Jilid 01
SH Mintardja
Meraba Matahari
Dicetak dan diterbitkan oleh :
Badan Penerbit “Kedaulatan Rakyat”
Yogyakarta
KATA PENGANTAR
Para Pembaca Yang
Budiman
Ceritera “JEJAK DI
BALIK KABUT” telah sampai jilid terakhir pada penerbitan bulan lalu. Mulai bulan
ini telah terbit satu ceritera baru. Ceritera rekaan murni yang pernah
ditayangkan sebagai ceritera “Kethoprak Sayembara” lewat stasiun TVRI
Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Bandung yang penyelenggaraannya didukung oleh
B.P. Kedaulatan Rakyat, dengan judul “KEBRANJANG ING GEGAYUHAN”
Ternyata “Kethoprak
Sayembara” ini sangat menarik perhatian para pemirsa Televisi.
Dalam buku ini,
ceritera tersebut saya susun sebagai satu ceritera yang tentu saja berbeda
dengan “scenario” untuk layar Televisi.
Dengan beberapa
sisipan dan pemanis disana-sini mudah-mudahan ceritera ini pantas untuk dibaca.
Ceritera
“KEBRANJANG ING GEGAYUHAN” dalam penampilannya yang baru serta berbahasa
Indonesia berjudul “MERABA MATAHARI” berkisah tentang kehidupan yang mempunyai
berbagai macam relung-relung yang kadang-kadang sulit untuk diselami.
Sudut-sudut yang terang dan sudut-sudut yang gelap seakan-akan tidak terbatas.
Kesadaran akan kegelapan biasanya baru datang kemudian setelah telapak tangannya
mulai meraba-raba tajamnya ujung batu karang serta merasa perih.
Tetapi telapak
tangan itupun akan segera terbakar apabila kita dengan congkak mencoba meraba
matahari.
Namun mereka yang
tetap berpegang pada kekuasaanNya, maka betapapun derasnya arus akan dapat
tersebarangi, betapapun tingginya gunung akan dapat terlompati.
Meskipun ceritera
ini ceritera rekaan murni, namun ceritera ini tetap akan berbicara tentang
manusia yang kita kenali dari berbagai sisi pandang serta berpijak pada warna
kehidupan di bumi sendiri.
Penulis : SH
Mintarjda
Bab 01
Ketika kabut mulai
terkuak, maka cahaya fajarpun mulai mewarnai langit, namun titik-titik embun
masih bergayutan diujung dedaunan.
Dinginnya malam masih
terasa, meskipun perlahan-lahan pucuk-pucuk pepohonan bagaikan bermunculan dari
kegelapan di lembah-lembah perbukitan.
Di lereng bukit berbatu
padas, dua orang anak muda yang berloncatan, saling menyerang dan bertahan,
kedua-duanya memiliki bekal ilmu yang tinggi. Kaki-kaki mereka dengan tangkasnya
melenting dari bongkah-bongkah batu padas ke bongkah-bongkah yang lain,
seakan-akan terbang berputaran diantara bebatuan.
Sekali-kali serangan
merekapun mengena, sekali-kali berbenturan dengan keras sekali sehingga keduanya
tergetar dan terodorong surut berberapa langkah.
Namun ketika cahaya
langit menjadi semakin terang, maka keduanyapun menjadi semakin garang,
tangan-tangan mereka yang luput dari sasaran dan menyentuh batu-batu padas di
tebing, maka tebing itupun telah berguguran. Pepohonan bagaikan diguncang,
cabang dan ranting yang tersentuh tangan kedua anak muda itupun berpatahan.
Bukit dibawah kaki mereka
seakan-akan telah bergetar.
Seluruh tubuh anak muda
itu sudah basah, bukan oleh embun saja, tetapi oleh keringat yang bagaikan
diperas dari tubuh mereka. Untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri, maka keringat
merekapun menjadi semakin banyak mengalir.
Ketika seorang diantara
mereka meloncat dengan cepatnya menyerang dengan kakinya dan tepat mengenai dada
lawannya, maka lawannya telah terdorong surut beberapa langkah. Tubuhnya
membentur sebongkah batu padas, sehingga kemudian terbanting jatuh.
Dengan tangkasnya yang
seorang lagi telah memburunya. Pada saat lawannya akan bangkit, maka kakinyapun
telah terayun bersamaan dengan tubuhnya yang berputar.
Tetapi ternyata
serangannya itu tidak mengenai sasaran, karena lawannya dengan cepat bergesar
dan bahkan menjatuhkan dirinya.
Kaki yang sudah terlanjur
terayun dengan derasnya itu telah menghantam batu padas pada tebing bukit padas
itu.
Batu pada itupun telah
pecah berserakan, untunglah bahwa lawannya dengan cepat berguling, melenting dan
sekali berputar diudara, kemudian bangkit berdiri beberapa langkah dari tebing
yang runtuh itu.
Bahkan dengan cepat pula,
anak muda itu telah meloncat dengan tangan terjulur lurus. Jari-jarinya yang
lurus merapat telah berhasil menyusup pertahanan lawannya mengenai lambung.
Lawannya terdorong surut
sambil menyeringai menahan sakit, namun pada saat anak muda itu siap memburu,
terdengar suara tepuk tangan dari sela-sela bebatuan di bukit itu.
Kedua anak muda yang
bertempur itupun berhenti dan berloncatan surut mengambil jarak.
Keduanyapun kemudian
berdiri tegak menghadap kepada orang yang bertepuk tangan itu. Serentak
keduanyapun mengangguk hormat.
Seseorang yang sudah
melewati usia setengah abad berdiri tegak sambil tersenyum memandang kedua orang
anak muda itu. Orang itu masih terlihat kokoh meskipun rambutnya yang
selembar-selembar berderai di bawah ikat kepalanya sudah memutih.
“Sudah cukup ngger,
kalian sudah berlatih hampir setengah malam, angger berdua tentu sudah letih,
mungkin di beberapa bagian tubuh kalian terasa sakit, nyeri dan barangkali
pedih, marilah, kita pulang untuk berisitirahat.”
“Ya guru” jawab keduanya
hampir berbarengan.
Keduanyapun kemudian
berjalan bersama di belakang orang tua itu.
Bertiga mereka berjalan
di jalan setapak, di lereng perbukitan yang membujur sejajar dengan pantai
lautan yang berombak ganas.
“Lihatlah ngger” berkata
orang tua itu “Gelombang itu bagaikan gejolak kehidupan, ia tidak pernah
berhenti, susul menyusul dan silih berganti.”
Sambil berjalan diatas
jalan sempit di perbukitan, mereka menyaksikan debur ombak yang tidak pernah ada
hentinya, jika angin berhembus semilir, maka gejolak ombak itu memang agak
mereda, tetapi jika langit menjadi buram, angin mulai menderu, maka praharapun
datang mendorong ombak yang semakin besar, sehingga seolah-olah beribu bukit
berterbangan bertimbun di tepian. Namun kemudian kembali meluncur hanyut ke
kedalaman lautan yang luas.
“Lihatlah gunung itu”
berkata orang tua itu pula.
Anak-anak muda itupun
kemudian memandang kekejauhan. Sebuah gunung yang tinggi menjulang menggapai
langit, mega-mega putih yang mengalir dari selatan, bagaikan telah tersangkut di
ujungnya yang menjadi kemerah-merahan oleh cahaya matahari pagi yang mulai
terbit.
“Didalam gejolak
kehidupan yang kadang-kadang bagaikan diguncang oleh prahara, hati kita harus
tetap sekukuh dan seteguh gunung itu.” Berkata orang tua itu pula.
Sambil berjalan kedua
orang anak muda itu masih juga memandangi gunung yang berdiri tegak dan tidak
tergoyahkan oleh prahara dan badai, tidak tergeser oleh angin pusaran dan tidak
menggeliat oleh panasnya api.
Beberapa saat kemudian,
ketiga orang itu sudah mulai menuruni tebing perbukitan yang curam. Tanah
berbatu padas dibawah kaki mereka kadang-kadang terasa licin oleh embun,
tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.
Tetapi mereka sudah
terbiasa, jari-jari mereka bagaikan mampu mencengkeram jika tanah terasa licin
oleh embun. Tajamnya bebatuan terasa menusuk telapak kaki mereka.
Sekali-sekali mereka
harus meloncati celah-celah perbukitan, menelusuri relung-relung yang tajam.
Beberapa saat kemudian,
mereka telah berada di ngarai yang datar. Dijalan bulak persawahan yang rata.
Disekitarnya terdapat batang-batang padi yang hijau menebar sampai keujung
pandang.
Ketiga orang itu berjalan
dengan cepatnya melintasi bulak menuju kesebuah padepokan yang terpencil, sebuah
padepokan kecil yang letaknya terpisah dari dari sebuah padukuhan yang terhitung
besar.
Atas ijin Ki Bekel
Panambangan, Ki Ajar Wihangga mendirikan sebuah padepokan kecil saja yang
letaknya terpisah dari padukuhan Panambangan. Hubungan KI Ajar Wihangga dengan
Ki Bekel Panambangan cukup akrab, bahkan keduanya sudah menjadi seperti saudara
sendiri.
Apalagi umur merekapun
sebaya. Jika mereka bertemu, pembicaraan diantara merekapun selalu sejalan.
Disamping beberapap orang
murid yang jumlahnya banyak, Ki Ajar Wihangga mempunyai dua orang murid utama.
Dua orang murid yang dibanggakan oleh Ki Ajar Wihangga karena keduanya memiliki
banyak kelebihan dari anak-anak muda sebayanya.
Keduanya adalah Raden
Madyasta dan Raden Wignyana, kakak beradik, petera Kangjeng Adipati di
Paranganom.
Keduanya orang kakak
beradik itu umurnya tidak bertaut banyak, ketika Madyasta belum dapat berjalan,
ibunya sudah mengandung lagi, maka beberapa bulan kemudian lahirlah adiknya.
Juga seorang laki-laki yang diberi nama Wignyana. Dengan demikian maka umur
mereka hanya bertaut kurang dari dua tahun.
Keduanya tumbuh dengan
baik sebagaimana putera seorang Adipati. Sejak mereka mulai mengenali
lingkungannya, maka Kangjeng Adipati sudah menugaskan orang-orang pandai untuk
mendidik mereka dalam berbagai macam ilmu. Namun kemudian, menginjak remaja,
maka merekapun telah diserahkan kepada Ki Ajar Wihangga. Seorang yang memilih
satu lingkungan kehidupan di sebuah padepkan yang sepi.
“Aku titipkan anak-anakku
kepadamu, kakang” berkata Kangjeng Adipati Paranganom yang bergelar Adipati
Prangkusuma.
Ki Ajar Wihangga yang
sedikit lebih tua dari Kangjeng Adipati itu menarik nafas panjang, Ki Ajar
adalah saudara tua seperguruan dari Kangjeng Adipati Prangkusuma.
“Terima kasih atas
kepercayaan Kangjeng Adipati kepadaku, tetapi aku sendiri ragu, apakah aku akan
dapat memikul kepercayaan itu. Sehingga hasilnya sesuai dengan keinginan
kangjeng Adipati”
Kangjeng Adipati
tersenyum, katanya “Aku mengenal kakang dengan baik, kakangpun mengenal aku
dengan baik pula”
Ki Ajar Wihangga tertawa,
katanya “Baiklah, aku akan membawa kedua putera Kangjeng itu ke padepokanku.
Pada saat mereka menjadi dewasa penuh, aku akan membawa mereka kembali”
“Apakah selama itu mereka
tidak boleh sekali-sekali pulang untuk menengok keluarganya?, ibunya tentu akan
sangat merindukannya”
“Tentu, Kangjeng, mereka
berada di padepokanku tidak sebagai tawanan atau orang buangan, sehingga tidak
boleh meninggalkan tempat. Tetapi mereka akan menjadi murid-murid utama
padepokanku”
sejak saat itu, empat
tahun lalu, dua orang remaja putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu berada di
padepokan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga. Namun seperti yang dimaksudkan
oleh Kangjeng Adipati, bahwa sekali-sekali merekapun pulang karena keluarganya
merindukannya.
Namun bukan saja
kerinduan seorang ayah dan ibu, tetapi setiap Raden Madyasa dan Wignyana pulang,
Kangjeng Adipati selalu menilik kemajuan kedua orang puteranya yang diasuh oleh
Ki Ajar Wihangga itu.
Setiap kali Kangjeng
Adipati tersenyum, ia bangga dengan kemajuan yang pesat dari kedua orang
puteranya itu, kepercayaannya kepada saudara perguruannya tidak sia-sia.
Ki Ajar Wihangga
sendiripun merasa bangga terhadap kedua orang muridnya itu, pada saat-saat
terakhir, Ki Ajar Wihangga telah sampai pada puncak ilmu yang dapat diajarkannya
kepada kedua orang muridnya yang telah menjadi dewasa penuh itu.
Sebagaimana dijanjikan
kepada Kangjeng Adipati, jika keduanya telah menjadi dewasa penuh, maka mereka
akan dibawa kembali ke Kadipaten.
Dalam pada itu, beberapa
saat kemudian, mereka bertiga telah memasuki sebuah padepokan yang tidak begitu
besar. Dipagi hari, sebagian cantrik sibuk menimba air mengisi jambangan
pakiwan, ada yang sibuk di dapur merebus air, yang lain berada di kandang ternak
dan di kandang kuda.
Ketika para cantrik itu
melihat Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyana memasuki
padepokan, merekapun mengangguk hormat.
“Teruskan kerja kalian
anak-anak” berkata Ki Ajar. “Kalian adalah anak-anak yang rajin dan terampil.
Dengan demikian, maka padepokan kita akan selalu terpelihara kebersihannya. Jika
Ki Bekel Panambangan datang kemari, maka ia akan tetap mengagumi kebersihan
padepokan kita”
Ki Ajar Wihangga itupun
langsung pergi ke pringgitan bangunan induk padepokan itu bersama Madyasta dan
Wignyana.
“Duduklah ngger, ada
sesuatu yang ingin aku katakan kepada kalian”
Madyasta dan Wignyana
termangu-mangu sejenak, tidak biasanya Ki Ajar bersikap demikian
bersungguh-sungguh seperti itu.
Demikianlah, maka sejenak
kemudian, Madyasta dan Wignyana telah duduk di pringgitan menghadap Ki Ajar.
Kedua anak muda itu masih
belum mengeringkan keringatnya, bahkan di beberapa bagian tubuh mereka masih
terasa nyeri dan pedih. Ada beberapa luka yang menggores pada saat-saat tubuh
mereka membentur batu-batu padas, bahkan kening Wignyana masih nampak memar.
“Anak-anakku” berkata Ki
Ajar, “Jika kalian ingat, maka hari ini adalah hari ulang tahun kelahiran angger
Madyasta. Anger Madyasta pada hari ini genap berusia dua puluh lima tahun,
sedangkan angger Wignyana dalam beberapa bulan lagi akan berusia genap dua puluh
empat tahun, karena selisih usia kalian berdua tidak ada dua tahun”
“Ya guru” Madyasta
mengangguk hormat “Aku ingat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, tetapi
menurut pendapatku, aku tidak merasa perlu mengadakan peringatan khusus pada
hari ulang tahun ini, guru. Agaknya cukuplah jika aku sempat mengingatnya saja”
Ki Ajar Wihangga tertawa,
katanya “Aku mengerti ngger. Kau tentu tidak memerlukannya, yang ingin aku
sampaikan adalah, bahwa kau sudah dewasa penuh, demikianlah pula dengan anger
Wignyana”
“Ya, guru”
“Dengarlah, ketika
Kangjeng Adipati menitipkan kalian berdua di padepokan ini, aku mengatakan,
bahwa pada saat kalian sudah dewasa penuh, maka aku akan membawa kalian kembali
ke Kadipaten”
Madyasta dan Wignyana
menundukkan kepalanya.
“Nah, sekarang kalian
sudah dewasa sepenuhnya, meskipun umur angger Wignyana terpaut sekitar satu
setengah tahun, tetapi menurut pendapatku, angger Wignyana juga sudah dapat
danggap dewasa sepenuhnya. Sementara itu ilmu yang aku ajarkan kepada kalian
berduapun sudah tuntas. Kalian berdua adalah murid-muridku yang terbaik”
Keduanya terdiam, mereka
sadar, bahwa dengan demikian mereka harus meninggalkan padepokan yang telah
mereka huni sekitar empat tahun.
Selama empat tahun mereka
menghirup udara di padepokan itu. Selama empat tahun mereka teguk airnya. Mereka
makan hasil buminya dan selain semuanya itu, mereka telah menyadap ilmu pula
dari gurunya, Ki Ajar Wihangga”
“Anak-anakku” berkata Ki
Ajar Wihangga ketika dilihatnya kedua anak muda itu menunduk dalam-dalam
“Sebenarnyalah bahwa padepokan ini bukan tempat terbaik bagi kalian. Kalian
adalah putera-putera Adipati. Disini kalian bekerja keras untuk menyadap ilmu,
sekarang, ilmu itu telah ada di dalam diri kalian, tentu saja hanya sebatas
kemampuanku untuk menurunkan ilmu itu kepada kalian” Ki Ajar Wihangga berhenti
sejenak, lalu katanya pula “Nah, karena itu, sudah saatnya kalian pulang kerumah
kalian di Kadipaten Paranganom”
Madyasta dan Wignyana
memang menyadari, bahwa pada suatu saat mereka memang harus meninggalkan
padepokan ini, mereka harus kembali ke Kadipaten, apalagi ayah mereka, Adipati
Pranganim akan menjadi semakin tua, sehingga kehadiran mereka di Kdipaten akan
sangat diperlukan.
Pada tahun-tahun terakhir
mereka berada di padepokan itu. Telah terjadi pergeseran kekuasaan di Kadipaten
Kateguhan, Kangjeng Adipati Prawirayuda, saudara tua Kangjeng adipati
Prangkusuma, telah mangkat. Madyasta dan Wignyana, meskipun mereka masih berada
di padepokan, namun mereka sempat pergi ke Kateguhan bersama ayah dan ibu mereka
untuk menghadiri pemakaman Kangjeng Adipati Prawirayuda. Merekapun sempat
menghadiri wisuda yang menetapkan putera Kangjeng Adipati Prawirayuda untuk
menggantikan kedudukan ayahnya, bergelar Kangjeng Adipati Yudapati di Kateguhan.
“Anak-anakku” berkata Ki
Ajar Wihangga “Besok aku akan mengantar kalian pulang, aku akan menyerahkan
kembali kalian kepada ayah kalian, Kangjeng Adipati Prangkusuma. Sehingga apa
yang aku ajarkan kepada kalian, sesuai dengan kehendaknya.
Madyasta menark nafas
dalam-dalam, dengan nada rendah iapun kemudian berkata “Kami mengucapkan
beribu-ribu terimakasih, guru. Disini kami sudah mendapatkan ap saja yang kami
perlukan sebagai bekal hidup kami dikemudian hari”
“Sebenarnyalah bahwa kami
sudah terlanjur merasa terikat dengan kehidupan di padepokan ini, guru” berkata
Wignyana pula.
Ki Ajar Wihangga
tersenyum, katanya “Jika aku menyerahkan kalian kepada ayah kalian, bukan
berarti bahwa hubungan kita telah terputus. Kalian dapat datang kapan saja ke
padepokan ini, kalian dapat bermalam disini atau bahkan tinggal disini beberapa
hari asalkan ayah kalian mengijinkannya”
“Ya, guru” sahut Wignyana
sambil mengangguk hormat
“Sejak dini hari tadi,
aku sudah melihat kemampuan kalian berdua, apa yang dapat alu tuangkan kepada
kalian, telah aku lakukan. Menurut pendapatku, pada suatu saat kalian menjadi
dewasa seperti sekarang ini. Ilmu kalianpun telah menjadi matang pula. Karena
itu, aku berkesimpulan, bahwa kalian memang sudah waktunya untuk kembali ke
Kadipaten. Mungkin ayah kalian memerlukan bantuan kalian dalam menjalankan
pemerintahannya karena ayah kalian sudah menjadi semakin tua”
“Nah, sekarang mandilah,
aku sudah menyiapkan serbuk yang dapat meredakan rasa sakit pada tubuh dan dapat
meneyembuhkan luka-luka kalian, terbarkanlah serbuk itu ke dalam jambangan”
“Ya, guru”
“Marilah, kita ambil
serbuk itu di senthongku”
Ki Ajar Wihanggapun
kemudian telah memberikan masing-masing sebuah bumbung kecil yang berisi serbuk
ramuan dari berbagi macam daun dan bunga yang terdapat di kebun belakang
padepokannya, berdasarkan atas pengamatan dan penelitian dan pengalaman yang
lama, maka Ki Ajar Wihangga telah dapat membuat ramuan yang akan sangat berarti
bagi kedua orang anak muda itu.
Sebenarnyalah, setelah
mandi dengan menaburkan serbuk didalam bumbung itu di jambangan yang telah penuh
diisi air, maka terasa alangkah segarnya tubuh mereka. Perasaan sakit, nyeri dan
pedihpun telah hilang, meskipun sejak dini hari mereka berlatih dengan
mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka diatas pebukitan yang berbatu
padas.
Setelah mandi dan
berbenah diri, maka merekapun duduk di ruang dalam bersama Ki Ajar, ada beberapa
pesan yang disampakan oleh Ki Ajar kepada kedua orang anak muda itu, karena hari
itu adalah hari terakhir mereka di padepokan.
“Nah, berbicaralah dengan
para cantrik” berkata Ki Ajar Wihangga kemudian, bahwa besok kalian akan pergi
meninggalkan padepokan ini”
“Baik, guru” jawab
Madyasta dan Wignyana hapir berbarengan.
Sejenak kemudian,
Madyasta dan Wignyana telah berada diantara para cantrik. Ada diantara mereka
yang sudah bersiap memasuki sanggar, tetapi ada pula yang masih bertugas.
Para cantrik itu terkejut
ketika mereka mendengar pernyataan Madyasta dan Wignyana, bahwa besok mereka
akan meninggalkan padepokan.
“Raden berdua tidak akan
kembali lagi kemari?” bertanya salah seorang cantrik.
“Tidak, maksudku, masa
berguru kami sudah selesai, tetapi bukan berarti bahwa kami tidak akan pernah
datang ke padepokan ini lagi, sekali-sekali kami tentu akan datang kemari” jawab
Madyasta.
“Ada ikatan yang tidak
dapat dengan serta-merta kami putuskan” sambung Wignyana.
Namun bagaimanapun juga,
kepergian Madyasta dan Wignyana membuat para cantrik itu merasa kehilangan,
setidak-tidaknya untuk sementara.
Esok harinya, pada dini
hari, Madyasta dan Wignyana telah bangun. Mereka segera mempersiapkan diri, hari
itu, mereka akan diantar oleh Ki Ajar Wihangga kembali ke Kadipaten.
Kedua putera Kangjeng
Adipati itu menyadari, bahwa kehidupuan di Kadipaten menurut gelar lahiriah
tentu jauh lebih baik dari mereka dapatkan dalam kehidupan di padepokan itu yang
tidak mereka dapat di Kadipaten. Di padepokan mereka hidup dalam suasana tenang
dan damai. Tidak ada masalah yang dapat menimbulkan pertengkaran. Bukan berarti
bahwa di padepokan itu tidak akan ada perbedaan pendapat. Tetapi mereka
menanggapi perbedaan pendapat itu dengan sikap yang mapan. Kadang-kadang ada
perbedaan pendapat yang sulit dipertemukan meskipun dengan bantuan beberapa
orang cantrik yang lain. Namun dalam keadaan demikian, mereka yang berbeda
pendapat itu akhirnya sepakat untuk berbeda pendapat. Yang satu tidak memaksakan
pendapatnya kepada yang lain. Apalagi dengan menyatakan kebenaran pendapatnya
bagi semua orang.
Sebelum matahari terbit,
maka kedua orang anak muda itupun sudah siap. Demikiian pula Ki Ajar Wihangga.
Kuda-kuda yang akan mereka pergunakan telah disediakan pula di samping pendapa
bangunan induk padepokan.
“Kita akan singgah
sebentar di rumah Ki Bekel, ngger, sebaiknya kalian minta diri kepada Ki Bekel”
“Baik, guru”
Ketika matahari terbit,
maka merekapun meninggalkan padepokan setelah Ki Ajar memberikan beberapa pesan
kepada cantriknya. Seorang cantrik yang tertua, bukan saja umurnya, tetapi juga
masa bergurunya telah diserahi untuk memimpin adik-adik seperguruannya.
“Mungkin aku akan
bermalam di Kadipaten” berkata Ki Ajar kepada para cantriknya.
Demikianlah, maka
beberapa saat kemudian, Ki Ajar, Madyasta dan Wignyanapun telah melarikan kuda
mereka dibulak panjang yang memisahkan padepokan mereka dengan padukuhan
Panambangan.
Kedatangan Ki Ajar
bersama muridnya pagi-pagi sekali pada saat matahari baru terbit, telah
mengetjutkannya.
“Maaf, Ki Bekel” berkata
Ki Ajar “Mungkin kami mengganggu atau bahkan mengejutkan Ki Bekel, sebenarnyalah
kami hanya ingin minta diri. Hari ini Raden Madyasta dan Wignyana akan kembali
ke Kadipaten”
“Maksud Ki Ajar, kembali
pulang ke Kadipaten dan tidak datang lagi ke padepokan?”
“Waktu mereka tinggal di
padepokan sudah habis. Seperti yang aku janjikan, aku akan mengembalikan mereka
setelah mereka dewasa. Karena sekarang mereka sudah dewasa, dan tidak ada lagi
yang dapat aku ajarkan kepada mereka, maka aku akan membawa mereka kembali ke
kadipaten dan menyerahkannya kepada ayah mereka”
“Kami berdua mengucapkan
terima kasih atas segala kebaikan hati Ki Bekel” berkata Madyasta kemudian.
“Apa yang telah aku
lakukan?, aku tidak berbuat aoa-apa bagi kalian berdua. Nah, aku hanya dapat
mengucapkan selamat jalan bagi kalian berdua, ngger. Semoga apa yang kalian
dapatkan dari padepokan Panambangan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wihangga akan
dapat berarti bagi angger berdua di masa datang. Baktiku kepada Kangjeng Adipati
Prangkusuma”
“Terima kasih, Ki Bekel,
mudah-mudahan kita masing-masing selalu dirahmati oleh ALLAH Subhanallahi
Wataala disepanjang hidup kita”
Ki Bekel tersenyum,
setiap kali ia melihat kedua orang anak muda putera Kangjeng Adipati itu hatinya
selalu bergetar. Ki Bekel sendiri mempunyai lima orang anak, tetapi semuanya
perempuan. Semuanyan telah bersuami pula. Tetapi Ki Bekel yang baru mempunyai
tiga orang cucu itu, ternyata semuanya juga perempuan.
“Aku ingin mempunyai
keturunan laki-laki, semoga ALLAH menganugerahkan aku dengan cucu laki-laki”
Tetapi Ki Bekel masih
berpengharapan, salah seorang anaknya sedang mengandung, ia berharap anak yang
akan lahir itu laki-laki. Jika anak itu perempuan, maka ia masih akan tetap
memohon seorang cucu laki-laki.
Demikian, maka sejenak
kemudian, Ki Ajar Wihangga bersama dengan Madyasta dan Wignyanapun telah
melarikan kuda mereka menuju ke Kadipaten.
Ketika mereka
meninggalkan padukuhan Panambahan, masih terdengar kicau burung-burung liar yang
hinggap di pepohonan. Sementara itu, mataharipun memanjat semakin tinggi, daun
padi yang hijau subur, yang bergetar disentuh angin pagi, nampak berkilat-kilat
memantulkan cahaya matahari. Sementara embun masih nampak bergayutan di ujungnya
yang menunduk.
Ki Ajar Wihangga,
Madyasta dan Wignyanapun memang tidak melarikan kuda mereka terlalu kencang.
Meskipun jarak yang akan mereka tempuh cukup panjang, namun mereka merasa bahwa
perjalanan mereka tidak akan mengalami hambatan.
Mungkin mereka akan
berhenti sebentar untuk beristirahat. Mungkin ada kedai yang memadai serta yang
sekaligus dapat merawat dan memberikan makan kepada kuda-kuda mereka.
“Sebelum senja kita akan
sampai” berkata Ki Ajar Wihangga.
“Jika kita berhenti
beristirahat?”
“Ya, kita akan berhenti
beristirahat sekali atau dua kali. Mungkin kita tidak sangat memerlukan
kesempatan untuk beristirahat. Tetapi agaknya kuda-kuda kita memerlukannya.”
Sedikit lewat tengah
hari, Ki Ajar Wihangga yang mengajak mengajak kedua orang anak muda itu untuk
beristirahat di sebuah kedai. Ki Ajar Wihangga, bahwa kedua anak muda itu tentu
tidak akan ada yang mengajaknya berhenti, sementara itu kuda mereka sudah nampak
agak letih dan haus.
Ternyata sebuah kedai
yang terletak tidak jauh dari sebuah pasar, menyediakan tenaga yang dapat
merawat, memberi makan dan minum kuda yang kelelahan, karena itu, maka mereka
bertigapun telah berhenti di kedai itu sambil menyerahkan kuda-kuda mereka
kepada seorang yang memang ditugaskan untuk itu.
Kehadiran Madyasta dan
Wignyana di kedai itu sama sekali tidak menarik perhatian, karena keduanya
mengenakan pakaian orang kebanyakan. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan
ciri-ciri bahwa keduanya adalah putera seorang Adipati.
Namun didalam kedai itu
Madyasta, Wignyana dan Ki Ajar Wihangga tertarik kepada pembicaraan beberapa
orang yang lebih dahulu berada di kedai itu, mereka menceritakan bahwa keadaan
kadipaten Paranganom mulai tidak aman. Sekali-sekali terdengar berita tentang
perampokan di jalan-jalan yang sepi. Bahkan ada penyamun yang berani
melakukannya disiang hari.
“Guru” desis Madyasta “
Apa selama ini guru tidak pernah mendengar berita seperti itu?”
Ki Ajar Wihangga
menggeleng, katanya perlahan-lahan “Yang aku ketahui selama ini Kadipaten
Paranganom adalah sebuah kadipaten yang tenteram. Tidak terdapat gejolak
kejahatan yang pernah mengusik ketenangan kehidupannya.”
“Tetapi menurut orang
itu..?”
Ki Ajar Wihangga
mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah mereka
mendengar dengan jelas, bahwa Kadipaten Paranganom mulai disentuh oleh
perbuatan-perbuatan jahat.
“Tetapi semuanya itu baru
kita dengar dari pembicaraan orang di sebuah kedai, guru” berkata Madyasta.
“Ya, ngger. Mudah-mudahan
yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang kita dengar itu”
“Mungkin yang terjadi itu
tidak terjadi di Kadipaten ini, guru” berkata Wignyana “Atau jika terjadi di
Kadipaten ini sekedar sentuhan peristiawa yang terjadi diluarnya”
“Ya, ngger, meskipun
demikian, jika di dekat perbatasan telah terjadi kerusuhan, maka yang tinggal
selangkah itu tentu akan segera terjadi pula”
Wignyana mengangguk
sambil menjawab “Ya, guru”
“Bagaimanapun juga apa
yang kita dengar ini akan kita laporkan kepada Kangjeng Adipati. Apa salahnya
kita berjaga-jaga orang-orang itu tentu bukan sekedar membual, meskipun mungkin
yang terjadi tidak tepat seperti apa yang mereka perbincangkan itu”
“Guru” berkata Wignya
“Kita juga akan melewati jalan di dekat perbatasan dengan Kadipaten Kateguhan”
“Ya, tetapi mudah-mudahan
kita tidak menemui hambatan”
Demikianlah, beberapa
saat kemudian, setelah mereka minum dan makan serta kuda-kuda merekapun sudah
puas beristirahat serta sudah kenyang pula, maka mereka bertigapun melanjutkan
perjalanan mereka menuju pusat pemerintahan Kadipaten Paranganom.
Sejenak kemudian,
kuda-kuda mereka telah berlari lagi menyusuri jalan-jalan berbatu. Mereka
bertiga memutuskan untuk mengambil jalan terdekat, meskipun bukan jalan yang
terbaik. Jalan yang mereka lalui justru akan melewati padang perdu, bahkan lewat
tidak jauh dari sebuah hutan yang membujur panjang di perbatasan.
Rasa-rasanya mereka
justru ingin membuktikan, apakah yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada
di kedai itu memang benar.
“Mungkin kita mendapatkan
kesan-kesan tertentu yang dapat membenarkan atau justru bertentangan dengan yang
dibicarakan oleh orang di dalam kedai itu” berkata Madyasta.
Ki Ajar Wihangga tidak
mencegahnya, sebagai putera seorang Adipati, keduanya tentu ingin mengetahui
keadaan sebenarnya dari wilayah kekuasaan ayahnya.
Kuda mereka masih
berlari, sekali-sekali jalan menanjak naik, namun kemudian jalanpun menurun
dengan tajamnya. Sekali-sekali mereka menyeberangi sungai yang tidak begitu
besar sehingga airnyapun tidak begitu dalam.
Ketika matahari mulai
beranjak turun, maka Wignyanapun berkata “Kita akan segera sampai di jalan yang
terdekat dengan perbatasan, kakangmas”
“Ya, dimas. Dekat
perbatasan dengan Kadipapten Kateguhan yang sekarang pemerintahannya dipegang
oleh kakangmas Adipati Yudapati.”
“Apakah keadaan di
Kadipaten Kateguhan manjadi semakin memburuk sepeninggalnya paman Adipati
Prawirayuda, sehingga terjadi kerusuhan di beberapa tempat, bahkan mengalir ke
Kadipaten Paranganom?”
“Kita belum tahu pasti
dimas”
“Bagaimana menurut
pendapat guru?, apakah kangmas Adipati Yudapati tidak mampu mengendalikan
Kadipaten Kateguhan setangkas paman Adipati Prawirayuda?”
“Aku kurang mengenal
angger Adipati Yudapati, ngger. Tetapi Aku mengetahui bahwa Adipati Yudapati
berguru kepada seorang yang aku kenal dengan baik”
“Atau ada oprang yang
tidak menyenanginya sehingga dengan sengaja menimbulkan keresahan?”
“Masih banyak yang perlu
diketahui, ngger”
Ketiganyapun terdiam
sejenak, kuda-kuda mereka masih berlari di jalan yang semakin dekat dengan hutan
yang panjang.
Namun tiba-tiba saja
Wignyana itupun berkata “Kakangmas, jangan-jangan justru kerusuhan itu terjadi
di Kadipaten Paranganom, baru merembes ke Kateguhan”
“Jika demikian, kita
harus dengan cepat bukan saja menumpasnya, tetapi juga mencari sebabnya”
“Ya” Wignyana
mengangguk-angguk.
Ketika kemudian mereka
mendekati sebuah tikungna, pada jarak terdekat dengan hutan yang memanjang, Ki
Ajar berkata “Berhati-hatilah, ngger”
Madyasta dan Wignyana
yang patuh kepada gurunya itu memperlambat kudanya. Ketika mereka sampai di
kelok jalan, maka keduanya benar-benar berhati-hati”
Untunglah, bahwa Ki Ajar
telah memberi peringatan kepada mereka. Sehingga mereka menarik kendali kuda
mereka. Bebera[a langkah dari tikungan terdapat tali ijuk yang menyilang jalan.
Tali ijuk yang sengaja diikat pada dua batang pohon yang berseberangan setinggi
dada orang yang berkuda.
Madyasta dan Wignyana
yang berada di depan segera berhenti dan meloncat turun. Mereka sadar, bahwa
mereka berhadapan dengan bahaya yang dapat mencancam jiwa mereka.
Ki Ajar kemudian turun
pula dari kudanya, jika saja mereka tidak berhati-hati, maka tali ijuk akan
dapat menjebak mereka, sehingga mereka akan terpelanting dari kuda-kuda mereka.
Dengan geram Madyasta
berkata “Jika apa yang dikatakan orang di kedai itu bukan sekedar dongeng.
Sekarang kita hadapi kenyataan itu disini. Bukankah kita masih tetap berada di
Paranganom?”
“Ya, kakangmas. Kita
masih berada di Paranganom. Jika memang benar, bahwa telah terjadi kerusuhan di
Paranganom, kejadian yang sebelumnya belum pernah mengotori udara Kadipaten ini”
Ki Ajar berdiri
termangu-mangu, dipandanginya hutan yang tinggi beberapa langkah saja itu.
Mereka memang berada
diruas jalan yang terdekat dengan hutan di perbatasan itu.
Sejenak mereka bertiga
berdiri termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak berniat dengan cepat menghindar
dari kemingkinan buruk menghadapi orang-orang yang telah dengan sengaja
menyilangkan tali ijuk itu. Bahkan mereka bertiga seakan-akan menunggu, apa yang
akan terjadi kemudian memskipun mereka dapap saja merunduk, menyusup dibawah
tali ijuk itu dan melarikan kuda mereka.
Dalam pada itu, tiba-tiba
saja mereka mendengar suara tertawa, empat orang bertubuh tinggi, berbadan kekar
dan berwajah garang muncul dari dalam hutan.
Seroang diantara mereka
berkata “Luar biasa, jarang sekali orang yang sempat menghindari jebakan kami.
Apalagi orang yang berkuda dari arah tikungan. Tetapi kalian sempat menarik
kendali, sehingga kuda kalian berhenti sebelum tali itu melemparkan kalian dari
kuda-kuda kalian.”
Bab 02 - Kadipaten
Paranganom
Wignyana yang menyahut
“Kalian hanya menjebak orang-orang yang lewat dari satu arah, kenapa justru
orang-orang yang akan pergi kearah pusat kota pemerintahan Paranganom?”
Orang yang berwajah
garang itu mengerutkan dahinya, katanya “Pertanyaanmu bagus anak muda, tetapi
aku tidak dapat menjawab. Kami sama sekali tidak pernah memikirkannya, bahwa
jebakan kami hanya berlaku bagi mereka yang berkuda dari satu arah. Mungkin kami
mempunyai firasat bahwa kalian akan lewat jalan ini menuju pusat pemerintahan
Kadipaten Paranganom”
“Lalu, apa maksud kalian
dengan merentang tali ijuk ini menyilang jalan itu?”
“Kau sudah tentu tahu apa
yang kami inginkan. Karena kalian tidak terlempar dari kuda kalian, maka baiklah
aku katakan saja bahwa aku ingin merampas semua harta kalian, kami adalah
sekawanan penyamun. Kami tidak perlu menyembunyikan kenyataan diri atau
berpura-pura. Berikan kudamu, uangmu, kerismu, timangmu. Pokoknya tinggalkan
semuanya dan kalian boleh pergi”
“Baik. Kamipun akan
berterus terang” sahut Madyasta “Kami akan menangkap kalian dan membawanya
menghadap Kangjeng Adipati. Selama ini Paranganom selalu tenang, tenteram dan
tidak pernah terdapat gejolak apapun. Tiba-tiba muncul kalian, kawanan penyamun
yang bukan saja ingin merampas milik kami, tetapi kalian sudah membuat
Paranganom menjadi resah”
Para penyamun itu
tertawa, seorang diantara mereka berkata “Itu memang kami sengaja. Karena selama
ini Paranganom tenang-tenang saja, maka, banyak orang yang menjadi lengah dan
tidak berhati-hati. Nah, karena itu, maka Paranganom menjadi ladang yang sangat
subur bagi kami. Di daerah yang tidak sedamai Paranganom, tidak akan ada orang
yang memilih jalan ini untuk memilih jalan yang ramai meskipun agak jauh. Tetapi
disini, didaerah yang aman dan tenteram, kalian berani lewat jalan yang sepi
ini. Karena itu, maka kalian telah menemui nasib buruk sekrang ini”
“Kami atau kalian yang
menemui nasib buruk?. Kami adalah perajurit Paranganom dalam tugas sandi, justru
karena pada saat-saat terakhir sering terjadi perampokan. Semula kami tidak
mempercayainya, karena selama ini Paranganom selalu aman dan tenteram. Namun
disini kami menemukan kenyataan itu. Di Paranganom memang ada sekawanan perampok
dan bahkan mungkin sekelompok perampok yang justru memanfaatkan ketenangan
masyarakat Paranganom yang kalian anggap lengah. Memang mungkin rakyat menjadi
lengah, tetapi tidak untuk perajurit”
“Persetan dengan celoteh
kalian. Jika kalian prajurit dalam tugas sandi, kenapa kalian membawa orang tua
itu bersama kalian”
Madyasta dan Wignyana
serentak berpaling kepada Ki Ajar Wihangga yang berdiri saja seolah membeku.
“Orang tua itu hanya
kebetulan seperjalanan, agaknya orang tua itu sudah mempunyai firasat buruk,
bahwa Paranganom sekarang memang sudah tidak lagi aman dan tenteram”
“Sudahlah, jangan
mengaku-aku prajurit, bahkan seandainya kalian prajurit. Kalian harus tunduk
kepada kami sekarang ini. Serahkan semua yang kalian punya, juga orang tua itu.
Kemudian karena kalian prajurit, maka perlakuan kami akan bebrbeda”
“Kenapa jika kami
prajurit?” bertanya Wignyana.
“Karena kalian prajurit,
maka kalian akan kami bunuh disini. Biarlah Paranganom menyadari, betapa
rapuhnya kekuatan Kadipaten Paranganom yang katanya aman dan tenteram. Orang tua
itu akan kami lepaskan untuk berceritera, bahwa dua orang prajurit Paranganom
telah mati dibunuh sekawanan perampok. Orang tua itu akan berceritera, bahwa
ternyata para prajurit Paranganom tidak mampu melindunginya, sehingga ia harus
menyerahkan semua miliknya kepada orang-orang yang merampoknya di jalan ini”
Tetapi Wignyana itupun
menjawab, “Bersiaplah, kami akan menangkap kalian. Jika kalian melawan, maka
kami akan terpaksa membunuh kalian. Orang-orang Paranganom akan merasakan betapa
ketatnya perlindungan bagi ketenangan hidup mereka”
Keempat orang perampok
itu bergeser merenggang. Tetapi sambil terttawa seorang yang agaknya pemimpin
mereka itu masih juga tertawa sambil berkata “Prajurit-prajurit muda kebanyakan
memang besar kepala, mereka merasa dirinya mumpuni. Tetapi apa kalian pernah
belajar olah kanuragan yang sebenarnya di lingkungan keprajuritan? Lurah-lurah
kalianpun tidak tahu ilmu kanuragan yang sebenarnya, apalagi kalian”
Madyasta dan Wignyana
tidak bertanya lagi, keduanyapun telah mengikat kuda-kuda mereka pada pohon
perdu di pinggir jalan. Kemudian keduanyapun telah mengambil jarak. Mereka
menyadari, bahwa mereka masing-masing akan menghadapi dua orang lawan. Para
perampok itu tentu tidak akan memperhitungkan kehadiran Ki Ajar Wihangga,
kecuali jika Ki Ajar itu sendiri yang akan turun ke medan.
Namun agaknya Ki Ajar
tidak akan melibatkan diri, ia masih saja berdiri sambil memegangi kendali
kudanya, seakan-akan membeku.
Sebenarnyalah bahwa Ki
Ajar memang tidak ingin langsung terjun ke arena, ia justru ingin melihat, apa
yang dapat dilakukan oleh kedua orang muridnya.
Hanya dalam keadaan yang
memakska, maka Ki Ajar akan melibatkan diri.
Dalam pada itu, salah
seorang dari keempat perampok itu masih berkata “Angkatlah wajahmu, pandanglah
langit diatas Kadipaten Paranganom untuk terakhir kalinya. Pandanglah mega yang
mengalir dan seakan-akan bersarang di puncak gunung itu. Kemudian tundukkan
kepalamu. Pandanglah bumi yang kau injak. Di bumi itu pula kalian akan
dikuburkan”
Madyasta dan Wignyana
tidak menyahut, namun keduanya benar-benar telah bersiap menghadapi segala
kemungkinan.
Sejenak kemudian, para
perampok itupun telah bertebar, seakan-akan memilih lawan masing-masing, seperti
yang diduga oleh Madyasta dan Wignyana, mereka masing-masing akan berhadapan
dengan dua orang yang bertubuh tinggi, berbadan kekar, dan berwajah garang.
Meskipun mereka sering tertawa, tetapi suara tertawa mererka sama sekali jauh
dari nafas keramah-tamahan.
“Suara iblis yang
bersarang ditubuh mereka” berkata Madyasta di dalam hatinya.
Sebagai putera seorang
Kangjeng Adipati yang memimpin pemerintahan, maka Madyasta dan Wignyana
benar-benar merasa tersinggung oleh perbuatan para perampok itu. Ketenangan yang
mereka anggap ketenangan itu, seolah-olah telah menggelar lahan yang sangat
subur bagi mereka.
“Kesan itu harus
dihapuskan, setiap penjahat yang ada di Kadipaten ini harus dihukum”
Demikianlah, maka sejenak
kemudian, para perampok itu sudah mulai menyerang dari arah yang berbeda. Dua
orang menghadapi Madyasta, yang dua orang lagi menghadapi Wignyana.
Dengan tangkasnya
Madyasta dan Wignyana menghadapi para perampok yang garang itu.
Ketika beberapa serangan
para penyamun itu tidak sempat menyentuh tubuh kedua orang anak muda itu, maka
para perampok itupun mulai menyadari, bahwa anak-anak muda itu bukannya sekedar
menggertak. Agaknya mereka memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah
kanuragan.
Ki Ajar masih berdiri di
tempatnya, kedua murid utamanya itu justru mendapat tempat untuk menguji ilmu
yang pernah mereka pelajari.
Namun pertempuran itu
tidak berlangsung lama, Madyasta dan Wignyana ternyata terlalu kuat bagi keempat
perampok itu.
Dalam beberapa saat,
keempat penyamun itu mulai terdesak. Serangan-serangan mereka yang garang sama
sekali tidak berarti bagi Madyasta dan Wignyana, bahkan serangan-serangan
Madyasta dan Wignyana yang kemudian justru sereing mengenai tubuh mereka,
serangan-serangan kedua orang anak muda itu mampu menembus pertahanan
lawan-lawan mereka.
Ketika serangan Madyasta
yang deras mengenai dada seorang diantara lawan-lawannya, orang itupun terlempar
beberapa langkah surut, kakinya terperosok kedalam parit, sehingga orang itu
tidak lagi mampu mempertahankan keseimbangannya. Dengan demikian maka iapun
telah terbaring jatuh menimpa tanggul parit, namun kemudian terguling masuk
kedalam aliran air yang meskipun tidak terlalu deras, tetapi telah membasahi
pakaiannya.
Dengan cepat orang itu
berusaha untuk bangkit. Ada beberapa teguk air yang masuk ke mulutnya dan
menghisap ke dalam tenggorokannya.
Tetapi begitu ia bangkit
berdiri dan berusaha naik ke tanggul parit. Maka kawannya yang seorang lagi
telah terlempar pula menimpanya, sehingga kedua-daunya justru terjebur lagi ke
dalam parit.
Madyasta dengan cepat
memburunya. Demikiam keduanya berusaha untuk bangkit, naka kakinya telah
menyambar kening seorang diantara mereka, sehingga terpelanting ke dalam kotak
sawah yang sedang digenangi air. Sementara itu, kawannyapun berusaha pula untuk
berdiri. Tetapi sekali lagi kaki Madyasta terayun menghantam lambung.
Dengan demikian, maka
kedua lawan Madyasta itupun telah terperosok masuk kedalam Lumpur sawah
diseberang parit.
Dalam pada itu, Wignyana
telah meloncat sambil memutar tubuhnya, kakinya melayang menerpa kening seorang
dari kedua lawannya, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Kepalanya
menjadi pening, serta matanya berkunang-kunang.
Kawannya yang melihat
seorangan itu berusaha mempergunakan kesempatan. Dengan cepat orang itu meluncur
menyerang Wignyana dengan kakinya mengarah ke punggung. Tetapi dengan tangkasnya
Wignyana merendah, dengan deras kakinya justru menyapu kaki lawannya.
Orang itupun terpelanting
dengan kerasnya, tubuhnya yang jatuh, menimpa batu-batu di jalanan. Terdengar
orang itu mengeluh kesakitan. Punggungnya serasa menjadi retak.
Tetapi ada harapan lagi,
bagi keempat perampok itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja seorang diantara
mereka telah memberikan isyarat dengan siulan nyaring.
Dengan cepat keempat
orang itu berusaha untuk segera bangkit berdiri dan melarikan diri.
Tidak ada kesulitan bagi
Madyasta dan Wignyana untuk menangkap mereka. Ketika keempat orang itu berlari
ke hutan, maka Madyasta maupun Wignyana berusaha untuk mengejar mereka.
Tetapi terdengar Ki Ajar
Wihangga bertepuk tangan memanggil mereka.
“Guru” berkata Madyasta
“Kami harus dapat menangkap salah satu dari mereka. Dengan demikian kita akan
tahu, siapakah mereka itu dan siapa pula pemimpin mereka”
“Tidak akan banyak
artinya, ngger” jawan Ki Ajar.
“Kenapa guru?”
“Yang mereka ketahui,
mereka adalah sebagian dari sekelompok penjahat. Hanya itu. Merekapun tidak akan
dapat menunjukkan sarang kawan-kawannya karena mereka tentu berpindah-pindah
tempat. Menurut penglihatanku, mereka adalah sebagian kecil dari sekawanan
perampok yang besar dalam susunan keanggotaan yang berlapis, sehingga
orang-orang pada lapisan terbawah tidak akan tahu, siapakah yang berada
dilapisan tengah. Apalagi dilapisan atas”
“Tetapi setidak-tidaknya
kami membawa bukti bahwa telah terjadi kerusuhan di Kadepapten ini”
“Jika kau kehilangan
bukti, aku akan bersedia menjadi saksi”
Madyasta terdiam.
“Angger berdua, kalian
tidak tahu, apa yang ada dibelakang pepohonan hutan itu. Sarang mereka tentu
tidak ada di tempat itu. Tetapi kau harus mengingat jebakan-jebakan yang mungkin
mereka pasang. Bukan hanya sekedar tali yang terikat menyilang di jalan. Mungkin
di dalam hutan itu terdapat berbagai macam jebakan, sementara beberapa orang
telah menunggu”
Madyasta dan Wignyana
saling berpandangan sejenak, namun merekapun mengerti peringatan yang diberikan
oleh gurunya. Mungkin para perampok itu telah membuat jebakan yang memang mereka
tujukan kepada para prajurit jika mereka mencoba memburu untuk menangkap mereka.
“Ya, guru” desis Madyasta
kemudian.
“Nah, sekarang marilah
kita meneruskan perjalanan, singkirkan tali itu”
Madyasta dan Wignyanapun
kemudian telah mengingkirkan tali yang merentang menyilang jalan itu.
Sejenak kemudian, maka
mereka bertigapun melanjutkan perjalanan mereka, tetapi yang berada di paling
depan kemudian adalah Ki Ajar.
Ketika mereka kemudian
telah sampai ke jalan yang lebih lebar, yang semakin jauh dari hutan, ki Ajarpun
berkata kepada Madyasta dan Wignyana “Majulah sedikit ngger, ada yang akan aku
katakan.
Madyasta dan Wignyana
kemudian berkuda disebelah menyebelah Ki Ajar. Sementara itu, kuda merekapun
berlari tidak terlalu kencang.
`”Aku melihat kalian tadi
marah sekali kepada para perempok itu”
Madyasta dan Wignyana
termangu-mangu sejenak, namun kemudian Madyastapun menjawab “Ya, guru. Aku
memang marah sekali kepada mereka”
“Itu wajar, ngger. Tetapi
betapapun kalian marah. Kalian tidak boleh terbakar oleh rasa kemarahan kalian,
maka penalaran kalianpun akan menjadi kacau”
Madyasta dan Wignyana
terdiam.
“Angger berdua, aku
melihat ungkapan kemarahan kalian adalah tatanan gerak kanuragan kalian. Betapa
kalian marah sekali sehingga serangan-serangan kalian tidak lagi terkendali.
Tidak ada pikiran lain di kepala kalian sekali menghancurkan lawan kalian. Dan
bahkan malah membunuh mereka. Seadainya kalian mengejar mereka agar menangkap
salah seorang dari mereka untuk dijadikan sumber keterangan, maka yang akan
kalian dapatkan atidak akan lebih dari sosok-sosok mayat para perampok itu. Aku
melihat bahwa kalian terlalu sulit untuk mengendalikan kemarahan kalian”
Madyasta dan Wignyana
tidak menjawab.
“Tetap itu wajar sekali
terjadi pada anak-anak muda yang baru keluar dari sebuah perguruan. Anak-anak
muda yang merasa dirinya telah berbekal ilmu”
Jantung Madyasta dan
Wignyanapun telah tersentuh pula, karena itu, maka keduanya sama sekali tidak
menjawab.
“Tetapi setelah kalian
mengalami, ngger. Untuk seterusnya berhatil-hatilah. Kalian harus menjaga agar
kalian tidak terbenam kedalam arus kemarahan setiap kali kalian menghadapi
persoalan, betapapun kalian menjadi marah. Kalian harus tetap menyadari, apa
yang akan kalian lakukan”
“Ya, guru” jawab Madyasta
dan Wignyana berbarengan.
“Tetapi apa yang terjadi
bukan merupakan gejala buruk bagi kalian. Itu wajar. Wajar sekali. Namun
meskipun hal itu terjadi, namun sebaiknya kalian mampu tetap berpegang teguh
pada penalaran yang penting.
“Ya, guru” jawab kedua
orang anak muda itu.
“Nah, marilah kita
berpacu agak lebih cepat. Waktu kita sudah tersita beberapa lama di pinggir
hutan itu”
Madyasta dan Wignyana
tidak menjawab, sementara itu, kuda Ki Ajar berlari semakin cepat, sehingga
kedua orang anak muda itupun mempercepat lari kuda mereka pula.
Namun dengan demikian,
maka mereka tidak dapat mencapai Dalem Kadipaten sebelum senja, ketika senja
turun, mereka masih berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang kota
Paranganom.
Demikian mereka sampai ke
pintu kota, maka lampu-lampu minyak disetiap rumah sudah dinyalakan. Dua buah
oncor telah terpaspang pula di pintu gerbang, sedangkan di pinggir jalan induk
yang langsung menuju ke alun-alun, di beberapa regolpun telah terpasang oncor
pula. Sebagian oncor jarak, sedangkan yang lain oncor minyak kelapa.
Dalam keremangan senja,
tidak banyak lagi orang yang berada di jalan, bahkan tidak ada orang yang
memperhatikan tiga orang berkuda menyusuri jalan induk yang langsung menuju
alun-alun.
Namun penjaga pintu
gerbang istana Kangjeng Adipatilah yang terkejut ketika mereka melihat tiga
orang berkuda berhenti di depan pintu gerbang halaman istana.
“Raden Madyasta dan Raden
Wignyana” desis prajurit yang bertugas.
“Ya, kami datang bersama
guru”
“Silahkan, silahkan,
Raden, silahkan Kiai”
Ketiganyapun segera
memasuki pintu gerbang halaman istana, mereka langsung menyusuri halaman samping
dan berhenti di pinta seketeng.
Prajurit yang bertugaspun
segera menerima ketiga ekor kuda itu dan mempersilahkan memreka memasuki
longkangan samping.
Kedatangan Madyasta dan
Wignyana bersama Ki Ajar Wihangga pada saat malam mulai turun itu, memang agak
mengejutkan Kangjeng Adipati.
Kangjeng Adipatipun
kemudian menerima kehadiran Ki Ajar serta kedua orang puteranya di serambi
samping.
“Selamat datang kakang,
nampaknya kakang bersama Madyasta dan Wignyana agak kesiangan berangkat dari
padepokan, sehingga lewat senja kalian baru sampai. Bukankah biasanya kakang dan
anak-anak sudah sampai sebelum senja turun?”
Ki Ajar tersenyum,
katanya “Ada sedikit hambatan di perjalanan, Kangjeng”
Kangjeng Adipati
mengerutkan keningnya, dengan nada tinggi iapaun bertanya “Hambatan apa kakang?”
Ki Ajar memandang
Madyasta dan Wignyana berganti-ganti. Sambil tersenyum iapun berkata “Kedua
putera Kangjeng Adipati telah diuji di perjalanan”
“Ada apa?” nampak
kecemasan di wajah Kangjeng Adipati.
Namun sebelum pembicaraan
itu berlanjut, Raden Ayu Prangkusuma telah memasuki serambi itu pula. Dengan
nada penuh kerinduan dari seorang ibu, Raden Ayu itupun berkata “Aku mendengar
suara kalian Madyasta dan Wignyana. Marilah. Masuklah ke ruang dalam, kalian
tentu letih setelah menempuh perjalanan seharian”
“Kau belum mengucapkan
selamat datang kepada kakang Ajar Wihangga, diajeng” potong Kangjeng Adipati.
Raden Ayu tertawa,
katanya, “Maaf kakang, sudah sejak di dalam ucapan itu sudah ada di bibir.
Tetapi ketika aku melihat Madyasta dan Wignyana, aku lupa mengucapkannya.
Apalagi kektika aku melihat pakaian mereka yang kusut. Keringat dan debu yang
melekat diwajah mereka. Maaf, kakang. Biarlah mereka membenahi diri”
“Kakang Ajar Wihangga
tentu juga akan segera berbenah diri”
“Senthong bagi kakang
Ajar akan segera disiapkan. Bukankah kakang akan bermalam?”
“Tentu” Kangjeng
Adipatilah yang menjajwab “Bukankah malam sudah turun?”
“Nah, masih banyak waktu
untuk berbincang. Malam nanti, esok pagi dan barangkali kakang Ajar tidak hanya
akan bermalam semalam saja”
Ki Ajar hanya tertawa
saja. Sementara itu, setelah Madyasta dan Wignyana mencium tangan ibunya,
merekapun dibimbing seperti kanak-kanak masuk ke ruang dalam.
“Maaf, kakang” berkata
Kangjeng Adipati kemudian “Ibunya memang sangat rindu kepada mereka”
“Aku mengerti, Kangjeng”
“Aku juga minta maaf,
kakang. Sebelum kakang sempat beristirahat, aku sudah mendesak ingin mengetahui
hambatan apa yang telah terjadi di perjalanan?”
Ki Ajar tersenyum,
katanya “Tidak apa Kangjeng, bukankah itu sudah sewajarnya?”
“Ya, kakang” sahut
Kangjeng Adipati
Ki Ajarpun kemudian
menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan. Empat orang kawanan perampok
itupun telah mengganggu perjalanan mereka.
“Perampok?”
“Ya, Kangjeng”
Kangjeng Adipati
termangu-mangu sejenak, namun sementara itu, seorang pelayan telah menghidangkan
minuman hangat dan beberapa potong makanan.
“Silahkan kakang. Nanti
pembicaraan kita tentang para perampok itu kita lanjutkan”
“Terima kasih, Kangjeng”
“Kami akan mempersilahkan
kakang untuk mandi dan beristirahat. Malam nanti kita akan dapat berbicara
panjang bersama Madyasta dan Wignyana”
malam ini setelah makan
malam Kangjeng Adipati duduk di serambi pula bersama Ki Ajar Wihangga, Madyasta
dan Wignyana. Raden ayu Prangkusuma itu duduk mereka sebentar. Namun kemudian
minta diri untuk bersama-sama dengan pelayan membersihkan ruangan dalam.
“Nah” berkata Kangjeng
Adipati kemudian “Sekarang aku ingin mendengar ceritera tentang perjalanan
kakang bersama Madyasta dan Wignyana sepenuhnya”
Ki Ajarpun tersenyum,
katanya “Baiklah, Kangjeng, tetapi sebaiknya biarlah anger Madyasta dan Wignyana
sajalah yang berceritera”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk, katanya “Baiklah, ceritakan apa yang telah terjadi”
Berganti-ganti Madyasta
dan Wignyana menceritakan apa yang telah terjadi di perjalanan mereka. Mereka
saling melengkapi dan bahkan ceritera mereka memang kadang-kadang menjadi
tumpang tindih. Rasa-rasanya terlalu banyak yang ingin mereka katakana, sehingga
kalimatpun rasa-rasanya saling berdesakan lewat mulut keduanya.
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk, akhirnya ceritera kedua orang putranya itu jelas pula
baginya.
“Kakang” berkata Kangjeng
Adipati “Sebenarnyalah bahwa Kadipaten Paranganom tidak lagi aman dan tenteram
seperti sebelumnya. Aku juga sudah menerima laporan tentang kejahatan yang
terjadi di beberapa padukuhan. Juga telah terjadi perampokan di jalan-jalan”
“Jadi ayahanda sudah
mengetahuinya?” bertanya Madyasta.
“Baru dalam pekan ini.
Agaknya peristiwa kejahatan itu juga belum lama mulai tumbuh di kadipaten ini”
“Kita tidak boleh
terlambat ayahanda” berkata Wignyana kemudian.
“Ya” Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk “Tetapi kita juga tidak boleh tergesa-gesa. Kita harus tahu,
apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kita tidak salah mengambil langkah.
Madyasta dan Wignyana
mengangguk-angguk kecil.
“Nah, sikap Kangjeng
Adipati itu harus kalian teladani, ngger. Kita jangan tergesa-gesa mengambil
sikap agar kita tidak salang langkah”
“Ya, guru” sahut Madyasta
dan Wignyana bersama.
Sementara itu, Kangjeng
Adipatipun berkata selanjutnya “Selain laporan tentang tindakan kejahatan itu,
kakang sejak hari ini kakang mbok Raden Ayu Prawirayuda juga berada disini”
“Maksud Kangjeng Adipati,
Raden Ayu Prawirayuda berada di Kadipaten ini?”
“Ya”
“Apakah sekedar menengok
keadaan keluarga disini?”
“Tidak, kakang. Tetapi
Kakang Mbok itu mengungsi ke Kadipaten Paranganom”
“Bibi mengungsi ke
paranganom?” bertanya Madyasta
“Ya”
“Kenapa Ayahanda?”
bertanya Wignyana
“Ada masalah dengan
kakangmasmu angger Adipati Yudapati”
“Persoalan apa?”
“Bibimu dipersilahkan
meninggalkan Kadipaten Kateguhan.
“Alasannya?”
“Aku masih belum sempat
berbicara panjang. Baru besok hari aku akan berbicara dengan bibimu. Tadi bibimu
nampak sangat letih.
“Dengan siapa bibi datang
kemari?”
“Dengan puterinya
Rantamsari”
“Jadi bibi datang bersama
dengan kakangmbok Rantamsari?”
“Ya”
“Lalu bibi akan tinggal
di Paranganom?”
“Nampaknya memang begitu.
Tetapi aku masih belum tahu pasti, meskipun demikian, aku telah memerintahkan
menyiapkan sebuah tempat tinggal bagi bibimu. Jika benar bibimu akan tinggal di
Paranganom, maka biarlah bibimu tingal di tempat itu dengan tenang dan tidak
bersama Rantamsari. Biarlah ibundamu menugaskan dua atau tiga orang pelayannya
di rumah bibimu serta seorang juru taman”
“Kenapa kakangmas Adipati
Yudapati sampai hati mengusir bibi dari Kateguhan?”
“Bagaimanapunn juga
hubungan antara anak dan ibu tiri sering menimbulkan persoalan” desis Ki Ajar
“Meskipun tidak semuanya, ada seorang ibu tiri yang bersikap kurang baik
terhadap anak tirinya, tetapi sebaliknya ada anak tiri yang bersikap tidak baik
terhadap ibu tirinya”
“Besok tidak ada salahnya
jika kakang juga ikut mendengarkan ceritera kakangmbok Prawirayuda”
“Baik Kangjeng, tetapi
tentu saja aku hanya akan menjadi pendengar yang baik tanpa dapat melibatkan
diri”
“Mungkin kakang dapat
memberikan petunjuk jalan manakah yang terbaik. Pada dasarnya perselisihan
antara ibu dan anak, meskipun anak tiri, dapat dijernihkan”
Dalam pada itu, ketika
malam menjadi semakin larut, Kangjeng Adipatipun berkata kepada kedua puteranya
“Kalian tentu letih, beristirahatlah. Biarlah aku duduk disini sebentar lagi
dengan gurumu”
“Baik, ayah” Sahut
Madyasta, namun kemudian Wignyanapun yang juga merasa letih, telah bangkit pula
berdiri sambil berkata “Aku juga mohon diri untuk beristirahat”
Keduanyapun kemudian
telah meninggalkan Ki Ajar Wihangga dan Kangjeng Adipati di serambi.
“Kakang, meskipun tidak
kakang katakana, tetapi ketika anak-anak menceritakan hembatan yang mereka
alami, terasa ada sesuatu yang ingin kakang sampaikan”
Ki Ajar tersenyum,
katanya “Bukankah Kangjeng Adipati merasakan, betapa mereka berdua demikian
ingin menceritakan apa yang telah terjadi?”
“Ya, kakang”
“Keduanya memang menjadi
sangat merah kepada para penyamun itu, sehingga mereka berdua telah hanyut
kedalam arus perasaan mereka”
Kangjeng Adipati masih
mengangguk-angguk.
“Nah, aku merasa perlu
untuk sedikit mengekang gejolak darah muda mereka. Ketika mereka mengejar para
penyamun yang melarikan diri, aku memang mencegahnya, maksud keduanya memang
benar, mereka ingin menangkap setidak-tdiaknya seorang dari mereka untuk menjadi
sumber keterangan. Tetapi jika mereka dapat menangkap salah seorang dari
penyamun itu, maka penyamun itu tentu sudah mati sebelum sempat berbicara juga”
“Aku mengerti kakang”
desis Kangjeng Adipati “Darah muda mereka masih mudah mendidih, sifat kemudaan
mereka masih mereka kedepankan”
“Seorang yang baru saja
keluar dari sebuah perguruan, memang terdorong untuk menguji kemampuannya.
Dibarengi dengan kemarahan yang menyala, maka keduanya agak kurang dapat
mengendalikan diri”
“Terima kasih atas
pengamatan kakang yang lengkap terhadap anak-anak itu”
“Semoga untuk selanjutnya
juga menjadi perhatian Kangjeng Adipati”
Kangjeng Adipatipun
mengangguk-angguk pula.
Namun beberapa saat
kemudian, Kangjeng Adipatipun telah mempersilahkan Ki Ajar untuk beristirahat.
Sebuah bilik yang sudah dibersihkan dan diatur dengan rapi di ganduk telah
disiapkan bagi Ki Ajar Wihangga.
Dipagi hari berikutnya,
ketika langit masih remang-remang. Madyasta dan Wignyana sudah sibuk di pakiwan,
bergantian mereka menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan.
“Biarlah aku yang
mengisinya, Raden” berkata salah seorang andi Kadipaten.
Tetapi mengisi jambangan
di pagi hari adalah kewajiban yan harus mereka lakukan di padepokan. Sehingga
rasa-rasanya ada yang terhutang jika mereka tidak mengisi jambangan. Karena itu,
maka kepada pelayannya Madyasta berkata “Biarlah aku mengisinya, pekerjaan ini
selalu aku lakukan”
“Tetapi tentu tidak di
Kadipaten ini, Raden”
“Disinipun aku tidak
boleh melupakan kewajiban itu”
Pelayannya tidak dapat
memaksanya meskipun ia masih saja berdebar-debar, jika Kangjeng Adipati atau
Raden Ayu melihatnya, maka mereka akan menjadi marah.
Tetapi ternyata tidak,
ketika Kangjeng Adipati yang berdiri di pintu butulan melihat Madyasta menimba
air selagi Wignyana mandi, Kangjeng Adipati itu sama sekali tidak marah, dan
bahkan tidak mencegahnya. Dibiarkannya Madyasta terus mengisi jambangan pakiwan.
Ketika matahari naik,
Madyasta dan Wignyana sudah siap untuk hadir di pendapa Kadipaten bersama para
pemimpin Kadipaten Paranganom. KI Ajar dari Panambangan juga akan ikut hadir.
Sebelum saatnya baik ke
pendapa, maka Ki Ajarpun melihat Madyasta dan Wignyana mengenakan pakaian baru.
“Sudah sejak angger
berdua berada di padepokan angger berdua belum pernah ikut dalam pertemuan resmi
seperti hari ini, ngger?”
“Belum. Guru, adalah
kebetulan hari ini ayahanda memanggil para pemimpin Kadipaten untuk
mengyelenggarakan sebah pertemuan resmi di pendapa”
“Angger berdua nampak
benar-benar seperti putera seorang Adipati”
“Ah, guru, ibu tadi
mengatakan, bahwa kemarin adalah hari ulang tahunku. Karena itu, maka ibundalah
yang memberikan pakaian baru kepadaku, apalagi hari ini ayahanda
menyelenggarakan sebuah pertemuan besar”
“Kakangmu Madyasta yang
kemarin berulang-tahun, aku ikut pula menerima hadiah dari ibunda”
“Besok, jika kau
berulang-tahun, aku juga akan menuntut hadiah” sahut Madyasta.
Wignya tertawa, gurunya
tertawa pula.
Bab 03 – Raden Ayu
Prawirayuda
Ketika matahari
sepenggalah, maka para pemimpin di Kadipaten Paranganom mulai berdatangan.
Beberapa orang di Kadipaten Paranganom mulai berdatangan, beberapa orang
Tumenggung dan beberapa orang Bupati.
Ketika para pemimpin
Parangnom sudah hadir, maka Ki Ajar diikuti oleh Madyasta dan Wignyana telah
naik ke pendapa pula.
Orang-orang yang hadir
segera mengenali kedua orang anak muda itu. Mereka adalah putera Kangjeng
Adipati yang sudah agak lama berada di sebuah padepokan.
Agaknya sekarang mereka
sudah pulang” berkata salah seorang tumenggung kepada Tumenggung yang lain, yang
duduk di sebelahnya.
Sementara itu, dua orang
Tumenggung Wreda telah hadir pula di pendapa, Ki Tumenggung Wiradapa dan
Tumenggung Sanggayuda”
Beberapa saat kemudian
maka Kangjeng Adipatipun telah keluar dari ruang dalam Dalem Kadipaten untuk
hadir dalam pertemuan itu.
Demikian Kangjeng Adipati
duduk, maka suasana di pendapa itu menjadi lengang. Semuanya duduk diam sambil
menundukkan kepala mereka.
Madyasta dan Wignyana
sempat mencuri pandang melihat suasana di pendapa itu, suasana yang jarang
sekali mereka temui, suasana yang demikian terasa tegang dan kaku.
“Seberapa lama kami harus
duduk mematung seperti ini” berkata Madyasta di dalam hatinya.
Tetapi ia merasa wajib
untuk menyesuaikan diri. Apalagi ia adalah putera Kangjeng Adipati itu sendiri
yang harus dijunjung tinggi kewibawaannya. Beberapa saat kemudian, maka Kangjeng
Adipati telah membuka pertemuan itu.
Ki Ajar Wihangga justru
agak terkejut ketika di akhir acara, Kangjeng Adipati memberikan waktu
kepadanya, karena kehadirannya di Kadipaten adalah dalam rangka penyerahan
kembali kedua orang putera yang pernah dititipkankan kepadanya.
Ki Ajar memang tidak
menduga. bahwa Kangjeng Adipati merencanakan penyerahan itu dilakukan dalam satu
upacara, karena pada saat Kangjeng Adipati menyerahkan kedua puteranya itu sama
sekali tidak disertai dengan upacara apapun. Waktu itu, Kangjeng Adipati secara
langsung menyerahkan Raden Madyasta dan Raden Wignyana dan langsung pula
keduanya ikut bersamanya berkuda ke padepokan.
Pada waktu Kangjeng
Adipati itu berkata kepadanya “Aku titipkan anak-anakku kepadamu kakang”
Tetapi tiba-tiba kini Ki
Ajar itu harus menyerahkan keduanya dalam satu upacara di pendapa kadipaten
dihadapan para pemimpin Kadiparen Paranganom.
Ki Ajar memang tidak
terbiasa dengan upacara-upacara resmi seperti itu. Namun Ki Ajar tidak dapat
mengelak. Dihadapan para Tumenggung Wreda, Tumenggung Sanggayuda, para bupati
dan para pemimpin yang lain. Ki Ajar itupun berkata : “Ampun Kangjeng Adipati,
junjungan rakyat Paranganom, pada saat ini, aku yang rendah, Ajar Wihangga dari
padepokan Panambangan, menyerahkan kembali kedua putera Kangjeng Adipati yang
selama empat tahun berada di padepokan. Aku yang kurang pengetahuan dan tidak
memahami ilmu, mohon ampun apabila yang kami lakukan, jauh dari memenuhi harapan
Kangjeng Adipati, namun yang penting yang aku harapkan dapat selalu diingat oleh
kedua anak muda, putera Kangjeng Adipati adalah pesanku kepada mereka, hendaknya
hidup mereka semata-mata mencari ke Ridhoan Allah Swt. Yang menciptakan langit
dan bumi serta seisinya. Dan apa yang mereka lakukan, semata-mata karenaLillahi
Ta’ala. Sebagai putera seorang Adipati, mereka mempunyai kesempatan yang luas
untuk memperhatikan sesamanya yang kekurangan, kelaparan dan hidup dalam
kegelapan. Bertindak dengan bijaksana serta hatinya dipenuhi oleh kesabaran
serta belas kasihan”
Madyasta dan Wignyana
justru terkejut. Mereka memang sering mendengar nasehat itu diucapkan hampir
disetiap kesempatan, tetapi ketika nasehat gurunya itu diucapkannya dihadapan
para pemimpin Kadipapten Paranganom, maka mereka seakan-akan dihadapan kepada
para saksi yang akan menilai, apakah dalam perjalanan hidupnya kemudian, mereka
akan dapat memenuhi petunjuk gurunya itu. Sehingga masa berguru yang dijalaninya
itu benar-benar mempunyai arti.
Terasa jantung kedua anak
muda itu tergetar. Namun justru itu, maka keduanyapun telah berjanji untuk
melakukan semua pejunjuk gurunya itu.
Sementara itu, Kangjeng
Adipati telah menanggapi pula dengan pernyataan terima kasih kepada Ki Ajar yang
telah memberikan bimbingan kepada kedua puteranya, tidak saja dalam olah
kanuragan, tetapi juga arah serta pegangan hidup mereka di masa mendatang.
Baru kemudian, Kangjeng
Adipati berbicara dengan para pemimpin di Kadipaten Paranganom.
Yang terpenting mereka
bicarakan adalah tentang laporan adanya tindak kejahatan yang tumbuh di
Kadipaten.
“Bukan berarti bahwa
selama ini tidak ada tindak kejahatan di Kadipaten Paranganom. Tetapi tindak
kejahatan itu segera dapat diredam. Namun akhir-akhir ini tindak kejahatan itu
rasa-rasanya tumbuh dengan cepat. Menurut laporan yang diterima oleh para
pemimpin di Paranganom, maka kejahatan itu mulai merambat dari satu tempat
ketempat yang lain.
Ternyata para pemimpin di
Paranganom juga sudah mendengar laporan-laporan tentang terganggunya keamanan
dan ketenteraman hidup bagi rakyat Paranganom.
“Kita harus segera
mengambil tindakan untuk mencegah meluasnya tindak kejahatan itu” berkata
Kangjeng Adipati.
Para pemimpin yang hadir
itupun sependapat bahwa mereka harus mengambil tindakan yang cepat, jika mereka
bertindak dengan lambat, maka kejahatan itu akan menjalar kemana-mana.
Ki Tumenggung Wiradapa
berpendapat bahwa para Demang harus memantau keadaan dengan seksama.
“Setiap saat mereka harus
memberikan laporan tentang perlembangan di kademangan mereka masing-masing,
Kangjeng”
“Aku tugaskan kepada para
Bupati untuk mengamati lingkungan mereka masing-masing, jika perlu, jika rakyat
mengalami kesulitan untuk menghadapi mereka, maka Paranganom akan memerintahkan
para prajurit untuk mengatasinya. Karena itu, kami memerlukan laporan itu setiap
saat dan dalam waktu yang cepat dari setiap peristiwa kejahatan”
Pertemuan itu telah
menghasilkan kesepakatan bahwa para pemimpin di Paranganom harus memantau
keadaan, terutama dalam hubungannya dengan semakin berkembangnya kejahatan.
Ketika pembicaraan
dianggap sudah cukup, maka Kangjeng Adipati telah menutup pertemuan itu. Para
pemimpin Kadipaten Paranganom diperkenankan meninggalkan pendapa dalem
kadipaten.
“Aku minta kakang
Tumenggung Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda untuk tinggal disamping
kakang Ajar Wihangga serta kedua puteraku”
Demikian, sejenak
kemudian pendapa kadipaten itupun menjadi lengang. Yang tinggal hanyalah kedua
orang Tumenggung Wreda dan Tumenggung Sanggayuda, kedua orang putera Kangjeng
Adipati serta Ki Ajar.
Namun kemudian Kangjeng
Adipati itupun berkata kepada Wignyana “Wignyana, persilahkan ibundamu seta
bibimu Prawirayuda menghadap, aku ingin berbicara tentang sikap angger Adipati
Yudapati”
“Hamba, ayahnda” sahut
Wignyana sambil beringsut.
Beberapa saat kemudian,
Raden Ayu Prawirayuda, Rantamsari ditemani oleh Raden Ayu Prangkusuma telah
menghadap Kangjeng Adipati Paranganom.
“Kakangmbok” berkata
Kangjeng Adipati “Maaf, bahwa baru sekarang kita akan berbicara tentang keadaan
kakangmbok, kemarin kakangmbok nampak begitu letih, sehingga aku biarkan
kakangmbok untuk beristirahat”
“Terima kasih, Dimas,
bahwa aku diperkenankan untuk berada di Paranganom itupun sudah merupakan satu
kemurahan hati Dimas yang tidak terhingga artinya bagi aku dan anakku
Rantamsari”
“Kakangmbok” berkata
Kangjeng Adipati kemudian “Apa yang sebenarnya terjadi di Kadipaten Kateguhan
sehingga kakangmbok harus meninggalkan Kadipaten?”
“Dimas, sebenarnyalah
bahwa aku tidak tahu, apakah kesalahanku sebenarnya, tanpa tuduhan apa-apa,
tiba-tiba saja angger Adipati Yudapati telah mengusir aku, agar aku dan
Rantamsari meninggalkan Kadipaten Kateguhan”
“Tetapi bukankah
kakangmbok dapat menduga, apakah sebabnya anakmas Adipati Yudapati menjadi marah
dan bahkan kemarahannya agak melampui batas kewajaran, karena angger Adipati
Yudapati sudah mengusir kakangmbok dari Kadipaten Kateguhan, bagaimana juga,
kakangmbok adalah isteri kakangmas Adipati Prawirayuda almarhum. Sehingga
kakangmbok berhak untuk tinggal di Kadipaten berasama dengan Rantamsari”
“Tetapi sudahlah, Dimas.
Kemurahan hati Dimas sudah dapat menyejukkan hatiku serta anakku”
“Mungkin kakangmbok yang
merasa sudah mempunyai tempat tinggal selanjutnya, sudah merasa cukup. Mungkin
kakangmbok tidak merasa mendendam kepada angger Adipati Yudapati, tetapi karena
masih ada sangkut paut hubungan keluarga, maka tidak ada salahnya mengetahui,
apa yang sebenarnya yang telah terjadi di Kateguhan. Dalam pertemuan ini aku
masih menahan kedua orang Tumenggung agar dapat ikut mendengarkan apa yang
sebenarnya telah terjadi. Kateguhan bukan saja sebuah Kadipaten yang semula
diperintah oleh kakangmas Prawirayuda, saudara tuaku sendiri dan yang sekarang
diperintah oleh kemanakanku, angger Adipati Yudapati. Tetapi Kateguhan juga
sebuah Kadipaten yang merupakan tetangga terdekat. Garis batas sebelah utara
Paranganom adalah garis batas sebelah selatan Kateguhan. Sehingga apa yang
terjadi di Kateguhan akan dapat memercik ke Paranganom. Apalagi sekarang
kakangmbok Prawirayuda berada disini”
Raden Ayu Prawirayuda
menundukkan kepalanya, diusapnya matanya yang basah dengan jari-jarinya.
Sementara itu Rantamsari yang duduk di sebelah ibunya hanya dapat menundukkan
kepalanya dalam-dalam.
“Adimas” suara Raden Ayu
Prawirayuda itu tersendat-sendat “Sebenarnyalah bahwa angger Adipati Yudapati
tidak pernah menjatuhkan tuduhan apa-apa. Justru karena itu, aku tidak dapat
membela diri, tetapi menurut seorang abdi, justru diluar dalem kadipaten telah
tersebar kabar yang sangat memalukan Dimas”
“Kabar apakah itu
kakangmbok? Nah, kabar yang tersebar itulah yang ingin aku dengar. Tentu saja
bukan merupakan pegangan atas kebenarannya”
“Dimas, sebenarnya aku
sangat malu untuk mengutarakannya, tetapi apa boleh buat. Aku dapat mengerti,
bahwa Dimas memerlukan bahan untuk menempatkan masalah ini pada tempat yang
sewajarnya”
“Ya, kakangmbok”
“Adimas. Orang-orang di
jalanan mengatakan bahwa angger Adipati Yudapati menjadi sangat marah kepadaku
dan kepada Rantamsari karena aku dan Rantamsari sering menjual harta benda milik
Kadipaten yang harganya sangat mahal. Nampan dari emas, beberapa buah mangkuk
yang diselut perak, berbagai macam perhiasan di kaputren dan masah banyak lagi.
Karena itu, maka aku telah diusir dari dalem Kadipaten. Aku diberi waktu sepekan
untuk berkemas dan menyiapkan benda-benda berharga di kaputren yang ingin aku
bawa. Angger Adipati akan memberikan apa saja yang aku kehendaki untuk aku bawa
meninggalkan kadipaten Kateguhan”
“Tetapi bukankah
kakangmbok dapat membuktikan bahwa kakangmbok tidak melakukannya? Bukankah
benda-benda berharga di Kadipaten Kateguhan diketahui dengan pasti jenis dan
jumlahnya, sehingga jika ada yang hilang akan segera diketahui?”
“Aku tidak dapat
mengatakannya kepada Angger Adipati, angger Adipati sendiri tidak pernah
melontarkan tuduhan apapun kepadaku. Dimas, yang aku tahu, tiba-tiba saja angger
Adipati meminta kepadaku untuk mengemaskan barang-barangku dan meninggalkan
Kadipaten dalam waktu sepekan”
“Tetapi kakangmbok justru
dipersilahkan membawa apa saja yang ingin kakangmbok bawa dari kaputren
Kateguhan?”
“Ya, Dimas, tetapi aku
tidak membawa sepotongpun benda berharga. Aku ingin mengatakan kepada angger
Adipati, bahwa aku tidak menginginkan semua itu. Ketika aku akan berangkat, aku
katakan kepadanya, angger Adipati menghitung semua benda bukan saja yang
berharga, tetapi apa saja yang ada di kaputren. Bahkan sepotong bancik lampu
dari perak yang sangat aku sukapun, tidak aku bawa”
“Apa kata angger Adipati
ketika ia tahu bahwa kakangmbok tidak membawa apa-apa?”
“Angger Adipati tidak
mengatakan apa-apa kepadaku”
Kangjeng Adipati
Pranganom mengangguk-angguk, katanya “Sudahlah kakangmbok. Biarlah kakangmbok
tinggal disini. Aku sudah menyediakan sebuah rumah bagi kakanmbok, mungkin
terlalu sederhana dibandngkan dengan kaputren Kateguhan”
“Aku mengucapkan terima
kasih yang tidak terhingga, Dimas. Jika Dimas dan Diajeng Adipati Paranganom
tidak menaruh belas kasihan, lalu apakah jadinya kami berdua, apakah kami harus
berkeliaran di sepanjang jalan”
Suara Raden Ayu
Prawirayuda itu terputus, jari-jarinya sibuk mengusap matanya yang basah.
“Sudahlah kakangmbok”
berkata Raden Ayu Prangkusuma “Tinggallah di Paranganom. Dua orang abdiku akan
melayani kakangmbok. Selain mereka, juru taman kami akan memelihara taman di
rumah yang kami sediakan bagi kakangmbok. Jika kakangmbok masih memerlukannya,
aku dapat menambahnya dengan satu atau dua orang lagi”
“Tentu sudah cukup,
Diajeng”
“Rantamsari” berkata
Raden Ayu Prangkusuma.
“Ya, bibi”
“Agaknya kau memang harus
prihatin dimasa mudamu, tetapi dengan demikian, kau telah mempersiapkan hari
depanmu dengan baik. Terimalah apa yang telah terjadi atas dirimu dengan hati
yang tegar. Yakinlah akan kemurahan Allah Swt. Sehingga pada suatu ketika akan
terjadi perubahan pada jalan hidupmu”
“Ya, bibi” suara
Rantamsari hampir tidak terdengar, wajahnya kemudian menunduk dalam-dalam.
Madyasta dan Wignyana
tidak dapat ikut campur dalam pembicaraan itu, apalagi gurunya. Sedangkan Ki
Tumenggung Wreda Wiradapa dan Ki Tumenggung Wreda Sanggayudapun hanya dapat
mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk kecil.
Dengan susah payah
Rantamsari berusaha untuk menahan agar ia tidak menangis, tetapi ternyata
Rantamsari itupun kemudian terisak.
Raden Ayu Prangkusuma
memeluknya sambil berbisik “Sudahlah Rantamsari, jangan menangis, ngger.
Peristiwa yang tidak kita inginkan memang dapat saja datang setiap saat. Tetapi
bukankah kau harus pasrah atas apa yang terjadi. Kita harus mensyukuri bahwa
kita masih menemukan jalan keluar. Tentu saja atas petunjuknya.
Rantamsari mengangguk.
“Madyasta dan Wignyana”
berkata Kangjeng Adipati kemudian “Antarkan bibimu dan puterinya ke rumah yang
telah dipersiapkan. Biarlah para abdi dan juru taman itu menyertai kalian”
“Baik Ayahanda” jawab
Madyasta “Marilah bibi, marilah kakangmbok Rantamsari”
Sejenak kemudian, maka
Raden Ayu Prangkusuma, Raden Ayu Prawirayuda dan Rantamsari telah meninggalkan
pendapa Kadipaten diiringi oleh Madyasta dan Wignyana yang akan mengantar Raden
Ayu Prangkusuma dan Rantamsari ke rumah yang telah disediakan.
Namun Kangjeng Adipati
masih tetap memerintahkan Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda untuk
tinggal bersama Ki Ajar Wihangga.
“Kakang Ajar serta kakang
Tumenggung Wreda berdua, bagaimana menurut pendapat kakang atas apa yang
terjadi. Apakah peristiwa itu murni sebagaimana yang kita dengar. Bahwa angger
Adipati Yudapati telah mengusir kakangmbok Prawirayuda dari Kadipaten Kateguhan
atau kakang melihat persoalan lain di balik apa yang kita dengar. Apakah ada
niat yang belum kita ketahui agara angger Adipati Yudapati terhadap Kadipaten
Paranganom atau sikap apapun, karena angger Yudapati tentu memperhitungkan bahwa
kakangmbok Prawirayuda tentu akan pergi ke Paranganom.
Ki Ajar menarik nafas
panjang, katanya “Kangjeng Adipati memerlukan waktu untuk mengetahuinya, memang
tidak mustahil, bahwa dibalik peristiwa itu tersembunyi masalah yang lebih tajam
dalam dan rumit. Namun seperti apa yang pernah Kangjeng katakan, kita tidak
boleh tergesa-gesa”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk sambil menjawab “Ya, kakang. Kita memang harus melihat dengan
sangat hati-hati dan dari segala sudut pandang yang berbeda”
“Ampun Kangjeng Adipati”
berkata Tumenggung Wiradapa “Apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan
pendapat hamba?”
“Katakan Kakang”
“Ada beberapa peristiwa
yang terjadi bersama, memang mungkin satu kebetulan, tetapi mungkin memang ada
kaitannya”
“Apa yang kakang
maksudkan?”
Ki Tumenggung
termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya “Tiba-tiba saja Raden Ayu
Prawirayuda sudah berada di Paranganom, Raden Ayu diusir dari Kadipaten
Kateguhan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara itu di kerusuhan di
Paranganom meningkat dengan cepat, nampaknya juga tanpa sebab. Selama ini
kesejahteraan rakyat Paranganom justru semakin meningkat. Tidak ada bencana alam
dan tidak ada permusuhan yang terjadi di lingkungan Kadipaten. Namun tiba-tiba
saja terjadi banyak kerusuhan itu terjadi di daerah yang lebih dekat perbatasan
dengan Kadipaten Kateguhan dari pada perbatasan yang lain”
Kangjeng Adipati menarik
nafas dalam-dalam. Sementara Ki Tumenggung Sanggayuda berkata “Kangjeng, apa
yang dikatakan oleh kakang Tumenggung Wiradapa itu memang harus mendapat
perhatian khusus. Meskipun secara umum, para Bupati dan para pemimpin yang lain
sudah mendapat perintah untuk memantau keadaan, tetapi daerah perbatasan itu
harus mendapat perhatian lebih”
“Bagaimana menurut
pendapat kakang”
“Kangjeng, seperti yang
kita ketahui, bahwa terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan bagi rakyat
Kadipaten Paranganom dengan rakyat Kadipapten Kateguhan. Keadaan alam,
lingkungan serta kebijaksanaan yang berbeda antara Kangjeng Adipati Prawirayuda
dengan Kangjeng Adipati Prangkusuma. Meskipun para Tumenggung sudah banyak
membantu serta memberikan beberapa pendapat yang memungkinkan adanya perubahan
di Kadipaten Kateguhan, namun Kateguhan masih belum dapat menyamai Paranganom”
“Perbedaan lantaran
kesejahteraan itukah yang menurut kakang dapat menimbulkan masalah?”
“Baru satu dugaan,
Kangjeng”
“Tetapi kenapa baru
sekarang?”
“Kangjeng Adipati
Yudapati adalah seorang yang masih muda. Sikapnya tentu berbeda dengan Kangjeng
Adipati Prawirayuda yang sudah banyak makan pahit asamnya kehidupan. Mungkin
kendati Kangjeng Adipati Yudapati tidak sekuat kendali di tangan ayahandanya.”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma mengangguk-angguk, sementara Ki Tumenggung Wiradapa berkata dengan
nada merendah “Kangjeng, sebaiknya kita memang tidak ber-prasangka buruk, bahwa
ada semacam kesengajaan dari beberapa orang pemimpin di Kateguhan. Tetapi tidak
mustahil bahwa ada pemimpin yang merasa iri terhadap kemajuan yang kita capai
selama ini”
Kangjeng Adipati
termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun berkata “Ya, kita jangan
ber-prasangka buruk. Tetapi semua kemungkinan harus menjadi perhatian kita”
“Kami berdua akan
berusaha Kangjeng”
“Aku percaya kepada
kakang Tumenggung berdua. Mudah-mudahan langit akan segera menjadi terang diatas
Paranganom”
Sejenak kemudian, maka
kedua orang Tumenggung itupun telah diperkenankan untuk meninggalkan pendapa,
sehingga yang tinggal kemudian adalah Ki Ajar sendiri. Dua orang prajurit yang
bertugas di depan pendapa itupun termangu-mangu. Tidak biasanya Kangjeng Adipati
duduk berlama-lama di pendapa. Apalagi setelah pertemuan selesai.
Tetapi nampaknya Kangjeng
Adipati masih berbincang-bincang dengan Ki Ajar tentang kemungkinan baru dalam
hubungannya dengan Kadipaten Kateguhan.
“Semoga tidak terjadi,
Kangjeng” berkata Ki Ajar “Tetapi kecemasan kedua orang Tumenggung itu sangat
beralasan, mungkin diluar pengetahuan Kangjeng Adipati Yudapati. Tetapi mungkin
yang terjadi di Paranganom itu justru sepengetahuan Kangjeng Adipati yang masih
muda itu”
Tetapi menurut
pengetahuanku, angger Adipati Yudapati adalah anak muda yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kesatriaan”
“Seseorang dapat berganti
sikap karena pengaruh orang lain. Jika seseorang dengan cerdik dan licik, setiap
hari meniupkan pengaruhnya ketelinga Kangjeng Adipati Yudapati, maka mungkin
saja sikap Kangjeng Adipati berubah atau merasa tidak berubah, tetapi dengan
penafsiran yang sengaja dikaburkan sehingga seakan-akan Kangjeng Adipati masih
tetap berpijak pasa nilai-nilai yang dijunjungnya.
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk, katanya “Ya, kakang. Aku mengerti seseorang memang dapat
berbicara tentang sikapnya berdasarkan atas kepentingannya, sedangkan
kebenaranpun dapat diurai menurut sudut pandang seseorang”
“Ya, Kangjeng. Sehingga
seseorang yang merasa dirinya menegakkan kebenaran akan dapat berbenturan dengan
orang lain yang juga bersumpah untuk menegakkan kebenaran pula”
Kangjeng Adipati menarik
nafas dalam-dalam, namun kemudian katanya “Kakang, aku persilahkan kakang untuk
beristirahat, anak-anak tadi baru mengantar bibinya ke tempat tinggalnya yang
baru”
“Terima kasih, Kangjeng”
Ki Ajar berdiri pula
ketika Kangjeng Adipati kemudian bangkit dan melangkah masuk kke ruang dalam.
Sementara itu, para prpajurit yang berjaga-jaga di depan pendapapun telah
meninggalkan tempatnya dan bergabung dengan kawan-kawannya yang berada di gardu.
Namun dua orang yang berjaga di pintu gerbang kadipaten masih juga berada dalam
tugasnya.
Ki Ajar kemudian tuurn
dari pendapa. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, namun kemudian iapun melangkah
ke biliknya di gandok dalem kadipaten.
Diruang dalam, Kangjeng
Adipatipun kemudian duduk bersama dengan Raden Ayu Prangkusuma yang masih nampak
muram.
“Kasihan kakangmbok
Prawirayuda” desis Raden Ayu Prangkusuma.
“Ya, tetapi apakah
kepadamu kakangmbok mengatakan persoalan-persoalan lain yang dapat melengkapi
keterangannya?”
“Tidak, kakangmas,
kakangmbok tidak mengatakan apa-apa kecuali sebagaimana dikatakannya kepada
kakangmas”
“Bukankah aneh, jika
angger Adipati Yudapati menuduhkan demikian, sementara barang-barang berharga di
kaputren masih lengkap”
Tetapi yang dimaksud
kakangmbok adalah berita yang tersiar di jalanan, sebagaimana yang didengar oleh
abdinya. Mungkin angger Adipati Yudapati mempunyai alasan yang lain?”
“Tetapi kenapa alasan itu
tidak dikatakan kepada kakangmbok Prawirayuda?”
“Sikap itulah yang sulit
dimengerti”
Kangjeng Adipati menarik
nafas dalam-dalam, sambil mengangguk-anggukan kepalanya iapun berkata “Ya, jika
saja Rantamsari mau mengatakan sesuatu kepada Madyasta atau Wignyana”
“Nampaknya Rantamsari
juga tidak tahu apa-apa. Rantamsari memang cantik, tetapi tatapan matanya tidak
menunjukkan ketajaman penggraitannya serta kecerdasannya. Mungkin ia bukan gadis
yang bodoh, tetapi agaknya ia seorang gadis yang manja”
“Ya” Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk “Aku sependapat. Nampaknya gadis cantik itu tidak mempunyai
banyak kelebihan dari gadis-gadis yang lain. Rantamsari tidak seperti angger
Adipati Yudapati, dilihat dari pandangan matanya. Yudapati sudah menunjukkan
bahwa ia adalah seorang anak muda yang tangkas berpikir dan bertindak”
“Agaknya Rantamsari tidak
pernah mendapat kesempatan mengasah ketajaman penggraitannya dalam kemanjaannya,
sehingga yang ada adalah seorang gadis catik sebagaimana Rantamsari itu”
“Besok atau lusa, kita
menengok di rumah kakangmbok yang kita sediakan, apakah kakangmbok merasa
kerasan atau tidak. Mungkin rumah itu kurang memadai dibandng dengan kaputren di
Kateghuan”
“Tetapi kakangmbok
menyadari, bahwa ia sekakang tidak berada di kaputren Kadipaten Kateguhan”
“Raden Ayu Prangkusuma
menarik nafas panjang”
Dalam pada itu, Madyasta
dan Wignyana telah berada di rumah Raden Ayu Prawirayuda yang baru. Dua orang
abdi perempuan telah diperintahkan oleh Raden Ayu Prangkusuma untuk sementara
berada di rumah itu. Sepasang suami isteri yang akan memelihara taman serta
membersihkan isi rumah dan prabot-prabotnya juga akan berada di rumah itu.
“Kau senang dengan rumah
ini, kakangmbok?” bertanya Wignyana kepada Rantamsari.
“Tentu, Dimas” “Jika
paman Adipati Prangkusuma dan bibi tidak memberikan rumah ini kepada kami, maka
kami akan hidup disepanjang jalan”
“Tentu tidak, kakangmbok,
tentu ada tempat yang dapat menerima kakangmbok dan bibi”
“Ya” Raden Ayu
Prawirayuda yang menyahut “Ternyata memang ada tempat yang dapat menerima kami.
Tempat yang sangat menyenangkan, tetapi yang dihadiahkan oleh Dimas Adipati
Prangkusuma”
Wignyana mengangguk
hormat sambil berkata “Hanya seandainya saja bibi. Seharusnya ayahanda
menyediakan tempat yang lebih baik bagi bibi. Maksudku bukan baik ujud dan
bentuknya. Tetapi rumah yang dapat lebih memberikan kenyamanan bagi bibi dan
kakangmbok Rantamsari”
“Rumah ini jauh lebih
nyaman bagi kami berdua, daripada “Kaputren di Kadipaten Kateguhan, angger.
Apalagi dilihat dari sisi kebutuhan jiwani, jiwaku yang bagaikan disayat dengan
sembilu oleh anakku sendiri. Meskipun angger Adipati Yudapati itu anak tiriku.
Tetapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Tidak ada bedanya, bahkan
bagiku bersikap baik, momong, merawat dan mencintai angger Yudapati lebih banyak
merupakan satu pengabdian. Aku merasa bahwa siapapun aku ini. Tetapi angger
Yudapatilah yang akan dan yang sekarang sudah ternyata, mewarisi kedudukan
ayahandanya, Adipati Kateguhan”
Wignyana
mengangguk-angguk.
Namun tiba-tiba Raden Ayu
itu bertanya “Dimana angger Madyasta?”
“Melihat-lihat keadaan
rumah ini, bibi. Mungkin masih ada yang kurang pantas atau bahkan mungkin ada
cacat yang harus segera ditangani”
“Semuanya sudah terlalu
cukup bagiku ngger, sebenarnyalah aku ingin mempersilahkan angger Madyasta dan
angger Wignyana duduk di pringgitan”
“Terima kasih, bibi. Aku
akan mencari kakangmas Madyasta. Aku juga akan melihat-lihat rumah ini dalam
keseleruhan”
Demikianlah, maka
Wignyanapun meninggalkan Rantamsari dan ibundanya mencari Madyasta. Wignyana
menemukan Madyasta sedang menunggui juru taman mengumpulkan sampah, kemudian
membuat lubang disudur halaman, memasukkan sampah itu dan kemudian menimbunnya.
“Kau pencarkan pohon soka
bajang itu”
“Ya, Raden”
“Jaga pagar hidup yang
menyekat taman halaman samping itu agar tetap rapi:
“Ya, Raden”
“Aku lihat sumur di
samping itu airnya cukup baik. Sehingga di musim kemaraupun kau tidak akan
kekurangan air”
“Ya, Raden”
Madyasta berpaling ketika
Wignyana mendekatinya sambil berkata “Kakang dipanggil oleh bibi, kakangmas”
“Ada apa?, apakah ada
yang tidak berkenan?, kemarin sejak bibi datang dan memberitahukan serba sedikit
persoalan yang dialaminya, ayahanda dan ibunda segera memerintahkan beberapa
orang membersihkan dan mengatur tempat ini”
“Tidak, bukan soal itu,
agaknya bibi hanya ingin mempersilahkan kita duduk-duduk di pringgitan. Segala
sesuatunya nampaknya sudah cukup memadai bagi bibi dan kakangmbok Rantamsari”
“Baik, Wignyana, aku
selesaikan dahulu gambaran tugas juru taman ini agar taman di rumah inipun
nampak asri seperti taman kaputren Kateguhan, tetapi tentu saja tidak dapat
dicipta dalam sehari. Diperlukan waktu sekitar sebulan”
“Aku kira tidak akan
menjadi masalah, kakangmas”
Namun Wignyana masih
harus menunggu beberapa saat, baru kemudian Madyasta meninggalkan juru taman itu
dan bersama-sama dengan Wignyana perti ke pringgitan.
Raden Ayu Prawirayuda dan
Rantamsari ternyata sudah menunggu mereka di pringgitan, dengan ramah Raden Ayu
Prawirayuda ituopun berkata “Maaf, angger berdua. Sekarang, biarlah aku yang
mempersilahkan angger berdua duduk, karena atas perkenan Adimas Adipati
Prangkusuma, aku akan tinggal di rumah ini.”
“Ya, bibi. Bibi memang
akan tinggal di rumah ini. Rumah ini akan menjadi rumah bibi, meskipun
barangkali kurang memadai”
“Tidak, angger. Sama
sekali tidak. Rumah ini sudah terlalu baik bagiku dan Rantamsari. Bahkan terasa
terlalu besar”
“Mudah-mudahan bibi dan
kakangmbok Rantamsari kerasan tinggal di rumah ini. Tetapi jika ada masalah, aku
mohon bibi langsung saja menyampaikan kepada ayahana atau kepada ibunda atau
kepada kami berdua”
“Terima kasih angger”
“Nah, bibi. Kami kira
kami sudah melaksanakan perintah ayahanda. Kami sudah mengantar bibi sampai ke
tempat ini, dan satu dua hari, mungkin rumah ini masih perlu dibenahi.”
“Terima kasih, angger.
Tetapi aku minta angger berdua tidak tergesa-gesa meninggalkan rumah ini. Aku
ingin menjamu angger berdua”
“Terima kasih, bibi. Bibi
masih terlalu repot mengatur segala sesuatunya disesuaikan dengan selera bibi
sendiri. Kami berdua akan mohon diri”
“Jika kami tidak dapat
menahan lebih lama lagi, baiklah. Silahkan angger. Tetapi aku mohon, besok
angger bedua berkunjung ke rumah ini, biarlah aku dan Rantamsari tidak merasa
kesepian. Jika angger berdua sering berkunjung kemari, maka kami akan segera
merasa menyatu dengan keluarga Adimas Adipati Prangkusuma. Dengan demikian, maka
kami akan segera menjadi tenang dari guncangan perasaan karena sikap angger
Adipati Yudapati itu”
“Baik, bibi. Kami akan
sering-sering berkunjung kemari”
Demikianlah sejenak
kemudian Madyasta dan Wignyana segera meninggalkan rumah yang diperuntukkan bagi
Raden Ayu Prawirayuda itu, mereka tidak terlalu banyak bicara disepanjang jalan.
Bab 04 – Dirga Jagoan
Kampung
Mereka rasa-rasanya
terbenam ke dalam angan-angan mereka masing-masing, Madyasta masih saja bingung
memikirkan sikap Kangjeng Adipati Yudapati, sementara itu Wignyana membayangkan
kehidupan yang sepi dari Raden Ayu Prawirayuda dan anak perempuannya,
Rantamsari. Sehari-hari mereka hanya berdua saja, terpisah dari keluarga mereka.
Ketika keduanya sampai di
istana, maka keduanyapun segera mencari guru mereka. Berbincang-bincang
sebentar, kemudian keduanyapun pergi menghadap ayahanda mereka.
Dalam pada itu, para
Bupati telah memerintahkan para demang untuk bersiaga sepenuhnya, mereka harus
mengamati peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan kejahatan yang
nampaknya mulai menyebar di kadipaten Paranganom.
Sebenarnyalah para
Demangpun telah memerintahkan seluruh penghuni kademangan masing-masing untuk
bersiaga sebaik-baiknya. Setiap orang laki-laki yang masih nampak kuat harus
mendapat giliran meronda. Terlebih-lebih anak-anak mudanya.
Namun, meskipun demikian,
kesegiaan itu tidak dapat menghentikan kerusuhan di kadipaten Paranganom,
kerusuhan itu dapat terjadi di jalan-jalan sepi. Namun juga di
padukuhan-padukuhan. Yang terjadi bukan saja pencurian ayam atau itik, bukan
pula pencurian jemuran di halaman, tetapi yang telah terjadi adalah justru
perampokan-perampokan, kawanan penyamun bagaikan telah meleburkan di kadipaten
Paranganom terutama di perbatasan.
Di kademangan Karang
Tengah, di setiap malam bukan saja mereka yang bertugas meronda yang berada di
gardu-gardu. Tetapi mereka yang tidak mendapat giliran rondapun selalu
berdatangan ke gardu-gardu.
Seorang anak muda yang
bertubuh tinggi besar, yang selalu membawa golok di pinggangnya berkata kepada
kepada kawan-kawannya “Jika saja para perampok itu berani datang kemari”
Anak muda itu memang
seorang anak muda yang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Tidak seorangpun
yang berani melawannya, ia memiliki kekuatan besar melampaui kekuatan anak-anak
muda kebanyakan.
Sayang sekali, anak muda
itu terlalu sombong, ia terlalu yakin akan kemampuannya.
Setiap malam hari, anak
muda itu rajin berada di gardu. Meskipun bukan hari-hari gilirannya meronda. Di
gardu ia sempat menyombongkan diri, menantang para perampok yang ditakuti di
mana-mana.
Namun malam itu,
rasa-rasanya agak lain dari malam-malam sebelumnya. Meskipun di gardu terdapat
banyak orang seperti biasanya, tetapi malam itu terasa sangat sepi. Orang-orang
yang berada di gardu itu tidak nampak tegar seperti biasanya. Sebagian dari
mereka mulai mengantuk sebelum wayah sepi uwong. Anak-anak mudanya tidak
berkelakar seperti biasanya, sehingga suara tertawa dan kelakar mereka terdengar
meledak-ledak.
Seorang yang umurnya
sudah mendekati pertengahan abad, namun masih tetap setia datang ke gardu,
berkata kepada seorang anak muda yang berada di sebelahnya “Suasana malam ini
agak lain dari malam-malam biasanya”
“Mungkin angin yang basah
itu terasa terlalu dingin, Kang”
“Ya, nampaknya langit
bersih tanpa selembar awan telah membuat malam terasa sangat dingin”
“Ya, apalagi sehari tadi,
kita semuanya sibuk di sawah, musim menggarap sawah ini membuat kita semuanya
sudah mengantuk”
“Ya, benar begitu”
Orang yang separuh baya
itu mengangguk-angguk, tetapi ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekedar
letih karena kerja seharian. Ada yang asing, tetapi ia tidak dapat
mengatakannya.
Malampun merayap semakin
dalam, anak muda yang bertubuh tinggi besar dan selalu membawa golok di
pinggangnya itupun turun dari gardu dan berjalan-jalan hilir mudik.
“He, bukankan sudah
hampir tengah malam. Marilah, siapa yang bertugas meronda berkeliling sekarang?”
anak muda itu hampir berteriak.
Tiga orang anak muda yang
lain dengan malasnya bangkit berdiri, seorang diantaranya menguap sambil berkata
“Ngantuk sekali ya, rasa-rasanya mataku tidak dapat terbuka sama sekali”
“Kau yang bertugas
meronda berkeliling-kan?”
“Ya”
“Marilah kita pergi, aku
kawani kalian, jika ada sesuatu, biarlah aku meyelesaikannya”
Seorang yang lain, yang
duduk sambil berkerudung kainnya berkata “Pergilah, harus ada diantara kita yang
meronda berkeliling. Dirga sudah bersedia mengantar kalian, karena itu, jangan
cemas lagi, Dirga akan mengatasi segala-galanya jika terjadi sesuatu”
“Bahkan seandainya ada
sekelompok perampok sekalipun” sahut anak muda yang bertubuh besar itu dan
bernama Dirga.
Demikianlah, maka sejenak
kemudian, lima orang termasuk Dirga yang berada paling depan, berjalan
mengelilingi kampung.
Empat kawan Dirga membawa
kentongan kecil yang dibunyikan sepanjang jalan dengan irama kotekan.
Tetapi Dirgapun kemudian
berkata “Tidak ada gunanya kau membunyikan kotekan itu:
“Kenapa ? orang-orang
yang tidur terlalu nyenyak akan terbangun” jawab seorang kawannya.
“Apa yang dapat mereka
lakukan, meskipun mereka terbangun”
“Mereka akan mengetahui
jika ada orang jahat masuk ke dalam rumah mereka”
“Bagaimana jika mereka
tahu?”
“Mereka akan
menangkapnya, atau membunyikan kentongan untuk memberi isyarat kepada kita yang
berada di gardu”
“Mereka tidak akan dapat
melakukannya”
“Kenapa ?”
“Jika yang datang itu
seorang pencuri yang kurus karena kelaparan, mencongkel dinding rumah dan
merangkak masuk, maka orang-orang yang terbangun karena bunyi kocekmu itu akan
dapat menangkap mereka, tetapi jika orang yang datang itu sekelompok perampok?”
“He..!” anak-anak muda
yang meronda berkeliling itu mulai saling merapat.
“Perampok, berandal atau
kecu itu jika mendatangi rumah seseorang tidak dengan sembunyi-sembunyi. Mereka
mengetuk pintu, jika tidak dibuka, maka mereka akan mendobraknya”
Keempat orang anak muda
itu mulai berdesakkan, tetapi tangan mereka masih saja memukul kentongan kecil.
“Tetapi kentongan ini
harus dibunyikan, itu kewajiban kita. Jika kita tidak membunyikan kentongan ini,
maka orang-orang padukuhan mengira kira tidak melakukan ronda malam ini”
Dirga tertawa, katanya
“Tentu bukan karena itu. Kau akan merasa lebih tenang jika lebih banyak orang
terbangun di padukuhan ini”
“Ya”
“Jika demikian, terserah
saja kepada kalian”
Dalam pada itu,
kawan-kawan Dirga itu justru memukul kentongan makin keras. Semakin lama malam
terasa menjadi semakin menakutkan. Rasa-rasanya jalan padukuhan itu semakin
menjadi gelap, beberapa buah oncor di regol rasa-rasanya tidak membantu.
Cahayanya menjadi redup. Bahkan bayangan yang timbul oleh cahaya bergerak-gerak
seperti hendak menerkam.
Anak-anak muda itu
semakin cemas ketika mereka mendengar bunyi burung kulik di kejauhan. Ketika
burung itu terbang melintas sambil berbunyi, rasa-rasanya burung itu telah
menebarkan malapetaka di padukuhan itu.
Dirga tertawa, katanya
“Kalian takut mendengar bunyi burung kulik itu ya? Kalian terlalu percaya pada
dongeng dan tahayul yang membuat kalian menjadi penakut”
“Tetapi semua orang-orang
tua kita menceritakan hal seperti itu”
“Menceritakan apa?”
“Tentang burung itu”
“Burung apa namanya?”
Anak itu terdiam,
sehingga Dirga tertawa semakin panjang, katanya “Menyebut namanya saja kau tidak
berani. Dengar, namanya burung kulik. Kau tentu tahu, bahwa burung itu adalah
betina, yang jantan namanya burung tuhu. Biasanya jika terdengar suara burung
kulik, akan segera terdengar burung tuhu”
“Sudahlah, kita berbicara
tentang hal lain saja” potong seorang kawannya.
Dirga masih tertawa,
namun sebelum ia menjawab, di kejauhan memang terdengar suara burung tuhu, yaitu
burung kulik yang jantan.
Anak-anak muda itu
menjadi semakin berhimpitan, kulit mereka meremang, namun demikian mereka justru
memukul kentongan semakin keras.
Para peronda itu itu
tiba-tiba saja terkejut ketika mereka melihat seseorang berlari muncul dari
tikungan, langsung menjumpai mereka.
Dirga yang berdiri paling
depan, segera meloncat menghadang. Tiba-tiba goloknya telah berada di tangannya.
Ternyata Dirga memang
tangkas.
Orang itu berhenti dan
berkata dengan nafas yang memburu “Aku….., ini aku…..Kriya….”
“Kakang Kriya?”
“Ya…, aku…Kriya…”
“Ada apa kakang lari-lari
kemari…?”
“Ada, ada rampok….., ada
rampok di rumah paman….”
“Rampok?, paman siapa
yang dirampok?”
“Paman kerti….. Pedagang
sapi itu…”
“Darimana kakang tahu,
kalau rumah paman Kerti dirampok?”
“……Kebetulan aku sedang
tidur di rumah paman Kerti, paman sedang mengadakan pertemuan keluarga, karena
ia akan menikahkan anaknya yang perempuan. Keluarga yang lain pada pulang,
sedangkan aku tetap tinggal. Aku tidur di bilik belakang dekat dapur. Sewaktu
para perampok beraksi, aku berhasil lolos dan menyelinap keluar dan bersembunyi
di kebun. Sewaktu kalian datang dan membunyikan kentongan, maka aku langsung
lari menuju kemari”
“Jangan cemas’ berkata
Dirga “Aku akan datang ke rumah paman Kerti”
“Tetapi perampoknya tidak
hanya sendiri, tetapi banyak, Dirga”
Dirga termangu-mangu
sejenak, kemudian iapun berkata kepada kawan-kawannya “Bunyikan kentongan kalian
dalam irama titir sambil mendekati rumah paman Kerti”
“Tetapi…Dirga….aku….
takut”
“Jangan kuatir, dalam
waktu dekat, orang-orang akan berdatangan mengepung rumah itu”
“Tetapi perampok itu kan
kejam-kejam Dirga”
“Persetan, sekarang
bunyikan kentonganmu dengan irama titir, cepat, sebelum perampok itu sempat
lari”
Anak muda itu tidak
sempat berpikir, tiba-tiba saja suara kotekan itu berubah iramanya menjadi irama
titir.
Padukuhan itu memang
menjadi gempar. Suara kentongan irama titir itu telah membangunkan orang-orang
yang sedang tidur nyenyak. Beberapa orang segera menyambar senjata yang selalu
mereka siapkan di dekat pembaringan mereka, sejak Ki Demang Karangtengah
memperingatkan rakyatnya untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk karena
ulah para perampok.
Demikian pula orang-orang
yang berada di gardu. Ada diantara mereka yang menjadi ketakutan sehingga
gemetar mendengar suara kentongan dalam irama titir. Tetapi ada juga yang dengan
sigapnya meloncat turun dan berlari-lari kearah suara kentongan itu.
Dirga telah mendahului
pergi ke rumah paman Kerti bersama Kriya, karena Kriya tidak bersenjata, maka
iapun telah meminham sepotong besi yang dibawa oleh salah seorang peronda itu.
Keempat orang peronda itu
memang mengikuti Dirga dan Kriya. Tetapi mereka tetap mengambil jarak sambil
menunggu orang-orang yang terbangun oleh suara kentongan.
Beberapa orang tetangga
terdekat memang segera sampai di regol rimah Kerti, namun pada saat itu,
beberapa orang perampok dengan membawa hasil rampokannya telah keluar dari regol
dan turun ke jalan. Mereka nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh suara
kentongan itu, tidak pula menjadi tergesa-gesa, meskipun mereka mendengar
beberapa orang mulai berteriak-teriak.
Beberapa orang perampok
itu berjalan beriringan kearah pintu gerbang padukuhan dengan tenangnya.
Ketika beberapa orang
menghentikan mereka, para perampok itu memang berhenti, bahkan menunggu, apa
kira-kira yang akan dilakukan oleh warga padukuhan kepada mereka.
“Menyerahlah” teriak
Dirga “Kalian kami tangkap”
Tetapi yang terdengar
adalah suara tertawa. Seorang perampok yang bertubuh tinggi besar. Melangkah
maju sambil berkata “Jangan main-main anak muda, minggirlah”
“Kami bersungguh-sungguh”
berkata Dirga “Kami mendapat wewenang untuk menangkap kalian”
“Aku peringatkan sekali
lagi, bahwa perampok seperti kami tidak dapat diajak bermain-main. Apalagi pada
saat-saat kami menjalankan pekerjaan kami seperti sekarang ini. Karena itulah,
minggirlah, jika kalian tidak minggir, maka tentu akan jatuh korban di pihak
kalian. Meskipun kalian berjumlah banyak, namun kalian tidak bisa berkelahi.
Berbeda dengan kami, berkelahi adalah pekerjaan kami sehari-hari, menyakiti dan
melukai orang. Bahkan kami adalah pembunuh-pembunuh yang sebenarnya”
“Jangan membual” potong
Dirga “Aku adalah pemimpin anak-anak muda padukuhan ini”
“Nampaknya kau memang
keras kepala, ya”
“Persetan” geram Dirga
sambil memutar goloknya.
Namun tiba-tiba saja
perampok itu yang bertubuh tinggi besar itupun memutar sebuah bindi di tangannya
sambil berkata lantang “Minggir jika tidak ingin celaka”
Jantung Dirga menjadi
berdebar-debar, apalagi orang yang berdiri di hadapannya itu bertubuh lebih
tinggi dan lebih besar darinya. Padahal Dirga sudah menganggap bahwa tubuhnya
adalah yang tertinggi dan terbesar di seluruh padukuhan.
Tetapi Dirga sudah
terlanjur sesumbar di hadapan kawan-kawannya, bahwa ia akan menantang dan
menangkap para perampok itu. Bahkan tidak hanya seorang yang ditangtangnya,
tetapi sekelompok perampok.
Ketkka ia benar-benar
berhadapan dengan sekelompok perampok, maka suasana hatinya memang lain.
“Minggir” bentak perampok
itu.
Dirga tidak mau minggir,
meskipun dengan sedikit gemetar Dirga memutar goloknya sambil berkata “Kami
semua akan menangkap kalian, kau lihat seluruh penghuni pedukuhan ini sudah
berada disini”
“Sayang sekali, semakin
banyak yang datang akan semakin banyak pula yang akan mati. Nah, sekarang aku
akan pergi meninggalkan padukuhan ini.
Ketika perampok itu
melangkah maju, maka Dirgapun meloncat menyerang. Goloknya diayunkan dengan
kerasnya mengarah ke bahu perampok itu.
Namun yang terdengar
adalah dentangan senjata yang beradu, golok Dirga telah membentur bindi perampok
itu, sehingga bunga apipun berloncatan dari benturan itu.
Namun Dirga telah
bergeser surut, telapak tangannya terasa pedih sekali. Hampir saja goloknya
terlepas.
Namun Dirga tidak
mempunyai banyak kesempatan, perampok itu meloncat memburunya. Dengan sekali
pukul, golok Dirga telah terlepas dari tangannya, terlempar beberapa depa dari
kakinya.
Yang terjadi kemudian
telah menggetarkan jantung orang-orang yang mengepung para perampok itu. Satu
ayunan bindi itu telah mengenai paha Dirga.
Terdengar Dirga berteriak
kesakitan, dengan serta merta iapun terjatuh dan tidak dapat bangkit berdiri
lagi.
Dengan serta merta
perampok itupun berteriak “Siapa lagi yang akan mencoba menahan kami?”
Tidak terdengar satupun
jawaban.
Perampok yang bertubuh
tinggi besar itupun memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berjalan terus
meninggalkan orang-orang padukuhan yang berkerumun, sambil berkata “Jangan
mencoba menghalangi kami, jika ada yang mencobanya juga, maka aku akan
membunuhnya, tidak sekedar melukainya lagi”
Orang-orang yang
mengepung itupun menyibak, mereka tidak berani berbuat apa-apa terhadap para
perampok yang nampaknya garang dan bengis itu. Apalagi senjata-senjata mereka
yang mengerikan itu telah membut jantung mereka bergetar.
Selain bindi, ada
diantara mereka yang membawa tombak dengan mata tombak yang bercabang. Ada yang
membawa semacam kapak bertangkai panjang. Ada yang membawa golok besar dan
panjang dan berbagai jenis senjata yang menyeramkan lainnya.
Orang-orang padukuhan
itupun seakan-akan hanya sekedar menjadi penonton sebuah barisan orang-orang
yang berwajah garang yang berhasil membawa barang-barang berharga milik Ki
Kerti.
Baru ketika mereka telah
pergi, beberapa orang berusaha menolong Dirga yang merintih kesakitan, agaknya
tulang pahanya telah menjadi retak.
Dengan hati-hati Dirga
diangkat dan dibawa pulang ke rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat
kejadian, namun sepanjang jalan Dirga selalu mengeluh kesakitan.
Beberapa orang yang lain
telah berada di rumah Kang Kerti, mereka melihat Yu Kerti menangis di ruang
tengah, dengan memelas iapun merintih “Aku mengumpulkan uang sekeping demi
sekeping, tiba-tiba saja mereka datang dan merampas semuanya”
Ki Kerti duduk tepekur
tidak jauh dari isterinya, pundaknya nampak berdarah, agaknya para perampok itu
telah melukainya meskipun tidak begitu parah.
Beberapa orang mencoba
menghiburnya, namun Yu Kerti masih saja mengangis. Ia merasa telah kehilangan
segala-segala yang dimilikinya.
“Sudahlah Yu Kerti, yang
penting Yu Kerti dan Kang Kerti selamat, harta benda dapat dicari lagi Yu,
tetapi nyawa?, kemana kita akan mencarinya?. Bersukurlah bahwa Kang Kerti hanya
luka dan tidak dibunuh oleh perampok-perampok yang keji itu”
Demikianlah, sejenak
kemudian, Ki Bekel dan bebahu padukuhan telah datang hampir berbareng dengan Ki
Demang Karangtengah.
“Jadi…. tidak ada orang
yang berani berusaha menangkap mereka meskipun kalian berjumlah sekian
banyaknya?” bertanya Ki Demang.
“Dirga sudah mencoba, Ki
Demang. Dirga yang menurut pendapat kami adalah orang yang terkuat diantara
kami, dalam sekejap telah dilukai. Lalu apa pula artinya kami. Dan ara perampok
itu mengancam bahwa orang berikutnya tidak hanya akan disakiti seperti Dirga,
tetapi mereka benar-benar akan membunuh”
“Berapa orang mereka
semuanya?”
“Lebih dari lima belas
orang”
Lima belas orang?”
“Ya, Ki Demang”
Jumlah itupun mengejutkan
Ki Demang, Ki Bekel dan bebahu padukuhan, adalah wajar sekali jika orang-orang
padukuhan itu merasa ragu untuk bertempur menghadapi lima belas orang perampok
yang garang dengan membawa berbagai macam senjata yang mengerikan.
Ki Demang Karangtengah
itupun menarik nafas panjang, seandainya orang-orang di sekitar Ki Kerti itu
memberanikan diri untuk mencoba menangkap mereka, maka korbanpun akan
berjatuhan, jika setiap perampok membunuh satu orang warga, maka akan ada lima
belas mayat yang harus dikuburkan.
Karena itu, maka Ki
Demang tidak lagi menyalahkan warganya, mereka bukan penakut, tetapi mereka
tahu, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi lima belas
perampok.
“Besok, peristiwa ini
akan aku laporkan. Kami rakyat kademangan tidak mampu lagi mengatasi” berkata Ki
Demang.
“Peristiwa di padukuhan
Salam beberapa hari yang lalu, tidak segarang apa yang terjadi disini. Perampok
di Salam itu tidak diketahui oleh orang lain kecuali pemilik rumahnya” berkata
Ki Jagabaya.
Peristiwa perampokan itu
akhirnya sampai kepada Kangjeng Adipati Paranganom. Bahkan yang terakhir telah
terjadi perampokan dengan mencoba membunuh korbannya dengan kejam. Sebelumnya,
sebuah rumah sudah dibakar habis oleh para perampok yang marah, karena mereka
tidak menemukan yang mereka cari di rumah itu. Setelah menyakiti suami isteri
pemilik rumah itu, maka mereka membakar rumahnya dan membiarkan suami isteri itu
berada di dalamnya.
Untunglah, bahwa suami
isteri itu masih sempat merangkak sambil membantu isterinya keluar dari kobaran
api sambil berteriak-teriak minta tolong. Pertolongan dari para tetanggapun
datang tepat pada waktunya, sehingga keduanya serta anaknya yang masih kecil
dapat diselamatkan. Seorang pembantu di rumah itu juga selamat, meskipun ia
mengalami luka bakar.
Kangjeng Adipati menjadi
sangat prihatin atas peristiwa beruntun di Kadipaten Paranganom itu, sehingga
secara khusus, Kangjeng Adipati telah memanggil kedua orang Tumenggung Wreda
yaitu Tumenggung Wiradapa dan Tumenggung Sanggayuda. Sementara itu Kangjeng
Adipati juga minta Ki Ajar Wihangga tidak tergesa-gesa meninggalkan Kadipaten.
Ketika kedua orang
Tumenggung Wreda itu menghadap, maka Kangjeng Adipati juga memanggil kedua
puteranya untuk menghadap pula.
“Keadaan sudah semakin
gawat, kakang” berkata Kangjeng Adipati.
“Sudah waktunya untuk
bertindak, Kangjeng. Para Demang sudah memberikan laporan, bahwa mereka tidak
lagi mampu berbuat apa-apa. Para perampok itu mendatangi rumh para korbannya
dalam jumlah yang besar, dan merampok tiga rumah sekaligus dalam satu malam.
Berkata Ki Tumenggung Wiradapa.
“Memang perlu dicari
pijakan dari kerusuhan yang terjadi itu, Kangjeng. Agaknya memang bukan
kerusuhan biasa, bukan dilakukan oleh orang-orang yang kelaparan atau sekedar
mencari harta benda untuk menimbun kekayaan” ujar Ki Ajar.
“Ya, kakang”
“Kangjeng Adipati, kita
harus berusaha untuk dapat menangkap paraperampok dari tataran tertinggi,
sehingga akan mendapat keterangan yang jelas, apakah sebenarnya yang terjadi”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu tiba-tiba saja Madyasta berkata,
meskipun dengan ragu-ragu “Ayahanda, jika ayahanda berkenan, hamba akan
menyampaikan pendapat hamba. Apapun alasannya, siapapun yang dalangnya,
kerusuhan-kerusuhan ini harus dihentkan. Jika ayahanda berkenan, hamba mohon
mendapat perintah dari ayahanda untuk mengatasi kerusuhan ini”
“Maksudmu?”
“Hamba akan mencoba untuk
berhadapan dengan perampok itu, ayahanda”
Kangjeng Adipati
mengerutkan keningnya, sementara itu Wignyanapun berkata pula “Hamba sependapat
denan kakangmas Madyasta, ayahanda. Jika ayahanda memerintahkan kami untuk
mengatasi kerusuhan itu, maka perintah itu akan hamba junjung tinggi”
Kangjeng Adipati
termangu-mangu sejenak, namun Ki Ajar berkata “Kangjeng Adipati, sebenarnya
bahwa angger Madyasta dan angger Wignyana telah menimba ilmu di padepokan
Panambangan sampai tuntas. Agaknya memang sudah sampai saatnya, bahwa mereka
mendapatkan beban tugas yang sesuai bagi mereka, juga sebagai putera seorang
Adipati. Karena itu, jika Kangjeng Adipati berkenan, maka Kangjeng Adipati dapat
memerintahkan putera Kangjeng Adipati untuk mengatasi kerusuhan ini. Aku
mengusulkan salah satu dari mereka yang berangkat. Tugas pertama ini dibebankan
kepada angger Madyasta, sementara angger Wignyana tetap tinggal di Dalem
Kadipaten, jika mungkin untuk mengatasi persoalan yang gawat yang dapat terjadi
disini”
“Guru” Wignyana itupun
memohon “Jika saja guru dan ayahanda berkenan, aku ingin ikut bersama kakang
Madyasta”
“Wignyana’ berkata
Kangjeng Adipati kemudian “Aku setuju dengan gurumu, salah seorang dari kalian
tetap tinggal disini, mungkin aku akan sangat memerlukannya”
Wignyana tidak dapat
memaksa, betapapun ia ingin pergi bersama Madyasta untuk mengatasi kerusuhan
yang terjadi di Paranganom, namun ayahandanya menahannya agar ia tetap berada di
istana.
“Wignyana” berkata
Kangjeng Adipati “Bukannya aku tidak percaya akan kemampuanmu, menurut gurumu,
kau dan Madyasta telah bersama-sama menuntaskan ilmu yang kalian pelajari di
padepokan, karena itu, menurut gurumu, kau dan Madyasta memiliki ilmu yang sama
tinggi. Namun justru karena itu, maka aku ingin kau tetap tinggal berasamaku di
Kadipaten”
Wignyana sebagai seorang
putera Adipati, harus mampu menempatkan diri, maka iapun berkata “Hamba
menjunjung tinggi titah ayahanda Adipati”
“Bagus Wignyana, kau
tetap bersamaku dalam keadaan yang gawat ini”
“Hamba, ayahanda”
“Nah, dengan demikian,
maka aku akan memerintahkan Madyasta untuk pergi mengatasi kerusuhan ini”
“Kangjeng” berkata Ki
Tumenggung Sanggayuda “Apakah tidak sebaiknya Kangjeng memerintahkan saja
beberapa orang senapati untuk pergi melakukan tugas itu”
“Kakang Tumenggung. Aku
memang mempunyai keingingn untuk menguji anakku. Selama ini anak-anakku tidak
pernah turun kedalam tugas-tugas penting. karena mereka tidak berada di
Kadipaten. Biarlah angger Adipati Yudapati mengetahui, bahwa anak-anak
Paranganom itu tidak saja pandai menabuh siter dan gender saja. Tetapi dalam
keadaan gawat, merekapun bisa terjun ke gelanggang pertempuran”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tidak mengatakan apa-apa lagi, sementara Kangjeng Adipati segera menjatuhkan
perintah “Madyasta, berdasarkan perintahku, pergilah untuk memberantas kerusuhan
itu, kau aku beri hak dan wewenang untuk mengambil langkah-langkah yang
diperlukan. Tetapi kau tidak boleh lepas dari kebijaksanaan untuk mengatasi
setiap keadaan”
“Hamba ayahanda”
“Pamanmu Tumenggung
Wiradapa akan menunjuk, siapakah yang akan pergi bersamamu. Dengar nasehatnya
serta nasehat pamanmu Tumenggung Sanggayuda”
“Hamba junjung tinggi
perintha ayahanda. Hamba akan mengikuti segala petunjuk paman Tumenggung bedua”
“Nah, kakang Tumenggung
Wiradapa dan kakang Tumenggung Sanggayuda. Aku serahkan anakku kepada kalian
berdua. Biarlah ia melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit juga sebagai
putera seorang Adipati Paranganom. Semoga anakku dapat memberantas kerusuhan
yang timbul di wilayah paranganom”
“Hamba Kangjeng Adipati”
sahut Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda hampir bersamaan.
Wignyana memang merasa
sangat kecewa. Tetapi ia dapat mengerti, kenapa jika salah seorang diantara
mereka, dua orang putera Kangjeng Adipati, justru Madyasta yang harus dikenal
oleh tentu bukan saja oleh Adipati Yudapati di Kateguhan, tetapi juga oleh
rakyat Paranganom sendiri, karena Madyasta adalah putera Kangjeng Adipati.
Madyasta yang kelak berhak untuk menggantikan kedudukan Kangjeng Adipati
Prangkusuma di Paranganom, kakrena itu adalah wajar, bahwa Madyastalah yang
harus lebih banyak dikenal oleh rakyat Paranganom.
Hari itu juga Madyasta
telah meninggalkan Kadipaten bersama Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung
Sanggayuda. Kedua orang Tumenggung itu akan membawa Madyasta kepada beberapa
orang senapati terpilih yang akan mendampinginya, mengatasi kerusuhan di
Paranganom.
Bab 05 – Tiga Senapati
Pilih Tanding
Jilid ke 2
Hari itu juga Madyasta
telah meninggalkan Kadipaten bersama Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung
Sanggayuda. Kedua orang Tumenggung itu akan membawa Madyasta kepada beberapa
orang senapati terpilih yang akan mendampinginya, mengatasi kerusuhan di
Paranganom.
Dalam pada itu, Ki Ajar
yang merasa sudah terlalu lama berada di Kadipaten segera minta diri pula, ia
sudah terlalu lama meninggalkan padepokannya.
“Aku minta kakang dapat
menunggu sampai kerusuhan di Kadipaten ini dapat diatasi”
“Aku akan datang pada
kesempatan lain, Kangjeng. Kasihan anak-anak di padepokan yang sudah terlalu
lama aku tinggalkan”
Kangjeng Adipati tidak
dapat menahan Ki Ajar, sehingga akhirnya Kangjeng Adipati melepasnya
meninggalkan Kadipaten pada keesokan harinya”
Dalam pada itu, Ki
Tumenggung Wiradapa serta Ki Tumenggung Sanggayuda sepakat untuk menunjuk tiga
orang senapati muda terpilih untuk menyertai Raden Madyasta memberantas
kerusuhan di Paranganom, ketiga senapati itu berasal dari kesatuan yang
berbeda-beda.
Bersama Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda, Madyasta pergi ke barak ketiga orang
senapati yang terpisah itu.
“Apakah aku sudah
mengenal mereka, paman?” bertanya Madyasta.
“Raden sudah lama
meninggalkan Kadipaten, mungkin Raden belum mengenal mereka, tetapi dalam dua
tahun ini, nama mereka banyak disebut-sebut di lingkungan keprajuritan
Paranganom, mereka bertiga pula yang memimpin pasukan yang diminta oleh Kangjeng
Sultan Tegallangkap. Ketika terjadi benturan kekuatan anara Tegallangkap dengan
kekuatan yang datang dari seberang Bengawan Rahina.
Maka beberapa Kadipaten
yang berada di bawah ikatan kesatuan dengan Tegallangkap telah mengirimkan
pasukannya untuk bersama-sama menghadapi tekanan kekuatan yang besar yang datang
dari seberang Bengawan Rahina itu. Ternyata pasukan dari Paranganom yang
dipimpin ketiga orang senapati muda itu telah mendapat pujian khusus dari
Kangjeng Sultan di Tegallangkap” jawab Ki Tumenggung Wiradapa.
Siapakah nama-nama
mereka, paman?”
“Nama-nama mereka adalah
Sasangka, Rembana dan Wismaya”
Madyasta
menganggung-angguk, seolah-olah kepada diri sendiri iapun bergumam “Nama yang
baik, agaknya mereka memang meyakinkan”
“Sebentar lagi angger
akan segera bertemu dengan mereka, kita akan pergi ke barak terdekat, angger
akan berjumpa dengan Sasangka”
“Sasangka ya,
rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu, mungkin aku pernah mengenalnya”
“Sukurlah jika Raden
pernah mengenalnya”
Madyasta mencoba
mengingatnya, namun nama Sasangka memang pernah dikenalnya empat tahun yang
lalu, bahkan mungkin sebelumnya.
Beberapa saat kemudian,
maka mereka sampai di sebuah barak yang berpagar kayu rapat dan cukup tinggi.
Ketika mereka bertiga
memasuki gerbang barak itu, maka prajurit yang bertugas segera memberi hormat,
meskipun secara pribadi prajurit itu tidak mengenal langsung ketiga orang yang
memasuki barak mereka, namun mereka dapat mengenal kedua orang diantara mereka
adalah dua orang Tumenggung, sedangkan yang seorang lagi tentu orang penting
pula. Bahkan kedua orang Tumenggung itupun agaknya menghormatinya pula.
“Apakah Ki Lurah Sasangka
ada ?” bertanya Ki Tumenggung Wiradapa.
“Ada Ki Tumenggung,
silahkan”
Ki Tumenggung Wiradapa
bersama dengan Raden Madyasta dan Ki Tumenggung Sanggayuda segera memasuki
halaman barak yang terhitung luas itu.
Sementara itu dua orang
prajurit yang berada di gardu sebelah telah menyongsongnya pula.
“Silahkan Ki Tumenggung”
Salah seorang dari kedua orang prajurit itu telah mempersilahkan mereka untuk
naik ke bangunan utama barak itu.
“Dimana Ki Lurahmu?”
bertanya Ki Tumenggung pula.
“Ki Lurah sedang berlatih
di halaman belakang , silahkan, biar aku menyampaikannya”
“Tidak, tidak usah,
biarlah kami pergi ke halaman belakang saja”
Prajurit itu tidak
berkata apa-apa lagi, tetapi ia melangkah mendahului kedua orang Tumenggung
serta Madyasta ke halaman belakang, kawannyapun telah mengikutinya pula.
Di halaman belakang yang
cukup luas itu, Ki Tumenggung dan Madyasta melihat para prajurit sedang
berkumpul, Ki Lurah Sasangka sendiri berada di punggung kuda sambil membawa
sebilah pedang telanjang.
Sejenak kemudian, maka
kudanya itupun berlari dengan kencang mengitari halaman belakang barak itu,
setiap kali pedangnya terayun menyambar orang-orangan yang dibuat dari jerami
yang berdiri berjajar beberapa langkah.
Demikian kepala
orang-orangan yang terakhir itu jatuh, maka prajuritpun bersorak sambil bertepuk
tangan.
Kuda Sasangka masih
berlari berputar-putar di halaman, ketika para prajurit itu sudah berhenti
bertepuk tangan dan bersorak, maka Sasangkapun telah meloncat turun dari
kudanya.
Namun Sasangka terkejut,
bahkan para prajuritpun ikut berpaling pula ketika mereka medengar tepuk tangan
yang bukan berasal dari mereka.
“Ki Tumenggung”
Sasangkapun mengagguk hormat, dengan tergesa-gesa ia melangkah mendekat.
Namun ketika Sasangka itu
berhenti beberapa langkah di depan kedua Ki Tumenggung. Ki Tumenggung
Wiradapapun bertanya “Kau mengenal anak muda ini?”
Sasangka mengerutkan
dahinya, namun iapun kemudian menyahut “Tentu, tentu Ki Tumenggung, bukankah
anak muda ini Raden Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?”
“Ya, ternyata kau sudah
mengenalnya”
“Sekitar empat tahun atau
lima tahun yang lalu, pada saat itu aku masih menjadi menjadi seorang prajurit,
aku sudah mengenal Raden Madyasta yang sering berada di tengah-tengah para
prajurit, bahkan kadang-kadang ikut berlatih bersama kami, waktu itu Raden
Madyasta masih sangat muda diantara prajurit-prajurit yang lain”.
“Nah, apakah Raden masih
ingat akan anak muda yang sekarang menjadi seorang Lurah prajurit, yang termasuk
dalam hitungan senapati muda terpandang di Paranganom?”
“Ki Tumenggung terlalu
memuji, terima kasih” sahut Sasangka.
“Ya, sekarang aku ingat,
waktu itu aku memang sering berada diantara para prajurit muda. Beberapa kali
aku mendapat peringatan karena kehadiranku yang kadang-kadang justru menganggu.
Tetapi aku ingin mempunyai banyak kawan, sampai pada suatu saat, ayahanda
mengirim aku dan adimas Wignyana ke padepokan Panambangan”.
“Sekarang, Raden sudah
kembali lagi ke kadipaten Paranganom atau hanya sekedar melepas kerinduan?”
“Aku telah kembali
pulang, kakang”
“Raden dapat bermain lagi
bersama kami, aku tidak akan pernah merasa terganggu jika Raden sering datang
kemari dan berlatih bersama kami”
“Tetapi kakang Sasangka
bukan lagi kakang Sasangka yang dahulu. Seorang prajurit yang dengan gigih
menempa diri di lingkungan keprajuritan”
“Raden Madyastapun bukan
Raden Madyasta yang dahulu”
Mereka berdua tersenyum.
Sementara itu, Ki Lurah
Sasangkah telah mempersilahkan ketiga orang tamunya duduk di pringgitan bangunan
induk baraknya.
“Silahkan Raden, silahkan
Ki Tumenggung, aku akan mencuci kaki dan tanganku sebentar”
Kedua orang prajurit yang
mengantar Madyasta dan kedua orang Ki Tumenggung itu ke belakang, telah
mempersilahkan ketiga orang tamu itu untuk pergi ke pendapa bangunan induk barak
itu.
Beberapa saat kemudian,
Sasangka sempat melaporkan perkembangan barak serta pasukan yang dipimpinnya.
Namun kemudian Sasangka
itu bertanya “Ki Tumenggung, sebenarnyalah kehadiran Ki Tumenggung berdua,
apalagi bersama Raden Madyasta, memang agak mengejutkan kami, penghuni barak
ini, mungkin kami telah melakukan kesalahan yang tidak kami sadari, sehingga
kehadiran Ki Tumenggung berdua serta Raden Madyasta akan mengetrapkan hukuman
bagi kami seisi barak ini”
Ketiga orang tamunya
tertawa, Ki Tumenggung Wiradapalah yang menjawab “Jika kalian bersalah, maka
bukan aku yang datang ke barakmu, tetapi kami akan memanggilmu atau mengirimkan
tiga orang prajurit khusus untuk menangkapmu”
Sasangkapun mengangguk
hormat, katanya “Seandainya Ki Tumenggung berdua dan Raden Madyasta akan
memberikan perintah, akupun dapat dipanggil menghadap”
“Memang” sahut Ki
Tumenggung Wiradapa “Tetapi sekali ini Raden Madyasta ingin melihat barakmu,
ingin melihat ujudnya, namun juga ingin melihat isinya”
“Terima kasih atas
kesediaan datang mengunjungi barak ini. Mungkin keadaan kami tidak sebagaimana
Raden kehendaki. Banyak sekali kekurangan yang terdapat di barak ini”
:Aku tidak akan membuat
penilaian kakang. Tetapi aku datang justru untuk mengganggu ketenanganmu”
Sasangkan mengerutkan
dahinya, dipandanginya kedua Ki Tumenggung yang datang bersama Madyasta itu
berganti-ganti
Kedua Ki Tumenggung itu
tersenyum. Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Kau dengar istilah yang
dipergunakan oleh Raden Madyasta? Raden Madyasta tidak mengatakan bahwa ia
datang untuk memberikan perintah kepadamu. Tetapi Raden Madyasta merasa dirinya
justru datang mengganggumu”
Madyasta tertawa, namun
iapun bertanya “Apakah aku berhak memberikan perintah kepada para senapati?”
“Raden” berkata Ki
Tumenggung Sanggayuda “Sejak Raden mendapat perintah untuk menumpas para
perampok itu, maka Raden telah madeg Senapati Agung. Bukankah ayahanda telah
memberi wewenang kepada Raden untuk mengambil langkah-langkah yang perlu untuk
mengatasi para perampok itu?”
Tetapi aku belum terbiasa
melakukannya, paman. Di Padepokan, kedudukan para cantrik, semuanya sama. Adalah
kebetulan bahwa aku termasuk cantrik yang sudah terhitung tua di padepokan
Panambangan. Sehingga para cantrik yang sebagian besar masih muda-muda itu
menaruh hormat kepadaku, bukan karana aku anak seorang Adipati. Tetapi aku
adalah kakak seperguruan mereka, namun sebaliknya, kepada beberapa orang cantrik
yang lebih tua daripadaku, yang masih tinggal di padepokan, akupun harus
menghormati mereka, karena mereka adalah kakak seperguruaku”
“Disini, kedudukan Raden
mempunyai kekhususan, karena Raden adalah putera Kangjeng Adipati, apalagi Raden
adalah putera tertua, yang menurut tatanan akan dapat menggantikan kedudukan
ayahandamu kelak. Di Paranganom ini, hanya ada seorang Adipati, sedangkan
puteranya yang tertua juga hanya seorang”
Madyasta tertawam katanya
“Tetapi itu bukan berarti bahwa aku adalah orang yang mempunyai kedudukan khusus
di kadipaten ini, aku rasa aku tidak ada bedanya dengan anak-anak muda yang
lain, yang harus mengabdi kepada kadipaten ini”
“Mau tidak mau, Raden”
berkata Sasangka “Mau tidak mau Raden mempunyai kedudukan yang khusus, justru
karena hanya ada seoroang di seluruh kadipaten”
Madyasta masih tertawa,
katanya “Bukankah itu menjadi beban bagiku?”
“Ya” sahut Ki Tumenggung
Wiradapa “Yang kemudian ada di pundak Raden adalah kewajiban, kewajiban sebagai
seorang putera Adipati, tetapi disamping kewajiban yang Raden pikul, Radenpun
mempunyai hak dalam kedudukan Raden sebagai putera seorang Adipati dan sebagai
seorang anak muda dari kadipaten Paranganom.
“Baiklah” berkata
Madyasta “Aku akan berusaha untuk menyesuaikan diriku dengan hak dan
kewajibanku”
“Nah, sekarang aku
menunggu perintah Raden Madyasta” berkata Sasangka.
Madyasta memandang Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda sekilas. Namun kemudian iapun
berkata kepada Sasangka “Kakang, aku mendapat perintah dari ayahanda untuk
menangani keresahan di beberapa kademangan karena tindak kejahatan. Perampok,
penyamun dan penjahat-penjahat yang lain telah mengganggu ketenangan penduduk
beberapa kademangan itu. Bahkan ketika aku pulang dari padepokan bersana
Wignyana dan Ki Ajar Wihangga, kamipun telah diganggu oleh perampok di
perjalanan. Sayang bahwa kami tidak dapat menangkap mereka, meskipun kami
berhasil menggagalkan usaha mereka”
Sasangkapun segera
tanggap, dengan serta merta ia berkata “Raden akan memberikan perintah kepadaku
untuk ikut bersama Raden menangani kejahatan itu?”
“Ya, para Demang tidak
lagi mampu membendung arus kejahatan itu, beberapa orang korban telah jatuh.
Bukan hanya korban harta benda, tetapi juga korban jiwa”
“Sendika, Raden. Aku siap
untuk melaksanakan segala perintah”
“Tetapi kita tidak hanya
berdua. Menurut paman Tumenggung Wiradapa dan paman Tumenggung Sanggayuda, kita
akan menghubungi kakang Rembana dan kakang Wismaya”
“Aku sudah siap kapanpun
aku harus berangkat, demikian pula pasukanku yang ada di barak ini, kami akan
siap dalam waktu yang singkat”
“Terima kasih kakang,
tetapi kita tidak akan berangkat segera, kita masih akan berbicara dengan kakang
Rembana dan kakang Wismaya. Apa yang sebaknya kita lakukan”
“Jadi?”
“Kita akan ke barak
kakang Rembana dan kakang Wismaya lebih dahulu”
“Baik, Raden. Aku akan
mengantar Raden menemui Rembana dan Wismaya di barak mereka”
Dalam pada itu, Raden
Madyasta berkata kepada Ki Tumenggung Wiradapa berkata dan Ki Tumenggung
Sanggayuda “Paman berdua, agaknya paman tidak usah mengantar aku selanjutnya,
aku akan pergi bersama kakang Sasangka saja, paman Tumenggung berdua akan dapat
segera beristirahat.”
“Jadi Raden akan pergi
bersama Sasangka saja?”
“Ya, paman. Jika hari ini
aku tidak kembali ke Kadipaten, sampaikan kepada ayahanda, bahwa aku berada
disalah satu barak dari ketiga orang senapati muda ini. Kami akan membicarakan
langkah-langkah yang akan kami ambil. Karena kami harus segera berbuat sesuatu
sebelum kejahatan itu menjalar keseluruh kadipaten Paranganom”
”Baiklah, Raden. Agaknya
Raden akan berbicara dengan anak-anak muda yang sebaya dengan Raden. Tetapi jika
Raden perlu pendapat orang-orang tua ini, silahkan Raden memanggil kami berdua”
berkata Ki Tumenggung Wiradapa.
“Tentu paman,
setidak-tidaknya sebelum kami berangkat, kami akan menghadap ayahanda serta
bertemu dengan paman berdua”
“Baik, Raden. Sekarang,
kami berdua minta diri” lalu katanya kepada Sasangka “Hati-hati mengambil
keputusan Sasangka, persoalannya ini tidak sederhana”
“Baik, Ki Tumenggung,
pada saatnya kami akan memberikan lapoaran kepada Ki Tumenggung”
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayuda meninggalkan barak prajurit yang dipimpin oleh
lurah Sasangka itu. Sementara itu Ki Lurahpun segera bersiap untuk mengantar
Raden Madyasta menemui Rembana dan Wismaya.
Beberapa saat kemudian,
kedua orang anak muda itu telah mengenderai kuda mereka menuju ke barak prajurit
yang lain, yang letaknya tidak terlalu jauh.
Ketika keduanya sampai di
barak prajurit yang dipimpin oleh Rembana, kebetulan Rembana sedang berlatih
bersama beberapa orang pemimpin kelompok di barak itu. Rembana tengah memberikan
petunjuk-petunjuk kepada para pemimpin kelompok yang kemudian harus disampaikan
kepada prajurit. Rembana telah menyampaikan beberapa gagasan kepada
prajurit-prajuritnya untuk membuat gelar perang yang sudah ada menjadi semakin
hidup serta gerakan-gerakan yang dapat menghancurkan lawan.
Kedatangan Sasangka telah
menghentikan latihan itu. Diserahkannya latihan itu kepada pemimpin kelompok
yang tertua untuk melanjutkan latihan-latihan itu.
“Teruskan latihan ini,
aku akan menerima tamu”
“Baik, Ki Lurah: jawab
pemimpin kelompok yang tertua itu.
Rembanapun kemudian
mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di pringgitan bangunan utama barak itu.
Ternyata Rembanapun telah
dikenal oleh Madyasta, antara empat atau lima tahun yang lalu, sebagaimana
Sasangka. Rembana waktu itu masih seorang prajurit. Madyasta yang agak nakal
pada waktu itu, memang sering berada diantara prajurit muda serta berlatih
bersama mereka, meskipun yang dilakukannya itu tidak dibenarkan oleh ayahanda,
sehingga akhirnya, Madyasta dan Wignyana sekaligus dikirim ke padepokan
Panambangan agar keduanya dapat berlatih dengan cara yang lebih baik dan
teratur, memiliki bekal secara pribadi, sehingga yang benar-benar sepadan dengan
kedudukan mereka.
“Kedatangan Raden yang
tiba-tiba memang agak mengejutkan kami, sesisi barak ini” berkata Rembana
kemudian.
Madyasta tersenyum,
katanya “Kami mengemban perintah ayahanda Adipati kakang”
Wajah Rembana menegang,
dipandanginya Sasangka sekilas, kemudian iapun bertanya “Apakah ada perintah
dari Kangjeng Adipati?”
“Ya, kakang” jawab
Madyasta “Ada hubungannya dengan meningkatnya kerusuhan di Kadipaten ini.”
“Apakah aku diperintahkan
untuk mengatasi masalah tersebut?”
“Kita akan bersama-sama
melakukannya”
“Maksud Raden?”
Madyasta kemudian
menjelaskan perintah ayahandanya yang diembannya, serta niatnya untuk membawa
Sasangka, Rembana dan Wismaya menyertainya.
“Rembana dengan
serta-merta menyahut “Aku siap menerima perintah, Raden. Kapanpun dan dimanapun
aku ditempatkan”
“Tidak hari ini, kakang.
Nanti kita bersama-sama akan berbicara serta menyusun rencana, apa yang akan
harus kita lakukan, agar langkah kita dapat sampai ke sasaran dengan pasti”
“Baik, Raden. Aku siap
menerima perintah”
“Raden Madyasta masih
akan menghubungi Wismaya dahulu, Rembana”
“Apakah kau akan
menyertainya?”
“Ya, aku akan
mengantarkan Raden Madyasta untuk menemuinya”
“Kalau begitu, aku juga
ikut bersamamu, jika Raden mengijinkan”
“Aku tidak keberatan,
kakang. Kita akan pergi bertiga menemui kakang Wismaya”
Rembanapun kemudian telah
memberitahukan kepada orang kepercayaannya, bahwa ia akan pergi bersama Raden
Masyasta, putera kangjeng Adipati Prangkusuma serta Sasangka.
Ketika mereka sampai di
barak Wismaya, ternyata Wismaya sedang berada di sanggarnya, seorang prajurit
telah memberitahukan kepadanya, bahwa ada tiga orang tamu yang mencarinya.
“Siapa?”
“Ki Lurah Sasangka, Ki
Lurah Rembana dan Raden Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma”
“Raden Madyasta?” ulang
Wismaya
“Ya, Ki Lurah”
“Baiklah, persilahkan
mereka duduk di pringgitan, aku akan segera menemui mereka”
“Baik Ki Lurah”
Wismaya dengan pakaian
yang masih basah dengan keringat, menemui ketiga orang tamunya yang sudah duduk
di pringgitan.
Seperti Sasangka dan
Rembana, Raden Masyastapun telah mengenal Wismaya seperti ia mengenal Sasangka
dan Rembana. Yang dalam empat tahun mereka sudah menjadi Lurah prajurit. Bahkan
telah memimpin pasukan kadipaten Paranganom bersama-sama dengan pasukan
Tegallangkap menghadapi pasukan yang datang dari seberang Bengawan Rahina.
“Jadi kita akan bertugas
untuk mengatasi kerusuhan itu, Raden?” bertanya Wismaya.
“Ya, kakang”
“Kapan kita akan
berangkat?”
“Nanti malam kita akan
membicarakan rancara itu sebaik-baiknya”
“Apakah aku harus
menghadap Raden ke dalam Kadipaten?”
“Tidak, kakang. Aku tidak
pulang malam ini, kita akan bertemu an berbicara di barak kakang Sasangka. Malam
ini aku akan bermalam di barak itu. Besok setelah rencana kita susun
sebaik-baiknya, baru kita menghadap ayahanda untuk minta diri serta melaporkan
rencana kita”
“Baiklah Raden, nanti aku
akan datang ke barak Sasangka”
“Kita akan bertemu dan
berbicara lepas maghrib”
“Baik Raden”
Demikianlah, setelah
berbicara beberapa saat, maka Madyasta minta diri. Demikian pula Rembana dan
Sasangka.
“Sasangka, jangan lupa,
nanti setelah maghrib” Rembana mengingatkan, ketika mereka berada di regol
halaman barak.
“Tentu aku tidak akan
lupa” jawab Wismaya.
“Kau seringkali lupa,
Wismaya. Kau masih muda, tetapi kau sudah pikun seperti kakek-kakek”
“Tetapi aku tidak pernah
lupa dengan tugas yang penting”
Sasangka tersenyum sambil
menyahut “Wismaya dapat saja lupa tidak membawa kaki atau kepalanya. Tetapi ia
tidak akan lupa tugas-tugas keprajuritannya”
“Terima kasih atas
pujuanmu, Sasangka”
“Yang mendengarnya
tertawa, sementara Rembana berkata “Sasangka, kau memuji Wismaya ya, mungkin kau
berharap bahwa nanti malam Wismaya akan datang ke barakmu sambil membawa
oleh-oleh jajanan pasar?”
Mereka semua tertawa
berkepanjangan.
Seorang prajurit yang
bertugas jaga di regol mengerutkan keningnya, di dalam hatinya iapun berkata Ki
Lurah Wismaya itu dapat juga tertawa, jarang sekali aku melihat suasana yang
begitu gembira seperti saat ini bagi Ki Lurah Wismaya yang sehari-hari kelihatan
selalu bersunggung-sungguh itu.
Sepeninggal Sasangka dan
Rembana serta Raden Madyasta, serta setelah masuk kembali ke dalam barak,
prajurit yang bertugas tadi berbicara kepada kawannya yang juga sedang bertugas
“Apakah kau pernah melihat Ku Kurah Wismaya tertawa?”
“Ya, pernah. Bukankah kau
akan mengatakan bahwa tadi kau melihat Ki Lurah Wismaya berkelakar dengan Ki
Lurah Sasangka dan Rembana? Bahkan dengan Raden Madyasta?”
“Ya. Bukankah Ki Lurah
Wismaya selalu kelihatan bersungguh-sungguh sehingga memandang wajahnya saja
rasa-rasanya aku segan”
“Tetapi Ki Lurah Wismaya
itu orang baik, kau pernah melihat salah seorang dari kita yang berada di barak
ini diperlakukan tidak adil?, Ki Lurah memang seorang yang tegas. Tetapi
sebenarnya hatinya lembut. Ketika dua orang prajuritnya gugur di peperangan
dekat Bengawan Rahina, yang pada waktu itu aku juga terluka, kau tahu bahwa
semalam suntuk Ki Lurah menunggu kedua sosok mayat itu?”
“Ya, aku juga berada di
medan pada waktu itu”
“Nampaknya Ki Lurah juga
telah mendapat perintah dari Raden Madyasta”
Kawannya
mengangguk-angguk, katanya “Kita tunggu saja, malam ini Ki Lurah akan
membicarakan rencananya di barak Ki Lurah Sasangka, tetapi aku tidak mendengar
lebih banyak lagi”
Keduanyapun terdiam.
***
Seperti yang
direncanakan, maka ketika senja menjadi semakin buram, di barak masing-masing.
Rembana dan Wismaya segera mempersiapkan diri, mereka akan pergi ke barak
Sasangka untuk membicarakan tugas yang akan mereka pikul untuk mengatasi
kerusuhan yang menjadi semakin meningkat di Paranganom.
Sementara itu, Madyasta
memang tidak pulang ke Kadipaten, ia ingin berada di lingkungan kehidupan para
prajurit. Madyasta ingin mengalami, makan, tidur dan bahkan kehidupan para
prajurit seutuhnya, sebagaimana pernah dilakukannya pada masa-masa yang lalu.
Ketika malam turun, maka
ketiga orang lurah prajurit itu sudah berkumpul bersama Raden Masyasta.
Sebelum mereka mulai
menentukan sikap, maka merekapun lebih dahulu mempelajari semua laporan yang
pernah disampaikan tentang kerusuhan yang terjadi di Paranganom. Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda sudah memberi-tahukan semua laporan tugas
untuk mengatasi kerusuhan itu.
Bahkan merekapun telah
merencanakan pula kehadiran Raden Ayu Prawirayuda di Kadipaten Paranganom.
“Kenapa Raden Ayu
Prawirayuda itu diusir dari Kadipaten Kateguhan” bertanya Wismaya.
“Ayahanda belum mendapat
keterangan yang jelas, yang disampaikan oleh bibi hanya sekedar dugaan-dugaan
dan kata orang, tetapi kakangmas Adipati di Kateguhan sendiri tidak pernah
menjatuhkan tuduhan apa-apa.
“Apakah kesalahan Raden
Ayu Prawirayuda itu sedemikian besarnya sehingga jusutru harus dirahasiakan?,
atau mungkin akan menyentuh harga diri dan kewibawaan Kangjeng Adipati di
Kateguhan?”
“Itulah yang tidak jelas,
padahal bibi adalah seorang perempuan yang berilmu tinggi. Bibi Prawirayuda yang
pada waktu paman Prawirayuda masih menjadi Adipati di Kateguhan telah menyusun
satu kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya, pasukan yang terdiri dari
perempuan-perempuan muda yang dilatih khusus langsung oleh bibi sendiri dibantu
oleh beberapa senapati laki-laki. Sehingga pada waktu itu bibi pernah disebut
sebagai Srikandi Kateguhan”
“Rasa-rasanya tentu ada
sesuatu yang dirahasiakan” berkata Sasangka.
“Sementara itu, bersamaan
dengan kehadiran Raden Ayu Prawirayuda di Paranganom, kerusuhan di Paranganom
menjadi semakin meningkat pula” sahut Rembana.
“Mungkin hanya satu
kebetulan, kakang” berkata Madyasta kemudian “Meskipun demikian, kita akan
melihat perkembangan keadaan”
“Mudah-mudahan memang
hanya satu kebetulan, Raden. Tetapi menelusuri arah perluasan kerusuhan itu,
memang dapat menumbuhkan satu pertanyaan tentang keterlibatan orang-orang
Kateguhan, mungkin memang tidak ada kesengajaan dari para pemimpin di Kateguhan
untuk menimbulkan kerusuhan di Paranganom. Mungkin yang terjadi adalah turunnya
dengan tajam kesejahteraan hidup rakyat kateguhan, sehingga ada beberapa orang
yang terpaksa mencari jalan pintas untuk mendapatkan sarana kesejahteraan bagi
hidup mereka. Tetapi mereka tidak mau melakukannya di lingkungan mereka sendiri,
sehingga mereka harus menyeberangi perbatasan antara kadipaten Kateguhan dan
Kadipaten paranganom.
“Memang ada beberapa
kemungkinan, kakang” jawab Madyasta “Bahkan mungkin mereka adalah orang-orang
yang datang dari jauh. Mereka bahkan mungkin juga membuat kerusuhan di kadipaten
Kateguhan sebagaimana mereka lakukan di Paranganom.”
Ketiga orang Lurah
prajurit itu mengangguk-angguk. Meskipun demikian, Wismaya bertanya “Apakah ada
laporan bahwa kerusuhan itu juga terjadi di Kateghan?”
“Belum kakang, beberapa
orang prajurit sandi yang bertugas untuk mengamati kemungkinan itu belum
memberikan laporan “Raden Madyasta berhenti sejenak, lalu katanya “Tetapi kita
tidak usah menunggu laporan itu. Semakin lamban kerusuhan ini ditangani, maka
keresahan akan menjadi semakin tersebar luas di Paranganom.
“Ya Raden” jawab Sasangka
“Sekarang, kami menunggu perintah Raden, apakah kami masing-masing harus
menyiapkan kelompok prajurit dan kami tempatkan di daerah yang rawan?”
“Kakang, apakah kita
dapat mempergunakan cara lain? Jika kita membawa prajurit ke daerah rawan, maka
hal itu tentu akan segera didengar oleh para perampok. Mereka akan dapat merubah
medan yang akan mereka masuki. Atau bahkan mereka untuk sementara akan
menghentikan kegiatannya, sehingga dengan demikian, kepergian kita akan sia-sia.
Namun demikian, jika kita menarik diri, maka mereka akan segera datang kembali”
“Jadi bagaimana menurut
Raden?” bertanya Wismaya.
“Kita akan pergi berempat
saja, mungkin kita memerlukan empat atau atau lima orang kawan lagi”
“Jadi kita akan datang
berempat saja?” bertanya Rembana.
“Ya”
“Bagus, aku sependapat
Raden”
“Selebihnya kita akan
menyiapkan anak-anak muda dari kademangan setempat. Para perampok tentu akan
meremehkan anak-anak muda itu. Tetapi kita akan dapat memberikan latihan-latihan
khusus kepada mereka. Meskipun sekedar dasar-dasarnya saja. Tetapi bersama-sama
dengan kita berempat, mereka akan dapat berbuat sesuatu bagi kademangan mereka”
Rembana termangu-mangu
sejenak, sementara Sasangka kemudian berkata “Tetapi apakah tidak akan terlalu
banyak korban jika benar-benar terjadi benturan kekuatan antara kita dan para
perampok itu jika kita menyertakan anak-anak muda kademangan yang belum pernah
mempergunakan senjata”
“Kita akan selalu bersama
mereka, jika perlu, seperti yang aku katakan tadi, kita akan membawa empat atau
lima orang terpilih bersama kita. Tetapi tentu mereka tidak perlu berjalan
seiring dengan kita”
“Maksud Raden?”
Bab 06 – Kademangan
Panjer
“Maksud Raden?”
:Kita akan pergi
berempat, mudah-mudahan kedatangan kita tidak mereka ketahui. Tetapi seandainya
mereka tahu, maka merekapun tidak merasa perlu untuk menghindar, karena kita
hanya berempat. Selebihnya, beberapa orang prajurit akan datang berurutan dalam
pakaian para petani sehari-hari. Seakan-akan mereka sedang melakukan tugas
sandi”
“Aku mengerti maksud
Raden” berkata Rembana.
“Nah jika demikian, maka
aku minta kakang masing-masing memilih dua prajurit terbaik, perintahkan mereka
untuk menyusul kita, tetapi seperti yang aku katakan tadi, mereka berada dalam
tugas sandi, agar para perampok itu tidak merubah rencana mereka”
“Baik Raden, kami
mengerti maksud Raden”
“Kapan kita akan
berangkat Raden?”
“Besok pagi saat matahari
terbit, kita akan pergi menghadap ayahanda memberikan laporan tentang rencana
kita, kita akan langsung berangkat menuju ke kademangan Panjer. Bukankah menurut
perhitungan kita, para perampok itu akan merambat sampai ke kademangan Panjer?”
“Ya, Raden. Sementara
itu, kedua orang prajurit dari barak kami masing-masing harus langsung pergi ke
Panjer”
“Ya, biarlah mereka
berjalan kaki, tetapi mereka tidak boleh berjalan bersama-sama”
“Baik, baik, aku akan
memerintahkan dua orangku yang terbaik untuk berangkat esok pagi, berkata
Rembana.
“Mereka harus langsung
pergi ke rumah Ki Demang sementara kita sudah berada di kademangan itu.”
“Ya, Raden”
Demikianklah, malam itu
itu mereka telah mendapatkan kesepakatan, esok pagi, pada saat matahari terbit,
mereka akan bersama-sama menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma.
Malam itu, Sasangka,
Rembana, Wismaya telah menunjuk masing-masing dua orangnya yang terbaik. Mereka
mendapat perintah khusus untuk menjalankan tugas mereka yang khusus pula.
Demikianlah, maka ketika
matahari terbit di keesokan harinya. Madyasta bersama Sasangka, Rembana dan
Wismaya telah menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma, meskipun Kangjeng Adipati
baru saja bangun dan bersiap-siap untuk mandi, namun kedatangan Madyasta dan
ketiga orang senapati itu telah mendapat perhatiannya, sehingga Kangjeng Adipati
telah menerima puteranya sebelum Kangjeng Adipati sempat mandi.
“Apa rencanamu Madyasta?”
Madyastapun telah
menyampaikan rencananya yang telah disusun semalam bersama Sasangka, Rembana dan
Wismaya.
Kangjeng Adipatipun
mendengarkan laporan serta rencana Madyasta itu dengan sungguh-sungguh,
sekali-sekali Kangjeng Adipati mengangguk-angguk, namun kadang-kadang nampak
dahinya berkerut.
“Aku percaya padamu,
Madyasta” berkata Kangjeng Adipati.
“Kami mohon doa restu
ayahanda” berkata Madyasta kemudian.
“Berangkatlah, kau
mengemban tugas sebagai seorang putera Adipati Paranganom”
Ketika matahari naik
sepenggalah, maka Madyasta dan ketiga senapati muda itupun meninggalkan dalem
kadipaten menuju ke kademangan Panjer yang tidak jauh dari perbatasan dengan
Kadipaten Kateguhan.
Berkuda mereka berempat
keluar dari pintu gerbang kota, menyusuri jalan-jalan bulak, kuda mereka itupun
berlari di bawah panasnya sianr matahari yang semakin terasa menyengat kulit.
Sekali-sekali keempat
orang itupun berhenti untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat.
Namun kemudian keempat
orang itupun segera melanjuntukan perjalanan, dibawah teriknya sinar matahari,
mereka melarikan kuda mereka di jalan berbatu-batu, diantara jalur-jalur jejak
roda pedati. Sekali-sekali keempat orang itu melewati jalan tidak begitu jauh
dari hutan yang lebat. Namun kemudian jalan itu melingkar dan menurun tajam.
Tetapi kemudian memanjat naik lereng pegunungan, menyeberangi sungai yang tidak
mempunyai jembatan.
Perjalanan mereka memang
cukup panjang.
“Kita tidak mendahului
prahurit-prajurit yang pergi ke Panjer” berkata Madyasta “Atau mungkin mereka
berada di pasar ketika kita melewati pasar di padukuhan seberang sungai itu?”
“Padukuhan Karangwetan,
Raden. Pasar itu adalah pasar Karangwetan”
Namun Wismayapun menyahut
“Agaknya mereka tidak mengambil jalan ini, Raden. Mereka akan mengambil jalan
pintas yang lebih dekat”
Madyasta
mengangguk-angguk
“Meskipun jalan itu agak
rumit, tetapi mereka akan cepat sampai di Panjer”
“Barangkali esok pagi
mereka baru akan memasuki kademangan Panjer, Raden” berkata Wismaya.
“Jadi mereka harus
bermalam di perjalanan?”
“Mereka tentu akan
menghentikan perjalanan mereka dan bermalam di mana saja. Jika mereka berjalan
terus di malam hari, pada saat kerusuhan sedang menghantui padukuhan-padukuhan,
akan dapat timbul salah paham”
Madyasta
mengangguk-angguk.
Di sore hari, ketika
mereka berempat singgah di sebuah kedai, merekapun mendengar pembicaraan tentang
kerusuhan itu, agaknya rakyat Paranganom, terutama di daerah rawan, benar-benar
menjadi gelisah.
“Kalian akan pergi kemana
anak muda?” bertanya seorang tua yang juga sedang berada di kedai itu.
Orang itu tidak menyadari
bahwa ia berbicara dengan putera Kangjeng Adipati serta tiga senapati terpilih
di Kadipaten Paranganom, karena mereka sama sekali tidak mengenakan ciri-ciri
keprajuritan.
Yang menjawab pertanyaan
orang tua itu adalah Wismaya, jawabnya “Kami akan pergi ke Tegal Gumelar, Ki
Sanak”
Orang tua itu
mengeruntukan keningnya, lalu katanya “Hati-hatilah anak muda, bukankah Tegal
Gumelar itu letaknya di sebelah kademangan Panjer?”
“Ya, Ki Sanak?”
“Kami, di lingkungan ini
sedang digelisahkan oleh kerusuhan-kerusuhan yang semakin meningkat”
“Apa yang telah terjadi
disini, Ki Sanak?” bertanya Rembana.
“Perampokan, tidak hanya
di jalan-jalan sepi, tetapi para perampok itu dengan berani mendatangi
kademangan-kademangan, mereka tidak melakukan kejahatan itu dengan diam-diam,
tetapi mereka seakan-akan sengaja menantang para penghuni kademangan yang di
datanginya”
“Nampaknya keadaan sudah
parah, Ki Sanak”
“Ya. Kerana itu,
pertimbangkan perjalanan kalian. Apakah keperluan kalian ke Tegal Gumelar anak
muda?”
“Kami adalah pedang wesi
aji dan bebatuan, Ki Sanak”
“Apalagi jika kalian
pedang” berkata orang tua itu “Sebaiknya kalian menunda perjalanan kalian”
“Tetapi kami tidak mau
kehilangan kesempatan terbaik, Ki Sanak. Kami berjanji untuk membawa
barang-barang yang mereka pesan itu hari ini”
“Kau akan kemalaman di
jalan”
“Tidak akan terlalu
malam”
“Anak muda” berkata orang
tua itu, “Mungkin kau belum mendengar apa yang pernah terjadi di daerah ini,
kerusuhan dan kejahatan semakin menjadi-jadi. Sementara itu, Kangjeng Adipati
Prangkusuma nampaknya acuh tak acuh saja, kademangan-kademangan sudah
menyampaikan laporan, bahwa mereka sudah tidak mampu menanggulangi kejahatan
yang semakin tersebar di daerah ini. tetapi tidak ada tindakan apapun yang telah
diambil oleh Kangjeng Adipati, menurut ceritanya, para prajurit telah mendapat
pujian ketika mereka turun ke medan perang di sebelah bengawan Rahina, tetapi
sekarang, di kadipaten itu sendiri, prajurit itu tidak mengambil tindakan
apa-apa”
“Tentu bukan begitu, Ki
Sanak” berkata Sasangka “Pada saatnya Kangjeng Adipati tentu akan memerintahkan
prajurit-prajurit untuk mengatasinya”
“Tetapi kapan?, apa pula
yang ditunggu?, lihat ngger, meskipun hanya berseberangan perbatasan, di
Kadipaten Kateguhan tidak terjadi apa-apa. Tetapi hampir di sepanjang
perbatasan, terutama yang menghadap ke daerah rawan, prajurit meronda hampir
setiap saat, sehingga para perampok itu tidak berani menyeberang. Mereka tidak
berani melakukan kejahatan di daerah Kateguhan..
“Mungkin Kangjeng Adipati
sedan mengumpulkan keterangan-keterangan yang akan sangat berani bagi
langkah-langkah yang akan diambilnya”
“Itulah yang kami
sesalkan, lamban sekali”
Madyasta menarik nafas
panjang, tetapi ia tidak menyahut sama sekali agar lidahnya tidak salah ucap.
“Nah, dengar nasehatku,
aku adalah penghuni daerah ini sejak lahir, aku tahu benar apa yang sedang
bergejolak di daerah ini dan sekitarnya”
“Tetapi bukankah Tegal
Gumelar masih agak jauh dari sini?”
“Ya, tetapi kau akan
melintasi daerah rawan itu”
Sasangkapun tersenyum
sambil berkata “Terima kasih atas peringatan ini, Ki Sanak. Tetapi jangan
cemaskan kami, kami akan berhati-hati”
Jadi kalian tetap akan
pergi ke Tegal Gumelar?”
“Ya, Ki Sanak. Doakan
kami agar kami tidak menemui hambatan yang berarti”
“Aku doakan kalian
meskipun kalian atidak mau mendengarkan nasehatku”
“Bukannya kami tidak mau
mendengarkan nasehat Ki Sanak, tetapi kami sudah berjanji kepada seseorang yang
sangat baik kepada kami”
Orang tua itu memandang
ke empat anak muda itu dengan kerut di dahi. Tetapi iapun kemudian tidak
berbicara lagi, diangkaktnya mangkuknya, kemudian dihirupnya minuman yang ada di
dalamnya.
Sementara itu, beberapa
orang yang lain, yang agak lama berada di kedai itu, telah meninggalkan tempat
itu, setelah mereka membayar harga makanan dan minuman mereka.
Madyasta dan ketiga orang
senapati itu sudah merasa cukup beristirahat, demikian juga kuda-kuda mereka,
maka merekapun minta diri kepada orang tua itu.
“Hati-hati ngger,
sebenarnyalah aku merasa sedih bahwa angger ternyata akan meneruskan perjalanan
angger”
“Terima kasih atas
perhatian Ki Sanak, tetapi jangan cemas. Dalam beberapa hari aku akan kembali
lewat jalan ini pula, sekali lagi, doakan kami, Ki Sanak”
Ketika Madyasta membayar
makanan serta minuman mereka, pemilik kedai itupun berkata “Aku sependapat
dengan orang tua itu, Ki Sanak”
“Tetapi kami tidak dapat
berbuat lain, kami sudah berjanji untuk untuk datang hari ini meskipun kami akan
sampai Tegal Gumelar agak malam”
“Hati-hatilah anak-anak
muda” pemilik kedai itupun berpesan.
Sejenak kemudian, maka
empat ekor kuda berlari di jalan-jalan bulak menuju ke kademangan Panjer.
Namun Madyastapun
kemudian memperlambat kudanya, kepada Wismaya yang berkuda disebelahnya,
Madyastapun berkata “Rakyat benar-benar sudah menjadi gelisah, ayahanda memang
agak terlambat mengambil tindakan”
“Ayahanda agaknya tidak
mau tergesa-gesa menanggapi peristiwa yang bagi Paranganom agak mengejuntukan
dan menimbulkan banyak pertanyaan itu”
“Tetapi seharusnya
ayahanda tidak usah menunggu jawaban dari perptanyan itu, ternyata rakyat sudah
menjadi sangat gelisah. Karena itu, kita memang harus bertindak segera”
“Mungkin kita memang agak
lamban, Raden, tetapi kita ingin penyelesaian yang tuntas, jika kita
melakukannya sebagaimana dilakukan oleh Kadipaten Kateguhan sebagaimana
dikatakan oleh orang tua itu, maka penyelesaiannyapun akan mengambang. Waktunya
akan menjadi panjang. Tetapi seperti yang Raden kehendaki, cara yang kita tempuh
ini agaknya memang lebih baik”
Madyasta
mengangguk-angguk, namun rasa-rasanya ia ingin lebih cepat sampai di Kademangan
Panjer.
Namun dalam pada itu,
setiap keempat ekor kuda itu berlari tidak terlalu kencang, Madyasta dan para
prajurit itu mendengar derap kaki kuda di belakang mereka.
Ketika mereka berpaling,
mereka melihat beberapa orang berkuda berusaha untuk menyusul mereka.
“Kita akan menunggu
mereka” berkata Rembana, “Jika memreka orang-orang jahat, kita akan
menyelesaikan mereka disini”
Tetapi Madyasta berkata
“Sebaiknya kita melarikan diri saja, aku yakin, kuda-kuda kita tentu lebih baik
dari kuda mereka”
“Kenapa melarikan diri,
Raden. Bukankah jumlah mereka tidak terlalu banyak, mungkin hanya lima orang
atau enam orang saja”
“Bukan itu soalnya, jika
mereka itu bagian dari orang-orang yang sering menimbulkan kerusuhan di daerah
ini, jangan mendapat kesan bahwa ada orang-orang yang dapat mengalahkan mereka,
biarkan mereka tetap dalam keadaan seperti biasa. Kita harus menghadapi mereka
jika mereka datang dalam jumlah yang utuh, sehingga kerja kita akan dapat
selesai dengan tuntas”
“Tetapi, aku belum pernah
melarikan diri dari pertempuran, apalagi hanya sekedar sekelompok perampok”
berkata Rembana.
“Sekarang saatnya untuk
mencoba” sahut Madyasta sambil tersenyum.
Rembana termangu-mangu
sejenak, namun ketika Madyasta, Sasangka dan Wismaya melarikan kuda mereka
semakin kencang, maka Rembana telah menghentakkan kudanya pula.
Keempat ekor kuda itu
berlari semakin kencang, beberapa puluh langkah dibelakang mereka, enam orang
penunggang kuda mencoba untuk mengejar mereka.
Beberapa lama kedua
kelompok orang berkuda itu saling berkejaran di jalan-jalan bulak yang tidak
terlalu lebar, bahkan jalan yang telah digores oleh jalur roda pedati yang agak
dalam.
Namun para penunggang
kuda itu cukup terampil mengendalikan kuda mereka.
Beberapa saat kemudian,
jalanpun mulai mendaki dan berbelok-belok, mereka melintasi jalan yang tidak
terlalu jauh dari hutan.
Ternyata perhitungan
Madyasta benar, jarak mereka dengan orang-orang berkuda yang memburu mereka
semakin lama menjadi semakin jauh, kuda-kuda para prajurit Pajang itu memang
lebh baik dari kuda yang dipergunakan oleh orang-orang yang memburu mereka.
Beberapa saat kemudian,
maka orang-orang yang memburu Madyasta dan ketiga senapati itu menyadari, bahwa
mereka tidak akan dapat berhasil memburu sekelompok orang yang akan mereka
jadikan korban perampokan itu.
“Kuda-kuda itu berlari
seperti anak panah” geram orang tertua diantara para perampok itu.
“Kuda-kuda mereka
tergolong kuda-kuda yang baik, sehingga kuda-kuda kita tidak berhasil
mengejarnya”
“Satu sasaran yang sangat
baik” berkata seseorang yang lain.
Ternyata mereka adalah
orang-orang yang mendengar pembicaraan ketiga orang senapti Paranganom dengan
orang-orang yang ada di kedai tadi. Orang-orang itulah yang meninggalkan kedai
terlebih dahulu untuk mempersiapkan perampokan.
Namun ternyata mereka
tidak berhasil mengejar keempat orang yang mengaku pedagang wesi aji dan
bebatuan itu.
“Kita akan menghadang
mereka pulang kelak” geram orang tertua diantara mereka.
“Kapan mereka pulang?
Jika mereka pulang, mereka sudah tidak membawa benda-benda berharga itu lagi”
“Tetapi mereka akan
membawa uang”
“Ya, ya, mereka akan
membawa uang”
“Kita akan mengamati
jalan ini, bukankah mereka mengatakan bahwa mereka akan kembali lewat jalan ini
beberapa hari lagi?”
“Ya, ya, beberapa hari
lagi. Tetapi yang beberapa hari lagi itulah yang tidak pasti”
“Sejak tiga hari
mendatang, kita akan berada di daerah ini”
“Jika Ki Lurah memanggil
dan menghendaki kita pergi bersamanya?”
“Apaboleh buat, kita akan
kehilangan mereka, kecuali kita dapat meyakinkan Ki Lurah, bahwa sebaiknya kita
tetap berada disini”
“Mustahil, kita tahu
watak dan sifat Ki Lurah Sura Branggah yang berhati batu itu”
Orang tertua diantara
mereka itu mengangguk-angguk, katanya “Sudahlah, marilah kita kembali, kita
memang harus melepaskan mereka. Betapapun kita berusaha, kita tidak akan mempu
mengejar mereka, jika saja kita mempunyai kuda yang lebih baik”
Para penyamun itupun
kemudian dengan kecewa berbalik arah, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk
memburu calon korban mereka.
Dalam pada itu Madyasta
yang sudah meyakini bahwa orang-orang yang mengejar mereka berhenti,
memperlambat kudanya, kepada para senapati itu iapun berkata “Nah, bukankah
lebih baik demikian?”
“Tetapi rasa-rasanya
hatiku masih belum mau menerima kenyataan, bahwa kita harus melarikan diri dari
kejaran para penyamun itu”
“Kita harus
memperhitungkan segala kemungkinan dalam keutuhan tugas kita, kakang” berkata
Madyasta. “Memang, jika kita berpijak pada harga diri kita, maka kita tidak akan
melarikan menghadapi mereka. Bahkan jika jumlah mereka lebih banyak sekalipun.
Jika kita sekedar berpijak pada harga diri yang berlebihan, tetapi tugas kita
tidak terselesaikan, maka itu akan berarti kita lebih mementingkan diri sendiri
daripada tugas kita”
Rembana mengangguk-angguk
sambil berdesis “Ya, Raden”
“Nah, para penyamun itu
agaknya orang-orang yang tadi juga berada di kedai. Agaknya mereka mendengar
pembicaraan kita, sehingga mereka benar-benar menganggap kita pedagang wesi aji
dan bebatuan yang bernilai tinggi. Dengan demikian, maka mereka tidak akan
membuat pertimbangan-pertimbangan baru untuk melanjuntukan rencana-rencana
mereka, merampok dan menyamun”
“Ya, Raden” Rembana masih
mengangguk-angguk.
Demikianlah kuda-kuda itu
mamsih berlari terus, sementara itu, mataharipun menjadi semakin rendah.
“Kita akan memasuki
Kademangan Panjer setelah gelap” berkata Madyasta.
“Ya, Raden” jawan
Madyasta, “Kita harus bersiap-siap untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan
terjadinya salah paham”
“Kita akan langsung pergi
menemui Ki Demang Panjer.”
Wismaya
mengangguk-angguk.
Langit sudah menjadi
buram ketika mereka semakin mendekati Kademangan Panjer. kuda-kuda yang sudah
nampak menjadi lelah itu, tidak lagi berlari terlalu kencang.
“Sudah tidak terlalu jauh
lagi, Raden” berkata Sasangka.
“Kuda-kuda kita sudah
letih” Madyasta
“Beberapa saat lagi kita
akan sampai”
Madyasta tidak menjawab,
sementara itu senjapun menjadi semakin gelap.
Ketika malam turun,
mereka sudah berada di bulak panjang, di lingkungan Kademangan Panjer.
Sasangkalah yang kemudian berkuda paling depan, dibelakangnya Madyasta, kemudian
Wismaya lalu Rembana.
Dalam apda itu, selagi
empat orang berkuda itu masih dalam perjalanan, maka di tempat tinggal Ki Demang
di Panjer, beberapa orang bebahu sedang berkumpul. Dengan cemas mereka
membicarakan perkembangan keadaan yang menurut pendapat mereka menjadi semakin
gawat.
“Para Perampok itu
semakin lama semakin bergeser ke selatan” berkata Ki Jagabaya.
“Apa maksudmu Ki
Jagabaya?” berkata Ki Demang.
“Coba perhatikan Ki
Demang, mereka telah merampok kademangan Rara Bandang. Merekapun bergeser lagi
lebih ke selatan, merekapun merampok kademangan Sanakeling. Kademangan yang
terkenal dihuni oleh orang-orang yang berani, karena sebagian dari mereka senang
berburu di hutan, namun kademangan Sanakeling tidak dapat memberikan perlawanan
yang berarti. Dua orang diantara mereka yang mencoba memberikan perlawanan telah
terbunuh. Setelah itu, Salam menjadi sasaran berikutnya, Karangtengah telah
mereka rambah pula, terakhir, beberapa hari yang lalu, mereka memasuki sebuah
padukuhan di kademangan tetangga kita. Mereka telah membakar rumah. Hampir saja
penghuninya ikut terpanggang, untunglah bahwa jiwa mereka dapat diselamatkan
meskipun mereka mengalami luka-luka bakar yang agak parah”
“Ya, agaknya memang
demikian, sasaran berikutnya ada dua pilihan, kademangan Kayulegi atau
kademangan kita, Kademangan Panjer.”
“Menilik kesejahteraan
hidup rakyat Panjer yang lebih baik, maka para perampok
itu akan memasuki kademangan kita. Ki Demang, mereka akam merampok di Kademangan
Panjer”
Ki Demang menarik nafas
dalam-dalam, namun dalam pada itu, Ki Kamituwapun bertanya “Lalu, apa yang harus
kita lakukan?”
“Itulah pertanyaannya”
desis Ki Jagabaya.
“Apakah kita akan berdiam
diri saja dan membiarkan para perampok itu mengambil apa saja yang mereka
senangi dari kademangan kita ini? Ki Jagabaya. menurut kabar yang dibawa oleh
para pedagang di pasar, para perampok itu tidak saja merampok harta benda”
“Selain harta benda, lalu
apa?”
“Di Karangtengah para
perampok itu telah menyeret seorang perempuan yang telah mempunyai dua orang
anak”
“Perempuan juga?”
“Ya, memang untuk yang
pertama kali mereka lakukan, justru di Karangtengah, tetapi itu akan dapat
menjadi kebiasaan mereka, ditempat lain mereka akan dapat merampok sambil
mencari korban keliaran mereka, perempuan dan gadis-gadis”
Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam, katanya “Ya, aku juga mendengarnya”
“Jika demikian, apakah
kita tidak dapat berbuat apa-apa?”
Ki Demang menarik nafas
dalam-dalam, katanya “Pilihan yang rumit, jika diam saja, maka mereka akan
dengan leluasa berbuat apa saja sesuka hati mereka. Tetapi jika kita mencoba
melawan, yang terjadi mungkin lebih buruk lagi dari yang pernah terjadi di
Sanakeling. Di Sanakeling dua orang terbunuh, disini mungkin korbannya akan
lebih banyak lagi”
“Tetapi adalah kewajiban
kita untuk mempertahankan hak dan milik kita”
“Ki Kebayan, yang terjadi
di Sanakeling adalah bencana ganda, setelah dua orang mati terbunuh, para
perampok itu justru menjadi garang karena mereka merasa mendapat perlawanan.
Beberapa rumah yang malam itu di bongkar oleh para perampok, beberapa orang
terluka, tetapi mereka waktu itu masih belum sempat berpikir tentang perempuan”
“Kita memang tidak dapat
berbuat apa-apa” desis Ki Kamituwa “Kita hanya dapat menunggu perlindungan para
prajurit Paranganom yang konon gagah perkasa itu”
“Kitapun hanya dapat
melihat, siapakah yang datang lebih dahulu, para prajurit atau para perampok”
Namun selagi mereka
berbincang, dua orang anak muda dengan tergesa-gesa naik ke pendapa langsung
mengetuk pintu pringgitan.
Ki Demang dan para bebahu
yang berbicara di ruang dalam terkejut, dengan nada rendah Ki Demang bertanya
“Siapa?”
“Kami Ki Demang, Ija dan
Tanaya, kami termasuk diantara mereka yang bertugas mengawasi lingkungan
kademangan ini”
Ki Demang kemudian
bangkit berdiri dan membuka pintu pringgitan. Ija dan Tanaya berdiri
termangu-mangu di depan pintu.
“Ada apa?” bertanya Ki
Demang, sementara itu Ki Jagabaya mendekatinya pula sambil bertanya “Apakah ada
tanda-tanda buruk yang kalian jumpai?”
“Ada empat orang berkuda
memasuki kademangan ini, Ki Demang”
“Empat orang berkuda?,
siapakah mereka? Apakah kau tidak bertanya apakah maksud mereka?”
“Mereka mengatakan, bahwa
mereka ingin bertemu dengan Ki Demang”
“Nampaknya mereka seperti
orang baik-baik Ki Demang, sikap merekapun baik pula”
“Antar mereka kemari”
“Baik, Ki Demang”
Kedua orang anak muda
itupun dengan tergesa-gesa turun dari pendapa untuk memanggil keempat orang yang
akan bertemu dengan Ki Demang, keempat orang itu masih tertahan di regol
padukuhan induk Kademangan Panjer.
Beberapa saat kemudian,
empat orang itupun sudah menuntun kudanya memasuki halaman rumah Ki Demang,
sementara itu, Ki Demang dan para bebahu telah turun pula ke halaman untuk
menyongsong mereka.
Ki Kamituwa telah memutar
kerisnya ke lambung sebelah kiri.
“Kau mau apa?, Ki
Kamituwa” desis Ki Kebayan
“Kenapa apa?”
“Ki Kamituwa memutar
keris”
“Ah, tidak apa-apa,
rasa-rasanya punggung ini agak kaku”
“Aku kira Ki Kamituwa
akan mengamuk dengan keris pusakanya itu”
“Jika aku mengamuk,
kaulah sasaran yg pertama”
Ki Kebayan itupun tertawa
tertahan, katanya “Jangan cepat marah”
Merekapun terdiam,
kedua-duanya melangkah semakin dekat, sementara salah seorang diantara keempat
orang yg datang sambil menuntun kudanya itu berkata setelah mengangguk hormat
“Kami ingin menghadap Ki Demang di Panjer”
“Aku Demang di Panjer, Ki
Sanak. Apakah maksud Ki Sanak datang di kademangan ini?”
“Jika Ki Demang berkenan,
kami ingin menghadap untuk menyampaikan beberapa pesan kepada Ki Demang”
“Pesan dari siapa?”
bertanya Ki Jagabaya dengan serta merta.
Seorang diantara keempat
orang itupun menjawab “Nanti, kami akan menjelaskan”
Ki Demang termangu-mangu
sejenak, namun kemudian katanya “Baiklah, marilah, aku persilahkan kalian naik”
Keempat orang itupun
kemudian dipersilahkan naik ke pendapa, sementara itu Ki Jagabaya sempat
mendekati Ija dan Tanaya yg mengantar keempat orang berkuda itu “Jangan lengah,
meskipun ujud dan sikapnya tidak mencurigakan, kita tidak tahu siapakah mereka
sebenarnya. Dimana kawan-kawanmu?”
“Dua orang ada di gardu
sebelah, yang lain di pintu regol halaman induk”
“Baik, kalian berdua
jangan pergi dahulu”
“Baik Ki Jagabaya”
Dalam pada itu, para
tamu, Ki Demang dan para bebahu sudah duduk di pringgitan. Agaknya Ki Demang
ingin segera mengetahui siapakah mereka berempat yang malam-malam datang ke
Kademangan Panjer.
“Maaf, Ki Sanak, tetapi
suasana kademangan ini sekarang memang agak keruh, sehingga kami harus
berhati-hati”
“Kami mengerti Ki Demang”
“Siapakah Ki Sanak
berempat ini, dan apa pula maksud kedatangan kalian kemari?”
“Ki Demang, kami adalah
prajurit dari Paranganom”
“Prajurit dari
Paranganom?”
“Ya, Ki Demang”
Ki Demang menarik nafas
dalam-dalam, katanya “Ki Sanak, keadaan sudah demikian mencemaskan, Paranganom
masih juga belum tanggap, Paranganom sempat mengirimkan prajurit yang agaknya
untuk melihat apa yg telah terjadi disini. Kemudian kembali menghadap Kangjeng
Adipati untuk memberikan laporan. Laporan itu masih akan dibicarakan dalam
pertemuan para pemimpin di Paranganom. setelah itu, Kangjeng Adipati
memerintahkan seorang senapati untuk membawa prajuritnya ke Panjer, senapati itu
masih harus mengadakan persiapan selama tiga hari. Nah, ketika para prajurit itu
sampai kemari, maka Panjer telah menjadi debu”
Ketika Rembana beringsut
setapak, Wismaya menggamitnya, sementara itu Madyastalah yang menjawab dengan
sareh “Kami mengerti, Ki Demang. tetapi kami datang bukannya untuk sekedar
melihat keadaan. Kami minta maaf, bahwa penanganan kami memang agak lamban,
tetapi kami bermaksud untuk menyelesaikan dengan tuntas”
“Apa yang tuntas?, di
Sanakeling dua orang sudah terbunuh, di Karangtengah, mereka mulai mengganggu
perempuan”
“Kami minta maaf atas
keterlambatan kami, Ki Demang, tetapi kami datang tidak untuk sekedar melihat
dan mengamati keadaan, kami datang dengan membawa perintah Kangjeng Adipati
untuk mengatasinya”
“Jadi Ki Sanak datang
untuk menghadapi para perampok itu?”
“Ki Demang, menurut
laporan yg kami terima, serta menurut perhitungan kami, ada kemungkinan para
perampok itu akan memasuki Kademangan Panjer, karena itu kami datang untuk
memberi peringatan kepada kademangan ini, sekaligus untuk membantu mengatasinya”
“Ki Sanak, barangkali
Kangjeng Adipati mendapat laporan yang salah, atau barangkali telaj terjadi
salah paham, sehingga Kangjeng Adipati mengirimkan empat orang prajurit untuk
mengatasi para perampok itu”
“Kami tidak hanya
berempat, Ki Demang. mungkin esok pagi kawan-kawan kami akan memasuki kademangan
ini”
“Segelar sepapan?”
“Tidak, Ki Demang. kawan
kami itu berjumlah enam orang sehingga kami seluruhnya sepuluh orang”
“Hanya sepuluh orang?”
“Ya, Ki Demang”
“Berapakah jumlah
prajurit Paranganom?, aku dengar prajurit Paranganom telah terjun dalam kancah
pertempuran untuk melawan pasukan yang datang dari seberang Bengawan Rahina.
Tetapi kenapa Paranganom hanya mengirimkan sepuluh orang prajurit untuk
mengatasi kekacauan yg terjadi didaerah ini”
“Dengan sepuluh orang
kami kami akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya Ki Demang”
“Ki Sanak, dengar
baik-baik, para perampok yang sering mengganggu daerah ini tidak hanya terdiri
dari dua atau tiga orang, tetapi mereka lebih dari duapuluh lima orang”
“Kami tahu, Ki Demang.
tidak ada salah paham, Kangjeng Adipati tahu, bahwa jumlah para perampok itu
lebih dari duapuluh lima orang. kadang-kadang mereka datang bersama-sama
memasuki sebuah padukuhan. merekapun diperhitungkan akan memasuki padukuhan
Panjer dengan kekuatan penuh”
“Jika demikian, kenapa Ki
Sanak datang hanya dengan sepuluh orang?”
“Bukankah di Kadipaten
ini terdapat tidak hanya dua puluh lima orang, tetapi berpuluh-puluh anak muda”
“O, jadi kalian datang
hanya untuk melihat bagaimana anak-anak muda kami dibantai oleh para perampok
itu?, jika kami mengerahkan anak-anak muda kami, maka korban yg akan jatuh tentu
lebih dari dua puluh lima orang, jika seorang perampok membunuh dua orang anak
muda atau lebih, apa jadinya dengan Kadipaten Panjer”
Madyasta tersenyum,
katanya kemudian “Ki Demang, apakah kami boleh menjelaskan rencana kami?”
Bab 07 – Rara Menur
“Rencana apa?”
Agaknya Rembana tidak
dapat menahan diri lagi, tiba-tiba saja iapun berkata “Ki Demang, kau dengar
dahulu apa yang akan dikatakan Raden Madyasta, baru kau berceloteh tentang
nalarmu yang pendek itu”
Wajah Ki Demang menjadi
merah, sementara itu dengan cepat Madyasta menyambung “Maaf Ki Demang, aku minta
Ki Demang mendengarkan dahulu dan kemudian mempertimbangkan rencanaku dengan
seksama agar Ki Demang dapat melihat dengan jelas, apa yang mungkin terjadi di
kademangan ini”
“Tetapi, siapakah yang
dimaksud dengan Raden Madyasta?”
“Aku Ki Demang”
“Tunggu, apakah aku
berbicara dengan Raden Madyasta?”
“Ya”
“Nanti dulu, bukankah
Raden Madyasta tidak berada di Kadipaten Paranganom, sudah beberapa tahun lalu
Raden Madyasta berada di sebuah padepokan”
“Darimana Ki Demang
tahu?” bertanya Madyasta
“Aku mendengar dari
seorang saudara sepupuku yang mengabdi di Kadipaten Paranganom”
“Ki Demang benar, sudah
empat tahun aku meninggalkan Kadipaten dan tinggal di Padepokan Panambangan”
“Jadi Raden adalah Raden
Madyasta itu?, aku pernah melihat Raden beberapa tahun yang lalu, aku
sungguh-sungguh tidak dapat mengenali Raden lagi, Raden sekarang rasa-rasanya
bukan Raden Madyasta yang pernah aku lihat pada suatu pertemuan di Kadipaten
sekitar empat tahun yang lalu”
“Aku sekarang sudah
kembali, Ki Demang”
“Raden, aku mohon maaf
atas segala kesalahanku, karena aku tidak tahu bahwa kau adalah Raden Madyasta
putera Kangjeng Adipati Prangkusuma”
“Tidak apa-apa, Ki
Demang. Apa yang Ki Demang katakan itu benar, ayahanda memang agak terlambat
mengambil sikap, tetapi maskud ayahanda agar persoalan ini dapat diselesaikan
dengan tuntas”
“Ya, Raden”
“mungkin, Ki Demang
kurang memahami rancana ayahanda itu”
Ki Demang tidak menjawab,
ia hanya dapat menundukkan kepalanya saja.
Raden Madyasta kemudian
telah menjelaskan rencana di hadapan Ki Demang dan Para Bebahu.
“Kebetulan, aku dapat
bertemu dengan para bebahu malam ini juga”
Para Bebahu itupun
mendengarkan keterangan Raden Madyasta dengan segenap perhatian, Ki Demang
sekali-sekali mengangguk-angguk, namun kemudian mengerutkan keningnya, demikian
pula Para Bebahu yang lain, ada yang segera dapat mereka pahami, tetapi ada pula
yang masih memerlukan banyak penjelasan.
“Kami sengaja datang
dalam tugas yang harus Ki Demang rahasiakan” berkata Madyasta kemudian
“Setidak-tidaknya jangan sempat membuat para perampok itu merubah rencananya”
Ki Jagabaya yang masih
belum paham benar langkah-langkah yang akan diambil oleh Raden Madyasta itupun
bertanya “bagaimanapun juga, bukankah Raden Madyasta berniat bertumpu pada
kekuatan anak-anak muda kademangan ini?, itulah yang kami khawatirkan Raden,
korban akan berjatuhan”
“Ki Jagabaya, bukannya
kami merasa diri kami memiliki kamampuan yang tinggi, tetapi sepuluh orang
prajurit akan sangat berarti bagi anak-anak muda kademangan ini, sementara itu,
kita tidak akan menebarkan anak-anak muda itu begitu saja, mereka harus
mendapatkan petujnjuk-petunjuk yang dapat setidak-tidaknya mengurangi
kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas mereka”
“Tetapi menurut
pendapatku, Paranganom lebih baik mengirimkan prajurit lebih banyak lagi lagi”
“Itu tidak akan
menyelesaikan persoalannya dengan tuntas, bahkan mungkin kita tidak akan pernah
dapat bertemu lagi apalagi bertempur dengan para perampok itu, mereka akan
menyingkir, merubah rencana mereka dan membuat mereka semakin berhati-hati”
Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam.
“Ki Jagabaya” berkata
Rembana “Kita diam-diam harus menyelenggarakan latihan, kita pergunakan waktu
yang pendek itu untuk sekedar menunjukkan kepada anak-anak muda, apa yang harus
mereka lakukan dengan senjata-senjata mereka untuk melindungi diri mereka”
“Waktu kita hanya
terhitung hari” sahut Ki Jagabaya.
“Ya, mungkin sepekan,
mungkin dua pekan, kita manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya, Ki Jagabaya dapat
membuat gelar, mengadakan latihan terbuka di halaman banjar atau di padang perdu
di lereng perbukitan, sementara itu, yang lain mengadakan latihan-latihan kepada
lima orang di tempat tertutup, bukankah sudah ada lima puluh orang yang serba
sedikit mendapatkan bimbingan apa yang sebaiknya mereka lakukan jika mereka
benar-benar harus menghadapi para perampok”
Ki Demang
mengangguk-angguk, katanya “Aku dapat mengerti rencana Raden”
“Jika para perampok itu
benar-benar datang ke Panjer, maka yang akan ikut bersama kami menangani para
perampok itu adalah anak-anak muda yang ikut berlatih bersama para prajurit,
sementara itu, anak-anak muda yang berlatih bersama Ki Jagabaya dan barangkali
bersama Para Bebahu yang lain atau Ki Demang sendiri, akan memagari arena agar
tidak seorangpunpun diantara para perampok itu yang sempat melarikan diri”
Ki Jagabaya itupun
mengangguk-angguk.
“Jika telah jatuh korban
di kademangan lain, maka agaknya anak-anak mudanya tidak dipersiapkan sama
sekali untuk menghadapi kemungkinan yang buruk itu, mereka tidak siap turun ke
arena pertempuran melawan dua puluh lima orang perampok. Meskipun jumlah mereka
jauh lebih banyak, tetapi tanpa petunjuk sama sekali, mereka memang akan
mengalami kesulitan, bahkan dua orang telah terbunuh dan beberapa orang yang
lain terluka”
“Ya, Raden” Ki Jagabaya
masih mengangguk-angguk.
“Nah, sebaiknya Ki
Jagabaya memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka, apa yang harus mereka
lakukan menghadapi para perampok, demikian pula para prajurit akan melatih
anak-anak muda yang akan ditunjuk oleh Ki Jagabaya”
“Baik Raden” berkata Ki
Demang “Jika demikian, maka kamipun dapat berharap akan dapat mengatasi jika
para perampok itu, juka benar-benar mereka akan datang kemari”
“Nah, jika Ki Demang
sependapat, maka aku minta Ki Demang , Ki Jagabaya dan Para Bebahu segera
mengatur, dimana latihan-latihan khusus itu akan diadakan, masing-masing untuk
lima orang anak muda terpilih, memiliki keberanian, kesediaan mengabdi dan
berkorban jika perlu, serta unsur kewadagan yang memadai”
“Baik Raden” jawab Ki
Demang “malam ini juga Para Bebahu akan melakukannya”
“Tetapi semuanya harus
dilakukan dengan hati-hati, kita akan berusaha merahasiakannya, jika para
perampok mengetahuinya, mereka akan dapat merubah sasaran mereka”
“Tetapi bagaimana dengan
latihan-latihan di tempat terbuka itu?”
“Latihan-latihan yang
dipimpin sendiri oleh Ki Demang, Ki Jagabaya dan Para Bebahu itu justru akan
memancing mereka untuk datang, mereka akan merasa ditantang oleh anak-anak muda
kademangan ini”
“Baik, baik, aku
mengerti”
Pembicaraan merekapun
kemudian terputus, seorangpun gadis keluar lewat pintu pringgitan sambil membawa
nampan untuk menghidangkan minuman kepada keempat orang tamu yang datang di
rumah Ki Demang itu.
ketika dengan tidak
sengaja Raden Madyasta memandang wajah gadis itu, maka jantungnya tergetar,
gadis yang memanjat ke usia dewasa itu, adalah gadis yang sederhana, tetapi
dalam kesederhanaannya, wajahnya yang cerah bagaikan memancarkan kepribadiannya
yang terang.
Namun Raden Madyasta
segera menyadari, bahwa ia datang sebagai seorang tamu yang baru pertama kalinya
mengunjungi keluarga Ki Demang Panjer. Madyastapun belum tahu siapakah gadis
itu, atau bahkan mungkin ia bukan seorangpun gadis, mungkin ia justru menantu Ki
Demang Panjer”
karena itu, maka Raden
Madyastapun berusaha untuk tidak memperhatikannya lagi, namun diluar sadarnya,
sekali-sekali anak muda itu memandang wajah gadis yang menghidangkan
mangkuk-mangkuk minuman hangat itu.
Ketika kemudian gadis itu
meninggalkan pringgitan dan masuk ke ruang dalam, maka Ki Demangpun
mempersilahkan tamu-tamunya "Marilah angger, para senapati, minumlah, mumpung
masih hangat”
“Terima kasih Ki Demang”
sahut Madyasta yang berusaha mengusai dirinya.
Namun sejenak kemudian,
gadis itu telah keluar lagi dari ruang dalam sambil membawa minuman pula bagi
Para Bebahu.
“Aku tidak tahu, yang
manakah minuman paman masing-masing, aku bawakan yang baru bagi paman”
Kata-kata gadis itupun
terdengar bagaikan sebuah lagu yang lembut.
Sejenak kemudian, ketika
gadis itu sudah hilang dibalik pintu pringgitan, sekali lagi Ki Demang
mempersilahkan tamu-tamunya untuk minum.
Sambil minum, maka Raden
Madyasta dan Ki Demang telah mematangkan kesepakatan mereka, apa yang sebaiknya
mereka lakukan di kademangan itu.
“Kita harus manfaatkan
waktu sebaik-baiknya, Ki Demang” berkata Raden Madyasta.
“Baik, Raden, mulai malam
ini juga, Para Bebahu akan mulai dengan kerja mereka sebagaimana kita sepakati
bersama”
Demikianlah sejenak
kemudian, maka Ki Demang mempersilahkan tamu-tamu mereka dari Paranganom itu
makan malam.
“Aku sudah makan sebelum
berangkat kemari” desis Ki Kebayan.
Tetapi Ki Demangpun
menyahut “Aku tadi juga sudah makan, tetapi biarlah kita menemani tamu-tamu kita
untuk makan malam.
Setelah makan, maka para
tamu itupun dipersilahkan untuk beristirahat di gandok sebelah kanan. kepada
para tamu Ki Demang itu berkata “Silahkan Raden dan para senapati, tetapi inilah
rumah di padesaan, sederhana dan barangkali kotor, kami sediakan dua buah bilik
di gandok sebelah kanan”
“Terima kasih Ki Demang,
tetapi ini sudah terlalu baik bagi kami. Kami para prajurit sudah terbiasa tidur
disembarangn tempat, bahkan ditempat-tempat terbuka, di pategalan atau di hutan
sekalipun”
“Itu bila para prajurit
berada dalam keadaan terpaksa”
Raden Madyasta tersenyum,
katanya “Terima kasih atas sambutan yang baik dari Ki Demang dan Para Bebahu.
Besok masih ada enam orang prajurit yang akan datang, tetapi mereka tidak datang
bersama-sama, mereka akan langsung menuju kemari dan mnta untuk dapat
dipertemukan dengan Ki Demang”
“Baik, Raden. besok atau
kapanpun mereka datang, aku akan terima dengan senang hati, bahkan dengan
harapan-harapan sebagaimana kedatang Raden dan ketiga senapati itu”
“Kami akan berusaha
sebaik-baiknya, Ki Demang”
Demikianlah Raden
Madyasta dan ketiga senapati itupun telah dibawa ke gandok sebelah selatan, dua
bilik telah disediakan bagi mereka.
Namun ternyata bahwa
ketiga senapati itu lebih senang berada di dalam satu bilik, sedangkan bilik
yang lain dipergunakan oleh Madyasta sendiri”
Sebenarnya salah seorang
dari kakang bertiga beristirahat di bilik ini bersama aku” ajak Raden Madyasta.
Tetapi ketiga senapati
itu agaknya merasa segan, sehingga mereka memilih tidur diatas sebuah amben
bambu yang mereka rasa cukup besar bagi mereka bertiga.
Namun mereka berempat
tidak segera berbaring, mereka bergantian pringgitan ke pakiwan”
“Biasanya aku mandi
dahulu baru makan, sekarang aku terpaksa makan dahulu”
“Kita tunggu sebentar
sampai nasi ini turun ke dalam perut, baru kita mandi, mudah-mudahan para
perampok itu tidak datang malam ini”
Setelah mandi maka tubuh
merekapun merasa segar, namun dengan demikian, ketika kentongan di gardu di
sebelah rumah Ki Demang itu mengisyaratkan bahwa malam telah sampai ke
pertengahannya, merekapun membaringkan tubuh mereka di pembaringan.
Raden Madyasta yang tidur
sendiri di dalam bilik yang terpisah, justru segera dapat tertidur.
“Anak-anak muda yang
meronda itu tentu akan berjaga-jaga sampai dini hari” berkata Raden Madyasta di
dalam hatinya” dengan demikian, maka iapun menjadi tenang, sehingga beberapa
saat kemudian, Raden Madyasta itupun telah tertidur nyenyak.
Ketiga senapati yang
tidur di dalam satu bilik, justru tidak dapat segera tertidur, mereka masih saja
berbicara diantara mereka, tentang kemungkinan yang dapat terjadi di Kademangan
Panjer.
:Jika yang kemudian
didatangi oleh para perampok itu bukan Kademangan Panjer?” desis Rembana.
“Jika kita mendengar
isyarat kentongan, kemanapun kita akan pergi, tetapi menurut perhitungan kita
dan bahkan juga perhitungan Para Bebahu, para perampok itu akan datang ke
Panjer” sahut Wismaya.
Rembana terdiam.
Baru lewat tengah malam
mereka tertidur nynyak. Pagi-pagi sekali ketiganya telah bangun, bergantian
mereka menimba air mengisi jambangan pakiwan, terdengar senggot timba berderit
tidak henti-hentinya.
Ketika pembantu di rumah
Ki Demang itu mempersilahkan mereka untuk mandi saja, sementara pembantu itu
yang akan mengisi jambangan, Sasangkapun berkata “Sudahlah, kami sudah terbiasa
melakukannya”
Ketika matahari terbit,
maka ketiga orang senapati itu serta Raden Madyasta telah selesai berbenah diri,
merekapun kemudian duduk di serambi gandok.
Jantung Madyasta terasa
berdegup kencang ketika ia melihat gadis yang semalam menghidangkan minuman,
datang kepadanya serta ketiga orang senapati itu sambil membawa mangkuk minuman
hangat.
Sambil meletakkan
mangkuk-mangkuk minuman itu di lincak bambu di serambi, gadis itupun berkata
“Silahkan Raden, marilah Ki Sanak”
Madyasta yang menjadi
agak gagap itupun menjawab “Terima kasih”
Ketika gadis itu pergi,
tanpa sadarnya Raden Madyasta memperhatikan gadis dari arah belakang, gadis yang
berjalan turun ke halaman dan menuju pintu seketheng.
Raden Madyasta menarik
nafas dalam-dalam, gadis itu benar-benar menarik perhatiannya, justru karena
kesederhanaannya serta kepribadiannya.
Tetapi sekali lagi,
Madyasta harus mengekang diri, ia masih belum tahu pasti, siapakah gadis itu,
jika ia menantu Ki Demang, maka perhatiannya harus berhenti sampai sekian.
Demikian gadis itu hilang
di balik pintu seketheng, maka Rembanalah yang mempersilahkan “Marilah Raden,
mumpung masih panas, hari masih pagi, tetapi aku sudah haus”
Keempat orang tamu Ki
Demang itupun kemudian telah menghirup minuman hangat wedang sere gula kelapa.
Namun dalam pada itu, dua
orang melangkah memasuki halaman rumah Ki Demang, sebelum orang itu bertanya
sesuatu, Wismaya mengangkat wajahnya sambil berdesis “Dua orang prajuritku sudah
datang”
Wismayapun kemudian
bangkit berdiri menyongsong kedua orang prajuritnya. dibawanya kedua orang itu
duduk di serambi. Wismayapun memperkenalkan kedua prajuritnya itu kepada Raden
Madyasta.
Keduanya mengangguk
hormat.
“Raden Madyasta adalah
putera Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom”
Kedua prajurit itupun
mengangguk semakin dalam.
“Marilah, duduklah”
Kedua prajurit itupun
kemudian duduk di serambi itu pula.
“Aku akan melaporkan
kepada Ki Demang” berkata Wismaya.
Sementara itu, di ruang
dalam Nyi Demang serta gadis yang telah menghidangkan minuman bagi Raden
Madyasta itupun telah sibuk menyiapkan makan pagi, mereka tidak menyiapkan
sekedar untuk empat orang tamunya, tetapi karena pagi itu diduga akan datang
lagi enam orang tamu, maka makan pagi yang disedikakan oleh Nyi Demang adalah
untuk sepuluh orang tamu, serta Ki Demang sendiri.
Sebenarnyalah sebelum
wayah pasar temawon, enam orang prajurit dari Paranganom telah ada di rumah Ki
Demang, pagi itu Ki Demang juga sudah memerintahkan Ki Jagabaya dan Para Bebahu
yang lain untuk datang sedikit lewat pasar temawon.
Ki Demang menerima keenam
prajurit yang datang berurutan itu di ruang dalam, sekaligus mempersilahkan
mereka makan pagi.
“Tetapi kami baru saja
datang, Ki Demang. Kami belum mandi”
“Nanti saja mandi,
sekarang makan saja dahulu” sahut Ki Demang sambil tersenyum.
Kenam prajurit itu tidak
dapat menolak, merekapun segera makan pagi di ruang dalam, sementara itu,
merekapun berbincang untuk menegaskan kesepakatan mereka semalam, terutama
kepada para prajurit yang baru saja datang itu.
“Dalam waktu yang singkat
dan pendek, kalian harus menyiapkan masing-masing lima orang anak muda,
setidak-tidaknya mereka tahu, bagaimana mereka harus melindungi dirinya sendiri”
berkata Raden Madyasta kepada para prajurit itu.
“Ya, Raden” salah
seorangpun dari mereka menjawab “Kami akan berusaha sejauh kemampuan kami”
“Aku percaya kepada
kalian, itu adalah satu-satunya jalan untuk menjebak para perampok itu”
“Kami mengerti Raden”
Demikianlah, maka ketika
Ki Jagabaya dan Para Bebahu datang, segala sesuatunya sudah dapat ditentukan, Ki
Jagabaya telah menentukan, dimana para prajurit itu harus melatih masing-masing
lima orang anak muda, sedangkan anak-anak muda itupun telah ditentukan pula,
siapa-siapa mereka dan dmn mereka harus berlatih.
“Jika para prajurit telah
siap dan tidak lagi merasa letih, anak-anak muda itu sudah dapat memulainya,
nanti sedikit lewat senja, anak-anak muda itu sudah akan berada di tempat yang
telah ditentukan bagi mereka”
“Baik, kita memang tidak
boleh menyia-nyiakan waktu di setiap kejap”
Setelah para prajurit itu
makan pagi, beristirahat sejenak, serta kemudian mandi dan membebahi diri, maka
merekapun segera dibawa ke tempat yang telah ditentukan bagi masing-masing
prajurit, tmasuk Raden Madyasta, namun Raden Madyasta telah ditentukan untuk
memberikan latihan kepada lima orang anak muda di rumah Ki Demang itu sendiri.
Di halaman belakang rumah
Ki Demang terdapat sebuah sanggar terbuka yang sederhana, sekedar tempat untuk
mempertahankan kemampuan serta ketahanan tubuh Ki Demang, tidak ada alalt-alat
yang rumit, yang dapat dipergunakan untuk dengan sungguh-sungguh meningkatkan
kemampuan olah kanuragan.
Namun tempat itu sudah
memenuhi kebutuhan bagi anak-anak muda yang akan berlatih bersama Raden
Madyasta, yang jumlahnya tidak hanya lima orang, tetapi ternyata yang akan
berlatih di kademangan itu terdapat tujuh orang anak muda.
“Biar saja” berkata Raden
Madyasta ketika Ki Jagabaya bertanya, apakah yang dua harus dikurangi.
Sementara itu, para
prajurit yang lainpun ternyata juga tidak hanya berlatih bersama lima orang, ada
yang enam dan ada pula yang tujuh.
Tetapi seperti Raden
Madyasta, mereka sama sekali tidak berkeberatan asal tidak lebih dari tujuh
orang saja.
Para prajurit Paranganom
itu tidak membuang-buang waktu, hari itu juga, maka latihan-latihan itupun sudah
dimulai.
Demikian malam turun,
maka sepuluh orang prajurit itupun sudah berpencar di rumah Para Bebahu, mereka
mulai memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda Panjer untuk menghadapi
segala kemungkinan.
“Jika kami, para prajurit
datang dengan kekuatan penuh untuk menghadapi para perampok tanpa meningkatkan
kemampuan anak-anak muda kademanganan ini sendiri, maka jika pada suatu saat
kami meninggalkan padukuhan ini akan menjadi sasaran dendam mereka” berkata
salah seorangpun prajurit kepada enam orang anak muda yang berlatih kepadanya
“tetapi jika kalian sendiri mempunyai bekal yang memadai, maka kalian tidak akan
cemas sedikitpun pada suatu saat kami meninggalkan kademangan ini”
Anak-anak muda itupun
mengangguk-angguk, mereka menyadari sepenuhnya, apa yang sedang dihadapi oleh
kademangannya serta kewajib yang akan dipikulnya.
Kesadaran itu telah
mendorong anak-anak muda kademangan Panjer berlatih dengan sungguh-sungguh,
mereka bekerja keras menempa diri dibawah bimbingan para prajurit pilihan,
mereka mempergunakan waktu yang singkat itu dengan sebaik-baiknya.
Karena itu, anak-anak
muda yang berlatih secara khusus itu tidak menghitung waktu lagi, mereka tidak
lagi melakukan pekerjaan mereka sehari-hari atas ijin orang tua mereka, karena
orang mereka juga mengerti, untuk apa anaknya berlatih dengan tekun setiap hari.
Selain mereka, maka Ki
Demang, Ki Jagabaya dan Para Bebahu telah memanggil anak-anak muda kademangan
itu untuk melakukan latihan terbuka, mereka berlatih di halaman banjar
kademangan. Di padukuhan-padukuhan mereka berlatih di halaman banjar padukuhan
atau di halaman rumah Ki Bekel.
Para bekel di
padukuhan-padukuhan tidak tinggal diam, mereka telah memberikan latihan-latihan
sejauh dapat mereka lakukan, karena papda umunnya Para Bebahu adalah orang-orang
yang mempunyai kelebihan.
Namun selain Ki Bekel,
tidak ada yang tahu bahwa di padukuhan induk telah dilakukan latihan-latihan
khusus bagi beberapa orang anak muda terpilih, anak-anak muda itu sendiri juga
tidak bercerita kepada kawan-kawannya. Bahwa mereka telah melakukan
latihan-latihan khusus yang berat dibawah bimbingan prajurit pilihan.
Tetapi dalam pada itu,
disamping mereka yang dengan sukarela berlatih di tempat-tempat ternuka, ada
pula mereka yang dengan berterus-terang menolak untuk ikut serta.
“Aku tidak mau
menyurukkan kepalaku ke dalam api” berkata seorangpun anak muda yang dalam
khdnya sehari-hari dikenal sebagai seorangpun anak muda yang penakut.
“Siapakah yang menyuruhmu
menyurukkan kepalamu ke dalam api?”
“Jika kita harus melawan
para perampok itu, apakah itu tidak berarti bahwa kita bersama-sama membunuh
diri?”
“Karena itu kita
mengikuti latihan yang diselenggarakan di banjar, Ki Bekel mengajari kita,
bagaimana kita memegang tombak, atau pedang atau jenis-jenis senjata yang lain”
“Perampok itu akan datang
besok atau lusa atau sepekan lagi, apa yang kita dapatkan dengan latihan hanya
sepekan itu”
“Banyak” jawab kawannya.
“Apa saja?”
“Kita tahu bahwa kita
jangan melawan seorangpun melawan seorangpun, kita tahu, bahwa kita harus
melawan mereka dalam kelompok-kelompok, empat atau lima orang bersama-sama
melawan seorangpun perampok, jika kita bersama-sama mengacungkan senjata dari
arah yang berbeda, maka perampok itu tentu akan kebingungan, tetapi kita jangan
ragu-ragu, jika ada diantara kita yang ragu-ragu, maka akibatnya akan menjadi
sangat buruk bagi kita”
“Apapun yang kau katakan,
tetapi aku tidak mau melakukan kerja yang sia-sia”
“Ini bukan kerja yang
sia-sia, mempertahankan hak adalah kewajiban kita, semua di kademangan ini,
tetapi yang terutama adalah kita, anak-anak mudanya.
“Kau engar, bahwa di
kademangan seberang sungai yang terkenal dengan beberapa orang pemburu yang
berani, tidak mampu membendung arus perampok itu, malah ada diantara mereka yang
terbunuh, sedangkan perampok itu tetap saja merampok. Nah. Bukankah itu sia-sia”
“Tidak, orang yang
terbunuh itu telah mengorbankan nyawanya seharusnya yang masih hidup itu
mewarisi jiwa pengorbanannya, jika kita, maksudku aku, kawan-kawan dan kau,
menyerah saja. Maka kedua orang yang mati itu memang sia-sia. tetapi jika
kematiannya itu mendorong kita semuanya untuk melakukan perlawanan seperti yang
telah mereka lakukan, maka kematian keduanya bukan kematian yang sia-sia,
kitalah yang harus memberikan arti bagi kematian mereka”
“Kau berbicara dengan
gelora perasaanmu yang telah dibakar oleh Ki Bekel. Kau tahu, kenapa Ki Bekel
menganjurkan kita untuk berlatih dan jika perlu berkorban untuk melawan para
perampok yang ganas itu?”
“Ya, Ki Bekel menghendaki
kita semuanya bangkit melawan mereka”
“Omong kosong, Ki Bekel
menganjurkan agar kalian semuanya bersedia berlatih untuk melawan para perampok
itu, karena Ki Bekel adalah seorangpun yang kaya, dengan kesediaan kalian
berkorban, maka Ki Bekel akan merasa aman. Harta bendanya terlindungi tanpa
memperdulikan bahwa ada diantara kita akan mati terbunuh”
“Betapa kerdilnya jiwamu,
kau sama sekali tidak mengikat diri ke dalam satu kesatuan diantara penghuni
padukuhan ini”
“Terserahla, apa saja
penilaianmu, tetapi aku tidak mau mati sia-sia”
“Sudahlah, jika kau
memang ketakutan mendengar sebutan perampok itu, jangan ikut campur, kami akan
melaksanakan tugas kami dengan baik, kami akan membantu mempertahankan kekayaan
yang terdapat di kampung halaman kami”
Anak muda yang penakut
itu terdiam, tetapi ia tidak berbicara apa-apa lagi”
Dalam pada itu, ternyata
hanya seorangpun anak muda yang berusaha menghindar karena ketakutan, tetapi
para Bekel tidak memaksa mereka, para bekel justru selalu bertanya kepada
anak-anak muda yang berlatih di rumahnya, siapakah diantara mereka yang memang
tidak berani menghadapi langsung para perampok bersenjata itu.
“Sebaiknya kalian
minggir, tidak apa-apa, kami tidak akan mendendam kalian. Jika kalian memang
merasa ketakutan dan terpaksa harus turun ke gelanggang, maka kalian hanya akan
menjadi beban kawan-kawanmu yang memang benar-benar berani menghadapi lawan yang
meskipun tidak seimbang, tetapi aku selalu memperingatkan, jangan hadapi mereka
seorangpun lawan seorangpun, aku dan barangkali Ki Jagabaya kademangan dan
bahkan Ki Demang sendiri, tidak akan menghadapi para perampok itu dalam perang
tanding”
Beberapa orang memang
minggir, tetapi sebaliknya, orang-orang yang sudah tidak tergolong anak-anak
muda lagi, bahkan mereka yang sudah mempunyai satu dua orang anak, telah
menyatakan kesediaan mereka untuk ikut berlatih bersama Ki Bekel dan Para Bebahu
kademangan Panjer. bahkan Ki Jagabaya sering datang pula untuk melihat
latihan-latihan itu.
Sementara itu, anak-anak
muda yang terpilih, berlatih dengan sungguh-sungguh dibawah bimbingan para
prajurit, mereka kerja keras tanpa mengenal lelah. Dari hari kehari mereka
mendapat petunjuk yang penting, namun juga melakukan latihan-latihan langsung
untuk memahami dan membiasakan diri mempergunakan berbagai macam senjata.
Sementara itu, pengawasan
dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh anak-anak muda kademangan Panjer, dengan
petunjuk para prajurit Paranganom mereka dapat melakukan tugas mereka dengan
baik.
Dua pekan telah berlalu,
ternyata masih belum ada tanda-tanda bahwa para perampok akan memasuki
Kademangan Panjer, tetapi para perampok itu juga tidak memasuki kademangan lain
disekitar padukuhan Panjer, mereka juga tidak mendatangi kademangan Kayulegi.
Sebenarnyalah para
perampok juga sedang mengadakan pengamatan atas sasaran yang akan mereka pilih,
ada diantara mereka yang memilih untuk pergi ke Kayulegi. Baru kemudian ke
Panjer, tetapi beberapa orang perampok ternyata telah tersinggung dengan sikap
anak-anak muda Panjer yang telah mengadakan latihan-latihan dibawah bimbingan Ki
Demang, Para Bebahu dan para bekel.
“Apakah latihan-latihan
itu mempunyai pengaruh?” bertanya salah seorangpun perampok yang kepalanya
botak.
“Ki Lurah minta kita
melihat, sejauh mana latihan-latihan itu diadakan, apakah anak-anak muda itu
benar-benar dapat ditempa untuk menjadi pahlawan bagi kademangan mereka, atau
hanya sekedar omong kosong untuk menggertak kita” sahut kawannya.
“Aku setuju, kita akan
melihat, apa saja yang dilakukan oleh anak-anak muda itu”
Sebenarnyalah dua orang
diantara para perampok itu telah ditugaskan untuk pergi ke Panjer melihat
latihan-latihan yang diselenggarakan di halaman banjar atau di halaman rumah
Para Bebahu dan Para Bekel.
Namun ketika keduanya
kembali ke sarang mereka, maka keduanyapun tertawa berkepanjangan, katanya
“Rupanya Ki Demang Panjer itu sudah gila, ketika aku lewat di depan banjar
padukuhan induk, Ki Demang sendirilah yang sedang memberikan latihan-latihan
kepada anak-anak muda, tidak ada yang perlu dicemaskan, mereka memang belajar
menggenggam senjata, tetapi senjata itu akan dapat membunuh diri mereka
sendiri.”
“Apakah mereka sekedar
menggertak agar kia tidak berani memasuki kademangan itu?”
“Ya, mereka mencoba untuk
menggetarkan jantung kita”
“Jika demikian, kita
putuskan, bahwa kita akan pergi ke Panjer, ada empat orang saudagar kaya di
kademangan induk, disamping Ki Demang, tetapi Ki Jagabaya juga terhitung kaya
karena peninggalan orang tuanya.”
“Disamping beberapa orang
kaya di kademangan induk, di beberapa padukuhanpun terdapat orang-orang kaya
pula”
“Ya, kita akan kembali
beberapa kali ke kademangan Panjer, biarlah orang-orang Panjer menyesali
kesombongan mereka, jika mereka melawan dengan kekuatan yang mereka kira sudah
mereka persiapkan dengan baik itu, maka kita tidak akan segan-segan membunuh
beberapa orang diantara mereka, agar seluruh kademangan meratapi ulah mereka
sendiri”
Namun agaknya pemimpin
perampok itu cukup berhati-hati, ia tidak segera memerintahkan orang-orangnya
untuk berangkat merampok di Kademangan Panjer, namun pimpinan perampok itu masih
mengirimkan dua orangnya sekali lagi untuk membuktikan, apakah pengamatan dua
orang sebelumnya tidak keliru.
Ternyata dua orang yang
mengamati keadaan untuk yang kedua kalinya itu juga melihat, bahwa anak-anak
muda yang berlatih di banjar hanya sekedar membesarkan hati anak-anak muda itu
saja.
“Pengaruhnya tidak ada
peningkatan kemampuan mereka” berkata perampok yang lebih tua ”Tetapi
latihan-latihan itu membuat Kademangan Panjer menjadi semakin berani, mereka
tentu merasa memiliki kemampuan lebih untuk menghadapi kita, Ki Demang dan Para
Bebahu yang melatih mereka tentu akan mengatakan bahwa latihan-latihan yang
diselenggarakan itu sudah meningkatkan kemampuan orang-orang yang bakal datang
merampok”
Bab 08 – Rumah Ki
Wiratenaya
Para perampok yang lebih
muda yang mendengar keterangan itu tertawa, namun perampok yang lebih tua itu
berkata “Kalian boleh tertawa, tetapi kalianpun harus tahu, bahwa pengaruh
gejolak jiwa seseorang itu benar sekali, meskipun mereka tetap tidak memiliki
kemampuan yang cukup, tetapi keberanian mereka akan dapat membuat kita terkejut
karenanya”
“Aku setuju dengan
pendapatnya” sahut pemimpin perampok yang dikenal bernama Sura Branggah itu
“Kalian jangan meremehkan lawan kalian, tetapi kalianpun jangan menjadi cengeng.
Ingat kalian adalah perampok yang sudah teruji, kalian terdiri dari tiga
kelompok kecu yang paling ditakuti, sekelompok penyamun dan orang-orang yang
diyakini memiliki ilmu yang tinggi”
“Ya, Ki Lurah” anak buah
Ki Sura Branggah itu hampir berbareng menyahut.
Namun pembicaraan,
pengamatan dan untuk meyakinkan diri, Ki Sura Branggah memerlukan waktu hampir
satu bulan”
Sementara itu Raden
Madyasta, Rembana, Sasangka dam Wismaya justru sudah mulai menjadi cemas, bahwa
para perampok dapat mencium kehadiran mereka di Kademangan Panjer, sehingga
mereka merubah sasaran mereka atau bahkan untuk sementara menghentikan kegiatan
mereka.
Namun mereka masih saja
bersabar, mereka masih akan menunggu beberapa hari lagi.
Selagi mereka menunggu di
Kademangan Panjer, maka Raden Madyastapun telah dapat berkenalan dengan gadis
yang telah menggetarkan jantungnya. ternyata gadis itu adalah anak Ki Demang
Panjer. ia memang masih seorangpun gadis yang sedang meningkat dewasa,
seorangpun gadis yang terbiasa hidup pedesaan.
Ketika Rara Menur, anak
Ki Demang Panjer itu sedang menumbuk padi, maka iapun terkejut, Rara Menur yang
sedang sibuk itu tidak mendengar langkah kaki Raden Madyasta, namun tiba-tiba
saja anak muda itu sudah berdiri bersandar tiang lumbung.
“Ah, Raden, kenapa Raden
berdiri disitu?” desis Rara Menur, diluar sadarnya, tangannyapun berhenti pula
bekerja, ia tidak lagi mengangkat penumbuk padinya.
“Keringatmu Rara”
“Kerja ini sudah terbiasa
aku lakukan, Raden” sahut Rara Menur.
“Apakah tanganmu tidak
menjadi terkelupas karenanya?”
“Tidak Raden, ini
pekerjaan yang harus aku lakukan sehari-hari?”
“Bukankah kau anak
seorang Demang?, aku lihat ada beberapa orang perempuan pembantu di rumah ini,
kenapa kau sendiri harus menumbuk padi?”
“Siapa yang sempat saja
Raden, ibuku juga sering menumbuk padi, kadang-kadang seorang pembantu,
kadang-kadang aku, tetapi kali ini ibu menginginkan beras yang putih, seorang
pembantu kadang-kadang tidak telaten, berbeda jika aku sendiri yang menumbuknya”
“Kenapa Nyi Demang kali
ini ingin beras yang putih, sehingga yang harus menumbuk padinya harus kau
sendiri?”
“Bukankah sejak hampir
sebulan, di kademangan ini ada tamu dari Paranganom?”
“O….” Raden Madyasta
mengangguk-angguk “Jadi kau menumbuk padi untuk menjamu kami yang datang dari
Paranganom?”
“Ah, sudahlah Raden,
sebenarnya Raden tidak boleh berada disini”
“Jadi yang menumbuk padi
kemarin, kemarin dulu sepekan yang lalu, juga kau, Rara?”
“Tidak, baru kali ini aku
menumbuk padi”
Raden Madyasta tertawa.
“Jika saja kakang
Rembana, kakang Sasangka dan kakang Wismaya juga berada di kademangan, mereka
tentu akan memuji, nasinya putih agak wangi, ternyata yang wangi, bukan jenis
padinya, tetapi karena tangan gadis yang menumbuknya”
“Ah, Raden, silahkan
Raden duduk di pendapa saja. Mungkin lurah Rembana atau yang lain datang mencari
Raden, sementara Raden bersembunyi disini”
“Mereka tidak akan kemari
pada wayah begini, Rara. Mereka sedang sibuk berlatih bersama anak-anak muda di
rumah Para Bebahu itu”
“Apakah latihan-latihan
yang mereka selenggarakan itu tidak berhenti untuk beristirahat?, Raden sekarang
juga tidak sedang berlatih?”
“Aku sudah berlatih sejak
matahari belum terbit, Rara”
“Mungkin lurah Rembana
dan yang lain juga sudah berlatih sejak matahari terbit”
Raden Madyasta tertawa.
Namun tiba-tiba saja Rara
Menur itu mengerutkan keningnya, kemudian dengan nada rendah iapun berkata
“Lihat Raden, bukankah aku benar?”
“Apanya yang benar, Rara”
“Lurah Rembana”
Raden Madyasta berpaling,
dilihatnya lurah Rembana berdiri bersandar sebatang pohon bangka sambil
menyilangkan tangannya di dadanya.
“Kau kakang?”
“Apakah aku mengganggu,
Raden” bertanya lurah Rembana.
“Tentu kakang, kakang
sudah mengganggu ketenanganku”
“Tidak” yang menyahut
justru Rara Menur “lurah sama sekali tidak mengganggu, Raden Madyasta yang sejak
tadi mengganggu aku yang sedang menumbuk padi”
“Aku sama sekali tidak
bermaksud mengganggu, Rara. sebenarnya aku justru ingin membantu”
“Sudahlah Raden. lurah
Rembana tentu mempunyai keperluan penting jika ia datang kemari”
Raden Madyasta tersenyum,
katanya “Baiklah, aku akan menemui lurah Rembana. Tetapi aku harus berpesan
kepadanya, agar lain kali kakang Rembana jangan mengganggu aku jika aku sedang
beristirahat”
“Ah, bukankah lurah tidak
mengganggu, sejak ia datang, ia berdiri saja disana tanpa mengucapkan sepatah
katapun. Ia baru berbicara sejak Raden bertanya kepadanya”
“Kau benar, Rara. tetapi
aku tidak akan mengulanginya lain kali”
Rara Menur tidak
menjawab, sementara itu, Raden Madyastapun melangkah mendekati lurah Rembana.
Raden Madyasta tertawa,
katanya “Tidak, kakang sama sekali tidak, aku sedang menggoda anak Panjer itu”
“Aku tahu Raden”
Rembanapun tertawa pula.
“Bagaimana menurut
pendapatmu?, bukankah ia seorang gadis yang cantik?”
“Ya, Raden. gadis itu
memang cantik”
“Bukan hanya itu, tetapi
juga kepribadiannya menarik, ia anak seorang Demang, tetapi ia melakukan kerja
apapun juga sebagaimana seorang gadis padesan, dan ternyata gadis itu cukup
cerdas, aku pernah mendengar gadis itu berbicara dengan ayahnya tentang jalannya
pemerintahan di kademangan ini, ternyata cukup banyak yang diketahuinya, bahkan
terlalu banyak bagi seorang gadis seperti Rara Menur.”
“Nampaknya ia juga
seorang gadis penurut”
“Ya, ia bukan anak manja
meskipun ia anak satu-satunya”
keduanyapun kemudian
melangkah ke halaman depan rumah Ki Demang Panjer, ternyata di pringgitan
Sasangka dan Wismaya telah duduk bersama Ki Demang.
“Kapan kalian datang?”
bertanya Rembana
“Baru saja” Ki Demanglah
yang menjawab.
“Kau malah sudah ada
disini” desis Sasangka.
“Aku mencari Raden
Madyasta di belakang, nampaknya…..”
Rembana tidak meneruskan
kata-katanya, tetapi ia berpaling memandang Raden Madyasta sambil tersenyum.
“Sudahlah” berkata Raden
Madyasta “Marilah kita naik”
Sejenak kemudian, Raden
Madyasta dan ketiga orang senapati muda itu serta Ki Demang telah duduk
melingkar di pringgitan.
“Ada sesuatu yang ingin
aku sampaikan Raden” berkata Rembana kemudian.
“Ada apa Kakang?”
“dalam hubungannya dengan
para perampok itu”
Raden Madyasta
mengangguk-angguk.
“Dua orang pengawas telah
melihat dua orang yang mencurigakan lewat di jalan utama kademangan ini, sedang
di hari berikutnya dua orang pengawas yang lain melihat dua orang lagi melakukan
hal yang sama seperti kedua orang yang terdahulu, mereka berjalan menyusuri
jalan di padukuhan induk, berhenti melihat latihan di halaman banjar, namun
ternyata bahwa kedua orang itu, baik yang pertama maupun yang kemudian, telah
pergi ke padukuhan-padukuhan lain pula, para pengawas di padukuhan juga melihat
mereka memperhatikan anak-anak muda yang berkumpul dan berlatih di halaman
banjar atau di halaman rumah Ki Bekel”
Raden Madyasta
mengangguk-angguk, katanya kemudian “Nampaknya mereka sedang mengamati keadaan,
mereka baru akan menentukan sikap setelah mereka melihat langsung gejolak di
kademangan ini”
“Ya, Raden, dengan
demikian, maka tanda-tanda bahwa mereka akan mulai bergerak telah nampak”
“Kita harus lebih
berhati-hati, Kakang, pengawasan harus ditingkatkan, sementara itu, para
prajuritpun harus mempersiakan anak-anak muda yang dibimbingnya untuk dalam
waktu singkat terjun dalam tugas mereka yang sebenarnya”
“Ya, Raden”
Raden Madyastapun
kemudian berkata pula kepada Ki Demang “Ki Demang, para Bebahupun harus bersiap,
perintah-perintah mereka kepada anak-anak muda yang berlatih kepada merekapun
harus jelas, mereka jangan turun ke dalam arena pertempuran, tetapi mereka
diperintahkan untuk mengepung lingkungan pertempuran, menjaga agar tidak ada
seorang perampokpun yang berhasil melarikan diri, namun bukan berarti bahwa
tugas mereka tidak berbahaya, para perampok yang berusaha melarikan diri itu
umumnya adalah orang-orang yang berputus asa, sehingga mereka justru akan
menjadi orang-orang yang nekad dan kehilangan akal, sekali lagi aku peringatkan,
anak-anak muda itu jangan mencoba menghadapi mereka seorang melawan seorang”
“Ya, Raden”
“Kita tidak tahu, kapan,
para perampok itu akan datang, tetapi tentu dalam waktu yang dekat, jika mereka
sudah mengirimkan orang-orangnya untuk mengamati keadaan, itu berarti bahwa
mereka sudah mengambil ancang-ancang”
“Ya, Raden, aku akan
memanggil para Bebahu dan para Bekel hari ini juga, untuk memberikan
peringatan-peringatan kepada mereka”
“Kitapun harus memberi
peringatan pula kepada keluarga yang mungkin akan menjadi sasaran, tentu
orang-orang terkaya di kademangan ini”
“Ya, Raden, jika Raden
dan para senapati berkenan, aku harap Raden dan para senapati bersedia bertemu
dengan para Bebahu dan para bekel disini sebentar lagi”
“Baik Ki Demang, kami
akan menunggu” berkata Raden Madyasta yang kemudian bertanya kepada para
senapati “Bukankah latihan-latihan itu dapat kalian tinggalkan sebentar untuk
berbicara dengan para Bebahu?”
“Tentu Raden” jawab
Wismaya “latihan-latihan itu sudah dapat berjalan, anak-anak muda itu ternyata
mempunyai ketrampilan yang tinggi, sehingga kami tinggal mengarahkannya”
“Mudah-mudahan
latihan-latihan yang berlangsung hampir sebulan ini akan berarti bagi mereka”
sambung Sasangka.
“Meskipun demikian,
merekapun jangan mencoba untuk bertempur seorang melawan seorang, mereka adalah
anak-anak muda yang belum berpengalaman” sahut Raden Madyasta.
“Ya, Raden, kami setiap
kali memperingatkan mereka, agar mereka tidak terlibat dalam perang tanding,
kamipun sudah menunjuk pasangan-pasangan diantara mereka jika mereka benar-benar
harus terjun ke medan”
“Agaknya cara itu pulalah
yang harus kami lakukan” berkata Ki Demang “kelompok-kelompok kecil itu harus
sudah ditunjuk sebelumnya, agar mereka tidak bingung dengan siapa mereka harus
bekerja sama”
“Ya” berkata Rembana
kemudian, “Apakah hal itu belum Ki Demang lakukan?”
“Belum ngger, kami baru
memerintahkan agar mereka bertempur dalam kelompok-kelompok kecil, tetapi kami
belum menunjuk kelompok kecil itu”
“Nanti hal itu dapat Ki
Demang sampaikan kepada para Bebahu dan para bekel”
Dalam pada itu, beberapa
orang anak-anak muda telah menyebar memanggil para Bebahu dan para Bekel untuk
berkumpul di rumah Ki Demang.
Dalam waktu yang tidak
terlalu lama, mereka mulai berdatangan, mereka menyadari, bahwa mereka telah
sampai pada persiapan terakhir untuk benar-benar menghadapi para perampok yang
mereka perhitungkan akan segera datang ke kademangan Panjer”
Ki Demang dan Raden
Madyasta berganti-ganti memberikan petunjuk-petunjuk, apakah yang seharusnya
mereka lakukan.
Sementara itu, belum lagi
pembicaraan mereka selesai, dua orang pengawas telah datang untuk menemui Ki
Demang Panjer.
“Marilah, naiklah”
berkata Ki Demang.
Kedua orang pengawas
itupun segera naik ke pendapa, di wajah mereka membayang kegelisahan, baju
mereka basah oleh keringat yang megemban dari tubuh mereka.
“Ada apa?” bertanya Ki
Demang.
Seorang diantara kedua
pengawas itupun berkata dengan suara yang agak bergetar “Ki Demang, aku melihat
mereka”
“Mereka siapa?” bertanya
Ki Demang.
“Kedua orang itu lagi,
mereka berjalan menyusuri jalan utama padukuhan induk ini”
“Apa yang mereka
lakukan?”
“Mereka berhenti beberapa
lama di depan rumah Ki Wiratenaya, namun kemudian mereka berjalan terus ke
selatan, kami mencoba mengawasi mereka dari jarak yang cukup jauh”
“Apalagi yang mereka
lakukan?”
“Mereka juga berhenti di
depan rumah Ki Semanggi”
Ki Demang
mengangguk-angguk, kedua orang yang disebut itu adalah orang-orang terkaya di
kademangan Panjer.
“Lalu kemana lagi mereka
pergi?”
“Kami tidak dapat
mengikutinya lagi, jalan kearah selatan di depan rumah Ki Semanggi adalah jalan
yang lurus, jika kami mengikuti mereka, maka mereka tentu akan melihat kami,
karena keduanya kadang-kadang juga melihat ke belakang”
“Apa yang kau lakukan
kemudian?”
“Kami mencari jalan lain,
kami melingkari rumah Ki Semanggi, namun tiba-tiba saja kami berpapasan dengan
kedua orang itu. kami memang terkejut ketika melihat mereka muncul dari simpang
tiga, tetapi kami berjalan terus, kami berpura-pura tidak menghiraukannya”
“Kau tahu mereka pergi
kemana?”
“Keduanya justru menegur
kami berdua”
“Menegur kalian?”
“Ya, Ki Demang, mereka
bertanya kepada kami, apakah kami tinggal di padukuhan induk ini”
“Apa jawabmu”
“Kami mengiakannya,
keduanya tertawa. seorang diantara mereka justru berpesan kepada kami agar malam
nanti kami berhati-hati, agar semua anak-anak muda yang sudah berlatih olah
kanuragan dibawah bimbingan Ki Demang itu keluar rumah untuk meronda”
“Untuk apa menurut
mereka?”
“Mereka tidak
mengatakannya, namun mereka pergi sambil tertawa berkepanjangan”
“Nampaknya sudah jelas,
Ki Demang” berkata Raden Madyasta “Mereka akan datang malam nanti, kedua orang
itu tentu berusaha meyakinkan sasaran mereka, agaknya kedua rumah itulah yang
akan mereka datangi malam nanti”
“Ya, Raden”
“Waktu kita tidak banyak
lagi Ki Demang, kita harus segera mempersiapkan segala-galanya, terutama di
padukuhan induk ini”
“Jika demikian Raden,
apakah anak-anak muda dari padukuhanku harus datang ke padukuhan induk ini pula
malam nanti?”
“Belum sekarang Ki Bekel”
jawab Raden Madyasta “Kita masih belum tahu pasti, kemana para perampok itu akan
pergi, biarlah anak-anak muda itu menjaga padukuhan mereka masing-masing, kami
sendiri malam nanti akan mengawasi mereka, jika perlu, maka biarlah kami
memberikan isyarat, tetapi sebaliknya, jika para perampok itu datang ke
padukuhan yang manapun, maka isyarat kentongan akan memanggil kami untuk datang”
“Baik Raden, kami akan
menunggu”
“Marilah Ki Demang, kita
akan mulai dengan tugas berat kita, kita akan memikul bersama. mudah-mudahan
kita akan berhasil, sehingga keberadaan kami yang hampir sebulan disini tidak
sia-sia”
Demikianlah, maka
pertemuan itupun segera dibubarkan, Ki Demang telah membagi tugas kepada para
Bebahu, mereka harus segera menghubungi anak-anak muda terutama di padukuhan
induk untuk segera bersiap-siap. Sebentar lagi matahari akan turun disisi barat.
Langit akan menjadi buram, sesaat kemudian senja akan datang dan malampun akan
menyelimuti kademangan Panjer.
Raden Madyastapun telah
memberikan printah-perintah kepada para senapati dan para prajurit yang ada di
kademangan Panjer, bahkan Raden Madyasta telah memerintahkan para prajurit itu
untuk datang mengunjungi kedua buah rumah yang agaknya akan menjadi sasaran para
perampok.
“Jangan bersama-sama,
datanglah berdua, seorang bebahu atau anak muda yang ditugaskan oleh Ki Demang
akan mengantarkan kalian, kalian harus tahu pasti, apa yang akan kalian lakukan
malam nanti, jika mereka benar-benar datang”
Para prajurit dan para
senapati itupun menjalankan printah Raden Madyasta dengan sebaik-baiknya,
sementara Ki Demang telah minta agar pemilik rumah itu justru meninggalkan rumah
mereka.
“Sebaiknya kalian berada
di rumahku atau rumah Ki Jagabaya atau rumah para Bebahu yang lain. Mungkin
keadaan akan menjadi gawat, meskipun kami masih berharap, mudah-mudahan tidak
terjadi apa-apa malam ini nanti di rumah kalian” berkata Ki Demang kepada
kelaurga Ki Wiratenaya dan Ki Semanggi.
Ternyata kedua keluarga
itu tidak berkebaratan, mereka percayakan rumah mereka dibawah pengawasan para
Bebahu kademangan Panjer serta para prajurit Paranganom yang berada di
kademangan mereka.
Ketika kemudian senja
turun, maka segala sesuatunya sudah siap, meskipun tidak nampak gejolak
dipermukaan, namun kademangan Panjer sudah berada dalam kesiagaan penuh.
“Jangan membuat
kademangan ini menjadi resah dan ketakutan” berkata Raden Madyasta kepada para
prajurit, sementara Ki Demangpun berusaha agar kademangan Panjer tetap tenang.
Namun bagaimanapun juga
Ki Demang berusaha, masih juga terasa ketegangan yang mencengkam para
penghuninya.
Malampun perlahan-lahan
turun menyelimuti kademangan Panjer, langit nampak cerah dan bintang-bintangpun
bergayutan.
Beberapa orang anak muda
yang terpilih diantara mereka yang berlatih dibawah bimbingan para prajurit,
mendapat tugas untuk mengawasi jalan-jalan utama menuju ke padukuhan induk,
sementara itu anak-anak muda di padukuhan-padukuhan yang lain telah mendapat
perintah untuk tidak mengganggu jika mereka melihat iring-iringan sekelompok
orang yang menuju ke padukuhan induk.
“Biarlah para perampok
itu sampai itu sampai ke padukuhan induk, kecuali jika mereka merampok di
padukuhan-padukuhan lain, maka padukuhan itu harus membunyikan isyarat agar para
prajurit segera datang” pesan Ki Demang kepada para Bekel.
Sebenarnyalah, malam ini
para perampok itu dibawah pimpinan Sura Branggah telah mempersiapkan
orang-orangnya untuk memasuki padukuhan induk kademangan Panjer, mereka sudah
menentukan untuk memasuki dua buah rumah orang terkaya di padukuhan induk
kademangan Panjer, rumah Ki Wiratenaya dan rumah Ki Semanggi, keduanya adalah
saudagar yang berhasil.
“Aku telah mempermainkan
anak-anak muda kademangan Panjer” berkata salah seorang dari para perampok itu.
“Apa yang kau lakukan?”
“Jka anak-anak muda itu
menantang kita dengan berlatih olah kanuragan dibawah bimbingan Demang Panjer
dan para Bebahu, maka aku berkata kepada anak muda Panjer yang aku temui di
jalan, agar mereka mempersiakan diri malam nanti”
“Kau memang gila” geram
Sura Branggah seakan-akan mereka akan dapat menandingi kita?”
“Bukankah kita
tersinggung dengan latihan-latihan yang mereka lakukan?”
“Jika anak-anak muda itu
benar-benar berusaha melawan, kita akan menjadi pening juga”
“Kenapa?, kita akan
membantai mereka seperti menebas batang ilalang”
“Itulah yang membuat
kepala kita pening, apakah kita akan membunuh anak-anak muda itu?”
“Jika satu dua orang
diantara mereka sudah terbunuh, maka yang lain akan melarikan diri” berkata
seorang perampok yang lain.
Namun seorang yang sudah
lebih tua dari mereka berkata “Kita akan berusaha untuk menemukan Ki Demang
Panjer yang tentu akan memimpin anak-anak muda itu, kita paksa Ki Demang untuk
memerintahkan anak-anak muda itu menyingkir, jika Ki Demang Panjer yang sombong
itu keras kepala dan mungkin juga Ki Jagabaya Panjer telah mati, maka anak-anak
muda itu akan lari dengan sendirinya”
“Yang akan membuat
jantung kita menjadi sangat tegang, jika anak-anak muda itu tidak mau
menyingkir”
“Apaboleh buat” berkata
seorang yang bertubuh agak pendek, tetapi otot-ototnya menjorok di permukaan
kulitnya, wajahnya yang cacat membuatnya menjadi sangat menyeramkan.
“Ya” sahut orang yang
bertubuh raksasa “Bukan salah kami”
Ki Sura Branggah
termangu-mangu sejenak, namun iapun kemudian berkata “Kita adalah sekelompok
berandal terkenal, sebenarnyanya aku agak malu jika kita harus membunuh
anak-anak”
“Tetapi itu karena salah
mereka sendiri, kesombongan merekalah yang telah membunuh mereka
“Aku setuju untuk
menemukan Ki Demang dan Ki Jagabaya, mereka harus akan mati, jika mereka mati,
kita memang dapat berharap anak-anak muda itu akan berhenti dengan sendirinya”
Namun orang yang bertubuh
raksasa itu masih menyahut “Jika mereka tidak mau menyingkir, kita harus
bertindak tegas.Panjer akan menjadi ajang pembantaian yang pertama sejak kita
melakukan gerakan beruntun di Paranganom. pada saatnya kitapun akan bergerak ke
Kateguhan”
“Ladang di Kateguhan
tidak sesubur ladang di Paranganom, bukankah aku sudah pernah mengatakannya”
sahut Ki Sura Branggah.
Orang bertubuh raksasa
itu masih juga menyahut “Jika lahan di Paranganom sudah habis dituai?”
“Kita akan memikirkannya
kelak, tetapi lahan di Paranganom tidak akan habis dalam beberapa tahun”
Orang yang bertubuh
pendek itulah yang menyahut “Mungkin, tetapi pada suatu saat kita harus
berhenti, para prajurit Paranganom tentu akan turun ke gelanggang jika kita
bergerak semakin ketengah, apalagi mendekati pusat pemerintahan di Paranganom”
“Kita akan memikirkannya
kelak, jangan sekarang, sekarang kita siap memasuki padukuhan induk kademangan
Panjer” potong Ki Sura Branggah.
Yang lainpun terdiam
Ketika malam menjadi
semakin gelap, para perampok itu sudah berada di pategalan di perbatasan
kademangan Panjer, mereka masih sempat beristirahat sejenak, baru kemudian,
setelah lewat wayah sepi bocah, Ki Sura Branggah membawa anak buahnya untuk
bergerak, Ki Sura Branggah telah bergerak ke padukuhan induk kademangan Panjer.
Sebelum mereka mulai
bergerak, Ki Sura Branggahpun telah berpesan kepada anak buahnya untuk tidak
berbuat apa-apa di padukuhan-padukuhan yang akan mereka lewati.
“Kenapa?” bertanya yang
bertubuh raksasa
“Jika kita mengganggu
padukuhan yang kita lewati, maka akan ada diantara para penghuninya yang akan
memukul kentongan”
“Apa salahnya?,
orang-orang padukuhan induk tentu sudah mengira bahwa kita akan datang malam
ini”
“Itulah bodohnya kedua
orang yang menuruti gejolak perasaannya itu”
“Apakah kita akan menjadi
ketakutan jika anak-anak muda itu bersiap-siap menyongsong kdt kita?”
“Bukan ketakutan, tetapi
sudah aku katakan, apakah kita harus membunuh anak-anak muda itu?, sementara
itu, orang-orang terkaya di Panjer itu sempat menyembunyikan harta benda mereka”
Tetapi seorang perampok
yang lain tertawa “Tidak akan ada yang berani menyembunyikan harta bendanya,
jika kita datang, dimanapun hartanya disembunyikan, tentu akan mereka tunjukkan
dan akan mereka serahkan kepada kita, jika tidak, ujung pedang akan kita
letakkan di lehernya”
Namun seorang perampok
yang lain bertanya “Jika mereka pergi mengungsi?”
“Seluruh padukuhan induk
akan kita bongkar, jika padukuhan induk itu menjadi kosong, maka rumah-rumah
merekalah yang akan kita bakar”
“Cukup” Ki Sura Branggah
“Bagaimanapun juga, kita, kita akan melakukan pekerjaan kita dengan
sebaik-baiknya, menurut perhitunganku, orang-orang padukuhan induk itu tidak
akan mengungsi, mereka tentu justru akan menyongsong kehadiran kita, karena
mereka memang sudah mempersiapkan diri sebelumnya, seharusnya kita menghindari
kemungkinan itu, kita tidak perlu memberikan isyarat bahwa kita akan datang atau
merangsang penghuni padukuhan yang lain untuk membunyikan kentongan”
Para perampok itupun
terdiam, sementara itu mereka berjalan semakin cepat melintasi jalan-jalan
padukuhan.
Padukuhan-padukuhan di
lingkungan kademangan Panjer itu nampak sepi, tidak ada seorangpun yang nampak
diluar rumah, ketika mereka melewati gardu perondaan, maka tidak seorangpun yang
nampak di dalam gardu itu.
Tetapi ketika para
perampok itu melihat rumah-rumah di pinggir jalan lewat pintu regol yang
terbuka, maka di dalam rumah itu nampak cahaya lampu minyak yang menyala.
“Mereka bersembunyi di
balik dinding rumah mereka” berkata para perampok itu.
“Mereka menjadi
ketakutan, nampaknya berita akan kehadiran kita sudah merambat sampai ke
padukuhan-padukuhan”
“Itu pantas mereka
sesali” berkata perampok yang sudah lebih tua.
Dengan demikian, maka
iring-iringan itupun bergerak semakin lama menjadi semakin cepat, para perampok
itu dihinggapi oleh keinginan untuk segera sampai di rumah yang akan menjadi
sasaran perampokan, mereka ingin segera mengetahui, apakah harta benda yang
tersimpan di rumah itu sudah disembunyikan, atau bahkan pemilik rumah itu sudah
pergi mengungsi sambil membawa semua harta bendanya yang berharga.
Tetapi mereka menduga,
bahwa pemilik rumah itu tidak akan pergi, di rumah itu ada sebuah pedati,
beberapa ekor lembu, kambing dan bahkan kuda, tiang-tiang di pendapa serta
gebyok pringgitan yang berukir. Semuanya itu tentu mahal harganya, mereka tentu
tidak akan membiarkan semuanya itu dibakar dan menjadi abu.
Beberapa saat kemudian,
iring-iringan itupun telah mendekati padukuhan induk, para pengawas pada lapis
pertama melihat kehadiran mereka, namun mereka sama sekali tidak mengganggu.
Dalam sepinya malam,
tiba-tiba saja terdengar suara burung hantu yang ngelangut, dihanyutkan oleh
angin yang bertiup perlahan.
Sementara itu, dalam
kegelapan malam, seorang pengawas yang duduk diatas dahan pohon jambu yang
tumbuh di belakang dinding padukuhan induk yang mendengar suara burung hantu
itu, memberi isyarat kepada dua aorang kawannya yang duduk bersandar batang
jambu itu.
Seorang diantara
merekapun segera berlari ke banjar memberikan laporan, bahwa para perampok yang
mereka tunggu, benar-benar telah datang.
“Terima kasih” berkata
Raden Madyasta “Sekarang semuanya pringgitan ke tempat yang sudah ditetapkan,
yang kita perhitungkan akan menjadi sasaran pertama adalah Ki Wiratenaya, tetapi
kita akan mengawasi mereka melintas di jalan utama padukuhan induk ini”
Para prajurit dan
anak-anak muda yang telah terlatih dibawah bimbingan para prajurit itupun
memencar, sebagian dari mereka berada di balik dinding halaman di tepi jalan
utama, sementara yang lain telah mendahului berada di halaman rumah Ki
Wiratenaya, namun beberapa dari mereka juga mengawasi rumah Ki Semanggi.
Namun dengan isyarat
tentu, mereka akan segera berkumpul untuk melawan para perampok itu, apakah di
halaman rumah Ki Wiratenaya atau di halaman rumah Ki Semanggi atau justru ti
tempat yang lain.
Dalam pada itu, selain
anak-anak muda yang telah berpencar itu, maka anak-anak muda yang lainpun telah
menjaga semua pintu gerbang padukuhan selain pintu gerbang yang akan dilewati
oleh para perampok itu.
Sejenak kemudian, maka
para perampok itupun telah memasuki padukuhan induk kademangan Panjer, namun
ternyata di padukuhan induk itupun mereka tidak menjumpai anak-anak muda yang
sebelumnya sudah sempat berlatih di halaman banjar, di halaman rumah para Bebahu
dan para Bekel.
Bab 09 – Ki Tumenggung
Reksadrana
“Jangan-jangan seisi
padukuhan ini sudah mengungsi?” seorang diantara merekapun bertanya.
“Jika padukuhan induk ini
kosong, maka rumah di padukuhan induk ini akan kita bakar” sahut yang lain.
Ki Sura Branggah sendiri,
yang berjalan paling depan, masih belum berkata apa-apa, tetapi ia berjalan
semakin cepat, agaknya ia langsung pergi ke rumah Ki Wiratenaya.
Ketika mereka melewati
sebuah gardu perondaan, maka seperti di padukuhan-padukuhan, gardu perondaan
kosong, tidak seorangpun yang meronda malam ini, bahkan oncornyapun tidak
menyala sama sekali.
Malam terasa demikian
mencengkam, sepi dan tegang.
Para perampok itu menjadi
gelisah bukan karena mereka akan mendapat perlawanan, tetapi mereka justru
menjadi gelisah karena padukuhan induk itu terasa sepi sekali.
Namun ketika Ki Sura
Branggah yang gelisah itu mendorong sebuah pintu regol halaman rumah di pinggir
jalan utama itu, ia melihat lampu yang menyala, bahkan kemudian iapun mendengar
suara bayi yang menangis.
Ki Sura Branggah menarik
nafas dalam-dalam, padukuhan ini tidak kosong, penghuninya masih ada di rumah
mereka masing-masing, jika mereka pergi mengungsi, maka tentu tidak akan
terdengar suara bayi yang menangis di rumah sebelah.
Karena itu, maka Ki Sura
Branggah melangkah semakin cepat. Namun Ki Sura Branggah itu berhenti di luar
sebuah regol halaman rumah yang luas, halaman rumah Ki Wiratenaya, seorang
saudagar yang kaya.
“Rumah ini adalah sasaran
kita” berkata Ki Sura Branggah sambil mendorong pintu regol halaman itu
perlahan-lahan, demikian regol itu terbuka, maka Ki Sura Branggah itupun melihat
lampu pringgitan yang menyala, bahkan di dalam rumah itupun nampak pula cahaya
lampu yang terang.
“Kita tidak kehilangan
korban kita malam ini” berkata Ki Sura Branggah.
Iapun kemudian memberi
isyarat kepada anak buahnya untuk bergerak masuk.
Para prajurit yang berada
di halaman itupun kemudian mempersiakan diri, mereka membiarkan para perampok
itu seluruhnya memasuki halaman.
Tetapi agaknya dua orang
diantara mereka tetap berada di pintu regol untuk mengamati keadaan, mereka
mengawasi jalan yang melintas di depan rumah Ki Wiratenaya.
“Memang sekitar dua puluh
sampai tiga puluh orang” desis seorang prajurit ke telinga kawannya.
Kawannya
mengangguk-angguk, namun merekapun melihat dua orang diantara para perampok yang
berdiri di pintu regol.
Sejenak suasana
benar-benar dicengkam oleh ketegangan, bahkan para perampok yang sudah terbiasa
melakukan pekerjaan merekapun menjadi tegang pula.
Ternyata kademangan
Panjer memang mempunyai kesan yang berbeda dari padukuhan yang lain.
Sejenak kemudian, maka Ki
Sura Branggah dan beberapa orang diantara anak buahnya naik ke pendapa,
sementara beberapa orang yang lain telah melingkari rumah itu, berjaga-jaga di
pintu butulan dan pintu dapur.
“Jangan ada yang sempat
keluar” berkata Ki Sura Branggah.
Dalam pada itu, dibawah
bayangan cahaya lampu minyak di pringgitan, Ki Sura Branggah itu mengetuk pintu
rumah Ki Wiratenaya yang tertutup rapat.
Namun tidak terdengar
jawaban sekali lagi Ki Sura Branggah memeninggalkanetuk lebih keras lagi, tetapi
juga tidak terdengar jawaban.
“Ki Wiratenaya, buka
pintunya atau aku yang akan membukanya sendiri dengan paksa”
Sepi, rumah itu masih
saja tetap membisu.
“Ki Wiratenaya, jika kau
tetap saja diam, aku akan menghancurkan pintu rumahmu”
Karena tidak ada jawaban,
maka Ki Sura Branggah itupun berkata kepada kawan-kawannya “Kita pecahkan saja
pintunya”
Beberapa orangpun segera
melangkah mendekati Ki Sura Branggah, merekapun segera bersiap untuk mendorong
dan memecahkan pintu yang masih saja tertutup rapat.
Namun sebelum mereka
bersama-sama mendorong dan memecahkan pintu itu, tiba-tiba saja terdengar
seseorang berkata dari dalam kegelapan “Apa yang akan kau lakukan, Ki Sanak?”
Ki Sura Branggah
terkejut, iapun segera berpaling, demikian pula kawan-kawannya yang berada di
skatakanya.
“Siapa kau” berkata Ki
Sura Branggah
“Aku pimpinan anak-anak
muda Panjer”
“Pimpinan anak-anak muda
Panjer?, sayang sekali anak muda, kau telah terjun ke sarang singa yang lapar,
apakah kau belum mengenal aku?”
****** Akhir Jilid 2
********
Jilid 03
“Kau tentu pimpinan
sekelompok brandal yang akan merampok rumah Ki Wiratenaya”
“Ya, namaku Ki Sura
Branggah, nama yang ditakuti di daerah ini”
“Sayang, bahwa anak-anak
muda Panjer tidak merasa takut mendengar nama Ki Sura Brandal”
“Ki Sura Branggah”
“Bukankah lebih tepat
jika kau disebut Ki Sura Brandal”
“Persetan kau”
“Sura Brandal, kami
anak-anak muda Panjer memang sudah menunggumu, kami sudah siap untuk
menangkapmu, sudah hampir sebulan kami berlatih keras dibawah pimpinan Ki
Demang, sekarang adalah waktunya untuk mengetrapkan hasil kerja keras kami”
Seorang perampok yang
perutnya buncit tertawa berkepanjangan, katanya “Apa yang kau dapatkan dengan
latihan sebulan itu?, ternyata kalian adalah anak-anak muda yang lebih dungu
daru yang aku duga”
“Inilah yang kami
dapatkan dari latihan-latihan yang pernah kami lakukan” terdengar suara yang
lain, orang-orang berjalan dari kegelapan sambil mendorong seseorang pula,
katanya kemudian “ini tentu kawanmu pula, seorang lagi telah kami bunuh di depan
regol, dan inilah yang seorang lagi”
Ki Sura Branggah memang
sangat terkejut, orang itu adalah orangnya yang ditugaskan mengawasi keadaan di
depan regol, namun ternyata orang itu tidak berdaya, bahkan seorang dari dua
orang yang ditugaskannya itu sudah terbunuh.
Bahkan orang yang membawa
seorang perampok mendekati pendapa itu kemudian mendorongnya sambil berkata
lantang “Kau telah membunuh dua orang di padukuhan yang telah kau rampok
sebelumnya, karena itu, maka dua orangmu harus dibunuh pula”
Sebelum Ki Sura Branggah
sempat menjawab, maka tiba-tiba saja ujung keris yang bagaikan menyala
kebiru-biruan telah menghunjam lambung perampok yang malang itu, terdengar
teriakan yang menggelepar di malam yang gelap itu.
Orang yang berdiri di
depan pendapa telah berteriak pula “Jangan Kakang Rembana”
Tetapi orang yang menusuk
dengan keris itu menjawab “Kita tidak dapat beramah tamah dengan perampok”
Keteganganpun segera
mencengkam, perampok yang lambungnya tertusuk keris itupun terjatuh di tanah,
nafasnya yang terakhirpun telah dihembuskannya.
Orang yang berdiri di
depan pendapa itu merasa jantungnya berdegup kencang, sementara itu Rembanapun
berkata “Tidak hanya kedua orangmu ini yang akan mati”
Orang yang berdiri di
depan pendapa itu akhirnya harus bersikap, karena itu, maka iapun kemudian
berkata “Ki Sura Branggah, baiklah kami berterus terang, diantara anak-anak muda
kademangan Panjer sekarang ini, memang terdapat beberapa orang prajurit dari
Paranganom, karena itu, maka aku minta kau dan orang-orangmu menyerah, maka kita
akan dapat menghindari kematian, dua orang yang terbunuh itu sudah cukup”
Ki Sura Branggahpun
bergetar oleh kemarahan yang menghimpit jantungnya.
“Jadi kau adalah prajurit
Paranganom?”
“Ya” Rembanalah yang
menjawab “Yang ada diantara anak-anak muda kademangan Panjer adalah Raden
Madyasta sendiri, selain itu disini ada tiga orang senapati yang namanya dikenal
oleh semua orang, tidak hanya di Paranganom, tetapi juga di Kadipaten Kateguhan.
Di Kadipaten Paranganom dan bahkan di seluruh tlatah Tegal Langkap, senapati
yang telah memukul mundur pasukan yang sangat besar yang datang dari seberang
Bengawan Rahina”
Suara Rembana yang
lantang itu bagaikan menggelegar di seluruh halaman dan bahkan menggoyang rumah
yang ditinggalkan penghuninya itu.
Tetapi Ki Sura Branggah
adalah seorang pimpinan perampok yang mempunyai pengalaman yang sangat luas, ia
seorang yang berilmu tinggi dan sudah kenyang makan pahit getirnya dunia
kelamnya.
Karena itu, maka Ki Sura
Branggah itupun menyahut “Persetan dengan igauanmu, jika kalian benar dapat
mengalahkan pasukan yang besar yang datang dari seberang Bengawa Rahina itu,
karena kalian membawa pasukan yang sangat besar pula, bukan saja dari
Paranganom, tetapi juga dari semua Kadipaten yang berada dibawah naungan kuasa
Tegal Langkap.
“Jadi kau mendengar juga
berita tentang perang besar yang terjadi itu?”
“Ya”
“Kalau demikian, kau
tentu pernah mendengar nama-nama Rembana, Sasangka dan Wismaya”
“Aku tidak perduli dengan
nama-nama itu, jika kau salah seorang diantara mereka, maka aku akan
menghancurkan namamu itu, bahkan kau akan menjadi mayat di halaman rumah ini,
sebagaimana kedua orang kawanku yang telah kau bunuh”
“Persetan, kita akan
membuktikannya”
Ki Sura Branggahpun
kemudian telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk menyerang
orang-orang yang berada di halaman itu.
Namun sejenak kemudian,
anak-anak muda kademangan Panjerpun berloncatan di halaman, ada yang meloncat
dari dahan-dahan pohon, ada yang meloncat dari luar dinding halaman dan ada pula
yang berlari-lari memasuki halaman lewat pintu regol yang telah terbuka.
Demikianlah, maka sejenak
kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit di sekitar rumah Ki Wiratenaya
yang kosong itu, enam orang prajurit Paranganom, tiga orang senapati muda yang
pilih tanding telah melibatkan diri dalam pertempuran itu.
Ternyata Ki Sura Branggah
adalah orang yang benar-benar berilmu tinggi, ia tidak mau mengikat diri
menghadapi seorang lawan, tetapi ia berloncatan diantara orang-orangnya dengan
parang yang besar berputaran mengerikan.
Anak-anak muda kademangan
Panjer sempat bergetar jantungnya melihat cara para perampok itu bertempur,
namun para prajurit Paranganom itu berusaha mengimbangi mereka, para prajurit
itupun berloncatan di seluruh medan, apalagi Raden Madyasta, Rembana, Sasangka
dan Wismaya.
Namun Raden Madyasta
menjadi cemas melihat sikap Rembana, ia sama sekali tidak mengekang diri dalam
pertempuran itu, it tidak pernah memberikan kesempatan kepada lawan-lawannya,
kerisnya terayun-ayun sangat mengerikan, sehingga tanpa ampun, orang yang sempat
menghadapinya akan terkapar mati dengan luka-lukanya yang parah.
Sasangka dan Wismaya
serta para prajurit yang lain masih berusaha untuk mengendalikan diri, mereka
tidak harus membunuh lawan yang datang kepada mereka.
Demikianlah, maka
pertempuran itu menjadi semakin sengit, dengan dibayangi oleh kemampuan para
prajurit Paranganom, maka anak-anak muda Panjerpun menjadi semakin berani,
seperti pesar yang mereka terima, maka mereka tidak bertempur seorang melawan
seorang, tetapi mereka sudah mempunyai kelompok-kelompok kecil untuk menghadapi
setiap perampok yang harus mereka hadapi.
Meskipun para perampok
adalah orang-orang yang sudah terbiasa bertualang diantara ujung-ujung senjata,
tetapi menghadapi para prajurit Paranganom dibawah para senapati pilihan,
merekapun mengalami kesulitan.
Tetapi Ki Sura Branggah
sendiri adalah orang yang sangat garang, beberapa orang telah tersentuh tajam
parangnya, namun setiap kali Ki Sura Branggah harus menghadapi kemampuan para
prajurit Paranganom.
Namun akhirnya Ki Sura
Branggah tidak dapat mengingkari kenyataan yang dihadapinya, satu persatu
orang-orangnya jatuh terkapar di tanah. Disana sini terdengar erangan kesakitan,
desah yang tertahan, serta keluhan-keluhan panjang.
Ketika terdengar di
kejauhan suara ayam jantan yang berkokok untuk ketiga kalinya di malam itu, maka
pertempuran di rumah Ki Wiratenaya itupun sudah selesai, beberapa orang perampok
terluka parah, ada juga diantara mereka yang terbunuh.
Namun ketika Raden
Madyasta dan para senapati serta para prajurit berkumpul di depan pendapa
dikelilingi oleh anak-anak muda kademangan Panjer, barulah ternyata bahwa
pimpinan perampok yang bernama Ki Sura Branggah itu sempat meloloskan diri.
“Setan alasan” geram
Rembana “Jika Ki Sura Branggah itu tidak tertangkap, maka kita akan membunuh
semua perampok yang tertinggal dan yang menyerah.
“Kita tidak dapat
melakukannya, Kakang” sahut Raden Madyasta.
“Sudah aku katakan, kita
tidak dapat beramah-tamah dengan mereka, para perampok itu sudah membuat banyak
sekali kerugian, bukan saja herta benda yang telah mereka rampok, tetapi mereka
telah menimbulkan kegelisahan dan ketakutan, harga dari keresahan itu tidak akan
dapat lunas dengan kematian mereka, sebelum Ki Sura Branggah sendiri digantung
di alun-alun atau diketemukan mayatnya di pertempuran”
“Bukan wewenang kita
untuk menghukum mereka”
“Di medan pertempuran,
kita tidak bersalah jika kita membunuh lawan”
“Tetapi pertempuran sudah
selesai” desis Raden Madyasta.
“Mereka adalah
orang-orang yang sangat berbahaya, Raden, mereka tidak akan dapat menghentikan
tingkah laku mereka, seandainya mereka dibawa menghadapi Kangjeng Adipati
kemudian diadili dan dijatuhi hukuman, maka setelah mereka lepas dari hukuman,
mereka akan mengulangi kejahatan yang pernah lakukan”
“Biarlah segala
sesuatunya di putuskan kelak” jawab Raden Madyasta.
Rembana masih akan
menjawab, tetapi Sasangkapun berkata “Bukankah yang dikatakan oleh Raden
Madyasta itu benar?”
“Kita akan menjadi
prajurit yang cengeng”
“Kita terikat pada
paugeran, Rembana” berkata Wismaya.
Rembana tidak menjawab
lagi, tetapi dari raut wajahnya nampak bahwa jantungnya justru menjadi semakin
bergejolak.
Raden Madyastapun
kemudian telah memerintahkan kepada anak-anak muda kademangan Panjer untuk
mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang telah menjadi korban dan
gugur di pertempuran, bahkan bukan hanya kawan-kawan mereka yang terluka dan
menjadi korban saja yang harus dikumpulkan, tetapi juga para perampok yang
terluka dan terbunuh d pertempuran, sedangkan yang menyerah, telah diikat dan
dibawa ke banjar.
Menjelang fajar, Ki
Demang, para Bebahu, Raden Madyasta dan para senapati masih berbincang di
banjar, semuanya menyatakan kekecewaan mereka, bahwa pimpinan brandal yang
bernama Ki Sura Branggah itu tidak dapat tertangkap.
“Para berandal itu harus
di hukum mati” geram Rembana “Ada tiga orang prajurit Paranganom yang terluka,
meskipun tidak terlalu parah, siapa yang melawan, apalagi melukai petugas, ia
akan dihukum dengan hukuman yang paling berat, selain itu ada sebelas orang anak
muda yang terluka, tiga diantaranya parah dan yang seorang telah gugur”
“Ada berapa orang
perampok yang tertangkap?” bertanya Ki Demang.
“Yang menyerah ada enam
belas orang Ki Demang. Ki Sura Branggah sendiri entah dengan berapa orang
kawannya, berhasil meloloskan diri, yang terluka dan terbunuh”
Ki Demang menarik nafas
dalam-dalam, katanya “Kami mengucapkan terima kasih yang besar sekali, Raden
Madyasta. bukankah dengan demikian, gerombolan perampok itu sudah dihancurkan,
mereka tidak mempunyai kekuatan lagi untuk dapat melakukan kegiatan mereka
dihari-hari mendatang. Setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat ini”
“Tetapi kami merasa
kecewa, bahwa kami tidak dapat menangkap Ki Sura Branggah, pimpinan perampok
itu, Ki Demang. kami sangat memerlukan keterangannya dalam hubungannya dengan
gerakannya yang seakan-akan muncul dari Kadipaten Kateguhan”
“Ya, Raden, tetapi
apaboleh buat, namun yang sudah Raden lakukan bersama para senapati dan para
prajurit sudah merupakan satu keberhasilan, anak-anak muda kademangan Panjer,
bukan saja mendapat pengalaman yang sangat berharga malam ini, tetapi mereka
bukan lagi anak-anak muda yang gemetaran mendengar suara kentongan dalam irama
titir, latihan-latihan yang sudah Raden berikan bersama para senapati dan para
prajurit, akan dapat kita kembangkan, sehingga jika pimpinan perampok itu datang
lagi dengan membawa dendam, maka anak-anak muda Panjer sudah tidak akan
mengecewakan”
“Itulah yang kami
harapkan, Ki Demang, mudah-mudahan anak-anak muda di kademangan tidak segera
menjadi jemu justru karena mereka merasa sudah memiliki kemampuan yang cukup”
“Aku akan berusaha,
Raden, sementara itu, kelak jika Raden akan meninggalkan kademangan ini, Raden
dapat memberikan pesan kepada mereka”
Raden Madyasta
mengangguk-anggguk sambil berdesis “Ya, Ki Demang”
***
Dalam pada itu, di tempat
yang jauh, di perbatasan antara Kadipaten Paranganom dan Kadipaten Kateguhan, Ki
Sura Branggah memapah seorang anak muda yang terluka parah dibantu seorang anak
buahnya.
“Kuatkan, angger.
Sebentar lagi kita akan sampai di pondok itu. ayah angger Ki Tumenggung
Reksadrana tentu menunggu kita di pondok itu”
Anak muda itu mengerang
kesakitan, sementara langit menjadi semakin terang, cahaya fajar sudah membayang
di pungung pebukitan di arah timur.
“Aku tidak kuat lagi,
paman”
“Jangan berkata begitu,
ngger. Kau adalah anak muda yang jarang ada duanya, kau mempunyai daya tahan
yang sangat tinggi, kaupun menjadi harapan ayah angger di masa mendatang.”
“Tetapi lukaku sangat
parah, paman”
“Lihat, di depan kita
adalah regol padukuhan, podnok kita terletak dekat pintu gerbang itu, sedikit
berbelok ke kiri, di tempat yang kelihatan terpisah dari rumah-rumah yang lain
karena halamannya yang luas serta kebun kosong di sebelahnya”
Anak muda itu tidak
menjawab, yang terdengar adalah desah desah kesakitan.
Sebelum terang, mereka
bertiga telah memasuki regol padukuhan yang masih sepi, merekapun dengan cepat
menyelinap memasuki lorong kecil kearah kiri, sejenak kemudian merekapun telah
memasuki sebuah halaman rumah sederhana yang terletak di tengah-tengah kebun
yang luas serta di sebelahnya terdapat kebun kosong yang cukup luas pula.
Karena pintu rumah
sederhana itu masih tertutup, maka Ki Sura Branggahpun mengetuk pintunya
perlahan-lahan.
Sekali dua kali tidak
terdengar jawaban, sementara itu anak muda yang terluka itu masih saja mengerang
kesakitan.
Karena itulah, maka Ki
Sura Branggahpun mengetuk lebih keras lagi.
Di dalam rumah itu, Ki
Tumenggung Reksadrana dan Ki Lurah Patrawangsa ternyata baru saja terlelap,
semalam suntuk mereka bertahan menunggu Ki Sura Branggah itu kembali, tetapi
sampai dini hari, mereka masih belum memasuki rumah sederhana yang terletak di
perbatasan itu.
Namun justru ketika
mereka baru saja terlelap, pintu rumah itu telah diketuk orang.
Ki Tumenggung Reksadrana
yang terkejut dengan gagap memanggil Ki Lurah Patrawangsa “Patrawangsa, kau
dengar pintu diketuk orang?”
Ki Lurah Patrawangsa
segera terbangun pula, sementara itu ketukan pintu itupun menjadi semakin keras.
“Siapa itu?” bertanya Ki
Lurah Patrawangsa sambil memutar kerisnya di lambung.
“Aku Ki Lurah”
“Sura Branggah?”
“Ya”
“Buka pintu itu cepat”
bentak Ki Tumenggung yang tidak sabar.
Ki Lurahpun segera
meloncat ke pintu sambil memegangi ujung wiron kain panjangnya yang terlepas
karena terinjak kakinya sendiri.
Demikian pintu dibuka,
maka Ki Sura Branggahpun segera bergerak masuk sambil memapah anak muda yang
terluka itu, di belakangnya seorang anak buahnya mengikuti pula.
“Tutup kembali pintu itu,
dungu” bentak Ki Lurah Patrawangsa.
Anak buah Ki Sura
Branggah itupun kemudian dengan tergesa-gesa menutup pintu yang masih terbuka.
Sementara itu, cahaya
fajarpun menjadi semakin terang, ayam-ayampun mulai turun dari kandangnya,
seekor induk ayam berkotek memanggil anak-anaknya, ketika ia menemukan seekor
cacing tanah yang gemuk.
“Anak itu terluka?”
bertanya Ki Tumenggung Reksadrana.
“Ya, Ki Tumenggung”
“Siapa?”
Ki Sura Branggah menjadi
ragu-ragu.
“Siapa?” bentak Ki
Tumenggung Reksadrana.
Ki Sura Branggahpun
kemudian membaringkan anak muda yang terluka itu di lantai.
“Prakosa” Ki Tumenggung
Reksadrana hampir menjerit “Jadi yang terluka itu anakku?”
Ki Sura Branggah mdk
wajahnya, dengan nada dalam iapun berdesis “Ya Ki Tumenggung”
Ki Tumenggung Reksadrana
segera meloncat dan berjongkok disisinya.
“Prakosa, jadi kau yang
terluka itu, ngger”
“Ayah” desis Prakosa.
“kenapa kau ngger?”
“Lukaku parah, ayah”
“Biarlah Ki Lurah
Patrawangsa memanggil tabib terbaik di Kateguhan”
“Tidak ada gunanya lagi,
ayah”
“Jangan berkata begitu,
Prakosa”
Ki Tumenggung itupun
kemudian mengangkat kepala anaknya dan diletakkannya di pangkuannya.
“Aku sudah tidak kuat
lagi, ayah. Darahku terlalu banyak yang keluar”
“Siapa yang melukaimu,
Prakosa?, orang-orang Panjer?”
“Tidak ayah, bukan
orang-orang Panjer”
“Jadi siapa?”
“Ternyata di Panjer kami
bertemu dengan sekelompok prajurit dari Paranganom, ayah”
“Prajurit dari
Paranganom?”
“Ya, ayah, para prajurit
yang dipimpin langsung oleh Raden Madyasta”
“Madyasta, Raden Madyasta
anak Adipati Paranganom?”
“Ya, ayah”
“Kau tidak salah lihat,
Prakosa, bukankah Madyasta tidak berada di Paranganom?”
“Tidak, ayah. Aku tidak
salah lihat. Selain aku memang sudah mengenalnya sejak lama, seorang senapatipun
telah menyebut namanya pula, disamping Madyasta, tiga orang senapati muda yang
namanya mulai dikenal sejak pertempuran di sebelah Bengawan Rahina, Rembana,
Sasangka dan Wismaya”
“Gila orang-orang
Paranganom, tetapi jangan cemas Prakosa, kau akan segera sembuh, kau akan segera
mendapat kesempatan untuk membalas dendam.
“Ayah, aku tidak mampu
lagi bertahan.
“Patrawangsa” teriak Ki
Tumenggung.
“Ya, Ki Tumenggung”
“Kenapa kau begitu dungu,
cepat pangil tabib terbaik di Kateguhan”
“Dibawa kemari?”
Ki Tumenggung
termangu-mangu sejenak, lalu katanya “Ya, bawa orang itu kemari”
“Tetapi, apakah tidak ada
bahayanya jika tabib itu melihat rumah ini?”
“Aku tidak peduli, yang
penting anakku dapat diselamatkan”
Namun terdengar suara
Prakosa yang lemah “Tidak usah ayah, tidak akan ada artinya”
“Prakosa”
Suara Prakosa menjadi
semakin sendat “Ayah”
“Prakosa”
Prpakosa memandang
ayahnya dengan mata yang semakin sayu, wajahnya menjadi sangat pucat seakan-akan
tidak berdarah lagi, sementara itu darah yang mengalir dari lukanya membasahi
lantai rumah itu, menggenang di kaki ayahnya.
“Ayah” suara Prakosa
hampir tidak terdengar.
“Prakosa, dengar. Aku
akan mengundang tabib itu, Prakosa”
Mata Prakosa menjadi
semakin redup, sehingga akhirnya mata itupun terpejam.
“Prakosa” Ki Tumenggung
berteriak.
Namun Prakosa sudah tidak
mendengarnya, nafasnya yang terakhirpun telah meluncur lewat lubang hidungnya.
Ki Tumenggung memeluk
anaknya dan meletakkannya di dadanya, dengan suaranya yang bergetar iapun
berkata “Prakosa, kenapa kau mendahului ayahmu, ngger. Aku ingin kau menjadi
seorang besar, jauh lebih besar dari ayahmu. Aku ingin kau menjadi senapati yang
selalu berada dkt dengan Kangjeng Adipati, tetapi kenapa kau justru mendahului
aku”
Tetapi Prakosa sama
sekali sudah tidak bergerak lagi. Perlahan-lahan Ki Tumenggung meletakkan anak
laki-lakinya yang sudah meninggal itu, kemudian iapun bangkit dan bergeser
mendekati Ki Sura Branggah, dengan sinar mata yang menyala, Ki Tumenggung
mencengkam baju Ki Sura Branggah sambil membentak “Apa kerjamu setan alasan.
untuk apa kau pergi ke Panjer?, kenapa kau tidak dapat melindungi anakku,
sehingga terbunuh di pertempuran melawan prajurit Paranganom?, ada berapa orang
prajurit Paranganom yang berada di Panjer?, segelar sepapan? Seratus, lima
puluh?”
Ki Sura Branggah tidak
segera menjawab, mulutnya justru bagaikan terbungkam.
“Kau sudah menjadi tuli,
he?, atau bisu?”
Ki Sura Branggah masih
belum menjawab.
Namun tiba-tiba saja
tangan Ki Tumenggung menyambar wajahnya sambil membentak “Berapa, He?”
“Ampun, Ki Tumenggung. Ki
Sura Branggah menjadi gagap “Tidak jelas, kami tidak tahu ada berapa orang
prajurit Paranganom di Panjer, mereka tidak mengenakan pakaian prajurit, agaknya
mereka sengaja menjebak kami, sementara itu, anak-anak muda Panjerpun telah ikut
pula bersama-sama mereka. jumlahnya tidak terhitung, bahkan mereka sudah pandai
pula menempatkan diri untuk melawan kami”
Ki Tumenggung mengguncang
baju Ki Sura Branggah yang dicengkamnya sambil membentak “Jadi kau tidak dapat
mengatasi anak-anak muda Panjer itu, He? Mulutmu saja yang selalu sesumbar,
tetapi apa yang terjadi?, anakku telah mati”
Ki Sura Branggah tidak
menjawab, Ki Tumenggung yang kehilangan anaknya tentu sulit untuk menahan
perasaannya yang bergejolak, karena itu, maka Ki Sura Branggah memilih untuk
diam.
Ki Tumenggung itupun
kemudian melepaskan baju Ki Sura Branggah, nn kemudian ia mendekati pengikut Ki
Sura Branggah yang membantunya membawa Prakosa pulang ke pondok itu.
Dengan kasar Ki
Tumenggung mendorong pundak orang yang duduk di lantai itu dengan kakinya,
sehingga orang itu jatuh terlentang.
“Kecoa pengecut, apa
kerjamu di Panjer He?, Kau biarkan anakku mati?”
Orang itupun tidak
menjawab pula, ketika ia perlahan-lahan bangkit dan duduk kembali, maka Ki
Tumenggung Reksadranapun berkata “Aku tidak mau menerima keadaan ini,
orang-orang Paranganom telah terbutang nyawa, mereka harus membayar dengan nyawa
pula, Madyasta, Rembana Sasangka dan Wismaya harus mati”
Suara Ki Tumenggung
tergetar seakan-akan telah mengguncang dinding pondok kecil yang dipergunakannya
itu.
:Kita akan membawa
Prakosa pulang”
“Apa kata orang yang
melihat keadaannya di sepanjang jalan?” desis Ki Lurah Patrawangsa.
Ki Tumenggung
termangu-mangu sejenak, dengan nanda berat iapun bertanya “Menurutmu, apa yang
harus aku lakukan?”
“Ki Tumenggung” berkata
Ki Lurah Patrawangsa “Jika tubuh angger Prakosa dibawa pulang, akan dapat
menimbulkan masalah, bukan saja di perjalanan, tetapi juga di katumenggungan.
Seandainya akan diaadakan upacara pemakaman, apa yang dapat kita katakan kepada
orang-orang yang datang melayat?, kecelakaan atau pembunuhan atau apa?,
seandainya demikian, masih akan timbul pertanyaan panjang yang tidak
berkeputusan, kita akan semakin lama akan menjadi semakin sulit untuk
menjawabnya”
Bab 10 – Gegayuhan
:Jadi bagaimana menurut
pertimbanganmu?”
“Untuk sementara kita
kuburkan saja disini, di halaman rumah ini”
“Disini?”
“Ya, tetapi kita akan
memberinya tetenger yang tidak mudah hilang, bsk pada saatnya, jika kadaan
menjadi bertambah baik, kita akan menggalinya kembali dan dimakamkan sebagaimana
mestinya”
“Kau gila, Patrawangsa,
kau berniat untuk menguburkan anakku, anak Ki Tumenggung Reksadrana seperti
mengubur seorang perampok yang mati dikeroyok orang?”
Hampir saja Ki Lurah
Patrawangsa mengatakan, bahwa Prakosa memang terbunuh sebagai seorang perampok,
tetapi untunglah bahwa ia segera menyadarinya, sehingga kata-katanya itupun
ditelanna kembali.
Yang kemudian diucapkan
adalah justru sebuah pertanyaan “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Aku akan membawa Prakosa
pulang, aku akan mengatakan bahwa ia mengalami kecelakaan ketika Prakosa sedang
mencoba seekor kuda yang bary saja aku beli, Prakosa terjerumus jurang sehingga
terluka purah”
“Tetapi apakah angger
Prakosa pantas mengenakan pakaian seperti itu?”
“Kita akan mengganti
pakaiannya dengan pakaian yang wajar”
“Apakah disini tersedia
pakaian yang wajar itu?”
Ki Tumenggung
termangu-mangu sejenak, namun tiba-tiba saja iapun berkata “Aku memerlukan
pakaianmu Ki Lurah”
“Pakaianku, lalu aku?”
“Kau tinggal disini untuk
sementara sampai ada orang yang datang untuk mengantar pakaian bagimu”
Ki Lurah
bersungut-sungut, ia harus menyerahkan pakaiannya yang akan dipakai oleh Prakosa
yang sudah tidak bernyawa lagi, dengan demikian, maka ia tidak akan pernah
mendapatkan pakaiannya spengadeg itu kembali.
Namun dalam pada itu, Ki
Tumenggung itupun berpaling kepada Ki Sura Branggah “Apakah ada orang-orangmu
yang tertangkap hidup atau menyerah?”
“Mungkin ada, Ki
Tumenggung”
“Apa kata mereka tentang
Prakosa?”
“Mereka tidak tahu, bahwa
anak muda ini adalah anak Ki Tumenggung, yang mereka ketahui anak ini bernama
Lorop, kemanakanku, kecoa inipun baru tahu tadi, bahwa Lorop adalah putera Ki
Tumenggung”
“Kau tidak berbohong?”
“Tidak Ki Tumenggung”
“Bagaimana dengan rumah
ini?”
“Bukankah aku tidak
pernah mengajak salah seorang dari pengikutku datang kemari?, mereka tidak tahu
hubunganku dengan Ki Tumenggung, baru hari inhi kecoa kecil ini mengetahuinya,
tetapi ia tidak akan berbicara dengan siapapun, karena jika ia membuka mulutnya
itu akan aku koyakkan sampai telinga.”
“Kau jamin bahwa
rahasiaku tidak akan terbongkar di hadapan para prajurit Paranganom?, apalagi di
hadapan Raden Madyasta, putera Kangjeng Adipati”
“Aku jamin, Ki
Tumenggung. taruhannya adalah leherku”
Ki Tumenggung menarik
nafas dalam-dalam, tetapi ketika ia memandang tubuh anaknya yang terbaring diam,
maka iapun berkata lantang “Sekali lagi aku berjanji untuk membalas kematian
anakku atas orang-orang Paranganom. terutama Madyasta, Rembana, Sasangka dan
Wismaya, meskipun mereka dikagumi dalam perang di dekat Bengawan Rahina, tetapi
aku tidak akan gentar menghadapi mereka bersama-sama, tidak hanya
seorang-seorang”
Tidak seorangpun yang
menyahut, suara Ki Tumenggung Reksadrana itu bagaikan menggetarkan rumah
sederhana itu seisinya.
Seperti yang dikatakan,
maka setelah pakaian Prakosa yang disesuaikan dengan pakaian para perampok itu
diganti, maka Ki Tumenggung Reksadranapun telah membawa tubuhnya yang mulai
membeku diatas punggung kudanya. dengan wajah yang muram, Ki Tumenggung
Reksadrana membawa anaknya pulang, beberapa orang yang menjumpainya di sepanjang
jalan bertanya-tanya, apa yang telah terjadi dengan anak muda itu.
Ki Tumenggung Reksadrana
telah menempuh perjalanan panjang, ketika ia memasuki pintu gerbang kota,
sementara itu mataharipun telah condong ke barat. Tubuh Ki Tumenggung menjadi
basah kuyup oleh keringatnya, sementara itu kudanyapun nampak sangat letih.
“Apa yang terjadi atas
Prakosa Ki Tumenggung?” bertanya seseorang yang sudah mengenalnya.
“Prakosa mengalami
kecelakaan ketika ia mencoba kudaku yang baru. Anak ini terlempar dari punggung
kuda dan ia terjerumus ke dalam jurang, sementara kudanya lari entah kemana”
“Kasihan anak muda itu,
ia adalah anak muda yang mempunyai masa depan penuh harapan”
“Jangan katakan itu
kepadaku dan kepada istriku, hatiku akan menjadi semakin tersayat”
“Maaf, Ki Tumenggung”
Namun dalam pada itu,
berita tentang kecelakaan yang terjadi atas Prakosa itu telah tersebar,
kawan-kawannya yang mendengarpun segera pergi menyusul ke rumah Ki Tumenggung
Reksadrana.
Dalam pada itu, ketika Ki
Tumenggung Reksadrana membawa anaknya masuk ke dalam rumahnya, Nyi Tumenggung
yang melihatnya menjerit tinggi, setelah meletakkan Prakosa, Ki Tumenggung
berusaha menenangkannya.
“Kenapa Kakang, kenapa?”
teriak Nyi Tumenggung.
“Prakosa mengalami
kecelakaan Nyi, apa yang terjadi tidak dapat dihindari, Yang Maha Kuasa sudah
berkenan memanggilnya”
“Tetapi kenapa begitu
cepat, Kakang, ia masih sangat muda, kecelakaan apa yang terjadi atasnya?”
Seperti kepada orang
lain, maka Ki Tumenggungpun berkata “Prakosa mencoba kuda yang baru aku beli,
Nyi. tetapi agaknya ia belum begitu mengenal tabiat kuda itu, sehingga Prakosa
telah terlempar dari punggungnya jatuh ke dalam jurang, sedangkan kudanya lari
tanpa entah kemana”
“Anakku” Nyi Tumenggung
memeeluk tubuh Prakosa yang sudah dingin dan beku, sejenak masih terdengar
tangisnya, namun kemudian Nyi Tumenggung itupun pingsan.
Sejenak kemudian di rumah
Ki Tumenggung itupun menjadi ramai, beberapa orang telah berdatangan, beberapa
orang perempuan tua telah berusaha menghibur Nyi Tumenggung demikian ia sadar
dari pingsannya.
Hari itu juga Prakosa
dikuburkan dengan upacara yang seharusnya dilakuka. Kangjeng Adipati Yudapati
juga datang menghadiri upacara pemakaman putera Ki Tumenggung Reksadrana itu.
“Aku ikut sedih atas
kematian Prakosa, Ki Tumenggung” berkata Kangjeng Adipati “Ia adalah anak yang
baik, aku mengenalnya sejak Prakosa masih kanak-kanak, umurku dan umur Prakosa
tidak bertaut banyak”
“Ya, Kangjeng” namun
kemudian Ki Tumenggung itupun berbisik “Ia menjadi tumbal bagi gegayuhan
Kangjeng Adipati”
Kangjeng Adipati kng,
tetapi Kangjeng Adipati itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam, dengan nada
rendah iapun berkata “Aku sudah mencoba mencegahmu, Ki Tumenggung”
Pembicaraan merekapun
terputus, ada beberapa orang yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa atas
kematian Prakosa karena kecelakaan itu.
Hari itu di Panjer,
anak-anak mudapun telah menjadi sibuk pula, ketika matahari bertengger di
punggung bukit, maka segala sesuatunya telah selesai pula.
Mereka harus menguburkan
beberapa orang diantara para perampok yang terbunuh, sementara itu merekapun
telah mengadakan upacara pemakaman anak muda terbaik dari kademangan Panjer yang
telah gugur.
Madyasta, Rembana,
Sasangka dan Wismaya serta para prajurit Paranganom masih tetap bersama Ki
Demang dan para Bebahu Panjer untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang
kemudian timbul dengan para tawanan, apalagi para tawanan yang terluka.
***
Di Kateguhan, ketika
senja mulai membayang, maka mereka yang mengantar tubuh Prakosa ke pemakaman,
telah berangsur-angsur meninggalkan makam, ketika orang yang terakhir beranjak
dari gundukan tanah yang merah, orang itu sempat berkata kepada Ki Tumenggung
“Sudahlah, Ki Tumenggung, marilah kita pulang, ikhlaskan kepergian Prakosa yang
memang sudah saatnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, sebentar lagi senja akan
turun, kemudian makam ini akan menjadi gelap”
“Sebentar, kakang,
silahkan dahulu”
Orang itupun kemudian
meninggalkan makam Ki Tumenggung Reksadrana sendiri, bahkan orang-orang
terdekat, sanak kadangnyapun telah seluruhnya mendahuluinya.
Ketika makam itu menjadi
sepi, maka langitpun menjadi buram, senja yang merah bagaikan memanggang langit.
Dari balik gerumbulan
sesosok tubuh bergerak mendekati Ki Tumenggung yang tinggal sendiri.
Ki Tumenggung berpaling
ketika ua mendengar desir langkah kaki mendekat.
“Apa kerjamu disini, Ki
Sura Branggah?” bertanya Ki Tumenggung.
“Aku juga ingin
menyaksikan putera Ki Tumenggung yang harus dimakamkan hari ini, aku juga ingin
memberikan penghormatanku yang terakhir”
“Tetapi jika ada yang
melihat dan mengenalmu sebagai seorang benggolan perampok, maka kehadiranmu akan
mengotori upacara pemakaman yang khidmat ini”
“Bukankah aku tahu diri,
Ki Tumenggung”
“Apakah Ki Lurah
Patrawangsa juga datang?”
“Tentu tidak, Ki
Tumenggung. Ia masih berada di pondok itu”
Ki Tumenggung
mengangguk-angguk, lalu katanya “Cari pakaian dan berikkan kepada Ki Lurah”
“Apakah aku harus ke
katumenggungan?”
“Kau benar-benar dungu
seperti kerbau, kehadiranmu akan memberikan kesan buruk padaku”
“Jadi?”
“Pergi ke pondok di
belakang pasar itu, aku akan kesana nanti malam sambil membawa pakaian itu”
“Ya, Ki Tumenggung, aku
akan menunggu di pondok di belakang pasar”
“Kawanmu itu juga ada
disana?”
“Ya, Ki Tumenggung”
“Bukankah ia tidak akan
membuka rahasia kepada siapapun juga?”
“Aku jamin kesetiaannya,
aku mengenalnya sejak ia masih kanak-kanak, aku selamatkan ayahnya dari
kematian, kemudian aku entaskan anak itu dari kelaparan”
“Kenapa kelaparan?”
“Ayahnya seorang penjudi
yang tidak sempat merawat keluarganya, ketika ibunya meninggal, maka aku bawa
anak itu dan tingal bersamaku, beberapa bulan kemudian ayahnya benar-benar mati
ketika ia menyamun iring-iringan yang lewat di bulak panjang yang ternyata
dturunya terdapat orang-orang berilmu, aku tidak bersamanya waktu itu, sehingga
aku tidak dapat menyelamatkannya lagi”
Ki Tumenggung merenung
sejenak, namun tiba-tiba saja ie menggeram “Tetapi aku tetap tidak dapat
menerima kenyataan ini, aku akan membalaskan dendam yang terkubur bersama tubuh
anakku, tetapi selama aku masih hidup, maka aku akan berusaha untuk membunuh
Madyasta, Rembana, Sasangka dan Wismaya, siapapun yang akan mati terdahulu”
Ki Tumenggung itupun
kemudian berjongkok disamping kuburan anaknya, ditepuknya tanah yang merah itu
sambil berkata “Aku berjanji Prakosa, aku akan membalas dendammu”
Suara Ki Tumenggung
Reksadrana itu bagaikan menggetarkan pohon-pohon kamboja yang tumbuh menebar di
makam itu, bunganya yang putih bersih menebarkan bau yang menusuk.
Baru sejenak kemudian, Ki
Tumenggung Reksadrana itu bangkit berdiri dan melangkah ke regol makam.
“Jangan mengikuti aku,
aku sendiri di makam ini, akupun akan pulang sendiri”
Ki Sura Branggah memang
tidak mengikutinya, ia berdiri saja di tempatnya memandang Ki Tumenggung
Reksadrana yang melangkah diantara nisan-nisan yang berserakkan, semakin lama
semakin kabur ditelan gelap malam yang mulai turun.
Ki Sura Branggah berdiri
termangu-mangu, sberaniyalah bahwa iapun mendendam orang-orang yang telah
menghancurkan gerombolannya, terutama kepada para prajurit Paranganom yang
dipimpin oleh Raden Madyasta.
“Akupun akan membalas
sakit hatiku, gerombolanku hancur terkoyak-koyak menjadi debu, bersama Ki
Tumenggung Reksadrana, aku akan menghancurkan senapati-senapati muda Paranganom
yang sombong itu, mereka mengira bahwa tidak ada orang yang mlk keunggulan ilmu
sebagaimana mereka itu”
Ketika bayangan Ki
Tumenggung Reksadrana itu hilang dibalik regol makam, maka Ki Sura Branggahpun
segera beringsut dari tempatnya, kulitnya mulai merasa gatal-gatal digigit
nyamuk yang berterbangan di makam itu”
Malam itu Ki Tumenggung
Reksadrana menemui Ki Sura Branggah di sebuah pondok kecil di belakang pasar
untuk memberikan pakaian yang harus diberikannya kepada Ki Lurah Patrawangsa.
“Untuk sementara, jangan
berbuat sesuatu” berkata Ki Tumenggung Reksadrana “Kita harus berpikir matang,
apa yang selanjutnya harus kita lakukan”
“Apakah aku juga tidak
diperkenankan mencari makan?, isteriku tiga orang, Ki Tumenggung, anakku tujuh
belas”
“Berapa anakmu?”
“Tujuh belas”
“Tujuh belas apa?, tujuh
belas tahun?”
“Tujuh belas orang”
“Kau gila Sura Branggah,
aku saja seorang tumenggung isterinya Cuma satu, anakku satu, laki-laki, tetapi
anak itu telah dibunuh oleh orang-orang Paranganom”
“Isteri Tumenggung memang
hanta satu orang itu yang tinggal di Katumenggungan, yang tinggal disana sini?”
“Edan, aku sumbat
mulutmu”
Ki Sura Branggah terdiam.
“Awas jika kau langgar
perintahku, Ki Sura Branggah. untuk sementara jangan lakukan apa-apa, bukankah
pemberianku cukup banyak untuk memberi makan isteri-isteri dan anak-anakmu itu?,
selama ini kau mendapat kesempatan untuk mengambil apa saja yang kau inginkan di
Paranganomm, hasil kejahatanmu itu tentu masih cukup banyak”
Ki Sura Branggah
mengangguk-angguk kecil, katanya “Aku memang menyimpan beberapa barang yang
dapat dijual, tetapi semakin lama akan menjadi semakin menipis juga”
“Ajab aku beri kau uang
setiap akhir pekan”
“Terima kasih, Ki
Tumenggung”
“Nah, pergilah menemui Ki
Lurah Patrawangsa, jangan menyamun di sepanjang jalan meskipun kau berpapasan
dengan orang yang membawa sekampil uang emas”
“Ya, Ki Tumenggung”
Malam itu juga Ki Sura
Branggah telah pergi ke rumah sederhana di perbatasan untuk memberikan pakaian
bagi Ki Lurah Patrawangsa, baju dan kain panjangnya telah dipinjam oleh Prakosa.
Namun seperti Ki
Tumenggung Reksadrana, Ki Sura Branggah tidak berani melakukan kejahatan sampai
ia menerima perintah baru.
Ketika Ki Sura Branggah
sampai di pondok sederhana yang tersekat oleh kebun kosong dengan rumah
sebelahnya, sehingga seolah-olah letaknya menjadi terpencil itu, Ki Lurah
Patrawangsa sudah tertidur nyenyak berselimut tikar. Ia hanya mengenakan
celananya yang berwarna kelabu sampai ke lutut, tetapi ia tidak mengenakan baju
dan kain panjang.
Ki Lurah Patrawangsa
terkejut ketika ia mendengar pintunya di ketuk lewat tengah malam, ketika ia
bangkit berdiri, diraihnya pedangnya yang terletak di pembaringannya.
“Siapa?” bertanya Ki
Lurah Patrawangsa.
“Aku”
Ki Lurah Patrawangsa
mengenal suara Ki Sura Branggah, karena itu, maka iapun segera mengangkat
selarak pintu.
Demikian pintu terbuka
dibawah cahaya lampu minyak yang redup, ia melihat Ki Sura Branggah berdiri
termangu-mangu di depan pintu.
“Kau berkuda?”
“Ya Ki Lurah”
“Taruh kudamu di
belakang”
“Ini pakaianmu, Ki Lurah”
berkata Ki Sura Branggah sambil menyerahkan bungkusan kepada Ki Lurah.
“Kenapa baru sekarang,
kenapa tidak sebelum malam, sehingga aku tidak kedinginan”
“Ki Tumenggung baru sibuk
mengurus pemakaman anaknya, Ki Tumenggung tidak sempat memberikan pakaian
kepadaku”
Ki Sura Branggah membawa
kudanya ke belakang, iapun kemudian masuk pula ke rumah itu serta menyelarak
pintunya.
Ki Lurah yang sudah
mengenakan pakaian itupun bertanya “Apa yang dikatakan oleh Ki Tumenggung
tentang anaknya?”
“Seperti yang
direncanakan, anak itu terjatuh dari kudanya yang baru”
“Apakah orang-orang
mempercayainya?”
“Nampaknya mereka
percaya, tetapi entahlah, aku hanya sempat menjumpai Ki Tumenggung sebentar di
makam ketika orang-orang yang ikut mengantar jenazah anak muda itu sudah
meninggalkan makam, Ki Tumenggung tidak mau ada orang yang melihat bahwa aku
telah berhubungan dengan kademangan, jika saja ada orang yang mengenalku, maka
persoalannya tentu akan bergeser”
Ki Lurah itupun
mengangguk-angguk, katanya “Ya, jika saja ada yang mengenalmu sebagai seorang
gegedug brandal yang terkenal, tetapi sayang, bahwa kau justru terkenal pada
sisi yang hitam”
“Tetapi aku ditakuti
orang, Ki Lurah. Namaku akan menjadi bayangan maut bagi orang-orang yang mencoba
menentangku”
“Kau berbangga
karenanya?”
“Tentu, sebagai seorang
lurah brandal, aku memerlukan kewibawaan, jika namaku tidak ditakuti, maka aku
akan direndahkan, terutama oleh kelompok-kelompok brandal yang lain. tetapi
dengan pengaruh namaku sekarang, aku mampu menghimpun beberapa kelompok brandal
sebagaimana dikehendakki oleh Ki Tumenggung Reksadrana”
“Namun yang kemudian
dihancirkan oleh prajurit Paranganom”
“Bukankah wajar jika aku
tidak mampu melawan Kangjeng Adipati?, namaku masih akan tetap ditakuti kelak
bila aku muncul lagi dengan sebuah kelompok yang baru, tetapi aku memang
memerlukan waktu”
Ki Lurah Patrawangsa
tiba-tiba berkata “Aku masih mengantuk, aku akan tidur lagi, kau akan tidur
disini sempai esok, atau kau akan kembali ke Kateguhan?”
“Aku tidak tergesa-gesa
kembali, aku akan tidur saja disini, esok aku akan pergi ke Kateguhan”
“Aku juga pergi ke
Kateguhan, tetapi kita akan pergi sendiri-sendiri”
Ki Sura Branggah tertawa,
katanya “Ki Lurah takut terpercik noda pada namaku seperti Ki Tumenggung
Reksadrana?, tetapi kalian tetapi memerlukan aku untuk mencapai gegayuhan
kalian”
“Bukan aku yang punya
gegayuhan, tetapi Ki Tumenggung”
“Ki Lurah tentu juga
punya pamrih”
“Tentu, apa yang
dilakukan oleh seseorang, tentu mengandung pamrih”
Ki Sura Branggah
mengangguk-angguk, tetapi ia tidak sempat menjawab, Ki Lurah telah kembali
berbaring dan memejamkan matanya.
Ki Sura Branggah
termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun membaringkan tubuhnya pula diatas
tikar yang dibentangkannya di lantai”
Ki Lurah Patrawangsa itu
bersungut-sungut ketika ia mendengar Ki Sura Branggah mendengkur keras sekali
sebelum Ki Lurah itu sendiri tertidur.
Malam itu Ki Tumenggung
Reksadrana tidak dapat tidur nyenyak, di dini hari ia sempat terlelap beberapa
saat, namun kemudian iapun telah terbangun kembali.
Ketika matahari terbit,
Ki Tumenggung Reksadrana sudah selesai berbenah diri, satu-satu masih ada sanak
kadangnya yang datang untuk menyatakan bela sungkawa atas meninggalnya Prakosa
dalam kecelakaan.
Namun ketika matahari
naik, Ki Tumenggung Reksadrana telah memberitahukan kepada Nyi Tumenggung bahwa
ia akan menhadap Kangjeng Adipati.
“Apakah Kakang sudah
harus menghadap? bukankah Kangjeng Adipati tahu, bahwa kita telah kehilangan
anak kita?”
“Aku hanya sebentar Nyi,
ada persoalan yang penting aku sampaikan, aku akan segera kembali, sementara aku
pergi, temui sanak kadang yang datang untuk menyatakan keprihatinan mereka, kita
sangat berterima kasih atas perhatian mereka”
“Tetapi aku minta Kakang
segera kembali, jika Kakang pergi, maka rasa-rasanya aku sendiri di dunia ini”
Ki Tumenggung memandang
isterinya dengan penuh iba, ia mengerti, betapa pedihnya perasaan perempuan itu,
anaknya begitu saja meninggalkannya untuk selama-lamanya.
“Jika ia tahu, apa yang
telah terjadi sebenarnyanya, perempuan itu akan dapat membunuh dirinya sendiri”
berkata Ki Tumenggung di dalam hatinya.
“Nyi” suara Ki Tumenggung
merendah “Aku hanya akan pergi sebentar, aku akan segera kembali, aku tahu,
bahwa dalam keadaan yang berat ini, kau memerlukan aku selalu disisimu. Tetapi
aku tidak dapat mengkesampingkan tugasku yang penting ini”
Nyi Tumenggung memang
tidak menghalanginya, tetapi ketika Nyi Tumenggung melepasnya di tangga pendapa,
ia masih berpesan “Jangan terlalu lama Kakang, sanak kadang yang datang akan
kecewa jika tidak dapat menemuimu”
Sejenak kemudian, maka
kuda kKi Tumenggung itu sudah berlari menuju ke dalem Kadipaten.
“Aku kira Ki Tumenggung
tidak datang menghadap hari ini. Di rumah Ki Tumenggung tentu masih ada orang
tamu yang datang”
“Ya, Kangjeng, masih saja
ada orang yang ikut menyatakan ikut berduka, isteri hamba masih dibayangi oleh
kepedihan yang sangat menekan jiwanya”
“Karena itu, sudahlah Ki
Tumenggung, sejak semula aku sudah mengatakan, bahwa tidak akan ada gunanya.
rencana yang kau sampaikan kpadukuhanu itu itu adalah rencana yang sangat
berbahaya”
“Anak hamba telah
terlanjur menjadi korban, anak hamba terbunuh oleh orang-orang Paranganom. ia
mati sebagai seorang perampok yang rendah, untunglah, bahwa hamba masih sempat
membersihkan namanya”
“Hentikan permainan yang
berbahaya itu, Ki Tumenggung. Jika paman Adipati di Paranganom mengetahuinya,
maka namakupun akan senilai sampah yang hanya pantas untuk dibakar”
“Tetapi jika berhasil?”
“Apa yang berhasil”
“Seperti yang hamba
sampaikan beberapa waktu yang lalu, Kangjeng Mahapatih di Tegallangkap telah
wafat”
Kanjeng Adipati menarik
nafas dalam-dalam, katanya “Ki Tumenggung ingin aku menggantikan kedudukan itu?”
“Ya, Kangjeng, seperti
yang sudah hamba katakan, di Tegallangkap hanya ada dua orang Adipati yang
dipandang pantas untuk menjadi Mahapatih di Tegalangkap”
“Tentu tidak Ki
Tumenggung. ada beberapa orang Adipati yang sudah mempunyai pengalaman jauh
lebih banyak dari pengalamanku, sebagaimana paman Kanjeng Adipati Prangkusuma di
Paranganom, sementara aku masih belum cukup lama menjabat”
“Tetapi Kangjeng Adipati
sudah menunjukkan kelebihan, hamba mendengar dari pimpinan di Tegalangkap, bahwa
ada dua orang terkuat, Kangjeng Sultan di Tegalangkap adalah seorang Sultan yang
masih muda. yang membuat Kangjeng Sultan di Tegalangkap bimbang adalah manakah
yang terbaik, apakah Mahapatih yang akan mendampinginya itu seorang Adipati yang
sudah tua dan cukup berpengalaman atau seorang Adipati yang masih muda yang akan
dapat mengimbangi gejolak jiwa Kangjeng Sultan yang masih muda itu”
“Aku mengenal Kangjeng
Sultan itu dengan baik, Ki Tumenggung, menurut pendapatku, yang paling tepapt
mendampingi Kangjeng Sultan yang masih muda itu adalah paman Kanjeng Adipati
Prangkusuma”
“Tidak, Kangjeng jangan
mengalah, Kangjeng harus berjuang merebut kedudukan itu, itulah sebabnya aku
telah membuat rencana untuk mengacaukan tlatah Paranganom. jika Paranganom
menjadi kacau, penduduknya menjadi resah, maka pilihan Kangjeng Sultan tentu
akan condong kepada Kangjeng Adipati”
“Condong kepadaku?”
“Ya, Kangjeng”
“Kau kira aku akan puas
berada pada satu jabatan yang direbut dengan curang?”
“Tetapi gegayuhan,
Kangjeng, seseorang mempunyai hak untuk nggayuh kemukten”
“Ki Tumenggung menganggap
semua cara dapat ditempuh?, dengan cara yang curang, licik dan bahkan
mengorbankan orang lain?”
“Jangan banyak
pertimbangan, Kangjeng, pokoknya di Paranganom telah terjadi kerusuhan, dengan
demikian, maka pilihan Kangjeng Sultan untuk menggantikan kedudukan Sang
Mahapatih yang wafat dan tidak berputera itu akan jatuh kepada Kangjeng Adipati
dari Kateguhan”
“Ki Tumenggung, sudah aku
katakan, bahwa aku tidak bermimpi menjabat Mahapatih di Tegalangkap, aku sudah
puas dengan kedudukan sekarang, sebagai seorang Adipati, maka aku akan berada
lebih dekat dengan rakyatku daripada seorang Mahapatih”
“Tetapi gelar kekuasaan
seorang Mahapatih akan meliputi seluruh kerajaan Tegalangkap, bahkan kekuasaan
yang sebenarnyanya atas pemerintahan terletak pada tangan Mahapatih”
“Ki Tumenggung, aku tidak
mau mempergunakan caramu, aku adalah kemanakan paman Kanjeng Adipati
Prangkusuma, akupun sudah merasa puas dengan kedudukan sekarang, aku wajib
mensyukuri kurnia-Nya ini. tidak sepatutnya aku justru memfitnah pamanku
sendiri”
“Kangjeng, ini adalah
satu gegayuhan, Kangjeng tidak boleh berpuas-puas dengan kedudukan Kangjeng
sekarang, jika Kangjeng Adipati melepaskan kesempatan ini, maka kesempatan
seperti ini tidak akan pernah kembali lagi”
“Biarlah kesempatan itu
berlalu, Ki Tumenggung”
“Kangjeng”
“Dengar perintahku, Ki
Tumenggung, hentikan”
Ki Tumenggung masih akan
berbicara, tetapi Kangjeng Adipatipun berkata “Sudahlah, Ki Tumenggung, aku
tidak ingin membicarakannya lagi”
Karena itu, maka Ki
Tumenggungpun kemudian berkata “Kangjeng, hamba mohon diri, mungkin dalam dua
hari ini hamba tidak datang menghadap, baru setelah lewat hati ketiga kematian
Prakosa hamba akan menghadap lagi”
“Silahkan, Ki Tumenggung.
Aku tahu bahwa kau tentu sangat sibuk lahir dan batinmu di rumah, salam buat Nyi
Tumenggung”
“Hamba Kangjeng Adipati”
Ki Tumenggungpun kemudian
telah meninggalkan dalem Kadipaten, disepanjang jalan Ki Tumenggung masih saja
bersungut.
“Anak dungu, ia tidak mau
mendengarkan pendapat orang tua, anak-anak muda sekarang merasa dirinya lebih
pintar dari orang-orang tua yang sudah kenyang makan pahit manisnya kehidupan.
Aku melihat jalan yang terbuka bagi Kangjeng Adipati. Tetapi agaknya anak itu
memang tidak mempunyai gegayuhan, Ia menerima saja apa adanya. Jiwanya sama
sekali tidak setegar ayahnya yang mempunyai cita-cita setinggi langit”
Ki Tumenggung kemudian
melarikan kudanya di sepanjang jalan yang ramai.
Kekecewaan Ki Tumenggung
masih juga dibawabya sampai kr rumahnya, namun ketika ia melihat beberapa orang
yang duduk di pringgitan, maka Ki Tumenggung berusaha untuk mengekang
perasaannya. Apalagi ketika ia melihat isterinya itu sedang mengangis dihadapan
bibi dan pamannya yang agaknya baru datang.
Ki Tumenggung yang
kemudian duduk di sebelah isterinya bertanya dengan nada rendah “Sudah lama
paman dan bibi datang?”
“Belum Ki Tumenggung”
jawab paman Nyi Tumenggung “Aku baru semalam mendengar kecelakaan yang menimpa
angger Prakosa”
Bab 11 – Air Mata Rara
Menur
“Maaf paman dan bibi,
kemarin kami tidak mempunyai kesempatan, semuanya dilakukan dengan tergesa-gesa,
kami tidak ingin jasad Prakosa itu harus menginap di rumah ini karena
keadaannya, karena itu, kami tidak sempat memberitahukan kepada sanak kadang,
apalagi yang agak jauh, yang dekatpun ada pula yang tidak mendengar musibah ini”
“Tabahkan hati kalian,
jika saatnya datang, tidak ada yang akan dapat menghalanginya”
“Ya, paman. Aku sudah
mencoba untuk mengikhlaskannya, tetapi kadang-kadang masih juga tersembul
pertanyaan, kenapa bukan aku saja”
“Kita tidak dapat
memilih, Ki Tumenggung”
“Ya, paman, tetapi
sebenarnya akulah yang akan mencoba kuda yang baru aku beli itu, tetapi Prakosa
berkeras untuk melakukannya, bahwa kuda itu kadang-kadang agak sulit dikuasai”
“Itulah yang disebut
pepaten, Ki Tumenggung, kuda tidak dapat menghindarinya”
“Ya, paman”
“Dimana kuda itu
sekarang?”
“Aku tidak mengurusnya
lagi paman, kuda itu berlari entah kemana. Biar saja kuda itu hilang dari
pandangan mataku”
“Tetapi bukankah kuda itu
harganya tinggi?”
“Aku ingin melupakan apa
yang pernah terjadi atas Prakosa”
Pamannya
mengangguk-angguk, namun ia tidak bertanya lagi tentang kuda yang hilang itu,
yang dikatakan kemudian adalah beberapa nasehat baik bagi Ki Tumenggung dan Nyi
Tumenggung, namun nasehat baik itu kadang-kadang justru bagaikan ujung duri yang
menusuk jantung Ki Tumenggung Reksadrana yang tahu pasti, kenapa anaknya
meninggal.
“Madyasta, Rembana,
Sasangka dan Wismaya harus mati’ geramnya di dalam hati.
Hari itu, Ki Tumenggung
dan Nyi Tumenggung masih banyak menerima kunjungan dari kerabat dekat dan jauh,
sanak kadang yang tidak mendengar kabar meninggalnya Prakosa menyatakan
penyesalan mereka. Karena mereka tidak dapat ikut memberikan penghormatan
terakhir.
“Segala sesuatunya sudah
berlangsung dengan baik” berkata Ki Tumenggung, kami berdoa bagi Prakosa.
“Terima kasih, terima
kasih”
keikhlasan sanak kadang
yang berdatangan itu dapat sedikit menghibur kepedihan yang mencengkam Nyi
Tumenggung, namun kehadiran mereka, apalagi sanak kadang yang membawa anaknya
seusia Prakosa, kadang-kadang membuat luka hati Nyi Tumenggung justru semakin
pedih, namun setiap kali Nyi Tumenggung mendengar nasehat orang-orang tua yang
datang mengunjunginya, hatinya menjadi sedikit tenang.
“Tidak ada seorangpun
yang dapat melawan pepaten, Nyi Tumenggung” berkata seorang perempuan tua.
Kata-kata itu pula yang
diucapkan oleh banyak orang yang datang mengunjunginya.
Dalam pada itu, selagi Ki
Tumenggung Reksadrana berkabung karena kehilangan seorang anak laki-lakinya, di
kademangan Panjer, Raden Madyasta Rembana, Sasangka1 dan Wismayapun telah
bersiap-siap untuk meninggalkan kademangan itu.
“Biarlah untuk sementara,
mungkin sepekan dua pekan, enam orang prajurit Paranganom itu akan tetap berada
disini, Ki Demang” berkata Raden Madyasta.
“Terima kasih, Raden.
mereka akan melindungi kademangan ini, namun sekaligus meningkatkan kemampuan
anak-anak muda yang telah berlatih olah kanuragan, sehingga jika pada suatu saat
kami benar-benar ditinggalkan, maka kami dapat melindungi diri kami sendiri”
Raden Madyasta
mengangguk-angguk, katanya “Ya, Ki Demang mudah-mudahan kelebihan dari anak-anak
muda Panjer dapat dipercikkan ke kademangan-kademangan yang lain.
setidak-tidaknya jika terjadi sesuatu, anak-anak muda Panjer dapat membantu
mereka.”
“Tentu, Raden. kami akan
menyampaikan kepada para Demang tanpa memberikan kesan kesombongan.
“Itu sulitnya membina
keseimbangan dalam pergaulan ini, Ki Demang. kita benar-benar berniat baik.
orang lain akan dapat menganggap, betapa sombongnya kita ini. tetapi jika kita
berdiam diri, maka kita dianggap tidak peduli terhadap kehidupan antara sesama”
“Tetapi kami akan mencari
jalan yang terbaik, Raden. jika mereka sudah mendengar, bahwa perampok itu telah
dihancurkan di kademangan Panjer, maka mereka akan membuat
pertimbangan-pertimbangan baru atas hubungan mereka dengan kademangan Panjer”
“Baiklah, Ki Demang”
berkata Raden Madyasta kemudian, “Setelah beberapa hari kami berada di
kademangan ii, maka kami, maksudku aku, kakang Rembana, kakang Sasangka, dan
kakang Wismaya akan minta diri, besok kami akan kembali ke Paranganom untuk
memberi laporan kepada ayahanda, bahwa gerombolan perampok itu telah kita
hancurkan, sayang, bahwa pemimpin perampok yang bernama Sura Branggah itu tidak
dapat kami tangkap”
“Tetapi bahwa gerombolan
itu benar-benar telah lumat, berarti bahwa setidak-tidaknya dalam waktu singkat
ini, mereka tidak akan dapat segera bangkit kembali, Sura Branggah memerlukan
waktu untuk menyusun kekuatan. Sementara itu, anak-anak muda kademangan ini,
bahkan semua laki-laki yang masih memiliki tenaga serta keberanian, sudah siap
untuk menghadapi mereka. keberadaan Raden serta para prajurit di kademangan ini,
apalagi beberapa orang diantara para prajurit itu akan tinggal, telah membentuk
anak muda di kademangan ini menjadi lain”
“Ya, Ki Demang,
mudah-mudahan mereka tetap berminat untuk meningkatkan ilmu mereka. sementara
itu, aku titipkan beberapa orang gerombolan yang tertangkap dan menyerah itu
disini. Para prajurit yang kami tinggalkan akan bertanggung jawab terhadap para
tawanan itu. namun tentu saja mereka akan minta bantuan anak-anak muda di
kademangan ini untuk ikut menjaga. Jika Sura Branggah masih ingat kepada mereka,
mungkin ia akan berusaha mengambilnya. Tetapi dalam waktu dekat ini ia tidak
mempunyai kekuatan untuk melakukannya, sementara itu, sekelompok prajurit dari
Paranganom akan segera menjemput mereka”
“Baiklah, Raden, kami
akan ikut mempertanggung-jawabkan para tawanan itu”
“Terima kasih, Ki Demang”
Raden Madyasta mengangguk-angguk, namun kemudian iapun berkata “Ki Demang, besok
kami bertiga akan berangkat pagi-pagi selagi matahari belum naik”
Sebenarnya kami ingin
menahan untuk beberapa hari lagi, tetapi kami mengerti, bahwa Raden harus segera
memberi laporan kepada Kangjeng Adipati di Paranganom”
“Ya, Ki Demang, karena
itu, maka kami tidak dapat lebih lama lagi tinggal disini”
“Baiklah, Raden. sekali
lagi, kami seisi kademangan ini mengucapkan terima kasih, biarlah aku beritahu
para Bebahu agar agar nanti malam mereka datang menemui Raden dan ketiga orang
senapati yang menyertai Raden. biarlah nanti malam angger Rembana, Sasangka dan
Wismaya berada di rumah ini pula, agar esok pagi pada saatnya berangkat, Raden
dan para senapati dapat mempersiapkan diri bersama-sama”
‘Terima kasih, Ki Demang”
sahut Wismaya pula.
Di hari terakhir Raden
Madyasta berada di kademangan Panjer, diperlukannya untuk bertemu dan berbicara
dengan Rara Menur,
“Besok aku akan
meninggalkan kademangan ini, Menur.”
Rara Menur menunduk,
suaranya dalam sekali “Raden tidak akan pernah datang lagi ke kademangan
Panjer?”
“Tentu aku akan datang
lagi, Menur, ada beberapa orang berandal yang masih ditahan disini, enam orang
prajurit akan tinggal disini pula”
“Tentu tidak harus Raden
yang mengurus mereka, mungkin seorang diantara ketiga orang senapati itu, atau
bahkan orang lain sama sekali”
“Aku akan berusaha datang
kembali ke kademangan ini, Menur. Bukan hanya sekedar tugasku yang memanggil”
Rara Menur terdiam.
Raden Madyastapun
termenung sesaat, ia melihat wajah sendu gadis Panjer itu.
Agaknya perkenalan mereka
setelah Raden Madyasta berada di Panjer beberapa hari telah menundukkan perasaan
yang semula terasa asing di hati kedua insan itu, mereka mulai merasakan, tali
yang menjerat batin mereka masing-masing. semakin lama terasa menjadi semakin
kuat membelit sehingga keduanya akan merasa sangat sulit untuk mengurainya
kembali.
Tetapi Raden Madyasta
harus meninggalkan Panjer, ia adalah putera Kangjeng Adipati Prangkusuma yang
datang ke Panjer untuk menjalankan tugas ayahandanya. Meredam kegiatan
sekelompok brandal yang mempunyai kekuatan yang sangat besar.
“Aku hanyalah seorang
perempuan padesan, Raden. aku hanya akan pasrah dalam ketidak berdayaan, apakah
Raden masih akan datang lagi atau tidak” desis Rara Menur kemudian.
“Aku berjanji, Menur”
“Jika Raden kemudian
tenggelam dalam kehangatan pergaulan gadis-gadis kota, maka aku tidak akan
berarti apa-apa lagi bagi Raden”
“Menur” suara Raden
Madyasta merendah. “Meskipun aku putera seorang Adipati, tetapi aku terbiasa
hidup di sebuah padepokan, aku bergaul diantara para cantrik dan anak-anak muda
di padukuhan-padukuhan sekitar padepokanku. Ketika aku tumbuh dewasa, sejak
lebih dari empat tahun yang lalu. Aku terpisah dari pergaulan kota”
“Tetapi seorang anak
muda, putera Kangjeng Adipati pula, akan dengan cepat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya”
“Mungkin kau benar,
Menur. Aku memang harus segera menyesuaikan diri, terutama yang berhubungan
dengan kedudukan serta tugas-tugasku. Tetapi ada nilai-nilai yang lain di jalan
kehidupan ini, Menur”
Hening sejenak. Rara
Menur itu menundukkan wajahnya.
Madyasta menarik nafas
dalam-dalam, ketika, ketika ia berpaling memandang wajah gadis itu, ia melihat
jari-jari tangan Menur mengusap titik-titik air yang mengembun di pelupuknya.
Namun kemudian Rara Menur
itu mengangkat wajahnya. Senyumnya yang hambar mengembang di bibirnya “Selamat
jalan, Raden. aku berharap kita dapat bertemu lagi. Tetapi bukan aku yang
menentukan, tetapi Raden. aku hanya dapat berharap, tidak lebih dari itu”
“Menur” desis Raden
Madyasta.
“Maaf Raden. aku harus
membantu ibu di dapur, kami harus menyiapkan makan siang bagi Raden dan para
senapati yang berada disini hari ini. besok mereka akan meninggalkan kademangan
ini bersama Raden”
Raden Madyasta tidak
sempat menjawab, Rara Menur itupun segera pergi meninggalkannya.
Raden Madyasta itupun
termenung-menung sejenak. Ia tahu, bahwa Rara Menur adalah seorang gadis
padesan, anak seorang Demang. latar belakang kehidupannya diketahuinya pula,
sawah, ladang, lumbung, lesung dan sekali-sekali mencuci pakaian ke sungai kecil
yang tidak jauh dari rumah Ki Demang.
Tetapi Rara Menur itu
telah menjerat hatinya, hari itu, para senapati yang semula berpencar di rumah
beberapa orang di padukuhan induk untuk kepentingan penyelengaraan
latihan-latihan yang tertutup, telah berada di kademangan. Esok mereka
bersama-sama dengan Raden Madyasta akan meninggalkan kademangan Panjer.
Hari itu, Raden Madyasta
dan para senapati yang berada di rumah Ki Demang itupun menerima banyak tamu,
ketika para Bebahu dan para sesepuh kademangan mendengar bahwa esok Raden
Madyasta akan meninggalkan kademangan itu telah memerlukan menemuinya untuk
mengucapkan terima kasih serta selamat jalan.
“Kapan rencana Raden
berangkat?”
“Esok pagi-pagi sekali”
jawab Madyasta “Selagi matahari belum terbit, kami akan menempuh perjalanan
panjang”
“Ya” sahut Ki Demang
“Jarak dari panjer ke Paranganom dan Kateguhan tidak terpaut banyak”
“Bukankah kademangan ini
dekat sekali dengan perbatasan?” sahut Ki Jagabaya.
“Ya, itulah sebabnya maka
kita dapat saja menduga, bahwa sarang para perampok itu justru di Kateguhan.
Tidak di Paranganom, meskipun daerah jelajah mereka justru di Paranganom” sahut
Rembana.
“Tetapi ini hanya satu
dugaan; sahut Raden Madyasta “Kami tidak dapat menuduh bahwa Kateguhan terlibat,
karena dapat saja terjadi, bahwa sarang para perampok itu berada di Paranganom,
sementara itu, mereka juga merampok di daerah Kateguhan, mungkin kita sajalah
yang belum mendengar berita dari seberang perbatasan”
Ki Demang
mengangguk-angguk, ia sadar, bahwa Raden Madyasta sebagai putera Kangjeng
Adipati memang harus berhati-hati mengucapkan kata-kata, apalagi yang menyangkut
kadipaten yang lain.
Tetapi Rembana menyahut,
tidak mungkin mereka bersarang di Paranganom, Raden.”
“Banyak, kemungkinan
dapat terjadi, kakang. Dari mereka yang tertangkap, kita tidak memperoleh
keterangan yang cukup. Mereka adalah kelompok-kelompok yang semula berdiri
sendiri-sendiri. Tetapi kemudian telah dihimpun oleh Sura Branggah. mereka ada
yang berasal dari Paranganom. ada yang berasal dari Kateguhan. Tetapi ada pula
yang justru berasal dari jauh. Sedangkan mereka tidak tahu, sarang
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, menurut mereka, mereka
tidak dapat mengenalinya apakah mereka berada di tlatah Paranganom atau di
Kateguhan. Mereka hanya tahu, bahwa mereka berada di satu tempat disekitar
perbatasan”
“Kita harus memaksa
mereka berbicara”
“Kita sudah mencoba,
tetapi mereka benar-benar tidak tahu banyak tentang gerombolan mereka sendiri,
sementara itu, cara-cara yang kita gunakan untuk memaksa mereka berbicara
kadang-kadang telah melampaui batas kewajaran”
Rembana masih akan
menjawab, tetapi Wismaya telah mendahuluinya “Kita sudah cukup berbicara dengan
mereka, Raden. aku justru mempercayai mereka tidak tahu apa-apa selain
melaksanakan perntah Lurah Brandal itu”
“Ya” Raden Madyasta
mengangguk-angguk, “Kita tidak usah mempermasalahkan hal itu lagi. Pada suatu
saat para brandal yang tertangkap dan menyerah itu akan dibawa menghadap
ayahanda, mungkin ada keterangan yang tertinggal dapat diungkap oleh ayahanda
sendiri.”
Rembana terdiam meskipun
berusaha untuk membawa pembicaraan kembali pada arah semula. Para Bebahu itu
datang untuk menemuinya serta para senapati yang esok akan meninggalkan
kademangan Panjer.
Ketika Rara Menur bersama
seorang pembantunya menyampaikan hidangan bagi para tamu, maka Raden Madyasta
melihat tangan gadis itu gemetar, tetapi Raden Madyasta tidak bertanya apapun
kepadanya. Apalagi di hadapan banyak orang.
Sampai malam masih saja
ada beberapa orang yang datang untuk menemui Raden Madyasta serta ketiga orang
senapati yang berada di kademangan Panjer. Pada umumnya mereka menyampaikan
terima kasih serta mengucapkan selamat jalan. Beberapa orang kaya telah datang
untuk menyampaikan kenang-kenangan kadipaten Raden Madyasta beserta para
senapati dan prajurit Paranganom yang telah menyelamatkan kademangan mereka.
bahkan ada diantara mereka yang membawa barang-barang berharga.
“Terima kasih” berkata
Raden Madyasta kepada mereka “Kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya. Tetapi kami minta maaf, bahwa kami tidak dapat membawa ke
Paranganom. kami akan menitipkan semuanya itu kepada Ki Demang Panjer. Mungkin
barang-barang itu lebih bermanfaat bagi rakyat Panjer sendiri. Kami hanya akan
membawa satu saja diantara semua kenang-kenangan itu, yang kemudian akan kami
serahkan kepada ayahanda untuk disimpan di kadipaten”
“Raden” berkata Ki
Wiratenaya “Kami menyerahkan semuanya ini dengan ikhlas, kami juga sudah
berbicara dengan Ki Demang sebelumnya, karena itu, kami mohon Raden dapat
menerimanya”
“Kami menerima dengan
senang hati, Ki Wiratenaya. tetapi kami titipkan semuanya itu di rumah Ki Demang
Panjer, disini benda-benda itu akan selalu memperingatkan bagaimana rakyat
kademangan itu telah bekerja sama dengan para prajurit untuk melindungi
rakyatnya”
“Tetapi tanpa Raden
Madyasta, para senapati dan para prajurit, maka kami tidak akan dapat berbuat
apa-apa”
“Ki Wiratenaya dan
saudara-saudaraku, bagi kami, pernyataan terima kasih kalian sangat membesarkan
hati kami. Tetapi apa yang kami lakukan itu adalah memang tugas dan kewajiban
kami. Sementara itu, rakyat Panjer sendiri dengan suka rela mempertaruhkan nyawa
mereka. nah jika saudara-saudaraku sependapat, disamping kenang-kenangan yang
kalian berikan kepada kami, maka alangkah baiknya jika kalian juga memberikan
kenang-kenangan kepada rakyat Panjer sendiri. Ada diantara anak-anak muda kita
yang gugur. Mungkin kalian dapat membangun sebuah tugu peringatan di depan
banjar. Tetapi mungkin pula untuk mengenang anak muda terbaik yang telah gugur
itu kalian membangun sebuah bendungan yang akan dapat mengairi beberapa ratus
bahu sawah, atau membangun jembatan ya akan dapat menjadi penghubung antara
lingkungan terpencil di kademangan ini dengan lingkungan di sekitarnya ya akan
dapat memberikan arti bagi kesejahteraan mereka. jika air sungai menjadi besar
karena hujan di lereng pegunungan, arus perdagangan dengan daerah terpencil itu
tidak terputus, hasil bumi tidak tertahan dan bahkan membusuk karena tidak
sempat dilemparkan ke pasar”
Orang-orang yang
terhitung kaya dan berada, para pedagang dan para saudagar mendengarkan pesan
Raden Madyasta itu sambil mengangguk-angguk, mereka menyadari, bahwa harta benda
mereka tidak akan terlindungi, jika rakyat yang sehari-hari hidup dalam tataran
kesejahteraan jauh berada di bawah kesejahteraan mereka tidak berbuat apa-apa.
Demikianlah, ketika malam
menjadi semakin lama larut, maka Ki Demang telah menyarankan Raden Madyasta
serta ketiga senapati dari Paranganom itu untuk beristirahat.
Yang sulit untuk dapat
tidur adalah Raden Madyasta, bukan lagi karena kegagalannya menangkap pemimpin
perampok yang bernama Sura Branggah itu, tetapi Raden Madyasta tidak segera
dapat menyingkirkan wajah Rara Menur dari kepalanya.
“Ia hanya seorang gadis
padesan” berkata Raden Madyasta.
Sekian lama Raden
Madyasta gelisah, akhirnya ia dapat tertidur juga.
Pagi-pagi sekali, seperti
yang direncanakan, Raden Madyasta serta ketiga orang senapati Paranganom itu
sudah bersiap, Ki Demang dan keluarganya melepas mereka sampai ke regol halaman.
Rara Menur berdiri disamping ibundanya, ia mencoba tersenyum, tetapi senyumnya
nampak masam.
“Aku masih akan datang
kembali, Ki Demang” berkata Raden Madyasta tiba-tiba saja.
“Kami sangat mengharapkan
Raden” sahut Ki Demang.
“Aku masih harus
menyelesaikan persoalan tawanan itu sampai tuntas”
“Ya, Raden”
Tetapi diluar sadarnya,
Raden Madyasta itu berpaling kepada Rara Menur yang sedang memandangnya, namun
wajah gadis itupun segera menunduk dalam-dalam.
Sejenak kemudian, maka
Raden Madyasta, Rembana, Sasangka dan Wismaya telah minta diri sekali lagi
sebelum kuda-kuda mereka berlari meninggalkan regol halaman rumah Ki Demang
Panjer.
Ketika keempat orang
berkuda itu keluar dari gerbang padukuhan induk kademangan Panjer,
butiran-butiran embun masih nampak melekat di ujung dedaunan seperti butir-butir
mutiara yang bergayut di telinga seorang gadis.
Rerumputan masih basah,
sementara langit yang cerah mulai membayangkan cahaya fajar yang merah.
Burung-burung liar
terdengar bersiul bersahutan menyambut terbitnya matahari.
“Segarnya udara di
padesan” gumam Raden Madyasta.
“Ya, Raden” sahut
Wismaya.
Raden Madyasta
benar-benar menikmati udara pagi, tidak terlalu jauh nampak sebagai pegunungan
yang rendah membujur sejajar dengan jalan yang dilaluinya, hutan yang lebat
nampak tumbuh dilerengnya yang memanjang.
Di belakang pegunungan
itu terdapat perbatasan antara kadipaten Paranganom dan kadipaten Kateguhan. Dua
kadipaten yang semula diperintah oleh dua orang bersauara, namun kemudian
kadipaten Kateguhan sepeninggal Kangjeng Adipati Prawirayuda telah dipimpin oleh
puteranya yang kemudian ditetapkan menjadi Adipati yang bergelar Kangjeng
Adipati Yudapati.
Keempat orang berkuda
yang melarikan kuda mereka semakin cepat, selagi masih pagi, mereka ingin
menempuh jarak yang panjang.
Namun ketika mereka
melalui sebuah padukuhan maka mereka harus memperlambatkan kuda mereka, pada
saat matahari mulai membayang di langit, jalan-jalan di padukuhan mulai menjadi
ramai pula, beberapa orang perempuan berjalan beriring pergi ke pasar dengan
membawa bakul sayuran, ada yang berisi ubi dan hasil kebun lainnya, ada yang
berisi daun pisang ada pula yang berisi pisang yang masih bertandan serta
buah-buahan lainnya.
“Di padukuhan itu
terdapat sebuah pasar yang cukup ramai” berkata Sasangka.
“Ya, kesibukannya sudah
nampak sampai disini” sahut Raden Madyasta.
Raden Madyasta, Rembana,
Sasangka dan Wismaya justru turun dari kuda mereka, mereka menuntun kuda mereka
melintas di kerumunan orang-orang yang masih berada di depan pintu gerbang
pasar.
Ketika mereka melintas di
dekat beberapa orang yang berkerumunan, Sasangka sempat bertanya “Apakah pasar
ini demikian ramainya setiap hari?”
“Hari ini hari pasaran,
Ki Sanak” jawab orang itu.
“Disetiap hari pasaran,
pasar ini tidak dapat memuat kesibukannya seperti hari ini?”
“Di setiap hari pasaran,
pasar ini memang ramai sekali, tetapi tidak seperti hari ini. mungkin
orang-orang yang berjualan dan berbelanja di pasar ini tidak lagi dihantui oleh
orang-orang yang sering melakukan kejahatan”
dinos
“Kenapa?, apakah penjahatnya sudah tertangkap?”
“Ya”
“Apakah penjahatnya hanya
satu?”
“Banyak, tetapi
gerombolan mereka telah dihancurkan di kademangan Panjer, sehingga orang-orang
ini merasa tenang pergi ke pasar, kamipun jarang sekali pergi ke pasar. Tetapi
hari ini kami memeerlukan pergi untuk melihat-lihat keadaan setelah gerombolan
perampok itu dihancurkan”
“Apakah yang sering
terjadi?”
“Mereka menyamun dan
bahkan kadang-kadang merampas di tempat ramai”
“Apakah orang-orang yang
sering menyamun dan merampas itu termasuk gerombolan yang dihancurkan di
kademangan Panjer?”
“Tentu, orang-orang itu
sering menyebut-nyebut nama Sura Branggah, sedangkan pemimpin gerombolan di
Panjer itu juga bernama Sura Branggah”
Tiba-tiba Rembanapun ikut
pula berbicara “Bagaimana ujud Sura Branggah itu menurut bayanganmu?”
Orang itu tidak ada yang
berani menjawab, sementara Rembana sambil tertawa berkata “Kalian keliru,
ternyata Ki Sura Branggah adalah seorang anak muda yang tampan. Nah kalian harus
minta maaf, karena kalian telah menghinanya meskipun baru di dalam bayangan
kalian”
Tetapi Wismaya tiba-tiba
saja berkata “Marilah, matahari telah naik semakin tinggi”
Meskipun demikian Rembana
masih saja berkata “Sudahlah, jangan pikirkan Sura Branggah, Sura Branggah
sendiri akan melupakan kalian, demikian kami lepas dari kerumunan orang-orang
yang tidak sempat masuk ke dalam pasar ini, kami sedang memburu seorang saudagar
emas berlian”
Jantung orang-orang itu
menjadi semakin cepat berdetak, sementara Sasangkapun berkata “Sudahlah beritahu
aku jika kalian melihat atau bertemu orang-orang kaya yang berkeliaran. Tetapi
para prajurit Paranganom itu telah merusak semua rencanaku, mereka tidak
terkalahkan, gerombolanku telah dihancur lumatkan menjadi debu”
Rembana tidak berkata
apa-apa lagi, namun iapun bergegas sambil menuntun kudanya. di belakangnya
Sasangkapun mengikutinya menyusul Wismaya dan Raden Madyasta yang sudah semakin
jauh.
Matahari memanjat langit
semakin tinggi, sinarnya yang semakin panas terasa menusuk kulit. Selembar awan
mengalir tertiup angin dari arah lautan terdorong kearah pegunungan.
Udara yang terbakar oleh
panasnya matahari nampal mengeliat seperti uap air yang mendidih, mengambang
diatas jalan yang akan mereka lalui.
Rembana yang kepanasan
membuka bajunya dibagian dadanya.
Raden Madyasta yang
berkuda di paling depanpun sambil bertanya “Bagaimana dengan kuda-kuda kita?”
“Sudah waktunya
beristirahat, Raden”Sahut Sasangka.
“Kau tahu kudamu yang
sudah waktunya beristirahat?” bertanya Rembana.
“Kuda-kudanya” jawab
Sasangka.
Raden Madyasta dan
Wismaya hanya tersenyum saja. Namun merekapun menyadari, bahwa setelah lewat
tengah hari, maka sebaiknya merekapun berhenti untuk beristirahat, kuda-kuda
merekapun nampak letih dan haus.
Karena itu, ketika mereka
menjumpai sederet kedai di dekat sebuah pasar yang sudah mulai sepi, merekapun
berhenti.
Kepada seorang yang
memang bertugas untuk merawat kuda bagi mereka yang masuk dan makan serta minum
di kedai itu, Wismaya berpesan “Tolong beri minum dan makan kuda-kuda kami”
Orang itu mengangguk
hormat.
Setelah mereka
beristirahat secukupnya, maka Raden Madyasta membayar harga makanan serta
minuman mereka termasuk perawatan kuda mereka sekaligus minta diri untuk
melanjutkan perjalanan.
“Terima kasih, Ki Sanak”
berkata pemilik kedai itu sambil menerima uangnya.
Ketika keempat orang itu
keluar dari pintu kedai itu, mereka melihat dua orang yang sedang mengamati kuda
Raden Madyasta, kuda yang besar dan tegar, memang jarang terdapat kuda sebesar
dan setegar kuda Raden Madyasta.
Raden Madyasta membiarkan
kedua orang itu mengamati kudanya, ia tidak tergesa-gesa membawa kudanya pergi.
Namun beberapa saat
kemudian, telah datang lagi empat orang berkuda, namun kuda-kuda mereka tidak
ada yang sebaik kuda Raden Madyasta.
Seorang yang berwajah
tampan, berkumis tipis dan bermata tajam, bertanya kepada Raden Madyasta “Apakah
ini kudamu anak muda?”
“Ya, Ki Sanak” jawab
Raden Madyasta sambil tersenyum.
“Kudamu bagus sekali,
apakah kau blantik kuda?”
“Bukan, Ki Sanak. Jawab
Raden Madyasta.
“Apakah kerjamu sehingga
kau dapat membeli kuda sebagus ini. lebih bagus dari kuda kawan-kawanmu dan
bahkan lebih bagus dari kudaku”
“Ayahku seorang petani,
Ki Sanak”
“Tentu petani kaya”
“Bukan Ki Sanak, ayahku
seorang petani kebanyakan, kuda ini kami miliki bukan karena orang tuaku kaya,
tetapi karena kuda ini aku terima sebagai hadiah dari pamanku yang kebetulan
juga calon mertuaku”
“Jadi, calon mertuamulah
yang kaya?”
“Sebenarnya juga tidak
kaya, Ki Sanak. Tetapi pamanku adalah penggemar kuda. Ketiga orang ini adalah
calon iparku”
Orang itu memandang
Wismaya, Sasangka dan Rembana berganti-ganti, diluar sadarnya iapun bertanya
“Mereka bertiga?”
“Wajah mereka tidak mirip
yang satu dengan yang lainnya?”
Raden Madyasta
termenung-menung sejenak. Semula ia tidak berpikir sedemikian jauhnya, namun
agaknya orang yang mengajaknya berbicara itu termasuk orang yang teliti
mengamati sesuatu.
Namun Rembanalah yang
menjawab “Kami berbeda ibu, Ki Sanak. Kami bertiga mempunyai tiga orang ibu yang
berlainan”
Orang yang berwajah
tampan itu mengerutkan keningnya, dengan nada dalam iapun berkata “Kalian tahu,
aku adalah seorang yang mempunyai pengaruh yang luas di daerah Pasiraman Barat,
daerah yang diperintah oleh Ki Panji Wirasentika”
“Pasiraman Barat,
bukankah Pasiraman Barat itu termasuk wilayah Paranganom?”
“Ya, aku adalah orang
yang dituakan disana, mungkin karena beberapa kelebihan daridaku, tetapi mungkin
juga karena aku seorang saudagar yang berkecukupan, itulah sebabnya aku bertanya
kepada kalian, apakah kalian blantik kua. Jika kalian blantik kuda, aku ingin
membeli kuda ini”
“Maaf, Ki Sanak” berkata
Raden Madyasta “Aku tidak menjual kudaku”
“Dimanakah rumah kalian?”
bertanya kwb orang yang berwajah tampan itu.
“Kami tinggal di
kaduwang”
“Kaduwang, tlatah
Kateguhan”
“Ya”
Kalian akan pergi
kemana?”
“Kami akan pergi ke
Paranganom, menengok seorang paman kami yang tinggal di Paranganom”
Orang itu mengangguk,
namun tiba-tiba seorang lain yang baru datang kemudian, bertanya “Jadi kau orang
Kateguhan?”
“Ya, kenapa?”
“Banyak wilayah
Paranganom yang telah didatangi perampok, banyak pula jalan-jalan di Paranganom
yang menjadi daerah perburuan bagi para penyamun, semuanya itu terjadi di dekat
perbatasan dengan kadipaten Kateguhan”
Raden Madyasta
termenung-menung sejenak, jika pembicaraan itu berkepanjangan, maka Raden
Madyasta terlanjur mengaku orang Kateguhan.
Karena itu, Raden
Madyasta tidak ingin terlibat lebih dalam pembicaran yang sulit, maka iapun
berkata “Mungkin Ki Sanak. Tetapi daerah perbatasan di tlatah Kateguhanpun
banyak terjadi kejahatan pula sebagaimana di Paranganom. mudah-mudahan segera
ada kerja sama antara kadipaten Kateguhan dan kadipaten Paranganom untuk
mengatasi kejahatan itu. menurut pendengaranku, sudah ada usaha dari kedua belah
pihak untuk menjepit daerah yang banyak dibayangi oleh kejahatan itu.
“Kau berlagak seperti
seorang Tumenggung di Kateguhan” seorang yang lain menyela “Apa yang kau tahu
tentang kejahatan itu?”
“Aku tidak tahu apa-apa,
Ki Sanak. Yang aku tahu hanyalah kata orang”
Bab 12 – Jari Besi
Orang yang berwajah
tampan itu tersenyum, katanya “Sudahlah, sebaiknya kau jual saja kudamu
kepadaku, maksudku, kita bertukar kuda, berapa aku harus menambah?”
“Tidak, Ki Sanak. Aku
tidak akan menjual atau menukarkan kudaku. Kuda itu adalah kuda pemberian”
“Apalagi kuda itu adalah
kuda pemberian”
“Aku harus menghargai
pemberiannya”
Tiba-tiba saja seorang
yang bertubuh tinggi mendekati Raden Madyasta sambil bertanya “Kau dapat
darimana kudamu itu, He?. Kuda yang baik tentu dapat dikenali asal usulnya,
karena kudamu termasuk kuda yang baik, maka kau tentu mengerti asal usulnya.”
“Sudahlah” berkata Raden
Madyasta “Biarlah aku melanjutkan perjalanan”
“Nanti dulu” berkata
orang yang bertubuh tinggi itu “Kau harus menyebut asal-usul dan keturunan dari
kudamu itu, atau kau mengambil kuda itu dari orang lain”
“Aku curi maksudmu?”
bertanya Raden Madyasta
“Ya”
Tetapi orang yang
bertubuh tinggi itu terkejut, sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba saja
tubuhnya yang besar itu terdorong surut, dengan wajah merah Rembana berkata
“Jangan asal membuka mulutmu Ki Sanak. Siapapun kami, tetapi kami tidak mau
dihina. Jika sekali lagi kau menuduh saudaraku mencuri, maka aku akan menampar
mulutmu”
Sikap Rembana itu memang
mengejutkan, bahkan Raden Madyasta terkejut pula, karena itu, maka dengan serta
merta iapun berkata “Sudahlah, marilah kita melanjutkan perjalanan”
Tetapi yang dilakukan
oleh Rembana itu merupakan api yang sudah menyulut ujung obor belarak, sulit
untuk segera dapat dipadamkan.
Orang yang bertubuh
tinggi besar itu sudah menjadi marah pula. dengan geram iapun berkata “Kau telah
melakukan satu tindakan yang bodoh, kau orang Kateguhan yang tidak tahu diri,
aku akan melumatkan kepalamu. Tidak ada orang yang akan menyalahkan aku, banyak
saksi yang akan dapat mkt, bw kau telah mendahului melakukan serangan”
“Tetapi juga banyak saksi
yang dapat mkt bw kau sudah menghina kami dengan tuduhan mencuri”
“Aku hanya bertanya”
“Itu pertanyaan gila,
karena itu kau harus minta maaf kepada saudaraku”
“Sudahlah, kakang”
berkata Raden Madyasta. “Marilah kita meneruskan perjalanan, jarak perjalanan
kita masih panjang”
“Tetapi aku tidak mau
dihina seperti ini”
“Persetan” geram orang
bertubuh tinggi besar itu “Aku akan mematahkan tanganmu”
“Jika kau ingin mencoba,
aku tidak berkeberatan” suara Rembana bergetar oleh kemarahan yang bergejolak di
jantungnya.
Orang yang berwajah
tampan, yang ingin membeli kuda Raden Madyasta itu sama sekali tidak menahan
kawannya itu, bahkan sambil tersenyum iapun berdesis “Nasibmu buruk orang
Kateguhan, kau sudah berani bermain-main dengan Deriji Wesi”
Ternyata nama orang itu
membuat hati Rembana semakin panas, dengan nada tinggi iapun bertanya “Deriji
Wesi?, kau kira nama yang bagaimanapun juga seramnya dapat membuat hatinya
kuncup?”
“Bersiaplah” Deriji Wesi
itupun menggeram “Aku akan melumatkan kepalamu dengan jari-jariku”
Raden Madyasta
menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sudah tidak mungkin dapat mencegah benturan
kekerasan yang akan timbul.
Sementara itu, orang yang
berwajah tampan yang mengaku saudagar kaya raya dari Pasiraman Barat itu berkata
“Sentuhan jari-jarinya akan sama dengan sentuhan bindi baja, tulang-tulangmu
dapat diremukkannya, kecuali jika kau minta maaf kepadanya. Ia bukan pendendam,
tetapi ia juga bukan orang yang dapat membiarkan begitu saja orang-orang yang
telah menyinggung perasaannya.”
“Cukup” Rembana telah
membentaknya “Aku sudah bersiap, kau mau apa?”
“Mereka belum mengenalmu
Deriji Wesi” berkata saudagar itu “Tetapi harap kalian mengetahui, bw pasiraman
Kulon sama sekali belum pernah dijamah tangan perampok yang manapun juga”
“Itu bukan karena
kelebihan dan kemampuan orang ini, tetapi tentu saja karena pengaruh nama Ki
Panji Wirasentika”
Saudagar itu tertawa,
katanya “Wirasentika itu berada di bawah pengaruhku, aku ingin memperilahkan
kalian berempat bersamaku menemui Ki Panji Wirasentika, kalian akan melihat,
seberapa besar pengarhku atas dirinya”
Sasangkapun menjadi panas
pula, katanya “Kenapa kalian membual di hadapanku?, aku tidak peduli dengan
pengaruhmu, aku tidak ada sangkut pautnya dengan orang-orang Paranganom serta
para perampok itu”
“Sudahlah” meskipun Raden
Madyasta menyadari, bw persoalan sudah terlalu jauh, namun ia masih berkata
“Jika kalian tidak berkeberatan kami pergi, maka tidak akan ada persilisihan
diantara kita”
“Tidak, kalian tidak
boleh pergi begitu saja”
“Cukup” potong Rembana
“Aku sudah bersiap”
Deriji Wesi itupun
bergeser, kawan-kawannya berdiri berkelompok sambil berbicara yang satu dengan
yang lain, ada diantara mereka yang tersenyum, ada yang justru menjadi tegang,
sementara itu, saudagar yang berwajah tampan meskipun umurnya sudah merambat
mendekati pertengahan abad, berkata sambil tertawa, “Buat anak itu jera”
Deriji Wesi itupun segera
melangkah semakin dekat dengan Rembana, namun Rembana yang darahnya cepat
mendidih itu tiba-tiba saja telah meloncat menyerangnya.
Deriji Wesi itu terkejut,
Ia mencoba bergeser untuk menghindar serangan itu, tetapi Deriji Wesi itu tidak
mampu lepas dari garis serangan Rembana.
Dengan derasnya kaki
Rembana telah mengenai pundak orang itu, sehingga Deriji Wesi itupun
terhuyung-huyung beberapa langkah surut.
“Bocah edan” geram Deriji
Wesi yang hampir saja kehilangan keseimbangannya, namun dengan cepat iapun telah
bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.
Demikianlah, maka sejenak
kemudian, keduanya telah bertempur dengan sengitnya, Deriji Wesi yang ternyata
adalah pengawal saudagar itu, memang mempunyai kekuatan yang sangat besar,
sesuai dengan nama sebutannya, maka jari-jari orang itu memang sangat berbahaya,
sehingga karena itu, maka perhatian Rembana tertuju kepada jari-jari lawannya.
Namun dengan keyakinan
yang besar atas kekuatan jari-jarinya itu, maka serangan-serangan Deriji Wesi
itu yang paling berbahaya adalah serangan jari-jarinya yang selalu mengembang.
Tetapi dengan demikian,
dengan cepat Rembana dapat menemukan kelemahan Deriji Wesi itu, bagian-bagian
dari tubuhnya yang lain, sama sekali tidak berbahaya, orang itu kurang
memanfaatkan kakinya,lututnya dan bahkan ada orang yang justru dahinya sangat
berbahaya.
Karena tu, maka Rembana
tinggal berusaha menjinakkan jari-jari tangan orang yang mendapat sebutan Deriji
Wesi.
Rembana benar-benar
tangkas, jari-jari Deriji Wesi tidak pernah menyentuh tubuhnya, bahkan sekali
ketika Deriji Wesi mengayunkan tangannya dengan jari-jari terbuka yang menebas
mengarah ke dadanya, Rembana telah membentur serangan itu, dengan kuda tangannya
Rembana dengan sengaja menahan serangan itu pada pergelangan tangannya.
Ketika benturan itu
terjadi, maka Deriji Wesi itu sempat mengaduh tertahan, namun kemudian sambil
menggeliat ia menjulurkan tangannya dengan jari-jari terbuka untuk mencengkeram
leher.
Rembana sempat mengelak
dengan sedikit merendah dan bergeser kesamping, namun kemudian dengan cepat,
Rembana menjulurkan kakinya mengarah ke lambung.
Deriji Wesi itu ternyata
tidak sempat mengelak, dengan kerasnya kaki Rembana menghantam lambungnya,
sehingga orang itu terpental beberapa langkah.
Deriji Wesi
terhuyung-huyung, hampir saja ia terjatuh, tetapi ternyata ia masih mampu untuk
tegak berdiri.
Deriji Wesi menggeram,
nampak di wajahnya, bw serangan Rembana itu benar-benar menyakitinya, bahkan
kemudian nafasnya terasa menjadi agak sesak, tetapi sejenak kemudian iapun sudah
berdiri tegak siap untuk melanjutkan pertempuran.
Wajah Rembana menjadi
tegang, serangan-serangannya memang dapat mengenai lawannya, tetapi daya tahan
orang itu ternyata demikian tingginya, sehingga ia masih mampu bertahan.
Karena itu, maka Rembana
yang sempat sedikit mengedepankan gejolak kemarahannya, justru karena ia dapat
menemukan kelemahan lawannya, telah menjadi semakin panas. Beberapa kali ia
berhasil mengenai lawannya di bagian tubuhnya yang lemah sekalipun, namun orang
itu masih saja tetap berdiri sambil memberikan perlawanan dengan gigihnya.
Dalam pada itu, Deriji
Wesi itu seakan-akan memang telah kehilangna kesempatan. serangan-serangannya
menjadi jarang, bahkan semakin jauh dari sasaran, yang diandalkannya kemudian
adalah daya tahan tubuhnya serta kemungkinan lawannya membuat kesalahan,
sehingga raksasa itu dapat menangkap aggota badan anak muda itu.
Tetapi Rembana cekatan
seperti burung sikatan menyambar bilalang, betapapun Deriji Wesi itu bergerak
dengan cepatnya, namun ia tidak mampu menangkap anggota badan Rembana.
Malah pada kesempatan
lain, Rembana meloncat sambil memutar tubuhnya dan mengayunkan kakinya dengan
derasnya menghantam tubuh Deriji Wesi.
Deriji Wesi
terhuyung-huyung selangkah surut, namun demikian ia berdiri tegak kembali,
serangan Rembanapun telah meluncur pula dengan cepatnya, sekali lagi Rembana
meloncat sambil berputar, sekali lagi kakinya terayun mengenai kening.
Deriji Wesi mencoba
bertahan, tetapi Rembana bagaikan anak panah yang meluncur, menyerang orang itu
dengan tendangan menyamping kearah dadanya.
Deriji Wesi ternyata
tidak mampu bertahan tetap berdiri, iapun terdorong surut beberapa langkah,
kemudian tubuhnya jatuh terguling di tanah.
Rembana yang marah itu
siap meloncat memburu tubuh yang sudah tidak berdaya lagi, namun Raden Madyasta
telah mendahuluinya, meloncat dan berdiri disisinya.
“Cukuo, sudah selesai
sampai disini” desis Raden Madyasta
“Kesombongannya harus
diakhiri”
“Sudah cukup, ini sudah
berakhir” sahut Raden Madyasta
Rembana menggeram, ia
ingin meloncat dan mematahkan jari-jari Deriji Wesi itu.
“Aku ingin membuktikan,
bw jari-jarinya sama sekali tidak berarti bagiku, meskipun ia disebut Deriji
Wesi”
“Sudahlah” berkata Raden
Madyasta, lalu katanya kadipaten orang yang mengaku saudagar itu “Bawa kawanmu
ini prgi, jangan mencoba menemui kami lagi”
Orang itu memandang Raden
Madyasta dengan sorot mata menyala, beberapa orang kawannyapun agaknya menjadi
marah, namun mereka memang ragu-ragu untuk bertindak, kawannya yang paling
diandalkan itu ternyata tidak mampu melawan salah seorang dari keempat orang
anak muda itu.
Karena orang-orang itu
masih saja berdiri termenung-menung, maka Sasangkapun kemudian berkata “Apakah
kalian ingin melibatkan diri?”
Orang-orang itu terdiam,
namun Raden Madyastalah yang berkata selanjutnya “Pergilah selagi aku masih
dapat mengendalikan saudara- saudaraku, sebaiknya kita tidak bertemu lagi agar
kebencian tidak terungkit di hati kia masing-masing”
Saudagar itupun kemudian
memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk meninggalkan tempat itu.
Dua diantara merekapun
mendekati Deriji Wesi yang berusaha untuk bangkit itu, kemudian menuntunnya ke
kudanya.
“Naiklah” berkata salah
seorang kawannya, kemudian membantunya naik ke punggung kuda.
Yang lainpun kemudian
telah meloncat naik pula, demikian saudagar itu duduk di punggung kudanya, iapun
berkata “Pertemuan ini memberi kesan buruk kepadaku anak-anak muda” berkata
orang itu.
“Apakah ini merupakan
ancaman?” bertanya Sasangka.
“Mudah-mudahan kalian
tidak tidak berniat lewat Pasiraman Barat dalam perjalanan kalian ke Paranganom”
Rembanalah yang menyahut
dengan lantangnya “Siapkan orang-orangmu, aku akan pergi ke Paranganom lewat
Pasiraman Kulon”
“Suaramu seperti geludug
mangsa ketiga, tetapi aku yakin, bw hujan tidak akan turun.
“Bukankah kau sengaja
memancing agar kami benar-benar lewat Pasiraman Kulon?, kau berusaha menyinggung
perasaan kami, agar dengan hati yang panas kami benar-benar lewat Pasiraman
Kulon, agaknya kau berhasil Ki Sanak, kami benar-benar merasa tersinggung, kami
tidak mau dikatakan menjadi puas, karena pancinganmu berhasil, kau tentu mengira
betapa dungunya kami.”
Wajah saudagar itu
menjadi tegang, tetapi pada sorot matanya nampak betapa kemarahan telah menyala
di dadanya.
Tanpa berkata apa-apa
lagi, maka orang itupun memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk bergerak
meninggalkan tempat itu.
Raden Madyasta serta
ketiga senapati muda itupun memandang mereka sampai menghilang di tikungan.
“Sebaiknya kita mengambil
jalan lain, kakang” berkata Raden Madyasta.
“Tidak Raden” jawab
Rembana “Kita akan meneruskan perjalanan kita lewat Pasiraman Kulon”
“Agaknya orang-orang itu
benar-benar tidak akan membiarkan kita lewat tanpa mengganggu, sementara itu,
perjalanan kita masih cukup jauh, jika kita harus berhenti lagi di Pasiraman
Kulon, maka kita akan kemalaman di jalan”
“Kita dapat bermalam
dimana saja, Raden”
“Apakah kita merasa perlu
melayani orang-orang itu?”
“Raden, ada dua alasan,
kenapa aku mengusulkan meneruskan perjalanan lewat Pasiraman Kulon, sebenarnya
bukan semata-mata karena kita tersinggung oleh ancamannya, tetapi kita akan
dapat mengetahui apakah benar Ki Panji Wirasentika berada di bawah pengaruh
orang itu, jika benar, maka Ki Panji Wirasentika sudah tidak lagi menjalankan
tugasnya dengan baik, bukankah hal seperti itu harus diketahui oleh Kangjeng
Adipati di Paranganom”
Raden Madyasta itupun
mengangguk-angguk, katanya “Ya, kau benar kakang, dalam kedudukannya, Ki Panji
Wirasentika tidak boleh berada di bawah pengaruh siapapun juga, ia harus berdiri
tegak pada kedudukannya itu, jika ia sudah berada di bawah pengaruh seseorang,
maka jalan pemerintahannyapun akan menjadi timpang”
“Karena itu, bukankah
sebaiknya kita meneruskan perjalanan lewat Pasiraman Kulon?”
Raden Madyasta
mengangguk-angguk, katanya “Ya, kita akan meneruskan perjalanan lewat Pasiraman
Kulon”
Sejenak kemudian, maka
Raden Madyasta dan ketiga senapati muda itupun sudah bersiap, tetapi mereka
masih sempat minta diri kepada pemilik kedai yang masih saja gemetar itu.
“Maaf Ki Sanak” berkata
Raden Madyasta “Kami sudah membuat keributan disini, tetapi itu bukan maksud
kami. Kami sudah mencoba mengelak, tetapi kami tidak mempunyai pilihan”
Pemilik kedai itu
mengangguk-angguk sambil menjawab “Ya, Ki Sanak. Agaknya memang bukan salah
kalian”
“Terima kasih atas
pengertian Ki Sanak” desis Raden Madyasta kemudian.
Demikianlah, Raden
Madyasta dan ketiga orang senapati muda itupun segera meninggalkan kedai itu,
mereka benar-benar sengaja menempuh perjalanan lewat Pasiraman Kulon meskipun
mereka tahu, bw saudagar tadi itu akan dapat mengganggu perjalanan mereka.
Dalam pada itu, saudagar
itu telah memacu kudanya diikuti oleh orang-orangnya, mereka ingin segera sampai
di Pasiraman Kulon untuk mempersiapkan penyambutan yang meriah terhadap keempat
orang yang mengaku orang Kateguhan itu.
“Mereka harus ditangkap,
kita akan minta Ki Panji Wirasentika untuk menangkap mereka, mereka dapat saja
dicurigai menjadi perintis jalan bagi para perampok yang sering menimbulkan
kerusuhan di Paranganom.
“Apakah kita dapat
membuktikannya?”
“Biarlah mereka
membuktikan bw mereka bukan petugas sandi dari para perampok. Biarlah mereka
menyebutkan siapa mereka sebenarnyanya. Jika mereka akan menengok pamannya di
Paranganom, siapa pula nama pamannya dan di padukuhan mana pamannya itu tinggal.
Dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mereka, maka akan segera dapat
diketahui apakah mereka berkata sebenarnya.
“Jika mereka berkata
sebenarnya?”
“Tuduhannya adalah,
mereka telah menyerang kita, jika perlu biarlah Ki Panji Wirasentika memanggil
pemilik kedai itu serta orang-orang yang dapat menjadi saksi, bw mereka telah
menyerang kita, pemilik kedai itu tentu akan mengiakannya, apalagi di depan Ki
Panji Wirasentika”
Apakah Ki Panji
Wirasentika bersedia melakukannya?”
“Kau tahu pengaruhku atas
Ki Panji Wirasentika?”
“Ya. Aku tahu”
Apakah kira-kira Ki Panji
Wirasentika akan menolak?”
Orang itu menggeleng,
katanya “Tidak”
“Nah, orang-orang itu
tidak akan luput dari hukuman, aku tentu dapat mengusulkan hukuman yang pantas
bagi mereka”
Demikianlah orang-orang
berkuda itu memacu kuda mereka dengan kecepatan tinggi, mereka tidak ingin
disusul oleh keempat anak muda yang akan mereka jerumuskan ke dalam tangan Ki
Panji Wirasentika.
Ketika mereka memasuki
lingkungan Pasiraman Kulon, maka merekapun langsung menuju kr rumah Ki Panji
Wirasentika.
Dalam pada itu, saudagar
tampan itu langsung dapat diterima oleh Ki Panji Wirasentika di pringgitan
rumahnya.
“Silahkan duduk Ki
Saudagar Kertaderma. Biarlah aku berbenah diri sebentar, aku baru memandikan
ayam jago yang Ki Saudagar berikan itu”
“Ki Panji, aku
tergesa-gesa”
“Ada apa?”
“Ada yang penting, aku
ingin Ki Panji menangkap empat orang anak muda dari Kateguhan yang sebentar lagi
akan lewat jalan ini”
“Kenapa?”
“Aku curiga, bw mereka
adalah orang-orang yang di kirim oleh gerombolan perampok yang sedang
berkeliaran di perbatasan untuk melihat-lihat keadaan lingkungan itu dan bahkan
tempat kedudukan Kangjeng Adipati di Paranganom”
“Apakah mereka akan lewat
jalan di rumah ini?”
“Ya, aku sudah bertemu
dengan mereka, mereka justru telah menyerang kami, menurut kata mereka. mereka
berempat akan pergi ke Paranganom.”
“Maksud Ki Saudagar,
mereka akan pergi ke pusat pemerintahan Paranganom?”
“Nanti kita akan tahu,
tetapi aku minta Ki Panji Wirasentika menghentikan mereka dan menahannya. Nanti
kita akan berbicara dengan mereka lebih mendalam”
“Tetapi apkan dasarnya
aku menangkap mereka?”
“Sudahlah Ki Panji, aku
minta Ki Panji menangkap mereka lebih dahulu, nanti kita akan berbicara dengan
mereka”
“Baiklah, aku akan
memerintahkan para pengawal menghentikan mereka dan membawanya kemari”
“Sudah ada empat orangku
di depan regol halaman rumah ini”
Ki Panji Wirasentikapun
segera memanggil pemimpin pengawal yang sedang bertugas di rumahnya, iapun
segera memerintahkan untuk menghentikan empat orang anak muda dari Kateguhan.
“Bawa mereka ke
pringgitan. Aku akan berbicara dengan mereka, di depan regol sudah ada empat
orang pengawal Ki Saudagar Kertaderma, tetapi mereka bukan petugas yang dapat
memaksa keempat orang itu berhenti”
“Baik, Ki Panji”
“Bawa kawan-kawanmu,
mungkin orang itu akan menolak perintahmu dan akan melawan”
Dalam waktu yang singkat,
enam orang pengawal Ki Panji Wirasentika telah berada di jalan di depan
rumahnya. Mereka membawa pedang yang telanjang, seorang diantara mereka membawa
tombak pendek dengan sebuah kelebet kecil yang diikat pada landeannya, sebagai
pertanda, bw mereka adalah petugas yang sedang menjalankan tugas mereka,
sementara itu empat orang pengawal Ki Saudagar masih juga berada di depan regol
dan bahkan bergabung dengan para pengawal Ki Panji Wirasentika.
Sejenak kemudian, maka
seorang dari keempat pengawal Ki Saudagar itupun berkata “Itulah mereka, mereka
benar-benar lewat jalan ini”
“Sombongnya mereka” geram
yang lain.
Pemimpin pengawal yang
membawa tombak pendek dengan kelebet kecil itupun bertanya “Apakah orang-orang
berkuda itu yang kalian maksud?”
“Ya” jawab salah seorang
pengawal Ki Saudagar.
Pemimpin pengawal itupun
segera berdiri di tengah jalan sambil mengangkat tombaknya.
Akhir Jilid 3
Jilid 04
Sebenarnyalah yang
berkuda menuju kearah mereka itu adalah Raden Madyasta bersama ketiga senapati
muda yang menyertainya.
“Kau lihat kelebet kecil
itu, kakang” bertanya Raden Madyasta kepada Wismaya yang berkuda di sebelahnya.
“Ya, Raden”
“Itu adalah pertanda bw
mereka adalah para petugas yang sedang menjalankan tugas mereka”
“Ya” Raden”
“Kita harus berhenti”
“Ya”
Sementara itu, Rembana
justru menyahut “Kita memang akan berhenti Raden, tanpa pertanda itupun kita
akan berhenti”
Raden Madyasta menarik
nafas dalam-dalam.
Beberapa saat kemudian,
keempat orang berkuda itu telah menjadi semakin dekat dengan regol halaman rumah
Ki Panji Wirasentika, karena itu, maka Raden Madyasta yang berkuda di paling
depan telah memberikan isyarat agar mereka berhenti.
Pemimpin pengawal yang
membawa tombak pendek dengan kelebet kecil di landeannya itupun melangkah maju
sambil bertanya “Apakah kalian anak-anak muda dari Kateguhan?”
Raden Madyasta meloncat
turun dari kudanya, demikian pula ketiga senapati muda itu. sehingga dengan
demikian, akan timbul kesan pada para pengawal Ki Panji Wirasentika bw keempat
orang itu mengenal dan telah mengetrap unggah-ungguh. Mereka menghormati para
petugas yang sedang menjalankan tugasnya.
Karena itu, maka pemimpin
pengawal itu, diluar sadarnya telah mengangguk hormat pula.
“Ya, Ki Sanak” jawab
Raden Madyasta ;kami datang dari Kateguhan”
“Maaf, Ki Sanak. Kami
minta Ki Sanak singgah di rumah Ki Panji Wirasentika”
“Ada apa?” bertanya Raden
Madyasta.
Ki Panji Wirasentika
sendiri yang akan mengatakannya kepada Ki Sanak berempat”
“Baiklah” jawab Raden
Madyasta “Kami akan singgah, kami tidak akan dapat menolak perintah itu”
Raden Madyasta dan ketiga
orang senapati muda itupun kemudian telah menuntun kuda mereka, memasuki regol
halaman rumah Ki Panji Wirasentika.
Ki Panji Wirasentika yang
telah selesai berbenah diri, telah duduk di pringgitan bersama Ki Saudagar
Kertaderma dan seorang pengawalnya.
Raden Madyasta dan ketiga
orang senapati muda tidak terkejut melihat kehadiran Ki Saudagar Kertaderma itu.
“Biarlah mereka naik”
berkata Ki Panji Wirasentika kepada pengawalnya.
“Silahkan naik, Ki Sanak”
berkata pengawal yang membawa tombak pendek itu.
Setelah menambatkan
kudanya, maka keempat orang anak muda yang mengaku datang dari Kateguhan itupun
naik ke pendapa dan duduk di pringgitan pula menghadap Ki Panji Wirasentika.
“Anak-anak muda” berkata
Ki Panji Wirasentika “Apakah kau sudah mengetahui alasannya, kenapa kalian harus
singgah di rumahku”
“Sudah Ki Panji” jawab
Raden Madyasta.
“Sudah?, jadi kau sudah
tahu alasannya?”
“Sudah Ki Panji, karena
aku melihat orang itu berada disini”
“Orang itu adalah Ki
Saudagar Kertaderma, ia seorang yang berpengaruh disini, seorang yang kaya raya
dan banyak memberikan sumbangan bagi kesejahteraan rakyat Pasiraman Kulon”
“Sukurlah, kalau begitu”
“Nah, jika Ki Saudagar
Kertaderma berada disini, kenapa kau langsung mengetahui alasannya, kenapa
kalian dihadapkan kepadaku?”
“Ki Panji” berkata Raden
Madyasta, “Ki Saudagar Kertaderma itu tentu sudah bercerita meskipun perlu
dikaji kebenarannya, nah justru aku yang ingin tahu, apa yang telah dikatakan
oleh Ki Saudagar Kertaderma itu kepada Ki Panji”
Wajah Ki Panji
Wirasentika menjadi tegang, sikap anak muda itu menimbulkan kesan tersendiri,
anak muda itu nampaknya terlalu percaya diri.
“Benar anak muda” berkata
Ki Panji Wirasentika “Ki Saudagar Kertaderma memberitahukan kepadaku, bw kalian
telah membuat Ki Saudagar Kertaderma itu curiga, selama ini telah banyak sekali
terjadi tindak kejahatan di kadipaten Paranganom, kejahatan yang sebelumnya
belum pernah ada”
“Kenapa hal itu terjadi
di Paranganom?, Ki Saudagar Kertaderma telah menyalahkan orang-orang Kateguhan,
bukankah itu tidak adil?, justru orang-orang Paranganom sendirilah yang harus
bertanya kepada dirinya sendiri, kenapa akhir-akhir ini telah banyak sekali
terjadi kejahatan?, perampokan, penyamun di bulak-bulak yang sepi, pencurian dan
kejahatan-kejahatan yang lain, bukankah itu membuktikan bw Paranganom tidak
mampu menjaga ketenangan dan ketentraman hidup rakyatnya?, bw para para petugas
di Paranganom tidak mampu melindungi kawula yang tidak berdaya”
“Cukup” bentak Ki Panji
Wirasentika “Kau jangan mencoba menggurui aku, aku adalah Panji Wirasentika yang
berkuasa di Pasiraman Kulon, kalian tidak dapat bersikap seperti itu terhadap
penguasa, jika semula aku masih ingin meyakinkan pengaudan Ki Saudagar
Kertaderma, maka sekarang aku sudah yakin, bw kalian memang harus ditangkap”
Ki Saudagar Kertadermalah
yang harus ditangkap, ia sudah menghina kami, ia menuduh kami mencuri kuda
karena kami tidak mau menjual kuda kami kepadanya”
“Omong kosong” sahut Ki
Saudagar Kertaderma “Kau tidak usah mengada-ada, Ki Panji Wirasentika sendiri
menjadi saksi atas sikapmu itu”
“Pemilik kedai itu dapat
menjadi saksi”
“Baiklah, Ki Panji
Wirasentika tentu akan memanggil pemilik kedai itu untuk bersaksi”
Tiba-tiba Rembana
memotong pembicaraan itu, katanya “Asal kalian tidak menakut-nakuti, ia harus
bersaksi dengan jujur”
Ki Saudagar Kertaderma
itu tertawa, katanya “Tentu, ia akan bersaksi dengan jujur”
Sebelum Rembana menyahut,
Ki Saudagar Kertaderma itupun berkata kepada Ki Panji Wirasentika “Ki Panji,
perintahkan orang-orangmu memanggil pemilik kedai itu”
Ki Panji Wirasentika
termenung-menung sejenak, namun kemudian iapun berkata “Baiklah, aku akan
memerintahkan prajurit untuk memanggilnya”
“Ki Panji” berkata Raden
Madyasta “Apakah Ki Saudagar Kertaderma berwenang memerintahkan Ki Panji
Wirasentika, sedangkan Ki Panji Wirasentika adalah orang yang memerintah daerah
ini atas nama Kangjeng Adipati Prangkusuma?”
Wajah Ki Panji
Wirasentika menjadi tegang, dipandanginya Raden Madyasta dengan tajamnya, dengan
suara yang bergetar iapun berkata “Aku tidak diperintah, aku memang akan
memanggil pemilik kedai itu untuk bersaksi”
Namun Ki Saudagar
Kertaderma itupun berkata “Nah, kau lihat sekarang, siapa aku. Aku dapat bekerja
sama sebaik-baiknya dengan Ki Panji Wirasentika yang berkuasa atas nama Kangjeng
Adipati Prangkusuma, karena itu, kau akan menyesali kebodohanmu anak-anak muda
Kateguhan”
“Ki Panji” berkata Raden
Madyasta seakan-akan tidak mendengar kata-kata Ki Saudagar Kertaderma “Ki Panji
tidak usah memanggil pemilik kedai itu. ia tidak akan dapat besaksi dengan
jujur. Ia tentu akan mengiakan saka jawaban-jawaban yang diinginkan oleh Ki
Saudagar Kertaderma”
“Tidak, aku akan
memanggilnya”
“Biarkan saja Ki Panji
memanggilnya” berkata Sasangka “Kita akan melihat sejauh manakah kebenaran
ditegakkan di Pasiraman Kulon yang merupakan bagian dari kadipaten Paranganom
itu. apakah disini kebenaran benar-benar dijunjung sebagaimana berita yang
terdengar di Kateguhan, atau hanya sekedar dongeng ngayawara yang dihembuskan
oleh angin mangsa ketiga”
Bab 13 – Kena Batunya
“Sikapnya semakin
menyakitkan hati” berkata Ki Saudagar Kertaderma “Kau kira kau dapat berlindung
di bawah kuasa Kangjeng Adipati Kateguhan?, kau telah membuat kesalahan di
Paranganom, maka para pemimpin di Paranganomlah yang akan menentukan nasibmu”
“Anak-anak muda yang
tidak tahu diri” geram Ki Saudagar Kertaderma “Jika benar kau akan pergi ke
Paranganom untuk menengok pamanmu, siapakah nama pamanmu itu dan dimana ia
tinggal, jika kalian berdusta, maka hukuman kalian akan berlipat”
Ternyata Raden Madyasta
telah menjadi jemu untuk berbicara berkepanjangan , sementara itu perjalanan
mereka masih jauh, karena itu, maka iapun menjawab “Kami akan pergi menemui
Kangjeng Adipati di Paranganom”
“Bocah edan, kau sadari
apa yang kau katakan?” bentak Ki Panji Wirasentika.
“Apakah Ki Panji tidak
percaya, bw aku menghadap Kangjeng Adipati di Paranganom?”
Wajah Ki Panji tiba-tiba
menjadi tegang, sementara Ki Saudagar Kertadermapun menyela “Jangan mengada-ada,
kebohonganmu tidak akan dapat menyelamatkanmu”
“Ki Panji, biarlah aku
melanjutkan perjalanan. Panggil pemilik kedai itu dan berbicaralah baik-baik
dengan orang itu”
“Jangan beri kesempatan
Ki Saudagar Kertaderma untuk ikut berbicara dengan pemilik kedai itu, nanti Ki
Panji akan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, siapakah yang bersalah,
jika salah seorang saudara kami telah berkelahi dengan salah seorang
pengawalnya”
“Apa hakmu berbicara
seperti itu?” bentak Ki Saudagar Kertaderma “Ki Panji dapat berbuat apa saja
menurut kebijaksanaannya”
“Aku setuju, karena itu
aku mengusulkan kepada Ki Panji untuk menempuh kebijaksanaan sebagaimana aku
katakan, kau tidak boleh meracuni kebijaksanaan Ki Panji dalam menjalankan
kewajibnya, Ki Panjipun tidak boleh berada di bawah pengaruh siapapun juga,
meskipun ia seorang kaya yang dapat mempergunakan uangnya untuk memaksakan
kehendaknya, jika Ki Saudagar itu berbuat baik, memberi dana bagi daerah ini,
membantu kegiatan dihargai. Tetapi semua yang dilakukannya itu bukannya tanpa
pamrih”
“Cukup” bentak Ki
Saudagar Kertaderma “Kau dapat dihukum seberat-beratnya”
“Yang berhak menjatuhkan
hukuman disini adalah Ki Panji Wirasentika”
“Siapa namamu” tiba-tiba
saja Ki Panji Wirasentika itu bertanya kepada Raden Madyasta.
“Namaku Madyasta”
“Madyasta, Raden Madyasta
maksudmu?”
“Ki Panji pernah
mendengar nama itu”
“Nanti dulu, apakah Raden
putera Kangjeng Adipati Prangkusuma?”
“Ya”
“He” Ki Saudagar
Kertaderma terkejut, seakan ia mendengar petir yang meledak diatas kepalanya.
“Nanti dulu, Raden,
bukankah Raden Madyasta tidak berada di kadipaten?”
“Lebih empat tahun aku
tinggal di sebuah pgn terpencil, belum lama aku pulang”
“Jadi” kata-kata Ki Panji
Wirasentika terputus. Iapun kemudian mengangguk hormat sehingga wajahnya hampir
menyentuh tikar pandan yang digelar di pringgitan. Sambil menunduk iapun berkata
“Ampun Raden, alangkah bodohnya aku, mataku sudah lamur sehingga aku tidak
mengenali Raden lagi, dahulu sebelum Raden berangkat ke padepokan itu, aku sudah
pernah mengenal Raden”
“Ya, demikian aku naik ke
pendapa ini, akupun segera mengenali Ki Panji. Tetapi aku baru tahu, bw nama Ki
Panji sudah berubah”
“Ya, Raden. sejak aku
diangkat menjadi Panji, aku mendapat nama baru, Wirasentika”
“Aku mengenal Ki Lurah
Panji Wiradadi”
“Raden benar, namaku
dahulu memang Wiradadi”
“Jadi Ki Panji sekarang
sudah mengenali aku kembali”
“Sudah Raden, sudah”
“Ki Panji yakin bw aku
adalah Madyasta, putera ayahanda Adipati Paranganom?”
“Ya, ya. Aku yakin,
Raden”
“Sukurlah”
“Tetapi Raden telah
menyebutkan bw Raden berempat berasal dari Keduwang, tlaltah kadipaten
Kateguhan”
“Aku berniat untuk
memperpendek persoalan, Ki Saudagar Kertaderma berniat membeli kudaku. Mula-mula
ia menganggap bw kami adalah blantik kuda sebelum Ki Saudagar Kertaderma
bertanya, siapakah kami berempat, bahkan agak memaksa”
Nampaknya Rembana tidak
dapat bertahan untuk berdiam diri saja, karena itu, maka iapun berkata “Bahkan
pengawalnya yang disebutnya Deriji Wesi itu menuduh Raden Madyasta mencuri
kudanya itu. bukankah sangat menyakitkan?, aku tidak dapat membiarkan Raden
Madyasta, putera Kangjeng Adipati Prangkusuma itu direndahkan”
“Aku mohon ampun, Raden.
aku tidak tahu, bw aku berhadapan dengan putera Kangjeng Adipati Prangkusuma”
berkata Ki Saudagar Kertaderma.
“Jadi, kalau kau
berhadapan dengan orang kebanyakan yang tidak berdaya, akan kau perlakukan
dengan sewenang-wenang?”
“Tidak, bukan maksudku”
“Raden” bertanya Ki Panji
Wirasentika “Siapakah ketiga anak-anak muda yang menyertai Raden ini?”
“Mereka adalah tiga orang
senapati muda pilihan di Paranganom, mereka adalah senapati yang telah
mengangkat nama baik Paranganom di mata Kangjeng Sultan di Tegal Langkap.
Bersama pasukan mereka, ketiga orang senapati muda ini telah menempatkan diri di
tempat terhormat ketika terjadi perang besar di tepi Bengawan Rahina, mereka
adalah Ki Lurah Rembana Ki Lurah Sasangka dan Ki Lurah Wismaya”
“Aku pernah mendengar
nama-nama itu disebut” berkata Ki Panji Wirasentika “Tetapi baru sekarang aku
dapat mengenal ketiga orang senapati ini”
“Kami hanya sekedar
menjalankan tugas, Ki Panji” sahut Wismaya.
“Tetapi jika Raden
berkenan menjawab, dari manakah Raden bersama ketiga orang senapati muda ini?”
“Kami baru kembali dari
Panjer, Ki Panji”
“Panjer?”
“Kami baru saja mengatasi
gerombolan brandal yang selalu membuat kekacauan di tlatah Paranganom”
“Aku sudah mendengar
kerusuhan di kademangan Panjer, bahkan kami di Pasiraman Kulon, sempat menjadi
cemas menanggapi perkembangan kejahatan yang terjadi di Paranganom akhir-akhir
ini”
“Sekarang Ki Panji tidak
perlu cemas lagi, meskipun pemimpin gerombolan perampok itu belum tertangkap,
tetapi gerombolan itu sendiri telah dapat dihancurkan. Setidak-tidaknya untuk
beberapa lama, gerombolan yang telah dihancurkan itu tidak akan mampu berbuat
apa-apa, sementara itu, setiap kademangan sempat mempersiakan diri
sebaik-baiknya untuk menghadap kemungkinan mendatang”
“Raden hanya berempat?”
“Tidak, selain kami
berempat, masih ada enam orang prajurit yang menyertai kami. Kami masih
meninggalkan mereka di kademangan Panjer”
“Hanya sepuluh orang?,
menurut pendengaran kami, gerombolan perampok itu jumlahnya cukup banyak. Mereka
adalah orang-orang yang tidak lagi menghargai jiwa sesamanya”
“Anak-anak muda
kademangan Panjer ternyata memiliki kemampuan yang tinggi. Karena itu,
bersama-sama mereka, kami dapat menghancurkan gerombolan itu”
Ki Panji Wirasentika
mengangguk-angguk, sekali lagi iapun berkata “Raden, kami mohon ampun, kami
telah melakukan kesalahan yang besar sekali, bw kami telah mengganggu perjalanan
Raden”
“Yang penting bukan
hambatan terhadap perjalanan kami, tetapi tegaknya kedudukan Ki Panji”
“Aku mengerti maksud
Raden”
“Ki Panji telah jatuh ke
bawah pengaruh seorang yang nampaknya menggelar uangnya untuk mendapatkan kesan,
bw ia seorang yang murah hati, tetapi di balik gelar itu, ia meneguk keuntungan
yang jauh lebih besar dari taburan kemurahan hatinya itu”
“Ampun Raden” desis Ki
Panji Wirasentika.
Masih ada kesempatan bagi
Ki Panji, ayahanda bukan seorang yang tidak mau membuat pertimbangan yang adil,
sementara itu, Ki Saudagar Kertaderma perlu mendapat peringatan pula atas sikap
dan tingkah lakunya”
“Akupun mohon ampun
Raden”
“Baiklah” berkata Raden
Madyasta “Kami akan melanjutkan perjalanan kami yang masih panjang”
“Apakah Raden tidak
bermalam disini saja?, jika Raden melanjutkan perjalanan, maka Raden tentu akan
kemalaman di jalan”
“Tidak apa-apa, Ki Panji.
Kami adalah prajurit. kami sudah siap menghadap segala medan”
“Tetapi bukankah lebih
baik bermalam disini daripada di tempat terbuka”
“Bukankah disetiap
padukuhan terdapat banjar?, kami dapat bermalam di banjar-banjar padukuhan”
“Ki Panji, kami mohon
diri, tetapi sebaiknya besok lusa, Ki Panji pergi ke Paranganom menghadap
ayahanda untuk menjelaskan perkembangan daerah ini”
“Baik Raden, besok lusa
aku akan menghadap Kangjeng Adipati Prangkusuma”
“Aku akan mengatakannya
kepada ayahanda”
“Terima kasih Raden”
“Kami akan memantau
perubahan sikap Ki Saudagar Kertaderma, hubungan antara Ki Saudagar Kertaderma
dengan rakyat Pasiraman Kulon serta hubungan Ki Saudagar Kertaderma dengan Ki
Panji Wirasentika”
“Aku berjanji Raden”
Demikianlah, sejenak
kemudian, Raden Madyasta serta ketiga orang senapati muda itu sudah memacu
kudanya meninggalkan rumah Ki Panji Wirasentika.
Sementara itu,
sepeninggal Raden Madyasta, Ki Panji Wirasentikapun berkata dengan nada berat
“Habislah aku sekarang, kenapa Ki Saudagar Kertaderma telah terjerumus dalam
perselisihan dengan putera Kangjeng Adipati?”
“Aku belum pernah
mengenal wajah Raden Madyasta, sementara itu Ki Panji Wirasentika sendiri juga
tidak segera dapat mengenalinya”
“Banyak perubahan telah
terjadi, empat tahun lamanya Raden Madyasta berada di padepokan, kulitnya
menjadi kehitam-hitaman dibakar terik matahari, tubuhnyapun tumbuh dengan cepat,
ia sekarang menjadi seorang anak muda yang tampan dan kekar, meskipun ia
kehilangan warna kulitnya yang kuning bersih, aku tidak akan dapat mengenalinya
jika saja anak muda itu tidak menyebut dirinya”
“Besok lusa aku akan
menghadap, aku akan mohon ampun”
“Aku ikut, Ki Panji”
berkata Ki Saudagar Kertaderma “Aku akan menawarkan apa saja yang dikehendaki
oleh Kangjeng Adipati. bahkan jika Kangjeng Adipati menginginkan sebuah
pasanggrahan di Pasiraman Kulon, di dekat danau Wilis, akan aku buatkan”
“Jika Ki Saudagar
Kertaderma berani menawarkannya kepada Kangjeng Adipati, maka persoalan akan
cepat selesai”
“Benar?”
“Ya, karena Ki Saudagar
Kertaderma akan segera diusir dari kadipaten Paranganom”
“Jadi?”
“Jangan mencoba menyuap
Kangjeng Adipati sebagaimana Ki Saudagar Kertaderma menyuap aku”
“Apa yang harus aku
lakukan?”
“Jika Ki Saudagar
Kertaderma ingin menghadap bersamaku, maka satu-satunya yang dapat kita lakukan
adalah mohon ampun, hanya itu”
“Baiklah, Ki Panji, besok
lusa aku akan ikut menghadap untuk mohon ampun”
Sementara itu, Raden
Madyasta dan ketiga orang senapati muda telah memacu kudanya. betapapun kuda
mereka berlari seperti anak panah yang lepas dari busurnya, namun mereka
benar-benar kemalaman d perjalanan.
Ketika mereka bertiga
sampai di sebuah tebing sungai yang landai, maka merekapun telah membawa
kuda-kuda mereka turun, membiarkan kuda mereka minum, kemudian makan rumput
segar sambil beristirahat.
Sambil duduk diatas batu
besar, Raden Madyasta berkata kepada para senapati “Kita bermalam disini saja”
“Baik Raden”
Malam itu Rembana,
Sasangka dan Wismaya bergantian berjaga-jaga, menjelang fajar, Wismaya telah
membangunkan Rembana dan Sasangka, sedangkan Raden Madyasta telah lebih dahulu
terbangun dan bahkan telah mandi di sejuknya air sungai yang bening itu.
Beberapa saat kemudian,
keempat orang anak muda itu telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Tidak ada lagi yang
menghambat perjalanan mereka yang sudah menjadi semakin dekat dengan pusat
pemerintahan di kadipaten Paranganom.
“Kita akan menghadap
ayahanda” berkata Raden Madyasta.
Ketiga orang senapati itu
hanya mengiakannya saja.
“Kita memang sudah rapi”
berkata Rembana kemudian “Kita sudah mandi dan berbenah diri”
Yang lain tertawa,
Sasangkalah yang menyahut “Menurut pendapatkmu, dengan pakaian ini kita sudah
pantas menghadap?”
“Tentu, jika tidak,
apakah kita harus kembali ke barak dan mengenakan pakaian dengan pertanda
keprajuritan?”
“Tidak usah” sahut Raden
Madyasta “Ayahanda akan mengerti, bw kita baru pulang dari tugas yang menuntut
agar kalian tidak mengenakan pakaian keprajuritan”
“Nah, kau dengar?”
Rembana menyambung.
Sasangka
mengangguk-angguk, katanya “Tetapi jangan menjadi kebiasaan Rembana”
“Kebiasaan apa?”
“Menjalankan tugas tanpa
mengenakan pakaian keprajuritan, dengan demikian kau akan terlalu sering
berkeliaran di pasar”
Wismaya yang agak pendiam
itu tersenyum sambil menyahut “Jika demikian, maka ia akan dapat memungut upeti
dari pada penjual nasi”
Suara tertawapun terburai
berkepanjangan.
Demikianlah, seperti yang
dikatakan oleh Raden Madyasta, maka mereka berempatpun langsung pergi ke dalem
kadipaten untuk menghadap Kangjeng Adipati di Paranganom.
Mereka memasuki halaman
kadipaten ketika matahari sudah mendekati puncak langit, beberapa orang pemimpin
tertinggi di Paranganom baru saja hadir menghadap Kangjeng Adipati sebagaimana
biasanya dilakukan dalam sepekan sekali, untuk membicarakan perkembangan keadaan
terakhir do kadipaten Paranganom. membicarakan pelaksanaan tatanan dan paugeran
yang berlaku. Membicarakan kesejahteraan rakyat Paranganom, ketentraman dan
ketenangan hidup mereka serta persoalan-persoalan lain yang menyangkut sisi-sisi
kehidupan yang lain.
“Apakah pertemuan itu
sudah lama berakhir?” bertanya Raden Madyasta kepada prajurit yang bertugas.
“Belum lama Raden. bahkan
Tumengggung Wiradipa dan Tumengggung Yudapati masih berada di dalem kadipaten.
Tetapi mereka sudah tidak berada di pendapa”
“Jadi paman Tumengggung
Wiradipa dan Tumengggung Yudapati masih berada di dalam?”
“Ya, Raden”
“Terima kasih”
Raden Madyasta dan ketiga
orang senapati muda itupun kemudian telah mengikatkan kuda mereka pada
patok-patok kayu di halaman. kemudian merekapun melingkari pendapa masuk lewat
pintu seketeng, langsung ke serambi kanan. Raden Madyasta tahu, bw di serambi
itulah ayahandanya sering mengadakan pembicaraan-pembicaraan khusus dengan
orang-orang terdekat, terutama Ki Tumengggung Wiradipa dan Ki Tumengggung
Yudapati.
Kedatangan Raden Madyasta
dan ketiga orang senapati muda yang tiba-tiba saja itu memang mengejutkan
Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom serta kedua orang Ki Tumenggung yang
masih menghadap.
“Marilah, Madyasta”
berkata Kangjeng Adipati “Marilah Rembana, Sasangka dan Wismaya”
“Hamba menghadap
ayahanda”
“Mendekatlah, kebetulan
kedua orang pamanmu masih ada disini”
Raden Madyasta dan ketiga
orang senapati mudapun kemudian bergeser mendekat.
“Kapan kalian datang dari
perjalanan tugas kalian?”
“Baru saja, ayahanda.
Kami langsung menghadap ayahanda”
“Jadi kalian baru saja
datang?, kapan kalian berangkat dari sasaran tugas kalian?”
“Kemarin ayahanda, kami
berhenti lama di perjalanan.
“Semalam kau bermalam
dimana?”
“Kami sengaja bermalam di
tempat terbuka, ayahanda”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk, namun kemudian iapun bertanya “Bukankah kalian selamat dalam
perjalanan?”
“Hamba, ayahanda. Kami
selamat dalam perjalanan, meskipun ada sedikit hambatan”
“Madyasta” berkata
Kangjeng Adipati “Jika kau dan ketiga senapati masih merasa letih, kalian aku
perkenankan untuk beristirahat. Nanti kalian dapat menghadap lagi untuk
memberikan keterangan tentang usaha kalian menghadap kerusuhan terutama di
daerah perbatasan”
“Kami tidak terlalu letih
ayahanda. Kami dapat memberikan laporan sekarang”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma termenung-menung sejenak. Dipandanginya keempat anak muda pilihan
itu, agaknya mereka memang tidak merasa terlalu letih. Sikap mereka masih tetap.
Wajah mereka masih terang sekali, nampak senyum menghiasi bibir.
“Baiklah” berkata
Kangjeng Adipati “Jika kalian tidak merasa terlalu letih, akupun tidak
berkeberatan untuk mendengarkan laporan kalian” lalu Kangjeng Adipati itupun
berkata kepada Ki Tumengggung Wiradipa dan Ki Tumengggung Yudapati “Kakang, aku
minta kakang bersabar sebentar, kita dengarkan laporan Madyasta dan ketiga orang
senapati itu”
“Hamba Kangjeng Adipati”
jawab mereka bersamaan.
“Madyasta” berkata
Kangjeng Adipati kemudian “Jika kau memang tidak terlalu letih, berikan laporan
itu sekarang, kami akan mendengarkannya”
Raden Madyasta kemudian
dengan singkat memberikan laporan hasil perlawatannya ke Panjer untuk mengatasi
kemelut yang ditimbulkan oleh gerombolan penjahat. Segerombolan penjahat yang
sebenarnya terdiri dari beberapa kelompok kecil penjahat yang disegani.
Perampok, penyamun,
pencuri yang tangguh, sehingga ada diantara mereka yang dikabarkan mempunyai aji
penglimunan sehingga seakan-akan dapat melenyapkan diri, serta penjahat-penjahat
yang sudah punya nama lainnya. Mereka telah dihimpun oleh seorang yang berilmu
tinggi, yang pengaruhnya sangat besar atas para penjahat itu.
“Namanya Sura Branggah,
ayahanda”
“Jadi para penjahat itu
telah dihimpun oleh Sura Branggah”
“Ya. Ayahanda. Kami
berhasil menghancurkan gerombolan itu. tetapi ampun ayahanda. Kami tidak
berhasil menangkap pemimpinnya. Sura Branggah telah luput dari tangan kami”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma mengangguk-angguk, dengan nada datar iapun berkata “Jadi pemimpin
itu lepas dari tanganmu”
“Hamba ayahanda. Sehingga
penulusaran kami terhadap gerombolan itu tidak dapat tuntas. Para penjahat itu
ternyata tidak tahu apa-apa selain menjalankan perintah Sura Branggah”
“Apaboleh buat” desis
Kangjeng Adipati. meskipun hanya sepercik kecil, namun terasa ungkapan
penyesalan Kangjeng Adipati Prangkusuma.
“Kami mohon ampun,
ayahanda. Kami sudah bekerja sama dengan anak-anak muda serta para Bebahu
kademangan Panjer yang mengepung rapat, sementara kami berempat melawan mereka,
tetapi Sura Branggah itu tetap saja dapat lolos”
“Apakah kau sudah
berbicara dengan para penjahat yang tertangkap?”
“Sudah ayahanda. Tetapi
seperti yang hamba katakan, mereka tidak tahu apa-apa”
“Meskipun demikian,
Madyasta, bagaimana menurut kesimpulan yang kau tarik. Apakah tindak kejahatan
yang timbul kebanyakan di perbatasan dengan Kateguhan itu ada hubungannya dengan
kadipaten Kateguhan atau bahkan ada kesengajaan dari para pemimpin di Kateguhan
dalam hubungan kehadiran bibimu Raden Ayu Prawirayuda serta Rantamsari di
kadipaten ini?”
“Tidak seorangpun
diantara mereka yang tertangkap menyebut hubungan dengan Kateguhan. Mungkin
mereka benar-benar tidak berhubungan dengan orang-orang Kateguhan, tetapi
mungkin juga karena mereka tidak mengetahuinya, itulah sebabnya, maka hamba
sangat menyayangkan, bw pemimpin gerombolan perampok itu tidak dapat tertangkap”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk, tetapi kemudian iapun berkata “sudahlah, nyatanya pemimpin
perampok itu tidak tertangkap, tetapi kekuatan gerombolan itu sudah dapat kau
lumatkan, menurut pendapatku berdasarkan atas laporanmu, untuk beberapa lama
gerombolanan tiu tidak akan segera dapat bangkit. Mereka memerlukan orang-orang
baru yang dapat dihimpun. Orang-orang baru itu tentunya tidak akan sebaik
orang-orang yang lama, karena orang-orang yang lama itu adalah orang-orang pada
pilihan pertama”
“Ya. Ayahanda. Sementara
itu, beberapa kademangan sudah sempat mempersiapkan diri. Enam orang prajurit
yang kami tinggalkan di Panjer, akan dapat membantu mempersiapkan anak-anak
mudanya, bahkan bukan hanya di Kademangan Panjer, tetapi juga
kademangan-kademangan di sekitarnya”
“Baiklah, Madyasta.
sebagian besar dari tugasmu sudah dapat kau selesaikan dengan baik. selanjutnya,
adalah tugas kita semuanya untuk bersiap-siap menghadap kemungkinan-kemungkinan
yang dapat terjadi kemudian. Selama ini kita masih akan berusaha untuk menangkap
pemimpin gerombolan perampok itu”
“Hamba, ayahanda”
“Nah, untuk sementara
laporanmu sudah cukup. Jika kau dan para senapati sudah merasa letih, kalian
dapat beristirahat. Aku mengucapkan terima kasih atas kehadiran kalian. Sejak
semula aku memang yajin, bw bersama Rembana, Sasangka dan Wismaya, kau akan
berhasil”
“Terima kasih atas pujian
ini, kangjeng” Wismaya mengangguk hormat “Sebenarnyanyalah bw kami masih belum
dapat memenuhi tugas kami, karena Sura Branggah sempat meloloskan diri”
“Bukankah kita tidak akan
berhenti sampai sekian?” bertanya Kangjeng Adipati Prangkusuma.
“Ya Kangjeng Adipati”
jawab Wismaya dengan nada dalam.
Demikianlah, maka Raden
Madyasta kemudian telah minta diri bersama ketiga senapati muda itu. sementara
Ki Tumengggung Wiradipa dan Ki Tumengggung Yudapati masih tetap bersama Kangjeng
Adipati di serambi.
Seprninggal Raden
Madyasta dan ketiga orang senapati muda itu, Kangjeng Adipatipun bertanya kepada
kedua Tumenggung yang nsh menghadap itu “Bagaimana pendapat kalian tentang
laporan Madyasta”
Ki Tumengggung Wiradipa
termenung-menung sejenak, dengan agak ragu-ragu, iapun kemudian menjawab
“Kangjeng, semula aku menduga, bw kekacauan yang timbul itu ada hubungannya
dengan orang-orang Kateguhan, mungkin para perampok, penyamun dan pencuri itu
tidak tahu apa-apa. juga hubungan gerakan mereka dengan kepentingan orang-orang
Kateguhan. Sayang sekali bw pemimpin gerombolan itu tidak tertangkap”
“Kangjeng” berkata Ki
Tumengggung Yudapati, “Aku juga menduga bw ada hubungan antara gerakan itu
dengan orang-orang Kateguhan, bahkan mungkin ada hubungannya pula dengan
keberadaan Raden Ayu Prawirayuda serta Raden Ajeng Rantamsari di Paranganom”
Agaknya sulit untuk
mencari antara kekacauan itu dengan keberadaan kakangmbok Prawirayuda, tetapi
kadang-kadang kita memang menghadap persoalan-persoalan yang tidak segera
diketahui hubungannya yang satu dengan yang lain”
“Kangjeng, apakah tidak
sebaiknya para perampok yang tertangkap itu dibawa kemari agar kita dapat
berbicara dengan mereka?”
“Bukankah Raden Madyasta
dan ketiga orang senapati muda itu sudah berbicara dengan mereka”
“Mungkin sikap mereka
akan berbeda, jika mereka berhadapan langsung dengan Kangjeng Adipati”
Kangjeng Adipati
tersenyum, katanya “Baiklah, pada suatu saat aku akan menemui mereka setelah
mereka semuanya dibawa kemari”
“Ya, Kangjeng”
“Tetapi kakang,
sebenarnya ada yang penting yang ingin aku bicarakan dengan kakang berdua”
“Apakah ada perintah yang
harus kami lakukan, Kangjeng?”
“Kakang, aku akan minta
kakang berdua untuk pergi ke Kateguhan”
Kedua orang tumenggung
itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Ki Tumengggung Wiradipapun
bertanya “Apa yang harus kami lakukan di Kateguhan, Kangjeng Adipati?”
“Kalian menghadap angger
Adipati Yudapati”
“Kangjeng Adipati
Yudapati”
“Ya, kalian datang ke
Kateguhan untuk memberitahukan bw ibunda angger Adipati Yudapati, meskipun hanya
ibu tiri, berada di Paranganom”
Kedua Ki Tumenggung itu
mengangguk-angguk, sementara Kangjeng Adipati Prangkusuma berkata selanjutnya
“Tetapi dalam perbincangan kalian dengan angger Yudapati, kalian dapat
menyinggung tentang kerusuhan yang terjadi di Paranganom, tetapi jangan
semata-mata”
“Ya. Kangjeng. Kami tahu
maksud Kangjeng Adipati”
“Nah, pergilah. Kakang
berdua ke Kateguhan”
“Sandika. Kangjeng
Adipati, kami berdua akan melaksanakan perintah Kangjeng Adipati”
“Hari ini kakang dapat
bersiap-siap. Besok pagi kakang berdua berangkat. Aku minta kakang singgah
barang sebentar di kadipaten”
“Hamba Kangjeng Adipati.
hari ini kami akan bersiap-siap. Besok pagi kami berdua akan menghadap sebelum
kami berangkat. Mohon ampun, barangkali Kangjeng akan terpaksa dibangunkan esok
pagi”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma tersenyum, katanya “Setiap hari aku bangun pagi-pagi. Bukankah
kakang berdua mengetahui bw setiap pagi aku berjalan-jalan mengelilingi halaman
kadipaten?”
“Ya, hamba tahu, Kangjeng
Adipati. setiap pagi Kangjeng Adipati berjalan-jalan mengelilingi halaman
kadipaten atau justru berada di sanggar untuk mengasah kemampuan Kangjeng
Adipati yang sulit dicari duanya itu”
Kangjeng Adipati tertawa,
katanya “Kau terlalu memuji kakang, terima kasih”
Demikianlah, maka kedua
Ki Tumenggung itupun segera mohon diri, namun Kangjeng Adipati masih berpesan
“Kakang berdua, temuilah Madyasta. mungkin kakang akan mendapat bekal dari
padanya, karena ia langsung menghadap gerombolan perampok itu bersama ketiga
senapati muda itu.
“Hamba Kangjeng Adipati,
kami berdua malam nanti akan bertemu dan berbicara dengan Raden Madyasta”
“Baiklah, mudah-mudahan
dengan perjalanan kakang berdua ke Kateguhan, kami mendapat bahan lebih banyak
untuk melihat peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di Paranganom”
Sejenak kemudian, kedua
Ki Tumenggung itu telah meninggalkan kadipaten, mereka harus berkemas menjelang
keberangkatan mereka esok pagi ke Kateguhan, karena jarak yang harus mereka
tempuh memerlukan waktu perjalanan hampir sehari penuh.
Seperti pesan Kangjeng
Adipati, maka malam itu kedua Ki Tumenggung menemui Raden Madyasta untuk
mendengar lebih banyak lagi tentang keberhasilan Raden Madyasta menghancurkan
gerombolan perampok itu, namun tidak berhasil menangkap pemimpinnya.
Tidak ada kesan sama
sekali bw para perampok itu mempunyai hubungan dengan kakangmas Adipati
Yudapati” berkata Raden Madyasta kemudian.
Ki Tumengggung Wiradipa
dan Ki Tumengggung Yudapati mendengarkan keterangan Raden Madyasta sama sekali
tidak melihat celah-celah yang dapat dipergunakan untuk mencari hubungan antara
para perampok itu dengan orang-orang Kateguhan.
“Justru para perampok
yang tertangkap itu sebagian mengaku orang-orang Paranganom, bahkan mereka dapat
menunjukkan tempat tinggal mereka jika diperlukan. Sebagian lagi memang
orang-orang yang tinggal di Kateguhan. Tetapi mereka sama sekali terlepas dari
kemungkinan bw mereka memang disusupkan untuk membuat keributan di Paranganom
dengan alasan apapun juga oleh para pemimpin di Kateguhan” berkata Raden
Madyasta lebih lanjut.
Bab 14 - Pengampunan
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayuda hanya mengangguk-angguk saja.
Baru kemudian setelah pembicaraan itu dianggap cukup, maka Ki Tumenggung
Wiradapapun berkata “Baiklah Raden. Besok kami berdua akan pergi ke Kateguhan
menjalankan perintah Kangjeng Adipati Prangkusuma”
Namun Raden Madyastapun
kemudian berkata “Tetapi paman. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada paman
berdua. Ketika aku pulang dan langsung menghadap ayahanda, aku ragu-ragu untuk
mengatakannya. Aku ingin pendapat paman, apakah sebaiknya aku berdiam diri saja
atau aku harus melaporkannya kepada ayahanda”
“Tentang apa Raden?”
bertanya Ki Tumenggung Wiradapa.
“Tentang Ki Panji
Wirasenuka”
“Kenapa dengan Ki Panji
Wirasentika?”
Raden Madyastapun
kemudian menceritakan hambatan yang dialaminya di perjalanan pulang dari Panjer
karena Raden Madyasta telah berpapasan dengan Ki Saudagar Kertaderma yang kaya
raya.
Dengan kekayaannya itu Ki Saudagar Kertaderma telah mempengaruhi Ki Panji
Wirasentika dalam menjalankan tugasnya.
Menurut pendapatku, Ki
Panji Wirasentika sudah menyadari kesalahannva Aku berharap bahwa Ki Panji tidak
akan mengulangi kesalahan itu Sementara itu Ki Saudagar Kertadermapun akan dapat
merubah sikapnya”
“Menurut pendapatku,
Raden” sahut Ki “I\imenggung Sang-gayuda “sikap Ki Panji yang tidak pada
tempatnya itu harus diketahui oleh Kangjeng Adipati”
“Tetapi apakah ayahanda
akan marah dan menjatuhkan hukuman kepada Ki Panji Wirasentika yang menurut
pendapatku, akan segera berubah itu?”
“Aku tidak dapat
mengatakannya. Tetapi kesalahan seperti itu tidak dapat ditutup-tutupi. Jika
kali ini Ki Panji Wirasentika tidak mendapat hukuman atau setidaknya teguran,
maka ia merasa aman untuk menjalankan kesalahan yang sama di kemudian hari”
“Tetapi aku sudah
memeringatkan bahwa kesalahan itu tidak boleh terulang. Jika Ki Panji melakukan
kesalahan lagi, maka bukan saja kedudukannya akan terancam, tetapi ia akan dapat
dihukum.”
“Tetapi sebaiknya angger
melaporkannya kepada ayahanda” berkata Ki Tumenggung Wiradapa “Kangjeng Adipati
cukup bijaksana. Karena itu Raden tidak usah mencemaskan nasib Ki Panji
Wirasentika dan Ki Saudagar Kertaderma.”
“Sebenamya aku sudah
minta mereka, terutama Ki Panji untuk menghadap ayahanda langsung untuk
memberikan laporan tentang dirinya sendiri, tentang pemerintahan yang dijalankan
dan tentang penyalahgunaan kekuasaannya itu.”
“Apakah Ki Panji sanggup
untuk datang menghadap?”
“Agaknya hari ini atau
esok pagi Ki Panji akan menghadap. La tentu tidak akan berani ingkar akan
kesediaannya itu”
“Raden” berkata Ki
Wiradapa “besok aku dan adi Sanggayuda akan pergi ke Kateguhan. Kami adalah
orang-orang tua yang banyak diminta pertimbangan Oleh Kangjeng Adipati. Karena
kami berdua meninggalkan Kadipaten, sebaiknya Raden mendampingi ayahanda esok
pagi jika Ki Panji Wirasentika itu menghadap. Mungkin beberapa orang pemimpin
pemerintahan dan Senapati akan dapat memberikan pertimbangan. Namun se-baiknya
angger sendiri hadir saat Ki Panji itu menghadap”
“Baik, paman.”
“Tetapi sebelumnya ada
baiknya angger memberikan laporan lebih dahulu sebagai pengantar persoalannya
kepada Kangjeng Adipati.”
“Baik, paman. Besok
pagi”pagi aku akan ikut melepas paman berdua pergi ke Kateguhan, sekaligus
memberikan laporan kepada ayahanda tentang Ki Panji Wirasentika”
Ketika malam menjadi
semakin dalam, maka kedua orang Tumenggung itupun minta diri. Mereka harus
mempersiapkan diri menempuh perjalanan panjang esok pagi.
Menjelang fajar dihari
berikutnya, Madyasta telah selesai berbenah diri. Kedua orang Tumenggung yang
akan pergi ke Kateguhan itu tentu juga akan berangkat pagi-pagi sekali, karena
mereka akan menempuh perjalanan jauh.
Sebenarnyalah beberapa
saat kemudian, selagi langit dibayangi oleh wama yang kemerahan, Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda telah datang ke dalem kadipaten.
Ketika Raden Madyasta menerima mereka, maka Ki Tumenggung Sanggayudapun bertanya
“Raden sudah siap sepagi ini. Apakah Radon juga akan pergi”
“Tidak, paman. Tetapi
bukankah aku berjanji untuk ikut melepasa paman pagi ini, sekaligus memberikan
laporan tentang Ki Panji Wlrasentika?”
Kedua orang Tumenggung
itu tertawa pendek.
Sementara itu, seorang
abdi di dalem kadipalen telah memberitahukan kepada Kangjeng Adipati, bahwa Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda telah datang menghadap.
Kangjeng Adipati yang baru berjalan-jalan di halaman belakang kadipaten bersama
Raden Wignyanapun segera pergi menemui Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung
Sanggayuda.
“Maaf kakang Tumenggung
berdua. Aku sengaja tidak mandi lebih dahulu, agar kakang tidak terlalu lama
menunggu.”
“Kami hanya datang untuk
mohon diri, Kangjeng” sahut Ki Tumenggung Wiradapa.
“Baik. Selamat jalan,
kakang Tumenggung berdua. Mudah-mudahan tidak ada hambatan di perjalanan.
Salamku buat angger Adipati Yudapati serta rakyat kadipaten Kateguhan”
Akan kami sampaikan
kepada Kangjeng Adipati Yudapati, Kangjeng”
Sebelum matahari terbit,
keduanya telah meninggalkan gerbang dalem kadipaten Paranganom, dilepas oleh
Kangjeng Adipari sendiri, Raden Madyasta dan Raden Wignyana.
Sejenak kemudian kedua
ekor kuda telah berderap menuju ke gerbang kota. Kemudian, setelah keduanya
berada di luar pintu gerbang, kuda-kuda itupun berlari semakin eepat. Perjalanan
mereka adalah perjalanan yang panjang.
Dalam pada itu, setelah
kedua orang penunggang kuda itu hilang di tikungan, maka Raden Madyasta berkata
kepada ayahandanya “Hamba mohon waktu, ayahanda”
“Ada sesuatu yang ingin
kau bicarakan?”
“Ya, ayahanda”“
“Tentu tentang para
perampok di kademangan Panjer?”
“Bukan ayahanda. Tetapi
juga dalam hubungan perjalanan dari Panjer”
“Bukankah kau tidak akan
pergi ke mana”mana ? Apakah kau akan kembali ke barak para prajurit itu ?”
“Tidak, ayahanda “
“Jika demikian, biariah
aku mandi lebih dahulu.”
“Silahkan, ayahanda.”
Selama ayahandanya mandi,
Raden Madyasta sempat .bercerita kepada adiknya tentang tugas yang diembannya di
Panjer.
“Sayang, kakangmas”
berkata Wignyana “Aku tidak boleh ikut”
“Kita baru saja pulang
dimas. Ayahanda tentu ingin kita berada bersamanyanya. Jika mungkin tentu kita
berdua. Tetapi karena tugas telah memanggil, maka salah seorang diantara kita
harus pergi dan seorang yang lain bersama ayahanda di rumah”
Wignyana tidak menjawab.
Dalam pada itu, ketika
Kangjeng Adipati telah seIesai berbanah diri, maka dipanggilnya kedua orang
puteranya untuk menghadap di serambi samping kanan. Namun Wignyana berkata
kepada ayahadanya “Hamba mohon diri membersihkan diri lebih dahulu ayahanda,
Hamba belum mandi”
Kangjeng Adipati
tersenyum. Ia tahu bahwa sejak menjelang fajar Wignyana bersamanya di halaman
belakang dalem kadipaten.
Yang kemudian duduk
menghadap ayahanda di serambi tinggal Mayasta sendiri.
“Nah, sekarang katakan,
apa yang terjadi dalam perjalananmu dari Panfer “
“Tentang seorang Panji
yang bemama Panji Wirasentika.”
“Wirasentika dari
Pasiramari Kulon maksudmu?”
“Ya, ayahanda”
“Kenapa dengannya?”
“Menurut keterangannya,
ia akan menghadap ayahanda hari ini atau esok”
“Apakah Ki Panji
Wirasentika mempunyai masalah yang tidak dapat dipeeahkannya sendiri sehingga ia
harus menghadap aku ? “
“Ada masalah yang melibat
Ki Panji”
“Katakan.”
“Madyastapun kemudiari
menceritakan apa yang telah terjadi di Pasiraman Kulon. Ki Panji Wirasentika
yang telah kehilangan wibawanya, serta berada di bawah pengaruh Ki Saudagar
Kertaderma.
Kangjeng Adipati
Prangkusuma mendengarkan laporan Raden Madyasta dengan sungguh-sungguh. Namun
kemudian Raden Madyasta itupun berkata “Tetapi peristiwa itu agaknya telah
membuat Ki Panji menyadari kesalahannya. Nampaknya Ki Panji akan segera berubah”
“Kau yakin ?”
“Ya, ayahanda. Karena
itu, jika ayahanda berkenan, biarlah Ki Panji membuktikan janjinya”
Kangjeng Adipati
mengangguk-angguk. Katanya “Aku akan memperhatikan pendapatmu, Madyasta. Jika ia
benat-benar datang menghadap dan melaporkan persoalan yang menyangkut dirinya
dengan jujur, aku akan memberikannya kesempatan. Tetapi jika sampai tiga hari ia
tidak datang, maka aku akan memanggilnya dan memberikan peringatan yang keras
kepadanya. Ia akan ditarik dari Pasiraman Kulon. Bukankah tanggapanku atas
dngkah laku Ki Panji Wirasentika itu cukup adil?”
“Ya, ayah”
“Nah. Kita akan
menunggunya”
“Jika demikian, hamba
mohon diri lebih dahulu. Jika Ki Panji Wirasentika datang, hamba akan ikut
menemuinya.”
Baiklah. Jika ia datang,
aku akan memberitahukan kepadamu nanti.”
Tetapi demikian Raden
Madyasta keluar dari serambi, maka seorang abdi telah menghadap Kangjeng Adipati
untuk memberitahukan bahwa dua orang telah datang untuk menghadap Kangjeng
Adipati.
“Siapa?”
“Ki Panji Wirasentika “
“Ki Panji Wirasentika?”
“Hamba Kangjeng Adipati,
bersama seorang lagi “
“Baik. Persilahkan mereka
duduk di serambi sebelah kiri “
“Hamba Kangjeng “
“Kemudian panggil
Madyasta. Katakan, bahwa Ki Panji Wirasentika sudah menghadap.”
“Hamba Kangjeng”
Demikianlah, sejenak
kemudian, Kangjeng Adipati serta Kaden Madyasta sudah duduk di serambi, menemui
Ki Panji Wirasentika serta Ki Saudagar Kertaderma.
Terberseit sedikit
kelegaan di hati Raden Madyasta. Ayahandanya, Kangjeng Adipati I”rangkusuma akan
memberi kesempatan kepada Ki Panji jika la bersedia datang menghadap dan
memberikan laporan dengan jujur.
Ki Panji Wirasentika dan
Ki Saudagar Kertaderma duduk sambil inenundukkan kepala mereka dalam-dalam.
Keduanya sama sekali tidak berani memandang wajah Kangjeng Adipati
Prangkusuma. Bahkan juga Raden Madyasta.
Dengan nada berat
Kangjeng Adipati Prangkusuma berkata “Ki Panji dan kau Ki Sanak. Selamat datang
di kadipaten Paranganom.”
“Hamba Kangjeng Adipati.
Hamba dan kawan hamba, Ki Saudagar Kertaderma telah menghadap. Kami berdua
mengucapkan terima kasih atas perkenan Kangjeng Adipati menerima kami berdua “
“Hari masih pagi
sedangkan kalian berdua sudah berada disini”
“Hamba datang semalam,
Kangjeng Adipati. Kami berdua bermalam dirumah saudara hamba “
“Nampaknya kalian
mempunyai keperluan yang penting.”
“Raden Madyasta tenlu
sudah memberikan laporan kepada Kangjeng Adipati.”
“Ya. Tetapi aku ingin
mendengar dari Ki Panji Wirasentika, agar dengan demikian aku dapat mendengar
dari kedua belali pihak”
“Ampun, Kangjeng Adipati.
Sebelumnya kami berdua mohon ampun “
“Katakan, Ki Panji”
Ternyata Ki Panji
Wirasentika jujur. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi sehubungan dengan
kehadiran Raden Madyasta di Pasiraman Kulon. Bahkan Ki Panjipun mengaku pula
dengan jujur, hubungannya dengar, Ki Saudagar Kertaderma pengaruh uangnya, serta
pemberian-pemberiannya sehingga mempengaruhi tegaknya jalan pemerintahan yang
dipegangnya atas nama Kangjeng Adipati Prangkusuma.
“Kangjeng Aku .datang
bersama Ki Saudagar Kertaderma itu. Ki Saudagarpun akan menyatakan penyesalannya
kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma”
“Ampun, Kangjeng Adipati,
hamba mohon ampun” ternyata hanya itulah yang terloncat dari bibir Ki Saudagar
Kertaderma.
Kangjeng Adipati
tersenyum. Katanya “Aku senang bahwa kalian berdua bersikap jujur. Berani
mengakui kesalahan yang telah kalian lakukan bersama-sama. Temyata apa yang
dikatakan Madyasta sesuai dengan apa yang kalian katakan.”
“Hamba, Kangjeng. Kami
berdua hanya dapat mohon ampun”
Kangjeng Adipati
Prangkusuma mengangguk angguk. Katanya “Aku hanya dapat memberi kesempaian
kepada kalian sekali saja lagi. Terutama Ki Panji Wirasentika. Kau dapat mencoba
lagi, Wirasentika. Kau akan tetap berada di Pasiraman Kulon. Tetapi jika sekali
lagi kau tergelincir, maka kau akan tamat. Kau tidak akan lagi memimpin
pemerintahan di satu daeiah dimanapun di I”aranganom”
“Hamba Kangjeng Adipati,
hamba berjanji,”
“Aku juga memperingatkan
kau, Ki Saudagar. Jika kau masih berbangga dengan uangmu dan mencoba
mempengaruhi tatanan pemerintahan siapapun yang memegangnya, maka kau akan
diusir dari Paranganom. Pengaruh burukmu itu tentu akan merambat. Kali ini kau
dapat mempengaruhi Ki Panji Wirasentika, sehingga kau mendapat keuntungan jauh
lebih besar dari suap atau apapun namanya yang telah kau berikan. Lain kali kau
akan menyuap lebih banyak lagi petugas dan pemimpin pemerintahan, bukan saja di
Pasiraman Kulon. Tetapi juga para pemimpin Kadipaten Paranganom. Kekayaanmu yang
sudah kau miliki sekarang, akan kau pergunakan sebagal modal untuk mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya apapun caranya. Sementara itu, tentu ada para
pemimpin yang hatinya rapuh, seperti kayu tua yang dimakan rayap”
“Ampun Kangjeng Adipati.
Hamba tidak akan melakukannya lagi.”
“Ki Kertaderma. Aku tidak
akan mencegah kau memutar uangmu, Tetapi dengan cara yang jujur menurut tatanan
dan paugeran”
“Hamba Kangjeng Adipati.”
Dengan menurut tatanan
dan paugeran, kau sudah akan mendapatkan keuntungan yang besar. Kau tidak perlu
berbuat curang tanpa landasan niat baik dalam hubungan dengan sesamamu.”
“Sekali-sekali aku
sendiri akan datang ke Pasiraman Kulon” Sahut Madyasta
“Hamba akan senang sekali
menerima kedatangan Raden Madyasta ke Pasiraman Kulon. Hamba akan menyediakan
semua kebutuhan Raden Madyasta jika ingin bercengkerama di Danau Wilis yang
indah itu. Atau kebutuhan-kebutuhan yang lain”
Ki Panji Wiransentika
menggamit Ki Saudagar Kertaderma. Ki Saudagar memang berpaling. Tetapi ia sama
sekali tidak tanggap. Bahkan iapun berkata “Bahkan apa saja yang diperlukan Ki
Panji Wirasentika tentu aku akan bersedia membantu menyelenggarakannya”
Wajah Ki Panji
Wirasentika menjadi tegang Kangjeng Adi patipun memandang Ki Saudagar dengan
dahi yang berkerut
“Kau sudah mulai lagi, Ki
Saudagar” sahut Raden Madyasta yang menjadi berdebar-debar pula mendengar
pernyataan Ki Saudagar.
Ki Saudagar itupun
terkejut. Wajahnya menjadi tegang, Tetapi nampaknya ia tidak tahu, kesalahan apa
yang telah dilakukan. Karena itu, maka dipandanginya wajah Ki Panji Wirasentika
den-gan debar jantung yang semakin eepat
Sementara itu Raden
Madyasta berkata pula “Kau sudah terbiasa melakukannya, Ki Saudagar. Kau tidak
perlu menyediakan apa-apa buat aku atau orang lain atau siapapun yang datang ke
Pasiraman Kulon dalam rangka tugasnya. Kau masih.juga ingin menunjukkan
pengaruhmu terhadap Ki Panji Wirasentika. Apakah Ki.Panji Wirasentika akan
bersedia menyambut kedatangan para petugas dari Paranganom atau tidak, itu bukan
urusanmu. Jika Ki Panji berniat menyelenggarakan penyambutan, kaulah yang harus
membantu. Bukan justru Ki Panji harus membantumu.”
Wajah Ki
Saudagar.tiba-tiba menjadi pucat. Sementara Raden Madyasta masih berkata
selanjumya “Sikapmu seperti itu harus kau singkirkan, Ki Saudagar. Kau berusaha
menyenangkan hati para pejabat yang datang ke Pasiraman Kulon agar mereka tidak
melihat atau sengaja tidak mau melihat kesalahan, kelicikan dan
kecurangan-kecurangan yang kau lakukan. Itu adalah nodamu yang terbesar.”
“Ampun Raden. Aku mohon
ampun. Tetapi kali Ini aku berkata dengan jujur sejujumya. Meskipun demikian.
jika yang aku katakan itu salah, aku mohon ampun.”
“Karena kau sudah
terbiasa melakukannya, maka kau tentu merasa tidak bersalah. Tetapi sejak
sekarang. kau harus belajar bersikap.Ki Panji Wirasentika bukan pejabat yang
harus melayanimu. Tetapi ia harus melayani orang banyak. Justru orang-orang yang
hidup dalam tataran terendah yang harus mendapat pelayanan yang terbaik”
“YaRaden”
Dalam pada itu, Kangjeng
Adipatipun berkata “Peringatan ini juga berlaku bagi Ki Panji Wirasentika. Aku
sependapat dengan Madyasta. Rakyat kecillah yang harus mendapat pelayanan
terbaik. Bukan orang-orang kaya karena orang orang kaya itu mampu memberikan
upeti kepada Ki Panji.
.
“Hamba mengerti Kangjeng, hamba akan mencobanya di hari-hari mendatang”
“Aku akan sangat
memperhatikan perkembangan tatanan di Pasiraman Kulon, Bahkan bukan hanya
Pasiraman Kulon. Tetapi aku juga akan melihat daerah daerah lain, apakah ada
gejala atau bahkan sudah terjadi, bahwa seseorang yang memerintah atas namaku
jatuh dibawah pengaruh suap seperti yang terjadi pada Ki Panji Wirasentika”
“Hamba Kangjeng Adipati.”
“Baiklah, Ki Panji
Wirasentika. Seperti yang aku katakan, aku akan memberi kesempatan kepada Ki
Panji Wirasentika sekali lagi. Jika Ki Panji gagal, maka Ki Panji aku anggap
melakukan ke-salahan ganda”
Hamba mengucapkan beribu
terima kasih, Kangjeng. Kesempatan ini akan hamba junjung tinggi.”
“Kau juga Ki Kertaderma.
Jika kau melakukan kesalahan lagi, maka kaupun akan aku anggap melakukan
kesalahan yang sangat besar.”
“Ampun Kangjeng. Jika
hamba melakukan kesalahan yang sama, hamba pertaruhkan semua milik hamba. Hamba
akan serahkan semua kekayaan hamba.”
“Jika dianggap adil, kami
dapat mengambil semua kekayaanmu tanpa kau serahkan. Sementara itu, kau akan
diusir pergi dari Paranganom tanpa bekal. Atau di masukkan kedalam penjara untuk
waktu yang sangat lama”.
“Ampun Kangjeng Adipati
hamba mohon ampun. Jangan lakukan itu. Apapun yang Kangjeng Adipati kehendaki,
akan hamba penuhi.”
Ki Panji Wirasentikan
tidak hanya menggenggamnya, tetapi Ki Panji Wirasentika telah memukul punggung
Ki Saudagar.
Sementara Madyasta
memotongnya dengan suara lantang “Ki Saudagar Ucapanmu itu sudah pantas untuk
menjatuhkan hukuman dengan memotong lidahmu. “
Ki Saudagar memandang
Raden Madyasta sekilas. Kemudian berpaling kepada Ki Panji Wirasentika dan
kemudian membungkuk hormat dihadapan Raden Madyasta sambil berkata “Ampun Raden,
Jadi aku harus berbuat apa?”
“Ki Panji “suara Raden
Madyasta menjadi bergetar. Sejak pertemuannya dengan Ki Saudagar, rasa-rasanya
Raden Madyasta sudah menjadi muak “Ajari, apa yang sebaiknya ia lakukan. Jika
sekali lagi ia menawarkan pemberian apapun juga, maka semua kesempatan baginya
akan ditutup”
“Ampun Raden” lalu Ki
Panji itupun berpaling kepada Ki Saudagar “Kau masih saja menyatakan akan
menebus kesalahanmu dengan menawarkan pemberian berupa apapun juga. Janji-janji
semacam itu akan dapat digolongkan suap atau pemberian dengan pamrih. Yang
menerima pemberian itu akan dapat dipersalahkan menyalah gunakan jabatan untuk
menerima pemberian, hadiah dan apapun namanya dari orang lain dengan
maksud-maksud yang tersembunyi, meskipun kadang-kadang yang tersembunyi itu
justru dijelaskan sejelas-jelasnya. “
“Tetapi aku ikhlas Ki
Panji. Aku ikhlas tanpa mempunyai maksud apa-apa”
“Bukannya tidak mempunyai
maksud apa-apa. Kau tawarkan apa saja yang dikehendaki oleh Kangjeng Adipati
itu, tentu dengan maksud agar kesalahanmu dampuni atau setidak-tidaknya dianggap
lebih ringan”
Keringat dingin mengalir
di punggung Ki Saudagar Kertaderma. Dengan suara yang patah-patah iapun berkata
“Tidak. Sama sekali tidak.”
“Sebaiknya kau diam saja,
Ki Saudagar. Semakin banyak kau bicara, aku menjadi semakin muak kepadamu.”
“Baik Raden. Hamba mohon
ampun”
“Sudahlah” berkata
Kangjeng Adipati selanjutnya” semua laporan kalian sudah aku terima Aku melihat
kesungguhan kalian untuk mempergunakan kesempatan yang aku berikan. Nah, apakah
masih ada yang akan kau persoalkan lagi, Ki Panji Wirasentika?”
“Tidak, Kangjeng Adipati.
Hamba datang khusus untuk memberikan pengakuan alas kesalahan-kesalahan yang
telah kami perbuat. Untunglah bahwa Raden Madyasta sempat lewat di Pasiraman
Kulon, sehingga yang terjadi di pasiraman Kulon itu memberikan pengalaman yang
sangat berarti bagi kami, sehingga kami tidak terjerumus lebih dalam lagi
kedalam kenistaan.”
“Jika demikian, maka
pembicaraan kita sudah selesai.”
“Hamba Kangjeng Adipati.
Perkenankanlah kami berdua mohon diri”
“Baiklah.
Berhati-hatilah. Pergunakan kesempatan yang aku berikan itu sebaik-baiknya.
Jangan tersesat lagi.”
“Hamba Kangjeng Adipati.”
Keduanyapun kemudian
telah mohon diri meninggalkan dalem kadipaten
Sepeninggal keduanya, Kangjeng Adipati justru tertawa. Katanya “Ki Saudagar itu
sudah sangat terbiasa dengan cara yang rendah itu, sehingga setiap kali diluar
sadarnya ia selalu melakukannya”
“Aku menjadi sangal muak,
ayahanda”
“Aku mengerti. Tetapi aku
melihay kesungguhan di wajahnya. Ia menjadi sangat ketakutan”
Jantungnya yang berduri
itu sulit untuk dibenahi?
“Ki Panji Wirasentika
akan mengjarinya”
“Atau Ki Panji sendiri
yang justru .terseret ke dalam lumpur itu lagi”
“Aku berharap mereka akan
menjadi baik.
“Mudah-mudahan ayahanda “
“Nah, Madyasta. Kita
hanya dapat menunggu dan memantau jalannya pemerintahan di Pasiraman Kulon.
Tetapi seperti yang aku katakan, jangan hanya Pasiraman Kulon. Tetapi kita harus
mulai mengamati kelancaran jalannya pemerintahan di tempat-tempat yang lain.
Apakah persoalan sebagaimana yang terjadi di Pasiraman kulon itu juga terjadi di
tempat-tempat lain”
“Hamba ayahanda”
Aku akan berbicara dengan
para pejabat pemerintahan di Paranganom. Jika besok atau lusa kakang Tumenggung
Wiradana dan kakangTumenggung Sanggayuda kembali, persoalan ini akan aku angkat
dalam pembicaraan di pertemuan besar yang. di.seleng garakan sepekan sekali itu”
Dalam pada itu, pada saat
Ki Wlradapa dan Ki Sanggayuda berada dalam perjalanan ke kadipalen Kateguhan.
Kuda-kuda mereka berlari kencang. Apalagi jika mereka berada di jalan jalan yang
sepi. Di bulak-bulak panjang atau di padang-padang rumput dan padang-padang
perdu. Merekapun harus melewat lorong-lorong yang melintas didekat hutan yang
lebat. Sekali-sekali mere-ka harus menuruni tebing sungai yang landai. Namun
merekapun harus memanjat bukit-bukit berbatu padas, menuruni lurah yang dalam
sampai ke ngarai yang sangat luas.
Sekali-sekali keduanya
harus berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat, Ketika terik
matahari serasa membakar tubuh, keduanya telah berhenti disebuah kedai yang
cukup besar. Mereka menyerahkan kuda mereka kepada seorang yang memang
ditugaskan untuk merawat setiap kuda yang berhenti di kedai itu, Memberi minum,
makan dan mengikatnya dibawah sebalang pohon yang rindang,
Di kedai itu keduanya
mendengar pembicaraan beberapa orang yang menyatakan kegembiraan mereka, bahwa
Raden Madyasta, putera Kangjeng Adipati Paranganom telah berhasil menumpas para
penjahat. Tetapi sayang, pemimpin penjahat itu tidak dapat di tangkap.
Seorang anak muda yang
bertubuh tinggi, kekar dan seorang lagi yang berbadan agak gemuk, yang duduk
dibelakang orang-orang yang membicarakan keberhasilan Raden Madyasta itu ikut
memperhatikan pembicaraan mereka dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda yang duduk disebelah merekapun
memperhatikan pula, meskipun tidak semata-mata.
Namun tiba-tiba saja anak
muda yang bertubuh tinggi kekar itupun memotong pembicaraan orang-orang itu.
Sambil berdiri, anak muda itupun berkata “Kau bicara tentang apa ? Tentang
ke-berhasilan Madyasta menghancurkan para perampok itu ? Itu se-mua hanya omong
kosong. Saudaraku tinggal di Panjer. Kemarin saudaraku itu datang menengok
keluargaku. Paman itulah yang bercerita, bahwa sesungguhnya yang berhasil
menghancurkan para perampok itu adalah orang-orang Panjer sendiri”
Orang-orang yang sedang
berbicara im berpaling. Namun tiba-tiba saja mereka menjadi gelisah.
“Nah, apa katamu
sekarang. Kalian tidak tahu keadaan yang sesungguhnya, kalian sudah membuat
kesimpulan”
Namun seorang diantara
mereka yang berbicara tentang ke-berhasilan Raden Madyasla itupun berkata “Ki
Sanak. Banyak orang yang mengatakan, bahwa tanpa kehadiran Raden Madyasta yang
membawa beberapa orang prajurit dan Senapati-senapati muda yang perkasa, maka
Panjer akan menjadi debu jika berani melawan. Kakakku juga tinggal di Panjer.
Bahkan bukan hanya kakakku, tetapi setiap orang Panjer telah mengatakannya
demikian. Dua hari yang lain, aku baru saja pergi ke Panjer. Bahkan rasa-rasanya
tanah di kademangan I”anjer itu masih hangat oleh pertempuran antara para
brandal dengan para prajurit dibantu oleh orang-orang kademangan Itu sendiri”
“Apakah sanak kadangmu
ada yang menjadi prajurit yang bahkan telah datang ke Panjer?”
“Tidak ada Ki Sanak “
“Kenapa kau memuji
keberhasilan para prajurit dan Raden Madyasta itu berlebihan ?”
“Aku tidak memujinya
berlebihan. Aku hanya mengatakan
keberhasilan mereka. Kenapa? Apa salahnya ?”
“Kau memang prajurit
Mungkin kau mempunyai saudara perempuan yang kau harapkan dapat menikah dengan
seorang prajurit. Tetapi ketahuilah, bahwa para prajurit termasuk Madyasta itu
tidak banyak berbuat. Mereka hanya berteriak-teriak memberikan aba-aba.
Sementara yang harus bertempur melawan para perampok itu adalah orang-orang
Panjer sendiri”
“Kenapa kau tidak
mengakui keberhasilan mereka ? Kenapa kau agaknya telah membenci para prajurit ?
“
“Aku tidak membencinya.
Aku menanggapi keberadaan mereka dengan wajar. Kaulah yang menjilat mereka,
sehingga bagimu, prajurit adalah sama dengan dewa”
Aku tidak berbicara
tentang dewa. Tetapi aku hanya menceritakan keberhasilan mereka saja”
“Setan kau “geram orang
yang bertubuh tinggi kekar sambil melangkah maju mendekat “Kau jangan membuat
persoalan dengan kami berdua. Kau kenal kami berdua ?”
Justru seorang yang lain
diantara mereka yang membicarakan keberhasilan para prajurit itu menjawab “Maaf
Ki Sanak. Kami tidak ingin terjadi persoalan. Baiklah. Ternyata pendapat kita
tentang prajurit berbeda. Jika demikian, apa salahnya kita.berpijak pada sikap
dan pendirian kita masing-masing,
“Tidak. Aku tidak mau
perbedaan sikap ini dibiarkan begitu saja. Kau harus mengakui bahwa para
prajurit Paranganom itu kerjanya tidak lebih dari berlagak dan merasa dirinya
sebagai pahlawan. Padahal mereka tidak berbuat apa-apa. Segala-galanya mereka
serahkan kepada rakyat sendiri untuk membuat penyelesaian tentang
persoalan-persoalan yang timbul diantara mereka. “
“Baiklah. Silahkan
berpendapat menurut pengalaman Ki Sanak berdasarkan hubungan dan pengamatan
kalian tentang prajurit Paranganom. Kami tidak akan mencampuri pendapat kalian.
Tetapi jangan campuri pula pendapat kami”
“Tidak. Kau harus
mengakui kebenaran pendapat kami. Kami juga harus mengakui kebenaran keterangan
saudaraku yang tinggal di Panjer tentang prajurit-prajurit Paranganom itu”
“Jangan memaksa Ki Sanak”
“Aku memang memaksa.
Kalian mau apa?”
Orang-orang yang
berbicara tentang keberhasilan para prajurit Paranganom itu saling berpandangan
sejenak. Agaknya merekapun tidak menjadi ketakutan meskipun mereka menjadi
semakin gelisah.
Namun tiba-tiba saja
kedua orang anak muda itu berkata lantang “Aku tunggu kalian di halaman”
Kedua orang anak muda itu
tidak menunggu jawaban. Tetapi keduanya segera melangkah ke pintu dan turun ke
halaman.
Beberapa orang yang masih
duduk di dalam kedai itu termangu-mangu sejenak. Seorang diantara mereka berkata
“Apakah kita akan melayani orang-orang itu?”
“Kita tidak dapat
memilih. Merekalah yang menentukan, apakah kita harus melayani mereka atau
tidak” jawab yang lain.
“Aku tidak pemah
berkelahi” berkata seorang yang lain “Jumlah kita lebih banyak”
Ki Tumenggung Wiradapa
yang tidak mengenakan pertanda jabatannya serta pakaian keprajuritannya
mendengar pembicaraan mereka itu dengan gelisah pula. Sementara itu, Ki
Sanggayuda justru sudah memberi isyaral kepada Ki Tumenggung Wiradapa. Tetapi Ki
Tumenggung Wiradapa tidak mengerti maksud isyarat Ki Tumenggung Sanggayuda.
Ki Tumenggung Wiradapa
tidak sempat bertanya karena Ki Tumenggung Sanggayuda Segera bangkit berdiri dan
mendekati orang orang yang kebingungan itu.
“Siapakah mereka?
“bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.
Kami belum mengenal
mereka, Ki Sanak. Tetapi nampaknya mereka adalah anak-anak muda yang tidak
mempunyai pegangan dalam hidupnya. Mereka tentu bagian dari anak-anak muda yang
ketinggalan dari kawan-kawannya. Kemudian mencari kebanggaan lain yang dapat
membuat mereka merasa sejajar den-gan kawan-kawannya itu”
“Aku setuju dengan
pendapat kalian. Karena itu, jika kalian tidak berkeberatan, biarkan kami berdua
bergabung dengan kalian. Kami ingin menjelaskan kepada mereka, apa yang
sebenamya telah terjadi Panjer”
“Apakah Ki Sanak orang
Panjer? Kenapa aku belum pernah mengenal Ki Sanak? Aku sering pergi ke Panjer
ketempat saudaraku yang sudah lama tinggal di Panjer.”.
“Aku bukan orang Panjer,
Ki Sanak. Tetapi ketika peristiwa itu terjadi, saat prajurit Paranganom
menghancurkan para per-rampok, aku berada di Panjer. Aku juga hanya mengunjungi
salah seorang pamanku yang tinggal di Panjer”
“Silahkan, Ki Sanak.
Tetapi pada dasarnya kami bukan orang yang sering berkelahi. Meskipun demikian
kami juga tidak mau harga diri kami terinjak-injak”
Ki Tumenggung Wiradapa
baru tahu, apa yang dimaksud oleh Ki Sanggayuda. Tetapi Ki Tumenggung Wiradapa
meragukan kesabaran Ki Tumenggung Sanggayuda jika ia sudah berhadapan dengan
anak-anak muda yang nampaknya agak bengal itu.
Demikianlah, maka
orang-orang yang telah ditantang dan ditunggu di luar kedai itupun bangkit
berdiri dan bersama-sama melangkah ke pintu. Semuanya ada lima orang. Tetapi
nampaknya lima orang itu tidak akan banyak berarti bagi kedua orang anak muda
yang sudah terbiasa menganggap kekerasan sebagai kawan akrab didalam hidup
mereka.
“Bagus” teriak anak muda
yang agak gemuk “Ternyata kalian berani juga keluar”
“Kami bukan orang-orang
yang senang berkelahi” jawab salah seorang dari mereka.
“Pengeeut. Aku tantang
kalian berlima”
“Sebenarnya tidak ada
persoalan apa-apa diantara kita. Karena itu, kami menganggap bahwa perkelahian
adalah penyelesaian yang berlebihan”
“Aku tidak peduli. Kami
akan berkelahi.”Yang menjawab adalah Ki Tumenggung Wiradapa yang juga sudah
turun dari kedai itu “Ki Sanak. Apakah yang kalian dapatkan dengan berkelahi?”
“Persetan. Kau tidak usah
ikut campur kek”
“Mereka adalah
kemanakanku” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda “aku sudah niinta kepada mereka,
agar mereka tidak usah berkelahi”
“Aku akan berkelahi.
Apakah mereka akan melawan atau tidak, itu adalah urusan mereka. Tetapi kami
berdua tetap akan berkelahi”
“Agaknya kaliah telah
mabuk tuak. “
“Aku tidak mabuk, kau
dengar”
“Anak-anak muda “berkata
Ki Tumenggung Sanggayuda “Aku hanya Ingin menjelaskan apa yang telah terjadi di
Panjer”
“Pergi. Pergi kalian atau
kalian juga akan mengalami perlakuan buruk.”
“Aku ulang sekali lagi.
Mereka adalah kemanakanku. Jika aku harus pergi, aku sama sekali tidak
berkeberatan. Aku akan mernbawa mereka pergi. “
“Bohong. Kau bohong. Aku
melihat saat orang-orang cengeng itu datang dan memasuki kedai ini. Aku melihat
kalian berdua datang. Kalian sama sekali tidak menyapa kelima orang pengeeut
itu. Tiba-tiba saja kau mengaku, bahwa mereka adalah kemanakanmu. “
Ki Tumenggung Sanggayuda
tersenyum. Katanya “Ternyata kau cerdas juga menangkap suasana. Baiklah. Mereka
memang bukan kemanakanku. Tetapi sebaiknya kalian tidak berkelahi. Kami berdua
adalah prajurit Paranganom. Kami tidak merasa sakit hati, meskipun kau tidak
senang dan bahkan mencerca prajurit Paranganom. Namun adalah kewajibanku untuk
mencegah perkelahian. Apalagi perkelahian tanpa sebab yang jelas seperti apa
yang akan kalian lakukan. “
“Kalian tentu berbohong
lagi. Kalian berdua tentu bukan prajurit. Seandainya benar bahwa kalian adalah
prajurit, maka jangan ikut campur.”
Dengarkan kata-kataku.
Bukankah persoalannya sekedar perbedaan pendapat tentang keberhasilan prajurit
Paranganom memberantas sekelompok brandal di Panjer ? Sudahlah. Jangan
dipertajam. Kalau kau menganggap bahwa justru orang-orang Panjer sendiri yang
telah berhasil menghancurkan gerombolan itu, silahkan. Karena pendapat itu tidak
salah. Rakyat Panjer memang telah berjuang untuk menghancurkan gerombolan
perampok itu. Jika orang lain berpendapat, bahwa prajuri Paranganom yang telah
berhasil mengalahkan para perampok itupun benar pula, karena para prajuri
Paranganom telah terlibat dalam pertempuran itu.
“Tetapi Madyasta telah
mengambil keuntungan dari peristiwa itu. Ia mengaku bahwa dirinyalah yang telah
berhasil menghancurkan segerombolan perampok itu”
“Kalau kalian tidak
mengakuinya, tidak apa-apa Jangan menjadi masalah yang dapat menyeret kaliar
kedalam perkelahian yang tidak berarti. “
“Masalahnya bukan sekedar
Madyasta mengaku menjadi pahlawan di Panjer. Tetapi ia sudah melakukan kesalahan
terbesar yang tidak dapat dimaafkan. “
“Kesalahan apa, Ki
Sanak?”
“Sebenarnya apa yang aku
ketahui tentang Panje bukan sekedar ceritera saudaraku yang menengok keluarga.
Tetapi aku sendiri menyaksikannya. Aku adalah kemanakan Demang Panjer. “
“Apakah Ki Demang yang
mengatakan bahwa para prajurit Paranganom tidak berarti apa-apa pada saat
benturan kekerasan melawan para brandal itu terjadi ?”
“Paman Demang Panjer
adalah orang yang tamak. Sebelumnya ia tidak pemah mempersoalkan hubunganku
dengan anak perempuannya. Rara Menur. Tetapi setelah Madyasta berada di
rumahnya, maka aku seakan-akan telah tersisih. Perhatian Rara Menur lebih banyak
tertuju kepada Raden Madyasta, karena ia anak seorang Adipati. Meskipun
demikian, aku tidak takut berhadapan dengan Raden Madyasta. Aku justru ingin
menantangnya dalam perang tanding yang adil. “
Jangan kehilangan akal,
Ki Sanak. Apakah kau yakin bahwa hubungan antara Raden Madyasta dengan anak
Demang Panjer Itu berrsungguh-sungguh”
“la sudah merampas hari
depanku yang manis. Madyasta telah mengoyak mimpi”mimpiku yang indah. Rara Menur
benar-benar telah memalingkan wajahnya dan bahkan menganggap bahwa aku tidak
lebih dari sampah yang harus dibakar.”
“Tenanglah, anak muda.
Raden Madyasta sekarang sudah berada di rumahnya, dalem kadipaten Paranganom. “
“Dengan meninggalkan
racun di jantung Rara Menur, Ki Sanak. Kemarin aku berada di Panjer. Rara Menur
memalingkan wajahnya jika ia bertemu dengan aku. Padahal sebelumnya, Menur
selalu menerima kedatanganku dengan akrab”
Ki Tumenggung Sanggayuda
menarik nafas panjang.
Sementara Ki Tumenggung
Wiradapapun berkata “Anak muda. Biarlah aku menyampaikannya kepada Raden
Madyasta.”
“Bagus. Kau kira aku akan
menjadi ketakutan? Aku tantang ia berperang tanding sampai mati”
“Bukan begitu. Jika aku
menyampaikannya kepada Raden Madyasta, mungkin Raden Madyasta akan dapat memilih
jalan terbaik. Tanpa perang tanding, apalag sampai mati”
“Aku adalah laki-laki
seperti Madyasta pula”
“Tentu. Kau adalah
laki-laki yang gagah berani Tetapi perkelahian tidak selalu dapat menyelesaikan
masalah.”
“Sekarang bersiaplah. Aku
tidak mau berbicara terlalu panjang. “
“Bersikap untuk apa ? “
“Berkelahi. Aku benci
kepada Madyasta. Aku benci kepada semua prajurit Paranganom. Karena disini tidak
ada Madyasta, maka kau akan menjadi sasaran. Jika kau nanti terluka parah, maka
biarlah Madyasta, marah dan datang mencari aku. “
“Jangan begitu anak muda.
Nalarmu terlalu pendek, sehingga kesimpulan yang kau ambilpun tidak tepat.
“Aku tidak peduli.
Nalarku memang pendek. Bersiaplah. Cepat, Sebelum aku mulai”
“Sadari keadaanmu. Sadari
pula ketentuan yang berlaku. Siapa yang melawan petugas akan mendapat hukuman
yang berat “
“Jangan menakut-nakuti
terus-menerus. Aku tidak percaya kalau kalian adalah prajurit. Orang-orang tua
yang tidak tahu diri. Aku akan menghitung sampai sepuluh. Aku akan langsung
menyerang”
“Ki Tumenggung
Sanggayudalah yang kemudian melangkah kedepan sambil berkata “Sabar anak muda.
Bersabarlah sedikit. “
Tetapi anak muda itu
justru sudah mulai menghitung
“Satu, dua, tiga...”
“Tunggu anak muda “
Anak muda itu tidak
mempedulikan lagi. Ia menghitung terus”Ampat, lima.”
Kelima orang yang semula
berselisih dengan kedua orang anak muda itupun menjadi tegang Tetapi Ki
Tumenggung Wiradapa mendekati mereka sambfl berdesis
“Jangan ikut campur, agar
kedua orang anak muda itu tidak mendendam kepada kalian. Dendamnya akan dapat
menumbuhkan sikap yang aneh-aneh”
Sementara itu, anak muda
itu masih menghitung lerus.
Tepat pada hitungan
kesepuluh, anak muda itupun telah meloncat menyerang Ki Tumenggung Sanggayuda.
Namun Ki Tumenggung Sanggayuda telah bersikap menghadapimnya. Ketika anak muda
itu mengayunkan tangannya mengarah ke wajah Ki Tumenggung, maka Ki Tumenggung
itupun telah beringsut setapak sambil memaling wajahnya.
Oleh gerakan yang
sederhana itu, anak muda itupun telah kehilangan sasaran. Tangannya sama sekali
tidak menyentuh kulit Ki Tumenggung Sanggayuda.
Anak muda itupun kemudian
menggeram. Kakinyalah yang kemudian menyambar kearah dada. Tetapi sekali lagi Ki
Tumenggung Sanggayuda beringsut, sehingga serangan anak muda itupun tidak
mengenainya.
“Sudahlah “berkata Ki
Tumenggung Sanggayuda “jangan membuang-buang waktu “
Tetapi anak muda itu
tidak mendengarkannya. Bahkan anak muda itupun berteriak kepada kawannya “Kita
buat orang yang mengaku prajurit ini menjadi jera”
Kawannya yang agak gemuk
itupun mulai bergerak mendekati lingkaran perkelahian.
Kelima orang yang semula
berselisih dengan kedua orang anak muda itu menjadi tegang. Ia tidak melihat
seorang yang lain dari kedua orang yang mengaku prajurit itu bersiap”siap untuk
membantu kawannya.
Sebenarnyalah maka
sejenak kemudian, anak muda yang agak gemuk itupun telah melibatkan diri.
Bersama-sama dengan anak muda yang bertubuh tinggi kekar itu, mereka berkelahi
melawan Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Kalian adalah anak-anak
yang nakal “berkata Ki Tumenggung Sanggayuda sambil meloneat mengambil
jarak.”Aku peringatkan sekali lagi, hentikan sikap kalian yang kalian landasi
dengan penalaran yang pendek itu. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa kalian
berhadapan dengan prajurit Paranganom. Karena itu, jangan melawan. “
Ki Tumenggung Sanggayuda
kemudian menyingkapkan baju untuk menunjukkan timang ikat pinggangnya, pertanda
kepra juritannya yang semula tertutup ujungbajunya yang, panjang
“Bohong. Kau mau
berbohong lagi “bentak anak muda yang bertubuh tinggi dan besar. Katanya
selanjutnya “Semula orang-orang itu kau aku sebagai kemanakanmu. Ternyata kau
bohong. Kemudian kau mengaku prajurit. Itupun bohong pula. Sedangkan timang
pertanda keprajuritan itu dapat kau curi dimana-mana”
“Jangan begitu anak muda.
Aku sudah memperingatkanmu beberapa kali. “
Kau tidak usah
memeringatkan aku. Aku akan mematahkan kaki dan tanganmu. Kemudian aku akan
mengirimmu kepada Madyasta, anak Adipati Prangkusuma yang telah merebut perawan
Panjer dari sisiku”
Ki Tumenggung Sanggayuda
bukan orang yang sabar. Ketika wajahnya menjadi merah, Ki Tumenggung Wiradapapun
sempat berbisik” Adi. Kau berhadapan dengan anak anak yang sedang merengek
karena kehilangan mainan yang disenanginya”
Ki Tumenggung Sanggayuda
menarik nafas dalam-dalam. Namun darahnya yang sudah naik sampai ke kening,
agaknya telah mereda kembali. Dengan demikian, maka iapun sempat mengatur
perasaannya sehingga Ki Tumenggung itu dapat mengendalikan dirinya.
Dalam pada itu, kedua
anak muda itulah yang tidak dapat mengendalikan diri mereka lagi. Bersama-sama
mereka berloncatan menyerang Ki Tumenggung Sanggayuda.
Namun perkelahian itu
tidak berlangsung lama. Ki Tumenggung Sanggayuda yang memiliki pengalaman yang
panjang dalam dunia kanuragan, telah berhasil menyentuh beberapa simpul syaraf
kedua orang anak muda itu. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, ketika
tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi sangat lemah. Bahkan rasa-rasanya untuk
berdiri tegak, mereka sudah tidak mampu lagi.
Ki Tumenggung Sanggayuda
dan Ki Tumenggung
Wiradapapun kemudian membantu kedua orang anak muda itu, memapah mereka dan
meletakkan mereka duduk di sebuah dingklik panjang di depan kedai itu bersandar
dinding.
“Nah, bukankah kita
menjadi tontonan banyak orang? “desis Ki Tumenggung Sanggayuda.
Kedua anak muda itu sudah
tidak berdaya lagi. Bahkan rasa-rasanya mata merekapun selalu akan terpejam.
Kepada keliina orang yang
hampir saja dipaksa untuk berkelahi itu, Ki Tumenggung Wiradapapun berkata
“Pergilah. Bayar harga makanan dan minuman yang kalian ambil, lalu tinggalkan
kedai ini selagi keduanya tidak sepenuhnya sadar apa yang telah. terjadi”
Kelima orang itupun
mengangguk sambil berkata “Terima
kasih, Ki Sanak”
“Biarlah aku mengurus
anak-anak itu”
Bab 15 – Paman Partabawa
Kelima orang itupun
kemudian menemui pemilik kedai yang menjadi gemetar. Membayar makanan dan
minuman mereka. Kemudian merekapun pergi meninggalkan kedai itu. Bahkan beberapa
orang lain yang berada di kedai itupun telah pergi pula setelah membayar harga
makanan dan minuman yang mereka ambil. Bahkan ada diantara mereka yang sebenamya
masih belum selesai.
Beberapa saat kemudian,
kedai itu menjadi lengang. Tetapi masih saja ada yang berdiri agak di kejauhan
untuk melihat apa yang terjadi dengan anak-anak muda yang seperti telah terbius
itu.
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayudapun duduk pula diamben bambu panjang didepan kedai
itu pula. Untuk beberapa saat mereka tidak berbuat apa-apa selain memandang
berkeliling. Melihat orang-orang yang masih berdiri dalam kelompok-kelompok
kecil agak jauh dari kedai itu.
Perjalanan kita telah
terhambat “berkata ki Tumenggung Wiradapa”
“Kita tidak dapat
membiarkan mereka berkelahi dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukannya.
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berdesis “Tetapi apakah benar bahwa
Raden Madyasta telah berhubungan dengan anak gadis Ki Demang di Panjer?”
Kita masih belum tahu apa
yang terjadi sebenarnya kakang. Tetapi jika itu benar, tentu akan menjadi
masalah bagi Kangjeng Adipati. Apakah Kangjeng Adipati akan membiarkan puteranya
yang kelak akan menggantikannya berhubungan dengan seorang gadis anak seorang
Demang?”
Kita tidak akan dapat ikut campur” desis Ki Tumenggung Wiradapa.
“Kecuali jika Kangjeng
Adipati minia pertimbangan kita”
“Ya. Dan itu adalah
mungkin sekali”
Aku juga seorang yang
berasal dari padesan. Bahkan sebuah desa kecil di dekat hutan yang lebat. Aku
merangkak dari lataran yang paling bawah”
“Adi Tumenggung memang
sering merendahkan diri. Adi Tumenggung adalah murid utama dari sebuah padepokan
yang mempunyai nama yang baik di Tegallangkap”
“Aku memang murid dari
perguruan Sela Tangkep. Aku dapat memasuki padepokan itu, karena kebetulan aku
diketemukan oleh seorang Putut yang berpengaruh di perguruan Sela Tangkep.
Kebetulan saja kakang”
“Itu adalah pintu yang
dibukakan oleh Yang Maha Agung bagi adi Tumenggung”
“Ya Wakru itu aku hampir
mati kedinginan. Aku tidak berani pulang, karena aku diancam oleh ayah liriku.
Agaknya ancamannya itu bersungguh-sungguh. Adalah kebetulan, ketika tubuhku
sudah tidak berdaya, menggigil dan bahkan rasa-rasanya tidak dapat lagi untuk
bangkit dan mencari periindungan dari kejamnya udara dingin, Putut itu lewat”
“Bersukurlah”
“Aku memang bersukur bahwa umurkupun masih berkepanjangan sampai sekarang.
Semoga aku diberiNya panjang umur”
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk-angguk.
Sementara itu, kedua
orang anak muda yang masih duduk disamping kedua orang Tumenggung itu sambil
bersandar dinding, bahkan telah tertidur. Namun Ki Tumenggung Wiradapapun
kemudian berkata “Marilah kita melanjutkan perjalanan kita yang masih jauh ini”.
“Mari, kakang. Biarlah
aku membangunkan anak-anak ini lebih dahulu. Kelima orang yang ditantangnya itu
tentu sudah menjadi semakin jauh. Mudah-mudahan anak-anak ini tidak mendendam
mereka berlima”
Kedua orang anak muda ini
mengetahui bahwa kitalah yang telah menjinakkan mereka”
Ki Tumenggung
Sanggayudapun mengangguk-angguk
Sejenak Ki Tumenggung
Sanggayuda memandang berkeliling. Orang-orang yang menonton peristiwa yang
menarik perhatian itu sudah banyak yang pergi. Hanya tinggal satu dua orang saja
yang bertahan untuk melihat, apa yang akan terjadi kemudian dengan kedua orang
anak muda itu.
Sejenak kemudian, Ki
Tumenggung Sanggayudapun segera bangkit berdiri dan melangkah mendekati kedua
orang anak muda yang tertidur itu.
Ki Tumenggung Sanggayuda
kemudian meraba pangkal leher kedua orang anak muda itu berganti-ganti.
Sesaat kemudian, maka
kedua orang anak muda itupun segera terbangun. Dengan sigapnya mereka meloneat
turun dari amben bambu yang panjang. Namun merekapun kemudian berdiri
termangu-mangu melihat kedua orang yang mengaku prajurit itu duduk dengan
tenangnya di amben panjang, di depan kedai.
“Pulanglah. Dimana
rumahmu? bertanya Ki Tumenggung Wiradapa
“Apakah yang terjadi7
Kalian berdua tidur
dengan nyenyak bersandar dinding” Orang yang bertubuh tinggi besar itupun
berkata “Aku harus mengakui keunggulan kalian. Kalian tentu sudah menyentuh
simpul-simpul syarafku sehingga aku tertidur. Tetapi lain kali kalian tidak akan
berhasil. Kau berhasil hanya karena kelengahanku saja”
“Aku tadi sudah berpikir,
apakah kedua orang anak muda ini dibunuh saja disini. Tidak akan ada masalah.
Kami adalah prajurit-prajurit dalam tugas, sehingga tindakan kami akan
teriindunj oleh hak dan wewenang kami di bawah saksi mata yang cukup banyak dan
meyakinkan Kami memang menyesal, kenapa kan tidak melakukannya. Kami mengira
bahwa masih ada jantung yang baik didadamu. Tetapi temyata dadamu berisi
bulu-bulu serigala yang jahat. Tetapi kami berdua belum terlambat Jika kalia
masih ingin mencoba kemampuan kami, prajurit Paranganom silahkan. Jangan menjadi
lengah lagi. Tetapi kali ini kami akan berbuat sesuai dengan kedudukan kami.
Jika kami merasa perlu, kalian akan mati disini”
Anak-anak muda itu memang
menjadi ragu-ragu. Sementara itu, Ki Tumenggung Wiradapapun berkata “Apa yang
kau lakukan, adalah bagian kecil dari apa yang mungkin dilakukan oleh Raden
Madyasta. Tetapi aku. tidak bermaksud bahwa Raden Madyasta dapat berbuat
sekehendak hatinya. Kami akan bertemu dan berbicara dengan ki Demang di Panjer.
Jika Raden Madyasta memang merebut perawan Panjer yang sebelumnya sudah
dipertunangkan dengan kau, atau setidak-tidaknya anak perempuan Ki Demang itu
sudah menyatakan kesediaan menerima kau yang kelak akan menjadi suaminya, maka
kami akan melaporkan kepada Kangjeng Adipati.”
Wajah anak muda itu
menjadi tegang. Namun kemudian berkata lantang “Itu tidak periu “
“Kenapa. Tentu perlu
sekali. Meskipun ia anak seorang Adipati, tetapi jika ia merebut milik orang
lain, maka itu harus dicegah”
Persetan dengan Madyasta”
geram anak muda itu. namun kemudian iapun memberi isyarat kepada kawannya untuk
meninggalkan tempat itu.
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian merekapun
sepakat untuk melanjutkan perjalanan.
Keduanyapun segera minta
diri kepada pemilik kedai: setelah mereka membayar harga makanan yang mereka
pesan..
“Terima kasin, Ki Sanak.
Tidak usah. Kalian juga tidak sempat menikmati makanan dan minuman kami
sebaik-baiknya”
Tetapi Ki Tumenggimg
Waradapa meninggalkan uang
sambil berkata “Mungkin pada kesempatan lain aku akan singgah lagi di kedaimu. “
Demikianlah, maka sejenak
kemudian keduanya telah melanjutkan perjalan mereka. Kepada orang yang memberi
makan dan minum serta merawat kedai mereka selama mereka berada di kedai itu, Ki
Tumenggung Wiradapa juga memberinya uang sekedarnya.
Diperjalanan keduanya
masih berbicara tentang Raden Madyasta yang hatinya telah tersangkut di Panjer.
Dengan nada datar Ki Tumenggung Wiradapapun berkata “Jika benar kata anak muda
itu, maka persoalan yang menyangkut Raden Madyasta itu akan menjadi persoalan
yang bersungguh-sungguh bagi Kangjeng Adipati. “
Apakah kita akan
melaporkannya kepada Kangjeng Adipati sebelum hubungan mereka terlanjur mendalam
? “
“Nanti dulu, adi.
Bukankah kita baru mendengardari anak muda yang mabuk itu. “
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah, kakang. Kita memang tidak seharusnya
terlalu mencampuri persoalan yang terjadi pada keluarga Kangjeng Adipati.
“Soalnya adalah karena
Raden Madyasta kelak akan menggantikan kedudukan Kangjeng Adiapti yang sudah
menjadi semakin tua itu, sehingga dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata
masalah pribadi Kangjeng Adipati. Tetapi masalahnya akan menjadi masalah
kaprajan.
“Kecuali jika Kangjeng
Adipati sendiri mengijinkan. “
“Ya. Mungkin kita sudah
mencemaskan persoalan yang akan diangkat menjadi masalah kaprajan, temyata
Kangjeng Adipati menganggap bahwa hal itu bukan masalah. “
Kedua orang Tumenggung
itupun tertawa.
Demikianlah kuda-kuda
itupun berlari semakin kencang. Mereka telah memilih jalan pintas untuk mencapai
Kateguhan lebih cepat. Mereka melintasi jalan-jalan kecil dan lorong-lorong
sempit Kadang-kadang mereka harus memanjat bukit-bukit kecil berbatu padas.
Bahkan mereka juga melintas bukit kapur yang keputih-putihan Bukit yang sedikit
sekali ditumbuhi perpohonan.
Meskipun demikian,
meskipun mereka sudah melintasi jalan pintas serta melarikan kuda mereka seperti
anak panah, namun perjalanan mereka memang perjalanan yang panjang. Setiap kali,
jika kuda-kuda mereka menjadi letih, maka mereka harus beristirahat.
Ketika senja turun,
mereka baru memasuki jalan yang lebih besar, yang langsung menuju kepintu
gerbang kota yang menjadi pusat pemerintahan bagi kadipaten Keteguhan.
“Jika kita tidak
mengambil jalan pintas, maka kita akan melewati jalan panjang ini. Jalan yang
lebih baik dari jalan yai kita lewati”berkata Ki Tumenggung Sanggayuda
“Ya Tetapi jaraknya jauh
lebih panjang dari jalan yang kita tempuh” jawab Ki Tumenggung Wiradapa
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk kecil. Kuda mereka berlari terus menuju ke pintu gerbang kota.
Ketika malam turun,
keduanya masih berada di punggu kuda mereka. Jika mereka melewati sebuah
padukuhan, maka lampu minyak sudah dinyalakan. Berkas-berkas sinamya mencuat
keluar lewat pintu-pintu yang belum tertutup rapat Sementar ai satu dua oneor
telah dipasang di regol-regol halaman rumah ya terhitung besar dan halaman luas
milik orang-orang berada
“Tidak banyak perbedaan
antara Kateguhan dan Paranganom” berkata Ki Tumenggung Wiradapa.
“Ya. Bahkan kita tidak
akan dapat menyebut perbedaan itu”
“Semula kedua Kadipaten
ini diperintah oleh dua orang bersaudara, sehingga banyak hal nampak bersamaan”
Malampun menjadi semakin
dalam. Di bulak-bulak panjang mereka melihat tanaman padi yang subur sehagaimana
tanan padi di Paranganom. Paripun mengalir gemerieik berseling denj suara angin
yang menguncang dedaunan.
Ki Rangga Wiradapapun
menengadahkan wajahnya Ternyata langit bersih. Bintang-bintang nampak
gemerlapan.
“Angin yang kering” desis
Ki Tumenggung Sanggayuda
“Ya. Nampaknya malam akan
terasa hangat” Keduanya memperlambat kuda mereka ketika mereka memasuki sebuah
padukuhan yang terhitung besar. Dua buah oncor jarak menyala di gerbang
padukuhan.
Di saat mereka memasuki
padukuhan itu, suasananya terasa sepi. Dilangit memang tidak ada bulan, sehingga
tidak ada anak-anak yang keluar yang bermain di halaman
Ketika mereka melewad
sebuah gardu, temyata di gardu itu sudah ada beberapa orang yang sedang
duduk-duduk sambil berbincang.
Derap kaki kuda kedua
orang Tumenggung dari Paranganom itu telah menarik perhatian orang-orang yang
duduk di gardu itu. Demikian kedua orang penunggang kuda im mendekat, maka
merekapun serentak meloneat turun dari gardu.
Seorang diantara
merekapun melangkah maju sambil mengangkat tangannya.
“Berhentilah, Ki
Sanak”berkata orang itu.
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayudapun menghentikan kedua orang penunggang kuda itu.
“Kami orang-orang
Paranganom Ki Sanak. Kami akan pergi ke Kateguhan “
Orang itu mengerutkan
dahinya Sambil mengangkat wajahnya orang itupun berkata “Untuk apa orang
Paranganom pergi ke Kateguhan ? “
Kami ingin menegok
saudara kami yang tinggal di Kateguhan Sudah agak lama kami tidak bertemu. “
Kenapa bukan saudaramu
saja yang pergi ke Paranganom. Bukankah orang Paranganom merasa kakinya kotor
dan gatal jika tersentuh tanah di Kateguhan ?”
Kedua orang Tumenggung im
terkejut. Hampir diluar
sadarnya, Ki Tumenggung Sanggayudapun berkata “Apa maksudmu, Ki Sanak?”
“Apakah pantas
orang-orang Paranganom pergi ke Kateguhan ? Bukankah orang-orang Paranganom
merasa derajadnya lebih tinggi dari orang-orang Kateguhan?”
“Siapakah yang mengatakan
seperti itu, Ki Sanak. Serta sejak kapan ada perasaan semacam im tumbuh di hati
orang-orang Kateguhan “
“Bertanyalah kepada
dirimu sendiri, Ki sanak. Sejak kapan kalian merasa bahwa kedudukan kalian lebih
tinggi dari orang-orang Kateguhan ? “
Ki Tumenggung Wiradapa
menjawab dengan hati-hati “Ki Sanak di Kateguhan. Kami, orang-orang Paranganom
tidak pernah merasa bahwa kedudukan kami lebih tinggi dari siapapun juga. Bukan
saja dari saudara-saudara kami di Kateguhan. Tetapi juga dari
Kadipaten-kadipaten yang lain di Tegallangkap. Bahkan dengan rakyat diluar
Tegallangkap sekalipun.
Itu yang kau katakan
sekarang, karena kau menjadi ketakutan berhadapan dengan kami. “
“Baik. Baik. Kami memang
ketakutan. Tetapi tidak dalam ketakutanpun kami tidak pernah merasa lebih dari
saudara-saudara kami. “
“Lewatlah. Ternyata bahwa
orang-orang Paranganom adalah orang-orang yang berjiwa kerdil. Mereka hanya
berani menyombongkan dirinya di kandang sendiri. Di Kateguhan mereka merasa diri
mereka lebih kecil dari biji telasih. “
“Ki Sanak “berkata Ki
Tumenggung Sanggayuda “kami tidak pernah merasa lebih besar dari siapapun.
Tetapi kamipun tidak pernah merasa lebih kecil dari siapapun. Di hadapan Sang
Pencipta, kami semua sederajad. “
Seorang yang berambut
ubanan tiba tiba saja tertawa. Katanya “Kalian memang licik, Dalam keadaan yang
gawat kalian berusaha untuk menyelamatkan diri sekaligus menyelamatkan nama baik
kalian Tetapi ketahuilah, bahwa ternyata orang oranj Paranganom adalah
orang-orang yang tidak berharga di mata kami. “
Ki Tumenggung Wiradapapun
menggamit Ki Tumenggung Sanggayuda yang darahnya mulai menjadi panas. Kemudian
Ki Tumenggung Wiradapa itupun berkata “Baik, Ki Sanak. Persoalan ini akan aku
bawa kepada Kangjeng Adipati di Kateguhan agar diketahui bahwa ada perasaan
bermusuhan dari rakyat Keteguhan terhadap rakyat Paranganom. Tetapi itu bukan
salah kalian. Tentu ada orang yang telah meracuni jiwa kalian, sehingga rasa
permusuhan itu timbul. Tetapi ketahuilah, bahwa perasaan seperti yang kalian
katakan itu, tidak ada sama sekali di hati kami. Di hati orang-orang Paranganom.
“
Orang-orang Kateguhan itu
termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Tumenggung Wiradapa berkata selanjutnya
“Kateguhan dan Paranganom pernah diperintah oleh dua orang bersaudara, sebelum
Kangjeng Adipati Prawirayuda wafat, dan kemudian digantikan oleh puteranya
Kengjeng Adipati Yudapati sekarang ini. Bagaimana mungkin kami, orang-orang
Paranganom merasa lebih tinggi derajadnya dari orang-orang Kateguhan. Bahkan
Kateguhan menurut abu dari pimpinan pemerintahannya lebih tua dari Paranganom. “
“Lewatlah” berkata orang
berambut ubanan “mumpung aku menganggap kata-katamu itu nalar. Tetapi mungkin
pendapatku berubah, sehingga akan dapat menyulitkanmu. “
“Terima kasih, Ki Sanak.”
Kedua orang Paranganom
itupun kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Pintu gerbang kota sudah berada
dihadapan hidung mereka. Namun malampun menjadi semakin dalam.
Wayah sepi uwong mereka
memasuki pintu gerbang. Jalan-jalan sudah sepi. Sebuah gardu berada beberapa
langkah dari pintu gerbang. Beberapa orang prajurit berada di gardu itu. Ada
yang duduk terkantuk-kantuk. Tetapi ada yang masih tetap segar mengawasi jalan
yang melintasi pintu gerbang itu.
Seorang prajurit yang
bertugas berdiri dibelakang pintu gerbang itu menghentikan Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Siapakah kalian Ki Sanak
? “berkata prajurit itu.
Kepada para prajurit
kedua orang Tumenggung itu
berkata terus-terang. Ki Wiradapalah yang menjawab setelah turun dari kudanya
“Aku Tumenggung Wiradapa dari Paranganom. Sedangkan kawanku ini adalah
Tumenggung Sanggayuda. Kami mendapat tugas untuk menghadap Kangjeng Adipati
Yudapati.”
“Sekarang ? “
“Tentu tidak. Kami akan
bermalam di rumah saudaraku yang tinggal di Kateguhan. “
Pemimpin sekelompok
prajurit yang mendengar pembicaraan itupun bangkit berdiri dan berjalan
mendekat.
“Untuk apa Ki Tumenggung
berdua menghadap Kangjeng Adipati di Kateguhan ? “
“Ada sedikit persolan
yang harus kami sampaikan, Ki Sanak. “
Aku Lurah prajurit.
.Namaku Prasanta. “
Ki Lurah Prasanta. “
“Ya, Ki Sanak. Apakah
kedatangan Ki Tumenggung berdua menghadap Kangjeng Adipati diperintahkan untuk
membawa surat penantang ? “
“Maksud Ki Lurah ? “
“Apakah Pranganom
menantang Kateguhan untuk berperang ? “
“Aku tidak mengerti
maksud Ki Sanak. Bagaimana mungkin kami menantang perang. Bukankah baik
Paranganom inaupun Kateguhan itu termasuk wilayah Tegallangkap ? Apakah salah
satu diantara kami berani menantang perang terhadap tetangga kami ? Bahkan
saudara kami. Dengan demikian, maka siapapun yang memulainya berarti menantang
kekuasaan Kangjeng Sultan di Tegallangkap “
Ki Lurah Prasanta itu
tertawa. Katanya “Ki Tumenggung masih menghargai hubungan kadang antara
Kateguhan dan Paranganom. “
“Kenapa tidak ? Sudah aku
katakan, bahwa kita berada dalam satu ruang lingkup kekuasaan Tegallangkap. “
“Bagus. Masih ada juga
orang Paranganom yang menyadari keberadaannya di tempat yang sewajarnya. “
“Ki Lurah “berkata Ki
Sanggayuda kemudian “aku tidak mengerti, kenapa orang-orang Kateguhan bersikap
bermusuhan dengan orang-orang Paranganom. Apa salah kami menurut pendapat Ki
Sanak. Jika Ki Sanak bersedia memberitahukan kepada kami, mungkin kami akan
dapat berubah sikap. “
“Sudahlah. Jangan
berpura-pura. Bagi kami, Ki Tumenggung berdua orang diantara sedikit orang yang
menyadari keberadaan dua kadipaten yang masih berada di dalam bingkai
bersaudaraan,. Silahkan berjalan terus”
Ki Wiradapalah yang
menyahut “Terima kasih. Ki Lurah. Kami akan menghadap Kangjeng Adipati esok
pagi, agar kami tidak melanggar tatanan. “
Demikian Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda lewat, maka Lurah prajurit itupun berkata
“Masih ada juga Orang-orang Paranganom yang menghormati hubungan antara
Paranganom dan Kateguhan. Karena mereka berada di Kateguhan. Jika ka yang
berdiri di gerbang kota Paranganom mungkin sikap mereka akan berubah.”
“Mungkin. Tetapi aku
merasakan kesungguh kata-kata mereka berdua. “
Namun tiba-tiba seorang
prajurit bertanya “Ki Lurah. Kenapa tiba-tiba saja kita membenci orang-orang
Paranganom ? Isteriku berasal dari Paranganom. Anak adalah keturunan Kateguhan
separo dan keturunan Paranganom separo. Jika Paranganom dan Kateguhan harus
bermusuhan, maka anakku akan bermusuhan dengan dirinya sendiri”
“Bodoh kau. Anakmu harus
memilih. Menjadi orang Paranganom sepenuhnya atau menjadi orang Kateguhan yang
bulat”
“Tetapi apa sebab
sebenarnya, bahwa kita harus memusuhi Paranganom ? Bukankah Paranganom tidak
pernah berbuat apa-apa ?”
Ki Lurah Prasanta memang
menjadi bingung. Ia tidak tahu, apakah jawab yang harus diucapkan. Tetapi
beberapa orang pemimpin di Kateguhan memang bersikap kurang ramah terhadap
orang-orang Paranganom.
Jika aku tahu alasannya
yang masuk di akalku, maka aku akan menceraikan isteriku dan membuat anakku
menjadi orang Kateguhan yang bulat “
“Jangan “berkata Ki Lurah
Prasanta “jangan ceraikan isterimu meskipun ada alasan yang masuk di akalmu
bahwa Kateguhan harus memusuhi Paranganom.”
“Jika demikian, apakah
Kangjeng Sultan di Tegallangkap akan berdiam diri saja jika terjadi permusuhan
antara dua kadipaten yang termasuk wilayahnya ?”
Itu urusan Kangjeng
Sultan. Aku tidak tahu. Sekarang aku akan beristirahat di gardu”
Ki Lurah Prasanta tidak
menunggu jawaban prajuritnya. Iapun kemudian telah melangkah ke gardu kembali.
Duduk diantara para prajurit yang bertugas. Yang kemudian duduk pula adalah
prajurit yang isterinya orang Paranganom itu.
Dalam pada itu, Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda telah mendekati regol halaman
rumah seorang panian dari Ki Tumenggung Wiradapa yang kebetulan tinggal di
Kateguhan.
“Ada nada permusuhan di
mulut orang-orang Kateguhan” berkata Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Ya. Itu terasa sekali
sejak kita dihentikan oleh orang-orang yang duduk di gardu itu. Bahkan mungkin
sebelumnya”
“Ada apa sebenarnya
dengan orang-orang Kateguhan”
“Nanti aku akan dapat
bericara dengan paman. Mudah-mudahan paman masih belum pikun. Aku sudah agak
lama tidak singgah”
Sejenak kemudian, kedua
orang Tumenggung itu sudah berada di depan regol halaman rumah yang tidak
terlalu luas. Nampak sederhana tetapi terpelihara rapi.
“Inilah rumah pamanku
itu. Mudah”mudahan in”gatan paman yang sudah tua itu masih tetap terang,
sehingga dapat memberikan beberapa keterangan”
“Apakah tidak ada orang
lain di rumah itu ?”
“Masih ada seorang anak
perempuan dan menantunya di rumah paman. Yang lain sudah berumah tangga dan
tinggal di rumah mereka masing-masing”
“Berapa anaknya semua ?”
“Dua belas”
“Dua belas ?”
“Ya”
“Dari seorang ibu ?”
“Ya”
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk-angguk. Katanya “Bibi kakang seorang yang subur. Ia dapat memberikan
duabelas orang anak kepada suaminya”
“Menyenangkan jika mereka
berkumpul. Tetapi sebelumnya, paman dan bibi hampir menjadi putus asa untuk
mendapatkan sumber penghasilan. Sawahnya tidak seberapa banyak. Sementara itu
kebutuhannya setiap had menjadi meningkat semakin tinggi”
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk-angguk. Katanya
“Anakku juga banyak,
kakang”.
Berapa anakmu ? Bukankah
anakmu hanya lima ? Kau seorang Tumenggung. Kau tidak akan niengalami kesulitan
menghidupi isteri dan lima orang anak.”
“Aku memang tidak
kesulitan memberi menka makan serta kebutuhan”kebutuhan yang lain. Tetapi aku
mengalami kesulitan mengurus mereka. Mengendahkan mereka dan mengarahkan hidup
mereka”
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk angguk. Namun kemudian ia pun berkata “Marilah. Mudah-mudahan
kedatangan kita tidak mengejutkannya”
“Aku juga mempunyai
kadang disini, kakang. Jika perlu, kita dapat pergi kesana”
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk sambil menjawab “Baik adi Tumenggung Tetapi agaknya disinipun tidak
akan ada masalah”
Sejenak kemudian maka Ki
Tumenggung Wiradapa itupun mengetuk pintu pringgilan rumiih pamannya yung sudah
tertutup rapat. Tetapi menilik lampu yang menyala di ruang dalam, yang sinarnya
nampak dari celah-celah gebyok kayu, rumah itu tidak sedang kosong.
Sebenarnyalah sejenak
kemudian terdengar suara dari dalam “Siapa diluar ?”
Ki Tumenggung Wiradapa
mengenali suara Itu. Suara pamannya. Karena itu dengan serta-merta lapun
menjawab “Aku paman. Wiradapa”
“Wiradapa ?”
“Ya, paman”
“Wiradapa dari Paranganom
?”
“Ya, paman.”Terdengar
langkah kaki berdesir menuju ke pintu.
Sementara itu terdengar suara yang lain, suara seorang perempuan
“Siapa yang di luar
kang?”
“Anakmu, Wiradapa”
“Wiradapa ? Benar
Wiradapa ?”
“Ya. Aku tidak melupakan
suaranya”
Sejenak kemudian, selarak
pintupun telah diangkat. Demikian pintu terbuka, maka Ki Tumenggung Wiradapa dan
Ki Tumenggung Sanggayuda melihat seorang laki-laki tua dan seorang perempuan tua
berdiri di depan pintu.
“Wiradapa. Marilah,
ngger. Marilah masuk”
“Aku datang bersama
seorang kawanku, paman”
“Kawanmu ?”
“Ya,. Ki Tumenggung Sanggayuda”
“Seorang Tumenggung?
Marilah Ki Tumenggung, marilah. Silahkan duduk. Tetapi maaf Ki Tumenggung.
Rumahku kotor dan barangkali terlalu sempit dan pengab”
“Biarlah kami duduk di
pringgitan saja paman”
“Jangan. Malam-malam
begini anginnya sering menusuk tenggorokan. Masuk sajalah, Duduk di dalam”
Kedua orang Tumenggung
itupun melangkah masuk ke ruang dalam. Sambil melangkah Ki Tumenggung Sanggayuda
berbisik”
“Apakah mereka tidak
tahu, bahwa kakang juga seorang Tumenggung di Paranganom ?”
Ki Tumenggung Wiradapa
tersenyum sambil menggeleng.
“Justru seorang
Tumenggung Wreda”
Ki Tumenggung Wiradapa
masih saja menggeleng. , Ki Tumenggung Sanggayuda menarik nafas panjang. Namun
ia tidak bertanya lagi.
Paman Ki Tumenggung
Wiradapa itupun kemudian telah menyelarak pintunya kembali. Kemudian orang tua
itu melangkah perlahan sambil mempersilakan mereka duduk.
“Silahkan Ki Tumenggung,
silahkan. Kami minta
maaf atas penerimaan yang tidak pantas ini “
Terima kasih, paman. Aku
mengucapkan terima kasih atas kesediaan paman meperima kami malam-malam begini
“sahut Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Kami juga belum tidur,
Ki Tumenggung. Rasa-rasanya ada sesuatu yang memaksa kami untuk tidak segera
masuk kedalam bilik kami. Ternyata malam ini kami mendapat anugerah, menerima
kehadiran seorang Tumenggung”
Ki Tumenggung Sanggayuda
masih akan menjawab. Tetapi Ki Tumenggung Wiradapa mendahuluinya Apakah Liring
sudah tidur paman ?”
“Liring tinggal bersama
suaminya”
“Apakah ia sudah tidak
tinggal di sini lagi ?
“Rumah peninggalan orang
tua suami Liring Itu kosong. Karena itu, mereka terpaksa pindah menunggui rumah
itu. rumah yang lidak dihuni biasanya lekas rusak”
“Jadi paman dan bibi
hanya berdua saja tinggal di rumah sebesar ini ?” bertanya Ki Tumenggung
Sanggayuda.
“Rumah ini tidak terlalu
besar, Ki Tumenggung, Rumah yang sederhana saja”
Tetapi rumah ini tentu
berlebihan bagi paman dan bibi berdua”
Ada dua orang cucu tinggal disini menemani kami berdua”
“Sukurlah” sahut Ki
Tumenggung Wiradapa.
“Wiradapa, seharusnya kau
memberitahukan lebih dahulu kalau kau akan datang bersama seseorang sehingga aku
dapat mempersiapkan tempat sebaik-baiknya. Apalagi sekarang kau datang bersama
seorang Tumenggung”
Tidak apa-apa paman.
Paman dan bibi jangan menjadi terlalu sibuk karena kedatangan kami. Apalagi Ki
Tumenggung Sanggayuda adalah seorang Tumenggung yang baik. Ia lebih banyak
berbaur dengan orang kebanyakan, sehingga Ki Tumenggung Sanggayuda akan segera
dapat menyesuaikan dirinya”
Tetapi bagaimanapun juga
ia adalah seorang Tumenggung”
“Ya, paman. Tetapi selama
ini sikapnya kepadakupun selalu baik. Ia tentu akan bersikap baik pula kepada
paman dan bibi. Ia akan menempatkan dirinya dimana ia berada”
“Baik. baik. Biarlah
bibimu membersihkan bilik sebelah. Bilik yang sebelumnya dipakai oleh Liring dan
suaminya. Ki Tumenggung akan dapat beristirahat di bilik itu nanti. Kau sendiri
dapat tidur di sentong kiri. Ada bakul agar besar dibilik itu. Isinya mangkuk
dan barang-barang bala peeah lainya. Tetapi tidak mengganggu”
“Itu sudah cukup, paman.
Biarlah aku tidur bersama Ki Tumenggung di bilik itu saja. Bukankah ambennya
cukup besar buat kami berdua”
“Jangan degsura Wiradapa.
Apakah pantas kau tidur bersama seorang Tumenggung. Kecuali jika kau
membentangkan tikar di lantai”
“Tidak apa-apa, paman.
Kakang Wiradapa adalah sahabat baikku”
“Tidak Ki Tumenggung. Aku
harus mengajarinya . unggah-ungguh. Ia memang nakal sejak kanak-nakak. Tetapi
jangan degsura”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tidak menyahut. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia merasa segan juga kepada Ki
Tumenggung Wiradapa. Tetapi Ki Tumenggung Wiradapa hanya tersenyum”senyum saja
meliihat sikap Ki Tumenggung Sanggayuda.
Ketika bibinya membawa
tebah sapu lidi masuk ke dalam bilik sebelah, Ki Tumenggung Wiradapapun segera
menyusulnya sambil berkata “Biarlah aku saja yang membersihkan nanti, bibi.
Sekarang sudah malum. Sebaiknya bibi beristirahat saja. Bukankah tadi bibi sudah
akan ke dalam bilik tidur”
“Tidak. Aku belum
mengantuk”“
Tetapi Ki Tumenggung
Wiradapa mengambil tebah sapu lidi itu dari tangan bibinya sambil berkata
“Sudahlah bibi.”.
Bibinya memang
menyerahkan tebah sapu lidi itu Namun iapun kemudian berkata “Baiklah. Jika kau
membersihkan bilik ini, aku aku pergi ke dapur saja”
“Untuk apa ?”
“Aku akan membuat minuman
hangat”
“Tidak usah, bibi. Bibi
tidak usah menjadi sibuk karena kedatangan kami”
“Tidak apa-apa, Wiradapa.
Bukankah sudah sewajarnya jika aku rrienyuguhkan minuman bagi tamu-tamuku?
Apalagi tamuku” sekarang adalah seorang Tumenggung”
Tetapi sudah terlalu
malam bagi bibi untuk berada di dapur”
Bibinya justru tertawa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, bibinya melangkah meninggalkan Ki Tumenggung
Wiradapa langsung pergi ke dapur.
Ki Tumenggung Wiradapa
tidak segera membersihkan bilik itu. Tetapi bersama Ki Tumenggung Sanggayuda ia
duduk di ruang dalam, ditemui oleh pamannya.
“Namaku Ki Partabawa, Ki
Tumenggung. Aku adalah adik dari ibunya Wiradapa”
“Tetapi paman masih
nampak tegar di usia tua. Berapa usia paman sekarang?”
“Umurku hampir delapan
puluh tahun, Ki Tumenggung. Ketika Wiradapa lahir, umurku sudah sekitar duapuluh
tahun. Aku lahir ketika Gunung Mawenang itu meletus. Sungai Kaulan itu banjir
ladu”
“Maksud paman tentu saat
Gunung Mawenang meletus terdahulu. Karena ketika aku berumur sekitar sepuluh
tahun, Gunung Mawenang juga meletus”
“Hanya kecil-kecilan, Ki
Tumenggung: Tetapi ketika aku lahir, umurku waktu itu baru selapan, Gunung
Mawenang meletus dahsyat sekali. Seluruh alam rasa-rasanya telah terguneang.
Sungai Kaulan banjir bandang. Banyak lembu, kerbau dan kambing hanyut. Korban
manusia pada waktu itu lebih dari seratus orang”
“Dahsyat sekali, paman”
“Ya. Sedangkan ketika
angger berumur sepuluh tahun, letusan Gunung Mawenang tidak begitu menakutkan.
Aku ingat waktu itu aku berada di sawah. Memang turun hujan abu. Tetapi sedikit.
Sedangkan pada saat aku lahir, hujan abu membuat han menjadi gelap melebihi
malam”
“Mengerikan, paman”
“Ya. Ibunya Wiradapa itu
sudah dapal berlari lari waktu itu. Sayang, ia meninggal lebih dahulu, Wiradapa
sekarang menjadi yatim piatu. Akulah ganti orang tuanya”
“Ibu meninggal pada usia
hampii delapan puluh. Sedang ayahku meninggal setahun kemudian” sahut Ki
Tumenggung Wiradapa.
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Ki Tumenggung Sanggayuda itu mengangkat
wajahnya ketika la mendengar Ki Partabawa itu berkata “Ki Tumenggung. Seumurku
yang sudah hampir delapan puluh tahun Ini, haru sekali ini aku dikunjungi oleh
seorang Tumenggung. Baik dari Paranganom maupun dari Kateguhan. Tetapi
kehormatan itu akhirnya datang juga. Seorang Tumenggung berkenan hadir dirumahkn
Ini”
“Apakah kakang Wiradapa
tidak sering datang ke”mari? “bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Ya. Wiradapa memang
beberapa kali mengunjungi aku disini. Tetapi ia tidak datang bersama seorang Tu
menggung seperti malam ini. “
Ki Tumenggung Sanggayuda
itupun berpaling kepada Ki Tumenggung Wiradapa yang mengangguk-angguk sambil
tersenyum.
Namun Ki Tumenggung
Wiradapapun segera mengalihkan pembicaraan mereka. Ki Tumenggung Wiradapa mulai
bertanya tentang adik-adik sepupunya yang sudah berumah tangga dan tinggal di
rumah mereka masing-masing.
Mereka sehat-sehat saja.
Sana, adikmu yang sulung itu, anaknya sudah delapan. Tujuh laki-laki dan seorang
perempuan. Justru yang bungsu. Ketika kau datang terakhir kalinya, anaknya baru
enam. “
“Ya, paman. Tetapi istri
Sana waktu itu sudah mengandung tua. “
“Anaknya yang ketujuh. “
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk-angguk.
Ketika pembicaraan mereka
tentang anak-anak Ki Partabawa masih berkepanjangan, Nyi Partabawa telah datang
sambil membawa minuman hangat.
“Silahkan Ki Tumenggung
“Nyi Partabawa mempersilahkan.
Bab 16 – Pertemuan Dengan
Adipati
“TERIMA kasih, Nyi” Ki
Tumenggung Sanggayudapun mengangguk dalam.
Ketiganyapun kemudian
menghirup minuman hangat. Wedang jahe dengan gula kelapa.
Ki Tumenggung Wiradapa
dan ki Tumenggung Sanggayuda yang baru saja menempuh perjalanan panjang, merasa
tubuh mereka yang letih menjadi segar. Sementara itu, Nyi Partabawapun sudah
tidak nampak lagi di ruang dalam.
Ketika mereka sudah
meneguk minuman hangat mereka, maka Ki Tumenggung Wiradapapun mulai mengalihkan
pembicaraan mereka lagi. Ki Tumenggung menceriterakan sikap beberapa orang yang
berada di gardu yang tidak ramah ketika ia dan Ki Tumenggung Sanggayuda lewat.
“Paman pernah menjadi
bebahu kademangan di Kateguhan. Kemudian kedudukan paman telah paman serahkan
kepada Sana, putera paman yang sulung”
Ki Partabawa itu
mengangguk-angguk
“Nah, bagaimana pendapat
paman atas likap mereka yang tiba-tiba saja mempunyai rasa permusuhan dengan
orang-orang Paranganom?“
Ki Partabawa menarik
nafas panjang. Namun iapun berusaha mengelakkan pertanyaan itu. Katanya “
Bukankah kalian masih merasa letih? Sebaiknya kalian pergi ke pakiwan, kemudian
beristirahat. Besok kita akan berbicara lebih panjang”
“Paman “ berkata Ki
Tumenggung Wiradapa “ besok aku harus mengantarkan Ki Tumenggung Sanggayuda
menghadap Kangjeng Adipati di Kateguhan”
“Kangjeng Adipati
Yudapati, maksudmu?“
“Ya, paman.
“Jika demikian, bukankah
lebih baik kau mendengar keterangan dari Kangjeng Adipati sendiri?”
“Kangjeng Adipati
sendiri? Apakah sikap tidak ramah itu bersumber dari Kangjeng Adipati?”
“Aku tidak tahu, ngger.
Tetapi pira pemimpin di Kateguhan agaknya telali mengambil jarak dari para
priyagung di Paranganom. Aku juga akan minta kepadamu untuk tidak terkejut jika
sikap anak anakku juga kurang ramah terhadap orang orang Paranganom.
“Kenapa keadaan seperti
itu dapat terjadi?”
Ki Partabawa
menggelengkan kepalanya. Katanya “ Aku tidak tahu pasti, Wiradapa. Tetapi
kebencian kepada orang-orang Paranganom itu seakan-akan lelah ditiupkan sejak
Raden Ayu Prawirayuda berada di Paranganom”
“Apakah keberadaan Raden
Ayu Prawirayuda di Paranganom itu yang menyebabkan ketegangan ini terjadi?
Rasa-rasanya ada kecemburuan orang-orang Kateguhan terhadap orang-orang
Paranganom “ bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Salah satu sebab saja,
Ki Tumenggung”
“Sebab yang lain?“
“Aku tidak begitu jelas,
Ki Tumenggung. Tetapi tanggapan Ki Tumenggung itu agaknya benar. Ada kecemburuan
pada para pemimpin Kateguhan terhadap Paranganom. Mungkin keberhasilan
Paranganom meningkatkan kesejahteraaan rakyatnya. Ketenteraman hidup dan rasa
damai dan kebersamaan”
“Apakah hal seperti itu
tidak terjadi di Kateguhan?”
“Menurut pendapatku,
sejak wafatnya Kangjeng Adipati Prawirayuda, memang ada sedikit kemunduran di
kadipaten Kateguhan”
“Tentang kesejahteraan
rakyatnya?“ bertanya Ki Tumenggung Wiradapa.
“Kemunduran itu nampak
dalam banyak sisi kehidupan, Wiradapa. Tetapi sebaiknya aku tidak terlalu banyak
berbicara. Banyak orang Kateguhan sendiri yang tidak melihat kemunduran itu.
Justru mereka melontarkan kecemburuan kepada orang lain. Mereka tidak mau
mencari apa yang salah pada diri mereka sendiri agar kesalahan itu dapat
diperbaiki.
“Bukankah seorang Adipati
yang masih muda sebagaimana Kangjeng Adipati Yudapati seharusnya dapat bergerak
lebih tangkas dari ayahandanya yang telah wafat itu?”
“Kangjeng Adipati sendiri
agaknya sudah mencoba. Tetapi para pemimpin Kateguhan agaknya mempunyai irama
gerak yang lain. Bagi mereka, Kangjeng Adipati Yudapati adalah anak-anak.Bahkan
Ki Tumenggung Reksadrana lebih banyak bergerak menuruti kemauannya sendiri.
Beberapa kali terjadi perbedaan pendapat antara Kangjeng Adipati dan Ki
Tumenggung Reksadrana, yang dianggap sesepuh di Kateguhan”
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayuda mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya
lebih jauh, karena Ki Partabawa tentu tidak mengetahui persoalan-persoalan yang
timbul di lingkungan para pemimpin di Kateguhan itu lebih dalam lagi.
Meskipun demikian, apa
yang dikatakan oleh Ki Partabawa itu dapat sedikit memberikan landasan wawasan
bagi Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung
Sanggayuda yang esok pagi akan menghadap Kangjeng Adipaii Yudapati.
“Wiradapa“ bertanya Ki
Reksadrana kemudian “apakah kau sekedar mengantar Ki Tumenggung Sanggayuda
sampai ke Kadipalen Kateguhan, atau kau juga akan ikut menghadap Kangjeng
Adipati?”
“Jika diperkanankan, aku
juga akan ikut menghadap, paman”
“Ki Tumenggung “ bertanya
Ki Partabawa ”jika aku diperkenankan serba sedikit mengetahui, apakah Ki
Tumenggung Sanggayuda besok juga akan akan membicarakan kerenggangan hubungan
antara Kateguhan dan Paranganom?”
“Yang penting, kami
datang untuk sekedar menyinggung tentang kehadiran Raden Ayu Prawirayuda di
Paranganom. Bagaimanapun juga Raden Ayu Prawirayuda adalah ibu, meskipun ibu
tiri, dari Kangjeng Adipatai Yudapati di Kateguhan. Keberadaan Raden Ayu
Prawirayuda di Paranganom jangan sampai menimbulkan salah paham. Mudah-mudahan
kedatangan kami di Kateguhan akan dapat mengurangi jarak yang nampaknya mulai
menganga diantara dua Kadipaten yang semula mempunyai hubungan yang sangat erat,
karena dipimpin oleh dua orang bersaudara”
“Bagus, Ki Tumenggung.
Apapun hasilnya, tetapi setiap usaha untuk berbicara yang satu dengan yang lain,
akan dapat memberikan penjelasan tentang persoalan-persoalan yang nampaknya
menjadi setidak-tidaknya salah satu sebab dari kerenggangan hubungan antara
Paranganom dan Kateguhan”
“Ya, Ki Partabawa. Hal
itu juga disadari oleh Kangjeng Adipati Prangkusuma di Kadipaten Paranganom.
Itulah sebabnya maka Kangjeng Adipati telah mengutus kami berdua untuk membuka
pembicaraan apapun yang akan kami bicarakan nanti”
Ki Partabawa
mengangguk-angguk.
Pembicaraan itu terputus
ketika Nyi Partabawa menghidangkan ketela yang direbus dengan gula kelapa.
Asapnya masih mengepul dari beberapa potong ketela pohon yang menjadi
kemerah-merahan itu.
“Sudahlah bibi” berkata
Ki Tumenggung Wiradapa” jangan menjadi terlalu sibuk karena kedatangan kami”
“Hanya ini yang dapat
kami hidangkan, Ki Tumenggung “ berkata Ki Partabaawa ”jika saja kami tahu bahwa
Ki Tumenggung akan datang. Sebenarnya kami menjadi agak malu bahwa kami hanya
dapat menjamu Ki Tumenggung dengan ketela pohon. Bukan ketan srikaya atau jenis
makanan yang lebih baik. Kamipun menyadari bahwa mungkin Ki Tumenggung tidak
terbiasa makan ketela pohon sepeiti ini”
“Aku juga menanam ketela
pohon di kebun rumahku, Ki Partabawa” sahut Ki Tumenggung Sanggayuda” aku
sendirilah yang sering mencabutnya. Mengupasnya dan kemu-dian menunggu ketela
itu masak di serambi sambil mendengarkan kicau burung di sore hari. Isteriku
jugu senang sekah merebus ketela pohon dengan gula kelapa seperti ini.
Nyi Partabawa tertawa
pendek sambil berdesis “Bedanya, Nyi Tumenggung merebus ketela pohon
sekali-sekali saja jika menginginkannya. Tetapi kami hampir setiap hari
melakukannya”
“Apa bedanya” sahut Ki
Tumenggung Sanggayuda.
Ki Partabawa tertawa.
Kedua orang Tumenggung itupun tertawa pula
Sejenak kemudian, mereka
telah sibuk makan ketela pohon yang direbus dengan gula kelapa. Temyata seperti
yang dikatakannya, Ki Tumenggung Sanggayudapun tidak segan-segan memungut
sepotong ketela pohon yang kemerah-merahan. Sekali-sekali ditiupnya agar ketela
pohon itu lebih cepat menjadi dingin.
Malam itu, Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda bermalam di rumah Ki partabawa. Didalam
biliknya, Ki Tumenggung Sanggayuda sempat berkata “Sayang sekali bahwa Ki
Partabawa tidak dapat ikut berbangga bahwa kemakanannya adalah seorang
Tumenggung. Bahkan Tumenggung Wreda”
Ki Tumenggung Wiradapapun
tertawa tertahan. Katanya “Aku ingin paman Partabawa tetap bersikap sebagai
seorang paman, jika ia tahu bahwa aku seorang Tumenggung, maka sikapnya akan
berubah la tidak lagi dapat bersikap sebagai seorang paman terhadap
kemanakannya”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tersenyum sambil mengangguk-angguk.
Demikianlah, ketika
matahari mulai melemparkan sinarnya menyentuh selembar mega yang dihanyutkan
angin pagi, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda telah bersiap.
Tetapi Nyi Partabawa minta keduanya menunggu hingga makan pagi mereka siap.
“Kami sangat merepotkan
Ki Partabawa sekeluarga“ berkata Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Tidak. Semuanya sudah
ada. Apa yang kami hidangkan adalah apa yang dapat kami petik di halaman dan
kebun rumah kami. Kalianpun tidak akan dapat menghadap Kangjeng Adipati terlalu
pagi “ berkata Ki Partabawa.
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk-angguk. Katanya “Ya paman. Aku mengerti. Kami tentu akan menunggu
sampai Kangjeng Adipati siap menerima mereka yang akan menghadap”
“Sementara itu, kau akan
dapat bertemu dengan adikmu, Sana. Ia akan segera datang”
“Apakah Sana tahu bahwa
aku berada disini?“
“Cucuku tadi
memberitahukan kedatanganmu serta Ki Tumenggung Sanggayuda“
“Ooo. Aku rnemang sudah
agak lama tidak bertemu. Bagaimana dengan adik-adikku yang lain?“
“Aku belum sempat
memberitahukan kepada mereka Tetapi setidak-tidaknya kau dapat bertemu dengan
Sana. Tetapi sebelumnya aku ingin mengulagi pesanku, jangan, kaget kalau ada
kesan bahwa Sana tidak begitu akrab sikapnya terhadap orang-orang dari
Paranganom”
Ki Tumenggung Wiradapa
berpaling kepada Ki Tumenggung Sanggayuda. Katanya “Adikku yang satu ini adalah
seorang yang terbuka. Memang mungkin ia menyatakan ketidak senangannya im dengan
serta merta “
“Aku akan memakluminya “
sahut Ki Tumenggung Sanggayuda.
“Sebelumnya aku minta
maaf, Ki Tumenggung “ berkata Ki Partabawa. /
“Tidak apa-apa, Ki
Partabawa“ jawab Ki Tumenggung Sanggayuda “agaknya memang ada arus dari atas.
Karena itu, mudah-mudahan pertemuan kami dengan Kangjeng Adipati akan dapat jika
mungkin menutup jarak atau setidak-tidak mempersempitnya”
Pembicaraan itu terhenti.
Nyi Partabawapun mempersilahkan kemanakannya dan tamunya, Ki Tumenggung
Sanggayuda untuk makan pagi.
“Paman dan bibi
benar-benar menjadi sibuk karena kedatangan kami“ berkata Ki Tumenggung
Wiradapa.
“Tidak, Wiradapa. Kami
justru merasa senang sekali mendapat tamu seorang Tumenggung”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tersenyum. Namun ketika ia berpaling kepada Ki Tumenggung Wiradapa, senyumnya
menjadi masam.
Demikianlah keduanyapun
kemudian duduk diruang dalam ditemani oleh Ki Partabawa.
“Aku tidak terbiasa makan
pagi“ berkata Ki Partabawa ”biasanya aku hanya makan apa adanya. Ketela, ubi
panjang, lembong atau garut atau apa saja. Tetapi kali ini aku ingin makan
bersama seorang Tumenggung”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tertawa. Namun iapun kemudian berkata Dirumahpun aku tidak akan makan dengan
kelengkapan lauk pauk seperti sekarang ini”
“Semuanya tinggal memetik
seperti yang dikatakan isteriku”
“Ayam dan telur itu?“
“Telur itu tinggal
memungut di pekarangan. Sedangkan ayam tinggal menangkap di kandang”
“Gurameh itu? “
“Bukankah dikebun
belakang ada belumbang? Kami memelihara gurameh di dua belumbang yang terhitung
luas”
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggiyuda hanya mengangguk-angguk saja.
Ketika mereka selesai
makan dan dipersilahkan duduk di pringgitan, ternyata Sana sudah lebih dahulu
duduk di pringgitan itu.
“Kakang-Wiradapa“ Sana
dengan serta merta bangkit berdiri.
Keduanyapun bersalaman
dengan akrab. Sernentara Ki Tumenggung Wiradapapun memperkenalkan Sana dengan Ki
Tumenggung Sanggayuda.
“Ki Tumenggung Sanggayuda
adalah salah seorang Tumenggung di Kadipaten Paranganom, Sana”
Sana mengangguk hormat
sambil berkata “ Selamat datang di pondok kami yang sederhana ini Ki Tumenggung”
“Kami sudah diterima
dengan akrab serta mendapat tempat bermalam yang baik sekali, Ki Sana”
“Marilah, silahkan duduk”
Merekapun kemudian duduk
di pringgitan bersama Ki Partabawa.
“Kau sudah lama tidak
berkunjung kemari, kakang”
“Repot sekali Sana.
Ada-ada saja yang harus dikerjakan di rumah”
“Apa saja yang kakang
kerjakan di rumah? Memandikan ayam jantan? Memberi makan dan minum burung
peliharaan?”
Ki Tumenggung Wiradapa
tertawa. Ki Tumenggung Sanggayudapun tersenyum pula. Agaknya adik sepupu Ki|
Tumenggung Wiradapa itupun tidak tahu, bahwa saudara sepupunya di Paranganom
menjabat seorang Tumenggung; Bahkan Tumenggung Wreda.
“Tidak hanya ayam jantan,
burung dan ayam. Tetapi sawah juga harus digarap”
“Tetapi bukankah tidak
disegala musim?”
“Ya. Ada kalanya kerja
disawah terasa luang“ Ki Tumenggung Wiradapa mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba
saja iapun bertanya “Tetapi kau juga tidak pernah menengokku”
“Aku sibuk sekali,
kakang. Apalagi setelah aku mengemban tugas ayah yang dilimpahkan kepadaku. Dan
barangkali kakang tahu, anakku berjumlah delapan orang. Aku tidak dapat begitu
saja membebankan anak-anak itu kepada ibunya. Kasihan. Ia akan kewalahan.
Meskipun ada juga yang membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah, tetapi terasa
betapa sibuknya kami”
“Aku mengerti, Sana.
Tetapi anak-anakmu yang besar tentu sudah dapat ikut membantu momong anak-anakmu
yang kecil”
Sana tertawa. Katanya
“Anak-anak yang meningkat remaja justru membuat ibunya lebih sibuk lagi. Ada-ada
saja permintaannya. Kemauannya kadang-kadang sulit di mengerti”
Wiradapa tertawa.
“Kakang“ tiba-tiba suara
Sana meninggi “semula aku mengira bahwa kakang tidak akan pernah mengunjungi
kami lagi”
“Kenapa?”
“Bukankah orang-orang
Paranganom akan merasa kakinya gatal jika menginjak bumi Kateguhan?”
“Sudahlah“ potong Ki
Partabawa “kita tidak usah berbicara tentang Paranganom dan Kateguhan. Sekarang
kakangmu datang mengunjungi kita disini. Bukankah kunjungannya akan selalu kita
hargai. Kakangmu sudah tidak mempunyai orangtua lagi. Karena itu, jika ia datang
kemari, maka ia telah datang mengunjungi orang tuanya”
“Ya, ayah. Maaf. Aku
tidak dapat menyembunyikan gejolak perasaanku. Maaf Ki Tumenggung Sanggayuda“
berkata Sana kemudian “Tetapi orang-orang Paranganom sendirilah yang mengatakan
bahwa mereka pantang datang ke Kateguhan”
Ki Tumenggung Wiradapa
tersenyum. Iapun kemudian bertanya “Dari siapa kau dengar pernyataan itu?”
“Dari banyak orang,
kakang. Orang-orang Paranganom juga berbangga bahwa Raden Ayu Prawirayuda,
sepeninggal Kangjeng-Adipati Prawirayuda memilih tinggal di Paranganom daripada
tinggal di Kateguhan, meskipun semula ia adalah isteri Adipati di Kateguhan”
Ki Tumenggung Wiradapa
mengangguk-angguk. Ia tidak ingin berbantah dengan adik sepupunya yang sudah
agak lama tidak bertemu. Karena itu, maka iapun berkata “Sana. Aku akan
mengantar Ki Tumenggung Sanggayuda menghadap Kangjeng Adipati Yudapati.
Mudah-tnudahan segala salah paham itu akan segera dapat diatasi. Dengan bertemu
dan berbicara, akan banyak persoalan-persoalan yang dapat dijelaskan“
“Ya. Mudah-mudahan usaha
Ki Tumenggung Sanggayuda yang akan menghadap Kangjeng Adipati ada artinya.
“Kami akan mencari
celah-celah yang dapat ditembus, Ki Sana“ berkata Ki Tumenggung Sanggayuda
“pendekatan langsung akan memberikan arti yang besar. Jika kami bersalah,
biarlah kami tahu kesalahan kami”
“Mudah-mudahan dapat
diketemukan jalan keluar dari liputan kabut yang selama ini terasa menjadi
semakin gelap”
“Wiradapa “ berkata Ki
Partabawa kemudian “ matahari telah menjadi semakin tinggi. Jika kau ingin
menghadap, pergilah ke Kadipaten sekarang. Mungkin kau masih harus menunggu
beberapa saat, sehingga Kangjeng Adipati mempunyai waktu untuk menerimamu serta
Ki Tumenggung Sanggayuda”
“Ya, paman. Kami akan
minta diri”
“Bukankah kau masih akan
singgah sebelum kau kembali ke Paranganom?”
“Terima kasih paman.
Mungkin kami akan langsung kembali ke Paranganom”
“Kau dan Ki Tumenggung
akan kemalaman di perjalanan“
“Tidak apa-apa, paman.
Kami dapat bermalam di mana saja”
“Apakah kakang tidak
singgah ke rumahku barang sebentar?”
“Maaf, Sana. Pada
kesempatan yang lain aku akan datang lagi untuk waktu yang lebih panjang. Salam
buat isterimu dan anak-anakmu serta adik-adikmu semuanya”
“Baik, kakang. Aku akan
menyampaikannya. Tetapi mereka akan senang sekali jika mereka dapat bertemu
langsung dengan kakang”
“Aku akan segera datang
kembali“ jawab Ki Tumenggung Wiradapa sambil tertawa.
Demikianlah setelah Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda mengueapkan terima kasih kepada
keluarga Ki Partabawa, merekapun telah minta diri.
“Kami mengharap agar
pembicaraan Ki Tumenggung Sanggayuda dengan Kangjeng Adipati dapat menemukan
titik temu, sehingga dengan demikian, maka hubungan antara Paranganom dan
Kateguhan menjadi akrab kembali”
“Ya, Ki Sana” jawab Ki
Tumenggung Sanggayuda “kami akan berusaha mencari sebabnya, kenapa hubungan
antara Paranganom dan Kateguhan menjadi renggang”
Sesaat kemudian, Ki
Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun segera meninggalkan rumah Ki
Partabawa Demikian mereka turun ke jalan, maka keduanyapun segera meloncat ke
punggung kuda mereka
Disepanjang jalan menuju
ke Kadipaten, Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayudapun masih sibuk
membicarakan tanggapan yang kurang baik dari orang-orang Kateguhan terhadap
orang-orang Paranganom.
“Mungkin Kangjeng Adipati
semula marah karena Raden Ayu Prawirayuda berada di Paranganom”
“Kenapa? Bukankah menurut
Raden Ayu Prawirayuda ia telah diusir dan Kateguhan,
Justru karena itu Kenapa
Paranganom mau menerimanya. Seharusnya Paranganom juga menolak keberadaan Raden
Ayu Prawirayuda dl Paranganom”
Keduanya kemudian
terdiam. Mereka sudah menjadi semakin dekat dengan pintu gerbang dalem Kadipaten
di Kateguhan.
“Adi Tumenggung
Sanggayuda“ berkata Ki Tumenggung Wiradapa ketika mereka sudah berada didepan
pintu gerbang “Mungkin kedatangan kita tidak diterima dengan baik. Tetapi aku
minta adi tetap berlapang dada. Kita adalah utusan Kangjeng Adipati Paranganom,
sehingga kita harus tetap bertin-dak sebagaimana seorang utusan. Kita tidak
datang ke Kateguhan sebagai seorang Senapati perang”
Ki Tumenggung Sanggayuda
tersenyum. Katanya “Aku mengerti kakang. Aku akan berusaha untuk tetap
mengendalikan diri”
Ki Tumenggung Wiradapapun
tersenyum pula Keduanyapun segera meloncat turun di depan pintu gerbang dalem
Kadipaten Kateguhan. Ketika mereka memasuki pintu gerbang, dua orang prajurit
yang bertugas di sebelah menyebelah pintu gerbang itupun telah menghentikan
mereka
“Siapakah kalian dan
apakah keperluan kalian? “ bertanya salah seorang dari kedua orang prajurit itu.
“Kami datang dari
Paranganom“ jawab Ki Tumenggung Wiradapa ”aku adalah Tumenggung Wiradapa dan ini
adalah Ki Tumenggung Sanggayuda”
Kedua orang prajurit itu
termangu-mangu sejenak. Seorang diantara keduanyapun berkata “Aku minta Ki
Tumenggung menunggu sebentar. Aku akan melaporkannya kepada Ki Lurah”
Sikap prajurit itu adalah
sikap yang wajar. Ia memang harus melaporkan kedatangan mereka kepada
pimpinannya. Apalagi yang datang adalah dua orang dari luar Kadipaten yang belum
dikenalnya.
Sejenak kemudian, seorang
Lurah prajurit telah datang ke pintu gerbang.
“Apakah benar Ki Sanak
adalah dua orang Tumenggung dari Paranganom?“
“Ya. Aku adalah
Tumenggung Wiradapa dan ini adalah Ki Tumenggung Sanggayuda”
“Apakah Ki Tumenggung
berdua akan menghadap Kangjeng Adipati Kateguhan?“
“Ya”
Lurah prajurit itu
memandangi kedua orang Tumenggung itu berganti-ganti. Dengan nada datar Lurah
prajurit itupun memperkenalkan dirinya ”Aku Lurah prajurit di Kateguhan. Namaku
Kriyasana”
“Ki Lurah Kriyasana“
desis Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda hampir berbareng.
“Ya, Ki Tumenggung“ Ki
Lurah mengangguk-angguk. Kemudian iapun bertanya “Apakah Kangjeng Adipati sudah
mengenal.Ki Tumenggung berdua”
“Sudah. Aku sudah pernah
datang kemari beberapa kali, sejak Kangjeng Adipati Prawirayuda masih bertahta”
“Maksudku, apakah
Kangjeng Adipati Yudapati mengenal Ki Tumenggung berdua?”
“Ya. Tentu saja. Pada
saat-saat aku menghadap Kangjeng Adipati Prawirayuda, Kangjeng Adipati Yudapati
yang masih belum bertahta, ia juga menerima kami. Bahkan kami sudah pernah
datang ke Kadipaten ini mengantar Kangjeng Adipaii Prangkusuma di Paranganom
dalam satu kunjungan kehormatan”
Lurah prajurit itu
mengangguk-angguk. Seakan-akan diluar sadarnya iapun berkata “Tetapi sikap
Kangjeng Adipati di Paranganom sekarang berubah?“
“Apa yang berubah?”
“Apakah Kangjeng Adipati
di Paranganom tidak dapat menerima kenyataan bahwa yang harus menggantikan
kedudukan Adipati di Kateguhan itu adalah Kangjeng Adipati Yudapati? Bukankah
itu persoalan kadipaten Kateguhan sehingga Paranganom tidak perlu
mencampurinya?”
“Ki Lurah“ nada suara Ki
Tumenggung Sanggayuda mulai meninggi “kami datang untuk menghadap Kangjeng
Adipati Yudapati. Karena itu, tolong sampaikan permohonan kami untuk menghadap.
Kami adalah utusan Kangjeng Adipati di Paranganom”
Ki Lurah Kriyasana
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata ”Baik. Aku akan
menyampaikannya kepada Narpacundaka yang bertugas”
“Terima kasih”
“Silahkan duduk di gardu
para prajurit yang bertugas”
Ki Tumenggung Wiradapa
menggamit Ki Tumenggung Sanggayuda yang agaknya merasa kurang senang terhadap
sikap Lurah prajurit itu, sehingga Ki Tumenggung Sanggayuda tidak jadi
menanggapi kata-kata Lurah prajurit itu.
Tetapi keduanya tidak
duduk di gardu. Setelah menambatkan kuda mereka di patok-patok kayu yang
tersedia, keduanya berdiri saja di depan tangga pendapa ageng kadipaten
Kateguhan.
Baru beberapa saat
kemudian, Ki Lurah keluar lewat pintu seketeng bersama seorang prajurit yang
bertugas sebagai Narpacundaka Kangjeng Adipati Yudapati.
“Ki Tumenggung berdua“
berkata Ki Lurah Kriyasana “ini adalah Ki Panji Wirasena. Salah seorang
Narpacundaka Kangjeng Adipati Yudapati”
Ki Panji Wirasena itupun
mengangguk hormat pula. Katanya ”Aku diperintahkan oleh Kangjeng Adipati
Yudapati untuk mengantar Ki Tumenggung berdua ke serambi sebelah kiri. Kangjeng
Adipati akan menerima Ki Tumenggung berdua di serambi itu”
“Terima kasih, Ki Panji”
Ki Panji Wirasenapun
kemudian telah mengantarkan kedua orang Tumenggung itu masuk ke serambi sebelah
kiri. Namun di serambi itu masih belum ada seorangpun.
“Silahkan duduk Ki
Tumenggung. Aku akan meng-hadap dan menyampaikan kepada Kangjeng Adipati, bahwa
Ki Tumenggung berdua sudah berada di serambi”
“Silahkan Ki Panji. Ki
Panji Wirasenapun kemudian nieninggalkan kedua orang Tumenggung dari Paranganom
itu diserambi.
Namun ternyata bahwa
Kangjeng Adipati tidak segera memasuki serambi itu. Untuk beberapa lama kedua
orang Tumenggung dari Paranganom itu menunggu.
Ketika kemudian pintu
terbuka, yang masuk ke serambi itu adalah Ki Panji Wirasena.
.
“Maaf, Ki Tumenggung berdua. Kangjeng Adipati masih berbicara dengan Ki
Tumenggung Reksadrana. Diminta kesabaran Ki Tumenggung berdua”
“Tentu Ki Panji “ sahut
Ki Tumenggung Sanggayuda “kami datang dari jauh untuk menghadap Kangjeng
Adipati. Kami tentu akan menunggu kesempatan itu”
“Terima kasih atas
kesediaan Ki Tumenggung berdua”
Ketika Ki Panji kemudian
meninggalkan kedua orang Tumenggung dari Paranganom itu, Ki Tumenggung
Sanggayudapun berkata dengan nada berat “Apa maksud Kangjeng Adipati
sebenarnya?“
“Mungkin Kangjeng Adipati
memang sedang berbineang dengan Ki Tumenggung Reksadrana, Kita memang harus
sabar menunggu”
“Sampai kapan?”
Ki Tumenggung Wiradapa
tersenyum. Katanya “Kita adalah tamu disini”
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk-angguk.
Yang lebih dahulu
memasuki pringgitan adalah seorang pelayan untuk menghidangkan minuman hangat
bagi kedua orang Tumenggung Paranganom itu.
Demikian pelayan itu
pergi, Ki Tumenggung Wirada-papun berdesis “Ini tidak biasa dilakukan di
Paranganom. Jika ada tamu yang datang menghadap Kangjeng Adipati, maka di
Paranganom tidak pernah disuguhkan minuman seperti ini”
“Aku haus, kakang
Tumenggung”
Ki Tumenggung Wiradapa
tersenyum melihat Ki Tumenggung Sanggayuda meneguk minuman hangatnya.
“Enak kakang Tumenggung.
Wedang sere dengan gula kelapa. Manis dan terasa sedikit wangi”
Ki Tumenggung Wiradapa
masih saja tersenyum. Tetapi ia masih belum meneguk minumannya.
Ki Tumenggung Sanggayuda
hampir tidak sabar menunggu. Dalam ketidak sabarannya itu, maka minumannyapun
telah dihabiskannya. Sementara Ki Tumenggung Wiradapa baru minum beberapa teguk
saja.
Beberapa saat kemudian,
Ki Panji Wirasenapun telah memasuki serambi itu lagi. Katanya “Kangjeng Adipati
Yudapati akan menerima Ki Tumenggung berdua di ruang depan. Di sana telah hadir
pula Ki Tumenggung Reksadrana yang memang diperintahkan oleh Kangjeng Adipati
untuk ikut menerima kedatangan Ki Tumenggung berdua”
“Terima kasih, Ki Panji “
sahut Ki Tumenggung Wiradapa.
Demikianlah, diantar oleh
Ki Panji Wirasena Ki Tumenggung Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda telah
masuk ke ruang depan. Sebenarnyalah di ruang itu telah menunggu Kangjeng Adipati
Yudapati dan Ki Tumenggung Reksadrana.
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayudapun kemudian duduk menghadap Kanjeng Adipati. Ki
Tumenggung Reksadrana duduk selangkah disebelah Kangjeng Adipati itu, sedangkan
Ki Panji Wirasena duduk agak dibelakang
“Selamat datang di
Kadipaten Kateguhan paman Tumenggung berdua berkata Kangjang Adipati Yudapati
kemudian
“Hamba kangjeng Adipati.
Kami berdua datang menghadap Kangjeng Adipati Yudapati“ sahut Ki Tumenggung
Wiradapa,
“Bagaimana dengan
keselamatan dan kesejahteraan paman Adipati Prangkusuma di Paranganom? Bagaimana
pula dengan saudara saudara sepupuku. Aku dengar mereka sudah pulang dari
perguraan mereka. Mereka sudah menjadi anak muda yang gagah perkasa”
“Semuanya dalam keadaan
yang baik, Kangjeng Adipati. Kedua putera Kangjeng Adipati Prangkusuma, Raden
Madyasta dan Raden Wignyana memang sudah pulang”
“Sukurlah. Dan bagaimana
dengan rakyat Paranganom?“
“Kami semuanya berada
dibawah perlindungan Yang Maha Agung. Keadaan kami selama ini baik-baik saja,
Kangjeng Adipati?“
“Aku menyatakan selamat
atas semuanya itu, paman Tumenggung”
“Terima kasih, Kangjeng
Adipati. Menurut penglihatan kami berdua, bukankah Kadipaten Kateguhan juga
berada didalam kesejahteraan?“
“Ya. Kateguhan juga
berada didalam perlindungan Yang Maha Agung”
“Kangjeng Adipati,
perkenankanlah hamba menyampaikan salam dari Kangjeng Adipati Prangkusuma di
Paranganom”
“Sampaikan terima kasihku
kepada paman Adipati di Paranganom. Baktiku sampaikan pula kepada paman Adipati”
“Hamba Kangjeng Adipati.
Akan hamba sampaikan kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom”
“Salamku buat adik-adik
sepupuku”
“Hamba Kangjeng Adipati.
Akan hamba sampaikan kepada Raden Madyasta dan Raden Wignyana”
“Sekali-sekali ajak
mereka kemari. Seperti pada masa kanak-kanak, kami sering bertemu dan berkumpul
serta bermain bersama”
“Akan hamba sampaikan
kepada mereka “ Ki Tumenggung Wiradapapun berhenti sejenak. Lalu katanya “
Beberapa waktu yang lalu, Raden Madyasta juga berada di perbatasan, Kangjeng.
Tetapi Raden Madyasta masih belum sempat singgah meskipun sebenarnya ia ingin
melakukannya”
“Di perbatasan? Ada apa
sehingga dimas Madyasta sendiri harus hadir diperbatasan”
“Kangjeng Adipati.
Barangkali ada gunanya jika kami memberitahukan, bahwa telah terjadi kerusuhan
di perbatasan. Perampok, brandal, penyamun dan sejenisnya telah merebak. Para
Demang tidak lagi mampu mengatasinya, sehingga telah terjadi keresahan. Ketika
hal ini dilaporkan kepada Kangjeng Adipati, maka Kangjeng Adipati telah
memerintahkan Raden Madyasta untuk mengatasinya. Bersama tiga orang Senapati,
Raden Madyasta berhasil menghancurkan kelompok yang telah menimbulkan keresahan
di perbatasan itu Kangjeng”
Kangjeng Adipati Yudapati
di Kateguhan itu menarik nafas panjang. Dengan nada berat Kangjeng Adipati itu
berkata “Jadi kedatangan paman berdua melintasi perbatasan Kadipaten Paranganom
dan kadipaten Kateguhan itu hanya akan menceritakan tentang kerusuhan yang
terjadi di perbatasan?”
“Tidak, Kangjeng. Tentu
tidak. Yang kami sampaikan ini sekedar pemberitahuan”
“Temyata kalian telah
salah alamat, kakang Tumenggung berkata Ki Tumenggung Reksadrana “sebaiknya
persoalan itu kalian laporkan saka kepada Kangjeng Adipati di Paranganom. Tidak
kepada kangjeng Adipati di Kateguhan. Bukankah kerusuhan itu terjadi di
Paranganom?”
“Bukankah tidak ada
salahnya jika hal itu diketahui oleh Kangjeng Adipati di Kateguhan?“ potong Ki
Tumenggung Sanggayuda “kerusuhan itu terjadi di perbatasan. Jika Kangjeng
Adipati di Kateguhan mengetahuinya, maka Kangjeng Adipati dapat memerintahkan
kepada pada prajurit di Kateguhan untuk bersiaga, agar tidak terjadi seperti di
Paranganom yang sempat menimbulkan keresahan”
“Tetapi selama ini
kateguhan tidak pernah diganggu oleh kerusuhan-kerusuhan itu. Kateguhan memiliki
kekuatan untuk mengatasinya. Tidak perlu para prajurit, apalagi putera Kangjeng
Adipati sendiri harus terjun. Rakyat Kateguhan mampu mengatasinya”
“Sukurlah jika begitu.
Tetapi jika para penjahat itu terusir dari Paranganom, mungkin sekali mereka
akan merembes ke Kateguhan. Kecuali jika mereka memang bersarang di Kateguhan”
“Kakang Tumenggung
Sanggayuda“ suara Ki Tumenggung Reksadrana meninggi “apa maksud kakang
Tumenggung sebenarnya? Kata-kata kakang Tumenggung itu tajamnya seperti welat
pring wulung, menyentuh perasaan kami, orang-orang Kateguhan. Agaknya penalaran
seperti itulah yang telah menimbulkan jarak antara orang-orang Paranganom dan
orang-orang Kateguhan. Jika orang-orang Paranganom mengalami kesulitan dari
tingkah laku para per-ampok itu, jangan mencari kambing hitam di kadipaten
Kateguhan”
“Seharusnya peringatan
yang kami berikan itu dapat kau terima dengan baik, adi Tumenggung. Tetapi
sebaliknya kau tanggapi dengan sikap sombongmu”
Ki Tumenggung Wiradapalah
yang kemudian menyahut “Sudahlah adi Tumenggung. Bukankah kita datang ke
Kateguhan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kerusuhan yang terjadi di
perbatasan“
Ki Tumenggung Wiradapa
itupun kemudian berkata kepada Kangjeng Adipati “Ampun Kangjeng Adipati. Maksud
kami sebenarnya tidak lebih daripada sekedar menyampaikan peringatan. Tetapi
jika peringatan ini dianggap kurang pada tempatnya, kami mohon ampun”
“Baiklah, paman
Tumenggung. Aku bahkan mengucapkan terima kasih atas peringatan yang paman
berdua berikan, Setidak-tidaknya akan dapat membuat kami di Kaieguhan
berhati-hati”
Namun Ki Tumenggung
Reksadranapun menyela “Ampun Kangjeng yang mereka berikan bukan sekedar
peringatan. Tetapi tuduhan. Seakan-akan Kateguhan memberikan perlindungan kepada
para penjahat yang mengganggu ketenteraman Paranganom Tuduhan itu sebenarnya
hanyalah usaha mereka untuk menutupi kelemahan mereka sendiri”
“Sudahlah, paman.
Persoalannya akan berkepanjangan”
Ki Tumenggung
Reksadranapun terdiam. Namun masih nampak diwajahnya, kemarahan yang menyala
didadanya.
“Paman Tumenggung berdua“
berkata Kangjeng Adipati kemudian “kedatangan Ki Tumenggung berdua tentu
mengemban perintah dari paman Adipati Prangkusuma. Aku memang yakin, bahwa
persoalannya tentu bukan sekedar tentang kerusuhan di perbatasan”
“Hamba Kangjeng Adipati.
Kami berdua memang mengemban perintah Kangjeng Adipati Prangkusuma“ Ki
Tumenggung Wiradapa berhenti sejenak. Sekali ia menarik nafas panjang, kemudian
berkata selanjutnya “Kangjeng Adipati, barangkali Kangjeng Adipagi sudah
mengetahui, bahwa pada saat ini Raden Ayu Prawirayuda berada di Paranganom”
“Ya. Aku sudah mendengar,
bahwa bibi Raden Ayu Prawirayuda berada di Paranganom”
“Untuk itulah, kami
berdua datang menghadap. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Raden Ayu
Prawirayuda. Sejauh ini Kangjeng Adipati baru mendengar keterangan dari Raden
Ayu Prawirayuda. Kedatangan kami berdua membawa pesan dari Kangjeng Adipati,
agar Kangjeng Adipati Yudapati bersedia memberikan keterangan, apakah seabnya
Raden Ayu Prawirayuda harus meninggalkan kadipaten Kateguhan?“
Kangjeng Adipati Yudapati
nampak termangu-mangu. Ada keraguan di wajahnya. Namun kemudian katanya “Apakah
paman Adipati Prangkusuma meragukan keterangan bibi Prawirayuda?“
“Kangjeng Adipati
Prangkusuma ingin mendapat keterangan dari kedua belah pihak”
Namun Ki Tumenggung
Reksadranapun menyala “Persoalan itu adalah persoalan antara keluarga di
Kateguhan. Buat apa orang lain ikut mencampurinya?“
“Kami sudah tahu, adi
Tumenggung. Persoalan ini adalah persoalan keluarga. Tetapi bukankah Kangjeng
Adipati Prangkusuma juga bukan orang lain bagi Kangjeng Adipati Yudapati dan
Raden Ayu Prawirayuda? Justru kau adalah orang lain” sahut Ki Tumenggung
Sanggayuda.
“Tetapi aku adalah salah
seorang abdi di Kateguhan.
“Sekarang Raden Ayu
Prawirayuda itu berada di kadipaten Paranganom. Bahkan seakan-akan mohon
perlindungan kepada Kangjeng Adipati Prangkusuma. Nah, bukankah sudah sewajahnya
jika Kangjeng Adipati Prangkusuma menghubungi kemanakannya untuk menjernihkan
persoalannya”
Bab 17 – Perkelahian di
Kedai
“Paman Adipati benar,
paman Tumenggung. Aku mengerti maksud paman Adipati. Sepeninggal ayahanda, maka
paman Adipati adalah ganti orang tuaku”
Kerut di dahi Tumenggung
Reksadrana menjadi semakin dalam. Ia memang menjadi sangat kecewa atas sikap
Adipati Yudapati.
“Paman Tumenggung berdua“
berkata Kangjeng Adipati Yudapati kemudian “sampaikan kepada paman Adipati
Prangkusuma di Paranganom, bahwa bibi Prawirayuda memang aku minta meninggalkan
Kateguhan”
“Jika Kangjeng Adipati
tidak berkeberatan, apakah Kangjeng Adipati dapat menyebutkan alasannya, kenapa
Raden Ayu Prawirayuda harus meninggalkan Kateguhan?”
“Itu persoalanku dengan
bibi, paman Tumenggung. Sampaikan kepada paman Adipati, aku mohon maaf, bahwa
aku merasa tidak perlu menyampaikan alasannya, kenapa bibi Prawirayuda harus
meninggalkan Kateguhan, “
“Kangjeng Adipati“ Ki
Tumenggung Reksadranapun memotong pembicaraan kangjeng Adipati“ jika demikian,
sebaiknya Kangjeng Adipati berterus terang. Kenapa Kangjeng Adipati menegusir
Raden Ayu Prawirayuda dari Kateguhan”
“Menurut pendapatku,
tidak perlu paman”
“Hamba kira sebaiknya
Kangjeng Adipati berterus terang. Bukankah itu yang dikehendaki oleh Kangjeng
Adipati di Paranganom? Dengan demikian, maka Kangjeng Adipati Prangkusuma tidak
hanya sekedar menduga-duga. Semakin jelas penglihatan Kangjeng Adipati
Prangkusuma atas persoalan yang sebenarnya terjadi di Kateguhan, justru akan
menjadi semakin baik bagi Kangjeng Adipati Yudapati. Apakah jika di Paranganom
Raden Ayu Prawirayuda tidak berkata yang sebenarnya. Yang putih dikatakan hitam,
yang hitam dikatakan putih. Dengan demikian, maka keberadaan Raden Ayu
Prawirayuda di Paranganom memang dapat merenggangkan hubungan kedua kadipaten
ini”
Kangjeng Adipati Yudapati
menajdi ragu-ragu. Sementara itu Ki Tumenggung Wiradapapun berkata “ Adi
Tumenggung Reksadrana benar menurut pendapat hamba, Kangjeng Adipati. Apapun
alasannya, maka sebaiknya Kangjeng Adipati tidak berkeberatan untuk menyebutnya.
Dengan demikian Kangjeng Adipati di Paranganom akan dapat mengetahui dengan
jelas duduk persoalannya”
Kengjeng Adipati masih
saja termangu-mangu: Dipandanginya ketika orang Tumengung itu berganti-ganti.
Dua orang Tumenggung dari Paranganom dan seorang Tumenggung dari Kateguhan.
Namun akhirnya Kangjeng
Adipati itupun berkata “Baiklah paman Tumenggung Reksadrana. Katakan, kenapa aku
minta bibi Prawirayuda meninggalkan kadipaten Kateguhan”
“Kangjeng Adipati. Kenapa
tidak Kangjeng Adipati saja yang menyampaikannya? Nampaknya kedua orang utusan
Kangjeng Adipati Prangkusuma ini tidak begitu yakin terhadap kejujuran hamba”
“Atas perintahku, paman
Tumenggung dapat mengatakan alasanku, kenapa bibi Prawirayuda aku minta
meninggalkan Kateguhan”
Sebenarnya Ki Tumenggung
Wiradapa dan Ki Tumenggung Sanggayuda ingin agar Kangjeng Adipati sendiri yang
menyampaikannya. Namun Kangjeng Adipati sudah memerintahkan kepada Ki Tumenggung
Reksadrana. Tetapi karena Ki Tumenggung Reksadrana akan menyampaikannya
dihadapan Kangjeng Adipati, maka kedua orang Tumenggung dari Paranganom itupun
berpendapat, bahwa Ki Tumenggung Reksadrana tidak akan dapat berbohong, atau
dengan sengaja bagi kepentingannya sendiri, menambah dan menguranginya.
“Baiklah Kangjeng
Adipati“ suara Ki Tumenggung Reksadrana merendah “hamba mohon ampun. Hamba akan
menyampaikannya kepada kedua orang utusan Kangjeng Adipati Prangkusuma dan
Paranganom. Jika keterangan hamba ada yang salah, hamba mohon Kangjeng Adipati
membetulkannya”
“Baiklah, paman”
“Kakang Tumenggung
berdua“ berkata Ki Tumenggung Reksadrana kemudian “aku akan menyampaikamiya atas
nama Kangjeng Adipati. Mungkin karena persoalannya menyangkut pribadi Kangjeng
Adipati, maka Kangjeng Adipati Yudapati tidak dapat menyampaikannya sendiri”
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayuda hanya mengangguk kecil.
“Kakang Tumenggung
berdua“ suara Ki Tumenggung Reksadrana merendah “Sebenarnyalah bahwa Raden Ayu
Prawirayuda sudah melanggar paugeran hidup bebrayan”
Kedua orang Tumenggung
dari Paranganom itu terkejut. Tetapi mereka tidak berkata apa-apa. Mereka
menunggu Ki Tumenggung Reksadrana itu meneruskan keterangannya “Yang aku
ketahui, kakang Tumenggung, sesuatu yang tidak pantas telah dilakukari oleh
Raden Ayu Prawirayuda. Sebenarnyalah bagi Kateguhan Raden Ayu Prawirayuda adalah
seorang yang sangat dihormati. Apalagi Raden Ayu Prawirayuda adalah isteri
Kangjeng Adipati Prawirayuda yang telah wafat, Raden Ayu juga seorang prajurit
yang tidak ada duanya. Meskipun Raden Ayu seorang perempuan, tetapi kemampuannya
dalam olah kanuragan melebihi para Senapati perang“ Ki Tumenggung Reksadrana
berhenti sejenak. Namun keragu-raguan membayang diwajahnya. Setelah memandang
wajah Kangjeng Adipati yang menunduk, Ki Tumenggung itupun melanjutkannya dengan
nada datar “Malam tu, Kangjeng Adipati telah diundang oleh Raden Ayu Prawirayuda
untuk makan malam di keputren. Satu hal yang tidak bisa dilakukan. Meskipun
demikian Kangjeng Adipati tidak menolak. Tetapi Kangjeng Adipati tidak boleh
membawa abdinya seorangpun. Bahkan Narpacundaka, yang sekarang juga ada disini,
tidak boleh ikut ke keputren meskipun tidak ikut makan malam. Setelah makan
malam itulah, Raden Ayu Prawirayuda menyampaikan maksudnya.
Jantung Ki Tumenggung
Wiradrana dan Ki Tumenggung Sanggayuda menjadi berdebar-debar. Mereka
mendengarkan keterangan Ki Tumenggung Reksadrana itu dengan sungguh-sungguh.
“Kakang Tumenggung“ suara
Ki Tumenggung Reksadrana memang menjadi bergetar. Sekali-sekali ia memandang
wajah Kangjeng Adipati. Tetapi Kangjeng Adipati Yudapati masih saja duduk sambil
menunduk.
Sejenak kemudian, Ki
Tumenggung Reksadranapun melanjutkan “Kakang Tumenggung Berdua. Apa yang aku
sampaikan ini adalah ulangan saja dari keterangan Kangjeng Adipati Yudapati yang
diberikan kepadaku, sebagai seorang yang dituakan di Kateguhan. Kangjeng Adipati
memerlukan pertimbangan dari beberapa orang tua. Satu diantara mereka adalah
aku”
“Ya, adi“ suara Ki
Tumenggung Wiradapa yang meluneur dari bibirnya terdengar berat.
“Malam itu, kakang
Tumenggung“ Ki Tumenggung Reksadrana melanjutkan “Raden Ayu Prawirayuda telah
berterus terang, minta agar Kangjeng Adipati Yudapati bersedia mengambil Raden
Ajeng Rantamsari sebagai isterinya“
Ki Tumenggung Wiradrana
dan Ki Tumenggung Sanggayuda terkejut. Sementara itu Ki Tumenggung Reksadrana
bertanya dengan ragu kepada Kangjeng Adipati Yudapati “Bukankah begitu, Kangjeng
Adipati”
Kangjeng Adipati Yudapati
mengangguk.
“Tetapi“ suara Ki
Tumenggung Wiradapa menjadi serak “tetapi bukankah Raden Ajeng Rantamsari itu
adik Kangjeng Adipati Yudapati sendiri meskipun berbeda ibu?”
“Bagaimana, Kangjeng
Adipati?“ Ki Reksadrana justru bertanya kepada Kangjeng Adipati.
“Katakan apa yang kau
ketahui, paman”
“Kakang Tumenggung
berdua“ Ki Tumenggung Reksadrana itupun melanjutkan “atas perkenan Kangjeng
Adipati, aku beritahukan kepada kakang berdua, bahwa Raden Ajeng Rantamsari itu
bukan adik Kangjeng Adipati Yudapati. Bukan adik seayah. Raden ajeng Rantamsari
itu bukan apa-apa bagi Kangjeng Adipati Yudapati”
“Tetapi bukankah keduanya
putera Kangjeng Adipati Prawirayuda?” bertanya Ki Tumenggung Sanggayuda.
Ki Tumenggung Reksadrana
menggeleng. Dengan ragu-ragu iapun berkata “Raden Ajeng Rantamsari bukan putera
kandung Kangjeng Adipati Prawirayuda”
“Jadi? “
“Sudah, sudah paman “
Kangjeng Adipatipun kemudian memotong pembicaraan itu “aku tidak ingin nama
ayahanda yang sudah wafat itu terungkit lagi. Itulah pokok persoalannya”
Ki Tumenggung Wiradapa
dan Ki Tumenggung Sanggayuda hanya dapat mengangguk-angguk. Namun terasa betapa
debar jantung mereka menghentak-hentak didalam dada.
“Aku tidak dapat menerima
permintaan bibi Prawirayuda itu, paman Tumenggung berdua. Sementara itu bibi
agaknya berusaha memaksakan kehendaknya dengan segala macam cara. Karena itu,
aku tidak mempunyai pilihan. Aku persilahkan bibi meninggalkan dalem Kadipaten.
Sebenarnya aku sudah menyediakan sebuah tempat tinggal yang pantas bagi bibi.
Tetapi rupanya bibi lebih senang pergi ke Kadipaten Paranganom. Aku sadar, bahwa
apa yang dikatakan oleh bibi di Paranganom agak berbeda atau bahkan bertentangan
sama sekali dengan apa yang tadi dikatakan oleh paman Tumenggung Reksdrana.
Tetapi apa yang dikatakan oleh paman Tumenggung Reksadrana itulah yang benar”
“Kami mengerti, Kangjeng
Adipati berkata Ki Tumenggung Wiradrana dengan suara yang hampir tidak
terdengar.
“Nah, jika paman Adipati
ingin mendengar persoalannya menurut pengertianku adalah sebagaimana dikatakan
oleh paman Tumenggung Reksadrana. Selanjutnya terserah kepada paman Adipati
Prangkusuma.-Apakah paman Adipati mempercayainya atau tidak”
“Kami akan
menyampaikannya kepada Kangjeng Adipati di Paranganom”
”Kakang Tumenggung“
berkata Ki Tumenggung Reksadrana kemudian “yang dikatakan oleh Raden Ayu
Prawirayuda tentu berbeda. Mungkin Kangjeng Adipati ingin mendengar, apakah
alasan yang dikatakan oleh Raden Ayu Prawirayuda, sehingga Raden Ayu itu
disingkirkan dari Kateguhan?”
Kangjeng Adipati Yudapati
itupun mengangguk sambil berkata ”Kakang Tumenggung Reksadrana benar. Aku memang
ingin mendengar apakah yang dikatakan oleh bibi Prawirayuda”
“Kangjeng Adipati“
berkata Ki Tumenggung Wiradapa “salah satu alasan kenapa kami berdua harus
datang ke Kateguhan itu adalah karena yang dikatakan oleh Raden Ayu Prawirayuda
itu tidak jelas. Menurut Raden Ayu Prawirayuda, Kangjeng Adipati tidak
mengatakan sama sekali alasan, kenapa Raden Ayu Prawirayuda harus meninggalkan
Kateguhan. Menurut Raden Ayu, Kangjeng Adipati begitu saja telah mengusir Raden
Ayu Prawirayuda tanpa menunjukkan kesalahan yang telah dilakukannya”
“Nah, bukankah ada
.baiknya Kangjeng Adipati berterus-terang kepada kakang Tumenggung berdua“
berkata Ki Tumenggung Reksadrana
“Ya, paman Tumenggung
benar. Dengan demikian paman Adipati dapat mempertimbangkannya”
“Memang itulah yang
diharapkan oleh Kangjeng Adipati Prangkusuma di Paranganom“ sahut Ki Tumenggung
Wiradapa perlahan.
Namun kemudian baik
Kangjeng Adipati maupun Ki Tumenggung Reksadrana tidak lagi membicarakan tentang
keberadaan Raden Ayu Prawirayuda di Paranganom. Yang kemudian ditanyakan oleh
Kangjeng Adipati Kateguhan adalah peredaran musim yang banyak menyimpang di
Kateguhan.
KiTumenggung Wiradapa dan
Ki Tumenggung Sanggayuda tidak terlalu lama berada di dalem kadipaten. Ketika
persoalan yang, terpenting telah selesai dibicarakannya, maka keduanyapun
kemudian telah minta diri.
“Baiklah paman. Sekali
lagi pesanku, baktiku kepada paman Adipati Prangkusuma di Paranganom”
“Hamba Kangjeng Adipati.
Hamba berdua akan menyampaikannya demikian kami menghadap”
“Terima kasih, paman”
Demikianlah, maka kedua
orang Tumenggung itupun segera meninggalkan Kateguhan. Seperti yang mereka
katakan kepada Ki Partabawa, mereka tidak lagi singgah di rumah orang tua itu.
Mereka berdua langsung
menempuh perjalanan kembali ke Paranganom. Satu perjalanan yang panjang,
melintasi lembah, ngarai dan lereng-lereng perbukitan serta menembus padang
perdu, tanah-tanah berbatu padas dan berkapur, serta melewati tepi hutan yang
lebat.
Sekali-sekali mereka
haras berhenti beristirahat. Sekali mereka berhenti di padang rumput, sekali di
pinggir sungai. Namun merekapun. berhenti pula disebuah kedai. Tenyata bukan
hanya kuda mereka sajalah yang lelah, haus dan lapar. Tetapi penunggangnyapun
lelah, haus dan lapar pula.
.
Sambil tersenyum Ki Tumenggung Wiradapa yang duduk di sudut kedai itu berdesis
“Ini merupakan padang rumput yang baik bagi kita. Kedai ini cukup besar dan
dagangan yang digelarpun ada bermacam-macam, sehingga seseorang yang masuk
kedalam kedai ini tidak akan dikecewakan”
Ki Tumenggung Sanggayuda
mengangguk sambil menjawab “
“Ya. Bahkan jenis makanan
yang tidak kita kenal namanya ada disini”
“Jenis makanan khusus
setempat yang tidak ada di Paranganom”
“Apakah kakang Tumenggung
ingin membeli oleh-oleh buat keluarga?"
Ki Tumenggung Tertawa.
Katanya “Lain kali, jika aku tidak sedang mengemban tugas”
“Bukankah membeli
oleh-oleh disini tidak mengganggu tugas kita? “
“Tetapi kita akan
kemalaman di jalan, adi Tumenggung. Jika kita membeli oieh-oleh sekarang ini,
sementara esok kita langsung menghadap Kangjeng Adipati, apakah. oleh-oleh yang
kita beli masih tetap segar?“
Ki, Tumenggung Sanggayuda
mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Sampai dirumah, oleh-oleh itu tidak lagi dapat
dimakan”
Sejenak kemudian, maka
pelayan kedai itupun sudah menghidangkan minuman dan makan yang dipesan oleh
kedua orang Tumenggung dari Paranganom itu. Minuman hangat, nasi hangat dengan
lauk serta sayur yang menggelitik hidung.
Tetapi ternyata suasana
di kedai, itu tidak begitu ramah kepada keduanya. Seorang yang berpakaian bagus,
bersih dan rapi, tiba-tiba saja mendekati keduanya sambil bertanya “Agaknya
kalian buka orang kademangan sini”
Ki Wiradapa yang tidak
tahu maksud orang itu dengan serta merta saja menjawab “Ya, Ki sanak. Kami
memang buka penghuni kademangan ini. Kami hanyalah orang lewat yang kehausan”
“Kalian berdua akan pergi
kemana dan datang dari mana?”
Kedua orang Tumenggung
itu merasa ragu untuk menjawab. Tetapi orang itu mendesaknya “Apakah kalian
merahasiakannya?“
“Tidak, Ki Sanak“ Ki
Tumenggung Wiradapa tidak dapat mengelak “kami baru saja dari Kateguhan. Kami
adalah orang-orang Paranganom”
“Orang-orang Paranganom?
Jadi kalian datang dari Paranganom?“
“Ya, Ki Sanak. Kami
adalah orang-orang Paranganom yang berkunjung pada saudara kami di Kateguhan”
“Siapakah paman kalian
itu? Aku orang Kateguhan. Aku mengenal orang-orang yang tinggal di kademangan
induk pusat pemerimahan Kateguhan.
“Namanya Ki Partabawa”
“Ki Partabawa yang,
pernah menjadi bebahu di kademangan induk Kateguhan? Ayah Ki Sana yang kemudian
menggantikannya?“
“Ya, Ki Sanak. Kau kenal
pamanku itu?“
“Tentu aku mengenalnya.
Aku adalah kenalan baik Ki Sana, anak Ki Partabawa”
“Ki Partabawa adalah
pamanku. Ki Sana itu adik sepupuku”
Orang itu
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja berkata ”Apakah kau tidak berbohong, Ki
Sanak”
“Kenapa aku harus
berbohong? “
“Siapa namamu?”
“Wiradapa. Dan ini
saudaraku Ki Sanggayuda”
“Ki Sana tidak pernah
menceriterakan kepadaku, bahwa ia mempunyai saudara yang tinggal di Paranganom”
“Apakah ia harus
menceriterakan segala-galanya kepada orang lain? Jika kau tinggal di kademangan
ini, maka jarak kademangan ini dengan kademangan induk Kadipaten Kateguhan itu
cukup jauh, sehingga kau tidak mempunyai banyak waktu untuk berbicara dengan
Sana atau adik-adiknya?”
“Aku pernah tinggal di
kademangan induk di pusat pemerintahan Kateguhan itu, Ki Sanak. Aku seorang
saudagar yang menjelajahi daerah Kateguhan”
“Kau juga sering pergi ke
Paranganom? “
“Buat apa aku pergi ke
Paranganom? Paranganom adalah sarang kejahatan. Brandal, kecu, perampok,
penyamun dan sebangsanya. Nah, apakah kalian dua orang diantara para penjahat
itu yang sedang mengamati daerah Kateguhan?“
“Jangan berkata begitu,
Ki Sanak“ sahut Ki Tumenggung Wiradapa.
“Jika bukan bagian dari
mereka, lalu apa? Orang-orang yang merasa dirinya terhormat di Paranganom segan
menginjakkan kakinya di Kateguhan. Dengan sombong mereka memandang Kateguhan
sebagai tempat sampan yang harus dihindari”
“Kenapa orang-orang
Kateguhan menganggap orang-orang Paranganom tidak mau menginjakkan kakinya di
Kateguhan? Kenapa anggapan yang salah itu justru merebak pada saat-saat kami
menghendaki pendekatan?”
“Tentu Raden Ayu
Prawirayuda itu yang menyebarkan fitnah di Paranganom, bahwa Kateguhan adalah
daerah yang tabu untuk disentuh”
“Tidak, Ki Sanak. Tidak
ada rasa permusuhan di Paranganom terhadap Kateguhan. Kami masih tetap
menganggap bahwa kami masih bersaudara. Kami tidak mempunyai alasan apa-apa
untuk membuat jarak dengan Kateguhan”
“Sudahlah. Kalian tidak
usah sesorah disini. Sekarang, kalian harus mengakui bahwa kalian adalah bagian
dari para perusuh di Paranganom”
“Jangan begitu. Aku
datang ke Kateguhan dengan maksud baik. Menengok pamanku yang sudah lama tidak
bertemu”
”Ki Sana adalah orang
yang paling benci terhadap orang-orang Paranganom. Ceritamu bahwa kau adalah
kemanakan Ki Partabawa adalah khayalan saja untuk mencoba mengelabuhi kami”
“Tidak, Ki Sanak. Kami
berkata sebenarnya”
Namun tiba-tiba saja
orang itupun berkata kepada orang orang yang ada didalam kedai itu “Saudara-saudaraku.
Kita harus berani menunjukkan kepada Orang-orang Paranganom, bahwa kita adalah
orang-orang yang terhormat. Kita tidak mau direndahkan, apalagi dianggap sampah
yang berada di lubang pembuangan sampah. Karena itu, maka marilah kita perlakuan
orang-orang Paranganom ini sesuai dengan kesombongan mereka. Kita ambil baju,
ikat kepala dan kain panjangnya. Kita ambil setagen, kamus dan timangnya.
Kecuali jika timang itu berharga dan terbuat dari. emas, biarlah timang itu
dibawanya agar mereka tidak dapat menuduh kita ingin merampoknya. Jika kerisnya
keris yang baik dan mahal harganya, biarlah mereka bawa pulang ke Paranganom.
Kami tidak membutuhkannya. Kami tidak merampok. Kami hanya ingin membalas
penghinaan mereka dengan penghinaan pula”
Wajah kedua orang
Tumenggung itu menjadi tegang. Ki Tumenggung Sanggayuda yang cepat tersinggung
itupun berrkata “Ki Sanak. Masih ada waktu untuk merenungkan niatmu itu. Kami,
siapapun kami, tentu tidak akan bersedia dihinakan seperti itu. Kami tentu akan
menolaknya dan mempertahankan harga diri kami”
Orang itu tertawa.
Katanya “Kalian hanya berdua. Apa yang dapat kalian lakukan berdua? Kami akan
menangkap kalian beramai-ramai. Kami akan melepas baju kalian, kain panjang
kalian dan ikat kepala kalian. Biarlah kalian pulang dengan celana hitam kalian.
Biarlah kalian menjadi tontonan orang sepanjang jalan. Perbatasan Kateguhan dan
Paranganom sudah tidak terlalu jauh”
“ Ki Sanak “ suara Ki
Tumenggung Sanggayuda meninggi kalian tidak akan dapat melihat aku berkuda tanpa
baju dan ikat kepala. Jika kalian memaksa, maka yang akan kalian tonton adalah
mayat kami berdua”
Wajah orang yang
berpakaian rapi dan bersih, yang mengaku seorang saudagar itu terkejut mendengar
jawaban Ki Tumenggung Sanggayuda. Dengan serta merta iapun berkata “Aku tidak
berniat membunuh siapapun. Tetapi aku hanya ingin membalas penghinaan orang
Paranganom dengan penghinaan pula”
“Kami tidak akan
membiarkan diri kami dihina. Sudah aku katakan, bahwa aku akan mempertahankan
diri kami sampai batas terakhir. Mati”
Saudagar itu menjadi
ragu-ragu. Kata-kata Ki Tumenggung Sanggayuda itu diucapkan dengan tegas dan
tanpa ragu-ragu. Karena itu, maka saudagar itu justru harus berpikir dua tiga
kali.
Dalam pada itu, Ki
Tumenggung Sanggayuda berkata “Jika kami berdua mati disini, maka berita
kematian itu akan sampai di telinga orang-orang Paranganom. Jika permusuhan
antara Paranganom dan Kateguhan itu memang ada, maka biarlah kematian kami
berdua akan meniup api permusuhan itu menjadi semakin besar. Orang-orang
Paranganom tidak akan membiarkan dua orang warganya mati tanpa melakukan
kesalahan apa-apa di Kateguhan”
Saudagar itu menjadi
semakin bimbang. Nampaknya orang yang bernama Ki Sanggayuda itu
bersungguh-sungguh. Orang itu sama sekali tidak menjadi gentar berada diantara
sekian banyak orang-orang Kateguhan.
Namun tiba-tiba terdengar
suara seorang yang duduk bersama beberapa orang yang lain “Bagus. Aku senang
mendengar kata-kata jantannya. Kita akan melihat, apakah ia berkata sebenarnya
atau sekedar satu gertakan yang tidak berarti apa-apa”
Semua orang yang ada
didalam kedai itu berpaling. Mereka melihat seorang yang berkumis tebal
melintang bangkit berdiri. Bahkan kemudian ia melangkah maju sambil berkata “Aku
akan membunuh kalian berdua, jika kalian berdua menolak untuk dihinakan”
Suasanapun semakin tegang.
Apalagi ketika tiga orang yang lainpun bangkit berdiri pula. Seorang yang
berkepala bundar dan bermata cekung tertawa sambil berkata” Sudah lama kami
tidak mendapatkan permainan yang menarik. Sekarang kami menemukannya disini”