Welcome to topmdi - ebook collection
Seri Arya Manggada V Mentari Senja Oleh : SH
MINTARDJA Jilid : 1 DI TIMUR matahari mulai
membayangkan sinar paginya yang sejuk. Ketika Manggada dan Laksana
keluar dari regol halaman, mereka melihat beberapa orang berjalan
dengan tenang di jalan padukuhan. Diwajah mereka tidak lagi
membayang kecemasan dan ketakutan. Dua orang perempuan yang
nampaknya akan pergi ke pasar, sempat bergurau. Suara tertawa mereka
yang renyah disahut oleh kicau burung kepodang yang hinggap
dipelepah daun pisang. Padukuhan Gemawang memang mulai tersenyum.
Orangorang yang pergi ke sawahpun tidak lagi nampak tergesa-gesa
dengan wajah yang cemas. Manggada dan Laksanapun kemudian melangkah
menyusuri jalan padukuhan. Mereka memang akan pergi ke sawah untuk
membuka pematang mengairi batang padi yang mulai berbunga. Manggada
dan Laksana sengaja berjalan lewat depan rumah Wira Sabet. Rumah
yang sudah mulai dihuni lagi oleh pemiliknya setelah untuk beberapa
lama ditinggalkan dan dibiarkan kosong dan kotor. Sampah berserakan
dimanamana. Kayu-kayu kering yang dibiarkan teronggok dibawah
pepohonan. Namun pohon duwet dan manggis dirumah Wira Sabet itu
tetap berbuah. Ketika keduanya berjalan didepan regol, tiba-tiba
saja keduanya ingin singgah. Keduanya mendengar suara sapu lidi di
halaman rumah yang pintu regolnya masih tertutup. Perlahan-lahan
Manggada mendorong pintu regol yang ternyata tidak diselarak itu.
Dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu, Manggada melihat
Pideksa yang sedang menyapu halaman, terkejut. Tetapi demikian
Pideksa itu melihat Manggada dan Laksana yang kemudian melangkah
masuk, màka ànak muda itupun tersenyum. "Aku tidak sengaja
mengejutkanmu" berkata Manggada. "Aku tahu" jawab Pideksa yang
berhenti menyapu "tetapi jantungku yang menjadi rapuh sekarang
membuat aku mudah sekali terkejut." "Lupakan" desis Manggada "masih
banyak yang harus kau lakukan. Bukankah umurmu tidak terpaut dengan
umur kami berdua?" "Kau tidak pernah terperosok kedalam kubangan
yang mengotori tubuh dan jiwamu" berkata Pideksa. "Tetapi yang
penting sekarang, apa yang akan kita kerjakan kemudian." jawab
Manggada. Pideksa mengangguk kecil, sementara Laksanapun berkata
“Bangkitlah. Anak-anak muda padukuhan ini ternyata dapat menerima
kau kembali diantara mereka." Pideksa memandang Laksana sekilas.
Tetapi kemudian pandangan matanya terlempar jauh kesudut halamannya.
Suaranya yang parau terdengar ragu:"Apakah mereka benarbenar
memaafkan keluarga kami, atau sekedar meredam dendam didalam hati
yang setiap saat akan meledak dan membakar keluarga kami." "Mungkin
ada orang yang mendendammu. Mungkin keluarga dari korban yang jatuh
ketika kami datang ke barakmu. Tetapi jika kau kembali memasuki
kehidupan wajar dan membuktikari bahwa kau telah berubah, maka
dendam itu akhirnya akan terkikis oleh kenyataan itu." Pideksa
tersenyum, betapapun pahitnya. Katanya "Aku berterima kasih kepada
kalian berdua. Kalian telah memberi kesempatan kepada kami untuk
menatap masa depan. Segala sesuatunya tentu tergantung kepada kami,
apakah kami dapat mempergunakan kesempatan ini dengan baik atau
tidak." "Tataplah hari depanmu dengan tegar" desis Manggada sambil
menepuk bahu Pideksa. Pideksa mengangguk. "Ki Jagabaya dan Sampurna
benar-benar telah memaafkan kau dan paman Wira Sabet. Bukankah kau
rasakan itu?" Pideksa mengangguk pula. Katanya "Ya. Aku
merasakannya. Ayah juga merasakannya. Tetapi sampai sekarang, ayah
masih lebih senang mengurung diri didalam rumah dengan pintu yang
tertutup." "Ajak paman Wira Sabet keluar. Aku yakin, kalian akan
diterima dengan baik oleh seisi padukuhan." desis Manggada. Pideksa
mangangguk-angguk. "Sudahlah" berkata Manggada kemudian "aku akan
mengairi sawahku. Padi sedang berbunga. Jika terlambat, maka
hasilnya tentu kurang baik." Pideksa memandang wajah Manggada dengan
kerut didahi. Dengan ragu ia berkata "Apakah Ki Bekel masih mengakui
bahwa sawah ayah itu masih tetap menjadi milik ayah?" "Ya,
seharusnya demikian. Bukankah sampai sekarang sawah paman Wira Sabet
masih kering dan tidak ditanami sejak paman Wira Sabet meninggalkan
padukuhan ini?" "Ya" jawab Pideksa. "Sawah itu kini menjadi
tempat anak-anak menggembala kambing. Tetapi sudah tentu bukan
berarti bahwa kalian tidak boleh menanaminya lagi." jawab Manggada.
Pideksa mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap nampak ragu.
Manggada yang melihat keraguan di sorot mata Pideksa itupun berkata
"Baiklah. Aku akan menghubungi Ki Jagabaya untuk meyakinkan, apakah
sawahmu itu dapat digarap lagi." Pideksa menarik nafas panjang.
Dengan nada dalam ia berkata "Terima kasih. Berapa kali lagi aku
harus mengucapkan terima kasih kepada kalian." "Sudahlah. Jangan
berlebihan. Kita akan bersama-sama hidup dalam suasana yang lebih
baik di padukuhan ini." "Kami akan berusaha berbuat sebaik-baiknya.
Kami benarbenar berharap bahwa kami dapat diterima oleh para
penghuni padukuhan ini." "Penghuni padukuhan ini bukannya pendendam,
Pideksa. Kecuali ayah dan paman Sura Gentong." "Jangan sebut lagi."
potong Laksana. Lalu katanya "Nah, marilah. Kami akan pergi ke
sawah. Nanti dari sawah kami akan singgah. Pohon duwet itu
seakan-akan tidak berdaun lagi. Kamilah yang selama ini memetik
duwet dan manggis dari halaman ini. Tentu saja atas ijin paman Wira
Sabet." Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan halaman
itu, maka Pideksa mengantar mereka sampai keregol halaman. Demikian
keduanya turun ke jalan, maka Pideksa melanjutkan kerjanya, menyapu
halaman rumahnya yang terhitung cukup luas. Dihari-hari
berikutnya, Manggada dan Laksana memang berusaha untuk membawa
Pideksa kembali kedalam pergaulan anak-anak muda. Sebagian dari
anak-anak muda padukuhan itu, masih saja dibayangi oleh ketakutan,
justru karena Pideksa anak Wira Sabet. Tetapi tingkah laku Pideksa
memang meyakinkan anak-anak muda di Gemawang, bahwa Pideksa memang
sudah berubah. Seperti yang dijanjikan kepada Pideksa, maka Manggada
dan Laksana telah menemui Ki Jagabaya. Mereka telah membicarakan
lemang sawah dan pategalan milik Wira Sabet dan Sura Gentong. Apakah
Wira Sabet diperbolehkan menggarap sawahnya kembali. Ki Jagabaya
mengangguk-angguk. Katanya "Mereka perlu makan. Karena itu menurut
pendapatku, biarlah mereka menggarap sawah mereka. Karena Sura
Gentong sudah tidak ada lagi, maka miliknya memang akan diwarisi
oJeh kemanakannya, Pideksa." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Ternyata Ki Jagabaya cukup bijaksana. Ia memang bukan pendendam
sebagaimana diduganya. Bahkan sikap Sampumapun tidak berbeda dengan
sikap ayahnya. Ia menganggap bahwa Wira Sabet memerlukan bekal untuk
dapat tetap hidup. "Jika hidup paman Wira Sabet dan Pideksa
mengalami kesulitan dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhannya
sehari-hari, maka mereka akan dapat terperosok kembali kedalam
dunianya yang gelap. Karena disamping mendendam orang-orang
Gemawang, maka mereka telah hidup diantara para perampok, penyamun
dan penjahat-penjahat yang lain, bahkan bersama para pengikut Ki
Sapa Aruh." berkata Sampurna. "Nah, biarlah aku menemuinya"
berkata Ki Jagabaya “tetapi sebaiknya aku berbicara dengan Ki
Bekel." "Apa gunanya" desis Sampurna "selama ini Ki Bekel tidak
berbuat apa-apa. Ia selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Bahkan
menurut pendapatku bukan keragu-raguan karena ia membayangkan
kerusakan, korban dan bencana yang dapat menimpa padukuhan ini.
Tetapi ketakutan yang amat sangat." "Jangan begitu" berkata Ki
Jagabaya "apapun yang dilakukan, tetapi ia masih tetap Bekel
padukuhan Gemawang. Bukankah bukan hanya Ki Bekel yang berlaku
seperti itu? Apa yang telah dilakukan oleh Kademangan Kalegen?
Justru Ki Demang Rejandani yang dengan serta-merta bersedia membantu
kita tanpa perasaan takut sama sekali meskipun ia sadar siapakah
yang bakal dihadapi.” "Meskipun Ki Demang mempunyai alasan
tersendiri. Bukankah ia juga berusaha untuk mendapatkan kembali
benda-benda yang sangat berharga yang dirampok oleh Ki Sapa Aruh dan
orang-orang dari barak itu?" sahut Sampurna. "Bukan hanya itu. Aku
melihat sikap jujur pada Ki Demang Rejandani. " sahut Ki Jagabaya.
Sampurna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk kecil. Ketika
kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan rumah Ki Jagabaya, maka
seperti yang dikatakannya, Ki Jagabayapun telah pergi ke rumah Ki
Bekel. Bagaimanapun juga sikap Ki Bekel sebelumnya, tetapi ia masih
tetap diakui sebagai Bekel padukuhan Gemawang. Kedatangan Ki
Jagabaya telah diterima oleh Ki Bekel Gemawang di pringgitan. Dengan
sikap seorang pemimpin Ki Bekelpun bertanya "Apakah keperluan
Ki Jagabaya menghadap aku sekarang ini?" "Ki Bekel" jawab KfJagabaya
yang kemudian telah menceriterakan keperluannya datang menemui Ki
Bekel. Ki Bekel mendengarkan keterangan Ki Jagabaya dengan dahi yang
kadang-kadang berkerut. "Dengan menggarap sawahnya kembali, maka
Wira Sabet akan dapat hidup bersama keluarganya." "Huh" pikir Ki
Bekel tibatiba telah mencibir “apakah ia mengira bahwa ia dapat
berbuat apa saja di padukuhan ini? Ia sudah berkhianat dan bahkan
merusak tata kehidupan padukuhan ini. Sekarang dengan enaknya ia
ingin minta sawah dan pategalannya kembali. Tidak. Sawah dan
pategalannya bahkan rumah dan halamannya akan menjadi milik
padukuhan. Aku bukan seorang pendendam. Tetapi ia sudah terlalu lama
membuat kepalaku menjadi pusing. Jika saja aku tidak mempunyai daya
tahan yang tinggi, maka aku tentu sudah menjadi gila karena tingkah
lakunya yang buruk itu." "Jadi maksud Ki Bekel" bertanya Ki
Jagabaya. "Sudah aku katakan. Sebagai hukuman atas pengkhianatannya,
maka sawah, pategalan, rumah, halaman dan segala kekayaannya
akan dirampas dan menjadi milik padukuhan." "Ki Bekel" berkata Ki
Jagabaya "ia sudah menyatakan diri untuk meninggalkan dunianya yang
gelap itu. Ia sudah berjanji untuk hidup dengan baik sebagaimana
orang lain penghuni padukuhan ini. Ia sudah menyesali segala
perbuatannya. Sebenarnyalah bahwa yang sama sekali tidak terkendali
adalah Sura Gentong. Bukan Wira Sabet." "Begitu mudahnya orang
mendapatkan pengampunan?" bertanya Ki Bekel "aku harus bersikap
adil. Yang memberikan lebih bagi padukuhan ini akan mendapatkan
lebih pula. Yang berkhianat tentu akan mendapatkan hukumannya. Wira
Sabet bukannya baru sekarang melakukan dosa yang besar bagi
padukuhan ini. Ketika ia melarikan diri, maka ia telah meninggalkan
noda pula di padukuhan ini." "Ya" jawab Ki Jagabaya "ketika itu,
Wira Sabet telah melukai aku." Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ia
mengingat-ingat sebentar. Lalu katanya "Ya. Ia sudah melukai Ki
Jagabaya. Kemudian ia telah berkhianat. Dengan susah payah aku harus
berusaha mengatasinya, sehingga akhirnya ketenangan dapat diperoleh
kembali oleh padukuhan ini." "Siapakah yang menangkap Wira Sabet
menurut pendapat Ki Bekel?" tiba-tiba saja Ki Jagabaya bertanya. Ki
Bekel menjadi gagap. Namun kemudian jawabnya "Itu memang kewajiban
Ki Jagabaya. Tetapi segala perbuatan, sikap dan tingkah laku bebahu
padukuhan ini tentu dibawah tanggung jawabku." "Ki Bekel
benar" jawab Ki Jagabaya "karena itu maka aku harus datang menghadap
dan mohon persetujuan Ki Bekel tentang sawah dan pategalan milik
Wira Sabet." "Keputusanku tetap" berkata Ki Bekel. "Baiklah. Aku
akan menyampaikan keputusan Ki Bekel kepada Wira Sabet. Aku akan
mengatakan bahwa Ki Bekel tidak sependapat untuk menyerahkan kembali
sawah dan pategalan Wira Sabet ketangannya." "Tetapi keputusan ini
aku dasarkan atas jabatanku. Bukan aku pribadi." "Ya, Ki Bekel"
jawab Ki Jagabaya. "Dengan demikian, maka kita semuanya harus
mengamankan keputusan itu. Semua orang padukuhan ini. Terutama para
bebahu. Apalagi Ki Jagabaya yang memang mempunyai tugas khusus untuk
menjaga ketenangan dan ketertiban di padukuhan ini.” "Baik Ki Bekel.
Aku akan berusaha. Tetapi tentu saja kemampuan dan tenagaku
terbatas. Sementara Wira Sabet dan saudara-saudara seperguruannya
akan semakin mendendam." "Maksud Ki Jagabaya" bertanya Ki Bekel.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengatakan bahwa dendam Wira
Sabet akan membakar jantungnya kembali." jawab Ki Jagabaya. "Adalah
tugas Ki Jagabaya untuk menangkapnya dan memenjarakannya." berkata
Ki Bekel dengan wajah yang tegang. "Tentu Ki Bekel. Tetapi sudah aku
katakan, bahwa kemampuan dan tenagaku terbatas. Apalagi Wira Sabet
sudah mendendamku sampai ke ujung rambutnya. Jika besok atau
lusa saudara-saudara seperguruannya datang membunuh aku, maka segala
sesuatunya tentu terserah kepada Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel dapat
menunjuk orang lain yang lebih baik dari aku atau Ki Bekel akan
menanganinya sendiri." "Tetapi bukankah Ki Jagabaya mampu melawan
mereka?" suara Ki bekel mulai bergetar. "Mungkin seorang melawan
seorang aku mampu mengimbangi kemampuan Wira Sabet. Tetapi jika
datang dua orang, tiga orang, ampat orang dengan beberapa orang
pengikut? Atau mereka memakai cara yang lama dengan menakut-nakuti
seisi padukuhan termasuk Ki Bekel?" Wajah Ki Bekel menjadi tegang.
Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Namun kemudian suaranya menjadi
semakin gagap "Bukankah Ki Jagabaya pernah mengalahkan Wira Sabet
dan bahkan membunuh Sura Gentong." "Satu kebetulan Ki Bekel. Ada
beberapa orang datang membantu. Ki Pandi dengan kedua ekor harimau
peliharaannya yang garang tetapi terkendali. Ki Carang Aking dengan
dua orang muridnya. Ki Ciirabawa dengan anaknya dan Ki Demang
Rejandani yang kebetulan mempunyai kepentingan yang sama. Tanpa
mereka, maka padukuhan ini akan dihancurkan sampai lumat."
“Bagaimana dengan Ki Kertasana? Anaknya dan anakmu?" "Aku akan
menyuruh isteri dan anak-anakku mengungsi. Jika Wira Sabet dan
saudara-saudara seperguruannya datang mengamuk, biar aku sajalah
yang dibunuhnya. Sementara Ki Kertasana, entahlah, apakah ia masih
bersedia bertempur lagi atau tidak." Ki Bekel memang menjadi
kebingungan. Dengan suara yang bergetar ia berkata "Orang-orang itu
harus tetap bersedia melawan Wira Sabet. Bahkan sekarang mereka aku
perintahkan untuk menangkap Wira Sabet itu sebelum ia membuat
keributan di padukuhan ini lagi." "Mereka tidak berkewajiban untuk
mematuhi perintah Ki Bekel, karena mereka bukan penghuni padukuhan
ini." "Tetapi mereka ada di sini sekarang" bentak Ki Bekel. Ki
Jagabaya yang sudah menahan diri itu mengerutkan dahinya. Ia tidak
senang dibentak dengan kasar oleh Ki Bekel sekalipun. Karena itu,
maka katanya "Jika Ki Bekel ingin memberikan perintah itu kepada
mereka, berikan langsung kepada mereka. Tetapi jika kemudian mereka
justru berpihak kepada Wira Sabet, dan bahkan termasuk aku, itu
terserah kepada Ki Bekel." "Gila. Apakah kau sudah gila?" bertanya
Ki Bekel. "Mungkin aku sudah gila. Tetapi aku ingin menyelamatkan
diri dan keluargaku." jawab Ki Jagabaya. Wajah Ki Bekel menjadi
pucat. Sementara Ki Jagabaya berkata "Jika Ki Bekel tidak senang
dengan sikapku, aku minta Ki Bekel memberhentikan, aku dan
menggantinya dengan orang lain yang memiliki kemampuan yang tinggi
untuk melawan Wira Sabet." "Tetapi itu tidak mudah" jawab Ki Bekel.
"Aku minta diri. Aku datang untuk minta agar Ki Bekel menyetujui
menyerahkan kembali tanah dan pategalan Wira Sabet kepadanya. Hanya
itu, Jika Ki Bekel tidak setuju, itu terserah. Tetapi akibatnya
terserah pula kepada Ki Bekel. Aku memilih dipecat saja karena
aku tidak ingin mengorbankan keluargaku." Ki Bekel menjadi bingung.
Ketika Ki Jagabaya beringsut, maka Ki Bekel itupun berkata "Tunggu
Ki Jagabaya." "Apalagi yang ditunggu? Bukankah keputusan Ki Bekel
tetap? Sebaiknya aku pulang saja mempersiapkan pengungsian isteri
dan anak-anakku. Aku mohon Ki Bekel menghubungi langsung orang-orang
yang telah membantu membebaskan padukuhan ini dari tekanan ketakutan
dan kecemasan. Itu jika mereka masih ada di padukuhan ini serta
bersedia. Pokoknya terserah kepada Ki Bekel." "Tetapi itu
kewajibanmu" teriak Ki Bekel. "Bukankah aku katakan, pecat saja
aku." "Aku tidak memecatmu. Tetapi aku memerintahkan kau berbuat
sesuatu." "Kalau Ki Bekel tidak memecatku, aku meletakkan jabatan”
"Tunggu. Tunggu." minta Ki Bekel. "Apalagi yang harus kita
bicarakan?" bertanya Ki Jagabaya. "Tetapi jangan pergi dahulu. Kita
belum selesai" Ki Bekel menjadi gagap. "Sebenarnya tidak banyak
persoalan yang harus kita putuskan hari ini. Mengijinkan Wira Sabet
menggarap sawah dan pategalanrrya lagi. Itu saja. Jika Ki Bekel
memutuskan setuju, maka tidak ada persoalan lagi. Tetapi jika tidak,
maka padukuhan ini akan memasuki kembali suasana sebagaimana pernah
kita alami." Ki Bekel menjadi berdebar-debar. Suasana yang baru saja
dialami oleh padukuhan itu benar-benar sangat menakutkan
baginya. Bahkan ia tidak dapat berbohong kepada dirinya sendiri,
bahwa segala sesuatunya Ki Jagabayalah yang telah mengatasinya.
Karena itu, maka dengan nada berat Ki Bekel itupun berkata “Baiklah.
Terserah kepada Ki Jagabaya. Jika Ki Jagabaya menganggap bahwa Wira
Sabet pantas untuk menggarap sawah dan pategalannya kembali, maka
akupun tidak berkeberatan pula." Ki Jagabaya menarik nafas
dalam-dalam. Katanya "Terima kasih Ki Bekel. Hanya itulah yang aku
butuhkan. Aku mohon diri. Aku akan menyampaikannya kepada Wira Sabet
dan anak laki-lakinya. Mereka tentu akan merasa senang dan tidak
akan membuat keributan lagi di padukuhan ini." Berita bahwa Wira
Sabet dan Pideksa diperkenankan menggarap sawahnya lagi, telah
diterima dengan suka cita. Ketika Ki Jajabaya dengan mengajak
Sampurna, Manggada dan Laksana datang kerumah Wira Sabet untuk
menyampaikan ijin untuk menggarap sawah dan pategalannya lagi, maka
Wira Sabet menjadi sangat terharu. Kegarangannya seakan-akan telah
luluh oleh kebesaran jiwa orang-orang padukuhannya. Ijin untuk
menggarap sawah dan pategalannya kembali itu membuat penyesalan yang
semakin mendalam di hatinya. Dihari-hari mendatang, maka Wira Sabet
tidak lagi menjadi orang yang terasing di padukuhannya sendiri, ia
mulai keluar dari dinding rumahnya untuk pergi ke sawah. Disepanjang
jalan ia bertemu dengan tetangga-tetangganya. Mula-mula mereka hanya
saling mengangguk. Namun kemudian mereka mulai berbicara yang satu
dengan yang lain. Bahkan kemudian mereka mulai terbuka dan berbicara
tentang banyak hal mengenai padukuhan mereka. Demikian pula
yang dilakukan oleh Pideksa diantara anakanak muda Gemawang. Di
hari-hari mendatang, maka Gemawang benar-benar telah menjadi tenang.
Tatanan kehidupan telah pulih kembali. Tidak ada lagi ketakutan dan
kecemasan. Tidak pula ada perasaan saling curiga dan permusuhan.
Bagi orang-orang Gemawang, maka padukuhan mereka telah menjadi
padukuhan yang dapat memberikan kesejukan. Gemawang bukan sekedar
tempat tinggal, tetapi Gemawang merupakan kampung halaman yang
teduh. Ketika kehidupan di Gemawang menjadi mapan, maka Ki Citrabawa
justru mulai teringat kepada kampung halamannya sendiri. Karena itu,
maka kepada Ki Kertasana, ia telah menyampaikan niatnya untuk
pulang. "Aku sudah cukup lama berada disini kakang" berkata Ki
Citrabawa. Ki Kertasana tersenyum. Katanya "Kalian berdua telah ikut
mengalami satu peristiwa yang mendebarkan di padukuhan ini."
"Sekarang, semuanya telah lewat." desis Ki Citrabawa. Dengan
demikian, maka Ki Kertasana tidak dapat menahan adiknya lebih lama
lagi. Karena itu, maka ketika kemudian adiknya benar-benar minta
diri, maka Ki Kertasana itupun telah melepaskannya. Namun Ki
Kertasana masih minta Ki Citrabawa untuk minta diri kepada Ki
Jagabaya. Ki Jagabaya melepaskan Ki Citrabawa dengan berat hati. Ki
Citrabawa telah ikut menentukan hari depan padukuhan Gemawang
bersama Laksana. Namun ternyata bukan hanya Ki Citrabawa
sajalah yang akan meninggalkan Gemawang. Ki Kertasana telah minta
agar Manggada dan Laksana mengantarkan Ki Citrabawa pulang. "Lebih
banyak kawan diperjalanan, tentu perjalanan akan dirasakan semakin
pendek." berkata Ki Kertasana. Ki Citrabawa tidak menolak. Apalagi
setelah ia mengetahui bahwa anak dan kemanakannya itu sudah menjadi
semakin matang. Bukan saja kemampuan ilmunya, tetapi juga cara
mereka berpikir dan mengambil sikap. Tetapi baik Ki Citrabawa maupun
Ki Kertasana tidak menentukan, apakah Mariggada dan Laksana akan
tinggal dirumah orang tua mereka masing-masing, atau mereka akan
selalu bersama-sama sebelum mereka masing-masing berkeluarga. Tetapi
justru karena itu, maka Ki Pandipun telah minta diri pula. Katanya
"Aku berada disini karena Manggada dan Laksana ada disini. Jika
mereka pergi, maka akupun akan pergi juga." "Ki Pandi akan pergi ke
mana?" bertanya Manggada “seandainya Ki Pandi tidak mempunyai
kepentingan tertentu, marilah, kita berjalan bersama-sama." Ki Pandi
mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berdesis "Sebenarnya aku
masih mempunyai tugas. Panembahan berilmu hitam itu masih belum
dapat ditundukkan. Tetapi baiklah, sambil mencarinya, aku bersedia
ikut berjalan bersama-sama Manggada dan Laksana. Bukankah itu
berarti bahwa aku akan berjalan bersama Ki Citrabawa dan Nyi
Citrabawa? Agaknya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan."
"Aku akan berterima kasih sekali jika Ki Pandi dapat berjalan
bersama kami." berkata Ki Citrabawa. "Meskipun aku akan berjalan
bersama Ki Citrabawa, tetapi jalan yang akan kita lalui akan
berbeda." sahut Ki Pandi kemudian. Lalu katanya pula “Aku membawa
momongan. Dua ekor harimau. Karena itu, aku harus memilih jalan
terbaik yang dapat kami lalui tanpa mengganggu orang lain." Manggada
tertawa. Katanya "Apakah kedua momongan Ki Pandi itu pada suatu saat
tidak dapat ditinggalkan disatu tempat?" "Tentu. Tetapi disatu
tempat yang terdekat. Setiap saat aku memerlukan keduanya atau
keduanya memerlukan aku" berkata Ki Pandi kemudian. "Jika demikian,
biarlah kami yang menyesuaikan diri" berkata Ki Citrabawa. Ki Pandi
menggeleng. Katanya "Jangan. Jika Ki Citrabawa tidak berjalan
bersama Nyi Citrabawa, maka aku tidak berkeberatan, karena aku
yakin, dimasa muda Ki Citrabawa tentu telah sering menempuh
perjalanan pula." Ki Citrabawapun tertawa. Katanya "Itu sudah lama
sekali terjadi. Tetapi baiklah. Meskipun Ki Pandi akan mengambil
jalan sendiri, tetapi akhirnya Ki Pandi akan sampai kerumahku juga."
Demikianlah, ketika sampai saat yang direncanakan, maka Ki Citrabawa
dan Nyi Citrabawa telah meninggalkan padukuhan Gemawang diantar oleh
Manggada dan Laksana. Bersama mereka adalah Ki Pandi. Namun Ki Pandi
telah mengambil jalan yang lain, karena jika Ki Pandi menempuh jalan
sebagaimana dilalui oleh Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa, maka kedua
ekor harimaunya akan menakut-nakuti orang. Perjalanan yang
mereka tempuh memang merupakan perjalanan panjang. Tetapi ternyata
bahwa mereka tidak mengalami hambatan disepanjang perjalanan mereka,
sehingga akhirnya mereka telah berada dirumah Ki Citrabawa.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, maka Ki Pandi yang menyertai
mereka tetapi mengambil jalan yang berbeda, telah sampai pula
dirumah Ki Citrabawa. Ki Pandi sudah berjanji untuk tinggal dirumah
itu beberapa lama sebagaimana Manggada. "Jika pada suatu saat kau
akan pulang, maka biarlah aku bersamamu" berkata Ki Pandi kepada
Manggada. "Terima kasih Ki Pandi" sahut Manggada "tetapi aku tidak
tahu, apakah Laksana akan tinggal bersama paman dan bibi atau masih
ada niatnya untuk menempuh perjalanan pengembaraan." "Kau kira aku
akan tinggal dirumah sebagai gadis pingitan” sahut Laksana. Ki Pandi
tertawa. Katanya "Tetapi bukan aku yang mengajakmu. Jangan-jangan Ki
Citrabawa dan Nyi Citrabawa salah mengerti." Manggada dan Laksana
tertawa pula. Dengan nada tinggi Laksana berkata "Aku akan
mengatakan kepada ayah dan ibu, bahwa Ki Pandi telah memaksaku dan
bahkan mengancamku jika aku tidak mau pergi bersamanya." Ki
Pandi sendiri masih saja tertawa. Namun kemudian, ketika suara
tertawa mereka mereda, Ki Pandipun berkata "Tetapi kalian harus
mengetahui sebelumnya, bahwa jika kalian akan melakukan
pengembaraan, kalian harus menjadi lebih berhati-hati." "Kenapa?
"bertanya Manggada. Dahi Ki Pandi menjadi berkerut. Ia menjadi lebih
bersungguh-sungguh "Perjalanan kalian selalu diamati oleh
seseorang." "Siapa?" bertanya Laksana. Ki Pandi menggeleng. Katanya
"Aku tidak mengenal. Aku ketahui justru karena diperjalanan kalian
bersama Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa aku telah memisahkan diri.
Tetapi aku dapat mengenali orang itu jika aku bertemu kembali dengan
orang itu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada
dalam Manggada berkata "Jika demikian, maka pada suatu saat, kita
akan dapat menemukan orang itu." "Mudah-mudahan" jawab Ki Pandi
"tetapi karena untuk sementara kita akan berada disini, maka orang
itu dapat kita lupakan saja. Kecuali jika pada suatu hari kita temui
orang itu lagi dimanapun." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk
pula. Namun mereka benar-benar telah melupakan orang itu,
setidaktidaknya untuk beberapa lama. Ternyata Ki Pandi memang
melihat orang itu. Bahkan ketika Ki Pandi berjalan-jalan seorang
diri di luar halaman rumah Ki Citrabawa, ia melihat orang itu lagi.
Tetapi Ki Pandi seakan akan tidak menghiraukannya sama sekali.
Untunglah bahwa orang itu juga tidak menghiraukan Ki Pandi. Tetapi
dihari-hari mendatang, Ki Pandi tidak pernah melihat orang itu lagi
disekitar rumah Ki Citrabawa. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana
ternyata tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk tinggal dirumah
saja. Karena itu, maka keduanyapun telah minta diri untuk menempuh
satu perjalanan agar pengalaman mereka dapat bertambah. "Tidak akan
terlalu lama, paman" berkata Manggada. "Tidak terlalu lama itu
menurut ukuranmu berapa hari?" bertanya Ki Citrabawa. "Jangan
dihitung hari, ayah" sahut Laksana. "Jadi?" "Pertanyaan ayah
seharusnya berdasarkan bulan. Berapa bulan atau bahkan tahun."
berkata Laksana. Ki Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat
merasakan gejolak perasaan anak-anak muda yang ingin mendapatkan
pengalaman yang lebih luas serta melihat lebih banyak dari warna
bumi ini. Berbeda dengan anak-anak muda yang merasa hidupnya sudah
berada diatas kemapanan tertentu, maka Manggada dan Laksana ingin
menjangkau kesempatan yang lebih banyak lagi. Seperti saat-saat
Manggada dan Laksana minta diri meninggalkan rumah itu untuk pergi
ke Gemawang beberapa saat yang lewat, maka Nyi Citrabawa merasa
sangat berat untuk melepas mereka. Tetapi nampaknya keinginan
Manggada dan Laksana sulit untuk dicegah lagi. "Ngger" berkata
Nyi Citrabawa "kau lihat anak-anak sebayamu di padukuhan ini, atau
di padukuhan Gemawang, dapat be-kerjadengan tenangdirumah, disawah
dan pategalan. Mereka merupakan tiang-tiang penyangga kehidupan
keluarga dan padukuhannya. Tetapi kenapa kalian berdua menjadi
gelisah dan ingin menempuh satu pengembaraan yang panjang?" "Ibu"
jawab Laksana "pada suatu saat aku juga akan kembali ke padukuhan
ini. Demikian juga kakang Manggada akan kembali ke Gemawang. Namun
sebelum kami menetap tinggal dan bekerja bagi lingkungan kami,
sebenarnyalah kami ingin melihat betapa luasnya tanah ini, meskipun
aku sadar, bahwa yang dapat aku lihat itu tentu hanya selebar daun
kelor dibanding dengan luasnya bumi.". Nyi Ciirabawa itupun kemudian
berpaling kepada Ki Pandi yang menunduk. Perasaan Ki Pandi memang
agak tergelitik oleh sikap Nyi Citrabawa. Seperti yang
dicemaskannya, akan dapat terjadi salah paham, seolah-olah Ki
Pandilah yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk mengembara.
Tetapi Ki Citrabawa itupun justru berkata "Baiklah. Jika kalian
ingin melihat-lihat sebagaimana pernah kalian lakukan sebelumnya."
Namun kemudian katanya kepada Ki Pandi "Aku titipkan anak-anak ini
kepada Ki Pandi. Mudah-mudahan pengembaraan mereka mendapat arti
bagi hidupnya mendatang serta bagi sesamanya. Kami akan selalu
berdoa, semoga Yang Maha Agung akan tetap melindungi mereka." Nyi
Citrabawa memang tidak menahan mereka lagi. Sementara-Ki Pandi
berkata "Aku akan berusaha sebaikbaiknya dalam keterbatasanku Ki
Citrabawa. Sebenarnya aku juga sudah mencoba untuk menahan mereka
untuk tetap tinggal dirumah sementara aku akan minta diri, karena
aku masih mempunyai tugas yang belum terselesaikan. Tetapi
ternyata keduanya berkeras hati untuk tetap pergi untuk melihat
lingkungan yang lebih luas." "Aku justru merasa beruntung, bahwa
ketika keduanya ingin pergi, Ki Pandi justru bersama mereka. Itu
akan jauh lebih baik daripada mereka pergi hanya berdua saja.
Kemudian mereka kadang-kadang dapat membuat mereka kurang dapat
mengekang diri." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi didalam
hati ia berkata "Justru kepercayaan ini merupakan beban yang berat
bagiku, Untunglah kedua anak muda itu termasuk anak-anak muda yang
tidak terlalu sulit dikendalikan." Demikianlah, maka Ki Citrabawa
dan Nyi Citrabawa harus melepaskan anak dan kemanakannya itu pergi.
Yang membuat mereka cemas adalah justru karena mereka mengetahui,
bahwa kedua-nya tidak sekedar mengembara menyusuri jalanjalan dan
menghindari kesulitan yang dapaf timbul diperjalanan. Tetapi
sebagaimana yang pernah terjadi atas mereka, adalah justru peristiwa
yang dapat membahayakan jiwa mereka. Ketika mereka meninggalkan
rumah Ki Citrabawa, maka bertiga mereka telah pergi ke sebuah hutan
yang tidak terlalu jauh. Di-hutan itu dahulu Manggada dan Laksana
sering berburu harimau untuk mendapatkan kulitnya. Kulit harimau itu
biasanya dibeli oleh para pedagang dengan harga yang cukup tinggi.
Tetapi Ki Citrabawapun kemudian melarang mereka untuk setiap kali
memburu harimau, sehingga keduanyapun telah menghentikan kegiatan
mereka. Diperjalanan itulah Ki Pandi telah memperingatkan
mereka sekali lagi, bahwa mereka berdua agaknya sedang dalam
pengawasan seseorang. "Kita belum dapat memastikan, apakah ada
hubungannya antara orang itu dengan peristiwa yang terjadi di barak
Wira Sabet dan Sura Gentong. Terbunuhnya beberapa orang berilmu
tinggi kadang-kadang membuat persoalan berlarutlarut. Mungkin ada
orang yang tersinggung karenanya, sehingga memahatkan dendam didalam
hatinya. Dendam itulah yang membuat tanah ini selalu dibayangi oleh
kekerasan, disamping sifat-sifat bujuk yang lain yang dapat hinggap
dihati seseorang." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil.
Tetapi pesan Ki Pandi itu mereka perhatikan dengan sungguhsungguh.
Benih itu akan dapat tumbuh dan berkembang di hati yang pada
da-sarnya memang merupakan ladang yang subur. Demikianlah, di hutan
itu Ki Pandi sempat menemui kedua ekor harimaunya. Berbicara dengan
bahasa yang tidak dimengerti oleh Manggada dan Laksana. Namun
kemudian Ki Pandipun berkata "Aku berharap bahwa keduanya bersedia
tinggal dihutan ini untuk beberapa lama. "Di hutan ini banyak
terdapat binatang buas Ki Pandi." berkata Manggada." "Kedua ekor
harimauku ini memiliki sedikit kelebihan. Mereka dapat menghindari
perkelahian. Tetapi jika hal itu harus terjadi, maka keduanya dapat
melakukan yang tidak dapat dilakukan oleh jenis-jenis binatang buas
yang lain." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun
mereka meyakini kata-kata Ki Pandi yang sudah bergaul dengan kedua
ekor harimaunya untuk waktu yang lama. Ketiga orang itu bermalam di
hutan itu. Manggada dan Laksana yang pernah tinggal dihutan sebulan
penuh sama sekali tidak merasa canggung tidur di atas pepohonan.
Merekapun tidak canggung pula berburu untuk mendapatkan makan malam
mereka. "Baru dihari berikutnya, menjelang matahari terbit, setelah
mereka mandi disebuah mata air, maka merekapun meninggalkan hutan
itu. Demikian keduanya keluar dari hutan itu, maka dilihatnya cahaya
matahari yang membayangi di langit. Kemerahmerahan. Semakin lama
semakin cerah. Ki Pandi yang sudah berpengalaman telah mengajak
mereka untuk menentukan arah perjalanan. Meskipun mereka tidak
mempunyai rencana tertentu, namun sebaiknya mereka tidak berjalan
asal melangkahkan kaki mereka. "Bagaimana pendapat Ki Pandi jika
kita melihat keadaan diseberang hutan Jatimalang sepeninggal
Panembahan Lebdagati?" Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
iapun kemudian bertanya kepada diri sendiri "Sepeninggal Panembahan
Lebdagati yang berilmu hitam itu?" Manggada yang mendengar kata-kata
itu justru menyahut “Ya. Apakah Ki Ajar Pangukan masih berada
ditempatnya?" Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya "Dapat saja jika kita memang ingin singgah." "Ya,
sekedar singgah. Agaknya kita memang tidak akan ? Menjumpai apa-apa
lagi disana. Panembahan Lebdagati sudah meninggalkan padepokannya
dan mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain." "Panembahan
itu sudah kehilangan kesempatan yang telah dirintisnya sejak lama
dengan mengorbankan gadis-gadis. Satu kali purnama lepas dari
padanya, maka ia harus mengulanginya lagi dari awal. Agaknya
Panembahan itu sudah tidak mungkin lagi untuk memulainya, sehingga
ia telah mencari jalan lain yang dianggapnya lebih pendek daripada
mengorbankan gadis-gadis disetiap bulan purnama. Karena ia sudah
kehilangan waktu yang panjang, sejak kita menggagalkannya dan
merebut anak Ki Wiradadi itu." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Namun reneana untuk singgah dilingkungan seberang
hutan Jatimalang sangat menarik bagi mereka. Mungkin
perubahanperubahan sudah dan sedang berlangsung disana. Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk. Namun rencana untuk singgah dilingkungan
seberang hutan Jatimalang sangat menarik bagi mereka. Mungkin
perubahanperubahan sudah dan sedang berlangsung disana. Dengan
demikian, maka mereka telah mengarahkan arah perjalanan mereka.
Mereka akan melihat, apakah kehidupan di kaki Gunung Lawu itu sudah
banyak mengalami perubahan atau belum. Namun mereka tidak
tergesa-gesa. Mereka tidak mempunyai satu kepentingan tertentu di
seberang hutan Jati, selain sekedar ingin melihat kembali lingkungan
itu. Karena itu, maka mereka berjalan sambil melihat-lihat.
Padu kuhan, sawah, pategalan, sungai dan hijaunya pepohonan. Ketika
mereka melewati sebuah pasar, maka Laksanapun berniat untuk singgah
sebentar disebuah kedai dipinggir pasar itu. “Aku ingin minum dan
makanan hangat" desis anak muda itu. Manggada tersenyum. Ketika ia
berpaling kepada Ki Pandi, sebelum Manggada bertanya kepadanya, maka
Ki Pandi itu sudah mengangguk sambil berkata "Bukankah aku hanya
mengikuti kalian ?" Manggada tersenyum. Katanya "Baiklah. Kita
singgah sebentar." Demikianlah, maka mereka bertiga telah singgah
disebuah kedai yang tidak terlalu besar. Meskipun demikian, agaknya
kedai itu menyediakan makanan dan minuman yang baik, sehingga karena
itu, maka kedai itu menjadi cukup ramai. Dalam kesibukan menghirup
minuman dan mengunyah makanan, tiba-tiba wajah Ki Pandi berkerut. Ia
melihat lagi orang yang dilihatnya mengikuti perjalanan Manggada dan
Laksana ketika mereka mengantar Ki Citrabawa dan isterinya. Orang
yang juga pernah dilihatnya di dekat rumah Ki Citrabawa.
Tetapi Ki Pandi tidak sempat menunjukkannya kepada Manggada dan
Laksana karena orang itu hanya lewat dan berhenti sejenak di depan
kedai itu. Namun nampaknya orang itu tidak seorang diri. Meskipun
orang itu sudah tidak nampak lagi, namun Ki Pandi telah
memberitahukan juga kepada Manggada dan Laksana, bahwa orang yang
pernah dikatakannya mengamati perjalanan mereka itu baru saja lewat
didepan kedai itu. "Kenapa Ki Pandi tidak menunjukkan kepada kami ?"
"Orang itu hanya lewat. Ketika aku berniat untuk mengatakan kepada
kalian, orang itu sudah tidak nampak lagi." "Kita akan mencarinya.
Mungkin ia masih berada disekitar tempat ini" berkata Laksana.
Tetapi Ki Pandi itu menggeleng. Katanya "Kita tidak perlu bersusah
payah mencarinya." "Tetapi menurut Ki Pandi, orang itu berbahaya
bagi kita” sahut Laksana. "Ya. Tetapi tanpa mencarinya , orang itu
tentu akan datang lagi kepada kita. Nanti, esok atau lusa. Mereka
tentu akan selalu mengikuti kalian berdua. Namun setelah mereka
mengetahui bahwa aku selalu bersama kalian, maka akupun akan ikut
mereka awasi." "Apakah Ki Pandi tidak keliru ? Justru Ki Pandilah
yang diikutinya." desis Manggada. "Agaknya memang suatu kemungkinan.
Tetapi yang sempat mereka temukan dahulu adalah kalian berdua. Orang
itu memperhitungkan, bahwa dengan mengikuti kalian berdua, maka
kalian akan membawanya kepadaku." "Ternyata perhitungannya
benar" desis Laksana. Ki Pandi mengangguk-angguk. Setelah merenung
sejenak, maka Ki Pandi itupun berdesis "Memang masuk akal. Tetapi
semua itu baru merupakan dugaan-dugaan. Meskipun demikian aku kira
pada suatu saat, kita akan mengetahui, apakah sebenarnya yang
dikehendakinya." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka
masih menghirup minuman dan mereka bahkan mulut mereka masih juga
mengunyah makanan. Sementara itu Ki Pandi mulai membayangkan kembali
orang yang pernah dilihatnya. Ketika ia melihat orang itu didekat
rumah Ki Citrabawa, maka orang itu seakan-akan tidak memperhatikan.
Tetapi Ki Pandi tidak ingin pening memikirkan orang itu. Ia berharap
bahwa suatu ketika ia mendapat kejelasan. Dalam pada itu, setelah
Manggada membayar harga makanan dan minuman, mereka bertigapun
keluar dari kedai itu dan berjalan searah dengan orang yang telah
dikenali Ki Pandi. Namun mereka sudah tidak melihat lagi orang itu.
"Mungkin orang itu salah seorang saudara seperguruan Sura Gentong
atau saudara-saudara seperguruannya." berkata Manggada. "Jika
demikin, kenapa mereka tidak mencari ayah ?" bertanya Laksana. Namun
nada pertanyaannya memang mengandung kecemasan. Laksana benar-benar
memikirkan keadaan ayahnya. "Sudahlah" berkata Ki Pandi." Kita tidak
dapat memecahkan teka-teki itu." Dengan demikian, maka
perjalanan mereka bertiga sama sekali tidak terpengaruh oleh
kehadiran orang yang tak dikenal itu. Siapapun mereka, maka ketiga
orang itu melanjutkan perjalanan ke arah hutan Jatimalang.
Perjalanan mereka memang perjalanan yang panjang. Meskipun Manggada
dan Laksana teringat juga kepada Ki Wiradadi, namun mereka tidak
ingin singgah kerumah itu. "Jika kita harus singgah dimana-mana,
maka kita tidak akan sampai dihutan Jatimalang." berkata Manggada.
Laksana mengerutkan dahinya. Tetapi sebelum ia mengucapkan sesuatu,
Manggada telah mendahuluinya "Anak gadis Ki Wiradadi itu ?" "Ah,
tidak." jawab Laksana. Manggada tertawa. Sementara Laksana
melemparkan pandangan matanya jauh-jauh. Ki Pandi sempat tersenyum
juga mendengar pembicaraan kedua orang anak muda itu. Namun ia tidak
berkata sesuatu. Demikianlah, maka merekapun berjalan semakin jauh.
Matahari yang kemudian melewati puncak langit, panasnya bagaikan
membakar kulit. Namun perjalanan mereka selanjutnya sama sekali
tidak terganggu. Juga ketika mereka berhenti untuk minum dan makan
disebuah kedai. Menjelang malam, ketiga orang itu memasuki sebuah
padukuhan. Bertiga mereka berniat untuk menumpang bermalam di banjar
padukuhan itu. Tetapi ketiga orang itu merasa aneh. Padukuhan itu
nampak sepi. Pintu-pintu rumah sudah tertutup dan gardugardupun
tidak terisi. "Mungkin masih terlalu sore untuk berada di
gardu " berkata Manggada. "Mungkin" sahut Ki Pandi "tetapi
regol-regol halaman dan bahkan pintu-pintu rumah sudah tertutup
rapat." "Seperti padukuhan Gemawang sebelum barak Wira Sabet dan
Sura Gentong di kuasai." berkata Laksana. "Ya" sahut Manggada
"apapun yang terjadi ditempat ini, tentu ada yang tidak wajar." Ki
Pandi mengangguk-angguk mengiakan. Namun ia tidak berkata sesuatu.
Ia berjalan saja menelusuri jalan padukuhan. Beberapa saat kemudian,
ternyata mereka telah berada didepan banjar padukuhan. Namun
nampaknya banjar padukuhan itu juga nampak sepi. Dengan agak ragu
ketiga orang itu melangkah memasuki banjar padukuhan. Mungkin mereka
dapat bertemu dengan penunggu banjar itu. Seperti yang mereka duga,
maka dibelakang banjar itu tinggal sebuah keluarga kecil. Ia
bertugas untuk menunggu dan memelihara banjar milik padukuhan itu.
Meskipun nampak ragu-ragu, namun ketiga orang itu dipersi-lahkan
masuk kerumahnya yang tidak begitu besar. Ki Pandilah yang minta
kepada penunggu banjar itu untuk diijinkan bermalam barang semalam
saja dibanjar itu. Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak.
Nampak keraguan semakin bergejolak didadanya. Namun agaknya penunggu
banjar itu tidak sampai hati untuk menolak permintaan ketiga orang
yang minta ijin untuk menginap itu. "Siapakah sebenarnya ki
sanak bertiga ini ?" bertanya penunggu banjar itu. "Kami adalah
pengembara yang menyusuri jalan-jalan yang panjang" jawab Ki Pandi.
"Untuk apa ? Jika kalian melakukan sesuatu, kalian tentu mempunyai
maksud tertentu" bertanya penunggu banjar itu. "Benar Ki sanak"
jawab Ki Pandi "kedua kemenakanku ini ingin memperluas pengalaman
hidupnya. Mereka ingin melihat tempat-tempat yang jauh yang belum
pernah dilihatnya. Mereka ingin melihat tatanan kehidupan yang
beraneka di tanah ini." Penunggu banjar itu mengangguk-angguk.
Dengan nada rendah ia berkata "sebenarnya kami tidak berkeberatan.
Para pejalan dan barangkali juga pengembara, bermalam di banjar ini.
Tetapi kalian datang pada saat yang kurang baik." Ki Pandi
termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasnya ia mendapat jalan justru
untuk menanyakan, apa yang sedang terjadi di padukuhan itu. Karena
itu, maka Ki Pandi itupun bertanya "Apa yang sebenarnya terjadi
disini ?" Penunggu banjar itu memandang Ki Pandi dan kedua orang
anak muda yang menyertainya itu dengan tajamnya. Namun orang itupun
berkata "Siapakah nama kalian ?" "Orang memanggilku Ki Pandi. Kedua
kemenakanku ini adalah Manggada dan Laksana." Penunggu banjar itu
mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandilah yang bertanya "Apakah
aku diperkenankan mengenal nama Ki sanak ?" Orang itu menarik
nafas panjang. Jawabnya "Namaku Kerta. Orang memanggilku Kerta
Banjar, karena dipadukuhan ini ada tiga orang yang bernama Kerta."
Ki Pandipun mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya "Tetapi
tadi Ki Kerta mengatakan bahwa kami datang pada waktu yang kurang
baik." "Ya, Ki Pandi "jawab penunggu banjar itu "dalam waktu
terakhir ini, padukuhan kami sedang dibayangi oleh ancaman yang
mencemaskan seisi padukuhan.” "Apa yang telah terjadi ?"
"Dipadukuhan ini tinggal seorang yang sangat disegani oleh para
penghuni padukuhan ini. Ia seorang yang sangat baik. Ia suka
menolong sesama dan memberikan bantuan apa saja yang dibutuhkan oleh
orang banyak dalam batas kemampuannya." Ki Pandi mengangguk-angguk
pula. "Namun pada hari-hari terakhir ini, seorang berkuda telah
mencarinya. Seorang yang tidak dikenal." orang itu melanjutkan. "Ia
bertanya kepada orang-orang padukuhan ini dimana orang yang baik itu
tinggal. Orang-orang padukuhan ini yang tidak tahu maksudnya telah
menunjukkan tempat tinggal orang yang dicarinya. Tetapi akhirnya
kami mengetahui bahwa orang yang mencarinya itu tidak berniat baik."
"Apa yang akan dilakukannya ?" bertanya Ki Pandi. "Orang berkuda itu
menantang untuk berperang tanding."jawab Ki Kerta Banjar. "Apa yang
ia kehendaki ?" bertanya Ki Pandi. "Kami tidak mengetahuinya.
Orang yang kami anggap orang baik dan disegani seisi padukuhan
inipun tidak mau mengatakannya, persoalan apakah yang membuat orang
berkuda itu menantangnya untuk berperang tanding." "Apakah keduanya
masih terhitung muda, separo baya atau justru sudah memasuki usia
tua ?" bertanya Ki Pandi kemudian. "Mereka sudah menjelang masa-masa
tua. Orang yang dihormati di padukuhan inipun sudah memasuki hari
tuanya. Rambutnya sudah mulai memutih. Demikian pula janggut dan
kumisnya." "Tetapi apakah orang berkuda itu mengganggu seisi
padukuhan ini ?" bertanya Ki Pandi. "Tidak. Orang itu tidak
mengganggu seisi padukuhan ini. Tetapi tantangamitu membuat seisi
padukuhan ini gelisah. Kami sudah menyatakan keinginan kami untuk
membantu. Tetapi orang yang kami segani itu tidak menghendakinya. Ia
menganggap bahwa persoalan itu adalah persoalan pribadinya. Karena
itu tidak sepantasnya, orang-orang padukuhan ini melibatkan diri."
"Jika demikian, kenapa seisi padukuhan ini menjadi ketakutan ?
Bukankah tantangan itu semata-mata ditujukan kepada seseorang ?
"bertanya Ki Pandi. "Tetapi seakan-akan orang itu telah menjadi
bagian dari kami, seisi padukuhan ini." jawab Ki Kerta Banjar.
"Siapakah nama orang yang disegani itu ?" tiba-tiba saja Ki Pandi
bertanya. Penunggu banjar itu menjadi ragu-ragu pula. Namun
kemudian ia menjawab "Kami, seisi padukuhan ini memanggilnya Ki
Sambi Pitu." "Sambi Pitu" Ki Pandi mengulang. Wajahnya nampak
berkerut. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Hampir
diluar sadarnya, Laksana bertanya "Ki Pandi mengenal nama itu ?" " .
Ki Pandi menggeleng sambil menjawab "Tentu tidak. Yang aku kenali
tidak lebih dari tetangga-tetanggaku dan sanakkadangku." Laksana
menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ki Pandilah
yang kemudian berkata "Ki Kerta. Menurut pendapatku, orang-orang
padukuhan ini tidak usah merasa ketakutan. Agaknya ancaman itu
semata-mata hanya ditujukan kepada Ki Sambi Pitu saja." "Kami tidak
dapat memisahkan diri kami dari orang tua itu."jawab Ki Kerta
Banjar. "Seandainya orang-orang padukuhan ini sudah siap membantu,
kenapa mereka menjadi ketakutan?" bertanya Ki Pandi. "Ki Sanak"
berkata Ki Kerta Banjar "bukankah wajar, jika terjadi benturan
kekerasan, maka akan timbul ketakutan? Bahkan orang-orang padukuhan
ini terutama perempuan dan anak-anak sudah menjadi ketakutan sejak
beberapa hari yang lalu." Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya
"Tetapi bukankah kehadiran kami tidak menambah kegelisahan yang
terjadi di padukuhan ini?" "Tidak. Tidak Ki Pandi" jawab Ki
Kerta Banjar "jika kalian hanya ingin bermalam disini, silahkan.
Tetapi jika kalian mendengar derap kaki kuda itu, kalian jangan.
terkejut." "Apakah orang berkuda itu sering kali datang?" bertanya
Ki Pandi. "Ya. Tiba-tiba saja kami mendengar derap kaki kuda
menjelang tengah malam. Kuda itu berputar-putar di jalanjalan
padukuhan. Namun kemudian derap kaki kuda itupun menghilang."
"Setiap malam?" bertanya Manggada. "Tidak" jawab Ki Kerta "tetapi
sering kali." Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya
lagi. Dalam pada itu, maka Ki Kertapun kemudian telah mempersilahkan
tamunya untuk mengikutinya ke banjar. Ki Kerta telah menunjukkan
tempat bagi ketiganya untuk bermalam. "Serambi ini memang kami
sediakan bagi mereka yang singgah dan bermalam di banjar ini"
berkata Ki Kerta. Lalu katanya pula "Di halaman samping terdapat
pakiwan. Bawa lampu minyak di sudut itu jika kalian ingin pergi ke
pakiwan." "Terima kasih Ki Kerta" jawab Ki Pandi. Namun Laksana
sempat bertanya "Apakah tidak ada anakanak muda yang bertugas ronda
di banjar setiap malam?" "Sejak orang berkuda itu berkeliaran di
padukuhan, maka anak-anak muda tidak meronda di banjar. Tetapi
mereka berkumpul di rumah Ki Bekel. Mereka merasa cemas bahwa orang
berkuda itu juga memusuhi Ki Bekel." Ki Pandi hanya
mengangguk-angguk saja. Sementara Ki Kerta kemudian berkata
"Silahkan beristirahat Ki Sanak. Mudah-mudahan kalian tidak merasa
terganggu disini." "Terima kasih Ki Kerta" jawab Ki Pandi. Ki
Kertapun kemudian meninggalkan ketiga orang itu diserambi banjar
yang disekat dengan dinding bambu. Diserambi itu terdapat sebuah
amben yang agak besar, diterangi sebuah lampu minyak yang
berkeredipan. Sepeninggal Ki Kerta, maka mereka bertigapun
bergantian pergi ke pakiwan. Baru kemudian mereka duduk
berbincangbincang sebelum mereka membaringkan tubuh mereka di amben
yang agak besar itu. Tetapi sebelum mereka sempat berbaring, Ki
Kerta telah datang lagi sambil membawa minuman hangat serta nasi
beras gaga yang kemerah-merahan. "Marilah Ki Sanak. Nasinya sudah
dingin, tetapi sayurnya sudah dipanasi. Silahkan minum dan makan
seadanya." "Kami sangat berterima kasih, Ki Kerta. Kami telah
membuat Ki Kerta dan keluarga Ki Kerta menjadi sibuk." "Bukankah itu
sudah merupakan tugas kami?" sahut Ki Kerta. Ki Pandi, Manggada dan
Laksana tidak ingin mengecewakan kebaikan hati Ki Kerta. Karena itu
maka merekapun telah minum dan makan hidangan itu. "Bukan sekedar
agar tidak mengecewakan mereka" desis Laksana "tetapi aku memang
merasa lapar." Manggada tersenyum. Katanya "Aku sudah menduga
melihat caramu makan." "Apakah kau tidak lapar?" bertanya
Laksana. Menggada tertawa sambil berpaling kepada Ki Pandi. Demikian
mereka selesai makan, serta membenahinya dan membawa mangkuk yang
kotor ke rumah Ki Kerta, maka mereka telah duduk di tangga banjar
padukuhan itu. Udara memang terasa lebih sejuk di luar daripada di
serambi yang disekat dengan dinding bambu itu. Sementara itu, Ki
Pandipun kemudian berkala "Aku tidak dapat menjawab pertanyaan
kalian dihadapan Ki Kerta, apakah aku mengenal Ki Sambi Pitu.
Sebenarnya aku sudah mengenalnya meskipun tidak begitu akrab. Ia
memang orang yang baik. Bahkan aku ingin menemuinya dan menanyakan
siapakah yang dimaksud dengan orang berkuda oleh Ki Kerta itu.
"Apakah besok kita akan singgah?" bertanya Manggada. "Ya. Jika
kalian tidak berkeberatan, maka kita akan singgah dirumah orang itu.
Seharusnya orang seperti Ki Sambi Pitu itu tidak mempunyai musuh.
Jika ada orang yang mendendamnya dan bahkan menantangnya untuk
berperang tanding, maka persoalannya agaknya sulit dimengerti."
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya
lagi. Ketika mereka sudah merasa lebih segar oleh sejuknya udara
malam, maka mereka bertigapun telah kembali kedalam bilik mereka
yang panas. Namun merekapun segera berbaring. Tetapi mereka sudah
berjanji, bahwa seorang diantara mereka tidak boleh tidur,
bergantian untuk sekedar berjaga-jaga karena mereka berada ditempat
yang asing. Menurut persetujuan mereka, maka yang pertama-tama
berjaga-jaga adalah Laksana. Ia akan membangunkan Manggada jika ia
sudah menjadi sangat mengantuk lewat tengah malam. Tetapi ketika Ki
Pandi dan Manggada mulai memejamkan mata mereka, maka tiba-tiba saja
mereka mendengar derap kaki kuda berlari kencang lewat jalan induk
padukuhan itu. Derap kaki kuda itu terasa bagaikan mengguncang
tiang-tiang banjar yang berdiri dipinggir jalan induk itu. "Itulah
yang dikatakan oleh Ki Kerta" desis Ki Pandi yang kemudian bangkit
dan duduk bersandar dinding. "Mudah-mudahan perang tanding itu tidak
terjadi malam ini " berkata Manggada. "Ya" sahut Laksana "sehingga
kita besok masih mempunyai kesempatan untuk berbincang dan
mengetahui, siapakah yang telah menantangnya untuk berperang
tanding." "Tetapi orang yang menantangnya itu sudah sering memacu
kudanya berputar-putar di padukuhan ini. Namun perang tanding itu
masih juga belum terjadi." desis Manggada. Ki Pandi
mengangguk-angguk. Tetapi ia justru menjadi gelisah. Tiba-tiba saja
ia berkata "Biarlah kalian tinggal disini. Aku akan melihat, apa
yang terjadi." "Apakah Ki Pandi akan pergi kerumah orang itu?"
bertanya Manggada. "Ya" jawab Ki Pandi "tetapi aku tidak akan
menemuinya sekarang." "Apakah Ki Pandi sudah mengetahui letak
rumahnya?” bertanya Laksana. "Belum" jawab Ki Pandi "tetapi
biarlah aku mencarinya. Kita tahu arah derap kaki kuda yang lewat
tadi. Jika kuda itu berderap lagi lewat jalan ini, maka suara derap
kakinya akan dapat aku pergunakan sebagai ancar-ancar untuk
menemukan rumahnya yang agaknya juga berada ditempat yang mudah
diketemukan." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk mengiakan.
Mereka menyadari, bahwa sebaiknya mereka memang tinggal di banjar
karena jika terjadi sesuatu mereka tidak justru menjadi beban Ki
Pandi. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi telah
meninggalkan banjar itu dengan diam-diam. Ia menyelinap keluar dari
halaman dan berjalan dikegelapan. Ki Pandi tahu bahwa seperti di
banjar, maka gardu-gardu perondanpun menjadi sepi. Tetapi justru
karena itu, tidak seorangpun yang dapat ditanya, dimana rumah Ki
Sambi Pitu. Bahkan seandainya ada beberapa orang digardu, pertanyaan
tentang letak rumah Ki Sambi Pitu akan dapat menimbulkan persoalan.
Ki Pandi tertarik ketika ia mendengar lagi derap kaki kuda. Ternyata
sejenak kemudian maka derap kaki kuda di malam yang sepi itu justru
melingkar sehingga kuda itu seakan-akan ingin menyusul perjalanan Ki
Pandi. Dengan cepat Ki Pandi berusaha untuk meloncati dinding
halaman yang tidak terlalu tinggi, sehingga demikian kuda itu lewat,
maka Ki Pandi sudah berada di balik dinding. Namun demikian kuda itu
berderap, maka Ki Pandipun dengan cepat telah meloncat turun kembali
di jalan dan berlari menyusul derap kaki kuda itu. Tetapi Ki
Pandi tidak perlu berlari terlalu jauh. Ia memperlambat larinya
ketika ia menyadari bahwa kuda itu sudah berhenti beberapa puluh
langkah saja dihadapannya. Ki Pandi menyadari, bahwa ia harus sangat
berhati-hati. Orang berkuda yang sudah berani menantang Ki Sambi
Pitu itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, maka Ki
Pandipun kemudian telah meloncat pula ke halaman samping. Ia merasa
lebih aman untuk mendekati orang berkuda itu lewat halaman, menyusup
diantara beberapa batang pepohonan daripada lewat jalan yang
terbuka. Ki Pandi berhenti dihalaman sebelah. Dengan sangat
berhati-hati ia memperhatikan seseorang yang berdiri di sebuah
halaman yang tidak begitu luas, yang ditanami beberapa batang pohon
bunga ceplok piring dan bunga soka. Baunya semerbak di malam hari.
Dari tempatnya bersembunyi Ki Pandi mendengar orang yang berdiri di
halaman itu berkata keras-keras tanpa ragu, bahwa suaranya itu dapat
didengar oleh tetangga Ki Sambi Pitu "He, dengar Ki Sambi Pitu. Aku
memperingatkanmu. Dua malam lagi, aku menunggumu di bulak Parapat.
Kita akan membuat perhitungan sampai tuntas. Hutangmu harus kau
bayar bersama bunganya sekali." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam.
Agaknya dendam membara dihati orang yang menantang Ki Sambi Pitu
itu. Dengan jantung yang berdebaran Ki Pandi melihat dari halaman
sebelah, pintu rumah itu terbuka. Sesosok tubuh melangkah keluar dan
berdiri di tangga sambil menjawab "Kau selalu menggangguku Ki Lemah
Teles. Sudah aku katakan, bahwa dua malam lagi aku akan pergi ke
bulak Parapat. Aku terima tantanganmu meskipun aku tidak
pernah mengakui mempunyai hutang apapun kepadamu." "Jangan mengigau.
Banyak orang yang tidak mengakui hutangnya kepada orang lain atau
sengaja melupakannya. Tetapi orang yang mempunyai piutang tentu
bersikap lain." "Terserah apa saja alasanmu. Aku tahu semuanya itu
sekedar kau pergunakan untuk memancing perang tanding. Sudah aku
katakan bahwa kau tidak perlu memakai alasan apapun juga. Kita akan
berperangtanding dibulak Parapat dua malam mendatang. Sekarang
pergilah, biar aku dapat tidur nyenyak. Derap kaki kudamu telah
mengganggu dan membangunkan anak-anak yang tidur dipelukan ibunya.
Sementara mereka tidak tahu menahu tentang persoalan kita." Orang
yang disebut Ki Lemah Teles itu tidak menjawab. Iapun melangkah
keluar dari halaman dan langsung meloncat ke punggung kudanya.
Ketika kemudian sosok yang berdiri di tangga itu masuk kembali
kedalam rumahnya, maka Ki Pandipun telah merenungi peristiwa yang
dilihatnya itu Ternyata Ki Pandi telah mengenal kedua orang yang
bermusuhan itu. Ia mengenal Ki Sambi Pitu. Iapun mengenal Ki Lemah
Teles pula. Dua orang yang berilmu sangat tinggi. Namun yang
tidak diketahuinya adalah sebab dari pertengkaran di antara mereka
berdua. Tetapi Ki Pandi itupun segera menyadari dirinya, bahwa ia
berada di halaman orang. Karena itu maka iapun segera beringsut
meninggalkan tempat itu. Ki Pandi itu menarik nafas dalam-dalam
ketika ia mendengar derap kaki kuda itu lagi. Ternyata Ki Lemah
Teles tidak segera pergi dari padukuhan itu. Tetapi kudanya masih
saja berlari-larian berputar-putar di jalan-jalan padukuhan. "Orang
aneh" desis Ki Pandi. Karena itu, maka Ki Pandi itupun berjalan
dengan hati-hati. Ia harus memasang telinganya, agar ia tidak dengan
tiba-tiba saja bertemu, berpapasan di simpang tiga atau simpang
ampat atau didahului oleh orang berkuda itu. Ketika Ki Pandi
kemudian telah berada di banjar lagi dan duduk diamben yang agak
besar itu bersama Manggada dan Laksana, maka iapun telah
menceriterakan apa yang lelah dilihatnya. "Bagaimana menurut
pendapat Ki Pandi?" bertanya Manggada "apa yang dimaksud dengan
hutang Ki Sambi Pitu kepada Ki Lemah Telcs itu?" Ki Pandi
menggeleng. Katanya "Aku tidak tahu. Tetapi menurut Ki Sambi Pitu,
agaknya Ki Lemah Telcs sekedar mencari persoalan untuk menantangnya
berperang tanding." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil.
Namun Laksanapun kemudian bertanya pula "Apakah Ki Lemah Teles
menurut pengenalan Ki Pandi seorang yang jahat?" Ki Pandi
menggeleng. Katanya "Tidak. Ki Lemah Teles juga bukan seorang yang
jahat. Tetapi dua orang yang baik hati sekalipun pada suatu
saat akan dapat berselisih pendapat, bertentangan kepentingannya
atau justru mempunyai kepentingan yang sama terhadap sesuatu hal
atau persoalanpersoalan yang lain." "Tetapi jika bukan persoalan
yang mendasar, keduanya tentu tidak akan memasuki perang tanding"
berkata Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Tentu ada
persoalan yang mendasar. Karena itu, biarlah besok kita singgah
sebentar dirumah Ki Sambi Pitu." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Keduanya memang menjadi tertarik oleh persoalan
yang timbul diantara orang-orang yang berilmu tinggi itu. Namun
kemudian Ki Pandipun berkata "Tidurlah, hari sudah larut. Biarlah
aku yang berjaga-jaga." "Ki Pandi tentu letih. Biarlah kami berdua
bergantian" jawab Manggada. "Aku dapat tidak memejamkan mata selama
sepekan terusmenerus siang dan malam. Bahkan lebih." jawab Ki Pandi
sambil tersenyum. Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi mereka percaya kata-kata Ki Pandi itu. Karena itu, maka
Manggada dan Laksanapun kemudian telah berbaring di amben itu.
Mereka masih sempat beranganangan sejenak. Namun kemudian
keduanyapun telah tertidur nyenyak. Pagi-pagi sekali ketiga orang
itu sudah bangun. Mereka segera mengisi jambangan untuk mandi
bergantian. Sebelum matahari terbit, ketiganya sudah siap
untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ketika mereka minta diri, Ki
Kerta Banjar telah mempersilahkan mereka minum minuman hangat. Rebus
ketela yang masih mengepulkan asap, baunya menyentuh hidung Manggada
dan Laksana. Keduanya sempat berpandangan dan menahan senyum dibibir
mereka. Baru setelah mereka bertiga minum dan makan ketela rebus
itu, maka mereka telah dilepas oleh Ki Kerta Banjar untuk
melanjutkan perjalanan. Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak
mengatakan bahwa mereka ingin singgah dirumah Ki Sambi Pitu. Ketiga
orang itupun kemudian melangkah meninggalkan banjar padukuhan.
Matahari yang terbit, memancarkan sinarnya yang cerah. Satu dua
titik embun masih bergayutan diujung dedaunan yang merunduk.
Manggada dan Laksana berjalan dibelakang Ki Pandi yang melangkah
berbongkok-bongkok. Burung-burung yang berkicau membuat suasana pagi
menjadi gembira. Orang-orang padukuhan itu yang sudah mulai turun ke
jalan-jalan, melihat ketiga orang itu dengan dahi berkerut. Mereka
yang akan pergi ke pasar atau pergi ke sawah, menganggap Ki Pandi,
Manggada dan Laksana sebagai orangorang asing. Namun ada di-antara
mereka yang memang menduga, bahwa ketiganya adalah pejalan yang
telah menginap di banjar padukuhan mereka. "Tentu bukan orang
berkuda itu" desis seseorang kepada kawannya yang berjalan
disampingnya sambil membawa cangkul, karena keduanya memang akan
pergi ke sawah. Ki Pandi dan kedua anak muda itu berjalan
termangumangu. Sekali-sekali jika tatapan mata mereka bertemu dengan
orang-orang padukuhan itu yang menandangi mereka, maka merekapun
telah menganggukkan kepala. Seperti yang mereka rencanakan, maka
merekapun telah menyusuri jalan padukuhan menuju ke rumah Ki Sambi
Pitu. Kedatangan mereka di hari yang masih terhitung pagi itu memang
mengejutkan. Seorang yang rambutnya sudah ditumbuhi uban yang
keputih-putihan itu termangu-mangu sejenak ketika ia melihat seorang
yang berjalan terbongkok-bongkok memasuki halaman rumahnya. "Ki
Bongkok" desis orang itu. "Apakah kau masih dapat mengenali aku, Ki
Sambi Pitu?" "Tentu, tentu Ki Bongkok. Marilah, naiklah" berkata Ki
Sambi Pitu. Ki Pandipun kemudian telah naik kependapa rumah Ki Sambi
Pitu yang tidak terlalu besar. Berbeda dengan pendapa rumah pada
umumnya yang berbentuk joglo, maka pendapa rumah Ki Sambi Pitu yang
tidak begitu besar itu dibuat dalam bentuk limasan, sehingga
kesannya menjadi lebih sederhana. "Setelah mereka saling
mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Sambi Pitu itupun
bertanya "Ki Bongkok. Aku merasa aneh bahwa tiba-tiba saja Ki
Bongkok telah mengunjungi aku. Apalagi hari masih sepagi ini." Ki
Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya "Aku minta maaf, Ki Sambi
Pitu, bahwa di hari yang masih pagi ini aku sudah mengganggu
ketenangan Ki Sambi Pitu." "Tidak, Ki Bongkok. Aku sama sekali
tidak merasa terganggu. Aku senang mendapat kunjungan seseorang
dihari tuaku. Rasa-rasanya hidup menjadi semakin sepi. Tetapi
kedatangan Ki Bongkok membuat aku merasa bahwa aku tidak hidup
sendiri dan terasing disini." "Bukankah sikap orang-orang padukuhan
ini baik terhadap Ki Sambi Pitu?" "Baik. Baik sekali. Aku merasa
berada diantara keluarga sendiri." Ki Sambi Pitu berhenti sejenak.
Namun kemudian katanya “Tetapi kunjungan Ki Bongkok yang datang dari
dunia yang pernah kami huni bersama, rasa-rasanya hidup ini masih
tersisa." "Bukankah bukan aku satu-satunya orang yang sering
berkunjung kerumah Ki Sambi Pitu?" "Tidak ada, Ki Bongkok. Justru
itu aku merasa bahwa segala sesuatunya sudah lewat." "Tentu tidak Ki
Sambi Pitu. Aku yang kurang-lebih sebaya dengan Ki Sambi Pitu merasa
bahwa hidupku masih berarti. He, bukankah itu tergantung kepada kita
sendiri?" "Ya. Ya. Aku juga mencoba memberi arti dari sisa hidupku
ini bagi tetangga-tetanggaku yang baik di padukuhan ini. Tetapi
karena rasa-rasanya kami datang dari dunia yang berbeda, maka
kehadiran seseorang dari dunia kita, membuat aku sangat bergembira
hari ini." "Ki Sambi Pitu. Bukankah Ki Lemah Teles juga sering
berkunjung kemari?" "O" Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk "Ya. Ki
Lemah Teles memang sering datang kemari. Tetapi ia lebih banyak
mengganggu daripada satu kunjungan seorang sahabat." Ki Pandi
mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata "Maaf, Ki Sambi
Pitu. Apakah Ki Lemah Teles sering datang mengganggu Ki Sambi Pitu?"
"Ya. Tetapi aku senang. Meskipun ia datang mengganggu, tetapi justru
karena itu, maka aku menganggap bahwa ia masih menghargai aku yang
pernah hidup di dunia pada tataran yang sama dengan Ki Lemah Teles
itu sendiri." Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun
berkata “Apa saja yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles sehingga Ki
Sambi Pitu merasa terganggu karenanya?" Ki Sambi Pitu termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata "Ki Lemah
Teles masih selalu mengajak bergurau dihari-hari tua." Ki Pandi
masih ingin bertanya lebih jauh. Tetapi Ki Sambi Pitu telah lebih
dahulu bertanya "Ki Bongkok, siapakah nama kedua orang anak muda
itu?" "Mereka adalah kemanakanku, Ki Sambi Pitu" jawab Ki Pandi.
"Kau tidak usah berbohong kepadaku" desis Ki Sambi Pitu "keduanya
tentu bukan kemanakanmu." Ki Pandi tertawa. Katanya "Siapapun
mereka, tetapi mereka sekarang bersamaku. Namanya Manggada dan
Laksana." Ki Sambi Pilu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya
"Anak-anak yang kokoh." "Mereka ingin melihat-lihat tempat yang jauh
yang belum pernah dilihatnya. Semalam kami sampai di padukuhan ini.
Kami minta belas kasihan kepada Ki Kerta Banjar untuk bermalam di
banjar padukuhan." "Itu sebabnya, maka kalian sepagi ini sudah
berada disini. Tetapi siapakah yang memberitahukan kepada kalian
bahwa aku tinggal disini?" "Suara kuda yang berderap mengelilingi
padukuhan inilah yang menuntun aku sampai ke rumah ini." "Jadi kau
tentu tahu apa yang telah terjadi." Ki Pandi tidak ingkar. Karena
itu, maka iapun mengangguk sambil menjawab "Ya. Aku mendengar
pembicaraan kalian. Aku minta maaf atas keinginan tahuku itu."
"Tidak apa-apa. Setiap orang berhak mengetahuinya, karena Ki Lemah
Teles dengan sengaja berteriak-teriak." "Karena persoalan yang
kurang aku mengerti itulah, maka aku memerlukan datang kepadamu pagi
ini." berkata Ki Pandi kemudian. Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk.
Katanya dengan nada rendah "Apakah kau ingin tahu kenapa Ki Lemah
Teles menantang aku berperang tanding?" Ki Pandi mengangguk kecil.
Katanya "Ya. Menurut pendapatku, kau dan Ki Lemah Teles tidak akan
berbenturan kepentingan. Kalian saling mengenal sejak lama.
Seandainya ada persoalan, tentu sudah kalian selesaikan sebelum
rambut kalian mulai ditumbuhi uban seperti sekarang ini." Ki Sambi
Pitu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang semula nampak cerah,
telah berkerut dan nampak bersungguh-sungguh. "Ia menganggap aku
berhutang kepadanya." berkata Ki Sambi Pitu "sebelumnya ia memang
tidak pernah menyebutnyebutnya. Namun tiba-tiba ia datang minta aku
melunasi hutangku dengan menantang untuk berperang tanding."
"Apakah yang dimaksud dengan hutang itu? "bertanya Ki Pandi. "Itulah
yang membuat aku bingung" jawab Ki Sambi Pitu. "Ternyata kau terima
tantangannya" desis Ki Pandi. "Ya. Aku menganggapnya satu kehormatan
bahwa ia masih menghargai kemampuanku sama dengan dirinya." jawab Ki
Sambi Pitu. "Tetapi bukankah itu tidak bijaksana?" bertanya Ki
Pandi. "Justru aku merasa bahwa sisa hidupku masih berarti. Kalah
atau menang, hidup atau mati, tidak penting bagiku. Tetapi aku masih
sempat untuk menerima penilaian yang tinggi dari Ki Lemah Teles.
"jawab Ki Sambi Pitu. Ki Pandi mengerutkan dahinya. Ternyata jalan
pikiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir bersamaan justru di
hari tua mereka. Agaknya justru karena keduanya adalah orang-orang
penting dan dihormati, sehingga mereka merasa, bahwa akhirnya mereka
tercampak dan tidak berarti apa-apa lagi bagi dunia yang pernah
menjadi lingkungan .hidupnya sebagai orang-orang berilmu tinggi.
Dalam pada itu, maka pembicaraan merekapun terputus. Seorang
pembantu dirumah Ki Sambi Pitu telah menghidangkan minuman panas
bagi tamu-tamunya. Untuk selanjutnya, Ki Sambi Pitu justru mencoba
untuk menghindari pembicaraan tentang tantangan Ki Lemah Teles itu.
Dipersilahkannya ketiga orang tamunya untuk minum. Sementara itu, Ki
Sambi Pitu mulai berceritera tentang masa mudanya yang panjang serta
masa muda Ki Pandi yang bongkok itu menurut pengenalannya.
Namun tiba-tiba saja Ki Sambi Pitu bertanya "Dimana binatang
peliharaanmu itu? Kau sembelih ketika kau kelaparan?" "Tentu tidak"
jawab Ki Pandi "aku tinggalkan keduanya disebuah hutan yang aku
anggap aman bagi keduanya." Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya
"Seharusnya kau mencari lagi anak harimau, atau anak orang hutan
atau bahkan anak gajah, kau ajari binatang-binatang itu menurut
segala perintahmu" “Kau..” Ki Pandi tertawa, sementara Ki Sambi Pitu
berkata selanjutnya "Kau akan menjadi seorang raja di hutan,
karenakau akan dapat menguasai segala-galanya jika binatang-binatang
terkuat menjadi pendukungmu. Kau dapat memaksakan kehendakmu
terhadap seisi hutan karena binatang-binatang yang lebih kecil dan
lemah tidak akan berani melawanmu." Ki Pandi tertawa semakin keras.
Manggada dan Laksanapun tertawa pula. Namun dengan demikian, maka Ki
Pandi menjadi sulit untuk mencari jalan kembali pada pembicaraan
mereka tentang Ki Lemah Teles. Apalagi Ki Sambi Pitu selalu berusaha
menghindari pembicaraan itu. Karena itu, maka akhirnya Ki Pandi
justru minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka. "Terima kasih
akan kunjungan kalian" berkata Ki Sambi Pitu "aku masih berharap
bahwa kalian masih sudi singgah dirumahku ini. Dengan kehadiran
mereka yang sebaya dengan aku, maka rasa-rasanya aku tidak terlalu
terpisah dari duniaku." "Kau sudah mendapatkan dunia yang
baru, Ki Sambi Pitu” berkata Ki Pandi "dunia yang lebih baik. Lebih
sejuk dan tentu te-rasadamai. Ternyata yang mengguncang kedamaian
hidupmu diduniamu yang baru itu adalah orang-orang yang datang dari
duniamu yang kau anggap sudah meninggalkanmu itu." Ki Sambi Pitu
mengerutkan dahinya. Ia nampak merenung. Namun kemudian sambil
menarik nafas ia berkata "Mungkin kau benar Ki Bongkok. Tetapi
kadang-kadang sulit bagi kita untuk berbicara sekedar berpijak pada
nalar." Ki Pandi mengangguk. Katanya "Ya. Kau juga benar."
Demikianlah maka Ki Pandipun telah meninggalkan Ki Sambi Pitu.
Bertiga mereka menyusuri jalan keluar dari padukuhan itu, memasuki
bulak persawahan yang luas. Matahari sudah menjadi semakin tinggi.
Orang-orang yang bekerja di sawah mulai berkeringat. Dari ujung
padukuhan terdengar suara orang menumbuk padi. Lenguh anak lembu
berbaur dengan tangis bayi yang minta minum susu ibunya. Ki Pandi,
Manggada dan Laksana berjalan menyusuri jalan ditengah-tengah
kotak-kotak sawah yang terbentang luas. Seorang petani berdiri
sambil meneguk air sejuk dari sebuah gendi yang terbuat dari tanah
liat. Ternyata Ki Pandi sambil lalu sempat bertanya kepada seseorang
"Apakah Ki Sanak mengetahui, dimanakah letak Bulak Parapat?" "Apakah
Ki Sanak akan pergi ke sana?" bertanya orang itu. "Ya" jawab ki
Pandi. "Untuk apa?" orang itu nampak keheranan. "Tidak
apa-apa. Sekedar melihat-lihat." jawab Ki Pandi. Kening orang itu
berkerut. Dengan nada tinggi ia berkata “Bulak Parapat adalah nama
sebuah hutan perdu yang membentang dibawah bukit kecil itu." Ki
Pandi termangu-mangu sejenak. Seperti juga Manggada dan Laksana ia
mengira bahwa Bulak Parapat adalah sebuah bulak persawahan
sebagaimana sedang dilaluinya itu. Namun ternyata Bulak Parapat
adalah nama sebuah hutan perdu di lereng bukit kecil, Namun Ki Pandi
yang cepat berpikir itu segera menyahut “Terima kasih Ki Sanak."
"Tetapi apa kepentingan kalian dengan Bulak Parapat?" orang itu
masih mendesak. "Kami adalah pembuat gerabah dari tanah liat. Kami
ingin membuktikan, apakah benar kata orang, bahwa tanah liat di
Bulak Parapat lebih baik dari tanah liat dari tempat yang lain."
Ternyata jawab orang itu tidak disangka-sangka "Mungkin keterangan
itu benar. Bukit kecil itu seluruhnya terdiri dari tanah liat yang
warnanya merah agak keputih-putihan. Aku tidak tahu, apakah itu
termasuk tanah liat yang baik atau bukan." "Dengan jari-jari kita
dapat mengetahui, apakah tanah liat itu baik atau tidak, lembut atau
kasar, keras atau lentur." sahut Ki Pandi. Orang itu
mengangguk-angguk. Katanya "Jika ternyata tanah liat di bukit itu
baik, maka tempat itu tentu akan menjadi ramai.” "Terima kasih
Ki Sanak" berkata Ki Pandi kemudian "aku akan pergi ke bukit kecil
itu untuk melihat, apakah tanah liat disana cukup baik." Ki Pandipun
kemudian mengajak Manggada dan Laksana untuk meneruskan perjalanan.
Namun orang yang telah menunjukkan letak Bulak Parapat itu berkata
"Jalan ini yang harus kalian tempuh. Bukan kesana." "Terima kasih Ki
Sanak. Nanti kami akan pergi ke bukit itu. Tetapi kami masih
mempunyai sedikit kepentingan yang lain." sahut Ki Pandi. Orang itu
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ki Pandi, Manggada
dan Laksana kemudian telah meneruskan langkah mereka. Namun kemudian
Ki Pandipun telah membuat rencana. Pada saat perang tanding itu
dilaksanakan dua malam lagi, mereka bertiga akan berada di Bulak
Parapat itu. "Lalu kita sekarang akan pergi kemana? Tentunya kita
masih belum langsung menuju ke Jatimalang." "Belum" jawab Ki Pandi.
Lalu katanya kemudian "Bukankah kita terbiasa tidur dimanapun juga.
Jika kita ingin sedikit bermanja-manja, kita dapat menginap di
banjar padukuhan. Tetapi, jika tidak, maka kita dapat saja tidur di
pinggir hutan, di pategalan atau bahwa di Bulak Parapat itu sekali."
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnya mereka memang
ingin segera melihat kembali hutan Jatimalang, dan terutama lereng
kaki Gunung Lawu dibelakang hutan Jatimalang itu. Tetapi mereka
sadar, jika mereka memaksa juga untuk berangkat, Ki Pandi tentu akan
menjadi sangat kecewa. Karena itu, maka Manggada dan
Laksanapun tinggal menurut saja, kemana Ki Pandi akan pergi. "Kita
masih mempunyai waktu" berkata Ki Pandi tiba-tiba "untuk
memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya, maka kita tidak usah berada
terlalu jauh dari hutan Bulak Parapat itu." Demikianlah, sambil
menunggu, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana menuju ke
hutan kecil tidak begitu jauh dari Bulak Parapat. Di hutan itu Ki
Pandi telah mempergunakan waktunya yang dua hari itu untuk
membimbing Manggada dan Laksana memperdalam ilmu yang mereka miliki.
Ternyata bahwa keduanya telah meningkat semakin jauh dari dasar ilmu
yang mereka warisi dari Ki Citrabawa. Meskipun demikian, bagi
Manggada dan Laksana, ilmu yang mereka terima dari Ki Citrabawa
merupakan alas ilmu mereka yang kemudian berkembang semakin tinggi.
Selama dua hari ketiga orang itu keluar dari hutan. Mereka memburu
binatang dan membuat perapian. Meskipun mereka tidak lagi melakukan
Tapa Ngidang, namun ternyata yang dua hari itu dapat dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya oleh Manggada dan Laksana. Meskipun ketiga
orang itu tidak berkepentingan langsung dengan perang tanding yang
bakal terjadi antara Ki Sambi Pitu dengan Ki Lemah Teles, namun
ternyata mereka ikut menjadi tegang ketika saat-saat yang ditentukan
itu tiba. Ki Pandi yang sudah melihat-lihat hutan perdu yang disebut
Bulak Parapat itu dapat menduga, dimana perang tanding itu akan
dilakukan. Didalam lingkungan hutan perdu itu terdapat sepetak tanah
yang lebih lapang dari yang lain tidak ditumbuhi pohon-pohon perdu
dan bahkan semak-semak berduri. Sejak senja turun, maka Ki
Pandi telah menempatkan Manggada dan Laksana di antara pohon-pohon
perdu yang rapat, yang dapat melindungi mereka, sehingga tidak mudah
dilihat oleh orang yang lewat dekat mereka sekalipun. Ki Pandi juga
sudah mengajari, bagaimana mereka harus mengatur pernafasan mereka,
agar dapat menyerap bunyi tarikan nafas mereka sedalam-dalamnya
sehingga suaranya tidak lebih dari gesekan daun-daun yang paling
lembut. Malam itu ternyata langit jernih. Yang nampak hanyalah
bintang-bintang yang berhamburan. Selembar awan tipis terbang
melintas dan lenyap di cakrawala. Ketika malam menjadi semakin
dalam, Manggada dan Laksana mulai menjadi gelisah. Kulit mereka
mulai terasa gatal digigit nyamuk yang buas di hutan perdu itu. Ki
Pandi yang melihat gelagat itupun berkata "Belum tengah malam. Kita
harus sabar menunggu. Kesabaran merupakan salah satu syarat bagi
keberhasilan." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnyalah
menjelang tengah malam, maka mereka telah mendengar derap kaki kuda
memasuki hutan perdu itu. Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Pandi,
maka orang berkuda itu melintasi semak-semak dan gerumbul-gerumbul
perdu disela-sela batang ilalang, menuju ketempat yang lebih lapang
dari lingkungan disekitarnya. Beberapa saat kudanya berputar-putar.
Namun kemudian orang itu telah meloncat turun dan mengikat kudanya
pada pohon batang perdu dipinggir tempat yang lapang itu. Untuk
beberapa saat, orang itu menunggu. Ketika ia mulai gelisah, maka
didengarnya suara tembang yang ngelangut. Suara tembang itu
seakan-akan menyelusuri hutan perdu yang tidak terlalu luas
yang membentang didekat sebuah bukit kecil. Orang berkuda yang
berdiri termangu-mangu itupun tibatiba saja telah berteriak "He, kau
orang yang licik. Aku hampir jemu menunggumu. Cepat, kemarilah. Aku
tidak mempunyai banyak waktu." Suara tembang itu masih terdengar.
Semakin lama nadanya seakan-akan menjadi semakin tinggi, melengking
di sepinya malam. Menggetarkan udara membentur lereng bukit. Orang
berkuda itu berteriak sekali lagi "Cepat, aku sudah jemu menunggumu.
Jika kau merasa ketakutan untuk menerima tantanganku, maka datanglah
berlutut dan mohon ampun atas segala kesalahanmu. Maka hutangmupun
akan aku anggap lunas." Suara tembang itu menjadi semakin perlahan.
Akhirnya suara itupun berhenti sama sekali. Ternyata beberapa saat
kemudian, seseorang melangkah mendekati orang yang datang berkuda
itu. Manggada dan Laksana yang melihat semuanya dari jarak yang
tidak terlalu dekat, segera dapat membedakan. Orang yang datang
berkuda itu tentu Ki Lemah Teles. Sedangkan orang yang sempat
melontarkan tembang itu tentu Ki Sambi Pitu. Meskipun tidak ada
bulan dilangit, namun keredipan bintang dapat membantu Manggada dan
Laksana melihat kedua orang yang berdiri ditempat terbuka itu.
Ternyata bahwa Ki Lemah Teles adalah seorang yang bertubuh kecil,
dapat disebut pendek menurut ukuran yang wajar. Sementara Ki Sambi
Pitu adalah seorang yang ukuran tubuhnya sedang-sedang saja
sebagaimana orang kebanyakan. "Nah" berkata Ki Lemah Teles
"sekarang katakan, apakah kau akan membayar hutangmu, atau kau akan
mohon ampun atau kita akan berperang tanding." "Ki Lemah Teles"
jawab Ki Sambi Pitu "sudah aku katakan, bahwa tanpa alasan apapun
kau dapat menantang aku untuk berperang tanding. Karena itu, kau
tidak usah menyebutnyebut tentang hutang itu, karena sebenarnya aku
tidak mengerti sama sekali, apa yang kau maksud dengan hutangku dan
yang sudah kau sebut lebih dari seribu kali itu." "Sudah aku
katakan, orang yang mempunyai hutang kadang-kadang dengan sengaja
melupakannya atau berpura-pura lupa." "Lupa atau berpura-pura lupa
atau apapun yang kau katakan, sekarang aku minta kau sebut, berapa
hutangku kepadamu dan atas dasar apa kau nilai apa yang kau sebut
dengan hutang itu." berkata Ki Sambi Pitu. Ki Pandi, Manggada dan
Laksana masih harus menahan diri serta mengatur pernafasan mereka,
ahar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua orang yang akan
berperang tanding itu. Dalam pada itu, Ki Lemah Telespun kemudian
berkata “Baiklah. Jika kau ingin aku menyebut hutangmu." Ki Lemah
Teles berhenti sejenak. Lalu katanya pula "Kau ingat, ketika
kita sama-sama muda, maka diantara kita berdiri seorang gadis
cantik, anak perempuan seseorang yang sama-sama kita hormati, karena
sikap lahir dan batinnya." "Setan kau Lemah Teles. Kau masih
mengungkit persoalan itu? Persoalan yang sudah terjadi puluhan tahun
yang lalu. Sekarang rambut kita sudah memutih dan umur kita tinggal
sepanjang umur jagung, kau sebut lagi persoalan yang sudah kita
lupakan itu.” "Jangan berkata seperti itu. Baru sekarang kau merasa
betapa getirnya akibat dari persoalan yang terjadi puluhan tahun
yang lalu itu." "Peristiwa getir yang mana yang kau maksudkan?"
"Ternyata karena gadis itu kau curi dari sisiku, maka aku harus
menikmati perempuan lain." "Siapa yang mencuri gadis itu? Gadis itu
mencintai aku. Tidak mencintaimu." Namun suara Ki Sambi Pitu
merendah "alangkah memalukan untuk berbicara tentang seorang gadis
pada saat rambut kita mulai beruban." "Tetapi akibatnya terasa amat
pahit. Karena aku harus menikahi perempuan lain, yang baru kemudian
aku ketahui, bahwa menurut perhitungan hari kelahirannya dan hari
kelahiranku tidak sesuai, maka meskipun aku mempunyai tiga orang
anak, tetapi tidak seorangpun yang tinggal hidup. Ketiga anakku
meninggal pada umur yang berbeda-beda. Seorang diantara mereka
meninggal saat dilahirkan. Seorang meninggal ketika berumur ampat
belas tahun. Hanyut disebuah sungai yang banjir. Sedangkan anakku
yang satu lagi, meninggal beberapa tahun yang lalu. ia terbunuh saat
anakku itu justru melindungi seorang pedagang yang sedang dirampok.
Anakku berdua dengan pedagang itu harus bertempur melawan
lebih dari tujuh orang perampok yang garang." suara Ki Lemah Teles
merendah "sekarang aku hidup sendiri." "Bukankah kau mempunyai cucu
dari anakmu yang baru saja meninggal itu?" bertanya Ki Sambi Pitu.
“Aku mempunyai dua orang cucu." jawab Ki Lemah Teles. "Jika
demikian, bukankah kau tidak sendiri? Kau dapat hidup dengan kedua
orang cucumu yang dapat kau anggap sebagai anakmu." "Aku tidak dapat
memiliki kedua cucuku itu." berkata Ki Lemah Teles. "Kenapa?"
bertanya Ki Sambi Pitu. "Keduanya berada dirumah kakek dan nenek
mereka. Maksudku ayah dan ibu menantuku. Mereka orang-orang kaya
yang akan dapat menghidupi kedua cucuku itu jauh lebih baik daripada
keduanya hidup bersamaku." "Bagaimana dengan isterimu?" "Jika saja
ia masih hidup, meskipun hari kelahirannya tidak sesuai dengan hari
kelahiranku, namun aku tentu tidak akan menjadi kesepian seperti
ini." "Jadi kau mencari kesalahan atas kematian anak-anakmu itu pada
hari, kelahiranmu dan hari kelahiran isterimu?" "Ya. Tetapi letak
kesalahan sebenarnya adalah padamu. Seandainya tidak kau rampas
gadis itu. Ia akan menjadi isteriku. Anak-anakku tidak akan mati dan
cucu-cucuku tidak akan diambil oleh keluarga menantuku." "Kau sudah
gila" geram Ki Sambi Pitu "aku juga kehilangan segala-galanya. Aku
justru menganggap nasibmu lebih baik dari nasibku. Aku dan
isteriku, gadis yang pernah kau cintai itu, tidak pernah mempunyai
seorang anakpun. Kami belum pernah merasakan kebahagiaan seorang
ayah dan ibu yang menimang anaknya. Apalagi kemudian isteriku itu
mati muda oleh penyakit yang tidak pernah aku ketahui sampai
sekarang. Nah, apakah kau masih akan menyebut aku mempunyai hutang
kepadamu?" "Jika kau tidak mempunyai anak itu karena salahmu. Kaulah
yang mandul. Dan perempuan itu mati karena hatinya tersiksa oleh
kesepiannya, sementara hidupmu kau habiskan merayapi lereng gunung
dan menyusuri sungai-sungai yang panjang. Kau kira dengan caramu kau
akan menjadi orang yang tidak terkalahkan di-muka bumi ini." "Kau
kira aku meninggalkan isteriku untuk sekedar mencari kesenangan,
membiarkan ketamakan tumbuh subur didalam hati atau keserakahan yang
tidak terkendali? Aku pergi kesegala sudut bumi untuk mencari
seorang tabib yang mampu menyisihkan kemandulan kami. Aku atau
isteriku. Tetapi semuanya sia-sia." "Kau kira keluhanmu itu dapat
meruntuhkan belas kasihanku? Aku justru menganggap hutangmu semakin
besar karena kau telah menyia-nyiakan gadis yang kau rebut dari
sisiku ini." "Cukup, cukup" Ki Sambi Pitu tiba-tiba saja berteriak
"sekarang kau mau apa? Kau tidak usah mengungkit apapun untuk
menantang aku bertempur. Marilah, aku sudah siap. Apakah kau ingin
kita bertempur dengan senjata atau tidak atau kita akan saling
menggigit." "Setan kau Sambi Pitulikur. Bersiaplah. Kita akan
berperang tanding dengan cara apapun sekehendak kita masing-masing.
Apakah kita akan bersenjata atau tidak atau dengan menaburkan
tanah berpasir ke mata atau apapun caranya." geram Ki Lemah Teles.
Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun segera bersiap untuk
bertempur. Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah saling
berhadapan. Tidak seorangpun di antara mereka yang bersenjata.
Agaknya senjata juga bukan merupakan alat yang paling penting bagi
keduanya. Ketika Ki Lemah Teles mulai bergeser sambil mengayunkan
tangannya, maka perang tanding itupun segera mulai. Keduanya mulai
dengan gerakan-gerakan lamban. Namun pada setiap gerak, maka terasa
seakan-akan getarannya mengguncang udara Bulak Parapat. Namun
semakin lama gerak merekapun mulai menjadi semakin cepat, meskipun
getar ayunan serangan mereka masih tetap mengguncang udara. Beberapa
saat kemudian, keduanya berloncatan saling menyerang, menghindar dan
berkisar. Keduanya memiliki ketangkasan dan ketrampilan yang
seimbang. Untuk beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana
memperhatikan pertempuran itu. Tidak lebih dari dua orang yang
berkelahi dengan mengandalkan tenaga kewadagan mereka semata-mata.
"Ternyata mereka hanya bermain-main" berkata Manggada dan Laksana
didalam hatinya. Tetapi pertempuran itu semakin lama menjadi semakin
sengit. Kedua-duanya mulai meningkatkan kemampuan mereka. Selapis
demi selapis. Manggada dan Laksanalah yang menjadi tidak
telaten. Kenapa semuanya itu berjalan sangat lamban? Bukankah mereka
sudan saling mengetahui tataran kemampuan masingmasing, sehingga
jika mereka langsung melepaskan kemampuan puncak mereka, maka
sentuhan tangan mereka tidak akan dengan serta-merta membunuh
lawannya karena lawannya juga berilmu tinggi. Tetapi Manggada dan
Laksana tidak dapat mengatur kedua orang yang sedang bertempur itu.
Keduanya agaknya ingin menja-jagi kemampuan mereka sendiri serta
menilai kembali tataran-tataran kemampuan yang agaknya sudah agak
lama tidak mereka pergunakan. Namun ketika darah didalam tubuh
mereka mulai memanas, maka pertempuran itu mulai berubah. Yang
dilihat Manggada dan Laksana tidak lagi sekedar dua orang yang
berloncatan dengan cepat serta ayunan-ayunan serangan yang kuat
dengan tenaga yang besar, tetapi mereka mulai merasa sentuhan ilmu
yang tinggi dari keduanya. Hentakanhentakan yang mengejut serta
gerak yang tidak terduga, bahkan menjadi semakin rumit, menunjukkan
bahwa keduanya memang berilmu tinggi. Ketika kemudian mulai terjadi
benturan-benturan, Manggada dan Laksana mulai menahan nafasnya.
Ternyata keduanya mulai merambah kedalam ilmu mereka masingmasing.
Manggada dan Laksana kadang-kadang terkejut bahwa sesuatu telah
terjadi. Keduanya kadang-kadang terlambat menyadari, apa yang
sebenarnya telah terjadi itu. Bergantian Ki Lemah Teles dan Ki Sambi
Pitu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian salah seorang
dari mereka terlempar beberapa langkah. Tetapi dalam sekejap
orang itu telah berdiri tegak menunggu serangan berikutnya.
Kecepatan gerak kedua orang itu sulit untuk diikuti oleh Manggada
dan Laksana. Bahkan tiba-tiba saja tangan Ki Lemah Teles telah
mengguncang pertahanan Ki Sambi Pitu. Tetapi dengan cepat Ki Sambi
Pitu telah memperbaiki keadaannya, justru dengan kecepatan yang
tidak dapat diikuti oleh tatapan mata Manggada dan Laksana, Ki Sambi
Pitu telah membalas serangan itu dengan serangan-serangan beruntun,
sehingga Ki Lemah Teles harus berloncatan mengambil jarak. Tetapi
pertempuran itupun kemudian telah berubah pula. Ketika kedua belah
pihak telah semakin sering disentuh oleh serangan-serangan lawan,
maka pertempuran itu justru mulai menjadi lamban kembali. Keduanya
tidak lagi berloncatan seakan-akan tidak menyentuh tanah. Tetapi
keduanya mulai saling menyerang dengan kekuatan ilmu mereka yang
memancar meloncat dari dalam diri mereka masing-masing ke arah
lawan. Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai
melihat kebesaran nama kedua orang yang sedang bertempur itu, justru
ketika mulai bergerak dengan lamban. Namun akhirnya, Ki Pandilah
yang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua orang itu justru
seakan-akan berhenti bertempur. Tetapi keduanya justru mulai duduk
dengan kaki dan tangan bersilang saling berhadapan. "Apa yang
terjadi ?" bertanya Manggada dan Laksana didalam hatinya. Tetapi
detak jantung mereka menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian seperti
memukul-mukul dada mereka. Dari kedua orang yang duduk
berhadapan itu, Manggada dan Laksana melihat seakan-akan telah
berloncatan kunangkunang kecil dari yang seorang hinggap kepada yang
lain. Tetapi semakin lama keduanya nampak menjadi letih. Keduanya
mulai goyah ketika dari kepala mereka nampak seakan-akan mengepul
asap putih tipis. Tiba-tiba saja Ki Pandi berdesis "Keduanya mulai
bersungguh-sungguh. Itu sangat membahayakan mereka masing-masing."
"Apa yang akan Ki Pandi lakukan ?" Ki Pandi termangumangu sejenak.
Namun kemudian ia berbisik "Pertempuran yang gila itu harus
dihentikan, meskipun mungkin akibatnya akan buruk bagiku." Manggada
dan Laksana tidak segera mengerti maksud Ki Pandi. Namun kemudian
ternyata Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Iapun mulai duduk
dengan menyilangkan kakinya, mengangkat serulingnya dan
meletakkannya dibibirnya. Sejenak kemudian terdengar alunan getar
suara seruling Ki Pandi. Nada-nada yang mengalir adalah nada-nada
yang geram, keras dan menghentak-hentak. Namun semakin lama nada
suara seruling itupun berubah. Iramanya juga berubah. Semakin lama
menjadi semakin lembut. Namun nadanya meninggi menggeliat menggapai
mega-mega yang mengalir diwajah langit yang digayuti beribu bintang.
Manggada dan Laksana menjadi tegang. Merekapun tahu, bahwa Ki Pandi
adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ilmunya setatar dengan
ilmu seorang Panembahan yang ditakuti karena ilmunya yang tinggi,
namun yang dibumbuinya dengan ilmu hitam. Panembahan
Lebdagati. Ternyata suara seruling itu berpengaruh atas kedua
orang yang sedang bertempur. Pemusatan nalar budi mereka ternyata
telah mulai terganggu oleh nada-nada dan irama seruling yang ditiup
oleh Ki Pandi itu. Karena itu, maka Manggada dan Laksana justru
tidak melihat lagi kepulan asap putih yang tipis itu. Bahkan
kemudian loncatan-loncatan cahaya seperti kunang-kunang kecil itupun
semakin jarang dan memudar. "Apa yang terjadi ?" bertanya Manggada
dan Laksana didalam hati. Sebenarnyalah suara seruling Ki Pandi
telah mengoyak pemusatan nalar budi kedua orang yang sedang
bertempur itu. Dengan demikian, maka kemampuan mereka melontarkan
ilmupun menjadi semakin menyusut. Karena itu, maka kedua orang yang
sedang bertempur itu menjadi marah oleh gangguan suara seruling itu.
Seperti berjanji, maka kedua orang itupun telah saling memberikan
isyarat, menghentikan pertempuran. Kunangkunang kecil itupun
kemudian berhenti sama sekali, sedangkan asap tipis yang
keputih-putihan itupun sudah tidak nampak lagi diseputar kepala
kedua orang yang sedang berperangjtanding itu. Hampir berbareng,
keduanya telah bangkit berdiri. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun
kemudian Ki Sambi Pitupun berteriak lantang "ki Bongkok. Kenapa kau
mengganggu kami ? Aku sudah mengira bahwa kau akan hadir disini.
Tetapi aku tidak mengira bahwa kau telah mencampuri persoalan kami."
Ki Pandi masih saja meniup serulingnya. Sementara itu Ki Lemah Teles
itupun berteriak pula "He, bongkok buruk. Kenapa kau datang juga ke
tempat ini ?" Suara seruling Ki Pandipun semakin perlahan.
Akhirnya berhenti sama sekali. "Marilah, kita mendekat" berkata Ki
Pandi kepada Manggada dan Laksana. Manggada dan Laksana tidak
menyahut. Tetapi dengan jantung yang berdebaran mereka bangkit dan
melangkah mengikuti langkah Ki Pandi mendekati kedua orang yang
merasa terganggu itu. "Bongkok buruk. Jika kau masih suka mengganggu
orang, maka aku akan membunuhmu disini." geram Ki Lemah Teles.
Tetapi Ki Pandi tertawa pendek. Katanya "Kau tidak akan dapat
melakukannya Ki Lemah Teles. Kau sudah menjadi lemah. Tenaga dalammu
sudah terhisap habis dalam benturan ilmu dengan Ki Sambi Pilu.
Sebagai seorang yang berilmu tinggi kau tentu dapat mengukur betapa
tinggi ilmuku. Karena itu, jika kita saling membunuh sekarang, aku
tentu akan dapat membunuhmu dengan mudah. Bahkan sambil meniup
serulingku, aku akan dapat membunuhmu. Melawan atau tidak melawan."
"Iblis kau " geram Ki Lemah Teles. Namun Ki Pandi berkata "Tetapi
bukankah kita tidak saling membunuh ?" "Ki Pandi" berkata Ki Sambi
Pitu "aku tahu bahwa kau tentu akan datang kemari. Tetapi sebaiknya
kau tidak mencampuri urusanku dengan Ki Lemah Teles.” "Kalau yang
kalian persoalkan itu benar-benar persoalan yang mendasar, maka aku
tidak akan mencampuri persoalan kalian berdua. Tetapi setelah aku
mendengar dari mulut kalian, bahwa ternyata persoalan yang mendorong
kalian untuk membunuh diri bersama-sama itu bukan persoalan
yang berarti, maka aku berusaha untuk mencegahnya. Sebaiknya Ki
Lemah Teles pulang saja dan mencoba menyusun alasanalasan yang lebih
masuk akal untuk menantang seseorang untuk berperang tanding. Atau
dalam kenyataan yang hampir saja terjadi, kalian berdua akan mati
bersama-sama. Dengar, mati tanpa arti sama sekali." "Omong kosong"
bentak Ki Lemah Teles "aku bertempur untuk mempertahankan harga
diriku sebagai laki-laki." "Kau sudah terlambat puluhan tahun, Ki
Lemah Teles. Yang mendorong kau sekarang datang menantang Ki Sambi
Pitu sama sekali bukan harga dirimu sebagai seorang laki-laki.
Tetapi hari-hari tuamu yang sepi. Kau merasa bahwa di hari tuamu kau
sudah tidak berarti lagi, sehingga kau telah berusaha menunjukkan,
bahwa kau masih Ki Lemah Teles yang dahulu." "Setan kau Bongkok.
Sekarang aku tantang kau" geram Ki Lemah Teles. Tetapi Ki Pandi
menjawab dengan keras pula "Dengar. Jika aku menerima tantanganmu,
maka kau akan mati. Sementara itu tidak akan ada orang yang
menyalahkan aku, karena aku membunuhmu dalam perang tanding. Karena
itu, maka jika kau masih ingin melawan hari tuamu dengan cara yang
anehaneh dan tidak masuk akal, datanglah kepadaku. Aku akan menerima
tantanganmu." "Sudahlah" berkata Ki Sambi Pitu "aku dapat mengerti
niat baik Ki Pandi. Akupun sebenarnya menyadari, untuk apa aku
berperang tanding." Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata
"Kata-katamu membuat jiwaku menjadi lemah." "Kau masih punya
kesempatan untuk merenunginya" berkata Ki Pandi. "Mudah-mudahan
nalarmu bertambah bening di-hari tuamu." Ki Lemah Teles tidak
menjawab. Dengan kaki yang terasa berat, ia berjalan menuju ke
kudanya. Namun Ki Lemah Teles harus mengakui, bahwa ia sudah terlalu
banyak memeras tenaganya, sehingga tubuhnya memang terasa menjadi
sangat lemah. Sejenak kemudian terdengar derap kaki kudanya
mengumandang menggetarkan udara Bulak Parapatan yangmembentang
dikaki sebuah bukit kecil itu. "Terima kasih, Ki Bongkok" desis Ki
Sambi Pitu kemudian "kau telah membebaskan aku dari persoalan yang
tidak lebih dari kegilaan yang mencengkam jantung Ki Lemah Teles.
Jiwanya yang sakit telah menyeret aku kedalam keadaan yang serupa.
Untunglah bahwa aku segera menyadari hal ini karena kehadiranmu Ki
Bongkok." "Aku sekedar mengingatkanmu. Sementara kau sudah menemukan
pijakan baru dipadukuhan yang ramah itu. Kau dianggap orang tua yang
menjadi panutan. Jika saja orangorang padukuhan mengetahui apa yang
kau lakukan malam ini, maka mereka tentu akan ikut melibatkan
dirinya dan berdatangan kemari tanpa mengetahui bahaya sebenarnya
ada disini. Bukankah untuk beberapa lama padukuhan itu dicengkam
oleh ketegangan dan bahkan ketakutan karena pokal Ki Lemah Teles
yang setiap kali berkeliaran dengan kudanya di padukuhan ? Ketakutan
yang amat sangat dapat meledak menjadi tenaga yang luar biasa
ibetsarnya." "Aku mengerti Ki Bongkok" Ki Sambi Pitu
menganggukangguk. "Tetapi apa pula kata orang-orang padukuhan jika
mereka juga tahu, bahwa yang terjadi adalah sekedar gejolak perasaan
orang yang kehilangan pegangan menjelang harihari tuanya." Ki Sambi
Pitu tersenyum. Katanya "Aku memang harus menatap wajahku
dipermukaan air tenang." "Kau dapat melihat bahwa orang-orang tua
padukuhan, yang tidak pernah hidup dalam gejolak dunia yang lain,
tidak merasa kehilangan apa-apa." Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk
pula. Katanya kemudian "Baiklah. Aku akan berusaha meyakinkan diri
pada pijakanku sekarang ini. Meskipun demikian, aku minta Ki Pandi
sekalisekali datang melihatku." "Tentu" jawab Ki Pandi "aku yang
masih saja berkeliaran ini mempunyai kesempatan lebih banyak untuk
berkunjung. Tetapi aku masih mengemban beban yang tidak dapat aku
letakkan, meskipun aku sendiri yang memungut beban itu dan membawa
dialas bongkokku ini kemana aku pergi." "Apakah aku boleh
mengetahuinya ?" bertanya Ki Sambi Pitu. "Setan yang menyebut
dirinya Panembahan Lebdagati itu masih berkeliaran." jawab Ki Pandi.
Ki Sambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara serak ia bertanya
"Dengan burung-burung Elangnya ?" "Ya." jawab Ki Pandi. "Baiklah Ki
Pandi" berkata Ki Sambi Pitu "jika saja aku mendapat kesempatan
untuk mengetahui, sengaja atau tidak sengaja, aku akan
memberitahukan kepadamu. Tetapi dimana aku dapat menemuimu ?" Ki
Pandi tertawa. Katanya "Rumahku terbentang seluas atapnya. Langit."
"Aku mengerti" desis Ki Sambi. "Akulah yang akan singgah dirumahmu
setiap kali." berkata Ki Pandi. Demikianlah, maka Ki Pandipun telah
minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya. Tanpa menyembunyikan
arah perjalanannya ia berkata "Dibelakang hutan Jatimalang itulah
aku pernah menemukan sebuah padepokan yang dibangun oleh Panembahan
Lebdagati. Tetapi setelah padepokan itu hancur, Ki Lebda-gati justru
berkeliaran kemana-mana." "Hubungi aku jika kau memerlukan. Setiap
saat aku bersedia membantumu. Justru kesempatan untuk tetap merasa
diriku berarti." berkata Ki Sambi Pitu. Dalam pada itu, Manggada dan
Laksanapun telah minta diri pula kepada Ki Sambi Pitu. Sambil
menepuk kedua orang anak muda itu, Ki Sambi Pitu berkata "Kalian
merupakan harapan masa depan bagi Ki Bongkok. Tetapi beruntunglah Ki
Bongkok yang menemukan kalian berdua" Ki Sambi Pitu berhenti
sejenak. Dengan ujung kelima jari tangan kanannya Ki Sambi menyentuh
punggung kedua orang anak muda itu bergantiganti. Kemudian
memijit-mijit pundak mereka dan menyentuh lambung. Kemudian katanya
"Jika Ki Bongkok datang kemari, aku harap kalian juga ikut
bersamanya." "Baik Ki Sambi Pitu" jawab Manggada dan Laksana hampir
berbareng. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi dan
kedua anak muda yang menyertainya itu telah melangkah meninggalkan
Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu seorang diri. Namun Ki
Sambi Pitu itupun segera melangkah pergi, kembali pulang
ke-rumahnya. "Nampaknya orang bongkok itu masih saja tidak membuat
tempat tinggal yang tetap menjelang hari-hari tuanya." berkata Ki
Sambi Pitu kepada dirinya sendiri. Tetapi kemudian ia berkata pula
"Meskipun demikian, ia dapat meletakkan masa depannya pada kedua
anak muda yang dibawanya. Nampaknya keduanya adalah anak-anak baik,
kokoh dan cerdas. Tetapi aku tidak dapat merasa iri akan
keberuntungannya itu." Sambil menundukkan kepalanya, Ki Sambi Pitu
itupun melangkah menyusuri Bulak Parapat kembali ke padukuhan. Dalam
perjalanan itu ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sangat letih.
Kekuatan dan tenaganya memang serasa terkuras dalam perang tanding
melawan Ki Lemah Teles. Perang tanding yang tidak ada artinya sama
sekali. Baik bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang banyak.
"Seperti dikatakan Ki Bongkok" desis Ki Sambi Pitu "jika perang
tanding itu diteruskan, dan kami berdua atau salah seorang diantara
kami mati, maka kematian itu adalah sia-sia." Sementara itu, Ki
Pandi, Manggada dan Laksana telah berjalan meninggalkan Bulak
Parapat. Tetapi merekapun kemudian telah berhenti ditepi hutan perdu
itu untuk beristirahat. Meskipun mereka tidak terlibat sama sekali
dalam perang tanding itu, tetapi ketegangan selama mereka mengikuti
peristiwa di Bulak Parapat itu membuat mereka menjadi letih.
Dengan nada berat Ki Pandipun berkata "Besok kita melanjutkan
perjalanan menuju ke hutan Jatimalang untuk melihat perkembangan
lingkungan di kaki Gunung Lawu, dibelakang hutan itu." "Apakah kita
akan singgah dirumah Ki Ajar Pangukan ?" bertanya Laksana. "Ya."
jawab Ki Pandi dengan serta-merta "aku pernah tinggal bersamanya
untuk ikut membayangi padepokan Panembahan Lebdagati itu." "Tetapi
apakah Ki Ajar masih berada ditempat yang dahulu?” "Tetapi apakah Ki
Ajar masih berada ditempat yang dahulu?" bertanya Laksana pula.
"Mudah-mudahan Ki Ajar Pangukan masih tinggal digubugnya itu.
Nampaknya ia sudah kerasan tinggal disana." jawab Ki Pandi. Di dini
hari ketiga orang itu sudah bersiap. Mereka mencuci muka di sebuah
sungai kecil yang mengalir dipinggir hutan perdu itu. Agaknya
Laksana merasa malas untuk berburu binatang. Dengan nada berat ia
berkata "Kita cari makan di kedai saja nanti." Ki Pandi
tertawa.-Katanya "Berburu dikedai agaknya lebih mudah dari berburu
dipadang perdu ini." "Bukankah kita mempunyai senjata yang baik
untuk berburu di kedai." Manggadapun tertawa pula. Tetapi iapun
berkata "Baiklah. Kami akan mengikuti saja apa yang kau
inginkan." Laksana ternyata tertawa paling keras. Namun
dihutan perdu itu tidak seorangpun akan mendengarnya. Sebelum
Matahari terbit, mereka sudah melanjutkan perjalanan mereka ke hutan
Jatimalang. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju kehutan itu.
Ketika Matahari terbit, mereka sudah semakin jauh dari Bulak
Parapat. Mereka melintasi padukuhan dan bulak-bulak persawahan.
Langit nampak bersih kebiru-biruan. Jalan-jalan mulai ramai dilalui
orang yang akan pergi ke pasar dan yang akan pergi ke sawah. Ki
Pandi, Manggada dan Laksana yang berjalan diantara orang yang
mengalir itu menduga, bahwa mereka akan segera sampai ke pasar.
Ternyata dugaan mereka benar. Beberapa saat kemudian, mereka
memasuki lingkungan yang terasa semakin ramai. Manggada dan Laksana
mencoba mengingat-ingat, apakah mereka pernah melewati pasar itu
sebelumnya. "Belum" desis Manggada "kita belum pernah melewati jalan
ini." Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Agaknya memang belum."
Namun ketika mereka sampai didepan pasar itu, tiba-tiba saja Laksana
bertanya kepada Ki Pandi "Bagaimana dengan orang yang mengikuti kita
itu ? Apakah Ki Pandi tidak melihatnya lagi ?” Ki Pandi menggeleng.
Katanya "Ya. Agaknya orang itu kehilangan jejak kita. Mungkin ketika
kita berada di hutan perdu itu." "Mudah-mudahan kita tidak
bertemu dengan orang itu lagi” geram Laksana. "Biar sajalah. Apakah
kita akan bertemu lagi atau tidak" desis Manggada. "Jika kita
bertemu lagi dengan orang itu, aku ragu-ragu apakah aku dapat
mengekang diriku untuk tidak membunuhnya." berkata Laksana. Jangan
begitu" berkata Manggada "kau akan menyesal jika ternyata orang itu
bermaksud baik." "Apakah mungkin orang itu bermaksud baik ?" "Kenapa
tidak ?" Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apaapa
lagi. Demikianlah mereka berjalan terus. Pasar yang berada di tempat
yang cukup luas dipinggir jalan itu adalah pasar yang cukup ramai.
Disebelah pasar itu terdapat pemberhentian pedati dan disebelahnya
lagi sebuah tempat yang terbiasa untuk menginap para pedagang dan
sais pedati yang datang dari tempat yang agak jauh. Ternyata
Manggada dan Laksana tertarik untuk melihatlihat isi pasar itu,
sementara Ki Pandipun tidak berkeberatan. Tetapi mereka tidak
terlalu lama berada dipasar itu. Tidak ada benda-benda yang khusus
yang tidak terdapat ditempat lain. Karena itu, maka ketiga orang
itupun segera keluar lagi dari pasar itu untuk melanjutkan
perjalanan. Jalan yang kemudian mereka lalui, adalah jalan yang
lurus menuju ke lereng Gunung Lawu. Tetapi Ki Pandi berkata
"Jika kita menempuh jalan ini, maka kita tidak akan mendekati
lereng Gunung Lawu lewat hutan Jatimalang." "Jadi ?" bertanya
Laksana "apakah kita akan menempuh jalan lain ?" "Sementara kita
dapat mengikuti jalan lain. Tetapi kita akan berbelok ke kiri dan
menyusuri jalan yang lebih kecil yang menuju ke Jatimalang, meskipun
kita masih harus beberapa kali berbelok untuk sampai ke jalan yang
pernah kalian lalui." Manggada dan Lakasana mengangguk-angguk. Ki
Pandi tentu mengenal jalan di sekitar hutan Jatimalang dengan baik.
Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan menyusuri jalan yang
panjang. Mereka melangkah semakin jauh dari pasar yang
bertambah-tambah ramai ketika Matahari menjadi semakin tinggi.
Ketika Matahari naik semakin tinggi, maka ternyata Laksana berdesis
"Marilah, kita mulai berburu." Manggada tertawa menghentak,
sementara Ki Pandi tersenyum pula. "Kenapa kau tidak berburu dipasar
saja ?" bertanya Manggada. dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
Laksanalah yang tertawa berderai. Tetapi ia tidak menjawab. Setelah
mereka berhenti disebuah kedai, maka merekapun berjalan langsung
menuju ke Jatimalang. Disepanjang jalan mereka mecoba mengenali
kembali, jalan mereka lalui sebelumnya. "Memang sudah berubah"
berkata Ki Pandi ketika melihat Manggada dan Laksana sekali-sekali
menjadi bingung. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk.
Nampaknya Pajang telah memerintahkan untuk membuka jalan menuju
keseberang hutan Jatimalang, agar daerah itu tidak menjadi daerah
yang seakan-akan terpisah. Namun Ki Pandi tidak kehilangan
pengenalannya atas lingkungan yang dikenalnya dengan baik. Karena
itu, maka dengan pasti Ki Pandi membawa Manggada dan Laksana menuju
kerumah Ki Ajar Pangukan yang terletak di daerah terpencil. Ternyata
meskipun Pajang telah mengusahakan agar lingkungan diseberang hutan
Jatimalang tidak terpisah oleh hutan yang padat, namun tempat
tinggal Ki Ajar Pangukan masih tetap rumit untuk dijangkau.
Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Menjelang senja
mereka telah mendekati tujuan. Manggada dan Laksana ingat benar
gerojogan air yang meluncur dari tebing. Beberapa kali mereka harus
memanjat lereng yang terjal. Baru kemudian mereka sampai kesebuah
dataran dengan bangunan kecil beratap ilalang. Dalam keremangan
senja mereka melihat rumah itu masih berdiri ditempatnya. Pintu
sudah tertutup. Namun ketiganya menarik nafas panjang ketika mereka
melihat sinar lampu minyak yang memancar dari ruang dalam rumah
kecil itu. "Ki Ajar Pangukan masih tinggal dirumah itu ?" desis
Manggada meskipun agak ragu. "Siapa tahu kalau orang lain yang
menempatinya sekarang” sahut Laksana. "Tentu tidak. Tempat ini
sangat terpencil." Keduanya terdiam ketika mereka menjadi
semakin dekat. Bahkan Ki Pandipun nampak sedikit ragu untuk dengan
serta merta mengetuk pintu. Namun Ki Pandipun kemudian melangkah
mendekat. Perlahan-lahan Ki Pandi mengetuk pintu yang sudah tertutup
itu. Tidak segera terdengar jawaban. Ki Pandi, Manggada dan Laksana
menyadari, bahwa penghuni rumah itu harus sangat berhati-hati.
Jarang orang yang mengetahui, bahwa ditempat itu terdapat sebuah
rumah yang dihuni orang. Sejenak ketika orang menunggu. Tetapi tidak
terdengar jawaban atau langkah kaki atau tanda-tanda bahwa rumah itu
dihuni kecuali nyala lampu minyak didalam. Ki Pandipun kemudian
telah mengetuk pintu itu sekali lagi. Tetapi Ki Pandi itu tiba-tiba
telah berbalik. Ia mendengar langkah lembut. Tetapi tidak didalam
rumah. Manggada dan Laksana terkejut melihat sikap Ki Pandi, karena
mereka tidak mendengar desir kaki justru disebelah rumah, dibayangan
kegelapan. Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba saja
terdengar suara dari sebelah rumah "Kau itu Bongkok." "Ya Ki Ajar.
Ini aku" sahut Ki Pandi yang bongkok itu sambil melangkah mendekat.
Ki Ajar nampak sangat gembira sekali melihat kedatangan Ki Pandi.
Apalagi bersama Manggada dan Laksana. "Marilah. Silahkan. Aku akan
membuka pintu." Ki Ajar itupun kemudian masuk kembali kedalam
rumahnya lewat pintu butulan. Langkah kakinya terdengar cepat
mendekati pintu disusul suara selarak diangkat. Sejenak
kemudian pintu itupun terbuka. Ki Ajar Pangukan mempersilahkan Ki
Pandi, Manggada dan Laksana untuk masuk keruang dalam. Setelah duduk
disebuah amben bambu yang agak besar, yang hampir memenuhi sebagian
ruang dalam itu, maka Ki Ajarpun telah menanyakan keselamatan
perjalanan Ki Pandi serta kedua orang anak muda itu. Demikian pula
Ki Pandi. Namun dalam pada itu, Ki Pandi nampak agak gelisah. Ia
telah mendengar tarikan nafas seseorang dirumah itu. Tetapi Ki Pandi
tidak segera menanyakannya. Namun agaknya Ki Ajar Pangukan dapat
membaca perasaan Ki Pandi. Karena itu, maka katanya "Aku memang
tidak sendirian dirumah ini." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada berat ia bertanya "siapakah orang itu, Ki Ajar ?" "Aku
mengenalnya dengan sebutan Ki Jagaprana." jawab Ki Ajar Pangukan
"agaknya kau sudah mengenalnya." Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya
"Nama itu sudah pernah aku dengar Ki Ajar. Apakah ia sekarang
tinggal bersama Ki A jar disini ?" "Untuk sementara. Ia terluka
meskipun tidak terlalu parah. Lukanya sudah berangsur baik.
Mudah-mudahan dalam beberapa hari lagi, ia sudah benar-benar
sembuh." "Kenapa orang itu terluka, Ki A jar ?" bertanya Ki Pandi.
Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Duduklah
disini sebentar. Aku akan membuat minuman panas bagi
tamu-tamuku." "Tidak usah" berkata Ki Pandi "biarlah kami
merebus sendiri minuman kami. Bukankah sudah terbiasa bagiku untuk
membuat minuman?" "Tetapi sekarang kau dan kedua anak muda itu
adalah tamu-tamuku. " berkata Ki Ajar kemudian. Namun Ki Pandi
berkata "Sudahlah Ki Ajar. Ki Ajar jangan menjadi terganggu oleh
kehadiranku sekarang." Ki Ajar Pangaukan tidak memaksa. Katanya
kemudian “Baiklah jika itu yang kalian kehendaki. Bukan aku yang
tidak ingin menghargai tamu-tamuku." "Kami sama sekali bukan tamu
disini " sahut Ki Pandi. Ki Ajar tersenyum. Kepada kedua orang anak
muda yang datang bersama Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan bertanya
"Bagaimana awalnya, sehingga kalian datang bersama dengan Ki Bongkok
itu?” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian Manggada itupun bertanya "Kisahnya cukup panjang Ki Ajar."
"Tentu dalam rangka perjalanan Ki Bongkok memburu Panembahan
Lebdagati." "Mulanya memang begitu Ki Ajar" desis Ki Pandi "namun
kemudian keduanya ingin menyertai pengembaraanku untuk menambah
pengalamannya yang masih terlalu sempit menurut pengakuan mereka
berdua.'" Ki Ajar tertawa. Katanya "Agaknya tersimpan jiwa
pengembara dihati kalian berdua. Tetapi aku ingin menasehatkan,
kalian harus dapat mengendalikan jiwa pengembaraan kalian itu,
sehingga pada suatu saat kalian tidak akan menjadi orang-orang yang
hidup tidak sewajarnya seperti kami. Maksudku, aku, Ki Bongkok
dan barangkali ada orang-orang yang lain." Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada menjawab "Kami akan
berusaha, Ki Ajar.” "Bagus" jawab Ki Ajar "jika usiamu bertambah,
maka kau harus menetap, berumah tangga, mempunyai keturunan dan
menumbuhkan keturunan dengan baik sesuai dengan tuntunan Yang Maha
Agung. Kalian jangan hidup di tempat terpencil atau pengembara tanpa
akhir seperti Ki Bongkok, apapun alasannya. Kalian tidak usah
menambah jumlah orangorang aneh seperti kami." Manggada dan Laksana
masih mengangguk-angguk. Namun yang terbayang di angan-angan justru
orang-orang yang hidup tidak sewajarnya itu tentu mengikuti
panggilan hatinya untuk melakukan pengabdian. Namun kepada siapa
mereka mengabdi, itulah yang penting diketahui. Panggilan untuk
mengabdikan diri bagi Ki Pandi tentu berbeda dengan panggilan untuk
mengabdi bagi Panembahan Lebdagati, yang mengabdikan diri pada dunia
yang hitam. Namun dalam pada itu, nampaknya perhatian Ki Pandi masih
tertuju kepada orang yang disebut bernama Ki Jagaprana itu.
Sekali-sekali bahkan ia berpaling ke sentong sebelah kiri yang pintu
leregnya tertutup hampir rapat. Ki Ajar Pangukan itupun kemudian
berkata "Ki Jagaprana itu sudah berada dirumah ini selama lebih dari
sepekan." "Bukankah Ki Jagaprana termasuk orang berilmu tinggi?"
bertanya Ki Pandi. "Ya. Tetapi lawan bertandingnya memiliki
kelebihan dari Ki Jagaprana." Ki Pandi memang ingin
mengetahuinya. Tetapi pertanyaannya yang sudah diucapkannya tidak
langsung dijawab oleh Ki Ajar Pangukan sehingga Ki Pandi merasa
kurang pantas untuk mengulangi pertanyaannya. Mungkin Ki Ajar memang
mempunyai keberatan untuk menyebut siapakah yang telah melukai Ki
Jagaprana. Namun ternyata bahwa Ki Ajar itu sendirilah yang berkata
"Ki Bongkok. Seandainya aku tidak mengatakannya sekarang, kau tentu
akhirnya juga mengetahuinya." Ki Pandi menarik nafas panjang.
Sementara Ki Ajar Pangukan itu berkata "Ki Jagaprana itu telah
dilukai oleh seorang pengembara berkuda yang bernama Ki Lemah
Teles." Ki Pandi terkejut. Manggada dan Laksanapun terkejut pula.
Bahkan hampir diluar sadarnya. Laksana bertanya "Jadi Ki Lemah Teles
itu sampai ke tempat ini pula?" Ki Ajar Pangukanlah yang terkejut.
Dengan dahi yang berkerut ia bertanya "Kau mengenal Ki Lemah Teles?"
Ki Pandilah yang menyahut "Secara kebetulan keduanya mengenal Ki
Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu, Ki Ajar." "Kau yang memperkenalkan
kedua anak muda ini kepada mereka? " bertanya Ki A jar Pangukan.
"Dengan tidak sengaja" jawab Ki Pandi yang kemudian menceriterakan
apa yang pernah mereka lihat di Bulak Parapat. Ki Ajar Pangukan
mengangguk-angguk. Katanya "Jika demikian, Ki Lemah Teles itu sudah
dihinggapi penyakit yang sangat berbahaya. Bukan saja buat dirinya
sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang pernah mempunyai persoalan
dengan dirinya." Ki Pandi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu
ia bertanya "Apakah Ki Lemah Teles juga mengungkit persoalan yang
sudah lama lalu sehingga ia harus bertanding dengan Ki Jagaprana."
"Ya. Persoalan yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi sekarang
ini, setelah cukup lama berlalu. Apalagi persoalannya bukan
persoalan yang pantas untuk diselesaikan dengan perang tanding." Ki
Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Ki Sambi Pitu memiliki
ilmu yang setidak-tidaknya seimbang dengan Ki Lemah Teles. Tetapi
justru karena itu, hampir saja keduaduanya mengalami kesulitan,
sedangkan persoalannya juga bukan persoalan yang mendasar yang
pantas diselesaikan dengan perang tanding sebagaimana aku
ceriterakan." Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya
Ki Lemah Teles memerlukan perhatian khusus dari orang-orang sebaya
kita. Agaknya ia melihat hari-hari tuanya dengan tatapan mata yang
buram." "Persoalan apakah yang dipergunakan Ki Lemah Teles untuk
memancing pertengkaran dengan Ki Jagaprana?" bertanya Ki Pandi. "Ki
Jagaprana justru orang yang terhitung dekat dengan Ki Lemah Teles.
Ketika anak laki-laki yang tinggal satu-satunya meninggal, justru
ketika ia sedang berusaha menyelamatkan seseorang, Ki Jagaprana
berusaha untuk melerai pertengkarannya dengan keluarga menantunya.
Agaknya mereka memperebutkan dua orang cucu. Saat itu, Ki Lemah
Teles mau mendengarkan pendapat Ki Jagaprana untuk melepaskan
cucunya dan menyerahkan kepada keluarga menantunya. Namun ternyata
kemudian ia menyesal. Ia merasa kehilangan segala-galanya. Pada usia
yang semakin tua, Ki Lemah Teles menyesali keputusan itu, dan
menganggap Ki Jagapranalah yang bersalah. Ia menantang sahabatnya
itu untuk berperang tanding, sehingga Ki Jagaprana mengalami
luka-luka parah." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia sependapat
dengan Ki Ajar, bahwa Ki Lemah Teles telah dihinggapi sejenis
penyakit aneh yang dapat berbahaya bagi orang lain. "Tetapi
keadaannya sekarang sudah berangsur baik" berkata Ki Ajar Pangukan."
Setelah makan, Ki Jagaprana telah tertidur nyenyak. Biasanya ia akan
terbangun menjelang tengah malam. Setelah itu, Ki Jagaprana jarang
sekali tidur lagi." Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya malam
itu Ki Jagaprana tidak dapat tidur nyenyak sampai menjelang tengah
malam. Pembicaraan di dalam rumah itu telah membangunkannya. Untuk
beberapa saat Ki Jagaprana mencoba mendengarkan pembicaraan diruang
dalam. Ki Jagaprana itu mendengar namanya beberapa kali disebut.
Bahkan kemudian ceritera Ki Ajar tentang dirinya. Perang tanding
yang dilakukannya dan keadaannya saat itu. Karena itu, maka Ki
Jagaprana itupun segera bangkit dan melangkah keluar dari biliknya.
"O" Ki Ajar beringsut "marilah. Nampaknya kau telah terbangun."
Sejenak Ki Jagaprana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Kemudian
beralih kepada kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi
itu. Ki Jagaprana memang sudah mengenal orang bongkok yang
juga pernah disebut-sebut oleh Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi
pengenalannya memang tidak cukup akrab. Meskipun demikian, maka
sejenak kemudian Ki Jagaprana itu tersenyum. Sambil duduk diamben
itu pula ia berdesis "Selamat datang ketempat yang terpencil ini Ki
Sanak bertiga." "Terima kasih, Ki Jagaprana." jawab Ki Pandi sambil
membungkuk hormat. "Bukankah kalian sudah saling mengenal?" bertanya
Ki Ajar Pangukan. "Ya" jawab Kt Jagaprana "setidak-tidaknya mengenal
kehadirannya didunia olah kanuragan." Ki Pandipun tersenyum. Katanya
"Aku lebih banyak dikenal bukan karena kemampuanku dalam olah
kanuragan, tetapi karena kekhususan ujudku." "Ah, jangan begitu" Ki
Ajar tersenyum "jika kau saudara seperguruan Panembahan Lcbdagati
dan yang membebani dirimu dengan janji untuk membayangi dan bahkan
melenyapkan wajah hitam yang melekat pada Panembahan itu, maka
orang-orang setua kita akan dapat menilai tataran kemampuanmu.
Meskipun aku sendiri pernah merasa penglihatanku kabur sehingga
penilaianku atasmu keliru." "Ki Ajar sejak dahulu masih saja suka
memuji" desis Ki Pandi. Demikianlah, maka mereka bertiga serta kedua
orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itupun mulai duduk
berbincang tentang Ki Lemah Teles. Ki Jagaprana telah menceriterakan
apa yang dialaminya saat ia harus berperang tanding melawan Ki Lemah
Teles. "Aku, yang merasa mengenalnya dengan akrab, tidak
menduga, bahwa ia memang bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya, maka
aku terlambat untuk mengimbangi kemampuannya, sehingga aku telah
terluka didalam. Bahkan terhitung parah." berkata Ki Jagaprana
sambil mengingat apa yang telah terjadi. Namun katanya kemudian
"Tetapi ternyata masih juga tersisa nilai-nilai persahabatan kami.
Ketika aku menjadi semakin tidak berdaya, maka ia telah meninggalkan
aku begitu saja. Ia tidak membunuh aku sebagaimana tantangannya.
Berperang tanding sampai tuntas." Ki Pandi mendengarkan ceritera itu
dengan dahi yang berkerut, sementara Ki Jagaprana melanjutkan
"Tetapi aku tidak merasa terhina karenanya. Aku menerima kekalahan
serta pengampunannya dengan iklas. Karena itu, aku tidak membunuh
diri." Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Ki
Ajar dan Ki Jagaprana sendiri tertawa, iapun ikut tertawa pula.
"Sikapnya sangat menarik perhatian" berkata Ki Pandi yang mempunyai
penilaian yang sama dengan Ki Ajar Pangaukan. Dalam pembicaraan yang
berkepanjangan kemudian. Laksana yang lebih terbuka itu tiba-tiba
saja bertanya "Ki A jar. Apakah untuk seterusnya Ki Ajar akan tetap
tinggal disini? Apakah sepeninggal Panembahan Lebdagati, Ki A jar
tidak ingin tinggal ditempat yang lebih dekat dengan lingkungan
kehidupan yang wajar sebagaimana Ki Sambi Pitu?" Ki Ajar Pangukan
tersenyum. Katanya "Tentu aku ingin anak muda. Tetapi banyak hal
yang mempengaruhi keputusan yang akan aku ambil. Aku kira tidak ada
salahnya jika aku memberitahukan kepada kalian, termasuk Ki
Jagaprana, bahwa tempat yang telah dibuka dilereng Gunung Lawu
itu belum sepenuhnya tenang dan bersih dari kepercayaan hitam.
Hal ini merupakan salah satu sebab, kenapa aku masih tetap ingin
tinggal disini." "Tetapi bukankah kehidupan di lereng Gunung Lawu
itu sudah dialiri arus kehidupan sebagaimana nampak di lingkungan
yang lain? Hutan yang sudah ditembus dengan jalan yang cukup baik
itu, telah memungkinkan para pedagang keluar masuk lingkungan di
belakang Gunung Lawu ini." berkata Laksana kemudian. "Ya, anak muda.
Tetapi ketahuilah, bahwa di tempat yang sedikit lebih tinggi, pada
arah yang lain, masih terdapat sebuah perguruan yang menyadap ilmu
hitam. Perguruan itu timbul setelah Panembahan Lebdagati
meninggalkan lereng Gunung Lawu. Aku masih belum tahu pasti, apakah
di perguruan itu tinggal bekas pengikut Panembahan Lebdagati atau
orang lain yang juga berpijak pada ilmu hitam." "Jika demikian,
tempat itu tentu agak jauh dari tempat tinggal Ki Ajar ini." desis
Laksana pula. "Ya. Tetapi juga tidak terlalu jauh. Aku mencoba
mengamati perguruan itu. Perguruan yang tinggal di-sebuah padepokan
yang termasuk baru dibangun." "Mungkin beberapa pengikut Panembahan
Lebdagati yang lepas dari ikatan ada yang memasuki perguruan itu,
karena perguruan yang baru itu mempunyai pijakan yang sama dengan
ajaran Panembahan Lebdagati," desis Ki Pandi. "Memang mungkin
sekali" jawab Ki Ajar. "Menarik sekali" desis Laksana. "Apa yang
menarik?" Ki Pandipun tiba-tiba bertanya. "Maksudku, perguruan
itu memang menarik perhatian. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan
tidak ingin pindah dari tempat ini. Setidak-tidaknya untuk
sementara." jawab Laksana. Ki Pandi tersenyum. Katanya "Apakah kau
juga tertarik?" Laksanapun tersenyum pula. Katanya "Memang sangat
menarik." Ki Ajar Pangukan mengetahui arah bicara Laksana. Karena
itu maka katanya "Jika kau memang tertarik, aku tidak berkeberatan
jika kau ikut bersamaku mengamati
nya.”
Jilid : 2 LAKSANA termangu-mangu
sejenak. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Manggada. Tetapi wajah
Manggada tidak memberikan kesan apapun sehingga Laksana tidak segera
dapat menjawab. Namun Ki Pandilah yang kemudian menjawab "Tentu
Laksana akan mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Bukankah
dengan demikian ia akan mendapatkan suatu pengalaman baru
sebagaimana diinginkannya?" Hampir diluar sadarnya laksana berdesis
"Ya. Demikianlah agaknya. Tentu jika kakang Manggada tidak
berkeberatan." Manggada tersenyum. Katanya "Aku akan sangat
berterima kasih jika kami mendapat kesempatan itu. Bukan saja
pengalaman baru. Tetapi juga kesempatan untuk ikut menghapus
warna-warna hitam diwajah kehidupan ini." "Bagus" berkata Ki Ajar
Pangukan "jika demikian, aku akan mempersilahkan kalian tinggal
disini lagi, bersama Ki Bongkok." Ki Ajar berhenti sejenak. Baru
kemudian berdesis "Maaf, aku sudah terbiasa memanggil demikian." Ki
Pandi tertawa mendengar sebutan atas dirinya justru menjadi
persoalan. Katanya kemudian "Apapun tetenger itu bagiku, asal jelas,
bahwa akulah yang dimaksud." Orang-orang tua tertawa. Manggada dan
Laksana saling berpandangan sejenak. Namun merekapun tertawa pula.
Demikianlah, maka saat itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana berada
dirumah Ki Ajar Pangukan bersama Ki Jagaprana yang terluka dibagian
dalam tubuhnya. Namun dari hari kenari keadaannya menjadi berangsur
baik sehingga akhirnya menjadi sembuh sama sekali. Sementara
itu, Ki Ajar Pangukan telah beberapa kali membawa Manggada dan
Laksana berjalan-jalan menyusuri daerah yang pernah menjadi daerah
pengaruh orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati. Kehidupan
di daerah itu memang sudah nampak berubah. Nampaknya jalan yang
menembus hutan Jatimalang itu memberikan banyak arti bagi daerah
itu. Perdagangan hasil bumi yang terjadi dengan wajar, kemudi an
kebutuhan alatalat pertanian yang didatangkan dari balik hutan,
serta kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti garam dan barang
kerajinan, membuat daerah di lereng Gunung Lawu itu berkembang
menjadi satu lingkungan yang wajar sebagaimana lingkungan-lingkungan
yang lain. Hilangnya kekuatan hitam yang selalu memaksakan
kehendaknya kepada para penghuni lingkungan yang sebelumnya terpisah
itu mempunyai pengarah yang sangat besar. Para penghuninya tidak
lagi dibayangi oleh perasaan takut serta tidak lagi dibebani oleh
berbagai macam keharusan. Bukan saja upeti yang harus mereka
serahkan kepada Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya, tetapi
juga berbagai jenis upacara yang mereka lakukan sejalan dengan
kepercayaan sesat yang dianut oleh Panembahan itu. Namun semakin
jauh Manggada dan laksana melihat keadaan yang berkembang dilereng
Gunung Lawu itu, mereka justru mulai, mengenali warna-warna yang
kusam. "Kita mulai melihat perkembangan tatahan kehidupan yang
berputar balik" berkata Ki Ajar Pangukan "semula lingkungan
kehidupan disini telah mengalami perubahan dan perkembangan
sebagaimana tatanan kehidupan dilingkungan kehidupan.yang lain.
Maksudku padukuhan-padukuhan yang mulai diwarnai oleh tatanan
kehidupan yang wajar setelah penghuninya banyak berhubungan
dengan lingkungan disebelah hutan Jatimalang dan bahkan lingkungan
yang lebih jauh yang melakukan hubungan perdagangan. Tetapi pada
saat terakhir, perkembangan tatanan kehidupan mulai bergeser lagi.
Meskipun hubungan perdagangan masih juga berlangsung sehingga
pengaruh tatanan kehidupan dari seberang hutan Jatimalang masih
nampak mewarnai tatanan kehidupan disini, tetapi upacara-upacara
yang aneh mulai mewarnai kehidupan disini." Manggada dan Laksana
mendengarkan keterangan Ki Ajar itu dengan sungguh-sungguh. Meskipun
kehidupan yang kusam itu belum nampak jelas dalam kehidupan
sehari-hari, tetapi lambat-laun, perubahan-perubahan yang mendasar
akan dapat terjadi. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya "Ki Ajar.
Selagi keadaan itu belum berkembang, apakah tidak sebaiknya mulai
diluruskan kembali ?" "Itulah yang akan kami usahakan. Tetapi tentu
bukan satu pekerjaan yang mudah. Sudah aku katakan, bahwa telah
lahir satu padepokan baru yang agaknya memuat satu jenis perguruan
yang berpijak pada atau setidak-tidaknya dipengaruhi dleh ilmu yang
sesat sebagaimana dianut atau sejenis yang dianut oleh Panembahan
Lebdagati" "Dirnanakah letak padepokan itu?” "Kini tidak dapat
dengan serta-merta mendekati tempat itu. Kita harus berhati-hati,
karena didalam padepokan itu tentu tersimpan orang-orang berilmu
tinggi dari aliran yang sesat itu." jawab Ki Ajar Pangukan. Manggada
dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya mencoba untuk melihat
kelainan yang mulai tumbuh di beberapa padukuhan. Mereka
melihat ditempat-tempat tertentu terdapat bangunan yang khusus.
Dihalamannya yang luas terdapat batu tersusun rapi dengan permukaan
yang datar setinggi orang dewasa dengan tangga batu pula di keempat
sisinya." "Untuk apa , Ki Ajar ?" bertanya laksana. "Sampai saat
ini, yang kami lihat, diatas landasan batu itu diserahkan korban
seekor anak binatang yang dilahirkan dibulan purnama. Jika tidak
diketemukan maka yang akan dikorbankan adalah seekor anak binatang
jenis apapun yang lahir terdekat dengan bulan purnama." "Caranya ?"
bertanya Laksana pula. "Dengan sepotong bambu yang ditajamkan,
jantung anak binatang yang dikorbankan itu ditikam." jawab Ki Ajar
Pangukan. "Ah" desis Laksana diluar sadarnya. "Yang menarik" berkata
Ki Ajar Pangukan "sebelum anak binatang itu dikorbankan, anak
binatang itu dimandikan, kemudian dibalut dengan kain yang berwarna
putih. Kemudian sesudah binatang itu mati, maka beberapa orang yang
nampaknya merupakan rangkaian dari upacara itu, menangisinya.
Kemudian anak binatang itu dikubur dengan upacara yang khusus pula."
"Satu upacara yang aneh" berkata Manggada. "Ya. Upacara yang aneh.
Tetapi lebih dari itu, aku membayangkan apa yang akan terjadi
kemudian. Maksudku, waktu-waktu mendatang. Jika kepercayaan yang
aneh itu menjadi semakin menggigit, maka aku cemas bahwa korban itu
tidak hanya sekedar seekor binatang dari jenis apapun."
"Maksud Ki Ajar ?" bertanya Laksana. Ki Ajar tidak menjawab. Tetapi
keningnya berkerut semakin dalam Laksana tidak mendesaknya. Ia
sendiri tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kemudian.
Manggadalah yang kemudian justru bertanya "jenis binatang apa
sajakah yang dapat dipakai sebagai korban ?" "Segala macam binatang
peliharaan. Dari anak lembu, anak kambing sampai anak ayam yang
menetas pada atau disekitar bulan purnama." jawab Ki Ajar Pangukan.
Manggada mengangguk-angguk. Tetapi iapun tidak ingin mendesak dan
mendengarkan jawaban tentang kecemasan Ki Ajar di hari kemudian itu.
Di rumah Ki Ajar, Manggada dan Laksana telah membicarakannya dengan
Ki Pandi yang sibuk menyiapkan minum dan makan seisi rumah itu
sebagaiman pernah dilakukannya dahulu. Memang ada perbedaan dengan
upacara yang dilakukan oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi bayangan
dikemudian hari iiu, akan sama-sama mengerikannya. "Bagaimana
mungkin masih saja ada orang yang mempergunakan cara-cara seperti
itu untuk pemenuhan kepuasan batinnya.” desis Manggada. “Kita tidak
akan dapat tinggal diam atau sekedar sebagai penonton yang menutup
wajah kita dan melihat peristiwa itu itu dari sela-sela jari tangan
kita." berkata Ki Pandi. Ternyata bahwa kemudian Ki Jagapranapun
telah tertarik pula kepada tata kehidupan yang tidak sewajarnya
itu. Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal dirumah Ki
Ajar Pangukan itu telah menyusun rencana untuk melihat dan mengenali
sebuah padepokan yang memancarkan kepercayaan yang berlandaskan pada
ilmu hitam itu yang pengaruhnya sudah terasa dipadukuhan-padukuhan
di lereng Gunung Lawu. Penghuni padukuhan-padukuhan itu,yang sejak,
semula memang sudah tersentuh oleh kepercayaan hitam itu agaknya
tidak terlalu sulit untuk menerima kembali tatanan kehidupan yang
pernah dikenali sebelumnya. Meskipun mereka sudah dipengaruhi oleh
tatanan kehidupan yang lain, tetapi ketika pengenalan mereka itu
tersentuh kembali, maka merekapun seakan-akan telah hanyut kedalam
dunia lama yang telah mereka kenal itu. Namun dalam pada itu, selagi
Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi bersama Manggada dan
Laksana akan mulai melangkahkan kaki, tiba-tiba saja telah datang
dua orang yang pernah mereka kenal sebelumnya. Ki Ajar Pangukan
terkejut atas kehadiran kedua orang yang tiba-tiba saja sudah berada
di plataran rumah Ki Ajar Pangukan yang terasing itu. "Aku mencari
Ki Jagaprana dan Ki Bongkok" teriak seorang di antara mereka. Bukan
hanya Ki Ajar Pangukan sajalah yang kemudian keluar dan berdiri
diserambi. Tetapi seisi rumah itu telah menyongsong kedua orang itu
didepan rumah. "Selamat datang digubuk kecil ini, Ki Lemah Teles dan
Ki Sambi Pitu." sapa Ki Ajar Pangukan. "Ki Ajar" berkata Ki Lemah
Teles "sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku mempunyai persoalan
dengan keduanya. Aku memang menunggu Ki Jagaprana sembuh. Aku
akan menantangnya untuk berperang tanding. Kemudian aku juga
akan menantang orang bongkok yang telah mengganggu perang tandingku
dengan Sambi Pitu." Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu telah menyahut "Ki
Lemah Teles masih saja gila." "Persetan kau" geram Ki Lemah Teles
"kau akan mendapat giliran terakhir setelah aku menyelesaikan
Jagaprana dan orang bongkok itu. Kecuali jika Ki Ajar ingin
mencampuri persoalan ini. Maka ia akan aku selesaikan sebelum kau."
Tetapi Ki Pandi justru tertawa. Katanya "Atas nama Ki Ajar, aku
persilahkan kau duduk Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu. Ki Ajar
menjadi heran melihat sikapmu yang gila itu sehingga ia tidak segera
mempersilahkan kalian duduk." “Ya, ya" sahut Ki Ajar. "sikapmu aneh
Ki Lemah Teles, sehingga aku kehilangan unggah-ungguh tanpa
mempersilahkan kalian duduk, meskipun hanya disebuah amben tua di
serambi gubug kecil ini." “Aku tidak memerlukan sejenis basa-basi
seperti itu” geram . Ki Lemah Teles. "Bukan sekedar basa-basi. Aku
benar-benar mempersilahkan kalian duduk" sahut Ki Ajar
Pangukan. Ki Lemah Teles masih saja ragu-ragu. Namun Ki Sambi
Pitu lah yang kemudian melangkah ke serambi. Ia justru duduk
mendahului Ki Ajar Pangukan sendiri. Namun akhirnya semuanyapun
duduk di amben bambu tua diserambi ruamah itu, kecuali Manggada dan
Laksana. Ketika amben itu berguncang, maka Ki Lemah Telespun berkata
"Kau jebak aku dengan amben reotmu ini." Ki Ajar tertawa. Katanya
"Hatimu yang goyah itu selalu dibayangi oleh kecurigaan. Kami sama
sekali tidak bermaksud buruk terhadapmu." "Tetapi kenapa dengan
amben ini ?" “Amben tua ini agaknya mengeluh karena bebannya yang
terlalu berat. Tetapi tidak apa-apa. Aku jamin bahwa amben tua ini
tidak akan roboh." Ki Lemah Teles tidak menjawab. Tetapi beberapa
kali ia justru mengguncang amben bambu yang sudah tua itu. Dalam
pada itu, Manggada dan Laksana telah pergi kedapur untuk menyiapkan
minuman bagi tamu-tamu Ki Ajar Pangukan. Sementara itu, Ki Lemah
Teles masih saja dengan nada marah berkata "Aku tidak mau diganggu
lagi oleh siapapun juga. Aku harus membunuh mereka yang telah
mengganggu perasaanku. Di umurku yang menjadi semakin tua, maka aku
harus dapat hidup tenang, tenteram dan damai" Ki Ajar Pangukan dan
Ki Pandii tertawa bersamaan, sehingga Ki Lemah Teles itu membentak
“Apa yang kalian tertawakan ?" "Begitukah caramu untuk
mendapat ketenangan dan ketenteraman hidup ? Membasahi tanganmu
dengan darah sahabat-sahabatmu ?" sahut Ki Ajar Pangukan. "Ya."
jawab Ki Lemah Teles tegas "tanpa membunuh orangorang yang telah
menyakiti hatiku, menjerumuskan aku kedalam sepi serta mereka yang
menghalangiku, maka hidupku tidak akan tenang." “Tetapi sisa-sisa
hidupmu akan selalu dibayangi oleh wajahwajah yang sendu dari
sahabat-sahabatmu yang telah kau bunuh itu. Mereka akan selalu
datang dalam mimpi-mimpimu. Manggapai-gapai tanganmu, mohon
pertolongan dan perlindungan dari seorang sahabatnya yang baik."
"Mereka tidak akan datang kepadaku. Mereka tidak akan minta
pertolongan dan perlindungan kepadaku, justru karena aku yang
membunuh mereka." "Jika demikian mereka akan datang sambil merengek
untuk mohon kau ampuni dan kau hidupkan kembali. Karena merasa bahwa
mereka belumjsampaipada saatnya untuk mati" berkata Ki Ajar Pangukan
kemudian. "Setan kau" geram Ki Lemah Teles "aku tidak perduli.”
Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi berkata "Bagaimana jika kau yang mati
?" "Tidak. Aku tidak akan mati. Ilmuku lebih tinggi dari ilmu
kalian." geram Ki Lemah Teles. "Jangan membohongi dirimu sendiri"
berkata Ki Pandi "tentu ada orang lain yang ilmunya lebih tinggi
dari ilmu yang ada padamu." Ki Lemah Teles mengerutkan
dahinya. Tiba-tiba saja ia menantang "Ayo. Siapa yang merasa ilmunya
lebih tinggi dari ilmuku. Kita berperang tanding sampai mati."
Pembicaraan itupun tiba-tiba terputus. Manggada dan laksana telah
datang menghidangkan minuman panas. Wedang jahe dengan gula kelapa.
"Pembicaraan kita akan kita lanjutkan nanti. Sekarang, aku
persitahkan kalian minum lebih dahulu..". Ki Lemah Tetes
termangu-mangu sejenak. Namun ketika Ki Sambi Pitu dan yang lain
telah menggapai mangkuk mereka, maka Ki Lemah Telespun telah
mengangkat mangkuknya pula. "Tetapi Ki Ajar jangan mencoba untuk
mengekang sikapku dengan minuman ini" berkata Ki Lemah Teles.
"Tidak" jawab Ki Ajar "Jika aku ingin mengekang sikapmu, aku tidak
hanya sekedar mempergunakan semangkuk minuman. Tetapi aku akan
mempergunakan ilmuku yang sangat tinggi" "Gila. Seberapa tinggi
ilmumu ?" bertanya Ki Lemah Teles. Orang-orang yang mendengar
pertanyaan itu tertawa. Ki Ajar justru tertawa berkepanjangan.
Katanya "Ki Lemah Teles. Kenapa kau menjadi kehilangan akal
disaat-saat kau merasa dicekik oleh kesepian. Kenapa kau harus
menantang untuk berperang tanding dengan Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu
dan kemudian Ki Pandi dan barangkali juga aku." "Mereka adalah
orang-orang yang dengki atas kebahagiaan hidupku dan kemudian
mendorong aku kedalam satu kehidupan yang kosong dan hampa seperti
sekarang ini." "Tidak, Ki Lemah Teles" berkata Ki Ajar Pangukan
"bukan karena itu. Tetapi kau merasa bahwa dihari-hari tua, kau
dan barangkali juga aku, Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu dan Ki
Bongkok mulai kehilangan kebanggaan yang pernah kau miliki. Kau
menjadi cemas, bahwa orang-orang yang mengenalmu tidak lagi
menganggap bahwa kau adalah orang yang penting dan diperlukan oleh
lingkunganmu. Karena itu, kau telah berbuat sesuatu untuk menarik
perhatian orang untuk memaksa orang lain tetap menganggapmu , bahwa
kau adalah orang penting. Orang berilmu dan orang yang dibutuhkan
sekali Kau paksa orang lain bertempur untuk mengingatkan mereka akan
kemampuan yang tinggi. Tetapi kau lupa bahwa orang lain juga
memiliki kemampuan yang tinggi pula. Jika Ki Jagaprana terluka
bagian dalam tubuhnya itu, karena ia menyangka bahwa kau tidak
bersungguhsungguh. Sementara Ki Sambi Pitu juga tidak dapat kau
kalahkan. Seandainya Ki Bongkok tidak menghentikan perang tanding
antara kau dan Ki Sambi Pitu, maka kalian berdua tidak akan pernah
sampai dirumah ini." Ternyata Ki Lemah Teles sempat mendengarkan
kata-kata Ki Ajar Pangukan. Semula hatinya memang bergejolak Tetapi
kemudian ia mulai merenungi kata-kata itu. Bahkan kemudian Ki
Pandipun berkata "Ki Lemah Teles. Jika Ki Lemah Teles tetap berniat
untuk berperang tanding dengan siapa saja yang kenal dan dapat kau
hubungi sekarang ini, maka aku akan minta agar Ki Lemah Teles
menundanya. Tetapi kalau hatimu sudah benar-benar menjadi gelap,
segala sesuatunya terserah kepadamu." "Kenapa harus ditunda ?"
bertanya Ki Lemah Tetes. "Kita sedang mengamati sebuah padepokan
yang mungkin berisi satu perguruan yang berlandaskan pada ilmu
hitam. Kami terpanggil untuk membayanginya, karena perguruan itu
mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi lingkungannya." jawab
Ki Pandi. Lalu katanya kemudian "Kecuali jika Ki Lemah Teles telah
kehilangan suara nuraninya yang jernih." "Setan kau bongkok" sahut
Ki Lemah Teles. Namun katanya kemudian "Baiklah. Aku akan berusaha
menahan diri. Aku akan memberi kesempatan kepada kalian untuk
melakukan niat kalian membayangi perguruan yang berlandaskan ilmu
hitam itu." "Satu kesempatan bagimu, Ki Lemah Teles" berkata Ki
Jagaparana yang lebih banyak berdiam diri saja. "Kau akan
menjerumuskan aku kedaiam jebakan dan membunuhku dengan cara yang
licik ?" "Tentu tidak. Aku masih berharap kita dapat berperang
tanding setelah kita menyelesaikan perguruan yang berlandaskan ilmu
hitam itu" jawab Ki Jagaprana. Bahkan katanya pula "Aku berharap
bahwa aku dapat membalas luka bagian dalam tubuhku dengan melukai
bagian dalam tubuhmu pula." "Setan kau. Aku akan benar-benar
membunuhmu" geram Ki Lemah Teles "Sudahlah” berkata Ki Ajar
Pa'ngukan "kenapa kita hanya berbicara tentang bunuh membunuh ?
Kenapa kita tidak berbicara tentang satu rencana yang mungkin dapat
kita lakukan untuk membayangi padepokan orang-orang berilmu hitam
itu ?" Ki Lemah Teles termangu-mangu. Namun kemudian iapun bertanya
"seandainya aku bergabung dengan kalian, apakah aku juga harus
tinggal disini." "Itu terserah kepadamu" jawab Ki Ajar
Pangukan "tetapi aku akan sangat senang jika kalian bersedia untuk
tinggal bersama kami disini." "Tetapi bagaimana dengan kuda-kuda
kami?" bertanya Ki Lemah Teles. "Kau membawa kuda ?" bertanya Ki
Ajar Pangukan. "Ya." Ki Ajarpun kemudian berkata kepada Ki Pandi
"Nah, kau adalah salah seorang di antara mereka yang tahu, bagaimana
membawa seekor kuda ke tempat ini.” Ki Pandipun mengangguk-angguk.
Katanya "marilah, aku tunjukkan kepada kalian jalan yang dapat
kalian lewati." Setelah minum beberapa teguk, maka Ki Pandi bersama
kedua orang tamunya itupun meninggalkan tempat itu untuk mengambil
kuda-kuda mereka yang terhalang oleh sulitnya jalan yang harus
mereka tempuh sampai ke rumah Ki Ajar Pangukan itu. Rumah Ki Ajar
Pangukan adalah rumah yang kecil saja. Tetapi tamu-tamunya bukan
orang-orang manja yang memerlukan tempat yang baik untuk bermalam.
Mereka dapat tidur dimana saja. Diserambi, diruang tengah atau bilik
yang sempit. Sedangkan mereka bukan pula orang yang memilih makanan
tertentu menurut selera yang sulit. Mereka dapat makan apa saja yang
pantas dimakan. Karena itu, kehadiran orang-orang itu dirumah Ki
Ajar tidak terlalu menyulitkannya. Mereka dapat makan ketela pohon,
ketela rambat, jagung, apalagi nasi putih. Sementara itu,
sayur-sayuran terdapat dihalaman dan di kebun rumah yang luas,
bahkan seakan-akan tanpa batas. Kemudian kolam yang direnangi
oleh berbagai jenis ikan. Di halaman belakang juga berkeliaran
berpuluh ekor ayam, irik yang menebarkan telur dimalam hari dan
bahkan angsa. Di hari-hari berikutnya, rumah kecil itu memang
menjadi ramai. Beberapa orang yang usianya telah merambat melampaui
pertengahan abad dan dua orang anak muda, Manggada dan Laksana.
Namun dengan demikian, Manggada dan Laksana telah mendapatkan
pengalaman yang cukup banyak. Orang-orang tua itu kadang-kadang
mengisi waktunya dengan latihanlatihan sesuai dengan aliran ilmu
mereka masing-masing untuk mempertahankan kemampuan ilmu dan daya
tahan tubuh mereka. Ki Lemah Teles yang sebelumnya merasa hidup
kesepian, mulai merasa bahwa ia masih mempunyai beberapa orang kawan
yang memperhatikannya. Dalam pada itu, orang-orang yang tinggal
dirumah Ki Ajar Pangukan itu mulai membagi diri untuk mengamati
sebuah padepokan yang mereka duga, mempunyai landasan ilmu hitam
sebagaimana padepokan Panembahan Lebdagati. Mereka tidak saja
bergerak disiang hari, tetapi kadangkadang juga malam hari. Bahkan
Ki Ajar Pangukan telah mulai berusaha untuk dapat berada
dipadukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu. Dalam pada itu, Ki
Pandi yang berjalan-jalan bersama Manggada dan Laksana disebuah
padukuhan sempat melihat bangunan khusus yang agak lain dari
bangunan-bangunan khusus yang pernah mereka lihat. Disekitar
bangunan itu terdapat halaman yang cukup luas dipagari dengan
potongan batang kelapa yang berjajar rapat Pagar itu cukup tinggi
dengan sebuah pintu gerbang saja. "Apa yang ada didalam ?"
desis Laksana. Lingkungan disekitar bangunan yang memang terletak
menjorok diluar padukuhan itu memang sepi. Karena itu, maka
Manggadapun berkata "Apakah kita akan memasuki dinding bangunan yang
khusus itu ?" Ki Pandi masih saja temangu-mangu. Namun kemudian
mereka melihat dua orang bocah yang menggiring beberapa ekor kambing
untuk digembalakan. Anak-anak itu tertegun sejenak melihat orang
yang mereka anggap asing berada disekitar bangunan khusus "Kita
dapat berbicara dengan anak-anak itu. Tetapi jangan takut-takuti
mereka." berkata Ki Pandi. Manggada mengangguk-angguk. Karena itu,
maka iapun berkata "Biarlah aku sendiri datang kepada mereka.”
"Sebentar lagi" desis Ki Pandi. Baru ketika kedua orang anak itu
duduk direrumputan sambi! melepas kambing mereka di tempat terbuka
yang ditumbuhi rerumputan yang hijau subur itu, Manggada telah
melangkah mendekati mereka. Ia berjalan dengan langkah yang wajar
saja. Tidak tergesagesa dan tidak menarik perhatian. Sedangkan
Laksana dan Ki Pandi justru berdiri saja ditempat mereka, dekat
dengan bangunan khusus itu. Kedua orang anak itu memang menjadi
berdebar-debar. Tetapi sambil melangkah mendekati kedua anak itu,
Manggada menunjukkan wajah yang terang dengan senyum dibibirnya.
Kedua anak itu beringsut menjauh ketika Manggada kemudian duduk
direrumputan itu pula. "Jangan takut" berkata Manggada "aku
memang orang asing bagi kalian dan barangkali bagi padukuhan ini.
Aku ingin membuka perdagangan dengan para penghuni padukuhan itu."
Kedua orang anak itu termangu-mangu. Namun tidak seorangpun diantara
mereka yang menyahut. "Aku dengar di padukuhan ini terdapat beberapa
orang yang membuat gerabah" desis Manggada. Kedua orang anak itu
saring berpandangan, sementara Manggada bertanya pula "Apakah benar
?" Seorang dintara kedua orang anak itu menggeleng» Jawabnya singkat
"Tidak." "O" Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya lagi
"Dimana kami dapat membeli gerabah dalam jumlah yang cukup banyak
untuk aku jual lagi diseberang hutan Jatimalang ?" Kedua anak itu
menggeleng. Seorang diantara mereka menjawab "Aku tidak tahu."
Manggada mengangguk-angguk lagi. Namun ia bertanya "he, bangunan
apakah yang dikelilingi dinding potongan batang kelapa utuh itu ?"
Kedua orang anak itu saling berpandangan lagi. Wajah mereka
menunjukkan keragu-raguan. "Untuk menyelenggarakan upacara
barangkali ?” Kedua orang anak itu mengangguk berbareng. "Upacara
apa ?” bertanya Manggada lagi. "Tempat itu belum pernah dipakai"
jawab salah seorang dari kedua orang anak itu. "O" Manggada
mengangguk-angguk. Dengan dahi berkerut ia bertanya "Apakah bangunan
itu baru selesai dibuat ?" “Sudah beberapa bulan yang lalu.” jawab
anak itu. Manggada masih saja mengangguk-angguk. Sambil memandang
dinding yang mengelilingi bangunan khusus itu ia bertanya "Kenapa
tempat upacara itu tidak segera dipergunakan ?" Kedua orang anak itu
menggeleng. Manggada sadar, bahwa ia tidak akan mungkin mendapat
keterangan yang cukup dari anak-anak itu. Tetapi apa yang telah
didengar sedikit banyak dapat memberikan gambaran tentang bangunan
yang masih belum pernah dipergunakan itu. Sementara itu, Ki Pandi
dan Laksana sempat melihat dari sela-sela potongan batang kelapa
yang berjajar utuh itu, sesusunan batu yang ditata rapi. Dipahat
seperti candi kecil bersusun agak tinggi mendatar dibagian
atasnya.yang agaknya untuk meletakkan benda-benda upacara atau
bahkan sesaji atau korban yang diserahkan. Sejenak kemudian,
Manggada telah berada diantara mereka kembali. Yang dapat
disampaikan kepada Ki Pandi adalah sekedar apa yang telah
didengarnya dari kedua orang anak yang sedang menggembala itu. Namun
nampaknya mereka bertiga mendapat perhatian khusus dari seorang yang
melihat mereka dari kejauhan. Orang yang sudah terhitung tua. Bahkan
lebih tua dari Ki Pandi. Dengan tongkat kayu yang panjang
orang itu melangkah mendekati Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang
masih berada dide-kat bangunan yang khusus itu. "Selamat datang
dipadukuhan kami Ki Sanak" sapa orang tua itu. "Terima kasih" jawab
Ki Pandi sambil membungkuk hormat "kami mohon maaf, bahwa kami telah
mengganggu ketenangan padukuhan ini." Orang tua itu tersenyum.
Kemudian iapun bertanya "Apa yang sebenarnya kalian kehendaki, Ki
Sanak." Yang menyahut adalah Manggada "Kami mendengar disini banyak
dibuat gerabah, kek. Mungkin kami dapat membelinya dan membawanya
keseberang hutan Jatimalang." Orang tua itu termangu sejenak. Namun
kemudian iapun menggeleng "tidak anak muda. Disini tidak ada orang
yang membuat gerabah. Kami justru membeli dari padukuhanpadukuhan
yang terletak agak kobawah. Jika kalian datang dari seberang hutan
Jatimalang, maka kalian tentu sudah melewati padukuhan kecil yang
semua penghuninya membuat gerabah." Namun Manggada dengan tangkas
menjawab "sayang kek. Buatannya kurang baik menurut pendapat kami.
Bahkan mudah pecah, sehingga kemungkinan rusak diperjalanan menjadi
sangat tinggi." Orang tua itu tersenyum. Katanya "Gerabah dari
Mungkid adalah gerabah yang terbaik yang pernah aku lihat." Manggada
termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih dapat menjawab "Ternyata
yang terbaik itu masih belum memenuhi syarat yang kami tentukan bagi
perdagangan gerabah." Orang itu tertawa. Namun kemudian ia
bertanya."Apakah kalian tertarik kepada bangunan yang belum pernah
dipergunakan ini ?" "Ya, Ki Sanak” yang menjawab adalah Ki Pandi
"Kami belum pernah melihat bangunan seperti ini sebelumnya ?"
"Bangunan ini dibuat untuk keperluan upacara. Tetapi upacara itu
belum pernah diselenggarakan dipadukuhan ini. Dahulu, ketika tempat
ini berada dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, juga sering
dilakukan upacaraupacara khusus disetiap bulan purnama. Tetapi
upacara itu dilakukan disatu tempat saja. Tetapi sekarang tidak.
Upacara itu dilakukan dibeberapa tempat. Dipadukuhan ini telah
dibuat tempat upacara yang besar. Lebih besar atau lebih lengkap
dari padukuhan-padukuhan kecil yang lain. Tetapi upacara itu sendiri
tidak pernah dilakukan dipadukuhan ini.” "Kenapa kek ?" bertanya
Laksana. Orang tua itu memandang bangunan itu dengan mata yang
redup. Katanya kemudian "Sebagai seorang yang pernah mengalami
pengaruh Panembahan Lebdagali, serta kemudian setelah daerah ini
seolah-olah terbuka, sehingga hubungan dengan lingkungan seberang
hutan Jatimalang berlangsung, maka upacara-upacara seperti itu
rasanya sangat mengerikan. Aku sendiri sejak Panembahan Lebdgati
menyelenggarakan upacara-upacara khusus didaerah ini, aku tidak
pernah mengikutinya. Tetapi karena aku tidak mempunyai kekuatan
apapun dan bahkan tidak mempunyai keberanian yang cukup, maka aku
tidak berani berbuat apap-apa selain berharap." "Apakah upacara yang
berlangsung waktu itu dan sekarang sama ?" bertanya laksana.
"Tidak anak muda. Dahulu korban yang diserahkan adalah gadis-gadis."
jawab orang tua itu. "Sekarang ?" desak Laksana. "Seekor anak
binatang apapun. Ditusuk dadanya sampai mati. Bukankah itu
mengerikan meskipun hanya seekor anak binatang ? Seekor anak kambing
berteriak melengking tinggi ketika sepotong bambu yang ditajamkan
menusuk jantungnya, seperti tangis seorang bayi yang kesakitan."
Laksana tidak bertanya lebih jauh. Sekilas melintas di
angan-angannya sesuatu yang sangat mengerikan. Tetapi orang tua itu
masih berkata "Bangunan ini dibuat oleh beberapa orang yang sejak
semula melandasi kepercayaannya dalam pengaruh ilmu hitam. Mereka
menganggap bahwa upacara seperti ini akan dapat memberikan
keselamatan dan kesejahteraan bagi hidupnya" Orang itu berhenti
sejenak. Namun kemudian ia meneruskannya "tetapi niat itu ditentang
oleh banyak orang yang menyadarinya, bahwa upacara seperti itu hanya
menimbulkan kengerian saja. Bahkan di hari mendatang akan
menimbulkan malapetaka bagi penghuni padukuhan itu sendiri. Dan yang
lebih buruk lagi jika malapetaka itu menyebar ke padukuhan-padukuhan
disekitarnya, apalagi sampai keseberang hutan Jatimalang." "Apakah
hal seperti itu akan mungkin terjadi ?" Laksana justru bertanya
lagi. "Mungkin sekali. Jika di satu padukuhan tidak lagi terdapat
seekor anak binatangpun, maka tentu akan dicari dari
padukuhan-padukuhan yang lain, sementara padukuhanpadukuhan yang
lain juga membutuhkan bagi upacara yang mereka selenggarakan
sendiri. Jika demikian bukankah harus dicari ditempai yang
semakin jauh yang justru tidak mempunyai kepercayaan pada upacara
seperti itu. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa yang dilakukan sekarang
dalam upacara itu barulah semacam pendahuluan. Pada kesempatan lain
upacara itu akan menjadi upacara yang sesungguhnya menurut
kepercayaan sesat itu." Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara
Ki Pandi bertanya “Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di
padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya ?" "Hanya untuk
sementara" jawab orang itu "pada satu saat nanti, orang-orang dari
padepokan dibelakang gumuk itu akan datang lagi. Mencoba untuk
mempengaruhi orang-orang padukuhan itu serta mengungkit lagi
kepercayaan hitam dari penghuni padepokan ini yang sebenarnya sudah
mulai berubah. Jika mereka tidak berhasil, maka mereka tentu akan
mulai dengan cara yang lebih kasar. Menakut-nakuti,! mengancam dan
mengganggu ketenangan. Jika cara itu masih belum berhasil, maka
mereka akan mempergunakan kekerasan. Mereka akan memaksa para
penghuni padukuhan ini untuk melakukan upacara-upacara terkutuk
itu." Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata
selanjutnya "Para pemimpin padepokan itu agaknya tidak berjantuhg
lagi. Mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan tanpa
mengingat lagi nilai-nilai dalam tatanan kehidupan yang berlaku bagi
orang banyak." “Apakah Ki Sanak akan bertahan hidup dalam suasana
yang demikian ?" bertanya Ki Pandi. "Aku lidak mempunyai pilihan
lain. Orang tuaku tinggal disini. Aku mendapat warisan tanah
berserta rumahnya. Sementara anak-anakpun tinggal disini pula.
Bahkan cucucucuku." Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian
katanya "Baiklah Ki Sanak. Untuk sementara kami merasa sudah banyak
mendengar tentang bangunan khusus itu. Mungkin pada kesempatan lain,
kami akan singgah dirumah Ki Sanak. Namun apakah kami boleh
mengetahui ancar-ancar tempat tinggal Ki Sanak ?" bertanya Ki Pandi.
Alenia ini tertukar tempat di buku aslinya (dewi KZ) “Rumahku mudah
dicari. Aku tinggal ditepi jalan induk padukuhan ini. Hampir
berhadapan dengan banjar padukuhan. Jika kalian mengalami kesulitan,
kalian dapat bertanya dirumah Ki Carang Ampel." "Baik, Kiai.
Sekarang aku mohon diri." "Ki Sanak" desis Ki Carang Ampel "apakah
Ki Sanak mempunyai pendapat khusus mengenai upacara yang sering
dilakukan dipadukuhan-padukuhan yang lain." "Tidak Ki Carang Ampel.
Kami hanya sekedar ingin tahu saja" jawab Ki Pandi. Orang tua itu
mengangguk-angguk. Dengan nada berat orang itu bertanya "Dimanakah
Ki Sanak tinggal ?" "Kami orang-orang Pajang" jawab Ki Pandi. Orang
tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi.
Ketika kemudian Ki Pandi, Manggada dan Laksana duduk berkumpul
bersama orang-orang lain penghuni rumah Ki Ajar yang kecil itu
disore hari, maka Ki Pandipun telah menceriterakan pertemuannya
dengan Ki Carang Ampel. Ki Jagaprana dengan serta-merta menyahut
"Sulit bagi kita untuk mempercayai sikap dan pendapat orang disini.
Mereka nampaknya berbicara apa saja tanpa dipikirkannya
masakmasak." Tetapi Ki Pandi menyahut "Tetapi nampaknya Ki
Carang Ampel telah mencoba untuk mengatakannya sesuai dengan
tanggapannya" atas bangunan khusus di padukuhannya.” "Memang
mungkin" sahut Ki A jar Pangukan "aku masih juga percaya bahwa orang
penalarannya mulai terbuka sejak hutan Jatimalang itu ditembus.
Beberapa orang mencoba membuka jalur perdagangan didaerah ini dapat
membuka hati orangorang yang semula dibayangi oleh ilmu hitam.
Bahkan ada diantara para pedagang justru dengan sengaja berusaha
membuka nalar budi orang-orang itu agar mereka mengenali hubungan
antara mereka dengan penciptanya." Ki Jagaprana mengangguk-angguk.
Sementara itu, Ki Lemah Teles berkata “Nampaknya para pemimpin di
padepokan itu telah mempelajari dengan baik lingkungan ini, sehingga
mereka telah memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan yang
bukan sekedar sebuah perguruan tertutup. Tetapi para pemimpin
padepokan itu berusaha menyebarkan pengaruhnya disatu lingkungan
yang luas, menurut pendapat mereka, merupakan lahan yang subur bagi
kepercayaan hitam, karena lingkungan ini memang pernah dibayangi
oleh ilmu hitam ketika Panembahan Lebdagati ada disini." "Ya." Ki
Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Karena itulah,
maka kita merasa mendapat beban tugas yang berat meskipun kita
sendiri yang meletakkan beban itu dipundak kita. “Yang dapat kita
lakuKan adalah mencegah menjalarnya pengaruh ilmu hitam itu. Tetapi
kita tidak boleh melupakan, bahwa kita akan berhasil dengan baik,
jika kita dapat mematikan sumbernya. Tetapi kita tahu, bahwa hal itu
tidak akan mudah kita lakukan. Kita belum tahu kekuatan yang
sebenarnya yang ada di padepokan itu.” Sementara itu Ki Sambi
Pitupun berkata "Agaknya para pemimpin di padepokan itu menyebarkan
pengaruhnya dengan bertahap. Satu hal yang menarik perhatian.
Nampaknya para pemimpin di padepokan itu benar-benar mematangkan
rencananya sebelum mereka bertindak." "Maksud Ki Sambi Pitu ?"
bertanya Ki Jagaprana. "Mula-mula korban yang diserahkan oleh
orang-orang yang sudah mulai terpengaruh lagi oleh ilmu hitam itu
adalah anakanak binatang jenis apapun dengan menusuk jantungnya
sampat mati. Tetapi disatu padukuhan yang terhitung dekat dengan
padepokan itu, upacara mulai berubah. Adalah kebetulan bahwa aku
dapat berbicara dengan seorang anak muda yang tidak menyadari dengan
siapa ia berbicara." "Perubahan apakah yang terjadi ?" bertanya Ki A
jar. "Di padukuhan itu, korban tidak lagi ditusuk. Tetapi dibakar
hidup-hidup. Anak binatang itu diletakkan diatas seonggok kayu
kering. Kemudian kayu itu dinyalakan." Orang-orang yang mendengar
penjelasan Ki Sambi Pitu itu menjadi berdebar-debar. Mereka merasa
ngeri membayangkan peristiwa itu terjadi. Apalagi ketika angan-angan
mereka berkembang lebih jauh. Dengan demikian, maka orang-orang yang
tinggal dirumah Ki Ajar itu sepakat untuk melihat keadaan lebih jauh
lagi. Namun Ki Lemah Telespun berkata "Jika kita terlalu sering
berkeliaran, maka kita tentu akan sangat menarik perhatian. Suatu
ketika, maka kehadiran kita akan didengar oleh orangorang padukuhan
itu." "Ya" Ki Ajar mengangguk-angguk "kita memang harus
berhati-hati. Jika orang-orang padepokan itu mencium kehadiran
kita, maka kita akan langsung berhadapan dengan mereka." Dengan
demikian, maka orang-orang dirumah kecil itu sepakat untuk
meningkatkan kewaspadaan mereka. Ki Pandi agaknya sangat tertarik
dengan keterangan Ki Sambi Pitu tentang perubahan upacara yang
mengerikan itu. Karena itu, maka tanpa Manggada dan Laksana orang
bongkok itu telah menyusuri jalan ke padukuhan itu. Sebuah padukuhan
yang letaknya agak tinggi di kaki Gunung Lawu itu bukan sebuah
padukuhan yang besar. Para penghuninya juga bukan orang-orang yang
termasuk orang-orang berada. Meskipun demikian, ternyata bahwa
mereka telah berusaha dengan susah payah yang membuat satu bangunan
khusus untuk menyelenggarakan upacara yang aneh itu. Ki Pandi telah
memilih saat yang tepat. Ketika bulan purnama naik, maka dengan
diam-diam ia telah berada di padukuhan itu. Apa yang disaksikan,
benar-benar mengerikan. Meskipun yang dikorbankan sekedar seekor
anak kambing. Ki Pandi melihat orang-orang padukuhan itu memasuki
halaman bangunan khusus itu menjelang tengah malam. Mereka berjalan
dengan kedua tangannya bersilang dimuka dada. Laki-laki dan
perempuan. Kepala menunduk dan mereka tidak saling berbicara.
Suasananya memang terasa mencekam. Yang dilihat oleh Ki Pandi
seakan-akan bukan orang-orang yang berjalan. Tetapi seperti sebuah
golek kayu besar, yang bergerak dengan sendirinya menuju ke tempat
upacara. Tetapi setelah upacara selesai dan orang-orang
padukuhan itu sudah kembali kerumah masing-masing dengan cara yang
sama sebagaimana mereka datang, Ki Pandi tidak segera meninggalkan
tempat itu. Di pagi hari berikutnya, Ki Pandi masih berada disekitar
padukuhan itu. Ketika Ki Pandi sedang mencuci kakinya di sebuah
sungai kecil, maka dilihatnya seorang gadis yang sedang mencuci.
Namun setiap kali gadis itu mengkerutkan lehernya sambil
menggelengkan kepalanya. Menurut penglihatan Ki Pandi, gadis itu
agaknya sedang dibayangi oleh perasaan takut dan ngeri. Ketika Ki
Pandi mendekatinya, gadis itu menjadi cemas. Orang bongkok itu
membuatnya gelisah. Apalagi ujud Ki Pandi yang lain dari kebanyakan
orang.. Tetapi Ki Pandi yang menyadari perasaan gadis itupun segera
berkata "Jangan takut ngger. Aku hanya ingin bertanya ?" Gadis itu
tidak menjawab. Dipandanginya Ki Pandi dengan wajah gelisah. "Ngger"
berkata Ki Pandi yang kemudian duduk diatas sebongkah batu tidak
jauh dari gadis yang sedang mencuci itu "apakah angger tadi malam
juga mengikuti upacara itu ?” "Ah" gadis itu tiba-tiba menutup
wajahnya dengan kedua belah tangannya. Diluar sadarnya ia berdesis
"Mengerikan sekali. Aku masih selalu dibayangi oleh peristiwa itu.
Aku sedang berusaha mengusirnya dari bayangan angan-anganku.
Tiba-tiba saja kakek justru bertanya tentang hal itu.” Ki Pandi
menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Maaf ngger. Bukan maksudku untuk
mengelitik perasaanmu dengan kengerian itu. Tetapi aku masih
ingin bertanya serba sedikit tentang upacara yang aneh itu." "Jangan
sebut-sebut lagi kek" minta gadis itu. "Tetapi bukankah sebelumnya
daerah ini juga pernah dipengaruhi oleh upacara-upacara yang pernah
dilakukan oleh orang yang bernama Panembahan Lebdagati. Jika korban
kali ini yang diserahkan hanyalah seekor anak binatang, beberapa
waktu lalu korbannya justru seorang gadis. Sehingga keresahan telah
tersebar bukan saja dikaki Gunung Lawu ini, tetapi sampai keseberang
hutan Jatimalang." “Tetapi aku belum pernah hadir pada upacara itu,
kek. Sanggar pemujaannyapun terletak agak jauh dari padukuhan ini.
Tetapi sekarang hampir disetiap padukuhan yang mempunyai banyak
pendukung dari aliran yang mengerikan itu telah membangun sendiri
sanggar seperti itu." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan
ragu-ragu iapun bertanya "Apakah dipadukuhanmu banyak orang yang
menjadi pengikut aliran itu ngger ?" Gadis itu nampak ragu-ragu
sejenak. Sekilas Ki Pandi melihat sinar matanya yang berkilat. Gadis
itu hanyalah seorang gadis desa yang sederhana. Tetapi nampaknya ia
seorang gadis yang cerdas. Ia sadar, bahwa jawaban yang diberikan
akan dapat menjeratnya dalam kesulitan jika ia salah ucap. Namun
gadis itu kemudian berdesis "Semua orang dipadukuhanku menjadi
pengikut aliran itu." Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya
"Baiklah ngger. Terima kasih atas keterangan angger. Mungkin pada
kesempatan lain kita akan bertemu lagi.” "Tetapi jangan
bicarakan tentang upacara itu lagi, kek." Ki Pandi tersenyum. Dengan
nada ringan ia menjawab “Tidak ngger. Aku tidak akan bertanya lagi."
Namun tiba-tiba sekali gadis itu menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangannya. Suaranya yang serak terdengar dari balik telapak
tangannya "Tidak. Tidak akan lebih dari itu ?" "Kenapa ngger ?"
bertanya Ki Pandi "bukankah aku tidak menyinggung lagi tentang
upacara itu ?" "Bayangan itu selalu melintas di kepalaku kek.
Semalam aku tidak dapat tidur setelah aku pulang dari upacara itu.
Bayangan yang nampak dikepalaku, korban itu bukan sekedar seekor
anak binatang." "Sudahlah ngger. Jika kau membayangkan yang,
bukanbukan, kau akan menjadi semakin ngeri. Sebaiknya kau lupakan
saja. Lihat pakaian yang kau cuci itu agar tidak hanyut. Kau
perhatikan apakah cucianmu sudah bersih atau belum. Yang penting kau
palingkah ingatanmu kepada apa saja yang baik kau kenang. Mungkin
seorang jejaka yang tampan atau barangkali ayah dan ibumu pernah
berbicara tentang jodoh bagimu atau bahkan kau sudah berkeluarga ?"
"Aku memang belum berkeluarga kek. Ayah dan ibu juga belum pernah
berbicara tentang jodohku. Ah, semuanya masih jauh bagiku.” jawab
gadis itu sambil duduk. “Waktunya tentu akan datang" desis Ki Pandi.
Namun kemudian katanya "Sudahlah ngger. Aku akan pulang.." "Dimana
kakek tinggal ?" bertanya gadis itu. "Dekat hutan Jatimalang." jawab
Ki Pandi. Gadis itu memandang Ki Pandi yang melangkah meninggalkan
gadis yang sedang mencuci itu. Meskipun orang tua itu bongkok
dan buruk, tetapi gadis itu tidak lagi merasa takut. Suaranya
terdengar lembut seperti wajahnya yang banyak tersenyum. Bayangan
yang mengerikan sebagaimana dikatakan oleh gadis itu, justru telah
semakin mencemaskan pula orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar
Pangukan. Mereka semakin sering melihat perkembangan aliran sesat
itu dipadukuhanpadukuhan yang dekat dan yang lebih jauh lagi dari
padepokan. Namun ternyata bahwa aliran itu tidak dapat berkembang
meliputi daerah dibelakang hutan Jatimalang sebagaiman sebelumnya,
justru karena pengaruh hubungan yang lebih luas dengan orang orang
seberang hutan. Namun yang tidak diperhitungkan oleh orangorang
dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah terjadi. Ketika Ki Pandi,
Manggada dan Laksana sedang berada tidak terlalu jauh dari padepokan
itu, mereka telah melihat dua ekor burung elang yang terbang
berputar-putar diatas padepokan yang dilingkari dinding kayu yang
kuat dan cukup dnggi. "Elang itu" desis Ki Pandi. "Apakah memang ada
hubungan antara Panembahan Lebdagati dengan padepokan itu ?"
bertanya Manggada. "Atau bahkan padepokan itu telah dibuat oleh para
pengikut Panembahan Lebdagati dan memang dipersiapkan bagi
kembalinya Panembahan itu di lereng Gunung Lawu ini ?" desis
Laksana. "Perkembangan yang menarik" berkata Ki Pandi "jika benar
padepokan itu dipersiapkan bagi Panembahan Lebdagati yang ingin
kembali menguasai daerah ini, maka persoalannya justru akan menjadi
jelas." Namun Laksana itupun bertanya "Apakah tidak ada orang lain
yang mampu mengendalikan elang seperti Panembahan Lebdagati?" "Ada.
Tentu ada" jawab Ki Pandi "salah seorang pengikutnya atau bahkan
orang lain yang mempunyai kegemaran yang sama. Tetapi menilik sikap
dan ujud burung elang itu, nampaknya burung itu dikendalikan oleh
para pengikut Panembahan Lebdagati yang tersisa." Manggada dan
Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian mereka telah diajak
oleh Ki Pandi berlindung dibawah sebatang pohon yang rimbun. "Jika
saja burung itu mengenali kita bertiga" desis Ki Pandi. Tetapi
Laksanapun menyahut "Seandainya mereka mengenali kita, apakah
burung-burung itu mempunyai cara untuk memberitahukan kepada
Panembahan Lebdagati atau pengikutnya? Bagaimana burung elang itu
dapaf menyebut; bahwa burung elang itu sudah melihat Ki Pandi,
Manggada dan Laksana?" Ki Pandi tertawa. Katanya "Tentu burung elang
itu tidak dapat menyebut namamu, Laksana. Tetapi burung itu tentu
dapat memberi isyarat bahwa ia melihat orang-orang yang pernah
dikenalnya sebelumnya." Laksana mengangguk-angguk. Katanya
"Jadi pemilik burung itu akan dapat salah menangkap artinya. Mungkin
pemilik burung itu mengira bahwa eläng-elangnya melihat Kiai Gumrah
atau melihat Ki Prawara atau orang lain lagi." Ki Pandi
mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Mungkin saja. Tetapi dengan
demikian, maka Panembahan Lebdagati atau pengikutnya akan
mengirimkan orang itu untuk melihat langsung sesuai dengan isyarat
burung-burung elang itu. Nah, orang-orang itu akan dapat berbicara
tentang penglihatannya. Apalagi tentang orang-orang yang mempunyai
ciri khusus seperti aku ini." Laksana mengangguk-angguk. Katanya
“Ya. Sementara kita tidak tahu, orang yang dikirim oleh Panembahan
Lebdagati atau pengikutnya untuk mengamati kita." Dengan demikian,
maka ketiga orang itupun kemudian telah duduk dibawah sebatang pohon
yang rindang. Dari jarak yang agak jauh mereka melihat kedua burung
elang itu masih saja berputar-putar. Namun kemudian menghilang
kearah Utara. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Kita
dapat memperkirakan bahwa sarang kedua ekor burung elang itu ada
di-sisi Utara Gunung ini, meskipun mungkin dapat juga salah, karena
kedua ekor burung itu dapat juga mengelabuhi orang. Meskipun mereka
menghilang ke Utara, namun kemudian mereka akan terbang kearah yang
lain." Manggada dan Laksana yang memandang kedua ekor burung itu
sampai hilang dikejauhan, mengangguk-angguk. Burung-burung elang
yang terlatih baik itu seakan-akan memang mampu memperhitungkan
sikap yang diambilnya. Demikian kedua ekor burung elang itu hilang,
maka Ki Pandi-pun telah mengajak Manggada dan Laksana melihat
sebuah padukuhan yaag pernah dikunjunginya, justru ketika sedang
berlangsung upacara disaat bulan sedang purnama. "Tetapi tentu tidak
ada upacara disiang hari, Ki Pandi" berkata Manggada. "Memang tidak”
berkata Ki Pandi "di malam haripun tidak, karena upacara itu
resminya hanya dilakukan setiap purnama. Beberapa hari yang lalu, di
padukuhan itu baru saja dilakukan sebuah upacara sebagaimana di
katakan Ki Sambi Pitu yang mendapat keterangan dari seorang anak
muda." "Jadi, apa yang akan kita lakukan?" bertanya Ki Pandi. "Kita
akan dapat berbincang dengan penghuni padukuhan itu. Mumpung masih
agak pagi." jawab Ki Pandi. Bertiga mereka menuju ke sebuah
padukuhan yang pernah dikunjungi oleh Ki Pandi. Mereka tidak
langsung menuju ke padukuhan. Tetapi mereka pergi kesebuah sungai
diluar padukuhan itu. Dari kejauhan Ki Pandi melihat beberapa orang
perempuan sedang mencuci pakaian. Karena itu, maka katanya "Nanti
saja. Jika yang lain telah pergi." "Maksud Ki Pandi?" bertanya
Manggada "apakah kita harus mengintip orang mandi dan mencuci
pakaian itu?" Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki
Pandi bertanya "Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di
padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya?" "Ah" Ki Pandi
mengerutkan dahinya "tentu tidak. Tetapi duduk sajalah disitu. Aku
akan memperlihatkan diri. Bukankah di-sebelah itu jalan
penyeberangan yang banyak dilalui orang? Aku akan lewat jalan itu.
Nanti, aku beri kalian isyarat." Manggada dan Laksana tidak tahu
maksud orang tua bongkok itu. Tetapi mereka menurut saja.
Keduanyapun kemudian duduk dibelakang gerumbul perdu yang tumbuh
dibawah sebatang pohon nvamplung yang cukup besar. "Tentu banyak
ular disini" jawab Laksana. Manggada tertawa. Katanya "Ki Pandilah
yang bertanggung jawab jika kita dipatuk ular." Sementara itu, Ki
Pandi telah turun ke jalan penyeberangan yang memang banyak dilalui
orang yang lewat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Apalagi
setelah hutan Jatimalang ditembus oleh jalan perdagangan yang
sengaja dibuat oleh Pajang, agar lingkungan dibelakang hutan
Jatimalang itu tidak menjadi terpisah dari lingkungan lainnya.
Seperti yang diharapkan, seorang gadis yang sedang mencuci pakaian
di antara beberapa perempuan yang lain telah melihatnya. Beberapa
orang perempuan yang lain juga melihat orang bongkok yang lewat itu.
Tetapi mereka tidak memperhatikannya. Orang bongkok itu hanyalah
salah seorang saja diantara orang-orang lain yang lewat. Berbeda
dengan perempuan-perempuan yang lain, gadis yang pernah ditemui Ki
Pandi itu justru memperhatikannya. Orang bongkok itu tiba-tiba saja
terasa sebagai seorang kawan yang akrab. Berbeda dengan orang-orang
di padukuhannya, orang bongkok itu rasa-rasanya dapat mengerti
gejolak perasaannya menanggapi upacara-upacara yang diselenggarakan
di padukuhannya. Orang-orang di padukuhannya, bahkan ayah ibunya,
tidak lagi mau mengerti, betapa hatinya menjadi ngeri dan ketakutan
melihat upacara yang dilakukan di bulan purnama itu. Ketika
perempuan-perempuan dan gadis-gadis yang lain selesai mandi dan
mencuci pakaian, maka merekapun segera bersiap untuk kembali ke
padukuhan. Tetapi gadis itu ternyata masih belum selesai. Bahkan
iapun berkata kepada perempuan-perempuan yang lain "Silahkan. Aku
masih kurang sedikit. Nanti aku segera menyusul." Demikianlah, maka
sejenak kemudian, sungai itu menjadi sepi. Hanya tinggal seorang
gadis sajalah yang masih mencuci pakaiannya yang sebenarnya sudah
bersih. Seperti yang diharapkan oleh gadis itu, maka orang bongkok
itu telah datang mendekatinya. Wajahnya yang kusam itu nampak lunak
karena senyumnya. "Kawan-kawanmu sudah selesai" berkata Ki Pandi.
"Aku belum, kek. Cucianku banyak sekali," jawab gadis itu. Ki Pandi
tertawa pendek. Katanya "Aku tahu, kau sudah selesai mencuci. Karena
itu, berpakaianlah lebih rapi." "Kenapa?" wajah gadis itu tiba-tiba
menjadi merah. "Aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama kedua
orang, cucuku yang ingin melihat-lihat daerah ini." "O” gadis itu
memang merapikan pakaiannya yang belum mapan. "Jangan takut. Kedua
cucuku dan aku sendiri ingin berbicara tentang kepercayaan yang
berkembang di padukuhanmu. Tetapi jangan cemas. Kami tidak
akan berbicara tentang korban-korban yang diserahkan." Gadis itu
mengerutkan dahinya. Namun, laki-laki bongkok itu rasa-rasanya
mengerti perasaannya yang sebenarnya ingin menolak upacara yang
sering diselenggarakan di padukuhannya. Karena itu, maka gadis itu
mengangguk. Tetapi iapun kemudian berkata "tetapi aku tidak dapat
berlama-lama disini. Kawan-kawanku sudah pulang. Ibu akan bertanya
kepada mereka, kenapa aku tinggal." "Baiklah. Aku akan memanggil
kedua orang cucuku" Gadis itu menunduk dalam-dalam. Wajahnya terasa
panas ketika Manggada dan Laksana berdiri beberapa langkah
disebelahnya. Di padukuhannya juga ada beberapa orang anak muda.
Ketika gadis itu masih remaja, maka iapun sering bermain-main dengan
anak-anak laki-laki yang sebaya. Tetapi setelah ia menginjak dewasa,
maka pergaulannya dengan anak-anak muda menjadi semakin terbatas.
Ketika kepercayaan hitam yang terdahulu berkembang, ia masih dapat
bermain bersama di halaman jika bulan terang. Hanya saat buian
purnama penuh, beberapa orang tua pergi ke upacara. Sedangkan
sehari-hari, masa remajanya tidak begitu terpengaruh oleh
kepercayaan yang sedang berkembang itu. Namun ketika ia sudah mulai
disebut seorang gadis, maka ia mulai mendapat batasan-batasan
bergerak. Bukan saja karena ia dijauhkan dari anak-anak muda. Tetapi
dalam keadaan yang memaksa, tiba-tiba saja seorang gadis dapat
hilang dari lingkungannya. Gadis itu tidak banyak mengetahui,
apa yang telah terjadi. Namun baru kemudian ia menyadari, bahwa ilmu
hitam dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, didalam upacaraupacara
besarnya telah mengorbankan gadis-gadis. Gadisgadis yang diambil dan
dibeli dari seberang hutan Jatimalang. Tetapi jika gadis itu tidak
didapatkannya, maka gadis dari lereng Gunung Lawu dibelakang hutan
Jatimalang itu dapat saja tiba-tiba hilang. Memang mengerikan,
tetapi ia tidak pernah mengetahui apa yang terjadi. Sedang apa yang
dialaminya sekarang, membuat jiwanya tersiksa. Bersama orang-orang
sepadukuhan, gadis itu harus pergi ke upacara. Ia harus menyaksikan,
bagaimana seekor anak binatang diletakkan diatas seonggok kayu
kering dan kemudian dinyalakan. Anak binatang itu berteriak-teriak
kesakitan. Tetapi api itu sama sekali tidak mengenal belas kasihan.
Bahkan orang-orang yang melakukan upacara itu juga tidak mengenal
belas kasihan. Semua orang yang ada di lingkungan upacara itu
seakan-akan telah kehilangan perasaannya. Untuk beberapa saat
lamanya Manggada, Laksana dan Ki Pandi bercakap-cakap dengan gadis
itu. Tetapi sikap gadis itu menjadi jauh berbeda dengan sikapnya
terhadap Ki Pandi. Wajahnya selalu menunduk dan kata-katanya hampir
tidak dapat didengar. Tetapi gadis itu sempat berkata “Didalam
lingkungan upacara, maka segala keterbatasan pergaulan itu
dilupakan.” "Maksudmu?" bertanya Ki Pandi. Gadis itu bdak menjawab.
Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Gadis itu
berpaling. Dipandanginya air sungai yang mengalir gemericik
dibawah kakinya yang berpijak pada bebatuan. Beberapa lembar daun
kering hanyut mengikuti aliran sungai. "Sudahlah, kek" berkata gadis
itu kemudian "aku sudah terlalu lama ditinggalkan kawan-kawanku." Ki
Pandi tidak menahannya. Namun ketika gadis itu beranjak dari
tempatnya, Ki Pandi bertanya "Siapa namamu, ngger?" Gadis itu
berpaling. Tetapi ia ragu. Apalagi ketika tatapan mata Laksana yang
tajam seakan-akan menusuk sampai ke jantung. Namun gadis itu
kemudian berkata "Namaku Delima, kek." Ki Pandi tersenyum. Katanya
"Nama yang bagus, ngger." "Ketika ibu mengandung aku, ibu memang
mengidam buah delima. Kemudian selain membeli delima, ayah juga
menanam pohon delima di halaman rumahku. Sekarang pohon itu sudah
berbuah.” "Manis sekali" desis Laksana. Namun kemudian tergesagesa
ia menyambung “Maksudku, buah delima yang benarbenar masak itu
rasanya manis sekali." Wajah gadis itu terasa panas sesaat. Namun
kemudian iapun meninggalkan tepian itu. Beberapa langkah kemudian Ki
Pandi menyusul ketika Laksana berbisik "Dimana rumahnya, Ki Pandi."
"Ngger, apakah angger tidak berkeberatan jika aku datang menemui
orang tuamu untuk berbicara tentang upacaraupacara yang mengerikan
itu?" "Ayah merupakan salah seorang pendukung kuatnya, kek.
Juga paman-pamanku. Bahkan seorang diantara kakak ayahku berada di
padepokan itu." "Apakah ia sering pulang ke padukuhan?" bertanya Ki
Pandi. "Sering, kek. Tetapi waktunya tidak tentu,"-jawab gadis itu.
"Baiklah. Aku akan mengunjungi rumahmu. Tetapi dimana rumahmu itu?"
"Rumahku berseberangan dengan banjar padukuhan, kek. Tetapi jika
kakek pergi kesana. jangan katakan, bahwa kita pernah berbicara
tentang kepercayaan itu." "Baiklah" Ki Pandi mengangguk-angguk "aku
akan menjaga, agar kau tidak mengalami kesulitan karena pembicaraan
ini. Delimapun segera melangkah pergi. Manggada sambil menggamit
Laksana berkata "Nah, rumahnya didepan banjar. Kapan kau akan
kesana?” "Ah, kau. Bukankah wajar bertanya rumah seseorang yang baru
dikenalnya?" jawab Laksana. "Tentu. Apakah aku tadi mengatakan tidak
wajar?" "Kau selalu begitu" desis Laksana. Manggada tertawa. Namun
kemudian ia bertanya "Laksana, yang manakah yang lebih cantik. Winih
atau Delima." Laksanapun tetawa. Tetapi ia tidak menjawab.
Demikianlah, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana
meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat bangunan
khusus yang dipergunakan untuk upacara menyerahkan torban. Tetapi
mereka tidak mendekat. Malam itu, dirumah Ki Ajar Anggara,
beberapa orang sedang berbincang. Pada umumnya, mereka ingin
berhubungan dengan isi padepokan itu. "Jika kita berhasil
berhubungan dengan mereka, maka kita akan mengetahui, siapakah
mereka itu. Dengan demikian, maka kita akan dapat menentukan langkah
lebih jauh." "Tetapi kita jangan bersikap bermusuhan" berkata Ki
Ajar "jika kita bersikap bermusuhan, maka segala-galanya leniu sudah
tetutup." "Ya" desis Ki Lemah Teles "kita harus bersikap bersahabat.
"Kita tidak boleh dengan serta-merta menantang perang tanding dengan
pemimpin padepokan itu." berkata Ki Sambi Pitu . Ki Jagaprana
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun tertawa. Ki Ajar
memang terlambat pula tertawa. Namun Ki Lemah Teles berkata "Apa
pedulimu? Semua orang akan aku tantang sampai pada satu saat ada
orang yang mampu membunuhku." "Ada banyak orang yang dapat
membunuhmu. Tetapi orang-orang itu menaruh belas kasihan kepadamu,
justru karena kau kehilangan akal seperti itu." "He?" wajah KiLemah
Teles berkerut. Dengan nada dalam ia justru bertanya "Apakah aku
memang pantas dikasihani?" "Tidak. Memang tidak" sahut Ki Ajar
Pangukan. Ki Lemah Teles bersungut-sungut. Tetapi kemudian iapun
menarik nafas dalam-dalam. Dalam pada itu, orang-orang tua itupun
kemudian telah memutuskan untuk mulai berhubungan dengan orang-orang
padepokan itu dengan cara apapun. Dengan demikian, maka mereka
akan dapat mengetahui, apakah isi dari padepokan itu. Yang paling
baik dipergunakan sebagai alasan adalah, bahwa mereka ingin
mendapatkan hasil bumi atau hasil kerajinan tangan di daerah ini
untuk dibawa ke Pajang. Mereka harus menganggap bahwa di daerah yang
semula tertutup ini tentu terdapat banyak sekali jenis pekerjaan
tangan. Sebenarnyalah, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles kemudian
mempersiapkan kuda-kuda mereka. Meskipun letak padepokan itu tidak
jauh sekali dari tempat tinggal Ki Ajar yang tersembunyi, tetapi
berkuda mereka akan nampak lebih mapan. Dikeesokan harinya dua orang
berkuda telah meninggalkan halaman rumah Ki Ajar Pangukan. Mereka
harus menyusup melalui jalan yang khusus. Sedikit melingkar-lingkar
untuk dapat keluar dari tempat yang tersembunyi itu. Baru kemudian
mereka turun ke jalan dan melarikan kuda mereka memanjat kaki Gunung
Lawu. Keduanya telah sepakat untuk mengaku sebagai pedagang yang
mencari barang dagangan di daerah yang semula dipisahkan oleh hutan
Jatimalang itu. Keduanya dengan tekad bulat menuju ke sebuah
padepokan yang tidak mereka kenal sebelumnya, padepokan yang
seakan-akan berdin dibelakang kabut sehingga yang nampak hanyalah
bayangannya saja. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles memang sudah
bertekad untuk melihat apa yang ada didalam padepokan itu. Mereka
dengan tabah akan menghadapi segala kemungkinan yang dapat
terjadi. “Mungkin kita akan ditangkap dan dibantai didalam
padepokan yang berisi orang-orang dari aliran hitam itu." berkata Ki
Lemah Teles. “Atau kita akan diserahkan sebagai korban kepada iblis
sebagaimana anak binatang yang diletakkan dialas seonggok kayu
kering dan kemudian mereka nyalakan, sehingga kita akan terbakar
hidup-hidup." sahut Ki Sambi Pitu. Ki Lemah Teles tertawa. Katanya
"Tetapi sebelumnya kita tentu akan dipelihara sebaik-baiknya sampai
saatnya purnama naik. Bukankah korban itu hanya diberikan setiap
bulan purnama penuh." Ki Sambi Pitupun tertawa. Katanya "Bukankah
itu lebih baik daripada kita saling membunuh diantara kita sendiri?
Jika kita mati dipadepokan orang berilmu hitam itu, rasa-rasanya
kematian kita ada juga gunanya, meskipun hanya sedikit"" Ki Lemah
Teles segera memotongnya "Cukup. Cukup. Kau hanya akan mengatakan
bahwa aku telah melakukan kesalahan dan bahkan pantas dikasihani.
Tetapi jangan mengira bahwa kelak aku mengurungkan tantanganku untuk
berperang tanding. Bukan hanya kau, tetapi orang-orang yang telah
membuat hidupku kesepian.” Tetapi Ki Sambi Pitu tertawa pula.
Katanya "Apakah kita masih akan dapat keluar dari padepokan itu?" Ki
Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian "Aku akan
menantang pemimpin padepokan itu untuk berperang tanding. Orang itu
harus tahu, siapakah Ki Lemah Teles.” "Bukankah kita tidak akan
menunjukkan sikap permusuhan?” "Kita memang tidak. Tetapi jika
mereka memaksakan permusuhan itu, apa boleh buat." Ki Sambi Pitu
tidak menjawab. Sementara itu, keduanya menjadi semakin dekat dengan
padepokan yang belum mereka kenal itu. Sejak hutan Jatimalang
dibuka, maka orang-orang yang belum dikenal, memang sering melintasi
jalan-jalan di kaki Gunung Lawu itu. Hubungan antara dua lingkungan
sebelah menyebelah hutan Jatimalang itu berjalan semakin lama
semakin ramai. Namun perkembangan ilmu hitam itu membuat beberapa
daerah yang terpengaruh, menjadi agak tertutup kembali. Tetapi
ketika dua orang berkuda lewat di jalan-jalan pedukuhan, orang-orang
yang melihat mereka tidak terlalu banyak memperhatikan. Mereka
memang sudah mengira bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang
ingin melihat-lihat lingkungan dibelakang hutan Jatimalang
sebagaimana sering terjadi sebelumnya. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah
Telespun memanjat terus menuju ke padepokan dari sebuah perguruan
yang melandasi ajarannya dengan ilmu hitam. Beberapa saat kemudian,
maka Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun menjadi semakin dekat
dengan padepokan yarig mereka tuju. Mereka telah berada di jalan
yang langsung menuju ke pintu gerbang padepokan yang berdinding
kayukayu utuh bulat yang dirangkai berjajar rapat. "Sebuah padepokan
yang terhitung besar" desis Ki Sambi Pitu. "Bukan besar. Yang
jelas kita lihat, padepokan ini cukup luas. Agaknya didalamnya
terdapat bangunan-bangunan besar dan kecil bagi para.penghuninya"
sahut Ki Lemah Teles. Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian "Marilah. Kita sudah bertekad untuk masuk kedalamnya."
Demikianlah, kedua orang irupun langsung melarikan kudanya ke pintu
regol padepokan yang tertutup. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles
menghentikan kuda mereka didepan regol. Mereka melihat pada pintu
regol, sebuah lubang yang kemudian telah dibuka dari dalam. Dari
lubang itu, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles melihat wajah seseorang
yang nampaknya memang garang sekali. Seorang yang bermata tajam dan
berkumis tebal. Ki Sambi Pitu yang tepat berada di muka lubang
itupun mengangguk sambil tersenyum. Katanya "Selamat pagi Ki Sanak."
Orang yang berada dibelakang pintu itu bertanya dengan nada berat
“Siapakah kalian dan untuk apa kalian kemari?" "Kami datang dari
seberang hutan Jatimalang, Ki Sanak. Kami ingin berkenalan dengan
penghuni padepokan ini." jawab Ki Sambi Pitu. Wajah orang itu nampak
berkerut. Dipandanginya Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles
berganti-ganti. Namun kemudian katanya "Pergilah. Kami tidak
memerlukan kalian." "Mungkin kalian memang tidak memerlukan kami, Ki
sanak. Mungkin kamilah yang memerlukan kalian." jawab Ki Sambi Pitu.
"Itu urusan kalian." sahut orang itu "tetapi pergilah." "Maaf
Ki Sanak. Kami ingin berbicara serba sedikit. Mungkin kita dapat
membuat hubungan yang saling menguntungkan" berkata Ki Sambi Pitu.
"Tidak" jawab orang itu. "Kami tidak membuat hubungan dengan
siapapun yang belum kami kenal." "Kita dapat memperkenalkan diri"
jawab Ki Sambi Pitu. Tetapi orang itu justru membentak "Cukup.
Pergilah, atau kami akan mengusir kalian." Ki Sambi Pitu dan Ki
Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun Ki Lemah Teleslah
yang kemudian berkata "Bagaimana kalau kita mencoba untuk berbicara
dan menjajagi segala kemungkinan?" "Sudahlah. Pergilah. Aku menjadi
muak melihat wajah kalian berdua." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles
menjadi kehilangan harapan. Meskipun demikian, keduanya tidak segera
pergi sehingga orang dibelakang pintu gerbang itu memoantak "Cepat,
pergi, apalagi yang kalian tunggu?" Ketika keduanya benar-benar akan
meninggalkan tempat itu, maka tiba-tiba saja terdengar suara didalam
"Ada apa?" "Dua orang yang ingin masuk ke padepokan ini, Kiai."
"Untuk apa?" bertanaya suara itu. “Tidak jelas. Mereka hanya
menyebutkan, ingin membuat hubungan dengan kita disini." "Hubungan
apa?" bertanya suara itu. "Juga tidak jelas" jawab orang yang
berkumis tebal itu. Namun Ki Sambi Pitu mempergunakan
kesempatan itu. Katanya hampir berteriak "Kami ingin membuat
hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak." Sejenak
suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba terdengar suara "Buka pintu
gerbangnya. Biarlah dua orang itu masuk." Orang yang wajahnya nampak
dari lubang pintu gerbang yang masih terbuka itu nampak ragu-ragu.
Tetapi suara didalam itu berkata sekali lagi "Buka pintu gerbang.
Aku ingin bertemu dengan mereka." Tidak terdengar jawaban. Namun
sejenak kemudian, terdengar selarak pintu yang berat itu terangkat.
Kemudian, perlahan-lahan pintu itupun terbuka. Ki Sambi Pilu daii Ki
Lemah Teles terkejut. Ternyata dibelakang pintu itu berdiri beberapa
orang yang bersenjata telanjang. Kemudian seorang lagi yang berdiri
terpisah. Pakaiannya nampaknya agak berbeda dengan yang iain. Warna
pakaiannya lebih cerah dan penampilannyapun nampak lebih rapi dan
bersih. Meskipun demikian laki-laki itu nampak tidak muda lagi
meskipun belum setua Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. "Marilah Ki
Sanak" berkata orang itu sambil tersenyum "aku merasa mendapat
kehormatan, karena Ki Sanak bersedia singgah di padepokan yang tidak
berarti ini." "Terima kasih atas perkenan Ki Sanak, menerima kami
berdua" jawab Ki Sambi Pitu. Orang yang berpakaian rapi itupun
kemudian telah mempersilahkan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles untuk
naik ke-pendapa. Dengan ramah orang berpakaian rapi itupun
kemudian telah mengucapkan selamat datang kepada kedua orang
tamunya. "Kami jarang sekali mendapat kunjungan orang lain" berkata
orang berpakaian rapi itu "sehingga karena itu, maka orang-orangku
menjadi sulit untuk bergaul. Tetapi kunjungan kalian berdua akan
membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi padepokan kami.” "Kami
mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang sangat baik ini"
berkata Ki Lemah teles kemudian. "Tetapi, jika aku boleh mengetahui,
apakah keperluan Ki Sanak berdua ini sebenarnya?" bertanya orang
itu. "Sudah aku katakan, kami sebenarnya sedang mencari hubungan
dagang dengan penghuni dibelakang hutan Jatimalang ini.” "Di
belakang? Kemana sebenarnya hutan itu menghadap?" bertanya orang
berpakaian rapi itu. "Maksudku, mereka yang tinggal di kaki Gunung
Lawu yang dibatasi oleh hutan Jatimalang. Maaf, orang-orang
diseberang hutan itu menyebut daerah ini, dibelakang hutan
Jatimalang." Orang itu tertawa. Katanya "Sebenarnya bagi kami memang
tidak ada bedanya. Sebutan apapun dapat kami terima asal sebutan itu
menunjuk dengan jelas." orang itu berhenti sejenak, lalu
"dagang apakah yang Ki Sanak jalankan sekarang?" "Apa saja" jawab Ki
Sambi Pitu "tetapi yang terutama adalah hasil bumi dan kerajinan
tangan. Aku dengar didaerah ini terdapat kelebihan bahar, pangan
padi, jagung dan ketan. Tetapi kami juga ingin membeli gerabah dalam
jumlah yang besar." Orang itu tertawa pendek. Katanya "Jika
demikian, kenapa kalian pergi ke sebuah padepokan?" "Biasanya
padepokan mempunyai tanah yang luas digarap oleh para cantrik,
sehingga kadang-kadang hasilnya cukup melimpah dan berlebihan.
Demikian pula para cantrik sering membuat benda-benda lain yang
menjadi kebutuhan seharihari apapun ujudnya Mungkin oarang-barang
kerajinan dari bambu atau aari kayu atau gerabah atau apapun." Orang
yang berpakaian rapi itu ternyata seorang yang berhati terbuka. Ia
banyak tertawa dan mengatakan apa yang dipikirkan. "Ki Sanak berdua"
berkata orang itu kemudian "aku tidak yakin kalian benar-benar
seorang pedagang. Mungkin kalian berdua sedang bertualang, tetapi
mungkin pula kalian memang ingin melihat apakah yang ada dibelakang
dinding padepokan ini. Tetapi itu bukan soal bagi kami, selama
kalian tidak mengganggu semua kegiatan yang kami lakukan." Ki Sambi
Pitu dan Ki Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun kemudian
Ki Lemah Teles itupun berkata "Ki Sanak. Kami benar-benar pedagang
yang sedang mencari lubang-lubang kemungkinan untuk membuka jalur
perdagangan. Kami sedang menjajagi, apa yang dapat kami bawa dari
daerah ini ke seberang hutan Jatimalang dan sebaliknya apa
yang dapat kami bawa dari seberang hutan itu kedaerah ini." Orang
itu masih saja tertawa. Namun tiba-tiba ia bertanya "Siapakah nama
kalian berdua?." "Namaku Sambi Pitu dan saudaraku ini dipanggil Ki
Lemah Teles." "Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles "orang itu mengulang
"nama yang baik." "Tetapi kami juga belum mengetahui nama Ki Sanak"
desis Ki Sambi Pitu. "Namaku Gandawira. Tetapi orang lebih senang
memanggilku Kiai Banyu Bening" Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Ki Lemah Teles bertanya "Jadi,
menurut Kiai, bagaimana sebaiknya kami memanggil? Kiai Gandawira
atau Kiai Banyu Bening?" Orang itu tertawa pula. Katanya "Terserah
Ki Sanak. Tetapi murid-muirdku di padepokan ini memanggilku Kiai
Banyu Bening. Bahkan orang-orang disekitar padepokan ini juga
memanggilku Kiai Banyu Bening." “Maksud Kiai, orang-orang disekitar
padepokan ini juga berguru kepada Kiai?" "Ya. Tetapi itu terjadi
begitu saja. Maksudku, bukan akulah yang memaksa mereka untuk
mengikut aku, tetapi mereka sendiri berniat demikian." Ki Sambi Pitu
dan Ki Lemah Teles itupun menganggukangguk pula. Sementara Kiai
Banyu Bening itupun berkata "Nah Ki Sanak. Kalian telah melihat isi
padepokan kami. Tetapi jika kalian benar-benar berdagang,
tidak ada yang dapat kami perdagangan disini.” "Maksudku, jika kami
tidak dapat membeli hasil bumi atau hasil kerajinan, kami dapat
menawarkan barang-barang yang dibutuhkan oleh padepokan ini?
Mislanya alat-alat pertanian atau barang-barang yang terbuat dari
besi dan baja lainnya. Senjata misalnya." Kiai Banyu Bening
mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya "Sampai
sekarang, kami dapat mencukupi kebutuhan kami sendiri. Tetapi aku
tidak tahu kelak, jika padepokan kami ini berkembang. Mungkin kami
memerlukan beberapa jenis senjata. Meskipun demikian, kami tidak
akan membeli dari kalian. Kami dapat mengirim orang langsung ke
seberang hutan Jatimalang untuk menghubungi beberapa orang pande
besi yang cakap. Dengan demikian, kami akan dapat membeli senjata
dengan harga yang lebih murah. Jika kalian benar-benar pedagang,
kalian tentu akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya." "Tetapi
Kiai Banyu Bening, sebaiknya kalian tidak membeli senjata kepada
pande besi. Kiai Banyu Bening harus berhubungan dengan seorang Empu
yang mampu membuat pusaka yang pantas bagi Kiai Banyu Bening dan
murid-murid Kiai." Kiai Banyu Bening tertawa berkepanjangan. Katanya
"Jangan ajari aku Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Aku memimpin
padepokan bukannya baru sejak kemarin pagi. Tetapi sudah berpuluh
tahun. Karena itu, aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan." Ki
Sambi Pitu mengangguk-angguk. Sementara Ki Lemah Teles berkala
"Maafkan Kiai. Kami hanya bermaksud agar dagangan kami dapat
laku." "Nah, aku sudah memberi kesempatan kepada Ki Sanak
berdua untuk memasuki padepokan kami. Nampaknya tidak ada lagi yang
akan kita bicarakan kemudian. Kami akan mempersiiahkan Ki Sanak
untuk meninggalkan padepokan ini." "Baiklah Kiai" jawab Ki Sambi
Pitu "kami mohon diri." "Kesempatan seperti ini jarang sekali kami
berikan kepada orang lain. Karena itu, kalian berdua tentu merasa
beruntung dapat memasuki padepokan kami." "Ya, ya" jawab Ki Lemah
Teles "Kami memang merasa sangat beruntung" "Nah, sekarang kami
persilahkan kalian meninggalkan padepokan kami." Ki Sambi Pitu dan
Ki Lemah Teles itupun kemudian telah turun dari pendapa. Namun
ketika mereka berada di halaman, mereka terhenti sejenak. Mereka
tertarik pada sebuah bangunan yang menarik. Seperti yang pernah
mereka lihat di padukuhan, sebuah bangunan batu yang ditata dengan
baik. Lebih baik dan lebih besar dari bangunan serupa yang terdapat
di padukuhan-padukuhan itu. Dibagian atasnya datar, sedangkan di
ampat sisinya terdapat tangga untuk naik. Disebelah bangunan itu
terdapat bangunan lain yang lebih tinggi. Namun yang menarik, diatas
bangunan batu yang lebih tinggi itu terdapat batu nisan kecil. Kiai
Banyu Bening yang mengetahui bahwa kedua tamunya tertarik kepada
kedua bangunan yang terbuat dari batu itu bertanya "Apakah kalian
belum pernah melihat bangunan kecil seperti itu? "Belum Kiai" jawab
Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir berbareng. Tetapi Kiai
Banyu Bening itu menyahut "Kalian tentu sudah pernah melihat di
sebuah padukuhan. Bangunan seperti itu, tetapi lebih kecil, terdapat
di beberapa padukuhan. Biasanya ditempatkan diluar dinding
padukuhan, dipagari cukup rapat, sehingga jika diselenggarakan
upacara didalamnya, tidak akan terganggu oleh lingkungan diluarnya."
Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba
saja Ki Lemah Teles bertanya "Lalu apa yang dilakukan oleh
orang-orang padukuhan itu dalam upacara tertutup itu?" Orang itu
mengerutkan dahinya. Namun kemudian sebagaimana sejak semula, orang
itu tertawa lagi. Katanya "Kau tidak akan mengetahui makna dari
upacara yang kami lakukan karena kau tidak berpegang pada ilmu yang
kami yakini." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles masih
menganggukangguk. Tetapi Ki Lemah Teles itu bertanya lagi "Lalu, apa
artinya batu nisan kecil diatas bangunan yang agak tinggi itu?"
Wajah orang itu tiba-tiba menjadi suram. Katanya dengan nada rendah
"Itu adalah bangunan khusus yang sangat berarti bagiku pribadi. Yang
dikuburkan dibawah bangunan itu adalah anakku. Anakku mati dalam
keadaan yang sangat menyedihkan. Pada umur satu tahun, anakku mati
terbakar." "O" Ki Sambi Pitu berdesis "Aku ikut berduka cita atas
peristiwa itu. Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi?" "Serangan
itu datang demikian tiba-tiba. Ketika aku sedang bertempur,
musuh-musuhku yang licik itu telah membakar rumahku Rumahku terbakar
seisinya termasuk anakku," "Bagaimana dengan ibunya?" bertanya Ki
Lemah Tcles. Kesuraman diwajah Kiai Banyu Bening itu tiba-tiba
larut. Yang kemudian nampak diwajahnya adalah senyumnya. Katanya
"Isteriku adalah perempuan gila. Yang datang membakar rumahku itu
adaiah laki-laki yang membuatnya gila. Ia lari dengan laki-laki itu
dengan meninggalkan bayinya yang belum genap setahun. Bahkan
kemudian dengan tidak langsung, ia telah membunuh bayi itu dengan
tangan laki-laki yang buas itu. Bayiku mati dalam nyala api. Aku
masih sempat mendengar bayi itu menangis meraung-raung. Namun
kemudian aku sendiri menjadi pingsan. Lukaku arang kranjang. Bahkan
laki-laki itu dan kawan-kawannya menyangka bahwa aku telah mati." Ki
Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk kecil. Sementara
Kiai Banyu Bening itu berkata selanjutnya "Waktu itu suara tangis
bayiku itu bagaikan menarik nyawaku iewat ubun-ubunnya. Mengerikan
sekali.” orang itu berhenti sejenak, namun kemudian katanya sambil
tertawa berkepanjangan, semakin lama semakin keras "tetapi sekarang
suara tangis bayi yang terbakar itu bagiku bagaikan lagu yang sangat
merdu yang terdengar bergema dilangit yang didendangkan oleh
peri-peri yang sangat cantik sambil melambai-lambaikan tangannya
turun kebumi untuk mengusap seluruh tubuhku yang dihangatkan oleh
api yang berbau mayat itu.” Wajah Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles
menjadi tegang. Kengerian yang pernah dibayangkan sebelumnya itu
rasarasanya semakin nampak menerawang di kepala mereka. Namun Kiai
Banyu Bening itu masih saja tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian
katanya "Laki-laki yang telah membawa isteriku itu dan bahkan
isteriku itu sendiri harus mati didalam nyala api. Mereka telah
membunuh anakku. Anakku bagiku adalah segala-galanya." Suara
tertawa laki-laki itu terdiam. Ketika Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah
Teles memandang wajahnya, mereka terkejut. Di wajah itu tidak lagi
membayang tawa dan senyum. Tetapi yang nampak adalah nyala api
neraka disorot matanya. Tiba-tiba saja orang itu menggeram
"pergilah. Kau sudah terlalu banyak mengetahui tentang isi padepokan
ini, yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Jangan
kembali lagi. Kau telah melanggar paugeran padepokan kami." Ki Sambi
Pitu dan Ki Lemah Teles tidak menjawab. Keduanya telah melangkah ke
kuda mereka. Kemudian keduanya telah menuntun kuda mereka ke pintu
gerbang Pintu gerbang itupun terbuka. Orang yang berwajah garang,
bermata tajam dan berkumis tebal itu berdiri dengan tegang di
sebelah pintu. Beberapa orang dengan senjata telanjang tegak
mematung memandangi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang lewat
sambi! menuntun kudanya. Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya
telah berpacu meninggalkan padepokan yang menyimpan seribu macam
pertanyaan itu. Sambil melarikan kuda mereka, untuk keduanya
menjauhi padepokan itu, Ki Sambi Pitu itupun berkata "Ternyata kita
masih beruntung dapat keluar dari padepokan itu." "Yang kita
cemaskan itu ternyata tinggal menunggu waktu saja." berkata Ki Lemah
Teles. “Mengerikan sekali" sahut Ki Sambi Pitu. "Kita memang harus
menghentikannya" desis Ki Sambi Pitu kemudian. "Nampaknya Kiai Banyu
Bening itu menderita semacam penyakit yang sangat berbahaya" berkata
Ki Lemah Teles kemudian. "Penyakit apa?""bertanya Ki Sambi
Pitu. "Hatinya telah dicengkam oleh dendam yang membara. Kematian
anaknya tidak pernah diikhlaskannya, sehingga hidupnya menjadi
sangat gersang. Ia ingin menuntut kematian anaknya dengan kematian
dan kematian." "Itulah yang membayangi upacara hitam yang dilakukan
oleh para pengikutnya" berkata Ki Sambi Pitu "apa yang terjadi
sekarang, adalah semacam pemanasan. Pada saatnya, maka bayi-bayilah
yang akan menjadi korban. Orang gila itu akan merasa sangat
berbahagia mendengar jerit tangis bayi yang dikorbankannya,
sebagaimana dikatakannya, seperti kidung yang didendangkan oleh
peri-peri yang cantik, tetapi tidak dilangit. Peri-peri itu bangkit
dari pusat bumi yang kelam yang membawakan lagu-lagu kematian." Ki
Sambi Pitu berhenti sejenak. Namun kemudian ia berkata “Tetapi
sayang, bahwa Kiai Banyu Bening tidak menantang orang-orang yang
terlibat kematian bayinya dengan perang tanding." "Aku bungkam
mulutmu jika kau masih saja mengigau tentang perang tanding." geram
Ki Lemah Teles. Ki Sambi Pitu tertawa. Namun ia menjauhkan kudanya
dari kuda Ki Lemah Teles yang menggeram. Namun kedua orang itu
terkejut ketika mendengar derap kaki kuda. Ketika mereka berpaling,
mereka melihat ampat ekor kuda yang berpacu seperti di kejar hantu.
"Siapa mereka?" bertanya Ki Lemah Teles. "Berhati-hatilah. Kiai
Banyu Bening menganggap kita terlalu banyak tahu." "Setan itu
melepaskan kita dari padepokan, tetapi kemudian memerintahkan
orang-orangnya memburu kita." Keduanya justru memperlambat
derap kaki kuda mereka, seakan-akan mereka justru sengaja menunggu
keempat orang berkuda itu. "Kita belum tahu siapa mereka dan untuk
apa mereka memburu kita. Tetapi sebaiknya kita tidak berprasangka
buruk lebih da-: hulu. Mungkin mereka bukan dari padepokan Kiai
Banyu Bening." berkata Ki Sambi Pitu kemudian. Dalam pada itu,
keempat orang berkuda itu memacu kudanya . semakin cepat. Ketika
mereka berhasil menyusul Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang
memang memperlambat derap lari kudanya, maka dua orang diantara
mereka justru mendahului. Kemudian setelah keduanya berada di depan,
maka mereka memberi isyarat, agar Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles
itu berhenti. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang sudah
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan itupun menarik kendali
kuda mereka sehingga sejenak kemudian, merekapun telah berhenti.
"Turunlah" perintah salah seorang diantara kedua orang yang
mendahului Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Ternyata orang itu
adalah orang yang berwajah garang, bermata tajam dan berkumis tebal,
yang berada dipintu gerbang padepokan Kiai Banyu Bening itu. Ki
Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian meloncat turun dari
kuda mereka. Dengan tenang keduanya telah mengikat kuda mereka pada
sebatang pohon perdu. Demikian pula keempat orang yang memburu
mereka. Keempat-empatnyapun telah meloncat turun serta mengikat
kuda-kuda mereka pula. "Ki Sanak" berkata orang berkumis tebal
itu. Suaranya mengguntur menggetarkan selaput telinga "ternyata
kalian terlalu banyak bertanya, sehingga kalianpun mengetahui banyak
tentang padepokan kami." '"Tetapi bukankah Kiai Banyu Bening
menjawab pertanyaan-pertanyaanku” sahut Ki Sambi JPitu. "Kiai Banjar
Bening kadangkadang memang kehilangan kendali. Jika seseorang
memancing dengan pertanyaan-pertanyaan, maka diluar sadarnya, iapun
selalu menjawabnya." "Jadi?" bertanya Ki Lemah Teles. "Pengertianmu
yang banyak tentang padepokan kami akan sangat membahayakan kami.
Karena itu, maka kalian tidak boleh menyebarkan apa yang telah
kalian ketahui itu kepada orang lain." berkata orang berkumis tebal
itu. Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Kami
berjanji untuk tidak menyebar-luaskan pengertian kami tentang
padepokan Kiai Banyu Bening." "Sekedar janji sebagaimana kau katakan
itu, tidak cukup Ki Sanak." berkata orang berkumis tebal itu pula.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" "Kau harus diam untuk
selama-lamanya" jawab orang itu. "Maksudmu?" desak Ki Lemah
Teles. "Kalian harus dibunuh." Kedua orang itu mengerutkan dahinya.
Namun kemudian Ki Lemah Telespun berkata "Jika kau akan membunuhku,
maka kau akan aku bunuh lebih dahulu." Wajah orang itu menjadi
tegang. Tetapi kemudian iapun tertawa. Suaranya meledak-ledak
seperti petir yang menyambar-nyambar dilangit. "He" bentak Ki Lemah
Teles "kenapa kau tiba-tiba menjadi gila?" Orang itu tiba-tiba saja
terdiam. Matanya menyala seakanakan memancarkan api. "Kaulah yang
benar-benar gila. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan" "Tentu
saja aku tahu. Kau adalah budak-budak kecil di padepokan orang yang
berbangga dengan sebutan Kiai Banyu Bening. He, apakah kau tahu
artinya Banyu Bening?" "Cukup" orang itu berteriak "sebaiknya kau
sebut nama ayah dan ibumu. Sebentar lagi kau akan mati." "Sudah aku
katakan, kau yang akan mati. Apakah kau tuli" Ki Lemah Telespun
berteriak pula. Namun Ki Sambi Pitu berkata dengan nada yang lebih
rendah "Apa sebenarnya yang terjadi dengan Kiai Banyu Bening? Apakah
yang aku ketahui tentang padepokan itu cukup menjadi alasan baginya
untuk membunuh?" "Setiap orang yang tidak dikehendki oleh Kiai Banyu
Bening akan mati." jawab orang itu. "Ki Sanak" berkata Ki
Sambi Pitu "agaknya peristiwa yang terjadi atas bayi Kiai Banyu
Bening itu telah menghantuinya sepanjang hidupnya, sehingga nalar
budinya tidak lagi dapat menilai baik dan buruk. Jangankan
kehilangan bayinya dengan cara yang sangat mengerikan, sedangkan
orang yang merasa kesepian dihari-hari tuanya dapat kehilangan akal
pula." "Gila kau Sambi Pitu" geram Ki Lemah Telcs. Namun Ki Sambi
Pitu itu tidak menghiraukannya.Dengan nada rendah ia berkata
selanjutnya "Apakah Kiai Banyu Bening tidak dapat menemukan isteri
serta laki-laki yang mengajaknya pergi itu?" "Kiai Banyu Bening
tidak membutuhkannya lagi." "Mereka yang harus bertanggung jawab
atas kematian bayi itu. Kiai Banyu Bening tidak seharusnya mencari
korban untuk melepaskan kemarahan dan kekecewaannya." "Kau tidak
usah mengguruinya. Jika keduanya dapat diketemukan, maka ia tentu
sudah menuntut tanggung jawab itu. Tetapi keduanya telah menghilang
setelah mereka mengetahui bahwa Kiai Banyu Bening masih tetap hidup.
Apalagi peristiwa itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu sebelum
perguruan Kiai Banyu Bening berdiri." "Kau tahu, siapakah nama
laki-laki itu?" bertanya Ki Sambi Pitu. Orang itu menggeleng.
Katanya "Tidak. Seandainya aku tahu, tidak ada perlunya aku menyebut
dihadapanmu." "Baiklah, Ki Sanak. Kau telah melengkapi pengenalanku
atas Kiai Banyu Bening. Sekarang perkenankan aku melanjutkan
perjalanan" berkata Ki Sambi Bitu. "Tidak” tiba-tiba orang itu
membentak "kalian berdua tidak akan pernah keluar dari lingkungan
dan kuasa kami. Kalian berdua akan mati.” "Aku bunuh kau" geram Ki
Lemah Teles "kemudian aku tantang Kiai Banyu Bening untuk berperang
tanding." "Agaknya kau benar-benar gila. Kau kira siapa Kiai Banyu
Bening itu, he. Sehingga kau berani menantangnya untuk berperang
tanding?" geram orang berkumis tebal itu "menyebut namanya saja kau
harus mendapat ijin dan palilahnya." Ki Lemah Teles tertawa.
Suaranya meledak-ledak tidak kalah dari suara tertawa orang berkumis
tebal itu. Katanya "Apakah kau kira Kiai Banyu Bening itu memiliki
kelebihan? Jika ia benar-benar memerintahkan membunuhku, aku
benarbenar akan datang kepadanya dan menantangnya berperang tanding
seperti yang aku katakan itu." "Kau tidak akan sempat melakukannya.
Kau akan mati sekarang juga." "Jangan membantah. Kau yang akan mati
sekarang. Sayang, kau tidak sempat melihat aku membantai Kiai Banyu
Keruh itu besok atau lusa karena kau akan mati. Karena itu,
pergilah. Kembalilah kepada Kiaimu itu. Katakan bahwa kau masih
ingin hidup untuk melihat bagaimana aku membunuh Banyu Bening yang
gila itu." Ki Lemah Teles berteriak semakin keras. Wajah orang
berkumis tebal itu bagaikan tersentuh api. Karena itu tanpa menjawb
lagi, iapun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Ketika
keempat orang itu bergerak mengepung Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah
Teles, maka Ki Lemah Teles itu masih berteriak"kalian
benar-benar gila. Jika kalian mati, jangan salahkan aku." Orang
berkumis tebal dan berwajah garang itu tidak menjawab lagi. Dengan
serta merta, maka ia mulai menyerang Ki Lemah Teles. Sedangkan
kawan-kawannyapun mulai bergerak pula mendekati salah seorang dari
kedua orang yang telah datang ke padepokan mereka itu. Sejenak
kemudian, pertempuranpun telah berlangsung dengan sengitnya. Orang
berkumis tebal yang marah itu segera mengerahkan kemampuannya. Ia
benar-benar ingin segera membunuh Ki Lemah Teles yang telah berani
menghina pemimpin padepokannya yang sangat dihormatinya. Agaknya
orang berwajah garang dan berkumis tebal itu termasuk salah seorang
kepercayaan Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka dengan
hentakan-hentakan ilmunya ia mampu mengejutkan Ki Lemah Teles.
Apalagi seorang kawannya telah membantunya. Seorang yang juga bukan
orang kebanyakan. Sementara itu, dua orang yang lain telah bertempur
melawan Ki Sambi Pitu. Keduanya berusaha nrmecah perhatian Ki Sambi
Pitu dengan menyerang dari arah yang berlawanan. Tetapi Ki Sambi
Pitu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia tidak
menjadi bingung meskipun dua orang lawannya itu justru berdiri
diarah yang bertentangan. Orang berkumis tebal itu tidak menduga
bahwa orang yang mengaku pedagang yang mencari barang-barang
dagangan itu un tuk beberapa lama mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan
Ki Lemah Teies itu sekali-sekali justru telah mendesak lawannya
meskipun mereka berdua. Bahkan dengan lantang Ki Lemah Teles
itupun berkata "Nah, sekarang kita akan bertaruh, siapa yang akan
terbunuh di pertempuran ini.” Orang berkumis tebal itu tidak
menjawab. Namun Ki Lemah Teles itupun berkata "Marilah kita letakkan
taruhan kita lebih dahulu. Uang, pendok keris atau timang, tetapi
harus dari emas seperti timang yang aku pakai ini. Siapa yang tetap
hidup boleh memiliki taruhan itu." "Setan kau" geram yang berwajah
garang dan berkumis tebal itu. Matanya yang tajam bagaikan menyala
memandang Ki Lemah Teles yang menantangnya bertaruh itu. "Baiklah
jika kau menolak” berkata Ki Lemah Teles. “nampaknya kau menyadari
bahwa kau tidak akan dapat menang meskipun kau dibantu oleh seorang
kawanmu." Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi
seranganserangannya datang semakin cepat. Seorang kawannyapun
berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak orang berkumis tebal itu.
Namun pertahanan Ki Lemah Teles sama sekali tidak terguncang
karenanya. Bahkan Ki Lemah Teles yang berilmu tinggi itu semakin
lama justru semakin mendesak lawan-lawannya. Dengan tangkasnya Ki
Lemah Teles telah meloncat menghindar ketika orang berkumis tebal
itu melenting dengan cepat sambil menjulurkan kakinya menyamping.
Namun dalam pada itu, lawannya yang lain telah memutar tubuhnya
sambil mengayunkan kakinya mengarah kening. Ki Lemah Teles dengan
cepat bergeser kesamping. Tetapi demikian kaki lawannya yang
berputar itu hampir menyambar keningnya, maka iapun segera
menjatuhkan diri. Tetapi justru kakinya dengan cepat serta dilambari
dengan tenaganya yang besar, menyapu menebas kaki lawannya
yang dipergunakannya sebagai tempat bertumpu. Dengan derasnya, kaki
itu bergeser. Justru karena itu, maka orang itu benar benar lelah
kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan keras ia telah
terbanting jatuh ditanah. Namun dengan cepat pula orang itu
melenting berdiri. Tetapi Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Ki
Lemah Teles justru telah bersiap sepenuhnya. Demikian orang itu
bangkit, maka kakinya telah menyambar dada. Orang itu terdorong
beberapa langkah surut. Namun ketika Ki Lemah Teles siap memburunya,
maka lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat
maju, maka tangannya yang kuat telah terayun kearah pelipisnya.
Namun Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Dengan loncatan
kesamping, maka pukulan tangan itu tidak menyinggung tubuhnya sama
sekali. Dengan demikian, maka kedua orang lawan Ki Lemah Teles itu
telah semakin meningkatkan ilmu mereka sampai ke puncak. Tetapi
memang tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan dan kemudian
membunuh orang itu. Dalam pada itu, Ki Sambi Pitupun telah bertempur
melawan dua orang lawannya pula. Dua orang yang memiliki kemampuan
untuk bertempur cukup tinggi. Namun keduanya telah benar-benar
berada didalam genggaman tangan Ki Banyu Bening. Jadi apa yang
dikatakan oleh Ki Banyu Bening bagi mereka adalah paugeran.
Karena itu, mereka sama sekali tidak sempat mempergunakan akal
mereka. Ketika Kiai Banyu Bening memerintahkan mereka untuk
membunuh, maka merekapun telah menjalankan perintah itu dengan
sebaik-baiknya. Tetapi lawan yang mereka hadapi adalah Ki Sambi
Pitu. Seorang yang benar-benar berilmu tinggi. Karena itu, maka
kedua orang itupun segera mengalami kesulitan. Betapapun mereka
berusaha, tetapi seranganserangan mereka tidak pernah menyentuh
sasaran. Bahkan kemudian ternyata bahwa serangan Ki Sambi Pitupun
yang justru lebih dahulu mengenai tubuh lawannya. Seorang dari kedua
lawannya itu telah terpelanting ketika tangan Ki Sambi Pitu terayun
tepat mengenai tengkuknya. Orang itu jatuh tersungkur dengan
kerasnya. Wajahnya yang terjerembab telah terluka oleh
goresan-goresan kerikil yang terserak di jalan. Debu.dan tanah yang
melekat membuat wajahnya menjadi kotor dan berdarah. . Tetapi orang
itu masih bangkit sambil menggeram. Diusapnya wajahnya dengan
tangannya. Sementara mulutnya yang juga berdarah itu
mengumpat-umpat. Ki Sambi Pitu sempat tertawa melihat wajah orang
itu. Bahkan sambil bergeser menghindari serangan lawannya yang
seorang lagi, ia berkata “He, darimana kau mendapatkan topeng yang
menarik itu?" "Aku koyak mulutmu" geram orang itu. Ki Sambi Pitu
tertawa semakin keras. Katanya "Jangan terlalu garang. Jagalah agar
luka-lukamu tidak terlalu mengeluarkan darah." Kemarahan orang
itu serasa membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka iapun telah
meloncat menyerang dengan garangnya. Sementara kawannya yang seorang
lagi telah meloncat menyerang pula. Pertempuranpun menjadi semakin
sengit. Tetapi kedua lawan Ki Sambi Pitu semakin lama menjadi
semakin tidak berdaya. Tetapi keduanya tidak segera menyerah. Hampir
berbareng keduanya telah menarik keris mereka dari wrangkanya yang
terselip dipunggung. Ki Sambi Pitu melihat kedua ujung keris itu
dengan dada yang berdebar-debar. Setapak ia melangkah surut,
sementara lawannya yang wajah tersuruk kedalam tanah itu menggeram
"Kau harus menebus kesombonganmu dengan nyawamu." "Kalian telah
mendahului mempergunakan senjata" berkata Ki Sambi Pitu. "Kau mulai
menyesali tingkah lakumu." geram lawannya yang lain. Ki Sambi Pitu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Jika kalian tergores
ujung kerisku, itu bukan salahku." Kedua orang itu justru tertegun
melihat Ki Sambi Pitu juga menarik kerisnya. Sebuah keris luk
sebelas yang manis buatannya. Pamornya nampak berkeredipan
seakan-akan menyalakan cahaya yang kehijau-hijauan. Tetapi kedua
orang itu tidak sempat merenungi senjata lawannya. Ketika keris itu
mulai berputar, maka merekapun segera menyadari, bahwa mereka
benar-benar akan bertempur habis-habisan. Dalam pada itu, Ki Lemah
Telespun telah bertempur dengan garangnya. Kedua lawannya memang
tidak banyak mempunyai kesempatan. Beberapa kali serangannya telah
mengenai tubuh lawan-lawannya. Meskipun sekali-sekali tubuhnya juga
tersentuh serangan lawannya, tetapi serangan itu tidak menggoyahkan
pertahanannya. Orang yang berkumis tebal itu setiap kali harus
berdesis menahan sakit. Wajahnya seakan-akan telah menjadi lembab.
Beberapa kali tangan Ki Lemah Teles telah mengenai wajahnya,
seakan-akan Ki Lemah Teles sengaja menampar mulutnya sehingga
berdarah. Ketika orang berkumis lebat itu melihat kawan-kawannya
yang bertempur melawan Ki Sambi Pitu telah menggenggam kerisnya,
maka iapun telah menarik senjatanya pula. Bukan sebilah keris
seperti yang lain, tetapi sebilah parang yang besar, sedangkan
kawannya memang bersenjata keris sebagaimana yang lain. Ki Lemah
Teles yang melihat lawan-lawannya bersenjata, maka iapun telah
menggenggam senjatanya pula. Seperti senjata Ki Sambi Pitu, maka Ki
Lemah Teles telah menggenggam sebilah keris, tetapi lurus dengan
ukuran yang sedikit lebih besar dari kebanyakan keris. Dengan
demikian, maka pertempuran itupun telah benarbenar sampai
kepuncaknya. Serangan-serangan yang akan berhasil menyentuh lawan
tidak lagi sekedar membuat tubuh menjadi biru lembab. Tetapi
goresan-goresan luka itu akan dapat menitikkan darah. Bahkan jika
senjata itu menukik di dada dan menyentuh jantung, maka
senjata-senjata itu akan dapat membunuh. Namun mereka yang
bertempur tidak menghiraukannya. Mereka telah mengayun-ayunkan
senjata mereka. Orang berkumis tebal itupun telah mengayun-ayunkan
parangnya pula. Tetapi Ki Lemah Teles adalah seorang yang tangkas.
Ia mampu dengari cepat menghindari serangan-serangan lawannya. Namun
tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan ujung kerisnya. Serangan
yang datang beruntun dari kedua lawannya membuat Ki Lemah Teles
berkeringat. Namun sejalan dengan itu, kemarahannyapun semakin
menggigit jantung. Karena itu, maka kcrisnyapun menjadi semakin
cepat menyambarnyambar. Ternyata orang yang berkumis lebat itu,
mengalami banyak kesulitan menghadapi Ki Lemah Teles yang mampu
bergerak dengan cepatnya. Sementara kerisnya bergerak melampaui
kecepatan geraknya. Karena itu, maka sambil berteriak marah sekali,
orang itu meloncat mundur mengambil jarak. Namun ujung keris
lawannya telah tergores dilambungnya. Goresan itu memang tidak
begitu dalam. Sementara itu ikat pinggang orang berkumis lebat yang
terbuat dari kulit yang tebal dan lebar itupun sempat ikut menahan
ujung keris Ki Lemah Teles, sehingga goresan itu tidak terlalu
panjang dan dalam. Meskipun demikian, darah sudah mulai tertumpah.
Titik-titik darah itu sudah membasahi lereng Gunung Lawu. Namun
pertempuran masih berlangsung terus. Orang berkumis tebal itu tidak
berniat menghentikan pertempuran apapun yang terjadi. Sebagai murid
kepercayaan Kiai Banyu Bening, maka orang itu tidak akan mundur
setapakpun juga. Ki Lemah Teles menyadari sepenuhnya akan hal
itu. Karena itu ia tidak berniat untuk menawarkan kesempatan agar
lawannya menyerahkan diri. Karena itu, maka pertempuranpun segera
mencapai puncaknya. Orang berkumis tebal itu telah mengayun-ayunkan
parangnya. Seorang kawannya yang bertempur bersamanya juga telah
berusaha untuk menggapai tubuh Ki Lemah Teles dengan ujung kerisnya.
Tetapi bukan tubuh Ki Lemah Teles yang kemudian tergores senjata.
Justru tubuh orang berkumis lebat dan kawannya itulah yang menjadi
basah oleh darah. Ki Lemah Teles telah menyelesaikan pertempurannya
lebih dahulu. Orang berkumis tebal itu kehilangan kesempatan untuk
melawannya ketika keris Ki Lemah Teles mengoyak pangkal paha
kanannya. Orang itu seakan-akan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk
berdiri dan apalagi bertempur. Jika Ki Lemah Teles bergeser, maka
orang berkumis tebal itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Bahkan
jika ia berusaha menapak dengan kaki kanannya, maka orang itu justru
tidak dapat mempertahankan keseimbangannya. Sedangkan yang seorang
lagi telah terbaring sambil mengerang kesakitan. Keris Ki Lemah
Teles telah menggores dadanya menyilang. Tetapi luka itu tidak
menghunjam sampai ke jantung. Ki Sambi Pitu masih bertempur untuk
beberapa saat. Tetapi bahwa orang berkumis tebal itu sudah tidak
mampu bertempur lagi, maka kedua orang lawan Ki Sambi Pitupun
kehilangan ketegarannya. Merekapun kemudian telah terluka
sebagaimana kedua kawannya yang lain, sehingga keduanya tidak
lagi mampu untuk bertempur. Seorang tubuhnya terbaring diatas
tanggul parit, sedang seorang lagi terkapar dipinggir jalan. "Kenapa
tidak kau bunuh aku?" teriak orang berwajah garang bermata tajam dan
berkumis tebal itu. "Apakah kematianmu ada artinya bagiku?" bertanya
Ki Lemah Teles. "Kau akan menyesal, karena pada kesempatan lain,
akulah yang akan membunuhmu" geram orang itu. "Kalau kau mampu
membunuhku, tentu sudah kau lakukan sekarang ini, justru kau
bertempur bersama dengan seorang kawanmu." "Lain kali aku akan
membawa sepuluh orang kawan jika kau tidak membunuh aku sekarang?"
Ki Lemah Teles tertawa. Katanya "Kau kira aku tidak mempunyai kawan?
Diseberang hutan Jatimalang kawanku ada sepa-dang rumput yang luas
menunggu aku. Jika pada kesempatan lain kau akan membawa sepuluh
orang kawanmu, maka aku akan membawa pasukan segelar-sepapan.” Orang
berkumis tebal itu menggeram. Tetapi ia memang sudah tidak berdaya.
Bahkan untuk berdiripun rasa-rasanya tidak lagi dapat tegak. Namun
Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu ternyata benarbenar tidak ingin
membunuh lawannya. Bahkan Ki Sambi Pitu itu-pun kemudian berkata
“Aku akan memberi isyarat kepada kawan-kawanmu agar datang
menjemputmu." "Setan kau. Kau sudah menghina aku dan padepokanku"
geram orang berkumis lebat itu. Tetapi ia memang menjadi semakin
lemah, sehingga ia tidak lagi bergerak terlalu banyak. Apalagi
setiap gerakan seakan-akan telah menekan darahnya sehingga mengalir
semakin banyak dari lukanya. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun
kemudian telah melepaskan keempat ekor kuda yang semula dipergunakan
oleh orang berkumis itu bersama kawan-kawannya. Kuda itupun kemudian
dihadapkan kearah padepokan Kiai Banyu Bening. Seekor demi seekor
kuda itu dilecut sehingga berlari kencang menuju ke padepokan. "Nah"
berkata Ki Lemah Teles "kawan-kawanmu, dan barangkali juga Kiai
Banyu Bening akan melihat kedatangan keempat" ekor kuda tanpa
penunggang itu, sehingga mereka akan segera mencarimu. Aku berharap
bahwa mereka tidak datang terlambat, sehingga jiwa kalian dapat
tertolong. Bukankah jarak ini masih belum terlalu jauh dari
padepokanmu?" Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi sorot
matanya memancarkan dendam yang tidak ada taranya. Demikianlah,
sejenak kemudian Ki Sambi Pitu danKi Lemah Teles itu sudah meloncat
ke punggung kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah melarikan
kuda mereka meninggalkan ampat orang yang terluka itu. Jalan menuju
ke padepokan itu memang jalan yang jarang dilewati orang. Sawah yang
terbentang disebelah-menyebelah jalan itupun sebagian telah dikuasai
oleh Kiai Banyu Bening pula. Sementara beberapa bagian yang lain
masih terbentang padang ilalang dan padang perdu yang luas sampai
kebatas hutan lereng gunung yang lebat. Kedatangan Ki Sambi Pitu dan
Ki Lemah Teles di rumah Ki Ajar Pangukan telah disambut dengan
berbagai macam pertanyaan. Pakaian mereka yang terpercik darah
telah menunjukkan, bahwa keduanya telah bertempur dan bahkan
melukai lawan-lawan mereka. "Aku tidak bermaksud menantang untuk
berperang tanding" berkata Ki Lemah Teles mendahului Ki Sambi Pitu,
sehingga Ki Sambi Pitu itupun tertawa. Sementara Ki Lemah Telespun
kemudian berceritera tentang apa yang telah dialaminya. Ki Ajar
Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Dengan demikian, maka
kita sudah membuka permusuhan dengan padepokan itu.” "Tetapi bukan
maksud kami" berkata Ki Lemah Teles "kami dihadapkan pada satu
keadaan tanpa pilihan. Orang berkumis lebat itu benar-benar akan
membunuh kami atas perintah Kiai Ganda wira yang ternyata lebih
senang disebut Kiai Banyu Bening meskipun kesannya seperti air yang
sangat keruh." Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi
menganggukangguk mendengar ceritera itu. Bahkan dengan nada berat Ki
Ajar Pangukan itu berkata "Orang-orang yang perlu dikasihani."
"Siapa yang perlu dikasihani?" bertanya Ki Lemah Teles. "Orang yang
lebih senang disebut Kiai Banyu Bening itu." "Yang lain?" desak Ki
Lemah Teles. Ki Ajar Pangukan mengerutkan dahinya. Tetapi iapun
menjawab "Maksudku, Kiai Banyu Bening itu saja." "Tetapi Ki Ajar
menyebutnya seakan-akan lebih dari satu. Ki Ajar menyebutnya
orang-orang. Bukankah itu lebih dari seorang." berkata Ki Lemah
Teles kemudian. "Tidak. Ternyata aku salah ucap. Maksudku, Kiai
Banyu Bening itu adalah orang yang pantas dikasihani. Bukankah ia
telah kehilangan isterinya yang ternyata telah pergi bersama
seorang laki-laki. Kemudian justru laki-laki yang membawa isterinya
itu bersama kawari-kawannya telah menyerang dan berusaha membunuh
Kiai Banyu Bening. Dan yang terjadi kemudian adalah, bahwa rumahnya
telah terbakar dan yang paling parah adalah bayinya, satu-satunya
miliknya yang tinggal, ikut terbakar pula.". "Ya" Ki Sambi Pitu
menyambung "kesan yang terburuk yang terpahat di dinding hatinya
adalah suara tangis bayi itu. Bayi itu menangis melengking-lengking
disaat rumahnya terbakar. Namun Kiai Banyu Bening itupun segera
pingsan." Manggada dan Laksana juga mendengar keterangan itu.
Rasa-rasanya mereka ingin menutup telinga mereka. Namun merekapun
ingin mendengar kelanjutan dari ceritera itu. Tetapi Ki Sambi Pitu
dan Ki Lemah Teles ternyata tidak jelas sejak kapan Kiai Banyu
Bening itu mendirikan sebuah perguruan. Kapan pula ia membuat
semacam tetenger bagi bayinya dihadapan sebuah tempat pemujaan untuk
menyerahkan korban-korbannya. Namun Ki Ajar Pangukanpun kemudian
berkata "Jadi yang kita hadapi sekarang berbeda dengan Panembahan
Lebdagati. Panembahan Lebdagati adalah seorang yang benar-benar
mengabdikan dirinya menurut satu keyakinan hitam. Panembahan
Lebdagati ingin mempunyai sipat kandel yang paling baik di muka
bumi, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjadi orang yang
tidak terkalahkan. Tetapi yang dilakukan oleh Kiai Banyu Bening
adalah semata-mata pancaran dendam, kebencian dan kekecewaan yang
membakar jantungnya." "Tetapi akibatnya juga sangat mengerikan.
Ungkapan dari dendam, kebencian dan kekecewaan itu tidak kalah
kejinya dengan upacara-upacara yang dilandasi dengan
kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati." berkata Ki Pandi. Yang lain
mengangguk-angguk. Sementara itu hampir diluar sadarnya Manggada
yang juga mendengarkan pembicaraan itu berkata "Bahwa Kiai Banyu
Bening memilih tempat di kaki Gunung Lawu inipun nampaknya tidak
sekedar kebetulan bahwa disini Panembahan Lebdagati pernah
mendirikan sebuah padepokan pula." Orang-orang tua yang mendengar
kata-kata Manggada yang seakan-akan meluncur begitu saja itupun
menganggukangguk pula. Ki Jagapranapun segera menyahut "Ya. Agaknya
ada hubungannya, kenapa Kiai Banyu Bening memilih tempat ini untuk
mendirikan padepokan dan perguruan di tempat ini." "Kita akan
mencarinya” desis Ki Ajar Pangukan "tetapi yang penting, kita harus
menjadi lebih berhati-hati setelah Kiai Banyu Bening mengambil sikap
yang kasar itu." "Tetapi, apakah di padepokan itu nampak banyak
orang? Maksudku, apakah padepokan dan perguruan Kiai Banyu Bening
itu termasuk perguruan yang mempunyai banyak murid dan pengikut?”
bertanya Ki Pandi kemudian. "Agaknya cukup banyak. Tetapi selain
didalam padepokan itu, Kiai Banyu Bening telah menyebarkan
pengaruhnya diluar dinding padepokannya. Perguruan Kiai Banyu Bening
tentu menjanjikan sesuatu kepada para pengikut diluar padukuhan.
Dengan menyerahkan korban-korban yang mengerikan itu, maka
orang-orang yang berada dibawah pengaruh Kiai Banyu Bening itu tentu
mengharapkan sesuatu. Tentu bukan sekedar kewadagan." jawab Ki Sambi
Pitu. "Kita memang harus melengkapi bahan-bahan pengenalan kita atas
padepokan itu." desis Ki Pandi. "Tetapi kita harus menjadi
lebih berhati-hati" Ki Ajar Pangukan mengulangi. Orang-orang yang
sedang berkumpul itu menganggukangguk. Sementara Ki Pandipun berkata
“Aku akan mulai dari sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari
padepokan itu." Dengan demikian, maka sekelompok orang yang tinggal
untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu menjadi semakin
tertarik untuk mengetahui, apa yang akan terjadi kemudian.
Upacara-uoacara yang dilakukan dibeberapa padukuhan sudah
berkembang. Anak-anak binatang yang dikorbankan itu tidak lagi
ditusuk sampai mati. tetapi anakanak binatang itu harus dibakar
hidup-hidup. Namun yang tidak kalah menariknya adalah burung-burung
elang yang kadang-kadang nampak berterbangan diatas padepokan itu.
Bahkan sekali-sekali burung-burung itu menyambar-nyambar seakan-akan
ingin melihat dan meyakini apa yang ada didalam padepokan itu.
Sebuah padepokan yang belum banyak diketahui bentuk dan isinya, yang
berusaha menyebarkan pengaruhnya di bekas lingkungan pengaruh
Panembahan Lebdagati. Sementara menurut penglihatan yang masih harus
dikaji kebenarannya, padepokan itu isinya berbeda dan sama sekali
bukan kelanjutan dari padepokan Panembahan Lebdagati. Tetapi untuk
mengetahui hubungan antara padepokan dan burung elang itu, masih
diperlukan waktu dan pengamatan yang cermat dan berhati-hati. Namun
dalam pada itu. Ki Pandi masih saja sering bertemu dengan Delima.
Untuk mencegah kemungkinan buruk serta prasangka yang tidak baik
atas gadis itu jika kebetulan ada orang yang melihat, maka Ki Pandi
tidak selalu datang bersama Manggada dan Laksana. Kadang-kadang Ki
Pandi memang datang bersama kedua anak muda itu. Tetapi
kadang-kadang anak-anak muda itu ditinggalkannya diseberang sungai.
Tetapi Ki Pandi sendiri kemudian menjadi semakin akrab dengan
Delima. Delima tidak saja menunggu Ki Pandi di pinggir sungai,
tetapi kadang-kadang juga di sawah atau pategalan. Gadis itu senang
mendengar ceritera Ki Pandi tentang daerah diseberang hutan
Jatimalang. Tentang padukuhanpadukuhan yang ramai dan tidak
dicengkam oleh kengerian. Ki Pandi juga bercerita tentang kota-kota
yang pernah dikunjungi. Namun sebenamyalah bahwa Delima menjadi
gembira jika Manggada dan Laksana juga datang bersama Ki Pandi.
Namun pertemuan-pertemuannya dengan Ki Pandi serta Manggada dan
Laksana, membuat gadis itu semakin jauh dari kepercayaan yang mulai
mencengkam padukuhannya. Jika malam-malam yang ditentukan tiba, dua
kali dalam sepekan, gadis itu harus ikut bersama kedua orang tuanya
mendengarkan pamannya yang tinggal di padepokan itu menguraikan
tentang jalan kehidupan sebagaimana dianutnya, maka hatinya menjadi
terguncang-guncang. Tetapi gadis itu tidak berani berterus-terang
menolak keyakinan pamannya itu. Setiap kali terbayang korban yang
diserahkan hidup-hidup dengan perantaraan api itu. Apalagi jika
bayangannya mengembara ke masa-masa mendatang serta
kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi Ki Pandi sama
sekali tidak mengatakan apa yang pernah didengar oleh Ki Sambi Pitu
dan Ki Lemah Teles tentang Kiai Gandawira yang lebih senang disebut
Kiai Banyu Bening, sehingga bayangan-bayangan yang mengerikan
itu memang akan dapat terjadi. Ketika Ki Pandi sempat berbicara
dengan Delima di pategalannya yang di tanami jagung diantara
beberapa batang pohon buah-buahan dan batang pohon kelapa, maka Ki
Pandipun bertanya "Bagaimana tanggapan kawan-kawanmu, Delima.
Maksudku, gadis-gadis di padukuhanmu?" "Entahlah, kek" jawab Delima
"kami tidak pernah memperbincangkan tentang upacara-upacara yang
pernah diselenggarakan di padukuhan kami. Sejak korban yang
diserahkan itu belum dibakar, tidak seorangpun yang berani
menyebutnya. Apalagi mengatakan bahwa mereka menjadi ngeri
melihatnya. Aku sendiri, yang menjadi sangat ngeri dan ketakutan
tidak berani mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku hanya dapat
mengatakannya kepada kakek. Namun justru karena itu aku merasa beban
perasaanku menjadi berkurang." Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi
kemudian iapun berkata "Delima. Cobalah kau bertanya kepada
kawankawanmu jika kau mendapat, kesempatan. Tentu saja dengan sangat
berhati-hati. Sementara itu seperti yang aku katakan, aku ingin
berbicara dengan ayah dan ibumu." "Tetapi jika kakek ingin berbicara
tentang keyakinan yang mengerikan itu, maka kakek akan dapat
menyinggung perasaan ayah dan ibuku." "Akupun akan berhati-hati
ngger. Tetapi aku tentu harus mempunyai alasan untuk datang kepada
ayah dan ibumu" berkata Ki Pandi kemudian. Gadis itu
mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata "Ayah dan ibu
memang jarang sekali atau bahkan tidak pernah berhubungan
dengan orang asing seperti kakek ini." "Tetapi aku akan mencoba,
ngger. Justru karena cacadku ini." berkata Ki Pandi Kemudian. "Apa
yang akan kakek lakukan?" "Aku akan menjual belas kasihan. He, aku
akan menjadi orang yang kelaparan di depan rumahmu. Kau tahu
maksudku?" Delima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun
tersenyum. Sehari kemudian, Ki Pandi seorang diri pula datang ke
padukuhan tempat Delima tinggal. Ia tahu dimana letak rumah Delima.
Karena itu, maka ia tahu, dimana ia harus terduduk kelelahan dengan
keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Nafas tersengal-sengal
dan mata yang hampir terpejam. Delima yang melihat orang bongkok itu
dalam keadaan yang sulit, segera memanggil ayah dan ibunya. "Ayah,
bawa orang itu masuk ia memerlukan pertolongan" minta Delima.
"Tetapi orang ini orang asing" berkata ayahnya. "Siapapun juga orang
itu, tetapi bukankah kita wajib menolongnya?" berkata Delima
kemudian. Ternyata ibunya Juga tidak berkeberatan, sehingga mereka
telah menuntun Ki Pandi.yang bongkok itu ke serambi depan rumahnya.
Rumah keluarga Delima memang bukan rumah yang baik dan tidak besar
pula. Rumah berdinding bambu itu berdiri di tengah-tengah
sebidang tanah yang memang agak luas. Dibagian depan hampir tidak
terdapat tanaman apapun. Halaman itu nampak bersih. Sementara itu
dihalaman samping nampak beberapa batang pohon buah-buahan. Di kebun
belakang nampak beberapa batang pohon pula dan rumpun bambu yang
subur. Ki Pandi duduk disebuah amben bambu. Delima memberinya
semangkuk minuman hangat. Ibunya telah memberikan beberapa potong
ketela rebus. Ketika keadaan Ki Pandi sudah menjadi semakin baik,
maka ayah Delima yang kemudian duduk disebelahnya, mulai bertanya
"Kau siapa, Ki Sanak. Dari mana dan akan pergi ke mana?" Ki Pandi
yang letih itu menjawab "Aku seorang pengembara Ki Sanak Aku tidak
datang dari mana-mana dan aku tidak menuju kemana-mana. Aku berjalan
saja mengikuti langkah kakiku." "Apakah kau tidak tahu, kau berada
dimana sekarang?" "Ya, Ki Sanak. Aku tahu. Aku berada di kaki Gunung
Lawu.” Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata
selanjutnya "Aku semula tidak sengaja pergi ke tempat ini. Tetapi
ketika aku melihat jalan menembus hutan Jatimalang yang nampaknya
belum terlalu lama dibuat, maka akupun telah menyuruh masuk sehingga
aku sampai ditempat ini." Ayah Delima itu mengangguk-angguk.
Sementara keadaan Ki Pandi sudah nampak menjadi lebih baik.
"Makanlah." ayah Delima itu mempersilahkannya. “Sudah cukup Ki
Sanak. Terima kasih. Aku sudah makan cukup banyak" jawab Ki Pandi
yang kemudian berkata "sebaiknya aku akan meneruskan perjalanan."
"Kenapa tergesa-gesa. Beristirahatlah disini sampai keadaanmu
benar-benar menjadi baik, Ki Sanak He, siapa namamu?" "Namaku Ki
Pandi, Ki Sanak. Tetapi orang-orang yang mengenal aku memanggilku
Bongkok Buruk. Tetapi itu tidak apa-apa. Aku memang bongkok dan
buruk" Ki Pandi berhenti sejenak Namun iapun kemudian bertanya
"Bagaimana aku memanggil Ki Sanak?" "Namaku Krawangan" jawab ayah
Delima itu. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku ingin
mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga ini Ki Krawangan.
Aku sekarang minta diri untuk melanjutkan perjalanan yang tidak
menentu ini. Aku akan melihat-lihat lingkungan df kaki Gunung Lawu
itu.” "Kau perlu beristirahat Ki Pandi." "Terima kasih, Ki
Krawangan. Aku sudah rukup beristirahat, Tetapi pada kesempatan
lain, aku akan singgah dirumah Ki Krawangan ini." berkata Ki Pandi
kemudian. Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi itu bertanya "tetapi
bukankah aku dapat mohon untuk bermalam di banjar padukuhan ini?"
"Tentu" jawab Ki Krawangan "siapapun boleh bermalam di banjar. Tentu
saja mereka yang kemalaman dalam perjalanan." “Tetapi apakah
padukuhan ini baru akan membuat banjar atau justru, membuat yang,
baru?" bertanya Ki Pandi. “Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki
Krawangan. “Aku melihat bangaunan diluar dinding padukuhan”
jawab Ki Pandi "jika padukuhan ini sudah mempunyai banjar, apakah
banjar itu sudah tidak memenuhi kebutuhan sehingga harus dibuat
banjar yang baru lagi?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian iapun menggeleng "Tidak Ki Pandi. Kami tidak membuat banjar
yang baru. Bangunan diluar dinding padukuhan itu gunanya lain sama
sekali. Bukan untuk kegiatan sehari-hari padukuhan ini. Tetapi
bangunan itu adalah bangunan untuk pemujaan." "Pemujaan?" "Kau tidak
mengetahui apa-apa tentang pemujaan yang kami lakukan dengan
menyerahkan korban kepada penguasa api." jawab Ki Krawangan.
"Penguasa api?" bertanya Ki Pandi. "Ya. Apakah kau tertarik? Api
adalah segala-galanya. Panasnya api juga karena menyalanya maha api
di langit. Hidup kita memang tergantung kepada api. Tetapi jika api
itu murka, maka segala-galanya akan dimusnahkan." Ki Pandi
mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata "Jika kau tertarik,
kau dapat datang esok lusa. Dua hari lagi kakakku akan datang ke
padukuhan ini untuk memberikan petunjuk-petunjuk, bagaimana kita
mengabdikan diri kepada api. Api yang perkasa yang memancar disiang
hari serta api yang lembut penuh kedamaian yang memancar dimalam
hari." "Maksud Ki Krawangan,. matahari dan bulan?" "Ya" jawab Ki
Krawangan. "Di bulan purnama kami menyerahkan korban itu" Ki
Pandi mengangguk. Katanya "Apakah aku boleh datang dua hari lagi?"
"Boleh Ki Pandi. Kau dapat ikut mendengarkan sesorah itu.” "Dimana
sesorah itu diselenggarakan?" bertanya Ki Pandi. "Di sanggar pamujan
itu, Ki Pandi. Di bangunan yang kau sangka untuk memperbaharui
banjar itu." KiPandi mengangguk “Ki Krawangan. Aku tentu merasa
takut untuk memasuki banjar itu sendiri. Karena itu aku mohon,
apakah aku diperkenankan datang kemari dan kemudian mengikuti Ki
Krawangan masuk kedalam sanggar pamujan itu?" "Baik Ki Pandi. Aku
tentu tidak merasa berkeberatan. Datanglah kemari setelah senja
turun. Kita akan pergi bersama-sama ke sanggar. Penguasa api itu
tidak menolak siapapun yang datang untuk memohon perlindungan bagi
kesejahteraan hidupnya." "Terima kasih, Ki Krawangan. Besok lusa aku
akan datang" berkata Ki Pandi kemudian. Demikianlah, maka Ki Pandi
meninggalkan rumah Krawangan. Ketika ia sampai dipintu regol dan
berpaling, dilihatnya Delima dengan seorang gadis yang iebih kecil
daripadanya. Agaknya gadis kecil itu adalah adiknya. Dihari
berikutnya, Ki Pandi sempat bertemu lagi dengan Delima di pategalan.
Dari Delima Ki Pandi mengetahui, bahwa gadis kecil itu memang
adiknya. Kenanga. "Pamanlah yang memberikan sesorah di sanggar"
berkata Delima. "Aku ingin mendengar isi sesorah itu" berkata Ki
Pandi. "Hati-hatilah kek" pesan Delima "paman adalah seorang
yang keras hati. Bahkan tidak segan-segan menghukum orang yang
dianggapnya bersalah." "Aku akan berhati-hati Delima." Ketika
rencana itu disampaikan kepada Manggada dan Laksana, maka keduanya
menyatakan ingin ikut serta. Tetapi Ki Pandi berkata "Ingat. Aku
hanya seorang pengembara yang sendiri. Aku tidak datang dari
mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana. Karena itu, maka aku tidak
akan datang bersama siapa-siapa." Manggada dan Laksana dapat
mengerti keterangan Ki Pandi itu, Karena itu, maka mereka tidak
memaksanya untuk ikut bersamanya. Hari melompat ke hari. Waktu yang
ditentukan itupun mendekat. Ki Pandi segera bersiap-siap untuk
mengikuti pertemuan yang diselenggarakan setiap pekan dua kali itu
untuk mendengarkan sesorah orang-orang yang dikirim dari padepokan.
"Hati-hatilah Ki Pandi" pesan Ki A jar Pangukan. Ki Pandi
mengangguk-angguk. Katanya "Mudah-mudahan aku tidak terjebak dalam
kesulitan seperti Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teks." "Mudah-mudahan.
Tetapi kemungkinan itu harus kau pikirkan." berkata Ki Jagaprana
"orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi curiga kepada semua
orang yang tidak mereka kenal sebelumnya." Ki Pandi
mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Aku mengerti. Apa yang terjadi
karena kehadiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di padepokan,
serta kegagalan para pengikutnya akan membuat orang-orang
padepokan itu menjadi semakin berhati-hati." Meskipun demikian, Ki
Pandi itupun pergi juga kerumah Ki Krawangan menjelang senja turun.
Tetapi Ki Pandi tidak datang dari arah bawah kaki Gunung Lawu,
tetapi ia memberikan kesan, bahwa ia baru saja turun dari lereng
yang lebih tinggi. Senja itu, maka Ki Krawangan sekeluarga lelah
bersiap untuk pergi ke tempat yang disebutnya sebagai sanggar
pamujan. Satu bangunan khusus yang dipagari dengan batang pohon
kelapa utuh yang ditanam berjajar rapat. Pagar itu cukup tinggi
sehingga tidak mudah untuk melihat apa yang sedang berlangsung
didalamnya. Ki Krawangan, isteri dan kedua orang anak gadisnya di
lepas senja telah berangkat bersama Ki Pandi ke tempat yang disebut
sanggar itu. Beberapa orang tetangganya juga pergi bersama keluarga
mereka untuk mendengarkan sesorah tentang penguasa api serta laku
yang harus dijalani para pemujanya. Ketika-orang-orang itu memasuki
sanggar, maka iangitpun sudah mulai menjadi gelap. Di regol sanggar
itu telah dipasang dua buah oncor yang cukup terang. Berbeda dengan
hari-hari sebelumnya, orang-orang padukuhan itu melihat bukan saja
kakak Ki Krawangan yang akan memberikan sesorah itu yang sudah ada
di sanggar. Tetapi mereka telah melihat beberapa orang yang
sebelumnya jarang kelihatan di sanggar itu. Mereka tentu orang-orang
dari padepokan sebagaimana kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi memang
tidak mengetahui perbedaan itu, karena ia belum pernah menghadirinya
sebelumnya. Ketika mereka berjalan memasuki regol sanggar itu,
maka setiap orang tibatiba saja telah berubah. Mereka tidak lagi
berbicara yang satu dengan yang lain. Tetapi mereka berjalan saja
dengan wajah yang menatap ke depan. Matanya seakan-akan tidak
berkedip sementara mulut mereka terkatub rapat-rapat. Hanya
orang-orang tertentu sajalah yang nampaknya dapat bebas bergerak
tanpa batasan-batasan. Dan ternyata orang itu bukan orang padukuhan.
Delimalah yang berbisik lirih di telinga Ki Pandi "Orang-orang itu
belum pernah hadir sebelumnya. Tetapi agaknya mereka orangorang
padepokan. Kawan-kawan pamanku." Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi
jantungnya menjadi berdebar-debar. Beberapa saat kemudian,
orang-orang padukuhan itu telah berdiri dalam beberapa deret. Mereka
tidak lagi berdiri diantara keluarga mereka masing-masing. Tetapi
anak-anak muda dan gadis-gadis berdiri didepan, dibelakang deretan
anak-anak. Baru kemudian orang-orang yang lebih tua dan paling
belakang adalah orang-orang tua. Ki Pandi yang tidak tahu dimana ia
harus berdiri, mengikut saja petunjuk Ki Krawangan Sambil menunduk
Ki Pandi berdiri di belakang Ki Krawangan dan isterinya. Sementara
itu Delima dan Kenanga berada didepan bersama anak-anak muda dan
gadis-gadis yang lain. Suasanapun masih tetap mencengkam. Tidak
seorangpun yang berbicara. Mereka memandang kedepan dengan wajah
yang kosong. Sementara itu, yang akan sesorah masih belum nampak
di-hadapan orang-orang yang sudah bersiap-siap untuk mendengarkan
itu, meskipun orang itu sudah ada diantara mereka. Bahkan
kakak Ki Krawangan itu masih sibuk berbicara dengan beberapa orang
kawan-kawannya dan bahkan berjalan hilir-mudik tidak seperti
biasanya. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang sudah ada didalam
sanggar itu mulai menjadi gelisah. Meskipun mereka masih tetap tidak
berbicara apapun, namun sikap mereka menunjukkan kegelisahan mereka.
Beberapa orang mulai memandang berkeliling. Mencari dimana kakak Ki
Krawangan itu berdiri. Ki Pandi berdiri dengan jantung yang
berdebar-debar. Justru pada saat ia memasuki sanggar itu, terjadi
sesuatu yang tidak seperti biasanya. Delima sebelum memisahkan diri
sempat berbisik ditelinganya sehingga Ki Pandi menduga-duga apakah
yang terjadi. Dadanya menjadi semakin berdebar ketika ia merasa, dua
orang selalu mengawasinya. "Apa yang akan terjadi?” pertanyaan itu
semakin keras bergema didalam hatinya. Tetapi Ki Pandi sudah
terlanjur ada didalam sanggar itu. Apapun yang akan terjadi, harus
dihadapinya. Orang-orang yang gelisah itu menjadi semakin gelisah.
Mereka mulai saling bertanya, apa yang telah terjadi. Namun sejenak
kemudian, kakak Ki Krawangan itu naik ke tangga bangunan batu yang
ada didalam sanggar itu. Sambil berdiri di tangga, maka ia memberi
isyarat agar orang-orang yang ada di sanggar itu memperhatikannya.
Suasananya memang terasa agak berbeda. Meskipun Ki Pandi masih belum
pernah mengunjungi pertemuan serupa itu, namun ia merasakan,
bahwa biasanya suasananya tentu tidak seperti saat itu. Demikian
kakak Ki Krawangan itu mengangkat tangannya, maka suasanapun menjadi
semakin bening. Orang-orang yang ada di sanggar itu berdiri tegak
tanpa bergerak sama sekali. Bahkan sampai keujung jari kakinya
sekalipun. Kakak Ki Krawangan itupun kemudian memandang berkeliling.
Dengan lantang iapun mulai berbicara "Saudarasaudaraku, Aku agak
terlambat mulai berbicara dihadapan saudara-saudaraku.” Orang itu
memandangi orang-orang yang ada di sanggar itu semakin tajam,
seakan-akan ingin menilik langsung kedalam hati mereka
masing-masing. Baru kemudian ia berkata selanjutnya "Keadaan ini
terjadi karena ada sesuatu hal yang juga berbeda dari biasanya.
Selama ini aku yakin bahwa saudara-saudaraku dengan sepenuh hati
mengikuti upacaraj-upacara yang telah kami selenggarakan.
Saudara-saudaraku juga selalu datang ke banjar jika ada sesorah dari
salah seorang yang mewakili Ki Banyu Bening. Yang bertugas disini
biasanya memang aku sendiri. Tetapi dalam keadaan khusus memang
dapat terjadi orang lain." Orang itu berhenti sejenak. Sementara Ki
Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Ketaatan orang-orang padukuhan
itu terhadap peraturan di sanggar itu sangat mengagumkan. Apalagi
dalam upacara korban yang sebenarnya. Dalam pada itu, kakak Ki
Krawangan itupun berkata pula "Tetapi kali ini kita tidak saja
menerima saudara-saudara kami dari padukuhan. Malam ini kita
menerima seorang tamu yang ingin melihat dan mendengarkan sesorah
yang diselenggarakan didalam .sanggar ini. Sebenarnya hal
seperti itu bukan masalah jika kami yakin bahwa orang itu memiliki
keyakinan dan kepercayaan yang mantap." Jika saja orang-orang yang
ada di sanggar itu tidak dilarang berbicara, maka mereka tentu akan
saling bertanya, siapakah yang telah disebut sebagai seorang yang
meragukan itu? Namun orang-orang yang telah melihat kehadiran orang
bongkok itupun segera menduga bahwa yang disebut itu adalah orang
bongkok yang datang bersama Ki Krawangan itu. Kakak Ki Krawangan
yang berdiri ditangga bangunan tempat menyerahkan korban itu berkata
selanjutnya "Nah, aku persilahkan KiSanak yang baru datang itu
bersedia untuk mendekat. Aku inga berbicara dengan Ki Sanak." Ki
Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segera menyadari,
bahwa memang dirinyalah yang dimaksud. Sejenak Ki Pandi
termangu-mangu. Namun kemudian dua orang datang mendekatinya. Sambil
memegangi kedua lengannya dari dua sisi, maka orang itu telah
menarik Ki Pandi maju kedepan menghadap kakak Ki Krawangan itu. Ki
Pandi sama sekali tidak berniat menolak. Iapun menurut saja.
melangkah di antara orang-orang padukuhan yang kemudian menyibak.
Delima yang melihat Ki Pandi dibawa oleh dua orang kawan pamannya
itu kedepan menjadi gelisah. Jantung berdetak semakin
cepat.
Jilid 3 KI PANDI memang tidak dapat
mengelak. Iapun berjalan di antara dua orang yang memegangi kedua
lengannya. Semua mata memandang kearahnya. Seorang bongkok yang
berjalan tertatih-tatih. Namun di wajahnya, betapa orang bongkok itu
menjadi sangat cemas. Delima menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi
ia tidak dapat berbuat apa-apa. Rasa-rasanya, ia ingin berteriak,
bahwa orang bongkok itu adalah sahabatnya. Ia bukan orang jahat
Tetapi jangankan berteriak, berbisikpun mereka dilarang. Sejenak
kemudian, diapit oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap. Ki Pandi
berdiri dihadapan kakak Ki Krawangan yang masih berada ditangga.
"Siapa kau he?" bertanya kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi menjadi
bimbang. Ia tahu bahwa tidak seorangpun boleh berbicara. Karena itu,
ia menduga bahwa pertanyaan itu memang merupakan satu pancingan agar
ia melanggar ketentuan yang berlaku didalam sanggar itu. "Kau siapa
orang bongkok?” kakak Ki Krawangan itu mulai membentak. Tetapi Ki
Pandi masih belum menjawab, sehingga kakak Ki Krawangan itu
berteriak "He, apakah kau tuli?” Ki Pandi mengerutkan dahinya.
Tetapi kemudian Ki Pandi memberi isyarat dengan gerak tangannya,
apakah ia dapat membuka mulutnya. Kakak Krawangan itu termangu-mangu
sejenak. Ia memang agak ragu. Namun kemudian iapun berkata
"Jawablah. Kau telah mendapat ijin untuk berbicara.” Ki Pandi
menarik nafas panjang. Dengan gagap iapun berkata "Aku ingin
mendengarkan sesorah di sanggar ini. Selama ini aku tidak mempunyai
pegangan hidup menghadapi hari-hari tua yang tidak dapat aku
elakkan. Aku ingin mendapatkan ketenangan di hari-hariku yang
terakhir. Karena itu, aku datang kemari. Jika di-sini aku menemukan
ketenangan, maka aku akan menyatakan diri dengan saudarasaudaraku
disini.” “Omong kosong" geram kakak Ki Krawangan "di hari-hari
terakhir daerah ini telah didatangi oleh orang-orang asing yang
mengganggu ketenangan hidup kami. Di padepokan, dua orang yang
mengaku pedagang telah merusak suasana kehidupan damai di padepokan.
Sekarang kau datang kemari dengan cara yang lain. Tetapi kami yakin
bahwa kedatanganmu ada hubungannya dengan kedatangan kedua pedagang,
itu” "Aku tidak mengerti yang Ki Sanak katakan itu "desis Ki Pandi
“Aku adalah pengembara yang mengembara tanpa tujuan. Jika disini aku
mendapatkan kedamaian hati, maka pengembaraanku akan berakhir
disini. Aku akan tinggal disini meskipun aku harus menjadi budak dan
bekerja apa saja” “Kau tidak dapat membohongi kami sebagaimana kedua
orang yang mengaku pedagang itu. Ketika aku mendengar bahwa ada
orang asing yang ingin ikut serta dalam keperpayaan kami, aku segera
menjadi curiga justru barusaja- dua orang yang mengaku pedagang
telah datang di padepokan.” “Tetapi aku bukan pedagang” "Baik"
berkata kakak Ki Krawangan “karena kau orang asing disini, maka
untuk menerimamu sebagai anggota dari kehidupan yang damai dan
tentang disini, maka kau harus diuji. Besok malam kita akan
berkumpul disini seperti sekarang ini. Kau harus menunjukkan
kejujuranmu, bahwa kau benarbenar akan menjadi satu dengan
lingkungan hidup di padukuhan ini dengan setia.” "Apa yang harus aku
lakukan? " bertanya Ki Pandi. "Meskipun besok malam bulan belum
penuh, tetapi kita akan menyerahkan korban. Kau yang harus
mengumpulkan dahan-dahan kering besok siang. Kau yang harus mencari
bahan persembahan. Kau pula yang harus membakarnya hidup-hidup
diatas batu rias persembahan ini.” Kerut kening Ki Pandi menjadi
semakin dalam. Dengan suara yang bergetar ia bertanya "Kemana aku
harus mencari bahan persembahan? Aku hanya seorang pengembara.”
"Terserah kepadamu. Jika kau tidak mendapatkan seekor binatang, maka
kau akan dianggap sebagai anggauta yang paling terhormat jika kau
dapat mempersembahkan yang lain.” "Maksud Ki Sanak? "bertanya Ki
Pandi. "Itu tergantung pada tingkat kesungguhanmu untuk bergabung
dengan kami" jawab kakak Ki Krawangan. “Barangkali padi, jagung atau
buah-buahan?” bertanya Ki Pandi Wajah kakak Ki Krawangan menjadi
tegang. Namun kemudian ia menjawab "Sudah aku katakan. Nilai
persembahanmu akan berbanding lurus dengan nilai kesetiaanmu kepada
kepercayaan ini. Kami akan menentukan, apakah kau akan dapat
diterima, dikukuhkan menjadi yang terbaik atau justru kau akan kami
lemparkan menjadi-korban diatas batu alas persembahan kami
itu.” Sepercik cahaya memancar dari mata Ki Pandi. Namun
kemudian iapun menunduk dalam-dalam. Sementara itu, kakak Ki
Krawangarpun berkata “Hari ini tidak ada sesbrah. Besok, kita akan
berkumpul lagi disini. Kita akan menyaksikan, persembahan apakah
yang akan diserahkan oleh orang bongkokini. Kita bersama-sama
menilainya dan kita akan memutuskan, apakah ia dapat diterima atari
tidak.” Suasana didalam sanggar itu menjadi tegang. Kakak Ki
Krawangan masih berdiri tegak di tangga. Dipandanginya orang-orang
yang berdiri disekitarnya. Cahaya mata kakak Ki Krawangan itu
bagaikan memancarkan pengaruh yang mencengkam semua jantung.
Demikianlah maka sejenak kemudian orang itupun berkata. "Sekarang
kalian dapat meninggalkan sanggar ini. Besok kita aaan bertemu
lagi.“ Orang-orang yang berada di sanggar itu mulai bergerak. Mereka
mengalir keluar dari sangar itu. Anak-anak dan remaja segera mencari
orang tua masing-masing dan pulang dalam kelompok-kelompok kecil. Ki
Pandipun pulang bersama keluarga Ki Krawangan. Dengan nada berat Ki
Krawangan berkata "Aku tidak tahu bahwa masih harus ada syaratnya
bagi Ki Pandi untuk diterima menjadi keluarga didalam lingkungan
kepercayaan kami.” "Tetapi apa yang harus aku korbankan?" bertanya
Ki Pandi. "Aku juga tidak tahu, Ki Pandi." jawab Ki Krawangan.
Delima berjalan disebelah Ki Pandi sambil berdesis "Tinggalkan saja
padukuhan ini, kek.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun
tiba-tiba ia berkata "Aku akan memberikan korban buah-buahan. Jika
korbanku diterima, maka akan menjadi kebiasaan yang lebih baik
daripada mengorbankan seekor anak binatang." “Ya" sahut Delima
"kakek dapat mencobanya.” Tetapi Ki Krawangan memotong "Ki Pandi.
Apakah jenis korban itu dapat ditawar-tawar seperti itu? Jika tadi
kakang mengatakan terserah kepada Ki Pandi, itu tentu semacam
pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki Pandi mengorbankan buahbuahan,
maka aku kira Ki Pandi tidak akan dapat diterima.” "Tetapi darimana
aku mendapat seekor anak binatang.” Ki Krawangan termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian iapun menjawab dengan nada berat "Ki Pandi.
Aku masih mempunyai seekor anak kambing. Jika Ki Pandi memerlukan,
biarlah anak kambing itu kita korbankan. Semakin banyak korban yang
kita berikan, maka janji kesejahteraan tentu akan menjadi semakin
dekat bagi kita sekeluarga. Tentu juga bagi Ki Pandi.”
"Kesejahteraan apa yang Ki Krawangan maksudkan?" bertanya Ki Pandi.
"Kesejahteraan lahir dan batin. Sawah kita akan menjadi subur.
Dijauhkan dari segala macam hama. Sementara hidup kita akan tenang
dan damai sepanjang jaman, lebih dari itu, kita akan mendapatkan
tataran tertinggi di alam kematian.” Ki Pandi mengangguk-angguk.
Sementara Ki Krawangan berkata selanjutnya "Karena itu, maka sejak
sekarang sudah mulai dianjurkan, meskipun masih belum terjadi, untuk
memberikan korban yang derajadnya lebih tinggi.” "Apakah yang
derajadnya lebih tinggi dari seekor binatang? " bertanya Ki Pandi.
Ki Krawangan terdiam sejenak. Sementara itu kaki mereka melangkah
terus mendekati rumah Ki Krawangan. Beberapa orang berjalan lebih
cepat dan mendahului Ki Krawangan sekeluarga yang berjalan
perlahan-lahan sambil berbincang. "Ki Pandi" berkata Ki Krawangan
kemudian, “maksudku, bahwa korban seekor anak kambing mempunyai
derajad lebih tinggi daripada korban seekor anak kucing misalnya
atau anak ayam atau anak itik yang menetas darr sebutir telur." Ki
Pandi tidak segera menjawab. Tetapi bulu-bulu tengkuk Delima
meremang. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Delima menutup kedua
telinganya dengan telapak tangannya. "Delima. Kau kenapa? " bertanya
ibuanya. Delima tidak segera menjawab. Namun ketika ibunya memegangi
pundaknya, gadis itu menjawab dengan suara parau “Malam ini terasa
dingin ibu." "O " ibunya berdesis. Tetapi Kenanga tiba-tiba berkata
“Aku justru berkeringat kak Delima. Aku kira udara terasa panas.”
"Tentu tidak. Angin yang basah membuat udara malam ini dingin
sekali.” "Sudahlah" berkata ibunya "jangan bertengkar.” Namun dalam
pada itu, Ki Pandi itupun kemudian berkata “Biarlah aku mencoba
untuk menyerahkan korban buahbuahan. Mudah-mudahan justru akan
membuka kebiasaan baru yang lebih baik dari kepercayaan ini.” Ki
Krawangan masih saja ragu-ragu. Katanya "Sebaiknya Ki Pandi jangan
mencoba-coba. Besok merupakan hari pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki
Pandi dianggap melakukan kesalahan, maka akibatnya dapat
menyulitkan Ki Pandi sendiri.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam.
Katanya "Tetapi aku akan berdoa semalam suntuk, agar yang aku
lakukan itu justru dapat diterima dengan baik.” Ki Krawangan memang
tidak menjawab lagi. Segala sesuatunya memang terserah kepada Ki
Pandi. Tetapi ia sudah menawarkan sesuatu yang terbaik bagi Ki
Pandi. Seekor anak kambing. Malam itu, Ki Pandi ternyata tidak
bermalam dirumah Ki Krawangan meskipun Ki Krawangan mempersilahkan.
Ki Pandi ternyata telah minta diri untuk memenuhi kewajibannya.
menyediakan korban yang akan dibakar esok malam. Tetapi malam itu,
Ki Pandi telah menghubungi Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang ada
dirumah terpencil itu. Diberitahukannya, apa yang telah terjadi.
"Lalu, apa yang akan kau lakukafr?" bertanya Ki Ajar Pangukan dengan
dahi yang berkerut. "Aku akan membawa pisang setandan. Aku akan
mengorbankan pisang itu jika diterima.” "Jika tidak?" bertanya Ki
Ajar. "Nasibku akan menjadi sangat buruk" jawab Ki Pandi. Ki Ajar
dan orang-orang lain yang mendengarnya tertawa. Ki Jagapranapun
berdesis "Jangan merajuk begitu Ki Pandi.” Ki Pandipun tertawa pula.
Sementara Manggada dengan ragu-ragu berkata "Ki Pandi. Malam nanti
aku akan berada didekat sanggar itu. Aku akan mengikuti, apa yang
akan terjadi.” Ki Sambi Pitu tersenyum sambil menepuk bahu
Manggada “jangan cemas anak muda. Kami semua juga akan berada di
tempat itu. Kami tentu tidak akan sampai hati mendengar Ki Pandi
merajuk dengan nada sedih, bahwa nasibnya menjadi sangat buruk.”
Suara tertawa orang-orang tua itu menjadi semakin berkepanjangan.
Bahkan Ki Pandipun tidak dapat menahan tertawanya pula. Dihari
berikutnya, menjelang tengah hari, Ki Pandi sudah berada di sanggar
sambil membawa setandan pisang raja yang besar. Dengan ragu-ragu ia
memasuki sanggar yang kosong itu. Diletakkannya pisang itu diatas
alas penyerahan korban. Namun Ki Pandi masih harus mencari kayu
kering untuk menyalakan api saat korban diserahkan. Selagi Ki Pandi
menyusun dahan dan ranting kayu kering yang dikumpulkannya, maka
iapun mendengar lembut mendekatinya. "Kek” terdengar suara Delima.
Ki Pandi berpaling. Dilihatnya Delima yang ragu-ragu berdiri
beberapa langkah dibelakangnya. “Nah, Delirna" berkata Ki Pandi
"korbanku sudah siap.” Tetapi wajah Delima masih saja suram. Bahkan
dengan nada dalam ia berkata "Pamanku tadi menemui ayah, kek.” "O"
Ki Pandi mengangguk-angguk "apa ada hubungannya dengan aku? ". "Ya,
kek. Paman memperingatkan ayah, agar ayah tidak berhubungan dengan
kakek. " Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Delima
berkata selanjutnya "Ketika ayah mengatakan bahwa kakek akan ikut ke
sanggar, paman tidak berkeberatan. Tetapi ternyata bahwa semalam
paman tidak sendiri. Mereka bersikap kasar kepada kakek. Menurut
pendengaranku, orangorang padepokan itu telah mencurigai semua orang
yang dianggap asing, karena dua orang yang datang ke padepokan telah
mengacaukan ketenangan padepokan itu.” Ki Pandi termangu-mangu,
sementara Delima berkata selanjutnya "Paman baru tahu tentang dua
orang asing yang mengacaukan padepokan itu kemudian. Bahkan kemudian
padepokan itu telah mengambil sikap khusus kepada kakek” "Apa
hubungannya kedua orang yang mengacaukan padepokan itu dengan aku,
Delima?” "Aku tidak tahu, kek. Tetapi orang-orang padepokan itu
menjadi semakin berhati-hati. Kedua orang asing yang datang di
padepokan itu telah melukai beberapa orang padepokan. Bahkan ada
yang parah.” "Kemudian aku menjadi sasaran dendam mereka?”
"Entahlah, kek. Tetapi sebaiknya kakek meninggalkan tempat ini.
Nanti malam kakek tidak usah datang, karena kedatangan kakek akan
dapat mencelakakan diri kakek sendiri.” Ki Pandi tersenyum
sambil melangkah mendekati Delima. Ditepuknya pundak Delima sambil
berkata "Terima kasih atas peringatanmu Delima. Tetapi biarlah aku
lebih banyak mengetahui tentang kepercayaan yang aneh ini. Jangan
cemaskan aku.” "Tetapi......." wajah Delima menjadi muram. Sementara
Ki Pandi berkata "Aku akan berusaha menjaga diriku sendiri, Delima.
Pulanglah dengan tenang.” Delima termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian Delima-itu telah meninggalkan sanggar. Di pintu ia
berpaling dan berhenti sejenak. Namun kemudian iapun telah melangkah
lagi meninggalkan Ki Pandi yang menyiapkan korban yang akan
diserahkannya. Hari itu Ki Pandi tidak pergi ke rumah Ki Krawangan.
Bukan karena ia mencurigainya. Tetapi Ki Pandi justru menjaga agar
Ki Krawangan tidak mengalami kesulitan justru karena sikapnya.
Sebenarnyalah bahwa dirumah Ki Krawangan telah hadir dua orang
cantrik dari padepokan untuk mengawasi hubungan antara Ki Pandi dan
Ki Krawangan. Kakak Ki Krawangan sendiri mencurigai seakan-akan ada
hubungan khusus antara orang bongkok itu dengan Ki Krawangan. Namun
justru karena Ki Pandi tidak datang ke rumah Ki Krawangan, maka
kecurigaan itupun menjadi berkurang. Mereka mempercayai ceritera Ki
Krawangan, bahwa orang bongkok itu datang kerumahnya dalam keadaan
kelaparan dan kehausan. Sesudah minum dan makan, orang itupun telah
pergi. Ia datang untuk bersamasama pergi ke sanggar. Sesudah itu, ia
telah pergi lagi. "Baiklah" berkata salah seorang cantrik yang
bertugas di rumah Ki Krawangan itu. "Namun karena itu, maka Ki
Krawangan jangan berusaha membantunya jika padepokan mengambil sikap
tertentu kepada orang bongkok itu.” Ketika kemudian senja turun,
maka seperti yang dikatakan oleh kakak Ki Krawangan di sanggar
semalam, bahwa malam itu, orang-orang padukuhan itu harus berkumpul
kembali di sanggar. Ki Krawangan dan keluarganya, memenuhi perintah
itu, malam itu juga pergi ke sanggar. Namun disepanjang jalan, Ki
Krawangan dengan nada ragu berbicara pula tentang Ki Pandi. "Apakah
orang bongkok itu meninggalkan padukuhan?” desis Ki Krawangan. Tidak
seorangpun yang menjawab. Namun kemudian dengan ragu-ragu pula
isteri Ki Krawangan berkata hampir kepada diri sendiri "Sebaiknya ia
memang meninggalkan padukuhan ini.” Ki Krawangan terkejut mendengar
kata-kata isterinya. Bahkan Nyi Krawangan sendiri juga terkejut
mendengar katakatanya itu. Sedangkan Delima menjadi tegang. Hanya
Kenanga yang tidak begitu memahami perasaan kedua orang tuanya dan
kakaknya. Selama itu, tidak ada orang padukuhan yang bersikap lain
dari sikap orang-orang padepokan, termasuk kakak Ki Krawangan. Jika
orang-orang padepokan menghendaki orang bongkok itu datang dengan
persembahan korban, maka yang lain harus bersikap demikian pula.
Karena itu, sikap Nyi Krawangan terasa menjadi asing. Seakan-akan
Nyi Krawangan itu berusaha untuk melindungi orang bongkok yang
justru sedang dicurigai itu. Namun kemudian Ki Krawangan sendiri
berdesis "Ya. Memang sebaiknya orang bongkok itu meninggalkan
padukuhan ini. Betapapun ia ingin mencari kedamaian hati, tetapi
pada saat kakinya mulai meiangkah masuk, ia sudah terantuk batu.”
Delima menarik nafas dalam-dalam. Ternyata sikap batinnya tidak
berbeda dengan sikap batin ayah dan ibunya, meskipun dengan demikian
menjadi berbeda dengan sikap orang-orang padukuhan itu yang tentu
ingin melihat apa yang akan dibawa Ki Pandi ke sanggar. Bagaimana
puia keputusan orang-orang padepokan tentang korban yang akan
dipersembahkan oleh orang bongkok itu. Namun demikian orang-orang
padukuhan itu memasuki sanggar, maka merekapun segera dicengkam oleh
suasana yang tegang. Demikian mereka melihat setandan pisang yang
diletakkan diatas seonggok kayu kering di atas batu persembahan,
maka merekapun segera menduga, bahwa sesuatu akan terjadi di sanggar
itu. Ketika Ki Krawangan dan keluarganya memasuki sanggar, mereka
melihat Ki Pandi berdiri diapit oleh dua orang cantrik dari
padepokan. Sedangkan kakak Ki Krawangan rasa-rasanya tidak sabar
menunggu orang-orang padukuhan itu berkumpul. Namun akhirnya,
orang-orang padukuhan itu sudah berdiri pada deret-deret sebagaimana
biasanya. Delima benar-benar gelisah melihat Ki Pandi yang nampaknya
sudah tidak berdaya lagi untuk menyelamatkan diri. Beberapa saat
kemudian, maka suasanapun menjadi semakin tegang. Kakak Ki Krawangan
sudah berdiri ditangga bangunan batu alas meletakkan korban itu.
Orang-orang padukuhan yang berdiri dalam deretanderetan, itupun
menjadi semakin tegang. Tidak seorangpun yang bergerak. Bahkan
mata merekapun seakan-akan tidak berkedip lagi. Kakak Ki Krawangan
yang berdiri ditangga itupun kemudian berkata "Saudara-saudaraku.
Disini sekarang ada orang yang lebih tua dari aku dalam tataran
kedudukan kami di padepokan. Karena itu, biarlah saudaraku yang
lebih tua itu mengambil keputusan tentang orang bongkok itu.”
Orang-orang padukuhan itu menjadi semakin berdebardebar. Mereka
tidak tahu, perasaan apakah yang sebenarnya bergejolak didalam hati
mereka. Sepercik kegelisahan menyala didada orang-orang itu. Mereka
merasa iba melihat orang bongkok yang berdiri diapit oleh dua orang
cantrik yang masih muda serta bertubuh tegap kekar. Mereka yakin
bahwa orang bongkok itu akan mendapatkan hukuman, karena ia telah
berani membawa persembahan yang tidak memadai. Namun sementara itu,
orang-orang itu juga merasa tersinggung. Orang bongkok itu
seakan-akan dengan sengaja merendahkan derajat kepercayaan mereka.
Seakan-akan orang bongkok itu dengan sengaja menjajagi tatanan yang
berlaku di antara mereka." Sementara itu, kakak Ki Krawangan itupun
bergeser menepi. Sedangkan seorang yang lain, seorang yang bertubuh
raksasa telah naik dan berdiri disebelah kakak Ki Krawangan. Ki
Pandi mengeratkan dahinya. Ia teringat ceritera Ki Sambi Pita dan Ki
Lemah Teles tentang orang yang mula-mula melihat keduanya dari
lubang di pintu gerbang padepokan. Tetapi Ki Pandi, bahwa orang itu
bukan yang dimaksud oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Orang
yang bertubuh raksasa dan berdiri di tangga itupun kemudian berkata
"Aku akan mengambil alih tugas saudaraku. Persoalannya memang tidak
sederhana. Bukan sekedar seseorang yang ingin mencari
kesejahteraan hidup lahir dan batin. Serta bukan orang yang mencari
ketentraman sejati dibawah naungan kuasa api yang menghembuskan
kehidupan serta memancarkan kesejukan dan kedamaian hati di malam
hari.” Orang-orang yang mendengarkan sesorah itu menjadi semakin
tegang. Mereka semakin yakin bahwa sesuatu yang tidak diharapkan
akan terjadi malam itu di sanggar mereka. Dalam pada itu, orang
bertubuh raksasa itupun berkata “Ternyata orang bongkok yang datang
ke sanggar ini tidak berbeda dengan kedua orang asing yang telah
mendatangi padepokan. Mereka bukan saja telah menghina kepercayaan
yang kita junjung tinggi, tetapi mereka telah menyerang dan melukai
saudara-saudara kita yang justru ingin menolong mereka, menunjukkan
jalan keluar dari lingkungan ini. Saudara-saudara kita yang sama
sekali tidak menduga itu tidak sempat membela diri.” Ki Pandi yang
telah mendengsr ceritera Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, segera
menghubungkan dengan ceritera orang bertubuh raksasa itu, meskipun
ceritera itu sudah diputarbalikkannya. Namun Ki Pandi sama sekali
tidak mengatakan sesuatu. Orang bertubuh raksasa itupun berkata
selanjutnya “Nah, bukankah orang bongkok ini juga telah menghina
kita semuanya. Lihat, apa yang dipersiapkannya diatas alas
persembahan kita. Selama ini kita selalu mempersembahkan korban yang
bernyawa. Tetapi orang bongkok itu telah membawa setandan pisang
kemari” Orang itu terdiam sejanak. Ketika ia memandang Ki
Pandi yang berdiri termangu-inangu, maka semua orang telah memandang
Ki Pandi pula. "Apakah kita akan membiarkan pengalaman ini terjadi
atas kita? Kita tentu akan memaafkan orang-orang yang menghina kita
sendiri. Tetapi tidak menghina penguasa Maha Api di langit yang
memancarkan nafas kehidupan atas bumi ini.” Suara orang bertubuh
raksasa itu semakin menggelegar. Lalu katanya pula “Nah, siapakah
diantara kita yang membiarkan penghinaan ini terjadi ? Siapa?” Semua
orang yang ada di sanggar itu tetap terdiam diri. Dalam keadaan yang
biasa, jika mereka datang untuk mendengarkan sesorah, mereka sudah
harus berdiam diri. Apalagi dalam keadaan yang sangat tegang itu.
Dalam pada itu, orang itupun kemudian berteriak "Kita akan membunuh
orang yang telah menghina penguasa kehidupan ini dan membebankan
tanggung jawab di pundaknya. Jika tidak, maka kemarahan yang akan
menimpa kita semua akan berakibat sangat buruk bagi kita dan bagi
kehidupan di bumi.” Orang-orang yang ada di sanggar itu menjadi
semakin tegang. Jantung mereka serasa berdetak semakin cepat.
Rasarasanya mereka sudah dijalari kekecewaan dan kemarahan pula
terhadap orang bongkok yang hanya membawa setandan pisang itu.
Delima juga menjadi semakin tegang. Bukan karena merasa terhina oleh
korban yang terletak diatas seonggok kayu itu. Tetapi Delima
mencemaskan nasib Ki Pandi yang terasa menjadi semakin dekat dan
akrab itu. Tetapi Ki Pandi masih saja berdiri diam. Bahkan
nampaknya justru menjadi semakin tenang, meskipun kepalanya masih
tetap menunduk. Namun dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itupun
berkata dengan lantang "Nah, kita tentu tidak akan membiarkan
penguasa Maha Api itu akan murka kepada kita. Kita tidak mau
menerima akibaj buruk karena orang bongkok itu telah menghina Maha
Api di langit. Karena itu, maka kita harus menyerahkan penebusan
dari penghinaan ini sekarang. Meskipun saat ini bukan saatnya
menyerahkan persembahan sebagaimana biasanya. Tetapi kita harus
membersihkan noda yang telah terpercik di sanggar ini.” Orang itu
berhenti sejenak. Wajah-wajah menjadi bertambah tegang. Lebih-lebih
Delima dan bahkan juga ayah dan ibunya. Kenanga yang berdiri di
antara gadis-gadis remaja yang lain, tidak begitu mengerti, apa yang
akan terjadi. "Nah" berkata orang bertubuh raksasa itu "sekarang
juga kita harus mendapatkan persembahan dari mahluk yang bernyawa
uniuk menebus penghinaan itu. Jika tidak, maka mungkin besok, bhkan
mungkin nanti atau kapanpun dapat terjadi, kemarahan iti. akan
menimpa kita.” Suara orang itu terputus ketika tiba-tiba saja mereka
melihat cahaya merah dilangit. Mereka melihat asap yang membubung,
kemudian mereka juga melihat lidah api yang menjilat. Tidak terlalu
jauh. "Ampun kami ya Maha Api" teriak orang bertubuh raksasa itu
"murkamu telah datang menimpa kami.” Orang-orang yang ada di sanggar
itu menjadi gelisah. Meieka sadar sesadar-sadarnya bahwa telah
terjadi kebakaran di padukuhan mereka. Sementara itu, semua orang
tidak ada di padukuhan, tetapi mereka berada di sanggar,
sehingga tidak seorangpun yang akan dapat memendamkan api itu. Yang
tinggal di padukuhan hanyalah orang-orang tua, orangorang sakit dan
bayi-bayi" Namun.orang bertubuh raksasa itu berteriak "Kita tidak
akan mampu melawan kemurkaan itu. Agaknya telah terjadi kebakaran.
Tetapi tentu bukan kebakaran biasa. Disini seseoràng telah menghina
Sang Maha Api. Dan dengan serta merta murkanya telah menimpa kita.
Jika penghinaan ini tidak segera ditebus, murka itu tentu akan
semakin menjalar. Mungkin akibatnya akan menimpa, seluruh padukuhan
dan mungkin seluruh negeri dan bahkan mungkin seluruh bumi."
Kegelisaan semakin mencengkam. Tetapi orang itu berkata “Jangan
tinggalkan tempat ini. Orang yang telah menghina itu harus
mempertanggungjawabkan kesalahannya. Diatas alas tempat kita
menyerahkan korban itu harus ada korban mahluk bernyawa sekarang
juga." Dalam pada itu selagi suasana disanggar itu menjadi semakin
tegang maka seseorang berjalan tertatih-tatih ke pintu, gerbang
sanggar. Tetapi orang itu berhenti sebelum ia melangkah masuk. Ia
sadar, bahwa ia tidak boleh berbicara jika ia berada didalam
sanggar. Karena itu, selagi ia masih berada diluar, maka iapun telah
berteriak "Banjar padukuhan kita terbakar.” semua orang berpaling
dan memandang ke pintu gerbang. Mereka melihat seorang tua yang
berdiri gemetar laki tua yang sedang sakit. Orang-orang yang berada
di dalam sanggar itu menjadi semakin tegang. Dua orang cantrik telah
berlari kearah orang tua itu. Ketika orang tua itu hampir saja
terjatuh karena tubuhnya yang sakit itu menjadi lemah serta
letih, maka kedua orang cantrik itu sempat menolongnya. "Banjar
padukuhan itu terbakar" orang itu berdesis lagi. Seorang dari kedua
cantrik itu telah melangkah masuk kedalam sanggar. Dengan lantang ia
berkata "Banjar padukuhan itu telah terbakar. Murka Sang Maha Api
telah menimpa kita.” Orang bertubuh raksasa yang berdiri ditangga
bangunan batu sebagai alas persembahan itu berkata "Kita harus
cepatcepat menyerahkan korban agar kemarahan itu mereda.”
Orang-orang yang berdiri di sanggar itu telah dicengkam oleh suasana
yang tidak menentu. Mereka menjadi sangat ketakutan melihat bahwa
api telah mulai menelan korban dipadukuhan mereka. Banjar padukuhan
mereka tiba-tiba saja telah terbakar. Dalam ketegangan itu, maka
orang bertubuh raksasa itupun berteriak nyaring "Ya, Sang Maha Api.
Hentikan murkamu atas kami. Sekarang kami akan menyerahkan korban
untuk menebus kesalahan kami, karena kami teiah berani menghina
kuasa Sang Maha Api. Meskipun korban yang kami serahkan kali ini,
bukan korban dibawah wajah purnama yang lembut, serta bukan pula
korban yang kehadirannya diatas bumi ini berada dibawah percikan
cahaya api damaimu, namun kami mohon, korban yang kami serahkan ini
dapat menebus kesalahan yang pernah dilakukannya sendiri karena ia
telah menghina kuasamu yang tidak terbatas.” Semua orang terkejut
mendengarnya. Seorang laki-laki kurus menjadi gemetar. Sementara Ki
Krawangan menjadi gelisah. Delima berusaha untuk tidak menjadi
pingsan, karena ia tahu maksud orang bertubuh raksasa itu. Ki
Pandilah yang akan dikorbankan. Sebenarnyalah sesaat kemudian
orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah mengerumuni
Ki Pandi. termasuk kakak Ki Krawangan dan orang bertubuh raksasa
itu. Dengan paksa maka Ki Pandipun telah dibawa naik keatas alas
tempat penyerahan korban itu. Diatas tempat itu telah tersedia
seonggok kayu untuk membakar setandan pisang yang diletakkan oleh Ki
Pandi. Namun kayu itu tidak cukup banyak. Karena itu, maka orang
bertubuh raksasa itupun berkata “Agar korban yang kita serahkan
sempurna, maka semua orang laki-laki harus keluar dari sanggar
dengan cepat untuk mencari kayu bakar. Siapa yang tidak
melakukannya, maka ia akan dikutuk oleh Sang Maha Api itu.”
Demikian, maka setiap orang laki-laki telah menghambur keluar untuk
mencari kayu bakar. Laki-laki tua yang sedang sakit dan kelelahan
itu duduk bersandar dinding sanggar. Tetapi-ia terada diluar
sanggar. Para cantrik yang menolongnya telah masuk kedalam sanggar
pula, dan membiarkannya duduk sendiri. " Namun orang' itu menjadi
heran ketika dua orang anak muda mendekatinya sementara orang-orang
disanggar itu sedang ribut untuk mencari kayu bakar. "Duduk sajalah
kek" desis seorang diantar a mereka. "Siapakah kalian anak-anak muda
?" bertanya orang itu. "Kami bukan siapa-siapa kek. Kami hanya ingin
melihat apa yang terjadi.” Orang tua itu tidak berdaya lagi,
sementara kedua orang anak muda itu masih berjongkok
disebelah-menyebelahnya. Orang-orang laki-laki yang mencari kayu
bakar sambil berlari itu tidak menghiraukan kedua orang anak muda
iiu. Mereka mengira bahwa keduanya adalah saudara-saudara mereka
yang sedang menolong orang tua yang sakit itu. Namun beberapa saat
kemudian, suasana mulai meniadi sepi. Orang-orang padukuhan itu
telah berdiri ditempatnya di sanggar, sementara seonggok kayu bakar
telah tertimbun di alas tempat menyerahkan Kurban itu. Dalam pada
itu, maka cahaya merah dilangupun sudah mereda. Nampaknya Banjar
padukuhan itu telah hampir seluruhnya menjadi abu. Untunglah bahwa
halaman Banjar itu cukup luas sehingga diharapkan api tidak menjalar
kemanamana. Apalagi malam itu angin tidak begitu kencang bertiup.
Tidak pula pepohonan disekitar Banjar padukuhan itu. Dalam pada itu,
Ki Pandi telah berada ditangan orang-orang padepokan. Orang yang
bertubuh raksasa itu telah berada ditangga pula sambil berkata "Nah,
nampaknya persembahan kami berkenan dihati Sang Maha Api. Sebelum
persembahan kami ini kami serahkan, api yang membakar Banjar
padukuhan kami telah mereda. Satu pertanda yang baik bagi kita.
Karena itu, maka persembahan kami ini akan segera kami serahkan
dengan perantaraan api pula.” Darah Delima bagaikan mengalir. Namun
Delima tidak pingsan. Ia melihat orang bongkok itu didorong untuk
naik keatas bangunan batu sebagai alas persembahan itu. Delima dan
orang-orang yang. hadir di sanggar itu menjadi heran. Ia tidak
melihat orang bongkok itu menjadi gelisah, ketakutan atau
bahkan meronta. Ia sama sekali tidak melawan. Namun ketika
orang-orang padepokan itu akan mengikatnya, orang bongkok itu
berkata "Aku tak perlu diikat. Aku akan berbaring diatas api.”
Orang-orang padepokan itu termangu-mangu sejenak. Namun orang
bertubuh raksasa itu berkata "Ikat orang itu. Jika api menjilat
tubuhnya, ia akan meronta atau bahkan berusaha melarikan diri.”
Tetapi orang bongkok itu menyahut "Sudah aku katakan, aku tidak mau
diikat. "Persetan" geram orang bertubuh raksasa itu "ikat orang itu.
Cepat.” Para cantrik mulai memegangi tangan Ki Pandi. Seorang yang
membawa tali yang dibuat dari sabut telah mulai melingkarkan tali
itu ditubuh Ki Pandi. Namun yang lidak diduga telah terjadi. Cantrik
yang membawa tali itu telah terlempar. Kepalanya membentur bangunan
batu yang dipergunakan sebagai alas penyerahan persembahan itu.
Demikian kerasnya, sehingga cantrik itu langsung menjadi pingsan.
Sebelum orang-orang padepokan itu menyadari apa yang telah terjadi,
seorang lagi cantrik yang memegangi tangan Ki Pandi itu pingsan
pula. Pukulan yang keras mengenai ulu hatinya, sehingga cantrik itu
terbongkok kesakitan. Namun kemudian sisi telapak tangan Ki Pandi
telah mengenai tengkuk cantrik itu sehingga ia jatuh tersungkur.
Giliran berikutnya adalah cantrik seorang lagi yang memegangi tangan
Ki Pandi yang lain. Ayunan tangan yang keras telah menampar
keningnya. Nyala api encor di sanggar itupun menjadi semakin
kuning dan akhirnya menjadi semakin kabur. Ketika sebuah pukulan
lagi mengenai pangkal lehernya, maka Semuanya menjadr gelap. Yang
terjadi demikian cepatnya, sehingga orang-orang padepokan yang lain,
yang kedudukannya lebih tua dari para cantrik itu tidak sempat
menolongnya. Namun kakak Ki Krawangan, orang bertubuh raksasa dan
orang-orang padepokan yang lain dengan cepat menyadari keadaan.
Karena itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri Orang bertubuh
raksasa itu sempat berteriak "Orang bongkok itu menjadi gila.
Tangkap orang itu agar kita tak kehilangan bahan korban yang akan
kita serahkan, yang justru sudah berkenan dihati Sang Maha Api.”
Tetapi orang-orang padukuhan itu tidak segera berbuat sesuatu
jantung mereka justru terasa terguncang. Apalagi ketika kemudian Ki
Pandi meloncat naik keatas bangunan batu sebagai alas untuk
menyerahkan persembahan itu. "Saudara-saudaraku" berkata Ki Pandi
"kalian harus segera menyadari, bahwa aliran hitam ini akan merusak
tata kehidupan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian dan
bahkan kewadagan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian ke
jalan sesat, mengingkari kuasa Yang Maha Agung yang telah
mencipta-kan langit dan bumi. Termasuk matahari dan bulan. Karena
itu, tidak sewajarnya kalian menyembah matahari dan bulan yang
disebut dengan nama apapun juga.” Ki Pandi tidak sempat berbicara
lebih panjang. Orang yang bertubuh raksasa itu meloncat menyusulnya
dan langsung menyerangnya. Bahkan dua orang yang lainpun Kini datang
membantunya pula. Keributanpun tidak dapat dihindari lagi.
Orang-orang padepokan telah berkerumun disekitar bangunan batu untuk
menyerahkan persembahan itu. Mereka berusaha untuk menangkap orang
bongkok yang akan dijadikan bahan persembahan bagi Sang Maha Api.
Namun dalam pada itu, keributan itupun telah menjalar. Tiba-tiba
saja dua orang anak muda telah melibatkan diri, menyerang
orang-orang yang berkerumun mengepung orang bongkok itu. Delima
tiba-tiba saja melonjak kegirangan. Dua orang anak muda itu
dikenalnya pula. Mereka adalah anak-anak muda yang sering datang
bersama orang bongkok itu. Perkelahianpun segera terpecah. Manggada
dan Laksana telah mengambil tempatnya sendiri. Mereka telah bersiap
menghadapi orang-orang padepokan yang ada di sanggar itu.
Orang-orang padukuhan yang berada di sanggar itu menjadi ketakutan.
Tetapi mereka tidak berani meninggalkan sanggar itu. Mereka hanya
bergeser menjauh dan berdiri berdesakan melekat dinding sanggar.
Ternyata yang kemudian bertempur melawan orang-orang padepokan itu
tidak hanya orang bongkok dan dua orang anak muda saja. Tetapi ada
orang lain yang telah melibatkan diri pula diantara mereka. Beberapa
saai kemudian, sanggar itu benar-benar menjadi kacau ketika
oncor-oncor yang menerangi sanggar itu padam satu demi satu.
Keributan itupun tidak tertahankan lagi. Orang-orang padukuhan telah
berlari-larian tidix tentu arah. Mereka menjadi kebingungan.
Sementara itu agaknya ada orang yang dengan sengaja telah
mengacaukan mereka. Orang yang berlari-larian menyusup diantara
orang-orang padukuhan itu. Dalam kekacauan itu tiba-tiba mereka
melihat dua oncor yang menyala. Dua oncor yang berada disebelah
menyebelah pintu gerbang sanggar terbuka itu. Arus orang-orang yang
kebingungan itu tidak tertahankan lagi. Mereka berlari-larian keluar
dari sanggar melalui pintu gerbang yang tiba-tiba telah terbuka
selebar-lebarnya. Terdengar anak-anak berteriak-teriak ketakutan.
Bahkan kemudian suara tangispun melengking dimana-mana. Namun
beberapa saat kemudian beberapa buah oncor telah menyala kembali
disekitar pintu gerbang. Dua, tiga kemudian empat buah. Dalam
kekisruhan itu terdengar seseorang berteriak. “Jangan berdesakan.
He, hati-hati. Berjalanlah dengan tertib. Sebaiknya orang laki-laki
tidak ikut berdesakan dipintu gerbang. Biarlah perempuan dan
anak-anak berjalan lebih dahulu. Orang-orang laki-laki sebaiknya
justru ikut mengatur agar tidak terjadi kecelakaan.” Tidak
seorangpun diantara orang-orang padukuhan yang mengetahui, siapakah
yang telah berteriak itu. Namun beberapa orang laki-laki telah
tergugah hatinya. Mereka segera menepi dan mulai ikut mengatur arus
keluar orangorang padukuhan itu. Empat orang laki-laki yang memegang
oncor justru bingung sendiri. Mereka tidak tahu siapakah yang telah
meletakkan oncor di tangan mereka. Tiba-tiba saja mereka merasa
bahwa mereka telah memegang oncor. Beberapa saat kemudian,
maka sanggar itu telah menjadi kosong. Orang-orang padukuhan sudah
berada diluarnya. Namun masih ada satu dua orang anak-anak yang
menangis karena mereka belum menemukan orang tua mereka. Tetapi
dalam waktu singkat, karena orang-orang padukuhan itu sudah saling
mengenal, anak-anak itupun telah berada ditangan ayah dan ibunya.
Namun dalam pada itu, didalam sanggar, pertempuran masih
berlangsung. Orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah
bertempur dengan orang-orang yang tidak meraka kenal selain orang
bongkok itu. Delima juga sudah berada diluar, masih saja
berdebardebar, la tidak tahu apa yang terjadi didalam sanggar itu.
tetapi Delima dan orang-orang padukuhan masih mendengar keributan
didalam sanggar. Sementara itu, keempat orang yang memegang obor
telah berada diluar sanggar pula. Namun orang-orang padukuhan itu
tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, maka mereka
hanya berkumpul saja di sekitar sanggar mereka. Sementara didalam
sanggar itu masih terjadi pertempuran. Didalam sanggar itu, Ki Pandi
bersama Manggada, Laksana dan beberapa orang tua yang lain telah
bertempur melawan orang-orang padepokan. Ternyata mereka tidak
memerlukan waktu yang terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka
pertempuran itupun segera berakhir. Tetapi orang-orang yang berada
diluar sanggar tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi
di sanggar itu. Ketika kemudian tidak lagi terdengar suara apapun
didalam sanggar, mereka justru semakin ragu-ragu. Delima yang
gelisah berdiri didepan pintu gerbang. Ki Krawangan yang melihat
Delima berdiri didepan pintu segera menariknya sambil berkata
"Delima, apa yang kau cari ? Kau tahu bahwa telah terjadi sesuatu
yang, tidak kita mengerti.” Delima tidak membantah. Iapun kemudian
bergeser menjauhi pintu gerbang. Namun suasana didalam sanggar itu
masih sepi. Angin malam berhembus semakin dingin. Sekali-sekali
masih terdengar anak-anak merengek. Namun dengan susah payah ibunya
telah menenangkannya. Empat orang laki-laki masih tetap memegang
obor dan berdiri tidak jauh dari pintu gerbang yang masih terbuka
lebar. Namun orang-orang yang berada diluar tidak segera dapat
melihat, apa yang telah terjadi dalam kegelapan.” Akhirnya,
orang-orang yang memegang oncor itu sepakat untuk melihat, apa yang
terjadi didalam sanggar. Dengan hati-hati keempat orang itu
melangkah masuk. Ketika mereka melihat sebuah oncor yang masih
terpancang ditempatnya. maka oncor itupun telah dinyalakannya pula.
Demikian pula beberapa buah oncor yang lain. Namun keempat orang itu
terkejut bukan buatan. Orangorang padepokan yang ada disanggar itu
telah terbaring diam diantara mereka nampak terluka. Darah mengalir
dari luka yang menganga itu. Ketika keempat orang itu mendekat, maka
mereka menyadari bahwa adat diantara mereka masih bernafas. Karena
itu, maka, dua diantara keempat orang itu pun Segera berlari keluar
memanggil kawan-kawannya. “Kita harus menolong mereka" berkata
orang itu diluar sanggar!" "Kenapa ?" bertanya-beberapa orang
bersama-sama "Mereka terluka." jawab orang yang bertubuh-tinggi.
"Kenapa ?" bertanya Orang-orang yang menjadi semakin kebingungan.
"Entahlah, kita bawa saja mereka keluar. Kita akan mencoba menolong
mereka." Beberapa orang laki-laki segera berlari memasuki sanggar.
Tanpa mengatakan sesuatu lagi, merekapun telah membawa orang-orang
padepokan yang terbaring diam.Ada diantara mereka yang terluka.
Tetapi ada yang ditubuhnya sama sekali tidak terdapat segores kecil
lukapun, namun orang itu telah pingsan atau bahkan mati.
Demikianlah, maka orang-orang yang terbaring diam itu telah dibawa
keluar dari sanggar. Diluar sanggar orang-orang padukuhan itu
berbicara dengan leluasa. Sedangkan didalam sanggar, meskipun bukan
saatnya upacara atau mendengarkan sesorah, namun rasa-rasanya segan
juga untuk berbicara. Beberapa orang telah mencari air, sedangkan
yang lain sibuk mengusap kening dan dahi. Orang bertubuh raksasa
itu, terluka dilambungnya. Tidak oleh goresan senjata. Tetapi luka
itu cukup dalam. Tiga goresan nampak menyilang, seakan-akan goresan
tiga buah jari tangan tangan berkuku tajam. Kakak Ki Krawangan
justru sama sekali tidak terluka. Namun ia juga telah menjadi
pingsan. Beberapa saat kemudian, setelah orang-orang padukuhan
itu menjadi sibuk satu dua orang mulai sadar. Kakak Ki Krawangan
itupuh menggeliat, sementara orang bertubuh raksasa itu mulai
mengerang kesakitan. Ketika orang bertubuh raksasa itu mulai
bergerak, maka darah yang mengalir sernakin banyak mengalir dari
lukanya. Tetapi. orang itu ternyata membawa obat untuk mengurangi
arus darahnya. Ia minta seseorang menaburkan semacam serbuk dari
'sebuah bumbung kecil dialas lukanya itu. . Terasa luka itu menjadi
pedih sekali. Tetapi darahnyapun menjadi semakin sedikit mengalir
dari luka itu. Beberapa orang lain yang terluka juga telah mendapat
pengobatan yang sama, sementara kakak Ki Krawangan setelah diberi
air beberapa tetes di bibirhyapun telah menjadi sadar pula. "Iblis
bongkok" geram kakak Ki Krawangan "Apa yang telah terjadi, kakang?"
bertanya Ki Krawangan yang berjongkok disebelah kakaknya. "Orang
yang pernah kau tolong itu ternyata tidak kurang dari sosok iblis
yang paling jahat.” "Aku tidak mengira kakang. Ia tampak lemah dan
sakit pada waktu itu." jawab Ki Krawangan. "Ia datang bersama
beberapa orang kawannya untuk mengacaukan upacara persembahan itu."
berkata kakak Ki Krawangan itu pula. "Tetapi apa maksud orang
bongkok itu?" bertanya Ki Krawangan. "Ia berniat mengacaukan
upacara ini. Bahkan mengacaukan akal kita sehingga kepercayaan kita
menjadi menipis, ia datang dengan membawa kepercayaan baru untuk
menyesatkan jalan hidup kita menuju ke kesejahteraan lahir dan
batin.” Delima yang mendengar keterangan pamannya itu hampir saja
tidak dapat menahan hati. Menurut pendapatnya, kepercayaan yang
diajarkan oleh pamannya itulah yang sesat. Sebenarnyalah Ki
Krawangan juga ragu. Setelah hutan lebat yang seakan-akan memagari
lingkungan yang luas dibawah kaki Gunung Lawu itu terbuka, maka para
penghuninya mempunyai hubungan yang lebih luas dengan orang-orang
dari seberang hutan. Tetapi Ki Krawangan tidak menjawab. Demikian
pula Delima yang merasa lebih baik diam saja daripada membuka
persoalan ,baru dengan orang-orang padepokan. Dalam pada itu, selagi
ketegangan mencengkam orangorang yang berada di sekitar sanggar itu,
telah terdengar suara dari dalam kegelapan. Suara yang tidak jelas
sumbernya. Seakan-akan melingkar-lingkar di udara yang kelam. Suara
tertawa yang berkepanjangan. Disela-sela suara tertawa itu terdengar
kata-kata "He, kalian orang-orang sesat Apa sebenarnya yang kalian
cari dengan cara yang tidak pantas itu? Kalian telah digiring oleh
seorang yang menjadi gila karena kehilangan anak bayinya. Orang yang
gila karena keluarganya yang pecah dan menjadi berkeping-keping.
Mungkin juga karena salahnya sendiri. Namun kemudian, ia telah
mencari sasaran untuk menimpakan kesalahan itu. Ia membenci semua
bayi. Ia ingin semua bayi mati seperti anaknya. Dalam api...”
Suara itu berhenti sejenak. Sementara kakak Ki Krawangan yang telah
sadar sepenuhnya itu berteriak pula "He, pengecut. Nampakkan dirimu.
Jangan memfitnah sambil bersembunyi.” "Aku telah mengalahkan kau"
terdengar lagi suara dari kegelapan "sekarang sadarilah. Jika
sementara ini kalian harus mengorbankan seekor anak binatang di
bawah purnama, maka beberapa saat lagi kalian akan digiring untuk
mengorbankan anak manusia. Bayangkan, setiap bulan seorang bayi akan
mati. Gila. Bahkan tidak hanya di padukuhan ini saja. Apakah kalian
akan melakukan upacara yang gila itu? Hari ini orang-orang padepokan
itu sudah berniat mengorbankan seseorang sebagai langkah awal niat
mereka menggiring kalian untuk mengorbankan bayi disetiap bulan
purnama, karena orang yang kalian anggap pemimpin padepokan itu
telah terganggu penalarannya." "Cukup, fitnah itu sama sekali tidak
benat.” Teriak kakak Ki Krawangan. Tetapi suara tertawa itu masih
berkepanjangan. Kata-kata di sela-sela derai tertawa itu masih
terdengar. “Nah, kalian yang waras, yang masih mempunyai daya
penalaran yang utuh, apakah kalian justru akan jatuh di bawah
pengaruh orang gila? Orang yang terganggu kesadarannya oleh dendam
kebencian?” “Cukup, cukup” bukan hanya kakak Ki Krawangan saja yang
berteriak, tetapi seorang cantrik yang telah sadar sepenuhnya
berteriak pula, sementara orang yang bertubuh raksasa itu menggeram.
Ia tidak berani berteriak, agar darah di lukanya tidak memancar
lagi. Namun suara itu masih terdengar, “Selamat malam
saudara-saudaraku. Selama padepokan itu masih ada, maka kita masih
akan sering berjumpa dimanapun. “Gila. He orang-orang gila.
Aku bunuh kalian pada saatnya. Tetapi suara itu menjawab “Jika kami
ingin membunuhmu, maka kami tentu sudah melakukannya. Tetapi kami
bukan orang-orang yang menjadi mata gelap, kehilangan pegangan dan
membunuh sasaran yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan
yang sebenarnya terjadi. Nah, tolong, sampaikan kepada Kiai Banyu
Bening, jika ia masih tidak menghentikan perbuatan gilanya, maka
kami benar-benar akan memperlakukannya seperti orang gila. “Diam,
diam, diam,” teriak kakak Ki Krawangan. Suara tertawa itu masih
bergema. Semakin lama terdengar semakin jauh, sehingga akhirnya
hilang sama sekali. Malam kembali menjadi sepi. Ketegangan masih
mencengkam setiap jantung. Orang-orang padepokan yang masih lemah
itu dicengkam oleh kemarahan, kebencian, dendam tetapi juga
kekhawatiran. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka
tidak dapat memburu orang-orang yang telah menghinakan mereka dan
bahkan menyebut nama Kiai Banyu Bening. Namun sejenak
kemudian, maka orang yang bertubuh raksasa itu berkata “Biarlah
orang-orang padukuhan itu pergi. Kita akan membuat perhitungan
dengan mereka kelak, karena mereka tidak mau membantu kita, disaat
kita dalam kesulitan.” Kakak Ki Krawangan tidak menyahut. Tetapi
bagaimanapun juga ia merasa cemas tentang adiknya. Orang-orang
padepokan dapat menyangka, bahwa adiknya benar-benar telah
berhubungan dengan orang bongkok itu. “Besok aku harus berbicara
dengan Krawangan,“ berkata orang itu di dalam hatinya. Dalam pada
itu, maka orang-orang padukuhan itupun segera pulang ke rumah mereka
masing-masing ketika mereka sudah mendapat ijin dari orang-orang
padepokan. Namun ancaman orang bertubuh raksasa itu didengar oleh
salah seorang padukuhan itu, sehingga ia menjadi ketakutan. Ternyata
perasaan takut itu kemudian telah menjalar pula ke setiap orang yang
mendapat berita tentang ancaman itu. Namun sebelum orang-orang itu
memasuki gerbang padukuhan, maka seseorang telah berlari-lari keluar
dari regol padukuhan. Justru orang yang belum mereka kenal. “Siapa
yang terikat di halaman banjar? Siapa?” teriak orang itu “Siapa?
Siapa?“ setiap onng pun telah bertanya pula. Namun karena itu, maka
orang-orang itu tidak jadi langsung pulang ke rumah. Tetapi mereka
berduyun-duyun pergi ke banjar. Sebenarnyalah dua orang terikat pada
dua batang pohon yang tumbuh di halaman banjar. Orang yang juga
belum mereka kenal. Kedua orang itu agaknya telah pingsan
meskipun keduanya masih hidup. Agaknya keduanya telah menjadi
kepanasan oleh lidah api yang menelan banjar padukuhan mereka.
Banjar yang mereka dirikan dengan susah payah itu telah menjadi abu
diterpa oleh kemarahan Sang Maha Api karena pokal orang bongkok itu.
Kedua orang itu tubuhnya basah oleh keringat. Sementara udara di
halaman banjar itu masih terasa panas, meskipun api sebagian besar
sudah padam. Seorang penghuni padukuhan yang sudah separo baya
berkata, “Ambil air. Kita harus segera mendinginkan mereka.”
Seseorangpun telah berlari-lari ke sumur. Dengan upih orang itu
membawa air yang kemudian telah disiramkan ke wajah kedua orang yang
pingsan itu. Kedua orang itu mulai menggeliat. Bahkan kemudian
keduanya mulai menggelengkan kepalanya serta membuka matanya. Namun
adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba sesosok tubuh yang hanya
nampak hitam di kelamnya malam muncul dari antara sisa kayu dan
pecahan genting yang berserakan di bekas banjar itu berdiri,
sementara malam seakan-akan menjadi semakin hitam. Orang-orang yang
berada di halaman padukuhan itu termangu-mangu. Oncor di regol
halaman banjar masih menyala, meskipun cahayanya tidak dapat
menggapai seluruh halaman, juga tidak dapat menerangi sosok tubuh
yang muncul dan dalam sisa-sisa kebakaran itu, meskipun disanasini
masih nampak lidah api menyala meskipun hanya sejengkal. Juga masih
ada kayu yang membara dan kerangka bambu yang meledak.
Orang-orang yang ada di halaman tiu merasa bulu-bulu tengkuk mereka
meremang ketika mereka mendengar sosok yang hitam itu tertawa
berkepanjangan. “He, orang-orang padukuhan yang dungu? Kenapa kalian
percaya bahwa banjar kalian telah ditelan oleh murka Sang Maha api
karena terhina oleh persembahan orang bongkok itu? Kalian mengira
bahwa kuasa Sang Maha Api itu mengatasi segala-galanya, sehingga
mampu menghukum kalian dengan menelan banjar itu? Semua itu omong
kosong. Lihatlah dua orang yang terikat itu. Merekalah yang telah
membakar banjar kalian atas perintah orang-orang dari padepokan.
Mereka ingin meyakinkan kalian, betapa besar kuasa Sang Maha Api,
sementara orang-orang itu sendiri tidak percaya akan kuasa Sang Maha
Api itu sendiri. Lihat kedua orang itu. Apa yang telah mereka
lakukan? Tanyakan kepada mereka, mereka tentu tidak dapat menjawab,
karena mereka juga tidak tahu, tidak pernah merasa bersentuhan,
apalagi bahwa Sang Maha Api itu menanggal didalam dirinya. Yang
mereka tahu adalah, bahwa api itu panas. Sedangkan sinar matahari
juga panas dan bersumber dari Maha Sumbernya di langit. Yang mereka
tahu bahwa api itu memancarkan sinar sebagaimana bulan di iangit.”
Halaman itu telah dicengkam oleh ketegangan Sementara itu, kedua
orang yang terikat itu menggeretakkan gigi mereka. Tetapi mereka
tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka masih terikat pada batang
pepohonan. Dalam pada itu, sosok yang kehitam-hitaman itu masih
berkata, ”Sekarang kalian berhadapan dengan kenyataan. Tidak ada
kuasa Sang Maha Api yang dapat murka karena orang bongkok itu telah
menghinanya. Yang terjadi adalah dua orang itulah yang telah
membakar banjar ini.” Orang-orang padukuhan itu semuanya telah
memandang kedua orang yang terikat itu dengan penuh kebencian. Namun
sosok yang hitam itu berkata pula, ”Tetapi kalian jangan bertindak
apa-apa. Kita justru harus melaporkannya. Jika kalian berbuat
sesuatu atas kedua orang itu, maka seisi padepokan itu akan marah
dan mendatangi kalian untuk membalas dendam. Karena itu, jangan
kecewa bahwa orang yang membakar banjar padukuhanmu aku lepaskan.
Keduanya telah melakukan tugas mereka dengan baik, membakar banjar
padukuhan. Orang-orang padukuhan itu memang menjadi bimbang. Ia
tidak tahu pasti maksud sosok yang tiba-tiba saja muncul dari
reruntuhan banjar yang terbakar itu. Namun sosok itupun kemudian
telah melangkah kearah kedua orang yang terikat itu sambil berkata,
”Biarkih keduanya kembali ke padepokannya. Biarlah keduanya
melaporkan kepada orang yang menyebut dirinya Banyu Bening tetapi
tidak tahu artinya, bahwa orang-orang padukuhan itu sudah tahu,
merekalah yang membakar banjar padukuhan. Sama sekali tidak ada
hubungannya dengan setandan pisang yang disiapkan untuk persembahan
dari orang bongkok itu.” Tidak seorangpun yang berbicara di antara
orang-orang yang ada di halaman banjar itu. Mereka merasa
seakan-akan mereka berada didalam sanggar. Suasananya justru lebih
mencekam ketika bayangan itu melangkah mendekati kedua orang yang
terikat di batang pepohonan itu. Sejenak kemudian orang itu mencabut
sebuah pisau kecil. Kemudian dengan pisau itu, ia telah memutuskan
tali pengikat kedua orang itu. Adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba
seorang yang bertubuh gemuk telah menyerang orang yang
melepaskan talinya itu. Dengan cepat ia mengayunkan tangannya
menghantam kearah kening. Tetapi orang itu sendirilah yang kemudian
menjerit sambil meloncat surut. Ternyata tangannya sama sekali tidak
menyentuh kening. Tetapi tangan itu telah menyambar tajamnya pisau
di tangan orang yang telah memotong tali pengikatnya. Orang itu
tertawa. Katanya “Bukan salahku. Jika kalian masih saja keras
kepala, maka pisau ini akan menggorok leher kalian berdua.” Orang
itu memegangi tangannya yang berdarah. Tetapi ia tidak menjawab.
”Nah, sekarang pergilah. Katakan kepada Banyu Bening yang tidak
bening itu, bahwa kami akan tetap menentangnya sampai ia menyadari,
bahwa yang dilakukan itu sama sekali tidak pantas. Ia merasa
terpukul karena anaknya terbakar. Tetapi pada suatu saat ia akan
merasa terhibur melihat bayibayi yang terbakar seperti anaknya. Sama
sekali tidak ada sangkut pautnya dengan matahari dan bulan.” Kedua
orang itu termangu-mangu, sehingga orang yang semula muncul dari
antara reruntuhan itu membentak mereka “Cepat, pergi atau aku akan
mengambil keputusan lain.” Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa
melangkah menjauhi orang yang melepaskan mereka itu. Sementara
orang-orang padukuhan telah melihatnya. Namun ketika keduanya sampai
di regol, seorang diantara keduanya berteriah, “Awas. Pada suatu
saat aku akan kembali untuk membunuhmu. Kau akan mati di atas api
persembahan. Tubuhmu akan hancur menjadi debu. Ingat besok jika
purnama naik, maka kami benar-benar akan mengorbankan kau.
Jika kau bersembunyi, maka salah seorang penghuni padukuhan ini akan
kami korbankan. Demikian berturut-turut setiap purnama. Kecuali jika
ada seorang bayi yang diserahkan.” Tetapi demikian ia selesai
berbicara dan melangkah untuk meninggalkan halaman banjar itu,
sebuah pukulan yang keras telah mengenai mulutnya. Sambil meloncat
surut dan bahkan hampir kehilangan keseimbangannya, orang itu
mengaduh. Ternyata dua giginya telah tanggal dan darah mengalir dari
sela-sela bibirnya. “Kau sudah dibebaskan. Tetapi mulutnya masih
saja meneriakkan kegilaanmu.” Kedua orang yang akan meninggalkan
halaman itu tersentak. Dipandanginya orang yang berdiri di
hadapannya. Karena orang itu membelakangi oncor di regol halaman,
maka wajah orang itu tidak nampak jelas. “Kau sudah dibebaskan dan
dapat kembali ke padepokan. Tetapi suaramu menyengat telinga.
Sebenarnya aku ingin membunuhmu sekarang. Tetapi biarlah kau kembali
kepada Kiai Banyu Bening untuk memberikan laporan lengkap tentang
peristiwa yang terjadi disini. Juga tentang keberhasilanmu membakar
banjar tepat pada waktu yang sudah diperhitungkan oleh
kawan-kawanmu.” Kedua urang itu tidak menyahut. Ketika mereka
berpaling, mereka masih melihat orang yang melepaskannya itu berdiri
di sebelah batang pohon itu. Ternyata ada beberapa orang-berilmu
tinggi yang membayangi kekuatan padepokan mereka. “Nah,“ berkata
orang yang telah memukul mulut salah seorang dari kedua orang itu
hingga berdarah “sekarang pergilah. Beritahukan kepada Banyu
Bening, bahwa kami akan tetap membayanginya sampai ia menyadari,
bahwa ia tidak dapat melontarkan dendamnya kepada bayi diseluruh
permukaan bumi ini.” Kedua orang itu masih berdiri mematung. Namun
orang yang telah memukulnya itu berkata lagi, “pergilah. Kesempatan
bagi kalian masih terbuka.” Kedua orang itupun kemudian telah
beringsut perlahanlahan. Namun kemudian keduanya seakan-akan telah
meloncat dan berjalan dengan cepat meninggalkan regol banjar
padukuhan itu. Dalam pada itu, orang yang telah memutus tali yang
mengikat kedua orang yang membakar banjar itu berkata kepada
orang-orang yang berada di halaman, “Sekarang, pulanglah. Pesanku,
jangan dengan serta-merta menentang orang-orang dari padepokan itu.
Tetapi kalian sudah mengetahui, bahwa mereka telah berusaha
memperbodoh kalian. Orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu telah
kehilangan anak bayinya yang terbakar. Ia merasa terpukul oleh
peristiwa itu. Tetapi kami belum tahu pasti, siapakah yang telah
bersalah atas kematian bayi itu. Mungkin justru Kiai Banyu Bening
sendiri. Dan ia berusaha menimpakan kesalahannya kepada orang lain.”
Orang-orang yang berada di halaman itu memang telah tersentuh
hatinya. Tetapi mereka menyadari, bahwa menentang orang-orang
padepokan akan berarti hancurnya padukuhan mereka. Demikianlah, maka
satu-satu mereka telah keluar dari regol halaman banjar padukuhan
yang telah menjadi abu. Di beberapa bagian api masih nampak menyala.
Tetapi sudah menjadi semakin kecil. Masih ada pula bara yang
merah diantara setumpuk reruntuhan. Namun sudah tidak banyak
berarti lagi. Sebuah kentungan yang menjadi kebanggaan padukuhan
itu, karena besarnya dan bunyinya yang mendengung seperti gema yang
menyusuri lembah di antara bukit-bukit, telah ikut menjadi abu pula.
Malam itu setiap keluarga telah membicarakan banjar mereka yang
terbakar. Satu dua diantara mereka telah membicarakan pula
orang-orang yang disebut membakar banjar itu. “Siapakah sebenarnya
orang bongkok itu?“ desis Ki Krawangan yang duduk bersama
keluarganya, ”ternyata kedatangannya di padukuhan ini bukan sekedar
kelaparan dan kehausan.” Delima mengangguk-angguk. Tetapi ia sama
sekali tidak menyahut. Yang kemudian berbicara adalah Nyi Krawangan,
”Orang bongkok itu agaknya membawa pesan yang lebih berarti bagi
para penghuni padukuhan ini.” Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya “Aku tidak tahu, bagaimana sikap kakang terhadap
peristiwa yang baru saja terjadi di sanggar dan di banjar. Dua
peristiwa yang memang saling berhubungan. Jika benar kedua orang itu
membakar banjar, maka segala sesorah orang-orang padepokan itu
adalah omong kosong.” “Apalagi menilik keterangan orang yang tidak
dikenal itu. Kiai Banyu Bening, eh, jabang bayi, aku telah menyebut
namanya, orang yang dibayangi oleh dendam karena kematian bayinya
itu, ingin melihat orang lain juga mengalami sebagaimana
dialaminya. “Jika demikian, ia adalah orang yang perlu
dikasihaninya,” desis Ki Krawangan. Nyi Krawangan termangu-mangu
sejenak. Dipandanginya anak perempuannya. Delima memang menjadi
gelisah, tetapi ia tetap berdiam diri. Namun peristiwa yang terjadi
di sanggar itu nampaknya akan menjauhkan orang bongkok dan dua orang
cucunya itu dari padukuhannya, karena orang-orang padukuhan ini
telah mengenalnya. Delima tidak dapat membayangkan tanggapan
orang-orang dipadukuhannya terhadap Ki Pandi. Apakah mereka menjadi
marah, merasa terhina, atau justru seperti ayah dan ibunya, yang
nampaknya mempunyai sikap tersendiri terhadap orang bongkok itu.
Dalam pada itu, maka Ki Krawangan pun kemudian berkata, ”Sudahlah.
Kita akan tidur. Kita akan melihat perkembangan keadaan esok pagi.”
Tetapi Nyi Krawangan agaknya justru merasa cemas. Karena itu, iapun
bertanya kepada suaminya, ”Apakah orangorang padepokan itu dapat
menuduh kita terlibat dalam persoalan ini? Maksudku, apakah
orang-orang padepokan menganggap bahwa kita telah menjadi jembatan
kehadiran orang bongkok dan kawan-kawannya di padukuhan ini karena
orang bongkok itu pernah berada dirumah ini?” Ki Krawangan menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Entahlah Nyi. Tetapi mudah-mudahan
tidak. Karena itu, aku berharap besok kakang datang kemari. Aku
ingin berbicara dengan kakang.” Nyi Krawangan pun
mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata kepada Delima dan
Kenanga, ”Sudahlah. Hari telah larut. Sebaiknya kita pergi tidur
saja.” Ketika kemudian Nyi Krawangan, Delima dan Kenanga sudah
berbaring didalam biliknya, Ki Krawangan masih duduk di ruang
tengah. Sebuah mangkuk berisi wedang jahe telah dihirupnya beberapa
kali. Bagaimanapun juga Ki Krawangan juga menjadi gelisah.
Orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu memang dapat
menuduhnya bahwa ia telah berhubungan sebelumnya dengan orang
bongkok itu. Kakaknya memang pernah memberitahukannya dan bahkan
para cantrik pernah datang pula kepadanya. Baru menjelang dini, Ki
Krawangan itu sempat tidur beberapa saat. Ketika fajar menyingsing,
Ki Krawangan telah terbangun. Ia minta agar isterinya tidak pergi ke
pasar atau ke mana-mana. “Ada apa kakang?“ bertanya Nyi Krawangan.
“Apapun yang terjadi, kita ada dirumah.” Nyi Krawangan mengangguk.
Katanya “Baiklah. Biarlah Delima mencuci di sumur saja nanti.”
Tetapi ketika kemudian matahari terbit, Delima telah mengumpulkan
cuciannya di dalam bakul yang selalu dibawanya mencuci ke sungai.
“Delima,” berkata ibunya “kau nanti tidak usah pergi ke sungai. Kau
cuci saja pakaian kotor itu di sumur.” “Kenapa? “ bertanya
Delima. “Kau tahu bahwa baru semalam terjadi keributan. Banjar
kita masih berasap. Kita tidak tahu apakah orang-orang dari
padepokan semalam ada yang menjadi korban. Maksudku, terbunuh.
Karena itu, maka sebaiknya kita berkumpul saja dirumah. Mungkin
pamanmu akan datang memberikan penjelasan, apakah keluarga kita
dianggap terlibat atau tidak.” Delima termangu-mangu sejenak. Tetapi
rasa-rasanya ia ingin pergi ke sungai, justru karena semalam terjadi
keributan. Apakah orang bongkok itu masih datang atau benar-benar
menjauhkan dirinya dari padukuhan ini. Karena itu, maka Delima
itupun berkata “Tetapi mencuci di sungai lebih bersih ibu. Lagi pula
aku tidak usah menimba air.” “Tetapi suasananya tidak menguntungkan
Delima. Sebaiknya kau tetap dirumah. Jika terjadi sesuatu di
padukuhan ini karena peristiwa yang terjadi semalam, kita sudah
berkumpul di rumah.” Delima menjadi kecewa. Tetapi ia memang menjadi
cemas bahwa sesuatu akan terjadi di padukuhan itu sebagaimana
dikatakan oleh ibunya. Bahkan mungkin sesuatu akan terjadi pada
keluarganya, karena kecurigaan orang-orang dari padepokan Kiai Banyu
Bening terhadap keluarganya. Orangorang dari padepokan itu dapat
menganggap bahwa keluarganya merupakan jembatan kehadiran orang
bongkok itu di padukuhan. Karena itu, maka Delima pun memutuskan
untuk tidak pergi ke sungai hari iiu. Ia akan mencuci di sumur.
Tetapi Delima itu pun kemudian berkata kepada adiknya, “Kau harus
membantu aku menimba air.” “Aku membantu menggosok dengan lerak
saja,“ jawab Kenanga. ”Kau tidak boleh malas.” ”Aku sudah
mencuci mangkuk.” “Sudahlah,“ ibunya memotong, ”bukankah ayahmu
sudah mengisi jambangan sampai penuh. Nanti ayahmu akan mengisinya
lagi.” “Bukan karena jambangan penuh ibu. Tetapi Kenanga tidak boleh
bermalas-malasan saja. Ia menjadi semakin tumbuh dan menjadi besar.
Ia tidak boleh selalu bermanja-manja.” “Delima, kau kenapa
sebenarnya? Bukankah kau tidak pernah berkata demikian?” Delima
termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab lagi. Dipugutnya
bakul yang berisi pakaian-pakaian kotor itu dan dibawanya ke sumur.
Sambil berjalan ia melihat adiknya mengusap matanya yang basah.
Sambil melangkah Delima berdesis perlahan yang hanya dapat
didengarnya sendiri, ”Anak manja yang cengeng.” Tetapi ketika ia
mulai duduk di atas dingklik kayu setelah merendam pakaian-pakaian
yang kotor itu, hatinya menjadi luluh melihat Kenanga melangkah
mendekatinya sambil berusaha menghapus air matanya. “Biar aku
menimba air kak? “ suaranya agak serak. Delima memandang adiknya
yang berdiri termangu-mangu. Namun katanya” Sudahlah Kenanga.
Jambangan itu sudah penuh. Ayah sudah mengisinya.” “Tetapi kak
Delima marah” berkata adiknya. “Tidak. Aku tidak marah
Kenanga.” Kenanga masih ragu. Selangkah ia mendekat, sementara
Delima berkata, “marilah. Bantu aku menggosok dengan lerak!” Kenanga
pun kemudian berjongkok di sebelah Delima. Dicobanya untuk membantu
mencuci pakaian-pakaian yang kotor itu. Dalam pada itu, Delima
sempat merenungi dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba saja ia menjadi
kesal. Namun akhirnya Delima menyadari bahwa ia menjadi kecewa
karena ia tidak dapat pergi ke sungai untuk bertemu dan berbicara
dengan orang bongkok itu. Tetapi ia telah menimpakan kekesalannya
itu kepada adiknya. Dalam pada itu, Ki Krawangan yang duduk di ruang
dalam masih saja merasa gelisah. Nyi Krawangan yang sibuk di dapur,
sempat melupakan kegelisahannya sejenak, justru karena kesibukannya.
Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Ki Krawangan bergegas
menyongsong kakaknya yang benarbenar telah datang ke rumahnya.
Dipersilahkannya kakaknya itu duduk didalam. Rasa-rasanya Ki
Krawangan tidak sabar menunggu, apa yang akan dikatakan oleh
kakaknya itu. “Krawangan,“ berkata kakaknya “beberapa orang kawanku
memang mempertanyakan hubunganmu dengan orang bongkok itu.” “Tetapi
kakang tahu, bahwa aku tidak mempunyai hubungan apa-apa.” “Ya.
Para cantrik yang kemarin ada disini itu juga mengatakan bahwa kau
tidak mempunyai hubungan apa-apa.” kakaknya itu termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya “Tetapi sekarang yang ada hanya aku,
Krawangan. Aku ingin kau berkata dengan jujur. Apakah sebenarnya kau
mempunyai hubungan atau tidak.” Sementara itu Delima yang diberitahu
oleh ibunya, bahwa pamannya telah datang, berkata kepada adiknya,
”Kau tunggu cucian ini Kenanga. Jika kau dapat membantu, lakukanlah.
Tetapi jika kau merasa lelah, tunggui sajalah disini.” Kenanga yang
masih dibayangi oleh kemarahan kakaknya tidak berani membantah.
Sambil mengangguk Kenanga menyahut “Baik, kak. Tetapi jangan
lama-lama.” “Tidak. Aku tidak akan menunggui pembicaraan ayah dan
paman sampai selesai.” Bersama ibunya, maka Delima pun kemudian
masuk ke dalam. Tetapi keduanya tidak menemui pamannya. Keduanya
berusaha mendengarkan pembicaraan Ki Krawangan dengan kakaknya yang
menjadi salah seorang penghuni padepokan Kiai Banyu Bening dari
balik dinding. Dalam pada itu, Krawangan berusaha menjelaskan sekali
lagi, kenapa orang bongkok itu pernah berada dirumahnya sebelum
terjadi peristiwa yang mengguncang tatanan yang dibuat oleh
orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu. Kakak Ki Krawangan
itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berkata, ”Ternyata
segala sesuatunya telah disusun dengan rapi oleh orang bongkok itu.
Tetapi kenapa ia telah memilih rumah ini? Apakah orang bongkok itu
mengetahui, bahwa kau adalah adik dari salah seorang penghuni
padepokan itu?” “Aku tidak tahu, kakang. Yang aku ketahui,
orang bongkok itu ada didepan rumahku. Sementara itu, ia mengaku
kelaparan dan kehausan.” Kakak Ki Krawangan itu kemudian berdesis,
”Ternyata kelompok mereka terdiri dari beberapa orang berilmu
tinggi. Semalam, tiga orang kawanku terluka cukup berat. Seorang
diantaranya jiwanya sangat terancam. Sedangkan yang lain. semuanya
terluka dan pingsan. Aku juga tiba-tiba saja tidak ingat apa-apa
lagi.” Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian (teks
tdk terbaca) “Dua orang-orang yang tidak dikenal ini dikatakan telah
membakar banjar dengan sengaja uniuk memberikan kesan kemurkaan Sang
Maha api.” Wajah kakak Ki Krawangan itu menjadi tegang. Sementara
kepada kakaknya, Ki Krawangan itu berkata “Aku hanya berani
mengatakan kepadamu kakang. Aku tidak berani mengatakan kepada
siapapun juga, karena akan dapat menimbulkan salah paham. Bahkan aku
tidak berani membicarakannya dengan orang-orang yang juga mendengar
langsung keterangan orang yang tiba-tiba saja muncul dari reruntuhan
banjar itu.” “Mereka akan dapat menghancurkan padepokan Kiai Banyu
Bening itu.” Ki Krawangan melihat kecemasan di wajah kakaknya. Namun
kemudian diberanikan dirinya untuk bertanya, ”Kakang, kakang minta
agar aku berkata dengan jujur. Akupun telah menjawab semua
pertanyaan kakang dengan jujur. Sekarang, apakah aku juga dapat
minta kakang menjawab pertanyaanku dengan jujur dan tidak
menimbulkan salah paham. Jika kakang bersedia menjawab dan tidak
akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka aku akan
mengajukan beberapa pertanyaan. Tetapi jika kakang berkeberatan,
maka akupun akan mengurungkannya.” Wajah kakak Ki Krawangan itu
menjadi tegang. Tetapi ia seakan-akan mempunyai hutang kepada
adiknya. Ketika adiknya itu menagihnya, maka sulit baginya untuk
mengelak. “Apa yang akan kau tanyakan?“ desis kakaknya. Ki Krawangan
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian barulah ia bertanya, ”Apakah
yang dikatakan oleh orang yang tiba-tiba saja muncul dari rerumputan
itu benar?” “Yang mana yang kau maksudkan?” kakak Ki Krawangan
memang menjadi agak bingung. “Maksudku, aku ingin mendapat jawaban
tentang apakah benar bahwa banjar itu memang sengaja dibakar?
Kemudian apakah benar, bahwa sebenarnya upacara yang dilakukan
setiap bulan purnama yang mengarah kepada penyerahan korban seorang
bayi itu semata-mata karena dendam yang membakar jantung Kiai Banyu
Bening dan sama sekali tidak ada hubungan dengan kepercayaan tentang
kesejahteraan lahir dan batin?" Wajah kakak Ki Krawangan menjadi
sangat tegang. Dengan nada berat ia berkata, ”Jangan bertanya kepada
siapapun tentang kebenaran ceritera itu. Jika terdengar orang-orang
dari padepokan, maka kau akan dapat dibunuh.” “Sudah aku katakan,
kakang. bahwa aku tidak berani berbicara tentang keterangan
orang-arang yang tidak dikenal itu dengan siapapun juga. Bahkan
dengan orang-orang yang langsung mendengarnya.” Kakak Ki Krawangan
itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, ”Krawangan. Jika
semula aku hanya ingin tahu tentang isi padepokan Kiai Banyu
Bening, maka akhirnya aku terjerat didalamnya. Sulit bagiku dan bagi
orang-orang yang sudah terikat dapat melepaskan diri. Kami,
orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening itu, satu dengan yang lain
selalu saling mencurigai, saling mengawasi dan jika perlu saling
membunuh di antara kami.” “Jadi bagaimana menurut pendapat kakang
tentang ceritera orang yang tidak dikenal itu?” Kakak Ki Krawangan
itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Sebagian besar dari yang
dikatakannya itu benar, Krawangan. Banjar ini memang sengaja
dibakar. Aku sebagai penghuni padukuhan ini sebenarnya merasa
berkeberatan. Tetapi aku tidak berani mencegahnya, agar tidak
menimbulkan masalah baru. Sedangkan dendam yang menyala dihati Kiai
Banyu Bening tentang bayinya yang terbakar itu juga benar.” “Jika
demikian, apa artinya sebuah padepokan dengan para pengikutnya yang
besar dan bahkan semakin besar? Mungkin Kiai Banyu Bening mendapat
kepuasan kelak, jika korban bayi itu sudah dimulai. Ia akan merasa
bahwa ia tidak sendiri kehilangan anak bayinya yang ditelan api. Ia
akan tertawa mendengar jerit bayi yang kepanasan dan kemudian
membakarnya menjadi abu. Tetapi apa yang didapatkan oleh para
pengikutnya, seperti kakang, misalnya. Atau orang bertubuh raksasa
yang terluka itu. Atau yang lain lagi. Bahkan yang hampir mati
terbunuh oleh orang- orang yang tidak dikenal itu. “Krawangan, isi
padepokan itu bukan sekedar orang-orang yang sesorah mengelabuhi
banyak orang dengan ceritera Sang Maha Api. Tetapi dipimpin oleh
Kiai Banyu Bening sendiri sekelompok orang telah berkeliaran dengan
alasan untuk mendapatkan dana bagi perkembangan padepokannya
serta menyebarkan kepercayaan untuk mendapatkan kesejahteraan
lahir dan batin.” “Bagaimana cara mereka untuk mendapatkan dana
itu?” “Kau sengaja bertanya untuk memancing agar aku menyebutnya?
Baiklah. Kami memang sering melakukan perampokan. Tentu tidak atas
nama padepokan Kiai Banyu Bening. Selanjutnya, di kemudian hari,
jika kami sudah berhasil mengikat orang-orang yang sudah terlanjur
percaya, maka kami akan dapat memeras mereka. Uang dan barangbarang
itu akan mengalir dengan sendirinya ke padepokan kami.” “Dan kakang
menjadi salah seorang diantara mereka?” bertanya Ki Krawangan. “Aku
sudah terlanjur terlibat didalamnya. Sulit bagiku untuk melepaskan
diri. Jika aku hilang dari lingkungan mereka, maka semua keluargaku
tentu akan ditumpas habis. Termasuk kau dan anak isterimu. Apalagi
sekarang, setelah orang bongkok itu hadir di padukuhan ini,”
kakaknya berhenti sejenak. Namun kemudian dengan kerut yang semakin
dalam di keningnya ia berkata, “Selama ini aku adalah salah seorang
diantara mereka yang mendapat kepercayaan itu untuk tetap dapat
berbuat banyak. Tetapi aku sebenarnya sedang mencari jalan untuk
keluar dari neraka itu. Apalagi Kiai Banyu Bening sudah mengatakan
niatnya, untuk benar-benar mengorbankan seorang bayi meskipun baru
akan dilakukan di padepokan itu saja.” Ki Krawangan menarik nafas
dalam-dalam. Semula ia tidak mengira bahwa kakaknya itu justru
merasa tersiksa. Ia mengira bahwa kakaknya benar-benar merasa
terpanggil untuk bekerja keras menyebarkan kepercayaan yang
sekedar menjadi selubung dari satu gerakan yang kotor. Dendam
dan pemerasan. Tetapi Krawangan sendiri tidak berdaya untuk membantu
kakaknya melepaskan diri dari lingkungan yang terkutuk itu. Kakaknya
yang melihat wajah Ki Krawangan menjadi muram, berkata “Sudahlah.
Jangan hiraukan aku. Aku akan dapat menjaga diriku sendiri.” Ki
Krawangan mengangguk-angguk. Katanya “Maaf kakang. Aku tidak dapat
membantu apapun juga.” “Aku mengerti” jawab kakaknya, jika kau
melibatkan diri, maka kaulah yang lebih terancam daripada aku
sendiri. Bahkan dengan anak dan isterimu. Karena itu, kau justru
harus berdiri pada jarak tertentu. Sementara ini aku masih orang
yang dipercaya sehingga sikapku masih harus tidak berubah.” Ki
Krawangan mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baik kakang.”
Demikianlah, maka kakak Ki Krawangan itupun segera minta diri.
Sebelum ia meninggalkan tempat itu ia berkata, “Kau harus
berhati-hati Krawangan. Meskipun sampai, saat ini kau masih
di-anggap bersih tetapi kau termasuk salah seorang yang pernah
dibicarakan oleh para pemimpin padepokan Kiai Banyu Bening itu.”
“Ya, kakang. Tetapi sebenarnyalah aku tidak mempunyai hubungan
apa-apa dengan orang bongkok itu.” Sejenak kemudian, maka kakak Ki
Krawangan itu telah meninggalkan rumah adiknya. Sementara Ki
Krawangan mengantarnya sampai ke luar regol halaman rumahnya.
Ketika seseorang lewat didepan regol itu, maka iapun telah
mengangguk dalam-dalam. Mereka menganggap bahwa kakak Ki Krawangan
itu adalah salah satu dari antara orang-orang yang dihormati di
padepokan Kiai Banyu Bening, karena kakak Ki Krawangan itu sudah
mendapat wewenang untuk memberikan sesorah di sanggar diluar
padukuhan itu. Karena kakaknya itu pula, maka Ki Krawangan sendiri
termasuk orang yang dihormati pula di padukuhan itu. Delima dan
ibunya mendengar semua pembicaraan itu. Ibunya, seperti juga
ayahnya, sama sekali tidak melihat jalan yang dapat ditetapkan oleh
kakak Ki Krawangan itu. Namun Delima agak su8ngkan untuk
menyampaikannya kepada orang bongkok itu apabila mendapat
kesempatan. “Besok aku akan mencuci di kali. Mudah-mudahan orang
bongkok itu masih mau datang lagi.” berkata Delima didalam hatinya.
Sebenarnyalah di keesokan harinya, Delima telah minta ijin ayah dan
ibunya untuk mencuci di kali. “Suasananya masih belum menentu,
Delima,” berkata ibunya. “Jika terjadi sesuatu, tentu telah terjadi
kemarin, ibu,” jawab Delima “agaknya memang tidak terjadi sesuatu.
Apakah paman mengatakan bahwa crang-orang dari padepokan itu
akan berbuat sesuatu atas orang-orang padukuhan ini?” “Tidak” jawab
ayahnya, “tetapi kita harus tetap berhatihati.” “Bukankah aku tidak
akan berbuat apa-apa, ayah. Hanya mencuci pakaian. Tidak lebih.” Ki
Krawangan menarik nafas panjang. Namun akhirnya ia berkata “Tetapi
jangan terlalu lama. Kaupun harus berhatihati. Jika bukan orang dari
padepokan, mungkin orang-orang yang tidak kita kenal itu masih
berkeliaran disini. Terutama orang bongkok itu.” “Bukankah orang
bongkok itu tidak berniat jahat? Ia justru mencoba untuk
mengingatkan kita, bahwa jalan yang selama ini kita tempuh harus
kita pertimbangkan lagi.” “Delima “potong ayahnya “kau jangan
berkata begitu. Hatihatilah dengan setiap kata yang kau lontarkan.
Jika lidahmu tergelincir maka kau akan dapat terjerumus kedalam
kesulitan” Delima memandang ayahnya dengan tajamnya. Namun kemudian
ia mengangguk kecil sambil menjawab, ”Ya, ayah.” “Untuk selanjutnya,
kau jangan mengatakan apa saja tentang hubungan kita dengan
orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening, Mereka adalah
orang-orang tanpa hati tanpa jantung.” Delima mengangguk pula.
Katanya, ”Ya, ayah.” “Nah, berhati-hatilah. Jangan terlalu
lama.” Delima pun kemudian membawa bakul berisi pakaian yang
kotor itu ke sungai. Seperti biasanya iapun merendam cuciannya.
Satu-satu ia mulai mencuci dengan lerak. Beberapa saat lamanya
Delima mencuci. Ternyata memang belum ada orang lain yang keluar dan
mencuci pakaiannya di kali sebagaimana dilakukan oleh Delima,
sehingga karena itu, maka Delima itupun berada di tepian itu
sendiri. Setiap kali Delima selalu memandang genunbul-gerumbul
di-seberang. Orang bongkok dan kedua orang cucunya, atau
kadang-kadang sendiri, sering keluar dari gerumbul disederang. Namun
setelah i a menunggu beberapa lama, namun orang bongkok itu belum
juga keluar dari dalam gerumbul. “Agaknya kakek bongkok itu tidak
mau lagi datang,“ berkata Delima didalam hatinya. Sebenarnya, ingin
menceriterakan sikap pamannya yang sangat menarik baginya. Pamannya
yang harus berada ditempat yang dibencinya, sehingga karena itu,
maka ia merasa selalu tersiksa. Tetapi Delima masih menunggu. Ia
masih. tetap mencuci meskipun sebenarnya cuciannya sudah bersih.
Sekali-sekali Delima meletakkan cuciannya. Bangkit terdiri dan
menggeliat karena pinggulnya terasa menjadi pegal. Namun orang
bongkok itu tidak juga datang. Akhirnya Delima menjadi kesal.
Dimasukkannya cuciannya yang sudah bersih itu kedalam bakulnya.
Dibenahinya pakaiannya, kemudian Delimapun siap untuk meninggalkan
tepian. Namun langkah Delima berhenti. Dua orang laki-laki
berjalan kearahnya. Dua orang laki-laki yang agaknya belum
dikenalnya. Tetapi ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat,
maka Delimapun merasa pernah melihat wajah kedua orang itu. Namun
Delima tidak menghiraukannya. Ia tidak tahu pasti, apakahia pernah
melihat atau belum. Tetapi ketika ia melangkah sambil menjinjing
bakulnya, salah seorang dari kedua orang itu memanggilnya, “nDuk.
Tunggu.” Karena tidak ada orang lain, maka Delimapun merasa bahwa
orang itu telah memanggilnya. Karena itu, maka Delimapun telah
berhenti. “Tunggu,” berkata orang itu pula. ”Kenapa kau tergesagesa
pergi? Bukankah hari masih pagi?” Delima merasakan nada yang tidak
wajar pada suara lakilaki itu. Karena itu, maka iapun justru telah
melangkah pula naik ke tanggul. Tetapi laki-laki itu berkata lebih
keras lagi. “Tunggu, he nduk. Jangan pergi. Ada yang ingin aku
katakan kepadamu.” Delima tidak menghiraukannya. Justru ia menjadi
semakin ketakutan. Karena itu, maka ia berusaha untuk. semakin cepat
meninggalkan tempat itu. Tetapi kedua orang laki-laki itu juga
melangkah semakin cepat. Ketika Delima hampir mencapai ujung
tanggul, kedua orang itu sudah berada dibawahnya. Bahkah seorang
diantara mereka telah memegang kaki Delima dan menariknya dengan
kasar. Delima terseret turun. Bakulnya terlepas dari tangannya
dan. bahkan ia sendiri bergulir, beberapa kali dan kemudian
terbaring kembali di tepian. Delima dengan tergesa-gesa berusaha
bangkit. Sementara kedua orang laki-laki itu tertawa berkepanjangan.
“Kau akan lari kemana nduk?” bertanya salah seorang dari keduanya.
Wajah Delima menjadi pucat. Ia menyesal, bahwa ia telah pergi ke
kali untuk mencuci. Kenapa ia tidak mendengarkan nasehat ayah dan
ibunya, agar tidak pergi dalam suasana yang masih tidak menentu.
Tiba-tiba saja Delima mulai mengenali kedua orang itu. Keduanya
tentu orang dari padepokan Kiai Banyu Bening. Dengan gagap Delima
pun bertanya “Siapakah kalian berdua?” Kedua orang itu masih
tertawa. Seorang dari merekapun kemudian menyahut “Tidak ada gunanya
kau mengetahui siapa kami.” “Kenapa kalian menggangguku?“ bertanya
Delima pula. “Kami tidak mengganggumu. Kami hanya ingin dudukduduk
bersamamu disini. Kenapa kau lari?” “Aku harus segera pulang. Aku
harus masak bagi keluargaku.” “Itu tidak perlu” jawab salah seorang
dari kedua orang itu” lebih baik bersama kami disini.” Delima
benar-benr menjadi ketakutan. Mata kedua orang laki-laki itu menjadi
semakin liar. Tepian itu memang sepi. Biasanya banyak
kawan-kawannya yang mencuci pakaian. Sekali-sekali ada orang yang
memandikan kerbau atau sapinya. Sering juga anak-anak yang
menggembalakan kambingnya bermain-main di tepian. Atau seorang
pencari ikan yang menyusuri arus sungai itu. Tetapi hari itu tepian
itu sama sekali tidak disentuh kaki seorangpun kecuali Delima.
Ternyata kedua orang ini benar-benar menjadi liar. Seorang diantara
mereka berkata, “Marilah. Kita bawa anak ini ke seberang. “Jangan”
Delima mulai menangis. “Diam kau,” bentak salah seorang dari kedua
orang itu. ”Aku akan berteriak “ tangis Delima. “Tidak akan ada
orang yang mendengar. Tetapi jika kau lakukan juga, aku akan
membunuhmu.” Ternyata Delima tidak menghiraukannya. Ia benar-benar
berteriak nyaring. Tetapi dengan cepat, kedua orang laki-laki itu
menyergapnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Iblis
betina,“ geram yang seorang. Tetapi yang seorang berkata “Aku senang
kepada perempuan yang tidak mudah menyerah. Marilah, kita bawa anak
ini keseberang. Cepat.” Namun sebelum kedua orang laki-laki itu
menyeret Delima keseberang, maka tiba-tiba seseorang telah berdiri
diatas tanggul memandangi mereka dengan dahi yang berkerut.
Kedua orang laki-laki yang menyeret Delima itu terkejut. Tetapi
keduanya menarik nafas lega. Seorang diantara mereka berdesis, ”Ki
Warana. Aku kira siapa?” “Apa yang kalian lakukan?“ bertanya orang
itu. Kedua orang laki-laki itu tertawa. Katanya, “Biasa, Ki Waraha.
Kami sudah terlalu lama tenggelam didalam tugas yang tidak
berkeputusan. Tiba-tiba saja kami melihat perempuan yang kesepian
ini. Kami memang merasa kasihan, sehingga kami perlu menemaninya.“
Delima memandang orang yang berdiri di atas tanggul itu dengan mata
yang tanpa berkedip. Tetapi mulutnya justru bagaikan membeku. Delima
tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian atas dirinya meskipun
orang itu hadir diatas tanggul. Namun dengan nada berat orang itu
berkata, “Lepaskan anak, itu.” “He?” kedua orang laki-laki ini
terkejut. ”Lepaskan,” suara orang yang berdiri di atas tanggul itu
menjadi semakin keras. Delima mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba
saja ketegangan yang mencengkamnya sehingga membuat mulutnya
bagaikan membeku itu, larut dalam satu pengharapan. Karena ini, maka
tiba-tiba saja Delima berteriak, ”Paman.” Kedua orang laki-laki itu
terkejut. Sejenak mereka termangu-mangu, tetapi mereka belum
melepaskan Delima. “Lepaskan,” berkata orang yang berdiri diatas
tanggul itu semakin lantang. ”Anak itu kemanakanku, kalian dengar?”
”Tetapi, tetapi .......” salah seorang laki-laki itu berdesis.
“Biarlah anak itu pulang kepada orang tuanya.” Namun tiba-tiba
seorang dari kedua orang itu berkata “Ki Warana, hal itu tidak
biasa. Biasanya tidak ada orang yang mencampuri persoalan orang lain
di padepokan.” “Ini bukan persoalan orang lain. Aku sudah
mengatakan, anak itu kemanakanku, apakah kalian tuli?” Tetapi kedua
orang itu tidak mau kehilangan korbannya. Karena itu, maka seorang
diantara mereka berkata “Kami tidak akan melepaskan anak ini. Kami
memerlukannya.” Orang yang berdiri diatas tanggul itu melangkah
turun. Demikian ia berdiri di tepian, maka suaranya yang berat
terdengar lagi, ”Lepaskan, biarlah aku membawanya pulang. Gadis itu
anak adikku.” “Aku tidak peduli,“ jawab salah seorang dari kedua
orang itu. “Aku memberi peringatan terakhir kepada kalian. Jika
kalian tidak melepaskannya, maka kita akan membuat perhitungan
menurut kebiasaan kita, orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening.
“Bagus,” sahut seorang diantara kedua orang yang menangkap Delima
itu, ”kami akan membunuhmu. Kaulah yang mencari persoalan. Karena
itu, jika kau mati, adalah karena salahmu sendiri. Wajah Ki Warana,
kakak Ki Krawangan itu menjadi merah. Dengan geram ia berkata, “Jadi
kau berdua sudah berani menentang aku, he? Berapa lama kalian berada
di padepokan. Kalian sudah berani menentang orang-orang tua di
padepokan itu. Karena itu, maka kalian tidak pantas lagi berada
di padepokan Kiai Banyu Bening, karena kau tentu hanya akan
membuat air yang mengalir dari padepokan menjadi keruh.” Kedua orang
itu termangu-mangu sejenak. Tetapi benak mereka telah dicengkam oleh
nafsu iblis yang menyuruk kedalamnya. Karena itu seorang diantara
mereka berkata, “Ki Warana. Kami berani menentangmu, karena kau
memiliki kelainan dari orang-orang tua yang lain. Mereka tidak akan
pernah menghalangi apapun yang kami lakukan. Tetapi kau telah
mencoba merampas sesuap nasi yang sudah berada di mulutku. Karena
itu, siapa pun orangnya, akan kami lawan dengan segenap kemampuan
kami. Tetapi melawan orangorang tua yang tidak berarti seperti kau,
tidak boleh setengahsetengah. Jika kakiku menginjak ular, maka
sebaiknya aku injak kepalanya sampai mati, agar ular itu tidak akan
mematuk aku dikemudian hari.” Ki Warana tidak dapat menahan diri
lagi. Iapun segera bergeser mendekati kedua orang itu. Kedua orang
itupun segera bersiap pula. Seorang di antara mereka masih memegangi
Delima. Dengan geram Ki Warana pun telah menyerang salah seorang
diantara mereka, sedangkan yang lain justru telah menyeret Delima
agak menjauh. Sejenak kemudian, terjadi perkelahian antara salah
seorang diantara kedua orang itu dengan Ki Warana. Namun Ki Warana
memang memiliki banyak kelebihan. Dalam waktu singkat, lawannya
telah terdesak. Beberapa kali serangan Ki Warana sempat mendorong
lawannya, sehingga kadang-kadang keseimbangannya pun telah
terguncang. Namun dalam keadaan yang paling gawat bagi orang
itu, terdengar kawannya berteriak “Cukup. Hentikan perkelahian atau
gadis itu akan mati.” Ki Warana terkejut. Iapun kemudian melihat
tangan orang yang memegangi Delima itu mencengkam lehernya. “Setan
licik,“ geram Ki Warana “jika kalian laki-laki sebagaimana penghuni
padepokan Kiai Banyu Bening, lepaskan gadis itu. Kita bertempur
sampai tuntas disini. Aku tidak berkeberatan jika kalian bertempur
berdua. “Persetan dengan igauanmu itu. Sekarang kau harus memilih,
kau atau gadis ini yang mati.” Wajah Ki Warana menjadi sangat
tegang. Tetapi Delima seakan-akan tidak lagi dapat bernafas. Tangan
orang itu benar-benar telah mulai mencekik leher Delima. “Cepat,
katakan. Kau atau gadis ini yang akan mati.” Ki Warana menjadi
semakin tegang. Namun kemudian iapun berdesis, “Jika kau bunuh aku,
apa jaminanmu, bahwa gadis itu akan tetap hidup tanpa kau sakiti?”
“Kau tidak dapat menuntut jaminan apapun. Sekarang, berbaringlah
menelungkup. Kami akan menghancurkan kepalamu dengan batu. Jika kau
mati ditepian, maka anak ini akan tetap hidup.” Namun tiba-tiba
Delima berteriak, “Jangan hiraukan aku paman.” Tetapi suaranya pun
segera tertelan. Tangan yang kuat telah menutup mulutnya. Tetapi
nampaknya Delima memang sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Ketika tangan itu menutup mulutnya, Delima justru telah membuka
mulutnya itu. Demikian tangan itu berada diantara giginya,
maka Delima telah menggigit tangan itu keras-keras. Orang itu
berteriak kesakitan. Justru pada saat itu, Delima merenggut dirinya
dari tangan orang itu dan berusaha berlari meninggalkan tepian. Ki
Warana tanggap akan keadaan itu. Dengan cepat ia meloncat memburu
ketika orang yang kesakitan tangannya yang berusaha menggapai Delima
lagi. Orang itu memang mengurungkan niatnya mengejar Delima. Ia
harus dengan cepat mempersiapkan diri melawan Ki Warana yang
menyerangnya seperti badai. Tetapi pada saat itu, orang yang hampir
dikalahkan oleh Ki Warana itulah yang kemudian berlari memburu
Delima yang naik keatas tanggul. Delima memang mempunyai sedikit
waktu berlebih. Tetapi ia memang tidak setangkas lawannya. Ketika ia
hampir sampai diatas tanggul, maka orang yang mengejarnya itu hampir
saja dapat menggapainya. Tetapi tiba-tiba saja orang ku menjerit
kesakitan. Tubuhnya meluncur dan berguling jatuh ke tepian.
Sementara itu Delima telah berdiri di atas tanggul. Namun yang
sangat mengejutkan orang-orang yang berada di tepian itu adalah,
seorang yang bertubuh bongkok duduk diatas tanggul itu. Ki Warana
pun berdiri termangu-mangu. Ia tahu, bahwa orang bongkok itu telah
memusuhi seisi padepokan Kiai Banyu Bening. Tetapi orang
bongkok itupun kemudian berkata “Delima, beruntunglah bahwa kau
telah ditolong oleh pamanmu. Tetapi persoalan pamanmu dengan kedua
orang itu belum selesai.” “Setan, kau bengkok.” geram salah seorang
dari kedua orang yang akan menyeret Delima “jangan lari. Kami akan
membunuhmu.” Orang bongkok itu tertawa. Katanya, ”Kalian tidak usah
mengurusi aku. Aku berjanji tidak akan mencampuri persoalan kalian
sendiri. Akupun tidak akan mengganggu Delima. Ia anak baik. Sudah
sepantasnya ia kembali kepada orang tuanya.” Ki Warana
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata
“Aku ingin mengambil keuntungan dari keadaan kami sekarang ini
bongkok?” “Tidak Ki sanak. “jawab Ki Pandi “tetapi baiklah. Jika
kalian menganggap aku mengganggu. Biarlah aku pergi.” “Dan kau akan
mempergunakan kesempatan itu untuk mengganggu Delima?” bertanya Ki
Warana. Ki Warana justru terkejut ketika Delima menjawab, “Tidak
paman. Kakek bongkok itu tidak akan mengganggu Delima.” Ternyata
yang terkejut bukan hanya Ki Warana. Tetapi Delima sendiri ternyata
juga terkejut. Tetapi ia sudah terlanjur mengucapkannya. Tetapi
kedua orang yang mengganggu Delima itulah yang agaknya tidak ingin
melepaskan Delima. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata
kepada Ki Warana Kita tunda persoalan kita. Kita selesaikan dahulu
orang bongkok itu.” “Kemudian kau akan mengulanginya. Menangkap
Delima dan mengancamku?” “Pengkhianat kau,” geram orang itu.
Ki Warana sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia
mempercayai orang bongkok itu, bahwa ia tidak akan mengganggu
Delima. Karena itu, maka ia menganggap bahwa Delima telah aman
ditangan orang bongkok itu. Ki Warana menganggap bahwa kedua orang
itu justru lebih berbahaya dari orang bongkok itu. Yang terjadi di
sanggar itu juga menunjukkan bahwa orang bongkok dan kawan-kawannya
bukan orang jahat. Ternyata mereka tidak membunuh kawankawannya yang
sudah tidak berdaya. Mereka justru meninggalkan kawan-kawannya dari
padepokan meskipun mereka dapat membunuhnya dengan mudah jika mereka
inginkan. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “Biarlah Delima
dibawa oleh orang bongkok itu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku
justru lebih percaya kepada orang bongkok itu daripada kepada
kawan-kawanku sendiri.” “Bagus,“ geram salah seorang dari kedua
orang yang merasa kehilangan Delima itu, ”satu pihak diantara kita
memang harus mati. Jika kau masih hidup, maka kau tentu akan
melaporkan tingkah laku kami. Sebaliknya kami pun akan melaporkan
pengkhianatanmu, karena kau lebih mempercayai orang bongkok yang
sudah jelas ingin menghancurkan padepokan kita daripada kawan
sendiri.” “Persoalannya bukan persoalan padepokan atau yang
bersangkut paut dengan padepokan. Tetapi persoalannya menyangkut
kemanakanku, anak adikku. Nah, karena kita masing-masing mempunyai
mulut, sehingga kami masingmasing dapat memberikan laporan, maka
terserah kepada Kiai Banyu Bening, siapakah yang akan
dipercaya.” “Itu sama sekali tidak perlu” jawab orang iiu,
”karena kau akan mati disini. Mayatmu akan dibawa hanyut oleh arus
sungai itu meskipun tidak terlalu kuat. Saudara-saudara kita di
padepokan akan mengira bahwa kau telah dibunuh oleh orang bongkok
itu dengan kejam karena mayatmu akan kulumatkan. Jika mayatmu
kemudian hilang sampai ke muara, maka saudara-saudara kita di
padepokan akan mengira bahwa telah melarikan diri.” “Bagus” Ki
Warana mengangguk-angguk “jika demikian, biar kalian sajalah yang
mati.” Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba
saja keduanya menyerang hampir bersamaan. Jika seorang melawan
seorang, mereka tidak dapat mengalahkan Ki Warana, maka berdua
mereka tentu akan dapat menang. Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Warana
memang seorang yang berilmu tinggi. Meskipun kedua orang lawannya
menyerangnya seperti banjir bandang, namun tidak mudah bagi mereka
untuk dapat mengalahkan Ki Warana. Sementara itu Ki Warana pun tidak
lagi mengekang diri. Dengan kelebihannya, maka Ki Warana segera
mampu mendesak kedua orang lawannya. Tetapi kedua orang itu agaknya
tidak mau melihat kenyataan. Karena itu, maka keduanya masih
berusaha untuk dapat memenangkan perkelahian itu. Kedua orang itu
berusaha untuk memecah perhatian Ki Warana, Mereka menyerang dari
dua jurusan yang berbeda. Namun mereka berusaha untuk dapat
melakukannya bergantiganti, susul menyusul tidak
henti-hentinya. Tetapi Ki Warana sama sekali tidak menjadi
bingung, meskipun kadang-kadang ia juga terkejut mengalami serangan
yang datang tidak terduga. Tetapi Warana masih saja mampu mengatasi
keduanya, sehingga kedua lawannya itu semakin terdesak. Namun justru
karena keduanya tidak lagi mampu menguasai Ki Warana, maka
keduanyapun telah menggenggam senjata ditangan mereka. Keduanya
telah menarik pedang yang tergantung di lambung mereka. Ki Warana
yang melihat kedua orang lawannya telah menggenggam senjata,
meloncat beberapa langkah surut. Dengan wajah yang tegang iapun
kemudian berkata, “Senjata kalian akan mempercepat kematian kalian.
Bersiaplah untuk mati.” Kedua orang lawannya sama sekali tidak
mendengarkannya. Jantung mereka telah membeku. Bahwa Delima lepas
dari tangan mereka, membuat kedua orang itu seakan-akan menjadi
gila. Demikianlah, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Ki
Warana juga sudah memegang senjata ditangannya. Kedua orang yang
kehilangan buruannya itu menyerang berganti-ganti dari arah yang
berbeda. Namun kadang-kadang keduanya justru mengambil kesempatan
untuk bersama-sama meloncat maju dengan senjata teracu. Dalam
pertempuran bersenjata, Ki Warana memang harus mengerahkan
kemampuannya untuk melawan kedua orang itu. Ia harus mengerahkan
tenaganya. Perhatiannya yang terpecah membuatnya kadang-kadang
harus! meloncat mengambil jarak. Namun ternyata bahwa Ki
Warana yang bertempur dengan tangkas itu sempat membuat kedua
lawannya, terkejut ketika Ki Warana itu seakan-akan terbang
menyerang keduanya berganti-ganti. Demikian cepatnya senjatanya
menyambar lawannya yang seorang kemudian yang lainnya, Dalam puncak
kemarahannya, maka Ki Warana telah melenting dengan senjata terjulur
lurus menyusup pertahanan salah seorang lawannya. Terdengar teriakan
nyaring. Ujung pedang Ki Warana sempat menembus dada orang itu
sehingga meraba jantung. Ketika Ki Warana menarik senjatanya, maka
darahpun telah memancar dari dadanya, menghambur di tepian.
Sementara itu, kawannya tidak berhasil menyelamatkannya. Ketika ia
menyerang Ki Warana, ujung pedang Ki Warana sudah terlanjur menikam
jantung. Melihat kawannya sudah tidak berdaya, maka lawan Ki Warana
yang seorang lagi menjadi gentar. Berdua mereka tidak mampu
mengimbangi kemampuannya. Apalagi seorang diri. Karena itu, maka
orang itu berusaha untuk melarikan diri dari arena pertempuran.
Namun orang itu gagal memanfaatkan kesempatan. Ketika ia melangkah
meninggalkan arena, senjata Ki Warana justru telah mencapai
punggungnya. Orang itupun menjerit kesakitan. Ujung senjata Ki
Warana telah menembus pula punggung lawannya yang seorang lagi. Ki
Warana pun kemudian berdiri termangu-mangu memandang dua sosok tubuh
yang terbaring diam di tepian. Darah yang mengalir dari luka
mereka membasahi pasir dan kerikil yang terserak. Beberapa saat Ki
Warana berdiri mematung. Ternyata ia sudah membunuh kawannya
sendiri. Namun Ki Warana akan dapat mempertanggung jawabkan
tindakannya, karena kedua orang kawannya itu telah mengganggu
seorang gadis yang justru adalah kemanakannya. Selagi Ki Warana
masih berdiri termangu-mangu, maka terdengar suara Delima dari atas
tanggul, ”Paman.” Ki Warana tersentak. Ketika ia berpaling,
dilihatnya Delima berdiri disebelah orang bongkok itu. Bagaimanapun
juga, Ki Warana menjadi berdebar-debar. Orang bengkok itu tentu
orang yang berilmu sangat tinggi. Ia tidak tahu apa yang telah
dilakukan ketika tiba-tiba saja salah seorang diantara kedua orang
yang mengganggu Delima, yang hampir berhasil menangkap gadis itu
selagi ia memanjat tanggul, telah menjadi kesakitan dan berguling
dari lereng tanggul itu. Orang bongkok itu pula bersama-sama dengan
beberapa orang kawannya telah mengacaukan pertemuan di sanggar.
Bahkan orang bongkok yang hampir saja dikorbankan diatas api itu
bersama-sama dengan kawan-kawannya, telah mengalahkan beberapa orang
kawan-kawannya dari padepokan Kiai Banyu Beriing. Karena itu, jika
ia harus berhadapan seorang melawan seorang dengan orang bongkok
itu, maka ia harus sangat berhati-hati. “Atau segala sesuatunya
memang harus berakhir disini” berkata Ki Warana itu didalam
hatinya. Tetapi ia. menjadi heran ketika Delima justru
menggandeng tangan orang bongkok itu turun ketepian. Kepada orang
bongkok itu. Delima berkata, ”Ini adalah pamanku, kek. Kakak
ayahku.” Ki Pandi tersenyum. Katanya “Bukankah kita sudah
berkenalan, Ki Warana?“ “Ya,“ jawab Ki Warana. “Paman “ berkata
Delima “sambil mengamati paman bertempur melawan kedua orang itu,
aku sempat berceritera tentang paman.” “Tentang apa? Wajah Ki Warana
menjadi tegang. ”Tentang niat paman keluar dari padepokan Banyu
Bening” jawab Delima. “Siapa yang mengatakannya?” Ki Warana rhenjadi
tegang, “ayahmu?“ “Tidak, paman. Aku telah mendengar sendiri ayah
berbicara dengan paman dirumah.” jawab Delima. “Delima, kau telah
melanggar unggah-ungguh. Kau tidak boleh mendengarkan orang-orang
tua berbincang.” “Maaf, paman. Aku tidak sengaja mendengarkan paman
dan ayah berbincang. Tetapi aku kebetulan duduk dibelakang
dinding dan mendengarnya. Aku mencoba untuk melupakan pembicaraan
itu, tetapi aku membayangkan betapa paman setiaphari merasa
tersiksa, karena apa yang paman lakukan, sama sekali tidak sesuai
dengan nurani paman sendiri, karena itu, ketika hari ini kebetulan
aku bertemu dengan kakek bongkok, yang pernah aku kenal di rumahku
dan kemudian aku lihat kehadirannya di sanggar, maka aku ingin
mempertemukan paman dengan kakek bongkok ini.” “Delima ~ berkata
pamannya apakah sebelumnya orang bongkok itu sering datang
kerumahmu?” “Sekali paman. Ketika kakek bongkok itu mengaku
kelaparan dan kehausan. Ayah dan ibu merasa iba melihatnya dan
kemudian menolongnya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja kakek
bongkok ini mengatakan kepada ayah, berniat untuk ikut mendengarkan
sesorah didalam sanggar, sehingga kita lihat, apa yang terjadi
kemudian.” Ki Warana itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu, Ki
Pandi pun melangkah mendekat sambil berkata “Ki Warana. Aku memang
sudah mendengar dari Delima, apa yang Ki Warana katakan kepada Ki
Krawangan. Jika aku menemui Ki Warana sekarang, aku berniat untuk
membantu agar Ki Warana tidak selalu dibelenggu oleh keadaan.” Ki
Warana menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Untuk
waktu yang pendek ini, belum ada yang dapat aku lakukan, Ki Sanak.
Aku berterima kasih atas sikapmu. Aku kira kau mendendamku. Tetapi
temyata dugaanku keliru.” “Baiklah, Ki Warama. Aku akan selalu
menghubungi anak ini. Justru karena ia seorang gadis maka ia akan
luput dari pengawasan kawan-kawanmu.” Ki Warana
mengangguk-angguk. “Nah, sekarang, bagaimana dengan kedua orang
kawanmu itu?” Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya kepada Delima “Menyingkirlah Delima. Aku akan menguburkan
kedua orang kawahku ini di tepian. Aku tidak dapat berbuat lain.”
“Duduklah diatas batu itu,“ berkata Ki Pandi “aku akan membantu
pamanmu.. Kau tidak perlu melihat apa yang terjadi dengan kedua
orang itu.” Delima pun kemudian menurut. Ia duduk diatas sebuah batu
yang besar sambi! mengulangi membersihkan pakaian yang kotor . lagi
oleh debu dan pasir ketika bakulnya tertumpah. Ki Pandi memang telah
membantu Ki Warana membuat lubang di tepian yang memang agak lunak.
Kemudian memasukkan tubuh itu kedalamnya dan menimbuninya dengan
batu-batu kali. Agar tidak menarik perhatian, maka disekitarnya
telah ditaburkan batu kerikil dan pasir sebagaimana semula. Dirumah,
Ki Krawangan dan Nyi Krawangan menjadi gelisah. Delima sudah terlalu
lama pergi. Beberapa kali Kenanga sudah menanyakan, kenapa Delima
masih belum pulang. “Aku akan pergi ke tepian “ berkata Ki Krawangan
“mungkin terjadi sesuatu dengan anak itu.” “Anak ini memang keras
kepala” desis ibunya “seharusnya ia tidak pergi ke sungai.” Ki
Krawangan pun kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sungai. Tetapi
justru karena suasana yang masih belum menentu, maka Ki Krawanganpun
telah menyelipkan pedang dilambungnya. Tetapi demikian Ki Krawangan
keluar dari regol halaman, maka dilihatnya Delima melangkah sambil
menjinjing bakul berisi cuciannya. Ki Krawangan menarik nafas
dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat wajah Delima yang tidak
memberikan kesah sesuatu yang menggelisahkan. “Ayah akan kemana?“
bertanya Delima ketika ia melihat ayahnya berdiri termangu-mangu di
depan regol halaman rumahnya. “Kemana saja kau Delima?” ayahnya
ganti bertanya, “kami menjadi gelisah. Adikmu mulai merengek karena
kau tidak segera pulang. Justru dalam suasana yang tidak menentu
ini.” “Sekarang ayah akan mencari aku?” “Ya. Aku akan menyusulmu
ketepian.” Delima tersenyum. Katanya, ”Aku sudah pulang, ayah.
Bukankah aku tidak apa-apa?” “Kau memang tidak apa-apa. Tetapi
jantung kamilah yang apa-apa.” Delima justru tertawa. Katanya,
”Sebenarnya aku sudah selesai beberapa waktu yang lalu.” “Jadi
kenapa kau baru pulang sekarang?” “Ketika aku naik tebing, aku
tergelincir. Pakaian yang sudah bersih itu tumpah dan menjadi kotor
kembali. Nah, aku terpaksa mencucinya lagi ayah.” “Bukankah
ibumu sudah mengatakan, bahwa sebaiknya kau mencuci dirumah saja.”
Delima memandang ayahnya sekilas. Ia memang melihat kecemasan
membayang di mata ayahnya. Karena itu, maka Delimapun berkata,
”Marilah ayah. Mungkin ibu juga gelisah.” “Tidak sekedar mungkin.
Bukankah aku sudah mengatakan, seisi rumah menjadi gelisah. Kenanga
sudah ribut saja menanyakan kenapa kau tidak segera pulang.”
Keduanya pun kemudian masuk kembali ke regol halaman rumah
menyeberangi halaman. Kenanga yang melihat Delima datang diiringi
oleh ayahnya, segera berlari-lari mendapatkannya. “Lama sekali kau
di tepian kak?“ bertanya adiknya. Delima mengusap pipi adiknya
sambil berkata “Aku harus mencucinya dua kali, karena cucian yang
sudah bersih itu tumpah karena aku tergelincir ketika aku naik
tanggul” “Ah, lain kali hati-hati ya kak. Kau tidak terluka?”
Pertanyaan adiknya tiba-tiba membuat Delima merasa pedih di kakinya.
Tcringat olehnya betapa ngerinya ketika kawan pamannya itu menarik
kakinya ketika ia hampir sampai keatas tanggul. Ketika ia kemudian
mengamati kakinya, baru ia melihat bahwa kakinya memang tergores
kerikil. “Sakit kak?” bertanya adiknya. Tetapi Delima tersenyum.
Katanya “Tidak. Hanya sedikit pedih. Tetapi segera akan baik.” “Aku
carikan daun metir, kak.” “Ah. tidak seberapa,“ jawab Delima.
Ketika ia masuk ke dapur, ibunyapun menyatakan kegelisahannya karena
Delima tidak segera pulang. Ketika kemudian Delima menjemur
cuciannya dibelakang rumahnya, matahari telah menjadi agak tinggi.
Ia memang terlambat pulang. Namun yang terjadi di tepian membuatnya
sedikit berpengharapan, bukan saja tentang pamannya, tetapi justru
seisi padukuhannva akan dapat menyadari jalan sesat yang telah
mereka tempuh, bahwa selama ini mereka sekedar menjadi alas berpijak
oleh seorang yang membenci kenyataan yang dialaminya. Kemudian
dendamnya menebar ke lingkungan luas yang dapat dijangkaunya. Tetapi
jalan tentu masih agak jauh. Dalam pada itu, ketika Delima mendapat
kesempatan untuk berbicara dengan ayahnya seorang diri, maka Delima
pun telah menceriterakan apa yang telah terjadi di tepian. Hampir
saja ia menjadi korban kebiadaban orang-orang dari padepokan Kiai
Banyu Bening. Untunglah bahwa pamannya melihatnya. Bahkan kemudian
ternyata bahwa orang bongkok itu juga berada di tempat itu. “Paman
telah membunuh dua orang kawannya, ayah.” Ayahnya mengangguk-angguk.
Namun kemudian katanya, ”Dengan demikian, pamanmu ada dalam bahaya.”
“Paman telah berbicara langsung dengan kakek bongkok itu, ayah.
Tetapi nampaknya paman masih belum siap untuk mengambil
langkah-langkah penting untuk meninggalkan padepokan.” “Ya. Tentu
tidak dapat dilakukan dengan serta-merta. Bukan karena pamanmu
mencemaskan dirinya sendiri. Tetapi pamanmu justru memikirkan nasib
kita sekeluarga.” Delima mengangguk-angguk. Dugaannya tentang
pamannya ternyata keliru. Pamannya bukannya orang yang tidak
berjantung. Tetapi pamannya masih mempunyai perasaan wajar dan
bahkan selalu memikirkan keselamalan adiknya. Namun aknirnya Delima
tidak dapat menyimpan rahasianya lagi. Ketika orang bongkok itu
tidak lagi merupakan iblis yang dianggap menggoda untuk melemahkan
kepercayaan keluarganya, Delima merasa aman untuk mengatakan kepada
ayahnya, bahwa sejak sebelum peristiwa di sanggar itu terjadi, dan
bahkan sejak sebelum orang bongkok itu datang sebagai orang yang
kelaparan dan kehausan, Delima memang sudah mengenalnya. “Jadi, kau
sudah berhubungan dengan orang itu?” bertanya ayahnya. “Ya ayah,”
jawab Delima “tetapi aku takut mengatakannya kepada ayah.” Ki
Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata,
“Untunglah, bahwa keadaan berkembang ke arah yang menguntungkan bagi
kita. Sikap kakang yang tidak kita duga sebelumnya, serta
perkembangan padepokan Kiai Banyu Bening itu sendiri. Seandainya
yang terjadi sebaliknya, apa jadinya kita semuanya?” “Jika
perkembangannya tidak seperti ini, tentu aku tidak akan
mengatakannya kepada ayah,”' jawab Delima. “Baiklah Delima. Tetapi
kau harus tetap berhati-hati. Kita tidak tahu, apa yang terjadi
sebenarnya di sekitar kita. Kita tidak tahu, apakah orang-orang lain
di padukuhan ini mempunyai perasaan yang sama seperti kita.”
“Aku kira demikian, ayah. Aku kira sebagian besar orangorang
padukuhan kita mempertanyakan kebenaran sesorahsesorah yang sering
kita dengar di sanggar. Apalagi setelah peristiwa yang terjadi di
sanggar itu, serta banjar padukuhan kita terbakar. Orang yang
tiba-tiba muncul dari reruntuhan itu tentu kawan kakek bongkok itu
pula. Demikian pula yang tibatiba saja sudah berada di pintu gerbang
halaman banjar.” “Nampaknya mereka mempunyai kekuatan yang cukup,”
berkata Ki Krawangan. Namun kemudian katanya “Meskipun demikian,
sekali lagi aku peringatkan Delima, kita harus berhati-hati. Banyak
kemungkinan masih daput terjadi. Demikian juga hubungan kita dengan
padepokan Kiai Banyu Bening itu.” Delima mengangguk kecil. Namun
iapun menyadari, bahwa banyak hal yang tidak dapat diperhitungkan
dahulu mungkin akan terjadi. Peristiwa di pinggir kali itu, membuat
Ki Krawangan sehariharian merenung. Ia mulai menyadari, banwa
anaknya memang sudah menginjak usia dewasanya. Sementara itu,
orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening sering berkeliaran
kemana-mana. Mereka melakukan tindakantindakan yang tidak
terkendali. Agaknya, peristiwa yang hampir saja menimpa Delima itu
juga pernah menimpa gadis yang lain. Tetapi gedis itu, atau mungkin
orang tuanya, sama sekali tidak berani mengatakan kepada siapapun
juga, karena orang-orang dari padepokan itu tentu mengancamnya untuk
membunuh atau tindak kekerasan yang lain. Bersukurlah Ki Krawangan,
bahwa anaknya ternyata masih selamat. Tetapi tiba-tiba
terbersit pertanyaan “Mengucap sukur kepada siapa? Sang Maha Api?
Matahari atau rembulan?” Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam.
“Tidak. Tentu bukan Sang Maha Api yang telah menelan banjar
padukuhan itu. Karena ternyata banjar padukuhan itu telah dibakar
oleh orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening.” Dalam pada itu,
dari hari ke hari, orang-orang padukuhan itu masih tetap merasa
tegang. Mereka masih belum yakin, bahwa padukuhan mereka akan
benar-benar menjadi tenang. Apalagi ketika kepada orang-orang
padukuhan itu diberitahukan bahwa untuk sementara tidak ada kegiatan
apaapa didalam sanggar. “Orang bongkok dan kawan-kawannya akan dapat
mengacaukan suasana yang seharusnya hening itu” berkata orang dari
padepokan yang ditugaskan menemui orang-orang padukuhan. “Sementara
itu. orang-orang tua yang berada dirumah Ki Ajar Pangukan pun tidak
dengan tergesa-gesa mengambil tindakan. Mereka menunggu perkembangan
keadaan. Namun mereka tidak henti-hentinya mengamati padepokan Kiai
Banyu Bening, serta padukuhan yang pernah mereka rambah untuk
menyatakan, bahwa ada pihak yang menentang perbuatan Kiai Banyu
Bening, yang tidak lebih dari ungkapan gejolak perasaan pribadinya
yang penuh dengan dendam dan nafsu. Dihari-hari berikutnya, ternyata
Ki Pandi pun masih juga sering menemui Delima di pinggir kali,
ketika Delima mencuci pakaian. Bahkan masih belum ada orang lain
yang berani melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Delima. Namun
bagi Delima, hal itu justru menguntungkan baginya. Justru
karena tepian itu selalu sepi, maka bukan saja Ki Pandi yang_sering
datang, tetapi juga Manggada dan Laksana. Namun yang penting bagi Ki
Pandi, ia justru dapat selalu berhubungan pula dengan Ki Warana.
Ceritera yang menarik yang dibawa oleh Ki Warana adalah ceritera
tentang burung-burung elang yang sering berterbangan diatas
padepokan Kiai Banyu Bening. Ki Pandi selalu tertarik setiap kali ia
mendengar ceritera tentang burung-hurung elang. Ia sendiri pernah
melihat burung-burung elang itu terbang diatas padepokan Kiai Banyu
Bening itu. “Berhati-hatilah dengan burung elang itu “berkata Ki
Pandi kepada Ki Warana ketika mereka bertemu di tepian, justru saat
Delima sedang mencuci. “Aku juga pernah mendengar ceritera tentang
burungburung elang itu,“ berkata Ki Warana. “Burung-burung itu
selalu membawa perlambang buruk. Burung-burung elang berkuku timah
itu adalah milik seorang yang menamakan diri Panembahan Lebdagati.”
“Kiai Banyu Bening telah mendengar nama itu,“ desis Ki warana. “Ia
pernah membuat hal sama di daerah ini,” berkata Ki Pandi. “Ya. Kiai
Banyu Bening pernah mengatakan demikian. Karena itu, ia memilih
tempat ini untuk mengembangkan kepercayaan yang disebarkannya,
meskipun ia sendiri tidak pernah mempercayainya,“ sahut Ki Warana,
namun Panembahan Lebdagati itu sudah lebur bersama padepokannya
ketika padepokannya dihancurkan disini oleh pasukan Pajang dan
orang-orang berilmu tinggi yang menentang kepercayaannya.” “Aku ada
diantara mereka waktu itu,“ berkata Ki Pandi. Ki Warana
mengangguk-angguk. Dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa
orang bongkok itu tidak sekedar bermain-main jika ia berniat
menghancurkan padepokan Kiai Banyu Baning. “Berhati-hati sajalah,“
pesan Ki Pandi “jika elang itu sudah semakin sering nampak dan
berputar-putar, maka itu merupakan isyarat bahwa Panembahan
Lebdagati akan segera datang.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya
“Kiai Banyu Bening menganggap bahwa Panembahan Lebdagati sudah
benar-benar tidak ada. Jika ada orang yang menamakan Panembahan
Lebdagati, maka tentu bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”
”Tidak. Kiai Banyu Bening salah. Panembahan Lebdagati yang
sebenarnya itu masih ada. Masih hidup. Ia masih menunjukkan
gejala-gejala kesalahan penalaran.” Ki Warana masih saja
mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandi berkata “Namun apa yang
dikembangkan Panembahan Lebdagati adalah benar-benar yang diyakini.
Sedangkan Kiai Banyu Bening justru sekedar pelepasan dendamnya
karena ia sudah kehilangan anak bayinya yang mati di dalam nyala
api.” Ki Warana mengangguk-angguk sambil berdesis “Ya. Agaknya
memang demikian.” “Dengan demikian, maka dari sisi keyakinan,
Panembahan Lebdagati masih lebih jujur dari Kiai Banyu Bening.
Tetapi sayang, bahwa keyakinan Panembahan itupun merupakan
keyakinan yang sesat.” berkata Ki Pandi. “Ya “jawab Ki Warana
“tetapi aku tidak tahu, apakah aku dapat memberi peringatan kepada
Ki Banyu Bening.” “Kaulah yang mengetahui kemungkinan itu. Tetapi
untuk melengkapi keteranganku tentang Panembahan Lebdagati, aku
beritahukan bahwa aku telah bertemu dan bertempur melawannya dalam
memperebutkan pusaka-pusaka yang berada di tangan Kiai Gumrah, dari
sebuah perguruan yang murid-muridnya sebagian besar menjadi pembuat
dan pedagang gula kelapa.” Ki Warana mengerutkan dahinya sambil
bertanya “Kau telah bertempur melawan Panembahan Lebdagati?” “Ya.
Sudah beberapakali aku alami. Tetapi aku tidak pernah berhasil
mengalahkannya. Apalagi menangkap atau membinasakannya. Karena itu,
maka aku yakin, bahwa Panembahan Lebdagati! itu masih ada sampai
sekarang! Elang-elang itu adalah pertanda dari perhatiannya kepada
padepokan Kiat Banyu Bening. Aku tidak tahu, apakah Kiai Banyu
Bening memiliki kemampuan sebagaimana Panembahan Lebdagati.” “Kiai
Banyu Bening juga seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi aku
juga tidak tahu, apakah ia mampu mengimbangi Panembahan Lebdagati,
karena aku belum pernah menyaksikan ilmunya.” Ki Pandipun kemudian
berkata, Baiklah. Aku minta kau dapat memberi tabukan kepadanya,
langsung atau lewat Delima setiap perkembangan yang terjadi di
padepokanmu, juga dalam hubungannya dengan Panembahan
Lebdagati.” “Ki Warana menganggukangguk. Namun kemudaan iapun
minta diri meninggalkan Ki Pandi dan Delima di tepian. Dihari
berikutnya, Ki Pandi bersama Manggada dan Laksana telah melihat
lagi, dua ekor burung elang yang berputar-putar tinggi di udara.
Burung itu tidak menukik dan tidak pula menyambar-nyambar. Nampaknya
burung-burung itu dalam keadaan tenang, meskipun agaknya ada sesuatu
yang sedang diawasinya.. Ternyata dikeesokan harinya, Delima telah
berceritera kepada Ki Pandi yang datang bersama Manggada dan Laksana
pula. Paman baru saja meninggalkan tempat ini,“ berkata Delima ”ia
harus segera berada di padepokan.” “Apa ada sesuatu yang penting?“
bertanya Ki Pandi. Paman minta disampaikan kepada kakek, bahwa
kemarin di padepokan telah datang dua orang utusan Panembahan
Lebdagati.” “O,” wajah Ki Pandi berkerut. Sementara Manggada
bertanya, “Apa yang dibicarakan oleh utusan itu?” “Paman tidak
mengatakannya. Tetapi paman berpesan, bahwa paman ingin bertemu
dengan Ki Pandi lewat tengah hari di sini.” “Baiklah, nduk,” berkata
Ki Pandi kemudian, “nanti kami akan datang kemari.” “Apakah aku juga
harus datang kemari, kek? “bertanya Delima. -Ah, tentu tidak,” jawab
Ki Pandi, “keadaan menjadi makin gawat, nduk. Persoalannya tidak
lagi terbatas antara padepokan Kiai Banyu Bening dengan kakek yang
bongkok ini, tetapi melihat Panembahan Lebdagati pula.” Delima dapat
mengerti keterangan Ki Pandi itu. Karena itu, maka iapun menjawab
“Baiklah kek. Tetapi besok pagi aku akan berada disini lagi.”
“Tetapi kau harus melihat suasana, Delima. Jika suasananya tidak
memungkinkan, maka kau harus tetap tinggal dirumah. Yang perlu kau
ketahui Delima, para pengikut Panembahan Lebdagati tidak kalah
liarnya dengan orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening. Bahkan
kemampuan orang-orangnya agak lebih tinggi dari orang-orang
padepokan itu.” Delima mcngangguak-angguk. Katanya, ”Baik, kek.”
“Nah, sekarang, jika kau sudah selesai, pulanglah. Keadaan
lingkungan ini benar-benar menjadi semakin gawat.” berkata Ki Pandi.
Ternyata Delima menuruti nasehat itu. Ia pun segera mengemasi
cuciannya dan kemudian menjinjingnya. Ketika ia mulai naik tanggul,
maka Laksana telah menyusulnya sambil berkata, ”Marilah, aku.bawakan
bakul itu.” “Aku sudah terbiasa membawa bakul sambil memanjat
naik.” “Tetapi jika ada yang membantumu, bukankah itu lebih baik?”
Delima tidak menolak ketika Laksana kemudian mengambil, bakul cucian
itu dari tangannya. Manggada hanya memandanginya saja sambil
tersenyum. Tetapi ketika Delima sudah sampai diatas tanggul, maka
iapun berkata “Sudahlah. Biar aku membawa bakul itu.” “Aku antar kau
sampai kerumahmu,“ berkata Laksana. Tetapi Delima berkata “Bukankah
keadaan.sekarang menjadi semakin gawat? Jika aku pulang bersama
seseorang, maka tentu akan sangat menarik perhatian. Meskipun kita
dapat mengabaikan perhatian tetangga-tetangga, tetapi tentu kita
tidak dapat mengabaikan perhatian orang-orang padepokan dan mungkin
para pengikut Panembahan Lebdagati itu." Laksana tersenyum masam.
Tetapi ia sempat juga berkata, ”Bagaimana jika kita juga mengabaikan
perhatian orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening dan para pengikut
Panembahan Lebdagati.” “Mungkin akibatnya tidak terasa bagimu.
Tetapi bagiku? Bagi keluargaku?” Laksana tertawa. Katanya, ”Ah,
bukankah aku tidak bersungguh-sungguh?” Wajah Delima berkerut.
Tetapi iapun kemudian tertawa pula. ”Sampai besok,” desis Delima.
Ketika Delima kemudian menjadi semakin jauh dan mendekati
padukuhannya, maka Laksanapun segera turun kembali ketepian.
Bertiga mereka meninggalkan tepian. Mereka akan kembali lagi sesuai
dengan pesan Ki Warana lewat lengah hari. Demikianlah, maka lewat
lengah hari, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berada kembali di
tepian. Mereka menunggu kedatangan Ki Warana untuk mendengarkan
perkembangan terakhir padepokan Kiai Banyu Bening. Ketiga orang itu
tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka Ki
Warana benar-benar datang sesuai dengan pesannya lewat Delima.
“Mereka adalah cucu-cucuku,“ berkata Ki Pandi, ketika Ki Warana
memandangi.Manggada dan Laksana. ”Mereka juga ada di sanggar malam
itu" desis Ki Warana. “Ya. “sahut Ki Pandi ”mereka berusaha menolong
kakeknya.” “Tidak Ki Sanak. Bukan mereka berusaha menolong kakeknya.
Tetapi semuanya sudah terpencar. Sejak kau kelaparan dan kehausan di
rumah Krawangan.” Ki Pandi tertawa. Katanya “Ya. Sekarang aku tidak
akan ingkar. Kami memang telah membuat rencana itu, meskipun
sebagian sedikit menyimpang. Tetapi untunglah bahwa kami dapat
menyelesaikan bagian pertama dari permainan kami dengan baik
meskipun ada unsur keberuntungan.” “Kalian terdiri dari orang-orang
berilmu tingg,” jawab Ki Warana. “Nah, sekarang, apakah yang akan
kau katakan kepada kami?” “Di padepokan kami telah datang dua orang
utusan Panembahan Lebdagati.” Ki Pandi mengerutkan dahinya.
Sambil mengangguk-angguk ia pun kemudian berkata, “Jadi mereka telah
benar-benar datang?” “Ya, Ki Pandi.” “Apa yang mereka katakan?“
bertanya Ki Pandi. “Panembahan Lebdagati menuntut agar apa yang
dianggapnya haknya, supaya dikembalikan.” “Apa yang dimaksud?”
“Daerah ini. Panembahan Lebdagati menuntut agar Kiai Banyu Bening
meninggalkan lingkungan ini dan menyerahkan padepokannya kepada
Penambahan Lebdagati yang akan menanamkan kembali pengaruhnya di
daerah ini. Panembahan Lebdagati merasa bahwa tanah ini adalah
tanahnya.” “Apa jawab Kiai.Banyu Bening?” “Tentu saja Kiai Banyu
Bening tidak ingin menyerahkannya. Ia pun tidak akan meninggalkan
tempat itu. Ketika Kiai Banyu Bening membangun padepokannya, maka
Panembahan Lebdagati sudah tidak ada di tempat itu.” Ki Pandi
mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata “Jika Kiai Banyu
Bening bersungguh-sungguh ingin mempertahankan padepokannya, ia
harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Panembahan Lebdagati masih
mendapat kepercayaan dari beberapa orang pemimpin padepokan yang
melandasi ilmunya dengan kepercayaankepercayaan hitam yang akan
dapat diajaknya bergerak.” “Kiai Banyu Bening memang telah mulai
mempersiapkan dirinya. Tetapi Kiai Banyu Bening tetap menganggap
bahwa Panembahan Lebdagati yang mengirimkan utusannya itu bukan
Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.” “Kau benar-benar tidak
dapat, memperingatkannya?“ bertanya Ki Pandi. “Dalam keadaan yang
demikian, Kiai Banyu Bening tidak dapat mendengarkan pendapat orang
lain.” “Bagaimana pendapat pembantu-pembantu Kiai Banyu Bening?”
“Sebagian besar dari mereka juga tidak percaya bahwa yang
mengirirnkan utusan itu adalah Panembahan Lebgadati.” “Apakah Kiai
Banyu Bening pernah mengenal wajah Panembahan Lebdagati?” Ki Warana
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, Aku tidak tahu, Ki
Pandi. Tetapi menilik setiap pembicaraan mengenai Panembahan itu,
nampaknya Kiai Banyu Bening pernah bertemu dan berbicara dengan
Panembahan Lebdagati. Namun yang terang, Kiai Banyu Bening mengakui
bahwa Panembahan Banyu Bening adalah orang yang berilmu sangat
tinggi. Namun sebagaimana dikatakannya, bahwa Kiai Banyu Bening
telah siap menghadapinya, meskipun orang yang mengaku Panembahan
Lebdagati itu memiliki ilmu setinggi Panembahan Lebdagati sendiri.”
Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Meskipun aku belum pernah
menjajagi kemampuan Kiai Banyu Bening, namun rasa-rasanya sulit bagi
Kiai Banyu Bening untuk mengimbangi kemampuan Panembahan Lebdagati.”
Ki Warana mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia berkata, ”Tetapi Kiai
Banyu Bening juga memiliki ilmu yang sangat tinggi.”
“Mudah-mudahan,” jawab Ki Pandi. Namun kemudian ia berkata “Tetapi
sebaiknya kau berhati-hati Ki Warana. Bukan maksudku untuk
menghasutmu agar kau berkhianat terhadap Kiai Banyu Bening, tetapi
nurani Ki Warana sendiri sudah memanggil, agar Ki Warana
meninggalkan padepokan yang diwarnai oleh kepalsuan sikap
pemimpinnya. Kiai Banyu Bening sama sekali tidak jujur dengan
kepercayaan yang disebarkannya. Disinilah letak kelebihan Panembahan
Lebdagati. la bersikap jujur terhadap kepercayaannya, meskipun
kepercayaan itu adalah kepercayaan hitam yang harus dihapuskan.
Karena itu. jika terjadi perang antara kedua padepokan yang
sama-sama harus dimusnahkan itu, sebaiknya Ki Warana berusaha untuk
melepaskan diri. Jika Ki Warana tidak bersiap-siap sejak semula,
maka Ki Warana akan terjebak kedalam satu pertempuran yang akan
mengikat Ki Warana.” Ki Warana termangu-mangu. Memang sulit untuk
melakukannya. Meskipun ia sendiri merasa tersiksa hatinya selama ia
berada di padepokan itu, namun untuk begitu saja meninggalkan justru
di saat yang gawat, rasa-rasanya Ki Warana itu tidak akan sampai
hati. Seandainya ia tidak membela Kiai Banyu Bening, namun apakah ia
akan dapat membiarkan kawan-kawannya yang setiap hari selalu
berhubungan, digilas oleh kekuatan lain tanpa melibatkan dirinya?.
Ki Pandi melihat keragu-raguan ini. Karena itu, maka iapun berkata,
”Ki Warana. Kekuatan dan kemampuan Ki Warana seorang diri tidak
banyak berpengaruh. Namun keselamatan Ki Warana sangat berarti bagi
Ki Warana sendiri. Bukan keselamatan kewadagan saja, tetapi juga
keselamatan jiwa Ki Warana. Jika Ki Warana bertempur dipihak Kiai
Banyu Bening, itu akan berarti bahwa Ki Warana telah ikut
serta mempertahankan sesuatu yang tidak sesuai dengan nurani
Ki Warana sendiri.” “Tetapi Ki Pandi, seandainya Kiai Banyu Bening
dikalahkan oleh Panembahan Lebdagati, apakah bukan berani bahwa
kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati akan berkembang lagi di
daerah ini? Betapa jujurnya Panembahan Lebdagati terhadap
kepercayaannya, namun kepercayaan itu sendiri adalah kepercayaan
yang sesat. Bagi orang lain, justru akan menjadi lebih berbahaya
karena orang yang menerima keyakinan itupun akan menjadi yakin dan
mengakar. Tidak seperti orang-orang yang menerima kepercayaan yang
sekedar pura-pura, sehingga bagi para pengikutnya pun kepercayaan
itu hanya sekedar mengambang saja?” “Bukankah sudah aku katakan,
bahwa kepercayaan yang ditebarkan oleh Panembahan Lebdagati itu pun
harus dimusnahkan?” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku
mengerti. Ki Pandi.”
-
JILID 4 KI PANDI menarik nafas
dalam-dalam. Ia melihat kebimbangan di mata Ki Warana. “Kau harus
mengambil sikap Ki Warana. Kau tidak boleh mengorbankan dirimu untuk
sesuatu yang tidak kau yakini kebenarannya. Dengan demikian maka
pengorbananmu akan sia-sia.” “Aku menjadi bingung,“ desis Ki Warana.
“Jika kau dengar pendapatku. Ki Warana. Kau jangan hilang tanpa
arti. Jika kau harus terlibat dalam pertempuran sekedar untuk
menunjukkan kesetia-kawanan meskipun tidak didukung oleh keyakinan
apapun, maka kau sebaiknya menentukan takaran, sampai dibatas
manakah kau pantas menunjukkan kesetia-kawananmu itu.” “Maksud Ki
Pandi?”- “Kau tidak perlu mati dalam benturan kekerasan itu.
Bukankah dengan demikian kau akan mati tidak untuk apaapa?” Ki
Warana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya,
”Jika kau hidup, maka kau masih mempunyai kesempatan untuk berbuat
sesuatu yang lebih berarti. Berarti bagi dirimu sendiri dan berarti
bagi orang lain.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku
mengerti. Dan aku akan berusaha untuk melakukannya. Jika aku tidak
melihat kemungkinan apapun kalau Panembahan Lebdagati benar-benar
datang, maka aku akan mempergunakan kesempatan terakhir untuk
berusaha tetap hidup.” “Kau dapat menularkan sikap ini kepada
beberapa orang lain. Jika kau berhasil, maka yang tersisa dari
padepokan Ki Banyu Bening, masih akan memberikan arti bagi
kehidupan di lingkungan ini.” Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara
Ki Pandi berkata selanjutnya “Kami akan mengamati perkembangan di
padepokanmu.“ “Terima kasih” desis Ki Warana yang kemudian minta
diri “aku harus segera kembali ke padepokan.” “Silahkan Ki Warana.
Jika Ki Warana menganggap perlu, Ki Warana dapat berpesan kepada
Delima.” “Tetapi kadang-kadang aku merasa cemas melihat Delima
berada ditepian. Mungkin orang-orang padepokan sendiri yang
berkeliaran scperti yang pernah terjadi. Tetapi mungkin orangorang
Panembahan Lebdagati, justru akhir-akhir ini tepian menjadi sepi.”
“Kami akan mengawasinya. Setidak-tidaknya salah seorang diantara
kami bertiga atau kawan-kawan kami yang lain.” Ki Warana mengangguk
kecil. Tetapi ia masih bertanya, ”Berapa orang kawan kalian?” Ki
Pandi tersenyum. Katanya “Tidak tentu. Kali ini ada beberapa orang
tua bersamaku. Orang-orang tua yang ingin merasa dirinya masih
berarti. Termasuk aku sendiri.” Ki Warana menarik nafas panjang.
Namun kemudian iapun minta diri, “Terima kasih. Aku akan kembali ke
barak.” Sepeninggal Ki Warana, ketiga orang itu memang tidak segera
meninggalkan tepian. Mereka duduk-duduk diatas batu sambil
berbincang. Tetapi beberapa kali Laksana membelokkan pembicaraan
mereka yang berkisar sekitar kemungkinan kedatangan Panembahan
Lebdagati. Kadangkadang seperti orang yang tidak menyadari apa
yang dikatakannya. Laksana berbicara tentang gadis yang
bernama Delima itu. “Kenapa Delima harus dalang ke tepian?
Seharusnya kita justru memperingatkannya, agar ia tidak lagi pergi
ketepian ini. Seperti yang dikatakan oleh Ki Warana, kemungkinan
buruk itu dapat terjadi pada Delima sebagaimana yang pernah terjadi.
Seandainya kita mengawasi tepian ini, namun bahaya itu dapat
menyergap Delima sepanjang jalan menuju ke tepian ini.” “Jadi
menurut pendapatmu?” bertanya Manggada. “Aku tidak berkeberatan
datang kerumahnya setiap hari untuk menanyakan, apakah ada pesan
dari Ki Warana atau tidak.” “Apakah kau ingin Ki Warana atau
keluarga Delima digantung di padepokan? “ bertanya Manggada,
”orang-orang padepokan yang saling mencurigai tentu akan saling
mengawasi. Dengan perintah atau tidak.” “Kesetia-kawanan mereka
cukup tinggi, sebagaimana sikap Ki Warana.” “Untuk menghadapi bahaya
dari luar. Tetapi kedalam mereka akan berebut kedudukan. Seperti
juga terjadi dimanamana, kadang-kadang seseorang yang saling
menolong dalam keterkaitan dengan orang lain, akan sampai hati
saling memfitnah justru diantara keluarga sendiri karena mereka
berebut kedudukan.” Laksana menarik nafas panjang. Namun agaknya ia
dapat mengerti alasan itu. Ki Pandi hanya tersenyum-senyum saja
mendengarkan pembicaraan kedua orang anak muda itu. Namun
akhirnya, Ki Pandi itu berdesis “Marilah. Kita tinggalkan tempat
ini. Kita dapat berbicara dengan saudarasaudara kita. Bahwa
Panembahan Lebdagati siap untuk mengambil alih padepokan Ki Banyu
Bening akan merupakan berita yang menarik bagi mereka.”
Sebenarnyalah, ketika hal itu disampaikan kepada mereka yang berada
di rumah Ki Ajar Pangukan, ternyata bahwa mereka menjadi sangat
tertarik. “Jadi Panembahan iiu benar-benar akan mengusir Ki Banyu
Bening?” bertanya Ki Ajar Pangukan. ”Menurut Ki Warana memang
demikian. Dua orang utusannya telah bertemu dengan Ki Banyu Bening.
Namun Ki Banyu Bening nampaknya berkeras untuk bertahan. Bahkan
menurut Ki Warana, Ki Banyu Bening tidak percaya bahwa Panembahan
Lebdagati itu masih ada.” “Kita akan mengambil kesempatan,“ berkata
Ki Ajar Pangukan. “Kesempatan apa? “bertanya Ki Jagaprana. “Kita
tidak menghendaki kehadiran kedua-duanya di lingkungan ini. Bahkan
dimanapun juga. Karena itu, kita akan memanfaatkan benturan kekuatan
mereka. Bukankah dengan demikian kedua-duanya menjadi lemah?” Ki
Pandipun kemudian menyahut “Aku sependapat. Tetapi aku sedang
berusaha untuk selalu berhubungan dengan Ki Warana. Aku berharap
bahwa pada suatu saat, kita dapat bekerja bersamanya.” “Bekerja
bersama bagaimana? “ bertanya Ki Lemah Teles. “Kalau Ki Warana
menyadari kedudukannya serta panggilan nuraninya, maka aku kira aku
akan berhasil.” Dengan singkat, Ki Pandi menceriterakan
hubungan yang dibuatnya dengan Ki Warana. Kemudian katanya, “Aku
menaruh harapan pada sikapnya.” Ki Lemah Telespun berkata, ”Jika
demikian, teruskan hubunganmu dengan orang itu. Setidak-tidaknya
kita dapat mengikuti perkembangan persoalan yang menyangkut hubungan
antara padepokan Kiai Banyu Bening dan Panembahan Lebdagati.”
“Baiklah,“ berkata Ki Pandi “namun nampaknya segala sesuatunya sudah
menjadi semakin mendesak. Kitapun harus mempersiapkan diri untuk
terlibat kedalam persoalan ini. Tentu saja dengan sudut pandang kita
terhadap persoalan yang terjadi.” Yang lain pun mengangguk-angguk.
Mereka memang sudah meletakkan niat mereka untuk melawan kegiatan
Kiai Banyu Bening dan apalagi Panembahan Lebdagati.” Demikianlah
dari hari ke hari, Ki Pandi dapat tetap berhubungan dengan Ki Warana
lewat Delima. Sehingga pada suatu hari, Ki Warana itu berkata
“Panembahan Lebdagati telah menyampaikan ancamannya.” “Ancaman apa?“
bertanya Ki Pandi. “Dua orang utusannya telah datang lagi.
Panembahan Lebdagati minta dalam waktu sepuluh hari, padepokan itu
harus sudah menjadi kosong. Semua kegiatan dihentikan, dan
menyerahkan segala-galanya kepada Panembahan Lebdagati.” Ki Pandipun
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya “Apakah padepokan itu
masih tetap melakukan kegiatan di sanggar-sanggar dibeberapa
padukuhan?” “Sejak peristiwa di sanggar itu, maka beberapa
kegiatan telah disusut. Tetapi menurut Kiai Banyu Bening, semuanya
itu sekedar ancang-ancang untuk langkah-langkah panjang berikutnya.
Tetapi kehadiran utusan-utusan orang yang menyebut dirinya kemenakan
Lebdagati itu agaknya sangat berpengaruh terhadap kegiatan Kiai
Banyu Bening. Apalagi setelah Panembahan Lebdagati mengancam dan
memberikan waktu sepuluh hari. Maka kegiatan seisi padepokan
terutama adalah mempersiapkan diri menyambut kedatangan Panembahan
Lebdagati itu. Ki Pandi mendengarkan keterangan Ki Warana itu dengan
sungguh-sungguh. Dengan nada berat, Ki Pandi itu menyahut,
”Panembahan Lebdagati tentu tidak sekedar mengancam. Aku mengenal
waktunya dengan baik. Ia tentu akan bersungguhsungguh datang dengan
kekuatan yang cukup untuk menghancurkan Kiai Banyu Bening. Bukan
sekedar mengusirnya. Seperti yang pernah aku katakan, kekuatan
Panembahan Lebdagati tentu sulit untuk dilawan oleh Kiai Banyu
Bening.” “Tetapi Kiai Banyu Bening tetap pada pendiriannya. Ia tidak
akan beranjak dari padepokan itu.” “Ki Warana,“ berkata Ki Pandi
“jika para pengikut Kiai Banyu Bening akan bertahan, silahkan.
Tetapi aku ingin memperingatkan, bahwa Ki Warana tidak perlu
membunuh diri. Jika Ki Warana mempunyai beberapa orang yang dapat
sungguh-sungguh dipercaya, maka Ki Warana dapat mempersiapkan diri
untuk membuat garis pertahanan kedua, justru diluar padepokan.”
“Maksud Ki Pandi?” bertanya Ki Warana. -”Jika keadaan memaksa,
maksudku jika pertahanan Kiai Banyu Bening benar-benar pecah dan
tidak mungkin bertahan lagi, sebaiknya Ki Warana menyingkir
dari padepokan. Ki Warana harus mempersiapkan tempat untuk
mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dari padepokan itu.” “Lalu, apa
artinya? Jika bersama Kiai Banyu Bening kami sudah tidak mampu
bertahan, apa yang kemudian dapat kita lakukan jika Panembahan
Lebdagati memburu kami?” “Ki Warana” berkata Ki Pandi, ”kami
berjanji untuk berada ditempat itu. Kami akan bersama membantu
sejauh dapat kami lakukan untuk melawan kekuatan Panembahan
Lebdagati. Tetapi sudah tentu dengan janji.” “Janji apa?“ bertanya
Ki Warana. Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata,
”Semua ajaran Kiai Banyu Bening yang tidak lebih dari sekedar
memanjakan nafsu dan dendam itu harus dihentikan. Padepokan itu
harus menjadi tempat yang berani bagi kehidupan lahir dan batin bagi
orang-orang di lingkungan ini. Padepokan itu harus menjadi tempat
orang-orang mencari pengetahuan yang berarti bagi kesejahteraan
hidup lahiriyahnya, tetapi juga tempat orang menemukan dirinya
dihadapan penciptanya menurut ajaran yang benar.” Ki Warana
memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Namun kemudian Ki Warana itupun
bertanya, “Tetapi siapakah yang akan dapat melakukannya? Maksudku,
siapakah yang akan memimpin padepokan itu, karena tidak seorangpun
diantara kami yang mampu melakukannya? Kami adalah orang-orang yang
selama ini hanyut dalam arus yang liar dan bermuara pada genangan
yang keruh.” “Jalan telah dibuat menembus hutan yang menyekat
lingkungan ini dengan dunia yang lebih cerah. Karena itu, jika
segalanya telah dapat diselesaikan, maka pergilah ke pajang. Kalian
akan dapai memecahkan persoalan yang kalian hadapi.” “Haruskah kami
menempuh perjalanan yang jauh itu?” “Kau pernah ke Pajang? Pajang
tidak terlalu jauh dari tempat ini. Apalagi setelah hutan Jatimalang
terbuka.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Ki Pandi.
Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi aku pun harus
berhati-hati, agar aku tidak dicurigai oleh Kiai Banyu Bening dan
para pengikutnya yang paling setia. Yang menurut penglihatan Kiai
Banyu Bening termasuk aku sendiri.” “Mudah-mudahan Ki Warana
berhasil. Usaha Ki Warana ini juga merupakan usaha untuk
melestarikan keberadaan padepokan itu, meskipun isinya akan
berubah.” Namun Ki Warana tidak dapat berbincang terlalu panjang, ia
harus segera berada di padepokannya kembali. Meskipun demikian, Ki
Warana telah membawa bekal yang akan sangat berarti bagi
padepokannya. “Ki Warana” pesan Ki Pandi “beritahukan kami, kemana
Ki Warana akan menyusun pertahanan kedua sebelum Ki Warana akan
kembali memasuki padepokan.” “Baiklah Ki Pandi. Aku akan
menyampaikannya dalam dua hari sebelum batas waktu yang sepuluh hari
itu sampai. Jika aku tidak sempat menunggu Ki Pandi karena waktuku
yang sempit, aku akan berpesan kepada Delima.” Sepeninggal Ki
Warana, Ki Pandi yang diikuti oleh Manggada dan Laksana telah
menyusuri tepian. Ketika mereka sampai di tempat yang hampir tidak
pernah di kunjungi orang, Ki Pandi berkata, ”Sepuluh hari lagi,
Lebdagati akan datang ke padepokan. Kalian pun harus bersiap.”
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka tanggap bahwa
Ki Pandi telah menemukan tempat yang baik untuk berlatih. “Kita
manfaatkan waktu yang pendek ini,” berkata Ki Pandi. Untuk beberapa
lama, maka mereka bertiga telah berlatih di tepian. Ki Pandi sengaja
mengajak Manggada dan Laksana berlatih diatas pasir yang tebal, agar
menambah hambatan pada langkah kaki mereka. Sejak hari itu, maka
orang-orang yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan telah benar-benar
mempersiapkan diri. Karena Manggada dan Laksana adalah orang-orang
yang paling muda diantara mereka, bukan saja umurnya, tetapi juga
ilmunya, maka seakan-akan orang-orang tua yang ada dirumah itu telah
berusaha membantu mereka meningkatkan ilmunya. Bahkan tanpa diminta
oleh siapapun, masing-masing berusaha menyesuaikan
kemungkinan-kemungkinan yang tidak justru mengganggu bagi
perkembangan ilmu dan tubuh Manggada dan Laksana. Diantara mereka
berusaha membantu perkembangan ilmu Manggada dan Laksana melengkapi
unsur-unsur geraknya. Tetapi Ki Lemah Teles lebih senang mengajak
kedua anak muda itu berkelahi. “Aku tidak akan merusak dasar ilmu
mereka. Dengan berkelahi, anak-anak itu akan mendapat
pengalamanpengalaman baru sehingga dasar kemampuan mereka akan
berkembang dengan sendirinya. Karena didunia olah kanuragan,
merekapun akan menghadapi kekerasan dari orang-orang yang semula
ilmunya tidak dikenalnya sama sekali.” Manggada dan Laksana
memang memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Beberapa pintu
yang rasarasanya masih tertutup baginya, telah menjadi terbuka,
sehingga Manggada dan Laksana menemukan kemungkinankemungkinan baru
didalam tatanan kemampuannya. Dengan demikian maka ilmu Manggada dan
Laksana dengan pesatnya telah meningkat. “Kalian tidak boleh menjadi
beban,“ berkata Ki Pandi “jika benar kita akan terlibat, maka kalian
akan dapat mandiri menghadapi para pengikut Panembahan Lebdagati.”
”Jika Kiai Banyu Bening diluar dugaan menang atas Panembahan
Lebdagati dan dapat mengusirnya atau bahkan menghancurkannya sama
sekali?“ bertanya Manggada. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Memang mungkin sekali. Selama ini kita selalu menganggap
bahwa Kiai Banyu Bening akan dikalahkan oleh Panembahan Lebdagati.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? “bertanya Laksana. “Kita harus
mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Sebelum Kiai Banyu Bening
sempat bernafas, kita akan datang dan menghancurkannya sama sekali.
Terutama bangunanbangunan yang ada hubungannya dengan nafsu dan
dendamnya karena ia telah kehilangan anak bayinya. Sedangkan kita
tidak tahu, siapakah yang telah bersalah, sehingga anak bayinya itu
ditelan api.” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka
mengerti sepenuhnya, apa yang harus mereka lakukan jika Panembahan
Lebdagati berhasil. Tetapi merekapun tahu apa yang harus mereka
lakukan jika Kiai Banyu Bening berhasil mengusir Panembahan
Lebdagati dan bahkan menghancurkan para pengikutnya. Seperti
yang sudah direncanakan, maka dua hari sebelum hari-hari yang
menegangkan itu, Ki Warana ternyata masih sempat menemui Ki Pandi di
tepian seperti biasanya. Bahkan Ki Warana sudah menunggu bersama
Delima yang sedang mencuci. Ki Warana menemui Ki Pandi dan Manggada
ditempat yang terpisah, sementara Laksana lebih senang menunggui
Delima yang sedang sibuk dengan cuciannya. “Kau tidak ikut dalam
pembicaraan itu?“ bertanya Delima. Laksana menggeleng. Katanya
“Seandainya aku ikut duduk bersama mereka, akupun hanya mendengarkan
saja.” “Bukankah dengan demikian kau akan mengetahui rancangan yang
seharusnya kalian lakukan?” “Bukankah aku dapat bertanya kepada
kakang Manggada atau langsung kepada Ki Pandi?” “Tetapi tentu lebih
puas jika dapat langsung mendengar urut-urutan pembicaraan itu.”
“Hasil pembicaraan itu akan dapat aku dengar dari orang lain. Tetapi
apa yang akan kau katakan hanya dapat aku dengar langsung dari kau
sendiri.” “Apa yang akan kau katakan?“ Delima justru terkejut.
“Tidak tahu. Tentu kau yang lebih tahu,“ jawab Laksana. “Ah, kau,“
desis Delima yang kemudian telah tenggelam dalam kesibukannya,
mencuci pakaian sebagaimana selalu dilakukannya. Biasanya bahkan
Delima datang dengan beberapa orang kawan-kawan Delima masih belum
berani turun ke sungai. Dalam pada itu, Ki Warana telah memberikan
ancar-ancar kepada Ki Pandi tentang garis pertahanan keduanya.
“Beberapa orang yang benar-benar dapat aku percaya telah sepakat,“
berkata Ki Warana “jika keadaan memaksa kami akan menyusun
pertahanan di sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari
padepokan. Sebanyak kawan-kawan kami yang dapat melarikan diri, maka
kami akan mencoba menyusun kekuatan kami kembali. Tentu saja dengan
harapan, bahwa Ki Pandi akan membantu kami. Terutama untuk
menghadapi Panembahan Lebdagati itu sendiri.” Ki Pandi
mengangguk-angguk. Kalanya “Baiklah. Tetapi aku mempunyai syarat
lagi.” “Syarat apa Ki Pandi? “ “Jika padepokan kalian memenangkan
pertempuran melawan Panembahan Lebdagati, maka Kiai Banyu Bening
akan berhadapan dengan kami. Kami memang ingin menghapus nafsu dan
dendam Kiai Banyu Bening. Jika Kiai Banyu Bening menang atas
Panembahan Lebdagati, maka kepercayaan terhadap dirinya menjadi
semakin tebal. Dengan demikian, maka kegiatan yang selama ini agak
mengendor karena berbagai macam sebab, akan semakin meningkat. Kiai
Banyu Bening tentu akan benar-benar memerintahkan mengorbankan
bayi-bayi yang tidak berdosa sekedar untuk didengar tangisnya saat
api mulai menjilat tubuhnya.” Ki Warana menarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Lalu, apa yang sebaiknya kami lakukan?” “Bukankah Ki Warana
juga ingin membebaskan diri dari cengkeraman kepercayaan yang
pura-pura itu?” ”Ya.””jawab Ki Warana. “Nah, jika demikian,
perintahkan orang-orang yang sejalan dengan pikiran Ki Warana untuk
mengenakan tanda. Jika kalian mampu mengalahkan Panembahan
Lebdagati, sementara kemu dan kami memasuki padepokan itu
sebelum Kiai Banyu Bening sempat bernafas, agar kami dapat
membedakan, siapakah yang berniat mempertahankan kehadiran Kiai
Banyu Bening dan siapa yang tidak, kalian harus mengenakan sesuatu.”
“Apa menurut pendapat Ki Pandi?” “Apa yang paling mudah kalian
dapatkan di dalam padepokan Kiai Banyu Bening? Janur atau bulu ayam,
bulu itik atau apa? “Memang ada beberapa batang pohon kelapa yang
terkurung oleh dinding padepokan.” “Nah, pastilah janur kuning.
Sebelum kalian perlukan, ikatkan janur kuning itu dibawah baju
kalian. Baru kemudian janur kuning itu diperlihatkan dan
dipergunakan sebagai pertanda setelah diperlukan,” berkata Ki Pandi.
Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah, Ki Pandi. Kami akan
mencobanya. Kami akan bertahan terhadap Panembahan Lebdagati, tetapi
disisi lain kami ingin bebas dari belenggu Kiai Banyu Bening tanpa
menumbuhkan kecuriagaan.” “Terima kasih Ki Warana. Mudah-mudahan
kita berhasil,” jawab Ki Pandi. “Jika Panembahan Lebdagati
bersungguh-sungguh, maka waktu kita tinggal dua hari.” “Aku kira
Panembahan Lebdagati bersungguh-sungguh. Berhati-hatilah. Kau tidak
boleh hancur dalam permainan ini, karena kau akan membawa perubahan
sikap dari beberapa orang yang terbelenggu didalam cengkeraman
lingkungan yang kau benci.” “Baiklah “ berkata Ki Warana, ”aku
akan berusaha.” Seperti biasanya maka Ki Warana tidak dapat terlalu
lama berada di pinggir sungai itu. Apalagi disaat padepokannya
sedang mempersiapkan kesiagaan tertinggi menghadapi tantangan
Panembahan Lebdagati. Karena sebenarnyalah Kiai Banyu Bening sendiri
menjadi berdebar-debar menghadapi ancaman itu. Tetapi sebagai
seorang yang berilmu tinggi dan berkeyakinan atas kemampuannya, maka
Kiai Banyu Bening tidak akan begitu saja menyerah terhadap ancaman
Panembahan Lebdagati. Pada malam-malam terkhir, mendekati saat yang
ditentukan oleh Panembahan Lebdagati, maka Kiai Banyu Bening sendiri
memang lebih banyak berada didalam sanggarnya. Beberapa orang
kepercayaannya memang diperintahkan untuk meningkatkan kemampuan
mereka. Memantapkan pengabdian mereka kepada Sang Maha Api dan
menyediakan senjata secukupnya. Kiai Banyu Bening telah
memerintahkan pula membuat panggungan dibelakang dinding
padepokannya. Para cantrik sudah diperintahkan untuk menghancurkan
lawan sebelum mereka memasuki dinding padepokan. “Sediakan anak
panah sebanyak-banyaknya. Juga sediakan lembing dan senjata lontar
yang lain. Sedangkan para cantrik juga diperintahkan untuk melihat
din-ding, pintu gerbang dan pintu butulan. Yang nampak lemah harus
segera diperkuat. Selarak pintu pun dibuat rangkap pula. Menjelang
hari-hari yang ditentukan, maka segala sesuatunya telah siap. Kiai
Banyu Bening menjadi semakin yakin, bahwa orang yang menyebut
dirinya Panembahan Lebdagati itu tidak akan dapat memasuki
padepokannya. Namun dihari-hari terakhir itu pula sepasang
burung elang nampak berputaran di langit. Sekali-sekali menukik
rendah. Namun kemudian membubung tinggi menyentuh mega-mega di
langit. Dengan matanya yang tajam sepasang burung elang itu
memperhatikan apa yang ada didalam dinding padepokan. Kemudian
dengan gerak isyarat sepasang burung elang itu memberikan laporan
tentang penglihatannya sesuai dengan kemampuannya. Sementara itu
orangorang yang mampu mengendalikan burungburung elang itu mencoba
untuk menangkap arti dari isyarat-isyarat yang diberikan oleh
sepasang burung elang itu. Namun bukan hanya orang-orang yang
mengendalikan burung-burung elang itu saja yang memperhatikan
sepasang burung itu dari kejauhan. Tetapi Ki Pandi, Manggada dan
Laksana pun ikut memperhatikan pula dari kejauhan. “Menurut Ki
Warana, besok adalah batas terakhir yang diberikan oleh Panembahan
Lebdagati,“ berkata Ki Pandi. “Besok akan terjadi pertempuran yang
sengit antara dua aliran hitam yang garang.“ desis Manggada.
“Bukan besok,“ sahut Ki Pandi “besok adalah batas terakhir. Aku kira
baru besok lusa Panembahan Lebdagati akan dalang ke padepokan.”
“Kita harus siap di tempat yang sudah disebut Ki Warana itu Ki
Pandi. Ki Warana menganggap tempat itu sebagai garis pertahanannya
yang kedua. Jika Ki Pandi dan orang-orang tua yang tinggal dirumah
Ki Ajar Pangukan itu tidak ikut campur, maka mereka tentu akan
dimusnakan oleh Panembahan Lebdagati,“ berkata Manggada. “Ya” desis
Laksana “namun Panembahan Lebdagati tentu bersungguh-sungguh.
Sepasang burung elang itu merupakan salah satu isyarat kesungguhan
Panembehan Labdagati.” “Baiklah,“ Ki Pandi mengangguk-angguk,
”kitapun harus bersiap. Besok malam kita harus bergerak ke tempat
yang sudah ditentukan itu. Sebuah padukuhan kecil yang tidak terlalu
jauh dari padepokan sebagaimana telah diancarancarkan oleh Ki
Warana. “Marilah kita kembali” desis Manggada. Tetapi Laksanapun
berdesis “Kita singgah sebentar di tepian itu.” ”Untuk apa?”
bertanya Manggada. “Melihat apakah Delima ada di tepian,” jawab
Laksana. “Bukankah kau yang mengatakan sendiri? Delima mengatakan
kepadamu, bahwa ia tidak akan datang ke tepian lagi untuk beberapa
hari sampai keadaan menjadi tenang?” “Mungkin hari ini ia masih
datang.” “Tentu tidak,“ jawab Manggada “apakah kau masih belum puas
menunggui gadis itu mencuci kemarin?” Laksana hanya tersenyum
saja. Dengan nada dalam ia berkata “Baiklah. Kita pulang saja.”
Bertiga merekapun kemudian menyusuri jalan setapak dan sekali-sekali
naik dan turun tebing yang curam untuk mencapai sebuah rumah yang
terpencil yang dihuni oleh Ki Ajar Pangukan. Kepada orang-orang tua
yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi telah memberikan
keterangan terperinci, apakah yang harus mereka lakukan menjelang
terjadinya benturan kekuatan antara isi padepokan Kiai Banyu Bening
dengan Panembahan Lebdagati serta para pengikutnya. “Waktu kita
tinggal besok siang. Besok malam kita harus sudah berada di
padukuhan kecil itu. Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya
“Baiklah. Kita yang sudah berjanji, terutama kepada diri sendiri
untuk menghancurkan ilmu hitam siapapun yang menjadi pemimpinnya,
akan melakukan kewajiban yang kita letakkan diatas pundak kita
sendiri ini dengan sebaik-baiknya. Besok kita semuanya akan pergi ke
padukuhan sebagaimana dikatakan oleh Ki Warana itu.” “Tetapi
bagaimana dengan orang-orang padukuhan itu sendiri? Apakah mereka
sudah mengerti tentang apa yang bakal terjadi? “ bertanya Ki Sambi
Pitu. Ki Pandi menggeleng. Katanya “Belum. Jika mereka
mengetahuinya, mungkin rencana itu akan menjalar dan didengar oleh
Kiai Banyu Bening atau oleh Panembahan Lebdagati. Kedua-duanya tidak
menguntungkan bagi rencana Ki Warana.” “Ya,“ Ki Sambi Pitu
mengangguk-angguk, ”jika demikian, besok kita harus dapat
menempatkan diri. Kita sudah tahu, bahwa kehadiran kita besok
masih belum diketahui oleh orang-orang padukuhan itu, sehingga kita
tidak dengan sertamerta datang ke banjar.” Demikianlah, maka
orang-orang tua itu telah merencanakan untuk berada disekitar
sanggar yang agaknya juga sudah dibuat di-padukuhan itu. Dalam pada
itu, maka Ki Pandipun telah minta waktu untuk mengambil dua ekor
harimaunya. Dengan tegas ia berkata, ”Besok, sebelum matahari
terbenam, aku sudah berada di tempat ini kembali. Kita akan
bersama-sama pergi ke padukuhan itu. Kita akan mencoba mengikuti
perkembangan keadaan dikeesokan harinya. Apa yang akan terjadi di
padepokan Kiai Banyu Bening.” “Jadi, Ki Pandi akan pergi? “ bertanya
Manggada. “Ya,” jawab Ki Pandi “kalian tidak usah ikut. Usahakan
untuk melihat apakah besok burung-burung elang itu akan berputeran
lagi diatas padepokan.” Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah minta
diri setelah menitipkan Manggada dan Laksana kepada orang-orang yang
berada dirumah Ki Ajar Pangukan itu. “Tetapi apakah Ki Pandi dapat
menempuh perjalanan itu semalam dan sehari besok?” bertanya Manggada
“seandainya dapat Ki Pandi lakukan, Ki Pandi tentu letih sekali.” Ki
Pandi tersenyum. Katanya “Aku akan mencobanya untuk kembali pada
saatnya. Jika aku merasa letih, bukanah masih ada waktu semalam
untuk beristirahat?” Manggada mengangguk-angguk sambil berdesis “Ya,
Ki Pandi.” Ternyata Ki Pandi memang seorang yang memiliki
kemampuan yang sangat tinggi. Agar tidak terlambat maka Ki Pandi
telah menempuh perjalanannya dengan cepat. Secepat orang berlari. Ki
Pandi pun tidak menempuh perjalanan lewat jalur jalan yang
berkelok-kelok. Tetapi ia lebih banyak memotong arah. Bukan saja
melintasi pematang, tanggul, meloncati parit dan menyeberang sungai,
tetapi Ki Pandi juga berjalan dengan cepat menembus hutan seperti
seekor kijang. Pengalamannya Tapa Ngidang yang sudah dilakukan tidak
hanya sekali, sangat membantunya menerobos gerumbul-gerumbul liar
dan eri bebondotan. Dengan caranya itu, maka Ki Pandi memang akan
dapat kembali pada waktunya sebagaimana di janjikannya. Bukan hal
yang sulit bagi Ki Pandi untuk menemukan kedua ekor harimaunya.
Hanya tanpa istirahat, maka Ki Pandipun segera mengajak kedua ekor
harimaunya ke kaki Gunung Lawu. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana
yang ditinggalkan oleh Ki Pandi di rumah Ki Ajar Pangukan, telah
mendapat kesempatan sebagaimana yang sering dilakukannya, mengadakan
latihan dengan orang-orang tua yang berilmu tinggi. Kesempatan yang
sangat berarti bagi Manggada dan Laksana. Dengan latihan-latihan
yang berat itu, maka ilmu kedua anak muda itu memang selalu
meningkat dan menjadi matang. Pada kesempatan di hari terakhir yang
diberikan oleh Panembahan Lebdagati kepada Kiai Banyu Bening, maka
Manggada dan Laksana telah mengamati padepokan itu dari
kejauhan. Mereka memang melihat dua ekor burung elang yang
berputar-putar. Sekali-sekali menukik rendah, kemudian terbang naik
tinggi tinggi. Melihat sikap kedua ekor burung itu, maka nampaknya
memang terjadi sesuatu di padepokan Kiai Banyu Bening.
“Burung-burung itu tentu mengamati utusan Panembahan Lebdagati yang
datang ke padepokan itu” desis Manggada. Laksana mengangguk-angguk.
Katanya, ” Mudah-mudahan dugaan Ki Pandi benar, bahwa hari ini masih
belum terjadi sesuatu di padepokan itu.” “Kita akan mengamati
padepokan itu dari jarak yang lebih dekat. Tetapi hati-hati. Jika
mereka, apakah orang-orang Kiai Banyu Bening, lebih-lebih lagi
orang-orang Panembahan Lebdagati, rencana Ki Warana akan dapat
terganggu seandainya salah seorang atau bahkan mereka berdua
mengadakan perubahan sikap,” berkata Manggada selanjutnya.
Demikianlah, maka dengan sangat berhati-hati kedua orang anak muda
itu telah berusaha mendekti padepokan. Tetapi mereka tetap berada
pada jarak tertentu agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua
belah pihak yang sedang bersengketa itu. Kedua-nyapun berusaha untuk
menghindari penglihatan burung-burung elang yang terbang berputaran
diatas padepokan Kiai Banyu Bening. Dua orang anak muda itu telah
tersembunyi dibelakang gcrumbul perdu yang rimbun. Dan tempat mereka
bersembunyi, mereka dapat melihat meskipun tidak begitu jelas, wajah
depan padepokan Kiai Banyu Bening. Untuk beberapa lamanya mereka
menunggu. Burungburung elang yang berterbangan itu masih saja
berputar-putar dan sekali-sekali menukik rendah. Manggada dan
Laksana menduga, bahwa utusan Kiai Asem Bening masih berada di
padepokan. Keduanya telah menyabarkan dirinya, untuk melihat utusan
Panembahan Lebdagati itu keluar dari regol padepokan Kiai Banyu
Bening yang masih tertutup. Ketika kesabaran kedua orang anak muda
itu hampir habis, maka mereka melihat dari kejauhan, pintu gerbang
padepokan itu bergerak. Perlahan-lahan pintu itupun terbuka. Dari
dalam regol, Manggada dan Laksana melihat lima orang berkuda
meninggalkan padepokan itu. Sementara itu, beberapa orang penghuni
padepokan itu melepas orang-orang berkuda itu pergi. Namun nampak
bahwa sikap mereka, baik kelima orang berkuda itu, maupun
orang-orang yang melepas mereka pergi, tidak cukup ramah. Ketika
kelima orang berkuda itu menjauh, maka orangorang yang melepas
mereka pergi itupun segera kembali masuk ke dalam dan pintu regol
pun perlahan-lahan ditutup. Manggada dan Laksana menarik nafas
dalam-dalam. Manggada mengusap keringatnya yang mengembun di
keningnya berkata, ”Mereka tentu tidak menemukan persetujuan. Besok
akan terjadi keributan itu.” “Tetapi mungkin juga Panembahan
Lebdagati menunggu persiapan yang lebih matang.” “Menurut
perhitunganku, Panembahan Lebdagati akan berperan dengan cepat. Jika
dia sudah memberikan waktu sepuluh hari, itu berarti bahwa dalam
sepuluh hari itu, Panembahan Lebdagati mematangkan
persiapannya.” Laksana mengangguk-angguk sambil berdesis,
”Jika demikian, besok akan terjadi pertempuran yang sengit di regol
itu. “ “Kita harus sudah berada di padukuhan kecil itu. Mudahmudahan
Ki Pandi datang tepat pada waktunya,“ sahut Manggada. Laksana tidak
menjawab. Sementara itu, burung-burung elang itupun masih nampak
terbang berputaran. Tetapi tidak lagi diatas padepokan Kiai Banyu
Bening. Burung-burung elang itu berputaran sambil mengikuti kelima
orang utusan Panembahan Lebdagati itu. “Apakah kita akan mengikuti
arah terbang burung-burung itu agar kita mendapat ancar-ancar dimana
sarang Panembahan Lebdagati selama ia mempersiapkan diri untuk
menyerang padepokan Kiai Banyu Bening?“ bertanya Laksana. ”Sudahlah.
Kita kembali saja ke rumah Ki Ajar Pangukan. Jika para pengikut
Panembahan Lebdagati atau burungburung elang mereka melihat kita,
maka kita akan berada dalam kesulitan. Bahkan mungkin bukan hanya
kita berdua.” Laksana mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Kita akan
memberikan laporan kepada Ki Ajar Pangukan.” Demikianlah, maka
mereka berduapun segera kembali kerumah Ki Ajar Pangukan. Namun
ketika mereka menyusup sebuah gerumbul dan kemudian memanjat naik
sebuah tebing rendah, mereka terkejut. Ki Ajar Pangukan duduk diatas
sebuah batu padas sambil tersenyum. “Ki A jar,” desis Manggada dan
Laksana hampir berbareng. “Aku memang menunggu kalian,“ berkata Kj
Ajar. “Ki A jar disini sejak tadi? “ bertanya Laksana. ”Tidak.
Aku menunggu kalian yang bersembunyi dibelakang gerumbul sambil
melihat kepergian kelima orang utusan Panembahan Lebdagati. “Jadi ?”
Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya “Ya. Aku juga ingin mengetahui apa
yang terjadi di padepokan Kiai Banyu Bening.” Manggada dan Laksana
pun tersenyum pula. Sementara Ki Ajar berkata “Marilah. Kita pulang.
Kecuali aku dan kalian, maka yang lain pun ikut pula melihat apa
yang terjadi di padepokan justru pada saat yang genting.”
Sebenarnyalah ketika mereka sampai dirumah Ki Ajar Pangukan, maka
ternyata seisi rumah itu telah mendekati padepokan dari arah yang
berbeda-beda. Mereka semuanya melihat kelima orang utusan Panembahan
Lebdagati meninggalkan padepokan. Mereka semuanya melihat
burungburung elang itu berputaran mengamati kelima orang yang
meninggalkan padepokan itu. Dalam pada itu, maka seisi rumah ilupun
kemudian telah mempersiapkan diri. Malam nanti mereka akan pergi ke
padukuhan yang telah disebutkan oleh Ki Pandi. Namun mereka akan
menunggu sampai Ki Pandi datang bersama kedua ekor harimaunya.
“Sampai kapan kita menunggu?“ bertanya Ki Lemah Teles. “Jika
menjelang tengah malam Ki Pandi tidak datang, maka kita akan
meninggalkannya.“ Ki Sambi Pitulah yang menjawab. “Baiklah,” berkata
Ki Ajar Pangukan “kita akan menunggu sampai menjelang tengah
malam.” “Tetapi bukankah Ki Pandi berjanji untuk datang
sebelum senja,“ bertanya Manggada. “Kita tidak tahu, apakah Ki Pandi
mengalami hambatan yang sulit diatasi,“ berkata Ki Lemah Teles.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Memang segala sesuatu
mungkin terjadi. Tetapi jika tidak ada hambatan apapun, Ki Pandi
agaknya tidak akan mengingkari janjinya. Ketika matahari menjadi
semakin rendah, maka cahayanya yang kemerahan memancar ke puncak
pepohonan. Selembarselembar awan yang didorong angin mengambang ke
utara. Manggada dan Laksana masih duduk diserambi depan rumah Ki
Ajar Pangukan. Setelah mereka membuat minuman dan menghidangkannya
kepada penghuni rumah itu, maka kedua anak muda itu telah membawa
mangkuk minuman hangat bagi mereka sendiri di serambi. “Senja sudah
turun,“ berkata Manggada. “Mungkin terjadi sesuatu di perjalanan,“
sahut Laksana yang mulai menjadi gelisah. Meskipun dirumah itu ada
beberapa orang tua yang berilmu tinggi, namun rasa-rasanya orang
yang paling dekat dengan mereka adalah Ki Pandi. Ki Pandi pula lah
yang membawa mereka kc rumah Ki Ajar Pangukan. Ki Pandi pulalah yang
telah menuntun mereka memanjat ketataran ilmu mereka yang semakin
tinggi. Karena itu, maka baik Manggada maupun Laksana telah
menganggap bahwa Ki Pandi adalah guru mereka. Manggada dan Laksana
itupun tiba-tiba meloncat bangkit ketika mereka melihat di antara
gcrumbul-gcrumbul perdu dua ekor harimau yang berjalan
perlahan-lahan sambil memandang kedua orang anak muda yang kemudian
berdiri di halaman itu. Dua pasang mata yang berkilat-kilat
seperti sorot permata yang kehijau-hijauan memancar di ketemaraman
senja. “Ki Pandi” desis Manggada. Dari balik pohon perdu yang tumbuh
memagari halaman rumah itu, Ki Pandi melangkah terbungkuk-bungkuk.
“Aku memenuhi janjiku,“ berkata Ki Pandi sambil tersenyum. Namun
katanya pula “Tetapi aku terlambat sedikit” Pintu rumah yang masih
terbuka itu terbuka semakin lebar. Ki Ajar Pangukan yang mendengar
nama Ki Pandi disebut, segera melangkah keluar. ”Kau datang pada
waktunya,” berkata Ki A jar. ”Aku berusaha untuk memenuhi janjiku,
meskipun aku harus berjalan tanpa berhenti,“ jawab Ki Pandi. “Sejak
kemarin?” “Tidak. Aku sempat tidur, mandi dan makan.” “Marilah,
masuklah. Kedua cucumu itu menunggumu di serambi sejak tadi,“
berkala Ki Lemah Teles. Ki Pandi tertawa, sementara Manggada berkata
“Semua kerja sudah selesai, sehingga kami sempat duduk menunggu
disini.” Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah duduk bersama dengan
seisi rumah itu. Laksana telah menghidangkan minuman hangat bagi Ki
Pandi, sementara ketela pohon yang direbus Manggada pun telah masak
pula. Ketika ketela rebus itu dihidangkan, maka Ki Ajar Pangukan pun
berkata, “Marilah. Silahkan makan sebanyak-banyaknya. Belum tentu
besok kita akan sempat makan. Seandainya sempat, kita belum
tahu apakah ada orang yang memberi kita makan.” Demikianlah setelah
mereka makan ketela pohon yang direbus dengan santan dan garam
secukupnya, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk pergi.
Sementara itu langit telah menjadi hitam. Lampu minyak telah
dipasang. Tetapi karena semuanya akan pergi, maka lampu-lampu itupun
segera dipadamkannya. Beberapa saat kemudian, seisi rumah Ki Ajar
Pangukan itu telah berada dalam perjalanan. Mereka merayap maju
dalam kegelapan melalui jalan yang kadang-kadang turun dengan
terjal, kadang-kadang menyusup diantara gerumbul perdu. Sekali
meloncat dan memanjat. Tetapi mereka tidak tergesa-gesa. Karena itu,
maka mereka berjalan perlahan-lahan, sehingga karena itu, maka
mereka maju dengan lambat. Dua ekor harimau berjalan bersama dengan
mereka. Namun kadang-kadang kedua ekor harimau itu menghilang. Baru
beberapa saat kemudian, muncul kembali dan ikut berjalan beriring
pada jalan setapak yang berbatu padas. Baru beberapa saat kemudian,
mereka sampai di tempat terbuka. Mereka berada di sebuah jalan kecil
yang dapat mereka lalui menuju ke padepokan yang mereka tuju. Tetapi
mereka tidak pergi ke padukuhan itu. Mereka akan berada di sekitar
sanggar untuk melihat suasana. Dalam kegelapan mereka pun merayap
semakin dekat dengan padukuhan yang mereka tuju. Seperti yang mereka
duga, bahwa di padukuhan itu juga terdapat sebuah sanggar yang
dibatasi dengan dinding kayu batang kelapa utuh yang dipotong rampak
dan ditanam berkeliling. Seperti yang terdapat di padukuhan tempat
tinggal Ki Krawangan, maka didalam sanggar itu terdapat bangunan
khusus untuk menyerahkan korban. “Kita bermalam disini””berkata Ki
Ajar Pangukan. Lalu katanya pula “tentu tidak ada orang yang akan
memasuki sanggar ini.” Yang lainpun sepakat. Mereka akan bermalam di
sanggar yang terbuka itu. Tetapi sudah tentu bahwa mereka harus
membagi waktu bergantian berjaga-jaga. Menjelang fajar, yang
bertugas berjaga-jaga adalah Manggada dan Laksana. Perhatian mereka
tertarik pada sikap dua ekor harimau milik Ki Pandi yang menyusul ke
sanggar itu. Kedua ekor harimau itu seakan-akan ingin berbicara
kepada Manggada dan Laksana. Mereka memberikan isyarat yang agaknya
ingin memberitahukan sesuatu. ”Kita bangunkan saja Ki Pandi,“ desis
Manggada. Laksana mengangguk kecil sambil beringsut dan mendekati Ki
Pandi yang tertidur. Agaknya Ki Pandi memang letih setelah menempuh
perjalanan panjang mengambil kedua ekor harimaunya. Tetapi Ki Pandi
segera bangkit ketika kedua anak muda itu membangunkannya. -”Ada
apa? “ bertanya Ki Pandi. ”Harimau itu,“ jawab Laksana. Ki Pandipun
kemudian mendekati kedua ekor harimau yang seakan-akan berbicara
kepadanya. “Tentu ada sesuatu yang menarik perhatian kedua
ekor harimau itu,” berkata Ki Pandi. “Apa Ki Pandi? “ bertanya
Laksana. “Marilah kita lihat,” jawab Ki Pandi. Namun sebelum pergi
Ki Pandi telah membangunkan kawan-kawannya yang masih tidur nyenyak
diatas rerumputan. Tetapi Ki Lemah Teles tidur mendekur saja diatas
tempat orang-orang padukuhan itu menyerahkan korban. Ki Pandipun
memberitahukan kepada mereka, bahwa ia ingin mengikuti kedua ekor
harimau yang telah memberikan isyarat kepadanya untuk mengikutinya.
Ki Pandi pun segera berbenah diri. Manggada dan Laksana telah
dibawanya mengikuti kedua ekor harimaunya yang berjalan keluar dari
sanggar yang kosong itu. Beberapa saat mereka berjalan di keremangan
dini hari. Dengan sangat berhati-hati mereka berusaha mendekati
padepokan yang masih disaput oleh embun yang tipis. Ki Pandi
mengikuti saja kedua ekor harimaunya yang menyusup diantara
gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh di kaki Gunung. Namun kemudian
kedua ekor harimau Ki Pandi itupun berhenti. Dengan isyarat yang
hanya diketahui oleh Ki Pandi kedua ekor harimau itu nampaknya telah
memberitahukan sesuatu. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Kepada
Manggada dan Laksana ia berbisik, ”Kalian tinggal disini saja. Aku
akan bergeser mendekat.” Keduanya mengangguk. Jika Ki Pandi sudah
mengisyaratkan agar mereka tinggal, maka tentu ada sesuatu
yang akan dapat membahayakan mereka. Karena itu, maka keduanya tidak
memaksa untuk mengikutinya. Dalam pada itu, dengan sangat
berhati-hati Ki Pandi bergerak lebih dekat lagi. Dua ekor harimaunya
berjalan mengendap-endap, seakan-akan sedang merunduk mangsanya.
Ketika kedua ekor harimau itu kemudian berhenti dan mendekam
dibelakang sebuah gerumbul, maka Ki Pandi pun menjadi semakin
berhati-hati. Dengan jantung yang berdebaran, Ki Pandi kemudian
melihat beberapa kelompok orang yang sudah bersiap-siap dengan
senjata datangan menghadap kearah pintu gerbang padepokan. Ki Pandi
menarik nafas dalam-dalam. Panembahan Lebdagati ternyata tidak
tanggung-tanggung mempersiapkan diri menghadapi padepokan Kiai Banyu
Bening. Agaknya ia telah mengerahkan pengikut-pengikutnya untuk
menyerang padepokan yang tidak tunduk pada perintahnya itu.
“Ternyata Panembahan Lebdagati benar-benar tidak menunggu besok atau
lusa. Demikian ancamannya tidak dipatuhi, maka iapun segera datang
dengan kekuatan yang besar. “ berkata Ki Pandi didalam hatinya.
Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Agaknya Panembahan Lebdagati
menunggu matahari terbit. Tetapi Ki Pandi tidak ingin melihat
peristiwa yang penting itu sendiri. Maka iapun segera memberi
isyarat kepada kedua ekor harimaunya agar tetap tinggal disitu. Ki
Pandi sendiri telah beringsut disela-sela gerumbulgerumbul perdu
mendekati Manggada dan Laksana. “Berhati-hatilah. Beritahu Ki
Ajar Pangukan dan orang-orang yang ada di sanggar. Biarlah mereka
melihat apa yang akan terjadi disini. Tetapi merekapun harus
berhati-hati. Aku menunggu mereka disini.” Manggada dan Laksana pun
kemudian dengan sangat berhati-hati meninggalkan tempatnya menuju ke
sanggar padukuhan untuk menjemput Ki Ajar Pangukan dan mereka yang
berada di sanggar itu. Ketika mereka sampai ditempat Ki Pandi
menunggu, langit sudah menjadi semakin merah. Kabut justru nampak
menjadi lebih tebal menebar di kaki Gunung. “Kita akan menebar “
berkata Ki Pandi “kita akan melihat apa yang terjadi dari beberapa
arah.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Kabut yang putih buram
mampu melindungi gerak mereka yang memencar itu. Namun Manggada dan
Laksana tetap bersama Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya. Ketika
kemudian langit menjadi semakin cerah, maka Panembahan Lebdagati
telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai bergerak.
Dengan isyarat bunyi seperti suara burung kedasih, maka para
pengikut Panembahan Lebdagati itupun mulai bergerak. Ketika kemudian
langit menjadi semakin cerah, maka Panembahan Lebdagati telah
memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai bergerak.
Dengan isyarat bunyi seperti suara burung kedasih, maka para
pengikut Panembahan Lebdagati itupun mulai bergerak. Ki Pandi yang
bersembunyi didalam semak-semak bersama Manggada, Laksana dan kedua
ekor harimaunya, meskipun tidak terlalu dekat, dapat melihat gerak
para pengikut Panembahan Lebdagati mendekati padepokan Kiai
Banyu Bening. Namun dalam pada itu, para cantrik Kiai Banyu
Beningpun telah bersiap menunggu kedatangan lawan-lawan mereka dari
balik dinding padepokan. Mereka berdiri diatas panggungan yang
memanjang di belakang dinding padepokan. Tetapi hal itu sudah
diperhitungkan oleh para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga
sebagian dari mereka telah membawa perisai untuk melindungi diri.
Tetapi yang lain yakin akan dapat menepis serangan anak panah dengan
pedangnya. Sementara yang lain lagi membalut lengan kirinya dengan
kain panjang yang akan dapat dipergunakan sebagaimana sebuah
perisai. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang tua yang
lain yang tinggal dirumahnya, telah berpencar. Mereka mencoba
mengamati keadaan yang terjadi di padepokan itu sebaik-baiknya.
Ketika kemudian matahari terbit, maka para pengikut Panembahan
Lebdagati telah mendekati pintu gerbang padepokan. Beberapa orang
membawa sebatang kayu yang cukup besar dan panjang yang akan mereka
pergunakan untuk memecahkan pintu. Sementara beberapa orang yang
lain membawa tali ijuk dengan jangkar besi yang diikat diujungnya.
Dalam pada itu, para cantrik dan putut di padepokan Kiai Banyu
Bening telah bersiap. Anak panah telah melekat dibusurnya. Pada saat
yang tepat, anak panah itu akan meluncur kearah para pengikut
Panembahan Lebdagati diluar dinding. Manggada dan Laksana menjadi
berdebar-debar. Meskipun mereka tidak berada terlalu dekat dengan
padepokan, namun mereka dapat melihat dengan jelas, apa yang
terjadi kemudian. Ketika terdengar aba-aba dari para pemimpin dari
padepokan Kiai Banyu Bening, maka anak panahpun segera meluncur dari
busurnya seperti hujan yang tercurah dari langit. Namun para
pengikut Panembahan Lebdagati telah bersiap untuk menangkis serangan
itu dengan perisai mereka. Sedangkan yang lain menepis dengan pedang
atau tombak atau senjata yang lain. Sedangkan yang lain lagi menepis
anak panah itu dengan kain panjang yang mereka ikatkan pada lengan
kirinya. Perlahan-lahan para pengikut Panembahan Lebdagati itu
bergerak maju. Mereka terhenti sejenak, ketika mereka sampai pada
jarak jangkau anak panah lawannya, seolah-olah mereka sedang menguji
kemampuan mereka menangkis, menepis dan menghindari serangan anak
panah itu. Sementara itu, orang-orang yang membawa sepotong kayu
yang besar dan cukup panjang telah bersiap pula mengambil
ancang-ancang, sedangkan yang lain bersiap untuk melindungi mereka
dari serangan anak panah dan lembing yang tentu akan
dilontarkan dari panggungan disebelah menyebelah regol. Beberapa
saat gerak para pengikut Panembahan Lebdagati memang terhenti,
seolah-olah anak panah dan lembing yang dilontarkan dari belakang
dinding padepokan itu mampu menghentikan serangan mereka. Namun
tiba-tiba saja terdengar teriakan nyaring. Peringatan untuk dengan
cepat menyerang. Teriakan itu bersambut dan diteriakkan sambung
menyambung. Sejenak kemudian, maka serangan itupun datang seperti
arus banjir bandang. Para pengikut Panembahan Labdagati itupun
berlari-lari sambil berteriak-teriak memekakkan telinga. Mereka
menghambur dengan cepat mendekati dinding padepokan. Dengan
demikian, maka pertempuran antara kedua kelompok yang besar dari dua
lingkungan hitam telah terjadi dengan sengitnya. Ternyata para
pengikut Panembahan Lebdagati tidak sekedar membiarkan mereka
menjadi sasaran. Tetapi sebagian dari para pengikut Panembahan
Lebdagati juga mempergunakan busur dan anak panah untuk melindungi
kawan-kawan mereka, terutama mereka yang berusaha memecahkan pintu
gerbang. Sekelompok orang yang memanggul sebatang kayu yang besar
dan panjang itupun kemudian telah berlari-lari dengan cepat mengarah
ke pintu. Sementara itu, sekelompok yang lain juga berlari-lari
melindungi mereka dengan perisai serta senjata mereka masing-masing
agar anak panah yang meluncur dari panggungan disebelah menyebelah
pintu gerbang itu tidak mengenai sasaran Betapa kuatnya selarak
pintu gerbang padepokan itu, namun dengan hentakan-hentakan yang
tidak ada hentihentinya, maka se-larak pintu gerbang itupun mulai
menjadi retak. Kiai Banyu Bening yang menyaksikan keadaan selarak
itupun segera memberikan aba-aba, bahva pertahanan terkuat harus
diletakkan disekitar pintu gerbang. Demikian pintu gerbang terbuka,
serta orang-orang yang berada diluar menyerbu masuk, maka para
cantrik itu harus berusaha menyerang mereka dengan anak panah dan
lembing sebelum mereka terlibat dalam pertempuran seorang melawan
seorang. “Kita harus berusaha mengurangi jumlah lawan
sebanyakbanyaknya.” Perintah itu telah menjalar dari seorang cantrik
ke cantrik yang lain, sehingga ketika retak selarak pintu gerbang
itu menjadi semakin parah, sekelompok cantrik telah siap dengan
busur dan anak panah. Sementara itu, yang lainpun telah siap untuk
melemparkan lcmbing-lembing bambu dengan bedor besi yang tajam.
Demikianlah seperti yang telah diperhitungkan, maka selarak pintu
yang rangkap itu masih tidak mampu menahan hentakan-hentakan yang
berulang kali tanpa hitungan itu. Akhirnya satu diantara kedua
selarak pintu itupun telah patah, sementara selarak yang satu lagi
tidak dapat bertahan terhadap dua hentakan berikutnya. Sejenak
kemudian, maka pintu gerbang itu telah terdorong dan terbuka.
Seperti air yang melimpah, para pengikut Panembahan Lebdagati
mengalir memasuki pintu gerbang yang terbuka itu. Berdesakan berebut
dahulu. Teriakan-teriakan nyaring terdengar bagaikan
meruntuhkan langit. Namun dengan tangkasnya para cantrik dari
padepokan Kiai Banyu Bening telah melepaskan anak panah yang sudah
siap terpasang dibusurnya. Terdengar teriakan kesakitan dan
kemarahan sekaligus melengking diantara sorak para pengikut
Panembahan Lebdagati itu. Beberapa orangpun roboh. Terinjak oleh
kaki kawankawannya sendiri. Sementara itu, para cantrik tidak sempat
lagi memasang anak panah pada busurnya ketika orang-orang yang
menyerbu masuk itu berlari-larian menyerang mereka dengan garangnya.
Senjata mereka terayun-ayun mengerikan, seperti tangan-tangan maut
yang sedang menggapai nyawa para cantrik yang sedang bertahan itu.
Pertempuran yang sengit pun tidak terelakkan lagi. Sementara itu,
beberapa orang yang berusaha memanjat talitali yang diikat pada
jangkar bumi yang dilontarkan ke bibir dinding padepokan, mulai
berhasil pula. Para cantrik yang berusaha memotong tali-tali itu,
harus menjaga diri mereka dari sengatan anak panah yang dilontarkan
dari luar dinding, sehingga ada diantara mereka yang terlambat
menahan gerak orang-orang yang sedang memanjat itu. Dalam waktu yang
singkat, maka pertempuranpun telah menjalar menyusup diantara
bangunan-bangunan di padepokan itu. Para cantrik yang berada di
panggungan dibelakang dinding itupun telah berloncatan turun. Mereka
tidak lagi harus bertahan agar orang-orang yang menyerang padepokan
itu tidak dapat memasuki dinding. Tetapi justru karena pintu gerbang
telah terbuka, maka arus serangan itu tidak tertahankan lagi. Para
pengikut Panembahan Lebdagati pun tidak mau mempersulit diri
dengan memanjat tali serta melemparkan jangkar yang dapat mengait
bibir dinding padepokan. Tetapi mereka berlari-lari menuju ke pintu
gerbang dan masuk kedalamnya tanpa banyak kesulitan. Para cantrik
dari padepokan Kiai Banyu Bening itu berusaha untuk bertahan
sekuat-kuatnya. Dengan pengenalan mereka yang lebih baik terhadap
medan, maka mereka mempunyai kesempatan lebih baik dari lawan-lawan
mereka. Tiba-tiba saja para cantrik itu seakan-akan menghilang.
Namun dengan tibatiba pula mereka datang menyerang dengan garangnya
tanpa diketahui dari mana mereka datang. Setiap pintu bangunan yang
ada di padepokan itu dapat menjadi sumber malapetaka. Pintu yang
tertutup itu tiba-tiba saja terbuka. Ujung-ujung senjata terjulur
dengan cepat menyambar tubuh mereka. Bahkan sudut-sudut rumah yang
ada dapat menjadi tempat para cantrik menunggu korban mereka.
Meskipun demikian, namun para putut dan cantrik dari padepokn Kiai
Banyu Bening itu mulai merasakan tekanan yang kuat dari para
pengikut Panembahan Lebdagati. Beberapa orang pengikut Panembahan
Lebdagati tidak dapat dilawan oleh hanya dua orang saja. Bahkan
ketika para pemimpin dari kedua belah pihak mulai saling bertemu,
maka mulai terasa bahwa orang-orang Panembahan Lebdagati memiliki
beberapa kelebihan dari pada putut dan cantrik di padepokan itu.
Dalam pada itu, Kiai Banyu Bening yang masih mencoba unik melihat
ketahanan para pengikutnya mulai menjadi gelisah. Ia tidak dapat
mengingkari kenyataan, ternyata beberapa orang pengikut Panembahan
Lebdagati memiliki ilmu yang tinggi. Kiai Banyu Bening memang
harus menyadari, bahwa padepokannya adalah padepokan yang jauh lebih
muda dari para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga karena itu,
maka para pengikut Kiai Banyu Bening pun masih belum akan dapat
mengimbangi kemampuan para pengikut Panembahan Lebdagati yang
meskipun sebagian bukan pengikutpengikuinya sejak awal ia mulai.
Tetapi nama Panembahan Lebdagati memiliki wibawa tersendiri,
sehingga tidak sulit bagi Panembahan Lebdagati untuk mencari
pengikut dan bahkan kawan-kawan baru dari lingkungan orag-orang
berilmu tinggi. Karena itu, maka Kiai Banyu Bening tidak mempunyai
pilihan lain. Ia harus segera dapat mengatasi kesulitan itu. “Aku
harus bertemu langsung dengan orang yang mengaku bernama Panembahan
Lebdagati itu“ berkata Kiai Banyu Bening didalam hatinya “Jika aku
dapat segera menyelesaikannya, maka aku akan segera dapat mengusir
dan bahkan menghancurkan para pengikutnya.” Dengan beberapa orang
terpilih diantara para pemimpin padepokan itu, maka Kiai Banyu
Bening siap menghadapi orang yang menyebut dirinya Panembahan
Lebdagati itu. Namun dalam pada itu, Kiai Banyu Bening sempat
bertanya kepada seorang yang bertubuh raksasa yang pernah berada di
sanggar saat Ki Pandi memberikan korban setandan pisang, sehingga Ki
Pandi sendiri akhirnya akan dikorbankan””Dimana Warana?” Orang
bertubuh raksasa itu menggeleng sambil menjawab, ”Sejak tadi aku
tidak melihatnya, Kiai.” Namun seorang yang lain menjawab “Bersama
sekelompok cantrik Ki Warana berusaha mempertahankan pintu gerbang
butulan disisi barat. Agaknya sekelompok pengikut Panembahan
Lebdagati berusaha untuk memecahkan pintu butulan itu.” Kiai Banyu
Bening mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lagi. Dibawanya beberapa
orang terpilih itu untuk langsung menghadapi Panembahan Lebdagati.
Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati ternyata bersamasama dengan
beberapa orang tengah mencerai-beraikan sekelompok cantrik yang
semula mengepungnya. Tetapi para cantrik itu tidak mampu bertahan.
Sebagian dari mereka justru tidak mampu melindungi diri mereka
sendiri. Para cantrik yang memang hampir saja melarikan diri
menghindari itu telah terhimpun kembali ketika mereka melihat Kiai
Banyu Bening sendiri datang untuk menghadapi Panembahan Lebdagati.
Panembahan Lebdagati yang melihat kehadiran Kiai Banyu Bening telah
menyongsongnya sambil tersenyum. Katanya dengan nada berat, “Selamat
bertemu Kiai Banyu Bening. Kita belum terlalu akrab berkenalan.
Tetapi aku tahu pasti bahwa kau adalah Kiai Banyu Bening.” “Kau
siapa?“ bertanya Kiai Banyu Bening. ”Kau tidak mengenal aku?”
bertanya Panembahan Lebdagati sambil tersenyum. “Tidak. Aku tidak
mengenalmu.“ jawab Kiai Banyu Bening. “Kenapa kita harus
berpura-pura. Sebelum kita bertemu, kau dapat saja tidak percaya
bahwa aku adalah Panembahan Lebdagati. Kau dapat menduga bahwa orang
lain memanfaatkan kebenaran nama Panembahan Lebdagati bagi
kepentingannya sendiri. Tetapi setelah kita bertemu dan berhadapan
seperti sekarang ini, seharusnya kau dapat mengenali aku. Aku
adalah Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.” “Persetan dengan
pengakuanmu. Tetapi kau salah jika kau menganggap bahwa dengan
berlandaskan nama Panembahan Lebdagati kau dapat menakut-nakuti
aku.” Panembahan Lebdagati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun tertawa “Kau mencoba untuk membesarkan hatimu sendiri dengan
menganggap bahwa aku bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”
“Kau kira aku menjadi ketakutan seandainya Panembahan Lebdagati itu
sekarang datang kemari?”- Panembahan Lebdagati tertawa semakin
keras. Katanya kemudian “Baiklah. Siapapun aku, tetapi aku tetap
pada tuntutanku. Daerah ini akan aku ambil kembali. Aku sudah
memberimu waktu sepuluh hari. Aku kira waktu itu sudah terlalu
cukup. Karena sampai batas terakhir kau tetap berkeras, maka aku
datang untuk menghukummu.” “Tetapi kau harus melihat kenyataan,
bahwa kau datang untuk mengantarkan nyawamu. Meskipun setelah kau
mati, tentu ada orang lain yang menyebut dirinya Panembahan
Lebdagati.” “Baik. Baik “jawab Panembahan Lebdagati “apapun katamu,
tetapi bersiaplah untuk mati.” Kiai Banyu Bening itupun
kemudian telah memberi isyarat kepada putut dan cantrik yang datang
bersamanya untuk memencar menghadapi para pengikut Panembahan
Lebdagati yang ada di sekitarnya. Dalam pada itu, pertempuran masih
berlangsung dimana-mana. Para cantrik memiliki kemungkinan lebih
baik dengan memanfaatkan medan. Tetapi secara pribadi para pengikut
Panembahan Lebdagati memiliki ilmu yang lebih tinggi. Dalam pada
itu, maka pertempuran yang terjadi antara Panembahan Lebdagati dan
Kiai Banyu Bening telah menjadi semakin sengit. Keduanya mulai
meningkatkan ilmu mereka. Dengan cepat mereka berloncatan menyerang
dan menghindar. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing,
sehingga pertempuran itu tidak segera dapat dibayangkan, siapakah
yang akan menang dan siapakah yang bakal kalah. Panembahan Lebdagati
yang bertempur dengan mantap, tidak terlalu banyak bergerak. Tetapi
setiap ayunan tangannya, seakan-akan tetap menghamburkan angin yang
tajam menusuk kulit. Sementara itu, Kiai Banyu Bening bertempur
dengan tangkasnya. Ia bergerak cepat, sehingga sekali-sekali
serangannya mampu menyusup pertahanan Panembahan Lebdagati. “Dengan
demikian, baik Panembahan Lebdagati maupun Kiai Banyu Bening menjadi
semakin berhati-hati. Mereka harus mengakui bahwa lawan mereka
adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Panembahan Lebdagati yang
semula meragukan tingkat kemampuan Kiai Banyu Bening sebagaimana
Kiai Banyu Bening yang menganggap bahwa lawannya bukan Panembahan
Lebdagati yang sebenarnya, sehingga tataran ilmunya juga tidak akan
terlalu tinggi, harus mengakui bahwa mereka telah salah hitung.
Panembahan Lebdagati harus mengakui kelebihan Kiai Banyu Bening,
sedangkan Kiai Banyu Bening harus mengakui kelebihan lawannya,
apakah ia Panembahan Lebdagati yang sebenarnya atau bukan. Dalam
pada itu, Ki Ajar Pangukan serta orang-orang yang tinggal
dirumahnya, ternyata tidak mampu melihat apa yang terjadi didalam
lingkungan dinding padepokan. Merekapun tidak dapat lebih mendekat
lagi, jika mereka tidak ingin terlibat dalam pertempuran itu. Karena
itu, maka yang dapat mereka lakukan adalah menunggu, apa yang akan
terjadi dalam pertempuran yang melibatkan banyak orang itu. Manggada
dan Laksana yang bersembunyi didalam gerumbul perdu bersama Ki Pandi
dan kedua ekor harimaunya, mengamati burung-burung elang yang
berterbangan diatas padepokan. Dari gerak burung-burung elang itu,
mereka rasa-rasanya dapat menduga, apa yang telah terjadi di
padepokan. Burung-burung yang semula berterbangan berputar-putar
itu, kemudian telah nampak menjadi gelisah. Burung-burung itu
terbang semakin rendah. Sekali-sekali burung-burung itu
menukik dalam sekali, bahkan seakan-akan hilang dibelakang dinding
padepokan. Namun kemudian muncul kembali dan terbang semakin tinggi.
“Burung-burung itu tentu telah melibatkan diri.” berkata Manggada
hampir berbisik. “Ya,” sahut Laksana “agaknya pertempuranpun menjadi
semakin sengit. “Burung-burung elang itu cukup berbahaya,“ desis
Manggada kemudian. Laksana mengangguk kecil. Namun kemudian dahinya
berkerut ketika ia melihat kegelisahan burung-burung itu menjadi
semakin meningkat. Burung-burung itu menyambarnyambar dengan
cepatnya. Bahkan burung-burung itupun telah memberikan isyarat tidak
saja dengan geraknya, tetapi burung-burung itu mulai
berteriak-teriak dengan suaranya yang nyaring. Kuku-kukunya yang
dipertajam dengan baja menjadi semakin berbahaya. “Sayang,“ berkata
Manggada “kita tidak dapat melihat apa yang terjadi didalam
padepokan itu.” “Kita akan mendengar dari Ki Warana,“ sahut Ki
Pandi. “Bagaimana jika Ki Warana terbunuh dalam pertempuran itu?”
“Mudah-mudahan ada orang lain yang mengambil alih tugasnya.“ jawab
Ki Pandi. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun keduanya
nampak menjadi tegang. Sementara itu, burungburung elang itupun
menjadi semakin sibuk pula. Sebenarnyalah pertempuran didalam
padepokan itu menjadi semakin sengit. Para cantrik padepokan Kiai
Banyu Bening benar-benar memanfaatkan medan untuk mengimbangi
kelebihan kemampuan lawan-lawan mereka. Sambil bertempur mereka
berlari-larian diantara bangunan yang ada di padepokan. Namun
kemudian kelompok-kelompok yang lain menyerang dengan tiba-tiba
muncul dari balik pintu. Dengan demikian, maka para pengikut
Panembahan Lebdagati menjadi sangat sibuk menghadapi mereka. Karena
itu, pawang burung-burung elang itu telah melibatkan burungburungnya
dalam pertempuran. Bagaimanapun juga, burung-burung elang itu
berpengaruh pula. Kukunya yang dipertajam dengan ujung-ujung baja
yang runcing, sangat berbahaya bagi para cantrik. Kuku-kuku itu
dapat menghunjam ke kulit daging para cantrik jika mereka gagal
menghindar. Dalam pertempuran yang semakin sengit itu, Panembahan
Lebdagati masih saja bertempur melawan Kiai Banyu Bening. Keduanya
bukan saja meningkatkan kemampuan mereka, tetapi mereka sudah mulai
merambah ke tataran ilmu yang lebih tingi. Kiai Banyu Bening sambil
meloncat-loncat disekitar bangunan yang dikeramatkannya. Sebuah
nisan kecil yang berada diatas lembaran bangunan dari yang agak
tinggi. Bahkan Kiai Banyu Bening seakan-akan selalu menjaga jarak
dengan bangunan itu. Bangunan yang menurut Kiai Banyu Bening adalah
kuburan anak bayinya yang terbunuh didalam nyala api. Dalam pada
itu, Panembahan Lebdagati telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi.
Dengan ilmunya Panerabahan Lebdagati berusaha untuk segera
menghentikan perlawanan Kiai Banyu Bening. Tetapi Kiai Banyu Bening
ternyata masih mampu mengimbanginya, sehingga dengan demikian
maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sementara
itu pertempuran di padepokan itu masih berlangsung terus. Korban
berjatuhan semakin lama menjadi semakin banyak. Tubuh yang berbujur
lintang bertebaran dimana-mana. Sebagian masih mengerang kesakitan.
Bahkan mereka masih mencoba merangkak mencari perlindungan dari
teriknya matahari. Namun yang lain sama sekali sudah tidak bergerak
lagi. Panembahan Lebdagati yang berilmu sangat tinggi itu telah
mengambil keputusan, untuk segera mengakhiri perlawanan Kiai Banyu
Bening. Karena itu, maka ilmunyapun menjadi semakin meningkat
sejalan dengan kemarahan yang semakin menghentak didadanya. Tetapi
Kiai Banyu Bening yang menyadari bahwa para pengikutnya semakin
banyak yang menjadi korban, telah mengerahkan segenap kemampuannya
pula. Dengan demikian, maka benturan-benturan yang terjadi diantara
keduanya pun menjadi semakin sengit. Kekuatan dan kemampuan
Panembahan Lebdagati yang memanjat sampai kepuncak, telah mendesak
Kiai Banyu Bening beberapa langkah surut. Namun Kiai Banyu Bening
yang bertempur didekat alas nisan bayinya itu, mampu menunjukkan
kelebihannya pula. Dalam keadaan yang memuncak itu, maka Panembahan
Lebdagati pun telah merambah ke ilmunya yang jarang ada duanya.
Dengan mengerahkan ilmunya, Panembahan Lebdagati telah
menghentakkan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap kearah
Kiai Banyu Bening. Tetapi Kiai Banyu Bening tanggap akan serangan
itu. Dengan cepatnya Kiai Banyu Bening meloncat berlindung dibalik
nisan kecilnya. Serangan Panembahan Lebdagati itu telah membentur
bangunan alas nisan kecil. Tetapi bangunan itu sama sekali tidak
menjadi goyah. Bahkan dari balik bangunan itu, Kiai Banyu Bening
telah membalas menyerang. Dari tangannya seakan-akan telah memancar
segenggam pasir yang membara. Panembahan Lebdagati yang melihat
serangan itu, meloncat menghindar. Ia harus menjatuhkan dirinya dan
berguling beberapa kali. Ia sadar, bahwa serangan itu merupakan
serangan yang sangat berbahaya. Sebutir saja pasir yang membara itu
mengenai kulitnya, maka pasir itu seakan-akan mampu melubangi
kulitnya dan membuat liang pada dagingnya. “Iblis kau, Banyu
Bening,“ desis Panembahan Lebdagati. “Menyerahlah. Kau akan menjadi
korban yang pertama dari padepokan ini bagi bayiku.” Panembahan
Lebdagati tidak menjawab. Namun serangannya telah meluncur kembali
dari kedua telapak tangannya. Sekali lagi Kiai Banyu Bening
bersembunyi dibalik bangunan alas nisan bayinya itu. Namun
Panembahan Lebdagati dengan cepat meloncat mendekat. Ia berusaha
untuk tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menyerang,
karena demikian ia melihat kemungkinan Kiai Banyu Bening itu
menyerang dengan menaburkan bubuk pasir yang bagaikan membara itu,
Panembahan Lebdagati telah mendahuluinya. Dengan demikian
pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin seru. Kiai Banyu
Bening masih saja melingkar-lingkar disekitar bangunan alas nisan
anaknya. Namun setiap kali ia menyerang, serangannya pun selalu
gagal. Dalam keadaan yang demikian, maka Panembahan Lebdagati itu
telah mempergunakan kemampuannya yang lain. Tiba-tiba saja maka
Panembahan Lebdagati itu melenting bangkit pada jarak kurang dari
selangkah dihadapan Kiai Banyu Bening. Kiai Banyu Bening tidak
mempunyai kesempatan lagi. Dengan cepat keris Panembahan Lebdagati
telah terhunjam di dada Kiai Banyu Bening. Kiai Banyu Bening tidak
lagi dapat menghindari kenyataan itu. Ia sempat memandang wajah
Panembahan Lebdagati dengan sorot mata bagaikan membara. Tetapi
ketika Panembahan Lebdagati menarik kerisnya, maka Kiai Banyu Bening
itupun jatuh terkulai ditanah. Panembahan Lebdagati termangu-mangu
sejenak. Dipandanginya tubuh Kiai Banyu Bening yang terbaring
ditanah. ”Setan kau,” geram Panembahan Lebdagati “kau terlalu cepat
mati, sehingga kau tidak sempat mengagumi kemampuanku yang tidak ada
duanya.” Sementara itu orang-orang yang bertempur di sekitarnya
melihat, bahwa Panembahan Lebdagati telah berhasil mengakhiri
perlawanan Kiai Banyu Bening. Beberapa orang pengikut
Panembahan Lebdagatipun telah bersorak meneriakkan kemampuannya.
Sementara itu, para cantrik dan pengikut Kiai Banyu Bening menjadi
kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tanpa
pimpinan Kiai Banyu Bening, maka para cantrik itu bagaikan lidi
tanpa ikatan. Namun dalam pada itu, beberapa orang yang telah
mengikatkan diri dengan Ki Warana berusaha untuk menghindar dari
pertempuran. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Berlindung
dibelakang keadaan medan yang kurang dipahami oleh para pengikut
Panembahan Lebdagati, mereka berusaha melepaskan diri. Seorang
diantara para cantrik dengan cepat berusaha menemui Ki Warana yang
bertempur justru di bagian belakang padepokan itu. Ki Warana yang
pernah mendapat peringatan dari Ki Pandi tentang kelebihan
Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya, sehingga Ki Warana telah
mempersiapkan diri untuk mengambil langkah-langkah tertentu. Karena
itu, demikian seseorang memberitahukan kepadanya, bahwa Kiai Banyu
Bening telah terbunuh, maka hilanglah beban yang menggantung di
pundak Ki Warana untuk membela padepokan yang pernah dihuninya itu.
Karena itu, maka ia mulai melaksanakan rencananya untuk meninggalkan
padepokan yang sudah tidak mungkin dipertahankannya lagi itu. Karena
itu, maka Ki Warana itu harus bergerak dengan cepat sebelum
Panembahan Lebdagati mengambil langkahlangkah sepeninggal Kiai Banyu
Bening. Dengan beberapa orang yang telah mengadakan
persetujuan sebelumnya, maka Ki Warana berusaha untuk mengacaukan
medan. Mereka bertempur sambil berlari-lari seakan-akan tidak
menentu. Mereka menyerang dan menghilang diantara bangunan yang ada.
Irama pertempuran memang terasa meningkat. Justru setelah Kiai Banyu
Bening terbunuh. Tetapi pada saat itu pula, beberapa orang cantrik
telah membuka pintu gerbang butulan di sisi Timur. Di sisi yang
justru nampak sepi, karena pertempuran yang terjadi di padepokan itu
seakan-akan menghindari tempat ini. Ki Warana lah yang sengaja
mengatur, agar para pengikut Kiai Banyu Bening itu memancing lawan
mereka menjauhi tempat itu. Irama pertempuran yang menjadi semakin
cepat itu ternyata menjadi isyarat bagi para pengikut Kiai Banyu
Bening yang sependapat dengan Ki Warana. Dengan cepat mereka telah
menuju ke-pintu gerbang butulan disisi Timur itu. Pada saat itu,
terdengar beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati mertenakkan
peringatan kepada para penghuni padepokan itu agar mereka menyerah.
“Yang menyerah akan mendapat pengampunan serta kesempatan untuk
mengabdi kepada Panembahan Lebdagati “ teriak beberapa orang
pengikut Panembahan Lebdagati. Beberapa orang yang putus-asa memang
telah menyerah. Tetapi mereka yang sependapat dengan Ki Warana telah
berusaha melarikan diri lewat pintu butulan yang telah terbuka. Para
pengikut Panembahan Lebdagati ternyata tidak mengejar mereka yang
melarikan diri bercerai berai. Para pemimpinnya menganggap hal itu
tidak perlu dilakukan. Seorang diantara para pemimpin itu
berkata “Biarlah mereka lari. Mereka tidak akan dapat berbuat
apa-apa lagi. Kita sudah banyak kehilangan. Jangan ditambah lagi
dengan melakukan hal-hal yang tidak berarti.” Meskipun demikian,
beberapa ekor burung elang yang melayang-layang diudara telah
mengamati orang-orang yang melarikan diri itu. Burung-burung itupun
telah memencar pula sebagaimana orang-orang padepokan yang melarikan
diri itu memencar. Tetapi burung-burung elang itupun akhirnya
melepaskan pengawasan mereka dan kembali ke padepokan. Ki Ajar
Pangukan dan orang-orang yang tinggal bersamanya itu mengamati
pertempuran itu dengan tegang. Mereka melihat burung-burung elang
itu menghambur berterbangan. Karena itu, maka merekapun telah
menduga, bahwa Ki Warana dan orang-orang yang sependapat dengannya
telah melarikan diri dari padepokan itu. Mudah-mudahan Ki Warana
berhasil,“ berkata K i Pandi yang juga dicengkam oleh ketegangan.
Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin
mengurai ketegangan yang mencengkam jantungnya. “Agaknya Ki Warana
sudah keluar dari padepokan lewat pintu regol butulan.” desis
Manggada. “Tetapi apakah Ki Warana selamat?“ desis Laksana.
“Mudah-mudahan. Ia adalah orang yang akan meniupkan udara yang
jernih kepada para pengikut Kiai Banyu Bening yang sesat itu. Karena
itu, aku berdoa untuk keselamatannya.“ berkata Ki Pandi.
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara ini, mereka
melihat beberapa ekor burung elang itu telah menukik dan tidak
nampak naik ke udara lagi. Bahkan akhirnya burung-burung elang itu
telah tidak nampak lagi berterbangan diatas padepokan itu.
“Pertempuran telah selesai,“ berkata Ki Pandi. ”Ya,” suara Manggada
merendah “kita tidak tahu apa yang telalr terjadi didalam padepokan
itu.” Dalam pada itu, sebenarnyalah Panembahan Lebdagati telah
memerintahkan para pengikutnya untuk memberi kesempatan kepada para
pengikut Kiai Banyu Bening untuk menyerah. Mereka termasuk dalam
rencana Panembahan Lebdagati untuk memperkuat diri. Pada saat-saat
mendatang, Panembahan Lebdagati tentu akan melakukan
kegiatankegiatan dan kerja keras untuk membangun kembali pengaruhnya
di kaki Gunung Lawu itu. “Tetapi siapa yang mencoba menentang dan
berkhianat, mereka akan dihabisi dengan cara kita,“ berkata
Panembahan Lebdagati kepada para pengikutnya. Dalam pada itu, untuk
beberapa saat, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang tinggal di
rumahnya masih menunggu. Namun kemudian ketika mereka melihat pintu
gerbang padepokan itu ditutup, maka mereka pun mulai beringsut untuk
meninggalkan tempat itu. Sementara itu dengan tidak terang, matahari
telah turun disisi Barat langit. Rasa-rasanya hari demikian cepatnya
beredar. Ketegangan yang mencengkam agaknya membuat mereka lupa akan
waktu. Seperti yang sudah disepakati, maka merekapun
mengendap-endap meninggalkan tempat mereka mengamati pertempuran
yang terjadi di padepokan ini, menuju ke padukuhan kecil yang tidak
terlalu jauh dari padepokan itu, yang direncanakan akan menjadi
landasan pertahanan kedua Ki Warana. Ketika Ki Pandi, Manggada dan
Laksana sampai ke sanggar di padukuhan kecil itu, ternyata Ki Lemah
Teles telah berada di tempat itu dan berbaring diatas alas yang
sering dipergunakan untuk mengorbankan persembahan. “Kau sudah ada
disini?“ bertanya Ki Pandi. “Malas untuk meneruskan melihat tontonan
yang tidak menarik,“ berkata Ki Lemah Teles. Lalu katanya pula “aku
tidak melihat apa-apa selain dinding padepokan dan burungburung
elang. Dari antara daun pintu yang terbuka, aku hanya melihat
orang-orang berlari-larian kacau balau tidak menentu.” “Kau tidak
melihat pertunjukan terakhir?“ bertanya Ki Pandi. “Apa? Pembantaian
di depanpintu gerbang?” “Tidak. “jawab Ki Pandi. “Jadi apa?“
bertanya Ki Lemah Teles pula. “Burung-burung itu mempertunjukkan
permainan yang menarik. Mereka seakan-akan menari diudara mengamati
orang-orang padepokan yang melarikan diri dari, udara.” “Aku sudah
sering melihat burung elang memburu anak ayam. Nah, bukankah
kira-kira juga hanya seperti itu?” “Tidak,“ jawab Ki Pandi “tidak
sekedar menukik menyambar dan terbang kedahan sebatang pohon yang
tinggi.” “Biar saja. Aku akan tidur,“ jawab Ki Lemah Teles. Ki
Pandi tidak menyahut lagi. Iapun kemudian duduk diatas rerumputan
bersama Manggada dan Laksana. Sejenak kemudian, maka satu demi satu
orang-orang tua yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah
datang. Mereka pun kemudian telah duduk berbincang untuk
menyesuaikan pengamatan mreka atas padepokan yang dalam waktu kurang
dari sehari telah dihancurkan oleh Panembahan Lebdagati. Mereka
sepakat untuk mengambil kesimpulan bahwa Kiai Banyu Bening tentu
sudah terbunuh. “Orang seperti Kiai Banyu Bening itu tentu tidak
akan mnyerah,“ berkata Ki Sambi Pitu. “Ya “ Ki Ajar Pangukan
mengangguk-angguk “seandainya ia menyerah, maka ia tentu akan
dihabisi pula oleh Panembahan Lebdagati.” “Kami menunggu Ki Warana “
berkata Ki Pandi kemudian. Ki Lemah Teles yang masih saja berbaring
ditempatnya menyahut, ”Orang itu sudah mati.” “Dari mana kau tahu?”
bertanya Ki Pandi. “Perang antara orang-orang berilmu hitam biasanya
tidak ada yang tersisa. Yang kalah akan ditumpas sampai habis.”
“Tetapi Ki Warana dan orang-orang yang sependapat dengan
pendiriannya akan melarikan diri.” “Tetapi semua akan mati.” Belum
lagi bibir Li Lemah Teles terkatub, dari regol sanggar itu telah
muncul tiga orang yang melangkah dengan hati-hati memasuki sanggar
itu. “Ki Warana “ berkata Manggada dengan serta merta. Ki
Lemah Teles yang berbaring itu tiba-tiba telah bangkit. Dilihatnya
tiga orang melangkah memasuki sanggar itu dalam keadaan yang letih.
Ki Warana sendiri nampaknya telah terluka meskipun tidak terlalu
parah. “Inikah orang yang kita tunggu?” bertanya Ki Lemah Teles. “Ya
“ jawab Ki Pandi “ternyata Ki Warana selamat” “Satu kelainan,” desis
Ki Lemah Teles yang kemudian telah berbaring lagi ditempatnya sambil
berdesis “aku akan tidur.” Ki Warana memandang orang yang berbaring
itu dengan tajamnya. Bagaimanapun juga, ia menganggap bahwa alas
penyerahan korban itu merupakan tempat yang dihormatinya selama ini.
Karena itu, ketika ia melihat orang yang berbaring diatasnya, maka
terasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ki Pandi yang melihat sikap
Ki Warana itupun berkata “Bukankah tempat itu tidak berguna lagi
bagimu dan bagi orang-orang yang telah meninggalkan padepokan?” Ki
Warana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia
sadar, bahwa kedudukannya dalam keadaan goncang. Ia memerlukan
orang-orang yang berilmu tinggi untuk menolongnya. Pada saat Ki
Warana sedang termangu-mangu, maka terdengar Ki Pandi itupun berkata
“Ki Warana, silahkan duduk. Aku akan memperkenalkan kawan-kawanku
ini.” Ki Waranapun kemudian duduk diantara orang-orang tua itu. Dua
orang yang datang bersamanya dengan ragu-ragu duduk pula bersama
mereka. Ki Pandi pun kemudian telah memperkenalkan kawankawannya
kepada Ki Warana, termasuk Ki Lemah Teles yang berbaring di alas
penyerahan korban itu. Ki Warana mengangguk hormat kepada
mereka sambil berkata “Terima kasih atas perhatian Ki Sanak terhadap
padepokan kami.” “Kami ingin melihat padepokan itu berubah,“ berkata
Ki A jar Pangukan “hendaknya yang memancar dari padepokan itu bukan
awan yang hitam, tetapi cahaya yang bening dalam arti yang
sebenarnya. Bukan beningnya Kiai Banyu Bening.” Ki Warana
mengangguk-angguk. Katanya “Mudah-mudahan kami pun sempat
mendapatkan cahaya yang bening itu.” “Kenapa tidak? “ bertanya Ki
Ajar Pangukan. “Kami terusir dari padepokan itu. Perjuangan untuk
mendapatkan kembali tentu akan menelan korban. Jika korban itu aku
sendiri, maka aku tidak akan pernah mendapatkan apa yang Ki Ajar
katakan cahaya yang bening itu.” “Tetapi bahwa kau mendambakannya,
itu adalah satu langkah awal yang diperhitungkan. Jangan cemas.
"Kami akan bersamamu.” Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki
Pandi pun bertanya, ”Ki Warana hanya bertiga?” “Tidak. Yang lain
nanti akan menyusul. Kami melarikan diri dari padepokan dengan arah
yang berbeda-beda untuk menghindari kemungkinan yang paling buruk.“
jawab Ki Warana. “Apakah mereka juga akan datang ke sanggar ini?”
“Ya. Mereka akan datang ke sanggar ini sebelum kita berbicara dengan
orang-drang padukuhan.” Sebenarnyalah, bahwa beberapa saat kemudian,
beberapa orang telah berdatangan. Mereka nampak letih dan kotor.
Beberapa orang diantara mereka terluka. Bahkan ada yang
terluka selama mereka berlari meninggalkan padepokan, karena
kuku-kuku baja burung-burung elang yang menyerang mereka dari udara.
Ternyata orang-orang yang sependapat dengan Ki Warana itu terhitung
cukup banyak. Menjelang senja, disanggar yang tidak terlalu luas itu
telah bertebaran orang-orang yang telah melarikan diri dari
padepokan. Ada diantara mereka yang berbaring diatas rerumputan. Ada
yang sedang merawat lukalukanya dan ada yang duduk-duduk saja sambil
tepekur. Ki Waranalah yang kemudian memberitahukan kepada
orang-orang yang sejalan dengan sikapnya itu siapakah orangorang
yang sebelumnya tidak mereka kenal itu. “Mereka akan berjuang
bersama kita untuk melawan Panembahan Lebdagati.” Tetapi seorang di
antara mereka ada yang berkata, ”Apa yang dapat mereka lakukan?
Sedangkan Kiai Banyu Bening saja tidak mampu melawan Panembahan
Lebdagati.” Ki Lemah Teles yang berbaring itu telah bangkit sambil
berkata “He, aku akan menantangnya berperang tanding.” “He, kau
pembual,” geram orang yang meragukan kemampuan orang-orang tua itu
“kau akan diremas menjadi abu oleh Panembahan Lebdagati.” “Iblis
kau,“ Ki Lemah Teles itu segera meloncat turun “aku pilin lehermu
jika kau menghina kami lagi.” “Sudahlah “ Ki Ajar Pangukan menengahi
“kita belum saling mengenal, sehingga kita masih belum mengetahui
tataran ilmu kita masing-masing.” Orang itu masih akan
menjawab. Tetapi Ki Warana membentaknya “Cukup. Kita harus
mengucapkan terima kasih, bahwa ada orang yang memperhatikan kita
sekarang ini.” Orang itu terdiam. Sementara Ki Lemah Teles pun
kemudian telah duduk disebelah Ki Sambi Pitu. Ki Warana lah yang
kemudian berdiri menghadap kepada orang-orang padepokan yang
mengikutinya ke sanggar itu “Kita akan beristirahat disini. Aku
minta kalian bersikap baik. Kita akan bersama-sama menghadapi
Panembahan Lebdagati dengan para pengikutnya. Kita memang masih
ragu, apakah kita dapat melakukannya. Tetapi lepas dari segalanya,
kita tidak boleh kehilangan akal dan menjadi putus-asa.” Orang-orang
padepokan itu terdiam. Meskipun ada diantara mereka yang meragukan
kemungkinan itu, tetapi mereka masih berusaha menahan diri.” Dalam
pada itu, Ki Warana pun kemudian berkata “Sebaiknya kalian tinggal
disini. Aku akan pergi menemui Ki Bekel untuk membicarakan
kemungkinan-kemungkinan lebih jauh. Aku juga ingin mengusahakan
makan bagi kita semuanya.” Orang-orang padepokan itu
mengangguk-angguk. Bahkan beberapa orang berdesis “Kami sudah sangat
lapar.” Bersama dengan dua orang, Ki Warana telah meninggalkan
sanggar itu menuju ke rumah Ki Bekel. Ki Bekel memang terkejut
melihat kehadiran Ki Warana dengan dua orang kawannya yang nampaknya
sangat letih itu. “Ada apa? “ bertanya Ki Bekel. Ki Warana memang
sudah dikenal dengan baik oleh Ki Bekel. Ia sudah sering datang
untuk memberikan sesorah kepada penghuni padukuhan itu
dihari-hari tertentu. Juga sudah sering datang dalam upacara
penyerahan korban binatang di' malam purnama. Ki Waranapun kemudian
menceriterakan apa yang terdjadi di padepokan. Dengan nada geram ia
Berkata “Kami sekarang terusir dari padepokan. Jumlah lawan terlalu
banyak. Terakhir, Kiai Banyu Bening telah terbunuh di medan.” “Kiai
Banyu Bening terbunuh?“ Ki Bekel terkejut. Baginya Kiai Banyu Bening
adalah orang yang memiliki tataran lebih tinggi dari orang
kebanyakan. Ia adalah kekasih Sang Maha Api dan mendapat tugas untuk
menggelarkan kuasa Sang Maha Api itu diatas bumi. Ki Warana
mengangguk sambil menjawab, ”Ya Ki Bekel. Kiai Banyu Bening berusaha
melindungi para pengikutnya. Ia bertempur seperti seekor harimau
yang terluka. Ia mengorbankan dirinya bagi keselamatan para
pengikutnya.” “Lalu, apa yang terjadi sekarang? “ bertanya Ki Bekel.
“Ada beberapa kelompok yang berhasil menyelamatkan diri. Sekarang
kami berada di sanggar.” “Kenapa tidak dibanjar saja?” “Kami belum
mendapat ijin Ki Bekel. Jika Ki Bekel tidak berkeberatan, kami akan
pergi ke banjar dan tinggal untuk sementara dibanjar dan beberapa
rumah'yang kosong lainnya, sebelum kami merebut kembali padepokan
kami.” “Bagaimana Ki Warana dapat melakukannya tanpa Kiai Banyu
Bening.” “Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan.” jawab Ki
Warana. “Baiklah Ki Warana. Aku persilahkan Ki Warana dan
kawankawan dari padepokan tinggal di banjar. Kami akan mengatur,
dimana saja kalian akan dapat bermalam.” “Tetapi sementara ini Ki
Bekel. Sehari-harian kami bertempur sehingga kami belum sempat makan
meskipun di padepokan kami mempunyai bahan makanan yang melimpah.
Tetapi yang sekarang tentu Derada di tangan Panembahan Lebdagati.”
“Baiklah Ki Warana. Jangan cemas. Berapapun jumlahnya kami akan
dapat menjamunya. Tetapi sudah tentu kami mohon waktu untuk
memasaknya.” “Tentu Ki Bekel. Kami tidak akan dapat makan serba
mentah. Sementara itu, kami akan memindahkan kawankawan kami ke
banjar padukuhan ini.” Demikianlah, maka Ki Warana pun segera
kembali ke sanggar untuk mengajak kawan-kawannya pergi ke banjar,
sementara Ki Bekel telah memanggil beberapa orang untuk menyiapkan
makan bagi orang-orang padepokan yang untuk sementara akan berada di
banjar padukuhan. Dalam pada itu ternyata pengaruh Ki Warana di
padukuhan itu cukup besar. Ketika para penghuni padukuhan itu
mengetahui, bahwa padepokan Kiai Banyu Bening sudah diduduki oleh
Panembahan Lebdagati, maka orang-orang padukuhan itu menjadi sangat
kecewa meskipun mereka tidak tahu kenapa sebenarnya mereka kecewa.
Ketika malam menjadi kelam, orang-orang padepokan telah berada di
banjar. Mereka merasa mendapat tempat yang lebih baik, sehingga
sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak di lantai banjar dengan
alas tikar pandan. Jauh lebih baik daripada mereka berbaring di
rerumputan di sanggar. Namun Ki Pandi sempat memperingatkan Ki
Warana, agar mereka tidak menjadi lengah. “Panembahan Lebdagati
dapat berbuat apa saja. Karena itu, maka sebaiknya orang-orangmu
bergantian mengawasi keadaan. Mungkin sekali Panembahan Lebdagati
menyusul kalian malam ini.” Seperti orang yang baru sadar dari tidur
yang nyenyak, Ki Warana berkata “Terima kasih, Ki Pandi. Aku akan
membagi tugas bagi orang-orangku.” Ki Pandi mengangguk sambil
menyahut “Bagus. Hatihatilah. Kau sudah melihat sendiri, bahwa para
pengikut Panembahan Lebdagati secara pribadi mempunyai kelebihan
dari orang-orangmu.” Ki Warana memang menyadari akan kelebihan para
pengikut Panembahan Lebdagati dari orang-orang yang berada di
padepokan. Karena itu, maka ketika Ki Warana memerintahkan
orangorangnya berjaga-jaga di sudut-sudut padukuhan, iapun berpesan,
agar mereka berhati-hati sekali. ”Kalian sekali-sekali harus meronda
berkeliling. Tetapi jangan seorang diri. “ Namun ternyata hanya pada
malam itu tidak terjadi sesuatu. Nampaknya Panembahan Lebdagati
tidak tergesagesa. Orang-orang yang melarikan diri bercerai berai
itu dianggapnya tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ketika
matahari mulai melemparkan cahaya fajar, maka Ki Ajar Pangukan minta
orang-orang dari padepokan yang berada di padukuhan itu untuk mulai
dengan gerakannya, memburu orang-orang padepokan yang melarikan
diri. Tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu. Tidak nampak ada
gerakan yang mendatangi padukuhan itu dari arah manapun juga.
“Meskipun demikian, jangan lengah” pesan Ki Ajar Pangukan kepada Ki
Warana. Hari itu, Ki Warana, Ki Bekel dan Ki Ajar Pangukan serta
orang-orang tua yang tinggal bersamanya telah mengadakan pembicaraan
khusus. Ki Warana telah menyampaikan kepada Ki Bekel
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di padukuhan itu. “Pada
suatu saat, mungkin Panembahan Lebdagati akan datang ke padukuhan
ini dengan pengikutnya.“ berkata Ki Warana. Ki Bekel
mengangguk-angguk. Katanya “Apakah yang dapat kami lakukan? Seisi
padepokan ini akan bersedia melakukan apa saja. Bahkan mungkin bukan
hanya seisi padepokan ini.” “Aku tidak dapat minta bantuan kepada
padukuhan yang lain. Jika hal itu diketahui oleh Panembahan
Lebdagati, maka padukuhan yang memberikan bantuan itu akan dapat
dihancurkan. Sedangkan kami tidak dapat memberikan bantuan apapun
juga. Berbeda dengan padukuhan ini. Kami memang ada disini. Jika
Panembahan Lebdagati datang kemari, maka kami akan dapat berbuat
sesuatu betapapun lemahnya kami. Sementara itu, saudara-saudara kami
ini akan bersedia membantu.” Ki Bekel menganggukangguk.
Katanya “Baiklah. Biarlah kami, para penghuni dari padukuhan ini
bersiapsiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Kami temu tidak
akan tinggal diam seandainya Panembahan Lebdagati itu benar-benar
datang menyerang kalian yang saat kalian berada di padukuhan kami.
Meskipun padukuhan kami bukan padukuhan yang besar, tetapi kami
mempunyai lakilaki dan anak-anak muda cukup banyak. Meskipun kami
tidak terbiasa mempergunakan kekerasan, tetapi kami bukanlah
laki-laki dan anak-anak muda yang lemah.” “Terima kasih Ki Bekel.
Mudah-mudahan kami tidak menyebabkan padukuhan ini mengalami
bencana.” Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan, dan kawankawannya
dan Ki Warana telah pula membicarakan kemungkinan yang dapat
terjadi. Mereka mempertimbangkan, manakah yang lebih menguntungkan.
Apakah mereka menyerang padepokan itu atau memancing Panembahan
Lebdagati untuk datang menyerang. Namun Ki Pandi berpendapat, bahwa
lebih baik mereka memancing agar Panembahan Lebdagati menyerang
padukuhan itu. “Kita akan mengalami kesulitan untuk memasuki
padepokan itu,“ berkata Ki Pandi “pintu gerbang itu tentu sudah
semakin diperkuat. Sementara itu, serangan senjata lontar dari atas
dinding akan dapat mengurangi jumlah kita yang memang tidak begitu
banyak.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku sependapat jika
Ki Bekel tidak berkeberatan.” “Tidak Ki Warana. Kami sama sekali
tidak berkeberatan. Kami dapat menyiapkan pertahanan
sebaik-baiknya.“ jawab Ki Bekel. “Baiklah. Jika demikian, maka kita
akan memancing agar Panembahan Lebdagati itu datang kemari.” berkata
Ki Ajar. Dengan demikian, maka sejak hari itu, padukuhan itupun
segera mempersiapkan diri. Ki Bekel telah memerintahkan kepada semua
laki-laki dan anak-anak muda yang mampu turun ke medan pertempuran
untuk mempersiapkan senjata apa saja yang mereka miliki. “Apakah
disini banyak terdapat busur dan anak panah?” bertanya Ki Ajar
Pangukan. “Ada beberapa,“ jawab Ki Bekel “ada beberapa orang
penghuni padukuhan ini yang mempunyai kegemaran berburu.” “Kita
harus menghimpunnya.” berkata Ki Pandi. “Aku akan melakukannya.“
jawab Ki Bekel. Hari itu juga Ki Bekel telah memanggil para bebahu.
Mereka harus mempersiapkan padukuhan itu untuk menghadapi segala
kemungkinan. Mereka harus menghubungi semua lakilaki dan anak-anak
muda di padukuhan itu untuk mempersiapkan diri membantu para
cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening yang terdorong keluar dari
padepokannya. Hari itu juga laki-laki sepadukuhan itu telah
menyatakan diri untuk ikut serta berperang jika hal itu benar-benar
akan terjadi.” “Bersiap sajalah sebaik-baiknya. Siapkan senjata yang
terbaik yang kalian miliki. Jika Panembahan Lebdagati itu
benar-benar datang, maka kalian tidak lagi sekedar bermainmain.
Tetapi kalian akan berperang. Taruhannya adalah nyawa kalian.”
Dengan demikian, maka telah tersusun kekuatan di padukuhan itu.
Ditataran teratas adalah Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang
tinggal bersamanya. Kemudian Ki Warana dan para penghuni padepokan
yang menyingkir ke padukuhan itu. Tataran yang terakhir adalah para
penghuni padukuhan itu. Ki Ajar dan Ki Pandi telah berpesan
mawanti-wanti, agar laki-laki dari padukuhan itu tidak menghadapi
lawan mereka seorang melawan seorang. Mereka harus selalu berada
dalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan para pengikut Panembahan
Lebdagati yang memiliki ilmu yang tinggi. Setelah susunan pertahanan
di pad'ikuhan itu mantap, maka Ki Warana sudah mendapat isyarat dari
Ki Ajar, agar ia mulai memancing perhatian isi padepokan itu.” “Kita
tidak usah pergi jauh” berkata Ki Ajar “kita manfaatkan
burung-burung elang itu.” “Maksud Ki Ajar?” bertanya Ki Bekel. “Jika
kita berkerumun atau berlatih berperang di tempat terbuka, maka
menurut perhitunganku, burung-burung elang itu akan dapat
melihatnya. Mereka akan menuntun petugas sandi Panembahan Lebdagati
untuk mengamati kita disini.” Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya
“Baiklah. Kita sudah siap. Kapan saja Panembahan Lebdagati itu akan
datang, akan kami sambut mereka dengan sebaik-baiknya.” “Kepada Ki
Warana, Ki Ajar bertanya “Bagaimana dengan orang-orangmu Ki Warana?”
“Mereka juga sudah siap,“ jawab Ki Warana. “Jika demikian, sudah
tidak ada lagi yang ditunggu. Kita akan segera melakukannya.“
berkata Ki Ajar kemudian. Dengan demikian, maka orang-orang yang
berada di padukuhan itu justru akan memancing burung-burung elang
itu agar melihat mereka dalam kelompok-kelompok yang langsung
memberikan kesan kesiagaan untuk bertempur. Ki Ajar Pangukan dan
kawan-kawannyalah yang kemudian mengajak orang-orang padukuhan itu
serta orang-orang padepokan untuk berlatih di tempat terbuka. Mereka
benarbenar melakukan latihan sekedarnya untuk memperkenalkan
laki-laki dan anak-anak muda padukuhan itu dengan senjata, agar
mereka yang sama sekali belum pernah memegang senjata mengerti
bagaimana mempergunakannya. Namun dalam pada itu, ternyata Ki Lemah
Teles yang pernah disebut pembual oleh salah seorang penghuni
padepokan yang melarikan diri itu telah tersinggung lagi. Orang yang
menyebutnya pembual itu lagi yang membuatnya marah. Ketika Ki Lemah
Teles memberikan beberapa petunjuk kepada orang-orang padukuhan itu
tentang mempergunakan tombak, maka orang itu berdesis “Pembual itu
lagi. Apa yang ia ketahui tentang tombak.” Ki Lemah Teles
berpaling. Namun orang itu sama sekali tidak menyingkir. Ia sengaja
maju melangkah sambil tertawa. Katanya, ”Kau marah?” Ki Lemah Teles
termangu-mangu sejenak. Ia ingin mendapat saksi, bahwa bukan ia yang
mendahuluinya. Karena itu, maka dipanggilnya Manggada dengan Laksana
untuk datang kepadanya. Manggada dan kemudian juga Laksana telah
melangkah mendekat. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya “Ki
Lemah Teles memanggil kami?” “Ya””jawab Ki Lemah Teles “aku ingin
kalian menjadi saksi, bahwa bukan aku yang mendahului jika aku
bertengkar dengan orang ini.” “Ya,“ orang Itu dengan wajah tengadah
menyahut “Aku benci pada pembual ini. Ia berbaring diatas alas
persembahan. Ia membual sesuka hatinya, menyombongkan diri dan tidak
tahu malu.” “Kau bersungguh-sungguh?“ bertanya Manggada. “Ya. Aku
bersungguh-sungguh. Aku ingin ia minta maaf kepada kami. Terutama
karena ia sudah menghina tempat persembahan itu. Aku akan
menunjukkan kepadanya, bahwa ia tidak perlu membual dan
menyombongkan dirinya seperti itu.” “Nah, sudah cukup?“ bertanya Ki
Lemah Teles. “Kau akan mengenal siapakah kami, para cantrik dari
padepokan Kiai Banyu Bening.” Manggada dan Laksana menjadi
berdebar-debar, justru karena mereka mengenal Ki Lemah Teles. Tetapi
saat itu, mereka menjadi heran. Ki Lemah Teles itu tidak
menjadi sangat marah dan menantang orang itu perang tanding.
Tetapi ia seakan-akan sekedar ingin melayaninya saja. Dengan nada
datar, Ki Lemah Teles itu berkata “Marilah. Biarlah orang-orang yang
sedang berlatih ini menjadi saksi pula, siapakah yang sebenarnya
pembual dan sombong.” Orang itupun segera mempersiapkan diri. Dengan
wajah yang garang ia melangkah mendekati Ki Lemah Teles selangkah
demi selangkah. Kemudian sambil tertawa ia berkata “Kau akan
berlutut dan mohon ampun kepadaku.” Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan
dan kawan-kawannya yang berlatih menebar tidak tahu apa yang
dilakukan oleh Ki Lemah Teles. Mereka menduga bahwa Ki Lemah Teles
yang dikerumuni oleh banyak orang itu sedang memperagakan, bagaimana
mereka harus mempergunakan senjata dengan cara yang benar dan baik.
Ketika orang itu mulai berloncatan, Ki Lemah Teles masih saja
berdiri termangu-mangu. Ia memperhatikan lawannya yang menunjukkan
kemampuannya bergerak cepat dalam unsur-unsur gerak yang
mendebarkan. Dengan keyakinan yang tinggi didalam dirinya, maka
orang itu berkata lantang sambil meloncat menyerang “Kalau kau mati,
bukan salahku.” Orang-orang yang menyaksikan menjadi berdebar-debar.
Serangan itu datang dengan cepat dan deras. Orang-orang yang
menyaksikan perkelahian itu tiba-tiba tersentak. Mereka tidak tahu
apa yang terjadi. Namun yang mereka ketahui, tiba-tiba saja orang
yang menyerang Ki Lemah Teles itu terbanting jatuh ditanah. Wajah
orang itu menjadi pucat. Punggungnya serasa akan patah, sementara
itu nafasnya pun menjadi terengah-engah. Jangankan orang yang
menyaksikan, sedang orang yang terbanting jatuh itupun tidak tahu
apa yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles. Dalam pada itu, Ki Lemah
Teles berdiri sambil tersenyum. Katanya sambil memberi isyarat
dengan jari-jarinya “Bangkitlah. Bukankah kita akan menjajagi
kemampuan kita? Kenapa kau malah berbaring disitu? Apakah semalam
kau tidak dapat tidur?” Orang itu menyeringai menahan sakit. Ketika
Ki Lemah Teles mendekat, ia berusaha beringsut sambil berkata
“Jangan, jangan. “Ayo. Bangkitlah.” Orang itu berusaha untuk duduk
sambil berdesah kesakitan, sementara Ki Lemah Teles berkata
“Bukankah kau akan memaksa aku untuk berlutut dan mohon ampun?“
-”Tidak. Akulah yang mohon ampun.” jawab orang itu. Ki Lemah
Telespun menyahut “Jangan begitu. Bukankah kau lakilaki?” ”Cukup.
Sudah cukup. Sekali lagi aku kau banting seperti ini, aku tidak akan
dapat bangkit kembali. Aku mohon ampun.” Ki Lemah Teles tertawa.
Kalanya “Baiklah. Minggirlah, aku akan menunjukkan kepada
saudara-saudara kita ini, bagaimana kita mempergunakan sebatang
tombak.“ Orang itu berdiri sambil memegangi pinggangnya. Kemudian
berjalan tertatih-tatih menepi. Dalam pada itu, maka Manggada dan
Laksana yang berdiri termangu-mangu itupun tersenyum melihat orang
itu bergeser menepi dan kemudian duduk diatas rerumputan sambil
berkali-kali berdesah kesakitan. “Apakah tugas kami sudah
cukup, Ki Lemah Teles?“ bertanya Manggada. “Apakah kalian juga ingin
membuktikan, apakah aku pembual atau bukan? “ Laksanalah yang
tersenyum sambil menjawab, ”Lain kali Ki Lemah Teles.” Ki Lemah
Teles mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil
berkata “Kembalilah ke tempat kalian.” Manggada dan Laksana itupun
kemudian telah berlari-lari kembali ketempatnya. Merekapun sedang
memberi petunjuk bagaimana mempergunakan senjata kepada sekelompok
anak muda dari padukuhan itu. Tiga ampat hari mereka berlatih,
ternyata masih belum ada seekor burung elangpun yang terbang
berputaran sampai ke padukuhan kecil itu. Agaknya Panembahan
Lebdagati dan orang-orangnya terlalu yakin akan kemenangannya,
sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mengamati keadaan. Tetapi
justru karena itu, maka Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana
untuk mendekati padepokan itu. “Kita harus berhati-hati,“ desis Ki
Pandi. Ketika mereka menjadi semakin jauh dari padukuhan, maka
mereka melihat kedua ekor harimau Ki Pandi merangkak mendekatinya
sambil menggosok-gosokkan kepala mereka ke kaki Ki Pandi. Ki
Pandipun kemudian membelai kedua ekor harimaunya. Namun kemudian ia
memberi isyarat agar kedua ekor harimaunya itu mendahuluia
mereka. Dalam pada itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah
bergerak kembali. Mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan
padepokan yang telah ditinggalkan oleh Ki Warana. Tetapi ketiga
orang itupun tertegun ketika dari kejauhan mereka melihat seekor
burung elang yang terbang rendah mengelilingi padepokan. “Ternyata
mereka cukup berhati-hati,“ berkata Ki Pandi. “Jika elang itu
terbang rendah seperti itu, maka elang itu tidak akan pernah melihat
sisa-sisa orang padepokan yang sedang berlatih itu.” sahut Manggada.
“Kita akan menunggu sampai sepekan. Jika dalam sepekan tidak ada
seekor burung elang yang terbang diatas padukuhan, maka kita yang
akan memancingnya.” desis Ki Pandi. Untuk beberapa saat mereka
mengamati burung elang yang berterbangan itu. Namun beberapa saat
kemudian, burung itu menukik dan hilang dibalik dinding padepokan.
“Biarlah kita pergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk memberikan
petunjuk-petunjuk kepada orang-orang padukuhan mempergunakan
senjata. Biarlah mereka lebih mengenali senjata mereka, karena
mereka akan terjun di arena pertempuran melawan orang-orang yang
sudah berpengalaman.” Ketiga orang itu tidak terlalu lama berada
ditempat itu. Ketika kedua ekor harimau Ki Pandi kembali lagi
menemuinya, maka Ki Pandipun telah mengajak Manggada dan Laksana
kembali ke padukuhan, sementara ia memberikan isyarat kepada kedua
ekor harimaunya untuk tinggal di hutan perdu yang luas
dilereng Gunung Lawu yang membatasi lingkungan persawahan dengan
hutan lereng gunung. Di padukuhan, Ki Pandi pun telah memberitahukan
apa yang dilihatnya kepada Ki Ajar Pangukan, Ki Warana dan Ki Bekel.
Untuk sementara burung elang itu tidak akan melihat kesiagaan
mereka. “Kita justru dapat memanfaatkan waktu,“ berkata Ki Pandi
“dengan pengenalan yang lebih banyak tentang senjata mereka, maka
orang-orangku akan dapat lebih banyak berbuat disamping mereka yang
sudah berpengalaman.” “Ya. Kita akan menunggu sampai sepekan.”
Tetapi meskipun tidak ada seekorpun burung elang yang sempat terbang
diatas padukuhan itu, namun kabar tentang kesiagaan orang-orang
padukuhan itu telah tersebar. Orangorang dari padukuhan lain yang
melihat apa yang dilakukan di padukuhan itu menjadi saling bertanya.
Apalagi ketika padukuhan itu kemudian telah menutup diri. Berita
yang berkembang dari mulut-ke mulut itu, menyusup sampai ke pasar.
Bahkan kemudian sampai ke telinga pengikut Panembahan Lebdagati yang
memang sering pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka
sehari-hari yang telah habis dalam persediaan mereka. Tetapi
Panembahan Lebdagati memang sering mengirimkan orang untuk berada
ditempat orang banyak agar mereka dapat mendengar jika ada berita
yang berkembang menyangkut padepokannya. Ternyata bahwa orang yang
berada di pasar itu telah mendengar berita tentang kegiatan sebuah
padukuhan yang kemudian justru telah menutup diri. Menutup
jalan-jalan yang menuju ke padukuhan itu dari segala jurusan.
Dengan demikian, maka berita itu telah menjadi laporannya pula
ketika ia kembali ke padepokan. Panembahan Lebdagati ternyata
tertarik pula oleh laporan itu. Karena itu, maka iapun lelah
memerintahkan orang yang merawat burung-burung elangnya untuk
mengamati keadaan. “Jika burung-burung itu gagal, maka aku akan
mengirimkan beberapa orang langsung untuk melihat. Tetapi jika
elangelang itu berhasil, maka setidak-tidaknya burung-burung elang
itu akan dapat menuntun orang-orang kita untuk melihat padukuhan
itu. Sebenarnyalah, hari itu juga dua ekor burung elang telah
terbang tinggi. Keduanya berputaran sambil mengamati
padukuhan-padukuhan disekitar padepokan yang telah diduduki oleh
Panembahan Lebdagati itu. Beberapa kali kedua ekor burung itu
berputaran. Mereka tidak saja berputar-putar disekitar padepokan,
tetapi kedua burung elang itu berputar pada garis lingkaran yang
luas. Sebenamyalah kedua ekor burung itu sempat melihat orang-orang
padukuhan dan orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening yang berhasil
melarikan diri itu. Mereka masih saja berlatih ditempat terbuka
tanpa merasa cemas, bahwa Panembahan Lebdagati akan dapat melihat
mereka. Meskipun demikian, ketika mereka melihat dua ekor burung
elang terbang berputaran di udara, maka mereka pun menjadi
berdebar-debar. “Akhirnya burung-burung itu datang juga,“ desis Ki
Pandi. “Satu isyarat bahwa kita harus benar-benar siap menghadapi
segala kemungkinan.“ sahut Ki A jar Pangukan. “Kami akan
melihat-lihat kegiatan di padepokan itu,“ berkata Ki Pandi, ”setelah
mereka melihat kegiatan kita lewat mata burung elang itu, apakah
mereka menunjukkan kegiatan tertentu.” “Tetapi berhati-hatilah.
Bahwa mereka telah mengirimkan burung elang itu berarti bahwa mereka
telah mulai dengan satu pengamatan khusus terhadap kita disini,“
pesan Ki Ajar Pangukan. Ki Pandi menganggukangguk. Namun ternyata ia
minta agar Manggada dan Laksana tidak ikut bersamanya. “Aku akan
pergi sendiri. Jika keadaan memungkinkan, kita akan pergi bersama
besok.” Manggada dan Laksana mengangguk mengiakan. Mereka selalu
menganggap apa yang dikatakan Ki Pandi seharusnya mereka lakukan.
Kecuali mereka menganggap bahwa orang bongkok itu adalah gurunya,
kedua anak muda itu juga menyadari, bahwa apa yang dikatakan oleh Ki
Pandi itu pada umumnya sangat berarti bagi mereka. Demikianlah, maka
Ki Pandi pun telah berangkat sendiri untuk melihat padepokan yang
telah melepaskan dua ekor burung elang itu. Seperti
sebelumnya, ketika Ki Pandi memasuki padang perdu, maka kedua ekor
harimaunya telah menyongsongnya, menjilat-jilat tangannya dan
menggosok-gosokkan kepalanya pada kaki Ki Pandi. “Berhati-hatilah,“
desis Ki Pandi sambil mengusap kepala kedua ekor harimaunya itu.
Kedua ekor harimaunya itu seakan-akan mengerti kata-kata Ki Pandi
sehingga keduanya berjalan merunduk-runduk diselasela
gerumbul-gerumbul perdu. Beberapa saal kemudian, Ki Pandi dan kedua
ekor harimaunya telah berada tidak terlalu jauh dari padepokan. Ki
Pandi tidak melihat sesuatu selain pintu gerbang yang tertutup
rapat. Untuk beberapa lama Ki Pandi mengamati padepokan itu. Tetapi
ia tidak melihat kegiatan apapun diluar padepokan. Sementara itu
dinding padepokan itu berdiri tegak dengan angkuhnya. Membeku di
panasnya sinar matahari. Namun tiba-tiba saja kedua ekor harimaunya
menjadi gelisah. Mereka memandang ke arah yang jauh. Ki Pandi yang
sudah mengenal sifat kedua ekor harimaunya selalu memperhatikan
sikapnya. Ki Pandipun kemudian ikut pula memandang kearah yang jauh
itu. Dengan ketajaman penglihatannya, maka Ki Pandi pun melihat
titik-titik yang bergerak di kejauhan. Ternyata dua ekor burung
elang yang melayang-layang. Tetapi tidak diatas padukuhan yang
dipergunakan oleh Ki Warana menjadi pertahanan keduanya itu. Justru
diarah yang berlawanan. Tentu bukan burung elang yang terbang diatas
padukuhan itu,“ berkata Ki Pandi kepada kedua ekor harimaunya.
Kedua ekor harimau itu memandanginya dengan tajamnya, seakan-akan
mereka ingin mengetahui apa yang dikatakan itu. Kedua ekor burung
elang itu semakin lama menjadi semakin kelihatan jelas. Keduanya
terbang langsung menuju ke padepokan keduanya berputaran beberapa
kali. Ki Pandi lermangu-mangu sejenak. Tetapi kedua ekor harimaunya
nampak semakin gelisah. Ternyata kemudian, Ki Pandi itu melihat debu
yang mengepul. Beberapa orang penunggang kuda melarikan kuda mereka
dijalan berdebu menuju ke padepokan. “Siapakah mereka?” bertanya Ki
Pandi kepada diri sendiri, karena ia tidak akan dapat bertanya
kepada kedua ekor harimaunya. Dengan sangat berhati-hati Ki Pandi
beringsut mendekat. Tetapi pada jarak itu, Ki Pandi memang tidak
dapat melihat wajah orang-orang berkuda itu dengan jelas. Ki Pandi
menjadi berdebar-debar ketika Ki Pandi melihat pintu gerbang itu
terbuka perlahan-lahan. Apalagi ketika ia melihat bahwa beberapa
orang telah berdiri untuk menyambut orang-orang berkuda iiu. Seorang
diantara mereka segera dapat dikenali oleh Ki Pandi meskipun dari
jarak yang agak jauh, karena ia mengenal orang itu dengan sangat
baik. Panembahan Lebdagati sendiri. Ki Pandi menarik nafas
dalam-dalam. Orang-orang berkuda itu tentu orang yang dihormati,
sehingga Panembahan Lebdagati sendiri harus menyambutnya dipintu
gerbang. Untuk beberapa saat lamanya Ki Pandi menjadi tegang. Ia
melihat Panembahan Lebdagati menyambut orang-orang berkuda itu.
Menurut penilaian Ki Pandi, dua orang diantara orang-orang
berkuda itu termasuk orang yang penting bagi Panembahan Lebdagati.
Dengan demikian, maka Ki Pandipun mengerti, bahwa burung elang yang
nampak sebagai titik-titik kecil itu adalah burung elang yang
mendapat tugas untuk menjemput dan menuntun tamu-tamu Panembahan
Lebdagati itu sampai ke padepokan. Ketika kemudian pintu gerbang itu
perlahan-lahan ditutup kembali, maka Ki Pandipun menarik nafas
dalam-dalam. “Apakah mereka datang secara kebetulan, atau Panembahan
Lebdagati memang memanggilnya untuk menyelesaikan orang-orang yang
tersisa dari padepokan Kiai Banyu Bening yang sempat dilihat oleh
burung elang itu?“ bertanya Ki Pandi kepada diri sendiri. Namun
bagaimanapun juga, kehadiran beberapa orang berkuda itu harus
menjadi perhatian mereka. Dengan demikian, maka Ki Pandi
berkesimpulan, bahwa setiap hari sebaiknya dilakukan pengamatan atas
padepokan itu. Ia tidak dapat melakukannya sendiri. Tetapi
bergantian dengan orang-orang tua yang memiliki ilmu yang tinggi
untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi terasa
hari-harinya tinggal besok atau lusa. Panembahan Lebdagati tentu
akan segera datang untuk menghancurkan orang-orang yang telah berani
membuat persiapan-persiapan yang tentu akan menentangnya. Meskipun
nemikian, ketika hal itu disampaikan kepada Ki Ajar Pangukan, maka
Ki Ajar telah menyetujuinya. Bahkan Ki Ajar itu menganggap bahwa
pengamatan itu harus dilakukan setiap saat. Karena itu, maka
orang-orang di padukuhan itu telah mengadakan pembicaraan khusus
untuk mengatur pengamatan terhadap gerak orang-orang padukuhan.
“Waktunya tentu tidak akan lama lagi,“ berkata Ki Pandi.
Demikianlah, sejak saat itu, maka bergantian orang-orang dari
padukuhan itu mengadakan pengamatan atas padepokan yang telah
dirampas oleh Panembahan Lebdagati. Ki Warana telah menunjuk
orang-orangnya yang terbaik untuk membantu melakukannya. Terutama di
malam hari. Sedangkan disiang hari pengawasan itu dilakukan oleh
orang-orang tua yang berilmu tinggi, karena mereka harus sangat
berhati-hati. Dalam pada itu, ketika orang-orang padukuhan itu
melihat beberapa ekor burung elang terbang berputar-putar diatas
padukuhan itu, menjadi berdebar-debar. Tidak hanya dua ekor seperti
biasanya. Tetapi lima ekor burung elang. “Apa yang akan terjadi?,“
desis Ki Ajar Pangukan. “Nampaknya mereka menganggap bahwa waktunya
sudah tiba,“ sahut Ki Pandi. “Tetapi tentu bukan hari ini,“ berkata
Ki Ajar. “Sudah terlalu siang untuk memulai sebuah pertempuran.
Agaknya malam nanti mereka akan bergerak.“ sahut Ki Pandi. “Ketika
mereka menyerang padepokan itu, mereka lakukan disiang hari. Dengan
satu keyakinan untuk menang, mereka datang dengan dada tengadah.
Disiang hari, maka mereka akan dapat sedikit mengatasi kesulitan
medan.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Medan di padukuhan ini
tentu lebih sulit bagi mereka. Karena itu, menurut pendapatku,
mereka akan datang esok menjelang matahari terbit.” Ketika
sekali lagi Ki Warana membuat perhitungan, manakah yang lebih baik
antara bertahan dan menyerang, maka Ki Ajar berkata “Kita lebih baik
bertahan disini. Panembahan Lebdagati tidak akan menyerang dengan
segala kekuatannya. Tentu masih ada yang akan ditinggalkan di
padepokan. Jika kita yang datang ke padepokan, maka kita akan
berhadapan dengan segenap kekuatan yang ada di padepokan, selain
kita akan mengalami kesulitan untuk memasuki padepokan itu.” Ki
Warana mengangguk-angguk. Katanya “Baik. Kita mantapkan sikap kita.
Kita akan benahan di padukuhan ini. Tetapi Ki Bekel harus dapat
memecahkan persoalan perempuan dan anak-anak.” “Ada dua tempat
pengungsian,“ sahut Ki Bekel “di banjar dan dirumahku. Menurut
perhitunganku, kedua tempat itu akan dapat menampung semua perempuan
dan anak-anak di padukuhan ini.” “Pengungsian itu harus segera
dilakukan,“ berkata Ki Ajar, ”burung elang itu merupakan isyarat,
bahwa mereka akan segera bergerak. Jika terlambat, maka akibatnya
sangat buruk bagi mereka.” “Baiklah,“ berkata Ki Bekel “aku akan
mulai hari ini juga. Mereka masih mempunyai kesempatan hari ini dan
malam nanti seandainya benar besok menjelang matahari terbit,
Panembahan Lebdagati akan menyerang padukuhan ini.” Sebenarnyalah,
Ki Bekel telah memerintahkan para bebahu untuk mengatur pengungsian
perempuan dan anak-anak ke banjar dan ke rumah Ki Bekel, tetapi Ki
Bekel masih berpesan “Jangan membuat perempuan dan anak-anak menjadi
sangat ketakutan. Mereka harus yakin, bahwa mereka akan mendapat
perlindungan yang baik. Tidak seorangpun diantara para
pengikut Panembahan Lebdagati yang akan dapat menginjakkan kakinya
di halaman banjar dan halaman rumahku itu. Demikianlah, maka
pengungsian perempuan dan anak-anak pun segera berlangsung.
Bagaimana pun juga para bebahu berusaha, namun perempuan dan
anak-anak itu menjadi ketakutan. Sementara itu, laki-laki dan
anak-anak muda padukuhan itu nampak hilir mudik membantu perempuan
dan anak-anak mengungsi. Hanya kemudian mereka pun telah dihimpun
dalam kelompok-kelompok yang akan menyalurkan perintahperintah
sampai ke setiap telinga. Mereka pun telah membagi lingkungan tugas
mereka. Kecuali dalam keadaan yang khusus. Dalam pada itu, Ki Warana
pun telah menentukan tugas orang-orang yang menyertainya sampai ke
padukuhan itu. Mereka juga terbagi sebagaimana orang-orang padukuhan
itu, sehingga di-setiap kelompok orang-orang padukuhan terdapat
beberapa orang dari padepokan Kiai Banyu Bening. Selain daripada
itu, maka orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening itupun telah
berusaha mengenali medan dengan sebaik-baiknya. Seperti yang pernah
mereka lakukan, maka mereka akan memanfaatkan medan itu untuk
mengacaukan lawan mereka. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan
telah memperingatkan agar orang-orang tua yang tinggal bersamanya
itu menjadi sangat berhati-hati. “Ada orang baru di padepokan,“
berkata Ki Ajar. Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Panembahan
Lebdagati sendiri bersama pengikutnya sudah merupakan kekuatan
yang sangat besar. Apalagi dengan kekuatan baru meskipun hanya
beberapa orang, maka kekuatan Panembahan Lebdagati akan menjadi
sangat besar. Meskipun demikian, Ki Warana sudah bertekad untuk
melawannya, apapun yang terjadi. Iapun percaya kepada kemampuan
orang-orang tua yang ada diantara mereka, karena Ki Warana sendiri
pernah mengalami benturan kekuatan. Ki Warana itu merasa dirinya
sama sekali tidak berarti dihadapan orang tua-tua itu. Dalam pada
itu, burung-burung elang yang berputaran di atas padukuhan itu,
ternyata telah diamati oleh beberapa orang pengikut Panembahan
Lebdagati dari kejauhan. Mereka mendapat kesimpulan bahwa burung
elang itu melihat kekuatan yang cukup besar tersimpan di padukuhan
itu. Apalagi orang-orang padukuhan itu sengaja tidak menyembunyikan
diri dari penglihatan burung-burung elang itu.#160b Namun para
pengikut Panembahan Lebdagati itu masih juga belum dapat
menterjemahkan pengertian kekuatan yang cukup besar itu dengan
tepat. “Berapa banyak orang yang sempat melarikan diri itu?“
bertanya seseorang diantara mereka yang mengamati burung elang itu.
“Saat itu aku berniat untuk mengejar mereka. Tetapi aku dan
kawan-kawanku telah dicegah. Waktu itu kita menganggap bahwa
kekuatan yang melarikan diri itu tidak seberapa.” “Sampai sekarang
pun aku menganggap bahwa kekuatan mereka itu memang tidak seberapa.“
sahut yang lain “jika burung elang itu memberikan isyarat bahwa
kekuatan di padukuhan itu cukup besar, maka mungkin burung
elang itu juga melihat kesibukan orang-orang padukuhan itu sendiri.”
“Salah kita, bahwa kita belum pernah mengirimkan orang untuk melihat
langsung apa yang mereka lakukan. Menurut kata orang di pasar itu
setiap hari mereka mengadakan latihan di tempat terbuka.” “Satu cara
untuk menggertak kita.“ jawab yang tahu “kita tidak usah
menghiraukan kata orang. Jika kita datang ke padukuhan itu, maka
padukuhan itu akan kita hancurkan. Para penghuninya yang telah
membantu, apakah itu berujud pangan atau alat apapun, akan kita
anggap ikut bersalah. Mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal
dengan kesalahan mereka.” “Hanya ada satu macam hukuman yang dapat
Kita berikan. Hukuman mati dengan cara apapun juga.” Sementara itu
seorang diantara mereka berkata ”Jika saja di padukuhan itu ada
sepuluh atau lima belas gadis yang bersih. Panembahan Lebdagati akan
dapat menghemat kesibukannya selama limabelas bulan jika ia
benar-benar ingin memulai lagi dengan menyerahkan korban bagi
kerisnya.“ Namun dengan nada rendah ia melanjutkan, ”tetapi sudah
berasa sebenarnya umur Panembahan.” “Apakah kau kira umur dapat
menjadi patokan berapa tahun lagi ia akah hidup didunia ini? Aku
yakin, bahwa Panembahan Lebdagati masih akan dapat menyelesaikan
tugasnya menyerahkan korban sepanjang seratus kali purnama. Umurnya
tentu masih akan mencapai seperempat abad lagi” Kawan-kawannya
hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi memang tidak mustahil bahwa
seseorang akan mencapai umur lebih dari seratus tahun. Beberapa saat
kemudian, maka orang-orang itupun segera meninggalkan tempatnya.
Mereka melangkah kembali ke padepokan sambil mencoba menemukan
kesimpulan yang akan menjadi laporan mereka kepada Panembahan
Lebdagati. Di padepokan, mereka langsung menyampaikah laporan
pengamatan mereka kepada Panembahan Lebdagati. Sehingga Panembahan
Lebdagati itupun mengambil kesimpulan, bahwa ia harus segera
bertindak. “Kenapa kau pelihara kecoak-kecoak itu, Panembahan?”
bertanya seorang yang bertubuh tinggi tegap, berkumis melintang.
Salah seorang dari orang-orang berkuda yang datang ke padepokan itu.
“Aku mengira bahwa mereka tidak akan berbuat apa-apa lagi. Tetapi
ternyata mereka sudah siap untuk membunuh diri.” “Mumpung aku ada
disini” berkata orang berkumis tebal itu “aku akan ikut bersamamu.
Mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang menarik di padukuhan itu?”
“Apa yang kau inginkan?“ bertanya Panembahan Lebdagati. Orang itu
tertawa. Katanya ”Apa saja yang menarik perhatian. Tetapi memang
mungkin tidak ada apa-apa.” “Kau masih saja liar” desis Panembahan
Lebdagati. “Kau kira watakku dapat berubah.“ “Baiklah Ki Lembu
Palang. Jika kau mau ikut bersama kami, marilah.” ”Kapan kau
akan pergi ke padukuhan itu?” “Kapan sebaiknya menurutmu?“ “Besok
kita pergi.” “Kenapa besok? Besok aku sudah berjanji untuk mengadu
delapan ekor ayam jantan. Aku memerlukan yang terbaik dari delapan
ekor ayam jantan itu.” “Berjanji kepada siapa? “ bertanya Ki Kebo
Palang. “Kepada orang-orangku. Mereka memerlukan hiburan. Hiburan
yang terbaik bagi mereka adalah menonton adu ayam. Selain hiburan
pertarungan itu akan dapat memberikan dorongan kejantanan mereka di
medan pertempuran.” “Kenapa kau menganggap adu ayam lebih penting
dari menyelesaikan kecoak-kecoak yang mengotori pinggan nasimu?”
bertanya Ki Kebo Palang. Panembahan Lebdagati menarik nafas panjang.
Katanya ”Baiklah, besok aku akan pergi ke padukuhan itu. Menurut
orang-orang itu, mereka mempunyai kekuatan yang cukup besar.”
“Bukankah orang yang menyebut dirinya Banyu Bening itu sudah kau
bunuh? Yang tersisa tinggallah para pengikutnya yang berhasil
melarikan diri. Itupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Bukankah kau
mengatakan begitu?“ bertanya Lembu Palang. “Ya. Jumlah mereka yang
melarikan diri memang tidak terlalu banyak.” “Lalu siapa lagi?”
bertanya Lembu Palang. “Mungkin mereka mempengaruhi orang-orang
padukuhan itu.” “Apa artinya orang-orang padukuhan itu?”
Panembahan Lebdagati tersenyum. Katanya “Besok kita pergi. Besok
lusa aku akan mengadu ayam itu.” Keputusan itupun segera
diberitahukan kepada para penglkutnya. Panembahan Lebdagati telah
memerintahkan para pengikutnya untuk bersiap-siap. Bahkan Panembahan
Lebdagati sempat berpesan “jangan terlalu merendahkan lawan kita.
Kita akan dapat terjebak dalam kesulitan. Karena itu, kita bawa
kekuatan secukupnya.” Lembu Palang yang mendengar pesan itu sempat
tertawa. Katanya “Kau cukup berhati-hati Panembahan. Tetapi tidak
ada jeleknya orang berhati-hati. Dengan demikian, maka apa yang
dilakukan akan dapat berhasil dengan sempurna. “ “Beberapa kali aku
terjebak dalam kesulitan karena aku menganggap lawanku terlalu
kecil. Aku kehilangan kesempatan pertama untuk menjadikan kerisku
keris terbaik di bumi ini. Kemudian kegagalan yang lain telah
merenggut setiap kesempatanku mendapatkan pusaka terbaik.” Tetapi
sekarang kau tidak sedang merebut pusaka apapun. Kau tidak lebih
dari sekedar membersihkan gledeg bambumu dari kecoak-kecoak yang
mengotori isinya. Karena itu, kau tidak perlu terlalupening
memikirkan kesiagaan orangorangmu yang aku nilai cukup banyak dan
memiliki landasan ilmu yang cukup. Terus terang, tidak ada padepokan
manapun yang akan dapat menandingi kekuatan padepokanmu ini nanti
jika sudah mapan.” Panembahan Lebdagati mengangguk kecil.
Katanya”Terima kasih atas pujian itu. Tetapi aku merasa bahwa aku
harus tetap berhati-hati.” Lembu Palang tertawa sambil berkata
“Bagus. Aku menjadi semakin kagum melihat sikap dan pendirianmu.
Besok aku dan kawan-kawanku akan ikut bersama
kalian.”
JILID 5 PANEMBAHAN Lebdagati
mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dengan nada datar ia
berkata,”Terima kasih. Dengan demikian maka tugas kami akan semakin
cepat selesai.” “Aku tahu bahwa kau tidak memerlukan kami“ berkata
Lembu Palang”orang-orangmu akan dengan cepat dapat membersihkan
sisa-sisa pengikut Kiai Banyu Bening itu. Jika aku ikut bersamamu
sama sekali bukan untuk membantumu. Tetapi sekedar ingin melepaskan
kejenuhan. Kami akan sedikit terhibur dengan pekerjaan yang
menyenangkan itu.” “Kau memang gila“ sahut Panembahan Lebdagati.
“Sudah beberapa lama jari-jari kami tidak menyentuh darah segar yang
mengalir dari luka“ berkata Lembu Palang. “Setan kau” geram
Panembahan Lebdagati. Lembu Palang tertawa. Katanya ”Anak-anak kami
akan dapat kehilangan gairah perjuangan mereka jika mereka tidak
mendapat kesempatan untuk membasahi senjata mereka dengan darah
korbannya” berkata Lembu Palang kemudian. “Terserah kepadamu. Aku
harap bahwa kau dan orangorangmu mendapatkan apa yang kalian
inginkan.” berkata Panembahan Lebdagati “lusa aku akan menyabung
ayam. Orangku baru saja mendapat tiga ekor ayam yang baik. Sementara
itu sudah ada lima ekor ayam yang disiapkan untuk memasuki arena
sabung ayam itu.” Demikianlah, maka seisi padepokan itupun telah
bersiapsiap. Seperti pesan Panembahan Lebdagati, mereka tidak boleh
menganggap lawan mereka kecil. Tetapi bagaimanapun juga, orang-orang
padepokan itu tidak melihat seorangpun yang harus mendapat perhatian
khusus dari antara mereka yang berhasil melarikan diri dari
padepokan yang waktu itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Mungkin
satu dua orang padukuhan yang bersedia membantunya memiliki
kelebihan. Mungkin Ki Bekel, mungkin Ki Jagabaya atau yang lain.
Namun mereka tidak akan berarti apa-apa bagi para pengikut
Panembahan Lebdagati itu. Meskipun demikian, menjelang malam,
Panembahan Lebdagati telah memberikan peringatan-peringatan lagi,
agar para pengikutnya itu berhati-hati. “Besok menjelang fajar kita
berangkat. Kita akan mulai memasuki padukuhan itu setelah matahari
terbit. Dengan demikian, kita tidak akan terjebak oleh keadaan medan
yang belum kita kenal. Sebagaimana terjadi di padepokan ini, maka
orang-orang yang melarikan diri itu pandai memanfaatkan medan,
karena mereka mengenal jauh lebih baik dari kita.” Para pengikut
Panembahan Lebdagati itu memang mendengarkan peringatan itu, tetapi
sebagian besar diantara mereka menganggap bahwa sikap berhati-hati
Panembahan Lebdagati agak berlebihan. “Beberapa kali Panembahan
Lebdagati kegagalan. Bayangan yang muram itulah yang membuatnya
menjadi sangat berhati-hati.” berkata salah seorang diantara para
pengikutnya. “Tidak ada salahnya Panembahan menjadi sangat
berhatihati. Tetapi kitapun harus ingat, bahwa penggraita Panembahan
itu sangat tajam. Meskipun Panembahan secara wadag belum pernah
melihat kekuatan lawan, tetapi Panembahan seakan-akan dapat
mengetahuinya. Karena itu, maka peringatannyatidak boleh kita
abaikan.” sahut yang lain, seorang yang janggutnya sudah mulai
nampak menjadi abuabu. Dalam pada itu, maka Panembahan Lebdagati pun
segera memperingatkan pula agar mereka beristirahat. sebaik baiknya.
Terutama mereka yang telah ditunjuk untuk bersama Panembahan pergi
ke padukuhan yang dianggap telah menantang isi padepokan itu. Lembu
Palang masih saja mentertawakan sikap Panembahan Lebdagati yang
terlalu berhati-hati itu. Meskipun demikian, ia tidak mengatakan
apa-apa lagi tentang persiapan yang nampak ber-sungguh-sungguh itu.
“Hanya untuk membunuh kecoak,“ desis Lembu Palang. Malam itu
padepokan menjadi sepi. Para pengikut Panembahan Lebdagati tidak
berkeliaran didalam padepokan. Seperti yang dinasehatkan oleh
Panembahan, maka mereka pun telah berada di pembaringan. Hanya para
petugas khusus sajalah yang justru mulai bersiap-siap untuk
menyalakan perapian, karena sebelum berangkat didini hari,
orang-orang yang akan pergi ke padukuhan itu akan makan lebih
dahulu. Demikianlah, sedikit lewat tengah malam, maka seisi
padepokan itu sudah terbangun. Mereka mulai bersiap-siap untuk pergi
ke padukuhan. Orang-orang yang tidak dapat ikut serta karena harus
berjaga-jaga di padepokan, merasa menyesal, kenapa mereka tidak
diikut sertakan membantai sisa-sisa pengikut Kiai Banyu Bening dan
orang-orang padukuhan yang dungu, yang telah berani menentang
Panembahan Lebdagati. Mereka menganggap bahwa tugas yang akan
dilakukan di padepokan itu adalah tugas yang ringan dan
menyenangkan. Demikianlah, menjelang fajar, maka Panembahan
Lebdagati telah siap untuk berangkat. Telah terdengar suara
kentongan yang memberi isyarat, semua orang yang akan berangkat
harus sudah bersiap dalam kelompoknya masingmasing. Dalam pada
itu, Ki Pandi serta Manggada dan Laksana yang sedang bertugas
mengawasi padepokan itu sejak lewat tengah malam, dapat merasakan
kegiatan yang meningkat malam itu. Ketika lewat tengah malam mereka
berada ditempat yang terlindung dibalik gerumbul perdu, mereka telah
melihat bahwa padepokan itu nampak lebih tenang dari biasanya.
Agaknya di halaman padepokan itu terpasang obor lebih banyak dari
malam-malam yang lewat. Ketika mereka bertiga melihat asap yang
mengepul, maka mereka bertiga mengambil kesimpulan bahwa ada
kegiatan di dapur padepokan itu. Ki Pandi pun segera memerintahkan
Manggada dan Laksana kembali ke padukuhan untuk memberitahukan,
bahwa kemungkinan besar, orang-orang padepokan akan menyerang pagi
itu. “Biarlah padukuhan itu bersiap. Peringatan, agar api di dapur
pun harus segera dinyalakan. Jika pertempuran itu menelan waktu yang
panjang, tenaga kita akan cepat menjadi susut. Manggada dan Laksana
pun. segera kembali ke padukuhan, sementara Ki Pandi mengawasi
kegiatan di padepokan itu. Manggada dan Laksana yang memberikan
laporan kepada Ki Ajar Pangukan, kepada Ki Warana dan Ki Bekel,
telah menyampaikan pesan Ki Pandi, terutama kepada Ki Bekel, bahwa
api di dapur pun harus segera dinyalakan pula. Padukuhan itu pun
telah menjadi sibuk pula. Ki Warana telah membangunkan
orang-orangnya dan menempatkan mereka sesuai dengan rencana.
Sementara itu, orang-orang padukuhan pun telah dibangunkan pula
tanpa isyarat sama sekali. Tidak sebuah pun kentingan yang dipukul
untuk memberikan aba-aba. Anak-anak muda yang menghadapi di
banjar dan di rumah ki Bekel telah bersiaga pula menghadapi segala
kemungkinan, sehingga dengan demikian maka perempuan dan anak
anakanak mengungsi tidak merasa sangat ketakutan. Mereka yang
bertahan di padukuhan itu pun telah bersiaga sepenuhnya. Anak-anak
yang membawa busur telah mempersiapkan anak panah sepenuh endong
yang mereka bawa Yang lain telah mempersiapkan lembing bambu yang
mereka buat sendiri dengan ujung besi yang runcing. Ketika langit
menjadi merah menjelang fajar, maka Ki Pandi yang mengawasi
padepokan itu melihat pintu gerbang padepokan telah terbuka.
Perlahan-lahan sepasukan pengikut Panembahan Lebdagati telah
berderap keluar lewat pintu gerbang padepokan. Ki Pandi pun kemudian
telah bergerak perlahan-lahan. Ia harus mendapat kepastian bahwa
pasukan itu memang bergerak menuju ke padukuhan. Dalam kegelapan
dilandasi dengan ilmunya yang tinggi Ki Pandi mengamati gerak
pasukan itu, sehingga akhirnya ia yakin, bahwa pasukan itu memang
menuju ke padukuhan. Karena itu, maka Ki Pandi pun segera bergerak
dengan cepat mendahului gerak pasukan yang maju dengan lamban. Dalam
pada itu, langit pun menjadi semakin merah. Ketika fajar
menyingsing, Ki Pandi sudah ada di padukuhan. Kepada Ki Ajar
Pangukan dan orang-orang tua yang tinggal dirumahnya, kepada Ki
Warana dan Ki Bekel, Ki Pandi memberikan penjelasan tentang gerakan
yang telah dilihatnya. “Kita harus berhati-hati. Panembahan
Lebdagati ternyata telah membawa kekuatan yang besar. Agaknya ia
tidak ingin menganggap kita terlalu kecil.” Dengan demikian,
maka orang-orang yang berada di padepokan itu telah meningkatkan
persiapan mereka. Sebenarnyalah bahwa Panembahan Lebdagati telah
membawa pasukannya menuju ke padukuhan yang telah berani melakukan
persiapan untuk melawannya. Beberapa saat kemudian, maka pasukan
Panembahan Lebdagati itu telah menjadi semakin dekat. Beberapa puluh
langkah dari dinding padepokan pasukan itu berhenti, sementara
langit menjadi semakin merah. Tiga orang, diantaranya adalah
Panembahan Lebdagati sendiri telah melangkah mendekati regol
padepokan. Dengan lantang Panembahan Lebdagati yang kemudian berdiri
tegak menghadap ke regol padepokan itu pun berkata “He, siapakah
yang memimpin orang-orang di padepokan ini untuk menentang kuasaku?”
Yang melangkah kepintu regol yang kemudian dibuka adalah Ki Warana
dan dua orang pengikutnya. “Aku, Warana.” “Apakah kau salah seorang
pengikut Kiai Banyu Bening?” bertanya Panembahan Lebdagati. “Ya. Aku
adalah salah seorang pengikut Kiai Banyu Bening. Aku dan sekelompok
kawan-kawan berhasil lolos dari padepokan itu dan sempat menyusun
kekuatan di padukuhan ini.” “Apakah kau tidak ingat, bahwa Kiai
Banyu Bening tidak mampu melawan aku? Apalagi kau dan
pengikut-pengikutmu. Bahkan seandainya para penghuni padukuhan ini
seluruhnya ikut membantumu, maka dalam waktu sekejap kalian akan
kami tumpas habis. Karena itu, selagi belum terjadi, aku perintahkan
kalian untuk menyerah. Seperti kawan-kawanmu yang menyerah di
padepokan, mereka kami beri kesempatan untuk menunjukkan
kesetiaannya jika mereka ingin hidup untuk waktu yang lebih
panjang.” “Panembahan Lebdagati” sahut Ki Warana ”kami sudah
bertekad untuk menuntut balas kematian Kiai Banyu Bening. Karena
itu, maka serahkan orang yang bertanggung jawab atas kematian Kiai
Banyu Bening, agar tidak semua orangmu akan menjadi korban. Jika
orang itu kau sendiri Panembahan, maka kau harus dengan ikhlas
menanggung beban tanggung jawab itu.” “Setan kau” geram Panembahan
Lebdagati ”kau kira kau siapa dan berbicara dengan siapa., he?”
“Namaku Warana. Aku salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening.
Ketika kau membunuh Kiai Banyu Bening, aku tidak menungguinya.
Karena itu, ketika aku mendengar kabar kematiannya, aku bawa
orang-orangku menyingkir, karena aku yakin bahwa kau akan memburu
kami seperti sekarang ini. Nah, dalam kesempatan inilah, maka kau
akan menerima beban pertanggungan.jawabmu itu.” “Warana, bagaimana
mungkin kau dapat mengalahkan aku, jika Banyu Bening itu saja tidak
mampu melakukannya. Apakah kau memiliki ilmu melampaui tataran ilmu
Kiai banyu Bening?” “Itu bukan soal, Panembahan. Tetapi kau telah
melanggar hak orang lain. Karena itu, kau harus dihukum.” Lembu
Palang ternyata tidak telaten mendengar percakapan itu. Karena itu,
maka ia pun melangkah menyusul Panembahan Lebdagati. Sambil bertolak
pinggang Lembu Palang itu berteriak ”Kalian menyerah atau tidak?” Ki
Warana termangu-mangu sejenak. Sementara itu, Ki Lemah Teles yang
berdiri dibelakang selapis pengikut Ki Warana sehingga tidak begitu
jelas nampak dari tempat Lembu Palang berdiri, telah berdesis
”Bukankah itu Lembu edan ilu?” Ki Sambi Pitu yang berdiri
disebclahnya dan melihat Lembu Palang dari sela-sela kepala orang
yang berdiri didepannya tertawa pendek. Kalanya ”Nah, kau akan
bertemu dengan sahabatmu itu. “Menyenangkan sekali. Sudah lama aku
rindukan orang itu. Sekarang aku dapat menemuinya disini.” “Tetapi
berhati-hatilah. Umurmu sudah menjadi semakin tua.” pesan Ki Sambi
Pitu. “Iblis kau. Kau kira umur Kebo edan itu tidak bertambah tua
pula?” Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya ”Bagus. Ternyata seumurmu
masih juga akan mendapat lawan yang seumur. Bukankah selama ini kau
mengembara mencari musuh, agar kau tetap yakin bahwa ilmumu masih
berada, dalam tataran tertinggi.” ”Jangan mengigau lagi! Ilmuku
memang masih yang terbaik sekarang ini" jawab Ki Lemah Teles. Tetapi
Lembu Palang sendiri tidak mengira bahwa diantara beberapa buah
kepala yang berderet di belakang Ki Warana itu terdapat kepala Ki
Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu selain beberapa orang berilmu tingi
yang lain. Apalagi orang bongkok yang sengaja tidak menampakkan
dirinya. Dalam pada itu, Ki Warana pun berteriak pula, ”Tidak akan
ada penyerahan. Kami sudah bertekad untuk melawan. Bahkan membalas
dendam atas kematian Kiai Banyu Bening. Panembahan Lembdagati. Jika
kau ingin para pengikutmu selamat, maka berlututlah dihadapanku.”
Jantung Panembahan Lebdagati bagaikan dihentak dari tangkainya.
Penghinaan itu tidak dapat dimanfaatkan. Karena itu, maka ia
pun berkata ”Bagus. Kau akan menyesal bahwa kau sudah menghina
Panembahan Lebdagati. Orang yang berani menyebut namanya tanpa arti,
sudah pantas untuk dihukum mati. Apalagi orang yang telah berani
menghinanya.” “Apakah ada hukuman yang lebih berat dari hukuman
mati?” bertanya Ki Warana. “Jangan bertanya kepadaku. Ingat, apa
yang pernah dilakukan oleh Kiai Banyu Bening. Ia sering
melakukannya. Menjatuhkan hukuman yang lebih berat dari hukuman
mati.” “Tetapi kau tidak akan pernah dapat melakukannya atasku. Di
bawah lidahku tersimpan serbuk racun yang dibalut dengan selaput
lemak yang tipis. Jika aku harus jatuh ketanganmu, maka racun itu
akan tertelan. Dan kau tidak akan dapat menghukumku.” “Pengecut yang
licik. Jika kau ingin membunuh diri, kenapa kau ajak
pengikutpengikutmu sebanyak itu?” “Mereka adalah pengikut-pengikut
setia Kiai Banyu Bening. “Panembahan” potong Lembu Palang ”apakah
kita hanya akan berbicara saja panjang lebar? “Aku sudah siap” sahut
Panembahan itu. “Jika demikian, berikan aba-aba. Tanganku
sudah gatal. Aku ingin menebas batang ilalang di padukuhan itu
dengan pedangku. Panembahan Lebdagati mengangguk-angguk. Namun
kemudian katanya ”Aku akan kembali ke dalam pasukanku. Aku ingin
bergerak bersama-sama dengan mereka. Nampaknya orang-orang di
padukuhan itu telah siap menunggu kita.” Lembu Palang tertawa.
Katanya ”Orang-orang yang putus asa. Mereka sudah menyiapkan racun
untuk membunuh diri mereka sendiri, sehingga kita tidak perlu
melakukannya. Tetapi aku ingin membunuh mereka sebelum mereka sempat
membunuh diri dengan racun dimulutnya itu.” “Jika kau sempat, jangan
beri kesempatan mereka membunuh diri. Aku ingin menghukum mereka
lebih berat dari hukuman mati.” Lembu Palang itu tertawa. Katanya
”Apakah kau masih seperti beberapa tahun lalu?” “Aku tidak berubah.
Celakalah orang yang berani melawan aku dan kemudian jatuh ke
tanganku hidup-hidup.” Lembu Palang tertawa. Katanya ”Apalagi yang
kau tunggu? Panembahan Lebdagati pun kemudian melangkah menjauhi
regol dan kembali kepada para pengikutnya, diikuti oleh pengawalnya
dan dipaling belakang berjalan Lembu Palang dengan kepala tengadah.
Ketika Lembu Palang itu berpaling, maka orang-orang yang berada di
padukuhan telah menutup pintu regol dan menyelaraknya rapat-rapat.
Sementara itu, para pengikut Ki Warana serta orang-orang padukuhan
itu telah menebar. Mereka bersiap dibelakang dinding padukuhan yang
tidak setinggi dinding padepokan. Dalam pada itu, Ki Ajar
Pangukan dan orang-orang tua yang tinggal bersamanya telah
menempatkan diri pula. Ki Lemah Teles telah berkata kepada Ki Ajar
Pangukan, bahwa ia sudah siap untuk menghadapi Lembu Palang.
“Nampaknya kau menyimpan dendam kepadanya?” “Bukan dendam” jawab Ki
Lemah Teles ”aku hanya ingin membuat perhitungan. Ia telah membunuh
salah seorang sepupuku. Sepupuku telah dirampoknya dalam perjalanan
di malam hari. Sepupuku memang bukan seorang yang berilmu setataran
dengan Kebo edan itu. Dua orang kawan seperjalanannya juga dibunuh
oleh kawan-kawan Lembu Palang itu. Tetapi seorang lagi yang diduga
telah mati, ternyata masih hidup. Orang itulah yang mengatakan
kepadaku, siapakah yang telah membunuh sepupuku itu.” “Kau tidak
mencarinya waktu itu?” bertanya Ki Ajar Pangukan. ”Aku masih terikat
dalam sebuah keluarga sehingga aku masih segan untuk mengembara
mencarinya. Tetapi tiba-tiba saja sekarang aku dapat bertemu Lembu
Palang itu.” “Seandainya kau bertemu tidak dalam keadaan seperti
ini, apakah kau juga akan menantangnya berperang tanding?” bertanya
Ki Ajar. “Aku akan menantangnya.” geram Ki Lemah Teles. Ki Ajar
tertawa. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Demikianlah, maka
orang-orang tua itu pun segera menempatkan dirinya. Tetapi mereka
tidak berada terlalu jauh dari regol padukuhan. Mereka menduga,
bahwa para pemimpin dari padukuhan yang telah di rampas oleh
Panembahan Lebdagati itu pun akan berusaha memasuki padukuhan lewat
regol yang akan dibuka dengan paksa. Meski pun demikian,
orang-orang padukuhan serta para pengikut Ki Warana telah mendapat
pesan, jika perlu mereka harus segera memberikan isyarat dengan
kentomgan atau dengan penghubung. “Jika kalian mengalami kesulitan
dengan seseorang yang berilmu tinggi, maka kalian harus segera
memukul tengara,” pesan Ki Warana kepada orang-orangnya, sebagaimana
Ki Bekel juga berpesan kepada orang-orang padukuhan itu. Sementara
itu, di banjar dan dirumah Ki Bekel pun ditempatkan pula orang-orang
yang harus melindungi perempuan dan anak-anak. Bahkan para remaja
pun telah minta untuk dipersenjatai pula. Jika perlu mereka akan
ikut terjun dalam pertempuran. Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati
telah memerintahkan orang-orangnya yang cukup banyak untuk bergerak.
Seperti yang dipesankan mewanti-wanti, agar para pengikutnya tidak
memandang rendah lawan mereka. “Seperti yang pernah terjadi, mereka
tentu akan menahan gerak maju kita dengan panah dan lembing. Tetapi
kita tahu, bagaimana kita menghindar, menangkis atau menahannya
dengan perisai.” berkata Panembahan Lebdagati. Para pengikutnya yang
telah ikut menyerang padepokan dan merebutnya dari Kiai Banyu Bening
telah berpengalaman menghadapi gaya bertahan para pengikut Kiai
Banyu Bening itu. Demikianlah, maka Panembahan Lebdagati pun telah
memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang. Sementara itu langit
nampak cerah. Cahaya matahari sudah mulai tersangkut di ujung
pepohonan yang tinggi. Ketika orang-orang padukuhan dan para
pengikut Ki Warana kemudian melihat pasukan Panembahan
Lebdagati yang datang seperti gelombang di bibir lautan, maka
jantung mereka memang menjadi berdebar-debar. “Jumlah mereka masih
cukup banyak” desis seorang pengikut Ki Warana. “Tetapi korban
mereka juga cukup banyak ketika pertempuran di padepokan itu
selesai.” Kawannya terdiam. Namun ia masih mempunyai keyakinan diri
untuk mampu bertahan atas serangan Panembahan Lebdagati. Orang-orang
padukuhan itu pun menjadi gelisah. Mereka bukan orang-orang yang
terbiasa mengalami kekerasan. Tetapi mereka tidak mempunyai pilihan.
Anak-anak muda itu tentu tidak akan membiarkan padukuhan mereka
dihancurkan oleh Penambahan Lebdagati bersama para pengikutnya.
Karena itu, maka mereka pun telah bertekad untuk mempertahankan
kampung halaman. Demikianlah, seruan yang mengguntur telah
diteriakkan oleh Ki Warana disambut oleh para pengikutnya untuk
mulai menghambat gerak maju gerakan Panembahan Lebdagati. Dengan
demikian, maka sejenak kemudian, anak panah pun telah meloncat dari
busurnya. Susul menyusul seperti air hujan yang dicurahkan dari
langit. Para pengikut Panembahan Lebdagati sudah memperhitungkan
bahwa mereka akan menghadapi serangan seperti itu. Karena itu, maka
mereka pun telah bersiap-siap untuk mengatasinya. Namun bagaimana
pun juga mereka mempersiapkan diri untuk menyusup diantara semburan
anak panah, namun ada juga diantara mereka yang tidak berhasil. Ada
diantara para pengikut Panembahan Lebdagati itu yang terhenti
ditempatnya, karena anak panah yang terhunjam di dadanya.
Tetapi ada pula yang merintih kesakitan karena anak panah itu
menyambar bahunya. Dengan luka-lukanya orang itu harus merangkak
menjauhi dinding padukuhan, agar anak panah berikutnya tidak
melukainya lebih parah lagi. Yang menggelisahkan para pengikut
Panembahan Lebdagati itu adalah serangan anak panah yang tidak tepat
mengenai sasaran telah menghentikan beberapa orang yang berlari-lari
menggapai dinding padukuhan. Ternyata bahwa orang-orang yang tinggal
dirumah Ki Ajar Pangukan telah menggenggam busur pula. Mereka tidak
sekedar melepaskan anak panah tanpa membidik lebih dahulu. Tetapi
anak panah yang terlepas dari busur mereka, mampu menembus dinding
dada sasarannya dan menyentuh jantung . Tetapi arus serangan itu
mengalir demikian derasnya. Meski pun jumlahnya sudah menyusut
sebelum mereka mencapai dinding padukuhan, tetapi jumlah mereka
masih cukup banyak untuk mengguncang ketahanan hati para pengikut Ki
Warana dan para penghuni padukuhan itu. Tetapi para pengikut Ki
Warana dan orang-orang padukuhan itu pun benar-benar sudah siap.
Meski pun jumlah para pengikut Panembahan Lebdagati cukup banyak,
tetapi para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu yang
terdiri dari bukan saja anak-anak muda, tetapi hampir semua orang
laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata, ternyata masih lebih
banyak lagi. Dalam pada itu, orang-orang padukuhan itu selalu
mengingat pesan, agar mereka tidak bertempur seorangseorang. Mereka
harus berusaha untuk bertempur dalam kelompok-kelompok kecil yang
terdiri dari tiga atau ampat orang untuk menghadapi lawan.
Karena itu, sejak mereka bersiap dibelakang dinding padukuhan mereka
sudah mengikat diri dalam kelompokkelompok itu. Mereka telah memilih
kawan mereka masingmasing. Dalam pada itu, maka para pengikut
Panembahan Lebdagati yang langsung menyerang kearah regol padukuhan
yang tertutup rapat itu pun telah berusaha memecah pintu. Pintu yang
diselarak itu, memang tidak sekokoh pintu gerbang padepokan. Karena
itu, didorong oleh beberapa orang dari luar,maka perlahan-lahan
dinding itu menjadi retak. Akhirnya pecah dan terbuka. Bersamaan
dengan itu, maka disebelah-menyebelah, para pengikut Panembahan
Lebdagati itu pun telah berusaha meloncati dinding padukuhan.
Orang-orang yang bertahan dibelakang dinding telah bersiap untuk
menerima mereka dengan ujung-ujung senjata. Sehingga beberapa orang
diantara mereka demikian turun dari atas dinding, langsung roboh
jatuh ditanah sambil mengerang kesakitan. Bahkan ada diantara mereka
yang untuk seterusnya tidak akan pernah bangkit lagi. Namun akhirnya
orang-orang yang menyerang padukuhan itu telah berhasil menginjakkan
kakinya didalam dinding, sehingga dengan demikian, maka pertempuran
pun segera terjadi dengan sengitnya. Para pengikut Panembahan
Lebdagati adalah orang-orang yang telah berpengalaman. Namun mereka
menjadi heran melihat lawan mereka menyambut kedatangan mereka
dengan girangnya. Dendam yang tersimpan didada para pengikut Ki
Warana, serta tekad untuk mempertahankan kampung halaman yang
membakar jantung para penghuni padukuhan itu, telah mendorong mereka
untuk bertempur tanpa mengenal takut Dalam pada itu, demikian
pintu regol padukuhan itu pecah, maka Panembahan Lebdagati dan para
pengawalnya yang terpilih telah memasuki padukuhan. Kemarahan
Panembahan Lebdagati kepada Ki Warana yang telah menghinanya telah
mendorongnya untuk segera menemukan orang itu. Namun Panembahan
Lebdagati itu sudah berpesan, agar Ki Warana dapat ditangkap
hidup-hidup. “Siapa pun diantara kalian yang menemukan orang itu,
aku ingin ia tertangkap hidup-hidup. Aku masih mempunyai persoalan
yang harus aku selesaikan dengan orang itu dalam keadaan hidup.
Lembu Palang yang mendengar pesan itu tertawa. Katanya ”Kau akan
mendapatkan permainan yang menyenangkah.” “Ia telah merendahkan
namaku” geram Panembahan Lebdagati. “Aku akan ikut mencari kecoak
yang satu itu” berkata Lembu Palang. Namun Lembu Palang itu terkejut
ketika ia mendengar seseorang menyahut ”Apakah kau tidak mencari aku
Kebo edan.” Lembu Palang berpaling. Tiba-tiba saja terasa jantungnya
bagaikan berhenti berdetak. Diantara mereka yang sedang bertempur
itu, seseorang melangkah kearahnya. Orang itu berhenti beberapa
langkah sambil bertolak pinggang ”Kau ingat kepadaku?” “Iblis kau.
Kenapa kau ada disini?” geram Lembu Palang. “Aku memang menunggumu.
Aku tahu beberapa hari yang lalu kau datang ke padukuhan yang telah
direbut oleh Panembahan Lebdagati itu. Karena itu, aku sudah
menduga bahwa kau akan ikut datang kemari memburu sisa-sisa
para pengikut Kiai Banyu Bening. Nah, ternyata dugaanku benar.”
Wajah Lembu Palang ini menjadi panas. Ia sama sekali tidak menyangka
bahwa ia akan bertemu dengan Ki Lemah Teles di tempat itu. Sementara
itu Panembahan Lebdagati sempat berkata ”Nah, kau telah menemukan
permainanmu sendiri, Lembu Palang. Biarlah aku mencari orang gila
itu.” Lembu Palang tidak menyahut. Tetapi ia tidak dapat lagi
menganggap bahwa mereka sekedar sedang memburu kecoak di padukuhan
itu. Ternyata diantara kecoak-kecoak itu terdapat seekor singa yang
garang. Karena itu, maka mimpinya untuk menebus ilalang tibatiba
saja telah hanyut oleh kegelisahannya menghadapi orang yang berilmu
tinggi itu. Meski pun Lembu Palang sendiri juga berilmu tinggi,
tetapi bahwa tiba-tiba saja ia harus berhadapan dengan Ki Lemah
Teles telah mengguncang jantungnya. Tetapi Lembu Palang tidak dapat
menghindar. Ia harus menghadapinya. “Sudah lama aku menunggu untuk
dapat berhadapan dengan seorang yang telah membunuh saudara
sepupuku.” “Salahnya sendiri” geram Lembu Palang ”ia mati karena
kesombongannya. Tetapi juga karena kelemahannya. Ia tidak mampu
mengimbangi ilmuku, meski pun ia menantangku.” “Jangan mengigau. Kau
tidak sedang berperang tanding melawan sepupuku. Tetapi kau
merampoknya. Kau samun sepupuku itu ketika ia sedang dalam
perjalanan malam. Benar-benar satu perbuatan keji yang tidak dapat
dimaafkan. Kau dan sepupuku telah saling berkenalan sebelumnya.
Tentu saja sepupuku tidak mengira bahwa kau sampai hati
melakukannya. Bahkan untuk menghilangkan jejak, kau bunuh sepupuku.
Tetapi kejahatan yang kau lakukan tidak dapat kau sembunyikan,
justru karena salah seorang kawan sepupuku yang telah disangka mati,
masih dapat hidup dan berceritera apa yang telah terjadi.” “Persetan
semuanya itu” geram Lembu Palang ”sekarang kita berada di medan
pertempuran.” Ki Lemah Teles tertawa. Katanya ”Kesempatan ini tidak
akan aku sia-siakan. Kita akan menyelesaikan persoalan kita sampai
tuntas. Pertempuran yang terjadi di sekitar kita hendaknya tidak
mengganggu perhitungan yang sedang kita buat.” Lembu Palang itu
termangu-mangu sejenak Tetapi ketika ia memandang disekitarnya, ia
menjadi heran. Salah seorang pengawalnya tengah bertempur melawan
seorang anak muda yang ternyata mampu mengimbangi ilmunya. “Kau
heran?” bertanya Ki Lemah Teles ”anak itu bernama Manggada. Anak
muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Lawannya itu akan segera
disapunya dari medan. Jangan heran jika kau melihat anak muda yang
lain lagi. Laksana yang memiliki ilmu setataran dengan anak muda
yang kau perhatikan itu.” “Gila. Apa saja isi padukuhan ini? Apakah
kalian sengaja menjebak Panembahan Lebdagati?” geram Lembu Palang.
“Kenapa kami harus menjebaknya? Kita memasuki medan yang terbuka.
Bukan satu jebakan.” Lembu Palang itu menggeram. Katanya ”Jika
demikian, maka aku harus dengan cepat menyelesaikanmu, agar aku
dapat segera menangani orang-orang yang lain yang nampaknya telah
bersembunyi di padukuhan ini pula.” Tetapi Ki Lemah Teles tertawa.
Katanya ”Jangan menipu diri sendiri. Kau mengenal aku. Kebo edan.
Bagaimana mungkin kau berkata begitu? Seandainya ilmumu lebih
tinggi dari ilmuku, maka kau tahu bahwa kau tidak akan dapat
menyelesaikan aku dengan cepat.” “Cukup” bentak Lembu Palang
”bersiaplah untuk mati.” “Kau tidak akan membentak-bentak untuk
melapisi kecemasanmu sendiri, marilah, aku sudah merindukan
kesempatan seperti ini.” Lembu Palang tidak menyadari lagi.
Pertemuannya yang tiba-tiba dengan Ki Lemah Teles memang membuatnya
berdebar-debar. Tetapi Lembu Palang masih berdiri pada kemungkinan
yang sama antara kalah dan menang. Karena itu, maka ia pun segera
bersiap untuk bertempur, apa pun yang terjadi. Dalam pada itu,
pertempuran pun telah berkobar di padukuhan itu. Orang-orang yang
telah berhasil memasuki padukuhan itu harus mengalami perlawanan
yang keras dari para pengikut Ki Warana dan para penghuni padukuhan
itu. Namun bukan mereka saja yang berusaha menahan arus serangan
para pengikut Panembahan Lebdagati. Ada kekuatan yang tidak terduga
sebelumnya. Ternyata diantara mereka yang bertahan itu terdapat
orang-orang yang berilmu tinggi. Dibelakang pintu gerbang ada dua
orang anak muda yang dengan kemampuannya yang tinggi, telah
menghadapi orang-orang yang datang bersama Lembu Palang. Mereka
bukan sekedar pengawal, tetapi mereka adalah orang-orang yang juga
berkemampuan tinggi. Bahkan untuk beberapa lama mereka masih tetap
bertempur dengan garangnya melawan orang-orang yang menjadi
kebanggaan Lembu Palang itu. Sementara itu, pertempuran memang telah
menjalar sepanjang jalan induk, bahkan di halaman-halaman rumah di
sekitarnya. Para pengikut Ki Warana yang telah mengenali medan
dengan baik, sebagaimana mereka lakukan di padepokan, telah mencoba
memanfaatkan medan pula. Namun para pengikut Panembahan
Lebdagati pun menjadi sangat berhati-hati. Mereka harus
memperhatikan dmdingdinding halaman. Sudut-sudut rumah, dapur dan
bahkan lumbung dan kandang, mereka harus memperhatikan pintu
seketeng dan longkangan dirumah-rumah yang bertebar. Dalam pada itu,
Panembahan Lebdagati yang sedang mencari Ki Warana itu telah
memasuki padukuhan semakin dalam. Setiap kali ia mengibaskan
tangannya, maka orangorang disekitarnya pun telah terlempar. Satu
dua orang mengalami luka-luka dan harus segera beringsut menjauh.
“Warana, he, dimana kau Warana? Kau yang telah berani menghina harus
berani bertangguang jawab. Jika tidak, maka orang-orangmu akan aku
bantai habis. Kau tidak akan dapat melarikan diri lagi dari
tanganku.” Tiba-tiba saja orang yang bernama Ki Warana itu telah
muncul dari balik dinding halaman di pinggir jalan itu. Dengan
lantang ia pun menjawab” Aku disini, Panembahan.” Panembahan
Lebdagati yang marah itu telah berpaling kearah suara itu. Tetapi Ki
Warana itu segera menghilang lagi di balik dinding, sehingga
Panembahan Lebdagati itu berteriak ”Pengecut. Jangan lari. Kau tidak
akan lepas dari tanganku.” Panembahan Lebdagati itupun kemudian
bagaikan terbang meloncati dinding halaman itu. Ia yakin bahwa ia
akan dapat memburu Warana yang telah menghilang dibalik dinding itu.
Tetapi Panembahan Lebdagati itu terkejut sekali ketika demikian ia
berdiri tegak dibalik dinding, dilihatnya seorang laki-laki duduk
dibawah sebatang pohon kemiri yang besar. Orang itu seakan-akan sama
sekali tidak menghiraukan kehadirannya. Ia masih asyik mengamati
seruling ditangannya. “Kau bongkok” geram Panembahan
Lebdagati. Ki Pandi berpaling. Dipandanginya Panembahan Lebdagati
itu dengan tajamnya. Perlahan-lahan Ki Pandi itu pun berdiri sambil
berdesis, ”Kita bertemu lagi Panembahan.” “Kau licik sekali. Agaknya
kau peralat Ki Warana untuk memancing aku datang menemuimu.” “Aku
memang menunggumu, Panembahan. Tetapi hal ini tidak terjadi jika kau
tidak merebut padepokan Kiai Banyu Bening. “Aku mengambil hakku”
jawab Panembahan Lebdagati. “Hak apa? Apakah kau mempunyai hak atas
padepokan itu? “Tentu. Kau tahu bahwa aku pernah berada di tempat
ini. Aku telah terusir dari padepokanku sehingga aku harus
mengembara. Tetapi tiba-tiba saja aku mendengar bahwa ada orang lain
yang telah membangun padepokan di tempat ini.” “Panembahan.
Sebenarnya aku dan beberapa orang kawanku berada disini untuk
menghancurkan padepokan Kiai Banyu Bening yang telah menyebarkan
kepercayaan yang sesat, bertolak dari perasaan dendamnya, karena
anak bayinya yang terbunuh didalam api. Ia pun kemudian telah
bertekad,untuk membakar bayi sebanyak-banyaknya, karena ia mendapat
kepuasan jika ia mendengar bayi yang menangis menjerit-jerit di
telan nyala api.” Ki Pandi berhenti sejenak. Lalu katanya ”Menurut
penilaianku, dendam yang menyala dihati Kiai Banyu Bening itu harus
dihentikan, karena dendam itu tidak kalah berbahayanya dengan
kepercayaan sesatmu. Karena kau menginginkan sebilah keris yang
mempunyai kekuatan tidak terbatas, sehingga kau akan menjadi orang
yang tidak terkalahkan diseluruh permukaan bumi ini. Karena itu,
padepokan Kiai Banyu Bening harus dihancurkan. Tetapi ternyata
kemudian kau telah datang. Karena itu, maka aku telah menunggu.
Tanpa menitikkan keringat kami telah berhasil menghancurkan
padepokan Kiai banyu Bening. Dan sekarang tugas kami adalah
menghancurkan padepokan yang telah bersalin tangan itu. Meski pun
demikian aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu, bahwa kau
telah membantu aku membunuh gerakan yang ditumbuhkan oleh Kiai Banyu
Bening dan bersumber pada dendam yang membara itu.” “Baiklah
Bongkok. Sekarang sudah saatnya aku membunuhmu, agar kau untuk
selanjutnya tidak selalu menggangguku.” “Kau kira kau dapat
membunuhku dengan mudah?” Ki Pandi justru bertanya. “Kita akan
melihat apa yang terjadi disini” berkata Panembahan Lebdagati
”penghuni padukuhan ini akan ditumpas habis. Orang-orang yang
berhasil melarikan diri dari padepokan dan agaknya telah berada
disini pula, akan dibantai sampai orang yang terakhir. Bongkok
buruk, jika hal itu terjadi, maka kau lah yang bertanggung jawab,
karena agaknya kau telah menggerakkan mereka untuk melakukan
perbuatan bodoh itu.” “Tidak Panembahan” jawab Ki Pandi ”yang akan
dibantai bukan penghuni padukuhan ini. Bukan pula orang-orang yang
lolos dari padepokan itu. Tetapi justru orang-orangmu. Aku disini
tidak sendiri. Ada beberapa orang tua yang datang bersamaku.” Wajah
Panembahan Lebdagati menjadi tegang. Ia telah melihat seorang
diantaranya telah menempatkan diri berhadapan dengan Lembu Palang.
Meski pun Panembahan Lebdagati percaya akan kemampuan Lembu Palang,
tetapi orang yang menemuinya itu tentu juga bukan orang
kebanyakan. “Panembahan” desis Ki Pandi ”kaunanti juga akan dapat
bertemu dengan Ki Ajar Pangukan jika kau kehendaki.” “Bawa iblis itu
kemari. Aku akan menghancurkannya sama sekali.” “Jangan membohongi
dirimu sendiri. Kau tidak mampu mengalahkannya. Kekuatanmu
menundukkan kehendak orang lain, ternyata tidak mampu
mempengaruhinya.” “Tetapi aku akan membunuhnya jika aku berhasil
menemuinya nanti sesudah aku membunuhmu.” “Marilah, kita akan
melihat, siapakah yang lebih kuat diantara kita. Kau atau aku. Kita
dibesarkan diperguruan yang sama Panembahan. Kita mendapat landasan
ilmu yang sama. Tetapi perkembangan ilmu kita berlainan. Jalan hidup
kita pun berselisih. Aku mencoba untuk tetap mengemban kewajiban
dari perguruanku, sementara itu kau telah tersesat semakin jauh.”
“Kau tidak usah menggurui aku. Minggirlah, jika kau masih ingin
menghirup hangatnya sinar matahari.” Orang bongkok itu tertawa.
Katanya ”Kita sudah berhadapan sekarang. Beruntunglah kita mendapat
tempat yang lapang dan tidak banyak terganggu di sini.” Panembahan
Lebdagati menggeram. Tetapi ia harus menghadapi orang bongkok itu.
Dalam pada itu, maka para pengikut Panembahan Lebdagati ingin dengan
cepat menyelesaikan lawan mereka yang disebut oleh. Lembu Palang
tidak lebih dari kecoakkecoak yang mengotori geledeg tempat makanan.
Karena itu, maka mereka pun telah mengerahkan kemampuan mereka.
Sebelum matahari sampai ke puncak, maka mereka berharap,
orang-orang yang memberanikan diri melawan Panembahan Lebdagati itu
sudah tertumpas habis. Tetapi ternyata tidak semudah itu untuk
melakukannya. Dalam pertempuran yang sengit, tiba-tiba saja sesosok
bayangan telah menyambar-nyambar dengan garangnya. Sosok itu
seakan-akan tidak dapat disentuh oleh ujung senjata, sehingga
kehadirannya telah mengacaukan medan. Sekilas bayangan itu lewat dan
hilang di balik dinding halaman. Namun beberapa orang pengikut
Panembahan Lebdagati telah terluka. Peristiwa itu telah membesarkan
hati para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu. Mereka
menjadi semakin berani. Apalagi jumlah lawan mereka pun telah susut
pula. Sementara itu Ki Jagaprana berdiri tegak sambil bertolak
pinggang. Ia telah menunjukkan keperkasaannya. Meski pun umurnya
sudah merambat melampaui pertengahan abad, namun ternyata bahwa ia
masih seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ki Jagaprana menarik
nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia teringat kepada Ki Lemah Teles
yang telah menantangnya untuk bertempur. Dan bahkan telah melukainya
justru pada saat ia tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi.
“Apakah ilmu Ki Lemah Teles memang lebih tinggi dari ilmuku?”
bertanya Ki Jagaprana didalam hatinya. Namun tiba-tiba sepercik
ingatan telah melonjak didalam hatinya ”Agaknya waktu itu Ki Lemah
Teles sedang dihinggapi perasaan yang asing justru setelah ia merasa
menjadi semakin tua. Ia merasa bahwa dirinya tidak berarti lagi,
sehingga ia ingin menunjukkan, bahwa ia masih tetap Ki Lemah Teles
sebagaimana Ki Lemah Teles sepuluh tahun sebelumnya. Ki
Jagaprana itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun segera
menyadari, bahwa ia berada ditengah pertempuran. Sementara para
pengikut Ki Warana dan orangorang padukuhan itu tidak memiliki ilmu
setinggi ilmu para pengikut Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka
Ki Jagaprana itu pun segera meloncat dan kembali ke arena
pertempuran. Tetapi ia tertegun sejenak melihat Ki Sambi Pitu yang
berhadapan dengan ampat orang yang bertempur sambil berputar-putar.
Berganti-ganti keempat orang itu menyerang. Namun pada satu ketika
keempatnya datang bersama-sama. Keempatnya menyambar-nyambar dari
arah yang berbedabeda. Senjata mereka mematuk dengan cepat,
sementara mereka selalu bergerak dalam putaran yang sekali-sekali
melebar, namun kemudian menyempit. “Mereka menirukan elang yang
bertempur di langit” desis Ki Jagaprana. Adalah diluar dugaan, bahwa
Ki Jagaprana itu pun menengadahkan wajahnya kelangit. Ia memang
melihat beberapa ekor burung elang berterbangan. Sejenak Ki
Jagaprana termangu-mangu. Ternyata pengikut Panembahan Lebdagati ada
juga yang harus diperhitungkan selain Lebdagati sendiri. Sambil
bertempur Ki Sambi Pitu yang melihat Ki Jagaprana termangu-mangu
berteriak ”He, apakah kau pernah berkenalan dengan kelompok Kukila
Dahana?” Ki Jagaprana mengerutkan dahinya. Ia pernah mendengar nama
sekelompok orang berilmu tinggi yang menyebut nama kelompoknya
dengan Kukila Dahana. Burung api yang sangat berbahaya. Sentuhan
serangannya pada kulit lawannya, akan memberikan bekas seakan-akan
kulit lawannya itu terjilat oleh api yang panasnya melampaui
panasnya bara tempurung kelapa. Karena itu, maka Ki jagaprana pun
menyempatkan diri untuk melihat, apakah kemampuan mereka benar-benar
tinggi sebagaimana ceritera yang pernah didengarnya. Ternyata bahwa
Ki Sambi Pitu seorang diri mampu mengimbangi mereka berempat. Meski
pun Ki Sambi Pitu harus bertempur dengan puncak kemampuannya, namun
keadaannya tidak terlalu membahayakan. Meski pun setiap kali Ki
Sambi Pitu harus berloncatan mengambil jarak, namun Ki Jagaprana
tidak akan mengganggunya, karena Ki Sambi Pitu akan dapat menjadi
marah kepadanya. Kecuali jika Ki Sambi Pitu sendiri memanggilnya.
Ternyata Ki Sambi Pitu sama sekah tidak memberi isyarat kepadanya
untuk melibatkan diri. Karena itu, beberapa saat, Ki Jagaprana hanya
berdiri saja termangu-mangu. Namun sekali lagi ia pun teringat bahwa
para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu harus
bertempur dengan mengerahkan segenap tenaga, kekuatan dan kemampuan
mereka. Sementara itu orang-orang padukuhan itu sudah mulai menjadi
letih. Mereka bukan orang-orang yang terlatih untuk bertempur.
Sehingga ketahanan tubuh mereka tidak setinggi para pengikut Ki
Warana dan apalagi para pengikut Panembahan Lebdagati. Karena itu,
maka Ki Jagaprana pun segera kembali menceburkan diri dalam kancah
pertempuran. Dibagian lain, Manggada dan Laksana telah berganti
lawan ketika lawan-lawan mereka merangkak menjauhi garangnya arena
pertempuran. Baik Manggada mau pun Laksana telah berhasil melukai
lawan-lawan mereka sehingga mereka harus berhenti bertempur.
Sedangkan di bagian lain lagi, Ki Ajar Pangukan membiarkan Ki Pandi
menghadapi Panembahan Lebdagati. Ki Ajar sendiri harus bertempur
melawan sekelompok orang diantara para pengikut Panembahan
Lebdagati. Namun ternyata Ki Ajar Pangukan telah terlalu banyak
menghisap lawan. Setiap kali seorang telah terlempar dari arena
pertempuran. Dalam pada itu, Ki Lemah Teles masih bertempur mengadu
ilmu dengan Lembu Palang. Keduanya adalah orang yang berilmu tinggi.
Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
Kegarangan Kebo Palang kadang-kadang mampu mendesak Ki Lemah Teles.
Namun pada kesempatan lain, Ki Lemah Teles berhasil menyentuh
lawannya dengan seranganserangannya. Kemarahan Lembu Palang pun
menjadi semakin menjadijadi. Dikerahkannya semua kemampuan dan
ilmunya untuk melawan orang yang menyebut dirinya Ki Lemah Teles
itu. Benturan-benturan pun telah terjadi. Ternyata bahwa Lembu
Palang telah merambah kedalam ilmu puncaknya. Ki Lemah Teles mulai
merasakan hembusan-hembusan ilmu yang sangat tajam menyentuhnya.
Seperti sentuhan angin yang sekali-sekali menerpa wajahnya, maka Ki
Lemah Teles merasakan sesuatu masuk kedalam lubang hidungnya. Tidak
berbau sama sekali. Namun ketajaman pang-graita Ki Lemah Teles telah
menangkap sentuhan ilmu Lembu Palang menyusup melalui indera
penciumannya. Dengan cepat Ki Lemah Teles telah mengatur indera
penciumannya yang menjadi pintu bagi kekuatan ilmu lawannya.
Seandainya Ki Lemah Teles tidak menyadarinya, maka ia akan menjadi
semakin lama semakin lemah dan bahkan kehilangan tenaganya sama
sekali. Untuk melawan Lembu Palang, maka Ki Lemah Teles telah
melepaskan ilmunya pula. Asap yang tipis tiba-tiba saja telah
mengepul dari celahcelah jari tangan Ki Lemah Teles yang terjulur
lurus menggapai kearah kepala Lembu Palang. Tangan Ki Lemah Teles
memang tidak menyentuh kepala Lembu Palang, tetapi asap yang tipis
itu berhembus ke wajahnya. Tiba-tiba saja Lembu Palang itu meloncat
mengambil jarak. Matanya menjadi sangat panas. Ternyata asap yang
tipis itu mengandung semacam racun yang menyakiti mata Lembu Palang.
Tetapi Lembu Palang bukan orang kebanyakan. Ia pun segera mengembus
asap tipis itu sehingga hanyut menebar diudara. Namun bukan berarti
bahwa keduanya sudah tidak bertempur lagi. Keduanya masih saja
berloncatan sambar menyambar. Bukan saja dengan kemampuan lewat ujud
kewadagan, tetapi mereka telah saling membenturkan ilmu mereka yang
tinggi.#177b Lembu Palang yang tidak mengira akan bertemu dengan Ki
Lemah Teles di padukuhan itu, benar-benar berusaha untuk segera
mengakhirinya, tetapi Ki Lemah Teles juga bukan orang kebanyakan.
Bahkan setelah saling membenturkan ilmu mereka, Lembu Palang justru
menjadi semakin terdesak. Ada sepercik penyesalan, bahwa ia telah
ikut pergi ke padukuhan itu. Menurut perhitungannya, ia akan
dapat menghibur diri dengan berburu kecoak. Tetapi ternyata
bahwa ia telah bertemu seorang raksasa dalam ilmu kanuragan. Lembu
Palang memang tidak dapat mengharapkan bantuan dari siapapun.
Orang-orangnya yang ikut pula bersamanya pergi ke padukuhan itu
tidak mampu pula untuk melindungi dirinya. Di hadapan anak-anak yang
masih terlalu muda, mereka tidak berdaya untuk bertahan. Karena itu,
maka Lembu Palang pun telah mengerahkan ilmunya sampai pada ilmu
pamungkasnya. Tetapi Ki Lemah Teles yang juga berilmu tinggi, tidak
membiarkan dirinya digilas oleh kemampuan lawannya. Untuk beberapa
lama Ki Lemah Teles sedang diganggu oleh kesadarannya bahwa ia
menjadi semakin tua. Hidupnya menjadi semakin sepi dan ia merasa
tidak berarti lagi. Tetapi di pertempuran itu, ia telah bertemu
dengan seseorang yang telah pernah menyakiti hatinya. Karena itu,
maka Ki Lemah Teles itu pun merasa bahwa ia telah mendapat
kesempatan bahwa ia bukan orang yang terbuang. “Jika aku gagal, maka
aku benar-benar orang yang tidak berarti lagi.” berkata Ki Lemah
Teles didalam hatinya. Karena itu, maka Ki Lemah Teles pun telah
meningkatkan ilmunya sampai ke puncak pula. Dengan demikian, maka
kemampuan dua jenis ilmu dalam puncak kemampuannya telah saling
berbenturan. Lembu Palang yang marah, kecewa dan menyesal itu harus
membenturkan ilmunya melawan Ki Lemah Teles yang mendendam serta
sedang berusaha untuk menegakkan kepercayaan diri, bahwa pada
umurnya yang semakin tua, ia masih tetap seorang yang berilmu tinggi
dan yang masih mempunyai arti dalam lingkungan orang-orang yang
berkemampuan tinggi. Ketika keduanya sampai pada batas
kemampuan mereka, maka benturan ilmu yang dahsyat tidak dapat
dihindarkan. Ketika Lembu Palang meloncat menyerang dengan ayunan
tangan yang memuat ilmu pamungkasnya, maka Ki Lemah Teles dengan
cepat menanggapinya. Ayunan tangan Lembu Palang yang mengarah ke
kepala Ki Lemah Teles telah membentur kekuatan ilmu tertinggi
lawannya. Ki Lemah Teles telah mengayunkan tangannya pula. Dengan
demikian, maka benturan kedua ilmu tertinggi dari dua orang yang
memiliki kekuatan, kemampuan dan ilmu yang sangat tinggi itu telah
mengguncangkan medan. Getaran dari benturan itu seakan-akan telah
mengetuk setiap dada dari pihak yang manapun. Dengan demikian, maka
pertempuran itu seakan-akan telah terhenti. Setiap orang yang
terlalu jauh dari kedua orang yang telah membenturkan dua ilmu
puncak itu telah berpaling sehingga per-tempuran pun seakan-akan
telah terhenti sesaat. Kedua orang yang telah membenturkan ilmunya
itu telah terlempar beberapa langkah surut. Ki Lemah Teles terdorong
beberapa langkah dan kemudian jatuh terguling. Dengan serta merta Ki
Lemah Teles telah berusaha untuk bangkit.Tetapi ternyata bahwa
punggungnya yang terasa bagaikan patah tidak mampu lagi menahan
tubuhnya, sehingga Ki Lemah Teles itu telah terjatauh kembali.
Terdengar Ki Lemah Teles itu mengerang kesakitan. Namun dalam pada
itu, Lembu Palang, yang semula datang, untuk sekedar melihat
pertunjukan yang baginya dianggapnya sangat menarik, karena ia
menduga bahwa orang-orang Lebdagati akan membantai sisa-sisa para
pengikut Ki Banyu Bening, ternyata mengalami nasib yang lebih buruk.
Ketika ia harus membenturkan ilmunya melawan ilmu Ki Lemah
Teles, ternyata bahwa tingkat ilmunya berada selapis di bawah ilmu
Ki Lemah Teles. Karena itu, maka isi dada Lembu Palang itu
seakan-akan telah terbakar. Ki Jagaprana sempat melihat benturan
kekuatan itu. Dengan serta-merta ia pun telah berlari mendekati Ki
Lemah Teles yang terbaring kesakitan. Namun Ki Lemah Teles itu masih
sempat bertanya ”Bagaimana keadaan Kebo Edan itu?” “Ia dalam keadaan
yang sangat parah, Ki Lemah Teles.” jawab Ki Jagaprana. “Aku juga
dalam keadaan parah. Tetapi siapakah menurut pendapatmu yang
keadaannya lebih baik. Aku atau Lembu Palang? “Kau masih berada
dalam keadaan lebih baik.” “Jangan mencoba menipu aku. Persoalan
kita masih belum selesai. Kita masih akan berperang tanding.”
“Sudahlah. Sekarang tenangkan hatimu. Cobalah mengatur pernafasanmu
untuk mengatasi perasaan sakitmu. Jika kau berhasil mengerahkan daya
tahan tubuhmu, maka kau tentu dapat mengatasi rasa sakitmu.”
Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab
lagi. Keadaan Lembu Palang memang lebih parah lagi. Tetapi tidak
seorang pun diantara kawan-kawannya atau pengikut Panembahan
Lebdagati yang sempat mendekatinya. Sementara itu pertempuran masih
berlangsung terus, meski pun jumlah para pengikut Panembahan
Lebdagati menjadi semakin susut. Yang kemudian justru mendekati
Lembu Palang yang terbaring diam adalah Ki Jagaprana setelah
Manggada dan Laksana membawa Ki Lemah Teles menepi. Ki Lemah Teles
yang diangkat oleh Manggada dan Laksana itu harus menahan sakit di
punggungnya yang terasa semakin, menggigit. Bahkan dadanya pun mulai
terasa sesak. Dalam benturan ilmu yang terjadi, maka dadanya pun
terasa menjadi sakit pula. Ki Jagaprana sempat meraba dada Lembu
Palang. Detak jantungnya sudah menjadi tidak teratur lagi. Semakin
lama semakin perlahan. “Dimana Panembahan Lebdagati” desisnya tanpa
mengetahui siapakah yang berjongkok disampingnya, karena matanya
yang menjadi kabur. “Ia masih terlibat dalam pertempuran” jawab Ki
Jagaprana. ”Sampaikah kepadanya. Aku memperingatkannya agar ia
meninggalkan tempat ini. Panembahan Lebdagati itu telah salah
membuat perhitungan atas orang-orang yang diburunya.” “Baik. Aku
akan menyampaikannya jika aku berpeluang” jawab Ki Jagaprana.
“Ternyata ia telah terjebak disini.” desis Lembu Palang yang menjadi
semakin sendat, bahkan kemudian terdiam. Ki Jagaprana pun
meraba dadanya. Detak jantung ia sudah tidak terasa ditangannya.
Dari sela-sela bibir Lembu Palang itu nampak darah, sementara
matanya pun telah terpejam. Lembu Palang terbunuh justru saat ia
tidak bersiap untuk mati. Ia datang karena ia ingin ikut membabat
ilalang. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam pada itu,
pertempuran yang terjadi di padukuhan itu justru semakin menyebar.
Tetapi para pengikut Panembahan Lebdagati telah semakin menyusut.
Mereka yang terluka terbaring di-pinggir jalan, di sudut-sudut
halaman dan bahkan di tangga-tangga pendapa. Mereka tidak dapat
bertahan jika kebetulan mereka bertemu dengan Ki Jagaprana atau
bahkan Ki Ajar Pangukan sendiri. Sementara itu Manggada dan Laksana
pun telah mengacaukan para pengikut Panembahan Lebdagati dengan ilmu
mereka yang memanjat semakin tinggi. Sementara orang-orangnya
menjadi semakin kalang kabut. Panembahan Lebdagati sendiri tengah
bertempur dengan Ki Pandi. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki
ilmu dari sumber yang sama. Namun arah perkembangannya yang menjadi
jauh berbeda, bahkan bertentangan. Dengan demikian, maka
kedua-duanya seakan-akan tidak dapat menyembunyikan unsur-unsur
gerak dasar mereka, meski pun kadang-kadang masing-masing menjadi
terkejut karena unsur-unsur gerak baru yang tumbuh disaat ilmu
mereka berkembang. Ternyata Panembahan Lebdagati itu pun telah
menyesali kesalahannya sebagaimana dilakukannya beberapa kali. Ia
selalu salah menilai kekuatan orang bongkok dan kawankawannya itu.
Meski pun kawan orang bongkok saat ini berbeda dengan kawan-kawannya
yang terdahulu, namun mereka masih juga orang-orang yang berilmu
tinggi. Dalam pertempuran itu, meski pun kedua-duanya
mengerahkan kemampuan mereka, namun masing-masing merasa bahwa
mereka akan terjebak dalam pertempuran tanpa akhir. Sementara itu
Panembahan Lebdagati pun mengetahui, bahwa ada beberapa orang
berilmu tinggi yang akan dapat membantu orang bongkok yang telah
menjebaknya dalam padukuhan kecil itu. Meski pun demikian,
pertempuran diantara keduanya masih berlangsung di halaman yang
seakan-akan sengaja memisahkan diri dari keseluruhan pertempuran.
Dalam pada itu, para pengikut Panembahan Lebdagati yang menebar,
harus menghadapi perlawanan yang keras dari para pengikut Ki Warana.
Sementara itu, Manggada dan Laksana telah meninggalkan Ki Lemah
Teles yang sudah dirawat oleh beberapa orang padukuhan yang ikut
bertempur bersama para pengikut Ki Warana. Bahkan Ki Bekel sendiri
telah menunggui Ki Lemah Teles. Sedangkan Ki Jagaprana telah berada
di pertempuran pula. Tanpa Manggada, Laksana, Ki Jagaprana dan Ki
Ajar Pangukan, maka para pengikut Ki Warana tentu akan segera
mengalami kesulitan. Ki Warana yang telah berhasil memancing
Panembahan Lebdagati dan meninggalkannya setelah berhadapan dengan
Ki Pandi, bersama-sama dengan Ki Bekel dan beberapa yang lain
berusaha membawa Ki Lemah Teles ke rumah Ki Bekel. Ki Lemah Teles
sendiri masih tetap dicengkam oleh perasaan sakit. Apalagi ketika
tubuhnya diangkat oleh beberapa orang. Tetapi ia sadar, bahwa
keadaan itu adalah keadaan yang terbaik bagi dirinya. Ki Warana dan
Ki Bekel bersama beberapa orang berusaha menembus pertempuran yang
kadang-kadang terjadi di tengah jalan, disimpang ampat atau
ditikungantikungan. Namun ternyata bahwa Ki Warana dan Ki Bekel
serta beberapa orang itu mampu menembus jalan sampai kerumah Ki
Bekel, sementara Manggada dan Laksana sempat mengamati sambil
bertempur untuk mencegah para pengikut Panembahan Lebdagati memasuki
padukuhan sampai kerumah Ki Bekel itu. Sebenarnyalah bahwa kemudian
keadaan para pengikut Panembahan Lebdagati menjadi semakin sulit.
Korban berjatuhan semakin banyak. Sementara mereka tidak tahu apa
yang terjadi dengan Panembahan Lebdagati sendiri. Dalam pada itu
Panembahan Lebdagati telah menjadi gelisah. Meski pun ia tidak dapat
melihat pertempuran dalam keseluruhan, namun panggraita Panembahan
Lebdagati yang tajam itu dapat melihat bahwa keadaan para
pengikutnya menjadi sulit oleh kenyataan yang mereka hadapi di
padukuhan itu. Karena itu, maka Panembahan Lebdagati itu tidak
mempunyai pilihan lain. Meski pun ia masih bertempur terus dengan
mengerahkan segenap kemampuannya, namun Panembahan Lebdagati sudah
mulai mencoba melihat kemungkinan lain dari pertempuran itu. Dalam
pada itu, maka Ki Pandi pun ternyata tidak dapat dengan cepat
mengakhiri pertempuran sebagaimana Panembahan Lebdagati. Keduanya
yang memiliki dasar ilmu yang sama, dalam perkembangannya ternyata
yang satu juga tidak melampaui yang lain. Namun baik para pengikut
Panembahan Lebdagati, mau pun para pengikut Ki Warana atau penghuni
padukuhan itu, menjadi berdebar-debar dan bahkan ngeri ketika mereka
melihat akibat dari benturan ilmu kedua orang itu. Karena
mereka semula tidak melihat langsung pertempuran antara orang
bongkok melawan Panembahan Lebdagati itu, maka mereka agak terkejut
ketika tiba-tiba saja mereka melihat angin pusaran yang memutar
seisi sebuah kebun di padukuhan itu. Namun tiba-tiba saja angin
pusaran itu pun pecah diguncang oleh ledakan petir yang menggelegar.
Dengan demikian, maka mereka pun segera mengetahui, bahwa dua orang
raksasa dalam olah kanuragan sedang bertempur di kebun itu. Bagi
para pengikut Panembahan Lebdagati, mereka pun segera mengetahui,
bahwa Panembahan itu sedang bertempur di kebun itu. Pada kesempatan
lain, tiba-tiba saja mereka melihat lidah api yang menyala dan
menjilat-jilat. Bahkan dedaunan pun menyala terbakar pula. Namun
lembaran awan yang basah telah turun menyelimuti kebun yang menjadi
dingin membeku. Sebenarnyalah, Panembahan Lebdagati masih mencoba
dengan tataran kemampuannya yang tertinggi untuk menghentikan
perlawanan Ki Pandi. Tetapi ternyata setelah berpisah dan menempuh
jalan hidup yang berbeda, Ki Pandi masih saja mampu mengimbangi ilmu
Panembahan Lebdagati. Akhirnya Panembahan Lebdagati pun telah
menghentakkan sejenis ilmunya yang sangat berbahaya. Panembahan itu
justru berdiri tegak sambil mengacukan tangannya dengan telapak
tangan menghadap kearah lawannya. Loncatan-loncatan cahaya yang
berwarna kemerah-merahan tiba-tiba saja telah meluncur dari telapak
tangannya itu, seakan-akan beribu-ribu petir kecil meluncur
menyambar-nyambar kearah orang bongkok itu. Ki Pandi yang mengira
bahwa lawannya akan mempergunakan Aji Gelap Ngampar terkejut.
Rupa-rupanya Panembahan Lebdagati mengetahui bahwa Ajinya
Gelap Ngampar tidak akan berarti apa-apa bagi orang bongkok itu.
Karena itu, maka Panembahan Lebdagati telah mempergunakan ilmunya
yang lain. Loncatan-loncatan beribu petir yang nampaknya kecil-kecil
itu seakan-akan telah membelenggu Ki Pandi dan dengan kekuatan yang
sangat besar telah menarik tubuhnya mendekat Panembahan Lebdagati.
Ki Pandi harus mengerahkan tenaganya untuk menahan dirinya agar
tidak terhisap oleh kekuatan ilmu Panembahan Lebdagati itu. Bahkan
dalam saat-saat yang paling berbahaya itu, Ki Pandi harus mampu
mengambil sikap, agar ia tidak dihancurkan oleh saudara
seperguruannya yang telah menempuh jalan sesat itu. Ki Pandi yang
harus bertahan dari hisapan kekuatan lawannya itu pun kemudian
berdiri sambil menyilangkan tangannya didadanya. Kedua kakinya
melekat diatas tanah dengan kuatnya, seakan-akan telah menghunjam ke
dalam bumi. Tetapi setapak demi setapak Ki Pandi masih juga
beringsut semakin mendekati lawannya. Bahkan kemudian semakin dekat
dan semakin dekat. Panembahan Lebdagati semakin mengerahkan kekuatan
ilmunya. Ia semakin berpengharapan bahwa Ki Pandi akan menjadi
semakin dekat, sehingga Panembahan Lebdagati itu akan dapat
menggapai dengan kerisnya. Namun semakin dekat orang itu dari
Panembahan Lebdagati, ternyata udara terasa menjadi semakin panas.
Dari tubuh Ki Pandi itu telah memancar kekuatan api dan dalam
dirinya, sehingga tubuh orang bongkok itu seakan-akan telah menjadi
bara yang panasnya melampaui panasnya bara batok kelapa.
Panembahan Lebdagati menjadi berdebar-debar. Demikian orang bongkok
itu beringsut semakin dekat, maka keringat ditubuh Panembahan
Lebdagati pun menjadi semakin diperas dari dalam tubuhnya. Tetapi
Panembahan Lebdagati tidak ingin melepaskan ikatan dan kekuatan
ilmunya yang menghisap itu. Karena itu, maka Ki Pandi pun semakin
lama menjadi semakin dekat pula. Namun Ki Pandi bukan saja membuat
tubuh Panembahan Lebdagati berkeringat karena panas, tetapi tubuh Ki
Pandi itu seakan-akan menjadi sangat menyilaukan. Dari kedua mata Ki
Pandi yang memandang mata Panembahan Lebdagati, memancar sinar yang
putih seperti pantulan cahaya matahari diwajah air yang beriak
kecil. Panembahan Lebdagati ternyata sulit untuk mengatasi panas
jerta matanya yang menjadi silau. Ia seakan-akan tidak dapat melihat
lagi jarak antara dirinya dengan orang bongkok itu. Dengan demikian,
maka ilmunya itu pun tidak mampu mengakhiri pertempuran. Meski pun
orang bongkok itu tidak mudah untuk mengalahkannya, namun Panembahan
Lebdagati sendiri juga merasa sangat sulit untuk mengalahkan orang
bongkok itu. Karena itu, akhirnya Panembahan Lebdagati benar-benar
sudah mengambil keputusan yang pasti. Dengan tiba-tiba saja
Panembahan Lebdagati itu pun telah menghentikan ilmunya yang
menghisap lawannya dan seakan-akan membelenggunya itu. Demikian
tiba-tiba sehingga justru Ki Pandi terkejut karenanya. Demikian Ki
Pandi menyadari kedudukannya, maka ia melihat Panembahan Lebdagati
itu bagaikan terbang meloncati dinding kebun yang telah menjadi
berserakan itu. Ranting-ranting kayu dan dahan-dahan pepohonan
berpatahan, bahkan dedaunan menjadi hangus terbakar. Dengan
serta-merta Ki Pandi pun telah berusaha memburunya. Ia masih
mendengar suara Panembahan itu bagaikan teriakan elang yang
berterbangan di langit. Namun Ki Pandi terkejut ketika dua ekor
elang telah menukik langsung menyambarnya. Hampir saja kuku-kuku
elang yang tajam itu menggores wajahnya. Ki Pandi harus
menyelesaikan kedua ekor elang itu lebih dahulu. Namun yang sekejap
itu telah dimanfaatkan Panembahan Lebdagati dengan sebaik-baiknya.
Ternyata burung-burung dilangit tidak hanya sepasang. Teriakan
Panembahan Lebdagati itu telah memberikan abaaba khusus kepada
beberapa ekor elang yang berterbangan. Burung-burung tu pun telah
berteriak-teriak pula dengan riuhnya. Seperti Panembahan Lebdagati,
maka elang-elang itu telah memberikan isyarat agar para pengikut
Panembahan Lebdagati mengundurkan diri. Ki Pandi hanya dapat
menggeram marah. Ia telah kehilangan buruannya., Panembahan
Lebdagati memiliki kecepatan bergerak yang sangat mengagumkan.
Apalagi Ki Pandi harus tertahan oleh burung-burung elang yang
menyerang mengarah langsung ke wajah dari matanya. Burung-burung
elang yang berusaha menahannya agar Panembahan Lebdagati sempat
menghindar dari medan. Dengan demikian, maka para pengikut
Panembahan Lebdagati itu pun telah berusaha dengan cepat menarik
diri dari pertempuran. Para pengikut Ki Warana dan orang-orang
padukuhan itu memang tidak dengan mudah berniat melepaskan
para pengikut Panembahan Lebdagati yang melarikan diri. Namun
agaknya orang yang mengendalikan burung-burung elang itu tidak hanya
melepas dua tiga pasang burung elang. Tetapi sekelompok burung elang
telah berterbangan menyambarnyambar. Burung-burung itu telah
berusaha menahan orangorang yang berusaha mengejar para pengikut
Panembahan Lebdagati, sehingga dengan demikian, mereka yang
melarikan diri telah mendapat peluang untuk lepas dari kejaran
lawanlawan mereka. Burung-burung elang itu ternyata memang sangat
berbahaya. Kuku-kuku yang ujungnya diberi baja yang tajam itu
benar-benar telah menghambat gerak maju orang-orang yang sedang
mengejar para pengikut Panembahan Lebdagati. Dengan demikian maka
jarak diantara mereka pun menjadi semakin jauh. Beberapa orang yang
lolos dari hambatan burung-burung elang itu pun akhirnya
menghentikan usaha mereka mengejar lawan mereka, karena justru akan
membahayakan diri mereka, karena orang-orang yang mereka kejar itu
akan mampu memberikan perlawanan. Namun dalam pada itu, Ki Warana
telah menemui Ki Ajar Pangukan setelah ia menyadari bahwa Panembahan
Lebdagati dan para pengikutnya telah melepaskan diri. Ki Pandi yang
sudah lebih dahulu menemui Ki Ajar Pangukan nampak menyesali
kegagalannya. “Maaf Ki Ajar. Aku telah melakukannya sendiri dan
gagal. Aku mencoba untuk tidak mengganggu orang lain ketika aku
masih berpengharapan untuk dapat menangkapnya.” “Bukan kau yang
harus minta maaf kepadakau, Ki Bongkok. Tetapi justru aku. Kenapa
aku dan orang-orang yang lain tidak tahu dan tidak sempat
menghentikan Panembahan Lebdagati yang melarikan diri itu.”
Namun Ki Warana itu pun kemudian berkata ”Tetapi bagaimana dengan
para cantrik Kiai Banyu Bening yang tertawan di padepokan itu.
Apakah mereka tidak akan dibantai habis oleh para pengikut
Panembahan Lebdagati?” Ki Ajar Pangukan termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian katanya ”Jadi, bagaimana menurut pendapatmu?” “Apakah
tidak sebaiknya kita juga pergi ke padepokan?” Ki Ajar Pangukan
termanagu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil
berkata ”Aku mengerti Ki Warana.” Namun kemudian ia pun berpaling
kepada Ki Pandi sambil bertanya ”Bagaimana pendapatmu?” “Aku setuju
Ki Ajar. Tetapi biarlah Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berada
disini. Mungkin Panembahan Lebdagati itu dengan licik kembali lagi
ke padepokan ini. Ia akan dapat membantai orang-orang yang tinggal
di padukuhan ini jika tidak ada orang yang dapat menghentikannya.”
“Baiklah. Kita akan berbicara dengan keduanya. Ki Lemah Teles yang
terluka itu juga memerlukan perlindungan.” Demikianlah dengan cepat,
Ki Warana mengatur orangorangnya. Sementara Ki Bekel telah
menawarkan kepada orang-orang padukuhan itu, siapakah diantara
mereka yang bersedia ikut bersama Ki Warana dan orang-orangnya
mengejar Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya. “Sebagian dari
kalian harus tinggal” berkata Ki Bekel. Demikianlah, maka Ki Warana,
orang-orangnya dan sebagian orang-orang padukuhan yang dengan suka
rela ikut bersama mereka telah dengan cepat menyusul Panembahan
Lebdagati dan para pengikutnya yang sudah menjadi lemah. Mereka
harus meninggalkan korban cukup banyak di padukuhan. Ki Sambi Pitu,
Ki Jagaprana, Ki Ajar Pangukan sendiri, Manggada dan Laksana
telah menghentikan banyak diantara mereka yang ternyata merasa
terjebak. Bagaimana pun juga Ki Warana tidak dapat tinggal diam,
karena ia menyadari sepenuhnya, bahwa dendam para pengikut
Panembahan Lebdagati tentu ditujukan kepada orang-orang yang berada
didalam tangan mereka. Dengan cepat iring-iringan itu pun bergerak
mendekati padepokan. Namun Ki Warana menjadi sangat berdebardebar
bahwa orang terakhir dari para pengikut Panembahan Lebdagati yang
melarikan diri sudah tidak dapat mereka lihat lagi. Burung-burung
elang pun telah berputaran diatas padepokan, seakan-akan sedang
menyaksikan satu pertunjukan yang sangat mengerikan. Karena itu,
maka Ki Warana menjadi semakin tergesagesa. Dibawanya orang-orangnya
berlari-lari melintasi sawah, pategalan dan padang-padang perdu.
Bahkan Ki Warana telah mengacu-acukan senjatanya untuk menarik
perhatian burung-burung elang yang berterbangan. Jika burung-burung
elang itu melihat mereka datang, burung-burung itu tentu akan
memberikan isyarat. Isyarat itu akan membuat orang-orang yang berada
didalam padepokan itu mempersiapkan diri dan tidak sempat membantai
kawan-kawan Ki Warana yang tertawan di padepokan itu. Yang kemudian
melambai-lambaikan senjatanya bukan saja Ki Warana. Tetapi para
pengikutnya dan bahkan orangorang dari padukuhan yang dengan suka
rela membantu mereka, telah melakukan hal yang sama pula.
Sebenarnyalah bahwa burung-burung elang itu telah melihat kedatangan
sebuah iring-iringan yang terhitung besar. Diantara mereka terdapat
Ki ajar Pangukan, Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang ikut
menjadi cemas akan nasib bekas para pengikut Kiai Banyu Bening.
Karena itu, maka burung-burung elang yang terbang berputaran itu pun
telah menjadi bubar. Burung-burung itu dengan cepat melayang
menyongsong iring-iringan yang berlari-larian menuju ke padepokan.
Beberapa ekor diantaranya telah berterbangan hilir mudik. Dengan
caranya burung-burung itu telah memberikan isyarat bahwa sekelompok
orang telah berdatangan ke padepokan itu. Beberapa saat lamanya
burung-burung elang itu seolaholah telah menjadi kebingungan. Mereka
belum menerima aba-aba dari orang yang mengendalikannya. Namun
agaknya orang yang mengendalikan burung-burung elang itu pun sedang
kebingungan pula. Beberapa saat kemudian, dua ekor diantara burung
elang itu telah menukik dan hilang didalam padepokan. Namun sejenak
kemudian sepasang burung itu telah muncul kembali. Naik ke angkasa
tinggi sekali. Melampaui kawan-kawannnya yang gelisah. Burung elang
itu lelah membuat beberapa gerakan khusus. Namun kemudian
burung-burung elang yang lain pun seakan-akan telah terhisap dan
menukik turun kedalam padepokan. Beberapa saat kemudian sepi. Tidak
seekor burung pun yang nampak terbang diatas padepokan atau
disekitarnya. Ki Warana dan orang-orang yang sedang menuju ke
padepokan itu justru menjadi berdebar-debar. Mereka tidak tahu, apa
yang telah terjadi di padepokan.#185a “Mereka sedang mempersiapkan
diri” berkata orang-orang yang sedang menuju ke padepokan itu
didalam hati. Mereka menduga, bahwa burung-burung elang itu sedang
mendapat perintah-perintah khusus dari orang-orang yang
mengendalikannya. Tetapi ternyata burung-burung itu tidak segera
terbang lagi. Sementara itu, Ki Warana yang berjalan dipaling depan
telah mendekati padepokan itu. Sejenak ia berdiri termangumangu.
Beberapa orang pun kemudian berdiri disebelahnya. Namun tidak
seorang pun yang menyatakan pendapatnya. Beberapa saat kemudian, Ki
Ajar Pangukan dan Ki Pandi telah berdiri pula memandangi pintu
gerbang padepokan yang tertutup rapat itu. Orang-orang yang kemudian
berdiri termangu-mangu itu pun mencoba membayangkan, apa yang
terdapat dibelakang dinding padepokan itu. Panembahan Lebdagati dan
pengikutnya yang bersiap-siap menerima kedatangannya lawan-lawannya.
Atau mereka sedang sibuk membuat jebakan atau cara apa pun untuk
melawan. Justru karena kekuatan mereka telah menyusut terlalu
banyak. Orang-orang yang mereka tinggalkan di padepokan, yang masih
segar dengan tenaga utuh, tentu akan dapat membantu mengisi
kekosongan karena korban yang telah mereka tinggalkan di padukuhan.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdiri termangumangu. Namun
mereka tidak melihat tanda-tanda apa pun yang dapat mereka
pergunakan untuk menduga, apa saja yang telah terjadi didalam
lingkungan dinding padepokan. Ki Pandi lah yang kemudian berkata
kepada Laksana dan Manggada ”Lihatlah di seputar dinding padepokan
ini. Berhatihatilah. Bawalah tiga ampat orang bersamamu.” Namun Ki
Warana sendiri menyahut ”Aku akan pergi bersama mereka.”
“Baiklah” sahut Ki Pandi ”tetapi jangan terperangkap dalam
jebakan-jebakan yanga mereka buat.” Demikianlah, Manggada, Laksana,
Ki Warana dan tiga orang pengikutnya telah berjalan mendekati
padepokan itu. Mereka pun kemudian berjalan dengan hati-hati
mengitari padepokan yang nampak sepi itu. Dengan senjata siap
ditangan, sementara seorang dari mereka telah mempersiapkan anak
panah sendaren yang siap memberikan isyarat kepada Ki Pandi dan Ki
Ajar Pangukan, mereka berjalan mengelilingi padepokan. Tidak ada
seorang pun yang nampak berdiri diatas panggungan di belakang
dinding. “Apakah panggungan itu memang sengaja dikosongkan?” desis
Ki Warana. Manggada dan Laksana tidak menjawab. Namun mereka justru
berjalan lebih dekat lagi dengan dinding padepokan. Ketika mereka
sempat didepan sebuah pintu butulan, Manggada pun berkata ”tunggu.
Aku akan melihat pintu butulan itu.” Ki Warana tidak sempat
mencegah. Manggada itu pun segera berlari mendekati pintu butulan
itu. Ternyata pintu butulan itu tertutup rapat. Bahkan diselarak
dengan kuatnya. Beberapa saat Manggada berdiri didepan pintu itu.
Dicobanya untuk mendengarkan sesuatu di dalam padepokan, tetapi ia
juga tidak mendengar apa pun juga. Sejenak kemudian ia pun telah
kembali menemui Ki Warana dan Laksana. Sambil memberitahukan apa
yang dilihatnya, mereka telah berjalan lagi mengitari padepokan
itu. Tetapi dibagian belakang padepokan itu pun nampaknya
sepisepi saja. Ketika mereka sampai ke pintu butulan di belakang,
maka mereka bertigalah yang mendekat. Ki Warana sempat berpesan
kepada ketiga orang pengikutnya, agar jika perlu, mereka jangan
segan-segan melepaskan anak panah sendaren untuk memberikan isyarat
kepada Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Ketika bertiga mereka
mendekati pintu butulan itu, maka mereka memang menjadi
berdebar-debar. Ketika Ki Warana menyentuh pintu itu, maka ternyata
pintu itu tidak diselarak. Perlahan-lahan Ki Warana mendorong pintu
itu sehingga terbuka sepenuhnya. “Pintu ini tidak diselarak.” desis
Ki Warana. “Aneh” sahut Manggada. Tetapi Laksana memperingatkan”
Hati-hati. Jangan terjebak.” Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian ia pun berkata ”Tetapi nampaknya padepokan ini memang
kosong.” “Ya” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian
”Meski pun demikian kita harus tetap mencurigai. Mungkin mereka
sengaja bersembunyi di setiap bangunan. Baru kemudian mereka
menjebak kita.” “Jika demikian, kita akan memasuki padepokan ini
dengan kekuatan penuh.” Mereka pun kemudian telah menjauhi pintu
butulan itu. Ki Warana pun kemudian berkata ”Aku akan menjemput
mereka.” Manggada dan Laksana pun berdiri beberapa puluh
langkah dari pintu butulan itu, untuk mengawasi
kemungkinankemungkinan yang belum dapat mereka perhitungkan. Seorang
diantara pengikut Ki Warana yang membawa panah sendaren tinggal
bersama mereka, sementara Ki Warana dan orang-orangnya yang lain
telah kembali menemui Ki Ajar Pangukan. Ketika Ki Ajar mendengar
laporan itu, maka katanya ”Baiklah. Kita akan memasuki padepokan ini
dengan kesiagaan tertinggi. Mungkin kita akan menghadapi sesuatu
yang tiba-tiba saja diluar perhitungan kita.” Demikianlah, maka
seluruh kekuatan yang datang ke padepokan itu telah bergerak. Mereka
semuanya berada disisi sebelah dan di belakang padepokan. Dengan
hati-hati Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi memasuki pintu butulan itu,
diikuti oleh Ki Warana, Manggada dan Laksana. Kemudian berurutan
para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan yang ikut bersama
mereka. Ki Ajar Pangukan pun kemudian menyarankan agar orangorang
itu tidak dengan tergesa-gesa menebar. Meski pun kemudian
orang-orang itu mengalir ke dalam padepokan, tetapi mereka masih
tetap berada dalam jangkauan pengawasan Ki Warana. Ketika orang
terakhir telah memasuki padepokan itu, maka Ki Ajar Pangukan telah
membawa mereka bergerak lebih ke tengah-tengah padepokan itu. “Kau
lebih mengenal tempat ini, Ki Warana” berkata Ki Ajar. “Ya, Ki
Ajar.””jawab Ki Warana. “Jika demikian, kau tuntun kami, kemana kami
harus pergi.” Ki Warana pun telah membawa seluruh pasukannya
menuju ke depan bangunan induk padepokan itu. Namun tibatiba saja
sekelompok diantara orang-orangnya yang berjalan melalui celah-celah
dua bangunan terhenti. Mereka mendengar sesuatu dari dalam bangunan
itu, sehingga salah seorang dari mereka telah memberitahu kepada Ki
Warana tentang suara-suara yang mencurigakan itu. Ki Warana menjadi
sangat tertarik mendengar suara-suara itu. Bersama Ki Ajar Pangukan,
Ki Pandi, Manggada dan Laksana mereka telah mendekati pintu bangunan
itu. “Ki Warana” Ki Ajar Pangukan itu pun bertanya ”bangunan ini
pada saat Kiai Banyu Bening masih tinggal di padepokan ini
dipergunakan untuk apa?” “Dahulu bangunan ini dipergunakan untuk
tempat tinggal sebagian dari para cantrik, Ki Ajar.” Ki Ajar
mengangguk-angguk. Katanya ”Kita akan melihat, apa yang ada didalam
bangunan ini.” “Biarlah aku masuk lebih dahulu” berkata Ki Warana.
Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dua orang pengikut Ki
Warana berkata ”marilah. Kita masuk lebih dahulu.” Ki Warana
mengangguk kecil. Dengan senjata telanjang, Ki Warana dan kedua
orang itu pun segera berdiri didepan pintu. Seorang diantara
keduanya yang bersenjata tombak telah melangkah sambil merundukkan
ujung tombaknya. Dengan ujung tombaknya orang itu mendorong pintu
bangunan itu. Perlahan-lahan pintu itu terbuka. Ujung tombak orang
itulah yang lebih dahulu memasuki ruangan yang terhitung luas itu.
Baru kemudian orang itu perlahan-lahan melangkah masuk pula diikuti
oleh seorang kawannya. Demikian keduanya meloncat kesamping
pintu, maka Ki Warana telah memasuki mangan itu pula dengan ujung
senjata teracu. Namun ketiga orang itu pun bagaikan membeku. Mereka
melihat beberapa orang yang terbaring silang menyilang. Tubuh mereka
berlumuran darah yang masih basah. “Mereka ada disini” teriak Ki
Warana; “Siapa?” bertanya Ki Ajar Pangukan, “Kawan-kawan kita. Kita
terlambat. Mereka benarbenar sudah membantai kawan-kawan kita.” Ki
Ajar Pangukan dan Pandi pun segera berloncatan masuk. Mereka pun
menarik nafas dalamdalam menyaksikan kengerian yang sangat mendalam
di ruangan yang terhitung luas itu. Namun Ki Pandi itu pun kemudian
berkata ”Masih ada yang hidup. Kita harus menolong mereka.” Ki
Warana pun kemudian memerintahkan orangorangnya untuk mengamati
kawan-kawan mereka yang menjadi tawanan Panembahan Lebdagati dan
yang telah dibantai diruangan itu. Ternyata memang masih
banyak diantara mereka yang belum benar-benar mati. Agaknya para
pengikut Panembahan Lebdagati itu telah melakukannya dengan
tergesa-gesa. Dalam pada itu, maka beberapa orang telah melihat
keadaan bangunan sebelah. Ternyata bangunan di sebelahnya
benar-benar kosong. Karena itu, maka orangorang yang masih bernafas
telah dipindahkan keruangan sebelah. Sementara beberapa orang
mengumpulkan kawan-kawan mereka yang masih selamat, maka Ki Ajar
Pangukan, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah melihat-lihat keadaan
padepokan itu bersama sekelompok orang-orang padukuhan yang
menyertai mereka. “Mengerikan” desis salah seorang dari orang-orang
padukuhan itu. “Mereka sudah kehilangan landasan kemanusiaan mereka”
desis yang lain. “Untunglah bahwa padepokan ini sudah kosong ketika
kita masuk kemari. Seandainya belum, apakah kita tidak justru
membeku ketakutan di tengah-tengah padepokan yang asing ini?”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara mereka menjadi semakin
berdebar-debar ketika mereka sempat melihat beberapa pucuk senjata
yang tertinggal. Di bangunan induk padepokan itu terdapat beberapa
pucuk senjata disudut. Sebuah kapak yang besar yang tergolek
diantara tangkai sebuah canggah yang pada mata canggahnya terdapat
gerigi menduri-pandan. Kemudian sebuah tombak berkait dan yang lain
sebuah trisula disamping beberapa tombak seperti tombak
kebanyakan. Namun ternyata bahwa padepokan itu memang sudah
ditinggalkan oleh panembahan Lebdagati dan para pengikutnya. Didapur
perapian masih menyala. Tiga buah bakul besar berisi nasi yang masih
hangat. Sayur yang masih berada didalam kuali yang masih berada
diatas api. Nampaknya para pengikut Panembahan Lebdagati yang
bertugas di dapur tengah menyediakan makan bagi orangorangnya yang
menurut perhitungan akan segera kembali dari pertempuran. Ternyata
Panembahan Lebdagati memang telah kembali. Tetapi dalam keadaan yang
jauh berbeda dari yang mereka kehendaki. Sementara itu, Ki Warana
telah selesai mengumpulkan kawan-kawannya yang benar-benar telah
terbunuh. Namun hatinya masih juga terhibur, bahwa ternyata masih
lebih banyak yang berkesempatan untuk tetap hidup daripada yang
benar-benar mati. Ki Aajar Pangukan dan Ki Pandi pun kemudian telah
membantu Ki Warana mengobati merawat orang-orang yang terluka parah.
Dengan obat-obat yang ada, mereka mencoba untuk memperingan
penderitaan orang-orang yang terluka. “Kami mempunyai tanaman yang
dapat diramu menjadi obat-obatan” berkata Ki Warana. Ki Pandi
agaknya tertarik pada keterangan Ki Warana i(u. Karena itu, maka ia
pun bertanya ”Dimana?” Ki Warana pun kemudian memanggil seorang dari
antara orang-orang yang ikut bersamanya dan yang sebelumnya pernah
memelihara kebun tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat-obatan
itu ”Tunjukkan Ki Pandi tanaman itu jika masih ada.” Orang itu
pun kemudian telah membawa Ki Pandi ke bagian belakang kebun
padepokan itu. Ternyata kebun itu masih utuh. Kebun khusus yang
dipagari disudut kebun yang ada didalam lingkungan padepokan itu. Ki
Pandi yang kemudian berdiri diantara berbagai macam tumbuh-tumbuhan
yang dapat dipakai sebagai obat-obatan itu menarik nafas
dalam-dalam. Gumamnya ”Begitu lengkap. Tentu ada seorang yang
mengetahui benar tentang obatobatan diantara para pengikut Kiai
Banyu Bening.” Namun ketika hal itu kemudian ditanyakannya kepada Ki
Warana, maka dengan nada dalam Ki Warana itu berkata ”Orang itu ada
diantara mereka yang tertangkap oleh para pengikut Panembahan
Lebdagati. Ia ada diantara orang-orang yang terbunuh itu.” “Sayang
sekali” desis Ki Pandi ”kenapa ia tidak lari bersama Ki Warana dan
sebagian dari penghuni padepokan ini?” “Ia terlalu setia kepada Kiai
Banyu Bening. Karena itu, maka ia tidak akan mau meninggalkan
padepokan ini.” “Tetapi bukankah Kiai Banyu Bening sudah terbunuh?”
“Setianya tidak terbatas-pada masa hidup Kiai Banyu Bening. Aku
yakin itu, karena aku mengenalnya dengan baik.” Ki Pandi
mengangguk-anggguk. Katanya ”Sekarang yang tinggal hanyalah
bekas-bekas kemampuannya. Tetapi peninggalannya itu akan sangat
berharga jika kita dapat memanfaatkannya.” “Aku harap Ki Pandi dan
Ki Ajar Pangukan dapat mempergunakannya.” “Kami akan mencoba” jawab
Ki Pandi ”mudah-mudahan akan berarti bagi saudara-saudara kita yang
sedang terluka itu.” Hari itu, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan
memang berusaha untuk membuat obat dari dedaunan, akar-akaran dan
berbagai macam bunga yang ada di kebun yang khusus itu menurut
pengenalan mereka, sebanyak-banyaknya karena orang yang terluka pun
cukup banyak. Mereka telah membuat obat yang dioleskan, ditaburkan
dan diminum oleh orang-orang yang terluka itu. Namun dalam pada itu,
Ki Ajar Pangukan telah minta agar beberapa orang pergi ke padukuhan,
untuk memberitahukan apa yang telah terjadi, agar Ki Bekel tidak
menjadi sangat cemas. “Kami akan berada di padepokan ini” pesan Ki
Ajar Pangukan kepada orang itu ”kami harus merawat orang-orang yang
terluka.” Sebenarnyalah bahwa Ki Bekel, Ki Sambi Pitu dan Ki
Jagaprana serta orang-orang yang berada di padukuhan itu merasa lega
bahwa tidak terjadi pertempuran yang harus merenggut korban lagi.
“Mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak akan terjadi benturan
kekerasan,” berkata Ki Bekel yang harus menyerahkan beberapa orang
padukuhan itu sebagai korban dalam pertempuran yang baru saja
terjadi. Meski pun hal itu sudah diduga sebelumnya, namun perpisahan
dengan orangorang terbaik membuat hati Ki Bekel menjadi sedih
Apalagi ketika Ki Bekel melihat, bagaimana keluarga mereka yang
meneteskan air mata. Hari itu, mereka yang sudah terlanjur berada di
padepokan, tetap tinggal di padepokan, sedangkan yang berada di
padukuhan tetap pula berada di padukuhan. Ki Sambi Pitu dan Ki
Jagaprana berusaha untuk merawat Ki Lemah Teles sebaik-baiknya,
sementara tabib terbaik dari padukuhan itu dibantu oleh beberapa
orang, bekerja keras untuk merawat orang-orang yang terluka.
Bahkan para pengikut Panembahan Lebdagati. Namun para tawanan itu
harus dijaga dengan ketat, agar mereka tidak menimbulkan kesulitan.
Ketika malam kemudian menyelimuti padukuhan dan padepokan yang baru
saja mengalami goncangan-goncangan karena pertempuran yang telah
merenggut korban jiwa itu, para pemimpinnya masih juga mengatur
penjagaan sebaikbaiknya, karena tidak mustahil masih akan terjadi
sesuatu. Orang-orang yang berada di padepokan telah menempatkan
beberapa orang penjaga di panggungan dibelakang dinding. Sementara
itu, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi bergantian mengelilingi padepokan
itu di malam hari. Sedangkan Manggada dan Laksana berada di bangunan
induk bersama orang-orang padukuhan yang masih berada di padepokan.
Dalam pada itu, Ki Bekel pun telah mengatur orangorangnya pula untuk
mengamati keadaan. Disetiap sudut dan lekuk padukuhan, Ki Bekel
menempatkan orang-orangnya untuk berjaga-jaga. Demikian pula
disetiap regol jalan yang keluar dan memasuki padukuhan. Sementara
itu, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berada di rumah Ki Bekel merawat
Ki Lemah Teles yang berangsur menjadi baik. Ternyata ketahanan tubuh
Ki Lemah Teles cukup tinggi, sehingga ia masih mampu mengatasi
perasaan sakit yang timbul karena luka-lukanya yang parah.
Demikianlah, kesiagaan yang tinggi masih terdapat baik di padepokan
mau pun di padukuhan. Namun ternyata di malam itu tidak ada sesuatu
yang terjadi. Ki Pandi yang menempatkan kedua ekor harimaunya
di luar padepokan juga tidak melihat sesuatu yang mencurigakan,
sehingga kedua ekor harimau itu tidak memberikan isyarat apapun. Di
hari berikutnya, setelah semua korban di makamkan, baik yang ada di
padepokan, mau pun yang ada di padukuhan, maka Ki Warana mulai
membicarakan hari depan padepokan yang telah direbut kembali dari
tangan Panembahan Lebdagati itu. “Bukankah Ki Warana pantas untuk
menjadi pemimpin di padepokan ini menggantikan kedudukan Kiai Banyu
Bening? Hanya menggantikan kedudukannya. Menggantikan kedudukannya
sebagai pemimpin dari padepokan ini. Bukan pemimpin dalam arti
penyebaran kepercayaan sesat yang berlandaskan pada dendamnya itu.”
Tetapi Ki Warana menjawab ”Mungkin aku dapat melakukannya, mengatur
tumbuh dan berkembangnya padepokan ini. Tetapi sulit bagiku untuk
dapat mempertahankannya. Jika Panembahan Lebdagati itu datang
kembali, maka aku tentu hanya dapat menyerahkan padepokan ini
kepadanya. Bahkan menyerahkan nyawaku pula.” Ki Pandi dan Ki Ajar
Pangukan mengerti alasan itu. Karena itu, maka Ki Pandi itu pun
berkata ”Ki Ajar Pangukan yang tempat tinggalnya paling dekat dari
padepokan ini akan dapat memberikan petunjuknya.” “Seorang diantara
kita sebaiknya memang tinggal disini.” berkata Ki Ajar Pangukan.
“Bagaimana kalau Ki Ajar?” “Lalu rumahku?” bertanya Ki Ajar.
“Rumah itu dapat ditinggalkan saja. Bukankah Ki Ajar juga sendiri
saja dirumah?” Ki Ajar tersenyum. Katanya ”Aku sudah tinggal cukup
lama dirumah itu, sehingga ikatan antara aku dan rumah itu sudah
demikian eratnya. Bagaimana jika Ki Bongkok saja yang tinggal
disini? Jika Ki Bongkok tinggal disini, Panembahan Lebdagati tentu
tidak akan berani datang lagi.” Ki Bongkok menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Aku tidak terbiasa tinggal disatu rumah. Aku
pun masih harus mencari dan menemukan Panembahan Lebdagati itu.
Karena itu, seandainya aku harus memimpin sebuah padepokan, maka aku
tidak akan pernah ada ditempat.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk.
Sementara Ki Warana berkata ”Aku mohon seseorang bersedia melindungi
kami. Dendam Panembahan Lebdagati tentu tidak akan pernah padam.
Persoalannya bukan sekedar padepokan ini. Tetapi kaki Gunung Lawu
disebrang hutan Jatimalang ini diakunya sebagai daerah kuasa
Panembahan Lebdagati itu.” Ki Pandi yang termangu-mangu itu
tiba-tiba berdesis ”bagaimana dengan Ki Lemah Teles. Jika ia
bersedia tinggal di padepokan ini, maka ia akan menemukan satu dunia
yang lain. Ia tidak akan merasa kesepian dan tidak merasa terbuang
dari lingkungan dunia kanuragan, sehingga mencari kawan untuk
berkelahi.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya ”Kita akan
mencoba untuk berbicara dengan orang itu. Ia sudah menjadi semakin
baik.” Hari itu juga, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi telah pergi
menemui Ki Lemah Teles. Sebelumnya keduanya telah berbicara pula
dengan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana, tentang perrnintaan Ki Warana
untuk menempatkan seseorang yang dapat dianggap sebagai pemimpin
tertinggi di padepokan itu, sementara untuk mengatur
pertumbuhan dan perkembangan padepokan ini Ki Warana akan
melakukannya.” Ternyata semuanya setuju, bahwa Ki Lemah Teles akan
diminta untuk tinggal dan memimpin padepokan itu. Ketika hal itu
kemudian disampaikan kepada Ki Lemah Teles, maka dengan serta-merta
ia berkata ”Kalian ingin aku mengorbankan bayi setiap bulan
purnama?” “Tentu tidak” jawab Ki Pangukan ”justru kau harus berusaha
meyakinkan orang-orang yang sudah mulai terpengaruh oleh kepercayaan
Kiai Banyu Bening yang dilandasi oleh dendam dan kebenciannya itu,
bahwa apa yang dikatakan dan diajarkan oleh Kiai Banyu Bening itu
adalah justru akan menjauhkan mereka dari sumber hidup mereka.” Ki
Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Sambi Pitu berkata
”Jika kau memimpin padepokan itu, maka kami akan ikut merasa
memiliki. Setiap kali kami merasa jenuh tinggal dirumah, kami dapat
pergi ke kaki Gunung Lawu untuk tinggal beberapa hari di
padepokanmu. Tentu sebuah padepokan yang lain dengan padepokan Kiai
Banyu Bening dan padepokan Panembahan Lebdagati. Padepokanmu akan
menjadi padepokan yang mendapat sinar terang dari Yang Maha Pencipta
karena kau akan memimpin seisi padepokan untuk mengenalinya. Bukan
hanya seisi padepokan, tetapi juga orang-orang yang tinggal
disekitarnya.” Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya ”Aku akan memikirkannya.” “Kau perlukan waktu berapa hari
untuk menentukan jawabanmu itu?” bertanya Ki Sambi Pitu. “Tergantung
pada turunnya terang dihatiku” jawab Ki Lemah Tetes. “Baiklah”
berkata Ki Ajar Pangukan ”bukankah kita masingmasing tidak
tergesa-gesa? Kita akan dapat untuk beberapa lama tinggal di
padepokan ini sambil menunggu keputusan Ki Lemah Teles. Tetapi
menurut perhitungan kami, Ki Lemah Teles tidak akan menolaknya. Di
padepokan ini Ki Lemah Teles akan menemukan apa yang terasa hilang
selama ini.” “Aku juga berharap” berkata Ki Bekel ”padukuhan ini
akan ikut merasa tenang, jika satu atau dua orang berilmu tinggi
berada di padepokan ini. Selama ini padukuhan ini terkait dengan
padepokan itu. Jika terjadi perubahan di padepokan itu, maka kami
pun akan ikut pula mengalami perubahan. Sepeninggal Kiai Banyu
Bening, mungkin kami akan mendapatkan petunjuk baru yang benar-benar
dapat memberikan pengharapan bagi kami.” Ki Lemah Teles memang belum
memberikan harapan pasti. Agaknya Ki Lemah Teles ingin menyembuhkan
luka-luka dalamnya ketika ia membenturkan ilmunya melawan kekuatan
ilmu Lembu Palang. Namun di hari-hari berikutnya, tatanan di
padukuhan yang menjadi ajang pertempuran yang menentukan itu sudah
menjadi wajar kembali. Sementara itu, Ki Lemah Teles sudah berada di
padepokan. Demikian pula Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana. “Jika Ki
Bekel memerlukan sesuatu, Ki Bekel dapat memberitahukan kepada kami
di padepokan itu.” berkata Ki Ajar Pangukan. “Baik Ki Ajar. Kami
tentu masih sangat memerlukan kehadiran Ki Ajar dan yang lain.
Perubahan sikap dan tatanan kehidupan yang akan terjadi sejalan
dengan perubahan yang terjadi di padepokan memerlukan tuntunan yang
mapan.” “Baik, Ki Bekel. Kami tidak akan segera meninggalkan
padepokan itu.” Dengan demikian, maka gelombang pembaharuan di
padepokan itu pun telah menyentuh padukuhan-padukuhan yang lain
pula. Gejolak yang terjadi sejak Panembahan Lebdagati menduduki
padepokan itu untuk beberapa lama, masih terasa. Namun Ki Warana
sudah berjanji untuk bekerja keras. Wajah padukuhan-padukuhan di
sekitar padepokan itu harus segera berubah. Para penghuni padukuhan
itu harus menjadi yakin, bahwa kepercayaan yang disebarkan oleh Kiai
Banyu Bening itu, semata-mata merupakan percikan dendam pribadinya,
karena anaknya yang karena sesuatu hal telah terbakar. Demikianlah
dari hari ke hari kehidupan di kaki Gunung Lawu itu menjadi semakin
tenang. Sedikit demi sedikit Ki Warana, yang sebelumnya sering
memberikan sesorah di padukuhan-padukuhan, berubah untuk meyakinkan
perubahan yang terjadi di padepokan itu justru akan dapat memberikan
jalan yang terang. Manggada dan Laksana pun sudah sering
berjalan-jalan keluar dari padepokan. Bersama kedua ekor harimau
peliharaan Ki Pandi, mereka menyusuri padang-padang perdu
melihat-lihat keadaan di lereng Gunung Lawu. Mereka pun sempat
menyusup kedalam hutan yang letaknya agak lebih tinggi dari
padukuhan dan padepokan yang baru saja direbut kembali dari tangan
Panembahan Lebdagati itu. Ternyata hutan itu masih merupakan hutan
yang lebat dan dihuni oleh berjenis-jenis binatang termasuk binatang
buas. Tetapi Manggada dan Laksana sudah terbiasa berada
ditengah-tengah hutan yang lebat. Karena itu, maka ia sama sekali
tidak menjadi canggung. Apalagi bersama mereka, dua ekor harimau
yang besar dan kuat bahkan memiliki kelebihan dari harimau
kebanyakan ada bersama mereka. Namun pada hari berikutnya,
ternyata Laksana telah mempunyai rencana. Ia mengajak Manggada untuk
pergi ke sebuah padukuhan yang pernah mereka kunjungi sebelumnya.
“Ah, kau” desis Manggada. “Apa salahnya?” bertanya Laksana. “Kau
harus berbicara dengan Ki Pandi.” Laksana termangu-mangu. Katanya
”Apakah untuk itu aku harus mendapat ijin?” “Bukan ijin. Tetapi agar
Ki Pandi tahu, kita berada dimana.” jawab Manggada. Laksana akhirnya
menurut juga. Ia pun telah memberitahukan kepada Ki Pandi, kemana ia
akan pergi bersama Manggada. Ki Warana ternyata mendengar pula
pembicaraan itu. Karena itu, maka Ki Warana pun kemudian berkata
”Tolong ngger. Sampaikan salamku kepada Krawangan. Sejak peristiwa
itu terjadi, ia tentu belum mendengar kabar tentang perkembangan
terakhir padepokan ini. Juga tentang keselamatanku.” “Baik Ki
Warana.” jawab Laksana. Berdua mereka pergi ke padukuhan tempat Ki
Krawangan tinggal. Dua ekor harimau yang menyertai mereka, berhenti
dan bersembunyi di semak-semak agak jauh dari padukuhan agar tidak
menakut-nakuti orang yang melihatnya. Tetapi ternyata Laksana tidak
langsung pergi ke padukuhan. Tetapi ia telah mengikuti jalan kecil
menuju ke tanggul. “He, kita pergi ke mana?” bertanya
Manggada. “Sebentar. Aku akan melihat ke tepian.” “Untuk apa?”
“Tidak apa-apa” jawab Laksana. Manggada menarik nafas dalam-dalam.
Ia tahu bahwa Laksana ingin melihat, apakah Delima ada di tepian
atau tidak. “Belum ada yang berani mencuci ditepian” berkata
Manggada. “Tetapi Delima lain. Ia lebih senang mencuci ditepian
daripada di rumahnya sendiri. Bukankah keadaan sudah lebih baik
sekarang ini? Pada saat yang gawat itu, Delima masih juga mencuci
ditepian.” Manggada tidak menjawab lagi. Dibiarkannya Laksana
berjalan menyusuri tanggul. Dan bahkan Manggada pun telah
mengikutinya dibelakangnya pula. Namun keduanya tertegun. Dari
kejauhan mereka melihat, bahwa yang berada di tepian bukan hanya
Delima. Tetapi beberapa orang perempuan telah berada di tepian itu
pula. “Nah, bukankah orang-orang dari padukuhan ini menganggap bahwa
keadaan telah menjadi tenang, sehingga mereka telah berani turun ke
tepian?” bertanya Laksana. “Apakah kau juga akan menemui Delima
sekarang ini?” bertanya Manggada. Laksana menggeleng. Katanya ”Nanti
saja.” “Kita menunggu sampai mereka selesai? Jika mereka pulang,
maka Delima tentu akan pulang bersama mereka pula.” “Tidak. Kita
akan berjalan lewat tanggul di seberang. Jika Delima melihat kita
menyusuri tanggul itu, maka ia tentu akan tinggal lebih lama dari
kawan-kawannya.” Manggada tidak membantah Mereka pun kemudian
berjalan melingkar dan menyeberangi sungai itu. Seperti dikatakan
oleh Manggada dan laksana, keduanya berjalan saja diatas tanggul
di-seberang. Mereka sama sekali tidak berpaling, seakan-akan mereka
tidak memperhatikan sama sekali perempuan-perempuan yang sedang
mencuci itu. Perempuan-perempuan yang sedang mencuci ditepian itu
pun melihat mereka pula. Tetapi keduanya sama sekali tidak menarik
perhatian mereka. Tanggul itu memang dilewati banyak orang. Diantara
mereka adalah orang-orang yang memang belum mereka kenal. Berbeda
dengan kawankawannya, Delima yang melihat dua orang anak muda itu
lewat, menjadi berdebar-debar. Meski pun keduanya sama sekali tidak
berpaling, tetapi Delima tahu, bahwa keduanya akan menemuinya
setelah kawankawannya pulang. Tetapi selain kedua orang anak muda
itu, ternyata ada dua orang laki-laki yang lain yang berjalan justru
diatas tanggul disisi yang lain. Keduanya justru berhenti ketika
mereka melihat beberapa orang perempuan sedang mencuci itu.
Perempuan-perempuan yang sedang mencuci itu mulai menjadi gelisah.
Nampaknya keduanya menaruh perhatian terhadap mereka yang sedang
mencuci itu. Delima pun menjadi gelisah pula. Ketika ia memandang ke
atas tanggul di seberang, ternyata Manggada dan Laksana telah tidak
nampak lagi. “Seandainya mereka masih ada” berkata Delima didalam
hatinya. Meski pun demikian, Delima masih juga berharap bahwa mereka
berdua masih berada disekitar tempat itu, karena Delima pun berharap
untuk dapat bertemu dengan anak-anak muda itu setelah kawan-kawannya
pulang. Kedua orang yang berada diatas tanggul itu masih berdiri
dilemparnya. Sejenak keduanya saling berbicara perlahanlahan.
Agaknya keduanya sedang membicarakan, apakah yang akan mereka
lakukan. Perempuan-perempuan itu menjadi cemas, ketika kedua orang
itu pun kemudian justru turun dari atas tanggul dan melangkah
mendekati mereka yang sedang mencuci itu. Beberapa orang diantara
perempuan itu justru telah mencebur kedalam air dengan pakaian
mereka yang memang sudah basah. Wajah kedua orang itu memang
kelihatan garang. Bahkan berkesan menyeramkan. “Jangan takut”
berkata salah seorang dari mereka ”aku hanya ingin bertanya.”
Perempuan-perempuan itu justru terdiam bagaikan membeku. Delima yang
pernah didatangi orang-orang yang tidak dikenalnya, masih juga
merasa takut. Jika saja ia tidak ditolong oleh pamannya, maka ia
sudah menjadi korban keganasan orang-orang dari padepokan pamannya
itu sendiri. Ketika mula-mula orang bongkok itu mendatanginya,
Delima pun menjadi ketakutan. Tetapi wajah orang bongkok itu nampak
lembut sehingga akhirnya ia justru menjadi akrab. Bukan saja dengan
orang bongkok itu sendiri, tetapi juga dengan anak-anak muda yang
sering bersamanya. Sementara itu, orang yang berwajah garang itu
berkata selanjutnya, ”Aku hanya ingin mengetahui, dimana letaknya
padepokan Kiai Banyu Bening. Menurut pendengaranku, padepokan itu
ada disekitar tempat ini.” Perempuan-perempuan itu tahu benar,
dimanakah letak padepokan itu. Tetapi mereka tidak tahu perkembangan
terakhir yang telah terjadi di padepokan itu. Mereka hanya tahu
bahwa telah terjadi perang. Orang-orang lewat, dipasar dan di
kedai-kedai berbicara tentang perang yang telah terjadi di
padepokan, kemudian merambat kesekitarnya. Segala macam upacara
telah terhenti. Kemudian mereka pun tahu bahwa perang telah selesai.
Tetapi perkembangan keadaan masih belum mereka ketahui dengan pasti.
Karena perempuan-perempuan itu tidak segera menjawab, maka laki-laki
itu mengulangi pertanyaannya, ”He, kenapa kalian. diam saja? Dimana
letak padepokan Kiai Banyu Bening?” Wajah orang itu nampak berkerut.
Sementara itu orang itu berkata dengan nada yang merendah ”Jangan
takut kepada orang-orang padepokan itu. Kami akan melindungi kalian
jika mereka marah hanya karena kalian menunjukkan kepada kami,
dimana letak padepokan Kiai Banyu Bening.” Dalam ketegangan itu,
akhirnya Delimalah kemudian menjawab ”Tidak terlalu jauh dari
padukuhan ini memang terdapat sebuah padepokan paman. Tetapi kami
tidak tahu siapakah yang tinggal di padepokan itu.” Kedua
orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka
kemudian bertanya pula ”Apakah kau tidak pernah mendengar nama
pemimpin dari padepokan itu?” Delima menggeleng. Katanya ”Tidak
paman. Padepokan itu nampaknya memang menutup diri.” Kedua orang itu
mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata ”Tunjukkan
arahnya.” Delima memang menunjuk kearah padepokan yang sebenarnya
diketahuinya padepokan Kiai Banyu Bening. Namun Delima pun tahu
serba sedikit bahwa telah terjadi pertempuran di padepokan itu.
Selanjutnya, Delima memang tidak tahu, apa yang kemudian terjadi.
Kedua orang itu pun kemudian telah melangkah meninggalkan tepian.
Demikian orang-orang itu pergi, maka perempuanperempuan yang sedang
mencuci itu sibuk mengemasi cucian mereka. Meski pun ada diantara
mereka yang belum selesai, namun mereka menjadi tergesa-gesa pulang.
Kedua orang yang bertanya tentang padepokan itu membuat mereka
menjadi ketakutan. Tetapi ternyata Delima tidak ingin pulang bersama
mereka. Ia yakin bahwa kedua anak muda yang dilihatnya lewat tanggul
di seberang sungai itu masih ada di sekitar tempat itu. Ketika
kawan-kawannya siap untuk meninggalkan tepian, maka Delima itu pun
berkata ”Kurang sedikit. Silahkan.” “Kau tidak takut sendiri
ditepian, Delima?” bertanya seorang kawannya. “Hanya kurang sedikit,
sebelum kalian sampai ke tikungan, aku sudah menyusul.”
Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun sekali lagi Delima
berkata ”Pulanglah. Aku tidak apa-apa disini.” Mula-mula
kawan-kawannya tidak sampai hati meninggalkan Delima sendiri. Namun
ketika beberapa kali Delima minta mereka mendahuluinya, maka mereka
pun telah bergerak meninggalkan tepian. Sebenarnyalah Delima memang
ragu-ragu. Demikian kawan-kawannya naik keatas tanggul, Delima pun
segera mengemasi cuciannya pula. Jika ia tidak yakin kedua anak muda
itu ada disekitarnya, maka Delima akan segera berlari menyusul
mereka. Beberapa saat kemudian, kawan-kawan Delima itu sudah tidak
nampak lagi. Mereka telah hilang dibalik pepohonan ketika mereka
memasuki lorong sempit diujung padukuhannya. Delima mulai menjadi
gelisah. Ia masih berdiri ditepian memandangi tanggul diseberang
sungai. Tetapi ia tidak segera melihat kedua orang anak muda yang
sering datang bersama orang yang bongkok itu. Delima terkejut sekali
ketika tiba-tiba saja dua orang muncul dan berdiri diatas tanggul
sungai itu. Hampir saja Delima menjerit. Namun untunglah, bahwa
mulutnya masih terkatub. “Kalian mengejutkan aku” desis Delima.
Keduanya tertawa pendek. Sementara Delima berkata ”Aku sudah akan
pulang. Nanti kawan-kawan itu menjadi gelisah. Jika mereka
menyampaikan kegelisahan mereka pada orang-orang padukuhan, maka
beberapa orang akan berdatangan kemari.” “Kenapa kau tidak
pulang bersama mereka saja?” bertanya Laksana. Delima menjadi agak
bingung. Tetapi kemudian ia menjawab juga ”Cucianku kurang sedikit.
Dan sekarang aku sudah selesai.” Laksana pun kemudian menuruni
tebing sambil bertanya "Kau takut kepada kedua orang yang menanyakan
padepokan Kiai Banyu Bening itu?” “Kau melihat mereka?” bertanaya
Delima. “Ketika aku melihat keduanya, aku segera mendekat. Aku sudah
sejak tadi berada dibalik perdu itu.” “Karena mereka berdua maka aku
justru harus segera menyusul kawan-kawanmu. Aku memang yakin bahwa
kalian masih ada ditempat ini. Aku ingin mendengar kabar pamanku.”
“Pamanmu tidak apa-apa. Ia mengirimkan salamnya kepada ayahmu.
Pamanmu sekarang berada di padepokan.” “Bagaimana dengan Kiai Banyu
Bening atau orang yang membayangi padepokan Kiai Banyu Bening itu?
Apakah benar bahwa padepokan itu sudah beralih tangan?” “Ceriteranya
panjang. Tetapi sampaikan saja kepada ayahmu, bahwa pamanmu tidak
apa-apa dan bahkan sekarang menjadi salah seorang penentu di
padepokan itu.” “Kalian dengar kedua orang yang mencari padepokan
Kiai Banyu Bening tadi?” “Ya. Nampaknya masih akan ada persoalan
lagi.” “Ah, terima kasih. Aku harus segera menyusul kawankawanku
sebelum mereka menjadi gelisah dan memberitahukan kepada orang-orang
padukuhan.” Laksana memang menjadi sedikit kecewa. Tetapi ia
mengerti, bahwa kedatangan kedua orang yang mencari padepokan Kiai
Banyu Bening itu telah merusak suasana. Namun Laksana tidak ingin
menahan Delima lebih lama lagi. Sejenak kemudian, maka Delima itu
pun sudah naik kealas tanggul. Kepada Manggada dan Laksana ia pun
berkata ”Salamku kepada paman. Tolong, sampaikan pula tentang kedua
orang yang mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu.” “Baik Delima,”
jawab Laksana ”pada kesempatan lain, aku akan datang lagi.” “Mungkin
kami tidak berada di tepian lagi besok. Kedua orang itu telah
menakut-nakuti kawan-kawanku. Sendiri aku juga takut, sementara
kalian belum pasti ada di tepian.” Laksana menarik nafas
dalam-dalam. Suasananya benarbenar telah dirusak oleh kedua orang
itu. Bukan hanya hari itu. Tetapi mungkin dalam tiga ampat hari
mendatang, gadis-gadis itu masih belum berani turun ke sungai lagi.
Demikianlah, maka Delima pun berlari-lari kecil menyusul
kawan-kawannya. Ia tidak ingin kawan-kawannya menjadi gelisah karena
ia terlalu lama tidak segera nampak. Sebenarnyalah, kawan-kawan
Delima itu terhenti di simpang ampat di ujung padukuhan. Mereka
memang mulai menjadi cemas. Seorang laki-laki yang berjalan sambil
membawa cangkul sempat bertanya ”Ada yang kalian tunggu?” “Kami
menunggu Delima paman.” “Dimana anak itu?” “Kami bersama-sama
mencuci di tepian. Ketika kami naik, Delima masih tinggal untuk
menyelesaikan curiannya yang tinggal sedikit.” “Kenapa kalian
tidak menunggu di tepian?” “Delima sendiri minta kami mendahului.”
Laki-laki itu mengangguk-angguk. Sambil melangkah pergi ia bergumam
”Nanti ia akan pulang sendiri.” Kawan-kawan Delima yang menunggu itu
menjadi semakin gelisah. Mereka membayangkan, bahwa kedua orang
laki-laki itu datang kembali, menangkap Delima dan membawanya pergi.
“Delima terlalu cantik untuk berada di tepian seorang diri” berkata
kawan-kawannya itu didalam hatinya. Tiba-tiba serentak anak-anak itu
bersorak ketika mereka melihat Delima berlari-lari kecil muncul dari
balik tikunagan. Sambil melambaikan tangannya Delima bergegas
menyusul kawan-kawannya itu. “Kau membuat kami cemas” berkata salah
seorang dari kawan-kawannya itu. Delima yang sudah berada diantara
kawan-kawannya disela-sela nafasnya yang tersengal-sengal berkata
”selembar cucianku jatuh di pasir tepian. Aku harus mencucinya
kembali.” “Jangan terlalu berani Delima” desis kawannya yang sedikit
lebih tua daripadanya. “Sebenarnya aku juga ketakutan. Tetapi
untunglah, lakilaki itu tidak kembali.” “Besok kita tidak pergi ke
tepian” berkata seorang diantara mereka. “Ya. Tentu tidak. Jika kita
pergi juga ke tepian dan terjadi sesuatu, itu adalah salah kita
sendiri.” “Atau kita dapat mengajak dua tiga orang kawan
laki-laki kita.” “Tetapi orang-orang yang nampaknya garang itu
sangat berbahaya” sahut yang lain ”anak-anak muda padukuhan ini
tidak akan dapat melawan mereka.” “Ya,” berkata Delima ”wajahnya
saja sudah menakutkan.” “Marilah” seorang diantara mereka mengajak
kawankawannya pulang. Ketika Delima sampai di rumah, ayahnya sudah
siap pergi ke sawah. Namun Delima sempal berceritera bahwa ia
bertemu dengan anak-anak muda yang sering lewat ditepian bersama Ki
Pandi yang bongkok itu. “Apakah orang bongkok itu juga datang ?”
“Tidak ayah. Orang bongkok itu tidak nampak. Namun kedua anak muda
itu mendapat pesan dari paman, salam paman bagi ayah. Selebihnya
paman memberikan pesan pula, bahwa paman tidak apa-apa. Paman
baik-baik saja.” “Sokurlah” ayahnya mengangguk-angguk. Namun sebelum
ayahnya bertanya lebih jauh tentang anak-anak muda itu, maka Delima
pun telah menceriterakan kedatangan dua orang laki-laki yang garang,
yang bertanya letak padepokan Kiai Banyu Bening. “Apalagi yang akan
terjadi?” desis Kiai Krawangan. Namun orang itu pun kemudian berkata
”Baiklah. Aku akan pergi ke sawah. Berhati-hatilah jika kau turun ke
tepian.” “Kawan-kawan sudah berjanji, esok kami tidak turun ke
sungai ayah.” “Bagus. Kau dapat mencuci pakaian di sumur. Bukankah
airnya cukup banyak dan seberapa pun kau memakainya tidak akan
kering. Bahkan dimusim kemarau sekalipun?” “Ya, ayah” jawab
Delima. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah melangkah
meninggalkan tepian menyusuri tanggul. Namun Manggada tiba-tiba saja
memperlambat langkahnya sambil berkata ”Kita harus mengambil jalan
lain.” “Kenapa?”bertanya Laksana. “Mungkin kedua orang laki-laki itu
juga pergi ke padepokan. Sebaiknya kita menghindar agar kita tidak
bertemu dengan mereka” jawab Manggada. “Apa salahnya?” bertanya
Laksana. “Mungkin akan dapat terjadi benturan.” Laksana mengerutkan
dahinya. Agaknya benturan kekerasan tidak menjadi persoalan bagi
Laksana. Hampir bergumam Laksana itu berkata ”Asal bukan kita yang
mendahuluinya, benturan kekerasan itu bukan tanggungjawab kita.”
“Kita belum tahu, apa maksud mereka mencari padepokan Kiai Banyu
Bening.” “Apa pun maksudnya, jika mereka tidak bermaksud buruk, maka
berselisih jalan pun tidak akan timbul persoalan.” “Tetapi sebaiknya
kita hindari mereka agar tidak menimbulkan persoalan-persoalan baru,
justru persoalan mereka yang sebenarnya bukan persoalan kita.”
Laksana tidak menjawab. Tetapi ia mengikuti langkah Manggada yang
mencoba menghindari kedua orang yang sedang mencari padepokan Kiai
Banyu Bening itu. Karena itu, maka keduanya telah mengambil jalan
melingkar, meski pun dengan demikian perjalanan mereka menjadi lebih
jauh. Namun keduanya masih harus mengajak kedua ekor harimau
Ki Pandi yang menunggu mereka di semak-semak. Ternyata kedua ekor
harimau itu tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan seekor diantaranya
sempat tertidur ketika Manggada dan Laksana lewat. Dengan demikian,
maka kedua orang anak muda itu telah berjalan melewati padang perdu
yang luas, namun yang menurut pengamatan keduanya, padang perdu itu
dapat dijadikan lahan persawahan jika air sempat menggapai tempat
itu. “Tinggal membuat parit. Agak di atas dapat ditemukan banyak
mata air yang dapat dialirkan menjadi satu sehingga menjadi sebuah
parit yang cukup deras” berkata Manggada. Laksana mengangguk-angguk.
Kalanya ”Nampaknya orang-orang di daerah ini masih belum
membutuhkan.” “Mereka bukan orang-orang yang terbiasa bekerja keras.
Justru apa yang ada telah memberikan pangan yang cukup, mereka tidak
berusaha apa-apa lagi selain menikmati apa yang sudah ada.” “Ki
Warana akan dapat memanfaatkan tanah ini. Tentu saja dengan seijin
lingkungannya.” Manggada mengangguk-angguk. Sementara itu keduanya
berjalan terus melalui jalan setapak dan bahkan kemudian, mereka
menyusuri gumuk-gumuk kecil berbatu padas. Namun tiba-tiba saja
kedua ekor harimau itu menjadi gelisah. Agaknya ada sesuatu yang
menarik perhatian mereka. Manggada dan Laksana pun menjadi semakin
berhati-hati. Agaknya dibalik batu-batu itu ada sesuatu yang membuat
kedua ekor harimau itu gelisah. Manggada dan Laksana yang
sudah semakin terbiasa dengan kedua ekor harimau itu telah memberi
isyarat, agar keduanya menunggu sementara Manggada dan Laksana
dengan sangat berhati-hati melihat keadaan dibalik batu-batu padas
itu. Keduanya tertegun ketika mereka mendengar suara orang yang
sedang bercakap-cakap. Manggada dan Laksana pun segera mengetahui.
Bahwa yang sedang berbincang itu tentu lebih dari dua orang.
Manggada pun kemudian memberi isyarat kepada Laksana untuk melangkah
mundur. Agaknya Manggada tidak ingin terlibat dalam perselisihan
dengan orangorang yang tidak dikenal itu. Karena itu, maka Manggada
menganggap lebih baik mereka tidak bertemu dengan orang-orang itu.
Namun demikian Manggada dan Laksana bergeser menjauh, tiba-tiba saja
mereka mendengar seseorang berteriak ”He, berhenti. Jangan
bergerak.” Manggada dan Laksana terkejut. Ketika mereka
menengadahkan wajah mereka, maka mereka melihat seorang yang berdiri
diatas batu padas yang besar dengan tombak di tangan. Tombak
yang sudah siap dilontarkan kearah Manggada atau Laksana. Manggada
dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka memang tidak
beringsut dari tempatnya. Orang-orang yang berada dibalik batu-batu
padas itu pun mendengar teriakan itu. Karena itu, maka mereka pun
berlarilarian melingkari batu padas itu. Manggada dan Laksana masih
berdiri ditempatnya. Mereka sempat menghitung orang-orang yang
kemudian mengerumuninya. “Ampat orang. Lima orang dengan yang
diatas.” Sementara itu orang yang tertua diantara mereka dan berdiri
dipaling depan bertanya dengan nada datar ”Siapakah kalian?”
Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada
pun menjawab ”Kami datang dari padukuhan dipinggir sungai itu, Ki
Sanak.” “Untuk apa kalian datang kemari?” bertanya orang itu.
Manggada pun menjawab meski pun agak ragu ”Kami sedang melihat
kemungkinan untuk memperluas lahan sawah kami, Ki Sanak. Tempat ini
memang sangat memungkinkan. Sementara penghuni padukuhan kami
menjadi semakin banyak, sedang sawah kami tidak cukup luas.” Orang
itu mengangguk-angguk. Ternyata jawaban Manggada masuk di akal
mereka. Yang kemudian bertanya adalah justru Manggada ”Siapakah Ki
Sanak ini? Agaknya kami masih belum pernah bertemu dengan kalian
selama ini.” “Kami datang dari jauh” jawab orang yang tertua
diantara mereka ”Kami sedang mencari seseorang yang bernama
Kiai Banyu Bening. Nama yang dipakai sejak orang itu
mendirikan satu padepokan di kaki Gunung Lawu ini,” “Apakah kalian
termasuk murid dari padepokan itu?” bertanya Manggada. “Ternyata kau
anak yang dungu” sahut orang itu ”jika aku murid dari padepokan itu,
tentu aku tidak perlu mencarinya.” “Mungkin Ki Sanak murid yang
sudah tuntas sehingga meninggalkan padepokan. Sementara itu
padepokan itu telah berpindah tempat.” Orang itu tertawa. Katanya
”Memang mungkin,” Namun seorang yang lain tiba-tiba saja telah
bertanya ”Kau melihat padepokan Kiai Banyu Bening itu?” “Kami tidak
tahu Ki Sanak. Yang kami tahu, disana ada sebuah padepokan, Tetapi
aku tidak tahu siapakah pemimpin dari padepokan itu.” “Ya. Ampat
kawanmu sedang melihat padepokan itu. Mudah-mudahan benar bahwa
padepokan itu adalah padepokan Kiai Banyu Bening.” “Untuk apa kalian
mencari Kiai Banyu Bening?” bertanya Laksana tiba-tiba. Orang itu
mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menjawab ”Tidak apa-apa.
Kami mempunyai kepentingan pribadi dengan Kiai Banyu Bening.”
“Cobalah. Datanglah ke padepokan itu. Mungkin di padepokan itu
tinggal orang yang sedang kalian cari.” “Sudah aku katakan, ampat
orang kawanku sudah pergi ke-sana untuk mengetahuinya.” “Baiklah.
Jika Demikian, kami minta diri” berkata Manggada. “Kalian akan
pergi kemana?” bertanya orang itu. “Kami masih akan melihat
lingkungan yang luas. Bukan saja melihat kesuburan tanahnya, tetapi
juga letaknya apakah mungkin kami dapat menggali sebuah parit induk
melalui daerah ini, meski pun dasar sungai itu termasuk terlalu
rendah, atau menanmpung air dari banyak mata air.” Orang tertua
diantara mereka itu pun mengangguk sambil menjawab ”Pergilah. Tetapi
kalian tidak usah berceritera tentang kehadiran kami disini. Kami
tidak ingin membuat persoalan dengan orang-orang padukuhan, sasaran
kami terutama adalah Kiai Banyu Bening.” Manggada dan Laksana
mengangguk-angguk. Sementara orang itu pun berkata selanjutnya
”Jangan membuat orangorang padukuhan ketakutan. Kami tidak mempunyai
persoalan dengan mereka. Kecuali jika mereka sengaja mencampuri
persoalan kami.” “Baiklah” berkata Manggada ”kami bukan orang yang
sedang mencampuri persoaan orang lain.” “Bagus” sahut orang itu
”pergilah. Lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya.” Namun Laksana
tiba-tiba menyahut ”Kami sekaligus sedang menggembalakan ternak
kami.” “Ternak?” tiba-tiba saja seorang diantara mreka bertanya
”Ternak apa? Kambing? Atau apa? Kami sudah lama tidak makan daging
kambing. Jika kau mengembalakan kambing, tinggal seekor untuk kami.”
“Ternakku hanya dua ekor” Jawab Laksana. “Tidak apa. Satu untuk
kami.” Tetapi yang tertua dari antara mereka pun berkata
”Ternaknya hanya dua ekor. Jika satu kau ambil, maka ia hanya
tinggal mempunyai seekor.” “Tidak apa. Ia akan dapat membeli lagi.”
“Bawa ternakmu pergi” berkata orang itu. Namun agaknya yang lain
berusaha memaksanya. ”Biar sajalah. Kami memerlukan seekor. Bukankah
itu lebih baik daripada aku merampasnya semua.” Laksana lah yang
kemudian berkata ”Biarlah aku panggil ternak yang sedang aku
gembalakan.” Orang yag tertua itu menjadi heran. Agaknya anak muda
itu tidak berkeberatan jika seekor ternaknya harus ditinggalkannya
di padang perdu itu. Seperti yang diajarkan Ki Pandi, maka Laksana
pun telah memberikan isyarat memanggil kedua ekor harimaunya yang
ditinggalkannya. Meskipiun tidak memakai suara seruling, tetapi
kedua ekor harimau itu pun mengerti pula isyarat itu, sehingga
kedua-nya pun segera mendekati Laksana. Orang-orang itu terkejut
melihat dua ekor harimau yang besar dan tegar berjalan mendekat,
Dengan serta merta mereka pun segera mempersiapkan senjata mereka.
Namun Laksana sambil tersenyum berkata ”Inilah ternak kami yang kami
gembalakan.” “Setan kau,” geram salah seorang dari mereka. Manggada
dan Laksana pun kemudian meninggalkan orang-orang yang memandanginya
dengan termangu-mangu. Laksana berjalan sambil memegangi tengkuk
salah seekor dari kedua harimau yang mengikutinya, sementara yang
seekor lagi berjalan di depan. “Kau dapat membuat mereka curuiga”
berkata Manggada. “Mereka tidak akan berbuat apa-apa” jawab
Laksana. “Tetapi sebenarnya tak perlu kau lakukan.” “Bukankah mereka
benar-benar tidak berbuat apa-apa?” “Tetapi penilaian mereka
terhadap kita telah berubah.” Laksana tidak menjawab. Tetapi menurut
pendapatnya, sama sekali tidak terjadi akibat buruk dari kelakarnya
yang mendebarkan itu. Manggada dan Laksana pun berjalan semakin
menjauhi orang-orang yang berada di belakang gumuk kecil berbatubatu
padas itu. Namun mereka tidak akan memilih jalan lagi. Justru ia
berusaha menghindari pertemuan dengan dua orang yang tidak
dikenalnya, mereka malahan bertemu dengan sekelompok orang yang
lebih banyak. Untunglah orang-orang itu tidak berbuat apa-apa atas
diri Manggada dan Laksana, sehingga tidak terjadi benturan
kekerasan. Manggada dan Laksana pun berjalan semakin jauh. Mereka
langsung berjalan menuju ke padepokan. Ketika mereka sampai di
padepokan, maka Manggada dan Laksana pun segera menyampaikan apa
yang mereka lihat dan dengar kepada Ki Pandi. Ki Pandi
mendengarkannya dengan sungguh-sungguh Kemudian dengan serta-merta
ia pun bertanya, “Dimana kedua ekor harimau itu sekarang?” “Mereka
berada diluar seperti saat sebelum kami berangkat.” Ki Pandi menarik
nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian memanggil kawan-kawannya
serta Ki Warana untuk berbincang. Masih ada saja persoalan
yang timbul. Ki Warana pun termangu-mangu sejenak. Dengan ragu ia
bertanya ”Apakah yang sebenarnya mereka inginkan?” “Ternyata banyak
pihak yang mempunyai persoalan dengan Kiai Banyu Bening” desis Ki
Lemah Teles. “Untunglah jika mereka mau menyelesaikan persoalan itu
sekarang, sehingga yang tinggal kemudian adalah ketenangan dan
tatanan kehidupan yang mantap disini.” berkata Ki Ajar Pangukan.
“Kita memang sudah letih” desis Ki Warana ”meski pun demikian, jika
kita dipaksa, maka kita akan mempertahankan padepokan ini dengan
kekerasan.” “Kita akan menunggu. Nampaknya keempat orang yang sedang
mengamati padepokan ini masih ragu-ragu untuk datang langsung
kemari” berkata Ki Pandi. Sebenarnyalah dua orang yang bertemu
dengan beberapa orang perempuan yang sedang mandi itu telah menemui
kawan-kawannya di gumuk kecil itu. Kemudian mereka berempat berniat
untuk mencari keterangan lebih jauh tentang padepokan yang memang
didirikan oleh Kiai Banyu Bening itu. Akhirnya, keempat orang itu
dapat meyakinkan, bahwa padepokan itu memang padepokan yang dipimpin
oleh Kiai Banyu Bening, karena padepokan itu memang satu-satunya
padepokan yang mereka jumpai didaerah itu. Seorang laki-laki tahu
pasti bahwa padepokan itu adalah padepokan Kiai Banyu Bening. Hampir
disetiap padukuhan telah didirikan sanggar untuk melakukan upacara.
Meski pun demikian, orang-orang padukuhan itu masih kurang mengerti,
bagaimana keadaan padepokan itu setelah terjadi
prtempuran-pertempuran yang menggetarkan jantung itu. “Semua
orang menunggu, apakah yang sebenarnya telah terjadi di padepokan
itu. Perang disusul dengan perang.” “Tetapi bukankah sekarang tidak
sedang terjadi perang itu?” bertanya salah seorang dari keempat
orang itu. “Tidak Ki Sanak” jawab laki-laki itu. Tetapi keempat
orang itu tidak langsung pergi ke padepokan itu. Mereka masih harus
menemui kawan-kawan mereka untuk meminta pertimbangan, apakah yang
sebaiknya harus mereka lakukan. “Ada diantara kita yang harus datang
memasuki padepokan itu” berkata orang tertua diantara mereka.
“Siapa?” bertanya salah seorang kawannya. “Aku sendiri” jawab yang
tertua itu. “Jangan sendiri.” “Siapa akan pergi bersamaku?” bertanya
orang tertuaku. Seorang yang bertubuh sedang berkumis tebal berkata
”Aku.” Demikianlah, maka mereka berdua pun telah pergi ke padepokan
yang tidak diketahui dengan jelas, siapakah yang ada di dalamnya
itu. Ketika keduanya sampai ke depan regol padepokan, maka keduanya
termangu-mangu sejenak Di hadapan mereka, regol padepokan itu
berdiri dengan angkuhnya menantang kedatangan mereka berdua. Orang
yang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
ditetapkannya hatinya melangkah mendekati regol itu. Beberapa kali
ia mengetuk pintu regol padepokan yang tertutup rapat itu.
Beberapa saat orang itu menunggu. Ia mengangkat wajahnya ketika dari
atas panggung disebelah regol itu terdengar seseorang bertanya ”He,
siapakah kalian dan siapakah yang kau cari?” “Perkenankan aku masuk.
Ada sesuatu yang penting” jawab orang yang berdiri didepan regol
itu. “Siapakah kalian?” bertanya orang yang ada dipanggungan. “Nanti
akan kami jelaskan” jawab orang itu. Orang yang berdiri diatas
panggungan itu memandang berkeliling. Ia harus memastikan bahwa
tidak ada kemungkinan buruk yang dapat terjadi di saat regol
padepokan itu dibuka. Baru setelah ia yakin akan hal itu, maka ia
pun memberi isyarat kepada penjaga regol itu, agar regol itu dibuka.
Perlahan-lahan regol padepokan itu pun terbuka. Beberapa orang yang
berada dibelakang regol itu pun mempersilahkan kedua orang itu
masuk. Demikian keduanya berada didalam, maka pintu regol itu pun
segera tertutup kembali. “Siapakah yang kalian cari?” “Kami ingin
bertemu dengan pemimpin padepokan ini” jawab orang itu. “Siapa?”
“Siapa pun orang itu.” Para petugas di regol itu pun termangu-mangu
sejenak. Seorang diantara mereka berkata ”tunggulah. Aku akan
menyampaikannya.” Orang itu pun segera menemui Ki Warana untuk
menyampaikan keinginan kedua orang yang telah memasuki regol halaman
padepokan itu. Ki Warana menjadi termang-mangu sejenak. Tetapi Ki
Pandi yang mendengar pembicaraan itu berkata ”Apakah tidak sebaiknya
orang itu dipersilahkan naik?” Ki Warana mengangguk sambil berkata
”Baiklah. Biarlah mereka naik.” Sejenak kemudian, maka kedua orang
itu sudah duduk dipendapa, ditemui oleh Ki Warana, Ki Pandi dan Ki
Ajar Pangukan. “Siapakah yang kalian cari Ki Sanak?” bertanya Ki
Warana. Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya
sebuah bangunan batu yang ada di depan pendapa. Satu diantaranya
menyerupai sebuah tugu. Dialasnya terdapat sebuah nisan kecil.
“Kenapa nisan itu ada disana?.” bertanya orang yang tertua itu.
“Nisan itu nisan seorang bayi yang mati terbakar” jawab Ki Warana.
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya dengan pasti ”Aku akan
berbicara dengan Kiai Banyu Bening.” Ki Warana mengerutkan dahinya.
Katanya ”Apakah kalian mempunyai kepentingan dengan Kiai Banyu
Bening?” “Ya, Ki Sanak.” jawab orang itu. “Persoalan apakah yang
kalian bawa?” “Aku akan menyampaikannya sendiri.” “Tetapi
setiap orang yang datang untuk menemuinya harus memastikan,
persoalan apakah yang akan dibicarakannya. Jika aku menyampaikan
niat kalian menemuinya tanpa menyebutkan persoalan yang kalian bawa,
maka Kiai Banyu Bening tidak akan menemui kalian.” Orang itu menjadi
ragu-ragu. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka
katanya ”Baiklah Ki Sanak. Jika hal itu menjadi syarat untuk dapat
bertemu dengan Kiai Banyu Bening,” orang itu berhenti sejenak. Lalu
katanya kemudian ”Kami datang untuk berbicara tentang nisan kecil
itu.” Ki Warana mengerutkan dahinya. Katanya ”Tentang nisan kecil
itu? Ada apa dengan nisan itu. Nisan itu adalah nisan anak Kiai
Banyu Bening yang terbunuh didalam api, ketika api itu membakar
rumahnya.” “Benar.” orang itu mengangguk-angguk. Ia menjadi yakin,
bahwa ia telah datang ketempat yang benar. Sementara itu, orang itu
berkata selanjutnya ”persoalan itulah yang akan aku bicarakan dengan
Kiai Banyu Bening.” ”Ki Sanak. Jangan mengganggu ketenangan Kiai
Banyu Bening. Sejak lama ia berusaha melupakan persoalan yang
terjadi pada anaknya itu. Jika Ki Sanak membicarakannya lagi, maka
hatinya yang luka itu akan berdarah kembali.” “Aku tidak dapat
berbuat lain, Ki Sanak” jawab orang itu. Bahkan kemudian katanya
”Bukankah nisan itu selalu mengingatkannya kepada anaknya itu?”
“Tetapi tugu batu itu merupakan tempat yang sangat berarti baginya.
Tempat itu merupakan sumber kekuatan dan ilmu Kiai Banyu Bening.”
“Sudahlah Ki Sanak” berkata orang tertua itu ”aku ingin berbicara
dengan Kiai Banyu Bening. Persoalan ini hanya diketahui oleh Kiai
Banyu Bening. Setelah bertahun-tahun kami mencarinya, maka
kini kami sudah menemukannya disini.” “Apakah kau pernah bertemu
dengan Kiai Banyu Bening?” bertanya Ki Warana tiba-tiba. Orang itu
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orangorang yang duduk di
sekitamya. Dengan ragu-ragu ia berkata ”Sudah Ki Sanak. Tentu
sudah.” Tetapi Ki Warana itu pun berkata ”Jika sudah, kenapa kau
tidak tahu, bahwa Kiai Banyu Bening duduk diantara kita sekarang
ini?”
JILID 6 KEDUA orang itu terkejut. Mereka
saling berpandangan sejenak, sementara Ki Warana berkata selanjutnya
”Mungkin kalian pernah melihat sepuluh tahun yang lalu atau bahkan
lebih, sehingga kalian tidak dapat mengenalinya lagi. Sepeninggal
anak bayinya, perubahan itu terlalu cepat terjadi, sehingga Ki Banyu
Bening menjadi cepat nampak tua.” Kedua orang itu nampak ragu-ragu.
Sementara itu sambil memandang Ki Ajar Pangukan orang itu berkata
”Apakah kau dapat mengenalinya?” Kedua orang itu memandang Ki Ajar
Pangukan dengan penuh keragu-raguan. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan
sendiri agak terkejut mendengar pernyataan Ki Warana itu. Tetapi Ki
Ajar Pangukan tidak dapat mengelak dari permainan itu. Karena itu
maka iapun kemudian berkata ”Ki Sanak. Jika kalian pernah mengenal
aku sebelumnya, tolong beritahu aku, siapakah kalian. Aku sudah
menjadi pikun sekarang. Banyak sekali hal yang telah aku lupakan.
Aku juga sudah tidak lagi dapat mengenali orang-orang yang pernah
tidur dan makan bersama. Sejak anakku meninggal didalam api,
segala-galanya seakan-akan telah larut dari duniaku. Yang aku ingat
hanyalah tugu dan batu nisan kecil itu serta tulang-tulang yang
hangus yang ada dida-lamnya.” Yang tertua diantara kedua orang
itupun kemudian berkata sambil menarik nafas dalam-dalam ”Kiai Banyu
Banyu Bening. Kami mohon maaf, bahwa kami mengaku telah mengenal
Kiai. Sebenarnyalah kami memang belum pernah mengenal. Yang kami
ketahui adalah sekedar ancar-ancar. Ternyata Kiai ………… (teks engga
terbaca) Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya ”Bagiku,
apakah kalian pernah mengenal aku atau tidak, sama sekali tidak ada
bedanya. Seandainya kita pernah berhubungan, maka aku tidak akan
pernah ingat, siapakah kalian.” “Kenapa Kiai cepat menjadi pikun?”
bertanya yang termuda diantara kedua orang itu. Ki Ajar Pangukan
menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Aku tidak tahu. Tetapi
sepeninggal anakku, rasa-rasanya masa laluku ikut hilang pula
terkubur dibawah batu nisan kecil itu.” “Kiai sangat menyesal atas
kematian anak Kiai itu?” Wajah Ki Ajar Pangukan menjadi tegang.
Dengan lantang ia berkata ”Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau
telah menyinggung perasaanku. Ingat, meskipun aku pikun, tetapi aku
masih tetap menguasai ilmuku dengan baik. Selama tugu dan nisan itu
ada disitu, maka ilmuku tidak akan pudar. Aku tinggal memerlukan
beberapa hari lagi untuk mencapai puncak kejayaan ilmuku. Setelah
itu, maka apapun yang terjadi, bahkan seandainya gempa mengguncang
dan membuat tanah ini menganga sehingga tugu dan nisan itu
tenggelam, maka ilmuku sudah tidak akan mungkin goyah lagi.” Kedua
orang itu mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan itupun
bertanya ”Nah, sekarang katakan, untuk apa kalian datang kemari?”
“Kiai” berkata yang tertua diantara keduanya ”Kami datang untuk
menyampaikan pesan dari pemimpin kami.” “Siapa? Apakah aku pernah
mengenalnya dahulu?” “Tentu, Kiai. Kiai pernah mengenalnya dahulu.
Aku tidak tahu, apakah kiai masih dapat mengingatnya atau
tidak.” “Sudah aku katakan. Masa laluku sudah terkubur bersama
tulang-tulang yang hangus dibawah nisan kecil itu. Semuanya gelap
sama sekali. Tetapi katakan, barangkali aku dapat mengingatnya.”
”Kiai tentu ingat. Pemimpin kami adalah Kiai Narawangsa.”
“Narawangsa. Narawangsa. Aku pernah mendengar nama itu.” “Bukan
hanya pernah mendengar tetapi Kiai tentu akan teringat kepada orang
itu.” Ki Ajar Pangukan memandang Ki Warana sejenak, seakanakan ingin
menuntutnya, bahwa ia sudah menjerumuskannya kedalam kesulitan.
Namun Ki Warana lah yang kemudian menyahut ”Kiai. Mungkin Kiai telah
melupakannya. Tetapi Kiai pernah berceritera kepadaku dahulu, bahwa
orang yang bernama Kiai Narawangsa itu adalah orang yang pernah
berhubungan dengan isteri Kiai. Perkelahian antara Kiai dan Kiai
Narawangsa itulah, ini menurut ceritera Kiai yang pernah aku dengar,
menyebabkan rumah Kiai terbakar. Kiai sempat menghindari api,
sementara Kiai Narawangsa dan isteri Kiai melarikan diri. Tetapi
bayi itu tertinggal didalam api.” “O” Ki Ajar Pangukan menutup
wajahnya dengan kedua belah tangannya. Katanya “Ya. Narawangsa.
Orang gila itu.” Ki Pandi lah yang harus menahan tertawa yang
seakanakan hendak meledak didalam dadanya. Untunglah bahwa ia mampu
melarutkan diri kedalam permainan itu. “Terkutuklah orang itu” desis
Ki Ajar Pangukan ”meskipun aku sudah pikun, aku tidak dapat
melupakan nama itu. Tetapi aku tidak yakin bahwa aku masih dapat
mengenali wajahnya.” “Kiai Narawangsa mudah sekati dikenal,
Kiai. Tubuhnya seperti raksasa. Kiai ingat? Ia tidak pernah
mengenakan ikat kepala sewajarnya. Ikat kepalanya lebih banyak
disangkutkan di lehernya daripada dipakai di kepalanya. Di wajahnya
terdapat cacat karena goresan pedang.” “Aku ingat itu. Tetapi
wajahnya tidak cacat pada waktu itu.” “Kiai benar” jawab yang tertua
diantara kedua orang itu ”tentu Kiai tidak pernah melihat wajahnya
terluka, karena luka itu terjadi pada saat Kiai Narawangsa bertempur
melawan Kiai Banyu Bening saat itu. Saat api menyala dan menelan
rumah beserta bayi itu.” “Kenapa aku tidak mengoyak lehernya pada
waktu itu.” desis Ki Ajar Pangukan. “Ternyata usia Kiai Narawangsa
masih panjang.” “Terkutuklah orang itu. Terkutuklah orang itu”
berkata Ki Ajar Pangukan dengan lantang. Ki Pandi yang mendengarnya
bergeser ke samping. Kemudian duduk dengan kepala menunduk sehingga
dahinya hampir menyentuh tikar pandan tempatnya duduk. Ki Pandi
tidak ingin wajahnya dilihat oleh kedua orang tamu yang telah
dikelabui oleh Ki Warangka itu.. Dengan lantang Ki Ajar Pangukan
itupun kemudian bertanya ”Sekarang, apa yang ingin kalian katakan
kepadaku. Nama itu telah membuat darahku mendidih. Sebelum aku
berbuat sesuatu diluar kendali nalarku. Katakan apa yang harus
kalian katakan.” “Kiai” nampaknya kedua orang itu terpengaruh
melihat sikap Ki Ajar Pangukan ”kami hanyalah sekedar utusan.
Jika tidak berkenan di hati Kiai, janganlah menjadi murka
kepada kami.” “Katakan” geram Ki Ajar Pangukan. “Kiai” desis yang
tertua diantara mereka ”Kiai Narawangsa ingin minta agar Kiai
memberinya kesempatan untuk merawat dan memakamkan kembali bayi itu
dengan upacara khusus.” “Gila” suara Ki Ajar Pangukan menggelegar,
sehingga kedua orang itu mundur setapak ”kau menghina aku, he?”
“Bukan kami Kiai, Bukan kami.” ”Mulutmulah yang mengucapkannya.”
“Tetapi kami adalah sekedar utusan.” “Katakan” suara Ki Ajar
Pangukan menurun. “Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari...........”
“Jangan sebut nama Nyai Banyu Bening itu. Kiai Banyu Bening tidak
mau mendengar lagi nama isterinya.” potong Ki Warana. “Terkutuklah
semuanya, terkutuklah.” geram Ki Ajar Pangukan. Sebenarnya ia
bingung mendengar nama Nyai Wiji Sari. Tetapi Ki Warana pun tangkas
berpikir sehingga ia telah memberi tahukan kepada Ki Ajar Pangukan,
siapakah Nyai Wiji Sari itu. “Ampun, Kiai.” desis yang tertua.
“Katakan” desis Ki Ajar Pangukan ”tetapi jangan sebut nama itu. Aku
telah mengutuk diriku sendiri. Jika aku melupakan masa laluku,
kenapa nama itu tidak pernah dapat aku lupakan.” “Baik, baik,
Kiai.” sahut yang tertua itu ”sebenarnyalah mereka berdua ingin
memakamkan kembali di halaman ini pula dan untuk selanjutnya ingin
merawatnya.” “He, kau sadar apa yang kau katakan?” “Bukan aku, Kiai.
Tetapi aku sekedar menyampaikan pesan Kiai Narawangsa.” “Katakan,
katakan” Ki Ajar Pangukan hampir berteriak. “Keduanya ingin tinggal
di padepokan ini untuk menunggui dan merawat makam bayi itu.
Sementara itu mereka mohon Kiai Banyu Bening dan para cantrik yang
ada disini untuk meninggalkan padepokan ini,” Mata Ki Ajar Pangukan
terbelalak. Dari sorot matanya memancar api kemerahan. Dengan suara
lantang Ki Ajar Pangukan itu berkata ”pergi. Pergi. Jika kalian
tidak segera pergi, aku pancung kau dibawah tugu dan batu nisan
itu.” “Bukan kehendak kami, Kiai.” “Pergi, kau dengar” bentak Ki
Ajar Pangukan. Lalu katanya kepada Ki Warana ”antar kedua orang ini
keluar dari padepokan.” Ki Waranapun segera bangkit dan berkata
”Marilah Ki Sanak. Cepatlah sedikit.” Kedua orang itupun kemudian
bangkit pula sambil berdesis ”Kami mohon diri, Kiai.” “Cepat pergi.
Kalian telah menyakiti mataku, telingaku dan hatiku.” “Cepat
sedikit,” desis Ki Warana, “ jika darahnya naik sampai ke kepala,
hati-hatilah kalian tak akan pernah keluar dari padepokan
ini.” Kedua orang iiu tiba-tiba saja kehilangan segala
kegarangan dan keberanian mereka. Keduanya pun melangkah dengan
cepat melintasi halaman diantar oleh Ki Warana. Para cantrik yang
berada diregol pun telah membuka selarak pintu regol itu dan
membukanya. Demikian keduanya keluar dari regol halaman, Ki Warangka
pun berkata ”Itulah sosok orang yang kalian cari Ki Sanak. Kalian
harus dapat menempatkan diri kalian, jika kalian menyampaikan
jawaban Kiai Banyu Bening agar pemimpin kalian tidak terbakar
hatinya.” Ketika kedua orang itu merasa sudah berada diluar
padepokan, maka keberanian mereka telah menyala kembali didalam dada
mereka, sehingga yang muda diantara merekapun menjawab ”Kami tidak
akan mengulas keterangan Kiai Banyu Bening, Ki Sanak. Kami justru
akan membakar hati Kiai Narawangsa. Dengan demikian padepokan inipun
akan terbakar habis menjadi abu sebagaimana rumah Nyai Wiji Sari
serta anaknya. Kau jangan mengira bahwa Nyai Wiji Sari tidak
tersiksa oleh kematian anaknya itu.” “Tetapi ia tidak menjadi gila
seperti Kiai Banyu Bening. Jika kau sempat mendatangi
padukuhan-padukuhan, maka di padukuhan-padukuhan itu telah dibangun
sanggar-sanggar khusus untuk menyerahkan korban. Mula-mula hanya
buahbuahan. Kemudian anak seekor binatang yang dipersembahkan
hidup-hidup, dibakar diatas lantai yang khusus dibuat untuk itu.
Pada saat terakhir, Kiai Banyu Bening telah memerintahkan, yang
dipersembahkan adalah bayi-bayi yang masih hidup untuk dibakar. Kiai
Banyu Bening akan mendapat kepuasan batin tertinggi jika ia
mendengar jerit bayi yang terbakar itu. Dendamnya karena kematian
bayinya telah menjadikannya gila.” Kedua orang itu
termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia berkata ”Jadi
korban yang dituntut oleh Kiai Banyu Bening itu membakar bayi
hidup-hidup.” “Ya.” Keduanya saling berpandangan sejenak. Namun
kemudian iapun berkata ”Semuanya akan kami katakan kepada Kiai
Narawangsa. Tetapi kau harus mengatakannya kepada Kiai Banyu Bening,
bahwa Kiai Narawangsa adalah seorang yang berilmu sangat tinggi.
Demikian pula isterinya, Nyai Wiji Sari. Karena itu, jika keduanya
datang kemari dan memaksakan kehendaknya, maka itu akan menjadi
pertanda buruk bagi Kiai Banyu Bening.” “Terserah kepadamu. Apakah
kau akan berusaha mencegah pemimpinmu agar tidak datang kemari atau
tidak. Jika kau tidak mencegahnya dengan cara apapun juga, maka
sepanjang hidupmu, kau akan dibebani penyesalan, karena keduanya
akan mati disini.” Yang termuda diantara keduanya itu menyahut
”Jangan berusaha menakut-nakuti kami. Kami bukan pengecut.”
“Baiklah. Datanglah kemari. Bawa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.
Kami akan segera menyiapkan batu nisan bagi mereka berdua. Mayat
mereka akan dikubur disebelahmenyebelah tugu itu, karena didunia
langgeng, mereka akan menjadi hamba dari bayi yang meninggal karena
terbakar itu.” “Impian gila.” geram yang muda. Namun Ki Warana malah
berkata ”Tetapi kematian yang paling buruk yang dapat terjadi atas
Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari adalah, bahwa keduanya juga akan
menjadi persembahan yang akan dibakar hidup-hidup.” “Satu
gagasan yang baik” geram yang tertua ”Kiai Narawangsa akan
memperlakukan Kiai Banyu Bening seperti itu.” Ki Warana tertawa.
Katanya ”Pulanglah sebelum Kiai Banyu Bening memerintahkan para
cantrik menangkapmu dan menyeretmu kembali ke pendapa. Kalian tentu
melihat tonggak besi yang sudah menjadi hitam di sebelah pendapa
itu. Kalian tentu dapat membayangkan gunanya.” Keduanya pun kemudian
meninggalkan padepokan itu. Disepanjang jalan mereka masih saja
berbincang tentang orang-orang padepokan itu. Namun mereka pun
mengakui, betapa besarnya wibawa Kiai Banyu Bening, sehingga
dihadapannya, keduanya seakanakan telah dihadapkan pada sebuah
pengadilan yang sedang mengadili mereka. “Kiai Narawangsa akan
membuat Kiai Banyu Bening itu menundukkan kepalanya” berkata yang
tertua diantara keduanya. Yang muda itupun mengangguk-angguk sambil
berkata ”aku tidak mengira, bahwa Kiai Banyu Bening adalah seorang
yang luar biasa. Gambaranku tentang Kiai Banyu Bening sebagaimana
sering aku dengar dari pembicaraan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji
Sari sama sekali berbeda. Aku tidak membayangkan bahwa Kiai Banyu
Bening itu mempunyai wibawa yang begitu tinggi.” “Apa yang dikatakan
oleh Kiai Narawangsa itu adalah Kiai Banyu Bening dimasa lampau.
Demikian ia kehilangan anaknya, maka Kiai Banyu Bening nampaknya
telah menghabiskan waktunya untuk memperdalam ilmunya, sehingga ia
hampir lupa segala-galanya.” Kawannya mengangguk-angguk.
Bagaimana pun juga, diluar sadar, setiap kali mereka mengatakan
bahwa Kiai Banyu Bening adalah seseorang yang mumpuni. Dalam pada
itu, ketika kedua orang itu melangkah pergi, maka Ki Warana pun
segera kembali ke pendapa. Ia termangu-mangu sejenak, melihat Ki
Pandi tertawa. Bahkan kemudian katanya ”Perutku terasa sakit karena
aku harus menahan tertawa. Tetapi Ki Ajar Pangukan benar-benar
seorang yang mampu mengelabuhi orang lain. Ki Ajar benarbenar mampu
menjadi Kiai Banyu Bening.” Ki Warana pun tertawa pula. Namun Ki
Ajar itupun berkata ”Ki Warana mengejutkan aku. Tiba-tiba saja
sebelum kita berbicara lebih dahulu, aku ditunjuknya langsung
menjadi Kiai Banyu Bening.” “Aku sudah tidak mempunyai waktu lagi”
berkata Ki Warana. “Tetapi apakah keberatannya jika kita katakan
berterus-- terang tentang padepokan ini.” “Aku kira apapun
alasannya, namun agaknya mereka akan tetap menuntut tanah ini, tanah
yang diatasnya terdapat sebuah padepokan yang sudah berada di tangan
kita.” “Jika tanah dan padepokan ini bukan lagi milik Kiai Banyu
Bening, apakah mereka juga akan menuntut? Sedangkan sebelumnya kita
tidak saling mengenal dengan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.”
desis Ki Ajar Pangukan. “Kita masih belum tahu benar, apakah yang
sebenarnya mereka kehendaki. Apakah Nyai Wiji Sari dengan jujur
ingin mendapatkan kembali anaknya yang telah lama meninggal atau
alasan-alasan lainnya. Karena itu, selagi Ki Ajar, Ki Pandi
dan yang lain ada disini, biarlah persoalannya diselesaikan dengan
tuntas.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Ia mengerti kecemasan
yang mencengkam jantung Ki Warana yang merasa bahwa ilmunya masih
belum memadai. Karena itu, maka Ki Warana memerlukan perlindungan
dari beberapa orang yang berilmu tinggi. Namun dalam pada itu, maka
Ki Ajar Pangukan itupun berkata ”Ki Warana, dengan pengakuan ini,
maka kemungkinan terbesar, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu
akan datang ke padepokan ini. Karena itu, maka Ki Warana sebaiknya
mempersiapkan orang-orang yang kini masih berada di padepokan ini.
Kekuatan padepokan ini telah menyusut jauh dibandingkan pada saat
Kiai Banyu Bening masih berada di padepokan ini.” “Benar Ki Ajar.
Tetapi yang tinggal sekarang adalah orangorang yang lebih
mapan.Mereka mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas diri
mereka disaat Kiai Banyu Bening masih memimpin padepokan ini.
Sedangkan sekarang mereka berada disini karena satu keyakinan yang
lebih dewasa.” Ki Ajar Pangukan itupun berkata ”Baiklah. Kita akan
menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Narawangsa. Tetapi kita
tidak boleh sekedar berpangku tangan.” Demikianlah, maka Ki Ajar
Pangukan pun telah memanggil beberapa orang tua yang ada di
padepokan itu. Dengan singkat Ki Ajar telah menceriterakan apa yang
telah dibicarakan dengan kedua orang yang mengaku utusan Kiai
Narawangsa dan Nyai Wijisari. “Seharusnys Ki Lemah Teles lah yang
harus mengaku sebagai Kiai Banyu Bening” berkata Ki Ajar
Pangukan. “Kenapa aku?” bertanya Ki Lemah Teles. “Bukankah
kita sudah sepakat, bahwa Ki Lemah Teles akan berada di padepokan
ini untuk seterusnya?” Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Tetapi
kemudian iapun berkata ”Tetapi biarlah kali ini Ki Ajar Pangukan
yang akan berperan sebagai Kiai Banyu Bening.” Ki Pandi pun tertawa
sambil berkata ”Ki Ajar telah memainkan peranannya dengan baik
sekali. Tetapi jika Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari yang datang
kemari, maka mereka akan merasa bahwa mereka telah dikelabui oleh
orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.” Dengan demikian,
maka orang-orang tua itu berpendapat, bahwa padepokan itu harus
mempersiapkan diri menghadapi orang yang menyebut dirinya Kiai
Narawangsa dan Nyai Wijisari, yang telah bertahun-tahun mencari
orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu. Dalam pada itu, Ki Ajar
Pangukan pun berkata kepada Ki Warana ”Aku memerlukan pengenalan
lebih jauh tentang pribadi Kiai Banyu Bening serta kehidupan yang
mengelilinginya.” “Sejauh aku ketahui, Ki Ajar” jawab Ki Warana.
“Tetapi darimana Ki Warana mengetahui kehidupan Kiai Banyu Bening
yang tidak bening itu?” bertanya Ki Pandi. “Kiai Banyu Bening memang
sering berbicara tentang dirinya. Jika ia mulai dibayangi oleh
kehidupan masa lampaunya, maka ia memerlukan seseorang yang mau
mendengarkan ceriteranya. Bukan hanya aku yang pernah mendengarnya,
tetapi beberapa orang yang lainpun pernah mendengarnya.
Ceritera-ceritera itulah yang membuat aku semakin lama semakin
ragu akan kepemimpinannya. Aku memang mendengar dan merasakan, bahwa
apa yang dilakukannya itu tidak lebih dari ungkapan dendam yang
mencengkam hatinya.” “Baiklah” berkata Ki Ajar ”kita tidak boleh
membuang waktu. Kita siapkan apa yang ada untuk mempertahankan tanah
dan padepokan ini dari siapapun juga.” Ki Warana pun kemudian telah
menemui beberapa orang pemimpin kelompok di padepokannya. Mereka
mendapat penjelasan tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas
padepokan itu. “Kita belum sempat menyusun padepokan ini dan membuat
tatanan baru yang lebih baik, kita sudah dihadapkan pada satu
persoalan baru yang lebih baik, kita sudah dihadapkan pada satu
persoalan baru. Tetapi kita harus tegar menghadapinya. Orang-orang
tua yang berilmu tinggi itu masih tetap berada disini.Mereka bukan
saja akan membimbing kita untuk mempertahankan padepokan ini, tetapi
merekapun akan dapat membimbing kita menempuh jalan kehidupan yang
baru. Kita akan lebih mengenali diri kita dan mengenali sumber hidup
kita.” Para pemimpin kelompok orang-orang padepokan yang semula
adalah pengikut Kiai Banyu Bening itu menganggukangguk. Mereka harus
mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan
mendatang. Namun dalam pada itu, niat orang-orang tua yang berada di
padepokan itu membongkar tugu dan menempatkan nisan kecil itu ke
tempat yang lebih wajar, terpaksa.ditunda. Meskipun keberadaan tugu
itu tidak lagi mempunyai arti sebagaimana - sebelumnya, tetapi
mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Narawangsa
dan Nyai Wiji Sari dengan anaknya yang telah meninggal itu. Seperti
yang dikehendaki oleh Ki Warana, maka orangorang yang berada di
padepokan itupun telah mulai mempersiapkan diri. Mereka telah
memperbaiki panggunganpanggungan yang telah rusak di belakang
dinding padepokan. Mereka pun telah mulai berlatih pula dengan
sebaik-baiknya. Bahkan orang-orang tua yang berilmu tinggi, telah
ikut terjun langsung didalamnya. Namun orang-orang tua yang berilmu
tinggi itu mempunyai cara tersendiri. Disamping memberikan
latihan-latihan kepada semua orang yang ada di padepokan, mereka
telah memilih beberapa orang untuk mendapat latihanlatihan khusus.
Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu masing-masing memilih ampat
atau lima orang untuk ditempa menjadi orangorang terbaik di
padepokan itu. Dalam benturan kekuatan mereka akan menjadi kekuatan
yang harus mampu menembus pertahanan lawan dan mengoyaknya.
Sementara itu, Manggada dan Laksanapun mempunyai kawan-kawan
berlatih yang khusus pula. Kelebihan Manggada dan Laksana mampu
mengangkat orang-orang yang mereka pilih ke tataran yang lebih
tinggi. Kedua orang anak muda itu telah mempergunakan waktu
sebaik-baiknya, karena mereka mengetahui bahwa waktu memang sangat
sempit. Meskipun demikian, Manggada dan Laksana sendiri tidak
mengabaikan latihan-latihan untuk meningkatkan diri mereka sendiri.
Dengan alat-alat yang ada di dalam sanggar di padepokan itu,
keduanya dengan sungguh-sungguh telah menempa diri mereka sendiri
pula. Ternyata usaha itu tidak sia-sia. Ampat atau lima orang yang
ditangani langsung oleh orang-orang berilmu tinggi itu telah
meningkat lebih cepat. Ki Warana sendiri telah bekerja dengan tanpa
mengenal lelah untuk menyadap ilmu kanuragan. Ia merasa masih jauh
ketinggalan sehingga untuk mencapai tataran yang lebih baik, maka ia
harus berbuat sejauh dapat dilakukannya. Sementara itu; Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari selalu menunggu laporan dari
orang-orang yang diperintahkannya mencari dan menemui Kiai Banyu
Bening. Dua orang yang datang ke padepokan yang semula memang dihuni
oleh Kiai Banyu Bening itu telah meninggalkan lereng Gunung Lawu
bersama sekelompok kawan-kawannya. Mereka akan memberikan laporan
tentang perjalanan mereka untuk mencari dan menemui Kiai Banyu
Bening. Orang itu harus menempuh perjalanan yang panjang untuk
sampai ke sebuah padepokan yang dipimpin oleh Kiai Narawangsa dan
Nyai Wiji Sari. Sekelompok orang itu menyusuri Kali Grompol
untuk beberapa lama. Kemudian mereka berbelok meninggalkan Kali
Grompol menyilang sampai kesebuah tempuran. Mereka melanjutkan
perjalanan menyusuri Kali Regunung yang panjang. Perjalanan mereka
memang bukan perjalanan yang ringan. Mereka sekali-sekali harus
menyusup di lebatnya hutan belukar, sekali-sekali mereka harus
menembus padang perdu yang panjang. Mereka harus melewati pegunungan
gundul dan dibakar teriknya sinar matahari. Sekelompok pengikut Kiai
Narawangsa itu tidak dapat mencapai padepokan mereka dalam sehari.
Mereka harus berhenti dan bermalam diperjalanan. Untuk mendapatkan
makan, mereka harus berburu di hutan yang lebat sehingga dengan
demikian maka perjalanan mereka menjadi semakin terhambat.
Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu maju dengan sangat lamban.
Karena itu, untuk mencapai padepokannya, mereka memerlukan waktu
yang panjang. Bahkan ternyata mereka masih belum mencapai Kiai
Narawangsa yang terletak tidak terlalu jauh dari Kademangan Susukan
ditepi Kali Gandu, ketika malam turun di hari kedua. Meskipun mereka
tahu, bahwa padpokan mereka sudah tidak terlalu jauh lagi, tetapi
mereka tidak melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka, lalui adalah
jalan pintas yang rumpil, yang kadang-kadang melewati tebing yang
curam, naik lereng bukit-bukit dan menuruni lembah yang ditumbuhi
belukar. Karena itu mereka lebih senang memilih untuk bermalam
dipadang perdu yang tidak terlalu luas. Bergantian orang-orang
itu berjaga-jaga. Mungkin binatang buas dari hutan yang tidak
terlalu jauh dari padang perdu itu sedang kelaparan karena mereka
tidak berhasil menangkap kijang. Menjelang matahari terbit, mereka
telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padepokan mereka yang
berada di tepi Kali Gandu. Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu
mendekati regol padepokan mereka sebelum matahari mencapai puncak
langit. Orang tertua diantara mereka menjadi berdebar-debar. Hampir
diluar sadarnya ia bertanya kepada kawan-kawannya, ”Bukankah
perjalanan kita ini dapat dikatakan berhasil?” “Ya. Kita sudah
berhasil melaksanakan perintah Kiai Narawangsa dengan baik. Kita
sudah menemukan padepokan Kiai Banyu Bening. Kita telah menemukan
pula makam anak Nyai Wiji Sari. Bukankah menemukan makam itu
termasuk salah satu tugas kita yang penting?” “Untunglah bahwa makam
kecil itu berada didalam padepokan, sehingga kita tidak harus
mencarinya lagi. Bahkan seandainya makam itu tidak berada di
padepokan, maka Kiai Banyu Bening tentu tidak akan bersedia
memberitahukannya. “Karena itu, kita akan memasuki regol halaman
padepokan kita dengan dada tengadah. Kita akan dapat membanggakan
diri, bahwa akhirnya kitalah yang berhasil menemukan apa yang dicari
Kiai Narawangsa untuk waktu yang lama itu setelah beberapa kali
kelompok-kelompok yang lain mengalami kegagalan.” Namun seorang
diantara mereka menjawab, ”Meskipun gagal, tetapi kelompok-kelompok
yang lain telah mengumpulkan, banyak keterangan sehingga kita
dapat langsung mencari padepokan itu di kaki Gunung Lawu.” Orang
tertua yang memimpin sekelompok orang itu memandanginya dengan
tajamnya, Namun kemudian iapun berkata, ”Kau pernah ikut-ikut dalam
kelompok-kelompok sebelum kita pergi ke Gunung Lawu.” “Ya.” jawab
orang itu. Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya ”Kami
tidak akan mengingkari petunjuk-petunjuk itu.” Mereka pun kemudian
terdiam. Langkah mereka semakin mendekati regol padepokan. Beberapa
saat kemudian maka sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu telah
berdiri di depan regol. Orang yang tertua diantara mereka, yang
memimpin sekelompok orang itu, telah mengetuk pintu regol padepokan.
Sejenak kemudian, maka sebuah lubang persegi ampat di pintu
padepokan itu terbuka. Nampak sebuah wajah di lubang segi ampat itu
memandang ke luar. >> satu kalimat tidak terbaca>>
...yang memimpin kelompok itu. “He, kau kakang” terdengar orang yang
menjengukkan wajahnya itu menyahut. “Buka pintunya.” “Baik, baik
kakang” jawab orang yang berada didalam. Demikianlah, maka sejenak
kemudian pintu regol itupun telah terbuka. Dua orang cantrik berdiri
di belakang pintu itu. Dengan wajah yang cerah mereka telah
mempersilahkan sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu masuk.
“Kiai ada dirumah?” bertanya orang tertua itu. “Kiai dan Nyai baru
saja pergi, kakang. Tetapi tentu tidak lama.” “Kemana?” “Aku tidak
tahu. Tetapi mereka akan segera kembali. Mereka hanya membawa dua
orang pengiring.” Orang tertua yang memimpin kelompok itu
menganggukangguk. Sementara penjaga regol itu berkata ”Sambil
menunggu, kakang sempat beristirahat barang sejenak. Mungkin kakang
akan mandi dan makan dahulu.” Orang tertua yang memimpin sekelompok
orang untuk mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu
menganggukangguk. Katanya kepada kawan-kawannya yang menyertainya
”Marilah. Kita akan sempat beristirahat. Tetapi kita tidak wajib
menceriterakan perjalanan kita sebelum kita memberikan laporan
kepada Kiai Narawangsa.” Kawan-kawannya pun mengerti maksud
pemimpinnya itu. Karena itu, maka mereka pun harus tetap menyimpan
ceritera perjalanan mereka. Kedatangan sekelompok pengikut Kiai
Narawangsa itu disambut hangat oleh kawan-kawannya. Namun tidak
seorang pun diantara mereka yang mau menceriterakan pengalaman
perjalanan mereka. “Kami belum memberikan laporan kepada Kiai
Narawangsa” berkata salah seorang diantara mereka. “Apa salahnya?
Jika kau centerakan kepada kami, bukankah laporanmu masih utuh?”
desak kawannya. Tetapi orang itu menggeleng. Katanya ”Kiai
Narawangsa akan merasa dilampaui jika ia tahu, bahwa aku telah
berceritera lebih dahulu tentang perjalanan kami.” Kawannya tidak
memaksa. Jika Kiai Narawangsa benarbenar merasa dilampaui sehingga
ia menjadi marah, maka persoalannya akan menjadi gawat. Dalam pada
itu, sekelompok orang yang baru pulang dari kaki Gunung Lawu itu
sempat mandi, makan dan sedikit beristirahat. Ketika matahari
menjadi semakin rendah di sisi Barat, maka Kiai Narawangsa dan Nyai
Wiji Sari dan kedua pengiringnya telah kembali ke padepokan. Ketika
mereka mendapat laporan tentang sekelompok orang-orangnya yang telah
kembali, maka Nyai Wiji Sari dengan tergesa-gesa memerintahkan untuk
memanggilnya. Beberapa saat kemudian, maka Kiai Narawangsa dan Nyai
Wiji Sari duduk di pendapa bangunan utama padepokannya dihadap oleh
orang-orang yang baru pulang dari Kaki Gunung Lawu itu. “Apakah
kalian dapat menemukan padepokan Lembu Wirid yang kemudian bergelar
Kiai Banyu Bening itu?” “Ya, Kiai” jawab orang tertua yang memimpin
kelompok itu. “Kau bertemu dengan Kiai Banyu Bening itu sendiri?”
bertanya Nyai Wiji Sari: “Ya, Nyai.” jawab pemimpin kelompok itu
”dua orang diantara kami telah memasuki padepokan itu dan menemui
Kiai Banyu Bening.” “Kau bertanya tentang makam anakku kepada Kiai
Banyu Bening itu?” Nyai Wiji Sari agaknya segera ingin
mengetahuinya. “Ya, Nyai.” jawab orang tertua itu. “Apa kata
Kiai Banyu Bening?” desak Nyai Wiji Sari. Orang tertua itupun segera
menceriterakan kunjungannya di padepokan itu. Diceriterakannya pula,
bahwa didepan pendapa bangunan utama padepokan itu terdapat sebuah
tugu yang diatasnya terdapat sebuah nisan kecil. Makam anak itu
mendapat tempat yang sangat baik didalam padepokan Kiai Banyu
Bening. “Tetapi itu tidak lebih dari satu kepura-puraan”geram Nyai
Wiji Sari. Orang-orang yang telah pergi ke kaki Gunung Lawu itu
termangu-mangu. Mereka melihat bagaimana Kiai Banyu Bening
menghormati anaknya yang telah meninggal itu. “Kalian tidak usah
heran” berkata Nyai Wiji Sari ”Lembu Wirid memang seoiang pembohong
yang tidak ada duanya. Tidak seorangpun dapat membedakan, yang mana
yang sebenarnya dan yang mana yang sekedar pura-pura atau sekedar
tipuan untuk mengelabui orang lain.” Orang tertua yang memimpin
kelompok yang pergi ke kaki Gunung Lawu ifu menarik nafas
dalam-dalam. Didalam hatinya ia berkata ”Itulah sebabnya, bahwa
tingkah laku Kiai Banyu Bening itu nampak agak aneh. Agaknya ia
hanya sekedar berpura-pura melupakan masa lalunya.” “Jadi apa yang
akan kita lakukan?” bertanya Kiai Narawangsa.” “Kita datang untuk
menemuinya. Aku akan memindahkan makam anakku itu. Aku akan
melepaskan anakku dari cengkeraman orang yang tidak tahu diri itu.”
“Kematian anakmu itu sudah berlangsung lama sekali.”
“Akhir-akhir ini aku selalu diganggu oleh mimpi-mimpi buruk.
Rasa-rasanya anakku itu menangis memanggilku. Ia merasa kesepian dan
sendiri. “Apakah kau menganggap banwa mimpimu itu mempunyai arti
tertentu?” “Lembu Wirid tentu sudah tidak menghiraukannya lagi.
“Bukan mimpi itu yang memberikan isyarat kepadamu. Tetapi karena kau
selalu memikirkannya, maka kau mulai dibayangi oleh mimpi-mimpi
itu.” “Mungkin sekali'. Tetapi aku ingin mengambilnya dari tangan
Kiai Banyu Bening.” “Nyai” berkata orang tertua yang pergi ke kaki
Gunung lawu itu ”mungkin aku dapat menceriterakan sesuai dengan
keterangan salah seorang murid Kiai Banyu Bening, bahwa Kiai Banyu
Bening telah melakukan satu perbuatan yang sangat gila. “Apa yang
telah dilakukan?” bertanya Nyai Wiji Sari. Pemimpin kelompok itupun
kemudian telah menceriterakan apa yang telah didengarnya dari Ki
Warana. Rencana Kiai Banyu Bening untuk menyerahkan korban-korban
bayi yang harus dibakar hidup-hidup. “Aku percaya bahwa gagasan
seperti itu muncul di kepala Lembu Wirid.” sahut Nyai Wiji Sari
”tetapi itu bukan pertanda bahwa Lembu Wirid mencintai anaknya. Ia
sekedar mencari kepuasan justru karena ia mendapat kepuasan ketika
ia mendengar anaknya menangis melengking-lengking dipanggang
panasnya api.” Orang tertua itu mengerutkan dahinya. Namun Nyai
Wiji- Sari itu berkata ”Sudahlah. Aku tidak mau mendengar lagi
ceritera ngeri itu. Yang penting aku akan pergi ke padepokan Banyu
Bening untuk mengambil anakku.” “Kenapa kita harus mengambil anakmu
dari padepokan itu? Bukankah masih ada cara yang lebih baik?”
berkata Kiai Narawangsa. “Cara yang bagaimana?” berkata Nyai Wiji
Sari. “Kita tidak usah membawa anakmu, pergi. Tetapi seperti rencana
kita semula, kita akan tinggal di kaki Gunung Lawu. Kita ambil
padepokan itu dari tangan Banyu Bening.” ”Lalu, bagaimana dengan
Banyu Bening itu sendiri?” “Kita akan membunuhnya atau mengusirnya.
Bukankah begitu?” Nyai Wiji Sari termangu-mangu sejenak. Ia nampak
menjadi ragu-ragu. Sementara Kiai Narawangsa berkata ”Kau" masih
merasa sayang, kehilangan Banyu Bening.” Nyai Wiji Saripun
berpaling. Nampak kerut yang dalam di dahinya. Dengan nada tinggi ia
berkata ”Kenapa kau bertanya begitu?” “Jadi kenapa kau ragu-ragu
membunuhnya?” justru Kiai Narawangsa lah yang bertanya. “Tidak. Aku
tidak ragu-ragu.” desisnya. Kiai Narawangsa itulah yang kemudian
bertanya kepada pemimpin kelompok itu ”Menurut pendapatmu manakah
yang lebih baik. Padukuhan Banyu Bening atau padukuhan kita disini?”
Orang itu ragu-ragu sejenak. Katanya ”Padukuhan kita ini adalah
padukuhan yang paling menyenangkan. Kita sudah lama tinggal
disini.” “Jawab yang sebenarnya” Kiai Narawangsa itupun
membentak ”manakah yang lebih baik? Kita akan memilih, justru karena
anak Nyai Wiji Sari itu berada disana.” “Jika aku boleh mengatakan
yang sebenarnya, Kiai,” suara pemimpin kelompok itu nampak ragu
”padepokan Kiai Banyu Bening nampaknya lebih besar dari padepokan
kita disini. Nampaknya padepokan itu berada diatas tanah yang subur.
Sawah yang berada di seputar padepokan itu juga nampak subur. Aku
kira sawah itu adalah sawah garapan para cantrik dari padepokan Kiai
Banyu Bening. Hasilnya tentu cukup memadai. Tidak terlalu jauh dari
padepokan itu masih terbentang hutan kaki pegunungan yang lebat.
Padang perdu yang akan dapat menjadi cadangan masa depan. Bahkan
padang perdu yang berbatu padas itupun selalu basah, karena ada
seribu mata air yang dapat disalurkan dan ditampung menjadi
parit-parit yang dapat mengaliri tanah yang luas.” “Kau sempat
meneliti keadaan di sekitar padepokan itu?” bertanya Kiai
Narawangsa. “Ketika aku berdua memasuki padepokan, maka kawankawan
yang lain menunggu di padang yang sempat mendapat perhatian mereka.”
Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Katanya kepada Nyai Wiji Sari
”Nah, bukankah menarik untuk berada di padepokan itu? Disini kita
tidak dapat berkembang. Meskipun kita tinggal di tepi sungai, namun
tanahnya terasa semakin sempit. Kita tidak dapat mendesak orang
padukuhan yang memang sudah berdiri dijarak yang jauh. Kita juga
tidak dapat menebas hutan menurut keperluan. Kita memang dapat
menakut-nakuti orang-orang Susukan. Tetapi dengan demikian, maka
kita menjadi orang yang hidup terpencil. Meskipun kita tidak
memerlukan mereka, namun ada baiknya kita dapat berhubungan
dengan orang-orang padukuhan sekitar kita. Nyai Wiji Sari pun
mengangguk-angguk pula. “Nah, kita akan datang dan menyingkirkan
Kiai Banyu Bening. Kita akan berada di satu daerah yang baru dengan
harapan-harapan baru.” “Tetapi kita memerlukan persiapan yang baik,
Kiai” berkata pemimpin kelompok ”meskipun nampaknya tidak terlalu
banyak, tetapi aku melihat kesiagaan yang tinggi dari para cantrik
di padepokan Kiai Banyu Bening itu.” “Apakah kau kira selama ini
kita tidak menempa diri? He, bagaimana dengan kau sendiri? Apakah
kau dibayangi oleh ketakutan untuk mengambil padepokan itu?” “Tidak,
Kiai. Bahkan aku telah mengatakannya kepada Kiai Banyu Bening, bahwa
Kiai dan Nyai akan datang untuk merawat dan memakamkan kembali anak
itu di padepokan itu pula dan mempersilahkan Kiai Banyu Bening untuk
pergi.” “Kita akan membunuhnya” geram Kiai Narawangsa. “Aku tidak
dapat mengatakannya seperti itu pada waktu aku menghadap Kiai Banyu
Bening.” “Aku mengerti” Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Lalu
katanya ”Kita akan membuat persiapan sebaik-baiknya. Dalam waktu
yang tidak terlalu lama, kita akan pergi ke lereng Gunung Lawu.”
“Kami menempuh perjalanan kembari dari kaki Gunung Lawu dalam dua
hari lebih sedikit. Kami bermalam dua malam diperjalanan.” “Apakah
perjalanan itu cukup berat?” “Ya, Kiai. Perjalanan yang berat.
Apalagi jika kita berangkat dengan seluruh isi padepokan ini.”
“Kita tidak akan berangkat bersama-sama. Kita akan mengirimkan
beberapa orang lebih dahulu untuk membuat landasan tidak terlalu
jauh dari padepokan itu. Mungkin di pinggir hutan yang dapat
memberikan dukungan persediaan makan bagi kita. Tentu ada diantara
kita yang memiliki kemampuan berburu. Padukuhan-padukuhan disekitar
padepokan itu tentu juga akan dapat menjadi sumber bahan makanan
bagi kita.” “Dengan demikian, hubungan yang buruk akan terulang
kembali di tempat yang baru itu.” potong Nyai Wiji Sari. “Kita akan
dapat menyebut nama Kiai Banyu Bening.” Nyai Wiji Sari
mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia pun berkata ”persiapan kita
harus meyakinkan. Tetapi yang penting bagiku, aku akan mengambil dan
merawat anakku yang selalu hadir didalam mimpi-mimpiku.” Kiai
Narawangsa mengangguk-angguk. Katanya ”Aku mengerti.” Beberapa saat
kemudian, maka sekelompok orang yang baru datang dari kaki Gunung
Lawu itupun diperkenankan untuk beristirahat. Namun Kiai Narawangsa
itupun berkata ”Mulai besok kita akan berkemas.” “Aku tidak ingin
persiapan kita berkepanjangan” berkata Nyai Wiji Sari ”aku rindukan
anak itu.” Perintah untuk mempersiapkan diri itupun kemudian telah
sampai ke setiap telinga. Seorang yang rambutnya sudah ubanan
berbisik kepada kawannya ”Langkah yang kurang bijaksana. Tempat ini
merupakan tempat yang paling baik. Jika kita berada di daerah baru,
apakah kita dapat dengan segera mendapatkan lahan yang subur.”
“Kawan-kawan kita sudah sempat melihat-lihat. Tanah di sekitar
padepokan di kaki gunung Lawu itu sangat subur. Banyak cadangan
tanah yang masih terbuka .” “Kau memang dungu” geram orang yang
rambutnya sudah ubanan itu ”bukan lahan yang akan kita tanami padi
dan jagung.” “Maksud paman?” “Lahan yang dapat menyediakan uang,
emas dan permata. He, bukankah disamping bercocok tanam kita juga
selalu menuai benda-benda berharga itu? Kita tinggal mengambilnya
dan membawanya ke padepokan.” “O” orang itu mengangguk-angguk.
Tetapi ia masih bertanya lagi ”Bukankah dirnana-mana ada orang
kaya?” “Sudah, sudah” potong orang yang rambutnya ubanan ”kau memang
dungu.” Orang yang berambut ubanan itupun kemudian telah bangkit dan
melangkah pergi. Sejak hari berikutnya, maka Kiai Narawangsa telah
memerintahkan orang-orangnya untuk berlatih. Disela-sela kerja
mereka disawah dan pategalan, mereka telah menyelenggarakan
latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan mereka lebih dari
biasanya. Disamping latihan-latihan yang meningkat, maka Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari juga meningkatkan kegiatan mereka di
malam hari. Sebelum mereka meninggalkan padepokan mereka, maka Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari berniat untuk mengurus benda-benda
berharga yang ada di daerah jangkauan mereka. Hampir setiap
malam, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah keluar dari
padepokan mereka. Sekali-sekali mereka berpacu di bulak-bulak
panjang di atas punggung kuda bersama ampat atau lima orang
pengikutnya. Tetapi pada kesempatan, lain, mereka berjalan menyusuri
pematang dan bahkan padang-padang perdu untuk mengumpulkan
bendabenda berharga. Sementara itu di siang hari beberapa orang
pengikutnya berkeliaran untuk mencari sasaran serta melihat
kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi pada sasaran itu. Dengan
demikian, maka pada lingkungan yang terhitung luas di sekitar
padepokan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu, keadaannya menjadi
semakin memburuk. Seakan-akan tidak ada kekuatan yang dapat
membendung perampokanperampokan yang semakin sering terjadi.
Padukuhanpadukuhan besar dan kecil selalu dibayangi oleh ketakutan
dan kecemasan. Gardu-gardu peronda justru menjadi kosong, karena
para peronda berapapun jumlahnya tidak akan mampu menghentikan
perampokan-perampokan itu. Ketika pada suatu saat, Kiai Narawangsa
dan Nyai Wiji Sari menemui sebuah gardu yang ditunggui oleh lima
orang peronda. maka nasib kelima orang peronda itu menjadi sangat
buruk. Bahkan mereka masih juga sempat mengncam, jika masih ada yang
meronda di malam-malam mendatang, maka mereka akan dihabisi. Dengan
demikian, maka ketakutan pun semakin tersebar di daerah yang luas di
sekitar padepokan itu. Tetapi tidak ada yang mampu mengatasinya.
Disamping kegiatan yang meningkat itu, maka latihanlatihan pun
berlangsung semakin meningkat. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
telah menjadi semakin mantap. Daerah perburuan benda-benda
berharga di lingkungan yang terasa menjadi semakin tua itu, telah
menjadi semakin kering pula. Sehingga karena itu, maka mereka
mengharapkan daerah baru yang masih subur. Kiai Narawangsa dan Nyai
Wiji Sari juga memperhitungkan kemungkinan, bahwa daerah di sekitar
kaki Gunung Lawu itu juga sudah dikuras habis oleh Kiai Banyu
Bening. Namun jika mereka dapat menduduki padepokan Kiai Banyu
Bening, maka benda-benda yang tersimpan di padepokan itu akan jatuh
ketangan mereka pula. Namun Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
ternyata cukup berhati-hati. Mereka telah mengirimkan beberapa orang
untuk mengamati padepokan itu dalam beberapa hari. “Kalian harus
mengetahui, seberapa kekuatan yang tersimpan di padepokan itu,
sehingga kedatangan kita tidak sekedar menyurukkan kepala kita
kedalam api.” Dengan demikian, maka lima orang telah diperintahkan
untuk berangkat menuju ke kaki Gunung Lawu. Dua diantara mereka
adalah orang-orang yang pernah pergi ke padepokan Kiai Banyu Bening,
sementara yang lain adalah urang-orang baru. Diharapkan bahwa
orang-orang baru itu akan dapat memberikan pertimbangan yang lebih
lengkap setelah mereka melihat padepokan Kiai Banyu Bening dan
lingkungan disekitarnya. Kelima orang itu menempuh perjalanan yang
jauh. Tetapi perjalanan mereka tidak banyak dibayangi bahaya, karena
mereka tidak mempunyai tugas lain kecuali melihat-lihat padepokan di
kaki Gunung Lawu itu. Dalam pada itu. orang-orang yang berada di
padepokan di kaki Gunung Lawu itu masih saja menempa diri.
Mereka memanfaatkan waktu degan sebaik-baiknya. Mereka yang
tidak pergi ke sawah, telah masuk kedalam sanggar. Mungkin sanggar
tertutup, mungkin sanggar terbuka. Orang-orang yang umurnya sudah
menjelang senja itu dengan tekun membimbing mereka pula. “Apa yang
dapat kita lakukan harus kita lakukan pada masa-masa senja ini”
berkata Ki A jar Pangukan. Ki Lemah Teles tertawa. Katanya ”Meskipun
menjelang senja, kita tetap matahari.” “Ya” Ki Sambi Pitu
mengangguk-angguk. ”Sinar matahari senja masih dapat membakar
langit.” Ki Pandi tertawa pula. Katanya ”Jangan takut kehilangan
panas jika api kalian telah menyalakan sebukit karang sehingga
membara.” “Tidak cukup” teriak Ki Lemah Teles ”panas cahaya matahari
senjamu harus membuat bulan, bintang dan semua langit membara sampai
saatnya terbit matahari baru.” Ki Jagaprana tertawa berkepanjangan.
Katanya ”Apakah matahari-matahari kini pandai bermimpi.” “Bukan
mimpi” teriak Ki Lemah Teles ”apimu lah yang akan segera padam
didalam mimpi burukmu.” “Kau akan menantang berperang tanding?”
bertanya Ki Pandi. “Bongkok edan” geram Ki Lemah Teles. Mereka pun
tertawa. Sementara Ki Lemah Teles melangkah meninggalkan mereka.
Tetapi langkahnya terhenti ketika Ki Pandi berkata ”He, kau akan
kemana? Berilah perintah-perintah. Kau sekarang memimpin padepokan
ini bersama Ki Warana.” “Perintah apa yang dapat aku berikan
kepada matahari yang mulai redup sebelum senja?” Ki Lemah Teles
tidak menghiraukan orang-orang tua itu tertawa berkepanjangan. Ki
Warana menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin dapat berbuat sebagaimana
orang-orang tua itu. Sempat tertawa dan memandang kehidupan tanpa
dibebani oleh berbagai macam persoalan yang menekan. Tetapi ia tidak
dapat ingkar, bahwa ia harus bekerja keras untuk menyusun kembali
tatanan kerja dan hubungan di padepokan itu. Dari hari ke hari,
kesibukan di padepokan itu menjadi semakin meningkat. Beberapa orang
anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu justru
menyatakan diri untuk ikut menimba ilmu di padepokan itu. Mereka dan
orang-orang tua mereka kemudian mengetahui, bahwa telah terjadi
perubahan yang mendasar di padepokan itu. Ki Warana telah
menyatakan, bahwa snggar-sanggar yang dapat di padukuhan-padukuhan
tidak mempunyai arti lagi. “Jika sanggar itu ingin tetap ada di
padukuhan, maka gunanya sudah berbeda sama sekali.”
Perubahan-perubahan yang meyakinkan itulah, yang membuat orang-orang
padukuhan mempercayakan beberapa orang anak muda mereka menyatakan
diri untuk tinggal di padepokan. Mereka bukan saja ingin mendapatkan
tuntunan dalam olah kanuragan. Tetapi di padepokan mereka juga ingin
menyadap pengetahuan tentang bercocok tanam, berternak dan mengenali
musim. Mereka juga ingin dapat membaca hurufhuruf serta menangkap
maksudnya. Tetapi Ki Warana telah memberitahukan kepada mereka
dan orang tua mereka, bahwa, padepokan itu masih berada dalam
keadaan bahaya. “Aku tidak ingin mereka terbakar dalam api
permusuhan begitu mereka memasuki padepokan kami,” berkata Ki Warana
kepada anak-anak muda itu serta orang tua mereka. Beberapa orang
memang menjadi ragu-ragu. Tetapi beberapa orang yang lain berkata
”Kami siap menjalani tugas apapun juga.” Ki Warana justru menjadi
terharu. Ia merasakan sambutan yang hangat dari padukuhan-padukuhan
di sekitar padepokan itu, setelah berhasil merombak alasnya sampai
ke dasar. Ketika hal itu dibicarakannya dengan Ki Lemah Teles, maka
Ki Lemah Teles pada dasarnya sejalan dengan pikiran Ki Warana.
Sebaiknya anak-anak muda itu tidak memasuki padepokan justru pada
saat yang gawat. “Mereka belum mempunyai bekal apa-apa” berkata Ki
Lemah Teles. Tetapi ternyata beberapa orang anak muda justru
bersedia mengalami akibat apapun. Terutama dari padukuhan terdekat
yang telah menjadi landasan perlawanan Ki Warana terhadap Panembahan
Lebdagati dan Lembu Palang. “Kami sudah mempunyai pengalaman”
berkata beberapa orang anak muda itu. Ki Warana memang tidak dapat
menolak mereka. Jika Ki Warana tidak mau menerima mereka, maka akan
dapat terjadi salah paham, seakan-akan setelah Ki Warana merebut
kembali padepokannya, maka ia telah menolak kehadiran anak-anak muda
itu di padepokannya. “Apa boleh buat” berkata Ki Lemah Teles.
”Mereka memang sudah mempunyai sedikit pengalaman.” “Tetapi dengan
demikian, kita tidak akan dapat menolak kehadiran anak-anak muda
dari padukuhan yang lain.” Ki Lemah Teles menarik nafas dalam-dalam.
Katanya ”Anakanak yang baru sama sekali itu justru akan dapat
menjadi beban.” “Tetapi mereka akan menganggap kita menjauhi sebuah
padukuhan tetapi mendekati padukuhan yang lain.” “Ki Warana” berkata
Ki Lemah Teles ”beri mereka penjelasan sekali lagi, bahwa padepokan
ini masih dibayangi oleh pertentangan dan perselisihan. Sehingga
dengan demikian kita dapat membagi tanggung-jawab.” Ki Warana
menganggukangguk. Katanya ”Baik, Ki Lemah Teles. Aku akan
menjelaskan kepada anakanak muda itu serta orang tuanya, bahwa
pertentangan dan perselisihan itu akan dapat membuahkan kematian.”
Dengan penjelasan itu, memang ada beberapa orang anak muda yang
mengurungkan niatnya, tetapi ada pula diantara mereka yang dengan
tekad bulat bergabung dengan para cantrik dari padepokan yang
telah memperbaharui pijakannya itu. “Kami akan membuka kesempatan
seluas-luasnya setelah keadaan benar-benar menjadi tenang” berkata
Ki Warana. Namun mereka yang tidak menunda keinginannya untuk
bergabung dengan para cantrik di padepokan itu, Ki Warana telah
menaruh perhatian lebih besar daripada para cantrik yang lain. “Kami
serahkan mereka kepada kalian berdua ngger” berkata Ki Warana kepada
Manggada dan Laksana. “Tetapi apa yang dapat kami berikan kepada
mereka?” bertanya Manggada ”pengetahuan dan ilmuku masih terlalu
dangkal.” “Tidak. Ilmu dan pengetahuan kalian jauh lebih baik dari
ilmu dan pengetahuanku. Karena itu, aku serahkan mereka kepada
angger berdua untuk dapat meletakkan dasar-dasar secara umum. Pada
perkembangannya nanti, biarlah Ki Lemah Teles yang mengatur mereka.”
Manggada dan Laksana tidak dapat menolak. Ketika hal itu dikatakan
kepada Ki Pandi, ternyata Ki Pandi sependapat. Katanya ”Kalian tentu
dapat melakukannya.” Tetapi Ki Pandi menasehatkan, agar semua
latihan dilakukan didalam padepokan. “Mungkin para pengikut Kiai
Narawangsa selalu mengamati padepokan ini. Karena itu, maka mereka
jangan melihat persiapan-persiapan yang dilakukan di padepokan ini.”
Sesuai dengan tugas yang diserahkan kepada Manggada dan Laksana,
maka kedua anak muda itupun segera mulai melakukannya. Anak-anak
muda yang baru memasuki padepokan itu mendapat kesempatan
terbanyak untuk melakukan latihan-latihan. Mereka tidak segera
diserahi tugas untuk ikut memelihara sawah dan pategalan. Yang
penting bagi mereka adalah menempa diri dalam olah kanuragan.
Apalagi keadaan padepokan yang masih selalu dibayangi oleh
perselisihan yang berkepanjangan Setiap hari. Manggada dan Laksana
memasuki sanggar terbuka bergantian. Keduanya telah membagi
anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu menjadi dua kelompok
yang besar. Kemudian kelompok-kelompok itu dibagi lagi menjadi
kelompok-kelompok kecil. Setiap hari, di dini hari, anak-anak muda
itu harus sudah bangun. Setelah berbenah diri. mereka segera
memasuki latihan-latihan pagi. Mereka memanasi tubuh mereka dengan
gerakan-gerakan yang khusus. Kemudian berlari-lari memutari halaman
dan kebun padepokan. Jika kelompok yang dipimpin oleh Manggada
berlatih disanggar terbuka, maka Laksana melakukannya di halaman.
Demikian sebaliknya. Setelah sepekan mereka melakukan
latihan-latihan gerak dasar, maka Manggada dan Laksana mulai
mengajari mereka cara memegang berbagai jenis senjata. Mula-mula
anak-anak muda itu berlatih memegang tombak dan melakukan gerakgerak
dasar. Kemudian mereka mulai berlatih memegang pedang dan perisai.
Untuk memburu waktu yang sempit, maka Manggada dan Laksana
menekankan kemampuan anak-anak muda yang menjadi penghuni baru dari
padepokan itu bermain dengan tombak pendek dan pedang dengan
perisainya. “Kalian tidak perlu menjelajahi berbagai macam senjata.
Yang penting dalam waktu yang pendek ini kalian mampu mempergunakan
tombak pendek dan pedang dengan perisainya,” berkata Manggada
dan Laksana kepada anak-anak muda itu. Namun anak-anak muda itu juga
diajarinya mempergunakan tombak pendek dan pedang untuk melawan
berbagai macam senjata. Mereka berlatih melawan orang yang
bersenjata kapak. Berlatih melawan orang yang mempergunakan trisula,
canggah, bindi atau cambuk. Latihan-latihan yang dilakukan oleh para
penghuni padepokan itu memang tidak dapat dilihat dari luar. Baik
anakanak muda yang baru memasuki padepokan itu, maupun mereka yang
sudah berada di padepokan itu sejak padepokan itu dipimpin oleh Kiai
Banyu Bening. Jika ada empat atau lima orang penghuni padepokan itu
yang pergi keluar, mereka tentu membawa cangkul atau bajak atau garu
dengan sepasang kerbau untuk dipekerjakan di sawah. atau pategalan
di seputar padepokan itu. Dalam pada itu, ternyata Kiai Narawangsa
dan Nyai Wiji Sari juga tidak segera mendatangi padepokan yang
dipimpin oleh Ki Lemah Teles itu. Kecuali mereka juga ingin
mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mereka masih merasa sayang
untuk meninggalkan lingkungannya. Rasarasanya mereka masih
memerlukan waktu beberapa lama untuk menguras harta-benda yang ada
di lingkungannya yang cukup luas itu. Namun dalam pada itu,
orang-orang yang ditugaskan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
sudah berada di kaki. Gunung Lawu. Mereka mencoba mengamati
padepokan yang mereka sangka masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening
itu. Justru karena mereka menganggap bahwa padepokan itu
memang masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening, maka mereka sama
sekali tidak berusaha lagi untuk meyakinkannya lagi. Bahkan kelima
orang itu sama sekali tidak mencoba berhubungan dengan orang-orang
padukuhan. Jika mereka melakukannya, maka mungkin sekali kedatangan
mereka akhirnya diketahui oleh orang-orang padepokan. Karena itu,
maka mereka hanya sekedar melakukan pengamatan dari kejauhan.
Meskipun kelima orang itu tidak melihat kekuatan padepokan itu yang
sebenarnya, tetapi mereka memang melihat kesiagaan yang mantap.
Mereka melihat para cantrik yang mengawasi keadaan di sekeliling
padepokan dari atas panggung dibelakang dinding. Bahkan mereka juga
melihat, dua orang cantrik dengan tombak ditangan mengawal sebuah
pedati yang penuh berisi hasil bumi yang dipetik di pategalan.
“Ternyata Kiai Banyu Bening adalah seorang yang sangat berhati-hati”
berkata salah seorang diantara mereka. Setelah beberapa hari kelima
orang itu mengadakan pengamatan, maka mereka mengambil kesimpulan,
bahwa padepokan Kiai Banyu Bening adalah padepokan yang cukup
tertib. Pemimpin kelompok itu pada hari-hari terakhir dari tugasnya
ternyata atas gagasan sendiri ingin memasuki padepokan Kiai Banyu
Bening itu. “Apakah tidak akan membahayakan jiwa kita?” bertanya
salah seorang dari mereka. “Mungkin” jawab pemimpin kelompok itu
”tetapi dengan demikian, aku akan dapat melihat serba sedikit isi
dari padepokan itu untuk menyesuaikan laporan kawan kita
terdahulu, yang juga pernah datang menghadap Kiai Banyu Bening.”
“Tetapi menurut kawan kita itu, Kiai Banyu Bening adalah seorang
yang tidak dapat diduga sifatnya. Namun ia adalah seorang yang
mempunyai wibawa yang tinggi.” “Jika aku tidak kembali setelah
matahari sampai di puncak, sebaiknya kalian menyingkir dari tempat
ini.” berkata pemimpin kelompok itu. “Apa yang akan kau katakan
kepada Kiai Banyu Bening?” bertanya seorang kawannya. “Aku akan
memberikan peringatan, bahwa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
dalam waktu dekat akan segera datang.” “Hanya itu?” “Ya. Hanya itu.
Bukankah ini penting sekali bagi mereka?” “Tetapi apakah hal itu
dibenarkan oleh Kiai Narawangsa. Jika karena itu, Kiai Banyu Bening
menyingkir, bukankah Kiai Narawangsa terutama, akan menjadi sangat
marah, karena ia ingin membunuh saja Kiai Banyu Bening itu?” “Kiai
Banyu Bening menurut perhitunganku, tidak akan melarikan diri.”
Pemimpin kelompok itu kemudian memutuskan untuk benar-benar pergi ke
padepokan. Ia mengajak salah seorang dari kawan-kawannya itu yang
pernah datang ke tempat itu sebelumnya, meskipun orang itu juga
tidak ikut memasuki padepokan pada waktu itu. Dengan kesadaran yang
tinggi atas akibat yang mungkin terjadi atas diri mereka, maka
pemimpin kelompok itupun telah pergi ke padepokan bersama dengan
seorang kawannya. Namun bagaimana pun juga orang itu merasa
jantungnya berdetak lebih cepat. Pemimpin kelompok yang orangnya
berbeda dengan pemimpin kelompok yang datang terdahulu ke padepokan
itu, memang seorang yang berani. Meskipun demikian, ketika ia
melangkah menuju ke pintu gerbang, orang itu menjadi berdebar-debar
pula. Para petugas yang berada di panggungan di sebelah pintu
gerbang itu telah melihat kedatangannya. Karena itu, maka petugas
itupun kemudian berteriak bertanya ”He, siapakah kalian dan untuk
apa kalian datang kemari.” Pemimpin kelompok itu memandang para
petugas diatas panggungan itu. Dengan lantang ia justru bertanya
”Apakah aku harus berteriak pula?” Petugas itu termangu-mangu
sejenak. Nampaknya orang yang datang itu bukan orang-orang padukuhan
atau orangorang yang telah terbiasa dengan padepokan itu. Karena
itu, maka para petugas itupun menjadi lebih berhati-hati. Seorang
dari para petugas itupun telah menjawab, ”Ya. Berteriaklah.” “Inikah
cara padepokan ini menerima tamu?” “Ya” jawab petugas itu. Pemimpin
kelompok nu mulai merasa tersinggung. Tetapi ia harus menahan diri.
Dengan lantang pula ia berkata ”Aku ingin menghadap Kiai Banyu
Bening.” Petugas itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun berkata
”tunggulah, aku akan melaporkannya. Tetapi kalian harus menjawab,
siapakah kalian dan kalian datang dari mana.” “Aku utusan dari
Kiai Narawangsa” jawab orang itu tanpa ragu-ragu. Bahkan ia
mengucapkan nama itu dengan kebanggaan yang melonjak didalam
dadanya. Menurut pendapatnya, nama Kiai Narawangsa akan mempunyai
pengaruh yang sangat besar bagi Kiai Banyu Bening.” Nama itu memang
menggetarkan dada petugas di panggungan. Karena itu, salah seorang
petugas dipanggungan itu telah turun untuk melaporkan kedatangan
utusan Kiai Narawangsa itu. Sementara petugas yang lain masih
bertanya ”Kau datang untuk apa?” “Aku akan bertemu dengan Kiai Banyu
Bening” “Keperluanmu apa?” bertanya petugas itu pula. “Aku akan
menyampaikan sendiri kepada Kiai Banyu Bening.” “Aku tidak tahu,
apakah Kiai Banyu Bening dapat menerimamu atau tidak” jawab petugas
itu. Ia sudah mengerti, bahwa Ki Ajar Pangukan lah yang telah
berperan menjadi Kiai Banyu Bening ketika utusan Kiai Narawangsa
yang terdahulu datang ke padepokan itu. Namun orang yang berada di
muka regol itu berteriak “Katakan kepada Kiai Banyu Bening bahwa aku
utusan Kiai Narawangsa ingin bertemu.” >> teks engga
terbaca>> Petugas pinju jaga menemui Ki Warana untuk
melaporkan kehadiran dua orang yang mengaku utusan dari Kiai
Narawangsa. Ki Warana pun segera menemui Ki Lemah Teles dan Ki Ajar
Pangukan untuk minta pertimbangan apakah yang sebaiknya dilakukan
terhadap utusan itu. “Mereka bukan orang-orang yang pernah
datang kemari,” berkata Ki Warana, ”para petugas itu tentu masih
dapat mengenali kedua orang utusan Kiai Narawangsa yang terdahulu,
karena kebetulan waktu itu mereka melihat langsung kedatangan kedua
orang utusan itu.” “Katakan, bahwa Kiai Banyu Bening baru
beristirahat. Ia tidak dapat menerima kedua utusan itu. Tanyakan
saja kepadanya, apakah keperluan mereka datang. Agaknya kita sudah
dapat menebak, apa yang akan mereka katakan.” Ki Waranapun
mengangguk-angguk. “Temuilah mereka” berkata Ki Ajar Pangukan. Ki
Warana lah yang kemudian memerintahkan membuka regol depan setelah
memerintahkan para penghuni padepokan yang tidak berkepentingan
untuk menyingkir. Demikian pula anak-anak muda yang sedang berlatih
bersama Manggada di halaman samping. “Biarlah mereka melihat
padepokan ini tidak terlalu ramai.” berkata Ki Warana. Baru
kemudian, setelah suasana di padepokan itu nampak lengang seperti
yang dikehendaki oleh Ki Warana, para cantrik membuka pintu gerbang
padepokan. Sementara itu, kedua orang yang datang dari padepokan
Kiai Narawangsa itu sudah menjadi tidak sabar. “Kenapa kalian
mempermainkan kami?” bertanya yang tertua diantara kedua orang itu
demikian pintu terbuka. Tetapi orang yang membuka pintu itu
mengerti, bahwa utusan Kiai Narawangsa itu ingin menggertaknya,
sehingga karena itu, maka iapun justru bertanya ”Apakah kami
mempermainkan kalian?” “Kalian sengaja tidak segera membuka
pintu dan memaksa kami menunggu di depan regol seperti pengemis yang
menunggu belas kasihan.” Jawaban orang yang membuka pintu itu
ternyata tidak kalah kerasnya dengan pernyataan kedua orang itu
”Jika kalian memang tidak menunggu belas kasihan, kenapa kalian
tidak pergi saja?” Wajah kedua orang itu menjadi merah. Yang tertua
diantara mereka berkata ”Aku utusan Kiai Narawangsa. Jika kau
menghina aku, sama artinya kau telah menghina Kiai Narawangsa.”
Tetapi orang yang membuka pintu itu menjawab ”Padepokan ini adalah
padepokan Kiai Banyu Bening. Siapapun yang berhubungan dengan
padepokan ini harus tunduk kepada tatanan yang berlaku di sini.”
Kemarahan yang memuncak hampir saja membuat kedua orang itu
kehilangan kendali. Tetapi mereka sadari, bahwa mereka berdiri
didepan regol sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang yang
berilmu tinggi. Karena itu, maka orang yang tertua itupun berkata
”Sekarang, bawa aku bertemu dengan Kiai Banyu Bening.” Ki Warana
yang melihat gelagat yang kurang baik di depan gerbang padepokan
itupun telah mendekat. Ki Warana itu mendengar ketika orang yang
mengaku utusan Kiai Narawangsa itu minta untuk dibawa menghadap Kiai
Banyu Bening. Karena itu, justru Ki Warana lah yang menjawab ”Kiai
Banyu Bening sedang beristirahat.” Kedua orang yang mengaku
utusan Kiai Narawangsa itu memandang Ki Warana yang melangkah
semakin dekat. Dengan nada tinggi, yang muda diantara kedua orang
itu berkata ”Kami utusan Kiai Narawangsa.” “Kenapa Kiai Narawangsa
itu tidak datang sendiri?” “Pada saatnya Kiai akan datang. Sekarang,
biarlah aku berbicara dengan Kiai Banyu Bening.” “Kiai Banyu Bening
baru beristirahat.” “Aku utusan Kiai Narawangsa.” Ki Warana tertawa.
Katanya ”Jika Kiai Narawangsa itu datang sekarang, maka Kiai Banyu
Bening tentu akan menemuinya. Karena itu pergilah, katakan kepada
Kiai Narawangsa, agar ia datang sendiri agar Kiai Banyu Bening
bersedia menemuinya.” “Kalian akan menyesal telah mempermainkan
utusan Kiai Narawangsa.” “Pergilah. Jika Kiai Narawangsa
berkeberatan, kenapa tidak Nyai Wiji Sari saja yang datang kemari?
Mungkin Nyai Wiji Sari akan sempat mengenang kembali masa-masa
lalunya bersama Kiai Banyu Bening. He, apakah Kiai Narawangsa akan
cemburu?” Orang itu menggeram. Tetapi keduanya memang tidak dapat
berbuat apa-apa. Jika mereka kehilangan kendali, maka mereka justru
akan terjerumus ke tangan orang-orang sepadepokan. Sebenarnyalah
mereka datang ke padepokan itu sekedar untuk melihat kesibukan di
padepokan itu. Serba sedikit mereka ingin mendapat gambaran, apa
yang ada didalam padepokan itu untuk kemudian disesuaikan
dengan laporan pemimpin kelompok yang pernah datang terdahulu.
>> teks tidak terbaca>> Dengan nada tinggi, orang yang
tertua diantara kedua orang yang mengaku utusan Kiai Narawanmgsa itu
berkata ”Ki Sanak. Kalian telah memperlakukan utusan Kiai Narawangsa
dengan cara yang tidak baik. Pada suatu saat Kiai Narawangsa akan
datang, menghukum kalian dan seisi padepokan ini. Kiai Narawangsa
akan datang dengan kekuatan yang tidak akan dapat kalian bendung,
melanda padepokan kalian. Tetapi selanjutnya, Kiai Narawangsa tidak
akan pernah meninggalkan padepokan ini. Apalagi Nyai Wiji Sari. Ia
akan tinggal disini, bersama anaknya yang telah dibunuh oleh ayahnya
sendiri. Justru dibakar didalam api.” Ki Warana justru menunjuk pada
tugu di depan pendapa bangunan utama dengan batu nisan kecil
diatasnya. ”Itulah makam anak Kiai Banyu Bening. Makam itu sangat
dihormatinya. Kiai Banyu Bening memang sangat mendendam kepada
isterinya yang sudah menyebabkan anaknya terbakar sehingga
meninggal.” “Itu salah Kiai Banyu Bening.” “Salah Nyai Wiji Sari.”
Orang yang muda masih akan menyahut. Tetapi Ki Warana telah
membentaknya ”Jika kau sebut lagi, bahwa Kiai Banyu Bening yang
bersalah, maka kalian tidak akan pernah kembali ke padepokan Kiai
Narawangsa. Membunuh atau tidak membunuh kalian, bagi kami sama
saja. Kami harus mempertahankan padepokan ini dengan ujung senjata.
Karena itu pergilah, sebelum kalian akan dibantai disini. Aku
tidak main-main. Aku dapat menjatuhkan perintah itu.” Kedua orang
itu memang menjadi cemas. Karena itu, maka yang tertua diantara
mereka berkata ”Aku akan pergi sekarang, tetapi dalam waktu dekat
aku akan kembali lagi. Kiai Warana memandang orang itu dengan
tajamnya. Katanya ”Cepat pergi, sebelum aku melepaskan sekelompok
cantrik-cantrik dari padepokan ini untuk membantaimu. Kami sama
sekali tidak takut kepada Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.” Kedua
orang itupun kemudian beringsut meninggalkan pintu gerbang padepokan
itu. Mereka ternyata tidak berhasil menggertak orang-orang padepokan
itu. Merekapun tidak berhasil menemui Kiai Banyu Bening. Tetapi
mereka sudah berhasil melihat serba sedikit keadaan di dalam
padepokan itu. Ketika mereka berkumpul kembali dengan kawankawannya,
maka orang itupun berkata ”Kita tidak melihat sesuatu yang pantas
dicemaskan di dalam padepokan itu. Meskipun penjagaan di
panggungan-panggungan nampaknya sangat ketat, tetapi nampaknya
padepokan itu rapuh didalam. Kami tidak melihat sesuatu yang perlu
mendapat perhatian khusus.” “Apakah kita akan segera kembali dan
memberikan laporan kepada Kiai Narawangsa.” “Ya. Kita akan segera
kembali.” Kelima orang itu tidak menunggu hari berikutnya. Di sisa
hari itu mereka mulai berangkat menempuh perjalanan jauh. Tetapi
seperti saat mereka berangkat, mereka tidak banyak mengalami
rintangan diperjalanan pulang. Dalam pada itu, Nyai Wiji Sari
merasa sudah terlalu lama menunggu kesempatan untuk dapat pergi ke
kaki Gunung Lawu. Apalagi ketika rasa-rasanya sudah tidak ada lagi
rumah yang pantas diketuk pintunya. Ternyata betapa pun kerasnya
jalan kehidupan yang di tempuh oleh Nyai Wiji Sari, namun kerinduan
yang hampir tidak tertahankan telah mencengkam jantungnya. Namun ia
tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa anaknya memang sudah
meninggal, terbakar bersama rumahnya dan seisinya. Nyai Wiji Sari
memang menganggap bahwa kematian anaknya itu disebabkan oleh
kesalahan suaminya. Jika saja waktu itu suaminya tidak cepat dibakar
oleh perasaan marahnya, maka persoalannya akan menjadi lain.
Meskipun demikian, di hati kecilnya, Nyai Wiji Sari juga melihat
bahwa dirinya juga bersalah. Seharusnya ia tidak membawa Narawangsa
kerumahnya. Saat itu ia mengira bahwa Lembu Wirid tidak akan pulang
sampai matahari terbit. Namun sebelum tengah malam suaminya sudah
pulang. Karena suaminya dan Narawangsa memang memiliki ilmu yang
tinggi, maka perkelahian diantara mereka tidak dapat dihindari. Nyai
Wiji Sari tidak dapat menyesali peristiwa yang telah terjadi itu.
Karena bagaimana pun juga ia menyesal, yang terjadi itu memang sudah
terjadi. Seakan-akan terbayang kembali, apa yang telah dilakukannya.
Ternyata ia telah membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Ketika
Narawangsa terdesak, maka ia justru membantu laki-laki itu untuk
melawan suaminya. Ketika rumahnya terbakar, dan jerit tangis
anaknya melengking, Wiji Sari tidak tahan mendengarnya, sementara ia
tidak lagi dapat menerobos api untuk menolongnya. Namun dalam
keadaan yang sangat bingung tangannya telah ditarik oleh Narawangsa
karena api telah membakar hampir seluruh bagian rumahnya. Demikian
ia bergeser, maka langit-langit pun telah runtuh. Nyai Wiji Sari
tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh suaminya. Hampir diluar
kesadarannva. Nyai Wiji Sari tidak menolak ketika tangannya ditarik
terus menjauhi api yang menjadi semakin gemuruh menelan rumahnya dan
isinya, termasuk bayinya. Namun akhirnya Nyai Wiji Sari mengetahui,
bahwa dihari berikutnya suaminya telah mengambil tubuh anaknya yang
hangus dan dibawanya pergi. Orang-orang yang menyaksikannya tidak
dapat berbuat banyak. Menurut keterangan tetangga-tetangganya, Lembu
Wirid yang juga mengalami luka bakar itu, sama sekali tidak mau
berbicara sepatah kata pun. Baru kemudian, ketika ia memerintahkan
beberapa orang anak buahnya menelusuri kepergian Lembu Wirid, maka
orang-orangnya itupun menemukan Lembu Wirid itu di kaki Gunung Lawu
dan bergelar Kiai Banyu Bening. Namun laporan dari pengikutnya yang
telah pergi ke kaki Gunung Lawu yang terdahulu, mengatakan bahwa
anaknya yang meninggal itu telah dibuatkan sebuah tugu dan diatasnya
diletakkan batu nisan kecil oleh bekas suaminya, Lembu Wirid. Nyai
Wiji Sari menarik nafas dalam-dalam. Jika hal itu benar, maka
agaknya Lembu Wirid juga merasa getir karena kematian anaknya.
Bahkan seperti yang dilaporkan oleh pengikutnya itu, bahwa Kiai
Banyu Bening telah membuat satu upacara yang gila. Upacara
dengan mengorbankan bayi yang sebenarnya. “Ia memang, gila” desis
Nyai Wiji Sari. Namun setelah peristiwa itu lama sekali terjadi,
Nyai Wiji Sari itu dapat melihat dengan lebih baik dari jarak yang
cukup jauh. Namun setiap kali terbersit penyesalan didalam hatinya,
maka Nyai Wiji Sari tentu menghibur dirinya bahwa peristiwa yang
memang akan terjadi itu tentu akan terjadi juga. Dalam pada itu,
Kiai Narawangsa yang melihat Nyai Wiji Sari selalu merenung, tidak
terlalu sering menegur. Namun beberapa kali ia mengatakan, bahwa
mereka akan segera berangkat ke kaki Gunung Lawu untuk melihat dan
sekaligus memiliki padepokan tempat anaknya itu dikuburkan. Tetapi
Kiai Narawangsa tidak tahu, bahwa yang direnungkan oleh Nyai Wiji
Sari tidak sekedar kerinduannya kepada anaknya yang sudah tidak ada
serta keinginannya merambah daerah baru. Tetapi peristiwa yang telah
terjadi itu justru selalu membayanginya. Hatinya. Lembu Wirid memang
seorang yang sering membohonginya. Ia sering berbuat sesuatu yang
tidak sewajarnya. Tetapi bukan seharusnya Wiji Sari itu menyakiti
hatinya terlalu dalam. Bahwa ia membawa Narawangsa ke rumahnya itu
sama artinya bahwa ia telah menikam punggung Lembu Wirid. Ketika
sekelompok orang yang ditugaskan pergi ke kaki Gunung Lawu untuk
yang kedua kalinya datang, maka Nyai Wiji Sari pun segera memanggil
mereka. Bersama Kiai Narawangsa maka Nyai Wiji Sari telah menerima
kelima orang yang baru datang dari kaki Gunung Lawu itu. “Apa
yang kalian lihat dan apa yang telah kalian dengar?” bertanya Kiai
Narawangsa. Orang tertua yang memimpin kelompok itu telah memberikan
laporan tentang perjalanannya. Iapun telah melaporkan pula, bahwa ia
telah melihat keadaan serta isi padepokan itu. “Kau masuk ke
padepokan?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Ya Nyai. Meskipun kami berdua
waktu itu tidak berhasil menemui Kiai Banyu Bening.” “Kau lihat
sebuah tugu yang diatasnya terdapat batu nisan kecil?” bertanya Nyai
Wiji Sari pula. “Ya, Nyai. Tugu dan nisan kecil itu masih ada di
halaman.” Nyai Wiji Sari menarik nafas dalam-dalam. Setelah kematian
bayinya itu, Nyai Wiji Sari tidak lagi mempunyai keturunan.
“Kematian anakku itu adalah kutukan bagiku sebagai seorang
perempuan” berkata Nyai Wiji Sari didalam hatinya. Namun untuk
beberapa lama Nyai Wiji Sari dapat menyembunyikan kegelisahannya
itu. Ia telah memasuki satu dunia yang hitam dan gelap. Berkuda di
malam hari melalui jalan-jalan panjang, padang-padang rumput dan
padang perdu yang luas. Jalan-jalan sempit di pinggir hutan. Sudah
berapa kali ujang pedangnya menikam dada orang yang tidak mau
menyerahkan harta bendanya. Sudah berapa kali tajam pedangnya
menebas leher orang yang mengadakan perlawanan ketika ia merampok
bersama Kiai Narawangsa yang kemudian dianggapnya sebagai suaminya.
Tetapi bagaimanapun juga hidup tanpa keturunan adalah seperti
sebatang pohon yang tidak berbuah. Kering. Keterangan pemimpin
kelompok yang pergi ke kaki Gunung Lawu itu seakan-akan telah
mendesak Nyai Wiji sari untuk segera berangkat mengambil padepokan
itu. Rasa-rasanya anaknya itu sudah terlalu lama merengek sambil
menjulurkan kedua tangannya. “Baik, baik. Aku akan segera datang
ngger.” Nyai Wiji Sari berkata didalam hatinya. Keterangan pemimpin
kelompok pertama dan kelompok kedua yang hampir bersamaan itu, telah
mendorong Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari untuk segera berangkat.
Ketika segala persiapan sudah dianggap cukup, maka Kiai Narawangsa
telah memerintahkan sekelompok orang untuk pergi mendahului ke kaki
Gunung Lawu. Mereka harus membangunkan landasan bagi seluruh
kekuatan yang akan pergi dan kemudian mengambil padepokan di kaki
Gunung Lawu itu. Tetapi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tidak
pergi berdua saja bersama-sama dengan para pengikutnya. Kiai
Narawangsa telah mengajak adiknya serta beberapa orang saudara
seperguruannya. Dua orang anak adiknya itu, yang seakan-akan telah
diangkatnya menjadi anaknya, akan ikut pula bersama mereka. Dua
orang anak muda yang telah ditempa dengan keras sehingga keduanya
telah menjadi anak muda yang berilmu tinggi. “Gunasraba” berkata
Kiai Narawangsa kepada adiknya ”jika aku sudah mendapat daerah baru,
maka aku serahkan padepokan ini kepadamu. Karena itu, aku minta
bantuanmu untuk menemukan daerah baru itu.” “Kenapa kakang
tinggalkan padepokan yang telah mapan ini?” “Di padepokan yang
berada di kaki Gunung Lawu itu terdapat makam anak Nyai Wiji Sari.
Ia merindukannya dan ingin selalu dekat dengan anaknya itu.”
“Bagaimana dengan pemimpin padepokan itu?” bertanya Gunasraba.
“Namanya Kiai Banyu Bening. Ia adalah bekas suami Wiji Sari, yang
dahulu namanya Lembu Wirid. Kita harus merebut padepokan itu dan
sekaligus membunuhnya.” Gunasraba menganggukangguk. Katanya ”Baik
kakang, jika itu yang kau maui. Aku akan mengajak dua orang saudara
seperguruanku. Anak-anak dan beberapa orang sahabat dan
kepercayaanku. Jika kelak aku memimpin padepokan ini, maka
setidak-tidaknya mereka akan dapat menompang tidur dan makan disini
disela-sela petualangan mereka.” “Kau sendiri, sudah waktunya untuk
menghentikan petualanganmu dan menetap di sebuah padepokan. Nah,
sebentar lagi kau akan mendapat kesempatan.” Gunasraba
tertawa. Katanya ”Mudah-mudahan aku kerasan tinggal disatu tempat
untuk waktu yang lama.” “Kau harus mencobanya” berkata Kiai
Narawangsa. Gunasraba tertawa semakin keras. Katanya ”Padepokan ini
akan menjadi sarang serigala yang ganas. Padepokan ini akan menjadi
semakin menakutkan.” “Terserah saja kepadamu nanti.” sahut Kiai
Narawangsa. Di hari-hari terakhir, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji
Sari menjadi semakin sibuk mempersiapkan diri. “Kita tinggal
menunggu laporan dari orang-orang yang sedang membuat landasan
sebelum kita menyerang padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu
Bening itu” berkata Kiai Narawangsa kepada adiknya itu. Nyai Wiji
Sari hampir tidak dapat menahan diri lagi untuk menunggu laporan
dari sekelompok orang-orangnya yang telah lebih dahulu pergi ke kaki
Gunung Lawu. Ia mulai mendesak Kiai Narawangsa untuk berangkat tanpa
menunggu lebih lama lagi. “Kita akan dapat berselisih jalan dengan
orang yang akan memberikan laporan kepada kita. Selain itu, kita
memang memerlukan seseorang yang akan menuntun perjalanan kita agar
tidak diketahui lebih dahulu oleh orang-orang Banyu Bening.” Nyai
Wiji Sari masih mencoba bersabar untuk beberapa hari. Namun akhirnya
orang yang ditunggunya itupun datang juga. Dua orang diantara
beberapa orang lebih dahulu. “Kami membuat landasan dipinggir
hutan,” berkata salah seorang dari kedua orang itu. Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji . Sari mendengarkan laporan kedua orang itu
dengan saksama. Bahkan Kiai Narawangsa minta agar adiknya ikut
mendengarkannya pula, agar ia dapat memberikah
pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan. “Ternyata semuanya telah
mendukung rencana kita” berkata Kiai Narawangsa ”keadaan padepokan
Kiai Banyu Bening itu sendiri akan memberikan kesempatan kepada kita
untuk dengan cepat menguasainya.” “Tetapi mereka mengawasi keadaan
di seputar padepokan mereka dengan ketat.” berkata salah seorang
dari kedua orang itu. “Apa arti pengawasan yang ketat jika keadaan
didalam padepokan itu rapuh?” bertanya Kiai Narawangsa. “Kami tidak
melihat kekuatan yang akan dapat mencegah kita,” berkata orang itu
pula. “Pekan ini kita akan berangkat” berkata Kiai Narawangsa. Lalu
katanya kepada adiknya ”Sebagian dari barang-barang kami akan kami
tinggal. Pada kesempatan lain, kami akan mengambilnya.” Gunasraba
mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Sementara kita pergi, biarlah
dua orang kepercayaanku menunggui padepokan ini. Mereka akan dapat
mencari kawan yang akan dapat dipercaya pula.” “Baiklah” berkata
Kiai Narawangsa ”dengan demikian, maka segala persiapan sudah
selesai.” “Semuanya tinggal menunggu perintah kakang.” “Aku ingin
berbicara dengan kedua orang anakmu” berkata Kiai Narawangsa.
Dua orang anak muda yang bertubuh tegar telah menemui Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Dengan nada berat Kiai Narawangsa
itupun berkata ”Aku dan ibumu ingin mengajakmu bertamasya ke kaki
Gunung Lawu.” “Kami sudah menunggu, kapan kita akan berangkat?” “Aku
juga sudah hampir tidak tahan” berkata Nyai Wiji Sari. “Tetapi aku
ingin berpesan kepada kalian, bahwa kita akan memasuki daerah
berbahaya di kaki Gunung Lawu itu.” Kedua orang anak muda itu
tertawa. Parung Landung, yang tertua diantara mereka tertawa lebih
keras. Katanya ”Bukankah kita ditempa untuk memasuki
lingkaran-lingkaran yang paling berbahaya?” Sementara itu, adiknya,
Paron Waja berkata lantang “Kami sudah siap paman. Apakah paman
masih meragukan kami berdua?” “Tidak. Kami sama sekali tidak
meragukan kalian. Kami hanya ingin memperingatkan kalian, agar
kalian berhati-hati.” “Kami akan berhati-hati paman” sahut Parung
Landung. Dalam pada itu maka persiapan-persiapan yang dilakukan oleh
Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah sampai ke puncaknya. Mereka
tinggal menunggu saat yang terbaik untuk berangkat ke kaki Gunung
Lawu. Sementara itu, anak-anak muda yang baru memasuki lingkungan
padepokan yang dipimpin oleh Ki Lemah Teles dan Ki Warana itu telah
berlatih semakin keras. Apalagi dua orang cantrik yang sedang berada
disawah melihat dua orang yang nampak mencurigakan. Dua orang yang
agaknya sedang mengamati padepokan yang sedang mengalami perubahan
landasan dan tatanan itu. Ketika hal itu disampaikan kepada Ki
Warana, maka Ki Warana itupun berdesis ”Tidak mustahil bahwa
keduanya adalah para pengikut Kiai Narawangsa yang sedang mengamati
padepokan kita.” “Kami juga menyangka demikian, Ki Warana.”
“Baiklah. Kita memang harus mempersiapkan diri sebaikbaiknya.
Meskipun kita tinggal menunggu, tetapi justru karena itu, kita akan
selalu berada dalam ketegangan.” “Kami akan berusaha untuk mengamati
orang-orang yang mencurigakan itu Ki Warana.” “Baiklah. Tetapi
berhati-hatilah. Seandainya kita menemukan isyarat bahwa mereka
memang para pengikut Kiai Nara: wangsa, kita tidak harus dengan
serta-merta bertindak. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Segala
sesuatunya harus diperhitungkan dengan cermat sehingga kita tidak
justru terjebak.” “Ya, Ki Warana” jawab kedua cantrik itu. “Baiklah.
Aku akan memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan kawan-kawannya
itu.” Ki Lemah Teles yang mendapat laporan itupun kemudian telah
membicarakannya dengan Ki Ajar Pangukan, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana
dan Ki Pandi. “Kita harus mengetahui siapakah mereka itu,” berkata
Ki Pandi. “Jika benar mereka adalah pengikut Kiai Nalawangsa, maka
mereka tentu mempunyai tempat persembunyian di sekitar padepokan
ini.” “Aku akan mencarinya,” berkata Kiai Jagaprana. “Aku
ikut” sahut Ki Sambi Pitu ”biariah aku mendapat peranan disini.
Tanpa peranan yang berarti, maka aku akan menjadi matahari yang
redup sebelum senja.” Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya ”Aku sudah
mendapat peranan. Justru peranan terbesar di padepokan ini.” Namun
dalam pertemuan itu telah disepakati, bahwa Ki Jagaprana dan Ki
Sambi Pitu akan mengamati orang-orang yang mencurigakan itu. “Jangan
Ki Pandi” berkata Ki Ajar Pangukan ”ketika dua orang utusan Kiai
Narawangsa menemui Kiai Banyu Bening Ki Pandi duduk bersamaku.” Ki
Pandi tertawa pendek. Katanya ”Orang-orang seperti aku ini tentu
akan dapat dengan mudah dikenali orang.” “Kau sendiri yang
mengatakannya Ki Bongkok”sahut Ki Ajar Pangukan. Sementara itu, Ki
Jagaprana pun bertkata ”Nanti malam, aku akan mulai.” Tetapi
keduanya tidak dapat dengan serta-merta melakukannya. Mereka harus
berbicara dahulu dengan dua orang cantrik yang pernah melihat kedua
orang yang mencurigakan itu ketika keduanya berada di sawah.
Darimana mereka datang dan kemana mereka pergi. Dengan bahan itu,
maka keduanya akan dapat memperkirakan arah yang akan mereka datangi
malam nanti. Tugas-yang berbahaya itu memang tidak dapat diserahkan
kepada para cantrik. Untuk mencapai hasil yang sebaikbaiknya maka
tugas itu memang harus dilakukan oleh orang yang berilmu tinggi.
Apalagi jika Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah berada
diantara mereka. Maka untuk dapat mendekat, diperlukan kemampuan
yang tinggi. Untuk mendapat hasil yang sebaik-baiknya, maka Ki Sambi
Pitu dan Jagaprana tidak dengan tergesa-gesa mencari tempat
persembunyian orang-orang itu. Tetapi dihari berikutnya, mereka
telah ikut pergi ke sawah. Dengan memanggul cangkul serta memakai
caping bambu mereka bersama dua orang cantrik telah pergi ke sawah.
Dibawah panasnya matahari yang memanjat semakin tinggi, mereka
berendam di air berlumpur sambil mengayunkan cangkul mereka.
Sebenarnya, mereka melihat dua orang yang mencurigakan lewat meniti
pematang. Mereka memang hanya berjalan melintas. Tetapi keduanya
mengamati padepokan itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ki Sambi
Pitu dan Ki Jagaprana memperhatikan arah kemana mereka pergi. Tidak
terlalu jauh dari padepokan mereka berjalan melingkar. Juga masih
meniti pematang. Mereka berjalan menjauh, kemudian memutar kembali
kearah hutan kaki pegunungan. “Kita akan melihat malam nanti, apa
yang ada dihutan itu,” desis Ki Jagaprana. “Kita sudah dapat
menduga, dimana mereka bersembunyi” berkata Ki Sambi Pitu. “Ya. Asap
itu.” “Ternyata mereka memang dungu.” “Atau kita yang dungu, jika
kita begitu saja percaya, bahwa mereka memang berada disekitar
perapian itu.” Keduanya mengangguk-angguk. Ki Sambi Pitu lah
yang kemudian berkata ”Baiklah. Biarlah malam nanti kita akan
membuktikannya.” Seperti yang direncanakan oleh kedua orang itu,
maka ketika senja turun, keduanya pun telah bersiap. Demikian gelap
menyelimuti padepokan itu, maka mereka berdua telah keluar lewat
regol butulan untuk melihat-lihat hutan lebat di kaki Gunung Lawu
itu. Dengan hau-hati keduanya kemudian menyusuri pinggir hutan. Yang
menjadi sasaran utama adalah arah asap yang mereka lihat mengepul
itu. Ternyata orang-orang itu memang kurang berhati-hati. Malam itu
mereka juga membuat perapian untuk melawan dingin meskipun tidak
begitu besar. Mereka memang sudah berusaha untuk melindungi nyala
api perapian itu dengan bebatuan. Namun warna merah yang menapak
pada batangbatang pepohonan masih juga dapat dilihat oleh Ki Sambi
Pitu dan Ki Jagaprana. “Ternyata tidak terlalu sulit” desis Ki
Jagaprana. Ki Sambi Pitu tidak menjawab. Namun mereka telah merayap
semakin mendekati orang-orang yang berada di sekitar perapian. Namun
yang dilihat oleh kedua orang itu bukan sekedar perapian. Ternyata
mereka melihat berbagai macam bahan dan peralatan yang teronggok
tidak terlalu jauh dari tempat mereka membuat perapian. Ki Sambi
Pitu memberi isyarat kepada Ki Jagaprana untuk melihat benda-benda
yang teronggok diantara pepohonan hutan itu. Keduanya
mengangguk-angguk meskipun mereka tidak saling berbicara. Mereka
melihat potongan-potongan dan anyaman bambu. Tali ijuk dan seonggok
batang ilalang. Didalam hati mereka berkata ”Orang-orang ini tentu
akan membuat gubug yang cukup besar.” Apalagi, mereka juga melihat
sebidang tanah yang sudah dibersihkan, siap untuk membangun sebuah
gubug. Beberapa saat kedua orang itu mengamati lingkungan itu. Baru
kemudian, Ki Sambi Pitu telah memberikan isyarat, agar mereka
meninggalkan tempat itu. Demikian keduanya menjauhi tempat itu, maka
Ki Sambi Pitu pun berkata ”Nampaknya mereka akan membuat sebuan
pesanggrahan.” “Ya” Ki Jagaprana mengangguk-angguk. “Tentu bagi Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Sedangkan yang lain akan dapat berada
disembarang tempat.” Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Katanya
”Menilik tempat yang dipersiapkan, tentu banyak orang yang akan
datang.” “Tentu akan meriah” desis Ki Sambi Pitu. “Mudah-mudahan
kerajaan Ki Lemah Teles tidak segera berakhir.” Demikian mereka
sampai di padepokan, maka keduanya pun segera menceriterakan kepada
orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang memang menunggu kedatangan
Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana. “Menarik sekali” desis Ki Ajar
Pangukan ”karena itu, maka kita harus benar-benar bersiap untuk
menyambut kehadiran mereka. Kita tidak tahu pasti, berapa besar
kekuatan mereka, sehingga karena itu, maka yang dapat kita
lakukan adalah menyiapkan kekuatan penuh untuk menyambut mereka.”
“Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu sudah bersiapsiap pula.
Besok mereka tentu sudah akan mendirikan gubug itu. Sehingga dalam
dua tiga hari lagi, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu sudah
akan datang.” “Baiklah” berkata Ki Lemah Teles ”kita akan bersiap
untuk menyongsong kehadiran tamu-tamu Kiai Bayu Bening itu. Karena
itu, sebaiknya penyambutan itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening
sendiri.” Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya ”Sekarang sudah ada
pimpinan baru di padepokan ini. Karena itu, biarlah pemimpin baru
itu bekerja. Kita justru akan menguji, apakah pemimpin yang baru ini
menjadi lebih baik atau tidak.” “Baiklah” berkata Ki Lemah Teles
”jika ternyata pimpinan yang baru ini lebih buruk, biarlah ia
dicampakkan keluar dari padepokan ini.” “Jangan merajuk” desis Ki
Pandi ”jika kurang baik, justru harus diperbaiki.” “Kenapa bukan kau
saja yang menjadi pemimpin disini, bongkok buruk.” Ki Pandi pun
tertawa pula. Demikian pula Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana. Tetapi
mereka tidak menyahut lagi. Demikianlah yang dilakukan oleh para
cantrik dan anakanak muda yang baru memasuki padepokan itu
sehari-hari adalah menempa diri dalam olah kanuragan. Anak-anak muda
yang berlatih bersama Manggada dan Laksana itupun serba sedikit
telah memiliki pengetahuan, bagaimana mereka harus bermain
dengan senjata, meskipun senjata utama mereka adalah tombak pendek
dan pedang. Namun dengan tombak pendek dan pedang, mereka telah
berlatih mempergunakannya untuk melawan jenis-jenis senjata-senjata
yang lain. Mereka telah belajar, bagaimana mereka mempergunakan
senjata mereka untuk melawan yang kadang-kadang aneh. Dalam pada itu
dimalam berikutnya, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana telah kembali
melihat-lihat orang-orang yang berada di hutan itu. Seperti yang
diduga oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana, maka orang-orang itu
sudah mendirikan sebuah gubug. Tidak terlalu dekat dengan bibir
hutan. Tetapi sedikit ke tengah sehingga terlindung oleh pepohonan
dan pohon-pohon perdu. Bahkan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana sempat
mendengar orang-orang yang memanasi tubuh mereka dengan perapian itu
berbincang dengan dua orang yang agaknya baru datang dari padepokan
Kiai Narawangsa. Dari mulut mereka, Ki Sambi Pitu dan Jagaprana
mendengar, bahwa Kiai Narawangsa akan segera datang. “Jika mereka
sudah ada di gubug itu, maka tugas kita menjadi bertambah berat,
karena Kiai Narawangsa dan Nyi Wiji Sari tentu memiliki ketajaman
pendengaran dan penglihatan. “Penglihatan kita sudah cukup. Kita
tinggal menghitung, berapa besar jumlah mereka, sehingga akan dapat
kita pergunakan sebagai perbandingan.” Ki Sambi Pitu
mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata ”Kita akan berusaha
melihat sebuah iring-iringan yang memasuki hutan itu. Bukankah itu
lebih mudah daripada kita datang ketempat ini pada saat Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah berada disini?” “Siang malam
kita mengamati tempat ini ?” “Di siang hari kita dapat berada dan
bekerja di sawah. Tetapi di malam hari kita memang harus menyediakan
waktu yang khusus.” jawab Ki Sambi Pitu. Ki Jayaraga
mengangguk-augguk. Katanya ”Kita dapat melakukannya bergantian.” “Di
siang hari biarlah para cantrik yang bekerja di sawah melakukannya.
Tetapi Ki Warana harus memilih cantrik yang terbaik.” Ketika hal itu
disampaikan kepada Ki Warana dan Ki Lemah Teles, maka mereka pun,
menyepakatinya. Sejak hari itu, maka tidak semua cantrik dibenarkan
pergi ke sawah didekat hutan yang menjadi landasan kekuatan Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. “Jika aku yang melakukannya” berkata
Ki Lemah Teles ”aku akan memilih tempat yang agak jauh. Bibir hutan
itu terlalu dekat dengan sasaran mereka.” “Yang melakukan bukan Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sendiri. Tetapi para cantriknya yang
tentu mempunyai wawasan yang lebih sempit dari keduanya.” sahut Ki
Jagaprana. Dengan demikian, maka ketegangan menjadi semakin
meningkat di padepokan Ki Lemah Teles itu. Setiap orang benar-benar
harus bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun.
Pada hari-hari terakhir, anak-anak muda yang baru memasuki padepokan
itu telah berlatih mempergunakan busur dan anak panah. Mereka
harus mempergunakan ketika orangorang yang menyerang padepokan itu
mulai mendekat. Jika disiang hari para cantrik yang bekerja di sawah
dipilih cantrik yang terbaik, karena mereka bertugas mengamati
landasan bagi orang-orang Kiai Narawangsa, maka dimalam hari,
pengawasan itu dilakukan berganti-ganti oleh orangorang tua yang
berilmu tinggi di padepokan itu. Akhirnya, yang mereka tunggu-tunggu
itupun datang. Justru dimalam hari ketika Ki Sambi Pitu dan Ki
Jagaprana bertugas melakukan pengawasan. “Kita pula yang mendapat
kesempatan melihatnya pertama kali kehadiran orang-orang itu. Dengan
tegang, dari balik gerumbul-gerumbul perdu, kedua orang itu melihat
sebuah iring-iringan yang datang menuju ke hutan yang sudah
dipersiapkan oleh beberapa orang yang mendahuluinya. Iring-iringan
yang panjang itu berjalan menyusuri jalan setapak dalam gelapnya
malam. “Nampaknya mereka hanya bergerak di malam hari” berkata Ki
Sambi Pitu. “Ya. Tetapi aku yakin, mereka membagi orang-orangnya
menjadi beberapa kelompok.” “Ya. Tentu tidak hanya sejumlah itu.
Jika hanya sejumlah itu, maka mereka akan dapat dengan mudah kita
hancurkan. Tidak usah menunggu mereka menyerang.” sahut Ki Sambi
Pitu. Namun tiba-tiba iapun berbisik ”Bagaimana jika mereka kita
hancurkan esok pagi. Selanjutnya kita menunggu iringiringan
berikutnya dan berikutnya?” “Begitu mudahnya?” sahut Ki
Jagaprana ”seandainya hal itu kita lakukan, pada serangan terhadap
kelompok pertama, belum tentu jika kita menemui Kiai Narawangsa dan
Nyai Wiji Sari ada didalamnya. Sementara itu jika ada seorang saja
yang lolos, maka iring-iringan berikutnya tidak akan pernah datang
lagi. Tetapi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu akan menjadi
seperti api didalam sekam di waktu-waktu mendatang. Justru pada saat
kita sudah tidak berada di padepokar itu, mereka datang dengan
membawa orang yang lebih banyak.” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk.
Dalam iring-iringan yang mereka lihat didalam gelapnya malam dari
tempat yang tidak terlalu dekat itu, keduanya memang tidak dapat
melihat, apakah didalam iring-iringan itu terdapat seorang
perempuan. Menurut dugaan kedua orang itu, maka Nyai Wiji Sari tentu
mengenakan pakaian yang sama dengan laki-laki yang ada didalam
pasukannya. Kedua orang itupun kemudian telah menunggui jalan yang
dilalui iring-iringan itu sampai pagi. Tetapi malam itu tidak ada
lagi iring-iringan yang memasuki hutan itu.” “Biarlah malam nanti
orang lain yang mengawasinya” berkata Ki Sambi Pitu. “Mungkin
sebagian dari mereka akan datang siang hari.” “Mungkin” Ki Sambi
Pitu mengangguk-angguk ”tetapi agaknya menurut perhitungan mereka,
perjalanan siang hari untuk sebuah iring-iringan yang besar akan
sangat menarik perhatian.” Kedua orang itu tidak menunggu matahari
-terbit agar mereka justru tidak terjebak oleh para pengamat yang
tentu juga dipasang oleh orang-orang Narawangsa itu. Selagi
langit masih gelap, mereka sudah bergerak meninggalkan
persembunyiannya kembali ke padepokan. Setelah berbenah diri, maka
Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana segera minta Ki Warana dan
orang-orang yang berilmu tinggi di padepokan itu berkumpul. Pada
umumnya mereka juga bangun pagi-pagi sekali. Dengan singkat Ki Sambi
Pitu dan Ki Jagaprana telah melaporkan apa yang dapat mereka lihat
malam itu. “Nanti malam harus ada orang lain yang mengawasi jalan
itu, sehingga kita mempunyai gambaran yang lebih lengkap tentang
mereka.” Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Kepada Ki Warana ia
berkata ”Jika demikian, jangan ijinkan para cantrik pergi ke sawah.
Sangat berbahaya bagi mereka. Orang-orang itu tentu akan mencari
keterangan tentang padepokan ini. Jika mereka tahu bahwa sawah tidak
jauh dari hutan itu adalah sawah padepokan ini, maka. mereka segera
mengetahuinya, bahwa orang yang berada disawah itu adalah cantrik
dari padepokan ini.” Ki Warana mengangguk. Tetapi iapun
kemudian bertanya “Apakah kita tidak perlu mengawasinya di siang
hari? Aku kira mereka tidak akan tergesa-gesa membuka benturan
kekerasan dengan padepokan ini. Bukankah mereka memerlukan waktu
untuk bersiap-siap menghadapi benturan yang lebih besar.” “Mungkin
demikian, Ki Warana. Tetapi mungkin juga tidak. Mungkin mereka
sengaja menangkap cantrik itu sebagai tantangan yang terbuka.
Bukankah mereka sudah dengan berterus terang menantang kita semuanya
dengan mengirimkan utusan sampai dua kali berturut-turut. Aku kira
mereka masih akan mengirimkan utusan lagi untuk meyakinkan, bahwa
kita benar-benar menolak permintaan mereka.” Ki Warana
mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Aku akan memerintahkan agar
para cantrik tidak pergi ke sawah, terutama yang terdekat dengan
sisi hutan yang dipergunakan sebagai landasan oleh Kiai Narawangsa
itu.” Namun dalam pada itu, Ki Lemah Teles itupun berkata ”Tetapi
biarlah aku sendiri yang akan pergi ke sawah itu.” “Sendiri?”
bertanya Ki Warana. “Ya, kenapa?” “Aku akan pergi bersama Ki Lemah
Teles. Mungkin aku tidak berarti apa-apa dalam olah kanuragan.
Tetapi aku kira aku dapat berlari lebih cepat dari orang lain.”
Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu tersenyum. Ki Ajar Pangukan
itupun berkata, ”Bukankah aku juga dapat pergi ke sawah itu?”
“Jangan kau dan jangan si bongkok buruk. Kalian berdua sudah
dikenali oleh utusan Kiai Narawangsa. Sementara itu, Ki Warana
juga sudah dikenali pula. Karena itu, biarlah aku pergi sendiri.
Yakinlah, tidak akan ada persoalan apa-apa.” Tetapi Ki Sambi Pitu
dan Ki Jagaprana tidak mau membiarkan Ki Lemah Teles pergi sendiri.
Karena itu, maka Ki Sambi Pitu itupun berkata ”Baiklah. Biarlah aku
dan Ki Jagaprana yang ikut pergi ke sawah. Tetapi janji, tidak lebih
sampai tengah hari. Semalam kami berdua semalam suntuk tidak
memejamkan mata.” “Bukankah sudah terbiasa bagi kalian berdua,”
desis Ki Lemah Teles. Ki Sambi Pitu tersenyum. Namun katanya,
”tetapi aku akan menolak jika di tengah sawah nanti aku ditantang
berperang tanding.” “Persetan kau” geram Ki Lemah Teles ”aku tidak
akan menantangmu. Tetapi aku ingin langsung menebas lehermu dengan
cangkul.” Yang mendengarnya justru tertawa. “Baiklah” berkata Ki
Lemah Teles ”biarlah aku berbenah diri. Disaat matahari naik, aku
akan pergi ke sawah bersama Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana.” Tetapi
selama ketiga orang itu bekerja di sawah, mereka tidak melihat
iring-iringan yang datang dan menuju ke arah sisi hutan yang sudah
dipersiapkan itu. Malam berikutnya, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan
lah yang mendapat giliran untuk mengamati sisi hutan itu. Seperti
malam sebelumnya, maka keduanya memang melihat sebuah iring-iringan
yang berjalan menuju ke landasan bagi orang pengikut Kiai Narawangsa
dan Nyai Wiji Sari itu. Bahkan pada malam ketiga, masih juga
datang iring-iringan berikutnya. “Mereka membawa beberapa ekor kuda
tunggangan dan beberapa ekor kuda beban. Agaknya banyak barang dan
barangkali persediaan makanan yang mereka bawa.” “Ya. Segala
sesuatunya yang akan terjadi sebaiknya segera terjadi. Semakin cepat
semakin baik” berkata Ki Ajar Pangukan ”kehadiran orang sebanyak itu
akan dapat mempengaruhi tatanan kehidupan di padukuhan-padukuhan
disekitar tempat ini. Jika persediaan makan mereka habis, maka
mereka tentu akan lari ke padukuhan. Kecuali keadaan padukuhan itu
akan menjadi resah dan bahkan lebih dari itu, maka mereka akan
mendengar bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada lagi.” Ketika hal
itu kemudian dibicarakan di padepokan, maka Laksana yang ikut
mendengarkannya menjadi gelisah. “Kenapa kau. Laksana?” bertanya
Manggada. “Kehadiran sekian banyak laki-laki di daerah ini akan
sangat berbahaya bagi gadis-gadis. Mereka tidak boleh lagi mandi dan
mencuci di tepian.” “Terutama Delima” desis Manggada. “Bukan hanya
Delima” sahut Laksana ”juga kawankawannya. Mereka harus tahu itu.”
Manggada memang berniat untuk mengganggu Laksana. Tetapi ia melihat
kebenaran pendapat Laksana. Apalagi peristiwa yang tidak diinginkan
itu hampir saja terjadi justru atas Delima. Karena itu, ketika
Laksana mengajak Manggada menemui Delima, Manggada tidak
berkeberatan. “Tetapi berhati-hatilah” pesan Ki Pandi ketika
Manggada dan Laksana itu minta diri ”ketahui sajalah, bahwa sisi
hutan itu sekarang menjadi landasan para pengikut Kiai Narawangsa
dan Nyai Wiji Sari.” “Arah yang akan kami tempuh justru berlawanan,
Ki Pandi.” “Ya, aku tahu. Tetapi bukan berarti bahwa kalian tidak
mungkin akan bertemu dengan pengikut Kiai Narawangsa yang
berkeliaran disekitar padepokan ini.” “Ya, Ki Pandi.” Sementara itu
Ki Lemah Teles pun berpesan ”Jangan terlalu lama. Kita masih belum
tahu cara apakah yang akan mereka pergunakan. Mungkin mereka justru
akan membangun perkemahan di sekitar padepokan ini antuk menutup
hubungan padepokan ini dengan dunia disekitarnya. Cara ini banyak
dilakukan untuk memaksa orang yang mereka kepung itu kehabisan
persediaan pangan, sehingga mereka akan menyerah.” “Baik Ki Lemah
Teles” jawab Manggada dan Laksana hampir bersamaan. Dengan
hati-hati, maka Manggada dan Laksana itupun telah pergi menemui
Delima. Kedatangan Manggada dan Laksana memang mengejutkan. Namun
kedua orang anak muda itu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang
gelisah. “TidaK ada apa-apa. Paman Krawangan,” berkata Manggada,
“kami hanya ingin sekedar singgah.” “Kalian bawa pesan dari Warana?”
“Tidak secara khusus, Ki Krawangan. Tetapi kami ingin memberitahukan
persoalan yang harus mendapat perhatian dari Delima dan
kawan-kawannya.” “Delima?” bertanya Ki Krawangan. “Ya, paman.
Kami membawa pesan bagi Delima.” sahut Laksana. Manggada menarik
nafas panjang. Ia sudah akan membuka mulutnya untuk mengucapkan
peringatan bagi Delima dan kawan-kawannya itu lewat Ki Krawangan.
Tetapi agaknya Laksana ingin menyampaikannya langsung kepada Delima.
Tetapi Ki Krawangan itu memang bangkit berdiri untuk memanggil
Delima. Ternyata Delima pun kemudian dengan wajah yang terang
bersama ayahnya, ikut menemui Manggada dan Laksana, meskipun wajah
itu harus terap menunduk. Laksana lah yang kemudian menceriterakan
kepada Ki Krawangan dan Delima bahwa telah datang ke lingkungan itu,
sebuah gerombolan yang mungkin akan dapat membahayakan Delima dan
kawan-kawannya. “Untuk sementara kalian tidak usah pergi ke tepian
untuk mandi dan mencuci,” berkata Laksana selanjutnya. Delima
mengangguk-angguk. Demikian pula Ki Krawangan. “Terima kasih” desis
Ki Krawangan kemudian ”apakah agaknya masih akan terjadi benturan
kekerasan?” “Mungkin, paman” jawab Manggada. Namun kemudian anak
muda itupun berkata ”Tetapi aku mohon paman dan Delima tidak
mengabarkan kepada siapapun, bahwa kami sudah mengetahui kedatangan
gerombolan itu. Ki Warana sampai sekarang masih mengambil jarak dari
gerombolan itu. Ki Warana masih berusaha untuk mengetahui lebih jauh
tentang keadaan gerombolan itu.” Ki Krawangan
mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Aku akan memperhatikan pesan
itu. Mudah-mudahan Warana dapat menempatkan dirinya dalam satu
tatanan baru yang terjadi di padepokan itu.” Manggada lah yang
kemudian menyampaikan kepada Ki Krawangan, bahwa sampai saat
terakhir, Ki Warana masih menyatakan kepada orang-orang dari
gerombolan itu bahwa Kiai Banyu Bening masih hidup. “Apakah Warana
sudah berhubungan dengan mereka?” bertanya Ki Krawangan. “Mereka
telah mengirimkan utusan ke padepokan. Mereka adalah orang-orang
yang mendendam Kiai Banyu Bening.” “Aku tidak mengerti maksud
Warana. Seandainya ia mengatakan bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak
ada lagi, bukankah tidak akan terjadi permusuhan lagi.” “Tetapi
mereka tidak hanya mendendam kepada Kiai Banyu Bening. Tetapi mereka
ingin mengambil padepokan itu.” Ki Krawangan mengangguk-angguk.
Sementara itu Manggada pun berkata ”Tetapi sekali lagi kami
berpesan, Biarlah persoalan itu menjadi persoalan Ki Warana dengan
orang-orang gerombolan itu.” Ki Krawangan masih mengangguk-angguk.
Sementara Manggada merasa bahwa ia tidak akan dapat menceriterakan
semuanya kepada Ki Krawangan dalam waktu yang singkat. Ketika
Manggada menggamit Laksana untuk minta diri, ternyata Laksana tidak
menanggapinya. Ia masih saja berbicara tentang kemungkinan buruk
yang dapat terjadi, jika Delima dan kawan-kawannya turun ke
tepian. Namun dalam pada itu, Ki Krawangan pun berkata kepada
Delima ”Delima. Kau dapat membuat minuman untuk tamutamumu.” “Tidak
usah, paman. Tidak usah” sahut Laksana dengan serta merta ”masih ada
beberapa pesan lagi buat Delima.” Ki Krawungun tersenyum. Katanya
”Biarlah nanti setelah menghidangkan minuman, Delima mendengarkan
pesan-pesan itu lagi.” Ternyata Manggada dan Laksana berada di rumah
Ki Krawangan untuk waktu yang agak lama. Mereka menunggu minuman
menjadi dingin. Kemudian menghirupnya dengan gula kelapa, dan bahkan
kemudian telah dihidangkan pula beberapa potong makanan. Namun
Manggada lah yang menjadi gelisah. Ketika ia mendapat kesempatan,
iapun berbisik, “Kita harus segera kembali. Kita akan masuk kedalam
sanggar bersama anakanak muda itu.” Tetapi Laksana berdesis
”Sekali-sekali kita dapat melepaskan ketegangan-ketegangan yang
setiap hari memburu kita. Sebelum kita benar-benar harus bertempur,
sebaiknya kita beristirahat barang satu hari.” Manggada hanya dapat
menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memaksa Laksana untuk
segera kembali ke padepokan. Baru setelah beberapa kali Manggada
memperingatkan, maka akhirnya Laksana pun bersedia pula meninggalkan
rumah Delima itu. Di perjalanan kembali, Manggada masih saja
bersungutsungut. Mereka telah kehilangan waktu beberapa lama.
Seharusnya mereka sudah berada diantara anak-anak muda yang sedang
dengan bersungguh-sungguh menempa diri itu. Tetapi Laksana hanya
tersenyum-senyum saja menanggapi sikap kakak sepupunya itu. Keduanya
sempat menjadi berdebar-debar ketika mereka di tengah-tengah bulak
bertemu dengan dua orang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Menilik sikap dan cara mereka mengenakan pakaiannya, maka keduanya
tentu bukan orang yang tinggal disisi Barat kaki Gunung Lawu itu.
Tetapi Manggada dan Laksana tidak ingin membuat persoalan. Karena
itu, maka ketika mereka berpapasan dengan kedua orang itu, keduanya
lebih baik menepi. Kedua orang yang berpapasan dengan Manggada dan
Laksana itu juga masih muda sebagaimana Manggada dan Laksana.
Nampaknya keduanya merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang
pantas dihormati. Ketika mereka berpapasan dengan Manggada dan
Laksana, keduanya sama sekali tidak mau bergeser menepi sedikitpun,
sehingga Manggada dan Laksana lah yang harus minggir sehingga
keduanya melipir tanggul parit yang membujur sepanjang jalan itu.
“Gila” geram Laksana ”jika saja padepokan itu tidak sedang dalam
ketegangan.” “Lalu, mau kau apakan mereka?” bertanya Manggada. “Aku
akan memilin leher mereka.” Manggada tertawa. Katanya ”Sudahlah.
Saat ini kita memang harus memusatkan perhatian kita kepada
gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
itu.” “Keduanya tentu para pengikut Kiai Narawangsa itu pula.”
“Aku juga menduga demikian” sahut Manggada. “Bagaimana jika kita
tantang saja mereka, mumpung tidak nampak ada orang disawah.” “Kiai
Lemah Teles dan Ki Warana belum membunyikan pertanda perang. Kita
harus bersabar.” “Apapun yang terjadi jika kita menantang kedua
orang itu, tidak akan mempengaruhi persoalan yang tumbuh antara para
pengikut Kiai Narawangsa dengan orang-orang padepokan.” “Biarlah
segalanya tertimbun pada benturan yang tentu akan terjadi pada satu
hari. Mungkin besok, lusa atau mungkin sepekan lagi. Tetapi tentu
tidak akan terlalu lama.” Tiba-tiba saja Laksana itu berhenti.
Ketika ia berpaling, punggung kedua orang anak muda itu masih
nampak. “Apakah mereka akan pergi ke rumah Delima?” “Kau jangan
menjadi gila seperti itu” desis Manggada. Lalu katanya ”Bahkan aku
ingin memperingatkanmu, agar kau tidak terlalu dekat dengan Delima.”
“Kenapa?” bertanya Manggada. “Mungkin tidak apa-apa bagimu sendiri.
Tetapi sudah berapa kali terjadi kau memuji kecantikan seorang
gadis. Nah, bukankah akhirnya kau terus pergi meninggalkan mereka
itu?” Laksana mengerutkan dahinya. “Jika pada suatu saat tumbuh
perasaan yang mendalam di hati seorang gadis, sedangkan pada satu
saat kita harus melanjutkan perjalanan pengembaraan ini sebelum kita
benarbenar pulang, kau dapat mengira-irakan, apa yang akan terjadi
dengan gadis itu selanjutnya.” Laksana tidak menjawab. Tetapi
kata-kata Manggada itu menyentuh hatinya pula. Sementara itu,
Manggada pun berkata pula ”Kecuali jika kau sudah jemu mengembara
dan ingin menetap disatu tempat.” Laksana menarik nafas dalam-dalam.
Memang tidak terbersit dihatinya, bahwa ia ingin segera menghentikan
pengembaraannya. Namun Manggada tidak ingin memperpanjang persoalan
itu. Ia menyerahkan segala sesuatunya kepada Laksana, karena ia
tahu, bahwa Laksana pun sudah menjadi dewasa. Laksana
mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab. Demikianlah,
mereka berdua pun kemudian berjalan semakin cepat menuju ke
padepokan. Ketika keduanya kemudian memasuki regol padepokan, Ki
Pandi yang duduk di pendapa bangunan utama padepokan itu menarik
nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bangkit berdiri menyongsong kedua
orang anak muda itu. “Aku sudah berdebar-debar. Rasa-rasanya kalian
pergi terlalu lama. Kami disini terpengaruh oleh ketegangan suasana
dengan kedatangan para pengikut Kiai Narawangsa itu. Dan bahkan
mungkin Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sendiri juga sudah ada
ditempat itu.” “Maaf, Ki Pandi” Laksana lah yang menjawab ”Ki
Krawangan telah menghidangkan makanan dan minuman, sehingga kami
tidak dapat meninggalkannya begitu saja.” “Sudahlah. Tidak apa-apa.
Hanya kecemasan seorang tua.” Kedua orang anak muda itupun
kemudian langsung pergi menemui kelompok-kelompok yang berlatih di
bawah bimbingan mereka. Tetapi keduanya tertegun, karena anakanak
muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu sedang
berlatih bersama orang-orang tua yang berilmu tinggi di padepokan
itu. Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana, Ki Lemah Teles dan Ki Ajar
Pangukan sedang sibuk mcnjajagi kemampuan anak-anak muda yang untuk
waktu yang sangat singkat mencoba untuk menyadap ilmu kanuragan dari
Manggada dan Laksana. Ternyata orang-orang tua itu merasa puas
dengan kemajuan yang telah mereka capai. Dengan tombak dan pedang
dengan perisai atau tidak dengan perisai, anak-anak muda itu sudah
mampu mempertanankan diri melawan berbagai macam senjata. Untuk
beberapa lama penjajagan itu berlangsung. Manggada dan Laksana serta
Ki Pandi berdiri saja mengamatinya. “Sama sekali tidak mengecewakan”
desis Ki Pandi ”jika jiwa kalian tidak dibakar oleh kemudaan kalian,
mungkin anak-anak itu masih belum mampu mencapai tataran sebagaimana
sekarang ini. Mereka telah bekerja dengan sangat keras untuk dapat
menyesuaikan diri dengan keinginan kalian.” Manggada dan Laksana
tidak menjawab. “Manggada dan Laksana” berkata Ki Pandi
kemudian ”justru menjelang hari-hari yang gawat, yang tentu akan
memaksa kita semua bekerja sangat-sangat keras, maka kalian harus
mengurangi beban anakanak itu. Biarlah mereka sempat beristirahat."
Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata
selanjutnya ”Dari hari ke hari mereka nampak menjadi semakin kurus.
Meskipun mereka tidak mengeluh, tetapi biarlah tubuh mereka menjadi
semakin segar menjelang hari-hari yang mendebarkan itu.” “Baiklah,
Ki Pandi” desis Manggada kemudian. “Yang harus kalian pertahankan,
adalah latihanlatihan ketahanan tubuh setiap mereka bangun pagi.
Kemudian latihan-latihan olah senjata, setidak-tidaknya untuk
mempertahankan tataran yang telah mereka capai. Kalian harus
memberikan waktu beristirahat lebih banyak. Memberi kesempatan
mereka untuk berbuat sesuatu sebagaimana anak-anak muda yang lain.
Tidak semuanya dapat kalian ukur sebagaimana kalian sendiri.” “Baik,
Ki Pandi.” jawab Manggada dan Laksana. Dalam pada itu, maka
orang-orang tua yang berilmu tinggi di padepokan itu
menganggap bahwa tingkat kemampuan anak-anak muda yang belum lama
berada di padepokan itu sudah cukup memadai diukur dari waktu yang
mereka pergunakan untuk belajar dan berlatih. Apalagi yang memimpin
mereka juga anak muda yang umurnya tidak terpaut banyak dengan
mereka. Beberapa saat kemudian; maka latihan latihan itupun
berakhir. Semuanya menganggap bahwa latihan yang telah mereka
lakukan sangat baik. Kemampuan mereka sudah memadai, apalagi dilihat
dari sisi waktu. Namun semuanya telah memberikan saran yang sama,
bahwa anak-anak muda itu harus mendapat kesempatan untuk
beristirahat lebih banyak tanpa mengabaikan latihan-latihan yang
harus mereka lakukan untuk mengasah tajamnya kemampuan yang telah
mereka miliki. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Orang-orang
tua itu tentu memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari Manggada
dan Laksana. Ketika kemudian Manggada dan Laksana berada diantara
anak-anak muda itu, maka Manggada dan Laksana pun telah mengatakan
kepada mereka, untuk mendapatkan tenaga yang sebesar-besarnya
menjelang saat-saat yang paling gawat, maka kesempatan untuk
beristirahat pun akan diberikan lebih banyak. Namun keduanya masih
menambahkan, bahwa hal itu bukan berarti bahwa latihan-latihan yang
berat dan kerja yang keras sudah berakhir. “Sementara itu di hutan
tua, Kiai Natawangsa dan Nyai Wiji Sari telah bersiap menerkam
kita.” berkata Manggada kepada anak-anak muda itu.
Sebenarnyalah saat itu Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah
berada diantara para pengikutnya di hutan yang sebelumnya memang
telah dipersiapkan. Ternyata keduanya tidak mempunyai pendirian
sebagaimana orang yang berilmu tinggi di padepokan, Kiai Natawangsa
dan Nyai Wiji Sari tidak menganggap landasan yang dibangun itu
terlalu dekat dengan padepokan yang akan menjadi sasaran mereka.
Bahkan Kiai Narawangsa berkata ”Kalian memang memiliki ketajaman
penalaran. Tempat ini adalah tempat yang sangat baik untuk meloncat
ke padepokan itu. Tidak terlalu jauh dan cukup terlindung dari
penglihatan orang-orang padepokan.” “Bukankah kita tidak berniat
untuk berlindung” berkata Nyai Wiji Sari ”kita justru akan datang ke
padepokan itu dan menuntut agar padepokan itu diserahkan kepada
kita.” “Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa Nyai” jawab Kiai
Narawangsa ”segala sesuatunya harus diperhitungkan sebaikbaiknya,
agar kita dapat mencapai hasil sebagaimana kita kehendaki.” “Apalagi
yang harus diperhitungkan?” Nyai Wiji Sari memang tidak sabar lagi
”kita datangi padepokan itu. Kita hancurkan pintu-pintunya. Kemudian
kita menyerbu masuk.” “Bagaimana dengan rencana kita untuk datang
menemui Banyu Bening?” “Apakah ada gunanya?” bertanya Nyai Wiji
Sari. “Mudah-mudahan masih ada gunanya. Jika Banyu Bening dapat
mencegah pertempuran, maka ia akan mendapat kesempatan untuk hidup
beberapa lama lagi.” “Apakah ukurannya waktu yang kau katakan
tidak lama lagi itu?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Sampai kita menjadi
jemu dan kemudjah membunuhnya,” jawab Narawangsa. “Akhirnya sama
saja. Kenapa tidak kita bunuh sekarang?” “Jika ia dapat mencegah
perang, bukankah orang-orang kita tidak banyak yang akan mati?
Sementara itu, kita akan menangkap Banyu Bening dan terserahlah
kepada kita. Tetapi para pengikutnya tentu sudah terpecah bercerai
berai dan tidak akan mampu menyusun kekuatan lagi untuk melawan
kita.” Nyai Wiji Sari merenung sejenak. Namun ada sesuatu yang
terasa bergejolak dihatinya. Nyai Wiji Sari sendiri tidak tahu,
apakah yang mengekang perasaannya untuk datang menemui Kiai Banyu
Bening dan berbicara dengan laki-laki itu. Bagi Nyai Wiji Sari,
datang dengan pasukan dan bertempur, akan lebih baik daripada harus
datang menemuinya dan berbicara dengannya. “Aku muak melihat
laki-laki itu.” geram Nyai Wiji Sari. Tetapi kata-kata yang
terlontar disela-sela bibirnya itu tidak meyakinkan dirinya sendiri.
Bahkan didalam lubuk hatinya telah timbul pertanyaan ”Apakah bukan
karena sebab lain?” Nyai Wiji Sari menggeretakkan giginya. Ia
mencoba mengusir sentuhan-sentuhan perasaan yang dianggapnya sebagai
satu kelemahan justru karena ia seorang perempuan. Bagaimanapun juga
Kiai Banyu Bening adalah bekas suaminya dan yang pernah memberinya
seorang anak. Tetapi anak itu meninggal, justru karena
terbakar. Kiai Narawangsa melihat keragu-raguan yang sangat di
wajah Nyai Wiji Sari. Tetapi menurut tanggapan Kiai Narawangsa
justru karena Wiji Sari itu sangat membenci suaminya. Ketika Nyai
Wiji Sari itu masih menjadi istri Lembu Wirid, ia sudah membencinya.
Apalagi kemudian setelah anaknya terbunuh didalam lidah api yang
menyala menelan rumahnya. “Terserah kepadamu” berkata Kiai
Narawangsa ”jika kau berkeberatan, maka aku akan menurut, mana yang
kau anggap lebih baik. Jika aku berniat untuk datang menemuinya, itu
karena kita pernah merencanakannya.” “Tidak. Aku tidak mau menemui
laki-laki keparat itu” geram Nyai Wiji Sari. Hampir berteriak iapun
berkata ”Tidak. Aku muak. Muak sekali.” “Baik. Baik” berkata Kiai
Narawangsa ”kita akan langsung datang ke padepokan itu dengan
seluruh kekuatan kita. Kita akan membakar pintu-pintunya dan
menerobos masuk kedalamnya.” “Aku sudah menyiapkan beberapa bakul
biji jarak. Beberapa bakul yang lain sudah dihancurkan menjadi bubuk
kasar yang dicampur dengan serat yang sudah dikeringkan.“ “Apakah
serbuk dan biji jarak itu cukup banyak untuk membakar pintu gerbang
dan pintu butulan?” “Tentu. Kita akan menimbun kayu-kayu kering
diluar pintu itu untuk mempercepat nyala api. Jika daun pintu
gerbang itu terbakar, maka kita akan segera dapat menerobos masuk.”
“Baiklah. Kita harus menyiapkan gerobak-gerobak kecil untuk
mengusung kayu, serbuk biji jarak dan biji jarak itu.” “Besok
kita akan melihat pintu gerbang itu,” berkata Kiai Narawangsa.
Sebenarnyalah dihari berikutnya, Kiai Narawangsa dan Gunasraba
berserta beberapa orang pengiringnya telah mendatangi padepokan.
Berkuda mereka tanpa ragu-ragu mendekati rintu gerbang padepokan itu
dari arah depan. Beberapa puluh langkah mereka menghentikan kuda
mereka. Para petugas di panggungan disebelah menyebelah pintu
gerbang itu melihat kedatangan beberapa orang berkuda. Namun mereka
mengerti, bahwa serangan yang sebenarnya masih belum datang, karena
jumlah orang berkuda itu tidak lebih dari sepuluh orang. Meskipun
demikian, para petugas itu telah memberikan laporan langsung kepada
Ki Lemah Teles tanpa membunyikan kentongan. Orang-orang tua yang
berilmu tinggi, yang ada di padepokan itu telah memanjat panggungan
yang ada disebelah menyebelah pintu gerbang itu. Tetapi merekapun
berpendapat, bahwa orang-orang itu masih belum akan berbuat sesuatu.
“Mungkin mereka akan menemui orang yang bernama Kiai Banyu Bening
itu” berkata Ki Lemah Teles. Tetapi ternyata tidak. Ternyata mereka
tidak menyatakan maksudnya itu. Beberapa orang itu hanya berkeliaran
hilir mudik diatas punggung kuda mereka sambil mengamat-amati pintu
gerbang. “Mereka sedang memperhitungkan kemungkinan untuk merusak
pintu gerbang itu” desis Ki A jar Pangukan. “Ya. Tetapi mereka
tidak dapat menghitung ketebalan daun pintu gerbang itu. Mereka juga
tidak dapat menduga, seberapa besarnya selarak pintu itu.” Namun
diluar, Kiai Narawangsa berkata ”Pintu itu dibuat dari kayu.” “Kita
akan dapat membakarnya” berkata Gunasraba. “Kau yakin biji jarakmu
itu cukup untuk menyalakan pintu gerbang itu?” “Tentu kakang” jawab
Gunasraba ”pintu gerbang itu akan menjadi abu. Dan kita akan dapat
dengan leluasa masuk kedalamnya. Kita bukan orang dungu yang mau
membuangbuang waktu dan bahkan nyawa dengan memanggul balok kayi
yang besar untuk menghantam dan merobohkan pintu gerbang itu. Selama
kita hilir mudik mengambil ancangancang, maka anak panah orang-orang
diatas panggungan itu sudah menghujani kita.” “Jika kita membakar
pintu itu, bukankah mereka juga dapat membunuh kita dengan anak
panahnya?” “Tetapi kita tidak memerlukan banyak orang. Ampat orang
menaburkan serbuk yang bercampur serat itu serta biji jarak
sementara lima atau enam orang melindunginya dengan perisai.
Sementara itu, orang-orang kita akan melontarkan serangan anak panah
pula dari tempat kita ini untuk mengurangi tekanan mereka terhadap
orang-orang kita yang sedang membakar pintu gerbang itu. Kiai
Narawangsa mengangguk-angguk. Iapun yakin bahwa rencana adiknya itu
tentu akan dapat dilakukan. Biji jarak memang mengandung minyak yang
dapat dipergunakan sebagai oncor di malam hari. Sementara itu,
orang-orang yang berada dipanggungan di sebelah-menyebelah pintu
gerbang itu memperhatikan orangorang berkuda itu dengan saksama.
Tetapi mereka tidak dapat mengerti, apa yang akan mereka lakukan.
Mereka hanya melihat orang-orang itu menunjuk kearah pintu gerbang,
kearah panggungan disebelah-menyebelah pintu gerbang itu serta
sekali-sekali memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tetapi
orang-orang itu tidak hanya memperhatikan pintu gerbang utama.
Ternyata mereka juga memperhatikan pintupintu butulan. Kuda-kuda itu
berlari-lari melingkari padepokan yang terhitung luas itu.
>>teks tidak terbaca >> rusak pintu.” berkata Ki Ajar
Pangukan. “Kita akan melayani, cara apa saja yang akan mereka
pergunakan” desis Ki Sambi Pitu. Ki Lemah Teles dan Ki Warana
memperhatikan orang-orang itu dengan saksama. Beberapa saat lamanya
beberapa orang berkuda itu hilir mudik di sekitar padepokan. Namun
akhirnya kuda-kuda itu berlari meninggalkan padepokan itu.
Orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang melihat beberapa orang
berkuda itupun menyadari, bahwa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
ternyata cukup berhati-hati. Mereka tidak langsung datang menyerang,
tetapi mereka telah mencoba untuk melihat sasaran untuk membuat
perhitungan yang lebih mantap. “Seorang diantara mereka itu adalah
Kiai Narawangsa sendiri” desis Ki Warana. “Ya” Ki Ajar
Pangukan mengangguk-angguk ”menurut utusannya yang terdahulu, Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari adalah orang-orang yang berilmu sangat
tinggi.” “Yang manakah diantara mereka yang kau maksud Ki Narawangsa
itu?” bertanya Ki Lemah Teles. “Yang bertubuh raksasa. Yang tidak
mengenakan ikat kepalanya, tetapi hanya disangkutkan dilehernya
sedang jika kita sempat melihat lebih dekat, maka kita akan melihat
segores luka diwajahnya.” Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Seorang
diantara orang-orang berkuda itu adalah seorang yang bertubuh
raksasa. Ikat kepalanya disangkutkan dibahunya, sementara itu
rambutnya yang ikal dan panjang itu disanggulnya agak tinggi. Kiai
Narawangsa ditilik dari ujud lahiriahnya memang sangat meyakinkan.
Jika ia kemudian datang untuk menantang Kiai Banyu Bening, Kiai
Narawangsa itu tentu memiliki keyakinan diri yang tinggi. Kehadiran
orang-orang berkuda itu, telah memperingatkan kepada Ki Lemah Teles,
Ki Warana dan orang-orang tua yang berilmu tinggi, agar mereka
menjadi lebih berhati-hati menghadapi lawan yang membuat
perhitungan-perhitungan yang cermat. Ketika sekelompok orang berkuda
itu telah hilang dari penglihatan mereka, maka Ki Warana dan
orang-orang tua yang berilmu tinggi itupun duduk di pendapa bangunan
induk padepokan itu untuk berbincang tentang kemungkinankemungkinan
yang dapat terjadi. Seorang cantrik yang bertugas di panggungan itu
bertanya kepada kawannya ”Apa kira-kira yang akan mereka
lakukan? “Mereka tentu merencanakan nntuk memecahkan pintu
gerbang itu” jawab kawannya. “Aku tahu. Tetapi bagaimana caranya?”
kawannya membentak. Cantrik itu tertawa. Katanya ”Kenapa kau
tiba-tiba menjadi uring-uringan?” Kawannya menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya bertanya lagi. Dipendapa,
orang-orang berilmu tinggi itu juga mendugaduga. Cara apakah yang
akan ditempuh oleh Kiai Narawangsa untuk membuka pintu gerbang
padepokan itu. Tetapi yang mereka sebutkan adalah cara-cara yang
sering dipergunakan untuk memecahkan pintu. Tidak seorangpun
diantara mereka yang menduga, bahwa Kiai Narawangsa akan memecahkan
pintu gerbang itu dengan cara yang lain. A pi. Sementara itu, di
dalam hutan tempat Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari menunggu
kesempatan, Gunasraba telah mempersiapkan segala-galanya. Seonggok
serat kulit kayu yang kering, telah dicampur serbuk biji jarak.
Selain itu telah dipersiapkan pula biji jarak yang cukup banyak.
Untuk meyakinkan diri, maka Gunasraba itu pun telah menyediakan
minyak kelapa yang cukup, yang akan dituang pada onggokan-onggokan
serat kayu yang Kering itu. “Pintu gerbang itu tentu akan terbakar.”
geram Gunasraba. “Bukankah kau akan membakar semua pintu,” bertanya
Kia Narawangsa. “Ya. Semua pintu. Gerbang utama dan gerbang-gerbang
butulan. Seperti yang kita ketahui, ada ampat pintu butulan.
Cara yang dipilih oleh Gunasraba itu memang tidak dapat dilakukan
dengan serta-merta. Tetapi mereka harus menunggu api yang dinyalakan
itu menjadi besar. Baru kemudian api itu akan membakar pintu gerbang
yang terbuat dari kayu itu. “Kita memang harus sedikit bersabar”
berkata Gunasraba ”tetapi cara ini adalah cara yang akan menelan
korban paling sedikit. Namun dalam pada itu, Nyai Wiji Sari
nampaknya menjadi semakin tidak sabar. Perempuan itu menjadi semakin
banyak merenung. Wajahnya nampak muram dan tingkah lakunya yang
gelisah. “Aku tidak dapat duduk disini berhari-hari tanpa berbuat
apa-apa berkata Nyai Wiji Sari itu. “Kami sedang mempersiapkan
segala-galanya Nyai” jawab Kiai Narawangsa ”kami tidak ingin gagal.”
“Apa sebenarnya yang mencemaskan kita? Kita akan menghancurkan Lembu
Wirid itu. Jika orang itu mati, maka para pengikutnya tentu akan
segera menyerah.” “Aku mengerti” jawab Kiai Narawangsa ”tetapi
bukankah kita perlu memikirkan cara agar kita dapat masuk dan
berhadapan dengan Kiai Banyu Bening?” Nyai Wiji Sari tidak menyahut
lagi. Namun wajah masih saja nampak gelap. Sebenarnya semakin lama
Nyai Wiji Sari berada di hutan itu, kegelisahan terasa semakin
mencengkamnya. Rasarasanya ia sudah mendengar tangis anaknya yang
melengking-lengking dibalik dinding padepokan itu. Tetapi Nyai
Wiji Sari rasa-rasanya juga selalu dibayangi oleh wajah Lembu Wirid.
Wajah yang keras seorang laki-laki. Dalam kegelisahannya itu,
kadang-kadang masih juga timbul pertanyaan, kenapa waktu itu ia
telah tergelincir untuk menerima Narawangsa memasuki lingkungan
dinding ruang tidurnya. “Itulah awal bencana ini” Nyai Wiji Sari
merintih didalam hatinva. Tetapi hati Nyai Wiji Sari yang gelap itu
tidak melihat jalan penyelesaian yang terbaik yang dapat
ditempuhnya. Ketika kerinduannya ktpada seorang anak memuncak, maka
perempuan itu telah menyalurkan gejolak perasaannya itu dengan
caranya yang keras dan kasar, sebagaimana cara hidup yang
dijalaninya. “Tetapi bukan aku yang ingin membunuh Lembu Wirid”
perasaan Nyai Wiji Sari melonjak ”aku hanya ingin mengambil apa yang
masih tersisa dari anakku.” Tetapi Nyai Wiji Sari tidak dapat
mengatakannya kepada Kiai Narawangsa. Jika hal itu dikatakannya,
maka Kiai Narawangsa akan dapat menjadi salah paham. Sementara itu,
Nyai Wiji Sari tidak ingin merusak hidup kekeluargaannya sekali
lagi. Meskipun selama itu ia berada dijalan kehidupan yang gelap
serta membina keluarga yang kelam pula, namun Nyai Wiji Sari itu
ingin mempertahankannya. Dalam pada itu, segala persiapan pun telah
dilakukan. Gunasraba telah yakin, bahwa ia akan dapat membuka pintu,
gerbang itu dengan
caranya.
JILID 7 PARUNG Landung dan Paron Waja
telah diberinya berbagai macam petunjuk sehingga usaha membakar
pintu gerbang itu tidak akan gagal. Bahkan air tidak akan dapat
menolong pintu gerbang itu. Kiai Narawangsa yang telah mendapat
laporan Gunasraba bahwa segala sesuatunya sudah siap, telah
memberikan isyarat, bahwa mereka akan segera menyerang padepokan
itu. “Besok sehari kita mempersiapkan segala-galanya. Besok lusa, di
dini hari, kita akan mulai membakar pintu gerbang. Menurut
perhitungan, saat matahari naik, pintu gerbang dan pintu-pintu
butulan tentu sudah menjadi abu.” Perintah itu pun segera menjalar
ke setiap telinga. Mereka yang sudah merasa jemu berkeliaran di
hutan itu justru menjadi gembira. Saat-saat berburu binatang sudah
berakhir. Mereka kemudian akan berburu lawan di padepokan Kiai Banyu
Bening. “Kita sudah terlalu lama tidak membasahi senjata kita,”
berkata seorang yang berkepala botak ”mudah-mudahan orang-orang
padepokan itu tanggap untuk bermain bersama.” “Cantrik-cantrik
padepokan pada umumnya juga memiliki kemampuan olah kanuragan.”
“Justru itulah yang rnenarik,“ jawab orang botak itu. Keputusan Kiai
Narawangsa itu sesaat membuat wajah Nyai Wiji Sari menjadi cerah.
Pertempuran akan membuatnya lupa pada kegelisahannya. Perang tidak
akan memberinya kesempatan merenungi dirinya sendiri. Tetapi
malam-malam menjelang gerakan yang dilakukan oleh Kiai Narawangsa
itu telah dilihat oleh Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Dengan
sadar, bahwa diantara orang-orang yang berada di hutan itu terdapat
orang-orang berilmu tinggi, Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi berusaha
mengamati kesibukan mereka. Pada malam menjelang serangan yang akan
dilakukan itu, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi masih belum mengetahui,
cara apakah yang akan dipergunakan untuk menghancurkan pintu
gerbang. Kiai Narawangsa dan Gunasraba cukup berhati-hati. Mereka
mempersiapkan alat-alat dan bahan yang akan mereka pergunakan untuk
membakar pintu gerbang itu ditengahtengah lingkungan perkemahan
mereka, sehingga Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi tidak dapat
melihatnya. Namun yang mereka ketahui, bahwa serangan itu akan
berlangsung sejak dini hari. Karena itu, maka kedua orang itupun
segera kembali ke padepokan untuk memberikan laporan kepada Ki Lemah
Teles dan Ki Warana. Akhirnya saat yang mendebarkan itupun datang.
Hari terakhir yang disediakan untuk mempersiapkan segala-galanya
telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh para pengikut Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Sehingga dengan demikian, maka segala
persiapan tidak ada lagi yang tercecer. Di malam terakhir itu,
sebagian dari para pengikut sempat beristirahat sebaik-baiknya.
Mereka sempat tidur nyenyak dan bahkan mendekur keras. Hanya
beberapa orang yang bertugas sajalah yang sibuk mempersiapkan
segala-galanya. Namun demikian, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
berusaha untuk dapat memberi kesempatan kepada orang-orangnya untuk
bergantian beristirahat. Namun lewat tengah malam, maka semua
orang telah dibangunkan. Mereka harus mulai mempersiapkan diri
sebaikbaiknya Mereka harus mengamati senjata mereka masing-masing,
agar senjata mereka tidak mengecewakan jika mereka sudah berada di
medan pertempuran. “Semua orang harus bersiap untuk melindungi diri
sendiri dari hujan anak panah,“ berkata Kiai Narawangsa “yang tidak
berperisai supaya bersiap sebaik-baiknya agar tidak mati sebelum
memasuki pintu gerbang padepokan.” Demikianlah, setelah segala
sesuatunya bersiap, maka sebuah iring-iringan yang cukup besar telah
mulai bergerak menuju ke padepokan. Mereka juga sudah makan
sekenyangkenyangnya agar mereka tidak kehabisan tenaga disaat-saat
mereka bertempur nanti di padepokan. Sementara itu. orang-orang yang
ditugaskan khusus telah menyediakan makanan pula yang dapat dimakan
kapan saja menurut kebutuhan. Diantara iring-iringan itu terdapat
pula beberapa ekor kuda beban yang mengangkut bahan-bahan yang akan
dipergunakan untuk membakar pintu padepokan. Pada saat yang demikian
Gunasraba telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bersama beberapa
orang yang telah terlatih dan berpengalaman, maka Gunasraba duduk
diatas punggung kuda masing-masing. Beberapa orang diantaranya
memegangi kendali kuda-kuda yang menjadi kuda beban.. Pada saat yang
ditentukan, maka beberapa orang berkuda itupun dengan cepat telah
berpacu menuju ke pintu gerbang utama dan yang lain ke pintu butulan
sebagaimana yang pernah mereka amati sebelumnya. Semuanya
berjalan dengan cepat. Para petugas yang berjaga-jaga diatas
panggungan melihat beberapa ekor kuda muncul dari kegelapan.
Kuda-kuda itu berlari kencang menuju ke padepokan. Bahkan ada
diantaranya kuda-kuda yang tidak berpenumpang. Mula-mula para
petugas itu mengira bahwa orang-orang yang datang berkuda itu,
sebagaimana pernah mereka lakukan, hanya akan mengamati keadaan.
Tetapi kuda-kuda itu berlari langsung mendekati pintu gerbang utama.
Yang lain memencar menuju ke pintu-pintu gerbang butulan. Para
petugas yang sedang berjaga-jaga itu terlambat mengambil sikap.
Ketika beberapa orang menyadari keadaan itu, mereka berusaha untuk
mencegahnya dengan anak panah. Tetapi para petugas itu memang
terlambat memberikan tanggapan terhadap langkah-langkah yang tidak
terduga ilu. Orang-orang beikuda itupun segera telah berada di
pintupintu gerbang. Anak panah yang diluncurkan dari panggungan
di-belakang dinding memang agak sulit untuk mencapai orang-orang
yang berdiri melekat pintu gerbang yang dialasnya terdapat atap
ijuk. Karena itu, maka dua orang diantara mereka pun segera
berlari-lari turun untuk memberikan laporan kepada Kiai Lemah Teles
yang berada di pendapa bersama Ki Warana. “Kita benar-benar sudah
mulai” berkata Ki Lemah Teles. “Aku akan melihat apa yang terjadi,
Ki Lemah Teles,“ berkata Ki Warana. “Aku juga akan pergi.
Perintahkan memberitahukan kepada orang-orang yang malas itu.”
Ki Warana dan Ki Lemah Teles pun segera berlari-lari ke panggungan,
sementara itu, Ki Warana telah memerintahkan seorang cantrik untuk
memberitahukan kepada orang-orang tua yang berilmu tinggi yang
sedang berada di belakang. “Bongkok buruk dan Ki Ajar Pangukan tidak
mengigau dengan ceriteranya tentang serangan yang akan
dilakukanmenjelang fajar hari ini.” berkata Ki Lemah Teles sambil
berlari-lari ke panggungan. Demikian Ki Lemah Teles dan Ki Warana
naik ke panggungan disisi kanan pintu gerbang, maka iapun segera
menyadari, apa yang akan terjadi. Meskipun tidak begitu jelas,
tetapi pengalaman dan pengetahuan Ki Lemah Teles yang luas segera
mengetahui, bahwa orang-orang itu akan membakar pintu gerbang.
Sebenarnyalah Gunasraba telah meletakkan beberapa onggok serat
kering di bawah pintu gerbang. Serat kering yang sudah berbaur
dengan serbuk biji jarak. Kemudian untuk meyakinkan bahwa api akan
berkobar, dituang pula dua bumbung minyak kelapa. Kemudian beberapa
kampil biji jarak ditaburkan pula diatasnya. Beberapa saat kemudian,
maka Gunasraba pun segera mempersiapkan api dengan batu titikan dan
dimik-dimik belerang. Demikian matangnya persiapan yang dilakukan,
sehingga segalanya itu terjadi demikian cepatnya. Gunasraba tidak
mempergunakan kayu-kayu kering untuk mengobarkan api, karena serat
yang disediakan sudah cukup banyak, sehingga Gunasraba itu yakin,
bahwa api akan segera menelan pintu gerbang induk itu.
Sebenarnyalah serat-serat yang kering itu dengan cepat terbakar.
Serbuk biji jarak yang mengandung minyak itupun cepat membuat api
semakin besar. Demikian pula minyak kelapa yang dituang serta
beberapa kampil biji jarak Untuk beberapa saat lamanya, Gunasraba
memang masih harus melindungi apinya yang sedang membesar. Dalam
pada itu, maka didalam dinding padepokan telah terdengar isyarat
untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Suara
kentongan-kentongan kecil telah melontarkan perintah kepada setiap
orang yang ada didalam dinding padepokan. Gunasraba yang mendengar
suara kentongan itu sempat mengumpat. Ternyata orang-orang padepokan
itu tidak menjadi gugup dan bingung. Suara kentongan-kentongan
kecil, itu tidak membayangkan kegelisahan. Tiga atau ampat kentongan
yang mengisyaratkan perintah itu memperdengarkan iramanya yang
mapan. Orang-orang padepokan itu memang tidak menjadi bingung.
Sebelumnya mereka sudah mendapat perintah untuk berada dalam
kesiagaan tertinggi. Tetapi yang terjadi memang lebih cepat dari
yang mereka duga. Mereka memperhitungkan bahwa serangan itu akan
datang bersamaan dengan terbitnya matahari. Tetapi ternyata di dini
hari kentongan itu sudah harus memberikan isyarat agar mereka
bersiap. Ternyata kentongan itu berbunyi di saat mereka sedang
makan. Karena itu, maka mereka pun segera menelan nasi yang masih
belum sempat mereka makan. Sedikit terhambat di kerongkongan,
sehingga mereka harus minum lebih banyak. Beberapa saat
kemudian para cantrik itupun berlari-larian naik ke panggungan.
Sementara yang lain, bersiap-siap ditempat yang sudah ditentukan
bagi setiap kelompok. Tetapi terdengar perintah yang lain dari
beberapa orang yang berada di belakang pintu gerbong ”Air. Air.”
Para cantrik yang berada disekitar pintu gerbang utama dan pintu
gerbang mereka. Karena itu, maka mereka pun segera berlari-lari
mencari air dengan bumbung-bumbung panjang yang sering dipergunakan
untuk mengusung air mengisi gentong dan tempayan didapur, atau
dengan kelenting. Tetapi bumbung-bumbung yang tersedia tidak cukup
banyak untuk mengatasi api yang menyala semakin besar. Pintu gerbang
utama dan butulan yang terbuat dari kayu itu sudah mulai terbakar.
Bahkan gawang pintunya juga sudah mulai menyala. Sementara itu, ijuk
pada atap pintu gerbang itupun akan sangat mudah terbakar pula. Para
pemimpin padepokan itu memang tidak mengira bahwa Kiai Narawangsa
akan mempergunakan cara yang tidak banyak dipergunakan orang untuk
memecahkan pintu gerbang utama dari sebuah sasaran. Kiai Narawangsa
tidak memecahkan pintu gerbang dengan sebuah balok kayu yang panjang
dan besar yang diusung oleh banyak orang. Tidak pula mempergunakan
tali-tali yang kuat yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Tetapi
Kiai Narawangsa telah mempergunakan api. Bukan untuk memecahkan
pintu, tetapi membakar pintu itu sehingga menjadi abu. Ternyata air
memang tidak banyak menolong. Apalagi air itu tidak cukup banyak
dibanding dengan nyala api yang membesar. Tidak cukup banyak
bumbung-bumbung besar yang dibuat dari bambu petung yang dapat
dipergunakan untuk mengangkut air. Karena itu, maka Ki Lemah
Teles akhirnya memerintahkan para cantrik untuk menghentikan usaha
mereka memadamkan api. Tetapi para cantrik harus segera bersiap
dalam kesiagaan kedua. Mereka harus bersiap untuk bertahan di
belakang pintu gerbang yang sudah dapat dipastikan akan terbuka. Ki
Pandi dan Ki Ajar Pangukan yang berdiri di panggungan sebelah kiri
itupun menyaksikan api yang menyala itu dengan termangu-mangu. Namun
tiba-tiba saja Ki Pandi itu berkata kepada seorang cantrik “Siapkan
tali, he, kalian punya tampar ijuk?” “Ada Kiai “jawab seseorang
cantrik “sisa tampar ijuk yang kemarin dipergunakan untuk
memperbaiki tali-tali ijuk panggungan ini?” “Masih ada berapa
gulung?” “Masih ada beberapa gulung Kiai.” Ki Pandi pun kemudian
berkata kepada Ki A jar Pangukan ”Ki Ajar, marilah kita bermain-main
dengan orang-orang yang sedang membakar pintu gerbang itu. Ki Ajar
Pangukan pun segera tanggap. Karena itu, maka iapun segera menyahut
”Marilah. Ajak kedua cucumu itu.” Manggada dan Laksana yang ada di
panggungan itu pula, segera menyahut “Marilah, Ki Ajar. Kami akan
ikut bersama Ki Ajar.” Demikianlah, maka dengan cepat mereka telah
mengurai tampar ijuk itu dan menjulurkannya keluar dinding. Disisi
lain, diatas panggungan Ki Lemah Teles melihat Ki Pandi menjulurkan
tali ijuk. Tidak hanya sehelai, tetapi beberapa helai. Ki
Lemah Teles segera mengetahui apa yang akan dilakukan. Sementara itu
Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana juga sudah naik ke panggungan itu
pula. Tanpa menunggu, maka Ki Jagaprana dan Ki Sambi Pitu pun segera
bersiap. Karena di panggungan itu tidak ada tali ijuk yang dapat
mereka pergunakan, maka mereka tidak mempergunakannya. Orang-orang
berilmu tinggi itu kemudian meloncat begitu saja dari atas dinding
padepokan seperti seekor kucing. Sementara itu, Ki Pandi dan Ki Ajar
Pangukan telah turun dengan mempergunakan tali ijuk. “Kenapa
orang-orang itu mempersulit diri dengan tali-tali ijuk? “ desis Ki
Sambi Pitu. “Sebenarnya tali-tali itu tidak untuk mereka” jawab Ki
Jagaprana. Sebenarnyalah selain kedua orang tua berilmu tinggi itu,
Manggada dan Laksana pun telah turun pula menyusuri tali ijuk itu
diikuti oleh beberapa orang cantrik. Gunasraba yang berada di depan
pintu menunggui api yang menyala semakin besar itupun terkejut. Ia
tidak mengira bahwa ada beberapa orang yang turun dari atas dinding
dan berlari-lari mendekatinya. “Cegah mereka,“ teriak Gunasraba.
Beberapa orang yang datang bersamanya segera bersiap untuk
menyongsong orang-orang yang berlari-lari itu. Namun Gunasraba
sendiri tidak ikut bersama mereka. Dengan tangkasnya Gunasraba itu
meloncat keatas punggung kudanya dan dengan cepat melarikan diri
kedalam gelap. Para pengikutnya memang termangu sejenak.
Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan. Dengan geram Manggada dan
Laksana telah berloncatan mendekat. Tetapi Ki Pandi tidak segera
menyerang mereka. Dengan lantang iapun berkata ”Menyerahlah. Kalian
tidak mempunyai pilihan lain.” Orang-orang yang datang bersama
Gunasraba itu tidak menghiraukan. Jumlah orang yang turun dengan
tali itu tidak banyak. Karena itu, maka mereka merasa mampu untuk
bertahan sambil menunggu kawan-kawan mereka yang akan segera datang
untuk menolong. Mereka meyakini bahwa Ki Gunasraba sedang
menghubungi Kiai Narawangsa untuk mendapatkan bantuan. Karena itu,
justru orang-orang itulah yang telah mendahului menyerang mereka
yang turun dari dinding padapokan. Beberapa orang cantrik pun segera
terlibat dalam pertempuran. Manggada dan Laksana juga segera terjun
langsung melawan orang-orang yang telah membakar pintu gerbang itu.
Namun bagaimana pun juga api yang membakar pintu gerbang itu tidak
dapat dipadamkan. Pintu gerbang itu memang terbakar. Yang dilakukan
oleh para cantrik kemudian adalah mencegah panggungan disebelah
menyebelah pintu gerbang itu ikut terbakar. Dalam pada itu
pertempuran yang terjadi di depan pintu gerbang itu tidak
berlangsung lama. Ketika orang-orang tua berilmu tinggi itu
melibatkan diri, maka dengan cepat orangorang yang membakar pintu
gerbang itu telah dikuasai. Bahkan ketika.orang-orang yang
membakar pintu-pintu butulan ikut bergabung dengan kawan-kawan
mereka, ternyata mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Dalam
waktu yang singkat beberapa orang telah terkapar di depan pintu
gerbang yang telah terbakar sedangkan yang lain telah menyerah. Para
cantrik padepokan itu justru berhasil menguasai beberapa ekor kuda.
Tetapi mereka tidak tahu, bagaimana mereka akan membawa kuda-kuda
itu masuk kedalam padepokan, karena pintu gerbang utama dan
pintu-pintu butulan telah dibakar. Tetapi tiba-tiba saja seorang
cantrik berteriak “Masih ada satu pintu butulan yang tidak dibakar.”
Ki Pandi yang mendengar teriakan cantrik dari panggungan itu
bertanya “Disisi sebelah mana?” “Pintu butulan kecil yang menghadap
ke Timur. Pintu yang hampir tidak pernah dipergunakan.” Ki Pandi,
orang-orang tua yang berilmu tinggi serta Manggada dan Laksana pun
telah membawa beberapa ekor kuda yang tertinggal serta para tawanan
mengelilingi dinding padepokan menuju ke pintu gerbang yang
menghadap kesebelan Timur, yang karena tidak sering dipergunakan,
maka telah ditumbuhi oleh batang ilalang dan pohon-pohon perdu.
Namun dalam pada itu, Gunasraba yang melarikan diri diatas punggung
kudanya telah sampai ke induk pasukannya. Dengan nafas yang
terangah-engah, ia telah melaporkan apa yang terjadi di pintu
gerbang utama padepokan Kiai Banyu Bening. “Orang-orang gila,
yang ingin membunuh dirinya sendiri. Baiklah. Marilah kita mendekat.
Bukankah sebentar lagi, pintu gerbang utama dan beberapa pintu
butulan itu sudah akan menjadi abu?” “Ya. Pada saat matahari terbit.
Tetapi kita harus bersabar sedikit, agar kaki kita tidak menginjak
bara yang masih panas.” Orang-orang yang pertama akan memasuki pintu
gerbang sudah dipersiapkan. Bukankah mereka telah mengenakan tlumpah
kulit kayu?” “Aku memang sudah memberikan contoh, bagaimana membuat
tlumpah kulit kayu untuk melindungi kaki mereka. Mudah-mudahan
mereka telah mempersiapkannya.” “Bukankah kita dapat melihat
sekarang?” sahut Nyai Wiji Sari. Gurasraba pun kemudian
memerintahkan Parang Landung dan Paron Waja untuk melihat, apakah
orang-orangnya mematuhi perintahnya membuat tlumpah-tlumpah kulit
kayu untuk melindungi telapak kaki mereka dari bara yang masih
panas. Sementara itu, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Saripun telah
mempersiapkan segala-galanya. Sesaat lagi, mereka akan bergerak
mendekati padepokan. “Sayang, kita kehilangan beberapa ekor kuda”
desis Kiai Narawangsa. “Tidak. Sebentar lagi, kita akan
mendapatkannya kembali.” jawab Gunasraba. Dalam pada itu Paning
Landung dan Paron Waja pun telah melaporkan bahwa orang-orang mereka
telah membuat tiumpah kulit kayu dengan tali kedebog yang
sudah dikeringkan. “Tidak ada masalah” berkata Parung Landung
“mereka dapat mengabaikan panasnya bara yang tersisa. Meskipun ada
yang membuat dari clumpring, tetapi cukup untuk menahan panasnya
sisa-sisa gerbang yang sudah menjadi arang.” “Tetapi clumpring itu
sendiri akan terbakar,“ berkata Gunasraba. “Bukankah kita tidak akan
berdiri tegak diatas bara itu? “ sahut Paron Waja “bukankah kita
hanya akan berlari melintas?” Kiai Narawangsa mengangguk-angguk.
Tetapi Nyai Wiji Sari menyahut “Jangan merendahkan lawan. Mereka
akan menahan kita diatas bara api pintu gerbang itu.” “Kita dapat
mengulur waktu sebentar Nyai. Bukankah kita dapat berbicara lebih
dahulu dengan Banyu Bening? Ia akan berpikir ulang jika ia melihat
kekuatan lata yang besar ini.” “Aku tidak ingin berbicara dengan
Banyu Bening. Aku hanya ingin anakku itu.” Kiai Narawangsa tidak
menjawab lagi. Namun kemudian iapun bertanya kepada Gunasraba
“Marilah. Apakah kita sudah bersiap sepenuhnya?” “Sudah kakang. Kita
sudah dapat bergerak sekarang. Mudah-mudahan kita masih sempat
menolong orang-orang yang terjebak saat mereka membakar pintu
gerbang.” Demikianlah, maka Parung Landung dan Paron Wajapun segera
memerintahkan pasukannya untuk bergerak menuju ke padepokan.
Sementara itu langit telah menjadi merah. Mereka berharap ' bahwa
saat matahari terbit, mereka sudah memasuki pintupintu gerbang
padepokan yang mereka sangka masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening
itu. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sarilah yang melangkah di paling
depan. Kemudian Gunasraba dan dua orang saudara seperguruannya. Dua
orang kakak beradik yang sebenarnya tidak kembar, tetapi wajah
mereka demikian miripnya, sehingga banyak orang menyangka bahwa
mereka adalah dua orang saudara kembar. Sedangkan sebenarnya umur
mereka terpaut dua tahun. Kren-dhawa dan Mingkara. Demikianlah, maka
langkah kaki yang berderap di padang perdu itupun seakan-akan telah
menggetarkan bumi. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari yang berjalan
dipaling depan nampak menjadi tegang. Telah berpuluh bahkan beratus
kali keduanya turun ke medan pertempuran. Bukan saja saat-saat
mereka merampok dan menyamun di bulak-bulak panjang. Tetapi sudah
berapa kali mereka terperosok ke dalam benturan kekuatan diantara
mereka yang hidup dalam dunia yang kelam. Bertempur untuk
memperebutkan pengaruh dan daerah jelajah, serta kadang-kadang tanpa
sebab apa-apa. Tetapi yang dihadapi oleh Nyai Wiji Sari saat ini
adalah orang yang pernah tersangkut dalam perjalanan hidupnya.
Bahkan seseorang yang telah memberinya seorang anak yang sekarang
dimakamkan di belakang dinding padepokan itu. Anak itulah yang
setiap saat seakan-akan memanggilmanggilnya. Mengulurkan tangannya,
menggapainya sambil memanggil-manggilnya “Ibu, ibu, aku kedinginan,
ibu.” Nyai Wiji Sari menggeretak-kan giginya. Langkahnya
menjadi semakin cepat. Bahkan rasarasanya Nyai Wiji Sari itu ingin
meloncat langsung memasuki padepokan Kiai Banyu Bening. Tetapi di
samping itu, ada semacam keseganan untuk bertemu dengan Kiai Banyu
Bening sendiri. Meskipun setiap kali Nyai Wiji Sari berusaha untuk
mengingkarinya, tetapi di dasar hatinya, ia mengakui, betapa ia
telah melakukan kesalahan sebagai seorang isteri, karena ia sudah
membiarkan Narawangsa masuk ke dalam bilik tidurnya, justru saat ia
menidurkan anaknya. Petaka itu tidak dapat dihindarinya. Nyai Wiji
Sari itu tertegun melihat api yang sudah menjadi semakin surut.
Pintu gerbang padepokan itu telah runtuh. Tidak ada lagi yang
menghalangi langkah mereka memasuki padepokan itu. Tetapi yang
terbuka, yang tidak menjadi penghalang lagi, adalah pintu pada
gerbang utama dan butulan. Di belakang reruntuhan itu telah bersiap
para cantrik dan para pengikut Kiai Banyu Bening. Nyai Wiji
Sari mengerutkan dahinya. Sementara itu, kakinya melangkah semakin
panjang. Ada dua dorongan yang bertentangan didalam diri Nyai Wiji
Sari. Ia memang ingin lebih cepat sampai di makam anaknya, tetapi
ada keseganan di hatinya untuk bertemu dengan Kiai Banyu Bening.
Nyai Wiji Sari rasa-rasanya tidak akan berani menatap wajah
laki-laki itu. Laki-laki yang pernah menjadi suaminya. Namun di luar
sadar, mereka telah menjadi semakin dekat dengan reruntuhan pintu
gerbang utama. Api telah jauh menyusut Meskipun demikian. Kiai
Narawangsa dan Nyai Wiji Sari masih dapat melihat dengan jelas,
beberapa sosok tubuh yang terbujur lintang. Mereka adalah
orang-orang yang datang bersama Ki Gunasraba untuk membakar pintu
gerbang. “Kiai Banyu Bening telah membantai mereka,“ berkata
Gunasraba dengan geram. Tetapi langkah mereka terhenti. Mereka
sadari, bahwa diatas panggungan itu beberapa orang cantrik telah
mempersiapkan anak-panah dan lembing yang sudah siap mereka
lontarkan. Dengan isyarat Kiai Narawangsa telah memanggil beberapa
orang yang juga sudah mempersiapkan anak panah mereka. “Pada
saatnya, lindungi kami,“ terdengar suara Kiai Narawangsa yang berat.
Tetapi pasukan itu memang berhenti. “Kita memang harus bersabar”
berkata Gunasraba yang melihat api di pintu gerbang itu hampir
padam. Dalam pada itu, Kiai Narawangsapun segera memerintahkan
orang-orangnya untuk bersiap ditempat yang telah ditentukan
sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Beberapa kelompok
diantara mereka telah pergi mengelilingi padepokan itu. Mereka
adalah kelompokkelompok yang mendapat tugas untuk memasuki padepokan
lewat pintu butulan. Kiai Narawangsa telah berpesan kepada mereka,
bahwa kelompok-kelompok itu harus bergerak setelah mereka mendengar
isyarat yang akan dilontarkan lewat panah sendaren dari depan pintu
gerbang utama. Dalam pada itu, dari atas panggungan para cantrik
mengikuti terus gerak-gerik pasukan Kiai Narawangsa. Setiap saat ada
diantara para cantrik itu yang menghubungi dan memberikan laporan
kepada Ki Lemah Teles dan Ki Warana. Dalam pada itu, Gunasraba telah
membagi kedua orang saudara seperguruannya serta kedua orang anaknya
untuk memimpin pasukan yang akan memasuki pintu gerbang butulan.
Parang Landung dan Paron Waja, yang dianggapnya sudah memiliki
kemampuan yang memadai, akan memasuki padepokan itu lewat pintu
butulan sebelah kiri yang juga telah terbakar habis. Sementara kedua
orang saudara seperguruannya, Krendhawa dan Mingkara, akan memasuki
pintu butulan sebelah kanan. Mereka telah membawa masingmasing
pasukan secukupnya. Dalam pada itu, langit pun menjadi bertambah
terang. Manggada dan Laksana yang juga berada di panggungan melihat
dua orang anak muda yang bergerak ke kiri dengan beberapa kelompok
orang. “He, kau kenal kedua orang itu?” bertanya Laksana sambil
menggamit Manggada. Manggada mengerutkan dahinya. Dengan ragu
ia berkata ”Kedua anak muda itulah yang telah kita lihat dijalan
bulak itu.” “Ya. yang berpapasan dengan kita berdua. Mereka sama
sekali tidak mau menepi, sehingga kita harus berjalan diatas tanggul
parit.” Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana berkata
selanjutnya “Mereka akan berusaha memasuki pintu butulan sebelah
kiri.” “Kita akan menemui mereka,“ sahut Manggada. Atas ijin Ki
Pandi dan Ki Lemah Teles, maka Manggada dan Laksana telah pergi ke
pintu butulan sebelah kiri, yang juga sudah terbakar. Mereka segera
bergabung dengan para cantrik yang bertugas di tempat itu. “Aku akan
berada diantara kalian “ berkata Manggada. “Bagaimana dengan pintu
gerbang utama? “ bertanya seorang cantrik yang diserahi pimpinan di
belakang pintu butulan itu. “Ki Lemah Teles ada disana. Diluar, dua
orang anak muda yang memimpin para pengikut Kiai Narawangsa,
nampaknya orang-orang berilmu. Mudah-mudahan bersama kalian, kami
ber-dua dapat menahan rnereka.” Para cantrik itu mengangguk-angguk.
Mereka memang menjadi mantap dengan kehadiran Manggada dan Laksana,
karena para cantrik itu mengetahui, bahwa kedua orang anak muda itu
telah memiliki ilmu yang tinggi. Dalam pada itu, maka Ki
Jagapranapun telah diminta untuk berada di butulan sebelah kanan”
karena mereka melihat dua orang yang diduga kembar, berada diantara
mereka yang akan memasuki padepokan lewat pintu gerbang
sebelah kanan. “Baik” jawab Ki Jagaprana “aku akan melihat apakah
orang kembar itu akan dapat mengejutkan anak-anak padepokan ini.”
“Tetapi berhati-hatilah” pesan Ki Lemah Teles ”jika keduanya
menunjukkan kelebihannya, biarlah beberapa orang cantrik membantumu,
sementara kau panggil salah seorang dari kami. Aku tidak mau kau
mati. Kita masih mempunyai persoalan.” Ki Pandi lah yang menyahut
”Jika kau masih ingin berperang tanding, kenapa tidak kau tantang
saja Nyai Wiji Sari.” “Kenapa tidak kau lakukan sendiri?” bentak Ki
Lemah Teles. Ki Pandi tertawa. Katanya ”Jika saja aku tidak bongkok
dan tidak berpenampilan buruk.” “Apakah kau tidak ingat bahwa umurmu
sudah berada di senja hari? Seandainya kau tidak bongkok dan buruk,
kaupun sudah menjadi pikun.” Ki Pandi tertawa semakin keras.
Orang-orang lain yang mendengarnya ikut tertawa pula. “Sudahlah
pergilah” bentak Ki Lemah Teles ”orang kembar itu sudah sampai di
muka pintu butulan.” “Api masih sedikit menyala” jawab Ki Jagaprana
”mereka tentu akan menunggu bara api itu padam.” “Lihat. Sebagian
besar dari mereka memakai tlumpah.” Ki Jagaprana
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan
tergesa-gesa iapun melangkah menuju ke butulan sebelah kanan.
Sebagaimana Manggada dan Laksana, maka Ki Jagaprana pun disambut
dengan gembira oleh para cantrik yang bertugas di pintu butulan
sebelah kanan yang sudah hampir menjadi abu. Bahkan api pun mulai
menjadi padam, meskipun asap masih mengepul. Diatas panggungan Ki
Jagaprana melihat para cantrik siap dengan busur dan anak-apanah
serta lembing-lembing bambu. Tetapi Ki Jagaprana pun kemudian telah
memberitahukan beberapa orang cantrik yang bersenjata anak panah
untuk bersiap menyambut para pengikut Kiai Narawangsa demikian
mereka memasuki pintu butulan yang sudah terbuka itu, “Kalian harus
melumpuhkan lapisan pertama dari orangorang yang memasuki pintu yang
sudah menjadi abu itu. Jika mereka membawa perisai, maka bidiklah
kakinya. Jika mungkin lututnya. Jika mereka tidak membawa perisai,
maka sasaran kalian adalah dada mereka.” Demikianlah, maka beberapa
orang yang bersenjata busur dan anak panah pun telah bersiap. Mereka
telah memasang anak-panahnya pada busurnya. Dilambungnya tergantung
bumbung yang berisi anak-panah pula. Beberapa saat mereka menunggu.
Para cantrik yang ada didalam Beberapa saat mereka menunggu. Para
cantrik yang ada didalam dinding padepokan itu rasa-rasanya tidak
sabar lagi. Terutama mereka yang sudah mengetrapkan anak-panah pada
busurnya dan bahkan tali busur itu sudah mulai menegang. Di
depan pintu gerbang padepokan yang sudah terbakar. Kiai Narawangsa
dan Nyai Wiji Sari bersama pasukan induknya telah berhenti. Mereka
memang harus menunggu api di gerbang itu agar padam sama sekali.
Tetapi sisa-sisa api dan bara tidak akan dapat menahan mereka,
karena orang-orang yang sudah siap memasuki padepokan itu
mempergunakan alas kaki yang mereka buat dari kulit kayu. Sementara
itu, para penghuni padepokan itupun sudah siap pula untuk menahan
serangan yang sebentar lagi akan melanda padepokan itu, Ki Pandi, Ki
Ajar Pangukan dan Ki Sambi Pitu telah siap bersama para cantrik
dibelakang pintu gerbang yang terbakar. Sementara Ki Lemah Teles dan
Ki Warana masih berada di panggungan di sebelah pintu gerbang yang
sudah terbakar itu. “He, Kiai Banyu Bening” berteriak Kiai
Narawangsa ”aku masih memberi kesempatan untuk menyerah. Meskipun
kami yakin akan dapat menghancurkan seluruh padepokan ini, bukan
hanya pintu gerbanya saja, tetapi kami masih mempunyai belas
kasihan. Karena itu, sebaiknya kau menyerah saja.” Ki Lemah Teles
yang berada dipanggungan memandang pasukan yang sudah siap itu
dengan jantung yang berdebardebar. Tetapi Ki Lemah Teles sudah
bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya, bahwa Kiai Banyu Bening
sudah tidak ada. Kawan-kawannya telah menyetujuinya pula. Jika
pengakuan itu dapat mencegah pertempuran, maka tidak perlu jatuh
korban dari kedua belah pihak, meskipun hal itu sudah terjadi atas
sekelompok orang yang telah membakar pintu gerbang, kecuali mereka
yang telah menyerah. “He. Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa
pula ”jawab pernyataanku ini. Kesempatan untuk menyerah.” Ki
Lemah Teles yang ada diatas panggungan itupun menyahut ”Kiai
Narawangsa, apakah kau tidak dapat melihat kami yang berada diatas
panggungan. Cahaya matahari telah nampak di langit. Kami yang ada di
panggungan sudah dapat melihat wajah kalian seorang demi seorang.”
Kiai Narawangsa termangu-mangu sejenak. Suara itu bukan suara Kiai
Banyu Bening. Meskipun sudah lama ia tidak mendengar suara Banyu
Bening, tetapi Kiai Narawangsa masih akan dapat mengenali suara itu.
Ketika ia berpaling kepada Nyai Wiji Sari, maka Kiai Narawangsa
itupun melihat kening Nyai Wiji Sari berkerut. “Siapa kau?”
tiba-tiba saja suara Nyai Wiji Sari melengking tinggi. . Kiai Lemah
Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, ”Aku Ki Lemah
Teles yang menunggui padepokan ini bersama Ki Warana.” “Kami ingin
berbicara dengan Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa kemudian
”kami tidak akan berbicara dengan orang lain.” Kiai Lemah Teles
termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berteriak pula, ”Kiai
Narawangsa. Ketahuilah, bahwa padepokan ini bukan lagi padepokan
yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Sekarang akulah yang memimpin
padepokan ini setelah padepokan ini ditinggalkan oleh Kiai Banyu
Bening beberapa saat yang lalu.” Jawaban itu sangat mengejutkan.
Hampir diluar sadar Nyai Wiji Sari berteriak nyaring ”Bohong. Kalian
tidak usah menyembunyikan Kiai Banyu Bening. Kami datang untuk
membuat perhitungan dengan orang itu.” “Kami berkata
sebenarnya Nyai. Kiai Banyu Bening sudah tidak ada. Sesuatu telah
terjadi di padepokan ini. Bencana.” “Jangan melingkar-lingkar” sahut
Kiai Narawangsa. ”Apakah Kiai Banyu Bening sekarang sudah menjadi
seorang pengecut, sehingga tidak berani lagi menghadapi kami.”
“Tidak. Kiai Banyu Bening memang bukan pengecut. Itulah sebabnya
maka kalian tidak lagi dapat menjumpai Kiai Banyu Bening sekarang.”
Di belakang pintu gerbang yang sudah menjadi abu, Ki Ajar Pangukan
menjadi berdebar-debar. Ia pernah menerima utusan Kiai Narawangsa
dan mengaku sebagai Kiai Banyu Bening. “Apa yang sebenarnya telah
terjadi disini?” bertanya Nyai Wiji Sari ”penipuan? Kepura-puraan,
atau sebuah permainan yang licik?” “Tidak ada penriainan yang licik.
Tetapi ketahuilah, bahwa Kiai Banyu Bening memang sudah tidak ada
dalam arti yang sebenarnya. Kiai Banyu Bening telah gugur saat ia
mempertahankan padepokan ini.” “Bohong” teriak Nyai Wiji Sari dengan
serta-merta. Betapa ia dan Kiai Banyu Bening bermusuhan karena
kehadiran Kiai Narawangsa, tetapi berita kematian Kiai Banyu Bening
sangat mengejutkannya. “Kami tidak berbohong Nyai” jawab Kiai Lemah
Teles ”kami dapat menceriterakan urut-urutan peristiwanya.” “Siapa
yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari
dengan suara bergetar. “Panembahan Lebdagati,” jawab Ki Lemah
Teles. “Lebdagati. Jadi iblis itukah yang telah membunuh Kiai
Banyu Bening?” “Ya. Panembahan Lembadagi datang ke padepokan ini dan
merebutnya untuk beberapa hari, sebelum kami datang membebaskannya,”
sahut Ki Lemah Teles “kami dapat mengusir Panembahan Lebdagati.
Tetapi kami tidak dapat menangkapnya, apalagi membunuhnya.” Jantung
Nyai Wiji Sari terasa berdegup semakin cepat. Darahnya seakan-akan
bergejolak didalam dadanya. Rasarasanya ia tidak rela mendengar
berita kematian Kiai Banyu Bening. Betapa ia terpisah dari orang
itu, namun Kiai Banyu Bening pernah menjadi suaminya. Ketika ia
mula-mula mengenal sentuhan tangan laki-laki, orang itu adalah Kiai
Banyu Bening. Dalam pada itu, Kiai Narawangsalah yang berteriak,
”Apakah kau justru pengikut Panembahan Lebdagati itu?” “Tidak. Kami
bukan pengikut Panembahan Lebdagati. Kami justru telah bertempur
melawannya dan mengusirnya dari padepokan ini.” Sejenak Kiai
Narawangsa menjadi termangu-mangu. Ia mencoba memandang wajah-wajah
orang yang berada di panggungan. Sebenarnyalah bahwa tidak ada orang
yang dapat diduganya Kiai Banyu Bening. Tetapi Kiai Banyu Bening
memang dapat saja bersembunyi atau melarikan diri sebelumnya. Namun
Kiai Banyu Bening memang bukan seorang pengecut yang dapat berbuat
seperti itu. Dalam pada itu, Ki Lemah Telespun berkata ”Kiai
Narawangsa, apakah sebenarnya yang kalian kehendaki dari Kiai
Banyu Bening? Jika kami dapat memenuhinya, maka kami akan mencoba
memenuhinya tanpa harus mengorbankan banyak orang.” “Ki Lemah Teles”
suara Nyai Wiji Sari dengan nada tinggi seakan-akan menggetarkan
dinding-dinding padepokan dan bahkan panggungan di sebelah pintu
gerbang yang terbakar itu. Gejolak perasaannya benar-benar telah
mengguncang dadanya, sehingga getar suara yang dilontarkan bagaikan
mengandung tenaga yang sangat besar ”apapun yang kau katakan tentang
Kiai Banyu Bening, namun kami datang dengan niat yang tidak berubah.
Kami menghendaki padepokan ini. Jika benar kau berniat menghindari
penumpahan darah, maka tinggalkan padepokan ini. Tidak ada yang
boleh kau bawa selain pakaian yang melekat ditubuh kalian. Aku akan
tinggal di padepokan ini menunggui anakku yang telah dibawa ke
padepokan ini oleh Kiai Banyu Bening.” Ki Lemah Teles termangu-mangu
sebentar. Namun kemudian iapuan bertanya ”Jadi itukah niat Nyai
datang kemari? Nyai akan mengambil kembali anak Nyai? Juga anak Kiai
Banyu Bening? Bagaimana mungkin Nyai datang untuk menemui seorang
suami dengan membawa kekuatan yang demikian besarnya? Kecuali jika
Nyai akan mengambil kembali suami Nyai yang berada ditangan orang
lain.” “Cukup” teriak Nyai Wiji Sari. Suaranya semakin lantang dan
udara pun bergetar semakin keras. Bahkan getar suara perempuan itu
telah mulai menyentuh isi dada ”jadi begitukah caramu mencari
penyelesaian tanpa mengorbankan nyawa?” “Nyai “ berkata Ki Lemah
Teles kemudian ”jika Nyai ingin mengambil anak Nyai itu, terserah
kepada Nyai. Kami tidak akan menghalangi. Ambillah, karena itu
memang anak Nyai. Tetapi jangan mengambil padepokan ini. Kami
sudah merebutnya dari tangan Panembahan Lebdagati dengan
menitikkan keringat dan darah. Bagaimana mungkin kami akan
melepaskannya begitu saja.” “Aku tidak peduli” sahut Kiai Narawangsa
”kami akan memberi waktu secukupnya jika kalian memang akan pergi.
Kami tidak akan mengganggu kalian yang meninggalkan padepokan ini.
Tetapi jika ada diantara kalian yang memilih bergabung dengan kami,
kami tidak berkeberatan. Tetapi kalian harus bersedia mematuhi
segala paugeran didalam lingkungan kami.” “Kiai” jawab Ki Lemah
Teles “kami akan mempertahankan padepokan ini, apapun yang terjadi.
Jika kalian memaksakan kehendak kalian, maka kami justru akan
menutup kesempatan Nyai Wiji Sari untuk mengambil anaknya. Biarlah
anak itu kesepian disini tanpa ayah dan ibunya.” “Tidak” teriak Nyai
Wiji Sari ”aku akan menunggui anakku disini.” “Itu tidak mungkin,
Nyai. Karena itu, maka terserah kepada Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji
Sari. Apakah kita harus bertempur atau tidak. Seandainya kita harus
bertempur, kami pun sudah siap. Para cantrik dari padepokan ini
masih menyandang kebanggaan setelah mereka berhasil mengusir
Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka dengan darah yang masih
panas, kami akan menghadapi kalian. Tetapi jika kalian berniat
mengambil anak itu dengan cara yang baik, kami tidak akan
berkeberatan. Kami akan memberi kesempatan kepada kalian
sebaik-baiknya.” “Cukup” teriak Kiai Narawangsa ”kami akan mengusir
kalian dengan kekerasan.” Ki Lemah Teles tidak mempunyai
pilihan lain. Karena itu, maka iapun berkata ”Jika demikian, maka
kita akan bertempur. Tetapi dengan demikian maka kalian tidak akan
pernah dapat mengambil anak itu lagi dari padepokan ini.” “Jangan
sentuh anak itu.” teriak Nyai Wiji Sari ”jika kalian melakukannya
juga, maka nasib padepokan ini akan menjadi sangat buruk.” “Aku
tidak akan memeras dengan taruhan anakmu itu Nyai, meskipun
sebenarnya anakmu itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Kami akan
mempertahankan padepokan ini dengan sikap yang wajar.” “Diam kau,“
bentak Nyai Wiji Sari ”kau anggap anakku itu sudah tidak berarti
apa-apa? Aku rindukan anakku siang dan malam. Aku tidak sampai hati
melepaskan anakku dalam kesepian, kedinginan dan kepanasan karena
ayahnya tidak memperdulikannya.” “Ayahnya lebih peduli kepada anak
itu daripada kau Nyai” tiba-tiba Ki Warana menyahut “aku melayani
Kiai Banyu Bening setiap hari jika ia berada disisi anaknya. Sampai
akhir hayatnya ia sama sekali tidak pernah berpaling kepada seorang
perempuan yang akan dapat menyakiti hati anaknya itu. Tetapi kau,
apa yang kau lakukan? Kau tinggalkan anakmu didalam api, sementara
kau lari dengan seorang laki-laki saat anakmu masih bayi.” “Cukup,
cukup. Diam kau iblis” teriak Nyai Wiji Sari dengan suara yang
melengking-lengking. “Kenapa aku harus diam? Kau khianati kesetiaan
seorang suami. Kau nodai kasih seorang ibu kepada anaknya. Dan
sekarang, ketika yang tinggal hanya tulang belulang, kau datang
untuk mengambilnya. Semua itu omong kosong. Kau yang
memanfaatkah anakmu yang telah kau tinggalkan didalam api yang
menyala itu untuk menantang Kiai Banyu Bening dan sekaligus berusaha
merebut padepokannya.” “Kau gila. Kau gila” teriak Nyai Wiji Sari
semakin keras. “Aku adalah orang terdekat dengan Kiai Banyu Bening.
Aku melihat bagaimana Kiai Banyu Bening menjadi gila karena tangis
anaknya yang ditelan api, sehingga kegilaannya itu telah mewarnai
kepercayaannya. Ia ingin seratus orang bayi mau sebagaimana anaknya,
menangis didalam api yang menyala.” “Tidak. Kau bohong” Kiai
Narawangsa lah yang menyahut Banyu Bening mendengar tangis anaknya
bagaikan kidung yang mengalun di atas mega di langit biru. Ketika ia
merindukan suara kidung itu lagi, maka ia telah memerintahkan untuk
membakar seratus orang bayi demi kepuasan batinnya.” Tetapi Ki
Warana menjawab ”Kau benci akan kesetiaan Kiai Banyu Bening, karena
kau telah mengambil isterinya dengan cara yang tidak beradab.”
“Cukup” teriak Kiai Narawangsa. Tiba-tiba saja Kiai Narawangsa itu
mengangkat tangannya sambil berteriak ”Lontarkan anak panah
sendaren. Kita koyak mulut-mulut yang memfitnah itu.” Ki Lemah Teles
tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Diperintahkannya, para cantrik
yang bersenjata anak panah untuk bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Sejenak kemudian, maka beberapa batang anak panah
sendaren telah terlepas dari busurnya. Anak panah yang memberikan
isyarat kepada semua kekuatan yang dibawa oleh Kiai Narawangsa dan
Nyai Wiji Sari untuk bergerak serentak. Ki Lemah Teles yang
berada di panggungan pun tanggap akan perintah itu. Ketika ia
melihat pasukan itu mulai bergerak, maka Ki Lemah Teles telah
memerintahkan membunyikan isyarat dengan memukul bende diatas
panggungan itu. Demikian suara bende itu meraung-raung diatas
panggungan, maka para cantrik seisi padepokan itu telah bersiap.
Anak-anak muda dari beberapa padukuhan yang telah berada di
padepokan itupun telah mendapatkan dirinya pula. Sebagian dari
mereka memang sudah mempunyai sedikit pengalaman, tetapi yang lain
sama sekali belum. Namun para pemimpin padepokan itu masih sempat
memberikan latihanlatihan kepada mereka meskipun baru landasannya
saja sementara lawan mereka adalah orang-orang yang setiap saat
selalu bercanda dengan senjata mereka. Tetapi para cantrik padepokan
Kiai Banyu Bening yang mengikutii jejak Ki Warana juga cukup banyak.
Merekapun memiliki pengalaman sebagaimana para pengikut Kiai
Narawangsa. Demikianlah, maka sejenak kemudian, seperti arus banjir
bandang, para pengikut Kiai Narawangsa telah menyerang padepokan
yang telah ditinggalkan oleh Kiai Banyu Bening itu. Mereka menerobos
pintu gerbang induk dan pintu-pintu gerbang butulan yang telah
menjadi abu. Tetapi demikian mereka mulai bergerak, maka anak panah
pun tercurah bagaikan hujan. Tetapi hal itu memang sudah
diperhitungkan oleh Kiai Narawangsa dan para pengikutnya. Karena
itu, merekapun tidak terkejut sama sekali. Bahkan mereka telah siap
untuk menangkis serangan anak panah yang menghujan itu.
Meskipun demikian, beberapa orang telah terhenti di pintupintu
gerbang. Anak panah yang menyusup dibawah perisai dan mengenai
lutut, telah melumpuhkan beberapa pengikut Kiai Narawangsa. Namun
ada pula anak panah yang menembus dada, sehingga orang yang
dikenainya terjatuh dan terinjak-injak oleh kawan-kawannya. Mereka
untuk selamanya tidak akan pernah bangkit lagi. Sejenak kemudian,
maka banturan kekuatanpun telah terjadi. Tetapi demikian derasnya
arus serangan yang mengalir dari luar padepokan, telah memaksa para
cantrik untuk bergerak mundur. Tetapi para cantrik itu tidak
melepaskan para penyerang untuk begitu saja memasuki padepokan yang
telah mereka rebut dari tangan Panembahan Lebdagati itu. Pertempuran
pun segera menyala dengan sengitnya. Senjata yang teracu-acu,
berputaran dan terayun-ayun itu, telah saling berbenturan. Suaranya
berdentang diantara teriakan-teriakan yang mengguruh dari kedua
belah pihak. Di induk pasukan Kiai Narawangsa bertempur dengan
garangnya. Apa saja yang ada didepannya telah disapunya tanpa ampun.
Namun langkahnya terhenti ketika dihadapannya berdiri seorang yang
sudah berada diusia senjanya. “Sabarlah sedikit. Kiai Narawangsa.
Jangan kau sapu anakanak seperti menebas batang ilalang. Seharusnya
kau mempunyai sedikit harga diri dengan mencari lawan yang seimbang,
setidak-tidaknya mampu memberikan sedikit perlawanan.” “Siapa kau?”
bertanya Kiai Narawangsa. “Namaku Ajar Pangukan.” jawab orang
itu. Kiai Narawangsa menarik nafas dalam-dalam. Katanya
”Namamu tidak dikenal. Minggirlah. Kau sudah terlalu tua untuk
berada di medan pertempuran. Aku tidak akan menghancurkanmu
sebagaimana orang-orang lain yang berani mendekati aku.” “Kiai
Narawangsa, aku berniat untuk melawanmu apapun yang terjadi.” “Kau
ternyata belum mengenal aku yang sebenarnya.” “Jika sekarang aku
berdiri disini, justru karena aku .ingin mengenalmu sebaik-baiknya.”
“Nampaknya kau juga orang berilmu. Tetapi belum terembat bagimu jika
kau ingin menyingkir.” “Aku akan tetap mencoba menghadapimu.
Marilah, aku sudah bersiap sepenuhnya.” Kiai Narawangsa menggeram.
Katanya ”Apaboleh buat jika aku harus membunuhmu.” “Bukankah didalam
perang dapat saja terjadi, membunuh atau dibunuh?” “Bagus. Kau
benar-benar sudah siap maju ke medan pertempuran. Aku senang
mendapat seorang lawan yang sedikit dapat menggelitik ilmuku.” Ki
Ajar Pangukan pun kemudian telah bersiap. Kiai Narawangsa telah
bergerak selangkah ke samping. Demikian pula Ki Ajar Pangukan
sehingga keduanya untuk beberapa saat saling bergeser
setapak-setapak. Sesaat kemudian, maka Kiai Narawangsa yang
garang itu mulai meloncat menyerang. Tetapi serangannya yang
seakanakan sekedar untuk menyentuh kulit lawannya itu pun telah
dielakkan oleh Ki Ajar Pangukan. Namun seranganserangan Kiai
Narawangsa berikutnya justru menjadi semakin cepat dan semakin
garang. Namun demikian, serangan-serangan itu tidak menyentuh
sasarannya. Tetapi Kiai Narawangsa memang belum bersungguhsungguh.
Ia masih ingin mengetahui serba sedikit tentang kemampuan lawannya
yang sudah lewat separo baya. Ki Ajar Pangukan pun masih belum
benar-benar bertempur. Seperti Kiai Narawangsa, Ki Ajar Pangukan
baru sekedar ingin mengintip kemampuan lawannya. Karena itu, maka
keduanya masih belum menapak pada ilmu mereka yang sebenarnya. Dalam
pada itu, yang lebih kasar dari Kiai Narawangsa adalah Ki Gunasraba.
Dengan senjata bindi ia menghancurkan apa saja yang ada
disekitarnya.Untuk menahan geraknya, maka lima orang cantrik
padepokan itu telah mengepungnya. Namun bindi Gunasraba
berputaran dengan cepat. Bindi yang besar itu memang sulit untuk
ditahan. Jika terjadi benturan dengan senjata para cantrik, maka
senjata-senjata itu harus digenggam erat-erat. Dua orang cantrik
telah kehilangan senjata mereka dalam benturan dengan bindi
Gunasraba. Untunglah, seorang diantara mereka segera mendapatkan
senjata kembali. Sementara cantrik yang lain telah memungut senjata
siapa pun juga yang terkapar tidak jauh daripadanya. Meskipun
berlima, ternyata cantrik itu mengalami kesulitan. Yang dapat mereka
lakukan adalah sekedar menahan, agar Gunasraba tidak mengacaukan
pertahanan para cantrik pemula yang masih belum cukup berpengalaman.
Namun diantara riuhnya geram dan teriakan-teriakan, terdengar
seseorang berkata ”Minggirlah. Aku akan mencoba menghadapinya.” Para
cantrik itu memang segera menyibak. Yang muncul adalah Ki Sambi
Pitu. Seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan. Beberapa lembar
yang terjurai dibawah ikat kepalanya, nampak kelabu keputih-putihan.
“Kau mau apa, kakek tua? “ bertanya Gunasraba. “He, aku belum tua”
jawab Ki Sambi Pitu ”gigiku masih utuh.” “Tetapi rambutmu sudah
mulai memutih.” sahut Gunasraba. “Aku dapat menyembunyikan rambutku
dibawah ikat kepalaku.” “Kau cukur sampai gundul pun kau tidak akan
dapat menyembunyikan umurmu.” Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya ”Aku
memang sudah tua.” “Minggirlah. Jangan ganggu aku. Aku akan
membinasakan orang-orang yang berani menghalangi jalanku menuju ke
pendapa bangunan utama padepokan ini.” Tetapi Ki Sambi Pitu justru
tertawa. Katanya ”Kau suka yang aneh-aneh, Ki Sanak. Kau kira kami
akan mempersilahkan kalian naik ke pendapa dan menyuguhkan hidangan
minuman hangat dan makan siang dengan memotong tiga ekor lembu?”
“Setan kau orang tua yang tidak tahu diri. Sekali kau tersentuh
senjataku, maka tubuhmu akan segera lumat.” Tetapi Ki Sambi Pitu
tidak bergeser dari tempatnya. Dengan tangkasnya Ki Sambi Pitu telah
menggerakkan pedangnya. Namun Ki Sambi Pitu itu sadar, bahwa bindi
lawannya yang berat itu merupakan senjata yang berbahaya. Ia harus
menghindari benturan langsung sejauh dapat dilakukannya. Gunasraba
yang marah itupun kemudian berkata ”Jika demikian bersiaplah untuk
mati. Tubuhmu akan segera lumat menjadi debu.” Ki Sambi Pitu tidak
menjawab lagi. Tetapi ia benar-benar sudah siap untuk menghadapinya.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, keduanya telah terlibat
dalam pertempuran yang sengit, mereka tidak merasa perlu untuk
saling menjajagi. Apalagi tangan Gunasraba sudah terlanjur
berkeringat ketika ia menghadapi kelima orang cantrik yang berusaha
membatasi geraknya. Tetapi karena itu, maka Gunasraba pun segera
terkejut. Orang tua itu ternyata mampu bergerak dengan tangkas.
Tubuhnya bahkan seakan-akan seringan kapas. Sementara itu senjatanya
berputaran dengan cepat, sehingga sebilah pedang itu
seakan-akan telah berubah menjadi dua atau tiga atau bahkan ampat.
“Gila kakek tua ini” geram Gunasraba. Namun Gunasraba juga bukan
orang kebanyakan. Iapun memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan kekuatan
Gunasraba ternyata memang melampaui kekuatan orang kebanyakan. Namun
dalam pada itu, demikian pasukan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari
memasuki halaman padepokan, maka Nyai Wiji Sari langsung dapat
melihat sebuah tugu batu dan sebuah nisan kecil diatasnya
sebagaimana pernah dilaporkan oleh orang-orangnya yang pernah datang
ke padepokan itu. Karena itu, maka jantungnya benar-benar telah
bergejolak. Demikian pasukannya sempat mendorong pertahanan para
cantrik dari padepokan itu mundur, maka Nyai Wiji Sari tidak dapat
menahan dirinya. Nyai Wiji Sari pun dengan garangnya telah menerobos
menusuk langsung pertahanan lawan. Tiba-tiba saja perempuan itu
terlepas dari medan dan berlari langsung ke tugu didepan bangunan
utama padepokan itu. Dengan perasaan yang bergejolak, maka Nyai Wiji
Sari pun segera berlutut didepan tugu itu. Dua orang pengawalnya
tidak melepaskan Nyai Wiji Sari pergi sendiri. Karena itu, maka
keduanya segera memburunya. Demikian Nyai Wiji Sari berlutut didepan
tugu dengan nisan kecil diatasnya itu, maka kedua orang pengawalnya
itupun telah bersiap untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi.
Beberapa orang cantrik memang siap untuk mengejar mereka. Tetapi
seorang yang bongkok telah menahan mereka. “Biarlah aku yang
mengurusnya.” Para cantrik itu mengurungkan niatnya. Namun
karena Nyai Wiji Sari dikawal oleh dua orang pengikutnya, maka dua
orang cantrik yang semula menjadi pengikut Kiai Banyu Bening telah
ikut bersama Ki Pandi. Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari itu pun
segera mempersiapkan diri ketika mereka melihat Ki Pandi berjalan
mendekat. Namun nampaknya Ki Pandi tidak akan dengan serta merta
menyerang mereka. Sebenarnyalah Ki Pandi melangkah dengan tenang
mendekat. Dahi nya berkerut ketika ia melihat Nyai Wiji Sari itu
mengusap matanya yang basah. “Maafkan ibumu, anakku” desisnya ”ibu
tidak dapat menjagamu dengan baik, sehingga bencana itu terjadi.”
“Kesalahanmu tidak terletak pada kelengahanmu menjaganya, Nyai”
tiba-tiba saja Ki Pandi menyahut ”tetapi sumber kesalahan itu adalah
karena kau tidak setia.” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Ia sudah
siap menghadapi perempuan itu jika ia menjadi marah. Tetapi yang
tidak terduga itupun terjadi. Nyai Wiji Sari yang garang itu tidak
dengan serta-merta bangkit dan menyerang Ki Pandi yang bongkok itu.
Tetapi ia justru menjawab “Kau benar, Ki Sanak. Ketidak-setiaan itu
adalah sumber dari bencana ini.” Nyai Wyi Sari justru menangis.
Isaknya telah mengguncang tubuhnya ”maafkan aku anakku. Ketidak
setiaanku itu pula yang membuat Kiai Banyu Bening menjadi gila. Pada
mulanya ia bukan orang yang jahat. Tetapi ketika ia melihat seorang
laki-laki didalam bilik tidurnya dan bahkan membiarkan anaknya
menangis, maka ia menjadi seperti orang gila. Malapetaka itu
terjadi. Rumah itu terbakar dan bayi inipun terbakar. Sejak itu,
Kiai Banyu Bening telah berubah. Ia menjadi seorang penjahat yang
ditakuti. Bahkan menurut pendengaranku, ia benar-benar menjadi
gila disini, karena ia berniat mengorbankan bayi-bayi yang dibakar
hidup-hidup didalam api. Ia ingin membalas dendam karena kematian
bayinya yang terbakar itu. Ia ingin banyak orang mengalami kepahitan
sebagaimana dialaminya.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Yang
dilihatnya berlutut itu bukan seorang perempuan garang yang terbiasa
berpacu diatas punggung kuda, menjelajahi padukuhan dan bulak-bulak
panjang dimalam hari. Tetapi yang berlutut itu adalah seorang
perempuan yang menyesali jalan hidupnya yang sesat. “Ki Sanak”
terdengar Nyai Wiji Sari itu berdesis ”Apakah benar Kiai Banyu
Bening telah meninggal?” “Ya, Nyai,” jawab Ki Pandi ”kedua orang ini
adalah orang yang tinggal bersama Kiai Banyu Bening untuk waktu yang
lama.” “Apakah benar, Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai
Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Ya, Nyai” jawab salah
seorang dari kedua orang cantrik itu. ”Kiai Banyu Bening telah
terbunuh oleh Panembahan Lebdagati. Padepokan ini pernah diduduki
oleh Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai Banyu Bening
itu.” “Kenapa Panembahan Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening?”
“Menurut Panembahan Lebdagati, daerah ini, sepanjang lereng Gunung
Lawu adalah daerahnya.” “Apakah itu benar?” bertanya Nyai Wiji Sari.
“Panembahan Lebdagati memang pernah menguasai daerah ini. Tetapi ia
pernah terusir oleh beberapa orang berilmu tinggi yang tidak
dapat membiarkan kepercayaan sesatnya berkembang. Setiap purnama ia
mengorbankan seorang gadis untuk membuat pusakanya menjadi pusaka
terbaik di muka bumi.” Dahi Nyai Wiji Sari berkerut. “Lalu kenapa
kalian kemudian dapat tinggal di padepokan ini?” bertanya Nyai Wiji
Sari. “Kami mengambilnya dari tangan Panembahan Lebdagati.” “Jadi
kau juga pengikut Kiai Banyu Bening? “ bertanya Nyai Wiji Sari.
“Tidak, Nyai. Kebetulan tidak. Aku terlibat setelah tempat ini
diduduki oleh Panembahan Lebdagati.” jawab Ki Pandi. Nyai Wiji Sari
termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih tetap berlutut. Sementara
sekali-sekali tangannya masih mengusap air matanya. Dalam pada itu,
seorang pengawalnyalah yang berkata ”Sudahlah Nyai. Kiai Narawangsa
masih terlibat dalam pertempuran yang sengit. Apakah Nyai tidak akan
melibatkan diri?”- Tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari mengangkat
wajahnya. Dipandanginya Ki Pandi dengan tajamnya. Ternyata wajah
Nyai Wiji Sari itu berubah. Meskipun pelupuknya masih basah, tetapi
mata itu bagaikan telah menyala. Ki Pandi melihat perubahan itu.
Karena itu, maka ia pun telah bersiap kembali untuk menghadapi
segala kemungkinan. Agaknya Nyai Wiji Sari itu telah menghentakkan
diri dari rintihan nuraninya, kembali ke dalam dunia
petualangannya yang garang, yang penuh dengan kekerasan dan
kekelaman nalar budi. “Orang bongkok” geram Nyai Wiji Sari kemudian
”kau tentu salah satu dari orang yang telah mengacaukan segala
sesuatunya. Mungkin kau justru yang telah mendalangi agar Panembahan
Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening. Namun kemudian kau khianati
Panembahan itu. Kau dengan licik telah mengadu kekuatan orang-orang
berilmu tinggi. Diatas mayat mereka sekarang kau menari di padepokan
ini.” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Selangkah ia bergerak surut
ketika Nyai Wiji Sari yang telah bangkit berdiri itu melangkah maju
sambil memandanginya dengan mata yang membara. “Tidak, Nyai “ suara
Ki Pandi masih tetap lunak ”kau kembali terbenam ke alam arus
perasaanmu yang kau landasi pengalaman hidupmu yang kelam. Ketika
sepercik terang bersinar di hatimu, maka kau dapat menemukan dirimu
sendiri. Tetapi jika kelam itu datang menyelimuti kalbumu, maka kau
menjadi seorang perempuan yang garang.” “Cukup. Siapa pun kau dan
apapun yang kau katakan, namun aku datang untuk mengambil padepokan
ini. A ku akan selalu berada disisi anakku. Ia sendiri disini,
apalagi sepeninggal Kiai Banyu Bening.” “Kaupun harus berpikir
bening, Nyai.” “Cukup. Tengadahkan wajahmu. Aku akan menebas
lehermu. Kau akan dikubur disini, dibawah tugu ini. Kau akan menjadi
pengawal anakku dan melakukan apa saja yang diinginkannya. Bahkan
kau akan menjadi kuda tunggangan yang jinak dan penurut.” Ki
Pandi mengerutkan dahinya. Mata Nyai Wiji Sari justru menjadi liar.
Tiba-tiba saja perempuan itu telah mencabut senjatanya, sebilah
pedang. Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Perasaan Nyai Wiji Sari
yang kacau telah mendorongnya untuk bertempur langsung pada tataran
yang menentukan. Ki Pandi memang tidak dapat mengelak. Ia sadar,
bahwa Nyai Wiji Sari itu tentu memiliki ilmu yang tinggi. Karena
itu, maka Ki Pandi tidak ingin menjadi lengah dan kehilangan
kesempatan. Demikian Nyai Wiji Sari mulai memutar pedangnya, maka Ki
Pandi telah melepas ikat kepalanya dan dibalutkan pada lengan tangan
kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah seruling yang
semula terselip di punggungnya. Betapapun gelap nalar Nyai Wiji
Sari, tetapi ketika ia melihat senjata Ki Pandi, maka Nyai Wiji Sari
itupun segera menyadari, bahwa orang bongkok itu bukannya orang
kebanyakan. Karena itu, maka Nyai Wiji Sari itupun menjadi sangat
berhati-hati menghadapinya. Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari
telah bersiap pula. Mereka bergeser di sebelah menyebelah Nyai Wiji
Sari. Ki Pandi masih bergeser surut. Kedua orang cantrik yang
menyertai telah bersiap pula. Mereka akan menghadapi kedua orang
pengawal Nyai Wiji Sari. “Kau sadari apa yang aku lakukan, Nyai?”
bertanya Ki Pandi. “Kau mulai ketakutan bongkok. Sayang, aku
tidak mempunyai perasaan belas kasihan kepada siapa pun juga.
Apalagi jika aku sudah terlanjur mencabut pedangku.” Ki Pandi tidak
menjawab. Sementara itu Nyai Wiji Sari telah mengangkat pedangnya
sambil berkata lantang, ”Lihat pedangku yang berwarna
kehitam-hitaman. Ini adalah warna darah yang membeku di daun
pedangku. Aku tidak pernah membersihkannya jika pedangku berlumur
darah.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya daun
pedang Nyai Wiji Sari yang menyeramkan. Sama sekali tidak berkilat
ditimpa cahaya matahari. Warna coklat kehitaman membuat tengkuk Ki
Pandi meremang. Tetapi Ki Pandi tidak mempunyai banyak kesempatan
untuk merenungi lawannya yang menilik senjatanya, Nyai Wiji Sari
benar-benar telah terbenam terlalu dalam di lumpur yang pekat.
Nampaknya dengan caranya Nyai Wiji Sari ingin melupakan kepahitan
jalan hidupnya yang bernoda. Bahkan Nyai Wiji Sari juga ingin
melupakan perasaan bersalah yang selalu membayanginya kemana saja ia
pergi. Dalam pada itu, maka Nyai Wiji Sari pun mulai menggapai tubuh
Ki Pandi dengan ujung pedangnya. Namun Ki Pandi bergeser.
menghindar. Nyai Wiji Sari menyadari, bahwa kain ikat kepala Ki
Pandi yang dipergunakan untuk membalut lengan kirinya, tentu bukan
kebanyakan ikat kepala. Ikat kepala itu tentu selembar ikat kepala
yang dibuat secara khusus. Yang liat dan seratserat benangnya tidak
mudah terputus oleh tajamnya senjata. Demikian pula seruling
ditangan kanan orang bongkok itu. Tentu bukan seruling yang
dibelinya di pasar atau di sebuah keramaian merti desa. Tetapi
seruling itu tentu sebuah seruling yang dibuat secara khusus pula.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, pertempuran pun telah
berlangsung dengan sengitnya. Nyai Wiji Sari ternyata memang seorang
perempuan yang tangkas, yang memiliki ilmu yang tinggi. Pedangnya
berputaran dengan cepat. Sambaran anginnya bagaikan menusuk-nusuk
lubang kulit. Tetapi Nyai Wiji Sari harus melihat kenyataan, bahwa
orang bongkok yang buruk itu ternyata benar-benar memiliki ilmu yang
tinggi. Apapun yang dilakukan oleh Nyai Wiji Sari, Ki Pandi mampu
mengindarinya atau menangkisnya dengan lengannya yang dibalut dengan
ikat kepalanya atau dengan serulingnya. Dengan demikian, maka Nyai
Wiji Sari harus meningkatkan ilmunya. Bahkan sampai pada tataran
tertinggi. Dalam pada itu, di pintu-pintu butulan, pertempuran pun
telah berlangsung dengan sengitnya. Di pintu butulan sebelah kiri,
Manggada dan Laksana telah bertemu dengan dua orang yang pernah
berjalan berpapasan di jalan bulak. Sebagaimana Manggada dan Laksana
masih mengenali kedua . orang anak muda itu, ternyata keduanya juga
masih mengenali Manggada dan Laksana. “Jadi kau penghuni padepokan
ini, he?” bertanya Parung Landung. Manggada termangu-mangu sejenak.
Katanya “Kita pernah bertemu Ki Sanak.” “Kalau aku tahu, kau
penghuni padepokan ini, maka saat kita berpapasan, kepalamu tentu
sudah aku lumatkan.” Laksana tiba-tiba saja tertawa. Katanya
”Aku menyesal bahwa kami waktu itu memberikan jalan kepadanya,
sehingga kami terpaksa berjalan diatas tanggul parit. Waktu itu, aku
memang sudah merencanakan untuk mencabuti kumismu yang jarang itu.
Tetapi kakakku mencegahnya.” “Tutup mulutmu” Paron Waja menggeram
”aku akan menyumbat mulutmu sekarang.” Laksana masih saja tertawa.
Katanya “Kita mempunyai kesempatan yang sama sekarang. Kawan-kawanmu
dan para cantrik di padepokan ini tengah bertempur. Kita pun akan
bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu.” “Bagus. Kita akan
bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu kita sampai tuntas,“
jawab Parung Landung. “Kita bertempur di medan perang. Bukan sedang
berperang tanding. Karena itu, kemungkinan datangnya gangguan dapat
saja terjadi. Karena itu, persetan dengan istilahnya. Sejauh kita
mendapat kesempatan bertempur seorang lawan seorang, maka kita akan
melakukannya. “Nah, kami silahkan kalian memilih lawan.” Manggada
dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi Laksanalah yang
berkata ”Kalian saja yang memilih. Aku harus melawan yang mana, dan
kakang Manggada yang mana. Bagi kami siapa pun yang kami hadapi,
tidak ada bedanya. Kami sudah benar-benar siap menghadapi segala
kemungkinan.” Paron Waja menggeram. Katanya “Biarlah aku bungkam
mulut anak ini.” Laksana tertawa pula. Katanya “Mulut ini ada
yang punya. Tentu yang punya akan berkeberatan jika mulut ini akan
dibungkam.” Kemarahan Paron Waja benar-benar sudah membakar
jantungnya. Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil
mengayunkan tangannya ke arah wajah Laksana. Tetapi Laksana sudah
bersiap sepenuhnya. Dengan tangkas ia bergeser surut, sehingga
tangan Paron Waja tidak menyentuh kulitnya. Namun terasa desir angin
menerpa wajah Laksana yang luput dari jangkauan tangan Paron Waja
itu. Dengan demikian Laksana menyadari, bahwa kekuatan Paron Waja
memang sangat besar. Sementara itu, ketika Paron Waja mulai
menyerang Laksana, maka Manggada tidak menyia-nyiakan waktu. Justru
Manggada lah yang lebih dahulu mengambil langkah. Dengan cepat
Manggada meloncat sambil menjulurkan kakinya. Parung Landung melihat
serangan itu. Tetapi demikian cepat dan tidak diduga-duga. Karena
itu, maka Parung Landung tidak sempat mengelak. Yang dapat dilakukan
adalah sekedar menepis serangan kaki Manggada dan kuat itu. Ternyata
Parung Landung tidak berhasil sepenuhnya. Meskipun kaki Manggada itu
tidak mengenai sasaran, tetapi kaki itu masih juga mengenai pundak.
Tubuh Parung Landung itu terputar. Hampir saja ia kehilangan
keseimbangannya. Tetapi Parung Landung justru telah bergeser
beberapa langkah untuk memperbaiki kedudukannya. Manggada memang
tidak memburunya. Ia tidak ingin dianggap curang dan licik. Karena
itu, maka Manggada itupun menunggu sejenak, sehingga Parung
Landung berdiri tegak dan siap untuk menghadapinya. Parung Landung
itupun menggeram ”Ternyata kau licik sekali.” “Tidak. Bukan aku yang
licik. Tetapi kau terlalu yakin akan kemampuanmu sehingga kau
abaikan aku. Aku memang tidak ingin menentukan akhir dari
pertempuran diantara kita dengan serangan yang pertama itu. Aku baru
sekedar memperingatkanmu, agar kau berhati-hati.” “Kau dapat saja
membuat seribu macam alasan. Tetapi sekarang, marilah kita buktikan,
siapakah diantara kita yang akan dapat keluar dari pertempuran ini
utuh. Bukan hanya namanya.” Manggada menarik nafas dalam-dalam.
Lawannya ternyata memang seorang yang sangat yakin akan kemampuannya
Karena itu, maka Manggada pun telah bersiap sebaikbaiknya untuk
menghadapinya. Demikianlah, Manggada dan Laksana telah terlibat
dalam pertempuran yang sengit. Lawan mereka juga masih muda. Tetapi
Parung Landung dan Paron Waja agaknva lebih tua dari lawan-lawan
mereka. Pertempuran antara anak-anak muda itupun dengan cepatnya
meningkat. Jantung mereka lebih cepat membara dan darah mereka lebih
cepat mendidih. Sehingga beberapa saat kemudian, maka pertempuran
itu menjadi semakin garang dan segenap kemampuannya dikerahkan.
Parang Landung dan Paron Waja yang terbiasa hidup dalam petualangan,
sama sekali tidak merasa canggung. Bahkan mereka pun berusaha dengan
cepat untuk mengakhiri lawan lawan mereka, agar mereka segera dapat
terlibat dalam pertempuran melawan para cantrik dari padepokan itu.
Adalah sangat menggembirakan untuk membantai cantrik-cantrik pemula
yang masih belum banyak berpengalaman. Tetapi ternyata mereka tidak
dapat melakukannya semudah yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Kedua anak muda yang mereka hadapi itu ternyata adalah anak-anak
muda yang berbekal ilmu sehingga untuk beberapa saat mereka masih
mampu mengimbangi ilmu mereka. “Karena itu, setelah bertempur
beberapa saat lamanya, Parung Landung justru mengumpat-umpat kasar.
Ternyata tangan Manggada sempat menggapai keningnya. Meskipun tidak
terlalu keras, namun sentuhan itu sendiri membuat kemarahan Parung
Landung semakin memuncak. Karena itu, maka Parung Landung pun telah
menghentakkan kemampuannya pula dengan seranganserangan beruntun
yang sempat mengejutkan Manggada. Karena itu, Manggada telah
terdorong surut. Namun serangan Parung Landung masih belum mampu
menembus pertahanan Manggada. Parung Landung menggeram. Ia tidak mau
mengalami kenyataan itu. parung Landung ingin lawannya itu segera
dapat diselesaikannya, sehingga dengan wajah tengadah ia dapat
menepuk dadanya ”Aku telah membunuh andalan padepokan ini.” Tetapi
ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Lawannya ternyata sangat
liat dan bahkan berilmu tinggi. Pertempuran itu semakin lama menjadi
semakin sengit pula. Paron Waja pun mulai menjadi gelisah, ia
menyangka bahwa dalam waktu singka anak muda itu dapat segera
dikalahkannya. Tetapi ternyata bahwa anak muda itu mampu
mengimbanginya. Dalam pada itu, di belakang pintu butulan sebelah
kanan, Ki Jagaprana telah menghentikan dua orang yang disangkanya
kembar. Kedua orang yang mengamuk seperti sepasang harimau yang
lerluka. “Bagus” Ki Jagaprana mengangguk-angguk ”apakah memang sudah
menjadi kebiasaan kalian bertempur berpasangan?” “Siapa kau?”
bertanya Krendhawa. “Pertanyaanmu aneh. Seharusnya kau tahu bahwa
aku adalah salah satu dari penghuni padepokan ini.” “Maksudku, siapa
namamu?” bentak Krendhawa. Ki Jagapura tersenyum. Katanya ”Namaku
Jagaprana. Aku mendapat perintah untuk menghentikan kalian berdua.
Nah, jika kalian memang terbiasa bertempur berpasangan karena kalian
anak kembar, maka aku tidak berkeberatan.” “Kami bukan saudara
kembar” geram Mingkara ”umur kami bertaut hitungan tahun.” “O”
Jagaprana mengangguk-angguk ”tetapi ujud kalian tidak ubahnya dua
orang kembar.” “Agaknya matamu lah yang kabur” geram Mingkara. “Aku
tidak peduli, apakah kalian kembar atau tidak. Yang penting bagiku,
jika kalian terbiasa bertempur berpasangan, marilah. Aku ingin
menjajagi kemampuan kalian berdua.” “Kau terlalu sombong kakek
tua. Betapapun tinggi ilmumu, wadagmu sudah tidak membantu. Kau
sudah terlalu tua untuk bertempur di medan yang garang menghadapi
petualangan yang terbiasa dengan kekerasan. Bahkan seandainya kau
matahari yang menyala di langit, kau sudah memasuki masa senjamu.”
Jagaprana tertawa. Katanya “Sinar matahari senja masih akan mampu
membakar bibir mega di langit. Cahaya layung di senja hari masih
dapat membuat mata puluhan orang menjadi sakit. “Iblis kau” geram
Krendhawa ”suaramu seperti sentuhan welat ditelingaku. Pedih. Karena
itu, bersiaplah untuk mati. Kami ingin menunjukkan, betapa kami
mampu bertempur berpasangan melampaui orang kembar sebenarnya.” Ki
Jagaprana masih tertawa. Katanya ”Marilah, aku sudah siap.” Mingkara
memang tidak sabar lagi. Dengan garangnya, ia pun meloncat menyerang
Ki Jagaprana dengan ayunan tangannya. Ki Jagaprana bergeser surut.
Tangan itu tidak menyentuh tubuhnya. Tetapi serangan berikutnya pun
segera menyusul. Krendhawa telah menjulurkan kakinya menyerang
lambung. Tetapi dengan cepat Ki Jagaprana menggeliat, sehingga
serangan itu sama sekali tidak mengenainya. Bahkan tiba-tiba saja Ki
Jagaprana yang tua itu melenting sambil berputar. Kakinya yang
terayun mendatar hampir saja menyambar kening Krendhawa.
“Iblis tua” geram Krendhawa sambil meloncat menjauh. Ki Jagaprana
tertawa pula. Katanya ”Jangan mengumpat. Umpatanmu tidak akan
membantumu mengalahkan aku.” “Diam kau iblis tua,” teriak Mingkara.
Tetapi Jagaprana tertawa semakin keras. Demikianlah pertempuran pun
semakin lama menjadi semakin sengit. Krendhawa dan Mingkara memang
bertempur berpasangan. Tetapi ternyata bahwa Ki Jagaprana benarbenar
seorang yang berilmu tinggi. Semakin lama Krendhawa dan Mingkara
bertempur melawan orang tua iru, maka mereka pun semakin menyakini
akan tingkat kemampuannya, sehingga kedua orang yang dianggap kembar
itu harus meningkatkan ilmunya pula. Pertempuran memang menyala
semakin besar. Tidak hanya di belakang pintu-pintu butulan. Tetapi
juga di belakang pintu gerbang utama. Agak terpisah, Nyai Wiji Sari
tengah bertempur melawan Ki Pandi yang bongkok. Pedang Nyai Wiji
Sari yang kehitamhitaman itu berputar dengan cepat. Namun Ki Pandi
pun telah mengimbanginya. Dengan cepat orang bongkok itu menghindari
serangan-serangan Nyai Wiji Sari. Pedang yang terayun-ayun itu tidak
segera dapat mengenai tubuh orang bongkok yang mampu bergerak cepat
itu. Namun sebenarnya lah, bahwa serangan-serangan Nyai Wiji Sari
tidak cukup membahayakan bagi Ki Pandi. Betapapun garangnya serta
tingginya ilmu Nyai Wiji Sari, namun dihadapan Ki Pandi, Nyai Wiji
Sari bukan seorang yang mencemaskan. Karena itu, maka
hentakan-hentakan serangan Nyai Wiji Sari tidak mampu menembus
pertahanan Ki Pandi. Nyai Wiji Sari mulai menjadi gelisah. Apa pun
yang dilakukan, serangan-serangannya tidak mampu menyentuh tubuh
orang bongkok itu. Nyai Wiji Sari yang bangga akan kecepatan
geraknya, di hadapan Ki Pandi tidak terlalu banyak berarti, karena
Ki Pandi itupun mampu bergerak cepat pula meskipun nampaknya orang
itu selalu berjalan terbongkok-bongkok. Semakin lama Nyai Wiji Sari
semakin menyadari, bahwa orang bongkok itu memiliki ilmu yang lebih
tinggi dari ilmunya. Bahkan Nyai Wiji Sari itupun mulai menyadari,
bahwa orang bongkok itu masih belum sampai ke puncak kemampuannya.
Meskipun demikian, Nyai Wiji Sari tidak segera berputusasa.
Perempuan yang garang itu mempunyai pengalaman yang luas sekali. Ia
sudah pernah bertempur melawan orang yang memiliki berbagai macam
ilmu. Sementara itu, Nyai Wiji Sari masih merasa mempunyai puncak
ilmu yang masih belum ditrapkan. Meskipun Nyai Wiji Sari itu tidak
yakin bahwa puncak ilmunya itu akan dapat mengakhiri pertempuran
itu, namun ia harus mencobanya. Nyai Wiji Sari sendiri mencemaskan
keragu-raguannya sendiri. Biasanya ia tidak pernah merasa ragu
menghadapi lawan yang betapapun garangnya. Bahkan dalam pertempuran
yang terjadi diantara mereka yang berebut daerah jelajah.
Pertengkaran dan permusuhan yang terjadi diantara orangorang yang
hidupnya berada di bawah permukaan. Namun dalam pada itu. Nyai Wiji
Sari pun merasa heran, bahwa serangan-serangan Ki Pandi pun tidak
pernah membahayakannya. Sekali-sekali seruling Ki Pandi memang
pernah menyentuh kulitnya, tetapi sama sekali tidak menyakitinya.
Seakan-akan Ki Pandi hanya ingin membuktikan, betapa rapuhnya
pertahanan Nyai Wiji Sari itu dihadapan Ki Pandi yang bongkok itu.
Meskipun Nyai Wiji Sari masih harus berteka-teki, namun ia masih
bertempur terus. Pedangnya masih berputaran dengan garangnya,
meskipun serangan-serangannya tidak pernah berhasil. Dalam, keadaan
yang gawat itu, maka Nyai Wiji Sari mulai mempertimbangkan untuk
mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia sadar, jika ia gagal, maka orang
bongkok itu tentu akan menjadi bersungguh-sungguh pula. Mungkin
dengan demikian pertahanannya justru benar-benar akan
dihancurkannya. Tetapi akibat yang paling buruk harus dijalaninya,
karena sejak semula Nyai Wiji Sari sudah memperhitungkan kemungkinan
yang demikian akan dapat terjadi atas dirinya. Tetapi Nyai Wiji Sari
memang tidak dengan serta-merta mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia
masih membuat beberapa pertimbangan dan persiapan. Sementara itu,
dua orang pengawalnya masih juga bertempur dengan sengitnya melawan
dua orang cantrik yang datang bersama Ki Pandi. Nampaknya mereka
memiliki kesempatan yang sama. Mereka adalah orang-orang yang
memiliki pengalaman yang cukup luas dengan landasan ilmu yang cukup.
Sedangkan pertempuran yang terjadi di sekitar pintu-pintu bu-tulan
pun telah merambat semakin lebar. Para cantrik tidak dapat membatasi
pertempuran di arena yang terbatas. Tetapi para pengikut Kiai
Narawangsa berusaha untuk menebar seluas-luasnya di padepokan
itu. Namun ada yang pernah terjadi sebelumnya telah terjadi
pula di padepokan itu. Para cantrik dari padepokan itu telah
memanfaatkan pengenalan mereka atas medan sebaikbaiknya. Diantara
bangunanbangunan yang ada, para cantrik menyerang lawanlawannya
dengan tiba-tiba. Mereka muncul dari balik sudut-sudut bangunan yang
ada. Dari balik pintu dan dari ruang-ruang yang tersebar dalam
bangunan-bangunan di padepokan itu. Para cantrik pemula, yang
terdiri dari anak-anak muda yang belum lama berada di padepokan,
menyerang lawanlawan mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Ketika
matahari menjadi semakin tinggi menggapai puncak langit, pertempuran
telah menyebar hampir di seluruh padepokan. Para cantrik sulit
mengendalikan lawan mereka. Dalam pada itu, Ki Lemah Teles dan Ki
Warana yang sudah turun dari panggungan, telah menghilang diantara
bangunan yang ada di padepokan itu. Bersama beberapa orang cantrik
pemula, mereka berusaha menemukan lawan disela-sela bangunan. Ki
Lemah Teles kadang-kadang membiarkan para cantrik pemula untuk
mendapatkan pengalaman. Tetapi dalam keadaan yang gawat, maka Ki
Lemah Teles telah berusaha untuk mengurangi kekuatan lawan.
Seperti sosok hantu diterik cahaya matahari, Ki Lemah Teles telah
berhasil menyusut lawan cukup banyak. Tetapi sebenarnyalah Ki Lemah
Teles bukan seorang pembunuh. Ia selalu berusaha melumpuhkan
lawan-lawannya tanpa membunuhnya. Dalam pada itu, pertempuran tidak
jauh dari pintu gerbang utama masih berlangsung dengan sengitnya.
Kiai Narawangsa ternyata tidak segera mengalahkan lawannya yang
dianggapnya sudah terlalu tua untuk turun ke medan pertempuran.
Lawannya, Ki Ajar Pangukan benar-benar seorang yang berilmu sangat
tinggi, sehingga ilmunya sama sekali tidak dapat disusul oleh
umurnya yang semakin tua. Sementara itu, bindi Gunasraba yang berat
itu setiap kali saling berbenturan dengan pedang Ki Sambi Pitu.
Kekasaran dan tenaga yang besar dari Gunasraba sama sekali tidak
banyak berarti bagi Ki Sambi Pitu. Beberapa kali Gunasraba harus
meloncat menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Namun
rasa-rasanya ujung pedang Ki Sambi Pitu selalu memburunya. Meskipun
Gunasraba beberapa kali berusaha menjauh, namun Ki Sambi Pitu itu
selalu saja lekat dihadapannya. Serangan-serangannya menjadi semakin
berbahaya. Namun akhirnya batas kemampuan pertahanan Gunasraba dapat
ditembus. Ujung pedang Ki Sambi Pitu mulai menyentuh kulit. Sebuah
goresan menyilang di lengan Gunasraba. Gunasraba mengumpat kasar.
Kemarahannya semakin membakar ubun-ubunnya. Luka di lengannya itu
telah menitikkan darahnya yang hangat. Tetapi kemarahan, umpatan dan
geram tidak cukup untuk menghentikan perlawanan Ki Sambi Pitu. Untuk
mengalahkan lawannya diperlukan kemampuan dan ilmu yang
tinggi. Gunasraba yang gelisah itu masih memutar bindinya.
Justru semakin cepat. Bindi itu terayun-ayun di seputar tubuhnya,
sehingga memang sulit bagi Ki Sambi Pitu untuk mendekat. Tetapi Ki
Sambi Pitu bukannya seorang cantrik yang baru mulai berlatih
mengenali dasar-dasar ilmu kanuragan. Ki Sambi Pitu adalah seorang
yang sudah kenyang menelan pahit manisnya dunia yang keras. Itulah
sebabnya, maka putaran bindi Gunasraba yang bahkan seakan-akan
merupakan gumpalan awan hitam yang mengelilingi tubuhnya, tidak
mampu membentengi serangan Ki Sambi Pitu. Sebuah serangan yang
cepat, menyusup diantara putaran bindi itu, langsung menyentuh
pundak Gunasraba. Namun hampir saja bindi itu menghantam kening Ki
Sambi Pitu. Ki Sambi Pitu bergerak dengan cepatnya. Sambil merendah,
sekali lagi pedangnya terjulur. Ketika sambaran angin yang
ditimbulkan oleh ayunan bindi Gunasraba itu menyambar wajahnya, maka
pedang Sambi Pitu itu mematuk dengan cepatnya menyusup disela-sela
tulang iga Gunasraba. Terdengar teriakan melengking tinggi.
Gunasraba terhuyung-huyung surut. Demikian Ki Sambi Pitu menarik
pedangnya, maka darah pun memancar dari luka di dada Gunasraba.
Sejenak kemudian, maka Gunasraba itupun jatuh terbanting di tanah
seperti sebatang pohon pisang yang rebah. Kematian Gunasraba
menimbulkan kegelisahan yang mencengkam jantung para pengikut Kiai
Narawangsa. Ki Gunasraba menurut pengertian mereka adalah seorang
yang berilmu tinggi. Ia merupakan kepercayaan Kiai Narawangsa di
medan pertempuran. Apalagi Ki Gunasraba adalah adik Kiai
Narawangsa yang diharapkan akan menggantikannya memimpin padepokan
yang akan ditinggalkan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Ki
Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu sambil menggenggam hulu
pedangnya yang basah oleh darah tercenung sejenak memandangi tubuh
yang terbaring diam. Namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan.
Beberapa orang pengikut Kiai Narawangsa itupun serentak telah
menyerang Ki Sambi Pitu. Ki Sambi Pitu pun dengan cepat berloncatan
menghindar. Sementara itu para cantrik pun tidak membiarkan lawan
mereka bergerak leluasa. Tetapi pertanda-pertanda buruk telah nampak
pada pasukan Kiai Narawangsa. Ternyata kekuatan yang mereka hadapi
jauh lebih besar dari perhitungan mereka. Bahwa di padepokan itu
terdapat beberapa orang berilmu tinggi sebelumnya tidak pernah
mereka duga. Satu-satunya orang yang mereka perhitungkan mempunyai
ilmu yang tinggi adalah Kiai Banyu Bening sendiri. Tetapi justru
Kiai Banyu Bening itu sudah tidak ada. Yang ada adalah beberapa
orang ysng berilmu tinggi. Kematian Gunasraba merupakan satu pukulan
yang berat bagi Kiai Narawangsa. Kecuali Gunasraba adalah adiknya,
ia termasuk orang yang cerdik dan berilmu tinggi. Namun di padepokan
itu, Gunasraba tidak mampu mempertahankan diri menghadapi lawannya
yang sudah menjadi tua itu. Sementara itu, Kiai Narawangsa sendiri
mengalami kesulitan menghadapi Ki Ajar Pangukan. Kiai Narawangsa
yang memiliki pengalaman yang sangat luas itu harus menghadapi
kenyataan, bahwa di padepokan itu terdapat seorang yang mampu
mengimbangi ilmunya.Sedangkan orang yang lain lagi, masih juga
bertempur melawan Nyai Wiji Sari. Nampaknya Nyai Wiji Sari yang
bertempur tidak jauh dari sebuah tugu sebagai alas sebuah nisan
kecil itu, juga tidak segera dapat mengalahkan lawannya. “Darimana
saja orang-orang berilmu tinggi yang berkumpul di padepokan ini?”
bertanya Kiai Narawangsa didalam hatinya. Kiai Narawangsa pun
bertanya-tanya pula kepada diri sendiri. Bagaimanakah dengan Parung
Landung dan Paron Waja serta Krendhawa dan Mingkara. Tetapi Kiai
Narawangsa tidak mempunyai banyak waktu untuk merenungi keadaan. Ki
Ajar Pangukan telah melibatkan dalam pertempuran yang sengit. Hampir
tidak ada waktu sekejap pun untuk memperhatikan keadaan, kecuali
jika Kiai Narawangsa itu sengaja mengambil jarak. Dalam pada itu,
Manggada masih bertempur melawan Parung Landung, sedangkan Laksana
menghadapi Paron Waja. Mereka adalah anak-anak muda yang jantungnya
masih mudah terbakar. Sementara itu mereka adalah anak-anak muda
yang memiliki bekal ilmu yang tinggi. Namun Parung Landung yang
bertempur melawan Manggada harus menyadari, bahwa lawannya ternyata
memiliki ilmu yang tinggi. Jika anak muda itu lebih baik menyingkir
ketika mereka berpapasan, itu bukan karena mereka tidak mempunyai
bekal untuk berkelahi, tetapi agaknya anak muda itu memang
menghindari perselisihan yang tidak perlu. Tetapi ketika anak muda
itu benar-benar dihadapkan pada satu pertempuran yang tidak dapat
dihindari, maka ternyata ia telah menunjukkan kemampuannya yang
tinggi. Sebenarnyalah Manggada mampu bertempur dengan cepat,
keras dan garang. Tubuhnya yang liat seakan-akan tidak bertulang
lagi. Anak muda itu mempunyai banyak sekali cara untuk menyerang dan
bertahan. Kakinya dengan tangkas berloncatan seakan-akan tidak lagi
berjejak diatas tanah. Tetapi Parung Landung yang ditempa dalam
lingkungan yang keras dan kasar itupun menjadi keras dan kasar pula.
Ketika ia menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu yang tinggi, maka
Parung Landung itupun telah meningkatkan serangan-serangannya.
Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit.
Serangan-serangan Parung Landung menjadi semakin garang. Ketika
kemudian ditangannya tergenggam sebuah golok yang besar, maka
Manggada pun telah memegang pedangnya pula. Ternyata keduanya
memiliki kemampuan bermain senjata yang tinggi. Golok yang besar di
tangan Parung Landung menjadi semakin berbahaya karena kekuatan anak
muda itu memang sangat besar. Tetapi tidak kalah berbahayanya pedang
di tangan Manggada. Pedang itu berputaran dengan cepatnya.
Terayun-ayun mendebarkan. Sementara itu, Laksana dan Paron Wajapun
masih juga bertempur dengan sengitnya pula. Keduanya juga sudah
menggenggam senjata. Benturan-benturan telah terjadi dengan
kerasnya. Kedua-duanya memiliki kekuatan yang besar. Namun Laksana
yang telah ditempa dalam kehidupan hutan bersama Manggada dan Ki
Pandi itu, dengan cepat menyesuaikan diri dengan gaya permainan
senjata lawannya. Karena itu, apapun yang dilakukan oleh
Mingkara, Laksana dapat mengimbanginya. Justru karena itu, kemarahan
Mingkara bagaikan telah menyulut ubun-ubunnya. Dihentakkannya
kemampuan dan ilmunya untuk mengatasi ketangkasan lawannya.
Demikianlah, maka dentang senjata yang berbenturan itupun telah
memercikkan bunga api. Senjata-senjata yang terbuat dari baja
pilihan itu berputaran, menyambar, mematuk dan saling mendera.
Sementara itu, pertempuran antara para pengikut Kiai Narawangsa dan
para penghuni padepokan itupun menjadi semakin sengit pula.
Satu-satu korban pun berjatuhan. Beberapa orang yang sempat, telah
menyingkirkan kawankawan mereka yang terluka, agar mereka tidak
terlanjur mati terinjak-injak kaki mereka yang sedang bertempur.
Ketika matahari melewati puncaknya, maka langit pun bagaikan
membara. Panasnya seakan-akan menyusup tubuh dan menghanguskan
tulang. Sementara itu pertempuran masih saja berlangsung dengan
sengitnya. Ki Jagaprana memang harus bekerja keras menghadapi dua
orang saudara yang semula disangkanya kembar. Kedua orang itu mampu
bertempur berpasangan dengan rapat. Saling mengisi dan saling
melindungi. Mereka datang menyerang berganti-ganti berurutan seperti
gelombang yang didera oleh prahara, bergulung-gulung menghantam
tebing. Tetapi Ki Jagaprana adalah seorang yang mumpuni. Ilmunya
yang tinggi benar-benar telah mapan di tempa oleh pengalaman.
Meskipun umurnya menjadi semakin tua, tetapi ia masih tetap seorang
yang sulit dicari tandingnya. Sesaat demi sesaat, dua orang
kakak beradik itu menjadi semakin berat. Serangan-serangan Ki
Jagaprana tidak kalah garangnya dengan serangan-serangan kedua orang
lawannya. Meskipun tidak terlalu sering, tetapi beberapa kali
membuat kedua orang lawannya itu terkejut dan terpaksa berloncatan
menjauhinya. Namun Ki Jagaprana tidak ingin pertempuran itu menjadi
semakin berkepanjangan. Ia hanya seorang diri, sedangkan lawannya
bertempur berpasangan. Pada saatnya, maka ia harus memeras tenaga
lebih banyak dari lawannya seorangseorang. Karena, itu, selagi
tenaganya masih belum susut, maka ia harus berusaha mengakhiri
pertempuran itu. Dalam pada itu, pertempuran di sekitarnya masih
berlangsung Bahkan semakin menebar. Para pengikut Kiai Narawangsa
tidak mau terkurung dalam batasan yang sempit. Karena itu, maka
mereka pun berusaha untuk menebar semakin luas. Dalam pada itu,
Krendhawa yang sempat mendesak Ki Jagaprana surut berteriak ”Mati
kau orang tua yang sombong.” Tetapi Ki Jagaprana tidak mati. Ia
sempat mengelakkan senjata Krendhawa yang terjulur ke arah dadanya.
Namun dalam waktu yang hampir bersamaan Mingkara pun berteriak ”Mati
kau iblis tua.” Tetapi Jagaprana justru tertawa. Dengan nada tinggi
ia berkata ”Kalian tahu artinya mati?” “Tutup mulutmu” bentak
Krendhawa. Ki Jagaprana merendahkan dirinya. Senjata Krendhawa
terayun deras di atas kepalanya. Tetapi senjata itu tidak menyentuh
kulit Ki Jagaprana. Namun Mingkara itu berteriak ”Kau tidak
akan dapat luput dari tangan kami iblis tua. Kau akan segera jatuh
ke tangan kami, apapun yang kau lakukan.” “Jangan banyak sesumbar”
desis Ki Jagaprana sambil menghindari serangan Krendhawa ”jika aku
memerlukan kawan, maka aku tinggal berteriak saja. Beberapa orang
akan segera berdatangan dan membantu aku membantai kalian berdua.
Tetapi bukan itu niatku. Aku masih ingin menjajagi kemampuanku,
apakah panasku, masih lebih tajam dari panasmu. Apakah panas
Matahari senja masih mampu membuat air mendirih atau sekedar
mengepulkan asap.” “Kau memang terlalu banyak berbicara.” geram
Krendhawa. Namun kata-kata Krendhawa terputus. Ki Jagaprana memang
sudah mulai merasa letih. Ia sadar, bahwa beberapa saat kemudian,
maka tenaganya tentu akan menyusut. “Apakah aku memang sudah tua?”
bertanya Ki Jagaprana kepada diri sendiri ”kenapa aku sekarang
menjadi terlalu cepat letih?” Ki Jagaprana masih menguji dirinya
sendiri. Tetapi karena ia harus bertempur melawan dua orang yang
berilmu tinggi, maka Ki Jagaprana memang harus mengerahkan tenaga
dan kemampuannya. Namun dalam pada itu, meskipun Ki Jagaprana telah
mulai merasa letih, tenaganya masih belum menyusut justru karena
itu, maka ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu
sebelum tenaganya benar-benar telah menyusut. Sementara itu, maka
Krendhawa dan Mingkara pun telah berusaha untuk memperbaiki
keadaannya. Mereka pun ingin agar orang tua itu segera dapat
diakhiri. Karena itu, maka kedua orang itu telah mengerahkan
kemampuan mereka tertinggi. Seperti Gunasraba, maka keduanya
memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan mengandalkan kekuatannya
itu, keduanya telah mencoba menghimpit Ki Jagaprana dari dua arah
yang berlawanan. Ki Jagaprana pun mulai merasakan seakan-akan
kekuatan kedua orang lawannya itu meningkat. Setiap terjadi
benturan, Jagaprana memang merasakan tekanan yang kuat dari kedua
orang lawannya. Namun kekuatan yang besar itu tidak menjamin
kemenangan dalam pertempuran yang cepat dan keras itu. Dalam keadaan
yang gawat itu, maka Ki Jagaprana telah berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk menghentikan pertempuran. Senjata yang sudah
berada di tangannya itu mulai menyusup di sela-sela pertahanan
senjata lawanlawannya. Di bawah teriknya sinar matahari, maka
kecepatan gerak Ki Jagaprana ternyata menjadi sangat menguntungkan,
justru karena lawannya mengandalkan kekuatan mereka. Ketika senjata
Krendhawa terayun dengan derasnya, maka Ki Jagaprana masih sempat
untuk merendah. Namun bersamaan dengan itu, Ki Jagaprana telah
berputar, sementara tangannya yang menggenggam senjatanya itupun
telah terentang. Putaran ujung senjata Ki Jagaprana itu ternyata
berhasil menyusup dibawah pertahanan Krendhawa. Karena itu, maka
sejenak kemudian terdengar Krendhawa itu berteriak nyaring.
Umpatan-umpatan kasar terdengar meloncat dari mulutnya. Krendhawa
itupun kemudian terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Ternyata
ujung senjata Ki Jagaprana itu telah mengoyak lambung.
Mingkara yang melihat saudaranya terluka, dengan sertamerta telah
meloncat menyerang Ki Jagaprana. Senjata terayun dengan derasnya
mengarah ke kening Ki Jagaprana. Namun Ki Jagaprana sempat melihat
serangan itu. Sekali lagi ia dengan cepat merendah dengan berjongkok
diatas satu lututnya, sementara ujung senjatanya terjulur lurus
menggapai tubuh lawannya. Mingkara terkejut. Langkahnya terhenti.
Namun ia tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Ujung senjata Ki
Jagaprana itu ternyata telah menggapai jantung Mingkara. Ketika
kemudian Ki Jagaprana menarik senjatanya, maka Mingkara itu telah
jatuh terjerembab. Tubuhnya terbanting di tanah sementara nafasnya
telah terputus. Krendhawa melihat keadaan saudara laki-lakinya itu.
Karena itu dengan sisa tenaganya ia berusaha menyerang Ki Jagaprana.
Ki Jagaprana melihat serangan itu. Yang dilakukannya kemudian adalah
sekedar menghindar. Dengan cepat ia bangkit dan meloncat, kesamping.
Serangan Krendhawa itu tidak menyentuh sasaran. Namun dengan
menghentakkan tenaganya, sementara lambungnya sudah terkoyak, maka
darah Krendhawa seakan-akan telah diperas keluar. Sejenak Krendhawa
itu terhuyung-huyung. Namun demikian banyaknya darah yang terperas,
sehingga tubuh itu menjadi sangat lemah. Perlahan-lahan Krendhawa
jatuh berlutut. Namun kemudian tubuhnya itu terguling. Meskipun
demikian Krendhawa itu masih sempat mengerang kesakitan. Ki
Jagaprana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring
diam. Beberapa langkah dari tubuh Krendhawa itu, tubuh Mingkara pun
terbaring diam pula. Ki Jagaprana mengerutkan keningnya ketika ia
melihat Krendhawa itu kemudian telah bergerak. Dengan sisa
tenaganya, Krendhawa berusaha untuk merangkak mendekati tubuh
adiknya yang telah tidak bernafas lagi “Bangkitlah Mingkara. Ayo
bangkit. Kita bunuh iblis tua itu. Kita adalah orang-orang yang
tidak terkalahkan. Segala kemauan kita terjadi.” Ki Jagaprana
memandang tingkah laku Krendhawa itu dengan jantung yang berdebaran.
Ketika ia melihat Krendhawa itu mengguncang-guncang tubuh adiknya,
maka dada Ki Jagaprana itupun menjadi berdebar-debar. Ternyata
Krendhawa tidak mau melihat kenyataan sampai pada saatsaat
terakhirnya. Bahkan kemudian Krendhawa itu berusaha untuk bangkit.
Dicobanya untuk mengangkat kepala adiknya sambil berkata dengan
suara gemetar ”Bangkitlah Mingkara. Bangkitlah. Kita tidak punya
banyak waktu lagi.” Tetapi Mingkara sama sekali tidak bergerak lagi.
“Mingkara, Mingkara” Krendhawa itupun kemudian berte riak ”kau
kenapa he?” Sementara itu darah dari luka Krendhawa itupun mengalir
semakin banyak. Gerak seru teriakan-teriakannya membuat darahnya
mengalir bergumpal-gumpal. Sementara itu pertempuran pun masih
berlangsung di mana-mana. Tetapi tidak seorang pun yang sempat
mendekati mereka. Para cantrik dari padepokan itu telah
semakin menekan para pengikut Kiai Narawangsa. Ketika ada
seorang yang akan berlari kearah Krendhawa dan Mingkara, maka
seorang cantrik telah menahan mereka dan melibatnya dalam
pertempuran. Ki Jagaprana yang menyaksikan tingkah laku Krendhawa
itu pun menjadi iba. Dengan hati-hati iapun telah mendekatinya.
Tetapi Krendhawa tidak menghiraukannya. Seakan-akan ia ti dak
melihat lagi orang-orang lain yang ada di sekitarnya, selain adiknya
yang telah terbunuh itu. “Ki Sanak” desis Ki Jagaprana ”jangan
terlalu banyak bergerak. Darahmu akan semakin terperas dari tubuhmu.
Tenanglah, berbaringlah dengan baik.” Krendhawa itu mencoba
memandang wajah Ki Jagaprana. Tetapi ternyata ia tidak lagi dapat
mengenalinya. Selain matanya yang sudah menjadi kabur, nalarnya juga
sudah tidak utuh lagi. Sementara itu, matahari di langit membuat
pandangannya menjadi silau. “Siapa kau?” bertanya Krendhawa. “Siapa
pun aku tidak penting bagimu. Tetapi tenanglah. Berbaringlah.” “Aku
sedang membangunkan adikku. Ia sudah terlalu lama tidur. Ia harus
bangkit. Perang sudah dimulai.” “Perang sudah selesai. Biarlah
adikmu beristirahat. Ia sangat letih.” “Perang sudah selesai?”
bertanya Krendhawa Krendhawa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi
tubuhnya sudah menjadi semakin lemah. Darahnya membasahi tanah.
Sementara tubuhnya sendiri juga sudah menjadi merah sebagaimana
tubuh Mingkara. “Perang memang sudah selesai. Beristirahatlah
dengan sebaik-baiknya.” Krendhawa mengerutkan keningnya. Ia mencoba
untuk mengamati wajah Ki Jagaprana. Tetapi segala-galanya menjadi
semakin kabur. Meskipun demikian, Krendhawa itupun meletakkan
kepalanya di tubuh adiknya. Seakan-akan diluar sadarnya ia berkata
'“Aku akan tidur dahulu. Perang sudah selesai.” Tetapi tiba-tiba
Krendhawa itu mengangkat kepalanya sambil bertanya”Apakah kita
menang?” “Ya. Kita menang.” “Kiai Banyu Bening sudah dibunuh?” “Ya.
Kiai Banyu Bening sudah dibunuh.” Orang itu tersenyum. Namun
kemudian kepalanya itupun diletakkannya kembali. Ia masih akan
berbicara lagi. Tetapi terasa pedih dilambungnya. Krendhawa masih
mencoba tersenyum karena kemenangan yang telah dicapai oleh Kiai
Narawangsa dengan membunuh Kiai Banyu Bening. Namun senyuman itu
adalah senyumannya yang terakhir. Krendhawa pun telah mengakhiri
hidupnya di medan pertempuran. Ki Jagaprana menarik nafas,
dalam-dalam. Iapun Kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan tubuh
dua orang kakak beradik yang semula disangkanya kembar itu.
Pertempuran masih terjadi di sekitarnya. Para cantrik masih belum
dapat mengusir lawan-lawannya. Bahkan pertempuran pun telah menjadi
semakin meluas dimana-mana. Ki Jagaprana yang telah kehilangan
lawannya itu pun kemudian melangkah mendekati arena. Beberapa orang
pengikut yang sempat melihat Ki Jagaprana membunuh Krendhawa dan
Mingkara, menjadi berdebar-debar. Tengkuk mereka meremang,
seolah-olah senjata Ki Jagaprana itu telah menyentuhnya. “Siapa yang
akan menyerah, menyerahlah” teriak Ki Jagaprana tiba-tiba. Ternyata
teriakannya itu berpengaruh. Para pengikut Kiai Narawangsa menjadi
semakin gelisah. Dengan lantang Ki Jagaprana itu berkata selanjurnya
”Hanya ada dua pilihan. Menyerah atau mati.” Beberapa orang pengikut
Kiai Narawangsa memang mulai memikirkan untuk menyerah. Namun
seorang yang bertubuh tinggi dan besar itu berteriak ”Hanya ada dua
pilihan bagi kami. Menang atau mati.” “Apakah aku tidak salah
dengar?” bertanya Ki Jagaprana ”menyerah atau mati.” “Tidak. Menang
atau mati.” Ki Jagaprana menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya orang
itu termasuk seorang yang berpengaruh di lingkungan para pengikut
Kiai Narawangsa. Sambil berteriak orang itu bertempur melawan dua
orang cantrik. Katanya ”Kita sudah berada di ambang kemenangan.
Tidak ada orang yang dapat menghalangi kita.” Jantung Ki Jagaprana
mulai tergelitik. Karena itu, maka iapun mendekatinya sambil berkata
”Kau lihat aku membunuh kedua orang yang semula aku sangka kembar
itu?” ”Jangan mengigau. Aku tidak peduli apa yang telah kau
lakukan. Tetapi kami tidak akan menyerah.” Ki Jagaprana yang mulai
letih itu memang menjadi mudah tersinggung. Panasnya terik matahari,
keringat yang membasahi tubuhnya serta pertempuran yang menjalar
kemana-mana membuatnya cepat mengambil keputusan. Orang itu harus
dihentikan. Kemudian yang lain akan mudah dikendalikan. Karena itu,
maka Ki Jagaprana pun telah mendekatinya sambil berkata ”Mulutmu
memang harus dibungkam.” “Mulutmu yang akan aku koyakkan jika kau
berani mendekat.” Ki Jagaprana pun melangkah semakin dekat. Kemudian
katanya kepada kedua orang yang bertempur melawan orang yang
bertubuh tinggi besar itu ”Minggirlah. Bantu kawankawanmu, biarlah
aku selesaikan orang ini.” Kedua orang cantrik yang bertempur
melawan orang yang bertubuh tinggi besar itupun segera berloncatan
menjauh, sementara Ki Jagaprana telah memasuki medan. Orang yang
bertubuh tinggi besar itu menggeram. Ketika Ki Jagaprana melangkah
semakin dekat, maka orang yang bertubuh tinggi besar itu telah
meloncat menyerangnya. Kemarahan memang sudah membakar jantung Ki
Jagaprana. Karena itu, maka ketika orang itu meloncat menyerang,
maka Ki Jagaprana telah bergeser selangkah, sehingga serangan itu
tidak mengenai sasarannya. Namun bersamaan dengan itu, senjata Ki
Jagaprana telah terayun mendatar. Segores luka telah menyilang
di dada orang itu. Terhuyunghuyung ia terdorong beberapa langkah
surut Orang itu masih sempat mengumpat. Tetapi tubuhnya pun segera
jatuh terguling. Orang itu memang tidak terbunuh. Namun ia sudah
tidak mempunyai kemampuan lagi untuk bangkit. Sejenak Ki Jagaprana
berdiri termangu-mangu. Bahwa orang bertubuh tinggi besai itu sudah
tidak berdaya, ternyata pengaruhnya memang besar sekali. Para
pengikut Kiai Narawangsa yang bertempur di sekitar tempat itu
hatinya menjadi semakin kecut. Dalam pada itu Ki Jagaprana berteriak
lagi “Siapa yang akan menyerah, akan mendapat perlakuan wajar.
Tetapi siapa yang tidak menyerah, akan mengalami perlakuan yang
buruk.” Tetapi masih juga ada pengikut Kiai Narawangsa yang setia.
Dengan lantang ia berteriak ”Hanya pengkhianat sajalah yang akan
menyerah.” Tetapi demikian mulutnya terkatub, maka ujung sepucuk
tombak pendek telah mematuknya. Orang itu terkejut. Tetapi ia sudah
terlambat untuk berbuat sesuatu. Ujung tombak itu telah menghunjam
dalam-dalam di dadanya. Ketika orang itu rebah di tanah, maka
seorang cantrik dengan tombak di tangan telah bergeser menjauhinya.
Dalam pada itu, sekali lagi Ki Jagaprana berkata lantang ”Siapa yang
akan menyerah? Yang keras kepala seorang demi seorang akan mati di
padepokan ini.” Tidak ada seorang pun yang berani berteriak lagi.
Ketika Ki Jagaprana menawarkan kesempatan sekali lagi untuk
menyerah, maka beberapa orang dengan serta-merta telah bergeser
menjauhi lawan-lawannya sambil meletakkan senjata mereka ”Aku
menyerah.” Pernyataan beberapa orang itu telah diikuti oleh beberapa
orang yang lain lagi. Semakin lama semakin banyak, sehingga akhirnya
hampir semua orang yang bertempur di sekitarnya telah menyerah pula.
Tetapi mereka yang telah bergeser jauh dari pintu gerbang itu, tidak
mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi di pintu gerbang itu.
Karena itu, mereka; yang tidak mendengar teriakan Ki Jagaprana
dengan jelas tidak berbuat sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan
mereka. Mereka masih saja bertempur dengan garangnya. Namun akhirnya
mereka mengetahuinya pula, kenapa banyak kawan-kawannya yang
menghentikan perlawanan. “Krendhawa dan Mingkara telah mati
terbunuh.” Sementara itu, di pintu butulan yang lain, Manggada dan
Laksana masih bertempur dengan sengitnya melawan Parung Landung dan
Paron Waja. Anak-anak muda itu telah bertempur habis-habisan.
Nampaknya pertempuran itu akan menentukan, siapa yang akan hidup dan
siapa yang akan mati. Namun sebenarnyalah kegarangan Parung Landung
dan Paron Waja tidak mampu mengimbangi kemampuan ilmu Manggada dan
Laksana. Kedua orang anak muda yang sudah ditempa di sanggar oleh
ayah Laksana dan yang kemudian dimatangkan oleh pengalaman. Bahkan
kemudian mereka telah ditumbuh-besarkah oleh Ki Pandi dengan
caranya. Tubuh Manggada dan Laksana menjadi liat dan mudah
menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimana pun juga rumitnya.
Di hutan mereka menjalani laku yang berat, namun yang sangat berarti
bagi perkembangan ilmu mereka. Parung Landung yang merasa dirinya
mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, semula merasa yakin akan
dapat mengalahkan lawannya. Tetapi ternyata kemudian bahwa
kemampuannya tidak dapat mengguncang ilmu Manggada. Goloknya yang
besar setiap kali terayun tanpa mampu menyentuh sasarannya. Jika
terjadi benturan, maka goloknya yang berat itu malah terasa sebagai
beban. Di bawah teriknya matahari, maka ujung pedang Manggada mulai
menyusup menembus pertahanan Parung Indung. Betapa kuatnya Parung
Landung, namun ketangkasan Manggada ternyata sulit untuk
diimbanginya. Demikianlah maka perlahan-lahan tetapi pasti, Manggada
telah mendesak lawannya. Ayunan golok yang berat sama sekali tidak
menyulitkannya. Senjata yang lebih kecil justru terasa lebih
berarti. Ketika ujungnya sempat menggapai tubuh Parung Landung, maka
terdengar Parung Landung itu mengeluh tertahan. Parung Landung
meloncat surut. Ia sempat mengusap bahunya dengan telapak tangannya
yang menjadi merah. Ketika Parung Landung dengan geram melangkah
maju, terdengar tidak terlalu jauh daripadanya, Paron Waja berteriak
kesakitan. Terhuyung-huyung ia melangkah surut. Namun kemudian tidak
memberinya kesempatan. Dengan cepat Laksana memburunya. Pedangnya
terjulur lurus mengarah ke dada. Paron Waja masih berusaha
menangkis. Tetapi karena keseimbangannya sedang goyah, maka ayunan
senjatanya tidak mampu menepis ujung pedang Laksana. Karena itu,
maka dalam keadaan yang goyah, ujung pedang Laksana telah terhunjam
di dadanya, langsung menyentuh jantungnya. Paron Waja tidak
mempunyai kesempatan lagi. Tubuhnya terdorong semakin jauh, sehingga
akhirnya jatuh terbanting di tanah. Parung Landung yang melihat
adiknya tertusuk di dadanya berteriak memanggil namanya sambil
meloncat menjauhi lawannya, memburu kearah Paron Waja terpelanting
jatuh. Tetapi langkahnya terhenti, ketika Laksana pun menghadangnya
sambil mengacukan pedangnya. Parung Landung termangu-mangu sejenak.
Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Manggada maju selangkah demi
selangkah mendekatinya. “Menyerahlah” berkata Manggada ”kau sudah
terluka. Kau tidak akan dapat melawan kami berdua, sementara
orangorangmu tidak akan sempat menyelamatkanmu, karena mereka telah
terikat dengan lawannya masing-masing. Parung Landung menggeram.
Ketika ia memandang pertempuran di sekitarnya, maka ia memang tidak
dapat mengharapkan para pengikut Kiai Narawangsa membantunya. Setiap
orang harus berjuang untuk melindungi dirinya sendiri. Sementara
itu, Manggada dan Laksana telah menjadi semakin dekat. Keduanya
telah mengacukan senjata mereka. Parung Landung masih berdiri tegak
di tempatnya. Sementara Manggada sekali lagi berkata ”Jangan melawan
lagi. Tidak akan ada gunanya” Parung Landung berdiri
termangu-mangu. Dari lukanya masih mengembun darahnya yang merah.
Namun senjata Parung Landung itu seakan-akan telah terkulai.
Ujungnya bahkan telah menyentuh tanah. Kepala anak muda itu
tertunduk lesu. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang tubuh
adiknya yang terkapar. “Menyerahlah. Letakkan senjatamu.” berkata
Manggada kemudian. Parung Landung itu menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi ia pun mulai membungkuk untuk meletakkan senjatanya.
Nampaknya ia tidak ingin melemparkan goloknya yang telah mengawani
dalam petualangannya yang panjang. Laksana melangkah mendekat. Ia
berniat untuk memungut senjata itu setelah diletakkan oleh Parung
Landung. Namun tiba-tiba saja Manggada berteriak “Laksana,
hatihati.” Laksana terkejut. Tetapi yang tidak dikehendaki itu telah
terjadi. Parung Landung yang seolah-olah sudah meletakkan senjatanya
itu, tiba-tiba telah meloncat menyerang Laksana dengan garangnya
sambil berteriak ”Aku bunuh kau karena kau sudah membunuh
saudaraku.” Laksana memang agak terlambat menangkis serangan itu.
Golok yang berat itu terjulur langsung mengarah ke dada Laksana.
Serangan itu terjadi demikian cepatnya. Laksana yang menepis golok
lawannya itu tidak seluruhnya berhasil. Ujung golok itu ternyata
masih sempat mengoyak pundaknya. Tubuh Laksana bagaikan diputar.
Anak muda itu benarbenar telah kehilangan keseimbangannya. Dengan
derasnya Laksana terlempar jatuh. Pedangnya terlepas dari
tangannya dan terpental beberapa langkah daripadanya. Parung Landung
dengan cepat meloncat memburunya. Goloknya yang besar itupun segera
terangkat Dengan geramnya ia mengayunkan goloknya untuk menghabisi
anak muda yang telah membunuh saudaranya itu. Laksana tidak dapat
berbuat banyak. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dahinya
dengan lengannya ketika golok itu mengaiah kekepalanya. Tetapi golok
itu tidak pernah memecahkan kepala Laksana atau mematahkan
lengannya. Demikian golok itu terayun, maka Parung Landung itu
terdorong dengan derasnya. Justru dari dadanya tersembul ujung
pedang yang ditusukkan dari punggung. Parung Landung tidak sempat
mengaduh. Goloknya yang terayun itu tidak mengenai sasarannya justru
ketika Parung Landung itu jatuh tertelungkup. Ketika tubuhnya
terdorong maju, maka kakinya sudah menyangkut tubuh Laksana yang
terbaring di hadapannya. Bukan hanya Parung Landung, bahkan Manggada
yang telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan
Laksana telah terdorong dan seperti Parung Landung, kakinya juga
terantuk tubuh Laksana. Sejenak kemudian, Manggada pun telah bangkit
berdiri. Demikian pula Laksana meski pun harus terdorong tubuh
Parung Landung. Demikian mereka berdiri, maka tubuh Laksana justru
telah menjadi merah oleh darah. Kecuali darahnya sendiri yang
mengalir dari lukanya di pundaknya, darah Parung Landung telah
membasahi tubuhnya pula. Manggada yang kemudian telah menarik
pedangnya, memandangi tubuh kedua orang saudara yang terbaring diam
itu. Laksana yang telah memungut senjatanya pula, kemudian berdiri
tegak memandangi arena pertempuran yang semakin meluas. Tetapi
kekuatan Kiai Narawangsa sudah menjadi semakin tipis. Mereka bahkan
seakan-akan telah kehilangan hubungan yang satu dengan yang lain,
sehingga mereka harus menentukan langkah mereka masing-masing.
Manggada dan Laksana pun kemudian telah mendekati arena pertempuran
itu. Beberapa sosok tubuh telah terbaring diam. Namun masih ada yang
merintih dan mengaduh karena luka-lukanya. Ketika Manggada itu telah
berdiri di arena, maka iapun segera berteriak ”Menyerahlah. Tidak
ada gunanya lagi kalian bertempur. Lihat, kedua orang pemimpin
kalian telah terbunuh.” Para pengikut Kiai Narawangsa memang menjadi
ragu-ragu. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di medan yang
lain. Tetapi rasa-rasanya keadaan kawan-kawannya menjadi tidak jauh
berbeda. Seandainya mereka mampu mendesak para cantrik dari
padepokan itu, maka aliran kemenangan mereka yang memasuki pintu
gerbang utama tentu sudah sampai dan memenuhi seisi padepokan.
Tetapi mereka belum melihat kelompok-kelompok yang memasuki
padepokan itu dari pintu gerbang utama sampai ke tempat itu. Dalam
pada itu, sekali lagi mereka mendengar suara Manggada ”Aku beri
kesempatan kepada kalian untuk menyerah. Jika kesempatan ini
kalian sia-siakan, maka kalian tidak akan pernah mendapat kesempatan
lagi.” Para pengikut Kiai Narawangsa itu memang tidak melihat
kemungkinan lain. A palagi sebagian dari mereka rasa-rasanya sudah
menjadi berputus-asa. Pertempuran diteriknya panas matahari tanpa
melihat harapan. Pemimpin mereka telah terbunuh, sehingga dengan
demikian, maka kedua orang anak muda yang telah membunuh pemimpin
mereka itu akan dapat membunuh mereka pula tanpa ampun. Karena itu,
selagi masih ada kesempatan, maka beberapa orang diantara mereka
yang ketahanan jiwaninya lemah, telah memutuskan untuk menyerah.
Tetapi sebagaimana di bagian lain dari kelompok-kelompok pengikut
Kiai Narawangsa, maka di kelompok-kelompok itu pun terdapat
orang-orang yang setia kepada Kiai Narawangsa. Dengan lantang orang
itupun berteriak ”Jika nanti Kiai Narawangsa mengambil alih
padepokan ini, maka siapa yang berkhianat akan digantung.”
Keragu-raguan memang melanda para pengikut Kiai Narawangsa. Untuk
meyakinkan mereka, maka Manggada dan Laksana pun benar-benar telah
turun kedalam arena pertempuran. Ternyata pedang kedua orang anak
muda itu benar-benar membuat bulu tengkuk para pengikut Kiai
Narawangsa itu berdiri. Karena itu, maka mereka memang tidak
mempunyai pilihan lain. Ketika sekali lagi Manggada meneriakkan
kesempatan untuk menyerah, maka beberapa orang diantara mereka pun
langsung melemparkan senjata-senjata mereka. Beberapa orang yang
setia kepada Kiai Narawangsa masih berusaha untuk membakar
keberanian kawan-kawan mereka Tetapi masih saja ada diantara
mereka yang melemparkan senjata mereka. Pertempuran itu pun kemudian
telah mereda. Mereka yang tidak mau menyerahkan dirinya, harus
menghadapi kenyataan, bahwa mereka benar-benar akan dihancurkan.
Dengan demikian maka pertempuran di beberapa tcmpat pun sudah
menjadi semakin mereda. Sebagian dari para pengikut Kiai Narawangsa
sudah menyerah. Namun di halaman depan padepokan itu, pertempuran
masih berlangsung dengan sengitnya. Apalagi karena Kiai Narawanagsa
sendiri masih bertempur melawan Ki Ajar Pangukan. sementara Nyai
Wiji Sari bertempur melawan Ki Pandi. Namun kehadiran orang-orang
tua yang berilmu tinggi di arena pertempuran itu sangat membatasi
gerak para pengikut Kiai Narawangsa. Ki Sambi Pitu yang telah
kehilangan lawannya, telah berada diantara para cantrik pula.
Sementara itu Ki Lemah Teles dan Ki Warana bersama-sama para cantrik
telah membersihkan para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah
terlanjur menyusup diantara bangunan-bangunan di padepokan itu.
Dalam pada itu, Kiai Narawangsa sendiri ternyata tidak segera dapat
mengalahkan lawannya. Bahkan Ki Ajar Pangukan itu selalu dapat
mengimbangi ilmunya yang selalu ditingkatkannya. Kiai Narawangsa itu
semakin lama menjadi semakin gelisah. Kematian Gunasraba telah
membuat hatinya bagaikan terkoyak. Kecuali ia merasa kehilangan,
menurut perhitungannya, lawan Gunasraba itu akan dapat dengan
semena-mena menghancurkan para pengikutnya. Sedangkan Nyai
Wiji Sari masih juga belum dapat melepaskan diri dari lawannya yang
bongkok itu. Sementara itu, Kiai Narawangsa pun mulai dapat menilai
kenyataan yang dihadapinya. Para pengikutnya sudah menyusut dengan
cepat. Para pemimpin kelompoknya sudah terbunuh di medan. Karena
itu, maka satu-satunya harapannya adalah membinasakan lawannya,
kemudian menghadapi yang lainnya yang berkeliaran di antara para
cantriknya. Dalam saat-saat yang gawat itu Kiai Narawangsa telah
mengerahkan ilmu pamungkasnya. Sejenak ia sempat memusatkan nalar
budinya. Kemudian disebutnya sumbersumber kekuatan dan daerah kelam.
Kiai Narawangsa memang mengandalkan ilmunya berdasarkan kekuatan
dari kerajaan hitam. Ketika kemudian Kiai Narawangsa itu mengangkat
kedua tangannya tinggi-tinggi, maka rasa-rasanya tubuhnya telah
bergetar. Semacam awan yang hitam mulai mengabut di sekitarnya.
Semakin lama semakin tebal. Awan itu mulai berputar perlahan-lahan.
Tetapi semakin lama menjadi semakin cepat. Ki Ajar Pangukan yang
berpengalaman itupun segera menyadari, bahwa lawannya telah
mengetrapkan ilmunya yang sangat berbahaya. Awan yang
kehitam-hitaman itu akan dapat melibatnya, mengangkatnya
tinggi-tinggi, kemudian membantingnya ke tanah. Karena itulah, maka
Ki Ajar Pangukan harus menanggapinya. Ia tidak ingin dilibat oleh
awan yang akan menjadi semacam angin pusaran itu. Dengan
cepat, Ki Ajar Pangukan telah mengambil jarak untuk mendapat
kesempatan melawan awan yang berputar itu. Para cantrik dan bahkan
para pengikut Kiai Narawangsa sendiri yang sedang bertempur telah
menyibak. Tidak seorang pun yang dapat bertahan jika awan yang
kehitam-hitaman itu melibat mereka dan mengangkatnya ke udara.
Kemudian membantingnya jatuh di atas tanah. Tubuh mereka tentu akan
lumat dan mereka akan kehilangan nyawa mereka. Ki Ajar Pangukan
memperhatikan awan itu dengan dahi yang berkerut. Sementara itu, Ki
Sambi Pitu, Ki Lemah Teles serta para cantrik menyaksikan ungkapan
ilmu Kiai Narawangsa itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ki
Pandi yang sedang bertempur melawan Nyai Wiji Saripun sempat melihat
awan yang berputaran itu sejenak. Sementara itu Nyai Wiji Sari yang
melihat kerut di dahi Ki Pandi berkata, ”Nah, bongkok buruk. Apa
yang dapat dilakukan oleh kawankawanmu untuk melawan kemampuan Kiai
Narawangsa. Ilmu itu adalah ilmu yang jarang sekali dipergunakan.
Tetapi karena kalian membuatnya sangat marah, maka tidak ada pilihan
lain dari Kiai Narawangsa kecuali membinasakan kalian dengan
ilmunya.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap memelihara
jarak dengan Nyai Wiji Sari, agar tidak terjadi serangan yang
tiba-tiba. “Bongkok buruk. Kenapa kau tidak menghentikan saja
perlawananmu? Menyerahlah. Kau akan mendapat hukuman yang
ringan.” “Apakah pengertian hukuman yang ringan itu didalam
lingkunganmu?” bertanya Ki Pandi ”dipenjara setahun, dua tahun atau
harus bekerja paksa di kebun-kebun di bawah teriknya matahari atau
justru digantung?” “Apapun ujudnya, tetapi tentu lebih baik daripada
disambar angin pusaran itu.” Tetapi sikap Ki Pandi itu mengejutkan
sekali. Orang bongkok itu justru tersenyum sambil berkata ”Aku tidak
mengira bahwa didalam kalutnya pertempuran yang menentukan ini. Kiai
Narawangsa sempat mengajak bermainmain.” “Gila kau. Ia tidak sedang
bermain-main. Ilmu itu benarbenar dapat membunuhmu.” Tetapi Ki Pandi
menggeleng. Katanya sambil tertawa ”Bagi Ki Ajar Pangukan, maka
asap-asapan itu hanya dapat membuatnya sedikit terbatuk-batuk.”
“Tidak” Nyai Wiji Sari hampir berteriak ”lihat. Kawanmu itu akan
mati dilibat, diangkat dan kemudian dihempaskan diatas batu padas.”
“Nyai keliru” sahut Ki Pandi ”penriainan itu adalah permainan Ki
Ajar Pangukan dimasa kanak-kanaknya.” “Iblis bongkok. Kau akan
melihat, bagaimana tubuh kawanmu itu hancur nanti”. “Marilah kita
bertaruh, Nyai” desis Ki Pandi. Nyai Wiji Sari tidak menyahut.
Tetapi wajahnya nampak menjadi tegang. Dalam pada itu, asap yang
kehitam-hitaman serta berputar semakin cepat itu telah dilihat pula
oleh para pengikut Kiai Narawangsa yang berada di bagian belakang
padepokan. Bahkan mereka yang telah menyerah pun menyesali
keputusannya yang tergesa. Ilmu yang nggegirisi itu tentu akan
sanggup menyelesaikan pekerjaan Kiai Narawangsa yang berat itu.
“Kenapa kita demikian tergesa-gesa menyerah” desis salah seorang
pengikut Kiai Narawangsa. “Bukan salah kita. Kenapa baru sekarang
Kiai Narawangsa melepaskan ilmunya? Kenapa tidak tadi sebelum kita
menyerah?” “Awan yang kehitam-hitaman itu akan dapat menghancurkan
kawan-kawan kita sendiri. Agaknya kawankawan kita sekarang telah
berpencar, sehingga Kiai Narawangsa mendapat kesempatan untuk
melepaskan ilmunya itu.” “Alangkah bobohnya kita disini.” Tetapi
para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyerah itu
tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Senjata mereka telah dirampas. Di
sekelilingnya para cantrik siap berjaga-jaga dengan senjata
telanjang. Namun seorang diantara para pengikut Kiai Narawangsa yang
sudah terlanjur menyerah itu bangkit berdiri sambil berteriak
”Itulah akhir dari segala-galanya. Padepokan ini akan hanyut
diterbangkan oleh angin pusaran itu. Kita semuanya pun akan hanyut
pula. Kemudian dilepaskan di udara sehingga kita akan mati
terbanting di atas tanah ini. Tetapi itu lebih baik bagi kita
daripada menjadi tawanan” Mulutnya terkatup ketika tiba-tiba saja
pangkal landean tombak menyambar mulutnya. Dua giginya tanggal dan
mulutnya pun mulai berdarah. Dalam pada itu, maka angin
pusaran itu mulai merayap menuju ke tempat Ki Ajar Pangukan berdiri.
Ki Ajar Pangukan menyadari, apa yang sedang dihadapinya itu. Karena
itu, maka ia pun telah bersiap sebaik-baiknya. Ki Ajar Pangukan
sudah bertekad untuk beradu ilmu, apapun yang akan terjadi atas
dirinya. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan itupun segera
mempersiapkan dirinya. Dipusatkannya nalar budinya menghadapi ilmu
lawannya itu. Ketika pusaran asap yang kehitam-hitaman itu
mendekatinya, maka Ki Ajar Pangukan itupun telah mengangkat
tangannya tinggi-tinggi. Dilandasi dengan segenap kekuatan ilmu dan
kemampuannya, maka Ki Ajar Pangukan itu telah meloncat dan
mengayunkan tangannya menghantam pusaran kabut yang kehitam-hitaman
itu. Satu benturan ilmu telah terjadi. Kabut yang kehitamhitaman dan
berputar menghampiri Ki Ajar Pangukan itu tibatiba telah pecah.
Angin pusaran itu bagaikan telah tertiup eleh prahara sehingga pecah
bercerai berai. Kiai Narawangsa terkejut melihat akibat dari
benturan ilmu itu. Selangkah ia mundur. Ia hampir tidak percaya,
bahwa ilmunya itu telah dipecahkan sehingga tidak berdaya sama
sekali. Dalam pada itu, selagi Kiai Narawangsa itu termangumangu,
maka Ki Ajar Pangukan telah menghentakkan tangannya sekali lagi
mengarah langsung kepada Kiai, Narawangsa. Tangannya sama sekali
tidak menyentuh Kiai Narawangsa yang masih berdiri termangu-mangu
karena ungkapan ilmunya itu hancur dan kemudian hanyut tidak
berbekas. Namun selagi kabut yang kehitam-hitaman itu menjadi
semakin tipis, maka Kiai Narawangsa itu terkejut sekali. Ayunan
tangan Ki Ajar Pangukan yang mengarah kepadanya itu, telah
menghentakkan kekuatan dan ilmu yang dahsyat sekali. Tetapi Kiai
Narawangsa itu terlambat. Kekuatan ilmu Ki Ajar Pangukan itu
menghantam tubuhnya dengan kekuatan yang tidak terlawan. Tubuh Kiai
Narawangsa itupun telah terlempar beberapa langkah surut. Kemudian
jatuh terbanting di atas tanah. Sekali Kiai Narawangsa itu
menggeliat. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya sama
sekali. Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka tidak ada lagi
kekuatan yang dapat menggerakkan tubuhnya. Nyai Wiji Sari pun
terkejut pula menyaksikan peristiwa itu. Di luar sadarnya, maka ia
pun segera berlari ke arah tubuh Kiai Narawangsa terbaring. Dengan
serta-merta Nyai Wiji Sari pun berlutut di sisi tubuh yang menjadi
sangat lemah itu. “Kiai” suara Nyai Wiji Sari bagaikan tersangkut di
kerongkongan. Kiai Narawangsa masih membuka matanya. Dilihatnya Nyai
Wiji Sari yang berlutut di sebelahnya. “Nyai” suaranya lemah sekali
”aku tidak dapat lagi membantumu mengambil anakmu.” “Kiai” desis
Nyai Wiji Sari ”bangkitlah. Jangan tinggalkan aku sendiri disarang
serigala ini.” Wajah Kiai Narawangsa menjadi merah sesaat. Namun
kemudian wajah itu menjadi pucat kembali. Nafasnya menjadi
tersengal-sengal. “Nyai, aku tidak kuasa menyeberangi batas
ini.” “Tidak. Kau adalah seorang yang tidak terkalahkan. Kau
mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Alasi kesulitan bagian dalam
tabuhmu, Kiai.” Kiai Narawangsa menggeleng lemah. Katanya ”Siapa pun
aku Nyai, ternyata aku juga mempunyai keterbatasan. Hatihatilah
membawa diri Nyai. Kau memang berada di sarang serigala-serigala
yang lapar.” “Kiai, Kiai.”Nyai Wiji Sari menggungcang-guncang tubuh
itu. Namun Kiai Narawangsa telah meninggalkannya untuk
selama-lamanya. Nyai Wiji Sari yang garang itu menangis. Kepergian
Kiai Narawangsa benar-benar tidak diduganya. Ketika mereka berangkat
dari padepokan mereka, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah
demikian yakin akan keberhasilan mereka. Tetapi ternyata mereka
harus menghadapi kekuatan yang tidak mereka duga sebelumnya.
Ternyata bahwa Kiai Narawangsa itu telah terbunuh. Ki Ajar Pangukan
berdiri termangu-mangu. Di sebelahnya Ki Pandi mengangguk-angguk
kecil. Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan Manggada
dan Laksana pun telah berdiri di sekitar tubuh yang terbaring itu.
Pertempuran yang terjadi di halaman itupun dengan cepat menyusut.
Tanpa ada yang memberi peringatan atau mengancam, para pengikut Kiai
Narawangsa itu telah menyerah. Namun berbeda dengan mereka, Nyai
Wiji Sari itu tiba-tiba telah bangkit. Pedangnya masih berada di
tangannya. Bahkan pedang itu pun kemudian telah berputar dengan
cepatnya. Orang-orang yang berdiri di seputarnya berloncatan
surut. Mereka tidak menduga bahwa tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari
telah mengamuk seperti seseorang yang kerasukan iblis. Yang terutama
menjadi sasaran serangan-serangannya adalah Ki Pandi, sehingga Ki
Pandi itupun berloncatan surut beberapa langkah. “Nyai” Ki Pandi
mencoba untuk mencegahnya “jangan Nyai. Jangan kehilangan akal
seperti itu.” Tetapi Nyai Wiji Sari tidak mendengarnya.
Seranganserangannya datang beruntun. Bahkan kemudian dengan membabi
buta. Kiai Pandi terpaksa setiap kali berloncatan menghindar,
menangkis dan bahkan sekali-sekali membentur senjata Nyai Wiji Sari.
Tetapi Ki Pandi sendiri tidak pernah membalas seranganserangan itu.
Nyai Wiji Sari yang mengetahui bahwa lawannya tidak pemah
membalasnya menyerang, berkata lantang ”Kenapa kau hanya berloncatan
menghindar? Kenapa kau tidak membalas menyerang.” ”Sabarlah Nyai.
Sebenarnya apa yang kau cari. Jika kau ingin mendapatkan anakmu,
itulah anakmu. Tidak seorang pun yang akan menghalangimu. Ambil
anakmu dan bawa kemana kau mau.” “Kau berusaha untuk melemahkan
tekadku untuk membunuhmu dan membunuh kawan-kawanmu. Ayo, katakan
kepada kawan-kawanmu itu. Kita akan bertempur sampai tuntas. Aku
sanggup membunuh semua penghuni padepokan ini.” “Nyai” berkata
Ki Pandi sambil menghindari seranganserangannya. ”Cobalah kau
pergunakan nalarmu. Berpikirlah dengan tenang. Jangan kau biarkan
gejolak perasaanmu itu membakar dadamu.” Nyai Wiji Sari tidak
mendengarkannya sama sekali. Perempuan itu masih saja menyerang Ki
Pandi dengan garangnya. Tetapi akhirnya Ki Pandi tidak mencegahnya
lagi. Dibiarkannya perempuan itu mengerahkan tenaga dan
kemampuannya. Bahkan Ki Pandi itu justru sekali-sekali mulai
menyerang, menyentuh tubuh lawannya dengan serulingnya meskipun
tidak menimbulkan akibat apapun juga. Tetapi sentuhan-sentuhan itu
telah memancing Nyai Wiji Sari untuk mengerahkan tenaga dan
kemampuannya. Ki Ajar Pangukan, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana dan Ki
Lemah Teles dan beberapa orang yang lain memang dapat mengetahui
maksud Ki Pandi. Karena itu, mereka sama sekali tidak mencegahnya.
Selangkah demi selangkah Ki Pandi memancing lawannya mendekati tugu
kecil di depan pendapa bangunan utama padepokan itu, sehingga
akhirnya keduanya telah bertempur hanya beberapa langkah saja dari
tugu kecil itu. Namun betapapun Nyai Wiji Sari mengerahkan
kemampuannya, namun ia sama sekali tidak pernah mampu menyentuh
tubuh lawannya dengan ujung pedangnya. Tetapi Ki Pandi pun tidak
pula pernah menyakiti Nyai Wiji Sari. Betapapun tinggi daya tahan
tubuh Nyai Wiji Sari, akhirnya iapun telah sampai pada batas
ketahanannya. Semakin bernafsu ia ingin membunuh lawannya, maka
tenaganyapun menjadi semakin terperas habis. Akhirnya, Nyai
Wiji Sari itu tidak dapat mengingkari bahwa tenaganya justru mulai
menyusut. Kenyataan itulah yang kemudian dihadapi oleh Nyai Wiji
Sari. Ketika tenaganya benar-benar sudah terkuras habis, maka
serangan-serangannya menjadi tidak berarti lagi. Nyai Wiji Sari
setiap kali justru terhuyung-huyung terseret oleh ayunan pedang
sendiri. Akhirnya, Nyai Wiji Sari itu pun justru telah terjatuh di
sisi tugu kecil itu. Ki Pandi berdiri termangu-mangu sejenak. Nyai
Wiji Sari masih menggenggam pedangnya yang kehitam-hitaman. Meskipun
pedangnya tidak mengkilap, tetapi pedang itu tentu tajam sekali.
“Nyai” suara Ki Pandi lunak ”sudahlah. Bukankah tidak ada artinya
lagi jika Nyai masih saja membiarkan perasaan Nyai bergejolak.” Nyai
Wiji Sari tidak menyahut. “Nyai, anakmu sudah tidak ada lagi. Kiai
Banyu Bening juga sudah tidak ada. Aku tidak tahu, apa yang akan kau
lakukan terhadap Kiai Banyu Bening seandainya ia masih ada.” Nyai
Wiji Sari tidak segera menjawab. ”Terakhir, Kiai Narawangsa pun
sudah tidak ada pula Nyai.” Nyai Wiji Sari tidak menjawab. Tetapi
yang terdengar kemudian adalah isak tangisnya. Bahkan tiba-tiba
dipeluknya tugu itu, seperti ia sedang memeluk anaknya. Pertempuran
pun benar-benar telah selesai, tidak ada perlawanan lagi di seluruh
padepokan itu. Semua pengikut Kiai Narawangsa sudah menyerah.
Ketika matahari kemudian turun menjelang senja, maka Nyai
Wiji Sari itu berdiri di pintu gerbang padepokan. Ki Ajar Pangukan,
Ki Pandi, Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan
Manggada dan Laksana mengantarnya sampai keluar pintu gerbang. “Aku
akan melihat dunia dari sisi yang lain” berkata Nyai Wiji Sari ”aku
titip anakku. Aku yakin bahwa ia tidak akan tersia-sia di sini. Aku
akan mencari jalan untuk dapat menebus segala dosa dan kesalahanku.
Semuanya itu bersumber dari ketidak-setiaanku.” Ki Ajar Pangukan
mengangguk kecil sambil berdesis ”Hatihatilah Nyai.” Nyai Wiji Sari
itupun kemudian berjalan meninggalkan padepokan itu sambil berdesis
”Terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan kepadaku.”
Perempuan itupun kemudian melangkah dengan langkah yang tetap
menjauhi padepokan itu. Tetapi ia tidak lagi mengenakan pakaian
khususnya. Ia mengenakan pakaian sebagaimana seorang perempuan tanpa
senjata dilambungnya. Matahari masih bersinar. Sinarnya tidak lagi
menggigit. Tetapi matahari senja itu masih memberikan cahaya kepada
Nyai Wiji Sari yang berjalan menjauh. Ia tidak tau kemana ia harus
memilih jalan yang lain dari jalan yang pernah ditempuhnya bersama
Kiai Narawangsa. Meskipun kemudian langit menjadi semakin suram,
tetapi di-hati Nyai Wiji Sari, matahari justru memancarkan cahayanya
yang
terang.
“TAMAT”
|