kata orang, pada masa aku masih bayi merah, aku dibuang di
perkuburan. Aku dipelihara oleh Bapak Lembong. Seorang pencuri. Salahkah aku
kalau aku kemudian mengikuti cara hidupnya?”
“Tidak,” sahut Empu
Purwa, “Kau tidak bersalah. Tetapi kau akan lebih berbahagia kalau kau dapat
menempuh cara hidup yang lain.”
Ken Arok memandang wajah
pendeta tua itu dengan seksama. Kesan wajahnya telah berubah sama sekali dari
semula. Matanya kini sudah tidak liar dan ganas. Bahkan kini menjadi suram.
Sekali lagi ia
menggeleng, “Aku tidak tahu apakah masih ada cara hidup yang lain yang dapat aku
jalani. Aku telah dijauhi oleh sanak kadang.”
“Jangan risau,” sahut
Empu Purwa, “meskipun kau dijauhi oleh sanak kadang dan handai tolan, namun
apabila kau tundukkan kepalamu dan bersujud kepadanya, maka adalah sahabat
manusia yang jauh lebih berharga dari sanak kadang, handai dan tolan.”
“Siapakah dia? bertanya
Ken Arok.
“Yang Maha Agung,” jawab
Empu Purwa. Perlahan-lahan namun langsung menusuk kalbu Ken Arok. Mahisa Agni
telah sering mendengar gurunya berkata demikian kepadanya. Berkata tentang yang
Maha Kuasa yang menciptakan langit dan bumi, kemudian memeliharanya dan kelak
akan datang masanya langit dan bumi akan dihancurkannya.
Tetapi Ken Arok belum
pernah mendengar sebutan itu. Karena itu ia masih berdiam diri menunggu
penjelasan.
“Ken Arok,” Empu Purwa
melanjutkan, “meskipun kau hidup sendiri di dunia ini, namun kau akan berbahagia
kalau yang Maha Agung itu tidak meninggalkanmu.”
Ken Arok masih berdiam
diri. Kata-kata pendeta tua itu belum begitu jelas baginya. Ia sama sekali tidak
kenal kepada Yang Maha Agung itu.
Tetapi dalam kesibukan
berpikir, tiba-tiba Ken Arok teringat pada pengalamannya. Ketika ia
dikejar-kejar oleh orang Kemundungan. Ketika ia sudah tidak tahu apa yang harus
dilakukan. Maka memanjatlah ia ke atas pada sebatang pohon tal. Tetapi
orang-orang yang mengejarnya memotong batangnya. Pada saat itu, pada saat ia
telah kehilangan akal, maka terdengarlah suara dari langit, “Ken Arok, potonglah
dua helai daun tal. Pakailah sebagai sayap. Dan kau akan dapat terbang melintasi
sungai di bawah pohon tal itu.”
Kemudian ketika
dipotongnya dua pelepah daun tal, serta dinaiknya, maka seakan-akan ia terbang
melintasi sungai.
Maka tiba-tiba
melontarlah pertanyaan menusuk benaknya, “Suara apakah yang telah
menyelamatkannya itu?”
Suara itu telah lama
dilupakannya. Bahkan dianggapnya tidak pernah ada. Tetapi suara itu kini
terngiang kembali. Jelas, seperti baru saja diucapkan. Akhirnya sampailah ia
pada kesimpulan. Itulah suara Yang Maha Agung.
Ken Arok terkejut sendiri
pada kesimpulan yang ditemukannya. Bersamaan dengan itu, terbayanglah di matanya
peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Perampokan, pembunuhan, perkosaan
dan segala jenis kejahatan. Tiba-tiba Ken Arok menjadi takut. Takut kepada
penemuannya. Pada kesimpulan yang didapatnya. Kalau benar Yang Maha Agung itu
ada, maka akan diketahuinya semua perbuatannya.
Ken Arok menjadi gemetar
seperti orang kedinginan, wajahnya menjadi pucat. Dan dengan suara yang bergetar
Ken Arok bertanya meyakinkan, “Adakah Yang Maha Agung itu kenal kepadaku?”
“Ya,” sahut Empu Purwa,
“Yang Maha Agung itu kenal kepadamu, kepadaku, kepada Agni dan kepada semua
manusia di dunia ini seperti seorang bapa mengenal anak-anaknya.”
“Tahukah Yang Maha Agung
itu atas apa yang pernah dan sedang aku lakukan?” bertanya Ken Arok pula.
“Pasti,” jawab Empu
Purwa.
Mendengar jawaban itu Ken
Arok menjadi menggigil karenanya. Keringat dingin mengalir di seluruh wajah
kulitnya.
Tiba-tiba Mahisa Agni
menjadi terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok itu meloncat berdiri. Terdengarlah ia
berteriak, “Bohong! Bohong! Kau akan menakut-nakuti aku?”
Tanpa sesadarnya Mahisa
Agni pun meloncat berdiri Dengan ke-siagaan penuh ia mengawasi Ken Arok yang
berdiri tegang di muka gurunya. Matanya yang sayu suram, kini menjadi liar
kembali. Dengan ujung pisaunya ia menunjuk ke wajah Empu Purwa yang masih duduk
dengan tenangnya. Katanya, “Kau ingin melawan aku dengan cara pengecut itu?
Berdirilah bersama-sama. Kita bertempur sampai binasa.”
Mahisa Agni telah
bersiap. Ia akan dapat menyerang Ken Arok dengan satu loncatan. Tetapi ketika
hampir saja ia meloncat menyerang, sekali lagi ia terkejut. Dilihatnya Ken Arok
itu meloncat mundur dan tiba-tiba hantu padang rumput Karautan itu memutar
tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya seperti kuda lepas dari ikatannya.
Sesaat Agni diam mematung. Namun kemudian ia pun meloncat mengejar hantu yang
mengerikan itu. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena suara gurunya,
“Agni! Biarkan ia lari. Kemarilah!”
Sekali lagi Agni tidak
dapat memahami tindakan gurunya. Ken Arok adalah orang buruan yang berbahaya.
Apakah orang itu akan dilepaskannya? Tetapi Mahisa Agni berhenti juga. Dengan
wajah yang tegang karena pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dadanya ia
berjalan tergesa-gesa mendekati gurunya.
“Bapa,” katanya
terbata-bata, “kenapa orang itu kita biarkan pergi?”
Empu Purwa menarik nafas.
Perlahan-lahan orang tua itu berdiri.
“Marilah kita lanjutkan
perjalanan kita,” berkata orang tua itu. Seakan-akan ia tak mendengar pertanyaan
muridnya, bahkan katanya kemudian, “Kita tidak akan sampai tengah malam nanti.”
Karena pertanyaannya
tidak dijawab, Agni menjadi semakin tidak puas. Tetapi ia diam saja. Ia pun
kemudian berjalan di samping gurunya. Sekali-kali matanya dilemparkannya jauh ke
belakang tabir kelamnya malam. Hantu padang rumput Karautan telah hilang
seakan-akan ditelan oleh raksasa hitam yang maha besar. Meskipun demikian Mahisa
Agni tidak bertanya-tanya lagi.
Bintang gemintang di
langit masih bercahaya gemerlapan. Beberapa pasang telah semakin bergeser ke
barat. Dan embun pun perlahan-lahan turun.
Agni masih berjalan di
samping gurunya. Dengan matanya yang tajam ditatapnya padang rumput yang
terbentang di hadapannya. Beberapa tonggak lagi ia masih harus berjalan.
Dalam keheningan malam
itu kemudian terdengar suara gurunya lirih, “Agni, masihkah kau berpikir tentang
hantu padang Karautan?”
Mahisa Agni menoleh.
Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya Bapa.”
“Apa yang kau lihat pada
anak muda itu?” bertanya gurunya.
Mahisa Agni tidak tahu
maksud gurunya. Karena itu untuk sesaat ia tidak menjawab, sehingga Empu Purwa
mengulangi, “Adakah sesuatu yang aneh yang kau lihat pada Ken Arok?”
“Apakah yang aneh itu?”
bertanya Mahisa Agni.
“Itulah yang aku tanyakan
kepadamu. Sesuatu yang tidak ada pada kebanyakan manusia,” sahut gurunya.
Mahisa Agni termenung
sejenak. Dicobanya untuk membayangkan kembali tubuh lawannya. Dada yang bidang,
sepasang tangan yang kokoh kuat, rambut yang liar berjuntai sampai ke pundaknya
dan wajahnya yang tampan namun penuh kekasaran dan kederasan. Tiba-tiba Agni
menggeleng, gumamnya seperti kepada diri sendiri, “Tak ada. Tak ada yang aneh
padanya.”
Empu Purwa
mengangguk-angguk. Pikirnya, “Aku sudah menduga bahwa Agni tak melihat cahaya di
ubun-ubun Ken Arok.”
Tetapi yang keluar dari
mulutnya adalah, “Memang tidak ada Agni, namun ada cerita yang aneh tentang anak
muda yang menjadi buruan itu.”
Mahisa Agni mengawasi
wajah gurunya dengan seksama. Tetapi tak dilihatnya kesan apapun pada wajah yang
tua itu. Mungkin karena gelapnya malam. Mungkin karena di wajah pendeta tua itu
segala sesuatu menjadi tenang, setenang permukaan telaga yang terlindung dari
sentuhan angin.
Tetapi kemudian terdengar
Empu Purwa berkata, “Agni, tak banyak yang aku dengar tentang asal usul Ken
Arok. Tetapi aku pernah mendengarnya dari mulut beberapa orang pendeta. Di
antaranya pendeta di Sagenggeng. Bahwa dari kepala Ken Arok itu memancar cahaya
yang ke-merah-merahan. Dan cahaya yang demikian adalah ciri dari mereka yang
dikasihi oleh Brahma.”
“Kalau demikian…?”
kata-kata Mahisa Agni terputus.
“Ya,” Empu Purwa
mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ken Arok adalah kekasih Brahma. Bahkan orang
pernah menganggap bahwa Ken Arok adalah pecahan Dewa Brahma sendiri.”
Mahisa Agni menundukkan
wajahnya, ditatapnya ujung kakinya berganti-ganti. Seakan-akan ia sedang
menghitung setiap langkah yang dibuatnya. Kembali menjalar di benaknya beberapa
macam pertanyaan yang kadang-kadang sangat aneh baginya. Tiba-tiba teringatlah
ia kepada trisula di tangannya. Ya, di tangan kirinya masih digenggamnya tangkai
trisula yang terlalu kecil baginya. Tanpa sesadarnya, diamatinya trisula itu
dengan seksama. Trisula itu benar-benar berkilauan, namun tidak sampai
menyilaukan baginya.
Mahisa Agni terkejut
ketika didengarnya gurunya berkata, “Agni cerita tentang trisula itu sama
anehnya dengan cerita tentang orang buruan itu.”
Agni mengangkat wajahnya.
Sekali lagi dipandangnya wajah gurunya. Wajah yang sepi hening.
“Trisula itu adalah
hadiah dari Siwa,” Empu Purwa meneruskan.
Memang cerita itu aneh
bagi Mahisa Agni. Karena itu ia menjadi heran. Kekasih Brahma yang hampir setiap
saat menjalankan kejahatan, dan senjata hadiah Siwa di tangannya. Adakah dengan
demikian berarti bahwa membenarkan segala macam kejahatan itu?
Meskipun pertanyaan itu
tidak terucapkan, namun Empu Purwa telah dapat menangkapnya dari wajah muridnya,
maka katanya, “Agni. Jangan kau risaukan apa yang sedang dilakukan oleh Brahma,
Siwa dan Wisnu sekali pun. Kalau pada suatu saat, orang-orang yang menurut
cerita, bersumber pada kekuatan Brahma harus berhadapan dengan orang-orang
bersumber pada kekuatan Siwa ataupun Wisnu, itu bukanlah hal yang perlu kau
herankan. Sebab baik Siwa, Brahma maupun Wisnu itu sendiri merupakan pancaran
dari Maha Kekuasaan Yang Esa. Dan Keesaan Kekuasaan itulah yang mengatur mereka.
Apa yang dilakukan Brahma, Wisnu dan Siwa adalah satu rangkaian yang bersangkut
paut dengan tujuan tunggal. Apa yang diadakan oleh kekuasaan itu, kemudian
dipeliharanya untuk kemudian apabila sampai saatnya dihancurkannya.”
Kini kembali Mahisa Agni
menundukkan wajahnya. Ia dapat mengerti apa yang dikatakan oleh gurunya. Dan
itulah sebabnya maka gurunya tak mengizinkannya untuk mengejar Ken Arok, yang
menurut kata orang adalah pecahan Dewa Brahma itu sendiri.
Kemudian gurunya itu
tidak berkata-kata lagi. Mereka berjalan saja menembus malam yang gelap dingin.
Dan setapak demi setapak mereka mendekati rumah mereka. Desa Panawijen.
Ketika mereka menjadi
semakin dekat semakin dekat, maka lupalah Mahisa Agni kepada Ken Arok, kepada
trisula di tangannya, kepada cerita tentang Brahma dan Siwa, serta kepada
perkelahian yang baru saja dialami. Yang ada di dalam angan-angannya kemudian
adalah kampung halamannya. Kampung halaman di mana ia meneguk ilmu dari gurunya
Empu Purwa.
Tetapi kampung halaman
itu tidak akan demikian memukaunya, apabila di sana tidak ada orang-orang
tersangkut di dalam hatinya, selain gurunya, pendeta tua yang sabar dan tawakal
itu.
Yang mula-mula hadir di
dalam angan-angannya adalah seorang gadis yang memiliki kecantikan seperti yang
dirindukan oleh bidadari sekali pun. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi heran,
apabila dibandingkannya wajah gadis itu dengan wajah ayahnya. Ayahnya bukanlah
seorang yang berwajah tampan pada masa mudanya. Entahlah kalau ibunya seorang
bidadari yang kamanungsan. Mahisa Agni belum pernah melihatnya. Bahkan anak
gadis itu sendiri pun tak dapat mengingat wajah ibunya lagi. Dan gadis yang
bernama Ken Dedes itu di matanya, tak adalah yang memadainya. Sehingga tidaklah
aneh bahwa setiap mulut yang tersebar dari lereng timur Gunung Kawi sampai ke
Tumapel pernah menyebut namanya.
Tetapi gadis itu terlalu
bersikap manja kepadanya, seperti seorang adik kepada seorang kakak yang sangat
mengasihinya. Mahisa Agni tidak begitu senang pada sikap itu. Seharusnya Ken
Dedes tidak menganggapnya sebagai seorang kakak.
Tiba-tiba wajah Agni
menjadi kemerah-merahan. Ia tidak berani meneruskan angan-angannya. Ia menjadi
malu kepada dirinya sendiri.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terkejut ketika terdengar gurunya
berkata, “Agni, sebaiknya kau kembalikan trisula itu kepadaku. Aku mengharap
bahwa kelak kau akan dapat memilikinya.”
“Oh,” terdengar sebuah
desis perlahan dari mulut Agni. Cepat-cepat ia menyerahkan senjata aneh itu
kepada gurunya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Kemudian mereka pun
meneruskan perjalanan mereka. Sudah tidak seberapa jauh lagi. Dari desa di
hadapan mereka terdengarlah kokok ayam jantan bersahut-sahutan.
“Hari menjelang pagi,”
desis Empu Purwa.
“Kita Kami terhalang di
padang Karautan,” sahut Mahisa Agni.
Kembali mereka berdiam
diri. Dan kembali Mahisa Agni ber-angan-angan. Kini yang hadir di dalam benaknya
adalah sahabatnya. Seorang pemuda yang tampan. Bertubuh tinggi tegap, bermata
hitam mengkilat. Anak muda itu adalah putra Ki Buyut Panawijen. Hampir setiap
hari Mahisa Agni bermain-main bersamanya. Menggembala kambing bersama. Bekerja
di sawah bersama. Saling membantu seperti kakak beradik yang rukun. Mereka
berdua mempunyai banyak persamaan tabiat. Keduanya senang pada pekerjaan mereka
se-hari-hari.
Keduanya bekerja di
antara penduduk Panawijen yang rajin. Menggali parit, membuat bendungan di
sungai dan membersihkan jalan-jalan desa, memelihara pura-pura dan segala macam
pekerjaan. Namun ada yang tak dapat dipersamakan di antara mereka. Mahisa Agni
adalah seorang pemuda yang tangguh, yang hampir sempurna dalam ilmu tata bela
diri dan tata bermain senjata. Berkelahi seorang diri dan bertempur dalam
gelar-gelar perang. Sedang Wiraprana, anak muda putra Ki Buyut Panawijen, adalah
seorang anak muda yang tak banyak perhatiannya pada ilmu tata bela diri meskipun
dipelajarinya serba sedikit dari ayahnya. Meskipun anak muda itu rajin bekerja
namun ia tidak setekun Mahisa Agni dalam menempa diri. Meskipun demikian, karena
Agni tidak biasa menunjukkan kelebihannya, maka keduanya dapat bergaul dengan
rapatnya.
Mereka memasuki desa
mereka pada saat cahaya merah membayang di timur. Di telinga mereka masih
menghambur suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Sekali-kali telah terdengar
pula gerit senggot orang menimba air dari perigi-perigi di belakang rumah
mereka.
Ketika mereka, Empu Purwa
dan Mahisa Agni, memasuki halaman rumah mereka yang dikelilingi oleh pagar batu
setinggi orang, mereka melihat api menyala di ujung dapur.
“Ken Dedes sudah bangun,”
berkata Empu Purwa perlahan.
Mahisa Agni tidak
menjawab. Sejak semula ia sudah menyangka bahwa Ken Dedes dan para endanglah
yang sedang merebus air sambil menunggu kedatangan mereka.
Sekali mereka berjalan
melingkari pertamanan di tengah-tengah halaman yang luas itu. Kemudian mereka
berjalan di tanggul kolam yang berair bening. Di siang hari kolam itu dipenuhi
oleh itik, angsa dan berati, berenang dengan riangnya.
Kedatangan mereka
disambut oleh Ken Dedes dengan penuh kemanjaan. Dengan bersungut-sungut
terdengar ia bergumam, “Ayah terlalu lama pergi bersama Kakang Agni. Semalam aku
tidak tidur. Ayah berkata bahwa selambat-lambatnya senja kemarin sampai di
rumah. Tetapi baru pagi ini ayah sampai.”
“Agni kerasan di
Tumapel,” jawab Empu Purwa.
“Ah,” desah Ken Dedes,
“barangkali gadis-gadis Tumapel menahannya.”
Mahisa Agni tersenyum
ke-malu-maluan. Ia tidak mau disangka demikian, namun ia tidak dapat mengatakan
keadaan yang sebenarnya di padang Karautan. Karena itu menyahut, “Aku berburu
kelinci di Padang Karautan.”
Ken Dedes mengerutkan
keningnya. Katanya, “Ayah melewati padang rumput itu?”
Empu Purwa mengangguk.
“Tidaklah Ayah takut
kepada hantu yang sering menghadang orang lalu di padang rumput itu?” desak Ken
Dedes.
Sekali lagi Empu Purwa
menggeleng. Katanya, “Tak ada hantu di sana. Yang ada adalah kelinci-kelinci dan
anak-anak rusa.”
Ken Dedes tidak bertanya
lagi, tetapi wajahnya nampak ber-sungguh-sungguh. Tiba-tiba Ken Dedes melangkah
maju mendekati Mahisa Agni. Ditatapnya sesuatu pada wajah anak muda itu.
“Kenapa wajahmu, Kakang?”
bertanya Ken Dedes kemudian sambil meraba pipi Mahisa Agni.
Baru pada saat itu Mahisa
Agni merasa wajahnya nyeri. Sebuah jalur kemerah-merahan membujur di wajahnya,
di samping noda yang ke-biru-biruan. Sekilas terasalah tangan hantu Karautan
menghantam wajahnya itu pada saat ia berkelahi.
“Pipiku tersangkut dahan,
pada saat aku merunduk menangkap kelinci,” jawab Agni.
Meskipun Ken Dedes tidak
bertanya lagi, namun tampaklah kerut-kerut di keningnya sebagai pertanyaan
hatinya. Kemudian tanpa disengajanya Ken Dedes mencibirkan bibirnya.
Sesaat kemudian mereka
telah duduk menghadapi minuman hangat. Air daun sereh dengan gula aren telah
menyegarkan tubuh mereka.
“Kau terlalu lelah Agni,”
berkata Empu Purwa, “Beristirahatlah.”
Sebenarnyalah bahwa Agni
terlalu lelah. Perkelahiannya dengan Ken Arok telah memeras hampir seluruh
tenaganya. Karena itu ia pun segera beristirahat pula. Karena kelelahan itulah
maka ia pun segera jatuh tertidur.
Betapapun lelahnya, namun
Agni tidak dapat tidur terlalu lama. Sudah menjadi kebiasaan anak muda itu
bangun pagi-pagi sebelum matahari melampaui punggung bukit-bukit di sebelah
timur.
Tetapi kali ini Mahisa
Agni terlambat juga. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya cahaya matahari telah
memanasi dinding-dinding ruang tidurnya. Karena itu segera ia bangkit dan segera
pula dengan tergesa-gesa pergi ke belakang membersihkan diri.
Ketika ia melangkah
kembali masuk ke ruang dalam, Mahisa Agni terkejut mendengar sapa
perlahan-lahan, “Kau kerinan, Agni.”
Agni menoleh. Dilihatnya
di sudut bale-bale besar yang terbentang di ruangan itu, Wiraprana duduk
bersila. Senyumnya yang segar membayang di antara kedua bibirnya.
Agni pun tersenyum pula.
Jawabnya, “Aku terlalu lelah.”
“Kau baru pulang
semalam?” bertanya Prana.
“Bukan semalam,” jawab
Agni, “pagi ini.”
“Lama benar kau pergi,”
sahut Prana.
“Sepekan,” jawab Agni.
“Selesaikan dirimu. Kita
pergi ke sawah kalau kau tidak terlalu lelah,” ajak Wiraprana.
Agni tidak menjawab.
Segera ia membenahi diri. Sesaat kemudian mereka berdua telah turun ke halaman.
Beberapa kali mata Agni mengitari seluruh ruangan dan halaman rumahnya untuk
mencari Ken Dedes. Namun gadis itu tak ditemuinya. Ketika di halaman ia
berpapasan dengan seorang cantrik, maka ia bertanya, “Ke mana Ken Dedes?”
“Ke sungai, Ngger,” jawab
cantrik itu.
“Apa yang dilakukan?”
desak Agni.
“Ken Dedes membawa
kelenting dan dijinjingnya bakul cucian,” jawab cantrik itu pula.
“Bapa Pendeta?” bertanya
Agni pula.
“Di sanggar, sejak beliau
datang bersama Angger,” jawab cantriknya itu.
Agni tidak bertanya lagi.
Dan keduanya berjalan pula keluar halaman.
Tiba-tiba langkah mereka
terhenti ketika mereka melihat debu yang berhamburan dilemparkan oleh kaki-kaki
kuda yang berlari tidak terlalu kencang. Kuda itu berjalan searah dengan Agni
dan Wiraprana.
Agni melihat kuda yang
besar dan tegar itu dengan kagumnya. Di punggung kuda itu duduk seorang pemuda
dengan pakaian yang rapi dan teratur. Kain lurik merah bergaris-garis cokelat,
celana hitam mengkilat dan timang bermata berlian. Di punggungnya terselip
sebuah pusaka, keris berwrangka emas.
Melihat anak muda yang
duduk di atas punggung kuda itu wajah Agni menjadi terang. Ia tertawa sambil
melambaikan tangannya, dan dari sela-sela tertawanya terdengar ia menyapa, “Kuda
Sempana!”
Wiraprana berdiri saja di
tempatnya. Ia melihat Agni dengan bibir yang ditarik ke sisi. Bisiknya, “Kau
akan kecewa, Agni.”
Meskipun Agni mendengar
bisik sahabatnya, namun ia tidak segera menangkap maksudnya. Ia masih tegak di
tepi jalan menanti anak muda yang berkuda dengan gagahnya itu.
Mula-mula Mahisa
menyangka bahwa Kuda Sempana tidak melihatnya. Karena itu sekali lagi menyapa,
“He, Kuda Sempana!”
Anak muda yang bernama
Kuda Sempana itu memperlambat kudanya. Dilemparkannya pandangannya ke arah
Mahisa Agni. Namun hanya sebentar. Ia mengangguk tanpa kesan. Kemudian ia
melanjutkan perjalanannya.
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Kuda Sempana baru beberapa tahun meninggalkan kampung halaman. Apakah
anak itu telah melupakannya? Untuk meyakinkan dirinya Mahisa Agni masih tetap
berdiri menanti Kuda Sempana. Tetapi ia menjadi kecewa ketika tiba-tiba kuda
yang dinaikinya membelok masuk ke halaman. Justru halaman rumah gurunya.
“Bukankah itu Kuda
Sempana?” tanpa sesadarnya Agni bertanya.
“Ya,” jawab Wiraprana.
“Kawan kita bermain
dahulu?” Agni menegaskan.
“Ya,” jawab Prana.
“Bukankah anak itu baru
beberapa tahun meninggalkan kita,” Agni meneruskan.
“Ya,” sahut Prana pula.
“Aneh,” berkata Agni
seperti orang yang menyesal.
“Sudah aku katakan,”
jawab Prana, “kau akan kecewa. Dua hari yang lampau, aku menyesal pula seperti
kau sekarang. Anak itu sekarang menjadi pelayan dalam dari Akuwu Tunggul
Ametung. Ia menjadi kaya, dan tak mengenal kita lagi.”
“Barangkali ia
tergesa-gesa,” Agni mencoba untuk memuaskan hatinya sendiri.
“Aku telah mengalami dua
hari yang lampau. Ia memandangku seperti orang asing,” sahut Prana.
Tetapi Mahisa Agni masih
belum yakin. Tak termasuk di akalnya bahwa hanya karena menjadi pelayan dalam
Akuwu Tumapel, seseorang dapat melupakan kawan-kawan bermain sejak masa
kanak-kanaknya.
Wiraprana melihat
keragu-raguan itu. Maka katanya sambil tersenyum, “Agni, agaknya kau tidak yakin
akan kata-kataku. Cobalah kau temui anak itu.”
“Marilah,” ajak Agni.
Wiraprana menggeleng.
Jawabnya, “Aku segan. Tak ada gunanya. Aku akan mendahului. Aku tunggu kau di
atas tanggul.”
Mahisa Agni sejenak
menjadi ragu-ragu. Tetapi bagaimanapun juga ia melihat sikap yang aneh pada Kuda
Sempana. Apalagi anak muda itu masuk ke halaman rumah gurunya. Karena itu
akhirnya ia berkata, “Baiklah Prana, tunggulah aku di atas Tanggul. Aku segera
menyusul.”
Sekali lagi Wiraprana
tersenyum. Kemudian ia memutar tubuhnya berjalan perlahan-lahan mendahului Agni,
yang karena keinginannya untuk mengetahui keadaan Kuda Sempana, berjalan kembali
ke halaman rumahnya.
Ketika ia memasuki
halaman, dilihatnya Kuda Sempana masih berada di atas punggung kudanya. Dengan
sikap seorang bangsawan ia sedang bercakap-cakap dengan seorang cantrik.
“Sudah lama ia pergi?”
terdengar Kuda Sempana itu bertanya.
“Sudah Angger,” jawab
cantrik itu.
“Sendiri?” bertanya Kuda
Sempana.
“Dengan beberapa endang,
Angger,” jawab cantrik itu.
Kuda Sempana
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditebarkannya pandangannya ke seluruh
sudut halaman. Dan ketika dilihatnya Mahisa Agni, Kuda Sempana mengerutkan
keningnya.
Mahisa Agni tersenyum
dengan ramahnya. Dengan akrabnya ia berkata, “Sempana. Alangkah gagahnya kau
sekarang.”
Anak muda itu memandang
Mahisa Agni dengan tajam. Kemudian katanya, “Ya.”
Jawaban itu terlalu
pendek bagi dua orang kawan yang telah lama tidak bertemu. Meskipun demikian
Agni masih menyapanya lagi, “Apakah keperluanmu? Adakah aku dapat membantumu?”
Kuda Sempana menggeleng,
“Aku ter-gesa-gesa.”
Perasaan kecewa mulai
menjalari dada Mahisa Agni. Percayalah ia sekarang kepada Wiraprana, bahwa hal
yang diragukan itu benar-benar dapat terjadi.
Namun sekali lagi Agni
bertanya, “Adakah sesuatu pesan untuk Bapa Pendeta?”
Sempana menggeleng.
“Tidak,” katanya, “Aku
tidak mempunyai sesuatu keperluan dengan Empu Purwa. Aku datang untuk putrinya.”
Terasa sesuatu berdesir
di dalam dada Agni. Tetapi ia mencoba menguasai perasaannya. Dan tahulah ia
sekarang, siapakah yang ditanyakan oleh Sempana kepada cantrik itu.
Mahisa Agni terkejut
ketika kemudian terdengar Kuda Sempana berkata, “Aku tidak mempunyai banyak
waktu.”
Anak muda yang gagah itu
tidak menunggu jawaban siapa pun. Segera ia menarik kekang kudanya, dan kuda
yang tegar itu pun berputar. Sesaat kemudian kuda itu telah menghambur
meninggalkan halaman yang luas dan sejuk itu.
Ketika Kuda Sempang telah
hilang di balik pagar, bertanyalah cantrik itu kepada Mahisa Agni, “Bukankah
anak muda itu Angger Kuda Sempana?”
“Ya,” jawab Agni sambil
mengangguk-angguk kepalanya.
“Tetapi,” cantrik itu
meneruskan, “bukankah anak muda itu kawan Angger Agni bermain-main seperti
Angger Wiraprana?”
Agni mengangguk.
Ditatapnya sisa-sisa debu yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang mengagumkan
itu, Jawabnya, “Begitulah.”
Cantrik itu tidak
bertanya lagi ketika dilihatnya sorot mata Agni yang aneh. Karena itu segera ia
kembali kepada pekerjaannya membersihkan halaman dan tanam-tanam.
Agni pun kemudian tidak
berkata-kata pula. Diayunkan kakinya keluar halaman. Ia telah berjanji pergi ke
tanggul. Di sana Wiraprana menunggunya. Ia masih melihat Kuda Sempana melarikan
kudanya lewat jalan yang akan dilaluinya, namun ia sama sekali sudah tidak
menaruh perhatian terhadap anak muda yang sombong itu. Karena itu segera
angan-angannya kembali kepada sahabatnya. Wiraprana.
Tanggul yang dimaksud
Wiraprana adalah tanggul sebuah bendungan dari sebuah sungai kecil yang membujur
agak jauh dari desanya. Dari sungai itulah sawah-sawahnya mendapat aliran air.
Karena itu, baik Agni maupun Wiraprana sering benar pergi ke tanggul itu. Bahkan
bukan saja anak-anak muda, namun gadis-gadis pun selalu pergi ke sungai itu
untuk mencuci pakaian-pakaian mereka dan mandi di belumbang kecil di bawah
bendungan.
Tetapi Agni tidak
langsung pergi ke tanggul itu. Ketika ia lewat di samping sawah Empu Purwa yang
menjadi garapannya, ia berhenti. Dilihatnya beberapa batang rumput liar tumbuh
di antara tanaman-tanamannya meskipun masa matun baru saja lampau. Karena itu ia
memerlukan waktu sejenak untuk menyiangi tanamannya itu.
Wiraprana yang sudah
sampai di pinggir kali, duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas yang
menjorok agak tinggi. Ketika ia melihat bahwa tanggul dan bendungan cukup baik,
maka yang dikerjakannya adalah menunggu Mahisa Agni, yang akan diajaknya untuk
melihat apakah rumpon yang mereka buat telah masak untuk dibuka.
Wiraprana meredupkan
matanya ketika ia melihat seekor kuda berlari kencang ke arahnya. Segera ia
mengenal bahwa di atas punggung kuda itu duduk Kuda Sempana. Meskipun ia tidak
tahu maksud kedatangan anak muda itu, namun perasaan tidak senang telah
menjalari dirinya, sehingga tanpa sesadarnya ia turun dan duduk di balik batu
padas itu. Ia sama sekali tidak ingin untuk bertemu dengan anak yang sombong
itu, meskipun timbul juga keinginannya untuk mengetahui, apakah maksud
kedatangan anak mada itu ke bendungan.
Ketika Wiraprana
melayangkan pandangannya ke belumbang kecil di bawah bendungan itu, dilihatnya
beberapa orang gadis sedang mencuci. Satu di antara mereka adalah gadis yang
dikenalnya dengan baik, sebaik ia mengenal Mahisa Agni. Gadis yang namanya
selalu disebut oleh hampir setiap pemuda di kaki Gunung Kawi itu. Gadis itu
adalah Ken Dedes.
Wiraprana menarik nafas.
Tetapi kemudian ia dikejutkan oleh derap kaki kuda di sampingnya. Sekali lagi ia
berkisar ke balik batu itu. Ia benar-benar tidak mau bertemu lagi dengan Kuda
Sempana setelah hatinya dikecewakan dua hari yang lampau.
Tetapi didesak oleh
perasaannya, maka dengan hati-hati ia mengintip apakah keperluan anak muda yang
sombong itu. Ia menahan nafas ketika ia melihat Sempana berjalan hanya beberapa
langkah di mukanya, kemudian membelok ke kanan, menuruni tebing sungai.
Beberapa orang gadis yang
melihat kedatangan anak muda itu menjadi heran. Mereka telah biasa melihat
Wiraprana, Mahisa Agni dan anak-anak muda dari desa mereka berada di atas
tanggul bendungan itu. Namun anak muda dengan pakaian yang sedemikian lengkapnya
adalah jarang mereka lihat. Tetapi ketika anak muda itu menjadi semakin dekat,
tiba-tiba terdengarlah hampir persamaan dari mulut gadis-gadis itu sebuah sapa
yang riang, “Kuda Sempana!”
Tetapi sapa itu sama
sekali tak berbekas di wajah Kuda Sempana yang seakan-akan telah membeku.
Meskipun kemudian
gadis-gadis itu menjadi riuh, namun Sempana sama sekali tak terpengaruh olehnya,
sehingga akhirnya gadis-gadis itu pun menjadi heran dan berhenti dengan
sendirinya.
Tetapi di antara mereka,
tampaklah Ken Dedes menjadi pucat. Tiba-tiba terasa tubuhnya gemetar seperti
kedinginan. Ia melihat ke-datangan Kuda Sempana seperti melihat hantu.
Bagaimanapun ia mencoba menguasai dirinya, namun tampak juga tubuhnya bergetar.
Untunglah tak seorang pun dari kawan-kawannya memperhatikannya.
Kuda Sempana kemudian
berdiri tegak di tepi belumbang kecil itu. Gadis-gadis yang berada di hadapannya
itu seakan-akan tak dilihatnya selain seorang gadis yang dengan gemetar
memperhatikan segala tingkah lakunya.
“Ken Dedes,” kemudian
terdengar kata-kata itu meluncur dari mulutnya. Meskipun ia berdiri dengan
garangnya, namun terdengar kata-katanya itu lunak dan lambat. Oleh kata-kata
Sempana itu, maka gadis-gadis itu pun seperti terpikat oleh sebuah pesona,
bersama-sama menoleh ke arah Ken Dedes yang kemudian menundukkan wajahnya.
Ken Dedes sama sekali
tidak menjawab sapa itu. Bahkan tubuhnya seraya menjadi lemas. Detak jantung di
dadanya seakan-akan berdentang seperti guntur. Ketika sekali lagi ia mendengar
anak muda itu memanggilnya, maka ditundukkannya wajahnya semakin dalam.
“Ken Dedes,” berkata
Sempana kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu. Tinggalkan cucianmu
sebentar. Ada sesuatu yang akan aku katakan kepadamu.”
Gadis-gadis yang lain pun
saling berpandangan. Mereka memuji ketampanan Kuda Sempana, namun mereka
berteka-teki pula, mengapa Kuda Sempana menemui seorang gadis di pemandian.
Sudah tidak adakah waktu yang lain?
“Aku telah datang ke
rumahmu Ken Dedes,” Kuda Sempana meneruskan, “Tetapi kau tak ada. Karena itu aku
terpaksa menyusulmu.”
“Kakang Sempana,”
akhirnya Ken Dedes terpaksa menjawabnya, “Tunggulah aku di rumah. Aku akan dapat
membicarakannya dengan Ayah dan Kakang Agni.”
“Marilah kita pulang
bersama-sama,” ajak Sempana.
“Aku belum mandi,” bantah
Ken Dedes, “dan cucianku belum selesai. Bukankah hari masih terlampau pagi?”
“Besok aku harus kembali
ke Tumapel,” sahut Kuda Sempana, “siang nanti aku akan berkemas. Seandainya kau
aku bersedia…”
Sempana tak meneruskan
kata-katanya. Ketika ia mendengar beberapa orang gadis menahan senyumnya,
ditatapnya wajah gadis-gadis itu dengan tajamnya, sehingga gadis-gadis itu pun
menjadi ketakutan dan menjatuhkan pandangan mereka ke atas pasir.
Ken Dedes menjadi semakin
gemetar. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan. Tetapi pasti bahwa ia tak dapat
memenuhi permintaan Kuda Sempana. Karena Ken Dedes tidak segera menjawab,
Sempana mendesaknya, “Ken Dedes, berpakaianlah!”
Nafas Ken Dedes menjadi
sesak. Apalagi ketika didengarnya Kuda Sempana meneruskan, “Bukankah tidak baik
apabila aku menyatakan maksudku di sini?”
Sekali lagi terdengar
suara-suara tertawa yang tertahan. Dan sekali lagi mata Sempana yang tajam
beredar ke setiap wajah gadis-gadis di belumbang itu, dan sekali lagi
gadis-gadis itu melemparkan pandangannya jauh-jauh.
Mulut Ken Dedes telah
benar-benar seperti membeku. Karena itu tak sepatah kata pun dapat diutarakan
meskipun hatinya meronta-ronta. Adalah suatu aib yang mencoreng di wajahnya
apabila kemudian Sempana tak dapat menahan hatinya dan melamarnya langsung tidak
setahu ayahnya. Meskipun ia dapat menolaknya, tetapi sikap yang demikian dari
seorang pemuda adalah sikap yang tercela. Hanya gadis-gadis yang tak berhargalah
yang akan pernah mengalami perlakuan demikian.
Maka merataplah Ken Dedes
di dalam hatinya, “Apakah aku ini termasuk dalam lingkaran gadis-gadis yang
demikian, maka Sempana memperlakukan aku begini?”
Hampir saja air mata Ken
Dedes meledak seandainya ia tidak berusaha sekuat-kuatnya untuk menahannya.
Tetapi Sempana, pelayan
dalam Akuwu Tumapel itu benar-benar seperti orang mabuk. Katanya, “Ken Dedes,
bukankah sejak aku pulang, aku telah berkata kepadamu, bahwa suatu ketika aku
akan datang ke rumahmu? Seharusnya kau tahu akan maksudku itu. Karena itu
sekarang marilah kita pulang.”
Ken Dedes masih saja
menundukkan wajahnya. Karena itu kemudian Kuda Sempana menjadi tidak sabar lagi.
Sorot matanya menjadi semakin tajam. Beberapa orang gadis pergi menjauhinya.
Mereka takut melihat sikap Sempana yang menjadi semakin garang. Dada Ken Dedes
pun menjadi semakin sesak. Hatinya menjadi tegang. Tak ada yang dapat
dilakukannya. Sekali ia mencoba menatap wajah Sempana, tetapi wajah itu terlalu
menakutkan baginya, sehingga akhirnya kembali kepalanya ditundukkannya
dalam-dalam.
Dalam kebingungannya itu,
tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang lain dari suara Kuda Sempana. Tidak
terlalu keras, namun kata demi kata dapat didengarnya dengan baik. Katanya,
“Kuda Sempana, adakah kau akan ikut serta mencuci pakaianmu di belumbang ini?”
Kuda Sempana terkejut.
Ketika ia menoleh dilihatnya Wiraprana berjalan perlahan-lahan ke arahnya.
Karena itu wajah Sempana segera menjadi merah. Dengan cepatnya ia memutar
tubuhnya menghadap Wiraprana. Dan dengan suara lantang ia berkata, “Apa kerjamu
di sini?”
“Menunggui tanggul,”
jawab Wiraprana singkat.
Kuda Sempana menggeram.
Ia benar-benar menjadi marah. Katanya, “Kau mencoba mencampuri urusanku?”
Wiraprana mengerutkan
keningnya, “Apa yang aku campuri? Setiap hari aku berada di tempat ini. Mengail,
membuka parit, mencuci pakaian dan segala macam pekerjaan anak desa. Kaulah yang
aneh. Seorang pelayan dalam Tumapel berada di bendungan.”
“Tutup mulutmu!” bentak
Sempana.
Gadis-gadis yang melihat
peristiwa itu, menjadi ketakutan pula. Tubuh mereka bergetaran dan dada mereka
menjadi sesak. Apalagi Ken Dedes sendiri. Di samping perasaan takut yang
membelit hatinya, maka ia pun merasa, bahwa dirinyalah sebab dari pertengkaran
itu. Karena itu maka ia menjadi semakin cemas. Meskipun ia merasa bersyukur pula
atas ke-hadiran Wiraprana, namun agaknya Kuda Sempana memandang kehadiran
Wiraprana sebagai tantangan. Kuda Sempana tidak menjadi malu atau segan, bahkan
ia bersikap sebagai lawan.
Pada saat Wiraprana
berada di balik batu padas, dilihatnya sikap Kuda Sempana yang kurang wajar.
Karena itu perlahan-lahan ia merunduk di balik-balik batu mendekatinya. Meskipun
ia tidak jelas, apa yang sebenarnya terjadi, namun adalah pasti baginya, bahwa
Ken Dedes berada dalam kesulitan. Maka sikap Sempana itu adalah merupakan
penjelasan baginya. Anak muda yang sombong itu benar-benar telah berbuat suatu
kesalahan. Karena itu jawabnya tatag, “Kuda Sempana. Jangan terlalu kasar.
Bukankah dahulu kau setiap hari juga berada di bendungan ini. Bahkan malam hari
pun kau kadang-kadang tidur di atas pasir di tepian itu bersama-sama aku?
Marilah kita bersikap wajar. Juga terhadap gadis-gadis kau sebaiknya bersikap
wajar.”
“Jangan gurui aku anak
desa yang sombong. Selama hidupmu kau dikungkung oleh kepicikan akal dan
kesempitan pengetahuan,” jawab Sempana, “Aku telah mencoba berlaku sopan kepada
Ken Dedes. Aku hanya ingin persoalanku cepat selesai.”
“Soalmu dan Ken Dedes
benar-benar bukan urusanku,” sahut Wiraprana, “Kalau kalian berdua telah
bersepakat, maka adalah suatu dosa bagiku, apabila aku datang kepadamu sekarang.
Tetapi aku melihat sikap Ken Dedes lain dari sikap yang kau harapkan. Dan kau
terlalu bersikap garang kepadanya.”
“Wiraprana!” bentak Kuda
Sempana, “sekali lagi aku peringatkan, tinggalkan tempat ini!”
“Jangan bersikap
demikian, Sempana,” jawab Wiraprana, “Jangan bersikap seperti orang hendak
berkelahi. Aku bukan orang yang biasa berbuat demikian. Namun aku hanya ingin
memperingatkan kepadamu. Pulanglah. Pergilah kepada ayahnya, dan biarlah ayahnya
bertanya kepadanya, apakah ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam perjalanan
hidupnya.”
Kuda Sempana yang sombong
itu tidak mau lagi mendengar kata-kata Wiraprana. Karena itu selangkah ia
meloncat maju. Tangan kanannya terayun menampar mulut Wiraprana. Gerak Sempana
cepat seperti kilat, sehingga Wiraprana tak sempat mengelaknya. Terdengarlah
seperti sebuah ledakan cambuk di pipi Wiraprana. Wiraprana terkejut. ia
terdorong beberapa langkah ke samping. Terasa betapa nyeri pukulan itu. Tetapi
untunglah bahwa ia tidak terbanting ke air.
“Sempana,” katanya sambil
berdesis menahan sakit, “jangan terlalu kasar.”
“Diam!” bentak Kuda
Sempana, “Tinggalkan tempat ini!”
“Kau telah melanggar
kebiasaan kampung halaman kita, Sempana,” berkata Wiraprana lantang, “adat itu
tetap kita hormati.”
Sekali lagi Kuda Sempana
tidak dapat mengendalikan dirinya. Tangannya terayun kembali ke wajah Wiraprana,
Namun kali ini Wiraprana tidak mau dikenainya untuk kedua kalinya. Karena itu
cepat-cepat ia membungkukkan badannya. Tangan Kuda Sempana hanya sejari terbang
di atas kepalanya. Tetapi Sempana adalah pelayan dalam istana, sehingga dengan
cepat ia dapat membetulkan kesalahannya. Ketika dirasa tangannya tak menyentuh
tubuh Wiraprana, segera ia mengulangi serangannya yang lain. Geraknya
benar-benar tak diduga oleh Wiraprana, karena itu selagi ia masih membungkuk,
terasa sebuah tamparan menyengat pipinya yang lain. Sekali lagi Wiraprana
terdorong ke samping dan sekali lagi ia berdesis menahan sakit.
Ketika Wiraprana telah
tegak kembali terdengarlah giginya gemeretak dan matanya memancarkan sinar
kemarahan. Telah dua kali pipinya di kedua sisi merasakan betapa berat tangan
Kuda Sempana. Bagaimanapun juga Wiraprana adalah laki-laki juga seperti Kuda
Sempana. Karena itu katanya lantang, “Kuda Sempana. Jangan membusungkan dada
hanya karena kau telah mendapat kedudukan baik di samping Akuwu Tunggul Ametung.
Persoalanmu adalah persoalan adat kampung halaman.”
“Apa pedulimu!” bentak
Kuda Sempana, “Kalau aku tidak dapat menemui ayah gadis yang aku senangi, aku
masih mempunyai cara lain. Aku akan melarikannya. Kelak aku akan kembali dengan
seorang cucu yang manis bagi Empu Purwa. Dan ia harus menerima kedatangan kami.”
Wajah Wiraprana menjadi
merah padam. Katanya kepada Ken Dedes, “Adakah kau telah bersepakat untuk kawin
lari?”
“Tidak! Tidak!” teriak
Ken Dedes serta-merta.
“Hem,” geram Wiraprana
kepada Kuda Sempana, “kalau kau telah bersepakat, aku tak dapat mengalamimu.
Tetapi kalau tidak, dan kau akan memaksakan cara itu, aku akan mencegahmu.”
Kuda Sempana tertawa
dengan sombongnya. Katanya, “Bagus. Seseorang dibenarkan untuk melakukan
pencegahan. Tetapi tata cara itu pun menuntut pengorbanan bagi gadis yang
diidamkan. Nyawaku menjadi taruhan.”
Wiraprana mengangkat
alisnya. Ia ngeri mendengar kata-kata Kuda Sempana. Mengorbankan nyawa berarti
kematian. Dan ia ngeri memikirkan kematian. Tetapi ia harus mencegahnya. Karena
itu katanya, “Aku tidak menghendaki bencana apapun. Baik bagimu, maupun bagiku.
Tetapi aku hanya akan mencegahmu.
Kuda Sempana tidak sabar
lagi. Dengan berteriak nyaring ia meloncat menyerang Wiraprana. Tetapi kali ini
Wiraprana telah bersiaga. Karena itu, ia pun berhasil mengelakkan serangan Kuda
Sempana. Tetapi Kuda Sempana tidak puas dengan serangannya yang gagal, segera ia
pun memperbaiki kedudukannya, dan dengan garangnya ia mengulangi serangannya.
Segera terjadilah
perkelahian antara keduanya. Wiraprana yang bertubuh tinggi tegap itu cukup
mempunyai kekuatan, namun Kuda Sempana yang tidak sebesar Wiraprana, mempunyai
kelincahan yang mengagumkan. Serangannya benar-benar datang seperti sikatan yang
menari-nari di padang rumput yang hijau.
Gadis-gadis yang melihat
perkelahian itu menjadi semakin ke-takutan. Mereka berlari bercerai berai sambil
memekik-mekik. Namun ada di antara mereka yang sedemikian takutnya, sehingga
mereka terduduk lemas, seakan-akan tulang belulangnya dicopoti.
Ken Dedes sendiri,
seperti orang yang kehilangan kesadarannya, duduk di atas pasir di tepi
belumbang. Beberapa kali ia mencoba menutup wajahnya dengan kedua belah
tangannya. Tetapi kadang-kadang ia terpaksa mengintip perkelahian itu dari
celah-celah jarinya. Ia takut melihat perkelahian itu, namun ia terpaksa untuk
melihatnya. Perkelahian yang demikian benar-benar jarang terjadi di Panawijen
yang tenteram. Hampir tak pernah terdengar perselisihan di antara anak-anak
muda. Namun tiba-tiba mereka harus melihat sebuah perkelahian yang mengerikan.
Kuda Sempana benar-benar
memiliki kelincahan dan ketangkasan. Sebagai seorang abdi yang dipercaya,
Sempana mempunyai bekal yang cukup. Karena itu ia pun memiliki ilmu tata
berkelahi yang baik. Sedang Wiraprana, meskipun dari ayahnya Buyut Panawijen,
telah pernah dipelajarinya ilmu itu, namun anak muda itu sama sekali tidak
menekuninya. Ketenteraman hidup dan kedamaian hati penduduk Panawijen tidak
pernah menuntunnya ke dalam persoalan yang dapat memaksanya untuk menekuni ilmu
semacam itu.
Karena itu, sesaat
kemudian terasa, bahwa Wiraprana yang tinggi tegap itu tak akan dapat
mengimbangi kelincahan dan ketangkasan lawannya. Berkali-kali ia terdorong
surut, dan berkali-kali ia terhuyung karena pukulan-pukulan lawannya.
Untunglah bahwa
pekerjaan-pekerjaan berat yang selalu dilakukan dapat menolongnya. Tubuhnya
menjadi kuat dan untuk beberapa lama ia dapat menahan sakit yang menjalar hampir
di setiap bagian tubuhnya. Pukulan yang bertubi-tubi telah mematangkan kulit
wajahnya. Merah biru, dan dari bibirnya mengalir darah yang merah segar.
Tetapi betapa kuat tubuh
Wiraprana, akhirnya terasa juga semakin lama semakin menjadi lemah. Nyeri dan
pedih menyengat-nyengat tak henti-hentinya, dan setiap kali pula tangan Kuda
Sempana masih saja mengenainya. Namun Wiraprana tak mau melepaskan lawannya.
Kalau ia melepaskan Sempana dan melarikan dirinya, maka Kuda Sempana pasti akan
melaksanakan maksudnya.
Telah terucapkan dari
bibirnya bahwa ia akan dapat menempuh cara yang keji terhadap gadis idamannya.
Karena itu tidak mustahil bahwa ia pada saat itu pula akan memaksa Ken Dedes
mengikutinya ke Tumapel. Ia akan dapat bersembunyi di istana Tunggul Ametung
sampai kelahiran anaknya. Dan sesudah itu, tak seorang pun dapat menuntutnya.
Tetapi di samping itu, terasa pula pada Wiraprana bahwa akhirnya ia tak akan
mampu berbuat apa-apa. Sesaat kemudian ia akan jatuh terjerembab. Mungkin
pingsan dan mungkin terjadi peristiwa yang mengerikan itu. Nyawanya harus
dipertaruhkan.
Kuda Sempana masih
berkelahi dengan penuh nafsu. Meskipun ia sadar bahwa Wiraprana tak akan mampu
menandinginya, namun ia tetap berlaku kasar. Tangannya menjambak bertubi-tubi,
dan bahkan Kuda Sempana menjadi semakin marah, karena Wiraprana tidak segera
jatuh. Karena itu akhirnya ia berketetapan hati untuk menyelesaikan perkelahian
itu. Dengan garangnya ia menyerang lawannya, dan dengan kedua tangannya ia
menghantam wajah Wiraprana bertubi-tubi. Sekali wajah Wiraprana terangkat karena
pukulan Kuda Sempana yang tepat mengenai rahangnya, namun sesaat kemudian
kepalanya terkulai ke samping oleh tangan lawannya yang lain.
Oleh keadaannya itu
hampir Wiraprana menjadi putus asa. Ia merasa bahwa ia tak akan dapat berbuat
banyak. Terbayang di matanya kesudahan dari peristiwa itu. Panawijen akan
berkabung. Anak Buyut Panawijen terbunuh dan putri Pendeta Panawijen dilarikan
orang.
Ketika Wiraprana hampir
menyerahkan dirinya kepada nasib, lamat-lamat didengarnya Ken Dedes memekik
kecil. Gadis itu menjadi ngeri ketika dilihatnya darah mengalir dari bibir dan
hidung Wiraprana. Namun bagi Wiraprana pekik itu seakan-akan telah menggugah
kembali semangatnya. Tiba-tiba terpikir olehnya, kenapa gadis itu tidak saja
lari dan pulang ke rumah. Karena itu tiba-tiba dengan tidak menghiraukan keadaan
dirinya, Wiraprana mendekap subuh Kuda Sempana erat-erat. Bersamaan dengan itu
terdengar ia berkata parau, “Ken Dedes, tinggalkan tempat ini. Cepat, sebelum
aku kehabisan tenaga!”
Ken Dedes pun kemudian
seperti orang bangkit dari mimpi. Segera ia meloncat berdiri dan berlari
meninggalkan belumbang yang mengerikan itu. Tak diingatnya lagi barang-barang
cuciannya, serta pakaiannya yang basah kuyup.
Sementara itu Kuda
Sempana menjadi marah bukan kepalang. Ketika Wiraprana mendekap tubuhnya, ia
tidak sempat mengelak, karena hal itu sama sekali tak diduganya. Tangan
Wiraprana itu kemudian seakan-akan terkunci di pinggangnya. Meskipun dengan
sekuat tenaga ia menghantam tengkuk, punggung dan kepala Wiraprana, namun tangan
itu seperti tangan yang telah melekat dengan jaringan kulitnya sendiri. Sehingga
karena marah, jengkel bercampur baur ia pun berteriak, “Wiraprana, jangan gila.
Kau tidak berkelahi seperti laki-laki. Lepaskan dan marilah kita berhadapan
secara jantan.”
Tetapi Wiraprana tak
mendengar kata-kata itu. Telinganya seolah-olah telah tuli dan mulutnya membisu.
Tangannya yang melingkar itu menjadi kaku seperti tangan golek kayu.
Kuda Sempana
menghempas-hempaskan tubuhnya, menendang memukul dan segala macam. Apalagi
ketika dilihatnya Ken Dedes telah berlari memanjat tebing.
Tetapi tiba-tiba langkah
Ken Dedes terhenti. Hampir saja ia melanggar sesosok tubuh yang tiba-tiba saja
muncul dengan tergesa-gesa. Terdengarlah gadis itu memekik kecil, tetapi
kemudian terdengar ia berteriak nyaring, “Kakang Mahisa Agni!”
Mahisa Agni berdiri tegak
seperti batu karang yang kokoh kuat di tepi lautan. Sesaat wajahnya menyapu
berkeliling, kemudian terhenti pada tubuh-tubuh yang sedang bergulat di bawah
bendungan. Dilihatnya Kuda Sempana dengan bengisnya menghujani tubuh Wiraprana
yang menjadi semakin lemas. Dan bahkan akhirnya dilihatnya pelukan Wiraprana
terlepas, dan anak muda itu jatuh terkulai di atas pasir tepian.
Ketika tangan Wiraprana
terlepas dari tubuhnya, segera Kuda Sempana meloncat berlari. Ia tidak mau
melepaskan Ken Dedes lagi. Telah bulat hatinya untuk melarikan saja gadis itu.
Kalau ia sempat menangkapnya dan membawanya ke atas kudanya. Ia tak perlu
pulang. Berita tentang dirinya akan memberitahukan kepada keluarganya, bahwa ia
telah kembali ke Tumapel. Ia yakin pula, bahwa tak seorang pun berani mengganggu
keluarganya itu, sebab ia akan dapat menakut-nakuti mereka dengan kedudukannya
sekarang.
Tetapi tiba-tiba
langkahnya terhenti ketika dilihatnya Ken Dedes berdiri rapat di belakang
seorang anak muda yang tegak seperti patung raksasa. Kakinya yang renggang
seakan-akan berakar jauh terhunjam ke dalam tanah. Serta wajahnya yang tengadah
membayangkan betapa teguh hatinya.
Sebelum ia sempat berkata
sepatah kata pun, terdengar batu karang itu seperti menggeram, “Kuda Sempana.
Apakah yang telah kau lakukan?”
Mata Kuda Sempana
seakan-akan menyala karena kemarahannya. Mahisa Agni itu pun akan mencoba
menghalang-halanginya. Maka katanya, “Agni. Jangan bersikap seperti seorang
perwira tamtama. Lihatlah Wiraprana. Ia telah mencoba melawan kehendakku.”
“Hem,” Mahisa Agni
menarik nafas dalam-dalam. Kuda Sempana itu dahulu adalah kawannya bermain pula
seperti Wiraprana. Tetapi tiba-tiba ia menjadi muak melibat wajah yang sombong
itu. Maka katanya, “Kuda Sempana. Jangan kau mencoba memperkecil arti kami
anak-anak Panawijen. Kau juga anak dari tanah ini. Kau mampu menjabat
pekerjaanmu sekarang. Demikian juga anak-anak yang lain. Kau telah menghina
kampung halamanmu sendiri.”
“Diam!” bentak Kuda
Sempana, “Kalau kau ingin mengalami nasib seperti Wiraprana, bilanglah.”
Selangkah demi selangkah
Mahisa Agni berjalan maju, menuruni tebing. Wajahnya menjadi tegang dan matanya
menjadi bercahaya. Kemarahan di dadanya telah menjalari kepalanya. Ditatapnya
wajah Kuda Sempana seperti menatap wajah hantu. Ya, baru semalam Mahisa Agni
berkelahi melawan hantu padang Karautan. Dan hantu itu tidak dapat
mengalahkannya, meskipun ia pun tak akan dapat memenangkan perkelahian itu.
Tetapi yang berdiri di hadapannya sekarang bukan hantu Karautan yang menakutkan
setiap orang. Yang ada di hadapannya tidak lebih dari Kuda Sempana.
Tetapi Mahisa Agni tak
pernah merendahkan orang lain. Karena itu tak pernah ia kehilangan kewaspadaan.
Demikianlah pada saat ia berhadapan dengan Kuda Sempana. Diamatinya setiap lekuk
kulit anak yang sombong itu. Pakaian yang mewah, namun sudah kusut dan kotor
karena perkelahiannya melawan Wiraprana.
Kuda Sempana, yang telah
mendapat tempaan keprajuritan beberapa tahun di Istana Tumapel itu pun tidak
sabar lagi. Dengan garangnya ia berlari menyongsong Mahisa Agni. Tak ada sepatah
kata pun lagi yang meluncur dari mulutnya. Yang dilakukannya adalah langsung
menyerang lawannya.
Mahisa Agni telah
bersiaga sepenuhnya. Karena itu, dengan cepat mengelakkan diri. Sekali ia
melingkar, dan dengan sapuan yang cepat, ia berhasil menyentuh lambung lawannya
dengan tumitnya. Sentuhan itu tidak terlalu keras, dan Kuda Sempana pun tidak
merasakan sesuatu karena sentuhan itu. Namun sentuhan itu telah benar-benar
mengejutkannya.
Ia sama sekali tidak
menduga, bahwa Mahisa Agni mampu bergerak sedemikian cepatnya. Karena itu,
sentuhan itu telah memperingatkannya, bahwa Mahisa Agni mampu mengelak dan
sekaligus menyerang dengan cepatnya, sehingga ia tidak seharusnya melayani
Mahisa Agni seperti melayani Wiraprana yang tegap tinggi itu. Tetapi Kuda
Sempana terlalu percaya kepada dirinya. Dikenalnya seluruh anak-anak muda di
Panawijen. Di antara mereka tak seorang pun yang pernah menerima gemblengan
seperti yang dialaminya di Istana Tunggul Ametung. Wiraprana tidak dan Mahisa
Agni pun juga tidak. Karena itu kembali ia membusungkan dadanya. Dengan penuh
keyakinan kepada diri sendiri, Kuda Sempana meloncat dan menyerang kembali
dengan garangnya. Namun Mahisa Agni menyambut serangan itu dengan tangkas.
Disadarinya bahwa lawannya kali ini telah memiliki bekal yang cukup bagi
kesombongannya. Karena itu Mahisa Agni sadar, bahwa ia harus berhati-hati.
Kuda Sempana menyerang
Agni seperti badai yang melandai. Cepat, keras dan kuat. Tangan dan kakinya
bergerak terayun-ayun membingungkan. Berputar, melingkar, tetapi kadang-kadang
menempuh dadanya seperti angin ribut menghantam gunung.
Namun Mahisa Agni
benar-benar seperti gunung yang tegak tak tergoyahkan. Angin ribut dan badai
yang betapapun kuatnya, seakan-akan hanya sempat mengusap tubuhnya, seperti
angin yang silir membelai kulitnya. Serangan-serangan Kuda Sempana, betapapun
cepat dan kerasnya, tak banyak dapat menyentuh kulit Mahisa Agni. Sehingga
dengan demikian Kuda Sempana menjadi semakin marah. Sama sekali tak diduganya
bahwa Mahisa Agni telah memiliki ilmu tata bela diri sedemikian baiknya. Anak
itu dikenalnya beberapa tahun yang lalu sebagai anak yang patuh kepada gurunya,
patuh melakukan ibadah, dan rajin bekerja di sawah ladang dan di rumah gurunya.
Tetapi sama sekali tak diketahuinya, bahwa dibalik dinding-dinding batu yang
memagari rumah Empu Purwa, Agni mendapat tempaan lahir dan batin. Di setiap
perjalanan yang mereka lakukan, di setiap kesempatan yang ada. Bahkan hampir di
setiap tarikan nafas, Agni selalu menekuni dan mendalami ilmu lahir dan batin
dari gurunya. Ilmu yang akan dapat menjadi penguat tubuh dan nyawanya. Tubuhnya
yang harus melawan setiap tantangan lahiriah, dan nyawanya yang harus
dipersiapkan untuk menghadap Yang Maha Agung.
Demikianlah maka
perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi
semakin sengit. Kuda Sempana telah kehilangan pengamatan diri. Anaki itu telah
lupa segala-gala selain secepat-cepatnya mengalahkan lawannya.
Wiraprana, yang kemudian
telah mendapat seluruh kesadarannya kembali, dengan susah payah mencoba
mengangkat wajahnya yang penuh berlumuran darah. Dari sela-sela pelupuk matanya
yang bengkak ia melihat perkelahian yang sengit antara Mahisa Agni dan Kuda
Sempana. Sekali-kali tampak mulutnya menyeringai menahan sakit, namun kemudian
tampak ia tersenyum. Tetapi senyum itu pun segera lenyap dari bibirnya. Bahkan
ia menjadi cemas, apabila Mahisa Agni akan mengalami nasib seperti dirinya.
Wiraprana mencoba
mengumpulkan segenap sisa-sisa kekuatannya. Perlahan-lahan ia mencoba mengangkat
tubuhnya dan duduk di atas pasir. Kedua tangannya yang lemah dengan susah payah
berhasil menyangga tubuhnya.
Pandangan matanya yang
semula agak kabur, kini berangsur terang. Lambat laun ia dapat melihat
perkelahian antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni dengan jelas. Desak mendesak,
hantam menghantam singa lena.
Meskipun Wiraprana tidak
memiliki ilmu sebaik Mahisa Agni maupun Kuda Sempana, namun Wiraprana telah
mampu menilai keduanya. Dengan bekal ilmunya yang sedikit, Wiraprana dapat
mengetahui bahwa keadaan Mahisa Agni cukup baik. Diam-diam ia berbangga dan
berharap di dalam hatinya. Ia mengharap Mahisa Agni dapat memenangkan
perkelahian itu.
Kuda Sempana yang dibakar
oleh kemarahan dan kesombongannya bertempur dengan seluruh tenaganya. Matanya
yang menyala memancarkan dendam yang tersimpan di hatinya. Sekali-sekali ia
melontarkan pandangannya kepada Ken Dedes. Ia masih melihat gadis itu berdiri
kaku di tanggul bendungan. Kuda Sempana mengharap gadis itu untuk tetap tinggal
di sana. Sehabis pekerjaannya ini, ia akan menangkap gadis itu dan membawanya
lari. Perkelahian yang terjadi di antara anak-anak muda itu, akan menutup
kemungkinan yang sebaik-baiknya baginya untuk menempuh cara yang wajar dan
sopan. Ia takut kalau Empu Purwa akan keberatan.
Tetapi Mahisa Agni tidak
segera dapat dikalahkan. Bahkan anak itu semakin lama seakan-akan menjadi
semakin kuat dan cekatan. Memang, ketika tubuh Agni telah dibasahi oleh
peluhnya, maka tenaganya menjadi seakan-akan bertambah.
Akhirnya Kuda Sempana
benar-benar menjadi mata gelap. Ia sudah tidak dapat membuat
pertimbangan-pertimbangan lagi dengan otaknya. Hanya ada satu pilihan yang ada
padanya. Membawa Ken Dedes bersamanya ke Tumapel saat itu juga. Karena itu siapa
yang menghalang-halangi harus disingkirkan. Dengan cara kasar atau halus.
Wiraprana telah dilumpuhkan, dan kini Mahisa Agni melintang di hadapannya.
Tiba-tiba terdengar Kuda Sempana berteriak nyaring, “Rawe rawe rantas,
malang-malang putung!”
Bersamaan dengan itu
terdengar pula Ken Dedes berteriak nyaring dibarengi geram Wiraprana parau.
Katanya, “Agni, hati-hatilah!”
Mahisa Agni meloncat
surut. Ditatapnya Kuda Sempana dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia berdesis,
“Adakah itu pilihanmu Kuda Sempana yang perkasa?”
“Wanita adalah sama
berharganya dengan pusaka,” sahut Sempana, “taruhannya adalah nyawa. Kau atau
aku yang binasa.”
Mahisa Agni menggeram.
Terdengar gemeretak giginya oleh ke-marahannya yang meluap-luap. Ternyata Kuda
Sempana tega pada pati uripnya untuk mendapatkan gadis idamannya. Dilihatnya di
tangan anak muda itu sebilah keris.
Kini Mahisa Agni tak
dapat berbuat, lain kecuali berkelahi mati-matian. Ia sama sekali tak
bersenjata. Namun ia pun tak dapat disilaukan hatinya oleh Kuda Sempana yang
kini bersenjata.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni menggosokkan kedua telapak tangannya, Tetapi tiba-tiba ia menggeleng lemah.
Diamatinya kedua telapak tangannya itu. Terdengar ia bergumam perlahan sekali,
sehingga hanya dapat didengarnya sendiri, “Tidak. Belum waktunya aku
mempergunakan pusaka pula. Aku akan mencoba menyelesaikan perkelahian ini dengan
wajar.”
Namun yang terdengar
adalah suara Kuda Sempana, “Agni, aku masih memberimu sekedar waktu. Tinggalkan
tempat ini!”
Mahisa Agni menggeleng
lemah, jawabnya, “Harus ada seseorang yang mencegah perbuatan gilamu itu.”
Kuda Sempana tidak
menunggu mulut Agni mengatub. Seperti tatit ia menyambar dada lawannya dengan
ujung kerisnya.
Untunglah bahwa Agni
tetap bersiaga, sehingga ia berhasil menyelamatkan dirinya. Dengan tangkas ia
menghindari ujung maut yang menghampirinya. Berbareng dengan kemarahannya yang
merayap ke ubun-ubunnya. Kuda Sempana telah benar-benar bertempur antara hidup
dan mati.
Mahisa Agni pun kemudian
tidak mau diombang-ambingkan oleh ketidaktentuan dari ujung dan pangkal
perkelahian itu. Meskipun anak muda, murid Empu Purwa itu, belum mempergunakan
senjata apapun, namun ia telah melepaskan segenap ilmu lahiriahnya. Telah
diperasnya tenaga serta keprigelannya untuk melawan keris Kuda Sempana. Dan
keris Kuda Sempana memang berbahaya. Ujungnya seperti seekor lalat yang
mendesing-desing di sekeliling tubuhnya. Tetapi Agni cukup lincah, sehingga
lalat itu tidak sempat hinggap di kulitnya. Meskipun demikian, seluruh tubuh
Agni telah basah kuyup oleh keringatnya yang mengalir semakin lama semakin
deras.
Namun Mahisa Agni adalah
murid Empu Purwa yang tekun. Tak ada kesempatan yang dilepaskannya. Karena itu
Agni memiliki beberapa kelebihan dari Kuda Sempana. Meskipun anak muda itu
bersenjata, namun akhirnya terasa, bahwa ujung kerisnya sama sekali tak dapat
mengimbangi ujung jari-jari Mahisa Agni. Ujung jari-jari Agni dengan lincahnya
menyentuh-nyentuh Kuda Sempana hampir di setiap bagian tubuhnya yang
dikehendaki. Dan jari-jari Mahisa Agni benar-benar seperti batang-batang besi.
Sehingga kedua tangan Agni itu mirip benar seperti dua batang tombak yang
masing-masing bermata lima. Tetapi keris Kuda Sempana pun keris yang ampuh pula.
Namun meskipun keris itu berbisa setajam bisa ular bandotan, serta meskipun
Mahisa Agni tak berani terkena akibat meskipun sentuhan seujung rambut sekali
pun dengan keris itu, tetapi lambat laun namun pasti, Mahisa Agni tampak selalu
menguasai lawannya.
Ken Dedes yang tidak
dapat menilai perkelahian itu mengikutinya dengan gemetar. Perasaan takut dan
ngeri menjalari dadanya. Tetapi setiap kali ia menutup matanya, setiap kali ia
mengintipnya dari sela-sela jarinya, bahkan kemudian, seperti terpukau ia
memandang pergulatan itu dengan hati yang tegang dan kehilangan kesadaran.
Dada Wiraprana pun tak
kalah tegangnya. Masih terasa betapa berat tangan Kuda Sempana. Dan di tangan
itu kini tergenggam keris. Namun ia percaya bahwa Mahisa Agni ternyata memiliki
ketangkasan jauh melampaui ketangkasannya.
“Aku tidak mengira,”
desisnya lemah, “Aku tidak pernah melihat anak itu membentuk dirinya menjadi
seekor burung rajawali yang perkasa.”
Mahisa Agni kini
benar-benar bertempur seperti seekor rajawali yang garang. Sekali-sekali ia
menyambar dengan tangkasnya, dan sekali-sekali ia mematuk dengan cepatnya.
Jari-jari Mahisa Agni benar-benar tidak kalah berbahayanya dari keris Kuda
Sempana. Mula-mula Kuda Sempana tidak mau melihat kenyataan itu. Matanya
benar-benar dibutakan oleh kesombongannya.
Namun lambat laun hatinya
digetarkan oleh kenyataan. Mahisa Agni melawannya dengan gigih. Karena itu
hatinya menjadi semakin gelap, dan anak muda itu bertempur membabi buta.
Akhirnya Mahisa Agni
menjadi tidak sabar lagi. Perkelahian itu sudah berlangsung terlalu lama.
Matahari yang merambat dari kaki langit kini telah hampir mencapai puncak
ketinggian.
Meskipun hampir segenap
perhatian Mahisa Agni tertumpah pada perkelahian itu, namun didengarnya pula,
suara riuh yang semakin lama semakin dekat. Terlintaslah di dalam benaknya,
bahwa suara riuh itu pasti suara orang-orang Panawijen yang telah mendengar
berita perkelahian itu. Beberapa orang gadis yang lari ketakutan telah
menceritakan tentang peristiwa itu kepada orang-orang tua mereka, kepada
kawan-kawan mereka dan kepada anak-anak muda seluruh desa. Karena itu maka
beramai-ramailah mereka pergi ke sungai.
Agaknya Kuda Sempana pun
mendengar suara riuh itu. Maka ia pun menjadi gelisah. Tetapi ia yakin, meskipun
dikerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, namun Agni tak akan dapat
dikalahkan. Bahkan tiba-tiba tanpa diduganya, Agni menyerangnya bertubi-tubi
seperti prahara. Beberapa kali ia melangkah surut. Namun putaran angin prahara
itu seakan-akan telah memeluknya.
Sebenarnya Agni telah
berusaha sedapat ia lakukan untuk memperpendek perkelahian itu. Ia ingin
menyelesaikannya sebelum orang-orang Panawijen datang. Agni tidak akan dapat
mengira-ngira apakah yang akan mereka lakukan terhadap Kuda Sempana.
Agaknya usaha Mahisa Agni
itu berhasil. Dengan sebuah serangan lambung yang mendatar, Mahisa Agni berhasil
memutar tubuh Kuda Sempana yang berusaha untuk menghindar, namun tiba-tiba
Mahisa Agni meloncat ke sisi, dengan tangannya ia menghantam tengkuk lawannya.
Sekali lagi Kuda Sempana berusaha menghindari. Dengan merendahkan diri ia
berputar menghadap lawannya. Tangan kanannya tiba-tiba terjulur lurus, dan ujung
kerisnya mengarah ke dada Agni. Namun Agni cukup tangkas. Setengah langkah ia
miring. Ketika keris itu lewat secengkang di hadapan dadanya, cepat-cepat ia
memukul pergelangan tangan Kuda Sempana. Pukulan itu demikian Kerasnya, sehingga
terdengarlah seakan-akan tulang pergelangan tangan itu retak. Kuda Sempang
terkejut bukan kepalang. Gerak yang sedemikian cepatnya itu sama sekali tak
pernah diduganya. Apalagi dilakukan oleh Mahisa Agni, anak yang menghabiskan
waktu remajanya di belakang dinding desa Panawijen.
Tetapi yang terjadi
adalah, kerisnya terlepas dan terpelanting lebih dari tiga langkah daripadanya.
Sedang perasaan sakit yang menyengat pergelangan tangannya, seakan-akan merambat
sampai ke ubun-ubunnya. Terdengar Kuda Sempana mengaduh tertahan. Kemudian
wajahnya menjadi semakin membara. Ia hanya dapat menunggu apa yang akan
dilakukan Mahisa Agni atasnya. Meremukkan tulang-tulang iganya, atau merobek
wajahnya. Kuda Sempana telah mengakui di dalam hatinya, bahwa ia tak akan mampu
membela diri seandainya Mahisa Agni akan membunuhnya.
Suara riuh di kejauhan
semakin lama menjadi semakin dekat. Karena itu Kuda Sempana menjadi semakin
gelisah. Kalau penduduk Panawijen menganggap bahwa ia telah mencoba melarikan
Ken Dedes, serta penduduk itu berhasil menangkapnya, maka akibatnya dapat
mengerikan sekali. Sekali-sekali terlintas di dalam otaknya, bahwa lebih baik
berkelahi mati-matian daripada menyerahkan diri. Kalau ia mati, maka dua tiga
orang pasti dapat dibunuhnya. Kuda Sempana tahu benar bahwa penduduk Panawijen
yang tenteram itu, tidak terlalu berbahaya baginya. Bahkan mungkin tak seorang
pun yang akan berani menangkapnya Apalagi anak Buyut Panawijen telah
ditundukkannya. Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana menyadari, bahwa di hadapannya
berdiri Mahisa Agni. Karena itu, maka terdengar giginya gemeretak menahan hati.
“Kuda Sempana,” terkejut
ketika terdengar Mahisa Agni berkata perlahan-lahan, “Kuda Sempana, ambil
kerismu.”
Kuda Sempana memandang
wajah Agni dengan mata yang memancarkan keragu-raguan hatinya. Benarkah Agni
berkata demikian, atau telinganya telah rusak karena pukulan-pukulan Agni yang
keras. Tetapi sekali lagi ia mendengar Sempana berkata, “Ambillah kerismu.”
Kuda Sempana masih ragu.
Kakinya masih tetap tak beranjak dari tempatnya, sehingga Mahisa Agni
mengulangnya sekali lagi, “Ambillah kerismu.”
Seperti mimpi Kuda
Sempana berjalan beberapa langkah, kemudian membungkuk memungut pusaka. Tetapi
ia tidak tahu, apa yang harus dilakukan kemudian,
Mahisa Agni pun kemudian
menjadi bingung. Apa yang sebaiknya dilakukan. Kuda Sempana adalah pelayan dalam
Akuwu Tumapel. Kalau terjadi sesuatu atasnya di desa kelahirannya, apakah
Tunggul Ametung akan berdiam diri.
Selagi Mahisa Agni
menimbang-nimbang, suara riuh itu pun telah dekat benar di belakangnya. Ketika
ia menoleh, di atas tanggul muncullah beberapa orang laki-laki, yang langsung
berlari menghambur menuruni tebing sungai.
Kuda Sempana melihat
mereka itu pula. Dengan gerak naluriah ia bersiap. Meskipun perasaan sakit pada
tubuhnya semakin terasa seakan-akan menggigit tulang, namun ia masih berdiri
dengan kokohnya.
Yang mula-mula mencapai
tepian, tempat perkelahian antara anak-anak muda itu terjadi, adalah seorang
yang bertubuh tinggi kekar, berdada bidang. Ia adalah Buyut Panawijen. Rambutnya
yang digelung tinggi di kepalanya tampak sudah mulai ditumbuhi uban di
pelipisnya. Dengan penuh wibawa ia memandang berkeliling. Kepada Mahisa Agni
yang masih tegak seperti tonggak, Kuda Sempana yang berdiri dengan kaki renggang
dan berwajah tegang. Kemudian kepada anaknya Wiraprana. Anak muda itu dengan
susah payah mencoba berdiri. Ketika ditatapnya wajah ayahnya tiba-tiba ia
tersenyum.
“Latihan yang jelek,
Ayah,” katanya.
Tetapi Buyut Panawijen
itu sama sekali tidak tersenyum. Bahkan tampak ia menyesal. Desisnya, “Kalian
telah menjadikan pedukuhan yang damai ini menjadi gempar.”
Wiraprana tidak tersenyum
lagi. Tertatih-tatih ia berjalan mendekati ayahnya. Sementara itu, beberapa
orang laki-laki tiba-tiba saja telah melingkari mereka bertiga. Seakan-akan
sengaja mengepung rapat-rapat.
“Apakah yang telah
terjadi?” geram Buyut Panawijen itu.
Suasana kemudian
dicengkam oleh kesepian. Wiraprana, Mahisa Agni dan Kuda Sempana menundukkan
wajah mereka. Apalagi ketika kemudian mereka mendengar suara nyaring dari
tebing, “Agni, apakah yang kau lakukan?”
Agni mengangkat wajahnya.
Hatinya berdebar-debar ketika ia melihat gurunya yang tua itu berlari
tersuruk-suruk. Sesaat kemudian semua mata memandang ke arahnya, Empu Purwa,
ayah gadis yang menimbulkan perkelahian tanpa dikehendakinya itu.
Kuda Sempana pun melihat
orang tua itu. Timbullah beribu-ribu pertanyaan di dalam dadanya. Orang tua itu
sama sekali tidak tampak sebagai seorang sakti selain seorang yang tekun
beribadah. Apakah Agni mempunyai guru yang lain dalam pengolahan badan wadagnya?
Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa anak muda itu telah mengalahkannya.
“Agni,” berkata Empu
Purwa terengah-engah setelah ia sampai ke tempat orang-orang Panawijen itu
berkerumun, “Adakah kau telah membuat onar?”
Mahisa Agni tak berani
memandang wajah gurunya. Ingin ia mengatakan apa yang sudah terjadi sebenarnya,
tetapi mulutnya seperti terkunci. Ia takut kalau dengan demikian ia akan
menyinggung Ken Dedes, dan menjadi semakin malu karenanya.
“Agni,” terdengar Empu
Purwa berkata pula, “Apakah pula sebabnya engkau berkelahi? Apakah kau ingin
menunjukkan bahwa kau adalah laki-laki muda yang pandai bertengkar?”
Mahisa Agni menarik
nafas. Namun mulutnya tetap membisu, sehingga terdengar Wiraprana berkata,
“Bukan salah Agni, Empu.”
Empu Purwa menoleh.
Dilihatnya Wiraprana yang wajahnya menjadi merah biru. Katanya, “Adakah itu
perbuatan Agni?”
“Bukan, Empu,” jawab
Wiraprana cepat-cepat, “Agni tak akan berbuat demikian.”
Orang tua itu kemudian
merenungi Mahisa Agni, seakan-akan anak itu belum pernah dilihatnya. Kemudian
matanya beredar dan sehingga di wajah Kuda Sempana. Dengan terbata-bata Empu
Purwa itu bertanya, “Angger Kuda Sempana, kenapa Angger nganggar keris. Apakah
Agni mengganggumu?”
Kuda Sempana pun tak
dapat menjawab pertanyaan itu, sehingga tanpa disadarinya kembali pandangan
matanya terkulai di atas pasir tepian.
“Empu,” terdengar
kemudian Buyut Panawijen berkata, “aku pun sedang berusaha mengerti, apakah yang
sedang terjadi di sini.”
Empu Purwa
mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, ya Ki Buyut. Aku menjadi gemetar ketika aku
mendengar anak-anak berteriak-teriak di jalan, katanya Angger Kuda Sempana,
Angger Wiraprana dan Mahisa Agni saling berkelahi. Aku jadi sedemikian bingung
sehingga aku tidak sempat bertanya-tanya lagi.”
“Aku pun mendengar dari
anak-anak itu,” sahut Ki Buyut Panawijen. Kemudian kepada Wiraprana ia bertanya,
“Benarkah itu Prana?”
“Tidak seluruhnya,” jawab
anak muda itu, “Yang mula-mula berkelahi adalah aku dan Kuda Sempana.”
“Kau?” ulang ayahnya.
“Ya,” jawab Wiraprana,
“tidakkah anak-anak itu berkata demikian?”
“Aku tak sempat
mendengarnya,” sahut ayahnya.
“Dan akhir dari
perkelahian itu,” Wiraprana meneruskan, “Aku kalah. Tidakkah Ayah lihat mukaku
yang bengap?”
“Aku tidak bertanya akhir
dari perkelahian itu,” potong ayahnya, “tetapi kenapa perkelahian itu mulai?”
Wiraprana pun menjadi
ragu-ragu. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang masih tunduk dalam-dalam. Kemudian
ketika ia melayangkan pandangannya ke atas tanggul, dilihatnya beberapa kepala
gadis-gadis tampak berderet-deret mengintip. Dan tiba-tiba dilihatnya Ken Dedes
masih berdiri menggigil di tebing sungai.
Orang-orang yang berdiri
memagari itu pun menjadi gelisah. Beberapa orang sebenarnya telah mendengar apa
yang sebenarnya terjadi dari anak-anak mereka, namun ketika di tempat itu hadir
pula Empu Purwa maka mereka pun menjadi ragu-ragu pula untuk mengatakannya.
Tetapi sesaat kemudian Ki
Buyut itu pun mendesak pula, “Wiraprana, tidakkah kau bisa berkata?”
Wiraprana menarik nafas
dalam-dalam dan ketika ia sudah tidak dapat mengelak lagi, maka katanya, “Ayah,
bertanyalah kepada mereka yang menceritakan perkelahian itu. Itulah mereka,
anak-anak yang tadi sedang mencuci pakaian di belumbang ini. Mereka kini sedang
mengintip apa pula yang akan terjadi di sini.”
Mendengar jawaban itu,
maka semua mata tiba-tiba bergerak ke atas tanggul. Sehingga tampak pulalah oleh
mereka itu, kepala-kepala gadis yang sedang mengintip dengan keinginan tahu,
bagaimanakah akhir dari peristiwa itu.
Ken Dedes yang melihat,
semua mata memandang ke arah tanggul di atasnya, merasa seolah-olah mata itu
memandangnya dengan penuh hinaan dan penyesalan. ia merasa bahwa dirinya sebab
dari keributan itu. Karena itu maka perasaan bersalah, malu, sesal dan segala
macam bercampur baur di dalam dadanya. Alangkah rendah martabatnya, sehingga
beberapa orang laki-laki terpaksa berkelahi karenanya. Karena itu maka tiba-tiba
perasaan yang bergolak di dadanya itu tak dapat dibendungnya lagi, sehingga
tiba-tiba gadis itu berlari menghambur sambil berteriak, “Ayah, akulah yang
bersalah.”
Empu Purwa terkejut
mendengar teriakan itu. Ketika ia melihat anaknya berlari kepadanya, ia pun
menyongsongnya.
Demikian Ken Dedes sampai
kepada ayahnya itu, maka dengan serta-merta ia menjatuhkan dirinya sambil
menangis sejadi-jadinya. Katanya di sela-sela tangis itu, “Ayah. Akulah sumber
dari malapetaka yang menimpa padukuhan kita yang damai. Karena itu Ayah, betapa
hinanya aku. Maka adalah lebih baik bagiku kalau Ayah sudi membunuhku. Biarlah
aku mati di hadapan penduduk Panawijen yang tenteram ini untuk menebus kesalahan
dan arang yang mencoreng di wajah keluarga.”
“Ken Dedes,” sahut
ayahnya, “kenapakah kau ini?”
“Bunuh saja aku, Ayah,”
tangis gadis itu.
Empu Purwa kemudian tegak
seperti patung. Ditatapnya rambut anaknya yang panjang berombak, terurai menutup
punggungnya.
“Bangunlah anakku,”
bisiknya, “katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku adalah ayahmu.”
“Tidak!” teriak Ken
Dedes, “Bunuh aku, Ayah.”
Ki Buyut Panawijen pun
kemudian mendekatinya pula. Dengan lembut ia berkata, “Ken Dedes, jangan
menyalahkan diri sendiri. Berkatalah apa yang terjadi.”
Mula-mula gadis itu tidak
juga mau berkata. Tetapi lambat laun, setelah beberapa orang membujuknya, maka
Ken Dedes pun mengangkat wajahnya, memandang ayahnya dengan sayu. Katanya,
“Apakah ada gunanya?”
“Berkatalah, supaya kami
mendengar,” sahut Ki Buyut Panawijen. Sebenarnya Ki Buyut itu pun telah dapat
menduga, apa sebabnya maka tiba-tiba saja pedukuhannya yang tenteram itu
diributkan oleh sebuah perkelahian yang mengerikan. Dan tiba-tiba pula ia pun
menjadi malu. Satu di antara mereka yang berkelahi adalah anaknya.
“Hem,” pikirnya. “adakah
anakku berkelahi karena seorang gadis?”
Ken Dedes pun kemudian
bercerita terbata-bata. Dikatakannya apa yang telah terjadi, sejak awal sampai
orang-orang itu melihat apa yang terjadi di tepi sungai itu.
Kuda Sempana pun
mendengar kisah itu pula. Setiap kata yang diucapkan oleh gadis itu, serasa
sebuah pukulan yang menampar dadanya. Diamat-amatnya setiap wajah dari
orang-orang Panawijen. Terbayanglah pada wajah-wajah itu, perasaan sesal dan
marah. Kuda Sempana tahu pasti, bahwa orang-orang itu pasti akan menyalahkannya.
Lalu apakah yang akan mereka lakukan? Nafas anak muda itu pun menjadi semakin
cepat mengalir, dan karena itu maka digenggamnya hulu kerisnya semakin erat.
Tetapi kemudian Kuda
Sempana itu pun sadar, bahwa di hadapannya berdiri Mahisa Agni. Ketika
dipandangnya wajah anak muda itu, hati Kuda Sempana berdesir. Dilihatnya Mahisa
Agni pun telah bersiap pula.
“Hem,” geram Ki Buyut
Panawijen setelah Ken Dedes selesai berbicara. Dipandanginya wajah Kuda Sempana
yang kaku tegang. Kemudian terdengar Buyut Panawijen itu berkata, “Angger Kuda
Sempana. Benarkah cerita putri Empu Purwa itu?”
Kuda Sempana mengerling
ke setiap wajah laki-laki Panawijen yang berdiri melingkar di sekitarnya.
Kemudian disambarnya pula wajah Mahisa Agni dan Wiraprana dengan sudut
pandangannya. Kuda Sempana tak dapat mengelak lagi. Di hadapannya berdiri
beberapa orang saksi. Selain Wiraprana dan Mahisa Agni, dilihatnya pula beberapa
orang gadis berderet-deret di atas tanggul. Sehingga karena itu terpaksa ia
mengangguk sambil berkata, “Ya, Ki Buyut. Tetapi aku terdesak oleh keadaan. Aku
telah mencoba datang ke rumah Ken Dedes. Tetapi gadis itu tak ada di rumah,”
“Adakah demikian adat di
pedukuhan kita?” desak Ki Buyut, “Kenapa angger Kuda Sempana tidak mencari
ayahnya. Bahkan seharusnya dengan sebuah upacara?”
“Aku ingin mendapat
kepastian, sedang waktuku terlalu pendek. Besok aku harus terus kembali ke
Tumapel,” jawab anak muda itu.
“Di pinggir sungai?”
bertanya Ki Buyut.
Kuda Sempana tak dapat
menjawab. Tetapi hatinya mengumpat. Hampir saja ia menyebut ada yang akan
ditempuhnya. Melarikan Ken Dedes, dan menyembunyikannya sampai terdapat
keturunan daripadanya. Tetapi niat itu urung. Akibat dari adat itu pun tak akan
mau ditanggungkan. Sebab bila niat itu gagal, dan keluarga gadis yang dilarikan
itu menuntutnya, ia akan dapat perlakuan yang mengerikan. Mati dirampok orang
seperti seekor harimau yang masuk ke dalam padukuhan.
Karena Kuda Sempana tidak
menjawab, maka sejenak suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah gemericik
air yang mengalir dan jatuh berderai dari atas bendungan. Bulatan demi bulatan
melingkar di wajah air yang jernih itu, semakin lama semakin besar. Dan kemudian
pecah membentur tepian. Yang satu disusul dengan yang lain. Tak henti-hentinya
sejak bendungan itu selesai dibuat beberapa tahun lampau.
Di dalam kepala Ki Buyut
Panawijen itu pun melingkar-lingkar pula berbagai pertanyaan. Tanpa terucapkan,
namun a tahu apa yang akan ditempuh oleh Kuda Sempana. Dikenalnya anak itu
sebagai anak yang cenderung menuruti kemauan sendiri. Karena itu tiba-tiba ia
berdesis, “Sayang. Sebenarnya kami, penduduk dari pedukuhan ini merasa bangga,
bahwa seorang anaknya telah berhasil merebut hati sang Akuwu Tumapel, sehingga
mendapat tempat yang baik di sisinya. Kepercayaan itu sebenarnya kami rasakan
sebagai suatu kepercayaan pula buat kami, penduduk Panawijen yang sepi. Angger
Kuda Sempana akan dapat menjadi tempat kami untuk berteduh jika hujan turun, dan
bernaung jika terik matahari membakar tubuh. Tetapi sayang. Sayang….”
Penyesalan yang dalam
membayang di wajah Buyut Panawijen itu.
Tak seorang pun
menyambung kata-kata itu. Mereka tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh
pimpinan pedukuhan itu. Namun timbullah di dalam setiap kepala, keragu-raguan
untuk berbuat sesuatu. Pikiran itu bertolak dari pendapat yang sama pula. Kuda
Sempana adalah pengawal dalam Akuwu Tumapel. Sedang setiap orang tahu sifat dan
tabiat yang aneh dari Tunggul Ametung itu. Tunggul Ametung dapat berbuat
sebaik-baiknya sebagai seorang Akuwu, namun ia dapat pula berbuat
se-kejam-kejamnya. Akuwu itu benar-benar orang yang keras hati, sekeras batu
akik, namun pada suatu saat hati itu dapat selunak kapas.
Karena itu tak seorang
pun dapat membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh Tunggul Ametung, jika salah
seorang pengawalnya mengalami perlakuan yang jelek di kampung halamannya.
Meskipun demikian adat harus ditegakkan. Meskipun Kuda Sempana itu senapati
sekali pun, maka seharusnya ia mendapat perlakuan yang sama, apabila telah
dilakukan sesuatu kesalahan.
Dan semuanya itu
tergantung kepada Empu Purwa, ayah dari gadis yang akan dilarikan itu.
Maka akhirnya semua mata
pun tertuju kepadanya. Apakah yang akan dikatakan oleh orang tua itu. Apabila
orang tua itu menganggap bahwa Kuda Sempana telah melarikan anak gadisnya, dan
maksud itu dapat dicegah, maka ia dapat menuntut hukuman atas anak muda itu.
Kuda Sempana pun sadar
akan hal itu. Namun telah bulat tekad di dalam hatinya, bahwa wanita, pusaka dan
nyawanya tak berbeda nilainya. Karena itu maka ia pun telah bersiap untuk
menghadapi segala kemungkinan. Menghadapi Mahisa Agni sekali pun, meskipun akan
berakibat maut baginya.
Empu Purwa menyadari
keadaannya. Ditatapnya setiap wajah dari tetangga-tetangganya itu. Dilihatnya
keragu-raguan dan kecemasan di wajah-wajah itu. Sekali dipandangnya wajah
anaknya pula. Pucat dan gemetar. Hatinya masih saja dicengkam oleh perasaan malu
dan hina. Ketika kemudian Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni, dilihatnya
wajah itu merah membara. Dengan tajam anak muda itu tak melepaskan pandangannya
atas Kuda Sempana.
“Angger Kuda Sempana,”
kemudian terdengar orang tua itu berkata, “adakah angger tadi benar-benar
bermaksud melarikan Ken Dedes?”
Kuda Sempana menggigit
bibirnya. Ketika terpandang olehnya wajah Wiraprana yang bengap merah biru,
dilihatnya anak muda yang tinggi besar itu tersenyum sambil mengangguk kecil.
“Persetan!” umpatnya di
dalam hati, namun mulutnya terpaksa menyahut, “Ya, Empu.”
Empu Purwa menarik nafas,
dan hampir setiap mulut kemudian mengucap berbagai kata-kata yang tidak jelas.
Ketika untuk sesaat
kemudian Empu Purwa terdiam, maka keadaan menjadi tegang. Orang-orang Panawijen
itu melihat wajah Empu Purwa seakan-akan tanggul yang sudah penuh dengan air.
Apabila tanggul itu bobol, maka akan datanglah banjir. Dan orang-orang yang
berdiri tegak memagari itu pun harus ikut serta. Dan Kuda Sempana adalah biduk
yang akan digulung oleh kedahsyatan banjir itu.
Tiba-tiba ketegangan itu
dipecahkan oleh pertanyaan Empu Purwa kepada Kuda Sempana, “Angger, adakah
angger menyesal?”
Pertanyaan itu
benar-benar tak terduga. Baik oleh Kuda Sempana sendiri maupun oleh orang-orang
Panawijen. Karena itu Kuda Sempana tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Empu
Purwa dengan ragu. Sehingga Empu Purwa yang tua itu mengulangi pertanyaannya,
“Angger, adakah Angger menyesal atas perbuatan itu?”
Pertanyaan itu jelas.
Kata demi kata. Setiap orang tahu maksud pertanyaan itu. Karena itu setiap orang
menarik nafasnya. Seakan-akan mereka melihat air yang memenuhi tanggul itu
menjadi surut. Namun Kuda Sempana masih belum menjawab. Di dalam dadanya
timbullah suatu pergolakan yang riuh. Sudah pasti sama sekali tak dihendakinya,
apabila orang-orang sekampungnya akan beramai-ramai mengeroyoknya seperti seekor
harimau yang tersesat masuk ke kampung. Tetapi untuk menarik diri terasa bahwa
harga dirinya tersentuh. Ketika dilihatnya Mahisa Agni tegak seperti karang,
sekali lagi ia mengumpat di dalam hatinya, “Kalau saja anak gila itu tidak ada
di sini, maka orang-orang Panawijen. laki-laki perempuan, tua muda, akan
dihadapinya. Tetapi kini Agni yang garang itu masih berdiri tegak di hadapannya.
Maka sesaat Kuda Sempana pun membuat perhitungan-perhitungan. Ia tidak takut
mati. Namun ia masih ingin menunda kematian itu. Meskipun demikian anak muda
yang gagah itu pun tidak segera menjawab, sehingga kemudian kembali terdengar
suara pendeta tua itu, “Angger, aku tahu, betapa berat untuk mengucapkan
kata-kata yang tak pernah terucapkan. Apalagi oleh seorang satria seperti Angger
Kuda Sempana. Karena itu, maka baiklah aku pakai cara seorang tua. Kalau Angger
Kuda Sempana menyesal, sarungkanlah keris angger.”
Kembali keadaan menjadi
tegang. Semua mata terpaku pada tangan Kuda Sempana yang menggenggam kerisnya
erat-erat. Kuda Sempana sendiri pun memandang tangannya itu. Dan tangan itu
menjadi gemetar. Setiap orang yang memandang tangan itu pun kemudian menjadi
ngeri. Keris itu benar-benar pusaka yang menakjubkan. Kalau Kuda Sempana tak mau
menyarangkan keris itu, maka keris itu pun segera akan menari-nari. Setiap orang
akan dapat mengalami nasib yang jelek karenanya.
Ketika tangan Kuda
Sempana itu bergerak perlahan-lahan maka orang-orang yang terdekat pun bergeser.
Namun semua orang menarik nafas lega ketika mereka melihat, ujung keris yang
gemetar itu manjing ke dalam wrangkanya.
“Syukurlah berkata Empu
Purwa kemudian sambil mengangguk-angguk kecil, “ternyata Angger berjiwa besar.”
Kemudian pendeta tua itu
pun berkata kepada Buyut Panawijen, “Ki Buyut marilah persoalan ini kita hadapi
dengan jiwa besar pula. Marilah semuanya ini kita lupakan.”
Ki Buyut Panawijen
mengangguk-angguk pula. Di dalam hatinya pun tersimpan perasaan semacam itu.
Meskipun di sudut hati itu yang paling dalam melengking pula pertanyaan, “Adakah
Kuda Sempana itu akan dibiarkan membawa kesalahannya tanpa hukuman apapun?”
Namun terdengar pula
jawaban dari sudut yang lain, “Ayah gadis itu tak menuntutnya. Dan, bukankah
anak muda itu pengawai dalam istana Tumapel.”
Ki Buyut Panawijen
memandangi Kuda Sempana yang gagah itu. Pakaian kelengkapannya yang indah
meskipun kotor dan kusut, sabuk bertimang emas dengan mata berlian.
Akhirnya Buyut Panawijen
itu pun berkata, “Angger Kuda Sempana. Angger telah berbuat Kesalahan. Tetapi
untunglah segala sesuatu masih belum terlanjur. Aku tak dapat menyalahkan
Wiraprana dan Angger Mahisa Agni, bukan karena Wiraprana itu anakku. Berterima
kasihlah Angger Sempana kepada anak-anak muda yang mencegah Angger, sebelum
Angger sempat menyentuh gadis yang akan Angger larikan, sehingga kebebasan
Angger dari setiap hukuman tidak terasa sebagai pelanggaran yang mutlak atas
adat di kampung kita. Namun janganlah hal ini menjadi contoh. Kalau Empu Purwa
menghendaki, hukuman itu mempunyai alasan yang cukup untuk dijatuhkan. Tetapi
dengan demikian, peristiwa ini akan benar-benar mengganggu ketenteraman
pedukuhan kita. Maka bijaksanalah Empu Purwa. Meskipun demikian, tak dapat angin
lalu tanpa menggoyangkan daun-daun pepohonan. Karena itu, baiklah aku minta,
sebagai orang yang diserahi tanggung jawab atas pedukuhan ini, agar Angger Kuda
Sempana segera meninggalkan kampung kita. Jangan kembali sebelum sampai pada
bilangan tahun.”
Kuda Sempana yang gagah
itu mengerutkan keningnya. Ia memandang hampir semua orang yang berdiri di
sekelilingnya. Hukuman yang jauh lebih ringan dari yang diduganya itu tidak juga
menyenangkan hatinya. Terasa bahwa sejak saat itu, ia akan dipisahkan dari tanah
kelahirannya, sedikitnya untuk setahun.
“Persetan tanah kelahiran
yang beku ini!” pikirnya, “Di Tumapel aku mempunyai lingkungan yang jauh lebih
baik dari orang-orang yang bodoh dan keras kepala ini. Apakah artinya bagiku,
bendungan, belumbang, rumpon, sawah, parit dan segala macam yang pasti akan
menjemukan. Di Tumapel, aku dapat bermain-main dengan kuda, tombak, dan
kemewahan.”
Tetapi Kuda Sempana
memandang Ken Dedes yang masih duduk di pasir tepian. Terasa hatinya berdesir.
Dan tiba-tiba menyalalah dendam yang membakar hatinya atas kampung halamannya,
atas orang-orang yang melingkungi hidupnya semasa kanak-kanaknya. Dan dendam itu
harus ditumpahkan. Kalau ia tak dapat memetik Bunga dari lereng Gunung Kawi itu,
maka biarlah bunga itu akan digugurkan saja dari tangkainya. Sama sekali ia
tidak rela melihat orang lain, apalagi pemuda-pemuda desa seperti Agni atau
Wiraprana kelak akan memetiknya.
Sekali lagi Kuda Sempana
memandangi setiap wajah itu dengan muaknya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia
meloncat pergi meninggalkan mereka dengan dendam yang membara di dadanya.
Berpuluh-puluh pasang
mata mengikuti langkah pemuda yang gagah itu. Sesaat kemudian Kuda Sempana telah
meloncat ke atas punggung kudanya yang sedang asyik makan rerumputan segar.
Namun ketika terasa sentuhan pada lambungnya, segera kuda yang tegar itu
menengadah, dan meloncatlah ia dengan lajunya meninggalkan tepian sungai itu.
Beberapa orang menarik
nafas lega. Mereka seakan merasa terlepas dari bencana. Ki Buyut Panawijen dan
Empu Purwa pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.
“Anak yang keras kepala,”
desis Ki Buyut.
Tak seorang pun yang
menyahut.
“Marilah kita tinggalkan
tempat ini,” berkata Buyut Panawijen itu pula.
Beberapa orang yang lain
pun segera bergerak mengikuti Buyut Panawijen itu. Tanpa berkata-kata sepatah
pun mereka mendaki tebing dan hilang di belakang tanggul.
Yang tinggal kemudian
adalah Empu Purwa, Ken Dedes, Mahisa Agni dan Wiraprana. Sedang gadis-gadis yang
mengintip dari atas tanggul, satu demi satu menuruni tebing untuk mengambil
cucian-cucian mereka yang tinggal di belumbang.
Untuk beberapa saat Empu
Purwa, Mahisa Agni dan Wiraprana masih memandang ke arah Kuda Sempana
menghilang. Empu yang tua dan bijaksana itu mengeluh di dalam hatinya Sebenarnya
Empu Purwa yang telah cukup banyak mengenyam pahit manisnya kehidupan, segera
dapat mengerti bahwa Kuda Sempana sama sekali tidak ikhlas atas keputusan yang
diambilnya. Namun perasaan itu sama sekali tak diungkapnya. Tetapi betapa
pendeta tua itu terkejut ketika terdengar suara Mahisa Agni lirih, “Bapa, adakah
Kuda Sempana menerima keputusan ini dengan jujur?”
Empu Purwa memandang Agni
dengan seksama. ia pun sadar, bahwa tidak mustahil orang-orang lain pun
menyimpan pertanyaan yang demikian di dalam hatinya. Meskipun demikian ia
menjawab, “Angger Kuda Sempana adalah seorang satria yang berjiwa besar. Seorang
yang demikian akan melihat kenyataan dengan jujur.”
Mahisa Agni kecewa
mendengar jawaban itu. Tetapi ia sadar, bahwa di kampung halamannya, gurunya itu
tidak lebih dari seorang pendeta yang meluluhkan diri dalam ketekunan beribadah.
Dalam pedukuhan yang tenteram damai itu, tak seorang pun yang pernah melihat,
bahwa Empu Purwa yang tua dan alim itu mampu menggenggam segala macam senjata di
kedua sisi tangannya. Mampu menghantam hancur lawan yang betapa pun tangguhnya
hanya dengan tangannya. Tetapi masa-masa yang demikian telah lampau bagi pendeta
tua itu. Namun demikian, ia tidak menutup mata atas suatu kenyataan, bahwa
kadang-kadang kebenaran harus dibela dengan kemampuan yang demikian.
Kadang-kadang diperlukan kekuatan jasmaniah untuk menegakkan keadilan dan
terutama untuk melawan segala bentuk kejahatan dan pengingkaran atas kebenaran
dan keadilan itu. Kebenaran dan keadilan yang sebenar-benarnya. Kebenaran dan
keadilan yang dibenarkan oleh Yang Maha Agung. Karena itulah maka ia menempa
anak muda yang bernama Agni itu. Semoga anak itu dapat mengamalkan ilmunya.
Mengamalkan, dan bukan sebaliknya.
Pendeta tua itu tersentak
ketika kemudian Wiraprana berkata, “Empu, aku melihat sesuatu membayang di wajah
Kuda Sempana.”
“Apakah itu?” bertanya
Empu Purwa.
“Dendam,” jawab
Wiraprana.
“Oh,” sahut Empu Purwa,
“Tidak. Jangan berprasangka, Ngger. Tak baik orang menyimpan dendam di dalam
dirinya.”
“Yang menyimpan dendam
itu bukan aku Empu,” jawab Wiraprana sambil tersenyum, “tetapi Kuda Sempana.”
“Ya, ya,” potong pendeta
itu cepat-cepat, “maksudku bukan Angger. Tetapi siapa saja. semua orang.”
Wiraprana
mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun wajahnya masih merah biru, namun anak
muda itu selalu tersenyum saja. Hanya kadang-kadang tampak ia menyeringai, kalau
nyeri-nyeri di punggungnya terasa seperti menyengat-nyengat sampai ke ubun-ubun.
Sesaat kemudian Empu
Purwa itu teringat kepada anaknya yang masih duduk lesu di atas pasir. Dengan
lembut orang tua itu berkata sambil menarik lengan putrinya, “Ken Dedes, marilah
kita pun pulang. Ambillah cucianmu.”
Ken Dedes menatap wajah
ayahnya. Wajah seorang yang paling dikasihi dari semua orang yang dikenalnya.
“Adakah kau sudah selesai
dengan cucianmu?” bertanya ayahnya.
Ken Dedes menggeleng.
“Apakah kau ingin
menyelesaikannya,” bertanya ayahnya pula.
Sekali lagi gadis itu
menggeleng.
“Kalau demikian marilah
kita pulang. Biarlah kau selesaikan di rumah,” ajak Empu Purwa.
Perlahan-lahan Ken Dedes
berdiri dan berjalan ke belumbang untuk mengambil cuciannya. Namun wajahnya yang
pucat itu selalu ditundukkannya. Tak berani ia menatap wajah kawan-kawannya yang
seakan-akan memandangnya dengan penuh persoalan.
Sesaat kemudian mereka
itu pun pulang bersama-sama. Empu Purwa berjalan membimbing putrinya. Di
belakang mereka berjalan Mahisa Agni dan Wiraprana, Namun kadang-kadang
Wiraprana masih harus berpegangan pundak sahabatnya itu.
Di perjalanan itu pun
mereka tak banyak bercakap-cakap. Mereka sedang asyik bermain-main dengan
angan-angan. Di dalam kepala Mahisa Agni masih saja membayang wajah Kuda Sempana
yang menyala-nyala liar. Karena itu, mau tidak mau Mahisa Agni harus berpikir,
“Bagaimanakah kalau anak itu datang sebelum waktu yang ditentukan? Apalagi kalau
anak itu datang tidak seorang diri, tetapi dengan beberapa kawannya dari
Tumapel?”
Tetapi kemudian
dihiburnya sendiri hatinya, “Empu Purwa pasti tidak akan membiarkan anaknya
mengalami nasib sedemikian Kalau perlu, perlu sekali, maka orang tua itu pasti
akan membela anaknya. Kalau terpaksa, pasti ia akan mempertahankan dengan
kekerasan pula.”
Demikianlah batin Mahisa
Agni menjadi agak tenteram karenanya.
Setelah menghantarkan
Wiraprana, Agni pun segera pulang ke rumah gurunya. Dan sehari itu sama sekali
tak dijumpainya Ken Dedes, yang kemudian merendam diri di dalam biliknya.
Empu Purwa pun tidak
dijumpainya di halaman atau di pendapa. Seorang cantrik berkata kepadanya, bahwa
Empu Purwa sedang berada di sanggarnya.
Terasa sehari-hari rumah
itu menjadi sepi. Mahisa Agni berjalan hilir mudik dengan gelisahnya. Sekali
dipegangnya senggot timba untuk mengisi jambangan, tetapi belum lagi pekerjaan
itu selesai Mahisa Agni telah berpindah pekerjaan. Diambilnya cangkul dan sabit.
Dicobanya melupakan kegelisahannya dengan menyiangi pertamanan di belakang.
Namun pekerjaan ini pun tak menyenangkannya. Burung-burung peliharaannya yang
bernyanyi riuh itu pun tak menarik perhatiannya.
Akhirnya Mahisa Agni pun
menyekap diri di bilik belakang. Bilik yang dipergunakannya untuk mesu diri,
melatih tubuh wadagnya sejak ia mulai berguru kepada Empu Purwa itu. Dengan
serta-merta dilepasnya ikat pinggangnya, diikatkan di pinggangnya. Dengan sebuah
loncatan tinggi Mahisa Agni mulai dengan latihannya. Latihan yang lain daripada
saat-saat berlatih. Ia hanya ingin melepaskan kesepian dan kegelisahan yang
mencengkamnya. Dilakukannya berbagai gerakan, dari yang paling sederhana sampai
yang paling sulit yang pernah dipelajarinya. Dengan tangkasnya ia
meloncat-loncat seperti kijang. Melingkar, berputar dan melambung ke udara.
Ketika ia telah menjadi jemu dengan segala gerakan itu, tiba-tiba di tangannya
telah tergenggam sebilah pedang yang diraihnya dari dinding biliknya. Dengan
lincahnya Mahisa Agni mempermainkan pedangnya. Kadang-kadang ia mencoba membuat
gerakan-gerakan yang indah, namun tiba-tiba gerakannya menjadi cepat dan kaku.
Demikianlah Mahisa Agni
melepaskan kejemuan dengan berbagai-bagai senjata. Pedang, tombak, cemeti dan
jenis-jenis senjata lain. Sehingga akhirnya Mahisa Agni menjadi lelah. Satu demi
satu senjata-senjata itu dikembalikannya pada tempatnya, dan yang terakhir
Mahisa Agni meletakkan tubuhnya di sudut bilik itu. Demikian lelahnya setelah
semalam ia harus bertempur melawan hantu Karautan, pagi itu dengan Kuda Sempana
dan masa latihannya berlebih-lebihan, maka akhirnya Mahisa Agni pun tertidurlah
dengan nyenyaknya.
Betapa mimpi yang
aneh-aneh telah mengganggunya. Dilihatnya di dalam mimpi itu, Ken Dedes meloncat
ke dalam perahu yang megah di sebuah danau yang tenang. Tetapi tiba-tiba air
danau itu pun bergolaklah. Sebuah angin yang kencang telah mengguncang perahu
yang megah itu sehingga perahu itu bergoyang dengan kerasnya. Ken Dedes yang
berada di dalam perahu itu terlempar dan segera ditelan oleh gelombang yang
ganas. Dan yang terakhir Mahisa Agni melihat perahu itu tenggelam. Bagaimana-
pun ia mencoba untuk menolong Ken Dedes maupun perahunya, namun sia-sia. Bahkan
akhirnya dirinya pun terguncang keras-keras.
Balas
#
On 10 November 2009 at 08:24 ki sunda Said: |Sunting Ini
lanjutannya…
Mahisa Agni terkejut.
Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dilihatnya bilik itu telah menjadi gelap.
Seorang tua dengan lampu di tangan berdiri di sampingnya. Berkata orang itu,
“Apakah kau sedang bermimpi?”
Perlahan-lahan Mahisa
Agni bangkit. Dilihatnya keadaan di sekelilingnya. Ternyata ia masih berada di
dalam biliknya.
Sekali ia menggeliat,
kemudian jawabnya, “Ya Guru, sebuah mimpi yang jelek.”
“Aku sudah menduga. Di
dalam tidur kau menggeram,” sahut gurunya.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Syukurlah bahwa semuanya itu hanya terjadi di dalam mimpi. Namun
meskipun demikian mimpi itu sangat mengganggunya. Sehingga kemudian terluncur
juga dari mulutnya, “Guru, mimpiku menggelisahkan sekali. Adakah setiap mimpi
itu mempunyai arti?”
“Apakah mimpimu itu?”
bertanya gurunya.
Mahisa Agni mencoba untuk
menceritakan mimpinya. Sejak awal sampai betapa ia meronta-ronta melawan ombak
yang menghempas-hempaskannya.
Empu Purwa mengerutkan
keningnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Namun kemudian ia tersenyum,
katanya, “Waktu mimpimu itu adalah waktu yang tak membawa arti. Mimpi yang
mengandung makna adalah mimpi pada saat-saat antara ayam jantan berkokok untuk
kedua dan ketiga kalinya. Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak
tidur, Agni.”
Mahisa Agni pun tersenyum
pula. Tetapi senyumnya itu pun sama sekali tidak meyakinkan. Mahisa Agni telah
mengenal gurunya baik-baik, sehingga ia tahu benar tabiat orang tua itu.
Meskipun orang tua itu mencoba menghapuskan kesannya atas mimpi Mahisa Agni,
namun tertangkap juga oleh Mahisa Agni, kegelisahan yang membayang di wajah itu,
meskipun hanya sesaat. Tetapi ia tidak berani bertanya lebih lanjut.
“Agni,” berkata Empu
Purwa kemudian, “bersihkanlah dirimu. Kami sudah makan malam. Makanlah dahulu,
kemudian datanglah kepadaku. Ada yang akan aku bicarakan.”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Gurunya memanggilnya. Pasti ada sesuatu yang penting.
Mahisa Agni pun kemudian
berdiri dan perlahan-lahan berjalan keluar. Panggilan gurunya itu agak
mengganggunya, di samping mimpi yang menggelisahkan itu.
“Mimpi seseorang yang
terlalu banyak tidur,” gumamnya, “Mudah-mudahan.”
Namun meskipun demikian
Mahisa Agni tak dapat melupakannya.
Setelah membersihkan
diri, Mahisa Agni segera pergi ke dapur. Dilihatnya Ken Dedes duduk di atas
bale-bale bambu. Ketika dilihatnya ia datang, segera gadis itu menyapanya, “Kau
tertidur di bilik belakang Kakang?”
Mahisa Agni mengangguk.
Ditatapnya wajah gadis itu. Pucat, dan tampak bendul di kedua pelupuk matanya.
Agaknya gadis itu sehari-harian menangis di dalam biliknya.
Ken Dedes memalingkan
wajahnya. Ia merasa Mahisa Agni memandang bendul di pelupuk matanya itu.
“Apa yang kau tatap itu
Kakang? Apakah kau belum pernah melihat mataku?” katanya sambil mencoba
tersenyum.
“Bukan apa-apa,” jawab
Agni. Dan tiba-tiba saja sikapnya menjadi canggung. Ia telah berkumpul dengan
Ken Dedes dalam satu rumah bertahun-tahun lamanya. Namun kini terasa gadis itu
menjadi asing baginya.
KARENA MAHISA AGNI masih
tegak di pintu, berkatalah Ken Dedes, “Apakah kau akan berdiri saja di situ?”
“Oh,” dan Mahisa Agni pun
berjalan memasuki ruangan itu. Dilihatnya beberapa endang sedang sibuk
membersihkan piring-piring tanah dan mangkuk.
“Kau terlambat makan
Kakang. Ayah, para cantrik dan endang, dan aku sudah makan. Ayah mencarimu tadi.
Ternyata kau ditemukannya di bilik belakang,” berkata Ken Dedes sambil
mempersiapkan makan Agni.
“Aku lelah sekali,” jawab
Agni.
Ken Dedes menundukkan
wajahnya. Jawaban Agni itu bagi Ken Dedes terdengar seolah-olah berkata ‘Aku
sangat lelah Ken Dedes, setelah aku berkelahi mempertahankan kau’.
Dan tiba-tiba terdengar
Ken Dedes berdesis, “Terima kasih, Kakang.”
Mahisa Agni terkejut
mendengar kata-kata itu. Maka ia pun bertanya, “Kenapa terima kasih?”
Ken Dedes tersadar dari
angan-angannya. Karena itu ia pun menjadi tersipu-sipu. Sahutnya, “Terima kasih,
bahwa kau masih akan memberi aku pekerjaan dengan bekas-bekas makan itu.”
“Oh,” Mahisa Agni pun
tersenyum, “maafkan aku.”
Dan Mahisa Agni pun
makanlah. Anak muda itu duduk bersila di atas bale-bale bambu, sedang Ken Dedes
duduk pula di sampingnya. Dilayaninya Mahisa Agni dengan cermatnya. Tidak
bedanya ia melayani ayahnya.
Bagi Mahisa Agni, hal
yang demikian itu sudah sering benar dialami. Ken Dedes yang bersikap sebagai
seorang adik itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk ayah dan saudara
tuanya. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. Ken Dedes tidak banyak
berbicara seperti biasanya. Bahkan kadang-kadang ia tunduk diam dan
sekali-sekali dipandanginya titik-titik yang jauh di dalam kegelapan malam.
Dan tiba-tiba terdengar
gadis itu bergumam tanpa melepaskan pandangannya yang menghunjam ke gelap malam,
“Kakang, Ayah memanggil aku menghadap setelah Kakang selesai makan malam.”
Jantung Mahisa Agni pun
berdesir. Gadis itu pun dipanggil pula oleh ayahnya.
“Kalau demikian,” pikir
Mahisa Agni, “masalahnya pasti masalah gadis itu. Mungkin akibat sikap Kuda
Sempana siang tadi. Agaknya gurunya pun melihat ketidak ikhlasan anak itu.
Tetapi mungkin, meskipun terdorong oleh peristiwa pagi tadi, ada juga
persoalan-persoalan lain.”
Mahisa Agni menarik nafas
panjang.
“Kenapa kau berdesah?”
bertanya Ken Dedes.
Mahisa Agni terkejut.
Dicobanya tersenyum. Jawabnya, “Aku lupa bahwa aku sudah terlalu kenyang.”
“Bohong!” bantah Ken
Dedes.
Sikap manjanya
kadang-kadang masih tampak, meskipun ia mencoba bersikap sungguh-sungguh. Dan
tiba-tiba saja Ken Dedes kini telah benar-benar menjadi gadis dewasa di dalam
tangkapan Mahisa Agni.
Dan tiba-tiba gadis itu
memberengut. Katanya, “Kau tidak mengacuhkan aku.”
“Kenapa?” bertanya Agni,
“bukankah aku memperhatikan setiap kata-katamu.”
“Tidak,” sahut gadis itu,
“aku berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi mendengar pun kau tidak.
“Aku mendengar,” jawab
Agni.
“Apa yang aku katakan?”
ia bertanya.
“Bapa Pendeta memanggil
kau menghadap,” Agni mengulangi kata-kata Ken Dedes.
“Kau mendengarnya?” desis
Ken Dedes, “kalau demikian kau benar-benar tidak menaruh perhatian.”
“Aku memperhatikan dengan
sungguh-sungguh pula,” Agni mencoba membela diri.
“Kau tidak memberikan
tanggapan apa-apa. Kau tidak terkejut dan kau tidak bertanya, kenapa aku
dipanggil Ayah. Bahkan kau malahan berdesah karena kau makan terlalu kenyang.
Mungkin kau baru merenungkan sesuatu sehingga perut kakang sendiri pun Kakang
lupakan. Apakah Kakang Agni sedang merenungkan Witri atau Sita yang manis itu?”
tuduh Ken Dedes.
“Ah,” bantah Mahisa Agni,
“jangan mengada-ada Ken Dedes. Aku mendengar kata-katamu dan aku merenungkannya.
Aku sedang berpikir apakah kira-kira sebabnya.”
“Bohong,” Ken Dedes
mencibirkan bibirnya.
Sekali lagi Mahisa Agni
menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tersenyum melibat putri gurunya yang manja
namun bersungguh-sungguh itu.
“Aku benar-benar terlalu
kenyang,” Mahisa Agni bergumam, “justru karena aku merenungkan kata-katamu.”
“Bohong. Bohong,” sekali
lagi gadis itu mencibirkan bibirnya.
“Sudahlah Ken Dedes.
Nanti Bapa Pendeta terlalu lama menunggu. Disangkanya aku terlalu lama makan,”
berkata Agni kemudian.
“Bukankah sebenarnya
demikian. Kakang makan terlalu lama meskipun Kakang makan terlalu cepat,” jawab
Ken Dedes.
Mahisa Agni diam saya.
Dipandangnya Ken Dedes itu, yang kemudian berdiri membenahi piring-piring dan
mangkuk-mangkuk. Diambilnya kendi dari glodog dan disodorkannya kepada Mahisa
Agni.
“Terima kasih Ken Dedes,”
sambut Mahisa Agni.
Ken Dedes yang hampir
melangkah pergi berhenti memandangi Mahisa Agni, katanya, “Sejak kapan Kakang
berterima kasih kepadaku?”
Agni menundukkan
wajahnya. Ia tidak menjawab kata-kata itu. Sehingga Ken Dedes pun melangkah
pergi. Dengan sudut matanya Mahisa Agni melihat gadis itu. Tidak terlalu tinggi,
bulat dan langsing. Pekerjaannya sehari-hari telah membentuk tubuh gadis itu
menjadi serasi. Kuat namun tidak terlalu kasar. Dan tiba-tiba Mahisa Agni
bergumam di dalam hatinya, “Hem, benar juga kata anak-anak muda. Putri Bapa
Pendeta itu bagaikan Bunga di lereng Gunung Kawi. Dan bunga itu kini mulai
kembang.”
Mahisa Agni
menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kembali ia tunduk dalam-dalam ketika Ken
Dedes datang kepadanya dan kembali duduk di sampingnya.
“Kakang,” gadis itu
berkata pula. Kali ini bersungguh-sungguh, “Ayah memanggil aku.”
Mahisa Agni mengangkat
wajahnya, katanya, “Kenapa kau dipanggil?”
Tetapi tiba-tiba gadis
itu memberengut kembali. Katanya, “Kakang, kau menggodaku sejak tadi.”
“He,” Agni tidak
mengerti, “kenapa?”
“Kau tidak
bersungguh-sungguh. Kau bertanya karena aku tadi berkata demikian,” Ken Dedes
bersungut.
“Ah,” desah Mahisa Agni,
“lalu bagaimanakah aku harus bersikap. Ken Dedes, sebenarnyalah aku ingin
mengetahui, apakah sebabnya kau dipanggil oleh Bapa Pendeta. Bukankah hal yang
demikian itu bukan menjadi kebiasaan?”
Ken Dedes mengangguk. Dan
kembali ia bersungguh-sungguh. Katanya, “Aku tak tahu. Mungkin Ayah marah
kepadaku.”
“Aku sangka tidak. Sebab
kau tidak bersalah. Namun mungkin pula ada hubungannya dengan peristiwa pagi
tadi.”
Mahisa Agni diam
sebentar, kemudian ia meneruskan perlahan-lahan, “Aku pun dipanggilnya.”
“Oh,” desis Ken Dedes.
Tetapi tak ada sepatah kata pun lagi yang melontar dari sela-sela bibirnya yang
tipis itu.
Untuk sesaat mereka
berdua berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan angan-angannya sendiri. Para
endang telah hampir selesai dengan pekerjaan mereka. Sehingga kemudian Agni pun
berkata, “Ken Dedes, pergilah kau dahulu. Bapa Pendeta sudah lama menunggu.”
“Mungkin,” sahut Ken
Dedes, “Baiklah aku pergi dahulu. Kapankah Kakang akan menghadap Ayah?”
“Sebentar lagi aku
datang,” jawab Agni
Ken Dedes pun kemudian
berdiri. Ketika ia berjalan keluar. Mahisa Agni mengikutnya dengan pandangan
matanya. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba ia terkejut ketika
ia mendengar seorang cantrik batuk-batuk di sudut dapur.
“Apa kerjamu di situ?”
pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Agni.
“Mengisi jambangan,”
jawabnya sambil tersenyum.
“Ah,” Mahisa Agni
kemudian tidak memedulikan lagi. Segera ia pun berdiri dan dengan langkah
panjang-panjang ia pun pergi meninggalkan ruangan itu
Di pringgitan Empu Purwa
duduk di sudut ruangan, di atas tikar pandan yang putih. Dilipatnya kedua
tangannya di dadanya, sambil duduk bersandar dinding. Kadang-kadang dikecupnya
mangkuk air sere hangat-hangat sambil menggigit gula kelapa. Sedap.
Dengan sabarnya ia
menunggu putrinya dan Mahisa Agni datang kepadanya seperti permintaannya. Hal
yang demikian hampir tak pernah dilakukan. Ia berbicara dengan kedua anak itu di
mana saja mereka bertemu. Di pendapa, di pertamanan, di tepi kolam atau di
perjalanan. Namun agaknya kali ini ada sesuatu yang dianggapnya sedemikian
pentingnya sehingga ia harus berbicara bersungguh-sungguh.
Ketika kemudian putrinya
muncul dari balik pintu, Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Duduklah Ken Dedes, di mana Mahisa Agni? Hampir aku mengantuk menunggumu di
sini.”
Ken Dedes adalah gadis
yang manja. Ayahnya itu pun suka pula bergurau. Namun kali ini tampaklah
wajahnya bersungguh-sungguh. Hening. Namun sepi.
Karena itu Ken Dedes pun
tidak berani bersikap manja seperti sikapnya sehari-hari. Dengan wajah tunduk ia
pun segera duduk di muka ayahnya.
“Di mana Agni?” ayahnya
bertanya.
“Di dapur Ayah,” jawab
Ken Dedes, “baru saya Kakang Agni selesai makan.”
Empu Purwa
mengangguk-angguk. “Biarlah kita tunggu,” katanya.
Ken Dedes menjadi semakin
berdebar-debar. Apakah persoalan itu penting sekali? Meskipun demikian ia sudah
dapat meraba-raba. Pasti ayahnya akan bertanya kepadanya, hubungan apakah yang
pernah dilakukan dengan Kuda Sempana. Dan Ayahnya itu akan menjadikan Mahisa
Agni sebagai saksi.
Sesaat kemudian Agni pun
datang pula. Langsung ia duduk di atas tikar pandan itu. Seperti Ken Dedes, dada
anak muda itu pun berdebar-debar pula.
Setelah keduanya duduk
beberapa saat, berkatalah Empu Purwa, “Mahisa Agni dan Ken Dedes. Aku sangka
kalian menduga-duga di dalam hati, persoalan yang agak bersungguh-sungguh ini.
Namun aku rasa kalian telah menemukan jawabannya”
Mahisa Agni menggeleng.
Jawabnya, “Belum Bapa. Sewaktu Bapa minta aku datang sampai pada saat ini, tak
ada yang dapat aku kira-kirakan.
Empu Purwa tersenyum.
Dipandanginya anak gadisnya. Kemudian katanya, “Benarkah begitu Ken Dedes?”
Ken Dedes mengangguk.
Empu Purwa menarik nafas
dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal bahwa peristiwa pagi tadi harus
terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan menjadi buah percakapan.”
Ken Dedes pun menjadi
semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada berbagai
perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam, Karena
itu, tiba-tiba terasa air matanya mengambang di pelupuk matanya yang masih
bendul.
Ketika Empu Purwa melihat
anaknya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi itu bukan salahmu, Anakku.
Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak menyalahkanmu.”
Justru karena kata-kata
itu, air mata Ken Dedes menjadi semakin banyak, dan kemudian setetes demi
setetes membasahi pangkuannya,
“Jangan menangis,”
sambung ayahnya, “aku belum selesai. Bahkan aku belum sampai kepada
persoalannya.”
Ketika Empu Purwa diam
sejenak maka pringgitan itu menjadi sepi. Di kejauhan terdengar bunyi jangkrik
sahut-menyahut dengan siul angkup nangka dihembus angin. Ngelangut.
Nyala lampu di dapur pun
telah padam. Tak terdengar lagi suara cantrik dan endang yang lagi bergurau,
Padepokan Empu Purwa telah mulai lelap tertidur.
“Ken Dedes,” suara Empu
Purwa lirih, namun dalam malam yang sepi itu terdengar jelas kata demi kata,
“kalau kau sekali-sekali becermin di belumbang di samping rumah kita ini, kau
akan sempat memperhatikan dirimu. Telah hampir dua puluh tahun kau menikmati
sinar matahari, Karena itu, sadari anakku, kau telah menginjak masa dewasa.”
Wajah Ken Dedes yang
tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai searang gadis remaja Ken Dedes sudah
merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Banyaklah keinginan-
keinginan yang tak dimengertinya sendiri Kadang-kadang timbullah nafsunya untuk
selalu menghias diri. Tiba-tiba gadis itu menjadi malu. Apakah ayahnya sering
melihatnya becermin di wajah air kolam yang tenang diam itu?
Bahkan pernah gadis itu
melempari angsa dengan batu ketika tiba-tiba saja angsa itu menggoyang-goyang
permukaan air selagi ia becermin. Apalagi ketika terasa perubahan-perubahan yang
terjadi pada wadagnya, ketika tubuhnya mekar seperti bunga yang sedang kembang.
Dan sekarang jawaban atau persoalan-persoalan yang tak dimengertinya itu
didengarnya dari ayahnya. Ken Dedes sudah dewasa.
“Karena itu, Anakku,”
terdengar ayahnya berkata pula, “banyaklah persoalan-persoalan yang akan timbul
karenanya, karena kedewasaanmu itu.”
Kembali Empu Purwa
berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu ingin mengetahui.
apakah yang terasa di hati anak gadisnya.
Ken Dedes diam seperti
patung. Hanya sekali-kali terdengar isaknya. Dan sekali-kali pula ia mengusap
hidungnya dengan ujung kainnya.
“Tetapi kau jangan cemas
anakku,” sambung ayahnya, “persoalan-persoalan yang timbul karena kedewasaanmu
adalah persoalan-persoalan yang wajar, yang pasti akan timbul pula pada
orang-orang lain. Sebab setiap orang pada dasarnya akan mengalami persoalan yang
sama. Setelah ia menjadi dewasa maka akan dilampauinya suatu masa yang penting
dalam hidup ini.”
Mahisa Agni pun masih
duduk tepekur. Namun terasa seakan-akan jantungnya berdentang-dentang. Orang tua
itu berbicara terlalu lambat baginya. Ia ingin Empu Purwa berkata langsung
sampai ke ujungnya, untuk mengurangi ketegangan di hatinya. Tetapi agaknya Empu
Purwa ingin berhati-hati sehingga kata-katanya tidak akan menyinggung perasaan
anaknya.
“Ken Dedes,” berkata
orang tua itu, “setelah kau menyadari keadaanmu, maka apa yang terjadi pagi tadi
adalah persoalan yang wajar. Hanya bentuknyalah yang berbeda-beda bagi setiap
gadis. Ada yang langsung mengalami masa baik, namun ada pula yang pernah
melewati kesulitan-kesulitan yang panjang. Bahkan bagi mereka yang tak
beruntung, masa ini dilampauinya dengan melangkah bencana. Karena itu anakku.
Selagi bencana yang tak dikehendaki itu datang, aku ingin memberi tahukan
kepadamu, bahwa sebenarnyalah hal ini pernah terjadi, namun aku belum pernah
menyampaikan kepadamu. Sejak beberapa minggu yang lampau telah datang
berturut-turut kepadaku beberapa orang dengan upacara yang tak kau mengerti
maknanya. Yang pasti, hanya kau sangka upacara-upacara keagamaan biasa. Namun
ketahuilah anakku, mereka adalah utusan-utusan yang datang untuk menanyakan,
apakah Ken Dedes telah cukup waktunya untuk meninggalkan masa remajanya.”
Ken Dedes berdesir
mendengar kata-kata ayahnya itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa hal
itu pernah terjadi. Dan kini ia mengerti, bahwa beberapa anak muda pernah datang
melamarnya.
Karena itu maka terasa
jantungnya semakin berdebar-debar. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan Ken
Dedes menahan hatinya dengan menggigit bibirnya.
Mahisa Agni menarik nafas
panjang-panjang. Belum pernah ia mendengar dari siapa pun bahwa hal itu pernah
terjadi. Dan tiba-tiba saja ia ingin benar mengetahui, siapa sajakah yang pernah
datang kepada gurunya untuk melamar gadis itu. Tetapi ia tak sampai hati untuk
bertanya. Karena itu Mahisa Agni menjadi gelisah,
“Ken Dedes,” berkata Empu
Purwa seterusnya, “aku adalah ayahmu. Karena itu aku wenang untuk menolak atau
menerima lamaran itu.”
Mahisa Agni menjadi
bertambah gelisah. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah pula, sehingga tak
disengajanya ia menggeser duduknya.
Tetapi ayahnya
meneruskan, “Anakku. Adalah suatu kesulitan bagiku untuk menentukan pilihan dari
sekian lamaran-lamaran yang pernah aku terima. Seandainya, ya, seandainya kau
dilahirkan sebagai putri seorang raja atau setidak-tidaknya putri seorang akuwu,
maka aku dapat mendirikan sayembara untukmu. Sayembara tanding atau sayembara
ketangkasan. Tetapi kau tidak lebih dari seorang anak pendeta yang hidup di
pedukuhan yang terpencil. Kau tidak lebih dari anak seorang kecil yang miskin.
Karena itu anakku, aku tak akan pantas untuk membuat sayembara apa pun.”
Kembali orang tua itu
berhenti. Dan kembali ruangan itu dicengkam kesepian. Hanya detak jantung Mahisa
Agni dan Ken Dedeslah yang serasa terdengar berdentingan di dalam dada mereka.
Karena itu ketika Empu
Purwa meneruskan kata-katanya maka perhatian kedua anak muda itu tercurah
seluruhnya kepada setiap kata yang mereka dengar, “Meskipun demikian, Anakku.
Masa depanmu adalah di tanganmu. Karena itu, meskipun aku tidak mengadakan
sayembara terbuka, aku mengenal satu bentuk sayembara yang dapat aku
selenggarakan. Tetapi sudah pasti, aku tidak akan mengumumkannya kepada siapa
pun juga, sebab dengan demikian maka akan berteriaklah segenap tetangga kita
dengan tawa mereka yang asam. Empu Purwa tidak berpijak di atas buminya, dan
merasa dirinya terlalu besar. Karena itu anakku, akan aku selenggarakan
sayembara ini dengan diam-diam”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Ia tidak mengerti kata-kata gurunya. Bagaimana mungkin sayembara
dapat diselenggarakan dengan diam-diam. Bukankah sayembara itu diselenggarakan
untuk diikuti oleh mereka yang mengetahui dan dengan penuh kesadaran akan tujuan
sayembara itu. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin berminat kepada
setiap kata yang akan didengarnya
“Adapun bentuk sayembara
itu, Anakku,” Empu Purwa berkata seterusnya, “adalah sayembara pilih.”
“Sayembara pilih?” Mahisa
Agni bergumam.
“Sayembara ini,” kata
orang tua itu, “sering terjadi pula untuk putri-putri luhur. Sayembara semacam
ini biasanya diselenggarakan di tempat-tempat terbuka. Putri yang diperebutkan
itu berada di menara, sedang para pengikut berjalan berturut-turut di bawah
menara itu. Siapa yang menerima selendang putri itu, ialah yang terpilih dan
memenangkan sayembara.”
Malam yang sepi menjadi
semakin sepi. Yang terdengar kini adalah angin malam yang lembut membelai
daun-daun pepohonan yang sedang tertidur nyenyak. Gemeresik seperti suara orang
berbisik-bisik.
Mahisa Agni menarik nafas
panjang-panjang. “Adil,” serunya di dalam hati.
Himpitan ketegangan di
hati Ken Dedes pun tiba-tiba serasa berguguran. Sejak semula ia mendengarkan
kata-kata ayahnya dengan penuh kecemasan. Mula-mula ia menyangka bahwa ayahnya
akan menyebut untuknya sebuah nama dari nama-nama mereka yang datang melamarnya.
Apabila demikian, Ken Dedes memejamkan matanya. Ia tak tahu, apakah yang terjadi
dengan dirinya. Dan tiba-tiba disadarinya bahwa ia pasti akan keberatan
seandainya ayahnya menerima baginya siapa pun dari mereka.
Ken Dedes menjadi malu
sendiri. Seakan-akan ayahnya dapat membaca setiap perasaan yang bergolak di
dalam dadanya. Apalagi ketika ayahnya meneruskan, “Tetapi Ken Dedes. Aku tidak
akan dapat menyelenggarakan sayembara pilih yang demikian itu. Aku tidak akan
membuat untukmu sebuah menara, dan di bawah menara itu beberapa orang satria
berkuda dengan pakaian yang indah-indah lewat berturut-turut dengan penuh
harapan untuk menerima kemurahan hatimu. Tidak, Anakku. Yang akan aku
selenggarakan adalah sebuah sayembara pilih yang sederhana sekali. Dengarlah
baik-baik Ken Dedes. Apabila diperkenankan oleh Yang Maha Agung, maka menilik
tata lahir yang kasatmata, engkau masih akan menempuh suatu masa yang panjang.
Karena itu masa-masa itu harus kau lewati dengan gairah dan ketenteraman. Maka
adalah menjadi kewajibanmu untuk ikut serta menentukannya sendiri masa depan
itu, meskipun aku tak akan melepaskan tanganku.”
Empu Purwa berhenti
sejenak. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah kembali. Yang terdengar kemudian
adalah kata-kata Empu Purwa pula, “Anakku, supaya tak terulang peristiwa yang
tidak aku ingini dan tentu saja kalian juga, maka sudah sampai saatnya kini, kau
menentukan pilihan.”
Wajah Ken Dedes yang
kemerah-merahan menjadi panas. Terasa seluruh bulu-bulu tubuhnya meremang.
Kata-kata itu sudah diduganya. Namun ketika diucapkan juga oleh ayahnya,
perasaannya tersentuh pula. Untuk sesaat Ken Dedes menjadi bingung. Tak tahu apa
yang akan dilakukan. Hanya tiba-tiba saja, tanpa sesadarnya ia mengerling kepada
Mahisa Agni. Namun dilihatnya pemuda itu tunduk kaku. Tetapi wajah itu kemudian
menengadah ketika terdengar Empu Purwa berkata, “Nah Ken Dedes, dapatkah kini
sayembara pilih yang sederhana ini kita mulai?”
Ken Dedes tidak menjawab.
Namun desir di jantungnya serasa semakin tajam menggores. Dan ia menjadi semakin
gelisah. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi tak sepatah kata pun
dapat diucapkan.
Karena Ken Dedes tidak
menjawab, maka berkatalah Empu Purwa, “Biarlah kau berapa dalam keadaanmu,
seorang gadis yang harus memilih satu di antara beberapa anak muda. Dan biarlah
aku menyebut nama-nama itu. Kalau nama itu berkenan di hatimu, Anakku, maka aku
harap kau menganggukkan kepalamu, supaya aku segera dapat menjawab kepada
orang-orang tua mereka.”
Ken Dedes menjadi
bertambah bingung karenanya. Sekali lagi tanpa disadarinya, gadis menatap wajah
Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni itu telah menundukkan wajahnya kembali.
“Dengarlah nama itu
baik-baik, Ken Dedes,” berkata ayahnya, “kalau pada suatu saat kau menganggukkan
kepala mu, biarlah Mahisa Agni menjadi saksi.”
Tetapi mulut Ken Dedes
terbungkam. Dan ayahnya pun tidak memaksanya untuk menjawab Gadis itu hanya
dimintanya menganggukkan kepalanya, apabila telah jatuh pilihannya.
“Yang pertama,” berkata
Empu Purwa. Ken Dedes menjadi bertambah bingung. Bahkan Mahisa Agni pun menjadi
sangat gelisah.
“Seorang anak muda yang
kaya, putra Buyut Tatrampak, Namanya Jumna. Bukankah anak muda itu pernah kau
kenal?”
Wajah Ken Dedes masih
terpaku pada anyaman tikar pandan tempat duduknya. Dan ia sama sekali tidak
menggerakkan kepalanya. Meskipun anak muda itu tampan dan gagah, namun sama
sekali tak terlintas di kepala Ken Dedes, bahwa pada suatu saat ia akan hidup
bersamanya.
Empu Purwa menarik nafas.
Tampaklah kerut keningnya, “Baiklah. Kau tak menghendakinya,” gumamnya,
“Sekarang, dengarlah. Orang kedua. Kau pasti telah mengenalnya. Putra, pamanmu
Paniat. Saudagar yang terkenal sampai ke daerah Tumapel. Bukankah anak itu kawan
bermain Mahisa Agni? Namanya Pandaya.
Mahisa Agni mengangguk
kosong. Setiap nama yang disebut gurunya, serasa sebuah goresan, di dadanya. Dua
luka telah menganga. Jumna dan yang kedua, Pandaya. Dengan tegang, Mahisa Agni
menatap wajah Ken Dedes yang tepekur. Sesaat ia menunggu, dan Ken Dedes tetap
mematung.
Empu Purwalah yang
kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian disebutnya anak muda yang
ketiga, Mahendra, seorang anak muda dari Tumapel, putra sahabat Empu Purwa. Ken
Dedes belum pernah mengenal anak muda itu, sehingga nama itu sama sekali tak
menarik perhatiannya.
Nama-nama berikutnya
adalah Lembu Santan, Jumerut dan Galung Paran. Namun seperti Mahendra, nama-nama
itu baru didengarnya kali ini, sehingga dengan demikian, jangankan mengangguk,
bahkan Ken Dedes menjadi jemu dan penat oleh ketegangan yang menekannya. Sedang
Mahisa Agni pun tak kalah tegangnya. Setiap kali anak muda itu menarik nafas
panjang, dan setiap Empu Purwa menyebut nama yang lain, keningnya tampak
berkerut.
Empu Purwa tak dapat
melepaskan tangkapan perasaan Mahisa Agni, namun ia masih akan menyebut satu
nama lagi, katanya, “Ken Dedes, nama ini, adalah nama yang terakhir. Terserah
kepada keputusanmu. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kini sedang berlangsung
sebuah sayembara? Akulah pengganti dari setiap pemuda yang datang berturut-turut
di bawah menaramu. Nah, dengarlah nama ini. Putra sahabatku seorang empu yang
bijaksana, ahli membuat senjata. Beberapa kali anak muda itu pernah berkunjung
kemari bersama ayahnya. Nama anak itu Wajastra. Bukankah anak itu pernah kau
kenali?”
“Wajastra?” nama itu
diulang oleh Mahisa Agni di dalam hatinya. Nama yang baik dan anak muda itu pun
baik pula kepadanya.
Wajastra adalah seorang
pendiam. Seperti ayahnya, anak muda itu berminat benar pada pekerjaan ayahnya.
Dengan tekun ia pun ikut pula membantu dan bahkan dengan pesatnya ia maju dalam
bidangnya.
Ken Dedes telah mengenal
anak muda itu dengan baik, seperti Mahisa Agni mengenalnya.
Mendengar nama itu Mahisa
Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba kecemasan menjalar di dadanya. Ia sadar kini,
bahwa ia mencemaskan Ken Dedes. Diam-diam ia berdoa, mudah-mudahan Ken Dedes
kali ini pun tidak menganggukkan kepalanya.
Sesaat ruangan itu
menjadi kaku dan tegang. Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes dengan tajamnya,
seakan-akan kedua tangannya akan terjulur dan menahan kepala itu supaya tidak
bergerak. Sedang Empu Purwa masih duduk sambil melipat tangannya. Orang tua itu
pun memandangi putrinya dengan baik.
Tetapi kali ini pun nama
itu tidak dapat menggerakkan hati Ken Dedes. Karena itulah maka kepalanya pun
tidak bergerak pula. Meskipun Empu Purwa menunggunya beberapa saat. Namun Ken
Dedes itu sama sekali tidak mengangguk.
Empu Purwa menarik nafas
dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata, “Anakku, sayembara pilih itu kini
sudah selesai. Namun tak seorang pun yang dapat memenangkan sayembara ini.
Karena itu, anakku, masalah ini, masalahmu, masih belum dapat dipecahkan. Aku
tidak tahu, apa yang tersimpan di dalam dadamu. Namun demikian, adalah menjadi
harapanku, apabila Ken Dedes segera menentukan pilihan. Nah, kalau demikian,
biarlah aku menunggu beberapa lama lagi, tetapi tidak terlalu lama.
Mudah-mudahan sepanjang waktu itu,aku akan mendengar, bahwa salah seorang anak
muda akan dapat menggerakkan hatimu.”
Ken Dedes menundukkan
wajahnya dalam-dalam. Ia tahu benar, betapa ayahnya mencemaskan nasibnya.
Apabila masalahnya itu akan berkepanjangan, maka orang tuanya pasti akan
bersedih. Tetapi, di dalam hatinya Ken Dedes merasa, betapa besar kesempatan
yang telah diberikan oleh ayahnya itu kepadanya, sehingga ia diberi kesempatan
untuk mengemukakan pendiriannya. Tidak seperti beberapa orang ayah yang lain,
yang dengan serta-merta menentukan jodoh anaknya tanpa setahu anak itu sendiri.
Karena itu, betapa besar rasa terima kasih itu menggores di hatinya, sehingga
tiba-tiba terasa bahwa memang sudah seharusnya ia membantu ayahnya segera.
Tetapi sebagai seorang gadis, Ken Dedes tidak dapat berbuat banyak.
Sebenarnyalah, di dalam
dada Ken Dedes telah terukir sebuah nama. Nama yang telah dikenalnya baik-baik,
yang telah disebutnya beratus, bahkan beribu kali. Tetapi alangkah kecewanya,
ketika ayahnya menyebutkan sekian nama yang telah melamarnya, namun nama itu tak
tersebutkan. Karena itu,maka tak sebuah nama pun yang menarik minatnya. Ia
menunggu nama yang telah tersimpan di hatinya. Namun ia menunggu sampai nama
yang terakhir. Dan ia masih harus menunggu lagi.
”Sampai kapan?” desahnya
di dalam hati. Ken Dedes pun kemudian menjadi cemas. Kalau anak muda itu tidak
segera datang kepada ayahnya, maka jangan-jangan ayahnya akan kehabisan
kesabaran. Dan dipaksanya ia memilih satu di antara mereka. Dan di antara mereka
itu tak ada nama yang diharapkannya.
Sebagai seorang gadis,
adalah tidak mungkin baginya, untuk meminta ayahnya justru datang kepada pemuda
itu. Memintanya untuk menjadi menantunya. Dengan demikian tidak saja ayahnya
akan mendapat aib, namun dirinya pun demikian.
Ken Dedes masih
menundukkan wajahnya, Bahkan kini tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Tak
berani ia menggerakkan, meskipun hanya ujung jarinya. Dan gadis itu tidak berani
pula mengerling lagi kepada Mahisa Agni.
Mahisa Agni pun kemudian
menekurkan kepalanya, Namun terasa kini dadanya telah menjadi lapang kembali.
Kini ia tidak akan dapat mengingkari dirinya sendiri. Selama ini ia telah
dicengkam oleh ketakutan. Sebagai seorang laki-laki, Agni tidak pernah merasa
ngeri menghadapi setiap persoalan. Namun tiba-tiba ia merasa ngeri mendengar
beberapa nama disebut oleh gurunya.
Akhirnya Mahisa Agni
sampai pada suatu kesimpulan, meskipun selama ini ia telah mencoba untuk
menyembunyikannya. Ken Dedes baginya, bukanlah sekedar putri gurunya, atau gadis
yang menganggapnya seorang kakak saja. Lebih daripada itu.
Tetapi apakah yang dapat
dilakukan? Kini ia sudah tidak berayah dan tidak beribu. Tak ada orang yang
dapat dimintanya untuk datang kepada gurunya dengan upacara, sebagai lazimnya.
Tak ada orang yang akan menempelkan namanya pada deretan nama-nama yang pada
suatu saat akan disebut oleh gurunya, seperti nama-nama anak-anak muda yang
lain. Jumna, Pandaya, Mahendra dan sebagainya. Dan tiba-tiba Mahisa Agni
mengeluh di dalam hatinya. Tak pernah hal yang demikian itu dipikirkannya
dahulu. Sepeninggal ayah dan ibunya, Agni telah mencoba melupakannya dan
meletakkan dirinya dengan tawakal dalam asuhan Empu Purwa yang menerimanya
sebagai seorang murid. Tetapi kini, tiba-tiba timbullah suatu persoalan.
Persoalan yang rumit baginya.
Empu Purwa melihat kedua
anak muda yang duduk, di hadapannya itu. Agaknya perasaan mereka selama ini
menjadi tegang dan penat. Karena itu katanya, “Nah, Ken Dedes. Keperluanku hari
ini telah selesai. Namun persoalannya yang belum selesai. Ingatlah bahwa banyak
persoalan yang dapat terjadi. Susul menyusul. Karena itu jangan menunggu
sehingga persoalan-persoalan itu menjadi bertambah banyak dan rumit. Sekarang
kalian berdua, beristirahatlah.”
Ken Dedes mengangguk.
Izin itulah yang ditunggu-tunggunya setelah sekian lama ia harus menahan hati.
Perlahan-lahan ia bangkit, dan kemudian ditinggalkannya ruangan yang serasa
menyesakkan nafasnya itu.
Mahisa Agni pun kemudian
mohon diri. Ingin ia duduk di halaman di belakang untuk melapangkan dadanya.
Empu Purwa melibat anak
muda itu berjalan keluar pintu dengan langkah yang pasti dan tenang. Langkah
seorang laki-laki yang menyimpan berbagai ilmu di dalam dirinya. Ilmu yang
bermanfaat bagi tubuh dan jiwanya.
Sejak hari itu, para
cantrik dan endang dari padepokan Empu Purwa melihat beberapa perubahan dalam
tata pergaulan di dalam padepokan mereka. Meskipun Empu Purwa sendiri tidak
pernah mengubah sikapnya kepada siapa pun juga. Namun Ken Dedes dan Mahisa Agni
tidak demikian.
Tak seorang pun dari para
cantrik dan endang yang mengetahui, apakah sebabnya. Namun yang mereka lihat,
Ken Dedes tiba-tiba saja telah berganti sikap. Meskipun sifat kemanjaannya belum
lagi dapat ditinggalkannya, tetapi ia tidak lagi bersifat terlalu
kekanak-kanakan. Bahkan gadis itu menjadi lebih banyak tinggal di dalam biliknya
dan mengurung diri. Yang aneh bagi para pemomongnya, putri Empu Purwa itu
kadang-kadang menjadi bersedih tanpa sebab. Malahan gadis itu kadang-kadang
menangis di tengah malam.
Empu Purwa pun melihat
perubahan itu. Namun tak pernah ia bertanya. Sebab orang tua itu tahu pasti,
mengapa anaknya menjadi demikian.
Sedang Mahisa Agni pun
kemudian menjadi perenung. Anak muda yang rajin itu, kini, apabila pekerjaannya
telah selesai, lebih senang duduk seorang diri di halaman belakang, atau di tepi
kolam. Hanya kadang-kadang saja, Agni masih memerlukan pergi kepada sahabatnya,
putra Buyut Panawijen, Wiraprana. Tetapi Wiraprana sendiri tak pernah
memperhatikan perubahan itu. Karena itu, setelah tubuhnya kuat kembali, maka
diulangnya kebiasaannya dahulu. Hampir setiap hari ia berkunjung ke rumah Empu
Purwa. Bermain-main dengan Mahisa Agni. Maka apabila anak itu datang, Mahisa
Agni terpaksa menerimanya seperti biasa. Bermain seperti biasa dan bekerja di
sawah bersama seperti biasa. Ke bendungan dan mengairi sawah di malam hari.
Tetapi apabila anak itu pergi, kembali Mahisa Agni menyepikan dirinya. Namun
dengan demikian, anak muda itu menjadi semakin tekun dengan ilmunya. Lahir
maupun batin.
Tetapi akhirnya Agni
sadar, bahwa perasaan yang bergelut di dalam dirinya, bahwa keadaan yang
dialaminya itu, tak akan dapat selesai dengan sendirinya. Kegelisahan dan
keadaan yang tak menentu itu harus segera diakhiri. Namun bagaimana
mengakhirinya.
Itulah sebabnya Mahisa
Agni semakin bertambah murung. Terasa jarak yang menabiri antara dirinya dan Ken
Dedes menjadi bertambah luas. Gadis itu kini jarang benar dapat ditemuinya.
Hanya kadang-kadang ia melihat dari mata gadis itu sebuah ucapan yang tak
dimengertinya. Namun benar-benar terasa di dalam hatinya, Ken Dedes ingin
mengucapkan sesuatu kepadanya. Dan karena itu Mahisa Agni menjadi semakin
gelisah.
Di saat-saat yang sepi,
selalu datang kembali ingatan tentang ayah bundanya yang hampir tak dapat
diingatnya lagi. Meskipun kepergian orang tuanya itu telah diikhlaskannya, namun
dalam kesempitan keadaan seperti keadaannya kini, Mahisa Agni berulang kali
menyebut namanya. Tetapi anak itu sadar, bahwa ayah dan bundanya itu, sudah
tidak akan dapat berbuat sesuatu untuknya.
Ketika langit bersih, dan
bulan mengapung di udara, Mahisa Agni mencoba mencari ketenangan di luar
biliknya. Seperti biasa anak muda itu duduk di atas batu hitam di sudut
pertamanan. Dalam malam yang sepi, di taburan warna cahaya bulan yang
kekuning-kuningan, dipandangnya malam yang suram dengan hati yang suram.
Bunga-bunga yang beraneka warna. Daun-daun dan batang-batang perdu yang
ditanamnya berpetak-petak. Namun semuanya tak menyegarkan hatinya. Yang tampil
di hatinya, adalah kegelisahan dan kecemasan.
Tetapi Agni itu tiba-tiba
mengangkat wajahnya. Bulan yang kuning itu seakan-akan menjadi cerah seperti
hatinya. Perlahan-lahan bibirnya tergerak. Agni tersenyum sendiri. Ia puas
dengan penemuannya. Di dalam hatinya yang sepi itu, tiba-tiba saja tampil sebuah
nama yang hampir dilupakannya. Pamannya. Bukankah pamannya itu dapat dimintanya
untuk mengganti ayah bundanya?”
“Empu Gandring,”
desisnya, “kenapa aku melupakan paman itu?”
Sekali lagi Mahisa Agni
tersenyum. Seakan-akan jalan yang terbentang di hadapannya adalah sebuah jalan
yang lurus dan licin. Direka-rekanya di dalam angan-angannya, besok atau lusa ia
akan mohon izin dari gurunya untuk menengok pamannya di Lulumbang. Dan dua hari
kemudian ia akan kembali beserta pamannya. Tidak berdua saja, tetapi dengan
beberapa orang membawa sebuah upacara. Pamannya akan melamar Ken Dedes untuknya.
Tetapi tiba-tiba pula,
kecemasannya tumbuh kembali. Apakah gurunya akan mengizinkannya untuk berbuat
demikian. Bukankah Empu Purwa telah menganggapnya sebagai anak sendiri, sebagai
saudara tua Ken Dedes.
“Alangkah malangnya nasib
ini, apabila terjadi demikian,” gumamnya. Namun ia masih mencoba menghibur diri,
“Bukankah aku berhak ikut serta dalam sayembara pilih itu,” bisiknya kepada diri
sendiri.
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba di matanya, bunga-bunga di
pertamanannya itu menjadi bertambah asri. Bunga kaca piring di tengah-tengah
pertamanan itu menebarkan bau yang harum tajam. Terasa di bahu Agni yang
telanjang, angin menyapu kulitnya perlahan-lahan. Sejuk.
Dalam kesejukan
angan-angan yang penuh harapan itu, Mahisa Agni kemudian berdiri dan berjalan
perlahan-lahan mengambil serulingnya di amben bambu di teritisan. Dengan
tenangnya anak muda itu duduk bersandar dinding dan kedua tangannya melekat pada
lubang-lubang serulingnya. Dengan hati yang lapang, Mahisa Agni melekatkan
seruling itu di bibirnya. Maka mengalunlah lagu yang sejuk merdu. Lagu yang
menggambarkan gairah cinta manusia. Cinta yang luhur dan suci, seperti cinta
Ratih dan Kama. Demikianlah nada kasih itu membakar jiwa Agni dan malam itu pun
dihangatkannya dengan kesyahduan lagunya.
Beberapa orang cantrik
menjadi terbangun karenanya. Mereka seakan-akan mendengar bunyi gamelan
lokananta di atas langit yang dibunyikan oleh dewa-dewa. Sedang para endang yang
mendengar lagu itu, tersenyum-senyum di antara kesadaran dan mimpinya.
Didengarnya lagu yang syahdu itu lewat telinganya, namun dilihatnya di dalam
mimpinya Arjuna sedang tersenyum kepadanya. Dan ketika mereka terbangun oleh
gigitan nyamuk, maka mereka menjadi kecewa. Namun lagu yang merdu itu masih
didengarnya.
“Siapa?” bisik salah
seorang dari mereka.
“Mahisa Agni. Siapa
lagi?” jawab yang lain. Namun serentak mereka memandang warana yang memagari
ruangan itu dengan pintu bilik Ken Dedes.
Endang itu pun kemudian
saling berpandangan. Terdengar salah seorang berbisik, “Alangkah bahagianya Ken
Dedes mendengar lagu itu.”
Para endang itu pun
tertawa lirih.
Dan lagu itu masih
menyusup lewat lubang-lubang dinding, membuaikan mereka yang terkantuk-kantuk.
Para endang itu pun kemudian kembali menguap dan tertidur dengan senyum di bibir
mereka. Dan kembali pula mereka bermimpi indah.
Di belakang pintu bilik
di sebelah warana itu Ken Dedes mendengar pula lagu yang hening namun penuh
gairah atas masa depan yang gemilang. Gadis itu pun segera mengetahuinya bahwa
yang meniup seruling itu adalah Mahisa Agni. Dan karena lagu itu pula hatinya
bergetaran.
“Kenapa lagu itu?”
desahnya di dalam hati, “apakah Kakang Agni tahu, apa yang tersimpan di dalam
dadaku?”
Gadis itu pun kemudian
berangan-angan di antara oleh kesyahduan lagu Mahisa Agni. Sebagai seorang
gadis, maka Ken Dedes pun merindukan kasih dan kebahagiaan di masa depan.
Diangan-angankannya suatu masa yang mesra dalam perjalanan hidupnya.
Namun sebagai seorang
gadis yang tahu akan harga dirinya, maka gairah yang membakar dadanya itu pun
disimpannya di dalam hati. Tetapi sejak ayahnya memanggilnya bersama Agni, sejak
ayahnya menyebut beberapa nama untuknya, maka api yang menyala di dalam dadanya
itu menjadi semakin berkobar-kobar. Berbagai perasaan telah bergulat di dalam
dirinya. Takut, cemas namun tak dapat ia berbuat banyak. Ingin ia berlari-lari
kepada ayahnya, dan dengan manjanya memeluk pinggangnya sambil berkata, “Ayah,
aku telah jatuh cinta kepada seorang anak muda. Tolong Ayah katakan kepadanya,
supaya ia segera datang melamar.”
“Tidak. Tidak,” desisnya.
Ia dapat berbuat
demikian, apabila gadis itu ingin sehelai kain tenun yang baru, atau subang
bermata berlian. Dan ayahnya selalu akan berkata, “Jangan ribut Ken Dedes. Besok
biarlah ayah belikan.”
Dan kalau ayahnya tidak
mampu untuk membelinya ayahnya selalu menghiburnya, “Mintalah yang lain anakku,
mintalah yang ayah mampu mengadakannya.”
Tetapi tidak demikian
dengan seorang kekasih. Mungkin seorang pemuda dapat berbuat demikian. Tetapi
tidak bagi seorang gadis.
Apabila kemudian para
endang tertidur dengan nyamannya, maka sebaliknya dengan Ken Dedes. Lagu itu
telah menggelitik hatinya, sehingga bahkan ia bertambah gelisah. Ketika di luar
biliknya, telah menjadi sepi, maka Ken Dedes justru bangkit dari pembaringannya.
Perlahan-lahan ia menjengukkan kepalanya dan memanggil lirih, “Endang.”
Tak ada jawaban.
Dicobanya sekali lagi, namun sepi
“Mereka telah tertidur,”
desis Ken Dedes.
Gadis yang gelisah itu,
dengan hati-hati melangkah di antara para endang yang tertidur nyenyak.
Perlahan-lahan sekali supaya mereka tidak terbangun. Ken Dedes sendiri tidak
tahu, mengapa ia bangun dan ke mana ia akan pergi. Tetapi ketika telah
dilangkahinya tlundak pintu terasa perasaannya makin gelisah.
Ken Dedes berjalan
selangkah demi selangkah, menyusuri jalan- jalan sempit di halaman. Angin yang
silir, mengalir lembut dan bermain-main dengan rambutnya yang terurai di
punggungnya.
Tanpa sesadarnya, Ken
Dedes berjalan ke arah suara lagu yang beralun di antara daun-daun perdu
pertamanan. Dan tiba-tiba saja gadis itu terkejut ketika suara lagu itu
terhenti.
Mahisa Agni melihat Ken
Dedes datang ke arahnya. Karena itu pemuda itu menjadi berdebar-debar. Tak
disangkanya, bahwa di malam yang telah lama lelap itu, Ken Dedes akan datang
menghampirinya. Karena itu, maka anak muda itu menjadi gugup, dan hilanglah
nada-nada lagunya dari kepalanya, sehingga akhirnya ia berhenti.
Langkah Ken Dedes pun
terhenti pula. Gadis itu pun kemudian melihat Mahisa Agni duduk di teritisan.
Sesaat ia menjadi bimbang. Tetapi gadis itu tidak melangkah kembali. Bahkan
dihampirinya Mahisa Agni.
Mahisa Agni menjadi
semakin berdebar-debar. Perasaan yang belum pernah terjadi padanya. Ken Dedes
telah bertahun-tahun tinggal sehalaman dengan anak muda itu. Setiap hari mereka
bertemu, bercakap, bergurau. Tak pernah Agni berdebar karenanya. Tetapi kali ini
perasaannya menjadi lain.
Mahisa Agni masih berdiam
diri ketika Ken Dedes kemudian duduk di sampingnya, di amben bambu itu.
Sesaat mereka saling
membisu. Hanya nafas Mahisa Agnilah yang terdengar berkejaran. Sehingga ia tak
dapat lagi menyapa putri gurunya.
Ken Dedeslah yang
mula-mula berkata. Namun suaranya benar-benar telah mencerminkan kedewasaannya,
“Lagumu indah, Kakang,” katanya.
Agni berdesir mendengar
pujian itu. Pujian yang jauh lebih merdu dari suara serulingnya. jawabnya
terbata-bata, “Tidak Ken Dedes. Aku tidak pandai meniup seruling.”
“Lagumu bercerita tentang
kesyahduan cinta,” berkata gadis itu pula.
“Aku tak tahu,” jawab
Agni, “demikian saja aku meniup seruling itu. Dan apakah yang terpancar
daripadanya?”
“Cinta dan gairah bagi
masa depan,” sahut Ken Dedes.
Mahisa Agni tidak
menjawab. Dan untuk sesaat Ken Dedes pun berdiam diri. Namun tiba-tiba di dalam
dada gadis itu pun tumbuh sebuah persoalan. Persoalan yang lama terpendam di
dalam dadanya. Beberapa waktu yang lalu, putri itu pun telah mengambil keputusan
untuk mengatakan persoalannya kepada Mahisa Agni. Namun ia menjadi ragu-ragu.
Apakah hal itu tidak akan menodai namanya. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan
persoalan itu semakin berlarut-larut. Dan selalu terngiang kembali kata-kata
ayahnya, ‘Jangan terlalu lama anakku’.
Gadis itu pun kemudian
menjadi gelisah. Terdorong oleh keinginannya untuk mengungkapkan perasaan yang
menghimpit dadanya. Namun kemudian yang terloncat dari bibirnya, “Kakang,
tiuplah serulingmu kembali.”
“Tidak, Ken Dedes,” jawab
Mahisa Agni.
“Kenapa?” bertanya gadis
itu.
Agni menggeleng. “Tak
tahu,” desisnya.
Kembali mereka membisu.
Angin yang lembut membelai mahkota dan daun-daun bunga.
“Kakang…,” terdengar
kemudian suara Ken Dedes lirih tertahan.
Agni tidak menjawab,
tetapi hatinya berdesir.
Ken Dedes tidak segera
meneruskan kata-katanya. Matanya yang suram jauh memandang puncak-puncak
pepohonan yang bergoyang-goyang disentuh angin. Dan malam pun bertambah malam.
Gelora yang melanda dada
Ken Dedes menjadi semakin dahsyat. Akhirnya meledak juga kata-katanya, “Kakang,
bukankah kau telah mendegar sendiri, apa yang dikatakan Ayah kepadaku?”
Mahisa Agni mengangguk.
Dan terasa tangannya bergetar.
“Bagaimanakah menurut
pertimbanganmu, Kakang?” bertanya gadis itu.
Mahisa Agni tidak segera
dapat menjawab. Bahkan terasa keringat dinginnya mengalir dari segenap
lubang-lubang kulitnya. Sehingga karena anak muda itu diam saja, Ken Dedes
mendesaknya, “Apakah pertimbanganmu Kakang?”
Mahisa Agni menjadi
gugup. Namun dicobanya juga untuk me-nenangkan detak jantungnya. Bahkan kemudian
Agni dapat juga menjawab dengan suara bergetar, “Sebagian terbesar adalah
tergantung padamu sendiri Ken Dedes.”
Seandainya jawaban Mahisa
Agni itu diucapkan beberapa hari yang lalu, serta dalam persoalan yang berbeda,
Ken Dedes pasti akan mencubitnya dan berteriak dengan manjanya, “Buat apa aku
bertanya kepadamu, kepada kakakku, apabila persoalannya akan diserahkan kembali
kepadaku?”
Tetapi kali ini Ken Dedes
bersikap lain. Dengan sayunya gadis itu menundukkan wajahnya.
“Ya,” desisnya, “sebagian
terbesar adalah tergantung kepadaku.”
Tetapi gadis itu bergumam
pula, “Tetapi tidakkah ada orang lain yang dapat menolongku?”
Mahisa Agni mendengar
kata-kata itu. Ingin ia menjawab. Bahkan ingin ia berteriak sambil menepuk dada,
“Aku Ken Dedes, aku yang akan menolongmu.”
Namun kata-kata itu
terhenti, tersangkut di kerongkongan. Dan yang terdengar oleh Ken Dedes adalah,
“Adakah orang lain yang dapat menolongmu?”
Ken Dedes mengangkat
wajahnya. Dipandangnya wajah Agni yang gelisah. Jawaban Agni sama sekali tak
memberinya keyakinan. Dan sekali lagi wajah Ken Dedes terkulai lemah. Terasa
matanya menjadi panas, dan tak disadarinya mata itu pun menjadi basah.
“Kau sama sekali tidak
menjawab pertanyaanku Kakang,” desah Ken Dedes perlahan-lahan, “Malahan kau
menjadikan aku bertambah bingung.”
Tetapi Mahisa Agnilah
yang lebih dahulu bertambah bingung. Dalam kebingungannya itu, ia mencoba
memperbaiki kesalahannya. Dan tanpa terkendali ia berkata, “Ya. Ya, Ken Dedes.
Aku akan mencoba menolongmu.”
Sekali lagi Ken Dedes
memandang wajah Mahisa Agni. Dan tiba-tiba matanya yang redup menjadi sedikit
menyala. Katanya, “Benarkah Kakang akan menolong aku?”
Mahisa Agni mengangguk,
tetapi dadanya bergetar.
Ken Dedes menarik nafas
dalam sekali, Katanya perlahan-lahan sekali, “Aku tidak tahu, apakah Kakang Agni
dapat merasakan perbedaan perasaan antara seorang anak muda dan seorang gadis.
Namun yang aku rasakan Kakang, alangkah rumitnya perjalanan hidup ini.”
Ken Dedes berhenti
sejenak, kemudian meneruskan, “Aku tidak mengeluh karena aku seorang gadis.
Bahkan menurut Ayah aku harus berbangga, bahwa yang Maha Agung mempercayakan
kepadaku jenisku untuk menurunkan, membesarkan dan mengasuh angkatan yang bakal
datang Tetapi….”
Suara Ken Dedes terputus
Dan kembali lehernya terasa tersekat.
Mahisa Agni menjadi
semakin bingung. Ketika Ken Dedes kemudian terisak, maka dengan gelisahnya
Mahisa Agni berdiri dan berjalan hilir mudik. Ingin ia menghibur gadis itu,
namun ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sebab tiba-tiba saja gadis itu
seakan-akan menjadi orang asing baginya.
“Kakang,” desah Ken
Dedes, “aku takut kalau peristiwa di belumbang itu akan terulang kembali,
seperti Ayah pun takut pula. Apalagi kalau pada suatu ketika, tak seorang pun
yang melihat peristiwa semacam itu. Apakah akan jadinya. Karena itu Kakang, aku
tak akan dapat menghindari permintaan Ayah.”
Mahisa Agni berhenti
sesaat dan tegak seperti tonggak di hadapan Ken Dedes. Namun mulutnya masih
terkunci.
“Tetapi Kakang,” Ken
Dedes masih berkata terus, “di hadapan Ayah, aku tak dapat berbuat sesuatu. Aku
hanya dapat mendengarkan Ayah menyebut nama demi nama. Tetapi aku tak dapat
mengucapkan sebuah nama pun. Tidak. Aku tidak dapat Kakang….”
Tangis Ken Dedes semakin
menjadi-jadi. Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin bingung. Sekali-kali ia
memandang dengan gelisahnya di antara daun-daun pertamanannya. Ia takut kalau
ada seseorang yang melihat mereka.
Akhirnya tangis Ken Dedes
itu mereda sendiri. Patah-patah gadis itu meneruskan, “Kakang, sekarang aku
mencoba datang kepadamu. Aku menyangka bahwa aku akan dapat mengatakan sesuatu.”
Dada Mahisa Agni pun
kemudian menjadi sesak, seperti terhimpit. Dengan sekuat tenaga ia mencoba
menguasai perasaannya yang bergolak, sehingga setelah ia berjuang mati-matian,
maka dapatlah ia mengucapkan kata-kata, “Berkatalah Ken Dedes.”
Ken Dedeslah yang
kemudian menjadi gelisah. Kalimat demi kalimat telah disusunnya. Namun
kalimat-kalimat itu seakan-akan tersangkut di dalam dadanya. Sehingga tak
sepatah kata pun yang dapat diucapkan.
Malam pun menjadi semakin
tetap. Sehelai demi sehelai awan hanyut di wajah bulan yang kuning. Seperti buih
di lautan yang biru bersih.
“Tetapi, “terdengar suara
Ken Dedes di antara isaknya, “bukankah kau mau menolong aku, Kakang?”
Sekali lagi Ken Dedes
ingin meyakinkan.
Dan sekali lagi Mahisa
Agni mengangguk dan terloncat jawabannya singkat, “Tentu.”
Tetapi Agni terkejut
ketika tangis Ken Dedes kembali meledak. Dengan kedua telapak tangannya gadis
itu menutup mulutnya seakan-akan takut apabila kata-katanya akan berloncatan
keluar.
Karena itu kembali Mahisa
Agni mematung. Tetapi dengan penuh harapan ia menanti. Namun tak sepatah kata
pun yang didengarnya. Bahkan Agni menjadi sangat terkejut ketika tiba-tiba saja
Ken Dedes berdiri, dan dengan tergesa-gesa ia berlari kembali ke biliknya.
Mahisa Agni masih berdiri
tegak di tempatnya Hanya satu kali terdengar ia memanggil, “Ken Dedes.”
Ketika Ken Dedes tidak
berhenti, Mahisa Agni tidak meng-ulanginya. Ia takut kalau-kalau ada orang lain
yang mendengar panggilannya. Karena itu dengan gelisah dan cemas dipandangnya
gadis putri gurunya itu lenyap di sudut rumah.
Ketika Ken Dedes sudah
tidak tampak lagi, Mahisa Agni mengusap dadanya. Dilepasnya sebuah tarikan nafas
yang panjang sekali. Tetapi ia kecewa. Dari Ken Dedes, ia belum mendengar apapun
tentang dirinya.
Sesaat kemudian, setelah
gelora di dadanya mereda, Mahisa Agni duduk kembali di amben bambu di teritisan.
Bahkan kemudian ia menyesal, kenapa bukan ia sendiri yang mengatakannya kepada
gadis itu.
“Kenapa aku harus
menunggu?” pikirnya. Mahisa Agni menggeleng. “Mulutku pun terkunci.” desahnya.
Mahisa Agni kemudian
menjadi gelisah sendiri. Ia menjadi iri hati, kepada pemuda yang terbuka
hatinya. Dalam kesempitan yang demikian pasti tidak perlu lagi berteka-teki.
Tetapi Mahisa Agni, bukanlah pemuda yang demikian. Sejak ayahnya meninggal, maka
ia lebih banyak menyimpan perasaan daripada menyatakannya. Kepada siapa pun
juga. Demikian pula dalam persoalan ini.
Anak muda itu mencoba
menghibur hatinya dengan serulingnya. Tetapi ia tidak mampu lagi meniupnya.
Karena itu, kembali serulingnya diletakkannya. Dan tanpa dikehendakinya, ia
berdiri dan berjalan mondar-mandir di pertamanan itu.
Bulan di langit mengapung
dengan tenangnya. Mahisa Agni me-ngerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah
lingkaran putih di sekeliling bulan itu.
“Bulan berkalang,”
gumamnya. Dan dilihatnya sebuah bintang yang menyala dengan terangnya pada
lingkaran itu. Tidak di dalam, tetapi tidak pula di luar. Namun hati Mahisa Agni
sama sekali tidak tertarik pada bulan, lingkaran dan bintang yang menyala pada
lingkaran itu. Karena itu ia berjalan terus sambil menunduk, menyusuri
jalan-jalan kerikil di halaman rumah itu
Di dalam biliknya, Ken
Dedes menjatuhkan dirinya di pembaringannya. Ditelungkupkannya wajahnya di
antara kedua tangannya yang terlipat. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun
tangisnya meloncat juga. Ketika ia menahannya, maka terdengar isaknya menjadi
semakin keras.
“Nini,” didengarnya suara
lirih di depan pintunya.
Cepat-cepat Ken Dedes
mengusap matanya. Dan dicobanya menjawab perlahan-lahan, “Tinggalkan aku
sendiri.”
“Nini,” terdengar
kembali, “bolehkah aku masuk?”
“Pergi,” jawabnya, “aku
akan tidur.”
“Tidak,” katanya pula,
“kau tidak akan tidur. Kenapa kau menangis?”
Ken Dedes tidak menjawab
lagi. Dan dibiarkannya orang itu masuk. Ken Dedes mengenal orang itu seperti ia
mengenal dirinya sendiri. Seorang perempuan tua yang mengasuhnya sejak kecil.
Apalagi setelah ibunya meninggal .Perempuan itu mengasuhnya melampaui anak
sendiri.
“Kenapa kau bersedih,
Nini,” terdengar suara perempuan tua itu sambil duduk bersimpuh di samping amben
Ken Dedes.
Tangis Ken Dedes menjadi
semakin deras betapapun ia me-nahannya. Dan terdengar di antara isaknya, “Tidak
apa-apa, Bibi.”
“Jangan berbohong,” sahut
orang tua itu, yang seakan-akan turut serta menghayati kepedihan hati gadis itu,
“aku mengenalmu sejak kau kanak-kanak. Aku mengenal tabiatmu seperti aku melihat
matahari. Karena itu, jangan bersembunyi di balik lidi sehelai. Anakku, aku
dapat menduga sebagian besar dari kedudukanmu.”
Sedikit demi sedikit
tangis Ken Dedes mereda. Seakan-akan orang tua itu dapat menjadi kawan berbagi
duka. Perlahan-lahan diangkatnya wajahnya. Dan di antara isaknya ia berkata,
“Kau tahu bibi?”
“Ya,” sahut pengasuhnya
itu, “setiap gadis remaja akan mengalaminya. Aku sudah mendengar apa yang
dikatakan Empu kepadamu dan Angger Mahisa Agni.”
Ken Dedes terkejut.
Dengan serta-merta ia bertanya, “Dari manakah kau mendengarnya?”
“Ayahmu berkata kepadaku,
embanmu yang tua ini,” sahut perempuan itu.
“Ayah?” bertanya Ken
Dedes.
“Ya. Tetapi Ayahmu pun
menjadi gelisah, karena tak seorang pun yang kau kehendaki,” jawab pengasuh itu,
“Tetapi jangan kau sangka, bahwa kami orang-orang tua ini tidak dapat meraba
hati gadisnya.”
“Oh,” Ken Dedes menarik
nafas, “apakah yang diketahuinya?”
Orang tua itu diam untuk
sesaat. Ditatapnya gadis itu dengan pandangan lembut. Tangannya yang telah
dipenuhi oleh garis-garis umur itu kemudian dengan mesranya membelai rambut
momongannya. “Jangan menangis anakku,” bisiknya.
Hati Ken Dedes menjadi
berdebar-debar karenanya. Apakah yang diketahui tentang dirinya oleh pengasuh
dan ayahnya. Dengan penuh pertanyaan ditatapnya wajah orang tua itu. Namun untuk
sesaat mereka masih berdiam diri.
Di luar angin masih
bermain-main dengan daun-daun talas dan kelopak-kelopak bunga. Dengan tak
disengaja, Mahisa Agni, lewat melintas di samping bilik Ken Dedes. Ketika ia
mendengar isak gadis itu, ia berhenti. Dan didengarnya kemudian Ken Dedes
bercakap-cakap. Anak muda itu tak kuasa untuk mencegah keinginannya,
mendengarkan percakapan dibalik dinding bilik itu Karena itu, dengan hati-hati
sekali ia melekatkan kepalanya dan mencoba menangkap setiap kata-kata yang
menggetarkan udara malam yang sepi.
“Nini,” terdengar
pengasuh tua itu berkata dengan hati-hati, “jangan berahasia kepadaku seperti
aku juga tidak berahasia kepadamu. Ketahuilah Nini, bahwa Empu Purwa pernah
bertanya kepadaku tentang dirimu. Disangkanya aku mengetahui seluruhnya, apa
yang tersimpan di hatimu. Karena itu anakku, untuk kepentinganmu, berkatalah
kepadaku.”
Ken Dedes tidak segera
menjawab pertanyaan pengasuhnya itu. Hanya isaknya sajalah yang terdengar
memecah sepi malam. yang terdengar kemudian adalah suara pemomongnya, “Tak ada
orang tua ingin melihat anaknya menderita di hari tuanya. Karena itu, orang tua
yang baik, pasti akan mendengarkan tangis anaknya. Nah tangismu pasti akan
didengarnya. Empu Purwa tidak akan marah apabila kau minta kepadanya apapun yang
ia dapat memberinya. juga kesempatan untuk menentukan hari depanmu. Namun jangan
dibiarkan kami, orang-orang tua ini meraba-raba. Berilah kami penjelasan. Apakah
yang kau tunggu, dan siapakah anak muda itu?”
Dengan susah payah Mahisa
Agni mencoba menguasai pernafasannya yang mendesak. Seperti orang yang tertarik
oleh sebuah pesona yang tak dapat disingkiri, anak muda itu menjadi kaku tegang
melekat dinding.
“Bibi,” jawab Ken Dedes,
“apakah Ayah tidak akan marah kepadaku?”
“Tidak Ngger, tidak,”
sahut orang tua itu, “Ayahmu telah mengatakan kepadaku, bahwa kau akan mendapat
kesempatan untuk memilih sisihanmu itu. Meskipun kami dapat menduganya, namun
kau sendirilah yang harus mengucapkannya. Dan Ayahmu pasti akan menunggu, pada
saatnya orang-orang yang dianggapnya dapat mewakili anak muda itu, pasti akan
datang kepada Ayahmu.”
“Bibi, anak itu bukanlah
anak yang terbuka hatinya. Tetapi sinar matanya serta tutur katanya apabila kami
bercakap-cakap telah meyakinkan aku, bahwa pada suatu saat jalan hidup kami akan
bertemu.”
Ken Dedes berhenti
sesaat, dan nafas Mahisa Agni serasa akan berhenti juga.
“Ya, ya Nini,” sela
pengasuhnya itu.
“Aku telah mencoba
mengatakannya kepada Kakang Agni, namun mulutku seperti terkunci,” Ken Dedes
meneruskan.
Pengasuhnya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.
“Bibi,” berkata Ken Dedes
pula, namun suaranya menjadi serak dan seakan-akan sedemikian pepat dadanya,
sehingga kata-katanya itu menjadi terpotong-potong, “aku ingin berkata kepada
anak itu, supaya segera dipenuhinya adat dan tata cara.”
Ken Dedes berhenti sesaat
untuk menelan ludahnya.
“Ya, Nini,” potong emban
tua itu, “namun kau belum menyebut namanya.”
Ken Dedes menatap
langsung ke dalam mata orang tua yang bening itu. Dan tiba-tiba ia yakin bahwa
orang tua itu benar-benar akan menolongnya. Maka katanya, “Namanya Wiraprana.”
“Oh,” orang tua itu
terkejut seperti disengat lebah biru. Tanpa disengaja kedua tangannya menutup
mulutnya yang berteriak lirih itu, “Adakah kau menyebut nama Angger Wiraprana?”
Ken Dedes mengangguk. Dan
orang tua itu pun kemudian tepekur.
Di luar dinding, Mahisa
Agni mendengar percakapan itu. Pada saat Ken Dedes mengucapkan nama itu, terasa
seakan-akan di malam yang terang itu, Mahisa Agni mendengar suara petir meledak
di kepalanya. Betapa ia terkejut mendegarnya, Wiraprana. Wiraprana.
Tubuh Mahisa Agni
menggigil seperti orang kedinginan. Dadanya terbakar oleh suatu perasaan yang
aneh. Seperti belanga yang terbanting di atas batu, maka hatinya pecah re muk
berkeping-keping. Hampir ia tidak percaya pada pendengarannya. Apakah yang
didengarnya benar-benar nama Wiraprana?
Dari dalam bilik Ken
Dedes itu kemudian masih terdengar Ken Dedes menyebut namanya. Namanya sendiri.
“Emban,” berkata Ken
Dedes, “tak ada orang lain yang dapat menyampaikannya kepada Kakang Wiraprana
selain Kakang Mahisa Agni. Kakang Agni adalah sahabat yang paling dekat
daripadanya. Kakang Agni akan dapat mendesaknya untuk segera melangsungkan tata
cara adat itu. Sehingga kemudian nama Kakang Wiraprana pasti akan disebut oleh
Ayah, apabila pada suatu kali aku dipanggilnya kembali.”
“Oh,” orang tua itu
mengeluh. Tetapi ia menahan gejolak perasaannya. Nama itu benar-benar tak
disangka-sangkanya.
Mahisa Agni pun menggigit
bibirnya sehingga berdarah. Terdengar giginya kemudian gemeretak. Ia mencoba
menguasai keseimbangan perasaannya. “Persetan!” umpatnya di dalam hati,
“Terkutuk kau, Wiraprana!”
Mahisa Agni itu pun
kemudian tidak tahan lagi untuk tetap berdiri di tempatnya. Dengan berjingkat ia
berjalan tergesa-gesa ke biliknya sendiri. Dengan serta-merta dibantingnya
tubuhnya di atas pembaringannya, sehingga terdengar amben itu berderak-derak.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat terbaring tenang. Tubuhnya masih menggigil dan
perasaannya menggigil pula. Tak disangkanya bahwa pada suatu saat Wiraprana akan
memotong hari depan yang diidamkannya. Apakah ia akan berdiam diri?
“Kenapa aku turut campur
pada saat Kuda Sempana sedang bertempur dengan anak itu?” gumamnya. “Biarlah ia
mati, supaya tak ada orang yang melintang, di hadapanku,” Ia melanjutkan. Bahkan
kemudian timbul pula pikirannya, “Aku adalah Mahisa Agni. Apakah aku tak akan
mampu bersaing dengan anak muda itu? Biarlah besok aku datang kepadanya. Kita
adalah laki-laki jantan. Aku tantang ia bertempur buat menentukan masa depan.”
“Tidak besok pagi.
Sekarang!” geramnya dengan kemarahan yang meluap-luap.
Dan Mahisa Agni itu pun
segera meloncat dari pembaringannya. Dengan gerakan yang cepat ia melambung di
udara dan kemudian tegak di atas kedua kakinya. Cepat ia membenahi pakaiannya.
Ikat pinggangnya dan kainnya ditariknya ke belakang. Mahisa Agni kini siap untuk
bertempur. Dengan satu loncatan panjang anak muda itu meraih pusakanya. Bukan
sekedar senjata untuk berlatih. Tetapi sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan
pamannya, seorang Empu yang sakti. Empu Gandring.
Dengan cepat anak muda
itu meloncati tlundak pintunya, dan kemudian berlari menghambur di antara
batang-batang perdu di pertamanannya.
“Kubunuh Wiraprana dan
aku larikan Ken Dedes,” Mahisa Agni menggeram di sepanjang jalan, “Kuda Sempana
berani berbuat demikian. Mengapa aku tidak. Aku tak perlu perlindungan dari
istana Tumapel. Akan aku bawa Ken Dedes ke Lulumbang. Apakah pamanku itu tidak
dapat melindungi aku seandainya Empu Purwa marah. Pamanku adalah empu sakti
pula.”
Mahisa Agni berlari
semakin kencang Ditelusurinya jalan desanya yang setiap hari selalu dilewatinya.
Berpuluh bahkan beratus kali. Setiap kali ia mengunjungi Wiraprana dan pulang
dari rumah anak itu, jalan ini pula yang selalu dilaluinya. Tetapi terasa jalan
itu, kali ini bertambah panjang.
Mahisa Agni hampir tak
sabar dengan langkahnya sendiri. Ia berlari dengan langkah yang panjang-panjang.
Waktu yang diperlukan
untuk mencapai rumah Buyut Panawijen itu tidak selalu lama. Hanya beberapa saat
ia telah berdiri di muka regol halaman Buyut Panawijen. Dilihatnya regol itu
tertutup, meskipun ia tahu pasti bahwa regol itu tidak terkunci. Kalau ia
mendorongnya sedikit, regol itu pasti terbuka.
Tetapi halaman itu begitu
sepi.
Mahisa Agni ragu sejenak.
Meskipun gelora di dadanya serasa tak dapat dihambatnya lagi namun ia masih
sempat membuat perhitungan-perhitungan. Kalau ia masuk ke halaman, dan memaksa
bertemu dengan Wiraprana, maka Buyut Panawijen itu pun akan terbangun. Dengan
demikian, maka akibat yang akan timbul mempunyai banyak kemungkinan. Mungkin ia
harus bertempur melawan mereka berdua, Wiraprana dan Buyut Panawijen. Meskipun
kedua orang itu sama sekali tak berarti bagi Mahisa Agni, namun peristiwa itu
pasti akan menimbulkan keonaran. Kalau Empu Purwa kelak mengetahuinya maka
segala rencananya akan gagal. Orang tua itu pasti akan menjaga anaknya
baik-baik. Dan apakah ia masih akan diperbolehkan tinggal di padepokan itu?
Dengan susah payah Mahisa
Agni menyabarkan dirinya. Gumamnya, “Biarlah aku tunggu sampai besok. Aku ajak
anak itu ke bendungan. Di sana dapat kita buat perhitungan.”
Mahisa Agni menggeram
penuh kemarahan. Sekali lagi ditatapnya rumah yang senyap itu. Dan sekali lagi
ia mengancam, “Awas kau Wiraprana!”
Kemudian tanpa
disadarinya Mahisa Agni berkata seperti yang pernah didengarnya dari Kuda
Sempana, “Wanita sama harganya dengan curiga. Taruhannya adalah nyawa.”
Kemudian Mahisa Agni itu
pun melangkah pergi, dengan menyimpan bara di dalam dadanya. Betapapun juga,
dada itu serasa akan meledak. Karena itu, Mahisa Agni berjalan dengan tanpa
tujuan. Kakinya yang kokoh itu menyepak apa saja yang dijumpainya. Batu, kayu,
bahkan pohon-pohon kayu pun tidak luput dari sasaran kemarahannya. Sekali-sekali
diraihnya cabang kayu di tepi jalan. Kemudian dengan tenaganya yang luar biasa,
cabang-cabang itu direnggutnya, sehingga patah berderak-derak.
Beberapa orang yang
rumahnya dekat di pinggir jalan itu terkejut, namun mereka tak berprasangka
apapun. Dan kembali mereka tetap di dalam pelukan malam.
Mahisa Agni masih,
berjalan terus Tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang mengejarnya. Bulan di
langit serasa tersenyum mengejeknya. Dilihatnya sekali lagi lingkaran yang
mengelilingi bulan itu, dan dilihatnya sebuah bintang menyala di dalam
lingkaran.
“Bintang itu telah berada
di dalam lingkaran,” geramnya, “besok pagi satu jiwa akan melayang.”
Dan Mahisa Agni masih
berjalan menyusur jalan itu. Terus. Sehingga tak dirasanya, Mahisa Agni telah
meninggalkan desa Panawijen dan berjalan di daerah persawahan. Dilihatnya
kemudian batang-batang padi yang hijau kekuning-kuningan di dalam limpahan
cahaya bulan.
Mahisa Agni adalah
seorang pengagum keindahan. Ia dapat duduk seperempat malam menatap gunung-
gunung yang berselimut mega, atau menunggui bendungan, mendengarkan gemericik
air di antara batu-batu kali. Tetapi kali ini perasaan itu seakan-akan terbunuh
mati. Yang tampak adalah malam yang suram sesuram hatinya.
Tiba-tiba Mahisa Agni
tersentak ketika ia melihat takbir malam yang terentang di hadapannya. Kalau ia
berjalan terus, maka ia akan sampai ke padang rumput Karautan.
“Ha,” tiba-tiba Mahisa
Agni berkata sendiri, “apakah demit padang rumput itu masih di sana?”
Mahisa Agni merasa,
seakan-akan ia mendapat tempat untuk menumpahkan kemarahannya. Karena itu ia
menggeram, “Besok aku baru dapat membunuh Wiraprana pengecut itu. Biarlah
sekarang aku cari hantu Karautan. Setan itu pun harus mati. Empu Purwa mencegah
aku dahulu. Sekarang biarlah aku ulangi tanpa orang tua itu. Biarlah aku tangkap
atau bunuh sekali hantu Karautan yang sering mengganggu orang.”
Dan tiba-tiba sekali lagi
Mahisa Agni meloncat berlari. Seperti sedang dikejar hantu ia berlari semakin
lama semakin cepat. Diloncatinya batu-batu besar yang berserak-serak di padang
rumput itu, dan disasaknya gerumbul-gerumbul kecil yang berada di garis
perjalanannya. Kelinci-kelinci dan binatang-binatang kecil lainnya terkejut, dan
berloncatan menjauh. Namun Mahisa Agni tak sempat memperhatikannya. Matanya
tertancap jauh-jauh ke tengah padang rumput itu. Di sana ia beberapa waktu yang
lampau bertemu dengan orang yang ditakutinya, dan bernama Ken Arok. Dalam
kemarahannya itu, ia tidak ingat apa-apa lagi, selain membunuh, menghancurkan
dan apa saja yang dapat memberinya kepuasan.
Sekali-kali terlintas
juga di kepalanya, menurut kata gurunya, ia tak akan mampu mengalahkan hantu
itu. “Omong kosong!” geramnya dan diteruskannya kata-kata itu, “Aku dahulu dapat
menyentuhnya dengan tanganku. Kalau sekarang tersentuh keris Pamanku, muka umur
setan itu tak akan sampai esok pagi.”
Padang rumput Karautan
adalah padang rumput yang luas. Karena itu Mahisa Agni memerlukan waktu untuk
sampai ke tengah padang itu. Ia langsung menuju ke tempat ia bertemu dengan Ken
Arok di perjalanannya pulang bersama gurunya. Ia mengharap Ken Arok masih berada
di sana, dan mencegatnya. Hantu itu harus sadar, bahwa di dunia ini ada orang
yang tak takut kepadanya, dan tak dapat dikalahkannya.
Mahisa Agni yang
berlari-lari itu akhirnya sampai juga ke tengah padang itu. Namun bulan telah
jauh di sisi cakrawala. Sebentar lagi bola langit itu segera akan tenggelam
dibalik punggung Gunung Kawi. Mahisa Agni kemudian berhenti. Nafasnya terasa
berkejaran, secepat ia berlari. Sesaat ia tegak di tengah-tengah padang itu
sambil mencoba menenangkan dirinya.
Beberapa kali Mahisa Agni
menghisap nafasnya dalam-dalam dan dihirupnya udara padang yang segar.
Perlahan-lahan nafasnya pun dapat diaturnya kembali.
Kini Mahisa Agni itu
bertolak pinggang dengan kaki renggang. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya.
Namun sepi. Tak seorang pun dilihatnya. Tiba-tiba ia menjadi semakin marah. Maka
seperti orang yang kehilangan kesadarannya ia berteriak, “He, hantu Karautan!
Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kaujadikan
umpan keganasanmu. Keluarlah dari persembunyianmu!”
Suara Mahisa Agni itu
seperti membelah langit. Mengumandang dan melingkar-lingkar seluas padang
Karautan. Namun setelah gema suaranya itu berhenti, kembali malam menjadi sepi.
Mahisa Agni
mengumpat-umpat tak habis-habisnya, “Setan pengecut! Apakah kau sedang
bersembunyi karena kau lihat Mahisa Agni lewat?”
“He, hantu Karautan!
Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kau jadikan
umpan keganasan. Keluarlah dari persembunyianmu!”
Sekali lagi suaranya
disahut oleh sepinya malam. Dan sekali lagi Mahisa Agni memandang berkeliling
dengan nanar.
Tetapi tiba-tiba Mahisa
Agni terkejut ketika ia mendengar gemeresik daun-daun perdu di sisinya. Cepat ia
memutar tubuhnya dan bersiaga.
“Nah, kaukah itu?” ia
berteriak keras-keras, meskipun rumpun perdu itu tak jauh daripadanya.
Apa yang ditunggunya itu
ternyata datang. Dari balik daun-daunan yang rimbun itu, muncullah sebuah
kepala. Mahisa Agni segera mengenal orang itu. Sambil tertawa berderai ia
berkata, “Keluarlah dari persembunyianmu, hei setan yang menakutkan orang
seluruh wilayah Tumapel. Tetapi aku, Mahisa Agni, jangan kau sangka takut
seperti mereka itu. Marilah sekali lagi kita membuat perhitungan. Dan kali ini
biarlah salah satu dari kita membayar taruhan ini dengan nyawa.”
Orang yang muncul dari
balik gerumbul itu sebenarnyalah orang yang bernama Ken Arok. Untuk sesaat
ditatapnya wajah Mahisa Agni yang menyalakan kemarahan hatinya. Tetapi hantu
padang rumput Karautan itu tidak segera menanggapinya. Bahkan perlahan-lahan ia
melangkahi ranting-ranting perdu dan dengan tenangnya ia berjalan selangkah demi
selangkah maju.
“Ayo, bersiaplah!”
tantang Mahisa Agni, “Meskipun kau bernyawa rangkap tujuh, kau tak akan mampu
mempertahankan hidupmu apabila kau tersentuh kerisku.”
Ken Arok menggigit
bibirnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang, tetapi pandangannya tidak menjadi
liar seperti pada saat Mahisa Agni bertemu untuk yang pertama kalinya.
“Apa yang kau tunggu?”
bentak Mahisa Agni.
Mahisa Agni menjadi heran
ketika dilihatnya hantu Karautan itu mengangguk-angguk. Kemudian terdengar ia
berkata tenang, “Mahisa Agni. Adakah kau mendendam?”
Mahisa Agni terkejut
mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya mata Ken Arok. Dan
seakan-akan dilihatnya wajah yang lain dari wajahnya dahulu. Meskipun demikian,
Agni itu pun berkata, “Jangan mencoba merajuk! Cerita tentang hantu Karautan
harus segera tamat.”
“Ya,” sahut Ken Arok,
“cerita tentang hantu Karautan memang sudah tamat.”
Kembali Mahisa Agni
terkejut. Sekali lagi ditatapnya wajah Ken Arok, dan sekali lagi ia mendapat
kesan lain pada wajah itu. Karena itu kemudian Mahisa Agni menjadi bingung.
“Mahisa Agni,” berkata
Ken Arok. Suaranya pun lain dari suara yang pernah didengarnya beberapa waktu
yang lampau, “Aku memang sedang menunggumu di sini. Berhari-hari. Aku mengharap
bahwa aku akan dapat bertemu dengan kau dan orang tua yang lewat bersamamu
dahulu.”
“Adakah kau tidak puas
dengan pertemuan kita yang pertama itu,” bertanya Mahisa Agni dengan penuh
prasangka.
“Ya,” jawab Ken Arok
sambil mengangguk.
“Nah, sekarang aku telah
datang. Apa maumu? Apakah kau masih ingin mencoba kesaktianmu?” bertanya Mahisa
Agni.
Ken Arok menggeleng
lemah. Rambutnya yang terurai lepas ke pundaknya itu bergerak-gerak ditiup angin
malam. Tetapi rambut itu sudah tidak seliar seperti yang pernah dilihatnya.
Perlahan-lahan terasa pada Mahisa Agni, bahwa ia melihat perubahan pada hantu
Karautan itu. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok menjawab, “Tidak Mahisa Agni.
Sudah kukatakan, cerita tentang hantu Karautan telah tamat.”
“Lalu apa maumu
menghadang aku?” bertanya Agni.
“Berhari-hari aku
menunggumu. Setiap malam aku tidur di gerumbul ini. Tetapi aku tidak pernah lagi
berniat untuk menghentikan orang-orang yang lewat di padang ini. Aku hanya
menunggumu dan orang tua itu,” berkata Ken Arok.
“Ya, sudah kau katakan,”
potong Mahisa Agni, “tetapi apa maksudmu?”
“Duduklah Agni,” pinta
Ken Arok.
Mahisa Agni menggeleng,
“Kau akan membuat aku tidak bersiaga?”
Wajah Ken Arok itu
menjadi suram. Katanya, “Aku sadar, bahwa kesan perkelahian itu tak akan
terhapus di sepanjang umurmu. Tetapi duduklah Agni.”
Agni menjadi semakin
heran. Di mata anak muda itu memancar sesuatu yang tak dimengertinya. Dan
tiba-tiba saja Mahisa Agni duduk di samping anak muda yang belum begitu
dikenalnya.
“Mahisa Agni, apakah
orang tua dahulu itu benar gurumu?” bertanya Ken Arok
“Ya,” jawab Agni singkat.
“Aku iri kepadamu,” gumam
Ken Arok.
“Kenapa?”
“Agni, kata-kata itu
terdengar terlalu dalam. Aku melihat perubahan pada sikapmu. Apakah kau bersikap
baik hanya apabila gurumu ada?”
Mahisa Agni menjadi
semakin heran mendengar pertanyaan itu. Dan kembali ia bertanya, “Kenapa?”
“Sikapmu dahulu tidak
segarang sekarang, meskipun aku melihat kejantananmu sejak saat itu.”
Pertanyaan Ken Arok itu
benar menembus dada sehingga langsung menyentuh hatinya. Dicobanya untuk melihat
sikapnya sendiri. Kenapa orang yang hidupnya seliar Ken Arok berkata demikian
kepadanya. Meskipun demikian Mahisa Agni bertanya, “Apakah yang berubah. Sejak
dahulu guruku berkata kepadaku, bahwa setiap kejahatan harus ditumpas. Sekarang
aku sedang berusaha menumpas kejahatan yang merajalela di padang rumput ini.”
Ken Arok seakan-akan
tidak mendengar jawaban itu. Bahkan ia berkata terus, “Aku melihat, pada waktu
kau datang bersama gurumu. Betapa kagumnya aku melihat kejantananmu. Namun sikap
itu wajar. Sekarang sikapmu benar-benar lain daripada sikapmu waktu itu. Adakah
sesuatu yang terjadi? Atau karena gurumu kini tidak ada?”
“Jangan mengigau!” bentak
Mahisa Agni, ”Ayo berdirilah, kita bertempur. Aku tetap dalam perjuanganku.”
“Mahisa Agni,” berkata
Ken Arok lirih, “Adakah kau sempat mendengar sebuah kisah yang pendek?”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Tetapi ia terpengaruh oleh permintaan Ken Arok itu. Karena itu ia
berdiam diri di tempatnya.
“Mahisa Agni,” Ken Arok
mulai dengan kisahnya, “aku telah bertemu dengan seorang Brahmana di tempat
perjudian. Brahmana itu bernama Danghyang Lohgawe.”
Tiba-tiba Mahisa Agni
memotong, “Apa peduliku dengan Danghyang Lohgawe. Apakah kau sedang
menakut-nakuti aku dengan gurumu yang baru itu?”
Ken Arok menggeleng.
“Tidak,” jawabnya, “orang itu bukan guruku. Dimintanya aku menjadi anaknya.”
“Nah. Suruhlah bapa
angkatmu itu datang kemari!” sahut Agni.
“Hem,” Ken Arok menarik
nafas, “kau benar-benar tak seperti yang aku sangka.”
Kembali kata-kata itu
langsung menyentuh hatinya. Dan kembali Mahisa Agni berdiam diri. Sehingga Ken
Arok sempat meneruskan, “Orang tua itu berkata kepadaku seperti yang pernah
dikatakan gurumu kepadaku dahulu.”
“Apa katanya?” bertanya
Mahisa Agni tak sesadarnya.
“Bukankah gurumu pernah
berkata, bahwa aku akan lebih berbahagia apabila aku dapat menempuh cara hidup
yang lain dari cara hidupku yang liar itu?” sahut Ken Arok.
“Adakah sekarang kau
sependapat dengan nasihat guru?” bertanya Mahisa Agni pula.
Ken Arok
mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku pernah bertanya kepada Brahmana
itu. Apakah seorang yang telah berjalan jauh dan ditempuhnya jalan yang sesat,
ia akan dapat menemukan jalan kembali?”
Ken Arok berhenti
sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Brahmana itu berkata, jalan kembali itu tak
akan pernah tertutup selama-lamanya buat siapa pun juga.”
Kembali Ken Arok berhenti
sejenak. Kepalanya itu pun tertunduk lesu, dan seterusnya ia berkata, “Menurut
Danghyang Lohgawe, jalan itu terbuka pula bagiku.”
Mahisa Agni pun kemudian
menundukkan wajahnya. Dan untuk sesaat mereka berdua tenggelam dalam sepi hati
mereka berdua.
Sesaat kemudian terdengar
kembali Ken Arok berkata, “Brahmana itu pernah berkata pula kepadaku, bahwa
jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah
itu selalu lapang dan licin, sehingga karena itu maka banyak orang yang tersesat
karenanya. Lebih banyak yang memilih jalan yang lapang dan licin daripada yang
sempit dari jelek. Namun jalan itu akhirnya akan sampai ke daerah yang gelap,
sedang yang jelek itu akan sampai ke daerah ketenteraman abadi.”
Ken Arok menarik nafas
sekali, namun dalam sekali. Kemudian ia meneruskan, “Mahisa Agni, aku ingin
berkata kepadamu dan gurumu, bahwa aku akan berusaha memilih jalan yang sempit
dan jelek. Gerbang di ujung jalan itu selalu terbuka, namun jarang-jarang orang
yang memasukinya. Aku sangka kau dari dulu telah berada di jalan yang sempit itu
pula. Mudah-mudahan sangkaanku itu benar.”
Kata-kata Ken Arok itu
benar-benar menghunjam langsung ke pusat dadanya. Karena itu Mahisa Agni pun
menjadi berdebar-debar. Dilihatnya dirinya sendiri yang sedang dibakar oleh
perasaan yang tidak menentu. Hantu yang liar itu kini sedang berusaha mencari
jalan kembali. Lalu apakah yang akan dilakukan itu?
Mahisa Agni menarik nafas
sedalam luka di hatinya. Namun tiba-tiba hantu itu telah menariknya dari
kealpaan. Hampir saja ia terjerumus ke jalan yang lapang dan licin, yang
disebut-sebut oleh Ken Arok itu. Memang alangkah mudahnya terjun ke daerah yang
akan bermuara di dalam kegelapan. Dan hampir saja dirinya terjun ke dalamnya.
Kekecewaan yang memukul dadanya, pada saat ia mendengar nama Wiraprana disebut
oleh Ken Dedes, telah hampir saja menyeretnya ke dalam daerah yang kelam itu.
Dan kini, seakan-akan dilihatnya sebuah cahaya yang menerangi hatinya yang
gelap. Justru dikatakan oleh hantu yang menakutkan itu.
Karena itu untuk sesaat
Mahisa Agni jadi terbungkam. Tak sepatah kata pun yang dapat dikatakannya.
Sedang Ken Arok pun kemudian berdiam diri, sehingga kembali padang rumput
Karautan itu menjadi sepi.
Tetapi hati Mahisa Agni
kini tidak sesepi padang rumput itu. Terjadilah di dalam dadanya suatu
pergulatan yang sengit. Penilaiannya atas perbuatannya sendiri, serta kisah yang
diucapkan oleh Ken Arok telah menolongnya, membebaskannya dari suatu tindakan
yang kotor. Karena itu, sesaat kemudian terdengar ia berkata parau, “Maafkan aku
Ken Arok.”
Ken Arok terkejut, “Apa
yang harus aku maafkan?”
“Pada saat kau menemukan
jalan kebenaran itu,” sahut Mahisa Agni, “justru bersamaan waktunya dengan
keadaan yang sebaliknya yang terjadi padaku. Pada saat-saat aku hampir terjebak
oleh kekecewaan dan nafsu.”
“Oh,” desis Ken Arok,
“kini terasa pula olehmu, bahwa kau agak berubah.”
“Mudah-mudahan,” sahut
Mahisa Agni.
“Kenapa mudah-mudahan?”
bertanya Ken Arok.
“Mudah-mudahan tidaklah
menjadi watakku sejak semula. Mudah-mudahan apa yang aku lakukan kini
benar-benar karena hatiku yang gelap. Dan mudah-mudahan aku dapat meyakini
kesalahan itu,” jawab Mahisa Agni.
Ken Arok menatap wajah
Mahisa Agni seperti baru sekali itu dilihatnya. Dan wajah itu kini sedang
diliputi oleh kabut yang suram. Karena itu maka terdengar Ken Arok bertanya,
“Aku yakin bahwa bukan sifatmu sekasar itu. Tetapi apakah yang sudah terjadi?”
Mahisa Agni menggeleng
lemah, “Bukan apa-apa. Suatu kesalahan kecil di dalam lingkunganku.”
“Hem,” Ken Arok menarik
nafas, “kesalahan kecil yang hampir berakibat besar. Hati-hatilah untuk lain
kali. Apabila hal yang sekasar itu dilakukan oleh Ken Arok, maka itu bukanlah
sesuatu yang pantas disesalkan. Tetapi kalau itu dilakukan oleh Mahisa Agni,
maka kau pasti akan menyesal sepanjang hidupmu.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih,” gumamnya, “untunglah bahwa kau
pun banyak mengalami perubahan. Apabila tidak, akibatnya dapat dibayangkan.”
“Untunglah,” sahut Ken
Arok, “aku menyadari sepenuhnya perubahan-perubahan yang terjadi dalam diriku.
Tanggapanku kepada dunia, kepada manusia di sekelilingku kini telah berubah.
Karena itulah sebenarnya aku ingin bertemu denganmu dan gurumu. Aku minta
kepadamu, supaya orang-orang di sekitar padang ini mendengar, bahwa cerita
tentang hantu Karautan telah tamat. Selebihnya aku akan mohon diri kepadamu dan
gurumu, bahwa aku akan segera pergi ke Tumapel mengikuti Brahmana itu.”
“Apakah kau ingin
berjumpa dengan Empu Purwa?” bertanya Mahisa Agni,
“Sayang, waktuku sudah
terlalu sempit,” jawab Ken Arok, “kesempatan ini adalah kesempatan yang
sebaik-baiknya bagiku untuk mengakhiri cara hidup yang liar ini. Danghyang
Lohgawe akan membawaku ke istana Akuwu. Mudah-mudahan aku diterima pengabdianku,
meskipun sebagai juru pakatik sekali pun.
“Syukurlah, “gumam Mahisa
Agni, “kau akan menempuh suatu kehidupan yang lain dari masa-masa lampaumu.”
Ken Arok itu pun
mengangguk lemah.
“Tekunilah kehidupan yang
baru itu,” Mahisa Agni meneruskan, “mudah-mudahan kau sabar melampaui masa-masa
peralihan itu.”
Kembali Ken Arok
mengangguk. “Mudah-mudahan,” desisnya.
“Kapan kau akan
berangkat?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku belum tahu pasti,”
sahut Ken Arok, “tetapi aku harus segera pergi kepada Danghyang Lohgawe.”
Mereka berdua pun
kemudian terdiam. Langit di timur telah membayangkan warna fajar. cahaya yang ke
merah-merahan memancar di wajah langit yang biru. Bulan yang semalaman berkisar
dari satu titik kesatu titik di udara, kini telah tenggelam d balik Gunung.
Sesaat kemudian terdengar Ken Arok berkata, “Aku akan segera pergi.”
“Adakah kau masih takut
mendengar ayam jantan berkokok,” bertanya Mahisa Agni,
Ken Arok tersenyum.
“Tidak,” jawabnya, “Ada soal lain. Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan
hantu di padang ini.”
Mahisa Agni pun
tersenyum. Meskipun mereka belum rapat berkenalan, namun pertemuan yang aneh
itu, menyebabkan hati mereka menjadi berat menghadapi perpisahan yang bakal
terjadi.
Ken Arok dan Mahisa Agni
pun kemudian berdiri. Ketika Ken Arok akan meninggalkan padang rumput, yang
selama ini menjadi daerah pengembaraannya di malam hari, maka sekali lagi ia
berpamitan, katanya, “Mahisa Agni. Baktiku buat gurumu. Ialah orang yang
pertama-tama membangunkan sebuah teka-teki di dalam hatiku. Teka-teki tentang
Yang Maha Agung. Doakan semoga aku dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup
yang baru ini.”
“Aku akan berdoa
untukmu,” sahut Mahisa Agni.
Ken Arok itu pun segera
meninggalkan Mahisa Agni. Dengan cepatnya ia berjalan melintasi padang rumput
yang selama ini telah mengikatnya. Ken Arok itu seakan-akan telah menjadi bagian
yang hidup dari padang Karautan. Dan kini daerah itu ditinggalkannya.
Namun terngiang di
telinga Mahisa Agni, kata-kata Ken Arok, meskipun ia hanya ingin bergurau,
“Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan hantu di padang ini.”
“Hem,” Mahisa Agni
menarik nafas panjang, “Untunglah, semuanya belum terjadi. Seandainya ia
berhasil membunuh hantu itu dengan kerisnya. dan seandainya pula ia telah
terlanjur membunuh Wiraprana. Apakah akan jadinya? Dengan demikian, mungkin aku
akan benar-benar menggantikan anak muda itu menjadi hantu di padang ini.”
Mahisa Agni menjadi ngeri
sendiri. Dan mengucaplah ia di dalam hatinya puji syukur kepada yang Maha Agung,
bahwa ia telah dibebaskan dari bencana itu.
Mahisa Agni pun kemudian
melangkah pergi. Tetapi ia tidak berlari lagi seperti pada saat ia datang. Di
sepanjang jalan itu, terasa betapa hatinya menjadi pedih. Pedih atas hilangnya
harapan bagi masa depan yang manis, pedih karena ia hampir-hampir tenggelam
dalam kegelapan.
“Wiraprana itu sama
sekali tak bersalah,” gumamnya, “Akulah yang bersalah. Kenapa aku selama ini
berdiam diri. Kenapa aku lebih senang menyimpan perasaanku daripada
melimpahkannya? Karena itu jangan menyalahkan orang lain.”
Namun betapapun juga,
luka di dadanya terasa betapa sakitnya. Tetapi Mahisa Agni kini telah menemukan
dirinya kembali. Karena itu tak seorang pun yang didendamnya. Wiraprana tidak
dan Ken Dedes pun tidak.
“Ayahnya, Empu Purwa tak
bisa memaksanya,” katanya di dalam hati, “Apalagi aku.”
Bahkan tiba-tiba
timbullah di dalam hati Mahisa Agni itu, “Biarlah gadis itu menemukan
kebahagiaannya. Dan mudah-mudahan dengan demikian aku akan ikut berbahagia
karenanya.”
Mahisa Agni itu berjalan
perlahan-lahan di dalam sentuhan angin pagi. Tetesan embun yang hinggap di
dedaunan, membentuk butiran-butiran, seakan-akan butiran mutiara yang satu-satu
lepas dari untaiannya, seperti butiran-butiran mutiara harapan yang pecah dari
ikatan hati Mahisa Agni.
Sebagai seorang anak muda
yang sedang melambungkan cita-citanya setinggi bintang, maka peristiwa itu tak
akan dapat dilupakannya. Namun ia pun dapat mengetahui bahwa tak seorang pun
akan mampu mengubah perasaan orang lain dengan paksa dalam tanggapannya atas
cinta.
Padang rumput itu adalah
padang yang luas. Karena itu maka kini terasa, bahwa perjalanan yang telah
ditempuhnya semalam adalah perjalanan yang cukup jauh. Mahisa Agni pun tiba-tiba
menjadi cemas, apakah kata orang apabila salah seorang di antara
tetangga-tetangganya melihatnya berlari-lari.
Matahari yang semakin
tinggi di langit, terasa panasnya semakin tajam menyengat kulit. Namun sinarnya
yang bertebaran di segenap wajah padang rumput itu sama sekali tak terasa.
Mahisa Agni sedang bergelut dengan angan-angannya, “Apakah yang harus aku
lakukan kini?”
Namun di sepanjang
perjalanan itu tak ditemuinya jawaban yang memuaskan hatinya. Kadang-kadang
timbul keinginannya untuk pergi saja meninggalkan gurunya dan desa Panawijen,
namun kadang-kadang ada juga maksudnya untuk melihat betapa Ken Dedes dan
Wiraprana berbahagia. Tetapi di dalam sudut hatinya yang lain terdengar pula
suara, “Biarlah apa saja yang akan mereka lakukan, jangan mencampurinya dalam
segala segi.”
Mahisa Agni
menggeleng-geleng lemah. Wiraprana ternyata belum tahu apa yang semestinya harus
dilakukan, dan Ken Dedes semalam menemuinya, bukan untuk menyatakan cintanya
kepadanya, tetapi gadis itu akan minta kepadanya untuk menyampaikannya kepada
Wiraprana. Mahisa Agni menarik nafas dalam sekali. Gumamnya, “Ternyata Wiraprana
datang setiap hari ke rumah Empu Purwa tidak semata-mata menemui aku. Ternyata
di belakang tirai persahabatannya itu terkandung maksud-maksud yang lain.”
Perjalanan pulang itu
terasa betapa menjemukan. Baru kemudian terasa, betapa lelahnya setelah semalam
suntuk matanya tak terpejamkan. Bahkan kemudian ia berlari-lari sepanjang hampir
setengah malam. Dan kini ia harus menempuh jalan itu kembali.
Ketika matahari telah
hampir mencapai puncak langit, maka tampaklah di hadapan Mahisa Agni beberapa
buah desa yang membujur di pinggir padang rumput itu. Sekali dilampauinya desa
yang pertama, kemudian ia akan segera sampai ke rumah gurunya. Namun desa-desa
yang hijau itu kini sama sekali tak memikatnya seperti beberapa waktu yang
lampau. Ikatan yang selama ini. terasa menjerat dirinya, tiba-tiba kini telah
terurai lepas. Desa itu tak menarik lagi baginya, selain sebagai tempat
tinggalnya.
Mahisa Agni memasaki
desanya dengan hati yang kosong. Selangkah demi selangkah ia menyusuri jalan
yang semalam dilaluinya. Masih dilihatnya beberapa ranting yang patah sebagai
tempat untuk menumpahkan kemarahan dan kegelapan hatinya semalam.
Ketika dari kejauhan
dilihatnya pagar batu yang melingkari halaman rumah gurunya, hatinya berdesir.
Tak ada gairah lagi untuk segera pulang. Tetapi apabila diingatnya, apa yang
telah dilakukan oleh gurunya untuknya, dan apa yang telah diberikan oleh orang
tua itu kepadanya, maka timbullah sedikit niatnya untuk kembali masuk ke
dalamnya.
Tetapi kembali hatinya
berdesir ketika ia melihat Wiraprana telah berdiri di muka regol halaman itu.
Terungkit kembalilah perasaan yang pedih di dadanya. Sekilas tebersitlah
kemarahannya kepada anak muda itu. Namun kemudian perasaan itu ditekannya
kuat-kuat.
Wiraprana tersenyum
ketika ia melibat Mahisa Agni. Anak muda itu kemudian berjalan menyongsongnya.
Tak ada suatu kesan apapun di wajahnya. Bersih.
Mahisa Agni melihat wajah
yang jujur itu. Dan kembali ia berkata di dalam hatinya, “Anak itu tidak
bersalah.”
“Dari mana kau, Agni?”
bertanya anak muda itu.
Mahisa Agni menjadi agak
bingung. Terasa betapa canggungnya kali ini berhadapan dengan Wiraprana. Anak
muda yang telah bertahun-tahun bergaul dengan rapatnya, tiba-tiba terasa sebuah
jurang telah membujur di antaranya.
Karena Mahisa Agni tidak
segera menjawab, maka Wiraprana mengulangi pertanyaannya seramah semula, “Dari
mana kau Agni?”
Mahisa Agni merasa
seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi. Dengan terbata-bata ia
menjawab sekenanya, “Aku tidur di bendungan, Prana.”
Wiraprana terperanjat.
“He,” sahutnya, “aku juga pergi ke bendungan semalam. Kenapa kita tidak
bertemu?”
Mahisa Agni bertambah
bingung. “Aku pergi sesudah tengah malam,” jawab Agni sekenanya.
“Oh,” berkata Prana,
“tengah malam aku sudah pulang. Kenapa kau tak mengajak aku serta?”
Pertanyaan itu
melingkar-lingkar seperti putaran yang sangat membingungkan. Maka jawabnya, “Aku
tak bermaksud pergi ke bendungan. Aku hanya berjalan-jalan saja. Tetapi kemudian
aku sampai ke sana.”
Wiraprana
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika dilihatnya keris terselip di
pinggang sahabatnya, Wiraprana mengerutkan keningnya. Mahisa Agni melihat
sambaran mata Wiraprana atas kerisnya itu. Karena itu ia menjadi semakin
bingung. Apabila anak itu bertanya tentang keris itu, apakah jawabnya. Tetapi
untunglah Wiraprana tak bertanya-tanya lagi.
“Ayolah,” ajak Wiraprana,
“kau tampak lelah.”
Mahisa Agni tak menjawab.
Maka berjalanlah mereka berdua memasuki regol halaman rumah Empu Purwa yang
luas. Mahisa Agni melihat tanam-tanamnya yang hijau subur. Bunga-bungaan,
rerumputan dan perdu. Dilihatnya pula tanah yang berpetak-petak dan di samping
rumah itu sebuah kolam. Tetapi semuanya itu kini terasa hambar. Bunga-bunga yang
sedang kembang sama sekali tak menarik perhatiannya. Batang-batang anggrek yang
dipeliharanya dengan hati-hati, serta bunga-bunganya yang putih bersih tampak
betapa suramnya.
Mereka berdua langsung
pergi ke bilik Mahisa Agni. Wiraprana duduk di sebuah bale-bale besar di ruangan
dalam, sedang Mahisa Agni langsung masuk ke biliknya. Dilihatnya biliknya itu
kotor dan barang-barangnya berhambur-hamburan. Agaknya semalam ia telah dengan
tidak sengaja menghambur-hamburkan barang-barangnya itu. Dengan dada yang serasa
akan retak, Mahisa Agni menarik keris dari pinggangnya. Ketika ia menatap keris
itu, terasa hatinya berdesir. Untunglah bahwa keris itu belum ditariknya dari
wrangkanya. Tanpa disengajanya, diciumnya ukiran keris itu sambil berbisik,
“Betapapun kau telah diselamatkan dari penggunaan yang sia-sia.”
Mahisa Agni pun kemudian
segera membenahi barang-barangnya. Pakaiannya, beberapa alat-alat lain dan
lontar-lontar bacaannya. Adalah menjadi kebiasaannya untuk membersihkan biliknya
sendiri, sehingga jaranglah orang lain masuk ke dalamnya. Dengan demikian, maka
tak seorang pun yang mengetahui, bahwa bilik itu menjadi kotor dan bercerai
berai.
Setelah pekerjaan itu
selesai, Agni pun tidak segera keluar dari biliknya. Dengan lesunya ia duduk di
sudut pembaringannya. Matanya yang sayu. beredar dari satu benda ke benda yang
lain di dalam bilik itu. Terasa betapa ia menjadi asing. Dinding-dinding, tiang,
dan sebuah gelodog bambu. Dan tiba-tiba tebersit pertanyaan di dalam hatinya,
“Apakah aku masih akan dapat tinggal di tempat ini?”
Mahisa Agni menggigit
bibirnya. Ia tersadar ketika didengarnya Wiraprana terbatuk-batuk di ruang
dalam. Perlahan-lahan Mahisa Agni berdiri, dan dengan lunglai ia berjalan keluar
menemui sahabatnya yang telah memadamkan harapannya di masa depan.
Wiraprana tersenyum
melihat Agni keluar dari biliknya. Katanya sambil tertawa, “Ah, aku sangka kau
tertidur Agni. Aku takut kalau aku harus menunggumu sampai senja.
Kelakar itu pun demikian
hambar di hati Mahisa Agni.
Meskipun demikian
dipaksanya juga bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang pahit. Dan hatinya pun
bertambah pahit ketika ia melihat kenyataan bahwa Wiraprana itu sama sekali tak
berprasangka apa pun kepadanya. Tak ada perubahan pada tingkah lakunya dan tak
ada setitik kecurigaan apa pun dalam sikapnya. Hatinya tidak akan sepedih itu
seandainya Wiraprana itu bersikap kasar dan keras. Seperti Kuda Sempana.
Seandainya Wiraprana itu berkata kepadanya, “Agni, marilah kita selesaikan
persoalan kita dengan bertaruh nyawa.”
Meskipun seandainya ia
kalah, bahkan sampai pada ajalnya pun, maka ia akan mati dengan bangga. Tetapi
Wiraprana sama sekali tak bersikap demikian. Matanya yang bening memancar
seperti mata kanak-kanak yang belum mengenal dosa. Karena itu Mahisa Agni
mengeluh di dalam hatinya.
Dengan lesu Mahisa Agni
duduk di samping Wiraprana. Dan dengan kaku ia bertanya, “Dari mana kau sepagi
ini Prana?”
Wiraprana terperanjat,
“He? Apakah kau sedang bermimpi? Lihatlah, bayangan matahari telah tegak di
lantai.”
Mahisa Agni menyadari,
kesalahannya, dan dipaksanya juga dirinya untuk tertawa, “Ah, agaknya aku
benar-benar lelah dan bingung. Maksudku, apakah kau telah datang sejak
pagi-pagi?”
Wiraprana memandang wajah
Mahisa Agni dengan herannya. Dilihatnya pada wajah itu suatu pancaran yang aneh.
Tak pernah ia melihat kerut-kerut di kening sahabatnya itu. Mahisa Agni adalah
anak yang selalu gembira. Ah, Mahisa Agni terlalu lelah, katanya di dalam hati,
namun yang terlontar dari mulutnya adalah, “Seharusnya akulah yang bertanya
Agni, dari mana kau sampai sesiang ini. Apakah kau tidur di bendungan sampai
matahari merambat ke puncak langit? Apakah kau kemudian mencuci pakaianmu tanpa
membawa rangkapan, dan kau tunggu pakaian itu kering sambil merendam diri?”
Mahisa Agni benar-benar
menjadi bingung. Tak tahu bagaimana ia akan menjawab pertanyaan Wiraprana.
Karena itu ia hanya dapat tertawa, namun hatinya merintih.
Tetapi tiba-tiba Mahisa
Agni teringat kepada Ken Arok yang baru dijumpainya di padang Karautan.
Diingatnya pesan anak muda itu kepadanya. Supaya orang-orang di sekitar padang
ini mendengar, bahwa cerita tentang hantu Karautan telah tamat. Karena itu, maka
Mahisa Agni bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Katanya, “Wiraprana,
sebenarnya aku tidak tidur di bendungan semalam.”
Sekali lagi Wiraprana
terkejut, “Lalu ke manakah kau semalam malaman?”
“Ke padang Karautan,”
sahut Mahisa Agni.
“He,” Wiraprana
benar-benar terkejut mendengar jawaban itu sehingga ia bergeser maju, “adakah
kau pergi ke sana?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Siapakah yang memaksamu,
sehingga kau pergi ke daerah hantu yang mengerikan itu?’ bertanya Wiraprana
pula.
“Tak ada,” jawab Agni,
“aku hanya ingin melihat hantu. Karena itu kau lihat aku membawa senjata?”
“Ya, ya, Aku lihat
kerismu.”
Mahisa Agni pun kemudian
bercerita tentang padang itu. Tentang pertemuannya dengan hantu itu untuk
pertama kali dan tentang pertemuannya yang terakhir. Mahisa Agni bercerita
sedemikian asyiknya dan kadang-kadang tak sesadarnya, diceritakannya
kemampuannya melawan hantu itu. Ia bercerita demikian saja untuk melepaskan
himpitan-himpitan yang menekan dadanya. Tidak saja sebagai pelarian untuk
menghindarkan pertanyaan Wiraprana, tetapi lambat laun dengan tak diketahuinya
sendiri, cerita itu telah berubah sebagai suatu cerita untuk menolong kekerdilan
perasaannya. Pilihan Ken Dedes atas Wiraprana, telah menyebabkan Mahisa Agni
merasa tak berharga. Dan kini ia sedang menutupi perasaan itu dengan
menceritakan kedahsyatannya.
“Alangkah dahsyatnya kau
Agni,” Wiraprana menyela dengan penuh kekaguman. Dengan jujur anak muda itu
berkata pula, “Sejak kau berkelahi dengan Kuda Sempana, aku telah menjadi kagum
dan tidak mengerti. Dari mana kau mendapat ilmu itu. Kini ternyata kau pun
sanggup melawan hantu itu. Ah. Alangkah kecilnya aku. Kenapa baru sekarang aku
tahu?”
Mendengar pujian yang
diucapkan dengan ikhlas itu, Mahisa Agni tersadar dari pelariannya. Karena itu
betapa ia menyesal. Namun semuanya terjadi, dan cerita itu tak akan dapat
ditelannya kembali. Dengan demikian, maka Agni pun justru terdiam, dan luka di
hatinya menjadi semakin parah.
Ketika ia sedang
merenungkan dirinya, kesombongannya dan ceritanya, didengarnya langkah kaki
lewat di sampingnya. Mahisa Agni mengangkat wajahnya, dilihatnya Ken Dedes
berjalan dengan tergesa-gesa. Ketika gadis itu melihatnya, segera ia berhenti
dan berkata, “Kakang, ke mana kau semalam? Ayah mencarimu.”
Hati Mahisa Agni
berdesir. Apalagi ketika dilihatnya, betapa Ken Dedes menundukkan wajahnya yang
kemerah-merahan ketika terpandang olehnya Wiraprana yang duduk di sampingnya.
Mahisa Agni harus
berjuang sekuat tenaga untuk menenangkan hatinya yang bergelora seperti angin
ribut di lautan. Dengan gemetar ia menjawab, “Adakah guru menanti aku?”
“Tidak sekarang,” sahut
Ken Dedes perlahan-lahan, namun wajahnya masih menatap lantai, “Ayah sedang di
sanggar pamujan.”
“Oh,” Agni pun terdiam,
Suasana di ruang dalam
itu menjadi kaku, seperti garis-garis tiang yang lurus. Ken Dedes sama sekali
tak berani mengangkat wajahnya. Kehadiran Wiraprana benar-benar menjadikannya
segan. Apakah Kakang Agni telah mengatakannya, pertanyaan itu merayap di
hatinya. Kalau pengasuhnya yang tua itu telah menyampaikan perasaannya kepada
Mahisa Agni, maka ada kemungkinan Agni telah mengatakannya kepada Wiraprana.
Perasaan Ken Dedes sebagai seorang gadis menjadi bergelora. Tiba-tiba ia tak
dapat menahannya. Betapa ia malu seandainya Wiraprana tak memenuhi harapannya.
Bahwa apa yang dilihatnya di mata anak muda itu, dan apa yang dirasakan di dalam
kata-katanya saat-saat bila mereka bercakap-cakap dan bergurau itu keliru.
Wiraprana merasakan
kekakuan itu. Suasana itu demikian anehnya pada perasaannya. Karena itu
tiba-tiba ia berkata, “Agni, apakah Ken Dedes menunggumu makan?”
Agni sadar, bahwa
Wiraprana hanya bergurau. Tetapi akibatnya kata-kata seperti air yang tepercik
di lukanya. Pedih. Maka jawabnya terbata-bata, “Tidak Prana.”
Tiba-tiba sekali lagi
dada Agni berdesir ketika Ken Dedes berkata lirih dengan sama sekali tak
mengangkat wajahnya, “Kakang. Aku mencari Kakang sejak tadi. Bukankah Kakang
belum makan?”
“Oh,” Agni mengeluh di
hatinya. Pergaulan ini benar-benar menyiksanya.
“Nah,” sahut Wiraprana
sambil tertawa, “pantaslah. Ceritamu dan kata-katamu selama ini bersimpang siur
tak keruan. Makanlah Agni, supaya hatimu menjadi terang. Dan kau tidak akan
gemetar lagi.”
Perasaan Mahisa Agni
benar seperti biduk yang kecil di dalam permainan gelombang yang ganas. Tetapi
ketika sekali lagi ia menatap wajah sahabatnya itu, sekali lagi ia mengeluh di
dalam hatinya. Wajah itu sedemikian bersih dan jujur. Karena itu kembali
terdiam. Dan kembali suasana menjadi kaku.
Timbullah suatu harapan
di hati Ken Dedes, agar Wiraprana ikut makan bersama Agni seperti kebiasaan
mereka. Adalah menjadi kebiasaannya pula mengajak anak muda itu berbuat
demikian. Tetapi kali, ini mulutnya serasa terkunci. Dan tak sepatah kata pun
dapat diucapkan. Ken Dedes menjadi bingung ketika Wiraprana berkata, “Ken Dedes,
kenapa kau tidak minta aku makan bersama Kakang Agni?”
Hati Ken Dedes berdesir
mendengar pertanyaan itu, dan hati Mahisa Agni pun berdesir. Pertanyaan itu
bukan untuk pertama kali diucapkan. Sepuluh, dua puluh bahkan anak itu sudah
sedemikian seringnya datang ke rumah ini, sesering Mahisa Agni datang ke
rumahnya. Mahisa Agni pun tidak tahu lagi berapa kali ia pernah dipersilakan
makan di rumah Ki Buyut Panawijen. Tetapi senda gurau Wiraprana kali ini
benar-benar memusingkan kepalanya.
Ken Dedes tidak dapat
mengucapkan sepatah jawaban pun. Bahkan tiba-tiba gadis itu berlari meninggalkan
mereka.
Wiraprana menjadi heran.
Kenapa sikap gadis itu tidak seperti biasanya. Apakah ia berbuat suatu
kesalahan. Wiraprana itu pun kemudian sibuk melihat dirinya, sikapnya dan
kata-katanya. Aku tidak berbuat kesalahan, katanya di dalam hati. Namun
perubahan sikap Ken Dedes yang manja itu benar-benar mencemaskan.
Betapa jujurnya hati
Wiraprana ketika ia mengucapkan sebuah pertanyaan kepada sahabatnya, “Agni,
apakah kau bertengkar dengan Ken Dedes?”
Mahisa Agni menjawab
dengan gugup, “Tidak Prana. Tidak.”
“Syukurlah,” sahut anak
muda itu, “aku melihat sesuatu yang agak lain.”
“Mungkin,” jawab Mahisa
Agni sekenanya.
Tetapi ia terkejut
sendiri atas jawabannya itu. Apalagi ketika Wiraprana bertanya, “Benarkah dugaan
itu?”
Mahisa Agni merenung. Ia
tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu.
Wiraprana menarik nafas.
Kini ia tidak bergurau lagi. Tiba-tiba ia mencoba menilai, apakah yang
dilihatnya sejak Mahisa Agni datang. Lesu dan berwajah sayu. Anak muda itu
seakan-akan menjadi bingung dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya sekenanya
saja, bahkan kadang-kadang menjadi gugup. Tertawanya yang kosong dan keningnya
yang berkerut-kerut.
“Hem,” Wiraprana
berdesah. “Alangkah tumpulnya perasaanku,” katanya di dalam hati. Tetapi ia
tidak dapat segera berpamitan. Ia takut kalau Mahisa Agni salah mengerti, dan
menyangkanya kurang bersenang hati. Karena itu ia masih duduk saja di amben yang
besar.
Sesaat mereka saling
berdiam diri, Wiraprana menebak-nebak di dalam hati, sedang Mahisa Agni dengan
susah payah berusaha menekan perasaannya.
Kemudian terdengar
Wiraprana berkata, “Agni, makanlah. Biarlah aku menunggumu di tepi kolam. Adakah
guramemu sudah bertambah banyak?”
Mahisa Agni
mengangguk-angguk. Dengan demikian setidak-tidaknya ia dapat melepaskan
ketegangan perasaannya meskipun hanya sesaat ia makan. Karena itu jawabnya,
“Baiklah Prana. Tetapi tidakkah kau ikut makan pula?”
Wiraprana menggeleng.
Kemudian ia pun berdiri dan berjalan keluar. Mahisa Agni melihat pemuda itu pada
punggungnya. Tinggi, berdada bidang. Rambutnya yang lebat digelungnya di
belakang kepalanya. Langkahnya yang tegap tenang. Tiba-tiba terdengar ia
bergumam lirih. Lirih sekali, “Berbahagialah kau Wiraprana. Mudah-mudahan aku
dapat ikut berbahagia karenanya.”
Dan tiba-tiba saja
terloncat dari mulut Mahisa Agni, “Wiraprana, pulanglah. Datanglah kembali nanti
senja.”
Wiraprana terkejut ,
sehingga ia berputar. Ditatapnya wajah Agni. Betapa ia menjadi heran. Tak
sahabatnya itu berkata demikian.
Mata Wiraprana yang
bening itu pun menjadi suram. Dari dalamnya memancar pertanyaan
melingkar-lingkar di dadanya. Kini terasa benar, bahwa ada sesuatu yang terjadi
di rumah itu. Namun Wiraprana tidak bertanya lagi. Ketika ia melihat wajah
Mahisa Agni yang sayu, maka Wiraprana pun mengangguk sambil menjawab, “Baiklah
Agni. Senja nanti aku akan datang kembali.”
Tetapi hati Wiraprana itu
pun menjadi gelisah. Di perjalanan pulang, di rumah, di setiap saat ia
berteka-teki, “Apakah kira-kira yang akan dilakukan Mahisa Agni senja nanti?”
Sepeninggal Wiraprana,
Mahisa Agni pergi ke dapur. Dilihatnya makan baginya telah tersedia di amben.
Tetapi ia tidak melihat Ken Dedes. Memang ia tidak mengharap gadis itu
menungguinya makan seperti biasanya.
Meskipun demikian, setiap
gumpal nasi yang masuk ke mulutnya terasa seakan-akan menyumbat lehernya. Dan
Agni pun tidak dapat merasakannya, apakah yang sedang dimakan itu. Asin, manis,
masam atau apapun. Mahisa Agni benar-benar tidak mempunyai nafas untuk makan.
Setelah makan, Mahisa
Agni langsung masuk ke biliknya. Ken Dedes tidak tahu, apakah yang sedang
dilakukannya, dan apakah yang terjadi atasnya, sebab Ken Dedes sendiri itu pun
kemudian merendam dirinya di dalam biliknya pula.
Mahisa perlahan-lahan
meletakkan tubuhnya di atas pembaringannya. Ia kini tidak membanting diri lagi
seperti semalam, sehingga ambennya berderak-derak. Dengan sekuat tenaga ia
mencoba mengatur perasaannya. Sehingga kemudian tumbuhlah pikirannya yang
hening. Kini ia tinggal menunda sampai senja. Ia mengharap Wiraprana akan datang
dan dengan demikian ia akan menyelesaikan pekerjaannya. Ia menyadari, bahwa Ken
Dedes benar memerlukan pertolongannya. Betapa pun sakitnya. Ia tidak dapat
berbuat lain, daripada berkata dengan hati yang pedih kepada Wiraprana, seperti
yang didengarnya dari mulut Ken Dedes semalam. Diminta atau tidak diminta.
Biarlah mereka menemukan kebahagiaan, gumamnya.
Mahisa Agni terkejut,
ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu biliknya. Kemudian didengarnya
sebuah pertanyaan lirih, “Ngger, apakah Angger sedang tidur?”
Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar. Suara itu adalah suara emban tua, pengasuh Ken Dedes. Orang itu
pasti akan datang kepadanya, dan akan mengulangi permintaan Ken Dedes kepadanya.
“Persetan!” teriaknya di
dalam hati.
Tetapi sesaat kemudian ia
menjadi tenang kembali. Perlahan-lahan ia bangkit, dan membuka pintu biliknya.
“Masuklah, Bibi,”
terdengar Mahisa Agni mempersilakan. Namun suaranya bergetar.
Orang tua itu pun masuk
ke dalam bilik Agni dan duduk di amben di samping anak muda itu. Wajahnya yang
telah berkerut-kerut itu ditundukkan jauh-jauh menghujam ke jantung bumi.
Nafas Mahisa Agni pun
serasa tertahan-tahan di hidungnya. Ia menanti kata-kata emban tua itu.
Kata-kata yang sudah didengarnya sendiri. Kata-kata yang telah menyobek
jantungnya. Tetapi untuk beberapa saat emban tua itu tidak berkata apa pun.
Bahkan terdengar betapa ia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam.
Bilik itu pun kemudian
diliputi oleh suasana sepi. Sepi yang tegang. Namun orang tua itu masih berdiam
diri.
Alangkah terkejutnya
Mahisa Agni, ketika kemudian ia melihat, air mata orang tua itu satu-satu
menetes di pangkuannya. Mahisa Agni menjadi heran. Apakah sebabnya? Seharusnya,
seandainya dirinya seorang perempuan, maka ialah yang harus menangis
melolong-lolong. Bukankah perempuan itu hanya harus datang kepadanya, mengatakan
seperti apa yang dikatakan Ken Dedes kepadanya? Tetapi kenapa ia menangis?
“Kenapa Bibi menangis?”
tiba-tiba terdengar Mahisa Agni bertanya.
Orang tua itu mengangkat
wajahnya. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang suram. Kemudian orang tua itu
berdesah, “Ah. Alangkah anehnya hidup ini.”
“Apa yang aneh, Bibi?”
bertanya Mahisa Agni.
“Aku tidak menyangka
Ngger, bahwa perjalanan hidupmu dan Ken Dedes, pada suatu saat akan sampai di
persimpangan,” jawab orang tua itu.
Melonjaklah hati Mahisa
Agni mendengar kata-kata itu. Ia ingin meyakinkan pendengarannya, maka ia pun
bertanya, “Kenapa?”
“Aku adalah orang tua
Ngger,” sahut orang tua itu, “sudah belasan tahun aku hidup di padepokan ini
sebagai emban pemomong putri Empu Purwa itu. Dan sudah belasan tahun pula aku
mengenalmu. Betapa aku melihat tingkah laku kalian berdua, hubungan kalian
berdua sebagai kakak beradik. Aku, yang hidup di luar ikatan itu, merasa betapa
kalian tak akan terpisahkan. Namun tiba-tiba semalam aku mendengar suatu
keajaiban. Keajaiban yang tak pernah aku sangka-sangka.”
Mahisa Agni menggigit
bibirnya. Ditatapnya kembali wajah orang tua itu. Orang tua yang seakan-akan
memancarkan perasaan belas kasihan kepadanya. Karena itu tiba-tiba luka di hati
Mahisa Agni seperti diungkit-ungkitnya. Sebagai seorang laki-laki Mahisa Agni
tidak akan tenggelam dalam kegagalan itu. Maka justru harga dirinyalah yang
tersinggung. Tetapi, jauh di dasar dadanya terdengar hatinya menangis. Tidak, ia
mencoba menutupi tangis itu. Karena itu dengan gagahnya ia berkata, “Ada yang
bibi tangiskan? Apakah bibi menyangka bahwa aku dan gadis itu akan dapat tetap
hidup bersama-sama. Aku adalah laki-laki. Suatu ketika aku akan meninggalkan
padepokan ini. Bukankah aku di sini hanya sekedar berguru?”
Orang tua itu tidak
menjawab. Tetapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang mulai
berkeriput.
“Jangan Bibi
berprasangka,” Agni meneruskan, “tak ada hubungan apa pun antara aku dan gadis
itu, selain sebagai anak guruku. Apabila kemudian aku dan gadis itu akan sampai
di persimpangan jalan, itu adalah wajar. Aku atau gadis itulah yang akan pergi
dahulu meninggalkan padepokan ini. Aku akan dapat segera pergi untuk merantau
menambah pengalaman hidup dan pengalaman ilmu yang aku miliki, atau gadis itulah
yang pergi dahulu mengikuti suaminya di rumah Buyut Panawijen.”
“Oh?” perempuan tua itu
terkejut, sehingga ia berkisar maju.
Mahisa Agni pun terkejut,
ketika ia melihat emban tua itu sedemikian terkejutnya mendengar jawabannya.
Barulah kemudian ia sadar, bahwa kata-kata yang terloncat dari mulutnya agaknya
telah mendahului kabar yang akan dibawa perempuan itu kepadanya. Ternyata pula
kemudian orang tua itu bertanya, “Adakah Ken Dedes telah mengatakannya
kepadamu?”
Mahisa menjadi bingung.
Ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu, sehingga kemudian wajahnya
pun tunduk lesu. Dan mulutnya serasa terbungkam. Hanya tubuhnyalah yang kemudian
bergetar.
Emban tua itu menjadi
sedemikian heran, sehingga ia mengulangi pertanyaannya, “Angger, dari manakah
Angger tahu, bahwa Ken Dedes pada suatu ketika akan meninggalkan padepokan ini
dan mengikuti suaminya ke rumah Buyut Panawijen?”
Mahisa Agni akhirnya
merasa, bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu. Tak mungkin ia mengelak lagi.
Maka dengan angkuhnya ia berkata untuk menutupi kekurangan yang mencengkam
perasaannya, “Kenapa tidak? Aku telah mengatakan kepadanya, Wiraprana adalah
pilihan satu-satunya baginya. Aku, yang telah menganggap Ken Dedes itu sebagai
adik kandungku, telah menyetujuinya gadis itu berbuat demikian, daripada ia
harus memilih salah satu dari anak-anak yang belum dikenal watak dan tabiatnya.”
“Oh,” desah perempuan
itu, namun ia bertanya, “sejak kapan kau mengatakan kepadanya?”
“Sudah lama aku berkata
demikian kepadanya,” jawab Agni. Ia sudah terdorong masuk ke lubang yang
digalinya. Karena ia tidak dapat meloncat keluar. Bahkan ia akan menjadi semakin
dalam terbenam ke dalamnya, sehingga kemudian terdengar perempuan itu bertanya,
“Sudah lama? Sehari?”
“Sebulan,” sahut Mahisa
Agni.
“Oh,” kembali emban tua
itu berdesah. Dan alangkah gelisahnya Mahisa Agni, ketika ia melihat mata orang
tua itu, yang seakan-akan menjadi semakin kasihan kepadanya. Sedemikian
gelisahnya, sehingga Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa bibi memandang aku
sedemikian?”
“Aku kasihan kepadamu,
Ngger,” jawabnya jujur.
“He?” Agni hampir
berteriak, “kenapa kasihan? Aku laki-laki yang tidak perlu belas kasihan orang
lain. Juga belas kasihan darimu, Bibi. Juga tidak dari Ken Dedes.”
Perempuan itu mengerutkan
keningnya, “Kenapa Ken Dedes?”
Kembali Agni terbungkam.
Dan kembali ia tidak tahu, bagaimana ia akan menjawabnya.
“Angger,” berkata
perempuan itu kemudian perlahan-lahan, “jangan membohongi aku. Pasti kau belum
mengatakannya kepada Ken Dedes, bahwa sebaiknya gadis itu memilih Wiraprana.”
Orang tua itu berhenti
sejenak, lalu lanjutnya, “Baru semalam gadis itu minta kepadaku untuk
menyampaikannya kepadamu. Tetapi kau sudah mendengarnya. Adakah semalam kau
mendengarkan percakapan kami?”
Mahisa Agni benar-benar
terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga ia menjadi bingung dan gugup. Namun
ia tidak mau melihat kekurangan dirinya. Ia tidak mau seseorang menganggapnya
bahwa ia tidak dapat memadai Wiraprana, sehingga seorang gadis lebih menyukai
Wiraprana daripadanya. Karena itu maka katanya, “Apa salahnya aku mendengar
percakapan kalian. Aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku sudah berjanji, bahwa
aku akan menyampaikannya kepada Wiraprana. Membawanya kepada gadis itu. Kenapa
tidak? Aku sama sekali tak berkepentingan dengan keduanya, selain Ken Dedes
adalah adikku dan Wiraprana adalah sahabatku.”
Mahisa Agni masih berkata
terus, namun orang tua itu memotong kata-katanya, “Adakah sedemikian juga kata
hati mu?”
“Jangan mengada-ada,
Bibi,” sahut Mahisa Agni sambil berdiri. Kemudian ia melangkah beberapa langkah,
dan berdiri di pintu sambil bersandar tiang. Pandangannya jauh menyeberangi
ruang dalam seakan-akan menembus dinding-dinding rumah Empu Purwa.
Tetapi Mahisa Agni
kemudian memutar tubuhnya, dan sekali lagi ia heran. Perempuan itu menangis.
Karena itu sekali lagi Mahisa Agni bertanya, “Kenapa kau menangis?”
Kini emban tua itu
menunduk. Dari sela-sela isak tangisnya ia berkata, “Angger, aku ingin melihat
kau berbahagia. Aku ingin melihat kau dan Ken Dedes, hidup bersama-sama dalam
ikatan keluarga.”
“Tidak,” potong Mahisa
Agni, “tidak! Jangan Bibi mencoba mempengaruhi kemurnian anggapanku terhadap
gadis itu. Aku tidak lebih dari kakak kandungnya.”
“Agni,” kata perempuan
itu, “jangan berbohong kepadaku. Dan jangan berbohong kepada diri sendiri.”
“Cukup!” Mahisa Agni
membentak. Tetapi ia menyesal. Karena itu ia berkata lirih sambil mendekati
perempuan itu, “Maaf, Bibi. Tetapi Bibi jangan menyebut-nyebut itu lagi.”
Mahisa Agni menjadi
gelisah ketika kembali wanita tua itu memandangnya. Sinar matanya itu
seakan-akan langsung menghunjam ke jantungnya. Karena itu sekali lagi Mahisa
Agni melangkah, bersandar uger-uger pintu.
“Aku menjadi bersedih,
Ngger,” bisik emban itu, “ketika aku mendengar Ken Dedes menyebut sebuah nama.
Dan nama itu bukan namamu.”
“Jangan pedulikan aku
Bibi,” potong Agni.
“Tidak dapat Ngger. Aku
menitipkan harapan di hari depanmu.”
Mahisa Agni tersentak.
Cepat-cepat ia berpaling dan bertanya, “Kenapa?”
“Kau masih mau
mendengar?”
“Tentang harapan itu,
bukan tentang seorang gadis.”
Perempuan itu menunduk.
Kemudian ia berkata-kata, namun seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, “Kau
adalah satu-satunya harapan bagi masa depan yang panjang Agni. Bukankah kau
tidak bersaudara? Kalau masa depanmu suram, masa depanku pun menjadi gelap.
Lebih gelap daripada masamu itu. Sebab umurku tidak akan melebihi hitungan jari
sebelah tangan.”
Mahisa Agni menjadi
semakin tidak tahu arah pembicaraan perempuan tua itu. -Apakah hubungannya hari
depannya dengan hari depan orang tua itu. Karena itu, maka dengan berbagai
pertanyaan di dadanya ia mendengar perempuan itu berkata, “Kalau kalian tidak
terpisahkan. Maka aku pun akan selalu bersama kalian. Aku pasti akan ikut Ken
Dedes sebagai pemomongnya. Kalau kau terpisah daripadanya, maka aku pun tak akan
melihatmu lagi setiap hari.”
“Oh,” Agni menjadi kecewa
mendengar alasan itu. Betapa sederhana. Maka jawabnya, “Bibi terlalu
mementingkan kepentingan sendiri. Bibi hanya ingin mengikuti Ken Dedes dan
melihat aku setiap hari. Itu saja? Baik. Baik. Kelak aku juga akan ikut Ken
Dedes dan Wiraprana. Biarlah aku menjadi juru pengangsu atau menjadi pakatik
pemelihara kuda.”
Kata-kata Agni terputus
ketika orang tua itu menutup kedua wajahnya dengan tangannya yang kisut.
Terdengarlah orang tua itu terisak.
Dan Agni pun menjadi
semakin tidak sabar. Maka katanya, “Kenapa Bibi menangis saja? Bukankah Ken
Dedes minta Bibi menyampaikan kepadaku permintaan supaya aku berkata kepada
Wiraprana bahwa Ken Dedes menunggunya. Bahkan Wiraprana harus datang kepada Empu
Purwa dengan sebuah upacara lamaran. Dan bahwa lamaran itu pasti akan
diterimanya? Bukankah begitu?”
“Ya, ya, Agni,” potong
perempuan itu, “demikianlah.”
“Nah. Kenapa Bibi tidak
mengatakannya? Malahan Bibi menangis saja?”
“Aku ingin mengatakannya
kepadamu. Tetapi bukankah kau sudah mengetahuinya?” sahut emban itu, “karena itu
tentu sudah tidak akan menarik lagi bagimu. Tetapi Ngger, keinginanku melihat
kalian berdua hidup bersama bukan karena alasan yang terlalu sederhana itu.
Bukan itu. Dan aku tidak berkeinginan untuk memaksamu atau mempengaruhi
keikhlasanmu, seandainya kau benar-benar melihat kenyataan itu. Bahkan aku ingin
melihat kau melampaui kegagalan ini dengan hati jantan.”
“Ah,” Agni berdesah.
“Tetapi,” orang tua itu
meneruskan, “aku menjadi gelisah karena aku melihat keadaanmu.”
“Biar, biarlah aku dalam
keadaanku,” sahut Agni.
“Angger, kau masih mau
mendengar sebuah cerita?”
Agni menoleh. Ditatapnya
kembali wajah yang sudah berkeriput oleh garis-garis ketuaannya. Tetapi kembali
Mahisa Agni menatap titik di kejauhan. Gumamnya acuh tak acuh, “Cerita tentang
harapan di masa depan. Bukan tentang gadis.”
Orang tua itu menggeser
duduknya. Kemudian sambil menundukkan kepala ia mulai dengan kisahnya, “Dahulu
adalah seorang gadis yang sederhana. Sederhana ujudnya dan sederhana hatinya.
Tetapi di luar setahunya dan kemauannya, beberapa orang pemuda telah
mencintainya bersama-sama. Sudah tentu bahwa gadis itu tak akan dapat memilih
lebih dari satu di antaranya. Karena itu di luar pengetahuan siapa pun, gadis
itu telah berjanji untuk hidup bersama-sama dengan salah seorang dari mereka.
Seorang laki-laki yang keras hati dan berkemauan teguh. Untuk bekal hidup mereka
kelak maka laki-laki itu memutuskan untuk pergi merantau, mencari daerah-daerah
baru yang akan dapat memberi mereka tanah untuk garapan, supaya mereka dapat
hidup dengan tenang dan tidak kekurangan makan. Gadis itu pun tidak
berkeberatan. Dilepasnya laki-laki itu dengan janji, bahwa gadis itu akan
menunggunya sampai ia kembali.”
Mahisa Agni mendengar
juga cerita itu. Kata demi kata. Tetapi ia sama sekali tidak menaruh minat. Ia
mendengarkan hanya karena ia tidak mau menyakitkan hati emban tua itu. Apalagi
ternyata cerita itu sama sekali tak menyinggung-nyinggung hubungan antara masa
depan perempuan tua itu dengan masa depannya. Dan ia masih mendengar emban itu
berkisah terus, “Setahun, dua tahun sehingga akhirnya sampai pada tahun ketiga.
Namun laki-laki itu tak kunjung datang. Harapan-harapan yang telah dianyam oleh
mereka berdua, sedikit demi sedikit rontok dari hati gadis itu. Apalagi kemudian
ayah bundanya, dan keluarga di sekitarnya, telah mendesaknya untuk segera
meninggalkan masa-masa mudanya. Akhirnya gadis itu tak dapat berbuat lain
daripada memilih satu dari sekian banyak pemuda yang melamarnya. Laki-laki yang
pergi itu tak akan dapat diharapnya kembali.”
Perempuan tua itu
berhenti sejenak Dipandanginya wajah Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni tidak
berpaling. Anak muda itu masih memandang jauh ke depan, melewati pintu biliknya,
menyeberangi ruang dalam dan menembus dinding di sebelah sana.
“Kau mendengar ceritaku?”
bertanya emban itu.
“Ya, ya, tentu,” Agni
terperanjat.
Perempuan tua itu menarik
nafas. Ia tahu bahwa Mahisa Agni tidak berminat atas ceritanya, namun ia
bercerita terus. Pada suatu saat anak muda itu pasti akan menaruh perhatian
kepada ceritanya itu. Maka ia pun meneruskan, “Maka sampailah masanya gadis itu
memanjat ke hari-hari perkawinannya. Laki-laki yang dipilihnya kali ini pun
adalah laki-laki yang berhati teguh. Ia mengharap bahwa suaminya akan dapat
melindunginya apabila sekali-sekali kesulitan datang. Sebab tidak mustahil,
apabila anak-anak muda yang menjadi kecewa kelak akan bermata gelap. Namun
meskipun laki-laki itu berhati teguh. dan beradat keras, namun ternyata adalah
seorang suami yang baik. Dilihatnya kepentingan sendiri, namun. tak diabaikannya
kepentingan istrinya itu Sehingga akhirnya, perkawinan itu menjadi semakin
terjalin oleh anaknya yang pertama. Laki-laki.”
Sekali lagi perempuan itu
berhenti. Matanya menjadi semakin sayu, dan wajahnya menjadi semakin tunduk.
Hampir-hampir ia tidak dapat meneruskan ceritanya, karena lehernya serasa
tersekat oleh setiap kata-kata yang akan diucapkannya. Namun ia memaksa
bercerita terus. Katanya, “Tetapi pada suatu saat, datanglah badai yang
mengguncangkan ketenteraman hidup mereka. Laki-laki yang telah disangkanya
hilang itu, akhirnya datang kembali. Dengan bangga ia mencari gadis yang telah
berjanji menunggunya. Dengan luka-luka di tubuhnya yang didapatnya dalam setiap
persoalan di sepanjang jalan, namun dengan dada menengadah ia berkata, ‘Aku
sekarang adalah seorang yang kaya raya’ ”
Tetapi akhirnya Mahisa
Agni menjadi jemu mendengar cerita itu. Karena itu ia mendahului, “Aku sudah
tahu kelanjutan cerita itu. Kedua laki-laki itu akan bertempur satu sama lain.
Laki-laki yang merantau itu akan menang, dan perempuan itu akan kembali
kepadanya.”
Emban tua itu menjadi
sedih. Katanya, “Sayang Ngger, cerita itu berkesudahan lain.”
“Oh,” sahut Agni, “jadi
laki-laki yang pulang dari rantau itulah kalah?”
“Tidak,” jawab perempuan
tua itu.
“Juga tidak. Jadi
bagaimana?” bertanya Mahisa Agni.
Perempuan itu menarik
nafas. Seakan-akan sedang mengatur gelora di dadanya. Kemudian ia meneruskan,
“Gadis yang telah menjadi ibu itu pun mendengar bahwa laki-laki yang pernah
ditunggunya itu datang. Maka ia pun menjadi bingung. Terkenanglah ia pada
masa-masa gadisnya. Janjinya kepada anak muda itu. Dan kembali terkenang
masa-masa yang penuh gairah menghadapi masa depan. Sebenarnyalah ia masih belum
dapat melenyapkan laki-laki itu dari hatinya. Namun disadarinya, bahwa untuk
meninggalkan suaminya tak akan dapat dilakukannya. Pergaulan hidup yang selama
ini dialaminya, adalah kehidupan yang manis. Karena itu, perempuan itu tak tahu
bagaimana ia harus menyelesaikan persoalannya. Apalagi ketika disadarinya, bahwa
kedua-duanya adalah orang-orang sakti yang sukar dicari tandingnya.”
“Maka ketika ia tidak
dapat menyembunyikan keadaan itu, akhirnya ia memutuskan untuk berkata berterus
terang kepada suaminya, dan ia mengharap daripadanya ia akan mendapat
pikiran-pikiran baru untuk menyelesaikan persoalan itu.”
“Ketika laki-laki itu
mendengar pengaduan istrinya, perasaan-perasaannya dan pengalaman-pengalamannya
dengan jujur, laki-laki itu terkejut. Ditatapnya mata istrinya dengan penuh
keganjilan. Tetapi laki-laki itu tidak berkata sepatah kata pun. Dibiarkannya
istrinya menangis. Bahkan kemudian laki-laki itu pun meninggalkannya seorang
diri. Perempuan itu menjadi cemas, bahwa suaminya akan menemui laki-laki yang
seorang lagi. Ia takut kalau terjadi perkelahian di antara mereka. Karena itu,
maka ia pun segera berlari ke rumahnya. Tetapi suaminya tak ditemuinya di sana.
Bahkan laki-laki yang telah pulang dari rantau itulah yang menemuinya. Namun
perempuan itu pun tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat menangis. Akhirnya
laki-laki itulah yang berkata, ‘Pulanglah. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Dan
aku akan merantau kembali membawa hatiku yang terbelah. Aku pulang dengan
membawa harapan. Tetapi laki-laki itu lebih memerlukan kau daripada aku.
Kembalilah kepadanya, dan peliharalah baik-baik’”
“Perempuan itu mengeluh.
Diterimanya nasihat itu, namun disadarinya bahwa ia telah merusak sebuah hati.
Ia tidak tahu, apakah hati yang dilukainya itu akan dapat sembuh kembali. Dengan
sedih perempuan itu pulang ke suaminya. Namun suaminya tak ditemuinya di rumah.
Akhirnya di dengarnya bahwa malapetaka telah menimpanya tanpa
disangka-sangkanya. Seorang pembantunya yang setia datang kepadanya sambil
berkata ‘Suamimu telah pergi. Ditinggalkannya pesan untuk Nyai, hidup berbahagia
dengan laki-laki yang telah bertahun-tahun ditunggunya’”
“Perempuan itu hampir
pingsan mendengar berita itu, apalagi ketika pembantu setianya itu berkata,
‘Anakmu laki-laki telah dibawa serta oleh suamimu, Nyai’”
Emban tua itu berhenti
sejenak. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang tiba-tiba menjadi merah. Dengan
tiba-tiba pula Mahisa Agni berdiri, dan dengan suara yang bergetar ia berkata
lantang, “Bibi, adakah kau sedang menyindir aku. Apakah kau sangka aku laki-laki
cengeng seperti kedua laki-laki itu? Tidak. Atau kau sedang menganjurkan
kepadaku, supaya aku menjadi seperti kedua laki-laki yang hanya mampu
berpura-pura itu?”
“Katakanlah ia berbuat
kebajikan. Keluhuran budi, namun kedua-duanya tidak jujur. Bukankah Bibi
mengatakan bahwa hati mereka terbelah?”
“Agni..,” potong
perempuan tua itu.
Namun Agni berkata terus,
“Ataukah kau menghendaki supaya aku bersikap jantan? Menantang laki-laki yang
menghalang-halangi aku. Dengan bertaruh nyawa untuk mencapai idaman hati? Tidak.
Tidak. Jangan gurui aku. Sebab aku mempunyai pendirian sendiri. Perempuan itulah
yang bersalah. Bukankah dengan demikian, ia memecah dua buah hati sekaligus,
atau apabila mereka laki-laki yang rakus, bukankah mereka telah bertempur.
Apabila salah seorang dari mereka itu mati atau kedua-duanya, siapakah yang
bersalah? Pasti perempuan itu. Gadis itu.”
“Agni. Agni,” perempuan
tua itu memekik kecil. Sehingga Agni terkejut. Dengan demikian ia menjadi
terdiam. Bahkan ia pun kemudian sadar, bahwa ia telah berbicara terlalu keras,
sehingga apabila seseorang mendengarnya, pastilah orang itu menyangka bahwa ia
sedang bertengkar.
Tetapi Mahisa Agni
menjadi lebih terkejut lagi ketika dilihatnya mata perempuan tua itu. Mata itu
tiba-tiba menjadi bercahaya, dan mata itu menatapnya dengan tajam. Dan
dilihatnya bibir wanita itu bergetar. Perlahan-lahan namun pasti perempuan tua
itu berkata, “Kau benar Agni. Perempuan itulah yang bersalah. Ia telah
mengecewakan kedua-duanya. Karena itulah maka perempuan itu harus dihukum. Kau
benar anak muda. Perempuan itu harus dihukum. Dan perempuan itu pun telah
menghukum diri sendiri. Betapa ia membuang diri dari lingkungannya. Dari
keluarga dan sanak kadang. Hiduplah ia kemudian sebagai seorang budak yang
hina.”
Emban itu berhenti
sejenak. Matanya masih menyala. Kemudian ia meneruskan, “Tetapi apakah yang
dilakukan oleh kedua laki-laki itu. Meskipun mereka tidak bertempur satu sama
lain, namun tak banyaklah artinya daripada itu. Mereka menumpahkan kepahitan
hidupnya pada orang-orang lain. Dan kedua laki-laki itu pun tak berumur panjang.
Sebelum matinya, laki-laki yang membawa anaknya itu selalu berkata kepada
anaknya, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Dan akhirnya ayahnya pun meninggal
pula.”
Ketika perempuan tua,
emban Ken Dedes itu berhenti sejenak Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
Masih dilihatnya mata emban itu memandangnya dengan tajam. Dan tiba-tiba saja
terasa seakan-akan sinar mata itu menusuk ulu hatinya, sehingga Mahisa Agni pun
dengan tergesa-gesa berpaling.
Kemudian terdengar emban
itu meneruskan, “Tetapi ke tahuilah Agni. Perempuan itu, ibu anak yang
ditinggalkan ayahnya itu, sebenarnya belum mati.”
Dada Mahisa Agni
berdesir. Terasa sesuatu bergolak di dalam rongga dadanya. Apalagi ketika ia
mendengar emban itu meneruskan dengan suara lembut, namun dalam sekali, “Agni,
kau ingin melihat perempuan yang berdosa itu. Yang telah mengecewakan dua orang
lelaki sekaligus?”
Agni tidak menjawab.
Tetapi ia memandang mata perempuan tua itu. Dan telinganya mendengar emban itu
berkata, “Inilah perempuan itu.”
“Oh,” Agni terperanjat.
Dan tak sesadarnya ia berkata, “Maafkan aku Bibi.”
“Kau benar Ngger. Tak ada
yang harus aku maafkan,” perempuan tua itu menundukkan wajahnya. Dan kembali air
matanya menetes satu-satu. Tetapi kini Agni melihat betapa sedih hati perempuan
itu. Justru karena ia menyadari, bahwa ia telah menghancurkan harapan dari dua
orang laki-laki bersama-sama.
Agni pun menundukkan
wajahnya. Ia menyesal akan ketelanjurannya. Ia menyesal bahwa ia telah bersikap
terlalu kasar kepada perempuan tua itu. Kini sedikit demi sedikit terguratlah di
dinding hatinya, maksud sebenarnya dari perempuan itu. Mungkin perempuan itu
akan mengatakan kepadanya, bahwa Ken Dedes pun tak dapat disalahkannya. Meskipun
perempuan itu tidak membantah, bahkan mengakui, bahwa dirinya telah berdosa,
tetapi tersimpan juga pertanyaan di hatinya ‘Apakah sebenarnya aku bersalah?’.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Mungkin, katanya di dalam hati. Mungkin perempuan itu akan memberi
nasihat kepadaku, supaya aku tidak mendendam dan menjalani sisa-sisa hidup
dengan pedih dan duka. Tetapi Mahisa Agni tak berkata sepatah pun.
Untuk sesaat ruangan itu
menjadi sunyi. Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Dan perempuan tua itu
sedang sibuk mengusap air matanya dengan ujung kainnya.
Tetapi sampai saat itu
Mahisa Agni masih belum dapat menghubungkan, betapa perempuan itu menyimpan
harapan sejalan dengan masa depannya.
Sesaat kemudian terdengar
emban itu berkata, “Angger, kini kau tahu dengan siapa kau berhadapan.
Bagaimanakah anggapanmu kepada perempuan yang demikian? Masihkah ia berhak
menyebut dirinya di antara keluarganya?”
Mendengar pertanyaan itu,
Mahisa Agni menjadi bimbang. Apakah perempuan itu bercerita tentang dirinya,
ataukah ia sedang menjajaki tanggapannya terhadap Ken Dedes? Tetapi melihat
sinar matanya, maka Agni merasa, bahwa perempuan itu berkata dengan jujur.
Meskipun demikian Agni tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Sehingga
perempuan itu terpaksa sekali lagi mengulangi.
“Angger, bagaimanakah
anggapanmu terhadap perempuan yang demikian? Apakah ia mutlak bersalah dan harus
dihukum untuk seumur hidupnya?”
Dengan serta merta Agni
menjawab di luar kemauannya, “Tidak. Tidak Bibi.”
Perempuan itu menarik
nafas. Kemudian ia bertanya pula, “Bagaimanakah seandainya, perempuan itu
termasuk salah seorang keluargamu. Kakakmu misalnya atau adikmu perempuan?”
Kini Agni menjadi semakin
bimbang. Hampir ia kecewa terhadap perempuan itu. Apakah aku harus menentukan
tanggapanku terhadap Ken Dedes? Sekali lagi tebersit pertanyaan di dalam hati.
Namun akhirnya Mahisa Agni tak dapat lagi menyimpan pertanyaan itu, sehingga
akhirnya terlontar dari mulutnya, “Adakah Bibi sedang ingin mengetahui, apakah
aku mendendam kepada Ken Dedes?”
“Tidak Ngger. Tidak,”
jawab perempuan tua itu cepat-cepat, lalu disambungnya, “Aku bertanya kepadamu
sejujur hatiku. Kalau perempuan itu datang kepadamu Agni, apakah akan kau usir
dia?”
Agni memandang perempuan
tua itu dengan tajamnya. Ketika dilihatnya wajah yang sayu, maka ibalah hatinya.
Ia tidak mau menambah pedih hati yang luka itu. Karena itu ia menjawab, “Tentu
Bibi. Seandainya aku salah seorang dari keluarga bibi, maka akan aku terima Bibi
kembali kepadaku.”
“Oh,” perempuan itu akan
berkata, namun tiba-tiba kembali ia menangis. Dan Mahisa Agni pun menjadi
semakin tidak mengerti. Apakah sebenarnya yang terjadi dengan perempuan itu?
Disela-sela tangisnya
Agni mendengar ia berkata, “Agni. Aku tidak tahu, apakah kau berkata sebenarnya,
atau kau hanya ingin menyenangkan hatiku. Tetapi ketahuilah, bahwa perempuan
itu, aku, benar-benar ingin kembali kepada satu-satunya keluarganya yang
diketahuinya. Bahkan satu-satunya orang yang dapat menyebutnya orang tua. Agni.
Ketahuilah bahwa perempuan itu ingin datang kepada anak laki-lakinya. Dan anak
laki-laki itu kini telah ditemukannya. Bahkan sebenarnya sudah sejak lama. Namun
perempuan itu takut melihat bayangannya sendiri.”
Perempuan itu berhenti
sejenak. Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan dada Mahisa Agni.
Apalagi ketika perempuan itu berkata seterusnya. Kata demi kata, bagaikan guruh
yang menggelegar di tengah-tengah hari yang cerah, “Agni. Anak-anak laki-laki
itu kini berada di sini pula. Di ruangan ini.”
“Bibi,” potong Agni
terbata-bata, “Apakah yang dimaksudkan dengan anak laki-laki itu aku?”
Perempuan itu mengangguk.
Lemah dan ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata pasti, “Ya Agni. Kau.”
“Jadi….?” Agni ingin
berkata lagi. Namun tiba-tiba terasa mulutnya seperti tersumbat dan jantung
serasa beku. Tubuhnya yang kokoh itu pun bergetar dan akhirnya terhuyung-huyung
ia melangkah maju, sambil berdesis, “Ibu. Benarkah?”
Perempuan itu mengangguk
lemah. Lemah sekali.
Peristiwa itu benar-benar
tak akan disangka-sangka sebelumnya. Karena itu Mahisa Agni menjadi bingung.
Sesaat ia berdiri mematung, namun kemudian ia meloncat dua langkah maju dan
berjongkok di hadapan perempuan tua itu. Katanya, “Jadi benarkah bahwa yang
duduk di hadapanku ini ibuku?”
“Ya, Agni,” jawab
perempuan itu, “ibu yang melumuri tubuhnya dengan dosa. Tak ada yang pernah aku
kerjakan sebagai seorang ibu untuk anaknya. Dan sekarang terserah kepadamu Agni.
Apakah kau ingin menerimanya atau kau akan menolaknya.”
Agni tidak menjawab.
Tetapi dengan gemetar ia memeluk kaki perempuan tua itu. Dadanya yang bergelora
serasa akan meledak. Setetes demi setetes air mata perempuan tua itu menitik di
atas kepalanya.
Kembali bilik itu menjadi
sepi. Yang terdengar adalah nafas Mahisa Agni yang berdesak-desakan memburu
keluar dari lubang-lubang hidungnya. Seperti orang yang kehilangan kesadaran.
Agni tenggelam dalam suatu gelora perasaan yang dahsyat. Pertemuan itu
benar-benar mengejutkannya. Sebab telah tertanam di dalam hatinya suatu
pengertian, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Kini perempuan itu berkata,
bahwa ia adalah ibunya. Meskipun kata-kata itu tak akan dapat dibuktikannya,
namun Agni mempercayainya. Dengan suatu keyakinan, yang tumbuh di dalam hatinya,
ia pasti, bahwa perempuan itu adalah ibunya.
KEMUDIAN
Agni merasa tangan-tangan yang berkeriput itu membelai rambutnya dan kemudian
menepuk pundaknya, “Bangkitlah Mahisa Agni. Duduklah supaya orang tidak melihat
kejanggalan ini.”
Mahisa Agni pun kemudian
bangkit dan duduk di samping emban tua itu. Tetapi wajahnya masih
ditundukkannya, memandang dalam-dalam ke dalam gambaran-gambaran di benaknya.
Wajah perempuan itu, matanya, hidungnya, dahinya.
“Ah,” desah Agni di dalam
hati kenapa aku tidak melihatnya sebelumnya. Hampir saya aku melukai hatinya.”
Yang terdengar kemudian
ibunya berkata, “Agni. Sekarang kau melihat, apakah sebabnya aku menggantungkan
harapan masa depanku sejalan dengan keadaanmu. Namun anakku, bahwa apa yang
terjadi sebenarnya adalah satu peristiwa timbal balik, hutang piutang dan sebab
akibat. Kau yang sama sekali tidak bersalah, kini harus menerima akibat dari
kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan sebelumnya. Aku telah mengecewakan
hati laki-laki, bahkan dua orang sekaligus. Dan kini kau, anakku, agaknya telah
dikecewakan oleh seorang gadis pula.”
Agni masih menundukkan
wajahnya. Ia tidak membantah lagi. Tidak seharusnya ia menyembunyikan
perasaannya kepada ibunya. Ibu yang meskipun baru saja dikenalinya.
“Tetapi anakku,” berkata
ibunya, “kau telah mendengar cerita tentang ibumu, ayahmu dan laki-laki yang
merantau itu. Meskipun kau kini mengalami nasib yang mirip dengan laki-laki itu,
tetapi kau jangan kehilangan masa depanmu. Kau dapat memilih satu di antara dua.
Namun dengan ikhlas dan jujur. Merebut gadis itu atau melepaskan dengan ikhlas.
Sudah temu kau tidak akan mengorbankan hubunganmu sebagai seorang murid terhadap
gurunya yang telah bertahun-tahun memeliharamu. Tidak saja sebagai seorang
murid, namun sebagai seorang anak yatim piatu. Nah Agni, aku ingin mendengar
dari mulutmu, apakah yang akan kau lakukan?”
Agni masih diam
menekurkan kepalanya. Ia tidak merasa tersinggung lagi kini. Bahkan serasa ia
mendapat saluran yang wajar untuk meluapkan perasaannya. Karena itu maka ia pun
menjawab, “Ibu. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya dengan ikhlas Sebab aku
merasa, bahwa aku tidak akan dapat memaksanya untuk mengalihkan perasaannya
dengan paksa. Meskipun seandainya aku berhasil berbuat sesuatu yang dapat
memaksa gadis itu mengubah pendiriannya, namun aku tidak yakin, apakah gadis itu
tidak akan tersiksa sepanjang hidupnya. Dan apakah aku tidak tersiksa pula
karena aku hanya dapat memiliki tubuhnya, namun bukan hatinya.”
Perempuan tua itu
mengangguk-angguk. “Syukurlah,” katanya. Tetapi kau jangan mengorbankan masa
depanmu yang panjang. Kalau kau sudah menerima keadaan itu, jangan kau bunuh
hari depanmu dengan keputusasaan.”
Agni menggeleng lemah.
“Tidak ibu,” jawabnya.
“Demikianlah, Anakku,”
sahut ibunya, “terimalah akibat ini. Akibat dari perbuatan ibumu.”
“Karma,” desah Agni di
dalam hatinya.
Dan terdengar ibunya
melanjutkan, “Dan akibat itu datang terlampau cepat.”
Ibunya diam untuk sesaat.
Tetapi kemudian ia berkata pula, “Sepeninggal ayahmu Agni, aku telah mencarimu.
Akhirnya aku temukan kau dalam asuhan orang lain yang baik hati kepadamu. Tetapi
aku tidak dapat mengambil kau sebagai seorang ibu mengambil anaknya. Karena itu,
apabila selama masa pembuangan diri itu aku mengabdikan diriku di sini, di
padepokan Empu Purwa maka aku minta dengan sangat, supaya Empu Purwa mengambil
seorang anak laki-laki kecil sebagai muridnya. Tentu aku tidak mengatakan, bahwa
laki-laki itu adalah anakku. Tetapi aku berhasil membujuknya dengan mengungkit
rasa belas kasihannya.”
Kini Agni menjadi jelas.
Dan terasa kemudian, betapa emban Ken Dedes itu sangat baik kepadanya. Mula-mula
ia menyangka bahwa emban itu baik hati kepadanya, karena ia murid Empu Purwa,
yang seakan-akan telah menjadi saudara kandung putrinya. Namun kalau demikian
halnya maka sikap emban itu agak berlebih-lebihan. Dan kini perempuan itu
meneruskan kata-katanya, “Aku menjadi cemas dengan keadaanmu sejak semalam.
Tetapi kini aku sudah mendengar dari mulutmu sendiri. Karena itu aku menjadi
berlega hati. Nah, Agni, sebagai emban Ken Dedes, maka biarlah aku minta
kepadamu. Sampaikan permintaan yang telah kau ketahui itu kepada Wiraprana. Demi
kelangsungan masa depanmu dengan perguruanmu. Sudah tentu kau tak akan
mengatakan kepada siapa pun juga, siapakah sebenarnya aku ini.”
Mahisa Agni menganggukkan
kepalanya. Dan terdengar ia berkata lirih, “Senja nanti Wiraprana akan datang
kemari.”
Perempuan tua itu
tersenyum. Sekali lagi ditepuknya bahu Mahisa Agni. Katanya, “Aku harap kau
berjiwa besar.”
“Mudah-mudahan,” jawab
Mahisa Agni.
Emban tua itu pun
kemudian bangkit. Perlahan-lahan ia melangkah keluar. Namun di muka pintu ia
berhenti sejenak, berpaling dan berkata, “Aku akan pergi kepada gadis putri Empu
Purwa itu. Mengatakan kepadanya, bahwa Mahisa Agni telah menyanggupinya,
menyampaikan pesannya kepada Wiraprana. Begitu?”
Mahisa Agni mengangguk
lemah.
“Baiklah,” gumam ibunya.
Dan sesaat kemudian perempuan tua itu telah hilang di balik pintu.
Kini kembali Mahisa Agni
seorang diri di dalam biliknya. Bilik yang semula. Tetapi terasa betapa ada
perbedaan di dalam dirinya. Kini ia tidak lagi merasa terlalu sepi. Tiang-tiang,
dinding dan sudut-sudut biliknya tidak setegang tadi. Dan terasa oleh Mahisa
Agni, bahwa padepokan itu masih mengikatnya kembali. Ibunya berada di padepokan
itu pula. Dengan demikian, maka masih diharapkannya untuk tinggal di tempat ini.
Mudah-mudahan ia memberikan baktinya kepada ibunya itu. Meskipun ibunya
seakan-akan tak pernah berbuat sesuatu untuknya, namun perempuan itu telah
berjuang melawan maut pada saat melahirkannya, kemudian menyusuinya dengan penuh
harapan, bahwa bayinya akan dapat hidup terus dan menjadi besar. Dan kini ia
telah menjadi besar. Lalu apakah yang akan dilakukan untuk ibunya itu?
Beberapa saat berselang,
ibunya memberinya beberapa petunjuk dan pesan-pesannya. Pesan seorang ibu. Dan
tiba-tiba hati Mahisa Agni menjadi besar. Dengan dada tengadah ia menanti
kedatangan Wiraprana, “Aku akan berkata kepadanya. Mudah-mudahan akan dapat
memberinya kegembiraan.”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Kembali ia meletakkan tubuhnya di pembaringannya. Betapa penat
telah menjalari seluruh tubuhnya. Namun ia tidak dapat memejamkan matanya. Kini
ia sedang mereka-reka, bagaimana ia harus mengatakan kepada Wiraprana.
Matahari di langit
berjalan di dalam garis edarnya. Semakin lama semakin condong ke barat.
Cahaya-cahaya merah telah bertebaran di atas pohon-pohon kelapa dan mewarnai
lereng-lereng perbukitan. Burung-burung seriti beterbangan menangkapi belalang
di padang-padang rumput. Dan hari yang cerah itu pun berangsur-angsur menjadi
suram.
Menjelang senja Mahisa
Agni telah membersihkan dirinya. Mandi di sumur belakang rumah gurunya. Kemudian
duduk dengan gelisahnya di regol halaman menunggu Wiraprana. Ia harus segera
menyampaikan pesan itu sebelum ia bertemu dengan gurunya. Mungkin gurunya pun
akan bertanya kepadanya, apakah pesan putrinya telah sampai kepada anak buyut
Panawijen itu. Meskipun ia sadar, bahwa gurunya pun akan memaksa dirinya sendiri
untuk menuruti permintaan putri satu-satunya. Tetapi, ada juga kemungkinan lain.
Ken Dedes sama sekali tidak mengatakan kepada ayahnya sampai pada suatu ketika
ayahnya mengadakan permainan sayembara pilih kembali.
“Biarlah, apa yang akan
dilakukan,” berkata Agni di dalam hati, “namun aku harus menyampaikannya kepada
Wiraprana.
Hati Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar ketika dari kejauhan ia melihat anak muda yang ditunggunya itu
datang. Karena itu segera ia pun berdiri. Sesaat ia tegak di tengah-tengah regol
itu, namun kemudian ia melangkah menepi bersandar pada tiang pintu. Tetapi
sesaat lagi ia telah berjalan hilir mudik melintasi jalan di muka regol halaman
itu.
Wiraprana yang berjalan
ke arahnya itu pun tidak kalah gelisahnya. Anak muda itu melihat Mahisa Agni
berjalan hilir mudik, berdiri tegak, kemudian berjongkok kembali. Karena itu
maka Wiraprana pun tak ada habis-habisnya berpikir, “Apakah aku telah berbuat
suatu kesalahan kepadanya, atau kepada Ken Dedes?”
Tetapi ia berjalan terus.
Apapun yang dihadapinya, akan diterimanya dengan baik. Seandainya ternyata ia
bersalah, maka adalah menjadi kewajibannya untuk minta maaf. Baik kepada Mahisa
Agni maupun kepada Ken Dedes.
Akhirnya Wiraprana itu
pun sampai di regol itu pula. Dilihatnya Mahisa Agni tersenyum dan kemudian
berkata, “Aku menunggumu sejak tadi Wiraprana.”
Wiraprana pun tersenyum
pula. “Bukankah kau minta aku datang sesudah senja?”
Mahisa Agni
mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Wiraprana, apakah sudah mengairi sawahmu?”
Wiraprana mengangguk.
“Sudah,” jawabnya.
“Bagus,” jawab Agni,
“kalau demikian kau tidak akan tergesa-gesa.”
Dada Wiraprana berdesir.
Selama ini ia sealu datang ke rumah ini. Tidur di sini, makan di sini. Kenapa
tiba-tiba kini Mahisa Agni bersikap demikian. Apalagi kemarin ia tampak terlalu
tergesa-gesa. Namun ia menjawab juga, “Semua pekerjaanku sudah selesai Agni.”
Mahisa Agni
mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Marilah kita pergi ke bendungan.”
Wiraprana mengangguk.
Meskipun terasa betapa canggungnya pertemuannya kali ini. Berpuluh kali ia telah
pernah mendengar Mahisa Agni mengajaknya ke bendungan, namun kali ini hatinya
berdebar-debar juga. Meskipun demikian Wiraprana mengangguk juga sambil
menjawab, “Marilah.”
Agni tidak berkata
apa-apa lagi. Keduanya kemudian berjalan bersama-sama ke bendungan. Kemarin, dua
hari yang lampau, tiga hari yang lampau, lima, sepuluh dan beratus-ratus kali di
saat-saat lampau, keduanya sering pula berjalan ke bendungan. Tetapi kali ini
keduanya seperti asing. Mereka berjalan sambil berdiam diri. Cepat-cepat seperti
takut terlambat.
Ketika mereka telah tegak
di bedungan, berkatalah Mahisa Agni, “Duduklah Wiraprana.”
“Hem,” desah Wiraprana.
“Agni memang aneh
akhir-akhir ini,” katanya di dalam hati, “biasanya tak pernah ia mempersilakan
demikian. Apakah aku akan berjungkir balik, atau akan terjun sekalipun, tak
pernah ia menegurku.”
Meskipun terasa betapa
kaku pertemuan itu, namun Wiraprana kemudian duduk juga di samping Mahisa Agni.
Untuk sejenak mereka masih berdiam diri. Wiraprana memandang jauh-jauh ke
kelokan sungai, memandang air yang berputar-putar dan kemudian lenyap seperti
ditelan hantu, hilang di balik kelokan.
Beberapa kali Mahisa Agni
menarik nafas. Ketika melihat warna-warna yang semakin kelam di ujung pepohonan
ia menjadi gelisah. Sebenarnya Mahisa Agni ingin langsung menyampaikan pesan Ken
Dedes. Namun ia tidak segera menemukan cara untuk memulainya. Tetapi ia sadar,
lambat atau cepat ia harus berkata. Karena itu akhirnya di cobanya juga berkata,
“Wiraprana, kali ini aku ingin menyampaikan sebuah pesan untukmu.”
Wiraprana kemudian
berpaling. Ditatapnya wajah Agni yang menunduk. Karena Mahisa Agni tidak segera
meneruskan kata-katanya maka Wiraprana pun menyahut, “Agni. Sudah terasa betapa
janggal sikapmu akhir-akhir ini. Supaya aku tidak selalu berteka teki, maka
sudah sepantasnya kalau kau mengatakan sesuatu kepadaku. Apakah aku telah
berbuat kesalahan, atau apapun yang mengecewakanmu atau mengecewakan Ken Dedes.”
“Tidak!” Mahisa Agni
menggeleng, “Kau tidak mengecewakan siapa pun. Aku tidak, Ken Dedes apalagi.”
Mahisa Agni diam sesaat.
Dicobanya mengatur perasaannya. Ia harus mengatakan sesuatu yang dirasakannya
terlalu pahit. Namun ketika diingatnya pesan ibunya, maka ia pun menjadi agak
tenang. Maka katanya, “Sudah lama aku mengenalmu, dan sebaliknya. Kau pun telah
mengenal seluruh keluarga kami. Guruku, aku dan Ken Dedes. Wiraprana, hampir
setiap hari kau berkunjung ke rumah guru. Apakah benar-benar hanya karena aku
ada di sana?”
Wiraprana terkejut
mendengar pertanyaan itu. Sahutnya, “Apakah maksudmu Agni?”
Agni menarik nafas.
Dengan sangat berhati-hati ia mengulangi supaya tidak menimbulkan salah
mengerti, “Wiraprana, maksudku, apakah kehadiranmu setiap hari di rumah Empu
Purwa itu benar-benar karena kau ingin menemui aku?”
“Tentu!” jawab Wiraprana
cepat-cepat.
Wajah anak muda itu pun
menjadi merah, dan hatinya semakin berdebar-debar, “Apakah kau menyangka lain,
Agni?”
“Tidak,” sahut Agni,
“mula-mula aku tidak menyangka lain, namun sekarang aku mengharap, semoga kau
mempunyai maksud yang lain.”
“Ah,” desah Wiraprana,
“aku tidak mengerti. jangan membuat aku bingung, Agni. Katakanlah.”
“Prana,” berkata Mahisa
Agni, “betapa berat pesan yang dititipkan kepadaku untukmu. Sebagai seorang
kakak, aku wajib memenuhinya. Namun aku mengharap kau tidak menjadi kecewa,
justru karena pesan itu. Kau jangan salah menilai, bahwa seorang gadis
sedemikian berani memberikan pesan yang tak ternilai harganya kepada seorang
anak muda. Prana, besuk atau lusa kau akan tahu sebabnya. Kini, dengarlah pesan
dari adikku itu. Ia mengharap kehadiranmu dalam perjalanan hidupnya.”
Kembali Wiraprana
terperanjat. Dan kembali warna merah membersit di wajahnya. Karena itu ia
menjadi seakan terbungkam. Mahisa Agni telah memberitahukan pesan itu terlalu
langsung. Agni pun kemudian merasakan pula kekakuan kata-katanya. Namun untuk
mengucapkannya ia sudah harus berjuang di dalam dirinya. Karena itu ia tidak
dapat berbuat lebih baik daripada apa yang telah dilakukannya.
Sejenak kemudian keduanya
dicengkam oleh debar yang cepat di dada masing-masing. Wiraprana bahkan menjadi
bingung. Apakah yang dapat dikatakannya? Sedang Mahisa Agni sibuk menguasai
perasaannya. Dengan sekuat tenaga ia berjuang untuk menenangkan diri. Baru
kemudian ia dapat berkata pula, “Wiraprana, jangan menyangka bahwa Ken Dedes
dengan tiba-tiba saja merendahkan dirinya dengan pesannya itu. Ia tidak akan
berbuat demikian seandainya, sikapmu, kata-katamu sebelumnya tidak
meyakinkannya. Setidaknya menumbuhkan harapan di dalam hatinya. Sehingga pada
saat gadis itu terdesak oleh keadaan, seperti yang terjadi dengan Kuda Sempana,
ia harus menjatuhkan pilihan.”
Wiraprana mengangkat
wajahnya. Kemudian dengan gemetar ia bertanya, “Kenapa pilihan itu jatuh
atasku?”
Agni menarik nafas.
Kemudian ia meneruskan, “Sudah aku katakan, sikapmu dan kata-katamu menumbuhkan
harapan di hati adikku. Ketika Ken Dedes mengeluh atas keadaannya, atas sikap
Kuda Sempana dan lamaran-lamaran lain yang datang kepada ayahnya, namun tak
seorang pun sesuai dengan hatinya, maka aku nasihatkan kepadanya untuk segera
menentukan pilihan. Wiraprana, adikku itu telah lama mengenalmu. Aku pun telah
mengenalmu pula, hampir segenap watak dan tabiatmu. Karena itu, aku nasihatkan
kepada Ken Dedes, supaya ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam masa-masa
hidupnya yang akan datang. Agaknya kami, aku dan Ken Dedes sependapat, bahwa tak
ada orang lain yang lebih baik dari padamu. Karena itu, apakah Ken Dedes akan
memberikan pesan untukmu atau tidak, suatu saat aku pasti akan mengatakannya
kepadamu.”
Terasa sesuatu bergelora
di dalam dada Wiraprana. Kini ia tidak dapat berbohong lagi. juga kepada dirinya
sendiri. Sejak lama terasa sesuatu di dalam sudut hatinya. Tetapi ia tidak
berani melihatnya. Ia merasa bahwa tak sepantasnya ia berangan-angan tentang
seorang gadis putri pendeta yang menenggelamkan hidupnya dalam pengabdiannya
terhadap sumber hidupnya. Ia merasa, bahwa dirinya akan terlalu kasar untuk itu.
Wiraprana merasa, bahwa ia tidak lebih dari seorang petani yang lebih mengenal
dirinya sendiri, alam dan semesta ini pada wadagnya. Karena itu ia telah
bertekad untuk menekan segenap perasaan yang timbul di dalam dadanya. Namun
demikian, setiap kali selalu timbul keinginannya untuk datang ke rumah guru
sahabatnya itu. Karena itu, tiba-tiba timbul pula pertanyaan di hatinya, “Apakah
aku datang setiap hari mengunjungi Mahisa Agni itu benar-benar karena aku ingin
bertemu dengan anak itu?”
Wiraprana menjadi malu
sendiri. Agni pun bertanya demikian kepadanya. Dan ia tidak dapat menjawabnya.
Wiraprana kemudian
menundukkan wajahnya. Di dalam dadanya bergolak berbagai perasaan. Terkejut,
gelisah namun tebersit pula kegembiraan di dalam hatinya. Karena itu, selagi ia
sibuk dengan persoalannya sendiri, maka ia tidak melihat betapa Mahisa Agni
berjuang untuk menguasai perasaannya. Di dalam dadanya pun bergelora pula
berbagai perasaan.
Pedih, sakit dan kecewa.
Namun ia sudah bertekad untuk menghayatinya.
Gemericik air di
bendungan terdengar seperti sebuah lagu yang lincah. Nadanya meloncat-loncat
dalam irama yang cepat. Ketika Wiraprana memandang ke dalamnya, tampaklah
bayangan bintang-bintang di langit seakan-akan meloncat-loncat dipermainkan oleh
getaran permukaan air yang riang.
“Agni,” tiba-tiba ia
berkata. Agni mengangkat wajahnya, dan ditatapnya wajah Wiraprana yang cerah.
“Adakah kau berkata
sebenarnya?” bertanya anak muda itu.
“Tentu,” jawab Agni.
“Apakah Ken Dedes
benar-benar bermaksud demikian? Agni, aku takut kalau Ken Dedes sekedar menuruti
permintaanmu,” Wiraprana menegaskan.
Agni menarik nafas.
Terasa dadanya menjadi sesak. Namun ia menjawab, “Tidak Ken Dedes benar-benar
menyadari pesannya itu.”
“Ah,” desah Wiraprana.
Kembali mereka berdiam
dari. Wiraprana kini melihat masa depan yang cerah terbentang di hadapannya.
Nanti ia akan berkata kepada ayahnya apa yang didengarnya dari Mahisa Agni.
Ayahnya segera pasti akan memenuhi adat itu. Datang kepada ayah Ken Dedes dengan
sebuah upacara.
“Hem,” katanya di dalam
hati, “Bukankah ayahku Buyut Panawijen? Seharusnya aku tak perlu merasa terlalu
kecil untuk melakukannya?.
Dan tiba-tiba Wiraprana
itu tersenyum sendiri. Meskipun demikian, Wiraprana masih ingin meyakinkan.
Karena itu ia bertanya, “Agni, bagaimanakah pendapatmu tentang pesan itu. Apakah
sudah sepantasnya aku menerimanya?”
Sekali lagi sebuah
goresan melukai hati Mahisa Agni. Tetapi ia menjawab, “Tentu Wiraprana.
Seharusnya kau penuhi permintaan itu. Pandanglah dirimu dengan jujur, apakah tak
ada perasaanmu untuk melakukannya. Jangan hiraukan tanggapan orang lain tentang
dirimu, tentang gadis itu dan tentang masa depan kalian berdua. Kebahagiaan
kalian di masa mendatang tergantung kepada kalian sendiri. Tidak kepada orang
lain dan tidak pula tergantung kepadaku.”
Wiraprana
mengangguk-angguk. Senyumnya kembali membayang di wajahnya. Katanya, “Terima
kasih Agni. Aku tidak menyangka bahwa aku akan tertimpa ndaru. Aku sebenarnya
gelisah melihat sikapmu yang aneh akhir-akhir ini. Tetapi kini aku menjadi
sangat berterima kasih kepadamu.”
Mahisa Agni pun tersenyum
pula. Tetapi kemudian ia mengatupkan giginya. Desahnya di dalam hati,
“Berbahagialah kau, anak muda.”
Tetapi Wiraprana tak
melihat luka di dalam dada Agni. Yang dilihatnya adalah keriangannya sendiri.
Dan tiba-tiba ia berkata, “Agni. Marilah kita pulang. Aku akan mengatakannya
kepada Ayah. Supaya Ayah segera dapat melakukannya. Besok atau lusa.”
Mahisa Agni mengangguk.
Tetapi ia masih belum ingin pulang. Maka jawabnya, “Pulanglah dahulu, Prana. Aku
masih akan ke sawah.”
Wiraprana tidak dapat
merasakan apapun selain keinginannya untuk segera menyampaikan kabar itu kepada
ayahnya. Ayahnya pasti tidak akan menolaknya. Meskipun ia harus meyakinkan,
bahwa keluarga Ken Dedes seluruhnya telah menerima kehadirannya apabila
dikehendaki. Karena itu, maka katanya, “Baiklah, aku pulang dahulu.”
Mahisa Agni mengangguk,
“Pulanglah. Aku segera menyusul.”
Wiraprana tidak berkata
apa-apa lagi. Segera ia melangkah dari batu ke batu. Kemudian meloncat dan
berjalan cepat-cepat pulang.
Mahisa Agni kemudian
berdiri. Dipandangnya Wiraprana yang berjalan tergesa-gesa itu. Semakin lama
semakin dalam membenam di hitamnya malam.
Sekali lagi Mahisa Agni
menarik nafas. Perlahan-lahan pandangan matanya berkisar di seputar bendungan.
Air di grojoggan masih memercik beruntun. Di langit ujung timur, Mahisa Agni
melihat semburat kuning membayang di atas ujung-ujung pepohonan. Bulan sesaat
lagi akan melambung di langit yang biru.
Selangkah demi selangkah
Mahisa Agni berjalan menuruni bendungan. Dilangkahinya anak-anak tangga di
tebing kali. Sehingga akhirnya sampailah ia di pinggir belumbang kecil.
“Di sinilah aku telah
menyelamatkan kedua-duanya,” desisnya.
Agni menggeleng-gelengkan
kepalanya. Ketika ia melihat wajahnya di air belumbang yang terang itu,
seakan-akan dilihatnya masa-masa lampaunya yang penuh dengan keprihatinan.
Tetapi justru karena itulah, maka Mahisa Agni mampu menahan arus perasaannya,
betapapun sakitnya.
Ketika bulan telah
tersembul di atas punggung bukit, Agni teringat bahwa gurunya memerlukannya.
Karena itu dengan langkah yang berat, seberat beban di hatinya, ia melangkah
pulang. Ketika dilewatinya sawah gurunya itu, diperlukannya membuka tutup
pematang, untuk mengalirkan air ke dalamnya.
Ketika ia memasuki regol
halaman rumahnya, dilihatnya halaman rumah itu sangat sepi. Lampu-lampu minyak
telah menyala di setiap ruang di dalam rumah. Seseorang telah menyalakan lampu
di biliknya pula. Di pendapa Agni melihat seorang cantrik melintas. Kepadanya
Agni bertanya, “Di manakah Empu Purwa sekarang?”
“Di pringgitan,”
jawabnya.
Mahisa Agni mengangguk.
Ia ingin langsung menemui gurunya. Mungkin ada sesuatu yang penting Mungkin ada
hubungannya dengan Ken Dedes mungkin pula tidak.
Perlahan-lahan Mahisa
Agni membuka pintu. Dilihatnya gurunya duduk bersila. Di hadapannya terhidang
bintang, teko dan sebuah mangkuk kecil.
“Marilah, Agni,” berkata
gurunya. Dan Agni pun kemudian berjongkok dan duduk di muka Empu Purwa. Meskipun
telah berbilang ribuan ia duduk menghadap gurunya namun kali ini hatinya
berdebar-debar juga.
Tetapi debar jantung Agni
pun menjadi semakin kusut ketika ia melihat wajah gurunya yang bening tenang.
“Marilah, Agni. Mumpung
masih hangat,” ajak gurunya sambil menyodorkan mangkuk kecil untuknya.
Mahisa Agni pun
mengangguk, dan seperti biasanya segera ia meraih teko dan kemudian segumpal
gula kelapa. Adalah menjadi kebiasaan gurunya, mengajaknya minum bersama.
Menurut gurunya minum bersama terasa jauh lebih nikmat daripada sendiri.
Ketika setengah mangkuk
kecil telah terminum, Mahisa Agni meletakkannya kembali di dalam nampan
kuningan.
Sejenak mereka berdua
masih berdiam diri. yang terdengar kemudian hanyalah bunyi-bunyi jangkrik dan
angkup-angkup nangka yang meringkik-ringkik di kejauhan.
Kemudian Empu Purwa itu
pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mencarimu tadi pagi, Agni.
Tetapi tak ada keperluan apa-apa. Aku hanya ingin minum bersama seseorang.
tetapi ternyata kau tidak ada. Tak seorang pun yang melihat. Aku sangka kau
sedang pergi sawah.”
Kembali Mahisa Agni
menjadi berdebar-debar. Ditundukkannya kepalanya, dan dibiarkannya gurunya
berkata meneruskan, “Apakah kau benar-benar pergi ke sawah?”
Mahisa Agni menjadi
bingung. Meskipun demikian ia menjawab, “Baru saja aku pulang dari sawah guru.”
Empu Purwa tersenyum.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Apakah padimu telah
merunduk?”
“Hampir Empu, tidak
sampai berbilang hari,” jawab Mahisa Agni.
“Ah, syukurlah,” sahut
orang tua itu, “mudah-mudahan tanaman itu dijauhkan dari hama den kerusakan.”
“Mudah-mudahan,” gumam
Mahisa Agni.
“Kalau demikian, Agni,”
berkata Empu Purwa, “itu sudah hampir sampai masanya kau membuat gubuk untuk
menjaga sawahmu dari gangguan burung.”
“Ya, Empu,” jawab Agni,
“sebentar lagi akan aku buat.”
Empu Purwa
mengangguk-angguk. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan seksama, seakan-akan
ada sesuatu yang aneh pada anak muda itu. Sehingga ketika Mahisa Agni
menyadarinya, maka ia pun menjadi gelisah. Dan kembali wajahnya terpaku di dalam
anyaman tikar yang didudukinya.
Sesaat kemudian Empu
Purwa itu berkata pula, “Agni. Adalah menjadi hak kita untuk mengusir setiap
burung yang akan mencuri padi kita di sawah, sebab kitalah yang menanamnya,
memeliharanya dan dengan tertib berbuat untuk kepentingan tanaman itu.”
Mahisa Agni mengangkat
wajahnya. Kata-kata gurunya itu agak mengherankannya. Bukankah hal itu sudah
wajar. Tak ada sesuatu yang terasa baru pada kata-kata itu.
Empu Purwa melihat pula
wajah Agni yang memancarkan berbagai pertanyaan itu. Maka sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya Empu Purwa berkata, “Kita akan merasa kehilangan
Agni, apabila meskipun hanya sebutir padi kita yang dimakan oleh burung-burung
pipit liar itu. Karena itu kita akan selalu mengusirnya apabila mereka datang.”
Mahisa Agni menjadi
semakin heran. Namun ia tidak bertanya. Bahkan kembali ia menundukkan wajahnya.
“Tetapi Agni,,” sambung
gurunya. Suaranya menjadi berat dan dalam, “Padi yang kita pertahankan dari
serbuan burung-burung pipit, dan kadang-kadang kita harus bekerja siang dan
malam, apabila hujan lebat dan parit-parit menjadi melimpah itu, ada kalanya
tidak sampai ke lumbung-lumbung kita.”
Empu Purwa berhenti
sejenak, lalu katanya seterusnya, “Meskipun kita tidak mengikhlaskan sebutir
padi pun kepada burung-burung pipit Agni, namun kadang-kadang kita berikan tidak
hanya sebutir, bahkan lebih dari itu, seikat, kepada orang lain, apabila kita
yakin orang itu membutuhkannya. Dan kita yakin karena itu maka orang itu menjadi
berbahagia karenanya.”
Dada Mahisa Agni berdesir
mendengar kata-kata gurunya itu. Sekejap ia mengangkat wajahnya, namun sekejap
kemudian wajah itu pun terkulai kembali dengan lemahnya. Kini ia tahu, apakah
yang akan dikatakan gurunya itu.
“Agni,” berkata Empu
Purwa, “aku tidak dapat menolak apabila seseorang yang kelaparan datang
kepadaku, dan minta supaya aku memberinya padi. Sedang padi itu ada padaku.”
“Tentu saja Agni. Aku
dapat memberikannya kepada siapa saja sesuka hatiku, tetapi bagaimanakah kalau
yang dapat aku berikan itu sangat terbatas?”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Ketika teringat pesan ibunya, maka Mahisa Agni pun segera dapat
menguasai perasaannya. Karena itu berangsur-angsur kegelisahannya pun menjadi
lenyap. Bahkan kini ditengadahkannya wajahnya, dan didengarnya kata-kata gurunya
itu dengan hati yang terang.
Maka gurunya itu pun
berkata, “Ah, Anakku. Aku tidak dapat menyamakannya dengan butiran padi itu.
Mungkin orang lain berbuat demikian. Tetapi aku tidak. Kadang-kadang aku
mengingat juga lumbung-lumbung atau tempat penyimpanan orang yang datang itu.
Bahkan lebih dari itu, Agni”
Mahisa Agni menganggukkan
kepalanya. Tetapi ia sudah tidak gelisah. Karena itu ketika Empu Purwa bertanya
kepadanya, maka dengan tatag ia menjawabnya.
Berkatalah empu tua itu,
“Agni. Ternyata kau turut memelihara sawahku itu dengan tekun. Bahkan kaulah
yang setiap saat melakukannya. Bagaimanakah pendapatmu, kalau suatu ketika hasil
sawah itu aku serahkan kepada rakyat Panawijen, atau orang yang dapat
mewakilinya?”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kini ia tidak menundukkan wajahnya. Bahkan
dengan tenang ia menyahut, “Guru, adalah menjadi kewajibanku untuk ikut
memelihara setiap milik guru. Sawah, ladang, halaman ini bahkan dengan segala
isinya. Dan apabila kemudian Empu mempunyai keputusan tentang itu semuanya,
adalah sudah seharusnya aku pun menjadi bergembira karenanya.”
Empu Purwa itu pun
tersenyum, katanya, “Tetapi, Agni. Bagaimanakah kalau lumbung kita sendiri
menjadi kosong. Dan apakah kita tidak takut, suatu ketika kita sendiri akan
menjadi lapar?”
Mahisa Agni berdesir
mendengar kata-kata gurunya. Tetapi ia telah menjadi tenang benar. Karena itu
sama sekali tak tampak kegelisahan dan perubahan di wajahnya. Selalu diingatnya
pesan ibunya. Cerita ibunya tentang dirinya dan ayahnya. Maka jawabnya, “Guru,
apabila kita masih mencemaskan keadaan diri sendiri, maka pemberian kita itu
menjadi tidak dilambari dengan keikhlasan.”
“Hem,” Empu Purwa menarik
nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Dan ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan penuh
haru. Maka terdengar ia berkata, “Kau telah menemukan nilai-nilai dirimu Mahisa
Agni. Nilai-nilai yang hampir rontok dalam usia mudamu. Usia yang paling
berbahaya dalam hidup ini.”
Kini Mahisa Agni
benar-benar terkejut. Apakah gurunya tahu, betapa ia hampir menjadi gila
mendengar pengakuan Ken Dedes di hadapan ibunya?
Tetapi Mahisa Agni justru
menjadi terbungkam karenanya. Kemudian ia mendengar gurunya itu berkata pula,
“Agni, pagi tadi aku ikuti kau bertamasya.”
“Oh,” Mahisa Agni
mengeluh.
Gurunya benar-benar
mengetahui apa yang sudah terjadi. Dan gurunya itu masih berkata, “Aku melihat
kau hampir-hampir kehilangan keseimbangan, Anakku.”
Ketika Agni akan
menjawab, Empu Purwa mendahului, “Jangan kau sembunyikan perasaanmu. Orang setua
aku, Agni, adalah orang-orang yang pernah mengalami masa-masa semuda kau. Dan
apa yang kau lakukan adalah wajar. Sewajar orang mengusir burung pipit di
sawahnya. Aku melihat sejak kau bermain-main dengan serulingmu. Aku melihat Ken
Dedes datang kepadamu. Aku melihat, betapa kau menempelkan telingamu, untuk
mendengar apa yang dikatakan Ken Dedes kepada pemomongnya. Dan aku ikut
berlari-lari sepanjang tengah malam itu. Dan aku mendengarkan semua percakapanmu
dengan hantu di padang rumput itu, Agni. Aku tidak akan berani mengatakan semua
ini kepadamu, apabila kau masih belum menemukan nilai-nilai yang tersimpan di
hatimu. Meskipun apa yang dikatakan oleh Ken Arok itu membantumu, namun
keikhlasan yang terpancar di wajahmu, membayangkan betapa kau memiliki
nilai-nilai di dalam hatimu melampaui dugaanku.”
Mahisa Agni mendengar
kata-kata gurunya dengan hati yang berdebar-debar. Namun satu hal yang tak
diketahui oleh gurunya, ibunya kini telah hadir pula di dalam hatinya. Namun
Mahisa Agni tak berkata sepatah kata pun.
Sesaat kemudian terdengar
gurunya berkata, “Agni. Seorang setia berkata bahwa wanita sana harganya dengan
curiga. Dan sama pula harganya dengan nyawanya. Aku tidak keberatan Agni. Namun
aku ingin memberinya arti yang agak berbeda dengan arti yang pernah diberikan
oleh anak-anak muda. Wanita, curiga, pusaka dan sebagainya adalah lambang dari
cita-cita. Setiap cita-cita memang mempunyai nilainya sendiri-sendiri. Kalau
cita-cita itu dinilai sama dengan nyawa kita, maka adalah sudah seharusnya kita
mengejar cita-cita itu sepanjang umur kita. Dan kau telah sampai pada
nilai-nilai yang lebih tinggi dari nilai-nilai wadagnya Agni.”
“Bukan wanita dalam
wadagnya, tetapi wanita sebagai lambang yang memancarkan kehalusan, yang
memancarkan sifat-sifat pengabdian pada anak-anaknya, pada penerus hidup kita.
Pengabdian bagi masa yang akan datang. Wanita tidak sekedar hidup untuk
hidupnya, tetapi wanita hidup untuk hidup masa mendatang. Dan adakah kita telah
melakukannya. Adakah kita telah menerapkan hidup kita tidak sekedar untuk hidup
kita sendiri. Adakah kita sudah menempatkan diri kita dalam pengabdian bagi masa
datang?”
“Agni, curiga dan pusaka
yang harus kita udipun(?), janganlah dinilai sebagai bentuk wadagnya. Keris,
tombak, bahkan segala jenisnya. Namun setiap kita menempatkan pusaka apapun di
hati kita, maka kita menilainya dari setiap unsur yang dapat kita lihat
daripadanya. Unsur yang dipancarkan olehnya. Kejantanan, keperkasaan dan
keluhuran budi. Atau apapun menurut penilaian kita atasnya.”
Empu Purwa itu pun
berhenti sejenak. Dicobanya untuk mengetahui, apakah kata-katanya itu dapat
dimengerti oleh muridnya yang masih muda itu. Agni kini menekurkan kepalanya.
Didengarnya semua nasihat gurunya itu. Dan dicobanya untuk mencernakannya di
dalam hatinya.
Seterusnya gurunya itu
berkata perlahan-lahan, namun langsung menyusup ke jantung Mahisa Agni, “Agni.
Betapapun juga, aku menyadari, bahwa ada sesuatu yang hilang dari hatimu. Hanya
orang-orang yang tabah, dan telah menemukan nilai-nilai kemanusiaannyalah yang
dapat menghadapi peristiwa semacam itu dengan tenang dan berhati terang. Dan kau
telah melakukannya dalam umur mudamu. Karena itu mudah-mudahan kau selalu
diselamatkan oleh Maha Pencipta. Namun, meskipun demikian Agni, aku akan mencoba
mengurangi tekanan-tekanan yang berat itu. Meskipun kau pasti akan kuat
memanggulnya, namun sebaiknya, aku, gurumu, ikut pula membantumu. Maksudku, aku
tidak akan mengubah pendirian anakku, sebab dengan demikian aku akan merampas
kebahagiaannya. Dan menurut penilaianku, kau telah memaafkannya.”
“Dan kini, aku akan
memberimu imbangannya. Sebuah pusaka.”
Mahisa Agni tersentak
sehingga ia bergeser madu. Diangkatnya wajahnya, dan dipandangnya wajah gurunya
yang sejuk bening. Dan didengarnya gurunya itu meneruskan kata-katanya, “Agni,
kau pernah melihat sebuah trisula yang kecil itu? Sudah pernah aku katakan
kepadamu, pusaka itu diberikan turun temurun dari guru kepada muridnya yang
tepercaya. Dan kini, aku telah mengambil keputusan untuk memberikannya kepadamu.
Namun, ingatlah Agni. Pusaka yang berbentuk senjata itu bukan alat pembunuh.
Pusaka itu adalah alat untuk menegakkan sendi-sendi kebenaran dan kemanusiaan
menurut Sumbernya. Jadi menurut sumbernya, Agni. Bukan menurut kehendakmu dan
kepentinganmu. Meskipun kau tak akan mengerti seluruhnya, kebenaran menurut
Sumbernya itu, namun kau harus berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Kalau kau
menemui keingkaran pada kebenaran itu Agni, yang pertama-tama kau lakukan adalah
melenyapkan keingkaran itu. Bukan melenyapkan seseorang. Jangan kau lenyapkan
seseorang yang mengingkari kebenaran, selagi kau melihat kemungkinan untuk
melenyapkan keingkarannya tanpa mengorbankan orangnya.”
Kini Mahisa Agni
menundukkan wajahnya dalam-dalam. Meskipun gurunya pernah berkata kepadanya di
padang rumput Karautan, bahwa pusaka berbentuk trisula itu adalah pusaka turun
temurun, dan bahkan gurunya pernah berkata pula, bahwa suatu ketika pusaka itu
akan diberikan kepadanya, namun pada sangkanya, tidak secepat yang terjadi.
Justru karena itu, maka dada Mahisa Agni terasa menjadi sesak oleh berbagai
perasaan yang bergulat di dalamnya. Bahkan kemudian terasa matanya menjadi
panas, dan terasa sesuatu menyumbat mulutnya.
Demikianlah, malam itu,
dengan penuh keharuan dan terima kasih, Mahisa Agni menerima sebuah pusaka dari
gurunya. Apapun bentuknya, namun itu adalah suatu pertanda bahwa gurunya telah
menumpahkan kepercayaan kepadanya. Kepercayaan pada ilmu yang telah dimilikinya,
dan kepercayaan pada pengalaman yang akan dilakukannya.
Dalam keharuannya,
sekilas Mahisa Agni teringat kepada gadis putri gurunya itu. Karena itu hatinya
berdesir. Tetapi kemudian perasa hatinya menjadi tenang kembali setelah
disadarinya, bahwa sebagai gantinya, telah didapatnya dua penemuan yang sangat
berarti dalam hidupnya. Ibunya dan sebuah pusaka.
Maka, meskipun tak
terucapkan, namun betapa Mahisa Agni mengucapkan syukur di dalam hatinya kepada
Maha Pengasih atas karunianya yang tak ternilai.
Ketika malam telah
menjadi semakin malam, dan bulan di langit telah membuat garis-garis tegak di
atas padepokan, maka Empu Purwa melepaskan Mahisa Agni kembali ke biliknya.
Di samping pendapa Mahisa
Agni melihat sebuah bayangan di bawah rimbun daun kemuning, Pandangan matanya
yang tajam segera mengenalinya. Orang itu adalah ibunya.
“Apa yang terjadi?” bisik
ibunya, ketika Mahisa Agni telah dekat di sampingnya.
Dengan bangga Mahisa Agni
menceritakan kepercayaan gurunya kepadanya. Dan dengan bangga pula
ditunjukkannya pusakanya kepada ibunya. Namun ibunyalah yang lebih berbangga
dari Mahisa Agni sendiri. Sedemikian bangganya sehingga perempuan itu tak dapat
menguasai perasaannya. Setetes demi setetes, air matanya menitik. Tetapi ia
tidak bersedih. Bahkan dengan sebuah senyum ia berkata, “Berbahagialah kau Agni,
dan aku pun berbahagia pula. Pandanglah hari depanmu dengan penuh gairah di
dalam dadamu.”
Malam itu adalah malam
yang tak akan dilupakan oleh Mahisa Agni. Namun demikian, anak muda itu tidak
menjadi takabur. Dengan tekun ia justru menempa dirinya. Setiap saat ada
kesempatan, dengan tekad, bahwa nama perguruannya, nama gurunya dan kepercayaan
yang telah dilimpahkan kepadanya, harus dijunjungnya tinggi-tinggi. Dan karena
itu pulalah maka Empu Purwa pun berbangga pula karenanya. Ternyata muridnya
benar-benar seorang anak muda yang baik.
Karena itu, maka Empu
Purwa pun untuk selanjutnya telah menempa Mahisa Agni dalam tataran ilmunya yang
tertinggi.
Dalam pada itu, ketika
Mahisa Agni tenggelam dalami penekunan tanpa henti atas ilmunya, maka Wiraprana
telah pula berhasil meyakinkan ayahnya. Sehingga akhirnya Buyut Panawijen itu
pun tak dapat berbuat lain daripada memenuhi permintaan anaknya.
Ternyata semuanya
berlangsung seperti yang diharapkan, Empu Purwa tidak mau menunda persoalan itu
berlarut-larut. Ketika ia menerima sebuah utusan dari Buyut Panawijen, maka
dilambari dengan penuh pengertian atas hasrat yang tersimpan di dalam dada
anaknya, maka dipanggillah Ken Dedes menghadapnya.
“Ken Dedes,” berkata Empu
Purwa kemudian, “pengikut sayembara kali ini hanya seorang, Wiraprana, putra
Buyut Panawijen. Bagaimanakah pendapatmu?”
Ken Dedes menundukkan
wajahnya dalam-dalam. Berbagai perasaan bergolak di dadanya. Ia gembira,
menerima pertanyaan itu, tetapi ia tidak kuasa untuk menganggukkan kepalanya.
Karena itu ia menjawab lirih, “Ayah. Terserahlah kepada Ayah.”
Empu Purwa tersenyum.
Seorang yang telah berumur lanjut, segera mengetahui isi hati seorang gadis yang
telah ditunggunya setiap saat. Ken Dedes tidak menolak.
“Nah, Anakku,” kata
ayahnya, “aku harap kau tidak menemui persoalan-persoalan yang sulit di kemudian
hari, seperti apa yang telah terjadi. Sebab segera semua orang di Panawijen akan
mendengar kabar, bahwa lamaran Buyut Panawijen telah diterima. Kita tinggal
memperhitungkan hari yang sebaik-baiknya untuk keperluanmu itu.”
Ken Dedes tidak menjawab.
Kepalanya masih ditundukkannya dalam-dalam. Namun ia berdoa, mudah-mudahan
semuanya segera selesai.
Ketika ayahnya
mengizinkannya pergi, Ken Dedes langsung berlari-lari ke bilik Mahisa Agni.
Dengan serta-merta ia mengguncang-guncang tubuh Agni yang sedang berbaring,
setelah dengan sekuat tenaga memeras diri dalam latihannya.
Betapa terkejutnya anak
muda itu. Segera ia bangkit bertanya, “Ada apa Ken Dedes?”
“Kakang,” berkata gadis
itu terbata-bata, namun wajahnya tampak betapa cerahnya, secerah bintang pagi,
“Ayah telah menerima lamaran dari Buyut Panawijen.”
“He?” Agni tersentak. Dan
warna merah tiba-tiba tebersit di wajah Ken Dedes. Ia menjadi malu kepada
kakaknya, dan malu kepada diri sendiri. Karena itu, kemudian ia terduduk di
samping Agni sambil menundukkan wajahnya.
Sesaat darah Agni
bergolak. Namun hanya sesaat. Kemudian terasa darahnya mendingin kembali. Dengan
tenang ia berkata, kata-kata yang sudah sewajarnya diucapkan oleh seorang kakak
kepada adiknya yang berbahagia, “Syukurlah, Ken Dedes. Wiraprana tidak
mengecewakan kita.”
Ken Dedes
mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan, “Aku berterima kasih
kepadamu, Kakang.”
“Bukankah sudah menjadi
kewajibanku Ken Dedes? Kau adalah adikku. Adalah menjadi kewajiban saudara tua
untuk mendengarkan tangis adiknya,” jawab Mahisa Agni, kemudian ia meneruskan,
“Kalau kau berbahagia adikku, aku pun berbahagia pula karenanya. Mudah-mudahan
Wiraprana dapat menempatkan diri, dan mudah-mudahan kau pun dapat menyesuaikan
dirimu pula.”
Di hari-hari berikutnya,
tampaklah betapa cerah wajah Ken Dedes. Ia kini tidak mengurung diri lagi di
dalam biliknya. Dengan rajin ia bekerja seperti dahulu, sebelum hatinya menjadi
murung. Mencuci pakaian, membersihkan halaman dan bekerja di dapur bersama-sama
gadis-gadis pembantunya.
Kini Ken Dedes tidak
pernah membuang waktunya dengan berbagai pekerjaan tak berarti. Setiap kali ia
sibuk membersihkan rumah dan biliknya. Seakan-akan besok pagilah perhelatan
perkawinannya akan diselenggarakan.
Mahisa Agni pun telah
berusaha sekuat-kuatnya untuk melupakan luka-luka yang pernah ada di hatinya.
Diusahakannya untuk berbuat seperti apa yang selalu dilakukan. Ke sawah,
mencangkul halaman, belumbang, tanaman-tanaman dan petak-petak di belakang
rumahnya.
Namun, sama sekali tak
pernah diketahuinya, bahwa setiap kali gurunya, mengawasinya diri sudut
sanggarnya sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Dengan pandangannya yang
penuh iba, kadang-kadang orang tua itu bergumam, “Kasihan kau, Anakku.
Mudah-mudahan kau mendapat karunia, kesabaran.”
Kabar tentang hubungan
yang telah diikat antara Wiraprana dan Ken Dedes itu pun segera tersebar di
segala sudut-sudut padukuhan Panawijen. Ramailah anak-anak muda membicarakannya.
Bunga di kaki Gunung Kawi itu kini akan dipetik orang. Sambil tertawa-tawa,
kawan-kawan Wiraprana selalu mengganggunya. Di rumah, di sawah di bendungan
bahkan di mana saja mereka bertemu.
“Mahisa Agni,” berkata
salah seorang dari mereka, “kenapa bukan aku yang kau ambil menjadi adikmu?”
Mahisa Agni tersenyum.
Betapa pedih luka di hatinya. Namun dijawabnya sambil tertawa, “Kau bukan
Wiraprana. Namun kau belum pernah berkelahi dengan Kuda Sempana.”
Yang mendengar jawaban
itu pun tertawa riuh. Sambil menunjuk wajah kawannya itu mereka bersorak, “Kalau
menjadi adik Mahisa Agni, dan Kuda Sempana itu datang kembali, apa katamu?”
“Lari,” jawabnya sambil
tertawa pula.
Wiraprana sendiri tak
pernah menyahut. Ia hanya tersenyum-senyum saja. Meskipun kadang-kadang ia
mengeluh atas gangguan kawan-kawannya, namun sebenarnya ia berbangga juga.
Tetapi sejak saat itu
Wiraprana tidak pernah lagi mengunjungi Mahisa Agni di rumah Empu Purwa. Ia
menjadi segan, dan adalah kurang baik apabila ia datang ke rumah itu, sebab Ken
Dedes berada di rumah itu pula. Bahkan Mahisa Agnilah yang selalu datang
kepadanya. Mahisa Agni sama sekali tidak mau mengubah hubungan yang telah
berlangsung bertahun-tahun. Mereka masih saja bergaul seperti biasa, ke sawah,
ke bendungan dan membersihkan parit bersama kawan mereka. Tak ada kesan apapun
dalam tingkah laku Mahisa Agni. Dan karena itu Wiraprana tidak pernah
mengetahuinya, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan sahabatnya itu.
Berita tentang hubungan
yang telah disetujui bersama antara Wiraprana dan Ken Dedes itu ternyata tidak
saja menggemparkan desanya sendiri, namun berita itu kemudian tersebar sampai
jauh di luar daerah pergaulan mereka. Lebih-lebih bagi mereka yang pernah
mengirimkan utusan untuk melamar gadis itu.
Berbagai tanggapan telah
tumbuh di dada anak-anak muda itu. Ada di antara mereka yang acuh tak acuh.
“Biarlah,” katanya di
dalam hati, “gadis di dunia ini tidak hanya seorang Ken Dedes saja.”
Namun ada juga yang
kemudian dengan sedihnya meratapi nasibnya. Mengurung diri di dalam biliknya.
Kerjanya siang dan malam menggurat-gurat rontal untuk menumpahkan kepedihan
hatinya. Berhelai-helai. Dan disimpannya rontal itu di bawah bantalnya.
Tetapi di antara mereka
ada juga yang mempunyai tanggapan lain pula. Ketika kabar itu sampai di
telinganya, maka seakan-akan telinganya itu terjilat api.
“Benarkah?” geramnya.
Tetapi kabar itu
benar-benar meyakinkannya, bahwa Ken Dedes telah menerima lamaran dari seorang
anak muda. Bukan dirinya. Sehingga akhirnya datanglah kepadanya, utusan Empu
Purwa, yang mengabarkan, bahwa dengan rendah hati dan permintaan maaf yang
sebesar-besarnya lamarannya tak dapat diterima.
Anak muda itu adalah
Mahendra. Putra sahabat Empu Purwa di Tumapel. Seorang anak muda yang tangkas
dan tanggon. Dengan wajah yang merah membara ia datang kepada ayahnya. Katanya,
“Ayah, Bukankah penolakan itu berarti penghinaan bagi keluarga kita?”
Ayahnya menggeleng lemah,
jawabnya, “Tidak, Anakku. Seharusnya kau sadari, seandainya datang dua tiga
lamaran. Apakah yang harus dilakukan oleh Empu Purwa itu, Tentu ada di antaranya
yang harus ditolak. Dan itu sama sekali bukan suatu penghinaan.”
“Ayah,” sahut Mahendra,
“kalau Ken Dedes itu menolak kami, tetapi ia kemudian menerima orang lain yang
lebih tinggi tingkat dan derajatnya, maka aku tak akan tersinggung karenanya.
Tetapi Ken Dedes itu telah menerima lamaran seorang anak muda yang bernama
Wiraprana yang menurut pendengaranku tidak lebih dari anak Buyut Panawijen.
Tidakkah itu suatu Penghinaan?”
Kembali ayahnya
menggeleng. Katanya, “Ken Dedes adalah gadis Panawijen. Anak itu adalah anak
muda Panawijen.”
Mahendra terdiam. Namun
hatinya masih berbicara terus. “Siapakah gerangan anak muda yang bernama
Wiraprana itu? Apakah ia seorang maha sakti tak ada bandingnya di seluruh daerah
Tumapel?”
Ayahnya melihat betapa
dendam menjalar di dada enaknya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Anaknya
adalah anak yang sukar dikendalikan. Tetapi ia tidak menyangka bahwa anak itu
tidak saja merasa terhina, dan mengumpatnya habis-habisan, namun anak itu
benar-benar berhasrat untuk menilai anak muda yang bernama Wiraprana.
Karena itu, maka pada
suatu malam, tanpa setahu ayahnya, Mahendra pergi meninggalkan rumahnya. Dengan
dikawani oleh dua orang saudara seperguruannya ia pergi ke Panawijen.
“Dengan tekad yang teguh.
Kita bertukar darah, Wiraprana!” gumamnya.
Mereka sampai ke
Panawijen menjelang senja berikutnya. Tetapi mereka tidak segera menciri rumah
Buyut Panawijen. Mereka menunggu sampai malam tiba. Di malam yang kelam, tak ada
orang yang akan mengganggu pertemuan itu.
Awan yang kelabu,
mengalir seperti lembaran-lembaran kapuk yang diterbangkan angin. Bintang satu
demi satu mulai menyala di langit yang biru.
Ketika seorang petani tua
berjalan pulang dari sawahnya, Mahendra menghentikannya dan berkata, “Kaki,
apakah Kaki kenal dengan Wiraprana?”
Petani tua itu
mengamat-amati ketiga anak muda itu dengan seksama, kemudian ia pun bertanya,
“Siapakah Angger bertiga?”
“Kami datang dari jauh,
Kami adalah sahabat-sahabat Wiraprana,” jawab Mahendra,
Orang tua itu
mengangguk-angguk, katanya, “Adakah yang Anakmas maksud itu putra Buyut
Panawijen?”
“Ya,” jawab Mahendra
pendek.
“Apakah Angger akan
menemuinya?”
“Ya.”
“Marilah, biarlah Anakmas
bertiga saya antarkan ke rumahnya.”
Mahendra menggeleng.
Jawabnya, “Tidak Kaki. Aku tidak akan datang ke rumahnya. Tolonglah sampaikan
kepadanya sahabatnya dari Tumapel menunggunya. Namanya Mahendra.”
Orang tua itu
memandangnya dengan heran. Maka bertanyalah orang tua itu, “Kenapa Anakmas tidak
mau datang ke rumahnya?”
“Tidak apa-apa,” jawab
Mahendra singkat, “kami menunggu di sini.”
Orang tua itu tidak
bertanya lagi. Diangguk-anggukkannya kepalanya sambil berkata, “Baiklah, nanti
aku sampaikan kepadanya.”
Meskipun demikian petani
tua itu pun tak habisnya berpikir, “Aneh, tamu yang datang sedemikian jauhnya,
tetapi tidak mau diantarkannya ke rumahnya.”
Namun petani tua itu
memenuhi pula permintaan ketiga anak-anak muda dari Tumapel itu. Ia tidak
langsung pulang ke rumahnya, tetapi diperlukannya singgah ke rumah Buyut
Panawijen. Di muka regol halaman dilihatnya Mahisa Agni. Karena itu orang tua
itu pun berkata, “Mahisa Agni, apakah Wiraprana ada di rumahnya?”
“Ada Kaki,” jawab Mahisa
Agni, “kita berjanji akan pergi ke sawah bersama. Dan aku sedang menunggunya.
Apakah Kaki akan menemuinya?”
“Oh. Tidak,” berkata
orang itu pula, “aku hanya ingin menyampaikan pesan untuknya. Nah, Katakanlah
kepadanya Agni. Tiga orang anak-anak muda dari Tumapel menunggunya di ujung
desa.”
“Tumapel?” bertanya
Mahisa Agni dengan herannya.
Orang tua itu mengangguk.
“Ya,” jawabnya, “namanya Mahendra.”
“Mahendra?” ulang Agni.
Dan dada Mahisa Agni ini menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar nama itu.
Mahendra, adalah salah sebuah nama yang pernah disebut-sebut oleh gurunya.
Karena itu segera ia menghubungkannya dengan Ken Dedes.
“Nah Agni,” berkata
petani tua itu, “bukankah kau sedang menunggu Wiraprana? Sampaikanlah pesan itu
kepadanya.”
“Baik. Baik kaki,” sahut
Agni terbata-bata. Sedang angan-angannya masih sibuk dengan anak muda yang
bernama Mahendra itu.
Sepeninggal petani tua
itu. Mahisa Agni sibuk berpikir, “Apakah keperluan Mahendra dengan Wiraprana?”
bertanya Mahisa Agni di dalam hatinya, “Ada dua kemungkinan.”
Pertanyaan itu dijawabnya
sendiri, “Mungkin Mahendra akan memberikan ucapan selamat kepada Wiraprana.
Tetapi ada kemungkinan lain. Anak muda itu membawa dendam yang membara di
hatinya.”
Namun anak muda yang
telah banyak mengenyam berbagai pengalaman itu, mempunyai firasat, bahwa
kemungkinan yang terakhirlah yang akan terjadi. Kalau anak-anak muda dari
Tumapel itu, bermaksud baik, maka mereka pasti akan datang ke rumah ini.
“Bagaimanapun juga,
Wiraprana harus berhati-hati,” desisnya.
Dalam pada itu Wiraprana
pun telah turun dari pendapa rumahnya. Dengan senyumnya yang selalu memancar di
wajahnya, ia berjalan seenaknya melintasi halaman rumahnya.
“Apakah kau tidak singgah
dahulu,” bertanya Wiraprana.
Agni menggeleng.
Jawabnya, “Nanti, apabila pekerjaan kita sudah selesai.”
“Baiklah,” jawab
Wiraprana, “marilah kita pergi.”
“Tetapi Wiraprana,”
berkata Agni kemudian, “seseorang memberikan pesan untukmu. Tiga anak-anak muda
dari Tumapel.”
“Dari Tumapel?” bertanya
Wiraprana sambil mengangkat alisnya, “Apakah keperluannya?”
“Tak disebutkan,” jawab
Mahisa Agni, “mereka menunggu di ujung desa.”
Wiraprana berpikir
sejenak. “Aneh,” gumamnya.
“Kenalkah kau dengan anak
muda yang bernama Mahendra?” bertanya Agni.
Wiraprana menggeleng.
“Mahendra adalah salah
seorang yang pernah melamar Ken Dedes pula,” berkata Agni seterusnya.
“Oh,” desis Wiraprana,
“lalu apakah keperluannya dengan aku? Bukankah aku tidak mempunyai persoalan
dengan anak itu?”
“Demikianlah Wiraprana,”
sahut Mahisa Agni, “tetapi tidak semua orang berpikir seperti itu. Mungkin ia
mempunyai tanggapan tersendiri. Karena itu, berhati-hatilah.”
Wiraprana
mengangguk-anggukkan kepalanya. Direnunginya malam yang gelap seakan-akan ada
yang sedang dicarinya. Kemudian terdengar ia berkata,” Baiklah aku menemuinya
Agni. Aku tak pernah merasa membuat persoalan dengan siapa pun. Karena itu, di
antara aku dan anak muda itu pun tak pernah terdapat persoalan apa-apa.”
Tiba-tiba Mahisa Agni pun
teringat, apa yang pernah dilakukan pada malam ia mendengar pengakuan Ken Dedes
terhadap emban tua yang ternyata adalah ibunya. Karena itu ia menjadi
berdebar-debar. Tidak mustahil bahwa orang lain pun akan berbuat serupa itu.
Bahkan diingatnya pula anak muda yang bernama Kuda Sempana. Apakah salah seorang
dari ketiga anak muda itu Kuda Sempana?
“Ah,” bantahnya sendiri,
“pasti bukan. Kalau demikian anak itu pasti sudah dikenal.”
Karena itu, maka
tiba-tiba ia berkata, “Wiraprana, aku akan ikut dengan kau.”
Wiraprana mengangkat
alisnya. Katanya, “Apakah kehadiranmu tidak akan mengganggu pertemuan itu?”
“Mungkin Wiraprana, namun
mungkin pula tidak. Bukankah mereka datang bertiga?” jawab Agni.
Wiraprana berpikir
sejenak. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Kita pergi bersama-sama.”
Maka pergilah mereka
berdua ke ujung desa. Dengan hati yang dirisaukan oleh berbagai pertanyaan
Mahisa Agni berjalan di samping Wiraprana. Namun ia hampir pasti, bahwa
pertemuan ini bukanlah pertemuan yang menyenangkan.
“Apakah sangkamu maksud
kedatangan anak-anak muda itu Agni,” bertanya Wiraprana.
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Jauh di relung hatinya terdengar sebuah suara yang sumbang,
“Biarkanlah Agni. Biarlah Wiraprana menyelesakan masalahnya sendiri. Biarlah ia
mengetahui, bahwa seorang istri itu memerlukan perlindungannya. Apakah ia akan
mampu melakukan? Apalagi seorang istri seperti Ken Dedes yang telah menggerakkan
hampir setiap hati anak-anak muda di lereng Gunung Kawi ini. Biarlah ia belajar
untuk tidak mengenyam nangkanya saja, tetapi juga berlumur getahnya. Kalau
karena pertemuan ini Wiraprana ditelan oleh bencana, syukurlah. Pintu untukmu
terbuka kembali.”
Suara itu terdengar
melengking berulang-ulang, meskipun perlahan-lahan. Karena itulah maka wajah
Mahisa Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya keras-keras
sambil bergumam, “Tidak, Tidak.”
“Apa yang tidak?”
bertanya Wiraprana.
“Oh?” Mahisa Agni
tersadar. Jawabnya, “Aku sedang berpikir tentang mereka bertiga.”
“Ya. Lalu apakah yang
akan mereka lakukan?”
“Aku tak dapat menebaknya
dengan pasti Prana. Tetapi firasatku mengatakan, bahwa kau harus berhati-hati.”
Wiraprana tersenyum,
“Kita adalah manusia-manusia yang beradab. Yang memiliki tata pergaulan dalam
hubungan kita antara manusia. Karena itu seandainya ada persoalan antara aku dan
Mahendra itu, maka tidak perlu kita risaukan. Kita akan dapat menyelesaikannya
dengan baik.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Apabila setiap orang berpikir seperti
kau Prana, aku sangka dunia ini akan lekas mengenyam perdamaian yang dirindukan
oleh hampir setiap manusia. Tetapi orang lain ternyata berpendapat lain.
Kadang-kadang orang ingin menyelesaikan persoalan tanpa memikirkan kepentingan
orang lain. Seseorang mengulurkan tangan kanannya untuk bersahabat, namun di
tangan kirinya digenggamnya senjata sambil berkata, ‘Marilah kita selesaikan
persoalan kita dengan baik. Dan marilah kau turuti saja sekehendakku. Dengan
demikian tak ada masalah lagi di antara kita’.”
Wiraprana menundukkan
wajahnya. Seakan-akan ia sedang menghitung jumlah batu-batu yang dilampaui
kakinya. Sedang terdengar Mahisa Agni berkata terus, “Ternyata Wiraprana, kau
pernah bertemu dengan anak muda yang bernama Kuda Sempana.”
Wiraprana menganggukkan
kepalanya. Meskipun demikian ia masih bergumam di dalam hatinya, “Ah. Apapun
yang akan dilakukan, apabila aku tak melayaninya, aku sangka tak akan timbul
peristiwa yang tak diinginkan.”
Kemudian mereka berdua
itu pun saling berdiam diri. Mereka berjalan sambil berangan-angan.
Masing-masing diliputi oleh berbagai pertanyaan yang melingkar-lingkar di
dadanya.
Ketika mereka sampai di
ujung desa, hati Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar. Ditatapnya jalan yang
menjelujur di hadapannya. Dan hatinya kemudian berdesir ketika dilihatnya tiga
anak muda sedang duduk dengan tenangnya di tanggul parit di tepi jalan. Di
samping mereka, kuda-kuda mereka terikat pada batang-batang perdu liar yang
tumbuh di atas tanggul.
Tiba-tiba saja Mahisa
Agni menggamit, Wiraprana, sehingga mereka berdua itu pun berhenti.
“Mengapa,” bertanya
Wiraprana.
“Jangan terlampau
tergesa-gesa. Tak ada gunanya. Waktumu masih panjang,” jawab Agni.
Sementara itu, Mahendra
pun telah melihat kehadiran mereka. Karena itu, maka serentak mereka bertiga
berdiri, berjajar tegak dengan kaki renggang.
Mahisa Agni menarik
nafas. Sikap itu tidak menyenangkannya. Kenapa mereka bertiga segera bersikap
demikian, seakan-akan mereka sedang menanti lawan-lawan mereka yang sudah
bertahun-tahun dilumuri dendam.
Karena itu Mahisa Agni
berbisik, “Wiraprana, sambutan mereka benar-benar tidak menyenangkan. Karena itu
sekali lagi, hati-hatilah.”
Wiraprana
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun hatinya berkata, “Apa saja yang akan
mereka lakukan. Aku harus bersikap baik.”
Selangkah demi selangkah
Wiraprana dan Mahisa Agni pun berjalan maju. Dan ketiga anak muda itu kini telah
berdiri benar-benar di tengah jalan, seakan-akan mereka ingin menutup jalan itu,
supaya Wiraprana tidak lewat melampauinya.
Tiba-tiba mereka
mendengar salah seorang dari anak muda itu bertanya, “Adakah di antara kalian
bernama Wiraprana.”
“Hem,” Agni menarik
nafas, “jarak mereka masih cukup jauh. Kenapa anak muda itu ber-teriak-teriak?”
Tetapi Wiraprana itu pun
menjawab juga, “Ya, akulah Wiraprana.”
“Bagus,” sahut suara itu,
“aku adalah Mahendra. Ternyata kau jantan juga.”
“Oh,” desah Mahisa Agni.
Kemudian ia berbisik, “Sambutan yang benar-benar menyenangkan.”
Wiraprana menggigit
bibirnya. Kemudian gumamnya, “Aku tidak peduli, apa yang akan dilakukan . Aku
harus menemuinya.”
Namun Mahisa Agni pun
sekali lagi menggamitnya. Dan ketika mereka berhenti, mereka tiba-tiba terkejut.
Mahendra telah mulai menggertak dengan gerakan yang mengagumkan. Sekali ia
meloncat, dan diraihnya sebuah cabang pohon cangkring yang tegak di tepi jalan.
Dengan satu renggutan, cabang itu patah berderak-derak. Kemudian dengan
lantangnya ia berkata, “Aku telah mendapat senjata, apa senjatamu?”
Mahisa Agni dan Wiraprana
masih tegak di tempatnya. Dada mereka pun menjadi berdebar-debar karenanya. Maka
bisik Mahisa Agni, “Apakah mereka dapat diajak berbicara?”
“Apakah sebenarnya yang
mereka kehendaki,” gumam Wiraprana.
“Perkelahian,” sahut
Mahisa Agni.
“Hem,” Wiraprana menarik
nafas, “Akan aku coba untuk menghindarkannya.”
“Tak mungkin,” jawab
Agni, “kau lihat sendiri, apa yang telah dilakukannya.”
“Mengagumkan,” desahnya,
“setan manakah yang telah memberinya kekuatan.”
Sejenak mereka berdiam
diri. Wiraprana pun menjadi bimbang. Kekuatan yang ditunjukkan Mahendra
benar-benar mengejutkan. Anak muda itu tidak kalah berbahayanya dari Kuda
Sempana. Tetapi kini ia tidak dapat menggantungkan diri kepada orang lain. Ken
Dedes adalah tanggung jawabnya. Apapun yang terjadi, namun tidak sepantasnya ia
bergantung kepada Mahisa Agni seperti pada saat ia di lumpuhkan oleh Kuda
Sempana. Namun meskipun demikian Wiraprana masih berpikir, “Tidakkah aku dapat
menemuinya dan berbicara dengan baik?”
Wiraprana terkejut ketika
dengan lantang Mahendra itu berkata, “Siapakah di antara kalian yang bernama
Wiraprana. Marilah kita berkenalan. Inilah Mahendra yang sudah kau hinakan.
Apakah benar-benar kau berhak berbuat demikian.”
Sekali lagi dada
Wiraprana berguncang. Namun ia tidak dapat berbuat lain daripada menyambutnya.
Sedang Mahisa Agni masih
berdiri seperti patung. Dengan melihat kekuatan Mahendra, maka Mahisa Agni
segera dapat mengetahuinya, bahwa Mahendra adalah seorang yang luar biasa.
Bahkan mungkin melampaui Kuda Sempana. Namun dalam pada itu, suara di relung
hatinya yang jauh, kembali terdengar mengganggunya, “Biarkan saja Agni,
biarlah.”
Di depan mereka kembali
terdengar Mahendra bertanya, “Ayo, yang manakah yang bernama Wiraprana?”
Hampir saja Wiraprana
melangkah maju dan menjawab pertanyaan itu. Tetapi ia terkejut bukan kepalang.
Bahkan ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang
dirasakannya, adalah tangan Mahisa Agni menahannya, kemudian mendorongnya ke
samping. Kemudian sahabatnya itulah yang melangkah maju sambil menjawab lantang,
“Inilah Wiraprana.”
“Ha,” sahut Mahendra,
“ternyata kau benar-benar jantan. Majulah. Kita melihat, apakah benar-benar kau
berhak menghinakan Mahendra. Kalau kau berhasrat meniadakan hadirnya Mahendra
dalam kehidupan Ken Dedes, maka seharusnya kau berkenalan dengan orang itu. Nah.
jangan buang-buang waktu. Apakah senjatamu?”
“Oh. Apakah aku harus
bersenjata? Aku tak tahu, apakah gunanya senjata. Bukankah kita tidak
memerlukannya. Mahendra, aku ingin mempersilakan kau datang ke rumahku. Bukankah
perkenalan itu menjadi lebih akrab.”
Meskipun Mahisa Agni
hampir yakin, bahwa Mahendra tidak dapat diajaknya berbicara, namun ia
mencobanya juga, seperti apa yang akan dilakukan oleh Wiraprana, supaya anak itu
menyalahkannya kelak.
Tetapi ternyata, Mahendra
yang sejak dari rumahnya sudah dibekali oleh hasrat untuk berkelahi dan
memamerkan kelebihannya dari anak-anak muda sebayanya, tak mau mendengarkannya.
Yang ada di dalam dadanya adalah, memaksa Wiraprana untuk membatalkan niatnya,
memetik bunga di kaki Gunung Kawi itu.
Karena itu, ketika ia
mendengar jawaban Mahisa Agni, ia menyahut, “Wiraprana, aku datang dari Tumapel
untuk melihat, betapa anak Panawijen mampu menjaga kembang di halamannya. Ayo,
jangan merengek seperti anak-anak. Aku sudah siap dengan dahan ini.”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Sekali ia berpaling kepada Wiraprana, seakan-akan berkata, “Nah, kau
lihat? Orang itu benar-benar tidak dapat diajak berbicara.”
Wiraprana masih tegak
mematung. Berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Tetapi ia tidak dapat
melangkah surut. Namun Agni itu pun telah melangkah pula beberapa langkah maju.
Katanya untuk meyakinkan dirinya sendiri dan Wiraprana, “ Mahendra, aku hormati
kedatanganmu. Seorang yang berhati jantan dan penuh dengan rasa harga diri.
Namun perkelahian tak akan dapat mengubah hati seseorang. Apakah kalau kau
memenangkan perkelahian ini dengan tiba-tiba saja hati gadis itu tertarik
kepadamu?”
“Ha,” sahut Mahendra,
“ternyata aku salah sangka. Aku kira kau adalah seorang laki-laki jantan.
Ternyata kau seorang banci yang tak tahu diri. Wiraprana, seorang gadis pun
pasti akan dapat menghargai kejantanan. Nilai seseorang juga dapat ditentukan
dengan nilai-nilainya sebagai seorang laki-laki.”
“Mahendra,” jawab Agni,
“nilai-nilai kemanusiaan pasti akan lebih tinggi dari setiap bentuk perbuatan
kita. Ingatlah, gadis itu adalah putri seorang pendeta? Apakah ia akan dapat
menghargai kekasaran dan kekerasan jiwa, betapa pun dapat dikatakan sebagai
sikap kejantanan?”
“Omong kosong!” bantah
Mahendra, “kau jangan menggurui aku. Jangan kita bicarakan lagi perasaan orang
lain. Marilah kita bicarakan nilai-nilai kita sendiri. Ayo, Wiraprana,
katakanlah bahwa kita akan bertaruh. Siapa yang kalah, harus melepaskan niatnya
untuk mendapatkan gadis itu.”
Tiba-tiba dada Agni itu
seperti terbakar mendengar kata-kata Mahendra, Ken Dedes seakan-akan dianggapnya
sebagai benda yang mati, yang hanya dapat dijadikan barang taruhan. Dan
tiba-tiba pula, Mahisa Agni lupa pada keadaannya. Seakan-akan dirinya sendirilah
yang kini sedang mempertahankan gadis yang dicintainya itu dari kerakusan hati
seorang laki-laki. Karena itu, maka gigi Mahisa Agni terkatup rapat, dan matanya
memancarkan sinar kemarahan yang membakar jantung. Ketika ia melihat Mahendra
itu melangkah maju. Agni pun maju pula beberapa langkah sambil menggeram,
“Mahendra. Jangan kau hinakan gadis itu. Ken Dedes bukan sekedar barang taruhan.
Nilainya sama dengan nilai nyawaku sendiri.”
Dada Mahendra berdesir
mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Ternyata laki-laki yang disangkanya
Wiraprana itu benar-benar jantan. Dilihatnya Mahisa Agni telah benar-benar
bersiap untuk bertempur. “Pasti ia akan bertempur mati-matian,” berkata Mahendra
di dalam hatinya. Tetapi ia sendiri sudah lama bersiap. Sejak ia berangkat dari
Tumapel, telah bulat tekad di dalam dadanya. Bertempur.
“Apakah yang dapat
dilakukan oleh anak-anak desa seperti Wiraprana itu,” pikirnya, “Ia hanya
memiliki keberanian, tetapi ia tidak akan mampu melihat, bahwa Mahendra adalah
seorang anak muda yang tidak saja memiliki kekuatan tubuh, namun memiliki pula
pengetahuan yang luas dalam tata perkelahian.”
Maka terdengar sekali
lagi Mahendra berkata, “Ayo,Wiraprana, mana senjatamu?”
Agni menggeleng.
Sahutnya, “Tak ada gunanya senjata bagiku.”
Dada Mahendra menggelegar
mendengar jawaban itu. Benar-benar suatu penghinaan. Anak desa Panawijen itu
begitu sombongnya sehingga dengan beraninya ia melawannya tanpa senjata. Karena
itu Mahendra pun berteriak pula, “Baik. Kau takut melihat senjata.”
Dan terkejutlah mereka
yang menyaksikan. Dahan kayu cangkring itu dengan serta-merta ditekankannya pada
lututnya dan patah berderak-derak. Kemudian kedua potongan itu pun
dilemparkannya jauh-jauh. Demikian jauhnya sehingga mereka tidak dapat melihat
lagi, di mana kedua potongan kayu itu terjatuh. Benda-benda itu seakan-akan
terbang dan lenyap ditelan awan yang kelam.
Wiraprana melihat
semuanya itu dengan dada yang berdebar-debar. Sebuah pameran kekuatan yang
mengerikan. Dan kini ia merasakan kebenaran kata-kata Mahisa Agni. Laki-laki
yang sedang dibakar oleh kekecewaan yang berlebih-lebihan itu tak dapat
diajaknya berbicara.
Mahendra dan Mahisa Agni
itu pun kini telah maju pula beberapa langkah. Dengan dada yang bergelora oleh
kemarahan yang membakar dada masing-masing, mereka mempersiapkan diri.
Kedua orang saudara
seperguruan Mahendra pun kini telah berdiri berseberangan. Mereka memperhatikan
keadaan dengan seksama. Sedang Wiraprana pun telah berdiri mendekat. Seperti
tonggak ia tegak di tengah-tengah jalan.
“Nah,” berkata Mahendra,
“berjanjilah. Siapakah yang kalah di antara kita, akan membatalkan niatnya.”
“Persetan dengan igauan
itu!” sahut Agni dengan marah.
“Kau menolak perjanjian
itu?”
“Sudah aku katakan, Ken
Dedes bukan barang taruhan.”
“Bagus, kalau demikian
nyawa kita yang kita pertaruhkan.”
“Mahendra!” tiba-tiba
terdengar salah seorang saudara seperguruan itu mencegahnya, “Jangan!”
Tetapi Mahendra tidak
mendengarnya. Apalagi ketika kemudian Agni pun menjawab, “Bagus. Lebih baik
nyawa kita, kita pertaruhkan.”
Mahendra telah
benar-benar kehilangan pengamatan diri. Demikian ia mendengar jawaban Mahisa
Agni, segera ia melontarkan diri dengan cepatnya menyerang lawannya. Namun
Mahisa Agni pun telah bersiap pula.
Karena itu, dengan
tangkasnya pula ia berhasil membebaskan dirinya dari serangan itu. Namun
Mahendra yang sedang dibakar oleh kemarahannya, segera melepaskan serangan
beruntun. Geraknya sedemikian cepat dan lincah, dilambari oleh suatu keyakinan,
bahwa tulang-tulang lawarnya, anak desa Panawijen yang disangkanya hanya
mengenal cangkul dan bajak itu, akan segera dipatahkannya.
Tetapi Mahendra terkejut.
Betapa anak desa itu dengan kecepatan yang mengagumkan, selalu berhasil
mengelakkan serangan-serangannya. Karena itu, Mahendra menjadi semakin marah.
Dilepaskannya serangan-serangan yang semakin berbahaya, menyambar-nyambar ke
segenap bagian tubuh Mahisa Agni. Sehingga sesaat kemudian Mahendra itu pun
seakan-akan tinggal sebuah bayang-bayang yang melontar melingkar-lingkar dengan
cepatnya.
Tetapi lawannya adalah
Mahisa Agni, Seorang anak muda yang hampir sempurna dalam menekuni ilmu yang
mengalir dari gurunya, Empu Purwa. Karena itu, betapapun juga, Mahisa Agni
menghadapinya dengan ketabahan dan ketenangan. Lawannya yang melandanya seperti
angin pusaran itu tidak berhasil membingungkannya. Bahkan, Mahisa Agni semakin
lama menjadi semakin tangguh. Setangguh seekor banteng muda yang perkasa.
Demikianlah kedua anak
muda itu bertempur semakin lama semakin sengit. Mahendra adalah seorang anak
muda yang berhati keras dan memiliki harga diri yang berlebih-lebihan. Namun
setelah ia bertempur beberapa saat, terasa bahwa lawannya, anak desa Panawijen
itu bukan sekadar anak-anak yang hanya mampu menggerakkan cangkul saja, tetapi
anak itu ternyata memiliki bekal yang cukup untuk melawannya. Karena itu,
kemarahan Mahendra menjadi semakin menyala.
“Gila!” umpatnya di dalam
hati, “anak ini benar-benar melawan dengan kemampuan yang baik.”
Tetapi Mahendra telah
bertekad untuk bertempur mati-matian. Telah dibulatkannya tekad di dalam
hatinya. Anak Panawijen itu harus dilumpuhkannya, Apabila terpaksa anak itu
terbunuh karenanya, maka beberapa saksi telah mendengar, adalah menjadi
persetujuan mereka berdua, bertempur sampai mati.
Itulah sebabnya Mahendra
kemudian mengerahkan segala kemampuan yang ada padanya, apapun yang akan terjadi
dengan lawannya. Apakah lawannya itu akan hancur lumat, atau akan luluh sekali
pun.
Tetapi kedua saudara
seperguruan Mahendra itu melihat suatu keanehan pada lawan Mahendra itu.
Betapapun Mahendra menyerangnya, namun lawannya itu selalu dapat menghindarkan
dirinya, dan bahkan semakin lama tampaklah betapa anak Panawijen itu dapat
bergerak semakin cepat. Mahisa Agni ternyata kemudian tidak membiarkan dirinya
dihujani oleh serangan-serangan beruntun. Ketika ia telah berhasil melihat,
titik-titik kekuatan dan titik-titik kelemahan lawannya, segera ia mulai dengan
serangan-serangannya yang membadai. Kini keduanya bertempur dengan riuhnya.
Semakin lama semakin seru. Mahendra akhirnya merasa perlu untuk menunjukkan
kekuatan-kekuatan tubuhnya, sehingga dengan sengaja ia membenturkan kekuatannya
dengan serangan Mahisa Agni yang datang seperti tatit menyambarnya.
Mahisa Agni, yang sedang
menyerang lawannya itu melihat, bahwa Mahendra sama sekali tak berusaha
menghindari serangannya. Karena itu, segera Mahisa Agni tahu, bahwa anak muda
dari Tumapel itu siap melawan serangannya dengan kekuatannya yang penuh. Maka
Mahisa Agni pun segera memusatkan tenaganya untuk menggempur lawannya.
Terjadilah kemudian suatu
benturan kekuatan yang dahsyat. Sedang akibatnya pun mengejutkan pula. Mahisa
Agni terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah ia mempertahankan
keseimbangan tubuhnya, sehingga ia tidak terpelanting jatuh. Sedang akibat yang
dialami oleh Mahendra ternyata lebih berat daripadanya. Anak muda itu terlempar
beberapa langkah, dan kemudian terbanting di tanggul parit di tepi jalan. Ketika
Mahendra mencoba untuk melenting berdiri, kaki kirinya terperosok dan
tergelincir masuk ke dalam air.
Sesaat kemudian Mahendra
telah tegak berdiri di dalam parit dengan pakaian yang basah kuyup. Tubuhnya
yang kokoh itu menggigil. Bukan karena kedinginan, tetapi karena kemarahan yang
meluap di dalam dadanya.
Maka terdengarlah anak
muda itu menggeram, “Dahsyat kau Wiraprana. Namun aku telah berjanji, nyawa kita
menjadi taruhan. Nah, marilah kita mengadu keprigelan olah senjata.”
Mahisa Agni tidak segera
menjawab. Ia maju selangkah ketika dilihatnya Mahendra dengan lincahnya meloncat
ke atas tanggul di tepi jalan. Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika dilihatnya
Mahendra menggenggam senjata di tangannya. Sebilah keris yang seakan-akan dapat
menyala di malam hari.
Ketika Agni masih berdiam
diri, terdengar sekali lagi Mahendra menggeram, “Carilah senjata!”
Mahisa Agni tidak membawa
senjata. Tetapi menilik nafsu lawannya yang meluap-luap agaknya ia benar-benar
harus bertempur mati-matian.
Belum lagi Mahisa Agni
tahu, apa yang dilakukan, tiba-tiba Mahendra meloncat dengan tangkasnya ke arah
salah seorang temannya, dan terdengarlah ia berkata lantang, “Berikan kerismu!”
Kawannya terkejut. Sama
sekali tak diduganya, Mahendra akan menarik kerisnya dengan serta-merta. Karena
itu ia tidak dapat mencegahnya, sehingga dengan demikian di kedua sisi tangan
Mahendra tergenggam dua bilah keris.
“Wiraprana,” berkata
Mahendra, “pilihlah, manakah yang kau sukai?”
Mahisa Agni menggeleng.
Katanya, “Aku tidak pandai memilih.”
“Jangan merajuk,” sahut
Mahendra, “sebelum kau terbunuh, aku beri kesempatan kau berbuat yang sama.
Supaya perkelahian ini adil dan jujur.”
Mahisa Agni memandang
kedua senjata itu dengan seksama. Keduanya adalah senjata-senjata yang baik.
Karena itu maka dijawabnya, “Kalau kau ingin bertempur dengan senjata, Mahendra.
Berikan kepadaku, mana yang tidak kau sukai.”
Kemarahan Mahendra
menjadi semakin memuncak. Dengan wajah yang menyala ia berkata, “Bagus. Inilah!”
Dengan baiknya Mahendra
melemparkan keris di tangan kirinya kepada Mahisa Agni. Senjata itu meluncur
cepat, dan dengan baiknya pula Mahisa Agni berhasil menangkapnya.
Demikian tangan Agni
menggenggam keris itu, demikian ia mendengar Mahendra berkata lantang, “Kita
tentukan nasib kita sebelum fajar.”
Mahisa Agni tidak
menjawab. Dipandangnya lawannya dengan tajamnya. Dilihatnya setiap geraknya dan
didengarnya setiap kata-katanya. Anak itu benar-benar anak yang memiliki
keteguhan hati, namun sayang, agaknya ia masih terlalu muda. Terlalu muda dalam
menanggapi setiap persoalan meskipun umurnya sebaya dengan umurnya sendiri.
Mahisa Agni melihat
Mahendra telah siap untuk menyerangnya. Karena itu ia pun segera bersiap pula.
Sesaat kemudian dilihatnya anak muda dari Tumapel itu meluncur menyerangnya,
langsung mengarah ke dadanya. Dengan tangkasnya Mahisa Agni mengelakkan serangan
itu. Tangannya sendiri pun mampu mempermainkan segala jenis senjata. Maka keris
di tangannya itu pun menjadi sangat berbahaya karenanya.
Kembali perkelahian itu
menjadi sengit. Kira mereka sudah sampai ke puncak ilmu masing-masing. Mereka
menyerang dalam setiap kesempatan. Setiap gerak masing-masing benar-benar
diperhitungkan, sehingga setiap gerak tangan mereka seakan-akan mereka
menaburkan biji kematian.
Malam pun semakin lama
menjadi semakin dalam membenam dalam tambah banyak. Namun mereka berdua yang
sedang bertempur itu masih saja bertempur dengan sepenuh tenaga.
Tetapi semakin lama,
betapapun Mahendra memiliki kekuatan melampaui kekuatan tangan sesamanya serta
ketangkasannya olah senjata, namun kini ia bertemu dengan anak muda yang sama
sekali tak diduganya. Anak muda yang disangkanya hanya mampu mengayunkan cangkul
itu ternyata memiliki ketangguhan dan kelincahan yang luar biasa.
Demikianlah Mahendra
harus melihat kenyataan. Keris di tangan Mahisa Agni itu seakan-akan mematuknya
dari segenap penjuru. Bahkan seakan-akan menjadi bersayap dan
menyambar-nyambarnya dengan dahsyatnya. Mahisa Agni tidak saja menyerang dengan
tangan kanannya, namun keris itu seperti meloncat-loncat dari satu tangan ke
tangan lainnya dan dengan cepatnya pula meluncur ke perut lawannya.
Dengan demikian maka mau
tidak mau Mahendra lebih banyak bertahan daripada menyerang. Setiap kali ia
terpaksa melangkah surut, menghindari sentuhan keris kawannya di tangan Mahisa
Agni. Karena ia pun menyadarinya, sentuhan keris itu pasti akan berakibat maut,
seperti seandainya ia berhasil menyentuh tubuh lawannya. Namun karena keduanya
harus berhati-hati dan menghindari setiap sentuhan, maka perkelahian itu
seakan-akan tidak akan berakhir. Seperti anak-anak yang asyik dengan permainan
yang menyenangkan sehingga mereka lupa segala-galanya.
Tetapi semakin lama,
menjadi semakin jelas, bahwa perkelahian itu akan menuju ke akhirnya. Ternyata
semakin lama Mahendra semakin terdesak. Mahisa Agni seolah-olah menyimpan nafas
rangkap di dadanya, sehingga ketika lawannya telah mulai diganggu oleh
pernafasannya, maka Agni pun masih tetap segar sesegar ketika mereka baru mulai.
Mahendra yang mencoba
untuk bertahan mati-matian itu, benar-benar telah memeras tenaganya, sehingga
segenap kekuatannya telah dicurahkannya. Dengan demikian, maka tenaganya itu pun
lebih dahulu surut daripada Mahisa Agni. Meskipun demikian, Mahendra yang keras
hati itu masih saja bertempur mati-matian. Ia sudah bertekad mempertaruhkan
nyawanya. Dan akan diakhirinya perkelahian ini dengan jantan.
Tetapi Mahisa Agni pun
bertempur dengan seluruh kemampuannya. Sehingga anak muda itu benar-benar dapat
bergerak secepat sikatan menyambar belalang namun mampu pula bertahan setangguh
batu karang.
Maka akhirnya ternyatalah
bahwa Mahisa Agni mampu menguasai lawannya. Dengan suatu tusukan rendah, Agni
memaksa lawannya untuk menghindar ke samping, namun Agni kemudian memutar
kerisnya dan menyambar lambung. Mahendra melihat sambaran yang cepat itu.
Dihindarinya keris itu dengan memutar tubuhnya, dan ketika Agni belum sempat
menarik tangannya, Mahendra berusaha menggurat pergelangan tangan Agni dengan
ujung kerisnya. Tetapi Agni dapat bergerak melampaui lawannya, sehingga
tangannya dapat dibebaskannya, bahwa dengan tak terduga-duga, tangan kiri Agni
dengan cepatnya menyambar pergelangan tangan Mahendra.
Sambaran tangan itu
demikian cepat dan kerasnya, sehingga Mahendra tidak sempat mengelakkannya.
Terdengarlah sebuah seruan tertahan dan dalam pada itu semua mata yang mengikuti
perkelahian itu melihat dengan dada yang gemuruh. Keris Mahendra terlepas dari
tangannya. Mahendra sendiri terkejut bukan buatan, sehingga ia melangkah surut.
Namun Agni segera meloncat dan ujung kerisnya telah melekat di dada lawannya.
Kini keduanya tegak
dengan tegangnya. Mahendra menunggu apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni.
Sedang saudara-saudara seperguruannya pun tegak seperti patung. Demikian pula
Wiraprana. Perasaannya telah bergelora dan seakan-akan menjadi sedemikian
kacaunya, sehingga ia tidak mampu untuk melakukan sesuatu apapun.
Mahisa Agni berdiri tegak
dengan keris di dalam genggamannya. Ujungnya masih mengarah ke dada lawannya.
“Apa yang kau tunggu,”
geram Mahendra. Meskipun ia tidak bergerak, namun matanya menyalakan kemarahan
yang membakar dadanya.
Tetapi Mahisa Agni tetap
tidak bergerak. Ketika ia memandang wajah Mahendra yang membara itu, seakan-akan
dilihatnyalah wajahnya sendiri pada saat ia mendengar pengakuan Ken Dedes kepada
ibunya.
“Hem,” Mahisa Agni
menarik nafas dalam-dalam. Perasaan itu sangat mengganggunya. Karena itu maka
kemarahannya pun menjadi semakin susut. Ia akan dapat melakukan apa saja yang
dikehendaki atas anak muda yang bernama Mahendra itu. Tetapi apakah akan
dilakukannya?
Sesaat Mahisa Agni
terbenam dalam kebimbangan. Dan sesaat itu dilihat oleh Mahendra. Mahendra
adalah seorang anak muda yang keras hati. Karena itu, ketika dilihatnya wajah
Agni yang ragu, Mahendra dapat mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Dengan
tidak disangka-sangka oleh Mahisa Agni. Mahendra dengan cepatnya merendahkan
dirinya, dan dengan satu tendangan yang keras pada pergelangan tangan Agni, maka
Mahendra telah berhasil melemparkan keris di tangan lawannya.
Mahisa Agni terkejut
bukan main. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hal itu akan dilakukan oleh
Mahendra. Karena itu maka ia tidak kuasa untuk mempertahankan kerisnya.
Dilihatnya keris itu melambung tinggi dan kemudian jatuh beberapa langkah
daripadanya.
Tetapi Agni tidak sempat
berbuat lain, karena Mahendra telah mulai menyerangnya beruntun dengan kakinya.
Untunglah bahwa Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang terlatih matang.
Dengan demikian, meskipun dengan lontaran yang panjang ia berhasil membebaskan
dirinya dari serangan Mahendra yang mengalir seperti banjir bandang.
Mahisa Agni menjadi
semakin terkejut pada saat ia mendengar salah seorang kawan Mahendra itu berkata
nyaring, “Mahendra, inilah senjatamu!”
Mahisa Agni masih sempat
melihat anak muda itu meloncat dengan tangkasnya memungut keris Mahendra yang
terlepas, kemudian dilontarkannya kepada Mahendra. Dada Mahisa Agni berdesir
melihat kecurangan itu. Tetapi ia dikejutkan pula oleh kawan Mahendra yang
seorang lagi. Anak muda itu pun meloncat dengan lincahnya, lebih lincah dari
yang lain. Tangannya dengan cepatnya menyambar keris yang sedang meluncur ke
arah Mahendra itu. Ketika keris itu sudah ditangkapnya, terdengar ia berkata,
“Jangan Kebo Ijo!”
Semuanya terkejut melihat
peristiwa-peristiwa yang berturut-turut itu. Mahisa Agni, Mahendra dan anak muda
yang disebutnya Kebo Ijo dan Wiraprana. Anak muda yang menyambar keris itu
berdiri tegak di antara mereka sambil memandang berkeliling. Katanya, “Jangan
menodai nama perguruan kami.”
“Bukankah itu keris
Mahendra sendiri,” bantah Kebo Ijo.
“Keris itu sudah terlepas
dari tangannya. Biarlah ia memungut kerisnya sendiri apabila mampu.”
Mahendra memandang
saudara seperguruannya itu dengan penuh pertanyaan. Apakah sudah tidak ada rasa
kesetiakawanan lagi di antara mereka. Maka katanya, “Apakah salahnya ia menolong
aku?”
“Tidak adil,” sahut anak
muda itu, “akulah yang tertua di antara kalian. Aku tidak rela melihat
kecurangan itu. Meskipun aku bersedih karena Mahendra tidak dapat memenangkan
perkelahian ini, namun aku akan lebih bersedih lagi, apabila kalian berbuat
curang.”
Mahendra tidak menjawab
dan Kebo Ijo itu pun menundukkan wajahnya. Kemudian terdengar anak muda itu
berkata kembali, “Mahendra kau kalah.”
Mendengar kata-kata kakak
seperguruannya, yang seakan-akan merupakan keputusan tentang kekalahannya itu,
wajah Mahendra menjadi merah membara. Terdengar giginya gemeretak dan matanya
seakan-akan memancarkan api. Maka jawabnya, “Kakang, aku masih hidup. Kekalahan
bagiku hanya ditandai dengan kematian.”
Kakak seperguruannya itu
menarik alisnya, katanya, “Kau benar-benar seorang anak muda yang berani
Mahendra, yang tak mengenal takut meskipun menghadapi kematian sekali pun. Namun
keberanianmu itu belum sempurna. Kau masih memiliki ketakutan.”
“Tidak!” sahut Mahendra,
“Aku tidak takut apapun yang terjadi. Sudah aku katakan, mati pun aku tidak
takut. Apalagi? Apakah yang lebih jauh dari mati itu?”
Kakak seperguruannya
menarik nafas. Katanya, “Mahendra, kau masih takut melihat kenyataan.”
Mahendra tersentak
mendengar jawaban itu. Dipandanginya wajah kakak seperguruannya dengan tajamnya,
namun ketika kakak seperguruannya itu memandang langsung ke biji matanya, maka
Mahendra pun menundukkan wajahnya.
“Mahendra,” berkata
kakaknya itu pula, “seorang yang jantan tidak perlu membunuh dirinya dalam
perkelahian. Seorang yang berjiwa besar harus dapat melihat kenyataan. Dan
kenyataan yang terjadi sekarang, kau kalah. Apakah yang lebih jantan dari
melihat kenyataan itu? Adakah yang lebih besar dari mengakui kekalahan?
Mahendra, kaudapat bertempur mati-matian, bahkan sampai tetes darahmu yang
terakhir. Namun dalam persoalan yang berbeda. Persoalan di mana hakmu dilanggar
oleh sesama. Tetapi sekarang kau menghadapi persoalan yang lain. Hakmu dan hak
Wiraprana itu sama jauhnya. Bahkan secara jujur harus kauakui, bahwa hak
Wiraprana untuk berkelahi lebih besar dari padamu.”
Mahendra tidak menjawab.
Wajahnya yang membara itu pun menjadi semakin tunduk. Namun hatinya masih juga
bergelora. Sedang Kebo Ijo tidak begitu senang mendengar kata-kata kakak
tertuanya itu. Katanya, “Kakang, Mahendra datang lebih dahulu kepada gadis itu.
Apakah bukan haknya untuk mempertahankannya. Bukankah dengan demikian Wiraprana
telah merampas masa depannya?”
“Bukan salah Wiraprana,”
sahut kakak seperguruannya itu, “apakah Mahendra datang yang pertama kepada
gadis itu. Kalau ada orang lain yang lebih dahulu, apakah Mahendra tidak
melanggar haknya pula?”
Kebo Ijo terdiam. Namun
usianya yang muda itu masih belum dapat mengerti kata-kata kakak seperguruannya.
Bahkan dengan agak memaksa ia kemudian berkata, “Perkelahian ini belum selesai.
Wiraprana datang berdua. Biarlah kami berdua melawannya.”
“Bagus,” sambut Mahendra.
Kakak seperguruannya
ternyata seorang yang berpandangan tajam. Segera ia mengetahui, bahwa kawan anak
muda yang disangkanya bernama Wiraprana itu tidak memiliki kemampuan berkelahi
seperti Kebo Ijo dan Mahendra. Karena itu maka sekali lagi ia menyesal atas
sikap adik-adik seperguruannya itu. Maka katanya, “Tidak ada gunanya. Kawan
Wiraprana itu tak mempunyai sangkut paut dengan perkelahian ini.”
“Ada,” sahut Kebo Ijo,
“ia datang bersama Wiraprana, seperti aku datang bersama Mahendra. Meskipun tak
ada persoalan apapun dengan gadis itu, biarlah kita melihat, apakah perguruan
kami tidak mampu melawan anak-anak Panawijen yang sombong itu.”
Dada Wiraprana pun
berdebar-debar pula. Telah dilihatnya, betapa Mahendra mampu bertempur seperti
seekor harimau lapar. Maka saudara seperguruannya itu pun pasti tidak terpaut
jauh. Apabila ia harus melawannya, maka apakah yang dapat dilakukan? Namun
Wiraprana tidak takut menghadapi apapun, meskipun ia sadar, bahwa pada serangan
yang pertama, pasti ia sudah tidak akan dapat bangkit kembali.
Tetapi Wiraprana itu
terkejut mendengar jawaban saudara seperguruan Mahendra. Bukan saja Wiraprana,
tetap: Mahisa Agni, dan bahkan Mahendra dan Kebo Ijo sendiri. Katanya, “Kebo
Ijo, kalau kau akan memaksakan perkelahian, karena hanya kau ingin berkelahi,
maka baiklah kita hadapkan kalian berdua dengan Wiraprana berdua. Tetapi
Wiraprana berdua dengan aku sendiri.”
“Kakang?” potong Kebo
Ijo, “Apakah katamu itu?”
“Aku di pihak Wiraprana,”
sahut arak muda itu, “biarkan kawan Wiraprana menjadi saksi.”
Kebo Ijo dan Mahendra
terdiam. Betapa ia melihat kakak seperguruannya itu benar-benar marah kepada
mereka. Karena itu maka mereka pun menundukkan wajah-wajah mereka.
Dalam pada itu dada
Mahisa Agni pun bergelora melihat sikap yang mengagumkan itu. Sikap yang
benar-benar jantan. Tidak saja jantan dalam menghadapi bahaya apapun namun
kejantanan dalam menghadapi kebenaran. Diam-diam Mahisa Agni bergumam di dalam
hatinya, “Sebenarnyalah lebih mudah menghadapi kematian daripada menghadapi
kebenaran.”
Sesaat mereka dicengkam
kesepian. Kesepian yang tegang. Namun tiba-tiba terdengar kakak seperguruan
Mahendra itu berkata, “Marilah kita pulang! Persoalanmu sudah selesai Mahendra.”
Mahendra dan Kebo Ijo
saling berpandangan. Namun mereka tidak berkata apapun. Per lahan-lahan mereka
memungut keris yang masih tergeletak di tanah, dan kemudian berjalan ke
kuda-kuda mereka, dan kakak seperguruan Mahendra itu pun berkata kepada Mahisa
Agni, “Selamat tinggal. Mudah-mudahan kau berbahagia. Kembang di kaki gunung
Kawi itu telah mendapatkan juru taman yang tangguh dan berhati jantan. Selamat.”
Mahisa Agni melihat anak
muda itu pun kemudian berjalan meninggalkannya. Ketika mereka bertiga meloncat
ke atas punggung kuda masing-masing dan lenyap ditelan gelap malam, maka
gemuruhlah dada Mahisa Agni. Pesan kakak seperguruan Mahendra itu menghantam
dadanya melampaui tangan Mahendra. Kini ia sadar, bahwa apa yang dilakukan itu,
bukanlah untuk dirinya sendiri. Ia telah mempertahankan Ken Dedes dengan
bertaruh nyawa. Tetapi nama yang dipergunakannya adalah Wiraprana. Ya,
Wiraprana.
Tiba-tiba wajah Mahisa
Agni pun terkulai dengan lemahnya. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni terkejut
mendengar tegur Wiraprana, “Agni, sungguh mengagumkan.”
Perlahan-lahan Mahisa
Agni berpaling. Dilihatnya wajah Wiraprana yang tegang memandang jauh ke dalam
gelap, ke arah anak-anak muda dari Tumapel itu lenyap. Sesaat kemudian Wiraprana
itu menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Bukan main. Aku menjadi
bertanya-tanya di dalam hati, betapa kecilnya Wiraprana berada di antara kau dan
anak-anak itu.”
“Semuanya sudah lampau.
jangan kau pikirkan lagi, Prana,” jawab Agni, “Masa-masa berbahaya telah lewat.
Apakah masih ada di antara mereka yang akan datang pula seperti Mahendra? Aku
sangka tidak. Dan mudah-mudahan sebenarnya tidak.”
“Agni,” perlahan-lahan
terdengar Wiraprana berkata, namun terasa memancar dari sudut hatinya yang
paling dalam, “telah dua kali kau menyelamatkan nyawaku.”
“Jangan kau sebut-sebut
itu Prana. Adalah menjadi kewajibanku untuk menyelamatkan hubunganmu dengan
adikku itu,” jawab Agni.
Wiraprana tidak menjawab.
Matanya yang selalu riang, kini tampak sayu.
“Marilah kita pulang,
Prana. Lupakan semuanya,” ajak Agni.
Wiraprana tidak menjawab.
Tetapi ia melangkah perlahan-lahan di samping Agni. Mereka berjalan pulang ke
rumah Ki Buyut Panawijen.
Malam yang sudah semakin
malam itu ditandai oleh kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Angin yang dingin
mengalir perlahan menggerakkan daun-daun padi yang basah oleh embun. Di kejauhan
terdengar lamat-lamat bunyi kentongan beruntun.
“Tengah malam,” gumam
Mahisa Agni.
Wiraprana mengangkat
wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang di langit berhamburan seakan-akan biji-biji
mutiara yang ditaburkan di atas permadani yang biru gelap. Bulan tua masih
tampak bertengger di ujung gunung. Cahayanya yang suram memancar
kekuning-kuningan mewarnai dedaunan yang hijau.
Ketika mereka hampir
memasuki desa Panawijen, tiba-tiba Wiraprana berhenti. Dengan pandangan yang
suram ditatapnya wajah Mahisa Agni. Kemudian terdengar ia berkata lirih, “Agni.
Adakah aku berhak atas gadis itu?”
Mahisa Agni terkejut.
Katanya, “Apa yang sedang kaupikirkan Wiraprana? Persoalanmu sudah selesai.
Jangan membuat persoalan-persoalan baru.”
Wiraprana menundukkan
wajahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Agni, bukankah gadis itu bukan adikmu.”
Dada Agni pun menjadi
berdebar-debar karenanya. Dan didengarnya Wiraprana meneruskan, “Agni. Tidakkah
pernah timbul di dalam hatimu untuk mengubah hubunganmu dengan gadis itu? Tidak
sebagai kakak beradik seperti sekarang ini?”
“Prana!” potong Agni.
Namun terasa betapa nafasnya menekan jantungnya. Katanya kemudian, “Jangan
mempersulit keadaanmu. Jangan berpikir tentang sesuatu yang tak pernah ada.
Prana, aku adalah kakaknya. Meskipun aku bukan kakak yang dilahirkan dari
kandungan seorang ibu yang sama, namun demikianlah keadaan kami sekarang. Berapa
tahun aku tinggal di rumah itu sebagai seorang anak yatim piatu, di bawah asuhan
Empu Purwa yang baik hati.”
“Dijadikannya aku anak
laki-lakinya yang tunggal dan dipersaudarakannya aku dengan Ken Dedes. Nah,
Wiraprana. Apakah dengan demikian Ken Dedes itu bukan adikku? Adakah dengan
demikian akan dapat timbul di dalam hatiku untuk memutuskan ikatan persaudaraan
itu menjadi ikatan yang lain?” Agni menekankan kata demi kata untuk meyakinkan
kebenaran pendapatnya itu. Namun sebenarnya, kata-kata itu lebih banyak
ditujukan kepada dirinya sendiri. Dicobanya untuk menekan hatinya yang bergolak
dengan kata-katanya itu.
Wiraprana menundukkan
wajahnya dalam-dalam. Namun ia tidak bertanya-tanya lagi. Hanya nafas mereka
berdualah yang terdengar di antara gemeresik daun-daun ditiup angin,
“Marilah kita pulang,
Prana,” ajak Agni.
Wiraprana mengangguk, dan
kembali mereka berjalan memasuki jalan yang gelap oleh rimbunnya daun-daun di
atas mereka. Hanya kadang-kadang saja mereka masih melihat bulan dan
bintang-bintang di antara sela-sela dedaunan.
Tak seorang pun penduduk
Panawijen yang tahu, apakah yang pernah terjadi dengan Wiraprana dan Mahisa
Agni. Adalah kebetulan bahwa pada malam itu tak seorang pun yang pergi ke
sawahnya. Karena itu, maka Wiraprana pun lambat laun berhasil menghilangkan
kenangan pahit itu. Meskipun Wiraprana sama sekali bukan seorang pengecut namun,
apakah yang dapat dilakukan di antara orang-orang berilmu seperti Mahisa Agni
dan Mahendra. Karena itu, maka timbullah keinginannya untuk setidak-tidaknya
dapat menambah ilmunya. Mungkin pada suatu saat akan berguna. Tetapi dalam pada
itu selalu diingatnya pula kata-kata kakak seperguruan Mahendra, bahwa seseorang
akan dapat berjuang sampai tetes darah yang penghabisan, namun untuk
mempertahankan haknya yang dilanggar oleh sesama. Dan berjanjilah ia di dalam
dirinya, bahwa ilmu yang kelak akan dimilikinya, bukanlah alat untuk melanggar
hak orang lain.
Ketika maksudnya itu
disampaikannya kepada Mahisa Agni, Mahisa Agni pun menjadi gembira.
“Bagus,” katanya, “kita
akan berlatih setiap malam di bendungan.”
“Kau menjadi guruku,”
berkata Wiraprana.
Agni menggeleng, “Tidak.
Aku tidak berhak menjadi guru sebelum guruku mengizinkannya. Kita hanya dapat
berlatih bersama. Itu pun kalau guru memperkenankan.”
Demikianlah mereka
berjanji untuk melakukan latihan-latihan itu, namun Mahisa Agni telah memesan
kepada sahabatnya, bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu yang tidak perlu
diberitahukannya kepada siapa pun juga.
Ketika Mahisa. Agni
berhasrat untuk menghadap gurunya, untuk menyampaikan maksud Wiraprana, itu
tiba-tiba ditemuinya Ken Dedes datang kepadanya.
“Kakang,” berkata gadis
itu, “Ayah memanggilmu. Sekarang!”
“Oh. Apakah ada sesuatu
yang perlu?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku tidak tahu. Baru
saja seorang tamu meninggalkan sanggar. Sahabat ayah. Lalu Ayah memanggilmu.”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya, “Siapakah tamu itu?”
Ken Dedes menggeleng,
“Entahlah. Sahabat ayah.”
Mahisa Agni menjadi
ragu-ragu. Siapakah sahabat gurunya itu? Ia menjadi cemas, apakah seseorang
telah datang dan menuntut atas kekalahan Mahendra oleh seorang yang disangkanya
bernama Wiraprana, namun yang sebenarnya adalah Mahisa Agni. Mau tidak mau Agni
pun melihat kesalahan di dalam dirinya. Kakak seperguruan Mahendra tidak mau
melihat seseorang membantu adik seperguruannya itu, bahkan saudara mereka pula.
Namun apakah yang dilakukannya? Jauh lebih banyak dari membantu. Bahkan ialah
yang bertempur melawan Mahendra. Apakah sikap itu dapat disebut sikap yang
jantan. Namun Mahisa Agni mempunyai pertimbangan lain. Ia telah bersedia jawaban
yang akan diberikannya kepada gurunya yang penting baginya bukan siapakah yang
harus bertempur, namun bagaimana ia mempertahankan hak Ken Dedes dalam
menentukan pilihannya sendiri. Jangankan Mahendra, bahkan suara hatinya sendiri
pun telah ditindasnya.
Mahisa Agni sadar ketika
ia mendengar suara Ken Dedes, “Kakang, Ayah menunggumu!”
“Oh, baiklah,” sahut
Mahisa Agni cepat-cepat.
Ketika Ken Dedes telah
meninggalkannya, kembali Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Selangkah demi
selangkah ia pergi kepada gurunya yang masih berada di bagian depan dari
sanggarnya. Detak jantungnya serasa semakin cepat mengalir ketika ia melihat
gurunya duduk menantinya. Wajahnya yang bening tampaknya seakan-akan sedang
disaput oleh mendung yang tebal. Suram.
Ketika ia melihat Mahisa
Agni, Empu Purwa itu pun tersenyum. Namun terasa oleh Agni, senyum yang lain
dari senyumnya sehari-hari.
“Duduklah Agni,” gurunya
itu mempersilakan.
Agni pun kemudian duduk
bersila di hadapannya. Wajahnya yang tegang ditundukkannya dalam-dalam.
“Udara terlalu panas,”
gumam gurunya.
“Ya, Empu,” sahut Agni.
“Agaknya mendung di
langit akan menjadi semakin tebal.”
“Mungkin Empu. Awan
mengalir dari selatan.”
Empu Purwa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia memandang ke halaman. Bayangan mendung
di langit tampak mengalir dihanyutkan angin. Sesaat sinar matahari menjadi buram
karena awan yang kelam membayangi wajahnya.
Dan tiba-tiba Empu Purwa
itu berkata, “Aku baru saja menerima seorang tamu Agni. Sahabatku dari Tumapel.”
Mahisa Agni tersentak.
Apakah dugaannya tenang peristiwa beberapa hari yang lalu itu benar?
Dan didengarnya gurunya
itu berkata pula, “Sahabat yang baik. Ia tahu apa yang benar dan apa yang
salah.”
Mahisa Agni menarik
nafas. Tetapi hatinya masih tegang. Apalagi ketika Empu Purwa itu meneruskan,
“Tamuku adalah ayah Mahendra, Agni.”
Darah Mahisa Agni serasa
berhenti mengalir. Apakah yang telah dikatakan oleh tamu itu tentang dirinya.
Dicobanya mencuri pandang atas wajah gurunya. Ia mencoba untuk mendapat kesan
daripadanya. Apakah gurunya sedang marah, kecewa atau sedih. Tetapi ia tidak
dapat menemukan kesan apapun dari wajah itu. Yang dilihatnya bahwa wajah itu
suram, sesuram langit yang sedang dilapisi awan itu. Ketika gurunya itu berkata
pula, Mahisa Agni kembali menundukkan wajahnya.
“Agni,” berkata Empu
Purwa pula. Nadanya rendah, namun jelas kata demi kata, “tamuku itu bercerita
tentang peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu di ujung desa kita ini.”
Wajah Mahisa Agni pun
menjadi semakin tunduk. Dan didengarnya gurunya meneruskan, “Agni, apakah
Wiraprana bertengkar dengan Mahendra?”
Mulut Mahisa Agni serasa
terkunci. Karena itu untuk beberapa lama ia tidak menjawab, sehingga gurunya
berkata pula, “Aku sangka kau tahu atau setidak-tidaknya pernah mendengar
peristiwa itu karena hubunganmu yang erat dengan Wiraprana.”
Mahisa Agni masih
tenggelam dalam kebingungan dan kebimbangan. Hanya tiba-tiba saja mulutnya
berkata, “Aku mendengar guru.”
“Nah, kalau demikian
peristiwa itu benar-benar pernah terjadi. Menurut ayahnya, Mahendra menjadi
sakit hati, karena lamarannya ditolak. Bahkan kemudian ia berhasrat untuk
mengadakan semacam sayembara tanding. Begitu?”
“Ya guru,” jawab Mahisa
Agni tergagap. Namun ia berusaha untuk menutupi kesalahan yang mungkin akan
dilimpahkan kepadanya. Katanya, “Namun apakah Mahendra berhak mengadakan
sayembara semacam itu?”
“Tentu tidak, Agni,”
jawab gurunya, “Tetapi tantangan itu diterima oleh Wiraprana.”
“Ya,” jawab Agni.
“Dan mereka pun
berkelahi.”
“Ya.”
“Menurut ayah Mahendra,
Mahendra dapat dikalahkan.”
“Ya.”
“Oleh Wiraprana?”
Mahisa Agni terdiam.
Gejolak di dalam dadanya serasa melanda jantungnya, sehingga akan meledak. Ia
tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun sehingga gurunya berkata, “Agni,
Mahendra adalah seorang anak yang tanggon. Aku telah mengenal anak itu, sebab
ayahnya adalah sahabatku. Aku tidak menyangka bahwa Wiraprana dapat
mengalahkannya.”
Empu Purwa berhenti
sejenak. Kemudian orang tua itu berkata pula, “Menurut ayah Mahendra, Wiraprana
itu datang berdua. Apakah kau ikut serta?”
Kini Agni tidak dapat
menyimpan sesuatu lagi di dalam dadanya yang hampir pecah itu. Karena itu maka
seperti bendungan yang pecah meledaklah jawabnya, “Ampun guru. Wiraprana sama
sekali tak berkelahi melawan Mahendra. Tetapi aku terpaksa melawannya, meskipun
aku memakai nama Wiraprana.”
Empu Purwa menarik nafas
dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ditatapnya muridnya itu dengan mata yang
sayu. Sebenarnya ia telah menduga bahwa demikianlah yang terjadi. Namun ketika
ia mendengar pengakuan itu, hatinya masih juga terharu. Terharu karena ia tahu,
apa sebenarnya yang bergolak di dalam dada muridnya. Perasaan apakah yang telah
melandanya terhadap anak gadisnya.
Mahisa Agni sama sekali
tak berani mengangkat wajahnya. Ia duduk tumungkul memandang ibu jari kakinya.
“Kenapa kau Agni?”
tiba-tiba terdengar gurunya bertanya.
Mahisa Agni tidak dapat
menjawab pertanyaan itu. jawaban yang telah disusunnya tiba-tiba seperti hilang
dari ingatannya. Sehingga yang terdengar adalah kata-kata gurunya pula,
“Mahendra adalah anak yang tangkas. Menurut ayahnya, ia agak keras kepala.
Apakah dengan demikian kau tidak mempertaruhkan nyawamu untuk itu?”
Mahisa Agni tidak tahu
apa yang tersimpan di hati gurunya. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu harus
dijawabnya. Maka setelah sesaat ia berjuang, maka jawabnya, “Ya guru. Terpaksa
aku harus menghadapinya.”
“Ya, kenapa? Kenapa kau
mempertaruhkan nyawamu untuk itu?”
Mahisa Agni mencoba
menenangkan hatinya. Kemudian jawabnya, “Aku tidak dapat melihat, kemungkinan
lain guru. Sebab mereka mempertaruhkan Ken Dedes dalam perkelahian itu. Kalau
Wiraprana kalah, akibatnya akan tidak baik bagi Ken Dedes.”
Empu Purwa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya muridnya itu dengan penuh kekaguman
di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak membiarkan Wiraprana dilumpuhkan untuk
mendapat kesempatan menjadi pahlawan. Dengan demikian maka kemungkinan bagi
dirinya sendiri akan menjadi lebih baik.
Sejenak kemudian Empu
Purwa itu pun berkata kepada Mahisa Agni, “Mahisa Agni, jangan cemas. Ayah
Mahendra yang baik itu datang untuk minta maaf kepadaku atas kelakuan anaknya.”
Mahisa Agni terkejut,
sehingga tak disengajanya ia mengangkat wajahnya. Dilihatnya Empu Purwa itu
tersenyum. Meskipun senyum yang hambar. Dan orang tua itu meneruskannya, “Ia
sama sekali tidak marah atas kekalahan anaknya. Malahan ia mengharap, bahwa
dengan demikian anaknya akan melihat, bahwa di dunia ini ada orang-orang lain
yang tak dapat dikalahkannya. Mudah-mudahan ia menyadari keadaannya.”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Ternyata dugaannya keliru. Ayah Mahendra sama sekali tidak menuntut
atas kekalahan anaknya, bahkan ia telah minta maaf atas perbuatan Mahendra.
Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Seandainya, dirinya sendiri yang telah
melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Mahendra itu, siapakah yang akan minta
maaf untuknya? Tiba-tiba diingatnya ibunya yang tua. Yang selama ini seakan-akan
telah hilang dari hidupnya. Maka bersyukurlah Mahisa Agni di dalam hatinya,
bahwa yang Maha Agung telah mempertemukannya dengan ibunya, dan membekalinya
dengan ketabahan dan kesabaran menghadapi cobaan dalam usianya yang masih muda
itu. Dengan demikian maka telah pula ditemuinya suatu pelajaran yang bermanfaat
bagi hidupnya kelak. Ternyata Mahendra itu telah mengagumkan baginya. Ternyata
kekaguman seorang laki-laki tidak saja ditujukan kepada mereka yang dengan
berani memainkan pedangnya dan bahkan yang telah berhasil membunuh
lawan-lawannya dengan sikap-sikap yang disangkanya jantan. Namun sikap ayah
Mahendra itu pun tak kalah jantannya. Memang kejantanan seseorang tidak dapat
diukur dengan senjata, tetapi diukur dengan tujuan dan cara untuk mencapai
tujuan itu.
Ruangan itu sejenak
menjadi sepi. Di langit awan masih mengalir lambat. Dan mendung pun menjadi
semakin tebal di langit.
“Agni,” berkata Empu
Purwa kemudian, “ternyata kau sekali lagi telah menyelamatkan anakku dari
kehancuran. Kau telah berjuang dan meskipun tidak secara langsung, ikut serta
membina masa depannya. Mahisa Agni, masa depan gadisku satu-satunya itu adalah
masa depanku sebagai seorang ayah. Karena itu, betapa aku berbesar hati atas
sikapmu itu. Aku tidak menilai, apakah dengan demikian perkelahian itu wajar,
namun aku menilai dari segi lain. Aku melihat pengorbananmu yang tanpa pamrih.”
Mahisa Agni mendengar
pujian itu dengan hati yang berdebar-debar. Tiba-tiba terasa betapa dadanya
menjadi sesak. Ia pun terharu karenanya. Ternyata gurunya tidak memarahinya,
bahkan dengan tulus telah menyatakan kebesaran hatinya atas sikapnya.
“Karena itu Agni,”
berkata gurunya pula, “aku harus memberimu pertanda dari terima kasihku. Sebagai
seorang ayah, aku menggantungkan masa depanku kepada Ken Dedes, namun sebagai
seorang guru dalam olah kanuragan jaya kesantikan, aku menggantungkan harapanku
kepadamu. Dengan demikian Agni, maka sudah sampai saatnya kini aku memberikan
kesempurnaan ilmu kepadamu. Kesempurnaan yang aku miliki. Kesempurnaan manusia
yang selalu tidak sempurna. Kau mengerti maksudku itu?”
Mahisa Agni masih
menundukkan wajahnya. Betapa hatinya menjadi bergejolak mendengar kata-kata
gurunya. Sebagai seorang murid, maka kesempurnaan ilmu gurunya itu selalu
didambanya. Kini, setelah dengan tekun ia mesu diri dalam pengabdian kepada
gurunya itu, gurunya berkata bahwa kesempurnaan ilmunya itu akan diberikannya
kepadanya. Meskipun kesempurnaan seorang manusia yang selalu tidak sempurna,
yang selalu masih jauh daripada kesempurnaan yang sejati. Namun apa yang akan
diterimanya itu akan dapat menjadi bekal yang tak ternilai bagi hidupnya.
Namun tiba-tiba Agni
menjadi bimbang. Kalau kesempurnaan ilmu gurunya itu telah diterimanya, apakah
yang akan dilakukannya. Apakah ia akan pergi ke segenap penjuru negeri.
Berkelahi dengan orang-orang sakti untuk menunjukkan kemampuannya? Apakah ia
akan menjadi seorang prajurit yang akan selalu memenangkan setiap pertempuran?
Dan apakah kesaktian itu kelak tidak akan membawanya ke dalam lembah
ketakaburan. Ia bersyukur bahwa ia menyadarinya. Ia bersyukur bahwa
pertanyaan-pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Sebab dengan demikian, ia
akan selalu ingat pula kepada jawabnya.
Kemudian didengarnya
gurunya itu berkata pula kepadanya, “Agni. Aku pernah memberimu sebuah pusaka.
Namun pusaka itu sama sekali bukan alat pembunuh. Pusaka itu tak akan dapat kau
pergunakan untuk menyobek jantung lawan. Dan kini aku akan memberimu sebuah
senjata yang lain. Kelengkapan dari pusaka yang aneh itu. Namun pusaka itu tidak
akan dapat berdiri sendiri. Trisula itu bermanfaat bagimu, meskipun tak ada
rangkapannya. Namun rangkapannya itu sama sekali tak berarti tanpa trisula yang
kecil itu.”
Mahisa Agni mendengarkan
kata-kata gurunya itu dengan seksama. Disadarinya kemudian, bahwa pusaka yang
diberikan kepadanya itu belum sempurna.
Kemudian gurunya
melanjutkan, “Tetapi Agni. Ketahuilah, bahwa pusaka yang aku janjikan itu kini
belum berada di padepokan Panawijen.”
Mahisa Agni menengadahkan
wajahnya. Terbayanglah suatu pertanyaan pada cahaya matanya. Karena itu Empu
Purwa menjelaskannya, “Agni. Pusaka yang aku katakan itu, masih harus dicari.
Aku hanya dapat menunjukkan kepadamu, tempat dan bentuknya. Semoga kau akan
dapat menemukannya.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sadarlah ia kini, bahwa gurunya memberinya
kepercayaan untuk mencari sebuah pusaka yang tak ternilai harganya. Lebih-lebih
lagi, apabila ia dapat menemukan, maka pusaka itu akan dimilikinya. Tetapi
Mahisa Agni masih berdiam diri.
Maka gurunya itu
meneruskan, “Apabila kau berhasil Agni, maka kedua pusaka itu akan menjadi
pasangan pusaka yang tak ternilai. Pusaka itu akan menjadi sedemikian saktinya,
sehingga orang yang mempergunakannya akan kalis dari kekalahan. Siapa pun
lawannya. Kau mengerti?”
Mahisa Agni mengangguk
dalam-dalam. Hatinya tergetar mendengar keterangan gurunya itu. Apabila ia
memiliki kedua pusaka itu bersama-sama, maka ia akan menjadi manusia yang pilih
tanding.
“Hem,” Mahisa Agni
bergumam. Kemudian katanya di dalam hatinya, “Suatu anugerah yang tak terduga.
Dengan pusaka-pusaka itu, maka banyak persoalan yang dapat aku atasi. Tetapi
persoalan-persoalan apa? Pusaka-pusaka itu adalah alat untuk bertempur dan
berkelahi. Haruskah aku mengatasi semuanya dengan perkelahian dan pertempuran?”
Namun kemudian
ditemukannya jawabnya, “Suatu ketika aku harus mempergunakan pusaka-pusaka itu.
Tetapi untuk persoalan-persoalan yang imbang. Memang kadang-kadang ada hal-hal
yang tak dapat diatasi dengan cara lain. Mudah-mudahan aku dapat membedakannya.”
Kemudian Mahisa Agni
mendengar gurunya berkata pula, “Agni. Aku ingin mendengar jawabanmu. Adakah kau
bersedia mencari pusaka-pusaka itu?”
Mahisa Agni mengangguk
kembali, jawabnya dengan penuh kesungguhan hati, “Tentu guru. Aku bersedia
apapun yang Empu perintahkan. Jangankan sebuah pusaka untukku sendiri. Apapun
akan aku lakukan dengan keikhlasan.”
Empu Purwa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya muridnya dengan tajam. Kemudian
katanya, “Mahisa Agni. Kau harus menempuh sebuah perjalanan yang jauh.
Perjalanan yang mungkin sama sekati tidak menyenangkan bagimu.”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Dengan demikian berarti bahwa ia harus meninggalkan Panawijen.
Meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Meninggalkan rumah gurunya
dan ibunya. Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Namun adalah
menjadi kewajibannya untuk melakukan perintah-perintah gurunya. Apalagi perintah
untuk kepentingannya sendiri.
Karena itu, maka
jawabnya, “Apapun yang harus aku lakukan guru, bagiku tak ada yang lebih
menggairahkan daripada menjalankannya dengan senang hati.”
“Bagus,” sahut gurunya,
“kalau kau temukan rangkapan pusakamu itu, kau akan menjadi seorang laki-laki
yang sakti. Sukar untuk mencari tanding. Kau akan dapat melakukan semua
kehendakmu. Siapa pun yang menghalangimu, maka itu tak akan banyak berarti.
Karena itu, pusaka itu harus kau temukan. Apapun rintangan yang akan kau temui.”
Mahisa Agni
mengangguk-angguk. Katanya, “Akan aku coba untuk melakukannya.”
“Nah Agni,” berkata
gurunya, “dengarlah. Perjalanan yang harus kau tempuh adalah cukup jauh. Kau
harus melingkari Gunung Semeru. Bukankah kau pernah pergi ke kaki gunung itu
dari arah timur bersama aku?”
Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar karenanya. Perjalanan itu pernah ditempuhnya tiga tahun yang
lalu. Perjalanan yang berat di antara belukar dan lereng-lereng gunung. Hanya
kadang-kadang saja ditemuinya padukuhan-padukuhan kecil atau kelompok-kelompok
penduduk yang tidak menetap, yang berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah
lain untuk mencari tanah yang mungkin diusahakan oleh mereka. Kini ia harus
menempuh perjalanan itu kembali.
Mahisa Agni kemudian
menekurkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat kembali jalan-jalan yang pernah
dilaluinya. Hutan-hutan dan lereng-lereng terjal. Kemudian diingatnya pula, apa
yang pernah dilihatnya pada kaki Gunung Semeru itu, sebagai pertanda yang akan
dapat dipergunakannya untuk menemukan jalan kembali.
“Agni,” terdengar gurunya
itu menyambung kata-katanya, “mungkin kau akan dapat mengingatnya kembali
jalan-jalan yang pernah kau tempuh. Kalau tidak Agni, maka kau dapat mencari
jalan lain. Namun kau dapat menandai daerah yang pernah kita kunjungi di kaki
Gunung Semeru itu. Kau pernah melihat sebuah rawa yang luas bukan?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Kau melihat batu karang
di tengah rawa-rawa itu?”
“Ya, Guru,” jawab Agni.
“Agni,” berkata gurunya,
“aku harap rawa-rawa itu masih ada sekarang. Aku mengharap bahwa batu karang itu
pun masih dapat kau temukan. Nah. Apabila batu karang itu kau temukan, maka kau
akan menempuh jalan yang pendek. Kau dapat menyusurinya ke barat dan kau akan
sampai pada sebuah dinding yang terjal, dinding yang gundul. Kau ingat?”
“Ya, Guru,” jawab Agni.
“Agni,” nada suara
gurunya menjadi semakin rendah, “Ketahuilah bahwa di dalam gua, yang pernah kita
kunjungi itu, yang terdapat di tengah-tengah dinding yang gundul, terdapat benda
yang sangat berharga itu.”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam sekali. Pada saat itu ia hanya dapat melihat gua itu. Tetapi ia tidak
dapat mencapainya. Ia pada waktu itu tidak sanggup untuk mendaki tebing yang
gundul dan curam.
Dada Mahisa Agni itu pun
menjadi semakin berdebar-debar. Pada tiga tahun yang lampau, ia hanya dapat
melihat gurunya itu mendaki tebing yang sengat curam dan berbahaya. Dan
ditinggalkannya ia sendiri menanti di bawahnya.
Dan sekarang ia sendiri
harus mendaki tebing itu, untuk mencapai gua di tengah lereng gundul di kaki
Gunung Semeru.
“Suatu perjalanan yang
berat,” desisnya di dalam hati.
Gurunya yang melihat
wajah Mahisa Agni itu menjadi suram segera berkata pula, “Agni, kesempatan ini
akan menjadi satu ujian bagimu. Ketika kau berhasil Agni, maka hidupmu di
kemudian hari akan penuh ditandai dengan kemenangan-kemenangan dalam setiap
persoalan. Kau akan menjadi seorang jantan yang namamu akan ditakuti oleh setiap
orang yang mendengarnya. Sedang apa yang akan kau lakukan kemudian tergantung
kepada keadaanmu dan tujuan hidupmu. Sebab sesudah taraf yang terakhir ini, maka
aku tidak akan dapat ikut serta menarik garis yang melingkari hidupmu. Kau
adalah seorang murid yang sudah dewasa, yang seharusnya sudah lepas dari
induknya. Hitam putih namamu tergantung padamu sendiri.”
Mahisa Agni masih
menekurkan kepalanya. Dengan penuh kecermatan ia mengamati persoalannya. Namun
tak ada yang dapat dilakukan selain melakukan tugas itu. Meskipun demikian,
sempat juga ia merenungkan kata-kata gurunya itu, dan yang terakhir, ‘Hitam
putih namamu tergantung padamu sendiri’.
Tetapi terasa pula di
dada Mahisa Agni sesuatu yang agak lain dari kebiasaan gurunya. Gurunya yang
penuh dengan pengabdian dan kebaktian diri kepada sumber hidupnya itu tiba-tiba
memberinya beberapa petunjuk yang seakan-akan hanya diwarnai oleh tata
lahiriahnya saja. Ia akan menjadi seorang yang sakti. Seorang yang hampir tak
akan dapat dikalahkan. Seorang yang hidupnya akan ditandai oleh
kemenangan-kemenangan dalam setiap persoalan. Mahisa Agni tidak mengerti
seluruhnya apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Apakah hanya itu? Namun ia tidak
berani bertanya. Mungkin ada sesuatu yang perlu direnungkannya.
“Pada suatu ketika aku
akan menemukan jawabnya,” pikirnya.
Yang kemudian dikatakan
oleh gurunya adalah, “Mahisa Agni. Sejak hari ini kau harus mempersiapkan
dirimu. Lahir batin untuk menempuh perjalaran itu. Kamu harus menguasai setiap
persoalan yang akan kau temui di sepanjang perjalananmu. Amati persoalan itu
dengan seksama. Baru kemudian kau cari pemecahannya.”
Mahisa Agni mengangguk
dengan khidmatnya. Jawabnya, “Ya, Guru.”
“Mungkin kau harus
mengalami gangguan lahir batin. Nah. kemudian tergantung kepadamu, karena kau
akan pergi seorang diri. Ingatlah, perjalanan itu akan merupakan ujian bagimu.
Kalau kau berhasil memecahkan persoalan-persoalan yang diberikan oleh pengujimu
sesuai dengan maksudnya, maka pasti kau akan lulus dalam ujian itu. Namun kalau
tidak, maka kesempatan itu tidak akan terulang kembali.”
“Aku akan melakukan
dengan kesungguhan hatiku,” jawab Agni, “Mudahkan yang Maha Agung memberikan
tuntunan kepadaku.”
“Mudah-mudahan,” sahut
gurunya. Terdengar suara menjadi serak. Dan ketika Agni mencoba melihat wajah
gurunya, ia terkejut. Wajah itu sedemikian sayunya, dan bahkan ketika terpandang
olehnya mata gurunya itu, bergolaklah perasaan Mahisa Agni. Dilihatnya meskipun
hanya sekejap, bahwa sepasang mata gurunya itu menjadi basah.
“Apakah yang sebenarnya
terjadi?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Bahkan timbul pula prasangka
di dalam dadanya, “Apakah sebenarnya Guru marah kepadaku? Apakah sebenarnya yang
diminta oleh ayah Mahendra?”
Dan tiba-tiba saja
mengianglah di sudut hatinya, “Apakah aku sedang dibuang oleh guruku?”
Tidak, dicobanya untuk
mengatasi perasaannya yang sedang bergelora dengan riuhnya di dalam dirinya.
Timbullah bermacam-macam prasangka. Namun akhirnya ia mendapatkan suatu
kesimpulan. “Guru akan memberikan hadiah itu kepadaku. Adalah wajar kalau aku
harus mengambilnya sendiri. Kalau guru akan menghukumku atas permintaan ayah
Mahendra, maka guru pasti akan berterus terang kepadaku. Sebab aku adalah
muridnya sejak kecilku.”
Mahisa Agni tersadar dari
renungannya ketika gurunya berkata dengan nada yang dalam, “Agni. Masih ada
beberapa pesanku untukmu. Apabila sudah kau temukan rawa-rawa itu dan kau
temukan batu karang di dalamnya, maka untuk seterusnya kau harus menempuh jalan
di malam hari sampai kau capai dinding yang gundul itu. Kemudian baru kau akan
mendakinya di siang hari.”
Syarat itu bertambah
memberatinya. Karena itu maka debar jantung Agni pun bertambah-tambah pula.
Meskipun demikian jawabnya, “Ya. Guru, akan aku lakukan semuanya.”
“Bagus Agni. Sekarang
beristirahatlah. Kau tentukan sendiri kapan kau akan berangkat,” kata gurunya
pula.
Mahisa Agni menganggukkan
kepalanya. kemudian ia mohon diri untuk beristirahat. Ia sudah tidak ingat lagi
akan permintaan Wiraprana untuk memberinya beberapa petunjuk tata bela diri.
Mahisa Agni langsung
pergi ke biliknya. Perlahan-lahan ia berbaring di pembaringannya. Ditatapnya
kayu-kayu yang malang melintang di atap rumahnya. Dan akhirnya ia menarik nafas
panjang-panjang.
“Ujian,” desisnya. Dan
diulanginya, “ujian yang berat.”
Dicobanya untuk
membayangkan apa yang kira-kira akan dialaminya dalam perjalanan itu. Binatang
buas. Kelompok-kelompok orang jahat yang akan dapat ditemuinya di perjalanannya.
Berjuang melawan alam yang garang. Kalau itu semua dapat diatasinya, maka akan
didapatnya kesaktian.
“Aku berguru dalam olah
kanuragan untuk mendapatkan kesaktian,” gumamnya, “dengan kesaktian banyak yang
dapat aku lakukan. Aku akan dapat mencapai dan menegakkan nilai-nilai kebenaran,
melawan kesaktian-kesaktian yang akan memaksakan kemungkaran dan kejahatan.”
“Hem,” Agni menarik
nafas. Katanya kepala dirinya sendiri, “Tetapi kau harus ingat, hitam putih
namamu ditentukan oleh perbuatanmu.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya, namun terdengar kata-kata di dalam dirinya,
“Apapun yang akan aku lakukan, kalau aku orang yang maha sakti, adakah yang akan
merintanginya?”
Wajah Mahisa Agni pun
kemudian menjadi tegang. Kata-kata itu kembali terngiang di hatinya, “Aku akan
menjadi seorang yang maha sakti. Betapapun hitam namaku kelak, namun apa
peduliku. Tak seorang akan berani menghalangi aku. Seandainya aku ingin membunuh
Wiraprana, Mahendra, bahkan siapa saja, siapakah yang dapat menuntut aku?
Kekuasaan Tumapel tak akan berarti bagiku, juga kekuasaan Kediri. Semua akan
hancur oleh kesaktianku.”
Dada Mahisa Agni menjadi
bergemuruh karenanya. Kesaktian, kekuatan berarti kekuasaan. Kalau kesaktian dan
kekuatan ini tak terkalahkan, maka kekuasaannya pun tak akan tergoyahkan.
Mahisa Agni terkejut
ketika ia mendengar langkah seseorang masuk ke dalam biliknya. Ketika ia
berpaling, maka dilihatnya ibunya. Seorang emban yang sudah tua.
Agni pun kemudian bangkit
dan duduk di tepi pembaringannya.
“Adakah kau menghadap
gurumu Agni?” bertanya ibunya sambil duduk di sisinya.
“Ya, Ibu,” jawab Agni.
“Kau menghadap seperti
biasa, ataukah ada sesuatu yang penting?”
“Ada sesuatu yang
penting. Bahkan penting sekali bagi masa depanku.”
“Apakah itu?”
“Sekali lagi guru memberi
aku hadiah.”
“Hadiah?” ibunya
mengerutkan keningnya.
Mahisa Agni mengangguk.
Lalu diceritakannya apa yang baru saja didengarnya untuk mengambil rangkapan
pusaka di kaki Gunung Semeru.
“Oh,” ibunya menarik
nafas panjang, “Apakah gunanya pusaka itu?”
Agnilah yang kemudian
menjadi terkejut. Ditatapnya wajah ibunya yang telah mulai berkeriput oleh
garis-garis umur. Maka katanya, “Bukankah pusaka itu idaman setiap lelaki? Aku
berguru pada Empu Purwa karena aku ingin mendapatkan kesaktian sebagai bekal
hidupku kelak. Kini aku akan mendapat pusaka rangkapan trisula itu, dan aku akan
menjadi seseorang laki-laki yang pilih tanding. Bukankah itu satu kebahagiaan
bagiku. Apa yang aku kehendaki akan berlaku.”
“Itu saja?” bertanya
ibunya pendek.
Kembali Agni terkejut. Ia
tidak tahu maksud ibunya. Sehingga terdengar pertanyaannya, “Apakah yang ibu
maksudkan?”
“Kau berguru kepada Empu
Purwa hanya untuk mendapat kesaktian, sehingga semua kehendakmu akan berlaku?”
“Apa lagi?”
“Oh,” ibunya mengeluh.
Dan Mahisa Agni menjadi bingung.
“Agni,” berkata ibunya,
“adakah Empu Purwa tidak memberimu pesan, apa yang harus kau lakukan setelah kau
mendapat pusaka-pusaka itu?”
Mahisa Agni menggeleng.
Tetapi kemudian ia berkata, “ Empu Purwa hanya sekedar memberi aku peringatan,
‘Hitam putih namaku tergantung atas perbuatanku’.”
Ibunya mengangguk-angguk.
Namun ia bergumam, “Nah, kata-kata itu pendek saja. Cobalah mengerti artinya.”
Mahisa Agni mengangkat
keningnya. Katanya, “Tetapi kalau aku seorang yang tak ada bandingnya, apakah
artinya pesan itu? Apapun kata orang tentang diriku, tentang namaku, namun
mereka tak akan dapat berbuat apapun atasku. Sebab aku tak akan terkalahkan.”
Sekali lagi ibunya
terkejut. Dengan wajah yang tegang perempuan tua itu bertanya, “Agni. Apakah
sebenarnya yang dikatakan oleh gurumu? Hanya itu saja? Mengambil pusaka supaya
kau menjadi sakti tanpa tanding? Kemudian membiarkan kau menentukan namamu
sendiri?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Aneh?” gumam ibunya.
“Kenapa aneh?” bertanya
Mahisa Agni. Namun pertanyaan itu memang sudah tersimpan di dalam dirinya, sejak
ia mendengar gurunya memberinya beberapa petunjuk mengenai letak tempat-tempat
yang harus ditujunya.
Perempuan tua itu pun
merasakan sesuatu yang agak berbeda dari kebiasaan Empu Purwa. Kali ini Empu itu
hanya memandang persoalannya dari sudut lahiriah. Pusaka dan kesaktian. Apakah
itu sudah cukup?
“Mahisa Agni,” berkata
ibunya kemudian, Perlahan-lahan, namun penuh dengan tekanan sebagai seorang ibu,
“aku senang mendengar kau akan menerima pusaka rangkapan dan kau akan menjadi
seorang yang sakti. Namun sebagai seorang ibu, aku pun mencemaskan nasibmu.
Perjalanan itu bukan perjalanan yang menyenangkan. Namun yang lebih mencemaskan
aku adalah, bagaimanakah kau sesudah memiliki pusaka-pusaka itu, Agni.”
“Kenapa?”
“Kalau kau salah langkah,
maka kau akan terjerumus ke dalam satu dunia yang penuh dengan pertentangan dan
permusuhan”
“Bukankah kalau aku
menjadi seorang yang tak terkalahkan, aku tak usah cemas, meskipun seandainya
orang di seluruh dunia ini memusuhi aku?”
“Benar Agni. Tetapi
apakah kau sangka bahwa kau tak perlu mempertanggung jawabkan
perbuatan-perbuatanmu itu?”
“Bertanggung jawab kepada
siapa? Akuwu Tumapel? Maharaja Kediri atau siapa? Mereka tak akan mampu
mengalahkan aku meskipun semua laskarnya dikerahkan.”
Ibunya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya keragu-raguan memancar di mata
anaknya. Karena itu ia menjadi gembira. Katanya, “Kau tidak yakin akan
kata-katamu Agni. Aku menjadi berbahagia karenanya. Karena masih ada suara lain
di dalam hatimu Nah, Agni. Aku ingin mempertegas suara hatimu yang lain itu. Kau
tidak akan bertanggung jawab kepada Akuwu Tumapel atau kepada Maharaja
Kertajaya. Mereka adalah manusia-manusia biasa. Kalau kau menjadi sakti tanpa
tanding dan melampaui kesaktian-kesaktian mereka, malahan, kau akan dapat
mengusir mereka dari kedudukannya, dan kesaktianmu benar-benar dapat membentuk
kekuasaan melampaui kekuasaan mereka itu.”
“Lalu kepada siapa?”
“Kekuasaan yang tak dapat
dilampaui oleh kekuasaan apapun, Yang Maha Agung.”
“Oh,” Mahisa Agni
mengeluh.
Dan wajahnya pun kemudian
ditundukkannya dalam-dalam. Ia tidak pernah melupakan Yang Maha Agung, yang
telah menjadikannya. bahkan seluruh alam dan isinya. Namun kadang-kadang gelora
jiwa jantannya sering mengganggunya. Kerinduannya pada kesempurnaan ilmu
kanuragan kadang-kadang telah membawanya ke alam yang penuh dengan kekerasan dan
permusuhan. Kadang-kadang direka-rekanya juga permusuhan-permusuhan yang akan
terjadi.
“Kalau tidak ada
permusuhan-permusuhan, kapankah aku dapat menunjukkan kesaktianku dan kapankah
orang lain akan mengagumi aku?”
Namun setiap kali ia
berhasil menyadari kesalahannya, meskipun baru di dalam angan-angan.
Maka kemudian didengarnya
ibunya berkata pula, “Agni, sebenarnyalah bahwa kesaktian dan kekuatan yang
dipancarkannya, kemenangan dalam setiap pertentangan dan permusuhan, bukanlah
kekuasaan. Apabila demikian, maka hidup manusia ini tidak akan lebih baik dari
kehidupan binatang-binatang di dalam rimba. Harimau yang kuat, dan memiliki
senjata yang kuat, pula pada tubuhnya, kuku, gigi dan taring-taringnya akan
dapat memaksakan kehendaknya kepada binatang-binatang yang lemah. Kijang, rusa
dan sebagainya, yang hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri apabila
mampu. Bahkan sampai merampas nyawanya sekali pun. Namun binatang tidak memiliki
kesadaran akan ‘adanya dan diadakannya’. Karena itulah maka binatang tidak
memiliki sifat-sifatnya yang langgeng. Hidup sesudah hidup ini. Di mana akan
diperhitungkan semua perbuatan dan tingkah laku manusia. Itulah sebabnya manusia
mengenal nilai-nilai hidupnya. Nilai-nilai hidup kemanusiaan. Nah, Agni. Apakah
sekarang artinya kesaktian dan kekuasaan duniawi ini?”
Wajah Agni menjadi
semakin tunduk. Kata-kata ibunya itu mengetuk-ngetuk dadanya. Sudah sering kali
ia mendengar nasihat-nasihat gurunya tentang hidupnya dan hidup di masa-masa
langgeng. Namun ketika ibunya sendiri yang mengucapkannya berasa seakan-akan
meresap sampai ke tulang sumsumnya.
“Agni,” berkata ibunya,
“aku hidup di padepokan ini telah bertahun-tahun. Karena itu aku telah sering
kali mendengar Empu Purwa mengatakannya itu semua, meskipun tidak kepadaku.
Mungkin kepada anaknya, atau kepada muridnya, kau. Atau kadang-kadang aku
mendengarnya diri balik dinding apabila ada beberapa orang tamu, sahabat-sahabat
Empu Purwa yang kadang-kadang mengadakan sarasehan.”
“Karena itu apa yang aku
katakan, mungkin telah kaudengar langsung dari gurumu. Namun aku adalah ibumu.
Umurku telah berlipat dari umurmu. Karena itu aku ingin mengatakannya kembali
kepadamu. Aku sangka umur mudamu kadang-kadang masih mengganggumu.”
Agni tidak menjawab.
Namun kepalanya masih tunduk. Diangguk-anggukkannya kepalanya perlahan-lahan dan
dengan penuh minat ibunya berkata pula, “Karena itu Anakku. Kesaktian baru
bermanfaat apabila ia dipergunakan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan itu
sendiri. Kalau ada kekuasaan di muka bumi ini, kekuasaan manusia, maka ia harus
dilambari atas nilai-nilai itu pula, nilai-nilai hidup bersama yang ditentukan
bersama pula dalam pergaulan hidup yang memberikan kebahagiaan bersama. Nah,
terhadap kekuasaan yang demikian itulah kesaktian wajib diamalkan untuk
menegakkannya. Bukan untuk merampasnya.”
Ibunya berhenti sejenak.
Ditatapnya anak laki-lakinya yang bertubuh kokoh kuat dengan jalur-jalur ototnya
menjalar di seluruh permukaan kulitnya.
Kemudian terdengar
kembali perempuan itu berkata, “Nah, Agni. Pergilah ke kaki Gunung Semeru.
Usahakan supaya perintah gurumu dapat kau penuhi. Dan sadarilah apa yang akan
kau perbuat kelak sesudah pusaka-pusaka itu berada di tanganmu.”
“Baik, Ibu,” jawab Mahisa
Agni lirih, namun sampai ke dasar hatinya.
Ibunya menganggukkan
kepalanya. Kemudian sambil berdiri ia berkata, “Kalau sampai saatnya kau pergi
anakku, pergilah dengan tekad yang bulat. Dengan janji di dalam hati, bahwa apa
yang kau capai semata-mata untuk tujuan yang baik, maka Yang Maha Agung akan
selalu memberkahi.”
“Baik, Ibu,” sahut Mahisa
Agni sambil mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berdiri pula dan melepaskan
ibunya pergi dari mulut pintu biliknya.
Kata-kata ibunya itu
merupakan penegasan dari segenap perasaan-perasaan yang bergolak di dalam
dadanya. Dan ia bersyukur karenanya. Maka kemudian dibulatkannya tekad di dalam
dadanya, “Aku akan pergi ke Gunung Semeru.”
Kepada Wiraprana, Mahisa
Agni terpaksa membatalkan janjinya untuk sementara, katanya, “Prana, besok kalau
aku kembali dari perantauan ini, aku berjanji akan memenuhi permintaan itu.
Bukankah aku menjadi bergembira pula dengan hasratmu itu. Tetapi sayang aku
terpaksa menundanya.”
Wiraprana pun menjadi
kecewa karenanya. Tetapi ia menyadari bahwa pasti ada sesuatu yang penting dalam
perjalanan yang akan ditempuh oleh sahabatnya itu.
“Mudah-mudahan kau lekas
kembali Agni. Apakah perjalanan itu jauh?”
Agni menggeleng. “Tidak.
Tidak begitu jauh.”
Wiraprana memandang wajah
Agni dengan penuh pertanyaan. Tetapi pertanyaan itu tak diucapkannya. Ia sadar,
bahwa bukan menjadi haknya untuk mengetahui segala persoalan sahabatnya itu.
Namun kepergian itu pasti akan memerlukan waktu yang cukup panjang sehingga
dengan demikian, Panawijen akan terasa sepi baginya. Meskipun banyak anak-anak
muda yang lain, tetapi di samping Mahisa Agni,Wiraprana merasa tenang dan sejuk.
“Ah,” katanya di dalam
hati, “aku harus dapat menyejukkan hatiku sendiri. Kelak kalau aku sudah
meyakini diriku sendiri sesudah Mahisa Agni kembali, maka aku akan tegak di atas
kemampuan sendiri.”
Setelah sampai saatnya
Mahisa Agni merasa dirinya siap untuk berangkat menempuh perjalanan itu, maka
sekali lagi ia menghadap gurunya. Diharapkannya gurunya akan memberinya
pesan-pesan terakhir yang bermanfaat bagi perjalanannya lahir dan batin. Namun
Mahisa Agni menjadi kecewa. Gurunya tidak memberinya pesan-pesan baru kepadanya,
selain bentuk dari benda yang dicarinya.
Mahisa Agni mendengarkan
setiap kata-kata gurunya dengan tekun, supaya ia kelak tidak keliru. Setelah ia
menempuh perjalanan yang sulit itu ia tidak ingin menemukan benda yang sama
sekali bukan benda yang dikehendakinya.
“Agni,” berkata gurunya,
“benda itu tampaknya memang tidak berharga sama sekali. Bentuknya tidak lebih
dari sebatang akar wregu. Namun akar itu berwarna putih. Panjangnya kurang lebih
hanya dua cengkang. Benda itu terbalut kain berwarna merah muda bertepi putih.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa ia menjadi heran. Sebatang akar wregu
berwarna putih dan sudah dibalut dengan kain. Siapakah yang meletakkannya di
sana?
Meskipun pertanyaan itu
tidak diucapkan, tetapi Empu Purwa dapat merasakan perasaan itu. Maka katanya,
“Tak seorang pun yang tahu, siapakah yang meletakkan benda itu di sana. Dan
mungkin pula tak seorang pun yang tahu, bahwa ada benda itu di sana. Aku
mengetahuinya dari sebuah mimpi. Dan aku pernah membuktikannya melihat sendiri
benda itu beberapa tahun yang lampau. Namun pada saat itu aku belum dapat
mengambilnya.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ingin ia bertanya kenapa pada saat itu gurunya
belum dapat mengambilnya. Tetapi ia tidak berani.
“Ah. Pasti ada
sebab-sebab yang penting,” katanya di dalam hati.
“Agni,” berkata gurunya
pula. Nadanya menjadi semakin dalam, “Ingat! Apabila kau telah menemukan batu
karang itu, kau harus menempuh perjalananmu di malam hari. Ada banyak sebabnya.
Yang terpenting, perjalananmu tidak boleh dilihat oleh seorang pun. Meskipun
hanya oleh seorang pencari kayu sekali pun. Namun aku sangka daerah itu tak
pernah dikunjungi orang.”
“Ya, Guru,” jawab Agni,
“akan aku penuhi semua perintah.”
“Bagus,” sahut Empu Purwa
sambil mengangguk-anggukkan kepala, “mudah-mudahan kau berhasil.”
“Pangestu Guru untukku,”
pinta Mahisa Agni.
Empu Purwa
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah pada wajahnya yang suram, sepasang
matanya yang sayu. Setelah ia berdiam diri sejenak, maka katanya, “Agni, bawalah
obat penawar racun ini. Mungkin kau aku bertemu dengan ular-ular berbisa, atau
serangga yang tak kalah tajam bisanya. Sebuah sengatan sudah cukup untuk
membunuhmu dalam waktu sekejap.”
Diberikannya oleh Empu
Purwa sebuah tabung kecil. Ketika tabung itu dibuka dilihatnya di dalamnya
beberapa gelintir ramuan obat.
“Agni,” berkata gurunya,
“aku membuat param itu dari akar-akar dan beberapa jenis racun. Kalau kau akan
mempergunakannya, cairkanlah param itu dengan air. Kemudian gosokkanlah pada
seluruh tubuhmu. Atau apabila kau telah terlanjur tergigit ular atau terkena
racun apapun, gosokkanlah obat itu di lukamu. Tetapi kalau racun itu masuk ke
dalam tubuhmu melalui mulutmu Agni, maka pakailah ramuan yang lain.”
Empu Purwa itu berhenti
sejenak. Sebuah tabung yang lain diberikannya pula kepada Mahisa Agni. Di dalam
tabung itu pun terdapat beberapa butiran ramuan obat-obatan. Namun jauh lebih
kecil dari butiran-butiran obat yang pertama.
“Ingat Agni,” berkata
gurunya, “Jangan sampai keliru! Kalau kau keliru mempergunakan, maka akibatnya
akan sebaliknya. Obat yang pertama hanya boleh kau gosokkan di tubuhmu, sedang
obat yang kecil itu, harus kau telan.”
“Ya, Guru,” sahut Mahisa
Agni.
Empu Purwa memandang
muridnya dengan pandangan yang aneh. Sedang Mahisa Agni masih saja menundukkan
wajahnya. Tetapi tiba-tiba wajahnya itu pun menjadi tegang ketika gurunya
berkata pula, “Mahisa Agni. Tinggallah kini pesan terakhir bagimu. Dalam
perjalanan yang berbahaya itu Agni, sebaiknya trisulamu kau tinggalkan saja di
padepokan ini.”
Mahisa Agni terkejut
mendengarnya justru dalam perjalanan yang berbahaya itu diperlukannya kawan
dalam perjalanannya. Bukankah pusaka itu dapat dijadikannya kawan yang baik
apabila ia berhadapan dengan bahaya. Tetapi sebelum ia berkata apapun
didengarnya gurunya meneruskan, “Agni. Trisula itu adalah benda yang sangat
berharga. Karena itu apabila pusaka itu hilang, maka hilanglah semuanya bagi
padepokan kita. Semua perjuangan masa lampau akan lenyap bersamanya apalagi
harapan bagi masa mendatang. Karena itu janganlah hal itu terjadi. Kau ingin
menemukan rangkapannya, namun pusaka itu sendiri jangan sampai lepas dari tangan
kita.”
Mahisa
meng-angguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak tahu seluruh persoalannya.
Namun ia tidak berani membantahnya. Ia percaya saja kepada gurunya yang tentu
jauh lebih bijaksana daripadanya. Meskipun kadang-kadang juga timbul
prasangkanya, namun segera perabaan itu dihimpitnya ke dasar hatinya. Ayah
Mahendra, sahabat guru sama sekali tidak marah atas kekalahan anaknya.
Berkali-kali ia menegaskan kepada dirinya sendiri karena itu guru pun sama
sekali tidak marah kepadaku.
Demikianlah maka
sampailah pada saatnya Mahisa Agni meninggalkan padepokan itu. Di pagi yang
cerah, ketika matahari membangunkan wajah bumi yang tetap, Mahisa Agni mohon
diri kepada ibunya. Perempuan itu memandang wajah anaknya yang teguh sambil
tersenyum, namun di matanya menitik beberapa butir air mata. Diciumnya kening
anak itu sambil berbisik, “Pergilah, Anakku. Mudah-mudahan kau capai
cita-citamu. Harapan masa depanmu masih panjang.”
Mahisa Agni
yang berlutut di muka ibunya itu meneium pada tangan ibunya yang dingin.
Katanya, “Ibu, doakan aku, semoga Yang Maha Agung memberkahi.”
“Tentu anakku, yang Maha
Agung memberkahi perjalananmu.”
Mahisa Agni itu pun
kemudian berdiri. Diambilnya sebuah bungkusan dari pembaringannya. Bungkusan
bekal di perjalanannya. Beberapa potong pakaian, bahan-bahan makanan dan sebuah
keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya Empu Gandring. Dihiburnya dirinya
sendiri dengan pusaka ayahnya itu, karena Trisulanya harus ditinggalkannya di
padepokan.
Setelah sekali lagi Agni
mencium tangan ibunya, maka melangkahlah ia meninggalkan biliknya.
Di muka pintu bilik itu
Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya air mata ibunya semakin deras mengalir di
pipinya yang berkeriput. Namun perempuan itu tersenyum kepadanya. Dianggukkannya
kepalanya sambil bergumam, “Selamat jalan anakku.”
Terasa sesuatu merambat
di tenggorokkan Mahisa Agni. Matanya pun menjadi panas sehingga ditengadahkannya
wajahnya memandang langit-langit rumah Empu Purwa itu. Baru kemudian ia
menjawab, “Terima kasih ibu.”
Di pendapa Agni melihat
gurunya dan Ken Dedes berdiri memandang cahaya matahari pagi. Ketika mereka
melihat Agni dengan sebuah bungkusan kecil yang diikatnya di ujung tongkat kayu,
gurunya menggigit bibirnya.
Kemudian katanya,
“Perjalanan yang berat, Agni. Mudah-mudahan kau berhasil.”
Mahisa Agni menundukkan
kepalanya. Juga tangan gurunya itu diciumnya. “Mudah-mudahan aku berhasil
memenuhi harapan guru,” berkata Mahisa Agni. Suaranya seakan-akan tertahan di
dadanya.
“Aku selalu berdoa
untukmu Agni.”
“Terima kasih, Guru.”
Ken Dedes yang berdiri
seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia
bertanya, “Apakah perjalananmu akan memerlukan waktu yang panjang Kakang?”
Mahisa Agni memandang
wajah gurunya, seakan-akan ia akan bertanya kepadanya. Namun gurunya berdiam
diri sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
Karena itu, maka Mahisa
Agni menjawabnya, “Mudah-mudahan tidak terlalu lama, Ken Dedes.”
Ken Dedes menganggukkan
kepalanya, namun tangannya masih saja sibuk mengusap matanya.
“Nah, Agni,” berkata
gurunya, “mumpung hari masih pagi. Selamat jalan.”
“Terima kasih, Guru,”
sahut Agni, yang kemudian dengan hati yang berat dilangkahinya satu persatu
tangga pendapa yang sudah bertahun-tahun didiaminya.
Ketika sekali lagi ia
berpaling, hatinya berdesir. Ia hanya sempat melihat gurunya berjalan
tergesa-gesa meninggalkan pendapa langsung masuk ke sanggarnya. Yang berdiri di
pendapa itu kini tinggal Ken Dedes dan di belakangnya embannya, perempuan tua
yang memandang Agni dengan mata berkaca-kaca.
—–
Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah.
Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu memerlukan waktu yang
panjang, Kakang?”
—–
Ketika Agni sudah sampai
di halaman, didengarnya Ken Dedes berteriak, “Lekaslah kembali Kakang, supaya
padepokan ini tidak menjadi sepi.”
Mahisa Agni berpaling
sekali lagi. Perlahan-lahan ia mengangguk. Jawabnya, “Tentu. Tentu aku akan
segera kembali.”
Agni menarik nafas
panjang. Gadis itu benar-benar telah menumbuhkan seribu macam persoalan pada
dirinya. Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar sebuah tangis yang meledak.
Ketika ia menoleh, dilihatnya Ken Dedes menangis di pelukan embannya yang tua.
Tetapi Mahisa Agni tidak berhenti. Dengan tetap ia melangkah meninggalkan rumah
itu, betapa pun berat hatinya. Di rumah itu tinggal gurunya yang telah
menempanya siang malam pada tingkat yang mula-mula sekali, kemudian
berturut-turut membuatnya menjadi seorang yang teguh lahir dan batin. Juga di
rumah itu tinggal seorang gadis yang hampir-hampir saja menghancurkan masa
depannya. Apalagi kemudian diketahuinya, bahwa ibunya berada di rumah itu pula.
Ibunya yang telah melahirkannya.
“Aku pergi untuk
kembali,” gumamnya seorang diri.
Akhirnya dilangkahinya
regol halaman, dan dengan tergesa-gesa ia membelok menurut jalan desanya hampir
melekat pagar. Dengan demikian maka ia akan segera lenyap dari pandangan mata
orang-orang yang mengikutinya dari halaman dan pendapa rumahnya.
Tetapi kembali hatinya
berdebar-debar. Dilihatnya dari kejauhan dengan tergesa-gesa Wiraprana datang
kepadanya. Anak muda itu sudah beberapa lama tidak pernah datang ke rumah itu,
justru karena hubungannya dengan Ken Dedes.
“Agni,” katanya hampir
berteriak, “benarkah kau berangkat pagi ini?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Aku mendengar dari
seorang cantrik di sudut desa. Kenapa kau tak memberitahukan kepadaku?”
“Aku bermaksud singgah
sebentar di rumahmu Prana,” sahut Mahisa Agni.
“Oh. Marilah,” ajak
Wiraprana.
“Kita sudah bertemu di
sini.
“Lalu?”
“Aku tak usah singgah ke
sana.”
“Oh,” Wiraprana menjadi
kecewa.
“Sampaikan baktiku kepada
Bapa Buyut Panawijen. Aku mohon diri untuk beberapa lama.”
Wiraprana
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik. Baik,” katanya, “Tetapi apakah kau tidak
singgah meskipun hanya sebentar?”
“Terima kasih Prana,
terima kasih,” jawab Agni.
Wiraprana benar-benar
menjadi kecewa. Ditatapnya wajah sahabatnya. Kemudian katanya,”Selamat jalan
Agni.”
Mahisa Agni tersenyum.
Senyum yang memancar dari berbagai perasaan di dalam dirinya. Terdengar anak
muda itu berkata perlahan-lahan, “Prana, meskipun kau belum menjadi suami Ken
Dedes, tetapi jagalah dia dari jarak yang ada sekarang. Kalau kau mengalami
kesulitan-kesulitan apa pun, terutama apabila terjadi kekerasan karena persoalan
gadis itu, sampaikanlah secepatnya kepada ayahnya.”
Wiraprana mengerutkan
keningnya. Timbullah pengakuan di dadanya atas kekurangannya, sehingga orang
lain harus menolongnya dalam persoalan yang seharusnya ditanggungkannya. Karena
itu maka katanya, “Kepergianmu sangat mengecewakan aku, Agni. Keinginanku untuk
mendapatkan kemampuan setidak-tidaknya untuk menjaga diriku tertunda karenanya.
Namun aku tak dapat mementingkan diriku sendiri. Aku menghormati kepentinganmu
pula. Karena itu mudah-mudahan kau lekas kembali.”
Akhirnya Wiraprana dan
Mahisa Agni pun berpisah pula. Diantarkannya Agni sampai ke sudut desa, kemudian
dilepasnya sahabatnya itu dengan hati yang berat.
“Aku hanya pergi untuk
beberapa lama,” berkata Mahisa Agni, “Jangan risaukan aku. Sampaikan kepada Ken
Dedes apabila kau sempat bertemu, juga kepada pemomongnya, perempuan tua itu.
Aku tidak sedang berangkat perang. Tetapi hanyalah sebuah perjalanan biasa.
Mungkin akan merupakan sebuah tamasya yang menyenangkan. Melihat lembah dan
ngarai yang belum pernah aku lihat.”
Wiraprana tersenyum.
Senyum yang masam. Jawabnya, “Apakah bedanya perjalananmu dengan sepasukan
prajurit yang sedang berangkat ke medan perang? Mungkin daerah pertempuran yang
kau jumpai jauh lebih luas dari daerah peperangan. Mungkin musuh yang kau jumpai
pun jauh lebih banyak dari musuh setiap prajurit dolan peperangan.”
Mahisa Agni pun tersenyum
pula. Kemudian katanya, “Nah, Selamat tinggal Wiraprana, selamat tinggal
sahabat-sahabat yang lain. Sampaikan salamku kepada mereka.”
Wiraprana mengangguk, dan
Mahisa Agni pun kemudian memutar tubuhnya, dan berjalan dengan hati yang tetap
meninggalkan padukuhan yang telah bertahun-tahun didiaminya.
Ketika Mahisa Agni
menengadahkan wajahnya, memandang langit yang biru bersih, dilihatnya
burung-burung manyar beterbangan. Awan yang putih sehelai-sehelai hanyut dalam
arus angin yang lembut.
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Dilihatnya di sekitarnya, alam yang maha luas. Pepohonan,
burung-burung di udara, air dan binatang-binatang di dalamnya, rumput dan perdu.
Terasalah betapa tangan yang Maha Agung telah memelihara semuanya itu. Dan
karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin berbesar hati. Ternyata di segala
sudut bumi, di antara hutan-hutan belukar, di antara lembah dan ngarai, di
segala tempat, bahkan di manapun yang diangan-angankannya, hadirlah Yang Maha
Agung itu. Dan pada-Nya Mahisa Agni memperoleh ketenteraman.
Mahisa Agni berjalan
terus dengan cepat. Tujuannya adalah ukup jauh, sehingga setiap saat harus
dimanfaatkannya. Ketika ia berpaling, lamat-lamat dilihatnya padukuhan
Panawijen. Anak muda itu menarik nafas dalam. Padukuhan itu seakan-akan melambai
kepadanya. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk-angguk. “Aku akan segera
kembali padamu Panawijen.
Tetapi tiba-tiba terasa
sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri terkejut karenanya.
Ketika ia memandang berkeliling tak dilihatnya apa pun, selain dataran, sawah
yang sudah semakin tipis, pepohonan dan di kejauhan gunung yang biru.
Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar. Tetapi kemudian dihiburnya hatinya sendiri. “Ah, alangkah
cengengnya aku ini. Aku adalah seorang laki-laki yang dewasa. Sudah sepantasnya
aku melakukan perjalanan-perjalanan yang berbahaya.”
Namun terdengar suara di
hatinya, “Aku tidak mencemaskan perjalanan ini, tetapi justru mencemaskan nasib
Panawijen, nasib Ken Dedes.”
Apalagi ketika tiba-tiba
saja Mahisa Agni teringat pada mimpinya beberapa waktu yang lalu. Mimpinya
tentang Ken Dedes yang meloncat ke dalam sebuah perahu. Namun akhirnya, baik Ken
Dedes sendiri mau pun perahunya tenggelam ditelan oleh ombak yang ganas.
Mahisa Agni tiba-tiba
menggeram. Namun kemudian diingatnya pula gurunya berkata, “Mimpimu adalah mimpi
seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”
“Mudah-mudahan,”
gumamnya, “mudah-mudahan mimpiku hanyalah mimpi seseorang yang terlalu banyak
tidur.”
Meskipun demikian ia
masih menjadi gelisah karenanya. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginannya untuk
kembali ke Panawijen.
“Hambatan yang pertama,”
katanya menggeram, “memang hambatan yang paling sulit di atasi, adalah hambatan-
hambatan yang timbul dari diri sendiri.”
Karena itu, segera Agni
berusaha untuk membulatkan tekadnya kembali. Digelengkan kepalanya seperti akan
melepaskan setiap kenangan yang akan dapat menghambatnya. Dan kembali Mahisa
Agni berjalan cepat-cepat menjauhi Panawijen.
Matahari pun semakin lama
menjadi semakin tinggi, dan Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin jauh
dari desanya. Kini telah dilampauinya daerah-daerah persawahan yang paling jauh
sekali pun. Di hadapannya terbentang sebuah padang rumput yang diselingi oleh
gerumbul-gerumbul perdu.
Mahisa Agni pun masih
berjalan terus. Ia dapat menempuh jalan yang berbeda-beda. Yang mana pun tak ada
bedanya. Namun arahnyalah yang harus dijaganya supaya ia tidak tersesat. Gunung
Semeru. Dan ia harus melingkari Gunung itu dan mencapai kakinya dari arah timur.
Ia tidak tahu berapa hari perjalanannya itu berlangsung.
Dan tiba-tiba saja Mahisa
Agni ingin berjalan lewat padang rumput Karautan. Ia tidak tahu, kenapa padang
rumput itu menariknya. Sebenarnya ia dapat menempuh jalan lain, lewat Talrampak
atau Kaligeneng. Meskipun telah diketahuinya bahwa kini hantu yang bernama Ken
Arok itu telah tidak ada di sana, namun sebuah kenangan yang aneh telah
menariknya.
Sebelum Mahisa Agni
menyadari, ia telah berjalan menurut jalan ke padang rumput Karautan. Meskipun
betapa panasnya. Ditaruhnya bungkusan bekalnya di atas kepalanya, untuk
mengurangi panas yang seakan-akan membakar rambutnya.
Tetapi padang rumput itu
tampaknya masih sepi. Jalan yang menjelujur di antaranya masih belum tampak
banyak dilewati orang, bahkan masih ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Hanya
rombongan- rombongan yang besarlah yang berani lewat di padang rumput itu.
“Jalan ini sebenarnya
sudah aman,” gumamnya, “tetapi belum juga banyak orang yang berani lewat di
sini. Ah, mungkin para pedagang masih meragukan kebenaran berita, bahwa hantu
Karautan telah berpindah tempat.” Agni tersenyum sendiri. Alangkah lucunya
seandainya ia sendiri menggantikannya di sini. “Kalau saat itu aku bunuh Ken
Arok, mungkin sekali aku menjadi penghuni di padang rumput ini.”
Tetapi kini padang rumput
itu telah tidak menakutkan lagi. Meskipun masih terlalu sepi. Mahisa Agni
berjalan dengan langkah yang cepat dan tetap. Matahari yang terik semakin lama
telah semakin condong ke barat.
Sebuah kenangan yang aneh
telah menyentuh perasaan Mahisa Agni ketika ia berjalan di antara
gerumbul-gerumbul di mana hantu Karautan sering bersembunyi. Di antara
gerumbul-gerumbul itu pulalah ia mendengar Ken Arok berkata kepadanya, bahwa
jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah
itu selalu licin dan lapang.
“Hem,” Mahisa Agni
menarik nafas. Kata-kata itu disimpannya di dalam hatinya.
Akhirnya, ketika senja
turun, Mahisa Agni telah melampaui padang rumput yang sepi itu. Dilewatinya
beberapa buah padukuhan kecil dan akhirnya ia sampai ke tepi sebuah hutan yang
rindang. Hutan yang setiap hari dikunjungi orang yang sedang mencari kayu. Di
situlah Mahisa Agni berhasrat untuk beristirahat. Hutan itu telah sering
dilewatinya dengan gurunya. Dengan setiap kali ia pergi ke daerah-daerah yang
agak jauh bersama gurunya, maka diajarinya ia mencari tempat-tempat untuk
bermalam.
Demikianlah Mahisa Agni
telah melampaui perjalanannya untuk satu hari. Namun apa yang dicapainya barulah
sebuah permulaan yang pendek. Di hadapannya masih terbentang perjalanan yang
berlipat-lipat jauhnya.
Malam itu Mahisa Agni
tidur dengan nyenyaknya. Perjalanan itu seakan-akan betapa lancarnya. Di pagi
harinya, dengan sebuah bandil Agni berusaha untuk berburu binatang. Dan ternyata
Agni adalah seorang anak muda yang tangkas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama,
ia telah mendapatkan buruannya untuk makan paginya.
Demikianlah, Agni
melampauinya hari demi hari. Perjalanannya semakin lama menjadi semakin berat.
Hutan yang kadang- kadang sedemikian rapatnya ditumbuhi oleh segala jenis
tumbuh- tumbuhan. Sungai-sungai yang deras dan apa pun yang melintang di
hadapannya.
Tetapi di samping itu
perjalanan Agni pun tidak sepi dari persoalan-persoalan yang sudah diduganya
sejak semula. Binatang buas, dan orang-orang jahat yang dijumpainya. Namun
karena ketabahan hatinya, satu demi satu semuanya berhasil diatasinya.
Akhirnya, sampailah pada
suatu ketika, Mahisa Agni mencapai kaki Gunung Semeru. Kaki gunung yang tak
terkirakan tingginya. Hutan-hutan yang padat tumbuh melingkarinya.
Ketika dilihatnya
pohon-pohon raksasa yang tumbuh di hutan-hutan itu, serta daun-daunnya yang
menjulang ke langit, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Telah banyak
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di perjalanan. Telah banyak penderitaan
yang dialami. Namun kini keadaan yang terakhir terbentang di hadapannya. Apakah
ia akan berhasil menempuh ujiannya?
Mahisa Agni berhenti
sejenak. Ditatapnya gunung yang tegak di hadapannya. Pohon-pohonan yang
seakan-akan mendaki tebingnya. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya sampai juga
menutupi lambung bukit itu.
Tetapi perjalanannya
masih belum akan berhenti. Meskipun gunung itu seakan-akan telah tegak di
hadapannya, namun perjalanan yang harus ditempuhnya masih jauh. Apalagi ia harus
menemukan sebuah rawa-rawa di lereng sebelah timur gunung itu. Sehingga dengan
demikian ia masih harus berjalan melingkar.
Kembali Mahisa Agni
melangkahkan kakinya. Kini ia tidak berjalan terlalu cepat. Perlahan-lahan,
sedang berbagai persoalan membelit hatinya. Ia merasa, betapa kecil dirinya di
antara pohon-pohon raksasa, batu-batu besar dan gunung yang menjulang itu. Dan
betapa kecil pula dirinya, lebih-lebih lagi dihadapkan kepada yang telah
menciptakan alam ini.
Namun, betapa pun juga,
Mahisa Agni merasa bersyukur bahwa sebagian perjalanannya telah dilampauinya.
Jarak yang ditempuhnya telah melampaui jarak yang akan dilaluinya.
Kini Mahisa Agni mencoba
untuk menghindari hutan-hutan yang lebat itu, meskipun jaraknya menjadi agak
jauh. Diselusupnya daerah-daerah yang tidak begitu padat, yang tidak terlalu
sulit dilaluinya. Meskipun jaraknya makin jauh, namun dengan demikian ia
mengharap, perjalanannya menjadi semakin cepat.
Di daerah- daerah yang
demikian, Mahisa Agni tidak melupakan pesan gurunya. Setiap saat ia akan dapat
digigil ular-ular kecil yang berkeliaran di tanah, dan serangga- serangga yang
berbisa. Karena itu, tubuhnya dilumurinya dengan param pemberian Empu Purwa.
Sekali ia merasakan pula, sentuhan-sentuhan pada tubuhnya oleh binatang-binatang
kecil. Namun binatang-binatang itu segera meloncat menghindar. Mungkin di dalam
ramuan param itu, terdapat berbagai ramuan yang tak disukai oleh jenis-jenis
serangga berbisa.
Setelah Mahisa Agni
bermalam satu malam lagi, sampailah ia di daerah sebelah timur Gunung Semeru.
Dilewatinya padang- padang rumput dan perdu, kemudian Mahisa Agni menarik nafas,
ketika ia sampai pada suatu daerah yang berpenghuni. Dilihatnya ladang- ladang
hijau ditumbuhi oleh berbagai tanaman. Meskipun sama sekali kurang teratur,
namun Agni yakin, bahwa tanaman-tanaman itu ditanam orang.
Dugaannya ternyata benar.
Tidak sedemikian jauh lagi, dilihatnya sebuah padukuhan kecil. Padukuhan yang
dipagari oleh pagar batu setinggi orang. Rumah-rumah kecil dan batang-batang
semboja di halaman. Tempat-tempat sesajen dan kandang-kandang sederhana.
Ketika Mahisa Agni
menghampiri padukuhan itu, dilihatnya beberapa orang laki-laki dan perempuan
lagi sibuk bekerja di halaman masing-masing, di ladang-ladang dan di
sawah-sawah.
“Penduduk yang rajin,”
katanya di dalam hati.
Ketika mereka melihat
kedatangan Mahisa Agni, tampaklah keheranan membayang di wajah mereka. Mereka
satu dengan yang lain saling berpandangan, seakan-akan mereka ingin bertanya,
“Siapakah orang asing yang datang ini?”
Dengan demikian Mahisa
Agni mengetahuinya, bahwa daerah ini adalah daerah yang jarang-jarang didatangi
orang lain.
Meskipun demikian, Mahisa
Agni pun telah memaksa dirinya untuk mendekati salah seorang di antaranya. Ia
ingin menanyakan apakah di sekitar daerah itu terdapat sebuah rawa-rawa seperti
yang pernah dilihatnya dahulu.
Tetapi, sudah barang
tentu Mahisa Agni tidak dapat bertanya berterus terang. Sebab selalu diingatnya
pula gurunya berkata, bahwa jangan seorang pun yang tahu akan kedatangannya ke
gua di lereng gundul Gunung Semeru itu.
Orang yang di dekati oleh
Mahisa Agni adalah seorang tua, berambut putih dan berjenggot putih. Dengan
sinar mata yang keheran-heranan ia memandang Mahisa Agni dari ujung kepalanya
sampai ke ujung kakinya. Serta ketika Mahisa Agni mengangguk hormat padanya,
maka dengan tergopoh-gopoh orang itu pun menganggukkan kepalanya pula.
“Bapak,” berkata Mahisa
Agni kemudian, “apakah aku dapat bertanya kepada Bapak?”
Orang tua itu pun
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab dengan serta-merta, “Tentu,tentu
Ngger, tentu.”
Mahisa Agni menarik
nafas. Melihat sikap orang tua ini, maka segera Mahisa Agni menduga, bahwa
penduduk padukuhan ini, atau setidak-tidaknya orang tua itu adalah seorang yang
ramah. Karena itu maka ia bertanya, “Apakah aku boleh mengetahui Bapak, apakah
nama padukuhan ini?”
“Tentu Ngger,” jawab
orang itu pula, kemudian katanya meneruskan, “nama padukuhan ini adalah
Padukuhan Kajar.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat, apakah beberapa
tahun yang lampau, dilaluinya juga Padukuhan Kajar ini? Tetapi nama itu belum
pernah didengarnya, dan agaknya daerah ini pun belum pernah dilihatnya.
Sebelum Mahisa Agni
bertanya lagi, terdengarlah orang tua itu berkata, “Siapakah Angger ini? Dari
mana atau ke manakah tujuan Angger?”
“Namaku Mahisa Agni,
Bapak,” jawab Agni, “aku datang dari daerah yang jauh. Dari kaki Gunung Kawi.”
“Oh,” orang tua itu
terkejut, “alangkah jauhnya.” Tetapi kemudian orang itu tersenyum, “Ah, tidak
begitu jauh. Seseorang pernah lewat di padukuhan ini. Ketika kami tanyakan
kepadanya, dari mana ia datang, katanya ia datang dari kaki Gunung Merapi.”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Gunung Merapi terletak jauh sebelah barat dari Gunung Kawi. Tiba-tiba
ia tertarik pada keterangan itu, sehingga ia bertanya, “Siapakah orang itu
Bapak?”
Orang itu mencoba
mengingat-ingat, namun beberapa saat ia belum juga menjawab. Akhirnya ia
berkata, “Aku telah tidak ingat lagi namanya.”
“Apakah keperluannya?”
bertanya Mahisa Agni.
Orang tua itu
menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya, “Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia
hanya lewat dan lenyap lagi dari antara kita.”
“Kapankah itu terjadi?”
bertanya Mahisa Agni pula.
“Belum lama. Tiga hari
yang lampau?”
Dada Mahisa Agni
tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tiga hari yang lampau. “Apakah tak ditanyakan
sesuatu kepada Bapak atau kepada seseorang?”
Orang tua itu menggeleng.
“Tidak,” katanya.
Mahisa Agni tiba-tiba
mencoba menghubungkan kedatangan orang itu dengan akar wregu di dalam gua
seperti yang ditunjukkan gurunya. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada
orang tua itu. yang ditanyakan kemudian adalah, “Ke manakah orang itu pergi
Bapak?”
“Ke selatan,” jawabnya.
“Sampai ke manakah jalan
yang ke selatan ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Jalan itu buntu, Ngger,”
jawab orang itu.
“Lalu ke manakah orang
dari kaki Gunung Merapi itu pergi?”
Orang tua itu menggeleng.
Katanya, “Entahlah. Yang kami ketahui jalan ke selatan ini akan menuju ke
rawa-rawa.”
“Ke rawa-rawa?” Mahisa
Agni mengulang.
Orang itu
mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menjadi heran. Mahisa Agni ternyata menaruh
minat pada keterangannya.
“Apakah rawa-rawa itu
masih jauh?”
“Tidak terlalu jauh,”
jawabnya, “tidak sampai sehari Angger akan sampai ke rawa-rawa itu.”
Dahi Mahisa Agni pun
kemudian tampak berkerut-kerut. Orang dari Gunung Merapi itu benar-benar menarik
perhatiannya. “Ah, mudah-mudahan orang itu mempunyai keperluan yang lain,”
katanya di dalam hati.
Kemudian terdengar Mahisa
Agni bertanya pula, “Bapak, apakah masih ada padukuhan lain di sekitar padukuhan
ini?”
“Ada Ngger. Di sebelah
utara,” jawab orang itu.
“Yang lebih dekat di
bawah kaki Gunung Semeru?”
Orang itu menggeleng.
Jawabnya, “Hutan itu masih terlampau padat. Tak seorang pun yang ingin
menebangnya. Di daerah-daerah lain, tanah masih berlimpah-limpah.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Baiklah Bapak. Aku hanya
ingin lewat di padukuhan ini. Lima enam hari lagi, mungkin aku akan kembali
lewat jalan ini pula.”
Orang tua itu pun menjadi
bertambah heran. Katanya, “Apakah Angger juga akan pergi ke selatan?”
Mahisa Agni mengangguk.
“Ke rawa-rawa itu?”
Mahisa Agni ragu-ragu
sebentar. Namun kemudian ia mengangguk pula sambil menjawab, “Aku hanya ingin
melihat rawa itu.”
Tampaklah sinar mata yang
aneh memancar dari wajah orang tua itu. Gumamnya, “Aneh. Rawa itu sangat
berbahaya. Banyak binatang-binatang berbisa di sekitarnya. Dan tak ada sesuatu
yang menarik untuk dilihat.”
“Apakah Bapak pernah
mengunjungi rawa itu?”
“Tentu. Setiap laki-laki
di daerah ini harus mengenal daerah-daerah di sekitarnya. Aku pernah juga
mendaki kaki gunung itu meskipun begitu tinggi. Tetapi seperti yang aku katakan,
bagi Angger, tak ada yang dapat menarik perhatian.”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Terima kasih, Bapak. Mungkin
tak ada yang akan menarik perhatian setelah aku melihatnya. Namun aku ingin
membuktikannya.”
Orang tua itu pun menjadi
bertambah heran. Katanya pula, “Angger hanya akan membuang-buang waktu saja.
Atau apakah Angger mengenal orang dari Gunung Merapi itu?”
Mahisa Agni menggeleng.
“Tidak,” jawabnya, “Aku sama sekali tidak mempunyai kepentingan dengan orang
itu, juga dengan rawa-rawa di sebelah selatan. Aku adalah seorang perantau. Aku
hanya ingin melihat apa saja.”
“Aneh,” gumam orang tua
itu, “Tetapi terserahlah kepada Angger. Namun kami, penduduk Kajar, ingin
mempersilakan Angger untuk mampir di padukuhan kami.”
Mahisa Agni mengangguk.
Katanya, “Terima kasih Bapak. Nanti apabila aku kembali.”
Orang tua itu tidak
berhasil mempersilakan Agni untuk singgah di kampungnya. Mahisa Agni tiba-tiba
menjadi tergesa-gesa. Orang yang lewat tiga hari yang lalu sangat mempengaruhi
perasaannya. “Adakah orang lain yang pernah mendengar pula tentang akar wregu
yang berwarna putih itu?” katanya di dalam hati.
Karena itu dengan
tergesa-gesa Mahisa Agni meneruskan perjalanannya lurus ke selatan.
Tiba-tiba setelah ia
berjalan beberapa lama, segera ia tertegun. Dilihatnya sebuah sungai yang curam
menjalar di tepi jalan setapak yang semakin lama menjadi semakin sempit.
Dilihatnya pula sebatang pohon mahoni raksasa di tepi lereng sungai yang curam
itu. Dan tiba-tiba saja tumbuh kembali dalam ingatannya. Daerah ini pernah
dilihatnya. Dengan serta-merta ia meloncat ke bawah pohon Mahoni raksasa itu.
Beberapa tahun lampau ia pernah menggoreskan pedang pada batang mahoni itu. Dan
Mahisa Agni tersenyum. Dilihatnya goresan bersilang itu masih ada, meskipun
tidak begitu jelas lagi. Namun ia masih melihat dan mengingatnya. Goresan
bersilang itu telah dibuatnya dengan pedangnya.
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditepuk-tepuknya batang mahoni raksasa itu
seakan-akan menepuk pundak seorang sahabat yang telah bertahun-tahun tak
berjumpa. Pohon mahoni itu ternyata telah mengungkap segenap ingatannya kembali.
Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya batang-batang pohon raksasa yang
pernah dilihatnya dahulu.
“Ah,” gumamnya seorang
diri, “aku telah mengambil jalan yang lain. Dahulu aku sampai ke tempat ini dari
jurusan yang berbeda.”
Dan suaranya itu disaut
oleh gemeresik daun-daun kering yang berjatuhan dihembus angin yang semakin lama
menjadi semakin keras. Sejalan dengan kegembiraan itu, maka Mahisa Agni pun
mengucap syukur di dalam hatinya kepada Yang Maha Agung. Jalan yang akan
ditempuhnya sudah tidak begitu sulit lagi dicarinya.
Kemudian Mahisa Agni pun
segera berjalan kembali. Satu-satu masih dapat dikenalnya. Batu-batu besar,
pohon-pohon raksasa. Lereng-lereng yang curam dan beberapa macam benda yang
lain.
“Belum banyak perubahan
yang terjadi,” katanya kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan rawa-rawa dan batu
karang itu masih ada di tempatnya pula.”
Dada Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar ketika akhirnya terasa tanah di bawah kakinya semakin lama
menjadi semakin basah. Dilihatnya beberapa jenis tumbuh-tumbuhan air telah
banyak bertebaran di antara rumput-rumput dan pohon-pohon perdu yang tumbuh di
antara batang-batang raksasa. Dan hutan pun menjadi semakin lama semakin padat.
Tetapi kalau ia berjalan
ke arah yang benar, maka ia akan sampai ke daerah rawa-rawa. Daerah yang
menampung arus sungai di lereng timur Gunung Semeru.
Perjalanan Mahisa Agni
pun semakin dipercepat. Meskipun tumbuh-tumbuhan menjadi semakin padat, namun
dengan tekad yang menyala, semuanya itu sama sekali tidak memperlambat
perjalanannya. Sehingga ketika matahari telah hampir tenggelam, maka sampailah
Mahisa Agni di tempat yang dapat dipergunakannya sebagai ancar-ancar untuk
menemukan titik tujuannya.
Mahisa Agni menjadi
semakin gembira, ketika dalam keremangan senja dilihatnya sebuah bayangan yang
kehitam-hitaman. Kini Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Meskipun
matahari telah lenyap di balik gunung, namun Mahisa Agni sama sekali tidak
menghiraukannya. Bahkan ia kemudian berlari-lari kecil, melompati pohon-pohon
perdu dan menyusup batang-batang menjalar yang tersangkut, di pepohonan. Semakin
dekat, menjadi semakin jelaslah, bahwa bayangan raksasa yang kehitam-hitaman di
tengah rawa-rawa itu adalah sebuah batu padas yang menjulang ke atas,
seakan-akan batu karang yang kokoh di tengah-tengah lautan.
Mahisa Agni menarik
nafas. Sekali lagi ia bersyukur di dalam hatinya. Kini jalan yang harus
ditempuhnya tidak begitu jauh lagi. Ia harus menyusur tepi-tepi rawa ke arah
barat. Dan nanti akan ditemuinya sebuah lereng yang gundul, seakan-akan sebuah
dinding raksasa yang membatasi dua dunia yang berlainan.
Tetapi tiba-tiba
diingatnya kembali pesan gurunya. Seterusnya ia harus berjalan malam hari.
Banyak alasan yang menyebabkan gurunya berpekan demikian kepadanya. Dan ia pun
percaya sepenuhnya, bahwa apabila tak ada sesuatu yang sedemikian pentingnya,
maka tak akan gurunya berpesan demikian kepadanya.
Ketika Mahisa Agni
menebarkan pandangannya, dilihatnya daerah sekitarnya pun menjadi semakin kelam.
Bahkan kemudian warna-warna yang hitam seakan-akan turun dari langit menyelimuti
seluruh permukaan bumi.
Namun Mahisa Agni masih
ingin beristirahat. Duduklah ia di atas sebuah batu yang cukup besar. Diurainya
bungkusan bekalnya. Masih ditemukannya beberapa jenis buah-buahan yang
didapatnya di perjalanannya.
“Sebentar lagi aku harus
berjalan kembali,” katanya di dalam hati, “kalau aku beristirahat malam ini,
maka ini berarti bahwa malam besok aku baru dapat berjalan kembali. Dengan
demikian aku akan banyak kehilangan waktu.”
Dan kembali hatinya
berdesir ketika diingatnya kata-kata orang tua di Kajar, bahwa seseorang telah
berjalan ke rawa-rawa ini tiga hari yang lalu. “Apakah orang itu juga akan
mengambil akar wregu di gua itu?” Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalam
dadanya. Dan karena itu maka tiba-tiba Agni berdiri. Katanya, “Ah aku harus
berangkat sekarang.”
Sekali lagi Mahisa Agni
menebarkan pandangannya berkeliling. Gelap dan yang dilihatnya hanyalah
warna-warna hitam, seakan-akan dunianya telah dibatasi oleh dinding hitam kelam.
Mahisa Agni itu pun
kemudian membenahi bungkusan-bungkusannya kembali. Kini bungkusan itu tidak
disangkutkannya lagi di tongkatnya. Dipergunakannya tongkatnya untuk meraba-raba
jalan yang akan dilaluinya.
“Ah,” desahnya, “aku rasa
jalan sudah tidak terlampau jauh. Namun gelapnya bukan main. Mudah-mudahan
sebelum pagi aku telah mencapai dinding gundul itu.”
Mahisa Agni pun kemudian
mulai melangkahkan kakinya kembali. Perasaan penatnya tiba-tiba tersapu oleh
kegelisahannya. Gelisah karena seseorang pun telah pergi ke daerah rawa-rawa
ini.
“Kalau orang itu pergi
juga ke gua itu, maka pasti ia belum kembali. Aku sangka, ia pun akan kembali
lewat jalan ini, sebagaimana ia datang,” katanya di dalam hati untuk menghibur
kegelisahannya sendiri.
Sementara itu, setapak
demi setapak Mahisa Agni itu maju juga. Alangkah sulitnya berjalan di malam hari
di daerah-daerah yang hampir tak dikenalnya. Untunglah bahwa gurunya telah
membekalinya dengan sejenis param yang dapat menghalau binatang berbisa dari
tubuhnya.
Malam itu kelamnya bukan
main. Seleret ia melihat bayangan bintang-bintang dan sinar dari kutub yang
dipantulkan oleh wajah air rawa yang kotor. Selebihnya hitam.
Namun Mahisa Agni mencoba
untuk tidak tersesat. Ia berusaha berjalan sepanjang pinggir rawa-rawa yang
tidak begitu dapat ditumbuhi pepohonan. Bahkan kemudian sampailah ia di satu
dataran yang luas, yang hanya ditumbuhi oleh rumput liar dan beberapa jenis
perdu.
“Tetapi,” katanya
kemudian, “daerah seberang padang rumput ini adalah daerah yang terjal. Aku
harus sangat berhati-hati, supaya aku tidak terguling masuk ke dalam rawa.”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. “Suasana ujian yang berat,” gumamnya. Namun hatinya yang bulat itu
sama sekali tak tergerak oleh kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Sebab sadar,
bahwa taruhannya pun sangat berharga.
Kemudian katanya kepada
diri sendiri, “Apakah aku akan dapat mencapai lereng gundul itu sebelum pagi?”
Kemudian dijawabnya
sendiri, “Aku tidak perlu tergesa-gesa. Besok atau lusa tak ada bedanya.”
“Tetapi orang yang lewat
tiga hari yang lalu itu?” terdengar sebuah pertanyaan di sudut hatinya. Karena
itu, maka kegelisahan di hati Mahisa Agni menjadi semakin melonjak-lonjak. Dan
karena itu, ia berusaha untuk mempercepat langkahnya.
“Kalau orang itu pergi
juga ke sana,” katanya di dalam hati, “semoga aku sempat menyusulnya.”
Dan Mahisa Agni pun
berusaha untuk berjalan lebih cepat. Dilihat bintang- bintang di langit supaya
ia tetap pada arahnya. Bintang Gubug Penceng yang menolongnya menentukan arah
perjalanannya.
Tetapi tiba-tiba langkah
Mahisa Agni terhenti. Perlahan-lahan ia mendengar gemeresik daun di dalam
gerumbul perdu. Mahisa Agni mencoba untuk mempertajam pendengarannya. Dan
gemeresik itu didengarnya kembali.
Ketika ia memandang
daun-daun di sekitarnya, ternyata angin tidak cukup kencang untuk menimbulkan
bunyi itu, sehingga segera diketahuinya bahwa pasti ada sesuatu di dalam
gerumbul itu. Binatang atau manusia.
Karena itu, maka Mahisa
Agni pun segera bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat datang.
Kalau yang bersembunyi itu binatang, maka akan sangat menggelikan sekali. Namun
ingatannya sealu saja tersangkut kepada orang yang lewat tiga hari yang lalu di
daerah ini.
Tetapi Mahisa Agni
terkejut ketika tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang aneh. Namun kemudian ia
pasti, suara itu adalah suara seseorang yang sedang mengerang. Maka, dengan
gerak naluriah Mahisa Agni segera meletakkan bungkusannya dan bersiaga untuk
menghadapi setiap kemungkinan.
Sesaat kemudian
meledaklah suara tertawa dari dalam gerumbul itu. Semakin lama semakin jelas.
Nadanya tinggi melengking memekakkan telinga. Semakin lama suara itu menjadi
semakin keras. Bahkan kemudian terasa seperti menghentak-hentak pada Mahisa
Agni. Dengan demikian Mahisa Agni pun harus memusatkan segenap daya tahannya.
Lahir dan batin untuk melawan suara tertawa itu. Suara yang pengaruhnya
seakan-akan dapat mengguncangkan kesadarannya.
Dengan mendengar suara
itu Mahisa Agni segera dapat meraba-raba betapa berbahayanya orang yang
bersembunyi itu. Suara tertawanya sudah mampu mengguncangkan dadanya tanpa
menyentuhnya. Apalagi tangannya. Namun Mahisa Agni telah dibekali dengan
berbagai ilmu oleh gurunya, sehingga dengan demikian, maka betapa pun ia masih
mampu untuk mempertahankan kesadaran dan keseimbangan perasaannya. Bahkan
kemudian terdengar Mahisa Agni itu berkata lantang, “Ah tuan ternyata menunggu
aku di sini.”
Suara tertawa itu
tiba-tiba berhenti. Dan meloncatlah dari dalam gerumbul itu sebuah bayangan
hitam yang tidak begitu jelas di dalam malam yang kelam. Namun Mahisa Agni masih
juga dapat melihat ujud dan bentuk rubuh itu. Tidak terlalu tinggi, namun
tampaknya dadanya lebar dan perutnya besar. Tetapi ia tidak dapat melihat tubuh
itu dengan jelas. Yang terdengar kemudian orang itu berkata dengan suaranya yang
parau, “He, akhirnya kau lewat juga di sini setelah berbulan-bulan aku
menunggumu.”
Mahisa Agni terkejut
mendengar kata-kata orang itu. Berbulan-bulan ia menunggu. Dengan demikian maka
orang ini sama sekali bukan orang yang digelisahkannya, yang tiga hari yang
lampau berjalan mendahuluinya. Meskipun demikian Mahisa Agni masih harus mencoba
mengetahui, siapakah yang sedang dihadapinya itu.
Orang itu, yang baru saja
meloncat dari dalam gerumbul itu, kemudian berjalan perlahan-lahan mendekatinya.
Dalam malam yang gelap itu, jelas dapat dilihat oleh Mahisa Agni bahwa orang itu
berjalan agak timpang. Meskipun demikian nampaknya orang timpang, itu cukup
tangkas dan lincah.
Beberapa langkah di
hadapan Mahisa Agni, orang timpang itu berhenti. Ditatapnya wajah Agni dan
kemudian dengan suaranya yang parau ia bertanya, “Nah, anak muda. Akhirnya kau
datang juga.”
Mahisa Agni menjadi
berdebar-debar mendengar sapa itu. Jawabnya, “Apakah kau sedang menunggu
seseorang di sini?”
“Ah, jangan berpura-pura.
Aku sudah menunggumu sejak berbulan-bulan yang lalu. Hampir aku menjadi putus
asa. Namun akhirnya kau datang juga,” sahut orang timpang itu.
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Kemudian tiba-tiba ia berkata menyentak, “Jangan bohong! Kau baru
tiga hari datang di tempat ini. Bukankah kau baru datang dari Gunung Merapi?”
Orang timpang itu
terkejut. Sesaat ia berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengar kemudian tawanya
berderai. Jawabnya, “Jangan mengada-ada. Apakah kau sedang bermimpi?”
Mahisa Agni pun tertawa.
Ia tidak mau tenggelam dalam pembicaraan yang melingkar-lingkar, yang
seakan-akan ingin menyeretnya dalam persoalan yang tak dimengertinya. “Orang ini
sedang menjebak aku,” katanya di dalam hati. Karena itu ia menjawab, “Apakah kau
melihat aku sedang tidur?”
Orang timpang itu
mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menatap wajah Mahisa Agni dengan seksama.
Gumamnya, “Sayang, malam begini gelap. Namun aku dapat menduga bahwa kau adalah
seorang anak muda yang tampan. Siapakah namamu?”
Mahisa Agni tidak segera
menjawab. Ia menjadi ragu-ragu sejenak. Apakah orang itu perlu mengetahui
namanya? Maka sebelum persoalannya menjadi jelas, maka ia tidak ingin menyebut
namanya. Karena itu ia tidak menjawab pertanyaan orang timpang itu, bahkan
terdengar ia bertanya, “Siapakah kau?”
Orang itu menjadi heran
mendengar pertanyaan Agni. Katanya, “He, anak muda. Kau benar-benar tidak
mengenal sopan santun pergaulan. Meskipun telah berbulan-bulan aku menyingkir
dari pergaulan, namun aku masih menerapkannya. Apakah kau sangka meskipun di
dalam rimba yang sepi ini, di antara kita, manusia-manusia ini, sudah tidak
perlu lagi tata kesopanan?”
Mahisa Agni
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tertawa pendek ia menjawab, “Apakah kau
memperkenalkan dirimu dengan sopan kepadaku? Apakah suara tertawamu itu pun
menunjukkan tata pergaulan orang-orang beradab? Ki Sanak, aku telah mencoba
menyesuaikan diriku dengan caramu menyambut kedatanganku.”
Terdengar orang timpang
itu menggeram. Suaranya yang parau menjadi semakin parau. Dalam keremangan malam
itu, semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin jelas melihat wajah orang timpang
itu. Wajahnya pun agaknya telah berkerut-kerut dan beberapa bagian tampaknya
telah menjadi cacat.
“Hem,” sahut orang
timpang itu, “jangan terlalu sombong.”
“Tidak,” jawab Agni,
“pertemuan kita adalah pertemuan yang aneh. Apakah dalam pertemuan yang demikian
kau perlu mengenal namaku? Kalau kau merasa, bahwa kedatangan seseorang yang
telah kau tunggu-tunggu, maka aku sangka kau telah mengenal aku.”
“Kau memang pandai
berbicara anak muda,” berkata orang timpang itu, “tetapi kepandaianmu berbicara
belum mencerminkan kejantananmu, meskipun aku yakin, bahwa kau pasti bukan orang
kebanyakan. Ternyata kau telah berani penempuh perjalanan ini.”
“Nah, sekarang katakan,
apa perlumu?” bertanya Agni tiba-tiba.
Kembali orang itu
terkejut. Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian ia menjawab, “Kau belum
menjawab, siapa namamu.”
“Pertanyaanmu tak akan
kujawab. Kau pun menyembunyikan beberapa persoalan. Kau sama sekali belum lama
berada di daerah ini. Kenapa kau katakan telah berbulan-bulan.”
“Aku memang telah
berbulan-bulan berada di tempat ini. Ketahuilah, orang yang kau katakan, yang
datang tiga hari yang lampau ke daerah ini, dan datang dari Gunung Merapi itu,
selamanya tidak akan kembali lagi.”
Dada Mahisa Agni berdesir
mendengar jawaban itu. Matanya tiba-tiba menjadi semakin tajam memandang wajah
orang timpang yang menyeramkan ini. Dan tiba-tiba saja, Mahisa Agni telah
bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Yang terdengar kemudian ia bertanya, “Ke
mana orang itu?”
“Orang itu pun terlalu
sombong seperti kau. Ia tidak mau menyebut namanya, selain asalnya itu, dari
Gunung Merapi. Nah, sekarang tak seorang pun yang tahu, mayat siapakah yang
telah terapung-apung di rawa-rawa itu.”
“Orang itu kau bunuh?”
“Ya. Ia menjengkelkan
sekali seperti kau.”
“Hanya karena itu sudah
cukup alasan bagimu untuk membunuh?”
“Tentu. Orang itu tidak
mau menjawab pertanyaanku. Karena itu, aku menyangka bahwa orang itulah yang aku
tunggu-tunggu selama ini. Namun akhirnya setelah orang itu mati, ternyata yang
aku cari tak ada padanya.”
Mahisa Agni menarik nafas
dalam-dalam. Orang ini agaknya benar-benar orang yang telah menjadi buas. Namun
ia masih bertanya, “Apakah sebenarnya yang kau cari?”
“Baik, aku akan
memberitahukan kepadamu. Tetapi kalau bersikap seperti orang Gunung Merapi itu
kau pun akan mengalami nasib yang sama,” orang itu berhenti sejenak. Dan
tiba-tiba saja ia bertanya, “Kau datang dari mana?”
Mahisa Agni berpikir
sejenak. Kemudian jawabnya,Aku datang dari kaki Gunung Kawi.”
“Hem,” gumam orang itu,
“orang-orang dari berbagai gunung datang ke kaki Gunung Semeru. Nah, sekarang
katakan kepadaku, apakah kau akan mengambil akar di dalam gua di lereng itu?”
Pertanyaan itu
benar-benar mengejutkan Mahisa Agni. Ternyata bahwa selain gurunya ada orang
lain yang mengetahui akar wregu putih di dalam gua tersebut. Namun Mahisa Agni
bukan menjadi bingung karenanya. Jawabnya, “Apakah orang yang kau bunuh itu juga
mencari benda yang kausebutkan itu?”
—–
“Orang itu kau bunuh?”
“Ya, ya menjengkelkan sekali seperti kau.”
“Hanya karena itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”
—–
“Jangan membuat aku
marah!” bentak orang itu, “Kau tidak pernah menjawab pertanyaanku. Kau selalu
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Sekarang jawab pertanyaanku, apakah
kau juga sedang mencari akar wregu putih itu?”
“Kau juga jangan membuat
aku marah,” jawab Agni dengan berani. Perjalanan telah ditempuh sekian lamanya.
Kini gua itu sudah di depan hidungnya. Karena itu, apa pun yang akan dihadapinya
ia tidak akan gentar.
Mendengar jawaban Mahisa
Agni, orang timpang itu menjadi bertambah heran. Terdengar ia menggeram,
“Alangkah beraninya kau anak muda. Apakah kau belum pernah mendengar sebuah nama
yang cukup terkenal di sekitar daerah Gunung Semeru ini. Akulah yang bernama
Empu Pedek.”
Dada Mahisa Agni bergetar
mendengar nama itu. Meskipun nama itu belum pernah didengarnya, namun terasa
sesuatu yang telah menggetarkan dadanya. Meskipun demikian ia tetap pada
sikapnya. Siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan jawabnya, “Hem. Baru
sekarang kau mau menyebut namamu. Tetapi kau belum menyebut apakah yang
sebenarnya sedang kau cari, sehingga kau bunuh orang dari kaki Gunung Merapi
itu.”
Orang timpang itu
memandang Mahisa Agni seperti hendak membelah dadanya dengan sinar matanya.
Kepalanya dimiringkannya ke kanan, dan kemudian terdengar suaranya parau,
“Ternyata kau pun akan mengalami nasib yang sama. Orang dari Gunung Merapi itu
pun akan mengambil akar wregu putih itu. Tetapi ia benar-benar orang gila. Akar
itu sendiri tak akan bermanfaat bagi seseorang. Sekarang katakan kepadaku hai
anak muda, supaya nyawamu aku biarkan tinggal di dalam tubuhmu. Manakah trisula
itu?”
Dada Mahisa Agni
seakan-akan tertimpa guruh yang langsung menyambar dirinya. Pertanyaan itu
benar-benar mengejutkannya. Ternyata orang yang menamakan diri Empu Pedek itu,
tidak saja mengetahui akar wregu putih di dalam gua yang sedang ditujunya, namun
ia tahu juga tentang trisula, rangkapan akar wregu itu. Karena itu, kini Mahisa
Agni pun menjadi semakin pasti, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan tempat
itu tanpa beradu kesaktian. Karena itu, maka segera diaturnya perasaannya.
Disiapkannya segala ilmu yang telah dimilikinya, untuk menghadapi setiap
kemungkinan. Tidak mustahil, bahwa Empu Pedek ini adalah seorang yang sakti. Dan
ia sama sekali tidak dapat menduga, apakah ia akan mampu untuk menahan kemarahan
orang timpang itu..
Namun betapa pun juga,
Mahisa Agni pantang surut. Telah banyak bahaya yang diatasinya di sepanjang
perjalanan. Namun ia sadar bahwa bahaya kali ini, jauh lebih berarti dari
segenap rintangan yang pernah ditemuinya.
Karena Mahisa Agni tidak
segera menjawab, maka kembali terdengar suara parau Empu Pedek, “He anak muda.
Manakah trisula itu?”
Mahisa Agni mengerutkan
keningnya. Dengan lantang ia menjawab, “Ternyata bukan aku yang sedang bermimpi,
tetapi kau.”
“Setan!” sahut orang itu.
Suaranya yang parau itu bergetar. Mahisa Agni merasakan, betapa orang timpang
itu mengendalikan kemarahannya. Katanya, “Anak muda. Bagimu akan berakibat sama.
Kau pasti akan kehilangan trisula itu. Hidup atau mati.”
“Trisula apakah yang
sedang kau katakan itu?”
“Jangan bohong seperti
orang Gunung Merapi itu. Kau pasti memiliki sebuah trisula kecil yang bernama
kekuning-kuningan. Kalau tidak, tak akan kau cari akar wregu itu.”
“Apakah orang dari Gunung
Merapi itu juga berbohong?”
Orang itu mengerutkan
keningnya. Kemudian sambil membentak ia berkata, “Apa pedulimu? Orang itu telah
mati.”
“Dan trisula itu tak ada
padanya,” potong Agni.
“Karena itu pasti ada
padamu.”
“Kau akan membuat
kesalahan untuk kedua kalinya. Aku tidak membawa Trisula itu,” jawab Agni.
Mata orang timpang itu
tiba-tiba menjadi liar. Sekali-kali ia memandang wajah langit yang biru gelap,
kemudian merayap ke segenap penjuru. Namun akhirnya kembali hinggap di wajah
Mahisa Agni.
“Aku tidak peduli. Akan
aku bunuh semua orang yang lewat di sini. Akan aku cari pada mayatnya, trisula
itu.”
Betapa pun kata-kata itu
membuat bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Bukan karena ia menjadi ketakutan, namun
betapa orang yang dihadapinya itu benar-benar telah menjadi buas. Karena itu
maka hatinya justru menjadi semakin teguh. Dan bahkan tiba-tiba ia berkata, “Empu
Pedek. Sebenarnya di antara kita tidak ada persoalan. Aku minta kepadamu supaya
kau batalkan niatmu.”
Terdengar Empu Pedek itu
tertawa nyaring. Sedemikian nyaringnya sehingga seakan-akan daun-daun pepohonan
menjadi bergoyang karenanya. Bahkan semakin lama menjadi semakin keras dan
memuakkan. Perlahan-lahan terasa di dada Mahisa Agni getaran-getaran aneh yang
merayap-rayap seakan-akan melibat jantungnya. Tetapi Mahisa Agni tidak
membiarkan jantungnya menjadi beku. Ia sadar, bahwa orang timpang itu telah
mulai menyerangnya. Karena itu ia harus mengadakan perlawanan. Namun karena
orang timpang itu belum menyerang dengan tubuhnya, Mahisa Agni pun masih ingin
bertahan dengan kekuatan batinnya Dalam keadaan yang demikian, betapa Agni
berterima kasih kepada gurunya. Ilmu diberikan kepadanya ternyata telah cukup
banyak, sehingga ia telah berhasil mengatasi sebagian dari rintangan-rintangan
di dalam perjalanannya. Bukan saja perjalanan kali ini, namun perjalanan seluruh
hidupnya, yang pasti akan ditemuinya rintangan-rintangan yang tak kalah beratnya.
Juga Mahisa Agni kini menyadari kebenaran perhitungan gurunya, supaya trisulanya
tidak dibawanya serta. Ternyata setidak-tidaknya Empu Pedek ini pun telah
mengetahuinya, kedahsyatan pusaka rangkap itu.
(hilang beberapa
paragraph)
….. bersiaga penuh.
Dengan tangkasnya ia menghindari serangan itu, dan setangkas itu pula Mahisa
Agni membalas serangan itu dengan sebuah pukulan pada tengkuknya selagi ia masih
ditarik oleh tenaga serangannya. Namun orang itu pun cekatan pula. Dengan cepat
ia merendahkan tubuhnya, meskipun kemudian ia harus berguling sekali. Tetapi
dengan lincahnya ia melenting berdiri tegak. Bahkan sudah siap pula dengan
serangan-serangannya. Sekali lagi Mahisa Agni melihat jari-jari tangan orang itu
mengembang seperti hendak mencengkeram. Dan sekali lagi Mahisa Agni melihat
orang itu dengan kasarnya menyerangnya dengan satu terkaman. Kali ini pun Mahisa
Agni sempat menghindarkan diri dan bahkan membalasnya dengan serangan kaki yang
mendatar, namun dengan menggeliat orang timpang itu pun berhasil lepas dari
garis serangannya.