Terasa jantung kedua
Tumenggung itu bergejolak. Bahkan Ki Sanggayuda hampir tidak dapat menahan diri
lagi.
Namun orang yang mengaku
saudagar itulah yang kemudian berkata “Kami tidak menghendaki kematian
siapa-siapa. Kami hanya akan membalas sakit hati kami”
“Tetapi kau dengar
tantangannya. Jika kau menarik niatmu, maka bukan kita yang membalas sakit hati
karena penghinaan orang-orang Paranganom. Tetapi kitalah yang justru saat ini
dihinakan lebih dalam lagi oleh hanya dua orang Paranganom yang berada di
tengah-tengah kita orang-orang Kateguhan“
“Tetapi kematian akan
berakibat semakin memburuknya hubungan antara Paranganom dan Kateguhan”
“Itulah yang kita
inginkan. Jika hubungan yang buruk itu memuncak, maka Kateguhan harus
mengusulkan kepada Kangjeng Sultan di Tegallangkap, agar Tegallangkap tidak
mencampuri pertentangan antara Paranganom dan Kateguhan, sehingga biarlah
Paranganom dan Kateguhan sendirilah yang menyelesaikan persoalan-persoalan
diantara mereka”
”Tetapi sebaiknya kita
tidak membunuh siapa-siapa” berkata saudagar itu kemudian.
“Kamilah yang akan
membunuh”
“Akibatnya akan buruk
sekali”
“Paranganom tidak akan
mengetahui bahwa dua orang warganya mati disini. Tidak akan ada saksi. Tidak
akan ada orang yang mengaku melihat sebuah pembunuhan atas dua .orang
Paranganom. Jika ada yang mencobanya, meskipun ia orang Kateguhan, iapun akan
mati juga”
“Jika kematiann.ya tidak
didengar oleh Paranganom, lalu apa gunanya? Orang-orang Paranganom tidak akan
merasakan pembalasan apapun dari orang-orang Kateguhan karena mereka tidak
mengetahui dan tidak mendengar apa-apa yang terjadi”
“Mereka akan tetap merasa
kehilangan. Biarlah mereka mencari. Mereka tentu akan menduga bahwa kedua
orangnya telah dibunuh di Kateguhan. Tetapi mereka tidak akan dapat
membuktikannya”
“Aku berkeberatan”
Orang berkumis melintang
itu tertawa terbahak-bahak. Katanya “Temyata kaulah yang pengecut. Itulah
sebabnya orang-orang Paranganom selalu menghina dan merendahkan orang-orang
Kateguhan karena sebagian dari orang-orang Kateguhan memang pengecut. Nah,
minggirlah. Jangan ikut campur. Tetapi jika kau berkhianat dan bersaksi atas
kematian kedua-orang itu, maka kau dan keluargamu akan kami tumpas pula”
“Nah, dua orang
Paranganom yang malang. Kalian berdua akan mati. Mayat kalian akan di kubur di
gumuk kecil itu. Kematiaan kalian akan membangkitkan kepercayaan diri yang lebih
besar dari orang-orang Kateguhan”
Ki Sanggayuda benar-benar
telah kehabisan kesabaran. Karena itu, maka iapun berkata dengan nada suara yang
berat dan bergetar “Jika kalian sudah benar-benar berniat membunuh, maka akupun
tidak akan menahan diri, jika aku harus membunuh.”
“Orang-orang Paranganom
memang orang-orang yang sombong. Sekarang bersiaplah untuk mati. Ingat, tidak
akan ada saksi yang melihat kematianmu. Tidak akan ada orang yang pernah
mengatakan bahwa di gumuk kecil itu telah dikubur dua orang Paranganom yang
sombong, tetapi yang nasibnya buruk sekali”
Namun Ki Tumenggung
Wiradapa masih sempat berkata “kami akan menunggu kalian di luar Ki Sanak. Kami
tidak ingin merusakkan perabot yang ada di kedai ini”
“Bagus. Temyata kalian
cukup tenang menghadapi kematian kalian. Baik. Kami akan membunuhmu di luar
kedai ini”
Ketika Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda beranjak dari tempatnya, orang berkumis
melintang itu berteriak “Jangan biarkan keduanya melarikan diri”
Tetapi saudagar itu
justru bertanya kepada orang yang berkumis melintang “Kalian itu siapa Ki
Sanak?”
“Kau terlambat bertanya,
Ki Sanak. Siapapun kami, tetapi kami akan tetap menjunjung tinggi harga diri
orang-orang Kateguhan”
Saudagar itu tidak
bertanya lebih jauh. Orang-orang itu nampaknya begitu garang.
Sesaat kemudian Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda telah berada di halaman kedai
itu. Sejenak kemudian, empat orang yang nampak garang dan kasar telah turun ke
halaman pula.
Ki Tumenggung
Sanggayudalah yang sudah tidak sabar lagi. Karena itu, Ki Tumenggunglah yang
justru melangkah mendekati keempat orang itu sambil berkata “Bersiaplah. Aku
tidak ingin berbicara lagi”
Sikap itu sungguh
mengejutkan. Keempat orang itu tidak mengira, bahwa orang Paranganom itulah yang
justru mendahuluinya.
Sebenarnyalah, Ki
Tumenggung Sanggayuda tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja tangannya telah
terayun dengan cepatnya menghantam wajah orang yang berkumis lebat itu. Demikian
kerasnya, sehingga orang itu telah berputar kesamping sambil berteriak kesakitan
namun sekaligus rnengumpat kasar.
“Iblis kau, he? “
Ki Sanggayuda tidak
menghiraukannya. Kakinya dengan cepat terayun meyambar dada orang yang kepalanya
bulat, bermata cekung.
Orang im terlempar
beberapa langkah surat dan kemudian jatuh menimpa dinding kedai.
Dengan demikian, maka
kawan-kawan merekapun segera bergeser menjauh. Bahkan orang yang berkumis
melintang itupun meloncat mengambil jarak sambil berkata “licik kau orang
Paranganom. Kau menyerang saat kami belum bersiap”
“Apakah aku licik? Jika
kalian ingin berkelahi dengan jantan, marilah. Kita berdua. Siapakah dua orang
diantara kalian yang akan mati”
Kata-kata Ki Tumenggung
Sanggayuda benar-benar membuat orang-orang yang kemudian mengerumuninya menjadi
berdebar-debar. Sementara itu, empat orang yang larang itu telah bersiap pula
menghadapi mereka berdua.
“Kalian dengar
tantanganku? Orang-orang Paranganom adalah orang-orang yang jantan yang
berkelahi seorang melawan seorang”
“Persetan dengan
kejantanan orang-orang Paranganom. Yang penting bagi kami sekarang adalah
menghinakan kalian dan membunuh kalian”
“Bagus. Kita akan segera
mulai. Jangan hanya berbicara saja dan kemudian menganggap kami licik”
Keempat orang itupun
segera bersikap. Namun ternyata mereka terkejut juga ketika Ki Sangayuda
meloncat sambil berputar. Kakinya melingkar menebas langsung mengenai kening
salah seorang diantara empat orang itu.
Orang itupun terlempar
dengan kerasnya menimpa kawannya yang berdiri disebelahnya. Dua orang itupun
jatuh berguling di tanah.
Namun dua orang kawannya
tidak sempat membantu keduanya bangkit. Dengan garangnya Ki Tumenggung
Sanggayudapun telah menyerang mereka berdua. Seorang terdorang sumt beberapa
langkah karena kaki Ki Sanggayuda yang mengenai lambungnya, seorang lagi
terdorong surut sehingga hampir saja kehilangan keseimbangannya pula, karena
tangan Ki Sanggayuda yang menghantam kening.
Ki Tumenggung Wiradapa
berdiri saja termangu-mangu. Ia tidak berbuat apa-apa melihat sikap Ki
Tumenggung Sanggayuda yang benar-benar merasa tersinggung.
Demikianlah sejenak
kemudian, Ki Tumenggung Sanggayuda telah bertempur seorang diri melawan keempat
orang yang akan membunuhnya itu. Betapapun keempat orang itu mengerahkan
kemampuan mereka, namun mereka bukanlah lawan yang seimbang bagi Ki Tumenggung
Sanggayuda yang memiliki ilmu yang tinggi itu.
Ketika orang yang
berkumis melintang itu berteriak memberi aba-aba kepada kawan-kawannya, maka
suaranyapun terputus ketika kaki Ki Tumenggung Sanggayuda menghantam dadanya.
Orang itu terlempar
beberapa langkah. Kemudian jatuh terbanting ditanah.
Sejenak orang itu tidak
bergerak. Tulang punggungnya rasa-rasanya bagaikan menjadi patah.
Sementara itu, tiga orang
kawannya masih bertempur melawan Ki Tumenggung Sanggayuda. Namun mereka
seakan-akan sudah tidak berdaya. Serangan-serangan Ki Sanggayuda tidak lagi
dapat mereka tangkis atau mereka hindari.
Orang yang kepalanya
bundar, seakan-akan telah kehilangan seluruh tenaganya. Ketika tangan Ki
Tumenggung Sanggayuda terjulur mengenai dadanya, orang itu terhuyung-huyung
sejenak. Namun kemudian ia telah kehilangan keseimbangannya dan jatuh terguling
seperti sebatang pohon pisang yang roboh.
Dua orang kawannya
berusaha untuk serentak menyerang Ki Tumenggung dari dua sisi. Tetapi dengan
cepatnya Ki Tumenggung melenting. Dengan demikian maka keduanyapun justru telah
berbenturan. Keduanyapun jatuh terguling di tanah.
Sejenak Ki Tumenggung
Sanggayuda berdiri termangu-mangu. Sementara itu, orang yang berkumis melintang
uupun telah berdiri tegak. Meskipun demikian, punggungnya terasa nyeri sekali.
“Sekarang, apa maumu?”
bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.
Orang itu termangu-mangu
sejenak.
Karena orang itu tidak
segera menjawab, maka Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Cobalah membunuh aku,
agar aku mempunyai alasan untuk membunuhmu”
Orang itu masih berdiri
saja mematung ”Cepat lakukan. Atau kau memang seorang yang sangat licik sehingga
kau sudah menjadi ketakutan? Kau telah menyebut orang yang mengurungkan niatnya
untuk menghinakan aku sebagai pengecut. Dengan wajah tengadah kau berteriak,
bahwa ada juga orang Kateguhan yang pengecut. Ternyata orang itu adalah kau
sendiri”
Orang itu masih belum
menjawab. Karena itu Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Baik. Jika kau tidak
mau menjawab, maka itu berarti bahwa kau tetap menantangku. Karena kau sudah
bemiat untuk membunuhku, maka sekarang akupun akan membunuhmu. Kemudian aku akan
melarikan kudaku melintasi perbatasan. Oang-orang Kateguhan tidak mempunyai
wewenang lagi untuk menangkapku. Jika orang-orang Kateguhan marah. biarlah
Kateguhan menyerang Paranganom. Aku akan segera minta Kangjeng Adipati untuk
menyiapkan prajurit serta memberikan laporan kepada Kangjeng Sultan
Tegallangkap. Kangjeng Sultan tentu akan merunut siapakah yang bersalah dan
siapakah yang benar”
Orang berkumis melintang
itu menjadi pucat. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa berempat ia tidak
dapat mengalahkan satu orang saja dari kedua orang Paranganom itu.
Sejenak ia
termangu-mangu. Namun kemudian iapun berteriak “He, orang-orang Kateguhan.
Apakah kalian membiarkan kedua orang ini semakin menghina kita orang-orang
Kateguhan? Marilah. Kita bersama-sama menangkap kedua orang itu. Membunuh mereka
dengan cara yang paling menyakitkan bagi keduanya”
Suasana menjadi semakin
tegang. Beberapa orang yang berdiri mengerumuni perkelahian itu justru diam
mematung.
“Marilah. Bangkitlah.
Jangan membiarkan orang-orang Paranganom semakin menghina dan merendahkan kita”
Orang yang mengaku
saudagar dan yang telah menyulut api keributan itu berdiri dengan jantung yang
berdebaran.
Orang yang berkumis
melintang itupun memandanginya dengan mata yang bagaikan menyala. Katanya “He,
kau. Ki Sudagar. Turunlah ke arena. Ajak kawan-kawanmu untuk menghinakan
orang-orang Paranganom ini”
Tetapi saudagar itu tidak
bergerak. Tubuhnya bagaikan membeku. Ia menjadi sangat menyesal atas gagasannya
yang telah menimbulkan persoalan yang gawat, yang menganeam keselamatan jiwa.
Karena saudara itu diam
membeku, maka orang berkumis melintang itu mendekatinya. Dengan garangnya orang
itu menggapai baju saudagar itu sambil berkata lantang “Kenapa kau diam saja?
Temyata kau pengecut yang paling buruk di Kateguhan. Kau sulut api, tetapi kau
kemudian telah mencuci tangan”
Tetapi saudagar itu
menggeleng. Katanya “Sudah aku katakan, bahwa aku tidak ingin membunuh
siapa-siapa”
“Persetan kau. Lalu apa
yang akan kau lakukan dengan gagasanmu itu. Baiklah. Jika kau tidak mau membunuh
siapa-siapa, lakukan apa yang kau katakan. Kau akan menghinakan kedua orang itu.
Melucuti pakaiannya dan membiarkan mereka pulang ke Paranganom. Lakukan..
Lakukan sekarang”
Tetapi saudagar itu
menggeleng. Katanya “Tidak. Kita tidak dapat ingkar. bahwa orang itu berilmu
sangat tinggi. Seorang saja diantara mereka telah berhasil mengalahkan kalian
berempat. Apalagi jika mereka bergerak kedua-duanya”
“Tetapi mereka tidak akan
dapat melawan kita semuanya jika kita bersama-sama melawan mereka”
“Tidak, Ki Sanak. Aku
tidak mau”
” Jika kau tidak mau,
justru aku akan membunuhmu”
Saudagar itu mengerutkan
dahinya. Namun tangannya segera menepis tangan orang berkumis melintang yang
menggenggam bajunya sambil berkata “Jangan paksa aku”
“Setan kau”
Orang berkumis melintang
itupun mengayunkan tangannya untuk menampar wajah saudagar yang tidak mau
melakukan sebagaimana dikatakannya itu. Tetapi tiba-tiba saja saudagar itu
menangkapnya dan memilinnya kebelakang. Dipeganginya tangan yang dipilinnya itu
kuat-kuat sambil berkata ”Kau jangan mencari musuh, Ki Sanak”
Orang itu menyeringai
kesakitan. Ia tidak dapat melepaskan tangannya. Apalagi punggungnya terasa
sangat sakit.
“Lepaskan, Lepaskan”
teriak orang itu.
“Kau harus tahu, bahwa
kau bukan orang yang tidak terkalahkan disini. Meskipun aku tidak akan dapat
bertuat apa-apa dihadapan orang Paranganom yang berilmu sangat tinggi itu,
tetapi aku tidak dapat kau takut-takuti”
“Lepaskan tanganku,
lepaskan”
“Kau harus berjanji untuk
tidak mengulanginya”
“Aku berjanji”
“Kau harus minta maaf”
“ Aku minta maaf” .
Saudagar itu melepaskan
tangan orang berkumis melintang itu sambil mendorongnya. Demikian kerasnya,
sehingga orang itu jatuh terjerembab.
Orang itupun menggeliat.
Kemudian berusaha untuk bangkit.
Ternyata wajah orang itu menjadi kotor oleh debu yang melekat karena
keringatnya. Dari sela-sela bibirnya mengalir darah dari bibirnya yang peeah.
Orang yang mengaku
saudagar itupun kemudian melangkah mendekati Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Kau akan mencoba
melawanku“ geram Ki Tumenggung Sanggayuda yang jantungnya masih terasa panas.
“Tidak, Ki Sanak. Kami
ingin minta maaf. Kami tidak akan berani berbuat apa-apa atas Ki Sanak berdua”
Ki Tumenggung Sanggayuda
termangu-mangu sejenak, Namun kemudian iapun menggeram “Satu pengalaman yang
buruk selama perjalananku dari rumah paman Partabawa”
“Sekali lagi. kami minta
maaf. Kami berjanji untuk tidak mengganggu perjalanan kalian berdua”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tidak segera menjawab. Sementara itu orang yang mengaku saudagar itu berkata
selanjutnya “Untunglah kalian masih mengekang diri. Jika kalian berdua menjadi
marah bersama-sama, maka aku tidak dapat membayangkan, apa yang terjadi. Mungkin
akan benar-benar jatuh korban jiwa ditempat ini. Jika itu terjadi, akulah yang
paling bersalah”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tidak menjawab. Iapun kemudian melangkah justru meninggalkannya.
“Kakang Wiradapa, marilah
kita tinggalkan tempat Ini. Semakin lama kita.disini, aku menjadi semakin muak.
Aku justru takut kalau aku tidak dapat mengekang diriku lagi“
Ki Tumenggung Wiradapa
tersenyum. Katanya “Kau masih tetap dapat mengendalikan diri. Marilah kita
pergi” Keduanyapun kemudian melangkah ke kuda-kuda mereka. Sejenak kemudian
keduanya telah meloncat naik. Ketika kuda-kuda itu mulai bergerak, Ki Tumenggung
Sanggayuda masih berkata “Jika kalian masih penasaran, kami akan datang lagi
pada kesempatan lain. Sakit hatiku tidak dapat lenyap begitu saja seperti
noda-noda pada pakaian yang larut setelah dicuci”
“Kami minta maaf yang
sebesar-besamya, Ki Sanak”
Bab 18 – Terot Di Rumah
Aden Ayu
“Sikap orang-orang
Kateguhan seperti inilah yang membuat jarak antara Kateguhan dan Paranganom
menjadi semakin jauh”
Saudagar itu tidak sempat
menjawab. Ki Tumenggung Sanggayudapun segera melarikan kudanya. Disusul oleh Ki
Tumenggung Wiradapa.
“Gila orang-orang
Kateguhan“ geram Ki Tumenggung Sanggayuda ketika Ki Tumenggung Wiradapa
menyusulnya.
Ki Tumenggung Wiradapa
tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja sambil menggerakkan kendali kudanya.
Dalam pada itu, empat
orang yang kesakitan masih merangkak-rangkak menepi. Merekapun kemudian duduk di
lineak bambu di depan kedai itu. Saudagar yang merasa telah menyulut api
pertentangan itupun berdiri dihadapan orang yang berkumis melintang itu sambil
berkata “Jika kau menganggap bahwa persoalan ini belum selesai, maka kau akan
berurusan dengan aku. Mungkin kau mempunyai banyak kawan yang dapat kau gerakkan
untuk memusuhi aku. Tetapi aku juga mempunyai banyak orang yang akan melindungi
aku”
Orang berkumis melintang
itu tidak menjawab. Sementara itu, saudagar itupun pergi menemui pemilik kedai
yang menjadi gemetar itu.
Saudagar itupun
memberikan beberapa keping uang sambil berkata “Hitung kerugianmu. Jika uangku
kurang, katakan. Besok akan aku tambah lagi” -
“Terima kasih, Ki
Sudagar“ berkata pemilik kedai itu. Sebenarnyalah tidak ada perabotnya yang
rusak. Tetapi ada beberapa orang yang tidak sempat membayar karena mereka
tergesa-gesa pergi karena ketakutan”
Dalam pada itu, kedua
orang Tumenggung itupun melarikan kuda mereka dengan kencangnya. Perbatasan
antara kadipaten Paranganom dan kadipaten Kateguhan memang tidak terlalu jauh
lagi.
Karena itu, maka beberapa
saat kemudian, merekapun telah melintasi perbatasan kedua kadipaten yang
kedua-duanya berada di dalam lingkaran kuasa Kangjeng Sultan di Tegallangkap.
Demikian keduanya berada
di tlatah kadipaten Paranganom, maka Ki Tumenggung Sanggayuda mengekang kudanya,
sehingga.seakan-akan berhenti sama sekali.
Ki Tumenggung Wiradapa
agak terdorong beberapa -langkah maju. Namun iapun segera berhenti menunggu kuda
Ki Tumenggung Sanggayuda yang berjalan selangkah-langkah.
“Ada apa adi Tumenggung?“
bertanya Ki Tumenggung Wiradapa”
“Alangkah segarnya udara
kadipaten Paranganom. Demikian kita melewati gapura yang berada di perbatasan
itu, rasa-rasanya aku telah meninggalkan neraka yang panasnya melampaui panasnya
api arang batok kelapa”
Ki Tumenggung Wiradapa
tersenyum. Katanya “Orang Kateguhan sendiri telah membuat lingkungannya menjadi
sangar, sehingga akhirnya orang-orang Paranganom akan benar-benar merasa segan
untuk pergi ke Kateguhan”
“Bukankah itu karena
salah mereka sendiri, kakang?
“Ya. Itu adalah salah
mereka sendiri”
“ Apakah kita perlu
memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati?”
“Kita akan melaporkan
seeara umum saja, adi Tumenggung. Kita tidak perlu memberikan laporan
terperinci”
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kita akan memberikan laporan secara umum saja”
Dalam pada itu, maka
haripun menjadi semakin muram. Matahari menjadi semakin rendah dan sejenak
kemudian menyusup dibalik pegunungan, cahaya layung yang kekuningan, dengan
tajamnya menusuk penglihatan.
“Kita akan bermalam di
jalan, kakang berkata Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Kita akan melintasi
sebuah padukuhan. Kita akan minta untuk diijinkan bermalam di banjar padukuhan
itu.
“Didepan kita itu agaknya
sebuah padukuhan yang agak besar.
“Tetapi masih terlalu
sore untuk berhenti. Kita akan berjalan terus sampai wayah sepi bocah”
“Kakang. Bukankah malam
ini malang terang bulan. Anak-anak akan bermain sampai jauh malam”
“Kita akan sempat
menonton di halaman banjar padukuhan berikutnya”
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk.
Sebenarnyalah bahwa malam
itu adalah malam bulan terang. Bahkan rasa-rasanya bulan terlalu cepat terbit.
Sebelum cahaya layung hilang dari wajah langit, maka bulan sudah mulai nampak
diatas cakrawala.
Sejenak kemudian, kedua
orang Tumenggung itu memasuki sebuah padukuhan yang agak besar. Demikian mereka
menyusup gerbang padukuhan, maka haripun terasa mulai gelap. Cahaya matahari
yang tersisa telah menjadi semakin kabur, sedangkan cahaya bulan masih terhalang
dedaunan.
Tetapi kedua orang
Tumenggung itu memang tidak akan berhenti dan bermalam di banjar padukuhan itu,
meskipun keduanya berkuda lewat jalan induk yang melintas didepan banjar.
Banjar padukuhan itu
nampak terang oleh lampu yang sudah dinyalakan di pendapa. Bahkan di pendapa itu
nampak ada beberapa orang yang duduk melingkar diatas tikar pandan yang putih.
“Agaknya sedang ada
pertemuan di banjar berkata Ki Tumenggung Wiradapa.
“Ya. Mungkin pertemuan
para bebahu. Orangnya tidak begitu banyak”
Ki Tumenggung .Wiradapa
mengangguk angguk Demikian mereka mendekati pintu gerbang keluar dari padukuhan
itu, mereka sudah melihat beberapa brang anak yang berdiri di regol halaman
rumah yang luas Nampaknya mereka baru bersiap-siap untuk bermain-main di halaman
yang luas itu.
Beberapa saat kemudian,
keduanya telah terlepas dari mulut jalan induk padukuhan itu. Didalam cerahnya
cahaya bulan yang menyiram bulak panjang dihadapan mereka, mereka melihat
diujung bulak sebuah padukuhan pula. Nampaknya juga padukuhan yang agak besar,
Keduanya tidak melarikan
kuda mereka lagi. Agaknya kuda mereka sudah mulai menjadi letih.
Dalam pada itu, bulanpun
memanjat semakin tinggi. Cahayanya terpantul di daun-daun padi yang subur. Air
yang tergenang di kotak-kotak sawah nampak berkilat-kilat. Sedangkan air yang
mengalir di parit, terdengar gerieik dengan iramanya yang lembut.
Beberapa saat kemudian,
keduanya telah mendekati padukuhan berikutnya. Demikian mereka sampai di pintu
gerbang, maka mereka sudah mendengar suara tembang anak-anak yang sedang
bermain.
“Sekarang hari apa,
kakang Tumenggung?“ bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Kenapa?“
“Apakah sekarang hari
Senin Wage?”
“Ya”
“Besok Selasa Kliwon?“
“Ya. Kenapa? Apakah kau
takut malam Selasa Kliwon? ^”
“Bukan aku takut malam
Selasa Kliwon. Tetapi tembang anak-anak itu”
“Ada apa dengan tembang
mereka?“
“Mereka melagukan dendang
ilir-ilir”
“Kenapa dengan
ilir-ilir?”
“Apakah kau tidak pernah
bermain dimasa kanak-kanak, kakang Tumenggung?“
Ki Tumenggung Wiradapa
mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak segera menjawab.
“Ki Tumenggung
Sanggayudalah yang kemudian berkata “Anak-anak itu mendendangkan tembang
ilir-ilir. Mereka tentu bermain nini towong”
“Nini towong. Masih
sesore ini? Aku dahulu juga sering bermain nini towong. Tetapi kami mulai tepat
ditengah malam”
“Anak-anak yang sudah
remaja dan bahkan yang sudah menginjak dewasa memang bermain nini towong mulai
tengah malam. Tetapi anak-anak bermain nini towong sejak malam turun”
“Apakah bisa jadi juga?“
“Ya. Aku pernah mencoba
dimasa kanak-kanakku” Ki Tumenggung Wiradapa itu menganguk-angguk.
Beberapa saat kemudian,
maka merekapun telah memasuki padukuhan itu. Banjar padukuhan itu terletak tidak
terlalu jauh dari pintu gerbang padukuhan.
Padukuhan itu bukan
padukuhan yang terlalu asing bagi kedua orang Tumenggung itu. Meskipun mereka
belum pernah secara khusus mendatangi padukuhan itu, tetapi mereka telah pernah
melewati padukuhan itu.
“Kita akan langsung
menemui penunggu banjar “ berkata Ki Tumenggung Wiradapa.
“Apakah tidak lebih baik
kita menemui Ki Bekel?“
“Nanti kita pergi ke
rumah Ki Bekel. AKu ingin melihat, apakah nini towong itu bisa jadi. Menilik
suara tembang itu, anak-anak itu bermain di banjar”
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk sambil tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.
Demikianlah keduanyapun
langsung menuju ke banjar. Di pintu regol banjar padukuhan, keduanyapun turun
dari kuda dan menuntunnya memasuki halaman.
Anak-anak yang sedang
bermain itu sempat berpaling. Tetapi mereka segera kembali lagi memusatkan
perhatian mereka kepada permainan mereka. Nini towong.
Ki Tumenggung Sanggayuda
dan Ki Tumenggung Wiradapa tidak ingin mengganggu anak-anak yang sedang bermain
nini towong itu. Karena itu, maka keduanyapun langsung mengikat kuda mereka pada
patok-patok kayu di sebelah pendapa. Kemudian keduanyapun duduk di tangga sambil
menyaksikan anak-anak yang sedang bermain.
Anak-anak yang ada di
halaman banjar itu telah terbagi dua. Sekelompok di Selatan dan sekelompok yang
lain beberapa langkah di sebelah Utara. Keduanya memegang tali panjang. Diantara
kedua kelompok itu terikat sebuah siwur tempurung kelapa bertangkai bambu. Siwur
itulah yang kemudian diberi berpakaian seperti seorang gadis kecil. Diriasnya
batok kelapa itu menyempai wajah. Digambarnya mata, hidung dan mulut dengan
enjet.
Kemudian kelompok
anak-anak itu bersama-sama mendengarkan lagu ilir-ilir sambil menggerakkan tali
yang mengikat siwur diantara kedua kelompok itu. Semakin lama semakin keras.
Irama dendang merekapun menjadi semakin cepat pula.
Ki Tumenggung Wiradapa
menjadi tegang. Lebih tegang dari saat ia melihat Ki Tumenggung Sanggayuda
berkelahi melawan ampat orang di kedai itu.
Ki Tumenggung Wiradapa
itu justru bangkit berdiri ketika anak-anak yang bermain nini towong itu
menjerit-jerit. Mereka tidak lagi melantunkan lagu ilir-ilir. Ada yang menjerit
karena kegembiraan yang melonjak. Mereka merasa berhasil dengan permainan
mereka. Nini towong itu mampu melonjak-lonjak, sehingga kedua kelompok anak-anak
itu harus memeganginya dengan kencang agar nini towong itu tidak terlepas.
Tetapi ada yang menjerit-jerit karena ketakutan, bahwa permainan mereka telah
kerasukan.
Kedua kelompok anak-anak
itu semakin lama semakin keras menarik permainan mereka sambil berteriak-teriak.
Sementara itu nini towong mereka yang mereka anggap menjadi hidup itu
melonjak-lonjak semakin tinggi. Tali yang menghubungkan kedua kelompok anak-anak
dengan nini towong ditengahnya itu menjadi semakin tegang.
Ketika anak-anak itu
berteriak-teriak semakin keras, maka tiba-tiba saja tali itupun putus. Kedua
kelompok anak itu terlempar dan jatuh saling menindih.
Riuhnya bukan main.
Bergegas dan berebut dahulu mereka bangkit berdiri dan berlari menjauhi siwur
yang terpelanting jatuh.
Ki Tumenggung Wiradapa
tertawa. Iapuri kemudian duduk kembali disebelah Ki Sanggayuda.
Sejenak kemudian,
anak-anak yang berlari berpencar itu telah berkerumun kembali. Perlahan-lahan
mereka maju mendekati nini towong mereka yang terbaring diam.
“Nini towongnya mati“
berteriak seorang diantara anak-anak itu.
Seorang anak laki-laki
yang menginjak usia remajanya melangkah perlahan-lahan mendekat. Seperti seekor
kucing yang sedang merunduk seekor tikus.
Namun kemudian anak itu
berjongkok disebelah nini towongnya yang tidak bergerak sambil berteriak Ya.
Nini towongnya mati”
Seorang gadis kecil yang
nampaknya pemberani telah datang mendekat pula. Gadis kecil itu langsung
menggapai nini towong yang terbaring diam itu.
“Mati “ katanya “nini
towong ini sudah tidak bergerak sama sekali”
“Mari, kita buat lagi”
“Tidak bisa. Hanya
sekali. Jika kita ingin membuat lagi, kita harus meneuri siwur lagi”
Ki Wiradapapun berdesis
“Kenapa harus mencuri?”
“Untuk dibuat nini
towong, bukankah siwur itu harus dicuri di rumah seseorang” jawab Ki Sanggayuda.
“Kalau tidak?”
“Tidak akan jadi “
“Bukankah banyak siwur di
pinggir jalan? Aku lihat dibeberapa regol halaman terdapat gentong berisi air
bersih untuk disediakan bagi para pejalan kaki yang haus. Bukankah disetiap
persediaan air itu terdapat siwur batok kelapa untuk minum”
“Ya. Tetapi nampaknya
yang lain sudah menjadi jemu dan akan bermain dengan jenis permainan yang lain”
Ki Wiradapa
mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata “Kita tunggu mereka menemukan
permainan yang lain. Marilah kita temui penunggu banjar ini untuk minta ijin
bermalam disini”
Keduanyapun bangkit
berdiri. Merekapun kemudian berjalan menuju ke rumah yang berada di belakang
banjar itu.
Agaknya penunggu banjar
itu masih duduk-duduk di ruang dalam bersama isterinya dan anaknya yang masih
baru dapar berjalan. Karena itu ketika Ki Tumenggung Sanggayuda mengetuk
pintunya, maka penunggu banjar itu segera turun dari amben bambunya yang agak
besar langsung menuju ke pintu.
“Siapa di luar?“ bertanya
penunggu banjar itu.
“Aku Ki Sanak“ jawab Ki
Tumenggung Sanggayuda.
Penunggu banjar itupun
membuka pintunya yang memang belum diselarak.
“Marilah Ki Sanak,
silakan masuk”
Namun Ki Tumenggung
Wiradapapun menyahut “Terima kasih. Kami hanya akan mohon. ijin untuk bermalam
di banjar ini. Kami kemalaman dalam perjalanan”
“O“ penunggu banjar
itupun melangkah keluar “maaf Ki Sanak. Kami sebenarnya tidak berkeberatan
memberi kesempatan Ki Sanak berdua bermalam di banjar ini. Tetapi tempatnya
hanya sangat sederhana”
“Tidak apa-apa. Jika kami
diijinkan bermalam di banjar ini, kami mengucapkan terima kasih,”
“Ada amben yang agak
besar di serambi belakang banjar ini, Ki Sanak. Jika kalian tidak berkeberatan,
silahkan. Ada sumur dan pakiwan di samping rumah kecil yang aku huni itu. Jika
kalian ingin membersihkan diri atau mandi”
“Terima kasih”
“Aku minta maaf, jika
hanya tempat sajalah yang dapat kami sediakan. Itupun tempat yang sangat
sederhana “
“Sudah cukup, Ki Sanak.
Terima kasih”
“Kalian berkuda?”
“Ya”
“Sayang, aku tidak
mempunyai persediaan makanan kuda. Tetapi banyak rumput di kebun belakang.
Barangkali dapat sekedar mengurangi perasaan lapar kuda kalian. Jangan takut
kuda kalian akan hilang. Meskipun di sepanjang perbatasan ini kadang-kadang
terdengar suara kentongan, kadang-kadang tiga pukulan terturut-turut,
kadang-kadang lima dan bahkan kadang-kadang titir, tetapi padukuhan ini tetap
aman”
“Baik, Ki Sanak. Kami
akan membawa kuda kami ke kebun belakang”
“Silahkan. Tetapi seperti
yang aku katakan, aku tidak dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya”
Ketika kemudian penunggu
banjar itu masuk kembali ke dalam rumahnya, maka Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki
Tumenggung Sanggayuda kembali duduk di tangga pendapa banjar untuk menyaksikan
anak-anak yang sedang bermain.
Mereka menyaksikan
anak-anak itu berdiri dalam lingkaran. Kemudian berputar sambil mendendangkan
lagu jamuran.
“Kita bawa kuda kita ke
belakang, kakang Tumenggung“ berkata Ki Sanggayuda “biarlah kuda itu dapat makan
rumput serba sedikit”
Ki Tumenggung Wiradapapun
mengangguk. Katanya “Kita beri minum saja dahulu di sumur”
Demikian mereka mengikat
kuda mereka di kebun belakang banjar yang banyak rumputnya, maka keduanya
kembali menyaksikan anak-anak bermain. Tidak lagi jamuran, tetapi mereka bermain
surkulon surwetan.
“Anak-anak itu belum
mengantuk, walaupun sudah wayah sepi uwong“ berkata Ki Tumenggung Wiradapa.
“Jika mereka sedang
bermain di terang bulan, maka mereka akan dapat bertahan sampai lewat tengah
malam “ sahut Ki Tumenggung Sanggayuda.
Sebenarnyalah anak-anak
itu masih saja nampak segar sampai menjelang tengah malam. Mereka masih bermain
soyang yang riuh.
Nampaknya Ki Wiradapa
sangat tertarik melihat anak-anak bermain. Ia betah duduk di tangga sampai lewat
tengah malam. Ketika anak-anak itu menjadi letih, dan bersepakat untuk berhenti
bermain, maka merekapun segera menghambur pulang ke rumah masing-masing tanpa
perasaan takut. Anak-anak yang biasanya tidak berani ke pakiwan sendiri setelah
gelap, tiba-tiba saja menjadi berani pulang dari banjar sendirian lewat tengah
malam.
Ketika halaman itu
menjadi sepi, maka Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun
bangkit berdiri. Tiga orang anak muda memasuki regol halaman banjar dan
melangkah langsung menuju ke pendapa.
Ketiga orang anak muda
itu tertegun ketika mereka melihat dua orang yang bangkit berdiri di tangga
pendapa.
“Siapa kalian?“ bertanya
salah seorang anak muda itu.
“Kami pejalan yang minta
ijin menginap di banjar ini”
“Kalian sudah berbicara
dengan penunggu banjar ini?”
“Sudah anak-anak muda “
Anak anak muda itu
mengangguk-angguk. Seorang yang lainpun bertanya “Kenapa kalian duduk saja di
tangga. Bukankah di serambi belakang ada amben yang cukup besar untuk kalian
pakai tidur berdua?”
“Kami nonton anak-anak
bermain di terang bulan”
“O “
Anak-anak muda itupun
kemudian naik ke pendapa sambil berkata ”Silahkan beristirahat”
“Terima kasih anak-anak
muda “
Namun sebelum mereka
beranjak, penunggu banjar itu telah naik dari tangga samping sambil membawa
minuman hangat. Iapun kemudian berpaling kepada Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki
Tumenggung Sanggayuda “Marilah Ki Sanak. Duduklah bersama anak-anak yang
meronda. Mereka anak-anak malas yang baru datang lewat tengah malam”
“Aku sudah ada di
prapatan itu sejak wayah sepi bocah, kang. Tetapi halaman ini sangat ramai. Aku
dan kawan-kawan ini duduk-duduk saja di prapatan”
“Dimana kawanmu yang dua
lagi?”
“Mereka masih duduk di
prapatan mengamati anak-anak yang mengambur pulang itu”.
Sejenak kemudian, maka Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun telah ikut duduk di pendapa.
Sementara itu dua orang lagi yang bertugas ronda di banjar itu telah datang
pula.
Selain minuman hangat,
penunggu banjar itupun telah merebus ketela pohon dengan santan dan garam.
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayuda ikut makan ketela pohon yang masih mengepul itu
bersama anak-anak yang sedang meronda. Beberapa pertanyaan harus dijawab oleh
kedua orang Tumenggung itu. Namun sampai saatnya mereka meninggalkan pendapa
turun ke serambi belakang, mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sebagai
Tumenggung di Paranganom.
Keduanya sempat tidur
beberapa saat. Namun mereka mendengar ketika anak-anak muda itu meninggalkan
pendapa banjar menjelang dini hari.
Kedua orang Tumenggung
itupun segera bangkit pula dan langsung pergi ke pakiwan.
Sebelum matahari terbit,
keduanyapun telah siap untuk meneruskan perjalanan.
“Kita akan minta din
kepada penunggu banjar ini, adi Tumenggung”
“Marilah “ sahut Ki
Sanggayuda.
“Aku ingin memberitahukan
kepadanya, siapa kita sebenarnya. Memang ada beberapa kemungkinan. Ia menjadi
gembira atau justru sebaliknya karena ia tidak dapat menyambut kita dengan
sebaiknya-baiknya”
“Kita beritahukan
kepadanya, bahwa kita sudah merasa sangat puas dengan pelayanannya”
Ki Tumenggung Wiradapapun
mengangguk-angguk.
Sejenak kemudian, maka
mereka berduapun telah minta diri kepada penunggu banjar itu serta isterinya.
Seorang anaknya masih baru dapat berjalan. Kakaknya, sudah dapat berlari-lari
dan berbicara beberapa kalimat dengan pengertian yang sudah runtut.
“Umur mereka hanya empat
belas bulan“ berkata penunggu banjar itu. Isterinya hanya menunduk saja sambil
tersenyum.
“Ki Sanak“ berkata Ki
Tumenggung Wiradapa “kami akan melanjutkan perjalanan. Jika kalian sempat pergi
ke Paranganom, aku persilahkan kalian singgah di rumah kami”
“Terima kasih, Ki Sanak?
Kami akan mencoba mencarinya di Paranganom”
“Jika kalian mencari
kami, maka kalian dapat bertanya kepada orang-orang yang tinggal disebelah Barat
alun-alun.
“Ki Sanak berdua tinggal
di sebelah. Barat alun-alun?”
“Ya”
“Jika aku bertanya kepada
mereka yang tinggal di sebelah Barat alun-alun, aku harus berkata bahwa aku
mencari rumah siapa?”
“Bertanyalah rumah salah
seorang dari kami berdua. Kami tinggal berdekatan”
“Nama kalian atau
barangkali pekerjaan kalian?”
“Bertanyalah rumah Ki
Tumenggung Wiradapa atau Ki Tumenggung Sanggayuda”
“Ki Tumenggung? Apakah
kalian tinggal di rumah Ki Tumenggung?”
“Aku adalah Tumenggung
Wiradapa”
“Aku adalah Tumenggung
Sanggayuda itu”
“Jadi Ki Sanak berdua ini
Tumenggung? Apakah benar pendengaranku?”
“Ya, Ki Sanak. Kami
berdua adalah Tumenggung di Paranganom yang baru saja menjalankan tugas ke
Kateguhan. Kami diperintahkan oleh Kangjeng Adipati Parangkusuma di Paranganom
untuk menghadap Adipati Yudapati di Kateguhan”
“Ampun Ki Tumenggung
berdua Kami mohon ampun. Kami tidak tahu sama sekali bahwa yang datang semalam
adalah dua orang Tumenggung dari Paranganom”
Penunggu banjar itupun
berlutut sambil mengangguk dalam-dalam. Namun Ki Tumenggung Wiradapapun menarik
lengannya sambil berkata “Bangkidah. Berdirilah”
Ki Tumenggung
Sanggayudapun telah mencegah isteri penunggu banjar itu ketika perempuan yang
menjadi bingung itu ikut berlutut seperti suaminya
“Kami mohon ampun, Ki
Tumenggung”
“Kenapa kau mohon ampun.
Kau sudah berbuat baik. Aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu;”
“Kenapa Ki Tumenggung
tidak mengatakan sejak semalam”
“Aku ingin tahu apa yang
kau lakukan kepada orang kebanyakan. Kau tentu akan menerima dengan baik dan
barangkali terlalu baik jika kami langsung mengaku, bahwa kami berdua adalah dua
orang.Tumenggung dari Paranganom. Tetapi ternyata bahwa kau bersikap baik kepada
orang kebanyakan. Kau terima dengan baik dan kau perlakukan dengan baik. Di
malam hari kau beri kami makan dan minum”
“Kami tidak menghidangkan
makan malam”
“Ketela rebus itu di
mulut kami semalam jauh lebih nikmat dari semangkuk nasi wuduk dengan segala
kelengkapannya, termasuk daging ayam dan telur”
“Kami mohon ampun”
“Tidak ada yang harus
diampuni. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa”
Penunggu banjar itu
menunduk dalam-dalam. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya Bahkan wajahnya
menjadi pucat sedangkan suaranya menjadi sedikit bergetar.
“Nah, sekarang kami akan
minta diri“ berkata Ki Tumenggung Wiradapa sambil mengambil beberapa keping uang
di kantong ikat pinggangnya yang lebar. Diberikannya uang itu kepada anak
penunggu banjar yang sudah dapat berlari-lari. “Ini. Nanti buat membeli gelali.
Bukankah kau tidak sedang batuk?”
“Anak itu termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian uang yang beberapa keping itu diterimanya. Dua keping
diantaranya jatuh ketanah karena kedua tangannya terlalu kecil untuk menggenggam
semua uang pemberian Ki Tumenggung Wiradapa itu”
“Terima kasih Ki
Tumenggung” berkata isteri penunggu banjar itu sambil membungkuk dalam-dalam.
Kedua orang Tumenggung
itupun kemudian minta diri. Mereka telah mengambil kuda mereka yang semalam
suntuk dibiarkan saja di kebun belakang untuk makan rumput.
Perjalanan mereka masih
agak panjang. Tetapi mereka berharap, sebelum tengah hari mereka sudah sampai di
Paranganom. Mereka bernial langsung menghadap Kangjeng Adipati Paranganom jika
Kangjeng Adipati bersedia menerimanya
Sepeninggal Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda, penunggu banjar itu masih saja gelisah.
Namun isterinya justru sibuk menghitung keping uang yang diting-galkan oleh Ki
Tumenggung Wiradapa di tangan-tangan kecil anaknya yang sulung.
“Banyak sekali, kang”
berkata isteri penunggu banjar Itu.
“Mereka orang baik.
Kapan-kapan aku berniat untuk datang menghadap Ki Tumenggung berdua. Pada
saat-saat pekerjaan kita longgar. Tidak ada kerja di sawah, serta Ki Bekel tidak
berkeberatan dan memberi ijin kita meninggalkan banjar ini barang dua hari”
“Kita? Maksud kakang, aku
juga ikut?”
“Ya”
“Anak-anak ini?”
“Tentu mereka akan ikut
pula”
“Menggendong anak-anak
sampai ke Paranganom? Bukankah Paranganom itu jauh?”
Penunggu banjar itu
menarik nafas panjang. Katanya “Jika saja kita mempunyai pedati”
“Kang. Bukankah sering
ada pedati dari kota yang datang kemari? Para saudagar yang sedang mencari
dagangan?”
“Mereka datang untuk
membeli kambing. Apakah kita akan minta diperkenankan ikut bersama mereka dan
duduk berdesakkan dengan kambing-kambing didalam pedati?”
Isterinya
mengangguk-angguk. Katanya ”Kasihan juga anak-anak kita, ya kang. Tetapi
bukankah kadang-kadang ada pedati yang membawa hasil kerajinan bambu dari
padukuhan kita?”
“Ya Mungkin kita dapat
berbicara dengan mereka”
Uang yang ditinggalkan Ki
Tumenggung Wiradapa temyata sangat menggembirakan keluarga yang sederhana itu.
Dalam pada itu, Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda melarikan kuda mereka di jalan
yang panjang. Ketika matahari mulai naik, maka sinamya terasa menggatalkan
kulit.
“Kita berharap menjelang
tengah hari kita sudah akan sampai ke dalem kadipaten” desis Ki Tumenggung
Wiradapa
Dalam pada itu, di
Paranganom, pagi itu Raden Ayu Prawirayuda dan puterinya Raden Ajeng Rantamsari
telah menghadap Kangjeng Adipati Parangkusuma. Kangjeng Adipati menjadi agak
terkejut, bahwa di hari yang masih pagi itu, keduanya sudah berada di dalem
kadipaten.
“Marilah kangmbok,
silahkan“ Kangjeng Adipati menerima keduanya di serambi samping.
“Kami mohon ampun dimas.
Mungkin kedatangan kami sangat mengganggu dimas, karena hari masih pagi”
“Apakah ada sesuatu yang
sangat penting, kakangmbok”
“Dimas, semalam kami
menjadi ketakutan di rumah”
“Kenapa?”
Raden Ayu Prawirayuda
menarik nafaas dalam-dalam. Iapun berpaling kepada Raden Ajeng Rantamsari sambil
berkata “Ampun dimas. Rantamsari hampir saja menjadi pingsan”
“Apa yang telah terjadi?”
“Semalam seseorang atau
lebih telah dengan sengaja mengganggu ketenangan keluarga kami, dimas. Di tengah
malam Rantamsari terbangun dari tidumya”
Kangjeng Adipati
mendengarkan laporan itu dengan sungguh-sungguh. Namun tiba-tiba saja Raden Ayu
Prawirayuda itupun berkata ”Biarlah Rantamsari saja yang menyampaikan-nya dimas”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk. Katanya “Silahkan. Silahkan Rantamsari?”
“Hamba menjadi sangat
ketakutan, paman Adipati. Di tengah malam hamba terbangun. Hamba rasa ada yang
sengaja mengetuk pintu bilik hamba. Karena itu, maka hamba telah membuka pintu
itu dengan hati-hati. Tetapi temyata tidak ada seorangpun di ruang dalam. Hamba
mengira bahwa ibundalah yang telah mengetuk pintu bilik hamba Karena itu, maka
hambapun pergi ke bilik ibunda. Sementara itu, lampu di ruang dalam hanya
remang-remang saja. Apalagi mata hamba rasa-rasanya baru separuh terbuka.
Sehingga hamba tidak melihat sebelumnya apa yang teronggok didepan bilik tidur
ibunda. Ketika kaki hamba menyentuh benda yang teronggok di depan bilik ibunda
baru hamba mencoba memperhatikannya. Namun yang mula-mula hamba lihat adalah
darah. Karena itulah, maka hambapun menjerit. Agaknya ibunda terkejut mendengar
jeritan hamba. Dengan tergesa-gesa ibundapun membuka pintu dan melangkah keluar.
Tetapi kaki ibundapun segera tersentuh oleh benda yang teronggok didepan pintu.
Ibundapun menjerit pula Kami berdua hanya hanya dapat berpelukan sehingga dua
orang abdi masuk ke ruang dalam. Temyata benda yang teronggok dalam genangan
darah itu adalah seekor kucing yang lehemya telah menganga Abdi yang membuang
dan membersihkan ruang itulah yang bercerita tentang kucing itu paman Adipati”
Kangjeng Adipati menarik
nafas panjang. Dengan nada datar iapun berkata Siapakah yang telah mengganggu
kakangmbok dan Rantamsari”
“Aku merasa takut sekali
dimas “ berkata Raden Ayu Prawirayuda”apalagi Rantamsari”
“Baiklah, kakangmbok. Aku
akan menugaskan beberapa orang prajurit untuk mengawasi tempat tinggal
kakangmbok. Sekarang kakangmbok berada di Paranganom, sehingga karena itu, maka
ketentraman dan ketenangan hidup kakangmbok mempakan tanggung jawabku”
“Aku mengucapkan terima
kasih yang tidak terhingga dimas. Dimas sudah bersedia memberi tempat tinggal
bagi kami berdua Bahkan dengan segala kelengkapannya serta mengatur kehidupan
kami disini. Sekarang kami masih juga mengganggu dimas Adipati karena kami
berdua menjadi ketakutan”
“Aku akan mengusut sampai
tuntas kakangmbok. Siapakah yang telah mengganggu ketenangan kakangmbok. Biarlah
para prajurit nanti mengamati apa yang sudah terjadi. Pintu yang mungkin rusak
atau eara lain dari seseorang memasuki bagian dalam tempat tinggal kakangmbok
itu”
“Terima kasih, dimas.
Tetapi hamba yang tidak tahu diri ini masih ingin mengajukan permohonan. Tetapi
segala sesuatunya terserah kepada dimas Adipati, apakah permohonanku ini
diijinkan atau tidak”
“Jika masih dalam batas
kewajaran, serta aku mampu membantunya, aku tentu tidak berkeberatan”
“Dimas“ suara Raden Ayu
Prawirayuda menurun “menurut dugaanku, yang terjadi di tempat tinggalku itu
bukan sesuatu yang wajar. Yang melakukan perbuatan yang mengerikan itu tentu
bukan orang kebanyakan. Aku justru menghubungkan dengan kemarahan angger Adipati
Yudapati kepadaku sehingga mengusirku. Agaknya kemarahan itu masih belum mereda”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma mengangguk-angguk kecil. Sementara itu Raden Ayu Prawirayuda berkata
selanjutnya
“Dimas Adipati. Jika
dimas berkenan, untuk sementara aku mohon prajurit terbaik dari Paranganomlah
yang akan menemani kami berdua. Menurut pendengaranku, angger Madyasta bersama
tiga orang Senapati muda dari Paranganom telah berhasil menghancurkan gerombolan
perampok di desa Panjer”
“Jadi maksud kakangmbok,
yang kakangmbok kehendaki melindungi kakangmbok dan Rantamsari adalah puteraku
Madyasta dan ketiga orang Senapati muda yang baru saja berhasil menghancurkan
gerombolan perusuh di Panjer?”
“Jika adimas berkenan.
Dengan demikian tidak diperlukan jumlah orang terlalu banyak. Sementara itu, aku
masih juga mencemaskan orang-orang berilmu tinggi yang dikirim dengan sengaja
untuk mengganggu ketentraman hidupku atau bahkan kemudian membinasakan kami
berdua”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma mengangguk-angguk.
“Dimas Adipati. Rumah
yang dimas berikan bagi kami berdua itu adalah rumah yang besar. Gandok sebelah
kanan dan sebelah kiri adalah ruang-ruang yang kosong. Jika dimas berkenan,
angger Madyasta dan ketiga orang Senapati muda itu dapat tinggal untuk sementara
di rumah kami. Masih ada beberapa bilik kosong di ruang dalam yang dapat
dipergunakan oleh angger Madyasta. Sedangkan para Senapati itu dapat berada di
gandok”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma itupun kemudian menjawab ”Kakangmbok. Jika hal itu dapat memberikan
ketenangan bagi kakangmbok serta Rantamsari, baiklah. Aku tidak berkeberatan
memenuhi permintaan kakangmbok itu, Aku akan memanggil Madyasta dan
memerintahkannya membawa ketiga orang Senapati muda itu ke rumah kakangmbok.
Tetapi aku minta diketahul, bahwa ketiga orang Senapati muda itu mempunyai tugas
mereka masing-masing yang tidak dapat terlalu lama mereka tinggalkan”
“Bukankah mereka tidak
pergi kemana-mana. Mereka tetap berada di dalam kota, sehingga jika perlu.
mereka dapat kembali ke tugas mereka kapan saja”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk pula. Katanya “Baiklah. Hari ini, sebelum gelap. mereka sudah
akan berada di rumah kakangmbok. Madyasta bersama ketiga orang Senapati muda
itu. Mereka akan berada di rumah kakangmbok untuk beberapa hari. Jika keadaan
menjadi semakin baik. disiang hari mereka akan bergantian berada di barak mereka
masing-masing. Perlahan-lahan mereka akan digantikan beberapa orang prajurit
pilihan”
“Segala sesuatunya
terserah kepada dimas Adipati” Beberapa saat kemudian. maka Raden Ayu
Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari itupun mohon diri. Mereka akan menunggu
kehadiran Raden Madyasta serta para Senapati muda yang telah mampu menghancurkan
gerombolan perusuh di daerah perbatasan.
Sepeninggal Raden Ayu
Prawirayuda, maka Kangjeng Adipati Prangkusumapun telah memanggil puteranya,
Raden Madyasta.
“Bibimu baru saja datang
menemui aku, Madyasta”
“Bibi Prawirayuda maksud
ayahanda?“
“Ya”
“Apakah ada yang
penting?“
Kangjeng Adipatipun
kemudian telah menceritakan kembali, apa yang telah diceriterakan oleh Raden
Ajeng Rantamsari.
“Apakah bibi dan
kakangmbok Rantamsari menjadi ketakutan?“
“Ya”
“Bukankah bibi pernah
menjadi Srikandi Paranganom? “
Bab 19 – Tugas Yang Aneh
“TETAPI bibimu menjadi
semakin tua, Madyasta. Kecuali itu, mungkin bibimu membayangkan, bahwa yang
datang itu tentu orang berilmu tinggi dan bahkan mungkin tidak hanya seorang.
Mereka adalah orang-orang yang mendapat tugas tertentu di rumah bibimu
Prawirayuda. Bahkan bibimu menghubungkan peristiwa itu dengan kemarahan
kakangmasmu Adipati Yudapati di Kateguhan.“
“Ayahanda. Bibi sekarang
sudah berada di Paranganom. Kakangmas Yudapati tidak mempunyai wewenang lagi
untuk mengganggunya. Jika itu masih juga dilakukannya, maka ia akan berhadapan
dengan kekuatan yang ada di Paranganom.“
“Itulah sebabnya, maka
bibimu mohon perlindunganku.“
“Apakah ayahanda akan
memerintahkan hamba untuk memilih beberapa orang prajurit terbaik untuk menjaga
rumah bibi Prawirayuda?“
“Madyasta. Aku memang
akan memberi perintah kepadamu. Tetapi tidak untuk memilih sekelompok prajurit
terbaik. Bibimu justru menginginkan kau bersama tiga orang Senapati muda yang
beberapa hari yang lalu bersamamu menghancurkan segerombolan brandal di Panjer.“
“Hamba sendiri.ayahanda?“
“Ya.”
“Hamba bersama kakang
Rembana, Sasangka dan Wismaya?”
“Ya.”
“Kenapa harus hamba dan
ketiga orang Senapati itu? Bukankah ayahanda dapat memerintahkan sekelompok
prajurit pilihan untuk berada di rumah bibi Prawirayuda?. Mereka akan dilengkapi
dengan kentongan yang dapai memberikan isyarat kepada lingkungannya, jika
keadaan memaksa sehingga mereka sendiri tidak dapat mengatasinya.”
“Bibimu merasa tenang
jikka kau dan ketiga orang Senapati yang telah berhasil menghancurkan gerombolan
di Panjer itu berada disana untuk sementara. Bibimu membayangkan babwa yang
melakukan itu ada sangkut pautnya dengan kakangmumu Adipati Kateguhan. Sehingga
orang-orang yang datang itu tidak hanya beberapa orang penjahat kecil. Tetapi
mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.”
Raden Madyasta
termangu-mangu sejenak. Katanya dengan nada berat “Bukanya hamba menolak
perintah ayahanda. Tetapi bukankah tugas ini bukan tugas yang amat berat. Untuk
menggantikan kami berempat, dapat ditugaskan prajurit yang jumlahnya tiga kali
lipat, yang dapat mengawasi rumah itu di segala sisinya.”
“Aku mengerti, Madyasta.
Tugas ini memang bukan tugasmu dan bukan pula tugas ketiga orang Senapati muda
itu. Tetapi biarlah meskipun hanya sepekan saja kau penuhi keinginan bibimu
itu.”
“Jika ayahanda
menghendaki, hamba akan menjalaninya.”
”Baik. Sampaikan
perintahku kepada Rembana, Sasangka dan Wismaya”
“Hamba ayahanda. Apakah
hamba harus membawa mereka menghadap atau hamba akan langsung membawa mereka ke
rumah bibi?”
“Pergilah langsung ke
rumah bibimu. Kau tidak perlu lagi menghadap. Rumah bibimu cukup besar untuk
memberi tempat bagi kalian berempat.”
“Hamba ayahanda. Hamba
bersama ketiga orang . Senapati muda itu akan langsung pergi ke rumah bibi nanti
sore.”
“Jangan menunggu malam.
Bibimu akan menjadi sangat gehsah.”
“Hamba ayahanda.”
Sejenak kemudian, maka
Raden Madyastapun mohon diri. Ia merasakan tugas yang dibebankan kepadanya itu
adalah tugas yang aneh. Tugas yang sebenarnya dapat dilakukan oleh para
prajurit. Bukan harus dilakukannya sendiri. Sedangkan para Senapati muda itu
juga mempunyai tugas mereka masing:masing, sehingga keberadaan mereka di rumah
bibinya akan terasa sangat menjemukan. Raden Madyasta dan ketiga orang Senapati
muda itu akan merasa membuang waktu dengan sia-sia.
Tetapi Raden Madyasta
tidak dapat menolak, pertimbangan ayahandanya tentu bukan sekedar tentang tugas
semata-mata. Tetapi juga karena ayahandanya menghormati saudara tuanya, Kangjeng
Adipati Prawirayuda yang sudah tidak ada lagi.
Pagi itu juga, Raden
Madyasta telah melarikan kudanya menemui Rembana, Sasangka dan Wismaya.
Mula-mula ketiganya
mengira, bahwa mereka akan mendapat tugas baru ditempat lain, yang perlu segera
mendapat penyelesaian. Namun perintah yang mereka terima adalah, bahwa mereka
harus berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda yang merasa terancam oleh perbuatan
orang yang tidak dikenal.
“Kapan kita harus mulai
tinggal di pesanggrahan itu?“ bertanya Rembana.
Sasangka tertawa. Katanya
“ Jangan meremehkan tugas ini. Siapa tahu bahwa yang datang adalah hantu-hantu
yang mempunyai kekuatan melebihi kekuatan manusia.“
“Mungkin. Tetapi
bagaimanapun juga tidak ada mahluk yang dapat mengalahkan manusia di dunia ini.
Karena itu, seandainya hal itu dilakukan oleh hantu-hantu sekalipun, kita akan
mengatasinya.”
Seperti biasanya Wismaya
hanya tersenyum saja. Ia tidak banyak berbicara, meskipun kadang-kadang ia dapat
bergurau pula.
Dalam pada itu, maka
Raden Madyastapun berkata “Nanti malam kita harus sudah berada di rumah bibi.”
“Apakah kami harus
menghadap Raden di dalem Kadipaten?”
“Tidak. Kita akan
langsung berangkat ke rumah bibi.”
“Kita masing-masing pergi
ke sana sendiri?”
“Kita akan berkumpul di
barak kakang Wismaya. Kita akan berangkat bersama-sama dari barak itu.“
“Baiklah. Kita akan
berkumpul sebelum senja. Kemudian kita akan bersama-sama menuju ke rumah Raden
Ayu Prawirayuda“ desis Wismaya.
Namun Rembanapun bertanya
“ Apakah kita tidak perlu menghadap kangjeng Adipati lebih dahulu?”
“Tidak“ jawab Raden
Madyasta “ayahanda sudah memerintahkan kepadaku untuk bersama kalian langsung
saja menuju ke rumah bibi.”
Ketiga orang Senapati
muda itu mengangguk-angguk.
Agaknya Raden Madyasta
merasa kerasan tinggal di barak prajurit. Ia berada di barak Wismaya sampai
lewat tengah hari. Sementara itu Rembana dan Sasangka telah mendahuluinya
meninggalkan barak Wismaya.
Pada saat Raden Madyasta
masih berada di barak Wismaya, menjelang tengah hari Ki Tumenggung Wiradana dan
ki Tumenggung Sanggayuda telah datang menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma.
Mereka datang dari Kateguhan langsung pergi ke dalem kadipaten.
Kangjeng Adipati yang
mendapat laporan dari seorang prajurit salah seorang narpacundaka yang bertugas
telah memerintahkan kepadanya untuk mempersilahkan kedua orang Tumenggung im
duduk menunggu di pringgitan.
Tetapi mereka tidak lama
menunggu. Sejenak kemudian Kangjeng Adipatipun telah berada di pringgitan pula.
“Apakah kalian baru
datang dari Kateguhan?“
“Ya, Kangjeng Adipati.
Kami berdua baru datang dari Kateguhan: Kami berdua langsung menghadap Kangjeng
Adipati.
“Apakah kalian merasa
letih?”
“Tidak Kangjeng. Kami
tidak merasa letih. Semalam kami dapat beristirahat dengan baik di sebuah banjar
padukuhan.”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk. Iapun kemudian bertanya Bukankah kalian tidak menemui
hambatan yang berarti di perjalanan?”
Ki Tumenggung Wiradapapun
berpaling kepada Ki Tumenggung Sanggayuda. Namun kemudian Ki Tumenggung Wiradapa
itupun menjawab “Tidak ada Kangjeng Adipati. Kami hanya bertemu dengan
orang-orang Kateguhan yang nakal disamping mereka yang baik dan ramah.”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk. Katanya “Sukurlah. Bagaimana keadaan angger Adipati
Yudapati?”
“Baik, Kangjeng. Kangjeng
Adipati Yudapati ada dalam keadaan baik. Ketika kami mohon diri, maka Kangjeng
Adipatipun berpesan agar baktinya kami sampaikan kepada Kangjeng Adipati di
Paranganom. Salamnya buat Raden Madyasta, Raden Wignyana dan rakyat Paranganom.”
“Anak yang baik. Aku
bangga terhadapnya.”
“Kami berduapun diterima
dengan baik, Kangjeng Adipati.”
“Sukurlah“ Kangjeng
Adipati mengangguk-angguk. Namun kemudian Kangjeng Adipati itupun bertanya
“Paman, apakah paman berdua akan beristirahat dahulu?”
“Kami tidak letih
Kangjeng“ jawab Ki Tumenggung Sanggayuda “perjalanan yang menyenangkan.”
“Bagaimana dengan rakyat
Kateguhan?”
Kedua orang Tumenggung
itu menarik nafas panjang. Setelah saling berpandangan sejenak, maka Ki
Tumenggung Wiradapapun berkata “Itulah yang menjadi persoalan, Kangjeng “
“Kenapa?”
“Sikap mereka sama sekali
tidak lagi bersahabat. Apalagi menganggap kami sebagai saudara mereka.”
“Apa yang telah terjadi?”
“Adi Tumenggung
Sanggayuda dapat menceritakan pengalamannya menghadapi orang-orang Kateguhan.
Bahkan saudara sepupuku sendiri, Kangjeng.”
“Ceritakan, kakang
Tumenggung Sanggayuda. Agaknya ceritera itu akan menjadi ceritera yang cukup
menarik.”
“Ampun Kangjeng. Hamba
mohon ampun bahwa hamba akan berceritera lebih dahulu justru sebelum hamba
berdua menyampaikan laporan tugas yang harus kami jalani berdua.”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma justru tersenyum. Katanya “Kakang. Aku justru ingin mendengar
ceriteramu lebih dahulu daripada laporan tentang tugasmu.”
“Hamba Kangjeng Adipati“
Ki Tumenggung Sanggayuda itu berhenti sejenak. Ia mencoba mencari ujung
dari-mana ia akan mulai dengan ceriteranya.
Ki Tumenggung
Sanggayudapun kemudian telah menceriterakan sikap orang-orang Kateguhan terhadap
orang-orang Paranganom. Mereka menganggap orang-orang Paranganom terlalu sombong
dan merendahkan bahkan menghina orang-orang Kateguhan.
“Aku terpaksa harus
berkelahi, Kangjeng. Baru kemudian aku merasa malu juga kepada diri sendiri.
Orang-orang tua ini masih juga turun berkelahi di pinggir jalan.”
Kangjeng Adipati
Paranganom tertawa. Katanya “Tetapi bukankah kakang tidak mengaku sebagai
seorang Tumenggung dari Paranganom?”
“Ketika aku berkelahi,
aku memang tidak mengaku, bahwa aku seorang Tumenggung, Kakang Tumenggung
Wiradapa lebih senang menjadi penonton. Dibiarkannya aku berkelahi sendiri
melawan beberapa orang srkaligus.”
“Benar kakang Tumenggung
Wiradapa?”
“Ya, Kangjeng. Tetapi
maksudku adalah, agar mereka tahu betapa orang orang Paranganom tidak dapat
direndahkan. Seorang saja diantara orang orang Paranganom mampu melawan empal
orang dari Kateguhan. Empat orang yang dianggap garang dan memiliki kemampuan.”
Kangjeng Adipati sudah
tidak tertawa lagi, ia bahkan menjadi prihatin mendengar ceritera Ki Tumenggung
Sanggayuda itu. Bahkan ketika Ki Tumenggung Wiradapa menambah ceritera itu
dengan sikap saudara sepupunya sendiri.
“Tentu ada yang meniupkan
kebencian im ketelinga rakyat Kateguhan“ berkata Kangjeng Adipati “bukankah
selama ini kita tidak berbuat apa-apa yang dapat menyakiti hati orang-orang
Kateguhan? Apa mungkin karena kehadiran kakangmbok Prawirayuda di Paranganom
atau karena kekalahan brandal di Panjer?”
“Agaknya memang demikian,
Kangjeng Adipati. Tetapi kami berdua tidak dapat mencari, siapakah yang telah
meniupkan kebencian itu.“
“Kangjeng Tumenggung.
Mungkin aku perlu bertemu dan berbicara langsung dengan angger Adipatii
Yudapati.“
“Tetapi sebaiknya tidak
dalam wakiu yang dekat, Kangjeng. Kiia harus mencoba mencari jawabnya, kenapa
orang-orang Kateguhan telah merentang jarak dengan Paranganom. Sebelum Kangjeng
Adipali bertemu dan berbicara dengan Kangjeng Adipati Yudapati, sebaiknya
Kangjeng Adipati menugaskan beberapa orang prajurit sandi.“
“Selama ini kita belum
pemah mendapat laporan yang memuaskan. Bukankah ada beberapa orang yang sudah
berada di Kateguhan untuk mencari keterangan. Terutama pada saat kerusuhan
merebak di perbatasan?”
“Kita masih belum
bersungguh-sungguh, Kangjeng. Hanya beberapa orang yang mencari keterangan ke
daerah Kateguhan. Sebaiknya kita meningkatkan pengamatan kita untuk mencari
keterangan tentang sikap orang Kateguhan itu.“
“Ya Aku sependapat
kakang.”
“Biarlah kami berdua
mengaturnya, Kangjeng Adipati.“
“Terima kasih, kakang.
Selanjutnya aku ingin mendengar laporan kakang tentang keberadaan Kakangmbok
Prawirayuda di Paranganom. Kenapa kakangmbok telah diusir dari Kateguhan.“
“Ampun, Kangjeng Adipati.
jika benar keterangan Kangjeng Adipati Yudapati serta Ki Tumenggung Reksadrana
tentang Raden Ayu Prawirayuda, maka yang dilakukan Kang: jeng Adipati Yudapati
bukan sesuatu yang berlebihan.”
Wajah Kangjeng Adipati
Prangkusuma nampak menjadi semakin bersungguh-sungguh.
“Kenapa ? “
“Ampun Kangjeng Adipati.
Agaknya Kangjeng Adipati Yudapati tidak sampai hati untuk mengatakannya. Maka
yang diperintahkannya untuk memberikan keterangan adalah Ki Tumenggung
Reksadrana.“
“Apa katanya?“
“Raden Ayu Prawirayuda
telah melanggar angger-angger bebrayan.“
“Begitu beratkah
kesalahan kakangmbok Prawirayuda ?”
“Ya, Kangjeng Adipati.“
“Katakan, apa yang sudah
dilakukan oleh kakangmbok Prawirayuda“
Ki Tumenggung Wiradapa
menarik nafas dalam-dalam.
Namun iapun kemudian
mengulangi apa yang sudah dikatakan oleh Ki Tumenggung Reksadrana dihadapan
Kangjeng Adipati Yudapati sendiri.
Kangjeng Adipati
Prangkusuma mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Keningnya bekerut.
Sekali-sekali Kangjeng Adipati itu mengangguk-angguk. Namun kemudian menarik
nafas panjang.
Ketika Ki Tumenggung
Wiradapa mengakhiri keterangannya, maka Kangjeng Adipati Prangkusuma jtupun
bekata “Itukah kenyataan yang telah terjadi atas kakangmbok Prawirayuda?“
“Tetapi apakah kita
begitu saja dapat mempercayainya, Kangjeng Adipati?“ suara Ki Tumenggung
Sanggayuda datar dan terasa agak ragu.
Kangjeng Adipati
termangu-mangu sejenak. Kemudian iapun menjawab “Sepanjang pengenalanku atas
angger Adipati Yudapati, ia adalah anak muda yang jujur. Aku kira angger Adipati
Yudapati tidak akan membuat ceritera ngaya-wara agar dapat mengusir ibu tirinya
dari kadipaten.”
“Jadi, menurut Kangjeng
Adipati, Raden Ayu Prawirayuda memang berbuat sebagaimana dikatakan oleh Ki
Tumenggung Reksadrana dihadapan Kangjeng Adipati Yudapati itu?“
“Ya, Aku kira memang
demikian.“
Kedua orang Tumenggung im
mengangguk-angguk. Namun kemudian Kangjeng Adipati Prangkusumapun berkata
“Meskipun demikian, kita masih perlu mencari kebenaran dari keterangan ini.“
“Apakah Kangjeng Adipati
akan memanggil dan bertanya langsung kepada Raden Ayu Prawirayuda?“
“Nampaknya kurang
bijaksana jika aku segera memanggil kakangmbok Prawirayuda. Mungkin diperlukan
waktu atau keterangan-keterangan yang lain.“
“Hamba sependapat
Kangjeng Adipati. Memang diperlukan waktu” berkata Ki Tumenggung Wiradapa.
“Baiklah, kakang.
Persoalan ini akan kami telusuri kemudian. Tetapi bukankah kita tidak perlu
tergesa-gesa agar kita tidak salah langkah?”
“Hamba Kangjeng Adipati.“
“Jangan beritahu Madyasta
dan Wignyana lebih dahulu.“
Kedua orang Tumenggung im
termangu-mangu, sementara Kangjeng Adipatipun berkata “Pagi tadi kakangmbok
Prawirayuda telah datang menghadap.“
Kedua orang Tumenggung
itulah yang kemudian mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika Kangjeng Adipati
membertahukan kepada mereka, bahwa Raden Ayu Prawirayuda menjadi ketakutan.
“Jika Madyasta mendengar
sebagaimana dikatakan oleh Tumenggung Reksadrana, maka ia akan menjadi Kecewa
terhadap bibinya Mungkin ia menentukan sikap sendiri dan membatalkan
kesediaannya untuk berada di rumah bibinya bersama Rembana, Sasangka dan Wismaya
“
“Ya Kangjeng.“
“Karena itu, biarlah
untuk sementara.anak itu serta adiknya jangan mengetahuinya. Apalagi jika
ternyata kelak keterangan Ki Reksadrana itu tidak seluruhnya benar.“
“Hamba Kangjeng Adipati.“
“Sikap orang-orang
Kateguhan, para perusuh di perbatasan serta keraguan pada angger Adipati
Yudapati sehingga ia tidak dapat mengatakannya sendiri, membuat persoalan kita
dengan Kateguhan perlu untuk mendapat penilaian yang secermat-cermatnya “
“Hamba Kangjeng Adipati.”
“Nah, bagaimana menurut
pendapat kakang berdua tentang para perusuh di perbatasan itu?“
“Kami berdua tidak dapat
melihat bayangan permusuhan itu pada Kangjeng Adipati Yudapati.“
“Mudah-mudahan angger
Yudapati benar-benar tidak tersentuh oleh peristiwa yang meresahkan diperbatasan
itu.“
Seperti yang Kangjeng
Adipati katakan, kita masih perlu waktu.”
“Nah, aku mengucapkan
terima kasih atas jerih payah kakang Tumenggung berdua Banyak hal yang kalian
dengar dan kalian lihat sepanjang perjalanan kalian. Kitapun mengetahui sikap
orang-orang Kateguhan terhadap orang-orang Paranganom sekarang.“
“Hamba Kangjeng Adipati.“
“Nah, sekarang kalian
berdua dapat beristirahat.“
“Dimanakah Raden Madyasta
dan Raden Wignyana sekarang?“
Madyasta sedang
menghubungi Rembana Sasangka dan Wismaya Sedangkan Wignyana sedang sibuk dengan
kudanya yang baru.“
“Raden Wismaya memang
seorang penggemar kuda. Tetapi perhatian Raden Madyasta terhadap kuda agak
berbeda “
“Ya Perhatian Madyasta
agak berbeda Ia senang berada di barak-barak prajurit. Makan dan tidur bersama
mereka.“
Kedua orang Tumenggung
itu tertawa
Sejenak kemudian, maka
kedua orang Tumenggung itupun mohon diri. Mereka masih belum pulang karena dari
Kateguhan mereka langsung menghadap Kangjeng Adipati.
“Baik, kakang. Tetapi
sekali lagi aku berpesan, jangan beritahukan Madyasta dan Wignyana tentang
bibinya. Kita masih harus meyakinkan kebenarannya.
“Hamba Kangjeng Adipati“
Jawab kedua orang Tumenggung itu hampir berbareng.
Ketika kedua orang
Tumenggung itu keluar dari gerbang dalem kadipaten, mereka berhenti sejenak.
Dengan nada berat Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Agak aneh, kakang.
Permohonan Raden Ayu Prawirayuda sebenarnya melampaui kebutuhan.“
“Dalam keadaan yang wajar
memang demikian, adi. Tetapi mungkin sekali yang wajar memang demikian, adi.
Tetapi mungkin sekali Raden Ayu Prawirayuda benar benar berada dalam ketakutan.
Ia juga merasa bersalah kepada Kangjeng Adipati Yudapati. Sebenarnya perasaan
bersalah itulah yang telah memburunya. Sehingga bayang bayang tindak kekerasan
selalu mengikutinya. Agaknya Raden Ayu Prawirayuda itu merasa, seakan akan
tempat tiggalnya itu setiap malam didatangi oleh orang orang yang garang. Yang
diutus oleh Kangjeng Adipati Yudapati untuk meneelakainya,
“Tetapi anehnya, kakang.
Ancaman itu tidak sekedar berada di angan-angan Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi
sudah berujud dalam kewadagan. Kedua orang perempuan yang tinggal di rumah itu
tentu akan ketakutan melihat bangkai seekor kucing didalam rumah. Darah dan
tentu saja luka di tubuh kucing itu. Apalagi bagi Raden Ajeng Rantamsari.“
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk-anguk. Katanya “Ya. Agaknya memang ada sesuatu yang harus
diselidiki.“
Namun keduanya tidak
memperpanjang pembicaraan mereka. Keduanyapun kemudian telah naik ke punggung
kuda mereka dan melarikan kuda mereka ke arah yang berbeda.
Dalam pada itu, ketika
malam menjadi semakin rendah, maka ketika orang Senapati muda itu telah
berkumpul. Mereka sudah memberikan pesan pesan khusus kepada anak buah mereka di
barak.
“Jika perlu, susul aku ke
rumah Raden Ayu Prawirayuda” Berkata Rembana kepada kepercayaannya “tugas ini
adalah tugas yang aneh bagiku.“
“Apakah kakang Rembana
tidak dapat menugaskan kepada orang lain untuk menjalankan perintah ini? Jika
Raden Ayu Prawirayuda menganggap keadaan sangat gawat, kakang Rembana dapat
memerintahkan dua atau tiga orang dari barak ini, kemudian dua atau tiga orang
dari barak kakang Sasangka dan kakang Wismaya.“
Rembana menggeleng.
Katanya “Kangjeng Adipati menyebut namaku, nama Sasangka dan Wismaya. Bahkan
nama Raden Madyasta, sehingga kami berempat harus berada di rumah Raden Ayu
Prawirayuda untuk sementara. Aku tidak tahu seberapa panjang sebutan sementara
itu.“
Kepercayaan Rembana itu
hanya dapat mengangguk-angguk.
Demikian pula Sasangka
dan Wismaya. Anak buah merekapun sempat merasa heran, bahwa ketika orang
Senapati muda yang dianggap mempunyai kelebihan di kadipaten Paranganom itu
harus bertugas di rumah Raden Ayu Prawirayuda bersama Raden Madyasta. Tugas yang
sebenarnya dapat dilakukan oleh orang lain.
Tetapi perintah Kangjeng
Adipati itu harus dijalankannya.
Disore hari, menjelang
senja, Raden Madyasta bersama tiga orang Senapati muda pilihan itu telah pergi
ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Mereka berjalan kaki dari barak Wismaya yang
tidak terlalu jauh dari rumah Raden Ayu Prawirayuda itu.
Diperjalanan itu
Wismayapun berkata “Seandainya Kangjeng Adipati menyerahkan pengamanan rumah
Raden Ayu Pawirayiuda itu kepadaku, maka aku akan dapat mengatur dari barakku.
Bukankah jaraknya tidak terlalu jauh sehingga segala sesuatunya dapat aku awasi
langsung.“
“Banyak cara yang
sebenarnya dapat ditempuh selain cara yang satu ini. Tetapi justru cara inilah
yang dipilih.“
Wismaya
mengangguk-angguk.
Beberapa saat kemudian
mereka berjalan melewati bulak yang pendek. Terasa udara yang sudah mulai
menjadi sejuk oleh angin dari Selatan di sore hari. Mataharipun menjadi rendah.
Sinarnya yang kemerah-merahan masih bergayut di.bibir mega yang mengalir lambat
mengarungi langit yang biru
Gunung disisi Utara
nampak menjulang tinggi, Puncaknya yang seakan akan menggapai langil itupun
nampak merah-merahan bagaikan membara,
Ketika mereka memasuki
gerbang padukuhan diseberang bulak kecil itu, maka langitpun sudah menjadi
semakin muram.
“Bibi tentu sudah
menunggu” berkata Madyasta kepada kelika orang Senapati muda itu.
“Masih belum malam “
jawab Rembana_
“Di regol halaman tempat
tinggal bibi Prawirayuda, telah dinyalakan oncor.“
“Ya“ Sasangka mengangguk
“ senja di bawah pepohonan yang rimbun agaknya sudah nampak terlalu gelap
sehingga sudah perlu dinyalakan oncor itu.“
Madyasta tidak menjawab.
Tetapi langkahnya menjadi semakin cepat.
Sejenak kemudian, mereka
telah berdiri di tengah-tengah halaman yang luas itu. Sepasang pohon sawo kecik
yang besar berdiri tegak di halaman depan, sehingga udara di rumah itu terasa
sejuk, meskipun di tengah hari yang terik.
Sedangkan di seputar
halaman itupun tumbuh beberapa batang pohon yang rimbun. Disudut kanan halaman
itu tumbuh sebatang pohon kemiri yang besar. Buahnya bergayutan diujung-ujung
dahan. Jika angin bertiup, maka buah kemiri yang sudah tua, runtuh di tanah.
Para pembantu yang berada di rumah itu selalu memungutnya dan membawanya ke
dapur.
Disudut yang lain
terdapat pohon salam yang tidak kalah besarnya. Daunnyalah yang sering dipetik
untuk menyedap masakan. Meskipun buahnya yang kecil-kecil dan berwama merah jika
sudah masak rasanya manis-manis asam dan segar, tetapi buah salam itu lebih
banyak berhamburan di tanah. Ada pula dua batang pohon gayam di halaman.
“Marilah “ berkata
Madyasta kemudian kepada ketiga orang Senapati itu.
Keempat orang itupun
kemudian melangkah memasuki pintu regol halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda.
Namun langkah mereka
tertegun di tengah-tengah halaman. Mereka melihat Raden Wignyana justru turun
dari tangga pendapa. Dibelakangnya berdiri Raden Ayu Prawirayuda.
“Aku mohon diri, bibi “
berkata Raden Wignyana.
“Ya, ngger. Sampaikan
kepada adimas Adipati, bahwa pesannya telah aku terima. Terima kasih atas
perhatian adimas Adipati.”
“Ya, bibi.”
Raden Wignyanapun
kemudian melangkah ke regol halaman. Namun langkahnya juga terhenti ketika ia
berpapasan dengan Raden Madyasta bersama ketiga orang Senapati muda itu.
“Dimas “ sapa Raden
Madyasta.
“Silakan, kangmas. Aku
sudah mohon diri.”
“Ada perlu apa, dimas?”
Aku diutus oleh ayahanda,
kangmas.”
“Sudah selesai?”
“Sudah kangmas. Pesan
ayahanda sudah aku sampaikan kepada bibi.”
”Aku justru ditugaskan
ayahanda untuk berada di rumah ini, dimas. Untuk menjaga ketentraman dan
ketenangan hati bibi Prawirayuda.”
“Tentu saja untuk menjaga
keselamatan kakangmbok Rantamsari, kangmas.”
“Ya. Tentu saja, dimas.
Seisi rumah ini.” .
Raden Wignyana tersenyum.
Namun sambil mengangguk hormat, iapun berkata “Silahkan kakangmas. Aku mohon
diri-”
Raden Wignyana tidak
menunggu jawaban kakaknya. Iapun segera melangkah menuju ke regol. Sejenak
kemudian, maka Raden Wignyana itupun telah hilang dibalik pintu regol halaman.
Sejenak Raden Madyasta
termangu mangu. Namun Wismayapun berdesis Raden Madyasta.”Raden Ayu Prawirayuda
menunggu Raden di tangga pendapa.”
Raden Madyasta tergagap.
Dengan serta-merta iapun menyahut “Baik. Baik. Marilah kita menghadap.”
Keempat orang itupun
kemudian melangkah ke tangga pendapa.
“Marilah ngger“ Raden Ayu
Prawirayuda yang sudah berdiri di tangga itu mempersilakan.
Raden Madyasta dan ketiga
orang Senapati muda itupun segera naik ke pendapa dan kemudian duduk di
pringgitan.
“Bibi“ berkata Raden
Madyasta “kami menjunjung perintah ayahanda Adipati, untuk melindungi bibi
sekeluarga serta seisi rumah ini.”
“Terima kasih, ngger”
sahut Raden Ayu Prawirayuda ”aku memang memohon kepada adimas Adipati, agar
angger Madyasta serta para Senapati pilihan yang telah berhasil menumpas para
perampok di perbatasan untuk tinggal bersama kami.”
“Kami akan berada di
rumah ini untuk beberapa hari, bibi. Maksudku, untuk sementara.”
“Adimas Adipati tidak
memberikan batasan waktu.”
“Tetapi kami mempunyai
tugas-tugas kami sendiri, bibi. Aku harus berada di kadipaten serta belajar
mengatur pemerintahan. Sedangkan para Senapati itu mempunyai kewajiban mereka
sendiri-sendiri. Jika kami bertugas di rumah ini, tentu hanya untuk waktu yang
pendek.”
“Bukankah tugas-tugas
lainnya dapat dilimpahkan kepada orang lain?”
“Tetapi ketiga orang
Senapati ini bertanggung jawab atas pasukan mereka masing-masing.”
Raden Ayu Prawirayuda
tersenyum. Katanya “Kangjeng Adipati akan mengatur segala sesuatunya, ngger.
Tetapi baiklah. Angger serta para Senapati itu hanya akan berada disini untuk
sementara sampai kita semuanya yakin, bahwa tidak akan terjadi apa-apa lagi di
rumah ini.”
Raden Madyasta
mengangguk. Katanya “Ya, bibi. Sementara itu selama kami berada disini, bibi
tidak usah merasa cemas. Kami akan berusaha untuk mengatasi jika terjadi
sesuatu.”
“Terima kasih Raden.
Terutama para Senapati yang telah bersedia tinggal bersama kami. Kehadiran
angger Madyasta serta para Senapati membuat kami seisi rumah ini menjadi tenang.
Kamipun yakin, bahwa tidak akan ada orang atau sekelompok orang yang akan berani
mengganggu kami lagi.”
“Semoga bibi.”
“Nah, kami sudah
menyiapkan bilik di gandok kanan dan kiri bagi ketiga Senapati muda ini.
Sedangkan sebuah bilik khusus yang ada di ruang dalam, kami sediakan bagi angger
Madyasta.“
Tetapi Raden Madyasta itu
segera menjawab “Tidak perlu bibi. Aku akan berada di gandok bersama para
Senapati. Jika aku terpisah dari mereka, maka aku akan menjadi kesepian.”
“Bagaimana mungkin angger
akan berada di gandok, sedangkan kami berada di dalam rumah. Rumah ini adalah
rumah Adimas Adipati Prangkusuma.“
“Aku berada disini dalam
tugas bibi. Bagaimana aku dapat mengatur tugas bersama jika tempat kami
terpisah. Justru dimalam hari kami harus lebih ketat mengawasi rumah ini.“
“Bukankah angger tinggal
mengatur, sementara ketiga orang Senapati pililian ini akan menjalankannya
dengan sangat baik.“
Raden Madyasta tertawa.
Katanya “Terima kasih, bibi. Aku akan berada diantara mereka. Sebaiknya bibi
tidak usah mempertimbangkan kedudukanku. Aku datang membawa tugas bersama para
Senapati, sehingga aku merupakan bagian dari kelompok kecil ini.“
Dapatkah angger Madyasta
menanggalkan kedudukan angger sebagai putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?“
“Kenapa tidak, bibi.
Dalam tugas ini, tidak ada putera Kangjeng Adipati atau bukan. Kami bersama-sama
melaksanakan perintah untuk melindungi bibi beserta keluarganya.“
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah, jika itu yang angger kehendaki.
Sebenarnyalah aku hanya merasakan keseganan untuk menganggap angger Madyasta
sebagaimana orang lain. Tetapi jika hal itu angger sendiri yang menghendaki,
maka aku tidak akan dapat berbuat lain.“
Terima kasih atas
perhatian bibi kepadaku. Tetapi seperti yang aku katakan, biarlah kami berada di
gandok. Justru untuk kepentingan tugas-tugas kami. Kami berempat akan berada di
gandok kulon. Bukankah ada dua bilik di gandok kulon yang dapat kami
pergunakan?“
Angger dan para Senapati
masing-masing dapat mempergunakan satu bilik di gandok kanan dan kiri.“
Kami akan berada di sisi
yang sama, bibi. Mungkin kami memerlukan waktu yang sangat pendek untuk saling
berhubungah serta mengambil keputusan.“
Raden Ayu Prawirayuda
menarik nafas panjang. Katanya “Baiklah, ngger. Segala sesuatunya terserah
kepada angger.“
“Terima kasih, bibi.
Sekarang, biarlah kami berada di gandok.“
Tetapi sebelum mereka
beranjak, seorang gadis keluar dari pintu pringgitan sambil membawa beberapa
mangkuk minuman hangat.
“Kami telah merepotkan
kangmbok Rantamsari“ desis Raden Madyasta.
“Tidak dimas. Aku hanya
tinggal menyuguhkan kepada dimas serta para Senapati.“
“Terima kasih, kangmbok “
Namun ketika Raden Ajeng
Rantamsari beringsut setelah meletakkan mangkuk-mangkuk itu dihadapan Raden
Madyasta serta ketiga orang Senapati, Raden Ayu Prawirayudapun berkata “Duduklah
dahulu, Rantamsari. Kau harus memperkenalkan dirimu dengan para Senapati yang
akan melindungi kita, bersama adikmu Raden Madyasta. Mereka akan tinggal disini
untuk sementara, sehingga kita yakin, bahwa peristiwa sebagaimana yang pernah
terjadi itu tidak akan terjadi lagi.“
Raden Ajeng Rantamsaripun
kemudian duduk disisi ibunya. Iapun sempat memandang ketiga orang Senapati muda
itu berganti-ganti. Wajah wajah yang cerah, penuh kepercayaan diri. Mata yang
bercahaya menatap masa depan mereka dengan penuh pengharapan.
Namun Raden Ajeng
Rantamsari itupun segera menundukkan wajahnya. Disadarinya, bahwa ia adalah
seorang gadis yang duduk diantara beberapa orang anak muda yang sebelumnya belum
dikenalnya kecuali Raden Madyasta, adik sepupunya, meskipun agaknya umur
Madyasta lebih banyak dari umurnya. Namun menurut darah keturunan, sepengetahuan
Raden Ajeng Rantamsari, Madyasta adalah adiknya.
Raden Ajeng
Prawirayudalah yang kemudian memperkenalkan Raden Ajeng Rantamsari dengan ketiga
orang Senapati muda itu. Tetapi untuk menyebut nama mereka, maka Raden Ajeng
Prawirayuda minta kepada Madyasta untuk melakukannya.
“Angger Madyasta mengenal
para Senapati ini dengan baik. Agar tidak salah ucap, biarlah angger saja yang
menyebut nama-nama mereka.“
Madyasta tersenyum. Para
Senapati itupun tersenyum pula.
Namun Madyastapun
kemudian berkata “Biarlah mereka menyebutkan nama-nama mereka sendiri saja bibi.
tentu tidak akan salah lagi.“
Raden Ayu Prawirayuda
justru tertawa. Katanya “Baiklah. Biarlah mereka menyebut nama-nama mereka
sendiri.”
“Namaku Wismaya, Raden
Ajeng “ suara Wismaya terdengar berat.
Untuk beberapa saat, yang
lain menunggu. Mungkin ada yang akan dikatakannya lagi. Tetapi ternyata Wismaya
tidak berkata apa apa lagi.
Semua orang sempat
memandang kepadanya. Tetapi Wismaya sudah menundukkan wajahnya.
Karena Wismaya tidak akan
berbicara lagi, maka yang kemudian berkata adalah Sasangka “Namaku Sasangka
Raden Ajeng. Aku sudah bertugas cukup lama didalam lingkungan keprajuritan di
Paranganom.”
Yang teraklhir
memperkenalkan diri adalah Rembana. Katanya Raden Ajeng tentu belum pernah
mendengar namaku. Namaku Rembana Mungkin nama yang kurang menarik. Aku memasuki
dunia keprajuritan hampir berbareng dengan Sasangka dan Wismaya. Jika ada
selisih tentu hanya dalam hitungan satu dua hari.“
Karena Rembana mengangguk
hormat, maka Raden Ajeng Rantamsaripun mengangguk hormat pula. Bahkan
Raden Ajeng Rantamsari
itupun bertanya “ Kakang berasal darimana?“
“Aku adalah orang
Paranganom asli, Raden Ajeng.“
“Maksudku dari daerah
mana?“
“O“ Rembana tertawa
Katanya ”Aku orang dari kaki bukit Pudak Seketi, Ayahku orang Pudak Seketi.
Ibuku juga berasal dari Pudak Seketi.“
“Jadi kakang berasal dari
Bukit Pudak Seketi? Jika kita berdiri di pintu gerbang kota sebelah Selatan,
kita melihat sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukankah itu bukit Pudak
Seketi?“
“Ya, Raden Ajeng. Itulah
bukit Pudak Seketi.“
“Yang kelihatan hijau?“
“Ya. Bukit itu terlalu
banyak penghuninya. Terbanyak di lereng sebelah Utara Tetapi di kaki bukit itu
terdapat beberapa padukuhan yang besar. Sedang di Puncak bukit itu adalah hutan
pohon pandan yang lebat. Jika masa berbunga, wajah bukit dipenuhi oleh bunga
pandan yang disebut pudak. Itulah sebabnya maka bukit itu disebut Bukit Pudak
Seketi.“
Bukit itu sangat menarik,
kakang. Setiap kali aku berada di pintu gerbang kota sebelah Selatan, aku selalu
memandangi bukit itu berlama lama. Sebenarnyalah aku ingin menginjakkan kakiku
di bukit itu. Rasa-rasanya jika aku berdiri di Puncak bukit itu, tanganku akan
dapat menggapai langit.“
”Silahkan, Raden Ajeng.
Jika Raden Ajeng ingin pergi ke bukit itu, aku akan mengantarkannya.“
“Rantamsari“ potong Raden
Ayu Prawirayuda “sudahlah. Kau justru membicarakan Bukit Pudak Seketi. Bukankah
kita sedang membicarakan perlindungan terhadap rumah kita?“
“Aku mohon maaf ibu.
Bukit itu sangat menarik perhatianku.”
“Angger Madyasta” berkata
Raden Ayu Prawirayuda “Sekarang silahkan angger serta para Senapati nunum lebih
dahulu. Kemudian silahkan beristirahat. Malam sudah turun. Mungkin angger akan
membagi tugas untuk malam ini. Aku kira, angger Madyasta sudah mengenal rumah
ini dengan baik. Pintu-pintunya, longkangan serta ruangan-ruangan yang ada di
dalamnya. Bahkan sampai ke dapur sekalipun.”
“Ya. Bibi. Aku memang
pernah mengenalnya. Tetapi biarlah nanti setelah kami mandi dan berbenah diri,
kami akan melihat-lihat seluruh lingkungan rumah ini. Dari dinding kebun dan
halaman sampai ke sentong-sentong yang ada didalamnya. Bahkan sampai ke ruang
tidur bibi.“
“Silahkan ngger. Tentu
bukan hanya ruang tidurku, tetapi juga bilik Rantamsari.”
“Ya,bibi.”
“Nah, sekarang silahkan
beristirahat. Jika angger Madyasta memilih berada di bilik gandok, apaboleh
buat. Sebenarnyalah bahwa sebuah ruang di dalam sudah disiapkan bagi angger.“
“Terima kasih, bibi.“
Demikianlah, setelah
minum minuman hangat yang dihidangkan oleh Raden Ajeng Rantamsari, maka Raden
Madyasta serta ketiga orang Senapati itupun telah pergi ke bilik yang berada di
gandok kulon.
Bab 20 – Pandangan
Pertama
Ternyata bilik di gandok
itu cukup luas. Pembaringan yang ada di dalam bilik itupun cukup besar untuk
masing-masing berdua
Raden Madyasta berada di
satu bilik dengan Sasangka, sementara Rembana berada di satu bilik dengan
Wismaya.
Sejenak kemudian, maka
bergantian mereka telah pergi ke pakiwan untuk mandi.
Demikian mereka selesai
berbenah diri, maka Raden Ajeng Rantamsari telah menemui Raden Madyasta untuk
mempersilahkannya masuk ke ruang dalam.
“Makan malam sudah
tersedia dimas. Marilah, silahkan dimas serta para Senapati untuk makan malam.“
“Terima kasih kangmbok.
Kami akan segera datang.“
“Ibu sudah menunggu di
ruang dalam.“
“O. Baiklah. Kami akan
segera datang.“
Raden Madyastapun segera
mengajak ketiga orang Senapati muda itu pergi ke ruang dalam. Agaknya Raden Ayu
Prawirayuda sudah menyiapkan makan bagi mereka.
“Apakah setiap hari kami
akan mendapat makan seperti ini sehari tiga kali?“ bertanya para Senapati itu
didalam hatinya.
Sementara itu Raden
Madyastapun berkata “Kami akan sangat merepotkan bibi jika bibi harus
menyediakan makan bagi kami seperti ini.“
“Bukankah bukan aku
sendiri yang melakukannya.?“
“Benar bibi. Tetapi maaf,
bibi. Bagi kami, para prajurit, makan yang bibi sediakan agak berlebihan.
Kecuali yang bibi sediakan mi hanyalah sekali ini saja, saat kami mulai menapak
pada tugas kami di rumah ini.”
Raden Ayu hawirayuda
tersenyum. Katanya “Aku akan memperhatikan ngger Tetapi jika sekali-sekali aku
lupa, sehingga yang kami hidangkan seperti kali ini, aku mohon maaf.”
“Raden Ayu. Jika yang
dihidangkan setiap kali seperli ini, maka pada saat aku pulang ke barak, maka
semua pakaian keprajuritanku tidak dapat aku pakai lagi“ sahut Rembana
“Kenapa?“ yang bertanya
adalah Raden Ajeng Rantamsari.
“Semuanya tentu sudah
tidak cukup lagi. Berat badanku, akan menjadi berlipat dua Disini aku hanya
tidur saja dan makan seperti ini. Ada daging lembu, daging kambing, daging ayam,
gurameh, udang, telur dan masih banyak lagi.”
“Baiklah” berkata Raden
Ayti Prawirayuda kemudian aku berjanji untuk hanya kali ini. Besok dan
seterusnya, angger Madyasta dan para Senapati ini sudah aku anggap sebagai
keluarga sendiri, sehingga apa yang aku hidangkanpun sebagaimana aku
menghidangkan bagi keluarga kami sehari-hari.” .
Raden Madyasta tersenyum.
Katanya “Tetapi bibi jangan salah paham. Aku tidak bermaksud menolak kebaikan
hati bibi.”
Raden Ayu Prawirayuda
menyahut sambil tersenyum pula “Aku mengerti maksud angger Madyasta dan para
Senapati.”
Sejenak kemudian, maka
Raden Madyasta dan para Senapati muda itupun makan bersama dilayani langsung
oleh Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari.
Seperti yang dikatakan
oleh Madyasta, maka setelah selesai makan, maka Madyasta dan ketiga orang
Senapati muda itu mencoba mengenali tempat mereka bertugas. Meskipun malam sudah
menjadi semakin gelap, tetapi keempat orang itu masih juga melihat-lihat keadaan
kebun yang terhitung luas di belakang rumah yang dihuni oleh Raden Ayu
Prawirayuda itu.
“Dindingnya cukup tinggi
“ desis Sasangka
“Ya Tanpa mempergunakan
alat, tangga atau tali misalnya sulit untuk meloncati dinding ini “ sahut
Rembana
“Kecuali orang-orang
tertentu yang memiliki kelebihan“ gumam Wismaya seolah-olah ditujukan kepada
diri sendiri.
Kawan-kawannya tidak
menyahut lagi. Mereka memperhatikan Raden Madyasta yang meraba-raba dinding yang
terhitung tinggi itu.
Beberapa puluh langkah
mereka menelusuri dinding di kebun belakang. Kemudian dinding di halaman samping
yang sama tingginya
Bahkan dinding halaman di
bagian depanpun sama pula tingginya Sehingga tidak mudah untuk dapat memasuki
halaman itu jika pintu regolnya ditutup dan diselarak. Namun nampaknya Raden Ayu
Prawirayuda tidak pernah memerintahkan para abdi untuk menyelarak pintu regol.
Dari mengamati dinding
halaman dan kebun belakang, maka Raden Madyasta dan para Senapati itu
memperhatikan semua bangunan yang ada Bangunan induk, gandok kanan dan kiri,
dapur, kandang yang kosong, lumbung, longkangan dan pintu seketeng.
“Bagaimana mungkin
seseorang dapat masuk ke dalam rumah itu tanpa merusak pintu“ desis Rembana
“Bangunan ini selain
pendapanya yang joglo, maka yang lain adalah limasan. Tidak ada bangunan yang
berbentuk kampung kecuali lumbung dan kandang yang kosong itu. Sedangkan lumbung
dan kandang itu tidak berhubungan dengan rumah induk “ sahut Wismaya.
Sasangka
mengangguk-angguk. Katanya “Tidak ada tutup keyong disini. Selain merusak pintu,
orang hanya dapat masuk ke dalam dengan merobek atap atau dinding.”
Raden Madyasta
mengangguk-angguk. Dengan suara yang dalam iapun berkata “Orang yang dapat
membunuh kucing didalam rumah tanpa merusak pintu dan bagian-bagian rumah
lainnya adalah orang yang berilmu tinggi. Adalah kewajiban kita untuk
menghadapinya Agaknya itu adalah salah satu alasan ayahanda, kenapa harus kita
yang berada di rumah irii. Bukan orang lain.”
Ketiga orang Senapati
itupun mengangguk-angguk. Merekapun kemudian menyadari, bahwa mereka tidak dapat
meremehkan tugas yang dibebankan di pundak mereka
Demikianlah, sejak hari
itu, Raden Madyasta serta ketiga orang Senapati itu menjadi bagian dari rumah
yang besar itu. Mereka segera berusaha menyesuaikan diri mereka. Mereka tidak
ingin menjadi orang-orang yang harus dilayani. Mereka tidak berpegang pada
tugas-tugas mereka saja sehingga tidak mau melakukan pekerjaan yang lain.
Raden Madyasta yang
pernah hidup di padepokan serta para Senapati yang tidak pernah sempat
bermanja-manja, telah lebur dalam kerja sehari-hari dengan seisi rumah itu.
Meskipun Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari berusaha
mencegahnya, tetapi Raden Madyasta dan para Senapati itu selalu mengisi
jambangan di pakiwan. Masing-masing menimba air sehingga jambangan menjadi penuh
kembali setelah mereka mandi. Bahkan dalam waktu-waktu luang, mereka telah ikut
membantu melakukan kerja para abdi di rumah itu. Sasangka sama sekali tidak
merasa eanggung untuk menggali tempat sampah di kebun belakang. Sementara itu
Rembana mempunyai kesenangan tersendiri. Jika ia melihat seorang abdi membelah
kayu bakar dengan kapak, maka Rembana selalu datang dari mengambil kapaknya dari
tangan abdi itu,
“Jangan. Nanti aku
dimarahi Raden Ayu atau Raden Ajeng.”
Rembana tersenyum.
Katanya “Bukan salahmu. Kau tidak akan dimarahi. Lakukan kerja yang lain.
Biarlah kayu ini aku selesaikan.-
“Tetapi…..”
“Sudahlah. Barangkali kau
dapat mengerjakan pekerjaan lain di kebun belakang.”
Abdi itu kebingungan.
Namun orang itupun kemudian pergi ke kebun belakang.
Tetapi di kebun belakang,
iapun menjadi bingung pula karena ia melihat Sasangka sedang menggali tempat
sampah yang lebih besar dari kebiasaan para abdi membuat tempat sampah.
“Begitu besarnya?“
bertanya abdi yang kebingungan.
Bukankah dengan begitu
tidak akan cepat penuh?” Abdi itu tidak menjawab. Tetapi iapun segera
meninggalkan Sasangka dan pergi ke halaman samping.
Yang dilakukan kemudian
adalah memanjat sebatang pohon jambu air untuk memotong dahan-dahan dan
rantingnya yang sudah kelihatan menjadi tua dan lapuk.
Dalam pada itu, dari hari
ke hari, hubungan Raden Madyasta serta para Senapati itu dengan keluarga Raden
Ayu Prawirayuda menjadi seinakin akrab. Raden Ajeng Rantamsari adalah seorang
gadis yang meningkat dewasa. Adalah. wajar sekali jika hatinyapun mulai
tersentuh oleh kehadiran anak-anak muda di rumahnya. Apalagi setiap hari mereka
berhubungan. Raden Ajeng Rantamsarilah yang selalu memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan anak-anak muda itu. Kebersihan biliknya, kebersihan
lingkungannya, makan serta minum mereka.
Namun para Senapati muda
itu, bahkan Raden Madyasta tidak pernah memberikan pakaian mereka yang kotor
untuk dicuci oleh para abdi.
Kenapa dimas keberatan
jika pakaian dimas dicuci oleh seorang abdi?“ bertanya Raden Ajeng Rantamsari.
“Kami harus dapat
melakukannya sendiri, kangmbok“ jawab Raden Madyasta.
“Tetapi apa salahnya
selama dimas dan para Senapati disini, para abdi melayani dimas.“
Raden Madyasta tersenyum.
Katanya “Sudahlah kangmbok, keberadaan kami disini jangan membuat keluarga ini
menjadi terlalu sibuk. Jika demikian, maka kehadiran kami disini, justru akan
memperberat beban kangmbok serta bibi.”
Raden Ajeng Rantamsari
tersenyum. Katanya “Kami juga sudah mengganggu dimas serta para para Senapati
yang seharusnya bertugas di tempat lain.“
Raden Madyasta tertawa.
Katanya “Kami dapat saja bertugas dimana-mana, kangmbok. Baru-baru ini kami
justru bertugas di Panjer.“
“Baiklah, dimas. Tetapi
jika ada sesuatu yang perlu, dimas jangan segan-segan mengatakan kepadaku atau
langsung kepada ibu.”
“Baik, kangmbok.“
Ketika Raden Ajeng
Rantamsari meninggalkan Raden Madyasta, maka iapun langsung pergi ke dapur.
Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat dari pintu dapur yang menghadap ke
belakang, Rembana sibuk membelah kayu di kebun belakang.
Dengan serta-merta Raden
Ajeng Rantamsaripun memanggil Tarji, seorang abdi laki-laki di rumah itu.
“Raden Ajeng memanggil
aku?“ bertanya Tarji.
“Kenapa kau biarkan
kakang Rembana membelah kayu? Bukankah itu bukan pekerjaannya?”
“Aku sudah berusaha Den
Ajeng. Tetapi Ki Lurah Rembana tidak menghiraukannya. Bahkan kemarin Ki Lurah
Sasangka telah menggali tempat pembuangan sampah di kebun , belakang. Aku juga
tidak dapat mencegahnya”
Raden Ajeng Rantamsari
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Jika mereka tidak dapat dicegah,
apaboleh buat.”
Namun ketika Tarji
kemudian meninggalkan Raden Ajeng Rantamsari, maka justru Raden Ajeng
Rantamsarilah yang pergi menemui Rembana yang sedang sibuk membelah kayu,
sehingga Rembana tidak menyadarinya
Beberapa saat Raden Ajeng
Rantamsari berdiri beberapa langkah dari Rembana yang sedang sibuk itu. Tubuhnya
berkeringat. Bajunya terbuka di bagian dadanya, sedangkan lengannya digulung
agak tinggi.
Raden Ajeng Rantamsari
termangu-mangu sejenak. Sejak kehadirannya di rumah itu, Rembana telah menarik
perhatian Raden Ajeng Rantamsari. Anak muda yang berwajah cerah itu nampaknya
selalu tersenyum. Kelakarnya yang segar, tanpa meninggalkan unggah-ungguh telah
memikat hari Raden Ajeng Rantamsari.
Matanya yang
berkilat-kilat menyiratkan gairah hidup yang tinggi serta memancarkan kecerdasan
otaknya
Raden Ajeng Rantamsari
adalah seorang gadis yang sedang tumbuh dewasa Di Kateguhan, Raden Ajeng
Rantamsari jarang sekali bergaul dengan anak-anak muda Ia tinggal di keputren
bersama ibundanya Di Keputren itu memang terdapat taman yang indah, ditumbuhi
berjenis-jenis tanaman serta pohon bunga yang membuat taman itu menjadi semakin
semarak. Beberapa orang dayang melayaninya siang dan malam.
Tetapi itu tidak cukup
bagi Raden Ajeng Rantamsari. Di taman yang dikelilingi dinding yang tinggi itu
tidak pernah hadir seorang anak muda selain Kangjeng Adipati Yudapati. Itupun
jarang sekali. Yang sering terjadi adalah ibundanya datang menemuinya justru di
luar keputren.
Kadang-kadang Raden Ajeng
Rantamsari juga melihat Senapati muda yang lewat diluar regol keputren disaat
mereka menjalankan tugasnya. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari tidak pernah
berkenalan dengan mereka
Karena itu, perkenalannya
dengan Rembana yang nampak selalu gembira Itu, mempunyai kesan yang lain di hati
puteri itu.
Selangkah demi selangkali
Raden Ajeng Rantamsari itu bergerak mendekati Rembana yang sedang sibuk. Sekali
diangkatya kapaknya tinggi tinggi. Kemudian terayun dengan deras sekali
menghantam sebatang kayu yang tergolek di depannya
Dengan sekali ayun,
gelondong kayu itupun telah terbelah.
Rembana mengusap
keringamya yang mengembun di keningnya Namun Rembana itu terkejut ketika ia
mendengar suara lembut menyapanya ”Kakang Rembana”
Ketika Rembana berpaling,
dilihatnya Raden Ajeng Rantamsari berdiri termangu-mangu memandanginya
Jantung Rembana berdesir.
Sorot mata yang bening itu bagaikan memancarkan embun yang dingin di teriknya
cahaya matahari.
“Raden Ajeng” terdengar
suara yang terloncat dari bibir Rembana
“Berhentilah, kakang.
Bukankah itu bukan pekerjaan kakang.”
Rembana tersenyum.
Katanya “Aku adalah anak yang lahir dan dibesarkan di kaki bukit, Raden Ajeng.
Aku sudah terbiasa melakukannya”
“Tetapi sekarang kakang
adalah seorang Senapati. Bahkan Senapati yang pernah mendapat pujian pada saat
kakang bersama pasukan kakang ikut dalam perang besar di tepi Bengawan Rahina
Pujian yang langsung diberikan oleh Kangjeng Sultan Tegal Langkap. Kakang juga
telah berhasil menumpas gerombolan perampok di kademangan Panjer. Sekarang,
kakang mendapat tugas melindungi kami sekeluarga yang tinggal di rumah ini.“
“Tetapi kebiasaan masa
kanak-kanak dan remajaku itu tidak dapat aku tinggalkan, Raden Ajeng. Begitu aku
berhadapan dengan kapak dan gelondong kayu, maka rasa-rasanya tanganku menjadi
gatal.”
Sekarang, beristirahatlah
kakang.”
Tetapi kerja ini belum
selesai, Raden Ajeng.”
“Biarlah nanti
diselesaikan oleh Tarji. Atau jika kakang Rembana masih belum puas, nanti kakang
dapat menyelesaikannya”
“Biarlah aku selesaikan
saja sama sekali Raden Ajeng.”
Raden Ajeng Rantamsari
itupun kemudian justru duduk di sebuah lincak panjang, dibawah sebatang pohon
jambu air yang rimbun sambil berkata “Kakang, beristirahatlah. Duduklah disini.”
”Ah. Pakaianku basah oleh
keringat, Raden Ajeng. Biarlah aku selesaikan saja kerja ini.”
“Kakang “ suara Raden
Ajeng Rantamsari merendah “duduklah disini.”
Wajah Raden Ajeng
Rantamsari yang lembut, kata-katanya yang terasa sejuk ditelinga rasa-rasanya
telah mencengkam jantung Rembana Ia tidak kuasa menolaknya sehingga kemudian
diletakkan kapaknya
Namun Rembana tidak mau
duduk di lincak itu pula. Tetapi ia justru duduk diatas seonggok kayu yang telah
ditimbun disebelah lincak yang panjang itu.
“Duduklah disini,
kakang.”
“Terima kasih, Raden
Ajeng.”
Raden Ajeng Rantamsari
tersenyum. Ia tahu, bahwa Rembana masih merasa segan untuk duduk disebelahnya
“Aku ingin kakang
bercerita tentang pandan diatas bukit Pudak Seketi itu“ berkata Raden Ajeng
Rantamsari sambil tersenyum.
“Apanya yang harus aku
ceritakan, Raden Ajeng. Hutan pandan itu sulit sekali ditembus. Daun pandan yang
berduri itu saling berkait.”
“Jadi bagaimana dengan
orang-orang yang mencari daun pandan untuk dibuat barang-barang kerajinan?”
“Mereka mencari daun
pandan yang tumbuh dipinggir saja, Raden Ajeng. Mereka tidak dapat pergi ke
tengah.”
Raden Ajeng Rantamsari
mengangguk-angguk. Dengan nada yang merendah iapun kemudian berkata “Jika musim
pandan berbunga, alangkah indahnya hutan pandan itu, kakang.”
“Kita hanya dapat melihat
dari pinggir hutan itu saja, Raden Ajeng.”
Raden Ajeng Rantamsari
mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya beberapa hal tentang hutan pandan di
bukit Pu-dak Seketi itu.
Demikianlah, maka
hubungan Rembana dengan Raden Ajeng Rantamsari dari hari ke hari menjadi semakin
rapat. Meskipun Rembana masih tetap menyadari siapakah dirinya dan siapa pula
Raden Ajeng Rantamsari, namun sebenarnyalah Rembana tidak dapat ingkar, bahwa
hatinya yang paling dalam telah terjerat oleh sikap, pandangan mata, tutur kata
Raden Ajeng Rantamsari yang lembut, luruh dan menyentuh itu.
Demikian pula Raden Ajeng
Rantamsari. Kadang-kadang ia merasa menyesal, bahwa ia telah dilahirkan oleh
seorang ibu yang kebetulan adalah isteri seorang Adipati. Sehingga dengan
demikian ia hidup dalam batasan-batasan yang mengungkungnya. Ia tidak dapat
bebas seperti gadis-gadis sebayanya yang hidup diluar dinding kadipaten. Bahkan
kemudian telah terjadi peristiwa yang mengguneang kemapanan hidupnya Ibundanya
telah dituinta meninggalkan dalem kadipaten Kateguhan.
Perjumpaannya dengan
Senapati muda yang bernama Rembana itu telah membuat Raden Ajeng Rantamsari yang
menginjak dewasa itu terhisap kedalam dunia angan-angan yang membubung.
Dalam pada itu, setelah
beberapa lama Raden Madyasta serta ketiga orang Senapati muda berada di rumah
Raden Ayu Prawirayuda ternyata tidak pernah terjadi sesuatu yang meneurigakan.
Malam-malamnya dilalui dengan tenang tanpa gangguan sama sekali.
Bahkan Raden Madyasta
telah mulai berpikir untuk menghadap ayahandanya dan menyampaikan laporan
tentang keadaan di rumah bibinya. Jika saja ayahandanya sependapat, maka
ayahandanya dapat menunjuk orang lain untuk melanjutkan mgas mereka
Namun tiba-tiba saja
telah terjadi gejolak dipermukaan yang telah terasa menjadi tenang itu.
Ketika hari merambat
siang, Raden Ayu Prawirayuda berada di serambi samping. Raden Ayu itu masih saja
mempunyai kesenangan membatik. Digelarkan kain putih yang sebagian sudah digores
dengan lukisan batik yang lembut. Sekali-sekali ditiupnya eanting yang sudah
berisi malam panas yang cair. Kemudian dengan cekatan yang sudah baerisi malam
panas yang cair. Kemudian dengan cekatan tangannya bergerak-gerak meninggalkan
goresan lukisan yang rumit.
Namun tiba-tiba saja
Raden Ayu itu terkejut ketika ia mendengar seseorang menyapanya ”Kangmbok.”
Hampir saja Raden Ayu
Prawirayuda menumpahkan malamnya yang cair dan panas didalam wajan kecilnya.
“Dimas Wicitra.”
Wicitra tertawa. Katanya
“Kangmbok terkejut karena tiba-tiba aku sudah berada disini?”
“Ya. Kau memang
mengejutkan aku“ sahut Raden Ayu Prawirayuda.
“Maaf, kangmbok. Bukan
maksudku mengejutkan kangmbok.”
“Untuk apa kau tiba-tiba
saja datang kemari Wicara?
“Sikap kangmbok aneh.
Bukankah aku adik kangmbok. Satu-satunya saudara kandung kangmbok. Jika ada dua
orang saudara kita, kedua-duanya telah meninggal. Yang tinggal adalah aku. Adik
laki-laki kangmbok Prawirayuda”
“Aku tahu. Nah, sekarang
apa yang kau maui?”
“Apakah kangmbok tidak
mempersilahkan aku duduk? Kangmbok. Aku datang dari jauh. Aku datang dari
Kateguhan untuk menengok satu-satunya saudara kandungku.”
“Baik. Duduklah Wicitra”
Wicitra tersenyum. Iapun
kemudian duduk diserambi ditemani Raden Ayu Prawirayuda
“Kangmbok. Semalam aku
berrnalam di rumah seorang kawanku yang tinggal di Paranganom. Seharusnya aku
bermalam disini, dirumah saudara kandungku.“
Wajah Raden Ayu
Prawirayuda menjadi tegang. Tetapi ia tidak menjawab.
Kangmbok meninggalkan
Kateguhan tanpa memberi-tahu aku. Padahal aku adalah satu-satunya saudara
kandung kangmbok.”
“Aku tidak sempat,
Wicitra. Tiba-tiba saja aku harus pergi dari Kateguhan.”
“Bukankah sebenarnya
kangmbok tidak harus meninggalkan Kateguhan? Kangmbok hanya harus meninggalkan
dalem Kadipaten. Bukankah sesungguhnya sudah disediakan rumah yang cukup memadai
bagi kangmbok?”
“Aku mempunyai harga
diri, Wicitra. Apa kata orang Kateguhan jika aku bersedia meninggalkan kadipaten
dan tinggal di rumah yang berada jauh di luar dinding kota itu?”
“Bukankah itu salah
kangmbok sendiri?”
“Kenapa aku yang salah?”
“Sudahlah kangmbok. Aku
tidak mau membicarakan persoalan kangmbok yang sangat pribadi itu “
“Lalu, apa yang akan kau
katakan Wicitra?”
Kenapa sikap kangmbok
sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang kakak perempuan yang penuh kasih
seperti masa kanak-kanak itu? Kangmbok adalah anak sulung. Dua saudara kita
meninggal diusia remaja mereka Kemudian aku adalah anak bungsu. Jarak umur kita
memang agak banyak kangmbok. Waktu kecil, kangmbok bersikap sangat manis
kepadaku. Bahkan kangmbok terlalu memanjakan aku. Kangmbok menggendong aku
kemana-mana Jika aku menangis, mata kangmbok ikut menjadi basah.”
“Wicitra. Sukurlah jika
kau sempat mengingat semuanya itu. Tetapi apa balasanmu setelah kau menjadi
dewasa? Kau kehilangan sifat-sifat baikmu. Kau tumbuh didalam lingkungan yang
salah. Kau berada didalam lingkungan yang akhirnya merusak hidupmu. Ayah dan ibu
semasa hidupnya telah kehilangan kendali atas dirimu.”
Wicitra tertawa. Katanya
“Mungkin kangmbok benar. Tetapi sebagaimana waktu itu aku berubah, maka pada
saatnya akupun akan berubah pula. Aku menyadari semuanya itu dan aku berniat
untuk memperbaikinya”
“Kau memang harus
mencoba, Wicitra . Kau harus berani melepaskan diri dari lingkungan yang buruk
itu. Kau tidak boleh dekat kerbau berkubang. Kau akan terpercik oleh lumpur
pula”
“Aku mengerti kangmbok
Aku memang akan meninggalkan duniaku yang buram itu. Aku akan tinggal disini.”
“Tinggal disini?”
“Ya, kangmbok. Aku minta
kangmbok menyampaikan kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma, agar Madyasta dan
ketiga orang senapati itu dikembalikan kepada tugas mereka masing-masing.”
“Mereka disini melindungi
aku dan Rantamsari.”
Wicitra tertawa lebih
keras. Katanya “Jika hanya untuk melindungi kangmbok dan Rantamsari dari
kejahatan., kenapa harus empat orang Senapati? Bukankah cukup dengan empat atau
lima orang prajurit saja”
“Keadaannya cukup gawat
Wicitra.”
“Kenapa kangmbok tidak
berusaha melindungi diri sendiri serta Rantamsari? Apakah arti gelar kangmbok
pada saat kangmbok berada di Kateguhan? Bukankah kangmbok di-gelari Srikandi
Kateguhan?”
“Itu dahulu, Wicitra.
Itupun gelar yang berlebihan. Aku hanya mengangankan agar di Kateguhan ada
prajurit perempuan meskipun jumlahnya kecil. Itu saja. Bukan berarti aku
memiliki ilmu yang tinggi.”
“Kangmbok. Meskipun
demikian, kangmbok tidak memerlukan para Senapati muda yang masih ingusan itu.”
“Wicitra. Mereka adalah
Senapati pilihan. Mereka telah mampu memadamkan gejolak yang terjadi di Panjer
baru-baru ini.”
” Itu sama sekali tidak
mengherankan.”
“Mereka juga pernah
mendapat pujian langsung dari Kangjeng Sultan di Tegal Langkap setelah mereka
terlibat dalam perang besar di tepi Bengawan Rahina”
“Omong kosong. Jlu
hanyalah ceritera yang direka-reka oleh para Senapati muda itu sendiri.”
“Tidak. Pujian itu diakui
oleh Kangjeng Adipati Prangkusuma sendiri.”
“Baik. Baik, kangmbok.
Meskipun demikian sebenarnya mereka tidak kangmbok perlukan. Aku akan tinggal
disini. Keberadaanku disini akan lebih berarti dari keempat orang Senapati
ingusan itu.”
“Wicitra. Kau masih saja
suka membual. Itukah bagian dari keinginanmu memperbaiki sifat dan watakmu?”
“Aku tidak membual
kangmbok. Aku berkata sebenarnya“ jawab Wicitra “karena itu, aku minta kangmbok
menyingkirkan para Senapati muda itu termasuk Raden Madyasta”
“Tidak. Wicitra Mereka
akan tetap berada disini.”
“Aku mengerti, kangmbok.
Sebenarnya keberadaan mereka disini sama sekali tidak ada hubungannya dengan
perlindungan sebagaimana yang kangmbok katakan. Tetapi keberadaan mereka disini
tentu karena maksud kangmbok yang lain.”
“Aku tidak tahu maksudmu,
Wicitra.”
“Kangmbok tengah
menawarkan Rantamsari kepada mereka”
“Wicitra Jagalah mulutmu.
Karena mulutmu kau akan dapat terjerat oleh petaka.”
“Tetapi Wicitra justru
tertawa berkepanjangan. Katanya “Di Kateguhan kangmbok gagal menginginkan
menantu seorang Adipati. Sekarang kangmbok membawa Rantamsari ke Paranganom dan
menawarkan kepada para senapati muda itu.”
“Cukup Wicitra.”
“Kangmbok tidak usah
marah. Aku tahu bahwa Rantamsari berhubungan semakin rapat dengan Rembana. Salah
seorang senapati muda yang ada di rumah ini.”
Wajah Raden Ayu
Prawirayuda menjadi merah bagaikan membara. Dengan lantang Raden Ayu itu berkata
“Wicitra. Tidak sepantasnya kau berkata seperti itu. Seandainya benar Rantamsari
berhubungan semakin rapat dengan Rembana apa keberatanmu? Rantamsari sudah
dewasa la sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk Karena itu, kau tidak
usah ikut campur. Biar saja Rantamsari menentukan jalan hidupnya sendiri.”
“Tetapi bukankah tidak
sepantasnya Rantamsari berhubungan dengan Senapati kecil yang tidak berarti
apa-apa itu?”
“Tetapi ia adalah
Senapati pilihan, Wicitra.”
“Senapati itu tidak ada
sekuku ireng dibanding dengan aku.”
“Apa maksudmu?”
“Seharusnya kangmbok
sudah mengetahuinya”
“Mengetahui apa?”
“Bukankah aku pernah
memberikan isyarat bahwa aku inginkan Rantamsari menjadi isteriku.”
“Itu adalah pikiran gila,
Wicitra, Itu tidak mungkin. Kau tahu, bahwa itu adalah bagian dari sifat dan
watakmu yang kotor, yang terbentuk di tengah-tengah yang kotor pula”
“Apakah pemikahan itu
satu hal yang kotor? Bukankah pernikahan justru bagian dari kehidupan yang
memang dikehendaki oleh Yang Maha Pencipta untuk melestarikan keberadaan
umatnya? Pemikahan adalah satu hal yang suci, kangmbok.”
“Ya Pernikahan itu
sendiri memang satu hal yang suci. Justru karena itu, maka pemikahan diatur
dengan beberapa tatanan. Wicitra. Kau adalah pamannya. Rantamsari adalah anakku.
Anak kakak kandungmu. Bagaimana kau dapat mengambilnya menjadi isterimu?”
“Apa salahnya kangmbok.
Aku laki-laki. Rantamsari seorang perempuan. Bukankah sudah sewajamya jika
seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan?”
“Tetapi tidak dengan
kenanakan sendiri.”
“Kangmbok. Jika niatmu,
terpenuhi, bukankah kau ingin Rantamsari menikah dengan Kangjeng Adipati
Yudapati? Nah, bukankah Adipati Yudapati itu saudara laki-laki Rantamsari?”
“Semua itu omong kosong.
Fitnah.”
Wicitra tertawa pula.
“Wicitra. Sekarang
pergilah. Aku tidak mau kau berada di rumahku. Aku tidak mau kau mengotori
lantai serambiku.”
“Jangan kasar terhadapku,
kangmbok. Seharusnya kangmbok berterima kasih kepadaku. Kangmbok tidak perlu
menjajakan Rantamsari ke Paranganom.”
“Cukup. Pergilah Wicitra”
“Kangmbok jangan mengusir
aku. Sudah aku katakan, aku akan tinggal disini menjaga keselamatan kangmbok
dari Rantamsari. Yang sepantasnya diusir adalah Madyasta dan para senapati itu.
Tidak pantas Rantamsari berhubungan rapat dengan seorang senapati kecil seperti
Rembana itu.”
“Pergilah Wicitra Sebelum
aku mengusirmu.”
“Kangmbok tidak akan
dapat mengusir aku.”
“Aku dapat memanggil para
senapati itu.”
“Apa artinya senapati itu
bagiku? Aku akan dapat dengan mudah membunuh mereka”
“Apakah kau benar-benar
akan mencobanya, Wicitra?”
Wajah Wicitra menjadi
tegang. Dengan geram ia berkata “Kau akan menyesali perbuatanmu itu kangmbok.”
“Tidak. Aku tidak akan
menyesal. Kaulah yang akan menyesal jika kau tidak mau pergi dari tempat ini.”
Tetapi Wicitra itu
menggeleng. Katanya “ Aku tidak akan pergi.”
“Pergi. Kau harus pergi“
suara Raden Ayu Prawirayuda menghentak keras.
Tetapi Wicitra masih
tetap tidak beranjak dari tempatnya, sehingga Raden Ayu Prawirayuda itupun
berkata “Jadi aku harus mengusirmu dengan kekerasan Wicitra “
Namun tiba-tiba saja
pintu serambi itupun terbuka. Seorang Senapati muda muneul dari balik pintu yang
terbuka itu.
“Maaf Raden Ayu. Aku
mendengar sedikit keributan disini. Tetapi jika tidak terjadi sesuatu, aku
sekali lagi mohon maaf.“
“Tidak terjadi apa-apa
disini, anak muda. Aku adalah adik kandung kangmbok Prawirayuda “
“O “
“Usir orang ini. Ia
memang adik kandungku. Tetapi ia tidak pantas berada di rumah ini.“
“Jadi?“
“Bawa orang ini keluar.
Jika perlu dengan paksa.“
Rembana termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya ”Marilah, Raden. Aku persilahkan Raden Keluar.“
“Pergi, kau dengar?“
Wicitra justru membentak.
Tetapi Rembana tidak
beringsut. Katanya “Aku sudah mendapat perintah dari Raden Ayu Prawirayuda
Karena itu, sebelum aku mempergunakan kekerasan, lebih baik Raden keluar dari
rumah ini.“
“Kau akan mempergunakan
kekerasan?“
“Ya “
“Cobalah. Cobalah jika
kau berani.“
Rembana memang menjadi
ragu-ragu. Namun ketika ia berpaling dan memandang Raden Ayu Prawirayuda, ia
melihat Raden Ayu Prawirayuda itu mengangguk.
Karena itu, maka Rembana
bergeser selangkah maju sambil berkata “Aku akan memaksa Raden.”
“Bagus. Ternyata kau
seorang Senapati muda yang berani. Nah, cobalah. Paksa aku keluar dari rumah
ini.“
Rembana memang tidak
sabar lagi. Tetapi sebelum ia berbuat lebih jauh, maka didengarnya seseorang
berdiri di pintu yang terbuka itu.
Ketika Rembana berpaling,
dilihatnya Madyasta berdiri di pintu.
“Raden” desis Rembana
“Ada apa?“
“Angger Madyasta” Raden
Ayu Prawirayudalah yang menyahut “aku minta orang ini diusir dari rumahku.“
Raden Madyasta
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Wicitra yang menjadi tegang setelah ia
melihat Madyasta hadir pula di serambi itu.
“Bukankah itu paman
Wicitra?“
“Ya, Raden. Ia memang
adik kandungku. Tetapi ia datang untuk niengganggu ketenanganku.“
“Maaf paman“ berkata
Raden Madyasta kemudian “aku berada disini karena aku diperintahkan oleh
ayahanda untuk menjaga ketenangan dan ketenteraman keluarga bibi. Karena itu,
jika paman Wicitra membuat bibi gelisah, aku mohon paman meninggalkan tempat
ini.“
Wajah Wicitra menjadi
merah membara Namun ia tidak mempunyai pilihan. Jika terjadi perselisihan serta
benturan kekerasan maka para Senapati yang lainpun tentu akan segera
berdatangan. Agaknya Wicitra masih belum siap menghadapi para Senapati itu.
Apalagi seorang diantaranya adalah Raden Madyasta, yang baru pulang dari sebuah
perguruan serta tuntas dalam ilmu kanuragan.
Karena itu, maka dengan
hati yang luka Wicitra itupun berkata kepada kakak perempuannya “Baik, kangmbok.
Sekarang aku akan pergi. Tetapi jangan kira bahwa aku tidak akan kembali.“
Sebelum Raden Ayu
Prawirayuda menjawab, maka Wicitrapun bergegas meninggalkan serambi itu. Dipintu
ia berhenti sejenak memandang wajah Raden Madyasta. Namun Raden Madyastapun
memandang pula langsung ke biji matanya.
Sepeninggal Wicitra,
Raden Madyastapun bertanya “Ada apa dengan paman Wicitra, bibi?“
“Anak itu selalu
mengganggu saja ngger. Sejak aku masih tinggal di Kateguhan. Tetapi bagaimana
mungkin ia tiba-tiba saja sudah berada di pintu serambi ini.”
Maaf bibi. Aku melihat
paman Wicitra masuk regol dan berjalan di halaman. Aku melihat paman Wicitra
masuk pintu seketeng. Tetapi karena aku tahu,.bahwa paman Wicitra itu adik
kandung bibi, maka aku tidak menegurnya “
“Ia memang adik
kandungku, ngger. Tetapi sifat dan wataknya tidak dapat dikendalikan lagi.
Karena itu, ngger. Aku mohon lain kali, jangan biarkan ia masuk ke rumah ini.“
“Baik, bibi. Aku akan
mengingatnya. Akupun akan berpesan kepada kakang Rembana, kakang Sasangka dan
kakang Wismaya, agar paman Wicitra tidak djijinkan masuk.”
“Terima kasih, ngger.
Anak itu membuat jantungku berdebaran semakin cepat.“
“Baik, bibi.“
Raden Madyasta dan
Rembanapun kemudian meninggalkan serambi itu. Raden Ayu Prawirayuda kembali
duduk di depan gawangan menggelar. kain yang sedang dibatiknya. letapi
rasa-rasanya ia tidak lagi bertekun. Jantungnya masih saja terasa berdegup.
Hari ini Raden Ayu
Prawirayuda nampak gelisah. Ia tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang sering
dilakukannya sehari-hari dengan baik. Setiap kali Raden Ayu Prawirayuda itu
duduk sambil merenungi anak gadisnya yang tumbuh dewasa itu. Tumbuh dewasa itu/
bahkan debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat, jika ia teringat kata-kata
Wicitra, bahwa Wicitra justru menginginkan Rantamsari untuk menjadi isterinya.
“Anak itu sudah menjadi
gila” desis Raden Ayu Prawirayuda.
Sementara itu, sejak
Wicitra datang, ia belum melihat Raden Ajeng Rantamsari, pintu biliknya tertutup
rapat, biasanya Rantamsari tudak menutup diri dalam biliknya seperti itu.
Apakah ia mendengar
pembicaraanku yang keras dengan pamannya di serambi?“ bertanya Raden Ayu
Prawirayuda didalam hatinya.
Raden Ayu Prawirayuda
merasa ragu. Beberapa saat ia berdiri di depah pintu bilik anak gadisnya.
Namun perlahan-lahan
Raden Ayu Prawirayuda itu mengetuk pintu bilik itu
“Rantamsari “ terdengar
suara Raden Ayu Prawirayuda lembut Tidak terdengar jawaban. Karena itu, Raden
Ayu Prawirayudapun mengulanginya, mengetuk pintu itu perlahan
“Rantamsari.”
Yang terdengar adalah
justru isak tangis tertahan.
Perlahan-lahan Raden Ayu
Prawirayuda mendorong pintu itu sehingga terbuka. Dilihatnya Rantamsari
menelungkup di pembaringannya.
Raden Ayu Prawirayuda
melangkah mendekatinya. Kemudian duduk di bibir pembaringan sambil mengusap
rambut anaknya yang hitam kelam.
“Kenapa kau menangis
ngger?” Rantamsari tidak segera menjawab
“Rantamsari. Jawablah
pertanyaan ibu. Kenapa kau menangis ngger?”
“Ibu“ Rantamsari bangkit.
Namun iapun segera duduk dilantai dihadapan ibunya sambil meletakkan kepalanya
di pangkuannya.
“Apa yang kau pikirkan,
Rantamsari?” suara ibunya terdengar sejuk di telinga gadis itu.
“Apakah aku bersalah
ibu?”
“Kenapa kau bertanya
seperti itu, ngger?”
“Kenapa paman marah
kepadaku”?”
“Kau dengar pembicaraan
kami?”
“Tidak seluruhnya ibu.
Tetapi serba sedikit aku mendengarnya.”
“Apa yang telah kau
dengar?”
Paman menyebut nama
kakang Rembana.”
“Ya, Rantamsari. Apa lagi
yang kau dengar?”
“Tidak jelas ibu. Tetapi
agaknya paman menyalahkan aku karena aku berhubungan dengan kakang Rembana.
Bahkan paman menganggap aku seorang gadis yang rendah, yang dijajakan di
Paranganom. Yang lain aku tidak dapat mendengarnya ibu. Ketika aku sudah berada
didalam bilik ini, aku mendengar ibu mengusir paman setelah ibu bertengkar
dengan paman.”
“Jangan hiraukan pamanmu,
Rantamsari. Ia tidak akan datang lagi. Aku sudah minta angger Madyasta untuk
mencegahnya jika ia akan memasuki rumah ini.”
“Ya, ibu. Tetapi apa
sebenarnya yang diinginkan paman Wicitra itu?”
“Rantamsari. Kau sudah
dewasa. Aku tidak ingin merahasiakannya lagi, apa yang diingini oleh pamanmu
itu.”
Bab 21
Rantamsari mengangkat
wajahnya. Dipandanginya wajah ibunya yang bagaikan membeku. Sorot mata ibunya
jauh menerawang menembus batas ruang dan waktu.
Sejak lama Wicitra memang
sudah mengisyaratkan kepada Raden Ayu Prawirayuda, bahwa ia menginginkan
Rantamsari untuk dijadikan isterinya. Ia minta agar Rantamsari jangan diberikan
kepada orang lain. Tetapi Wicitra baru berkata dengan jelas, justru setelah ia
berada di Paranganom.
“Ibu” desis Rantamsari.
Raden Ayu Prawirayuda
itupun tersadar. Sambil membetulkan rambut anaknya iapun berkata “Rantamsari.
Sebenarnya bahwa pamanmu menginginkan agar kau dapat dijadikan isterinya”
“Bukunkah aku
kemanakannya?, Bukankah paman Wicitra itu adik kandung ibu?”
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk lagi.
“Ibu “ mata Rantamsaripun
menjadi basah lagi..
“Sudahlah, Rantamsari.
Lupakan keinginan pamanmu itu.”
“Itukah agaknya, kenapa
paman tidak senang melihat hubunganku dengan kakang Rembana.”
“Rantamsari“ suara ibunya
merendah “akulah yang lustru ingin bertanya. Apakah benar kau telah menjalin
hubungan batin dengan senapati muda itu, sebagaimana dikatakan oleh pamanmu?”
“Ibu juga menyalahkan
aku?”
“Tidak. bukan maksudku,
Rantamsari. Aku hanya ingin tahu, apa yang sedang bergejolak di dada anak
gadisku.”
“Ibu“ suara Rantamsari
menjadi parau “menurut pendapatku, kakang Rembana adalah anak muda yang baik. Ia
ramah dan gembira. Meskipun ia suka berkelakar, tetapi ia masih mengenal
batas-batas unggah-ungguh serta tidak mengurangi harga dirinya sebagai seorang
senapati muda yang mempunyai kelebihan.”
“Jadi kau memang tertarik
kepadanya, Rantamsari.“
“Ibu. Aku adalah puteri
ibu. Sebagaimana seorang gadis yang hidup di lingkungan dinding kadipaten,
segala sesuatunya sudah ditentukan baginya. Aku tinggal menjalaninya saja.
Karena itu, jika memang ada titah yang lain, aku tidak dapat menolaknya.“
“Tidak, Rantamsari.
Tidak. Sudah aku katakan, aku hanya ingin mengetahuinya.“
“Aku tidak dapat ingkar,
ibu. Aku tertarik kepada kakang Rembana. Wajahnya yang cerah, hatinya yang
terbuka, kelakarnya, namun juga pandangannya yang luas tentang hidup dan
kehidupan.“
“Kau sudah banyak
berbicara dengan senapati muda itu Rantamsari?” * ,
“Ya. Ibu. Aku sudah tahu
pula, bahwa kakang Rembana juga tertarik kepadaku.“
“Baiklah, Rantamsari. Aku
bukan seorang ibu yang hanya menuruti keinginanku sendiri. Aku harus
mendengarkan kemauanmu karena kaulah yang akan menjalaninya. Masa depanmu akan
terletak di tanganmu sendiri.”
“Ibu. Jadi ibu tidak
berkeberatan?”
“Ibu hanya ingin
meyakinkan sikapmu, Rantamsari. Dengarlah. Rembana hanyalah seorang senapati
prajurit di Puranganom. Ia bukan seorang yang pinunjul. Mungkin ia memiliki
kemampuan yang tinggi. Tetapi ada berapa orang senapati muda di Paranganom ini.
Karena itu, kau harus itu pikirkan sebaik-baiknya masa depanmu. Jika kau
benar-benar ingin menyatukan dirimu dalam kehidupan Rembana, maka kau harus siap
menjalani hidup dan kehidupan yang sederhana. Karena Rembana seorang prajurit,
maka ia akan lebih sering berada di luar rumah. Tugas akan selalu memanggilnya,
sebagaimana ia berada disini sekarang ini.“
“Aku mengerti ibu. Tetapi
justru kehidupan yang sederhana itulah yang akan dapat dinikmati
sedalam-dalamnya. Tidak seperti saat kita tinggal di kadipaten Kateguhan. Segala
sesuatunya berlangsung sesuai dengan pranatan, sehingga rasa-rasanya kita telah
kehilangan diri sendiri dalam keberadaan kita ini ibu. Kita tidak mempunyai
kebebasan menentukan sikap dan bahkan keinginan-keinginan yang paling mendasar
dari hidup ini.“
Raden Ayu Prawirayuda
tersenyum. Katanya ”Dari-mana kau dengar sikap hidup sebagaimana yang kau
katakan itu. Rantamsari? Dari Rembana? Aku tidak menyalahkannya. Justru apa yang
kau katakan itu sangat menarik perhatianku. Menurut pendapatku, yang kau katakan
itu benar adanya.“
“Ibu sependapat?“
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk.
“Ibu“ senyum yang manis
mengembang dibibir Raden Ajeng Rantamsari. Ia meletakkan kepalanya di pangkuan
ibunya sambil memejamkan matanya. Dengan suara yang lirih iapun berkata “Ibu,
doakan agar aku akan menemukan kebahagiaan.“
Aku mengerti,-Rantamsari.
Sikap kakangmasmu yang telah mengusir kita dari Kateguhan telah menghunjam,
melukai jantungmu sampai ke dasar. Agaknya luka itu tidak mudah untuk dapat
disembuhkan. Peristiwa itu tentu sangat mempengaruhi pandanganmu tentang hidup
dan kehidupan.“
“Mungkin ibu. Tetapi aku
ingin menemukan hari-hari mendatang yang panjang. Aku tidak akan selalu
berpaling pada masa lalu itu, meskipun sebagai pengalaman akan mempunyai arti
tersendiri bagiku.-”
Raden Ayu Prawirayuda
masih saja membelai rambut anaknya. Namun beberapa saat kemudian. Raden Ayu
Prawirayuda
itupun berkata, “Beristirahatlah, Rantamsari. Mungkin kau
merasa letih oleh gejolak perasaanmu. Jika kau ingin tidur.
tidurlah.“ .
“Tidak. ibu. Aku tidak
ingin tidur. Aku akan pergi ke dapur.“
Justru Raden Ajeng
Rantamsarilah yang lebih dahulu bangkit berdiri. Ketika Raden Ayu Prawirayuda
juga bangkit, maka Rantamsaripun menggandeng ibunya keluar dari biliknya
langsung pergi ke dapur.
Di dapur, para abdi
sedang sibuk menyiapkan makan siang bagi para senapati muda yang berada di rumah
itu. Rantamsaripun kemudian telah ikut pula membantu mereka, menyediakan mangkuk
serta peralatan yang lain.
Hari itu, wajah Raden
Ajeng Rantamsari nampak sangat cerah. Rasa-rasanya Raden Ajeng Rantamsari telah
meletakkan beban yang memberati perasaannya.
Selama ini, Raden Ajeng
Rantamsari tidak berani berterus terang kepada ibunya, bahwa sebagai seorang
gadis hatinya telah tersentuh oleh seorang anak muda yang bernama Rembana.
Sebaliknya, anak muda itupun telah tertarik pula kepadanya.
Meskipun Rantamsari
sebenarnya telah menduga, bahwa ibunya ikut merasakan getar timbal balik antara
dirinya dengan senapati muda itu, namun ibunya tentu ingin mendengar
pengakuannya itu.
Kedatangan pamannya
seakan-akan justru telah membuka kesempatan kepadanya untuk menyampaikan hal itu
kepada ibunya.
Pernyataan ibunya itu,
telah membuat hubungan Raden Ajeng Rantamsari dengan Ki Lurah Rembana menjadi
semakin akrab. Raden Ajeng Rantamsari tidak lagi merasa pakewuh untuk berbicara
dengan Rembana di tempat-tempat terbuka.
Namun hubungan antara
Raden Ajeng Rantamsari dengan Rembana itu tidak terlepas dari pengamatan
senapati muda yang lain. Sasangka.
Senja itu, warna-warna
jingga yang silau memancar di langit. Beberapa lembar mega hanyut beriringan
dihembus ingin dari lautan. Setelah mandi, Madyasta dan Wismaya duduk di halaman
belakang rumah Raden Ayu Prawirayuda.
Mereka sempat memandangi
burung-burung bangau yang terbang beriringan pulang kesarangnya.
“Apakah Rembana dan
Sasangka juga sudah mandi?” bertanya Madyasta.
“Sudah Raden. Mereka ada
di serambi gandok.”
“Kakang Wismaya“ berkata
Madyasta kemudian “aku melihat telah terjadi perubahan dalam hubungan diantara
keduanya. Aku tidak tahu, apakah yang telah menyebabkannya.”
“Maksud Raden, pada
keduanya seakan akan telah terbentang jarak.”
“Ya.”
“Ya, Raden. Aku mengenal
keduanya dengan baik. Aku berada dalam kelompok yang sama pada saat kami
bersama-sama memasuki dunia keprajuritan. Agaknya jenjang kedudukan kamipun
merambat bersama-sama pula, sehingga kami sempat menjadi Lurah prajurit yang
justru memaksa kami untuk berpisah, karena kami mengemban tugas kami
masing-masing.”
“Bukankah selama ini
tidak ada masalah diantara keduanya?”
“Nampaknya tidak ada
Raden. Tetapi sebenarnyalah bahwa akhir-akhir ini memang terasa ada jarak
diantara mereka.”
“Mudah-mudahan tidak
timbul persoalan yang mendasar diantara mereka. Namun adalah kewajibanku untuk
mengetahui, ada apa sebenarnya diantara mereka itu.”
Sebenarnyalah saat itu,
Rembana dan Sasangka duduk di serambi gandok. Untuk beberapa lama mereka saling
berdiam diri. Namun kemudian Sasangkalah yang membuka pembicaraan “Rembana.
Sebelumnya aku minta kau jangan salah paham. Jangan menganggap aku orang lain
yang mencampuri urusan pribadimu. Aku adalah bukan hanya sekedar kawanmu. Tetapi
kau bagiku rasa-rasanya sudah bagaikan saudara kandung.”
Rembana berpaling. Dengan
kerut di dahi iapun bertanya “Ada apa Sasangka.”
“Sudah sejak beberapa
hari sebenarnya aku ingin mengingatkanmu, Rembana.”
“Apakah ada yang aku
lupakan?“
“Tidak. Kau telah
menjalankan tugasmu dengan baik.“
“Jadi, apa yang perlu kau
peringatkan?“
“Rembana, Aku bermaksud
baik. Jangan tuduh aku mencampuri persoalan pribadimu.“
Rembana termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun berkata
“Katakan, Sasangka.“
“Aku ingin membicarakan
hubunganmu dengan Raden Ajeng Rantamsari.“
“Hubunganku dengan Raden
Ajeng Rantamsari? Kenapa?“
“Selagi belum terlanjur
menjadi terlalu jauh.”
“Kenapa?” i
“Aku ingin menasehatkan,
agar kau mempertimbangkan kembali hubunganmu dengan Raden Ajeng Rantamsari. Pada
akhir-akhir ini aku melihat hubunganmu telah bergerak semakin akrab.
Sentuhan-sentuhan batin diantara kalian telah membuat hubungan kalian menjadi
khusus.“
Rembana menarik nafas
dalam-dalam. Katanya “Terima kasih atas perhatianmu, Sasangka. Tetapi jangan
hiraukan. Aku tidak beniat menolak uluran tanganmu serta niat baikmu. Tetapi
karena aku sudah dewasa penuh, biarlah persoalan itu aku selesaikan sendiri.”
“Aku hanya ingin
mengingatkan, agar kau tidak menjadi Kecewa dihari-hari mendatang.“
“Kecewa? Kenapa aku harus
Kecewa?“
“Kau harus berani melihat
ke dirimu sendiri.“
Rembana menarik nafas
panjang. Katanya “Aku mengerti, Sasangka. Kau tentu akan mengatakan, bahwa aku
adalah sekedar anak pedesaan. Anak yang dilahirkan dan dibesarkan di kaki bukit.
Ayahku dan ibuku adalah orang-orang dari kaki bukit itu pula. Sedangkan Raden
Ajeng Rantamsari adalah anak seorang Adipati, meskipun Kangjeng Adipati itu
sudah meninggal.“
“Ya. Aku tidak ingin kau
menjadi Kecewa di hari-hari mendatang. Seperti seseorang yang terbangun dari
sebuah mimpi yang indah, maka kau akan menjadi sangat Kecewa.“
“Kenapa aku harus
Kecewa”?
“Raden Ajeng Rantamsari
pada suatu saat tentu akan dinikahkan dengan seorang yang pantas untuk menjadi
suaminya. Mungkin seorang Adipati muda atau seorang putera Adipati. Bahkan
mungkin saja Raden Ajeng Rantamsari akan mendapat suami seorang ksatria dari
Istana Tegal Langkap.“
“Jika nasibku memang
seburuk itu, biarlah aku sandangnya Sasangka.”
“Sebenarnya kau tidak
perlu menunggu sampai kau mengalaminya Rembana. Mumpung belum terlanjur, kau
dapat berusaha untuk mencegahnya.“
“Terima kasih atas
kepedulianmu itu, Sasangka. Tetapi aku tidak berniat untuk menghindar sekarang.
Seperti orang yang akan maju kemedan perang. Aku sudah siap. Jika aku memang,
maka aku akan pulang dengan berbagai macam penghormatan. Bahkan bermahkotakan
gelar seorang pahlawan. Menikmati pujian dan kebanggaan. Tetapi jika aku kalah,
maka namaku akan tercemar. Orang lain akan berpaling jika berpapasan di jalan.
Bahkan dapat terjadi lebih buruk dari itu. Menjadi seorang tawanan perang yang
dihinakan. Dipekerjakan lebih buruk dari seorang budak. Atau dapat juga aku mati
dipertempuran. Tetapi aku sudah siap menghadapi semua kemungkinan itu. Aku siap
untuk menang. Tetapi akupun siap untuk kalah atau bahkan mati.“
“Kau keras kepala
Rembana.“
“Kau tahu itu Sasangka.
Aku memang orang yang keras kepala. Aku tidak mudah menerima pendapat orang
lain.”
“Tetapi persoalan ini
adalah persoalan yang gawat, Rembana. Aku minta kau mengerti.“
“Sasangka “ berkata
Rembana kemudian. Nada suaranya meninggi “Aku sudah dewasa penuh. Aku sudah
dapat memilih, manakah yang baik dan manakah yang tidak baik bagiku. Aku minta
kau tidak mencampurinya.“
“Itulah yang kau
kehendaki sekarang Rembana? Justru pada saat kau memerlukannya.“
“Tidak. Aku tidak
memerlukannya.“
“Kau sakit, Rembana.
Tetapi kau tidak mau mengakui, bahwa kau memerlukan pengobatan.“
“Sasangka. Kau sudah
terlalu dalam mencampuri persoalan yang sangat pribadi bagiku. Nasehatmu sudah
cukup.“
“Belum Rembana.“
“Bahkan sudah terlalu
banyak. Atau justru karena kau merasa iri?”
Sasangka terkejut,
sehingga tiba-tiba saja iapun bangkit berdiri “Rembana. Kau menganggap aku
menjadi iri?“
“Jika tidak, lepaskan aku
sekehendak hatiku. Kau tidak berhak mencampuri persoalan pribadiku. Mungkin aku
memerlukan bantuanmu dalam pertempuran antara hidup dan mati. Tetapi aku tidak
memerlukan pendapatmu dalam persoalan ini.”
Wajah Sasangka menjadi
merah. Namun sebelum ia menjawab dengan suara yang bergetar, ia melihat Wismaya
sudah berdiri di tangga serambi gandok itu.
“Wismaya“ desis Rembana.
“Aku mendengar sebagian
dari persoalan yang kalian bicarakan dari balik dinding sebelah. Maaf. Tetapi
aku sama sekali tidak sengaja mendengarkannya. Ketika aku ingin menemui kalian
berdua, aku mendengar pembicaraan kalian. Semakin lama menjadi semakin tajam.
Semula aku tindak ingin mencampurinya. Tetapi ketika aku akan pergi, aku justru
merasa menjadi bagian dari keberadaan kita semuanya di rumah ini.“
“Aku bermaksud baik “
berkata Sasangka.“Aku mengerti“ sahut Wismaya.
“Tetapi ia telah
mencampuri persoalan pribadiku terlalu dalam. Aku sudah mengatakan, bahwa aku
berterima kasih atas kepeduliannya. Tetapi selanjutnya, biarlah aku yang
memutuskan.”
“Memang kaulah yang harus
memutuskan. Tetapi Sasangka ingin memberikan pertimbangan kepadamu.“
“Sudah aku katakan. Aku
berterima kasih. Tetapi selanjutnya terserah kepadaku. Jika hubunganku dengan
puteri itu dianggap demikian aku akan terperosok kedalam lidah api, biarlah aku
terbakar sampai hangus. Sasangka tidak perlu menangisinya.“
“Jadi itukah arti
kesetia-kawanan bagimu Rembana.”
“Aku menghargai
kesetia-kawanan. Tetapi.tentu ada batasnya. Sampai kemana kau dapat memasuki
duniaku. Duniaku yang sangat pribadi ini.“
“Sudahlah Sasangka“
berkata Wismaya “niat baikmu memang harus dihargai. Tetapi kau memang tidak akan
dapat memasuki dunia Rembana sampai sedalam dalamnya.”
“Aku hanya ingin mencegah
sebelum terjadi mala-petaka padanya.”
“Aku mengerti. Tetapi
Rembana bukan kanak-kanak lagi. Biarlah ia memilih, jalan manakah yang akan di
laluinya.“
“Apakah aku harus
membiarkannya memilih jalan sesat?"
“Kau sudah
memperingatkannya, Sasangka. Jika ia masih saja ingin berjalan lewat jalan itu,
kita tidak dapat berbuat apa-apa.“
“Aku tidak akan
membiarkannya.“
“Sasangka“ suara Wismaya
menjadi berat “sejauh mana hak kita mencampuri persoalan-persoalan orang lain
yang sangat pribadi. Kita dapat menunjukkan niat baik ktia, kepedulian kita.
Sesudah itu, terser ah kepadanya. Karena itu, sudahlah. Biar Rembana sendiri
yang memutuskannya.“
”Jadi itu nasehatmu
Wismaya.“
“Jangan salah paham. Aku
tidak menasehatimu. Aku ingin melerai persehsihanmu dengan Rembana.”
“Aku tidak berselisih.
Tetapi aku ingin mencegah Rembana terperosok kedalam kepedihan dikemudian hari.”
“Aku sudah mengucapkan
terima kasih, Sasangka “sahut Rembana“ “tetapi yang kau lakukan bukan
memperingatkan aku. Tetapi kau justru memaksakan kehendakmu.”
“Untuk kepentinganmu
sendiri Rembana.”
“Sudah aku katakan,
jangan hiraukan aku. Bahkan seandainya aku akan lebur menjadi debu.”
“Kau menyinggung
perasaanku.”
“Sudahlah, Sasangka. Ia
memang berhak menentukan, apa yang terbaik menurut pikirannya. Kita hanya akan
menjadi penonton.”
“Itu bukan sikap sahabat
yang baik. Aku harus berani mengatakan yang baik dan yang buruk baginya,
meskipun ia sendiri tidak menyukainya.”
“Kau benar Sasangka.
Tetapi Rembana bukan kanak-kanak lagi.”
“Baik. Baik. Aku tidak
peduli lagi apa yang akan ter|adi padanya, Apapun yang akan terjadi.”
Sasangka tidak menunggu
jawaban. Iapun segera melangkah pergi meninggalkan Rembana dan Wismaya.
“Sasangka, Sasangka.
Kaulah yang salah paham.”
Sasangka masih mendengar
Wismaya memanggilnya. tetapi ia tidak menghiraukannya lagi.
Wismaya menarik nafas
panjang. Ketika ia berpaling kepada Rembana, maka dilihatnya mata Rembana yang
merah. Agaknya Rembana harus menahan kemarahan yang telah membakar jantungnya.
“Sasangka sudah menjadi
gila. Ia merasa iri melihat hubunganku dengan Raden Ajeng Rantamsari.”
“Ia bukannya menjadi iri,
Rembana. Maksudnya benar-benar baik. Aku sependapat dengan jalan pikirannya.
Tetapi aku tidak sependapat dengan sikapnya yang ingin memaksakan pendapatnya
itu kepadamu. Sebenarnya akupun ingin menyampaikan kepadamu sebagaimana di
katakan oleh Sasangka. Tetapi bagiku, segala sesuatunya terserah kepadamu. Kau
sudah dewasa. Kaulah yang akan menjalaninya. Kaulah yang sudah berbicara dengan
Raden Ajeng Rantamsari, sehingga kaulah yang tahu sikapnya yang sesungguhnya.”
“Seperti kepada Sasangka,
akupun berterima kasih kepadamu Wismaya.”
“Tetapi bagiku, segala
sesuatunya terserah kepadamu. Aku adalah penonton lakon yang sedang kau
perankan. Aku sama sekali tidak berhak untuk menjadi dalang dalam lakon ini.”
“Terima kasih.”
Wismaya tidak menjawab
lagi. Tetapi iapun segera beranjak. Wismaya ingin mencari Sasangka dan berbicara
dengannya untuk meluruskan kesalahan-pahaman yang baru saja terjadi.
Tetapi Wismaya tidak
dapat menemukan Sasangka di halaman rumah itu.
Sasangka memang keluar
lewat regol halaman depan. Ia berjalan saja menelusuri jalan didepan rumah Raden
Ayu Prawirayuda.
Ketika langit menjadi
gelap, Sasangka berdiri di ujung jalan bulak, diluar gerbang padukuhan.
Dipandanginya langit yang semakin lama semakin gelap. Sisa cahaya matahari tidak
lagi nampak diujung gunung dan di bibir mega-mega yang mengambang, seakan
tersangkut di lambung gunung.
Sasangka berdiri
termangu-mangu. Diletakannya satu kakinya diatas sebuah batu yang agak besar
yang terletak di tanggul parit yang mengalir di pinggir jalan, dibawah sebatang
pohon turi yang sedang berbunga, Bunganya yang putih masih nampak lamat-lamat
tersembul dari keremangan ujung malam.
Namun Sasangka yang
memandangi ujung gunung itu tidak menyadari, dua orang sedang mengamatinya dari
balik semak-semak di pinggir jalan bulak.
“Orang itu salah seorang
dari senapati yang berada di Panjer”
“Apa benar Ki Lurah Sura
Branggah “ desis yang lain.
“Aku tidak akan salah
lagi. Sejak beberapa hari aku berusaha mengenali mereka dengan baik. Satu demi
satu. Apalagi anak muda yang bernama Madyasta, putera Kangjeng Adipati
Prangkusuma itu.”
“Kalau begitu, marilah,
kita habisi saja orang itu.”
“Kita berdua?”
“Ya “
Sura Branggah termangu
mangu Sementara itu kawannyapun berkata “Ki Lurah Sura Branggah adalah orang
yang dikenal sebagai seorang vang berilmu tinggi. Ki Lurah tentu akan dapat
membunuh tikus kecil itu.”
“Ya. Hanya tikus kecil.
Selesaikan orang itu, aku menunggumu disini.”
“Aku?”
“Ya. Bukankah ia tidak
lebih dari tikus kecil?”
“Tetapi yang namanya
dikenal semua orang Kateguhan dan Paranganom adalah KI Lurah Sura Branggah.”
“Yang penting bukan
dikenal atau tidak dikenal. Yang penting orang itu mati. Ia adalah salah satu
dari senapati yang menurut Ki Tumenggung Reksadrana harus dibunuh, karena orang
itu ikut bertanggung jawab atas kematian putera Ki Tumenggung itu.”
“Ya. Orang itu harus
dibunuh.”
“Nah. Karena itu
bunuhlah.”
“Ki Lurah sajalah yang
membunuh. Agar kerja kita lekas selesai.”
“Aku perintahkan
kepadamu.”
“Jangan begitu ki Lurah.
Tetapi bagaimana jika kita lakukan bersama-sama.”
“bocah edan. Kita akan
dapat terperosok kedalam kemungkinan terburuk. Agaknya memang belum waktunya
kita membunuhnya sekarang.”
“Mumpung ia sendiri, Ki
Lurah.”
“Otakmu memang otak
kerbau. Jika kita gagal, maka rencana yang sudah kita susunpun akan gagal pula
semuanya. Kita harus memilih saat terbaik untuk membunuhnya. Bahkan mungkin
justru dihalaman rumah Raden Ayu Prawirayuda itu sendiri.”
Kawannya terdiam.
Sebenarnyalah iapun merasa ragu, apakah berdua mereka akan berhasil seandainya
mereka memutuskan untuk mencoba membunuh anak muda itu.
Namun ketika keduanya
kembali memandang kearah senapati muda itu, maka yang nampak adalah dua orang.
Selain Sasangka, ditempat itu hadir pula Wismaya.
“Marilah kita kembali ke
rumah Raden Ayu” ajak Wismaya.
“Aku ingin mendinginkan
jantungku dahulu Wismaya.
“Nanti kita akan dicari.
Waktunya makan malam sudah tiba.”
“Aku masih belum dapat
meredakan gejolak di dadaku jika aku bertemu dengan Rembana nanti.”
“Kau bukan kanak-kanak
lagi, Sasangka” Sasangka menarik nafas dalam-dalam.
“Selebihnya, aku juga
ingin menjelaskan maksudku, agar kau tidak salah paham dengan ucapan-ucapanku
itu.”
“Tidak. Aku tidak merasa
salah paham. Aku mengerti sepenuhnya maksudmu itu, Wismaya.”
“Jika demikian, jangan
menunggu Raden Madyasta mencari kita.”
Sejenak kemudian Wismaya
dan Sasangka itupun telah hilang dibelakang pintu gerbang.
“Ternyata nyawa kita
masih akan panjang” desis kawan Ki Sura Branggah itu.
“Kenapa?”
“Jika kita tadi
benar-benar menyerang, senapati muda itu, maka kita akan segera berhadapan
dengan dua orang senapati muda yang berilmu tinggi itu”
“Bukankah dengan demikian
dua orang diantara empat sasaran kita sudah kita selesaikan hari ini?”
“Sura Branggah memandang
orang itu dengan tajamnya. Dengan geram iapun bertanya. “Apa?. Dua sasaran kita
akan terbunuh?”
Namun tiba-tiba kawannya
itu tertawa tertahan. Katanya “Ya. Merekalah yang membunuh sasaran mereka. Dua
orang.”
“Gila kau.”
“Bukankah aku bersama Ki
Sura Branggah?”
“Kau mencoba menghina
aku. Aku cekik kau sampai mati.”
“Jangan marah Ki Lurah.
Jika kau bunuh aku, maka kau kehilangan seorang pengikut yang berilmu tinggi “
“Huh” Ki Sura Branggah
tidak menjawab. Namun iapun segera melangkah pergi.
Sambil tertawa tertahan
pengikutriya itupun berlari-lari kecil, mengikuti Ki Sura Branggah di
belakangnya.
Di rumah Raden Ayu
Prawirayuda, suasananya memang nampak sedikit berubah. Tetapi Wismaya dan Raden
Madyasta berusaha agar Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari tidak
segera merasakan perubahan itu.”
Karena itu, ketika mereka
makan malam di ruang dalam, Wismaya yang pendiam serta Raden Madyasta lebih
banyak mengisi waktu dengan pembicaraan-pembicaraan yang memang berbeda dengan
cara Rembana berbicara pa da saat-saat seperti itu.
Hanya sekali-sekali saja
Rembana dan Sasangka ikut terlibat dalam pembicaraan yang memang nampak lebih
bersungguh-sungguh itu.
Raden Ayu Prawirayuda
nampaknya memang tidak menangkap perubahan suasana yang terjadi di rumahnya.
Tetapi agak berbeda dengan Raden Ajeng Rantamsari. Ia melihat perubahan yang
terjadi pada Rembana. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari tidak tahu apakah yang
menyebabkannya.
Setelah makan malam, maka
Raden Madyasta serta para senapati muda itupun segera kembali ke gandok.
Beberapa saat mereka duduk di serambi. Namun Sasangka dan Rembanapun segera
masuk ke dalam bilik mereka masing-masing.
Tetapi sesaat kemudian,
Rembanapun telah keluar pula dari biliknya. Seperti biasanya ia membawa
pedangnya yang tergantung di lambungnya.
“Aku bertugas di belakang
malam ini Raden berkata Rembana, aku akan berada di serambi belakang.”
“Baik, kakang” jawab
Raden Madyasta “hati-hatilah.”
“Ya, Raden. Marilah
Wismaya.”
“Aku akan menggantikanmu
tengah malam nanti”
“Sebaiknya kau tidur saja
sekarang.“ Wismaya tersenyum. Katanya “Ya. Sebentar lagi. Bukankah kita baru
saja makan?“
Rembana mengangguk. Namun
wajahnya tidak nampak cerah seperti biasanya.
Sejenak kemudian, maka
Rembanapun telah hilang dibalik kegelapan. Sinar cahaya lampu di pendapa tidak
dapat menggapai-gapainya lagi ketika ia menyelinap di belakang gandok. Rembana
tidak pergi ke serambi belakang lewat longkangan di belakang pintu seketeng.
Tetapi Rembana memilih melingkari rumah raden Ayu Prawirayuda yang besar itu.
Yang kemudian duduk
diserambi tinggal Wismaya dan Raden Madyasta. Namun Wismayapun memberikan
isyarat kepada Raden Madyasta untuk turun dan berjalan melintasi halaman.
“Sasangka tentu belum
tidur“ berkata Wismaya. Raden Madyasta mengangguk-angguk.
“Mungkin ia tidak dapat
tidur malam ini.“ .
“Ya.”
Wismayapun kemudian
mengulangi lagi ceriteranya tentang perselisihan antara Sasangka dan Rembana
yang serba sedikit sudah dilaporkannya kepada Raden Madyasta.
“Sayang sekali, bahwa
perselisihan itu harus terjadi.”
“Ya, Raden.“
“Menurut kakang Wismaya,
apakah Sasangka benar-benar ingin memperingatkan Rembana dengan jujur atau
justru karena Sasangka merasa iri hati?“
Wismaya menarik nafas
dalam-dalam. Katanya kemudian “Sulit bagiku untuk mengetahui Raden. Tetapi
menurut pengenalanku atas Sasangka, ia bukan seorang yang dengki. Sasangka
memang kadang-kadang ingin memaksakan pendapatnya kepada orang lain.“
“Jadi, menurut kakang
Wismaya, Sasangka berkata dengan jujur. Tetapi caranya yang telah menyinggung
perasaan kakang Rembana.“
Wismaya termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun bergumam seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri
“Ya. Mungkin sekali, Raden.“
“Baiklah, kakang. Besok
aku akan berbicara dengan keduanya. Aku tidak ingin tugas kita kali ini membawa
perpecahan diantara mereka yang sebelumnya bersahabat.“
“Ya, Raden.“
Jika perlu, maka harus
ada diantara kita yang meninggalkan rumah ini. Ayahanda dapat memerintahkan
orang lain untuk menggantikan tugas kita disini.“
Wismaya
mengangguk-angguk, sementara Raden Madyastapun berkata selanjutnya “Jika perlu
kami bersama-sama ditarik dari tugas ini, agar tidak menimbulkan persoalan baru.
Ayahanda dapat membuat alasan yang masuk akal. Misalnya pergantian tugas karena
kakang Wismaya, kakang Sasangka dan kakang Rembana sudah terlalu lama
meninggalkan barak masing-masing. Dengan demikian, terutama bagi orang lain
diluar kita berempat, tidak mereka-reka persoalan yang timbul di rumah ini.
Berbeda jika seandainya ayahanda hanya memindahkan satu atau dua orang diantara
kita berempat.“
“Raden benar“ Wismaya
mengangguk-angguk “jika yang ditarik dari tugas ini hanya satu atau dua orang,
maka akan ada masalah yang timbul di rumah ini. Apalagi masalah itu memang sudah
ada. Seperti bunga api sepereik dan jatuh diatas alang-alang kering. Kabar itu
akan segera membakar daerah ini, terutama dilingkungan keprajuritan.“
“Bukankah dengan demikian
akan dapat menjadi setitik noda yang mengotori nama prajurit Paranganom?“
Wismaya
mengangguk-angguk.
Ketika malam menjadi
semakin dalam, maka keduanyapun duduk di atas sebuah lincak panjang di sudut
halaman rumah itu. Pembicaraan mereka justru menjadi berkepanjangan, sehingga
Wismaya tidak lagi ingat, bahwa lewat tengah malam ia akan bertugas menggantikan
Rembana yang berada di halaman belakang.
Baru menjelang tengah
malam, Raden Madyasta sempat mengingatkan “Kakang Wismaya tidak beristirahat
dahulu? Sebentar lagi tengah malam. Kakang harus menggantikan kakang Rembana.“
“Sudah tanggung, Raden.
Jika aku berbaring sekarang, maka baru esok pagi aku bangun.“
Raden Madyasta tersenyum.
Katanya “Jika demikian, sebaiknya kakang Wismaya justru mempersiapkan diri.“
Malam ini Sasangka akan
menggantikan Raden Madyasta mengawasi bagian depan rumah ini.
“Ya. Mudah-mudahan
Sasangka sempat tidur meskipun hanya sebentar.“
Sulit baginya untuk
tidur. Tetapi untunglah bahwa tugas mereka tidak bersamaan sesudah tengah malam.
Jika tidak ada orang lain yang sempat mengawasi, maka perselisihan itu akan
dapat terjadi lagi.“
Keduanyapun kemudian
bangkit berdiri dan melangkah ke gandok sebelah kanan.
Namun ketika mereka
sampai di tangga gandok, mereka melihat Rembana muncul dari kegelapan. Namun
langkahnya nampak gontai.
Bahkan ketika ia berdiri
di sudut gandok, tangannya berpegangan erat-erat.
“Kakang Rembana.”
Raden Madyasta itupun
segera berlari mendekati Rembana disusul oleh Wismaya.
“Ada apa kakang?”
bertanya Raden Madyasta dengan suara bergetar.
Rembana tidak dapat
bertahan berpegangan sudut gandok itu lagi. Tetapi ketika ia akan jatuh
terjerembab, Raden Madyasta dengan cepat menangkapnya.
Raden Madyasta terkejut
ketika tangannya menyentuh cairan yang hangat pada tubuh Rembana. Bahkan
kemudian, Raden Madyasta itu melihat sebuah pisau belati tertancap di lambung
sebelah kiri.
“Apa yang terjadi,
kakang?” bertanya Raden Madyasta dengan jantung berdebaran.
Pada saat itu pula,
Sasangka berlari-lari keluar dari biliknya.
“Apa yang terjadi?“
Sebelum Wismaya dan Raden
Madyasta menjawab, Sasangkapun telah menghambur menuruni tangga gandok
sebelah.kanan. Iapun kemudian berjongkok pula disisi Rembana, disebelah Raden
Madyasta, sementara Wismaya berjongkok di sisi yang lain.
“Kakang Rembana. Apa yang
terjadi?”
“Rembana, katakan. Apa
yang terjadi? Siapakah yang menusuk lambungmu?” bertanya Wismaya pula.
Rembana menggeleng.
Suaranya menjadi sangat dalam ”Aku tidak dapat melihatnya, Raden.”
“Kau tidak sempat melawan
sama sekali?”
Rembana menggeleng.
Suaranya menjadi bertambah lirih “Tiba-tiba saja dari dalam kegelapan seseorang
menusuk lambungku. Dengan cepat pula ia menghilang. Aku tidak dapat mengenali
wajahnya dalam kegelapan. Apalagi sebagian dari wajahnya itu tertutup oleh ikat
kepalanya.
“Bertahanlah, Rembana “
desis Raden Madyasta. Lalu katanya “
Kakang Sasangka. Tolong,
panggil seorang tabib yang tinggal didekat rumah ini agar ia dapat merawat
kakang Rembana untuk sementara. Sementara itu biarlah tabib kadipaten di panggil
pula kemari.”
Tetapi Rembana
menggeleng. Katanya ”Tidak. Tidak ada gunanya lagi Raden.”
“Kakang, kakang.”
Nafas Rembana menjadi
semakin sendat, sehingga akhirnya berhenti sama sekali.
“Kakang, kakang.”
Tetapi Rembana sudah
tidak mendengar lagi.
Malam itu, kesibukan yang
luar biasa telah terjadi di rumah Raden Ayu Prawirayuda. laporanpun segera
sampai ke kadipaten. Pasukan di barak yang dipimpin oleh Rembanapun dengan cepat
bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Rembana telah gugur dalam
menjalankan tugasnya. Malam itu, Raden Wignyana telah berada di rumah Raden Ayu
Prawirayuda pula.
“Dimas “ desis Raden
Madyasta.
“Aku mendapat perintah
dari ayahanda untuk melihat keadaan di rumah bibi ini, kangmas.”
“Inilah yang terjadi
dimas .”
“Bukankah kakang Rembana
seorang senapati muda yang mumpuni? Kenapa begitu mudahnya kakang Rembana
terbunuh disini?”
“Itulah yang harus kita
eari sebabnya, dimas.”
“Pembunuh kakang Rembana
tentu seorang yang memiliki ilmu yang tinggi pula. Setidak tidaknya setataran
dengan kakang Rembana. Orang itu hanya mempunyai kelebihan licik, curang dan
tidak tahu malu”
“Aku sependapat dimas.
Orang itu tentu licik dan curang.”
“Aku mendapat perintah
dari ayahanda untuk segera kembali dan memberikan laporan terperinci. Besok
pagi-pagi ayahanda akan datang kemari.”
Dalam pada itu,
Wismayapun sempat berbisik ditelinga Raden Madyasta “Untunglah, bahwa tidak ada
yang tahu, apa yang terjadi antara Rembana dan Sasangka. Jika saja ada yang
mengetahuinya, maka tentu akan segerai tersebar kabar buruk yang langsung
menghakimi Sasangka.”
“Ya“ Raden Madyasta
mengangguk angguk dengan kerut di kening Raden Madyastapun bertanya Tetapi
bagaimana menurut pendapatmu, kakang?”
“Aku belum dapat berkata
apa-apa tentang peristiwa ini, Raden. Aku melihat Sasangka menjadi sangat
murung. Mungkin ia merasa, bahwa kita telah menuduhnya.”
Malam itu, sekelompok
prajurit telah berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda atas perintah Ki Tumenggung
Sanggayuda. Tetapi yang ditugaskan adalah dari pasukan pengawal, yang dipimpin
oleh Ki Lurah Adisana dan berada langsung dibawah perintah Tumenggung
Sanggayuda.
Dalam pada itu, Raden
Ajeng Rantamsari masih saja menangis di pangkuan ibunya. Rembana, seorang anak
muda yang sangat menarik baginya, telah tiada. Sebuah pisau belati menaneap di
lambungnya.
“Kenapa hal ini harus
terjadi, ibu?“ bertanya Raden Ajeng Rantamsari.
“Kita tidak dapat
menentang garis pepesten, Rantamsari.“
“Tetapi kakang Rembana
masih terlalu muda untuk meninggal.“
“Apapun yang kita
inginkan terhadap seseorang, tetapi yang akan terjadi atasnya, terjadilah. Tidak
seorangpun mampu mencegahnya.“
“Sejak kemarin sore, aku
melihat sesuatu yang lain pada kakang Rembana, ibu. Kakang Rembana lebih banyak
diam. Sekali-sekali saja tersenyum. Bukankah biasanya ia selalu cerah. Banyak
berbicara dengan kelakarnya yang segar?“
“Ya, Rantamsari.“
Seolah-olah kakang
Rembana tahu apa yang akan terjadi semalam.“
Mungkin firasat itu telah
menyentuhnya, Rantamsari. Tetapi Rembana tidak mampu mengurainya, sehingga yang
terjadi itu tidak terbayangkan sebelumnya.“
Rantamsari mengusap
matanya yang selalu basah.
Seperti yang dikatakan
oleh Wignyana, maka pagi itu, Kangjeng Adipati Prangkusuma telah hadir di rumah
Raden Ayu Prawirayuda. Demikian pula keluarga Rembana yang semalam sudah diberi
tahu pula apa yang telah terjadi.
Di rumah Raden Ayu
Prawirayuda, ibu Rembana itu sempat pingsan. Tidak hanya sekali. Tetapi dua tiga
kali.
“Anak yang baik“ berkata
ibunya disela-sela tangisnya “ia adalah tumpuan harapan keluarga kami.“
“Sudah, Nyi“ ayah Rembana
mencoba menghiburnya “Yang Maha Agung menghendakinya kembali ke sisinya. Yang
terjadi itu adalah diluar kemampuan siapapun juga untuk mencegahnya.:”
Tetapi ketika tangis ibu
Rembana itu mereda, maka justru ayahnyalah yang pergi ke pakiwan untuk mencuci
mukanya. Matanya menjadi merah karena.laki-laki itu tidak dapat menahan
tangisnya.
Kangjeng Adipati telah
memanggil Madyasta, Wismaya dan Sasangka bertiga didalam bilik yang khusus.
“Bagaimana menurut
pendapatmu, Madyasta?“
“Hamba belum dapat
mengatakan apa-apa ayahanda.“
Apakah aku perlu menambah
beberapa orang senapati untuk bertugas disini? Semula tugas ini dianggap tugas
yang aneh, yang tidak perlu harus dilakukan oleh senapati pilihan. Tetapi
temyata seorang dari senapati pilihan itu justu telah terbunuh disini.“
Bab 22 - Ancaman Paman
MADYASTA, Wismaya dan
Sasangka saling berpandangan sejenak. Namun Wismaya dan Sasangka kemudian
menundukkan wajahnya.
Madyastalah yang kemudian
menjawab “Untuk sementara tidak perlu ayahanda. Hamba, kakang Wismaya dan kakang
Sasangka akan melaksanakan tugas ini sebaik baiknya, Kami bernial memancing
orang yang lelah membunuh kakang Rembana untuk kembali lagi. Jika yang bertugas
disini bertambah, mungkin ia tidak akan berniat untuk datang lagi.
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian Kangjeng Adipati itupun berkata “Tetapi
berhati-hatilah. Kalian tahu, bahwa orang ib tentu orang yang berilmu tinggi.
Mereka dapat membunuh seorang Senapati pilihan tanpa sempat mempertahankan diri.
Selain berilmu tinggi, orang itu tentu juga seorang yang licik, yang tanpa
segan-segan menyerang dari belakang.“
“Ya, Ayahanda “
“Aku tidak ingjn jatuh
lagi korban diantara kalian.“
Madyasta menarik nafas panjang. Wismaya dan Sasangka masih saja menunduk
dalam-dalam.
Hari itu juga sebelum
dimakamkan, atas permintaan anak buahnya, Rembana telah dibawa ke baraknya
Dengan penghormatan penuh, jenazah Rembana dilepas ke makam.
Diwajah para prajuritnya
membayang kemarahan yang bergejolak didalam dada mereka. Namun Ki Tumenggung
Wiradapa sempat meredakan perasaan mereka. Katanya “Bukan hanya kalian yang
berduka, tetapi seluruh kadipaten ini, termasuk Kangjeng Adipati Prangkusuma. Ki
Lurah Rembana adalah Senapati muda yang penuh harapan dimasa mendatang.
Tiba-tiba saja umurnya telah direnggut dengan eara yang sangat licik. Kami
berjanji untuk pada suatu saat menemukan pembunuh Ki Lurah Rembana.“
Para prajuritnya
mendengarkannya sambil berdiam diri. Tetapi gigi mereka terkatub rapat. Mereka
harus menahan gejolak di hati.
Namun para pemimpin
kelompok yang sudah lebih tua, berusaha juga untuk meredam kemarahan para
prajuritnya. Se-orang pemimpin kelompok yang sebagian kumisnya Sudah memutih
bertanya “Kalian marah kepada siapa? Jika kita ingin membalas dendam atas
kematian Ki Lurah, siapakah sasaran kita?“
Para prajurit itupun
terdiam. Mereka memang tidak lahu, kepada siapa mereka mendendam.
“Kita harus mempergunakan
nalar kita. Bukan hanya perasaan kita” berkala pemimpin kelompok itu.
Demikianlah, sebuah iring
iringan yang panjang mengantar Rembana ke makam. Selain keluarganya, maka
sepasukan prajurit ikut pula mengatarnya Kedua putra Kangjeng Adipati, Madyasta
dan Wignyana ada diantara para pengiring itu. Mereka berjalan bersama Wignyana
dan Sasangka yang kelihatan murung.
Berita tentang kematian
seorang Senapati muda di rumah Raden Ayu Prawirayuda segera merjdi pembicaraan,
terutama diantara para prajurit. Yang tersinggung tidak hanya para prajurit,
anak buah Ki Lurah Rembana. Tetapi para prajurit Paranganom merasa tersinggung.
Jika bibit-bibit
permusuhan sudah terasa ada diantara orang-orang Paranganom dan orang-orang
Kateguhan, maka kematian Ki Lurah Rembana, rasa-rasanya seperti angin yang
bertiup mengipasi bara api disetumpuk kayu.
Dalam pada itu, Madyasta
tetap pada pendiriannya ketika sekali lagi Kangjeng Adipati memanggilnya dan
mempertanyakan kemungkinan untuk memperkuat pengamanan di rumah Raden Ayu
Prawirayuda
“Jika penjagaan di rumah
itu diperkuat, maka akibatnya orang-orang membunuh kakang Rembana tidak akan
beranii datang lagi ayahanda. Biarlah hamba bersama kakang Wismaya dan kakang
Sasangka bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk di rumah bibi
Prawirayuda.“
“Tetapi kau harus sangat
berhati-hati, Madyasta “
“Ayah anda mencemaskan
hamba ?“
Kangjeng Adipati menarik
nafas panjang. Katanya “ Apakah ada ayah yang tidak mencemaskan keadaan anaknya
jika ia berada di satu lingkungan yang berbahaya ?“
“Hamba mengerti,
ayahanda. Tetapi hamba berjanji untuk berhati-hati.“
“Ki Lurah Wismaya dan Ki
I .urah Sasangka juga harus berhati-hati.
“Hamba ayahanda “
“Baiklah. Aku serahkan
segala sesuatunya kepadamu. Kau yang berada di medan, sehingga kau yang paling
mengenali keadaan medan itu.“
“Hamba mohon doa restu
ayahanda.”
“Madyasta“ berkata
Kangjeng Adipati dengan nada berat. “Nampak betapa Kangjeng Adipati itu menjadi
ragu. Sebenarnya Kangjeng Adipati masih belum ingin menyam-paikan ceritera yang
harus disesali dari sikap Raden Ayu Prawirayuda tentang anak gadisnya yang ingin
dipersandingkan dengan Kangjeng Adipati Yudapati. Tetapi dengan ke matian
Rembana, maka Kangjeng Adipati justru merasa perlu untuk berbicara dengan
Madyasta.
Madyasta merasakan
keragu-raguan ayahandanya. Setelah beberapa saat Madyasta menunggu, namun
Kangjeng Adipati tidak segera melanjutkan kata-katanya, maka Madyastapun
bertanya ”Ada yang meragukan hati ayahanda ?“
“Ya “ Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk “ tetapi baiklah. Mungkin ada baiknya kau mengetahuinya
sekarang. Mungkin dapat kau jadikan bahan pertimbangan pada saat kau melakukan
tugasmu, mengamankan rumah bibimu.”
“Hamba ayahanda.”
Kangjeng Adipati menarik
nafas panjang. Keragu-raguan masih terasa ketika Kangjeng Adipati itupun
kemudian meneeritakan apa yang pernah didengarnya dari Tumenggung Wiradapa dan
Tumenggung Sanggayuda
Raden Madyasta
mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sekali-sekali Madyasta mengerutkan
dahinya. Kemudian mengangguk-angguk kecil. Balikan kadang-kadang ia mengangkat
wajahnya. Namun Raden Madyasta tidak memotong kata-kata ayahandanya yang masih
diwarnai oleh kebimbangan itu.
Kangjeng Adipati menarik
nafas panjang ketika ia selesai menyampaikan keterangan sebagaimana didengarnya
dari kedua orang Tumenggung yang telah pergi ke Kadipaten Kateguhan itu.
“Apakah yang dikatakan
oleh painan Tumenggung itu benar, ayahanda?” bertanya Raden Madyasta.
Kangjeng Adipati
termangu-mangu sejenak. Rasa-rasanya Kangjeng Adipati itu baru saja melepaskan
beban yang terasa sangat berat bergayut di hatinya
“Madyasta “ berkata
Kangjeng Adipati kemudian aku tidak tahu, apakah yang terjadi juga sebagaimana
dikatakan Oleh kedua pamanmu Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda.
Tetapi kedua orang pamanmu itu mendengar keterangan dari Tumenggung Reksadrana
dihadapan Adipati Yudapati.”
Raden Madyasta
termangu-mangu sejenak. Dengan nada berat iapun berkata ”Apapun yang terjadi
ayahanda, peristiwa pengusiran bibi Prawirayuda dari Kateguhan merupakan
gam-baran keretakan keluarga di Kateguhan sepeninggal paman Adipati Prawirayuda”
“Ya. Akibatnya memang
akan terkait pada Kadipaten Paranganom karena kangmbok Prawirayuda sekarang
berada di Paranganom.”
“Ayahanda. Banyak
kemungkinan dapat terjadi. Mungkin apa yang dikatakan oleh Ki-Tumenggung
Reksadrana dihadapan kakangmas Adipati Yudapati itu tidak seluruhnya benar.
Tetapi tentu ada pula dasarnya Sehingga kebeneian orang-orang Kateguhan terhadap
bibi Prawirayuda tidak dapat segera dihapuskan.”
“Menurut dugaanmu, apakah
kakangmasmu Yudapati telah mengirim orang seeara khusus untuk membunuh Rembana ?
Lalu apa hubungannya kebeneian Yudapati dengan keberadaan Rembana di rumah
bibimu itu, sehingga Rembana harus disingkirkan.”
“Sasarannya tentu bukan
kakang Rembana, ayahanda. Tetapi sekedar untuk menakui nakuti dan menyakiti hati
bibi Prawirayuda yang dibeneinya itu.”
“Jika benar dugaan itu,
Madyasta. Maka kau, Sasangka dan Wismaya harus menjadi semakin berhati-hati.
Mungkin kematian Rembana masih belum memberinya kepuasan. Mungkin orang-orang
Kateguhan masih ingin menunjukkan kelebihannya. Kaulah yang harus menjadi lebih
berhati-hati.”-
“Maksud ayahanda,
hambalah yang akan menjadi sasaran berikutnya ?”
“Hanya sikap hati-hali,
Madyasta.”
“Hamba mengeni ayahanda.
Hlamba akan lebih berhati-hati.”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk. Sebenaniyalah bahwa ia memang mencemaskan Raden Madyasta.
Tetapi Madyasta bukan kanak-kanak lagi. Ia telah dibekali dengan kemampuan dalam
olah kanuragan. Madyastapun terus berlatih untuk melindungi dirinya sendiri.
Hari-haripun kemudian
dilalui dengan suasana yang muram di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden Ajeng
Rantamsari nampak masih berduka karena kepergian Rembana. Seorang anak muda yang
telah menarik perhatiannya.
Sementara itu, tinggal
tiga orang anak muda yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Namun ketiganya
adalah orang-orang yang telah mendapat tempaan lahir dan batin.
Dalam pada itu, sekali
lagi Raden Ayu Prawirayuda menawarkan bilik yang lebih baik kepada Raden
Madyasta yang berada di ruang dalam.
“Terima kasih, bibi.”
“Keeuali tempatnya lebih
pantas bagi angger Madyasta, bukankah angger akan lebih terlindung jika angger
berada di ruang dalam. Setidak-tidaknya angger tidak dapat diserang dengan eara
yang licik itu.”
Aku justru harus semakin
ketat mengawasi lingkungan
ini bibi. Biarlah aku tetap bersama para Senapati muda itu. Mudah-mudahan kami
akan dapat menemukan, siapa yang telah membunuh kakang Rembana.
“Tetapi kita tentu tidak
ingin ada korban yang lain, ngger.”
“Tentu bibi. Kami akan
berhati-hati.”
Raden Ayu Prawirayuda
tidak dapat memaksa Raden Madyasta untuk mempergunakan bilik di ruang dalam
meskipun Raden Ayu Prawirayuda telah mertunjukkan kekhawatirannya akan
keselamatan Madyasta.
Tetapi Raden Ayu
Prawirayudapun dapat mengerti, bahwa Raden Madyasta bukan seorang Senapati yang
akan mempergunakan gelar Gedong Minep jika ia berada di medan perang. Tetapi
Raden Madyasta tentu akan mempergunakan
gelar Garuda Nglayang atau bahkan Gajah Meta
Karena itu Raden Ayu
Prawirayuda membiarkan Raden Madyasta untuk menentukan sikapnya sendiri.
Meskipun demikian, Raden Ayu Prawirayuda masih juga berpesan “Aku mohon angger
selalu berhati-hati. Maaf ngger jika aku berpesan mewanti-wanti. Bukan karena
aku menganggap bahwa angger masih perlu diperingatkan. Tetapi sekedar
kekhawatiran orang tua”
“Terima kasih, bibi. Aku
tidak pernah merasa tersinggung atas peringatan yang bibi berikan.“
Sebenarnyalah bahwa Raden
Madyasta, Wismaya dan Sasangka menjadi semakin berhati-hati. Bahaya akan dapat
mengancam mereka setiap saat.
Dalam pada itu, Raden
Ajeng Rantamsari nampak menjadi kesepian. Ia tidak lagi dapat bereanda dengan
Rembana yang memang seorang yang selalu nampak riang.
Sekali-sekali untuk
mengatasi kesepiannya, Raden Ajeng Rantamsari sering berbincang dengan Wismaya
atau Sasangka Tetapi Wismaya terlalu pendiam bagi Raden Ajeng Rantamsari,
sehingga setiap kali mereka bertemu, Wismaya hanya menjawab pembicaraan Raden
Ajeng Rantamsari dengan kata sepatah-sepatah.
Raden Madyasta sendiri
nampaknya tidak mempunyai banyak waktu. Disiang hari kadang kadang Raden
Madyasta pulang ke kadipaten. Namun kadang sehari suntuk Raden Madyasta berada
di rumah bibinya bersama Wismaya dan Sasangka. Kadang-kadang mereka berada di
halaman depan. Namun kadang-kadang mereka berada di kebun belakang. Atau mereka
berada di tempat yang berbeda-beda serta mengisi kekosongan waktu dengan kerja
apa saja yang dapat mereka lakukan di rumah itu.
Ternyata Wismaya memiliki
ketrampilan khusus untuk membuat perabot dari bambu. Selama berada di rumah
Raden Ayu Prawirayuda, Wismaya sudah membuat tiga buah lineak bambu panjang yang
diletakkan di bawah sebatang pohon yang
rindang di halaman depan serta dua buah di kebun belakang,
Disiang yang terik,
kadang-kadang Wismaya sempal berbaring di lineak bambunya Bahkan kadang-kadang
Sasangka dan bahkan Raden Madyasta juga sering berbaring di siang hari,
disejuknya udara dibawah bayangan rimbunnya dedaunan.
Hari iiu terasa sepi.
Wismaya duduk diserambi gandok sendiri. Udara terasa panas, sehingga Wismaya
tidak mengatupkan bajunya Dadanya yang bidang nampak terbuka. Sehelai kipas
bambu dikibaskannya tidak henti-hentinya
Sasangkalah yang justru
berbaring di lineak bambu di kebun belakang. Di luar sadarnya, Sasangka
memandangi pintu butulan yang terbuka menuju ke longkangan samping yang menjadi
asri setelah Rembana menggarap longkangan itu menjadi semacam taman yang tidak
terlalu luas.
Dalam kesepiannya, Raden
Ajeng Rantamsari sering berada di serambi terbuka di longkangan itu sambil
membatik. Seperti ibunya, Raden Ajeng Rantamsari adalah seorang pembatik yang
telaten. Batikannya berkesan halus dan eermat, dengan isen-isenan yang rumit dan
lembut.
Di udara yang terasa
panas itu, Raden Madyasta tidak sedang berada di rumah bibinya. Raden Madyasta
tidak langsung minta diri kepada bibinya serta kepada Raden Ajeng Rantamsari,
tetapi Raden Madyasta hanya berpesan kepada Wismaya dan Sasangka bahwa ia akan
pergi ke kadipaten.
“Apakah ada yang harus
dilaporkan?“ bertanya Wismaya.
“Tidak” jawab Radon
Madyasta “Aku hanya ingin menghadap ayahanda”
“Wismaya dan Sasangka
tidak lerlalu banyak bertanya. Mereka memandangi anak muda itu keluar dari regol
halaman setelah berpesan “Berhati-hatilah, kakang.”
Sepeninggal Raden
Madyasta, Sasangka tidak kembali ke serambi gandok. Tetapi ia langsung pergi ke
kebun belnknng. Sementara Wismaya kembali ke serambi gandok
Meskipun diantara
keduanya tidak nampak ada pertikaian, tetapi keduanya menjadi kurang akrab sejak
kematian Rembana Seakan-akan kabut tipis berhembus diantara keduanya Namun
karena keduanya sudah ditempa oleh berbagai macam pahit manisnya kehidupan, maka
keduanya selalu mengendalikan perasaan mereka.
Karena itulah, maka
mereka memilih untuk berada ditempat yang berbeda. Pada saat-saat yang kosong,
jika mereka berbincang kesana-kemari, pembicaraan mereka akan dapat menyentuh
serabut yang paling halus didalam jantung mereka, sehingga akan dapat mengungkit
persoalan yang lebih gawat.
Silirnya angin membuat
mata Sasangka menjadi berat. Sementara dari sela-sela rimbunnya dedaunan,
Sasangka melihat matahari telah memanjat sampai ke puncak.
Namun ketika diluar
kehendaknya mata Sasangka terpejam, ia terkejut mendengar suara Raden Ajeng
Rantamsari agak keras
“Paman mengejutkan aku.“
Sasangka masih terbaring
di amben bambu di kebun belakang. Tetapi ia berusaha mendengar dengan
sungguh-sungguh suara Raden Ajeng Rantamsari, yang agaknya berada di serambi
terbuka yang menghadap ke taman kecilnya di longkangan.
Sebenarnyalah Raden Ajeng
Rantamsari terkejul ketika tiba-tiba saja Wicitra sudah berada di taman itu
pula.
“Maaf Rantamsari. Aku
tidak ingin mengejutkanmu.”
“Silahkan duduk paman.
Aku akan memanggil ibu.“
“Tidak. Itu tidak perlu.
Aku tidak ingin berbicara dengan ibumu. Tetapi aku ingin berbicara dengan kau,
justru di saat kau sendiri.“
“Tidak paman. Sebaiknya
aku memanggil ibu.“
“Ibumu mungkin sibuk
didapur. Meskipun ada pembantunya, namun biasanya ibumu sendirilah yang
menyiapkan makan bagi anak-anak muda yang ada di rumahmu ini.“
“Tetapi aku tidak dapat
menerima paman sendiri. Seandainya ibu sibuk, biarlah kesibukannya itu
ditinggalkannya lebih dahulu, agar ibu dapat menemui paman.“
“Dengarlah kata-kataku.
Kau tidak perlu menyampaikannya kepada ibumu. Kita dapat berbicara langsung. Kau
dan aku.“
“Tidak”
“ Ya. Kau tidak akan
pergi dari tempat ini “ suara Wicitra menjadi kasar.
Jantung Raden Ajeng
Rantamsari tergetar. Ketika ia memandang waiah pamannya, dadanya berdesir tajam.
Ia melihat ketegangan di wajah paniannya itu.
“Dengar Rantamsari”
berkata Wicitra kemudian “aku daiang untuk menjemputniu.”
“Menjemput aku? Apa yang
paman maksudkan?”
“Kau tentu sudah tahu,
bahwa aku tidak akan pernah membiarkan kau dimiliki oleh siapapun. Setelah kau
ditolak untuk mengabdikan dirimu, tubuhmu dan jiwamu kepada Kangjeng Adipati
Yudapati, maka ibumu telah membawamu kemari. Kau mulai dijajakan disini. Bahkan
ibumu mulai menurunkan harga dirimu. Jika semula ibumu menawar seorang Adipati,
maka kini ibumu puas dengan membiarkan kau berkasih-kasihan dengan
Senapati-senapati kecil yang tidak berarti apa-apa itu.“
“Paman. Paman telah
menyinggung perasaanku dan tentu juga ibu.”
Namun Wicitra itu
tertawa. Katanya “Kau dan ibumu tidak akan dapat ingkar lagi, Rantamsari. Karena
itu, daripada disini kau dijajakan oleh ibumu, sekarang, marilah. Ikut aku. Kau
akan menjadi isteriku. Aku akan dapat menuruti semua keinginanmu.”
“Paman. Aku adalah
kemanakan paman sendiri. Paman adalah adik ibuku.. Bagaimana mungkin keinginan
paman itu dapat terjadi ?“
“Kenapa tidak? Bukankah
keinginanku ini tidak segila keinginan ibumu di Kateguhan? Bukankah ibumu ingin
kau menjadi isteri saudaramu sendiri? Adipati di Kateguhan? Nah, sekarang kalian
harus menanggung akibatnya. Kalian justru diusir dari Kateguhan. Kalian tentu
berbohong kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom, kenapa kalian telah
diusir dari Kateguhan. Kalian tentu telah mengarang sebuah ceritera yang lain.”
“Cukup. Cukup paman.
Sebaiknya paman segera meninggalkan rumah ini.“
Wicitra tertawa. Katanya
“Aku akan pergi bersamamu, Rantamsari. Kau lebih baik menjadi isteri pamanmu
daripada menjadi isteri saudaramu sendiri.“
“Tidak. Itu bohong.”
“Bertanyalah kepada
ibumu, bagaimana ibumu membujuk Kangjeng Adipati Yudapati untuk memperisterimu.”
“Pergi. Pergi. Aku minta
paman segera pergi.”
“Marilah kita pergi
Rantamsari. Kita dapat keluar lewat pintu butulan dan hilang dikebun belakang.
Ibumu tidak akan mengetahuinya.”
“Tidak.”
Ketika Wicitra maju
selangkah, Raden Ajeng Rantamsari justru bergeser mundur beberapa langkah.
“Rantamsari“ berkata
Wicitra dengan nada tinggi “jangan menunggu kesabaranku habis. Selama ini aku
selalu menahan diri. Tetapi kau tidak pernah terlepas dari perhatianku. Karena
itu, marilah. Kita pergi sekarang.”
“Tidak. Tidak.”
“Rantamsari. Kesabaran
seseorang ada batasnya. Kesabaranku sekarang sudah sampai ke batas itu. Karena
itu, marilah. Jangan membantah lagi.”
“Aku dapat menjerit
paman.”
“Ibumu baru sibuk. Ibumu
yang ada didapur tidak akan mendengarnya. Atau“
Tiba-tiba saja Wicitra
telah menarik kerisnya. Katanya “Jika kau meneoba berteriak, maka aku akan
membunuhmu.”
“Bunuh aku paman. Aku
lebih baik mati daripada harus ikut paman.”
“Jangan berkata.begitu.“
“Aku bersungguh-sungguh.”
“Kau bersungguh-sungguh?”
“Ya.”
“Jadi kau memilih mati?”
“Ya.”
“Baik, Rantamsari. Aku
lebih senang melihat tubuhmu terkapar mati daripada melihat tubuhmu dimiliki
oleh orang lain. Karena itu, jika kau memang benar-benar tidak mau ikut
kepadaku, maka aku benar-benar akan membunuhmu.”
“Itu lebih baik, paman.
Bunuh aku.”
Ujung keris Wicitra
memang telah bergetar. Selangkah ia maju sambil berkata “Aku juga
bersungguh-sungguh, Rantamsari.”
“Lakukan, paman. Lakukan”
Jantung Wicitra terasa
bagaikan berdentangan. Wajahnya menjadi tegang. Matanya menjadi merah.
Sebenarnyalah bahwa
Wicitra hanya sekedar ingin menakut-nakuti Rantamsari. Tetapi ternyata
Rantamsari sama sekali tidak berubah sikap. Ia tetap pada sikapnya.
Kecewa dan marah berbaur
didalam dadanya. Dengan demikian, maka nalarnyapun menjadi kabur pula. Bahkan
akhimya Wicitrapun tidak mampu lagi menimbang keputusan yang diambilnya.
“Rantamsari. Jika kau
benar-benar menolak, maka aku akan sampai hati membunuhmu. Sudah aku katakan,
aku tidak mau melihat kau menjadi sisihan orang lain.”
Wajah Rantamsari menjadi
tegang. Ketika ia sempat melihat sekilas wajah Wicitra yang tegang, matanya yang
merah serta ujung keris yang bergetar, maka ketakutan yang sangat telah menerpa
jantungnya
Karena Itu, tanpa
menghiraukan akibatnya, seandainya ujung keris ilu menaneap didadanya, Raden
Ajeng Rantamsari sudah siap untuk menjerit.
Namun sebelum
dilakukannya, terdengar pintu butulan berderak menghentak. Sesosok tubuh
meloncat masuk ke dalam 1aman itu.
Wicitra terkejut. ia
bergesei surut. Sementara itu Raden Ajeng Rantamsari segera berlari kebelakang
orang yang baru saja memasuki taman.
“Tolong aku, kakang
Sasangka.”
“Kau” desis Wicitra “apa
kau tidak mempunyai kerja selain menunggui Rantamsari.”
“Apa yang akan Raden
lakukan?- bertanya Sasangka.
“Pergilah. Kau tidak usah
turut campur. Ini persoalan keluarga”
“Tidak. Ini bukan sekedar
persoalan keluarga” sahut Raden Ajeng Rantamsari.
“Seandainya persoalan ini
benar-benar persoalan keluarga, apakah aku akan membiarkan saja Raden membunuh.
Aku sudah mendengar apa yang Raden bicarakan dengan Raden Ajeng Rantamsari.
Karena itu, aku sudah mengetahui persoalan apa yang sebenarnya terjadi.”
“Sekarang pergilah.
Jangan campuri persoalan kami.”
“Apakah aku harus
membiarkan saja jika terjadi pembunuhan disini.
“Jika Rantamsari menuruti
keinginanku, aku tentu tidak akan membunuhnya. Aku memang mengancamnya dan
menakut-nakutinya Tetapi segala sesuatunya tergantung kepada Rantamsari, apakah
aku harus membunuhnya atau tidak.”
“Usir orang ini dari
taman kakang.”
“Kau dengar Raden.”
“Aku tidak peduli.”
”Radea Kami adalah
prajurit yang mendapat tugas untuk melindungi keluarga ini.”
“Kau harus melindungi
mereka dari kejahatan. Pencurian misalnya. Kau harus menjaga agar ayam yang
dipelihara kangmbok tidak dicuri orang. Kau juga harus menjaga jemuran di
belakang itu.”
“Raden menghina aku. Aku
bertugas untuk melindungi keluarga Raden Ayu Prawirayuda dari gangguan apapun
juga. Termasuk yang Raden lakukan sekarang ini.”
“Aku peringatkan kau
sekali lagi.”
“Aku yang memperingatkan
Raden agar Raden segera meninggalkan taman ini.”
Wicitra menjadi semakin
marah. Dengan suara yang bergetar iapun berkata “Jika kau tidak mau meninggalkan
taman ini, maka kaulah yang akan mati lebih dahulu.”
“Aku tidak dapat
meninggalkan tugasku. Meskipun aku tahu, siapakah Raden ini, tetapi aku tidak
mempunyai pilihan lain.”
Wicitra tidak menunggu
lebih lama lagi. Kerisnyapun segera merunduk. Selangkah demi selangkah ia
mendekati Sasangka yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
“Minggirlah Raden Ajeng”
desis Sasangka
Raden Ajeng Rantamsaripun
segera bergeser surut. Sementara itu Wicitrapun telah meloncat menyerang
Sasangka. Tetapi Sasangka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena
itu, maka iapun dengan tangkasnya mampu mengelakkan serangan itu.
Ketika Wicitra siap
menyerangnya pula, Sasangka telah menarik kerisnya yang selalu melekat
ditubuhnya kapan saja selama ia berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda, apalagi
setelah Rembana terbunuh.
Sejenak kemudian,
pertempuran yang sengit lelah terjadi. Keduanya adalah orang orang yang memiliki
ilmu yang linggi, Wicitra yang, merasa terganggu itu menjadi sangat marah.
Sedangkan Sasangka merasa bertanggungjawab atas keselamatan keluarga Raden Ayu
Prawirayuda, termasuk Raden Ajeng Rantamsari
Wicitra memang tidak
menduga, bahwa ternyata Sasangka, sebagaimana juga Rembana, memiliki ilmu yang
mampu mengimbanginya. Serangan serangannya tidak segera dapat mengenai
sasarannya, Kerisnya yang terayun-ayun mengerikan tidak segera mampu menyentuh
tubuh Sasangka.
Sebaliknya Sasangkapun
tidak mudah menggapai lawannya. Sasangka yang berloncatan sambil memutar
kerisnya, tidak segera mampu mengenai Wicitra yang bertempur dengan tangkasnya
Raden Ajeng Rantamsari
berdiri di serambi dengan tubuh yang gemetar. Ia tidak segera tahu, siapakah
yang akan meme-nangkan pertempuran itu. Ia hanya melihat kedua orang itu saling
mendesak. Sekali-sekali Sasangka harus bergeser surut. Namun kemudian Wicitralah
yang harus mengambil jarak.
Namun Wicitra mengumpat
kasar ketika ujung keris Sasangka sempat menyentuh lengannya. Tidak terlalu
dalam. Tetapi dibawah bajunya yang terkoyak, darah mulai mengembun di lukanya
“Gila kau anak muda”
geram Wicitra “aku akan mem-bunuhmu.”
Sasangka ndak menjawab.
Namun ketika Wicitra meningkatkan ilmunya, Sasangkapun berusaha untuk
mengimbanginya
Namun hentakkan ilmu itu
sempat mendesak Sasangka. Bahkan ujung keris Wicitra sempat tergores di bahu
Sasangka
Sasangka bergeser surut sambil menggeram. Ketika tangannya meraba bahunya terasa
eairan yang hangat membasahi telapak tangannya
“Kau akan mati” geram
Wicitra
Sasangka tidak menjawab.
Tetapi ia meloncat menyerangnya dengan mengerahkan segenap kemampuannya.
Wicitra terdesak surut.
Sasangka berusaha untuk menekan Wicitra sampai ke sudut longkangan.
Namun tiba-tiba saja
pertempuran itu berhenti ketika mereka mendengar suara Raden Ayu Prawirayuda
“Apa yang terjadi disini,
Rantamsari?”
Raden Ajeng Rantamsari
berpaling. Dilihatnya ibunya berdiri di depan pintu serambi.
Raden Ajeng Rantamsaripun
segera berlari serta memeluk ibunya sambil menangis.
“Paman, ibu.”
“Kenapa dengan pamanmu?”
“Paman memaksa aku pergi
bersamanya, ibu.“
“Kau lakukan itu Wicitra
?“
Wicitra berdiri
termangu-mangu. Nafasnya terasa bekejaran di hidungnya. Dengan nada datar ia
berkata “ Ya. Aku ingin membawa Rantamsari keluar dari kubangan ini.“
“Kubangan ? Apa yang kau
maksud ?”
“Rumah ini tidak pantas
menjadi lempat imggal Rantamsari. Seorang gadis yang seharusnya menjadi gadis
terhormat. Kangmbok sudah menjajakan Rantamsari disini dengan harga yang sangat
murah.“
“Kau tahu bahwa
kata-katamu itu melukai hatiku, Wicitra ?“
Wicitra tertawa katanya
“Kangmbok sudah melukai hatiku lebih dari seribu kali.“
“Itu karena pokalmu
sendiri.“
“Tidak. Tetapi aku justru
ingin menghentikan tingkah laku kangmbok yang tidak terkendali itu. Seharusnya
kangmbok menjaga nama-anak gadisnya dengan baik. Tetapi kangmbok justru
sebaliknya. Kangmbok sama sekali tidak menghargai nama anak gadisnya.“
“Kau masih juga mengigau
seperti itu, Wicitra. Kau kira apa yang kau katakan itu dipercaya orang.“
“Percaya atau tidak
percaya itu bukan urusanku, kangmbok. Aku hanya ingin mengatakan apa yang
sebenarnya terjadi di Kateguhan dan disini.“
“Cukup. Pergilah. Kau
tahu, bahwa kau harus pergi.”
Wajah Wicitra menjadi
semakin tegang. Sementara itu Raden Ayu Prawfirayudapun berkata “ Usir orang itu
pergi, ngger.“
Sasangka memandang Raden
Ayu Prawirayuda sejenak. Namun kemudian dipandanginya Wicitra sambil berkata
“Kau dengar, Raden. Kau harus pergi dari tempat ini.“
“Kau kira kau akan dapat
mengusirku ?“
“Jika aku tidak dapat
mengusir Raden, maka aku akan membunuh Raden.“
“Kau akan membunuh aku
sebagaimana kau membunuh kawanmu sendiri, Rembana, karena kau juga menginginkan
Rantamsari.“
“Darah Sasangka tersirap.
Dengan bibir yang gemetar Sasangka menjawab “ Raden jangan mengada-ada. Pergi
atau aku akan membunuhmu.“
Wicitra tidak menjawab.
Tetapi tiba-tiba saja ia menyergap Sasangka dengan kasar.
Tetapi Sasangka masih
sempat mengelak. Bahkan kerisnya terjulur dengan cepat pula, justru sempat
menggapai pundak Wicitra.
Wicitra terkejut. Ia
tidak menyangka bahwa Sasangka mampu bergerak secepat itu.
Dengan demikian, maka
Wicitrapun meloncat mundur. Namun Sasangka tidak memberinya kesempatan. Dengan
cepat Sasangkapun memburunya dengan keris yang bergetar.
Ketika keris Sasangka
terayun mendatar menebas kearah dada, Wicitra yang belum siap benar, menangkis
serangan itu. Demikian derasnya ayunan keris Sasangka, maka dalam benturan
senjata yang terjadi, terasa tangan Wicitra menjadi pedih.
Sementara itu Sasangka
telah menjulurkan kerisnya pula mengarah ke lambung.
Sebelum tangannya mapan,
Wicitra harus menangkis serangan Sasangka. Sementara itu Sasangka telah memutar
kerisnya, seakan-akan membelit keris Wicitra.
Tangan Wicitra yang masih
terasa pedih, tidak mampu menahan putaran keris Sasangka, sehingga keris Wicitra
itu
lepas dari tangannya.
Pada saat itu, terbuka
kesempatan bagi Sasangka untuk meloncat menyerang pada saat Wicitra tidak sedang
memegang senjata.
Namun terdengar suara
Raden Ayu Prawirayuda “Angger Sasangka.“
Sasangka yang sudah
hampir meloncat menikam dada Wicitra harus menahan diri.
“Wicitra” berkata Raden
Ayu Prawirayuda “ kau sadar, bahwa kau lidak dapal berbuat banyak disini.
Pergilah. Ambil kerismu atau aku biarkan Senapati muda ini membunuhmu.”
Kemarahan Wicitra
rasa-rasanya telah membakar ubun-ubunnya. Namun ia memang tidak dapat berbuat
apa-apa.
“Ambil kerismu dan pergi
dari rumah ini” berkata Raden Ayu Prawirayuda pula.
Wicitra itupun kemudian
telah memungut kerisnya. Namun kemudian ia melangkah surut sambil berkata
“Kangmbok jangan mengira bahwa aku telah dikalahkannya. Pada suatu saat aku akan
kembali untuk membunuhnya, membunuh Senapati yang seorang lagi serta membunuh
Madyasta. Tidak akan ada lagi orang yang dapat menahanku untuk mengambil
Rantamsari.“
Raden Ayu Prawirayuda
tidak menjawab. Dipandan-ginya Wicitra yang bergeser surut kearah pintu butulan.
“Kau jangan berbangga
dengan kemenangan kecil ini “ berkata Wicitra kepada Sasangka “ kemenangan yang
sebenarnva, akan diientukan pada bagian terakhir pertempuran diantara kita
berdua.“
“Aku akan menunggu,
Raden“ geram Sasangka. Jika saja Raden Ayu Prawirayuda tidak meneegahnya, maka
ia akan benar-benar berusaha membunuh Wicitra.
Sejenak kemudian, maka
Wicitrapun segera meninggalkan taman kecil itu.
”Terima kasih, ngger“
berkata Raden Ayu Prawirayuda kemudian “Untunglah bahwa angger Sasangka melihat
peristiwa ini dan sempat menolong Rantamsari. Aku berada di dapur. Semula aku
benar-benar tidak mendengar sesuatu terjadi disini. Baru kemudian, lamat-lamat
aku mendengar suara teriakan Rantamsari”
“Itu sudah menjadi
kewajibanku, Raden Ayu. Aku berada disini untuk menjaga keselamatan keluarga
ini.”
“Kenapa pendengaranku
sudah menjadi semakin buruk. Aku berada di dapur.Seharusnya aku mendengarnya
sejak semula.”
“Jaraknya memang agak
jauh, Raden Ayu. Ada beberapa sekat di ruang dalam, sehingga orang yang berada
di dapur, tidak dapat mendengar keributan yang terjadi disini.”
“Bagaimanapun juga
Wicitra adalah adikku, sehingga aku tidak dapat membiarkannya terbunuh. Tetapi
jika sekali lagi ia datang mengganggu Rantamsari, apaboleh buat.” . .
“Raden Wicitra tidak akan
datang lagi, Raden Ayu.”
“Tetapi apakah angger
Madyasta belum datang ?”
“Aku kira belum, Raden
Ayu.”
“Angger Wismaya ?”
“Tadi Wismaya berada di
gandok. Keributan disini memang tidak terdengar dari gandok seperti juga tidak
terdengar dari dapur.”
“Aku minta agar angger
Wismaya dan angger Madyasta diberitahu tentang peristiwa ini. Biarlah mereka
menjadi lebih berhati-hati.”
“Tetapi dapatkah kita
menghubungkan sikap Raden Wicitra ini dengan kematiaivRembana, Raden Ayu ?”
Raden Ayu Prawirayuda
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Raden Ayu itupun berkata “ Aku belum
dapat mengatakan apa-apa, ngger. Akupun tidak mau mendengar tuduhannya terhadap
angger Sasangka, bahwa justru angger Sasangkalah yang dikatakan membunuh angger
Rembana. Tetapi memang mungkin sekali ia berusaha untuk menghapus jejak dan
melemparkan tuduhan kepada oranglain.”
Sasangka terdiam. Ia
memang mendengar Wicitra justru menuduhnya telah membunuh Rembana.
Dalam pada itu, Raden
Ayupun kemudian berkata kepada Rantamsari “ Masuklah Rantamsari.”
Rantamsari menarik nafas
panjang. Dipandanginya Sasangka yang masih berdiri tegak dihadapaimya.
Sasangka sudah cukup lama
berada di rumahnya. Tetapi Rantamsari tidak pernah memperhatikannya dengan
sungguh sungguh. Baru saat itu ia seakan-akan melihat Sasangka seutuhnya.
Sejak para Senapati
bersama Raden Madyasta berada di rumahnya, perhatiannya langsung tertuju kepada
Rembana, sehingga ia tidak memperhatikan para Senapati yang lain.
Hampir diluar sadarnya,
Raden Ajeng Rantamsari itupun berdesis “ Terima kasih, kakang. Jika kau tidak
datang menolongku, aku tidak, tahu apa yang akan terjadi. Mungkin aku telah
diseret oleh paman Wicitra ketempat yang tidak diketahui. Tetapi mungkin aku
benar-benar telah dibunuhnya.”
“Aku hanya menjalankan
kewajiban Raden Ajeng.”
Raden Ajeng Rantamsari
mengangguk kecil Namun kemudian iapun berpaling kepada ibunya sambil berkata
“Ibu, aku benahi dahulu kain yang sedang aku batik itu.”
“Baiklah“ berkata ibunya
“seterusnya kau batik kainmu di longkangan sebelah dapur. Tempatnya lebih rapat.
Ibupun akan mendengar jika pamanmu datang lagi.”
“Ya, ibu.”
Demikian Raden Ayu
Prawirayuda masuk, Raden Ajeng Rantamsari segera memadamkan bara di anglo kecil
yang dipergunakannya untuk memanasi malam yang diper-gunakannya untuk membatik.
“Raden Ajeng“ berkata
Sasangka “biarlah aku berjaga-jaga di luar longkangan.”
“Jangan pergi, kakang.
Tunggulah sampai aku selesai. Aku menjadi ketakutan sendiri meskipun di
longkangan dan disiang hari pula. Paman Wicitra akan dapat benar-benar datang
lagi. Jika paman datang lagi, mungkin paman akan benar-benar membunuhku.”
Sasangka menarik nafas
panjang. Ia tidak dapat meninggalkan Raden Ajeng Rantamsari yang ketakutan.
Adalah diluar sadarnya
ketika Sasangka kemudian memperhatikan gadis yang sedang sibuk mengemasi kain
serta peralatan batiknya. Adalah diluar sadarnya pula bahwa Sasangka berkata
kepada dirinya sendiri dalam hatinya “ Gadis itu memang cantik.”
Sasangka terkejut ketika
Raden Ajeng Rantamsari berkata “Terima kasih, kakang. Aku akan membatik di
longkangan dalam, di sebelah dapur.”
“ O, silahkan. Silahkan
Raden Ajeng.”
Raden Ajeng Rantamsaripun
kemudian melangkah masuk ke ruang dalam sambil menjinjing gawangan dan kain yang
sedang dibatiknya serta peralatannya yang lain.
Sasangka menarik nafas
dalam-dalam.
Taman kecil itupun
menjadi sepi kembali. Beberapa gerumbul perdu yang tertata rapi, berantakan
terinjak-injak kaki mereka yang bertengkar.
“Biarlah besok aku benahi
setelah Raden Madyasta melihat keadaan ini “ berkata Sasangka didalam hatinya.
Sasangkapun kemudian
meninggalkan taman kecil di longkangan itu. Ia tidak kembali ke kebun belakang
untuk bebaring di lineak bambu yang dibuat oleh Wismaya. Tetapi Sasangka itupun
pergi ke serambi gandok untuk menemui Wismaya.
Bab 23 - Kekecewaan
Adipati
“Kau tidak mendengar
keributan yang terjadi di longkangan tadi ?“
“Apa yang terjadi ?“
Sasangkapun kemudian
telah menceriterakan apa yang terjadi di taman kecil itu.
“Kau terluka Sasangka “
berkata Wismaya kemudian.
“Tidak seberapa.“-
“Tetapi luka itu harus
diobati. Biarlah aku bantu kau mengobatinya.“
Wismayapun kemudian
mengobati luka Sasangka. Meskipun luka itu tidak parah, tetapi jika tidak
mendapat pengobatan yang baik, luka itu akan dapat membengkak dan menjadi
berbahaya.
“Beristirahatlah. Biarlah
aku mengawasi keadaan “ berkata Wismaya.
Sasangka mengangguk
kecil. Iapun kemudian masuk ke dalam biliknya dan kemudian membaringkan dirinya.
Udara di bilik itu tidak
sesejuk di halaman belakang. Silirnya angin tidak terasa. Bahkan udara di bilik
itu terasa panas. Sehingga karena itu, Sasangka tidak menjadi me-ngantuk seperti
saat ia berbaring di lineak bambu di halaman belakang.
Namun dengan demikian,
angan-angan Sasangka sempat berterbangan kian kemari dan hinggap di
tempat-tempat yang memancarkan keeeriaan sebagaimana sebuah mimpi yang indah.
Wismayalah yang kemudian
pergi ke halaman belakang. Seperti Sasangka, Wismayapun berbaring di amben bambu
yang telah dibuatnya. Tetapi Wismaya menjaga agar ia tidak tertidur oleh
sejuknya bayangan dedaunan yang rimbun serta semilirnya angin yang menerpa
tubuhnya.
“Kemana saja perginya
Raden Madyasta ini?“ bertanya Wismaya kepada dirinya sendiri “Apakah Raden
Madyasta akan berada di dalem kadipaten sehari penuh ?”
Namun agaknya Raden Ayu
Prawirayuda tidak sabar menunggu Raden Madyasta kembali. Raden Ayu Prawirayuda
telah mereneanakan untuk pergi menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma untuk
melaporkan tentang sikap dan tingkah laku adik laki-lakinya.
“Kenapa kita harus
memberitahukan kepada paman Adipati?“ bertanya Raden Ajeng Rantamsari “aku akan
menjadi malu sekali, ibu. Bukankah persoalan ini adalah persoalan kita sehingga
sama sekali tidak menyangkut paman Adipati Prangkusuma ?“
“Rantamsari. Apa yang
dieelotehkan pamanmu agaknya didengar pula oleh angger Sasangka. Sehingga lambat
laun pamanmu Adipati juga akan mendengarnya. Mungkin lewat angger Madyasta yang
akan mendapat laporan dari Sasangka. Karena itu, maka biarlah pamanmu mendengar
langsung dari mulut kita sendiri. Selebihnya, kita sekarang berada di
Paranganom. Apapun yang terjadi, sebaiknya kita melaporkannya kepada pamanmu
Adipati, sehingga jika terjadi sesuatu, kita tidak akan dianggap bersalah karena
kita seakan-akan telah menyembunyikan sesuatu.“
Rantamsari tidak
menjawab. Ia menurut saja apa yang dikatakan oleh Ibunya.
“Kita akan mengajak
angger Wismaya untuk me-ngantar kita pergi ke kadipaten“ berkata Raden Ayu
Prawirayuda.
“Kenapa tidak kakang
Sasangka saja ibu. Bukankah kakang Sasangka yang langsung terlibat dalam
persoalan ini ? Seandainya paman Adipati memerlukan beberapa keterangan, maka
kakang Sasangka akan dapat membantu kita.“
Raden Ayu Prawirayuda
merenung sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berkata “Baiklah,
Rantamsari. Kita akan minta Sasangka mengantar kita ke kadipaten.“
”Kapan kita pergi
menghadap paman Adipati ibu ?”
“Nanti, disore hari,
setelah matahari turun, sehingga kita tidak kepanasan di jalan.“
“Aku akan memberitahu
kakang Sasangka.“
“Biarlah aku saja yang
berbicara dengan Sasangka, Rantamsari. Ia akan merasa lebih dihargai jika bukan
anak-anak yang memberikan perintah kepadanya.“
“Bukankah aku tidak akan
memberikan perintah ?“
“Sudahlah. Biarlah aku
saja yang mengatakannya kepadanya.“
Rantamsari termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun berdesis “Baik, ibu.“
Dalam pada itu, ketika
terjadi keributan di rumah Raden Ayu Prawirayuda, Raden Madyasta memang sedang
meninggalkan rumah itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa Raden Madyasta tidak pergi ke
kadipaten. Tetapi Raden Madyasta justru pergi ke Panjer.
Karena itu, Raden
Madyasta berangkat ketika matahari belum memanjat terlalu tinggi. Kudanya
dilarikannya seperti dikejar hantu. Raden Madyasta harus sudah berada di rumah
bibinya lagi sebelum senja.
Ternyata hari itu bukan
untuk pertama kalinya Raden Madyasta pergi ke kademangan Panjer. Agaknya Raden
Madyasta tidak dapat melupakan perjumpaannya dengan gadis Panjer, anak Ki Demang
Rara Menur.
Ketika Raden Madyasta
sampai di kademangan Panjer, rumah Ki Demang nampak sepi. Tetapi Raden Madyasta
mendengar suara orang menumbuk padi.
Sebagaimana kebiasaannya,
meskipun Rara Menur anak seorang Demang, tetapi ia sering berada didekat lumbung
menumbuk padi. Meskipun ada pembantu yang dapat melakukannya, tetapi Rara Menur
sering melakukannya sendiri.
Karena itu, setelah
mengikat kudanya di sebelah pendapa, maka Raden Madyasta itupun langsung pergi
lewat halaman samping, menuju ke lumbung.
Sebenarnyalah ia melihat
Rara Menur sedang menumbuk pagi. Karena itu, maka Raden Madyasta sengaja
mendekatinya dengan diam-diam.
Demikian Raden Madyasta
melingkari sudut lumbung dan berdiri di belakang Rara Menur, Raden Madyastapun
berkata “Apakah aku dapat membantu, Menur.”
Rara Menur terkejut
sehingga bergeser setapak. Ketika ia berpaling, maka sebelah tangannya menekan
dadanya. Nafasnya tiba-tiba mengalir semakin cepat.
“Raden mengejutkan aku.
Jantungku hampir saja copot.”
Raden Madyasta tersenyum. Katanya - Begitu mudahnya jantungmu copot? Apakah
tangkainya terbuat dari anyaman daun pisang.”
“Ah. Raden. Silahkan
duduk di pringgitan Raden.”
“Tidak ada orang di
pendapa. Apakahg Ki Demang pergi?
“Ya Raden. Tetapi tentu
sudah hampir pulang. Ayah pergi ke bendungan, melihat orang-orang yang sedang
gugur gunung. Bendungan itu bocor. Sebelum kebocoran itu merambat semakin besar,
maka orang-orang padukuhan induk ini bersama-sama dengan orang-orang padukuhan
terdekat lain-nya, pergi beramai-ramai memperbaikinya.”
Raden Madyasta
mengangguk-angguk. Sementara itu Rara Menurpun berkata pula “Silahkan Raden
duduk di pringgitan. Ayah tidak akan lama lagi.“
“Aku lebih senang duduk
disini sambil menunggu Ki Demang, Menur.”
“Tetapi Raden mengganggu
aku.”
“Jika aku ingin membantu,
kau selalu berkeberatan.”
“Tentu aku berkeberatan.”
“Kalau begitu, teruskan
saja. Aku berjanji tidak akan mengganggumu.”
“Raden aneh - desis Rara
Menur. Bahkan kemudian diletakkannya penumbuk padinya. Sambil duduk disebuah
amben panjang yang berada di emperan lumbung, Rara menur berkata “Seharusnya
Raden duduk di pringgitan.”
Raden Madyasta
termangu-mangu sejenak, Namun kemudian iapun berkata sambil melangkah dan bahkan
duduk di amben itu pula “Daripada duduk di pringgitan sendiri, aku lebih senang
duduk disini bersamamu Menur.”
“Ah Raden.”
“Udara disini terasa
lebih sejuk. Bayangan dedaunan yang rimbun, angin yang mengalir menggoyang
ranting-ranting kecil.”
Rara Menur menarik nafas
panjang.
Namun tiba-tiba Rara
Menur itu bertanya “Kenapa Raden sering datang kemari?”
Raden Madyasta
mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab “ Bukankah
aku pernah mengatakan kepadamu, Menur. Kenapa aku sering datang kemari.
Seandainya kau tidak tinggal disini, tentu aku tidak akan pernah datang kemari
lagi setelah kami berhasil menghancurkan gerombolan brandal itu.”
“Aku bersungguh-sungguh
Raden.”
Raden Madyasta menarik
nafas panjang. Katanya “Apakah kau masih ragu-ragu, Menur.”
“Aku tidak ragu-ragu
terhadap pernyataan Raden. Aku tidak ragu-ragu atas cinta Raden kepadaku. Akupun
tidak ragu-ragu mencintai Raden. Tetapi bukankah kita tidak hanya hidup berdua
diluasnya dataran bumi ini.”
“Menur. Apa maksudmu?”
“Raden. Disamping
kepercayaanku terhadap kesungguhan cinta Raden, namun aku juga selalu bertanya,
siapakah aku ini. Siapa pula Raden Madyasta.”
“Kau akan berbicara
tentang derajad, Menur?”
“Kita tidak dapat
menanggalkan derajat kita masing-masing Raden. Aku tidak lebih adalah anak
seorang Demang. Sedangkan Raden adalah putera seorang Adipati.”
“Apakah ada bedanya?”.
“Tataran dalam tatanan
masyarakat tidak dapat kita ingkari, Raden. Hampir setiap orang yang ingin
mengambil menantu selalu berbicara tentang bobot, bibit dan bebet. Raden tahu,
siapakah aku jika dinilai dari bobot, bibit dan bebet itu.“
“Kau nampaknya
benar-benar bersungguh-sungguh Menur.”
“Bukankah aku sudah
mengatakan, bahwa aku bersungguh-sungguh?”
Raden Madyasta menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Menur. Yang kelak akan menjalani hidup bersama
adalah aku dan kau. Aku memang tidak ingkar, betapa besarnya pengaruh orang tua
terhadap anaknya pada saat-saat anaknya memilih bakal sisihannya. Tetapi
keputusan terakhir tentu. berada pada anak itu sendiri.”
“Jika Raden Madyasta
bukan putera seorang Adipati, aku dapat mengerti, Raderi. Tetapi Raden Madyasta
adalah putera seorang Adipati. Apa yang akan Raden lakukan akan disorot bukan
saja oleh orang tua Raden. Tetapi juga oleh para priyagung, para pemimpin
pemerintahan dan keprajuritan, bahkan oleh rakyat Paranganom.”
“Aku mengerti, Menur.
Tetapi kebesaran cinta kita akan dapat mengalasinya.”
“Raden. Aku sangat
menghargai sikap Raden. Tetapi jika. yang aku takutkan itu harus terjadi.
Kangjeng Adipati, para priyagung, para pemimpin dan rakyat Paranganom akan dapat
menolak keberadaanku di kadipaten. Mereka akan dapat menganggap keberadaanku di
kadipaten itu hanya akan mengotori tempat yang seharusnya dihormati itu.”
“Kau sangat merendahkan
dirimu sendiri, Menur. Pada. saatnya aku akan berbicara dengan ayahanda. Aku
berharap ayahanda mengerti.”
“Itu harapan Raden.”
“Menur. Kita jangan
merasa kalah sebelum kita melangkah. Aku tidak membutakan mataku terhadap
kemungkinan itu. Aku bukan anak-anak lagi, sehingga cintaku juga bukan sekedar
cinta anak-anak. Aku sudah dewasa penuh. Aku menyadari apa yang aku lakukan ini,
Menur.” .
“Akupun mengerti, Raden.
Sekali lagi aku nyatakan kepada Raden, bahwa bukannya aku tidak percaya kepada
Raden., Tetapi aku ingin memperingatkan, bahwa disekitar kita terdapat berbagai
macam pengaruh yang akan dapat ikut serta merientukan arah hidup kita. Pengaruh
disekitar kita itu akan dapat membentangkan jarak diantara kita. Bahkan mungkin
jarak itu tidak dapat kita loncati, sehingga kita akan duduk sambil berduka
disisi yang berseberangan.”
“Kita tidak boleh
menyerah, Menur. Aku mengakui pengaruh yang kuat akan dapat melanda biduk yang
ingin kita tumpangi. Kemudian tergantung kepada kita. Apakah kita akan hanyut
atau kita akan mampu mengayuhnya menentang arus.”
“Jika kita gagal, Raden.
Akulah yang akan paling menderita.
“Kenapa kau, Menur ?”
“Raden akan dapat
terhibur dengan kedudukan Raden kelak. Raden akan menggantikan kedudukan
ayahanda. Kemudian Raden akan bersanding dengan seorang puteri yang cantik, yang
berkedudukan sederajat dengan Raden. Kemudian Raden akan di elu-elukan oleh
rakyat Paranganom kemanapun Raden pergi. Lalu bagaimana dengan aku ? Aku akan
menjadi kesepian dalam kesendirianku. Di kademangan kecil yang terpencil.
Kawan-kawanku akan memperolok-olokkan aku sebagai seorang pemimpi yang tidak
tahu diri.”
Raden Madyasta menarik
nafas panjang. Katanya “Kau berkhayal tentang langit yang mendung, gelap dengan
seribu guruh yang menyambar-nyambar. Angin prahara dan cleret tahun. Kau
menempatkan dirimu dalam kemelut alam yang bengis itu, Manggar.”
“Raden. Apakah kau
berkhayal ? Apakah yang aku bayangkan itu tidak mungkin terjadi dalam kenyataan?
Raden. Aku ingin mengatakan kepada Raden, mumpung kita belum terlalu jauh
melangkah. Mungkin hati kita kita akan terluka. Tetapi luka itu tidak separah
jika pertautan hati kita sudah menjadi semakin lekat.
“Menur. Aku mengerti
sepenuhnya apa yang kau maksudkan. Tetapi aku akan dapat memilih. Hidup diatas
gemerlapnya tatanan kewadagan, atau kita akan menunjung nilai-nilai batin kita
yang lebih tinggi.”
“Dapatkah Raden
memisahkannya ?”
“Aku akan menempatkan
cinta kasih di atas segala-galanya, Menur ?”
“Bagaimana cinta dan
kasih Raden kepada Paranganom serta kelangsungan wibawa serta kebesaran nama
Kangjeng Adipati Prangkusuma ?”
“Aku bukan satu-satunya
orang yang dapat meneruskan kelangsungan hidup kadipaten ini. Menur.”
“Dalam keadaan tersudut
Raden akan memilih aku dari-pada kesetiaan Raden kepada Paranganom ?”
“Jangan kau nilai sikapku
sebagai pengingkaran terhadap kesetiaanku kepada Paranganom. Menur. Kesetiaan
tidak harus selalu ditunjukkan dengan mengikuti irama yang mengalir teratur.
Apakah jika aku tidak menjadi seorang Adipati, aku tidak dapat menunjukkan
kesetiaanku kepada Paranganom ?”
“Raden memang dapat
berbuat banyak. Tetapi takaran perbuatan Raden tentu tidak sebanding dengan
takaran sikap seorang Adipati.”
“Kau salah menilai
kesetiaan seseorang terhadap kam-pung halamannya, Menur. Kesetiaan seorang
kawula alit, mungkin akan dapat lebih tinggi dari kesetiaan seorang Adipati
terhadap tugas dan kewajiban yang diembannya. Bahkan seorang Adipati akan dapat
menjerumuskan negerinya kedalam petaka jika ia tidak dapat mengendalikan
dirinya.“
Rara Menur menundukkan
wajahnya. Tiba-tiba saja di pelupuknya telah mengembun air matanya. Dengan
jari-jarinya ia mengusapnya.
“Aku tidak pernah
meragukan sikap Raden “ suaranya menjadi serak “tetapi Raden adalah milik
kadipaten Paranganom yang paling berharga. Aku tahu, bahwa aku adalah debu yang
tidak berharga. Meskipun demikian Raden, aku akan menggantungkan nasibku ke
jari-jari Raden.“
“Yakinlah akan sikapku
Menur. Beberapa tahun aku hidup di sebuah perguruan yang terpencil. Aku sudah
terbiasa hidup dalam keprihatinan. Aku bukan putera seorang Adipati yang manja.
Karena itu, aku akan segera dapat menyesuaikan hidupku dengan lingkunganku yang
bagaimanapun juga ujudnya.“
Rara Menur masih akan
menjawab. Namun mereka melihat Ki Demang Panjer datang mendekati mereka.
“Raden “ sapa Ki Demang
Panjer.
Raden Madyastapun bangkit
berdiri. Sementara itu Rara Menurpun justru meninggalkan Raden Madyasta sambil
berkata “Aku akan pergi ke dapur.“
Ki Demang memandang wajah
anak gadisnya yang basah. Sebagai seorang ayah, maka Ki Demang sudah dapat
meraba, apa saja yang dibicarakan oleh anaknya dengan Raden Madyasta.
Dalam pada itu, maka Ki
Demangpun kemudian berkata “Marilah, aku persilahkan Raden duduk di pringgitan.“
Raden Madyasta tidak
membantah.Tapun kemudian mengikuti Ki Demang pergi ke pringgitan, sementara Rara
Menur menenggelamkan diri di dapur untuk menyiapkan hidangan bagi Raden
Madyasta.
Namun Raden Madyasta
tidak dapat berlama-lama berada di Panjer. Ia harus segera kembali ke kadipaten
dan segera pula pergi ke rumah bibinya.
***
Dalam pada itu, ketika
matahari turun, sebelum Raden Madyasta kembali, Raden Ayu Prawirayuda dan
Rantamsari, diantar oleh Sasangka pergi menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma.
Mereka telah diterima
langsung oleh Kangjeng Adipati di serambi samping.
Dengan irama yang
gelisah, Raden Ayu Prawirayuda telah menceriterakan apa yang baru saja terjadi
di dalam taman.
“Anak itu telah membuat
kami gelisah, dimas. Rantamsari menjadi ketakutan.“
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk. Katanya “Sukurlah bahwa Sasangka dapat mengatasinya.“
“Ya, dimas. Kami sangat
berterima kasih kepada angger Sasangka. Jika saja angger Sasangka tidak melihat
peristiwa itu, aku tidak tahu, apa jadinya dengan Rantamsari.“
“Apakah dengan demikian
kangmbok menghubungkan sikap Wicitra itu dengan kematian Rembana?“
Raden Ayu Prawirayuda
terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdesis “Aku belum dapat
mengatakannya, dimas. Aku tidak tahu, apakah Wicitra sudah melangkah sedemikian
jauhnya.”
“Apakah kangmbok ingin
pengamanan di rumah kangmbok diperkokoh. Maksudku, kangmbok ingin prajurit yang
bertugas di rumah kangmbok diperbanyak ?“
“Tidak, dimas. Bukan
maksudku, agaknya keberadaan Raden Madyasta dengan kedua orang Senapati muda itu
sudah cukup.“
Kangjeng Adipati
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Raden Ayu Prawirayuda itu berkata
“Sebenarnya aku ingin menyampaikan kegelisahan ini kepada angger Madyasta.
Kemudian biarlah angger Madyasta menyampaikannya kepada dimas Adipati. Tetapi
angger Madyasta telah mendahului sebelum aku sempat mengatakan pesan ini
kepadanya.“
“Mendahului kemana,
kangmbok ?“
“Bukankah angger Madyasta
berada di kadipaten sekarang ?”
“Tidak, kangmbok.
Madyasta tidak pulang. Aku belum melihat sehari ini. Mungkin pagi tadi ia datang
mengambil kudanya. Namun kemudian ia telah pergi. Aku belum bertemu dengan anak
itu.“
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya “Jika demikian, angger Madyasta
benar-benar pergi ke Panjer ?“
“Ke Panjer ?“
“Mungkin dimas. Hanya
satu kemungkinan.“
“Kenapa kangmbok menduga,
bahwa Madyasta pergi ke Panjer ?“
“Aku kadang-kadang
melepas waktu untuk berbincang-bincang dengan angger Madyasta. Mungkin karena
aku bibinya, kadang-kadang terloncat dari bibirnya, tanggapannya terhadap
seorang gadis di Panjer.“
“Maksud kangmbok ?“
“Ah. Wajar saja dimas.
Anak muda.“
“Madyasta tertarik kepada
gadis Panjer ?“
“Aku tidak tahu seberapa
jauh hubungan mereka. Tetapi angger Madyasta pernah memuji kecantikan gadis anak
Ki Demang di Panjer. Tetapi dimas tidak perlu menghiraukannya. Bukankah itu
wajar-wajar saja bagi seorang anak muda.“
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk kecil. Namun nam pak kerut di dahinya menjadi semakin dalam.
Raden Ayu Prawirayuda
tidak menyinggung Madyasta lagi. Tetapi Raden Ayu itupun kemudian berkata
“Dimas. Kedatanganku manghadap dimas jangan merisaukan dimas. Maksudku, tentang
keselamatan keluarga kami. Jika aku datang melaporkan kehadiran adikku itu
semata-mata agar dimas Adipati mengetahui segala peristiwa yang terjadi di
lingkungan keluarga kami. Jika benar terjadi sesuatu, biarlah dimas Adipati
dapat mengurai permasalahannya dengan bahan yang lengkap.
“Terima kasih, kangmbok.
Aku akan memperhatikannya. Akupun harus memperhatikan kepergian "Madyasta ke
Panjer, karena Madyasta tidak minta ijin bahkan tidak memeritahukan kepergiannya
itu.“
“Aku mohon dimas tidak
mempersoalkan angger Madyasta “
“Aku adalah ayahnya,
kangmbok.”
“Tetapi bukankah yang
dilakukannya masih dalam batas kewajaran, sehingga dimas tidak perlu gelisah.“
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk sambil berdesis ”Ya, kangmbok.“
Raden Ayu Prawirayuda
itupun kemudian telah mohon diri. Sementara kangjeng adipati berkata kepada
Sasangka “Akupun mengucapkan terima kasih kepadamu, Sasangka. Tetapi selanjutnya
kau harus berhati-hati.“
“Hamba, kangjeng. Hamba
akan berhati-hati.“
Ketika Raden, Ayu
Prawirayuda keluar dari serambi, langit telah. menjadi buram. Awan nampak
menjadi merah disaat-saat menjelang senja. Matahari yang disaput mega-mega yang
tipis, nampak seperti bara.
Ketika Raden Ayu
Prawirayuda, Rantamsari dan Sasangka keluar dari gerbang halaman kadipaten,
mereka berpapasan dengan Madyasta yang melarikan kudanya seakan berpacu di
arena. Ketika Madyasta menarik kendali kudanya, maka kuda itupun berhenti dengan
tiba-tiba sehingga kedua kakinya terangkat keatas. Terdengar kuda itu meringkik
panjang.
Raden Madyasta meloncat
turun. Dielusnya leher kudanya perlahan-lahan sehingga kudanya menjadi tenang
kembali.
“Darimana ngger ?“
bertanya Raden Ayu Prawirayuda.
“Sekedar melihat-lihat
keadaan bibi.”
“Dari Panjer ?“
Jantung Raden Madyasta
berdesir. Dengan gagap iapun bertanya “ Darimana bibi tahu ?“
“Bukankah angger pernah
berceritera tentang. gadis Panjer yang cantik dan luruh itu?“
“Ah. Bukan maksudku untuk
mengatakan bahwa aku tertarik kepadanya, bibi.“
Raden Ayu Prawirayuda
tersenyum. Katanya “Bukankah hal itu wajar sekali? Angger adalah seorang
anakmuda yang sudah dewasa. Sedangkan anak Ki Demang Panjer itu agaknya seorang
gadis yang sudah meningkat dewasa pula. Bukankah wajar sekali ?“
“Tetapi “
Raden Ayu Prawirayuda
menepuk bahu Raden Madyasta sambil berdesis “Jangan risaukan pernyataan bibi.
Bibi hanya ingin bergurau.”
Raden Madyasta menarik
nafas panjang
“Sudahlah ngger. Bibi
Pulang.“
“Apakah bibi baru saja
menghadap ayahanda ?“
“Ya. Ada sesuatu terjadi
di rumah.
“Ada apa bibi?“
“Pamanmu Wicitra datang
lagi mengganggu Rantamsari. Bahkan mengancamnya dengan keris. Untunglah bahwa
angger Sasangka mengetahuinya dan berhasil mengusir Wicitra. Aku melaporkannya
kepada dimas Adipati, agar dimas Adipati mengetahui segala sesuatunya yang
terjadi atas keluarga kami.“
Raden Madyasta
mengangguk-angguk. Katanya “Sukurlah bahwa Sasangka dapat mengatasinya. Aku
mohon maaf bibi, bahwa aku tidak berada di rumah bibi pada saat itu.”
“Tidak apa-apa ngger.
Mudah-mudahan Wicitra menjadi jera.”
“Ya, bibi.“
“Sudahlah ngger. Angger
tentu letih. Bibi mohon diri.“
“Silahkan bibi. Aku juga
akan segera menyusul.“
Ketika Raden Ayu
Prawirayuda dan Rantamsari yang diantar oleh Sasangka meninggalkan Raden
Madyasta, maka Raden Madyastapun segera menuntun kudanya memasuki regol halaman
kadipaten.
Setelah menyerahkan
kudanya kepada seorang abdi, maka Raden Madyasta pun.masuk keserambi samping.
Raden Madyasta terkejut
ketika ia melihat ayahandanya, Kangjeng Adipati Prangkusuma, duduk sendiri di
serambi samping itu.
Sebuah lampu minyak sudah dinyalakan. Sinarnya yang kekuning-kuningan nampak
berayun oleh sentuhan angin yang menyusup kedalam.
Madyasta justru berdiri
termangu-mangu di pintu. Jantungnya terasa berdegup semakin cepat.
“Madyasta” suara
ayahandanya terasa berat menekan dadanya.
“Hamba ayahanda.“
“Kemarilah, duduklah.“
Perlahan-lahan Madyasta
mendekat. Kemudian duduk dihadapan ayahandanya.
“Kemana kau seharian ini
Madyasta ?“
Madyasta tidak segera
menjawab. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Bahkan Madyasta menduga bahwa bibinya
telah mengatakan kepada ayahandanya, bahwa ia pergi ke Panjer. Mungkin benar
bahwa bibinya sekedar bergurau atau mengganggunya tanpa maksud apa-apa. Tetapi
persoalannya akan dapat menjadi rumit baginya.
Karena Madyasta tidak
segera menjawab, maka ayahandanya itupun berkata “Madyasta. Bibimu baru saja
menghadap. Bibimu melaporkan apa yang baru saja terjadi di rumahnya. Adiknya
laki-laki itu datang mengganggunya. Untunglah bahwa Sasangka dapat mengatasinya.
Sementara itu, kau tidak ada di rumah bibimu.”
Raden Madyasta menjadi
semakin menunduk.
“Kau pergi kemana
Madyasta ? Aku ingin mendengar kau menjawab dengan jujur.”
“Hamba pergi ke Panjer,
ayahanda.”
Tetapi Kangjeng Adipati
sudah tidak terkejut lagi. Dengan nada berat Kangjeng Adipatipun bertanya pula
“Untuk apa kau pergi ke Panjer ?”
Madyasta menarik nafas
dalam-dalam. Keragu-raguan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Apakah ia
akan mengatakan yang sebenarnya, atau ia akan berbohong kepada ayahandanya. Jika
ia mengatakan yang sebenarnya, agaknya akan terasa sangat tiba-tiba. Madyasta
memang akan menyampaikan kepada ayahandanya. Tetapi ia memerlukan waktu untuk
mempersiapkan diri lahir dan batinnya. Raden Madyastapun ingin serba sedikit
menyinggungnya sebelum ia menyampaikan seluruh permasalahannya dengan gadis
Panjer itu kepada ayahandanya.
Namun Raden Madyasta
tidak terbiasa berbohong. Karena itu, betapapun beratnya, maka Raden Madyastapun
kemudian menjawab “Hamba berkunjung ke rumah KI Demang di Panjer, ayahanda.”
“Ada apa di rumah itu ?
Apakah masih ada persoalan dengan kademangan Panjer ?”
Raden Madyasta tidak
mempunyai kesempatan lagi. Ia harus mengatakan apa yang sesungguhnya
dilakukannya di Panjer.
“Ayahanda. Hamba mohon
ampun. Memang maksud hamba pada suatu saat akan menyampaikan persoalan Iiamba
ini kepada ayahanda. Tetapi sebenarnya hamba memerlukan waktu. Tetapi agaknya
hamba harus menyampaikannya sekarang.”
Kangjeng Adipatilah yang
terdiam. Dipandanginya garis-garis papan pada dinding serambi itu, seolah-olah
Kangjeng Adipati belum pernah melihat sebelumnya.
“Ayahanda“ berkata Raden
Madyasta kemudian “di Panjer, hamba berkenalan dengan seorang gadis, anak Ki
Demang Panjer.”
Kangjeng Adipati masih
berdiam diri. Sementara itu suara Raden Madyastapun menjadi bergetar oleh
gejolak perasaannya.
“Gadis itu menurut
pendapat hamba, adalah gadis yang baik.”
“Kau tertarik kepadanya?”
bertanya Kangjeng Adipati.
“Hamba ayahanda. Hamba
tidak akan mengingkarinya “
“Sejauh manakah
hubunganmu dengan anak Demang Panjer iiu ?”
“Kami saling mencintai
ayahanda.”
“Madyasta“ suara Kangjeng
Adipati menjadi semakin berat.
“Hamba ayahanda.”
“Apakah kau sadari bahwa
kau adalah anakku?”
“Hamba ayahanda.”
“Aku ini siapa ?”
Jantung Raden Madyasta
berdegup semakin cepat “Ayahanda adalah Adipati Paranganom.”
“Jadi ?”
“Hamba adalah putera
Adipati Paranganom.”
“Nalarmu masih bening,
Madyasta. Kau masih sadar sepenuhnya bahwa kau adalah putera Adipati
Paranganom.”
“Hamba ayahanda.”
“Sedangkan gadis Panjer
itu adalah anak gadis Demang Panjer.”
“Hamba ayahanda.”
“Madyasta. Apakah menurut
pendapatmu, kedudukanmu dan kedudukan gadis itu seimbang ?”
Pertanyaan itulah yang
sudah diduga akan disampaikan oleh ayahanda. Persoalan itu pulalah yang telah
dikemukakan oleh Rara Menur kepadanya. Perbedaan de-rajad itu memang akan dapat
menjadi penyekat diantara mereka berdua.
Namun Madyasta itu
memberanikan diri menjawab “Ayahanda. Apakah kedudukan seseorang itu demikian
pentingnya bagi dua orang yang ingin. membangun sebuah keluarga ?”
“Pertanyaanmu aneh,
Madyasta. Kau adalah putera seorang Adipati. Apalagi kau adalah puteraku yang
tertua, yang pada saatnya akan menggantikan kedudukanku sebagai Adipati di
Paranganom. Jika sisihanmu kelak hanyalah anak seorang Demang, apa kata orang
tentang Adipati Paranganom?, Apa kata para. Adipati tetangga-tetangga kita.
Apapula kata Kangjeng Sultan di Tegallangkap ? Madyasta. Sebagai seorang putera
Adipati yang kelak akan menggantikan kedudukannya, kau harus menjunjung tinggi
derajat keluargamu. Kau harus menjaga wibawa namamu.”
“Ayahanda. Apakah unsur
keturunan dari seorang isteri akan dapat ikut menentukan wibawa nama seorang
Adipati? Jika Adipati itu sendiri dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,
menjunjung tinggi kewajibannya, menyatu dengan rakyatnya membangun keutuhan
kehidupan di seluruh kadipaten sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya.”
“Kau tidak dapat menutup
mata dan telinga dalam pergaulan para Adipati. Juga dihadapan Kangjeng Sultan di
Tegallangkap. Jika pada suatu saat, dalam upacara-upacara kenegaraan atau dalam
kesempatan apapun, para Adipati harus berkumpul di istana Kangjeng Sultan di
Tegallangkap bersama isterinya, bagaimana kau dapat menyembunyikan anak Demang
itu dari tatapan mata para Adipati serta para priyagung di Tegallangkap. ?“
“Apakah dalam
kedudukannya, seorang perempuan dari pedesaan, anak seorang Demang, tidak akan
dapat menyesuaikan diri ayahanda. Bukankah seroang dapat belajar, apa yang harus
dilakukan sebagai isteri seorang Adipati.“
“Sikap dan tingkah laku
memang dapat dipelajari, Madyasta. Tetapi tidak seorangpun yang dapat merubah
garis keturunan seseorang. Jika ia anak seorang Demang, maka meskipun kau
mendatangkan seribu orang guru yang akan dapat memberinya pelajaran dan petunjuk
tetang sikap dan tingkah laku, namun mereka tidak akan dapat merubah garis
keturunannya. Jika ia anak seorang Demang, maka ia akan tetap anak seorang
Demang. Tetapi jika ia anak seorang Adipati atau seorang priyagung di
Tegallangkap, maka ia akan tetap anak seorang Adipati atau seorang priyagung.
Kau mengerti itu Madyasta.?“
“Ayahanda. Bagaimanakah
penilaian seseorang tetang seorang perempuan keturunan orang berderajad tinggi
tetapi sikap dan tingkah lakunya tidak terpuji sementara seseorang perempuan
yang dilahirkan oleh keluarga dari keturunan yang dianggap berderajad rendah,
tetapi menunjukkan sikap dan tingkah laku yang baik serta berbudi.“
“Satu mimpi yang buruk
bagimu Madyasta.“
“Bukankah dihadapan Yang
Maha Pencipta, kita dititahkan sama.“
“Madyasta. Kau sudah
berani membantah kata-kataku. Siapa yang mengajarimu Madyasta ? Demang Panjer?
Demang Panjer itu agaknya telah meraeunimu dengan pandangan hidup yang naif
itu.“
“Ampun ayahanda. Hamba
tidak sekali-sekali berani membantah titah ayahada.“
”Ingat Madyasta. Kau
adalah putera seorang Adipati yang kelak akan menggantikan kedudukannya. Kau
adalah seseorang yang akan menjadi pemimpin. Kau akan menjadi kiblat tatapan
mata seluruh rakyat Paranganom dan bahkan kau akan selalu berada dibawah
penilikan Kangjeng Sultan di Tegallangkap.“
Madyasta menundukkan
wajahnya. Ia masih akan menjawab. Tetapi Madyasta menyadari, bahwa ayahandanya
mulai tidak berkenan. Jika ia masih saja menyatakan pendapatnya, maka
ayahandanya akan dapat menjadi sangat marah.
“Madyasta“ berkata
Kangjeng Adipati kemudian “apa kata orang, jika pada suatu saat kangmasmu
Adipati Kateguhan menikah dengan seorang puteri yang sederajat, bahkan puteri
dari Tegallangkap, kemudian kau menikah dengan anak Demang itu? Kemana aku harus
menyembunyikan wajahku? Sedangkan jika itu terjadi setelah aku meninggal maka
kusutlah wibawa kadipaten Paranganom. Jika kemudian istana Tegallangkap
memperbandingkan kau dengan kangmasmu Yudapati dari Kateguhan, maka kau akan
berada dibawah bayang-bayangnya.”
Jantung Madyasta terasa
bergejolak didalam dadanya. Tetapi Madyasta harus menahan diri. Madyasta sadar,
bahwa dalam keadaan demikian, ia lebih baik diam. Ia harus mencari kesempatan
lain untuk dapat berbicara lebih panjang. Mungkin ia mempunyai lebih banyak
kesempatan untuk menjelaskan persoalannya.
“Madyasta “ berkata
Kangjeng Adipati kemudian.
“Hamba ayahanda.”
“Sekarang mundurlah.
Pergilah ke rumah bibimu. Malam telah turun.”
“Hamba ayahanda.”
Raden Madyastapun
kemudian meninggalkan ayahandanya sendiri di serambi.
Namun sepeninggalkan
Madyasta, Wignyana telah masuk ke serambi. Dengan ragu-ragu iapun berkata
“Ayahanda. Apakah hamba diperkenankan menghadap?”
“Wignyana. Kemarilah.
Duduklah. Apakah ada yang penting yang akan kau sampaikan ?”
Wignyanapun kemudian
duduk dihadapan ayahandanya. Dengan ragu-ragu Wignyana itupun berkata “Ayahanda.
Hamba mohon ampun, bahwa hamba mendengar pembicaraan ayahanda dengan kangmas
Madyasta.”
Dahi Kangjeng Adipati
Prangkusuma itu berkerut. Dengan ragu-ragu iapun berkata “Kau mendengarkannya ?”
“Semula hamba tidak
sengaja ayahanda. Namun kemudian hamba seakan-akan telah dicengkam oleh
pendengaran hamba yang sekilas itu, sehingga hambapun mulai mendengarkannya.”
“Jika kau mendengarnya,
lalu apa yang akan kau katakan sekarang ?”
“Hamba ingin bertanya,
ayahanda. Kenapa ayahanda berkeberatan jika kangmas Madyasta berhubungan dengan
anak Ki Demang di Panjer itu.”
“Jika kau mendengarkan
percakapan kami, kau tentu mendengar pula, apa alasanku.“
“Hamba mendengar
ayahanda. Tetapi hamba merasa kasihan kepada kangmas Madyasta.“
“Kenapa ?“
“Kangmas Madyasta dan
gadis Panjer itu sudah terlanjur saling mencintai.“
“Wignyana. Bukankah kau
tahu kedudukan kangmasmu?”
“Aku tahu, ayahanda.
Tetapi apakah unsur keturunan itu demikian pentingnya, ayahanda.“
“Tentu, Wignyana. Jika
seseorang dalam kedudukan seperti Madyasta, ia harus mempertimbangkan, perempuan
yang manakah yang pantas menjadi sisihannya..”
“Tetapi cinta itu datang
begitu saja ayahanda. cinta mempunyai pertimbangan yang lain.“
“Apakah menurut
pendapatmu, cinta itu memang buta seperti kata orang?. Atau bahkan cinta itu
harus buta sehingga nalar tidak dapat ikut berbicara ?“
“Ayah. Cinta adalah
karunia. Cinta yang teguh tidak akan dapat dihambat oleh lautan api sekalipun.
Gunung yang tinggi akan diloncati, lautan yang luas akan diseberangi.“
“Kau dendangkan tembang
anak-anak remaja Wignyana. Kau memang-sedang meningkat dewasa. Aku mengerti
bagaimana kau menilai cinta seorang laki-laki terhadap seorang perempuan dan
sebaliknya. Tetapi kangmasmu seharusnya sudah dapat berpikir lebih dewasa
Wignyana. Ia sudah harus dapat mencari keseimbangan antara perasaan dan
penalarannya. Tidak usah meloncati Gunung dan tidak usah menyeberangi lautan.“
“Bukankah kita harus
menghormati sikap seseorang?“
“Maksudmu agar kau
menghormati sikap kangmasmu Madyasta ?“
Wignyana menundukkan
kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Aku memang menghormati
pendapatnya, Wignyana, seperti aku menghormati pendapatmu, sepanjang pendapat
Madyasta dan pendapatmu itu mapan. Tetapi jika pendapat Madyasta, pendapatmu dan
pendapat siapapun tidak mapan dan tidak sesuai dengan perasaan dan penalaranku,
maka aku tentu akan mempersoalkannya.“
“Ayahanda. Apakah hamba
boleh bertanya ?“
“Bertanya tentang apa ?“
“Ampun ayahanda. Apakah
ayahanda bermaksud menjodohkan kangmas Madyasta dengan Kangmbok Rantamsari?“
Bab 24 - Persaingan
Asmara
“Cukup“ tiba-tiba saja
Kangjeng Adipati Prangkusuma itu membentak “tinggalkan aku sendiri.”
“Ampun ayahanda.“
“Tinggalkan aku
sendiri.“-
Wignyana tidak berani
menjawab lagi. Iapun kemudian berdesis “ Hamba mohon diri, ayahanda.“
Kangjeng Adipati tidak
menyahut. Bahkan ia tidak memandang Wignyana saat anak muda itu keluar dari
serambi samping.
Sepeninggal Wignyana,
Kangjeng Adipati itu duduk sendiri. Kangjeng Adipati itu merasa kecewa atas
sikap Madyasta. Tetapi iapun kecewa terhadap sikap Wignyana. “Apakah anak-anakku
sekarang sudah berani menolak kata-kataku? Apakah mereka sudah tidak menghormati
aku lagi sebagai ayahandanya, dan juga sebagai seorang Adipati ?“
Kangjeng Adipati itu
terkejut ketika cahaya kilat memancar menyilaukan. Kemudian disusul oleh suara
guntur yang bagaikan memecahkan selaput telinga.
Sejenak kemudian, maka
hujanpun turun bagaikan dirurahkan dari langit.
Dalam hujan yang lebat
itu, Raden Madyasta melangkah menuju ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden
Madyasta sama sekali tidak menghiraukan hujan yang justru menjadi semakin lebat.
Langit yang hitam itu menjadi semakin kelam. Jalan-jalan menjadi hitam pekat.
Hanya sekali-sekali kilat memancar dengan terangnya. Namun sekejap kemudian,
ketika suara guruh meledak di langit, malampun telah menjadi gelap kembali.
Tetapi Raden Madyasta
berjalan terus. Meskipun Raden Madyasta itu seakan-akan tidak sempat
memperhatikan jalan yang akan dilaluinya, namun Raden Madyasta tidak terperosok
kedalam parit sebelah menyebelah jalan yang menjadi becek berlumpur.
Jantung putera Kangjeng
Adipati Paranganom itu menjadi sangat gelisah. Apa yang dicemaskan oleh Rara
Menur itu sudah membayang. Ayahandanya tidak mau menerima gadis Panjer itu
menjadi menantunya.
“Rara Menur anak seorang
yang mempunyai kedudukan. Ayahanda seorang Demang yang memerintah satu wilayah
yang cukup luas dan mempunyai pengaruh yang memerintah satu wilayah yang cukup
luas dan mempunyai pengaruh yang mantap di wilayahnya“ berkata Madyasta didalam
hatinya.
Tetapi dibanding dengan
seorang Adipati, kedudukan seorang Demang.memang terlalu kecil.
“Tetapi menurut
pendapalku, keturunan lidak menentukan bobot seseorang. Orang Itu sendiri yang
harus menentukan harga bagi dirinya sendiri.“
Raden Madyasta berhenti melangkah ketika kakinya terperosok kedalam aliran air
parit yang mulai meluap ke jalan yang dilewatinya.
Pakaian Raden Madyasta
telah menjadi basah kuyup. Suara air hujan yang tumpah dari langit itu menjadi
semakin gemuruh. Anginpun mulai bertiup semakin keras.
Sejenak kemudian,
Madyasta meneruskan langkahnya. Angan-angannya kembali menerawang memandangi
masa depannya yang mulia dibyangi kegelapan.
“Tentu bibi sudah
memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku pernah berbicara tentang gadis Panjer
itu “berkata Madyasta didalam hatinya.
Madyasta menarik nafas
dalam-dalam.
Ketika Raden Madyasta itu
memasuki regol padukuhan, maka malam terasa menjadi semakin gelap. Air hujan
yang menerpa pepohonan terdengar bagaikan arus banjir yang deras.
Raden Madyasta itupun
kemudian berhenti didepan regol halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda. Madyasta
menjadi semakin kecewa terhadap bibinya. Ketika ayahandanya berceritera tentang
sikap bibinya sehingga Kangjeng Adipati Yudapati marah kepadanya dan mengusirnya
dari dalem kedipaten di Kateguhan, Madyasta sudah merasa kecewa terhadap
bibinya. Apalagi bibinya agaknya sudah menyampaikan hubungannya dengan gadis
Panjer itu kepada ayahandanya. Mungkin tanpa maksud apa-apa. Tetapi akibatnya
telah membuatnya terperosok kedalam kesulilan.
Sebenarnya Madyasta ingin
menyampaikan persoalannya itu sendiri kepada ayahandanya, pada saat-saat yang
dianggapnya tepat. Tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya.
Namun tiba-tiba saja
Madyasta teringat kepada Ki Lurah Rembana yang telah tidak ada, terbunuh di
halaman rumah bibinya itu, sehingga di dinginnya malam serta hujan yang lebat
itu, jantung Madyasta terasa menjadi panas.
Tetapi Madyastapun segera
menyadari, bahwa ia sendiri harus berhati-hati. Mungkin orang yang telah
membunuh Rembana itu telah membidik dirinya pula.
Raden Madyasta itupun
kemudian memasuki halaman rumah bibinya.
Rumah itu nampak diam
membeku. Hanya nyala lampu minyak itu pendapa sajalah yang bergerak-gerak di
sentuh angin. Namun angin yang keraspun kemudian telah mengguncang dedaunan di
halaman.
Madyasta itupun langsung
pergi ke serambi gandok. Ketika ia naik ke pendapa, maka Sasangka yang mendengar
langkah di serambi, membuka pintu biliknya dengan hati-hati.
“Raden“ sapa Sasangka
yang melihat Raden Madyasta basah kuyup di serambi. Tergopoh-gopoh ia
menyongsongnya.
“Raden berjalan terus
dalam hujan yang lebat ini?” bertanya Sasangka.
“Ya, kakang. Aku harus
segera sampai di rumah ini.”
“Bukankah disini sudah
ada aku dan Wismaya.”
“Ya. Tetapi rasa-rasanya
aku harus berada di rumah ini. Siang tadi aku telah melakukan kesalahan besar.
Untunglah bahwa kakang Sasangka dapat mengatasinya. Jika terjadi sesuatu, maka
aku akan menjadi sasaran kemarahan ayahanda.”
“Segala sesuatunya sudah
lewat, Raden. Tidak ada per soalan yang gawat.”
“Ya. Tetapi bagaimanapun
juga, aku masih saja diburu oleh perasaan bersalah. Apalagi ayahanda telah marah
kepadaku.”
“Marah ?”
“Kakang“ desis Raden
Madyasta “ bukankah bibi ielah memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku pergi
ke Panjer?”
“Raden Ayu hanya
mengatakan, mungkin Raden pergi ke Panjer.”
“Karena aku pernah
berbicara dengan bibi tentang gadis Panjer itu ?”
Sasangka tersenyum.
Katanya “Raden Ayu tidak bermaksud apa-apa. Raden Ayu hanya ingin menggoda
Raden.”
“Tetapi akibatnya,
ayahanda marah kepadaku. Nampaknya masa depanku menjadi muram. Jika bibi sekedar
bergurau dan menggodaku, maka akibatnya menjadi sangat jauh.”
“Tentu bukan maksudnya,
Raden. Tetapi apakah sebaiknya Raden berbicara dengan Raden Ayu, agar Raden Ayu
datang menghadap Kangjeng Adipati untuk menjernihkan suasana ?”
“Tidak. Tidak usah,
kakang.”
Tiba-tiba saja Sasangka
menyadari, bahwa pakaian Raden Madyasta itu basah kuyup. Bahkan tentu sampai
pakaian dalamnya pula.
Karena itu, maka iapun
segera berkata “Tetapi bukankah lebih baik, Raden berganti pakaian dahulu.”
Dimana kakang Wismaya
sekarang?” bertanya Raden Madyasta.
“Wismaya berada di
serambi belakang, Raden.”
Baiklah. Aku akan
berganti pakaian dahulu.” Raden Madyastapun segera masuk kedalam biliknya untuk
berganti pakaian. Sementara Sasangka duduk di serambi gandok.
Ternyata malam itu tidak
terjadi sesuatu di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Namun Raden Ajeng Rantamsari
yang ketakutan karena peristiwa yang membawa kematian Rembana, serta tingkah
laku pamannya, tidak tidur di biliknya sendiri. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari
tidur bersama ibunya.
“Senang juga tidur
bersama ibu“ desis Raden Ajeng Rantamsari “rasa-rasanya seperti masa kanak-kanak
itu kembali lagi.”
“Tetapi sekarang kau
bukan kanak-kanak lagi, Rantamsari.”
“Ya, ibu. Namun masa
kanak-kanak itu memang dapat menimbulkan kerinduan. Alangkah senangnya tinggal
di kadipaten Kateguhan saat itu, ibu. Hidup bermanja-manja dalam taman yang
indah dengan beberapa orang dayang yang setia.”
“Kau tidak akan dapat
kembali ke masa itu, Rantamsari. Tetapi bukan berarti bahwa kau tidak akan dapat
menikmati kehidupan yang menyenangkan. Jika kita harus prihatin. sekarang,
adalah sekedar pancadan untuk satu pencapaian. Yakinkan dirimu, Rantamsari,
bahwa ibu akan berusaha untuk menemukan kebahagiaan di hari depanmu. Tentu saja
kesenangan bagimu sekarang akan. jauh berbeda dengan kesenangan masa
kanak-kanakmu.”
“Aku mengerti ibu.”
“Sekarang tidurlah.”
“Kadang-kadang aku merasa
sulit untuk tidur.”
“Jangan merasa takut
Rantamsari. Raden Madyasta serta kedua orang Senapati itu masih berada disini.”
“Ya, ibu. Tetapi ternyata
kakang Rembana itu telah terbunuh pula di sini.”
“Mungkin angger Rembana
itu menjadi lengah, Rantamsari. Ia mengira bahwa tidak akan ada bahaya apapun
yang mengintainya disini.”
“Ya, ibu. Agaknya
sekarang kakang Sasangka akan menjadi lebih berhati-hati.”
“Semuanya akan
berhati-hati.” Rantamsari menarik nafas dalam-dalam.
Beberapa saat Rantamsari
masih belum dapat tidur. Ketika ibunya kemudian berdiam diri dengan tarikan
nafas yang teratur, maka Rantamsaripun memejamkan matanya pula. Rasa-rasanya
memang hangat tidur bersama ibunya, sementara hujan masih luiun dengan derasnya.
Ketika malam berlalu,
hujanpun telah berhenti. Di saat fajar menyingsing, langit kelihat eerah. Tidak
ada selembar awanpun yang mengapung di kemerahan cahaya matahari pagi.
Raden Madyasta yang sudah
mandi dan berbenah diri, duduk di serambi gandok. Seorang abdi telah
menghidangkan minuman hangat bagi Raden Madyasta serta kedua orang Senapati muda
yang berada di rumah itu.
Namun abdi itu telah
menyampaikan pesan Raden Ayu Prawirayuda, bahwa Raden Ayu ingin berbicara dengan
Raden Madyasta.
“Tentang apa ?” bertanya
Raden Madyasta.
“Aku tidak tahu, Raden.”
“Baiklah. Aku akan
menghadap bibi”
Ketika abdi itu
meninggalkan Raden Madyasta, maka Raden Madyastapun memberitahukan kepada
Wismaya dan Sasangka, bahwa ia akan menemui Raden Ayu Prawirayuda.
“Bibi memanggil aku?”
bertanya Raden Madyasta ketika ia menemui bibinya di serambi belakang.
“Ya. Raden. marilah,
duduk diruang dalam.”
“Sudahlah bibi, biarlah
disini saja. Bukankah tidak ada bedanya.”
“Tetapi ruangan ini masih
belum dibersihkan, ngger.”
“Tidak apa-apa bibi.
Bukankah ruangan ini dan bahkan semua ruangan di rumah ini selalu nampak bersih
dan terawat.”
“Ah, hanya sekedar
menuruti selera Rantamsari.”
“Kangmbok Rantamsari
ternyata mempunyai selera yang tinggi, bibi.”
Raden Ayu Prawirayuda
tertawa.
“Ngger” berkata Raden Ayu
Prawirayuda kemudian “sebenarnyalah aku menyesal kemarin, bahwa meskipun niatku
bergurau dan menggoda angger, aku telah mengatakan bahwa angger pergi ke Panjer
untuk menemui seorang gadis cantik. Semalam aku mulai merenunginya.
Jangan-jangan guruanku itu membuat adimas Adipati Prangkusuma merenunginya.”
Raden Madyasta menarik
nafas panjang. Baginya, Raden Madyasta itu mendapat kesempatan untuk
menyampaikan penvesalannya atas keterangan bibinya itu.
Karena itu, maka Raden
Madyasta itupun menjawab “Bibi. Ayahanda ternyata telah menjadi risau. Demikian
aku datang, ayahanda langsung marah kepadaku.”
“Aku minta maaf, ngger.
Aku benar-benar tidak memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Apa kata dimas
Adipati?”
“Aku tidak pantas
berhubungan dengan gadis desa anak seorang Demang itu.”
Raden Ayu Prawirayuda
menundukkan wajahnya sambil berdesis “Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak
berpikir sejauh itu, ngger. Kapan-kapan jika aku menghadap dimas Adipati, aku
akan meneoba untuk meluruskan persoalannya.”
“Tidak usah bibi. Biarlah
aku saja yang kapan-kapan berbicara kepada ayah.”
“Aku yang telah
menyalakan api kerisauan di hati dimas Adipati, ngger. Karena itu, biarlah aku
yang memadamkannya “
“Tidak bibi. Persoalannya
ada padaku . Karena itu, hanya akulah yang dapat mencari pemecahan bersama
ayahanda.”
Raden Ayu Prawirayuda
menarik nafas dalam-dalam.. Katanya “Tetapi aku benar-benar minta maaf, ngger.”
“Sudahlah bibi. Ayah
sudah terlanjur mempersoalkannya. Aku berharap bahwa pada suatu ketika aku
mendapat kesempatan yang baik untuk menjelaskan persoalannya.”
“Ya, ngger - Raden Ayu
Prawirayuda itu berhenti seje-nak. Namun kemudian iapun berkata “Tetapi ngger.
Lepas dari kesalahan yang telah aku lakukan, aku ingin menasehatkan kepada
angger, agar angger mendengarkan nasehat, petunjuk dan perintah-perintah
ayahanda.”
Madyasta termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun menjawab “Ya, bibi.”
Raden Ayu Prawirayuda
menatap wajah Raden Madyasta sejenak. Raden Ayu itu tidak tahu, apakah Raden
Madyasta benar-benar mengiakan nasehatnya atau sekedar membuatnya puas.
Namun Raden Madyasta
itupun kemudian minta diri untuk pergi ke gandok, menemui Wismaya dan Sasangka.
“Apakah ada pesan dari
Raden Ayu Prawirayuda, Raden?” bertanya Wismaya.
“Persoalan pribadiku,
kakang. Agaknya sebagai orang tua, bibi merasa wajib untuk memberiku nasehat.”
Wismaya
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Sementara itu, Sasangka
sudah menduga, bahwa persoalannya tentu menyangkut gurauan Raden Ayu Prawirayuda
tentang gadis Panjer itu.
Hari-haripun kemudian
berlalu. Tidak ada peristiwa yang mengejutkan terjadi di rumah Raden Ayu
Prawirayudaa itu, Raden Madyasta tidak lagi meninggalkan rumah itu sehari penuh
untuk pergi ke Panjer atau keperluan apapun. Wicitra dapat saja setiap saat
datang, dan bahkan mungkin membawa satu dua orang kawan untuk mengambil
Rantamsari.
Sementara itu, perhatian
Rantamsari ternyata mulai tertambat kepada Sasangka. Meskipun Sasangka mempunyai
sifat dan pembawaan yang berbeda sekali dengan Rembana, namun setelah Sasangka
melepaskan Rantamsari dari tangan Wicitra, maka Raden Ajeng Rantamsaripun merasa
berhutang budi kepadanya.
Banyak waktu-waktu yang
dilewatinya bersama Sasangka yang masih saja melakukan kerja sehari-hari di
rumah Raden Ayu Prawirayuda, sebagaimana Wismaya masih juga sering menganyam
kerajinan tangan dari bambu.
Hubungan Sasangka dengan
Raden Ajeng Rantamsari agaknya telah menarik perhatian Wismaya. Wismaya masih
teringat apa yang dikatakan Sasangka kepada Rembana, sebelum Rembana terbunuh.
Tetapi Wismaya masih
menahan diri untuk mencampurinya.
Dalam pada itu, Raden
Madyasta kadang-kadang didera pula oleh keinginan untuk pergi ke Panjer. Tetapi
setiap kali Raden Madyasta menjadi bimbang. Jika saja pada saat ia pergi,
terjadi sesuatu di rumah bibinya, maka persoalannya akan menjadi semakin rumit.
Ayahandanya akan menjadi semakin marah, sehingga jalanpun akan dapat tertutup
sama sekali.
Karena itu, maka Raden
Madyastapun berusaha untuk menahan diri. Ia masih mempunyai satu keyakinan,
bahwa masih ada jalan untuk membuka hati ayahandanya.
Namun Raden Madyasta itu
terkejut ketika seorang anak muda datang ke rumah Raden Ayu Prawirayuda untuk
menemui Raden Madyasta.
“Kau siapa Ki Sanak?”
bertanya Wismaya yang menemui anak muda itu.
“Aku seorang kawannya.
Aku akan berbicara dengan Madyasta langsung.”
Wismaya itu
termangu-mangu sejenak. Namun sebelum ia bertanya lebih lanjut, terdengar suara
Madyasta “Biarlah aku menemuinya, kakang.”
“Baik, Raden. Silahkan.”
Madyastapun kemudian
turun ke halaman menemui anak muda itu.
“Siapakah kau, Ki Sanak?
- bertanya Raden Madyasta.
“Aku datang dari Panjer,
Madyasta.
“Dari Panjer? Kau anak
muda dari Panjer.”
“Ya”
“Aku belum pernah
mengenalmu. Ketika aku berada di Panjer, aku tidak pernah bertemu dengan kau.”
“Aku belum lama pulang ke
Panjer.”
“O” Raden Madyasta
mengangguk-angguk.
“Sekarang, apakah
keperluanmu?”
“Aku diutus oleh saudara
seperguruanku”
“Saudara seperguruanmu?
Siapakah saudara seperguruanmu itu.”
“Ia juga anak muda dari
Panjer. Namanya Saminta.”
“Saminta. Kau diutus
apa?”
“Saminta ingin
menemuimu.”
“Dimana ia sekarang?
Kenapa ia tidak datang kemari saja bersamamu.”
“Tidak. Ia ingin
berbicara dengan kau. Tetapi tidak dirumah ini.”
“Persoalan apa yang akan
dibicarakannya?”
“Sebaiknya kau bertemu
dan berbicara dengan Saminta sendiri sudah siap menemuinya.”
Raden Madyasta
termangu-mangu sejenak. Namun Wismayalah yang bertanya “Kenapa orang itu tidak
mau datang kemari ?”
“Samita ingin berbicara
dengan Madyasta tanpa ada orang lain. Persoalannya adalah persoalan yang sangat
pribadi, sehingga ia memilih tempat yang terpisah dari orang lain.”
“Kau sendiri bagaimana ?”
“Aku tidak akan mengikuti
pembicaraan itu.”
Madyasta tidak segera
dapat mengambil keputusan. Ia memang merasa bimbang, apakah anak muda itu
berkata sejujurnya atau anak muda itu justru sudah memasang perangkap.
“Biarlah aku pergi
bersama Raden “ berkata Wismaya.
Raden Madyasta memandang
Wismaya dengan kerut di dahi. Namun iapun kemudian berkata “Kakang tetap tinggal
di sini. Rumah ini.tidak dapat ditinggalkan.”
Wismayapun tanggap.
Mungkin anak muda itu sekedar memancing agar Raden Madyasta dan para Senapati
meninggalkan rumah ini. Pada saat yang demikian, akan dapat timbul bencana atas
keluarga Raden Ayu Prawirayuda.
Namun untuk melepas Raden
Madyasta sendiri, Wismaya juga merasa berkeberatan. Wismaya dan Madyasta belum
mengenal orang itu, sehingga mereka tidak dapat langsung mem-percayainya.
“Saudara seperguruanku
tidak mempunyai banyak waktu. Aku minta kau segera datang.”
“Siapa menurutmu kau ini,
he ? Apakah kau kira kau dapat begitu saja memberikan perintah kepada Raden
Madyasta ?“ geram Wismaya.
“Kau tidak usah turut
campur. Persoalannya adalah antara saudara perguruanku dengan Raden Madyasta.”
Raden Madyasta memang
tersinggung pula oleh sikap orang itu. Karena itu, maka Raden Madyasta itu
justru menjawab “Aku tidak ingin datang sekarang. Jika saudara seperguruanmu itu
tidak mempunyai waktu, biarlah ia datang kemari segera.”
“Ternyata benar dugaan
saudara seperguruanku itu.”
“Apa yang diduganya.”
“Yang hamanya Madyasta,
putera Kangjeng Adipati Prangkusuma adalah seorang pengecut.”
Dahi Madyasta berkerut.
Sementara itu Wismaya bergeser maju. Namun Wismaya itu justru terkejut mendengar
Raden Madyasta tertawa sambil berkata “Cara yang sudah tidak patut lagi
dipergunakan sekarang untuk memaksakan kehendak. Kau sengaja menyinggung
perasaanku agar aku memenuhi kemauanmu.”
“Maksudmu ?”
“Mungkin caramu itu dapai
kau trapkan terhadap seseorang yang mempunyai harga diri setinggi awan di
langit, namun yang jiwanya masih kekanak-kanakan. Tetapi kau tidak dapat
memancingku dengan cara itu.”
“Kau memang seorang
pengecut.”
“Ya. Aku memang seorang
pengecut. Nah, sampaikan kepada saudara seperguruanmu, bahwa Madyasta, putra
Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom adalah seorang pengecut.”
Anak muda itu menggeram
“Kau harus pergi menemui saudara seperguruanku sekarang.”
“Sekehendakku. Kapan saja
aku mau bertemu dengan saudara seperguruanmu itu. Tetapi aku malas pergi
sekarang. Jika ia mau datang kemari, biarlah ia datang.”
“Kau akan menjebaknya.”
“Mungkin.”
“Iblis kau.”
“Sebut apa saja
sekehendakmu. Tetapi aku tidak mem-punyai ikatan apa-apa dengan saudara
seperguruanmu itu, sehingga ia tidak berhak memerintah aku, memanggil aku atau
memaksa aku untuk memenuhi keinginannya. Jika ia ingin menyebut aku pengecut,
penakut, iblis atau apa saja, aku tidak peduli.”
“Persetan kau Madyasta.
Terserahlah kepadamu apakah kau akan datang atau tidak. Kakak seperguruanku
menunggu di Bukit Sepikul, di sebelah Barat bulak sebelah. Di makam tua diantara
dua buah bukit kecil itu.”
“Ya. Terserah kepadaku.
Apakah aku akan datang atau tidak “
Anak muda itu
menggeretakkan giginya. Namun dalam puncak kemarahannya anak muda itu berkata
“Bagaimanapun juga saudara seperguruanku menunggumu. Ia tidak dapat melepaskan
Rara Menur ketanganmu, meskipun kau anak seorang Adipati.”
“Rara Menur ?” wajah
Madyasta menjadi tegang.
Anak muda itu justru
melihat sentuhan perasaan Madyasta. Karena itu, maka ia berusaha untuk
menghembusnya “Kau mengenal Rara Menur? Kau curi gadjs itu dari sisi saudara
seperguruanku pada saat kami berguru. Sekarang kami sudah pulang. Saudara
seperguruanku siap membuat perhitungan denganmu.”
Jantung Madyasta berdegup
semakin keras.
Namun Wismayalah yang
kemudian menyahut “Saudara seperguruanmu memang tidak tahu malu. Gadis itu
mencintai Raden Madyasta. Karena itu, ia tidak perlu melakukan kerja sia-sia.
Apa yang akan dilakukannya jika ia sudah bertemu dengan Raden Madyasta ?”
“Ia harus mengambilnya
dengan cara seorang laki-laki.”
“Apa yang harus dilakukan
oleh seorang laki-laki ?”
“Seharusnya seorang
laki-laki tidak mencuri perempuan yang sudah menjadi milik orang lain. Jika ia
memang menginginkannya, maka ia harus mengambilnya dengan beradu dada.“
Wismaya yang sudah dapat
menyesuaikan diri dengan cara Raden Madyasta menanggapi sikap anak muda itu
menjawab “Cara itu memang pernah dilakukan oleh orang-orang yang masih belum
beradab. Perempuan dihargai seperti benda-benda mati yang tidak bernalar budi.“
“Kau tidak usah
mencampuri persoalan ini. Pergilah.“
Sebenarnyalah darah
Wismaya terasa bagaikan mendidih. Tetapi ia masih saja mempergunakan cara yang
sudah ditempuh oleh Madyasta, meskipun jantung Madyasta sendiri hampir saja
terbakar.
“Kenapa aku tidak boleh
mencampuri persoalan ini, sedang kau juga turut campur?”
“Aku saudara
seperguruannya.“
“Apa peduliku dengan
saudara seperguruan? Pokoknya kau orang lain yang mencampuri persoalan ini
seperti aku.“
“Persetan kau. Aku akan
membuat perhitungan dengan kau kemudian.“
“Terserah saja kepadamu.“
“Aku tidak berkepentingan
dengan kau“ lalu katanya kepada Madyasta “jadi kau tidak berani datang
bersamaku, Madyasta?.“
Sebenarnyalah telah
terjadi gejolak di dalam dada Madyasta. Tetapi ia masih berusaha menguasai
dirinya. Karena itu, maka iapun menjawab “Terserah kau menyebutku. Aku akan
datang jika aku sudah ingin datang.“
“Kau dapat datang dengan
membawa seorang saksi. Aku akan menjadi saksi dari saudara seperguruanku.“
Madyasta menjawab
seenaknya “ Terserah kepadaku.“
“Tetapi jika kau
benar-benar seorang pengecut, kau dapat membawa sepasukan prajurit. Laporkan
kepada ayahmu dan minta perliridungan kepadanya.“
Darah Raden Madyasta
tersirap. Bahkan Wismaya hampir saja tidak dapat menahan diri lagi.
Namun anak muda itupun
kemudian berkata “Sekali lagi dengar kata-kataku. Saudara seperguruanku
menunggumu di bukit Sepikul.“
Namun Raden Madyasta dan
Wismaya masih saja acuh tak acuh.
Sambil menggeram anak
muda itupun segera meninggalkan Madyasta dan Wismaya.
Demikian orang itu
beringsut, maka Madyastapun menggeram “ Aku akan menemuinya, kakang.“
“Aku akan pergi bersama
Raden. Bukankah anak muda itu mengatakan bahwa Raden dapat membawa seorang
saksi.“
Tetapi aku mencemaskan
keluarga ini, kakang. Mungkin yang dilakukan oleh anak muda itu sekedar
memancing agar kita pergi meninggalkan rumah ini. Kemudian paman Wicitra itu
datang untuk mengambil kangmbok Rantamsari. Jika itu terjadi, alangkah marahnya
ayahanda. Apalagi persoalan yang memancing kita keluar dari rumah itu adalah
persoalan perempuan. Persoalan gadis Panjer yang bagi ayahanda merapakan
ceritera yang kurang menarik.“
“Apakah Raden akan pergi
sendiri ?“
“Menilik sikap dan
kata-katanya, anak muda itu dan mudah-mudahan juga saudara seperguruannya,
adalah seorang yang sangat menjunjung harga diri, sehingga mereka tidak akan
berbuat curang dan licik.“
“Tetapi kadang-kadang apa
yang kita lihat pada gelar lahiriahnya, berbeda dengan apa yang tidak kasat
mata.“
“Aku mengerti, kakang.“
“Karena itu, jangan pergi
sendiri.“
Madyasta termangu-mangu
sejenak. Sementara Wismayapun berkata “Aku akan berbicara dengan Sasangka. Ia
berada di belakang. Mungkin ia tidak berkeberatan berada di rumah ini sendiri
pada saat kita pergi.“
“Kakang Sasangka seorang
diri ?“
“Ya.”
“Aku tetap mencemaskan
keluarga ini.“
Wismaya menarik nafas
panjang. Ia mengerti kecemasan Raden Madyasta. Memang mungkin saja anak muda itu
sekedar menjadi umpan untuk memancing para pengawal di rumah itu keluar.
Namun tiba-tiba saja
Madyasta berkata “ Bagaimana dengan Wignyana ?“
“Maksud Raden ?“
“Aku akan pergi bersama
Wignyana ke Bukit Sepikul. Sedangkan kakang Wismaya dan kakang Sasangka tetap
berjaga-jaga di rumah itu.“
“Sebenarnya aku ingin
pergi bersama Raden. Sebenarnya aku tersinggung oleh sikap anak muda yang datang
atas nama saudara seperguruannya itu.”
“Biarlah nanti aku
berbicara dengan Wignyana. Jika Wignyana tidak berkeberatan, biarlah ia berada
disini selama kita pergi.”
“Baik, Raden.“
“Tetapi dapat saja
terjadi Wignyana memilih untuk pergi bersamaku.“
“Jika demikian, apa boleh
buat.“
“Nah, kakang. Aku minta
tolong kepadamu. Pergilah ke kadipaten. Temui Wignyana. Tetapi ayahanda tidak
perlu mengetahuinya. Pesankan itu kepada Wignyana.“
“Baik, Raden.“
“Ajak Wignyana kemari,
Nanti kita akan membicarakan, siapakah yang akan pergi bersamaku.“
Wismayapun segera pergi
ke kadipaten untuk menemui wignyana seperti yang dipesankan oleh Raden Madyasta.
Sementara itu, Raden
Madyasta telah menemui Sasangka untuk memberitahukan persoalan yang sedang
dihadapinya.
“Kenapa Raden tidak
memanggil aku?“ Sasangka justru menyesal “seharusnya Raden tidak membiarkannya
pergi. Kita akan dapat memaksanya berbicara, apa yang sesungguhnya sedang
dilakukan. Apakah ia benar-benar datang atas nama-saudara seperguruannya, atau
ia memang sedang memancing kita keluar dari rumah ini.“
“Aku akan pergi
menemuinya. Menilik sikap anak muda itu, mereka tentu orang-orang yang sangai
menjunjung harga diri. Mungkin mereka adalah anak-anak muda yang baru keluar
dari sebuah perguruan, sehingga rasa-rasanya ingin meneoba kemampuan yang sudah
dipelajarinya.“
“Belum tentu, Raden.
Mungkin justru sebuah jebakan.“
“Karena itu, aku akan
datang bersama seseorang. Mungkin dimas Wignyana. Tetapi mungkin juga kakang
Wismaya.“
“Jika Raden menghendaki,
aku bersedia pergi bersama Raden.“
“Sebaiknya kakang
sasangka berada disini. Agaknya kakang Wismaya yang sudah tersinggung
perasaannya itu, ingin bertemu lagi dengan anak muda yang tadi datang kemari.“
“Aku yang tidak langsung
bertemu dengan anak itupun merasa tersinggung.“
“Jika aku pergi bersama
kakang Wismaya sampai senja tidak kembali, kakang tahu apa yang harus kakang
lakukan. Kakang memerlukan sekelompok prajurit. Sebagian untuk menjaga rumah
ini, dan sebagian yang lain akan pergi bersama kakang Sasangka dan wignyana
untuk mencari aku.“
“Baik, Raden.“
Raden Madyasta tidak
perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda berhenti
di regol halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda.
Ternyata Wignyana dan
Wismaya datang dengan mengendarai kuda.
“Bukankah ayahanda tidak
mengetahui, dimas?“ bertanya Madyasta kemudian.
“Tidak, kangmas. Kami
menyelinap begitu saja. Derap kaki kuda tidak lagi menarik perhatian ayahanda.
Setiap hari aku bermain-main dengan kuda-kudaku.”
Keempat orang anak muda
itupun kemudian duduk di serambi gandok. Kepada adiknya, Raden Madyastapun
mengemukakan persoalan yang dihadapinya.
“Kakang Wismaya sudah
mengatakan serba sedikit. Karena itu, kami membawa dua ekor kuda. Biarlah kita
berkuda ke Bukit Sepikul. Bukankah Bukit Sepikul letaknya agak jauh?”
“Tetapi Raden“ berkata
Wismaya “bukankah aku mohon, agar aku sajalah yang pergi bersama Raden
Madyasta.”
“Kenapa harus kakang
Wismaya? Aku akan pergi menjadi saksi.”
“Tetapi orang itu sudah
menyinggung perasaanku, Raden. Jika benar apa yang akan dikatakan-nya, ia akan
menantangku.”
Raden Wignyana
mengerutkah dahinya. Dipandanginya kakaknya yang juga termangu-mangu. Namun
Raden Wignyana itupun kemudian bertanya
“Jika kakang Wismaya
pergi, aku harus tinggal di rumah ini?”
“Keadaan yang khusus“
sahut Wismaya. Wignyana nampaknya menjadi bimbang. Sementara
Wismaya berkata pula
“Sekali-sekali Raden menikmati tugas yang menjemukan ini. Biarlah kami menikmati
sedikit perubahan suasana.”
“Baiklah“ berkata Raden
Wignyana “aku akan berada disini bersama kakang Sasangka.”
“Sebenarnya aku menjadi
iri “ berkata Sasangka
“jika saja aku
diperkenankan ikut.”
“Aku akan menuntaskan
persoalanku dengan anak muda yang datang tadi “ berkata Wismaya.
“Jika demikian, pakai
kudaku, kangmas. Kakang Wismaya sudah membawa seekor kuda dari kadipaten.”
“Terima kasih“ sahut
Raden Madyasta sambil menepuk bahu adiknya. Katanya “Bibi tidak usah tahu.
Semakin banyak yang bibi ketahui, hanya akan menyusahkan aku saja.”
“Baiklah, kangmas.”
Sejenak kemudian, maka
Madyasta dan Wismaya telah meninggalkan rumah Raden Ayu Prawirayuda. Sementara
itu Raden Wignyana telah menggantikan tugas mereka berada di rumah itu bersama
Sasangka.
Namun Sasangka tidak lama
menemani Raden Wignyana. Sejenak kemudian, maka Sasangka itupun berkata
“Silahkan Raden
beristirahat di gandok. Aku akan pergi ke belakang. Bagian belakang rumah ini
juga memerlukan pengawasan.
“Silahkan, kakang. Aku
akan duduk disini saja agar bibi tidak mengetahuinya, bahwa aku berada disini.”
Untuk beberapa lama Raden
Wignyana duduk di serambi gandok. Namun ia segera merasa jemu. Karena itu, maka
Raden Wignyana itupun bangkit berdiri dan berjalan hilir mudik. Bahkan kemudian
turun ke halaman dan melangkah kebelakang gandok melihat-lihat tanaman perdu
yang dipelihara rapi. Beberapa batang pohon melinjo tampak berdiri berjajar
beberapa langkah dari dinding halaman samping.
Namun Raden Wignyana itu
melangkah semakin jauh ke belakang. Bahkan kemudian Radeh Wignyana itu sampai ke
bagian belakang rumah yang terhitung besar itu lewat halaman samping.
Namun tiba-tiba saja
Raden Wignyana itu meloncat kebalik sudut bagian belakang rumah yang besar itu.
Di halaman belakang ia melhat Sasangka duduk di atas lincak bambu yang dibuat
oleh Wismaya dibawah sebatang pohon jambu air yang rindang.
Tetapi Sasangka tidak
sendiri. Ia duduk di lineak bambu itu bersama Raden Ajeng Rantamsari.
Raden Wignyana menarik
nafas panjang. Namun seakan berjingkat itupun bergeser surut dan kemudian
kembali ke serambi gandok.
Ketika Raden Wignyana itu
duduk di serambi, rasa-rasanya nafasnya menjadi terengah-engah, seakan-akan
Raden Wignyana itu baru saja berlari menjelajahi lereng-lereng bukit.
Dalam pada itu, Raden
Madyasta dan Wismaya melarikan kudanya menuju ke Bukit Sepikul. Diantara dua
buah bukit kecil terdapat sebuah kuburan tua yang terasing. Menurut anak muda
yang datang menemuinya, anak muda Panjer yang bernama Saminta menunggunya di
kuburan tua itu.
Sebenarnyalah Saminta
berada di kuburan tua itu. Ketika saudara seperguruannya datang, maka dengan
serta-merta Saminta itu bertanya “ Mana anak Adipati itu.”
“Anak itu gila, kakang“
jawab saudara seperguruannya.
“Kenapa ?”
Iapun segera meneeritakan
tanggap Raden Madyasta tentang tantangan Saminta.
“Kau juga bodoh“ geram
Saminta “jika kau katakan dengan baik-baik, ia tidak akan tersinggung dan
bersikap seperti orang gila dengan membiarkan dirinya direndahkan. Sikap itu
adalah sikap untuk sekedar membalas sakit hatinya karena sikapmu.”
“Aku memang berniat
menyakiti hatinya, agar ia menjadi marah dan segera berlari kemari.”
“Tetapi yang terjadi
adalah-sebaliknya.”
“Ya.”
“Meskipun demikian aku
yakin bahwa ia akan datang.”
“Ia akan datang ? Tetapi
ia tentu mengulur waktu atau membawa sekelompok prajurit untuk menangkap kita.”
“Tidak. Aku yakin ia
datang sendiri atau dengan seorang saksi.”
“Ia benar-benar seorang
pengecut, Ia sendiri tidak ingkar.”
“Kau yang dungu. Sudah
aku katakan, sikapnya itu merupakan satu cara untuk membalas membuat kita marah,
jengkel dan barangkali kehilangan gairah untuk berperang tanding.”
Saudara seperguruannya
itu menarik nafas dalam-dalam.
“Kita tunggu anak itu
disini.”
“Sampai kapan.”
“Sampai senja.”
“Dan membiarkan kita
ditangkap oleh sapasukan prajurit yang dibawanya.”
“Tidak. Tidak. Kau
dengar? Ia akan datang tanpa prajurit. Aku yakin itu.”
Saudara seperguruannya
itu menjadi gelisah. Agaknya ia masih saja curiga, bahwa Madyasta, anak seorang
Adipati itu akan datang membawa pengawal-pengawalnya.
Tetapi Saminta masih saja duduk di tempatnya. Jika Saminta kemudian nampak
gelisah, bukan karena ia menjadi ketakutan, bahwa sekelompok prajurit pengawal
akan datang menangkapnya. Tetapi ia mulai menjadi gelisah, bahwa Madyasta
benar-benar tidak akan datang.
Namun ketika .kegelisahan
Saminta menjadi semakin bergejolak didalam dadanya, tiba-tiba saja terdengar
derap kaki dua ekor kuda mendekati kuburan tua itu.
Dengan serta merta
Samintapun bangkit berdiri. Ketika ia bergeser, ia melihat dua orang anak muda
diatas punggung kuda yang kemudian berhenti di depan regol kuburan tua itu.
Dada Saminta menjadi
berdebar-debar.
Diatas Punggung kuda,
Raden Madyasta nampak berdebar-debar. Diatas punggung kuda, perang yang sedang
memimpin pasukan segelar-sepapan. Sedang dibelakangnya, seorang anak muda yang
gagah. Tubuhnya nampak kokoh kuat. Nampaknya anak muda itu adalah seorang
prajurit yang tangguh.
“Itulah orangnya “ desis
saudara seperguruan Saminta.
“Aku sudah mengira bahwa
orang itulah yang bernama Raden Madyasta. Nah, bukankah perhitunganku benar,
bahwa anak muda itu akan datang? Tidak dengan sekelompok prajurit pengawal yang
akan menangkap kita.”
“Yang seorang itu adalah
prajurit yang juga berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda.”
“Ia datang sebagai saksi.
Bukankah kau mengatakan, bahwa Madyasta dapat membawa seorang saksi ?”
“Ya.”
Saminta menarik nafas
panjang. Iapun kemudian melangkah keluar dari regol kuburan tua yang sudah
menjadi asing itu. Kuburan yang nampak gelap ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul
liar. Beberapa buah nisan dan cungkup sudah rusak dan bahkan runtuh. Sedangkan
regolnyapun sudah mulai nampak miring.
Agaknya kuburan itu sudah
tidak lagi dipergunakan. Tidak ada lagi orang yang menguburkan mayat keluarganya
di kuburan tua itu.
Ketika Saminta sudah
berdiri di luar regol kuburan tua itu, Raden Madyastapun menyapanya “Kaukah yang
bernama Saminta?”
“Ya. Dan tentu kau anak
Adipati yang sombong itu. Maksudku kaulah yang sombong, bukan Adipati
Prangkusuma.”
“Apakah sudah menjadi
ciri dari perguruanmu, bahwa pada saat bertemu dengan seseorang, dikenal atau
tidak, kalian harus menyinggung perasaannya dan menyakiti hatinya ?”
“Tergantung dengan siapa
aku berhadapan. Jika aku berhadapan dengan seorang yang baik, yang rendah hati
dan tahu diri, maka akupun bersikap baik. Tetapi aku tidak akan bersikap baik
dihadapan anak muda yang sombong, licik dan tidak tahu malu.”
Jantung Raden Madyasta
berdegup semakin cepat. tetapi ia masih saja tetap mengendalikan dirinya. Karena
itu, tanpa menunjukkan gejolak perasaannya, Raden Madyasta itupun berkata
“Menurut saudara seperguruanmu, kau merasa kehilangan seorang perempuan.”
“Ya. Kau datang ke Panjer
dengan memamerkan kelebihanmu menghancurkan segerombolan. pencuri ayam itu!
Orang-orang Panjer yang tidak pernah melihat luasnya cakrawala memang akan
terkagum-kagum. Mereka yang setiap hari bergumul dengan kambing untuk
digembalakan atau mereka yang setiap hari merendam kakinya di lumpur, akan
menganggap bahwa anak laki-laki Adipati Paranganom telah datang untuk
menyelamatkan mereka. Tetapi bagi orang yang pernah melintas batas pandangan
mata yang sempit itu, tidak akan menjadi dapat melakukannya. Mengusir dan
menakut-nakuti sekelompok pencuri ayam itu.”
“Sekarang kau datang
untuk menunjukkan bahwa kau baru turun dari sebuah perguruan.”
“Bukan itu. yang penting.
Tetapi setelah kau dikagumi oleh rakyat Panjer, maka kau merasa berhak untuk
berbuat apa saja. Apalagi kau anak seorang Adipati. Nah, dengan payung nama
kebesaran ayahmu, kau ambil gadisku.”
“Rara Menur maksudmu?”
“Ya“
“Tetapi Rara Menur tidak
pernah menyebut-nyebut nama Saminta. Iapun tidak pernah mengatakan bahwa hatinya
pernah tertambat kepada seseorang.“
“Tentu saja. Kau datang
dengan pakaian yang gemerlap diiringi oleh beberapa orang prajurit yang sangat
menghormatimu. Bahkan Ki Demang Panjerpun menghormatimu pula seperti menghormati
Kangjeng Adipati itu sendiri.”
“Saminta“ berkata Raden
Madyasta kemudian “sekarang sudah bukan waktunya lagi untuk menganggap seorang
perempuan seperti barang mati. Rara Menur adalah seorang yang hidup, yang
mempunyai nalar budi. Rara Menurpun adalah seorang yang dapat mengemukakan
perasaannya. Ia dapat niengatakan, apa yang diinginkannya. Karena itu, datanglah
kepadanya. Bertanyalah, siapakah yang dipilihnya. Kau atau aku. Aku akan
menghormati sikapnya. Jika ia memilih kau, Saminta, aku akan dengan senang hati
menyingkir. Tetapi jika ia memilih aku, maka kaulah yang harus menepi.“
“Omong kosong“ geram
Saminta aku tidak mau memakai cara seorang pengecut yang akan berlindung dibalik
pengertian cinta sejati. Aku tidak menge nal cinta sejati. Sebagai laki-laki aku
akan merebut perempuan yang aku ingini. Sekarang aku ingin Menur. Aku tidak
tahu, apakah aku masih mengingininya tiga empat tahun mendatang. Jika waktunya
aku melemparkan perempuan itu tiba, ambillah. Aku tidak akan peduli lagi.“
Gejolak yang dahsyat
mengguncang dada Raden Madyasta. Tiba-tiba saja ia meloncat turun dari kudanya.
Demikian pula Wismaya. Namun agaknya Wismaya yang sudah lebih tua dari Madyasta
meskipun selisihnya tidak begitu banyak, juga karena Wismaya tidak langsung
tersentuh oleh persoalannya, maka gejolak di dadanya tidak sedahsyat gejolak di
dada Madyasta.
Karena itu ketika Raden
Madyasta dlbakar oleh kemarahannya, Wismaya masih sempal berkata “Saminta.
Perampok-perampok di Panjer, yang telah dihancurkan oleh Raden Madyasta, adalah
mereka yang sering mengganggu ketenangan rakyat Panjer. Mereka merampok harta
benda rakyat yang tidak berdaya. Ternyata kaupun seorang diantara mereka,
meskipun sasaran perampokanmu berbeda.“
“Kau sebut aku perampok
?“
“Ya. Kau telah berusaha
merampok hati seorang gadis.“
Saminta menggeram.
Sementara itu, justru jantung Raden Madyasta menjadi sedikit tenang, sehingga ia
sempat menyambung kata-kata Wismaya “Aku masih menghormati mereka yang merampok
ayam, karena ayam itu tidak dapat bersikap. Tetapi seorang gadis mampu bersikap.
Mampu memilih mana yang baik baginya dan mana yang tidak baik.“
“Itu tidak adil. Jika
sekarang seseorang bertanya kepada Rara Menur, ia tentu akan memilihmu. Kau
adalah anak seorang Adipati, sedangkan aku hanyalah anak orang kebanyakan.“
“Nah, kau sadari
kekuranganmu ? Aku anak Adipati dan kau anak orang kebanyakan. Karena itu,
seharusnya kau sadari keadaan itu, sehingga kau harus minggir.“
“Persetan dengan
celotehmu itu Madyasta. Meskipun aku anak orang kebanyakan, tetapi aku merasa
diriku laki-laki yang akan berhadapan dengan kau sebagai laki-laki juga.“
“Baiklah Saminta. Jika
cara orang-orang yang masih belum mengenai peradaban ini yang kau pilih, aku
tidak akan menghindar. Aku akan berusaha untuk masuk kedalam suasana liar
sebagaimana seekor harimau betina diperebutkan oleh beberapa ekor harimau
jantan.”
“Jangan berlindung
dibalik peradaban. Apapun namanya, aku tentang kau bertempur untuk menunjukkan
siapakah diantara kita yang terbaik bagi Rara Menur.“
Raden Madyasta tidak
menjawab lagi. Tetapi iapun bergeser ketempat yang lebih lapang, diatas
rerumputan yang kering.
Wismaya mengikat kudanya
dan kuda Raden Madyasta pada sebatang pohon cangkring tidak jauh dari regol
kuburan itu.
“Bersiaplah“ berkata
Saminta “adik seperguruanku akan menjadi saksi.“
Raden Madyasta tidak
menjawab. Namun iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Ketika Saminta bergeser
selangkah, Raden Madyastapun bergeser pula,
“Kau akan menyesal
Madyasta. Aku telah menguasai ilmuku sampai tuntas. Kau tidak akan mampu
menandinginya, siapapun kau.”
Raden Madyasta sama
sekali tidak menjawab. Tetapi ketika Saminta meloncat menyerang, dengan
tangkasnya Raden Madyasta mengelak.
Dengan demikian, maka
pertempuran diantara kedua orang anak muda ia telah menyala. Dengan garang,
Saminta yang merasa dirinya telah tuntas menuntut ilmu itu, menyerang Raden
Madyasta seperti angin Prahara.
Raden Madyasta memang
harus berloncat surut. Tetapi itu bukan berarti bahwa ia mengalami kesulitan
dengan lawannya itu.
Dalam loncatan-loncatan
pertama, Raden Madyasta masih ingin menjajagi kekuatan dan kemampuan lawannya.
Karena itu, maka Raden Madyasta masih lebih banyak menyesuaikan dirinya.
Namun serangan-serangan
Saminta itupun datang membadai. Ia tidak menyia-nyiakan waktu sekejappun. Jika
Raden Madyasta berloncatan surut, maka Samintapun dengan cepat memburunya.
*****
Bab 25 - Perkelahian di
Kuburan Tua
TERASA serangan-serangan
Saminta memang menekan pertahanan Raden Madyasta. Bahkan Raden Madyasta masih
saja berloncatan surut.
Dalam pada itu, Saminta
yang merasa mampu mendesak Raden Madyasta itupun berkata lantang”Jika kau
mengaku kalah Madyasta, aku tidak akan menyakitimu. Tetapi aku minta kita pergi
menemui Rara Menur. Kau harus mengatakan kepadanya, bahwa kau tidak akan pernah
menemuinya lagi.“
Dalam pada itu, Raden
Madyasta merasa sudah cukup menjajagi kemampuan dan kekuatan Saminta. Mungkin
Saminta memang belum sampai ke puncak kemampuannya, namun Raden Madyasta sudah
dapat menduga, seberapa tinggi ilmu anak muda yang merasa sudah tuntas menyadap
ilmu dari perguruannya itu.
Karena itu, maka Raden Madyastapun mulai meningkatkan kemampuannya. Ia tidak
lagi ingin didesak terus oleh lawannya serta menjadi sasaran
serangan-serangannya tanpa membalas.
Samintalah yang kemudian terkejut. Raden Madyasta yang ierdesak beberapa langkah
surut itu, tiba-tiba saja tidak lagi berloncatan menghindari serangannya. Ketika
Saminta meloncat sambil mengayunkan kakinya mendatar, Raden Madyasta tidak lagi
meloncat beberapa langkah mundur. Tetapi Raden Madyasta hanya bergeser sedikit
kesamping sambil memutar tubuhnya. Sementara itu, dengan tangkasnya Raden
Madyasta menjulurkan tangannya menyerang kcarah perut Saminta.
Saminta terkejut Sejak
pertempuran itu mulai, ia mengira bahwa Raden Madyasta tidak mempunyai
kesempatan untuk menyerangnya kembali. Namun tiba-tiba saja tangannya telah
menghantam perutnya.
Diluar sadarnya Saminta
mengaduh tertahan. Perutnya terasa menjadi mual. Bahkan nafasnya terasa menjadi
sesak.
Ketika kemudian kaki
Madyasta terjulur, mengenai dadanya, maka Saminta itupun terdorong beberapa
langkah dan bahkan kemudian, ia tidak mampu mempertahankan keseimbangannya.
Dengan kerasnya Saminia kebanting ditanah. Hampir saja kepalanya membentur
sebaiang pohon yang tumbuh di dekat kuburan tua itu.
"Namun Saminta itu dengan
cepat melenting berdiri. la mencoba mengerahkan daya tahan tubuhnya untuk
mengusir mual di perutnya serta sakit didadanya. Tetapi nafas Saminta masih saja
terasa sesak.
“Iblis kuburan itu telah
membantumu, Madyasta“ geram Saminta.
Madyasta tidak menjawab.
Namun ia bergeser selangkah demi selangkah mendekati Saminta yang masih berusaha
mengatur pernafasannya.
Sejenak Madyasta berdiri
mematung dihadapan Saminta yang mempersiapkan dirinya. Seakan-akan Raden
Madyasta sengaja memberi kesempatan kepada Saminta untuk memperbaiki keadaannya.
Saminta benar-benar
tersinggung ketika Raden Madyasta bertanya”Apakah kau sudah siap Saminta.“
“Persetan dengan
kesombonganmu. Kau akan menyesal. Tubuhmu dan namamu akan aku hancurkan disini.“
Raden Madyasta tidak
menjawab. Selangkah ia maju sambil menyilangkan tangannya didadanya.
Samintalah yang kemudian
meloncat menyerang. Sambil berputar ia mengayunkan kakinya mengarah ke kening.
Namun dengan merendah, Madyasta luput dari sentuhan kaki Saminta.
Demikianlah pertempuran
semakin lama menjadi semakin sengit. Saminta dengan cepat meningkatkan ilmunya.
Ia ingin segera menunjukkan kemenangannya dan memaksa Raden Madyasta untuk
menyerah.
Tetapi ternyata bahwa
Madyastapun meningkatkan kemampuannya pula. Selapis demi selapis, mengimbangi
kemampuan Saminta yang merasa dirinya telah menuntaskan ilmunya itu.
Saminta yang marah itu
tidak segera menyadari kenyataan. Ketika ia sampai pada puncak kemampuannya,
maka rasa-rasanya ia akan segera menggulung jagad seisinya.
Tetapi dihadapan
Madyasta, Saminta merasa membentur pertahanan yang tidak tertembus. Saminta
merasakah seakan-akan ada sekat yang membatasinya, sehingga serangan-serangannya
tidak pernah mampu menyusup keseberang sekat itu.
“Apakah Madyasta
mempergunakan perisai gaib yang dapat melindunginya?“ bertanya Saminta didalam
hatinya.
Sebenamya bahwa ilmu
Raden Madyasta masih berada pada tataran yang lebih tinggi dari ilmu Saminia.
Meskipun Saminta telah memuntaskan laku di perguruannya untuk menyadap ilmunya,
namun Saminta masih belum mampu mengembangkannya. Bahkan Saminta masih terlalu
terikat pada unsur-unsur gerak yang dipelajarinya. Ia masih belum berpengalaman
menghadapi lawan yang sebenarnya.
Itulah sebabnya, maka
beberapa saat kemudian, serangan-serangan Madyasta semakin sering mengenai
tubuhnya, sehingga Samintalah yang semakin lama menjadi semakin terdesak.
Adik seperguruan Saminta
melihat kesulitan yang dialami oleh saudara seperguruannya. Karena itu tanpa
berpikir panjang, ia pun bergerak mendekati arena pertempuran.
Namun Wismaya pun
bergerak pula sambil bertanya”Kau mau apa, he?“
“Akan aku bunuh
Madyasta.“
“Mereka sedang berperang
tanding. Jangan ganggu.“
“Tetapi Madyasta licik.“
“Apanya yang licik?“
Ia mempergunakan ilmu
sihir.“ Wismaya tiba-tiba saja tertawa. Bahkan Raden Madyastapun meloncat
mengambil jarak dan lawannya yang sudah mulai kelelahan sambil tertawa pula “Apa
yang kau maksud dengan ilmu sihir?“
“Tidak ada orang yang
dapat mengalahkan kakang Saminta jika ia tidak mempergunakan ilmu sihir. Kakang
Saminta telah mewarisi ilmu perguruan sampai tuntas. Tidak ada orang yang dapat
menyamai kemampuannya selain guru.”
“Ternyata kalian tidak
saja sombong, tetapi lebih daripada itu, kalian adalah orang-orang dungu yang
telah dengan mudah tertipu oleh orang yang mengaku guru dari perguruanmu itu.“
“Jangan menyinggung nama
guruku. Aku akan membunuhmu“ geram Saminta.
Samintapun kemudian telah meloncat menyerang dengan mengerahkan segenap
kemampuannya.
Tetapi Madyasta telah
bersiap menghadapinya. Karena itu, maka serangan Saminta tidak menyentuh
kulitnya.
Agaknya kemarahan Saminta
telah sampai ke ubun-ubunnya. Saminta telah menarik kerisnya sambil berkata”Kau
tidak akan dapat meninggalkan tempat ini. Kau akan mati dan berkubur di kuburan
tua itu. Ayahmu tidak akan sempat menguburmu dipemakaman keluargamu yang menurut
pendengaranku berada di puncak bukit Wukirsari.”
Madyasta meloncat surut
sambil berkata”Jangan bermain-main dengan senjata. Jika karena kerismu aku
terdesak, maka akupun akan menarik kerisku,pula.“
“Kau harus mengetahuinya,
jika kerisku ini sudah keluar dari warangkanya, maka kerisku harus dibasahi
dengan darah.“
“Apakah sejak kau
meninggalkan Panjer, kau sudah bemiat untuk membunuhku.“
“Jika kau menyerah dan
bersedia menemui Rara Menur dan mengatakan bahwa kau tidak akan pernah datang
lagi kepadanya setelah aku pulang ke Panjer, maka aku tidak akan membunuhmu.“
“Jika aku tidak mau.“
“Aku akan membunuhmu.“
“Dihadapan saksi?“
“Saksiku tidak akan
berbicara apa-apa. Sedangkan saksimu akan mati oleh saudara seperguruanku.“
“Begitu mudahnya?“
Saminta itupun kemudian
berkata kepada adik seperguruannya”Bunuh orang itu. Jangan beri kesempatan ia
lolos.“
Adik seperguruan Saminta
itu tiba hba saja telah menarik kerisnya pula. Tanpa mengatakan apa apa, iapun
segera menyerang Wismaya.
Tetapi Wismaya sudah bersiap. Hampir diluar sadarnya, Wismaya telah menarik
pedangnya.
Adik seperguruan Saminta
itu tertegun ketika tiba-tiba ujung pedang Wismaya itu teraeu ke dadanya.
“Senjataku lebih
menguntungkan dari senjatamu, Ki Sanak“ berkata Wismaya.
“Persetan“ geram adik
seperguruan Saminta”pedangmu hanya buatan pande besi di sudut-sudut pasar itu
yang biasanya membuat parang pembelah kayu. Kerisku adalah keris buatan empu
yang namanya dikenal oleh seluruh tanah ini ratusan tahun yang lalu.“
“Keris pusaka?“
“Ya.”
“Tetapi pedangku jauh
lebih panjang dan kerismu.“ Orang itu tidak menghiraukatinya. lapun telah
menyerang lagi dengan cepatnya. Kerisnya torjulur menggapai dada.
Wismaya bergeser surut
sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya. Ketika terjadi benturan, maka
Wismayapun merasakan. bahwa keris lawannya adalah keris yang baik.
Tetapi Wismaya adalah
prajurit yang terlatih baik mempergunakan pedangnya. Karena itu, maka sejenak
kemudian, adik seperguruan Saminta Itupun telah terdesak surut.
Sementara itu, Samintapun
telah mengerahkan kemampuannya pula. Kerisnya berputar mengerikan. Keris yang
bagaikan membara itu, sekall-sekali terayun menyambar kcarah lambung. Kemudian
rerjulur lurus mematuk dada. Namun kemudian menebas kcarah leher.
Madyasta memang terdesak.
Karena itu, maka ketika Saminta menyerangnya bagaikan angin pusaran, maka Raden
Madyastapun telah meneabut kerisnya pula.
Ternyata keris Raden
Madyasta telah menggetarkan dada Saminta pula. Namun
kemarahan Saminta telah mencengkam jantung sehingga ia tidak sempat berpikir
bening.
Meskipun kemudian
serangan Saminta itu datang beruntun seperti gelombang ombak lautan yang ditempa
prahara, namun ujung kerisnya sama sekali tidak sempat menyentuh tubuh Raden
Madyasta. Bahkan ketika pertempuran menjadi semakin cepat, ujung keris
Madyastalah yang telah menggores di lengan Saminta.
“Sadari kelemahanmu,
Saminta“ Raden Madyasta mencoba memperingatkan lawannya.
Tetapi Saminta justru
berteriak”Aku akan membunuhmu. Jangan berbangga dengan kemenangan kecilmu.“
Betapapun juga usaha
Raden Madyasta mengendalikan perasaannya, namun sikap Saminta benar-benar
menyakitkan. Karena itu, maka akhimya Raden Madyastapun berniat untuk
menghentikan perlawanan Saminta.
Pertempuran diantara
keduanyapun berlangsung semakin sengit. Saminta tidak lagi mengekang dirinya.
Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Saminta berusaha untuk benar-benar
membunuh Raden Madyasta.
Namun kemampuan Raden
Madyasta memang lebih tinggi. Karena itu, maka justru keris Raden Madyastalah
yang beberapa kali telah menyentuh tubuh Saminta.
Ketika Saminta meloncat
sambil menjulurkan kerisnya mengarah ke jantung Raden Madyasta, maka Raden
Madyasta masih sempat bergeser kesamping sambil memiringkan tubuhnya.
Sebenarnyalah bahwa Raden Madyasta mendapat kesempatan untuk menghunjamkan
kerisnya di lambung Saminta. Tetapi ketika keris itu menyentuh pakaian dan
tembus menggores kulit. Raden Madyasta masih sempat menahan diri.
Namun Samintapun kemudian
telah meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak.
Tetapi Saminta masih
tidak melihat kenyataan itu. Bahkan ia merasa bahwa ia masih berhasil menghindar
dari ujung keris Raden Madyasta.
“Saminta“ berkata Raden
Madyasta kemudian”Jangan paksa aku membunuhmu. Pergilah. Jangan ganggu lagi Rara
Menur.“
Saminta justru
menggeretakkan giginya. Dengan garangnya ia meloncat menyerang. Kerisnya terayun
mendatar menebas kcarah perut.
“Gila kau Saminta” geram
Raden Mayasta.
Raden Madyasta itupun
bergeser selangkah surut. Keris itu terayun dengan derasnya. Ujungnya hanya
berjarak setebal daun dari perut Raden Madyasta. Bahkan baju Raden Madyasta
telah terkoyak secengkang.
Namun demikian Raden
Madyasta berdiri mapan, tiba-tiba saja ia melenting. Kakinya bergerak demikian
cepatnya mengenai pergelangan langan Saminta.
Demikian kerasnya
lendangan itu. sehingga keris di tangan Saminia itupun terlepas dan terpental
beberapa langkah.
Saminta terkejut.tetapi
ia tidak sempat meloncat menggapai kerisnya yang terjatuh, karena tiba-tiba saja
ujung keris Raden Madyasta telah melekat di dadanya, di arah jantung.
Saminta surut selangkah
Tetapi keris itu tidak terpisah dari dadanya
“Perintahkan saudara
seperguruanmu untuk berhenti bertempur“ geram Raden Madyasta.
Tetapi Saminta justru
bertanya”Kau takut kehilangan kawanmu?“
“Tidak. Aku tidak takut
kehilangan kawanku. Tetapi aku tidak ingin kawanku itu membunuh. Jika saudara
seperguruanmu itu keras kepala seperti kau, maka ia akan mati.“
“Kenapa tidak kau
perintahkan kepada kawanmu itu saja untuk berhenti?“
“Jika kawanku berhenti
bertempur, maka kawanmu akan membunuhnya.“
“Kalau saudara
seperguruanku yang berhenti?“
“Kawanku bukan seorang
pembunuh.“
Saminta masih ragu-ragu.
Ia bahkan-berharap saudara seperguruannya itu dapat mengalahkan lawannya. Mati
atau tidak mati. Kemudian saudara seperguruannya itu akan dapat membantunya.
Tetapi ternyata yang
terjadi berbeda. Yang terdengar adalah keluhan tertahan saudara seperguruannya
itu.
Diluar sadarnya, Saminta
berpaling. Dilihatnya saudara seperguruannya itu terpelanting dan jatuh
terlentang. Darah telah mewarnai baju di bagian dadanya.
“Kau bunuh saudaraku”
teriak Saminta.
Namun ketika Saminta itu
akan beranjak, ujung keris Raden Madyasta menekannya.
“Kau tidak akan
kemana-mana.“
“Saudara seperguruanku
itu.“
“Kau yang bertanggung
jawab. Jika ia mati, maka kaulah yang bersalah. Aku sudah memberimu peringatan
agar kau perintahkan saudara seperguruanmu itu berhenti. Tetapi kau tidak
melakukannya.“
Wajah Saminta menjadi
sangat tegang. Namun kemudian Raden Madyasta itupun bertanya” Kau akan
melihatnya?“
“Ya.”
“Lihatlah. Apakah ia mati
atau tidak.”
Tetapi saudara
seperguruan Saminta itu masih bergerak. Bahkan berusaha untuk bangkit.
Samintapun segera berlari
mendekatinya. Ketika ia berjongkok di sampingnya, maka saudara seperguruannya
itu masih sesambat” Kakang. Dadaku.“
Wajah Saminta menjadi
sangat tegang. Ketika ia berpaling kepada Wismaya, maka Wismayapun berkata” Aku
sudah memperingatkannya. Tetapi ia keras kepala.“
“Ia tidak akan mati”
berkata Raden Madyasta kemudian.
Saminta termangu-mangu
sejenak. Darah masih mengalir dari tubuh saudara seperguruannya itu, sementara
tubuhnya sendiri juga telah bernoda darah oleh goresan keris Raden Madyasta di
beberapa tempat Namun luka di dada adik seperguruannya itu agak dalam.
Raden Madyasta telah
mengambil sebuah bumbung kecil dari kantung ikat pinggangnya Diberikannya
bumbung kecil itu kepada Saminta sambil berdesis ”Obati luka adik seperguruanmu
itu serta lukamu sendiri.“
Saminta memandang Raden
Madyasta dengan ragu-ragu.
“Aku tidak akan meracuni
kalian berdua Jika aku ingin membunuh, maka aku akan membunuh.“
Seakan-akan diluar
sadamya, Saminta telah mengulurkan tangannya untuk menerima bumbung kecil yang
berisi serbuk obat itu.
“Saminta” berkata Raden
Madyasta kemudian ”aku masih ingin bertanya kepadamu, apakah kita akan
melanjutkan perkelahian ini atau tidak. Jika kau masih ingin melanjutkan
perkelahian ini, maka aku tidak akan berkeberataa Tetapi jika kita mulai lagi ,
maka perkelahian ini akan berakhir dengan buruk sekali. Salah seorang dari kita
akan mati.
Saminta menjadi
ragu-ragu. bagaimanapun juga, ia tidak dapat mengingkari kenyataan, tubuhnyalah
yung terluka. Bukan Raden Madyasta Sementara itu adik seperguruannya telah
terluka pula didadanya
“Kau harus menjawab
pertanyaanku, jika kau masih ingin meneruskan, aku akan melayanimui. Jika kau
sudah merasa cukup, maka aku minta kau bernjanji untuk tidak mengganggu Rara
Menur.
Saminta termangu-mangu
sejenak
“Ketahuilah Saminta”
berkata Raden Madyasta”kau agaknya memang sudah menyadap ilmu di perguruanmu
sampai tuntas. Tetapi tataran disetiap perguruan memang berbeda. Aku tidak
mengatakan bahwa bobot ilmu di perguruanmu rendah. Tetapi kau sendiri belum
mampu mengembangkannya Kau kira demikian kau keluar dari sebuah perguruan, kau
langsung dapat menghadapi kenyataan kerasnya dunia oleh kanuragan serta tidak
terkalahkan?“
Jantung Saminta
berdebaran. Tetapi ilmunya memang masih belum mampu mengimbangi Raden Madyasta
“Pulanglah. Tetapi sekali
lagi kau harus berjanji tidak akan mengganggu Rara Menur. Jika kau
mengganggunya, maka aku akan datang kepadamu dengan sepasukan prajurit Aku akan
menangkapmu atas nama ayahanda Adipati Paranganom, karena kau sudah mengganggu
ketenteraman hidup seseorang.“
Saminta masih tetap diam,
sehingga Raden Madyasta itupun berkata ”Bangkitlah. Marilah kita teruskan
perkelahian ini. Kau atau aku yang akan mati. Kita sudah bersepakat untuk
menyelesaikan persoalan kita dengan cara seorang laki-laki. Bahkan kita sudah
mengabaikan perasaan dan penalaran Rara Menur sendiri.“
Jantung Saminta berdegup
semakin cepat. Sementara itu, Raden Madyastapun berkata selanjutnya”Tetapi
seperti kau katakan, jika aku membunuhmu, maka akupun akan menghilangkan jejak.
Kawanku juga akan membunuh saksimu, agar ia tidak dapat berceritera bahwa akulah
yang telah membunuhmu, meskipun kita sudah sepakat untuk berperang tanding.“
Ternyata tantangan itu
telah membuat hati Saminta menjadi kuncup. Karena itu, maka iapun berkata”Aku
tidak ingin meneruskan perkelahian ini, Madyasta”
“Kenapa?“ Saminta
terdiam.
“Jika kau merasa bahwa
kau kalah, katakan bahwa kau menyerah. Tetapi jika kau merasa belum kalah, kita
teruskan perkelahian ini.”
Saminta tidak dapat
berbuat lain. Iapun kemudian berkata”Aku mengaku kalah.“
“Baik. Jika demikian,
pulanglah. Bawa saudara seperguruanmu. Tetapi ingat, jangan ganggu Rara Menur.
Kalau kau menantangku untuk membuat penyelesaian sebagai laki-laki, maka
persoalannya sekarang tentu sudah selesai.“
“Baik, Madyasta.”
“Berjanjilah.“
“Aku berjanji.“
“Berjanji apa.“
“Berjanji untuk tidak
mengganggu Rara Menur.“
“Aku percaya kata-kata
seorang laki-laki. Sekali lagi aku peringatkan. Jika kau mengganggu Rara Menur,
aku akan mempergunakan kuasaku sebagai seorang putera Adipati di Paranganom.
Persoalan kita sebagai seorang laki-laki sudah selesai Persoalan yang timbul
kemudian adalah tindak kejahatan.
“Aku mengerti Madyasta.“
Madyasta menarik nafas
panjang. Namun tiba-tiba saja terngiang kata-kata ayahandanya, Kangjeng Adipati
Prangkusuma di Paranganom, bahwa Madyasta tidak dibenarkan untuk berhubungan
dengan gadis Panjer yang hanya anak seorang Demang itu.
Terasa jantung Madyasta
berdegup lebih cepat. Ia menjadi lebih tegang dari saat ia menghadapi Saminta
yang menantangnya berkelahi itu.
Tiba-tiba saja Madyasta
itupun berkata kepada Wismaya”Kakang, marilah kita kembali ke rumah bibi.“
“Marilah Raden” sahut
Wismaya. Ketika Wismaya akan meninggalkan tempat itu, ia masih berkata kepada
Saminta”obati luka saudara seperguruanmu. Pada saat obat itu ditaburkan, ia akan
disengat rasa pedih di lukanya itu. Tetapi darahnya akan segera mampat”
Saminta tidak menjawab.
Di tangannya masih digenggam bumbung kecil yang berisi serbuk obat
Sejenak kemudian, maka
dua ekor kuda itupun berderap meninggalkan tempat itu. Semakin lama menjadi
semakin jauh.
Saminta masih memandang
debu yang mengepul di belakang kaki kuda yang berlari kencang itu. Ternyata
harus mengalami kenyataan pahit. Meskipun ia merasa sudah tuntas menyadap ilmu
kanuragan dari perguruannya, tetapi ketika ia benar-benar terjun di kerasnya
dunia olah kanuragan, maka ia merasa bahwa ia masih terlalu kecil dibandingkan
dengan orang-orang yang telah lebih dahulu terjun daripadanya
Saminta itu seperti terbangun dari mimpinya ketika ia mendengar saudara
seperturuannya mengerang. Iapun segera mendekatinya
“Bagaimana dengan
lukamu?“
“Sakitnya kakang.“
“Berbaringlah. Aku akan
menaburkan obat ini di lukamu. Mula-mula akan terasa pedih. Tetapi obat ini akan
memampatkan darah yang mengalir dari lukamu itu.“
Sementara itu, Raden
Madyasta dan Wismaya yang melarikan kuda mereka seperti anak panah yang terlepas
dari busurnya sudah menjadi semakin dekat dengan regol halaman rumah bibinya
Karena itu, maka Raden Madyastapun memberikan isyarat kepada Wismaya untuk
memperlambatnya
Beberapa saat kemudian,
merekapun menghentikan kuda mereka dan menuntunnya masuk ke regol rumah Raden
Ayu Prawirayuda
Namun Madyasta yang
sengaja tidak memberi tahukan kepergiannya kepada bibinya itu menjadi gelisah
ketika ia melihat bibinya berdiri di pendapa Dan bahkan kemudian melangkah
menuruni tangga sambil bertanya ”Darimana ngger?”
Madyasta menjadi agak
bingung. Namun kemudian iapun menjawab” Berputar-putar sebentar bibi Mencoba
kuda dimas Wignyana yang baru.“
“Apakah angger Wignyana
disini?“
“Ya, bibi. Ia baru saja
datang memamerkan kudanya kepadaku. Lalu aku mencobanya bersama kakang Wismaya
“Angger Wignyana membawa
dua ekor kuda?“
“Ya, bibi. Wignyana Ingin
memamerkan kedua-duanya”
Untunglah, bahwa Wignyana
yang sedangg berada di gandok itu mendengar pembicaraan itu, sehingga ia akan
dapat menyesuaikannya jika bibinya bertanya kepadanya
Dalam pada itu, bibinya
itupun bertanya” Dimana angger Wignyana sekarang?”
“Tadi dimas Wignyana ada
digandok.” Sebenarnyalah Wignyanapun segera muncul di serambi gandok sambil
bertanya” Bagaimana kangmas. Bukankah kuda itu kuda yang baik?”
“Ya dimas“ jawab Madyasta
Lalu Madyasta itupun berkata kepada bibinya”Maaf bibi. Aku akan pergi ke serambi
gandok.”
Raden Ayu Prawirayuda
tidak menjawab. Tetapi ia justru bertanya kepada Raden Wignyana”Aku tidak tahu
angger Wignyana ada disini”
“Aku belum lama bibi“
jawab Wignyana”aku hanya ingin menunjukkan kuda yang kemarin aku beli kepada
kakangmas Madyasta Aku tidak ingin mengganggu bibi.”
“Baiklah, ngger.
Silahkan. Aku akan pergi ke belakang.”
“Silahkan bibi” sahut
Wignyana sambil mengangguk hormat.
Sepeninggal bibinya
Wismayapun menambatkan kedua ekor kuda itu di sebatang pohon perdu di halaman.
“Apa yang sudah terjadi,
kangmas?“ bertanya Wignyana demikian Madyasta duduk di serambi
“Anak yang baru saja
menyelesaikan laku dimasa berguru. Demikian ia selesai dan tuntas, maka ia
merasa bahwa tidak ada orang yang dapat mengimbangi kemampuannya Agaknya anak
itu sengaja mencari lawan untuk menunjukkan kemampuannya yang menurut pendapamya
tidak ada duanya di dunia selain gurunya”
“Apa yang kangmas lakukan
terhadap orang itu?”
“Aku memaksanya mengakui,
bahwa ia bukan orang terbaik didunia. Bahkan ilmunya itu tidak lebih dari
sebutir pasir di luasnya pantai”
“Anak itu mengakuinya?”
“Ia harus melihat kenyataan itu.” Wignyana tersenyum. Katanya”Waktu kita pulang
dari perguruan, rasa-rasanya ingin juga segera menunjukkan kelebihan kita kepada
semua orang. Tetapi untunglah, bahwa guru telah membekali kita bukan saja
kemampuan ilmu kanuragan, tetapi juga bekal pesan-pesan, bagaimana kita
mengetrapkan kemampuan yang telah kita pelajari selama kita berguru.”
“Ya. Agaknya itulah yang
dilupakan oleh guru Saminta. Semakin tinggi ilmu seseorang, tetapi tanpa
dibekali pesan, untuk apa ilmu itu dimilikinya, maka akan dapat terjadi salah
kedaden. Ilmu yang seharusnya bermanfaat bagi banyak orang itu, akan dapat
menjadi sebaliknya Ilmu itu akan dapat menjadi racun bagi banyak orang.”
“Tetapi kangmas sudah
meredamnya Mudah-mudahan pengalamannya mengetrapkan ilmunya yang pertama kali
itu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga baginya”
“Mudah-mudahan, dimas.”
Sementara itu, Wismaya
yang tidak melihat Sasangka di Serambi itupun bertanya”Dimana Sasangka Raden.”
Tadi aku melihai Sasangka
sedang bercengkerama”
“Bercengkerama?”
“Ya. Dengan kangmbok
Rantamsari. Tetapi sudah sejak tadi aku melihamya, tidak lama setelah kangmas
dan kakang Wismaya pergi. Entahlah sekarang. Sejak aku melihatnya, kakang
Sasangka belum kembali ke gandok. Mungkin ia tertidur di lincak di halaman
belakang. Agaknya kangmbok Rantamsari sudah melantunkan tembang yang lembut,”
Wismaya menarik nafas
panjang. Tetapi ia tidak menyahui lagi. Sedangkan Raden Madyasta nampak
mengerutkan dahinya. Nampaknya pernyataan Wignyana itu menyentuh hatinya,
meskipun ia tidak mengatakan apa-apa
Namun dalam pada itu,
sejenak kemudian, Wignyanapun berkata”Kangmas. Jika kangmas telah dapat
menyelesaikan persoalan kangmas, ijinkan aku pulang ke kadipaten.”
Madyasta
mengangguk-angguk Katanya kemudian”Baiklah dimas. Aku mengucapkan terima kasih.
Biarlah kakang Wismaya mengantar dimas pulang.”
“Apakah aku harus
diantar?”
“Maksudku bukan mengantar
dimas yang ketakutan lewat bulak sempit disebelah. Tetapi mengembalikan kuda
yang satu itu, agar dimas tidak usah harus menuntunnya”
Wignyana tertawa
Namun Wismayapun kemudian
mengingatkan”Apakah Raden tidak minta diri kepada Raden Ayu Prawirayuda yang
telah melihat Raden berada disini?”
“Sebaiknya kau minta
diri, dimas.”
“Baiklah, kangmas. Tetapi
besok atau lusa bibi tentu akan memberitahukan kepada ayahanda, bahwa aku berada
disini tanpa menyatakan kehadiranku kepada bibi.”
“Jangan hiraukan itu.”
Wignyanapun kemudian
mencari bibinya di longkangan. Tetapi ternyata bibinya berada di gladri
belakang. Rantamsari yang juga berada di gladri, sedang sibuk membatik.
Raden Ayu Prawirayuda
yang melihat kehadiran Wignyana di gladri segera bangkit berdiri sambil
mempersilahkannya” Marilah ngger.”
“Aku hanya akan mohon
diri, bibi.”
“Begitu tergesa-gesa.
Baru disiapkan minuman bagi angger. Jika saja aku tahu angger sudah sejak tadi
berada di gandok.”
“Terima kasih bibi.
Seperti aku katakan, aku hanya ingin memamerkan kudaku yang baru kepada kangmas
Madyasta Aku tidak sabar menunggu kangmas Madyasta datang di kadipaten.”
“Baiklah ngger. Salamku
kepada dimas Adipati Prangkusuma”
Dada Raden Wignyana
menjadi berdebar-debar. Agaknya bibinya dapat mempermasalahkan kehadirannya
tanpa menyatakan diri kepada bibinya itu jika bibinya bertemu dengan
ayahandanya. Tetapi apaboleh buat la sudah melakukannya
Karena itu, maka Raden
Wignyana itupun menjawab”Baik, bibi Aku akan menyampaikannya kepada ayahanda“
lalu katanya kepada Rantamsari yang meletakkan cantingnya dan bangkit berdiri
pula ”Aku minta diri kangmbok”
“Aku belum sempat
menemuimu dimas.”
Hampir saja Wignyana
mengatakan, bahwa ia tidak ingin mengganggu Rantamsari yang sedang bercengkerama
dengan Sasangka, seorang Senapati muda yang bertugas di rumah itu. Tetapi
niatnya diurungkan. Ia tidak ingin menimbulkan persoalan di rumah itu.
“Kapan-kapan aku akan
berkunjung kemari. Bukan saja saat ayahanda memberikan perintah kepadaku untuk
datang kemari. Tetapi aku akan menyisihkan waktuku untuk berada di sini sehari
penuh. Tentu saja jika tidak mengganggu kangmbok.”
“Kenapa menggangguku?“
bertanya Rantamsari”aku senang jika dimas berkenan berada disini sehari penuh.”
Wignyana mengangguk
hormat. Katanya”Terima kasih. Pada kesempatan lain aku akan datang.”
Demiklanlah, maka sejenak
kemudian, Wignyanapun telah meninggalkaan rumah Raden Ayu Prawirayuda. Seperti
yang dikatakan oleh Madyasta, maka Wismaya telah pergi bersamanya untuk
mengembalikan kuda yang dibawanya
Sementara itu, Madyasta
yang letih, duduk di serambi gandok. Sasangka agaknya masih dibelakang. Tetapi
Madyasta tidak mencarinya.
Sebenarnyalah Sasangka
masih berada di halaman belakang, Ketika Rantamsari di panggil oleh ibunya, maka
Sasangka rasa-rasanya segan untuk meninggalkan tempatnya. Karena itu untuk
beberapa saat ia masih duduk di tempatnya itu. Bahkan rasa-rasanya Sasangka
masih mengharap agar Raden Ajeng Rantamsari kembali menemuinya
Tetapi Raden Ajeng
Rantamsari kemudian tetap berada di gladri karena ibunya minta ia meneruskan
membatik kain yang sudah dimulainya
“Jika tidak kau kerjakan,
maka kain itu tidak akan selesai“ berkata ibunya
Sebenarnyalah bahwa Raden
Ajeng Rantamsari memang ingin kembali ke halaman belakang. Tetapi ia merasa
segan terhadap ibunya. Karena itu, maka akhirnya Raden Ajeng Rantamsari duduk
saja dibelakang gawangan batiknya
Baru beberapa saat
kemudian, Sasangka melangkah dengan segan menuju ke gandok. Baru ketika ia
melihat Raden Madyasta sudah duduk di serambi, Sasangka itu dengan tergesa-gesa
mendapatkannya
“Aku tidak tahu, bahwa
Raden sudah kembali” berkata Sasangka sambil duduk di sebelah Raden Madyasta
“Kakang berada di halaman
belakang?“ bertanya Madyasta
“Ya, Raden. Aku masih
saja cemas, bahwa Raden Wicitra tiba-tiba saja muncul.“
“Ya Kakang harus semakin
berhati-hati.“
“Tetapi bagaimana dengan
persoalan yang Raden hadapi dengan orang yang menantang Raden itu?“
“Aku sudah memaksanya
untuk menghentikan kegilaannya itu. Namaknya ia tidak lebih dari seorang anak
yang merasa dirinya tidak terkalahkan setelah menyelesaikan laku di
perguruannya“
“Sukurlah. Tetapi apakah
anak itu jujur menurut Raden?”
“Aku kira ia
bersungguh-sungguh. Pengalamannya masih terlalu sempit sehingga agaknya ia masih
belum mempunyai banyak akal untuk mengelabui orang lain.“
”Mudah-mudahan ia
benar-benar jujur.“
“Aku berharap begitu,
kakang.“
“Tetapi dimana Raden
Wignyana dan Wismaya?““Wignyana sudah pulang ke kadipaten. Sedangkan Wismaya
pergi bersamanya untuk mengembalikan kuda yang dipakainya”
Sasangka
mengangguk-angguk. Sementara Raden Madyastapun berkata pula”Maaf, bahwa dimas
Wignyana agaknya tidak sempat minta diri kepada kakang Sasangka.”
“Tidak apa Raden. Mungkin
Raden Wismaya agak tergesa-gesa Dan bukankah Raden Madyasta sendiri dan Wismaya
tidak mengalami sesuatu? Maksudku, Raden dan Wis-maya baik-baik saja?“
“Ya. Kami baik-baik saja
Mudah-mudahan anak itu tidak menimbulkan masalah lagi dibelakang hari.
Mudah-mudahan ia tidak mengganggu Rara Menur sebagaimana dijanjikannya”
Sasangka termangu-mangu
sejenak. Namum hampir diluar sadarnya iapun bertanya”Tetapi bagaimana dengan
sikap KangjengAdipati?”
Wajah Raden Madyasta
menegang sejenak. Namun kemudian sambil menarik nafas panjang iapun
berkata”Entahlah. Aku belum dapat membayangkan, apa yang akan terjadi kemudian”
Sejenak kemudian, maka
Raden Madyastapun pergi ke pakiwan. Di serambi gandok, Sasangka duduk
berangan-angan. Tiba-tiba saja ia sampai pada suatu pertanyaan ”Jika Kangjeng
Adipati melarang hubungan Raden Madyasta dengan gadis Panjer, apakah Kangjeng
Adipati berniat menjodohkan Raden Madyasta dengan Raden Ajeng Rantamsari.?“
Jantung Sasangka terasa
berdentang semakin keras. Wajah Raden Ajeng Rantamsari itu justru semakin
terbayang di pelupuk malanya
Beberapa saat kemudian,
Raden Madyastapun telah selesai mandi dan berbenah diri. Sementara itu,
Wismayapun telah kembali pula dan kadipaten.
Malam Itu, setelah makan
malam, maka Raden Madyastalah yang berada di serambi belakang. Raden Madyasta
harus sangat berhati-hati. Jika orang yang membunuh Rembana itu masih saja
berkeliaran di halaman rumah ilu, maka orang itu akan dapat merunduknya
sebagaimana ia rnerunduk Rembana
Dalam pada itu, di
serambi gandok, Sasangka duduk bersama Wismaya. Beberapa saat mereka saling
berdiam diri dengan angan-angan mereka masing-masing. Wismaya masih memikirkan
orang yang telah dilukainya di dekat kuburan tua itu. Namun menurut pendapatnya,
anak muda itu tidak akan mati. Apalagi setelah obat yang diberikan oleh Raden
Madyasta itu ditaburkan di lukanya itu.
Sementara itu, Sasangka
rasa-rasanya bagaikan berada di dunia mimpi. Angan-angannya terbang jauh
menembus batas langjt lapis ketujuh. Jika saja ia benar-benar dapat bersanding
dengan Raden Ajeng Rantamsari.
Sasangka terkejut ketika
tiba-tiba saja Wismaya itu berkata” Sasangka.Sebelumnya aku minta maaf. Ada
sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.“
Sasangka mengerutkan
dahinya. Wismaya telah, merusak angan-angannya. Rasa-rasanya Sasangka itu telah
terlempar menukik dan jatuh dikehidupan nyata yang dijalaninya
“Apa yang ingin kau
katakan, Wismaya?“
“Sekali lagi aku minta
maaf sebelumnya.“
Jantung Sasangka mulai
berdebaran.
“Sasangka. Aku ingin
mengingatkanmu, apa yang pernah kau katakan kepada Rembana sebelum ia terbunuh.”
Sasangka terkejut
Kata-kata Wismaya itu benar-benar telah menghempaskannya dari dunia
angan-angannya.
Sebelum Wismaya berkata
lebih jauh lagi, maka Sasangka-pun menyahut ”Sudahlah Wismaya Kita sudah
sama-sama dewasa. Biarlah kita menempuh jalan kita sendiri-sendiri.“
“Sasangka. Sebagaimana
yang kau katakan kepada Rembana, bahwa kita bukanlah sekedar kawan yang
kebetulan bersama-sama menjalankan tugas. Tetapi hubungan kita lebih dari itu.
Kita memasuki dunia pengabdian kita bersama-sama. Kita merangkak dari tataran
terbawah di lingkungan keprajuritan bersama-sama. Sekarang kita bersama-sama
pula berada disini dalam tugas yang khusus. Bukankah wajar jika aku menganggap
bahwa hubungan kita lebih dari sekedar hubungan kerja”
“Terima kasih Wismaya.
Aku juga merasa bahwa hubungan kita lebih dekat dari sekedar hubungan kerja.
Meskipun demikian bukan berarti bahwa diantara kita tidak ada lagi batasnya”
“Aku mengerti, Sasangka.
Tetapi seperti juga kau katakan kepada Rembana waktu itu, bahwa langkah yang
diambilnya perlu dipertimbangkan lebih jauh lagi. Bukankah waktu itu kau
bertanya kepada Rembana, siapakah Rembana itu dan siapakah Raden Ajeng
Rantamsari itu.“
“Sudahlah, Wismaya. Kau
tidak usah mengusik ketenanganku. Biarlah aku berada di jalanku sendiri.“
“Pada waktu itu, kau
masih sempat berpikir bening. Kau masih melihat kemungkinan-kemungkinan yang
pahit yang akan dapat terjadi atas Rembana dalam hubungannya dengan Raden Ajeng
Rantamsari. Tetapi patut dipertanyakan, kenapa kau tidak menasehati dirimu
sendiri sebagaimana kau katakan kepada Rembana.”
“Wismaya. Aku minta kau
hentikan sesorahmu itu.“
“Bukan aku yang sesorah
Sasangka. Tetapi kau sendiri. Aku hanya ingin mengingatkanmu isi sesorahmu
kepada Rembana beberapa waktu yang lalu.“
“Akupun ingin
mengingatkan kau Wismaya. Waktu itu kau tidak dengan tegas membenarkan sikapku.
Waktu itu tersirat dari kata-katamu, bahwa Rembana berhak menentukan jalannya
sendiri. Nah, sekarang akupun akan berkata sebagaimana tersirat dari kata-katamu
waktu itu.“
Wismaya menarik nafas
panjang. Dengan nada berat iapun berkata” Kita tinggal berdua disini Sasangka.
Aku tidak ingin kawanku berkurang satu lagi.“
“Kau mengancamku?“
“Tidak. Sama sekali
tidak. Bukan aku bermaksud menakut-nakutimu, apalagj mengancammu. Aku hanya
ingin mengatakan, bahwa Rembana kemudian terbunuh. Aku tidak tahu, apakah
kematian Rembana itu ada hubungannya dengan ikatan yang dijalinnya dengan Raden
Ajeng Rantamsari atau tidak.”
“Sudahlah Wismaya. Sekali
lagi aku minta, hentikan pembicaraan ini. Persoalannya adalah persoalan yang
sangat pribadi, sehingga kau memang tidak akan dapat mencampurinya, sebagaimana
aku waktu itu tidak dapat mencampuri persoalan yang di-hadapi Rembana”
“Akupun ingin
memperingatkan sekali lagi, bahwa Rembana kemudian terbunuh.”
“Apakah kau menuduhku,
bahwa aku telah membunuh Rembana karena aku inginkan Raden Ajeng Rantamsari.”
“Tidak. Jangan salah
mengartikan peringatanku itu. Yang ingin aku katakan, bahwa ada pihak lain yang
memang menginginkan Raden Ajeng Rantamsari. Ia telah membunuh Rembana karena
Rembana menjadi semakin akrab dengan Raden Ajeng Rantamsari itu. Jika sekarang
kau menjadi akrab, maka bukankah bencana yang menimpa Rembana itu akan dapat
menimpamu juga?”
“Jangan cemaskan aku,
Wismaya. Asal tidak terjadi pengkhianatan, aku tidak akan terbunuh seperti
Rembana”Sasangka itu berhenti sejenak. Lalu katanya pula”Ingat Wismaya, sejak
kita belum berada disini. Sejak belum ada seorangpun yang berhubungan dengan
Raden Ajeng Rantamsari, rumah ini sudah menjadi sasaran laku kejahatan. Justru
karena itulah maka kita berada disini.”
Wismaya menarik nafas
panjang. Dengan nada berat iapun berkata ”Aku sudah mencoba memperingatkanmu
Sasangka Seandainya kau tidak akan mengalami nasib seperti Rembana, mungkin yang
kau cemaskan akan terjadi pada Rembana waktu itu dapat juga terjadi atasmu.”
“Apa maksudmu?”
“Jika kau sudah terlalu
dalam dicengkam oleh perasaanmu, namun tiba-tiba saja Raden Ajeng Kantanisari
iiu direnggut dari hatimu justru karena kedudukannya sebagai anak seorang
Adipati meskipun sudah wafat, kau akan tersiksa sekali.”
“Aku bukan seorang yang
mencemaskan hari esok, Wismaya. Jika itu terjadi, maka aku akan berjuang unatuk
mencegahnya. Sebagai seorang laki-laki, maka nyawaku akan menjadi taruhan.”
“Tetapi jika Raden Ajeng
Rantamsari menerima kemungkinan itu dengan penuh kebanggaan, bahwa ia akan
mendapatkan seorang laki-laki yang berderajat jauh lebih tinggi dari seorang
Senapati kecil seperti kita?”
“Kenapa kau bayangkan
masa depan itu seperti sisi gelap dunia ini, Wismaya Kenapa kau tidak
membayangkan bahwa aku akan diterima dengan baik didalam keluarga Raden Ayu
Prawirayuda? Bahkan direstui oleh Kangjeng Adipati Prangkusuma? Kenapa kau tidak
membayangkan, bahwa Kangjeng Adipati akan memberiku hadiah seekor kuda yang
tegar serta mengangkat aku menjadi seorang Rangga di kadipaten Parang Anom?”
Wismaya menarik nafas
dalam-dalam. Namun ia masih saja bergumam” Kau bermimpi, Sasangka”
“Ya Biarlah aku nikmati
mimpiku. Jangan menggangguku sehingga aku akan terbangun serta mimpiku itu akan
terlepas.”
Wismaya menarik nafas
panjang. Terasa debar jantungnya memukul-mukul dinding dadanya. Namun Wismaya
masih mencoba menahan diri. Ia sadar bahwa ia memang tidak berhak untuk
mencampuri persoalan yang sangat pribadi itu.
Tetapi Wismaya sudah
berusaha memperingatkannya. Jika terjadi sesuatu kelak, apakah peristiwa yang
terjadi pada Rembana itu terulang, atau kelak Sasangka itu akan dihempaskan oleh
kenyataan bahwa Raden Ajeng Rantamsari itu akan direnggut dari sisinya untuk
diperbandingkan dengan seseorang yang dianggap memiliki derajat yang seimbang,
ia sudah pernah memperingatkannya
Wismaya tidak lagi
berkata apa-apa ketika kemudian Sasangka itu berdiri dan melangkah ke dalam
kegelapan
Namun tiba-tiba terbersit
sebuah pertanyaan”Apakah justru Sasangka sendiri yang telah menghabisi Rembana?”
Pertanyaan seperti itu
memang pernah mengganggunya. Bahkan Wismayapun menangkap pertanyaan serupa
tersirat dari kata-kata Raden Madyasta dan bahkan Raden Wignyana
Namun sementara itu, di
dalam kegelapan, Sasangkapun bertanya kepada dirinya sendiri”Apakah sebenamya
Wismaya sendiri mengingini Raden Ajeng Rantamsari sehingga ia menjadi sangat iri
melihat aku menjadi semakin akrab dengan gadis itu?”
Sasangka tiba-tiba
menggertakkan giginya sambil menggeram”Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk
mendapatkannya. Siapapun yang menghalangiku, akan aku singkirkan.”
Di serambi belakang,
Raden Madyasta duduk sendiri. Ia bangkit berdiri ketika ia melihat bibinya
datang mendekatinya
“Sendiri ngger?“ bertanya
Raden Ayu Prawirayuda
“Ya, bibi. Kakang Wismaya
dan kakang Sasangka ada di gandok.”
“Silahkan duduk ngger.”
Raden Madyastapun
kemudian duduk kembali. Bahkan bibinyapun duduk pula disebelahnya.
“Dingin, ngger”
“Dingin bibi. Tetapi aku
sudah terbiasa berada dalam segala cuaea”
Raden Ayu Prawirayuda
tersenyum. Sementara itu Raden Madyastalah yang berkata” Bibi nanti kedinginan.
Udara terasa lembab. Langit nampak gelap. Mungkin hujan akan turun”
“Ya Ngger. Angin basah
bertiup semakin kencang.”
“Ya, bibi. Sebaiknya bibi
berada didalam.”
“Sebenarnya aku tidak
sampai hati membiarkan angger Madyasta kedinginan di serambi seperti ini.”
“Aku sudah terbiasa bibi.
Seperti aku katakan, aku terbiasa berada di segala macam cuaea Bahkan kehujanan
sekalipun. Di padepokan aku membiasakan diri berada di dinginnya malam, basah
kuyup kehujanan, tetapi juga dipanggang diteriknya sinar matahari. Menahan haus
dan lapar. Karena itu, bibi tidak usah memikirkan aku dan para Senapati. Dalam
menjalankan tugas, kami tidak memilih tempat, waktu, suasana dan cuaea.”
“Tetapi jika ada
kemungkinan yang lebih baik, bukankah tidak ada salahnya jika angger memilih?”
“Maksud bibi?”
“Angger tidak harus
berada di serambi seperti ini. Angger dapat berada diruang dalam.”
Madyasta tersenyum.
Katanya ”Lebih baik berada di sini bibi. Jika sesuatu terjadi, aku akan cepat
bertindak”
“Tetapi menurut
pendapatku, justru sangat berbahaya bagi angger. Disini angger dapat dilihat
dari kegelapan. Jika ada orang bemiat buruk, orang itu dapat melihat angger
dengan jelas. Tetapi sebaliknya angger tidak dapat melihatnya.”
“Aku tidak akan berada
disini terus bibi. Aku akan turun pula ke halaman.”
“Tetapi bukankah sangat
berbahaya bagi angger. Angger Rembana telah terbunuh tanpa sempat memberikan
perlawanan.”
“Petaka itu memang telah
terjadi padanya” desis Raden Madyasta”namun dengan demikian, aku akan menjadi
lebih berhati-hati, bibi.”
“Raden, apakah salahnya
jika Raden berada di dalam? Jika ada orang bermaksud jahat, sebagaimana yang
pernah mereka lakukan, membunuh seekor kueing untuk menakut-nakuti kami,
bukankah mereka akan masuk ke dalam. Jika mereka berada di luar, bukankah kita
dapat mengabaikannya?”
“Bibi. Aku adalah bagian
dari para prajurit yang ditugaskan oleh ayahanda di rumah ini. Karena itu, maka
aku tidak dapat di pisahkan dari mereka.”
“Angger adalah putera
Kangjeng Adipati di Parang Anom. Yang bahkan akan menggantikan kedudukan
ayahandanya. Sedangkan mereka adalah prajurit sebagaimana prajurit-prajurit yang
lain.”
“Aku sebagai seorang
prajurit, tidak berbeda dengan mereka, bibi.”
Raden Ayu Prawirayuda
menarik nafas panjang. Katanya; ”Angger memang seorang prajurit sejati.”
“Aku adalah satu diantara
prajurit Paranganom.”
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk-angguk. Namun kemudian Raden Ayu itupun berkata ”Ngger. Mumpung ada
waktu luang, aku ingin bertanya, apakah Dimas Adipati masih marah kepada Raden?”
Raden Madyasta menarik
nafas panjang. Dengan nada rendah iapun menjawab “Tidak bibi. Ayahanda tidak
marah lagi kepadaku.”
“Apakah dengan demikian
berarti Dimas Adipati membiarkan hubungan angger Madyasta dengan gadis Panjer
itu?”
“Kami belum pernah
membicarakannya lagi, bibi.”
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk-angguk. Katanya”Ngger. Bagaimanapun juga sebaiknya angger
mendengarkan nasehat orang tua. Sekaligus seorang Adipati yang memegang kuasa di
kadipaten ini. Jika angger menentangnya, maka akibatnya akan dapat menjadi jauh
sekali.”
Raden Madyasta
menundukkan wajahnya
“Aku adalah bibimu,
ngger. Aku merasa berkewajiban untuk memberi nasehat kepada angger Madyasta
Apalagi persoalan sisihan adalah persoalan yang sangat rumit.”
“Ya, bibi” jawab Madyasta
“Angger adalah seorang
anak muda yang tampan putera seorang Adipati yang sekaligus akan menggantikan
kedudukannya. Karena itu, maka anggerpun harus berhati-hati memilih sisihan
Gadis Panjer itu mungkin memang sangat menarik perhatian angger. Mungkin ia
cantik dan lembut Tetapi gadis itu tidak lebih dari anak seorang Demang. Jika
angger kehendaki, angger dapat mengambilnya menjadi garwa ampeyan.”
Terasa degup jantung
Raden Madyasta menjadi semakin cepat Sebenarnya ia tidak ingin mendengar nasehat
bibinya itu. Tetapi ia tidak dapat memaksa agar bibinya itu berhenti berbicara
Untuk beberapa saat Raden
Ayu Prawirayuda itu masih menasehatinya. Raden Ayu itu memberi beberapa petunjuk
tentang hubungan suami isteri. Tentang cinta dan sekedar nafsu.
Raden Madyasta hanya
dapat mengangguk-angguk saja. Sekali-sekali ia mengiakannya. Dengan demikian
Raden Madyasta berharap agar bibinya itu segera berhenti berbicara
Setelah beberapa lama
Raden Ayu Prawirayuda itu duduk di serambi belakang bersama Raden Madyasta, maka
kemudian Raden Ayu itupun berkata ”Semakin lama, malam terasa menjadi semakin
dingin, ngger.”
“Bibi. Agaknya lebih baik
bagi bibi untuk masuk saja keruang dalam. Angin malam akan dapat berakibat buruk
bagi bibi.“
Raden Ayu Prawirayuda
tersenyum. Katanya ”Akupun sudah sering menjalani laku prihatin, ngger. Bahkan
aku pernah tidur tiga malam di pasareyan eyang.kakung.“
“Tetapi bukankah itu bibi
lak-ukan waktu bibi masih muda.“
Raden Ayu Prawirayuda itu
masih saja tersenyum sambil berkata”Aku sekarang memang sudah tua ngger.“
Dengan serta-merta Raden
Madyasta menyahut ”Bukan itu maksudku bibi. Tetapi mungkin ketahanan tubuh bibi
sudah rnenyusut”
“Sebenarnya masih banyak
yang ingin aku sampaikan kepada angger. Justru karena aku bibi angger.“
“Terima kasih, bibi.“
“Jika saja angger
bersedia duduk di ruang dalam. Rantamsari akan menyediakan minuman hangat bagi
angger.”
“Terima kasih, bibi.
Terima kasih biarlah kangmbok Rantamsari beristirahat.“
Raden Ayu Prawirayuda
itupun kemudian bangkit berdiri. Dilayangkannya pandangan matanya ke kegelapan
di halaman belakang. Sementara itu nyala lampu minyak di serambi itu bergoyang
di sentuh angin.
“Selamat malam ngger.“
“Selamat malam, bibi.“
Ketika Raden Ayu
Prawirayuda itu akan masuk ke ruang dalam, iapun masih berdesis”Kadang-kadang
aku merasa bersalah, bahwa karena permohonanku, angger harus berjaga-jaga di
serambi dalam dinginnya udara malam.“
Raden Madyasta tertawa.
Katanya”Aku sudah ditempa untuk melakukan tugas seperti ini.“
“Berhati-hatilah, ngger.“
“Ya,bibi.”
Sejenak kemudian, Raden
Ayu Prawirayuda itupun telah hilang di balik pintu yang kemudian tertutup rapat.
Raden Madyasta menarik
nafas panjang. Iapun kemudian duduk kembali di amben kayu di serambi dibawah
cahaya lampu minyak. Pandangan matanya terlempar menusuk ke kegelapan di halaman
belakang yang terhitung luas itu.
***
Dalam pada itu, di malam
yang semakin dalam, di rumah Ki Tumenggung Reksadrana telah kedatangan seorang
tamu yang tidak diinginkan. Tetapi Ki Tumenggung yang sedang duduk-duduk bersama
Sura Branggah itu tidak dapat menolaknya.
“Marilah, duduklah Raden
Wicitra”
“Terima kasih, Ki
Tumenggung. Ternyata kau ada disini Sura Branggah.“
“Sudah sejak senja
tadi,Raden”
“Sudah agak lama kita
tidak bertemu, Raden” berkata Ki Tumenggung Reksadrana kemudian.
“Ya. Sejak sebelum Sura
Branggah menemui aku waktu itu.“
“Ya Waktu itu aku minta
Raden datang menemui aku. Tetapi Raden tidak menjawab apa-apa”
“Aku sudah menjawab.“
“Menjawab apa?“
“Aku katakan kepada Sura
Branggah bahwa pada suatu hari aku akan menemui Ki Tumenggung Reksadrana”
“Pada suatu hari.
Bukankah jawaban itu tidak jelas?”
“Nah, pada suatu hari itu
adalah sekarang. Aku sekarang datang menemui Ki Tumenggung Reksadrana”
“Raden datang ketika
segala sesuatunya sudah berantakan. Ketika anakku sudah meninggal.“
“Aku baru mempunyai
kesempatan sekarang, Ki Tumenggung. Tetapi aku kira kedatanganku belum
teriambat”
“Apa yang akan Raden
katakan sekarang?“
“Ternyata
Senapati-senapati yang masih ingusan itu memiliki kemampuan yang tinggi.“
“Apa maksud Raden?“
“Aku kira berkelahi
melawan Senapati muda yang berada di rumah kangmbok Prawirayuda itu tidak
memerlukan tenaga dan waktu. Tetapi ternyata aku tidak berhasil membunuhnya”
Ki Tumenggung Reksadrana
memandang Raden Wicitra dengan mata setengah terpejam. Dengan nada tinggi iapun
berkata”Bukan senapati ingusan itu yang memiliki kemampuan tinggi. Tetapi
Radenlah yang sama sekali tidak bertenaga“
“Ki Tumenggung. Kata-kata
Ki Tumenggung itu menyinggung perasaanku.“
“Bukankah kenyataannya
memang demikian.“
“Jangan berkata begitu Ki
Tumenggung. Bagaimana jika aku menantangmu untuk memperbandingkan kemampuan
kita.”
“Apakah alasan Raden
menantangku?“
“Tidak ada alasannya
Sekedar untuk membuktikan kata-kata Ki Tumenggung. Apakah aku memang tidak
bertenaga”
“Kalau Raden memang ingin menjajagi kemampuan prajurit Kateguhan, aku sama
sekali tidak berkeberatan.“
“Kita coba saja Ki
Tumenggung.“
“Bagus. Dibelakang ada
tempat untuk bermain binten. Meskipun aku sudah tua, tetapi aku masih akan
sanggup mematahkan kaki Rade”
“Jangan sesumbar, Ki
Tumenggung. Mari, kita coba saja.”
Ketika Raden Wicitra
bangkit berdiri, maka Ki Tumeng-gungpun segera berdiri pula.
“Bagus. Kita peigi ke
belakang”"geram Ki Tumenggung.
Namun tiba-tiba saja Sura
Branggah itupun tertawa Katanya”Aku bukan seorang Tumenggung. Aku juga bukan
keluarga berdarah biru. Tetapi aku tidak terlalu mudah untuk memuntahkan gejolak
perasaanku. Bukankah seperti kanak-kanak yang berpapasan di jalan, saling
berpandangan, kemudian berkelahi tanpa sebab?”
“Tetapi aku tidak mau
direndahkan seperti itu Sura Branggah. Aku tidak mau dikatakan tidak bertenaga.”
“Sekarang silahkan Raden
duduk. Silahkan mengatakan, apa yang akan Raden katakan sehingga Raden datang
kemari.”
“Tetapi Ki Tumenggung
nampaknya tidak mau mendengarkan”
“Begitu Ki Tumenggung?”
bertanya Sura Branggah.
“Jika Raden Wicitra itu
berbicara, tentunya aku akan mendengarkan. Tetapi jika Raden Wicitra ingin
berkelahi, aku tidak berkeberatan”
Ketika Raden Wicitra
bangkit lagi, Sura Branggah itupun menahannya sambil beikata”Sudahlah. Sekarang
katakan saja maksud Raden datang kemari.”
Wicitra termangu-mangu,
sementara Ki Tumenggungpun telah duduk pula.
“Nah, sekarang katakan
Raden. Agaknya Ki Tumenggung sudah siap untuk mendengarkan”
Raden Wicitra
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun beikata”Aku dengar Ki Tumenggung
masih berniat untuk mengganggu ketentraman Paranganom.”
“Apa kepentingan Raden
dengan ontran-ontran yang masih akan aku timbulkan di Paranganom itu?” bertanya
Ki Tumenggung
Dahi Raden Wicitra
berkerut Namun kemudian iapun menjawab”Aku memang mempunyai kepentingan, Ki
Tumenggung”
“Kepentingan itulah yang
aku tanyakan.”
“Kita dapat bekerja sama”
“Maksud Raden.”
“Apa yang Ki Tumenggung
lakukan sekarang sebenarnya tanggung. Belum tentu bahwa yang membunuh putera Ki
Tumenggung itu Rembana. Mungkin Sasangka, mungkin Wismaya atau bahkan Madyasta
sendiri.”
“Aku tidak tahu arah
bicara Raden.”
“Kita bekerja sama. Kita
bunuh semuanya”
“Kami memang akan
melakukannya Semua itu akan menjadi makanan kami. Tanpa kerja samapun kami akan
dapat melakukannya”
“Tetapi sampai sekarang
yang baru berhasil kau bunuh baru Rembana”
“Apa?”
“Bukankah kau belum
terlalu tua, Ki Tumenggung. Tetapi pendengaranmu nampaknya sudah berkurang.”
“Kau mulai lagi, Raden.”
“Dengarlah baik-baik.
Kalian tidak usah menyombongkan diri bahwa kalian akan membunuh para Senapati
muda itu termasuk Madyasta. Jika kalian mampu, maka tentu sudah kalian lakukan.
Ternyata sampai sekarang kau baru dapat membunuh seorang saja diantara mereka.
Rembana.”
“O. Jadi Raden Wicitra
datang kemari sekedar untuk menyombongkan diri, bahwa Raden sudah berhasil
membunuh Rembana. Raden, aku menyesali keberhasilan Raden Aku berniat untuk
mendapatkan semuanya. Aku ingin membunuh keempat Senapati muda itu. Tetapi Raden
Wicitra sudah mencuri seorang diantara mereka.”
“Nanti dulu, Ki
Tumenggung. Bukankah Ki Tumenggung, meskipun mungkin tidak dengan tangan
sendiri, sudah berhasil membunuh Rembana? Sekarang aku menawarkan kerja sama
untuk membunuh yang lain. Bahkan jika perlu, aku dapat memberikan imbalan kepada
Sura Branggah dan kawan-kawannya yang mampu dihimpunnya lagi.”
“Raden tidak usah
berputar-putar seperti itu untuk menyombongkan diri. Katakan saja bahwa Raden
sudah membunuh Rembana. Raden ingin pengakuanku bahwa Raden orang yang berilmu
tinggi tanpa tanding karena dapat membunuh Senapati ingusan itu. Sedangkan
Senapati ingusan itu ternyata berilmu tinggi”
“Kenapa kau terlalu
berprasangka Ki Tumenggung. Jika aku datang sekedar untuk menyombongkan diri,
lalu apa gunanya? Apa keuntunganku dengan tindakan bodoh itu.”
“Lalu apa maksud Raden
sebenarnya.”
“Sudah aku katakan
berulang-ulang. Marilah bekerja sama membunuh para Senapati yang tersisa itu.”
Ki Tumenggung memandang
Sura Branggah sejenak. Namun Sura Branggah itu menggelengkan kepalanya
“Raden” berkata Ki
Tumenggung” sebaiknya kita tidak usah bekerja sama. Lakukan apa yang ingin Raden
lakukan. Aku lakukan apa yang ingin aku lakukan.”
“Apakah keberatan Ki
Tumenggung? Bukankah kita mempunyai sasaran yang sama meskipun dasar kepentingan
kita berbeda”
“Terus-terang Raden, aku
tidak percaya kepada Raden. Mungkin saja Raden dapat bekerja sama dengan kami
untuk sesaat Namun setelah itu Raden berkhianat Raden memfitnah kami, sehingga
kami ditangkap dan bahkan dihukum. Sedangkan Raden akan dapat menikmati
hasilnya”
“Aku bukan jenis seorang
pengkhianat”
“Sebaiknya kita bekerja
sendiri-sendiri saja, Raden. Jika Raden ingin membunuh, bunuhlah jika mampu.
Sementara itu, jika kami ingin melakukannya, biarlah kami melakukannya.”
“Jadi Ki Tumenggung tetap
berkeberatan untuk bekerja sama meskipun aku sudah berjanji untuk menyediakan
upah sekedarnya bagi Sura Branggah dan kelompoknya yang baru nanti?”
“Ya. Aku tetap
berkeberatan.”
“Raden“ berkata Ki Sura
Branggah kemudian”kenapa Raden harus berpikir macam-macam. Tidur sajalah di
rumah. Tanpa kerja samapun sebenarnya akan tetap menguntungkan Raden. Raden
tidur sajalah di rumah. Nanti para Senapati itu akan mati sendiri karena tangan
kami, sehingga Raden justru tidak kehilangan upah, tidak kehilangan waktu dan
tidak diperlukan keberanian apa-apa.”
Bab 26 - Gugurnya Lurah
Sasangka
“Edan kau Sura Branggah.
Aku ingin membunuh Sasangka dengan tanganku.”
“Kenapa tidak Raden
lakukan?”
“Jika kita bekerja sama,
kalian dapat menjerat para Senapati yang lain dalam pertempuran.”
“Nanti Raden kalah lagi.
Nanti malah Raden yang mati.”
“Aku sumbat mulutmu
dengan tumitkii ini Sura Branggah. Sebenarnya aku tidak kalah. Tetapi aku
terlalu merendahkannya, sehingga aku telah kehilangan kesempatan yang pertama.”
“Bukankah Raden sendiri
yang mengaiakan bahwa bagi Raden, para Senapati muda itu ilmunya ternyata tidak
dapat Raden atasi.”
“Apakah aku berkata
begitu?”
“Sekarang, apapun yang
Raden katakan, kami tidak dapat bekerja sama dengan Raden.”
“Ki Tumenggung memang
keras kepala.”
“Jangan berkata begitu
Raden. Nanti aku benturkan kepalaku yang keras ini ke kepalamu.”
“Tetapi kau tidak dapat
menolak, Ki Tumenggung.”
“Kenapa? Apakah Raden
bermaksud mengancam?”
“Ya. Aku memang akan
mengancam Ki Tumenggung. Jika Ki Tumenggung tetap tidak mau bekerja sama, maka
aku akan membuka rahasia Ki Tumenggung.”
“Rahasia apa? Aku tidak
mempunyai rahasia apa-apa.”
“Jangan memperbodoh orang
Ki.Tumenggung. Rencanamu untuk tetap menimbulkan kekacauan dengan Paranganom
tentu tidak disetujui oleh Kangjeng Adipati. Karena itu, jika Kangjeng Adipati
mengetahui, maka kau tentu akan dihukum berat, karena yang kau lakukan ini akan
dapat merendahkan nama Kangjeng Adipati.”
“Jadi Raden akan
melaporkan rencanaku kepada Kangjeng Adipati?”
“Jika Ki Tumenggung tidak
mau bekerja sama.”
“Raden tentu tidak akan
berani melakukannya.”
“Kenapa aku tidak berani
melakukannya? Aku akan mohon waktu untuk menghadap. Karena Kangjeng Adipati
mempunyai persoalan khusus dengan kangmbok Prawirayuda, aku tentu akan diterima.
Bahkan segera pada saat aku mengajukan permohonan. Kangjeng Adipati tentu
mengira bahwa persoalannya menyangkut kangmbok Prawirayuda. Tetapi setelah aku
menghadap, aku akan mengatakan bahwa ternyata Ki Tumenggung Reksadrana tidak
tunduk kepada perintah Kangjeng Adipati. Ternyata Ki Tumenggung masih tetap
berusaha untuk membuat kericuhan di Paranganom. Nah, saat itu juga Kangjeng
Adipati akan memanggil Ki Tumenggung. Jika Ki Tumenggung menolak, maka Ki
Tumenggung akan ditangkap. Jika tidak ada prajurit yang berani menangkap Ki
Tumenggung, maka akulah yang akan mohon diperintahkan melakukannya dengan
sekelompok prajurit pilihan. Ki Tumenggung akan diadili oleh Kangjeng Adipati
pribadi. Ki Tumenggung akan dihukum gantung di alun-alun. Atau setidak-tidaknya
Ki Tumenggung akan dihukum kerja paksa seumur hidup. Kaki Ki Tumenggung akan
diikat dengan rantai bersama-sama dengan para gegedug kecu, brandal, begal dan
sebagainya.”
Namun tiba-tiba saja Ki
Tumenggung itu tertawa berkepanjangan, sehingga Raden Wicitra menjadi
terheran-heran. Bahkan Sura Branggahpun memandanginya dengan mulut ternganga.
“ Ada apa dengan Ki
Tumenggung?” bertanya Sura Branggah didalam hatinya.
Namun sebenarnyalah bahwa
Sura Branggah sendiri menjadi cemas. Jika Raden Wicitra benar-benar
melaporkan-nya kepada Kangjeng Adipati, maka bukan hanya Ki Tumenggung yang
ditangkap. Tetapi tentu dirinya juga akan ditangkap. Di gantung di alun-alun
atau dihukum dengan kerja paksa seumur hidup.
Sura Branggah tidak akan
merasa ngeri bercampur dengan para gegedug brandal, kecu dan begal, karena
namanya cukup dikenal dan ditakuti. Tetapi Sura Branggah membayangkan bahwa
sepanjang umumya ia tidak akan melihat lagi ramainya pasar Kliwon. Lezatnya nasi
tumpang dengan telur pindang. Ia tidak lagi dikerubuti perempuan-perempuan
cantik yang haus keping-keping uang yang dibawanya atau berbagai perhiasan emas
dan permata hasil rampokannya.
Baru sejenak kemudian
suara tertawa Ki Tumenggung itu mereda. Disela-sela suara tertawanya yang masih
tersisa, iapun berkata”Raden memang jenis seorang pengkhianat. Seorang yang suka
memfitnah.”
“Ini bukan fitnah.
Bukankah yang terjadi sebenarnya memang demikian?”
“Baik, baik Raden. Yang
terjadi sebenarnya memang demikian. Tetapi bukankah aku juga berhak untuk
memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati?“
“Apa yang akan kau
laporkan?“
Ki Tumenggung memandangi
wajah Raden Wicitra yang tegang sambil tersenyum-senyum. Katanya”Raden. Sudah
ada berapa macam benda-benda berharga di keputren yang Raden curi. Ketika Raden
Ayu Prawirayuda masih tinggal di istana, jika Raden datang mengunjunginya, maka
sepularig Raden dari keputren, Raden langsung pergi ke tukang tadah
barang-barang berharga yang Raden curi dari keputren.” .
“Bohong. Kalau ini
benar-benar fitnah“ Raden Wicitra hampir berteriak sambil bangkit dari tempat
duduknya”apa maksud Ki Tumenggung dengan fitnah itu?“
“Jadi menurut Raden, apa
yang aku katakan ini fitnah?“
“ Ya.”
“Raden kenal dengan Ki
Citraprana, saudagar barang-barang kuno yang mempunyai nilai yang tinggi itu?“
“Apakah jika aku
mengenalnya berani aku menjual barang-barang curian kepadanya?”
“Aku akan menangkap Ki
Citraprana. Aku masih mempuyai wewenang sekarang ini, sebelum aku di rantai di
penjara karena pengkhianatan Raden. Aku akan memaksanya berbicara dan berusaha
menemukan bukti-bukti benda-benda berharga yang sekarang masih ada di rumahnya.“
Wajah Raden Wicitra
menjadi pucat. Katanya” Kenapa kau menjadi dengki kepadaku? Itu adalah
persoalanku dengan kangmbok Prawirayuda.“
“Benda-benda yang, kau
curi bukan milik Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi milik Kangjeng Adipati. Nah,
percaya atau tidak percaya, sekarang aku tahu, bahwa Raden sering mencuri di
kadipaten. Jika aku mendorongnya dengan ujung jari kelingkingku saja, maka
Kangjeng Adipati tentu akan menangkap Raden. Apalagi sekarang Raden Ayu
Prawirayuda, kakang perempuan Raden yang dapat sedikit memberikan perlindungan
kepada Raden itu sudah tidak ada di kadipaten.“
“Setan kau Tumenggung
Reksadrana. Kaulah yang mempunyai tampang seorang penghianat.“
“Bukan hanya aku. Tetapi
kita berdua. Kau dan aku sama-sama orang-orang licik. Bendanya aku adalah
seorang yang cerdik. Sedangkan Raden adalah seorang pencuri yang bodoh.“
“Cukup.“
“Raden tidak usah
berteriak. Sebaiknya Raden sekarang keluar dari rumahku.
“Persetan kau Ki
Tumenggung. Kau akan menyesali sikapmu ini.“
“Kalau aku memang harus
menyesal, biarlah aku menyesal.“
Wajah Raden Wicitra
menjadi merah bagaikan membara. Namun betapapun kemarahannya membakar
jantungnya, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Di rumah itu ada Sura
Branggah. Jika ia berselisih dan bahkan kemudian harus berkelahi melawan Ki
Tumenggung, maka Sura Branggah tidak akan tinggal diam. Iapun akan ikut
melibatkan diri dan bahkan mungkin Sura Branggahlah yang akan membunuhnya dan
kemudian melemparkan mayatnya di sungai sebelah. Baru besok orang-orang yang
turun ke kali menemukan mayatnya itu.
Karena itu, maka dengan
serta-merta Raden Wicitrapun meninggalkan rumah itu sambil bergeramang”
Persoalan kita belum tuntas, Ki Tumenggung.“
Namun yang menyahut
adalah Sura Branggah”Kaulah yang tidak lumrah, Raden. Gadis puteri Raden Ayu itu
adalah kemanakan Raden sendiri. Kenapa Raden akan memaksa untuk mengambilnya
sebagai istri.“
“Diam kau perampok
buruk.“
Sura Branggah tertawa.
Katanya”Seorang perampok masih memerlukan keberanian untuk menjalankan
pekerjaannya. Tetapi tidak bagi seorang pencuri. Ia mengambil justru pada saat
pemiliknya lengah dan tidak melihatnya.“
“Seorang pencuri jauh
lebih berharga dari seorang perampok. Seorang pencuri harus memiliki ketrampilan
yang tinggi. Selebihnya seorang pencuri adalah orang-orang yang lembut hati yang
tidak menginginkan kekerasan, sehingga memungkinkan untuk jatuh korban. Seorang
pencuri melakukan kekerasan hanya pada saat-saat ia tersudut. Karena itu, jika
pada saatnya aku tersudut, maka aku juga akan melakukan kekerasan.“
“Kenapa tidak kau lakukan
Raden? Apakah sekarang Raden belum tersudut?” bertanya Sura Branggah.
Kemarahan Raden Wicitra
benar-benar telah membakar dadanya. Tetapi Raden Wicitra tidak dapat mengingkari
kenyataan, bahwa ia memang agak merasa ngeri karena di rumah itu ada Ki
Tumenggung Reksadrana serta Sura Branggah.
Karena itu, maka Raden
Wicitra itupun segera meninggalkan rumah itu.
Ketika ia keluar dari
pintu pringgitan, ia masih mendengar suara tertawa berkepanjangan. Agaknya Ki
Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggah masih saja mentertawakannya.
Raden Wicitra ternyata
tidak mampu lagi menahan kemarahannya yang menggelegak. Karena itu, demikian ia
turun ke halaman, maka iapun segera meraih batu sebesar kepalan tangannya.
Sejenak ia
termangu-mangu. Tetapi suara tertawa yang lamat-lamat di ruang dalam Ki
Tumenggung itu masih memanaskan darahnya.
Karena itu, maka Raden
Wicitra itu telah melemparkan batu sebesar kepalan tangannya itu ke atap rumah
Ki Tumenggung.
Ki Tumenggung terkejut.
Bersama Sura Branggah merekapun berlari keluar. Tetapi Raden Wicitra telah
hilang dibalik pintu regol rumah Ki Tumenggung Reksadrana.
“Gila orang itu” geram Ki
Tumenggung.
“Ternyata tingkahnya
masih seperti kanak-kanak. Ia hanya berani melemparkan batu ke atas rumah.”
“Bukan itu yang aku
pikirkan. Bahwa ia melemparkan batu itu adalah pertanda Wicitra hampir menjadi
gila oleh kemarahannya. Karena itu, maka ia akan dapat berbuat apa saja untuk
menghancurkan kita kelak.”
“Jika demikian, maka
orang itu sangat berbahaya Ki Tumenggung.”
“Ya. Orang itu sangat
berbahaya.”
“Jika demikian, kenapa
orang itu tidak dilenyapkan saja
“Aku masih berpikir,
bahwa ia akan dapat kita manfaatkan, Ia akan dapat menjadi sasaran tuduhan
pembunuhan alas para Senapati di rumah Raden Ayu Prawirayuda justru karena
Wicitra itu menjadi gila untuk mengambil kemanakannya sendiri menjadi
isterinya.”
“Kenapa Ki Tumenggung
menolak bekerja bersama?”
“Orang itu tentu berpikir
seperti yang aku pikirkan. Ia berharap bahwa kitalah yang dituduh membunuh para
Senapati di rumah itu untuk memberikan kesan kekacauan di Paranganom. Tetapi
jika benar demikian, maka Kangjeng Adipati Yudapati sendiri yang akan menghabisi
kita”
“Lalu apa yang sebaiknya
kita lakukan?”
“Aku memang ragu-ragu.”
“Jika demikian, kita
lenyapkan saja orang itu. Habis perkara.”
“Kau akan melakukannya?”
“Mumpung belum jauh, Ki
Tumenggung.”
“Terserah saja kepadamu.”
“Baik. Aku akan
menyusulnya. Lidah orang itu tentu sangat berbisa.”
Ki Tumenggung mengangguk
sambil berkata”Berhati-hatilah. Orang itu tentu licik licin dan tidak tahu malu.
Ia akan dapat berbuat apa saja.“
“Baik, Ki Tumenggung.“
Sura Branggah itupun
kemudian telah turun pula ke halaman. Dengan cepat ia keluar dari regol halaman
menyusul Raden Wicitra yang telah menyusup kedalam kegelapan.
Namun Sura Branggah sudah
menduga, kemana Raden Wicitra itu akan pergi. Raden Wicitra itu mempunyai
seorang selir yang tinggal di padukuhan sebelah berantara dua bulak yang tidak
terlalu panjang.
“Aku harus menyusulnya
pada saat Raden Wicitra berada di bulak yang kedua itu lebih panjang sehingga
jaraknya dari padukuhan disebelah menyebelah tidak terlalu dekat. Seandainya
Raden Wicitra itu berteriak, suaranya tidak akan terdengar dari padukuhan.
Sebenarnya Sura Branggah sudah dapat melihat sosok Raden Wicitra sesaat sebelum
ia memasuki padukuhan. Tetapi Sura Branggah membiarkannya saja. Dengan hati-hati
ia terus mengikutinya sampai Raden Wicitra itu muncul dari gerbang padukuhan di
sebelah lain dan memasuki bulak yang lebih panjang.
Ketika Raden Wicitra
sampai di tengah-tengah bulak, maka Sura Branggahpun mempercepat langkahnya,
sehingga jaraknyapun menjadi semakin dekat.
“Kenapa tergesa-gesa
Raden“ sapa Sura Branggah ketika Raden Wicitra sampai di simpang empat di tengah
tengah bulak itu.
Raden Wicitra terkejut.
Iapun segera berhenti dan memutar tubuhnya.
Dalam keremangan malam
Raden Wicitra itu melihat Sura Branggah berdiri beberapa langkah di hadapannya.
“Sura Branggah” desis
Raden Wicitra.
“Ya. Raden.“
“Apakah kau menyusulku
atau kau memang akan pergi searah dengan aku?“
“Aku memang sengaja
menyusul Raden.“
“Apakah ada pesan dari Ki
Tumenggung.“
“Tidak Raden. Tidak ada
pesan apa-apa.“
“Jadi?“
“Keperluanku sendiri.“
“Keperluanmu sendiri.?“
“Ya”
“Keperluan apa?“
“Aku ingin membunuh
Raden.“
“He?”Raden Wicitra
terkejut sehingga sesaat ia tidak dapat berbicara apa-apa.
“Jangan menyesali nasib
burukmu Raden. Kau merupakan ancaman bagi kami. Maksudku Ki Tumenggung
Reksadrana serta aku dan gerombolanku yang baru akan aku susun kembali.“
“Kenapa aku kau anggap
ancaman bagimu dan Ki Tumenggung?”
“Lidah Raden itu sangat
tajam dan bahkan beracun. Karena itu, untuk mengamankan diri, Ki Tumenggung dan
aku menganggap lebih baik jika Raden ditiadakan saja sehingga tidak akan mungkin
dapat memfttnah kami. Tentang para Senapati di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu
jangan dicemaskan. Kami akan membunuh mereka semuanya. Sayang bahwa seorang
diantara mereka sudah mati.“
|”Nampaknya kau dan Ki
Tumenggung Reksadrana sudah gila. Kau kira dengan membunuh aku, kalian dapat
melakukan rencana kalian dengan baik? Sura Branggah. Ada atau tidak ada, aku
tidak akan mempengaruhi rencanamu yang kau susun dengan Ki Tumenggung
Reksadrana.“
“Kau tidak dapat membela
diri lagi Raden. Sekarang sudah saatnya kau mati. Karena itu, kau harus
mengikhlaskan nyawamu.“
Jantung Wicitra terasa
berdegup semakin keras. Kemarahannya kepada Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura
Branggah masih belum mengendap. Kini Sura Branggah itu telah menantangnya.
Karena itu, maka Raden
Wicitra itupun berkata” Sura Branggah. Jangan meremehkan orang lain. Kau kira
aku silau melihat tampangmu serta gemetar mendengar namamu. Jika kau menang
ingin menantangku, baiklah. Aku juga laki-laki seperti kau. Kau kira akan takut
menghadapimu?”
“Aku tidak mengira bahwa
Raden akan menjadi ketakutan Aku tahu bahwa Raden tentu akan menerima
tantanganku.
“Bagus Sura Branggah.
Jika demikian, kau akan aku yang akan mati disini.“
Sura Branggah tertawa
pendek. Katanya”Jika memang demikian, bersiaplah Raden. Aku datang untuk
membunuhmu. Hanya jika kau berhasil membunuhku sajalah maka kau akan selamat.
Tetapi jika kau tidak berhasil membunuhku, maka kaulah yang akan mati.“
“Kita sama-sama laki-laki
Sura Branggah. Meskipun kau pemimpin brandal yang namamu menakuikan, tetapi
jangan bermimpi akan dapat mengalahkan aku.“
“Bersiaplah untuk mati Raden.“ /
Raden Wicitra menggeram.
Namun iapun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Sura Branggahpun segera
meloncat menyerang. Tanganya terjulur menggapai kearah dada. Namun Raden Wicitra
menangkis sambil meloncat kesamping.
Dernikdanlah, maka
keduanyapun segera terlibat dalam pertempuran yang sengit. Ternyata tidak
seperti yang diduga oleh Sura Branggah, bahwa Raden Wicitra akan dapat dengan
mudah dikalahkannya. Tetapi ternyata bahwa Raden Wicitra juga seorang yang
tangkas.
Raden Wicitra tidak hanya sekedar mampu mengelak dan berloncatan surut. Tetapi
dengan garang Raden Wicitrapun telah membalas menyerang.
Dengan demikian, maka
telah terjadi benturan-benturan antara dua kekuatan yang ternyata seimbang
Sehingga keduanya berganti-ganti harus bergeser surut.
“Ternyata orang ini juga
mempunyai kemampuan yang tinggi” berkata Sura Branggah didalam hatinya.
Sementara itu, Raden
Wicitrapun harus mengakui kenyataan yang dihadapinya, bahwa Sura Branggah
memiliki kekuatan yang besar serta ketahanan tubuh yang tinggi.
Dengan demikian
pertempuran ini semakin menjadi semakin seru. Keduanya saling menyerang dengan
mengerahkan segenap tenaga dan kemumpuan mereka
Ketika kaki Raden Wicitra
itu menyambar dada Sura Branggah, maka Sura Branggahpun telah terdorong beberapa
langkah surut. Dengan cepat Raden Wicitra memburunya. Dengan loneatan panjang,
maka sekuli lagi kaki Raden Wicitra terayun rnendatar, justru menyambar kening
Sura Branggah.
Sura Branggah tidak mampu
lagi mempertahankan keseimbangannya. Tubuhnyapuh terlempai dan terguling jatuh
menimpa tanggul parit.
Tetapi dengan cepat Sura
Branggah melenting bangkit. Ketika Raden Wicitra meloncat mendekatinya, Sura
Branggahlah justru menyongsongnya. Sura Branggahlah yang mendahului menyerang
Raden Wicitra. Tangannya tetap menghantam perut.
Raden Wicitra mengaduh
tertahan. Diluar sadarnya Raden Wicitra itu membongkok sambil memegangi perutnya
dengan kedua belah tangannya.
Pada saat itu Sura
Branggah dengan cepat menekan kepala Raden Wicitra serta membentumya dengan
lututnya.
Sekali lagi Raden Wicitra
mengaduh. Tetapi ia tidak membiarkan kepalanya sekali lagi dibenturkan ke lutut
Sura Branggah. Karena itu, maka iapun segera menggeliat. Raden Wicitra justru
telah menjatuhkan dirinya berguling beberapa kali untuk mengambil jarak.
Sura Branggah yang marah dengan cepat meloncat menerkam. Kedua tangannya
terjulur Turus menggapai leher Raden Wicitra.
Tetapi tubuh Sura
Branggah justru menerpa kedua kaki Raden Wicitra yang merapat. Ketika kedua kaki
itu dihentakkannya, maka Sura Branggah telah teriempar beberapa langkah. Sekali
lagi Sura Branggah terpelanting jatuh menimpa tanggul parit.
Sekejap kemudian,
keduanya telah meloncat bangkit berdiri dan bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Keduanyapun kemudian
bergeser beberapa langkah. Kepala Raden Wicitra yang terantuk lutut Sura
Branggah masih terasa pening. Perutnyapun masih mual. Sementara itu, punggung
Sura Branggahpun terasa nyeri setelah dua kali menimpa tanggul parit di pinggir
jalan.
Namun keduanya berusaha
untuk mengatasinya dengan mengerahkan daya tahan masing-masing.
“Tubuhmu liat juga Raden”
geram Sura Branggah.
“Setan kau Sura Branggah.
Ternyata tulang-tulangmu liat juga. Tetapi jangan mirnpi kau dapat keluar dengan
selamat. Besok orang-orang yang lewat akan menemukan tubuh gegedug brandal yang
ditakuti itu terbaring di simpang empat ini. Tetapi itu sudah nasibmu. Kau
sendirilah yang datang kepadaku untuk mengantarkan nyawamu.”
“Mulutmu sajalah yang
besar Raden. Tetapi tenagamu tidak lebih besar dari tenaga seorang pepempuan tua
sakit-sakitan.”
“Tetapi kau tidak dapat
menahannya. Dengan mudah aku melemparkanmu menghantam tanggul parti itu.
Sura Branggah tidak
menjawab lagi, Dengan garangnya Sura Branggah telah meloncat menyerang
Pertempuran diantara
keduanya segera menyala lagi. Keduanya berloncatan dengan cepat, melingkar
lingkar di gelapnya malam. Mereka saling menyerang dan saling menghindar.
Benturan-benturan terjadi semakin sering. Serangan-seranganpun semakin sering
pula mengenai sasarannya.
Setelah mengerahkan
tenaga dan kemampuan mereka beberapa lama, maka nafas merekapun mulai memburu di
lubang hidung mereka. Keringatpun bagaikan diperas dari tubuh mereka. Pakaian
mereka telah basah kuyup dilekati debu yang semakin tebal.
Namun tidak segera dapat
diketahui, siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu.
Akhimya Wicitra merasa
bahwa tidak ada gunanya untuk bertempur terus. Wicitrapun meragukan kemampuannya
sendiri untuk dapat mengalahkan Sura Branggah yang bertempur semakin kasar. Dan
bahkan menjadi buas dan liar.
Meskipun demikian,
Wicitrapun meragukan kemampuan Sura Branggah, bahwa ia akan dapat
mengalahkannya.
Sebenarnyalah, bahwa
beberapa saat kemudian, tenaga merekapun telah menjadi semakin menyusut. Ketika
Sura Branggah terpelanting jatuh, maka ia memerlukan waktu beberapa saat untuk
bangkit. Tetapi Wicitrapun tidak mampu lagi untuk mendekatinya dengan cepat
untuk menyerang pada saat Sura Branggah bangkit dan belum bersiap menghadapi
serangannya.
Namun Wicitrapun
terdorong jatuh dan terjerembab ke dalam parit yang mengalir ketika serangannya
tidak mengenai sasaran. Bahkan Sura Branggah sempat mendorongnya dengan sisa
tenaganya.
Ketika Wicitra itu
kemudian bangkit. maka iapun berkata”Tidak ada gunanya perkelahian ini
diteruskan. Aku akan pergi. Pada kesempatan Iain, aku akan menikammu dengan
kerisku ini.“
Sura Branggah
termangu-mangu sejenak. Sura Branggah melihat keris di tangan Raden Wicitra.
Karena itu. maka iapun telah menarik pisau belatinya.
Tetapi Raden Wicitra itu
tidak meiiyerangnya. Tertatih-tatih Raden Wicitra itu justru melangkah menjauh
samhil berkata”Kita cari kesempatan yang lebih baik. Sura Branggah. Aku akan
benar-benar membunuhmu.“
“Kenapa tidak kita
selesaikan sekarang saja Raden .” geram Sura Branggah.
“Tanganmu tidak lagi kuat
menekankan pisaumu itu didadaku. Akupun sudah kehabisan tenaga untuk menikam
jantungmu. Aku menyesal bahwa aku terlambat menarik kerisku.”
“Aku akan menunggu,
Raden.“
“Bagus. Kapanpun saatnya
kita akan menyelesaikan persoalan diantara kita ini. Setelah aku membunuhmu,
maka aku akan membunuh Ki Tumenggung Reksadrana yang tamak itu.”
“Persetan dengan
celotehmu itu.“
Raden Wicitrapun kemudian
dengan langkah gontai meninggalkan simpang empat di bulak panjang itu. Sementara
Sura Branggahpun tidak mengejarnya. Sura Branggah sendiri sudah merasa kehabisan
tenaga, Sehingga seandainya mereka bertempur terus, maka mereka tentu hanya akan
saling melukai. Tubuh mereka akan terkapar di simpang ampat itu. Jika besok
mereka diketemukan oleh orang lewat, maka mereka ternyata masih belum mati.
“Ternyata anak iblis itu
mampu mempertahankan hidupnya” geram Sura Branggah.
Sementara itu, Raden
Wicitrapun melangkah semakin lama semakin jauh menusuk masuk ke dalam gelapnya
malam.
Sejenak kemudian, simpang
empat itu sudah menjadi lengang. Sura Branggah masih berada di simpang empat
itu, duduk katas tanggul parit yang basah.
Namun sejenak kemudian,
Sura Branggah yang letih itupun bangkit berdiri. Kakinya terasa menjadi sangat
berat ketika ia melangkah untuk kembali ke rumah Ki Tumenggung Reksadrana.
Di dini hari, Sura
Branggah itu telah berada di rumah Ki Tumenggung Reksadrana. Sura Branggah duduk
di lantai. Di bawah cahaya lampu minyak ia melihat noda-noda darah pada
pakaiannya.
Ternyata di tubuhnya
terdapat goresan-goresan luka. Ketika ia terjatuh menimpa tanggul parit serta
beberapa kali tubuhnya terdorong dan tersandar pada pohon turi yang tumbuh di
pinggir jalan, agaknya batu-batu padas, serta kulit batang turi yang kasar itu
telah melukai kulilnya.
Ki Tumenggung Reksadrana
yang berjalan hilir mudik diruang itu dengan geram bertanya”Jadi kau gagal
membunuh iblis yang lidahnya bercabang itu?“
“Aku mohon maaf, Ki
Tumenggung. Ternyata nyawa Raden Wicitra itu liat juga. Ia mampu mempertahankan
diri untuk beberapa lama sebelum ia meninggalkan arena pertempuran.“
“Kau tidak mengejarnya?“
“Aku sendiri hampir
kehabisan tenaga, Ki Tumenggung. Jika aku mengejarnya dan perkelahian itu
berlanjut, mungkin kami berdua akan pingsan di simpang empat itu. Jika tubuh
kami berdua di temukan oleh orang lewat, maka tentu akan menjadi bahan
pembicaraan yang panjang.
“Orang-orang akan mengira
bahwa kau berusaha menyamun Raden Wicitra. Tetapi Raden Wicitra lelah melawan
sehingga kalian berdua menjadi pingsan.
“Dengan demikian, aku
akan dipenjara. dan bahkan akan timbul kesan, bahwa Kateguhanpun telah menjadi
tidak aman seperti Paranganom
“Tetapi Wicitra itu tentu
akan rrienyebai racun dengan lidahnya yang bercabang itu
“Tetapi sudah banyak
orang yang mongenalnya sebagai iblis yang lidahnya bercabang, Ki Tumenggung,
“Kau sudah mulai Sura
Branggah. Kau harus menyelesaikannya.
“Tentu Ki Tumenggung, Aku
akan menyolesaikannya.“
“Jangan terlalu lama.“
“Ya. Tentu tidak terlalu
lama. Tetapi bukan hari ini.“
Ki Tumenggung itupun
kemudian menggeran”Aku mau tidur. Terserah apakah kau akan tidur atau tidak.”
“Aku akan tidur di lincak
panjang diserambi itu saja Ki Tumenggung.“
Disisa malam itu, Raden
Wicitra telah mengetuk rumah seorang perempuan. Rumah perempuan yang memang
menjadi tempat persinggahannya.
“Siapa diluar?” terdengar
suara seorang perempuan bertanya dari dalam.
“Aku Nyi, Wicitra”
Raden Wicitra menarik
nafas panjang, ketika ia menderigar langkah kaki ke pintu. Sejenak kemudian,
maka pintu itupun telah terbuka.
Seorang perempuan berdiri
termangu-mangu di belakang pintu yang terbuka itu.
Tertatih-tatih Raden
Wicitra melangkah masuk.
“Raden, kenapa?” bertanya
perempuan itu ketika ia melihat keadaan Wicitra yang wajahnya nampak pengab
kebiru-biruan.
Setelah pintu itu ditutup
kembali, maka perempuan itu telah menggandeng Raden Wicitra ke sebuah lincak
panjang.. .
Raden Wicitra yang letih
itupun segera duduk di lincak itu sambil berdesah.
“Tubuhku terasa sakit
semuanya. Tulang-tulangku bagaikan menjadi retak. Isi rongga dadaku seakan-akan
telah rontok berguguran”
“Kenapa? Raden telah
berkelahi lagi memperebutkan puteri yang bernama Rantamsari itu?”
“Tidak.”
“Bohong. Raden tentu
berkelahi lagi seperti beberapa waktu yang lalu. Waktu itu Raden datang sambil
mengeluh. Raden minta aku memijit tubuh Raden yang terasa sakit. Tetapi Raden
berbicara terus-menerus tentang perempuan yang bernama Rantamsari itu. Bukankah
hatiku menjadi sakit”
“Kau tidak usah menjadi
sakit hati. Aku tidak akan meninggalkanmu, meskipun aku akan menikah dengan
Rantamsari kelak.”
“Sekarang, dalam keadaan
seperti ini, kenapa Raden tidak pergi saja ke rumah Rantamsari.”
“Rantamsari rumahnya jauh
sekali. Ia tinggal di Paranganom, sementara kita berada di Kateguhan.”
“Sekarang Raden kemari
mau apa?”
“Kau lihat keadaanku?
Tolong, obali luka-lukaku. Aku juga memerlukan ganti pakaian. Bukankah ada
pakaianku yang aku tinggalkan disini.”
Perempuan itupun kemudian
telah merawat Raden Wicitra. Ia telah merebus air untuk mandi. Kemudian
menyediakan ganti pakaian serta menyiapkau minuman hangat.
Namun ketika ia menerima
pakaian Wicitra yang kotor, yang basah oleh keringat dan dilekati debu yang
tebal, maka yang pertama-tama dicarinya adalah uang di kantong baju itu.
Tetapi perempuan itu
hanya.menemukan beberapa keping uang kecil saja, sehingga ia masih bernafsu
untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi.
Baru ketika Raden Wicitra
tertidur setelah mandi air hangat, berganti pakaian dan minum minuman panas,
perempuan itu sempat membuka kantong ikal pinggang Raden. Wicitra.
Di kantong ikat pinggang
itu, ia menemukan uang lebih banyak lagi.
Demikianlah, maka dendam
Raden Wicitra kepada Ki Tumenggung Reksadrana dan kepada Sura Branggahpun
menjadi semakin dalam. Demikian pula sehaliknya, Ki Tumenggung Reksadrana dan
Sura Branggahpun menjadi semakin benci kepada Raden Wicitra. Bagi Ki Tumenggung
Reksadrana dan bagi Sura Branggah, RadenWicitra harus disingkirkan.
Namun demikian, baik
Raden Wicitra maupun Ki Tumenggung tidak ada yang berani memberikan laporan
kepada Kangjeng Adipati Yudapati tentang-kejahatan yang pernah mereka lakukan.
Mereka berniat membuat
penyelesaian sendiri atas persoalan diantara mereka.
***
Dalam pada itu, di
Paranganom, Wismaya melihat hubungan antara Raden Ajeng Rantamsari dan Sasangka
menjadi semakin rapat. Bahkan Wismayapun pernah. menyampaikan persoalannya
kepada Raden Madyasta. Tetapi Raden Madyasta sendiri merasa agak binguiig, apa
yang harus dilakukannya.
“Sasangka sama sekali
sudah tidak lagi. merasa malu, Raden“ berkata Wismaya.
“Aku tidak tahu, apa yang
sebaiknya aku lakukan, kakang.”
“Mungkin kematian Rembana
tidak ada hubungannya dengan Raden Ajeng Rantamsari, tetapi bukan berarti bahwa
kemungkinan itu tidak ada sama sekali.”
“Kakang Sasangka memang
menimbulkan beberapa pertanyaan. Kadang-kadang aku merasa takut memikirkannya.”
“Mungkin apa yang Raden
tatkutkan itu, sama seperti yang aku takutkan pula.”
“Apa yang kakang
takutkan?”
“Pernah tersirat dalam
pembicaraan kita sebelumnya, Raden. Tetapi kita masing-masing tidak
mengatakannya dengan terbuka.”
“Hubungan antara kematian
kakang Rembana dengan apa yang dilakukan oleh Sasangka sekarang?”
“Ya, Raden.”
“Tegasnya, dugaan bahwa
kakang Sasangkalah yang telah membunuh kakang Rembana?”
“Ya, Akupun menjadi
curiga, karena sebelumnya Sasangka pernah memperingatkan Rembana agar tidak
berhubungan terlalu rapat dengan Raden Ajeng Rantamsari.
“Tetapi waktu itu menurut
kakang Wismaya, kakang Sasangka mengueapkan peringatannya dengan jujur.
Maksudnya, kakang Sasangka benar-benar memperingatkan Rembana agar Rembana tidak
menjadi sangat kecewa di kemudian hari. Hatinya tidak menjadi sangat pedih, jika
Raden Ajeng Rantamsari itu tiba-tiba telah direnggut dari sisihnya.“
“ Ya. Menurut tanggapanku
waktu itu memang demikian, Raden. Tetapi apa yang terjadi kemudian membuat aku
menjadi ragu-ragu.“
“Aku harus berhati-hati
menghadapi persoalan ini, kakang.”
“Raden. Bagaimana menurut
pendapat Raden, jika Raden berusaha berdiri diantara Sasangka dan Raden Ajeng
Rantamsari?“
“Aku tidak dapat
melakukannya, kakang. Nanti akan dapat timbul salah paham pada bibi.“
“Raden akan
berterus-lerang mengatakan kepada Raden Ayu Prawirayuda.
“Raden Madyasta menarik
nafas panjang. Selama ini bibinya bersikap amat baik kepadanya. Apalagi menurut
ayahandanya, Kangjeng Adipati Prangkusuma dan Paranganom, bibinya pernah berniat
untuk menempatkan Raden Ajeng Rantamsari disisi Kangjeng Adipati Yudapati di
Kateguhan. Padahal menurut penglihatan orang orang Keteguhan, Raden Ajeng
Rantamsari adalah adik Kangjeng Adipati Yudapati, meskipun sebenarnya hanyalah
adik tiri yang berbeda ayah dan ibu.
Karena Raden Madyasta
tidak segera menjawab, Wismaya itupun bertanya pula”Bagaimana menurut Raden?“
Raden Madyasta masih
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun justru bertanya”Bagaimana menurut
tanggapan kakang Wismaya terhadap sikap bibi Prawirayuda? Nampaknya bibi sama
sekali tidak menaruh keberatan.“
“Pada saat Raden Ajeng
Rantamsari berhubungan dengan Rembaria, Raden Ayu Prawirayuda juga tidak
berusaha mencegahnya.“
“Seharusnya bibi tidak
membiarkan kangmbok Rantamsari bersikap seperti itu.”
Wismaya terdiam.
Sementara Raden Madyasta itu berkata didalam hatinya”Mungkin bibi merasa sangat
kecewa, bahwa kakangmas Adipati Yudapati telah menolaknya, sehingga akhirnya
bibi justru menjadi tidak peduli lagi atas apa yang dilakukan oleh kangmbok
Rantamsari dalam hubungannya dengan seorang laki-laki. Tetapi jika itu benar,
maka malanglah nasib kangmbok Rantamsari.“
Dengan demikian maka
keduanya tidak menemukan kesimpulan apa-apa yang akan dapat mereka sampaikan
kepada Sasangka. Sehingga untuk sementara baik Wismaya maupun Raden Madyasta
masih akan tetap berdiam diri.
Dalam pada itu, Raden
Madyastapun telah teringat akan dirinya sendiri yang telah menjalin hubungan
dengan anak perempuan Ki Demang Panjer. Ayahandanya masih tetap berpegang kepada
ajaran orang-orang tua, bahwa keturunan akan memegang peran penting dalam
kehidupan rumah tangga. Sebagai putera seorang Adipati, maka tidak sepatutnya,
ia mengambil anak perempuan Demang Panjer itu untuk menjadi sisihannya.
“Jika pada saatnya,
seandainya hubungan Sasangka dan kangmbok Rantamsari dapat diterima oleh bibi
Prawirayuda, sehingga kemudian disampaikan kepada ayahanda, aku tidak yakin,
bahwa ayahanda akan menyetujuinya. Ayahanda tentu menghendaki, bahwa kangmbok
Rantamsari mendapat jodoh seorang yang mempunyai derajad yang setidak-tidaknya
tidak berada pada lapisan yang terlalu jauh dari kangmbok Rantamsari sendiri.
Bukan hanya sekedar seorang Senapati kecil yang masih berpangkat Lurah Prajurit”
berkata Raden Madyasta didalam hatinya.
Sebenarnyalah, dari hari
ke hari hubungan Sasangka dengan Raden Ajeng Rantamsari menjadi semakin dekat.
Sementara itu, Raden Ayu Prawirayuda memang tidak berusaha mencegahnya. Hanya
setiap kali Raden Ayu sempat memperhatikan tingkah laku puterinya itu dari bilik
pintu butulan yang sedikit terbuka, Raden Ajeng Rantamsari duduk bersama
Sasangka di longkangan atau di halaman belakang.
Sekali-sekali Raden Ayu
memang memanggil puterinya. Tetapi karena Raden Ayu menjadi kesal, bahwa Raden
Ajeng Rantamsari seakan-akan melupakan kain yang sedang dibatiknya
“Kapan kainmu itu selesai
Rantamsari?“ bertanya ibunya.
“Aku sedang letih ibu.“
“Apa yang kau lakukan,
sehingga kau menjadi letih?
“Mungkin aku sedang tidak
enak badan. Udara terasa terlalu panas, sehingga rasa-rasanya aku lebih senang
duduk di taman atau di bawah pepohonan di halaman belakang.“
“Tetapi kainmu itu jangan
dilupakan Rantamsari. Setiap hari, meskipun hanya sedikit, sebaiknya kau coret
kainmu itu. Jika kelak kain itu sudah siap, maka kau akan dengan bangga
mengenakannya, karena kain itu kau batik sendiri.“ Raden Ajeng Rantamsari yang
menjadi muram itu menjawab”Aku akan mengerjakannya malam nanti; ibu.“
“Jangan terlalu sering
mengerjakan di malam hari. Terangnya lampu minyak dan terangnya cahaya matahari
itu berbeda, Rantamsari.“
“Baiklah, ibu. Besok aku
akan mulai membatik di pagi hari.“
“Kenapa besok?“
“Hari ini aku akan
beristirahat. Hari ini aku tidak akan mengerjakan apa-apa.“
Raden Ayu Prawirayuda
hanya dapat menarik nafas panjang. Sementara itu, Raden Ajeng Rantamsaripun
segera meninggalkannya.
Selain kegelisahan yang
timbul karena hubungan Sasangka dengan Raden Ajeng Rantamsari, maka agaknya
tidak pernah lagi terjadi gangguan di rumah Raden Ayu Prawirayuda. Raden
Wicitrapun tidak pernah datang lagi mengganggu kemanakannya.
Meskipun demikian, Raden
Madyasta masih saja ragu-ragu untuk meninggalkan rumah bibinya untuk pergi ke
Panjer. Jika pada saat ia pergi terjadi sesuatu di rumah itu, maka ayahandanya
tentu akan menjadi sangat marah kepadanya•
Yang dapat dilakukan oleh
Raden Madyasta jika ia merasa jemu berada di rumah bibinya, maka iapun minta
diri untuk pulang ke kadipaten. Tetapi tidak terlalu lama ia harus sudah berada
di rumah bibinya lagi. Di kadipaten Madyasta dapat bermain-main kuda bersama
Raden Wignyana, seorang penggemar kuda. Tetapi ketika ia sudah berada di rumah
bibinya lagi, maka ia akan berada dalam suasana yang tegang. Bukan saja karena
setiap saat akan dapat muncul orang-orang yang berniat jahat, tetapi juga karena
hubungan antara Sasangka dan Raden Ajeng Rantamsari yang mendebarkan itu.
Namun Raden Madyasta
masih juga merasa heran, bahwa bibinya, Raden Ayu Prawirayuda tidak berbuat
apa-apa Raden Ayu Prawirayuda itu seakan-akan tidak mengetahui, bahwa Raden
Ajeng Rantamsari sudah tenggelam dalam mimpinya
“Raden“ berkata Wismaya
yang menjadi semakin tegang” apakah kita masih akan tetap berdiam diri? Sasangka
telah melampaui batas tugasnya. Jika pada suatu saat, Raden Ajeng Rantamsari itu
di renggut dari sampingnya karena berbagai macam alasan, maka Sasangka akan
dapat menjadi gila.“
“Baiklah, kakang. Biarlah
besok aku berbicara dengan kakang Sasangka. Aku juga merasa bertanggung jawab
jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan disini, justru oleh .prajurit
Paranganom sendiri. Sekarang, selagi masih ada kesempatan, aku harus
mencegahnya.“
“Raden dapat membawa
perintah dari Kangjeng Adipati, bahwa Sasangka dipindahkan dari tugasnya yang
sekarang. Agar tidak terlalu melukai hatinya, maka sebaiknya kita bersama-sama
digeser dari tugas kita ini dan digantikan dengan orang-orang baru sama sekali,
namun yang dapat dipercaya.”
“Tetapi sebelumnya, aku
akan berterus-terang, kakang. Mungkin kakang Sasangka akan menjadi kecewa atau
bahkan marah kepadaku. Mungkin kakang Sasangka akan menjadi salah sangka.
Mungkin kakang Sasangka mengira, bahwa aku sendiri menginginkan kangmbok
Rantamsari sehingga aku berusaha memisahkannya gadis itu. Dalam keadaan yang
demikian, maka aku akan mempergunakan kuasaku sebagai putera Adipati Paranganom
yang diserahi memimpin para Senapati yang beriugas disini.
Namun yang akan
menyulitkan adalah jika bibi justru menginginkan hubungan itu berlanjut.“
“Jika demikian, segala
sesuatunya terserah saja kepada Raden Ayu Prawirayuda. Kita memang tidak akan
dapat mencampurinya.“
Raden Madyasta
mengangguk-angguk.
Dalam pada itu, suasana
di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu terasa agak berbeda dengan hari-hari
sebelumnya. Terasa sekat yang membatasi hubungan antara Wismaya dan Sasangka
menjadi semakin tegal. Keduanya tidak banyak lagi berbicara, sehingga
seakan-akan diantara keduanya telah timbul persoalan yang gawat. Sementara itu
Raden Madyasta juga membatasi dirinya. Iapun tidak banyak berbicara, baik dengan
Sasangka niaupun dengan Wismaya.
Ketika kemudian malam
turun, maka Raden Madyasta itupun berkata kepada keduanya ”Aku akan berada di
serambi belakang, kakang. Sebaiknya salah seorang dari kakang berdua
beristirahat saja dahulu, agar setelah lewat tengah malam ada diantara kita yang
berjaga-jaga.“
“Baik, Raden” jawab
Sasangka ”biarlah aku berjaga-jaga sekarang. Aku akan membangunkan Wismaya
setelah lewat tengah malam nanti.“
Sementara itu Wismaya
menyahut ”Raden sendiri juga haras beristirahat. Hampir setiap malam Raden
berjaga-jaga semalam suntuk, sedangkan kami dapat membagi waktu.“
Raden Madyasta tersenyum.
Katanya Biarlah. Jika aku merasa letih dan mengantuk, aku akan tidur.“
Sejenak kemudian, maka
Raden Madyastapun telah meninggalkan serambi gandok. Sementara dengan tidak
banyak berbicara lagi. Wismayapun masuk ke dalam biliknya di gandok.
Di serambi gandok
Sasangka duduk sendiri. Dipandanginya daun pepohonan di halaman yang bergoyang
di terpa angin malam yang basah.
Namun Sasangkapun
kemudian bangkit berdiri dan turun ke halaman.
Terasa angin bertiup
semakin keras. Ketika Sasangka kemudian menengadahkan wajahnya ke langit, maka
dilihatnya langit gelap. Tidak ada sepercik bintangpun yang nampak. Bahkan
sekali-sekali kilat mulai merebak. cahayanya memancar sekilas menyilaukan.
Disusul oleh gelegar guruh yang bagaikan melingkar-lingkar menyusuri
lereng-lereng pegunungan.
Sasangka menarik nafas
dalam-dalam. Dipandanginya pintu bilik di gandok yang tertutup. Bilik yang satu
berisi Wismaya. Sedangkan bilik yang lain kosong.
Sasangkapun kemudian
melangkah menyusuri halaman depan rumah Raden Ayu Prawirayuda. Rumah yang
terhitung besar itu berdiri bagaikan membeku. Meskipun angin bertiup semakin
kencang, tetapi rumah itu sama sekali tidak tergoyahkan. Hanya nyala lampu
minyak dipendapa yang terombang-ambing oleh hembusan angin.
Kilat masih sekali-sekali
menyambar disusul oleh suara guruh yang menderu.
Ketika hujan turun, maka
Sasangkapun telah berada di tangga pendapa. Terasa percikan air hujan yang
dihembus angin mengusap ketubuhnya.
Dingin malam menjadi
semakin dalam menusuk kulit.
Beberapa saat lamanya
Sasangka berdiri di pendapa. Tiba-tiba saja ia merasa bertanggung jawab atas
rumah itu.
Seakan-akan rumah itu adalah rumahnya sendiri. Rumahnya yang akan dihuninya
bersama seorang perempuan yang bemama Rantamsari.
Sasangka itupun kemudian
telah naik ke pendapa. Dipandanginya saka guru yang beridiri tegak menyangga
atap pendapa rumah yang terhitung besar itu.
Pintu pringgitan yang
tertutup, gebyok kayu yang tebal serta hiasan dinding yang serasi dengan warna
kayu nangka yang sudah tua. Kuning kecoklat-coklatan.
Tiba-tiba saja Sasangka
merasa wajib untuk mengelilingi rumah itu. Ia merasa bertanggung-jawab atas
keselamatan seisi rumah itu, melampaui tanggung jawab seorang prajurit yang
bertugas. Sasangka merasa seakan-akan ia sedang prajurit yang bertugas. Sasangka
merasa seakan-akan ia sedang melindungi keluarganya sendiri dari kemungkinan
buruk yang dapat terjadi setiap saat.
Hujanpun menjadi semakin
lebat. Kilat menjadi semakin sering memancar di langit. Angin berhembus semakin
kencang mengguncang pepohonan.
Diluar sadarnya, Sasangka
memandang pintu bilik di gandok yang nampak dari pendapa. Pintu itu kedua-duanya
masih tertutup rapat. Wismaya tertu masih berada di dalamnya. Bahkan orang itu
sudah tertidur melingkar dibawah selimutnya yang kusut.
“Aku harus mengelilingi
rumah ini” berkata Sasangka didalam hati "Raden Madyasta tentu duduk saja di
serambi. Pemalas itu tentu segan turun ke dalam lebatnya htijan. Atau mungkin
Raden Madyasta malah masuk ke dalam rumah, duduk-duduk sambil bergurau dengan
Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari sambil minum minuman hangat.
Jantung Sasangka
bergetar. Di dalam hatinya ia berkata ”Jika Raden Ajeng Rantamsari membuat
mmuman hangat, seharusnya akulah yang dilayaninya. Bukan Raden Madyasta.”
Tiba-tiba saja Sasangka
itu ingin pergi ke serambi belakang.
Untuk beberapa saat ia
masih mencoba menahan diri. Ia tidak dapat pergi ke serambi belakang melewati
pintu pringgitan, masuk ke ruang dalam, kemudian lewat serambi samping sampai ke
serambi belakang. Jika ia akan pergi ke serambi belakang, maka ia
harus.melingkari rumah yang terhitung besar itu.
Tetapi ternyata Sasangka
tidak dapat menahan dirinya lagi. Ada dorongan yang sangat kuat yang memaksanya
untuk turun ke halaman meskipun hujan menjadi semakin lebat.
Sementara itu, ternyata
Raden Madyasta juga tidak duduk saja di serambi. Hujan yang semakin lebat itu
telah membuat hatinya menjadi tidak tenang. Ada sesuatu yang menggelitiknya,
agar Raden Madyasta itu turun untuk melihat-lihat keadaan.
Dengan demikian maka
Raden Madyastapun telah masuk ke dalam kegelapan, menyusuri dinding rumah.
Dibawah emper yang tidak terlalu lebar Raden Madyasta bergeser ke arah
longkangan..
Malam terasa sepi.
Meskipun Raden Madyasta . menyusuri emperan rumah, namun pakaiannya masih juga
menjadi basah.
Ketika Raden Madyasta itu
berada di longkangan, dilihatnya longkangan itu sepi sekali. Lampu minyak di
serambi samping agaknya telah padam oleh tiupan angin yang kencang.
Sejenak Raden Madyasta
berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian, iapun mulai bergerak dalam
kegelapan menuju ke seketeng. Ketika kilat menyambar di langit, Raden Madyasta
melihat bahwa pintu seketeng itu sedikit terbuka.
“Apakah pintu itu lupa
tidak ditutup?”
Dari longkangan Raden
Madyasta melihat bilik tempat para pembantu di rumah itu yang berada disebelah
dapur, sudah gelap. Agaknya para pembantu di rumah itupun sudah tertidur
nyenyak.
Jantung Raden Madyasta
terasa menjadi semakin berdebaran. Ia tidak tahu, apa yang telah menyebabkannya.
Ia sudah beberapa lama berada di rumah bibinya. Ia sudah mengalami berkali-kali
mengelilingi rumah itu di malam hari. Bahkan pada saat hujan yang lebat
sekalipun seperti malam itu.
Raden Madyasta itu
bergeser terus melekat dinding agar air hujan tidak tercurah langsung ke
tubuhnya. Emperan diatasnya masih juga serba sedikit melindunginya dari hempasan
air hujan yang seperti tertuang dari langit.
Tetapi untuk pergi ke
seketeng maka Raden Madyasta tidak dapat menghindari curahan air hujan.
Berlari-lari kecil Raden
Madyasta menuju ke seketeng. Meskipun jaraknya tidak terlalu panjang tetapi
pakaian Raden Madyasta menjadi basah kuyup.
Namun demikian Raden
Madyasta keluar dari pintu seketeng, ia menjadi sangat terkejut. Ia melihat
sesosok tubuh yang menelungkup di tangga serambi gandok.
Dengan cepat Raden
Madyasta itu berlari. Tanpa menghiraukan air hujan, maka Raden Madyastapun
segera berjongkok di samping tubuh itu. Ketika ia menelentangkannya, maka sekali
lagi Raden Madyasta terkejut, sehingga terasa jantungnya bagaikan berhenti
berdetak.
“Kakang Sasangka” Raden
Madyasta hampir berteriak.
“Raden” suara Sasangka
lemah sekali.
“Kakang Wismaya. Kakang
Wismaya” teriak Raden Madyasta.
Tetapi suaranya larut
oleh deru derasnya hujan.
Raden Madyasta tidak
meninggalkan Sasangka yang menjadi sangat lemah. Karena itu, maka Raden
Madyastapun segera memungut sebuah batu sebesar telur. Dilemparkannya batu itu
kepintu bilik Wismaya.
Derak batu yang mengenai
pintu itu telah mengejutkan Wismaya yang memang sedang tidur nyenyak. Justru
karena hujan yang deras sehingga dinginnya udara malam membuatnya semakin
terlena
Dengan cepat Wismaya
meloncat bangkit dari pembaringannya, la sempat menibenahi pakaiannya sejenak.
Kemudian diraihnya keris yang tergolek di penibaringan nya.
Sejenak kemudian, maka
pintu bilik itupun terbuka. Tetapi Wismaya tidak segera meloncat keluar.
Peristiwa yang telah merenggut nyawa Rembana membuatnya berhati-hati.
Tetapi demikian pintu
terbuka, maka didengarnya diantara deru air hujan suara memanggil ”Kakang
Wismaya. Kakang Wismaya.”
Suara itu suara Raden
Madyasta. Meskipun berbaur dengan hujan yang deras, namun Wismaya tetap dapat
mengenalinya.
Karena itu, maka
Wismayapun segera berlari ke tangga. Dengan serta merta iapun berjongkok pula
disisi Sasangka.
“Sasangka” suara
Wismayapun ditelan oleh deru air hujan. Dengan berteriak lebih keras lagi
Wismaya itu bertanya” Apa yang terjadi dengan Sasangka Raden?”
Madyasta menempelkan
mulutnya ke telinga Sasangka.
“Apa yang terjadi,
kakang?”
Suara Sasangka menjadi
semakin lemah. Tetapi Raden Madyasta dan Wismaya masih mendengarnya.
“Aku diserang dengan
licik, Raden.”
“Kakang tidak sempat
membela diri sama sekali;?”
Sasangka menggelengkan
kepalanya. Suaranya lemah sekali ”Aku tidak menduganya. Tiba-tiba saja aku
merasa tertusuk di lambungku” suaranya menjadi tersendat ”ketika aku berpaling,
aku tidak melihat apa-apa. Kemudian aku menjadi semakin lemah. Aku mencoba
melangkah ke serambi.“
“Kakang Wismaya” panggil
tabib yang manapun juga untuk memberikan pertolongan, setidak-tidaknya
pertolongan sementara kepada kakang Sasangka.”
“Baik, Raden.“
Tetapi Sasangkapun
berkata “Tidak ada gunanya, luka ini terlalu dalam dan darah sudah banyak yang
mengalir “
“Kita harus berusaha”
sahut Raden Madyasta” cepatlah kakang.“
Tetapi ketika Wismaya
bergeser, Sasangka itupun berdesis” Raden. Aku minta maaf bahwa aku tidak dapat
menjalankan tugasku dengan baik.“
“Kakang....”
“Sasangka....”
Nafas Sasangkapun
terhenti. Sasangka telah tiada.
Terdengar gemeretak gigi
Raden Madyasta. Iapun segera bangkit berdiri sambil menarik kerisnya. Sambil
berdiri tegak dengan keris yang bergetar di tangannya Raden Madyasta itupun
berteriak ”He, jangan berbuat licik dan curang. Jika kau memang laki-laki
sejati, keluarlah dari persembunyianmu. Kita akan berhadapan beradu dada. Jangan
bersembunyi dan menyerang dari belakang. Itu bukan watak laki-laki.“
Suara Raden Madyasta
meninggi. Bahkan Raden Madyasta itupun kemudian berlari ke tengah tengah
halaman. Ia masih saja berteriak-teriak dengan marahnya.
Namun tidak terdengar
sahulan Yang terdengar masih saja deru air hujan.
Sementara itu Wismaya
mengangkat tubuh Sasangka dan dibaringkannya di serambi gandok. Iapun kemudian
mendatangi Raden Madyasta sambil berkata ”Sudahlah Raden. Orang itu tidak akan
menampakkan dirinya. Orang yang licik itu tidak akan tergelitik mendengar
tantangan Raden. Karena itu, marilah. Kita rawat tubuh Sasangka. Kita
memberitahukan kepada Raden Ayu Prawirayuda, bahwa bencana itu telah terjadi
lagi. Setelah Rembana, maka kini giliran Sasangka.“
“Aku tidak dapat menerima
keadaan ini, kakang.“
“Tetapi kita tidak dapat
berbuat apa-apa, Raden. Mungkin orang yang menusuk Sasangka sekarang sudah
berada di bulak sebelah.
Nafas Raden Madyasta yang
marah itu mengalir semakin cepat. Raden Madyasta bahkan menjadi terengah-engah
seperti seseorang yang baru saja bekerja berat sehari suntuk.
“Marilah, Raden. Silahkan
memberitahukan hal ini kepada Raden Ayu Prawirayuda.“
Raden Madyasta menarik
nafas dalam-dalam seakan-akan berusaha mengendapkan perasaannya yang bergejolak.
“Baiklah kakang. Aku akan
menghadap bibi. Aku minta kakang menunggui tubuh kakang Sasangka.“
“Baik Raden.“
Wismayapun kemudian telah
kembali ke gandok. Iapun kemudian duduk bersila di sebelah tubuh Sasangka yang
terbaring diam. Pisau belati yang tertancap di lambungnya telah dilepas oleh
.Wismaya atas persetujuan Raden Madyasta. Namun Raden Madyasta minta Wismaya
mengingal-ingat letak pisau belati yang tertancap itu.
Raden Madyastapun
kemudian telah naik ke pendapa. Namun kemudian diurungkan niatnya untuk mengetuk
pintu pringgitan. Bibinya akan lebih cepat mendengarnya jika ia mengetuk pintu
butulan.
Perlahan-lahan
Madyastapun mengetuk pintu yang terdekat dengan bilik tidur bibinya. Sekali dua
kali, bibinya masih belum mendengarnya.
“Bibi tentu tidur dengan
nyenyak” berkata Raden Madyasta didalam hatinya.
Karena itu, maka
Madyastapun mengetuk semakin keras.
Baru kemudian Madyasta
mendengar suara bibinya ”Siapa diluar?“
“Aku bibi, Madyasta.“
Raden Ayu Prawirayuda
mengenal suara itu. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Raden Ayu Prawirayuda
pergi ke pintu dan mengangkat selaraknya.
Demikian pintu terbuka,
ia melihat Raden Madyasta berdiri termangu-mangu dengan pakaian yang basah
kuyup.
“Ada apa ngger? Angger
kehujanan?“
“Maaf bibi. Mungkin aku
mengejutkan bibi.“
“Ada apa, ngger?“ wajah
Raden Ayu Prawirayuda menjadi tegang.
“Yang telah terjadi itu
terulang lagi, bibi.“
“Maksud angger?“ suara
Raden Ayu Prawirayuda meninggi.
“Seperti kakang Rembana,
kakang Sasangkapun telah terbunuh pula.“
“Angger Sasangka
terbunuh?” suara Raden Ayu itu tinggi melingking.
“Ya, bibi. Kami mohon
maaf, bahwa yang tidak kita harapkan itu terjadi lagi.“
“Tetapi bagaimana hal itu
dapat terjadi, ngger? Bagaimana mungkin? Dimana angger Sasangka pada saat
terjadinya bencana itu, ngger?“
“Kami masih belum
mengamatinya lebih jauh, bibi.”
Aku menemukan kakang
Sasangka terluka parah di tangga serambi gandok. Nampaknya kakang Sasangka
berusaha untuk meneapai gandok dan memberitahukan kepada kakang Wismaya. Tetapi
ia sudah menjadi terlalu lemah dan terkapar di tangga. Ketika aku
menemukannya,.kakang Sasangka masih hidup. Tetapi ia sudah sangat lemah sehingga
tidak banyak yang sempat dikatakannya. Aku telah minta kakang Wismaya pergi
menjemput seorang tabib dari manapun juga. Tetapi sebelum kakang Wismaya
berangkat, kakang Sasangka sudah meningal..
“Apa yang akan aku katakan kepada Rantamsari?“ ,
Raden Madyasta tidak
menjawab. Bahkan iapun segera menundukkan wajahnya.
Ternyata pembicaraan yang
agak keras diantara deru hujan itu telah terdengar oleh Raden Ajeng Rantamsari.
Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Raden Ajeng Rantamsari itupun keluar dari
biliknya pula.
“Ada apa dimas. Aku
mendengar pembicaraan dimas dengan itu. Nampaknya ada sesuatu yang penting?“
Raden Madyasta memandang
wajah bibinya dengan jantung yang berdebaran.
Raden Ayu Prawirayudapun
tidak segera dapat mengatakan, apa yang telah terjadi. Karena itu untuk beberapa
saat suasana menjadi tegang.
“Ibu, apa yang terjadi?“
“Ngger...”
“Ibu” Raden Ajeng
Rantamsaripun segera mendekap ibunya ”apa yang terjadi ibu?“
“Kita hanya dapat
berusaha, Rantamsari. Tetapi keputusan akhir berada di luar jangkauan kuasa
kita.“
“Tetapi apa yang
terjadi?“
Raden Ayu Prawirayuda itu
mengusap matanya yang . basah. Kemudian diapun berdesis ”Adalah diluar kemauan
kita semuanya, Rantamsari.“
“Apa? Apa? Ibu belum
mengatakannya.”
“Yang pernah terjadi itu
ternyata lagi, Rantamsari.”
“Yang pernah terjadi yang
mana?“
“Yang pernah terjadi atas
angger Rembana, kini terjadi lagi atas angger Sasangka.“
“Ibu” Raden Ajeng
Rantamsari itu terpekik ”maksud ibu ...“
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk.
“Ibu, dimana kakang
Sasangka sekarang. Dimana?”
Raden Ajeng Rantamsari
tidak menunggu jawaban ibunya. Namun ketika ia meloncat untuk berlari menghabur
di longkangan dalam hujan yang lebat, Raden Ayu Prawirayuda sempat memeluknya
sambil berkata ”Rantamsari, tenanglah. Tenanglah. Mungkin bahaya itu masih
berada disekitar kita sekarang ini.
“Kangmbok berkata Raden
Madyasta ”sebaiknya kangmbok jangan keluar dahulu. Tutup saja kembali pintu ini
dan diselarak dari dalam.”
“Tidak. Tidak. Aku ingin
melihat keadaan kakang Sasangka.”
“Jangan sekarang
kangmbok” cegah Raden Madyasta.
Tetapi Raden Ajeng
Rantamsari meronta, sehingga lepas dari pelukan ibunya
“Dimana kakang Sasangka?
Dimana?”
Raden Madyasta tidak
berniat memberitahukarmya. Tetapi Raden Ajeng Rantamsari itu telah berlari ke
gandok. Ia tahu bahwa bilik Sasangka dan Wismaya berada di gandok itu.
Raden Madyasta tidak
dapat berbuat lain kecuali berlari menyusulnya Demikian pula Raden Ayu
Prawirayuda.
Di serambi gandok,
Wismaya tidak sempat mencegah Raden Ajeng Rantamsari menjatuhkan diri diatas
tubuh Sasangka yang telah tidak bernafas lagi sambil menangis menjerit-jerit.
”Kakang, kakang. Kenapa
kau juga pergi meninggalkan aku.”
Raden Ajeng
Prawirayudapun kemudian berusaha membangunkan anaknya. Sekali-sekali Raden Ayu
Prawirayuda itupun mengusap air matanya pula.
“Duduklah yang baik,
Rantamsari.”
Raden Ajeng Rantamsari
memeluk ibunya erat-erat sambil menangis ”Ibu, kenapa hal ini harus terjadi
padaku?”
“Tenanglah Rantamsari.
Sudah aku katakan, bahwa segala sesuatunya itu bergantung kepada Yang Maha
Agung. Kita tidak akan dapat mengelakannya. Kita harus menerima dengan ikhlas”
”Tetapi tidak seperti ini
ibu. Aku tidak akan mampu memikul beban seberat ini.”
“Kita akan bertanya
kepada Yang Maha Agung, apa sebenarnya yang dikehendaki-Nya. Lewat banyak cara,
Yang Maha Agung akan menjawab pertanyaan kita, Rantamsari”
“Tetapi aku tidak mau hal
ini terjadi, ibu” Rantamsari memeluk ibunya semakin erat. Demikian pula Raden
Ayu Prawirayuda. Tetapi Raden Ayu sendiri tidak dapat menahan air matanya yang
meleleh dari pelupuknya.
*****
Bab 27 – Rencana
Reksadrana
KETIKA tangis Raden Ajeng
Rantamsari sedikit mereda, maka ibunyapun berkata “Rantamsari. Aku mengerti,
betapa pedih hatimu. Ibarat luka yang terdahulu masih belum sembuh, maka hatimu
telah terluka lagi, sehingga tentu akan terasa semakin pedih. Tetapi marilah
kita mengambil hikmahnya saja. Kau masih dapat mengucap sukur, bahwa hal ini
terjadi sebelum terlanjur.”
“Maksud ibu?“
“Baik yang terjadi
sekarang, maupun yang terjadi sebelumnya. Untunglah bahwa kau belum menjadi
seorang isteri. Jika itu terjadi, maka kau telah menjadi janda dua kali.”
“Tetapi hal seperti ini
tidak terjadi, ibu.”
“Kita tidak akan dapat
mengelak, Rantamsari. Meskipun dipagari dengan dinding baja, jika maut itu
datang menjemput, tidak seorangpun dapat lari dari padanya. Yang terjadi ini
tentu akan terjadi. Demikian pula dengan angger Rembana. Kematian itu tentu akan
datang kepada mereka sebagaimana yang telah terjadi.”
Raden Ajeng Rantamsari
mengusap matanya yang basah. Yang dikatakan oleh ibunya itu memang dapat masuk
di akalnya. Tetapi perasaannya benar-benar merasa betapa pedihnya.
“Kenapa Yang Maha Agung
itu telah memanggil mereka yang diharapkan akan dapat menjadi tangkai bagi
hidupku di masa mendatang?”
Air mata masih saja
meleleh dari pelupuk mata Rantamsari. Bahkan ibunyapun sekali-sekali masih
mengusap matanya pula dengan lengan bajunya.
Seperti yang pernah
terjadi, hari itu di rumah Raden Ayu Prawirayuda menjadi sangat sibuk. Kangjeng
Adipatipun telah berada di rumah itu pula. Demikian pula Raden Wignyana.
Kangjeng Adipati sendiri
telah mencoba meredakan gejoIak perasaan Raden Ajeng Rantamsari, yang setiap
saat masih saja menangis. Yang dialaminya itu benar-benar merupakan beban yang
sangat berat baginya.
Siang itu juga, tubuh
Sasangka telah dibawa ke baraknya. Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung
Sanggayuda merasa agak kesulitan untuk menenangkan para prajurit yang
bergejolak.
“Kita harus menemukan
pembunuhnya” berkata seorang pemimpin kelompok barak Sasangka
“Ki Tumenggung” berkata
yang lain “berikan tugas kepada kami untuk berada di rumah itu Kami akan
menangkap pembunuh Ki i.urah Sasangka dan mambantainya di halaman barak ini.
“ Di Parang Anom Ini ada
tatanan dan paugeran yang
mengatur tingkah laku rakyatnya” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “segala
sesuatunya harus sesuai dengan tatanan dan paugeran itu”
“Kita tidak dapat
membiarkan para Senapati kita dibunuh dengan cara yang licik.”
“Aku tahu. Bukan hanya
kalian saja yang tersinggung. Tetapi, kami yang tua-tua inipun merasa
tersinggung pula. Karena itu, tenanglah. Kita akan berusaha menemukan pembunuh
itu.”
“Jangan biarkan jatuh
korban lagi, Ki Tumenggung. Yang tersisa di rumah itu hanyalah Ki Lurah Wismaya
dan justru Raden Madyasta sendiri. Karena itu, biarlah kami. sekelompok prajurit
menjaga rumah itu“
Ki Tumenggung
Sanggayudalah yang menjawab “Kita akan memikirkan langkah yang sebaik-baiknya
yang harus kita ambil.”
Namun bagaimanapun juga
nampak di wajah para prajurit itu ungkapan perasaan mereka. Nampaknya mereka
benar-benar menjadi marah karena kematian Lurahnya yang mereka anggap seorang
Senapati muda yang berilmu linggi.,
Disamping para prajurit
di barak Sasangka yang bergejolak, ternyata para prajurit di barak Rembanapun
bagaikan terungkit lagi kemarahan mereka. Namun para pemimpin prajurit
Paranganom berhasil meredamnya.
Hari itu, Sasangka
dimakamkan dengan upacara kebesaran seorang prajurit yang gugur dalam tugasnya.
Rakyat Paranganom harus berduka sekali lagi. Ternyata peristiwa yang menyakitkan
itu telah terjadi lagi di rumah Raden Ayu Prawirayuda.
“Apakah perempuan itu
memang membawal sial” bertanya seseorang kepada kawannya yang berdiri
disebelahnya ketika keduanya ikut memberikan penghormatan terakhir kepada
Sasangka.
Kawannya menggeleng.
Namun demikian iapun menjawab “Petaka seperti ini terjadi dua kali di rumah itu.
Apakah masih akan disusul dengan peristiwa yang sama di kemudian hari?”
“Memang menyakitkan“
berkata kawannya yang lain “kesalahan yang sama telah terjadi.”
“Ya. Sedangkan keledai
yang dungupun kakinya tidak akan teratuk batu yang sama untuk kedua kalinya.”
“Tetapi justru karena
mereka bukan keledai.”
“Hus “
Merekapun terdiam. Mereka
melihat, wajah-wajah prajurit yang geram, yang berjalan disebelah menyebelah
jenazah Sasangka ketika dibawa ke makam.
Hari itu, Kangjeng
Adipati telah memanggil Madyasta dan Wismaya, justru pada saat di rumah Raden
Ayu Prawirayuda masih banyak orang yang sibuk membenahi perabot rumah yang telah
digeser-geser pada saat mempersiapkan jenazah Sasangka untuk dibawa ke baraknya.
Beberapa orang prajuril masih berada di rumah itu sehingga kepergian Wismaya dan
Raden Madyasia tidak menimbulkan kecemasan bagi keluarga Raden Ayu Prawirayuda.
“Bagaimana pendapatmu,
Madyasia?” bertanya Kangjeng Adipali.
“Kami harus merasa malu
atas peristiwa ini, ayahanda. dua orang Senupali muda yang dianggap mempunyai
kelebihan di Paranganom telah terbunuh”
“Aku ingin mendengar
pendapatmu, Madyasta. Apakah kau memerlukan kawan baru untuk bertugas di rumah
bibimu?, Temyala tugas itu bukan tugas yang sederhana. Jika semula kita
menganggap bahwa keberadaan kalian di rumah bibimu hanya sekedar menuruti
keinginannya, namun ternyata sekarang kila berpendapat lain”
“Hamba ayahanda, tetapi
hamha mohon, biarlah kami berdua sajalah yang bertugas dl rumah bibi, Hamba
lidak dapat ingkar, bahwa aku menaruh dendam kepada orang yang telah membunuh
Rembana dan Sasangka Dua orang prajurit yang namanya mulai dikenal sejak perang
besar di sebelah Bengawan Rahina itu.“
“Aku dapat mengerti,
Madyasia.”
“Ampun Kangjeng Adipati“
berkata Wismaya “jika di rumah itu terdapat beberapa orang prajurit baru, maka
pembunuh itu mungkin akan menghindar. Tetapi biarlah kami berdua berusaha untuk
menangkapnya.“
“Keadaan menjadi semakin
gawat, Wismaya. Ketika kalian masih bertiga, kalian tidak dapat menangkap
pembunuh Rembana. Bahkan Sasangka telah terbunuh pula.“
“Itu merupakan tantangan
bagi kami, ayahanda. Meskipun sekarang kami hanya berdua, tetapi kami justru
yakin, apabila pembunuh itu kembali lagi, kami akan dapat menangkapnya.”
“Satu permainan yang
sangat berbahaya, Madyasta.“
“Tetapi itu adalah jalan
terbaik untuk menangkap pembunuh itu ayahanda.“
Kangjeng Adipati menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Aku mengerti, bahwa harga diri kalian berdua akan
tersinggung, seakan-akan kalian hanya dapat merengek minta perlindungan. Tetapi
untuk menghadapi perbuatan yang licik itu, bukankah tidak ada salahnya jika kita
menjadi lebih berhati-hati.“
“Kami akan sangat
berhati-hati, ayahanda.“ Kangjeng Adipati tereenung sejenak, la tahu, bahwa
darah muda yang mengalir di tubuh Raden Madyasta dan Wismaya bagaikan sudah
mendidih oleh peristiwa yang membuat keduanya menjadi malu. Dengan demikian,
maka mereka akan berusaha untuk menebusnya tanpa bantuan orang lain.
Kangjeng Adipati tidak
dapat memaksa keduanya dengan menempatkan prajurit-prajurit baru di rumah Raden
Ayu Prawirayuda. Jika Kangjeng Adipati itu mencoba memaksa, maka keduanya akan
kecewa, sehingga keduanya justru akan dapat menjadi lengah.
Karena itu, maka Kangjeng
Adipati itupun berkata “Baiklah. Madyasta dan Wismaya. Jika kalian berkeras
untuk bertugas berdua saja. Tetapi Srkali lagi aku pesan, kalian harus sangat
berhati-hati. Bahaya itu selalu mengintip kalian berdua. Setiap saat bahaya itu
akan rnenerkam tanpa kalian ketahui kapan dan dimana mereka merunduk, Aku
percaya, bahwa kalian tentu akan dapat mengalasinya jika kalian berhadapan
beradu dada. Tetapi pembunuh itu tidak berbuat demikian. Dengan licik ia
merunduk, kemudian menikam dari belakang.“
“Hamba berjanji ayahanda.
Kami akan menjadi sangat berhati-hati.
Demikianlah, maka
keduanyapun segera kembali ke rumah Raden Ayu Prawirayuda yang masih dibenahi.
Namun beberapa saat kemudian, segala sesuatunya telah mapan. Perabot-perabot
rumah, alat-alat dapur dan bahkan sampah di halamanpun telah dibersihkan.
Malam itu, terasa suasana
di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu menjadi semakin sepi. Beberapa orang keluarga
Sasangka yang datang disaat pemakamannya, ternyata lebih senang berada di barak.
Ternyata ada beberapa orang prajurit yang sejak sebelum berada di barak itu
sudah mengenal keluarga Sasangka dengan baik. Karena itu, maka merekapun
berusaha untuk membantu dan bahkan menenangkan kepedihan hati yang telah
mencengkam.
Malam itu, Raden Ayu
Prawirayuda telah menemui Madyasta sekali lagi, untuk menawarkan agar Madyasta
tidak berada di bilik yang ada di gandok.
“Keadaan nampaknya
menjadi semakin gawat, ngger. Aku minta angger tidur di ruang dalam saja.“
“Apakah aku harus
membiarkan kakang Wismaya sendiri?“
“Apakah anger Wisama akan
menjadi ketakutan?“
“Bukan soal ketakutan
atau tidak bibi. Aku yakin, bahwa kakang Wismaya tidak akan ketakutan. Tetapi
bukankah perasaan ini menjadi tidak enak, jika kami berdua dan berada di bilik
tidur yang berbeda. Maksudku, satu di gandok dan yang lain di ruang dalam“
“Angger Madyasta.
Bagaimanapun juga kedudukan kalian berdua memang berbeda. Wismaya adalah seorang
Lurah prajurit dan angger Madyasta adalah putera seorang Adipati? Jika pada
dasarnya sudah berbeda, bukankah tidak ada salahnya jika angger Madyasta dan
angger Wismaya berada di bilik yang berbeda pula.“
“Terima kasih bibi.
Tetapi keberadaanku disini bersama kakang Wismaya tidak mengenal perbedaan itu.
Aku dan kakang Wismaya adalah prajurit yang mengemban tugas yang sama.“
Kerut di dahi Raden Ayu
Prawirayuda menjadi semakin dalam. Setelah memandang kesekitarnya iapun berkata
perlahan “Maaf, ngger. Sebenarnyalah aku mencurigai semua orang dalam peristiwa
yang telah terjadi.“
“Maksud bibi?“
“Ketika angger Rembana
terbunuh, aku sama sekali tidak dapat menuduh siapakah pembunuhnya. Tetapi
perkembangan keadaan telah mendorongku untuk mencurigai angger Sasangka. Aku
menduga, bahwa angger Sasangkalah yang telah membunuh angger Rembana. Namun
tiba-tiba angger Sasangka telah terbunuh dengan cara dan senjata yang sama
dengan cara dan senjata pada saat angger Rembana terbunuh.“
“Ya, bibi. Aku mengerti.“
“Maaf, ngger. Aku minta
maaf. Bagaimana pendapat angger Madyasta tentang angger Wismaya.?“
“Kita tidak dapat
mencurigai Wismaya, bibi.“
“Kenapa?“
“Pada saat Rembana
terbunuh, Wismaya ada bersamaku.”
“Apakah itu benar?“
“Seingatku, bibi.”
“Mungkin angger lupa.
Peristiwanya sudah agak lama.“ Raden Madyasta menunduk. Namun kemudian katanya
“Tetapi aku yakin, tentu
bukan kakang Wismaya. Jika se-andainya cara dan senjata pembunuhnya tidak sama,
mungkin aku dapat mencurigai Wismaya sekarang ini.“
Raden Ayu Prawirayuda
mengangguk-angguk. Katanya
“Sukurlah jika
perhitungan angger itu benar. Yang aku cemaskan, jika yang melakukan itu angger
Wismaya, maka akan mudah sekali terjadi pula atas angger Madyasta jika angger
berada di gandok bersama angger Wismaya.“
“Tidak, bibi. Aku yakin
tentu bukan kakang Wismaya.“
“Sukurlah. Namun begitu,
aku masih juga minta angger bersedia berada di bilik di ruang dalam. Bukankah
kami hanya berdua saja di rumah ini?“
“Terima kasih, bibi.”
“Ngger. Aku lebih condong
mengangap angger sebagai anakku sendiri daripada seorang prajurit yang bertugas
di rumah ini.“
“Terima kasih, bibi.“
“Itulah sebabnya, bahwa
aku merasa lebih cemas memikirkan angger daripada para Senapati yang lain,
meskipun aku tahu, bahwa angger memiliki kemampuan lebih tinggi dari para
Senapati itu.”
“Biarlah aku berada di
gandok bersama kakang. Wismaya saja bibi.”
“Jika demikian,
terserahlah kepada angger. Bukan niatku untuk tidak menghormati angger sebagai
putera seorang Adipati di Paranganom ini.”
Namun bagaimanapun juga
bibinya memintanya, Raden Madyasta merasa lebih baik berada di gandok bersama
Wismaya.
Dalam pada itu, yang
mencemaskan keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya bukan saja Kangjeng Adipati
Paranganom. Sebagai seorang ayah sebenarnya Kangjeng Adipati memang wajar sekali
menjadi cemas memikirkan keselamatan anaknya. Tetapi ia juga harus bersikap
sebagai seorang Adipati.
Sebenarnyalah bahwa kedua
orang Tumenggung yang terdekat dengan Kangjeng Adipati juga merasa sangat cemas
terhadap keselamatan Raden Madyasta dan Wismaya. Agaknya mereka berhadapan
dengan satu kemampuan yang sangat tinggi, namun yang terselubung.
Karena itu, maka keduanya
telah datang menghadap Kangjeng Adipati untuk menyampaikan pendapat mereka.
“Ampun Kangjeng“ berkata
Ki Tumenggung Wiradapa “kami berdua sangat mencemaskan keselamatan Raden
Madyasta dan Wismaya yang masih berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda.”
“Ya, kakang. Akupun
mencemaskannya. Tetapi ketika aku panggil keduanya, keduanya mohon agar aku
memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk menjalankan tugas mereka tanpa
orang lain. Mereka berniat untuk menangkap pembunuh Rembana dan Sasangka. Tetapi
jika di rumah itu ditempatkan orang lain, maka pembunuh itu tentu tidak akan
datang kembali, sehingga mereka akan kehilangan jejaknya.”
“Tetapi kemungkinan buruk
dapat terjadi atas mereka berdua, Kangjeng.”
“Aku sudah mengatakannya. Tetapi keduanya berkeras untuk tetap berada di rumah
kangmbok Prawirayuda berdua saja.”
“Kangjeng“ berkata Ki
Tumenggung Sanggayuda “kami mohon maaf sebelumnya. Kami berdua ingin
menyampaikan permohonan jika Kangjeng Adipati memperkenankan.”
“Apa kakang ?”
“Hamba sudah
membicarakaiinya dengan kakang Wiradapa. Jika Kangjeng berkenan memberikan
perintah kepada kami berdua untuk mengawasi rumah Raden Ayu Prawirayuda itu.”
“Kakang akan berada di
rumah itu pula ?”
“Tidak, Kangjeng. Kami
akan tetap berada di luar dinding halaman rumah Raden Ayu Prawirayuda. Kami akan
mengawasi rumah itu dari luar. Mungkin keberadaan kami itu tidak akan berarli
apa apa Tetapi dalam keadaan yang gawat, mungkin akan berarti pula.
“Baikiah, kakang, Aku
mengucapkan terima kasih atas kesediaan kakang berdua untuk langsung ikut campur
dalam persoalan yang sangal khusus ini”
“Aku masih menghubungkan
dengan keberadaan segerombolan perampok yang berada di Panjer. Bahkan aku tidak
berhasil melupakan, bahwa persoalan yang terjadi di Paranganom ini ada sangkut
pautnya dengan kadipaten Kateguhan. Kebencian orang-orang Kaleguhan terhadap
orang-orang Paranganom itu sudah sangat berlebihan, sehingga menimbulkan
dugaan-dugaan yang buruk.”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk.
Sementara itu, Ki
Tumenggung Wiradapapun berkat “Raden Ayu Prawirayuda termasuk orang yang tidak
disukai di Kateguhan, Kangjeng. Sehingga setelah berada di Paranganompun Raden
Ayu Prawirayuda masih saja diganggu.”
“Tetapi apakah kemampuan
orang-orang Kateguhan demikian tinggi, sehingga mereka dapat mempermainkan para
prajurit pilihan di Paranganom ?”
“Ada satu dua orang
berilmu tinggi di Kateguhan,* Kangjeng. Kehadiran Raden Wicitra di rumah Raden
Ayu Prawirayuda juga merupakan persoalan tersendiri.”
“Aku mengerti kakang.
Karena itu aku sama sekali tidak berkeberatan atas niat kakang. berdua untuk
ikut mengamati rumah kangmbok Prawirayuda itu.”
“Kami mohon perintah
Kangjeng Adipati.”
“Baik. Aku perintahkan
kakang berdua untuk ikut mengawasi rumah Kangmbok Prawirayuda serta mengambil
langkah-langkah yang perlu dalam keadaan yang gawat.”
“Terima kasih, Kangjeng.
Kami berdua akan menjalankan perintah ini dengan sebaik-baiknya.”
Demikianlah, sejenak
kemudian, kedua orang Tumeng-gung itupun mohon diri dari hadapan Kangjeng
Adipati Prangkusuma.
Sepeninggal kedua
Tumenggung itu, maka Kangjeng Adipatipun sempat duduk termenung. Sebenarnyalah
bahwa Kangjeng Adipati sendiri sulit untuk dapat melepaskan persoalan yang
terjadi di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu dengan kebencian orang-orang
Kateguhan terhadap orang-orang Paranganom.
Sementara itu, Raden Ayu
Prawirayuda adalah orang yang sangat dibenci di Kateguhan, sehingga Kangjeng
Adipati di Kateguhan telah mengusirnya. Atau justru sebaliknya, karena Raden Ayu
itu sudah diusir dari Kateguhan. Maka orang-orang Kateguhan menjadi sangat
membencinya.
***
Dalam pada itu, di
Kateguhan, Ki Tumenggung Reksadrana telah kehabisan kesabarannya. Dengan jantung
yang bagaikan membara iapun berkata kepada Sura Branggah yang dipanggilnya
menghadap “Sura Branggah. Satu lagi pembunuh anakku itu sudah mati.“
“Ya, Ki Tumenggung.
Nampaknya Raden Wicitra tidak dapat dihentikan lagi.“
“Aku tidak mau kehilangan
sasaranku yang semakin menyusut itu, Sura Branggah.“
“Bukankah satu kebetulan
bagi kita ? Kita tidak usah bersusah payah. Sementara itu orang-orang yang akan
menjadi sasaran kita sudah mati satu demi satu.“
“Edan kau Sura Branggah“
bentak Ki Tumenggung sambil mencengkam baju Sura Branggah “apa maumu pemalas.
Kau memeras uangku, tetapi kau tidak mau bekerja keras.“
“Maaf, Ki Tumenggung.
Tetapi itu bukan kemauanku. Bukankah Raden Wicitra sudah melakukannya atas
kehendaknya sendiri.“
“Tidak“ didorongnya Sura
Brangga yang duduk di lantai itu sehingga terlentang “aku akan membunuh dua
orang yang lain. Untunglah Madyasta itu masih belum sempat dibunuh oleh Wicitra.
Akulah yang akan membunuhnya. Dengan tanganku sendiri. Aku harus membalaskan
dendam anakku yang telah mereka bunuh. Aku akan mencincangnya menjadi
sewalang-walang.“
Sura Branggah yang
kemudian bangkit sambil membenahi pakaiannya berkata “Maaf Ki Tumenggung. Bukan
maksudku untuk tidak mau bekerja keras. Tetapi jika Ki Tumenggung akan
membunuhnya dengan tangan Ki Tumenggung sendiri, maka aku tidak akan
berkeberatan.“
“Kita akan datang ke
rumah Raden Ayu yang tamak itu. Kita bunuh Wismaya, kemudian kita tangkap
Madyasta hidup-hidup. Kita bawa Madyasta keluar dari rumah itu dan kita akan
dapat berbuat apa saja sekehendak kita atas anak itu.“
“Bagaimana dengan Raden
Ayu Prawirayuda dan anak gadisnya yang yang cantik itu?“
“Jika saja anakku masih
ada, aku akan membawa Rantamsari baginya. Tetapi karena anakkku sudah mati, aku
akan membunuh mereka pula.“
“Maksud Ki Tumenggung?“
“Aku akan membunuh Raden
Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya itu. Biarlah kekacauan yang terjadi di
Paranganom itu lengkap. Paranganom akan menjadi gempar. Kematian Raden Ayu yang
tamak itu gemanya tentu akan sampai ke Tegallangkap. Mau tidak mau penilaian
Kangjeng Sultan Tegallangkap terhadap Kangjeng Adipali di Paranganom tentu akan
terpengaruh juga.“
Sura Branggah
termangu-mangu sejenak. Karena Sura Branggah tidak segera menanggapinya, maka Ki
Tumenggung itu membentaknya “He, pamalas. Jangan tidur. Dengar kata-kataku ini,
he?“
“Ya, ya. Aku mendengar Ki
Tumenggung.“
“Seperti yang sudah
pernah aku katakan. Jika perhatian Kangjeng Sultan di Tegallangkap tertuju
kepada Kangjeng Adipati di Kateguhan untuk menjabat pepatih dalem di
Tegallangkap, maka akulah yang akan menggantikan kedudukan Kangjeng Adipati. Aku
akan menjadi Adipati di Kateguhan.“
Tiba-tiba saja Ki
Tumenggung Reksadrana itu tertawa berkepanjangan. Sementara itu Sura Branggah
hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Bahkan iapun berkata didalam
hatinya.“
“Jika gegayuhan ini
meleset, Ki Tumenggung ini akan dapat menjadi gila.“
Namun tiba-tiba sura
tertawa Ki Tumenggung itu terputus. Tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Terdengar
suaranya sendat “Tetapi anakku sudah mati. Jika aku berjuang mencari kemukten,
sebenarnyalah aku ingin mewariskannya kepada anakku. Tetapi anakku sudah mati.
Mati dibunuh oleh orang-orang Paranganom.“
Ki Tumenggung Reksadrana
itu menggeretakkan giginya. Tiba-tiba tangannya menghentak sambil menggeram
“Aku bunuh orang-orang
Paranganom. Aku bunuh Raden Ayu yang tamak dan berlindung di Paranganom itu. Aku
bunuh anaknya perempuan. Aku juga akan membunuh bukan saja Madyasta. Tetapi juga
anak laki-laki Adipati Paranganom yang satu lagi. Wignyana.“
Sura Branggah hanya dapat
menarik nafas panjang.
Sementara itu Ki
Tumenggung masih juga menggeram “Prakosa. Jangan gelisah karena kematianmu itu.
Aku akan mengirimkan Madyasta dan Wignyana kepadamu. Lakukan apa yang ingin kau
lakukan atas mereka.“
Namun tiba-tiba saja Ki
Tumenggung Reksadrana itu tertawa. Katanya “Jika aku sudah menjadi Adipati, aku
akan dapat mengambil dua atau tiga atau berapapun perempuan yang aku inginkan.
Aku tentu akan mendapatkan seorang anak laki-laki dari mereka. Anak yang kelak
akan menggantikan Prakosa menjadi Adipati di Kateguhan.“
Suara tertawa Ki
Tumenggung Reksadrana itu mengu-mandang lagi di ruang dalam rumahnya, sehingga
liang-liangnya seakan-akan telah bergetar karenanya.
“Ki Tumenggung Reksadrana
itu sesungguh-sungguh sudah mulai menjadi gila“ berkata Sura Branggah di dalam
hatinya. Bahkan Sura Branggah itupun-tersenyum-senyum sendiri pula sambil
bergumam “Gila atau tidak, tetapi uangnyalah yang penting bagiku.”
Namun tiba-tiba saja Sura
Branggah itupun menyadari tingkah lakunya sendiri. “Apakah aku juga sudah gila
dan tertawa sendiri pula ?”
Tiba-tiba Sura Branggah
itu teikejut ketika Ki Tumenggung membentaknya ”He, Sura Branggah. Apakah kau
sudah menjadi gila ? Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri ? Atau kau
mentertawakan aku ?”
“Tidak, Ki Tumenggung.
Aku tidak mentertawakan Ki Tumenggung. Tetapi mungkin aku memang sudah menjadi
gila.”
“ Sura Branggah. Siapkan
sisa-sisa orangmu. Besok malam kita memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda.”
“Besok malam ?”
“Ya. Kita akan berangkat
ke Paranganom. Malam nanti kita harus sudah berada di Paranganom. Bukankah kau
mempunyai sarang di sana? Kita harus memasuki Paranganom di malam hari.
Selambat-lambatnya esok dini hari. Kita akan beristirahat sehari di Paranganom.
Kita akan membunuh semua orang penghuni rumah itu. Bahkan pada abdipun akan kita
bunuh semuanya agar tidak ada seorang saksipun yang dapat berceritera tentang
keberadaan kita di rumah itu.”
“Raden Madyasta?”
“Kecuali Madyasta, dungu.
Madyasta harus ditangkap hidup-hidup. Aku akan mengurusnya untuk selanjutnya.”
“Lalu, bagaimana dengan
Raden Wignyana?”
“Anak itu tidak berada
di. rumah Raden Ayu Prawirayuda. Anak itu berada di Kadipaten.”
“Bukankah Ki Tumenggung
juga ingin mem-bunuhnya?”
“Tentu lain kali“ Ki
Tumenggung itu berteriak “ternyata kau dungu melebihi seekor kerbau.”
Sura Branggah tidak
menjawab.
“Nah, sekarang kau pergi.
Kumpulkan sedikitnya delapan orang terbaik. Kalau kawan-kawanmu sudah mati di
tumpas Madyasta, cari yang lain. Kau tentu mempunyai hubungan yang luas.
Janjikan upah yang tinggi. Aku tidak berkeberatan, asal kita dapat membunuh
seisi rumah itu dan menangkap Madyasta hidup-hidup.”
“Kenapa delapan ?” Ki
Tumenggung.
“Bersama kita. berdua,
maka jumlahnya menjadi sepuluh orang. Bersepuluh kita tentu akan berhasil. Di
rumah itu hanya ada dua orang Senapati yang sombong. Mereka mau memanggil
bantuan untuk mengamankan rumah itu. Berdua mereka merasa akan dapat mengatasi
pembunuh kedua orang kawan mereka.”
Agaknya mereka juga
mencurigai Wicitra. Jika benar Wicitra pembunuhnya, maka berdua mereka akan
dapat menangkapnya.”
“Tetapi ternyata mereka
tidak mampu menghindari dari kelicikannya.”
Sura Branggah
mengangguk-angguk.
“Karena kita tidak mau
gagal, maka kita akan datang bersama delapan orang yang kau tentu dapat
memilihnya diantara sekian banyak gegedug di Kadipaten Kateguhan.”
Sura Branggah
mengangguk-angguk. “Pergilah. Nanti sebelum senja semuanya harus siap. Kita akan
berangkat dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah dengan melewati jalan yang
berbeda pada saat kita memasuki Paranganom agar tidak menimbulkan kecurigaan.”
Sura Branggah menarik
nafas dalam-dalam. Katanya lebih ditujukan kepada diri sendiri “Waktunya terlalu
pendek.”
“Jangan berceloteh. Pakai
salah satu kuda di kandang itu, asal bukan si Werdi, kuda yang berwarna kelabu.”
“Baik, Ki Tumenggung. Aku
akan mencobanya.”
“Kau benggolan kecu yang
sudah kawentar, masih juga akan coba-coba ? Kenapa kau tidak dapat berkata
dengan pasti? Aku tidak mau kau membawa kecoak-kecoak kecil, kurus kering dan
sakit-sakitan. Aku ingin kau membawa gegedug-gegedug yang sembada. Baik ujudnya
maupun kemampuannya.” ,
“Tetapi Ki Tumenggung
harus mengerti, bahwa mereka bukan anak buahku sendiri. Anak buahku yang dapat
diandalkan tinggal tidak lebih dari ampat orang.”
“Aku tidak peduli. Kau
harus mendapatkannya berapapun upahnya. Aku tidak mau kehilangan Madyasta. Ia
akan dapat menjadi permainan yang menyenangkan. Aku akan memeliharanya dengan
baik, la akan dapat memberikan kesenangan dan kepuasan disetiap pagi, pada saat
aku bangun tidur. Ia akan terikat di tiang yang kokoh. Tentu aku akan
memanjakannya. Setiap hari ia akan disuapi. Ia tidak boleh segera mati.”
“Baiklah, Ki Tumenggung,
Aku akan memenuhi keinginan Ki Tumenggung.”
“Pergilah. Aku akan tidur
sekarang. Malam nanti kita akan menempuh perjalanan panjang.”
“Kalau Kangjeng Adipati
rnencari Ki Tumenggung.”
“Aku akan memohon diri
untuk pergi barang dua tiga hari menengok adikku yang sakit di Tegallangkap “
Sura Branggah
mengangguk-angguk.
“Cepat. Cari orang itu.”
“Baik, baik Ki
Tumenggung.”
Sejenak kemudian, Sura
Branggahpun minta diri. Dibawanya seekor diantara beberapa kuda Ki Tumenggung.
Sura Branggah memilih kuda yang berwarna coklat kehitaman.
Di sore hari, Sura
Branggah telah datang lagi ke rumah Ki Tumenggung Reksadrana, yang dengan
tergesa-gesa menemuinya.
“Kau dapatkan orang-orang
itu?“
“Ya, Ki Tumenggung. empat
orang adalah anak buahku sendiri. Empat orang yang lain adalah gegedug-gegedug
yang dapat dipercaya. Tetapi upah bagi merekapun cukup besar.
“Sudah aku katakan, aku
tidak peduli.“
“Tetapi persoalannya
tidak terlalu sederhana Ki Tumenggung.“
“Apa lagi?“
“Bukankah orang-orang itu
akan ditempatkan dibawah pimpinanku?“
“Tentu. Kau akan menjadi
panglima dari pasukanku itu.“
“Ki Tumenggung. Jika aku
harus memimpin mereka, maka upahku tentu harus lebih banyak dari mereka.“
“Iblis kau Sura
Branggah., Sudah aku kalakan, kalau perlu aku akan menjual beberapa barang
berharga yang aku miliki.“
Sura Branggah
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Segala sesuatunya sudah siap. Senja nanti
kita sudah dapat berangkat.“
“Bukankah mereka membawa
kuda mereka sendiri-sendiri?“
“Para gegedug itu
mempunyai kuda mereka sendiri. Tetapi bagi ampat orang-orangku hanya tersedia
dua ekor kuda.“
“ Ambil kudaku satu lagi
asal bukan Si Werdi.“
“Kudanya kurang dua, Ki
Tumenggung.“
“Kau sama sekali tidak
punya modal apa-apa, Sura Branggah.
“Jadi kami meminjam tiga
ekor kuda Ki Tumenggung.“
“Kudaku hanya empat.
Kalian bawa tiga.“
“Bukankah Ki Tumenggung
Reksadrana hanya membutuhkan seekor kuda.“
“Kau memang gila, Sura
Branggah.“
“ Sekali-sekali saja Ki
Tumenggung. Bukankah saat ini saat yang sangat penting bagi Ki Tumenggung. Tanpa
kuda, maka kami tidak akan dapat sampai ke Paranganom sebelum dini. Mungkin baru
esok siang atau bahkan lebih lama lagi.“
“Cukup. Aku tidak mau
tertunda lagi.“
“Jadi?“
“Pakai kudaku. Pakai
kudaku“ Ki Tumenggung Reksadrana berteriak nyaring.
Sebenarnyalah beberapa
saat kemudian, beberapa orang gegedug telah berada di rmah Ki Tumenggung.
Seorang diantara
merekapun berkata dengan nada yang kasar “Ki Tumenggung. Sebelum kita berangkat,
aku minta uang jaminan agar Ki Tumenggung tidak menipu kami.“
“Menipu ? Apakah
kata-kata itu keluar dari mulutmu?“ bertanya Ki Tumenggung Reksadrana.
“Ya. Siapa tahu.“
“Kau berbicara dengan
seorang Tumenggung“ bentak Sura Branggah.
“Aku tahu. Tetapi seorang
Tumenggungpun dapat saja menipu dan berbohong.“
“Dengar“ wajah Sura
Branggah menjadi merah. Ia merasa bertanggung jawab atas orang-orang yang
dibawanya menghadap Ki Tumenggung Reksadrana “Aku dapat membunuhmu sekarang atau
kapan saja. Apalagi Ki Tumenggung Reksadrana. Bukan karena jabatannya sehingga
ia dapat memanggil sekelompok prajurit. Tetapi dengan ayunan tangannya, kepalamu
dapat dipecahkannya.“
“Tetapi siapa yang akan
menjamin bahwa kami tidak akan menyabung nyawa tetapi kemudian janji-janji
sebelumnya diingkari?“
“Aku. Aku yang akan
menjamin bahwa segalanya akan berlangsung sesuai dengan pembicaraan kita. Kau
berbicara dengan aku. Jika kau diingkari, maka akulah yang bertanggung jawab.“
Orang itu mengerutkan
dahinya, sementara Ki Tumenggung Reksadranapun berkata “Jika saja kau bukan
orang yang dipercaya oleh Sura Branggah, maka aku tentu sudah mengoyakkan
mulutmu. Atau jika kau tidak percaya akan kemampuanku, kau akan menantangku
setelah kerja kita selesai?“
“Tidak. bukan maksudku,
Ki Tumenggung. Tetapi aku hanya ingin meyakinkan bahwa aku tidak bertaruh nyawa
dengan sia-sia.”
“Kau sendirilah yang
membuat kerjamu sia-sia.“
“Aku tidak bermaksud
seperti itu.“
“Sekarang kau diam. Aku
yang bertanggung jawab.“
Orang itupun terdiam.
Sementara Sura Branggahpun berkata “Kita akan segera bersiap-siap. Sedikit lewat
senja kita akan berangkat. Kita akan menempuh perjalanan di malam hari. Kita
berharap akan berada di Paranganom sebelum terang tanah, sehingga tidak ada
orang yang mengetahui kedatangan kita dan apalagi mencurigainya. Kita akan
menempuh perjalanan di malam hari. Kitapun akan berbagi diri dalam
kelompok-kelompok kecil. Kita tidak akan tertarik pada apapun juga yang kita
jumpai diperjalanan.“
“Apa yang kau maksud,
kakang?“ bertanya salah seorang gegedug.
“Tegasnya, kita tidak
boleh berhenti dan merampok di sepanjang jalan meskipun kita akan melewati rumah
orang-orang kaya serta ada kesempatan terbuka. Kita juga tidak boleh berhenti
untuk menyamun meskipun kita berpapasan dengan pejalan-pejalan di malam hari.
Bahkan seandainya mereka membawa harta benda yang seberapapun banyaknya, karena
langkah yang demikian akan dapat mengganggu tugas-tugas pokok yang harus kita
lakukan di Paranganom.“
Para gegedug yang telah
menyatakan kesediaan mereka untuk bekerjasama dengan Sura Branggah itupun
mengangguk- angguk.
Demikianlah setelah
beberapa pesan terakhir di berikan oleh Ki Tumenggung Reksadrana, maka
sekelompok orang yang sepakat untuk membantu Ki Tumenggung itupun segera
berangkat. Mereka telah mendapat beberapa petunjuk, rumah yang manakah yang
harus mereka datangi di Paranganom.
“Jangan menempuh
perjalanan dalam kelompok-kelompok yang dapat menarik perhatian. Kalian akan
menempuh perjalanan masing-masing berdua saja. Akupun akan menempuh perjalanan
ini juga berdua dengan Ki Tumenggung Reksadrana.“
Malam itu, Ki Tumenggung
Reksadrana, Sura Branggah dan orang-orangnyapun telah menempuh perjalanan
panjang. Mereka harus sampai di Paranganom di dini hari sebelum terang tanah.
Sejak orang-orang upahan
Ki Tumenggung Reksadrana itu keluar dari pintu gerbang.kota, maka merekapun
telah melarikan kuda mereka. Semakin jauh, derap kaki kuda mereka menjadi
semakin cepat. Hanya kadang-kadang, jika jalan pintas yang mereka tempuh terlalu
rumit, maka kuda-kuda itupun berlari lebih lambat. dan bahkan kadang-kadang kuda
itu harus berjalan tidak lebih cepat dari seorang anak kecil yang sedang bermain
kejar-kejaran.
Namun bagaimanapun juga
mereka tidak dapat melarikan kuda mereka tanpa berhenti. Kuda-kuda itu juga
memerlukan waktu untuk beristirahat barang sejenak.
Sebenarnyalah bahwa pesan
yang diberikan oleh Sura Branggah bagi mereka, terasa sangat menekan. Ketika dua
orang gegedug berhenti di pinggir jalan untuk memberi kesempatan kuda mereka
beristirahat sedikit lewat tengah malam, mereka melihat dua orang yang juga
berkuda dari arah yang berlawanan.
“Dua orang berkuda“ desis seorang dianiara mereka..
“Ya. Kenapa?“ bertanya
kawannya.
“Apakah kita tidak dapat
menghentikan mereka.?”
“Untuk apa ? Menyamun?“
“Ya.“
“Kita dilarang untuk
melakukannya menjelang tugas kita ini.“
“ Tidak ada orang yang
melihatnya.“
“ Setidak-tidaknya kedua
orang itu.“
“Kita bunuh mereka. Tidak
akan ada saksi, bahwa kita telah melakukannya.“
“Itu hanyalah satu
kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi masih ada kemungkinan lain.“
“Apa?“
“Kita berdua dapat mereka
kalahkan. Mereka menangkap kita dan membawa kami ke Paranganom.“
“Kita tidak dapat
dikalahkan.“
“Jika mereka orang-orang
berilmu tinggi.“
“Kenapa tiba-tiba saja
kau menjadi pengecut?“
“Jika kita tidak sedang
dalam ikatan dengan seseorang, maka aku tidak akan terlalu banyak membuat
pertimbangan. Tetapi sekarang kita sedang membuat janji.“
“Kita tidak akan
melanggar janji itu.“
“Tidak. Aku tidak mau.
Aku tidak mau Sura Branggah kehilangan kepercayaan kepadaku.“
Kawannya terdiam.
Bagaimanapun juga nama Sura Branggah memaksanya untuk membuat pertimbangan dua
tiga kali lagi.
Namun ketika kedua orang
berkuda itu lewat, mereka tidak berbuat apa-apa.
Sebenarnyalah kedua orang
berkuda itupun menjadi berdebar-debar ketika mereka melihal dua orang yang duduk
diatas tanggul parit di pinggir jalan di malam yang gelap itu. Tetapi kedua
orang itu berjalan terus. Bahkan keduanyapun telah menyiagakan diri untuk jika
perlu bertempur.
Namun kedua orang yang
duduk di tanggul parit itu tidak berbuat apa-apa. Bahkan ketika kedua orang
berkuda itu lewat, kedua orang yang duduk di tanggul parit itupun telah bangkit
pula untuk melanjutkan perjalanan mereka ke.arah yang berlawanan.
Demikianlah, seperti yang
direncanakan, maka di dini hari, sebelum terang tanah, Sura Branggah dan Ki
Tumenggung Reksadrana telah berada di Paranganom. Demikian pula delapan orang
yang lain. Mereka langsung pergi ke sebuah rumah yang berada di ujung sebuah
padukuhan, agak terpisah dari para penghuni yang lain.
Di rumah itulah mereka
akan beristirahat sehari. Namun pesan Sura Branggah kepada kedelapan orang itu
“Kalian jangan keluar dari rumah ini.“
Kedelapan orang itu
menyadari, selain mereka berada di tempat asing, merekapun akan melakukan
pekerjaan yang gawat.
Dengan demikian, maka
yang mereka lakukan sehari itu adalah makan dan tidur. Mereka yang tidak dapat
tidur karena udara yang terasa panas, menggelar tikar di kebun belakang, dibawah
pepohonari yang berdaun lebat.
***
Dalam pada itu, Wismaya
dan Madyasta yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda sama sekali tidak
menyadari bahwa bahaya yang besar sedang merunduk mereka. Mereka memang tidak
menjadi lengah. Tetapi mereka merasa musuh yang mereka hadapi adalah hanya satu
atau dua orang yang dengan licik menikam dari belakang. Mereka tidak
memperhitungkan kemungkinan, sepuluh orang yang berpengalaman hidup di dunia
yang hitam sedang bersiap-siap untuk memasuki rumah Raden Ayu Prawirayuda.
Ketika malam turun, kedua
orang prajurit muda yang berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda itu sudah mulai
bersiap-siap. Seperti malam-malam terakhir, mereka tidak berpencar. Berdua
mereka setiap kali meronda mengelilingi rumah Raden Ayu Prawirayuda itu.
Kadang-kadang mereka berdua berhenti di kebun belakang beberapa saat.
Pada kesempatan lain
mereka berada di belakang gandok atau di tempat-tempat lain. Dengan demikian,
maka kesempatan untuk menyerang dari belakang menjadi sulit. Justru karena
mereka berdua.
Bab 28 – Pertempuran Di
Rumah Raden Ayu
Ketika malam menjadi
semakin dalam, maka Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggahpun telah
mempersiapkan diri. Mereka memberikan beberapa petunjuk dan perintah kepada
orang-orang upahan mereka.
“Kita akan berkumpul di
belakang lumbung di sebelah dapur rumah yang besar itu.“
“Baik Ki Tumenggung“
jawab mereka hampir berbareng.
Demikianlah, maka
merekapun segera berangkat menuiu ke rumah Raden Ayu Prawirayuda. Tetapi seperti
pada saat mereka memasuki Kadipaten Paranganom, maka mereka telah membagi diri.
Sebelum tengah malam,
seperti yang mereka rencanakan, mereka telah berloncatan memasuki dinding
halaman samping rumah Raden Ayu Prawirayuda. Halaman samping yang gelap dan
ditumbuhi oleh berbagai pepohonan buah-buahan dan pohon-pohon perdu yang tertata
rapi.
Dalam kegelapan, sepuluh
orang telah berkumpul, Dengan hati-hati mereka merayap mendekati pintu seketeng.
Seorang diantara mereka meloncat masuk ke longkangan dan membuka pintu seketeng
yang di selarak dari dalam.
“Sekarang, apa yang akan
kita lakukan, Ki Tumenggung.“
“Dimana kedua orang
Senapati muda itu“ desis Sura Branggah.
“Mereka tidak ada di
gandok. Jika ada mereka tentu berada didalam bilik mereka.“
“Mungkin mereka berada di
dalam. Mereka tidak ingin ditikam dari belakang seperti yang pernah terjadi.“
“Lalu apa artinya
keberadaan mereka disini?“
“Nampaknya mereka
mencurigai Wicitra. Dengan demikian, mereka berdua justru berada di dalam rumah.
Jika Wicitra berniat mengambil anak perempuan Raden Ayu Prawirayuda, barulah
kedua orang Senapati itu bertindak.“
“Sekarang apa yang akan
kita lakukan, Ki Lurah?“ bertanya-seorang diantara orang-orang upahan itu.
“Kita masuk ke dalam“
jawab Sura Branggah.
“Kita mengetuk pintu.
Jika kedua orang Senapati itu berada didalam, maka merekalah yang akan
membukakan pintunya. Kita akan membunuh Wismaya dan menangkap Madyasta“ sahut Ki
Tumenggung Reksadrana.
“Kita tidak usah mengetuk
pintu Ki Tumenggung.“
“Kita rusakkan pintu
butulan itu?“
“Tidak. Seorang dari anak
buahku itu mempunyai kepandaian khusus. Ia akan dapat masuk ke dalam lewat tutup
keyong bangunan belakang. Biarlah nanti ia membuka pintu butulan ini dari dalam.
“Baiklah. Perintahkan
orang itu segera melakukannya.“
Sura Branggah itupun
kemudian memanggil seorang anak buahnya yang bertubuh agak tinggi ke
kuras-kurusan.
“Cemeng. Masuklah lewat
tutup keyong itu. Buka pin-tunya dari dalam “
“Baik, Ki Lurah. Tetapi
nampaknya tutup keyongnya terbuat dari papan, sehingga aku memerlukan waktu
untuk membukanya.“
”Lakukan. Cepat atau aku
gantung kau di dahan pohon jambu itu.“
Ternyata orang yang
dipanggil Cemeng itu memang mampu memanjat seperti kucing. Dalam waktu yang
pendek orang itu sudah melekat pada tutup keyong di bangunan bagian belakang.
“Potong saja tali ijuk
kayu yang menghimpit papan tutup keyong itu“ berkata seorang kawannya yang
berada di bawahnya.
“Sst. Jangan keras-keras“
desis yang lain. .
“Kenapa ?”
“Nanti penghuninya
terbangun.“
“Kalau mereka terbangun
mau apa. Bukankah hanya dua orang perempuan.?“
“Dua orang prajurit itu?“
“Justru mereka yang kita
cari. Biarlah mereka keluar menyongsong kita.“
Kawannya tidak menyahut
lagi. Sementara itu, Cemeng telah hilang ditelan bangunan.belakang rumah yang
besar itu.
Beberapa saat kemudian,
maka Cemeng itu sudah mengangkat selarak pintu butulan dari dalam.
Sambil menengadahkan
dadanya karena keberhasilannya, iapun berkata “Marilah, silahkan masuk.“
“Edan kau. Kau kira kau
sudah menjadi pahlawan?“ berkata seorang kawannya.
“Apapun namanya, tetapi
aku sudah berhasil membuka pintu ini dan mempersilahkan kalian masuk”
Ki Tumenggung Reksadrana
melangkah maju sambil berkata “Minggir. Aku akan memasuki rumah Raden Ayu
Prawirayuda. Besok menjelang pagi, rumah ini akan menjadi sepi. Yang ada
hanyalah mayat-mayat yang terbujur lintang. Sedangkan Madyasta tidak akan dapat
diketemukan mayatnya disini.“
Namun ketika Ki
Tumenggung Reksadrana akan menginjakkan kakinya ke tlundak pintu butulan,
terdengar suara seseorang “Selamat malam, paman Tumenggung.“
Bukan hanya Ki
Tumenggung. Tetapi semua orang telah berpaling. Mereka melihat Madyasta dan
Wismaya berdiri se-langkah dari pintu seketeng yang terbuka.
“Raden Madyasta“ geram Ki
Tumenggung Reksadrana.
“Ya, paman. Bukankah
paman tidak lupa kepadaku.“
“Tidak. Aku tidak dapat
lupa dengan wajah iblismu yang licik itu.“
“Paman masih saja suka
bergurau. Ketika aku masih remaja, aku sering mengunjungi kangmas Yudapati yang
juga masih remaja. Aku tidak pernah melupakan paman yang pandai melucu.“
“Cukup“ bentak Ki
Tumenggung Reksadrana.
“Kenapa tiba-tiba saja
paman marah?“
“Jangan banyak bicara,
Raden. Malam ini aku datang untuk menangkapmu.“
“Menangkap aku ? Apa
salahku?“
“Kau adalah seorang
pembunuh yang bengis. Kau pantas mendapat hukuman yang lebih berat dari hukuman
mati.“
“Paman. Kenapa paman
menuduh aku seorang pembunuh? Siapakah yang pernah aku bunuh. Jika aku mem-bunuh
musuh-musuhku di medan pertempuran, aku tidak dapat disebut sebagai pembunuh.
Didalam perang, kemungkinan untuk dibunuh dan membunuh sama besarnya paman.“
“Cukup, menyerahlah. Aku
akan mengikat tangan dan kakimu.“
“Bagaimana mungkin aku
melakukannya. Bagaimana mungkin aku menyerah.“
“Kau tidak dapat memilih.
Kau harus menyerah kepadaku. Sedangkan orang-orangku akan membunuh Senapati
pengecut itu.“
“Paman. Bukan paman yang
akan. menangkap aku. Tetapi keberadaan paman di wilayah Paranganom, apalagi di
rumah bibi Prawirayuda pada waktu yang tidak sewajarnya, memaksa aku untuk
menangkap paman dan kawan-kawan paman. Menurut dugaanku, paman yang datang tidak
pada waktu yang wajar dengan membawa banyak orang, tentu. menyimpan
maksud-maksud yang jahat.”
Ki Tumenggung Reksadrana
itupun tertawa. Katanya “Kau kira kau ini siapa Raden. Kau kira aku ini siapa.
Meskipun kau mempunyai ilmu simpanan rangkap tujuh, tetapi kedudukanmu sekarang
sangat lemah. Karena itu, daripada kau mengalami perlakuan yang buruk, sebaiknya
kau menyerah saja.”
“Sudah aku katakan. Paman
akan aku tangkap. Disini aku bertugas untuk menjaga keselamatan bibi
Prawirayuda. Paman juga akan dituduh membunuh dua orang Senapati Paranganom di
rumah ini.”
Ki Tumenggung Prawirayuda
masih saja tertawa. Kemudian iapun berkata kepada Sura Branggah “Tangkap Raden
Madyasta. Bunuh saja Wismaya. Aku tidak memerlukannya.”
Sura Branggah itupun
segera memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk menangkap Madyasta
hidup-hidup serta membunuh Wismaya.
Pertempuranpun segera
terjadi. Madyasta dan Wismaya harus berhadapan dengan delapan orang upahan Ki
Tumenggung Reksadrana, sementara Ki Tumenggung dan Sura Branggah berdiri saja
menonton.
Betapapun tinggi ilmu
Raden Madyasta dan Wismaya, namun menghadapi delapan orang brandal yang
berpengalaman, keduanyapun segera terdesak. Bahkan sekali-sekali Wismaya dan
Raden Madyasta harus berloncatan surut mengambil jarak pada saat-sat yang gawat.
Wismaya dan Raden Madyasta yang sudah mengerahkan segenap kemampuannya itupun
masih saja mengalami kesulitan. Serangan-serangan lawannya sekali-sekali mulai
menyentuh tubuh mereka.
“Nah, ingat“ suara Ki
Tumenggung terdengar bagaikan guntur “Madyasta harus ditangkap hidup-hidup.
Sedangkan Wismaya tidak aku perlukan lagi. Bunuh saja dan buang mayatnya di
kebun belakang. Atau biarkan saja di longkangan ini. Aku akan masuk dan
mengambil Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya.”
Namun sebelum Ki
Tumenggung itu beranjak dari tem-patnya, terdengar seseorang bertanya “Kaukah
itu Ki Tu-menggung Reksadrana?”
Ki Tumenggung Reksadrana
terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya dipintu seketeng dua orang yang
melangkah mendekati arena pertempuran. Dalam cahaya lampu minyak yang lemah di
serambi yang menghadap longkangan itu, Ki Tumenggung Reksadrana melihat, bahwa
yang datang itu adalah Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda.
Jantung Ki Tumenggung
Reksadrana itupun menjadi berdebaran. Ki Reksadrana tidak mengira, bahwa kedua
orang Tumenggung andalan Paranganom itu berada pula di rumah Raden Ayu
Prawirayuda.
Namun sebenamyalah bahwa
yang terkejut bukan hanya Ki Tumenggung Reksadrana dan Sura Branggah. Tetapi
Raden Madyasta dan Wismayapun terkejut pula.
“Paman berada disini?”
bertanya Raden Madyasta yang meloncat surut mengambil jarak dari lawan-lawannya.
“Ya, ngger. Setiap malam
aku menunggu di tempat ini. Bergantian kami berdua berjaga-jaga menunggu
kedatangan agul-agul dari Kateguhan ini. Akhirnya orang ini datang pula.”
“Setan kau kakang
Sanggayuda dan kakang Wiradapa. Darimana kalian tahu bahwa pada suatu saat aku
akan datang ke rumah ini.”
“Tentu kau yang sudah
membujuk Kangjeng Adipati Yudapati agar, mengusir Raderi Ayu Prawirayuda. Tetapi
itu belum cukup bagimu. Kau datang memburunya kemari“ sahut Ki Tumenggung
Sanggayuda.
“Aku memang datang
kemari. Tetapi alasan yang kau sebutkan itu salah. Sebenarnyaaku tidak mempunyai
urusan dengan Raden Ayu Prawirayuda.”
“Lalu untuk apa kau
datang kemari?”
“Aku memerlukan Madyasta
dan Wismaya.”
“Kenapa?”
“Bukan urusanmu. Sekarang
serahkan saja Madyasta dan Wismaya kepadaku. Aku akan segera pergi tanpa
mengganggu seisi rumah ini.”
“Apa kata Kangjeng
Adipati Prangkusuma seandainya kau benar-benar membawa Raden Madyasta ?”
“Aku tidak peduli.”
“Dapatkah kau
membayangkan, jika perang terjadi antara Paranganom dan Kateguhan?”
Wajah Ki Tumenggung
Reksadrana menjadi tegang. Namun kemudian Ki Tumenggung itupun menjawab “Jika
demikian, maka aku akan melenyapkan saksi atas apa yang terjadi malam ini.”
“Kau akan membunuh kami
berdua, Raden Madyasta dan Wismaya sekaligus ?”
“Termasuk Raden Ayu
Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari. Bahkan para pembantu, sehingga tidak
seorangpun yang akan dapat mengatakan apa yang sebenamya telah terjadi malam ini
di rumah ini.”
“Kau kira begitu mudahnya
kau membunuh?”
“Kenapa tidak? Aku datang
bersama sembilan orang. Kami semuanya sepuluh orang. Kalian hanya berempat.
Sementara itu diantara kami ada aku, ada Sura Branggah, ada Cemeng Kebang Telon
dan yang lain-lain, yang namanya telah mengumandang diseluruh kadipaten
Kateguhan.”
“Mungkin nama mereka
telah dikenal oleh orang-orang Kateguhan, tetapi tidak oleh orang-orang
Paranganom. Sebenanyalah ukuran kita tentang tingkat kelebihan seseorang memang
berbeda. Apa yang kalian anggap emas, ternyata tidak lebih dari loyang saja bagi
kami.”
“Kesombonganmu
menyakitkan hatiku, kakang. Sebaiknya sekarang kakang menundukkan kepala untuk
menerima hukuman dari kami.”
“Siapa yang akan
menghukum kami ? Kau dan para perigikutmu itu ?”
“Ya. Aku dan para
pengikutku.”
”Adi Tumenggung
Reksadrana” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “sebaiknya adi menghentikan pokal adi
yang jahat ini. Adi harus menyadari, bahwa apa yang adi lakukan ini dapat
menyeret dua kadipaten yang pernah diperintah oleh dua orang bersaudara, kakak
beradik, kedalam kancah peperangan.”
Wajah Ki Tumenggung
Reksadrana menjadi semakin tegang. Namun kemudian sekali lagi iapun berkata “Aku
akan membunuh semua orang. Perang itu tidak akan terjadi karena tidak akan ada
orang yang dapat menyebut namaku.”
“Jangan terlalu yakin.”
“Aku yakin akan
kemampuanku dan aku yakin akan kemampuan orang-orangku.”
“Kaulah yang akan menjadi
mayat disini, Reksadrana. Atau aku akan menangkapmu dan menyeretmu ke hadapan
Kangjeng Adipati Prangkusuma. Jika perang itu kemudian harus terjadi, maka kau
akan menjadi pengewan-ewan tidak hanya di Paranganom. Tetapi kau akan diikat.di
alun-alun Tegallangkap, karena kau telah mengobarkan permusuhan di Tegallangkap
dan bahkan menimbulkan perang antara dua kadipaten terbaik di Tegallangkap.”
“Persetan dengan
celotehmu, Sanggayuda, aku akan memotong lidahmu.”
“Bagus. Kita akan mencoba
mengadu kemampuan. Sudah sejak di hadapan Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan
aku ingin memilin lehermu”
“Aku akan melayanimu
Sanggayuda“
Ki Tumenggung Sanggayuda
tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Iapun dengan serta-merta telah menyerang
Ki Tumenggung Reksadrana.
Serangan Ki Tumenggung
Sanggayuda itu merupakan aba-aba bagi orang-orang upahan Ki Tumenggung
Reksadrana. Merekapun serentak telah bergerak pula menyerang Raden Madyasta,
Wismaya dan Ki Tumenggung Wiradapa.
Pertempuranpun segera
telah berkobar kembali di longkangan itu. Wismaya dan Raden Madyasta harus
bertempur menghadapi beberapa orang lawan lagi. Tetapi kehadiran Ki Tumenggung
Wiradapa telah mengurangi beban yang harus di usung oleh Wismaya dan Raden
Madyasta. Sementara itu Ki Tumenggung Reksadrana terikat dalam pertempuran
melawan Ki Tumenggung Sanggayada.
Ternyata keduanya adalah
prajurit linuwih. Keduanya memiliki ilmu yang tinggi serta pengalaman yang luas.
Paranganom dan Kateguhan yang pernah diperintah oleh dua orang bersaudara itu
masing-masing mempunyai Senapati pilihan yang sulit dicari imbangannya.
Keduanya saling menyerang
dan bertahan. Selapis demi selapis keduanyapun meningkatkan kemampuan mereka.
Di sisi yang lain,
Wismaya dan Raden Madyasta berloncatan menghadapi lawan-lawannya. Namun
keduanyapun kemudian bergeser keluar dari pintu seketheng dan bertempur di
halaman.
Wismaya harus menghadapi
dua orang gegedug yang bertempur dengan keras dan bahkan kasar. Raden Madyasta
menghadapi tiga orang sekaligus. Demikian pula Ki Tumeng-gung Wiradapa yang
masih bertempur di longkangan. Ki Tu-menggung itu juga menghadapi tiga orang
benggol perampok yang garang.
Namun ketiganya adalah
prajurit pilihan. Wismaya de-ngan langkah-langkah panjang berloncatan di
halaman, se-hingga kedua orang lawannya telah dipaksa untuk menyesuaikan
dirinya. Keduanya yang berusaha untuk bertempur di arah kedua sisinya, ternyata
tidak pernah berhasil. Wismaya selalu saja dapat keluar dari garis serangan yang
dibangun oleh kedua orang lawannya. Bahkan sekali-sekali Wismaya mampu
mengejutkan mereka. Geraknya yang sulit diduga itu, membuat kedua orang lawannya
harus memeras kemampuannya.
Tetapi serangan-serangan Wismayalah yang sekali-sekali justru mulai menyentuh
tubuh lawannya.
“Edan tenan orang ini“
geram salah seorang dari kedua gegedug yang bertempur melawan Wismaya
“Peras tenaganya, kang“
berkata yang lain “ia akan menjadi lumpuh dan tidak berdaya. Kita akan
menangkapnya. Kau pegang kepalanya aku pegang kakinya. Tubuhnya kita pelintir
seperti tampan“
Gegedug yang seorang
tidak menjawab lagi. Tetapi di-tingkatkannya serangan-serangannya. Seperti
kawannya ia mencoba memancing agar Senapati muda itu memeras tenaganya sehingga
akhirnya ia akan menjadi kelelahan atau bahkan nafasnya akan terputus dengan
sendirinya.
Tetapi yang terjadi
justru sebaliknya. Kedua orang gegedug itulah yang harus memeras tenaga mereka.
Senapati muda itu mampu bergerak cepat sekali, sehingga hampir bersamaan
waktunya, serangannya mampu mengenai kedua orang lawannya sekaligus.
Namun serangan-serangan
kedua orang gegedug itu ada juga yang berhasil menyusup disela-sela pertahanan
Wismaya. Seorang diantara kedua orang lawannya berhasil mengenai punggung
Wismaya dengan tendangan kakinya. Wismaya ter-dorong kedepan. Dengan sigapnya
lawannya yang seorang lagi mengayunkan kakinya melingkar, tepat mengenai dada
Wismaya.
Tetapi Wismaya tidak
terdorong surut karena ia tahu bahwa lawannya yang seorang lagi menunggu.
Wismaya justru menjatuhkan dirinya, berguling sambil menyapu kaki lawannya yang
seorang. Demikian kerasnya sehingga orang itu terbanting ditanah.
Ternyata Wismaya lebih
cepat melenting berdiri. Ketika orang itu juga bangkit, Wismaya sempat meloncat
sambil menjulurkan kakinya.
Kaki Wismaya yang
mengenai dada lawannya itu telah melemparkan lawannya sehingga terpelanting di
tanah.
Di dekat pendapa, Raden
Madyasta bertempur melawan ketika orang lawannya. Dengan gagangnya, seperti
seekor sikatan berburu bilalang di padang rumput yang luas, Raden Madyasta
berloncatan menyambar-nyambar. Namun kemudi-an Raden Madaysta itu berdiri tegak
di tengah-tengah kepungan ketiga orang lawannya. Ia tidak berloncatan sama
sekali. Kedua kakinya rasa-rasanya menjadi lekat dengan bumi yang diinjaknya.
Sekali-sekali Raden
Madyasta itu bergerak setapak kesamping. Bergeser sedikit atau berputar
seperempat lingkaran. Sikapnya mencerminkan ketangguhannya. Tangguh seperti
seekor banteng menghadapi harimau yang garang.
Dengan demikian maka
ketiga orang yang sudah terbiasa hidup dalam suasana yang keras dan bengis itu
justru menjadi berdebar-debar menghadapi lawannya yang masih muda itu.
“Apakah anak seorang
Adipati dengan sendirinya menjadi seorang yang berilmu tinggi?“ bertanya salah
seorang lawannya di dalam hatinya.
Sebenarnyalah ketiga
orang lawannya itu benar-benar mengalami kesulitan.
Dalam pada itu, ketiga
orang yang bertempur melawan Ki Tumenggung Wiradapa adalah seorang yang bernasib
buruk. Sejak mereka mulai bertempur, mereka sudah terdesak. Mereka segera
merasakan tekanan yang sangat berat dari seorang Tumenggung yang sudah separo
baya.
Ketiga orang itu telah
berusaha untuk memeras tenaga Ki Tumenggung. Mereka bertempur sambil
berloncatan. Sekali menyerang, kemudian meloncat menjauh bergantian. Mereka
berharap bahwa Ki Tumenggung Wiradapa akan berlari-larian memburu mereka.
Tetapi yang terjadi sama
sekali tidak seperti yang mereka harapkan. Ki Tumenggung itu hanya sedikit
sekali bergerak. Jika seorang lawannya berloncatan menjauh, ia sama sekali tidak
memburunya. Ki Tumenggung itu dengan mapan menunggu lawannya datang menyerang.
Tetapi demikian serangan
itu datang, maka orang yang menyerang itulah yang terpelanting jatuh.
Namun agaknya Ki
Tumenggung sengaja tidak ingin segera menyelesaikan lawan-lawannya. Ki
Tumenggung itu bertempur sambil menonton pertempuran yang semakin sengit antara
Ki Tumenggung Sanggayuda melawan Ki Tumenggung Reksadrana.
Dalam pada itu, di dalam
rumah itu telah terjadi kete-gangan yang mencengkam. Rantamsari yang terbangun
oleh keributan itu telah memeluk ibunya yang telah terbangun lebih dahulu.
“Ibu. Apa yang terjadi?”
“Tenanglah Rantamsari.”
“Apakah telah terjadi
pertempuran ibu?”
“Ya. Agaknya memang telah
terjadi pertempuran.”
“Aku takut ibu.”
“Jangan takut,
Rantamsari. Di luar ada adikmu Madyasta. Ia adalah seorang anak muda yang
memiliki ilmu yang tinggi.”
“Bukankah kakang Wismaya
juga ada?”-
“Ya. Wismaya juga
menyertainya. Tetapi sudah tentu
bahwa kemampuan ilmu Madyastalah yang jauh lebih tinggi.”
Rantamsari terdiam. Namun
tangannya yang memeluk tubuh ibunya terasa menjadi gemetar.
“Jangan takut Rantamsari.
Tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Raden Madyasta akan segara dapat
menyelesaikannya.”
“Tetapi yang terdengar
itu sorak dan teriakan banyak orang ibu. Bukankah dimas Madyasta hanya berdua
saja dengan kakang Wismaya.”
“Dalam pertempuran,
bukanlah yang terbanyak yang akan menang. Tetapi yang akan menang adalah yang
terbaik,”
Rantamsari terdiam lagi.
Namun degup jantungnya justru menjadi semakin cepat.
Dalam pada itu, ketika di
longkangan dan di halaman terjadi pertempuran, maka Sura Branggah yang licik
telah berhasil menghindar dari perhatian para prajurit Paranganom. Ia justru
menyelinap masuk ke dalam rumah.
Dengan hati-hati Sura
Branggah menyelusuri ruang demi ruang. Ia berniat menemukan bilik tidur Raden
Ayu Prawirayuda atau Raden Ajeng Rantamsari. Kebetulan jika mereka berdua berada
di dalam satu bilik.
Ternyata suasana didalam
rumah itu sepi. Diruang tengah, lampu minyak menyala redup.
Sura Branggah menjadi
ragu-ragu ketika ia melihat beberapa buah pintu yang tertutup. Tetapi Sura
Branggah menduga, bahwa bilik tidur Raden Ayu Prawirayuda berada di sisi sebelah
kanan.
Ketika ia melangkah
mendekati pintu, Rantamsari yang berada didalam bersama ibunya menjadi semakin
ketakutan. Dengan memeluk ibunya semakin erat, terdengar isaknya yang tertahan.
“Sst.“ desis ibunya.
Namun isak tertahan Raden
Ajeng Rantamsari itu terdengar oleh Sura Branggah.
Sura Branggah itu
tersenyum. Ia akan menyeret kedua orang perempuan itu keluar turun ke
longkangan. Dengan mengancam untuk membunuh keduanya, ia akan dapat memaksa
kedua orang Tumenggung dan dua orang Senapati itu menyerah dan membiarkan tangan
dan kaki mereka diikat.
“Alangkah mudahnya
membunuh mereka. Ki Tumenggung Reksadranapun akan dapat memenuhi keinginannya,
menumpahkan dendamnya kepada Wismaya dan Madyasta“ berkata Sura Branggah didalam
hatinya.
Karena itu, dengan
harapan untuk mendapat pujian dan upah lebih dari Ki Tumenggung Reksadrana, Sura
Branggah itu mengetuk pintu bilik Raden Ayu Prawirayuda.
Demikian terdengar pintu
diketuk, maka Raden Ajeng Rantamsaripun memeluk ibunya semakin erat sambil
berdesis dengan suara yang bergetar “Ibu. Ibu. Aku takut.”
“Jangan takut,
Rantamsari.”
“Siapa yang mengetuk
pintu itu ibu?”
Ternyata Sura Branggah
yang berada di luar pintu mendengar suara Rantamsari. Dengan nada berat Sura
Branggah itupun menyahut “ Aku.”
“ Aku siapa?” bertanya
Raden Ayu Prawirayuda.
“Silahkan membuka
pintunya, Raden Ayu. Aku ingin berbicara sedikit.”
“Kau siapa. Kau belum
menyebut namamu.”
“Aku Sura Branggah.”
“Sura Branggah?”
“Ya.”
“Aku belum pernah
mengenalmu. Pergilah. Jangan ganggu kami.“
Tetapi Sura Branggah itu
menggeram. Katanya “Raden Ayu. Aku minta Raden Ayu membuka pintu.“
“Tidak. Aku belum
mengenalmu.“
“Aku bukan seorang
penyabar Raden Ayu. Aku dapat menjadi garang. Karena itu, sebelum darahku
menjadi panas, bukalah.“
“Tidak“ jawab Raden Ayu
Prawirayuda. Namun terdengar bentakkan diluar “Raden Ayu mau membuka pintu atu
tidak. Kalau tidak aku akan memecahkan pintunya.“
Raden Ayu termangu-mangu
sejenak. Namun Rantamsari menjadi semakin ketakutan.
Sura Branggah yang hampir
saja kehilangan kesabaran mengetuk pintu itu semakin keras sambil membentak
“Buka pintunya. Jika Raden Ayu tidak mau membuka pintu, maka aku akan merusak
pintu itu. Tidak ada yang dapat menghalangi Sura Branggah.“
Raden Ayu Prawirayuda
tidak mempunyai pilihan. Agaknya Sura Branggah benar-benar akan merusak pintu
biliknya jika ia tidak membukanya.
Tetapi ketika ia
melangkah ke pintu, Rantamsari menahannya sambil berdesis “Jangan ibu. Pintunya
jangan dibuka. Aku takut sekali.“
“Jangan takut,
Rantamsari. Tidak akan terjadi apa-apa.“
“Jangan ibu.“
Namun Raden Ayu itu
berkata “Percayalah kepadaku, Rantamsari. Adikmu akan segera datang menolong.
Seandainya aku tidak membuka pintu itu, maka pintu itupun akan terbuka setelah
dirusak oleh orang yang berada di luar pintu itu.“
“Tetapi………“
“Sudahlah. Percayalah
kepada ibu.“ Rantamsari tidak dapat menahannya lagi. Dengan tubuh gemetar
Rantamsari melihat ibunya mengangkat selarak kemudian membuka pintu bilik itu.
Rantamsari menjadi
semakin ketakutan ketika ia melihat wajah orang yang berdiri di belakang pintu
itu.
“Ibu“ Suaranya menjadi
semakin bergetar. Tetapi Raden Ayu Prawirayuda melangkah mendekati Sura
Branggah.
“Apa yang kau maui, Sura
Branggah.“
“Aku minta Raden Ayu
Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari keluar dari rumah ini untuk turun ke
longkangan.“
“Untuk apa?“
“Raden Ayu tidak usah
terlalu banyak bertanya. Jika Raden Ayu tidak segera turun, maka Raden Madyasta
dan Wismaya akan segera dibantai oleh kawan-kawanku.“
“Kau tidak dapat
menipuku, Sura Branggah. Pertempuran itu masih berlangsung. Itu berarti bahwa
kawan-kawanmu masih belum menguasai Raden Madyasta dan Wismaya.“
“Tinggal soal waktu,
Raden Ayu. Betapapun tinggi ilmu mereka berdua, tetapi mereka tidak akan mampu
melawan kawan-kawanku yang jumlahnya belasan orang. Satu hal yang perlu Raden
Ayu ketahui, bahwa Ki Tumenggung Reksadrana sekarang ada disini.“
Wajah Raden Ayu
Prawirayuda menjadi tegang. Dengan nada suara yang berat, Raden Ayu itu berkata
“Kau akan menakut-nakuti aku?“
“Tidak. Tetapi
sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung ada disini. Karena itu, jangan bertanya lagi.
Marilah kita pergi ke longkangan.”
“Tidak. Kami tidak akan
pergi ke longkangan.“
“Raden Ayu tidak dapat
menolak. Aku akan dapat memaksa Raden Ayu untuk pergi ke longkangan bersama
dengan Raden Ajeiig Rantamsari.“
“Kami tidak akan pergi.“
“Sudah aku katakan, Raden
Ayu tidak dapat menolak. Raden Ayu harus pergi ke longkangan. Jika Raden Ayu
tetap tidak mau, aku akan menyeret Raden Ayu dan Raden Ajeng Rantamsari.“
Jantung Rantamsari terasa
telah berhenti. Namun Raden Ayu Prawirayuda itupun berkata “Sura Branggah.
Apakah kau belum pernah mendengar bahwa pada saat aku berada di Kateguhan,
terutama pada masa pemerintahan kangmas Adipati Prawirayuda, aku adalah seorang
prajurit?“
“Sudah Raden Ayu. Bahkan
Raden Ayu mendapat julukan Srikandi dari Kateguhan.“
“Jadi kau sudah tahu
bahwa aku seorang prajurit.“
“Tetapi prajurit
perempuan di Kateguhan itu sekedar sebagai hiasan saja. Prajurit perempuan bukan
prajurit yang sebenarnya. Seperti kuntum-kuntum bunga yang berserakkan diantara
semak-semak berduri. Bahwa nama Raden Ayu waktu itu menjadi semerbak, karena
Raden Ayu adalah isteri Kangjeng Adipati. Bukan karena kemampuan ilmu Raden
Ayu.“
“Sura Branggah“ berkata
Raden Ayu itu kemudian “sudah lama aku meletakkan senjataku. Tetapi untuk
melindungi anakku perempuan, maka aku telah mengenakan kembali keris pusakaku
ini.“
“Jadi tegasnya, Raden Ayu
akan melawan?“
“Ya. Aku akan melawanmu
Sura Branggah.“
Sura Branggah itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Bagaimana mungkin Raden Ayu
berniat melawanku. Aku adalah pemimpin Brandal yang sangat ditakuti.
Gegedug-gegedug yang menjadi nama besar di Kateguhan semua tunduk kepadaku.
Sementara itu, Raden Ayu yang mabuk dengan gelar Srikandi Kateguhan yang tidak
lebih dari sekedar hiasan saja, akan mencoba melawanku.“
“Kita akan
membuktikannya, Sura Branggah.“
“Bagus. Jika Raden Ayu
benar-benar ingin melawan, serta kesabaranku sudah lewat dari batas, maka aku
akan menyeret Raden Ayu seperti menyeret sebatang pohon pisang ke longkangan.“
Raden Ayu Prawirayuda
tidak menjawab. Tetapi di-singsingkannya kain panjangnya. Ternyata bahwa dibawah
kain panjangnya Raden Ayu Prawirayuda telah mengenakan pakaian khususnya.
Pakaiannya pada saat ia masih disebut Srikandi Kateguhan. Pakaian seperti itu
pulalah yang dikenakan oleh sepasukan kecil prajurit perempuan di Kateguhan pada
masa pemerintahan Kangjeng Adipati Prawirayuda, namun yang kemudian dihapuskan
sejak Kangjeng Adipati Yudapati menduduki jabatannya menggantikan ayahandanya.
“Ibu“ Rantamsari menjadi
semakin berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ibunya siap untuk bertempur melawan
orang yang menakutkan itu.
Jantung Sura Branggah
tergetar. Namun bagaimanapun juga ujudnya, ia adalah seorang perempuan.
Sejenak kemudian, maka
Raden Ayu Prawirayuda itu sudah bergerak kepintu. Ketika Sura Branggah bergetar
surut, maka Raden Ayu Prawirayuda itupun sudah berdiri di luar biliknya.
Keduanya bergeser
sejenak. Sementara Sura Branggah masih menggeram “Justru karena kau melawan,
Raden Ayu, maka nasibmu akan menjadi lebih buruk lagi.“
Raden Ayu Prawirayuda
tidak menjawab lagi. Tetapi ia sudah siap untuk bertempur
Beberapa saat kemudian,
maka Sura Branggahpun mulai menyerang. Dengan tangkasnya Raden Ayu Prawirayuda
itu menghindar. Bahkan Raden Ayu itupun bergeser mendekati pintu butulan yang
akan sampai ke longkangan yang satu lagi.
Demikian mereka berada di
longkangan, maka Raden Ayu itupun berkata “Kita mempunyai arena yarig luas Sura
Branggah. Disini tidak akan ada yang mengganggu. Sementara yang lain bertempur
di longkangan sebelah.“
Jantung Sura Branggah
berdesis. Agaknya Raden Ayu Prawirayuda itu mempunyai kepercayaan diri yang
tinggi pula, sehingga seakan-akan ia yakin akan dapat memenangkan pertempuran
itu.
“Apakah namaku sama
sekali tidak berpengaruh terhadap Raden Ayu Prawirayuda itu?“,
Namun agaknya Raden Ayu
Prawirayuda itu sama sekali tidak gentar menghadapi Sura Branggah, seorang
pemimpin brandal yang ditakuti oleh para gegedug di Kateguhan.
Sejenak kemudian,
keduanya telah terlibat dalam pertempuran. Ketika Sura Branggah meloncat
menyerang, dengan cepat Raden Ayu Prawirayuda itupun menghindar.
Demikianlah, maka
pertempuran antara keduanyapun semakin lama menjadi semakin sengit. Sura
Branggah sama sekali tidak menduga, bahwa Raden Ayu Prawirayuda benar-benar
perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi.
Dengan demikian, maka
Sura Branggah yang semula menganggap remeh kemampuan Raden Ayu Prawirayuda,
harus meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Sura Branggah itu sempat terkejut
ketika tiba-tiba saja kaki Raden Ayu Prawirayuda itu menghantam dadanya,
sehingga Sura Branggah itupun terhuyung-huyung beberapa langkah surut.
“Kau terkejut, Sura
Branggah“
“Aku memang terkejut
Raden Ayu. Tetapi aku segera menemukan keseimbanganku kembali menghadapi ilmumu
yang harus aku akui, termasuk ilmu yang tinggi. Tetapi sekarang Raden Ayu
berhadapan dengan Sura Branggah. Dengan Lurah gegedug yang tinggi terkalahkan.”
“Tentu gegedug-gegedug itu tidak dapat mengalahkanmu, karena sebenarnya mereka
tidak lebih dari kecoak-kecoak yang tidak berharga.”
“Jika tidak mendengar
langsung, aku tidak percaya bahwa kata-kata itu kau ucapkan Raden Ayu. Bukankah
sehari-hari kau seorang puteri bangsawan yang luruh seperti Sembadra?”
“Tidak. Aku bukan
Sembadra. Tetapi aku adalah Srikandi.”
Sura Branggah tidak
sempat berbicara lagi. Serangan-serangan Raden Ayu Prawirayuda datang seperti
badai.
Dalam pada itu,
pertempuran di longkangan yang lainpun masih berlangsung. Ki Tumenggung
Reksadrana dan Ki Tumenggung Sanggayuda masih bertempur dengan sengitnya.
Keduanya memiliki
kelebihannya masing-masing. Sementara itu kebencian telah membakar jantung
mereka sehingga keduanya menjadi tidak terkekang lagi.
Di lingkaran pertempuran
yang lain,ketiga orang lawan Ki Tumenggung Wiradapa seakan-akan telah kehabisan
nafas. Tetapi mereka masih terus bertempur.
Mereka merasa bahwa
mereka adalah gegedug yang selama ini namanya mampu membuat orang yang
mendengarnya menjadi pingsan. Namun tiba-tiba mereka bertiga mengalami kesulitan
menghadapi seorang Tumenggung tua.
Di halaman Wismaya dan
Madyasta masih juga bertempur dengan sengitnya. Madyasta harus bertempur melawan
tiga orang brandal. Meskipun tidak segera mampu mendesak lawannya, namun
Madyasta juga tidak terdesak. Bahkan sekali-sekali Madyasta berhasil menguak
pertahanan lawan. Serangan-serangannya mampu mengenai tubuh lawan-lawannya.
Namun agaknya
lawan-lawannya tidak ingin bertempur terlalu lama. Merekapun segera menggenggam
senjata-senjata mereka.
Raden Madyasta meloncat
mengambil jarak. Kilatan cahaya lampu minyak yang redup di pendapa telah
mem-peringatkan agar Madyasta tidak menjadi lengah.
Dengan demikian, maka
Madyastapun telah menarik pedangnya pula.
Dengan pedang di tangan,
maka Madyasta menjadi semakin garang. Ternyata bahwa putera Kangjeng Adipati
Prangkusuma itu benar-benar memiliki ilmu pedang yang mumpuni.
Di lingkaran pertempuran
yang lain, Wismayapun telah memutar pedangnya pula. Sementara itu kedua orang
lawannyapun telah menggenggam golok di tangan mereka.
Di ruang dalam,
Rantamsari menjadi kebingungan. Ketika ia menjenguk longkangan, dilihatnya
ibunya sedang bertempur melawan Sura Branggah.
Dalam ketakutan dan
kebingungan itulah, tiba-tiba tangan yang kuat telah melingkar diwajahnya dan
menutup mulutnya rapat-rapat sehingga Rantamsari tidak sempat menjerit.
Tiba-tiba saja tangan yang kasar dan kuat menyeretnya, menjauh daripintu
butulan.
“Kau tidak dapat mencari
perlindungan sekarang Rantamsari.”
Jantung Rantamsari
bergejolak. Suara itu adalah suara pamannya, Wicitra.
“Mau atau tidak mau, kau
sekarang harus ikut aku.”
Rantamsari meronta.
Tetapi yang terdengar suara tertawa Wicitra. Tidak begitu keras, tetapi terasa
menusuk telinganya, menembus sampai ke jantung.
Rantamsari tidak berdaya
ketika Wicitra menyeretnya ke ruang tengah melewati sambil ke belakang.
Ketakutan yang sangat
telah mencengkam jantung Rantamsari. Bahkan Rantamsari itu membayangkan wajah
pamannya itu justru lebih garang dari wajah Sura Branggah yang berdiri di
belakang pintu bilik ibunya ketika pintu itu terbuka.
Ketakutan yang sangat itu
telah membuat Rantamsari kehilangan akal dan menjadi putus asa. Justru karena
itu, maka yang dilakukannya, tidak lagi berdasarkan atas nalarnya yang bening.
Adalah diluar
pertimbangan nalarnya jika tiba-tiba saja Raden Ajeng Rantamsari itu menggigit
tangan Raden Wicitra yang sedang menutup mulutnya.
Raden Wicitra terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja Raden Ajeng
Rantamsari itu menggigitnya.
Karena itu, diluar
sadarnya, Raden Wicitra itu telah menghentakkan tangannya. Namun demikian
kerasnya Raden Ajeng Rantamsari menggigitnya, maka tangan Raden Wicitra itu
telah terluka dan bahkan berdarah.
Ternyata Raden Ajeng
Rantamsari tidak sekedar menggigit tangan Wicitra. Demikian tangan itu terlepas
karena kesakitan, maka Raden Ajeng Rantamsari itupun segera melarikan diri.
Raden Wicitra memang
terlambat sesaat ketika ia mengaduh kesakitan karena tangannya yang berdarah.
Sementara itu, Raden Ajeng Rantamsari sempat melarikan diri lewat serambi
samping, menyusup ke longkangan di belakang.
Raden Wicitra tidak mau
melepaskannya. Karena itu, maka iapun segera berlari menyusulnya.
“Kau tidak akan dapat
lari, Rantamsari. Jika kau. berani keluar lewat pintu butulan, maka kau akan
jatuh ketangan brandal-brandal itu. Kau akan menjadi seperti anak ayam di sarang
segerombolan musang yang kelaparan. Kau akan dikoyak-koyakan tanpa belas
kasihan. Nasibmu akan menjadi lebih buruk dari mati.“
Raden Ajeng Rantamsari
masih mendengar suara pamannya. Namun ia tidak menghiraukannya. Melewati
longkangan di belakang, Raden Ajeng Rantamsari berlari masuk ke dapur.
Tetapi baru saja kakinya
melangkahi tlundak pintu, maka sekali lagi tangan yang kuat telah menutup
mulutnya. Ia merasa seseorang telah mendekapnya dari belakang.
Dari mulut orang yang
mendekapnya itu Raden Ajeng Rantamsari mendengar suara berdesis “Jangan
berteriak kangmbok. Mungkin aku mengejutkan kangmbok. Tetapi aku tidak berniat
buruk. Jika kangmbok berjanji tidak berteriak, aku akan melepaskannya.“
Raden Ajeng Rantamsari
mencoba untuk mengangguk.
Bab 29 – Terbakar
Matahari Tamat
Tangan yang kuat itu
benar-benar melepaskannya. Ketika Raden Ajeng Rantamsari berpaling, ia melihat
di keremangan cahaya lampu minyak yang redup seorang anak muda yang berdiri
tegak di sebelah pintu.“
“Dimas Wignyana.“
“Ya. Aku akan
menyelamatkan kangmbok. Silahkan bersembunyi di tempat yang agak gelap. Aku
tahu, paman Wicitra ada disini.“
“Ya. Aku telah
dikejar-kejar paman Wicitra.“ Dalam pada itu terdengar suara Wicitra yang
meskipun tidak begitu keras, tetapi jelas “Rantamsari. Kau tidak akan lepas dari
tanganku, Tetapi semakin sulit aku menemukanmu, maka akan semakin keras aku
mencengkammu. Karena itu, kau tidak perlu melarikan diri.“
Raden Ajeng Rantamsari
berdiri membeku. Bahkan bernafaspun ia menjadi sangat berhati-hati.
Raden Wicitra yang
melihat pintu dapur yang terbuka, segera menduga, bahwa Rantamsari telah
bersembunyi ke dapur.
Karena itu, maka Raden
Wicitrapun telah masuk kedapur pula.
“ Rantamsari. Kau dengar
suaraku. Bagimu tentu lebih baik menyingkir bersamaku daripada jatuh ke tangan
para perampok itu. Kau akan menjadi seorang isteri yang bahagia. Aku akan
memenuhi semua keinginanmu.“
Namun Raden Wicitra itu
terkejut ketika ia mendengar seseorang menyapanya dari dalam bayangan kegelapan
“Selamat malam, paman.“
“Kau siapa?“
“Paman lupa kepadaku ?
Tetapi itu wajar-wajar saja, paman. Kita memang jarang sekali bertemu.”
“Kau siapa?“
“Aku wignyana, paman.”
“Wignyana ? Adik
Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?“
“Ya, paman“
“O“ Wicitra
mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya “Apa yang kau lakukan disini?“
“Aku terbiasa berada di
rumah ini, paman.“
“Untuk apa ? Bukankah kau
tidak bertugas disini?”
“Memang tidak, paman.
Tetapi aku datang kemari untuk mengunjungi kangmbok Rantamsari.“
“Mengunjungi Rantamsari.“
“Ya. Kami sudah berjanji
untuk mengikat tali hubungan yang lebih erat daripada sekedar saudara sepupu.“
“Maksudmu?“
“Kami berjanji untuk
menikah.“
“Itu pikiran gila.
Bukankah menurut urutan abunya, Rantamsari lebih tua darimu.“
“Ya. Apa salahnya?“
“Tidak. Itu tidak
mungkin.“
“Kenapa?“
“Tidak ada orang yang
akan menjadi suami Rantamsari kecuali aku sendiri.“
“Paman Wicitra ? Apakah
pikiran itu tidak lebih gila lagi?. Bukankah paman Wicitra itu paman Rantamsari
sendiri. Adik ibunya dan bahkan adik kandung?”
“Kita sama-sama gila,
Wignyana. Karena itu, tinggalkan Rantamsari.“
“Tidak, paman. Aku tidak
akan meninggalkannya.. Rantamsari aku menjadi isteriku.“
“Sekali lagi aku
peringatkan. Tinggalkan Rantamsari.“
“Sekali lagi aku
tegaskan. Aku tidak akan meninggalkan kangbok Rantamsari.“
“Jika demikian, aku harus
membunuhmu. Kau akan mati muda malam ini.“
“Caeingpun akan
menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku paman.“
“Aku bunuh kau,
Wignyana.“ „
Wignyanapun segera
bersiap. Sementara itu Wicitra justru melangkah surut. Iapun kemudian turun ke
longkangan belakang.
Wignyana tahu, bahwa
Wicitra memilih tempat yang lapang dan lebih terang karena sinar lampu minyak
di. longkangan meskipun cahayanya redup.
“Kau masih mempunyai
kesempatan, Wignyana.“-
“Terima kasih, paman.
Tetapi karena aku tidak akan mempergunakan kesempatan yang paman berikan, karena
aku akan dapat mengambil kesempatanku sendiri. Jauh lebih baik dari kesempatan
yang paman berikan.”
Keduanyapun kemudian
telah terlibat dalam pertempuran Wicitra dengan geram telah menyerang anak muda
yang berani mengganggu niatnya untuk mengambil Rantamsari pada saat yang sangat
menguntungkan itu.
Tetapi Wignyanapun telah
siap menghadapinya. Dengan tangkasnya Wignyana itu bergerak dengan cepat
menghindari serangan-serangan Wicitra. Namun pada setiap kesempatan, Wignyanalah
yang meloncat menyerang.
Semakin lama pertempuran
itupun menjadi semakin sengit Kedua belah pihak meningkatkan ilmu mereka
masing-masing. Keduanya saling menyerang dengan garangnya.
Wicitra yang kepalanya
telah dipenuhi dengan nafsunya itu, bertempur dengan kemarahan yang
menghentak-hentak di dadanya. dikerahkannya ilmunya untuk mengakhiri pertempuran
dengan cepat. Wicitra ingin menyelesaikan lawannya lebih cepat dari pertempuran
yang terjadi di longkangan, siapapun pemenangnya. Karena kedua belah pihak yang
bertempur di longkangan itu tentu akan memusuhinya.
Semakin lama, pertempuran
itupun menjadi semakin sengit. Apalagi ketika Wicitra dan Madyasta telah menarik
keris mereka masing-masing.
Namun, seperti Madyasta,
Wignyanapun telah ditempat sampai tuntas dalam olah kanuragan. Karena itu, maka
menghadapi Wicitra ternyata Wignyana tidak dapat segera ditundukkan.
Bahkan semakin lama
mereka bertempur, maka Wicitralah yang justru mengalami kesulitan.
“Anak iblis“ geram
Wicitra “aku akan benar-benar membunuhmu.“
Tetapi Wignyana itupun
menjawab “Paman. Aku minta paman segera menyerah. Paman akan aku tangkap dan aku
bawa menghadap ayahanda. Paman telah membuat keributan di Paranganom meskipun
barangkali paman masih tetap orang Kateguhan.“
“Persetan dengan
kekuasaan di Paranganom.“
“Masih ada kesempatan
paman. Menyerahlah.“ Tetapi Wicitra tidak mendengarkannya. Bahkan dengan
serta-merta Wicitra menjulurkan kerisnya menggapai dada Wignyana.
Wignyana bergeser setapak
sambil memiringkan tubuhnya. Namun. ujung keris Wicitra sempat menyentuh bahu
Wignyana.
Darah Wignyanalah yang
serasa telah mendidih. Luka di bahunya terasa sangat pedih. Karena itu, maka
Wignyanapun telah kehilangan kendali dirinya. Darah mudanya telah bergejolak
dengan dahsyatnya.
Karena itu,
serang-serangan Wignyana yang telah terluka itupun datang membadai.
Namun Wicitra masih juga
sempat berkata “Kau sudah terluka Wignyana. Darah akan terperas dari tubuhmu.
Kau akan menjadi lemah dan tidak berdaya. Akhirnya kau akan mati disini.“
Wignyana tidak menjawab.
Tetapi serangan-serangannya menjadi semakin sengit.
Wicitra benar-benar telah
terdesak. Ketika keris Wicitra terayun menyambar ke arah kening, Wignyana sempat
merendahkan dirinya, sehingga ujung keris itu tidak menyentuhnya. Namun justru
Wignyanalah yang selangkah maju, seakan-akan melekat di tubuh Wicitra.
Terdengar Wicitra
mengaduh tertahan. Ketika Wignyana bergeser surut sambil menarik kerisnya, maka
Wicitrapun terhuyung-huyung sambil mendesah menahan sakit.
“Iblis kau Wignyana“
geram Wicitra. Namun suaranyapun terputus. Wicitra itupun jatuh tersuruk di
tanah. Lambungnya koyak oleh keris Wignyana. Sementara itu darah bagaikan
dituangkan dari lukanya itu.
Wignyana bergeser surut.
Sementara itu, Rantamsari yang bersembunyi di dapur sempat melihat tubuh Wicitra
yang terbaring diam itu.
Mula-mula Rantamsari agak
ragu. Namun iapun kemudian melangkah mendekat sambil bertanya “Bagaimana dengan
paman, dimas.”
“Aku tidak berniat
membunuhnya kangmbok. Tetapi dalam pertempuran itu aku tidak dapat mengendalikan
diri lagi.”
“Jadi paman sudah mati?”
“Ya.”
. Paman tidak akan
menggangguku lagi?”
“Ya, kangmbok.”
Tiba-tiba saja Rantamsari
itupun berlari mendekap Wignyana sambil berdesis “Terima kasih dimas. Dimas
sudah menyelamatkan nyawaku. Bahkan lebih dari itu. Jika aku jatuh ketangan
paman Wicitra, maka nasibku tentu lebih buruk daripada mati.”
Wignyana menjadi
berdebar-debar. Namun kemudian iapun berkata “Kangmbok, bagaimana dengan bibi.”
Rantamsari bagaikan
tersadar. Dengan nada tinggi iapun berkata “Ibu sedang bertempur dengan orang
yang mengaku bernama Sura Branggah.”
“Marilah, kita
melihatnya.”
Keduanyapun kemudian
berlari-lari masuk ke ruang dalam, langsung ke pintu samping. Sambil menggandeng
tangan Rantamsari yang masih gemetar, keduanya turun ke longkangan.
Raden Ayu Prawirayuda
masih bertempur melawan Sura Branggah. Namun ternyata bahwa Sura Branggah salah
duga terhadap kemampuan Raden Ayu Prawirayuda. Srikandi Kateguhan itu bukan
hanya sekedar namanya. Bukan pula sekedar hiasan agar di Kateguhan terdapat
sekelompok prajurit yang cantik-cantik. Tetapi Raden Ayu Prawirayuda memang
berilmu tinggi.
Karena itu, maka
akhirnya, Sura Branggah tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak mampu
mengatasi kemampuan ilmu Raden Ayu Prawirayuda.
Sura Branggah itu
berteriak nyaring ketika ujung keris Raden Ayu Prawirayuda menembus dadanya,
langsung mengoyak jantung.
Kemarahan yang meledak
justru pada saat maut sedang datang menjemput.
Tubuh Sura Branggah
itupun kemudian terkapar di tanah. Darah mengalir dari lukanya. Sementara Raden
Ayu Prawirayuda berdiri termangu-mangu.
Raden Wignyana yang masih
menggandeng Raden Ajeng Rantamsari itupun melangkah mendekati dengan ragu-ragu.
Sementara jantung Wignyana berdesir ketika ia melihat keris bibinya berada di
tangan kirinya.
“Ibu “ desis Raden Ajeng
Rantamsari.
Ketika ia berpaling,
dilihatnya Raden Wignyana menggandeng Raden Ajeng Rantamsari. yang masih
gemetar.
Dengan serta-merta Raden
Ajeng Rantamsaripun segera berlari memeluk ibunya.
Raden Ayu Prawirayuda
menarik nafas panjang. Iapun memeluk anak perempuannya erat-erat.
“Kau tidak apa-apa
Rantamsari?”
“Tidak ibu. Dimas
Wignyana telah menolong aku.”
I
bunya termangu-mangu. Namun terasa titik-titik air mata Raden Ajeng Rantamsari
di bahunya.
“Apa yang terjadi,
Rantamsari?” bertanya ibunya.
“Paman Wicitra ibu.”
“Dimas Wicitra ? Kenapa
dengan dimas Wicitra?”
“Pada saat ibu bertempur,
aku telah diseret oleh paman Wicitra. Aku tidak sempat berteriak, karena mulutku
ditutup dengan tangannya. Untunglah bahwa dimas Wignyana melihatnya dan bahkan
menolong aku.”
“Dimana pamanmu sekarang
?”
“Paman sudah mati, ibu.”
“Mati ? Angger Wignyana
telah membunuhnya?”
“Mereka bertempur ibu.
Masing-masing membawa sebilah keris. Paman Wicitra tertusuk keris dan meninggal
seketika.”
Wajah Raden Ayu
Prawirayuda menjadi tegang. Dengan suara yang berat iapun berkata ”Tunjukkan
kepadaku, dimana tubuh pamanmu itu, Rantamsari.”
Rantamsari yang sudah
melepaskan pelukannya mengangguk sambil menjawab “Tubuh paman ada di longkangan
belakang.”
Raden Ayu Prawirayuda
segera beranjak dari tempatnya sambil berkata “Marilah angger Wignyana. Kita
lihat keadaan Wicitra.”
“Mari bibi.”
Bertiga mereka pergi ke
longkangan belakang. Namun ada berbagai pertanyaan di dada Wignyana. Ia melihat
ada sesuatu yang kurang mapan di hati bibinya.
“Mungkin perasaan bibi
masih bergejolak. Ia baru saja selesai bertempur.”
Sementara itu,
pertempuran antara Ki Tumenggung Sanggayuda dengan Ki Tumenggung Reksadrana
masih berlangsung. Keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka. Namun
perlahan-lahan Ki Tumenggung Sanggayuda mulai mendesak lawannya.
Meskipun demikian,
sekali-sekali dengan menghentakkan sisa tenaganya, Ki Tumenggung Reksadrana
masih mampu mengejutkan Ki Tumenggung Sanggayuda.
Dengan demikian, maka Ki
Tumenggung Wiradapa yang masih bertempur melawan ketiga orang lawannya mulai
yakin, bahwa ia tidak perlu mencemaskan Ki Tumenggung Sanggayuda.
Karena itu maka Ki
Tumenggung Wiradapa itupun segera mengakhiri perlawanan ketiga orang gegedug
yang sudah semakin tidak berdaya. Seorang diantara mereka menjadi pingsan karena
pukulan sisi telapak tangan di tengkuknya. Seorang lagi terlempar menimpa
dinding, sehingga tulang punggungnya serasa menjadi patah. Meskipun orang itu
tidak pingsan, tetapi ia tidak mampu untuk segera bangkit. Sedangkan seorang
yang lain terbaring diam setelah kaki Ki Tumenggung Wiradapa mengenai dadanya.
Demikian ketiga lawannya
tidak berdaya, maka Ki Tumenggung itupun segera turun ke halaman. Di halaman
Wismaya dan Raden Madyasta masih bertempur dengan sengitnya. Namun kehadiran Ki
Tumenggung Wiradapa telah mempercepat pertempuran itu.
Lawan-lawan Wismaya dan
Raden Madyasta itupun menjadi tidak berdaya karenanya. Adalah diluar kemauannya,
ketika ujung pedang Wismaya menghunjam ke dada seorang lawannya langsung
menyentuh jantung, sehingga lawannya itupun tidak akan pernah bangkit lagi.
Sedangkan seorang yang lain, langsung melemparkan senjatanya dan menyerah.
Sedangkan seorang lawan
Raden Madyasta yang tersentuh tangan Ki Tumenggung Wiradapa telah terkapar pula
ditanah, sementara kedua orang yang lain telah terluka. Bahkan seorang
diantaranya parah.
Demikian lawan-lawan
mereka tidak berdaya, maka Madyastapun bertanya “Bagaimana dengan paman
Tumenggung Sanggayuda, paman?”
“Pamanmu masih bertempur
di longkangan, ngger.”
Madyasta mengerutkan
dahinya. Iapun kemudian berkata kepada Wismaya “Kakang. Ikat mereka dahulu,
setelah itu pergilah ke longkangan.”
“Baik, Raden.”
“Paman, marilah kita
pergi ke longkangan terlebih dahulu.” berkata Raden Madyasta pula. Demikianlah,
maka Raden Madyasta dan Ki Tumenggung Wiradapa telah memasuki longkangan,
sementara Wismaya mengikat para brandal yang sudah tidak berdaya. Tetapi mereka
tidak boleh terlepas.
Baru kemudian Wismayapun
telah menyusul ke longkangan pula.
Di longkangan Ki
Tumenggung Sanggayuda dan Ki Tumenggung Reksadrana masih bertempur dengan
sengitnya. Kedua-duanya telah menggenggam keris di tangan mereka.
“Ayo Wiradapa“ berkata Ki
Tumenggung Reksadrana “jika kau sayang kepada kawanmu ini, turun ke arena. Aku
akan membunuh kalian berdua bersama-sama. Bahkan biarlah anak Adipati itu
melibatkan dirinya pula bersama Senapatinya.”
“Kau tidak usah terlalu
banyak sesumbar Reksadrana “ sahut Ki Tumenggung Sanggayuda “aku sendiri akan
dapat melumatkanmu.”
Namun hampir di luar
sadarnya Ki Tumenggung Reksadrana itu bergumam “Dimana Sura Branggah itu.”
“Kau mencari kawan?”
bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Bukan aku. Tetapi
seharusnya Sura Branggah mengurusi orang-orangnya yang rapuh itu. Mereka tidak
pantas untuk turun ke medan pertempuran bersama Ki Tumenggung Reksadrana.”
“Kau kira kau sendiri
pantas untuk berada di medan melawan aku.”
“Setan kau Sanggayuda.”
Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Ki Tumenggung Reksadrana telah
mengerahkan kemampuan ilmunya. Kerisnya bergerak menyambar-nyambar.
Namun keris di tangan Ki
Tumenggung Sanggayudapun tidak kalah mendebarkan. Kerisnya itu berputaran dengan
cepat. Pantulan cahaya lampu minyak yang redup pada pamor kerisnya, bagaikan
cahaya bintang yang berkeredipan kebiru-biruan. Sementara itu keris Ki
Tumenggung Reksadrana seakan-akan memancarkan bara yang kemerah-merahan.
Ki Tumenggung Wiradapa,
Raden Madyasta dan Wismaya memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang
berdebaran. Namun semakin lama merekapun menjadi semakin yakin, bahwa Ki
Tumenggung Sanggayuda akan dapat menguasai lawannya.
Meskipun demikian, ujung
keris Ki Tumenggung Reksadrana itupun telah menggores lengan Ki Tumenggung
Sanggayuda, sementara ujung keris Ki Tumenggung Sanggayuda telah melukai bahu Ki
Tumenggung Reksadrana.
Luka di tubuh kedua orang
yang sedang bertempur itu telah memanasi darah mereka, sehingga merekapun
bertempur semakin garang.
Tetapi akhirnya Ki
Tumenggung Reksadrana tidak dapat mengingkari kenyataan. Ketika tenaga Ki
Tumenggung Reksadrana mulai menyusut, sementara Ki Tumenggung Sanggayuda masih
tetap bertempur dengan garangnya, maka Ki Tumenggung Reksadrana menjadi semakin
terdesak.
Namun Ki Tumenggung
Reksadrana masih mencoba menghentakkan kemampuannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan
kemampuannya, Ki Tumenggung Reksadrana mencoba untuk menyelesaikan pertempuran.
Pada saat ia melihat kesempatan yang terbuka, maka Ki Tumenggung Reksadrana
itupun segera meloncat dan menikam dada Ki Tumenggung Sanggayuda di arah
jantung.
Tetapi sebenarnyalah
bahwa Ki Tumenggung Sanggayuda tidak pernah lengah. Karena itu, ketika Ki
Tumenggung itu melihat serangan lawannya yang datang dengan cepat mengarah ke
dadanya, maka Ki Tumenggung itupun masih sempat mengelak dengan bergeser
kesamping sambil memiringkan tubuhnya.
Justru pada saat itu, Ki
Tumenggung Sanggayuda telah memukul pergelangan tangan Ki Tumenggung Reksadrana
dengan hulu kerisnya.
Pukulan itu sedemikian
kerasnya, sehingga Ki Tumenggung Reksadrana merasa pergelangan tangannya
seakan-akan telah retak. Bahkan Ki Tumenggung Reksadrana tidak mampu
mempertahankan keris di tangannya, sehingga kerisnya telah terlempar beberapa
langkah daripadanya.
Ki Tumenggung Reksadrana
itu segera meloncat surut. Namun Ki Tumenggung Sanggayuda tidak melepaskannya.
Ki Tumenggung Sanggayudapun meloncat pula sambil melekatkan ujung kerisnya di
dada Ki Tumenggung Reksadrana.
“Bukan aku, tetapi kaulah
yang akan mati, Reksadrana.”
“Bunuh aku“ geram Ki
Tumenggung Reksadrana yang terdesak. Ia sudah kehilangan kerisnya, sementara
keris lawannya telah lekat didadanya.
“Aku memang akan
membunuhmu“ geram Ki Tumenggung Sanggayuda “sekarang katakan pesanmu .yang
terakhir sebelum aku menghujamkan kerisku.“
“Persetan dengan pesan
itu“ Ki Tumenggung Reksadrana justru membentak “bunuh aku.“
“Bagus. Aku akan membunuh
tanpa pesan terakhir yang akan kau ucapkan lewat mulutmu.“
Namun Ki Tumenggung
Wiradapa bergeser maju selangkah sambil berkata “Sudahlah adi Sanggayuda. Adi
tidak perlu membunuh orang itu.“
“Aku sangat membencinya
kakang. Sejak kita menghadap Kangjeng Adipati Yudapati, orang ini sangat
menjengkelkan.”
“Bunuh aku. Jangan banyak
bicara” teriak Ki Tumenggung Reksadrana “anakku laki-laki memang sudah menunggu
aku”
“Bagus. Tengadahkan
dadamu. Aku akan menusuk sampai ke jantung.“
“Tidak “ Ki Tumenggung
Wiradapa menggeleng “jalan pintas itu terlalu sederhana bagi Ki Tumenggung
Reksadrana. Tetapi ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap
Kangjeng Adipati di Paranganom dan Kangjeng Adipati di Kateguhan.“
“Setan kau Wiradapa.
Bunuh aku. Bunuh aku.“
“Berikan tanganmu. Kau
harus diikat tangan dan kakimu dengan ikat kepalamu sendiri.“
“Tidak. Aku tidak akan
menyerah. Aku akan bertempur sampai mati.“
“Kakang“ berkata Ki
Tumenggung Sanggayuda dengan geram “ijinkan aku membunuhnya. Aku menjadi muak
melihat wajahnya serta mendengar suaranya.“
“Bagus. Bunuh aku jika
kamu berani.“
“Adi Sanggayuda. Bukankah
kau tidak sendiri? Jika Ki Tumenggung Reksadrana tidak mau menyerah, maka kita
berempat akan menangkapnya beramai-ramai. Mengikatnya, seperti mengikat kaki
lembu atau kerbau yang akan disembelih, Kemudian kita akan mengikatnya pada
sebatang bambu. Kita usung orang ini ke dalem kadipaten. Sementara itu, biarlah
orang-orang terbangun yang menyaksikannya.“
“Setan kau, iblis,
genderuwo. Apakah kau akan menghinakan aku ?”
“Jika kau tidak mau
menyerah, maka kau akan kami hinakan sepanjang jalan. Tetapi jika kau menyerah,
maka kau akan dibawa sebagai seorang tawanan.“
Ki Tumenggung Reksadrana
menggeram. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Ia harus memilih. Tetapi Ki
Tumenggung Reksadrana tidak mau dihinakan sepanjang jalan. Seandainya ia dengan
nekad melawan, maka keempat orang Paranganom itu tentu akan dapat menangkapnya.
Mereka akan benar-benar menyeretnya sepanjang jalan ke Kadipaten seperti
menyeret seekor kerbau yang telah dieoeok hidungnya.
Karena itu, maka dengan
nada berat iapun berkata “Baik. Aku menyerah.“
Ki Reksadrana itu tidak
dapat mengelak lagi ketika kemudian tangannya diikat pada sebatang pohon di
longkangan dengan ikat kepalanya sendiri.
“Kau harus menunggu kami
disini, Ki Tumenggung“ berkata Raden Madyasta “kami masih akan mencari bibi
Prawirayuda.“
Ki Tumenggung Reksadrana
yang terikat itu tidak menjawab.
“Kakang Wismaya“ berkata
Raden Madyasta “jaga paman Tumenggung, kau tahu apa yang harus kau lakukan jika
paman Reksadrana mencoba untuk berbuat macam-macam. Tetapi satu hal yang harus
kau perhatikan, jangan bunuh paman Reksadrana. Semakin buruk sikapnya, maka akan
semakin buruk pula perlakukan atas dirinya.“
“Baik, Raden.“
“Paman Tumenggung berdua“
berkata Raden Madyasta “marilah kita cari bibi Prawirayuda serta kangmbok
Rantamsari.“
“Marilah Raden.“
“Kita juga masih harus
menemukan Sura Branggah jika ia tidak melarikan diri.“
“Jangan-jangan Sura
Branggah itu telah mengganggu Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari
“desis Ki Tumenggung Wiradapa.
“Jika Sura Branggah itu
mengganggu Raden Ayu Prawirayuda dan Raden Ajeng Rantamsari, maka Reksadranalah
yang akan memikul akibatnya, karena ialah yang harus bertanggung jawab atas
kejadian-kejadian di rumah ini. Tentu juga kematian Rembana dan Sasangka.
“Tidak. Bukan aku yang.
membunuh Rembana dan Sasangka.“
“Siapa “ bertanya
Wismaya.
“Wicitra.“
“Jika kau berbohong, maka
kau akan diarak setelah dipotong rambutmu sampai kelihatan batok kepalamu.“
Reksadrana itu menggeram.
Dalam pada itu, Raden
Madyasta, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun segera masuk ke
ruang dalam untuk mencari Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari.
Sementara itu, Raden Ayu
Prawirayuda telah pergi ke longkangan belakang. Raden Ajeng Rantamsari yang
masih saja gemetar itu berpegangan lengan Wignyana yang mengikuti ibunya urttuk
melihat Wicitra yang terbaring diam.
Sejenak kemudian, mereka
telah berada di longkangan belakang. Perlahan-lahan Raden Ayu Prawirayuda
mendekati tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa lagi.
“Kau bunuh Wicitra angger
Wignyana?“ desis Raden Ayu Prawirayuda sambil berjongkok di sisi tubuh adiknya
yang menelungkup.
“Sudah aku katakan, bibi.
Aku tidak sengaja membunuhnya.“
“Mereka bertempur ibu.
Jika diam Wignyana tidak membunuhnya, maka tentu dimas Wignyanalah yang akan
dibunuhnya.“
Raden Ayu Prawirayuda itu
menarik nafas panjang. Perlahan-lahan Raden Ayu itupun telah menelentangkan
tubuh adiknya yang mulai membeku.
“Dimas“ suaranya dalam
sekali.
Raden Wignyana masih saja
termangu-mangu. Ia tidak tahu, apa yang sedang berkecamuk di dada bibinya.
Apakah ia akan mengucapkan terima kasih, karena ia sudah menyelamatkan
Rantamsari atau justru akan marah karena adiknya telah terbunuh.
“ibu“ berkata Rantamsari dengan nada dalam “dimas Wignyana telah menolong aku.“
Raden Ayu Prawirayuda itu
mengangguk-angguk. Namun nampak wajahnya menjadi sangat muram.
Sementara itu, Raden
Wignyana ternyata tidak sekedar menebak apa yang bergejolak didalam hati
bibinya, tetapi ia mulai mengurai peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi di
rumah itu.
Wignyana dan Rantamsari
terkejut ketika ia melihat Raden Ayu Prawirayuda itu bangkit berdiri.
Dipandanginya Raden Wignyana dengan tatapan mata yang tajam. Seakan-akan sorot
matanya menghunjam menusuk langsung ke jantung.
“Angger Wignyana“ Suara
Raden Ayu Prawirayuda itu bernada berat “Kau telah membunuh adikku, Wicitra“
Dada Wignyana bergejolak.
Yang pernah terjadi itu seakan-akan membayang semakin jelas diangan-angannya.
“Bibi“ berkata Wignyana
kemudian “sudah aku katakan, aku tidak sengaja membunuhnya. Aku hanya ingin
menyelamatkan kangmbok Rantamsari.“
“Apapun alasannya, aku
tidak ingin saudaraku satu-satunya ini terbunuh.“
“Ibu“
“Menyingkirlah
Rantamsari. Aku akan membuat perhitungan dengan orang yang telah membunuh
adikku. Dimasa kecil aku selalu mendukungnya Menenangkannya jika ia menangis.
Ketika Wicitra mulai dapat merangkak, aku sudah kuat mendukungnya dan aku pula
yang selalu menjaganya. Aku tidak merelakan kematiannya.“
“Tetapi paman itu berniat
buruk kepadaku ibu.“
“Aku sependapat bahwa
niatnya harus dicegah. Tetapi tidak dengan membunuhnya.“
“Dimas Wignyana tidak
sengaja membunuh ibu.“
“Diamlah Rantamsari. Kau
juga harus mawas diri. Pamanmu tidak akan mengganggumu jika ia tidak melihat
tingkah lakumu.“
“Kenapa aku ibu?“
“Sebagai seorang gadis,
maka hatimu terlalu rapuh. Kau dengan mudah tertarik kepada Rembana. Sepeninggal
Rembana, pada waktu yang terhitung pendek, kau sudah melekat pada Sasangka.
Sekarang kau sudah berpegangan tangan angger Wignyana.“
“Dimas Wignyana sudah
menolongku.“
“Aku tidak peduli. Aku
akan menuntut balas kematian adiku.“
“Ibu.”
“Menyingkirlah
Rantamsari.“
“Bibi“ tiba-tiba saja
Wignyana memotong “ persoalannya tentu bukan karena aku telah membunuh paman
Wicitra.”
“Persoalannya apa saja
menurut kau ngger?“
“Mimpi bibi yang ingin
meraba matahari di langit. Bibi. Bagaimana menurut bibi, jika aku menginginkan
kangmbok Rantamsari untuk menjadi isteriku ?”
“Tidak. Tidak ada seorang
laki-lakipun. yang akan menjadi suaminya selain. laki-laki yang sesuai dengan
keinginanku....“
“Aku sudah bertekad untuk
menikahi kangmbok Rantamsari.“
“Karena itu, kau bunuh
Rembana dan kemudian Sasangka?“
“Bibi yakin akan hal
itu?“
“Ya. Kau tidak mau
terhalang oleh keduanya pada saat-saat Rantamsari dekat sekali dengan mereka.“
“Seandainya demikian,
maka apa yang akan bibi lakukan? Aku adalah putera Kangjeng Aduipati
Prangkusuma: Penguasa tunggal di Kadipaten ini. Apakah bibi akan berani melawan
ayahanda? Bukankah ayahanda justru telah menolong bibi ketika. bibi harus pergi
dari Kateguhan.“
“Cukup. Aku memang
menginginkan menantu putera Adipati Paranganom, ngger. Tetapi bukan kau. Aku
menginginkan angger Madyasta karena angger Madyastalah yang akan menggantikan
kedudukan dimas Adipati Prangkusuma.“
” Setelah bibi gagal
membujuk kangmas Adipati Yudapati.“
“Wignyana”
“Bukankah memang begitu
bibi?“
“Cukup. Sekarang aku akan
membunuhmu. Kau juga akan menjadi penghalang hubungan Rantamsari dengan angger
Madyasta yang memang aku inginkan.“
“Nah, jika demikian,
siapakah yang telah membunuh Rembana dan Sasangka ? Bibi, kenapa bibi
menggenggam hulu keris bibi dengan tangan kiri? Dan kenapa Rembana dan Sasangka
luka di lambung sebelah kiri pula. Seseorang yang menusuk dari belakang dengan
licik, tentu menggenggam pisau belatinya dengan tangan kiri pula “
“Cukup. Cukup.“
“Bukankah bibi yang telah
membunuh Rembana dan Sasangka?“
I
“Baik. Baik. Aku tidak akan ingkar. Aku telah me-nyingkirkan kedua orang
Senapati kerdil yang tidak tahu diri itu. Aku bunuh mereka agar mereka tidak
lagi berani mendekati Rantamsari, calon permaisuri seorang Adipati.“
“Ibu. Apakah benar ibu
yang melakukannya?“
“Ya. Rantamsari. Aku
melakukannya bagi kebahagiaanmu. Kau tidak boleh terhina oleh sikap kangmasmu
Yudapati. Karena itu kau harus menjadi isleri angger Madyasta yang kelak akan
menggantikan pamanmu Kangjeng Adipati Prangkusuma.”
“Jadi, itulah yang sudah
ibu lakukan?“
“Ya. Sekarang aku akan
menyingkirkan Wignyana yang gila ini.“
“Tidak. Ibu tidak dapat
melakukannya.“
“Bibi akan membunuhku
dihadapan saksi?“
“Tidak akan ada saksi.“
“Kangmbok Rantamsari.“
“Tidak. Kami berdua akan
menangisi mayatmu, ngger. Kau dan Wicitra telah bertempur karena kau ngin
menyelamatkan Rantamsari. Tetapi kalian telah sampyuh, mati bersama. Rantamsari
tidak akan pernah-menceriterakan apa yang telah terjadi di longkangan ini.”
“Ibu. Aku tidak mau.”
“Jangan menyesali nasibmu
yang buruk, ngger. Aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan Rantamsari
dari tangan Wicitra. Tetapi sayang, bahwa aku harus membunuhmu.”
Wignyana tidak sempat
menjawab. Dengan cepat Raden Ayu Prawirayuda mengayunkan kerisnya ke tubuh
Wignyana.
Namun adalah diluar
dugaan, bukan saja Wignyana berusaha menghindar, tetapi justru Rantamsari telah
meloncat menghalangi ibunya.
Namun, malangnya gadis
itu. Keris di tangan kiri ibunya itu justru telah tertusuk di lambung anak
gadisnya.
Rantamsari berdesah
kesakitan. Sementara itu, Raden Ayu Prawirayudalah yang menjerit tinggi “
Rantamsari.”
Rantamsari terhuyung.
Iapun kemudian jatuh ketangan ibunya.
Perlahan-lahan Raden Ayu
Prawirayuda meletakkan kepala anak gadisnya itu dipangkuannya. Titik-titik air
matanya telah meleleh dan jatuh di wajah anaknya.
“Rantamsari. Kenapa kau
melakukannya, ngger.” Raden Ayu Prawirayuda benar-benar menangis. Ia tidak
sekedar berpura-pura seperti yang dilakukannya pada saat Rembana dan Sasangka
mati.
“Ibu“
“Bertahanlah ngger. Kau
akan sembuh.”
“Tidak ibu. Aku akan
mati. Jangan tangisi kematianku. Banyak cacat dan cela didalam hidupku. Semoga
yang Maha Agung mengampuni aku.”
“Rantamsari“ ibunya
menjerit tinggi ketika
Rantamsari itu memejamkan matanya.
Sejenak Raden Ayu
Prawirayuda menangisi anak gadisnya yang telah diperjuangkannya untuk menggapai
tempat terbaik baginya. Namun tiba-tiba anak gadisnya itu terbunuh, justru
karena tangannya.
Raden Wignyanapun
kemudian berjongkok pula disampingnya. Kepalanya menunduk memandangi wajah Raden
Ajeng Rantamsari. Gadis itu memang cantik. Sayang, bahwa sebelumnya ia tidak
terlalu menghiraukannya, sehingga ia tidak pernah merasa tertarik kepadanya.
Namun tiba-tiba Raden Ayu
Prawirayuda itu meletakkan tubuh Rantamsari. Dengan serta-merta iapun bangkit
berdiri.
Raden Wignyana terkejut.
Seakan-akan diluar sadarnya, iapun bangkit berdiri pula.
“Kau telah membunuh
anakku, ngger. Sekarang, kaupun harus mati. Bagiku kau ternyata lebih buruk dari
Rembana dan Sasangka. Karena itu, maka aku akan membunuhmu sekarang. Justru
tanpa saksi.”
“Bibi. Aku tidak ingin
bertempur melawan bibi.”
“Melawan atau tidak
melawan, aku akan membunuhmu. Tetapi seandainya kau berusaha melawanpun, tentu
akan sia-sia. Aku adalah Srikandi Kateguhan. Aku adalah seorang yang berilmu
sangat tinggi.”
“Bibi memaksaku untuk
bertempur?”
“Ya.”
“Baiklah bibi. Tetapi aku
mohon maaf. Aku terpaksa
melakukannya.”
“Aku maafkan kau
Wignyana. Tetapi aku tidak dapat memaafkanmu, bahwa kau sudah menyebabkan
Rantamsari terbunuh.”
Wignyana tidak mempunyai
pilihan lain. Meskipun ia tahu bahwa bibinya mempunyai ilmu yang sangat tinggi,
tetapi ia tidak dapat membiarkan bibinya itu menikam jantungnya.
Karena itu, bagi Wignyana
seandainya ia harus mati, maka biarlah ia mati dengan menggenggam senjata di
tangannya,
Wignyanapun telah
menggenggam kerisnya pula ketika Raden Ayu Rantamsari mulai bergeser.
Namun tiba-tiba saja
terdengar suara dari pintu longkangan “Sudah bibi. Sudah cukup. Rembana,
Sasangka dan sekarang kangmbok Rantamsari.”
Raden Ayu Prawirayuda
terkejut. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Raden Madyasta, Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda.”
Sejenak Raden Ayu
Prawirayuda itu bagaikan membeku. Perlahan-lahan Raden Madyasta melangkah
mendekatinya.
“Apakah bibi masih akan
membunuh lagi? Mungkin bibi memang berniat membunuh dimas Wignyana. Tetapi
setelah kangmbok Rantamsari terbunuh, mungkin bibi juga berniat membunuh aku.”
Raden Ayu Prawirayuda itu
memandang Raden Madyasta dengan mata yang menjadi redup. Tiba-tiba saja Raden
Ayu Prawirayuda itu menyarungkan kerisnya dan berlutut di hadapan Madyasta.
Sambil menyerahkan kerisnya terdengar suara Raden Ayu Prawirayuda yang tersendat
di-sela-sela isaknya “Ampunkan aku ngger, Aku telah melakukan kesalahan yang
sangat besar. Aku menyerah kepadamu untuk menerima hukuman apa saja yang akan
angger timpakan kepadaku.”
“Bukan aku yang akan
menghukum bibi. Tetapi bibi akan kami bawa menghadap ayahanda Adipati di
Paranganom. Justru bersama dengan Ki Tumenggung Reksadrana.“
“Ki Tumenggung
Reksadrana?“
“Ya. Ki Tumenggung
Reksadrana telah datang ke rumah bibi. Persoalan yang sesungguhnya tentu akan
terungkap kelak.“
Raden Ayu Prawirayuda
tidak dapat membendung air matanya. Iapun kemudian berpaling kepada Wignyana
sambil berkata “Ampunkan bibi, ngger. Bibilah yang bersalah. Bukan angger; “
“Sudalah, bibi. Sebaiknya
serahkan segala-galanya kepada kebijaksanaan ayahanda.“
“Ya, bibi. Ayahanda tentu
akan bersikap adil. Aku mendengar semua percakapan bibi dengan dimas Wignyana
dari belakang pintu. Sayang bahwa aku tidak segera mendekat sehingga nasib
kangmbok Rantamsari mungkin akan berbeda. Tetapi agaknya Yang Maha Agung telah
menghendakinya sehingga yang terjadi itu memang harus terjadi.“
Malam itu, Wismaya telah
memanggil sekelompok prajurit dari baraknya untuk memasuki rumah Raden Ayu
Prawirayuda. Raden Madyasta kemudian memerintahkan para prajurit itu untuk
berjaga-jaga, sementara sekelompok yang lain membawa Ki Tumenggung Reksadrana
dan Raden Ayu Prawirayuda ke bilik tahanan mereka masing-masing. Menunggu
saatnya mereka akan dihadapkan kepada Kangjeng Adipadi Prangkusuma.
Agaknya mendung di
Kadipaten Pranganom telah terkuak. Raden Ayu Prawirayuda telah terbakar oleh
keinginannya untuk meraba matahari yang menyala diatas langit Paranganom.
Malam berikutnya,
Madyasta dipanggil menghadap oleh ayahandanya bersama Wignyana. Dengan nada
berat Kangjeng Adipati itupun berkata Madyasta. Aku telah mendapat pelajaran
yang sangat berharga dari peristiwa ini, bagaimana aku harus menilai seseorang.“
“Maksud ayahanda?“
bertanya Raden Madyasta.
“Bibimu adalah seorang
yang berdarah bangsawan. Meskipun demikian sifat dan kelakuannya tidak dapat
menjadi tauladan. Demikian pula Rantamsari. Ia bukan seorang gadis yang berhati
teguh. Hatinya dengan cepat merunduk jika angin bertiup.
“Ya, ayahanda.“
“Karena itu, aku dapat
mengerti jalan pikiranmu. Bahwa bobot dan nilai seseorang tidak semata-mata
ditentukan oleh darah keturunannya.“
Jantung Raden Madyasta
menjadi berdebar-debar. Sementara itu ayahandanya berkata pula “Karena itu,
Madyasta. Aku tidak akan mencegah niatmu untuk mengangkat derajat anak Demang
Panjer itu kelak di kadipaten Paranganom ini.“
“Ayahanda.“
“Pergilah ke Panjer.
Katakan, bahwa jalan kalian berdua akan terbuka.“
“Terima kasih ayahanda.“
“Selamat, kangmas.“
Madyasta berpaling,
Sambil tersenyum iapun berkata kau akan mempunyai saudara yang lahir dan
dibesarkan di pedesaan dimas.“
“Bukankah kita adalah
anak-anak padepokan.“
Madyasta mengangguk.
Sementara itu sambil
tersenyum. Kangjeng Adipati berkata “Tetapi jauh sebelum peristiwa besar dalam
hidupmu terjadi, gadis itu harus sudah berada di sini. Ia harus diperkenalkan
dengan segala macam upacara dan adat yang berlaku. Ia harus diajarkan untuk
menjadi seorang gadis yang mapan untuk menjadi sisihan seorang Adipati.“
Raden Madyastapun
mengangguk dalam-dalam sambil menyembah, terdengar suaranya yang bergetar “Terima
kasih ayahanda.”
Dalam pada itu, beberapa
hari kemudian, Kangjeng Adipati duduk dihadap oleh beberapa orang pemimpin
Paranganom. Pemimpin pemerintahan dan pemimpin keprajuritan. Dihadapkan kepada
Kangjeng Adipati dalam pertemuan itu, Raden Ayu Prawirayuda dan KI Tumenggung
Reksadrana.
Namun tidak hanya
Kangjeng Adipati Prangkusuma dari Paranganom yang duduk dihadap oleh para
pemimpin itu. Tetapi juga Kangjeng Adipati Yudapati dari Kateguhan.
Mereka berdualah yang
akan menentukan, hukuman apa yahg akan ditrapkan kepada Raden Ayu Prawirayuda
serta Ki Tumenggung Reksadrana dari Kateguhan itu setelah segala tingkah laku
mereka terungkap.
Langit di Paranganom
terasa menjadi semakin cerah. Anginpun bertiup membaurkan udara yang segar.
Perlahan-lahan hubungan baik antara Paranganom dan Kateguhan telah dibina
kembali.
TAMAT.