Meraba Matahari 02

 

Terasa jantung kedua Tumenggung itu bergejolak. Bahkan Ki Sanggayuda hampir tidak dapat menahan diri lagi.

Namun orang yang mengaku saudagar itulah yang kemudian berkata “Kami tidak menghendaki kematian siapa-siapa. Kami hanya akan membalas sakit hati kami”

“Tetapi kau dengar tantangannya. Jika kau menarik niatmu, maka bukan kita yang membalas sakit hati karena penghinaan orang-orang Paranganom. Tetapi kitalah yang justru saat ini dihinakan lebih dalam lagi oleh hanya dua orang Paranganom yang berada di tengah-tengah kita orang-orang Kateguhan“

“Tetapi kematian akan berakibat semakin memburuknya hubungan antara Paranganom dan Kateguhan”

“Itulah yang kita inginkan. Jika hubungan yang buruk itu memuncak, maka Kateguhan harus mengusulkan kepada Kangjeng Sultan di Tegallangkap, agar Tegallangkap tidak mencampuri pertentangan antara Paranganom dan Kateguhan, sehingga biarlah Paranganom dan Kateguhan sendirilah yang menyelesaikan persoalan-persoalan diantara mereka”

”Tetapi sebaiknya kita tidak membunuh siapa-siapa” berkata saudagar itu kemudian.

“Kamilah yang akan membunuh”

“Akibatnya akan buruk sekali”

“Paranganom tidak akan mengetahui bahwa dua orang warganya mati disini. Tidak akan ada saksi. Tidak akan ada orang yang mengaku melihat sebuah pembunuhan atas dua .orang Paranganom. Jika ada yang mencobanya, meskipun ia orang Kateguhan, iapun akan mati juga”

“Jika kematiann.ya tidak didengar oleh Paranganom, lalu apa gunanya? Orang-orang Paranganom tidak akan merasakan pembalasan apapun dari orang-orang Kateguhan karena mereka tidak mengetahui dan tidak mendengar apa-apa yang terjadi”

“Mereka akan tetap merasa kehilangan. Biarlah mereka mencari. Mereka tentu akan menduga bahwa kedua orangnya telah dibunuh di Kateguhan. Tetapi mereka tidak akan dapat membuktikannya”

“Aku berkeberatan”

Orang berkumis melintang itu tertawa terbahak-bahak. Katanya “Temyata kaulah yang pengecut. Itulah sebabnya orang-orang Paranganom selalu menghina dan merendahkan orang-orang Kateguhan karena sebagian dari orang-orang Kateguhan memang pengecut. Nah, minggirlah. Jangan ikut campur. Tetapi jika kau berkhianat dan bersaksi atas kematian kedua-orang itu, maka kau dan keluargamu akan kami tumpas pula”

“Nah, dua orang Paranganom yang malang. Kalian berdua akan mati. Mayat kalian akan di kubur di gumuk kecil itu. Kematiaan kalian akan membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dari orang-orang Kateguhan”

Ki Sanggayuda benar-benar telah kehabisan kesabaran. Karena itu, maka iapun berkata dengan nada suara yang berat dan bergetar “Jika kalian sudah benar-benar berniat membunuh, maka akupun tidak akan menahan diri, jika aku harus membunuh.”

“Orang-orang Paranganom memang orang-orang yang sombong. Sekarang bersiaplah untuk mati. Ingat, tidak akan ada saksi yang melihat kematianmu. Tidak akan ada orang yang pernah mengatakan bahwa di gumuk kecil itu telah dikubur dua orang Paranganom yang sombong, tetapi yang nasibnya buruk sekali”

Namun Ki Tumenggung Wiradapa masih sempat berkata “kami akan menunggu kalian di luar Ki Sanak. Kami tidak ingin merusakkan perabot yang ada di kedai ini”

“Bagus. Temyata kalian cukup tenang menghadapi kematian kalian. Baik. Kami akan membunuhmu di luar kedai ini”

Ketika Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda beranjak dari tempatnya, orang berkumis melintang itu berteriak “Jangan biarkan keduanya melarikan diri”

Tetapi saudagar itu justru bertanya kepada orang yang berkumis melintang “Kalian itu siapa Ki Sanak?”

“Kau terlambat bertanya, Ki Sanak. Siapapun kami, tetapi kami akan tetap menjunjung tinggi harga diri orang-orang Kateguhan”

Saudagar itu tidak bertanya lebih jauh. Orang-orang itu nampaknya begitu garang.

Sesaat kemudian Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda telah berada di halaman kedai itu. Sejenak kemudian, empat orang yang nampak garang dan kasar telah turun ke halaman pula.

Ki Tumenggung Sanggayudalah yang sudah tidak sabar lagi. Karena itu, Ki Tumenggunglah yang justru melangkah mendekati keempat orang itu sambil berkata “Bersiaplah. Aku tidak ingin berbicara lagi”

Sikap itu sungguh mengejutkan. Keempat orang itu tidak mengira, bahwa orang Paranganom itulah yang justru mendahuluinya.

Sebenarnyalah, Ki Tumenggung Sanggayuda tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja tangannya telah terayun dengan cepatnya menghantam wajah orang yang berkumis lebat itu. Demikian kerasnya, sehingga orang itu telah berputar kesamping sambil berteriak kesakitan namun sekaligus rnengumpat kasar.

“Iblis kau, he? “

Ki Sanggayuda tidak menghiraukannya. Kakinya dengan cepat terayun meyambar dada orang yang kepalanya bulat, bermata cekung.

Orang im terlempar beberapa langkah surat dan kemudian jatuh menimpa dinding kedai.

Dengan demikian, maka kawan-kawan merekapun segera bergeser menjauh. Bahkan orang yang berkumis melintang itupun meloncat mengambil jarak sambil berkata “licik kau orang Paranganom. Kau menyerang saat kami belum bersiap”

“Apakah aku licik? Jika kalian ingin berkelahi dengan jantan, marilah. Kita berdua. Siapakah dua orang diantara kalian yang akan mati”

Kata-kata Ki Tumenggung Sanggayuda benar-benar membuat orang-orang yang kemudian mengerumuninya menjadi berdebar-debar. Sementara itu, empat orang yang larang itu telah bersiap pula menghadapi mereka berdua.

“Kalian dengar tantanganku? Orang-orang Paranganom adalah orang-orang yang jantan yang berkelahi seorang melawan seorang”

“Persetan dengan kejantanan orang-orang Paranganom. Yang penting bagi kami sekarang adalah menghinakan kalian dan membunuh kalian”

“Bagus. Kita akan segera mulai. Jangan hanya berbicara saja dan kemudian menganggap kami licik”

Keempat orang itupun segera bersikap. Namun ternyata mereka terkejut juga ketika Ki Sangayuda meloncat sambil berputar. Kakinya melingkar menebas langsung mengenai kening salah seorang diantara empat orang itu.

Orang itupun terlempar dengan kerasnya menimpa kawannya yang berdiri disebelahnya. Dua orang itupun jatuh berguling di tanah.

Namun dua orang kawannya tidak sempat membantu keduanya bangkit. Dengan garangnya Ki Tumenggung Sanggayudapun telah menyerang mereka berdua. Seorang terdorang sumt beberapa langkah karena kaki Ki Sanggayuda yang mengenai lambungnya, seorang lagi terdorong surut sehingga hampir saja kehilangan keseimbangannya pula, karena tangan Ki Sanggayuda yang menghantam kening.

Ki Tumenggung Wiradapa berdiri saja termangu-mangu. Ia tidak berbuat apa-apa melihat sikap Ki Tumenggung Sanggayuda yang benar-benar merasa tersinggung.

Demikianlah sejenak kemudian, Ki Tumenggung Sanggayuda telah bertempur seorang diri melawan keempat orang yang akan membunuhnya itu. Betapapun keempat orang itu mengerahkan kemampuan mereka, namun mereka bukanlah lawan yang seimbang bagi Ki Tumenggung Sanggayuda yang memiliki ilmu yang tinggi itu.

Ketika orang yang berkumis melintang itu berteriak memberi aba-aba kepada kawan-kawannya, maka suaranyapun terputus ketika kaki Ki Tumenggung Sanggayuda menghantam dadanya.

Orang itu terlempar beberapa langkah. Kemudian jatuh terbanting ditanah.

Sejenak orang itu tidak bergerak. Tulang punggungnya rasa-rasanya bagaikan menjadi patah.

Sementara itu, tiga orang kawannya masih bertempur melawan Ki Tumenggung Sanggayuda. Namun mereka seakan-akan sudah tidak berdaya. Serangan-serangan Ki Sanggayuda tidak lagi dapat mereka tangkis atau mereka hindari.

Orang yang kepalanya bundar, seakan-akan telah kehilangan seluruh tenaganya. Ketika tangan Ki Tumenggung Sanggayuda terjulur mengenai dadanya, orang itu terhuyung-huyung sejenak. Namun kemudian ia telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terguling seperti sebatang pohon pisang yang roboh.

Dua orang kawannya berusaha untuk serentak menyerang Ki Tumenggung dari dua sisi. Tetapi dengan cepatnya Ki Tumenggung melenting. Dengan demikian maka keduanyapun justru telah berbenturan. Keduanyapun jatuh terguling di tanah.

Sejenak Ki Tumenggung Sanggayuda berdiri termangu-mangu. Sementara itu, orang yang berkumis melintang uupun telah berdiri tegak. Meskipun demikian, punggungnya terasa nyeri sekali.

“Sekarang, apa maumu?” bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.

Orang itu termangu-mangu sejenak.

Karena orang itu tidak segera menjawab, maka Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Cobalah membunuh aku, agar aku mempunyai alasan untuk membunuhmu”

Orang itu masih berdiri saja mematung ”Cepat lakukan. Atau kau memang seorang yang sangat licik sehingga kau sudah menjadi ketakutan? Kau telah menyebut orang yang mengurungkan niatnya untuk menghinakan aku sebagai pengecut. Dengan wajah tengadah kau berteriak, bahwa ada juga orang Kateguhan yang pengecut. Ternyata orang itu adalah kau sendiri”

Orang itu masih belum menjawab. Karena itu Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Baik. Jika kau tidak mau menjawab, maka itu berarti bahwa kau tetap menantangku. Karena kau sudah bemiat untuk membunuhku, maka sekarang akupun akan membunuhmu. Kemudian aku akan melarikan kudaku melintasi perbatasan. Oang-orang Kateguhan tidak mempunyai wewenang lagi untuk menangkapku. Jika orang-orang Kateguhan marah. biarlah Kateguhan menyerang Paranganom. Aku akan segera minta Kangjeng Adipati untuk menyiapkan prajurit serta memberikan laporan kepada Kangjeng Sultan Tegallangkap. Kangjeng Sultan tentu akan merunut siapakah yang bersalah dan siapakah yang benar”

Orang berkumis melintang itu menjadi pucat. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa berempat ia tidak dapat mengalahkan satu orang saja dari kedua orang Paranganom itu.

Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian iapun berteriak “He, orang-orang Kateguhan. Apakah kalian membiarkan kedua orang ini semakin menghina kita orang-orang Kateguhan? Marilah. Kita bersama-sama menangkap kedua orang itu. Membunuh mereka dengan cara yang paling menyakitkan bagi keduanya”

Suasana menjadi semakin tegang. Beberapa orang yang berdiri mengerumuni perkelahian itu justru diam mematung.

“Marilah. Bangkitlah. Jangan membiarkan orang-orang Paranganom semakin menghina dan merendahkan kita”

Orang yang mengaku saudagar dan yang telah menyulut api keributan itu berdiri dengan jantung yang berdebaran.

Orang yang berkumis melintang itupun memandanginya dengan mata yang bagaikan menyala. Katanya “He, kau. Ki Sudagar. Turunlah ke arena. Ajak kawan-kawanmu untuk menghinakan orang-orang Paranganom ini”

Tetapi saudagar itu tidak bergerak. Tubuhnya bagaikan membeku. Ia menjadi sangat menyesal atas gagasannya yang telah menimbulkan persoalan yang gawat, yang menganeam keselamatan jiwa.

Karena saudara itu diam membeku, maka orang berkumis melintang itu mendekatinya. Dengan garangnya orang itu menggapai baju saudagar itu sambil berkata lantang “Kenapa kau diam saja? Temyata kau pengecut yang paling buruk di Kateguhan. Kau sulut api, tetapi kau kemudian telah mencuci tangan”

Tetapi saudagar itu menggeleng. Katanya “Sudah aku katakan, bahwa aku tidak ingin membunuh siapa-siapa”

“Persetan kau. Lalu apa yang akan kau lakukan dengan gagasanmu itu. Baiklah. Jika kau tidak mau membunuh siapa-siapa, lakukan apa yang kau katakan. Kau akan menghinakan kedua orang itu. Melucuti pakaiannya dan membiarkan mereka pulang ke Paranganom. Lakukan.. Lakukan sekarang”

Tetapi saudagar itu menggeleng. Katanya “Tidak. Kita tidak dapat ingkar. bahwa orang itu berilmu sangat tinggi. Seorang saja diantara mereka telah berhasil mengalahkan kalian berempat. Apalagi jika mereka bergerak kedua-duanya”

“Tetapi mereka tidak akan dapat melawan kita semuanya jika kita bersama-sama melawan mereka”

“Tidak, Ki Sanak. Aku tidak mau”

” Jika kau tidak mau, justru aku akan membunuhmu”

Saudagar itu mengerutkan dahinya. Namun tangannya segera menepis tangan orang berkumis melintang yang menggenggam bajunya sambil berkata “Jangan paksa aku”

“Setan kau”

Orang berkumis melintang itupun mengayunkan tangannya untuk menampar wajah saudagar yang tidak mau melakukan sebagaimana dikatakannya itu. Tetapi tiba-tiba saja saudagar itu menangkapnya dan memilinnya kebelakang. Dipeganginya tangan yang dipilinnya itu kuat-kuat sambil berkata ”Kau jangan mencari musuh, Ki Sanak”

Orang itu menyeringai kesakitan. Ia tidak dapat melepaskan tangannya. Apalagi punggungnya terasa sangat sakit.

“Lepaskan, Lepaskan” teriak orang itu.

“Kau harus tahu, bahwa kau bukan orang yang tidak terkalahkan disini. Meskipun aku tidak akan dapat bertuat apa-apa dihadapan orang Paranganom yang berilmu sangat tinggi itu, tetapi aku tidak dapat kau takut-takuti”

“Lepaskan tanganku, lepaskan”

“Kau harus berjanji untuk tidak mengulanginya”

“Aku berjanji”

“Kau harus minta maaf”

“ Aku minta maaf” .

Saudagar itu melepaskan tangan orang berkumis melintang itu sambil mendorongnya. Demikian kerasnya, sehingga orang itu jatuh terjerembab.

Orang itupun menggeliat. Kemudian berusaha untuk bangkit.
Ternyata wajah orang itu menjadi kotor oleh debu yang melekat karena keringatnya. Dari sela-sela bibirnya mengalir darah dari bibirnya yang peeah.

Orang yang mengaku saudagar itupun kemudian melangkah mendekati Ki Tumenggung Sanggayuda.

“Kau akan mencoba melawanku“ geram Ki Tumenggung Sanggayuda yang jantungnya masih terasa panas.

“Tidak, Ki Sanak. Kami ingin minta maaf. Kami tidak akan berani berbuat apa-apa atas Ki Sanak berdua”

Ki Tumenggung Sanggayuda termangu-mangu sejenak, Namun kemudian iapun menggeram “Satu pengalaman yang buruk selama perjalananku dari rumah paman Partabawa”

“Sekali lagi. kami minta maaf. Kami berjanji untuk tidak mengganggu perjalanan kalian berdua”

Ki Tumenggung Sanggayuda tidak segera menjawab. Sementara itu orang yang mengaku saudagar itu berkata selanjutnya “Untunglah kalian masih mengekang diri. Jika kalian berdua menjadi marah bersama-sama, maka aku tidak dapat membayangkan, apa yang terjadi. Mungkin akan benar-benar jatuh korban jiwa ditempat ini. Jika itu terjadi, akulah yang paling bersalah”

Ki Tumenggung Sanggayuda tidak menjawab. Iapun kemudian melangkah justru meninggalkannya.

“Kakang Wiradapa, marilah kita tinggalkan tempat Ini. Semakin lama kita.disini, aku menjadi semakin muak. Aku justru takut kalau aku tidak dapat mengekang diriku lagi“

Ki Tumenggung Wiradapa tersenyum. Katanya “Kau masih tetap dapat mengendalikan diri. Marilah kita pergi” Keduanyapun kemudian melangkah ke kuda-kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah meloncat naik. Ketika kuda-kuda itu mulai bergerak, Ki Tumenggung Sanggayuda masih berkata “Jika kalian masih penasaran, kami akan datang lagi pada kesempatan lain. Sakit hatiku tidak dapat lenyap begitu saja seperti noda-noda pada pakaian yang larut setelah dicuci”

“Kami minta maaf yang sebesar-besamya, Ki Sanak”

Bab 18 – Terot Di Rumah Aden Ayu

“Sikap orang-orang Kateguhan seperti inilah yang membuat jarak antara Kateguhan dan Paranganom menjadi semakin jauh”

Saudagar itu tidak sempat menjawab. Ki Tumenggung Sanggayudapun segera melarikan kudanya. Disusul oleh Ki Tumenggung Wiradapa.

“Gila orang-orang Kateguhan“ geram Ki Tumenggung Sanggayuda ketika Ki Tumenggung Wiradapa menyusulnya.

Ki Tumenggung Wiradapa tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja sambil menggerakkan kendali kudanya.

Dalam pada itu, empat orang yang kesakitan masih merangkak-rangkak menepi. Merekapun kemudian duduk di lineak bambu di depan kedai itu. Saudagar yang merasa telah menyulut api pertentangan itupun berdiri dihadapan orang yang berkumis melintang itu sambil berkata “Jika kau menganggap bahwa persoalan ini belum selesai, maka kau akan berurusan dengan aku. Mungkin kau mempunyai banyak kawan yang dapat kau gerakkan untuk memusuhi aku. Tetapi aku juga mempunyai banyak orang yang akan melindungi aku”

Orang berkumis melintang itu tidak menjawab. Sementara itu, saudagar itupun pergi menemui pemilik kedai yang menjadi gemetar itu.

Saudagar itupun memberikan beberapa keping uang sambil berkata “Hitung kerugianmu. Jika uangku kurang, katakan. Besok akan aku tambah lagi” -

“Terima kasih, Ki Sudagar“ berkata pemilik kedai itu. Sebenarnyalah tidak ada perabotnya yang rusak. Tetapi ada beberapa orang yang tidak sempat membayar karena mereka tergesa-gesa pergi karena ketakutan”

Dalam pada itu, kedua orang Tumenggung itupun melarikan kuda mereka dengan kencangnya. Perbatasan antara kadipaten Paranganom dan kadipaten Kateguhan memang tidak terlalu jauh lagi.

Karena itu, maka beberapa saat kemudian, merekapun telah melintasi perbatasan kedua kadipaten yang kedua-duanya berada di dalam lingkaran kuasa Kangjeng Sultan di Tegallangkap.

Demikian keduanya berada di tlatah kadipaten Paranganom, maka Ki Tumenggung Sanggayuda mengekang kudanya, sehingga.seakan-akan berhenti sama sekali.

Ki Tumenggung Wiradapa agak terdorong beberapa -langkah maju. Namun iapun segera berhenti menunggu kuda Ki Tumenggung Sanggayuda yang berjalan selangkah-langkah.

“Ada apa adi Tumenggung?“ bertanya Ki Tumenggung Wiradapa”

“Alangkah segarnya udara kadipaten Paranganom. Demikian kita melewati gapura yang berada di perbatasan itu, rasa-rasanya aku telah meninggalkan neraka yang panasnya melampaui panasnya api arang batok kelapa”

Ki Tumenggung Wiradapa tersenyum. Katanya “Orang Kateguhan sendiri telah membuat lingkungannya menjadi sangar, sehingga akhirnya orang-orang Paranganom akan benar-benar merasa segan untuk pergi ke Kateguhan”

“Bukankah itu karena salah mereka sendiri, kakang?

“Ya. Itu adalah salah mereka sendiri”

“ Apakah kita perlu memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati?”

“Kita akan melaporkan seeara umum saja, adi Tumenggung. Kita tidak perlu memberikan laporan terperinci”

Ki Tumenggung Sanggayuda mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kita akan memberikan laporan secara umum saja”

Dalam pada itu, maka haripun menjadi semakin muram. Matahari menjadi semakin rendah dan sejenak kemudian menyusup dibalik pegunungan, cahaya layung yang kekuningan, dengan tajamnya menusuk penglihatan.

“Kita akan bermalam di jalan, kakang berkata Ki Tumenggung Sanggayuda.

“Kita akan melintasi sebuah padukuhan. Kita akan minta untuk diijinkan bermalam di banjar padukuhan itu.

“Didepan kita itu agaknya sebuah padukuhan yang agak besar.

“Tetapi masih terlalu sore untuk berhenti. Kita akan berjalan terus sampai wayah sepi bocah”

“Kakang. Bukankah malam ini malang terang bulan. Anak-anak akan bermain sampai jauh malam”

“Kita akan sempat menonton di halaman banjar padukuhan berikutnya”

Ki Tumenggung Sanggayuda mengangguk.

Sebenarnyalah bahwa malam itu adalah malam bulan terang. Bahkan rasa-rasanya bulan terlalu cepat terbit. Sebelum cahaya layung hilang dari wajah langit, maka bulan sudah mulai nampak diatas cakrawala.

Sejenak kemudian, kedua orang Tumenggung itu memasuki sebuah padukuhan yang agak besar. Demikian mereka menyusup gerbang padukuhan, maka haripun terasa mulai gelap. Cahaya matahari yang tersisa telah menjadi semakin kabur, sedangkan cahaya bulan masih terhalang dedaunan.

Tetapi kedua orang Tumenggung itu memang tidak akan berhenti dan bermalam di banjar padukuhan itu, meskipun keduanya berkuda lewat jalan induk yang melintas didepan banjar.

Banjar padukuhan itu nampak terang oleh lampu yang sudah dinyalakan di pendapa. Bahkan di pendapa itu nampak ada beberapa orang yang duduk melingkar diatas tikar pandan yang putih.

“Agaknya sedang ada pertemuan di banjar berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Ya. Mungkin pertemuan para bebahu. Orangnya tidak begitu banyak”

Ki Tumenggung .Wiradapa mengangguk angguk Demikian mereka mendekati pintu gerbang keluar dari padukuhan itu, mereka sudah melihat beberapa brang anak yang berdiri di regol halaman rumah yang luas Nampaknya mereka baru bersiap-siap untuk bermain-main di halaman yang luas itu.

Beberapa saat kemudian, keduanya telah terlepas dari mulut jalan induk padukuhan itu. Didalam cerahnya cahaya bulan yang menyiram bulak panjang dihadapan mereka, mereka melihat diujung bulak sebuah padukuhan pula. Nampaknya juga padukuhan yang agak besar,

Keduanya tidak melarikan kuda mereka lagi. Agaknya kuda mereka sudah mulai menjadi letih.

Dalam pada itu, bulanpun memanjat semakin tinggi. Cahayanya terpantul di daun-daun padi yang subur. Air yang tergenang di kotak-kotak sawah nampak berkilat-kilat. Sedangkan air yang mengalir di parit, terdengar gerieik dengan iramanya yang lembut.

Beberapa saat kemudian, keduanya telah mendekati padukuhan berikutnya. Demikian mereka sampai di pintu gerbang, maka mereka sudah mendengar suara tembang anak-anak yang sedang bermain.

“Sekarang hari apa, kakang Tumenggung?“ bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.

“Kenapa?“

“Apakah sekarang hari Senin Wage?”

“Ya”

“Besok Selasa Kliwon?“

“Ya. Kenapa? Apakah kau takut malam Selasa Kliwon? ^”

“Bukan aku takut malam Selasa Kliwon. Tetapi tembang anak-anak itu”

“Ada apa dengan tembang mereka?“

“Mereka melagukan dendang ilir-ilir”

“Kenapa dengan ilir-ilir?”

“Apakah kau tidak pernah bermain dimasa kanak-kanak, kakang Tumenggung?“

Ki Tumenggung Wiradapa mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Ki Tumenggung Sanggayudalah yang kemudian berkata “Anak-anak itu mendendangkan tembang ilir-ilir. Mereka tentu bermain nini towong”

“Nini towong. Masih sesore ini? Aku dahulu juga sering bermain nini towong. Tetapi kami mulai tepat ditengah malam”

“Anak-anak yang sudah remaja dan bahkan yang sudah menginjak dewasa memang bermain nini towong mulai tengah malam. Tetapi anak-anak bermain nini towong sejak malam turun”

“Apakah bisa jadi juga?“

“Ya. Aku pernah mencoba dimasa kanak-kanakku” Ki Tumenggung Wiradapa itu menganguk-angguk.

Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah memasuki padukuhan itu. Banjar padukuhan itu terletak tidak terlalu jauh dari pintu gerbang padukuhan.

Padukuhan itu bukan padukuhan yang terlalu asing bagi kedua orang Tumenggung itu. Meskipun mereka belum pernah secara khusus mendatangi padukuhan itu, tetapi mereka telah pernah melewati padukuhan itu.

“Kita akan langsung menemui penunggu banjar “ berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Apakah tidak lebih baik kita menemui Ki Bekel?“

“Nanti kita pergi ke rumah Ki Bekel. AKu ingin melihat, apakah nini towong itu bisa jadi. Menilik suara tembang itu, anak-anak itu bermain di banjar”

Ki Tumenggung Sanggayuda mengangguk sambil tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah keduanyapun langsung menuju ke banjar. Di pintu regol banjar padukuhan, keduanyapun turun dari kuda dan menuntunnya memasuki halaman.

Anak-anak yang sedang bermain itu sempat berpaling. Tetapi mereka segera kembali lagi memusatkan perhatian mereka kepada permainan mereka. Nini towong.

Ki Tumenggung Sanggayuda dan Ki Tumenggung Wiradapa tidak ingin mengganggu anak-anak yang sedang bermain nini towong itu. Karena itu, maka keduanyapun langsung mengikat kuda mereka pada patok-patok kayu di sebelah pendapa. Kemudian keduanyapun duduk di tangga sambil menyaksikan anak-anak yang sedang bermain.

Anak-anak yang ada di halaman banjar itu telah terbagi dua. Sekelompok di Selatan dan sekelompok yang lain beberapa langkah di sebelah Utara. Keduanya memegang tali panjang. Diantara kedua kelompok itu terikat sebuah siwur tempurung kelapa bertangkai bambu. Siwur itulah yang kemudian diberi berpakaian seperti seorang gadis kecil. Diriasnya batok kelapa itu menyempai wajah. Digambarnya mata, hidung dan mulut dengan enjet.

Kemudian kelompok anak-anak itu bersama-sama mendengarkan lagu ilir-ilir sambil menggerakkan tali yang mengikat siwur diantara kedua kelompok itu. Semakin lama semakin keras. Irama dendang merekapun menjadi semakin cepat pula.

Ki Tumenggung Wiradapa menjadi tegang. Lebih tegang dari saat ia melihat Ki Tumenggung Sanggayuda berkelahi melawan ampat orang di kedai itu.

Ki Tumenggung Wiradapa itu justru bangkit berdiri ketika anak-anak yang bermain nini towong itu menjerit-jerit. Mereka tidak lagi melantunkan lagu ilir-ilir. Ada yang menjerit karena kegembiraan yang melonjak. Mereka merasa berhasil dengan permainan mereka. Nini towong itu mampu melonjak-lonjak, sehingga kedua kelompok anak-anak itu harus memeganginya dengan kencang agar nini towong itu tidak terlepas. Tetapi ada yang menjerit-jerit karena ketakutan, bahwa permainan mereka telah kerasukan.

Kedua kelompok anak-anak itu semakin lama semakin keras menarik permainan mereka sambil berteriak-teriak. Sementara itu nini towong mereka yang mereka anggap menjadi hidup itu melonjak-lonjak semakin tinggi. Tali yang menghubungkan kedua kelompok anak-anak dengan nini towong ditengahnya itu menjadi semakin tegang.

Ketika anak-anak itu berteriak-teriak semakin keras, maka tiba-tiba saja tali itupun putus. Kedua kelompok anak itu terlempar dan jatuh saling menindih.

Riuhnya bukan main. Bergegas dan berebut dahulu mereka bangkit berdiri dan berlari menjauhi siwur yang terpelanting jatuh.

Ki Tumenggung Wiradapa tertawa. Iapuri kemudian duduk kembali disebelah Ki Sanggayuda.

Sejenak kemudian, anak-anak yang berlari berpencar itu telah berkerumun kembali. Perlahan-lahan mereka maju mendekati nini towong mereka yang terbaring diam.

“Nini towongnya mati“ berteriak seorang diantara anak-anak itu.

Seorang anak laki-laki yang menginjak usia remajanya melangkah perlahan-lahan mendekat. Seperti seekor kucing yang sedang merunduk seekor tikus.

Namun kemudian anak itu berjongkok disebelah nini towongnya yang tidak bergerak sambil berteriak Ya. Nini towongnya mati”

Seorang gadis kecil yang nampaknya pemberani telah datang mendekat pula. Gadis kecil itu langsung menggapai nini towong yang terbaring diam itu.

“Mati “ katanya “nini towong ini sudah tidak bergerak sama sekali”

“Mari, kita buat lagi”

“Tidak bisa. Hanya sekali. Jika kita ingin membuat lagi, kita harus meneuri siwur lagi”

Ki Wiradapapun berdesis “Kenapa harus mencuri?”

“Untuk dibuat nini towong, bukankah siwur itu harus dicuri di rumah seseorang” jawab Ki Sanggayuda.

“Kalau tidak?”

“Tidak akan jadi “

“Bukankah banyak siwur di pinggir jalan? Aku lihat dibeberapa regol halaman terdapat gentong berisi air bersih untuk disediakan bagi para pejalan kaki yang haus. Bukankah disetiap persediaan air itu terdapat siwur batok kelapa untuk minum”

“Ya. Tetapi nampaknya yang lain sudah menjadi jemu dan akan bermain dengan jenis permainan yang lain”

Ki Wiradapa mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata “Kita tunggu mereka menemukan permainan yang lain. Marilah kita temui penunggu banjar ini untuk minta ijin bermalam disini”

Keduanyapun bangkit berdiri. Merekapun kemudian berjalan menuju ke rumah yang berada di belakang banjar itu.

Agaknya penunggu banjar itu masih duduk-duduk di ruang dalam bersama isterinya dan anaknya yang masih baru dapar berjalan. Karena itu ketika Ki Tumenggung Sanggayuda mengetuk pintunya, maka penunggu banjar itu segera turun dari amben bambunya yang agak besar langsung menuju ke pintu.

“Siapa di luar?“ bertanya penunggu banjar itu.

“Aku Ki Sanak“ jawab Ki Tumenggung Sanggayuda.

Penunggu banjar itupun membuka pintunya yang memang belum diselarak.

“Marilah Ki Sanak, silakan masuk”

Namun Ki Tumenggung Wiradapapun menyahut “Terima kasih. Kami hanya akan mohon. ijin untuk bermalam di banjar ini. Kami kemalaman dalam perjalanan”

“O“ penunggu banjar itupun melangkah keluar “maaf Ki Sanak. Kami sebenarnya tidak berkeberatan memberi kesempatan Ki Sanak berdua bermalam di banjar ini. Tetapi tempatnya hanya sangat sederhana”

“Tidak apa-apa. Jika kami diijinkan bermalam di banjar ini, kami mengucapkan terima kasih,”

“Ada amben yang agak besar di serambi belakang banjar ini, Ki Sanak. Jika kalian tidak berkeberatan, silahkan. Ada sumur dan pakiwan di samping rumah kecil yang aku huni itu. Jika kalian ingin membersihkan diri atau mandi”

“Terima kasih”

“Aku minta maaf, jika hanya tempat sajalah yang dapat kami sediakan. Itupun tempat yang sangat sederhana “

“Sudah cukup, Ki Sanak. Terima kasih”

“Kalian berkuda?”

“Ya”

“Sayang, aku tidak mempunyai persediaan makanan kuda. Tetapi banyak rumput di kebun belakang. Barangkali dapat sekedar mengurangi perasaan lapar kuda kalian. Jangan takut kuda kalian akan hilang. Meskipun di sepanjang perbatasan ini kadang-kadang terdengar suara kentongan, kadang-kadang tiga pukulan terturut-turut, kadang-kadang lima dan bahkan kadang-kadang titir, tetapi padukuhan ini tetap aman”

“Baik, Ki Sanak. Kami akan membawa kuda kami ke kebun belakang”

“Silahkan. Tetapi seperti yang aku katakan, aku tidak dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya”

Ketika kemudian penunggu banjar itu masuk kembali ke dalam rumahnya, maka Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda kembali duduk di tangga pendapa banjar untuk menyaksikan anak-anak yang sedang bermain.

Mereka menyaksikan anak-anak itu berdiri dalam lingkaran. Kemudian berputar sambil mendendangkan lagu jamuran.

“Kita bawa kuda kita ke belakang, kakang Tumenggung“ berkata Ki Sanggayuda “biarlah kuda itu dapat makan rumput serba sedikit”

Ki Tumenggung Wiradapapun mengangguk. Katanya “Kita beri minum saja dahulu di sumur”

Demikian mereka mengikat kuda mereka di kebun belakang banjar yang banyak rumputnya, maka keduanya kembali menyaksikan anak-anak bermain. Tidak lagi jamuran, tetapi mereka bermain surkulon surwetan.

“Anak-anak itu belum mengantuk, walaupun sudah wayah sepi uwong“ berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Jika mereka sedang bermain di terang bulan, maka mereka akan dapat bertahan sampai lewat tengah malam “ sahut Ki Tumenggung Sanggayuda.

Sebenarnyalah anak-anak itu masih saja nampak segar sampai menjelang tengah malam. Mereka masih bermain soyang yang riuh.

Nampaknya Ki Wiradapa sangat tertarik melihat anak-anak bermain. Ia betah duduk di tangga sampai lewat tengah malam. Ketika anak-anak itu menjadi letih, dan bersepakat untuk berhenti bermain, maka merekapun segera menghambur pulang ke rumah masing-masing tanpa perasaan takut. Anak-anak yang biasanya tidak berani ke pakiwan sendiri setelah gelap, tiba-tiba saja menjadi berani pulang dari banjar sendirian lewat tengah malam.

Ketika halaman itu menjadi sepi, maka Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun bangkit berdiri. Tiga orang anak muda memasuki regol halaman banjar dan melangkah langsung menuju ke pendapa.

Ketiga orang anak muda itu tertegun ketika mereka melihat dua orang yang bangkit berdiri di tangga pendapa.

“Siapa kalian?“ bertanya salah seorang anak muda itu.

“Kami pejalan yang minta ijin menginap di banjar ini”

“Kalian sudah berbicara dengan penunggu banjar ini?”

“Sudah anak-anak muda “

Anak anak muda itu mengangguk-angguk. Seorang yang lainpun bertanya “Kenapa kalian duduk saja di tangga. Bukankah di serambi belakang ada amben yang cukup besar untuk kalian pakai tidur berdua?”

“Kami nonton anak-anak bermain di terang bulan”

“O “

Anak-anak muda itupun kemudian naik ke pendapa sambil berkata ”Silahkan beristirahat”

“Terima kasih anak-anak muda “

Namun sebelum mereka beranjak, penunggu banjar itu telah naik dari tangga samping sambil membawa minuman hangat. Iapun kemudian berpaling kepada Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda “Marilah Ki Sanak. Duduklah bersama anak-anak yang meronda. Mereka anak-anak malas yang baru datang lewat tengah malam”

“Aku sudah ada di prapatan itu sejak wayah sepi bocah, kang. Tetapi halaman ini sangat ramai. Aku dan kawan-kawan ini duduk-duduk saja di prapatan”

“Dimana kawanmu yang dua lagi?”

“Mereka masih duduk di prapatan mengamati anak-anak yang mengambur pulang itu”.

Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun telah ikut duduk di pendapa. Sementara itu dua orang lagi yang bertugas ronda di banjar itu telah datang pula.

Selain minuman hangat, penunggu banjar itupun telah merebus ketela pohon dengan santan dan garam.

Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda ikut makan ketela pohon yang masih mengepul itu bersama anak-anak yang sedang meronda. Beberapa pertanyaan harus dijawab oleh kedua orang Tumenggung itu. Namun sampai saatnya mereka meninggalkan pendapa turun ke serambi belakang, mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sebagai Tumenggung di Paranganom.

Keduanya sempat tidur beberapa saat. Namun mereka mendengar ketika anak-anak muda itu meninggalkan pendapa banjar menjelang dini hari.

Kedua orang Tumenggung itupun segera bangkit pula dan langsung pergi ke pakiwan.

Sebelum matahari terbit, keduanyapun telah siap untuk meneruskan perjalanan.

“Kita akan minta din kepada penunggu banjar ini, adi Tumenggung”

“Marilah “ sahut Ki Sanggayuda.

“Aku ingin memberitahukan kepadanya, siapa kita sebenarnya. Memang ada beberapa kemungkinan. Ia menjadi gembira atau justru sebaliknya karena ia tidak dapat menyambut kita dengan sebaiknya-baiknya”

“Kita beritahukan kepadanya, bahwa kita sudah merasa sangat puas dengan pelayanannya”

Ki Tumenggung Wiradapapun mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian, maka mereka berduapun telah minta diri kepada penunggu banjar itu serta isterinya. Seorang anaknya masih baru dapat berjalan. Kakaknya, sudah dapat berlari-lari dan berbicara beberapa kalimat dengan pengertian yang sudah runtut.

“Umur mereka hanya empat belas bulan“ berkata penunggu banjar itu. Isterinya hanya menunduk saja sambil tersenyum.

“Ki Sanak“ berkata Ki Tumenggung Wiradapa “kami akan melanjutkan perjalanan. Jika kalian sempat pergi ke Paranganom, aku persilahkan kalian singgah di rumah kami”

“Terima kasih, Ki Sanak? Kami akan mencoba mencarinya di Paranganom”

“Jika kalian mencari kami, maka kalian dapat bertanya kepada orang-orang yang tinggal disebelah Barat alun-alun.

“Ki Sanak berdua tinggal di sebelah. Barat alun-alun?”

“Ya”

“Jika aku bertanya kepada mereka yang tinggal di sebelah Barat alun-alun, aku harus berkata bahwa aku mencari rumah siapa?”

“Bertanyalah rumah salah seorang dari kami berdua. Kami tinggal berdekatan”

“Nama kalian atau barangkali pekerjaan kalian?”

“Bertanyalah rumah Ki Tumenggung Wiradapa atau Ki Tumenggung Sanggayuda”

“Ki Tumenggung? Apakah kalian tinggal di rumah Ki Tumenggung?”

“Aku adalah Tumenggung Wiradapa”

“Aku adalah Tumenggung Sanggayuda itu”

“Jadi Ki Sanak berdua ini Tumenggung? Apakah benar pendengaranku?”

“Ya, Ki Sanak. Kami berdua adalah Tumenggung di Paranganom yang baru saja menjalankan tugas ke Kateguhan. Kami diperintahkan oleh Kangjeng Adipati Parangkusuma di Paranganom untuk menghadap Adipati Yudapati di Kateguhan”

“Ampun Ki Tumenggung berdua Kami mohon ampun. Kami tidak tahu sama sekali bahwa yang datang semalam adalah dua orang Tumenggung dari Paranganom”

Penunggu banjar itupun berlutut sambil mengangguk dalam-dalam. Namun Ki Tumenggung Wiradapapun menarik lengannya sambil berkata “Bangkidah. Berdirilah”

Ki Tumenggung Sanggayudapun telah mencegah isteri penunggu banjar itu ketika perempuan yang menjadi bingung itu ikut berlutut seperti suaminya

“Kami mohon ampun, Ki Tumenggung”

“Kenapa kau mohon ampun. Kau sudah berbuat baik. Aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu;”

“Kenapa Ki Tumenggung tidak mengatakan sejak semalam”

“Aku ingin tahu apa yang kau lakukan kepada orang kebanyakan. Kau tentu akan menerima dengan baik dan barangkali terlalu baik jika kami langsung mengaku, bahwa kami berdua adalah dua orang.Tumenggung dari Paranganom. Tetapi ternyata bahwa kau bersikap baik kepada orang kebanyakan. Kau terima dengan baik dan kau perlakukan dengan baik. Di malam hari kau beri kami makan dan minum”

“Kami tidak menghidangkan makan malam”

“Ketela rebus itu di mulut kami semalam jauh lebih nikmat dari semangkuk nasi wuduk dengan segala kelengkapannya, termasuk daging ayam dan telur”

“Kami mohon ampun”

“Tidak ada yang harus diampuni. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa”

Penunggu banjar itu menunduk dalam-dalam. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya Bahkan wajahnya menjadi pucat sedangkan suaranya menjadi sedikit bergetar.

“Nah, sekarang kami akan minta diri“ berkata Ki Tumenggung Wiradapa sambil mengambil beberapa keping uang di kantong ikat pinggangnya yang lebar. Diberikannya uang itu kepada anak penunggu banjar yang sudah dapat berlari-lari. “Ini. Nanti buat membeli gelali. Bukankah kau tidak sedang batuk?”

“Anak itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian uang yang beberapa keping itu diterimanya. Dua keping diantaranya jatuh ketanah karena kedua tangannya terlalu kecil untuk menggenggam semua uang pemberian Ki Tumenggung Wiradapa itu”

“Terima kasih Ki Tumenggung” berkata isteri penunggu banjar itu sambil membungkuk dalam-dalam.

Kedua orang Tumenggung itupun kemudian minta diri. Mereka telah mengambil kuda mereka yang semalam suntuk dibiarkan saja di kebun belakang untuk makan rumput.

Perjalanan mereka masih agak panjang. Tetapi mereka berharap, sebelum tengah hari mereka sudah sampai di Paranganom. Mereka bernial langsung menghadap Kangjeng Adipati Paranganom jika Kangjeng Adipati bersedia menerimanya

Sepeninggal Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda, penunggu banjar itu masih saja gelisah. Namun isterinya justru sibuk menghitung keping uang yang diting-galkan oleh Ki Tumenggung Wiradapa di tangan-tangan kecil anaknya yang sulung.

“Banyak sekali, kang” berkata isteri penunggu banjar Itu.

“Mereka orang baik. Kapan-kapan aku berniat untuk datang menghadap Ki Tumenggung berdua. Pada saat-saat pekerjaan kita longgar. Tidak ada kerja di sawah, serta Ki Bekel tidak berkeberatan dan memberi ijin kita meninggalkan banjar ini barang dua hari”

“Kita? Maksud kakang, aku juga ikut?”

“Ya”

“Anak-anak ini?”

“Tentu mereka akan ikut pula”

“Menggendong anak-anak sampai ke Paranganom? Bukankah Paranganom itu jauh?”

Penunggu banjar itu menarik nafas panjang. Katanya “Jika saja kita mempunyai pedati”

“Kang. Bukankah sering ada pedati dari kota yang datang kemari? Para saudagar yang sedang mencari dagangan?”

“Mereka datang untuk membeli kambing. Apakah kita akan minta diperkenankan ikut bersama mereka dan duduk berdesakkan dengan kambing-kambing didalam pedati?”

Isterinya mengangguk-angguk. Katanya ”Kasihan juga anak-anak kita, ya kang. Tetapi bukankah kadang-kadang ada pedati yang membawa hasil kerajinan bambu dari padukuhan kita?”

“Ya Mungkin kita dapat berbicara dengan mereka”

Uang yang ditinggalkan Ki Tumenggung Wiradapa temyata sangat menggembirakan keluarga yang sederhana itu.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda melarikan kuda mereka di jalan yang panjang. Ketika matahari mulai naik, maka sinamya terasa menggatalkan kulit.

“Kita berharap menjelang tengah hari kita sudah akan sampai ke dalem kadipaten” desis Ki Tumenggung Wiradapa

Dalam pada itu, di Paranganom, pagi itu Raden Ayu Prawirayuda dan puterinya Raden Ajeng Rantamsari telah menghadap Kangjeng Adipati Parangkusuma. Kangjeng Adipati menjadi agak terkejut, bahwa di hari yang masih pagi itu, keduanya sudah berada di dalem kadipaten.

“Marilah kangmbok, silahkan“ Kangjeng Adipati menerima keduanya di serambi samping.

“Kami mohon ampun dimas. Mungkin kedatangan kami sangat mengganggu dimas, karena hari masih pagi”

“Apakah ada sesuatu yang sangat penting, kakangmbok”

“Dimas, semalam kami menjadi ketakutan di rumah”

“Kenapa?”

Raden Ayu Prawirayuda menarik nafaas dalam-dalam. Iapun berpaling kepada Raden Ajeng Rantamsari sambil berkata “Ampun dimas. Rantamsari hampir saja menjadi pingsan”

“Apa yang telah terjadi?”

“Semalam seseorang atau lebih telah dengan sengaja mengganggu ketenangan keluarga kami, dimas. Di tengah malam Rantamsari terbangun dari tidumya”

Kangjeng Adipati mendengarkan laporan itu dengan sungguh-sungguh. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu Prawirayuda itupun berkata ”Biarlah Rantamsari saja yang menyampaikan-nya dimas”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Katanya “Silahkan. Silahkan Rantamsari?”

“Hamba menjadi sangat ketakutan, paman Adipati. Di tengah malam hamba terbangun. Hamba rasa ada yang sengaja mengetuk pintu bilik hamba. Karena itu, maka hamba telah membuka pintu itu dengan hati-hati. Tetapi temyata tidak ada seorangpun di ruang dalam. Hamba mengira bahwa ibundalah yang telah mengetuk pintu bilik hamba Karena itu, maka hambapun pergi ke bilik ibunda. Sementara itu, lampu di ruang dalam hanya remang-remang saja. Apalagi mata hamba rasa-rasanya baru separuh terbuka. Sehingga hamba tidak melihat sebelumnya apa yang teronggok didepan bilik tidur ibunda. Ketika kaki hamba menyentuh benda yang teronggok di depan bilik ibunda baru hamba mencoba memperhatikannya. Namun yang mula-mula hamba lihat adalah darah. Karena itulah, maka hambapun menjerit. Agaknya ibunda terkejut mendengar jeritan hamba. Dengan tergesa-gesa ibundapun membuka pintu dan melangkah keluar. Tetapi kaki ibundapun segera tersentuh oleh benda yang teronggok didepan pintu. Ibundapun menjerit pula Kami berdua hanya hanya dapat berpelukan sehingga dua orang abdi masuk ke ruang dalam. Temyata benda yang teronggok dalam genangan darah itu adalah seekor kucing yang lehemya telah menganga Abdi yang membuang dan membersihkan ruang itulah yang bercerita tentang kucing itu paman Adipati”

Kangjeng Adipati menarik nafas panjang. Dengan nada datar iapun berkata Siapakah yang telah mengganggu kakangmbok dan Rantamsari”

“Aku merasa takut sekali dimas “ berkata Raden Ayu Prawirayuda”apalagi Rantamsari”

“Baiklah, kakangmbok. Aku akan menugaskan beberapa orang prajurit untuk mengawasi tempat tinggal kakangmbok. Sekarang kakangmbok berada di Paranganom, sehingga karena itu, maka ketentraman dan ketenangan hidup kakangmbok mempakan tanggung jawabku”

“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga dimas. Dimas sudah bersedia memberi tempat tinggal bagi kami berdua Bahkan dengan segala kelengkapannya serta mengatur kehidupan kami disini. Sekarang kami masih juga mengganggu dimas Adipati karena kami berdua menjadi ketakutan”

“Aku akan mengusut sampai tuntas kakangmbok. Siapakah yang telah mengganggu ketenangan kakangmbok. Biarlah para prajurit nanti mengamati apa yang sudah terjadi. Pintu yang mungkin rusak atau eara lain dari seseorang memasuki bagian dalam tempat tinggal kakangmbok itu”

“Terima kasih, dimas. Tetapi hamba yang tidak tahu diri ini masih ingin mengajukan permohonan. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada dimas Adipati, apakah permohonanku ini diijinkan atau tidak”

“Jika masih dalam batas kewajaran, serta aku mampu membantunya, aku tentu tidak berkeberatan”

“Dimas“ suara Raden Ayu Prawirayuda menurun “menurut dugaanku, yang terjadi di tempat tinggalku itu bukan sesuatu yang wajar. Yang melakukan perbuatan yang mengerikan itu tentu bukan orang kebanyakan. Aku justru menghubungkan dengan kemarahan angger Adipati Yudapati kepadaku sehingga mengusirku. Agaknya kemarahan itu masih belum mereda”

Kangjeng Adipati Prangkusuma mengangguk-angguk kecil. Sementara itu Raden Ayu Prawirayuda berkata selanjutnya

“Dimas Adipati. Jika dimas berkenan, untuk sementara aku mohon prajurit terbaik dari Paranganomlah yang akan menemani kami berdua. Menurut pendengaranku, angger Madyasta bersama tiga orang Senapati muda dari Paranganom telah berhasil menghancurkan gerombolan perampok di desa Panjer”

“Jadi maksud kakangmbok, yang kakangmbok kehendaki melindungi kakangmbok dan Rantamsari adalah puteraku Madyasta dan ketiga orang Senapati muda yang baru saja berhasil menghancurkan gerombolan perusuh di Panjer?”

“Jika adimas berkenan. Dengan demikian tidak diperlukan jumlah orang terlalu banyak. Sementara itu, aku masih juga mencemaskan orang-orang berilmu tinggi yang dikirim dengan sengaja untuk mengganggu ketentraman hidupku atau bahkan kemudian membinasakan kami berdua”

Kangjeng Adipati Prangkusuma mengangguk-angguk.

“Dimas Adipati. Rumah yang dimas berikan bagi kami berdua itu adalah rumah yang besar. Gandok sebelah kanan dan sebelah kiri adalah ruang-ruang yang kosong. Jika dimas berkenan, angger Madyasta dan ketiga orang Senapati muda itu dapat tinggal untuk sementara di rumah kami. Masih ada beberapa bilik kosong di ruang dalam yang dapat dipergunakan oleh angger Madyasta. Sedangkan para Senapati itu dapat berada di gandok”

Kangjeng Adipati Prangkusuma itupun kemudian menjawab ”Kakangmbok. Jika hal itu dapat memberikan ketenangan bagi kakangmbok serta Rantamsari, baiklah. Aku tidak berkeberatan memenuhi permintaan kakangmbok itu, Aku akan memanggil Madyasta dan memerintahkannya membawa ketiga orang Senapati muda itu ke rumah kakangmbok. Tetapi aku minta diketahul, bahwa ketiga orang Senapati muda itu mempunyai tugas mereka masing-masing yang tidak dapat terlalu lama mereka tinggalkan”

“Bukankah mereka tidak pergi kemana-mana. Mereka tetap berada di dalam kota, sehingga jika perlu. mereka dapat kembali ke tugas mereka kapan saja”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk pula. Katanya “Baiklah. Hari ini, sebelum gelap. mereka sudah akan berada di rumah kakangmbok. Madyasta bersama ketiga orang Senapati muda itu. Mereka akan berada di rumah kakangmbok untuk beberapa hari. Jika keadaan menjadi semakin baik. disiang hari mereka akan bergantian berada di barak mereka masing-masing. Perlahan-lahan mereka akan digantikan beberapa orang prajurit pilihan”

“Segala sesuatunya terserah kepada dimas Adipati” Beberapa saat kemudian. maka Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari itupun mohon diri. Mereka akan menunggu kehadiran Raden Madyasta serta para Senapati muda yang telah mampu menghancurkan gerombolan perusuh di daerah perbatasan.

Sepeninggal Raden Ayu Prawirayuda, maka Kangjeng Adipati Prangkusumapun telah memanggil puteranya, Raden Madyasta.

“Bibimu baru saja datang menemui aku, Madyasta”

“Bibi Prawirayuda maksud ayahanda?“

“Ya”

“Apakah ada yang penting?“

Kangjeng Adipatipun kemudian telah menceritakan kembali, apa yang telah diceriterakan oleh Raden Ajeng Rantamsari.

“Apakah bibi dan kakangmbok Rantamsari menjadi ketakutan?“

“Ya”

“Bukankah bibi pernah menjadi Srikandi Paranganom? “

Bab 19 – Tugas Yang Aneh

“TETAPI bibimu menjadi semakin tua, Madyasta. Kecuali itu, mungkin bibimu membayangkan, bahwa yang datang itu tentu orang berilmu tinggi dan bahkan mungkin tidak hanya seorang. Mereka adalah orang-orang yang mendapat tugas tertentu di rumah bibimu Prawirayuda. Bahkan bibimu menghubungkan peristiwa itu dengan kemarahan kakangmasmu Adipati Yudapati di Kateguhan.“

“Ayahanda. Bibi sekarang sudah berada di Paranganom. Kakangmas Yudapati tidak mempunyai wewenang lagi untuk mengganggunya. Jika itu masih juga dilakukannya, maka ia akan berhadapan dengan kekuatan yang ada di Paranganom.“

“Itulah sebabnya, maka bibimu mohon perlindunganku.“

“Apakah ayahanda akan memerintahkan hamba untuk memilih beberapa orang prajurit terbaik untuk menjaga rumah bibi Prawirayuda?“

“Madyasta. Aku memang akan memberi perintah kepadamu. Tetapi tidak untuk memilih sekelompok prajurit terbaik. Bibimu justru menginginkan kau bersama tiga orang Senapati muda yang beberapa hari yang lalu bersamamu menghancurkan segerombolan brandal di Panjer.“

“Hamba sendiri.ayahanda?“

“Ya.”

“Hamba bersama kakang Rembana, Sasangka dan Wismaya?”

“Ya.”

“Kenapa harus hamba dan ketiga orang Senapati itu? Bukankah ayahanda dapat memerintahkan sekelompok prajurit pilihan untuk berada di rumah bibi Prawirayuda?. Mereka akan dilengkapi dengan kentongan yang dapai memberikan isyarat kepada lingkungannya, jika keadaan memaksa sehingga mereka sendiri tidak dapat mengatasinya.”

“Bibimu merasa tenang jikka kau dan ketiga orang Senapati yang telah berhasil menghancurkan gerombolan di Panjer itu berada disana untuk sementara. Bibimu membayangkan babwa yang melakukan itu ada sangkut pautnya dengan kakangmumu Adipati Kateguhan. Sehingga orang-orang yang datang itu tidak hanya beberapa orang penjahat kecil. Tetapi mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.”

Raden Madyasta termangu-mangu sejenak. Katanya dengan nada berat “Bukanya hamba menolak perintah ayahanda. Tetapi bukankah tugas ini bukan tugas yang amat berat. Untuk menggantikan kami berempat, dapat ditugaskan prajurit yang jumlahnya tiga kali lipat, yang dapat mengawasi rumah itu di segala sisinya.”

“Aku mengerti, Madyasta. Tugas ini memang bukan tugasmu dan bukan pula tugas ketiga orang Senapati muda itu. Tetapi biarlah meskipun hanya sepekan saja kau penuhi keinginan bibimu itu.”

“Jika ayahanda menghendaki, hamba akan menjalaninya.”

”Baik. Sampaikan perintahku kepada Rembana, Sasangka dan Wismaya”

“Hamba ayahanda. Apakah hamba harus membawa mereka menghadap atau hamba akan langsung membawa mereka ke rumah bibi?”

“Pergilah langsung ke rumah bibimu. Kau tidak perlu lagi menghadap. Rumah bibimu cukup besar untuk memberi tempat bagi kalian berempat.”

“Hamba ayahanda. Hamba bersama ketiga orang . Senapati muda itu akan langsung pergi ke rumah bibi nanti sore.”

“Jangan menunggu malam. Bibimu akan menjadi sangat gehsah.”

“Hamba ayahanda.”

Sejenak kemudian, maka Raden Madyastapun mohon diri. Ia merasakan tugas yang dibebankan kepadanya itu adalah tugas yang aneh. Tugas yang sebenarnya dapat dilakukan oleh para prajurit. Bukan harus dilakukannya sendiri. Sedangkan para Senapati muda itu juga mempunyai tugas mereka masing:masing, sehingga keberadaan mereka di rumah bibinya akan terasa sangat menjemukan. Raden Madyasta dan ketiga orang Senapati muda itu akan merasa membuang waktu dengan sia-sia.

Tetapi Raden Madyasta tidak dapat menolak, pertimbangan ayahandanya tentu bukan sekedar tentang tugas semata-mata. Tetapi juga karena ayahandanya menghormati saudara tuanya, Kangjeng Adipati Prawirayuda yang sudah tidak ada lagi.

Pagi itu juga, Raden Madyasta telah melarikan kudanya menemui Rembana, Sasangka dan Wismaya.

Mula-mula ketiganya mengira, bahwa mereka akan mendapat tugas baru ditempat lain, yang perlu segera mendapat penyelesaian. Namun perintah yang mereka terima adalah, bahwa mereka harus berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda yang merasa terancam oleh perbuatan orang yang tidak dikenal.

“Kapan kita harus mulai tinggal di pesanggrahan itu?“ bertanya Rembana.

Sasangka tertawa. Katanya “ Jangan meremehkan tugas ini. Siapa tahu bahwa yang datang adalah hantu-hantu yang mempunyai kekuatan melebihi kekuatan manusia.“

“Mungkin. Tetapi bagaimanapun juga tidak ada mahluk yang dapat mengalahkan manusia di dunia ini. Karena itu, seandainya hal itu dilakukan oleh hantu-hantu sekalipun, kita akan mengatasinya.”

Seperti biasanya Wismaya hanya tersenyum saja. Ia tidak banyak berbicara, meskipun kadang-kadang ia dapat bergurau pula.

Dalam pada itu, maka Raden Madyastapun berkata “Nanti malam kita harus sudah berada di rumah bibi.”

“Apakah kami harus menghadap Raden di dalem Kadipaten?”

“Tidak. Kita akan langsung berangkat ke rumah bibi.”

“Kita masing-masing pergi ke sana sendiri?”

“Kita akan berkumpul di barak kakang Wismaya. Kita akan berangkat bersama-sama dari barak itu.“

“Baiklah. Kita akan berkumpul sebelum senja. Kemudian kita akan bersama-sama menuju ke rumah Raden Ayu Prawirayuda“ desis Wismaya.

Namun Rembanapun bertanya “ Apakah kita tidak perlu menghadap kangjeng Adipati lebih dahulu?”

“Tidak“ jawab Raden Madyasta “ayahanda sudah memerintahkan kepadaku untuk bersama kalian langsung saja menuju ke rumah bibi.”

Ketiga orang Senapati muda itu mengangguk-angguk.

Agaknya Raden Madyasta merasa kerasan tinggal di barak prajurit. Ia berada di barak Wismaya sampai lewat tengah hari. Sementara itu Rembana dan Sasangka telah mendahuluinya meninggalkan barak Wismaya.

Pada saat Raden Madyasta masih berada di barak Wismaya, menjelang tengah hari Ki Tumenggung Wiradana dan ki Tumenggung Sanggayuda telah datang menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma. Mereka datang dari Kateguhan langsung pergi ke dalem kadipaten.

Kangjeng Adipati yang mendapat laporan dari seorang prajurit salah seorang narpacundaka yang bertugas telah memerintahkan kepadanya untuk mempersilahkan kedua orang Tumenggung im duduk menunggu di pringgitan.

Tetapi mereka tidak lama menunggu. Sejenak kemudian Kangjeng Adipatipun telah berada di pringgitan pula.

“Apakah kalian baru datang dari Kateguhan?“

“Ya, Kangjeng Adipati. Kami berdua baru datang dari Kateguhan: Kami berdua langsung menghadap Kangjeng Adipati.

“Apakah kalian merasa letih?”

“Tidak Kangjeng. Kami tidak merasa letih. Semalam kami dapat beristirahat dengan baik di sebuah banjar padukuhan.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya Bukankah kalian tidak menemui hambatan yang berarti di perjalanan?”

Ki Tumenggung Wiradapapun berpaling kepada Ki Tumenggung Sanggayuda. Namun kemudian Ki Tumenggung Wiradapa itupun menjawab “Tidak ada Kangjeng Adipati. Kami hanya bertemu dengan orang-orang Kateguhan yang nakal disamping mereka yang baik dan ramah.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Katanya “Sukurlah. Bagaimana keadaan angger Adipati Yudapati?”

“Baik, Kangjeng. Kangjeng Adipati Yudapati ada dalam keadaan baik. Ketika kami mohon diri, maka Kangjeng Adipatipun berpesan agar baktinya kami sampaikan kepada Kangjeng Adipati di Paranganom. Salamnya buat Raden Madyasta, Raden Wignyana dan rakyat Paranganom.”

“Anak yang baik. Aku bangga terhadapnya.”

“Kami berduapun diterima dengan baik, Kangjeng Adipati.”

“Sukurlah“ Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Namun kemudian Kangjeng Adipati itupun bertanya “Paman, apakah paman berdua akan beristirahat dahulu?”

“Kami tidak letih Kangjeng“ jawab Ki Tumenggung Sanggayuda “perjalanan yang menyenangkan.”

“Bagaimana dengan rakyat Kateguhan?”

Kedua orang Tumenggung itu menarik nafas panjang. Setelah saling berpandangan sejenak, maka Ki Tumenggung Wiradapapun berkata “Itulah yang menjadi persoalan, Kangjeng “

“Kenapa?”

“Sikap mereka sama sekali tidak lagi bersahabat. Apalagi menganggap kami sebagai saudara mereka.”

“Apa yang telah terjadi?”

“Adi Tumenggung Sanggayuda dapat menceritakan pengalamannya menghadapi orang-orang Kateguhan. Bahkan saudara sepupuku sendiri, Kangjeng.”

“Ceritakan, kakang Tumenggung Sanggayuda. Agaknya ceritera itu akan menjadi ceritera yang cukup menarik.”

“Ampun Kangjeng. Hamba mohon ampun bahwa hamba akan berceritera lebih dahulu justru sebelum hamba berdua menyampaikan laporan tugas yang harus kami jalani berdua.”

Kangjeng Adipati Prangkusuma justru tersenyum. Katanya “Kakang. Aku justru ingin mendengar ceriteramu lebih dahulu daripada laporan tentang tugasmu.”

“Hamba Kangjeng Adipati“ Ki Tumenggung Sanggayuda itu berhenti sejenak. Ia mencoba mencari ujung dari-mana ia akan mulai dengan ceriteranya.

Ki Tumenggung Sanggayudapun kemudian telah menceriterakan sikap orang-orang Kateguhan terhadap orang-orang Paranganom. Mereka menganggap orang-orang Paranganom terlalu sombong dan merendahkan bahkan menghina orang-orang Kateguhan.

“Aku terpaksa harus berkelahi, Kangjeng. Baru kemudian aku merasa malu juga kepada diri sendiri. Orang-orang tua ini masih juga turun berkelahi di pinggir jalan.”

Kangjeng Adipati Paranganom tertawa. Katanya “Tetapi bukankah kakang tidak mengaku sebagai seorang Tumenggung dari Paranganom?”

“Ketika aku berkelahi, aku memang tidak mengaku, bahwa aku seorang Tumenggung, Kakang Tumenggung Wiradapa lebih senang menjadi penonton. Dibiarkannya aku berkelahi sendiri melawan beberapa orang srkaligus.”

“Benar kakang Tumenggung Wiradapa?”

“Ya, Kangjeng. Tetapi maksudku adalah, agar mereka tahu betapa orang orang Paranganom tidak dapat direndahkan. Seorang saja diantara orang orang Paranganom mampu melawan empal orang dari Kateguhan. Empat orang yang dianggap garang dan memiliki kemampuan.”

Kangjeng Adipati sudah tidak tertawa lagi, ia bahkan menjadi prihatin mendengar ceritera Ki Tumenggung Sanggayuda itu. Bahkan ketika Ki Tumenggung Wiradapa menambah ceritera itu dengan sikap saudara sepupunya sendiri.

“Tentu ada yang meniupkan kebencian im ketelinga rakyat Kateguhan“ berkata Kangjeng Adipati “bukankah selama ini kita tidak berbuat apa-apa yang dapat menyakiti hati orang-orang Kateguhan? Apa mungkin karena kehadiran kakangmbok Prawirayuda di Paranganom atau karena kekalahan brandal di Panjer?”

“Agaknya memang demikian, Kangjeng Adipati. Tetapi kami berdua tidak dapat mencari, siapakah yang telah meniupkan kebencian itu.“

“Kangjeng Tumenggung. Mungkin aku perlu bertemu dan berbicara langsung dengan angger Adipatii Yudapati.“

“Tetapi sebaiknya tidak dalam wakiu yang dekat, Kangjeng. Kiia harus mencoba mencari jawabnya, kenapa orang-orang Kateguhan telah merentang jarak dengan Paranganom. Sebelum Kangjeng Adipali bertemu dan berbicara dengan Kangjeng Adipati Yudapati, sebaiknya Kangjeng Adipati menugaskan beberapa orang prajurit sandi.“

“Selama ini kita belum pemah mendapat laporan yang memuaskan. Bukankah ada beberapa orang yang sudah berada di Kateguhan untuk mencari keterangan. Terutama pada saat kerusuhan merebak di perbatasan?”

“Kita masih belum bersungguh-sungguh, Kangjeng. Hanya beberapa orang yang mencari keterangan ke daerah Kateguhan. Sebaiknya kita meningkatkan pengamatan kita untuk mencari keterangan tentang sikap orang Kateguhan itu.“

“Ya Aku sependapat kakang.”

“Biarlah kami berdua mengaturnya, Kangjeng Adipati.“

“Terima kasih, kakang. Selanjutnya aku ingin mendengar laporan kakang tentang keberadaan Kakangmbok Prawirayuda di Paranganom. Kenapa kakangmbok telah diusir dari Kateguhan.“

“Ampun, Kangjeng Adipati. jika benar keterangan Kangjeng Adipati Yudapati serta Ki Tumenggung Reksadrana tentang Raden Ayu Prawirayuda, maka yang dilakukan Kang: jeng Adipati Yudapati bukan sesuatu yang berlebihan.”

Wajah Kangjeng Adipati Prangkusuma nampak menjadi semakin bersungguh-sungguh.

“Kenapa ? “

“Ampun Kangjeng Adipati. Agaknya Kangjeng Adipati Yudapati tidak sampai hati untuk mengatakannya. Maka yang diperintahkannya untuk memberikan keterangan adalah Ki Tumenggung Reksadrana.“

“Apa katanya?“

“Raden Ayu Prawirayuda telah melanggar angger-angger bebrayan.“

“Begitu beratkah kesalahan kakangmbok Prawirayuda ?”

“Ya, Kangjeng Adipati.“

“Katakan, apa yang sudah dilakukan oleh kakangmbok Prawirayuda“

Ki Tumenggung Wiradapa menarik nafas dalam-dalam.

Namun iapun kemudian mengulangi apa yang sudah dikatakan oleh Ki Tumenggung Reksadrana dihadapan Kangjeng Adipati Yudapati sendiri.

Kangjeng Adipati Prangkusuma mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Keningnya bekerut. Sekali-sekali Kangjeng Adipati itu mengangguk-angguk. Namun kemudian menarik nafas panjang.

Ketika Ki Tumenggung Wiradapa mengakhiri keterangannya, maka Kangjeng Adipati Prangkusuma jtupun bekata “Itukah kenyataan yang telah terjadi atas kakangmbok Prawirayuda?“

“Tetapi apakah kita begitu saja dapat mempercayainya, Kangjeng Adipati?“ suara Ki Tumenggung Sanggayuda datar dan terasa agak ragu.

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun menjawab “Sepanjang pengenalanku atas angger Adipati Yudapati, ia adalah anak muda yang jujur. Aku kira angger Adipati Yudapati tidak akan membuat ceritera ngaya-wara agar dapat mengusir ibu tirinya dari kadipaten.”

“Jadi, menurut Kangjeng Adipati, Raden Ayu Prawirayuda memang berbuat sebagaimana dikatakan oleh Ki Tumenggung Reksadrana dihadapan Kangjeng Adipati Yudapati itu?“

“Ya, Aku kira memang demikian.“

Kedua orang Tumenggung im mengangguk-angguk. Namun kemudian Kangjeng Adipati Prangkusumapun berkata “Meskipun demikian, kita masih perlu mencari kebenaran dari keterangan ini.“

“Apakah Kangjeng Adipati akan memanggil dan bertanya langsung kepada Raden Ayu Prawirayuda?“

“Nampaknya kurang bijaksana jika aku segera memanggil kakangmbok Prawirayuda. Mungkin diperlukan waktu atau keterangan-keterangan yang lain.“

“Hamba sependapat Kangjeng Adipati. Memang diperlukan waktu” berkata Ki Tumenggung Wiradapa.

“Baiklah, kakang. Persoalan ini akan kami telusuri kemudian. Tetapi bukankah kita tidak perlu tergesa-gesa agar kita tidak salah langkah?”

“Hamba Kangjeng Adipati.“

“Jangan beritahu Madyasta dan Wignyana lebih dahulu.“

Kedua orang Tumenggung im termangu-mangu, sementara Kangjeng Adipatipun berkata “Pagi tadi kakangmbok Prawirayuda telah datang menghadap.“

Kedua orang Tumenggung itulah yang kemudian mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika Kangjeng Adipati membertahukan kepada mereka, bahwa Raden Ayu Prawirayuda menjadi ketakutan.

“Jika Madyasta mendengar sebagaimana dikatakan oleh Tumenggung Reksadrana, maka ia akan menjadi Kecewa terhadap bibinya Mungkin ia menentukan sikap sendiri dan membatalkan kesediaannya untuk berada di rumah bibinya bersama Rembana, Sasangka dan Wismaya “

“Ya Kangjeng.“

“Karena itu, biarlah untuk sementara.anak itu serta adiknya jangan mengetahuinya. Apalagi jika ternyata kelak keterangan Ki Reksadrana itu tidak seluruhnya benar.“

“Hamba Kangjeng Adipati.“

“Sikap orang-orang Kateguhan, para perusuh di perbatasan serta keraguan pada angger Adipati Yudapati sehingga ia tidak dapat mengatakannya sendiri, membuat persoalan kita dengan Kateguhan perlu untuk mendapat penilaian yang secermat-cermatnya “

“Hamba Kangjeng Adipati.”

“Nah, bagaimana menurut pendapat kakang berdua tentang para perusuh di perbatasan itu?“

“Kami berdua tidak dapat melihat bayangan permusuhan itu pada Kangjeng Adipati Yudapati.“

“Mudah-mudahan angger Yudapati benar-benar tidak tersentuh oleh peristiwa yang meresahkan diperbatasan itu.“

Seperti yang Kangjeng Adipati katakan, kita masih perlu waktu.”

“Nah, aku mengucapkan terima kasih atas jerih payah kakang Tumenggung berdua Banyak hal yang kalian dengar dan kalian lihat sepanjang perjalanan kalian. Kitapun mengetahui sikap orang-orang Kateguhan terhadap orang-orang Paranganom sekarang.“

“Hamba Kangjeng Adipati.“

“Nah, sekarang kalian berdua dapat beristirahat.“

“Dimanakah Raden Madyasta dan Raden Wignyana sekarang?“

Madyasta sedang menghubungi Rembana Sasangka dan Wismaya Sedangkan Wignyana sedang sibuk dengan kudanya yang baru.“

“Raden Wismaya memang seorang penggemar kuda. Tetapi perhatian Raden Madyasta terhadap kuda agak berbeda “

“Ya Perhatian Madyasta agak berbeda Ia senang berada di barak-barak prajurit. Makan dan tidur bersama mereka.“

Kedua orang Tumenggung itu tertawa

Sejenak kemudian, maka kedua orang Tumenggung itupun mohon diri. Mereka masih belum pulang karena dari Kateguhan mereka langsung menghadap Kangjeng Adipati.

“Baik, kakang. Tetapi sekali lagi aku berpesan, jangan beritahukan Madyasta dan Wignyana tentang bibinya. Kita masih harus meyakinkan kebenarannya.

“Hamba Kangjeng Adipati“ Jawab kedua orang Tumenggung itu hampir berbareng.

Ketika kedua orang Tumenggung itu keluar dari gerbang dalem kadipaten, mereka berhenti sejenak. Dengan nada berat Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Agak aneh, kakang. Permohonan Raden Ayu Prawirayuda sebenarnya melampaui kebutuhan.“

“Dalam keadaan yang wajar memang demikian, adi. Tetapi mungkin sekali yang wajar memang demikian, adi. Tetapi mungkin sekali Raden Ayu Prawirayuda benar benar berada dalam ketakutan. Ia juga merasa bersalah kepada Kangjeng Adipati Yudapati. Sebenarnya perasaan bersalah itulah yang telah memburunya. Sehingga bayang bayang tindak kekerasan selalu mengikutinya. Agaknya Raden Ayu Prawirayuda itu merasa, seakan akan tempat tiggalnya itu setiap malam didatangi oleh orang orang yang garang. Yang diutus oleh Kangjeng Adipati Yudapati untuk meneelakainya,

“Tetapi anehnya, kakang. Ancaman itu tidak sekedar berada di angan-angan Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi sudah berujud dalam kewadagan. Kedua orang perempuan yang tinggal di rumah itu tentu akan ketakutan melihat bangkai seekor kucing didalam rumah. Darah dan tentu saja luka di tubuh kucing itu. Apalagi bagi Raden Ajeng Rantamsari.“

Ki Tumenggung Wiradapa mengangguk-anguk. Katanya “Ya. Agaknya memang ada sesuatu yang harus diselidiki.“

Namun keduanya tidak memperpanjang pembicaraan mereka. Keduanyapun kemudian telah naik ke punggung kuda mereka dan melarikan kuda mereka ke arah yang berbeda.

Dalam pada itu, ketika malam menjadi semakin rendah, maka ketika orang Senapati muda itu telah berkumpul. Mereka sudah memberikan pesan pesan khusus kepada anak buah mereka di barak.

“Jika perlu, susul aku ke rumah Raden Ayu Prawirayuda” Berkata Rembana kepada kepercayaannya “tugas ini adalah tugas yang aneh bagiku.“

“Apakah kakang Rembana tidak dapat menugaskan kepada orang lain untuk menjalankan perintah ini? Jika Raden Ayu Prawirayuda menganggap keadaan sangat gawat, kakang Rembana dapat memerintahkan dua atau tiga orang dari barak ini, kemudian dua atau tiga orang dari barak kakang Sasangka dan kakang Wismaya.“

Rembana menggeleng. Katanya “Kangjeng Adipati menyebut namaku, nama Sasangka dan Wismaya. Bahkan nama Raden Madyasta, sehingga kami berempat harus berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda untuk sementara. Aku tidak tahu seberapa panjang sebutan sementara itu.“

Kepercayaan Rembana itu hanya dapat mengangguk-angguk.

Demikian pula Sasangka dan Wismaya. Anak buah merekapun sempat merasa heran, bahwa ketika orang Senapati muda yang dianggap mempunyai kelebihan di kadipaten Paranganom itu harus bertugas di rumah Raden Ayu Prawirayuda bersama Raden Madyasta. Tugas yang sebenarnya dapat dilakukan oleh orang lain.

Tetapi perintah Kangjeng Adipati itu harus dijalankannya.

Disore hari, menjelang senja, Raden Madyasta bersama tiga orang Senapati muda pilihan itu telah pergi ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Mereka berjalan kaki dari barak Wismaya yang tidak terlalu jauh dari rumah Raden Ayu Prawirayuda itu.

Diperjalanan itu Wismayapun berkata “Seandainya Kangjeng Adipati menyerahkan pengamanan rumah Raden Ayu Pawirayiuda itu kepadaku, maka aku akan dapat mengatur dari barakku. Bukankah jaraknya tidak terlalu jauh sehingga segala sesuatunya dapat aku awasi langsung.“

“Banyak cara yang sebenarnya dapat ditempuh selain cara yang satu ini. Tetapi justru cara inilah yang dipilih.“

Wismaya mengangguk-angguk.

Beberapa saat kemudian mereka berjalan melewati bulak yang pendek. Terasa udara yang sudah mulai menjadi sejuk oleh angin dari Selatan di sore hari. Mataharipun menjadi rendah. Sinarnya yang kemerah-merahan masih bergayut di.bibir mega yang mengalir lambat mengarungi langit yang biru

Gunung disisi Utara nampak menjulang tinggi, Puncaknya yang seakan akan menggapai langil itupun nampak merah-merahan bagaikan membara,

Ketika mereka memasuki gerbang padukuhan diseberang bulak kecil itu, maka langitpun sudah menjadi semakin muram.

“Bibi tentu sudah menunggu” berkata Madyasta kepada kelika orang Senapati muda itu.

“Masih belum malam “ jawab Rembana_

“Di regol halaman tempat tinggal bibi Prawirayuda, telah dinyalakan oncor.“

“Ya“ Sasangka mengangguk “ senja di bawah pepohonan yang rimbun agaknya sudah nampak terlalu gelap sehingga sudah perlu dinyalakan oncor itu.“

Madyasta tidak menjawab. Tetapi langkahnya menjadi semakin cepat.

Sejenak kemudian, mereka telah berdiri di tengah-tengah halaman yang luas itu. Sepasang pohon sawo kecik yang besar berdiri tegak di halaman depan, sehingga udara di rumah itu terasa sejuk, meskipun di tengah hari yang terik.

Sedangkan di seputar halaman itupun tumbuh beberapa batang pohon yang rimbun. Disudut kanan halaman itu tumbuh sebatang pohon kemiri yang besar. Buahnya bergayutan diujung-ujung dahan. Jika angin bertiup, maka buah kemiri yang sudah tua, runtuh di tanah. Para pembantu yang berada di rumah itu selalu memungutnya dan membawanya ke dapur.

Disudut yang lain terdapat pohon salam yang tidak kalah besarnya. Daunnyalah yang sering dipetik untuk menyedap masakan. Meskipun buahnya yang kecil-kecil dan berwama merah jika sudah masak rasanya manis-manis asam dan segar, tetapi buah salam itu lebih banyak berhamburan di tanah. Ada pula dua batang pohon gayam di halaman.

“Marilah “ berkata Madyasta kemudian kepada ketiga orang Senapati itu.

Keempat orang itupun kemudian melangkah memasuki pintu regol halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Namun langkah mereka tertegun di tengah-tengah halaman. Mereka melihat Raden Wignyana justru turun dari tangga pendapa. Dibelakangnya berdiri Raden Ayu Prawirayuda.

“Aku mohon diri, bibi “ berkata Raden Wignyana.

“Ya, ngger. Sampaikan kepada adimas Adipati, bahwa pesannya telah aku terima. Terima kasih atas perhatian adimas Adipati.”

“Ya, bibi.”

Raden Wignyanapun kemudian melangkah ke regol halaman. Namun langkahnya juga terhenti ketika ia berpapasan dengan Raden Madyasta bersama ketiga orang Senapati muda itu.

“Dimas “ sapa Raden Madyasta.

“Silakan, kangmas. Aku sudah mohon diri.”

“Ada perlu apa, dimas?”

Aku diutus oleh ayahanda, kangmas.”

“Sudah selesai?”

“Sudah kangmas. Pesan ayahanda sudah aku sampaikan kepada bibi.”

”Aku justru ditugaskan ayahanda untuk berada di rumah ini, dimas. Untuk menjaga ketentraman dan ketenangan hati bibi Prawirayuda.”

“Tentu saja untuk menjaga keselamatan kakangmbok Rantamsari, kangmas.”

“Ya. Tentu saja, dimas. Seisi rumah ini.” .

Raden Wignyana tersenyum. Namun sambil mengangguk hormat, iapun berkata “Silahkan kakangmas. Aku mohon diri-”

Raden Wignyana tidak menunggu jawaban kakaknya. Iapun segera melangkah menuju ke regol. Sejenak kemudian, maka Raden Wignyana itupun telah hilang dibalik pintu regol halaman.

Sejenak Raden Madyasta termangu mangu. Namun Wismayapun berdesis Raden Madyasta.”Raden Ayu Prawirayuda menunggu Raden di tangga pendapa.”

Raden Madyasta tergagap. Dengan serta-merta iapun menyahut “Baik. Baik. Marilah kita menghadap.”

Keempat orang itupun kemudian melangkah ke tangga pendapa.

“Marilah ngger“ Raden Ayu Prawirayuda yang sudah berdiri di tangga itu mempersilakan.

Raden Madyasta dan ketiga orang Senapati muda itupun segera naik ke pendapa dan kemudian duduk di pringgitan.

“Bibi“ berkata Raden Madyasta “kami menjunjung perintah ayahanda Adipati, untuk melindungi bibi sekeluarga serta seisi rumah ini.”

“Terima kasih, ngger” sahut Raden Ayu Prawirayuda ”aku memang memohon kepada adimas Adipati, agar angger Madyasta serta para Senapati pilihan yang telah berhasil menumpas para perampok di perbatasan untuk tinggal bersama kami.”

“Kami akan berada di rumah ini untuk beberapa hari, bibi. Maksudku, untuk sementara.”

“Adimas Adipati tidak memberikan batasan waktu.”

“Tetapi kami mempunyai tugas-tugas kami sendiri, bibi. Aku harus berada di kadipaten serta belajar mengatur pemerintahan. Sedangkan para Senapati itu mempunyai kewajiban mereka sendiri-sendiri. Jika kami bertugas di rumah ini, tentu hanya untuk waktu yang pendek.”

“Bukankah tugas-tugas lainnya dapat dilimpahkan kepada orang lain?”

“Tetapi ketiga orang Senapati ini bertanggung jawab atas pasukan mereka masing-masing.”

Raden Ayu Prawirayuda tersenyum. Katanya “Kangjeng Adipati akan mengatur segala sesuatunya, ngger. Tetapi baiklah. Angger serta para Senapati itu hanya akan berada disini untuk sementara sampai kita semuanya yakin, bahwa tidak akan terjadi apa-apa lagi di rumah ini.”

Raden Madyasta mengangguk. Katanya “Ya, bibi. Sementara itu selama kami berada disini, bibi tidak usah merasa cemas. Kami akan berusaha untuk mengatasi jika terjadi sesuatu.”

“Terima kasih Raden. Terutama para Senapati yang telah bersedia tinggal bersama kami. Kehadiran angger Madyasta serta para Senapati membuat kami seisi rumah ini menjadi tenang. Kamipun yakin, bahwa tidak akan ada orang atau sekelompok orang yang akan berani mengganggu kami lagi.”

“Semoga bibi.”

“Nah, kami sudah menyiapkan bilik di gandok kanan dan kiri bagi ketiga Senapati muda ini. Sedangkan sebuah bilik khusus yang ada di ruang dalam, kami sediakan bagi angger Madyasta.“

Tetapi Raden Madyasta itu segera menjawab “Tidak perlu bibi. Aku akan berada di gandok bersama para Senapati. Jika aku terpisah dari mereka, maka aku akan menjadi kesepian.”

“Bagaimana mungkin angger akan berada di gandok, sedangkan kami berada di dalam rumah. Rumah ini adalah rumah Adimas Adipati Prangkusuma.“

“Aku berada disini dalam tugas bibi. Bagaimana aku dapat mengatur tugas bersama jika tempat kami terpisah. Justru dimalam hari kami harus lebih ketat mengawasi rumah ini.“

“Bukankah angger tinggal mengatur, sementara ketiga orang Senapati pililian ini akan menjalankannya dengan sangat baik.“

Raden Madyasta tertawa. Katanya “Terima kasih, bibi. Aku akan berada diantara mereka. Sebaiknya bibi tidak usah mempertimbangkan kedudukanku. Aku datang membawa tugas bersama para Senapati, sehingga aku merupakan bagian dari kelompok kecil ini.“

Dapatkah angger Madyasta menanggalkan kedudukan angger sebagai putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?“

“Kenapa tidak, bibi. Dalam tugas ini, tidak ada putera Kangjeng Adipati atau bukan. Kami bersama-sama melaksanakan perintah untuk melindungi bibi beserta keluarganya.“

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah, jika itu yang angger kehendaki. Sebenarnyalah aku hanya merasakan keseganan untuk menganggap angger Madyasta sebagaimana orang lain. Tetapi jika hal itu angger sendiri yang menghendaki, maka aku tidak akan dapat berbuat lain.“

Terima kasih atas perhatian bibi kepadaku. Tetapi seperti yang aku katakan, biarlah kami berada di gandok. Justru untuk kepentingan tugas-tugas kami. Kami berempat akan berada di gandok kulon. Bukankah ada dua bilik di gandok kulon yang dapat kami pergunakan?“

Angger dan para Senapati masing-masing dapat mempergunakan satu bilik di gandok kanan dan kiri.“

Kami akan berada di sisi yang sama, bibi. Mungkin kami memerlukan waktu yang sangat pendek untuk saling berhubungah serta mengambil keputusan.“

Raden Ayu Prawirayuda menarik nafas panjang. Katanya “Baiklah, ngger. Segala sesuatunya terserah kepada angger.“

“Terima kasih, bibi. Sekarang, biarlah kami berada di gandok.“

Tetapi sebelum mereka beranjak, seorang gadis keluar dari pintu pringgitan sambil membawa beberapa mangkuk minuman hangat.

“Kami telah merepotkan kangmbok Rantamsari“ desis Raden Madyasta.

“Tidak dimas. Aku hanya tinggal menyuguhkan kepada dimas serta para Senapati.“

“Terima kasih, kangmbok “

Namun ketika Raden Ajeng Rantamsari beringsut setelah meletakkan mangkuk-mangkuk itu dihadapan Raden Madyasta serta ketiga orang Senapati, Raden Ayu Prawirayudapun berkata “Duduklah dahulu, Rantamsari. Kau harus memperkenalkan dirimu dengan para Senapati yang akan melindungi kita, bersama adikmu Raden Madyasta. Mereka akan tinggal disini untuk sementara, sehingga kita yakin, bahwa peristiwa sebagaimana yang pernah terjadi itu tidak akan terjadi lagi.“

Raden Ajeng Rantamsaripun kemudian duduk disisi ibunya. Iapun sempat memandang ketiga orang Senapati muda itu berganti-ganti. Wajah wajah yang cerah, penuh kepercayaan diri. Mata yang bercahaya menatap masa depan mereka dengan penuh pengharapan.

Namun Raden Ajeng Rantamsari itupun segera menundukkan wajahnya. Disadarinya, bahwa ia adalah seorang gadis yang duduk diantara beberapa orang anak muda yang sebelumnya belum dikenalnya kecuali Raden Madyasta, adik sepupunya, meskipun agaknya umur Madyasta lebih banyak dari umurnya. Namun menurut darah keturunan, sepengetahuan Raden Ajeng Rantamsari, Madyasta adalah adiknya.

Raden Ajeng Prawirayudalah yang kemudian memperkenalkan Raden Ajeng Rantamsari dengan ketiga orang Senapati muda itu. Tetapi untuk menyebut nama mereka, maka Raden Ajeng Prawirayuda minta kepada Madyasta untuk melakukannya.

“Angger Madyasta mengenal para Senapati ini dengan baik. Agar tidak salah ucap, biarlah angger saja yang menyebut nama-nama mereka.“

Madyasta tersenyum. Para Senapati itupun tersenyum pula.

Namun Madyastapun kemudian berkata “Biarlah mereka menyebutkan nama-nama mereka sendiri saja bibi. tentu tidak akan salah lagi.“

Raden Ayu Prawirayuda justru tertawa. Katanya “Baiklah. Biarlah mereka menyebut nama-nama mereka sendiri.”

“Namaku Wismaya, Raden Ajeng “ suara Wismaya terdengar berat.

Untuk beberapa saat, yang lain menunggu. Mungkin ada yang akan dikatakannya lagi. Tetapi ternyata Wismaya tidak berkata apa apa lagi.

Semua orang sempat memandang kepadanya. Tetapi Wismaya sudah menundukkan wajahnya.

Karena Wismaya tidak akan berbicara lagi, maka yang kemudian berkata adalah Sasangka “Namaku Sasangka Raden Ajeng. Aku sudah bertugas cukup lama didalam lingkungan keprajuritan di Paranganom.”

Yang teraklhir memperkenalkan diri adalah Rembana. Katanya Raden Ajeng tentu belum pernah mendengar namaku. Namaku Rembana Mungkin nama yang kurang menarik. Aku memasuki dunia keprajuritan hampir berbareng dengan Sasangka dan Wismaya. Jika ada selisih tentu hanya dalam hitungan satu dua hari.“

Karena Rembana mengangguk hormat, maka Raden Ajeng Rantamsaripun mengangguk hormat pula. Bahkan

Raden Ajeng Rantamsari itupun bertanya “ Kakang berasal darimana?“

“Aku adalah orang Paranganom asli, Raden Ajeng.“

“Maksudku dari daerah mana?“

“O“ Rembana tertawa Katanya ”Aku orang dari kaki bukit Pudak Seketi, Ayahku orang Pudak Seketi. Ibuku juga berasal dari Pudak Seketi.“

“Jadi kakang berasal dari Bukit Pudak Seketi? Jika kita berdiri di pintu gerbang kota sebelah Selatan, kita melihat sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukankah itu bukit Pudak Seketi?“

“Ya, Raden Ajeng. Itulah bukit Pudak Seketi.“

“Yang kelihatan hijau?“

“Ya. Bukit itu terlalu banyak penghuninya. Terbanyak di lereng sebelah Utara Tetapi di kaki bukit itu terdapat beberapa padukuhan yang besar. Sedang di Puncak bukit itu adalah hutan pohon pandan yang lebat. Jika masa berbunga, wajah bukit dipenuhi oleh bunga pandan yang disebut pudak. Itulah sebabnya maka bukit itu disebut Bukit Pudak Seketi.“

Bukit itu sangat menarik, kakang. Setiap kali aku berada di pintu gerbang kota sebelah Selatan, aku selalu memandangi bukit itu berlama lama. Sebenarnyalah aku ingin menginjakkan kakiku di bukit itu. Rasa-rasanya jika aku berdiri di Puncak bukit itu, tanganku akan dapat menggapai langit.“

”Silahkan, Raden Ajeng. Jika Raden Ajeng ingin pergi ke bukit itu, aku akan mengantarkannya.“

“Rantamsari“ potong Raden Ayu Prawirayuda “sudahlah. Kau justru membicarakan Bukit Pudak Seketi. Bukankah kita sedang membicarakan perlindungan terhadap rumah kita?“

“Aku mohon maaf ibu. Bukit itu sangat menarik perhatianku.”

“Angger Madyasta” berkata Raden Ayu Prawirayuda “Sekarang silahkan angger serta para Senapati nunum lebih dahulu. Kemudian silahkan beristirahat. Malam sudah turun. Mungkin angger akan membagi tugas untuk malam ini. Aku kira, angger Madyasta sudah mengenal rumah ini dengan baik. Pintu-pintunya, longkangan serta ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Bahkan sampai ke dapur sekalipun.”

“Ya. Bibi. Aku memang pernah mengenalnya. Tetapi biarlah nanti setelah kami mandi dan berbenah diri, kami akan melihat-lihat seluruh lingkungan rumah ini. Dari dinding kebun dan halaman sampai ke sentong-sentong yang ada didalamnya. Bahkan sampai ke ruang tidur bibi.“

“Silahkan ngger. Tentu bukan hanya ruang tidurku, tetapi juga bilik Rantamsari.”

“Ya,bibi.”

“Nah, sekarang silahkan beristirahat. Jika angger Madyasta memilih berada di bilik gandok, apaboleh buat. Sebenarnyalah bahwa sebuah ruang di dalam sudah disiapkan bagi angger.“

“Terima kasih, bibi.“

Demikianlah, setelah minum minuman hangat yang dihidangkan oleh Raden Ajeng Rantamsari, maka Raden Madyasta serta ketiga orang Senapati itupun telah pergi ke bilik yang berada di gandok kulon.

Bab 20 – Pandangan Pertama

Ternyata bilik di gandok itu cukup luas. Pembaringan yang ada di dalam bilik itupun cukup besar untuk masing-masing berdua

Raden Madyasta berada di satu bilik dengan Sasangka, sementara Rembana berada di satu bilik dengan Wismaya.

Sejenak kemudian, maka bergantian mereka telah pergi ke pakiwan untuk mandi.

Demikian mereka selesai berbenah diri, maka Raden Ajeng Rantamsari telah menemui Raden Madyasta untuk mempersilahkannya masuk ke ruang dalam.

“Makan malam sudah tersedia dimas. Marilah, silahkan dimas serta para Senapati untuk makan malam.“

“Terima kasih kangmbok. Kami akan segera datang.“

“Ibu sudah menunggu di ruang dalam.“

“O. Baiklah. Kami akan segera datang.“

Raden Madyastapun segera mengajak ketiga orang Senapati muda itu pergi ke ruang dalam. Agaknya Raden Ayu Prawirayuda sudah menyiapkan makan bagi mereka.

“Apakah setiap hari kami akan mendapat makan seperti ini sehari tiga kali?“ bertanya para Senapati itu didalam hatinya.

Sementara itu Raden Madyastapun berkata “Kami akan sangat merepotkan bibi jika bibi harus menyediakan makan bagi kami seperti ini.“

“Bukankah bukan aku sendiri yang melakukannya.?“

“Benar bibi. Tetapi maaf, bibi. Bagi kami, para prajurit, makan yang bibi sediakan agak berlebihan. Kecuali yang bibi sediakan mi hanyalah sekali ini saja, saat kami mulai menapak pada tugas kami di rumah ini.”

Raden Ayu hawirayuda tersenyum. Katanya “Aku akan memperhatikan ngger Tetapi jika sekali-sekali aku lupa, sehingga yang kami hidangkan seperti kali ini, aku mohon maaf.”

“Raden Ayu. Jika yang dihidangkan setiap kali seperli ini, maka pada saat aku pulang ke barak, maka semua pakaian keprajuritanku tidak dapat aku pakai lagi“ sahut Rembana

“Kenapa?“ yang bertanya adalah Raden Ajeng Rantamsari.

“Semuanya tentu sudah tidak cukup lagi. Berat badanku, akan menjadi berlipat dua Disini aku hanya tidur saja dan makan seperti ini. Ada daging lembu, daging kambing, daging ayam, gurameh, udang, telur dan masih banyak lagi.”

“Baiklah” berkata Raden Ayti Prawirayuda kemudian aku berjanji untuk hanya kali ini. Besok dan seterusnya, angger Madyasta dan para Senapati ini sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri, sehingga apa yang aku hidangkanpun sebagaimana aku menghidangkan bagi keluarga kami sehari-hari.” .

Raden Madyasta tersenyum. Katanya “Tetapi bibi jangan salah paham. Aku tidak bermaksud menolak kebaikan hati bibi.”

Raden Ayu Prawirayuda menyahut sambil tersenyum pula “Aku mengerti maksud angger Madyasta dan para Senapati.”

Sejenak kemudian, maka Raden Madyasta dan para Senapati muda itupun makan bersama dilayani langsung oleh Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari.

Seperti yang dikatakan oleh Madyasta, maka setelah selesai makan, maka Madyasta dan ketiga orang Senapati muda itu mencoba mengenali tempat mereka bertugas. Meskipun malam sudah menjadi semakin gelap, tetapi keempat orang itu masih juga melihat-lihat keadaan kebun yang terhitung luas di belakang rumah yang dihuni oleh Raden Ayu Prawirayuda itu.

“Dindingnya cukup tinggi “ desis Sasangka

“Ya Tanpa mempergunakan alat, tangga atau tali misalnya sulit untuk meloncati dinding ini “ sahut Rembana

“Kecuali orang-orang tertentu yang memiliki kelebihan“ gumam Wismaya seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri.

Kawan-kawannya tidak menyahut lagi. Mereka memperhatikan Raden Madyasta yang meraba-raba dinding yang terhitung tinggi itu.

Beberapa puluh langkah mereka menelusuri dinding di kebun belakang. Kemudian dinding di halaman samping yang sama tingginya

Bahkan dinding halaman di bagian depanpun sama pula tingginya Sehingga tidak mudah untuk dapat memasuki halaman itu jika pintu regolnya ditutup dan diselarak. Namun nampaknya Raden Ayu Prawirayuda tidak pernah memerintahkan para abdi untuk menyelarak pintu regol.

Dari mengamati dinding halaman dan kebun belakang, maka Raden Madyasta dan para Senapati itu memperhatikan semua bangunan yang ada Bangunan induk, gandok kanan dan kiri, dapur, kandang yang kosong, lumbung, longkangan dan pintu seketeng.

“Bagaimana mungkin seseorang dapat masuk ke dalam rumah itu tanpa merusak pintu“ desis Rembana

“Bangunan ini selain pendapanya yang joglo, maka yang lain adalah limasan. Tidak ada bangunan yang berbentuk kampung kecuali lumbung dan kandang yang kosong itu. Sedangkan lumbung dan kandang itu tidak berhubungan dengan rumah induk “ sahut Wismaya.

Sasangka mengangguk-angguk. Katanya “Tidak ada tutup keyong disini. Selain merusak pintu, orang hanya dapat masuk ke dalam dengan merobek atap atau dinding.”

Raden Madyasta mengangguk-angguk. Dengan suara yang dalam iapun berkata “Orang yang dapat membunuh kucing didalam rumah tanpa merusak pintu dan bagian-bagian rumah lainnya adalah orang yang berilmu tinggi. Adalah kewajiban kita untuk menghadapinya Agaknya itu adalah salah satu alasan ayahanda, kenapa harus kita yang berada di rumah irii. Bukan orang lain.”

Ketiga orang Senapati itupun mengangguk-angguk. Merekapun kemudian menyadari, bahwa mereka tidak dapat meremehkan tugas yang dibebankan di pundak mereka

Demikianlah, sejak hari itu, Raden Madyasta serta ketiga orang Senapati itu menjadi bagian dari rumah yang besar itu. Mereka segera berusaha menyesuaikan diri mereka. Mereka tidak ingin menjadi orang-orang yang harus dilayani. Mereka tidak berpegang pada tugas-tugas mereka saja sehingga tidak mau melakukan pekerjaan yang lain.

Raden Madyasta yang pernah hidup di padepokan serta para Senapati yang tidak pernah sempat bermanja-manja, telah lebur dalam kerja sehari-hari dengan seisi rumah itu. Meskipun Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari berusaha mencegahnya, tetapi Raden Madyasta dan para Senapati itu selalu mengisi jambangan di pakiwan. Masing-masing menimba air sehingga jambangan menjadi penuh kembali setelah mereka mandi. Bahkan dalam waktu-waktu luang, mereka telah ikut membantu melakukan kerja para abdi di rumah itu. Sasangka sama sekali tidak merasa eanggung untuk menggali tempat sampah di kebun belakang. Sementara itu Rembana mempunyai kesenangan tersendiri. Jika ia melihat seorang abdi membelah kayu bakar dengan kapak, maka Rembana selalu datang dari mengambil kapaknya dari tangan abdi itu,

“Jangan. Nanti aku dimarahi Raden Ayu atau Raden Ajeng.”

Rembana tersenyum. Katanya “Bukan salahmu. Kau tidak akan dimarahi. Lakukan kerja yang lain. Biarlah kayu ini aku selesaikan.-

“Tetapi…..”

“Sudahlah. Barangkali kau dapat mengerjakan pekerjaan lain di kebun belakang.”

Abdi itu kebingungan. Namun orang itupun kemudian pergi ke kebun belakang.

Tetapi di kebun belakang, iapun menjadi bingung pula karena ia melihat Sasangka sedang menggali tempat sampah yang lebih besar dari kebiasaan para abdi membuat tempat sampah.

“Begitu besarnya?“ bertanya abdi yang kebingungan.

Bukankah dengan begitu tidak akan cepat penuh?” Abdi itu tidak menjawab. Tetapi iapun segera meninggalkan Sasangka dan pergi ke halaman samping.

Yang dilakukan kemudian adalah memanjat sebatang pohon jambu air untuk memotong dahan-dahan dan rantingnya yang sudah kelihatan menjadi tua dan lapuk.

Dalam pada itu, dari hari ke hari, hubungan Raden Madyasta serta para Senapati itu dengan keluarga Raden Ayu Prawirayuda menjadi seinakin akrab. Raden Ajeng Rantamsari adalah seorang gadis yang meningkat dewasa. Adalah. wajar sekali jika hatinyapun mulai tersentuh oleh kehadiran anak-anak muda di rumahnya. Apalagi setiap hari mereka berhubungan. Raden Ajeng Rantamsarilah yang selalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak-anak muda itu. Kebersihan biliknya, kebersihan lingkungannya, makan serta minum mereka.

Namun para Senapati muda itu, bahkan Raden Madyasta tidak pernah memberikan pakaian mereka yang kotor untuk dicuci oleh para abdi.

Kenapa dimas keberatan jika pakaian dimas dicuci oleh seorang abdi?“ bertanya Raden Ajeng Rantamsari.

“Kami harus dapat melakukannya sendiri, kangmbok“ jawab Raden Madyasta.

“Tetapi apa salahnya selama dimas dan para Senapati disini, para abdi melayani dimas.“

Raden Madyasta tersenyum. Katanya “Sudahlah kangmbok, keberadaan kami disini jangan membuat keluarga ini menjadi terlalu sibuk. Jika demikian, maka kehadiran kami disini, justru akan memperberat beban kangmbok serta bibi.”

Raden Ajeng Rantamsari tersenyum. Katanya “Kami juga sudah mengganggu dimas serta para para Senapati yang seharusnya bertugas di tempat lain.“

Raden Madyasta tertawa. Katanya “Kami dapat saja bertugas dimana-mana, kangmbok. Baru-baru ini kami justru bertugas di Panjer.“

“Baiklah, dimas. Tetapi jika ada sesuatu yang perlu, dimas jangan segan-segan mengatakan kepadaku atau langsung kepada ibu.”

“Baik, kangmbok.“

Ketika Raden Ajeng Rantamsari meninggalkan Raden Madyasta, maka iapun langsung pergi ke dapur. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat dari pintu dapur yang menghadap ke belakang, Rembana sibuk membelah kayu di kebun belakang.

Dengan serta-merta Raden Ajeng Rantamsaripun memanggil Tarji, seorang abdi laki-laki di rumah itu.

“Raden Ajeng memanggil aku?“ bertanya Tarji.

“Kenapa kau biarkan kakang Rembana membelah kayu? Bukankah itu bukan pekerjaannya?”

“Aku sudah berusaha Den Ajeng. Tetapi Ki Lurah Rembana tidak menghiraukannya. Bahkan kemarin Ki Lurah Sasangka telah menggali tempat pembuangan sampah di kebun , belakang. Aku juga tidak dapat mencegahnya”

Raden Ajeng Rantamsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Jika mereka tidak dapat dicegah, apaboleh buat.”

Namun ketika Tarji kemudian meninggalkan Raden Ajeng Rantamsari, maka justru Raden Ajeng Rantamsarilah yang pergi menemui Rembana yang sedang sibuk membelah kayu, sehingga Rembana tidak menyadarinya

Beberapa saat Raden Ajeng Rantamsari berdiri beberapa langkah dari Rembana yang sedang sibuk itu. Tubuhnya berkeringat. Bajunya terbuka di bagian dadanya, sedangkan lengannya digulung agak tinggi.

Raden Ajeng Rantamsari termangu-mangu sejenak. Sejak kehadirannya di rumah itu, Rembana telah menarik perhatian Raden Ajeng Rantamsari. Anak muda yang berwajah cerah itu nampaknya selalu tersenyum. Kelakarnya yang segar, tanpa meninggalkan unggah-ungguh telah memikat hari Raden Ajeng Rantamsari.

Matanya yang berkilat-kilat menyiratkan gairah hidup yang tinggi serta memancarkan kecerdasan otaknya

Raden Ajeng Rantamsari adalah seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa Di Kateguhan, Raden Ajeng Rantamsari jarang sekali bergaul dengan anak-anak muda Ia tinggal di keputren bersama ibundanya Di Keputren itu memang terdapat taman yang indah, ditumbuhi berjenis-jenis tanaman serta pohon bunga yang membuat taman itu menjadi semakin semarak. Beberapa orang dayang melayaninya siang dan malam.

Tetapi itu tidak cukup bagi Raden Ajeng Rantamsari. Di taman yang dikelilingi dinding yang tinggi itu tidak pernah hadir seorang anak muda selain Kangjeng Adipati Yudapati. Itupun jarang sekali. Yang sering terjadi adalah ibundanya datang menemuinya justru di luar keputren.

Kadang-kadang Raden Ajeng Rantamsari juga melihat Senapati muda yang lewat diluar regol keputren disaat mereka menjalankan tugasnya. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari tidak pernah berkenalan dengan mereka

Karena itu, perkenalannya dengan Rembana yang nampak selalu gembira Itu, mempunyai kesan yang lain di hati puteri itu.

Selangkah demi selangkali Raden Ajeng Rantamsari itu bergerak mendekati Rembana yang sedang sibuk. Sekali diangkatya kapaknya tinggi tinggi. Kemudian terayun dengan deras sekali menghantam sebatang kayu yang tergolek di depannya

Dengan sekali ayun, gelondong kayu itupun telah terbelah.

Rembana mengusap keringamya yang mengembun di keningnya Namun Rembana itu terkejut ketika ia mendengar suara lembut menyapanya ”Kakang Rembana”

Ketika Rembana berpaling, dilihatnya Raden Ajeng Rantamsari berdiri termangu-mangu memandanginya

Jantung Rembana berdesir. Sorot mata yang bening itu bagaikan memancarkan embun yang dingin di teriknya cahaya matahari.

“Raden Ajeng” terdengar suara yang terloncat dari bibir Rembana

“Berhentilah, kakang. Bukankah itu bukan pekerjaan kakang.”

Rembana tersenyum. Katanya “Aku adalah anak yang lahir dan dibesarkan di kaki bukit, Raden Ajeng. Aku sudah terbiasa melakukannya”

“Tetapi sekarang kakang adalah seorang Senapati. Bahkan Senapati yang pernah mendapat pujian pada saat kakang bersama pasukan kakang ikut dalam perang besar di tepi Bengawan Rahina Pujian yang langsung diberikan oleh Kangjeng Sultan Tegal Langkap. Kakang juga telah berhasil menumpas gerombolan perampok di kademangan Panjer. Sekarang, kakang mendapat tugas melindungi kami sekeluarga yang tinggal di rumah ini.“

“Tetapi kebiasaan masa kanak-kanak dan remajaku itu tidak dapat aku tinggalkan, Raden Ajeng. Begitu aku berhadapan dengan kapak dan gelondong kayu, maka rasa-rasanya tanganku menjadi gatal.”

Sekarang, beristirahatlah kakang.”

Tetapi kerja ini belum selesai, Raden Ajeng.”

“Biarlah nanti diselesaikan oleh Tarji. Atau jika kakang Rembana masih belum puas, nanti kakang dapat menyelesaikannya”

“Biarlah aku selesaikan saja sama sekali Raden Ajeng.”

Raden Ajeng Rantamsari itupun kemudian justru duduk di sebuah lincak panjang, dibawah sebatang pohon jambu air yang rimbun sambil berkata “Kakang, beristirahatlah. Duduklah disini.”

”Ah. Pakaianku basah oleh keringat, Raden Ajeng. Biarlah aku selesaikan saja kerja ini.”

“Kakang “ suara Raden Ajeng Rantamsari merendah “duduklah disini.”

Wajah Raden Ajeng Rantamsari yang lembut, kata-katanya yang terasa sejuk ditelinga rasa-rasanya telah mencengkam jantung Rembana Ia tidak kuasa menolaknya sehingga kemudian diletakkan kapaknya

Namun Rembana tidak mau duduk di lincak itu pula. Tetapi ia justru duduk diatas seonggok kayu yang telah ditimbun disebelah lincak yang panjang itu.

“Duduklah disini, kakang.”

“Terima kasih, Raden Ajeng.”

Raden Ajeng Rantamsari tersenyum. Ia tahu, bahwa Rembana masih merasa segan untuk duduk disebelahnya

“Aku ingin kakang bercerita tentang pandan diatas bukit Pudak Seketi itu“ berkata Raden Ajeng Rantamsari sambil tersenyum.

“Apanya yang harus aku ceritakan, Raden Ajeng. Hutan pandan itu sulit sekali ditembus. Daun pandan yang berduri itu saling berkait.”

“Jadi bagaimana dengan orang-orang yang mencari daun pandan untuk dibuat barang-barang kerajinan?”

“Mereka mencari daun pandan yang tumbuh dipinggir saja, Raden Ajeng. Mereka tidak dapat pergi ke tengah.”

Raden Ajeng Rantamsari mengangguk-angguk. Dengan nada yang merendah iapun kemudian berkata “Jika musim pandan berbunga, alangkah indahnya hutan pandan itu, kakang.”

“Kita hanya dapat melihat dari pinggir hutan itu saja, Raden Ajeng.”

Raden Ajeng Rantamsari mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya beberapa hal tentang hutan pandan di bukit Pu-dak Seketi itu.

Demikianlah, maka hubungan Rembana dengan Raden Ajeng Rantamsari dari hari ke hari menjadi semakin rapat. Meskipun Rembana masih tetap menyadari siapakah dirinya dan siapa pula Raden Ajeng Rantamsari, namun sebenarnyalah Rembana tidak dapat ingkar, bahwa hatinya yang paling dalam telah terjerat oleh sikap, pandangan mata, tutur kata Raden Ajeng Rantamsari yang lembut, luruh dan menyentuh itu.

Demikian pula Raden Ajeng Rantamsari. Kadang-kadang ia merasa menyesal, bahwa ia telah dilahirkan oleh seorang ibu yang kebetulan adalah isteri seorang Adipati. Sehingga dengan demikian ia hidup dalam batasan-batasan yang mengungkungnya. Ia tidak dapat bebas seperti gadis-gadis sebayanya yang hidup diluar dinding kadipaten. Bahkan kemudian telah terjadi peristiwa yang mengguneang kemapanan hidupnya Ibundanya telah dituinta meninggalkan dalem kadipaten Kateguhan.

Perjumpaannya dengan Senapati muda yang bernama Rembana itu telah membuat Raden Ajeng Rantamsari yang menginjak dewasa itu terhisap kedalam dunia angan-angan yang membubung.

Dalam pada itu, setelah beberapa lama Raden Madyasta serta ketiga orang Senapati muda berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda ternyata tidak pernah terjadi sesuatu yang meneurigakan. Malam-malamnya dilalui dengan tenang tanpa gangguan sama sekali.

Bahkan Raden Madyasta telah mulai berpikir untuk menghadap ayahandanya dan menyampaikan laporan tentang keadaan di rumah bibinya. Jika saja ayahandanya sependapat, maka ayahandanya dapat menunjuk orang lain untuk melanjutkan mgas mereka

Namun tiba-tiba saja telah terjadi gejolak dipermukaan yang telah terasa menjadi tenang itu.

Ketika hari merambat siang, Raden Ayu Prawirayuda berada di serambi samping. Raden Ayu itu masih saja mempunyai kesenangan membatik. Digelarkan kain putih yang sebagian sudah digores dengan lukisan batik yang lembut. Sekali-sekali ditiupnya eanting yang sudah berisi malam panas yang cair. Kemudian dengan cekatan yang sudah baerisi malam panas yang cair. Kemudian dengan cekatan tangannya bergerak-gerak meninggalkan goresan lukisan yang rumit.

Namun tiba-tiba saja Raden Ayu itu terkejut ketika ia mendengar seseorang menyapanya ”Kangmbok.”

Hampir saja Raden Ayu Prawirayuda menumpahkan malamnya yang cair dan panas didalam wajan kecilnya.

“Dimas Wicitra.”

Wicitra tertawa. Katanya “Kangmbok terkejut karena tiba-tiba aku sudah berada disini?”

“Ya. Kau memang mengejutkan aku“ sahut Raden Ayu Prawirayuda.

“Maaf, kangmbok. Bukan maksudku mengejutkan kangmbok.”

“Untuk apa kau tiba-tiba saja datang kemari Wicara?

“Sikap kangmbok aneh. Bukankah aku adik kangmbok. Satu-satunya saudara kandung kangmbok. Jika ada dua orang saudara kita, kedua-duanya telah meninggal. Yang tinggal adalah aku. Adik laki-laki kangmbok Prawirayuda”

“Aku tahu. Nah, sekarang apa yang kau maui?”

“Apakah kangmbok tidak mempersilahkan aku duduk? Kangmbok. Aku datang dari jauh. Aku datang dari Kateguhan untuk menengok satu-satunya saudara kandungku.”

“Baik. Duduklah Wicitra”

Wicitra tersenyum. Iapun kemudian duduk diserambi ditemani Raden Ayu Prawirayuda

“Kangmbok. Semalam aku berrnalam di rumah seorang kawanku yang tinggal di Paranganom. Seharusnya aku bermalam disini, dirumah saudara kandungku.“

Wajah Raden Ayu Prawirayuda menjadi tegang. Tetapi ia tidak menjawab.

Kangmbok meninggalkan Kateguhan tanpa memberi-tahu aku. Padahal aku adalah satu-satunya saudara kandung kangmbok.”

“Aku tidak sempat, Wicitra. Tiba-tiba saja aku harus pergi dari Kateguhan.”

“Bukankah sebenarnya kangmbok tidak harus meninggalkan Kateguhan? Kangmbok hanya harus meninggalkan dalem Kadipaten. Bukankah sesungguhnya sudah disediakan rumah yang cukup memadai bagi kangmbok?”

“Aku mempunyai harga diri, Wicitra. Apa kata orang Kateguhan jika aku bersedia meninggalkan kadipaten dan tinggal di rumah yang berada jauh di luar dinding kota itu?”

“Bukankah itu salah kangmbok sendiri?”

“Kenapa aku yang salah?”

“Sudahlah kangmbok. Aku tidak mau membicarakan persoalan kangmbok yang sangat pribadi itu “

“Lalu, apa yang akan kau katakan Wicitra?”

Kenapa sikap kangmbok sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang kakak perempuan yang penuh kasih seperti masa kanak-kanak itu? Kangmbok adalah anak sulung. Dua saudara kita meninggal diusia remaja mereka Kemudian aku adalah anak bungsu. Jarak umur kita memang agak banyak kangmbok. Waktu kecil, kangmbok bersikap sangat manis kepadaku. Bahkan kangmbok terlalu memanjakan aku. Kangmbok menggendong aku kemana-mana Jika aku menangis, mata kangmbok ikut menjadi basah.”

“Wicitra. Sukurlah jika kau sempat mengingat semuanya itu. Tetapi apa balasanmu setelah kau menjadi dewasa? Kau kehilangan sifat-sifat baikmu. Kau tumbuh didalam lingkungan yang salah. Kau berada didalam lingkungan yang akhirnya merusak hidupmu. Ayah dan ibu semasa hidupnya telah kehilangan kendali atas dirimu.”

Wicitra tertawa. Katanya “Mungkin kangmbok benar. Tetapi sebagaimana waktu itu aku berubah, maka pada saatnya akupun akan berubah pula. Aku menyadari semuanya itu dan aku berniat untuk memperbaikinya”

“Kau memang harus mencoba, Wicitra . Kau harus berani melepaskan diri dari lingkungan yang buruk itu. Kau tidak boleh dekat kerbau berkubang. Kau akan terpercik oleh lumpur pula”

“Aku mengerti kangmbok Aku memang akan meninggalkan duniaku yang buram itu. Aku akan tinggal disini.”

“Tinggal disini?”

“Ya, kangmbok. Aku minta kangmbok menyampaikan kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma, agar Madyasta dan ketiga orang senapati itu dikembalikan kepada tugas mereka masing-masing.”

“Mereka disini melindungi aku dan Rantamsari.”

Wicitra tertawa lebih keras. Katanya “Jika hanya untuk melindungi kangmbok dan Rantamsari dari kejahatan., kenapa harus empat orang Senapati? Bukankah cukup dengan empat atau lima orang prajurit saja”

“Keadaannya cukup gawat Wicitra.”

“Kenapa kangmbok tidak berusaha melindungi diri sendiri serta Rantamsari? Apakah arti gelar kangmbok pada saat kangmbok berada di Kateguhan? Bukankah kangmbok di-gelari Srikandi Kateguhan?”

“Itu dahulu, Wicitra. Itupun gelar yang berlebihan. Aku hanya mengangankan agar di Kateguhan ada prajurit perempuan meskipun jumlahnya kecil. Itu saja. Bukan berarti aku memiliki ilmu yang tinggi.”

“Kangmbok. Meskipun demikian, kangmbok tidak memerlukan para Senapati muda yang masih ingusan itu.”

“Wicitra. Mereka adalah Senapati pilihan. Mereka telah mampu memadamkan gejolak yang terjadi di Panjer baru-baru ini.”

” Itu sama sekali tidak mengherankan.”

“Mereka juga pernah mendapat pujian langsung dari Kangjeng Sultan di Tegal Langkap setelah mereka terlibat dalam perang besar di tepi Bengawan Rahina”

“Omong kosong. Jlu hanyalah ceritera yang direka-reka oleh para Senapati muda itu sendiri.”

“Tidak. Pujian itu diakui oleh Kangjeng Adipati Prangkusuma sendiri.”

“Baik. Baik, kangmbok. Meskipun demikian sebenarnya mereka tidak kangmbok perlukan. Aku akan tinggal disini. Keberadaanku disini akan lebih berarti dari keempat orang Senapati ingusan itu.”

“Wicitra. Kau masih saja suka membual. Itukah bagian dari keinginanmu memperbaiki sifat dan watakmu?”

“Aku tidak membual kangmbok. Aku berkata sebenarnya“ jawab Wicitra “karena itu, aku minta kangmbok menyingkirkan para Senapati muda itu termasuk Raden Madyasta”

“Tidak. Wicitra Mereka akan tetap berada disini.”

“Aku mengerti, kangmbok. Sebenarnya keberadaan mereka disini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perlindungan sebagaimana yang kangmbok katakan. Tetapi keberadaan mereka disini tentu karena maksud kangmbok yang lain.”

“Aku tidak tahu maksudmu, Wicitra.”

“Kangmbok tengah menawarkan Rantamsari kepada mereka”

“Wicitra Jagalah mulutmu. Karena mulutmu kau akan dapat terjerat oleh petaka.”

“Tetapi Wicitra justru tertawa berkepanjangan. Katanya “Di Kateguhan kangmbok gagal menginginkan menantu seorang Adipati. Sekarang kangmbok membawa Rantamsari ke Paranganom dan menawarkan kepada para senapati muda itu.”

“Cukup Wicitra.”

“Kangmbok tidak usah marah. Aku tahu bahwa Rantamsari berhubungan semakin rapat dengan Rembana. Salah seorang senapati muda yang ada di rumah ini.”

Wajah Raden Ayu Prawirayuda menjadi merah bagaikan membara. Dengan lantang Raden Ayu itu berkata “Wicitra. Tidak sepantasnya kau berkata seperti itu. Seandainya benar Rantamsari berhubungan semakin rapat dengan Rembana apa keberatanmu? Rantamsari sudah dewasa la sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk Karena itu, kau tidak usah ikut campur. Biar saja Rantamsari menentukan jalan hidupnya sendiri.”

“Tetapi bukankah tidak sepantasnya Rantamsari berhubungan dengan Senapati kecil yang tidak berarti apa-apa itu?”

“Tetapi ia adalah Senapati pilihan, Wicitra.”

“Senapati itu tidak ada sekuku ireng dibanding dengan aku.”

“Apa maksudmu?”

“Seharusnya kangmbok sudah mengetahuinya”

“Mengetahui apa?”

“Bukankah aku pernah memberikan isyarat bahwa aku inginkan Rantamsari menjadi isteriku.”

“Itu adalah pikiran gila, Wicitra, Itu tidak mungkin. Kau tahu, bahwa itu adalah bagian dari sifat dan watakmu yang kotor, yang terbentuk di tengah-tengah yang kotor pula”

“Apakah pemikahan itu satu hal yang kotor? Bukankah pernikahan justru bagian dari kehidupan yang memang dikehendaki oleh Yang Maha Pencipta untuk melestarikan keberadaan umatnya? Pemikahan adalah satu hal yang suci, kangmbok.”

“Ya Pernikahan itu sendiri memang satu hal yang suci. Justru karena itu, maka pemikahan diatur dengan beberapa tatanan. Wicitra. Kau adalah pamannya. Rantamsari adalah anakku. Anak kakak kandungmu. Bagaimana kau dapat mengambilnya menjadi isterimu?”

“Apa salahnya kangmbok. Aku laki-laki. Rantamsari seorang perempuan. Bukankah sudah sewajamya jika seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan?”

“Tetapi tidak dengan kenanakan sendiri.”

“Kangmbok. Jika niatmu, terpenuhi, bukankah kau ingin Rantamsari menikah dengan Kangjeng Adipati Yudapati? Nah, bukankah Adipati Yudapati itu saudara laki-laki Rantamsari?”

“Semua itu omong kosong. Fitnah.”

Wicitra tertawa pula.

“Wicitra. Sekarang pergilah. Aku tidak mau kau berada di rumahku. Aku tidak mau kau mengotori lantai serambiku.”

“Jangan kasar terhadapku, kangmbok. Seharusnya kangmbok berterima kasih kepadaku. Kangmbok tidak perlu menjajakan Rantamsari ke Paranganom.”

“Cukup. Pergilah Wicitra”

“Kangmbok jangan mengusir aku. Sudah aku katakan, aku akan tinggal disini menjaga keselamatan kangmbok dari Rantamsari. Yang sepantasnya diusir adalah Madyasta dan para senapati itu. Tidak pantas Rantamsari berhubungan rapat dengan seorang senapati kecil seperti Rembana itu.”

“Pergilah Wicitra Sebelum aku mengusirmu.”

“Kangmbok tidak akan dapat mengusir aku.”

“Aku dapat memanggil para senapati itu.”

“Apa artinya senapati itu bagiku? Aku akan dapat dengan mudah membunuh mereka”

“Apakah kau benar-benar akan mencobanya, Wicitra?”

Wajah Wicitra menjadi tegang. Dengan geram ia berkata “Kau akan menyesali perbuatanmu itu kangmbok.”

“Tidak. Aku tidak akan menyesal. Kaulah yang akan menyesal jika kau tidak mau pergi dari tempat ini.”

Tetapi Wicitra itu menggeleng. Katanya “ Aku tidak akan pergi.”

“Pergi. Kau harus pergi“ suara Raden Ayu Prawirayuda menghentak keras.

Tetapi Wicitra masih tetap tidak beranjak dari tempatnya, sehingga Raden Ayu Prawirayuda itupun berkata “Jadi aku harus mengusirmu dengan kekerasan Wicitra “

Namun tiba-tiba saja pintu serambi itupun terbuka. Seorang Senapati muda muneul dari balik pintu yang terbuka itu.

“Maaf Raden Ayu. Aku mendengar sedikit keributan disini. Tetapi jika tidak terjadi sesuatu, aku sekali lagi mohon maaf.“

“Tidak terjadi apa-apa disini, anak muda. Aku adalah adik kandung kangmbok Prawirayuda “

“O “

“Usir orang ini. Ia memang adik kandungku. Tetapi ia tidak pantas berada di rumah ini.“

“Jadi?“

“Bawa orang ini keluar. Jika perlu dengan paksa.“

Rembana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Marilah, Raden. Aku persilahkan Raden Keluar.“

“Pergi, kau dengar?“ Wicitra justru membentak.

Tetapi Rembana tidak beringsut. Katanya “Aku sudah mendapat perintah dari Raden Ayu Prawirayuda Karena itu, sebelum aku mempergunakan kekerasan, lebih baik Raden keluar dari rumah ini.“

“Kau akan mempergunakan kekerasan?“

“Ya “

“Cobalah. Cobalah jika kau berani.“

Rembana memang menjadi ragu-ragu. Namun ketika ia berpaling dan memandang Raden Ayu Prawirayuda, ia melihat Raden Ayu Prawirayuda itu mengangguk.

Karena itu, maka Rembana bergeser selangkah maju sambil berkata “Aku akan memaksa Raden.”

“Bagus. Ternyata kau seorang Senapati muda yang berani. Nah, cobalah. Paksa aku keluar dari rumah ini.“

Rembana memang tidak sabar lagi. Tetapi sebelum ia berbuat lebih jauh, maka didengarnya seseorang berdiri di pintu yang terbuka itu.

Ketika Rembana berpaling, dilihatnya Madyasta berdiri di pintu.

“Raden” desis Rembana

“Ada apa?“

“Angger Madyasta” Raden Ayu Prawirayudalah yang menyahut “aku minta orang ini diusir dari rumahku.“

Raden Madyasta termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wicitra yang menjadi tegang setelah ia melihat Madyasta hadir pula di serambi itu.

“Bukankah itu paman Wicitra?“

“Ya, Raden. Ia memang adik kandungku. Tetapi ia datang untuk niengganggu ketenanganku.“

“Maaf paman“ berkata Raden Madyasta kemudian “aku berada disini karena aku diperintahkan oleh ayahanda untuk menjaga ketenangan dan ketenteraman keluarga bibi. Karena itu, jika paman Wicitra membuat bibi gelisah, aku mohon paman meninggalkan tempat ini.“

Wajah Wicitra menjadi merah membara Namun ia tidak mempunyai pilihan. Jika terjadi perselisihan serta benturan kekerasan maka para Senapati yang lainpun tentu akan segera berdatangan. Agaknya Wicitra masih belum siap menghadapi para Senapati itu. Apalagi seorang diantaranya adalah Raden Madyasta, yang baru pulang dari sebuah perguruan serta tuntas dalam ilmu kanuragan.

Karena itu, maka dengan hati yang luka Wicitra itupun berkata kepada kakak perempuannya “Baik, kangmbok. Sekarang aku akan pergi. Tetapi jangan kira bahwa aku tidak akan kembali.“

Sebelum Raden Ayu Prawirayuda menjawab, maka Wicitrapun bergegas meninggalkan serambi itu. Dipintu ia berhenti sejenak memandang wajah Raden Madyasta. Namun Raden Madyastapun memandang pula langsung ke biji matanya.

Sepeninggal Wicitra, Raden Madyastapun bertanya “Ada apa dengan paman Wicitra, bibi?“

“Anak itu selalu mengganggu saja ngger. Sejak aku masih tinggal di Kateguhan. Tetapi bagaimana mungkin ia tiba-tiba saja sudah berada di pintu serambi ini.”

Maaf bibi. Aku melihat paman Wicitra masuk regol dan berjalan di halaman. Aku melihat paman Wicitra masuk pintu seketeng. Tetapi karena aku tahu,.bahwa paman Wicitra itu adik kandung bibi, maka aku tidak menegurnya “

“Ia memang adik kandungku, ngger. Tetapi sifat dan wataknya tidak dapat dikendalikan lagi. Karena itu, ngger. Aku mohon lain kali, jangan biarkan ia masuk ke rumah ini.“

“Baik, bibi. Aku akan mengingatnya. Akupun akan berpesan kepada kakang Rembana, kakang Sasangka dan kakang Wismaya, agar paman Wicitra tidak djijinkan masuk.”

“Terima kasih, ngger. Anak itu membuat jantungku berdebaran semakin cepat.“

“Baik, bibi.“

Raden Madyasta dan Rembanapun kemudian meninggalkan serambi itu. Raden Ayu Prawirayuda kembali duduk di depan gawangan menggelar. kain yang sedang dibatiknya. letapi rasa-rasanya ia tidak lagi bertekun. Jantungnya masih saja terasa berdegup.

Hari ini Raden Ayu Prawirayuda nampak gelisah. Ia tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang sering dilakukannya sehari-hari dengan baik. Setiap kali Raden Ayu Prawirayuda itu duduk sambil merenungi anak gadisnya yang tumbuh dewasa itu. Tumbuh dewasa itu/ bahkan debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat, jika ia teringat kata-kata Wicitra, bahwa Wicitra justru menginginkan Rantamsari untuk menjadi isterinya.

“Anak itu sudah menjadi gila” desis Raden Ayu Prawirayuda.

Sementara itu, sejak Wicitra datang, ia belum melihat Raden Ajeng Rantamsari, pintu biliknya tertutup rapat, biasanya Rantamsari tudak menutup diri dalam biliknya seperti itu.

Apakah ia mendengar pembicaraanku yang keras dengan pamannya di serambi?“ bertanya Raden Ayu Prawirayuda didalam hatinya.

Raden Ayu Prawirayuda merasa ragu. Beberapa saat ia berdiri di depah pintu bilik anak gadisnya.

Namun perlahan-lahan Raden Ayu Prawirayuda itu mengetuk pintu bilik itu

“Rantamsari “ terdengar suara Raden Ayu Prawirayuda lembut Tidak terdengar jawaban. Karena itu, Raden Ayu Prawirayudapun mengulanginya, mengetuk pintu itu perlahan

“Rantamsari.”

Yang terdengar adalah justru isak tangis tertahan.

Perlahan-lahan Raden Ayu Prawirayuda mendorong pintu itu sehingga terbuka. Dilihatnya Rantamsari menelungkup di pembaringannya.

Raden Ayu Prawirayuda melangkah mendekatinya. Kemudian duduk di bibir pembaringan sambil mengusap rambut anaknya yang hitam kelam.

“Kenapa kau menangis ngger?” Rantamsari tidak segera menjawab

“Rantamsari. Jawablah pertanyaan ibu. Kenapa kau menangis ngger?”

“Ibu“ Rantamsari bangkit. Namun iapun segera duduk dilantai dihadapan ibunya sambil meletakkan kepalanya di pangkuannya.

“Apa yang kau pikirkan, Rantamsari?” suara ibunya terdengar sejuk di telinga gadis itu.

“Apakah aku bersalah ibu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu, ngger?”

“Kenapa paman marah kepadaku”?”

“Kau dengar pembicaraan kami?”

“Tidak seluruhnya ibu. Tetapi serba sedikit aku mendengarnya.”

“Apa yang telah kau dengar?”

Paman menyebut nama kakang Rembana.”

“Ya, Rantamsari. Apa lagi yang kau dengar?”

“Tidak jelas ibu. Tetapi agaknya paman menyalahkan aku karena aku berhubungan dengan kakang Rembana. Bahkan paman menganggap aku seorang gadis yang rendah, yang dijajakan di Paranganom. Yang lain aku tidak dapat mendengarnya ibu. Ketika aku sudah berada didalam bilik ini, aku mendengar ibu mengusir paman setelah ibu bertengkar dengan paman.”

“Jangan hiraukan pamanmu, Rantamsari. Ia tidak akan datang lagi. Aku sudah minta angger Madyasta untuk mencegahnya jika ia akan memasuki rumah ini.”

“Ya, ibu. Tetapi apa sebenarnya yang diinginkan paman Wicitra itu?”

“Rantamsari. Kau sudah dewasa. Aku tidak ingin merahasiakannya lagi, apa yang diingini oleh pamanmu itu.”

Bab 21

Rantamsari mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah ibunya yang bagaikan membeku. Sorot mata ibunya jauh menerawang menembus batas ruang dan waktu.

Sejak lama Wicitra memang sudah mengisyaratkan kepada Raden Ayu Prawirayuda, bahwa ia menginginkan Rantamsari untuk dijadikan isterinya. Ia minta agar Rantamsari jangan diberikan kepada orang lain. Tetapi Wicitra baru berkata dengan jelas, justru setelah ia berada di Paranganom.

“Ibu” desis Rantamsari.

Raden Ayu Prawirayuda itupun tersadar. Sambil membetulkan rambut anaknya iapun berkata “Rantamsari. Sebenarnya bahwa pamanmu menginginkan agar kau dapat dijadikan isterinya”

“Bukunkah aku kemanakannya?, Bukankah paman Wicitra itu adik kandung ibu?”

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk lagi.

“Ibu “ mata Rantamsaripun menjadi basah lagi..

“Sudahlah, Rantamsari. Lupakan keinginan pamanmu itu.”

“Itukah agaknya, kenapa paman tidak senang melihat hubunganku dengan kakang Rembana.”

“Rantamsari“ suara ibunya merendah “akulah yang lustru ingin bertanya. Apakah benar kau telah menjalin hubungan batin dengan senapati muda itu, sebagaimana dikatakan oleh pamanmu?”

“Ibu juga menyalahkan aku?”

“Tidak. bukan maksudku, Rantamsari. Aku hanya ingin tahu, apa yang sedang bergejolak di dada anak gadisku.”

“Ibu“ suara Rantamsari menjadi parau “menurut pendapatku, kakang Rembana adalah anak muda yang baik. Ia ramah dan gembira. Meskipun ia suka berkelakar, tetapi ia masih mengenal batas-batas unggah-ungguh serta tidak mengurangi harga dirinya sebagai seorang senapati muda yang mempunyai kelebihan.”

“Jadi kau memang tertarik kepadanya, Rantamsari.“

“Ibu. Aku adalah puteri ibu. Sebagaimana seorang gadis yang hidup di lingkungan dinding kadipaten, segala sesuatunya sudah ditentukan baginya. Aku tinggal menjalaninya saja. Karena itu, jika memang ada titah yang lain, aku tidak dapat menolaknya.“

“Tidak, Rantamsari. Tidak. Sudah aku katakan, aku hanya ingin mengetahuinya.“

“Aku tidak dapat ingkar, ibu. Aku tertarik kepada kakang Rembana. Wajahnya yang cerah, hatinya yang terbuka, kelakarnya, namun juga pandangannya yang luas tentang hidup dan kehidupan.“

“Kau sudah banyak berbicara dengan senapati muda itu Rantamsari?” * ,

“Ya. Ibu. Aku sudah tahu pula, bahwa kakang Rembana juga tertarik kepadaku.“

“Baiklah, Rantamsari. Aku bukan seorang ibu yang hanya menuruti keinginanku sendiri. Aku harus mendengarkan kemauanmu karena kaulah yang akan menjalaninya. Masa depanmu akan terletak di tanganmu sendiri.”

“Ibu. Jadi ibu tidak berkeberatan?”

“Ibu hanya ingin meyakinkan sikapmu, Rantamsari. Dengarlah. Rembana hanyalah seorang senapati prajurit di Puranganom. Ia bukan seorang yang pinunjul. Mungkin ia memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi ada berapa orang senapati muda di Paranganom ini. Karena itu, kau harus itu pikirkan sebaik-baiknya masa depanmu. Jika kau benar-benar ingin menyatukan dirimu dalam kehidupan Rembana, maka kau harus siap menjalani hidup dan kehidupan yang sederhana. Karena Rembana seorang prajurit, maka ia akan lebih sering berada di luar rumah. Tugas akan selalu memanggilnya, sebagaimana ia berada disini sekarang ini.“

“Aku mengerti ibu. Tetapi justru kehidupan yang sederhana itulah yang akan dapat dinikmati sedalam-dalamnya. Tidak seperti saat kita tinggal di kadipaten Kateguhan. Segala sesuatunya berlangsung sesuai dengan pranatan, sehingga rasa-rasanya kita telah kehilangan diri sendiri dalam keberadaan kita ini ibu. Kita tidak mempunyai kebebasan menentukan sikap dan bahkan keinginan-keinginan yang paling mendasar dari hidup ini.“

Raden Ayu Prawirayuda tersenyum. Katanya ”Dari-mana kau dengar sikap hidup sebagaimana yang kau katakan itu. Rantamsari? Dari Rembana? Aku tidak menyalahkannya. Justru apa yang kau katakan itu sangat menarik perhatianku. Menurut pendapatku, yang kau katakan itu benar adanya.“

“Ibu sependapat?“

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk.

“Ibu“ senyum yang manis mengembang dibibir Raden Ajeng Rantamsari. Ia meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya sambil memejamkan matanya. Dengan suara yang lirih iapun berkata “Ibu, doakan agar aku akan menemukan kebahagiaan.“

Aku mengerti,-Rantamsari. Sikap kakangmasmu yang telah mengusir kita dari Kateguhan telah menghunjam, melukai jantungmu sampai ke dasar. Agaknya luka itu tidak mudah untuk dapat disembuhkan. Peristiwa itu tentu sangat mempengaruhi pandanganmu tentang hidup dan kehidupan.“

“Mungkin ibu. Tetapi aku ingin menemukan hari-hari mendatang yang panjang. Aku tidak akan selalu berpaling pada masa lalu itu, meskipun sebagai pengalaman akan mempunyai arti tersendiri bagiku.-”

Raden Ayu Prawirayuda masih saja membelai rambut anaknya. Namun beberapa saat kemudian. Raden Ayu Prawirayuda
itupun berkata, “Beristirahatlah, Rantamsari. Mungkin kau
merasa letih oleh gejolak perasaanmu. Jika kau ingin tidur.
tidurlah.“ .

“Tidak. ibu. Aku tidak ingin tidur. Aku akan pergi ke dapur.“

Justru Raden Ajeng Rantamsarilah yang lebih dahulu bangkit berdiri. Ketika Raden Ayu Prawirayuda juga bangkit, maka Rantamsaripun menggandeng ibunya keluar dari biliknya langsung pergi ke dapur.

Di dapur, para abdi sedang sibuk menyiapkan makan siang bagi para senapati muda yang berada di rumah itu. Rantamsaripun kemudian telah ikut pula membantu mereka, menyediakan mangkuk serta peralatan yang lain.

Hari itu, wajah Raden Ajeng Rantamsari nampak sangat cerah. Rasa-rasanya Raden Ajeng Rantamsari telah meletakkan beban yang memberati perasaannya.

Selama ini, Raden Ajeng Rantamsari tidak berani berterus terang kepada ibunya, bahwa sebagai seorang gadis hatinya telah tersentuh oleh seorang anak muda yang bernama Rembana. Sebaliknya, anak muda itupun telah tertarik pula kepadanya.

Meskipun Rantamsari sebenarnya telah menduga, bahwa ibunya ikut merasakan getar timbal balik antara dirinya dengan senapati muda itu, namun ibunya tentu ingin mendengar pengakuannya itu.

Kedatangan pamannya seakan-akan justru telah membuka kesempatan kepadanya untuk menyampaikan hal itu kepada ibunya.

Pernyataan ibunya itu, telah membuat hubungan Raden Ajeng Rantamsari dengan Ki Lurah Rembana menjadi semakin akrab. Raden Ajeng Rantamsari tidak lagi merasa pakewuh untuk berbicara dengan Rembana di tempat-tempat terbuka.

Namun hubungan antara Raden Ajeng Rantamsari dengan Rembana itu tidak terlepas dari pengamatan senapati muda yang lain. Sasangka.

Senja itu, warna-warna jingga yang silau memancar di langit. Beberapa lembar mega hanyut beriringan dihembus ingin dari lautan. Setelah mandi, Madyasta dan Wismaya duduk di halaman belakang rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Mereka sempat memandangi burung-burung bangau yang terbang beriringan pulang kesarangnya.

“Apakah Rembana dan Sasangka juga sudah mandi?” bertanya Madyasta.

“Sudah Raden. Mereka ada di serambi gandok.”

“Kakang Wismaya“ berkata Madyasta kemudian “aku melihat telah terjadi perubahan dalam hubungan diantara keduanya. Aku tidak tahu, apakah yang telah menyebabkannya.”

“Maksud Raden, pada keduanya seakan akan telah terbentang jarak.”

“Ya.”

“Ya, Raden. Aku mengenal keduanya dengan baik. Aku berada dalam kelompok yang sama pada saat kami bersama-sama memasuki dunia keprajuritan. Agaknya jenjang kedudukan kamipun merambat bersama-sama pula, sehingga kami sempat menjadi Lurah prajurit yang justru memaksa kami untuk berpisah, karena kami mengemban tugas kami masing-masing.”

“Bukankah selama ini tidak ada masalah diantara keduanya?”

“Nampaknya tidak ada Raden. Tetapi sebenarnyalah bahwa akhir-akhir ini memang terasa ada jarak diantara mereka.”

“Mudah-mudahan tidak timbul persoalan yang mendasar diantara mereka. Namun adalah kewajibanku untuk mengetahui, ada apa sebenarnya diantara mereka itu.”

Sebenarnyalah saat itu, Rembana dan Sasangka duduk di serambi gandok. Untuk beberapa lama mereka saling berdiam diri. Namun kemudian Sasangkalah yang membuka pembicaraan “Rembana. Sebelumnya aku minta kau jangan salah paham. Jangan menganggap aku orang lain yang mencampuri urusan pribadimu. Aku adalah bukan hanya sekedar kawanmu. Tetapi kau bagiku rasa-rasanya sudah bagaikan saudara kandung.”

Rembana berpaling. Dengan kerut di dahi iapun bertanya “Ada apa Sasangka.”

“Sudah sejak beberapa hari sebenarnya aku ingin mengingatkanmu, Rembana.”

“Apakah ada yang aku lupakan?“

“Tidak. Kau telah menjalankan tugasmu dengan baik.“

“Jadi, apa yang perlu kau peringatkan?“

“Rembana, Aku bermaksud baik. Jangan tuduh aku mencampuri persoalan pribadimu.“

Rembana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata

“Katakan, Sasangka.“

“Aku ingin membicarakan hubunganmu dengan Raden Ajeng Rantamsari.“

“Hubunganku dengan Raden Ajeng Rantamsari? Kenapa?“

“Selagi belum terlanjur menjadi terlalu jauh.”

“Kenapa?” i

“Aku ingin menasehatkan, agar kau mempertimbangkan kembali hubunganmu dengan Raden Ajeng Rantamsari. Pada akhir-akhir ini aku melihat hubunganmu telah bergerak semakin akrab. Sentuhan-sentuhan batin diantara kalian telah membuat hubungan kalian menjadi khusus.“

Rembana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Terima kasih atas perhatianmu, Sasangka. Tetapi jangan hiraukan. Aku tidak beniat menolak uluran tanganmu serta niat baikmu. Tetapi karena aku sudah dewasa penuh, biarlah persoalan itu aku selesaikan sendiri.”

“Aku hanya ingin mengingatkan, agar kau tidak menjadi Kecewa dihari-hari mendatang.“

“Kecewa? Kenapa aku harus Kecewa?“

“Kau harus berani melihat ke dirimu sendiri.“

Rembana menarik nafas panjang. Katanya “Aku mengerti, Sasangka. Kau tentu akan mengatakan, bahwa aku adalah sekedar anak pedesaan. Anak yang dilahirkan dan dibesarkan di kaki bukit. Ayahku dan ibuku adalah orang-orang dari kaki bukit itu pula. Sedangkan Raden Ajeng Rantamsari adalah anak seorang Adipati, meskipun Kangjeng Adipati itu sudah meninggal.“

“Ya. Aku tidak ingin kau menjadi Kecewa di hari-hari mendatang. Seperti seseorang yang terbangun dari sebuah mimpi yang indah, maka kau akan menjadi sangat Kecewa.“

“Kenapa aku harus Kecewa”?

“Raden Ajeng Rantamsari pada suatu saat tentu akan dinikahkan dengan seorang yang pantas untuk menjadi suaminya. Mungkin seorang Adipati muda atau seorang putera Adipati. Bahkan mungkin saja Raden Ajeng Rantamsari akan mendapat suami seorang ksatria dari Istana Tegal Langkap.“

“Jika nasibku memang seburuk itu, biarlah aku sandangnya Sasangka.”

“Sebenarnya kau tidak perlu menunggu sampai kau mengalaminya Rembana. Mumpung belum terlanjur, kau dapat berusaha untuk mencegahnya.“

“Terima kasih atas kepedulianmu itu, Sasangka. Tetapi aku tidak berniat untuk menghindar sekarang. Seperti orang yang akan maju kemedan perang. Aku sudah siap. Jika aku memang, maka aku akan pulang dengan berbagai macam penghormatan. Bahkan bermahkotakan gelar seorang pahlawan. Menikmati pujian dan kebanggaan. Tetapi jika aku kalah, maka namaku akan tercemar. Orang lain akan berpaling jika berpapasan di jalan. Bahkan dapat terjadi lebih buruk dari itu. Menjadi seorang tawanan perang yang dihinakan. Dipekerjakan lebih buruk dari seorang budak. Atau dapat juga aku mati dipertempuran. Tetapi aku sudah siap menghadapi semua kemungkinan itu. Aku siap untuk menang. Tetapi akupun siap untuk kalah atau bahkan mati.“

“Kau keras kepala Rembana.“

“Kau tahu itu Sasangka. Aku memang orang yang keras kepala. Aku tidak mudah menerima pendapat orang lain.”

“Tetapi persoalan ini adalah persoalan yang gawat, Rembana. Aku minta kau mengerti.“

“Sasangka “ berkata Rembana kemudian. Nada suaranya meninggi “Aku sudah dewasa penuh. Aku sudah dapat memilih, manakah yang baik dan manakah yang tidak baik bagiku. Aku minta kau tidak mencampurinya.“

“Itulah yang kau kehendaki sekarang Rembana? Justru pada saat kau memerlukannya.“

“Tidak. Aku tidak memerlukannya.“

“Kau sakit, Rembana. Tetapi kau tidak mau mengakui, bahwa kau memerlukan pengobatan.“

“Sasangka. Kau sudah terlalu dalam mencampuri persoalan yang sangat pribadi bagiku. Nasehatmu sudah cukup.“

“Belum Rembana.“

“Bahkan sudah terlalu banyak. Atau justru karena kau merasa iri?”

Sasangka terkejut, sehingga tiba-tiba saja iapun bangkit berdiri “Rembana. Kau menganggap aku menjadi iri?“

“Jika tidak, lepaskan aku sekehendak hatiku. Kau tidak berhak mencampuri persoalan pribadiku. Mungkin aku memerlukan bantuanmu dalam pertempuran antara hidup dan mati. Tetapi aku tidak memerlukan pendapatmu dalam persoalan ini.”

Wajah Sasangka menjadi merah. Namun sebelum ia menjawab dengan suara yang bergetar, ia melihat Wismaya sudah berdiri di tangga serambi gandok itu.

“Wismaya“ desis Rembana.

“Aku mendengar sebagian dari persoalan yang kalian bicarakan dari balik dinding sebelah. Maaf. Tetapi aku sama sekali tidak sengaja mendengarkannya. Ketika aku ingin menemui kalian berdua, aku mendengar pembicaraan kalian. Semakin lama menjadi semakin tajam. Semula aku tindak ingin mencampurinya. Tetapi ketika aku akan pergi, aku justru merasa menjadi bagian dari keberadaan kita semuanya di rumah ini.“

“Aku bermaksud baik “ berkata Sasangka.“Aku mengerti“ sahut Wismaya.

“Tetapi ia telah mencampuri persoalan pribadiku terlalu dalam. Aku sudah mengatakan, bahwa aku berterima kasih atas kepeduliannya. Tetapi selanjutnya, biarlah aku yang memutuskan.”

“Memang kaulah yang harus memutuskan. Tetapi Sasangka ingin memberikan pertimbangan kepadamu.“

“Sudah aku katakan. Aku berterima kasih. Tetapi selanjutnya terserah kepadaku. Jika hubunganku dengan puteri itu dianggap demikian aku akan terperosok kedalam lidah api, biarlah aku terbakar sampai hangus. Sasangka tidak perlu menangisinya.“

“Jadi itukah arti kesetia-kawanan bagimu Rembana.”

“Aku menghargai kesetia-kawanan. Tetapi.tentu ada batasnya. Sampai kemana kau dapat memasuki duniaku. Duniaku yang sangat pribadi ini.“

“Sudahlah Sasangka“ berkata Wismaya “niat baikmu memang harus dihargai. Tetapi kau memang tidak akan dapat memasuki dunia Rembana sampai sedalam dalamnya.”

“Aku hanya ingin mencegah sebelum terjadi mala-petaka padanya.”

“Aku mengerti. Tetapi Rembana bukan kanak-kanak lagi. Biarlah ia memilih, jalan manakah yang akan di laluinya.“

“Apakah aku harus membiarkannya memilih jalan sesat?"

“Kau sudah memperingatkannya, Sasangka. Jika ia masih saja ingin berjalan lewat jalan itu, kita tidak dapat berbuat apa-apa.“

“Aku tidak akan membiarkannya.“

“Sasangka“ suara Wismaya menjadi berat “sejauh mana hak kita mencampuri persoalan-persoalan orang lain yang sangat pribadi. Kita dapat menunjukkan niat baik ktia, kepedulian kita. Sesudah itu, terser ah kepadanya. Karena itu, sudahlah. Biar Rembana sendiri yang memutuskannya.“

”Jadi itu nasehatmu Wismaya.“

“Jangan salah paham. Aku tidak menasehatimu. Aku ingin melerai persehsihanmu dengan Rembana.”

“Aku tidak berselisih. Tetapi aku ingin mencegah Rembana terperosok kedalam kepedihan dikemudian hari.”

“Aku sudah mengucapkan terima kasih, Sasangka “sahut Rembana“ “tetapi yang kau lakukan bukan memperingatkan aku. Tetapi kau justru memaksakan kehendakmu.”

“Untuk kepentinganmu sendiri Rembana.”

“Sudah aku katakan, jangan hiraukan aku. Bahkan seandainya aku akan lebur menjadi debu.”

“Kau menyinggung perasaanku.”

“Sudahlah, Sasangka. Ia memang berhak menentukan, apa yang terbaik menurut pikirannya. Kita hanya akan menjadi penonton.”

“Itu bukan sikap sahabat yang baik. Aku harus berani mengatakan yang baik dan yang buruk baginya, meskipun ia sendiri tidak menyukainya.”

“Kau benar Sasangka. Tetapi Rembana bukan kanak-kanak lagi.”

“Baik. Baik. Aku tidak peduli lagi apa yang akan ter|adi padanya, Apapun yang akan terjadi.”

Sasangka tidak menunggu jawaban. Iapun segera melangkah pergi meninggalkan Rembana dan Wismaya.

“Sasangka, Sasangka. Kaulah yang salah paham.”

Sasangka masih mendengar Wismaya memanggilnya. tetapi ia tidak menghiraukannya lagi.

Wismaya menarik nafas panjang. Ketika ia berpaling kepada Rembana, maka dilihatnya mata Rembana yang merah. Agaknya Rembana harus menahan kemarahan yang telah membakar jantungnya.

“Sasangka sudah menjadi gila. Ia merasa iri melihat hubunganku dengan Raden Ajeng Rantamsari.”

“Ia bukannya menjadi iri, Rembana. Maksudnya benar-benar baik. Aku sependapat dengan jalan pikirannya. Tetapi aku tidak sependapat dengan sikapnya yang ingin memaksakan pendapatnya itu kepadamu. Sebenarnya akupun ingin menyampaikan kepadamu sebagaimana di katakan oleh Sasangka. Tetapi bagiku, segala sesuatunya terserah kepadamu. Kau sudah dewasa. Kaulah yang akan menjalaninya. Kaulah yang sudah berbicara dengan Raden Ajeng Rantamsari, sehingga kaulah yang tahu sikapnya yang sesungguhnya.”

“Seperti kepada Sasangka, akupun berterima kasih kepadamu Wismaya.”

“Tetapi bagiku, segala sesuatunya terserah kepadamu. Aku adalah penonton lakon yang sedang kau perankan. Aku sama sekali tidak berhak untuk menjadi dalang dalam lakon ini.”

“Terima kasih.”

Wismaya tidak menjawab lagi. Tetapi iapun segera beranjak. Wismaya ingin mencari Sasangka dan berbicara dengannya untuk meluruskan kesalahan-pahaman yang baru saja terjadi.

Tetapi Wismaya tidak dapat menemukan Sasangka di halaman rumah itu.

Sasangka memang keluar lewat regol halaman depan. Ia berjalan saja menelusuri jalan didepan rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Ketika langit menjadi gelap, Sasangka berdiri di ujung jalan bulak, diluar gerbang padukuhan. Dipandanginya langit yang semakin lama semakin gelap. Sisa cahaya matahari tidak lagi nampak diujung gunung dan di bibir mega-mega yang mengambang, seakan tersangkut di lambung gunung.

Sasangka berdiri termangu-mangu. Diletakannya satu kakinya diatas sebuah batu yang agak besar yang terletak di tanggul parit yang mengalir di pinggir jalan, dibawah sebatang pohon turi yang sedang berbunga, Bunganya yang putih masih nampak lamat-lamat tersembul dari keremangan ujung malam.

Namun Sasangka yang memandangi ujung gunung itu tidak menyadari, dua orang sedang mengamatinya dari balik semak-semak di pinggir jalan bulak.

“Orang itu salah seorang dari senapati yang berada di Panjer”

“Apa benar Ki Lurah Sura Branggah “ desis yang lain.

“Aku tidak akan salah lagi. Sejak beberapa hari aku berusaha mengenali mereka dengan baik. Satu demi satu. Apalagi anak muda yang bernama Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu.”

“Kalau begitu, marilah, kita habisi saja orang itu.”

“Kita berdua?”

“Ya “

Sura Branggah termangu mangu Sementara itu kawannyapun berkata “Ki Lurah Sura Branggah adalah orang yang dikenal sebagai seorang vang berilmu tinggi. Ki Lurah tentu akan dapat membunuh tikus kecil itu.”

“Ya. Hanya tikus kecil. Selesaikan orang itu, aku menunggumu disini.”

“Aku?”

“Ya. Bukankah ia tidak lebih dari tikus kecil?”

“Tetapi yang namanya dikenal semua orang Kateguhan dan Paranganom adalah KI Lurah Sura Branggah.”

“Yang penting bukan dikenal atau tidak dikenal. Yang penting orang itu mati. Ia adalah salah satu dari senapati yang menurut Ki Tumenggung Reksadrana harus dibunuh, karena orang itu ikut bertanggung jawab atas kematian putera Ki Tumenggung itu.”

“Ya. Orang itu harus dibunuh.”

“Nah. Karena itu bunuhlah.”

“Ki Lurah sajalah yang membunuh. Agar kerja kita lekas selesai.”

“Aku perintahkan kepadamu.”

“Jangan begitu ki Lurah. Tetapi bagaimana jika kita lakukan bersama-sama.”

“bocah edan. Kita akan dapat terperosok kedalam kemungkinan terburuk. Agaknya memang belum waktunya kita membunuhnya sekarang.”

“Mumpung ia sendiri, Ki Lurah.”

“Otakmu memang otak kerbau. Jika kita gagal, maka rencana yang sudah kita susunpun akan gagal pula semuanya. Kita harus memilih saat terbaik untuk membunuhnya. Bahkan mungkin justru dihalaman rumah Raden Ayu Prawirayuda itu sendiri.”

Kawannya terdiam. Sebenarnyalah iapun merasa ragu, apakah berdua mereka akan berhasil seandainya mereka memutuskan untuk mencoba membunuh anak muda itu.

Namun ketika keduanya kembali memandang kearah senapati muda itu, maka yang nampak adalah dua orang. Selain Sasangka, ditempat itu hadir pula Wismaya.

“Marilah kita kembali ke rumah Raden Ayu” ajak Wismaya.

“Aku ingin mendinginkan jantungku dahulu Wismaya.

“Nanti kita akan dicari. Waktunya makan malam sudah tiba.”

“Aku masih belum dapat meredakan gejolak di dadaku jika aku bertemu dengan Rembana nanti.”

“Kau bukan kanak-kanak lagi, Sasangka” Sasangka menarik nafas dalam-dalam.

“Selebihnya, aku juga ingin menjelaskan maksudku, agar kau tidak salah paham dengan ucapan-ucapanku itu.”

“Tidak. Aku tidak merasa salah paham. Aku mengerti sepenuhnya maksudmu itu, Wismaya.”

“Jika demikian, jangan menunggu Raden Madyasta mencari kita.”

Sejenak kemudian Wismaya dan Sasangka itupun telah hilang dibelakang pintu gerbang.

“Ternyata nyawa kita masih akan panjang” desis kawan Ki Sura Branggah itu.

“Kenapa?”

“Jika kita tadi benar-benar menyerang, senapati muda itu, maka kita akan segera berhadapan dengan dua orang senapati muda yang berilmu tinggi itu”

“Bukankah dengan demikian dua orang diantara empat sasaran kita sudah kita selesaikan hari ini?”

“Sura Branggah memandang orang itu dengan tajamnya. Dengan geram iapun bertanya. “Apa?. Dua sasaran kita akan terbunuh?”

Namun tiba-tiba kawannya itu tertawa tertahan. Katanya “Ya. Merekalah yang membunuh sasaran mereka. Dua orang.”

“Gila kau.”

“Bukankah aku bersama Ki Sura Branggah?”

“Kau mencoba menghina aku. Aku cekik kau sampai mati.”

“Jangan marah Ki Lurah. Jika kau bunuh aku, maka kau kehilangan seorang pengikut yang berilmu tinggi “

“Huh” Ki Sura Branggah tidak menjawab. Namun iapun segera melangkah pergi.

Sambil tertawa tertahan pengikutriya itupun berlari-lari kecil, mengikuti Ki Sura Branggah di belakangnya.

Di rumah Raden Ayu Prawirayuda, suasananya memang nampak sedikit berubah. Tetapi Wismaya dan Raden Madyasta berusaha agar Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari tidak segera merasakan perubahan itu.”

Karena itu, ketika mereka makan malam di ruang dalam, Wismaya yang pendiam serta Raden Madyasta lebih banyak mengisi waktu dengan pembicaraan-pembicaraan yang memang berbeda dengan cara Rembana berbicara pa da saat-saat seperti itu.

Hanya sekali-sekali saja Rembana dan Sasangka ikut terlibat dalam pembicaraan yang memang nampak lebih bersungguh-sungguh itu.

Raden Ayu Prawirayuda nampaknya memang tidak menangkap perubahan suasana yang terjadi di rumahnya. Tetapi agak berbeda dengan Raden Ajeng Rantamsari. Ia melihat perubahan yang terjadi pada Rembana. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari tidak tahu apakah yang menyebabkannya.

Setelah makan malam, maka Raden Madyasta serta para senapati muda itupun segera kembali ke gandok. Beberapa saat mereka duduk di serambi. Namun Sasangka dan Rembanapun segera masuk ke dalam bilik mereka masing-masing.

Tetapi sesaat kemudian, Rembanapun telah keluar pula dari biliknya. Seperti biasanya ia membawa pedangnya yang tergantung di lambungnya.

“Aku bertugas di belakang malam ini Raden berkata Rembana, aku akan berada di serambi belakang.”

“Baik, kakang” jawab Raden Madyasta “hati-hatilah.”

“Ya, Raden. Marilah Wismaya.”

“Aku akan menggantikanmu tengah malam nanti”

“Sebaiknya kau tidur saja sekarang.“ Wismaya tersenyum. Katanya “Ya. Sebentar lagi. Bukankah kita baru saja makan?“

Rembana mengangguk. Namun wajahnya tidak nampak cerah seperti biasanya.

Sejenak kemudian, maka Rembanapun telah hilang dibalik kegelapan. Sinar cahaya lampu di pendapa tidak dapat menggapai-gapainya lagi ketika ia menyelinap di belakang gandok. Rembana tidak pergi ke serambi belakang lewat longkangan di belakang pintu seketeng. Tetapi Rembana memilih melingkari rumah raden Ayu Prawirayuda yang besar itu.

Yang kemudian duduk diserambi tinggal Wismaya dan Raden Madyasta. Namun Wismayapun memberikan isyarat kepada Raden Madyasta untuk turun dan berjalan melintasi halaman.

“Sasangka tentu belum tidur“ berkata Wismaya. Raden Madyasta mengangguk-angguk.

“Mungkin ia tidak dapat tidur malam ini.“ .

“Ya.”

Wismayapun kemudian mengulangi lagi ceriteranya tentang perselisihan antara Sasangka dan Rembana yang serba sedikit sudah dilaporkannya kepada Raden Madyasta.

“Sayang sekali, bahwa perselisihan itu harus terjadi.”

“Ya, Raden.“

“Menurut kakang Wismaya, apakah Sasangka benar-benar ingin memperingatkan Rembana dengan jujur atau justru karena Sasangka merasa iri hati?“

Wismaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian “Sulit bagiku untuk mengetahui Raden. Tetapi menurut pengenalanku atas Sasangka, ia bukan seorang yang dengki. Sasangka memang kadang-kadang ingin memaksakan pendapatnya kepada orang lain.“

“Jadi, menurut kakang Wismaya, Sasangka berkata dengan jujur. Tetapi caranya yang telah menyinggung perasaan kakang Rembana.“

Wismaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bergumam seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri “Ya. Mungkin sekali, Raden.“

“Baiklah, kakang. Besok aku akan berbicara dengan keduanya. Aku tidak ingin tugas kita kali ini membawa perpecahan diantara mereka yang sebelumnya bersahabat.“

“Ya, Raden.“

Jika perlu, maka harus ada diantara kita yang meninggalkan rumah ini. Ayahanda dapat memerintahkan orang lain untuk menggantikan tugas kita disini.“

Wismaya mengangguk-angguk, sementara Raden Madyastapun berkata selanjutnya “Jika perlu kami bersama-sama ditarik dari tugas ini, agar tidak menimbulkan persoalan baru. Ayahanda dapat membuat alasan yang masuk akal. Misalnya pergantian tugas karena kakang Wismaya, kakang Sasangka dan kakang Rembana sudah terlalu lama meninggalkan barak masing-masing. Dengan demikian, terutama bagi orang lain diluar kita berempat, tidak mereka-reka persoalan yang timbul di rumah ini. Berbeda jika seandainya ayahanda hanya memindahkan satu atau dua orang diantara kita berempat.“

“Raden benar“ Wismaya mengangguk-angguk “jika yang ditarik dari tugas ini hanya satu atau dua orang, maka akan ada masalah yang timbul di rumah ini. Apalagi masalah itu memang sudah ada. Seperti bunga api sepereik dan jatuh diatas alang-alang kering. Kabar itu akan segera membakar daerah ini, terutama dilingkungan keprajuritan.“

“Bukankah dengan demikian akan dapat menjadi setitik noda yang mengotori nama prajurit Paranganom?“

Wismaya mengangguk-angguk.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka keduanyapun duduk di atas sebuah lincak panjang di sudut halaman rumah itu. Pembicaraan mereka justru menjadi berkepanjangan, sehingga Wismaya tidak lagi ingat, bahwa lewat tengah malam ia akan bertugas menggantikan Rembana yang berada di halaman belakang.

Baru menjelang tengah malam, Raden Madyasta sempat mengingatkan “Kakang Wismaya tidak beristirahat dahulu? Sebentar lagi tengah malam. Kakang harus menggantikan kakang Rembana.“

“Sudah tanggung, Raden. Jika aku berbaring sekarang, maka baru esok pagi aku bangun.“

Raden Madyasta tersenyum. Katanya “Jika demikian, sebaiknya kakang Wismaya justru mempersiapkan diri.“

Malam ini Sasangka akan menggantikan Raden Madyasta mengawasi bagian depan rumah ini.

“Ya. Mudah-mudahan Sasangka sempat tidur meskipun hanya sebentar.“

Sulit baginya untuk tidur. Tetapi untunglah bahwa tugas mereka tidak bersamaan sesudah tengah malam. Jika tidak ada orang lain yang sempat mengawasi, maka perselisihan itu akan dapat terjadi lagi.“

Keduanyapun kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke gandok sebelah kanan.

Namun ketika mereka sampai di tangga gandok, mereka melihat Rembana muncul dari kegelapan. Namun langkahnya nampak gontai.

Bahkan ketika ia berdiri di sudut gandok, tangannya berpegangan erat-erat.

“Kakang Rembana.”

Raden Madyasta itupun segera berlari mendekati Rembana disusul oleh Wismaya.

“Ada apa kakang?” bertanya Raden Madyasta dengan suara bergetar.

Rembana tidak dapat bertahan berpegangan sudut gandok itu lagi. Tetapi ketika ia akan jatuh terjerembab, Raden Madyasta dengan cepat menangkapnya.

Raden Madyasta terkejut ketika tangannya menyentuh cairan yang hangat pada tubuh Rembana. Bahkan kemudian, Raden Madyasta itu melihat sebuah pisau belati tertancap di lambung sebelah kiri.

“Apa yang terjadi, kakang?” bertanya Raden Madyasta dengan jantung berdebaran.

Pada saat itu pula, Sasangka berlari-lari keluar dari biliknya.

“Apa yang terjadi?“

Sebelum Wismaya dan Raden Madyasta menjawab, Sasangkapun telah menghambur menuruni tangga gandok sebelah.kanan. Iapun kemudian berjongkok pula disisi Rembana, disebelah Raden Madyasta, sementara Wismaya berjongkok di sisi yang lain.

“Kakang Rembana. Apa yang terjadi?”

“Rembana, katakan. Apa yang terjadi? Siapakah yang menusuk lambungmu?” bertanya Wismaya pula.

Rembana menggeleng. Suaranya menjadi sangat dalam ”Aku tidak dapat melihatnya, Raden.”

“Kau tidak sempat melawan sama sekali?”

Rembana menggeleng. Suaranya menjadi bertambah lirih “Tiba-tiba saja dari dalam kegelapan seseorang menusuk lambungku. Dengan cepat pula ia menghilang. Aku tidak dapat mengenali wajahnya dalam kegelapan. Apalagi sebagian dari wajahnya itu tertutup oleh ikat kepalanya.

“Bertahanlah, Rembana “ desis Raden Madyasta. Lalu katanya “

Kakang Sasangka. Tolong, panggil seorang tabib yang tinggal didekat rumah ini agar ia dapat merawat kakang Rembana untuk sementara. Sementara itu biarlah tabib kadipaten di panggil pula kemari.”

Tetapi Rembana menggeleng. Katanya ”Tidak. Tidak ada gunanya lagi Raden.”

“Kakang, kakang.”

Nafas Rembana menjadi semakin sendat, sehingga akhirnya berhenti sama sekali.

“Kakang, kakang.”

Tetapi Rembana sudah tidak mendengar lagi.

Malam itu, kesibukan yang luar biasa telah terjadi di rumah Raden Ayu Prawirayuda. laporanpun segera sampai ke kadipaten. Pasukan di barak yang dipimpin oleh Rembanapun dengan cepat bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Rembana telah gugur dalam menjalankan tugasnya. Malam itu, Raden Wignyana telah berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda pula.

“Dimas “ desis Raden Madyasta.

“Aku mendapat perintah dari ayahanda untuk melihat keadaan di rumah bibi ini, kangmas.”

“Inilah yang terjadi dimas .”

“Bukankah kakang Rembana seorang senapati muda yang mumpuni? Kenapa begitu mudahnya kakang Rembana terbunuh disini?”

“Itulah yang harus kita eari sebabnya, dimas.”

“Pembunuh kakang Rembana tentu seorang yang memiliki ilmu yang tinggi pula. Setidak tidaknya setataran dengan kakang Rembana. Orang itu hanya mempunyai kelebihan licik, curang dan tidak tahu malu”

“Aku sependapat dimas. Orang itu tentu licik dan curang.”

“Aku mendapat perintah dari ayahanda untuk segera kembali dan memberikan laporan terperinci. Besok pagi-pagi ayahanda akan datang kemari.”

Dalam pada itu, Wismayapun sempat berbisik ditelinga Raden Madyasta “Untunglah, bahwa tidak ada yang tahu, apa yang terjadi antara Rembana dan Sasangka. Jika saja ada yang mengetahuinya, maka tentu akan segerai tersebar kabar buruk yang langsung menghakimi Sasangka.”

“Ya“ Raden Madyasta mengangguk angguk dengan kerut di kening Raden Madyastapun bertanya Tetapi bagaimana menurut pendapatmu, kakang?”

“Aku belum dapat berkata apa-apa tentang peristiwa ini, Raden. Aku melihat Sasangka menjadi sangat murung. Mungkin ia merasa, bahwa kita telah menuduhnya.”

Malam itu, sekelompok prajurit telah berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda atas perintah Ki Tumenggung Sanggayuda. Tetapi yang ditugaskan adalah dari pasukan pengawal, yang dipimpin oleh Ki Lurah Adisana dan berada langsung dibawah perintah Tumenggung Sanggayuda.

Dalam pada itu, Raden Ajeng Rantamsari masih saja menangis di pangkuan ibunya. Rembana, seorang anak muda yang sangat menarik baginya, telah tiada. Sebuah pisau belati menaneap di lambungnya.

“Kenapa hal ini harus terjadi, ibu?“ bertanya Raden Ajeng Rantamsari.

“Kita tidak dapat menentang garis pepesten, Rantamsari.“

“Tetapi kakang Rembana masih terlalu muda untuk meninggal.“

“Apapun yang kita inginkan terhadap seseorang, tetapi yang akan terjadi atasnya, terjadilah. Tidak seorangpun mampu mencegahnya.“

“Sejak kemarin sore, aku melihat sesuatu yang lain pada kakang Rembana, ibu. Kakang Rembana lebih banyak diam. Sekali-sekali saja tersenyum. Bukankah biasanya ia selalu cerah. Banyak berbicara dengan kelakarnya yang segar?“

“Ya, Rantamsari.“

Seolah-olah kakang Rembana tahu apa yang akan terjadi semalam.“

Mungkin firasat itu telah menyentuhnya, Rantamsari. Tetapi Rembana tidak mampu mengurainya, sehingga yang terjadi itu tidak terbayangkan sebelumnya.“

Rantamsari mengusap matanya yang selalu basah.

Seperti yang dikatakan oleh Wignyana, maka pagi itu, Kangjeng Adipati Prangkusuma telah hadir di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Demikian pula keluarga Rembana yang semalam sudah diberi tahu pula apa yang telah terjadi.

Di rumah Raden Ayu Prawirayuda, ibu Rembana itu sempat pingsan. Tidak hanya sekali. Tetapi dua tiga kali.

“Anak yang baik“ berkata ibunya disela-sela tangisnya “ia adalah tumpuan harapan keluarga kami.“

“Sudah, Nyi“ ayah Rembana mencoba menghiburnya “Yang Maha Agung menghendakinya kembali ke sisinya. Yang terjadi itu adalah diluar kemampuan siapapun juga untuk mencegahnya.:”

Tetapi ketika tangis ibu Rembana itu mereda, maka justru ayahnyalah yang pergi ke pakiwan untuk mencuci mukanya. Matanya menjadi merah karena.laki-laki itu tidak dapat menahan tangisnya.

Kangjeng Adipati telah memanggil Madyasta, Wismaya dan Sasangka bertiga didalam bilik yang khusus.

“Bagaimana menurut pendapatmu, Madyasta?“

“Hamba belum dapat mengatakan apa-apa ayahanda.“

Apakah aku perlu menambah beberapa orang senapati untuk bertugas disini? Semula tugas ini dianggap tugas yang aneh, yang tidak perlu harus dilakukan oleh senapati pilihan. Tetapi temyata seorang dari senapati pilihan itu justu telah terbunuh disini.“

Bab 22 - Ancaman Paman

MADYASTA, Wismaya dan Sasangka saling berpandangan sejenak. Namun Wismaya dan Sasangka kemudian menundukkan wajahnya.

Madyastalah yang kemudian menjawab “Untuk sementara tidak perlu ayahanda. Hamba, kakang Wismaya dan kakang Sasangka akan melaksanakan tugas ini sebaik baiknya, Kami bernial memancing orang yang lelah membunuh kakang Rembana untuk kembali lagi. Jika yang bertugas disini bertambah, mungkin ia tidak akan berniat untuk datang lagi.

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian Kangjeng Adipati itupun berkata “Tetapi berhati-hatilah. Kalian tahu, bahwa orang ib tentu orang yang berilmu tinggi. Mereka dapat membunuh seorang Senapati pilihan tanpa sempat mempertahankan diri. Selain berilmu tinggi, orang itu tentu juga seorang yang licik, yang tanpa segan-segan menyerang dari belakang.“

“Ya, Ayahanda “

“Aku tidak ingjn jatuh lagi korban diantara kalian.“
Madyasta menarik nafas panjang. Wismaya dan Sasangka masih saja menunduk dalam-dalam.

Hari itu juga sebelum dimakamkan, atas permintaan anak buahnya, Rembana telah dibawa ke baraknya Dengan penghormatan penuh, jenazah Rembana dilepas ke makam.

Diwajah para prajuritnya membayang kemarahan yang bergejolak didalam dada mereka. Namun Ki Tumenggung Wiradapa sempat meredakan perasaan mereka. Katanya “Bukan hanya kalian yang berduka, tetapi seluruh kadipaten ini, termasuk Kangjeng Adipati Prangkusuma. Ki Lurah Rembana adalah Senapati muda yang penuh harapan dimasa mendatang. Tiba-tiba saja umurnya telah direnggut dengan eara yang sangat licik. Kami berjanji untuk pada suatu saat menemukan pembunuh Ki Lurah Rembana.“

Para prajuritnya mendengarkannya sambil berdiam diri. Tetapi gigi mereka terkatub rapat. Mereka harus menahan gejolak di hati.

Namun para pemimpin kelompok yang sudah lebih tua, berusaha juga untuk meredam kemarahan para prajuritnya. Se-orang pemimpin kelompok yang sebagian kumisnya Sudah memutih bertanya “Kalian marah kepada siapa? Jika kita ingin membalas dendam atas kematian Ki Lurah, siapakah sasaran kita?“

Para prajurit itupun terdiam. Mereka memang tidak lahu, kepada siapa mereka mendendam.

“Kita harus mempergunakan nalar kita. Bukan hanya perasaan kita” berkala pemimpin kelompok itu.

Demikianlah, sebuah iring iringan yang panjang mengantar Rembana ke makam. Selain keluarganya, maka sepasukan prajurit ikut pula mengatarnya Kedua putra Kangjeng Adipati, Madyasta dan Wignyana ada diantara para pengiring itu. Mereka berjalan bersama Wignyana dan Sasangka yang kelihatan murung.

Berita tentang kematian seorang Senapati muda di rumah Raden Ayu Prawirayuda segera merjdi pembicaraan, terutama diantara para prajurit. Yang tersinggung tidak hanya para prajurit, anak buah Ki Lurah Rembana. Tetapi para prajurit Paranganom merasa tersinggung.

Jika bibit-bibit permusuhan sudah terasa ada diantara orang-orang Paranganom dan orang-orang Kateguhan, maka kematian Ki Lurah Rembana, rasa-rasanya seperti angin yang bertiup mengipasi bara api disetumpuk kayu.

Dalam pada itu, Madyasta tetap pada pendiriannya ketika sekali lagi Kangjeng Adipati memanggilnya dan mempertanyakan kemungkinan untuk memperkuat pengamanan di rumah Raden Ayu Prawirayuda

“Jika penjagaan di rumah itu diperkuat, maka akibatnya orang-orang membunuh kakang Rembana tidak akan beranii datang lagi ayahanda. Biarlah hamba bersama kakang Wismaya dan kakang Sasangka bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk di rumah bibi Prawirayuda.“

“Tetapi kau harus sangat berhati-hati, Madyasta “

“Ayah anda mencemaskan hamba ?“

Kangjeng Adipati menarik nafas panjang. Katanya “ Apakah ada ayah yang tidak mencemaskan keadaan anaknya jika ia berada di satu lingkungan yang berbahaya ?“

“Hamba mengerti, ayahanda. Tetapi hamba berjanji untuk berhati-hati.“

“Ki Lurah Wismaya dan Ki I .urah Sasangka juga harus berhati-hati.

“Hamba ayahanda “

“Baiklah. Aku serahkan segala sesuatunya kepadamu. Kau yang berada di medan, sehingga kau yang paling mengenali keadaan medan itu.“

“Hamba mohon doa restu ayahanda.”

“Madyasta“ berkata Kangjeng Adipati dengan nada berat. “Nampak betapa Kangjeng Adipati itu menjadi ragu. Sebenarnya Kangjeng Adipati masih belum ingin menyam-paikan ceritera yang harus disesali dari sikap Raden Ayu Prawirayuda tentang anak gadisnya yang ingin dipersandingkan dengan Kangjeng Adipati Yudapati. Tetapi dengan ke matian Rembana, maka Kangjeng Adipati justru merasa perlu untuk berbicara dengan Madyasta.

Madyasta merasakan keragu-raguan ayahandanya. Setelah beberapa saat Madyasta menunggu, namun Kangjeng Adipati tidak segera melanjutkan kata-katanya, maka Madyastapun bertanya ”Ada yang meragukan hati ayahanda ?“

“Ya “ Kangjeng Adipati mengangguk-angguk “ tetapi baiklah. Mungkin ada baiknya kau mengetahuinya sekarang. Mungkin dapat kau jadikan bahan pertimbangan pada saat kau melakukan tugasmu, mengamankan rumah bibimu.”

“Hamba ayahanda.”

Kangjeng Adipati menarik nafas panjang. Keragu-raguan masih terasa ketika Kangjeng Adipati itupun kemudian meneeritakan apa yang pernah didengarnya dari Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda

Raden Madyasta mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sekali-sekali Madyasta mengerutkan dahinya. Kemudian mengangguk-angguk kecil. Balikan kadang-kadang ia mengangkat wajahnya. Namun Raden Madyasta tidak memotong kata-kata ayahandanya yang masih diwarnai oleh kebimbangan itu.

Kangjeng Adipati menarik nafas panjang ketika ia selesai menyampaikan keterangan sebagaimana didengarnya dari kedua orang Tumenggung yang telah pergi ke Kadipaten Kateguhan itu.

“Apakah yang dikatakan oleh painan Tumenggung itu benar, ayahanda?” bertanya Raden Madyasta.

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak. Rasa-rasanya Kangjeng Adipati itu baru saja melepaskan beban yang terasa sangat berat bergayut di hatinya

“Madyasta “ berkata Kangjeng Adipati kemudian aku tidak tahu, apakah yang terjadi juga sebagaimana dikatakan Oleh kedua pamanmu Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda. Tetapi kedua orang pamanmu itu mendengar keterangan dari Tumenggung Reksadrana dihadapan Adipati Yudapati.”

Raden Madyasta termangu-mangu sejenak. Dengan nada berat iapun berkata ”Apapun yang terjadi ayahanda, peristiwa pengusiran bibi Prawirayuda dari Kateguhan merupakan gam-baran keretakan keluarga di Kateguhan sepeninggal paman Adipati Prawirayuda”

“Ya. Akibatnya memang akan terkait pada Kadipaten Paranganom karena kangmbok Prawirayuda sekarang berada di Paranganom.”

“Ayahanda. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Mungkin apa yang dikatakan oleh Ki-Tumenggung Reksadrana dihadapan kakangmas Adipati Yudapati itu tidak seluruhnya benar. Tetapi tentu ada pula dasarnya Sehingga kebeneian orang-orang Kateguhan terhadap bibi Prawirayuda tidak dapat segera dihapuskan.”

“Menurut dugaanmu, apakah kakangmasmu Yudapati telah mengirim orang seeara khusus untuk membunuh Rembana ? Lalu apa hubungannya kebeneian Yudapati dengan keberadaan Rembana di rumah bibimu itu, sehingga Rembana harus disingkirkan.”

“Sasarannya tentu bukan kakang Rembana, ayahanda. Tetapi sekedar untuk menakui nakuti dan menyakiti hati bibi Prawirayuda yang dibeneinya itu.”

“Jika benar dugaan itu, Madyasta. Maka kau, Sasangka dan Wismaya harus menjadi semakin berhati-hati. Mungkin kematian Rembana masih belum memberinya kepuasan. Mungkin orang-orang Kateguhan masih ingin menunjukkan kelebihannya. Kaulah yang harus menjadi lebih berhati-hati.”-

“Maksud ayahanda, hambalah yang akan menjadi sasaran berikutnya ?”

“Hanya sikap hati-hali, Madyasta.”

“Hamba mengeni ayahanda. Hlamba akan lebih berhati-hati.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Sebenaniyalah bahwa ia memang mencemaskan Raden Madyasta. Tetapi Madyasta bukan kanak-kanak lagi. Ia telah dibekali dengan kemampuan dalam olah kanuragan. Madyastapun terus berlatih untuk melindungi dirinya sendiri.

Hari-haripun kemudian dilalui dengan suasana yang muram di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden Ajeng Rantamsari nampak masih berduka karena kepergian Rembana. Seorang anak muda yang telah menarik perhatiannya.

Sementara itu, tinggal tiga orang anak muda yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Namun ketiganya adalah orang-orang yang telah mendapat tempaan lahir dan batin.

Dalam pada itu, sekali lagi Raden Ayu Prawirayuda menawarkan bilik yang lebih baik kepada Raden Madyasta yang berada di ruang dalam.

“Terima kasih, bibi.”

“Keeuali tempatnya lebih pantas bagi angger Madyasta, bukankah angger akan lebih terlindung jika angger berada di ruang dalam. Setidak-tidaknya angger tidak dapat diserang dengan eara yang licik itu.”

Aku justru harus semakin ketat mengawasi lingkungan
ini bibi. Biarlah aku tetap bersama para Senapati muda itu. Mudah-mudahan kami akan dapat menemukan, siapa yang telah membunuh kakang Rembana.

“Tetapi kita tentu tidak ingin ada korban yang lain, ngger.”

“Tentu bibi. Kami akan berhati-hati.”

Raden Ayu Prawirayuda tidak dapat memaksa Raden Madyasta untuk mempergunakan bilik di ruang dalam meskipun Raden Ayu Prawirayuda telah mertunjukkan kekhawatirannya akan keselamatan Madyasta.

Tetapi Raden Ayu Prawirayudapun dapat mengerti, bahwa Raden Madyasta bukan seorang Senapati yang akan mempergunakan gelar Gedong Minep jika ia berada di medan perang. Tetapi Raden Madyasta tentu akan mempergunakan
gelar Garuda Nglayang atau bahkan Gajah Meta

Karena itu Raden Ayu Prawirayuda membiarkan Raden Madyasta untuk menentukan sikapnya sendiri. Meskipun demikian, Raden Ayu Prawirayuda masih juga berpesan “Aku mohon angger selalu berhati-hati. Maaf ngger jika aku berpesan mewanti-wanti. Bukan karena aku menganggap bahwa angger masih perlu diperingatkan. Tetapi sekedar kekhawatiran orang tua”

“Terima kasih, bibi. Aku tidak pernah merasa tersinggung atas peringatan yang bibi berikan.“

Sebenarnyalah bahwa Raden Madyasta, Wismaya dan Sasangka menjadi semakin berhati-hati. Bahaya akan dapat mengancam mereka setiap saat.

Dalam pada itu, Raden Ajeng Rantamsari nampak menjadi kesepian. Ia tidak lagi dapat bereanda dengan Rembana yang memang seorang yang selalu nampak riang.

Sekali-sekali untuk mengatasi kesepiannya, Raden Ajeng Rantamsari sering berbincang dengan Wismaya atau Sasangka Tetapi Wismaya terlalu pendiam bagi Raden Ajeng Rantamsari, sehingga setiap kali mereka bertemu, Wismaya hanya menjawab pembicaraan Raden Ajeng Rantamsari dengan kata sepatah-sepatah.

Raden Madyasta sendiri nampaknya tidak mempunyai banyak waktu. Disiang hari kadang kadang Raden Madyasta pulang ke kadipaten. Namun kadang sehari suntuk Raden Madyasta berada di rumah bibinya bersama Wismaya dan Sasangka. Kadang-kadang mereka berada di halaman depan. Namun kadang-kadang mereka berada di kebun belakang. Atau mereka berada di tempat yang berbeda-beda serta mengisi kekosongan waktu dengan kerja apa saja yang dapat mereka lakukan di rumah itu.

Ternyata Wismaya memiliki ketrampilan khusus untuk membuat perabot dari bambu. Selama berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda, Wismaya sudah membuat tiga buah lineak bambu panjang yang diletakkan di bawah sebatang pohon yang
rindang di halaman depan serta dua buah di kebun belakang,

Disiang yang terik, kadang-kadang Wismaya sempal berbaring di lineak bambunya Bahkan kadang-kadang Sasangka dan bahkan Raden Madyasta juga sering berbaring di siang hari, disejuknya udara dibawah bayangan rimbunnya dedaunan.

Hari iiu terasa sepi. Wismaya duduk diserambi gandok sendiri. Udara terasa panas, sehingga Wismaya tidak mengatupkan bajunya Dadanya yang bidang nampak terbuka. Sehelai kipas bambu dikibaskannya tidak henti-hentinya

Sasangkalah yang justru berbaring di lineak bambu di kebun belakang. Di luar sadarnya, Sasangka memandangi pintu butulan yang terbuka menuju ke longkangan samping yang menjadi asri setelah Rembana menggarap longkangan itu menjadi semacam taman yang tidak terlalu luas.

Dalam kesepiannya, Raden Ajeng Rantamsari sering berada di serambi terbuka di longkangan itu sambil membatik. Seperti ibunya, Raden Ajeng Rantamsari adalah seorang pembatik yang telaten. Batikannya berkesan halus dan eermat, dengan isen-isenan yang rumit dan lembut.

Di udara yang terasa panas itu, Raden Madyasta tidak sedang berada di rumah bibinya. Raden Madyasta tidak langsung minta diri kepada bibinya serta kepada Raden Ajeng Rantamsari, tetapi Raden Madyasta hanya berpesan kepada Wismaya dan Sasangka bahwa ia akan pergi ke kadipaten.

“Apakah ada yang harus dilaporkan?“ bertanya Wismaya.

“Tidak” jawab Radon Madyasta “Aku hanya ingin menghadap ayahanda”

“Wismaya dan Sasangka tidak lerlalu banyak bertanya. Mereka memandangi anak muda itu keluar dari regol halaman setelah berpesan “Berhati-hatilah, kakang.”

Sepeninggal Raden Madyasta, Sasangka tidak kembali ke serambi gandok. Tetapi ia langsung pergi ke kebun belnknng. Sementara Wismaya kembali ke serambi gandok

Meskipun diantara keduanya tidak nampak ada pertikaian, tetapi keduanya menjadi kurang akrab sejak kematian Rembana Seakan-akan kabut tipis berhembus diantara keduanya Namun karena keduanya sudah ditempa oleh berbagai macam pahit manisnya kehidupan, maka keduanya selalu mengendalikan perasaan mereka.

Karena itulah, maka mereka memilih untuk berada ditempat yang berbeda. Pada saat-saat yang kosong, jika mereka berbincang kesana-kemari, pembicaraan mereka akan dapat menyentuh serabut yang paling halus didalam jantung mereka, sehingga akan dapat mengungkit persoalan yang lebih gawat.

Silirnya angin membuat mata Sasangka menjadi berat. Sementara dari sela-sela rimbunnya dedaunan, Sasangka melihat matahari telah memanjat sampai ke puncak.

Namun ketika diluar kehendaknya mata Sasangka terpejam, ia terkejut mendengar suara Raden Ajeng Rantamsari agak keras

“Paman mengejutkan aku.“

Sasangka masih terbaring di amben bambu di kebun belakang. Tetapi ia berusaha mendengar dengan sungguh-sungguh suara Raden Ajeng Rantamsari, yang agaknya berada di serambi terbuka yang menghadap ke taman kecilnya di longkangan.

Sebenarnyalah Raden Ajeng Rantamsari terkejul ketika tiba-tiba saja Wicitra sudah berada di taman itu pula.

“Maaf Rantamsari. Aku tidak ingin mengejutkanmu.”

“Silahkan duduk paman. Aku akan memanggil ibu.“

“Tidak. Itu tidak perlu. Aku tidak ingin berbicara dengan ibumu. Tetapi aku ingin berbicara dengan kau, justru di saat kau sendiri.“

“Tidak paman. Sebaiknya aku memanggil ibu.“

“Ibumu mungkin sibuk didapur. Meskipun ada pembantunya, namun biasanya ibumu sendirilah yang menyiapkan makan bagi anak-anak muda yang ada di rumahmu ini.“

“Tetapi aku tidak dapat menerima paman sendiri. Seandainya ibu sibuk, biarlah kesibukannya itu ditinggalkannya lebih dahulu, agar ibu dapat menemui paman.“

“Dengarlah kata-kataku. Kau tidak perlu menyampaikannya kepada ibumu. Kita dapat berbicara langsung. Kau dan aku.“

“Tidak”

“ Ya. Kau tidak akan pergi dari tempat ini “ suara Wicitra menjadi kasar.

Jantung Raden Ajeng Rantamsari tergetar. Ketika ia memandang waiah pamannya, dadanya berdesir tajam. Ia melihat ketegangan di wajah paniannya itu.

“Dengar Rantamsari” berkata Wicitra kemudian “aku daiang untuk menjemputniu.”

“Menjemput aku? Apa yang paman maksudkan?”

“Kau tentu sudah tahu, bahwa aku tidak akan pernah membiarkan kau dimiliki oleh siapapun. Setelah kau ditolak untuk mengabdikan dirimu, tubuhmu dan jiwamu kepada Kangjeng Adipati Yudapati, maka ibumu telah membawamu kemari. Kau mulai dijajakan disini. Bahkan ibumu mulai menurunkan harga dirimu. Jika semula ibumu menawar seorang Adipati, maka kini ibumu puas dengan membiarkan kau berkasih-kasihan dengan Senapati-senapati kecil yang tidak berarti apa-apa itu.“

“Paman. Paman telah menyinggung perasaanku dan tentu juga ibu.”

Namun Wicitra itu tertawa. Katanya “Kau dan ibumu tidak akan dapat ingkar lagi, Rantamsari. Karena itu, daripada disini kau dijajakan oleh ibumu, sekarang, marilah. Ikut aku. Kau akan menjadi isteriku. Aku akan dapat menuruti semua keinginanmu.”

“Paman. Aku adalah kemanakan paman sendiri. Paman adalah adik ibuku.. Bagaimana mungkin keinginan paman itu dapat terjadi ?“

“Kenapa tidak? Bukankah keinginanku ini tidak segila keinginan ibumu di Kateguhan? Bukankah ibumu ingin kau menjadi isteri saudaramu sendiri? Adipati di Kateguhan? Nah, sekarang kalian harus menanggung akibatnya. Kalian justru diusir dari Kateguhan. Kalian tentu berbohong kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom, kenapa kalian telah diusir dari Kateguhan. Kalian tentu telah mengarang sebuah ceritera yang lain.”

“Cukup. Cukup paman. Sebaiknya paman segera meninggalkan rumah ini.“

Wicitra tertawa. Katanya “Aku akan pergi bersamamu, Rantamsari. Kau lebih baik menjadi isteri pamanmu daripada menjadi isteri saudaramu sendiri.“

“Tidak. Itu bohong.”

“Bertanyalah kepada ibumu, bagaimana ibumu membujuk Kangjeng Adipati Yudapati untuk memperisterimu.”

“Pergi. Pergi. Aku minta paman segera pergi.”

“Marilah kita pergi Rantamsari. Kita dapat keluar lewat pintu butulan dan hilang dikebun belakang. Ibumu tidak akan mengetahuinya.”

“Tidak.”

Ketika Wicitra maju selangkah, Raden Ajeng Rantamsari justru bergeser mundur beberapa langkah.

“Rantamsari“ berkata Wicitra dengan nada tinggi “jangan menunggu kesabaranku habis. Selama ini aku selalu menahan diri. Tetapi kau tidak pernah terlepas dari perhatianku. Karena itu, marilah. Kita pergi sekarang.”

“Tidak. Tidak.”

“Rantamsari. Kesabaran seseorang ada batasnya. Kesabaranku sekarang sudah sampai ke batas itu. Karena itu, marilah. Jangan membantah lagi.”

“Aku dapat menjerit paman.”

“Ibumu baru sibuk. Ibumu yang ada didapur tidak akan mendengarnya. Atau“

Tiba-tiba saja Wicitra telah menarik kerisnya. Katanya “Jika kau meneoba berteriak, maka aku akan membunuhmu.”

“Bunuh aku paman. Aku lebih baik mati daripada harus ikut paman.”

“Jangan berkata.begitu.“

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Kau bersungguh-sungguh?”

“Ya.”

“Jadi kau memilih mati?”

“Ya.”

“Baik, Rantamsari. Aku lebih senang melihat tubuhmu terkapar mati daripada melihat tubuhmu dimiliki oleh orang lain. Karena itu, jika kau memang benar-benar tidak mau ikut kepadaku, maka aku benar-benar akan membunuhmu.”

“Itu lebih baik, paman. Bunuh aku.”

Ujung keris Wicitra memang telah bergetar. Selangkah ia maju sambil berkata “Aku juga bersungguh-sungguh, Rantamsari.”

“Lakukan, paman. Lakukan”

Jantung Wicitra terasa bagaikan berdentangan. Wajahnya menjadi tegang. Matanya menjadi merah.

Sebenarnyalah bahwa Wicitra hanya sekedar ingin menakut-nakuti Rantamsari. Tetapi ternyata Rantamsari sama sekali tidak berubah sikap. Ia tetap pada sikapnya.

Kecewa dan marah berbaur didalam dadanya. Dengan demikian, maka nalarnyapun menjadi kabur pula. Bahkan akhimya Wicitrapun tidak mampu lagi menimbang keputusan yang diambilnya.

“Rantamsari. Jika kau benar-benar menolak, maka aku akan sampai hati membunuhmu. Sudah aku katakan, aku tidak mau melihat kau menjadi sisihan orang lain.”

Wajah Rantamsari menjadi tegang. Ketika ia sempat melihat sekilas wajah Wicitra yang tegang, matanya yang merah serta ujung keris yang bergetar, maka ketakutan yang sangat telah menerpa jantungnya

Karena Itu, tanpa menghiraukan akibatnya, seandainya ujung keris ilu menaneap didadanya, Raden Ajeng Rantamsari sudah siap untuk menjerit.

Namun sebelum dilakukannya, terdengar pintu butulan berderak menghentak. Sesosok tubuh meloncat masuk ke dalam 1aman itu.

Wicitra terkejut. ia bergesei surut. Sementara itu Raden Ajeng Rantamsari segera berlari kebelakang orang yang baru saja memasuki taman.

“Tolong aku, kakang Sasangka.”

“Kau” desis Wicitra “apa kau tidak mempunyai kerja selain menunggui Rantamsari.”

“Apa yang akan Raden lakukan?- bertanya Sasangka.

“Pergilah. Kau tidak usah turut campur. Ini persoalan keluarga”

“Tidak. Ini bukan sekedar persoalan keluarga” sahut Raden Ajeng Rantamsari.

“Seandainya persoalan ini benar-benar persoalan keluarga, apakah aku akan membiarkan saja Raden membunuh. Aku sudah mendengar apa yang Raden bicarakan dengan Raden Ajeng Rantamsari. Karena itu, aku sudah mengetahui persoalan apa yang sebenarnya terjadi.”

“Sekarang pergilah. Jangan campuri persoalan kami.”

“Apakah aku harus membiarkan saja jika terjadi pembunuhan disini.

“Jika Rantamsari menuruti keinginanku, aku tentu tidak akan membunuhnya. Aku memang mengancamnya dan menakut-nakutinya Tetapi segala sesuatunya tergantung kepada Rantamsari, apakah aku harus membunuhnya atau tidak.”

“Usir orang ini dari taman kakang.”

“Kau dengar Raden.”

“Aku tidak peduli.”

”Radea Kami adalah prajurit yang mendapat tugas untuk melindungi keluarga ini.”

“Kau harus melindungi mereka dari kejahatan. Pencurian misalnya. Kau harus menjaga agar ayam yang dipelihara kangmbok tidak dicuri orang. Kau juga harus menjaga jemuran di belakang itu.”

“Raden menghina aku. Aku bertugas untuk melindungi keluarga Raden Ayu Prawirayuda dari gangguan apapun juga. Termasuk yang Raden lakukan sekarang ini.”

“Aku peringatkan kau sekali lagi.”

“Aku yang memperingatkan Raden agar Raden segera meninggalkan taman ini.”

Wicitra menjadi semakin marah. Dengan suara yang bergetar iapun berkata “Jika kau tidak mau meninggalkan taman ini, maka kaulah yang akan mati lebih dahulu.”

“Aku tidak dapat meninggalkan tugasku. Meskipun aku tahu, siapakah Raden ini, tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain.”

Wicitra tidak menunggu lebih lama lagi. Kerisnyapun segera merunduk. Selangkah demi selangkah ia mendekati Sasangka yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Minggirlah Raden Ajeng” desis Sasangka

Raden Ajeng Rantamsaripun segera bergeser surut. Sementara itu Wicitrapun telah meloncat menyerang Sasangka. Tetapi Sasangka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka iapun dengan tangkasnya mampu mengelakkan serangan itu.

Ketika Wicitra siap menyerangnya pula, Sasangka telah menarik kerisnya yang selalu melekat ditubuhnya kapan saja selama ia berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda, apalagi setelah Rembana terbunuh.

Sejenak kemudian, pertempuran yang sengit lelah terjadi. Keduanya adalah orang orang yang memiliki ilmu yang linggi, Wicitra yang, merasa terganggu itu menjadi sangat marah. Sedangkan Sasangka merasa bertanggungjawab atas keselamatan keluarga Raden Ayu Prawirayuda, termasuk Raden Ajeng Rantamsari

Wicitra memang tidak menduga, bahwa ternyata Sasangka, sebagaimana juga Rembana, memiliki ilmu yang mampu mengimbanginya. Serangan serangannya tidak segera dapat mengenai sasarannya, Kerisnya yang terayun-ayun mengerikan tidak segera mampu menyentuh tubuh Sasangka.

Sebaliknya Sasangkapun tidak mudah menggapai lawannya. Sasangka yang berloncatan sambil memutar kerisnya, tidak segera mampu mengenai Wicitra yang bertempur dengan tangkasnya

Raden Ajeng Rantamsari berdiri di serambi dengan tubuh yang gemetar. Ia tidak segera tahu, siapakah yang akan meme-nangkan pertempuran itu. Ia hanya melihat kedua orang itu saling mendesak. Sekali-sekali Sasangka harus bergeser surut. Namun kemudian Wicitralah yang harus mengambil jarak.

Namun Wicitra mengumpat kasar ketika ujung keris Sasangka sempat menyentuh lengannya. Tidak terlalu dalam. Tetapi dibawah bajunya yang terkoyak, darah mulai mengembun di lukanya

“Gila kau anak muda” geram Wicitra “aku akan mem-bunuhmu.”

Sasangka ndak menjawab. Namun ketika Wicitra meningkatkan ilmunya, Sasangkapun berusaha untuk mengimbanginya

Namun hentakkan ilmu itu sempat mendesak Sasangka. Bahkan ujung keris Wicitra sempat tergores di bahu Sasangka
Sasangka bergeser surut sambil menggeram. Ketika tangannya meraba bahunya terasa eairan yang hangat membasahi telapak tangannya

“Kau akan mati” geram Wicitra

Sasangka tidak menjawab. Tetapi ia meloncat menyerangnya dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Wicitra terdesak surut. Sasangka berusaha untuk menekan Wicitra sampai ke sudut longkangan.

Namun tiba-tiba saja pertempuran itu berhenti ketika mereka mendengar suara Raden Ayu Prawirayuda

“Apa yang terjadi disini, Rantamsari?”

Raden Ajeng Rantamsari berpaling. Dilihatnya ibunya berdiri di depan pintu serambi.

Raden Ajeng Rantamsaripun segera berlari serta memeluk ibunya sambil menangis.

“Paman, ibu.”

“Kenapa dengan pamanmu?”

“Paman memaksa aku pergi bersamanya, ibu.“

“Kau lakukan itu Wicitra ?“

Wicitra berdiri termangu-mangu. Nafasnya terasa bekejaran di hidungnya. Dengan nada datar ia berkata “ Ya. Aku ingin membawa Rantamsari keluar dari kubangan ini.“

“Kubangan ? Apa yang kau maksud ?”

“Rumah ini tidak pantas menjadi lempat imggal Rantamsari. Seorang gadis yang seharusnya menjadi gadis terhormat. Kangmbok sudah menjajakan Rantamsari disini dengan harga yang sangat murah.“

“Kau tahu bahwa kata-katamu itu melukai hatiku, Wicitra ?“

Wicitra tertawa katanya “Kangmbok sudah melukai hatiku lebih dari seribu kali.“

“Itu karena pokalmu sendiri.“

“Tidak. Tetapi aku justru ingin menghentikan tingkah laku kangmbok yang tidak terkendali itu. Seharusnya kangmbok menjaga nama-anak gadisnya dengan baik. Tetapi kangmbok justru sebaliknya. Kangmbok sama sekali tidak menghargai nama anak gadisnya.“

“Kau masih juga mengigau seperti itu, Wicitra. Kau kira apa yang kau katakan itu dipercaya orang.“

“Percaya atau tidak percaya itu bukan urusanku, kangmbok. Aku hanya ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di Kateguhan dan disini.“

“Cukup. Pergilah. Kau tahu, bahwa kau harus pergi.”

Wajah Wicitra menjadi semakin tegang. Sementara itu Raden Ayu Prawfirayudapun berkata “ Usir orang itu pergi, ngger.“

Sasangka memandang Raden Ayu Prawirayuda sejenak. Namun kemudian dipandanginya Wicitra sambil berkata “Kau dengar, Raden. Kau harus pergi dari tempat ini.“

“Kau kira kau akan dapat mengusirku ?“

“Jika aku tidak dapat mengusir Raden, maka aku akan membunuh Raden.“

“Kau akan membunuh aku sebagaimana kau membunuh kawanmu sendiri, Rembana, karena kau juga menginginkan Rantamsari.“

“Darah Sasangka tersirap. Dengan bibir yang gemetar Sasangka menjawab “ Raden jangan mengada-ada. Pergi atau aku akan membunuhmu.“

Wicitra tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia menyergap Sasangka dengan kasar.

Tetapi Sasangka masih sempat mengelak. Bahkan kerisnya terjulur dengan cepat pula, justru sempat menggapai pundak Wicitra.

Wicitra terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Sasangka mampu bergerak secepat itu.

Dengan demikian, maka Wicitrapun meloncat mundur. Namun Sasangka tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat Sasangkapun memburunya dengan keris yang bergetar.

Ketika keris Sasangka terayun mendatar menebas kearah dada, Wicitra yang belum siap benar, menangkis serangan itu. Demikian derasnya ayunan keris Sasangka, maka dalam benturan senjata yang terjadi, terasa tangan Wicitra menjadi pedih.

Sementara itu Sasangka telah menjulurkan kerisnya pula mengarah ke lambung.

Sebelum tangannya mapan, Wicitra harus menangkis serangan Sasangka. Sementara itu Sasangka telah memutar kerisnya, seakan-akan membelit keris Wicitra.

Tangan Wicitra yang masih terasa pedih, tidak mampu menahan putaran keris Sasangka, sehingga keris Wicitra itu
lepas dari tangannya.

Pada saat itu, terbuka kesempatan bagi Sasangka untuk meloncat menyerang pada saat Wicitra tidak sedang memegang senjata.

Namun terdengar suara Raden Ayu Prawirayuda “Angger Sasangka.“

Sasangka yang sudah hampir meloncat menikam dada Wicitra harus menahan diri.

“Wicitra” berkata Raden Ayu Prawirayuda “ kau sadar, bahwa kau lidak dapal berbuat banyak disini. Pergilah. Ambil kerismu atau aku biarkan Senapati muda ini membunuhmu.”

Kemarahan Wicitra rasa-rasanya telah membakar ubun-ubunnya. Namun ia memang tidak dapat berbuat apa-apa.

“Ambil kerismu dan pergi dari rumah ini” berkata Raden Ayu Prawirayuda pula.

Wicitra itupun kemudian telah memungut kerisnya. Namun kemudian ia melangkah surut sambil berkata “Kangmbok jangan mengira bahwa aku telah dikalahkannya. Pada suatu saat aku akan kembali untuk membunuhnya, membunuh Senapati yang seorang lagi serta membunuh Madyasta. Tidak akan ada lagi orang yang dapat menahanku untuk mengambil Rantamsari.“

Raden Ayu Prawirayuda tidak menjawab. Dipandan-ginya Wicitra yang bergeser surut kearah pintu butulan.

“Kau jangan berbangga dengan kemenangan kecil ini “ berkata Wicitra kepada Sasangka “ kemenangan yang sebenarnva, akan diientukan pada bagian terakhir pertempuran diantara kita berdua.“

“Aku akan menunggu, Raden“ geram Sasangka. Jika saja Raden Ayu Prawirayuda tidak meneegahnya, maka ia akan benar-benar berusaha membunuh Wicitra.

Sejenak kemudian, maka Wicitrapun segera meninggalkan taman kecil itu.

”Terima kasih, ngger“ berkata Raden Ayu Prawirayuda kemudian “Untunglah bahwa angger Sasangka melihat peristiwa ini dan sempat menolong Rantamsari. Aku berada di dapur. Semula aku benar-benar tidak mendengar sesuatu terjadi disini. Baru kemudian, lamat-lamat aku mendengar suara teriakan Rantamsari”

“Itu sudah menjadi kewajibanku, Raden Ayu. Aku berada disini untuk menjaga keselamatan keluarga ini.”

“Kenapa pendengaranku sudah menjadi semakin buruk. Aku berada di dapur.Seharusnya aku mendengarnya sejak semula.”

“Jaraknya memang agak jauh, Raden Ayu. Ada beberapa sekat di ruang dalam, sehingga orang yang berada di dapur, tidak dapat mendengar keributan yang terjadi disini.”

“Bagaimanapun juga Wicitra adalah adikku, sehingga aku tidak dapat membiarkannya terbunuh. Tetapi jika sekali lagi ia datang mengganggu Rantamsari, apaboleh buat.” . .

“Raden Wicitra tidak akan datang lagi, Raden Ayu.”

“Tetapi apakah angger Madyasta belum datang ?”

“Aku kira belum, Raden Ayu.”

“Angger Wismaya ?”

“Tadi Wismaya berada di gandok. Keributan disini memang tidak terdengar dari gandok seperti juga tidak terdengar dari dapur.”

“Aku minta agar angger Wismaya dan angger Madyasta diberitahu tentang peristiwa ini. Biarlah mereka menjadi lebih berhati-hati.”

“Tetapi dapatkah kita menghubungkan sikap Raden Wicitra ini dengan kematiaivRembana, Raden Ayu ?”

Raden Ayu Prawirayuda termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Raden Ayu itupun berkata “ Aku belum dapat mengatakan apa-apa, ngger. Akupun tidak mau mendengar tuduhannya terhadap angger Sasangka, bahwa justru angger Sasangkalah yang dikatakan membunuh angger Rembana. Tetapi memang mungkin sekali ia berusaha untuk menghapus jejak dan melemparkan tuduhan kepada oranglain.”

Sasangka terdiam. Ia memang mendengar Wicitra justru menuduhnya telah membunuh Rembana.

Dalam pada itu, Raden Ayupun kemudian berkata kepada Rantamsari “ Masuklah Rantamsari.”

Rantamsari menarik nafas panjang. Dipandanginya Sasangka yang masih berdiri tegak dihadapaimya.

Sasangka sudah cukup lama berada di rumahnya. Tetapi Rantamsari tidak pernah memperhatikannya dengan sungguh sungguh. Baru saat itu ia seakan-akan melihat Sasangka seutuhnya.

Sejak para Senapati bersama Raden Madyasta berada di rumahnya, perhatiannya langsung tertuju kepada Rembana, sehingga ia tidak memperhatikan para Senapati yang lain.

Hampir diluar sadarnya, Raden Ajeng Rantamsari itupun berdesis “ Terima kasih, kakang. Jika kau tidak datang menolongku, aku tidak, tahu apa yang akan terjadi. Mungkin aku telah diseret oleh paman Wicitra ketempat yang tidak diketahui. Tetapi mungkin aku benar-benar telah dibunuhnya.”

“Aku hanya menjalankan kewajiban Raden Ajeng.”

Raden Ajeng Rantamsari mengangguk kecil Namun kemudian iapun berpaling kepada ibunya sambil berkata “Ibu, aku benahi dahulu kain yang sedang aku batik itu.”

“Baiklah“ berkata ibunya “seterusnya kau batik kainmu di longkangan sebelah dapur. Tempatnya lebih rapat. Ibupun akan mendengar jika pamanmu datang lagi.”

“Ya, ibu.”

Demikian Raden Ayu Prawirayuda masuk, Raden Ajeng Rantamsari segera memadamkan bara di anglo kecil yang dipergunakannya untuk memanasi malam yang diper-gunakannya untuk membatik.

“Raden Ajeng“ berkata Sasangka “biarlah aku berjaga-jaga di luar longkangan.”

“Jangan pergi, kakang. Tunggulah sampai aku selesai. Aku menjadi ketakutan sendiri meskipun di longkangan dan disiang hari pula. Paman Wicitra akan dapat benar-benar datang lagi. Jika paman datang lagi, mungkin paman akan benar-benar membunuhku.”

Sasangka menarik nafas panjang. Ia tidak dapat meninggalkan Raden Ajeng Rantamsari yang ketakutan.

Adalah diluar sadarnya ketika Sasangka kemudian memperhatikan gadis yang sedang sibuk mengemasi kain serta peralatan batiknya. Adalah diluar sadarnya pula bahwa Sasangka berkata kepada dirinya sendiri dalam hatinya “ Gadis itu memang cantik.”

Sasangka terkejut ketika Raden Ajeng Rantamsari berkata “Terima kasih, kakang. Aku akan membatik di longkangan dalam, di sebelah dapur.”

“ O, silahkan. Silahkan Raden Ajeng.”

Raden Ajeng Rantamsaripun kemudian melangkah masuk ke ruang dalam sambil menjinjing gawangan dan kain yang sedang dibatiknya serta peralatannya yang lain.

Sasangka menarik nafas dalam-dalam.

Taman kecil itupun menjadi sepi kembali. Beberapa gerumbul perdu yang tertata rapi, berantakan terinjak-injak kaki mereka yang bertengkar.

“Biarlah besok aku benahi setelah Raden Madyasta melihat keadaan ini “ berkata Sasangka didalam hatinya.

Sasangkapun kemudian meninggalkan taman kecil di longkangan itu. Ia tidak kembali ke kebun belakang untuk bebaring di lineak bambu yang dibuat oleh Wismaya. Tetapi Sasangka itupun pergi ke serambi gandok untuk menemui Wismaya.

Bab 23 - Kekecewaan Adipati

“Kau tidak mendengar keributan yang terjadi di longkangan tadi ?“

“Apa yang terjadi ?“

Sasangkapun kemudian telah menceriterakan apa yang terjadi di taman kecil itu.

“Kau terluka Sasangka “ berkata Wismaya kemudian.

“Tidak seberapa.“-

“Tetapi luka itu harus diobati. Biarlah aku bantu kau mengobatinya.“

Wismayapun kemudian mengobati luka Sasangka. Meskipun luka itu tidak parah, tetapi jika tidak mendapat pengobatan yang baik, luka itu akan dapat membengkak dan menjadi berbahaya.

“Beristirahatlah. Biarlah aku mengawasi keadaan “ berkata Wismaya.

Sasangka mengangguk kecil. Iapun kemudian masuk ke dalam biliknya dan kemudian membaringkan dirinya.

Udara di bilik itu tidak sesejuk di halaman belakang. Silirnya angin tidak terasa. Bahkan udara di bilik itu terasa panas. Sehingga karena itu, Sasangka tidak menjadi me-ngantuk seperti saat ia berbaring di lineak bambu di halaman belakang.

Namun dengan demikian, angan-angan Sasangka sempat berterbangan kian kemari dan hinggap di tempat-tempat yang memancarkan keeeriaan sebagaimana sebuah mimpi yang indah.

Wismayalah yang kemudian pergi ke halaman belakang. Seperti Sasangka, Wismayapun berbaring di amben bambu yang telah dibuatnya. Tetapi Wismaya menjaga agar ia tidak tertidur oleh sejuknya bayangan dedaunan yang rimbun serta semilirnya angin yang menerpa tubuhnya.

“Kemana saja perginya Raden Madyasta ini?“ bertanya Wismaya kepada dirinya sendiri “Apakah Raden Madyasta akan berada di dalem kadipaten sehari penuh ?”

Namun agaknya Raden Ayu Prawirayuda tidak sabar menunggu Raden Madyasta kembali. Raden Ayu Prawirayuda telah mereneanakan untuk pergi menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma untuk melaporkan tentang sikap dan tingkah laku adik laki-lakinya.

“Kenapa kita harus memberitahukan kepada paman Adipati?“ bertanya Raden Ajeng Rantamsari “aku akan menjadi malu sekali, ibu. Bukankah persoalan ini adalah persoalan kita sehingga sama sekali tidak menyangkut paman Adipati Prangkusuma ?“

“Rantamsari. Apa yang dieelotehkan pamanmu agaknya didengar pula oleh angger Sasangka. Sehingga lambat laun pamanmu Adipati juga akan mendengarnya. Mungkin lewat angger Madyasta yang akan mendapat laporan dari Sasangka. Karena itu, maka biarlah pamanmu mendengar langsung dari mulut kita sendiri. Selebihnya, kita sekarang berada di Paranganom. Apapun yang terjadi, sebaiknya kita melaporkannya kepada pamanmu Adipati, sehingga jika terjadi sesuatu, kita tidak akan dianggap bersalah karena kita seakan-akan telah menyembunyikan sesuatu.“

Rantamsari tidak menjawab. Ia menurut saja apa yang dikatakan oleh Ibunya.

“Kita akan mengajak angger Wismaya untuk me-ngantar kita pergi ke kadipaten“ berkata Raden Ayu Prawirayuda.

“Kenapa tidak kakang Sasangka saja ibu. Bukankah kakang Sasangka yang langsung terlibat dalam persoalan ini ? Seandainya paman Adipati memerlukan beberapa keterangan, maka kakang Sasangka akan dapat membantu kita.“

Raden Ayu Prawirayuda merenung sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berkata “Baiklah, Rantamsari. Kita akan minta Sasangka mengantar kita ke kadipaten.“

”Kapan kita pergi menghadap paman Adipati ibu ?”

“Nanti, disore hari, setelah matahari turun, sehingga kita tidak kepanasan di jalan.“

“Aku akan memberitahu kakang Sasangka.“

“Biarlah aku saja yang berbicara dengan Sasangka, Rantamsari. Ia akan merasa lebih dihargai jika bukan anak-anak yang memberikan perintah kepadanya.“

“Bukankah aku tidak akan memberikan perintah ?“

“Sudahlah. Biarlah aku saja yang mengatakannya kepadanya.“

Rantamsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdesis “Baik, ibu.“

Dalam pada itu, ketika terjadi keributan di rumah Raden Ayu Prawirayuda, Raden Madyasta memang sedang meninggalkan rumah itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa Raden Madyasta tidak pergi ke kadipaten. Tetapi Raden Madyasta justru pergi ke Panjer.

Karena itu, Raden Madyasta berangkat ketika matahari belum memanjat terlalu tinggi. Kudanya dilarikannya seperti dikejar hantu. Raden Madyasta harus sudah berada di rumah bibinya lagi sebelum senja.

Ternyata hari itu bukan untuk pertama kalinya Raden Madyasta pergi ke kademangan Panjer. Agaknya Raden Madyasta tidak dapat melupakan perjumpaannya dengan gadis Panjer, anak Ki Demang Rara Menur.

Ketika Raden Madyasta sampai di kademangan Panjer, rumah Ki Demang nampak sepi. Tetapi Raden Madyasta mendengar suara orang menumbuk padi.

Sebagaimana kebiasaannya, meskipun Rara Menur anak seorang Demang, tetapi ia sering berada didekat lumbung menumbuk padi. Meskipun ada pembantu yang dapat melakukannya, tetapi Rara Menur sering melakukannya sendiri.

Karena itu, setelah mengikat kudanya di sebelah pendapa, maka Raden Madyasta itupun langsung pergi lewat halaman samping, menuju ke lumbung.

Sebenarnyalah ia melihat Rara Menur sedang menumbuk pagi. Karena itu, maka Raden Madyasta sengaja mendekatinya dengan diam-diam.

Demikian Raden Madyasta melingkari sudut lumbung dan berdiri di belakang Rara Menur, Raden Madyastapun berkata “Apakah aku dapat membantu, Menur.”

Rara Menur terkejut sehingga bergeser setapak. Ketika ia berpaling, maka sebelah tangannya menekan dadanya. Nafasnya tiba-tiba mengalir semakin cepat.

“Raden mengejutkan aku. Jantungku hampir saja copot.”
Raden Madyasta tersenyum. Katanya - Begitu mudahnya jantungmu copot? Apakah tangkainya terbuat dari anyaman daun pisang.”

“Ah. Raden. Silahkan duduk di pringgitan Raden.”

“Tidak ada orang di pendapa. Apakahg Ki Demang pergi?

“Ya Raden. Tetapi tentu sudah hampir pulang. Ayah pergi ke bendungan, melihat orang-orang yang sedang gugur gunung. Bendungan itu bocor. Sebelum kebocoran itu merambat semakin besar, maka orang-orang padukuhan induk ini bersama-sama dengan orang-orang padukuhan terdekat lain-nya, pergi beramai-ramai memperbaikinya.”

Raden Madyasta mengangguk-angguk. Sementara itu Rara Menurpun berkata pula “Silahkan Raden duduk di pringgitan. Ayah tidak akan lama lagi.“

“Aku lebih senang duduk disini sambil menunggu Ki Demang, Menur.”

“Tetapi Raden mengganggu aku.”

“Jika aku ingin membantu, kau selalu berkeberatan.”

“Tentu aku berkeberatan.”

“Kalau begitu, teruskan saja. Aku berjanji tidak akan mengganggumu.”

“Raden aneh - desis Rara Menur. Bahkan kemudian diletakkannya penumbuk padinya. Sambil duduk disebuah amben panjang yang berada di emperan lumbung, Rara menur berkata “Seharusnya Raden duduk di pringgitan.”

Raden Madyasta termangu-mangu sejenak, Namun kemudian iapun berkata sambil melangkah dan bahkan duduk di amben itu pula “Daripada duduk di pringgitan sendiri, aku lebih senang duduk disini bersamamu Menur.”

“Ah Raden.”

“Udara disini terasa lebih sejuk. Bayangan dedaunan yang rimbun, angin yang mengalir menggoyang ranting-ranting kecil.”

Rara Menur menarik nafas panjang.

Namun tiba-tiba Rara Menur itu bertanya “Kenapa Raden sering datang kemari?”

Raden Madyasta mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab “ Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu, Menur. Kenapa aku sering datang kemari. Seandainya kau tidak tinggal disini, tentu aku tidak akan pernah datang kemari lagi setelah kami berhasil menghancurkan gerombolan brandal itu.”

“Aku bersungguh-sungguh Raden.”

Raden Madyasta menarik nafas panjang. Katanya “Apakah kau masih ragu-ragu, Menur.”

“Aku tidak ragu-ragu terhadap pernyataan Raden. Aku tidak ragu-ragu atas cinta Raden kepadaku. Akupun tidak ragu-ragu mencintai Raden. Tetapi bukankah kita tidak hanya hidup berdua diluasnya dataran bumi ini.”

“Menur. Apa maksudmu?”

“Raden. Disamping kepercayaanku terhadap kesungguhan cinta Raden, namun aku juga selalu bertanya, siapakah aku ini. Siapa pula Raden Madyasta.”

“Kau akan berbicara tentang derajad, Menur?”

“Kita tidak dapat menanggalkan derajat kita masing-masing Raden. Aku tidak lebih adalah anak seorang Demang. Sedangkan Raden adalah putera seorang Adipati.”

“Apakah ada bedanya?”.

“Tataran dalam tatanan masyarakat tidak dapat kita ingkari, Raden. Hampir setiap orang yang ingin mengambil menantu selalu berbicara tentang bobot, bibit dan bebet. Raden tahu, siapakah aku jika dinilai dari bobot, bibit dan bebet itu.“

“Kau nampaknya benar-benar bersungguh-sungguh Menur.”

“Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa aku bersungguh-sungguh?”

Raden Madyasta menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Menur. Yang kelak akan menjalani hidup bersama adalah aku dan kau. Aku memang tidak ingkar, betapa besarnya pengaruh orang tua terhadap anaknya pada saat-saat anaknya memilih bakal sisihannya. Tetapi keputusan terakhir tentu. berada pada anak itu sendiri.”

“Jika Raden Madyasta bukan putera seorang Adipati, aku dapat mengerti, Raderi. Tetapi Raden Madyasta adalah putera seorang Adipati. Apa yang akan Raden lakukan akan disorot bukan saja oleh orang tua Raden. Tetapi juga oleh para priyagung, para pemimpin pemerintahan dan keprajuritan, bahkan oleh rakyat Paranganom.”

“Aku mengerti, Menur. Tetapi kebesaran cinta kita akan dapat mengalasinya.”

“Raden. Aku sangat menghargai sikap Raden. Tetapi jika. yang aku takutkan itu harus terjadi. Kangjeng Adipati, para priyagung, para pemimpin dan rakyat Paranganom akan dapat menolak keberadaanku di kadipaten. Mereka akan dapat menganggap keberadaanku di kadipaten itu hanya akan mengotori tempat yang seharusnya dihormati itu.”

“Kau sangat merendahkan dirimu sendiri, Menur. Pada. saatnya aku akan berbicara dengan ayahanda. Aku berharap ayahanda mengerti.”

“Itu harapan Raden.”

“Menur. Kita jangan merasa kalah sebelum kita melangkah. Aku tidak membutakan mataku terhadap kemungkinan itu. Aku bukan anak-anak lagi, sehingga cintaku juga bukan sekedar cinta anak-anak. Aku sudah dewasa penuh. Aku menyadari apa yang aku lakukan ini, Menur.” .

“Akupun mengerti, Raden. Sekali lagi aku nyatakan kepada Raden, bahwa bukannya aku tidak percaya kepada Raden., Tetapi aku ingin memperingatkan, bahwa disekitar kita terdapat berbagai macam pengaruh yang akan dapat ikut serta merientukan arah hidup kita. Pengaruh disekitar kita itu akan dapat membentangkan jarak diantara kita. Bahkan mungkin jarak itu tidak dapat kita loncati, sehingga kita akan duduk sambil berduka disisi yang berseberangan.”

“Kita tidak boleh menyerah, Menur. Aku mengakui pengaruh yang kuat akan dapat melanda biduk yang ingin kita tumpangi. Kemudian tergantung kepada kita. Apakah kita akan hanyut atau kita akan mampu mengayuhnya menentang arus.”

“Jika kita gagal, Raden. Akulah yang akan paling menderita.

“Kenapa kau, Menur ?”

“Raden akan dapat terhibur dengan kedudukan Raden kelak. Raden akan menggantikan kedudukan ayahanda. Kemudian Raden akan bersanding dengan seorang puteri yang cantik, yang berkedudukan sederajat dengan Raden. Kemudian Raden akan di elu-elukan oleh rakyat Paranganom kemanapun Raden pergi. Lalu bagaimana dengan aku ? Aku akan menjadi kesepian dalam kesendirianku. Di kademangan kecil yang terpencil. Kawan-kawanku akan memperolok-olokkan aku sebagai seorang pemimpi yang tidak tahu diri.”

Raden Madyasta menarik nafas panjang. Katanya “Kau berkhayal tentang langit yang mendung, gelap dengan seribu guruh yang menyambar-nyambar. Angin prahara dan cleret tahun. Kau menempatkan dirimu dalam kemelut alam yang bengis itu, Manggar.”

“Raden. Apakah kau berkhayal ? Apakah yang aku bayangkan itu tidak mungkin terjadi dalam kenyataan? Raden. Aku ingin mengatakan kepada Raden, mumpung kita belum terlalu jauh melangkah. Mungkin hati kita kita akan terluka. Tetapi luka itu tidak separah jika pertautan hati kita sudah menjadi semakin lekat.

“Menur. Aku mengerti sepenuhnya apa yang kau maksudkan. Tetapi aku akan dapat memilih. Hidup diatas gemerlapnya tatanan kewadagan, atau kita akan menunjung nilai-nilai batin kita yang lebih tinggi.”

“Dapatkah Raden memisahkannya ?”

“Aku akan menempatkan cinta kasih di atas segala-galanya, Menur ?”

“Bagaimana cinta dan kasih Raden kepada Paranganom serta kelangsungan wibawa serta kebesaran nama Kangjeng Adipati Prangkusuma ?”

“Aku bukan satu-satunya orang yang dapat meneruskan kelangsungan hidup kadipaten ini. Menur.”

“Dalam keadaan tersudut Raden akan memilih aku dari-pada kesetiaan Raden kepada Paranganom ?”

“Jangan kau nilai sikapku sebagai pengingkaran terhadap kesetiaanku kepada Paranganom. Menur. Kesetiaan tidak harus selalu ditunjukkan dengan mengikuti irama yang mengalir teratur. Apakah jika aku tidak menjadi seorang Adipati, aku tidak dapat menunjukkan kesetiaanku kepada Paranganom ?”

“Raden memang dapat berbuat banyak. Tetapi takaran perbuatan Raden tentu tidak sebanding dengan takaran sikap seorang Adipati.”

“Kau salah menilai kesetiaan seseorang terhadap kam-pung halamannya, Menur. Kesetiaan seorang kawula alit, mungkin akan dapat lebih tinggi dari kesetiaan seorang Adipati terhadap tugas dan kewajiban yang diembannya. Bahkan seorang Adipati akan dapat menjerumuskan negerinya kedalam petaka jika ia tidak dapat mengendalikan dirinya.“

Rara Menur menundukkan wajahnya. Tiba-tiba saja di pelupuknya telah mengembun air matanya. Dengan jari-jarinya ia mengusapnya.

“Aku tidak pernah meragukan sikap Raden “ suaranya menjadi serak “tetapi Raden adalah milik kadipaten Paranganom yang paling berharga. Aku tahu, bahwa aku adalah debu yang tidak berharga. Meskipun demikian Raden, aku akan menggantungkan nasibku ke jari-jari Raden.“

“Yakinlah akan sikapku Menur. Beberapa tahun aku hidup di sebuah perguruan yang terpencil. Aku sudah terbiasa hidup dalam keprihatinan. Aku bukan putera seorang Adipati yang manja. Karena itu, aku akan segera dapat menyesuaikan hidupku dengan lingkunganku yang bagaimanapun juga ujudnya.“

Rara Menur masih akan menjawab. Namun mereka melihat Ki Demang Panjer datang mendekati mereka.

“Raden “ sapa Ki Demang Panjer.

Raden Madyastapun bangkit berdiri. Sementara itu Rara Menurpun justru meninggalkan Raden Madyasta sambil berkata “Aku akan pergi ke dapur.“

Ki Demang memandang wajah anak gadisnya yang basah. Sebagai seorang ayah, maka Ki Demang sudah dapat meraba, apa saja yang dibicarakan oleh anaknya dengan Raden Madyasta.

Dalam pada itu, maka Ki Demangpun kemudian berkata “Marilah, aku persilahkan Raden duduk di pringgitan.“

Raden Madyasta tidak membantah.Tapun kemudian mengikuti Ki Demang pergi ke pringgitan, sementara Rara Menur menenggelamkan diri di dapur untuk menyiapkan hidangan bagi Raden Madyasta.

Namun Raden Madyasta tidak dapat berlama-lama berada di Panjer. Ia harus segera kembali ke kadipaten dan segera pula pergi ke rumah bibinya.

***

Dalam pada itu, ketika matahari turun, sebelum Raden Madyasta kembali, Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari, diantar oleh Sasangka pergi menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma.

Mereka telah diterima langsung oleh Kangjeng Adipati di serambi samping.

Dengan irama yang gelisah, Raden Ayu Prawirayuda telah menceriterakan apa yang baru saja terjadi di dalam taman.

“Anak itu telah membuat kami gelisah, dimas. Rantamsari menjadi ketakutan.“

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Katanya “Sukurlah bahwa Sasangka dapat mengatasinya.“

“Ya, dimas. Kami sangat berterima kasih kepada angger Sasangka. Jika saja angger Sasangka tidak melihat peristiwa itu, aku tidak tahu, apa jadinya dengan Rantamsari.“

“Apakah dengan demikian kangmbok menghubungkan sikap Wicitra itu dengan kematian Rembana?“

Raden Ayu Prawirayuda terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdesis “Aku belum dapat mengatakannya, dimas. Aku tidak tahu, apakah Wicitra sudah melangkah sedemikian jauhnya.”

“Apakah kangmbok ingin pengamanan di rumah kangmbok diperkokoh. Maksudku, kangmbok ingin prajurit yang bertugas di rumah kangmbok diperbanyak ?“

“Tidak, dimas. Bukan maksudku, agaknya keberadaan Raden Madyasta dengan kedua orang Senapati muda itu sudah cukup.“

Kangjeng Adipati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Raden Ayu Prawirayuda itu berkata “Sebenarnya aku ingin menyampaikan kegelisahan ini kepada angger Madyasta. Kemudian biarlah angger Madyasta menyampaikannya kepada dimas Adipati. Tetapi angger Madyasta telah mendahului sebelum aku sempat mengatakan pesan ini kepadanya.“

“Mendahului kemana, kangmbok ?“

“Bukankah angger Madyasta berada di kadipaten sekarang ?”

“Tidak, kangmbok. Madyasta tidak pulang. Aku belum melihat sehari ini. Mungkin pagi tadi ia datang mengambil kudanya. Namun kemudian ia telah pergi. Aku belum bertemu dengan anak itu.“

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya “Jika demikian, angger Madyasta benar-benar pergi ke Panjer ?“

“Ke Panjer ?“

“Mungkin dimas. Hanya satu kemungkinan.“

“Kenapa kangmbok menduga, bahwa Madyasta pergi ke Panjer ?“

“Aku kadang-kadang melepas waktu untuk berbincang-bincang dengan angger Madyasta. Mungkin karena aku bibinya, kadang-kadang terloncat dari bibirnya, tanggapannya terhadap seorang gadis di Panjer.“

“Maksud kangmbok ?“

“Ah. Wajar saja dimas. Anak muda.“

“Madyasta tertarik kepada gadis Panjer ?“

“Aku tidak tahu seberapa jauh hubungan mereka. Tetapi angger Madyasta pernah memuji kecantikan gadis anak Ki Demang di Panjer. Tetapi dimas tidak perlu menghiraukannya. Bukankah itu wajar-wajar saja bagi seorang anak muda.“

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk kecil. Namun nam pak kerut di dahinya menjadi semakin dalam.

Raden Ayu Prawirayuda tidak menyinggung Madyasta lagi. Tetapi Raden Ayu itupun kemudian berkata “Dimas. Kedatanganku manghadap dimas jangan merisaukan dimas. Maksudku, tentang keselamatan keluarga kami. Jika aku datang melaporkan kehadiran adikku itu semata-mata agar dimas Adipati mengetahui segala peristiwa yang terjadi di lingkungan keluarga kami. Jika benar terjadi sesuatu, biarlah dimas Adipati dapat mengurai permasalahannya dengan bahan yang lengkap.

“Terima kasih, kangmbok. Aku akan memperhatikannya. Akupun harus memperhatikan kepergian "Madyasta ke Panjer, karena Madyasta tidak minta ijin bahkan tidak memeritahukan kepergiannya itu.“

“Aku mohon dimas tidak mempersoalkan angger Madyasta “

“Aku adalah ayahnya, kangmbok.”

“Tetapi bukankah yang dilakukannya masih dalam batas kewajaran, sehingga dimas tidak perlu gelisah.“

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk sambil berdesis ”Ya, kangmbok.“

Raden Ayu Prawirayuda itupun kemudian telah mohon diri. Sementara kangjeng adipati berkata kepada Sasangka “Akupun mengucapkan terima kasih kepadamu, Sasangka. Tetapi selanjutnya kau harus berhati-hati.“

“Hamba, kangjeng. Hamba akan berhati-hati.“

Ketika Raden, Ayu Prawirayuda keluar dari serambi, langit telah. menjadi buram. Awan nampak menjadi merah disaat-saat menjelang senja. Matahari yang disaput mega-mega yang tipis, nampak seperti bara.

Ketika Raden Ayu Prawirayuda, Rantamsari dan Sasangka keluar dari gerbang halaman kadipaten, mereka berpapasan dengan Madyasta yang melarikan kudanya seakan berpacu di arena. Ketika Madyasta menarik kendali kudanya, maka kuda itupun berhenti dengan tiba-tiba sehingga kedua kakinya terangkat keatas. Terdengar kuda itu meringkik panjang.

Raden Madyasta meloncat turun. Dielusnya leher kudanya perlahan-lahan sehingga kudanya menjadi tenang kembali.

“Darimana ngger ?“ bertanya Raden Ayu Prawirayuda.

“Sekedar melihat-lihat keadaan bibi.”

“Dari Panjer ?“

Jantung Raden Madyasta berdesir. Dengan gagap iapun bertanya “ Darimana bibi tahu ?“

“Bukankah angger pernah berceritera tentang. gadis Panjer yang cantik dan luruh itu?“

“Ah. Bukan maksudku untuk mengatakan bahwa aku tertarik kepadanya, bibi.“

Raden Ayu Prawirayuda tersenyum. Katanya “Bukankah hal itu wajar sekali? Angger adalah seorang anakmuda yang sudah dewasa. Sedangkan anak Ki Demang Panjer itu agaknya seorang gadis yang sudah meningkat dewasa pula. Bukankah wajar sekali ?“

“Tetapi “

Raden Ayu Prawirayuda menepuk bahu Raden Madyasta sambil berdesis “Jangan risaukan pernyataan bibi. Bibi hanya ingin bergurau.”

Raden Madyasta menarik nafas panjang

“Sudahlah ngger. Bibi Pulang.“

“Apakah bibi baru saja menghadap ayahanda ?“

“Ya. Ada sesuatu terjadi di rumah.

“Ada apa bibi?“

“Pamanmu Wicitra datang lagi mengganggu Rantamsari. Bahkan mengancamnya dengan keris. Untunglah bahwa angger Sasangka mengetahuinya dan berhasil mengusir Wicitra. Aku melaporkannya kepada dimas Adipati, agar dimas Adipati mengetahui segala sesuatunya yang terjadi atas keluarga kami.“

Raden Madyasta mengangguk-angguk. Katanya “Sukurlah bahwa Sasangka dapat mengatasinya. Aku mohon maaf bibi, bahwa aku tidak berada di rumah bibi pada saat itu.”

“Tidak apa-apa ngger. Mudah-mudahan Wicitra menjadi jera.”

“Ya, bibi.“

“Sudahlah ngger. Angger tentu letih. Bibi mohon diri.“

“Silahkan bibi. Aku juga akan segera menyusul.“

Ketika Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari yang diantar oleh Sasangka meninggalkan Raden Madyasta, maka Raden Madyastapun segera menuntun kudanya memasuki regol halaman kadipaten.

Setelah menyerahkan kudanya kepada seorang abdi, maka Raden Madyasta pun.masuk keserambi samping.

Raden Madyasta terkejut ketika ia melihat ayahandanya, Kangjeng Adipati Prangkusuma, duduk sendiri di serambi samping itu.
Sebuah lampu minyak sudah dinyalakan. Sinarnya yang kekuning-kuningan nampak berayun oleh sentuhan angin yang menyusup kedalam.

Madyasta justru berdiri termangu-mangu di pintu. Jantungnya terasa berdegup semakin cepat.

“Madyasta” suara ayahandanya terasa berat menekan dadanya.

“Hamba ayahanda.“

“Kemarilah, duduklah.“

Perlahan-lahan Madyasta mendekat. Kemudian duduk dihadapan ayahandanya.

“Kemana kau seharian ini Madyasta ?“

Madyasta tidak segera menjawab. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Bahkan Madyasta menduga bahwa bibinya telah mengatakan kepada ayahandanya, bahwa ia pergi ke Panjer. Mungkin benar bahwa bibinya sekedar bergurau atau mengganggunya tanpa maksud apa-apa. Tetapi persoalannya akan dapat menjadi rumit baginya.

Karena Madyasta tidak segera menjawab, maka ayahandanya itupun berkata “Madyasta. Bibimu baru saja menghadap. Bibimu melaporkan apa yang baru saja terjadi di rumahnya. Adiknya laki-laki itu datang mengganggunya. Untunglah bahwa Sasangka dapat mengatasinya. Sementara itu, kau tidak ada di rumah bibimu.”

Raden Madyasta menjadi semakin menunduk.

“Kau pergi kemana Madyasta ? Aku ingin mendengar kau menjawab dengan jujur.”

“Hamba pergi ke Panjer, ayahanda.”

Tetapi Kangjeng Adipati sudah tidak terkejut lagi. Dengan nada berat Kangjeng Adipatipun bertanya pula “Untuk apa kau pergi ke Panjer ?”

Madyasta menarik nafas dalam-dalam. Keragu-raguan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya, atau ia akan berbohong kepada ayahandanya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, agaknya akan terasa sangat tiba-tiba. Madyasta memang akan menyampaikan kepada ayahandanya. Tetapi ia memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri lahir dan batinnya. Raden Madyastapun ingin serba sedikit menyinggungnya sebelum ia menyampaikan seluruh permasalahannya dengan gadis Panjer itu kepada ayahandanya.

Namun Raden Madyasta tidak terbiasa berbohong. Karena itu, betapapun beratnya, maka Raden Madyastapun kemudian menjawab “Hamba berkunjung ke rumah KI Demang di Panjer, ayahanda.”

“Ada apa di rumah itu ? Apakah masih ada persoalan dengan kademangan Panjer ?”

Raden Madyasta tidak mempunyai kesempatan lagi. Ia harus mengatakan apa yang sesungguhnya dilakukannya di Panjer.

“Ayahanda. Hamba mohon ampun. Memang maksud hamba pada suatu saat akan menyampaikan persoalan Iiamba ini kepada ayahanda. Tetapi sebenarnya hamba memerlukan waktu. Tetapi agaknya hamba harus menyampaikannya sekarang.”

Kangjeng Adipatilah yang terdiam. Dipandanginya garis-garis papan pada dinding serambi itu, seolah-olah Kangjeng Adipati belum pernah melihat sebelumnya.

“Ayahanda“ berkata Raden Madyasta kemudian “di Panjer, hamba berkenalan dengan seorang gadis, anak Ki Demang Panjer.”

Kangjeng Adipati masih berdiam diri. Sementara itu suara Raden Madyastapun menjadi bergetar oleh gejolak perasaannya.

“Gadis itu menurut pendapat hamba, adalah gadis yang baik.”

“Kau tertarik kepadanya?” bertanya Kangjeng Adipati.

“Hamba ayahanda. Hamba tidak akan mengingkarinya “

“Sejauh manakah hubunganmu dengan anak Demang Panjer iiu ?”

“Kami saling mencintai ayahanda.”

“Madyasta“ suara Kangjeng Adipati menjadi semakin berat.

“Hamba ayahanda.”

“Apakah kau sadari bahwa kau adalah anakku?”

“Hamba ayahanda.”

“Aku ini siapa ?”

Jantung Raden Madyasta berdegup semakin cepat “Ayahanda adalah Adipati Paranganom.”

“Jadi ?”

“Hamba adalah putera Adipati Paranganom.”

“Nalarmu masih bening, Madyasta. Kau masih sadar sepenuhnya bahwa kau adalah putera Adipati Paranganom.”

“Hamba ayahanda.”

“Sedangkan gadis Panjer itu adalah anak gadis Demang Panjer.”

“Hamba ayahanda.”

“Madyasta. Apakah menurut pendapatmu, kedudukanmu dan kedudukan gadis itu seimbang ?”

Pertanyaan itulah yang sudah diduga akan disampaikan oleh ayahanda. Persoalan itu pulalah yang telah dikemukakan oleh Rara Menur kepadanya. Perbedaan de-rajad itu memang akan dapat menjadi penyekat diantara mereka berdua.

Namun Madyasta itu memberanikan diri menjawab “Ayahanda. Apakah kedudukan seseorang itu demikian pentingnya bagi dua orang yang ingin. membangun sebuah keluarga ?”

“Pertanyaanmu aneh, Madyasta. Kau adalah putera seorang Adipati. Apalagi kau adalah puteraku yang tertua, yang pada saatnya akan menggantikan kedudukanku sebagai Adipati di Paranganom. Jika sisihanmu kelak hanyalah anak seorang Demang, apa kata orang tentang Adipati Paranganom?, Apa kata para. Adipati tetangga-tetangga kita. Apapula kata Kangjeng Sultan di Tegallangkap ? Madyasta. Sebagai seorang putera Adipati yang kelak akan menggantikan kedudukannya, kau harus menjunjung tinggi derajat keluargamu. Kau harus menjaga wibawa namamu.”

“Ayahanda. Apakah unsur keturunan dari seorang isteri akan dapat ikut menentukan wibawa nama seorang Adipati? Jika Adipati itu sendiri dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, menjunjung tinggi kewajibannya, menyatu dengan rakyatnya membangun keutuhan kehidupan di seluruh kadipaten sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya.”

“Kau tidak dapat menutup mata dan telinga dalam pergaulan para Adipati. Juga dihadapan Kangjeng Sultan di Tegallangkap. Jika pada suatu saat, dalam upacara-upacara kenegaraan atau dalam kesempatan apapun, para Adipati harus berkumpul di istana Kangjeng Sultan di Tegallangkap bersama isterinya, bagaimana kau dapat menyembunyikan anak Demang itu dari tatapan mata para Adipati serta para priyagung di Tegallangkap. ?“

“Apakah dalam kedudukannya, seorang perempuan dari pedesaan, anak seorang Demang, tidak akan dapat menyesuaikan diri ayahanda. Bukankah seroang dapat belajar, apa yang harus dilakukan sebagai isteri seorang Adipati.“

“Sikap dan tingkah laku memang dapat dipelajari, Madyasta. Tetapi tidak seorangpun yang dapat merubah garis keturunan seseorang. Jika ia anak seorang Demang, maka meskipun kau mendatangkan seribu orang guru yang akan dapat memberinya pelajaran dan petunjuk tetang sikap dan tingkah laku, namun mereka tidak akan dapat merubah garis keturunannya. Jika ia anak seorang Demang, maka ia akan tetap anak seorang Demang. Tetapi jika ia anak seorang Adipati atau seorang priyagung di Tegallangkap, maka ia akan tetap anak seorang Adipati atau seorang priyagung. Kau mengerti itu Madyasta.?“

“Ayahanda. Bagaimanakah penilaian seseorang tetang seorang perempuan keturunan orang berderajad tinggi tetapi sikap dan tingkah lakunya tidak terpuji sementara seseorang perempuan yang dilahirkan oleh keluarga dari keturunan yang dianggap berderajad rendah, tetapi menunjukkan sikap dan tingkah laku yang baik serta berbudi.“

“Satu mimpi yang buruk bagimu Madyasta.“

“Bukankah dihadapan Yang Maha Pencipta, kita dititahkan sama.“

“Madyasta. Kau sudah berani membantah kata-kataku. Siapa yang mengajarimu Madyasta ? Demang Panjer? Demang Panjer itu agaknya telah meraeunimu dengan pandangan hidup yang naif itu.“

“Ampun ayahanda. Hamba tidak sekali-sekali berani membantah titah ayahada.“

”Ingat Madyasta. Kau adalah putera seorang Adipati yang kelak akan menggantikan kedudukannya. Kau adalah seseorang yang akan menjadi pemimpin. Kau akan menjadi kiblat tatapan mata seluruh rakyat Paranganom dan bahkan kau akan selalu berada dibawah penilikan Kangjeng Sultan di Tegallangkap.“

Madyasta menundukkan wajahnya. Ia masih akan menjawab. Tetapi Madyasta menyadari, bahwa ayahandanya mulai tidak berkenan. Jika ia masih saja menyatakan pendapatnya, maka ayahandanya akan dapat menjadi sangat marah.

“Madyasta“ berkata Kangjeng Adipati kemudian “apa kata orang, jika pada suatu saat kangmasmu Adipati Kateguhan menikah dengan seorang puteri yang sederajat, bahkan puteri dari Tegallangkap, kemudian kau menikah dengan anak Demang itu? Kemana aku harus menyembunyikan wajahku? Sedangkan jika itu terjadi setelah aku meninggal maka kusutlah wibawa kadipaten Paranganom. Jika kemudian istana Tegallangkap memperbandingkan kau dengan kangmasmu Yudapati dari Kateguhan, maka kau akan berada dibawah bayang-bayangnya.”

Jantung Madyasta terasa bergejolak didalam dadanya. Tetapi Madyasta harus menahan diri. Madyasta sadar, bahwa dalam keadaan demikian, ia lebih baik diam. Ia harus mencari kesempatan lain untuk dapat berbicara lebih panjang. Mungkin ia mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menjelaskan persoalannya.

“Madyasta “ berkata Kangjeng Adipati kemudian.

“Hamba ayahanda.”

“Sekarang mundurlah. Pergilah ke rumah bibimu. Malam telah turun.”

“Hamba ayahanda.”

Raden Madyastapun kemudian meninggalkan ayahandanya sendiri di serambi.

Namun sepeninggalkan Madyasta, Wignyana telah masuk ke serambi. Dengan ragu-ragu iapun berkata “Ayahanda. Apakah hamba diperkenankan menghadap?”

“Wignyana. Kemarilah. Duduklah. Apakah ada yang penting yang akan kau sampaikan ?”

Wignyanapun kemudian duduk dihadapan ayahandanya. Dengan ragu-ragu Wignyana itupun berkata “Ayahanda. Hamba mohon ampun, bahwa hamba mendengar pembicaraan ayahanda dengan kangmas Madyasta.”

Dahi Kangjeng Adipati Prangkusuma itu berkerut. Dengan ragu-ragu iapun berkata “Kau mendengarkannya ?”

“Semula hamba tidak sengaja ayahanda. Namun kemudian hamba seakan-akan telah dicengkam oleh pendengaran hamba yang sekilas itu, sehingga hambapun mulai mendengarkannya.”

“Jika kau mendengarnya, lalu apa yang akan kau katakan sekarang ?”

“Hamba ingin bertanya, ayahanda. Kenapa ayahanda berkeberatan jika kangmas Madyasta berhubungan dengan anak Ki Demang di Panjer itu.”

“Jika kau mendengarkan percakapan kami, kau tentu mendengar pula, apa alasanku.“

“Hamba mendengar ayahanda. Tetapi hamba merasa kasihan kepada kangmas Madyasta.“

“Kenapa ?“

“Kangmas Madyasta dan gadis Panjer itu sudah terlanjur saling mencintai.“

“Wignyana. Bukankah kau tahu kedudukan kangmasmu?”

“Aku tahu, ayahanda. Tetapi apakah unsur keturunan itu demikian pentingnya, ayahanda.“

“Tentu, Wignyana. Jika seseorang dalam kedudukan seperti Madyasta, ia harus mempertimbangkan, perempuan yang manakah yang pantas menjadi sisihannya..”

“Tetapi cinta itu datang begitu saja ayahanda. cinta mempunyai pertimbangan yang lain.“

“Apakah menurut pendapatmu, cinta itu memang buta seperti kata orang?. Atau bahkan cinta itu harus buta sehingga nalar tidak dapat ikut berbicara ?“

“Ayah. Cinta adalah karunia. Cinta yang teguh tidak akan dapat dihambat oleh lautan api sekalipun. Gunung yang tinggi akan diloncati, lautan yang luas akan diseberangi.“

“Kau dendangkan tembang anak-anak remaja Wignyana. Kau memang-sedang meningkat dewasa. Aku mengerti bagaimana kau menilai cinta seorang laki-laki terhadap seorang perempuan dan sebaliknya. Tetapi kangmasmu seharusnya sudah dapat berpikir lebih dewasa Wignyana. Ia sudah harus dapat mencari keseimbangan antara perasaan dan penalarannya. Tidak usah meloncati Gunung dan tidak usah menyeberangi lautan.“

“Bukankah kita harus menghormati sikap seseorang?“

“Maksudmu agar kau menghormati sikap kangmasmu Madyasta ?“

Wignyana menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Aku memang menghormati pendapatnya, Wignyana, seperti aku menghormati pendapatmu, sepanjang pendapat Madyasta dan pendapatmu itu mapan. Tetapi jika pendapat Madyasta, pendapatmu dan pendapat siapapun tidak mapan dan tidak sesuai dengan perasaan dan penalaranku, maka aku tentu akan mempersoalkannya.“

“Ayahanda. Apakah hamba boleh bertanya ?“

“Bertanya tentang apa ?“

“Ampun ayahanda. Apakah ayahanda bermaksud menjodohkan kangmas Madyasta dengan Kangmbok Rantamsari?“

Bab 24 - Persaingan Asmara

“Cukup“ tiba-tiba saja Kangjeng Adipati Prangkusuma itu membentak “tinggalkan aku sendiri.”

“Ampun ayahanda.“

“Tinggalkan aku sendiri.“-

Wignyana tidak berani menjawab lagi. Iapun kemudian berdesis “ Hamba mohon diri, ayahanda.“

Kangjeng Adipati tidak menyahut. Bahkan ia tidak memandang Wignyana saat anak muda itu keluar dari serambi samping.

Sepeninggal Wignyana, Kangjeng Adipati itu duduk sendiri. Kangjeng Adipati itu merasa kecewa atas sikap Madyasta. Tetapi iapun kecewa terhadap sikap Wignyana. “Apakah anak-anakku sekarang sudah berani menolak kata-kataku? Apakah mereka sudah tidak menghormati aku lagi sebagai ayahandanya, dan juga sebagai seorang Adipati ?“

Kangjeng Adipati itu terkejut ketika cahaya kilat memancar menyilaukan. Kemudian disusul oleh suara guntur yang bagaikan memecahkan selaput telinga.

Sejenak kemudian, maka hujanpun turun bagaikan dirurahkan dari langit.

Dalam hujan yang lebat itu, Raden Madyasta melangkah menuju ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden Madyasta sama sekali tidak menghiraukan hujan yang justru menjadi semakin lebat. Langit yang hitam itu menjadi semakin kelam. Jalan-jalan menjadi hitam pekat. Hanya sekali-sekali kilat memancar dengan terangnya. Namun sekejap kemudian, ketika suara guruh meledak di langit, malampun telah menjadi gelap kembali.

Tetapi Raden Madyasta berjalan terus. Meskipun Raden Madyasta itu seakan-akan tidak sempat memperhatikan jalan yang akan dilaluinya, namun Raden Madyasta tidak terperosok kedalam parit sebelah menyebelah jalan yang menjadi becek berlumpur.

Jantung putera Kangjeng Adipati Paranganom itu menjadi sangat gelisah. Apa yang dicemaskan oleh Rara Menur itu sudah membayang. Ayahandanya tidak mau menerima gadis Panjer itu menjadi menantunya.

“Rara Menur anak seorang yang mempunyai kedudukan. Ayahanda seorang Demang yang memerintah satu wilayah yang cukup luas dan mempunyai pengaruh yang memerintah satu wilayah yang cukup luas dan mempunyai pengaruh yang mantap di wilayahnya“ berkata Madyasta didalam hatinya.

Tetapi dibanding dengan seorang Adipati, kedudukan seorang Demang.memang terlalu kecil.

“Tetapi menurut pendapalku, keturunan lidak menentukan bobot seseorang. Orang Itu sendiri yang harus menentukan harga bagi dirinya sendiri.“
Raden Madyasta berhenti melangkah ketika kakinya terperosok kedalam aliran air parit yang mulai meluap ke jalan yang dilewatinya.

Pakaian Raden Madyasta telah menjadi basah kuyup. Suara air hujan yang tumpah dari langit itu menjadi semakin gemuruh. Anginpun mulai bertiup semakin keras.

Sejenak kemudian, Madyasta meneruskan langkahnya. Angan-angannya kembali menerawang memandangi masa depannya yang mulia dibyangi kegelapan.

“Tentu bibi sudah memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku pernah berbicara tentang gadis Panjer itu “berkata Madyasta didalam hatinya.

Madyasta menarik nafas dalam-dalam.

Ketika Raden Madyasta itu memasuki regol padukuhan, maka malam terasa menjadi semakin gelap. Air hujan yang menerpa pepohonan terdengar bagaikan arus banjir yang deras.

Raden Madyasta itupun kemudian berhenti didepan regol halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda. Madyasta menjadi semakin kecewa terhadap bibinya. Ketika ayahandanya berceritera tentang sikap bibinya sehingga Kangjeng Adipati Yudapati marah kepadanya dan mengusirnya dari dalem kedipaten di Kateguhan, Madyasta sudah merasa kecewa terhadap bibinya. Apalagi bibinya agaknya sudah menyampaikan hubungannya dengan gadis Panjer itu kepada ayahandanya. Mungkin tanpa maksud apa-apa. Tetapi akibatnya telah membuatnya terperosok kedalam kesulilan.

Sebenarnya Madyasta ingin menyampaikan persoalannya itu sendiri kepada ayahandanya, pada saat-saat yang dianggapnya tepat. Tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya.

Namun tiba-tiba saja Madyasta teringat kepada Ki Lurah Rembana yang telah tidak ada, terbunuh di halaman rumah bibinya itu, sehingga di dinginnya malam serta hujan yang lebat itu, jantung Madyasta terasa menjadi panas.

Tetapi Madyastapun segera menyadari, bahwa ia sendiri harus berhati-hati. Mungkin orang yang telah membunuh Rembana itu telah membidik dirinya pula.

Raden Madyasta itupun kemudian memasuki halaman rumah bibinya.

Rumah itu nampak diam membeku. Hanya nyala lampu minyak itu pendapa sajalah yang bergerak-gerak di sentuh angin. Namun angin yang keraspun kemudian telah mengguncang dedaunan di halaman.

Madyasta itupun langsung pergi ke serambi gandok. Ketika ia naik ke pendapa, maka Sasangka yang mendengar langkah di serambi, membuka pintu biliknya dengan hati-hati.

“Raden“ sapa Sasangka yang melihat Raden Madyasta basah kuyup di serambi. Tergopoh-gopoh ia menyongsongnya.

“Raden berjalan terus dalam hujan yang lebat ini?” bertanya Sasangka.

“Ya, kakang. Aku harus segera sampai di rumah ini.”

“Bukankah disini sudah ada aku dan Wismaya.”

“Ya. Tetapi rasa-rasanya aku harus berada di rumah ini. Siang tadi aku telah melakukan kesalahan besar. Untunglah bahwa kakang Sasangka dapat mengatasinya. Jika terjadi sesuatu, maka aku akan menjadi sasaran kemarahan ayahanda.”

“Segala sesuatunya sudah lewat, Raden. Tidak ada per soalan yang gawat.”

“Ya. Tetapi bagaimanapun juga, aku masih saja diburu oleh perasaan bersalah. Apalagi ayahanda telah marah kepadaku.”

“Marah ?”

“Kakang“ desis Raden Madyasta “ bukankah bibi ielah memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku pergi ke Panjer?”

“Raden Ayu hanya mengatakan, mungkin Raden pergi ke Panjer.”

“Karena aku pernah berbicara dengan bibi tentang gadis Panjer itu ?”

Sasangka tersenyum. Katanya “Raden Ayu tidak bermaksud apa-apa. Raden Ayu hanya ingin menggoda Raden.”

“Tetapi akibatnya, ayahanda marah kepadaku. Nampaknya masa depanku menjadi muram. Jika bibi sekedar bergurau dan menggodaku, maka akibatnya menjadi sangat jauh.”

“Tentu bukan maksudnya, Raden. Tetapi apakah sebaiknya Raden berbicara dengan Raden Ayu, agar Raden Ayu datang menghadap Kangjeng Adipati untuk menjernihkan suasana ?”

“Tidak. Tidak usah, kakang.”

Tiba-tiba saja Sasangka menyadari, bahwa pakaian Raden Madyasta itu basah kuyup. Bahkan tentu sampai pakaian dalamnya pula.

Karena itu, maka iapun segera berkata “Tetapi bukankah lebih baik, Raden berganti pakaian dahulu.”

Dimana kakang Wismaya sekarang?” bertanya Raden Madyasta.

“Wismaya berada di serambi belakang, Raden.”

Baiklah. Aku akan berganti pakaian dahulu.” Raden Madyastapun segera masuk kedalam biliknya untuk berganti pakaian. Sementara Sasangka duduk di serambi gandok.

Ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Namun Raden Ajeng Rantamsari yang ketakutan karena peristiwa yang membawa kematian Rembana, serta tingkah laku pamannya, tidak tidur di biliknya sendiri. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari tidur bersama ibunya.

“Senang juga tidur bersama ibu“ desis Raden Ajeng Rantamsari “rasa-rasanya seperti masa kanak-kanak itu kembali lagi.”

“Tetapi sekarang kau bukan kanak-kanak lagi, Rantamsari.”

“Ya, ibu. Namun masa kanak-kanak itu memang dapat menimbulkan kerinduan. Alangkah senangnya tinggal di kadipaten Kateguhan saat itu, ibu. Hidup bermanja-manja dalam taman yang indah dengan beberapa orang dayang yang setia.”

“Kau tidak akan dapat kembali ke masa itu, Rantamsari. Tetapi bukan berarti bahwa kau tidak akan dapat menikmati kehidupan yang menyenangkan. Jika kita harus prihatin. sekarang, adalah sekedar pancadan untuk satu pencapaian. Yakinkan dirimu, Rantamsari, bahwa ibu akan berusaha untuk menemukan kebahagiaan di hari depanmu. Tentu saja kesenangan bagimu sekarang akan. jauh berbeda dengan kesenangan masa kanak-kanakmu.”

“Aku mengerti ibu.”

“Sekarang tidurlah.”

“Kadang-kadang aku merasa sulit untuk tidur.”

“Jangan merasa takut Rantamsari. Raden Madyasta serta kedua orang Senapati itu masih berada disini.”

“Ya, ibu. Tetapi ternyata kakang Rembana itu telah terbunuh pula di sini.”

“Mungkin angger Rembana itu menjadi lengah, Rantamsari. Ia mengira bahwa tidak akan ada bahaya apapun yang mengintainya disini.”

“Ya, ibu. Agaknya sekarang kakang Sasangka akan menjadi lebih berhati-hati.”

“Semuanya akan berhati-hati.” Rantamsari menarik nafas dalam-dalam.

Beberapa saat Rantamsari masih belum dapat tidur. Ketika ibunya kemudian berdiam diri dengan tarikan nafas yang teratur, maka Rantamsaripun memejamkan matanya pula. Rasa-rasanya memang hangat tidur bersama ibunya, sementara hujan masih luiun dengan derasnya.

Ketika malam berlalu, hujanpun telah berhenti. Di saat fajar menyingsing, langit kelihat eerah. Tidak ada selembar awanpun yang mengapung di kemerahan cahaya matahari pagi.

Raden Madyasta yang sudah mandi dan berbenah diri, duduk di serambi gandok. Seorang abdi telah menghidangkan minuman hangat bagi Raden Madyasta serta kedua orang Senapati muda yang berada di rumah itu.

Namun abdi itu telah menyampaikan pesan Raden Ayu Prawirayuda, bahwa Raden Ayu ingin berbicara dengan Raden Madyasta.

“Tentang apa ?” bertanya Raden Madyasta.

“Aku tidak tahu, Raden.”

“Baiklah. Aku akan menghadap bibi”

Ketika abdi itu meninggalkan Raden Madyasta, maka Raden Madyastapun memberitahukan kepada Wismaya dan Sasangka, bahwa ia akan menemui Raden Ayu Prawirayuda.

“Bibi memanggil aku?” bertanya Raden Madyasta ketika ia menemui bibinya di serambi belakang.

“Ya. Raden. marilah, duduk diruang dalam.”

“Sudahlah bibi, biarlah disini saja. Bukankah tidak ada bedanya.”

“Tetapi ruangan ini masih belum dibersihkan, ngger.”

“Tidak apa-apa bibi. Bukankah ruangan ini dan bahkan semua ruangan di rumah ini selalu nampak bersih dan terawat.”

“Ah, hanya sekedar menuruti selera Rantamsari.”

“Kangmbok Rantamsari ternyata mempunyai selera yang tinggi, bibi.”

Raden Ayu Prawirayuda tertawa.

“Ngger” berkata Raden Ayu Prawirayuda kemudian “sebenarnyalah aku menyesal kemarin, bahwa meskipun niatku bergurau dan menggoda angger, aku telah mengatakan bahwa angger pergi ke Panjer untuk menemui seorang gadis cantik. Semalam aku mulai merenunginya. Jangan-jangan guruanku itu membuat adimas Adipati Prangkusuma merenunginya.”

Raden Madyasta menarik nafas panjang. Baginya, Raden Madyasta itu mendapat kesempatan untuk menyampaikan penvesalannya atas keterangan bibinya itu.

Karena itu, maka Raden Madyasta itupun menjawab “Bibi. Ayahanda ternyata telah menjadi risau. Demikian aku datang, ayahanda langsung marah kepadaku.”

“Aku minta maaf, ngger. Aku benar-benar tidak memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Apa kata dimas Adipati?”

“Aku tidak pantas berhubungan dengan gadis desa anak seorang Demang itu.”

Raden Ayu Prawirayuda menundukkan wajahnya sambil berdesis “Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak berpikir sejauh itu, ngger. Kapan-kapan jika aku menghadap dimas Adipati, aku akan meneoba untuk meluruskan persoalannya.”

“Tidak usah bibi. Biarlah aku saja yang kapan-kapan berbicara kepada ayah.”

“Aku yang telah menyalakan api kerisauan di hati dimas Adipati, ngger. Karena itu, biarlah aku yang memadamkannya “

“Tidak bibi. Persoalannya ada padaku . Karena itu, hanya akulah yang dapat mencari pemecahan bersama ayahanda.”

Raden Ayu Prawirayuda menarik nafas dalam-dalam.. Katanya “Tetapi aku benar-benar minta maaf, ngger.”

“Sudahlah bibi. Ayah sudah terlanjur mempersoalkannya. Aku berharap bahwa pada suatu ketika aku mendapat kesempatan yang baik untuk menjelaskan persoalannya.”

“Ya, ngger - Raden Ayu Prawirayuda itu berhenti seje-nak. Namun kemudian iapun berkata “Tetapi ngger. Lepas dari kesalahan yang telah aku lakukan, aku ingin menasehatkan kepada angger, agar angger mendengarkan nasehat, petunjuk dan perintah-perintah ayahanda.”

Madyasta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab “Ya, bibi.”

Raden Ayu Prawirayuda menatap wajah Raden Madyasta sejenak. Raden Ayu itu tidak tahu, apakah Raden Madyasta benar-benar mengiakan nasehatnya atau sekedar membuatnya puas.

Namun Raden Madyasta itupun kemudian minta diri untuk pergi ke gandok, menemui Wismaya dan Sasangka.

“Apakah ada pesan dari Raden Ayu Prawirayuda, Raden?” bertanya Wismaya.

“Persoalan pribadiku, kakang. Agaknya sebagai orang tua, bibi merasa wajib untuk memberiku nasehat.”

Wismaya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Sementara itu, Sasangka sudah menduga, bahwa persoalannya tentu menyangkut gurauan Raden Ayu Prawirayuda tentang gadis Panjer itu.

Hari-haripun kemudian berlalu. Tidak ada peristiwa yang mengejutkan terjadi di rumah Raden Ayu Prawirayudaa itu, Raden Madyasta tidak lagi meninggalkan rumah itu sehari penuh untuk pergi ke Panjer atau keperluan apapun. Wicitra dapat saja setiap saat datang, dan bahkan mungkin membawa satu dua orang kawan untuk mengambil Rantamsari.

Sementara itu, perhatian Rantamsari ternyata mulai tertambat kepada Sasangka. Meskipun Sasangka mempunyai sifat dan pembawaan yang berbeda sekali dengan Rembana, namun setelah Sasangka melepaskan Rantamsari dari tangan Wicitra, maka Raden Ajeng Rantamsaripun merasa berhutang budi kepadanya.

Banyak waktu-waktu yang dilewatinya bersama Sasangka yang masih saja melakukan kerja sehari-hari di rumah Raden Ayu Prawirayuda, sebagaimana Wismaya masih juga sering menganyam kerajinan tangan dari bambu.

Hubungan Sasangka dengan Raden Ajeng Rantamsari agaknya telah menarik perhatian Wismaya. Wismaya masih teringat apa yang dikatakan Sasangka kepada Rembana, sebelum Rembana terbunuh.

Tetapi Wismaya masih menahan diri untuk mencampurinya.

Dalam pada itu, Raden Madyasta kadang-kadang didera pula oleh keinginan untuk pergi ke Panjer. Tetapi setiap kali Raden Madyasta menjadi bimbang. Jika saja pada saat ia pergi, terjadi sesuatu di rumah bibinya, maka persoalannya akan menjadi semakin rumit. Ayahandanya akan menjadi semakin marah, sehingga jalanpun akan dapat tertutup sama sekali.

Karena itu, maka Raden Madyastapun berusaha untuk menahan diri. Ia masih mempunyai satu keyakinan, bahwa masih ada jalan untuk membuka hati ayahandanya.

Namun Raden Madyasta itu terkejut ketika seorang anak muda datang ke rumah Raden Ayu Prawirayuda untuk menemui Raden Madyasta.

“Kau siapa Ki Sanak?” bertanya Wismaya yang menemui anak muda itu.

“Aku seorang kawannya. Aku akan berbicara dengan Madyasta langsung.”

Wismaya itu termangu-mangu sejenak. Namun sebelum ia bertanya lebih lanjut, terdengar suara Madyasta “Biarlah aku menemuinya, kakang.”

“Baik, Raden. Silahkan.”

Madyastapun kemudian turun ke halaman menemui anak muda itu.

“Siapakah kau, Ki Sanak? - bertanya Raden Madyasta.

“Aku datang dari Panjer, Madyasta.

“Dari Panjer? Kau anak muda dari Panjer.”

“Ya”

“Aku belum pernah mengenalmu. Ketika aku berada di Panjer, aku tidak pernah bertemu dengan kau.”

“Aku belum lama pulang ke Panjer.”

“O” Raden Madyasta mengangguk-angguk.

“Sekarang, apakah keperluanmu?”

“Aku diutus oleh saudara seperguruanku”

“Saudara seperguruanmu? Siapakah saudara seperguruanmu itu.”

“Ia juga anak muda dari Panjer. Namanya Saminta.”

“Saminta. Kau diutus apa?”

“Saminta ingin menemuimu.”

“Dimana ia sekarang? Kenapa ia tidak datang kemari saja bersamamu.”

“Tidak. Ia ingin berbicara dengan kau. Tetapi tidak dirumah ini.”

“Persoalan apa yang akan dibicarakannya?”

“Sebaiknya kau bertemu dan berbicara dengan Saminta sendiri sudah siap menemuinya.”

Raden Madyasta termangu-mangu sejenak. Namun Wismayalah yang bertanya “Kenapa orang itu tidak mau datang kemari ?”

“Samita ingin berbicara dengan Madyasta tanpa ada orang lain. Persoalannya adalah persoalan yang sangat pribadi, sehingga ia memilih tempat yang terpisah dari orang lain.”

“Kau sendiri bagaimana ?”

“Aku tidak akan mengikuti pembicaraan itu.”

Madyasta tidak segera dapat mengambil keputusan. Ia memang merasa bimbang, apakah anak muda itu berkata sejujurnya atau anak muda itu justru sudah memasang perangkap.

“Biarlah aku pergi bersama Raden “ berkata Wismaya.

Raden Madyasta memandang Wismaya dengan kerut di dahi. Namun iapun kemudian berkata “Kakang tetap tinggal di sini. Rumah ini.tidak dapat ditinggalkan.”

Wismayapun tanggap. Mungkin anak muda itu sekedar memancing agar Raden Madyasta dan para Senapati meninggalkan rumah ini. Pada saat yang demikian, akan dapat timbul bencana atas keluarga Raden Ayu Prawirayuda.

Namun untuk melepas Raden Madyasta sendiri, Wismaya juga merasa berkeberatan. Wismaya dan Madyasta belum mengenal orang itu, sehingga mereka tidak dapat langsung mem-percayainya.

“Saudara seperguruanku tidak mempunyai banyak waktu. Aku minta kau segera datang.”

“Siapa menurutmu kau ini, he ? Apakah kau kira kau dapat begitu saja memberikan perintah kepada Raden Madyasta ?“ geram Wismaya.

“Kau tidak usah turut campur. Persoalannya adalah antara saudara perguruanku dengan Raden Madyasta.”

Raden Madyasta memang tersinggung pula oleh sikap orang itu. Karena itu, maka Raden Madyasta itu justru menjawab “Aku tidak ingin datang sekarang. Jika saudara seperguruanmu itu tidak mempunyai waktu, biarlah ia datang kemari segera.”

“Ternyata benar dugaan saudara seperguruanku itu.”

“Apa yang diduganya.”

“Yang hamanya Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma adalah seorang pengecut.”

Dahi Madyasta berkerut. Sementara itu Wismaya bergeser maju. Namun Wismaya itu justru terkejut mendengar Raden Madyasta tertawa sambil berkata “Cara yang sudah tidak patut lagi dipergunakan sekarang untuk memaksakan kehendak. Kau sengaja menyinggung perasaanku agar aku memenuhi kemauanmu.”

“Maksudmu ?”

“Mungkin caramu itu dapai kau trapkan terhadap seseorang yang mempunyai harga diri setinggi awan di langit, namun yang jiwanya masih kekanak-kanakan. Tetapi kau tidak dapat memancingku dengan cara itu.”

“Kau memang seorang pengecut.”

“Ya. Aku memang seorang pengecut. Nah, sampaikan kepada saudara seperguruanmu, bahwa Madyasta, putra Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom adalah seorang pengecut.”

Anak muda itu menggeram “Kau harus pergi menemui saudara seperguruanku sekarang.”

“Sekehendakku. Kapan saja aku mau bertemu dengan saudara seperguruanmu itu. Tetapi aku malas pergi sekarang. Jika ia mau datang kemari, biarlah ia datang.”

“Kau akan menjebaknya.”

“Mungkin.”

“Iblis kau.”

“Sebut apa saja sekehendakmu. Tetapi aku tidak mem-punyai ikatan apa-apa dengan saudara seperguruanmu itu, sehingga ia tidak berhak memerintah aku, memanggil aku atau memaksa aku untuk memenuhi keinginannya. Jika ia ingin menyebut aku pengecut, penakut, iblis atau apa saja, aku tidak peduli.”

“Persetan kau Madyasta. Terserahlah kepadamu apakah kau akan datang atau tidak. Kakak seperguruanku menunggu di Bukit Sepikul, di sebelah Barat bulak sebelah. Di makam tua diantara dua buah bukit kecil itu.”

“Ya. Terserah kepadaku. Apakah aku akan datang atau tidak “

Anak muda itu menggeretakkan giginya. Namun dalam puncak kemarahannya anak muda itu berkata “Bagaimanapun juga saudara seperguruanku menunggumu. Ia tidak dapat melepaskan Rara Menur ketanganmu, meskipun kau anak seorang Adipati.”

“Rara Menur ?” wajah Madyasta menjadi tegang.

Anak muda itu justru melihat sentuhan perasaan Madyasta. Karena itu, maka ia berusaha untuk menghembusnya “Kau mengenal Rara Menur? Kau curi gadjs itu dari sisi saudara seperguruanku pada saat kami berguru. Sekarang kami sudah pulang. Saudara seperguruanku siap membuat perhitungan denganmu.”

Jantung Madyasta berdegup semakin keras.

Namun Wismayalah yang kemudian menyahut “Saudara seperguruanmu memang tidak tahu malu. Gadis itu mencintai Raden Madyasta. Karena itu, ia tidak perlu melakukan kerja sia-sia. Apa yang akan dilakukannya jika ia sudah bertemu dengan Raden Madyasta ?”

“Ia harus mengambilnya dengan cara seorang laki-laki.”

“Apa yang harus dilakukan oleh seorang laki-laki ?”

“Seharusnya seorang laki-laki tidak mencuri perempuan yang sudah menjadi milik orang lain. Jika ia memang menginginkannya, maka ia harus mengambilnya dengan beradu dada.“

Wismaya yang sudah dapat menyesuaikan diri dengan cara Raden Madyasta menanggapi sikap anak muda itu menjawab “Cara itu memang pernah dilakukan oleh orang-orang yang masih belum beradab. Perempuan dihargai seperti benda-benda mati yang tidak bernalar budi.“

“Kau tidak usah mencampuri persoalan ini. Pergilah.“

Sebenarnyalah darah Wismaya terasa bagaikan mendidih. Tetapi ia masih saja mempergunakan cara yang sudah ditempuh oleh Madyasta, meskipun jantung Madyasta sendiri hampir saja terbakar.

“Kenapa aku tidak boleh mencampuri persoalan ini, sedang kau juga turut campur?”

“Aku saudara seperguruannya.“

“Apa peduliku dengan saudara seperguruan? Pokoknya kau orang lain yang mencampuri persoalan ini seperti aku.“

“Persetan kau. Aku akan membuat perhitungan dengan kau kemudian.“

“Terserah saja kepadamu.“

“Aku tidak berkepentingan dengan kau“ lalu katanya kepada Madyasta “jadi kau tidak berani datang bersamaku, Madyasta?.“

Sebenarnyalah telah terjadi gejolak di dalam dada Madyasta. Tetapi ia masih berusaha menguasai dirinya. Karena itu, maka iapun menjawab “Terserah kau menyebutku. Aku akan datang jika aku sudah ingin datang.“

“Kau dapat datang dengan membawa seorang saksi. Aku akan menjadi saksi dari saudara seperguruanku.“

Madyasta menjawab seenaknya “ Terserah kepadaku.“

“Tetapi jika kau benar-benar seorang pengecut, kau dapat membawa sepasukan prajurit. Laporkan kepada ayahmu dan minta perliridungan kepadanya.“

Darah Raden Madyasta tersirap. Bahkan Wismaya hampir saja tidak dapat menahan diri lagi.

Namun anak muda itupun kemudian berkata “Sekali lagi dengar kata-kataku. Saudara seperguruanku menunggumu di bukit Sepikul.“

Namun Raden Madyasta dan Wismaya masih saja acuh tak acuh.

Sambil menggeram anak muda itupun segera meninggalkan Madyasta dan Wismaya.

Demikian orang itu beringsut, maka Madyastapun menggeram “ Aku akan menemuinya, kakang.“

“Aku akan pergi bersama Raden. Bukankah anak muda itu mengatakan bahwa Raden dapat membawa seorang saksi.“

Tetapi aku mencemaskan keluarga ini, kakang. Mungkin yang dilakukan oleh anak muda itu sekedar memancing agar kita pergi meninggalkan rumah ini. Kemudian paman Wicitra itu datang untuk mengambil kangmbok Rantamsari. Jika itu terjadi, alangkah marahnya ayahanda. Apalagi persoalan yang memancing kita keluar dari rumah itu adalah persoalan perempuan. Persoalan gadis Panjer yang bagi ayahanda merapakan ceritera yang kurang menarik.“

“Apakah Raden akan pergi sendiri ?“

“Menilik sikap dan kata-katanya, anak muda itu dan mudah-mudahan juga saudara seperguruannya, adalah seorang yang sangat menjunjung harga diri, sehingga mereka tidak akan berbuat curang dan licik.“

“Tetapi kadang-kadang apa yang kita lihat pada gelar lahiriahnya, berbeda dengan apa yang tidak kasat mata.“

“Aku mengerti, kakang.“

“Karena itu, jangan pergi sendiri.“

Madyasta termangu-mangu sejenak. Sementara Wismayapun berkata “Aku akan berbicara dengan Sasangka. Ia berada di belakang. Mungkin ia tidak berkeberatan berada di rumah ini sendiri pada saat kita pergi.“

“Kakang Sasangka seorang diri ?“

“Ya.”

“Aku tetap mencemaskan keluarga ini.“

Wismaya menarik nafas panjang. Ia mengerti kecemasan Raden Madyasta. Memang mungkin saja anak muda itu sekedar menjadi umpan untuk memancing para pengawal di rumah itu keluar.

Namun tiba-tiba saja Madyasta berkata “ Bagaimana dengan Wignyana ?“

“Maksud Raden ?“

“Aku akan pergi bersama Wignyana ke Bukit Sepikul. Sedangkan kakang Wismaya dan kakang Sasangka tetap berjaga-jaga di rumah itu.“

“Sebenarnya aku ingin pergi bersama Raden. Sebenarnya aku tersinggung oleh sikap anak muda yang datang atas nama saudara seperguruannya itu.”

“Biarlah nanti aku berbicara dengan Wignyana. Jika Wignyana tidak berkeberatan, biarlah ia berada disini selama kita pergi.”

“Baik, Raden.“

“Tetapi dapat saja terjadi Wignyana memilih untuk pergi bersamaku.“

“Jika demikian, apa boleh buat.“

“Nah, kakang. Aku minta tolong kepadamu. Pergilah ke kadipaten. Temui Wignyana. Tetapi ayahanda tidak perlu mengetahuinya. Pesankan itu kepada Wignyana.“

“Baik, Raden.“

“Ajak Wignyana kemari, Nanti kita akan membicarakan, siapakah yang akan pergi bersamaku.“

Wismayapun segera pergi ke kadipaten untuk menemui wignyana seperti yang dipesankan oleh Raden Madyasta.

Sementara itu, Raden Madyasta telah menemui Sasangka untuk memberitahukan persoalan yang sedang dihadapinya.

“Kenapa Raden tidak memanggil aku?“ Sasangka justru menyesal “seharusnya Raden tidak membiarkannya pergi. Kita akan dapat memaksanya berbicara, apa yang sesungguhnya sedang dilakukan. Apakah ia benar-benar datang atas nama-saudara seperguruannya, atau ia memang sedang memancing kita keluar dari rumah ini.“

“Aku akan pergi menemuinya. Menilik sikap anak muda itu, mereka tentu orang-orang yang sangai menjunjung harga diri. Mungkin mereka adalah anak-anak muda yang baru keluar dari sebuah perguruan, sehingga rasa-rasanya ingin meneoba kemampuan yang sudah dipelajarinya.“

“Belum tentu, Raden. Mungkin justru sebuah jebakan.“

“Karena itu, aku akan datang bersama seseorang. Mungkin dimas Wignyana. Tetapi mungkin juga kakang Wismaya.“

“Jika Raden menghendaki, aku bersedia pergi bersama Raden.“

“Sebaiknya kakang sasangka berada disini. Agaknya kakang Wismaya yang sudah tersinggung perasaannya itu, ingin bertemu lagi dengan anak muda yang tadi datang kemari.“

“Aku yang tidak langsung bertemu dengan anak itupun merasa tersinggung.“

“Jika aku pergi bersama kakang Wismaya sampai senja tidak kembali, kakang tahu apa yang harus kakang lakukan. Kakang memerlukan sekelompok prajurit. Sebagian untuk menjaga rumah ini, dan sebagian yang lain akan pergi bersama kakang Sasangka dan wignyana untuk mencari aku.“

“Baik, Raden.“

Raden Madyasta tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda berhenti di regol halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Ternyata Wignyana dan Wismaya datang dengan mengendarai kuda.

“Bukankah ayahanda tidak mengetahui, dimas?“ bertanya Madyasta kemudian.

“Tidak, kangmas. Kami menyelinap begitu saja. Derap kaki kuda tidak lagi menarik perhatian ayahanda. Setiap hari aku bermain-main dengan kuda-kudaku.”

Keempat orang anak muda itupun kemudian duduk di serambi gandok. Kepada adiknya, Raden Madyastapun mengemukakan persoalan yang dihadapinya.

“Kakang Wismaya sudah mengatakan serba sedikit. Karena itu, kami membawa dua ekor kuda. Biarlah kita berkuda ke Bukit Sepikul. Bukankah Bukit Sepikul letaknya agak jauh?”

“Tetapi Raden“ berkata Wismaya “bukankah aku mohon, agar aku sajalah yang pergi bersama Raden Madyasta.”

“Kenapa harus kakang Wismaya? Aku akan pergi menjadi saksi.”

“Tetapi orang itu sudah menyinggung perasaanku, Raden. Jika benar apa yang akan dikatakan-nya, ia akan menantangku.”

Raden Wignyana mengerutkah dahinya. Dipandanginya kakaknya yang juga termangu-mangu. Namun Raden Wignyana itupun kemudian bertanya

“Jika kakang Wismaya pergi, aku harus tinggal di rumah ini?”

“Keadaan yang khusus“ sahut Wismaya. Wignyana nampaknya menjadi bimbang. Sementara

Wismaya berkata pula “Sekali-sekali Raden menikmati tugas yang menjemukan ini. Biarlah kami menikmati sedikit perubahan suasana.”

“Baiklah“ berkata Raden Wignyana “aku akan berada disini bersama kakang Sasangka.”

“Sebenarnya aku menjadi iri “ berkata Sasangka

“jika saja aku diperkenankan ikut.”

“Aku akan menuntaskan persoalanku dengan anak muda yang datang tadi “ berkata Wismaya.

“Jika demikian, pakai kudaku, kangmas. Kakang Wismaya sudah membawa seekor kuda dari kadipaten.”

“Terima kasih“ sahut Raden Madyasta sambil menepuk bahu adiknya. Katanya “Bibi tidak usah tahu. Semakin banyak yang bibi ketahui, hanya akan menyusahkan aku saja.”

“Baiklah, kangmas.”

Sejenak kemudian, maka Madyasta dan Wismaya telah meninggalkan rumah Raden Ayu Prawirayuda. Sementara itu Raden Wignyana telah menggantikan tugas mereka berada di rumah itu bersama Sasangka.

Namun Sasangka tidak lama menemani Raden Wignyana. Sejenak kemudian, maka Sasangka itupun berkata

“Silahkan Raden beristirahat di gandok. Aku akan pergi ke belakang. Bagian belakang rumah ini juga memerlukan pengawasan.

“Silahkan, kakang. Aku akan duduk disini saja agar bibi tidak mengetahuinya, bahwa aku berada disini.”

Untuk beberapa lama Raden Wignyana duduk di serambi gandok. Namun ia segera merasa jemu. Karena itu, maka Raden Wignyana itupun bangkit berdiri dan berjalan hilir mudik. Bahkan kemudian turun ke halaman dan melangkah kebelakang gandok melihat-lihat tanaman perdu yang dipelihara rapi. Beberapa batang pohon melinjo tampak berdiri berjajar beberapa langkah dari dinding halaman samping.

Namun Raden Wignyana itu melangkah semakin jauh ke belakang. Bahkan kemudian Radeh Wignyana itu sampai ke bagian belakang rumah yang terhitung besar itu lewat halaman samping.

Namun tiba-tiba saja Raden Wignyana itu meloncat kebalik sudut bagian belakang rumah yang besar itu. Di halaman belakang ia melhat Sasangka duduk di atas lincak bambu yang dibuat oleh Wismaya dibawah sebatang pohon jambu air yang rindang.

Tetapi Sasangka tidak sendiri. Ia duduk di lineak bambu itu bersama Raden Ajeng Rantamsari.

Raden Wignyana menarik nafas panjang. Namun seakan berjingkat itupun bergeser surut dan kemudian kembali ke serambi gandok.

Ketika Raden Wignyana itu duduk di serambi, rasa-rasanya nafasnya menjadi terengah-engah, seakan-akan Raden Wignyana itu baru saja berlari menjelajahi lereng-lereng bukit.

Dalam pada itu, Raden Madyasta dan Wismaya melarikan kudanya menuju ke Bukit Sepikul. Diantara dua buah bukit kecil terdapat sebuah kuburan tua yang terasing. Menurut anak muda yang datang menemuinya, anak muda Panjer yang bernama Saminta menunggunya di kuburan tua itu.

Sebenarnyalah Saminta berada di kuburan tua itu. Ketika saudara seperguruannya datang, maka dengan serta-merta Saminta itu bertanya “ Mana anak Adipati itu.”

“Anak itu gila, kakang“ jawab saudara seperguruannya.

“Kenapa ?”

Iapun segera meneeritakan tanggap Raden Madyasta tentang tantangan Saminta.

“Kau juga bodoh“ geram Saminta “jika kau katakan dengan baik-baik, ia tidak akan tersinggung dan bersikap seperti orang gila dengan membiarkan dirinya direndahkan. Sikap itu adalah sikap untuk sekedar membalas sakit hatinya karena sikapmu.”

“Aku memang berniat menyakiti hatinya, agar ia menjadi marah dan segera berlari kemari.”

“Tetapi yang terjadi adalah-sebaliknya.”

“Ya.”

“Meskipun demikian aku yakin bahwa ia akan datang.”

“Ia akan datang ? Tetapi ia tentu mengulur waktu atau membawa sekelompok prajurit untuk menangkap kita.”

“Tidak. Aku yakin ia datang sendiri atau dengan seorang saksi.”

“Ia benar-benar seorang pengecut, Ia sendiri tidak ingkar.”

“Kau yang dungu. Sudah aku katakan, sikapnya itu merupakan satu cara untuk membalas membuat kita marah, jengkel dan barangkali kehilangan gairah untuk berperang tanding.”

Saudara seperguruannya itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kita tunggu anak itu disini.”

“Sampai kapan.”

“Sampai senja.”

“Dan membiarkan kita ditangkap oleh sapasukan prajurit yang dibawanya.”

“Tidak. Tidak. Kau dengar? Ia akan datang tanpa prajurit. Aku yakin itu.”

Saudara seperguruannya itu menjadi gelisah. Agaknya ia masih saja curiga, bahwa Madyasta, anak seorang Adipati itu akan datang membawa pengawal-pengawalnya.
Tetapi Saminta masih saja duduk di tempatnya. Jika Saminta kemudian nampak gelisah, bukan karena ia menjadi ketakutan, bahwa sekelompok prajurit pengawal akan datang menangkapnya. Tetapi ia mulai menjadi gelisah, bahwa Madyasta benar-benar tidak akan datang.

Namun ketika .kegelisahan Saminta menjadi semakin bergejolak didalam dadanya, tiba-tiba saja terdengar derap kaki dua ekor kuda mendekati kuburan tua itu.

Dengan serta merta Samintapun bangkit berdiri. Ketika ia bergeser, ia melihat dua orang anak muda diatas punggung kuda yang kemudian berhenti di depan regol kuburan tua itu.

Dada Saminta menjadi berdebar-debar.

Diatas Punggung kuda, Raden Madyasta nampak berdebar-debar. Diatas punggung kuda, perang yang sedang memimpin pasukan segelar-sepapan. Sedang dibelakangnya, seorang anak muda yang gagah. Tubuhnya nampak kokoh kuat. Nampaknya anak muda itu adalah seorang prajurit yang tangguh.

“Itulah orangnya “ desis saudara seperguruan Saminta.

“Aku sudah mengira bahwa orang itulah yang bernama Raden Madyasta. Nah, bukankah perhitunganku benar, bahwa anak muda itu akan datang? Tidak dengan sekelompok prajurit pengawal yang akan menangkap kita.”

“Yang seorang itu adalah prajurit yang juga berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda.”

“Ia datang sebagai saksi. Bukankah kau mengatakan, bahwa Madyasta dapat membawa seorang saksi ?”

“Ya.”

Saminta menarik nafas panjang. Iapun kemudian melangkah keluar dari regol kuburan tua yang sudah menjadi asing itu. Kuburan yang nampak gelap ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar. Beberapa buah nisan dan cungkup sudah rusak dan bahkan runtuh. Sedangkan regolnyapun sudah mulai nampak miring.

Agaknya kuburan itu sudah tidak lagi dipergunakan. Tidak ada lagi orang yang menguburkan mayat keluarganya di kuburan tua itu.

Ketika Saminta sudah berdiri di luar regol kuburan tua itu, Raden Madyastapun menyapanya “Kaukah yang bernama Saminta?”

“Ya. Dan tentu kau anak Adipati yang sombong itu. Maksudku kaulah yang sombong, bukan Adipati Prangkusuma.”

“Apakah sudah menjadi ciri dari perguruanmu, bahwa pada saat bertemu dengan seseorang, dikenal atau tidak, kalian harus menyinggung perasaannya dan menyakiti hatinya ?”

“Tergantung dengan siapa aku berhadapan. Jika aku berhadapan dengan seorang yang baik, yang rendah hati dan tahu diri, maka akupun bersikap baik. Tetapi aku tidak akan bersikap baik dihadapan anak muda yang sombong, licik dan tidak tahu malu.”

Jantung Raden Madyasta berdegup semakin cepat. tetapi ia masih saja tetap mengendalikan dirinya. Karena itu, tanpa menunjukkan gejolak perasaannya, Raden Madyasta itupun berkata “Menurut saudara seperguruanmu, kau merasa kehilangan seorang perempuan.”

“Ya. Kau datang ke Panjer dengan memamerkan kelebihanmu menghancurkan segerombolan. pencuri ayam itu! Orang-orang Panjer yang tidak pernah melihat luasnya cakrawala memang akan terkagum-kagum. Mereka yang setiap hari bergumul dengan kambing untuk digembalakan atau mereka yang setiap hari merendam kakinya di lumpur, akan menganggap bahwa anak laki-laki Adipati Paranganom telah datang untuk menyelamatkan mereka. Tetapi bagi orang yang pernah melintas batas pandangan mata yang sempit itu, tidak akan menjadi dapat melakukannya. Mengusir dan menakut-nakuti sekelompok pencuri ayam itu.”

“Sekarang kau datang untuk menunjukkan bahwa kau baru turun dari sebuah perguruan.”

“Bukan itu. yang penting. Tetapi setelah kau dikagumi oleh rakyat Panjer, maka kau merasa berhak untuk berbuat apa saja. Apalagi kau anak seorang Adipati. Nah, dengan payung nama kebesaran ayahmu, kau ambil gadisku.”

“Rara Menur maksudmu?”

“Ya“

“Tetapi Rara Menur tidak pernah menyebut-nyebut nama Saminta. Iapun tidak pernah mengatakan bahwa hatinya pernah tertambat kepada seseorang.“

“Tentu saja. Kau datang dengan pakaian yang gemerlap diiringi oleh beberapa orang prajurit yang sangat menghormatimu. Bahkan Ki Demang Panjerpun menghormatimu pula seperti menghormati Kangjeng Adipati itu sendiri.”

“Saminta“ berkata Raden Madyasta kemudian “sekarang sudah bukan waktunya lagi untuk menganggap seorang perempuan seperti barang mati. Rara Menur adalah seorang yang hidup, yang mempunyai nalar budi. Rara Menurpun adalah seorang yang dapat mengemukakan perasaannya. Ia dapat niengatakan, apa yang diinginkannya. Karena itu, datanglah kepadanya. Bertanyalah, siapakah yang dipilihnya. Kau atau aku. Aku akan menghormati sikapnya. Jika ia memilih kau, Saminta, aku akan dengan senang hati menyingkir. Tetapi jika ia memilih aku, maka kaulah yang harus menepi.“

“Omong kosong“ geram Saminta aku tidak mau memakai cara seorang pengecut yang akan berlindung dibalik pengertian cinta sejati. Aku tidak menge nal cinta sejati. Sebagai laki-laki aku akan merebut perempuan yang aku ingini. Sekarang aku ingin Menur. Aku tidak tahu, apakah aku masih mengingininya tiga empat tahun mendatang. Jika waktunya aku melemparkan perempuan itu tiba, ambillah. Aku tidak akan peduli lagi.“

Gejolak yang dahsyat mengguncang dada Raden Madyasta. Tiba-tiba saja ia meloncat turun dari kudanya. Demikian pula Wismaya. Namun agaknya Wismaya yang sudah lebih tua dari Madyasta meskipun selisihnya tidak begitu banyak, juga karena Wismaya tidak langsung tersentuh oleh persoalannya, maka gejolak di dadanya tidak sedahsyat gejolak di dada Madyasta.

Karena itu ketika Raden Madyasta dlbakar oleh kemarahannya, Wismaya masih sempal berkata “Saminta. Perampok-perampok di Panjer, yang telah dihancurkan oleh Raden Madyasta, adalah mereka yang sering mengganggu ketenangan rakyat Panjer. Mereka merampok harta benda rakyat yang tidak berdaya. Ternyata kaupun seorang diantara mereka, meskipun sasaran perampokanmu berbeda.“

“Kau sebut aku perampok ?“

“Ya. Kau telah berusaha merampok hati seorang gadis.“

Saminta menggeram. Sementara itu, justru jantung Raden Madyasta menjadi sedikit tenang, sehingga ia sempat menyambung kata-kata Wismaya “Aku masih menghormati mereka yang merampok ayam, karena ayam itu tidak dapat bersikap. Tetapi seorang gadis mampu bersikap. Mampu memilih mana yang baik baginya dan mana yang tidak baik.“

“Itu tidak adil. Jika sekarang seseorang bertanya kepada Rara Menur, ia tentu akan memilihmu. Kau adalah anak seorang Adipati, sedangkan aku hanyalah anak orang kebanyakan.“

“Nah, kau sadari kekuranganmu ? Aku anak Adipati dan kau anak orang kebanyakan. Karena itu, seharusnya kau sadari keadaan itu, sehingga kau harus minggir.“

“Persetan dengan celotehmu itu Madyasta. Meskipun aku anak orang kebanyakan, tetapi aku merasa diriku laki-laki yang akan berhadapan dengan kau sebagai laki-laki juga.“

“Baiklah Saminta. Jika cara orang-orang yang masih belum mengenai peradaban ini yang kau pilih, aku tidak akan menghindar. Aku akan berusaha untuk masuk kedalam suasana liar sebagaimana seekor harimau betina diperebutkan oleh beberapa ekor harimau jantan.”

“Jangan berlindung dibalik peradaban. Apapun namanya, aku tentang kau bertempur untuk menunjukkan siapakah diantara kita yang terbaik bagi Rara Menur.“

Raden Madyasta tidak menjawab lagi. Tetapi iapun bergeser ketempat yang lebih lapang, diatas rerumputan yang kering.

Wismaya mengikat kudanya dan kuda Raden Madyasta pada sebatang pohon cangkring tidak jauh dari regol kuburan itu.

“Bersiaplah“ berkata Saminta “adik seperguruanku akan menjadi saksi.“

Raden Madyasta tidak menjawab. Namun iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ketika Saminta bergeser selangkah, Raden Madyastapun bergeser pula,

“Kau akan menyesal Madyasta. Aku telah menguasai ilmuku sampai tuntas. Kau tidak akan mampu menandinginya, siapapun kau.”

Raden Madyasta sama sekali tidak menjawab. Tetapi ketika Saminta meloncat menyerang, dengan tangkasnya Raden Madyasta mengelak.

Dengan demikian, maka pertempuran diantara kedua orang anak muda ia telah menyala. Dengan garang, Saminta yang merasa dirinya telah tuntas menuntut ilmu itu, menyerang Raden Madyasta seperti angin Prahara.

Raden Madyasta memang harus berloncat surut. Tetapi itu bukan berarti bahwa ia mengalami kesulitan dengan lawannya itu.

Dalam loncatan-loncatan pertama, Raden Madyasta masih ingin menjajagi kekuatan dan kemampuan lawannya. Karena itu, maka Raden Madyasta masih lebih banyak menyesuaikan dirinya.

Namun serangan-serangan Saminta itupun datang membadai. Ia tidak menyia-nyiakan waktu sekejappun. Jika Raden Madyasta berloncatan surut, maka Samintapun dengan cepat memburunya.

*****

Bab 25 - Perkelahian di Kuburan Tua

TERASA serangan-serangan Saminta memang menekan pertahanan Raden Madyasta. Bahkan Raden Madyasta masih saja berloncatan surut.

Dalam pada itu, Saminta yang merasa mampu mendesak Raden Madyasta itupun berkata lantang”Jika kau mengaku kalah Madyasta, aku tidak akan menyakitimu. Tetapi aku minta kita pergi menemui Rara Menur. Kau harus mengatakan kepadanya, bahwa kau tidak akan pernah menemuinya lagi.“

Dalam pada itu, Raden Madyasta merasa sudah cukup menjajagi kemampuan dan kekuatan Saminta. Mungkin Saminta memang belum sampai ke puncak kemampuannya, namun Raden Madyasta sudah dapat menduga, seberapa tinggi ilmu anak muda yang merasa sudah tuntas menyadap ilmu dari perguruannya itu.
Karena itu, maka Raden Madyastapun mulai meningkatkan kemampuannya. Ia tidak lagi ingin didesak terus oleh lawannya serta menjadi sasaran serangan-serangannya tanpa membalas.
Samintalah yang kemudian terkejut. Raden Madyasta yang ierdesak beberapa langkah surut itu, tiba-tiba saja tidak lagi berloncatan menghindari serangannya. Ketika Saminta meloncat sambil mengayunkan kakinya mendatar, Raden Madyasta tidak lagi meloncat beberapa langkah mundur. Tetapi Raden Madyasta hanya bergeser sedikit kesamping sambil memutar tubuhnya. Sementara itu, dengan tangkasnya Raden Madyasta menjulurkan tangannya menyerang kcarah perut Saminta.

Saminta terkejut Sejak pertempuran itu mulai, ia mengira bahwa Raden Madyasta tidak mempunyai kesempatan untuk menyerangnya kembali. Namun tiba-tiba saja tangannya telah menghantam perutnya.

Diluar sadarnya Saminta mengaduh tertahan. Perutnya terasa menjadi mual. Bahkan nafasnya terasa menjadi sesak.

Ketika kemudian kaki Madyasta terjulur, mengenai dadanya, maka Saminta itupun terdorong beberapa langkah dan bahkan kemudian, ia tidak mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan kerasnya Saminia kebanting ditanah. Hampir saja kepalanya membentur sebaiang pohon yang tumbuh di dekat kuburan tua itu.

"Namun Saminta itu dengan cepat melenting berdiri. la mencoba mengerahkan daya tahan tubuhnya untuk mengusir mual di perutnya serta sakit didadanya. Tetapi nafas Saminta masih saja terasa sesak.

“Iblis kuburan itu telah membantumu, Madyasta“ geram Saminta.

Madyasta tidak menjawab. Namun ia bergeser selangkah demi selangkah mendekati Saminta yang masih berusaha mengatur pernafasannya.

Sejenak Madyasta berdiri mematung dihadapan Saminta yang mempersiapkan dirinya. Seakan-akan Raden Madyasta sengaja memberi kesempatan kepada Saminta untuk memperbaiki keadaannya.

Saminta benar-benar tersinggung ketika Raden Madyasta bertanya”Apakah kau sudah siap Saminta.“

“Persetan dengan kesombonganmu. Kau akan menyesal. Tubuhmu dan namamu akan aku hancurkan disini.“

Raden Madyasta tidak menjawab. Selangkah ia maju sambil menyilangkan tangannya didadanya.

Samintalah yang kemudian meloncat menyerang. Sambil berputar ia mengayunkan kakinya mengarah ke kening. Namun dengan merendah, Madyasta luput dari sentuhan kaki Saminta.

Demikianlah pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit. Saminta dengan cepat meningkatkan ilmunya. Ia ingin segera menunjukkan kemenangannya dan memaksa Raden Madyasta untuk menyerah.

Tetapi ternyata bahwa Madyastapun meningkatkan kemampuannya pula. Selapis demi selapis, mengimbangi kemampuan Saminta yang merasa dirinya telah menuntaskan ilmunya itu.

Saminta yang marah itu tidak segera menyadari kenyataan. Ketika ia sampai pada puncak kemampuannya, maka rasa-rasanya ia akan segera menggulung jagad seisinya.

Tetapi dihadapan Madyasta, Saminta merasa membentur pertahanan yang tidak tertembus. Saminta merasakah seakan-akan ada sekat yang membatasinya, sehingga serangan-serangannya tidak pernah mampu menyusup keseberang sekat itu.

“Apakah Madyasta mempergunakan perisai gaib yang dapat melindunginya?“ bertanya Saminta didalam hatinya.

Sebenamya bahwa ilmu Raden Madyasta masih berada pada tataran yang lebih tinggi dari ilmu Saminia. Meskipun Saminta telah memuntaskan laku di perguruannya untuk menyadap ilmunya, namun Saminta masih belum mampu mengembangkannya. Bahkan Saminta masih terlalu terikat pada unsur-unsur gerak yang dipelajarinya. Ia masih belum berpengalaman menghadapi lawan yang sebenarnya.

Itulah sebabnya, maka beberapa saat kemudian, serangan-serangan Madyasta semakin sering mengenai tubuhnya, sehingga Samintalah yang semakin lama menjadi semakin terdesak.

Adik seperguruan Saminta melihat kesulitan yang dialami oleh saudara seperguruannya. Karena itu tanpa berpikir panjang, ia pun bergerak mendekati arena pertempuran.

Namun Wismaya pun bergerak pula sambil bertanya”Kau mau apa, he?“

“Akan aku bunuh Madyasta.“

“Mereka sedang berperang tanding. Jangan ganggu.“

“Tetapi Madyasta licik.“

“Apanya yang licik?“

Ia mempergunakan ilmu sihir.“ Wismaya tiba-tiba saja tertawa. Bahkan Raden Madyastapun meloncat mengambil jarak dan lawannya yang sudah mulai kelelahan sambil tertawa pula “Apa yang kau maksud dengan ilmu sihir?“

“Tidak ada orang yang dapat mengalahkan kakang Saminta jika ia tidak mempergunakan ilmu sihir. Kakang Saminta telah mewarisi ilmu perguruan sampai tuntas. Tidak ada orang yang dapat menyamai kemampuannya selain guru.”

“Ternyata kalian tidak saja sombong, tetapi lebih daripada itu, kalian adalah orang-orang dungu yang telah dengan mudah tertipu oleh orang yang mengaku guru dari perguruanmu itu.“

“Jangan menyinggung nama guruku. Aku akan membunuhmu“ geram Saminta.
Samintapun kemudian telah meloncat menyerang dengan mengerahkan segenap kemampuannya.

Tetapi Madyasta telah bersiap menghadapinya. Karena itu, maka serangan Saminta tidak menyentuh kulitnya.

Agaknya kemarahan Saminta telah sampai ke ubun-ubunnya. Saminta telah menarik kerisnya sambil berkata”Kau tidak akan dapat meninggalkan tempat ini. Kau akan mati dan berkubur di kuburan tua itu. Ayahmu tidak akan sempat menguburmu dipemakaman keluargamu yang menurut pendengaranku berada di puncak bukit Wukirsari.”

Madyasta meloncat surut sambil berkata”Jangan bermain-main dengan senjata. Jika karena kerismu aku terdesak, maka akupun akan menarik kerisku,pula.“

“Kau harus mengetahuinya, jika kerisku ini sudah keluar dari warangkanya, maka kerisku harus dibasahi dengan darah.“

“Apakah sejak kau meninggalkan Panjer, kau sudah bemiat untuk membunuhku.“

“Jika kau menyerah dan bersedia menemui Rara Menur dan mengatakan bahwa kau tidak akan pernah datang lagi kepadanya setelah aku pulang ke Panjer, maka aku tidak akan membunuhmu.“

“Jika aku tidak mau.“

“Aku akan membunuhmu.“

“Dihadapan saksi?“

“Saksiku tidak akan berbicara apa-apa. Sedangkan saksimu akan mati oleh saudara seperguruanku.“

“Begitu mudahnya?“

Saminta itupun kemudian berkata kepada adik seperguruannya”Bunuh orang itu. Jangan beri kesempatan ia lolos.“

Adik seperguruan Saminta itu tiba hba saja telah menarik kerisnya pula. Tanpa mengatakan apa apa, iapun segera menyerang Wismaya.
Tetapi Wismaya sudah bersiap. Hampir diluar sadarnya, Wismaya telah menarik pedangnya.

Adik seperguruan Saminta itu tertegun ketika tiba-tiba ujung pedang Wismaya itu teraeu ke dadanya.

“Senjataku lebih menguntungkan dari senjatamu, Ki Sanak“ berkata Wismaya.

“Persetan“ geram adik seperguruan Saminta”pedangmu hanya buatan pande besi di sudut-sudut pasar itu yang biasanya membuat parang pembelah kayu. Kerisku adalah keris buatan empu yang namanya dikenal oleh seluruh tanah ini ratusan tahun yang lalu.“

“Keris pusaka?“

“Ya.”

“Tetapi pedangku jauh lebih panjang dan kerismu.“ Orang itu tidak menghiraukatinya. lapun telah menyerang lagi dengan cepatnya. Kerisnya torjulur menggapai dada.

Wismaya bergeser surut sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya. Ketika terjadi benturan, maka Wismayapun merasakan. bahwa keris lawannya adalah keris yang baik.

Tetapi Wismaya adalah prajurit yang terlatih baik mempergunakan pedangnya. Karena itu, maka sejenak kemudian, adik seperguruan Saminta Itupun telah terdesak surut.

Sementara itu, Samintapun telah mengerahkan kemampuannya pula. Kerisnya berputar mengerikan. Keris yang bagaikan membara itu, sekall-sekali terayun menyambar kcarah lambung. Kemudian rerjulur lurus mematuk dada. Namun kemudian menebas kcarah leher.

Madyasta memang terdesak. Karena itu, maka ketika Saminta menyerangnya bagaikan angin pusaran, maka Raden Madyastapun telah meneabut kerisnya pula.

Ternyata keris Raden Madyasta telah menggetarkan dada Saminta pula. Namun
kemarahan Saminta telah mencengkam jantung sehingga ia tidak sempat berpikir bening.

Meskipun kemudian serangan Saminta itu datang beruntun seperti gelombang ombak lautan yang ditempa prahara, namun ujung kerisnya sama sekali tidak sempat menyentuh tubuh Raden Madyasta. Bahkan ketika pertempuran menjadi semakin cepat, ujung keris Madyastalah yang telah menggores di lengan Saminta.

“Sadari kelemahanmu, Saminta“ Raden Madyasta mencoba memperingatkan lawannya.

Tetapi Saminta justru berteriak”Aku akan membunuhmu. Jangan berbangga dengan kemenangan kecilmu.“

Betapapun juga usaha Raden Madyasta mengendalikan perasaannya, namun sikap Saminta benar-benar menyakitkan. Karena itu, maka akhimya Raden Madyastapun berniat untuk menghentikan perlawanan Saminta.

Pertempuran diantara keduanyapun berlangsung semakin sengit. Saminta tidak lagi mengekang dirinya. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Saminta berusaha untuk benar-benar membunuh Raden Madyasta.

Namun kemampuan Raden Madyasta memang lebih tinggi. Karena itu, maka justru keris Raden Madyastalah yang beberapa kali telah menyentuh tubuh Saminta.

Ketika Saminta meloncat sambil menjulurkan kerisnya mengarah ke jantung Raden Madyasta, maka Raden Madyasta masih sempat bergeser kesamping sambil memiringkan tubuhnya. Sebenarnyalah bahwa Raden Madyasta mendapat kesempatan untuk menghunjamkan kerisnya di lambung Saminta. Tetapi ketika keris itu menyentuh pakaian dan tembus menggores kulit. Raden Madyasta masih sempat menahan diri.

Namun Samintapun kemudian telah meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak.

Tetapi Saminta masih tidak melihat kenyataan itu. Bahkan ia merasa bahwa ia masih berhasil menghindar dari ujung keris Raden Madyasta.

“Saminta“ berkata Raden Madyasta kemudian”Jangan paksa aku membunuhmu. Pergilah. Jangan ganggu lagi Rara Menur.“

Saminta justru menggeretakkan giginya. Dengan garangnya ia meloncat menyerang. Kerisnya terayun mendatar menebas kcarah perut.

“Gila kau Saminta” geram Raden Mayasta.

Raden Madyasta itupun bergeser selangkah surut. Keris itu terayun dengan derasnya. Ujungnya hanya berjarak setebal daun dari perut Raden Madyasta. Bahkan baju Raden Madyasta telah terkoyak secengkang.

Namun demikian Raden Madyasta berdiri mapan, tiba-tiba saja ia melenting. Kakinya bergerak demikian cepatnya mengenai pergelangan langan Saminta.

Demikian kerasnya lendangan itu. sehingga keris di tangan Saminia itupun terlepas dan terpental beberapa langkah.

Saminta terkejut.tetapi ia tidak sempat meloncat menggapai kerisnya yang terjatuh, karena tiba-tiba saja ujung keris Raden Madyasta telah melekat di dadanya, di arah jantung.

Saminta surut selangkah Tetapi keris itu tidak terpisah dari dadanya

“Perintahkan saudara seperguruanmu untuk berhenti bertempur“ geram Raden Madyasta.

Tetapi Saminta justru bertanya”Kau takut kehilangan kawanmu?“

“Tidak. Aku tidak takut kehilangan kawanku. Tetapi aku tidak ingin kawanku itu membunuh. Jika saudara seperguruanmu itu keras kepala seperti kau, maka ia akan mati.“

“Kenapa tidak kau perintahkan kepada kawanmu itu saja untuk berhenti?“

“Jika kawanku berhenti bertempur, maka kawanmu akan membunuhnya.“

“Kalau saudara seperguruanku yang berhenti?“

“Kawanku bukan seorang pembunuh.“

Saminta masih ragu-ragu. Ia bahkan-berharap saudara seperguruannya itu dapat mengalahkan lawannya. Mati atau tidak mati. Kemudian saudara seperguruannya itu akan dapat membantunya.

Tetapi ternyata yang terjadi berbeda. Yang terdengar adalah keluhan tertahan saudara seperguruannya itu.

Diluar sadarnya, Saminta berpaling. Dilihatnya saudara seperguruannya itu terpelanting dan jatuh terlentang. Darah telah mewarnai baju di bagian dadanya.

“Kau bunuh saudaraku” teriak Saminta.

Namun ketika Saminta itu akan beranjak, ujung keris Raden Madyasta menekannya.

“Kau tidak akan kemana-mana.“

“Saudara seperguruanku itu.“

“Kau yang bertanggung jawab. Jika ia mati, maka kaulah yang bersalah. Aku sudah memberimu peringatan agar kau perintahkan saudara seperguruanmu itu berhenti. Tetapi kau tidak melakukannya.“

Wajah Saminta menjadi sangat tegang. Namun kemudian Raden Madyasta itupun bertanya” Kau akan melihatnya?“

“Ya.”

“Lihatlah. Apakah ia mati atau tidak.”

Tetapi saudara seperguruan Saminta itu masih bergerak. Bahkan berusaha untuk bangkit.

Samintapun segera berlari mendekatinya. Ketika ia berjongkok di sampingnya, maka saudara seperguruannya itu masih sesambat” Kakang. Dadaku.“

Wajah Saminta menjadi sangat tegang. Ketika ia berpaling kepada Wismaya, maka Wismayapun berkata” Aku sudah memperingatkannya. Tetapi ia keras kepala.“

“Ia tidak akan mati” berkata Raden Madyasta kemudian.

Saminta termangu-mangu sejenak. Darah masih mengalir dari tubuh saudara seperguruannya itu, sementara tubuhnya sendiri juga telah bernoda darah oleh goresan keris Raden Madyasta di beberapa tempat Namun luka di dada adik seperguruannya itu agak dalam.

Raden Madyasta telah mengambil sebuah bumbung kecil dari kantung ikat pinggangnya Diberikannya bumbung kecil itu kepada Saminta sambil berdesis ”Obati luka adik seperguruanmu itu serta lukamu sendiri.“

Saminta memandang Raden Madyasta dengan ragu-ragu.

“Aku tidak akan meracuni kalian berdua Jika aku ingin membunuh, maka aku akan membunuh.“

Seakan-akan diluar sadamya, Saminta telah mengulurkan tangannya untuk menerima bumbung kecil yang berisi serbuk obat itu.

“Saminta” berkata Raden Madyasta kemudian ”aku masih ingin bertanya kepadamu, apakah kita akan melanjutkan perkelahian ini atau tidak. Jika kau masih ingin melanjutkan perkelahian ini, maka aku tidak akan berkeberataa Tetapi jika kita mulai lagi , maka perkelahian ini akan berakhir dengan buruk sekali. Salah seorang dari kita akan mati.

Saminta menjadi ragu-ragu. bagaimanapun juga, ia tidak dapat mengingkari kenyataan, tubuhnyalah yung terluka. Bukan Raden Madyasta Sementara itu adik seperguruannya telah terluka pula didadanya

“Kau harus menjawab pertanyaanku, jika kau masih ingin meneruskan, aku akan melayanimui. Jika kau sudah merasa cukup, maka aku minta kau bernjanji untuk tidak mengganggu Rara Menur.

Saminta termangu-mangu sejenak

“Ketahuilah Saminta” berkata Raden Madyasta”kau agaknya memang sudah menyadap ilmu di perguruanmu sampai tuntas. Tetapi tataran disetiap perguruan memang berbeda. Aku tidak mengatakan bahwa bobot ilmu di perguruanmu rendah. Tetapi kau sendiri belum mampu mengembangkannya Kau kira demikian kau keluar dari sebuah perguruan, kau langsung dapat menghadapi kenyataan kerasnya dunia oleh kanuragan serta tidak terkalahkan?“

Jantung Saminta berdebaran. Tetapi ilmunya memang masih belum mampu mengimbangi Raden Madyasta

“Pulanglah. Tetapi sekali lagi kau harus berjanji tidak akan mengganggu Rara Menur. Jika kau mengganggunya, maka aku akan datang kepadamu dengan sepasukan prajurit Aku akan menangkapmu atas nama ayahanda Adipati Paranganom, karena kau sudah mengganggu ketenteraman hidup seseorang.“

Saminta masih tetap diam, sehingga Raden Madyasta itupun berkata ”Bangkitlah. Marilah kita teruskan perkelahian ini. Kau atau aku yang akan mati. Kita sudah bersepakat untuk menyelesaikan persoalan kita dengan cara seorang laki-laki. Bahkan kita sudah mengabaikan perasaan dan penalaran Rara Menur sendiri.“

Jantung Saminta berdegup semakin cepat. Sementara itu, Raden Madyastapun berkata selanjutnya”Tetapi seperti kau katakan, jika aku membunuhmu, maka akupun akan menghilangkan jejak. Kawanku juga akan membunuh saksimu, agar ia tidak dapat berceritera bahwa akulah yang telah membunuhmu, meskipun kita sudah sepakat untuk berperang tanding.“

Ternyata tantangan itu telah membuat hati Saminta menjadi kuncup. Karena itu, maka iapun berkata”Aku tidak ingin meneruskan perkelahian ini, Madyasta”

“Kenapa?“ Saminta terdiam.

“Jika kau merasa bahwa kau kalah, katakan bahwa kau menyerah. Tetapi jika kau merasa belum kalah, kita teruskan perkelahian ini.”

Saminta tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian berkata”Aku mengaku kalah.“

“Baik. Jika demikian, pulanglah. Bawa saudara seperguruanmu. Tetapi ingat, jangan ganggu Rara Menur. Kalau kau menantangku untuk membuat penyelesaian sebagai laki-laki, maka persoalannya sekarang tentu sudah selesai.“

“Baik, Madyasta.”

“Berjanjilah.“

“Aku berjanji.“

“Berjanji apa.“

“Berjanji untuk tidak mengganggu Rara Menur.“

“Aku percaya kata-kata seorang laki-laki. Sekali lagi aku peringatkan. Jika kau mengganggu Rara Menur, aku akan mempergunakan kuasaku sebagai seorang putera Adipati di Paranganom. Persoalan kita sebagai seorang laki-laki sudah selesai Persoalan yang timbul kemudian adalah tindak kejahatan.

“Aku mengerti Madyasta.“

Madyasta menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba saja terngiang kata-kata ayahandanya, Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom, bahwa Madyasta tidak dibenarkan untuk berhubungan dengan gadis Panjer yang hanya anak seorang Demang itu.

Terasa jantung Madyasta berdegup lebih cepat. Ia menjadi lebih tegang dari saat ia menghadapi Saminta yang menantangnya berkelahi itu.

Tiba-tiba saja Madyasta itupun berkata kepada Wismaya”Kakang, marilah kita kembali ke rumah bibi.“

“Marilah Raden” sahut Wismaya. Ketika Wismaya akan meninggalkan tempat itu, ia masih berkata kepada Saminta”obati luka saudara seperguruanmu. Pada saat obat itu ditaburkan, ia akan disengat rasa pedih di lukanya itu. Tetapi darahnya akan segera mampat”

Saminta tidak menjawab. Di tangannya masih digenggam bumbung kecil yang berisi serbuk obat

Sejenak kemudian, maka dua ekor kuda itupun berderap meninggalkan tempat itu. Semakin lama menjadi semakin jauh.

Saminta masih memandang debu yang mengepul di belakang kaki kuda yang berlari kencang itu. Ternyata harus mengalami kenyataan pahit. Meskipun ia merasa sudah tuntas menyadap ilmu kanuragan dari perguruannya, tetapi ketika ia benar-benar terjun di kerasnya dunia olah kanuragan, maka ia merasa bahwa ia masih terlalu kecil dibandingkan dengan orang-orang yang telah lebih dahulu terjun daripadanya
Saminta itu seperti terbangun dari mimpinya ketika ia mendengar saudara seperturuannya mengerang. Iapun segera mendekatinya

“Bagaimana dengan lukamu?“

“Sakitnya kakang.“

“Berbaringlah. Aku akan menaburkan obat ini di lukamu. Mula-mula akan terasa pedih. Tetapi obat ini akan memampatkan darah yang mengalir dari lukamu itu.“

Sementara itu, Raden Madyasta dan Wismaya yang melarikan kuda mereka seperti anak panah yang terlepas dari busurnya sudah menjadi semakin dekat dengan regol halaman rumah bibinya Karena itu, maka Raden Madyastapun memberikan isyarat kepada Wismaya untuk memperlambatnya

Beberapa saat kemudian, merekapun menghentikan kuda mereka dan menuntunnya masuk ke regol rumah Raden Ayu Prawirayuda

Namun Madyasta yang sengaja tidak memberi tahukan kepergiannya kepada bibinya itu menjadi gelisah ketika ia melihat bibinya berdiri di pendapa Dan bahkan kemudian melangkah menuruni tangga sambil bertanya ”Darimana ngger?”

Madyasta menjadi agak bingung. Namun kemudian iapun menjawab” Berputar-putar sebentar bibi Mencoba kuda dimas Wignyana yang baru.“

“Apakah angger Wignyana disini?“

“Ya, bibi. Ia baru saja datang memamerkan kudanya kepadaku. Lalu aku mencobanya bersama kakang Wismaya

“Angger Wignyana membawa dua ekor kuda?“

“Ya, bibi. Wignyana Ingin memamerkan kedua-duanya”

Untunglah, bahwa Wignyana yang sedangg berada di gandok itu mendengar pembicaraan itu, sehingga ia akan dapat menyesuaikannya jika bibinya bertanya kepadanya

Dalam pada itu, bibinya itupun bertanya” Dimana angger Wignyana sekarang?”

“Tadi dimas Wignyana ada digandok.” Sebenarnyalah Wignyanapun segera muncul di serambi gandok sambil bertanya” Bagaimana kangmas. Bukankah kuda itu kuda yang baik?”

“Ya dimas“ jawab Madyasta Lalu Madyasta itupun berkata kepada bibinya”Maaf bibi. Aku akan pergi ke serambi gandok.”

Raden Ayu Prawirayuda tidak menjawab. Tetapi ia justru bertanya kepada Raden Wignyana”Aku tidak tahu angger Wignyana ada disini”

“Aku belum lama bibi“ jawab Wignyana”aku hanya ingin menunjukkan kuda yang kemarin aku beli kepada kakangmas Madyasta Aku tidak ingin mengganggu bibi.”

“Baiklah, ngger. Silahkan. Aku akan pergi ke belakang.”

“Silahkan bibi” sahut Wignyana sambil mengangguk hormat.

Sepeninggal bibinya Wismayapun menambatkan kedua ekor kuda itu di sebatang pohon perdu di halaman.

“Apa yang sudah terjadi, kangmas?“ bertanya Wignyana demikian Madyasta duduk di serambi

“Anak yang baru saja menyelesaikan laku dimasa berguru. Demikian ia selesai dan tuntas, maka ia merasa bahwa tidak ada orang yang dapat mengimbangi kemampuannya Agaknya anak itu sengaja mencari lawan untuk menunjukkan kemampuannya yang menurut pendapamya tidak ada duanya di dunia selain gurunya”

“Apa yang kangmas lakukan terhadap orang itu?”

“Aku memaksanya mengakui, bahwa ia bukan orang terbaik didunia. Bahkan ilmunya itu tidak lebih dari sebutir pasir di luasnya pantai”

“Anak itu mengakuinya?”
“Ia harus melihat kenyataan itu.” Wignyana tersenyum. Katanya”Waktu kita pulang dari perguruan, rasa-rasanya ingin juga segera menunjukkan kelebihan kita kepada semua orang. Tetapi untunglah, bahwa guru telah membekali kita bukan saja kemampuan ilmu kanuragan, tetapi juga bekal pesan-pesan, bagaimana kita mengetrapkan kemampuan yang telah kita pelajari selama kita berguru.”

“Ya. Agaknya itulah yang dilupakan oleh guru Saminta. Semakin tinggi ilmu seseorang, tetapi tanpa dibekali pesan, untuk apa ilmu itu dimilikinya, maka akan dapat terjadi salah kedaden. Ilmu yang seharusnya bermanfaat bagi banyak orang itu, akan dapat menjadi sebaliknya Ilmu itu akan dapat menjadi racun bagi banyak orang.”

“Tetapi kangmas sudah meredamnya Mudah-mudahan pengalamannya mengetrapkan ilmunya yang pertama kali itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga baginya”

“Mudah-mudahan, dimas.”

Sementara itu, Wismaya yang tidak melihat Sasangka di Serambi itupun bertanya”Dimana Sasangka Raden.”

Tadi aku melihai Sasangka sedang bercengkerama”

“Bercengkerama?”

“Ya. Dengan kangmbok Rantamsari. Tetapi sudah sejak tadi aku melihamya, tidak lama setelah kangmas dan kakang Wismaya pergi. Entahlah sekarang. Sejak aku melihatnya, kakang Sasangka belum kembali ke gandok. Mungkin ia tertidur di lincak di halaman belakang. Agaknya kangmbok Rantamsari sudah melantunkan tembang yang lembut,”

Wismaya menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak menyahui lagi. Sedangkan Raden Madyasta nampak mengerutkan dahinya. Nampaknya pernyataan Wignyana itu menyentuh hatinya, meskipun ia tidak mengatakan apa-apa

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian, Wignyanapun berkata”Kangmas. Jika kangmas telah dapat menyelesaikan persoalan kangmas, ijinkan aku pulang ke kadipaten.”

Madyasta mengangguk-angguk Katanya kemudian”Baiklah dimas. Aku mengucapkan terima kasih. Biarlah kakang Wismaya mengantar dimas pulang.”

“Apakah aku harus diantar?”

“Maksudku bukan mengantar dimas yang ketakutan lewat bulak sempit disebelah. Tetapi mengembalikan kuda yang satu itu, agar dimas tidak usah harus menuntunnya”

Wignyana tertawa

Namun Wismayapun kemudian mengingatkan”Apakah Raden tidak minta diri kepada Raden Ayu Prawirayuda yang telah melihat Raden berada disini?”

“Sebaiknya kau minta diri, dimas.”

“Baiklah, kangmas. Tetapi besok atau lusa bibi tentu akan memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku berada disini tanpa menyatakan kehadiranku kepada bibi.”

“Jangan hiraukan itu.”

Wignyanapun kemudian mencari bibinya di longkangan. Tetapi ternyata bibinya berada di gladri belakang. Rantamsari yang juga berada di gladri, sedang sibuk membatik.

Raden Ayu Prawirayuda yang melihat kehadiran Wignyana di gladri segera bangkit berdiri sambil mempersilahkannya” Marilah ngger.”

“Aku hanya akan mohon diri, bibi.”

“Begitu tergesa-gesa. Baru disiapkan minuman bagi angger. Jika saja aku tahu angger sudah sejak tadi berada di gandok.”

“Terima kasih bibi. Seperti aku katakan, aku hanya ingin memamerkan kudaku yang baru kepada kangmas Madyasta Aku tidak sabar menunggu kangmas Madyasta datang di kadipaten.”

“Baiklah ngger. Salamku kepada dimas Adipati Prangkusuma”

Dada Raden Wignyana menjadi berdebar-debar. Agaknya bibinya dapat mempermasalahkan kehadirannya tanpa menyatakan diri kepada bibinya itu jika bibinya bertemu dengan ayahandanya. Tetapi apaboleh buat la sudah melakukannya

Karena itu, maka Raden Wignyana itupun menjawab”Baik, bibi Aku akan menyampaikannya kepada ayahanda“ lalu katanya kepada Rantamsari yang meletakkan cantingnya dan bangkit berdiri pula ”Aku minta diri kangmbok”

“Aku belum sempat menemuimu dimas.”

Hampir saja Wignyana mengatakan, bahwa ia tidak ingin mengganggu Rantamsari yang sedang bercengkerama dengan Sasangka, seorang Senapati muda yang bertugas di rumah itu. Tetapi niatnya diurungkan. Ia tidak ingin menimbulkan persoalan di rumah itu.

“Kapan-kapan aku akan berkunjung kemari. Bukan saja saat ayahanda memberikan perintah kepadaku untuk datang kemari. Tetapi aku akan menyisihkan waktuku untuk berada di sini sehari penuh. Tentu saja jika tidak mengganggu kangmbok.”

“Kenapa menggangguku?“ bertanya Rantamsari”aku senang jika dimas berkenan berada disini sehari penuh.”

Wignyana mengangguk hormat. Katanya”Terima kasih. Pada kesempatan lain aku akan datang.”

Demiklanlah, maka sejenak kemudian, Wignyanapun telah meninggalkaan rumah Raden Ayu Prawirayuda. Seperti yang dikatakan oleh Madyasta, maka Wismaya telah pergi bersamanya untuk mengembalikan kuda yang dibawanya

Sementara itu, Madyasta yang letih, duduk di serambi gandok. Sasangka agaknya masih dibelakang. Tetapi Madyasta tidak mencarinya.

Sebenarnyalah Sasangka masih berada di halaman belakang, Ketika Rantamsari di panggil oleh ibunya, maka Sasangka rasa-rasanya segan untuk meninggalkan tempatnya. Karena itu untuk beberapa saat ia masih duduk di tempatnya itu. Bahkan rasa-rasanya Sasangka masih mengharap agar Raden Ajeng Rantamsari kembali menemuinya

Tetapi Raden Ajeng Rantamsari kemudian tetap berada di gladri karena ibunya minta ia meneruskan membatik kain yang sudah dimulainya

“Jika tidak kau kerjakan, maka kain itu tidak akan selesai“ berkata ibunya

Sebenarnyalah bahwa Raden Ajeng Rantamsari memang ingin kembali ke halaman belakang. Tetapi ia merasa segan terhadap ibunya. Karena itu, maka akhirnya Raden Ajeng Rantamsari duduk saja dibelakang gawangan batiknya

Baru beberapa saat kemudian, Sasangka melangkah dengan segan menuju ke gandok. Baru ketika ia melihat Raden Madyasta sudah duduk di serambi, Sasangka itu dengan tergesa-gesa mendapatkannya

“Aku tidak tahu, bahwa Raden sudah kembali” berkata Sasangka sambil duduk di sebelah Raden Madyasta

“Kakang berada di halaman belakang?“ bertanya Madyasta

“Ya, Raden. Aku masih saja cemas, bahwa Raden Wicitra tiba-tiba saja muncul.“

“Ya Kakang harus semakin berhati-hati.“

“Tetapi bagaimana dengan persoalan yang Raden hadapi dengan orang yang menantang Raden itu?“

“Aku sudah memaksanya untuk menghentikan kegilaannya itu. Namaknya ia tidak lebih dari seorang anak yang merasa dirinya tidak terkalahkan setelah menyelesaikan laku di perguruannya“

“Sukurlah. Tetapi apakah anak itu jujur menurut Raden?”

“Aku kira ia bersungguh-sungguh. Pengalamannya masih terlalu sempit sehingga agaknya ia masih belum mempunyai banyak akal untuk mengelabui orang lain.“

”Mudah-mudahan ia benar-benar jujur.“

“Aku berharap begitu, kakang.“

“Tetapi dimana Raden Wignyana dan Wismaya?““Wignyana sudah pulang ke kadipaten. Sedangkan Wismaya pergi bersamanya untuk mengembalikan kuda yang dipakainya”

Sasangka mengangguk-angguk. Sementara Raden Madyastapun berkata pula”Maaf, bahwa dimas Wignyana agaknya tidak sempat minta diri kepada kakang Sasangka.”

“Tidak apa Raden. Mungkin Raden Wismaya agak tergesa-gesa Dan bukankah Raden Madyasta sendiri dan Wismaya tidak mengalami sesuatu? Maksudku, Raden dan Wis-maya baik-baik saja?“

“Ya. Kami baik-baik saja Mudah-mudahan anak itu tidak menimbulkan masalah lagi dibelakang hari. Mudah-mudahan ia tidak mengganggu Rara Menur sebagaimana dijanjikannya”

Sasangka termangu-mangu sejenak. Namum hampir diluar sadarnya iapun bertanya”Tetapi bagaimana dengan sikap KangjengAdipati?”

Wajah Raden Madyasta menegang sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas panjang iapun berkata”Entahlah. Aku belum dapat membayangkan, apa yang akan terjadi kemudian”

Sejenak kemudian, maka Raden Madyastapun pergi ke pakiwan. Di serambi gandok, Sasangka duduk berangan-angan. Tiba-tiba saja ia sampai pada suatu pertanyaan ”Jika Kangjeng Adipati melarang hubungan Raden Madyasta dengan gadis Panjer, apakah Kangjeng Adipati berniat menjodohkan Raden Madyasta dengan Raden Ajeng Rantamsari.?“

Jantung Sasangka terasa berdentang semakin keras. Wajah Raden Ajeng Rantamsari itu justru semakin terbayang di pelupuk malanya

Beberapa saat kemudian, Raden Madyastapun telah selesai mandi dan berbenah diri. Sementara itu, Wismayapun telah kembali pula dan kadipaten.

Malam Itu, setelah makan malam, maka Raden Madyastalah yang berada di serambi belakang. Raden Madyasta harus sangat berhati-hati. Jika orang yang membunuh Rembana itu masih saja berkeliaran di halaman rumah ilu, maka orang itu akan dapat merunduknya sebagaimana ia rnerunduk Rembana

Dalam pada itu, di serambi gandok, Sasangka duduk bersama Wismaya. Beberapa saat mereka saling berdiam diri dengan angan-angan mereka masing-masing. Wismaya masih memikirkan orang yang telah dilukainya di dekat kuburan tua itu. Namun menurut pendapatnya, anak muda itu tidak akan mati. Apalagi setelah obat yang diberikan oleh Raden Madyasta itu ditaburkan di lukanya itu.

Sementara itu, Sasangka rasa-rasanya bagaikan berada di dunia mimpi. Angan-angannya terbang jauh menembus batas langjt lapis ketujuh. Jika saja ia benar-benar dapat bersanding dengan Raden Ajeng Rantamsari.

Sasangka terkejut ketika tiba-tiba saja Wismaya itu berkata” Sasangka.Sebelumnya aku minta maaf. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.“

Sasangka mengerutkan dahinya. Wismaya telah, merusak angan-angannya. Rasa-rasanya Sasangka itu telah terlempar menukik dan jatuh dikehidupan nyata yang dijalaninya

“Apa yang ingin kau katakan, Wismaya?“

“Sekali lagi aku minta maaf sebelumnya.“

Jantung Sasangka mulai berdebaran.

“Sasangka. Aku ingin mengingatkanmu, apa yang pernah kau katakan kepada Rembana sebelum ia terbunuh.”

Sasangka terkejut Kata-kata Wismaya itu benar-benar telah menghempaskannya dari dunia angan-angannya.

Sebelum Wismaya berkata lebih jauh lagi, maka Sasangka-pun menyahut ”Sudahlah Wismaya Kita sudah sama-sama dewasa. Biarlah kita menempuh jalan kita sendiri-sendiri.“

“Sasangka. Sebagaimana yang kau katakan kepada Rembana, bahwa kita bukanlah sekedar kawan yang kebetulan bersama-sama menjalankan tugas. Tetapi hubungan kita lebih dari itu. Kita memasuki dunia pengabdian kita bersama-sama. Kita merangkak dari tataran terbawah di lingkungan keprajuritan bersama-sama. Sekarang kita bersama-sama pula berada disini dalam tugas yang khusus. Bukankah wajar jika aku menganggap bahwa hubungan kita lebih dari sekedar hubungan kerja”

“Terima kasih Wismaya. Aku juga merasa bahwa hubungan kita lebih dekat dari sekedar hubungan kerja. Meskipun demikian bukan berarti bahwa diantara kita tidak ada lagi batasnya”

“Aku mengerti, Sasangka. Tetapi seperti juga kau katakan kepada Rembana waktu itu, bahwa langkah yang diambilnya perlu dipertimbangkan lebih jauh lagi. Bukankah waktu itu kau bertanya kepada Rembana, siapakah Rembana itu dan siapakah Raden Ajeng Rantamsari itu.“

“Sudahlah, Wismaya. Kau tidak usah mengusik ketenanganku. Biarlah aku berada di jalanku sendiri.“

“Pada waktu itu, kau masih sempat berpikir bening. Kau masih melihat kemungkinan-kemungkinan yang pahit yang akan dapat terjadi atas Rembana dalam hubungannya dengan Raden Ajeng Rantamsari. Tetapi patut dipertanyakan, kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri sebagaimana kau katakan kepada Rembana.”

“Wismaya. Aku minta kau hentikan sesorahmu itu.“

“Bukan aku yang sesorah Sasangka. Tetapi kau sendiri. Aku hanya ingin mengingatkanmu isi sesorahmu kepada Rembana beberapa waktu yang lalu.“

“Akupun ingin mengingatkan kau Wismaya. Waktu itu kau tidak dengan tegas membenarkan sikapku. Waktu itu tersirat dari kata-katamu, bahwa Rembana berhak menentukan jalannya sendiri. Nah, sekarang akupun akan berkata sebagaimana tersirat dari kata-katamu waktu itu.“

Wismaya menarik nafas panjang. Dengan nada berat iapun berkata” Kita tinggal berdua disini Sasangka. Aku tidak ingin kawanku berkurang satu lagi.“

“Kau mengancamku?“

“Tidak. Sama sekali tidak. Bukan aku bermaksud menakut-nakutimu, apalagj mengancammu. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa Rembana kemudian terbunuh. Aku tidak tahu, apakah kematian Rembana itu ada hubungannya dengan ikatan yang dijalinnya dengan Raden Ajeng Rantamsari atau tidak.”

“Sudahlah Wismaya. Sekali lagi aku minta, hentikan pembicaraan ini. Persoalannya adalah persoalan yang sangat pribadi, sehingga kau memang tidak akan dapat mencampurinya, sebagaimana aku waktu itu tidak dapat mencampuri persoalan yang di-hadapi Rembana”

“Akupun ingin memperingatkan sekali lagi, bahwa Rembana kemudian terbunuh.”

“Apakah kau menuduhku, bahwa aku telah membunuh Rembana karena aku inginkan Raden Ajeng Rantamsari.”

“Tidak. Jangan salah mengartikan peringatanku itu. Yang ingin aku katakan, bahwa ada pihak lain yang memang menginginkan Raden Ajeng Rantamsari. Ia telah membunuh Rembana karena Rembana menjadi semakin akrab dengan Raden Ajeng Rantamsari itu. Jika sekarang kau menjadi akrab, maka bukankah bencana yang menimpa Rembana itu akan dapat menimpamu juga?”

“Jangan cemaskan aku, Wismaya. Asal tidak terjadi pengkhianatan, aku tidak akan terbunuh seperti Rembana”Sasangka itu berhenti sejenak. Lalu katanya pula”Ingat Wismaya, sejak kita belum berada disini. Sejak belum ada seorangpun yang berhubungan dengan Raden Ajeng Rantamsari, rumah ini sudah menjadi sasaran laku kejahatan. Justru karena itulah maka kita berada disini.”

Wismaya menarik nafas panjang. Dengan nada berat iapun berkata ”Aku sudah mencoba memperingatkanmu Sasangka Seandainya kau tidak akan mengalami nasib seperti Rembana, mungkin yang kau cemaskan akan terjadi pada Rembana waktu itu dapat juga terjadi atasmu.”

“Apa maksudmu?”

“Jika kau sudah terlalu dalam dicengkam oleh perasaanmu, namun tiba-tiba saja Raden Ajeng Kantanisari iiu direnggut dari hatimu justru karena kedudukannya sebagai anak seorang Adipati meskipun sudah wafat, kau akan tersiksa sekali.”

“Aku bukan seorang yang mencemaskan hari esok, Wismaya. Jika itu terjadi, maka aku akan berjuang unatuk mencegahnya. Sebagai seorang laki-laki, maka nyawaku akan menjadi taruhan.”

“Tetapi jika Raden Ajeng Rantamsari menerima kemungkinan itu dengan penuh kebanggaan, bahwa ia akan mendapatkan seorang laki-laki yang berderajat jauh lebih tinggi dari seorang Senapati kecil seperti kita?”

“Kenapa kau bayangkan masa depan itu seperti sisi gelap dunia ini, Wismaya Kenapa kau tidak membayangkan bahwa aku akan diterima dengan baik didalam keluarga Raden Ayu Prawirayuda? Bahkan direstui oleh Kangjeng Adipati Prangkusuma? Kenapa kau tidak membayangkan, bahwa Kangjeng Adipati akan memberiku hadiah seekor kuda yang tegar serta mengangkat aku menjadi seorang Rangga di kadipaten Parang Anom?”

Wismaya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih saja bergumam” Kau bermimpi, Sasangka”

“Ya Biarlah aku nikmati mimpiku. Jangan menggangguku sehingga aku akan terbangun serta mimpiku itu akan terlepas.”

Wismaya menarik nafas panjang. Terasa debar jantungnya memukul-mukul dinding dadanya. Namun Wismaya masih mencoba menahan diri. Ia sadar bahwa ia memang tidak berhak untuk mencampuri persoalan yang sangat pribadi itu.

Tetapi Wismaya sudah berusaha memperingatkannya. Jika terjadi sesuatu kelak, apakah peristiwa yang terjadi pada Rembana itu terulang, atau kelak Sasangka itu akan dihempaskan oleh kenyataan bahwa Raden Ajeng Rantamsari itu akan direnggut dari sisinya untuk diperbandingkan dengan seseorang yang dianggap memiliki derajat yang seimbang, ia sudah pernah memperingatkannya

Wismaya tidak lagi berkata apa-apa ketika kemudian Sasangka itu berdiri dan melangkah ke dalam kegelapan

Namun tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan”Apakah justru Sasangka sendiri yang telah menghabisi Rembana?”

Pertanyaan seperti itu memang pernah mengganggunya. Bahkan Wismayapun menangkap pertanyaan serupa tersirat dari kata-kata Raden Madyasta dan bahkan Raden Wignyana

Namun sementara itu, di dalam kegelapan, Sasangkapun bertanya kepada dirinya sendiri”Apakah sebenamya Wismaya sendiri mengingini Raden Ajeng Rantamsari sehingga ia menjadi sangat iri melihat aku menjadi semakin akrab dengan gadis itu?”

Sasangka tiba-tiba menggertakkan giginya sambil menggeram”Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mendapatkannya. Siapapun yang menghalangiku, akan aku singkirkan.”

Di serambi belakang, Raden Madyasta duduk sendiri. Ia bangkit berdiri ketika ia melihat bibinya datang mendekatinya

“Sendiri ngger?“ bertanya Raden Ayu Prawirayuda

“Ya, bibi. Kakang Wismaya dan kakang Sasangka ada di gandok.”

“Silahkan duduk ngger.”

Raden Madyastapun kemudian duduk kembali. Bahkan bibinyapun duduk pula disebelahnya.

“Dingin, ngger”

“Dingin bibi. Tetapi aku sudah terbiasa berada dalam segala cuaea”

Raden Ayu Prawirayuda tersenyum. Sementara itu Raden Madyastalah yang berkata” Bibi nanti kedinginan. Udara terasa lembab. Langit nampak gelap. Mungkin hujan akan turun”

“Ya Ngger. Angin basah bertiup semakin kencang.”

“Ya, bibi. Sebaiknya bibi berada didalam.”

“Sebenarnya aku tidak sampai hati membiarkan angger Madyasta kedinginan di serambi seperti ini.”

“Aku sudah terbiasa bibi. Seperti aku katakan, aku terbiasa berada di segala macam cuaea Bahkan kehujanan sekalipun. Di padepokan aku membiasakan diri berada di dinginnya malam, basah kuyup kehujanan, tetapi juga dipanggang diteriknya sinar matahari. Menahan haus dan lapar. Karena itu, bibi tidak usah memikirkan aku dan para Senapati. Dalam menjalankan tugas, kami tidak memilih tempat, waktu, suasana dan cuaea.”

“Tetapi jika ada kemungkinan yang lebih baik, bukankah tidak ada salahnya jika angger memilih?”

“Maksud bibi?”

“Angger tidak harus berada di serambi seperti ini. Angger dapat berada diruang dalam.”

Madyasta tersenyum. Katanya ”Lebih baik berada di sini bibi. Jika sesuatu terjadi, aku akan cepat bertindak”

“Tetapi menurut pendapatku, justru sangat berbahaya bagi angger. Disini angger dapat dilihat dari kegelapan. Jika ada orang bemiat buruk, orang itu dapat melihat angger dengan jelas. Tetapi sebaliknya angger tidak dapat melihatnya.”

“Aku tidak akan berada disini terus bibi. Aku akan turun pula ke halaman.”

“Tetapi bukankah sangat berbahaya bagi angger. Angger Rembana telah terbunuh tanpa sempat memberikan perlawanan.”

“Petaka itu memang telah terjadi padanya” desis Raden Madyasta”namun dengan demikian, aku akan menjadi lebih berhati-hati, bibi.”

“Raden, apakah salahnya jika Raden berada di dalam? Jika ada orang bermaksud jahat, sebagaimana yang pernah mereka lakukan, membunuh seekor kueing untuk menakut-nakuti kami, bukankah mereka akan masuk ke dalam. Jika mereka berada di luar, bukankah kita dapat mengabaikannya?”

“Bibi. Aku adalah bagian dari para prajurit yang ditugaskan oleh ayahanda di rumah ini. Karena itu, maka aku tidak dapat di pisahkan dari mereka.”

“Angger adalah putera Kangjeng Adipati di Parang Anom. Yang bahkan akan menggantikan kedudukan ayahandanya. Sedangkan mereka adalah prajurit sebagaimana prajurit-prajurit yang lain.”

“Aku sebagai seorang prajurit, tidak berbeda dengan mereka, bibi.”

Raden Ayu Prawirayuda menarik nafas panjang. Katanya; ”Angger memang seorang prajurit sejati.”

“Aku adalah satu diantara prajurit Paranganom.”

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk-angguk. Namun kemudian Raden Ayu itupun berkata ”Ngger. Mumpung ada waktu luang, aku ingin bertanya, apakah Dimas Adipati masih marah kepada Raden?”

Raden Madyasta menarik nafas panjang. Dengan nada rendah iapun menjawab “Tidak bibi. Ayahanda tidak marah lagi kepadaku.”

“Apakah dengan demikian berarti Dimas Adipati membiarkan hubungan angger Madyasta dengan gadis Panjer itu?”

“Kami belum pernah membicarakannya lagi, bibi.”

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk-angguk. Katanya”Ngger. Bagaimanapun juga sebaiknya angger mendengarkan nasehat orang tua. Sekaligus seorang Adipati yang memegang kuasa di kadipaten ini. Jika angger menentangnya, maka akibatnya akan dapat menjadi jauh sekali.”

Raden Madyasta menundukkan wajahnya

“Aku adalah bibimu, ngger. Aku merasa berkewajiban untuk memberi nasehat kepada angger Madyasta Apalagi persoalan sisihan adalah persoalan yang sangat rumit.”

“Ya, bibi” jawab Madyasta

“Angger adalah seorang anak muda yang tampan putera seorang Adipati yang sekaligus akan menggantikan kedudukannya. Karena itu, maka anggerpun harus berhati-hati memilih sisihan Gadis Panjer itu mungkin memang sangat menarik perhatian angger. Mungkin ia cantik dan lembut Tetapi gadis itu tidak lebih dari anak seorang Demang. Jika angger kehendaki, angger dapat mengambilnya menjadi garwa ampeyan.”

Terasa degup jantung Raden Madyasta menjadi semakin cepat Sebenarnya ia tidak ingin mendengar nasehat bibinya itu. Tetapi ia tidak dapat memaksa agar bibinya itu berhenti berbicara

Untuk beberapa saat Raden Ayu Prawirayuda itu masih menasehatinya. Raden Ayu itu memberi beberapa petunjuk tentang hubungan suami isteri. Tentang cinta dan sekedar nafsu.

Raden Madyasta hanya dapat mengangguk-angguk saja. Sekali-sekali ia mengiakannya. Dengan demikian Raden Madyasta berharap agar bibinya itu segera berhenti berbicara

Setelah beberapa lama Raden Ayu Prawirayuda itu duduk di serambi belakang bersama Raden Madyasta, maka kemudian Raden Ayu itupun berkata ”Semakin lama, malam terasa menjadi semakin dingin, ngger.”

“Bibi. Agaknya lebih baik bagi bibi untuk masuk saja keruang dalam. Angin malam akan dapat berakibat buruk bagi bibi.“

Raden Ayu Prawirayuda tersenyum. Katanya ”Akupun sudah sering menjalani laku prihatin, ngger. Bahkan aku pernah tidur tiga malam di pasareyan eyang.kakung.“

“Tetapi bukankah itu bibi lak-ukan waktu bibi masih muda.“

Raden Ayu Prawirayuda itu masih saja tersenyum sambil berkata”Aku sekarang memang sudah tua ngger.“

Dengan serta-merta Raden Madyasta menyahut ”Bukan itu maksudku bibi. Tetapi mungkin ketahanan tubuh bibi sudah rnenyusut”

“Sebenarnya masih banyak yang ingin aku sampaikan kepada angger. Justru karena aku bibi angger.“

“Terima kasih, bibi.“

“Jika saja angger bersedia duduk di ruang dalam. Rantamsari akan menyediakan minuman hangat bagi angger.”

“Terima kasih, bibi. Terima kasih biarlah kangmbok Rantamsari beristirahat.“

Raden Ayu Prawirayuda itupun kemudian bangkit berdiri. Dilayangkannya pandangan matanya ke kegelapan di halaman belakang. Sementara itu nyala lampu minyak di serambi itu bergoyang di sentuh angin.

“Selamat malam ngger.“

“Selamat malam, bibi.“

Ketika Raden Ayu Prawirayuda itu akan masuk ke ruang dalam, iapun masih berdesis”Kadang-kadang aku merasa bersalah, bahwa karena permohonanku, angger harus berjaga-jaga di serambi dalam dinginnya udara malam.“

Raden Madyasta tertawa. Katanya”Aku sudah ditempa untuk melakukan tugas seperti ini.“

“Berhati-hatilah, ngger.“

“Ya,bibi.”

Sejenak kemudian, Raden Ayu Prawirayuda itupun telah hilang di balik pintu yang kemudian tertutup rapat.

Raden Madyasta menarik nafas panjang. Iapun kemudian duduk kembali di amben kayu di serambi dibawah cahaya lampu minyak. Pandangan matanya terlempar menusuk ke kegelapan di halaman belakang yang terhitung luas itu.

***

Dalam pada itu, di malam yang semakin dalam, di rumah Ki Tumenggung Reksadrana telah kedatangan seorang tamu yang tidak diinginkan. Tetapi Ki Tumenggung yang sedang duduk-duduk bersama Sura Branggah itu tidak dapat menolaknya.

“Marilah, duduklah Raden Wicitra”

“Terima kasih, Ki Tumenggung. Ternyata kau ada disini Sura Branggah.“

“Sudah sejak senja tadi,Raden”

“Sudah agak lama kita tidak bertemu, Raden” berkata Ki Tumenggung Reksadrana kemudian.

“Ya. Sejak sebelum Sura Branggah menemui aku waktu itu.“

“Ya Waktu itu aku minta Raden datang menemui aku. Tetapi Raden tidak menjawab apa-apa”

“Aku sudah menjawab.“

“Menjawab apa?“

“Aku katakan kepada Sura Branggah bahwa pada suatu hari aku akan menemui Ki Tumenggung Reksadrana”

“Pada suatu hari. Bukankah jawaban itu tidak jelas?”

“Nah, pada suatu hari itu adalah sekarang. Aku sekarang datang menemui Ki Tumenggung Reksadrana”

“Raden datang ketika segala sesuatunya sudah berantakan. Ketika anakku sudah meninggal.“

“Aku baru mempunyai kesempatan sekarang, Ki Tumenggung. Tetapi aku kira kedatanganku belum teriambat”

“Apa yang akan Raden katakan sekarang?“

“Ternyata Senapati-senapati yang masih ingusan itu memiliki kemampuan yang tinggi.“

“Apa maksud Raden?“

“Aku kira berkelahi melawan Senapati muda yang berada di rumah kangmbok Prawirayuda itu tidak memerlukan tenaga dan waktu. Tetapi ternyata aku tidak berhasil membunuhnya”

Ki Tumenggung Reksadrana memandang Raden Wicitra dengan mata setengah terpejam. Dengan nada tinggi iapun berkata”Bukan senapati ingusan itu yang memiliki kemampuan tinggi. Tetapi Radenlah yang sama sekali tidak bertenaga“

“Ki Tumenggung. Kata-kata Ki Tumenggung itu menyinggung perasaanku.“

“Bukankah kenyataannya memang demikian.“

“Jangan berkata begitu Ki Tumenggung. Bagaimana jika aku menantangmu untuk memperbandingkan kemampuan kita.”

“Apakah alasan Raden menantangku?“

“Tidak ada alasannya Sekedar untuk membuktikan kata-kata Ki Tumenggung. Apakah aku memang tidak bertenaga”
“Kalau Raden memang ingin menjajagi kemampuan prajurit Kateguhan, aku sama sekali tidak berkeberatan.“

“Kita coba saja Ki Tumenggung.“

“Bagus. Dibelakang ada tempat untuk bermain binten. Meskipun aku sudah tua, tetapi aku masih akan sanggup mematahkan kaki Rade”

“Jangan sesumbar, Ki Tumenggung. Mari, kita coba saja.”

Ketika Raden Wicitra bangkit berdiri, maka Ki Tumeng-gungpun segera berdiri pula.

“Bagus. Kita peigi ke belakang”"geram Ki Tumenggung.

Namun tiba-tiba saja Sura Branggah itupun tertawa Katanya”Aku bukan seorang Tumenggung. Aku juga bukan keluarga berdarah biru. Tetapi aku tidak terlalu mudah untuk memuntahkan gejolak perasaanku. Bukankah seperti kanak-kanak yang berpapasan di jalan, saling berpandangan, kemudian berkelahi tanpa sebab?”

“Tetapi aku tidak mau direndahkan seperti itu Sura Branggah. Aku tidak mau dikatakan tidak bertenaga.”

“Sekarang silahkan Raden duduk. Silahkan mengatakan, apa yang akan Raden katakan sehingga Raden datang kemari.”

“Tetapi Ki Tumenggung nampaknya tidak mau mendengarkan”

“Begitu Ki Tumenggung?” bertanya Sura Branggah.

“Jika Raden Wicitra itu berbicara, tentunya aku akan mendengarkan. Tetapi jika Raden Wicitra ingin berkelahi, aku tidak berkeberatan”

Ketika Raden Wicitra bangkit lagi, Sura Branggah itupun menahannya sambil beikata”Sudahlah. Sekarang katakan saja maksud Raden datang kemari.”

Wicitra termangu-mangu, sementara Ki Tumenggungpun telah duduk pula.

“Nah, sekarang katakan Raden. Agaknya Ki Tumenggung sudah siap untuk mendengarkan”

Raden Wicitra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun beikata”Aku dengar Ki Tumenggung masih berniat untuk mengganggu ketentraman Paranganom.”

“Apa kepentingan Raden dengan ontran-ontran yang masih akan aku timbulkan di Paranganom itu?” bertanya Ki Tumenggung

Dahi Raden Wicitra berkerut Namun kemudian iapun menjawab”Aku memang mempunyai kepentingan, Ki Tumenggung”

“Kepentingan itulah yang aku tanyakan.”

“Kita dapat bekerja sama”

“Maksud Raden.”

“Apa yang Ki Tumenggung lakukan sekarang sebenarnya tanggung. Belum tentu bahwa yang membunuh putera Ki Tumenggung itu Rembana. Mungkin Sasangka, mungkin Wismaya atau bahkan Madyasta sendiri.”

“Aku tidak tahu arah bicara Raden.”

“Kita bekerja sama. Kita bunuh semuanya”

“Kami memang akan melakukannya Semua itu akan menjadi makanan kami. Tanpa kerja samapun kami akan dapat melakukannya”

“Tetapi sampai sekarang yang baru berhasil kau bunuh baru Rembana”

“Apa?”

“Bukankah kau belum terlalu tua, Ki Tumenggung. Tetapi pendengaranmu nampaknya sudah berkurang.”

“Kau mulai lagi, Raden.”

“Dengarlah baik-baik. Kalian tidak usah menyombongkan diri bahwa kalian akan membunuh para Senapati muda itu termasuk Madyasta. Jika kalian mampu, maka tentu sudah kalian lakukan. Ternyata sampai sekarang kau baru dapat membunuh seorang saja diantara mereka. Rembana.”

“O. Jadi Raden Wicitra datang kemari sekedar untuk menyombongkan diri, bahwa Raden sudah berhasil membunuh Rembana. Raden, aku menyesali keberhasilan Raden Aku berniat untuk mendapatkan semuanya. Aku ingin membunuh keempat Senapati muda itu. Tetapi Raden Wicitra sudah mencuri seorang diantara mereka.”

“Nanti dulu, Ki Tumenggung. Bukankah Ki Tumenggung, meskipun mungkin tidak dengan tangan sendiri, sudah berhasil membunuh Rembana? Sekarang aku menawarkan kerja sama untuk membunuh yang lain. Bahkan jika perlu, aku dapat memberikan imbalan kepada Sura Branggah dan kawan-kawannya yang mampu dihimpunnya lagi.”

“Raden tidak usah berputar-putar seperti itu untuk menyombongkan diri. Katakan saja bahwa Raden sudah membunuh Rembana. Raden ingin pengakuanku bahwa Raden orang yang berilmu tinggi tanpa tanding karena dapat membunuh Senapati ingusan itu. Sedangkan Senapati ingusan itu ternyata berilmu tinggi”

“Kenapa kau terlalu berprasangka Ki Tumenggung. Jika aku datang sekedar untuk menyombongkan diri, lalu apa gunanya? Apa keuntunganku dengan tindakan bodoh itu.”

“Lalu apa maksud Raden sebenarnya.”

“Sudah aku katakan berulang-ulang. Marilah bekerja sama membunuh para Senapati yang tersisa itu.”

Ki Tumenggung memandang Sura Branggah sejenak. Namun Sura Branggah itu menggelengkan kepalanya

“Raden” berkata Ki Tumenggung” sebaiknya kita tidak usah bekerja sama. Lakukan apa yang ingin Raden lakukan. Aku lakukan apa yang ingin aku lakukan.”

“Apakah keberatan Ki Tumenggung? Bukankah kita mempunyai sasaran yang sama meskipun dasar kepentingan kita berbeda”

“Terus-terang Raden, aku tidak percaya kepada Raden. Mungkin saja Raden dapat bekerja sama dengan kami untuk sesaat Namun setelah itu Raden berkhianat Raden memfitnah kami, sehingga kami ditangkap dan bahkan dihukum. Sedangkan Raden akan dapat menikmati hasilnya”

“Aku bukan jenis seorang pengkhianat”

“Sebaiknya kita bekerja sendiri-sendiri saja, Raden. Jika Raden ingin membunuh, bunuhlah jika mampu. Sementara itu, jika kami ingin melakukannya, biarlah kami melakukannya.”

“Jadi Ki Tumenggung tetap berkeberatan untuk bekerja sama meskipun aku sudah berjanji untuk menyediakan upah sekedarnya bagi Sura Branggah dan kelompoknya yang baru nanti?”

“Ya. Aku tetap berkeberatan.”

“Raden“ berkata Ki Sura Branggah kemudian”kenapa Raden harus berpikir macam-macam. Tidur sajalah di rumah. Tanpa kerja samapun sebenarnya akan tetap menguntungkan Raden. Raden tidur sajalah di rumah. Nanti para Senapati itu akan mati sendiri karena tangan kami, sehingga Raden justru tidak kehilangan upah, tidak kehilangan waktu dan tidak diperlukan keberanian apa-apa.”

Bab 26 - Gugurnya Lurah Sasangka

“Edan kau Sura Branggah. Aku ingin membunuh Sasangka dengan tanganku.”

“Kenapa tidak Raden lakukan?”

“Jika kita bekerja sama, kalian dapat menjerat para Senapati yang lain dalam pertempuran.”

“Nanti Raden kalah lagi. Nanti malah Raden yang mati.”

“Aku sumbat mulutmu dengan tumitkii ini Sura Branggah. Sebenarnya aku tidak kalah. Tetapi aku terlalu merendahkannya, sehingga aku telah kehilangan kesempatan yang pertama.”

“Bukankah Raden sendiri yang mengaiakan bahwa bagi Raden, para Senapati muda itu ilmunya ternyata tidak dapat Raden atasi.”

“Apakah aku berkata begitu?”

“Sekarang, apapun yang Raden katakan, kami tidak dapat bekerja sama dengan Raden.”

“Ki Tumenggung memang keras kepala.”

“Jangan berkata begitu Raden. Nanti aku benturkan kepalaku yang keras ini ke kepalamu.”

“Tetapi kau tidak dapat menolak, Ki Tumenggung.”

“Kenapa? Apakah Raden bermaksud mengancam?”

“Ya. Aku memang akan mengancam Ki Tumenggung. Jika Ki Tumenggung tetap tidak mau bekerja sama, maka aku akan membuka rahasia Ki Tumenggung.”

“Rahasia apa? Aku tidak mempunyai rahasia apa-apa.”

“Jangan memperbodoh orang Ki.Tumenggung. Rencanamu untuk tetap menimbulkan kekacauan dengan Paranganom tentu tidak disetujui oleh Kangjeng Adipati. Karena itu, jika Kangjeng Adipati mengetahui, maka kau tentu akan dihukum berat, karena yang kau lakukan ini akan dapat merendahkan nama Kangjeng Adipati.”

“Jadi Raden akan melaporkan rencanaku kepada Kangjeng Adipati?”

“Jika Ki Tumenggung tidak mau bekerja sama.”

“Raden tentu tidak akan berani melakukannya.”

“Kenapa aku tidak berani melakukannya? Aku akan mohon waktu untuk menghadap. Karena Kangjeng Adipati mempunyai persoalan khusus dengan kangmbok Prawirayuda, aku tentu akan diterima. Bahkan segera pada saat aku mengajukan permohonan. Kangjeng Adipati tentu mengira bahwa persoalannya menyangkut kangmbok Prawirayuda. Tetapi setelah aku menghadap, aku akan mengatakan bahwa ternyata Ki Tumenggung Reksadrana tidak tunduk kepada perintah Kangjeng Adipati. Ternyata Ki Tumenggung masih tetap berusaha untuk membuat kericuhan di Paranganom. Nah, saat itu juga Kangjeng Adipati akan memanggil Ki Tumenggung. Jika Ki Tumenggung menolak, maka Ki Tumenggung akan ditangkap. Jika tidak ada prajurit yang berani menangkap Ki Tumenggung, maka akulah yang akan mohon diperintahkan melakukannya dengan sekelompok prajurit pilihan. Ki Tumenggung akan diadili oleh Kangjeng Adipati pribadi. Ki Tumenggung akan dihukum gantung di alun-alun. Atau setidak-tidaknya Ki Tumenggung akan dihukum kerja paksa seumur hidup. Kaki Ki Tumenggung akan diikat dengan rantai bersama-sama dengan para gegedug kecu, brandal, begal dan sebagainya.”

Namun tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu tertawa berkepanjangan, sehingga Raden Wicitra menjadi terheran-heran. Bahkan Sura Branggahpun memandanginya dengan mulut ternganga.

“ Ada apa dengan Ki Tumenggung?” bertanya Sura Branggah didalam hatinya.

Namun sebenarnyalah bahwa Sura Branggah sendiri menjadi cemas. Jika Raden Wicitra benar-benar melaporkan-nya kepada Kangjeng Adipati, maka bukan hanya Ki Tumenggung yang ditangkap. Tetapi tentu dirinya juga akan ditangkap. Di gantung di alun-alun atau dihukum dengan kerja paksa seumur hidup.

Sura Branggah tidak akan merasa ngeri bercampur dengan para gegedug brandal, kecu dan begal, karena namanya cukup dikenal dan ditakuti. Tetapi Sura Branggah membayangkan bahwa sepanjang umumya ia tidak akan melihat lagi ramainya pasar Kliwon. Lezatnya nasi tumpang dengan telur pindang. Ia tidak lagi dikerubuti perempuan-perempuan cantik yang haus keping-keping uang yang dibawanya atau berbagai perhiasan emas dan permata hasil rampokannya.

Baru sejenak kemudian suara tertawa Ki Tumenggung itu mereda. Disela-sela suara tertawanya yang masih tersisa, iapun berkata”Raden memang jenis seorang pengkhianat. Seorang yang suka memfitnah.”

“Ini bukan fitnah. Bukankah yang terjadi sebenarnya memang demikian?”

“Baik, baik Raden. Yang terjadi sebenarnya memang demikian. Tetapi bukankah aku juga berhak untuk memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati?“

“Apa yang akan kau laporkan?“

Ki Tumenggung memandangi wajah Raden Wicitra yang tegang sambil tersenyum-senyum. Katanya”Raden. Sudah ada berapa macam benda-benda berharga di keputren yang Raden curi. Ketika Raden Ayu Prawirayuda masih tinggal di istana, jika Raden datang mengunjunginya, maka sepularig Raden dari keputren, Raden langsung pergi ke tukang tadah barang-barang berharga yang Raden curi dari keputren.” .

“Bohong. Kalau ini benar-benar fitnah“ Raden Wicitra hampir berteriak sambil bangkit dari tempat duduknya”apa maksud Ki Tumenggung dengan fitnah itu?“

“Jadi menurut Raden, apa yang aku katakan ini fitnah?“

“ Ya.”

“Raden kenal dengan Ki Citraprana, saudagar barang-barang kuno yang mempunyai nilai yang tinggi itu?“

“Apakah jika aku mengenalnya berani aku menjual barang-barang curian kepadanya?”

“Aku akan menangkap Ki Citraprana. Aku masih mempuyai wewenang sekarang ini, sebelum aku di rantai di penjara karena pengkhianatan Raden. Aku akan memaksanya berbicara dan berusaha menemukan bukti-bukti benda-benda berharga yang sekarang masih ada di rumahnya.“

Wajah Raden Wicitra menjadi pucat. Katanya” Kenapa kau menjadi dengki kepadaku? Itu adalah persoalanku dengan kangmbok Prawirayuda.“

“Benda-benda yang, kau curi bukan milik Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi milik Kangjeng Adipati. Nah, percaya atau tidak percaya, sekarang aku tahu, bahwa Raden sering mencuri di kadipaten. Jika aku mendorongnya dengan ujung jari kelingkingku saja, maka Kangjeng Adipati tentu akan menangkap Raden. Apalagi sekarang Raden Ayu Prawirayuda, kakang perempuan Raden yang dapat sedikit memberikan perlindungan kepada Raden itu sudah tidak ada di kadipaten.“

“Setan kau Tumenggung Reksadrana. Kaulah yang mempunyai tampang seorang penghianat.“

“Bukan hanya aku. Tetapi kita berdua. Kau dan aku sama-sama orang-orang licik. Bendanya aku adalah seorang yang cerdik. Sedangkan Raden adalah seorang pencuri yang bodoh.“

“Cukup.“

“Raden tidak usah berteriak. Sebaiknya Raden sekarang keluar dari rumahku.

“Persetan kau Ki Tumenggung. Kau akan menyesali sikapmu ini.“

“Kalau aku memang harus menyesal, biarlah aku menyesal.“

Wajah Raden Wicitra menjadi merah bagaikan membara. Namun betapapun kemarahannya membakar jantungnya, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Di rumah itu ada Sura Branggah. Jika ia berselisih dan bahkan kemudian harus berkelahi melawan Ki Tumenggung, maka Sura Branggah tidak akan tinggal diam. Iapun akan ikut melibatkan diri dan bahkan mungkin Sura Branggahlah yang akan membunuhnya dan kemudian melemparkan mayatnya di sungai sebelah. Baru besok orang-orang yang turun ke kali menemukan mayatnya itu.

Karena itu, maka dengan serta-merta Raden Wicitrapun meninggalkan rumah itu sambil bergeramang” Persoalan kita belum tuntas, Ki Tumenggung.“

Namun yang menyahut adalah Sura Branggah”Kaulah yang tidak lumrah, Raden. Gadis puteri Raden Ayu itu adalah kemanakan Raden sendiri. Kenapa Raden akan memaksa untuk mengambilnya sebagai istri.“

“Diam kau perampok buruk.“

Sura Branggah tertawa. Katanya”Seorang perampok masih memerlukan keberanian untuk menjalankan pekerjaannya. Tetapi tidak bagi seorang pencuri. Ia mengambil justru pada saat pemiliknya lengah dan tidak melihatnya.“

“Seorang pencuri jauh lebih berharga dari seorang perampok. Seorang pencuri harus memiliki ketrampilan yang tinggi. Selebihnya seorang pencuri adalah orang-orang yang lembut hati yang tidak menginginkan kekerasan, sehingga memungkinkan untuk jatuh korban. Seorang pencuri melakukan kekerasan hanya pada saat-saat ia tersudut. Karena itu, jika pada saatnya aku tersudut, maka aku juga akan melakukan kekerasan.“

“Kenapa tidak kau lakukan Raden? Apakah sekarang Raden belum tersudut?” bertanya Sura Branggah.

Kemarahan Raden Wicitra benar-benar telah membakar dadanya. Tetapi Raden Wicitra tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia memang agak merasa ngeri karena di rumah itu ada Ki Tumenggung Reksadrana serta Sura Branggah.

Karena itu, maka Raden Wicitra itupun segera meninggalkan rumah itu.

Ketika ia keluar dari pintu pringgitan, ia masih mendengar suara tertawa berkepanjangan. Agaknya Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggah masih saja mentertawakannya.

Raden Wicitra ternyata tidak mampu lagi menahan kemarahannya yang menggelegak. Karena itu, demikian ia turun ke halaman, maka iapun segera meraih batu sebesar kepalan tangannya.

Sejenak ia termangu-mangu. Tetapi suara tertawa yang lamat-lamat di ruang dalam Ki Tumenggung itu masih memanaskan darahnya.

Karena itu, maka Raden Wicitra itu telah melemparkan batu sebesar kepalan tangannya itu ke atap rumah Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung terkejut. Bersama Sura Branggah merekapun berlari keluar. Tetapi Raden Wicitra telah hilang dibalik pintu regol rumah Ki Tumenggung Reksadrana.

“Gila orang itu” geram Ki Tumenggung.

“Ternyata tingkahnya masih seperti kanak-kanak. Ia hanya berani melemparkan batu ke atas rumah.”

“Bukan itu yang aku pikirkan. Bahwa ia melemparkan batu itu adalah pertanda Wicitra hampir menjadi gila oleh kemarahannya. Karena itu, maka ia akan dapat berbuat apa saja untuk menghancurkan kita kelak.”

“Jika demikian, maka orang itu sangat berbahaya Ki Tumenggung.”

“Ya. Orang itu sangat berbahaya.”

“Jika demikian, kenapa orang itu tidak dilenyapkan saja

“Aku masih berpikir, bahwa ia akan dapat kita manfaatkan, Ia akan dapat menjadi sasaran tuduhan pembunuhan alas para Senapati di rumah Raden Ayu Prawirayuda justru karena Wicitra itu menjadi gila untuk mengambil kemanakannya sendiri menjadi isterinya.”

“Kenapa Ki Tumenggung menolak bekerja bersama?”

“Orang itu tentu berpikir seperti yang aku pikirkan. Ia berharap bahwa kitalah yang dituduh membunuh para Senapati di rumah itu untuk memberikan kesan kekacauan di Paranganom. Tetapi jika benar demikian, maka Kangjeng Adipati Yudapati sendiri yang akan menghabisi kita”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Aku memang ragu-ragu.”

“Jika demikian, kita lenyapkan saja orang itu. Habis perkara.”

“Kau akan melakukannya?”

“Mumpung belum jauh, Ki Tumenggung.”

“Terserah saja kepadamu.”

“Baik. Aku akan menyusulnya. Lidah orang itu tentu sangat berbisa.”

Ki Tumenggung mengangguk sambil berkata”Berhati-hatilah. Orang itu tentu licik licin dan tidak tahu malu. Ia akan dapat berbuat apa saja.“

“Baik, Ki Tumenggung.“

Sura Branggah itupun kemudian telah turun pula ke halaman. Dengan cepat ia keluar dari regol halaman menyusul Raden Wicitra yang telah menyusup kedalam kegelapan.

Namun Sura Branggah sudah menduga, kemana Raden Wicitra itu akan pergi. Raden Wicitra itu mempunyai seorang selir yang tinggal di padukuhan sebelah berantara dua bulak yang tidak terlalu panjang.

“Aku harus menyusulnya pada saat Raden Wicitra berada di bulak yang kedua itu lebih panjang sehingga jaraknya dari padukuhan disebelah menyebelah tidak terlalu dekat. Seandainya Raden Wicitra itu berteriak, suaranya tidak akan terdengar dari padukuhan.
Sebenarnya Sura Branggah sudah dapat melihat sosok Raden Wicitra sesaat sebelum ia memasuki padukuhan. Tetapi Sura Branggah membiarkannya saja. Dengan hati-hati ia terus mengikutinya sampai Raden Wicitra itu muncul dari gerbang padukuhan di sebelah lain dan memasuki bulak yang lebih panjang.

Ketika Raden Wicitra sampai di tengah-tengah bulak, maka Sura Branggahpun mempercepat langkahnya, sehingga jaraknyapun menjadi semakin dekat.

“Kenapa tergesa-gesa Raden“ sapa Sura Branggah ketika Raden Wicitra sampai di simpang empat di tengah tengah bulak itu.

Raden Wicitra terkejut. Iapun segera berhenti dan memutar tubuhnya.

Dalam keremangan malam Raden Wicitra itu melihat Sura Branggah berdiri beberapa langkah di hadapannya.

“Sura Branggah” desis Raden Wicitra.

“Ya. Raden.“

“Apakah kau menyusulku atau kau memang akan pergi searah dengan aku?“

“Aku memang sengaja menyusul Raden.“

“Apakah ada pesan dari Ki Tumenggung.“

“Tidak Raden. Tidak ada pesan apa-apa.“

“Jadi?“

“Keperluanku sendiri.“

“Keperluanmu sendiri.?“

“Ya”

“Keperluan apa?“

“Aku ingin membunuh Raden.“

“He?”Raden Wicitra terkejut sehingga sesaat ia tidak dapat berbicara apa-apa.

“Jangan menyesali nasib burukmu Raden. Kau merupakan ancaman bagi kami. Maksudku Ki Tumenggung Reksadrana serta aku dan gerombolanku yang baru akan aku susun kembali.“

“Kenapa aku kau anggap ancaman bagimu dan Ki Tumenggung?”

“Lidah Raden itu sangat tajam dan bahkan beracun. Karena itu, untuk mengamankan diri, Ki Tumenggung dan aku menganggap lebih baik jika Raden ditiadakan saja sehingga tidak akan mungkin dapat memfttnah kami. Tentang para Senapati di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu jangan dicemaskan. Kami akan membunuh mereka semuanya. Sayang bahwa seorang diantara mereka sudah mati.“

|”Nampaknya kau dan Ki Tumenggung Reksadrana sudah gila. Kau kira dengan membunuh aku, kalian dapat melakukan rencana kalian dengan baik? Sura Branggah. Ada atau tidak ada, aku tidak akan mempengaruhi rencanamu yang kau susun dengan Ki Tumenggung Reksadrana.“

“Kau tidak dapat membela diri lagi Raden. Sekarang sudah saatnya kau mati. Karena itu, kau harus mengikhlaskan nyawamu.“

Jantung Wicitra terasa berdegup semakin keras. Kemarahannya kepada Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggah masih belum mengendap. Kini Sura Branggah itu telah menantangnya.

Karena itu, maka Raden Wicitra itupun berkata” Sura Branggah. Jangan meremehkan orang lain. Kau kira aku silau melihat tampangmu serta gemetar mendengar namamu. Jika kau menang ingin menantangku, baiklah. Aku juga laki-laki seperti kau. Kau kira akan takut menghadapimu?”

“Aku tidak mengira bahwa Raden akan menjadi ketakutan Aku tahu bahwa Raden tentu akan menerima tantanganku.

“Bagus Sura Branggah. Jika demikian, kau akan aku yang akan mati disini.“

Sura Branggah tertawa pendek. Katanya”Jika memang demikian, bersiaplah Raden. Aku datang untuk membunuhmu. Hanya jika kau berhasil membunuhku sajalah maka kau akan selamat. Tetapi jika kau tidak berhasil membunuhku, maka kaulah yang akan mati.“

“Kita sama-sama laki-laki Sura Branggah. Meskipun kau pemimpin brandal yang namamu menakuikan, tetapi jangan bermimpi akan dapat mengalahkan aku.“
“Bersiaplah untuk mati Raden.“ /

Raden Wicitra menggeram. Namun iapun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Sura Branggahpun segera meloncat menyerang. Tanganya terjulur menggapai kearah dada. Namun Raden Wicitra menangkis sambil meloncat kesamping.

Dernikdanlah, maka keduanyapun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Ternyata tidak seperti yang diduga oleh Sura Branggah, bahwa Raden Wicitra akan dapat dengan mudah dikalahkannya. Tetapi ternyata bahwa Raden Wicitra juga seorang yang tangkas.
Raden Wicitra tidak hanya sekedar mampu mengelak dan berloncatan surut. Tetapi dengan garang Raden Wicitrapun telah membalas menyerang.

Dengan demikian, maka telah terjadi benturan-benturan antara dua kekuatan yang ternyata seimbang Sehingga keduanya berganti-ganti harus bergeser surut.

“Ternyata orang ini juga mempunyai kemampuan yang tinggi” berkata Sura Branggah didalam hatinya.

Sementara itu, Raden Wicitrapun harus mengakui kenyataan yang dihadapinya, bahwa Sura Branggah memiliki kekuatan yang besar serta ketahanan tubuh yang tinggi.

Dengan demikian pertempuran ini semakin menjadi semakin seru. Keduanya saling menyerang dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemumpuan mereka

Ketika kaki Raden Wicitra itu menyambar dada Sura Branggah, maka Sura Branggahpun telah terdorong beberapa langkah surut. Dengan cepat Raden Wicitra memburunya. Dengan loneatan panjang, maka sekuli lagi kaki Raden Wicitra terayun rnendatar, justru menyambar kening Sura Branggah.

Sura Branggah tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya. Tubuhnyapuh terlempai dan terguling jatuh menimpa tanggul parit.

Tetapi dengan cepat Sura Branggah melenting bangkit. Ketika Raden Wicitra meloncat mendekatinya, Sura Branggahlah justru menyongsongnya. Sura Branggahlah yang mendahului menyerang Raden Wicitra. Tangannya tetap menghantam perut.

Raden Wicitra mengaduh tertahan. Diluar sadarnya Raden Wicitra itu membongkok sambil memegangi perutnya dengan kedua belah tangannya.

Pada saat itu Sura Branggah dengan cepat menekan kepala Raden Wicitra serta membentumya dengan lututnya.

Sekali lagi Raden Wicitra mengaduh. Tetapi ia tidak membiarkan kepalanya sekali lagi dibenturkan ke lutut Sura Branggah. Karena itu, maka iapun segera menggeliat. Raden Wicitra justru telah menjatuhkan dirinya berguling beberapa kali untuk mengambil jarak.
Sura Branggah yang marah dengan cepat meloncat menerkam. Kedua tangannya terjulur Turus menggapai leher Raden Wicitra.

Tetapi tubuh Sura Branggah justru menerpa kedua kaki Raden Wicitra yang merapat. Ketika kedua kaki itu dihentakkannya, maka Sura Branggah telah teriempar beberapa langkah. Sekali lagi Sura Branggah terpelanting jatuh menimpa tanggul parit.

Sekejap kemudian, keduanya telah meloncat bangkit berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Keduanyapun kemudian bergeser beberapa langkah. Kepala Raden Wicitra yang terantuk lutut Sura Branggah masih terasa pening. Perutnyapun masih mual. Sementara itu, punggung Sura Branggahpun terasa nyeri setelah dua kali menimpa tanggul parit di pinggir jalan.

Namun keduanya berusaha untuk mengatasinya dengan mengerahkan daya tahan masing-masing.

“Tubuhmu liat juga Raden” geram Sura Branggah.

“Setan kau Sura Branggah. Ternyata tulang-tulangmu liat juga. Tetapi jangan mirnpi kau dapat keluar dengan selamat. Besok orang-orang yang lewat akan menemukan tubuh gegedug brandal yang ditakuti itu terbaring di simpang empat ini. Tetapi itu sudah nasibmu. Kau sendirilah yang datang kepadaku untuk mengantarkan nyawamu.”

“Mulutmu sajalah yang besar Raden. Tetapi tenagamu tidak lebih besar dari tenaga seorang pepempuan tua sakit-sakitan.”

“Tetapi kau tidak dapat menahannya. Dengan mudah aku melemparkanmu menghantam tanggul parti itu.

Sura Branggah tidak menjawab lagi, Dengan garangnya Sura Branggah telah meloncat menyerang

Pertempuran diantara keduanya segera menyala lagi. Keduanya berloncatan dengan cepat, melingkar lingkar di gelapnya malam. Mereka saling menyerang dan saling menghindar. Benturan-benturan terjadi semakin sering. Serangan-seranganpun semakin sering pula mengenai sasarannya.

Setelah mengerahkan tenaga dan kemampuan mereka beberapa lama, maka nafas merekapun mulai memburu di lubang hidung mereka. Keringatpun bagaikan diperas dari tubuh mereka. Pakaian mereka telah basah kuyup dilekati debu yang semakin tebal.

Namun tidak segera dapat diketahui, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu.

Akhimya Wicitra merasa bahwa tidak ada gunanya untuk bertempur terus. Wicitrapun meragukan kemampuannya sendiri untuk dapat mengalahkan Sura Branggah yang bertempur semakin kasar. Dan bahkan menjadi buas dan liar.

Meskipun demikian, Wicitrapun meragukan kemampuan Sura Branggah, bahwa ia akan dapat mengalahkannya.

Sebenarnyalah, bahwa beberapa saat kemudian, tenaga merekapun telah menjadi semakin menyusut. Ketika Sura Branggah terpelanting jatuh, maka ia memerlukan waktu beberapa saat untuk bangkit. Tetapi Wicitrapun tidak mampu lagi untuk mendekatinya dengan cepat untuk menyerang pada saat Sura Branggah bangkit dan belum bersiap menghadapi serangannya.

Namun Wicitrapun terdorong jatuh dan terjerembab ke dalam parit yang mengalir ketika serangannya tidak mengenai sasaran. Bahkan Sura Branggah sempat mendorongnya dengan sisa tenaganya.

Ketika Wicitra itu kemudian bangkit. maka iapun berkata”Tidak ada gunanya perkelahian ini diteruskan. Aku akan pergi. Pada kesempatan Iain, aku akan menikammu dengan kerisku ini.“

Sura Branggah termangu-mangu sejenak. Sura Branggah melihat keris di tangan Raden Wicitra. Karena itu. maka iapun telah menarik pisau belatinya.

Tetapi Raden Wicitra itu tidak meiiyerangnya. Tertatih-tatih Raden Wicitra itu justru melangkah menjauh samhil berkata”Kita cari kesempatan yang lebih baik. Sura Branggah. Aku akan benar-benar membunuhmu.“

“Kenapa tidak kita selesaikan sekarang saja Raden .” geram Sura Branggah.

“Tanganmu tidak lagi kuat menekankan pisaumu itu didadaku. Akupun sudah kehabisan tenaga untuk menikam jantungmu. Aku menyesal bahwa aku terlambat menarik kerisku.”

“Aku akan menunggu, Raden.“

“Bagus. Kapanpun saatnya kita akan menyelesaikan persoalan diantara kita ini. Setelah aku membunuhmu, maka aku akan membunuh Ki Tumenggung Reksadrana yang tamak itu.”

“Persetan dengan celotehmu itu.“

Raden Wicitrapun kemudian dengan langkah gontai meninggalkan simpang empat di bulak panjang itu. Sementara Sura Branggahpun tidak mengejarnya. Sura Branggah sendiri sudah merasa kehabisan tenaga, Sehingga seandainya mereka bertempur terus, maka mereka tentu hanya akan saling melukai. Tubuh mereka akan terkapar di simpang ampat itu. Jika besok mereka diketemukan oleh orang lewat, maka mereka ternyata masih belum mati.

“Ternyata anak iblis itu mampu mempertahankan hidupnya” geram Sura Branggah.

Sementara itu, Raden Wicitrapun melangkah semakin lama semakin jauh menusuk masuk ke dalam gelapnya malam.

Sejenak kemudian, simpang empat itu sudah menjadi lengang. Sura Branggah masih berada di simpang empat itu, duduk katas tanggul parit yang basah.

Namun sejenak kemudian, Sura Branggah yang letih itupun bangkit berdiri. Kakinya terasa menjadi sangat berat ketika ia melangkah untuk kembali ke rumah Ki Tumenggung Reksadrana.

Di dini hari, Sura Branggah itu telah berada di rumah Ki Tumenggung Reksadrana. Sura Branggah duduk di lantai. Di bawah cahaya lampu minyak ia melihat noda-noda darah pada pakaiannya.

Ternyata di tubuhnya terdapat goresan-goresan luka. Ketika ia terjatuh menimpa tanggul parit serta beberapa kali tubuhnya terdorong dan tersandar pada pohon turi yang tumbuh di pinggir jalan, agaknya batu-batu padas, serta kulit batang turi yang kasar itu telah melukai kulilnya.

Ki Tumenggung Reksadrana yang berjalan hilir mudik diruang itu dengan geram bertanya”Jadi kau gagal membunuh iblis yang lidahnya bercabang itu?“

“Aku mohon maaf, Ki Tumenggung. Ternyata nyawa Raden Wicitra itu liat juga. Ia mampu mempertahankan diri untuk beberapa lama sebelum ia meninggalkan arena pertempuran.“

“Kau tidak mengejarnya?“

“Aku sendiri hampir kehabisan tenaga, Ki Tumenggung. Jika aku mengejarnya dan perkelahian itu berlanjut, mungkin kami berdua akan pingsan di simpang empat itu. Jika tubuh kami berdua di temukan oleh orang lewat, maka tentu akan menjadi bahan pembicaraan yang panjang.

“Orang-orang akan mengira bahwa kau berusaha menyamun Raden Wicitra. Tetapi Raden Wicitra lelah melawan sehingga kalian berdua menjadi pingsan.

“Dengan demikian, aku akan dipenjara. dan bahkan akan timbul kesan, bahwa Kateguhanpun telah menjadi tidak aman seperti Paranganom

“Tetapi Wicitra itu tentu akan rrienyebai racun dengan lidahnya yang bercabang itu

“Tetapi sudah banyak orang yang mongenalnya sebagai iblis yang lidahnya bercabang, Ki Tumenggung,

“Kau sudah mulai Sura Branggah. Kau harus menyelesaikannya.

“Tentu Ki Tumenggung, Aku akan menyolesaikannya.“

“Jangan terlalu lama.“

“Ya. Tentu tidak terlalu lama. Tetapi bukan hari ini.“

Ki Tumenggung itupun kemudian menggeran”Aku mau tidur. Terserah apakah kau akan tidur atau tidak.”

“Aku akan tidur di lincak panjang diserambi itu saja Ki Tumenggung.“

Disisa malam itu, Raden Wicitra telah mengetuk rumah seorang perempuan. Rumah perempuan yang memang menjadi tempat persinggahannya.

“Siapa diluar?” terdengar suara seorang perempuan bertanya dari dalam.

“Aku Nyi, Wicitra”

Raden Wicitra menarik nafas panjang, ketika ia menderigar langkah kaki ke pintu. Sejenak kemudian, maka pintu itupun telah terbuka.

Seorang perempuan berdiri termangu-mangu di belakang pintu yang terbuka itu.

Tertatih-tatih Raden Wicitra melangkah masuk.

“Raden, kenapa?” bertanya perempuan itu ketika ia melihat keadaan Wicitra yang wajahnya nampak pengab kebiru-biruan.

Setelah pintu itu ditutup kembali, maka perempuan itu telah menggandeng Raden Wicitra ke sebuah lincak panjang.. .

Raden Wicitra yang letih itupun segera duduk di lincak itu sambil berdesah.

“Tubuhku terasa sakit semuanya. Tulang-tulangku bagaikan menjadi retak. Isi rongga dadaku seakan-akan telah rontok berguguran”

“Kenapa? Raden telah berkelahi lagi memperebutkan puteri yang bernama Rantamsari itu?”

“Tidak.”

“Bohong. Raden tentu berkelahi lagi seperti beberapa waktu yang lalu. Waktu itu Raden datang sambil mengeluh. Raden minta aku memijit tubuh Raden yang terasa sakit. Tetapi Raden berbicara terus-menerus tentang perempuan yang bernama Rantamsari itu. Bukankah hatiku menjadi sakit”

“Kau tidak usah menjadi sakit hati. Aku tidak akan meninggalkanmu, meskipun aku akan menikah dengan Rantamsari kelak.”

“Sekarang, dalam keadaan seperti ini, kenapa Raden tidak pergi saja ke rumah Rantamsari.”

“Rantamsari rumahnya jauh sekali. Ia tinggal di Paranganom, sementara kita berada di Kateguhan.”

“Sekarang Raden kemari mau apa?”

“Kau lihat keadaanku? Tolong, obali luka-lukaku. Aku juga memerlukan ganti pakaian. Bukankah ada pakaianku yang aku tinggalkan disini.”

Perempuan itupun kemudian telah merawat Raden Wicitra. Ia telah merebus air untuk mandi. Kemudian menyediakan ganti pakaian serta menyiapkau minuman hangat.

Namun ketika ia menerima pakaian Wicitra yang kotor, yang basah oleh keringat dan dilekati debu yang tebal, maka yang pertama-tama dicarinya adalah uang di kantong baju itu.

Tetapi perempuan itu hanya.menemukan beberapa keping uang kecil saja, sehingga ia masih bernafsu untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi.

Baru ketika Raden Wicitra tertidur setelah mandi air hangat, berganti pakaian dan minum minuman panas, perempuan itu sempat membuka kantong ikal pinggang Raden. Wicitra.

Di kantong ikat pinggang itu, ia menemukan uang lebih banyak lagi.

Demikianlah, maka dendam Raden Wicitra kepada Ki Tumenggung Reksadrana dan kepada Sura Branggahpun menjadi semakin dalam. Demikian pula sehaliknya, Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggahpun menjadi semakin benci kepada Raden Wicitra. Bagi Ki Tumenggung Reksadrana dan bagi Sura Branggah, RadenWicitra harus disingkirkan.

Namun demikian, baik Raden Wicitra maupun Ki Tumenggung tidak ada yang berani memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati Yudapati tentang-kejahatan yang pernah mereka lakukan.

Mereka berniat membuat penyelesaian sendiri atas persoalan diantara mereka.

***

Dalam pada itu, di Paranganom, Wismaya melihat hubungan antara Raden Ajeng Rantamsari dan Sasangka menjadi semakin rapat. Bahkan Wismayapun pernah. menyampaikan persoalannya kepada Raden Madyasta. Tetapi Raden Madyasta sendiri merasa agak binguiig, apa yang harus dilakukannya.

“Sasangka sama sekali sudah tidak lagi. merasa malu, Raden“ berkata Wismaya.

“Aku tidak tahu, apa yang sebaiknya aku lakukan, kakang.”

“Mungkin kematian Rembana tidak ada hubungannya dengan Raden Ajeng Rantamsari, tetapi bukan berarti bahwa kemungkinan itu tidak ada sama sekali.”

“Kakang Sasangka memang menimbulkan beberapa pertanyaan. Kadang-kadang aku merasa takut memikirkannya.”

“Mungkin apa yang Raden tatkutkan itu, sama seperti yang aku takutkan pula.”

“Apa yang kakang takutkan?”

“Pernah tersirat dalam pembicaraan kita sebelumnya, Raden. Tetapi kita masing-masing tidak mengatakannya dengan terbuka.”

“Hubungan antara kematian kakang Rembana dengan apa yang dilakukan oleh Sasangka sekarang?”

“Ya, Raden.”

“Tegasnya, dugaan bahwa kakang Sasangkalah yang telah membunuh kakang Rembana?”

“Ya, Akupun menjadi curiga, karena sebelumnya Sasangka pernah memperingatkan Rembana agar tidak berhubungan terlalu rapat dengan Raden Ajeng Rantamsari.

“Tetapi waktu itu menurut kakang Wismaya, kakang Sasangka mengueapkan peringatannya dengan jujur. Maksudnya, kakang Sasangka benar-benar memperingatkan Rembana agar Rembana tidak menjadi sangat kecewa di kemudian hari. Hatinya tidak menjadi sangat pedih, jika Raden Ajeng Rantamsari itu tiba-tiba telah direnggut dari sisihnya.“

“ Ya. Menurut tanggapanku waktu itu memang demikian, Raden. Tetapi apa yang terjadi kemudian membuat aku menjadi ragu-ragu.“

“Aku harus berhati-hati menghadapi persoalan ini, kakang.”

“Raden. Bagaimana menurut pendapat Raden, jika Raden berusaha berdiri diantara Sasangka dan Raden Ajeng Rantamsari?“

“Aku tidak dapat melakukannya, kakang. Nanti akan dapat timbul salah paham pada bibi.“

“Raden akan berterus-lerang mengatakan kepada Raden Ayu Prawirayuda.

“Raden Madyasta menarik nafas panjang. Selama ini bibinya bersikap amat baik kepadanya. Apalagi menurut ayahandanya, Kangjeng Adipati Prangkusuma dan Paranganom, bibinya pernah berniat untuk menempatkan Raden Ajeng Rantamsari disisi Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan. Padahal menurut penglihatan orang orang Keteguhan, Raden Ajeng Rantamsari adalah adik Kangjeng Adipati Yudapati, meskipun sebenarnya hanyalah adik tiri yang berbeda ayah dan ibu.

Karena Raden Madyasta tidak segera menjawab, Wismaya itupun bertanya pula”Bagaimana menurut Raden?“

Raden Madyasta masih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun justru bertanya”Bagaimana menurut tanggapan kakang Wismaya terhadap sikap bibi Prawirayuda? Nampaknya bibi sama sekali tidak menaruh keberatan.“

“Pada saat Raden Ajeng Rantamsari berhubungan dengan Rembaria, Raden Ayu Prawirayuda juga tidak berusaha mencegahnya.“

“Seharusnya bibi tidak membiarkan kangmbok Rantamsari bersikap seperti itu.”

Wismaya terdiam. Sementara Raden Madyasta itu berkata didalam hatinya”Mungkin bibi merasa sangat kecewa, bahwa kakangmas Adipati Yudapati telah menolaknya, sehingga akhirnya bibi justru menjadi tidak peduli lagi atas apa yang dilakukan oleh kangmbok Rantamsari dalam hubungannya dengan seorang laki-laki. Tetapi jika itu benar, maka malanglah nasib kangmbok Rantamsari.“

Dengan demikian maka keduanya tidak menemukan kesimpulan apa-apa yang akan dapat mereka sampaikan kepada Sasangka. Sehingga untuk sementara baik Wismaya maupun Raden Madyasta masih akan tetap berdiam diri.

Dalam pada itu, Raden Madyastapun telah teringat akan dirinya sendiri yang telah menjalin hubungan dengan anak perempuan Ki Demang Panjer. Ayahandanya masih tetap berpegang kepada ajaran orang-orang tua, bahwa keturunan akan memegang peran penting dalam kehidupan rumah tangga. Sebagai putera seorang Adipati, maka tidak sepatutnya, ia mengambil anak perempuan Demang Panjer itu untuk menjadi sisihannya.

“Jika pada saatnya, seandainya hubungan Sasangka dan kangmbok Rantamsari dapat diterima oleh bibi Prawirayuda, sehingga kemudian disampaikan kepada ayahanda, aku tidak yakin, bahwa ayahanda akan menyetujuinya. Ayahanda tentu menghendaki, bahwa kangmbok Rantamsari mendapat jodoh seorang yang mempunyai derajad yang setidak-tidaknya tidak berada pada lapisan yang terlalu jauh dari kangmbok Rantamsari sendiri. Bukan hanya sekedar seorang Senapati kecil yang masih berpangkat Lurah Prajurit” berkata Raden Madyasta didalam hatinya.

Sebenarnyalah, dari hari ke hari hubungan Sasangka dengan Raden Ajeng Rantamsari menjadi semakin dekat. Sementara itu, Raden Ayu Prawirayuda memang tidak berusaha mencegahnya. Hanya setiap kali Raden Ayu sempat memperhatikan tingkah laku puterinya itu dari bilik pintu butulan yang sedikit terbuka, Raden Ajeng Rantamsari duduk bersama Sasangka di longkangan atau di halaman belakang.

Sekali-sekali Raden Ayu memang memanggil puterinya. Tetapi karena Raden Ayu menjadi kesal, bahwa Raden Ajeng Rantamsari seakan-akan melupakan kain yang sedang dibatiknya

“Kapan kainmu itu selesai Rantamsari?“ bertanya ibunya.

“Aku sedang letih ibu.“

“Apa yang kau lakukan, sehingga kau menjadi letih?

“Mungkin aku sedang tidak enak badan. Udara terasa terlalu panas, sehingga rasa-rasanya aku lebih senang duduk di taman atau di bawah pepohonan di halaman belakang.“

“Tetapi kainmu itu jangan dilupakan Rantamsari. Setiap hari, meskipun hanya sedikit, sebaiknya kau coret kainmu itu. Jika kelak kain itu sudah siap, maka kau akan dengan bangga mengenakannya, karena kain itu kau batik sendiri.“ Raden Ajeng Rantamsari yang menjadi muram itu menjawab”Aku akan mengerjakannya malam nanti; ibu.“

“Jangan terlalu sering mengerjakan di malam hari. Terangnya lampu minyak dan terangnya cahaya matahari itu berbeda, Rantamsari.“

“Baiklah, ibu. Besok aku akan mulai membatik di pagi hari.“

“Kenapa besok?“

“Hari ini aku akan beristirahat. Hari ini aku tidak akan mengerjakan apa-apa.“

Raden Ayu Prawirayuda hanya dapat menarik nafas panjang. Sementara itu, Raden Ajeng Rantamsaripun segera meninggalkannya.

Selain kegelisahan yang timbul karena hubungan Sasangka dengan Raden Ajeng Rantamsari, maka agaknya tidak pernah lagi terjadi gangguan di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden Wicitrapun tidak pernah datang lagi mengganggu kemanakannya.

Meskipun demikian, Raden Madyasta masih saja ragu-ragu untuk meninggalkan rumah bibinya untuk pergi ke Panjer. Jika pada saat ia pergi terjadi sesuatu di rumah itu, maka ayahandanya tentu akan menjadi sangat marah kepadanya•

Yang dapat dilakukan oleh Raden Madyasta jika ia merasa jemu berada di rumah bibinya, maka iapun minta diri untuk pulang ke kadipaten. Tetapi tidak terlalu lama ia harus sudah berada di rumah bibinya lagi. Di kadipaten Madyasta dapat bermain-main kuda bersama Raden Wignyana, seorang penggemar kuda. Tetapi ketika ia sudah berada di rumah bibinya lagi, maka ia akan berada dalam suasana yang tegang. Bukan saja karena setiap saat akan dapat muncul orang-orang yang berniat jahat, tetapi juga karena hubungan antara Sasangka dan Raden Ajeng Rantamsari yang mendebarkan itu.

Namun Raden Madyasta masih juga merasa heran, bahwa bibinya, Raden Ayu Prawirayuda tidak berbuat apa-apa Raden Ayu Prawirayuda itu seakan-akan tidak mengetahui, bahwa Raden Ajeng Rantamsari sudah tenggelam dalam mimpinya

“Raden“ berkata Wismaya yang menjadi semakin tegang” apakah kita masih akan tetap berdiam diri? Sasangka telah melampaui batas tugasnya. Jika pada suatu saat, Raden Ajeng Rantamsari itu di renggut dari sampingnya karena berbagai macam alasan, maka Sasangka akan dapat menjadi gila.“

“Baiklah, kakang. Biarlah besok aku berbicara dengan kakang Sasangka. Aku juga merasa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan disini, justru oleh .prajurit Paranganom sendiri. Sekarang, selagi masih ada kesempatan, aku harus mencegahnya.“

“Raden dapat membawa perintah dari Kangjeng Adipati, bahwa Sasangka dipindahkan dari tugasnya yang sekarang. Agar tidak terlalu melukai hatinya, maka sebaiknya kita bersama-sama digeser dari tugas kita ini dan digantikan dengan orang-orang baru sama sekali, namun yang dapat dipercaya.”

“Tetapi sebelumnya, aku akan berterus-terang, kakang. Mungkin kakang Sasangka akan menjadi kecewa atau bahkan marah kepadaku. Mungkin kakang Sasangka akan menjadi salah sangka. Mungkin kakang Sasangka mengira, bahwa aku sendiri menginginkan kangmbok Rantamsari sehingga aku berusaha memisahkannya gadis itu. Dalam keadaan yang demikian, maka aku akan mempergunakan kuasaku sebagai putera Adipati Paranganom yang diserahi memimpin para Senapati yang beriugas disini.

Namun yang akan menyulitkan adalah jika bibi justru menginginkan hubungan itu berlanjut.“

“Jika demikian, segala sesuatunya terserah saja kepada Raden Ayu Prawirayuda. Kita memang tidak akan dapat mencampurinya.“

Raden Madyasta mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, suasana di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu terasa agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Terasa sekat yang membatasi hubungan antara Wismaya dan Sasangka menjadi semakin tegal. Keduanya tidak banyak lagi berbicara, sehingga seakan-akan diantara keduanya telah timbul persoalan yang gawat. Sementara itu Raden Madyasta juga membatasi dirinya. Iapun tidak banyak berbicara, baik dengan Sasangka niaupun dengan Wismaya.

Ketika kemudian malam turun, maka Raden Madyasta itupun berkata kepada keduanya ”Aku akan berada di serambi belakang, kakang. Sebaiknya salah seorang dari kakang berdua beristirahat saja dahulu, agar setelah lewat tengah malam ada diantara kita yang berjaga-jaga.“

“Baik, Raden” jawab Sasangka ”biarlah aku berjaga-jaga sekarang. Aku akan membangunkan Wismaya setelah lewat tengah malam nanti.“

Sementara itu Wismaya menyahut ”Raden sendiri juga haras beristirahat. Hampir setiap malam Raden berjaga-jaga semalam suntuk, sedangkan kami dapat membagi waktu.“

Raden Madyasta tersenyum. Katanya Biarlah. Jika aku merasa letih dan mengantuk, aku akan tidur.“

Sejenak kemudian, maka Raden Madyastapun telah meninggalkan serambi gandok. Sementara dengan tidak banyak berbicara lagi. Wismayapun masuk ke dalam biliknya di gandok.

Di serambi gandok Sasangka duduk sendiri. Dipandanginya daun pepohonan di halaman yang bergoyang di terpa angin malam yang basah.

Namun Sasangkapun kemudian bangkit berdiri dan turun ke halaman.

Terasa angin bertiup semakin keras. Ketika Sasangka kemudian menengadahkan wajahnya ke langit, maka dilihatnya langit gelap. Tidak ada sepercik bintangpun yang nampak. Bahkan sekali-sekali kilat mulai merebak. cahayanya memancar sekilas menyilaukan. Disusul oleh gelegar guruh yang bagaikan melingkar-lingkar menyusuri lereng-lereng pegunungan.

Sasangka menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya pintu bilik di gandok yang tertutup. Bilik yang satu berisi Wismaya. Sedangkan bilik yang lain kosong.

Sasangkapun kemudian melangkah menyusuri halaman depan rumah Raden Ayu Prawirayuda. Rumah yang terhitung besar itu berdiri bagaikan membeku. Meskipun angin bertiup semakin kencang, tetapi rumah itu sama sekali tidak tergoyahkan. Hanya nyala lampu minyak dipendapa yang terombang-ambing oleh hembusan angin.

Kilat masih sekali-sekali menyambar disusul oleh suara guruh yang menderu.

Ketika hujan turun, maka Sasangkapun telah berada di tangga pendapa. Terasa percikan air hujan yang dihembus angin mengusap ketubuhnya.

Dingin malam menjadi semakin dalam menusuk kulit.

Beberapa saat lamanya Sasangka berdiri di pendapa. Tiba-tiba saja ia merasa bertanggung jawab atas rumah itu.
Seakan-akan rumah itu adalah rumahnya sendiri. Rumahnya yang akan dihuninya bersama seorang perempuan yang bemama Rantamsari.

Sasangka itupun kemudian telah naik ke pendapa. Dipandanginya saka guru yang beridiri tegak menyangga atap pendapa rumah yang terhitung besar itu.

Pintu pringgitan yang tertutup, gebyok kayu yang tebal serta hiasan dinding yang serasi dengan warna kayu nangka yang sudah tua. Kuning kecoklat-coklatan.

Tiba-tiba saja Sasangka merasa wajib untuk mengelilingi rumah itu. Ia merasa bertanggung-jawab atas keselamatan seisi rumah itu, melampaui tanggung jawab seorang prajurit yang bertugas. Sasangka merasa seakan-akan ia sedang prajurit yang bertugas. Sasangka merasa seakan-akan ia sedang melindungi keluarganya sendiri dari kemungkinan buruk yang dapat terjadi setiap saat.

Hujanpun menjadi semakin lebat. Kilat menjadi semakin sering memancar di langit. Angin berhembus semakin kencang mengguncang pepohonan.

Diluar sadarnya, Sasangka memandang pintu bilik di gandok yang nampak dari pendapa. Pintu itu kedua-duanya masih tertutup rapat. Wismaya tertu masih berada di dalamnya. Bahkan orang itu sudah tertidur melingkar dibawah selimutnya yang kusut.

“Aku harus mengelilingi rumah ini” berkata Sasangka didalam hati "Raden Madyasta tentu duduk saja di serambi. Pemalas itu tentu segan turun ke dalam lebatnya htijan. Atau mungkin Raden Madyasta malah masuk ke dalam rumah, duduk-duduk sambil bergurau dengan Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari sambil minum minuman hangat.

Jantung Sasangka bergetar. Di dalam hatinya ia berkata ”Jika Raden Ajeng Rantamsari membuat mmuman hangat, seharusnya akulah yang dilayaninya. Bukan Raden Madyasta.”

Tiba-tiba saja Sasangka itu ingin pergi ke serambi belakang.

Untuk beberapa saat ia masih mencoba menahan diri. Ia tidak dapat pergi ke serambi belakang melewati pintu pringgitan, masuk ke ruang dalam, kemudian lewat serambi samping sampai ke serambi belakang. Jika ia akan pergi ke serambi belakang, maka ia harus.melingkari rumah yang terhitung besar itu.

Tetapi ternyata Sasangka tidak dapat menahan dirinya lagi. Ada dorongan yang sangat kuat yang memaksanya untuk turun ke halaman meskipun hujan menjadi semakin lebat.

Sementara itu, ternyata Raden Madyasta juga tidak duduk saja di serambi. Hujan yang semakin lebat itu telah membuat hatinya menjadi tidak tenang. Ada sesuatu yang menggelitiknya, agar Raden Madyasta itu turun untuk melihat-lihat keadaan.

Dengan demikian maka Raden Madyastapun telah masuk ke dalam kegelapan, menyusuri dinding rumah. Dibawah emper yang tidak terlalu lebar Raden Madyasta bergeser ke arah longkangan..

Malam terasa sepi. Meskipun Raden Madyasta . menyusuri emperan rumah, namun pakaiannya masih juga menjadi basah.

Ketika Raden Madyasta itu berada di longkangan, dilihatnya longkangan itu sepi sekali. Lampu minyak di serambi samping agaknya telah padam oleh tiupan angin yang kencang.

Sejenak Raden Madyasta berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian, iapun mulai bergerak dalam kegelapan menuju ke seketeng. Ketika kilat menyambar di langit, Raden Madyasta melihat bahwa pintu seketeng itu sedikit terbuka.

“Apakah pintu itu lupa tidak ditutup?”

Dari longkangan Raden Madyasta melihat bilik tempat para pembantu di rumah itu yang berada disebelah dapur, sudah gelap. Agaknya para pembantu di rumah itupun sudah tertidur nyenyak.

Jantung Raden Madyasta terasa menjadi semakin berdebaran. Ia tidak tahu, apa yang telah menyebabkannya. Ia sudah beberapa lama berada di rumah bibinya. Ia sudah mengalami berkali-kali mengelilingi rumah itu di malam hari. Bahkan pada saat hujan yang lebat sekalipun seperti malam itu.

Raden Madyasta itu bergeser terus melekat dinding agar air hujan tidak tercurah langsung ke tubuhnya. Emperan diatasnya masih juga serba sedikit melindunginya dari hempasan air hujan yang seperti tertuang dari langit.

Tetapi untuk pergi ke seketeng maka Raden Madyasta tidak dapat menghindari curahan air hujan.

Berlari-lari kecil Raden Madyasta menuju ke seketeng. Meskipun jaraknya tidak terlalu panjang tetapi pakaian Raden Madyasta menjadi basah kuyup.

Namun demikian Raden Madyasta keluar dari pintu seketeng, ia menjadi sangat terkejut. Ia melihat sesosok tubuh yang menelungkup di tangga serambi gandok.

Dengan cepat Raden Madyasta itu berlari. Tanpa menghiraukan air hujan, maka Raden Madyastapun segera berjongkok di samping tubuh itu. Ketika ia menelentangkannya, maka sekali lagi Raden Madyasta terkejut, sehingga terasa jantungnya bagaikan berhenti berdetak.

“Kakang Sasangka” Raden Madyasta hampir berteriak.

“Raden” suara Sasangka lemah sekali.

“Kakang Wismaya. Kakang Wismaya” teriak Raden Madyasta.

Tetapi suaranya larut oleh deru derasnya hujan.

Raden Madyasta tidak meninggalkan Sasangka yang menjadi sangat lemah. Karena itu, maka Raden Madyastapun segera memungut sebuah batu sebesar telur. Dilemparkannya batu itu kepintu bilik Wismaya.

Derak batu yang mengenai pintu itu telah mengejutkan Wismaya yang memang sedang tidur nyenyak. Justru karena hujan yang deras sehingga dinginnya udara malam membuatnya semakin terlena

Dengan cepat Wismaya meloncat bangkit dari pembaringannya, la sempat menibenahi pakaiannya sejenak. Kemudian diraihnya keris yang tergolek di penibaringan nya.

Sejenak kemudian, maka pintu bilik itupun terbuka. Tetapi Wismaya tidak segera meloncat keluar. Peristiwa yang telah merenggut nyawa Rembana membuatnya berhati-hati.

Tetapi demikian pintu terbuka, maka didengarnya diantara deru air hujan suara memanggil ”Kakang Wismaya. Kakang Wismaya.”

Suara itu suara Raden Madyasta. Meskipun berbaur dengan hujan yang deras, namun Wismaya tetap dapat mengenalinya.

Karena itu, maka Wismayapun segera berlari ke tangga. Dengan serta merta iapun berjongkok pula disisi Sasangka.

“Sasangka” suara Wismayapun ditelan oleh deru air hujan. Dengan berteriak lebih keras lagi Wismaya itu bertanya” Apa yang terjadi dengan Sasangka Raden?”

Madyasta menempelkan mulutnya ke telinga Sasangka.

“Apa yang terjadi, kakang?”

Suara Sasangka menjadi semakin lemah. Tetapi Raden Madyasta dan Wismaya masih mendengarnya.

“Aku diserang dengan licik, Raden.”

“Kakang tidak sempat membela diri sama sekali;?”

Sasangka menggelengkan kepalanya. Suaranya lemah sekali ”Aku tidak menduganya. Tiba-tiba saja aku merasa tertusuk di lambungku” suaranya menjadi tersendat ”ketika aku berpaling, aku tidak melihat apa-apa. Kemudian aku menjadi semakin lemah. Aku mencoba melangkah ke serambi.“

“Kakang Wismaya” panggil tabib yang manapun juga untuk memberikan pertolongan, setidak-tidaknya pertolongan sementara kepada kakang Sasangka.”

“Baik, Raden.“

Tetapi Sasangkapun berkata “Tidak ada gunanya, luka ini terlalu dalam dan darah sudah banyak yang mengalir “

“Kita harus berusaha” sahut Raden Madyasta” cepatlah kakang.“

Tetapi ketika Wismaya bergeser, Sasangka itupun berdesis” Raden. Aku minta maaf bahwa aku tidak dapat menjalankan tugasku dengan baik.“

“Kakang....”

“Sasangka....”

Nafas Sasangkapun terhenti. Sasangka telah tiada.

Terdengar gemeretak gigi Raden Madyasta. Iapun segera bangkit berdiri sambil menarik kerisnya. Sambil berdiri tegak dengan keris yang bergetar di tangannya Raden Madyasta itupun berteriak ”He, jangan berbuat licik dan curang. Jika kau memang laki-laki sejati, keluarlah dari persembunyianmu. Kita akan berhadapan beradu dada. Jangan bersembunyi dan menyerang dari belakang. Itu bukan watak laki-laki.“

Suara Raden Madyasta meninggi. Bahkan Raden Madyasta itupun kemudian berlari ke tengah tengah halaman. Ia masih saja berteriak-teriak dengan marahnya.

Namun tidak terdengar sahulan Yang terdengar masih saja deru air hujan.

Sementara itu Wismaya mengangkat tubuh Sasangka dan dibaringkannya di serambi gandok. Iapun kemudian mendatangi Raden Madyasta sambil berkata ”Sudahlah Raden. Orang itu tidak akan menampakkan dirinya. Orang yang licik itu tidak akan tergelitik mendengar tantangan Raden. Karena itu, marilah. Kita rawat tubuh Sasangka. Kita memberitahukan kepada Raden Ayu Prawirayuda, bahwa bencana itu telah terjadi lagi. Setelah Rembana, maka kini giliran Sasangka.“

“Aku tidak dapat menerima keadaan ini, kakang.“

“Tetapi kita tidak dapat berbuat apa-apa, Raden. Mungkin orang yang menusuk Sasangka sekarang sudah berada di bulak sebelah.

Nafas Raden Madyasta yang marah itu mengalir semakin cepat. Raden Madyasta bahkan menjadi terengah-engah seperti seseorang yang baru saja bekerja berat sehari suntuk.

“Marilah, Raden. Silahkan memberitahukan hal ini kepada Raden Ayu Prawirayuda.“

Raden Madyasta menarik nafas dalam-dalam seakan-akan berusaha mengendapkan perasaannya yang bergejolak.

“Baiklah kakang. Aku akan menghadap bibi. Aku minta kakang menunggui tubuh kakang Sasangka.“

“Baik Raden.“

Wismayapun kemudian telah kembali ke gandok. Iapun kemudian duduk bersila di sebelah tubuh Sasangka yang terbaring diam. Pisau belati yang tertancap di lambungnya telah dilepas oleh .Wismaya atas persetujuan Raden Madyasta. Namun Raden Madyasta minta Wismaya mengingal-ingat letak pisau belati yang tertancap itu.

Raden Madyastapun kemudian telah naik ke pendapa. Namun kemudian diurungkan niatnya untuk mengetuk pintu pringgitan. Bibinya akan lebih cepat mendengarnya jika ia mengetuk pintu butulan.

Perlahan-lahan Madyastapun mengetuk pintu yang terdekat dengan bilik tidur bibinya. Sekali dua kali, bibinya masih belum mendengarnya.

“Bibi tentu tidur dengan nyenyak” berkata Raden Madyasta didalam hatinya.

Karena itu, maka Madyastapun mengetuk semakin keras.

Baru kemudian Madyasta mendengar suara bibinya ”Siapa diluar?“

“Aku bibi, Madyasta.“

Raden Ayu Prawirayuda mengenal suara itu. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Raden Ayu Prawirayuda pergi ke pintu dan mengangkat selaraknya.

Demikian pintu terbuka, ia melihat Raden Madyasta berdiri termangu-mangu dengan pakaian yang basah kuyup.

“Ada apa ngger? Angger kehujanan?“

“Maaf bibi. Mungkin aku mengejutkan bibi.“

“Ada apa, ngger?“ wajah Raden Ayu Prawirayuda menjadi tegang.

“Yang telah terjadi itu terulang lagi, bibi.“

“Maksud angger?“ suara Raden Ayu Prawirayuda meninggi.

“Seperti kakang Rembana, kakang Sasangkapun telah terbunuh pula.“

“Angger Sasangka terbunuh?” suara Raden Ayu itu tinggi melingking.

“Ya, bibi. Kami mohon maaf, bahwa yang tidak kita harapkan itu terjadi lagi.“

“Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi, ngger? Bagaimana mungkin? Dimana angger Sasangka pada saat terjadinya bencana itu, ngger?“

“Kami masih belum mengamatinya lebih jauh, bibi.”

Aku menemukan kakang Sasangka terluka parah di tangga serambi gandok. Nampaknya kakang Sasangka berusaha untuk meneapai gandok dan memberitahukan kepada kakang Wismaya. Tetapi ia sudah menjadi terlalu lemah dan terkapar di tangga. Ketika aku menemukannya,.kakang Sasangka masih hidup. Tetapi ia sudah sangat lemah sehingga tidak banyak yang sempat dikatakannya. Aku telah minta kakang Wismaya pergi menjemput seorang tabib dari manapun juga. Tetapi sebelum kakang Wismaya berangkat, kakang Sasangka sudah meningal..
“Apa yang akan aku katakan kepada Rantamsari?“ ,

Raden Madyasta tidak menjawab. Bahkan iapun segera menundukkan wajahnya.

Ternyata pembicaraan yang agak keras diantara deru hujan itu telah terdengar oleh Raden Ajeng Rantamsari. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Raden Ajeng Rantamsari itupun keluar dari biliknya pula.

“Ada apa dimas. Aku mendengar pembicaraan dimas dengan itu. Nampaknya ada sesuatu yang penting?“

Raden Madyasta memandang wajah bibinya dengan jantung yang berdebaran.

Raden Ayu Prawirayudapun tidak segera dapat mengatakan, apa yang telah terjadi. Karena itu untuk beberapa saat suasana menjadi tegang.

“Ibu, apa yang terjadi?“

“Ngger...”

“Ibu” Raden Ajeng Rantamsaripun segera mendekap ibunya ”apa yang terjadi ibu?“

“Kita hanya dapat berusaha, Rantamsari. Tetapi keputusan akhir berada di luar jangkauan kuasa kita.“

“Tetapi apa yang terjadi?“

Raden Ayu Prawirayuda itu mengusap matanya yang . basah. Kemudian diapun berdesis ”Adalah diluar kemauan kita semuanya, Rantamsari.“

“Apa? Apa? Ibu belum mengatakannya.”

“Yang pernah terjadi itu ternyata lagi, Rantamsari.”

“Yang pernah terjadi yang mana?“

“Yang pernah terjadi atas angger Rembana, kini terjadi lagi atas angger Sasangka.“

“Ibu” Raden Ajeng Rantamsari itu terpekik ”maksud ibu ...“

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk.

“Ibu, dimana kakang Sasangka sekarang. Dimana?”

Raden Ajeng Rantamsari tidak menunggu jawaban ibunya. Namun ketika ia meloncat untuk berlari menghabur di longkangan dalam hujan yang lebat, Raden Ayu Prawirayuda sempat memeluknya sambil berkata ”Rantamsari, tenanglah. Tenanglah. Mungkin bahaya itu masih berada disekitar kita sekarang ini.

“Kangmbok berkata Raden Madyasta ”sebaiknya kangmbok jangan keluar dahulu. Tutup saja kembali pintu ini dan diselarak dari dalam.”

“Tidak. Tidak. Aku ingin melihat keadaan kakang Sasangka.”

“Jangan sekarang kangmbok” cegah Raden Madyasta.

Tetapi Raden Ajeng Rantamsari meronta, sehingga lepas dari pelukan ibunya

“Dimana kakang Sasangka? Dimana?”

Raden Madyasta tidak berniat memberitahukarmya. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari itu telah berlari ke gandok. Ia tahu bahwa bilik Sasangka dan Wismaya berada di gandok itu.

Raden Madyasta tidak dapat berbuat lain kecuali berlari menyusulnya Demikian pula Raden Ayu Prawirayuda.

Di serambi gandok, Wismaya tidak sempat mencegah Raden Ajeng Rantamsari menjatuhkan diri diatas tubuh Sasangka yang telah tidak bernafas lagi sambil menangis menjerit-jerit.

”Kakang, kakang. Kenapa kau juga pergi meninggalkan aku.”

Raden Ajeng Prawirayudapun kemudian berusaha membangunkan anaknya. Sekali-sekali Raden Ayu Prawirayuda itupun mengusap air matanya pula.

“Duduklah yang baik, Rantamsari.”

Raden Ajeng Rantamsari memeluk ibunya erat-erat sambil menangis ”Ibu, kenapa hal ini harus terjadi padaku?”

“Tenanglah Rantamsari. Sudah aku katakan, bahwa segala sesuatunya itu bergantung kepada Yang Maha Agung. Kita tidak akan dapat mengelakannya. Kita harus menerima dengan ikhlas”

”Tetapi tidak seperti ini ibu. Aku tidak akan mampu memikul beban seberat ini.”

“Kita akan bertanya kepada Yang Maha Agung, apa sebenarnya yang dikehendaki-Nya. Lewat banyak cara, Yang Maha Agung akan menjawab pertanyaan kita, Rantamsari”

“Tetapi aku tidak mau hal ini terjadi, ibu” Rantamsari memeluk ibunya semakin erat. Demikian pula Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi Raden Ayu sendiri tidak dapat menahan air matanya yang meleleh dari pelupuknya.

*****

Bab 27 – Rencana Reksadrana

KETIKA tangis Raden Ajeng Rantamsari sedikit mereda, maka ibunyapun berkata “Rantamsari. Aku mengerti, betapa pedih hatimu. Ibarat luka yang terdahulu masih belum sembuh, maka hatimu telah terluka lagi, sehingga tentu akan terasa semakin pedih. Tetapi marilah kita mengambil hikmahnya saja. Kau masih dapat mengucap sukur, bahwa hal ini terjadi sebelum terlanjur.”

“Maksud ibu?“

“Baik yang terjadi sekarang, maupun yang terjadi sebelumnya. Untunglah bahwa kau belum menjadi seorang isteri. Jika itu terjadi, maka kau telah menjadi janda dua kali.”

“Tetapi hal seperti ini tidak terjadi, ibu.”

“Kita tidak akan dapat mengelak, Rantamsari. Meskipun dipagari dengan dinding baja, jika maut itu datang menjemput, tidak seorangpun dapat lari dari padanya. Yang terjadi ini tentu akan terjadi. Demikian pula dengan angger Rembana. Kematian itu tentu akan datang kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi.”

Raden Ajeng Rantamsari mengusap matanya yang basah. Yang dikatakan oleh ibunya itu memang dapat masuk di akalnya. Tetapi perasaannya benar-benar merasa betapa pedihnya.

“Kenapa Yang Maha Agung itu telah memanggil mereka yang diharapkan akan dapat menjadi tangkai bagi hidupku di masa mendatang?”

Air mata masih saja meleleh dari pelupuk mata Rantamsari. Bahkan ibunyapun sekali-sekali masih mengusap matanya pula dengan lengan bajunya.

Seperti yang pernah terjadi, hari itu di rumah Raden Ayu Prawirayuda menjadi sangat sibuk. Kangjeng Adipatipun telah berada di rumah itu pula. Demikian pula Raden Wignyana.

Kangjeng Adipati sendiri telah mencoba meredakan gejoIak perasaan Raden Ajeng Rantamsari, yang setiap saat masih saja menangis. Yang dialaminya itu benar-benar merupakan beban yang sangat berat baginya.

Siang itu juga, tubuh Sasangka telah dibawa ke baraknya. Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda merasa agak kesulitan untuk menenangkan para prajurit yang bergejolak.

“Kita harus menemukan pembunuhnya” berkata seorang pemimpin kelompok barak Sasangka

“Ki Tumenggung” berkata yang lain “berikan tugas kepada kami untuk berada di rumah itu Kami akan menangkap pembunuh Ki i.urah Sasangka dan mambantainya di halaman barak ini.

“ Di Parang Anom Ini ada tatanan dan paugeran yang
mengatur tingkah laku rakyatnya” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “segala sesuatunya harus sesuai dengan tatanan dan paugeran itu”

“Kita tidak dapat membiarkan para Senapati kita dibunuh dengan cara yang licik.”

“Aku tahu. Bukan hanya kalian saja yang tersinggung. Tetapi, kami yang tua-tua inipun merasa tersinggung pula. Karena itu, tenanglah. Kita akan berusaha menemukan pembunuh itu.”

“Jangan biarkan jatuh korban lagi, Ki Tumenggung. Yang tersisa di rumah itu hanyalah Ki Lurah Wismaya dan justru Raden Madyasta sendiri. Karena itu, biarlah kami. sekelompok prajurit menjaga rumah itu“

Ki Tumenggung Sanggayudalah yang menjawab “Kita akan memikirkan langkah yang sebaik-baiknya yang harus kita ambil.”

Namun bagaimanapun juga nampak di wajah para prajurit itu ungkapan perasaan mereka. Nampaknya mereka benar-benar menjadi marah karena kematian Lurahnya yang mereka anggap seorang Senapati muda yang berilmu linggi.,

Disamping para prajurit di barak Sasangka yang bergejolak, ternyata para prajurit di barak Rembanapun bagaikan terungkit lagi kemarahan mereka. Namun para pemimpin prajurit Paranganom berhasil meredamnya.

Hari itu, Sasangka dimakamkan dengan upacara kebesaran seorang prajurit yang gugur dalam tugasnya. Rakyat Paranganom harus berduka sekali lagi. Ternyata peristiwa yang menyakitkan itu telah terjadi lagi di rumah Raden Ayu Prawirayuda.

“Apakah perempuan itu memang membawal sial” bertanya seseorang kepada kawannya yang berdiri disebelahnya ketika keduanya ikut memberikan penghormatan terakhir kepada Sasangka.

Kawannya menggeleng. Namun demikian iapun menjawab “Petaka seperti ini terjadi dua kali di rumah itu. Apakah masih akan disusul dengan peristiwa yang sama di kemudian hari?”

“Memang menyakitkan“ berkata kawannya yang lain “kesalahan yang sama telah terjadi.”

“Ya. Sedangkan keledai yang dungupun kakinya tidak akan teratuk batu yang sama untuk kedua kalinya.”

“Tetapi justru karena mereka bukan keledai.”

“Hus “

Merekapun terdiam. Mereka melihat, wajah-wajah prajurit yang geram, yang berjalan disebelah menyebelah jenazah Sasangka ketika dibawa ke makam.

Hari itu, Kangjeng Adipati telah memanggil Madyasta dan Wismaya, justru pada saat di rumah Raden Ayu Prawirayuda masih banyak orang yang sibuk membenahi perabot rumah yang telah digeser-geser pada saat mempersiapkan jenazah Sasangka untuk dibawa ke baraknya. Beberapa orang prajuril masih berada di rumah itu sehingga kepergian Wismaya dan Raden Madyasia tidak menimbulkan kecemasan bagi keluarga Raden Ayu Prawirayuda.

“Bagaimana pendapatmu, Madyasia?” bertanya Kangjeng Adipali.

“Kami harus merasa malu atas peristiwa ini, ayahanda. dua orang Senupali muda yang dianggap mempunyai kelebihan di Paranganom telah terbunuh”

“Aku ingin mendengar pendapatmu, Madyasta. Apakah kau memerlukan kawan baru untuk bertugas di rumah bibimu?, Temyala tugas itu bukan tugas yang sederhana. Jika semula kita menganggap bahwa keberadaan kalian di rumah bibimu hanya sekedar menuruti keinginannya, namun ternyata sekarang kila berpendapat lain”

“Hamba ayahanda, tetapi hamha mohon, biarlah kami berdua sajalah yang bertugas dl rumah bibi, Hamba lidak dapat ingkar, bahwa aku menaruh dendam kepada orang yang telah membunuh Rembana dan Sasangka Dua orang prajurit yang namanya mulai dikenal sejak perang besar di sebelah Bengawan Rahina itu.“

“Aku dapat mengerti, Madyasia.”

“Ampun Kangjeng Adipati“ berkata Wismaya “jika di rumah itu terdapat beberapa orang prajurit baru, maka pembunuh itu mungkin akan menghindar. Tetapi biarlah kami berdua berusaha untuk menangkapnya.“

“Keadaan menjadi semakin gawat, Wismaya. Ketika kalian masih bertiga, kalian tidak dapat menangkap pembunuh Rembana. Bahkan Sasangka telah terbunuh pula.“

“Itu merupakan tantangan bagi kami, ayahanda. Meskipun sekarang kami hanya berdua, tetapi kami justru yakin, apabila pembunuh itu kembali lagi, kami akan dapat menangkapnya.”

“Satu permainan yang sangat berbahaya, Madyasta.“

“Tetapi itu adalah jalan terbaik untuk menangkap pembunuh itu ayahanda.“

Kangjeng Adipati menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku mengerti, bahwa harga diri kalian berdua akan tersinggung, seakan-akan kalian hanya dapat merengek minta perlindungan. Tetapi untuk menghadapi perbuatan yang licik itu, bukankah tidak ada salahnya jika kita menjadi lebih berhati-hati.“

“Kami akan sangat berhati-hati, ayahanda.“ Kangjeng Adipati tereenung sejenak, la tahu, bahwa darah muda yang mengalir di tubuh Raden Madyasta dan Wismaya bagaikan sudah mendidih oleh peristiwa yang membuat keduanya menjadi malu. Dengan demikian, maka mereka akan berusaha untuk menebusnya tanpa bantuan orang lain.

Kangjeng Adipati tidak dapat memaksa keduanya dengan menempatkan prajurit-prajurit baru di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Jika Kangjeng Adipati itu mencoba memaksa, maka keduanya akan kecewa, sehingga keduanya justru akan dapat menjadi lengah.

Karena itu, maka Kangjeng Adipati itupun berkata “Baiklah. Madyasta dan Wismaya. Jika kalian berkeras untuk bertugas berdua saja. Tetapi Srkali lagi aku pesan, kalian harus sangat berhati-hati. Bahaya itu selalu mengintip kalian berdua. Setiap saat bahaya itu akan rnenerkam tanpa kalian ketahui kapan dan dimana mereka merunduk, Aku percaya, bahwa kalian tentu akan dapat mengalasinya jika kalian berhadapan beradu dada. Tetapi pembunuh itu tidak berbuat demikian. Dengan licik ia merunduk, kemudian menikam dari belakang.“

“Hamba berjanji ayahanda. Kami akan menjadi sangat berhati-hati.

Demikianlah, maka keduanyapun segera kembali ke rumah Raden Ayu Prawirayuda yang masih dibenahi. Namun beberapa saat kemudian, segala sesuatunya telah mapan. Perabot-perabot rumah, alat-alat dapur dan bahkan sampah di halamanpun telah dibersihkan.

Malam itu, terasa suasana di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu menjadi semakin sepi. Beberapa orang keluarga Sasangka yang datang disaat pemakamannya, ternyata lebih senang berada di barak. Ternyata ada beberapa orang prajurit yang sejak sebelum berada di barak itu sudah mengenal keluarga Sasangka dengan baik. Karena itu, maka merekapun berusaha untuk membantu dan bahkan menenangkan kepedihan hati yang telah mencengkam.

Malam itu, Raden Ayu Prawirayuda telah menemui Madyasta sekali lagi, untuk menawarkan agar Madyasta tidak berada di bilik yang ada di gandok.

“Keadaan nampaknya menjadi semakin gawat, ngger. Aku minta angger tidur di ruang dalam saja.“

“Apakah aku harus membiarkan kakang Wismaya sendiri?“

“Apakah anger Wisama akan menjadi ketakutan?“

“Bukan soal ketakutan atau tidak bibi. Aku yakin, bahwa kakang Wismaya tidak akan ketakutan. Tetapi bukankah perasaan ini menjadi tidak enak, jika kami berdua dan berada di bilik tidur yang berbeda. Maksudku, satu di gandok dan yang lain di ruang dalam“

“Angger Madyasta. Bagaimanapun juga kedudukan kalian berdua memang berbeda. Wismaya adalah seorang Lurah prajurit dan angger Madyasta adalah putera seorang Adipati? Jika pada dasarnya sudah berbeda, bukankah tidak ada salahnya jika angger Madyasta dan angger Wismaya berada di bilik yang berbeda pula.“

“Terima kasih bibi. Tetapi keberadaanku disini bersama kakang Wismaya tidak mengenal perbedaan itu. Aku dan kakang Wismaya adalah prajurit yang mengemban tugas yang sama.“

Kerut di dahi Raden Ayu Prawirayuda menjadi semakin dalam. Setelah memandang kesekitarnya iapun berkata perlahan “Maaf, ngger. Sebenarnyalah aku mencurigai semua orang dalam peristiwa yang telah terjadi.“

“Maksud bibi?“

“Ketika angger Rembana terbunuh, aku sama sekali tidak dapat menuduh siapakah pembunuhnya. Tetapi perkembangan keadaan telah mendorongku untuk mencurigai angger Sasangka. Aku menduga, bahwa angger Sasangkalah yang telah membunuh angger Rembana. Namun tiba-tiba angger Sasangka telah terbunuh dengan cara dan senjata yang sama dengan cara dan senjata pada saat angger Rembana terbunuh.“

“Ya, bibi. Aku mengerti.“

“Maaf, ngger. Aku minta maaf. Bagaimana pendapat angger Madyasta tentang angger Wismaya.?“

“Kita tidak dapat mencurigai Wismaya, bibi.“

“Kenapa?“

“Pada saat Rembana terbunuh, Wismaya ada bersamaku.”

“Apakah itu benar?“

“Seingatku, bibi.”

“Mungkin angger lupa. Peristiwanya sudah agak lama.“ Raden Madyasta menunduk. Namun kemudian katanya

“Tetapi aku yakin, tentu bukan kakang Wismaya. Jika se-andainya cara dan senjata pembunuhnya tidak sama, mungkin aku dapat mencurigai Wismaya sekarang ini.“

Raden Ayu Prawirayuda mengangguk-angguk. Katanya

“Sukurlah jika perhitungan angger itu benar. Yang aku cemaskan, jika yang melakukan itu angger Wismaya, maka akan mudah sekali terjadi pula atas angger Madyasta jika angger berada di gandok bersama angger Wismaya.“

“Tidak, bibi. Aku yakin tentu bukan kakang Wismaya.“

“Sukurlah. Namun begitu, aku masih juga minta angger bersedia berada di bilik di ruang dalam. Bukankah kami hanya berdua saja di rumah ini?“

“Terima kasih, bibi.”

“Ngger. Aku lebih condong mengangap angger sebagai anakku sendiri daripada seorang prajurit yang bertugas di rumah ini.“

“Terima kasih, bibi.“

“Itulah sebabnya, bahwa aku merasa lebih cemas memikirkan angger daripada para Senapati yang lain, meskipun aku tahu, bahwa angger memiliki kemampuan lebih tinggi dari para Senapati itu.”

“Biarlah aku berada di gandok bersama kakang. Wismaya saja bibi.”

“Jika demikian, terserahlah kepada angger. Bukan niatku untuk tidak menghormati angger sebagai putera seorang Adipati di Paranganom ini.”

Namun bagaimanapun juga bibinya memintanya, Raden Madyasta merasa lebih baik berada di gandok bersama Wismaya.

Dalam pada itu, yang mencemaskan keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya bukan saja Kangjeng Adipati Paranganom. Sebagai seorang ayah sebenarnya Kangjeng Adipati memang wajar sekali menjadi cemas memikirkan keselamatan anaknya. Tetapi ia juga harus bersikap sebagai seorang Adipati.

Sebenarnyalah bahwa kedua orang Tumenggung yang terdekat dengan Kangjeng Adipati juga merasa sangat cemas terhadap keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya. Agaknya mereka berhadapan dengan satu kemampuan yang sangat tinggi, namun yang terselubung.

Karena itu, maka keduanya telah datang menghadap Kangjeng Adipati untuk menyampaikan pendapat mereka.

“Ampun Kangjeng“ berkata Ki Tumenggung Wiradapa “kami berdua sangat mencemaskan keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya yang masih berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda.”

“Ya, kakang. Akupun mencemaskannya. Tetapi ketika aku panggil keduanya, keduanya mohon agar aku memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk menjalankan tugas mereka tanpa orang lain. Mereka berniat untuk menangkap pembunuh Rembana dan Sasangka. Tetapi jika di rumah itu ditempatkan orang lain, maka pembunuh itu tentu tidak akan datang kembali, sehingga mereka akan kehilangan jejaknya.”

“Tetapi kemungkinan buruk dapat terjadi atas mereka berdua, Kangjeng.”
“Aku sudah mengatakannya. Tetapi keduanya berkeras untuk tetap berada di rumah kangmbok Prawirayuda berdua saja.”

“Kangjeng“ berkata Ki Tumenggung Sanggayuda “kami mohon maaf sebelumnya. Kami berdua ingin menyampaikan permohonan jika Kangjeng Adipati memperkenankan.”

“Apa kakang ?”

“Hamba sudah membicarakaiinya dengan kakang Wiradapa. Jika Kangjeng berkenan memberikan perintah kepada kami berdua untuk mengawasi rumah Raden Ayu Prawirayuda itu.”

“Kakang akan berada di rumah itu pula ?”

“Tidak, Kangjeng. Kami akan tetap berada di luar dinding halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda. Kami akan mengawasi rumah itu dari luar. Mungkin keberadaan kami itu tidak akan berarli apa apa Tetapi dalam keadaan yang gawat, mungkin akan berarti pula.

“Baikiah, kakang, Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan kakang berdua untuk langsung ikut campur dalam persoalan yang sangal khusus ini”

“Aku masih menghubungkan dengan keberadaan segerombolan perampok yang berada di Panjer. Bahkan aku tidak berhasil melupakan, bahwa persoalan yang terjadi di Paranganom ini ada sangkut pautnya dengan kadipaten Kateguhan. Kebencian orang-orang Kaleguhan terhadap orang-orang Paranganom itu sudah sangat berlebihan, sehingga menimbulkan dugaan-dugaan yang buruk.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk.

Sementara itu, Ki Tumenggung Wiradapapun berkat “Raden Ayu Prawirayuda termasuk orang yang tidak disukai di Kateguhan, Kangjeng. Sehingga setelah berada di Paranganompun Raden Ayu Prawirayuda masih saja diganggu.”

“Tetapi apakah kemampuan orang-orang Kateguhan demikian tinggi, sehingga mereka dapat mempermainkan para prajurit pilihan di Paranganom ?”

“Ada satu dua orang berilmu tinggi di Kateguhan,* Kangjeng. Kehadiran Raden Wicitra di rumah Raden Ayu Prawirayuda juga merupakan persoalan tersendiri.”

“Aku mengerti kakang. Karena itu aku sama sekali tidak berkeberatan atas niat kakang. berdua untuk ikut mengamati rumah kangmbok Prawirayuda itu.”

“Kami mohon perintah Kangjeng Adipati.”

“Baik. Aku perintahkan kakang berdua untuk ikut mengawasi rumah Kangmbok Prawirayuda serta mengambil langkah-langkah yang perlu dalam keadaan yang gawat.”

“Terima kasih, Kangjeng. Kami berdua akan menjalankan perintah ini dengan sebaik-baiknya.”

Demikianlah, sejenak kemudian, kedua orang Tumeng-gung itupun mohon diri dari hadapan Kangjeng Adipati Prangkusuma.

Sepeninggal kedua Tumenggung itu, maka Kangjeng Adipatipun sempat duduk termenung. Sebenarnyalah bahwa Kangjeng Adipati sendiri sulit untuk dapat melepaskan persoalan yang terjadi di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu dengan kebencian orang-orang Kateguhan terhadap orang-orang Paranganom.

Sementara itu, Raden Ayu Prawirayuda adalah orang yang sangat dibenci di Kateguhan, sehingga Kangjeng Adipati di Kateguhan telah mengusirnya. Atau justru sebaliknya, karena Raden Ayu itu sudah diusir dari Kateguhan. Maka orang-orang Kateguhan menjadi sangat membencinya.

***

Dalam pada itu, di Kateguhan, Ki Tumenggung Reksadrana telah kehabisan kesabarannya. Dengan jantung yang bagaikan membara iapun berkata kepada Sura Branggah yang dipanggilnya menghadap “Sura Branggah. Satu lagi pembunuh anakku itu sudah mati.“

“Ya, Ki Tumenggung. Nampaknya Raden Wicitra tidak dapat dihentikan lagi.“

“Aku tidak mau kehilangan sasaranku yang semakin menyusut itu, Sura Branggah.“

“Bukankah satu kebetulan bagi kita ? Kita tidak usah bersusah payah. Sementara itu orang-orang yang akan menjadi sasaran kita sudah mati satu demi satu.“

“Edan kau Sura Branggah“ bentak Ki Tumenggung sambil mencengkam baju Sura Branggah “apa maumu pemalas. Kau memeras uangku, tetapi kau tidak mau bekerja keras.“

“Maaf, Ki Tumenggung. Tetapi itu bukan kemauanku. Bukankah Raden Wicitra sudah melakukannya atas kehendaknya sendiri.“

“Tidak“ didorongnya Sura Brangga yang duduk di lantai itu sehingga terlentang “aku akan membunuh dua orang yang lain. Untunglah Madyasta itu masih belum sempat dibunuh oleh Wicitra. Akulah yang akan membunuhnya. Dengan tanganku sendiri. Aku harus membalaskan dendam anakku yang telah mereka bunuh. Aku akan mencincangnya menjadi sewalang-walang.“

Sura Branggah yang kemudian bangkit sambil membenahi pakaiannya berkata “Maaf Ki Tumenggung. Bukan maksudku untuk tidak mau bekerja keras. Tetapi jika Ki Tumenggung akan membunuhnya dengan tangan Ki Tumenggung sendiri, maka aku tidak akan berkeberatan.“

“Kita akan datang ke rumah Raden Ayu yang tamak itu. Kita bunuh Wismaya, kemudian kita tangkap Madyasta hidup-hidup. Kita bawa Madyasta keluar dari rumah itu dan kita akan dapat berbuat apa saja sekehendak kita atas anak itu.“

“Bagaimana dengan Raden Ayu Prawirayuda dan anak gadisnya yang yang cantik itu?“

“Jika saja anakku masih ada, aku akan membawa Rantamsari baginya. Tetapi karena anakkku sudah mati, aku akan membunuh mereka pula.“

“Maksud Ki Tumenggung?“

“Aku akan membunuh Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya itu. Biarlah kekacauan yang terjadi di Paranganom itu lengkap. Paranganom akan menjadi gempar. Kematian Raden Ayu yang tamak itu gemanya tentu akan sampai ke Tegallangkap. Mau tidak mau penilaian Kangjeng Sultan Tegallangkap terhadap Kangjeng Adipali di Paranganom tentu akan terpengaruh juga.“

Sura Branggah termangu-mangu sejenak. Karena Sura Branggah tidak segera menanggapinya, maka Ki Tumenggung itu membentaknya “He, pamalas. Jangan tidur. Dengar kata-kataku ini, he?“

“Ya, ya. Aku mendengar Ki Tumenggung.“

“Seperti yang sudah pernah aku katakan. Jika perhatian Kangjeng Sultan di Tegallangkap tertuju kepada Kangjeng Adipati di Kateguhan untuk menjabat pepatih dalem di Tegallangkap, maka akulah yang akan menggantikan kedudukan Kangjeng Adipati. Aku akan menjadi Adipati di Kateguhan.“

Tiba-tiba saja Ki Tumenggung Reksadrana itu tertawa berkepanjangan. Sementara itu Sura Branggah hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Bahkan iapun berkata didalam hatinya.“

“Jika gegayuhan ini meleset, Ki Tumenggung ini akan dapat menjadi gila.“

Namun tiba-tiba sura tertawa Ki Tumenggung itu terputus. Tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Terdengar suaranya sendat “Tetapi anakku sudah mati. Jika aku berjuang mencari kemukten, sebenarnyalah aku ingin mewariskannya kepada anakku. Tetapi anakku sudah mati. Mati dibunuh oleh orang-orang Paranganom.“

Ki Tumenggung Reksadrana itu menggeretakkan giginya. Tiba-tiba tangannya menghentak sambil menggeram

“Aku bunuh orang-orang Paranganom. Aku bunuh Raden Ayu yang tamak dan berlindung di Paranganom itu. Aku bunuh anaknya perempuan. Aku juga akan membunuh bukan saja Madyasta. Tetapi juga anak laki-laki Adipati Paranganom yang satu lagi. Wignyana.“

Sura Branggah hanya dapat menarik nafas panjang.

Sementara itu Ki Tumenggung masih juga menggeram “Prakosa. Jangan gelisah karena kematianmu itu. Aku akan mengirimkan Madyasta dan Wignyana kepadamu. Lakukan apa yang ingin kau lakukan atas mereka.“

Namun tiba-tiba saja Ki Tumenggung Reksadrana itu tertawa. Katanya “Jika aku sudah menjadi Adipati, aku akan dapat mengambil dua atau tiga atau berapapun perempuan yang aku inginkan. Aku tentu akan mendapatkan seorang anak laki-laki dari mereka. Anak yang kelak akan menggantikan Prakosa menjadi Adipati di Kateguhan.“

Suara tertawa Ki Tumenggung Reksadrana itu mengu-mandang lagi di ruang dalam rumahnya, sehingga liang-liangnya seakan-akan telah bergetar karenanya.

“Ki Tumenggung Reksadrana itu sesungguh-sungguh sudah mulai menjadi gila“ berkata Sura Branggah di dalam hatinya. Bahkan Sura Branggah itupun-tersenyum-senyum sendiri pula sambil bergumam “Gila atau tidak, tetapi uangnyalah yang penting bagiku.”

Namun tiba-tiba saja Sura Branggah itupun menyadari tingkah lakunya sendiri. “Apakah aku juga sudah gila dan tertawa sendiri pula ?”

Tiba-tiba Sura Branggah itu teikejut ketika Ki Tumenggung membentaknya ”He, Sura Branggah. Apakah kau sudah menjadi gila ? Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri ? Atau kau mentertawakan aku ?”

“Tidak, Ki Tumenggung. Aku tidak mentertawakan Ki Tumenggung. Tetapi mungkin aku memang sudah menjadi gila.”

“ Sura Branggah. Siapkan sisa-sisa orangmu. Besok malam kita memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda.”

“Besok malam ?”

“Ya. Kita akan berangkat ke Paranganom. Malam nanti kita harus sudah berada di Paranganom. Bukankah kau mempunyai sarang di sana? Kita harus memasuki Paranganom di malam hari. Selambat-lambatnya esok dini hari. Kita akan beristirahat sehari di Paranganom. Kita akan membunuh semua orang penghuni rumah itu. Bahkan pada abdipun akan kita bunuh semuanya agar tidak ada seorang saksipun yang dapat berceritera tentang keberadaan kita di rumah itu.”

“Raden Madyasta?”

“Kecuali Madyasta, dungu. Madyasta harus ditangkap hidup-hidup. Aku akan mengurusnya untuk selanjutnya.”

“Lalu, bagaimana dengan Raden Wignyana?”

“Anak itu tidak berada di. rumah Raden Ayu Prawirayuda. Anak itu berada di Kadipaten.”

“Bukankah Ki Tumenggung juga ingin mem-bunuhnya?”

“Tentu lain kali“ Ki Tumenggung itu berteriak “ternyata kau dungu melebihi seekor kerbau.”

Sura Branggah tidak menjawab.

“Nah, sekarang kau pergi. Kumpulkan sedikitnya delapan orang terbaik. Kalau kawan-kawanmu sudah mati di tumpas Madyasta, cari yang lain. Kau tentu mempunyai hubungan yang luas. Janjikan upah yang tinggi. Aku tidak berkeberatan, asal kita dapat membunuh seisi rumah itu dan menangkap Madyasta hidup-hidup.”

“Kenapa delapan ?” Ki Tumenggung.

“Bersama kita. berdua, maka jumlahnya menjadi sepuluh orang. Bersepuluh kita tentu akan berhasil. Di rumah itu hanya ada dua orang Senapati yang sombong. Mereka mau memanggil bantuan untuk mengamankan rumah itu. Berdua mereka merasa akan dapat mengatasi pembunuh kedua orang kawan mereka.”

Agaknya mereka juga mencurigai Wicitra. Jika benar Wicitra pembunuhnya, maka berdua mereka akan dapat menangkapnya.”

“Tetapi ternyata mereka tidak mampu menghindari dari kelicikannya.”

Sura Branggah mengangguk-angguk.

“Karena kita tidak mau gagal, maka kita akan datang bersama delapan orang yang kau tentu dapat memilihnya diantara sekian banyak gegedug di Kadipaten Kateguhan.”

Sura Branggah mengangguk-angguk. “Pergilah. Nanti sebelum senja semuanya harus siap. Kita akan berangkat dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah dengan melewati jalan yang berbeda pada saat kita memasuki Paranganom agar tidak menimbulkan kecurigaan.”

Sura Branggah menarik nafas dalam-dalam. Katanya lebih ditujukan kepada diri sendiri “Waktunya terlalu pendek.”

“Jangan berceloteh. Pakai salah satu kuda di kandang itu, asal bukan si Werdi, kuda yang berwarna kelabu.”

“Baik, Ki Tumenggung. Aku akan mencobanya.”

“Kau benggolan kecu yang sudah kawentar, masih juga akan coba-coba ? Kenapa kau tidak dapat berkata dengan pasti? Aku tidak mau kau membawa kecoak-kecoak kecil, kurus kering dan sakit-sakitan. Aku ingin kau membawa gegedug-gegedug yang sembada. Baik ujudnya maupun kemampuannya.” ,

“Tetapi Ki Tumenggung harus mengerti, bahwa mereka bukan anak buahku sendiri. Anak buahku yang dapat diandalkan tinggal tidak lebih dari ampat orang.”

“Aku tidak peduli. Kau harus mendapatkannya berapapun upahnya. Aku tidak mau kehilangan Madyasta. Ia akan dapat menjadi permainan yang menyenangkan. Aku akan memeliharanya dengan baik, la akan dapat memberikan kesenangan dan kepuasan disetiap pagi, pada saat aku bangun tidur. Ia akan terikat di tiang yang kokoh. Tentu aku akan memanjakannya. Setiap hari ia akan disuapi. Ia tidak boleh segera mati.”

“Baiklah, Ki Tumenggung, Aku akan memenuhi keinginan Ki Tumenggung.”

“Pergilah. Aku akan tidur sekarang. Malam nanti kita akan menempuh perjalanan panjang.”

“Kalau Kangjeng Adipati rnencari Ki Tumenggung.”

“Aku akan memohon diri untuk pergi barang dua tiga hari menengok adikku yang sakit di Tegallangkap “

Sura Branggah mengangguk-angguk.

“Cepat. Cari orang itu.”

“Baik, baik Ki Tumenggung.”

Sejenak kemudian, Sura Branggahpun minta diri. Dibawanya seekor diantara beberapa kuda Ki Tumenggung. Sura Branggah memilih kuda yang berwarna coklat kehitaman.

Di sore hari, Sura Branggah telah datang lagi ke rumah Ki Tumenggung Reksadrana, yang dengan tergesa-gesa menemuinya.

“Kau dapatkan orang-orang itu?“

“Ya, Ki Tumenggung. empat orang adalah anak buahku sendiri. Empat orang yang lain adalah gegedug-gegedug yang dapat dipercaya. Tetapi upah bagi merekapun cukup besar.

“Sudah aku katakan, aku tidak peduli.“

“Tetapi persoalannya tidak terlalu sederhana Ki Tumenggung.“

“Apa lagi?“

“Bukankah orang-orang itu akan ditempatkan dibawah pimpinanku?“

“Tentu. Kau akan menjadi panglima dari pasukanku itu.“

“Ki Tumenggung. Jika aku harus memimpin mereka, maka upahku tentu harus lebih banyak dari mereka.“

“Iblis kau Sura Branggah., Sudah aku kalakan, kalau perlu aku akan menjual beberapa barang berharga yang aku miliki.“

Sura Branggah mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Segala sesuatunya sudah siap. Senja nanti kita sudah dapat berangkat.“

“Bukankah mereka membawa kuda mereka sendiri-sendiri?“

“Para gegedug itu mempunyai kuda mereka sendiri. Tetapi bagi ampat orang-orangku hanya tersedia dua ekor kuda.“

“ Ambil kudaku satu lagi asal bukan Si Werdi.“

“Kudanya kurang dua, Ki Tumenggung.“

“Kau sama sekali tidak punya modal apa-apa, Sura Branggah.

“Jadi kami meminjam tiga ekor kuda Ki Tumenggung.“

“Kudaku hanya empat. Kalian bawa tiga.“

“Bukankah Ki Tumenggung Reksadrana hanya membutuhkan seekor kuda.“

“Kau memang gila, Sura Branggah.“

“ Sekali-sekali saja Ki Tumenggung. Bukankah saat ini saat yang sangat penting bagi Ki Tumenggung. Tanpa kuda, maka kami tidak akan dapat sampai ke Paranganom sebelum dini. Mungkin baru esok siang atau bahkan lebih lama lagi.“

“Cukup. Aku tidak mau tertunda lagi.“

“Jadi?“

“Pakai kudaku. Pakai kudaku“ Ki Tumenggung Reksadrana berteriak nyaring.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, beberapa orang gegedug telah berada di rmah Ki Tumenggung.

Seorang diantara merekapun berkata dengan nada yang kasar “Ki Tumenggung. Sebelum kita berangkat, aku minta uang jaminan agar Ki Tumenggung tidak menipu kami.“

“Menipu ? Apakah kata-kata itu keluar dari mulutmu?“ bertanya Ki Tumenggung Reksadrana.

“Ya. Siapa tahu.“

“Kau berbicara dengan seorang Tumenggung“ bentak Sura Branggah.

“Aku tahu. Tetapi seorang Tumenggungpun dapat saja menipu dan berbohong.“

“Dengar“ wajah Sura Branggah menjadi merah. Ia merasa bertanggung jawab atas orang-orang yang dibawanya menghadap Ki Tumenggung Reksadrana “Aku dapat membunuhmu sekarang atau kapan saja. Apalagi Ki Tumenggung Reksadrana. Bukan karena jabatannya sehingga ia dapat memanggil sekelompok prajurit. Tetapi dengan ayunan tangannya, kepalamu dapat dipecahkannya.“

“Tetapi siapa yang akan menjamin bahwa kami tidak akan menyabung nyawa tetapi kemudian janji-janji sebelumnya diingkari?“

“Aku. Aku yang akan menjamin bahwa segalanya akan berlangsung sesuai dengan pembicaraan kita. Kau berbicara dengan aku. Jika kau diingkari, maka akulah yang bertanggung jawab.“

Orang itu mengerutkan dahinya, sementara Ki Tumenggung Reksadranapun berkata “Jika saja kau bukan orang yang dipercaya oleh Sura Branggah, maka aku tentu sudah mengoyakkan mulutmu. Atau jika kau tidak percaya akan kemampuanku, kau akan menantangku setelah kerja kita selesai?“

“Tidak. bukan maksudku, Ki Tumenggung. Tetapi aku hanya ingin meyakinkan bahwa aku tidak bertaruh nyawa dengan sia-sia.”

“Kau sendirilah yang membuat kerjamu sia-sia.“

“Aku tidak bermaksud seperti itu.“

“Sekarang kau diam. Aku yang bertanggung jawab.“

Orang itupun terdiam. Sementara Sura Branggahpun berkata “Kita akan segera bersiap-siap. Sedikit lewat senja kita akan berangkat. Kita akan menempuh perjalanan di malam hari. Kita berharap akan berada di Paranganom sebelum terang tanah, sehingga tidak ada orang yang mengetahui kedatangan kita dan apalagi mencurigainya. Kita akan menempuh perjalanan di malam hari. Kitapun akan berbagi diri dalam kelompok-kelompok kecil. Kita tidak akan tertarik pada apapun juga yang kita jumpai diperjalanan.“

“Apa yang kau maksud, kakang?“ bertanya salah seorang gegedug.

“Tegasnya, kita tidak boleh berhenti dan merampok di sepanjang jalan meskipun kita akan melewati rumah orang-orang kaya serta ada kesempatan terbuka. Kita juga tidak boleh berhenti untuk menyamun meskipun kita berpapasan dengan pejalan-pejalan di malam hari. Bahkan seandainya mereka membawa harta benda yang seberapapun banyaknya, karena langkah yang demikian akan dapat mengganggu tugas-tugas pokok yang harus kita lakukan di Paranganom.“

Para gegedug yang telah menyatakan kesediaan mereka untuk bekerjasama dengan Sura Branggah itupun mengangguk- angguk.

Demikianlah setelah beberapa pesan terakhir di berikan oleh Ki Tumenggung Reksadrana, maka sekelompok orang yang sepakat untuk membantu Ki Tumenggung itupun segera berangkat. Mereka telah mendapat beberapa petunjuk, rumah yang manakah yang harus mereka datangi di Paranganom.

“Jangan menempuh perjalanan dalam kelompok-kelompok yang dapat menarik perhatian. Kalian akan menempuh perjalanan masing-masing berdua saja. Akupun akan menempuh perjalanan ini juga berdua dengan Ki Tumenggung Reksadrana.“

Malam itu, Ki Tumenggung Reksadrana, Sura Branggah dan orang-orangnyapun telah menempuh perjalanan panjang. Mereka harus sampai di Paranganom di dini hari sebelum terang tanah.

Sejak orang-orang upahan Ki Tumenggung Reksadrana itu keluar dari pintu gerbang.kota, maka merekapun telah melarikan kuda mereka. Semakin jauh, derap kaki kuda mereka menjadi semakin cepat. Hanya kadang-kadang, jika jalan pintas yang mereka tempuh terlalu rumit, maka kuda-kuda itupun berlari lebih lambat. dan bahkan kadang-kadang kuda itu harus berjalan tidak lebih cepat dari seorang anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran.

Namun bagaimanapun juga mereka tidak dapat melarikan kuda mereka tanpa berhenti. Kuda-kuda itu juga memerlukan waktu untuk beristirahat barang sejenak.

Sebenarnyalah bahwa pesan yang diberikan oleh Sura Branggah bagi mereka, terasa sangat menekan. Ketika dua orang gegedug berhenti di pinggir jalan untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat sedikit lewat tengah malam, mereka melihat dua orang yang juga berkuda dari arah yang berlawanan.
“Dua orang berkuda“ desis seorang dianiara mereka..

“Ya. Kenapa?“ bertanya kawannya.

“Apakah kita tidak dapat menghentikan mereka.?”

“Untuk apa ? Menyamun?“

“Ya.“

“Kita dilarang untuk melakukannya menjelang tugas kita ini.“

“ Tidak ada orang yang melihatnya.“

“ Setidak-tidaknya kedua orang itu.“

“Kita bunuh mereka. Tidak akan ada saksi, bahwa kita telah melakukannya.“

“Itu hanyalah satu kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi masih ada kemungkinan lain.“

“Apa?“

“Kita berdua dapat mereka kalahkan. Mereka menangkap kita dan membawa kami ke Paranganom.“

“Kita tidak dapat dikalahkan.“

“Jika mereka orang-orang berilmu tinggi.“

“Kenapa tiba-tiba saja kau menjadi pengecut?“

“Jika kita tidak sedang dalam ikatan dengan seseorang, maka aku tidak akan terlalu banyak membuat pertimbangan. Tetapi sekarang kita sedang membuat janji.“

“Kita tidak akan melanggar janji itu.“

“Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau Sura Branggah kehilangan kepercayaan kepadaku.“

Kawannya terdiam. Bagaimanapun juga nama Sura Branggah memaksanya untuk membuat pertimbangan dua tiga kali lagi.

Namun ketika kedua orang berkuda itu lewat, mereka tidak berbuat apa-apa.

Sebenarnyalah kedua orang berkuda itupun menjadi berdebar-debar ketika mereka melihal dua orang yang duduk diatas tanggul parit di pinggir jalan di malam yang gelap itu. Tetapi kedua orang itu berjalan terus. Bahkan keduanyapun telah menyiagakan diri untuk jika perlu bertempur.

Namun kedua orang yang duduk di tanggul parit itu tidak berbuat apa-apa. Bahkan ketika kedua orang berkuda itu lewat, kedua orang yang duduk di tanggul parit itupun telah bangkit pula untuk melanjutkan perjalanan mereka ke.arah yang berlawanan.

Demikianlah, seperti yang direncanakan, maka di dini hari, sebelum terang tanah, Sura Branggah dan Ki Tumenggung Reksadrana telah berada di Paranganom. Demikian pula delapan orang yang lain. Mereka langsung pergi ke sebuah rumah yang berada di ujung sebuah padukuhan, agak terpisah dari para penghuni yang lain.

Di rumah itulah mereka akan beristirahat sehari. Namun pesan Sura Branggah kepada kedelapan orang itu “Kalian jangan keluar dari rumah ini.“

Kedelapan orang itu menyadari, selain mereka berada di tempat asing, merekapun akan melakukan pekerjaan yang gawat.

Dengan demikian, maka yang mereka lakukan sehari itu adalah makan dan tidur. Mereka yang tidak dapat tidur karena udara yang terasa panas, menggelar tikar di kebun belakang, dibawah pepohonari yang berdaun lebat.

***

Dalam pada itu, Wismaya dan Madyasta yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya yang besar sedang merunduk mereka. Mereka memang tidak menjadi lengah. Tetapi mereka merasa musuh yang mereka hadapi adalah hanya satu atau dua orang yang dengan licik menikam dari belakang. Mereka tidak memperhitungkan kemungkinan, sepuluh orang yang berpengalaman hidup di dunia yang hitam sedang bersiap-siap untuk memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Ketika malam turun, kedua orang prajurit muda yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu sudah mulai bersiap-siap. Seperti malam-malam terakhir, mereka tidak berpencar. Berdua mereka setiap kali meronda mengelilingi rumah Raden Ayu Prawirayuda itu. Kadang-kadang mereka berdua berhenti di kebun belakang beberapa saat.

Pada kesempatan lain mereka berada di belakang gandok atau di tempat-tempat lain. Dengan demikian, maka kesempatan untuk menyerang dari belakang menjadi sulit. Justru karena mereka berdua.

Bab 28 – Pertempuran Di Rumah Raden Ayu

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggahpun telah mempersiapkan diri. Mereka memberikan beberapa petunjuk dan perintah kepada orang-orang upahan mereka.

“Kita akan berkumpul di belakang lumbung di sebelah dapur rumah yang besar itu.“

“Baik Ki Tumenggung“ jawab mereka hampir berbareng.

Demikianlah, maka merekapun segera berangkat menuiu ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi seperti pada saat mereka memasuki Kadipaten Paranganom, maka mereka telah membagi diri.

Sebelum tengah malam, seperti yang mereka rencanakan, mereka telah berloncatan memasuki dinding halaman samping rumah Raden Ayu Prawirayuda. Halaman samping yang gelap dan ditumbuhi oleh berbagai pepohonan buah-buahan dan pohon-pohon perdu yang tertata rapi.

Dalam kegelapan, sepuluh orang telah berkumpul, Dengan hati-hati mereka merayap mendekati pintu seketeng. Seorang diantara mereka meloncat masuk ke longkangan dan membuka pintu seketeng yang di selarak dari dalam.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Ki Tumenggung.“

“Dimana kedua orang Senapati muda itu“ desis Sura Branggah.

“Mereka tidak ada di gandok. Jika ada mereka tentu berada didalam bilik mereka.“

“Mungkin mereka berada di dalam. Mereka tidak ingin ditikam dari belakang seperti yang pernah terjadi.“

“Lalu apa artinya keberadaan mereka disini?“

“Nampaknya mereka mencurigai Wicitra. Dengan demikian, mereka berdua justru berada di dalam rumah. Jika Wicitra berniat mengambil anak perempuan Raden Ayu Prawirayuda, barulah kedua orang Senapati itu bertindak.“

“Sekarang apa yang akan kita lakukan, Ki Lurah?“ bertanya-seorang diantara orang-orang upahan itu.

“Kita masuk ke dalam“ jawab Sura Branggah.

“Kita mengetuk pintu. Jika kedua orang Senapati itu berada didalam, maka merekalah yang akan membukakan pintunya. Kita akan membunuh Wismaya dan menangkap Madyasta“ sahut Ki Tumenggung Reksadrana.

“Kita tidak usah mengetuk pintu Ki Tumenggung.“

“Kita rusakkan pintu butulan itu?“

“Tidak. Seorang dari anak buahku itu mempunyai kepandaian khusus. Ia akan dapat masuk ke dalam lewat tutup keyong bangunan belakang. Biarlah nanti ia membuka pintu butulan ini dari dalam.

“Baiklah. Perintahkan orang itu segera melakukannya.“

Sura Branggah itupun kemudian memanggil seorang anak buahnya yang bertubuh agak tinggi ke kuras-kurusan.

“Cemeng. Masuklah lewat tutup keyong itu. Buka pin-tunya dari dalam “

“Baik, Ki Lurah. Tetapi nampaknya tutup keyongnya terbuat dari papan, sehingga aku memerlukan waktu untuk membukanya.“

”Lakukan. Cepat atau aku gantung kau di dahan pohon jambu itu.“

Ternyata orang yang dipanggil Cemeng itu memang mampu memanjat seperti kucing. Dalam waktu yang pendek orang itu sudah melekat pada tutup keyong di bangunan bagian belakang.

“Potong saja tali ijuk kayu yang menghimpit papan tutup keyong itu“ berkata seorang kawannya yang berada di bawahnya.

“Sst. Jangan keras-keras“ desis yang lain. .

“Kenapa ?”

“Nanti penghuninya terbangun.“

“Kalau mereka terbangun mau apa. Bukankah hanya dua orang perempuan.?“

“Dua orang prajurit itu?“

“Justru mereka yang kita cari. Biarlah mereka keluar menyongsong kita.“

Kawannya tidak menyahut lagi. Sementara itu, Cemeng telah hilang ditelan bangunan.belakang rumah yang besar itu.

Beberapa saat kemudian, maka Cemeng itu sudah mengangkat selarak pintu butulan dari dalam.

Sambil menengadahkan dadanya karena keberhasilannya, iapun berkata “Marilah, silahkan masuk.“

“Edan kau. Kau kira kau sudah menjadi pahlawan?“ berkata seorang kawannya.

“Apapun namanya, tetapi aku sudah berhasil membuka pintu ini dan mempersilahkan kalian masuk”

Ki Tumenggung Reksadrana melangkah maju sambil berkata “Minggir. Aku akan memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda. Besok menjelang pagi, rumah ini akan menjadi sepi. Yang ada hanyalah mayat-mayat yang terbujur lintang. Sedangkan Madyasta tidak akan dapat diketemukan mayatnya disini.“

Namun ketika Ki Tumenggung Reksadrana akan menginjakkan kakinya ke tlundak pintu butulan, terdengar suara seseorang “Selamat malam, paman Tumenggung.“

Bukan hanya Ki Tumenggung. Tetapi semua orang telah berpaling. Mereka melihat Madyasta dan Wismaya berdiri se-langkah dari pintu seketeng yang terbuka.

“Raden Madyasta“ geram Ki Tumenggung Reksadrana.

“Ya, paman. Bukankah paman tidak lupa kepadaku.“

“Tidak. Aku tidak dapat lupa dengan wajah iblismu yang licik itu.“

“Paman masih saja suka bergurau. Ketika aku masih remaja, aku sering mengunjungi kangmas Yudapati yang juga masih remaja. Aku tidak pernah melupakan paman yang pandai melucu.“

“Cukup“ bentak Ki Tumenggung Reksadrana.

“Kenapa tiba-tiba saja paman marah?“

“Jangan banyak bicara, Raden. Malam ini aku datang untuk menangkapmu.“

“Menangkap aku ? Apa salahku?“

“Kau adalah seorang pembunuh yang bengis. Kau pantas mendapat hukuman yang lebih berat dari hukuman mati.“

“Paman. Kenapa paman menuduh aku seorang pembunuh? Siapakah yang pernah aku bunuh. Jika aku mem-bunuh musuh-musuhku di medan pertempuran, aku tidak dapat disebut sebagai pembunuh. Didalam perang, kemungkinan untuk dibunuh dan membunuh sama besarnya paman.“

“Cukup, menyerahlah. Aku akan mengikat tangan dan kakimu.“

“Bagaimana mungkin aku melakukannya. Bagaimana mungkin aku menyerah.“

“Kau tidak dapat memilih. Kau harus menyerah kepadaku. Sedangkan orang-orangku akan membunuh Senapati pengecut itu.“

“Paman. Bukan paman yang akan. menangkap aku. Tetapi keberadaan paman di wilayah Paranganom, apalagi di rumah bibi Prawirayuda pada waktu yang tidak sewajarnya, memaksa aku untuk menangkap paman dan kawan-kawan paman. Menurut dugaanku, paman yang datang tidak pada waktu yang wajar dengan membawa banyak orang, tentu. menyimpan maksud-maksud yang jahat.”

Ki Tumenggung Reksadrana itupun tertawa. Katanya “Kau kira kau ini siapa Raden. Kau kira aku ini siapa. Meskipun kau mempunyai ilmu simpanan rangkap tujuh, tetapi kedudukanmu sekarang sangat lemah. Karena itu, daripada kau mengalami perlakuan yang buruk, sebaiknya kau menyerah saja.”

“Sudah aku katakan. Paman akan aku tangkap. Disini aku bertugas untuk menjaga keselamatan bibi Prawirayuda. Paman juga akan dituduh membunuh dua orang Senapati Paranganom di rumah ini.”

Ki Tumenggung Prawirayuda masih saja tertawa. Kemudian iapun berkata kepada Sura Branggah “Tangkap Raden Madyasta. Bunuh saja Wismaya. Aku tidak memerlukannya.”

Sura Branggah itupun segera memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk menangkap Madyasta hidup-hidup serta membunuh Wismaya.

Pertempuranpun segera terjadi. Madyasta dan Wismaya harus berhadapan dengan delapan orang upahan Ki Tumenggung Reksadrana, sementara Ki Tumenggung dan Sura Branggah berdiri saja menonton.

Betapapun tinggi ilmu Raden Madyasta dan Wismaya, namun menghadapi delapan orang brandal yang berpengalaman, keduanyapun segera terdesak. Bahkan sekali-sekali Wismaya dan Raden Madyasta harus berloncatan surut mengambil jarak pada saat-sat yang gawat.
Wismaya dan Raden Madyasta yang sudah mengerahkan segenap kemampuannya itupun masih saja mengalami kesulitan. Serangan-serangan lawannya sekali-sekali mulai menyentuh tubuh mereka.

“Nah, ingat“ suara Ki Tumenggung terdengar bagaikan guntur “Madyasta harus ditangkap hidup-hidup. Sedangkan Wismaya tidak aku perlukan lagi. Bunuh saja dan buang mayatnya di kebun belakang. Atau biarkan saja di longkangan ini. Aku akan masuk dan mengambil Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya.”

Namun sebelum Ki Tumenggung itu beranjak dari tem-patnya, terdengar seseorang bertanya “Kaukah itu Ki Tu-menggung Reksadrana?”

Ki Tumenggung Reksadrana terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya dipintu seketeng dua orang yang melangkah mendekati arena pertempuran. Dalam cahaya lampu minyak yang lemah di serambi yang menghadap longkangan itu, Ki Tumenggung Reksadrana melihat, bahwa yang datang itu adalah Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda.

Jantung Ki Tumenggung Reksadrana itupun menjadi berdebaran. Ki Reksadrana tidak mengira, bahwa kedua orang Tumenggung andalan Paranganom itu berada pula di rumah Raden Ayu Prawirayuda.

Namun sebenamyalah bahwa yang terkejut bukan hanya Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggah. Tetapi Raden Madyasta dan Wismayapun terkejut pula.

“Paman berada disini?” bertanya Raden Madyasta yang meloncat surut mengambil jarak dari lawan-lawannya.

“Ya, ngger. Setiap malam aku menunggu di tempat ini. Bergantian kami berdua berjaga-jaga menunggu kedatangan agul-agul dari Kateguhan ini. Akhirnya orang ini datang pula.”

“Setan kau kakang Sanggayuda dan kakang Wiradapa. Darimana kalian tahu bahwa pada suatu saat aku akan datang ke rumah ini.”

“Tentu kau yang sudah membujuk Kangjeng Adipati Yudapati agar, mengusir Raderi Ayu Prawirayuda. Tetapi itu belum cukup bagimu. Kau datang memburunya kemari“ sahut Ki Tumenggung Sanggayuda.

“Aku memang datang kemari. Tetapi alasan yang kau sebutkan itu salah. Sebenarnyaaku tidak mempunyai urusan dengan Raden Ayu Prawirayuda.”

“Lalu untuk apa kau datang kemari?”

“Aku memerlukan Madyasta dan Wismaya.”

“Kenapa?”

“Bukan urusanmu. Sekarang serahkan saja Madyasta dan Wismaya kepadaku. Aku akan segera pergi tanpa mengganggu seisi rumah ini.”

“Apa kata Kangjeng Adipati Prangkusuma seandainya kau benar-benar membawa Raden Madyasta ?”

“Aku tidak peduli.”

“Dapatkah kau membayangkan, jika perang terjadi antara Paranganom dan Kateguhan?”

Wajah Ki Tumenggung Reksadrana menjadi tegang. Namun kemudian Ki Tumenggung itupun menjawab “Jika demikian, maka aku akan melenyapkan saksi atas apa yang terjadi malam ini.”

“Kau akan membunuh kami berdua, Raden Madyasta dan Wismaya sekaligus ?”

“Termasuk Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari. Bahkan para pembantu, sehingga tidak seorangpun yang akan dapat mengatakan apa yang sebenamya telah terjadi malam ini di rumah ini.”

“Kau kira begitu mudahnya kau membunuh?”

“Kenapa tidak? Aku datang bersama sembilan orang. Kami semuanya sepuluh orang. Kalian hanya berempat. Sementara itu diantara kami ada aku, ada Sura Branggah, ada Cemeng Kebang Telon dan yang lain-lain, yang namanya telah mengumandang diseluruh kadipaten Kateguhan.”

“Mungkin nama mereka telah dikenal oleh orang-orang Kateguhan, tetapi tidak oleh orang-orang Paranganom. Sebenanyalah ukuran kita tentang tingkat kelebihan seseorang memang berbeda. Apa yang kalian anggap emas, ternyata tidak lebih dari loyang saja bagi kami.”

“Kesombonganmu menyakitkan hatiku, kakang. Sebaiknya sekarang kakang menundukkan kepala untuk menerima hukuman dari kami.”

“Siapa yang akan menghukum kami ? Kau dan para perigikutmu itu ?”

“Ya. Aku dan para pengikutku.”

”Adi Tumenggung Reksadrana” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “sebaiknya adi menghentikan pokal adi yang jahat ini. Adi harus menyadari, bahwa apa yang adi lakukan ini dapat menyeret dua kadipaten yang pernah diperintah oleh dua orang bersaudara, kakak beradik, kedalam kancah peperangan.”

Wajah Ki Tumenggung Reksadrana menjadi semakin tegang. Namun kemudian sekali lagi iapun berkata “Aku akan membunuh semua orang. Perang itu tidak akan terjadi karena tidak akan ada orang yang dapat menyebut namaku.”

“Jangan terlalu yakin.”

“Aku yakin akan kemampuanku dan aku yakin akan kemampuan orang-orangku.”

“Kaulah yang akan menjadi mayat disini, Reksadrana. Atau aku akan menangkapmu dan menyeretmu ke hadapan Kangjeng Adipati Prangkusuma. Jika perang itu kemudian harus terjadi, maka kau akan menjadi pengewan-ewan tidak hanya di Paranganom. Tetapi kau akan diikat.di alun-alun Tegallangkap, karena kau telah mengobarkan permusuhan di Tegallangkap dan bahkan menimbulkan perang antara dua kadipaten terbaik di Tegallangkap.”

“Persetan dengan celotehmu, Sanggayuda, aku akan memotong lidahmu.”

“Bagus. Kita akan mencoba mengadu kemampuan. Sudah sejak di hadapan Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan aku ingin memilin lehermu”

“Aku akan melayanimu Sanggayuda“

Ki Tumenggung Sanggayuda tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Iapun dengan serta-merta telah menyerang Ki Tumenggung Reksadrana.

Serangan Ki Tumenggung Sanggayuda itu merupakan aba-aba bagi orang-orang upahan Ki Tumenggung Reksadrana. Merekapun serentak telah bergerak pula menyerang Raden Madyasta, Wismaya dan Ki Tumenggung Wiradapa.

Pertempuranpun segera telah berkobar kembali di longkangan itu. Wismaya dan Raden Madyasta harus bertempur menghadapi beberapa orang lawan lagi. Tetapi kehadiran Ki Tumenggung Wiradapa telah mengurangi beban yang harus di usung oleh Wismaya dan Raden Madyasta. Sementara itu Ki Tumenggung Reksadrana terikat dalam pertempuran melawan Ki Tumenggung Sanggayada.

Ternyata keduanya adalah prajurit linuwih. Keduanya memiliki ilmu yang tinggi serta pengalaman yang luas. Paranganom dan Kateguhan yang pernah diperintah oleh dua orang bersaudara itu masing-masing mempunyai Senapati pilihan yang sulit dicari imbangannya.

Keduanya saling menyerang dan bertahan. Selapis demi selapis keduanyapun meningkatkan kemampuan mereka.

Di sisi yang lain, Wismaya dan Raden Madyasta berloncatan menghadapi lawan-lawannya. Namun keduanyapun kemudian bergeser keluar dari pintu seketheng dan bertempur di halaman.

Wismaya harus menghadapi dua orang gegedug yang bertempur dengan keras dan bahkan kasar. Raden Madyasta menghadapi tiga orang sekaligus. Demikian pula Ki Tumeng-gung Wiradapa yang masih bertempur di longkangan. Ki Tu-menggung itu juga menghadapi tiga orang benggol perampok yang garang.

Namun ketiganya adalah prajurit pilihan. Wismaya de-ngan langkah-langkah panjang berloncatan di halaman, se-hingga kedua orang lawannya telah dipaksa untuk menyesuaikan dirinya. Keduanya yang berusaha untuk bertempur di arah kedua sisinya, ternyata tidak pernah berhasil. Wismaya selalu saja dapat keluar dari garis serangan yang dibangun oleh kedua orang lawannya. Bahkan sekali-sekali Wismaya mampu mengejutkan mereka. Geraknya yang sulit diduga itu, membuat kedua orang lawannya harus memeras kemampuannya.
Tetapi serangan-serangan Wismayalah yang sekali-sekali justru mulai menyentuh tubuh lawannya.

“Edan tenan orang ini“ geram salah seorang dari kedua gegedug yang bertempur melawan Wismaya

“Peras tenaganya, kang“ berkata yang lain “ia akan menjadi lumpuh dan tidak berdaya. Kita akan menangkapnya. Kau pegang kepalanya aku pegang kakinya. Tubuhnya kita pelintir seperti tampan“

Gegedug yang seorang tidak menjawab lagi. Tetapi di-tingkatkannya serangan-serangannya. Seperti kawannya ia mencoba memancing agar Senapati muda itu memeras tenaganya sehingga akhirnya ia akan menjadi kelelahan atau bahkan nafasnya akan terputus dengan sendirinya.

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kedua orang gegedug itulah yang harus memeras tenaga mereka. Senapati muda itu mampu bergerak cepat sekali, sehingga hampir bersamaan waktunya, serangannya mampu mengenai kedua orang lawannya sekaligus.

Namun serangan-serangan kedua orang gegedug itu ada juga yang berhasil menyusup disela-sela pertahanan Wismaya. Seorang diantara kedua orang lawannya berhasil mengenai punggung Wismaya dengan tendangan kakinya. Wismaya ter-dorong kedepan. Dengan sigapnya lawannya yang seorang lagi mengayunkan kakinya melingkar, tepat mengenai dada Wismaya.

Tetapi Wismaya tidak terdorong surut karena ia tahu bahwa lawannya yang seorang lagi menunggu. Wismaya justru menjatuhkan dirinya, berguling sambil menyapu kaki lawannya yang seorang. Demikian kerasnya sehingga orang itu terbanting ditanah.

Ternyata Wismaya lebih cepat melenting berdiri. Ketika orang itu juga bangkit, Wismaya sempat meloncat sambil menjulurkan kakinya.

Kaki Wismaya yang mengenai dada lawannya itu telah melemparkan lawannya sehingga terpelanting di tanah.

Di dekat pendapa, Raden Madyasta bertempur melawan ketika orang lawannya. Dengan gagangnya, seperti seekor sikatan berburu bilalang di padang rumput yang luas, Raden Madyasta berloncatan menyambar-nyambar. Namun kemudi-an Raden Madaysta itu berdiri tegak di tengah-tengah kepungan ketiga orang lawannya. Ia tidak berloncatan sama sekali. Kedua kakinya rasa-rasanya menjadi lekat dengan bumi yang diinjaknya.

Sekali-sekali Raden Madyasta itu bergerak setapak kesamping. Bergeser sedikit atau berputar seperempat lingkaran. Sikapnya mencerminkan ketangguhannya. Tangguh seperti seekor banteng menghadapi harimau yang garang.

Dengan demikian maka ketiga orang yang sudah terbiasa hidup dalam suasana yang keras dan bengis itu justru menjadi berdebar-debar menghadapi lawannya yang masih muda itu.

“Apakah anak seorang Adipati dengan sendirinya menjadi seorang yang berilmu tinggi?“ bertanya salah seorang lawannya di dalam hatinya.

Sebenarnyalah ketiga orang lawannya itu benar-benar mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, ketiga orang yang bertempur melawan Ki Tumenggung Wiradapa adalah seorang yang bernasib buruk. Sejak mereka mulai bertempur, mereka sudah terdesak. Mereka segera merasakan tekanan yang sangat berat dari seorang Tumenggung yang sudah separo baya.

Ketiga orang itu telah berusaha untuk memeras tenaga Ki Tumenggung. Mereka bertempur sambil berloncatan. Sekali menyerang, kemudian meloncat menjauh bergantian. Mereka berharap bahwa Ki Tumenggung Wiradapa akan berlari-larian memburu mereka.

Tetapi yang terjadi sama sekali tidak seperti yang mereka harapkan. Ki Tumenggung itu hanya sedikit sekali bergerak. Jika seorang lawannya berloncatan menjauh, ia sama sekali tidak memburunya. Ki Tumenggung itu dengan mapan menunggu lawannya datang menyerang.

Tetapi demikian serangan itu datang, maka orang yang menyerang itulah yang terpelanting jatuh.

Namun agaknya Ki Tumenggung sengaja tidak ingin segera menyelesaikan lawan-lawannya. Ki Tumenggung itu bertempur sambil menonton pertempuran yang semakin sengit antara Ki Tumenggung Sanggayuda melawan Ki Tumenggung Reksadrana.

Dalam pada itu, di dalam rumah itu telah terjadi kete-gangan yang mencengkam. Rantamsari yang terbangun oleh keributan itu telah memeluk ibunya yang telah terbangun lebih dahulu.

“Ibu. Apa yang terjadi?”

“Tenanglah Rantamsari.”

“Apakah telah terjadi pertempuran ibu?”

“Ya. Agaknya memang telah terjadi pertempuran.”

“Aku takut ibu.”

“Jangan takut, Rantamsari. Di luar ada adikmu Madyasta. Ia adalah seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.”

“Bukankah kakang Wismaya juga ada?”-

“Ya. Wismaya juga menyertainya. Tetapi sudah tentu
bahwa kemampuan ilmu Madyastalah yang jauh lebih tinggi.”

Rantamsari terdiam. Namun tangannya yang memeluk tubuh ibunya terasa menjadi gemetar.

“Jangan takut Rantamsari. Tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Raden Madyasta akan segara dapat menyelesaikannya.”

“Tetapi yang terdengar itu sorak dan teriakan banyak orang ibu. Bukankah dimas Madyasta hanya berdua saja dengan kakang Wismaya.”

“Dalam pertempuran, bukanlah yang terbanyak yang akan menang. Tetapi yang akan menang adalah yang terbaik,”

Rantamsari terdiam lagi. Namun degup jantungnya justru menjadi semakin cepat.

Dalam pada itu, ketika di longkangan dan di halaman terjadi pertempuran, maka Sura Branggah yang licik telah berhasil menghindar dari perhatian para prajurit Paranganom. Ia justru menyelinap masuk ke dalam rumah.

Dengan hati-hati Sura Branggah menyelusuri ruang demi ruang. Ia berniat menemukan bilik tidur Raden Ayu Prawirayuda atau Raden Ajeng Rantamsari. Kebetulan jika mereka berdua berada di dalam satu bilik.

Ternyata suasana didalam rumah itu sepi. Diruang tengah, lampu minyak menyala redup.

Sura Branggah menjadi ragu-ragu ketika ia melihat beberapa buah pintu yang tertutup. Tetapi Sura Branggah menduga, bahwa bilik tidur Raden Ayu Prawirayuda berada di sisi sebelah kanan.

Ketika ia melangkah mendekati pintu, Rantamsari yang berada didalam bersama ibunya menjadi semakin ketakutan. Dengan memeluk ibunya semakin erat, terdengar isaknya yang tertahan.

“Sst.“ desis ibunya.

Namun isak tertahan Raden Ajeng Rantamsari itu terdengar oleh Sura Branggah.

Sura Branggah itu tersenyum. Ia akan menyeret kedua orang perempuan itu keluar turun ke longkangan. Dengan mengancam untuk membunuh keduanya, ia akan dapat memaksa kedua orang Tumenggung dan dua orang Senapati itu menyerah dan membiarkan tangan dan kaki mereka diikat.

“Alangkah mudahnya membunuh mereka. Ki Tumenggung Reksadranapun akan dapat memenuhi keinginannya, menumpahkan dendamnya kepada Wismaya dan Madyasta“ berkata Sura Branggah didalam hatinya.

Karena itu, dengan harapan untuk mendapat pujian dan upah lebih dari Ki Tumenggung Reksadrana, Sura Branggah itu mengetuk pintu bilik Raden Ayu Prawirayuda.

Demikian terdengar pintu diketuk, maka Raden Ajeng Rantamsaripun memeluk ibunya semakin erat sambil berdesis dengan suara yang bergetar “Ibu. Ibu. Aku takut.”

“Jangan takut, Rantamsari.”

“Siapa yang mengetuk pintu itu ibu?”

Ternyata Sura Branggah yang berada di luar pintu mendengar suara Rantamsari. Dengan nada berat Sura Branggah itupun menyahut “ Aku.”

“ Aku siapa?” bertanya Raden Ayu Prawirayuda.

“Silahkan membuka pintunya, Raden Ayu. Aku ingin berbicara sedikit.”

“Kau siapa. Kau belum menyebut namamu.”

“Aku Sura Branggah.”

“Sura Branggah?”

“Ya.”

“Aku belum pernah mengenalmu. Pergilah. Jangan ganggu kami.“

Tetapi Sura Branggah itu menggeram. Katanya “Raden Ayu. Aku minta Raden Ayu membuka pintu.“

“Tidak. Aku belum mengenalmu.“

“Aku bukan seorang penyabar Raden Ayu. Aku dapat menjadi garang. Karena itu, sebelum darahku menjadi panas, bukalah.“

“Tidak“ jawab Raden Ayu Prawirayuda. Namun terdengar bentakkan diluar “Raden Ayu mau membuka pintu atu tidak. Kalau tidak aku akan memecahkan pintunya.“

Raden Ayu termangu-mangu sejenak. Namun Rantamsari menjadi semakin ketakutan.

Sura Branggah yang hampir saja kehilangan kesabaran mengetuk pintu itu semakin keras sambil membentak “Buka pintunya. Jika Raden Ayu tidak mau membuka pintu, maka aku akan merusak pintu itu. Tidak ada yang dapat menghalangi Sura Branggah.“

Raden Ayu Prawirayuda tidak mempunyai pilihan. Agaknya Sura Branggah benar-benar akan merusak pintu biliknya jika ia tidak membukanya.

Tetapi ketika ia melangkah ke pintu, Rantamsari menahannya sambil berdesis “Jangan ibu. Pintunya jangan dibuka. Aku takut sekali.“

“Jangan takut, Rantamsari. Tidak akan terjadi apa-apa.“

“Jangan ibu.“

Namun Raden Ayu itu berkata “Percayalah kepadaku, Rantamsari. Adikmu akan segera datang menolong. Seandainya aku tidak membuka pintu itu, maka pintu itupun akan terbuka setelah dirusak oleh orang yang berada di luar pintu itu.“

“Tetapi………“

“Sudahlah. Percayalah kepada ibu.“ Rantamsari tidak dapat menahannya lagi. Dengan tubuh gemetar Rantamsari melihat ibunya mengangkat selarak kemudian membuka pintu bilik itu.

Rantamsari menjadi semakin ketakutan ketika ia melihat wajah orang yang berdiri di belakang pintu itu.

“Ibu“ Suaranya menjadi semakin bergetar. Tetapi Raden Ayu Prawirayuda melangkah mendekati Sura Branggah.

“Apa yang kau maui, Sura Branggah.“

“Aku minta Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari keluar dari rumah ini untuk turun ke longkangan.“

“Untuk apa?“

“Raden Ayu tidak usah terlalu banyak bertanya. Jika Raden Ayu tidak segera turun, maka Raden Madyasta dan Wismaya akan segera dibantai oleh kawan-kawanku.“

“Kau tidak dapat menipuku, Sura Branggah. Pertempuran itu masih berlangsung. Itu berarti bahwa kawan-kawanmu masih belum menguasai Raden Madyasta dan Wismaya.“

“Tinggal soal waktu, Raden Ayu. Betapapun tinggi ilmu mereka berdua, tetapi mereka tidak akan mampu melawan kawan-kawanku yang jumlahnya belasan orang. Satu hal yang perlu Raden Ayu ketahui, bahwa Ki Tumenggung Reksadrana sekarang ada disini.“

Wajah Raden Ayu Prawirayuda menjadi tegang. Dengan nada suara yang berat, Raden Ayu itu berkata “Kau akan menakut-nakuti aku?“

“Tidak. Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung ada disini. Karena itu, jangan bertanya lagi. Marilah kita pergi ke longkangan.”

“Tidak. Kami tidak akan pergi ke longkangan.“

“Raden Ayu tidak dapat menolak. Aku akan dapat memaksa Raden Ayu untuk pergi ke longkangan bersama dengan Raden Ajeiig Rantamsari.“

“Kami tidak akan pergi.“

“Sudah aku katakan, Raden Ayu tidak dapat menolak. Raden Ayu harus pergi ke longkangan. Jika Raden Ayu tetap tidak mau, aku akan menyeret Raden Ayu dan Raden Ajeng Rantamsari.“

Jantung Rantamsari terasa telah berhenti. Namun Raden Ayu Prawirayuda itupun berkata “Sura Branggah. Apakah kau belum pernah mendengar bahwa pada saat aku berada di Kateguhan, terutama pada masa pemerintahan kangmas Adipati Prawirayuda, aku adalah seorang prajurit?“

“Sudah Raden Ayu. Bahkan Raden Ayu mendapat julukan Srikandi dari Kateguhan.“

“Jadi kau sudah tahu bahwa aku seorang prajurit.“

“Tetapi prajurit perempuan di Kateguhan itu sekedar sebagai hiasan saja. Prajurit perempuan bukan prajurit yang sebenarnya. Seperti kuntum-kuntum bunga yang berserakkan diantara semak-semak berduri. Bahwa nama Raden Ayu waktu itu menjadi semerbak, karena Raden Ayu adalah isteri Kangjeng Adipati. Bukan karena kemampuan ilmu Raden Ayu.“

“Sura Branggah“ berkata Raden Ayu itu kemudian “sudah lama aku meletakkan senjataku. Tetapi untuk melindungi anakku perempuan, maka aku telah mengenakan kembali keris pusakaku ini.“

“Jadi tegasnya, Raden Ayu akan melawan?“

“Ya. Aku akan melawanmu Sura Branggah.“
Sura Branggah itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Bagaimana mungkin Raden Ayu berniat melawanku. Aku adalah pemimpin Brandal yang sangat ditakuti. Gegedug-gegedug yang menjadi nama besar di Kateguhan semua tunduk kepadaku. Sementara itu, Raden Ayu yang mabuk dengan gelar Srikandi Kateguhan yang tidak lebih dari sekedar hiasan saja, akan mencoba melawanku.“

“Kita akan membuktikannya, Sura Branggah.“

“Bagus. Jika Raden Ayu benar-benar ingin melawan, serta kesabaranku sudah lewat dari batas, maka aku akan menyeret Raden Ayu seperti menyeret sebatang pohon pisang ke longkangan.“

Raden Ayu Prawirayuda tidak menjawab. Tetapi di-singsingkannya kain panjangnya. Ternyata bahwa dibawah kain panjangnya Raden Ayu Prawirayuda telah mengenakan pakaian khususnya. Pakaiannya pada saat ia masih disebut Srikandi Kateguhan. Pakaian seperti itu pulalah yang dikenakan oleh sepasukan kecil prajurit perempuan di Kateguhan pada masa pemerintahan Kangjeng Adipati Prawirayuda, namun yang kemudian dihapuskan sejak Kangjeng Adipati Yudapati menduduki jabatannya menggantikan ayahandanya.

“Ibu“ Rantamsari menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ibunya siap untuk bertempur melawan orang yang menakutkan itu.

Jantung Sura Branggah tergetar. Namun bagaimanapun juga ujudnya, ia adalah seorang perempuan.

Sejenak kemudian, maka Raden Ayu Prawirayuda itu sudah bergerak kepintu. Ketika Sura Branggah bergetar surut, maka Raden Ayu Prawirayuda itupun sudah berdiri di luar biliknya.

Keduanya bergeser sejenak. Sementara Sura Branggah masih menggeram “Justru karena kau melawan, Raden Ayu, maka nasibmu akan menjadi lebih buruk lagi.“

Raden Ayu Prawirayuda tidak menjawab lagi. Tetapi ia sudah siap untuk bertempur

Beberapa saat kemudian, maka Sura Branggahpun mulai menyerang. Dengan tangkasnya Raden Ayu Prawirayuda itu menghindar. Bahkan Raden Ayu itupun bergeser mendekati pintu butulan yang akan sampai ke longkangan yang satu lagi.

Demikian mereka berada di longkangan, maka Raden Ayu itupun berkata “Kita mempunyai arena yarig luas Sura Branggah. Disini tidak akan ada yang mengganggu. Sementara yang lain bertempur di longkangan sebelah.“

Jantung Sura Branggah berdesis. Agaknya Raden Ayu Prawirayuda itu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi pula, sehingga seakan-akan ia yakin akan dapat memenangkan pertempuran itu.

“Apakah namaku sama sekali tidak berpengaruh terhadap Raden Ayu Prawirayuda itu?“,

Namun agaknya Raden Ayu Prawirayuda itu sama sekali tidak gentar menghadapi Sura Branggah, seorang pemimpin brandal yang ditakuti oleh para gegedug di Kateguhan.

Sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran. Ketika Sura Branggah meloncat menyerang, dengan cepat Raden Ayu Prawirayuda itupun menghindar.

Demikianlah, maka pertempuran antara keduanyapun semakin lama menjadi semakin sengit. Sura Branggah sama sekali tidak menduga, bahwa Raden Ayu Prawirayuda benar-benar perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi.

Dengan demikian, maka Sura Branggah yang semula menganggap remeh kemampuan Raden Ayu Prawirayuda, harus meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Sura Branggah itu sempat terkejut ketika tiba-tiba saja kaki Raden Ayu Prawirayuda itu menghantam dadanya, sehingga Sura Branggah itupun terhuyung-huyung beberapa langkah surut.

“Kau terkejut, Sura Branggah“

“Aku memang terkejut Raden Ayu. Tetapi aku segera menemukan keseimbanganku kembali menghadapi ilmumu yang harus aku akui, termasuk ilmu yang tinggi. Tetapi sekarang Raden Ayu berhadapan dengan Sura Branggah. Dengan Lurah gegedug yang tinggi terkalahkan.”
“Tentu gegedug-gegedug itu tidak dapat mengalahkanmu, karena sebenarnya mereka tidak lebih dari kecoak-kecoak yang tidak berharga.”

“Jika tidak mendengar langsung, aku tidak percaya bahwa kata-kata itu kau ucapkan Raden Ayu. Bukankah sehari-hari kau seorang puteri bangsawan yang luruh seperti Sembadra?”

“Tidak. Aku bukan Sembadra. Tetapi aku adalah Srikandi.”

Sura Branggah tidak sempat berbicara lagi. Serangan-serangan Raden Ayu Prawirayuda datang seperti badai.

Dalam pada itu, pertempuran di longkangan yang lainpun masih berlangsung. Ki Tumenggung Reksadrana dan Ki Tumenggung Sanggayuda masih bertempur dengan sengitnya.

Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Sementara itu kebencian telah membakar jantung mereka sehingga keduanya menjadi tidak terkekang lagi.

Di lingkaran pertempuran yang lain,ketiga orang lawan Ki Tumenggung Wiradapa seakan-akan telah kehabisan nafas. Tetapi mereka masih terus bertempur.

Mereka merasa bahwa mereka adalah gegedug yang selama ini namanya mampu membuat orang yang mendengarnya menjadi pingsan. Namun tiba-tiba mereka bertiga mengalami kesulitan menghadapi seorang Tumenggung tua.

Di halaman Wismaya dan Madyasta masih juga bertempur dengan sengitnya. Madyasta harus bertempur melawan tiga orang brandal. Meskipun tidak segera mampu mendesak lawannya, namun Madyasta juga tidak terdesak. Bahkan sekali-sekali Madyasta berhasil menguak pertahanan lawan. Serangan-serangannya mampu mengenai tubuh lawan-lawannya.

Namun agaknya lawan-lawannya tidak ingin bertempur terlalu lama. Merekapun segera menggenggam senjata-senjata mereka.

Raden Madyasta meloncat mengambil jarak. Kilatan cahaya lampu minyak yang redup di pendapa telah mem-peringatkan agar Madyasta tidak menjadi lengah.

Dengan demikian, maka Madyastapun telah menarik pedangnya pula.

Dengan pedang di tangan, maka Madyasta menjadi semakin garang. Ternyata bahwa putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu benar-benar memiliki ilmu pedang yang mumpuni.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Wismayapun telah memutar pedangnya pula. Sementara itu kedua orang lawannyapun telah menggenggam golok di tangan mereka.

Di ruang dalam, Rantamsari menjadi kebingungan. Ketika ia menjenguk longkangan, dilihatnya ibunya sedang bertempur melawan Sura Branggah.

Dalam ketakutan dan kebingungan itulah, tiba-tiba tangan yang kuat telah melingkar diwajahnya dan menutup mulutnya rapat-rapat sehingga Rantamsari tidak sempat menjerit. Tiba-tiba saja tangan yang kasar dan kuat menyeretnya, menjauh daripintu butulan.

“Kau tidak dapat mencari perlindungan sekarang Rantamsari.”

Jantung Rantamsari bergejolak. Suara itu adalah suara pamannya, Wicitra.

“Mau atau tidak mau, kau sekarang harus ikut aku.”

Rantamsari meronta. Tetapi yang terdengar suara tertawa Wicitra. Tidak begitu keras, tetapi terasa menusuk telinganya, menembus sampai ke jantung.

Rantamsari tidak berdaya ketika Wicitra menyeretnya ke ruang tengah melewati sambil ke belakang.

Ketakutan yang sangat telah mencengkam jantung Rantamsari. Bahkan Rantamsari itu membayangkan wajah pamannya itu justru lebih garang dari wajah Sura Branggah yang berdiri di belakang pintu bilik ibunya ketika pintu itu terbuka.

Ketakutan yang sangat itu telah membuat Rantamsari kehilangan akal dan menjadi putus asa. Justru karena itu, maka yang dilakukannya, tidak lagi berdasarkan atas nalarnya yang bening.

Adalah diluar pertimbangan nalarnya jika tiba-tiba saja Raden Ajeng Rantamsari itu menggigit tangan Raden Wicitra yang sedang menutup mulutnya.
Raden Wicitra terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja Raden Ajeng Rantamsari itu menggigitnya.

Karena itu, diluar sadarnya, Raden Wicitra itu telah menghentakkan tangannya. Namun demikian kerasnya Raden Ajeng Rantamsari menggigitnya, maka tangan Raden Wicitra itu telah terluka dan bahkan berdarah.

Ternyata Raden Ajeng Rantamsari tidak sekedar menggigit tangan Wicitra. Demikian tangan itu terlepas karena kesakitan, maka Raden Ajeng Rantamsari itupun segera melarikan diri.

Raden Wicitra memang terlambat sesaat ketika ia mengaduh kesakitan karena tangannya yang berdarah. Sementara itu, Raden Ajeng Rantamsari sempat melarikan diri lewat serambi samping, menyusup ke longkangan di belakang.

Raden Wicitra tidak mau melepaskannya. Karena itu, maka iapun segera berlari menyusulnya.

“Kau tidak akan dapat lari, Rantamsari. Jika kau. berani keluar lewat pintu butulan, maka kau akan jatuh ketangan brandal-brandal itu. Kau akan menjadi seperti anak ayam di sarang segerombolan musang yang kelaparan. Kau akan dikoyak-koyakan tanpa belas kasihan. Nasibmu akan menjadi lebih buruk dari mati.“

Raden Ajeng Rantamsari masih mendengar suara pamannya. Namun ia tidak menghiraukannya. Melewati longkangan di belakang, Raden Ajeng Rantamsari berlari masuk ke dapur.

Tetapi baru saja kakinya melangkahi tlundak pintu, maka sekali lagi tangan yang kuat telah menutup mulutnya. Ia merasa seseorang telah mendekapnya dari belakang.

Dari mulut orang yang mendekapnya itu Raden Ajeng Rantamsari mendengar suara berdesis “Jangan berteriak kangmbok. Mungkin aku mengejutkan kangmbok. Tetapi aku tidak berniat buruk. Jika kangmbok berjanji tidak berteriak, aku akan melepaskannya.“

Raden Ajeng Rantamsari mencoba untuk mengangguk.

Bab 29 – Terbakar Matahari Tamat

Tangan yang kuat itu benar-benar melepaskannya. Ketika Raden Ajeng Rantamsari berpaling, ia melihat di keremangan cahaya lampu minyak yang redup seorang anak muda yang berdiri tegak di sebelah pintu.“

“Dimas Wignyana.“

“Ya. Aku akan menyelamatkan kangmbok. Silahkan bersembunyi di tempat yang agak gelap. Aku tahu, paman Wicitra ada disini.“

“Ya. Aku telah dikejar-kejar paman Wicitra.“ Dalam pada itu terdengar suara Wicitra yang meskipun tidak begitu keras, tetapi jelas “Rantamsari. Kau tidak akan lepas dari tanganku, Tetapi semakin sulit aku menemukanmu, maka akan semakin keras aku mencengkammu. Karena itu, kau tidak perlu melarikan diri.“

Raden Ajeng Rantamsari berdiri membeku. Bahkan bernafaspun ia menjadi sangat berhati-hati.

Raden Wicitra yang melihat pintu dapur yang terbuka, segera menduga, bahwa Rantamsari telah bersembunyi ke dapur.

Karena itu, maka Raden Wicitrapun telah masuk kedapur pula.

“ Rantamsari. Kau dengar suaraku. Bagimu tentu lebih baik menyingkir bersamaku daripada jatuh ke tangan para perampok itu. Kau akan menjadi seorang isteri yang bahagia. Aku akan memenuhi semua keinginanmu.“

Namun Raden Wicitra itu terkejut ketika ia mendengar seseorang menyapanya dari dalam bayangan kegelapan “Selamat malam, paman.“

“Kau siapa?“

“Paman lupa kepadaku ? Tetapi itu wajar-wajar saja, paman. Kita memang jarang sekali bertemu.”

“Kau siapa?“

“Aku wignyana, paman.”

“Wignyana ? Adik Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?“

“Ya, paman“

“O“ Wicitra mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya “Apa yang kau lakukan disini?“

“Aku terbiasa berada di rumah ini, paman.“

“Untuk apa ? Bukankah kau tidak bertugas disini?”

“Memang tidak, paman. Tetapi aku datang kemari untuk mengunjungi kangmbok Rantamsari.“

“Mengunjungi Rantamsari.“

“Ya. Kami sudah berjanji untuk mengikat tali hubungan yang lebih erat daripada sekedar saudara sepupu.“

“Maksudmu?“

“Kami berjanji untuk menikah.“

“Itu pikiran gila. Bukankah menurut urutan abunya, Rantamsari lebih tua darimu.“

“Ya. Apa salahnya?“

“Tidak. Itu tidak mungkin.“

“Kenapa?“

“Tidak ada orang yang akan menjadi suami Rantamsari kecuali aku sendiri.“

“Paman Wicitra ? Apakah pikiran itu tidak lebih gila lagi?. Bukankah paman Wicitra itu paman Rantamsari sendiri. Adik ibunya dan bahkan adik kandung?”

“Kita sama-sama gila, Wignyana. Karena itu, tinggalkan Rantamsari.“

“Tidak, paman. Aku tidak akan meninggalkannya.. Rantamsari aku menjadi isteriku.“

“Sekali lagi aku peringatkan. Tinggalkan Rantamsari.“

“Sekali lagi aku tegaskan. Aku tidak akan meninggalkan kangbok Rantamsari.“

“Jika demikian, aku harus membunuhmu. Kau akan mati muda malam ini.“

“Caeingpun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku paman.“

“Aku bunuh kau, Wignyana.“ „

Wignyanapun segera bersiap. Sementara itu Wicitra justru melangkah surut. Iapun kemudian turun ke longkangan belakang.

Wignyana tahu, bahwa Wicitra memilih tempat yang lapang dan lebih terang karena sinar lampu minyak di. longkangan meskipun cahayanya redup.

“Kau masih mempunyai kesempatan, Wignyana.“-

“Terima kasih, paman. Tetapi karena aku tidak akan mempergunakan kesempatan yang paman berikan, karena aku akan dapat mengambil kesempatanku sendiri. Jauh lebih baik dari kesempatan yang paman berikan.”

Keduanyapun kemudian telah terlibat dalam pertempuran Wicitra dengan geram telah menyerang anak muda yang berani mengganggu niatnya untuk mengambil Rantamsari pada saat yang sangat menguntungkan itu.

Tetapi Wignyanapun telah siap menghadapinya. Dengan tangkasnya Wignyana itu bergerak dengan cepat menghindari serangan-serangan Wicitra. Namun pada setiap kesempatan, Wignyanalah yang meloncat menyerang.

Semakin lama pertempuran itupun menjadi semakin sengit Kedua belah pihak meningkatkan ilmu mereka masing-masing. Keduanya saling menyerang dengan garangnya.

Wicitra yang kepalanya telah dipenuhi dengan nafsunya itu, bertempur dengan kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya. dikerahkannya ilmunya untuk mengakhiri pertempuran dengan cepat. Wicitra ingin menyelesaikan lawannya lebih cepat dari pertempuran yang terjadi di longkangan, siapapun pemenangnya. Karena kedua belah pihak yang bertempur di longkangan itu tentu akan memusuhinya.

Semakin lama, pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Apalagi ketika Wicitra dan Madyasta telah menarik keris mereka masing-masing.

Namun, seperti Madyasta, Wignyanapun telah ditempat sampai tuntas dalam olah kanuragan. Karena itu, maka menghadapi Wicitra ternyata Wignyana tidak dapat segera ditundukkan.

Bahkan semakin lama mereka bertempur, maka Wicitralah yang justru mengalami kesulitan.

“Anak iblis“ geram Wicitra “aku akan benar-benar membunuhmu.“

Tetapi Wignyana itupun menjawab “Paman. Aku minta paman segera menyerah. Paman akan aku tangkap dan aku bawa menghadap ayahanda. Paman telah membuat keributan di Paranganom meskipun barangkali paman masih tetap orang Kateguhan.“

“Persetan dengan kekuasaan di Paranganom.“

“Masih ada kesempatan paman. Menyerahlah.“ Tetapi Wicitra tidak mendengarkannya. Bahkan dengan serta-merta Wicitra menjulurkan kerisnya menggapai dada Wignyana.

Wignyana bergeser setapak sambil memiringkan tubuhnya. Namun. ujung keris Wicitra sempat menyentuh bahu Wignyana.

Darah Wignyanalah yang serasa telah mendidih. Luka di bahunya terasa sangat pedih. Karena itu, maka Wignyanapun telah kehilangan kendali dirinya. Darah mudanya telah bergejolak dengan dahsyatnya.

Karena itu, serang-serangan Wignyana yang telah terluka itupun datang membadai.

Namun Wicitra masih juga sempat berkata “Kau sudah terluka Wignyana. Darah akan terperas dari tubuhmu. Kau akan menjadi lemah dan tidak berdaya. Akhirnya kau akan mati disini.“

Wignyana tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya menjadi semakin sengit.

Wicitra benar-benar telah terdesak. Ketika keris Wicitra terayun menyambar ke arah kening, Wignyana sempat merendahkan dirinya, sehingga ujung keris itu tidak menyentuhnya. Namun justru Wignyanalah yang selangkah maju, seakan-akan melekat di tubuh Wicitra.

Terdengar Wicitra mengaduh tertahan. Ketika Wignyana bergeser surut sambil menarik kerisnya, maka Wicitrapun terhuyung-huyung sambil mendesah menahan sakit.

“Iblis kau Wignyana“ geram Wicitra. Namun suaranyapun terputus. Wicitra itupun jatuh tersuruk di tanah. Lambungnya koyak oleh keris Wignyana. Sementara itu darah bagaikan dituangkan dari lukanya itu.

Wignyana bergeser surut. Sementara itu, Rantamsari yang bersembunyi di dapur sempat melihat tubuh Wicitra yang terbaring diam itu.

Mula-mula Rantamsari agak ragu. Namun iapun kemudian melangkah mendekat sambil bertanya “Bagaimana dengan paman, dimas.”

“Aku tidak berniat membunuhnya kangmbok. Tetapi dalam pertempuran itu aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.”

“Jadi paman sudah mati?”

“Ya.”

. Paman tidak akan menggangguku lagi?”

“Ya, kangmbok.”

Tiba-tiba saja Rantamsari itupun berlari mendekap Wignyana sambil berdesis “Terima kasih dimas. Dimas sudah menyelamatkan nyawaku. Bahkan lebih dari itu. Jika aku jatuh ketangan paman Wicitra, maka nasibku tentu lebih buruk daripada mati.”

Wignyana menjadi berdebar-debar. Namun kemudian iapun berkata “Kangmbok, bagaimana dengan bibi.”

Rantamsari bagaikan tersadar. Dengan nada tinggi iapun berkata “Ibu sedang bertempur dengan orang yang mengaku bernama Sura Branggah.”

“Marilah, kita melihatnya.”

Keduanyapun kemudian berlari-lari masuk ke ruang dalam, langsung ke pintu samping. Sambil menggandeng tangan Rantamsari yang masih gemetar, keduanya turun ke longkangan.

Raden Ayu Prawirayuda masih bertempur melawan Sura Branggah. Namun ternyata bahwa Sura Branggah salah duga terhadap kemampuan Raden Ayu Prawirayuda. Srikandi Kateguhan itu bukan hanya sekedar namanya. Bukan pula sekedar hiasan agar di Kateguhan terdapat sekelompok prajurit yang cantik-cantik. Tetapi Raden Ayu Prawirayuda memang berilmu tinggi.

Karena itu, maka akhirnya, Sura Branggah tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak mampu mengatasi kemampuan ilmu Raden Ayu Prawirayuda.

Sura Branggah itu berteriak nyaring ketika ujung keris Raden Ayu Prawirayuda menembus dadanya, langsung mengoyak jantung.

Kemarahan yang meledak justru pada saat maut sedang datang menjemput.

Tubuh Sura Branggah itupun kemudian terkapar di tanah. Darah mengalir dari lukanya. Sementara Raden Ayu Prawirayuda berdiri termangu-mangu.

Raden Wignyana yang masih menggandeng Raden Ajeng Rantamsari itupun melangkah mendekati dengan ragu-ragu. Sementara jantung Wignyana berdesir ketika ia melihat keris bibinya berada di tangan kirinya.

“Ibu “ desis Raden Ajeng Rantamsari.

Ketika ia berpaling, dilihatnya Raden Wignyana menggandeng Raden Ajeng Rantamsari. yang masih gemetar.

Dengan serta-merta Raden Ajeng Rantamsaripun segera berlari memeluk ibunya.

Raden Ayu Prawirayuda menarik nafas panjang. Iapun memeluk anak perempuannya erat-erat.

“Kau tidak apa-apa Rantamsari?”

“Tidak ibu. Dimas Wignyana telah menolong aku.”
I
bunya termangu-mangu. Namun terasa titik-titik air mata Raden Ajeng Rantamsari di bahunya.

“Apa yang terjadi, Rantamsari?” bertanya ibunya.

“Paman Wicitra ibu.”

“Dimas Wicitra ? Kenapa dengan dimas Wicitra?”

“Pada saat ibu bertempur, aku telah diseret oleh paman Wicitra. Aku tidak sempat berteriak, karena mulutku ditutup dengan tangannya. Untunglah bahwa dimas Wignyana melihatnya dan bahkan menolong aku.”

“Dimana pamanmu sekarang ?”

“Paman sudah mati, ibu.”

“Mati ? Angger Wignyana telah membunuhnya?”

“Mereka bertempur ibu. Masing-masing membawa sebilah keris. Paman Wicitra tertusuk keris dan meninggal seketika.”

Wajah Raden Ayu Prawirayuda menjadi tegang. Dengan suara yang berat iapun berkata ”Tunjukkan kepadaku, dimana tubuh pamanmu itu, Rantamsari.”

Rantamsari yang sudah melepaskan pelukannya mengangguk sambil menjawab “Tubuh paman ada di longkangan belakang.”

Raden Ayu Prawirayuda segera beranjak dari tempatnya sambil berkata “Marilah angger Wignyana. Kita lihat keadaan Wicitra.”

“Mari bibi.”

Bertiga mereka pergi ke longkangan belakang. Namun ada berbagai pertanyaan di dada Wignyana. Ia melihat ada sesuatu yang kurang mapan di hati bibinya.

“Mungkin perasaan bibi masih bergejolak. Ia baru saja selesai bertempur.”

Sementara itu, pertempuran antara Ki Tumenggung Sanggayuda dengan Ki Tumenggung Reksadrana masih berlangsung. Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka. Namun perlahan-lahan Ki Tumenggung Sanggayuda mulai mendesak lawannya.

Meskipun demikian, sekali-sekali dengan menghentakkan sisa tenaganya, Ki Tumenggung Reksadrana masih mampu mengejutkan Ki Tumenggung Sanggayuda.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Wiradapa yang masih bertempur melawan ketiga orang lawannya mulai yakin, bahwa ia tidak perlu mencemaskan Ki Tumenggung Sanggayuda.

Karena itu maka Ki Tumenggung Wiradapa itupun segera mengakhiri perlawanan ketiga orang gegedug yang sudah semakin tidak berdaya. Seorang diantara mereka menjadi pingsan karena pukulan sisi telapak tangan di tengkuknya. Seorang lagi terlempar menimpa dinding, sehingga tulang punggungnya serasa menjadi patah. Meskipun orang itu tidak pingsan, tetapi ia tidak mampu untuk segera bangkit. Sedangkan seorang yang lain terbaring diam setelah kaki Ki Tumenggung Wiradapa mengenai dadanya.

Demikian ketiga lawannya tidak berdaya, maka Ki Tumenggung itupun segera turun ke halaman. Di halaman Wismaya dan Raden Madyasta masih bertempur dengan sengitnya. Namun kehadiran Ki Tumenggung Wiradapa telah mempercepat pertempuran itu.

Lawan-lawan Wismaya dan Raden Madyasta itupun menjadi tidak berdaya karenanya. Adalah diluar kemauannya, ketika ujung pedang Wismaya menghunjam ke dada seorang lawannya langsung menyentuh jantung, sehingga lawannya itupun tidak akan pernah bangkit lagi. Sedangkan seorang yang lain, langsung melemparkan senjatanya dan menyerah.

Sedangkan seorang lawan Raden Madyasta yang tersentuh tangan Ki Tumenggung Wiradapa telah terkapar pula ditanah, sementara kedua orang yang lain telah terluka. Bahkan seorang diantaranya parah.

Demikian lawan-lawan mereka tidak berdaya, maka Madyastapun bertanya “Bagaimana dengan paman Tumenggung Sanggayuda, paman?”

“Pamanmu masih bertempur di longkangan, ngger.”

Madyasta mengerutkan dahinya. Iapun kemudian berkata kepada Wismaya “Kakang. Ikat mereka dahulu, setelah itu pergilah ke longkangan.”

“Baik, Raden.”

“Paman, marilah kita pergi ke longkangan terlebih dahulu.” berkata Raden Madyasta pula. Demikianlah, maka Raden Madyasta dan Ki Tumenggung Wiradapa telah memasuki longkangan, sementara Wismaya mengikat para brandal yang sudah tidak berdaya. Tetapi mereka tidak boleh terlepas.

Baru kemudian Wismayapun telah menyusul ke longkangan pula.

Di longkangan Ki Tumenggung Sanggayuda dan Ki Tumenggung Reksadrana masih bertempur dengan sengitnya. Kedua-duanya telah menggenggam keris di tangan mereka.

“Ayo Wiradapa“ berkata Ki Tumenggung Reksadrana “jika kau sayang kepada kawanmu ini, turun ke arena. Aku akan membunuh kalian berdua bersama-sama. Bahkan biarlah anak Adipati itu melibatkan dirinya pula bersama Senapatinya.”

“Kau tidak usah terlalu banyak sesumbar Reksadrana “ sahut Ki Tumenggung Sanggayuda “aku sendiri akan dapat melumatkanmu.”

Namun hampir di luar sadarnya Ki Tumenggung Reksadrana itu bergumam “Dimana Sura Branggah itu.”

“Kau mencari kawan?” bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.

“Bukan aku. Tetapi seharusnya Sura Branggah mengurusi orang-orangnya yang rapuh itu. Mereka tidak pantas untuk turun ke medan pertempuran bersama Ki Tumenggung Reksadrana.”

“Kau kira kau sendiri pantas untuk berada di medan melawan aku.”

“Setan kau Sanggayuda.” Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Ki Tumenggung Reksadrana telah mengerahkan kemampuan ilmunya. Kerisnya bergerak menyambar-nyambar.

Namun keris di tangan Ki Tumenggung Sanggayudapun tidak kalah mendebarkan. Kerisnya itu berputaran dengan cepat. Pantulan cahaya lampu minyak yang redup pada pamor kerisnya, bagaikan cahaya bintang yang berkeredipan kebiru-biruan. Sementara itu keris Ki Tumenggung Reksadrana seakan-akan memancarkan bara yang kemerah-merahan.

Ki Tumenggung Wiradapa, Raden Madyasta dan Wismaya memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Namun semakin lama merekapun menjadi semakin yakin, bahwa Ki Tumenggung Sanggayuda akan dapat menguasai lawannya.

Meskipun demikian, ujung keris Ki Tumenggung Reksadrana itupun telah menggores lengan Ki Tumenggung Sanggayuda, sementara ujung keris Ki Tumenggung Sanggayuda telah melukai bahu Ki Tumenggung Reksadrana.

Luka di tubuh kedua orang yang sedang bertempur itu telah memanasi darah mereka, sehingga merekapun bertempur semakin garang.

Tetapi akhirnya Ki Tumenggung Reksadrana tidak dapat mengingkari kenyataan. Ketika tenaga Ki Tumenggung Reksadrana mulai menyusut, sementara Ki Tumenggung Sanggayuda masih tetap bertempur dengan garangnya, maka Ki Tumenggung Reksadrana menjadi semakin terdesak.

Namun Ki Tumenggung Reksadrana masih mencoba menghentakkan kemampuannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan kemampuannya, Ki Tumenggung Reksadrana mencoba untuk menyelesaikan pertempuran. Pada saat ia melihat kesempatan yang terbuka, maka Ki Tumenggung Reksadrana itupun segera meloncat dan menikam dada Ki Tumenggung Sanggayuda di arah jantung.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung Sanggayuda tidak pernah lengah. Karena itu, ketika Ki Tumenggung itu melihat serangan lawannya yang datang dengan cepat mengarah ke dadanya, maka Ki Tumenggung itupun masih sempat mengelak dengan bergeser kesamping sambil memiringkan tubuhnya.

Justru pada saat itu, Ki Tumenggung Sanggayuda telah memukul pergelangan tangan Ki Tumenggung Reksadrana dengan hulu kerisnya.

Pukulan itu sedemikian kerasnya, sehingga Ki Tumenggung Reksadrana merasa pergelangan tangannya seakan-akan telah retak. Bahkan Ki Tumenggung Reksadrana tidak mampu mempertahankan keris di tangannya, sehingga kerisnya telah terlempar beberapa langkah daripadanya.

Ki Tumenggung Reksadrana itu segera meloncat surut. Namun Ki Tumenggung Sanggayuda tidak melepaskannya. Ki Tumenggung Sanggayudapun meloncat pula sambil melekatkan ujung kerisnya di dada Ki Tumenggung Reksadrana.

“Bukan aku, tetapi kaulah yang akan mati, Reksadrana.”

“Bunuh aku“ geram Ki Tumenggung Reksadrana yang terdesak. Ia sudah kehilangan kerisnya, sementara keris lawannya telah lekat didadanya.

“Aku memang akan membunuhmu“ geram Ki Tumenggung Sanggayuda “sekarang katakan pesanmu .yang terakhir sebelum aku menghujamkan kerisku.“

“Persetan dengan pesan itu“ Ki Tumenggung Reksadrana justru membentak “bunuh aku.“

“Bagus. Aku akan membunuh tanpa pesan terakhir yang akan kau ucapkan lewat mulutmu.“

Namun Ki Tumenggung Wiradapa bergeser maju selangkah sambil berkata “Sudahlah adi Sanggayuda. Adi tidak perlu membunuh orang itu.“

“Aku sangat membencinya kakang. Sejak kita menghadap Kangjeng Adipati Yudapati, orang ini sangat menjengkelkan.”

“Bunuh aku. Jangan banyak bicara” teriak Ki Tumenggung Reksadrana “anakku laki-laki memang sudah menunggu aku”

“Bagus. Tengadahkan dadamu. Aku akan menusuk sampai ke jantung.“

“Tidak “ Ki Tumenggung Wiradapa menggeleng “jalan pintas itu terlalu sederhana bagi Ki Tumenggung Reksadrana. Tetapi ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Kangjeng Adipati di Paranganom dan Kangjeng Adipati di Kateguhan.“

“Setan kau Wiradapa. Bunuh aku. Bunuh aku.“

“Berikan tanganmu. Kau harus diikat tangan dan kakimu dengan ikat kepalamu sendiri.“

“Tidak. Aku tidak akan menyerah. Aku akan bertempur sampai mati.“

“Kakang“ berkata Ki Tumenggung Sanggayuda dengan geram “ijinkan aku membunuhnya. Aku menjadi muak melihat wajahnya serta mendengar suaranya.“

“Bagus. Bunuh aku jika kamu berani.“

“Adi Sanggayuda. Bukankah kau tidak sendiri? Jika Ki Tumenggung Reksadrana tidak mau menyerah, maka kita berempat akan menangkapnya beramai-ramai. Mengikatnya, seperti mengikat kaki lembu atau kerbau yang akan disembelih, Kemudian kita akan mengikatnya pada sebatang bambu. Kita usung orang ini ke dalem kadipaten. Sementara itu, biarlah orang-orang terbangun yang menyaksikannya.“

“Setan kau, iblis, genderuwo. Apakah kau akan menghinakan aku ?”

“Jika kau tidak mau menyerah, maka kau akan kami hinakan sepanjang jalan. Tetapi jika kau menyerah, maka kau akan dibawa sebagai seorang tawanan.“

Ki Tumenggung Reksadrana menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Ia harus memilih. Tetapi Ki Tumenggung Reksadrana tidak mau dihinakan sepanjang jalan. Seandainya ia dengan nekad melawan, maka keempat orang Paranganom itu tentu akan dapat menangkapnya. Mereka akan benar-benar menyeretnya sepanjang jalan ke Kadipaten seperti menyeret seekor kerbau yang telah dieoeok hidungnya.

Karena itu, maka dengan nada berat iapun berkata “Baik. Aku menyerah.“

Ki Reksadrana itu tidak dapat mengelak lagi ketika kemudian tangannya diikat pada sebatang pohon di longkangan dengan ikat kepalanya sendiri.

“Kau harus menunggu kami disini, Ki Tumenggung“ berkata Raden Madyasta “kami masih akan mencari bibi Prawirayuda.“

Ki Tumenggung Reksadrana yang terikat itu tidak menjawab.

“Kakang Wismaya“ berkata Raden Madyasta “jaga paman Tumenggung, kau tahu apa yang harus kau lakukan jika paman Reksadrana mencoba untuk berbuat macam-macam. Tetapi satu hal yang harus kau perhatikan, jangan bunuh paman Reksadrana. Semakin buruk sikapnya, maka akan semakin buruk pula perlakukan atas dirinya.“

“Baik, Raden.“

“Paman Tumenggung berdua“ berkata Raden Madyasta “marilah kita cari bibi Prawirayuda serta kangmbok Rantamsari.“

“Marilah Raden.“

“Kita juga masih harus menemukan Sura Branggah jika ia tidak melarikan diri.“

“Jangan-jangan Sura Branggah itu telah mengganggu Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari “desis Ki Tumenggung Wiradapa.

“Jika Sura Branggah itu mengganggu Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari, maka Reksadranalah yang akan memikul akibatnya, karena ialah yang harus bertanggung jawab atas kejadian-kejadian di rumah ini. Tentu juga kematian Rembana dan Sasangka.

“Tidak. Bukan aku yang. membunuh Rembana dan Sasangka.“

“Siapa “ bertanya Wismaya.

“Wicitra.“

“Jika kau berbohong, maka kau akan diarak setelah dipotong rambutmu sampai kelihatan batok kepalamu.“

Reksadrana itu menggeram.

Dalam pada itu, Raden Madyasta, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun segera masuk ke ruang dalam untuk mencari Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari.

Sementara itu, Raden Ayu Prawirayuda telah pergi ke longkangan belakang. Raden Ajeng Rantamsari yang masih saja gemetar itu berpegangan lengan Wignyana yang mengikuti ibunya urttuk melihat Wicitra yang terbaring diam.

Sejenak kemudian, mereka telah berada di longkangan belakang. Perlahan-lahan Raden Ayu Prawirayuda mendekati tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa lagi.

“Kau bunuh Wicitra angger Wignyana?“ desis Raden Ayu Prawirayuda sambil berjongkok di sisi tubuh adiknya yang menelungkup.

“Sudah aku katakan, bibi. Aku tidak sengaja membunuhnya.“

“Mereka bertempur ibu. Jika diam Wignyana tidak membunuhnya, maka tentu dimas Wignyanalah yang akan dibunuhnya.“

Raden Ayu Prawirayuda itu menarik nafas panjang. Perlahan-lahan Raden Ayu itupun telah menelentangkan tubuh adiknya yang mulai membeku.

“Dimas“ suaranya dalam sekali.

Raden Wignyana masih saja termangu-mangu. Ia tidak tahu, apa yang sedang berkecamuk di dada bibinya. Apakah ia akan mengucapkan terima kasih, karena ia sudah menyelamatkan Rantamsari atau justru akan marah karena adiknya telah terbunuh.
“ibu“ berkata Rantamsari dengan nada dalam “dimas Wignyana telah menolong aku.“

Raden Ayu Prawirayuda itu mengangguk-angguk. Namun nampak wajahnya menjadi sangat muram.

Sementara itu, Raden Wignyana ternyata tidak sekedar menebak apa yang bergejolak didalam hati bibinya, tetapi ia mulai mengurai peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi di rumah itu.

Wignyana dan Rantamsari terkejut ketika ia melihat Raden Ayu Prawirayuda itu bangkit berdiri. Dipandanginya Raden Wignyana dengan tatapan mata yang tajam. Seakan-akan sorot matanya menghunjam menusuk langsung ke jantung.

“Angger Wignyana“ Suara Raden Ayu Prawirayuda itu bernada berat “Kau telah membunuh adikku, Wicitra“

Dada Wignyana bergejolak. Yang pernah terjadi itu seakan-akan membayang semakin jelas diangan-angannya.

“Bibi“ berkata Wignyana kemudian “sudah aku katakan, aku tidak sengaja membunuhnya. Aku hanya ingin menyelamatkan kangmbok Rantamsari.“

“Apapun alasannya, aku tidak ingin saudaraku satu-satunya ini terbunuh.“

“Ibu“

“Menyingkirlah Rantamsari. Aku akan membuat perhitungan dengan orang yang telah membunuh adikku. Dimasa kecil aku selalu mendukungnya Menenangkannya jika ia menangis. Ketika Wicitra mulai dapat merangkak, aku sudah kuat mendukungnya dan aku pula yang selalu menjaganya. Aku tidak merelakan kematiannya.“

“Tetapi paman itu berniat buruk kepadaku ibu.“

“Aku sependapat bahwa niatnya harus dicegah. Tetapi tidak dengan membunuhnya.“

“Dimas Wignyana tidak sengaja membunuh ibu.“

“Diamlah Rantamsari. Kau juga harus mawas diri. Pamanmu tidak akan mengganggumu jika ia tidak melihat tingkah lakumu.“

“Kenapa aku ibu?“

“Sebagai seorang gadis, maka hatimu terlalu rapuh. Kau dengan mudah tertarik kepada Rembana. Sepeninggal Rembana, pada waktu yang terhitung pendek, kau sudah melekat pada Sasangka. Sekarang kau sudah berpegangan tangan angger Wignyana.“

“Dimas Wignyana sudah menolongku.“

“Aku tidak peduli. Aku akan menuntut balas kematian adiku.“

“Ibu.”

“Menyingkirlah Rantamsari.“

“Bibi“ tiba-tiba saja Wignyana memotong “ persoalannya tentu bukan karena aku telah membunuh paman Wicitra.”

“Persoalannya apa saja menurut kau ngger?“

“Mimpi bibi yang ingin meraba matahari di langit. Bibi. Bagaimana menurut bibi, jika aku menginginkan kangmbok Rantamsari untuk menjadi isteriku ?”

“Tidak. Tidak ada seorang laki-lakipun. yang akan menjadi suaminya selain. laki-laki yang sesuai dengan keinginanku....“

“Aku sudah bertekad untuk menikahi kangmbok Rantamsari.“

“Karena itu, kau bunuh Rembana dan kemudian Sasangka?“

“Bibi yakin akan hal itu?“

“Ya. Kau tidak mau terhalang oleh keduanya pada saat-saat Rantamsari dekat sekali dengan mereka.“

“Seandainya demikian, maka apa yang akan bibi lakukan? Aku adalah putera Kangjeng Aduipati Prangkusuma: Penguasa tunggal di Kadipaten ini. Apakah bibi akan berani melawan ayahanda? Bukankah ayahanda justru telah menolong bibi ketika. bibi harus pergi dari Kateguhan.“

“Cukup. Aku memang menginginkan menantu putera Adipati Paranganom, ngger. Tetapi bukan kau. Aku menginginkan angger Madyasta karena angger Madyastalah yang akan menggantikan kedudukan dimas Adipati Prangkusuma.“

” Setelah bibi gagal membujuk kangmas Adipati Yudapati.“

“Wignyana”

“Bukankah memang begitu bibi?“

“Cukup. Sekarang aku akan membunuhmu. Kau juga akan menjadi penghalang hubungan Rantamsari dengan angger Madyasta yang memang aku inginkan.“

“Nah, jika demikian, siapakah yang telah membunuh Rembana dan Sasangka ? Bibi, kenapa bibi menggenggam hulu keris bibi dengan tangan kiri? Dan kenapa Rembana dan Sasangka luka di lambung sebelah kiri pula. Seseorang yang menusuk dari belakang dengan licik, tentu menggenggam pisau belatinya dengan tangan kiri pula “

“Cukup. Cukup.“

“Bukankah bibi yang telah membunuh Rembana dan Sasangka?“
I
“Baik. Baik. Aku tidak akan ingkar. Aku telah me-nyingkirkan kedua orang Senapati kerdil yang tidak tahu diri itu. Aku bunuh mereka agar mereka tidak lagi berani mendekati Rantamsari, calon permaisuri seorang Adipati.“

“Ibu. Apakah benar ibu yang melakukannya?“

“Ya. Rantamsari. Aku melakukannya bagi kebahagiaanmu. Kau tidak boleh terhina oleh sikap kangmasmu Yudapati. Karena itu kau harus menjadi isleri angger Madyasta yang kelak akan menggantikan pamanmu Kangjeng Adipati Prangkusuma.”

“Jadi, itulah yang sudah ibu lakukan?“

“Ya. Sekarang aku akan menyingkirkan Wignyana yang gila ini.“

“Tidak. Ibu tidak dapat melakukannya.“

“Bibi akan membunuhku dihadapan saksi?“

“Tidak akan ada saksi.“

“Kangmbok Rantamsari.“

“Tidak. Kami berdua akan menangisi mayatmu, ngger. Kau dan Wicitra telah bertempur karena kau ngin menyelamatkan Rantamsari. Tetapi kalian telah sampyuh, mati bersama. Rantamsari tidak akan pernah-menceriterakan apa yang telah terjadi di longkangan ini.”
“Ibu. Aku tidak mau.”

“Jangan menyesali nasibmu yang buruk, ngger. Aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan Rantamsari dari tangan Wicitra. Tetapi sayang, bahwa aku harus membunuhmu.”

Wignyana tidak sempat menjawab. Dengan cepat Raden Ayu Prawirayuda mengayunkan kerisnya ke tubuh Wignyana.

Namun adalah diluar dugaan, bukan saja Wignyana berusaha menghindar, tetapi justru Rantamsari telah meloncat menghalangi ibunya.

Namun, malangnya gadis itu. Keris di tangan kiri ibunya itu justru telah tertusuk di lambung anak gadisnya.

Rantamsari berdesah kesakitan. Sementara itu, Raden Ayu Prawirayudalah yang menjerit tinggi “ Rantamsari.”

Rantamsari terhuyung. Iapun kemudian jatuh ketangan ibunya.

Perlahan-lahan Raden Ayu Prawirayuda meletakkan kepala anak gadisnya itu dipangkuannya. Titik-titik air matanya telah meleleh dan jatuh di wajah anaknya.

“Rantamsari. Kenapa kau melakukannya, ngger.” Raden Ayu Prawirayuda benar-benar menangis. Ia tidak sekedar berpura-pura seperti yang dilakukannya pada saat Rembana dan Sasangka mati.

“Ibu“

“Bertahanlah ngger. Kau akan sembuh.”

“Tidak ibu. Aku akan mati. Jangan tangisi kematianku. Banyak cacat dan cela didalam hidupku. Semoga yang Maha Agung mengampuni aku.”

“Rantamsari“ ibunya menjerit tinggi ketika
Rantamsari itu memejamkan matanya.

Sejenak Raden Ayu Prawirayuda menangisi anak gadisnya yang telah diperjuangkannya untuk menggapai tempat terbaik baginya. Namun tiba-tiba anak gadisnya itu terbunuh, justru karena tangannya.

Raden Wignyanapun kemudian berjongkok pula disampingnya. Kepalanya menunduk memandangi wajah Raden Ajeng Rantamsari. Gadis itu memang cantik. Sayang, bahwa sebelumnya ia tidak terlalu menghiraukannya, sehingga ia tidak pernah merasa tertarik kepadanya.

Namun tiba-tiba Raden Ayu Prawirayuda itu meletakkan tubuh Rantamsari. Dengan serta-merta iapun bangkit berdiri.

Raden Wignyana terkejut. Seakan-akan diluar sadarnya, iapun bangkit berdiri pula.

“Kau telah membunuh anakku, ngger. Sekarang, kaupun harus mati. Bagiku kau ternyata lebih buruk dari Rembana dan Sasangka. Karena itu, maka aku akan membunuhmu sekarang. Justru tanpa saksi.”

“Bibi. Aku tidak ingin bertempur melawan bibi.”

“Melawan atau tidak melawan, aku akan membunuhmu. Tetapi seandainya kau berusaha melawanpun, tentu akan sia-sia. Aku adalah Srikandi Kateguhan. Aku adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.”

“Bibi memaksaku untuk bertempur?”

“Ya.”

“Baiklah bibi. Tetapi aku mohon maaf. Aku terpaksa
melakukannya.”

“Aku maafkan kau Wignyana. Tetapi aku tidak dapat memaafkanmu, bahwa kau sudah menyebabkan Rantamsari terbunuh.”

Wignyana tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun ia tahu bahwa bibinya mempunyai ilmu yang sangat tinggi, tetapi ia tidak dapat membiarkan bibinya itu menikam jantungnya.

Karena itu, bagi Wignyana seandainya ia harus mati, maka biarlah ia mati dengan menggenggam senjata di tangannya,

Wignyanapun telah menggenggam kerisnya pula ketika Raden Ayu Rantamsari mulai bergeser.

Namun tiba-tiba saja terdengar suara dari pintu longkangan “Sudah bibi. Sudah cukup. Rembana, Sasangka dan sekarang kangmbok Rantamsari.”

Raden Ayu Prawirayuda terkejut. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Raden Madyasta, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda.”

Sejenak Raden Ayu Prawirayuda itu bagaikan membeku. Perlahan-lahan Raden Madyasta melangkah mendekatinya.

“Apakah bibi masih akan membunuh lagi? Mungkin bibi memang berniat membunuh dimas Wignyana. Tetapi setelah kangmbok Rantamsari terbunuh, mungkin bibi juga berniat membunuh aku.”

Raden Ayu Prawirayuda itu memandang Raden Madyasta dengan mata yang menjadi redup. Tiba-tiba saja Raden Ayu Prawirayuda itu menyarungkan kerisnya dan berlutut di hadapan Madyasta. Sambil menyerahkan kerisnya terdengar suara Raden Ayu Prawirayuda yang tersendat di-sela-sela isaknya “Ampunkan aku ngger, Aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Aku menyerah kepadamu untuk menerima hukuman apa saja yang akan angger timpakan kepadaku.”

“Bukan aku yang akan menghukum bibi. Tetapi bibi akan kami bawa menghadap ayahanda Adipati di Paranganom. Justru bersama dengan Ki Tumenggung Reksadrana.“

“Ki Tumenggung Reksadrana?“

“Ya. Ki Tumenggung Reksadrana telah datang ke rumah bibi. Persoalan yang sesungguhnya tentu akan terungkap kelak.“

Raden Ayu Prawirayuda tidak dapat membendung air matanya. Iapun kemudian berpaling kepada Wignyana sambil berkata “Ampunkan bibi, ngger. Bibilah yang bersalah. Bukan angger; “

“Sudalah, bibi. Sebaiknya serahkan segala-galanya kepada kebijaksanaan ayahanda.“

“Ya, bibi. Ayahanda tentu akan bersikap adil. Aku mendengar semua percakapan bibi dengan dimas Wignyana dari belakang pintu. Sayang bahwa aku tidak segera mendekat sehingga nasib kangmbok Rantamsari mungkin akan berbeda. Tetapi agaknya Yang Maha Agung telah menghendakinya sehingga yang terjadi itu memang harus terjadi.“

Malam itu, Wismaya telah memanggil sekelompok prajurit dari baraknya untuk memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden Madyasta kemudian memerintahkan para prajurit itu untuk berjaga-jaga, sementara sekelompok yang lain membawa Ki Tumenggung Reksadrana dan Raden Ayu Prawirayuda ke bilik tahanan mereka masing-masing. Menunggu saatnya mereka akan dihadapkan kepada Kangjeng Adipadi Prangkusuma.

Agaknya mendung di Kadipaten Pranganom telah terkuak. Raden Ayu Prawirayuda telah terbakar oleh keinginannya untuk meraba matahari yang menyala diatas langit Paranganom.

Malam berikutnya, Madyasta dipanggil menghadap oleh ayahandanya bersama Wignyana. Dengan nada berat Kangjeng Adipati itupun berkata Madyasta. Aku telah mendapat pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa ini, bagaimana aku harus menilai seseorang.“

“Maksud ayahanda?“ bertanya Raden Madyasta.

“Bibimu adalah seorang yang berdarah bangsawan. Meskipun demikian sifat dan kelakuannya tidak dapat menjadi tauladan. Demikian pula Rantamsari. Ia bukan seorang gadis yang berhati teguh. Hatinya dengan cepat merunduk jika angin bertiup.

“Ya, ayahanda.“

“Karena itu, aku dapat mengerti jalan pikiranmu. Bahwa bobot dan nilai seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh darah keturunannya.“

Jantung Raden Madyasta menjadi berdebar-debar. Sementara itu ayahandanya berkata pula “Karena itu, Madyasta. Aku tidak akan mencegah niatmu untuk mengangkat derajat anak Demang Panjer itu kelak di kadipaten Paranganom ini.“

“Ayahanda.“

“Pergilah ke Panjer. Katakan, bahwa jalan kalian berdua akan terbuka.“

“Terima kasih ayahanda.“

“Selamat, kangmas.“

Madyasta berpaling, Sambil tersenyum iapun berkata kau akan mempunyai saudara yang lahir dan dibesarkan di pedesaan dimas.“

“Bukankah kita adalah anak-anak padepokan.“

Madyasta mengangguk.

Sementara itu sambil tersenyum. Kangjeng Adipati berkata “Tetapi jauh sebelum peristiwa besar dalam hidupmu terjadi, gadis itu harus sudah berada di sini. Ia harus diperkenalkan dengan segala macam upacara dan adat yang berlaku. Ia harus diajarkan untuk menjadi seorang gadis yang mapan untuk menjadi sisihan seorang Adipati.“

Raden Madyastapun mengangguk dalam-dalam sambil menyembah, terdengar suaranya yang bergetar “Terima kasih ayahanda.”

Dalam pada itu, beberapa hari kemudian, Kangjeng Adipati duduk dihadap oleh beberapa orang pemimpin Paranganom. Pemimpin pemerintahan dan pemimpin keprajuritan. Dihadapkan kepada Kangjeng Adipati dalam pertemuan itu, Raden Ayu Prawirayuda dan KI Tumenggung Reksadrana.

Namun tidak hanya Kangjeng Adipati Prangkusuma dari Paranganom yang duduk dihadap oleh para pemimpin itu. Tetapi juga Kangjeng Adipati Yudapati dari Kateguhan.

Mereka berdualah yang akan menentukan, hukuman apa yahg akan ditrapkan kepada Raden Ayu Prawirayuda serta Ki Tumenggung Reksadrana dari Kateguhan itu setelah segala tingkah laku mereka terungkap.

Langit di Paranganom terasa menjadi semakin cerah. Anginpun bertiup membaurkan udara yang segar. Perlahan-lahan hubungan baik antara Paranganom dan Kateguhan telah dibina kembali.

TAMAT.