[back to topmdi.net]

Mentari Senja

Welcome to topmdi - ebook collection 

Seri Arya Manggada V Mentari Senja Oleh : SH MINTARDJA
Jilid : 1 
DI TIMUR matahari mulai membayangkan sinar paginya yang sejuk. Ketika Manggada dan Laksana keluar dari regol halaman, mereka melihat beberapa orang berjalan dengan tenang di jalan padukuhan. Diwajah mereka tidak lagi membayang kecemasan dan ketakutan. Dua orang perempuan yang nampaknya akan pergi ke pasar, sempat bergurau. Suara tertawa mereka yang renyah disahut oleh kicau burung kepodang yang hinggap dipelepah daun pisang. Padukuhan Gemawang memang mulai tersenyum. Orangorang yang pergi ke sawahpun tidak lagi nampak tergesa-gesa dengan wajah yang cemas. Manggada dan Laksanapun kemudian melangkah menyusuri jalan padukuhan. Mereka memang akan pergi ke sawah untuk membuka pematang mengairi batang padi yang mulai berbunga. Manggada dan Laksana sengaja berjalan lewat depan rumah Wira Sabet. Rumah yang sudah mulai dihuni lagi oleh pemiliknya setelah untuk beberapa lama ditinggalkan dan dibiarkan kosong dan kotor. Sampah berserakan dimanamana. Kayu-kayu kering yang dibiarkan teronggok dibawah pepohonan. Namun pohon duwet dan manggis dirumah Wira Sabet itu tetap berbuah. Ketika keduanya berjalan didepan regol, tiba-tiba saja keduanya ingin singgah. Keduanya mendengar suara sapu lidi di halaman rumah yang pintu regolnya masih tertutup. Perlahan-lahan Manggada mendorong pintu regol yang ternyata tidak diselarak itu. Dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu, Manggada melihat Pideksa yang sedang menyapu halaman, terkejut.  Tetapi demikian Pideksa itu melihat Manggada dan Laksana yang kemudian melangkah masuk, màka ànak muda itupun tersenyum. "Aku tidak sengaja mengejutkanmu" berkata Manggada. "Aku tahu" jawab Pideksa yang berhenti menyapu "tetapi jantungku yang menjadi rapuh sekarang membuat aku mudah sekali terkejut." "Lupakan" desis Manggada "masih banyak yang harus kau lakukan. Bukankah umurmu tidak terpaut dengan umur kami berdua?" "Kau tidak pernah terperosok kedalam kubangan yang mengotori tubuh dan jiwamu" berkata Pideksa. "Tetapi yang penting sekarang, apa yang akan kita kerjakan kemudian." jawab Manggada. Pideksa mengangguk kecil, sementara Laksanapun berkata “Bangkitlah. Anak-anak muda padukuhan ini ternyata dapat menerima kau kembali diantara mereka." Pideksa memandang Laksana sekilas. Tetapi kemudian pandangan matanya terlempar jauh kesudut halamannya. Suaranya yang parau terdengar ragu:"Apakah mereka benarbenar memaafkan keluarga kami, atau sekedar meredam dendam didalam hati yang setiap saat akan meledak dan membakar keluarga kami." "Mungkin ada orang yang mendendammu. Mungkin keluarga dari korban yang jatuh ketika kami datang ke barakmu. Tetapi jika kau kembali memasuki kehidupan wajar dan membuktikari bahwa kau telah berubah, maka dendam itu akhirnya akan terkikis oleh kenyataan itu."  Pideksa tersenyum, betapapun pahitnya. Katanya "Aku berterima kasih kepada kalian berdua. Kalian telah memberi kesempatan kepada kami untuk menatap masa depan. Segala sesuatunya tentu tergantung kepada kami, apakah kami dapat mempergunakan kesempatan ini dengan baik atau tidak." "Tataplah hari depanmu dengan tegar" desis Manggada sambil menepuk bahu Pideksa. Pideksa mengangguk. "Ki Jagabaya dan Sampurna benar-benar telah memaafkan kau dan paman Wira Sabet. Bukankah kau rasakan itu?" Pideksa mengangguk pula. Katanya "Ya. Aku merasakannya. Ayah juga merasakannya. Tetapi sampai sekarang, ayah masih lebih senang mengurung diri didalam rumah dengan pintu yang tertutup." "Ajak paman Wira Sabet keluar. Aku yakin, kalian akan diterima dengan baik oleh seisi padukuhan." desis Manggada. Pideksa mangangguk-angguk. "Sudahlah" berkata Manggada kemudian "aku akan mengairi sawahku. Padi sedang berbunga. Jika terlambat, maka hasilnya tentu kurang baik." Pideksa memandang wajah Manggada dengan kerut didahi. Dengan ragu ia berkata "Apakah Ki Bekel masih mengakui bahwa sawah ayah itu masih tetap menjadi milik ayah?" "Ya, seharusnya demikian. Bukankah sampai sekarang sawah paman Wira Sabet masih kering dan tidak ditanami sejak paman Wira Sabet meninggalkan padukuhan ini?" "Ya" jawab Pideksa.  "Sawah itu kini menjadi tempat anak-anak menggembala kambing. Tetapi sudah tentu bukan berarti bahwa kalian tidak boleh menanaminya lagi." jawab Manggada. Pideksa mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap nampak ragu. Manggada yang melihat keraguan di sorot mata Pideksa itupun berkata "Baiklah. Aku akan menghubungi Ki Jagabaya untuk meyakinkan, apakah sawahmu itu dapat digarap lagi." Pideksa menarik nafas panjang. Dengan nada dalam ia berkata "Terima kasih. Berapa kali lagi aku harus mengucapkan terima kasih kepada kalian." "Sudahlah. Jangan berlebihan. Kita akan bersama-sama hidup dalam suasana yang lebih baik di padukuhan ini." "Kami akan berusaha berbuat sebaik-baiknya. Kami benarbenar berharap bahwa kami dapat diterima oleh para penghuni padukuhan ini." "Penghuni padukuhan ini bukannya pendendam, Pideksa. Kecuali ayah dan paman Sura Gentong." "Jangan sebut lagi." potong Laksana. Lalu katanya "Nah, marilah. Kami akan pergi ke sawah. Nanti dari sawah kami akan singgah. Pohon duwet itu seakan-akan tidak berdaun lagi. Kamilah yang selama ini memetik duwet dan manggis dari halaman ini. Tentu saja atas ijin paman Wira Sabet." Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan halaman itu, maka Pideksa mengantar mereka sampai keregol halaman. Demikian keduanya turun ke jalan, maka Pideksa melanjutkan kerjanya, menyapu halaman rumahnya yang terhitung cukup luas.  Dihari-hari berikutnya, Manggada dan Laksana memang berusaha untuk membawa Pideksa kembali kedalam pergaulan anak-anak muda. Sebagian dari anak-anak muda padukuhan itu, masih saja dibayangi oleh ketakutan, justru karena Pideksa anak Wira Sabet. Tetapi tingkah laku Pideksa memang meyakinkan anak-anak muda di Gemawang, bahwa Pideksa memang sudah berubah. Seperti yang dijanjikan kepada Pideksa, maka Manggada dan Laksana telah menemui Ki Jagabaya. Mereka telah membicarakan lemang sawah dan pategalan milik Wira Sabet dan Sura Gentong. Apakah Wira Sabet diperbolehkan menggarap sawahnya kembali. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya "Mereka perlu makan. Karena itu menurut pendapatku, biarlah mereka menggarap sawah mereka. Karena Sura Gentong sudah tidak ada lagi, maka miliknya memang akan diwarisi oJeh kemanakannya, Pideksa." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Ternyata Ki Jagabaya cukup bijaksana. Ia memang bukan pendendam sebagaimana diduganya. Bahkan sikap Sampumapun tidak berbeda dengan sikap ayahnya. Ia menganggap bahwa Wira Sabet memerlukan bekal untuk dapat tetap hidup. "Jika hidup paman Wira Sabet dan Pideksa mengalami kesulitan dan bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari, maka mereka akan dapat terperosok kembali kedalam dunianya yang gelap. Karena disamping mendendam orang-orang Gemawang, maka mereka telah hidup diantara para perampok, penyamun dan penjahat-penjahat yang lain, bahkan bersama para pengikut Ki Sapa Aruh." berkata Sampurna.  "Nah, biarlah aku menemuinya" berkata Ki Jagabaya “tetapi sebaiknya aku berbicara dengan Ki Bekel." "Apa gunanya" desis Sampurna "selama ini Ki Bekel tidak berbuat apa-apa. Ia selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Bahkan menurut pendapatku bukan keragu-raguan karena ia membayangkan kerusakan, korban dan bencana yang dapat menimpa padukuhan ini. Tetapi ketakutan yang amat sangat." "Jangan begitu" berkata Ki Jagabaya "apapun yang dilakukan, tetapi ia masih tetap Bekel padukuhan Gemawang. Bukankah bukan hanya Ki Bekel yang berlaku seperti itu? Apa yang telah dilakukan oleh Kademangan Kalegen? Justru Ki Demang Rejandani yang dengan serta-merta bersedia membantu kita tanpa perasaan takut sama sekali meskipun ia sadar siapakah yang bakal dihadapi.” "Meskipun Ki Demang mempunyai alasan tersendiri. Bukankah ia juga berusaha untuk mendapatkan kembali benda-benda yang sangat berharga yang dirampok oleh Ki Sapa Aruh dan orang-orang dari barak itu?" sahut Sampurna. "Bukan hanya itu. Aku melihat sikap jujur pada Ki Demang Rejandani. " sahut Ki Jagabaya. Sampurna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk kecil. Ketika kemudian Manggada dan Laksana meninggalkan rumah Ki Jagabaya, maka seperti yang dikatakannya, Ki Jagabayapun telah pergi ke rumah Ki Bekel. Bagaimanapun juga sikap Ki Bekel sebelumnya, tetapi ia masih tetap diakui sebagai Bekel padukuhan Gemawang. Kedatangan Ki Jagabaya telah diterima oleh Ki Bekel Gemawang di pringgitan. Dengan sikap seorang pemimpin Ki  Bekelpun bertanya "Apakah keperluan Ki Jagabaya menghadap aku sekarang ini?" "Ki Bekel" jawab KfJagabaya yang kemudian telah menceriterakan keperluannya datang menemui Ki Bekel. Ki Bekel mendengarkan keterangan Ki Jagabaya dengan dahi yang kadang-kadang berkerut. "Dengan menggarap sawahnya kembali, maka Wira Sabet akan dapat hidup bersama keluarganya." "Huh" pikir Ki Bekel tibatiba telah mencibir “apakah ia mengira bahwa ia dapat berbuat apa saja di padukuhan ini? Ia sudah berkhianat dan bahkan merusak tata kehidupan padukuhan ini. Sekarang dengan enaknya ia ingin minta sawah dan pategalannya kembali. Tidak. Sawah dan pategalannya bahkan rumah dan halamannya akan menjadi milik padukuhan. Aku bukan seorang pendendam. Tetapi ia sudah terlalu lama membuat kepalaku menjadi pusing. Jika saja aku tidak mempunyai daya tahan yang tinggi, maka aku tentu sudah menjadi gila karena tingkah lakunya yang buruk itu." "Jadi maksud Ki Bekel" bertanya Ki Jagabaya. "Sudah aku katakan. Sebagai hukuman atas pengkhianatannya, maka sawah, pategalan, rumah, halaman  dan segala kekayaannya akan dirampas dan menjadi milik padukuhan." "Ki Bekel" berkata Ki Jagabaya "ia sudah menyatakan diri untuk meninggalkan dunianya yang gelap itu. Ia sudah berjanji untuk hidup dengan baik sebagaimana orang lain penghuni padukuhan ini. Ia sudah menyesali segala perbuatannya. Sebenarnyalah bahwa yang sama sekali tidak terkendali adalah Sura Gentong. Bukan Wira Sabet." "Begitu mudahnya orang mendapatkan pengampunan?" bertanya Ki Bekel "aku harus bersikap adil. Yang memberikan lebih bagi padukuhan ini akan mendapatkan lebih pula. Yang berkhianat tentu akan mendapatkan hukumannya. Wira Sabet bukannya baru sekarang melakukan dosa yang besar bagi padukuhan ini. Ketika ia melarikan diri, maka ia telah meninggalkan noda pula di padukuhan ini." "Ya" jawab Ki Jagabaya "ketika itu, Wira Sabet telah melukai aku." Ki Bekel mengerutkan dahinya. Ia mengingat-ingat sebentar. Lalu katanya "Ya. Ia sudah melukai Ki Jagabaya. Kemudian ia telah berkhianat. Dengan susah payah aku harus berusaha mengatasinya, sehingga akhirnya ketenangan dapat diperoleh kembali oleh padukuhan ini." "Siapakah yang menangkap Wira Sabet menurut pendapat Ki Bekel?" tiba-tiba saja Ki Jagabaya bertanya. Ki Bekel menjadi gagap. Namun kemudian jawabnya "Itu memang kewajiban Ki Jagabaya. Tetapi segala perbuatan, sikap dan tingkah laku bebahu padukuhan ini tentu dibawah tanggung jawabku."  "Ki Bekel benar" jawab Ki Jagabaya "karena itu maka aku harus datang menghadap dan mohon persetujuan Ki Bekel tentang sawah dan pategalan milik Wira Sabet." "Keputusanku tetap" berkata Ki Bekel. "Baiklah. Aku akan menyampaikan keputusan Ki Bekel kepada Wira Sabet. Aku akan mengatakan bahwa Ki Bekel tidak sependapat untuk menyerahkan kembali sawah dan pategalan Wira Sabet ketangannya." "Tetapi keputusan ini aku dasarkan atas jabatanku. Bukan aku pribadi." "Ya, Ki Bekel" jawab Ki Jagabaya. "Dengan demikian, maka kita semuanya harus mengamankan keputusan itu. Semua orang padukuhan ini. Terutama para bebahu. Apalagi Ki Jagabaya yang memang mempunyai tugas khusus untuk menjaga ketenangan dan ketertiban di padukuhan ini.” "Baik Ki Bekel. Aku akan berusaha. Tetapi tentu saja kemampuan dan tenagaku terbatas. Sementara Wira Sabet dan saudara-saudara seperguruannya akan semakin mendendam." "Maksud Ki Jagabaya" bertanya Ki Bekel. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya mengatakan bahwa dendam Wira Sabet akan membakar jantungnya kembali." jawab Ki Jagabaya. "Adalah tugas Ki Jagabaya untuk menangkapnya dan memenjarakannya." berkata Ki Bekel dengan wajah yang tegang. "Tentu Ki Bekel. Tetapi sudah aku katakan, bahwa kemampuan dan tenagaku terbatas. Apalagi Wira Sabet sudah  mendendamku sampai ke ujung rambutnya. Jika besok atau lusa saudara-saudara seperguruannya datang membunuh aku, maka segala sesuatunya tentu terserah kepada Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel dapat menunjuk orang lain yang lebih baik dari aku atau Ki Bekel akan menanganinya sendiri." "Tetapi bukankah Ki Jagabaya mampu melawan mereka?" suara Ki bekel mulai bergetar. "Mungkin seorang melawan seorang aku mampu mengimbangi kemampuan Wira Sabet. Tetapi jika datang dua orang, tiga orang, ampat orang dengan beberapa orang pengikut? Atau mereka memakai cara yang lama dengan menakut-nakuti seisi padukuhan termasuk Ki Bekel?" Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Namun kemudian suaranya menjadi semakin gagap "Bukankah Ki Jagabaya pernah mengalahkan Wira Sabet dan bahkan membunuh Sura Gentong." "Satu kebetulan Ki Bekel. Ada beberapa orang datang membantu. Ki Pandi dengan kedua ekor harimau peliharaannya yang garang tetapi terkendali. Ki Carang Aking dengan dua orang muridnya. Ki Ciirabawa dengan anaknya dan Ki Demang Rejandani yang kebetulan mempunyai kepentingan yang sama. Tanpa mereka, maka padukuhan ini akan dihancurkan sampai lumat." “Bagaimana dengan Ki Kertasana? Anaknya dan anakmu?" "Aku akan menyuruh isteri dan anak-anakku mengungsi. Jika Wira Sabet dan saudara-saudara seperguruannya datang mengamuk, biar aku sajalah yang dibunuhnya. Sementara Ki Kertasana, entahlah, apakah ia masih bersedia bertempur lagi atau tidak."  Ki Bekel memang menjadi kebingungan. Dengan suara yang bergetar ia berkata "Orang-orang itu harus tetap bersedia melawan Wira Sabet. Bahkan sekarang mereka aku perintahkan untuk menangkap Wira Sabet itu sebelum ia membuat keributan di padukuhan ini lagi." "Mereka tidak berkewajiban untuk mematuhi perintah Ki Bekel, karena mereka bukan penghuni padukuhan ini." "Tetapi mereka ada di sini sekarang" bentak Ki Bekel. Ki Jagabaya yang sudah menahan diri itu mengerutkan dahinya. Ia tidak senang dibentak dengan kasar oleh Ki Bekel sekalipun. Karena itu, maka katanya "Jika Ki Bekel ingin memberikan perintah itu kepada mereka, berikan langsung kepada mereka. Tetapi jika kemudian mereka justru berpihak kepada Wira Sabet, dan bahkan termasuk aku, itu terserah kepada Ki Bekel." "Gila. Apakah kau sudah gila?" bertanya Ki Bekel. "Mungkin aku sudah gila. Tetapi aku ingin menyelamatkan diri dan keluargaku." jawab Ki Jagabaya. Wajah Ki Bekel menjadi pucat. Sementara Ki Jagabaya berkata "Jika Ki Bekel tidak senang dengan sikapku, aku minta Ki Bekel memberhentikan, aku dan menggantinya dengan orang lain yang memiliki kemampuan yang tinggi untuk melawan Wira Sabet." "Tetapi itu tidak mudah" jawab Ki Bekel. "Aku minta diri. Aku datang untuk minta agar Ki Bekel menyetujui menyerahkan kembali tanah dan pategalan Wira Sabet kepadanya. Hanya itu, Jika Ki Bekel tidak setuju, itu terserah. Tetapi akibatnya terserah pula kepada Ki Bekel. Aku  memilih dipecat saja karena aku tidak ingin mengorbankan keluargaku." Ki Bekel menjadi bingung. Ketika Ki Jagabaya beringsut, maka Ki Bekel itupun berkata "Tunggu Ki Jagabaya." "Apalagi yang ditunggu? Bukankah keputusan Ki Bekel tetap? Sebaiknya aku pulang saja mempersiapkan pengungsian isteri dan anak-anakku. Aku mohon Ki Bekel menghubungi langsung orang-orang yang telah membantu membebaskan padukuhan ini dari tekanan ketakutan dan kecemasan. Itu jika mereka masih ada di padukuhan ini serta bersedia. Pokoknya terserah kepada Ki Bekel." "Tetapi itu kewajibanmu" teriak Ki Bekel. "Bukankah aku katakan, pecat saja aku." "Aku tidak memecatmu. Tetapi aku memerintahkan kau berbuat sesuatu." "Kalau Ki Bekel tidak memecatku, aku meletakkan jabatan” "Tunggu. Tunggu." minta Ki Bekel. "Apalagi yang harus kita bicarakan?" bertanya Ki Jagabaya. "Tetapi jangan pergi dahulu. Kita belum selesai" Ki Bekel menjadi gagap. "Sebenarnya tidak banyak persoalan yang harus kita putuskan hari ini. Mengijinkan Wira Sabet menggarap sawah dan pategalanrrya lagi. Itu saja. Jika Ki Bekel memutuskan setuju, maka tidak ada persoalan lagi. Tetapi jika tidak, maka padukuhan ini akan memasuki kembali suasana sebagaimana pernah kita alami." Ki Bekel menjadi berdebar-debar. Suasana yang baru saja dialami oleh padukuhan itu benar-benar sangat menakutkan  baginya. Bahkan ia tidak dapat berbohong kepada dirinya sendiri, bahwa segala sesuatunya Ki Jagabayalah yang telah mengatasinya. Karena itu, maka dengan nada berat Ki Bekel itupun berkata “Baiklah. Terserah kepada Ki Jagabaya. Jika Ki Jagabaya menganggap bahwa Wira Sabet pantas untuk menggarap sawah dan pategalannya kembali, maka akupun tidak berkeberatan pula." Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Terima kasih Ki Bekel. Hanya itulah yang aku butuhkan. Aku mohon diri. Aku akan menyampaikannya kepada Wira Sabet dan anak laki-lakinya. Mereka tentu akan merasa senang dan tidak akan membuat keributan lagi di padukuhan ini." Berita bahwa Wira Sabet dan Pideksa diperkenankan menggarap sawahnya lagi, telah diterima dengan suka cita. Ketika Ki Jajabaya dengan mengajak Sampurna, Manggada dan Laksana datang kerumah Wira Sabet untuk menyampaikan ijin untuk menggarap sawah dan pategalannya lagi, maka Wira Sabet menjadi sangat terharu. Kegarangannya seakan-akan telah luluh oleh kebesaran jiwa orang-orang padukuhannya. Ijin untuk menggarap sawah dan pategalannya kembali itu membuat penyesalan yang semakin mendalam di hatinya. Dihari-hari mendatang, maka Wira Sabet tidak lagi menjadi orang yang terasing di padukuhannya sendiri, ia mulai keluar dari dinding rumahnya untuk pergi ke sawah. Disepanjang jalan ia bertemu dengan tetangga-tetangganya. Mula-mula mereka hanya saling mengangguk. Namun kemudian mereka mulai berbicara yang satu dengan yang lain. Bahkan kemudian mereka mulai terbuka dan berbicara tentang banyak hal mengenai padukuhan mereka.  Demikian pula yang dilakukan oleh Pideksa diantara anakanak muda Gemawang. Di hari-hari mendatang, maka Gemawang benar-benar telah menjadi tenang. Tatanan kehidupan telah pulih kembali. Tidak ada lagi ketakutan dan kecemasan. Tidak pula ada perasaan saling curiga dan permusuhan. Bagi orang-orang Gemawang, maka padukuhan mereka telah menjadi padukuhan yang dapat memberikan kesejukan. Gemawang bukan sekedar tempat tinggal, tetapi Gemawang merupakan kampung halaman yang teduh. Ketika kehidupan di Gemawang menjadi mapan, maka Ki Citrabawa justru mulai teringat kepada kampung halamannya sendiri. Karena itu, maka kepada Ki Kertasana, ia telah menyampaikan niatnya untuk pulang. "Aku sudah cukup lama berada disini kakang" berkata Ki Citrabawa. Ki Kertasana tersenyum. Katanya "Kalian berdua telah ikut mengalami satu peristiwa yang mendebarkan di padukuhan ini." "Sekarang, semuanya telah lewat." desis Ki Citrabawa. Dengan demikian, maka Ki Kertasana tidak dapat menahan adiknya lebih lama lagi. Karena itu, maka ketika kemudian adiknya benar-benar minta diri, maka Ki Kertasana itupun telah melepaskannya. Namun Ki Kertasana masih minta Ki Citrabawa untuk minta diri kepada Ki Jagabaya. Ki Jagabaya melepaskan Ki Citrabawa dengan berat hati. Ki Citrabawa telah ikut menentukan hari depan padukuhan Gemawang bersama Laksana.  Namun ternyata bukan hanya Ki Citrabawa sajalah yang akan meninggalkan Gemawang. Ki Kertasana telah minta agar Manggada dan Laksana mengantarkan Ki Citrabawa pulang. "Lebih banyak kawan diperjalanan, tentu perjalanan akan dirasakan semakin pendek." berkata Ki Kertasana. Ki Citrabawa tidak menolak. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak dan kemanakannya itu sudah menjadi semakin matang. Bukan saja kemampuan ilmunya, tetapi juga cara mereka berpikir dan mengambil sikap. Tetapi baik Ki Citrabawa maupun Ki Kertasana tidak menentukan, apakah Mariggada dan Laksana akan tinggal dirumah orang tua mereka masing-masing, atau mereka akan selalu bersama-sama sebelum mereka masing-masing berkeluarga. Tetapi justru karena itu, maka Ki Pandipun telah minta diri pula. Katanya "Aku berada disini karena Manggada dan Laksana ada disini. Jika mereka pergi, maka akupun akan pergi juga." "Ki Pandi akan pergi ke mana?" bertanya Manggada “seandainya Ki Pandi tidak mempunyai kepentingan tertentu, marilah, kita berjalan bersama-sama." Ki Pandi mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berdesis "Sebenarnya aku masih mempunyai tugas. Panembahan berilmu hitam itu masih belum dapat ditundukkan. Tetapi baiklah, sambil mencarinya, aku bersedia ikut berjalan bersama-sama Manggada dan Laksana. Bukankah itu berarti bahwa aku akan berjalan bersama Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa? Agaknya akan menjadi perjalanan yang menyenangkan."  "Aku akan berterima kasih sekali jika Ki Pandi dapat berjalan bersama kami." berkata Ki Citrabawa. "Meskipun aku akan berjalan bersama Ki Citrabawa, tetapi jalan yang akan kita lalui akan berbeda." sahut Ki Pandi kemudian. Lalu katanya pula “Aku membawa momongan. Dua ekor harimau. Karena itu, aku harus memilih jalan terbaik yang dapat kami lalui tanpa mengganggu orang lain." Manggada tertawa. Katanya "Apakah kedua momongan Ki Pandi itu pada suatu saat tidak dapat ditinggalkan disatu tempat?" "Tentu. Tetapi disatu tempat yang terdekat. Setiap saat aku memerlukan keduanya atau keduanya memerlukan aku" berkata Ki Pandi kemudian. "Jika demikian, biarlah kami yang menyesuaikan diri" berkata Ki Citrabawa. Ki Pandi menggeleng. Katanya "Jangan. Jika Ki Citrabawa tidak berjalan bersama Nyi Citrabawa, maka aku tidak berkeberatan, karena aku yakin, dimasa muda Ki Citrabawa tentu telah sering menempuh perjalanan pula." Ki Citrabawapun tertawa. Katanya "Itu sudah lama sekali terjadi. Tetapi baiklah. Meskipun Ki Pandi akan mengambil jalan sendiri, tetapi akhirnya Ki Pandi akan sampai kerumahku juga." Demikianlah, ketika sampai saat yang direncanakan, maka Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa telah meninggalkan padukuhan Gemawang diantar oleh Manggada dan Laksana. Bersama mereka adalah Ki Pandi. Namun Ki Pandi telah mengambil jalan yang lain, karena jika Ki Pandi menempuh jalan sebagaimana dilalui oleh Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa, maka kedua ekor harimaunya akan menakut-nakuti orang.  Perjalanan yang mereka tempuh memang merupakan perjalanan panjang. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak mengalami hambatan disepanjang perjalanan mereka, sehingga akhirnya mereka telah berada dirumah Ki Citrabawa. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, maka Ki Pandi yang menyertai mereka tetapi mengambil jalan yang berbeda, telah sampai pula dirumah Ki Citrabawa. Ki Pandi sudah berjanji untuk tinggal dirumah itu beberapa lama sebagaimana Manggada. "Jika pada suatu saat kau akan pulang, maka biarlah aku bersamamu" berkata Ki Pandi kepada Manggada. "Terima kasih Ki Pandi" sahut Manggada "tetapi aku tidak tahu, apakah Laksana akan tinggal bersama paman dan bibi atau masih ada niatnya untuk menempuh perjalanan pengembaraan." "Kau kira aku akan tinggal dirumah sebagai gadis pingitan” sahut Laksana. Ki Pandi tertawa. Katanya "Tetapi bukan aku yang mengajakmu. Jangan-jangan Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa salah mengerti." Manggada dan Laksana tertawa pula. Dengan nada tinggi Laksana berkata "Aku akan mengatakan kepada ayah dan ibu, bahwa Ki Pandi telah memaksaku dan bahkan mengancamku jika aku tidak mau pergi bersamanya."  Ki Pandi sendiri masih saja tertawa. Namun kemudian, ketika suara tertawa mereka mereda, Ki Pandipun berkata "Tetapi kalian harus mengetahui sebelumnya, bahwa jika kalian akan melakukan pengembaraan, kalian harus menjadi lebih berhati-hati." "Kenapa? "bertanya Manggada. Dahi Ki Pandi menjadi berkerut. Ia menjadi lebih bersungguh-sungguh "Perjalanan kalian selalu diamati oleh seseorang." "Siapa?" bertanya Laksana. Ki Pandi menggeleng. Katanya "Aku tidak mengenal. Aku ketahui justru karena diperjalanan kalian bersama Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa aku telah memisahkan diri. Tetapi aku dapat mengenali orang itu jika aku bertemu kembali dengan orang itu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Manggada berkata "Jika demikian, maka pada suatu saat, kita akan dapat menemukan orang itu." "Mudah-mudahan" jawab Ki Pandi "tetapi karena untuk sementara kita akan berada disini, maka orang itu dapat kita lupakan saja. Kecuali jika pada suatu hari kita temui orang itu lagi dimanapun." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk pula. Namun mereka benar-benar telah melupakan orang itu, setidaktidaknya untuk beberapa lama. Ternyata Ki Pandi memang melihat orang itu. Bahkan ketika Ki Pandi berjalan-jalan seorang diri di luar halaman rumah Ki Citrabawa, ia melihat orang itu lagi. Tetapi Ki Pandi seakan akan tidak menghiraukannya sama sekali. Untunglah bahwa orang itu juga tidak menghiraukan Ki Pandi. Tetapi dihari-hari mendatang, Ki Pandi tidak pernah melihat orang itu lagi disekitar rumah Ki Citrabawa. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana ternyata tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk tinggal dirumah saja. Karena itu, maka keduanyapun telah minta diri untuk menempuh satu perjalanan agar pengalaman mereka dapat bertambah. "Tidak akan terlalu lama, paman" berkata Manggada. "Tidak terlalu lama itu menurut ukuranmu berapa hari?" bertanya Ki Citrabawa. "Jangan dihitung hari, ayah" sahut Laksana. "Jadi?" "Pertanyaan ayah seharusnya berdasarkan bulan. Berapa bulan atau bahkan tahun." berkata Laksana. Ki Citrabawa menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat merasakan gejolak perasaan anak-anak muda yang ingin mendapatkan pengalaman yang lebih luas serta melihat lebih banyak dari warna bumi ini. Berbeda dengan anak-anak muda yang merasa hidupnya sudah berada diatas kemapanan tertentu, maka Manggada dan Laksana ingin menjangkau kesempatan yang lebih banyak lagi. Seperti saat-saat Manggada dan Laksana minta diri meninggalkan rumah itu untuk pergi ke Gemawang beberapa saat yang lewat, maka Nyi Citrabawa merasa sangat berat untuk melepas mereka. Tetapi nampaknya keinginan Manggada dan Laksana sulit untuk dicegah lagi.  "Ngger" berkata Nyi Citrabawa "kau lihat anak-anak sebayamu di padukuhan ini, atau di padukuhan Gemawang, dapat be-kerjadengan tenangdirumah, disawah dan pategalan. Mereka merupakan tiang-tiang penyangga kehidupan keluarga dan padukuhannya. Tetapi kenapa kalian berdua menjadi gelisah dan ingin menempuh satu pengembaraan yang panjang?" "Ibu" jawab Laksana "pada suatu saat aku juga akan kembali ke padukuhan ini. Demikian juga kakang Manggada akan kembali ke Gemawang. Namun sebelum kami menetap tinggal dan bekerja bagi lingkungan kami, sebenarnyalah kami ingin melihat betapa luasnya tanah ini, meskipun aku sadar, bahwa yang dapat aku lihat itu tentu hanya selebar daun kelor dibanding dengan luasnya bumi.". Nyi Ciirabawa itupun kemudian berpaling kepada Ki Pandi yang menunduk. Perasaan Ki Pandi memang agak tergelitik oleh sikap Nyi Citrabawa. Seperti yang dicemaskannya, akan dapat terjadi salah paham, seolah-olah Ki Pandilah yang mengajak kedua orang anak muda itu untuk mengembara. Tetapi Ki Citrabawa itupun justru berkata "Baiklah. Jika kalian ingin melihat-lihat sebagaimana pernah kalian lakukan sebelumnya." Namun kemudian katanya kepada Ki Pandi "Aku titipkan anak-anak ini kepada Ki Pandi. Mudah-mudahan pengembaraan mereka mendapat arti bagi hidupnya mendatang serta bagi sesamanya. Kami akan selalu berdoa, semoga Yang Maha Agung akan tetap melindungi mereka." Nyi Citrabawa memang tidak menahan mereka lagi. Sementara-Ki Pandi berkata "Aku akan berusaha sebaikbaiknya dalam keterbatasanku Ki Citrabawa. Sebenarnya aku juga sudah mencoba untuk menahan mereka untuk tetap tinggal dirumah sementara aku akan minta diri, karena aku  masih mempunyai tugas yang belum terselesaikan. Tetapi ternyata keduanya berkeras hati untuk tetap pergi untuk melihat lingkungan yang lebih luas." "Aku justru merasa beruntung, bahwa ketika keduanya ingin pergi, Ki Pandi justru bersama mereka. Itu akan jauh lebih baik daripada mereka pergi hanya berdua saja. Kemudian mereka kadang-kadang dapat membuat mereka kurang dapat mengekang diri." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi didalam hati ia berkata "Justru kepercayaan ini merupakan beban yang berat bagiku, Untunglah kedua anak muda itu termasuk anak-anak muda yang tidak terlalu sulit dikendalikan." Demikianlah, maka Ki Citrabawa dan Nyi Citrabawa harus melepaskan anak dan kemanakannya itu pergi. Yang membuat mereka cemas adalah justru karena mereka mengetahui, bahwa kedua-nya tidak sekedar mengembara menyusuri jalanjalan dan menghindari kesulitan yang dapaf timbul diperjalanan. Tetapi sebagaimana yang pernah terjadi atas mereka, adalah justru peristiwa yang dapat membahayakan jiwa mereka. Ketika mereka meninggalkan rumah Ki Citrabawa, maka bertiga mereka telah pergi ke sebuah hutan yang tidak terlalu jauh. Di-hutan itu dahulu Manggada dan Laksana sering berburu harimau untuk mendapatkan kulitnya. Kulit harimau itu biasanya dibeli oleh para pedagang dengan harga yang cukup tinggi. Tetapi Ki Citrabawapun kemudian melarang mereka untuk setiap kali memburu harimau, sehingga keduanyapun telah menghentikan kegiatan mereka.  Diperjalanan itulah Ki Pandi telah memperingatkan mereka sekali lagi, bahwa mereka berdua agaknya sedang dalam pengawasan seseorang. "Kita belum dapat memastikan, apakah ada hubungannya antara orang itu dengan peristiwa yang terjadi di barak Wira Sabet dan Sura Gentong. Terbunuhnya beberapa orang berilmu tinggi kadang-kadang membuat persoalan berlarutlarut. Mungkin ada orang yang tersinggung karenanya, sehingga memahatkan dendam didalam hatinya. Dendam itulah yang membuat tanah ini selalu dibayangi oleh kekerasan, disamping sifat-sifat bujuk yang lain yang dapat hinggap dihati seseorang." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Tetapi pesan Ki Pandi itu mereka perhatikan dengan sungguhsungguh. Benih itu akan dapat tumbuh dan berkembang di hati yang pada da-sarnya memang merupakan ladang yang subur. Demikianlah, di hutan itu Ki Pandi sempat menemui kedua ekor harimaunya. Berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Manggada dan Laksana. Namun kemudian Ki Pandipun berkata "Aku berharap bahwa keduanya bersedia tinggal dihutan ini untuk beberapa lama. "Di hutan ini banyak terdapat binatang buas Ki Pandi." berkata Manggada." "Kedua ekor harimauku ini memiliki sedikit kelebihan. Mereka dapat menghindari perkelahian. Tetapi jika hal itu harus terjadi, maka keduanya dapat melakukan yang tidak dapat dilakukan oleh jenis-jenis binatang buas yang lain."  Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka meyakini kata-kata Ki Pandi yang sudah bergaul dengan kedua ekor harimaunya untuk waktu yang lama. Ketiga orang itu bermalam di hutan itu. Manggada dan Laksana yang pernah tinggal dihutan sebulan penuh sama sekali tidak merasa canggung tidur di atas pepohonan. Merekapun tidak canggung pula berburu untuk mendapatkan makan malam mereka. "Baru dihari berikutnya, menjelang matahari terbit, setelah mereka mandi disebuah mata air, maka merekapun meninggalkan hutan itu. Demikian keduanya keluar dari hutan itu, maka dilihatnya cahaya matahari yang membayangi di langit. Kemerahmerahan. Semakin lama semakin cerah. Ki Pandi yang sudah berpengalaman telah mengajak mereka untuk menentukan arah perjalanan. Meskipun mereka tidak mempunyai rencana tertentu, namun sebaiknya mereka tidak berjalan asal melangkahkan kaki mereka. "Bagaimana pendapat Ki Pandi jika kita melihat keadaan diseberang hutan Jatimalang sepeninggal Panembahan Lebdagati?" Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian bertanya kepada diri sendiri "Sepeninggal Panembahan Lebdagati yang berilmu hitam itu?" Manggada yang mendengar kata-kata itu justru menyahut “Ya. Apakah Ki Ajar Pangukan masih berada ditempatnya?" Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Dapat saja jika kita memang ingin singgah."  "Ya, sekedar singgah. Agaknya kita memang tidak akan ? Menjumpai apa-apa lagi disana. Panembahan Lebdagati sudah meninggalkan padepokannya dan mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain." "Panembahan itu sudah kehilangan kesempatan yang telah dirintisnya sejak lama dengan mengorbankan gadis-gadis. Satu kali purnama lepas dari padanya, maka ia harus mengulanginya lagi dari awal. Agaknya Panembahan itu sudah tidak mungkin lagi untuk memulainya, sehingga ia telah mencari jalan lain yang dianggapnya lebih pendek daripada mengorbankan gadis-gadis disetiap bulan purnama. Karena ia sudah kehilangan waktu yang panjang, sejak kita menggagalkannya dan merebut anak Ki Wiradadi itu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun reneana untuk singgah dilingkungan seberang hutan Jatimalang sangat menarik bagi mereka. Mungkin perubahanperubahan sudah dan sedang berlangsung disana. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun rencana untuk singgah dilingkungan seberang hutan Jatimalang sangat menarik bagi mereka. Mungkin perubahanperubahan sudah dan sedang berlangsung disana. Dengan demikian, maka mereka telah mengarahkan arah perjalanan mereka. Mereka akan melihat, apakah kehidupan di kaki Gunung Lawu itu sudah banyak mengalami perubahan atau belum. Namun mereka tidak tergesa-gesa. Mereka tidak mempunyai satu kepentingan tertentu di seberang hutan Jati, selain sekedar ingin melihat kembali lingkungan itu.  Karena itu, maka mereka berjalan sambil melihat-lihat. Padu kuhan, sawah, pategalan, sungai dan hijaunya pepohonan. Ketika mereka melewati sebuah pasar, maka Laksanapun berniat untuk singgah sebentar disebuah kedai dipinggir pasar itu. “Aku ingin minum dan makanan hangat" desis anak muda itu. Manggada tersenyum. Ketika ia berpaling kepada Ki Pandi, sebelum Manggada bertanya kepadanya, maka Ki Pandi itu sudah mengangguk sambil berkata "Bukankah aku hanya mengikuti kalian ?" Manggada tersenyum. Katanya "Baiklah. Kita singgah sebentar." Demikianlah, maka mereka bertiga telah singgah disebuah kedai yang tidak terlalu besar. Meskipun demikian, agaknya kedai itu menyediakan makanan dan minuman yang baik, sehingga karena itu, maka kedai itu menjadi cukup ramai. Dalam kesibukan menghirup minuman dan mengunyah makanan, tiba-tiba wajah Ki Pandi berkerut. Ia melihat lagi orang yang dilihatnya mengikuti perjalanan Manggada dan Laksana ketika mereka mengantar Ki Citrabawa dan isterinya. Orang yang juga pernah dilihatnya di dekat rumah Ki Citrabawa.  Tetapi Ki Pandi tidak sempat menunjukkannya kepada Manggada dan Laksana karena orang itu hanya lewat dan berhenti sejenak di depan kedai itu. Namun nampaknya orang itu tidak seorang diri. Meskipun orang itu sudah tidak nampak lagi, namun Ki Pandi telah memberitahukan juga kepada Manggada dan Laksana, bahwa orang yang pernah dikatakannya mengamati perjalanan mereka itu baru saja lewat didepan kedai itu. "Kenapa Ki Pandi tidak menunjukkan kepada kami ?" "Orang itu hanya lewat. Ketika aku berniat untuk mengatakan kepada kalian, orang itu sudah tidak nampak lagi." "Kita akan mencarinya. Mungkin ia masih berada disekitar tempat ini" berkata Laksana. Tetapi Ki Pandi itu menggeleng. Katanya "Kita tidak perlu bersusah payah mencarinya." "Tetapi menurut Ki Pandi, orang itu berbahaya bagi kita” sahut Laksana. "Ya. Tetapi tanpa mencarinya , orang itu tentu akan datang lagi kepada kita. Nanti, esok atau lusa. Mereka tentu akan selalu mengikuti kalian berdua. Namun setelah mereka mengetahui bahwa aku selalu bersama kalian, maka akupun akan ikut mereka awasi." "Apakah Ki Pandi tidak keliru ? Justru Ki Pandilah yang diikutinya." desis Manggada. "Agaknya memang suatu kemungkinan. Tetapi yang sempat mereka temukan dahulu adalah kalian berdua. Orang itu memperhitungkan, bahwa dengan mengikuti kalian berdua, maka kalian akan membawanya kepadaku."  "Ternyata perhitungannya benar" desis Laksana. Ki Pandi mengangguk-angguk. Setelah merenung sejenak, maka Ki Pandi itupun berdesis "Memang masuk akal. Tetapi semua itu baru merupakan dugaan-dugaan. Meskipun demikian aku kira pada suatu saat, kita akan mengetahui, apakah sebenarnya yang dikehendakinya." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka masih menghirup minuman dan mereka bahkan mulut mereka masih juga mengunyah makanan. Sementara itu Ki Pandi mulai membayangkan kembali orang yang pernah dilihatnya. Ketika ia melihat orang itu didekat rumah Ki Citrabawa, maka orang itu seakan-akan tidak memperhatikan. Tetapi Ki Pandi tidak ingin pening memikirkan orang itu. Ia berharap bahwa suatu ketika ia mendapat kejelasan. Dalam pada itu, setelah Manggada membayar harga makanan dan minuman, mereka bertigapun keluar dari kedai itu dan berjalan searah dengan orang yang telah dikenali Ki Pandi. Namun mereka sudah tidak melihat lagi orang itu. "Mungkin orang itu salah seorang saudara seperguruan Sura Gentong atau saudara-saudara seperguruannya." berkata Manggada. "Jika demikin, kenapa mereka tidak mencari ayah ?" bertanya Laksana. Namun nada pertanyaannya memang mengandung kecemasan. Laksana benar-benar memikirkan keadaan ayahnya. "Sudahlah" berkata Ki Pandi." Kita tidak dapat memecahkan teka-teki itu."  Dengan demikian, maka perjalanan mereka bertiga sama sekali tidak terpengaruh oleh kehadiran orang yang tak dikenal itu. Siapapun mereka, maka ketiga orang itu melanjutkan perjalanan ke arah hutan Jatimalang. Perjalanan mereka memang perjalanan yang panjang. Meskipun Manggada dan Laksana teringat juga kepada Ki Wiradadi, namun mereka tidak ingin singgah kerumah itu. "Jika kita harus singgah dimana-mana, maka kita tidak akan sampai dihutan Jatimalang." berkata Manggada. Laksana mengerutkan dahinya. Tetapi sebelum ia mengucapkan sesuatu, Manggada telah mendahuluinya "Anak gadis Ki Wiradadi itu ?" "Ah, tidak." jawab Laksana. Manggada tertawa. Sementara Laksana melemparkan pandangan matanya jauh-jauh. Ki Pandi sempat tersenyum juga mendengar pembicaraan kedua orang anak muda itu. Namun ia tidak berkata sesuatu. Demikianlah, maka merekapun berjalan semakin jauh. Matahari yang kemudian melewati puncak langit, panasnya bagaikan membakar kulit. Namun perjalanan mereka selanjutnya sama sekali tidak terganggu. Juga ketika mereka berhenti untuk minum dan makan disebuah kedai. Menjelang malam, ketiga orang itu memasuki sebuah padukuhan. Bertiga mereka berniat untuk menumpang bermalam di banjar padukuhan itu. Tetapi ketiga orang itu merasa aneh. Padukuhan itu nampak sepi. Pintu-pintu rumah sudah tertutup dan gardugardupun tidak terisi.  "Mungkin masih terlalu sore untuk berada di gardu " berkata Manggada. "Mungkin" sahut Ki Pandi "tetapi regol-regol halaman dan bahkan pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat." "Seperti padukuhan Gemawang sebelum barak Wira Sabet dan Sura Gentong di kuasai." berkata Laksana. "Ya" sahut Manggada "apapun yang terjadi ditempat ini, tentu ada yang tidak wajar." Ki Pandi mengangguk-angguk mengiakan. Namun ia tidak berkata sesuatu. Ia berjalan saja menelusuri jalan padukuhan. Beberapa saat kemudian, ternyata mereka telah berada didepan banjar padukuhan. Namun nampaknya banjar padukuhan itu juga nampak sepi. Dengan agak ragu ketiga orang itu melangkah memasuki banjar padukuhan. Mungkin mereka dapat bertemu dengan penunggu banjar itu. Seperti yang mereka duga, maka dibelakang banjar itu tinggal sebuah keluarga kecil. Ia bertugas untuk menunggu dan memelihara banjar milik padukuhan itu. Meskipun nampak ragu-ragu, namun ketiga orang itu dipersi-lahkan masuk kerumahnya yang tidak begitu besar. Ki Pandilah yang minta kepada penunggu banjar itu untuk diijinkan bermalam barang semalam saja dibanjar itu. Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Nampak keraguan semakin bergejolak didadanya. Namun agaknya penunggu banjar itu tidak sampai hati untuk menolak permintaan ketiga orang yang minta ijin untuk menginap itu.  "Siapakah sebenarnya ki sanak bertiga ini ?" bertanya penunggu banjar itu. "Kami adalah pengembara yang menyusuri jalan-jalan yang panjang" jawab Ki Pandi. "Untuk apa ? Jika kalian melakukan sesuatu, kalian tentu mempunyai maksud tertentu" bertanya penunggu banjar itu. "Benar Ki sanak" jawab Ki Pandi "kedua kemenakanku ini ingin memperluas pengalaman hidupnya. Mereka ingin melihat tempat-tempat yang jauh yang belum pernah dilihatnya. Mereka ingin melihat tatanan kehidupan yang beraneka di tanah ini." Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata "sebenarnya kami tidak berkeberatan. Para pejalan dan barangkali juga pengembara, bermalam di banjar ini. Tetapi kalian datang pada saat yang kurang baik." Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun rasa-rasnya ia mendapat jalan justru untuk menanyakan, apa yang sedang terjadi di padukuhan itu. Karena itu, maka Ki Pandi itupun bertanya "Apa yang sebenarnya terjadi disini ?" Penunggu banjar itu memandang Ki Pandi dan kedua orang anak muda yang menyertainya itu dengan tajamnya. Namun orang itupun berkata "Siapakah nama kalian ?" "Orang memanggilku Ki Pandi. Kedua kemenakanku ini adalah Manggada dan Laksana." Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandilah yang bertanya "Apakah aku diperkenankan mengenal nama Ki sanak ?"  Orang itu menarik nafas panjang. Jawabnya "Namaku Kerta. Orang memanggilku Kerta Banjar, karena dipadukuhan ini ada tiga orang yang bernama Kerta." Ki Pandipun mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya "Tetapi tadi Ki Kerta mengatakan bahwa kami datang pada waktu yang kurang baik." "Ya, Ki Pandi "jawab penunggu banjar itu "dalam waktu terakhir ini, padukuhan kami sedang dibayangi oleh ancaman yang mencemaskan seisi padukuhan.” "Apa yang telah terjadi ?" "Dipadukuhan ini tinggal seorang yang sangat disegani oleh para penghuni padukuhan ini. Ia seorang yang sangat baik. Ia suka menolong sesama dan memberikan bantuan apa saja yang dibutuhkan oleh orang banyak dalam batas kemampuannya." Ki Pandi mengangguk-angguk pula. "Namun pada hari-hari terakhir ini, seorang berkuda telah mencarinya. Seorang yang tidak dikenal." orang itu melanjutkan. "Ia bertanya kepada orang-orang padukuhan ini dimana orang yang baik itu tinggal. Orang-orang padukuhan ini yang tidak tahu maksudnya telah menunjukkan tempat tinggal orang yang dicarinya. Tetapi akhirnya kami mengetahui bahwa orang yang mencarinya itu tidak berniat baik." "Apa yang akan dilakukannya ?" bertanya Ki Pandi. "Orang berkuda itu menantang untuk berperang tanding."jawab Ki Kerta Banjar. "Apa yang ia kehendaki ?" bertanya Ki Pandi.  "Kami tidak mengetahuinya. Orang yang kami anggap orang baik dan disegani seisi padukuhan inipun tidak mau mengatakannya, persoalan apakah yang membuat orang berkuda itu menantangnya untuk berperang tanding." "Apakah keduanya masih terhitung muda, separo baya atau justru sudah memasuki usia tua ?" bertanya Ki Pandi kemudian. "Mereka sudah menjelang masa-masa tua. Orang yang dihormati di padukuhan inipun sudah memasuki hari tuanya. Rambutnya sudah mulai memutih. Demikian pula janggut dan kumisnya." "Tetapi apakah orang berkuda itu mengganggu seisi padukuhan ini ?" bertanya Ki Pandi. "Tidak. Orang itu tidak mengganggu seisi padukuhan ini. Tetapi tantangamitu membuat seisi padukuhan ini gelisah. Kami sudah menyatakan keinginan kami untuk membantu. Tetapi orang yang kami segani itu tidak menghendakinya. Ia menganggap bahwa persoalan itu adalah persoalan pribadinya. Karena itu tidak sepantasnya, orang-orang padukuhan ini melibatkan diri." "Jika demikian, kenapa seisi padukuhan ini menjadi ketakutan ? Bukankah tantangan itu semata-mata ditujukan kepada seseorang ? "bertanya Ki Pandi. "Tetapi seakan-akan orang itu telah menjadi bagian dari kami, seisi padukuhan ini." jawab Ki Kerta Banjar. "Siapakah nama orang yang disegani itu ?" tiba-tiba saja Ki Pandi bertanya.  Penunggu banjar itu menjadi ragu-ragu pula. Namun kemudian ia menjawab "Kami, seisi padukuhan ini memanggilnya Ki Sambi Pitu." "Sambi Pitu" Ki Pandi mengulang. Wajahnya nampak berkerut. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya, Laksana bertanya "Ki Pandi mengenal nama itu ?" " . Ki Pandi menggeleng sambil menjawab "Tentu tidak. Yang aku kenali tidak lebih dari tetangga-tetanggaku dan sanakkadangku." Laksana menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ki Pandilah yang kemudian berkata "Ki Kerta. Menurut pendapatku, orang-orang padukuhan ini tidak usah merasa ketakutan. Agaknya ancaman itu semata-mata hanya ditujukan kepada Ki Sambi Pitu saja." "Kami tidak dapat memisahkan diri kami dari orang tua itu."jawab Ki Kerta Banjar. "Seandainya orang-orang padukuhan ini sudah siap membantu, kenapa mereka menjadi ketakutan?" bertanya Ki Pandi. "Ki Sanak" berkata Ki Kerta Banjar "bukankah wajar, jika terjadi benturan kekerasan, maka akan timbul ketakutan? Bahkan orang-orang padukuhan ini terutama perempuan dan anak-anak sudah menjadi ketakutan sejak beberapa hari yang lalu." Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Tetapi bukankah kehadiran kami tidak menambah kegelisahan yang terjadi di padukuhan ini?"  "Tidak. Tidak Ki Pandi" jawab Ki Kerta Banjar "jika kalian hanya ingin bermalam disini, silahkan. Tetapi jika kalian mendengar derap kaki kuda itu, kalian jangan. terkejut." "Apakah orang berkuda itu sering kali datang?" bertanya Ki Pandi. "Ya. Tiba-tiba saja kami mendengar derap kaki kuda menjelang tengah malam. Kuda itu berputar-putar di jalanjalan padukuhan. Namun kemudian derap kaki kuda itupun menghilang." "Setiap malam?" bertanya Manggada. "Tidak" jawab Ki Kerta "tetapi sering kali." Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Dalam pada itu, maka Ki Kertapun kemudian telah mempersilahkan tamunya untuk mengikutinya ke banjar. Ki Kerta telah menunjukkan tempat bagi ketiganya untuk bermalam. "Serambi ini memang kami sediakan bagi mereka yang singgah dan bermalam di banjar ini" berkata Ki Kerta. Lalu katanya pula "Di halaman samping terdapat pakiwan. Bawa lampu minyak di sudut itu jika kalian ingin pergi ke pakiwan." "Terima kasih Ki Kerta" jawab Ki Pandi. Namun Laksana sempat bertanya "Apakah tidak ada anakanak muda yang bertugas ronda di banjar setiap malam?" "Sejak orang berkuda itu berkeliaran di padukuhan, maka anak-anak muda tidak meronda di banjar. Tetapi mereka berkumpul di rumah Ki Bekel. Mereka merasa cemas bahwa orang berkuda itu juga memusuhi Ki Bekel."  Ki Pandi hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Ki Kerta kemudian berkata "Silahkan beristirahat Ki Sanak. Mudah-mudahan kalian tidak merasa terganggu disini." "Terima kasih Ki Kerta" jawab Ki Pandi. Ki Kertapun kemudian meninggalkan ketiga orang itu diserambi banjar yang disekat dengan dinding bambu. Diserambi itu terdapat sebuah amben yang agak besar, diterangi sebuah lampu minyak yang berkeredipan. Sepeninggal Ki Kerta, maka mereka bertigapun bergantian pergi ke pakiwan. Baru kemudian mereka duduk berbincangbincang sebelum mereka membaringkan tubuh mereka di amben yang agak besar itu. Tetapi sebelum mereka sempat berbaring, Ki Kerta telah datang lagi sambil membawa minuman hangat serta nasi beras gaga yang kemerah-merahan. "Marilah Ki Sanak. Nasinya sudah dingin, tetapi sayurnya sudah dipanasi. Silahkan minum dan makan seadanya." "Kami sangat berterima kasih, Ki Kerta. Kami telah membuat Ki Kerta dan keluarga Ki Kerta menjadi sibuk." "Bukankah itu sudah merupakan tugas kami?" sahut Ki Kerta. Ki Pandi, Manggada dan Laksana tidak ingin mengecewakan kebaikan hati Ki Kerta. Karena itu maka merekapun telah minum dan makan hidangan itu. "Bukan sekedar agar tidak mengecewakan mereka" desis Laksana "tetapi aku memang merasa lapar." Manggada tersenyum. Katanya "Aku sudah menduga melihat caramu makan."  "Apakah kau tidak lapar?" bertanya Laksana. Menggada tertawa sambil berpaling kepada Ki Pandi. Demikian mereka selesai makan, serta membenahinya dan membawa mangkuk yang kotor ke rumah Ki Kerta, maka mereka telah duduk di tangga banjar padukuhan itu. Udara memang terasa lebih sejuk di luar daripada di serambi yang disekat dengan dinding bambu itu. Sementara itu, Ki Pandipun kemudian berkala "Aku tidak dapat menjawab pertanyaan kalian dihadapan Ki Kerta, apakah aku mengenal Ki Sambi Pitu. Sebenarnya aku sudah mengenalnya meskipun tidak begitu akrab. Ia memang orang yang baik. Bahkan aku ingin menemuinya dan menanyakan siapakah yang dimaksud dengan orang berkuda oleh Ki Kerta itu. "Apakah besok kita akan singgah?" bertanya Manggada. "Ya. Jika kalian tidak berkeberatan, maka kita akan singgah dirumah orang itu. Seharusnya orang seperti Ki Sambi Pitu itu tidak mempunyai musuh. Jika ada orang yang mendendamnya dan bahkan menantangnya untuk berperang tanding, maka persoalannya agaknya sulit dimengerti." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Ketika mereka sudah merasa lebih segar oleh sejuknya udara malam, maka mereka bertigapun telah kembali kedalam bilik mereka yang panas. Namun merekapun segera berbaring. Tetapi mereka sudah berjanji, bahwa seorang diantara mereka tidak boleh tidur, bergantian untuk sekedar berjaga-jaga karena mereka berada ditempat yang asing.  Menurut persetujuan mereka, maka yang pertama-tama berjaga-jaga adalah Laksana. Ia akan membangunkan Manggada jika ia sudah menjadi sangat mengantuk lewat tengah malam. Tetapi ketika Ki Pandi dan Manggada mulai memejamkan mata mereka, maka tiba-tiba saja mereka mendengar derap kaki kuda berlari kencang lewat jalan induk padukuhan itu. Derap kaki kuda itu terasa bagaikan mengguncang tiang-tiang banjar yang berdiri dipinggir jalan induk itu. "Itulah yang dikatakan oleh Ki Kerta" desis Ki Pandi yang kemudian bangkit dan duduk bersandar dinding. "Mudah-mudahan perang tanding itu tidak terjadi malam ini " berkata Manggada. "Ya" sahut Laksana "sehingga kita besok masih mempunyai kesempatan untuk berbincang dan mengetahui, siapakah yang telah menantangnya untuk berperang tanding." "Tetapi orang yang menantangnya itu sudah sering memacu kudanya berputar-putar di padukuhan ini. Namun perang tanding itu masih juga belum terjadi." desis Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia justru menjadi gelisah. Tiba-tiba saja ia berkata "Biarlah kalian tinggal disini. Aku akan melihat, apa yang terjadi." "Apakah Ki Pandi akan pergi kerumah orang itu?" bertanya Manggada. "Ya" jawab Ki Pandi "tetapi aku tidak akan menemuinya sekarang." "Apakah Ki Pandi sudah mengetahui letak rumahnya?” bertanya Laksana.  "Belum" jawab Ki Pandi "tetapi biarlah aku mencarinya. Kita tahu arah derap kaki kuda yang lewat tadi. Jika kuda itu berderap lagi lewat jalan ini, maka suara derap kakinya akan dapat aku pergunakan sebagai ancar-ancar untuk menemukan rumahnya yang agaknya juga berada ditempat yang mudah diketemukan." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk mengiakan. Mereka menyadari, bahwa sebaiknya mereka memang tinggal di banjar karena jika terjadi sesuatu mereka tidak justru menjadi beban Ki Pandi. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi telah meninggalkan banjar itu dengan diam-diam. Ia menyelinap keluar dari halaman dan berjalan dikegelapan. Ki Pandi tahu bahwa seperti di banjar, maka gardu-gardu perondanpun menjadi sepi. Tetapi justru karena itu, tidak seorangpun yang dapat ditanya, dimana rumah Ki Sambi Pitu. Bahkan seandainya ada beberapa orang digardu, pertanyaan tentang letak rumah Ki Sambi Pitu akan dapat menimbulkan persoalan. Ki Pandi tertarik ketika ia mendengar lagi derap kaki kuda. Ternyata sejenak kemudian maka derap kaki kuda di malam yang sepi itu justru melingkar sehingga kuda itu seakan-akan ingin menyusul perjalanan Ki Pandi. Dengan cepat Ki Pandi berusaha untuk meloncati dinding halaman yang tidak terlalu tinggi, sehingga demikian kuda itu lewat, maka Ki Pandi sudah berada di balik dinding. Namun demikian kuda itu berderap, maka Ki Pandipun dengan cepat telah meloncat turun kembali di jalan dan berlari menyusul derap kaki kuda itu.  Tetapi Ki Pandi tidak perlu berlari terlalu jauh. Ia memperlambat larinya ketika ia menyadari bahwa kuda itu sudah berhenti beberapa puluh langkah saja dihadapannya. Ki Pandi menyadari, bahwa ia harus sangat berhati-hati. Orang berkuda yang sudah berani menantang Ki Sambi Pitu itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, maka Ki Pandipun kemudian telah meloncat pula ke halaman samping. Ia merasa lebih aman untuk mendekati orang berkuda itu lewat halaman, menyusup diantara beberapa batang pepohonan daripada lewat jalan yang terbuka. Ki Pandi berhenti dihalaman sebelah. Dengan sangat berhati-hati ia memperhatikan seseorang yang berdiri di sebuah halaman yang tidak begitu luas, yang ditanami beberapa batang pohon bunga ceplok piring dan bunga soka. Baunya semerbak di malam hari. Dari tempatnya bersembunyi Ki Pandi mendengar orang yang berdiri di halaman itu berkata keras-keras tanpa ragu, bahwa suaranya itu dapat didengar oleh tetangga Ki Sambi Pitu "He, dengar Ki Sambi Pitu. Aku memperingatkanmu. Dua malam lagi, aku menunggumu di bulak Parapat. Kita akan membuat perhitungan sampai tuntas. Hutangmu harus kau bayar bersama bunganya sekali." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya dendam membara dihati orang yang menantang Ki Sambi Pitu itu. Dengan jantung yang berdebaran Ki Pandi melihat dari halaman sebelah, pintu rumah itu terbuka. Sesosok tubuh melangkah keluar dan berdiri di tangga sambil menjawab "Kau selalu menggangguku Ki Lemah Teles. Sudah aku katakan, bahwa dua malam lagi aku akan pergi ke bulak Parapat. Aku  terima tantanganmu meskipun aku tidak pernah mengakui mempunyai hutang apapun kepadamu." "Jangan mengigau. Banyak orang yang tidak mengakui hutangnya kepada orang lain atau sengaja melupakannya. Tetapi orang yang mempunyai piutang tentu bersikap lain." "Terserah apa saja alasanmu. Aku tahu semuanya itu sekedar kau pergunakan untuk memancing perang tanding. Sudah aku katakan bahwa kau tidak perlu memakai alasan apapun juga. Kita akan berperangtanding dibulak Parapat dua malam mendatang. Sekarang pergilah, biar aku dapat tidur nyenyak. Derap kaki kudamu telah mengganggu dan membangunkan anak-anak yang tidur dipelukan ibunya. Sementara mereka tidak tahu menahu tentang persoalan kita." Orang yang disebut Ki Lemah Teles itu tidak menjawab. Iapun melangkah keluar dari halaman dan langsung meloncat ke punggung kudanya. Ketika kemudian sosok yang berdiri di tangga itu masuk kembali kedalam rumahnya, maka Ki Pandipun telah merenungi peristiwa yang dilihatnya itu Ternyata Ki Pandi telah mengenal kedua orang yang bermusuhan itu. Ia mengenal Ki Sambi Pitu. Iapun mengenal Ki Lemah Teles pula. Dua orang yang berilmu sangat tinggi.  Namun yang tidak diketahuinya adalah sebab dari pertengkaran di antara mereka berdua. Tetapi Ki Pandi itupun segera menyadari dirinya, bahwa ia berada di halaman orang. Karena itu maka iapun segera beringsut meninggalkan tempat itu. Ki Pandi itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar derap kaki kuda itu lagi. Ternyata Ki Lemah Teles tidak segera pergi dari padukuhan itu. Tetapi kudanya masih saja berlari-larian berputar-putar di jalan-jalan padukuhan. "Orang aneh" desis Ki Pandi. Karena itu, maka Ki Pandi itupun berjalan dengan hati-hati. Ia harus memasang telinganya, agar ia tidak dengan tiba-tiba saja bertemu, berpapasan di simpang tiga atau simpang ampat atau didahului oleh orang berkuda itu. Ketika Ki Pandi kemudian telah berada di banjar lagi dan duduk diamben yang agak besar itu bersama Manggada dan Laksana, maka iapun telah menceriterakan apa yang lelah dilihatnya. "Bagaimana menurut pendapat Ki Pandi?" bertanya Manggada "apa yang dimaksud dengan hutang Ki Sambi Pitu kepada Ki Lemah Telcs itu?" Ki Pandi menggeleng. Katanya "Aku tidak tahu. Tetapi menurut Ki Sambi Pitu, agaknya Ki Lemah Telcs sekedar mencari persoalan untuk menantangnya berperang tanding." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun Laksanapun kemudian bertanya pula "Apakah Ki Lemah Teles menurut pengenalan Ki Pandi seorang yang jahat?" Ki Pandi menggeleng. Katanya "Tidak. Ki Lemah Teles juga bukan seorang yang jahat. Tetapi dua orang yang baik hati  sekalipun pada suatu saat akan dapat berselisih pendapat, bertentangan kepentingannya atau justru mempunyai kepentingan yang sama terhadap sesuatu hal atau persoalanpersoalan yang lain." "Tetapi jika bukan persoalan yang mendasar, keduanya tentu tidak akan memasuki perang tanding" berkata Manggada. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Tentu ada persoalan yang mendasar. Karena itu, biarlah besok kita singgah sebentar dirumah Ki Sambi Pitu." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya memang menjadi tertarik oleh persoalan yang timbul diantara orang-orang yang berilmu tinggi itu. Namun kemudian Ki Pandipun berkata "Tidurlah, hari sudah larut. Biarlah aku yang berjaga-jaga." "Ki Pandi tentu letih. Biarlah kami berdua bergantian" jawab Manggada. "Aku dapat tidak memejamkan mata selama sepekan terusmenerus siang dan malam. Bahkan lebih." jawab Ki Pandi sambil tersenyum. Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka percaya kata-kata Ki Pandi itu. Karena itu, maka Manggada dan Laksanapun kemudian telah berbaring di amben itu. Mereka masih sempat beranganangan sejenak. Namun kemudian keduanyapun telah tertidur nyenyak. Pagi-pagi sekali ketiga orang itu sudah bangun. Mereka segera mengisi jambangan untuk mandi bergantian. Sebelum  matahari terbit, ketiganya sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ketika mereka minta diri, Ki Kerta Banjar telah mempersilahkan mereka minum minuman hangat. Rebus ketela yang masih mengepulkan asap, baunya menyentuh hidung Manggada dan Laksana. Keduanya sempat berpandangan dan menahan senyum dibibir mereka. Baru setelah mereka bertiga minum dan makan ketela rebus itu, maka mereka telah dilepas oleh Ki Kerta Banjar untuk melanjutkan perjalanan. Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak mengatakan bahwa mereka ingin singgah dirumah Ki Sambi Pitu. Ketiga orang itupun kemudian melangkah meninggalkan banjar padukuhan. Matahari yang terbit, memancarkan sinarnya yang cerah. Satu dua titik embun masih bergayutan diujung dedaunan yang merunduk. Manggada dan Laksana berjalan dibelakang Ki Pandi yang melangkah berbongkok-bongkok. Burung-burung yang berkicau membuat suasana pagi menjadi gembira. Orang-orang padukuhan itu yang sudah mulai turun ke jalan-jalan, melihat ketiga orang itu dengan dahi berkerut. Mereka yang akan pergi ke pasar atau pergi ke sawah, menganggap Ki Pandi, Manggada dan Laksana sebagai orangorang asing. Namun ada di-antara mereka yang memang menduga, bahwa ketiganya adalah pejalan yang telah menginap di banjar padukuhan mereka. "Tentu bukan orang berkuda itu" desis seseorang kepada kawannya yang berjalan disampingnya sambil membawa cangkul, karena keduanya memang akan pergi ke sawah.  Ki Pandi dan kedua anak muda itu berjalan termangumangu. Sekali-sekali jika tatapan mata mereka bertemu dengan orang-orang padukuhan itu yang menandangi mereka, maka merekapun telah menganggukkan kepala. Seperti yang mereka rencanakan, maka merekapun telah menyusuri jalan padukuhan menuju ke rumah Ki Sambi Pitu. Kedatangan mereka di hari yang masih terhitung pagi itu memang mengejutkan. Seorang yang rambutnya sudah ditumbuhi uban yang keputih-putihan itu termangu-mangu sejenak ketika ia melihat seorang yang berjalan terbongkok-bongkok memasuki halaman rumahnya. "Ki Bongkok" desis orang itu. "Apakah kau masih dapat mengenali aku, Ki Sambi Pitu?" "Tentu, tentu Ki Bongkok. Marilah, naiklah" berkata Ki Sambi Pitu. Ki Pandipun kemudian telah naik kependapa rumah Ki Sambi Pitu yang tidak terlalu besar. Berbeda dengan pendapa rumah pada umumnya yang berbentuk joglo, maka pendapa rumah Ki Sambi Pitu yang tidak begitu besar itu dibuat dalam bentuk limasan, sehingga kesannya menjadi lebih sederhana. "Setelah mereka saling mempertanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Sambi Pitu itupun bertanya "Ki Bongkok. Aku merasa aneh bahwa tiba-tiba saja Ki Bongkok telah mengunjungi aku. Apalagi hari masih sepagi ini." Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya "Aku minta maaf, Ki Sambi Pitu, bahwa di hari yang masih pagi ini aku sudah mengganggu ketenangan Ki Sambi Pitu."  "Tidak, Ki Bongkok. Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Aku senang mendapat kunjungan seseorang dihari tuaku. Rasa-rasanya hidup menjadi semakin sepi. Tetapi kedatangan Ki Bongkok membuat aku merasa bahwa aku tidak hidup sendiri dan terasing disini." "Bukankah sikap orang-orang padukuhan ini baik terhadap Ki Sambi Pitu?" "Baik. Baik sekali. Aku merasa berada diantara keluarga sendiri." Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Namun kemudian katanya “Tetapi kunjungan Ki Bongkok yang datang dari dunia yang pernah kami huni bersama, rasa-rasanya hidup ini masih tersisa." "Bukankah bukan aku satu-satunya orang yang sering berkunjung kerumah Ki Sambi Pitu?" "Tidak ada, Ki Bongkok. Justru itu aku merasa bahwa segala sesuatunya sudah lewat." "Tentu tidak Ki Sambi Pitu. Aku yang kurang-lebih sebaya dengan Ki Sambi Pitu merasa bahwa hidupku masih berarti. He, bukankah itu tergantung kepada kita sendiri?" "Ya. Ya. Aku juga mencoba memberi arti dari sisa hidupku ini bagi tetangga-tetanggaku yang baik di padukuhan ini. Tetapi karena rasa-rasanya kami datang dari dunia yang berbeda, maka kehadiran seseorang dari dunia kita, membuat aku sangat bergembira hari ini." "Ki Sambi Pitu. Bukankah Ki Lemah Teles juga sering berkunjung kemari?" "O" Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk "Ya. Ki Lemah Teles memang sering datang kemari. Tetapi ia lebih banyak mengganggu daripada satu kunjungan seorang sahabat."  Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata "Maaf, Ki Sambi Pitu. Apakah Ki Lemah Teles sering datang mengganggu Ki Sambi Pitu?" "Ya. Tetapi aku senang. Meskipun ia datang mengganggu, tetapi justru karena itu, maka aku menganggap bahwa ia masih menghargai aku yang pernah hidup di dunia pada tataran yang sama dengan Ki Lemah Teles itu sendiri." Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata “Apa saja yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles sehingga Ki Sambi Pitu merasa terganggu karenanya?" Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata "Ki Lemah Teles masih selalu mengajak bergurau dihari-hari tua." Ki Pandi masih ingin bertanya lebih jauh. Tetapi Ki Sambi Pitu telah lebih dahulu bertanya "Ki Bongkok, siapakah nama kedua orang anak muda itu?" "Mereka adalah kemanakanku, Ki Sambi Pitu" jawab Ki Pandi. "Kau tidak usah berbohong kepadaku" desis Ki Sambi Pitu "keduanya tentu bukan kemanakanmu." Ki Pandi tertawa. Katanya "Siapapun mereka, tetapi mereka sekarang bersamaku. Namanya Manggada dan Laksana." Ki Sambi Pilu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya "Anak-anak yang kokoh." "Mereka ingin melihat-lihat tempat yang jauh yang belum pernah dilihatnya. Semalam kami sampai di padukuhan ini. Kami minta belas kasihan kepada Ki Kerta Banjar untuk bermalam di banjar padukuhan."  "Itu sebabnya, maka kalian sepagi ini sudah berada disini. Tetapi siapakah yang memberitahukan kepada kalian bahwa aku tinggal disini?" "Suara kuda yang berderap mengelilingi padukuhan inilah yang menuntun aku sampai ke rumah ini." "Jadi kau tentu tahu apa yang telah terjadi." Ki Pandi tidak ingkar. Karena itu, maka iapun mengangguk sambil menjawab "Ya. Aku mendengar pembicaraan kalian. Aku minta maaf atas keinginan tahuku itu." "Tidak apa-apa. Setiap orang berhak mengetahuinya, karena Ki Lemah Teles dengan sengaja berteriak-teriak." "Karena persoalan yang kurang aku mengerti itulah, maka aku memerlukan datang kepadamu pagi ini." berkata Ki Pandi kemudian. Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Katanya dengan nada rendah "Apakah kau ingin tahu kenapa Ki Lemah Teles menantang aku berperang tanding?" Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya "Ya. Menurut pendapatku, kau dan Ki Lemah Teles tidak akan berbenturan kepentingan. Kalian saling mengenal sejak lama. Seandainya ada persoalan, tentu sudah kalian selesaikan sebelum rambut kalian mulai ditumbuhi uban seperti sekarang ini." Ki Sambi Pitu menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang semula nampak cerah, telah berkerut dan nampak bersungguh-sungguh. "Ia menganggap aku berhutang kepadanya." berkata Ki Sambi Pitu "sebelumnya ia memang tidak pernah menyebutnyebutnya. Namun tiba-tiba ia datang minta aku melunasi hutangku dengan menantang untuk berperang tanding."  "Apakah yang dimaksud dengan hutang itu? "bertanya Ki Pandi. "Itulah yang membuat aku bingung" jawab Ki Sambi Pitu. "Ternyata kau terima tantangannya" desis Ki Pandi. "Ya. Aku menganggapnya satu kehormatan bahwa ia masih menghargai kemampuanku sama dengan dirinya." jawab Ki Sambi Pitu. "Tetapi bukankah itu tidak bijaksana?" bertanya Ki Pandi. "Justru aku merasa bahwa sisa hidupku masih berarti. Kalah atau menang, hidup atau mati, tidak penting bagiku. Tetapi aku masih sempat untuk menerima penilaian yang tinggi dari Ki Lemah Teles. "jawab Ki Sambi Pitu. Ki Pandi mengerutkan dahinya. Ternyata jalan pikiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir bersamaan justru di hari tua mereka. Agaknya justru karena keduanya adalah orang-orang penting dan dihormati, sehingga mereka merasa, bahwa akhirnya mereka tercampak dan tidak berarti apa-apa lagi bagi dunia yang pernah menjadi lingkungan .hidupnya sebagai orang-orang berilmu tinggi. Dalam pada itu, maka pembicaraan merekapun terputus. Seorang pembantu dirumah Ki Sambi Pitu telah menghidangkan minuman panas bagi tamu-tamunya. Untuk selanjutnya, Ki Sambi Pitu justru mencoba untuk menghindari pembicaraan tentang tantangan Ki Lemah Teles itu. Dipersilahkannya ketiga orang tamunya untuk minum. Sementara itu, Ki Sambi Pitu mulai berceritera tentang masa mudanya yang panjang serta masa muda Ki Pandi yang bongkok itu menurut pengenalannya.  Namun tiba-tiba saja Ki Sambi Pitu bertanya "Dimana binatang peliharaanmu itu? Kau sembelih ketika kau kelaparan?" "Tentu tidak" jawab Ki Pandi "aku tinggalkan keduanya disebuah hutan yang aku anggap aman bagi keduanya." Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya "Seharusnya kau mencari lagi anak harimau, atau anak orang hutan atau bahkan anak gajah, kau ajari binatang-binatang itu menurut segala perintahmu" “Kau..” Ki Pandi tertawa, sementara Ki Sambi Pitu berkata selanjutnya "Kau akan menjadi seorang raja di hutan, karenakau akan dapat menguasai segala-galanya jika binatang-binatang terkuat menjadi pendukungmu. Kau dapat memaksakan kehendakmu terhadap seisi hutan karena binatang-binatang yang lebih kecil dan lemah tidak akan berani melawanmu." Ki Pandi tertawa semakin keras. Manggada dan Laksanapun tertawa pula. Namun dengan demikian, maka Ki Pandi menjadi sulit untuk mencari jalan kembali pada pembicaraan mereka tentang Ki Lemah Teles. Apalagi Ki Sambi Pitu selalu berusaha menghindari pembicaraan itu. Karena itu, maka akhirnya Ki Pandi justru minta diri untuk melanjutkan perjalanan mereka. "Terima kasih akan kunjungan kalian" berkata Ki Sambi Pitu "aku masih berharap bahwa kalian masih sudi singgah dirumahku ini. Dengan kehadiran mereka yang sebaya dengan aku, maka rasa-rasanya aku tidak terlalu terpisah dari duniaku."  "Kau sudah mendapatkan dunia yang baru, Ki Sambi Pitu” berkata Ki Pandi "dunia yang lebih baik. Lebih sejuk dan tentu te-rasadamai. Ternyata yang mengguncang kedamaian hidupmu diduniamu yang baru itu adalah orang-orang yang datang dari duniamu yang kau anggap sudah meninggalkanmu itu." Ki Sambi Pitu mengerutkan dahinya. Ia nampak merenung. Namun kemudian sambil menarik nafas ia berkata "Mungkin kau benar Ki Bongkok. Tetapi kadang-kadang sulit bagi kita untuk berbicara sekedar berpijak pada nalar." Ki Pandi mengangguk. Katanya "Ya. Kau juga benar." Demikianlah maka Ki Pandipun telah meninggalkan Ki Sambi Pitu. Bertiga mereka menyusuri jalan keluar dari padukuhan itu, memasuki bulak persawahan yang luas. Matahari sudah menjadi semakin tinggi. Orang-orang yang bekerja di sawah mulai berkeringat. Dari ujung padukuhan terdengar suara orang menumbuk padi. Lenguh anak lembu berbaur dengan tangis bayi yang minta minum susu ibunya. Ki Pandi, Manggada dan Laksana berjalan menyusuri jalan ditengah-tengah kotak-kotak sawah yang terbentang luas. Seorang petani berdiri sambil meneguk air sejuk dari sebuah gendi yang terbuat dari tanah liat. Ternyata Ki Pandi sambil lalu sempat bertanya kepada seseorang "Apakah Ki Sanak mengetahui, dimanakah letak Bulak Parapat?" "Apakah Ki Sanak akan pergi ke sana?" bertanya orang itu. "Ya" jawab ki Pandi. "Untuk apa?" orang itu nampak keheranan.  "Tidak apa-apa. Sekedar melihat-lihat." jawab Ki Pandi. Kening orang itu berkerut. Dengan nada tinggi ia berkata “Bulak Parapat adalah nama sebuah hutan perdu yang membentang dibawah bukit kecil itu." Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Seperti juga Manggada dan Laksana ia mengira bahwa Bulak Parapat adalah sebuah bulak persawahan sebagaimana sedang dilaluinya itu. Namun ternyata Bulak Parapat adalah nama sebuah hutan perdu di lereng bukit kecil, Namun Ki Pandi yang cepat berpikir itu segera menyahut “Terima kasih Ki Sanak." "Tetapi apa kepentingan kalian dengan Bulak Parapat?" orang itu masih mendesak. "Kami adalah pembuat gerabah dari tanah liat. Kami ingin membuktikan, apakah benar kata orang, bahwa tanah liat di Bulak Parapat lebih baik dari tanah liat dari tempat yang lain." Ternyata jawab orang itu tidak disangka-sangka "Mungkin keterangan itu benar. Bukit kecil itu seluruhnya terdiri dari tanah liat yang warnanya merah agak keputih-putihan. Aku tidak tahu, apakah itu termasuk tanah liat yang baik atau bukan." "Dengan jari-jari kita dapat mengetahui, apakah tanah liat itu baik atau tidak, lembut atau kasar, keras atau lentur." sahut Ki Pandi. Orang itu mengangguk-angguk. Katanya "Jika ternyata tanah liat di bukit itu baik, maka tempat itu tentu akan menjadi ramai.”  "Terima kasih Ki Sanak" berkata Ki Pandi kemudian "aku akan pergi ke bukit kecil itu untuk melihat, apakah tanah liat disana cukup baik." Ki Pandipun kemudian mengajak Manggada dan Laksana untuk meneruskan perjalanan. Namun orang yang telah menunjukkan letak Bulak Parapat itu berkata "Jalan ini yang harus kalian tempuh. Bukan kesana." "Terima kasih Ki Sanak. Nanti kami akan pergi ke bukit itu. Tetapi kami masih mempunyai sedikit kepentingan yang lain." sahut Ki Pandi. Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ki Pandi, Manggada dan Laksana kemudian telah meneruskan langkah mereka. Namun kemudian Ki Pandipun telah membuat rencana. Pada saat perang tanding itu dilaksanakan dua malam lagi, mereka bertiga akan berada di Bulak Parapat itu. "Lalu kita sekarang akan pergi kemana? Tentunya kita masih belum langsung menuju ke Jatimalang." "Belum" jawab Ki Pandi. Lalu katanya kemudian "Bukankah kita terbiasa tidur dimanapun juga. Jika kita ingin sedikit bermanja-manja, kita dapat menginap di banjar padukuhan. Tetapi, jika tidak, maka kita dapat saja tidur di pinggir hutan, di pategalan atau bahwa di Bulak Parapat itu sekali." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnya mereka memang ingin segera melihat kembali hutan Jatimalang, dan terutama lereng kaki Gunung Lawu dibelakang hutan Jatimalang itu. Tetapi mereka sadar, jika mereka memaksa juga untuk berangkat, Ki Pandi tentu akan menjadi sangat kecewa.  Karena itu, maka Manggada dan Laksanapun tinggal menurut saja, kemana Ki Pandi akan pergi. "Kita masih mempunyai waktu" berkata Ki Pandi tiba-tiba "untuk memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya, maka kita tidak usah berada terlalu jauh dari hutan Bulak Parapat itu." Demikianlah, sambil menunggu, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana menuju ke hutan kecil tidak begitu jauh dari Bulak Parapat. Di hutan itu Ki Pandi telah mempergunakan waktunya yang dua hari itu untuk membimbing Manggada dan Laksana memperdalam ilmu yang mereka miliki. Ternyata bahwa keduanya telah meningkat semakin jauh dari dasar ilmu yang mereka warisi dari Ki Citrabawa. Meskipun demikian, bagi Manggada dan Laksana, ilmu yang mereka terima dari Ki Citrabawa merupakan alas ilmu mereka yang kemudian berkembang semakin tinggi. Selama dua hari ketiga orang itu keluar dari hutan. Mereka memburu binatang dan membuat perapian. Meskipun mereka tidak lagi melakukan Tapa Ngidang, namun ternyata yang dua hari itu dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Manggada dan Laksana. Meskipun ketiga orang itu tidak berkepentingan langsung dengan perang tanding yang bakal terjadi antara Ki Sambi Pitu dengan Ki Lemah Teles, namun ternyata mereka ikut menjadi tegang ketika saat-saat yang ditentukan itu tiba. Ki Pandi yang sudah melihat-lihat hutan perdu yang disebut Bulak Parapat itu dapat menduga, dimana perang tanding itu akan dilakukan. Didalam lingkungan hutan perdu itu terdapat sepetak tanah yang lebih lapang dari yang lain tidak ditumbuhi pohon-pohon perdu dan bahkan semak-semak berduri.  Sejak senja turun, maka Ki Pandi telah menempatkan Manggada dan Laksana di antara pohon-pohon perdu yang rapat, yang dapat melindungi mereka, sehingga tidak mudah dilihat oleh orang yang lewat dekat mereka sekalipun. Ki Pandi juga sudah mengajari, bagaimana mereka harus mengatur pernafasan mereka, agar dapat menyerap bunyi tarikan nafas mereka sedalam-dalamnya sehingga suaranya tidak lebih dari gesekan daun-daun yang paling lembut. Malam itu ternyata langit jernih. Yang nampak hanyalah bintang-bintang yang berhamburan. Selembar awan tipis terbang melintas dan lenyap di cakrawala. Ketika malam menjadi semakin dalam, Manggada dan Laksana mulai menjadi gelisah. Kulit mereka mulai terasa gatal digigit nyamuk yang buas di hutan perdu itu. Ki Pandi yang melihat gelagat itupun berkata "Belum tengah malam. Kita harus sabar menunggu. Kesabaran merupakan salah satu syarat bagi keberhasilan." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sebenarnyalah menjelang tengah malam, maka mereka telah mendengar derap kaki kuda memasuki hutan perdu itu. Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Pandi, maka orang berkuda itu melintasi semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu disela-sela batang ilalang, menuju ketempat yang lebih lapang dari lingkungan disekitarnya. Beberapa saat kudanya berputar-putar. Namun kemudian orang itu telah meloncat turun dan mengikat kudanya pada pohon batang perdu dipinggir tempat yang lapang itu. Untuk beberapa saat, orang itu menunggu. Ketika ia mulai gelisah, maka didengarnya suara tembang yang ngelangut. Suara tembang itu seakan-akan menyelusuri hutan perdu yang  tidak terlalu luas yang membentang didekat sebuah bukit kecil. Orang berkuda yang berdiri termangu-mangu itupun tibatiba saja telah berteriak "He, kau orang yang licik. Aku hampir jemu menunggumu. Cepat, kemarilah. Aku tidak mempunyai banyak waktu." Suara tembang itu masih terdengar. Semakin lama nadanya seakan-akan menjadi semakin tinggi, melengking di sepinya malam. Menggetarkan udara membentur lereng bukit. Orang berkuda itu berteriak sekali lagi "Cepat, aku sudah jemu menunggumu. Jika kau merasa ketakutan untuk menerima tantanganku, maka datanglah berlutut dan mohon ampun atas segala kesalahanmu. Maka hutangmupun akan aku anggap lunas." Suara tembang itu menjadi semakin perlahan. Akhirnya suara itupun berhenti sama sekali. Ternyata beberapa saat kemudian, seseorang melangkah mendekati orang yang datang berkuda itu. Manggada dan Laksana yang melihat semuanya dari jarak yang tidak terlalu dekat, segera dapat membedakan. Orang yang datang berkuda itu tentu Ki Lemah Teles. Sedangkan orang yang sempat melontarkan tembang itu tentu Ki Sambi Pitu. Meskipun tidak ada bulan dilangit, namun keredipan bintang dapat membantu Manggada dan Laksana melihat kedua orang yang berdiri ditempat terbuka itu. Ternyata bahwa Ki Lemah Teles adalah seorang yang bertubuh kecil, dapat disebut pendek menurut ukuran yang wajar. Sementara Ki Sambi Pitu adalah seorang yang ukuran tubuhnya sedang-sedang saja sebagaimana orang kebanyakan.  "Nah" berkata Ki Lemah Teles "sekarang katakan, apakah kau akan membayar hutangmu, atau kau akan mohon ampun atau kita akan berperang tanding." "Ki Lemah Teles" jawab Ki Sambi Pitu "sudah aku katakan, bahwa tanpa alasan apapun kau dapat menantang aku untuk berperang tanding. Karena itu, kau tidak usah menyebutnyebut tentang hutang itu, karena sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali, apa yang kau maksud dengan hutangku dan yang sudah kau sebut lebih dari seribu kali itu." "Sudah aku katakan, orang yang mempunyai hutang kadang-kadang dengan sengaja melupakannya atau berpura-pura lupa." "Lupa atau berpura-pura lupa atau apapun yang kau katakan, sekarang aku minta kau sebut, berapa hutangku kepadamu dan atas dasar apa kau nilai apa yang kau sebut dengan hutang itu." berkata Ki Sambi Pitu. Ki Pandi, Manggada dan Laksana masih harus menahan diri serta mengatur pernafasan mereka, ahar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua orang yang akan berperang tanding itu. Dalam pada itu, Ki Lemah Telespun kemudian berkata “Baiklah. Jika kau ingin aku menyebut hutangmu." Ki Lemah Teles berhenti sejenak. Lalu katanya pula "Kau ingat, ketika  kita sama-sama muda, maka diantara kita berdiri seorang gadis cantik, anak perempuan seseorang yang sama-sama kita hormati, karena sikap lahir dan batinnya." "Setan kau Lemah Teles. Kau masih mengungkit persoalan itu? Persoalan yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Sekarang rambut kita sudah memutih dan umur kita tinggal sepanjang umur jagung, kau sebut lagi persoalan yang sudah kita lupakan itu.” "Jangan berkata seperti itu. Baru sekarang kau merasa betapa getirnya akibat dari persoalan yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu." "Peristiwa getir yang mana yang kau maksudkan?" "Ternyata karena gadis itu kau curi dari sisiku, maka aku harus menikmati perempuan lain." "Siapa yang mencuri gadis itu? Gadis itu mencintai aku. Tidak mencintaimu." Namun suara Ki Sambi Pitu merendah "alangkah memalukan untuk berbicara tentang seorang gadis pada saat rambut kita mulai beruban." "Tetapi akibatnya terasa amat pahit. Karena aku harus menikahi perempuan lain, yang baru kemudian aku ketahui, bahwa menurut perhitungan hari kelahirannya dan hari kelahiranku tidak sesuai, maka meskipun aku mempunyai tiga orang anak, tetapi tidak seorangpun yang tinggal hidup. Ketiga anakku meninggal pada umur yang berbeda-beda. Seorang diantara mereka meninggal saat dilahirkan. Seorang meninggal ketika berumur ampat belas tahun. Hanyut disebuah sungai yang banjir. Sedangkan anakku yang satu lagi, meninggal beberapa tahun yang lalu. ia terbunuh saat anakku itu justru melindungi seorang pedagang yang sedang dirampok. Anakku berdua dengan pedagang itu harus  bertempur melawan lebih dari tujuh orang perampok yang garang." suara Ki Lemah Teles merendah "sekarang aku hidup sendiri." "Bukankah kau mempunyai cucu dari anakmu yang baru saja meninggal itu?" bertanya Ki Sambi Pitu. “Aku mempunyai dua orang cucu." jawab Ki Lemah Teles. "Jika demikian, bukankah kau tidak sendiri? Kau dapat hidup dengan kedua orang cucumu yang dapat kau anggap sebagai anakmu." "Aku tidak dapat memiliki kedua cucuku itu." berkata Ki Lemah Teles. "Kenapa?" bertanya Ki Sambi Pitu. "Keduanya berada dirumah kakek dan nenek mereka. Maksudku ayah dan ibu menantuku. Mereka orang-orang kaya yang akan dapat menghidupi kedua cucuku itu jauh lebih baik daripada keduanya hidup bersamaku." "Bagaimana dengan isterimu?" "Jika saja ia masih hidup, meskipun hari kelahirannya tidak sesuai dengan hari kelahiranku, namun aku tentu tidak akan menjadi kesepian seperti ini." "Jadi kau mencari kesalahan atas kematian anak-anakmu itu pada hari, kelahiranmu dan hari kelahiran isterimu?" "Ya. Tetapi letak kesalahan sebenarnya adalah padamu. Seandainya tidak kau rampas gadis itu. Ia akan menjadi isteriku. Anak-anakku tidak akan mati dan cucu-cucuku tidak akan diambil oleh keluarga menantuku." "Kau sudah gila" geram Ki Sambi Pitu "aku juga kehilangan segala-galanya. Aku justru menganggap nasibmu lebih baik  dari nasibku. Aku dan isteriku, gadis yang pernah kau cintai itu, tidak pernah mempunyai seorang anakpun. Kami belum pernah merasakan kebahagiaan seorang ayah dan ibu yang menimang anaknya. Apalagi kemudian isteriku itu mati muda oleh penyakit yang tidak pernah aku ketahui sampai sekarang. Nah, apakah kau masih akan menyebut aku mempunyai hutang kepadamu?" "Jika kau tidak mempunyai anak itu karena salahmu. Kaulah yang mandul. Dan perempuan itu mati karena hatinya tersiksa oleh kesepiannya, sementara hidupmu kau habiskan merayapi lereng gunung dan menyusuri sungai-sungai yang panjang. Kau kira dengan caramu kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan di-muka bumi ini." "Kau kira aku meninggalkan isteriku untuk sekedar mencari kesenangan, membiarkan ketamakan tumbuh subur didalam hati atau keserakahan yang tidak terkendali? Aku pergi kesegala sudut bumi untuk mencari seorang tabib yang mampu menyisihkan kemandulan kami. Aku atau isteriku. Tetapi semuanya sia-sia." "Kau kira keluhanmu itu dapat meruntuhkan belas kasihanku? Aku justru menganggap hutangmu semakin besar karena kau telah menyia-nyiakan gadis yang kau rebut dari sisiku ini." "Cukup, cukup" Ki Sambi Pitu tiba-tiba saja berteriak "sekarang kau mau apa? Kau tidak usah mengungkit apapun untuk menantang aku bertempur. Marilah, aku sudah siap. Apakah kau ingin kita bertempur dengan senjata atau tidak atau kita akan saling menggigit." "Setan kau Sambi Pitulikur. Bersiaplah. Kita akan berperang tanding dengan cara apapun sekehendak kita masing-masing. Apakah kita akan bersenjata atau tidak atau dengan  menaburkan tanah berpasir ke mata atau apapun caranya." geram Ki Lemah Teles. Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun segera bersiap untuk bertempur. Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah saling berhadapan. Tidak seorangpun di antara mereka yang bersenjata. Agaknya senjata juga bukan merupakan alat yang paling penting bagi keduanya. Ketika Ki Lemah Teles mulai bergeser sambil mengayunkan tangannya, maka perang tanding itupun segera mulai. Keduanya mulai dengan gerakan-gerakan lamban. Namun pada setiap gerak, maka terasa seakan-akan getarannya mengguncang udara Bulak Parapat. Namun semakin lama gerak merekapun mulai menjadi semakin cepat, meskipun getar ayunan serangan mereka masih tetap mengguncang udara. Beberapa saat kemudian, keduanya berloncatan saling menyerang, menghindar dan berkisar. Keduanya memiliki ketangkasan dan ketrampilan yang seimbang. Untuk beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana memperhatikan pertempuran itu. Tidak lebih dari dua orang yang berkelahi dengan mengandalkan tenaga kewadagan mereka semata-mata. "Ternyata mereka hanya bermain-main" berkata Manggada dan Laksana didalam hatinya. Tetapi pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua-duanya mulai meningkatkan kemampuan mereka. Selapis demi selapis.  Manggada dan Laksanalah yang menjadi tidak telaten. Kenapa semuanya itu berjalan sangat lamban? Bukankah mereka sudan saling mengetahui tataran kemampuan masingmasing, sehingga jika mereka langsung melepaskan kemampuan puncak mereka, maka sentuhan tangan mereka tidak akan dengan serta-merta membunuh lawannya karena lawannya juga berilmu tinggi. Tetapi Manggada dan Laksana tidak dapat mengatur kedua orang yang sedang bertempur itu. Keduanya agaknya ingin menja-jagi kemampuan mereka sendiri serta menilai kembali tataran-tataran kemampuan yang agaknya sudah agak lama tidak mereka pergunakan. Namun ketika darah didalam tubuh mereka mulai memanas, maka pertempuran itu mulai berubah. Yang dilihat Manggada dan Laksana tidak lagi sekedar dua orang yang berloncatan dengan cepat serta ayunan-ayunan serangan yang kuat dengan tenaga yang besar, tetapi mereka mulai merasa sentuhan ilmu yang tinggi dari keduanya. Hentakanhentakan yang mengejut serta gerak yang tidak terduga, bahkan menjadi semakin rumit, menunjukkan bahwa keduanya memang berilmu tinggi. Ketika kemudian mulai terjadi benturan-benturan, Manggada dan Laksana mulai menahan nafasnya. Ternyata keduanya mulai merambah kedalam ilmu mereka masingmasing. Manggada dan Laksana kadang-kadang terkejut bahwa sesuatu telah terjadi. Keduanya kadang-kadang terlambat menyadari, apa yang sebenarnya telah terjadi itu. Bergantian Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian salah seorang dari  mereka terlempar beberapa langkah. Tetapi dalam sekejap orang itu telah berdiri tegak menunggu serangan berikutnya. Kecepatan gerak kedua orang itu sulit untuk diikuti oleh Manggada dan Laksana. Bahkan tiba-tiba saja tangan Ki Lemah Teles telah mengguncang pertahanan Ki Sambi Pitu. Tetapi dengan cepat Ki Sambi Pitu telah memperbaiki keadaannya, justru dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh tatapan mata Manggada dan Laksana, Ki Sambi Pitu telah membalas serangan itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Ki Lemah Teles harus berloncatan mengambil jarak. Tetapi pertempuran itupun kemudian telah berubah pula. Ketika kedua belah pihak telah semakin sering disentuh oleh serangan-serangan lawan, maka pertempuran itu justru mulai menjadi lamban kembali. Keduanya tidak lagi berloncatan seakan-akan tidak menyentuh tanah. Tetapi keduanya mulai saling menyerang dengan kekuatan ilmu mereka yang memancar meloncat dari dalam diri mereka masing-masing ke arah lawan. Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai melihat kebesaran nama kedua orang yang sedang bertempur itu, justru ketika mulai bergerak dengan lamban. Namun akhirnya, Ki Pandilah yang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua orang itu justru seakan-akan berhenti bertempur. Tetapi keduanya justru mulai duduk dengan kaki dan tangan bersilang saling berhadapan. "Apa yang terjadi ?" bertanya Manggada dan Laksana didalam hatinya. Tetapi detak jantung mereka menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian seperti memukul-mukul dada mereka.  Dari kedua orang yang duduk berhadapan itu, Manggada dan Laksana melihat seakan-akan telah berloncatan kunangkunang kecil dari yang seorang hinggap kepada yang lain. Tetapi semakin lama keduanya nampak menjadi letih. Keduanya mulai goyah ketika dari kepala mereka nampak seakan-akan mengepul asap putih tipis. Tiba-tiba saja Ki Pandi berdesis "Keduanya mulai bersungguh-sungguh. Itu sangat membahayakan mereka masing-masing." "Apa yang akan Ki Pandi lakukan ?" Ki Pandi termangumangu sejenak. Namun kemudian ia berbisik "Pertempuran yang gila itu harus dihentikan, meskipun mungkin akibatnya akan buruk bagiku." Manggada dan Laksana tidak segera mengerti maksud Ki Pandi. Namun kemudian ternyata Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Iapun mulai duduk dengan menyilangkan kakinya, mengangkat serulingnya dan meletakkannya dibibirnya. Sejenak kemudian terdengar alunan getar suara seruling Ki Pandi. Nada-nada yang mengalir adalah nada-nada yang geram, keras dan menghentak-hentak. Namun semakin lama nada suara seruling itupun berubah. Iramanya juga berubah. Semakin lama menjadi semakin lembut. Namun nadanya meninggi menggeliat menggapai mega-mega yang mengalir diwajah langit yang digayuti beribu bintang. Manggada dan Laksana menjadi tegang. Merekapun tahu, bahwa Ki Pandi adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ilmunya setatar dengan ilmu seorang Panembahan yang ditakuti karena ilmunya yang tinggi, namun yang dibumbuinya dengan ilmu hitam. Panembahan Lebdagati.  Ternyata suara seruling itu berpengaruh atas kedua orang yang sedang bertempur. Pemusatan nalar budi mereka ternyata telah mulai terganggu oleh nada-nada dan irama seruling yang ditiup oleh Ki Pandi itu. Karena itu, maka Manggada dan Laksana justru tidak melihat lagi kepulan asap putih yang tipis itu. Bahkan kemudian loncatan-loncatan cahaya seperti kunang-kunang kecil itupun semakin jarang dan memudar. "Apa yang terjadi ?" bertanya Manggada dan Laksana didalam hati. Sebenarnyalah suara seruling Ki Pandi telah mengoyak pemusatan nalar budi kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan demikian, maka kemampuan mereka melontarkan ilmupun menjadi semakin menyusut. Karena itu, maka kedua orang yang sedang bertempur itu menjadi marah oleh gangguan suara seruling itu. Seperti berjanji, maka kedua orang itupun telah saling memberikan isyarat, menghentikan pertempuran. Kunangkunang kecil itupun kemudian berhenti sama sekali, sedangkan asap tipis yang keputih-putihan itupun sudah tidak nampak lagi diseputar kepala kedua orang yang sedang berperangjtanding itu. Hampir berbareng, keduanya telah bangkit berdiri. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian Ki Sambi Pitupun berteriak lantang "ki Bongkok. Kenapa kau mengganggu kami ? Aku sudah mengira bahwa kau akan hadir disini. Tetapi aku tidak mengira bahwa kau telah mencampuri persoalan kami." Ki Pandi masih saja meniup serulingnya. Sementara itu Ki Lemah Teles itupun berteriak pula "He, bongkok buruk. Kenapa kau datang juga ke tempat ini ?"  Suara seruling Ki Pandipun semakin perlahan. Akhirnya berhenti sama sekali. "Marilah, kita mendekat" berkata Ki Pandi kepada Manggada dan Laksana. Manggada dan Laksana tidak menyahut. Tetapi dengan jantung yang berdebaran mereka bangkit dan melangkah mengikuti langkah Ki Pandi mendekati kedua orang yang merasa terganggu itu. "Bongkok buruk. Jika kau masih suka mengganggu orang, maka aku akan membunuhmu disini." geram Ki Lemah Teles. Tetapi Ki Pandi tertawa pendek. Katanya "Kau tidak akan dapat melakukannya Ki Lemah Teles. Kau sudah menjadi lemah. Tenaga dalammu sudah terhisap habis dalam benturan ilmu dengan Ki Sambi Pilu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi kau tentu dapat mengukur betapa tinggi ilmuku. Karena itu, jika kita saling membunuh sekarang, aku tentu akan dapat membunuhmu dengan mudah. Bahkan sambil meniup serulingku, aku akan dapat membunuhmu. Melawan atau tidak melawan." "Iblis kau " geram Ki Lemah Teles. Namun Ki Pandi berkata "Tetapi bukankah kita tidak saling membunuh ?" "Ki Pandi" berkata Ki Sambi Pitu "aku tahu bahwa kau tentu akan datang kemari. Tetapi sebaiknya kau tidak mencampuri urusanku dengan Ki Lemah Teles.” "Kalau yang kalian persoalkan itu benar-benar persoalan yang mendasar, maka aku tidak akan mencampuri persoalan kalian berdua. Tetapi setelah aku mendengar dari mulut kalian, bahwa ternyata persoalan yang mendorong kalian  untuk membunuh diri bersama-sama itu bukan persoalan yang berarti, maka aku berusaha untuk mencegahnya. Sebaiknya Ki Lemah Teles pulang saja dan mencoba menyusun alasanalasan yang lebih masuk akal untuk menantang seseorang untuk berperang tanding. Atau dalam kenyataan yang hampir saja terjadi, kalian berdua akan mati bersama-sama. Dengar, mati tanpa arti sama sekali." "Omong kosong" bentak Ki Lemah Teles "aku bertempur untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki." "Kau sudah terlambat puluhan tahun, Ki Lemah Teles. Yang mendorong kau sekarang datang menantang Ki Sambi Pitu sama sekali bukan harga dirimu sebagai seorang laki-laki. Tetapi hari-hari tuamu yang sepi. Kau merasa bahwa di hari tuamu kau sudah tidak berarti lagi, sehingga kau telah berusaha menunjukkan, bahwa kau masih Ki Lemah Teles yang dahulu." "Setan kau Bongkok. Sekarang aku tantang kau" geram Ki Lemah Teles. Tetapi Ki Pandi menjawab dengan keras pula "Dengar. Jika aku menerima tantanganmu, maka kau akan mati. Sementara itu tidak akan ada orang yang menyalahkan aku, karena aku membunuhmu dalam perang tanding. Karena itu, maka jika kau masih ingin melawan hari tuamu dengan cara yang anehaneh dan tidak masuk akal, datanglah kepadaku. Aku akan menerima tantanganmu." "Sudahlah" berkata Ki Sambi Pitu "aku dapat mengerti niat baik Ki Pandi. Akupun sebenarnya menyadari, untuk apa aku berperang tanding."  Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata "Kata-katamu membuat jiwaku menjadi lemah." "Kau masih punya kesempatan untuk merenunginya" berkata Ki Pandi. "Mudah-mudahan nalarmu bertambah bening di-hari tuamu." Ki Lemah Teles tidak menjawab. Dengan kaki yang terasa berat, ia berjalan menuju ke kudanya. Namun Ki Lemah Teles harus mengakui, bahwa ia sudah terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga tubuhnya memang terasa menjadi sangat lemah. Sejenak kemudian terdengar derap kaki kudanya mengumandang menggetarkan udara Bulak Parapatan yangmembentang dikaki sebuah bukit kecil itu. "Terima kasih, Ki Bongkok" desis Ki Sambi Pitu kemudian "kau telah membebaskan aku dari persoalan yang tidak lebih dari kegilaan yang mencengkam jantung Ki Lemah Teles. Jiwanya yang sakit telah menyeret aku kedalam keadaan yang serupa. Untunglah bahwa aku segera menyadari hal ini karena kehadiranmu Ki Bongkok." "Aku sekedar mengingatkanmu. Sementara kau sudah menemukan pijakan baru dipadukuhan yang ramah itu. Kau dianggap orang tua yang menjadi panutan. Jika saja orangorang padukuhan mengetahui apa yang kau lakukan malam ini, maka mereka tentu akan ikut melibatkan dirinya dan berdatangan kemari tanpa mengetahui bahaya sebenarnya ada disini. Bukankah untuk beberapa lama padukuhan itu dicengkam oleh ketegangan dan bahkan ketakutan karena pokal Ki Lemah Teles yang setiap kali berkeliaran dengan kudanya di padukuhan ? Ketakutan yang amat sangat dapat meledak menjadi tenaga yang luar biasa ibetsarnya."  "Aku mengerti Ki Bongkok" Ki Sambi Pitu menganggukangguk. "Tetapi apa pula kata orang-orang padukuhan jika mereka juga tahu, bahwa yang terjadi adalah sekedar gejolak perasaan orang yang kehilangan pegangan menjelang harihari tuanya." Ki Sambi Pitu tersenyum. Katanya "Aku memang harus menatap wajahku dipermukaan air tenang." "Kau dapat melihat bahwa orang-orang tua padukuhan, yang tidak pernah hidup dalam gejolak dunia yang lain, tidak merasa kehilangan apa-apa." Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian "Baiklah. Aku akan berusaha meyakinkan diri pada pijakanku sekarang ini. Meskipun demikian, aku minta Ki Pandi sekalisekali datang melihatku." "Tentu" jawab Ki Pandi "aku yang masih saja berkeliaran ini mempunyai kesempatan lebih banyak untuk berkunjung. Tetapi aku masih mengemban beban yang tidak dapat aku letakkan, meskipun aku sendiri yang memungut beban itu dan membawa dialas bongkokku ini kemana aku pergi." "Apakah aku boleh mengetahuinya ?" bertanya Ki Sambi Pitu. "Setan yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu masih berkeliaran." jawab Ki Pandi. Ki Sambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara serak ia bertanya "Dengan burung-burung Elangnya ?" "Ya." jawab Ki Pandi. "Baiklah Ki Pandi" berkata Ki Sambi Pitu "jika saja aku mendapat kesempatan untuk mengetahui, sengaja atau tidak  sengaja, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi dimana aku dapat menemuimu ?" Ki Pandi tertawa. Katanya "Rumahku terbentang seluas atapnya. Langit." "Aku mengerti" desis Ki Sambi. "Akulah yang akan singgah dirumahmu setiap kali." berkata Ki Pandi. Demikianlah, maka Ki Pandipun telah minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya. Tanpa menyembunyikan arah perjalanannya ia berkata "Dibelakang hutan Jatimalang itulah aku pernah menemukan sebuah padepokan yang dibangun oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi setelah padepokan itu hancur, Ki Lebda-gati justru berkeliaran kemana-mana." "Hubungi aku jika kau memerlukan. Setiap saat aku bersedia membantumu. Justru kesempatan untuk tetap merasa diriku berarti." berkata Ki Sambi Pitu. Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun telah minta diri pula kepada Ki Sambi Pitu. Sambil menepuk kedua orang anak muda itu, Ki Sambi Pitu berkata "Kalian merupakan harapan masa depan bagi Ki Bongkok. Tetapi beruntunglah Ki Bongkok yang menemukan kalian berdua" Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Dengan ujung kelima jari tangan kanannya Ki Sambi menyentuh punggung kedua orang anak muda itu bergantiganti. Kemudian memijit-mijit pundak mereka dan menyentuh lambung. Kemudian katanya "Jika Ki Bongkok datang kemari, aku harap kalian juga ikut bersamanya." "Baik Ki Sambi Pitu" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.  Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi dan kedua anak muda yang menyertainya itu telah melangkah meninggalkan Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu seorang diri. Namun Ki Sambi Pitu itupun segera melangkah pergi, kembali pulang ke-rumahnya. "Nampaknya orang bongkok itu masih saja tidak membuat tempat tinggal yang tetap menjelang hari-hari tuanya." berkata Ki Sambi Pitu kepada dirinya sendiri. Tetapi kemudian ia berkata pula "Meskipun demikian, ia dapat meletakkan masa depannya pada kedua anak muda yang dibawanya. Nampaknya keduanya adalah anak-anak baik, kokoh dan cerdas. Tetapi aku tidak dapat merasa iri akan keberuntungannya itu." Sambil menundukkan kepalanya, Ki Sambi Pitu itupun melangkah menyusuri Bulak Parapat kembali ke padukuhan. Dalam perjalanan itu ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sangat letih. Kekuatan dan tenaganya memang serasa terkuras dalam perang tanding melawan Ki Lemah Teles. Perang tanding yang tidak ada artinya sama sekali. Baik bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang banyak. "Seperti dikatakan Ki Bongkok" desis Ki Sambi Pitu "jika perang tanding itu diteruskan, dan kami berdua atau salah seorang diantara kami mati, maka kematian itu adalah sia-sia." Sementara itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berjalan meninggalkan Bulak Parapat. Tetapi merekapun kemudian telah berhenti ditepi hutan perdu itu untuk beristirahat. Meskipun mereka tidak terlibat sama sekali dalam perang tanding itu, tetapi ketegangan selama mereka mengikuti peristiwa di Bulak Parapat itu membuat mereka menjadi letih.  Dengan nada berat Ki Pandipun berkata "Besok kita melanjutkan perjalanan menuju ke hutan Jatimalang untuk melihat perkembangan lingkungan di kaki Gunung Lawu, dibelakang hutan itu." "Apakah kita akan singgah dirumah Ki Ajar Pangukan ?" bertanya Laksana. "Ya." jawab Ki Pandi dengan serta-merta "aku pernah tinggal bersamanya untuk ikut membayangi padepokan Panembahan Lebdagati itu." "Tetapi apakah Ki Ajar masih berada ditempat yang dahulu?” "Tetapi apakah Ki Ajar masih berada ditempat yang dahulu?" bertanya Laksana pula. "Mudah-mudahan Ki Ajar Pangukan masih tinggal digubugnya itu. Nampaknya ia sudah kerasan tinggal disana." jawab Ki Pandi. Di dini hari ketiga orang itu sudah bersiap. Mereka mencuci muka di sebuah sungai kecil yang mengalir dipinggir hutan perdu itu. Agaknya Laksana merasa malas untuk berburu binatang. Dengan nada berat ia berkata "Kita cari makan di kedai saja nanti." Ki Pandi tertawa.-Katanya "Berburu dikedai agaknya lebih mudah dari berburu dipadang perdu ini." "Bukankah kita mempunyai senjata yang baik untuk berburu di kedai." Manggadapun tertawa pula. Tetapi iapun berkata "Baiklah. Kami akan mengikuti saja apa yang kau inginkan."  Laksana ternyata tertawa paling keras. Namun dihutan perdu itu tidak seorangpun akan mendengarnya. Sebelum Matahari terbit, mereka sudah melanjutkan perjalanan mereka ke hutan Jatimalang. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju kehutan itu. Ketika Matahari terbit, mereka sudah semakin jauh dari Bulak Parapat. Mereka melintasi padukuhan dan bulak-bulak persawahan. Langit nampak bersih kebiru-biruan. Jalan-jalan mulai ramai dilalui orang yang akan pergi ke pasar dan yang akan pergi ke sawah. Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang berjalan diantara orang yang mengalir itu menduga, bahwa mereka akan segera sampai ke pasar. Ternyata dugaan mereka benar. Beberapa saat kemudian, mereka memasuki lingkungan yang terasa semakin ramai. Manggada dan Laksana mencoba mengingat-ingat, apakah mereka pernah melewati pasar itu sebelumnya. "Belum" desis Manggada "kita belum pernah melewati jalan ini." Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Agaknya memang belum." Namun ketika mereka sampai didepan pasar itu, tiba-tiba saja Laksana bertanya kepada Ki Pandi "Bagaimana dengan orang yang mengikuti kita itu ? Apakah Ki Pandi tidak melihatnya lagi ?” Ki Pandi menggeleng. Katanya "Ya. Agaknya orang itu kehilangan jejak kita. Mungkin ketika kita berada di hutan perdu itu."  "Mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan orang itu lagi” geram Laksana. "Biar sajalah. Apakah kita akan bertemu lagi atau tidak" desis Manggada. "Jika kita bertemu lagi dengan orang itu, aku ragu-ragu apakah aku dapat mengekang diriku untuk tidak membunuhnya." berkata Laksana. Jangan begitu" berkata Manggada "kau akan menyesal jika ternyata orang itu bermaksud baik." "Apakah mungkin orang itu bermaksud baik ?" "Kenapa tidak ?" Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apaapa lagi. Demikianlah mereka berjalan terus. Pasar yang berada di tempat yang cukup luas dipinggir jalan itu adalah pasar yang cukup ramai. Disebelah pasar itu terdapat pemberhentian pedati dan disebelahnya lagi sebuah tempat yang terbiasa untuk menginap para pedagang dan sais pedati yang datang dari tempat yang agak jauh. Ternyata Manggada dan Laksana tertarik untuk melihatlihat isi pasar itu, sementara Ki Pandipun tidak berkeberatan. Tetapi mereka tidak terlalu lama berada dipasar itu. Tidak ada benda-benda yang khusus yang tidak terdapat ditempat lain. Karena itu, maka ketiga orang itupun segera keluar lagi dari pasar itu untuk melanjutkan perjalanan. Jalan yang kemudian mereka lalui, adalah jalan yang lurus menuju ke lereng Gunung Lawu. Tetapi Ki Pandi berkata "Jika  kita menempuh jalan ini, maka kita tidak akan mendekati lereng Gunung Lawu lewat hutan Jatimalang." "Jadi ?" bertanya Laksana "apakah kita akan menempuh jalan lain ?" "Sementara kita dapat mengikuti jalan lain. Tetapi kita akan berbelok ke kiri dan menyusuri jalan yang lebih kecil yang menuju ke Jatimalang, meskipun kita masih harus beberapa kali berbelok untuk sampai ke jalan yang pernah kalian lalui." Manggada dan Lakasana mengangguk-angguk. Ki Pandi tentu mengenal jalan di sekitar hutan Jatimalang dengan baik. Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan menyusuri jalan yang panjang. Mereka melangkah semakin jauh dari pasar yang bertambah-tambah ramai ketika Matahari menjadi semakin tinggi. Ketika Matahari naik semakin tinggi, maka ternyata Laksana berdesis "Marilah, kita mulai berburu." Manggada tertawa menghentak, sementara Ki Pandi tersenyum pula. "Kenapa kau tidak berburu dipasar saja ?" bertanya Manggada. dengan wajah yang bersungguh-sungguh. Laksanalah yang tertawa berderai. Tetapi ia tidak menjawab. Setelah mereka berhenti disebuah kedai, maka merekapun berjalan langsung menuju ke Jatimalang. Disepanjang jalan mereka mecoba mengenali kembali, jalan mereka lalui sebelumnya. "Memang sudah berubah" berkata Ki Pandi ketika melihat Manggada dan Laksana sekali-sekali menjadi bingung.  Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya Pajang telah memerintahkan untuk membuka jalan menuju keseberang hutan Jatimalang, agar daerah itu tidak menjadi daerah yang seakan-akan terpisah. Namun Ki Pandi tidak kehilangan pengenalannya atas lingkungan yang dikenalnya dengan baik. Karena itu, maka dengan pasti Ki Pandi membawa Manggada dan Laksana menuju kerumah Ki Ajar Pangukan yang terletak di daerah terpencil. Ternyata meskipun Pajang telah mengusahakan agar lingkungan diseberang hutan Jatimalang tidak terpisah oleh hutan yang padat, namun tempat tinggal Ki Ajar Pangukan masih tetap rumit untuk dijangkau. Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Menjelang senja mereka telah mendekati tujuan. Manggada dan Laksana ingat benar gerojogan air yang meluncur dari tebing. Beberapa kali mereka harus memanjat lereng yang terjal. Baru kemudian mereka sampai kesebuah dataran dengan bangunan kecil beratap ilalang. Dalam keremangan senja mereka melihat rumah itu masih berdiri ditempatnya. Pintu sudah tertutup. Namun ketiganya menarik nafas panjang ketika mereka melihat sinar lampu minyak yang memancar dari ruang dalam rumah kecil itu. "Ki Ajar Pangukan masih tinggal dirumah itu ?" desis Manggada meskipun agak ragu. "Siapa tahu kalau orang lain yang menempatinya sekarang” sahut Laksana. "Tentu tidak. Tempat ini sangat terpencil."  Keduanya terdiam ketika mereka menjadi semakin dekat. Bahkan Ki Pandipun nampak sedikit ragu untuk dengan serta merta mengetuk pintu. Namun Ki Pandipun kemudian melangkah mendekat. Perlahan-lahan Ki Pandi mengetuk pintu yang sudah tertutup itu. Tidak segera terdengar jawaban. Ki Pandi, Manggada dan Laksana menyadari, bahwa penghuni rumah itu harus sangat berhati-hati. Jarang orang yang mengetahui, bahwa ditempat itu terdapat sebuah rumah yang dihuni orang. Sejenak ketika orang menunggu. Tetapi tidak terdengar jawaban atau langkah kaki atau tanda-tanda bahwa rumah itu dihuni kecuali nyala lampu minyak didalam. Ki Pandipun kemudian telah mengetuk pintu itu sekali lagi. Tetapi Ki Pandi itu tiba-tiba telah berbalik. Ia mendengar langkah lembut. Tetapi tidak didalam rumah. Manggada dan Laksana terkejut melihat sikap Ki Pandi, karena mereka tidak mendengar desir kaki justru disebelah rumah, dibayangan kegelapan. Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba saja terdengar suara dari sebelah rumah "Kau itu Bongkok." "Ya Ki Ajar. Ini aku" sahut Ki Pandi yang bongkok itu sambil melangkah mendekat. Ki Ajar nampak sangat gembira sekali melihat kedatangan Ki Pandi. Apalagi bersama Manggada dan Laksana. "Marilah. Silahkan. Aku akan membuka pintu." Ki Ajar itupun kemudian masuk kembali kedalam rumahnya lewat pintu butulan. Langkah kakinya terdengar cepat mendekati pintu disusul suara selarak diangkat.  Sejenak kemudian pintu itupun terbuka. Ki Ajar Pangukan mempersilahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana untuk masuk keruang dalam. Setelah duduk disebuah amben bambu yang agak besar, yang hampir memenuhi sebagian ruang dalam itu, maka Ki Ajarpun telah menanyakan keselamatan perjalanan Ki Pandi serta kedua orang anak muda itu. Demikian pula Ki Pandi. Namun dalam pada itu, Ki Pandi nampak agak gelisah. Ia telah mendengar tarikan nafas seseorang dirumah itu. Tetapi Ki Pandi tidak segera menanyakannya. Namun agaknya Ki Ajar Pangukan dapat membaca perasaan Ki Pandi. Karena itu, maka katanya "Aku memang tidak sendirian dirumah ini." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia bertanya "siapakah orang itu, Ki Ajar ?" "Aku mengenalnya dengan sebutan Ki Jagaprana." jawab Ki Ajar Pangukan "agaknya kau sudah mengenalnya." Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya "Nama itu sudah pernah aku dengar Ki Ajar. Apakah ia sekarang tinggal bersama Ki A jar disini ?" "Untuk sementara. Ia terluka meskipun tidak terlalu parah. Lukanya sudah berangsur baik. Mudah-mudahan dalam beberapa hari lagi, ia sudah benar-benar sembuh." "Kenapa orang itu terluka, Ki A jar ?" bertanya Ki Pandi. Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Duduklah disini sebentar. Aku akan membuat minuman panas bagi tamu-tamuku."  "Tidak usah" berkata Ki Pandi "biarlah kami merebus sendiri minuman kami. Bukankah sudah terbiasa bagiku untuk membuat minuman?" "Tetapi sekarang kau dan kedua anak muda itu adalah tamu-tamuku. " berkata Ki Ajar kemudian. Namun Ki Pandi berkata "Sudahlah Ki Ajar. Ki Ajar jangan menjadi terganggu oleh kehadiranku sekarang." Ki Ajar Pangaukan tidak memaksa. Katanya kemudian “Baiklah jika itu yang kalian kehendaki. Bukan aku yang tidak ingin menghargai tamu-tamuku." "Kami sama sekali bukan tamu disini " sahut Ki Pandi. Ki Ajar tersenyum. Kepada kedua orang anak muda yang datang bersama Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan bertanya "Bagaimana awalnya, sehingga kalian datang bersama dengan Ki Bongkok itu?” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada itupun bertanya "Kisahnya cukup panjang Ki Ajar." "Tentu dalam rangka perjalanan Ki Bongkok memburu Panembahan Lebdagati." "Mulanya memang begitu Ki Ajar" desis Ki Pandi "namun kemudian keduanya ingin menyertai pengembaraanku untuk menambah pengalamannya yang masih terlalu sempit menurut pengakuan mereka berdua.'" Ki Ajar tertawa. Katanya "Agaknya tersimpan jiwa pengembara dihati kalian berdua. Tetapi aku ingin menasehatkan, kalian harus dapat mengendalikan jiwa pengembaraan kalian itu, sehingga pada suatu saat kalian tidak akan menjadi orang-orang yang hidup tidak sewajarnya  seperti kami. Maksudku, aku, Ki Bongkok dan barangkali ada orang-orang yang lain." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada menjawab "Kami akan berusaha, Ki Ajar.” "Bagus" jawab Ki Ajar "jika usiamu bertambah, maka kau harus menetap, berumah tangga, mempunyai keturunan dan menumbuhkan keturunan dengan baik sesuai dengan tuntunan Yang Maha Agung. Kalian jangan hidup di tempat terpencil atau pengembara tanpa akhir seperti Ki Bongkok, apapun alasannya. Kalian tidak usah menambah jumlah orangorang aneh seperti kami." Manggada dan Laksana masih mengangguk-angguk. Namun yang terbayang di angan-angan justru orang-orang yang hidup tidak sewajarnya itu tentu mengikuti panggilan hatinya untuk melakukan pengabdian. Namun kepada siapa mereka mengabdi, itulah yang penting diketahui. Panggilan untuk mengabdikan diri bagi Ki Pandi tentu berbeda dengan panggilan untuk mengabdi bagi Panembahan Lebdagati, yang mengabdikan diri pada dunia yang hitam. Namun dalam pada itu, nampaknya perhatian Ki Pandi masih tertuju kepada orang yang disebut bernama Ki Jagaprana itu. Sekali-sekali bahkan ia berpaling ke sentong sebelah kiri yang pintu leregnya tertutup hampir rapat. Ki Ajar Pangukan itupun kemudian berkata "Ki Jagaprana itu sudah berada dirumah ini selama lebih dari sepekan." "Bukankah Ki Jagaprana termasuk orang berilmu tinggi?" bertanya Ki Pandi. "Ya. Tetapi lawan bertandingnya memiliki kelebihan dari Ki Jagaprana."  Ki Pandi memang ingin mengetahuinya. Tetapi pertanyaannya yang sudah diucapkannya tidak langsung dijawab oleh Ki Ajar Pangukan sehingga Ki Pandi merasa kurang pantas untuk mengulangi pertanyaannya. Mungkin Ki Ajar memang mempunyai keberatan untuk menyebut siapakah yang telah melukai Ki Jagaprana. Namun ternyata bahwa Ki Ajar itu sendirilah yang berkata "Ki Bongkok. Seandainya aku tidak mengatakannya sekarang, kau tentu akhirnya juga mengetahuinya." Ki Pandi menarik nafas panjang. Sementara Ki Ajar Pangukan itu berkata "Ki Jagaprana itu telah dilukai oleh seorang pengembara berkuda yang bernama Ki Lemah Teles." Ki Pandi terkejut. Manggada dan Laksanapun terkejut pula. Bahkan hampir diluar sadarnya. Laksana bertanya "Jadi Ki Lemah Teles itu sampai ke tempat ini pula?" Ki Ajar Pangukanlah yang terkejut. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya "Kau mengenal Ki Lemah Teles?" Ki Pandilah yang menyahut "Secara kebetulan keduanya mengenal Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu, Ki Ajar." "Kau yang memperkenalkan kedua anak muda ini kepada mereka? " bertanya Ki A jar Pangukan. "Dengan tidak sengaja" jawab Ki Pandi yang kemudian menceriterakan apa yang pernah mereka lihat di Bulak Parapat. Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya "Jika demikian, Ki Lemah Teles itu sudah dihinggapi penyakit yang sangat berbahaya. Bukan saja buat dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang pernah mempunyai persoalan dengan dirinya."  Ki Pandi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Apakah Ki Lemah Teles juga mengungkit persoalan yang sudah lama lalu sehingga ia harus bertanding dengan Ki Jagaprana." "Ya. Persoalan yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi sekarang ini, setelah cukup lama berlalu. Apalagi persoalannya bukan persoalan yang pantas untuk diselesaikan dengan perang tanding." Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Ki Sambi Pitu memiliki ilmu yang setidak-tidaknya seimbang dengan Ki Lemah Teles. Tetapi justru karena itu, hampir saja keduaduanya mengalami kesulitan, sedangkan persoalannya juga bukan persoalan yang mendasar yang pantas diselesaikan dengan perang tanding sebagaimana aku ceriterakan." Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya “Nampaknya Ki Lemah Teles memerlukan perhatian khusus dari orang-orang sebaya kita. Agaknya ia melihat hari-hari tuanya dengan tatapan mata yang buram." "Persoalan apakah yang dipergunakan Ki Lemah Teles untuk memancing pertengkaran dengan Ki Jagaprana?" bertanya Ki Pandi. "Ki Jagaprana justru orang yang terhitung dekat dengan Ki Lemah Teles. Ketika anak laki-laki yang tinggal satu-satunya meninggal, justru ketika ia sedang berusaha menyelamatkan seseorang, Ki Jagaprana berusaha untuk melerai pertengkarannya dengan keluarga menantunya. Agaknya mereka memperebutkan dua orang cucu. Saat itu, Ki Lemah Teles mau mendengarkan pendapat Ki Jagaprana untuk melepaskan cucunya dan menyerahkan kepada keluarga menantunya. Namun ternyata kemudian ia menyesal. Ia merasa kehilangan segala-galanya. Pada usia yang semakin  tua, Ki Lemah Teles menyesali keputusan itu, dan menganggap Ki Jagapranalah yang bersalah. Ia menantang sahabatnya itu untuk berperang tanding, sehingga Ki Jagaprana mengalami luka-luka parah." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia sependapat dengan Ki Ajar, bahwa Ki Lemah Teles telah dihinggapi sejenis penyakit aneh yang dapat berbahaya bagi orang lain. "Tetapi keadaannya sekarang sudah berangsur baik" berkata Ki Ajar Pangukan." Setelah makan, Ki Jagaprana telah tertidur nyenyak. Biasanya ia akan terbangun menjelang tengah malam. Setelah itu, Ki Jagaprana jarang sekali tidur lagi." Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya malam itu Ki Jagaprana tidak dapat tidur nyenyak sampai menjelang tengah malam. Pembicaraan di dalam rumah itu telah membangunkannya. Untuk beberapa saat Ki Jagaprana mencoba mendengarkan pembicaraan diruang dalam. Ki Jagaprana itu mendengar namanya beberapa kali disebut. Bahkan kemudian ceritera Ki Ajar tentang dirinya. Perang tanding yang dilakukannya dan keadaannya saat itu. Karena itu, maka Ki Jagaprana itupun segera bangkit dan melangkah keluar dari biliknya. "O" Ki Ajar beringsut "marilah. Nampaknya kau telah terbangun." Sejenak Ki Jagaprana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Kemudian beralih kepada kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itu.  Ki Jagaprana memang sudah mengenal orang bongkok yang juga pernah disebut-sebut oleh Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi pengenalannya memang tidak cukup akrab. Meskipun demikian, maka sejenak kemudian Ki Jagaprana itu tersenyum. Sambil duduk diamben itu pula ia berdesis "Selamat datang ketempat yang terpencil ini Ki Sanak bertiga." "Terima kasih, Ki Jagaprana." jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat. "Bukankah kalian sudah saling mengenal?" bertanya Ki Ajar Pangukan. "Ya" jawab Kt Jagaprana "setidak-tidaknya mengenal kehadirannya didunia olah kanuragan." Ki Pandipun tersenyum. Katanya "Aku lebih banyak dikenal bukan karena kemampuanku dalam olah kanuragan, tetapi karena kekhususan ujudku." "Ah, jangan begitu" Ki Ajar tersenyum "jika kau saudara seperguruan Panembahan Lcbdagati dan yang membebani dirimu dengan janji untuk membayangi dan bahkan melenyapkan wajah hitam yang melekat pada Panembahan itu, maka orang-orang setua kita akan dapat menilai tataran kemampuanmu. Meskipun aku sendiri pernah merasa penglihatanku kabur sehingga penilaianku atasmu keliru." "Ki Ajar sejak dahulu masih saja suka memuji" desis Ki Pandi. Demikianlah, maka mereka bertiga serta kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itupun mulai duduk berbincang tentang Ki Lemah Teles. Ki Jagaprana telah menceriterakan apa yang dialaminya saat ia harus berperang tanding melawan Ki Lemah Teles.  "Aku, yang merasa mengenalnya dengan akrab, tidak menduga, bahwa ia memang bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya, maka aku terlambat untuk mengimbangi kemampuannya, sehingga aku telah terluka didalam. Bahkan terhitung parah." berkata Ki Jagaprana sambil mengingat apa yang telah terjadi. Namun katanya kemudian "Tetapi ternyata masih juga tersisa nilai-nilai persahabatan kami. Ketika aku menjadi semakin tidak berdaya, maka ia telah meninggalkan aku begitu saja. Ia tidak membunuh aku sebagaimana tantangannya. Berperang tanding sampai tuntas." Ki Pandi mendengarkan ceritera itu dengan dahi yang berkerut, sementara Ki Jagaprana melanjutkan "Tetapi aku tidak merasa terhina karenanya. Aku menerima kekalahan serta pengampunannya dengan iklas. Karena itu, aku tidak membunuh diri." Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Ki Ajar dan Ki Jagaprana sendiri tertawa, iapun ikut tertawa pula. "Sikapnya sangat menarik perhatian" berkata Ki Pandi yang mempunyai penilaian yang sama dengan Ki Ajar Pangaukan. Dalam pembicaraan yang berkepanjangan kemudian. Laksana yang lebih terbuka itu tiba-tiba saja bertanya "Ki A jar. Apakah untuk seterusnya Ki Ajar akan tetap tinggal disini? Apakah sepeninggal Panembahan Lebdagati, Ki A jar tidak ingin tinggal ditempat yang lebih dekat dengan lingkungan kehidupan yang wajar sebagaimana Ki Sambi Pitu?" Ki Ajar Pangukan tersenyum. Katanya "Tentu aku ingin anak muda. Tetapi banyak hal yang mempengaruhi keputusan yang akan aku ambil. Aku kira tidak ada salahnya jika aku memberitahukan kepada kalian, termasuk Ki Jagaprana, bahwa tempat yang telah dibuka dilereng Gunung Lawu itu  belum sepenuhnya tenang dan bersih dari kepercayaan hitam. Hal ini merupakan salah satu sebab, kenapa aku masih tetap ingin tinggal disini." "Tetapi bukankah kehidupan di lereng Gunung Lawu itu sudah dialiri arus kehidupan sebagaimana nampak di lingkungan yang lain? Hutan yang sudah ditembus dengan jalan yang cukup baik itu, telah memungkinkan para pedagang keluar masuk lingkungan di belakang Gunung Lawu ini." berkata Laksana kemudian. "Ya, anak muda. Tetapi ketahuilah, bahwa di tempat yang sedikit lebih tinggi, pada arah yang lain, masih terdapat sebuah perguruan yang menyadap ilmu hitam. Perguruan itu timbul setelah Panembahan Lebdagati meninggalkan lereng Gunung Lawu. Aku masih belum tahu pasti, apakah di perguruan itu tinggal bekas pengikut Panembahan Lebdagati atau orang lain yang juga berpijak pada ilmu hitam." "Jika demikian, tempat itu tentu agak jauh dari tempat tinggal Ki Ajar ini." desis Laksana pula. "Ya. Tetapi juga tidak terlalu jauh. Aku mencoba mengamati perguruan itu. Perguruan yang tinggal di-sebuah padepokan yang termasuk baru dibangun." "Mungkin beberapa pengikut Panembahan Lebdagati yang lepas dari ikatan ada yang memasuki perguruan itu, karena perguruan yang baru itu mempunyai pijakan yang sama dengan ajaran Panembahan Lebdagati," desis Ki Pandi. "Memang mungkin sekali" jawab Ki Ajar. "Menarik sekali" desis Laksana. "Apa yang menarik?" Ki Pandipun tiba-tiba bertanya.  "Maksudku, perguruan itu memang menarik perhatian. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan tidak ingin pindah dari tempat ini. Setidak-tidaknya untuk sementara." jawab Laksana. Ki Pandi tersenyum. Katanya "Apakah kau juga tertarik?" Laksanapun tersenyum pula. Katanya "Memang sangat menarik." Ki Ajar Pangukan mengetahui arah bicara Laksana. Karena itu maka katanya "Jika kau memang tertarik, aku tidak berkeberatan jika kau ikut bersamaku mengamati nya.” 


Jilid : 2
LAKSANA termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Manggada. Tetapi wajah Manggada tidak memberikan kesan apapun sehingga Laksana tidak segera dapat menjawab. Namun Ki Pandilah yang kemudian menjawab "Tentu Laksana akan mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Bukankah dengan demikian ia akan mendapatkan suatu pengalaman baru sebagaimana diinginkannya?" Hampir diluar sadarnya laksana berdesis "Ya. Demikianlah agaknya. Tentu jika kakang Manggada tidak berkeberatan." Manggada tersenyum. Katanya "Aku akan sangat berterima kasih jika kami mendapat kesempatan itu. Bukan saja pengalaman baru. Tetapi juga kesempatan untuk ikut menghapus warna-warna hitam diwajah kehidupan ini." "Bagus" berkata Ki Ajar Pangukan "jika demikian, aku akan mempersilahkan kalian tinggal disini lagi, bersama Ki Bongkok." Ki Ajar berhenti sejenak. Baru kemudian berdesis "Maaf, aku sudah terbiasa memanggil demikian." Ki Pandi tertawa mendengar sebutan atas dirinya justru menjadi persoalan. Katanya kemudian "Apapun tetenger itu bagiku, asal jelas, bahwa akulah yang dimaksud." Orang-orang tua tertawa. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun merekapun tertawa pula. Demikianlah, maka saat itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana berada dirumah Ki Ajar Pangukan bersama Ki Jagaprana yang terluka dibagian dalam tubuhnya. Namun dari hari kenari keadaannya menjadi berangsur baik sehingga akhirnya menjadi sembuh sama sekali.  Sementara itu, Ki Ajar Pangukan telah beberapa kali membawa Manggada dan Laksana berjalan-jalan menyusuri daerah yang pernah menjadi daerah pengaruh orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati. Kehidupan di daerah itu memang sudah nampak berubah. Nampaknya jalan yang menembus hutan Jatimalang itu memberikan banyak arti bagi daerah itu. Perdagangan hasil bumi yang terjadi dengan wajar, kemudi an kebutuhan alatalat pertanian yang didatangkan dari balik hutan, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti garam dan barang kerajinan, membuat daerah di lereng Gunung Lawu itu berkembang menjadi satu lingkungan yang wajar sebagaimana lingkungan-lingkungan yang lain. Hilangnya kekuatan hitam yang selalu memaksakan kehendaknya kepada para penghuni lingkungan yang sebelumnya terpisah itu mempunyai pengarah yang sangat besar. Para penghuninya tidak lagi dibayangi oleh perasaan takut serta tidak lagi dibebani oleh berbagai macam keharusan. Bukan saja upeti yang harus mereka serahkan kepada Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya, tetapi juga berbagai jenis upacara yang mereka lakukan sejalan dengan kepercayaan sesat yang dianut oleh Panembahan itu. Namun semakin jauh Manggada dan laksana melihat keadaan yang berkembang dilereng Gunung Lawu itu, mereka justru mulai, mengenali warna-warna yang kusam. "Kita mulai melihat perkembangan tatahan kehidupan yang berputar balik" berkata Ki Ajar Pangukan "semula lingkungan kehidupan disini telah mengalami perubahan dan perkembangan sebagaimana tatanan kehidupan dilingkungan kehidupan.yang lain. Maksudku padukuhan-padukuhan yang mulai diwarnai oleh tatanan kehidupan yang wajar setelah  penghuninya banyak berhubungan dengan lingkungan disebelah hutan Jatimalang dan bahkan lingkungan yang lebih jauh yang melakukan hubungan perdagangan. Tetapi pada saat terakhir, perkembangan tatanan kehidupan mulai bergeser lagi. Meskipun hubungan perdagangan masih juga berlangsung sehingga pengaruh tatanan kehidupan dari seberang hutan Jatimalang masih nampak mewarnai tatanan kehidupan disini, tetapi upacara-upacara yang aneh mulai mewarnai kehidupan disini." Manggada dan Laksana mendengarkan keterangan Ki Ajar itu dengan sungguh-sungguh. Meskipun kehidupan yang kusam itu belum nampak jelas dalam kehidupan sehari-hari, tetapi lambat-laun, perubahan-perubahan yang mendasar akan dapat terjadi. Dengan ragu-ragu Manggada bertanya "Ki Ajar. Selagi keadaan itu belum berkembang, apakah tidak sebaiknya mulai diluruskan kembali ?" "Itulah yang akan kami usahakan. Tetapi tentu bukan satu pekerjaan yang mudah. Sudah aku katakan, bahwa telah lahir satu padepokan baru yang agaknya memuat satu jenis perguruan yang berpijak pada atau setidak-tidaknya dipengaruhi dleh ilmu yang sesat sebagaimana dianut atau sejenis yang dianut oleh Panembahan Lebdagati" "Dirnanakah letak padepokan itu?” "Kini tidak dapat dengan serta-merta mendekati tempat itu. Kita harus berhati-hati, karena didalam padepokan itu tentu tersimpan orang-orang berilmu tinggi dari aliran yang sesat itu." jawab Ki Ajar Pangukan. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Keduanya mencoba untuk melihat kelainan yang mulai tumbuh di  beberapa padukuhan. Mereka melihat ditempat-tempat tertentu terdapat bangunan yang khusus. Dihalamannya yang luas terdapat batu tersusun rapi dengan permukaan yang datar setinggi orang dewasa dengan tangga batu pula di keempat sisinya." "Untuk apa , Ki Ajar ?" bertanya laksana. "Sampai saat ini, yang kami lihat, diatas landasan batu itu diserahkan korban seekor anak binatang yang dilahirkan dibulan purnama. Jika tidak diketemukan maka yang akan dikorbankan adalah seekor anak binatang jenis apapun yang lahir terdekat dengan bulan purnama." "Caranya ?" bertanya Laksana pula. "Dengan sepotong bambu yang ditajamkan, jantung anak binatang yang dikorbankan itu ditikam." jawab Ki Ajar Pangukan. "Ah" desis Laksana diluar sadarnya. "Yang menarik" berkata Ki Ajar Pangukan "sebelum anak binatang itu dikorbankan, anak binatang itu dimandikan, kemudian dibalut dengan kain yang berwarna putih. Kemudian sesudah binatang itu mati, maka beberapa orang yang nampaknya merupakan rangkaian dari upacara itu, menangisinya. Kemudian anak binatang itu dikubur dengan upacara yang khusus pula." "Satu upacara yang aneh" berkata Manggada. "Ya. Upacara yang aneh. Tetapi lebih dari itu, aku membayangkan apa yang akan terjadi kemudian. Maksudku, waktu-waktu mendatang. Jika kepercayaan yang aneh itu menjadi semakin menggigit, maka aku cemas bahwa korban itu tidak hanya sekedar seekor binatang dari jenis apapun."  "Maksud Ki Ajar ?" bertanya Laksana. Ki Ajar tidak menjawab. Tetapi keningnya berkerut semakin dalam Laksana tidak mendesaknya. Ia sendiri tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kemudian. Manggadalah yang kemudian justru bertanya "jenis binatang apa sajakah yang dapat dipakai sebagai korban ?" "Segala macam binatang peliharaan. Dari anak lembu, anak kambing sampai anak ayam yang menetas pada atau disekitar bulan purnama." jawab Ki Ajar Pangukan. Manggada mengangguk-angguk. Tetapi iapun tidak ingin mendesak dan mendengarkan jawaban tentang kecemasan Ki Ajar di hari kemudian itu. Di rumah Ki Ajar, Manggada dan Laksana telah membicarakannya dengan Ki Pandi yang sibuk menyiapkan minum dan makan seisi rumah itu sebagaiman pernah dilakukannya dahulu. Memang ada perbedaan dengan upacara yang dilakukan oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi bayangan dikemudian hari iiu, akan sama-sama mengerikannya. "Bagaimana mungkin masih saja ada orang yang mempergunakan cara-cara seperti itu untuk pemenuhan kepuasan batinnya.” desis Manggada. “Kita tidak akan dapat tinggal diam atau sekedar sebagai penonton yang menutup wajah kita dan melihat peristiwa itu itu dari sela-sela jari tangan kita." berkata Ki Pandi. Ternyata bahwa kemudian Ki Jagapranapun telah tertarik pula kepada tata kehidupan yang tidak sewajarnya itu.  Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah menyusun rencana untuk melihat dan mengenali sebuah padepokan yang memancarkan kepercayaan yang berlandaskan pada ilmu hitam itu yang pengaruhnya sudah terasa dipadukuhan-padukuhan di lereng Gunung Lawu. Penghuni padukuhan-padukuhan itu,yang sejak, semula memang sudah tersentuh oleh kepercayaan hitam itu agaknya tidak terlalu sulit untuk menerima kembali tatanan kehidupan yang pernah dikenali sebelumnya. Meskipun mereka sudah dipengaruhi oleh tatanan kehidupan yang lain, tetapi ketika pengenalan mereka itu tersentuh kembali, maka merekapun seakan-akan telah hanyut kedalam dunia lama yang telah mereka kenal itu. Namun dalam pada itu, selagi Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi bersama Manggada dan Laksana akan mulai melangkahkan kaki, tiba-tiba saja telah datang dua orang yang pernah mereka kenal sebelumnya. Ki Ajar Pangukan terkejut atas kehadiran kedua orang yang tiba-tiba saja sudah berada di plataran rumah Ki Ajar Pangukan yang terasing itu. "Aku mencari Ki Jagaprana dan Ki Bongkok" teriak seorang di antara mereka. Bukan hanya Ki Ajar Pangukan sajalah yang kemudian keluar dan berdiri diserambi. Tetapi seisi rumah itu telah menyongsong kedua orang itu didepan rumah. "Selamat datang digubuk kecil ini, Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu." sapa Ki Ajar Pangukan. "Ki Ajar" berkata Ki Lemah Teles "sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Aku mempunyai persoalan dengan keduanya. Aku memang menunggu Ki Jagaprana sembuh. Aku akan  menantangnya untuk berperang tanding. Kemudian aku juga akan menantang orang bongkok yang telah mengganggu perang tandingku dengan Sambi Pitu." Dalam pada itu, Ki Sambi Pitu telah menyahut "Ki Lemah Teles masih saja gila." "Persetan kau" geram Ki Lemah Teles "kau akan mendapat giliran terakhir setelah aku menyelesaikan Jagaprana dan orang bongkok itu. Kecuali jika Ki Ajar ingin mencampuri persoalan ini. Maka ia akan aku selesaikan sebelum kau." Tetapi Ki Pandi justru tertawa. Katanya "Atas nama Ki Ajar, aku persilahkan kau duduk Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu. Ki Ajar menjadi heran melihat sikapmu yang gila itu sehingga ia tidak segera mempersilahkan kalian duduk." “Ya, ya" sahut Ki Ajar. "sikapmu aneh Ki Lemah Teles, sehingga aku kehilangan unggah-ungguh tanpa mempersilahkan kalian duduk, meskipun hanya disebuah amben tua di serambi gubug kecil ini." “Aku tidak memerlukan sejenis basa-basi seperti itu” geram . Ki Lemah Teles. "Bukan sekedar basa-basi. Aku benar-benar mempersilahkan kalian duduk" sahut Ki Ajar Pangukan.  Ki Lemah Teles masih saja ragu-ragu. Namun Ki Sambi Pitu lah yang kemudian melangkah ke serambi. Ia justru duduk mendahului Ki Ajar Pangukan sendiri. Namun akhirnya semuanyapun duduk di amben bambu tua diserambi ruamah itu, kecuali Manggada dan Laksana. Ketika amben itu berguncang, maka Ki Lemah Telespun berkata "Kau jebak aku dengan amben reotmu ini." Ki Ajar tertawa. Katanya "Hatimu yang goyah itu selalu dibayangi oleh kecurigaan. Kami sama sekali tidak bermaksud buruk terhadapmu." "Tetapi kenapa dengan amben ini ?" “Amben tua ini agaknya mengeluh karena bebannya yang terlalu berat. Tetapi tidak apa-apa. Aku jamin bahwa amben tua ini tidak akan roboh." Ki Lemah Teles tidak menjawab. Tetapi beberapa kali ia justru mengguncang amben bambu yang sudah tua itu. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah pergi kedapur untuk menyiapkan minuman bagi tamu-tamu Ki Ajar Pangukan. Sementara itu, Ki Lemah Teles masih saja dengan nada marah berkata "Aku tidak mau diganggu lagi oleh siapapun juga. Aku harus membunuh mereka yang telah mengganggu perasaanku. Di umurku yang menjadi semakin tua, maka aku harus dapat hidup tenang, tenteram dan damai" Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandii tertawa bersamaan, sehingga Ki Lemah Teles itu membentak “Apa yang kalian tertawakan ?"  "Begitukah caramu untuk mendapat ketenangan dan ketenteraman hidup ? Membasahi tanganmu dengan darah sahabat-sahabatmu ?" sahut Ki Ajar Pangukan. "Ya." jawab Ki Lemah Teles tegas "tanpa membunuh orangorang yang telah menyakiti hatiku, menjerumuskan aku kedalam sepi serta mereka yang menghalangiku, maka hidupku tidak akan tenang." “Tetapi sisa-sisa hidupmu akan selalu dibayangi oleh wajahwajah yang sendu dari sahabat-sahabatmu yang telah kau bunuh itu. Mereka akan selalu datang dalam mimpi-mimpimu. Manggapai-gapai tanganmu, mohon pertolongan dan perlindungan dari seorang sahabatnya yang baik." "Mereka tidak akan datang kepadaku. Mereka tidak akan minta pertolongan dan perlindungan kepadaku, justru karena aku yang membunuh mereka." "Jika demikian mereka akan datang sambil merengek untuk mohon kau ampuni dan kau hidupkan kembali. Karena merasa bahwa mereka belumjsampaipada saatnya untuk mati" berkata Ki Ajar Pangukan kemudian. "Setan kau" geram Ki Lemah Teles "aku tidak perduli.” Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi berkata "Bagaimana jika kau yang mati ?" "Tidak. Aku tidak akan mati. Ilmuku lebih tinggi dari ilmu kalian." geram Ki Lemah Teles. "Jangan membohongi dirimu sendiri" berkata Ki Pandi "tentu ada orang lain yang ilmunya lebih tinggi dari ilmu yang ada padamu."  Ki Lemah Teles mengerutkan dahinya. Tiba-tiba saja ia menantang "Ayo. Siapa yang merasa ilmunya lebih tinggi dari ilmuku. Kita berperang tanding sampai mati." Pembicaraan itupun tiba-tiba terputus. Manggada dan laksana telah datang menghidangkan minuman panas. Wedang jahe dengan gula kelapa. "Pembicaraan kita akan kita lanjutkan nanti. Sekarang, aku persitahkan kalian minum lebih dahulu..". Ki Lemah Tetes termangu-mangu sejenak. Namun ketika Ki Sambi Pitu dan yang lain telah menggapai mangkuk mereka, maka Ki Lemah Telespun telah mengangkat mangkuknya pula. "Tetapi Ki Ajar jangan mencoba untuk mengekang sikapku dengan minuman ini" berkata Ki Lemah Teles. "Tidak" jawab Ki Ajar "Jika aku ingin mengekang sikapmu, aku tidak hanya sekedar mempergunakan semangkuk minuman. Tetapi aku akan mempergunakan ilmuku yang sangat tinggi" "Gila. Seberapa tinggi ilmumu ?" bertanya Ki Lemah Teles. Orang-orang yang mendengar pertanyaan itu tertawa. Ki Ajar justru tertawa berkepanjangan. Katanya "Ki Lemah Teles. Kenapa kau menjadi kehilangan akal disaat-saat kau merasa dicekik oleh kesepian. Kenapa kau harus menantang untuk berperang tanding dengan Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu dan kemudian Ki Pandi dan barangkali juga aku." "Mereka adalah orang-orang yang dengki atas kebahagiaan hidupku dan kemudian mendorong aku kedalam satu kehidupan yang kosong dan hampa seperti sekarang ini." "Tidak, Ki Lemah Teles" berkata Ki Ajar Pangukan "bukan karena itu. Tetapi kau merasa bahwa dihari-hari tua, kau dan  barangkali juga aku, Ki Jagaprana, Ki Sambi Pitu dan Ki Bongkok mulai kehilangan kebanggaan yang pernah kau miliki. Kau menjadi cemas, bahwa orang-orang yang mengenalmu tidak lagi menganggap bahwa kau adalah orang yang penting dan diperlukan oleh lingkunganmu. Karena itu, kau telah berbuat sesuatu untuk menarik perhatian orang untuk memaksa orang lain tetap menganggapmu , bahwa kau adalah orang penting. Orang berilmu dan orang yang dibutuhkan sekali Kau paksa orang lain bertempur untuk mengingatkan mereka akan kemampuan yang tinggi. Tetapi kau lupa bahwa orang lain juga memiliki kemampuan yang tinggi pula. Jika Ki Jagaprana terluka bagian dalam tubuhnya itu, karena ia menyangka bahwa kau tidak bersungguhsungguh. Sementara Ki Sambi Pitu juga tidak dapat kau kalahkan. Seandainya Ki Bongkok tidak menghentikan perang tanding antara kau dan Ki Sambi Pitu, maka kalian berdua tidak akan pernah sampai dirumah ini." Ternyata Ki Lemah Teles sempat mendengarkan kata-kata Ki Ajar Pangukan. Semula hatinya memang bergejolak Tetapi kemudian ia mulai merenungi kata-kata itu. Bahkan kemudian Ki Pandipun berkata "Ki Lemah Teles. Jika Ki Lemah Teles tetap berniat untuk berperang tanding dengan siapa saja yang kenal dan dapat kau hubungi sekarang ini, maka aku akan minta agar Ki Lemah Teles menundanya. Tetapi kalau hatimu sudah benar-benar menjadi gelap, segala sesuatunya terserah kepadamu." "Kenapa harus ditunda ?" bertanya Ki Lemah Tetes. "Kita sedang mengamati sebuah padepokan yang mungkin berisi satu perguruan yang berlandaskan pada ilmu hitam. Kami terpanggil untuk membayanginya, karena perguruan itu mempunyai pengaruh yang kurang baik bagi lingkungannya."  jawab Ki Pandi. Lalu katanya kemudian "Kecuali jika Ki Lemah Teles telah kehilangan suara nuraninya yang jernih." "Setan kau bongkok" sahut Ki Lemah Teles. Namun katanya kemudian "Baiklah. Aku akan berusaha menahan diri. Aku akan memberi kesempatan kepada kalian untuk melakukan niat kalian membayangi perguruan yang berlandaskan ilmu hitam itu." "Satu kesempatan bagimu, Ki Lemah Teles" berkata Ki Jagaparana yang lebih banyak berdiam diri saja. "Kau akan menjerumuskan aku kedaiam jebakan dan membunuhku dengan cara yang licik ?" "Tentu tidak. Aku masih berharap kita dapat berperang tanding setelah kita menyelesaikan perguruan yang berlandaskan ilmu hitam itu" jawab Ki Jagaprana. Bahkan katanya pula "Aku berharap bahwa aku dapat membalas luka bagian dalam tubuhku dengan melukai bagian dalam tubuhmu pula." "Setan kau. Aku akan benar-benar membunuhmu" geram Ki Lemah Teles "Sudahlah” berkata Ki Ajar Pa'ngukan "kenapa kita hanya berbicara tentang bunuh membunuh ? Kenapa kita tidak berbicara tentang satu rencana yang mungkin dapat kita lakukan untuk membayangi padepokan orang-orang berilmu hitam itu ?" Ki Lemah Teles termangu-mangu. Namun kemudian iapun bertanya "seandainya aku bergabung dengan kalian, apakah aku juga harus tinggal disini."  "Itu terserah kepadamu" jawab Ki Ajar Pangukan "tetapi aku akan sangat senang jika kalian bersedia untuk tinggal bersama kami disini." "Tetapi bagaimana dengan kuda-kuda kami?" bertanya Ki Lemah Teles. "Kau membawa kuda ?" bertanya Ki Ajar Pangukan. "Ya." Ki Ajarpun kemudian berkata kepada Ki Pandi "Nah, kau adalah salah seorang di antara mereka yang tahu, bagaimana membawa seekor kuda ke tempat ini.” Ki Pandipun mengangguk-angguk. Katanya "marilah, aku tunjukkan kepada kalian jalan yang dapat kalian lewati." Setelah minum beberapa teguk, maka Ki Pandi bersama kedua orang tamunya itupun meninggalkan tempat itu untuk mengambil kuda-kuda mereka yang terhalang oleh sulitnya jalan yang harus mereka tempuh sampai ke rumah Ki Ajar Pangukan itu. Rumah Ki Ajar Pangukan adalah rumah yang kecil saja. Tetapi tamu-tamunya bukan orang-orang manja yang memerlukan tempat yang baik untuk bermalam. Mereka dapat tidur dimana saja. Diserambi, diruang tengah atau bilik yang sempit. Sedangkan mereka bukan pula orang yang memilih makanan tertentu menurut selera yang sulit. Mereka dapat makan apa saja yang pantas dimakan. Karena itu, kehadiran orang-orang itu dirumah Ki Ajar tidak terlalu menyulitkannya. Mereka dapat makan ketela pohon, ketela rambat, jagung, apalagi nasi putih. Sementara itu, sayur-sayuran terdapat dihalaman dan di kebun rumah yang luas, bahkan seakan-akan tanpa batas.  Kemudian kolam yang direnangi oleh berbagai jenis ikan. Di halaman belakang juga berkeliaran berpuluh ekor ayam, irik yang menebarkan telur dimalam hari dan bahkan angsa. Di hari-hari berikutnya, rumah kecil itu memang menjadi ramai. Beberapa orang yang usianya telah merambat melampaui pertengahan abad dan dua orang anak muda, Manggada dan Laksana. Namun dengan demikian, Manggada dan Laksana telah mendapatkan pengalaman yang cukup banyak. Orang-orang tua itu kadang-kadang mengisi waktunya dengan latihanlatihan sesuai dengan aliran ilmu mereka masing-masing untuk mempertahankan kemampuan ilmu dan daya tahan tubuh mereka. Ki Lemah Teles yang sebelumnya merasa hidup kesepian, mulai merasa bahwa ia masih mempunyai beberapa orang kawan yang memperhatikannya. Dalam pada itu, orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu mulai membagi diri untuk mengamati sebuah padepokan yang mereka duga, mempunyai landasan ilmu hitam sebagaimana padepokan Panembahan Lebdagati. Mereka tidak saja bergerak disiang hari, tetapi kadangkadang juga malam hari. Bahkan Ki Ajar Pangukan telah mulai berusaha untuk dapat berada dipadukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu. Dalam pada itu, Ki Pandi yang berjalan-jalan bersama Manggada dan Laksana disebuah padukuhan sempat melihat bangunan khusus yang agak lain dari bangunan-bangunan khusus yang pernah mereka lihat. Disekitar bangunan itu terdapat halaman yang cukup luas dipagari dengan potongan batang kelapa yang berjajar rapat Pagar itu cukup tinggi dengan sebuah pintu gerbang saja.  "Apa yang ada didalam ?" desis Laksana. Lingkungan disekitar bangunan yang memang terletak menjorok diluar padukuhan itu memang sepi. Karena itu, maka Manggadapun berkata "Apakah kita akan memasuki dinding bangunan yang khusus itu ?" Ki Pandi masih saja temangu-mangu. Namun kemudian mereka melihat dua orang bocah yang menggiring beberapa ekor kambing untuk digembalakan. Anak-anak itu tertegun sejenak melihat orang yang mereka anggap asing berada disekitar bangunan khusus "Kita dapat berbicara dengan anak-anak itu. Tetapi jangan takut-takuti mereka." berkata Ki Pandi. Manggada mengangguk-angguk. Karena itu, maka iapun berkata "Biarlah aku sendiri datang kepada mereka.” "Sebentar lagi" desis Ki Pandi. Baru ketika kedua orang anak itu duduk direrumputan sambi! melepas kambing mereka di tempat terbuka yang ditumbuhi rerumputan yang hijau subur itu, Manggada telah melangkah mendekati mereka. Ia berjalan dengan langkah yang wajar saja. Tidak tergesagesa dan tidak menarik perhatian. Sedangkan Laksana dan Ki Pandi justru berdiri saja ditempat mereka, dekat dengan bangunan khusus itu. Kedua orang anak itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi sambil melangkah mendekati kedua anak itu, Manggada menunjukkan wajah yang terang dengan senyum dibibirnya. Kedua anak itu beringsut menjauh ketika Manggada kemudian duduk direrumputan itu pula.  "Jangan takut" berkata Manggada "aku memang orang asing bagi kalian dan barangkali bagi padukuhan ini. Aku ingin membuka perdagangan dengan para penghuni padukuhan itu." Kedua orang anak itu termangu-mangu. Namun tidak seorangpun diantara mereka yang menyahut. "Aku dengar di padukuhan ini terdapat beberapa orang yang membuat gerabah" desis Manggada. Kedua orang anak itu saring berpandangan, sementara Manggada bertanya pula "Apakah benar ?" Seorang dintara kedua orang anak itu menggeleng» Jawabnya singkat "Tidak." "O" Manggada mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya lagi "Dimana kami dapat membeli gerabah dalam jumlah yang cukup banyak untuk aku jual lagi diseberang hutan Jatimalang ?" Kedua anak itu menggeleng. Seorang diantara mereka menjawab "Aku tidak tahu." Manggada mengangguk-angguk lagi. Namun ia bertanya "he, bangunan apakah yang dikelilingi dinding potongan batang kelapa utuh itu ?" Kedua orang anak itu saling berpandangan lagi. Wajah mereka menunjukkan keragu-raguan. "Untuk menyelenggarakan upacara barangkali ?” Kedua orang anak itu mengangguk berbareng. "Upacara apa ?” bertanya Manggada lagi. "Tempat itu belum pernah dipakai" jawab salah seorang dari kedua orang anak itu.  "O" Manggada mengangguk-angguk. Dengan dahi berkerut ia bertanya "Apakah bangunan itu baru selesai dibuat ?" “Sudah beberapa bulan yang lalu.” jawab anak itu. Manggada masih saja mengangguk-angguk. Sambil memandang dinding yang mengelilingi bangunan khusus itu ia bertanya "Kenapa tempat upacara itu tidak segera dipergunakan ?" Kedua orang anak itu menggeleng. Manggada sadar, bahwa ia tidak akan mungkin mendapat keterangan yang cukup dari anak-anak itu. Tetapi apa yang telah didengar sedikit banyak dapat memberikan gambaran tentang bangunan yang masih belum pernah dipergunakan itu. Sementara itu, Ki Pandi dan Laksana sempat melihat dari sela-sela potongan batang kelapa yang berjajar utuh itu, sesusunan batu yang ditata rapi. Dipahat seperti candi kecil bersusun agak tinggi mendatar dibagian atasnya.yang agaknya untuk meletakkan benda-benda upacara atau bahkan sesaji atau korban yang diserahkan. Sejenak kemudian, Manggada telah berada diantara mereka kembali. Yang dapat disampaikan kepada Ki Pandi adalah sekedar apa yang telah didengarnya dari kedua orang anak yang sedang menggembala itu. Namun nampaknya mereka bertiga mendapat perhatian khusus dari seorang yang melihat mereka dari kejauhan. Orang yang sudah terhitung tua. Bahkan lebih tua dari Ki Pandi.  Dengan tongkat kayu yang panjang orang itu melangkah mendekati Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang masih berada dide-kat bangunan yang khusus itu. "Selamat datang dipadukuhan kami Ki Sanak" sapa orang tua itu. "Terima kasih" jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat "kami mohon maaf, bahwa kami telah mengganggu ketenangan padukuhan ini." Orang tua itu tersenyum. Kemudian iapun bertanya "Apa yang sebenarnya kalian kehendaki, Ki Sanak." Yang menyahut adalah Manggada "Kami mendengar disini banyak dibuat gerabah, kek. Mungkin kami dapat membelinya dan membawanya keseberang hutan Jatimalang." Orang tua itu termangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng "tidak anak muda. Disini tidak ada orang yang membuat gerabah. Kami justru membeli dari padukuhanpadukuhan yang terletak agak kobawah. Jika kalian datang dari seberang hutan Jatimalang, maka kalian tentu sudah melewati padukuhan kecil yang semua penghuninya membuat gerabah." Namun Manggada dengan tangkas menjawab "sayang kek. Buatannya kurang baik menurut pendapat kami. Bahkan mudah pecah, sehingga kemungkinan rusak diperjalanan menjadi sangat tinggi." Orang tua itu tersenyum. Katanya "Gerabah dari Mungkid adalah gerabah yang terbaik yang pernah aku lihat." Manggada termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih dapat menjawab "Ternyata yang terbaik itu masih belum memenuhi syarat yang kami tentukan bagi perdagangan gerabah."  Orang itu tertawa. Namun kemudian ia bertanya."Apakah kalian tertarik kepada bangunan yang belum pernah dipergunakan ini ?" "Ya, Ki Sanak” yang menjawab adalah Ki Pandi "Kami belum pernah melihat bangunan seperti ini sebelumnya ?" "Bangunan ini dibuat untuk keperluan upacara. Tetapi upacara itu belum pernah diselenggarakan dipadukuhan ini. Dahulu, ketika tempat ini berada dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, juga sering dilakukan upacaraupacara khusus disetiap bulan purnama. Tetapi upacara itu dilakukan disatu tempat saja. Tetapi sekarang tidak. Upacara itu dilakukan dibeberapa tempat. Dipadukuhan ini telah dibuat tempat upacara yang besar. Lebih besar atau lebih lengkap dari padukuhan-padukuhan kecil yang lain. Tetapi upacara itu sendiri tidak pernah dilakukan dipadukuhan ini.” "Kenapa kek ?" bertanya Laksana. Orang tua itu memandang bangunan itu dengan mata yang redup. Katanya kemudian "Sebagai seorang yang pernah mengalami pengaruh Panembahan Lebdagali, serta kemudian setelah daerah ini seolah-olah terbuka, sehingga hubungan dengan lingkungan seberang hutan Jatimalang berlangsung, maka upacara-upacara seperti itu rasanya sangat mengerikan. Aku sendiri sejak Panembahan Lebdgati menyelenggarakan upacara-upacara khusus didaerah ini, aku tidak pernah mengikutinya. Tetapi karena aku tidak mempunyai kekuatan apapun dan bahkan tidak mempunyai keberanian yang cukup, maka aku tidak berani berbuat apap-apa selain berharap." "Apakah upacara yang berlangsung waktu itu dan sekarang sama ?" bertanya laksana.  "Tidak anak muda. Dahulu korban yang diserahkan adalah gadis-gadis." jawab orang tua itu. "Sekarang ?" desak Laksana. "Seekor anak binatang apapun. Ditusuk dadanya sampai mati. Bukankah itu mengerikan meskipun hanya seekor anak binatang ? Seekor anak kambing berteriak melengking tinggi ketika sepotong bambu yang ditajamkan menusuk jantungnya, seperti tangis seorang bayi yang kesakitan." Laksana tidak bertanya lebih jauh. Sekilas melintas di angan-angannya sesuatu yang sangat mengerikan. Tetapi orang tua itu masih berkata "Bangunan ini dibuat oleh beberapa orang yang sejak semula melandasi kepercayaannya dalam pengaruh ilmu hitam. Mereka menganggap bahwa upacara seperti ini akan dapat memberikan keselamatan dan kesejahteraan bagi hidupnya" Orang itu berhenti sejenak. Namun kemudian ia meneruskannya "tetapi niat itu ditentang oleh banyak orang yang menyadarinya, bahwa upacara seperti itu hanya menimbulkan kengerian saja. Bahkan di hari mendatang akan menimbulkan malapetaka bagi penghuni padukuhan itu sendiri. Dan yang lebih buruk lagi jika malapetaka itu menyebar ke padukuhan-padukuhan disekitarnya, apalagi sampai keseberang hutan Jatimalang." "Apakah hal seperti itu akan mungkin terjadi ?" Laksana justru bertanya lagi. "Mungkin sekali. Jika di satu padukuhan tidak lagi terdapat seekor anak binatangpun, maka tentu akan dicari dari padukuhan-padukuhan yang lain, sementara padukuhanpadukuhan yang lain juga membutuhkan bagi upacara yang mereka selenggarakan sendiri. Jika demikian bukankah harus  dicari ditempai yang semakin jauh yang justru tidak mempunyai kepercayaan pada upacara seperti itu. Sekali lagi aku ingatkan, bahwa yang dilakukan sekarang dalam upacara itu barulah semacam pendahuluan. Pada kesempatan lain upacara itu akan menjadi upacara yang sesungguhnya menurut kepercayaan sesat itu." Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Pandi bertanya “Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya ?" "Hanya untuk sementara" jawab orang itu "pada satu saat nanti, orang-orang dari padepokan dibelakang gumuk itu akan datang lagi. Mencoba untuk mempengaruhi orang-orang padukuhan itu serta mengungkit lagi kepercayaan hitam dari penghuni padepokan ini yang sebenarnya sudah mulai berubah. Jika mereka tidak berhasil, maka mereka tentu akan mulai dengan cara yang lebih kasar. Menakut-nakuti,! mengancam dan mengganggu ketenangan. Jika cara itu masih belum berhasil, maka mereka akan mempergunakan kekerasan. Mereka akan memaksa para penghuni padukuhan ini untuk melakukan upacara-upacara terkutuk itu." Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata selanjutnya "Para pemimpin padepokan itu agaknya tidak berjantuhg lagi. Mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan tanpa mengingat lagi nilai-nilai dalam tatanan kehidupan yang berlaku bagi orang banyak." “Apakah Ki Sanak akan bertahan hidup dalam suasana yang demikian ?" bertanya Ki Pandi. "Aku lidak mempunyai pilihan lain. Orang tuaku tinggal disini. Aku mendapat warisan tanah berserta rumahnya. Sementara anak-anakpun tinggal disini pula. Bahkan cucucucuku."  Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya "Baiklah Ki Sanak. Untuk sementara kami merasa sudah banyak mendengar tentang bangunan khusus itu. Mungkin pada kesempatan lain, kami akan singgah dirumah Ki Sanak. Namun apakah kami boleh mengetahui ancar-ancar tempat tinggal Ki Sanak ?" bertanya Ki Pandi. Alenia ini tertukar tempat di buku aslinya (dewi KZ) “Rumahku mudah dicari. Aku tinggal ditepi jalan induk padukuhan ini. Hampir berhadapan dengan banjar padukuhan. Jika kalian mengalami kesulitan, kalian dapat bertanya dirumah Ki Carang Ampel." "Baik, Kiai. Sekarang aku mohon diri." "Ki Sanak" desis Ki Carang Ampel "apakah Ki Sanak mempunyai pendapat khusus mengenai upacara yang sering dilakukan dipadukuhan-padukuhan yang lain." "Tidak Ki Carang Ampel. Kami hanya sekedar ingin tahu saja" jawab Ki Pandi. Orang tua itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat orang itu bertanya "Dimanakah Ki Sanak tinggal ?" "Kami orang-orang Pajang" jawab Ki Pandi. Orang tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya apapun lagi. Ketika kemudian Ki Pandi, Manggada dan Laksana duduk berkumpul bersama orang-orang lain penghuni rumah Ki Ajar yang kecil itu disore hari, maka Ki Pandipun telah menceriterakan pertemuannya dengan Ki Carang Ampel. Ki Jagaprana dengan serta-merta menyahut "Sulit bagi kita untuk mempercayai sikap dan pendapat orang disini. Mereka nampaknya berbicara apa saja tanpa dipikirkannya masakmasak."  Tetapi Ki Pandi menyahut "Tetapi nampaknya Ki Carang Ampel telah mencoba untuk mengatakannya sesuai dengan tanggapannya" atas bangunan khusus di padukuhannya.” "Memang mungkin" sahut Ki A jar Pangukan "aku masih juga percaya bahwa orang penalarannya mulai terbuka sejak hutan Jatimalang itu ditembus. Beberapa orang mencoba membuka jalur perdagangan didaerah ini dapat membuka hati orangorang yang semula dibayangi oleh ilmu hitam. Bahkan ada diantara para pedagang justru dengan sengaja berusaha membuka nalar budi orang-orang itu agar mereka mengenali hubungan antara mereka dengan penciptanya." Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Lemah Teles berkata “Nampaknya para pemimpin di padepokan itu telah mempelajari dengan baik lingkungan ini, sehingga mereka telah memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan yang bukan sekedar sebuah perguruan tertutup. Tetapi para pemimpin padepokan itu berusaha menyebarkan pengaruhnya disatu lingkungan yang luas, menurut pendapat mereka, merupakan lahan yang subur bagi kepercayaan hitam, karena lingkungan ini memang pernah dibayangi oleh ilmu hitam ketika Panembahan Lebdagati ada disini." "Ya." Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya kemudian "Karena itulah, maka kita merasa mendapat beban tugas yang berat meskipun kita sendiri yang meletakkan beban itu dipundak kita. “Yang dapat kita lakuKan adalah mencegah menjalarnya pengaruh ilmu hitam itu. Tetapi kita tidak boleh melupakan, bahwa kita akan berhasil dengan baik, jika kita dapat mematikan sumbernya. Tetapi kita tahu, bahwa hal itu tidak akan mudah kita lakukan. Kita belum tahu kekuatan yang sebenarnya yang ada di padepokan itu.”  Sementara itu Ki Sambi Pitupun berkata "Agaknya para pemimpin di padepokan itu menyebarkan pengaruhnya dengan bertahap. Satu hal yang menarik perhatian. Nampaknya para pemimpin di padepokan itu benar-benar mematangkan rencananya sebelum mereka bertindak." "Maksud Ki Sambi Pitu ?" bertanya Ki Jagaprana. "Mula-mula korban yang diserahkan oleh orang-orang yang sudah mulai terpengaruh lagi oleh ilmu hitam itu adalah anakanak binatang jenis apapun dengan menusuk jantungnya sampat mati. Tetapi disatu padukuhan yang terhitung dekat dengan padepokan itu, upacara mulai berubah. Adalah kebetulan bahwa aku dapat berbicara dengan seorang anak muda yang tidak menyadari dengan siapa ia berbicara." "Perubahan apakah yang terjadi ?" bertanya Ki A jar. "Di padukuhan itu, korban tidak lagi ditusuk. Tetapi dibakar hidup-hidup. Anak binatang itu diletakkan diatas seonggok kayu kering. Kemudian kayu itu dinyalakan." Orang-orang yang mendengar penjelasan Ki Sambi Pitu itu menjadi berdebar-debar. Mereka merasa ngeri membayangkan peristiwa itu terjadi. Apalagi ketika angan-angan mereka berkembang lebih jauh. Dengan demikian, maka orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar itu sepakat untuk melihat keadaan lebih jauh lagi. Namun Ki Lemah Telespun berkata "Jika kita terlalu sering berkeliaran, maka kita tentu akan sangat menarik perhatian. Suatu ketika, maka kehadiran kita akan didengar oleh orangorang padukuhan itu." "Ya" Ki Ajar mengangguk-angguk "kita memang harus berhati-hati. Jika orang-orang padepokan itu mencium  kehadiran kita, maka kita akan langsung berhadapan dengan mereka." Dengan demikian, maka orang-orang dirumah kecil itu sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan mereka. Ki Pandi agaknya sangat tertarik dengan keterangan Ki Sambi Pitu tentang perubahan upacara yang mengerikan itu. Karena itu, maka tanpa Manggada dan Laksana orang bongkok itu telah menyusuri jalan ke padukuhan itu. Sebuah padukuhan yang letaknya agak tinggi di kaki Gunung Lawu itu bukan sebuah padukuhan yang besar. Para penghuninya juga bukan orang-orang yang termasuk orang-orang berada. Meskipun demikian, ternyata bahwa mereka telah berusaha dengan susah payah yang membuat satu bangunan khusus untuk menyelenggarakan upacara yang aneh itu. Ki Pandi telah memilih saat yang tepat. Ketika bulan purnama naik, maka dengan diam-diam ia telah berada di padukuhan itu. Apa yang disaksikan, benar-benar mengerikan. Meskipun yang dikorbankan sekedar seekor anak kambing. Ki Pandi melihat orang-orang padukuhan itu memasuki halaman bangunan khusus itu menjelang tengah malam. Mereka berjalan dengan kedua tangannya bersilang dimuka dada. Laki-laki dan perempuan. Kepala menunduk dan mereka tidak saling berbicara. Suasananya memang terasa mencekam. Yang dilihat oleh Ki Pandi seakan-akan bukan orang-orang yang berjalan. Tetapi seperti sebuah golek kayu besar, yang bergerak dengan sendirinya menuju ke tempat upacara.  Tetapi setelah upacara selesai dan orang-orang padukuhan itu sudah kembali kerumah masing-masing dengan cara yang sama sebagaimana mereka datang, Ki Pandi tidak segera meninggalkan tempat itu. Di pagi hari berikutnya, Ki Pandi masih berada disekitar padukuhan itu. Ketika Ki Pandi sedang mencuci kakinya di sebuah sungai kecil, maka dilihatnya seorang gadis yang sedang mencuci. Namun setiap kali gadis itu mengkerutkan lehernya sambil menggelengkan kepalanya. Menurut penglihatan Ki Pandi, gadis itu agaknya sedang dibayangi oleh perasaan takut dan ngeri. Ketika Ki Pandi mendekatinya, gadis itu menjadi cemas. Orang bongkok itu membuatnya gelisah. Apalagi ujud Ki Pandi yang lain dari kebanyakan orang.. Tetapi Ki Pandi yang menyadari perasaan gadis itupun segera berkata "Jangan takut ngger. Aku hanya ingin bertanya ?" Gadis itu tidak menjawab. Dipandanginya Ki Pandi dengan wajah gelisah. "Ngger" berkata Ki Pandi yang kemudian duduk diatas sebongkah batu tidak jauh dari gadis yang sedang mencuci itu "apakah angger tadi malam juga mengikuti upacara itu ?” "Ah" gadis itu tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Diluar sadarnya ia berdesis "Mengerikan sekali. Aku masih selalu dibayangi oleh peristiwa itu. Aku sedang berusaha mengusirnya dari bayangan angan-anganku. Tiba-tiba saja kakek justru bertanya tentang hal itu.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Maaf ngger. Bukan maksudku untuk mengelitik perasaanmu dengan  kengerian itu. Tetapi aku masih ingin bertanya serba sedikit tentang upacara yang aneh itu." "Jangan sebut-sebut lagi kek" minta gadis itu. "Tetapi bukankah sebelumnya daerah ini juga pernah dipengaruhi oleh upacara-upacara yang pernah dilakukan oleh orang yang bernama Panembahan Lebdagati. Jika korban kali ini yang diserahkan hanyalah seekor anak binatang, beberapa waktu lalu korbannya justru seorang gadis. Sehingga keresahan telah tersebar bukan saja dikaki Gunung Lawu ini, tetapi sampai keseberang hutan Jatimalang." “Tetapi aku belum pernah hadir pada upacara itu, kek. Sanggar pemujaannyapun terletak agak jauh dari padukuhan ini. Tetapi sekarang hampir disetiap padukuhan yang mempunyai banyak pendukung dari aliran yang mengerikan itu telah membangun sendiri sanggar seperti itu." Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu iapun bertanya "Apakah dipadukuhanmu banyak orang yang menjadi pengikut aliran itu ngger ?" Gadis itu nampak ragu-ragu sejenak. Sekilas Ki Pandi melihat sinar matanya yang berkilat. Gadis itu hanyalah seorang gadis desa yang sederhana. Tetapi nampaknya ia seorang gadis yang cerdas. Ia sadar, bahwa jawaban yang diberikan akan dapat menjeratnya dalam kesulitan jika ia salah ucap. Namun gadis itu kemudian berdesis "Semua orang dipadukuhanku menjadi pengikut aliran itu." Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Katanya "Baiklah ngger. Terima kasih atas keterangan angger. Mungkin pada kesempatan lain kita akan bertemu lagi.”  "Tetapi jangan bicarakan tentang upacara itu lagi, kek." Ki Pandi tersenyum. Dengan nada ringan ia menjawab “Tidak ngger. Aku tidak akan bertanya lagi." Namun tiba-tiba sekali gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Suaranya yang serak terdengar dari balik telapak tangannya "Tidak. Tidak akan lebih dari itu ?" "Kenapa ngger ?" bertanya Ki Pandi "bukankah aku tidak menyinggung lagi tentang upacara itu ?" "Bayangan itu selalu melintas di kepalaku kek. Semalam aku tidak dapat tidur setelah aku pulang dari upacara itu. Bayangan yang nampak dikepalaku, korban itu bukan sekedar seekor anak binatang." "Sudahlah ngger. Jika kau membayangkan yang, bukanbukan, kau akan menjadi semakin ngeri. Sebaiknya kau lupakan saja. Lihat pakaian yang kau cuci itu agar tidak hanyut. Kau perhatikan apakah cucianmu sudah bersih atau belum. Yang penting kau palingkah ingatanmu kepada apa saja yang baik kau kenang. Mungkin seorang jejaka yang tampan atau barangkali ayah dan ibumu pernah berbicara tentang jodoh bagimu atau bahkan kau sudah berkeluarga ?" "Aku memang belum berkeluarga kek. Ayah dan ibu juga belum pernah berbicara tentang jodohku. Ah, semuanya masih jauh bagiku.” jawab gadis itu sambil duduk. “Waktunya tentu akan datang" desis Ki Pandi. Namun kemudian katanya "Sudahlah ngger. Aku akan pulang.." "Dimana kakek tinggal ?" bertanya gadis itu. "Dekat hutan Jatimalang." jawab Ki Pandi. Gadis itu memandang Ki Pandi yang melangkah meninggalkan gadis yang sedang mencuci itu. Meskipun orang  tua itu bongkok dan buruk, tetapi gadis itu tidak lagi merasa takut. Suaranya terdengar lembut seperti wajahnya yang banyak tersenyum. Bayangan yang mengerikan sebagaimana dikatakan oleh gadis itu, justru telah semakin mencemaskan pula orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan. Mereka semakin sering melihat perkembangan aliran sesat itu dipadukuhanpadukuhan yang dekat dan yang lebih jauh lagi dari padepokan. Namun ternyata bahwa aliran itu tidak dapat berkembang meliputi daerah dibelakang hutan Jatimalang sebagaiman sebelumnya, justru karena pengaruh hubungan yang lebih luas dengan orang orang seberang hutan. Namun yang tidak diperhitungkan oleh orangorang dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah terjadi. Ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana sedang berada tidak terlalu jauh dari padepokan itu, mereka telah melihat dua ekor burung elang yang terbang berputar-putar diatas padepokan yang dilingkari dinding kayu yang kuat dan cukup dnggi. "Elang itu" desis Ki Pandi. "Apakah memang ada hubungan antara Panembahan Lebdagati dengan padepokan itu ?" bertanya Manggada. "Atau bahkan padepokan itu telah dibuat oleh para pengikut Panembahan Lebdagati dan memang dipersiapkan bagi  kembalinya Panembahan itu di lereng Gunung Lawu ini ?" desis Laksana. "Perkembangan yang menarik" berkata Ki Pandi "jika benar padepokan itu dipersiapkan bagi Panembahan Lebdagati yang ingin kembali menguasai daerah ini, maka persoalannya justru akan menjadi jelas." Namun Laksana itupun bertanya "Apakah tidak ada orang lain yang mampu mengendalikan elang seperti Panembahan Lebdagati?" "Ada. Tentu ada" jawab Ki Pandi "salah seorang pengikutnya atau bahkan orang lain yang mempunyai kegemaran yang sama. Tetapi menilik sikap dan ujud burung elang itu, nampaknya burung itu dikendalikan oleh para pengikut Panembahan Lebdagati yang tersisa." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian mereka telah diajak oleh Ki Pandi berlindung dibawah sebatang pohon yang rimbun. "Jika saja burung itu mengenali kita bertiga" desis Ki Pandi. Tetapi Laksanapun menyahut "Seandainya mereka mengenali kita, apakah burung-burung itu mempunyai cara untuk memberitahukan kepada Panembahan Lebdagati atau pengikutnya? Bagaimana burung elang itu dapaf menyebut; bahwa burung elang itu sudah melihat Ki Pandi, Manggada dan Laksana?" Ki Pandi tertawa. Katanya "Tentu burung elang itu tidak dapat menyebut namamu, Laksana. Tetapi burung itu tentu dapat memberi isyarat bahwa ia melihat orang-orang yang pernah dikenalnya sebelumnya."  Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Jadi pemilik burung itu akan dapat salah menangkap artinya. Mungkin pemilik burung itu mengira bahwa eläng-elangnya melihat Kiai Gumrah atau melihat Ki Prawara atau orang lain lagi." Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Mungkin saja. Tetapi dengan demikian, maka Panembahan Lebdagati atau pengikutnya akan mengirimkan orang itu untuk melihat langsung sesuai dengan isyarat burung-burung elang itu. Nah, orang-orang itu akan dapat berbicara tentang penglihatannya. Apalagi tentang orang-orang yang mempunyai ciri khusus seperti aku ini." Laksana mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Sementara kita tidak tahu, orang yang dikirim oleh Panembahan Lebdagati atau pengikutnya untuk mengamati kita." Dengan demikian, maka ketiga orang itupun kemudian telah duduk dibawah sebatang pohon yang rindang. Dari jarak yang agak jauh mereka melihat kedua burung elang itu masih saja berputar-putar. Namun kemudian menghilang kearah Utara. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Kita dapat memperkirakan bahwa sarang kedua ekor burung elang itu ada di-sisi Utara Gunung ini, meskipun mungkin dapat juga salah, karena kedua ekor burung itu dapat juga mengelabuhi orang. Meskipun mereka menghilang ke Utara, namun kemudian mereka akan terbang kearah yang lain." Manggada dan Laksana yang memandang kedua ekor burung itu sampai hilang dikejauhan, mengangguk-angguk. Burung-burung elang yang terlatih baik itu seakan-akan memang mampu memperhitungkan sikap yang diambilnya. Demikian kedua ekor burung elang itu hilang, maka Ki Pandi-pun telah mengajak Manggada dan Laksana melihat  sebuah padukuhan yaag pernah dikunjunginya, justru ketika sedang berlangsung upacara disaat bulan sedang purnama. "Tetapi tentu tidak ada upacara disiang hari, Ki Pandi" berkata Manggada. "Memang tidak” berkata Ki Pandi "di malam haripun tidak, karena upacara itu resminya hanya dilakukan setiap purnama. Beberapa hari yang lalu, di padukuhan itu baru saja dilakukan sebuah upacara sebagaimana di katakan Ki Sambi Pitu yang mendapat keterangan dari seorang anak muda." "Jadi, apa yang akan kita lakukan?" bertanya Ki Pandi. "Kita akan dapat berbincang dengan penghuni padukuhan itu. Mumpung masih agak pagi." jawab Ki Pandi. Bertiga mereka menuju ke sebuah padukuhan yang pernah dikunjungi oleh Ki Pandi. Mereka tidak langsung menuju ke padukuhan. Tetapi mereka pergi kesebuah sungai diluar padukuhan itu. Dari kejauhan Ki Pandi melihat beberapa orang perempuan sedang mencuci pakaian. Karena itu, maka katanya "Nanti saja. Jika yang lain telah pergi." "Maksud Ki Pandi?" bertanya Manggada "apakah kita harus mengintip orang mandi dan mencuci pakaian itu?" Laksana menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki  Pandi bertanya "Apakah upacara itu tidak akan pernah dilakukan di padukuhan ini selama masih ada yang menentangnya?" "Ah" Ki Pandi mengerutkan dahinya "tentu tidak. Tetapi duduk sajalah disitu. Aku akan memperlihatkan diri. Bukankah di-sebelah itu jalan penyeberangan yang banyak dilalui orang? Aku akan lewat jalan itu. Nanti, aku beri kalian isyarat." Manggada dan Laksana tidak tahu maksud orang tua bongkok itu. Tetapi mereka menurut saja. Keduanyapun kemudian duduk dibelakang gerumbul perdu yang tumbuh dibawah sebatang pohon nvamplung yang cukup besar. "Tentu banyak ular disini" jawab Laksana. Manggada tertawa. Katanya "Ki Pandilah yang bertanggung jawab jika kita dipatuk ular." Sementara itu, Ki Pandi telah turun ke jalan penyeberangan yang memang banyak dilalui orang yang lewat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Apalagi setelah hutan Jatimalang ditembus oleh jalan perdagangan yang sengaja dibuat oleh Pajang, agar lingkungan dibelakang hutan Jatimalang itu tidak menjadi terpisah dari lingkungan lainnya. Seperti yang diharapkan, seorang gadis yang sedang mencuci pakaian di antara beberapa perempuan yang lain telah melihatnya. Beberapa orang perempuan yang lain juga melihat orang bongkok yang lewat itu. Tetapi mereka tidak memperhatikannya. Orang bongkok itu hanyalah salah seorang saja diantara orang-orang lain yang lewat. Berbeda dengan perempuan-perempuan yang lain, gadis yang pernah ditemui Ki Pandi itu justru memperhatikannya. Orang bongkok itu tiba-tiba saja terasa sebagai seorang kawan yang akrab. Berbeda dengan orang-orang di  padukuhannya, orang bongkok itu rasa-rasanya dapat mengerti gejolak perasaannya menanggapi upacara-upacara yang diselenggarakan di padukuhannya. Orang-orang di padukuhannya, bahkan ayah ibunya, tidak lagi mau mengerti, betapa hatinya menjadi ngeri dan ketakutan melihat upacara yang dilakukan di bulan purnama itu. Ketika perempuan-perempuan dan gadis-gadis yang lain selesai mandi dan mencuci pakaian, maka merekapun segera bersiap untuk kembali ke padukuhan. Tetapi gadis itu ternyata masih belum selesai. Bahkan iapun berkata kepada perempuan-perempuan yang lain "Silahkan. Aku masih kurang sedikit. Nanti aku segera menyusul." Demikianlah, maka sejenak kemudian, sungai itu menjadi sepi. Hanya tinggal seorang gadis sajalah yang masih mencuci pakaiannya yang sebenarnya sudah bersih. Seperti yang diharapkan oleh gadis itu, maka orang bongkok itu telah datang mendekatinya. Wajahnya yang kusam itu nampak lunak karena senyumnya. "Kawan-kawanmu sudah selesai" berkata Ki Pandi. "Aku belum, kek. Cucianku banyak sekali," jawab gadis itu. Ki Pandi tertawa pendek. Katanya "Aku tahu, kau sudah selesai mencuci. Karena itu, berpakaianlah lebih rapi." "Kenapa?" wajah gadis itu tiba-tiba menjadi merah. "Aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama kedua orang, cucuku yang ingin melihat-lihat daerah ini." "O” gadis itu memang merapikan pakaiannya yang belum mapan. "Jangan takut. Kedua cucuku dan aku sendiri ingin berbicara tentang kepercayaan yang berkembang di  padukuhanmu. Tetapi jangan cemas. Kami tidak akan berbicara tentang korban-korban yang diserahkan." Gadis itu mengerutkan dahinya. Namun, laki-laki bongkok itu rasa-rasanya mengerti perasaannya yang sebenarnya ingin menolak upacara yang sering diselenggarakan di padukuhannya. Karena itu, maka gadis itu mengangguk. Tetapi iapun kemudian berkata "tetapi aku tidak dapat berlama-lama disini. Kawan-kawanku sudah pulang. Ibu akan bertanya kepada mereka, kenapa aku tinggal." "Baiklah. Aku akan memanggil kedua orang cucuku" Gadis itu menunduk dalam-dalam. Wajahnya terasa panas ketika Manggada dan Laksana berdiri beberapa langkah disebelahnya. Di padukuhannya juga ada beberapa orang anak muda. Ketika gadis itu masih remaja, maka iapun sering bermain-main dengan anak-anak laki-laki yang sebaya. Tetapi setelah ia menginjak dewasa, maka pergaulannya dengan anak-anak muda menjadi semakin terbatas. Ketika kepercayaan hitam yang terdahulu berkembang, ia masih dapat bermain bersama di halaman jika bulan terang. Hanya saat buian purnama penuh, beberapa orang tua pergi ke upacara. Sedangkan sehari-hari, masa remajanya tidak begitu terpengaruh oleh kepercayaan yang sedang berkembang itu. Namun ketika ia sudah mulai disebut seorang gadis, maka ia mulai mendapat batasan-batasan bergerak. Bukan saja karena ia dijauhkan dari anak-anak muda. Tetapi dalam keadaan yang memaksa, tiba-tiba saja seorang gadis dapat hilang dari lingkungannya.  Gadis itu tidak banyak mengetahui, apa yang telah terjadi. Namun baru kemudian ia menyadari, bahwa ilmu hitam dibawah pengaruh Panembahan Lebdagati, didalam upacaraupacara besarnya telah mengorbankan gadis-gadis. Gadisgadis yang diambil dan dibeli dari seberang hutan Jatimalang. Tetapi jika gadis itu tidak didapatkannya, maka gadis dari lereng Gunung Lawu dibelakang hutan Jatimalang itu dapat saja tiba-tiba hilang. Memang mengerikan, tetapi ia tidak pernah mengetahui apa yang terjadi. Sedang apa yang dialaminya sekarang, membuat jiwanya tersiksa. Bersama orang-orang sepadukuhan, gadis itu harus pergi ke upacara. Ia harus menyaksikan, bagaimana seekor anak binatang diletakkan diatas seonggok kayu kering dan kemudian dinyalakan. Anak binatang itu berteriak-teriak kesakitan. Tetapi api itu sama sekali tidak mengenal belas kasihan. Bahkan orang-orang yang melakukan upacara itu juga tidak mengenal belas kasihan. Semua orang yang ada di lingkungan upacara itu seakan-akan telah kehilangan perasaannya. Untuk beberapa saat lamanya Manggada, Laksana dan Ki Pandi bercakap-cakap dengan gadis itu. Tetapi sikap gadis itu menjadi jauh berbeda dengan sikapnya terhadap Ki Pandi. Wajahnya selalu menunduk dan kata-katanya hampir tidak dapat didengar. Tetapi gadis itu sempat berkata “Didalam lingkungan upacara, maka segala keterbatasan pergaulan itu dilupakan.” "Maksudmu?" bertanya Ki Pandi. Gadis itu bdak menjawab. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Gadis itu berpaling.  Dipandanginya air sungai yang mengalir gemericik dibawah kakinya yang berpijak pada bebatuan. Beberapa lembar daun kering hanyut mengikuti aliran sungai. "Sudahlah, kek" berkata gadis itu kemudian "aku sudah terlalu lama ditinggalkan kawan-kawanku." Ki Pandi tidak menahannya. Namun ketika gadis itu beranjak dari tempatnya, Ki Pandi bertanya "Siapa namamu, ngger?" Gadis itu berpaling. Tetapi ia ragu. Apalagi ketika tatapan mata Laksana yang tajam seakan-akan menusuk sampai ke jantung. Namun gadis itu kemudian berkata "Namaku Delima, kek." Ki Pandi tersenyum. Katanya "Nama yang bagus, ngger." "Ketika ibu mengandung aku, ibu memang mengidam buah delima. Kemudian selain membeli delima, ayah juga menanam pohon delima di halaman rumahku. Sekarang pohon itu sudah berbuah.” "Manis sekali" desis Laksana. Namun kemudian tergesagesa ia menyambung “Maksudku, buah delima yang benarbenar masak itu rasanya manis sekali." Wajah gadis itu terasa panas sesaat. Namun kemudian iapun meninggalkan tepian itu. Beberapa langkah kemudian Ki Pandi menyusul ketika Laksana berbisik "Dimana rumahnya, Ki Pandi." "Ngger, apakah angger tidak berkeberatan jika aku datang menemui orang tuamu untuk berbicara tentang upacaraupacara yang mengerikan itu?"  "Ayah merupakan salah seorang pendukung kuatnya, kek. Juga paman-pamanku. Bahkan seorang diantara kakak ayahku berada di padepokan itu." "Apakah ia sering pulang ke padukuhan?" bertanya Ki Pandi. "Sering, kek. Tetapi waktunya tidak tentu,"-jawab gadis itu. "Baiklah. Aku akan mengunjungi rumahmu. Tetapi dimana rumahmu itu?" "Rumahku berseberangan dengan banjar padukuhan, kek. Tetapi jika kakek pergi kesana. jangan katakan, bahwa kita pernah berbicara tentang kepercayaan itu." "Baiklah" Ki Pandi mengangguk-angguk "aku akan menjaga, agar kau tidak mengalami kesulitan karena pembicaraan ini. Delimapun segera melangkah pergi. Manggada sambil menggamit Laksana berkata "Nah, rumahnya didepan banjar. Kapan kau akan kesana?” "Ah, kau. Bukankah wajar bertanya rumah seseorang yang baru dikenalnya?" jawab Laksana. "Tentu. Apakah aku tadi mengatakan tidak wajar?" "Kau selalu begitu" desis Laksana. Manggada tertawa. Namun kemudian ia bertanya "Laksana, yang manakah yang lebih cantik. Winih atau Delima." Laksanapun tetawa. Tetapi ia tidak menjawab. Demikianlah, Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat bangunan khusus yang dipergunakan untuk upacara menyerahkan torban. Tetapi mereka tidak mendekat.  Malam itu, dirumah Ki Ajar Anggara, beberapa orang sedang berbincang. Pada umumnya, mereka ingin berhubungan dengan isi padepokan itu. "Jika kita berhasil berhubungan dengan mereka, maka kita akan mengetahui, siapakah mereka itu. Dengan demikian, maka kita akan dapat menentukan langkah lebih jauh." "Tetapi kita jangan bersikap bermusuhan" berkata Ki Ajar "jika kita bersikap bermusuhan, maka segala-galanya leniu sudah tetutup." "Ya" desis Ki Lemah Teles "kita harus bersikap bersahabat. "Kita tidak boleh dengan serta-merta menantang perang tanding dengan pemimpin padepokan itu." berkata Ki Sambi Pitu . Ki Jagaprana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun tertawa. Ki Ajar memang terlambat pula tertawa. Namun Ki Lemah Teles berkata "Apa pedulimu? Semua orang akan aku tantang sampai pada satu saat ada orang yang mampu membunuhku." "Ada banyak orang yang dapat membunuhmu. Tetapi orang-orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, justru karena kau kehilangan akal seperti itu." "He?" wajah KiLemah Teles berkerut. Dengan nada dalam ia justru bertanya "Apakah aku memang pantas dikasihani?" "Tidak. Memang tidak" sahut Ki Ajar Pangukan. Ki Lemah Teles bersungut-sungut. Tetapi kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Dalam pada itu, orang-orang tua itupun kemudian telah memutuskan untuk mulai berhubungan dengan orang-orang padepokan itu dengan cara apapun. Dengan demikian, maka  mereka akan dapat mengetahui, apakah isi dari padepokan itu. Yang paling baik dipergunakan sebagai alasan adalah, bahwa mereka ingin mendapatkan hasil bumi atau hasil kerajinan tangan di daerah ini untuk dibawa ke Pajang. Mereka harus menganggap bahwa di daerah yang semula tertutup ini tentu terdapat banyak sekali jenis pekerjaan tangan. Sebenarnyalah, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles kemudian mempersiapkan kuda-kuda mereka. Meskipun letak padepokan itu tidak jauh sekali dari tempat tinggal Ki Ajar yang tersembunyi, tetapi berkuda mereka akan nampak lebih mapan. Dikeesokan harinya dua orang berkuda telah meninggalkan halaman rumah Ki Ajar Pangukan. Mereka harus menyusup melalui jalan yang khusus. Sedikit melingkar-lingkar untuk dapat keluar dari tempat yang tersembunyi itu. Baru kemudian mereka turun ke jalan dan melarikan kuda mereka memanjat kaki Gunung Lawu. Keduanya telah sepakat untuk mengaku sebagai pedagang yang mencari barang dagangan di daerah yang semula dipisahkan oleh hutan Jatimalang itu. Keduanya dengan tekad bulat menuju ke sebuah padepokan yang tidak mereka kenal sebelumnya, padepokan yang seakan-akan berdin dibelakang kabut sehingga yang nampak hanyalah bayangannya saja. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles memang sudah bertekad untuk melihat apa yang ada didalam padepokan itu. Mereka dengan tabah akan menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.  “Mungkin kita akan ditangkap dan dibantai didalam padepokan yang berisi orang-orang dari aliran hitam itu." berkata Ki Lemah Teles. “Atau kita akan diserahkan sebagai korban kepada iblis sebagaimana anak binatang yang diletakkan dialas seonggok kayu kering dan kemudian mereka nyalakan, sehingga kita akan terbakar hidup-hidup." sahut Ki Sambi Pitu. Ki Lemah Teles tertawa. Katanya "Tetapi sebelumnya kita tentu akan dipelihara sebaik-baiknya sampai saatnya purnama naik. Bukankah korban itu hanya diberikan setiap bulan purnama penuh." Ki Sambi Pitupun tertawa. Katanya "Bukankah itu lebih baik daripada kita saling membunuh diantara kita sendiri? Jika kita mati dipadepokan orang berilmu hitam itu, rasa-rasanya kematian kita ada juga gunanya, meskipun hanya sedikit"" Ki Lemah Teles segera memotongnya "Cukup. Cukup. Kau hanya akan mengatakan bahwa aku telah melakukan kesalahan dan bahkan pantas dikasihani. Tetapi jangan mengira bahwa kelak aku mengurungkan tantanganku untuk berperang tanding. Bukan hanya kau, tetapi orang-orang yang telah membuat hidupku kesepian.” Tetapi Ki Sambi Pitu tertawa pula. Katanya "Apakah kita masih akan dapat keluar dari padepokan itu?" Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian "Aku akan menantang pemimpin padepokan itu untuk berperang tanding. Orang itu harus tahu, siapakah Ki Lemah Teles.” "Bukankah kita tidak akan menunjukkan sikap permusuhan?”  "Kita memang tidak. Tetapi jika mereka memaksakan permusuhan itu, apa boleh buat." Ki Sambi Pitu tidak menjawab. Sementara itu, keduanya menjadi semakin dekat dengan padepokan yang belum mereka kenal itu. Sejak hutan Jatimalang dibuka, maka orang-orang yang belum dikenal, memang sering melintasi jalan-jalan di kaki Gunung Lawu itu. Hubungan antara dua lingkungan sebelah menyebelah hutan Jatimalang itu berjalan semakin lama semakin ramai. Namun perkembangan ilmu hitam itu membuat beberapa daerah yang terpengaruh, menjadi agak tertutup kembali. Tetapi ketika dua orang berkuda lewat di jalan-jalan pedukuhan, orang-orang yang melihat mereka tidak terlalu banyak memperhatikan. Mereka memang sudah mengira bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang ingin melihat-lihat lingkungan dibelakang hutan Jatimalang sebagaimana sering terjadi sebelumnya. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Telespun memanjat terus menuju ke padepokan dari sebuah perguruan yang melandasi ajarannya dengan ilmu hitam. Beberapa saat kemudian, maka Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun menjadi semakin dekat dengan padepokan yarig mereka tuju. Mereka telah berada di jalan yang langsung menuju ke pintu gerbang padepokan yang berdinding kayukayu utuh bulat yang dirangkai berjajar rapat. "Sebuah padepokan yang terhitung besar" desis Ki Sambi Pitu.  "Bukan besar. Yang jelas kita lihat, padepokan ini cukup luas. Agaknya didalamnya terdapat bangunan-bangunan besar dan kecil bagi para.penghuninya" sahut Ki Lemah Teles. Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian "Marilah. Kita sudah bertekad untuk masuk kedalamnya." Demikianlah, kedua orang irupun langsung melarikan kudanya ke pintu regol padepokan yang tertutup. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menghentikan kuda mereka didepan regol. Mereka melihat pada pintu regol, sebuah lubang yang kemudian telah dibuka dari dalam. Dari lubang itu, Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles melihat wajah seseorang yang nampaknya memang garang sekali. Seorang yang bermata tajam dan berkumis tebal. Ki Sambi Pitu yang tepat berada di muka lubang itupun mengangguk sambil tersenyum. Katanya "Selamat pagi Ki Sanak." Orang yang berada dibelakang pintu itu bertanya dengan nada berat “Siapakah kalian dan untuk apa kalian kemari?" "Kami datang dari seberang hutan Jatimalang, Ki Sanak. Kami ingin berkenalan dengan penghuni padepokan ini." jawab Ki Sambi Pitu. Wajah orang itu nampak berkerut. Dipandanginya Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles berganti-ganti. Namun kemudian katanya "Pergilah. Kami tidak memerlukan kalian." "Mungkin kalian memang tidak memerlukan kami, Ki sanak. Mungkin kamilah yang memerlukan kalian." jawab Ki Sambi Pitu. "Itu urusan kalian." sahut orang itu "tetapi pergilah."  "Maaf Ki Sanak. Kami ingin berbicara serba sedikit. Mungkin kita dapat membuat hubungan yang saling menguntungkan" berkata Ki Sambi Pitu. "Tidak" jawab orang itu. "Kami tidak membuat hubungan dengan siapapun yang belum kami kenal." "Kita dapat memperkenalkan diri" jawab Ki Sambi Pitu. Tetapi orang itu justru membentak "Cukup. Pergilah, atau kami akan mengusir kalian." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun Ki Lemah Teleslah yang kemudian berkata "Bagaimana kalau kita mencoba untuk berbicara dan menjajagi segala kemungkinan?" "Sudahlah. Pergilah. Aku menjadi muak melihat wajah kalian berdua." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menjadi kehilangan harapan. Meskipun demikian, keduanya tidak segera pergi sehingga orang dibelakang pintu gerbang itu memoantak "Cepat, pergi, apalagi yang kalian tunggu?" Ketika keduanya benar-benar akan meninggalkan tempat itu, maka tiba-tiba saja terdengar suara didalam "Ada apa?" "Dua orang yang ingin masuk ke padepokan ini, Kiai." "Untuk apa?" bertanaya suara itu. “Tidak jelas. Mereka hanya menyebutkan, ingin membuat hubungan dengan kita disini." "Hubungan apa?" bertanya suara itu. "Juga tidak jelas" jawab orang yang berkumis tebal itu.  Namun Ki Sambi Pitu mempergunakan kesempatan itu. Katanya hampir berteriak "Kami ingin membuat hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak." Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba terdengar suara "Buka pintu gerbangnya. Biarlah dua orang itu masuk." Orang yang wajahnya nampak dari lubang pintu gerbang yang masih terbuka itu nampak ragu-ragu. Tetapi suara didalam itu berkata sekali lagi "Buka pintu gerbang. Aku ingin bertemu dengan mereka." Tidak terdengar jawaban. Namun sejenak kemudian, terdengar selarak pintu yang berat itu terangkat. Kemudian, perlahan-lahan pintu itupun terbuka. Ki Sambi Pilu daii Ki Lemah Teles terkejut. Ternyata dibelakang pintu itu berdiri beberapa orang yang bersenjata telanjang. Kemudian seorang lagi yang berdiri terpisah. Pakaiannya nampaknya agak berbeda dengan yang iain. Warna pakaiannya lebih cerah dan penampilannyapun nampak lebih rapi dan bersih. Meskipun demikian laki-laki itu nampak tidak muda lagi meskipun belum setua Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. "Marilah Ki Sanak" berkata orang itu sambil tersenyum "aku merasa mendapat kehormatan, karena Ki Sanak bersedia singgah di padepokan yang tidak berarti ini." "Terima kasih atas perkenan Ki Sanak, menerima kami berdua" jawab Ki Sambi Pitu. Orang yang berpakaian rapi itupun kemudian telah mempersilahkan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles untuk naik ke-pendapa.  Dengan ramah orang berpakaian rapi itupun kemudian telah mengucapkan selamat datang kepada kedua orang tamunya. "Kami jarang sekali mendapat kunjungan orang lain" berkata orang berpakaian rapi itu "sehingga karena itu, maka orang-orangku menjadi sulit untuk bergaul. Tetapi kunjungan kalian berdua akan membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi padepokan kami.” "Kami mengucapkan terima kasih atas penerimaan yang sangat baik ini" berkata Ki Lemah teles kemudian. "Tetapi, jika aku boleh mengetahui, apakah keperluan Ki Sanak berdua ini sebenarnya?" bertanya orang itu. "Sudah aku katakan, kami sebenarnya sedang mencari hubungan dagang dengan penghuni dibelakang hutan Jatimalang ini.” "Di belakang? Kemana sebenarnya hutan itu menghadap?" bertanya orang berpakaian rapi itu. "Maksudku, mereka yang tinggal di kaki Gunung Lawu yang dibatasi oleh hutan Jatimalang. Maaf, orang-orang diseberang hutan itu menyebut daerah ini, dibelakang hutan Jatimalang." Orang itu tertawa. Katanya "Sebenarnya bagi kami memang tidak ada bedanya. Sebutan apapun dapat kami terima asal sebutan itu menunjuk dengan jelas." orang itu berhenti  sejenak, lalu "dagang apakah yang Ki Sanak jalankan sekarang?" "Apa saja" jawab Ki Sambi Pitu "tetapi yang terutama adalah hasil bumi dan kerajinan tangan. Aku dengar didaerah ini terdapat kelebihan bahar, pangan padi, jagung dan ketan. Tetapi kami juga ingin membeli gerabah dalam jumlah yang besar." Orang itu tertawa pendek. Katanya "Jika demikian, kenapa kalian pergi ke sebuah padepokan?" "Biasanya padepokan mempunyai tanah yang luas digarap oleh para cantrik, sehingga kadang-kadang hasilnya cukup melimpah dan berlebihan. Demikian pula para cantrik sering membuat benda-benda lain yang menjadi kebutuhan seharihari apapun ujudnya Mungkin oarang-barang kerajinan dari bambu atau aari kayu atau gerabah atau apapun." Orang yang berpakaian rapi itu ternyata seorang yang berhati terbuka. Ia banyak tertawa dan mengatakan apa yang dipikirkan. "Ki Sanak berdua" berkata orang itu kemudian "aku tidak yakin kalian benar-benar seorang pedagang. Mungkin kalian berdua sedang bertualang, tetapi mungkin pula kalian memang ingin melihat apakah yang ada dibelakang dinding padepokan ini. Tetapi itu bukan soal bagi kami, selama kalian tidak mengganggu semua kegiatan yang kami lakukan." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Ki Lemah Teles itupun berkata "Ki Sanak. Kami benar-benar pedagang yang sedang mencari lubang-lubang kemungkinan untuk membuka jalur perdagangan. Kami sedang menjajagi, apa yang dapat kami bawa dari daerah ini ke seberang hutan Jatimalang dan  sebaliknya apa yang dapat kami bawa dari seberang hutan itu kedaerah ini." Orang itu masih saja tertawa. Namun tiba-tiba ia bertanya "Siapakah nama kalian berdua?." "Namaku Sambi Pitu dan saudaraku ini dipanggil Ki Lemah Teles." "Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles "orang itu mengulang "nama yang baik." "Tetapi kami juga belum mengetahui nama Ki Sanak" desis Ki Sambi Pitu. "Namaku Gandawira. Tetapi orang lebih senang memanggilku Kiai Banyu Bening" Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Ki Lemah Teles bertanya "Jadi, menurut Kiai, bagaimana sebaiknya kami memanggil? Kiai Gandawira atau Kiai Banyu Bening?" Orang itu tertawa pula. Katanya "Terserah Ki Sanak. Tetapi murid-muirdku di padepokan ini memanggilku Kiai Banyu Bening. Bahkan orang-orang disekitar padepokan ini juga memanggilku Kiai Banyu Bening." “Maksud Kiai, orang-orang disekitar padepokan ini juga berguru kepada Kiai?" "Ya. Tetapi itu terjadi begitu saja. Maksudku, bukan akulah yang memaksa mereka untuk mengikut aku, tetapi mereka sendiri berniat demikian." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun menganggukangguk pula. Sementara Kiai Banyu Bening itupun berkata "Nah Ki Sanak. Kalian telah melihat isi padepokan kami. Tetapi  jika kalian benar-benar berdagang, tidak ada yang dapat kami perdagangan disini.” "Maksudku, jika kami tidak dapat membeli hasil bumi atau hasil kerajinan, kami dapat menawarkan barang-barang yang dibutuhkan oleh padepokan ini? Mislanya alat-alat pertanian atau barang-barang yang terbuat dari besi dan baja lainnya. Senjata misalnya." Kiai Banyu Bening mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya "Sampai sekarang, kami dapat mencukupi kebutuhan kami sendiri. Tetapi aku tidak tahu kelak, jika padepokan kami ini berkembang. Mungkin kami memerlukan beberapa jenis senjata. Meskipun demikian, kami tidak akan membeli dari kalian. Kami dapat mengirim orang langsung ke seberang hutan Jatimalang untuk menghubungi beberapa orang pande besi yang cakap. Dengan demikian, kami akan dapat membeli senjata dengan harga yang lebih murah. Jika kalian benar-benar pedagang, kalian tentu akan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya." "Tetapi Kiai Banyu Bening, sebaiknya kalian tidak membeli senjata kepada pande besi. Kiai Banyu Bening harus berhubungan dengan seorang Empu yang mampu membuat pusaka yang pantas bagi Kiai Banyu Bening dan murid-murid Kiai." Kiai Banyu Bening tertawa berkepanjangan. Katanya "Jangan ajari aku Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Aku memimpin padepokan bukannya baru sejak kemarin pagi. Tetapi sudah berpuluh tahun. Karena itu, aku tahu apa yang sebaiknya aku lakukan." Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Sementara Ki Lemah Teles berkala "Maafkan Kiai. Kami hanya bermaksud agar dagangan kami dapat laku."  "Nah, aku sudah memberi kesempatan kepada Ki Sanak berdua untuk memasuki padepokan kami. Nampaknya tidak ada lagi yang akan kita bicarakan kemudian. Kami akan mempersiiahkan Ki Sanak untuk meninggalkan padepokan ini." "Baiklah Kiai" jawab Ki Sambi Pitu "kami mohon diri." "Kesempatan seperti ini jarang sekali kami berikan kepada orang lain. Karena itu, kalian berdua tentu merasa beruntung dapat memasuki padepokan kami." "Ya, ya" jawab Ki Lemah Teles "Kami memang merasa sangat beruntung" "Nah, sekarang kami persilahkan kalian meninggalkan padepokan kami." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian telah turun dari pendapa. Namun ketika mereka berada di halaman, mereka terhenti sejenak. Mereka tertarik pada sebuah bangunan yang menarik. Seperti yang pernah mereka lihat di padukuhan, sebuah bangunan batu yang ditata dengan baik. Lebih baik dan lebih besar dari bangunan serupa yang terdapat di padukuhan-padukuhan itu. Dibagian atasnya datar, sedangkan di ampat sisinya terdapat tangga untuk naik. Disebelah bangunan itu terdapat bangunan lain yang lebih tinggi. Namun yang menarik, diatas bangunan batu yang lebih tinggi itu terdapat batu nisan kecil. Kiai Banyu Bening yang mengetahui bahwa kedua tamunya tertarik kepada kedua bangunan yang terbuat dari batu itu bertanya "Apakah kalian belum pernah melihat bangunan kecil seperti itu? "Belum Kiai" jawab Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles hampir berbareng.  Tetapi Kiai Banyu Bening itu menyahut "Kalian tentu sudah pernah melihat di sebuah padukuhan. Bangunan seperti itu, tetapi lebih kecil, terdapat di beberapa padukuhan. Biasanya ditempatkan diluar dinding padukuhan, dipagari cukup rapat, sehingga jika diselenggarakan upacara didalamnya, tidak akan terganggu oleh lingkungan diluarnya." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki Lemah Teles bertanya "Lalu apa yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu dalam upacara tertutup itu?" Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian sebagaimana sejak semula, orang itu tertawa lagi. Katanya "Kau tidak akan mengetahui makna dari upacara yang kami lakukan karena kau tidak berpegang pada ilmu yang kami yakini." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles masih menganggukangguk. Tetapi Ki Lemah Teles itu bertanya lagi "Lalu, apa artinya batu nisan kecil diatas bangunan yang agak tinggi itu?" Wajah orang itu tiba-tiba menjadi suram. Katanya dengan nada rendah "Itu adalah bangunan khusus yang sangat berarti bagiku pribadi. Yang dikuburkan dibawah bangunan itu adalah anakku. Anakku mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pada umur satu tahun, anakku mati terbakar." "O" Ki Sambi Pitu berdesis "Aku ikut berduka cita atas peristiwa itu. Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi?" "Serangan itu datang demikian tiba-tiba. Ketika aku sedang bertempur, musuh-musuhku yang licik itu telah membakar rumahku Rumahku terbakar seisinya termasuk anakku," "Bagaimana dengan ibunya?" bertanya Ki Lemah Tcles.  Kesuraman diwajah Kiai Banyu Bening itu tiba-tiba larut. Yang kemudian nampak diwajahnya adalah senyumnya. Katanya "Isteriku adalah perempuan gila. Yang datang membakar rumahku itu adaiah laki-laki yang membuatnya gila. Ia lari dengan laki-laki itu dengan meninggalkan bayinya yang belum genap setahun. Bahkan kemudian dengan tidak langsung, ia telah membunuh bayi itu dengan tangan laki-laki yang buas itu. Bayiku mati dalam nyala api. Aku masih sempat mendengar bayi itu menangis meraung-raung. Namun kemudian aku sendiri menjadi pingsan. Lukaku arang kranjang. Bahkan laki-laki itu dan kawan-kawannya menyangka bahwa aku telah mati." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles mengangguk-angguk kecil. Sementara Kiai Banyu Bening itu berkata selanjutnya "Waktu itu suara tangis bayiku itu bagaikan menarik nyawaku iewat ubun-ubunnya. Mengerikan sekali.” orang itu berhenti sejenak, namun kemudian katanya sambil tertawa berkepanjangan, semakin lama semakin keras "tetapi sekarang suara tangis bayi yang terbakar itu bagiku bagaikan lagu yang sangat merdu yang terdengar bergema dilangit yang didendangkan oleh peri-peri yang sangat cantik sambil melambai-lambaikan tangannya turun kebumi untuk mengusap seluruh tubuhku yang dihangatkan oleh api yang berbau mayat itu.” Wajah Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles menjadi tegang. Kengerian yang pernah dibayangkan sebelumnya itu rasarasanya semakin nampak menerawang di kepala mereka. Namun Kiai Banyu Bening itu masih saja tertawa berkepanjangan. Bahkan kemudian katanya "Laki-laki yang telah membawa isteriku itu dan bahkan isteriku itu sendiri harus mati didalam nyala api. Mereka telah membunuh anakku. Anakku bagiku adalah segala-galanya."  Suara tertawa laki-laki itu terdiam. Ketika Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles memandang wajahnya, mereka terkejut. Di wajah itu tidak lagi membayang tawa dan senyum. Tetapi yang nampak adalah nyala api neraka disorot matanya. Tiba-tiba saja orang itu menggeram "pergilah. Kau sudah terlalu banyak mengetahui tentang isi padepokan ini, yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Jangan kembali lagi. Kau telah melanggar paugeran padepokan kami." Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tidak menjawab. Keduanya telah melangkah ke kuda mereka. Kemudian keduanya telah menuntun kuda mereka ke pintu gerbang Pintu gerbang itupun terbuka. Orang yang berwajah garang, bermata tajam dan berkumis tebal itu berdiri dengan tegang di sebelah pintu. Beberapa orang dengan senjata telanjang tegak mematung memandangi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang lewat sambi! menuntun kudanya. Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah berpacu meninggalkan padepokan yang menyimpan seribu macam pertanyaan itu. Sambil melarikan kuda mereka, untuk keduanya menjauhi padepokan itu, Ki Sambi Pitu itupun berkata "Ternyata kita masih beruntung dapat keluar dari padepokan itu." "Yang kita cemaskan itu ternyata tinggal menunggu waktu saja." berkata Ki Lemah Teles. “Mengerikan sekali" sahut Ki Sambi Pitu. "Kita memang harus menghentikannya" desis Ki Sambi Pitu kemudian. "Nampaknya Kiai Banyu Bening itu menderita semacam penyakit yang sangat berbahaya" berkata Ki Lemah Teles kemudian.  "Penyakit apa?""bertanya Ki Sambi Pitu. "Hatinya telah dicengkam oleh dendam yang membara. Kematian anaknya tidak pernah diikhlaskannya, sehingga hidupnya menjadi sangat gersang. Ia ingin menuntut kematian anaknya dengan kematian dan kematian." "Itulah yang membayangi upacara hitam yang dilakukan oleh para pengikutnya" berkata Ki Sambi Pitu "apa yang terjadi sekarang, adalah semacam pemanasan. Pada saatnya, maka bayi-bayilah yang akan menjadi korban. Orang gila itu akan merasa sangat berbahagia mendengar jerit tangis bayi yang dikorbankannya, sebagaimana dikatakannya, seperti kidung yang didendangkan oleh peri-peri yang cantik, tetapi tidak dilangit. Peri-peri itu bangkit dari pusat bumi yang kelam yang membawakan lagu-lagu kematian." Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Namun kemudian ia berkata “Tetapi sayang, bahwa Kiai Banyu Bening tidak menantang orang-orang yang terlibat kematian bayinya dengan perang tanding." "Aku bungkam mulutmu jika kau masih saja mengigau tentang perang tanding." geram Ki Lemah Teles. Ki Sambi Pitu tertawa. Namun ia menjauhkan kudanya dari kuda Ki Lemah Teles yang menggeram. Namun kedua orang itu terkejut ketika mendengar derap kaki kuda. Ketika mereka berpaling, mereka melihat ampat ekor kuda yang berpacu seperti di kejar hantu. "Siapa mereka?" bertanya Ki Lemah Teles. "Berhati-hatilah. Kiai Banyu Bening menganggap kita terlalu banyak tahu." "Setan itu melepaskan kita dari padepokan, tetapi kemudian memerintahkan orang-orangnya memburu kita."  Keduanya justru memperlambat derap kaki kuda mereka, seakan-akan mereka justru sengaja menunggu keempat orang berkuda itu. "Kita belum tahu siapa mereka dan untuk apa mereka memburu kita. Tetapi sebaiknya kita tidak berprasangka buruk lebih da-: hulu. Mungkin mereka bukan dari padepokan Kiai Banyu Bening." berkata Ki Sambi Pitu kemudian. Dalam pada itu, keempat orang berkuda itu memacu kudanya . semakin cepat. Ketika mereka berhasil menyusul Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang memang memperlambat derap lari kudanya, maka dua orang diantara mereka justru mendahului. Kemudian setelah keduanya berada di depan, maka mereka memberi isyarat, agar Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itu berhenti. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles yang sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan itupun menarik kendali kuda mereka sehingga sejenak kemudian, merekapun telah berhenti. "Turunlah" perintah salah seorang diantara kedua orang yang mendahului Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Ternyata orang itu adalah orang yang berwajah garang, bermata tajam dan berkumis tebal, yang berada dipintu gerbang padepokan Kiai Banyu Bening itu. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian meloncat turun dari kuda mereka. Dengan tenang keduanya telah mengikat kuda mereka pada sebatang pohon perdu. Demikian pula keempat orang yang memburu mereka. Keempat-empatnyapun telah meloncat turun serta mengikat kuda-kuda mereka pula.  "Ki Sanak" berkata orang berkumis tebal itu. Suaranya mengguntur menggetarkan selaput telinga "ternyata kalian terlalu banyak bertanya, sehingga kalianpun mengetahui banyak tentang padepokan kami." '"Tetapi bukankah Kiai Banyu Bening menjawab pertanyaan-pertanyaanku” sahut Ki Sambi JPitu. "Kiai Banjar Bening kadangkadang memang kehilangan kendali. Jika seseorang memancing dengan pertanyaan-pertanyaan, maka diluar sadarnya, iapun selalu menjawabnya." "Jadi?" bertanya Ki Lemah Teles. "Pengertianmu yang banyak tentang padepokan kami akan sangat membahayakan kami. Karena itu, maka kalian tidak boleh menyebarkan apa yang telah kalian ketahui itu kepada orang lain." berkata orang berkumis tebal itu. Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Katanya "Baiklah. Kami berjanji untuk tidak menyebar-luaskan pengertian kami tentang padepokan Kiai Banyu Bening." "Sekedar janji sebagaimana kau katakan itu, tidak cukup Ki Sanak." berkata orang berkumis tebal itu pula. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" "Kau harus diam untuk selama-lamanya" jawab orang itu.  "Maksudmu?" desak Ki Lemah Teles. "Kalian harus dibunuh." Kedua orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian Ki Lemah Telespun berkata "Jika kau akan membunuhku, maka kau akan aku bunuh lebih dahulu." Wajah orang itu menjadi tegang. Tetapi kemudian iapun tertawa. Suaranya meledak-ledak seperti petir yang menyambar-nyambar dilangit. "He" bentak Ki Lemah Teles "kenapa kau tiba-tiba menjadi gila?" Orang itu tiba-tiba saja terdiam. Matanya menyala seakanakan memancarkan api. "Kaulah yang benar-benar gila. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan" "Tentu saja aku tahu. Kau adalah budak-budak kecil di padepokan orang yang berbangga dengan sebutan Kiai Banyu Bening. He, apakah kau tahu artinya Banyu Bening?" "Cukup" orang itu berteriak "sebaiknya kau sebut nama ayah dan ibumu. Sebentar lagi kau akan mati." "Sudah aku katakan, kau yang akan mati. Apakah kau tuli" Ki Lemah Telespun berteriak pula. Namun Ki Sambi Pitu berkata dengan nada yang lebih rendah "Apa sebenarnya yang terjadi dengan Kiai Banyu Bening? Apakah yang aku ketahui tentang padepokan itu cukup menjadi alasan baginya untuk membunuh?" "Setiap orang yang tidak dikehendki oleh Kiai Banyu Bening akan mati." jawab orang itu.  "Ki Sanak" berkata Ki Sambi Pitu "agaknya peristiwa yang terjadi atas bayi Kiai Banyu Bening itu telah menghantuinya sepanjang hidupnya, sehingga nalar budinya tidak lagi dapat menilai baik dan buruk. Jangankan kehilangan bayinya dengan cara yang sangat mengerikan, sedangkan orang yang merasa kesepian dihari-hari tuanya dapat kehilangan akal pula." "Gila kau Sambi Pitu" geram Ki Lemah Telcs. Namun Ki Sambi Pitu itu tidak menghiraukannya.Dengan nada rendah ia berkata selanjutnya "Apakah Kiai Banyu Bening tidak dapat menemukan isteri serta laki-laki yang mengajaknya pergi itu?" "Kiai Banyu Bening tidak membutuhkannya lagi." "Mereka yang harus bertanggung jawab atas kematian bayi itu. Kiai Banyu Bening tidak seharusnya mencari korban untuk melepaskan kemarahan dan kekecewaannya." "Kau tidak usah mengguruinya. Jika keduanya dapat diketemukan, maka ia tentu sudah menuntut tanggung jawab itu. Tetapi keduanya telah menghilang setelah mereka mengetahui bahwa Kiai Banyu Bening masih tetap hidup. Apalagi peristiwa itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu sebelum perguruan Kiai Banyu Bening berdiri." "Kau tahu, siapakah nama laki-laki itu?" bertanya Ki Sambi Pitu. Orang itu menggeleng. Katanya "Tidak. Seandainya aku tahu, tidak ada perlunya aku menyebut dihadapanmu." "Baiklah, Ki Sanak. Kau telah melengkapi pengenalanku atas Kiai Banyu Bening. Sekarang perkenankan aku melanjutkan perjalanan" berkata Ki Sambi Bitu.  "Tidak” tiba-tiba orang itu membentak "kalian berdua tidak akan pernah keluar dari lingkungan dan kuasa kami. Kalian berdua akan mati.” "Aku bunuh kau" geram Ki Lemah Teles "kemudian aku tantang Kiai Banyu Bening untuk berperang tanding." "Agaknya kau benar-benar gila. Kau kira siapa Kiai Banyu Bening itu, he. Sehingga kau berani menantangnya untuk berperang tanding?" geram orang berkumis tebal itu "menyebut namanya saja kau harus mendapat ijin dan palilahnya." Ki Lemah Teles tertawa. Suaranya meledak-ledak tidak kalah dari suara tertawa orang berkumis tebal itu. Katanya "Apakah kau kira Kiai Banyu Bening itu memiliki kelebihan? Jika ia benar-benar memerintahkan membunuhku, aku benarbenar akan datang kepadanya dan menantangnya berperang tanding seperti yang aku katakan itu." "Kau tidak akan sempat melakukannya. Kau akan mati sekarang juga." "Jangan membantah. Kau yang akan mati sekarang. Sayang, kau tidak sempat melihat aku membantai Kiai Banyu Keruh itu besok atau lusa karena kau akan mati. Karena itu, pergilah. Kembalilah kepada Kiaimu itu. Katakan bahwa kau masih ingin hidup untuk melihat bagaimana aku membunuh Banyu Bening yang gila itu." Ki Lemah Teles berteriak semakin keras. Wajah orang berkumis tebal itu bagaikan tersentuh api. Karena itu tanpa menjawb lagi, iapun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Ketika keempat orang itu bergerak mengepung Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, maka Ki Lemah Teles itu masih  berteriak"kalian benar-benar gila. Jika kalian mati, jangan salahkan aku." Orang berkumis tebal dan berwajah garang itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta, maka ia mulai menyerang Ki Lemah Teles. Sedangkan kawan-kawannyapun mulai bergerak pula mendekati salah seorang dari kedua orang yang telah datang ke padepokan mereka itu. Sejenak kemudian, pertempuranpun telah berlangsung dengan sengitnya. Orang berkumis tebal yang marah itu segera mengerahkan kemampuannya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Ki Lemah Teles yang telah berani menghina pemimpin padepokannya yang sangat dihormatinya. Agaknya orang berwajah garang dan berkumis tebal itu termasuk salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka dengan hentakan-hentakan ilmunya ia mampu mengejutkan Ki Lemah Teles. Apalagi seorang kawannya telah membantunya. Seorang yang juga bukan orang kebanyakan. Sementara itu, dua orang yang lain telah bertempur melawan Ki Sambi Pitu. Keduanya berusaha nrmecah perhatian Ki Sambi Pitu dengan menyerang dari arah yang berlawanan. Tetapi Ki Sambi Pitu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia tidak menjadi bingung meskipun dua orang lawannya itu justru berdiri diarah yang bertentangan. Orang berkumis tebal itu tidak menduga bahwa orang yang mengaku pedagang yang mencari barang-barang dagangan itu un tuk beberapa lama mampu mengimbangi ilmunya. Bahkan Ki Lemah Teies itu sekali-sekali justru telah mendesak lawannya meskipun mereka berdua.  Bahkan dengan lantang Ki Lemah Teles itupun berkata "Nah, sekarang kita akan bertaruh, siapa yang akan terbunuh di pertempuran ini.” Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Namun Ki Lemah Teles itupun berkata "Marilah kita letakkan taruhan kita lebih dahulu. Uang, pendok keris atau timang, tetapi harus dari emas seperti timang yang aku pakai ini. Siapa yang tetap hidup boleh memiliki taruhan itu." "Setan kau" geram yang berwajah garang dan berkumis tebal itu. Matanya yang tajam bagaikan menyala memandang Ki Lemah Teles yang menantangnya bertaruh itu. "Baiklah jika kau menolak” berkata Ki Lemah Teles. “nampaknya kau menyadari bahwa kau tidak akan dapat menang meskipun kau dibantu oleh seorang kawanmu." Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi seranganserangannya datang semakin cepat. Seorang kawannyapun berusaha untuk mengimbangi kecepatan gerak orang berkumis tebal itu. Namun pertahanan Ki Lemah Teles sama sekali tidak terguncang karenanya. Bahkan Ki Lemah Teles yang berilmu tinggi itu semakin lama justru semakin mendesak lawan-lawannya. Dengan tangkasnya Ki Lemah Teles telah meloncat menghindar ketika orang berkumis tebal itu melenting dengan cepat sambil menjulurkan kakinya menyamping. Namun dalam pada itu, lawannya yang lain telah memutar tubuhnya sambil mengayunkan kakinya mengarah kening. Ki Lemah Teles dengan cepat bergeser kesamping. Tetapi demikian kaki lawannya yang berputar itu hampir menyambar keningnya, maka iapun segera menjatuhkan diri. Tetapi justru kakinya dengan cepat serta dilambari dengan tenaganya yang  besar, menyapu menebas kaki lawannya yang dipergunakannya sebagai tempat bertumpu. Dengan derasnya, kaki itu bergeser. Justru karena itu, maka orang itu benar benar lelah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka dengan keras ia telah terbanting jatuh ditanah. Namun dengan cepat pula orang itu melenting berdiri. Tetapi Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Ki Lemah Teles justru telah bersiap sepenuhnya. Demikian orang itu bangkit, maka kakinya telah menyambar dada. Orang itu terdorong beberapa langkah surut. Namun ketika Ki Lemah Teles siap memburunya, maka lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya. Sambil meloncat maju, maka tangannya yang kuat telah terayun kearah pelipisnya. Namun Ki Lemah Teles bergerak lebih cepat. Dengan loncatan kesamping, maka pukulan tangan itu tidak menyinggung tubuhnya sama sekali. Dengan demikian, maka kedua orang lawan Ki Lemah Teles itu telah semakin meningkatkan ilmu mereka sampai ke puncak. Tetapi memang tidak mudah bagi mereka untuk mengalahkan dan kemudian membunuh orang itu. Dalam pada itu, Ki Sambi Pitupun telah bertempur melawan dua orang lawannya pula. Dua orang yang memiliki kemampuan untuk bertempur cukup tinggi. Namun keduanya telah benar-benar berada didalam genggaman tangan Ki Banyu Bening. Jadi apa yang dikatakan oleh Ki Banyu Bening bagi mereka adalah paugeran.  Karena itu, mereka sama sekali tidak sempat mempergunakan akal mereka. Ketika Kiai Banyu Bening memerintahkan mereka untuk membunuh, maka merekapun telah menjalankan perintah itu dengan sebaik-baiknya. Tetapi lawan yang mereka hadapi adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang benar-benar berilmu tinggi. Karena itu, maka kedua orang itupun segera mengalami kesulitan. Betapapun mereka berusaha, tetapi seranganserangan mereka tidak pernah menyentuh sasaran. Bahkan kemudian ternyata bahwa serangan Ki Sambi Pitupun yang justru lebih dahulu mengenai tubuh lawannya. Seorang dari kedua lawannya itu telah terpelanting ketika tangan Ki Sambi Pitu terayun tepat mengenai tengkuknya. Orang itu jatuh tersungkur dengan kerasnya. Wajahnya yang terjerembab telah terluka oleh goresan-goresan kerikil yang terserak di jalan. Debu.dan tanah yang melekat membuat wajahnya menjadi kotor dan berdarah. . Tetapi orang itu masih bangkit sambil menggeram. Diusapnya wajahnya dengan tangannya. Sementara mulutnya yang juga berdarah itu mengumpat-umpat. Ki Sambi Pitu sempat tertawa melihat wajah orang itu. Bahkan sambil bergeser menghindari serangan lawannya yang seorang lagi, ia berkata “He, darimana kau mendapatkan topeng yang menarik itu?" "Aku koyak mulutmu" geram orang itu. Ki Sambi Pitu tertawa semakin keras. Katanya "Jangan terlalu garang. Jagalah agar luka-lukamu tidak terlalu mengeluarkan darah."  Kemarahan orang itu serasa membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka iapun telah meloncat menyerang dengan garangnya. Sementara kawannya yang seorang lagi telah meloncat menyerang pula. Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tetapi kedua lawan Ki Sambi Pitu semakin lama menjadi semakin tidak berdaya. Tetapi keduanya tidak segera menyerah. Hampir berbareng keduanya telah menarik keris mereka dari wrangkanya yang terselip dipunggung. Ki Sambi Pitu melihat kedua ujung keris itu dengan dada yang berdebar-debar. Setapak ia melangkah surut, sementara lawannya yang wajah tersuruk kedalam tanah itu menggeram "Kau harus menebus kesombonganmu dengan nyawamu." "Kalian telah mendahului mempergunakan senjata" berkata Ki Sambi Pitu. "Kau mulai menyesali tingkah lakumu." geram lawannya yang lain. Ki Sambi Pitu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya "Jika kalian tergores ujung kerisku, itu bukan salahku." Kedua orang itu justru tertegun melihat Ki Sambi Pitu juga menarik kerisnya. Sebuah keris luk sebelas yang manis buatannya. Pamornya nampak berkeredipan seakan-akan menyalakan cahaya yang kehijau-hijauan. Tetapi kedua orang itu tidak sempat merenungi senjata lawannya. Ketika keris itu mulai berputar, maka merekapun  segera menyadari, bahwa mereka benar-benar akan bertempur habis-habisan. Dalam pada itu, Ki Lemah Telespun telah bertempur dengan garangnya. Kedua lawannya memang tidak banyak mempunyai kesempatan. Beberapa kali serangannya telah mengenai tubuh lawan-lawannya. Meskipun sekali-sekali tubuhnya juga tersentuh serangan lawannya, tetapi serangan itu tidak menggoyahkan pertahanannya. Orang yang berkumis tebal itu setiap kali harus berdesis menahan sakit. Wajahnya seakan-akan telah menjadi lembab. Beberapa kali tangan Ki Lemah Teles telah mengenai wajahnya, seakan-akan Ki Lemah Teles sengaja menampar mulutnya sehingga berdarah. Ketika orang berkumis lebat itu melihat kawan-kawannya yang bertempur melawan Ki Sambi Pitu telah menggenggam kerisnya, maka iapun telah menarik senjatanya pula. Bukan sebilah keris seperti yang lain, tetapi sebilah parang yang besar, sedangkan kawannya memang bersenjata keris sebagaimana yang lain. Ki Lemah Teles yang melihat lawan-lawannya bersenjata, maka iapun telah menggenggam senjatanya pula. Seperti senjata Ki Sambi Pitu, maka Ki Lemah Teles telah menggenggam sebilah keris, tetapi lurus dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari kebanyakan keris. Dengan demikian, maka pertempuran itupun telah benarbenar sampai kepuncaknya. Serangan-serangan yang akan berhasil menyentuh lawan tidak lagi sekedar membuat tubuh menjadi biru lembab. Tetapi goresan-goresan luka itu akan dapat menitikkan darah. Bahkan jika senjata itu menukik di dada dan menyentuh jantung, maka senjata-senjata itu akan dapat membunuh.  Namun mereka yang bertempur tidak menghiraukannya. Mereka telah mengayun-ayunkan senjata mereka. Orang berkumis tebal itupun telah mengayun-ayunkan parangnya pula. Tetapi Ki Lemah Teles adalah seorang yang tangkas. Ia mampu dengari cepat menghindari serangan-serangan lawannya. Namun tiba-tiba saja ia meloncat menyerang dengan ujung kerisnya. Serangan yang datang beruntun dari kedua lawannya membuat Ki Lemah Teles berkeringat. Namun sejalan dengan itu, kemarahannyapun semakin menggigit jantung. Karena itu, maka kcrisnyapun menjadi semakin cepat menyambarnyambar. Ternyata orang yang berkumis lebat itu, mengalami banyak kesulitan menghadapi Ki Lemah Teles yang mampu bergerak dengan cepatnya. Sementara kerisnya bergerak melampaui kecepatan geraknya. Karena itu, maka sambil berteriak marah sekali, orang itu meloncat mundur mengambil jarak. Namun ujung keris lawannya telah tergores dilambungnya. Goresan itu memang tidak begitu dalam. Sementara itu ikat pinggang orang berkumis lebat yang terbuat dari kulit yang tebal dan lebar itupun sempat ikut menahan ujung keris Ki Lemah Teles, sehingga goresan itu tidak terlalu panjang dan dalam. Meskipun demikian, darah sudah mulai tertumpah. Titik-titik darah itu sudah membasahi lereng Gunung Lawu. Namun pertempuran masih berlangsung terus. Orang berkumis tebal itu tidak berniat menghentikan pertempuran apapun yang terjadi. Sebagai murid kepercayaan Kiai Banyu Bening, maka orang itu tidak akan mundur setapakpun juga.  Ki Lemah Teles menyadari sepenuhnya akan hal itu. Karena itu ia tidak berniat untuk menawarkan kesempatan agar lawannya menyerahkan diri. Karena itu, maka pertempuranpun segera mencapai puncaknya. Orang berkumis tebal itu telah mengayun-ayunkan parangnya. Seorang kawannya yang bertempur bersamanya juga telah berusaha untuk menggapai tubuh Ki Lemah Teles dengan ujung kerisnya. Tetapi bukan tubuh Ki Lemah Teles yang kemudian tergores senjata. Justru tubuh orang berkumis lebat dan kawannya itulah yang menjadi basah oleh darah. Ki Lemah Teles telah menyelesaikan pertempurannya lebih dahulu. Orang berkumis tebal itu kehilangan kesempatan untuk melawannya ketika keris Ki Lemah Teles mengoyak pangkal paha kanannya. Orang itu seakan-akan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk berdiri dan apalagi bertempur. Jika Ki Lemah Teles bergeser, maka orang berkumis tebal itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Bahkan jika ia berusaha menapak dengan kaki kanannya, maka orang itu justru tidak dapat mempertahankan keseimbangannya. Sedangkan yang seorang lagi telah terbaring sambil mengerang kesakitan. Keris Ki Lemah Teles telah menggores dadanya menyilang. Tetapi luka itu tidak menghunjam sampai ke jantung. Ki Sambi Pitu masih bertempur untuk beberapa saat. Tetapi bahwa orang berkumis tebal itu sudah tidak mampu bertempur lagi, maka kedua orang lawan Ki Sambi Pitupun kehilangan ketegarannya. Merekapun kemudian telah terluka sebagaimana kedua kawannya yang lain, sehingga keduanya  tidak lagi mampu untuk bertempur. Seorang tubuhnya terbaring diatas tanggul parit, sedang seorang lagi terkapar dipinggir jalan. "Kenapa tidak kau bunuh aku?" teriak orang berwajah garang bermata tajam dan berkumis tebal itu. "Apakah kematianmu ada artinya bagiku?" bertanya Ki Lemah Teles. "Kau akan menyesal, karena pada kesempatan lain, akulah yang akan membunuhmu" geram orang itu. "Kalau kau mampu membunuhku, tentu sudah kau lakukan sekarang ini, justru kau bertempur bersama dengan seorang kawanmu." "Lain kali aku akan membawa sepuluh orang kawan jika kau tidak membunuh aku sekarang?" Ki Lemah Teles tertawa. Katanya "Kau kira aku tidak mempunyai kawan? Diseberang hutan Jatimalang kawanku ada sepa-dang rumput yang luas menunggu aku. Jika pada kesempatan lain kau akan membawa sepuluh orang kawanmu, maka aku akan membawa pasukan segelar-sepapan.” Orang berkumis tebal itu menggeram. Tetapi ia memang sudah tidak berdaya. Bahkan untuk berdiripun rasa-rasanya tidak lagi dapat tegak. Namun Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu ternyata benarbenar tidak ingin membunuh lawannya. Bahkan Ki Sambi Pitu itu-pun kemudian berkata “Aku akan memberi isyarat kepada kawan-kawanmu agar datang menjemputmu." "Setan kau. Kau sudah menghina aku dan padepokanku" geram orang berkumis lebat itu. Tetapi ia memang menjadi semakin lemah, sehingga ia tidak lagi bergerak terlalu banyak.  Apalagi setiap gerakan seakan-akan telah menekan darahnya sehingga mengalir semakin banyak dari lukanya. Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles itupun kemudian telah melepaskan keempat ekor kuda yang semula dipergunakan oleh orang berkumis itu bersama kawan-kawannya. Kuda itupun kemudian dihadapkan kearah padepokan Kiai Banyu Bening. Seekor demi seekor kuda itu dilecut sehingga berlari kencang menuju ke padepokan. "Nah" berkata Ki Lemah Teles "kawan-kawanmu, dan barangkali juga Kiai Banyu Bening akan melihat kedatangan keempat" ekor kuda tanpa penunggang itu, sehingga mereka akan segera mencarimu. Aku berharap bahwa mereka tidak datang terlambat, sehingga jiwa kalian dapat tertolong. Bukankah jarak ini masih belum terlalu jauh dari padepokanmu?" Orang berkumis tebal itu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya memancarkan dendam yang tidak ada taranya. Demikianlah, sejenak kemudian Ki Sambi Pitu danKi Lemah Teles itu sudah meloncat ke punggung kuda mereka. Sejenak kemudian keduanya telah melarikan kuda mereka meninggalkan ampat orang yang terluka itu. Jalan menuju ke padepokan itu memang jalan yang jarang dilewati orang. Sawah yang terbentang disebelah-menyebelah jalan itupun sebagian telah dikuasai oleh Kiai Banyu Bening pula. Sementara beberapa bagian yang lain masih terbentang padang ilalang dan padang perdu yang luas sampai kebatas hutan lereng gunung yang lebat. Kedatangan Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di rumah Ki Ajar Pangukan telah disambut dengan berbagai macam pertanyaan. Pakaian mereka yang terpercik darah telah  menunjukkan, bahwa keduanya telah bertempur dan bahkan melukai lawan-lawan mereka. "Aku tidak bermaksud menantang untuk berperang tanding" berkata Ki Lemah Teles mendahului Ki Sambi Pitu, sehingga Ki Sambi Pitu itupun tertawa. Sementara Ki Lemah Telespun kemudian berceritera tentang apa yang telah dialaminya. Ki Ajar Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Dengan demikian, maka kita sudah membuka permusuhan dengan padepokan itu.” "Tetapi bukan maksud kami" berkata Ki Lemah Teles "kami dihadapkan pada satu keadaan tanpa pilihan. Orang berkumis lebat itu benar-benar akan membunuh kami atas perintah Kiai Ganda wira yang ternyata lebih senang disebut Kiai Banyu Bening meskipun kesannya seperti air yang sangat keruh." Ki Ajar Pangukan, Ki Jagaprana dan Ki Pandi menganggukangguk mendengar ceritera itu. Bahkan dengan nada berat Ki Ajar Pangukan itu berkata "Orang-orang yang perlu dikasihani." "Siapa yang perlu dikasihani?" bertanya Ki Lemah Teles. "Orang yang lebih senang disebut Kiai Banyu Bening itu." "Yang lain?" desak Ki Lemah Teles. Ki Ajar Pangukan mengerutkan dahinya. Tetapi iapun menjawab "Maksudku, Kiai Banyu Bening itu saja." "Tetapi Ki Ajar menyebutnya seakan-akan lebih dari satu. Ki Ajar menyebutnya orang-orang. Bukankah itu lebih dari seorang." berkata Ki Lemah Teles kemudian. "Tidak. Ternyata aku salah ucap. Maksudku, Kiai Banyu Bening itu adalah orang yang pantas dikasihani. Bukankah ia telah kehilangan isterinya yang ternyata telah pergi bersama  seorang laki-laki. Kemudian justru laki-laki yang membawa isterinya itu bersama kawari-kawannya telah menyerang dan berusaha membunuh Kiai Banyu Bening. Dan yang terjadi kemudian adalah, bahwa rumahnya telah terbakar dan yang paling parah adalah bayinya, satu-satunya miliknya yang tinggal, ikut terbakar pula.". "Ya" Ki Sambi Pitu menyambung "kesan yang terburuk yang terpahat di dinding hatinya adalah suara tangis bayi itu. Bayi itu menangis melengking-lengking disaat rumahnya terbakar. Namun Kiai Banyu Bening itupun segera pingsan." Manggada dan Laksana juga mendengar keterangan itu. Rasa-rasanya mereka ingin menutup telinga mereka. Namun merekapun ingin mendengar kelanjutan dari ceritera itu. Tetapi Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles ternyata tidak jelas sejak kapan Kiai Banyu Bening itu mendirikan sebuah perguruan. Kapan pula ia membuat semacam tetenger bagi bayinya dihadapan sebuah tempat pemujaan untuk menyerahkan korban-korbannya. Namun Ki Ajar Pangukanpun kemudian berkata "Jadi yang kita hadapi sekarang berbeda dengan Panembahan Lebdagati. Panembahan Lebdagati adalah seorang yang benar-benar mengabdikan dirinya menurut satu keyakinan hitam. Panembahan Lebdagati ingin mempunyai sipat kandel yang paling baik di muka bumi, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjadi orang yang tidak terkalahkan. Tetapi yang dilakukan oleh Kiai Banyu Bening adalah semata-mata pancaran dendam, kebencian dan kekecewaan yang membakar jantungnya." "Tetapi akibatnya juga sangat mengerikan. Ungkapan dari dendam, kebencian dan kekecewaan itu tidak kalah kejinya  dengan upacara-upacara yang dilandasi dengan kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati." berkata Ki Pandi. Yang lain mengangguk-angguk. Sementara itu hampir diluar sadarnya Manggada yang juga mendengarkan pembicaraan itu berkata "Bahwa Kiai Banyu Bening memilih tempat di kaki Gunung Lawu inipun nampaknya tidak sekedar kebetulan bahwa disini Panembahan Lebdagati pernah mendirikan sebuah padepokan pula." Orang-orang tua yang mendengar kata-kata Manggada yang seakan-akan meluncur begitu saja itupun menganggukangguk pula. Ki Jagapranapun segera menyahut "Ya. Agaknya ada hubungannya, kenapa Kiai Banyu Bening memilih tempat ini untuk mendirikan padepokan dan perguruan di tempat ini." "Kita akan mencarinya” desis Ki Ajar Pangukan "tetapi yang penting, kita harus menjadi lebih berhati-hati setelah Kiai Banyu Bening mengambil sikap yang kasar itu." "Tetapi, apakah di padepokan itu nampak banyak orang? Maksudku, apakah padepokan dan perguruan Kiai Banyu Bening itu termasuk perguruan yang mempunyai banyak murid dan pengikut?” bertanya Ki Pandi kemudian. "Agaknya cukup banyak. Tetapi selain didalam padepokan itu, Kiai Banyu Bening telah menyebarkan pengaruhnya diluar dinding padepokannya. Perguruan Kiai Banyu Bening tentu menjanjikan sesuatu kepada para pengikut diluar padukuhan. Dengan menyerahkan korban-korban yang mengerikan itu, maka orang-orang yang berada dibawah pengaruh Kiai Banyu Bening itu tentu mengharapkan sesuatu. Tentu bukan sekedar kewadagan." jawab Ki Sambi Pitu. "Kita memang harus melengkapi bahan-bahan pengenalan kita atas padepokan itu." desis Ki Pandi.  "Tetapi kita harus menjadi lebih berhati-hati" Ki Ajar Pangukan mengulangi. Orang-orang yang sedang berkumpul itu menganggukangguk. Sementara Ki Pandipun berkata “Aku akan mulai dari sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu." Dengan demikian, maka sekelompok orang yang tinggal untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu menjadi semakin tertarik untuk mengetahui, apa yang akan terjadi kemudian. Upacara-uoacara yang dilakukan dibeberapa padukuhan sudah berkembang. Anak-anak binatang yang dikorbankan itu tidak lagi ditusuk sampai mati. tetapi anakanak binatang itu harus dibakar hidup-hidup. Namun yang tidak kalah menariknya adalah burung-burung elang yang kadang-kadang nampak berterbangan diatas padepokan itu. Bahkan sekali-sekali burung-burung itu menyambar-nyambar seakan-akan ingin melihat dan meyakini apa yang ada didalam padepokan itu. Sebuah padepokan yang belum banyak diketahui bentuk dan isinya, yang berusaha menyebarkan pengaruhnya di bekas lingkungan pengaruh Panembahan Lebdagati. Sementara menurut penglihatan yang masih harus dikaji kebenarannya, padepokan itu isinya berbeda dan sama sekali bukan kelanjutan dari padepokan Panembahan Lebdagati. Tetapi untuk mengetahui hubungan antara padepokan dan burung elang itu, masih diperlukan waktu dan pengamatan yang cermat dan berhati-hati. Namun dalam pada itu. Ki Pandi masih saja sering bertemu dengan Delima. Untuk mencegah kemungkinan buruk serta prasangka yang tidak baik atas gadis itu jika kebetulan ada orang yang melihat, maka Ki Pandi tidak selalu datang bersama Manggada dan Laksana. Kadang-kadang Ki Pandi  memang datang bersama kedua anak muda itu. Tetapi kadang-kadang anak-anak muda itu ditinggalkannya diseberang sungai. Tetapi Ki Pandi sendiri kemudian menjadi semakin akrab dengan Delima. Delima tidak saja menunggu Ki Pandi di pinggir sungai, tetapi kadang-kadang juga di sawah atau pategalan. Gadis itu senang mendengar ceritera Ki Pandi tentang daerah diseberang hutan Jatimalang. Tentang padukuhanpadukuhan yang ramai dan tidak dicengkam oleh kengerian. Ki Pandi juga bercerita tentang kota-kota yang pernah dikunjungi. Namun sebenamyalah bahwa Delima menjadi gembira jika Manggada dan Laksana juga datang bersama Ki Pandi. Namun pertemuan-pertemuannya dengan Ki Pandi serta Manggada dan Laksana, membuat gadis itu semakin jauh dari kepercayaan yang mulai mencengkam padukuhannya. Jika malam-malam yang ditentukan tiba, dua kali dalam sepekan, gadis itu harus ikut bersama kedua orang tuanya mendengarkan pamannya yang tinggal di padepokan itu menguraikan tentang jalan kehidupan sebagaimana dianutnya, maka hatinya menjadi terguncang-guncang. Tetapi gadis itu tidak berani berterus-terang menolak keyakinan pamannya itu. Setiap kali terbayang korban yang diserahkan hidup-hidup dengan perantaraan api itu. Apalagi jika bayangannya mengembara ke masa-masa mendatang serta kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan apa yang pernah didengar oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles tentang Kiai Gandawira yang lebih senang disebut Kiai Banyu  Bening, sehingga bayangan-bayangan yang mengerikan itu memang akan dapat terjadi. Ketika Ki Pandi sempat berbicara dengan Delima di pategalannya yang di tanami jagung diantara beberapa batang pohon buah-buahan dan batang pohon kelapa, maka Ki Pandipun bertanya "Bagaimana tanggapan kawan-kawanmu, Delima. Maksudku, gadis-gadis di padukuhanmu?" "Entahlah, kek" jawab Delima "kami tidak pernah memperbincangkan tentang upacara-upacara yang pernah diselenggarakan di padukuhan kami. Sejak korban yang diserahkan itu belum dibakar, tidak seorangpun yang berani menyebutnya. Apalagi mengatakan bahwa mereka menjadi ngeri melihatnya. Aku sendiri, yang menjadi sangat ngeri dan ketakutan tidak berani mengatakan kepada ayah dan ibu. Aku hanya dapat mengatakannya kepada kakek. Namun justru karena itu aku merasa beban perasaanku menjadi berkurang." Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata "Delima. Cobalah kau bertanya kepada kawankawanmu jika kau mendapat, kesempatan. Tentu saja dengan sangat berhati-hati. Sementara itu seperti yang aku katakan, aku ingin berbicara dengan ayah dan ibumu." "Tetapi jika kakek ingin berbicara tentang keyakinan yang mengerikan itu, maka kakek akan dapat menyinggung perasaan ayah dan ibuku." "Akupun akan berhati-hati ngger. Tetapi aku tentu harus mempunyai alasan untuk datang kepada ayah dan ibumu" berkata Ki Pandi kemudian. Gadis itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata "Ayah dan ibu memang jarang sekali atau bahkan  tidak pernah berhubungan dengan orang asing seperti kakek ini." "Tetapi aku akan mencoba, ngger. Justru karena cacadku ini." berkata Ki Pandi Kemudian. "Apa yang akan kakek lakukan?" "Aku akan menjual belas kasihan. He, aku akan menjadi orang yang kelaparan di depan rumahmu. Kau tahu maksudku?" Delima mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum. Sehari kemudian, Ki Pandi seorang diri pula datang ke padukuhan tempat Delima tinggal. Ia tahu dimana letak rumah Delima. Karena itu, maka ia tahu, dimana ia harus terduduk kelelahan dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Nafas tersengal-sengal dan mata yang hampir terpejam. Delima yang melihat orang bongkok itu dalam keadaan yang sulit, segera memanggil ayah dan ibunya. "Ayah, bawa orang itu masuk ia memerlukan pertolongan" minta Delima. "Tetapi orang ini orang asing" berkata ayahnya. "Siapapun juga orang itu, tetapi bukankah kita wajib menolongnya?" berkata Delima kemudian. Ternyata ibunya Juga tidak berkeberatan, sehingga mereka telah menuntun Ki Pandi.yang bongkok itu ke serambi depan rumahnya. Rumah keluarga Delima memang bukan rumah yang baik dan tidak besar pula. Rumah berdinding bambu itu berdiri di  tengah-tengah sebidang tanah yang memang agak luas. Dibagian depan hampir tidak terdapat tanaman apapun. Halaman itu nampak bersih. Sementara itu dihalaman samping nampak beberapa batang pohon buah-buahan. Di kebun belakang nampak beberapa batang pohon pula dan rumpun bambu yang subur. Ki Pandi duduk disebuah amben bambu. Delima memberinya semangkuk minuman hangat. Ibunya telah memberikan beberapa potong ketela rebus. Ketika keadaan Ki Pandi sudah menjadi semakin baik, maka ayah Delima yang kemudian duduk disebelahnya, mulai bertanya "Kau siapa, Ki Sanak. Dari mana dan akan pergi ke mana?" Ki Pandi yang letih itu menjawab "Aku seorang pengembara Ki Sanak Aku tidak datang dari mana-mana dan aku tidak menuju kemana-mana. Aku berjalan saja mengikuti langkah kakiku." "Apakah kau tidak tahu, kau berada dimana sekarang?" "Ya, Ki Sanak. Aku tahu. Aku berada di kaki Gunung Lawu.” Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya "Aku semula tidak sengaja pergi ke tempat ini. Tetapi ketika aku melihat jalan menembus hutan Jatimalang yang nampaknya belum terlalu lama dibuat, maka akupun telah menyuruh masuk sehingga aku sampai ditempat ini." Ayah Delima itu mengangguk-angguk. Sementara keadaan Ki Pandi sudah nampak menjadi lebih baik. "Makanlah." ayah Delima itu mempersilahkannya.  “Sudah cukup Ki Sanak. Terima kasih. Aku sudah makan cukup banyak" jawab Ki Pandi yang kemudian berkata "sebaiknya aku akan meneruskan perjalanan." "Kenapa tergesa-gesa. Beristirahatlah disini sampai keadaanmu benar-benar menjadi baik, Ki Sanak He, siapa namamu?" "Namaku Ki Pandi, Ki Sanak. Tetapi orang-orang yang mengenal aku memanggilku Bongkok Buruk. Tetapi itu tidak apa-apa. Aku memang bongkok dan buruk" Ki Pandi berhenti sejenak Namun iapun kemudian bertanya "Bagaimana aku memanggil Ki Sanak?" "Namaku Krawangan" jawab ayah Delima itu. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga ini Ki Krawangan. Aku sekarang minta diri untuk melanjutkan perjalanan yang tidak menentu ini. Aku akan melihat-lihat lingkungan df kaki Gunung Lawu itu.” "Kau perlu beristirahat Ki Pandi." "Terima kasih, Ki Krawangan. Aku sudah rukup beristirahat, Tetapi pada kesempatan lain, aku akan singgah dirumah Ki Krawangan ini." berkata Ki Pandi kemudian. Tetapi tiba-tiba saja Ki Pandi itu bertanya "tetapi bukankah aku dapat mohon untuk bermalam di banjar padukuhan ini?" "Tentu" jawab Ki Krawangan "siapapun boleh bermalam di banjar. Tentu saja mereka yang kemalaman dalam perjalanan." “Tetapi apakah padukuhan ini baru akan membuat banjar atau justru, membuat yang, baru?" bertanya Ki Pandi. “Maksud Ki Sanak?” bertanya Ki Krawangan.  “Aku melihat bangaunan diluar dinding padukuhan” jawab Ki Pandi "jika padukuhan ini sudah mempunyai banjar, apakah banjar itu sudah tidak memenuhi kebutuhan sehingga harus dibuat banjar yang baru lagi?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng "Tidak Ki Pandi. Kami tidak membuat banjar yang baru. Bangunan diluar dinding padukuhan itu gunanya lain sama sekali. Bukan untuk kegiatan sehari-hari padukuhan ini. Tetapi bangunan itu adalah bangunan untuk pemujaan." "Pemujaan?" "Kau tidak mengetahui apa-apa tentang pemujaan yang kami lakukan dengan menyerahkan korban kepada penguasa api." jawab Ki Krawangan. "Penguasa api?" bertanya Ki Pandi. "Ya. Apakah kau tertarik? Api adalah segala-galanya. Panasnya api juga karena menyalanya maha api di langit. Hidup kita memang tergantung kepada api. Tetapi jika api itu murka, maka segala-galanya akan dimusnahkan." Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara orang itu berkata "Jika kau tertarik, kau dapat datang esok lusa. Dua hari lagi kakakku akan datang ke padukuhan ini untuk memberikan petunjuk-petunjuk, bagaimana kita mengabdikan diri kepada api. Api yang perkasa yang memancar disiang hari serta api yang lembut penuh kedamaian yang memancar dimalam hari." "Maksud Ki Krawangan,. matahari dan bulan?" "Ya" jawab Ki Krawangan. "Di bulan purnama kami menyerahkan korban itu"  Ki Pandi mengangguk. Katanya "Apakah aku boleh datang dua hari lagi?" "Boleh Ki Pandi. Kau dapat ikut mendengarkan sesorah itu.” "Dimana sesorah itu diselenggarakan?" bertanya Ki Pandi. "Di sanggar pamujan itu, Ki Pandi. Di bangunan yang kau sangka untuk memperbaharui banjar itu." KiPandi mengangguk “Ki Krawangan. Aku tentu merasa takut untuk memasuki banjar itu sendiri. Karena itu aku mohon, apakah aku diperkenankan datang kemari dan kemudian mengikuti Ki Krawangan masuk kedalam sanggar pamujan itu?" "Baik Ki Pandi. Aku tentu tidak merasa berkeberatan. Datanglah kemari setelah senja turun. Kita akan pergi bersama-sama ke sanggar. Penguasa api itu tidak menolak siapapun yang datang untuk memohon perlindungan bagi kesejahteraan hidupnya." "Terima kasih, Ki Krawangan. Besok lusa aku akan datang" berkata Ki Pandi kemudian. Demikianlah, maka Ki Pandi meninggalkan rumah Krawangan. Ketika ia sampai dipintu regol dan berpaling, dilihatnya Delima dengan seorang gadis yang iebih kecil daripadanya. Agaknya gadis kecil itu adalah adiknya. Dihari berikutnya, Ki Pandi sempat bertemu lagi dengan Delima di pategalan. Dari Delima Ki Pandi mengetahui, bahwa gadis kecil itu memang adiknya. Kenanga. "Pamanlah yang memberikan sesorah di sanggar" berkata Delima. "Aku ingin mendengar isi sesorah itu" berkata Ki Pandi.  "Hati-hatilah kek" pesan Delima "paman adalah seorang yang keras hati. Bahkan tidak segan-segan menghukum orang yang dianggapnya bersalah." "Aku akan berhati-hati Delima." Ketika rencana itu disampaikan kepada Manggada dan Laksana, maka keduanya menyatakan ingin ikut serta. Tetapi Ki Pandi berkata "Ingat. Aku hanya seorang pengembara yang sendiri. Aku tidak datang dari mana-mana dan tidak pergi ke mana-mana. Karena itu, maka aku tidak akan datang bersama siapa-siapa." Manggada dan Laksana dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu, Karena itu, maka mereka tidak memaksanya untuk ikut bersamanya. Hari melompat ke hari. Waktu yang ditentukan itupun mendekat. Ki Pandi segera bersiap-siap untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan setiap pekan dua kali itu untuk mendengarkan sesorah orang-orang yang dikirim dari padepokan. "Hati-hatilah Ki Pandi" pesan Ki A jar Pangukan. Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Mudah-mudahan aku tidak terjebak dalam kesulitan seperti Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teks." "Mudah-mudahan. Tetapi kemungkinan itu harus kau pikirkan." berkata Ki Jagaprana "orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi curiga kepada semua orang yang tidak mereka kenal sebelumnya." Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Aku mengerti. Apa yang terjadi karena kehadiran Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles di padepokan, serta kegagalan para pengikutnya akan  membuat orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati." Meskipun demikian, Ki Pandi itupun pergi juga kerumah Ki Krawangan menjelang senja turun. Tetapi Ki Pandi tidak datang dari arah bawah kaki Gunung Lawu, tetapi ia memberikan kesan, bahwa ia baru saja turun dari lereng yang lebih tinggi. Senja itu, maka Ki Krawangan sekeluarga lelah bersiap untuk pergi ke tempat yang disebutnya sebagai sanggar pamujan. Satu bangunan khusus yang dipagari dengan batang pohon kelapa utuh yang ditanam berjajar rapat. Pagar itu cukup tinggi sehingga tidak mudah untuk melihat apa yang sedang berlangsung didalamnya. Ki Krawangan, isteri dan kedua orang anak gadisnya di lepas senja telah berangkat bersama Ki Pandi ke tempat yang disebut sanggar itu. Beberapa orang tetangganya juga pergi bersama keluarga mereka untuk mendengarkan sesorah tentang penguasa api serta laku yang harus dijalani para pemujanya. Ketika-orang-orang itu memasuki sanggar, maka iangitpun sudah mulai menjadi gelap. Di regol sanggar itu telah dipasang dua buah oncor yang cukup terang. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, orang-orang padukuhan itu melihat bukan saja kakak Ki Krawangan yang akan memberikan sesorah itu yang sudah ada di sanggar. Tetapi mereka telah melihat beberapa orang yang sebelumnya jarang kelihatan di sanggar itu. Mereka tentu orang-orang dari padepokan sebagaimana kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi memang tidak mengetahui perbedaan itu, karena ia belum pernah menghadirinya sebelumnya. Ketika mereka  berjalan memasuki regol sanggar itu, maka setiap orang tibatiba saja telah berubah. Mereka tidak lagi berbicara yang satu dengan yang lain. Tetapi mereka berjalan saja dengan wajah yang menatap ke depan. Matanya seakan-akan tidak berkedip sementara mulut mereka terkatub rapat-rapat. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang nampaknya dapat bebas bergerak tanpa batasan-batasan. Dan ternyata orang itu bukan orang padukuhan. Delimalah yang berbisik lirih di telinga Ki Pandi "Orang-orang itu belum pernah hadir sebelumnya. Tetapi agaknya mereka orangorang padepokan. Kawan-kawan pamanku." Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar. Beberapa saat kemudian, orang-orang padukuhan itu telah berdiri dalam beberapa deret. Mereka tidak lagi berdiri diantara keluarga mereka masing-masing. Tetapi anak-anak muda dan gadis-gadis berdiri didepan, dibelakang deretan anak-anak. Baru kemudian orang-orang yang lebih tua dan paling belakang adalah orang-orang tua. Ki Pandi yang tidak tahu dimana ia harus berdiri, mengikut saja petunjuk Ki Krawangan Sambil menunduk Ki Pandi berdiri di belakang Ki Krawangan dan isterinya. Sementara itu Delima dan Kenanga berada didepan bersama anak-anak muda dan gadis-gadis yang lain. Suasanapun masih tetap mencengkam. Tidak seorangpun yang berbicara. Mereka memandang kedepan dengan wajah yang kosong. Sementara itu, yang akan sesorah masih belum nampak di-hadapan orang-orang yang sudah bersiap-siap untuk mendengarkan itu, meskipun orang itu sudah ada diantara mereka.  Bahkan kakak Ki Krawangan itu masih sibuk berbicara dengan beberapa orang kawan-kawannya dan bahkan berjalan hilir-mudik tidak seperti biasanya. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang sudah ada didalam sanggar itu mulai menjadi gelisah. Meskipun mereka masih tetap tidak berbicara apapun, namun sikap mereka menunjukkan kegelisahan mereka. Beberapa orang mulai memandang berkeliling. Mencari dimana kakak Ki Krawangan itu berdiri. Ki Pandi berdiri dengan jantung yang berdebar-debar. Justru pada saat ia memasuki sanggar itu, terjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya. Delima sebelum memisahkan diri sempat berbisik ditelinganya sehingga Ki Pandi menduga-duga apakah yang terjadi. Dadanya menjadi semakin berdebar ketika ia merasa, dua orang selalu mengawasinya. "Apa yang akan terjadi?” pertanyaan itu semakin keras bergema didalam hatinya. Tetapi Ki Pandi sudah terlanjur ada didalam sanggar itu. Apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya. Orang-orang yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. Mereka mulai saling bertanya, apa yang telah terjadi. Namun sejenak kemudian, kakak Ki Krawangan itu naik ke tangga bangunan batu yang ada didalam sanggar itu. Sambil berdiri di tangga, maka ia memberi isyarat agar orang-orang yang ada di sanggar itu memperhatikannya. Suasananya memang terasa agak berbeda. Meskipun Ki Pandi masih belum pernah mengunjungi pertemuan serupa  itu, namun ia merasakan, bahwa biasanya suasananya tentu tidak seperti saat itu. Demikian kakak Ki Krawangan itu mengangkat tangannya, maka suasanapun menjadi semakin bening. Orang-orang yang ada di sanggar itu berdiri tegak tanpa bergerak sama sekali. Bahkan sampai keujung jari kakinya sekalipun. Kakak Ki Krawangan itupun kemudian memandang berkeliling. Dengan lantang iapun mulai berbicara "Saudarasaudaraku, Aku agak terlambat mulai berbicara dihadapan saudara-saudaraku.” Orang itu memandangi orang-orang yang ada di sanggar itu semakin tajam, seakan-akan ingin menilik langsung kedalam hati mereka masing-masing. Baru kemudian ia berkata selanjutnya "Keadaan ini terjadi karena ada sesuatu hal yang juga berbeda dari biasanya. Selama ini aku yakin bahwa saudara-saudaraku dengan sepenuh hati mengikuti upacaraj-upacara yang telah kami selenggarakan. Saudara-saudaraku juga selalu datang ke banjar jika ada sesorah dari salah seorang yang mewakili Ki Banyu Bening. Yang bertugas disini biasanya memang aku sendiri. Tetapi dalam keadaan khusus memang dapat terjadi orang lain." Orang itu berhenti sejenak. Sementara Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Ketaatan orang-orang padukuhan itu terhadap peraturan di sanggar itu sangat mengagumkan. Apalagi dalam upacara korban yang sebenarnya. Dalam pada itu, kakak Ki Krawangan itupun berkata pula "Tetapi kali ini kita tidak saja menerima saudara-saudara kami dari padukuhan. Malam ini kita menerima seorang tamu yang ingin melihat dan mendengarkan sesorah yang  diselenggarakan didalam .sanggar ini. Sebenarnya hal seperti itu bukan masalah jika kami yakin bahwa orang itu memiliki keyakinan dan kepercayaan yang mantap." Jika saja orang-orang yang ada di sanggar itu tidak dilarang berbicara, maka mereka tentu akan saling bertanya, siapakah yang telah disebut sebagai seorang yang meragukan itu? Namun orang-orang yang telah melihat kehadiran orang bongkok itupun segera menduga bahwa yang disebut itu adalah orang bongkok yang datang bersama Ki Krawangan itu. Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga bangunan tempat menyerahkan korban itu berkata selanjutnya "Nah, aku persilahkan KiSanak yang baru datang itu bersedia untuk mendekat. Aku inga berbicara dengan Ki Sanak." Ki Pandi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia segera menyadari, bahwa memang dirinyalah yang dimaksud. Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian dua orang datang mendekatinya. Sambil memegangi kedua lengannya dari dua sisi, maka orang itu telah menarik Ki Pandi maju kedepan menghadap kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi sama sekali tidak berniat menolak. Iapun menurut saja. melangkah di antara orang-orang padukuhan yang kemudian menyibak. Delima yang melihat Ki Pandi dibawa oleh dua orang kawan pamannya itu kedepan menjadi gelisah. Jantung berdetak semakin cepat.


Jilid 3
KI PANDI memang tidak dapat mengelak. Iapun berjalan di antara dua orang yang memegangi kedua lengannya. Semua mata memandang kearahnya. Seorang bongkok yang berjalan tertatih-tatih. Namun di wajahnya, betapa orang bongkok itu menjadi sangat cemas. Delima menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Rasa-rasanya, ia ingin berteriak, bahwa orang bongkok itu adalah sahabatnya. Ia bukan orang jahat Tetapi jangankan berteriak, berbisikpun mereka dilarang. Sejenak kemudian, diapit oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap. Ki Pandi berdiri dihadapan kakak Ki Krawangan yang masih berada ditangga. "Siapa kau he?" bertanya kakak Ki Krawangan itu. Ki Pandi menjadi bimbang. Ia tahu bahwa tidak seorangpun boleh berbicara. Karena itu, ia menduga bahwa pertanyaan itu memang merupakan satu pancingan agar ia melanggar ketentuan yang berlaku didalam sanggar itu. "Kau siapa orang bongkok?” kakak Ki Krawangan itu mulai membentak. Tetapi Ki Pandi masih belum menjawab, sehingga kakak Ki Krawangan itu berteriak "He, apakah kau tuli?” Ki Pandi mengerutkan dahinya. Tetapi kemudian Ki Pandi memberi isyarat dengan gerak tangannya, apakah ia dapat membuka mulutnya. Kakak Krawangan itu termangu-mangu sejenak. Ia memang agak ragu. Namun kemudian iapun berkata "Jawablah. Kau telah mendapat ijin untuk berbicara.”  Ki Pandi menarik nafas panjang. Dengan gagap iapun berkata "Aku ingin mendengarkan sesorah di sanggar ini. Selama ini aku tidak mempunyai pegangan hidup menghadapi hari-hari tua yang tidak dapat aku elakkan. Aku ingin mendapatkan ketenangan di hari-hariku yang terakhir. Karena itu, aku datang kemari. Jika di-sini aku menemukan ketenangan, maka aku akan menyatakan diri dengan saudarasaudaraku disini.” “Omong kosong" geram kakak Ki Krawangan "di hari-hari terakhir daerah ini telah didatangi oleh orang-orang asing yang mengganggu ketenangan hidup kami. Di padepokan, dua orang yang mengaku pedagang telah merusak suasana kehidupan damai di padepokan. Sekarang kau datang kemari dengan cara yang lain. Tetapi kami yakin bahwa kedatanganmu ada hubungannya dengan kedatangan kedua pedagang, itu” "Aku tidak mengerti yang Ki Sanak katakan itu "desis Ki Pandi “Aku adalah pengembara yang mengembara tanpa tujuan. Jika disini aku mendapatkan kedamaian hati, maka pengembaraanku akan berakhir disini. Aku akan tinggal disini meskipun aku harus menjadi budak dan bekerja apa saja” “Kau tidak dapat membohongi kami sebagaimana kedua orang yang mengaku pedagang itu. Ketika aku mendengar bahwa ada orang asing yang ingin ikut serta dalam keperpayaan kami, aku segera menjadi curiga justru barusaja- dua orang yang mengaku pedagang telah datang di padepokan.” “Tetapi aku bukan pedagang” "Baik" berkata kakak Ki Krawangan “karena kau orang asing disini, maka untuk menerimamu sebagai anggota dari kehidupan yang damai dan tentang disini, maka kau harus  diuji. Besok malam kita akan berkumpul disini seperti sekarang ini. Kau harus menunjukkan kejujuranmu, bahwa kau benarbenar akan menjadi satu dengan lingkungan hidup di padukuhan ini dengan setia.” "Apa yang harus aku lakukan? " bertanya Ki Pandi. "Meskipun besok malam bulan belum penuh, tetapi kita akan menyerahkan korban. Kau yang harus mengumpulkan dahan-dahan kering besok siang. Kau yang harus mencari bahan persembahan. Kau pula yang harus membakarnya hidup-hidup diatas batu rias persembahan ini.” Kerut kening Ki Pandi menjadi semakin dalam. Dengan suara yang bergetar ia bertanya "Kemana aku harus mencari bahan persembahan? Aku hanya seorang pengembara.” "Terserah kepadamu. Jika kau tidak mendapatkan seekor binatang, maka kau akan dianggap sebagai anggauta yang paling terhormat jika kau dapat mempersembahkan yang lain.” "Maksud Ki Sanak? "bertanya Ki Pandi. "Itu tergantung pada tingkat kesungguhanmu untuk bergabung dengan kami" jawab kakak Ki Krawangan. “Barangkali padi, jagung atau buah-buahan?” bertanya Ki Pandi Wajah kakak Ki Krawangan menjadi tegang. Namun kemudian ia menjawab "Sudah aku katakan. Nilai persembahanmu akan berbanding lurus dengan nilai kesetiaanmu kepada kepercayaan ini. Kami akan menentukan, apakah kau akan dapat diterima, dikukuhkan menjadi yang terbaik atau justru kau akan kami lemparkan menjadi-korban diatas batu alas persembahan kami itu.”  Sepercik cahaya memancar dari mata Ki Pandi. Namun kemudian iapun menunduk dalam-dalam. Sementara itu, kakak Ki Krawangarpun berkata “Hari ini tidak ada sesbrah. Besok, kita akan berkumpul lagi disini. Kita akan menyaksikan, persembahan apakah yang akan diserahkan oleh orang bongkokini. Kita bersama-sama menilainya dan kita akan memutuskan, apakah ia dapat diterima atari tidak.” Suasana didalam sanggar itu menjadi tegang. Kakak Ki Krawangan masih berdiri tegak di tangga. Dipandanginya orang-orang yang berdiri disekitarnya. Cahaya mata kakak Ki Krawangan itu bagaikan memancarkan pengaruh yang mencengkam semua jantung. Demikianlah maka sejenak kemudian orang itupun berkata. "Sekarang kalian dapat meninggalkan sanggar ini. Besok kita aaan bertemu lagi.“ Orang-orang yang berada di sanggar itu mulai bergerak. Mereka mengalir keluar dari sangar itu. Anak-anak dan remaja segera mencari orang tua masing-masing dan pulang dalam kelompok-kelompok kecil. Ki Pandipun pulang bersama keluarga Ki Krawangan. Dengan nada berat Ki Krawangan berkata "Aku tidak tahu bahwa masih harus ada syaratnya bagi Ki Pandi untuk diterima menjadi keluarga didalam lingkungan kepercayaan kami.” "Tetapi apa yang harus aku korbankan?" bertanya Ki Pandi. "Aku juga tidak tahu, Ki Pandi." jawab Ki Krawangan. Delima berjalan disebelah Ki Pandi sambil berdesis "Tinggalkan saja padukuhan ini, kek.”  Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata "Aku akan memberikan korban buah-buahan. Jika korbanku diterima, maka akan menjadi kebiasaan yang lebih baik daripada mengorbankan seekor anak binatang." “Ya" sahut Delima "kakek dapat mencobanya.” Tetapi Ki Krawangan memotong "Ki Pandi. Apakah jenis korban itu dapat ditawar-tawar seperti itu? Jika tadi kakang mengatakan terserah kepada Ki Pandi, itu tentu semacam pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki Pandi mengorbankan buahbuahan, maka aku kira Ki Pandi tidak akan dapat diterima.” "Tetapi darimana aku mendapat seekor anak binatang.” Ki Krawangan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab dengan nada berat "Ki Pandi. Aku masih mempunyai seekor anak kambing. Jika Ki Pandi memerlukan, biarlah anak kambing itu kita korbankan. Semakin banyak korban yang kita berikan, maka janji kesejahteraan tentu akan menjadi semakin dekat bagi kita sekeluarga. Tentu juga bagi Ki Pandi.” "Kesejahteraan apa yang Ki Krawangan maksudkan?" bertanya Ki Pandi. "Kesejahteraan lahir dan batin. Sawah kita akan menjadi subur. Dijauhkan dari segala macam hama. Sementara hidup kita akan tenang dan damai sepanjang jaman, lebih dari itu, kita akan mendapatkan tataran tertinggi di alam kematian.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Sementara Ki Krawangan berkata selanjutnya "Karena itu, maka sejak sekarang sudah mulai dianjurkan, meskipun masih belum terjadi, untuk memberikan korban yang derajadnya lebih tinggi.”  "Apakah yang derajadnya lebih tinggi dari seekor binatang? " bertanya Ki Pandi. Ki Krawangan terdiam sejenak. Sementara itu kaki mereka melangkah terus mendekati rumah Ki Krawangan. Beberapa orang berjalan lebih cepat dan mendahului Ki Krawangan sekeluarga yang berjalan perlahan-lahan sambil berbincang. "Ki Pandi" berkata Ki Krawangan kemudian, “maksudku, bahwa korban seekor anak kambing mempunyai derajad lebih tinggi daripada korban seekor anak kucing misalnya atau anak ayam atau anak itik yang menetas darr sebutir telur." Ki Pandi tidak segera menjawab. Tetapi bulu-bulu tengkuk Delima meremang. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Delima menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. "Delima. Kau kenapa? " bertanya ibuanya. Delima tidak segera menjawab. Namun ketika ibunya memegangi pundaknya, gadis itu menjawab dengan suara parau “Malam ini terasa dingin ibu." "O " ibunya berdesis. Tetapi Kenanga tiba-tiba berkata “Aku justru berkeringat kak Delima. Aku kira udara terasa panas.” "Tentu tidak. Angin yang basah membuat udara malam ini dingin sekali.” "Sudahlah" berkata ibunya "jangan bertengkar.” Namun dalam pada itu, Ki Pandi itupun kemudian berkata “Biarlah aku mencoba untuk menyerahkan korban buahbuahan. Mudah-mudahan justru akan membuka kebiasaan baru yang lebih baik dari kepercayaan ini.” Ki Krawangan masih saja ragu-ragu. Katanya "Sebaiknya Ki Pandi jangan mencoba-coba. Besok merupakan hari pendadaran bagi Ki Pandi. Jika Ki Pandi dianggap melakukan  kesalahan, maka akibatnya dapat menyulitkan Ki Pandi sendiri.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Tetapi aku akan berdoa semalam suntuk, agar yang aku lakukan itu justru dapat diterima dengan baik.” Ki Krawangan memang tidak menjawab lagi. Segala sesuatunya memang terserah kepada Ki Pandi. Tetapi ia sudah menawarkan sesuatu yang terbaik bagi Ki Pandi. Seekor anak kambing. Malam itu, Ki Pandi ternyata tidak bermalam dirumah Ki Krawangan meskipun Ki Krawangan mempersilahkan. Ki Pandi ternyata telah minta diri untuk memenuhi kewajibannya. menyediakan korban yang akan dibakar esok malam. Tetapi malam itu, Ki Pandi telah menghubungi Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang ada dirumah terpencil itu. Diberitahukannya, apa yang telah terjadi. "Lalu, apa yang akan kau lakukafr?" bertanya Ki Ajar Pangukan dengan dahi yang berkerut. "Aku akan membawa pisang setandan. Aku akan mengorbankan pisang itu jika diterima.” "Jika tidak?" bertanya Ki Ajar. "Nasibku akan menjadi sangat buruk" jawab Ki Pandi. Ki Ajar dan orang-orang lain yang mendengarnya tertawa. Ki Jagapranapun berdesis "Jangan merajuk begitu Ki Pandi.” Ki Pandipun tertawa pula. Sementara Manggada dengan ragu-ragu berkata "Ki Pandi. Malam nanti aku akan berada didekat sanggar itu. Aku akan mengikuti, apa yang akan terjadi.”  Ki Sambi Pitu tersenyum sambil menepuk bahu Manggada “jangan cemas anak muda. Kami semua juga akan berada di tempat itu. Kami tentu tidak akan sampai hati mendengar Ki Pandi merajuk dengan nada sedih, bahwa nasibnya menjadi sangat buruk.” Suara tertawa orang-orang tua itu menjadi semakin berkepanjangan. Bahkan Ki Pandipun tidak dapat menahan tertawanya pula. Dihari berikutnya, menjelang tengah hari, Ki Pandi sudah berada di sanggar sambil membawa setandan pisang raja yang besar. Dengan ragu-ragu ia memasuki sanggar yang kosong itu. Diletakkannya pisang itu diatas alas penyerahan korban. Namun Ki Pandi masih harus mencari kayu kering untuk menyalakan api saat korban diserahkan. Selagi Ki Pandi menyusun dahan dan ranting kayu kering yang dikumpulkannya, maka iapun mendengar lembut mendekatinya. "Kek” terdengar suara Delima. Ki Pandi berpaling. Dilihatnya Delima yang ragu-ragu berdiri beberapa langkah dibelakangnya. “Nah, Delirna" berkata Ki Pandi "korbanku sudah siap.” Tetapi wajah Delima masih saja suram. Bahkan dengan nada dalam ia berkata "Pamanku tadi menemui ayah, kek.” "O" Ki Pandi mengangguk-angguk "apa ada hubungannya dengan aku? ". "Ya, kek. Paman memperingatkan ayah, agar ayah tidak berhubungan dengan kakek. "  Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Sementara Delima berkata selanjutnya "Ketika ayah mengatakan bahwa kakek akan ikut ke sanggar, paman tidak berkeberatan. Tetapi ternyata bahwa semalam paman tidak sendiri. Mereka bersikap kasar kepada kakek. Menurut pendengaranku, orangorang padepokan itu telah mencurigai semua orang yang dianggap asing, karena dua orang yang datang ke padepokan telah mengacaukan ketenangan padepokan itu.” Ki Pandi termangu-mangu, sementara Delima berkata selanjutnya "Paman baru tahu tentang dua orang asing yang mengacaukan padepokan itu kemudian. Bahkan kemudian padepokan itu telah mengambil sikap khusus kepada kakek” "Apa hubungannya kedua orang yang mengacaukan padepokan itu dengan aku, Delima?” "Aku tidak tahu, kek. Tetapi orang-orang padepokan itu menjadi semakin berhati-hati. Kedua orang asing yang datang di padepokan itu telah melukai beberapa orang padepokan. Bahkan ada yang parah.” "Kemudian aku menjadi sasaran dendam mereka?” "Entahlah, kek. Tetapi sebaiknya kakek meninggalkan tempat ini. Nanti malam kakek tidak usah datang, karena kedatangan kakek akan dapat mencelakakan diri kakek sendiri.”  Ki Pandi tersenyum sambil melangkah mendekati Delima. Ditepuknya pundak Delima sambil berkata "Terima kasih atas peringatanmu Delima. Tetapi biarlah aku lebih banyak mengetahui tentang kepercayaan yang aneh ini. Jangan cemaskan aku.” "Tetapi......." wajah Delima menjadi muram. Sementara Ki Pandi berkata "Aku akan berusaha menjaga diriku sendiri, Delima. Pulanglah dengan tenang.” Delima termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Delima-itu telah meninggalkan sanggar. Di pintu ia berpaling dan berhenti sejenak. Namun kemudian iapun telah melangkah lagi meninggalkan Ki Pandi yang menyiapkan korban yang akan diserahkannya. Hari itu Ki Pandi tidak pergi ke rumah Ki Krawangan. Bukan karena ia mencurigainya. Tetapi Ki Pandi justru menjaga agar Ki Krawangan tidak mengalami kesulitan justru karena sikapnya. Sebenarnyalah bahwa dirumah Ki Krawangan telah hadir dua orang cantrik dari padepokan untuk mengawasi hubungan antara Ki Pandi dan Ki Krawangan. Kakak Ki Krawangan sendiri mencurigai seakan-akan ada hubungan khusus antara orang bongkok itu dengan Ki Krawangan. Namun justru karena Ki Pandi tidak datang ke rumah Ki Krawangan, maka kecurigaan itupun menjadi berkurang. Mereka mempercayai ceritera Ki Krawangan, bahwa orang bongkok itu datang kerumahnya dalam keadaan kelaparan dan kehausan. Sesudah minum dan makan, orang itupun telah pergi. Ia datang untuk bersamasama pergi ke sanggar. Sesudah itu, ia telah pergi lagi. "Baiklah" berkata salah seorang cantrik yang bertugas di rumah Ki Krawangan itu. "Namun karena itu, maka Ki  Krawangan jangan berusaha membantunya jika padepokan mengambil sikap tertentu kepada orang bongkok itu.” Ketika kemudian senja turun, maka seperti yang dikatakan oleh kakak Ki Krawangan di sanggar semalam, bahwa malam itu, orang-orang padukuhan itu harus berkumpul kembali di sanggar. Ki Krawangan dan keluarganya, memenuhi perintah itu, malam itu juga pergi ke sanggar. Namun disepanjang jalan, Ki Krawangan dengan nada ragu berbicara pula tentang Ki Pandi. "Apakah orang bongkok itu meninggalkan padukuhan?” desis Ki Krawangan. Tidak seorangpun yang menjawab. Namun kemudian dengan ragu-ragu pula isteri Ki Krawangan berkata hampir kepada diri sendiri "Sebaiknya ia memang meninggalkan padukuhan ini.” Ki Krawangan terkejut mendengar kata-kata isterinya. Bahkan Nyi Krawangan sendiri juga terkejut mendengar katakatanya itu. Sedangkan Delima menjadi tegang. Hanya Kenanga yang tidak begitu memahami perasaan kedua orang tuanya dan kakaknya. Selama itu, tidak ada orang padukuhan yang bersikap lain dari sikap orang-orang padepokan, termasuk kakak Ki Krawangan. Jika orang-orang padepokan menghendaki orang bongkok itu datang dengan persembahan korban, maka yang lain harus bersikap demikian pula. Karena itu, sikap Nyi Krawangan terasa menjadi asing. Seakan-akan Nyi Krawangan itu berusaha untuk melindungi orang bongkok yang justru sedang dicurigai itu. Namun kemudian Ki Krawangan sendiri berdesis "Ya. Memang sebaiknya orang bongkok itu meninggalkan  padukuhan ini. Betapapun ia ingin mencari kedamaian hati, tetapi pada saat kakinya mulai meiangkah masuk, ia sudah terantuk batu.” Delima menarik nafas dalam-dalam. Ternyata sikap batinnya tidak berbeda dengan sikap batin ayah dan ibunya, meskipun dengan demikian menjadi berbeda dengan sikap orang-orang padukuhan itu yang tentu ingin melihat apa yang akan dibawa Ki Pandi ke sanggar. Bagaimana puia keputusan orang-orang padepokan tentang korban yang akan dipersembahkan oleh orang bongkok itu. Namun demikian orang-orang padukuhan itu memasuki sanggar, maka merekapun segera dicengkam oleh suasana yang tegang. Demikian mereka melihat setandan pisang yang diletakkan diatas seonggok kayu kering di atas batu persembahan, maka merekapun segera menduga, bahwa sesuatu akan terjadi di sanggar itu. Ketika Ki Krawangan dan keluarganya memasuki sanggar, mereka melihat Ki Pandi berdiri diapit oleh dua orang cantrik dari padepokan. Sedangkan kakak Ki Krawangan rasa-rasanya tidak sabar menunggu orang-orang padukuhan itu berkumpul. Namun akhirnya, orang-orang padukuhan itu sudah berdiri pada deret-deret sebagaimana biasanya. Delima benar-benar gelisah melihat Ki Pandi yang nampaknya sudah tidak berdaya lagi untuk menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, maka suasanapun menjadi semakin tegang. Kakak Ki Krawangan sudah berdiri ditangga bangunan batu alas meletakkan korban itu. Orang-orang padukuhan yang berdiri dalam deretanderetan, itupun menjadi semakin tegang. Tidak seorangpun  yang bergerak. Bahkan mata merekapun seakan-akan tidak berkedip lagi. Kakak Ki Krawangan yang berdiri ditangga itupun kemudian berkata "Saudara-saudaraku. Disini sekarang ada orang yang lebih tua dari aku dalam tataran kedudukan kami di padepokan. Karena itu, biarlah saudaraku yang lebih tua itu mengambil keputusan tentang orang bongkok itu.” Orang-orang padukuhan itu menjadi semakin berdebardebar. Mereka tidak tahu, perasaan apakah yang sebenarnya bergejolak didalam hati mereka. Sepercik kegelisahan menyala didada orang-orang itu. Mereka merasa iba melihat orang bongkok yang berdiri diapit oleh dua orang cantrik yang masih muda serta bertubuh tegap kekar. Mereka yakin bahwa orang bongkok itu akan mendapatkan hukuman, karena ia telah berani membawa persembahan yang tidak memadai. Namun sementara itu, orang-orang itu juga merasa tersinggung. Orang bongkok itu seakan-akan dengan sengaja merendahkan derajat kepercayaan mereka. Seakan-akan orang bongkok itu dengan sengaja menjajagi tatanan yang berlaku di antara mereka." Sementara itu, kakak Ki Krawangan itupun bergeser menepi. Sedangkan seorang yang lain, seorang yang bertubuh raksasa telah naik dan berdiri disebelah kakak Ki Krawangan. Ki Pandi mengeratkan dahinya. Ia teringat ceritera Ki Sambi Pita dan Ki Lemah Teles tentang orang yang mula-mula melihat keduanya dari lubang di pintu gerbang padepokan. Tetapi Ki Pandi, bahwa orang itu bukan yang dimaksud oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles. Orang yang bertubuh raksasa dan berdiri di tangga itupun kemudian berkata "Aku akan mengambil alih tugas saudaraku. Persoalannya memang tidak sederhana. Bukan sekedar  seseorang yang ingin mencari kesejahteraan hidup lahir dan batin. Serta bukan orang yang mencari ketentraman sejati dibawah naungan kuasa api yang menghembuskan kehidupan serta memancarkan kesejukan dan kedamaian hati di malam hari.” Orang-orang yang mendengarkan sesorah itu menjadi semakin tegang. Mereka semakin yakin bahwa sesuatu yang tidak diharapkan akan terjadi malam itu di sanggar mereka. Dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itupun berkata “Ternyata orang bongkok yang datang ke sanggar ini tidak berbeda dengan kedua orang asing yang telah mendatangi padepokan. Mereka bukan saja telah menghina kepercayaan yang kita junjung tinggi, tetapi mereka telah menyerang dan melukai saudara-saudara kita yang justru ingin menolong mereka, menunjukkan jalan keluar dari lingkungan ini. Saudara-saudara kita yang sama sekali tidak menduga itu tidak sempat membela diri.” Ki Pandi yang telah mendengsr ceritera Ki Sambi Pitu dan Ki Lemah Teles, segera menghubungkan dengan ceritera orang bertubuh raksasa itu, meskipun ceritera itu sudah diputarbalikkannya. Namun Ki Pandi sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Orang bertubuh raksasa itupun berkata selanjutnya “Nah, bukankah orang bongkok ini juga telah menghina kita semuanya. Lihat, apa yang dipersiapkannya diatas alas persembahan kita. Selama ini kita selalu mempersembahkan korban yang bernyawa. Tetapi orang bongkok itu telah membawa setandan pisang kemari”  Orang itu terdiam sejanak. Ketika ia memandang Ki Pandi yang berdiri termangu-inangu, maka semua orang telah memandang Ki Pandi pula. "Apakah kita akan membiarkan pengalaman ini terjadi atas kita? Kita tentu akan memaafkan orang-orang yang menghina kita sendiri. Tetapi tidak menghina penguasa Maha Api di langit yang memancarkan nafas kehidupan atas bumi ini.” Suara orang bertubuh raksasa itu semakin menggelegar. Lalu katanya pula “Nah, siapakah diantara kita yang membiarkan penghinaan ini terjadi ? Siapa?” Semua orang yang ada di sanggar itu tetap terdiam diri. Dalam keadaan yang biasa, jika mereka datang untuk mendengarkan sesorah, mereka sudah harus berdiam diri. Apalagi dalam keadaan yang sangat tegang itu. Dalam pada itu, orang itupun kemudian berteriak "Kita akan membunuh orang yang telah menghina penguasa kehidupan ini dan membebankan tanggung jawab di pundaknya. Jika tidak, maka kemarahan yang akan menimpa kita semua akan berakibat sangat buruk bagi kita dan bagi kehidupan di bumi.” Orang-orang yang ada di sanggar itu menjadi semakin tegang. Jantung mereka serasa berdetak semakin cepat. Rasarasanya mereka sudah dijalari kekecewaan dan kemarahan pula terhadap orang bongkok yang hanya membawa setandan pisang itu. Delima juga menjadi semakin tegang. Bukan karena merasa terhina oleh korban yang terletak diatas seonggok kayu itu. Tetapi Delima mencemaskan nasib Ki Pandi yang terasa menjadi semakin dekat dan akrab itu.  Tetapi Ki Pandi masih saja berdiri diam. Bahkan nampaknya justru menjadi semakin tenang, meskipun kepalanya masih tetap menunduk. Namun dalam pada itu, orang bertubuh raksasa itupun berkata dengan lantang "Nah, kita tentu tidak akan membiarkan penguasa Maha Api itu akan murka kepada kita. Kita tidak mau menerima akibaj buruk karena orang bongkok itu telah menghina Maha Api di langit. Karena itu, maka kita harus menyerahkan penebusan dari penghinaan ini sekarang. Meskipun saat ini bukan saatnya menyerahkan persembahan sebagaimana biasanya. Tetapi kita harus membersihkan noda yang telah terpercik di sanggar ini.” Orang itu berhenti sejenak. Wajah-wajah menjadi bertambah tegang. Lebih-lebih Delima dan bahkan juga ayah dan ibunya. Kenanga yang berdiri di antara gadis-gadis remaja yang lain, tidak begitu mengerti, apa yang akan terjadi. "Nah" berkata orang bertubuh raksasa itu "sekarang juga kita harus mendapatkan persembahan dari mahluk yang bernyawa uniuk menebus penghinaan itu. Jika tidak, maka mungkin besok, bhkan mungkin nanti atau kapanpun dapat terjadi, kemarahan iti. akan menimpa kita.” Suara orang itu terputus ketika tiba-tiba saja mereka melihat cahaya merah dilangit. Mereka melihat asap yang membubung, kemudian mereka juga melihat lidah api yang menjilat. Tidak terlalu jauh. "Ampun kami ya Maha Api" teriak orang bertubuh raksasa itu "murkamu telah datang menimpa kami.” Orang-orang yang ada di sanggar itu menjadi gelisah. Meieka sadar sesadar-sadarnya bahwa telah terjadi kebakaran di padukuhan mereka. Sementara itu, semua orang tidak ada  di padukuhan, tetapi mereka berada di sanggar, sehingga tidak seorangpun yang akan dapat memendamkan api itu. Yang tinggal di padukuhan hanyalah orang-orang tua, orangorang sakit dan bayi-bayi" Namun.orang bertubuh raksasa itu berteriak "Kita tidak akan mampu melawan kemurkaan itu. Agaknya telah terjadi kebakaran. Tetapi tentu bukan kebakaran biasa. Disini seseoràng telah menghina Sang Maha Api. Dan dengan serta merta murkanya telah menimpa kita. Jika penghinaan ini tidak segera ditebus, murka itu tentu akan semakin menjalar. Mungkin akibatnya akan menimpa, seluruh padukuhan dan mungkin seluruh negeri dan bahkan mungkin seluruh bumi." Kegelisaan semakin mencengkam. Tetapi orang itu berkata “Jangan tinggalkan tempat ini. Orang yang telah menghina itu harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Diatas alas tempat kita menyerahkan korban itu harus ada korban mahluk bernyawa sekarang juga." Dalam pada itu selagi suasana disanggar itu menjadi semakin tegang maka seseorang berjalan tertatih-tatih ke pintu, gerbang sanggar. Tetapi orang itu berhenti sebelum ia melangkah masuk. Ia sadar, bahwa ia tidak boleh berbicara jika ia berada didalam sanggar. Karena itu, selagi ia masih berada diluar, maka iapun telah berteriak "Banjar padukuhan kita terbakar.” semua orang berpaling dan memandang ke pintu gerbang. Mereka melihat seorang tua yang berdiri gemetar laki tua yang sedang sakit. Orang-orang yang berada di dalam sanggar itu menjadi semakin tegang. Dua orang cantrik telah berlari kearah orang tua itu. Ketika orang tua itu hampir saja terjatuh karena  tubuhnya yang sakit itu menjadi lemah serta letih, maka kedua orang cantrik itu sempat menolongnya. "Banjar padukuhan itu terbakar" orang itu berdesis lagi. Seorang dari kedua cantrik itu telah melangkah masuk kedalam sanggar. Dengan lantang ia berkata "Banjar padukuhan itu telah terbakar. Murka Sang Maha Api telah menimpa kita.” Orang bertubuh raksasa yang berdiri ditangga bangunan batu sebagai alas persembahan itu berkata "Kita harus cepatcepat menyerahkan korban agar kemarahan itu mereda.” Orang-orang yang berdiri di sanggar itu telah dicengkam oleh suasana yang tidak menentu. Mereka menjadi sangat ketakutan melihat bahwa api telah mulai menelan korban dipadukuhan mereka. Banjar padukuhan mereka tiba-tiba saja telah terbakar. Dalam ketegangan itu, maka orang bertubuh raksasa itupun berteriak nyaring "Ya, Sang Maha Api. Hentikan murkamu atas kami. Sekarang kami akan menyerahkan korban untuk menebus kesalahan kami, karena kami teiah berani menghina kuasa Sang Maha Api. Meskipun korban yang kami serahkan kali ini, bukan korban dibawah wajah purnama yang lembut, serta bukan pula korban yang kehadirannya diatas bumi ini berada dibawah percikan cahaya api damaimu, namun kami mohon, korban yang kami serahkan ini dapat menebus kesalahan yang pernah dilakukannya sendiri karena ia telah menghina kuasamu yang tidak terbatas.” Semua orang terkejut mendengarnya. Seorang laki-laki kurus menjadi gemetar. Sementara Ki Krawangan menjadi gelisah. Delima berusaha untuk tidak menjadi pingsan, karena ia tahu maksud orang bertubuh raksasa itu.  Ki Pandilah yang akan dikorbankan. Sebenarnyalah sesaat kemudian orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah mengerumuni Ki Pandi. termasuk kakak Ki Krawangan dan orang bertubuh raksasa itu. Dengan paksa maka Ki Pandipun telah dibawa naik keatas alas tempat penyerahan korban itu. Diatas tempat itu telah tersedia seonggok kayu untuk membakar setandan pisang yang diletakkan oleh Ki Pandi. Namun kayu itu tidak cukup banyak. Karena itu, maka orang bertubuh raksasa itupun berkata “Agar korban yang kita serahkan sempurna, maka semua orang laki-laki harus keluar dari sanggar dengan cepat untuk mencari kayu bakar. Siapa yang tidak melakukannya, maka ia akan dikutuk oleh Sang Maha Api itu.” Demikian, maka setiap orang laki-laki telah menghambur keluar untuk mencari kayu bakar. Laki-laki tua yang sedang sakit dan kelelahan itu duduk bersandar dinding sanggar. Tetapi-ia terada diluar sanggar. Para cantrik yang menolongnya telah masuk kedalam sanggar pula, dan membiarkannya duduk sendiri. " Namun orang' itu menjadi heran ketika dua orang anak muda mendekatinya sementara orang-orang disanggar itu sedang ribut untuk mencari kayu bakar. "Duduk sajalah kek" desis seorang diantar a mereka. "Siapakah kalian anak-anak muda ?" bertanya orang itu. "Kami bukan siapa-siapa kek. Kami hanya ingin melihat apa yang terjadi.”  Orang tua itu tidak berdaya lagi, sementara kedua orang anak muda itu masih berjongkok disebelah-menyebelahnya. Orang-orang laki-laki yang mencari kayu bakar sambil berlari itu tidak menghiraukan kedua orang anak muda iiu. Mereka mengira bahwa keduanya adalah saudara-saudara mereka yang sedang menolong orang tua yang sakit itu. Namun beberapa saat kemudian, suasana mulai meniadi sepi. Orang-orang padukuhan itu telah berdiri ditempatnya di sanggar, sementara seonggok kayu bakar telah tertimbun di alas tempat menyerahkan Kurban itu. Dalam pada itu, maka cahaya merah dilangupun sudah mereda. Nampaknya Banjar padukuhan itu telah hampir seluruhnya menjadi abu. Untunglah bahwa halaman Banjar itu cukup luas sehingga diharapkan api tidak menjalar kemanamana. Apalagi malam itu angin tidak begitu kencang bertiup. Tidak pula pepohonan disekitar Banjar padukuhan itu. Dalam pada itu, Ki Pandi telah berada ditangan orang-orang padepokan. Orang yang bertubuh raksasa itu telah berada ditangga pula sambil berkata "Nah, nampaknya persembahan kami berkenan dihati Sang Maha Api. Sebelum persembahan kami ini kami serahkan, api yang membakar Banjar padukuhan kami telah mereda. Satu pertanda yang baik bagi kita. Karena itu, maka persembahan kami ini akan segera kami serahkan dengan perantaraan api pula.” Darah Delima bagaikan mengalir. Namun Delima tidak pingsan. Ia melihat orang bongkok itu didorong untuk naik keatas bangunan batu sebagai alas persembahan itu. Delima dan orang-orang yang. hadir di sanggar itu menjadi heran. Ia tidak melihat orang bongkok itu menjadi gelisah,  ketakutan atau bahkan meronta. Ia sama sekali tidak melawan. Namun ketika orang-orang padepokan itu akan mengikatnya, orang bongkok itu berkata "Aku tak perlu diikat. Aku akan berbaring diatas api.” Orang-orang padepokan itu termangu-mangu sejenak. Namun orang bertubuh raksasa itu berkata "Ikat orang itu. Jika api menjilat tubuhnya, ia akan meronta atau bahkan berusaha melarikan diri.” Tetapi orang bongkok itu menyahut "Sudah aku katakan, aku tidak mau diikat. "Persetan" geram orang bertubuh raksasa itu "ikat orang itu. Cepat.” Para cantrik mulai memegangi tangan Ki Pandi. Seorang yang membawa tali yang dibuat dari sabut telah mulai melingkarkan tali itu ditubuh Ki Pandi. Namun yang lidak diduga telah terjadi. Cantrik yang membawa tali itu telah terlempar. Kepalanya membentur bangunan batu yang dipergunakan sebagai alas penyerahan persembahan itu. Demikian kerasnya, sehingga cantrik itu langsung menjadi pingsan. Sebelum orang-orang padepokan itu menyadari apa yang telah terjadi, seorang lagi cantrik yang memegangi tangan Ki Pandi itu pingsan pula. Pukulan yang keras mengenai ulu hatinya, sehingga cantrik itu terbongkok kesakitan. Namun kemudian sisi telapak tangan Ki Pandi telah mengenai tengkuk cantrik itu sehingga ia jatuh tersungkur. Giliran berikutnya adalah cantrik seorang lagi yang memegangi tangan Ki Pandi yang lain. Ayunan tangan yang keras telah menampar keningnya. Nyala api encor di sanggar itupun menjadi semakin  kuning dan akhirnya menjadi semakin kabur. Ketika sebuah pukulan lagi mengenai pangkal lehernya, maka Semuanya menjadr gelap. Yang terjadi demikian cepatnya, sehingga orang-orang padepokan yang lain, yang kedudukannya lebih tua dari para cantrik itu tidak sempat menolongnya. Namun kakak Ki Krawangan, orang bertubuh raksasa dan orang-orang padepokan yang lain dengan cepat menyadari keadaan. Karena itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri Orang bertubuh raksasa itu sempat berteriak "Orang bongkok itu menjadi gila. Tangkap orang itu agar kita tak kehilangan bahan korban yang akan kita serahkan, yang justru sudah berkenan dihati Sang Maha Api.” Tetapi orang-orang padukuhan itu tidak segera berbuat sesuatu jantung mereka justru terasa terguncang. Apalagi ketika kemudian Ki Pandi meloncat naik keatas bangunan batu sebagai alas untuk menyerahkan persembahan itu. "Saudara-saudaraku" berkata Ki Pandi "kalian harus segera menyadari, bahwa aliran hitam ini akan merusak tata kehidupan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian dan bahkan kewadagan kalian. Orang-orang ini telah membawa kalian ke jalan sesat, mengingkari kuasa Yang Maha Agung yang telah mencipta-kan langit dan bumi. Termasuk matahari dan bulan. Karena itu, tidak sewajarnya kalian menyembah matahari dan bulan yang disebut dengan nama apapun juga.” Ki Pandi tidak sempat berbicara lebih panjang. Orang yang bertubuh raksasa itu meloncat menyusulnya dan langsung menyerangnya. Bahkan dua orang yang lainpun Kini datang membantunya pula.  Keributanpun tidak dapat dihindari lagi. Orang-orang padepokan telah berkerumun disekitar bangunan batu untuk menyerahkan persembahan itu. Mereka berusaha untuk menangkap orang bongkok yang akan dijadikan bahan persembahan bagi Sang Maha Api. Namun dalam pada itu, keributan itupun telah menjalar. Tiba-tiba saja dua orang anak muda telah melibatkan diri, menyerang orang-orang yang berkerumun mengepung orang bongkok itu. Delima tiba-tiba saja melonjak kegirangan. Dua orang anak muda itu dikenalnya pula. Mereka adalah anak-anak muda yang sering datang bersama orang bongkok itu. Perkelahianpun segera terpecah. Manggada dan Laksana telah mengambil tempatnya sendiri. Mereka telah bersiap menghadapi orang-orang padepokan yang ada di sanggar itu. Orang-orang padukuhan yang berada di sanggar itu menjadi ketakutan. Tetapi mereka tidak berani meninggalkan sanggar itu. Mereka hanya bergeser menjauh dan berdiri berdesakan melekat dinding sanggar. Ternyata yang kemudian bertempur melawan orang-orang padepokan itu tidak hanya orang bongkok dan dua orang anak muda saja. Tetapi ada orang lain yang telah melibatkan diri pula diantara mereka. Beberapa saai kemudian, sanggar itu benar-benar menjadi kacau ketika oncor-oncor yang menerangi sanggar itu padam satu demi satu. Keributan itupun tidak tertahankan lagi. Orang-orang padukuhan telah berlari-larian tidix tentu arah. Mereka menjadi kebingungan. Sementara itu agaknya ada orang yang  dengan sengaja telah mengacaukan mereka. Orang yang berlari-larian menyusup diantara orang-orang padukuhan itu. Dalam kekacauan itu tiba-tiba mereka melihat dua oncor yang menyala. Dua oncor yang berada disebelah menyebelah pintu gerbang sanggar terbuka itu. Arus orang-orang yang kebingungan itu tidak tertahankan lagi. Mereka berlari-larian keluar dari sanggar melalui pintu gerbang yang tiba-tiba telah terbuka selebar-lebarnya. Terdengar anak-anak berteriak-teriak ketakutan. Bahkan kemudian suara tangispun melengking dimana-mana. Namun beberapa saat kemudian beberapa buah oncor telah menyala kembali disekitar pintu gerbang. Dua, tiga kemudian empat buah. Dalam kekisruhan itu terdengar seseorang berteriak. “Jangan berdesakan. He, hati-hati. Berjalanlah dengan tertib. Sebaiknya orang laki-laki tidak ikut berdesakan dipintu gerbang. Biarlah perempuan dan anak-anak berjalan lebih dahulu. Orang-orang laki-laki sebaiknya justru ikut mengatur agar tidak terjadi kecelakaan.” Tidak seorangpun diantara orang-orang padukuhan yang mengetahui, siapakah yang telah berteriak itu. Namun beberapa orang laki-laki telah tergugah hatinya. Mereka segera menepi dan mulai ikut mengatur arus keluar orangorang padukuhan itu. Empat orang laki-laki yang memegang oncor justru bingung sendiri. Mereka tidak tahu siapakah yang telah meletakkan oncor di tangan mereka. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa mereka telah memegang oncor.  Beberapa saat kemudian, maka sanggar itu telah menjadi kosong. Orang-orang padukuhan sudah berada diluarnya. Namun masih ada satu dua orang anak-anak yang menangis karena mereka belum menemukan orang tua mereka. Tetapi dalam waktu singkat, karena orang-orang padukuhan itu sudah saling mengenal, anak-anak itupun telah berada ditangan ayah dan ibunya. Namun dalam pada itu, didalam sanggar, pertempuran masih berlangsung. Orang-orang padepokan yang berada di sanggar itu telah bertempur dengan orang-orang yang tidak meraka kenal selain orang bongkok itu. Delima juga sudah berada diluar, masih saja berdebardebar, la tidak tahu apa yang terjadi didalam sanggar itu. tetapi Delima dan orang-orang padukuhan masih mendengar keributan didalam sanggar. Sementara itu, keempat orang yang memegang obor telah berada diluar sanggar pula. Namun orang-orang padukuhan itu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, maka mereka hanya berkumpul saja di sekitar sanggar mereka. Sementara didalam sanggar itu masih terjadi pertempuran. Didalam sanggar itu, Ki Pandi bersama Manggada, Laksana dan beberapa orang tua yang lain telah bertempur melawan orang-orang padepokan. Ternyata mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka pertempuran itupun segera berakhir. Tetapi orang-orang yang berada diluar sanggar tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi di sanggar itu. Ketika kemudian tidak lagi terdengar suara apapun didalam sanggar, mereka justru semakin ragu-ragu.  Delima yang gelisah berdiri didepan pintu gerbang. Ki Krawangan yang melihat Delima berdiri didepan pintu segera menariknya sambil berkata "Delima, apa yang kau cari ? Kau tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang, tidak kita mengerti.” Delima tidak membantah. Iapun kemudian bergeser menjauhi pintu gerbang. Namun suasana didalam sanggar itu masih sepi. Angin malam berhembus semakin dingin. Sekali-sekali masih terdengar anak-anak merengek. Namun dengan susah payah ibunya telah menenangkannya. Empat orang laki-laki masih tetap memegang obor dan berdiri tidak jauh dari pintu gerbang yang masih terbuka lebar. Namun orang-orang yang berada diluar tidak segera dapat melihat, apa yang telah terjadi dalam kegelapan.” Akhirnya, orang-orang yang memegang oncor itu sepakat untuk melihat, apa yang terjadi didalam sanggar. Dengan hati-hati keempat orang itu melangkah masuk. Ketika mereka melihat sebuah oncor yang masih terpancang ditempatnya. maka oncor itupun telah dinyalakannya pula. Demikian pula beberapa buah oncor yang lain. Namun keempat orang itu terkejut bukan buatan. Orangorang padepokan yang ada disanggar itu telah terbaring diam diantara mereka nampak terluka. Darah mengalir dari luka yang menganga itu. Ketika keempat orang itu mendekat, maka mereka menyadari bahwa adat diantara mereka masih bernafas. Karena itu, maka, dua diantara keempat orang itu pun Segera berlari keluar memanggil kawan-kawannya.  “Kita harus menolong mereka" berkata orang itu diluar sanggar!" "Kenapa ?" bertanya-beberapa orang bersama-sama "Mereka terluka." jawab orang yang bertubuh-tinggi. "Kenapa ?" bertanya Orang-orang yang menjadi semakin kebingungan. "Entahlah, kita bawa saja mereka keluar. Kita akan mencoba menolong mereka." Beberapa orang laki-laki segera berlari memasuki sanggar. Tanpa mengatakan sesuatu lagi, merekapun telah membawa orang-orang padepokan yang terbaring diam.Ada diantara mereka yang terluka. Tetapi ada yang ditubuhnya sama sekali tidak terdapat segores kecil lukapun, namun orang itu telah pingsan atau bahkan mati. Demikianlah, maka orang-orang yang terbaring diam itu telah dibawa keluar dari sanggar. Diluar sanggar orang-orang padukuhan itu berbicara dengan leluasa. Sedangkan didalam sanggar, meskipun bukan saatnya upacara atau mendengarkan sesorah, namun rasa-rasanya segan juga untuk berbicara. Beberapa orang telah mencari air, sedangkan yang lain sibuk mengusap kening dan dahi. Orang bertubuh raksasa itu, terluka dilambungnya. Tidak oleh goresan senjata. Tetapi luka itu cukup dalam. Tiga goresan nampak menyilang, seakan-akan goresan tiga buah jari tangan tangan berkuku tajam. Kakak Ki Krawangan justru sama sekali tidak terluka. Namun ia juga telah menjadi pingsan.  Beberapa saat kemudian, setelah orang-orang padukuhan itu menjadi sibuk satu dua orang mulai sadar. Kakak Ki Krawangan itupuh menggeliat, sementara orang bertubuh raksasa itu mulai mengerang kesakitan. Ketika orang bertubuh raksasa itu mulai bergerak, maka darah yang mengalir sernakin banyak mengalir dari lukanya. Tetapi. orang itu ternyata membawa obat untuk mengurangi arus darahnya. Ia minta seseorang menaburkan semacam serbuk dari 'sebuah bumbung kecil dialas lukanya itu. . Terasa luka itu menjadi pedih sekali. Tetapi darahnyapun menjadi semakin sedikit mengalir dari luka itu. Beberapa orang lain yang terluka juga telah mendapat pengobatan yang sama, sementara kakak Ki Krawangan setelah diberi air beberapa tetes di bibirhyapun telah menjadi sadar pula. "Iblis bongkok" geram kakak Ki Krawangan "Apa yang telah terjadi, kakang?" bertanya Ki Krawangan yang berjongkok disebelah kakaknya. "Orang yang pernah kau tolong itu ternyata tidak kurang dari sosok iblis yang paling jahat.” "Aku tidak mengira kakang. Ia tampak lemah dan sakit pada waktu itu." jawab Ki Krawangan. "Ia datang bersama beberapa orang kawannya untuk mengacaukan upacara persembahan itu." berkata kakak Ki Krawangan itu pula. "Tetapi apa maksud orang bongkok itu?" bertanya Ki Krawangan.  "Ia berniat mengacaukan upacara ini. Bahkan mengacaukan akal kita sehingga kepercayaan kita menjadi menipis, ia datang dengan membawa kepercayaan baru untuk menyesatkan jalan hidup kita menuju ke kesejahteraan lahir dan batin.” Delima yang mendengar keterangan pamannya itu hampir saja tidak dapat menahan hati. Menurut pendapatnya, kepercayaan yang diajarkan oleh pamannya itulah yang sesat. Sebenarnyalah Ki Krawangan juga ragu. Setelah hutan lebat yang seakan-akan memagari lingkungan yang luas dibawah kaki Gunung Lawu itu terbuka, maka para penghuninya mempunyai hubungan yang lebih luas dengan orang-orang dari seberang hutan. Tetapi Ki Krawangan tidak menjawab. Demikian pula Delima yang merasa lebih baik diam saja daripada membuka persoalan ,baru dengan orang-orang padepokan. Dalam pada itu, selagi ketegangan mencengkam orangorang yang berada di sekitar sanggar itu, telah terdengar suara dari dalam kegelapan. Suara yang tidak jelas sumbernya. Seakan-akan melingkar-lingkar di udara yang kelam. Suara tertawa yang berkepanjangan. Disela-sela suara tertawa itu terdengar kata-kata "He, kalian orang-orang sesat Apa sebenarnya yang kalian cari dengan cara yang tidak pantas itu? Kalian telah digiring oleh seorang yang menjadi gila karena kehilangan anak bayinya. Orang yang gila karena keluarganya yang pecah dan menjadi berkeping-keping. Mungkin juga karena salahnya sendiri. Namun kemudian, ia telah mencari sasaran untuk menimpakan kesalahan itu. Ia membenci semua bayi. Ia ingin semua bayi mati seperti anaknya. Dalam api...”  Suara itu berhenti sejenak. Sementara kakak Ki Krawangan yang telah sadar sepenuhnya itu berteriak pula "He, pengecut. Nampakkan dirimu. Jangan memfitnah sambil bersembunyi.” "Aku telah mengalahkan kau" terdengar lagi suara dari kegelapan "sekarang sadarilah. Jika sementara ini kalian harus mengorbankan seekor anak binatang di bawah purnama, maka beberapa saat lagi kalian akan digiring untuk mengorbankan anak manusia. Bayangkan, setiap bulan seorang bayi akan mati. Gila. Bahkan tidak hanya di padukuhan ini saja. Apakah kalian akan melakukan upacara yang gila itu? Hari ini orang-orang padepokan itu sudah berniat mengorbankan seseorang sebagai langkah awal niat mereka menggiring kalian untuk mengorbankan bayi disetiap bulan purnama, karena orang yang kalian anggap pemimpin padepokan itu telah terganggu penalarannya." "Cukup, fitnah itu sama sekali tidak benat.” Teriak kakak Ki Krawangan. Tetapi suara tertawa itu masih berkepanjangan. Kata-kata di sela-sela derai tertawa itu masih terdengar. “Nah, kalian yang waras, yang masih mempunyai daya penalaran yang utuh, apakah kalian justru akan jatuh di bawah pengaruh orang gila? Orang yang terganggu kesadarannya oleh dendam kebencian?” “Cukup, cukup” bukan hanya kakak Ki Krawangan saja yang berteriak, tetapi seorang cantrik yang telah sadar sepenuhnya berteriak pula, sementara orang yang bertubuh raksasa itu menggeram. Ia tidak berani berteriak, agar darah di lukanya tidak memancar lagi. Namun suara itu masih terdengar, “Selamat malam saudara-saudaraku. Selama padepokan itu masih ada, maka kita masih akan sering berjumpa dimanapun.  “Gila. He orang-orang gila. Aku bunuh kalian pada saatnya. Tetapi suara itu menjawab “Jika kami ingin membunuhmu, maka kami tentu sudah melakukannya. Tetapi kami bukan orang-orang yang menjadi mata gelap, kehilangan pegangan dan membunuh sasaran yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan yang sebenarnya terjadi. Nah, tolong, sampaikan kepada Kiai Banyu Bening, jika ia masih tidak menghentikan perbuatan gilanya, maka kami benar-benar akan memperlakukannya seperti orang gila. “Diam, diam, diam,” teriak kakak Ki Krawangan. Suara tertawa itu masih bergema. Semakin lama terdengar semakin jauh, sehingga akhirnya hilang sama sekali. Malam kembali menjadi sepi. Ketegangan masih mencengkam setiap jantung. Orang-orang padepokan yang masih lemah itu dicengkam oleh kemarahan, kebencian, dendam tetapi juga kekhawatiran. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat memburu orang-orang yang telah menghinakan mereka dan bahkan menyebut nama Kiai Banyu Bening.  Namun sejenak kemudian, maka orang yang bertubuh raksasa itu berkata “Biarlah orang-orang padukuhan itu pergi. Kita akan membuat perhitungan dengan mereka kelak, karena mereka tidak mau membantu kita, disaat kita dalam kesulitan.” Kakak Ki Krawangan tidak menyahut. Tetapi bagaimanapun juga ia merasa cemas tentang adiknya. Orang-orang padepokan dapat menyangka, bahwa adiknya benar-benar telah berhubungan dengan orang bongkok itu. “Besok aku harus berbicara dengan Krawangan,“ berkata orang itu di dalam hatinya. Dalam pada itu, maka orang-orang padukuhan itupun segera pulang ke rumah mereka masing-masing ketika mereka sudah mendapat ijin dari orang-orang padepokan. Namun ancaman orang bertubuh raksasa itu didengar oleh salah seorang padukuhan itu, sehingga ia menjadi ketakutan. Ternyata perasaan takut itu kemudian telah menjalar pula ke setiap orang yang mendapat berita tentang ancaman itu. Namun sebelum orang-orang itu memasuki gerbang padukuhan, maka seseorang telah berlari-lari keluar dari regol padukuhan. Justru orang yang belum mereka kenal. “Siapa yang terikat di halaman banjar? Siapa?” teriak orang itu “Siapa? Siapa?“ setiap onng pun telah bertanya pula. Namun karena itu, maka orang-orang itu tidak jadi langsung pulang ke rumah. Tetapi mereka berduyun-duyun pergi ke banjar. Sebenarnyalah dua orang terikat pada dua batang pohon yang tumbuh di halaman banjar. Orang yang juga belum  mereka kenal. Kedua orang itu agaknya telah pingsan meskipun keduanya masih hidup. Agaknya keduanya telah menjadi kepanasan oleh lidah api yang menelan banjar padukuhan mereka. Banjar yang mereka dirikan dengan susah payah itu telah menjadi abu diterpa oleh kemarahan Sang Maha Api karena pokal orang bongkok itu. Kedua orang itu tubuhnya basah oleh keringat. Sementara udara di halaman banjar itu masih terasa panas, meskipun api sebagian besar sudah padam. Seorang penghuni padukuhan yang sudah separo baya berkata, “Ambil air. Kita harus segera mendinginkan mereka.” Seseorangpun telah berlari-lari ke sumur. Dengan upih orang itu membawa air yang kemudian telah disiramkan ke wajah kedua orang yang pingsan itu. Kedua orang itu mulai menggeliat. Bahkan kemudian keduanya mulai menggelengkan kepalanya serta membuka matanya. Namun adalah diluar dugaan ketika tiba-tiba sesosok tubuh yang hanya nampak hitam di kelamnya malam muncul dari antara sisa kayu dan pecahan genting yang berserakan di bekas banjar itu berdiri, sementara malam seakan-akan menjadi semakin hitam. Orang-orang yang berada di halaman padukuhan itu termangu-mangu. Oncor di regol halaman banjar masih menyala, meskipun cahayanya tidak dapat menggapai seluruh halaman, juga tidak dapat menerangi sosok tubuh yang muncul dan dalam sisa-sisa kebakaran itu, meskipun disanasini masih nampak lidah api menyala meskipun hanya sejengkal. Juga masih ada kayu yang membara dan kerangka bambu yang meledak.  Orang-orang yang ada di halaman tiu merasa bulu-bulu tengkuk mereka meremang ketika mereka mendengar sosok yang hitam itu tertawa berkepanjangan. “He, orang-orang padukuhan yang dungu? Kenapa kalian percaya bahwa banjar kalian telah ditelan oleh murka Sang Maha api karena terhina oleh persembahan orang bongkok itu? Kalian mengira bahwa kuasa Sang Maha Api itu mengatasi segala-galanya, sehingga mampu menghukum kalian dengan menelan banjar itu? Semua itu omong kosong. Lihatlah dua orang yang terikat itu. Merekalah yang telah membakar banjar kalian atas perintah orang-orang dari padepokan. Mereka ingin meyakinkan kalian, betapa besar kuasa Sang Maha Api, sementara orang-orang itu sendiri tidak percaya akan kuasa Sang Maha Api itu sendiri. Lihat kedua orang itu. Apa yang telah mereka lakukan? Tanyakan kepada mereka, mereka tentu tidak dapat menjawab, karena mereka juga tidak tahu, tidak pernah merasa bersentuhan, apalagi bahwa Sang Maha Api itu menanggal didalam dirinya. Yang mereka tahu adalah, bahwa api itu panas. Sedangkan sinar matahari juga panas dan bersumber dari Maha Sumbernya di langit. Yang mereka tahu bahwa api itu memancarkan sinar sebagaimana bulan di iangit.” Halaman itu telah dicengkam oleh ketegangan Sementara itu, kedua orang yang terikat itu menggeretakkan gigi mereka. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka masih terikat pada batang pepohonan. Dalam pada itu, sosok yang kehitam-hitaman itu masih berkata, ”Sekarang kalian berhadapan dengan kenyataan. Tidak ada kuasa Sang Maha Api yang dapat murka karena orang bongkok itu telah menghinanya. Yang terjadi adalah dua orang itulah yang telah membakar banjar ini.”  Orang-orang padukuhan itu semuanya telah memandang kedua orang yang terikat itu dengan penuh kebencian. Namun sosok yang hitam itu berkata pula, ”Tetapi kalian jangan bertindak apa-apa. Kita justru harus melaporkannya. Jika kalian berbuat sesuatu atas kedua orang itu, maka seisi padepokan itu akan marah dan mendatangi kalian untuk membalas dendam. Karena itu, jangan kecewa bahwa orang yang membakar banjar padukuhanmu aku lepaskan. Keduanya telah melakukan tugas mereka dengan baik, membakar banjar padukuhan. Orang-orang padukuhan itu memang menjadi bimbang. Ia tidak tahu pasti maksud sosok yang tiba-tiba saja muncul dari reruntuhan banjar yang terbakar itu. Namun sosok itupun kemudian telah melangkah kearah kedua orang yang terikat itu sambil berkata, ”Biarkih keduanya kembali ke padepokannya. Biarlah keduanya melaporkan kepada orang yang menyebut dirinya Banyu Bening tetapi tidak tahu artinya, bahwa orang-orang padukuhan itu sudah tahu, merekalah yang membakar banjar padukuhan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan setandan pisang yang disiapkan untuk persembahan dari orang bongkok itu.” Tidak seorangpun yang berbicara di antara orang-orang yang ada di halaman banjar itu. Mereka merasa seakan-akan mereka berada didalam sanggar. Suasananya justru lebih mencekam ketika bayangan itu melangkah mendekati kedua orang yang terikat di batang pepohonan itu. Sejenak kemudian orang itu mencabut sebuah pisau kecil. Kemudian dengan pisau itu, ia telah memutuskan tali pengikat kedua orang itu. Adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba seorang yang bertubuh gemuk telah menyerang orang yang melepaskan  talinya itu. Dengan cepat ia mengayunkan tangannya menghantam kearah kening. Tetapi orang itu sendirilah yang kemudian menjerit sambil meloncat surut. Ternyata tangannya sama sekali tidak menyentuh kening. Tetapi tangan itu telah menyambar tajamnya pisau di tangan orang yang telah memotong tali pengikatnya. Orang itu tertawa. Katanya “Bukan salahku. Jika kalian masih saja keras kepala, maka pisau ini akan menggorok leher kalian berdua.” Orang itu memegangi tangannya yang berdarah. Tetapi ia tidak menjawab. ”Nah, sekarang pergilah. Katakan kepada Banyu Bening yang tidak bening itu, bahwa kami akan tetap menentangnya sampai ia menyadari, bahwa yang dilakukan itu sama sekali tidak pantas. Ia merasa terpukul karena anaknya terbakar. Tetapi pada suatu saat ia akan merasa terhibur melihat bayibayi yang terbakar seperti anaknya. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan matahari dan bulan.” Kedua orang itu termangu-mangu, sehingga orang yang semula muncul dari antara reruntuhan itu membentak mereka “Cepat, pergi atau aku akan mengambil keputusan lain.” Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah menjauhi orang yang melepaskan mereka itu. Sementara orang-orang padukuhan telah melihatnya. Namun ketika keduanya sampai di regol, seorang diantara keduanya berteriah, “Awas. Pada suatu saat aku akan kembali untuk membunuhmu. Kau akan mati di atas api persembahan. Tubuhmu akan hancur menjadi debu. Ingat besok jika purnama naik, maka kami benar-benar akan mengorbankan  kau. Jika kau bersembunyi, maka salah seorang penghuni padukuhan ini akan kami korbankan. Demikian berturut-turut setiap purnama. Kecuali jika ada seorang bayi yang diserahkan.” Tetapi demikian ia selesai berbicara dan melangkah untuk meninggalkan halaman banjar itu, sebuah pukulan yang keras telah mengenai mulutnya. Sambil meloncat surut dan bahkan hampir kehilangan keseimbangannya, orang itu mengaduh. Ternyata dua giginya telah tanggal dan darah mengalir dari sela-sela bibirnya. “Kau sudah dibebaskan. Tetapi mulutnya masih saja meneriakkan kegilaanmu.” Kedua orang yang akan meninggalkan halaman itu tersentak. Dipandanginya orang yang berdiri di hadapannya. Karena orang itu membelakangi oncor di regol halaman, maka wajah orang itu tidak nampak jelas. “Kau sudah dibebaskan dan dapat kembali ke padepokan. Tetapi suaramu menyengat telinga. Sebenarnya aku ingin membunuhmu sekarang. Tetapi biarlah kau kembali kepada Kiai Banyu Bening untuk memberikan laporan lengkap tentang peristiwa yang terjadi disini. Juga tentang keberhasilanmu membakar banjar tepat pada waktu yang sudah diperhitungkan oleh kawan-kawanmu.” Kedua urang itu tidak menyahut. Ketika mereka berpaling, mereka masih melihat orang yang melepaskannya itu berdiri di sebelah batang pohon itu. Ternyata ada beberapa orang-berilmu tinggi yang membayangi kekuatan padepokan mereka. “Nah,“ berkata orang yang telah memukul mulut salah seorang dari kedua orang itu hingga berdarah “sekarang  pergilah. Beritahukan kepada Banyu Bening, bahwa kami akan tetap membayanginya sampai ia menyadari, bahwa ia tidak dapat melontarkan dendamnya kepada bayi diseluruh permukaan bumi ini.” Kedua orang itu masih berdiri mematung. Namun orang yang telah memukulnya itu berkata lagi, “pergilah. Kesempatan bagi kalian masih terbuka.” Kedua orang itupun kemudian telah beringsut perlahanlahan. Namun kemudian keduanya seakan-akan telah meloncat dan berjalan dengan cepat meninggalkan regol banjar padukuhan itu. Dalam pada itu, orang yang telah memutus tali yang mengikat kedua orang yang membakar banjar itu berkata kepada orang-orang yang berada di halaman, “Sekarang, pulanglah. Pesanku, jangan dengan serta-merta menentang orang-orang dari padepokan itu. Tetapi kalian sudah mengetahui, bahwa mereka telah berusaha memperbodoh kalian. Orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu telah kehilangan anak bayinya yang terbakar. Ia merasa terpukul oleh peristiwa itu. Tetapi kami belum tahu pasti, siapakah yang telah bersalah atas kematian bayi itu. Mungkin justru Kiai Banyu Bening sendiri. Dan ia berusaha menimpakan kesalahannya kepada orang lain.” Orang-orang yang berada di halaman itu memang telah tersentuh hatinya. Tetapi mereka menyadari, bahwa menentang orang-orang padepokan akan berarti hancurnya padukuhan mereka. Demikianlah, maka satu-satu mereka telah keluar dari regol halaman banjar padukuhan yang telah menjadi abu. Di beberapa bagian api masih nampak menyala. Tetapi sudah menjadi semakin kecil. Masih ada pula bara yang merah  diantara setumpuk reruntuhan. Namun sudah tidak banyak berarti lagi. Sebuah kentungan yang menjadi kebanggaan padukuhan itu, karena besarnya dan bunyinya yang mendengung seperti gema yang menyusuri lembah di antara bukit-bukit, telah ikut menjadi abu pula. Malam itu setiap keluarga telah membicarakan banjar mereka yang terbakar. Satu dua diantara mereka telah membicarakan pula orang-orang yang disebut membakar banjar itu. “Siapakah sebenarnya orang bongkok itu?“ desis Ki Krawangan yang duduk bersama keluarganya, ”ternyata kedatangannya di padukuhan ini bukan sekedar kelaparan dan kehausan.” Delima mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak menyahut. Yang kemudian berbicara adalah Nyi Krawangan, ”Orang bongkok itu agaknya membawa pesan yang lebih berarti bagi para penghuni padukuhan ini.” Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Aku tidak tahu, bagaimana sikap kakang terhadap peristiwa yang baru saja terjadi di sanggar dan di banjar. Dua peristiwa yang memang saling berhubungan. Jika benar kedua orang itu membakar banjar, maka segala sesorah orang-orang padepokan itu adalah omong kosong.” “Apalagi menilik keterangan orang yang tidak dikenal itu. Kiai Banyu Bening, eh, jabang bayi, aku telah menyebut namanya, orang yang dibayangi oleh dendam karena kematian bayinya itu, ingin melihat orang lain juga mengalami sebagaimana dialaminya.  “Jika demikian, ia adalah orang yang perlu dikasihaninya,” desis Ki Krawangan. Nyi Krawangan termangu-mangu sejenak. Dipandanginya anak perempuannya. Delima memang menjadi gelisah, tetapi ia tetap berdiam diri. Namun peristiwa yang terjadi di sanggar itu nampaknya akan menjauhkan orang bongkok dan dua orang cucunya itu dari padukuhannya, karena orang-orang padukuhan ini telah mengenalnya. Delima tidak dapat membayangkan tanggapan orang-orang dipadukuhannya terhadap Ki Pandi. Apakah mereka menjadi marah, merasa terhina, atau justru seperti ayah dan ibunya, yang nampaknya mempunyai sikap tersendiri terhadap orang bongkok itu. Dalam pada itu, maka Ki Krawangan pun kemudian berkata, ”Sudahlah. Kita akan tidur. Kita akan melihat perkembangan keadaan esok pagi.” Tetapi Nyi Krawangan agaknya justru merasa cemas. Karena itu, iapun bertanya kepada suaminya, ”Apakah orangorang padepokan itu dapat menuduh kita terlibat dalam persoalan ini? Maksudku, apakah orang-orang padepokan menganggap bahwa kita telah menjadi jembatan kehadiran orang bongkok dan kawan-kawannya di padukuhan ini karena orang bongkok itu pernah berada dirumah ini?” Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Entahlah Nyi. Tetapi mudah-mudahan tidak. Karena itu, aku berharap besok kakang datang kemari. Aku ingin berbicara dengan kakang.”  Nyi Krawangan pun mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berkata kepada Delima dan Kenanga, ”Sudahlah. Hari telah larut. Sebaiknya kita pergi tidur saja.” Ketika kemudian Nyi Krawangan, Delima dan Kenanga sudah berbaring didalam biliknya, Ki Krawangan masih duduk di ruang tengah. Sebuah mangkuk berisi wedang jahe telah dihirupnya beberapa kali. Bagaimanapun juga Ki Krawangan juga menjadi gelisah. Orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu memang dapat menuduhnya bahwa ia telah berhubungan sebelumnya dengan orang bongkok itu. Kakaknya memang pernah memberitahukannya dan bahkan para cantrik pernah datang pula kepadanya. Baru menjelang dini, Ki Krawangan itu sempat tidur beberapa saat. Ketika fajar menyingsing, Ki Krawangan telah terbangun. Ia minta agar isterinya tidak pergi ke pasar atau ke mana-mana. “Ada apa kakang?“ bertanya Nyi Krawangan. “Apapun yang terjadi, kita ada dirumah.” Nyi Krawangan mengangguk. Katanya “Baiklah. Biarlah Delima mencuci di sumur saja nanti.” Tetapi ketika kemudian matahari terbit, Delima telah mengumpulkan cuciannya di dalam bakul yang selalu dibawanya mencuci ke sungai. “Delima,” berkata ibunya “kau nanti tidak usah pergi ke sungai. Kau cuci saja pakaian kotor itu di sumur.” “Kenapa? “ bertanya Delima.  “Kau tahu bahwa baru semalam terjadi keributan. Banjar kita masih berasap. Kita tidak tahu apakah orang-orang dari padepokan semalam ada yang menjadi korban. Maksudku, terbunuh. Karena itu, maka sebaiknya kita berkumpul saja dirumah. Mungkin pamanmu akan datang memberikan penjelasan, apakah keluarga kita dianggap terlibat atau tidak.” Delima termangu-mangu sejenak. Tetapi rasa-rasanya ia ingin pergi ke sungai, justru karena semalam terjadi keributan. Apakah orang bongkok itu masih datang atau benar-benar menjauhkan dirinya dari padukuhan ini. Karena itu, maka Delima itupun berkata “Tetapi mencuci di sungai lebih bersih ibu. Lagi pula aku tidak usah menimba air.” “Tetapi suasananya tidak menguntungkan Delima. Sebaiknya kau tetap dirumah. Jika terjadi sesuatu di padukuhan ini karena peristiwa yang terjadi semalam, kita sudah berkumpul di rumah.” Delima menjadi kecewa. Tetapi ia memang menjadi cemas bahwa sesuatu akan terjadi di padukuhan itu sebagaimana dikatakan oleh ibunya. Bahkan mungkin sesuatu akan terjadi pada keluarganya, karena kecurigaan orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening terhadap keluarganya. Orangorang dari padepokan itu dapat menganggap bahwa keluarganya merupakan jembatan kehadiran orang bongkok itu di padukuhan. Karena itu, maka Delima pun memutuskan untuk tidak pergi ke sungai hari iiu. Ia akan mencuci di sumur. Tetapi Delima itu pun kemudian berkata kepada adiknya, “Kau harus membantu aku menimba air.” “Aku membantu menggosok dengan lerak saja,“ jawab Kenanga.  ”Kau tidak boleh malas.” ”Aku sudah mencuci mangkuk.” “Sudahlah,“ ibunya memotong, ”bukankah ayahmu sudah mengisi jambangan sampai penuh. Nanti ayahmu akan mengisinya lagi.” “Bukan karena jambangan penuh ibu. Tetapi Kenanga tidak boleh bermalas-malasan saja. Ia menjadi semakin tumbuh dan menjadi besar. Ia tidak boleh selalu bermanja-manja.” “Delima, kau kenapa sebenarnya? Bukankah kau tidak pernah berkata demikian?” Delima termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab lagi. Dipugutnya bakul yang berisi pakaian-pakaian kotor itu dan dibawanya ke sumur. Sambil berjalan ia melihat adiknya mengusap matanya yang basah. Sambil melangkah Delima berdesis perlahan yang hanya dapat didengarnya sendiri, ”Anak manja yang cengeng.” Tetapi ketika ia mulai duduk di atas dingklik kayu setelah merendam pakaian-pakaian yang kotor itu, hatinya menjadi luluh melihat Kenanga melangkah mendekatinya sambil berusaha menghapus air matanya. “Biar aku menimba air kak? “ suaranya agak serak. Delima memandang adiknya yang berdiri termangu-mangu. Namun katanya” Sudahlah Kenanga. Jambangan itu sudah penuh. Ayah sudah mengisinya.” “Tetapi kak Delima marah” berkata adiknya. “Tidak. Aku tidak marah Kenanga.”  Kenanga masih ragu. Selangkah ia mendekat, sementara Delima berkata, “marilah. Bantu aku menggosok dengan lerak!” Kenanga pun kemudian berjongkok di sebelah Delima. Dicobanya untuk membantu mencuci pakaian-pakaian yang kotor itu. Dalam pada itu, Delima sempat merenungi dirinya sendiri. Kenapa tiba-tiba saja ia menjadi kesal. Namun akhirnya Delima menyadari bahwa ia menjadi kecewa karena ia tidak dapat pergi ke sungai untuk bertemu dan berbicara dengan orang bongkok itu. Tetapi ia telah menimpakan kekesalannya itu kepada adiknya. Dalam pada itu, Ki Krawangan yang duduk di ruang dalam masih saja merasa gelisah. Nyi Krawangan yang sibuk di dapur, sempat melupakan kegelisahannya sejenak, justru karena kesibukannya. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Ki Krawangan bergegas menyongsong kakaknya yang benarbenar telah datang ke rumahnya. Dipersilahkannya kakaknya itu duduk didalam. Rasa-rasanya Ki Krawangan tidak sabar menunggu, apa yang akan dikatakan oleh kakaknya itu. “Krawangan,“ berkata kakaknya “beberapa orang kawanku memang mempertanyakan hubunganmu dengan orang bongkok itu.” “Tetapi kakang tahu, bahwa aku tidak mempunyai hubungan apa-apa.”  “Ya. Para cantrik yang kemarin ada disini itu juga mengatakan bahwa kau tidak mempunyai hubungan apa-apa.” kakaknya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya “Tetapi sekarang yang ada hanya aku, Krawangan. Aku ingin kau berkata dengan jujur. Apakah sebenarnya kau mempunyai hubungan atau tidak.” Sementara itu Delima yang diberitahu oleh ibunya, bahwa pamannya telah datang, berkata kepada adiknya, ”Kau tunggu cucian ini Kenanga. Jika kau dapat membantu, lakukanlah. Tetapi jika kau merasa lelah, tunggui sajalah disini.” Kenanga yang masih dibayangi oleh kemarahan kakaknya tidak berani membantah. Sambil mengangguk Kenanga menyahut “Baik, kak. Tetapi jangan lama-lama.” “Tidak. Aku tidak akan menunggui pembicaraan ayah dan paman sampai selesai.” Bersama ibunya, maka Delima pun kemudian masuk ke dalam. Tetapi keduanya tidak menemui pamannya. Keduanya berusaha mendengarkan pembicaraan Ki Krawangan dengan kakaknya yang menjadi salah seorang penghuni padepokan Kiai Banyu Bening dari balik dinding. Dalam pada itu, Krawangan berusaha menjelaskan sekali lagi, kenapa orang bongkok itu pernah berada dirumahnya sebelum terjadi peristiwa yang mengguncang tatanan yang dibuat oleh orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening itu. Kakak Ki Krawangan itu mengangguk-angguk. Dengan nada berat ia berkata, ”Ternyata segala sesuatunya telah disusun dengan rapi oleh orang bongkok itu. Tetapi kenapa ia telah memilih rumah ini? Apakah orang bongkok itu mengetahui, bahwa kau adalah adik dari salah seorang penghuni padepokan itu?”  “Aku tidak tahu, kakang. Yang aku ketahui, orang bongkok itu ada didepan rumahku. Sementara itu, ia mengaku kelaparan dan kehausan.” Kakak Ki Krawangan itu kemudian berdesis, ”Ternyata kelompok mereka terdiri dari beberapa orang berilmu tinggi. Semalam, tiga orang kawanku terluka cukup berat. Seorang diantaranya jiwanya sangat terancam. Sedangkan yang lain. semuanya terluka dan pingsan. Aku juga tiba-tiba saja tidak ingat apa-apa lagi.” Ki Krawangan mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian (teks tdk terbaca) “Dua orang-orang yang tidak dikenal ini dikatakan telah membakar banjar dengan sengaja uniuk memberikan kesan kemurkaan Sang Maha api.” Wajah kakak Ki Krawangan itu menjadi tegang. Sementara kepada kakaknya, Ki Krawangan itu berkata “Aku hanya berani mengatakan kepadamu kakang. Aku tidak berani mengatakan kepada siapapun juga, karena akan dapat menimbulkan salah paham. Bahkan aku tidak berani membicarakannya dengan orang-orang yang juga mendengar langsung keterangan orang yang tiba-tiba saja muncul dari reruntuhan banjar itu.” “Mereka akan dapat menghancurkan padepokan Kiai Banyu Bening itu.” Ki Krawangan melihat kecemasan di wajah kakaknya. Namun kemudian diberanikan dirinya untuk bertanya, ”Kakang, kakang minta agar aku berkata dengan jujur. Akupun telah menjawab semua pertanyaan kakang dengan jujur. Sekarang, apakah aku juga dapat minta kakang menjawab pertanyaanku dengan jujur dan tidak menimbulkan salah paham. Jika kakang bersedia menjawab dan tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka aku akan  mengajukan beberapa pertanyaan. Tetapi jika kakang berkeberatan, maka akupun akan mengurungkannya.” Wajah kakak Ki Krawangan itu menjadi tegang. Tetapi ia seakan-akan mempunyai hutang kepada adiknya. Ketika adiknya itu menagihnya, maka sulit baginya untuk mengelak. “Apa yang akan kau tanyakan?“ desis kakaknya. Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian barulah ia bertanya, ”Apakah yang dikatakan oleh orang yang tiba-tiba saja muncul dari rerumputan itu benar?” “Yang mana yang kau maksudkan?” kakak Ki Krawangan memang menjadi agak bingung. “Maksudku, aku ingin mendapat jawaban tentang apakah benar bahwa banjar itu memang sengaja dibakar? Kemudian apakah benar, bahwa sebenarnya upacara yang dilakukan setiap bulan purnama yang mengarah kepada penyerahan korban seorang bayi itu semata-mata karena dendam yang membakar jantung Kiai Banyu Bening dan sama sekali tidak ada hubungan dengan kepercayaan tentang kesejahteraan lahir dan batin?" Wajah kakak Ki Krawangan menjadi sangat tegang. Dengan nada berat ia berkata, ”Jangan bertanya kepada siapapun tentang kebenaran ceritera itu. Jika terdengar orang-orang dari padepokan, maka kau akan dapat dibunuh.” “Sudah aku katakan, kakang. bahwa aku tidak berani berbicara tentang keterangan orang-arang yang tidak dikenal itu dengan siapapun juga. Bahkan dengan orang-orang yang langsung mendengarnya.” Kakak Ki Krawangan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, ”Krawangan. Jika semula aku hanya ingin  tahu tentang isi padepokan Kiai Banyu Bening, maka akhirnya aku terjerat didalamnya. Sulit bagiku dan bagi orang-orang yang sudah terikat dapat melepaskan diri. Kami, orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening itu, satu dengan yang lain selalu saling mencurigai, saling mengawasi dan jika perlu saling membunuh di antara kami.” “Jadi bagaimana menurut pendapat kakang tentang ceritera orang yang tidak dikenal itu?” Kakak Ki Krawangan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Sebagian besar dari yang dikatakannya itu benar, Krawangan. Banjar ini memang sengaja dibakar. Aku sebagai penghuni padukuhan ini sebenarnya merasa berkeberatan. Tetapi aku tidak berani mencegahnya, agar tidak menimbulkan masalah baru. Sedangkan dendam yang menyala dihati Kiai Banyu Bening tentang bayinya yang terbakar itu juga benar.” “Jika demikian, apa artinya sebuah padepokan dengan para pengikutnya yang besar dan bahkan semakin besar? Mungkin Kiai Banyu Bening mendapat kepuasan kelak, jika korban bayi itu sudah dimulai. Ia akan merasa bahwa ia tidak sendiri kehilangan anak bayinya yang ditelan api. Ia akan tertawa mendengar jerit bayi yang kepanasan dan kemudian membakarnya menjadi abu. Tetapi apa yang didapatkan oleh para pengikutnya, seperti kakang, misalnya. Atau orang bertubuh raksasa yang terluka itu. Atau yang lain lagi. Bahkan yang hampir mati terbunuh oleh orang- orang yang tidak dikenal itu. “Krawangan, isi padepokan itu bukan sekedar orang-orang yang sesorah mengelabuhi banyak orang dengan ceritera Sang Maha Api. Tetapi dipimpin oleh Kiai Banyu Bening sendiri sekelompok orang telah berkeliaran dengan alasan untuk mendapatkan dana bagi perkembangan padepokannya serta  menyebarkan kepercayaan untuk mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin.” “Bagaimana cara mereka untuk mendapatkan dana itu?” “Kau sengaja bertanya untuk memancing agar aku menyebutnya? Baiklah. Kami memang sering melakukan perampokan. Tentu tidak atas nama padepokan Kiai Banyu Bening. Selanjutnya, di kemudian hari, jika kami sudah berhasil mengikat orang-orang yang sudah terlanjur percaya, maka kami akan dapat memeras mereka. Uang dan barangbarang itu akan mengalir dengan sendirinya ke padepokan kami.” “Dan kakang menjadi salah seorang diantara mereka?” bertanya Ki Krawangan. “Aku sudah terlanjur terlibat didalamnya. Sulit bagiku untuk melepaskan diri. Jika aku hilang dari lingkungan mereka, maka semua keluargaku tentu akan ditumpas habis. Termasuk kau dan anak isterimu. Apalagi sekarang, setelah orang bongkok itu hadir di padukuhan ini,” kakaknya berhenti sejenak. Namun kemudian dengan kerut yang semakin dalam di keningnya ia berkata, “Selama ini aku adalah salah seorang diantara mereka yang mendapat kepercayaan itu untuk tetap dapat berbuat banyak. Tetapi aku sebenarnya sedang mencari jalan untuk keluar dari neraka itu. Apalagi Kiai Banyu Bening sudah mengatakan niatnya, untuk benar-benar mengorbankan seorang bayi meskipun baru akan dilakukan di padepokan itu saja.” Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Semula ia tidak mengira bahwa kakaknya itu justru merasa tersiksa. Ia mengira bahwa kakaknya benar-benar merasa terpanggil untuk bekerja keras menyebarkan kepercayaan yang sekedar  menjadi selubung dari satu gerakan yang kotor. Dendam dan pemerasan. Tetapi Krawangan sendiri tidak berdaya untuk membantu kakaknya melepaskan diri dari lingkungan yang terkutuk itu. Kakaknya yang melihat wajah Ki Krawangan menjadi muram, berkata “Sudahlah. Jangan hiraukan aku. Aku akan dapat menjaga diriku sendiri.” Ki Krawangan mengangguk-angguk. Katanya “Maaf kakang. Aku tidak dapat membantu apapun juga.” “Aku mengerti” jawab kakaknya, jika kau melibatkan diri, maka kaulah yang lebih terancam daripada aku sendiri. Bahkan dengan anak dan isterimu. Karena itu, kau justru harus berdiri pada jarak tertentu. Sementara ini aku masih orang yang dipercaya sehingga sikapku masih harus tidak berubah.” Ki Krawangan mengangguk-angguk sambil berdesis, “Baik kakang.” Demikianlah, maka kakak Ki Krawangan itupun segera minta diri. Sebelum ia meninggalkan tempat itu ia berkata, “Kau harus berhati-hati Krawangan. Meskipun sampai, saat ini kau masih di-anggap bersih tetapi kau termasuk salah seorang yang pernah dibicarakan oleh para pemimpin padepokan Kiai Banyu Bening itu.” “Ya, kakang. Tetapi sebenarnyalah aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang bongkok itu.” Sejenak kemudian, maka kakak Ki Krawangan itu telah meninggalkan rumah adiknya. Sementara Ki Krawangan mengantarnya sampai ke luar regol halaman rumahnya.  Ketika seseorang lewat didepan regol itu, maka iapun telah mengangguk dalam-dalam. Mereka menganggap bahwa kakak Ki Krawangan itu adalah salah satu dari antara orang-orang yang dihormati di padepokan Kiai Banyu Bening, karena kakak Ki Krawangan itu sudah mendapat wewenang untuk memberikan sesorah di sanggar diluar padukuhan itu. Karena kakaknya itu pula, maka Ki Krawangan sendiri termasuk orang yang dihormati pula di padukuhan itu. Delima dan ibunya mendengar semua pembicaraan itu. Ibunya, seperti juga ayahnya, sama sekali tidak melihat jalan yang dapat ditetapkan oleh kakak Ki Krawangan itu. Namun Delima agak su8ngkan untuk menyampaikannya kepada orang bongkok itu apabila mendapat kesempatan. “Besok aku akan mencuci di kali. Mudah-mudahan orang bongkok itu masih mau datang lagi.” berkata Delima didalam hatinya. Sebenarnyalah di keesokan harinya, Delima telah minta ijin ayah dan ibunya untuk mencuci di kali. “Suasananya masih belum menentu, Delima,” berkata ibunya. “Jika terjadi sesuatu, tentu telah terjadi kemarin, ibu,” jawab Delima “agaknya memang tidak terjadi sesuatu. Apakah paman mengatakan  bahwa crang-orang dari padepokan itu akan berbuat sesuatu atas orang-orang padukuhan ini?” “Tidak” jawab ayahnya, “tetapi kita harus tetap berhatihati.” “Bukankah aku tidak akan berbuat apa-apa, ayah. Hanya mencuci pakaian. Tidak lebih.” Ki Krawangan menarik nafas panjang. Namun akhirnya ia berkata “Tetapi jangan terlalu lama. Kaupun harus berhatihati. Jika bukan orang dari padepokan, mungkin orang-orang yang tidak kita kenal itu masih berkeliaran disini. Terutama orang bongkok itu.” “Bukankah orang bongkok itu tidak berniat jahat? Ia justru mencoba untuk mengingatkan kita, bahwa jalan yang selama ini kita tempuh harus kita pertimbangkan lagi.” “Delima “potong ayahnya “kau jangan berkata begitu. Hatihatilah dengan setiap kata yang kau lontarkan. Jika lidahmu tergelincir maka kau akan dapat terjerumus kedalam kesulitan” Delima memandang ayahnya dengan tajamnya. Namun kemudian ia mengangguk kecil sambil menjawab, ”Ya, ayah.” “Untuk selanjutnya, kau jangan mengatakan apa saja tentang hubungan kita dengan orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening, Mereka adalah orang-orang tanpa hati tanpa jantung.” Delima mengangguk pula. Katanya, ”Ya, ayah.” “Nah, berhati-hatilah. Jangan terlalu lama.”  Delima pun kemudian membawa bakul berisi pakaian yang kotor itu ke sungai. Seperti biasanya iapun merendam cuciannya. Satu-satu ia mulai mencuci dengan lerak. Beberapa saat lamanya Delima mencuci. Ternyata memang belum ada orang lain yang keluar dan mencuci pakaiannya di kali sebagaimana dilakukan oleh Delima, sehingga karena itu, maka Delima itupun berada di tepian itu sendiri. Setiap kali Delima selalu memandang genunbul-gerumbul di-seberang. Orang bongkok dan kedua orang cucunya, atau kadang-kadang sendiri, sering keluar dari gerumbul disederang. Namun setelah i a menunggu beberapa lama, namun orang bongkok itu belum juga keluar dari dalam gerumbul. “Agaknya kakek bongkok itu tidak mau lagi datang,“ berkata Delima didalam hatinya. Sebenarnya, ingin menceriterakan sikap pamannya yang sangat menarik baginya. Pamannya yang harus berada ditempat yang dibencinya, sehingga karena itu, maka ia merasa selalu tersiksa. Tetapi Delima masih menunggu. Ia masih. tetap mencuci meskipun sebenarnya cuciannya sudah bersih. Sekali-sekali Delima meletakkan cuciannya. Bangkit terdiri dan menggeliat karena pinggulnya terasa menjadi pegal. Namun orang bongkok itu tidak juga datang. Akhirnya Delima menjadi kesal. Dimasukkannya cuciannya yang sudah bersih itu kedalam bakulnya. Dibenahinya pakaiannya, kemudian Delimapun siap untuk meninggalkan tepian.  Namun langkah Delima berhenti. Dua orang laki-laki berjalan kearahnya. Dua orang laki-laki yang agaknya belum dikenalnya. Tetapi ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat, maka Delimapun merasa pernah melihat wajah kedua orang itu. Namun Delima tidak menghiraukannya. Ia tidak tahu pasti, apakahia pernah melihat atau belum. Tetapi ketika ia melangkah sambil menjinjing bakulnya, salah seorang dari kedua orang itu memanggilnya, “nDuk. Tunggu.” Karena tidak ada orang lain, maka Delimapun merasa bahwa orang itu telah memanggilnya. Karena itu, maka Delimapun telah berhenti. “Tunggu,” berkata orang itu pula. ”Kenapa kau tergesagesa pergi? Bukankah hari masih pagi?” Delima merasakan nada yang tidak wajar pada suara lakilaki itu. Karena itu, maka iapun justru telah melangkah pula naik ke tanggul. Tetapi laki-laki itu berkata lebih keras lagi. “Tunggu, he nduk. Jangan pergi. Ada yang ingin aku katakan kepadamu.” Delima tidak menghiraukannya. Justru ia menjadi semakin ketakutan. Karena itu, maka ia berusaha untuk. semakin cepat meninggalkan tempat itu. Tetapi kedua orang laki-laki itu juga melangkah semakin cepat. Ketika Delima hampir mencapai ujung tanggul, kedua orang itu sudah berada dibawahnya. Bahkah seorang diantara mereka telah memegang kaki Delima dan menariknya dengan kasar.  Delima terseret turun. Bakulnya terlepas dari tangannya dan. bahkan ia sendiri bergulir, beberapa kali dan kemudian terbaring kembali di tepian. Delima dengan tergesa-gesa berusaha bangkit. Sementara kedua orang laki-laki itu tertawa berkepanjangan. “Kau akan lari kemana nduk?” bertanya salah seorang dari keduanya. Wajah Delima menjadi pucat. Ia menyesal, bahwa ia telah pergi ke kali untuk mencuci. Kenapa ia tidak mendengarkan nasehat ayah dan ibunya, agar tidak pergi dalam suasana yang masih tidak menentu. Tiba-tiba saja Delima mulai mengenali kedua orang itu. Keduanya tentu orang dari padepokan Kiai Banyu Bening. Dengan gagap Delima pun bertanya “Siapakah kalian berdua?” Kedua orang itu masih tertawa. Seorang dari merekapun kemudian menyahut “Tidak ada gunanya kau mengetahui siapa kami.” “Kenapa kalian menggangguku?“ bertanya Delima pula. “Kami tidak mengganggumu. Kami hanya ingin dudukduduk bersamamu disini. Kenapa kau lari?” “Aku harus segera pulang. Aku harus masak bagi keluargaku.” “Itu tidak perlu” jawab salah seorang dari kedua orang itu” lebih baik bersama kami disini.” Delima benar-benr menjadi ketakutan. Mata kedua orang laki-laki itu menjadi semakin liar.  Tepian itu memang sepi. Biasanya banyak kawan-kawannya yang mencuci pakaian. Sekali-sekali ada orang yang memandikan kerbau atau sapinya. Sering juga anak-anak yang menggembalakan kambingnya bermain-main di tepian. Atau seorang pencari ikan yang menyusuri arus sungai itu. Tetapi hari itu tepian itu sama sekali tidak disentuh kaki seorangpun kecuali Delima. Ternyata kedua orang ini benar-benar menjadi liar. Seorang diantara mereka berkata, “Marilah. Kita bawa anak ini ke seberang. “Jangan” Delima mulai menangis. “Diam kau,” bentak salah seorang dari kedua orang itu. ”Aku akan berteriak “ tangis Delima. “Tidak akan ada orang yang mendengar. Tetapi jika kau lakukan juga, aku akan membunuhmu.” Ternyata Delima tidak menghiraukannya. Ia benar-benar berteriak nyaring. Tetapi dengan cepat, kedua orang laki-laki itu menyergapnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Iblis betina,“ geram yang seorang. Tetapi yang seorang berkata “Aku senang kepada perempuan yang tidak mudah menyerah. Marilah, kita bawa anak ini keseberang. Cepat.” Namun sebelum kedua orang laki-laki itu menyeret Delima keseberang, maka tiba-tiba seseorang telah berdiri diatas tanggul memandangi mereka dengan dahi yang berkerut.  Kedua orang laki-laki yang menyeret Delima itu terkejut. Tetapi keduanya menarik nafas lega. Seorang diantara mereka berdesis, ”Ki Warana. Aku kira siapa?” “Apa yang kalian lakukan?“ bertanya orang itu. Kedua orang laki-laki itu tertawa. Katanya, “Biasa, Ki Waraha. Kami sudah terlalu lama tenggelam didalam tugas yang tidak berkeputusan. Tiba-tiba saja kami melihat perempuan yang kesepian ini. Kami memang merasa kasihan, sehingga kami perlu menemaninya.“ Delima memandang orang yang berdiri di atas tanggul itu dengan mata yang tanpa berkedip. Tetapi mulutnya justru bagaikan membeku. Delima tidak tahu, apa yang akan terjadi kemudian atas dirinya meskipun orang itu hadir diatas tanggul. Namun dengan nada berat orang itu berkata, “Lepaskan anak, itu.” “He?” kedua orang laki-laki ini terkejut. ”Lepaskan,” suara orang yang berdiri di atas tanggul itu menjadi semakin keras. Delima mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba saja ketegangan yang mencengkamnya sehingga membuat mulutnya bagaikan membeku itu, larut dalam satu pengharapan. Karena ini, maka tiba-tiba saja Delima berteriak, ”Paman.” Kedua orang laki-laki itu terkejut. Sejenak mereka termangu-mangu, tetapi mereka belum melepaskan Delima. “Lepaskan,” berkata orang yang berdiri diatas tanggul itu semakin lantang. ”Anak itu kemanakanku, kalian dengar?” ”Tetapi, tetapi .......” salah seorang laki-laki itu berdesis.  “Biarlah anak itu pulang kepada orang tuanya.” Namun tiba-tiba seorang dari kedua orang itu berkata “Ki Warana, hal itu tidak biasa. Biasanya tidak ada orang yang mencampuri persoalan orang lain di padepokan.” “Ini bukan persoalan orang lain. Aku sudah mengatakan, anak itu kemanakanku, apakah kalian tuli?” Tetapi kedua orang itu tidak mau kehilangan korbannya. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata “Kami tidak akan melepaskan anak ini. Kami memerlukannya.” Orang yang berdiri diatas tanggul itu melangkah turun. Demikian ia berdiri di tepian, maka suaranya yang berat terdengar lagi, ”Lepaskan, biarlah aku membawanya pulang. Gadis itu anak adikku.” “Aku tidak peduli,“ jawab salah seorang dari kedua orang itu. “Aku memberi peringatan terakhir kepada kalian. Jika kalian tidak melepaskannya, maka kita akan membuat perhitungan menurut kebiasaan kita, orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening. “Bagus,” sahut seorang diantara kedua orang yang menangkap Delima itu, ”kami akan membunuhmu. Kaulah yang mencari persoalan. Karena itu, jika kau mati, adalah karena salahmu sendiri. Wajah Ki Warana, kakak Ki Krawangan itu menjadi merah. Dengan geram ia berkata, “Jadi kau berdua sudah berani menentang aku, he? Berapa lama kalian berada di padepokan. Kalian sudah berani menentang orang-orang tua di padepokan itu. Karena itu, maka kalian tidak pantas lagi berada di  padepokan Kiai Banyu Bening, karena kau tentu hanya akan membuat air yang mengalir dari padepokan menjadi keruh.” Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi benak mereka telah dicengkam oleh nafsu iblis yang menyuruk kedalamnya. Karena itu seorang diantara mereka berkata, “Ki Warana. Kami berani menentangmu, karena kau memiliki kelainan dari orang-orang tua yang lain. Mereka tidak akan pernah menghalangi apapun yang kami lakukan. Tetapi kau telah mencoba merampas sesuap nasi yang sudah berada di mulutku. Karena itu, siapa pun orangnya, akan kami lawan dengan segenap kemampuan kami. Tetapi melawan orangorang tua yang tidak berarti seperti kau, tidak boleh setengahsetengah. Jika kakiku menginjak ular, maka sebaiknya aku injak kepalanya sampai mati, agar ular itu tidak akan mematuk aku dikemudian hari.” Ki Warana tidak dapat menahan diri lagi. Iapun segera bergeser mendekati kedua orang itu. Kedua orang itupun segera bersiap pula. Seorang di antara mereka masih memegangi Delima. Dengan geram Ki Warana pun telah menyerang salah seorang diantara mereka, sedangkan yang lain justru telah menyeret Delima agak menjauh. Sejenak kemudian, terjadi perkelahian antara salah seorang diantara kedua orang itu dengan Ki Warana. Namun Ki Warana memang memiliki banyak kelebihan. Dalam waktu singkat, lawannya telah terdesak. Beberapa kali serangan Ki Warana sempat mendorong lawannya, sehingga kadang-kadang keseimbangannya pun telah terguncang.  Namun dalam keadaan yang paling gawat bagi orang itu, terdengar kawannya berteriak “Cukup. Hentikan perkelahian atau gadis itu akan mati.” Ki Warana terkejut. Iapun kemudian melihat tangan orang yang memegangi Delima itu mencengkam lehernya. “Setan licik,“ geram Ki Warana “jika kalian laki-laki sebagaimana penghuni padepokan Kiai Banyu Bening, lepaskan gadis itu. Kita bertempur sampai tuntas disini. Aku tidak berkeberatan jika kalian bertempur berdua. “Persetan dengan igauanmu itu. Sekarang kau harus memilih, kau atau gadis ini yang mati.” Wajah Ki Warana menjadi sangat tegang. Tetapi Delima seakan-akan tidak lagi dapat bernafas. Tangan orang itu benar-benar telah mulai mencekik leher Delima. “Cepat, katakan. Kau atau gadis ini yang akan mati.” Ki Warana menjadi semakin tegang. Namun kemudian iapun berdesis, “Jika kau bunuh aku, apa jaminanmu, bahwa gadis itu akan tetap hidup tanpa kau sakiti?” “Kau tidak dapat menuntut jaminan apapun. Sekarang, berbaringlah menelungkup. Kami akan menghancurkan kepalamu dengan batu. Jika kau mati ditepian, maka anak ini akan tetap hidup.” Namun tiba-tiba Delima berteriak, “Jangan hiraukan aku paman.” Tetapi suaranya pun segera tertelan. Tangan yang kuat telah menutup mulutnya. Tetapi nampaknya Delima memang sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ketika tangan itu menutup mulutnya, Delima justru telah membuka mulutnya  itu. Demikian tangan itu berada diantara giginya, maka Delima telah menggigit tangan itu keras-keras. Orang itu berteriak kesakitan. Justru pada saat itu, Delima merenggut dirinya dari tangan orang itu dan berusaha berlari meninggalkan tepian. Ki Warana tanggap akan keadaan itu. Dengan cepat ia meloncat memburu ketika orang yang kesakitan tangannya yang berusaha menggapai Delima lagi. Orang itu memang mengurungkan niatnya mengejar Delima. Ia harus dengan cepat mempersiapkan diri melawan Ki Warana yang menyerangnya seperti badai. Tetapi pada saat itu, orang yang hampir dikalahkan oleh Ki Warana itulah yang kemudian berlari memburu Delima yang naik keatas tanggul. Delima memang mempunyai sedikit waktu berlebih. Tetapi ia memang tidak setangkas lawannya. Ketika ia hampir sampai diatas tanggul, maka orang yang mengejarnya itu hampir saja dapat menggapainya. Tetapi tiba-tiba saja orang ku menjerit kesakitan. Tubuhnya meluncur dan berguling jatuh ke tepian. Sementara itu Delima telah berdiri di atas tanggul. Namun yang sangat mengejutkan orang-orang yang berada di tepian itu adalah, seorang yang bertubuh bongkok duduk diatas tanggul itu. Ki Warana pun berdiri termangu-mangu. Ia tahu, bahwa orang bongkok itu telah memusuhi seisi padepokan Kiai Banyu Bening.  Tetapi orang bongkok itupun kemudian berkata “Delima, beruntunglah bahwa kau telah ditolong oleh pamanmu. Tetapi persoalan pamanmu dengan kedua orang itu belum selesai.” “Setan, kau bengkok.” geram salah seorang dari kedua orang yang akan menyeret Delima “jangan lari. Kami akan membunuhmu.” Orang bongkok itu tertawa. Katanya, ”Kalian tidak usah mengurusi aku. Aku berjanji tidak akan mencampuri persoalan kalian sendiri. Akupun tidak akan mengganggu Delima. Ia anak baik. Sudah sepantasnya ia kembali kepada orang tuanya.” Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada rendah ia berkata “Aku ingin mengambil keuntungan dari keadaan kami sekarang ini bongkok?” “Tidak Ki sanak. “jawab Ki Pandi “tetapi baiklah. Jika kalian menganggap aku mengganggu. Biarlah aku pergi.” “Dan kau akan mempergunakan kesempatan itu untuk mengganggu Delima?” bertanya Ki Warana. Ki Warana justru terkejut ketika Delima menjawab, “Tidak paman. Kakek bongkok itu tidak akan mengganggu Delima.” Ternyata yang terkejut bukan hanya Ki Warana. Tetapi Delima sendiri ternyata juga terkejut. Tetapi ia sudah terlanjur mengucapkannya. Tetapi kedua orang yang mengganggu Delima itulah yang agaknya tidak ingin melepaskan Delima. Karena itu, maka seorang diantara mereka berkata kepada Ki Warana Kita tunda persoalan kita. Kita selesaikan dahulu orang bongkok itu.” “Kemudian kau akan mengulanginya. Menangkap Delima dan mengancamku?”  “Pengkhianat kau,” geram orang itu. Ki Warana sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia mempercayai orang bongkok itu, bahwa ia tidak akan mengganggu Delima. Karena itu, maka ia menganggap bahwa Delima telah aman ditangan orang bongkok itu. Ki Warana menganggap bahwa kedua orang itu justru lebih berbahaya dari orang bongkok itu. Yang terjadi di sanggar itu juga menunjukkan bahwa orang bongkok dan kawan-kawannya bukan orang jahat. Ternyata mereka tidak membunuh kawankawannya yang sudah tidak berdaya. Mereka justru meninggalkan kawan-kawannya dari padepokan meskipun mereka dapat membunuhnya dengan mudah jika mereka inginkan. Karena itu, maka iapun kemudian berkata “Biarlah Delima dibawa oleh orang bongkok itu. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku justru lebih percaya kepada orang bongkok itu daripada kepada kawan-kawanku sendiri.” “Bagus,“ geram salah seorang dari kedua orang yang merasa kehilangan Delima itu, ”satu pihak diantara kita memang harus mati. Jika kau masih hidup, maka kau tentu akan melaporkan tingkah laku kami. Sebaliknya kami pun akan melaporkan pengkhianatanmu, karena kau lebih mempercayai orang bongkok yang sudah jelas ingin menghancurkan padepokan kita daripada kawan sendiri.” “Persoalannya bukan persoalan padepokan atau yang bersangkut paut dengan padepokan. Tetapi persoalannya menyangkut kemanakanku, anak adikku. Nah, karena kita masing-masing mempunyai mulut, sehingga kami masingmasing dapat memberikan laporan, maka terserah kepada Kiai Banyu Bening, siapakah yang akan dipercaya.”  “Itu sama sekali tidak perlu” jawab orang iiu, ”karena kau akan mati disini. Mayatmu akan dibawa hanyut oleh arus sungai itu meskipun tidak terlalu kuat. Saudara-saudara kita di padepokan akan mengira bahwa kau telah dibunuh oleh orang bongkok itu dengan kejam karena mayatmu akan kulumatkan. Jika mayatmu kemudian hilang sampai ke muara, maka saudara-saudara kita di padepokan akan mengira bahwa telah melarikan diri.” “Bagus” Ki Warana mengangguk-angguk “jika demikian, biar kalian sajalah yang mati.” Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja keduanya menyerang hampir bersamaan. Jika seorang melawan seorang, mereka tidak dapat mengalahkan Ki Warana, maka berdua mereka tentu akan dapat menang. Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Warana memang seorang yang berilmu tinggi. Meskipun kedua orang lawannya menyerangnya seperti banjir bandang, namun tidak mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkan Ki Warana. Sementara itu Ki Warana pun tidak lagi mengekang diri. Dengan kelebihannya, maka Ki Warana segera mampu mendesak kedua orang lawannya. Tetapi kedua orang itu agaknya tidak mau melihat kenyataan. Karena itu, maka keduanya masih berusaha untuk dapat memenangkan perkelahian itu. Kedua orang itu berusaha untuk memecah perhatian Ki Warana, Mereka menyerang dari dua jurusan yang berbeda. Namun mereka berusaha untuk dapat melakukannya bergantiganti, susul menyusul tidak henti-hentinya.  Tetapi Ki Warana sama sekali tidak menjadi bingung, meskipun kadang-kadang ia juga terkejut mengalami serangan yang datang tidak terduga. Tetapi Warana masih saja mampu mengatasi keduanya, sehingga kedua lawannya itu semakin terdesak. Namun justru karena keduanya tidak lagi mampu menguasai Ki Warana, maka keduanyapun telah menggenggam senjata ditangan mereka. Keduanya telah menarik pedang yang tergantung di lambung mereka. Ki Warana yang melihat kedua orang lawannya telah menggenggam senjata, meloncat beberapa langkah surut. Dengan wajah yang tegang iapun kemudian berkata, “Senjata kalian akan mempercepat kematian kalian. Bersiaplah untuk mati.” Kedua orang lawannya sama sekali tidak mendengarkannya. Jantung mereka telah membeku. Bahwa Delima lepas dari tangan mereka, membuat kedua orang itu seakan-akan menjadi gila. Demikianlah, maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Ki Warana juga sudah memegang senjata ditangannya. Kedua orang yang kehilangan buruannya itu menyerang berganti-ganti dari arah yang berbeda. Namun kadang-kadang keduanya justru mengambil kesempatan untuk bersama-sama meloncat maju dengan senjata teracu. Dalam pertempuran bersenjata, Ki Warana memang harus mengerahkan kemampuannya untuk melawan kedua orang itu. Ia harus mengerahkan tenaganya. Perhatiannya yang terpecah membuatnya kadang-kadang harus! meloncat mengambil jarak.  Namun ternyata bahwa Ki Warana yang bertempur dengan tangkas itu sempat membuat kedua lawannya, terkejut ketika Ki Warana itu seakan-akan terbang menyerang keduanya berganti-ganti. Demikian cepatnya senjatanya menyambar lawannya yang seorang kemudian yang lainnya, Dalam puncak kemarahannya, maka Ki Warana telah melenting dengan senjata terjulur lurus menyusup pertahanan salah seorang lawannya. Terdengar teriakan nyaring. Ujung pedang Ki Warana sempat menembus dada orang itu sehingga meraba jantung. Ketika Ki Warana menarik senjatanya, maka darahpun telah memancar dari dadanya, menghambur di tepian. Sementara itu, kawannya tidak berhasil menyelamatkannya. Ketika ia menyerang Ki Warana, ujung pedang Ki Warana sudah terlanjur menikam jantung. Melihat kawannya sudah tidak berdaya, maka lawan Ki Warana yang seorang lagi menjadi gentar. Berdua mereka tidak mampu mengimbangi kemampuannya. Apalagi seorang diri. Karena itu, maka orang itu berusaha untuk melarikan diri dari arena pertempuran. Namun orang itu gagal memanfaatkan kesempatan. Ketika ia melangkah meninggalkan arena, senjata Ki Warana justru telah mencapai punggungnya. Orang itupun menjerit kesakitan. Ujung senjata Ki Warana telah menembus pula punggung lawannya yang seorang lagi. Ki Warana pun kemudian berdiri termangu-mangu memandang dua sosok tubuh yang terbaring diam di tepian.  Darah yang mengalir dari luka mereka membasahi pasir dan kerikil yang terserak. Beberapa saat Ki Warana berdiri mematung. Ternyata ia sudah membunuh kawannya sendiri. Namun Ki Warana akan dapat mempertanggung jawabkan tindakannya, karena kedua orang kawannya itu telah mengganggu seorang gadis yang justru adalah kemanakannya. Selagi Ki Warana masih berdiri termangu-mangu, maka terdengar suara Delima dari atas tanggul, ”Paman.” Ki Warana tersentak. Ketika ia berpaling, dilihatnya Delima berdiri disebelah orang bongkok itu. Bagaimanapun juga, Ki Warana menjadi berdebar-debar. Orang bengkok itu tentu orang yang berilmu sangat tinggi. Ia tidak tahu apa yang telah dilakukan ketika tiba-tiba saja salah seorang diantara kedua orang yang mengganggu Delima, yang hampir berhasil menangkap gadis itu selagi ia memanjat tanggul, telah menjadi kesakitan dan berguling dari lereng tanggul itu. Orang bongkok itu pula bersama-sama dengan beberapa orang kawannya telah mengacaukan pertemuan di sanggar. Bahkan orang bongkok yang hampir saja dikorbankan diatas api itu bersama-sama dengan kawan-kawannya, telah mengalahkan beberapa orang kawan-kawannya dari padepokan Kiai Banyu Beriing. Karena itu, jika ia harus berhadapan seorang melawan seorang dengan orang bongkok itu, maka ia harus sangat berhati-hati. “Atau segala sesuatunya memang harus berakhir disini” berkata Ki Warana itu didalam hatinya.  Tetapi ia. menjadi heran ketika Delima justru menggandeng tangan orang bongkok itu turun ketepian. Kepada orang bongkok itu. Delima berkata, ”Ini adalah pamanku, kek. Kakak ayahku.” Ki Pandi tersenyum. Katanya “Bukankah kita sudah berkenalan, Ki Warana?“ “Ya,“ jawab Ki Warana. “Paman “ berkata Delima “sambil mengamati paman bertempur melawan kedua orang itu, aku sempat berceritera tentang paman.” “Tentang apa? Wajah Ki Warana menjadi tegang. ”Tentang niat paman keluar dari padepokan Banyu Bening” jawab Delima. “Siapa yang mengatakannya?” Ki Warana rhenjadi tegang, “ayahmu?“ “Tidak, paman. Aku telah mendengar sendiri ayah berbicara dengan paman dirumah.” jawab Delima. “Delima, kau telah melanggar unggah-ungguh. Kau tidak boleh mendengarkan orang-orang tua berbincang.” “Maaf, paman. Aku tidak sengaja mendengarkan paman dan ayah berbincang. Tetapi aku kebetulan duduk dibelakang  dinding dan mendengarnya. Aku mencoba untuk melupakan pembicaraan itu, tetapi aku membayangkan betapa paman setiaphari merasa tersiksa, karena apa yang paman lakukan, sama sekali tidak sesuai dengan nurani paman sendiri, karena itu, ketika hari ini kebetulan aku bertemu dengan kakek bongkok, yang pernah aku kenal di rumahku dan kemudian aku lihat kehadirannya di sanggar, maka aku ingin mempertemukan paman dengan kakek bongkok ini.” “Delima ~ berkata pamannya apakah sebelumnya orang bongkok itu sering datang kerumahmu?” “Sekali paman. Ketika kakek bongkok itu mengaku kelaparan dan kehausan. Ayah dan ibu merasa iba melihatnya dan kemudian menolongnya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja kakek bongkok ini mengatakan kepada ayah, berniat untuk ikut mendengarkan sesorah didalam sanggar, sehingga kita lihat, apa yang terjadi kemudian.” Ki Warana itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu, Ki Pandi pun melangkah mendekat sambil berkata “Ki Warana. Aku memang sudah mendengar dari Delima, apa yang Ki Warana katakan kepada Ki Krawangan. Jika aku menemui Ki Warana sekarang, aku berniat untuk membantu agar Ki Warana tidak selalu dibelenggu oleh keadaan.” Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Untuk waktu yang pendek ini, belum ada yang dapat aku lakukan, Ki Sanak. Aku berterima kasih atas sikapmu. Aku kira kau mendendamku. Tetapi temyata dugaanku keliru.” “Baiklah, Ki Warama. Aku akan selalu menghubungi anak ini. Justru karena ia seorang gadis maka ia akan luput dari pengawasan kawan-kawanmu.”  Ki Warana mengangguk-angguk. “Nah, sekarang, bagaimana dengan kedua orang kawanmu itu?” Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada Delima “Menyingkirlah Delima. Aku akan menguburkan kedua orang kawahku ini di tepian. Aku tidak dapat berbuat lain.” “Duduklah diatas batu itu,“ berkata Ki Pandi “aku akan membantu pamanmu.. Kau tidak perlu melihat apa yang terjadi dengan kedua orang itu.” Delima pun kemudian menurut. Ia duduk diatas sebuah batu yang besar sambi! mengulangi membersihkan pakaian yang kotor . lagi oleh debu dan pasir ketika bakulnya tertumpah. Ki Pandi memang telah membantu Ki Warana membuat lubang di tepian yang memang agak lunak. Kemudian memasukkan tubuh itu kedalamnya dan menimbuninya dengan batu-batu kali. Agar tidak menarik perhatian, maka disekitarnya telah ditaburkan batu kerikil dan pasir sebagaimana semula. Dirumah, Ki Krawangan dan Nyi Krawangan menjadi gelisah. Delima sudah terlalu lama pergi. Beberapa kali Kenanga sudah menanyakan, kenapa Delima masih belum pulang. “Aku akan pergi ke tepian “ berkata Ki Krawangan “mungkin terjadi sesuatu dengan anak itu.” “Anak ini memang keras kepala” desis ibunya “seharusnya ia tidak pergi ke sungai.”  Ki Krawangan pun kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sungai. Tetapi justru karena suasana yang masih belum menentu, maka Ki Krawanganpun telah menyelipkan pedang dilambungnya. Tetapi demikian Ki Krawangan keluar dari regol halaman, maka dilihatnya Delima melangkah sambil menjinjing bakul berisi cuciannya. Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat wajah Delima yang tidak memberikan kesah sesuatu yang menggelisahkan. “Ayah akan kemana?“ bertanya Delima ketika ia melihat ayahnya berdiri termangu-mangu di depan regol halaman rumahnya. “Kemana saja kau Delima?” ayahnya ganti bertanya, “kami menjadi gelisah. Adikmu mulai merengek karena kau tidak segera pulang. Justru dalam suasana yang tidak menentu ini.” “Sekarang ayah akan mencari aku?” “Ya. Aku akan menyusulmu ketepian.” Delima tersenyum. Katanya, ”Aku sudah pulang, ayah. Bukankah aku tidak apa-apa?” “Kau memang tidak apa-apa. Tetapi jantung kamilah yang apa-apa.” Delima justru tertawa. Katanya, ”Sebenarnya aku sudah selesai beberapa waktu yang lalu.” “Jadi kenapa kau baru pulang sekarang?” “Ketika aku naik tebing, aku tergelincir. Pakaian yang sudah bersih itu tumpah dan menjadi kotor kembali. Nah, aku terpaksa mencucinya lagi ayah.”  “Bukankah ibumu sudah mengatakan, bahwa sebaiknya kau mencuci dirumah saja.” Delima memandang ayahnya sekilas. Ia memang melihat kecemasan membayang di mata ayahnya. Karena itu, maka Delimapun berkata, ”Marilah ayah. Mungkin ibu juga gelisah.” “Tidak sekedar mungkin. Bukankah aku sudah mengatakan, seisi rumah menjadi gelisah. Kenanga sudah ribut saja menanyakan kenapa kau tidak segera pulang.” Keduanya pun kemudian masuk kembali ke regol halaman rumah menyeberangi halaman. Kenanga yang melihat Delima datang diiringi oleh ayahnya, segera berlari-lari mendapatkannya. “Lama sekali kau di tepian kak?“ bertanya adiknya. Delima mengusap pipi adiknya sambil berkata “Aku harus mencucinya dua kali, karena cucian yang sudah bersih itu tumpah karena aku tergelincir ketika aku naik tanggul” “Ah, lain kali hati-hati ya kak. Kau tidak terluka?” Pertanyaan adiknya tiba-tiba membuat Delima merasa pedih di kakinya. Tcringat olehnya betapa ngerinya ketika kawan pamannya itu menarik kakinya ketika ia hampir sampai keatas tanggul. Ketika ia kemudian mengamati kakinya, baru ia melihat bahwa kakinya memang tergores kerikil. “Sakit kak?” bertanya adiknya. Tetapi Delima tersenyum. Katanya “Tidak. Hanya sedikit pedih. Tetapi segera akan baik.” “Aku carikan daun metir, kak.” “Ah. tidak seberapa,“ jawab Delima.  Ketika ia masuk ke dapur, ibunyapun menyatakan kegelisahannya karena Delima tidak segera pulang. Ketika kemudian Delima menjemur cuciannya dibelakang rumahnya, matahari telah menjadi agak tinggi. Ia memang terlambat pulang. Namun yang terjadi di tepian membuatnya sedikit berpengharapan, bukan saja tentang pamannya, tetapi justru seisi padukuhannva akan dapat menyadari jalan sesat yang telah mereka tempuh, bahwa selama ini mereka sekedar menjadi alas berpijak oleh seorang yang membenci kenyataan yang dialaminya. Kemudian dendamnya menebar ke lingkungan luas yang dapat dijangkaunya. Tetapi jalan tentu masih agak jauh. Dalam pada itu, ketika Delima mendapat kesempatan untuk berbicara dengan ayahnya seorang diri, maka Delima pun telah menceriterakan apa yang telah terjadi di tepian. Hampir saja ia menjadi korban kebiadaban orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening. Untunglah bahwa pamannya melihatnya. Bahkan kemudian ternyata bahwa orang bongkok itu juga berada di tempat itu. “Paman telah membunuh dua orang kawannya, ayah.” Ayahnya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, ”Dengan demikian, pamanmu ada dalam bahaya.” “Paman telah berbicara langsung dengan kakek bongkok itu, ayah. Tetapi nampaknya paman masih belum siap untuk mengambil langkah-langkah penting untuk meninggalkan padepokan.” “Ya. Tentu tidak dapat dilakukan dengan serta-merta. Bukan karena pamanmu mencemaskan dirinya sendiri. Tetapi pamanmu justru memikirkan nasib kita sekeluarga.”  Delima mengangguk-angguk. Dugaannya tentang pamannya ternyata keliru. Pamannya bukannya orang yang tidak berjantung. Tetapi pamannya masih mempunyai perasaan wajar dan bahkan selalu memikirkan keselamalan adiknya. Namun aknirnya Delima tidak dapat menyimpan rahasianya lagi. Ketika orang bongkok itu tidak lagi merupakan iblis yang dianggap menggoda untuk melemahkan kepercayaan keluarganya, Delima merasa aman untuk mengatakan kepada ayahnya, bahwa sejak sebelum peristiwa di sanggar itu terjadi, dan bahkan sejak sebelum orang bongkok itu datang sebagai orang yang kelaparan dan kehausan, Delima memang sudah mengenalnya. “Jadi, kau sudah berhubungan dengan orang itu?” bertanya ayahnya. “Ya ayah,” jawab Delima “tetapi aku takut mengatakannya kepada ayah.” Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata, “Untunglah, bahwa keadaan berkembang ke arah yang menguntungkan bagi kita. Sikap kakang yang tidak kita duga sebelumnya, serta perkembangan padepokan Kiai Banyu Bening itu sendiri. Seandainya yang terjadi sebaliknya, apa jadinya kita semuanya?” “Jika perkembangannya tidak seperti ini, tentu aku tidak akan mengatakannya kepada ayah,”' jawab Delima. “Baiklah Delima. Tetapi kau harus tetap berhati-hati. Kita tidak tahu, apa yang terjadi sebenarnya di sekitar kita. Kita tidak tahu, apakah orang-orang lain di padukuhan ini mempunyai perasaan yang sama seperti kita.”  “Aku kira demikian, ayah. Aku kira sebagian besar orangorang padukuhan kita mempertanyakan kebenaran sesorahsesorah yang sering kita dengar di sanggar. Apalagi setelah peristiwa yang terjadi di sanggar itu, serta banjar padukuhan kita terbakar. Orang yang tiba-tiba muncul dari reruntuhan itu tentu kawan kakek bongkok itu pula. Demikian pula yang tibatiba saja sudah berada di pintu gerbang halaman banjar.” “Nampaknya mereka mempunyai kekuatan yang cukup,” berkata Ki Krawangan. Namun kemudian katanya “Meskipun demikian, sekali lagi aku peringatkan Delima, kita harus berhati-hati. Banyak kemungkinan masih daput terjadi. Demikian juga hubungan kita dengan padepokan Kiai Banyu Bening itu.” Delima mengangguk kecil. Namun iapun menyadari, bahwa banyak hal yang tidak dapat diperhitungkan dahulu mungkin akan terjadi. Peristiwa di pinggir kali itu, membuat Ki Krawangan sehariharian merenung. Ia mulai menyadari, banwa anaknya memang sudah menginjak usia dewasanya. Sementara itu, orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening sering berkeliaran kemana-mana. Mereka melakukan tindakantindakan yang tidak terkendali. Agaknya, peristiwa yang hampir saja menimpa Delima itu juga pernah menimpa gadis yang lain. Tetapi gedis itu, atau mungkin orang tuanya, sama sekali tidak berani mengatakan kepada siapapun juga, karena orang-orang dari padepokan itu tentu mengancamnya untuk membunuh atau tindak kekerasan yang lain. Bersukurlah Ki Krawangan, bahwa anaknya ternyata masih selamat.  Tetapi tiba-tiba terbersit pertanyaan “Mengucap sukur kepada siapa? Sang Maha Api? Matahari atau rembulan?” Ki Krawangan menarik nafas dalam-dalam. “Tidak. Tentu bukan Sang Maha Api yang telah menelan banjar padukuhan itu. Karena ternyata banjar padukuhan itu telah dibakar oleh orang-orang dari padepokan Kiai Banyu Bening.” Dalam pada itu, dari hari ke hari, orang-orang padukuhan itu masih tetap merasa tegang. Mereka masih belum yakin, bahwa padukuhan mereka akan benar-benar menjadi tenang. Apalagi ketika kepada orang-orang padukuhan itu diberitahukan bahwa untuk sementara tidak ada kegiatan apaapa didalam sanggar. “Orang bongkok dan kawan-kawannya akan dapat mengacaukan suasana yang seharusnya hening itu” berkata orang dari padepokan yang ditugaskan menemui orang-orang padukuhan. “Sementara itu. orang-orang tua yang berada dirumah Ki Ajar Pangukan pun tidak dengan tergesa-gesa mengambil tindakan. Mereka menunggu perkembangan keadaan. Namun mereka tidak henti-hentinya mengamati padepokan Kiai Banyu Bening, serta padukuhan yang pernah mereka rambah untuk menyatakan, bahwa ada pihak yang menentang perbuatan Kiai Banyu Bening, yang tidak lebih dari ungkapan gejolak perasaan pribadinya yang penuh dengan dendam dan nafsu. Dihari-hari berikutnya, ternyata Ki Pandi pun masih juga sering menemui Delima di pinggir kali, ketika Delima mencuci pakaian. Bahkan masih belum ada orang lain yang berani melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Delima. Namun bagi Delima, hal itu justru menguntungkan baginya.  Justru karena tepian itu selalu sepi, maka bukan saja Ki Pandi yang_sering datang, tetapi juga Manggada dan Laksana. Namun yang penting bagi Ki Pandi, ia justru dapat selalu berhubungan pula dengan Ki Warana. Ceritera yang menarik yang dibawa oleh Ki Warana adalah ceritera tentang burung-burung elang yang sering berterbangan diatas padepokan Kiai Banyu Bening. Ki Pandi selalu tertarik setiap kali ia mendengar ceritera tentang burung-hurung elang. Ia sendiri pernah melihat burung-burung elang itu terbang diatas padepokan Kiai Banyu Bening itu. “Berhati-hatilah dengan burung elang itu “berkata Ki Pandi kepada Ki Warana ketika mereka bertemu di tepian, justru saat Delima sedang mencuci. “Aku juga pernah mendengar ceritera tentang burungburung elang itu,“ berkata Ki Warana. “Burung-burung itu selalu membawa perlambang buruk. Burung-burung elang berkuku timah itu adalah milik seorang yang menamakan diri Panembahan Lebdagati.” “Kiai Banyu Bening telah mendengar nama itu,“ desis Ki warana. “Ia pernah membuat hal sama di daerah ini,” berkata Ki Pandi. “Ya. Kiai Banyu Bening pernah mengatakan demikian. Karena itu, ia memilih tempat ini untuk mengembangkan kepercayaan yang disebarkannya, meskipun ia sendiri tidak pernah mempercayainya,“ sahut Ki Warana, namun Panembahan Lebdagati itu sudah lebur bersama padepokannya ketika padepokannya dihancurkan disini oleh  pasukan Pajang dan orang-orang berilmu tinggi yang menentang kepercayaannya.” “Aku ada diantara mereka waktu itu,“ berkata Ki Pandi. Ki Warana mengangguk-angguk. Dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa orang bongkok itu tidak sekedar bermain-main jika ia berniat menghancurkan padepokan Kiai Banyu Baning. “Berhati-hati sajalah,“ pesan Ki Pandi “jika elang itu sudah semakin sering nampak dan berputar-putar, maka itu merupakan isyarat bahwa Panembahan Lebdagati akan segera datang.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya “Kiai Banyu Bening menganggap bahwa Panembahan Lebdagati sudah benar-benar tidak ada. Jika ada orang yang menamakan Panembahan Lebdagati, maka tentu bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.” ”Tidak. Kiai Banyu Bening salah. Panembahan Lebdagati yang sebenarnya itu masih ada. Masih hidup. Ia masih menunjukkan gejala-gejala kesalahan penalaran.” Ki Warana masih saja mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandi berkata “Namun apa yang dikembangkan Panembahan Lebdagati adalah benar-benar yang diyakini. Sedangkan Kiai Banyu Bening justru sekedar pelepasan dendamnya karena ia sudah kehilangan anak bayinya yang mati di dalam nyala api.” Ki Warana mengangguk-angguk sambil berdesis “Ya. Agaknya memang demikian.” “Dengan demikian, maka dari sisi keyakinan, Panembahan Lebdagati masih lebih jujur dari Kiai Banyu Bening. Tetapi  sayang, bahwa keyakinan Panembahan itupun merupakan keyakinan yang sesat.” berkata Ki Pandi. “Ya “jawab Ki Warana “tetapi aku tidak tahu, apakah aku dapat memberi peringatan kepada Ki Banyu Bening.” “Kaulah yang mengetahui kemungkinan itu. Tetapi untuk melengkapi keteranganku tentang Panembahan Lebdagati, aku beritahukan bahwa aku telah bertemu dan bertempur melawannya dalam memperebutkan pusaka-pusaka yang berada di tangan Kiai Gumrah, dari sebuah perguruan yang murid-muridnya sebagian besar menjadi pembuat dan pedagang gula kelapa.” Ki Warana mengerutkan dahinya sambil bertanya “Kau telah bertempur melawan Panembahan Lebdagati?” “Ya. Sudah beberapakali aku alami. Tetapi aku tidak pernah berhasil mengalahkannya. Apalagi menangkap atau membinasakannya. Karena itu, maka aku yakin, bahwa Panembahan Lebdagati! itu masih ada sampai sekarang! Elang-elang itu adalah pertanda dari perhatiannya kepada padepokan Kiat Banyu Bening. Aku tidak tahu, apakah Kiai Banyu Bening memiliki kemampuan sebagaimana Panembahan Lebdagati.” “Kiai Banyu Bening juga seorang yang berilmu sangat tinggi. Tetapi aku juga tidak tahu, apakah ia mampu mengimbangi Panembahan Lebdagati, karena aku belum pernah menyaksikan ilmunya.” Ki Pandipun kemudian berkata, Baiklah. Aku minta kau dapat memberi tabukan kepadanya, langsung atau lewat Delima setiap perkembangan yang terjadi di padepokanmu, juga dalam hubungannya dengan Panembahan Lebdagati.”  “Ki Warana menganggukangguk. Namun kemudaan iapun minta diri meninggalkan Ki Pandi dan Delima di tepian. Dihari berikutnya, Ki Pandi bersama Manggada dan Laksana telah melihat lagi, dua ekor burung elang yang berputar-putar tinggi di udara. Burung itu tidak menukik dan tidak pula menyambar-nyambar. Nampaknya burung-burung itu dalam keadaan tenang, meskipun agaknya ada sesuatu yang sedang diawasinya.. Ternyata dikeesokan harinya, Delima telah berceritera kepada Ki Pandi yang datang bersama Manggada dan Laksana pula. Paman baru saja meninggalkan tempat ini,“ berkata Delima ”ia harus segera berada di padepokan.” “Apa ada sesuatu yang penting?“ bertanya Ki Pandi. Paman minta disampaikan kepada kakek, bahwa kemarin di padepokan telah datang dua orang utusan Panembahan Lebdagati.” “O,” wajah Ki Pandi berkerut. Sementara Manggada bertanya, “Apa yang dibicarakan oleh utusan itu?”  “Paman tidak mengatakannya. Tetapi paman berpesan, bahwa paman ingin bertemu dengan Ki Pandi lewat tengah hari di sini.” “Baiklah, nduk,” berkata Ki Pandi kemudian, “nanti kami akan datang kemari.” “Apakah aku juga harus datang kemari, kek? “bertanya Delima. -Ah, tentu tidak,” jawab Ki Pandi, “keadaan menjadi makin gawat, nduk. Persoalannya tidak lagi terbatas antara padepokan Kiai Banyu Bening dengan kakek yang bongkok ini, tetapi melihat Panembahan Lebdagati pula.” Delima dapat mengerti keterangan Ki Pandi itu. Karena itu, maka iapun menjawab “Baiklah kek. Tetapi besok pagi aku akan berada disini lagi.” “Tetapi kau harus melihat suasana, Delima. Jika suasananya tidak memungkinkan, maka kau harus tetap tinggal dirumah. Yang perlu kau ketahui Delima, para pengikut Panembahan Lebdagati tidak kalah liarnya dengan orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening. Bahkan kemampuan orang-orangnya agak lebih tinggi dari orang-orang padepokan itu.” Delima mcngangguak-angguk. Katanya, ”Baik, kek.” “Nah, sekarang, jika kau sudah selesai, pulanglah. Keadaan lingkungan ini benar-benar menjadi semakin gawat.” berkata Ki Pandi. Ternyata Delima menuruti nasehat itu. Ia pun segera mengemasi cuciannya dan kemudian menjinjingnya. Ketika ia mulai naik tanggul, maka Laksana telah menyusulnya sambil berkata, ”Marilah, aku.bawakan bakul itu.”  “Aku sudah terbiasa membawa bakul sambil memanjat naik.” “Tetapi jika ada yang membantumu, bukankah itu lebih baik?” Delima tidak menolak ketika Laksana kemudian mengambil, bakul cucian itu dari tangannya. Manggada hanya memandanginya saja sambil tersenyum. Tetapi ketika Delima sudah sampai diatas tanggul, maka iapun berkata “Sudahlah. Biar aku membawa bakul itu.” “Aku antar kau sampai kerumahmu,“ berkata Laksana. Tetapi Delima berkata “Bukankah keadaan.sekarang menjadi semakin gawat? Jika aku pulang bersama seseorang, maka tentu akan sangat menarik perhatian. Meskipun kita dapat mengabaikan perhatian tetangga-tetangga, tetapi tentu kita tidak dapat mengabaikan perhatian orang-orang padepokan dan mungkin para pengikut Panembahan Lebdagati itu." Laksana tersenyum masam. Tetapi ia sempat juga berkata, ”Bagaimana jika kita juga mengabaikan perhatian orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening dan para pengikut Panembahan Lebdagati.” “Mungkin akibatnya tidak terasa bagimu. Tetapi bagiku? Bagi keluargaku?” Laksana tertawa. Katanya, ”Ah, bukankah aku tidak bersungguh-sungguh?” Wajah Delima berkerut. Tetapi iapun kemudian tertawa pula. ”Sampai besok,” desis Delima. Ketika Delima kemudian menjadi semakin jauh dan mendekati padukuhannya, maka Laksanapun segera turun kembali ketepian.  Bertiga mereka meninggalkan tepian. Mereka akan kembali lagi sesuai dengan pesan Ki Warana lewat lengah hari. Demikianlah, maka lewat lengah hari, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berada kembali di tepian. Mereka menunggu kedatangan Ki Warana untuk mendengarkan perkembangan terakhir padepokan Kiai Banyu Bening. Ketiga orang itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka Ki Warana benar-benar datang sesuai dengan pesannya lewat Delima. “Mereka adalah cucu-cucuku,“ berkata Ki Pandi, ketika Ki Warana memandangi.Manggada dan Laksana. ”Mereka juga ada di sanggar malam itu" desis Ki Warana. “Ya. “sahut Ki Pandi ”mereka berusaha menolong kakeknya.” “Tidak Ki Sanak. Bukan mereka berusaha menolong kakeknya. Tetapi semuanya sudah terpencar. Sejak kau kelaparan dan kehausan di rumah Krawangan.” Ki Pandi tertawa. Katanya “Ya. Sekarang aku tidak akan ingkar. Kami memang telah membuat rencana itu, meskipun sebagian sedikit menyimpang. Tetapi untunglah bahwa kami dapat menyelesaikan bagian pertama dari permainan kami dengan baik meskipun ada unsur keberuntungan.” “Kalian terdiri dari orang-orang berilmu tingg,” jawab Ki Warana. “Nah, sekarang, apakah yang akan kau katakan kepada kami?” “Di padepokan kami telah datang dua orang utusan Panembahan Lebdagati.”  Ki Pandi mengerutkan dahinya. Sambil mengangguk-angguk ia pun kemudian berkata, “Jadi mereka telah benar-benar datang?” “Ya, Ki Pandi.” “Apa yang mereka katakan?“ bertanya Ki Pandi. “Panembahan Lebdagati menuntut agar apa yang dianggapnya haknya, supaya dikembalikan.” “Apa yang dimaksud?” “Daerah ini. Panembahan Lebdagati menuntut agar Kiai Banyu Bening meninggalkan lingkungan ini dan menyerahkan padepokannya kepada Penambahan Lebdagati yang akan menanamkan kembali pengaruhnya di daerah ini. Panembahan Lebdagati merasa bahwa tanah ini adalah tanahnya.” “Apa jawab Kiai.Banyu Bening?” “Tentu saja Kiai Banyu Bening tidak ingin menyerahkannya. Ia pun tidak akan meninggalkan tempat itu. Ketika Kiai Banyu Bening membangun padepokannya, maka Panembahan Lebdagati sudah tidak ada di tempat itu.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berkata “Jika Kiai Banyu Bening bersungguh-sungguh ingin mempertahankan padepokannya, ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Panembahan Lebdagati masih mendapat kepercayaan dari beberapa orang pemimpin padepokan yang melandasi ilmunya dengan kepercayaankepercayaan hitam yang akan dapat diajaknya bergerak.” “Kiai Banyu Bening memang telah mulai mempersiapkan dirinya. Tetapi Kiai Banyu Bening tetap menganggap bahwa Panembahan Lebdagati yang mengirimkan utusannya itu bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.”  “Kau benar-benar tidak dapat, memperingatkannya?“ bertanya Ki Pandi. “Dalam keadaan yang demikian, Kiai Banyu Bening tidak dapat mendengarkan pendapat orang lain.” “Bagaimana pendapat pembantu-pembantu Kiai Banyu Bening?” “Sebagian besar dari mereka juga tidak percaya bahwa yang mengirirnkan utusan itu adalah Panembahan Lebgadati.” “Apakah Kiai Banyu Bening pernah mengenal wajah Panembahan Lebdagati?” Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, Aku tidak tahu, Ki Pandi. Tetapi menilik setiap pembicaraan mengenai Panembahan itu, nampaknya Kiai Banyu Bening pernah bertemu dan berbicara dengan Panembahan Lebdagati. Namun yang terang, Kiai Banyu Bening mengakui bahwa Panembahan Banyu Bening adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Namun sebagaimana dikatakannya, bahwa Kiai Banyu Bening telah siap menghadapinya, meskipun orang yang mengaku Panembahan Lebdagati itu memiliki ilmu setinggi Panembahan Lebdagati sendiri.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Meskipun aku belum pernah menjajagi kemampuan Kiai Banyu Bening, namun rasa-rasanya sulit bagi Kiai Banyu Bening untuk mengimbangi kemampuan Panembahan Lebdagati.” Ki Warana mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia berkata, ”Tetapi Kiai Banyu Bening juga memiliki ilmu yang sangat tinggi.”  “Mudah-mudahan,” jawab Ki Pandi. Namun kemudian ia berkata “Tetapi sebaiknya kau berhati-hati Ki Warana. Bukan maksudku untuk menghasutmu agar kau berkhianat terhadap Kiai Banyu Bening, tetapi nurani Ki Warana sendiri sudah memanggil, agar Ki Warana meninggalkan padepokan yang diwarnai oleh kepalsuan sikap pemimpinnya. Kiai Banyu Bening sama sekali tidak jujur dengan kepercayaan yang disebarkannya. Disinilah letak kelebihan Panembahan Lebdagati. la bersikap jujur terhadap kepercayaannya, meskipun kepercayaan itu adalah kepercayaan hitam yang harus dihapuskan. Karena itu. jika terjadi perang antara kedua padepokan yang sama-sama harus dimusnahkan itu, sebaiknya Ki Warana berusaha untuk melepaskan diri. Jika Ki Warana tidak bersiap-siap sejak semula, maka Ki Warana akan terjebak kedalam satu pertempuran yang akan mengikat Ki Warana.” Ki Warana termangu-mangu. Memang sulit untuk melakukannya. Meskipun ia sendiri merasa tersiksa hatinya selama ia berada di padepokan itu, namun untuk begitu saja meninggalkan justru di saat yang gawat, rasa-rasanya Ki Warana itu tidak akan sampai hati. Seandainya ia tidak membela Kiai Banyu Bening, namun apakah ia akan dapat membiarkan kawan-kawannya yang setiap hari selalu berhubungan, digilas oleh kekuatan lain tanpa melibatkan dirinya?. Ki Pandi melihat keragu-raguan ini. Karena itu, maka iapun berkata, ”Ki Warana. Kekuatan dan kemampuan Ki Warana seorang diri tidak banyak berpengaruh. Namun keselamatan Ki Warana sangat berarti bagi Ki Warana sendiri. Bukan keselamatan kewadagan saja, tetapi juga keselamatan jiwa Ki Warana. Jika Ki Warana bertempur dipihak Kiai Banyu Bening, itu akan berarti bahwa Ki Warana telah ikut serta  mempertahankan sesuatu yang tidak sesuai dengan nurani Ki Warana sendiri.” “Tetapi Ki Pandi, seandainya Kiai Banyu Bening dikalahkan oleh Panembahan Lebdagati, apakah bukan berani bahwa kepercayaan hitam Panembahan Lebdagati akan berkembang lagi di daerah ini? Betapa jujurnya Panembahan Lebdagati terhadap kepercayaannya, namun kepercayaan itu sendiri adalah kepercayaan yang sesat. Bagi orang lain, justru akan menjadi lebih berbahaya karena orang yang menerima keyakinan itupun akan menjadi yakin dan mengakar. Tidak seperti orang-orang yang menerima kepercayaan yang sekedar pura-pura, sehingga bagi para pengikutnya pun kepercayaan itu hanya sekedar mengambang saja?” “Bukankah sudah aku katakan, bahwa kepercayaan yang ditebarkan oleh Panembahan Lebdagati itu pun harus dimusnahkan?” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Ki Pandi.” -

JILID 4
KI PANDI menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kebimbangan di mata Ki Warana. “Kau harus mengambil sikap Ki Warana. Kau tidak boleh mengorbankan dirimu untuk sesuatu yang tidak kau yakini kebenarannya. Dengan demikian maka pengorbananmu akan sia-sia.” “Aku menjadi bingung,“ desis Ki Warana. “Jika kau dengar pendapatku. Ki Warana. Kau jangan hilang tanpa arti. Jika kau harus terlibat dalam pertempuran sekedar untuk menunjukkan kesetia-kawanan meskipun tidak didukung oleh keyakinan apapun, maka kau sebaiknya menentukan takaran, sampai dibatas manakah kau pantas menunjukkan kesetia-kawananmu itu.” “Maksud Ki Pandi?”- “Kau tidak perlu mati dalam benturan kekerasan itu. Bukankah dengan demikian kau akan mati tidak untuk apaapa?” Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya, ”Jika kau hidup, maka kau masih mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu yang lebih berarti. Berarti bagi dirimu sendiri dan berarti bagi orang lain.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku mengerti. Dan aku akan berusaha untuk melakukannya. Jika aku tidak melihat kemungkinan apapun kalau Panembahan Lebdagati benar-benar datang, maka aku akan mempergunakan kesempatan terakhir untuk berusaha tetap hidup.” “Kau dapat menularkan sikap ini kepada beberapa orang lain. Jika kau berhasil, maka yang tersisa dari padepokan Ki  Banyu Bening, masih akan memberikan arti bagi kehidupan di lingkungan ini.” Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya “Kami akan mengamati perkembangan di padepokanmu.“ “Terima kasih” desis Ki Warana yang kemudian minta diri “aku harus segera kembali ke padepokan.” “Silahkan Ki Warana. Jika Ki Warana menganggap perlu, Ki Warana dapat berpesan kepada Delima.” “Tetapi kadang-kadang aku merasa cemas melihat Delima berada ditepian. Mungkin orang-orang padepokan sendiri yang berkeliaran scperti yang pernah terjadi. Tetapi mungkin orangorang Panembahan Lebdagati, justru akhir-akhir ini tepian menjadi sepi.” “Kami akan mengawasinya. Setidak-tidaknya salah seorang diantara kami bertiga atau kawan-kawan kami yang lain.” Ki Warana mengangguk kecil. Tetapi ia masih bertanya, ”Berapa orang kawan kalian?” Ki Pandi tersenyum. Katanya “Tidak tentu. Kali ini ada beberapa orang tua bersamaku. Orang-orang tua yang ingin merasa dirinya masih berarti. Termasuk aku sendiri.” Ki Warana menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun minta diri, “Terima kasih. Aku akan kembali ke barak.” Sepeninggal Ki Warana, ketiga orang itu memang tidak segera meninggalkan tepian. Mereka duduk-duduk diatas batu sambil berbincang. Tetapi beberapa kali Laksana membelokkan pembicaraan mereka yang berkisar sekitar kemungkinan kedatangan Panembahan Lebdagati. Kadangkadang seperti orang yang tidak menyadari apa yang  dikatakannya. Laksana berbicara tentang gadis yang bernama Delima itu. “Kenapa Delima harus dalang ke tepian? Seharusnya kita justru memperingatkannya, agar ia tidak lagi pergi ketepian ini. Seperti yang dikatakan oleh Ki Warana, kemungkinan buruk itu dapat terjadi pada Delima sebagaimana yang pernah terjadi. Seandainya kita mengawasi tepian ini, namun bahaya itu dapat menyergap Delima sepanjang jalan menuju ke tepian ini.” “Jadi menurut pendapatmu?” bertanya Manggada. “Aku tidak berkeberatan datang kerumahnya setiap hari untuk menanyakan, apakah ada pesan dari Ki Warana atau tidak.” “Apakah kau ingin Ki Warana atau keluarga Delima digantung di padepokan? “ bertanya Manggada, ”orang-orang padepokan yang saling mencurigai tentu akan saling mengawasi. Dengan perintah atau tidak.” “Kesetia-kawanan mereka cukup tinggi, sebagaimana sikap Ki Warana.” “Untuk menghadapi bahaya dari luar. Tetapi kedalam mereka akan berebut kedudukan. Seperti juga terjadi dimanamana, kadang-kadang seseorang yang saling menolong dalam keterkaitan dengan orang lain, akan sampai hati saling memfitnah justru diantara keluarga sendiri karena mereka berebut kedudukan.” Laksana menarik nafas panjang. Namun agaknya ia dapat mengerti alasan itu. Ki Pandi hanya tersenyum-senyum saja mendengarkan pembicaraan kedua orang anak muda itu.  Namun akhirnya, Ki Pandi itu berdesis “Marilah. Kita tinggalkan tempat ini. Kita dapat berbicara dengan saudarasaudara kita. Bahwa Panembahan Lebdagati siap untuk mengambil alih padepokan Ki Banyu Bening akan merupakan berita yang menarik bagi mereka.” Sebenarnyalah, ketika hal itu disampaikan kepada mereka yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan, ternyata bahwa mereka menjadi sangat tertarik. “Jadi Panembahan iiu benar-benar akan mengusir Ki Banyu Bening?” bertanya Ki Ajar Pangukan. ”Menurut Ki Warana memang demikian. Dua orang utusannya telah bertemu dengan Ki Banyu Bening. Namun Ki Banyu Bening nampaknya berkeras untuk bertahan. Bahkan menurut Ki Warana, Ki Banyu Bening tidak percaya bahwa Panembahan Lebdagati itu masih ada.” “Kita akan mengambil kesempatan,“ berkata Ki Ajar Pangukan. “Kesempatan apa? “bertanya Ki Jagaprana. “Kita tidak menghendaki kehadiran kedua-duanya di lingkungan ini. Bahkan dimanapun juga. Karena itu, kita akan memanfaatkan benturan kekuatan mereka. Bukankah dengan demikian kedua-duanya menjadi lemah?” Ki Pandipun kemudian menyahut “Aku sependapat. Tetapi aku sedang berusaha untuk selalu berhubungan dengan Ki Warana. Aku berharap bahwa pada suatu saat, kita dapat bekerja bersamanya.” “Bekerja bersama bagaimana? “ bertanya Ki Lemah Teles. “Kalau Ki Warana menyadari kedudukannya serta panggilan nuraninya, maka aku kira aku akan berhasil.”  Dengan singkat, Ki Pandi menceriterakan hubungan yang dibuatnya dengan Ki Warana. Kemudian katanya, “Aku menaruh harapan pada sikapnya.” Ki Lemah Telespun berkata, ”Jika demikian, teruskan hubunganmu dengan orang itu. Setidak-tidaknya kita dapat mengikuti perkembangan persoalan yang menyangkut hubungan antara padepokan Kiai Banyu Bening dan Panembahan Lebdagati.” “Baiklah,“ berkata Ki Pandi “namun nampaknya segala sesuatunya sudah menjadi semakin mendesak. Kitapun harus mempersiapkan diri untuk terlibat kedalam persoalan ini. Tentu saja dengan sudut pandang kita terhadap persoalan yang terjadi.” Yang lain pun mengangguk-angguk. Mereka memang sudah meletakkan niat mereka untuk melawan kegiatan Kiai Banyu Bening dan apalagi Panembahan Lebdagati.” Demikianlah dari hari ke hari, Ki Pandi dapat tetap berhubungan dengan Ki Warana lewat Delima. Sehingga pada suatu hari, Ki Warana itu berkata “Panembahan Lebdagati telah menyampaikan ancamannya.” “Ancaman apa?“ bertanya Ki Pandi. “Dua orang utusannya telah datang lagi. Panembahan Lebdagati minta dalam waktu sepuluh hari, padepokan itu harus sudah menjadi kosong. Semua kegiatan dihentikan, dan menyerahkan segala-galanya kepada Panembahan Lebdagati.” Ki Pandipun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya “Apakah padepokan itu masih tetap melakukan kegiatan di sanggar-sanggar dibeberapa padukuhan?”  “Sejak peristiwa di sanggar itu, maka beberapa kegiatan telah disusut. Tetapi menurut Kiai Banyu Bening, semuanya itu sekedar ancang-ancang untuk langkah-langkah panjang berikutnya. Tetapi kehadiran utusan-utusan orang yang menyebut dirinya kemenakan Lebdagati itu agaknya sangat berpengaruh terhadap kegiatan Kiai Banyu Bening. Apalagi setelah Panembahan Lebdagati mengancam dan memberikan waktu sepuluh hari. Maka kegiatan seisi padepokan terutama adalah mempersiapkan diri menyambut kedatangan Panembahan Lebdagati itu. Ki Pandi mendengarkan keterangan Ki Warana itu dengan sungguh-sungguh. Dengan nada berat, Ki Pandi itu menyahut, ”Panembahan Lebdagati tentu tidak sekedar mengancam. Aku mengenal waktunya dengan baik. Ia tentu akan bersungguhsungguh datang dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan Kiai Banyu Bening. Bukan sekedar mengusirnya. Seperti yang pernah aku katakan, kekuatan Panembahan Lebdagati tentu sulit untuk dilawan oleh Kiai Banyu Bening.” “Tetapi Kiai Banyu Bening tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan beranjak dari padepokan itu.” “Ki Warana,“ berkata Ki Pandi “jika para pengikut Kiai Banyu Bening akan bertahan, silahkan. Tetapi aku ingin memperingatkan, bahwa Ki Warana tidak perlu membunuh diri. Jika Ki Warana mempunyai beberapa orang yang dapat sungguh-sungguh dipercaya, maka Ki Warana dapat mempersiapkan diri untuk membuat garis pertahanan kedua, justru diluar padepokan.” “Maksud Ki Pandi?” bertanya Ki Warana. -”Jika keadaan memaksa, maksudku jika pertahanan Kiai Banyu Bening benar-benar pecah dan tidak mungkin bertahan  lagi, sebaiknya Ki Warana menyingkir dari padepokan. Ki Warana harus mempersiapkan tempat untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dari padepokan itu.” “Lalu, apa artinya? Jika bersama Kiai Banyu Bening kami sudah tidak mampu bertahan, apa yang kemudian dapat kita lakukan jika Panembahan Lebdagati memburu kami?” “Ki Warana” berkata Ki Pandi, ”kami berjanji untuk berada ditempat itu. Kami akan bersama membantu sejauh dapat kami lakukan untuk melawan kekuatan Panembahan Lebdagati. Tetapi sudah tentu dengan janji.” “Janji apa?“ bertanya Ki Warana. Ki Pandi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, ”Semua ajaran Kiai Banyu Bening yang tidak lebih dari sekedar memanjakan nafsu dan dendam itu harus dihentikan. Padepokan itu harus menjadi tempat yang berani bagi kehidupan lahir dan batin bagi orang-orang di lingkungan ini. Padepokan itu harus menjadi tempat orang-orang mencari pengetahuan yang berarti bagi kesejahteraan hidup lahiriyahnya, tetapi juga tempat orang menemukan dirinya dihadapan penciptanya menurut ajaran yang benar.” Ki Warana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Namun kemudian Ki Warana itupun bertanya, “Tetapi siapakah yang akan dapat melakukannya? Maksudku, siapakah yang akan memimpin padepokan itu, karena tidak seorangpun diantara kami yang mampu melakukannya? Kami adalah orang-orang yang selama ini hanyut dalam arus yang liar dan bermuara pada genangan yang keruh.” “Jalan telah dibuat menembus hutan yang menyekat lingkungan ini dengan dunia yang lebih cerah. Karena itu, jika  segalanya telah dapat diselesaikan, maka pergilah ke pajang. Kalian akan dapai memecahkan persoalan yang kalian hadapi.” “Haruskah kami menempuh perjalanan yang jauh itu?” “Kau pernah ke Pajang? Pajang tidak terlalu jauh dari tempat ini. Apalagi setelah hutan Jatimalang terbuka.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah Ki Pandi. Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan. Tetapi aku pun harus berhati-hati, agar aku tidak dicurigai oleh Kiai Banyu Bening dan para pengikutnya yang paling setia. Yang menurut penglihatan Kiai Banyu Bening termasuk aku sendiri.” “Mudah-mudahan Ki Warana berhasil. Usaha Ki Warana ini juga merupakan usaha untuk melestarikan keberadaan padepokan itu, meskipun isinya akan berubah.” Namun Ki Warana tidak dapat berbincang terlalu panjang, ia harus segera berada di padepokannya kembali. Meskipun demikian, Ki Warana telah membawa bekal yang akan sangat berarti bagi padepokannya. “Ki Warana” pesan Ki Pandi “beritahukan kami, kemana Ki Warana akan menyusun pertahanan kedua sebelum Ki Warana akan kembali memasuki padepokan.” “Baiklah Ki Pandi. Aku akan menyampaikannya dalam dua hari sebelum batas waktu yang sepuluh hari itu sampai. Jika aku tidak sempat menunggu Ki Pandi karena waktuku yang sempit, aku akan berpesan kepada Delima.” Sepeninggal Ki Warana, Ki Pandi yang diikuti oleh Manggada dan Laksana telah menyusuri tepian. Ketika mereka sampai di tempat yang hampir tidak pernah di kunjungi orang, Ki Pandi berkata, ”Sepuluh hari lagi, Lebdagati akan datang ke padepokan. Kalian pun harus bersiap.”  Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun mereka tanggap bahwa Ki Pandi telah menemukan tempat yang baik untuk berlatih. “Kita manfaatkan waktu yang pendek ini,” berkata Ki Pandi. Untuk beberapa lama, maka mereka bertiga telah berlatih di tepian. Ki Pandi sengaja mengajak Manggada dan Laksana berlatih diatas pasir yang tebal, agar menambah hambatan pada langkah kaki mereka. Sejak hari itu, maka orang-orang yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan telah benar-benar mempersiapkan diri. Karena Manggada dan Laksana adalah orang-orang yang paling muda diantara mereka, bukan saja umurnya, tetapi juga ilmunya, maka seakan-akan orang-orang tua yang ada dirumah itu telah berusaha membantu mereka meningkatkan ilmunya. Bahkan tanpa diminta oleh siapapun, masing-masing berusaha menyesuaikan kemungkinan-kemungkinan yang tidak justru mengganggu bagi perkembangan ilmu dan tubuh Manggada dan Laksana. Diantara mereka berusaha membantu perkembangan ilmu Manggada dan Laksana melengkapi unsur-unsur geraknya. Tetapi Ki Lemah Teles lebih senang mengajak kedua anak muda itu berkelahi. “Aku tidak akan merusak dasar ilmu mereka. Dengan berkelahi, anak-anak itu akan mendapat pengalamanpengalaman baru sehingga dasar kemampuan mereka akan berkembang dengan sendirinya. Karena didunia olah kanuragan, merekapun akan menghadapi kekerasan dari orang-orang yang semula ilmunya tidak dikenalnya sama sekali.”  Manggada dan Laksana memang memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Beberapa pintu yang rasarasanya masih tertutup baginya, telah menjadi terbuka, sehingga Manggada dan Laksana menemukan kemungkinankemungkinan baru didalam tatanan kemampuannya. Dengan demikian maka ilmu Manggada dan Laksana dengan pesatnya telah meningkat. “Kalian tidak boleh menjadi beban,“ berkata Ki Pandi “jika benar kita akan terlibat, maka kalian akan dapat mandiri menghadapi para pengikut Panembahan Lebdagati.” ”Jika Kiai Banyu Bening diluar dugaan menang atas Panembahan Lebdagati dan dapat mengusirnya atau bahkan menghancurkannya sama sekali?“ bertanya Manggada. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Memang mungkin sekali. Selama ini kita selalu menganggap bahwa Kiai Banyu Bening akan dikalahkan oleh Panembahan Lebdagati.” “Lalu apa yang harus kita lakukan? “bertanya Laksana. “Kita harus mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Sebelum Kiai Banyu Bening sempat bernafas, kita akan datang dan menghancurkannya sama sekali. Terutama bangunanbangunan yang ada hubungannya dengan nafsu dan dendamnya karena ia telah kehilangan anak bayinya. Sedangkan kita tidak tahu, siapakah yang telah bersalah, sehingga anak bayinya itu ditelan api.” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Mereka mengerti sepenuhnya, apa yang harus mereka lakukan jika Panembahan Lebdagati berhasil. Tetapi merekapun tahu apa yang harus mereka lakukan jika Kiai Banyu Bening berhasil mengusir Panembahan Lebdagati dan bahkan menghancurkan para pengikutnya.  Seperti yang sudah direncanakan, maka dua hari sebelum hari-hari yang menegangkan itu, Ki Warana ternyata masih sempat menemui Ki Pandi di tepian seperti biasanya. Bahkan Ki Warana sudah menunggu bersama Delima yang sedang mencuci. Ki Warana menemui Ki Pandi dan Manggada ditempat yang terpisah, sementara Laksana lebih senang menunggui Delima yang sedang sibuk dengan cuciannya. “Kau tidak ikut dalam pembicaraan itu?“ bertanya Delima. Laksana menggeleng. Katanya “Seandainya aku ikut duduk bersama mereka, akupun hanya mendengarkan saja.” “Bukankah dengan demikian kau akan mengetahui rancangan yang seharusnya kalian lakukan?” “Bukankah aku dapat bertanya kepada kakang Manggada atau langsung kepada Ki Pandi?” “Tetapi tentu lebih puas jika dapat langsung mendengar urut-urutan pembicaraan itu.” “Hasil pembicaraan itu akan dapat aku dengar dari orang lain. Tetapi apa yang akan kau katakan hanya dapat aku dengar langsung dari kau sendiri.” “Apa yang akan kau katakan?“ Delima justru terkejut. “Tidak tahu. Tentu kau yang lebih tahu,“ jawab Laksana. “Ah, kau,“ desis Delima yang kemudian telah tenggelam dalam kesibukannya, mencuci pakaian sebagaimana selalu dilakukannya. Biasanya bahkan Delima datang dengan beberapa orang kawan-kawan Delima masih belum berani turun ke sungai. Dalam pada itu, Ki Warana telah memberikan ancar-ancar kepada Ki Pandi tentang garis pertahanan keduanya.  “Beberapa orang yang benar-benar dapat aku percaya telah sepakat,“ berkata Ki Warana “jika keadaan memaksa kami akan menyusun pertahanan di sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan. Sebanyak kawan-kawan kami yang dapat melarikan diri, maka kami akan mencoba menyusun kekuatan kami kembali. Tentu saja dengan harapan, bahwa Ki Pandi akan membantu kami. Terutama untuk menghadapi Panembahan Lebdagati itu sendiri.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Kalanya “Baiklah. Tetapi aku mempunyai syarat lagi.” “Syarat apa Ki Pandi? “ “Jika padepokan kalian memenangkan pertempuran melawan Panembahan Lebdagati, maka Kiai Banyu Bening akan berhadapan dengan kami. Kami memang ingin menghapus nafsu dan dendam Kiai Banyu Bening. Jika Kiai Banyu Bening menang atas Panembahan Lebdagati, maka kepercayaan terhadap dirinya menjadi semakin tebal. Dengan demikian, maka kegiatan yang selama ini agak mengendor karena berbagai macam sebab, akan semakin meningkat. Kiai Banyu Bening tentu akan benar-benar memerintahkan mengorbankan bayi-bayi yang tidak berdosa sekedar untuk didengar tangisnya saat api mulai menjilat tubuhnya.” Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Lalu, apa yang sebaiknya kami lakukan?” “Bukankah Ki Warana juga ingin membebaskan diri dari cengkeraman kepercayaan yang pura-pura itu?” ”Ya.””jawab Ki Warana. “Nah, jika demikian, perintahkan orang-orang yang sejalan dengan pikiran Ki Warana untuk mengenakan tanda. Jika kalian mampu mengalahkan Panembahan Lebdagati,  sementara kemu dan kami memasuki padepokan itu sebelum Kiai Banyu Bening sempat bernafas, agar kami dapat membedakan, siapakah yang berniat mempertahankan kehadiran Kiai Banyu Bening dan siapa yang tidak, kalian harus mengenakan sesuatu.” “Apa menurut pendapat Ki Pandi?” “Apa yang paling mudah kalian dapatkan di dalam padepokan Kiai Banyu Bening? Janur atau bulu ayam, bulu itik atau apa? “Memang ada beberapa batang pohon kelapa yang terkurung oleh dinding padepokan.” “Nah, pastilah janur kuning. Sebelum kalian perlukan, ikatkan janur kuning itu dibawah baju kalian. Baru kemudian janur kuning itu diperlihatkan dan dipergunakan sebagai pertanda setelah diperlukan,” berkata Ki Pandi. Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah, Ki Pandi. Kami akan mencobanya. Kami akan bertahan terhadap Panembahan Lebdagati, tetapi disisi lain kami ingin bebas dari belenggu Kiai Banyu Bening tanpa menumbuhkan kecuriagaan.” “Terima kasih Ki Warana. Mudah-mudahan kita berhasil,” jawab Ki Pandi. “Jika Panembahan Lebdagati bersungguh-sungguh, maka waktu kita tinggal dua hari.” “Aku kira Panembahan Lebdagati bersungguh-sungguh. Berhati-hatilah. Kau tidak boleh hancur dalam permainan ini, karena kau akan membawa perubahan sikap dari beberapa orang yang terbelenggu didalam cengkeraman lingkungan yang kau benci.”  “Baiklah “ berkata Ki Warana, ”aku akan berusaha.” Seperti biasanya maka Ki Warana tidak dapat terlalu lama berada di pinggir sungai itu. Apalagi disaat padepokannya sedang mempersiapkan kesiagaan tertinggi menghadapi tantangan Panembahan Lebdagati. Karena sebenarnyalah Kiai Banyu Bening sendiri menjadi berdebar-debar menghadapi ancaman itu. Tetapi sebagai seorang yang berilmu tinggi dan berkeyakinan atas kemampuannya, maka Kiai Banyu Bening tidak akan begitu saja menyerah terhadap ancaman Panembahan Lebdagati. Pada malam-malam terkhir, mendekati saat yang ditentukan oleh Panembahan Lebdagati, maka Kiai Banyu Bening sendiri memang lebih banyak berada didalam sanggarnya. Beberapa orang kepercayaannya memang diperintahkan untuk meningkatkan kemampuan mereka. Memantapkan pengabdian mereka kepada Sang Maha Api dan menyediakan senjata secukupnya. Kiai Banyu Bening telah memerintahkan pula membuat panggungan dibelakang dinding padepokannya. Para cantrik sudah diperintahkan untuk menghancurkan lawan sebelum mereka memasuki dinding padepokan. “Sediakan anak panah sebanyak-banyaknya. Juga sediakan lembing dan senjata lontar yang lain. Sedangkan para cantrik juga diperintahkan untuk melihat din-ding, pintu gerbang dan pintu butulan. Yang nampak lemah harus segera diperkuat. Selarak pintu pun dibuat rangkap pula. Menjelang hari-hari yang ditentukan, maka segala sesuatunya telah siap. Kiai Banyu Bening menjadi semakin yakin, bahwa orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu tidak akan dapat memasuki padepokannya.  Namun dihari-hari terakhir itu pula sepasang burung elang nampak berputaran di langit. Sekali-sekali menukik rendah. Namun kemudian membubung tinggi menyentuh mega-mega di langit. Dengan matanya yang tajam sepasang burung elang itu memperhatikan apa yang ada didalam dinding padepokan. Kemudian dengan gerak isyarat sepasang burung elang itu memberikan laporan tentang penglihatannya sesuai dengan kemampuannya. Sementara itu orangorang yang mampu mengendalikan burungburung elang itu mencoba untuk menangkap arti dari isyarat-isyarat yang diberikan oleh sepasang burung elang itu. Namun bukan hanya orang-orang yang mengendalikan burung-burung elang itu saja yang memperhatikan sepasang burung itu dari kejauhan. Tetapi Ki Pandi, Manggada dan Laksana pun ikut memperhatikan pula dari kejauhan. “Menurut Ki Warana, besok adalah batas terakhir yang diberikan oleh Panembahan Lebdagati,“ berkata Ki Pandi. “Besok akan terjadi pertempuran yang sengit antara dua aliran hitam yang garang.“ desis Manggada.  “Bukan besok,“ sahut Ki Pandi “besok adalah batas terakhir. Aku kira baru besok lusa Panembahan Lebdagati akan dalang ke padepokan.” “Kita harus siap di tempat yang sudah disebut Ki Warana itu Ki Pandi. Ki Warana menganggap tempat itu sebagai garis pertahanannya yang kedua. Jika Ki Pandi dan orang-orang tua yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu tidak ikut campur, maka mereka tentu akan dimusnakan oleh Panembahan Lebdagati,“ berkata Manggada. “Ya” desis Laksana “namun Panembahan Lebdagati tentu bersungguh-sungguh. Sepasang burung elang itu merupakan salah satu isyarat kesungguhan Panembehan Labdagati.” “Baiklah,“ Ki Pandi mengangguk-angguk, ”kitapun harus bersiap. Besok malam kita harus bergerak ke tempat yang sudah ditentukan itu. Sebuah padukuhan kecil yang tidak terlalu jauh dari padepokan sebagaimana telah diancarancarkan oleh Ki Warana. “Marilah kita kembali” desis Manggada. Tetapi Laksanapun berdesis “Kita singgah sebentar di tepian itu.” ”Untuk apa?” bertanya Manggada. “Melihat apakah Delima ada di tepian,” jawab Laksana. “Bukankah kau yang mengatakan sendiri? Delima mengatakan kepadamu, bahwa ia tidak akan datang ke tepian lagi untuk beberapa hari sampai keadaan menjadi tenang?” “Mungkin hari ini ia masih datang.” “Tentu tidak,“ jawab Manggada “apakah kau masih belum puas menunggui gadis itu mencuci kemarin?”  Laksana hanya tersenyum saja. Dengan nada dalam ia berkata “Baiklah. Kita pulang saja.” Bertiga merekapun kemudian menyusuri jalan setapak dan sekali-sekali naik dan turun tebing yang curam untuk mencapai sebuah rumah yang terpencil yang dihuni oleh Ki Ajar Pangukan. Kepada orang-orang tua yang berada di rumah Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi telah memberikan keterangan terperinci, apakah yang harus mereka lakukan menjelang terjadinya benturan kekuatan antara isi padepokan Kiai Banyu Bening dengan Panembahan Lebdagati serta para pengikutnya. “Waktu kita tinggal besok siang. Besok malam kita harus sudah berada di padukuhan kecil itu. Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Kita yang sudah berjanji, terutama kepada diri sendiri untuk menghancurkan ilmu hitam siapapun yang menjadi pemimpinnya, akan melakukan kewajiban yang kita letakkan diatas pundak kita sendiri ini dengan sebaik-baiknya. Besok kita semuanya akan pergi ke padukuhan sebagaimana dikatakan oleh Ki Warana itu.” “Tetapi bagaimana dengan orang-orang padukuhan itu sendiri? Apakah mereka sudah mengerti tentang apa yang bakal terjadi? “ bertanya Ki Sambi Pitu. Ki Pandi menggeleng. Katanya “Belum. Jika mereka mengetahuinya, mungkin rencana itu akan menjalar dan didengar oleh Kiai Banyu Bening atau oleh Panembahan Lebdagati. Kedua-duanya tidak menguntungkan bagi rencana Ki Warana.” “Ya,“ Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk, ”jika demikian, besok kita harus dapat menempatkan diri. Kita sudah tahu,  bahwa kehadiran kita besok masih belum diketahui oleh orang-orang padukuhan itu, sehingga kita tidak dengan sertamerta datang ke banjar.” Demikianlah, maka orang-orang tua itu telah merencanakan untuk berada disekitar sanggar yang agaknya juga sudah dibuat di-padukuhan itu. Dalam pada itu, maka Ki Pandipun telah minta waktu untuk mengambil dua ekor harimaunya. Dengan tegas ia berkata, ”Besok, sebelum matahari terbenam, aku sudah berada di tempat ini kembali. Kita akan bersama-sama pergi ke padukuhan itu. Kita akan mencoba mengikuti perkembangan keadaan dikeesokan harinya. Apa yang akan terjadi di padepokan Kiai Banyu Bening.” “Jadi, Ki Pandi akan pergi? “ bertanya Manggada. “Ya,” jawab Ki Pandi “kalian tidak usah ikut. Usahakan untuk melihat apakah besok burung-burung elang itu akan berputeran lagi diatas padepokan.” Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah minta diri setelah menitipkan Manggada dan Laksana kepada orang-orang yang berada dirumah Ki Ajar Pangukan itu. “Tetapi apakah Ki Pandi dapat menempuh perjalanan itu semalam dan sehari besok?” bertanya Manggada “seandainya dapat Ki Pandi lakukan, Ki Pandi tentu letih sekali.” Ki Pandi tersenyum. Katanya “Aku akan mencobanya untuk kembali pada saatnya. Jika aku merasa letih, bukanah masih ada waktu semalam untuk beristirahat?” Manggada mengangguk-angguk sambil berdesis “Ya, Ki Pandi.”  Ternyata Ki Pandi memang seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Agar tidak terlambat maka Ki Pandi telah menempuh perjalanannya dengan cepat. Secepat orang berlari. Ki Pandi pun tidak menempuh perjalanan lewat jalur jalan yang berkelok-kelok. Tetapi ia lebih banyak memotong arah. Bukan saja melintasi pematang, tanggul, meloncati parit dan menyeberang sungai, tetapi Ki Pandi juga berjalan dengan cepat menembus hutan seperti seekor kijang. Pengalamannya Tapa Ngidang yang sudah dilakukan tidak hanya sekali, sangat membantunya menerobos gerumbul-gerumbul liar dan eri bebondotan. Dengan caranya itu, maka Ki Pandi memang akan dapat kembali pada waktunya sebagaimana di janjikannya. Bukan hal yang sulit bagi Ki Pandi untuk menemukan kedua ekor harimaunya. Hanya tanpa istirahat, maka Ki Pandipun segera mengajak kedua ekor harimaunya ke kaki Gunung Lawu. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana yang ditinggalkan oleh Ki Pandi di rumah Ki Ajar Pangukan, telah mendapat kesempatan sebagaimana yang sering dilakukannya, mengadakan latihan dengan orang-orang tua yang berilmu tinggi. Kesempatan yang sangat berarti bagi Manggada dan Laksana. Dengan latihan-latihan yang berat itu, maka ilmu kedua anak muda itu memang selalu meningkat dan menjadi matang. Pada kesempatan di hari terakhir yang diberikan oleh Panembahan Lebdagati kepada Kiai Banyu Bening, maka Manggada dan Laksana telah mengamati padepokan itu dari  kejauhan. Mereka memang melihat dua ekor burung elang yang berputar-putar. Sekali-sekali menukik rendah, kemudian terbang naik tinggi tinggi. Melihat sikap kedua ekor burung itu, maka nampaknya memang terjadi sesuatu di padepokan Kiai Banyu Bening. “Burung-burung itu tentu mengamati utusan Panembahan Lebdagati yang datang ke padepokan itu” desis Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Katanya, ” Mudah-mudahan dugaan Ki Pandi benar, bahwa hari ini masih belum terjadi sesuatu di padepokan itu.” “Kita akan mengamati padepokan itu dari jarak yang lebih dekat. Tetapi hati-hati. Jika mereka, apakah orang-orang Kiai Banyu Bening, lebih-lebih lagi orang-orang Panembahan Lebdagati, rencana Ki Warana akan dapat terganggu seandainya salah seorang atau bahkan mereka berdua mengadakan perubahan sikap,” berkata Manggada selanjutnya. Demikianlah, maka dengan sangat berhati-hati kedua orang anak muda itu telah berusaha mendekti padepokan. Tetapi mereka tetap berada pada jarak tertentu agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua belah pihak yang sedang bersengketa itu. Kedua-nyapun berusaha untuk menghindari penglihatan burung-burung elang yang terbang berputaran diatas padepokan Kiai Banyu Bening. Dua orang anak muda itu telah tersembunyi dibelakang gcrumbul perdu yang rimbun. Dan tempat mereka bersembunyi, mereka dapat melihat meskipun tidak begitu jelas, wajah depan padepokan Kiai Banyu Bening. Untuk beberapa lamanya mereka menunggu. Burungburung elang yang berterbangan itu masih saja berputar-putar  dan sekali-sekali menukik rendah. Manggada dan Laksana menduga, bahwa utusan Kiai Asem Bening masih berada di padepokan. Keduanya telah menyabarkan dirinya, untuk melihat utusan Panembahan Lebdagati itu keluar dari regol padepokan Kiai Banyu Bening yang masih tertutup. Ketika kesabaran kedua orang anak muda itu hampir habis, maka mereka melihat dari kejauhan, pintu gerbang padepokan itu bergerak. Perlahan-lahan pintu itupun terbuka. Dari dalam regol, Manggada dan Laksana melihat lima orang berkuda meninggalkan padepokan itu. Sementara itu, beberapa orang penghuni padepokan itu melepas orang-orang berkuda itu pergi. Namun nampak bahwa sikap mereka, baik kelima orang berkuda itu, maupun orang-orang yang melepas mereka pergi, tidak cukup ramah. Ketika kelima orang berkuda itu menjauh, maka orangorang yang melepas mereka pergi itupun segera kembali masuk ke dalam dan pintu regol pun perlahan-lahan ditutup. Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam. Manggada mengusap keringatnya yang mengembun di keningnya berkata, ”Mereka tentu tidak menemukan persetujuan. Besok akan terjadi keributan itu.” “Tetapi mungkin juga Panembahan Lebdagati menunggu persiapan yang lebih matang.” “Menurut perhitunganku, Panembahan Lebdagati akan berperan dengan cepat. Jika dia sudah memberikan waktu sepuluh hari, itu berarti bahwa dalam sepuluh hari itu, Panembahan Lebdagati mematangkan persiapannya.”  Laksana mengangguk-angguk sambil berdesis, ”Jika demikian, besok akan terjadi pertempuran yang sengit di regol itu. “ “Kita harus sudah berada di padukuhan kecil itu. Mudahmudahan Ki Pandi datang tepat pada waktunya,“ sahut Manggada. Laksana tidak menjawab. Sementara itu, burung-burung elang itupun masih nampak terbang berputaran. Tetapi tidak lagi diatas padepokan Kiai Banyu Bening. Burung-burung elang itu berputaran sambil mengikuti kelima orang utusan Panembahan Lebdagati itu. “Apakah kita akan mengikuti arah terbang burung-burung itu agar kita mendapat ancar-ancar dimana sarang Panembahan Lebdagati selama ia mempersiapkan diri untuk menyerang padepokan Kiai Banyu Bening?“ bertanya Laksana. ”Sudahlah. Kita kembali saja ke rumah Ki Ajar Pangukan. Jika para pengikut Panembahan Lebdagati atau burungburung elang mereka melihat kita, maka kita akan berada dalam kesulitan. Bahkan mungkin bukan hanya kita berdua.” Laksana mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Kita akan memberikan laporan kepada Ki Ajar Pangukan.” Demikianlah, maka mereka berduapun segera kembali kerumah Ki Ajar Pangukan. Namun ketika mereka menyusup sebuah gerumbul dan kemudian memanjat naik sebuah tebing rendah, mereka terkejut. Ki Ajar Pangukan duduk diatas sebuah batu padas sambil tersenyum. “Ki A jar,” desis Manggada dan Laksana hampir berbareng. “Aku memang menunggu kalian,“ berkata Kj Ajar. “Ki A jar disini sejak tadi? “ bertanya Laksana.  ”Tidak. Aku menunggu kalian yang bersembunyi dibelakang gerumbul sambil melihat kepergian kelima orang utusan Panembahan Lebdagati. “Jadi ?” Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya “Ya. Aku juga ingin mengetahui apa yang terjadi di padepokan Kiai Banyu Bening.” Manggada dan Laksana pun tersenyum pula. Sementara Ki Ajar berkata “Marilah. Kita pulang. Kecuali aku dan kalian, maka yang lain pun ikut pula melihat apa yang terjadi di padepokan justru pada saat yang genting.” Sebenarnyalah ketika mereka sampai dirumah Ki Ajar Pangukan, maka ternyata seisi rumah itu telah mendekati padepokan dari arah yang berbeda-beda. Mereka semuanya melihat kelima orang utusan Panembahan Lebdagati meninggalkan padepokan. Mereka semuanya melihat burungburung elang itu berputaran mengamati kelima orang yang meninggalkan padepokan itu. Dalam pada itu, maka seisi rumah ilupun kemudian telah mempersiapkan diri. Malam nanti mereka akan pergi ke padukuhan yang telah disebutkan oleh Ki Pandi. Namun mereka akan menunggu sampai Ki Pandi datang bersama kedua ekor harimaunya. “Sampai kapan kita menunggu?“ bertanya Ki Lemah Teles. “Jika menjelang tengah malam Ki Pandi tidak datang, maka kita akan meninggalkannya.“ Ki Sambi Pitulah yang menjawab. “Baiklah,” berkata Ki Ajar Pangukan “kita akan menunggu sampai menjelang tengah malam.”  “Tetapi bukankah Ki Pandi berjanji untuk datang sebelum senja,“ bertanya Manggada. “Kita tidak tahu, apakah Ki Pandi mengalami hambatan yang sulit diatasi,“ berkata Ki Lemah Teles. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Memang segala sesuatu mungkin terjadi. Tetapi jika tidak ada hambatan apapun, Ki Pandi agaknya tidak akan mengingkari janjinya. Ketika matahari menjadi semakin rendah, maka cahayanya yang kemerahan memancar ke puncak pepohonan. Selembarselembar awan yang didorong angin mengambang ke utara. Manggada dan Laksana masih duduk diserambi depan rumah Ki Ajar Pangukan. Setelah mereka membuat minuman dan menghidangkannya kepada penghuni rumah itu, maka kedua anak muda itu telah membawa mangkuk minuman hangat bagi mereka sendiri di serambi. “Senja sudah turun,“ berkata Manggada. “Mungkin terjadi sesuatu di perjalanan,“ sahut Laksana yang mulai menjadi gelisah. Meskipun dirumah itu ada beberapa orang tua yang berilmu tinggi, namun rasa-rasanya orang yang paling dekat dengan mereka adalah Ki Pandi. Ki Pandi pula lah yang membawa mereka kc rumah Ki Ajar Pangukan. Ki Pandi pulalah yang telah menuntun mereka memanjat ketataran ilmu mereka yang semakin tinggi. Karena itu, maka baik Manggada maupun Laksana telah menganggap bahwa Ki Pandi adalah guru mereka. Manggada dan Laksana itupun tiba-tiba meloncat bangkit ketika mereka melihat di antara gcrumbul-gcrumbul perdu dua ekor harimau yang berjalan perlahan-lahan sambil memandang kedua orang anak muda yang kemudian berdiri di  halaman itu. Dua pasang mata yang berkilat-kilat seperti sorot permata yang kehijau-hijauan memancar di ketemaraman senja. “Ki Pandi” desis Manggada. Dari balik pohon perdu yang tumbuh memagari halaman rumah itu, Ki Pandi melangkah terbungkuk-bungkuk. “Aku memenuhi janjiku,“ berkata Ki Pandi sambil tersenyum. Namun katanya pula “Tetapi aku terlambat sedikit” Pintu rumah yang masih terbuka itu terbuka semakin lebar. Ki Ajar Pangukan yang mendengar nama Ki Pandi disebut, segera melangkah keluar. ”Kau datang pada waktunya,” berkata Ki A jar. ”Aku berusaha untuk memenuhi janjiku, meskipun aku harus berjalan tanpa berhenti,“ jawab Ki Pandi. “Sejak kemarin?” “Tidak. Aku sempat tidur, mandi dan makan.” “Marilah, masuklah. Kedua cucumu itu menunggumu di serambi sejak tadi,“ berkala Ki Lemah Teles. Ki Pandi tertawa, sementara Manggada berkata “Semua kerja sudah selesai, sehingga kami sempat duduk menunggu disini.” Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah duduk bersama dengan seisi rumah itu. Laksana telah menghidangkan minuman hangat bagi Ki Pandi, sementara ketela pohon yang direbus Manggada pun telah masak pula. Ketika ketela rebus itu dihidangkan, maka Ki Ajar Pangukan pun berkata, “Marilah. Silahkan makan sebanyak-banyaknya. Belum tentu besok kita akan sempat makan. Seandainya  sempat, kita belum tahu apakah ada orang yang memberi kita makan.” Demikianlah setelah mereka makan ketela pohon yang direbus dengan santan dan garam secukupnya, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk pergi. Sementara itu langit telah menjadi hitam. Lampu minyak telah dipasang. Tetapi karena semuanya akan pergi, maka lampu-lampu itupun segera dipadamkannya. Beberapa saat kemudian, seisi rumah Ki Ajar Pangukan itu telah berada dalam perjalanan. Mereka merayap maju dalam kegelapan melalui jalan yang kadang-kadang turun dengan terjal, kadang-kadang menyusup diantara gerumbul perdu. Sekali meloncat dan memanjat. Tetapi mereka tidak tergesa-gesa. Karena itu, maka mereka berjalan perlahan-lahan, sehingga karena itu, maka mereka maju dengan lambat. Dua ekor harimau berjalan bersama dengan mereka. Namun kadang-kadang kedua ekor harimau itu menghilang. Baru beberapa saat kemudian, muncul kembali dan ikut berjalan beriring pada jalan setapak yang berbatu padas. Baru beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat terbuka. Mereka berada di sebuah jalan kecil yang dapat mereka lalui menuju ke padepokan yang mereka tuju. Tetapi mereka tidak pergi ke padukuhan itu. Mereka akan berada di sekitar sanggar untuk melihat suasana. Dalam kegelapan mereka pun merayap semakin dekat dengan padukuhan yang mereka tuju. Seperti yang mereka duga, bahwa di padukuhan itu juga terdapat sebuah sanggar  yang dibatasi dengan dinding kayu batang kelapa utuh yang dipotong rampak dan ditanam berkeliling. Seperti yang terdapat di padukuhan tempat tinggal Ki Krawangan, maka didalam sanggar itu terdapat bangunan khusus untuk menyerahkan korban. “Kita bermalam disini””berkata Ki Ajar Pangukan. Lalu katanya pula “tentu tidak ada orang yang akan memasuki sanggar ini.” Yang lainpun sepakat. Mereka akan bermalam di sanggar yang terbuka itu. Tetapi sudah tentu bahwa mereka harus membagi waktu bergantian berjaga-jaga. Menjelang fajar, yang bertugas berjaga-jaga adalah Manggada dan Laksana. Perhatian mereka tertarik pada sikap dua ekor harimau milik Ki Pandi yang menyusul ke sanggar itu. Kedua ekor harimau itu seakan-akan ingin berbicara kepada Manggada dan Laksana. Mereka memberikan isyarat yang agaknya ingin memberitahukan sesuatu. ”Kita bangunkan saja Ki Pandi,“ desis Manggada. Laksana mengangguk kecil sambil beringsut dan mendekati Ki Pandi yang tertidur. Agaknya Ki Pandi memang letih setelah menempuh perjalanan panjang mengambil kedua ekor harimaunya. Tetapi Ki Pandi segera bangkit ketika kedua anak muda itu membangunkannya. -”Ada apa? “ bertanya Ki Pandi. ”Harimau itu,“ jawab Laksana. Ki Pandipun kemudian mendekati kedua ekor harimau yang seakan-akan berbicara kepadanya.  “Tentu ada sesuatu yang menarik perhatian kedua ekor harimau itu,” berkata Ki Pandi. “Apa Ki Pandi? “ bertanya Laksana. “Marilah kita lihat,” jawab Ki Pandi. Namun sebelum pergi Ki Pandi telah membangunkan kawan-kawannya yang masih tidur nyenyak diatas rerumputan. Tetapi Ki Lemah Teles tidur mendekur saja diatas tempat orang-orang padukuhan itu menyerahkan korban. Ki Pandipun memberitahukan kepada mereka, bahwa ia ingin mengikuti kedua ekor harimau yang telah memberikan isyarat kepadanya untuk mengikutinya. Ki Pandi pun segera berbenah diri. Manggada dan Laksana telah dibawanya mengikuti kedua ekor harimaunya yang berjalan keluar dari sanggar yang kosong itu. Beberapa saat mereka berjalan di keremangan dini hari. Dengan sangat berhati-hati mereka berusaha mendekati padepokan yang masih disaput oleh embun yang tipis. Ki Pandi mengikuti saja kedua ekor harimaunya yang menyusup diantara gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh di kaki Gunung. Namun kemudian kedua ekor harimau Ki Pandi itupun berhenti. Dengan isyarat yang hanya diketahui oleh Ki Pandi kedua ekor harimau itu nampaknya telah memberitahukan sesuatu. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Kepada Manggada dan Laksana ia berbisik, ”Kalian tinggal disini saja. Aku akan bergeser mendekat.” Keduanya mengangguk. Jika Ki Pandi sudah mengisyaratkan agar mereka tinggal, maka tentu ada sesuatu  yang akan dapat membahayakan mereka. Karena itu, maka keduanya tidak memaksa untuk mengikutinya. Dalam pada itu, dengan sangat berhati-hati Ki Pandi bergerak lebih dekat lagi. Dua ekor harimaunya berjalan mengendap-endap, seakan-akan sedang merunduk mangsanya. Ketika kedua ekor harimau itu kemudian berhenti dan mendekam dibelakang sebuah gerumbul, maka Ki Pandi pun menjadi semakin berhati-hati. Dengan jantung yang berdebaran, Ki Pandi kemudian melihat beberapa kelompok orang yang sudah bersiap-siap dengan senjata datangan menghadap kearah pintu gerbang padepokan. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Panembahan Lebdagati ternyata tidak tanggung-tanggung mempersiapkan diri menghadapi padepokan Kiai Banyu Bening. Agaknya ia telah mengerahkan pengikut-pengikutnya untuk menyerang padepokan yang tidak tunduk pada perintahnya itu. “Ternyata Panembahan Lebdagati benar-benar tidak menunggu besok atau lusa. Demikian ancamannya tidak dipatuhi, maka iapun segera datang dengan kekuatan yang besar. “ berkata Ki Pandi didalam hatinya. Sejenak Ki Pandi termangu-mangu. Agaknya Panembahan Lebdagati menunggu matahari terbit. Tetapi Ki Pandi tidak ingin melihat peristiwa yang penting itu sendiri. Maka iapun segera memberi isyarat kepada kedua ekor harimaunya agar tetap tinggal disitu. Ki Pandi sendiri telah beringsut disela-sela gerumbulgerumbul perdu mendekati Manggada dan Laksana.  “Berhati-hatilah. Beritahu Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang ada di sanggar. Biarlah mereka melihat apa yang akan terjadi disini. Tetapi merekapun harus berhati-hati. Aku menunggu mereka disini.” Manggada dan Laksana pun kemudian dengan sangat berhati-hati meninggalkan tempatnya menuju ke sanggar padukuhan untuk menjemput Ki Ajar Pangukan dan mereka yang berada di sanggar itu. Ketika mereka sampai ditempat Ki Pandi menunggu, langit sudah menjadi semakin merah. Kabut justru nampak menjadi lebih tebal menebar di kaki Gunung. “Kita akan menebar “ berkata Ki Pandi “kita akan melihat apa yang terjadi dari beberapa arah.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Kabut yang putih buram mampu melindungi gerak mereka yang memencar itu. Namun Manggada dan Laksana tetap bersama Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya. Ketika kemudian langit menjadi semakin cerah, maka Panembahan Lebdagati telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai bergerak. Dengan isyarat bunyi seperti suara burung kedasih, maka para pengikut Panembahan Lebdagati itupun mulai bergerak. Ketika kemudian langit menjadi semakin cerah, maka Panembahan Lebdagati telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk mulai bergerak. Dengan isyarat bunyi seperti suara burung kedasih, maka para pengikut Panembahan Lebdagati itupun mulai bergerak. Ki Pandi yang bersembunyi didalam semak-semak bersama Manggada, Laksana dan kedua ekor harimaunya, meskipun tidak terlalu dekat, dapat melihat gerak para pengikut  Panembahan Lebdagati mendekati padepokan Kiai Banyu Bening. Namun dalam pada itu, para cantrik Kiai Banyu Beningpun telah bersiap menunggu kedatangan lawan-lawan mereka dari balik dinding padepokan. Mereka berdiri diatas panggungan yang memanjang di belakang dinding padepokan. Tetapi hal itu sudah diperhitungkan oleh para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga sebagian dari mereka telah membawa perisai untuk melindungi diri. Tetapi yang lain yakin akan dapat menepis serangan anak panah dengan pedangnya. Sementara yang lain lagi membalut lengan kirinya dengan kain panjang yang akan dapat dipergunakan sebagaimana sebuah perisai. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang tua yang lain yang tinggal dirumahnya, telah berpencar. Mereka mencoba mengamati keadaan yang terjadi di padepokan itu sebaik-baiknya. Ketika kemudian matahari terbit, maka para pengikut Panembahan Lebdagati telah mendekati pintu gerbang padepokan. Beberapa orang membawa sebatang kayu yang cukup besar dan panjang yang akan mereka pergunakan untuk memecahkan pintu. Sementara beberapa orang yang lain membawa tali ijuk dengan jangkar besi yang diikat diujungnya. Dalam pada itu, para cantrik dan putut di padepokan Kiai Banyu Bening telah bersiap. Anak panah telah melekat dibusurnya. Pada saat yang tepat, anak panah itu akan meluncur kearah para pengikut Panembahan Lebdagati diluar dinding. Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka tidak berada terlalu dekat dengan padepokan, namun  mereka dapat melihat dengan jelas, apa yang terjadi kemudian. Ketika terdengar aba-aba dari para pemimpin dari padepokan Kiai Banyu Bening, maka anak panahpun segera meluncur dari busurnya seperti hujan yang tercurah dari langit. Namun para pengikut Panembahan Lebdagati telah bersiap untuk menangkis serangan itu dengan perisai mereka. Sedangkan yang lain menepis dengan pedang atau tombak atau senjata yang lain. Sedangkan yang lain lagi menepis anak panah itu dengan kain panjang yang mereka ikatkan pada lengan kirinya. Perlahan-lahan para pengikut Panembahan Lebdagati itu bergerak maju. Mereka terhenti sejenak, ketika mereka sampai pada jarak jangkau anak panah lawannya, seolah-olah mereka sedang menguji kemampuan mereka menangkis, menepis dan menghindari serangan anak panah itu. Sementara itu, orang-orang yang membawa sepotong kayu yang besar dan cukup panjang telah bersiap pula mengambil ancang-ancang, sedangkan yang lain bersiap untuk melindungi mereka dari serangan anak panah dan lembing yang tentu  akan dilontarkan dari panggungan disebelah menyebelah regol. Beberapa saat gerak para pengikut Panembahan Lebdagati memang terhenti, seolah-olah anak panah dan lembing yang dilontarkan dari belakang dinding padepokan itu mampu menghentikan serangan mereka. Namun tiba-tiba saja terdengar teriakan nyaring. Peringatan untuk dengan cepat menyerang. Teriakan itu bersambut dan diteriakkan sambung menyambung. Sejenak kemudian, maka serangan itupun datang seperti arus banjir bandang. Para pengikut Panembahan Labdagati itupun berlari-lari sambil berteriak-teriak memekakkan telinga. Mereka menghambur dengan cepat mendekati dinding padepokan. Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua kelompok yang besar dari dua lingkungan hitam telah terjadi dengan sengitnya. Ternyata para pengikut Panembahan Lebdagati tidak sekedar membiarkan mereka menjadi sasaran. Tetapi sebagian dari para pengikut Panembahan Lebdagati juga mempergunakan busur dan anak panah untuk melindungi kawan-kawan mereka, terutama mereka yang berusaha memecahkan pintu gerbang. Sekelompok orang yang memanggul sebatang kayu yang besar dan panjang itupun kemudian telah berlari-lari dengan cepat mengarah ke pintu. Sementara itu, sekelompok yang lain juga berlari-lari melindungi mereka dengan perisai serta senjata mereka masing-masing agar anak panah yang meluncur dari panggungan disebelah menyebelah pintu gerbang itu tidak mengenai sasaran Betapa kuatnya selarak pintu gerbang padepokan itu, namun dengan hentakan-hentakan yang tidak ada hentihentinya, maka se-larak pintu gerbang itupun mulai menjadi retak. Kiai Banyu Bening yang menyaksikan keadaan selarak itupun segera memberikan aba-aba, bahva pertahanan terkuat harus diletakkan disekitar pintu gerbang. Demikian pintu gerbang terbuka, serta orang-orang yang berada diluar menyerbu masuk, maka para cantrik itu harus berusaha menyerang mereka dengan anak panah dan lembing sebelum mereka terlibat dalam pertempuran seorang melawan seorang. “Kita harus berusaha mengurangi jumlah lawan sebanyakbanyaknya.” Perintah itu telah menjalar dari seorang cantrik ke cantrik yang lain, sehingga ketika retak selarak pintu gerbang itu menjadi semakin parah, sekelompok cantrik telah siap dengan busur dan anak panah. Sementara itu, yang lainpun telah siap untuk melemparkan lcmbing-lembing bambu dengan bedor besi yang tajam. Demikianlah seperti yang telah diperhitungkan, maka selarak pintu yang rangkap itu masih tidak mampu menahan hentakan-hentakan yang berulang kali tanpa hitungan itu. Akhirnya satu diantara kedua selarak pintu itupun telah patah, sementara selarak yang satu lagi tidak dapat bertahan terhadap dua hentakan berikutnya. Sejenak kemudian, maka pintu gerbang itu telah terdorong dan terbuka. Seperti air yang melimpah, para pengikut Panembahan Lebdagati mengalir memasuki pintu gerbang yang terbuka itu. Berdesakan berebut dahulu.  Teriakan-teriakan nyaring terdengar bagaikan meruntuhkan langit. Namun dengan tangkasnya para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening telah melepaskan anak panah yang sudah siap terpasang dibusurnya. Terdengar teriakan kesakitan dan kemarahan sekaligus melengking diantara sorak para pengikut Panembahan Lebdagati itu. Beberapa orangpun roboh. Terinjak oleh kaki kawankawannya sendiri. Sementara itu, para cantrik tidak sempat lagi memasang anak panah pada busurnya ketika orang-orang yang menyerbu masuk itu berlari-larian menyerang mereka dengan garangnya. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan, seperti tangan-tangan maut yang sedang menggapai nyawa para cantrik yang sedang bertahan itu. Pertempuran yang sengit pun tidak terelakkan lagi. Sementara itu, beberapa orang yang berusaha memanjat talitali yang diikat pada jangkar bumi yang dilontarkan ke bibir dinding padepokan, mulai berhasil pula. Para cantrik yang berusaha memotong tali-tali itu, harus menjaga diri mereka dari sengatan anak panah yang dilontarkan dari luar dinding, sehingga ada diantara mereka yang terlambat menahan gerak orang-orang yang sedang memanjat itu. Dalam waktu yang singkat, maka pertempuranpun telah menjalar menyusup diantara bangunan-bangunan di padepokan itu. Para cantrik yang berada di panggungan dibelakang dinding itupun telah berloncatan turun. Mereka tidak lagi harus bertahan agar orang-orang yang menyerang padepokan itu tidak dapat memasuki dinding. Tetapi justru karena pintu gerbang telah terbuka, maka arus serangan itu tidak tertahankan lagi. Para pengikut Panembahan Lebdagati  pun tidak mau mempersulit diri dengan memanjat tali serta melemparkan jangkar yang dapat mengait bibir dinding padepokan. Tetapi mereka berlari-lari menuju ke pintu gerbang dan masuk kedalamnya tanpa banyak kesulitan. Para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening itu berusaha untuk bertahan sekuat-kuatnya. Dengan pengenalan mereka yang lebih baik terhadap medan, maka mereka mempunyai kesempatan lebih baik dari lawan-lawan mereka. Tiba-tiba saja para cantrik itu seakan-akan menghilang. Namun dengan tibatiba pula mereka datang menyerang dengan garangnya tanpa diketahui dari mana mereka datang. Setiap pintu bangunan yang ada di padepokan itu dapat menjadi sumber malapetaka. Pintu yang tertutup itu tiba-tiba saja terbuka. Ujung-ujung senjata terjulur dengan cepat menyambar tubuh mereka. Bahkan sudut-sudut rumah yang ada dapat menjadi tempat para cantrik menunggu korban mereka. Meskipun demikian, namun para putut dan cantrik dari padepokn Kiai Banyu Bening itu mulai merasakan tekanan yang kuat dari para pengikut Panembahan Lebdagati. Beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati tidak dapat dilawan oleh hanya dua orang saja. Bahkan ketika para pemimpin dari kedua belah pihak mulai saling bertemu, maka mulai terasa bahwa orang-orang Panembahan Lebdagati memiliki beberapa kelebihan dari pada putut dan cantrik di padepokan itu. Dalam pada itu, Kiai Banyu Bening yang masih mencoba unik melihat ketahanan para pengikutnya mulai menjadi gelisah. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, ternyata beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati memiliki ilmu yang tinggi.  Kiai Banyu Bening memang harus menyadari, bahwa padepokannya adalah padepokan yang jauh lebih muda dari para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga karena itu, maka para pengikut Kiai Banyu Bening pun masih belum akan dapat mengimbangi kemampuan para pengikut Panembahan Lebdagati yang meskipun sebagian bukan pengikutpengikuinya sejak awal ia mulai. Tetapi nama Panembahan Lebdagati memiliki wibawa tersendiri, sehingga tidak sulit bagi Panembahan Lebdagati untuk mencari pengikut dan bahkan kawan-kawan baru dari lingkungan orag-orang berilmu tinggi. Karena itu, maka Kiai Banyu Bening tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus segera dapat mengatasi kesulitan itu. “Aku harus bertemu langsung dengan orang yang mengaku bernama Panembahan Lebdagati itu“ berkata Kiai Banyu Bening didalam hatinya “Jika aku dapat segera menyelesaikannya, maka aku akan segera dapat mengusir dan bahkan menghancurkan para pengikutnya.” Dengan beberapa orang terpilih diantara para pemimpin padepokan itu, maka Kiai Banyu Bening siap menghadapi orang yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu. Namun dalam pada itu, Kiai Banyu Bening sempat bertanya kepada seorang yang bertubuh raksasa yang pernah berada di sanggar saat Ki Pandi memberikan korban setandan pisang, sehingga Ki Pandi sendiri akhirnya akan dikorbankan””Dimana Warana?” Orang bertubuh raksasa itu menggeleng sambil menjawab, ”Sejak tadi aku tidak melihatnya, Kiai.” Namun seorang yang lain menjawab “Bersama sekelompok cantrik Ki Warana berusaha mempertahankan pintu gerbang butulan disisi barat. Agaknya sekelompok pengikut  Panembahan Lebdagati berusaha untuk memecahkan pintu butulan itu.” Kiai Banyu Bening mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lagi. Dibawanya beberapa orang terpilih itu untuk langsung menghadapi Panembahan Lebdagati. Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati ternyata bersamasama dengan beberapa orang tengah mencerai-beraikan sekelompok cantrik yang semula mengepungnya. Tetapi para cantrik itu tidak mampu bertahan. Sebagian dari mereka justru tidak mampu melindungi diri mereka sendiri. Para cantrik yang memang hampir saja melarikan diri menghindari itu telah terhimpun kembali ketika mereka melihat Kiai Banyu Bening sendiri datang untuk menghadapi Panembahan Lebdagati. Panembahan Lebdagati yang melihat kehadiran Kiai Banyu Bening telah menyongsongnya sambil tersenyum. Katanya dengan nada berat, “Selamat bertemu Kiai Banyu Bening. Kita belum terlalu akrab berkenalan. Tetapi aku tahu pasti bahwa kau adalah Kiai Banyu Bening.” “Kau siapa?“ bertanya Kiai Banyu Bening. ”Kau tidak mengenal aku?” bertanya Panembahan Lebdagati sambil tersenyum. “Tidak. Aku tidak mengenalmu.“ jawab Kiai Banyu Bening. “Kenapa kita harus berpura-pura. Sebelum kita bertemu, kau dapat saja tidak percaya bahwa aku adalah Panembahan Lebdagati. Kau dapat menduga bahwa orang lain memanfaatkan kebenaran nama Panembahan Lebdagati bagi kepentingannya sendiri. Tetapi setelah kita bertemu dan berhadapan seperti sekarang ini, seharusnya kau dapat  mengenali aku. Aku adalah Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.” “Persetan dengan pengakuanmu. Tetapi kau salah jika kau menganggap bahwa dengan berlandaskan nama Panembahan Lebdagati kau dapat menakut-nakuti aku.” Panembahan Lebdagati termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tertawa “Kau mencoba untuk membesarkan hatimu sendiri dengan menganggap bahwa aku bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya.” “Kau kira aku menjadi ketakutan seandainya Panembahan Lebdagati itu sekarang datang kemari?”- Panembahan Lebdagati tertawa semakin keras. Katanya kemudian “Baiklah. Siapapun aku, tetapi aku tetap pada tuntutanku. Daerah ini akan aku ambil kembali. Aku sudah memberimu waktu sepuluh hari. Aku kira waktu itu sudah terlalu cukup. Karena sampai batas terakhir kau tetap berkeras, maka aku datang untuk menghukummu.” “Tetapi kau harus melihat kenyataan, bahwa kau datang untuk mengantarkan nyawamu. Meskipun setelah kau mati, tentu ada orang lain yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati.” “Baik. Baik “jawab Panembahan Lebdagati “apapun katamu, tetapi bersiaplah untuk mati.”  Kiai Banyu Bening itupun kemudian telah memberi isyarat kepada putut dan cantrik yang datang bersamanya untuk memencar menghadapi para pengikut Panembahan Lebdagati yang ada di sekitarnya. Dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dimana-mana. Para cantrik memiliki kemungkinan lebih baik dengan memanfaatkan medan. Tetapi secara pribadi para pengikut Panembahan Lebdagati memiliki ilmu yang lebih tinggi. Dalam pada itu, maka pertempuran yang terjadi antara Panembahan Lebdagati dan Kiai Banyu Bening telah menjadi semakin sengit. Keduanya mulai meningkatkan ilmu mereka. Dengan cepat mereka berloncatan menyerang dan menghindar. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing, sehingga pertempuran itu tidak segera dapat dibayangkan, siapakah yang akan menang dan siapakah yang bakal kalah. Panembahan Lebdagati yang bertempur dengan mantap, tidak terlalu banyak bergerak. Tetapi setiap ayunan tangannya, seakan-akan tetap menghamburkan angin yang tajam menusuk kulit. Sementara itu, Kiai Banyu Bening bertempur dengan tangkasnya. Ia bergerak cepat, sehingga  sekali-sekali serangannya mampu menyusup pertahanan Panembahan Lebdagati. “Dengan demikian, baik Panembahan Lebdagati maupun Kiai Banyu Bening menjadi semakin berhati-hati. Mereka harus mengakui bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Panembahan Lebdagati yang semula meragukan tingkat kemampuan Kiai Banyu Bening sebagaimana Kiai Banyu Bening yang menganggap bahwa lawannya bukan Panembahan Lebdagati yang sebenarnya, sehingga tataran ilmunya juga tidak akan terlalu tinggi, harus mengakui bahwa mereka telah salah hitung. Panembahan Lebdagati harus mengakui kelebihan Kiai Banyu Bening, sedangkan Kiai Banyu Bening harus mengakui kelebihan lawannya, apakah ia Panembahan Lebdagati yang sebenarnya atau bukan. Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan serta orang-orang yang tinggal dirumahnya, ternyata tidak mampu melihat apa yang terjadi didalam lingkungan dinding padepokan. Merekapun tidak dapat lebih mendekat lagi, jika mereka tidak ingin terlibat dalam pertempuran itu. Karena itu, maka yang dapat mereka lakukan adalah menunggu, apa yang akan terjadi dalam pertempuran yang melibatkan banyak orang itu. Manggada dan Laksana yang bersembunyi didalam gerumbul perdu bersama Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya, mengamati burung-burung elang yang berterbangan diatas padepokan. Dari gerak burung-burung elang itu, mereka rasa-rasanya dapat menduga, apa yang telah terjadi di padepokan. Burung-burung yang semula berterbangan berputar-putar itu, kemudian telah nampak menjadi gelisah. Burung-burung itu terbang semakin rendah.  Sekali-sekali burung-burung itu menukik dalam sekali, bahkan seakan-akan hilang dibelakang dinding padepokan. Namun kemudian muncul kembali dan terbang semakin tinggi. “Burung-burung itu tentu telah melibatkan diri.” berkata Manggada hampir berbisik. “Ya,” sahut Laksana “agaknya pertempuranpun menjadi semakin sengit. “Burung-burung elang itu cukup berbahaya,“ desis Manggada kemudian. Laksana mengangguk kecil. Namun kemudian dahinya berkerut ketika ia melihat kegelisahan burung-burung itu menjadi semakin meningkat. Burung-burung itu menyambarnyambar dengan cepatnya. Bahkan burung-burung itupun telah memberikan isyarat tidak saja dengan geraknya, tetapi burung-burung itu mulai berteriak-teriak dengan suaranya yang nyaring. Kuku-kukunya yang dipertajam dengan baja menjadi semakin berbahaya. “Sayang,“ berkata Manggada “kita tidak dapat melihat apa yang terjadi didalam padepokan itu.” “Kita akan mendengar dari Ki Warana,“ sahut Ki Pandi. “Bagaimana jika Ki Warana terbunuh dalam pertempuran itu?” “Mudah-mudahan ada orang lain yang mengambil alih tugasnya.“ jawab Ki Pandi. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Namun keduanya nampak menjadi tegang. Sementara itu, burungburung elang itupun menjadi semakin sibuk pula. Sebenarnyalah pertempuran didalam padepokan itu menjadi semakin sengit. Para cantrik padepokan Kiai Banyu Bening  benar-benar memanfaatkan medan untuk mengimbangi kelebihan kemampuan lawan-lawan mereka. Sambil bertempur mereka berlari-larian diantara bangunan yang ada di padepokan. Namun kemudian kelompok-kelompok yang lain menyerang dengan tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dengan demikian, maka para pengikut Panembahan Lebdagati menjadi sangat sibuk menghadapi mereka. Karena itu, pawang burung-burung elang itu telah melibatkan burungburungnya dalam pertempuran. Bagaimanapun juga, burung-burung elang itu berpengaruh pula. Kukunya yang dipertajam dengan ujung-ujung baja yang runcing, sangat berbahaya bagi para cantrik. Kuku-kuku itu dapat menghunjam ke kulit daging para cantrik jika mereka gagal menghindar. Dalam pertempuran yang semakin sengit itu, Panembahan Lebdagati masih saja bertempur melawan Kiai Banyu Bening. Keduanya bukan saja meningkatkan kemampuan mereka, tetapi mereka sudah mulai merambah ke tataran ilmu yang lebih tingi. Kiai Banyu Bening sambil meloncat-loncat disekitar bangunan yang dikeramatkannya. Sebuah nisan kecil yang berada diatas lembaran bangunan dari yang agak tinggi. Bahkan Kiai Banyu Bening seakan-akan selalu menjaga jarak dengan bangunan itu. Bangunan yang menurut Kiai Banyu Bening adalah kuburan anak bayinya yang terbunuh didalam nyala api. Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Dengan ilmunya Panerabahan Lebdagati berusaha untuk segera menghentikan perlawanan Kiai Banyu Bening. Tetapi Kiai Banyu Bening ternyata masih  mampu mengimbanginya, sehingga dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sementara itu pertempuran di padepokan itu masih berlangsung terus. Korban berjatuhan semakin lama menjadi semakin banyak. Tubuh yang berbujur lintang bertebaran dimana-mana. Sebagian masih mengerang kesakitan. Bahkan mereka masih mencoba merangkak mencari perlindungan dari teriknya matahari. Namun yang lain sama sekali sudah tidak bergerak lagi. Panembahan Lebdagati yang berilmu sangat tinggi itu telah mengambil keputusan, untuk segera mengakhiri perlawanan Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka ilmunyapun menjadi semakin meningkat sejalan dengan kemarahan yang semakin menghentak didadanya. Tetapi Kiai Banyu Bening yang menyadari bahwa para pengikutnya semakin banyak yang menjadi korban, telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Dengan demikian, maka benturan-benturan yang terjadi diantara keduanya pun menjadi semakin sengit. Kekuatan dan kemampuan Panembahan Lebdagati yang memanjat sampai kepuncak, telah mendesak Kiai Banyu Bening beberapa langkah surut. Namun Kiai Banyu Bening yang bertempur didekat alas nisan bayinya itu, mampu menunjukkan kelebihannya pula. Dalam keadaan yang memuncak itu, maka Panembahan Lebdagati pun telah merambah ke ilmunya yang jarang ada duanya. Dengan mengerahkan ilmunya, Panembahan  Lebdagati telah menghentakkan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap kearah Kiai Banyu Bening. Tetapi Kiai Banyu Bening tanggap akan serangan itu. Dengan cepatnya Kiai Banyu Bening meloncat berlindung dibalik nisan kecilnya. Serangan Panembahan Lebdagati itu telah membentur bangunan alas nisan kecil. Tetapi bangunan itu sama sekali tidak menjadi goyah. Bahkan dari balik bangunan itu, Kiai Banyu Bening telah membalas menyerang. Dari tangannya seakan-akan telah memancar segenggam pasir yang membara. Panembahan Lebdagati yang melihat serangan itu, meloncat menghindar. Ia harus menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali. Ia sadar, bahwa serangan itu merupakan serangan yang sangat berbahaya. Sebutir saja pasir yang membara itu mengenai kulitnya, maka pasir itu seakan-akan mampu melubangi kulitnya dan membuat liang pada dagingnya. “Iblis kau, Banyu Bening,“ desis Panembahan Lebdagati. “Menyerahlah. Kau akan menjadi korban yang pertama dari padepokan ini bagi bayiku.” Panembahan Lebdagati tidak menjawab. Namun serangannya telah meluncur kembali dari kedua telapak tangannya. Sekali lagi Kiai Banyu Bening bersembunyi dibalik bangunan alas nisan bayinya itu. Namun Panembahan Lebdagati dengan cepat meloncat mendekat. Ia berusaha untuk tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menyerang, karena demikian ia  melihat kemungkinan Kiai Banyu Bening itu menyerang dengan menaburkan bubuk pasir yang bagaikan membara itu, Panembahan Lebdagati telah mendahuluinya. Dengan demikian pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin seru. Kiai Banyu Bening masih saja melingkar-lingkar disekitar bangunan alas nisan anaknya. Namun setiap kali ia menyerang, serangannya pun selalu gagal. Dalam keadaan yang demikian, maka Panembahan Lebdagati itu telah mempergunakan kemampuannya yang lain. Tiba-tiba saja maka Panembahan Lebdagati itu melenting bangkit pada jarak kurang dari selangkah dihadapan Kiai Banyu Bening. Kiai Banyu Bening tidak mempunyai kesempatan lagi. Dengan cepat keris Panembahan Lebdagati telah terhunjam di dada Kiai Banyu Bening. Kiai Banyu Bening tidak lagi dapat menghindari kenyataan itu. Ia sempat memandang wajah Panembahan Lebdagati dengan sorot mata bagaikan membara. Tetapi ketika Panembahan Lebdagati menarik kerisnya, maka Kiai Banyu Bening itupun jatuh terkulai ditanah. Panembahan Lebdagati termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh Kiai Banyu Bening yang terbaring ditanah. ”Setan kau,” geram Panembahan Lebdagati “kau terlalu cepat mati, sehingga kau tidak sempat mengagumi kemampuanku yang tidak ada duanya.” Sementara itu orang-orang yang bertempur di sekitarnya melihat, bahwa Panembahan Lebdagati telah berhasil mengakhiri perlawanan Kiai Banyu Bening. Beberapa orang  pengikut Panembahan Lebdagatipun telah bersorak meneriakkan kemampuannya. Sementara itu, para cantrik dan pengikut Kiai Banyu Bening menjadi kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tanpa pimpinan Kiai Banyu Bening, maka para cantrik itu bagaikan lidi tanpa ikatan. Namun dalam pada itu, beberapa orang yang telah mengikatkan diri dengan Ki Warana berusaha untuk menghindar dari pertempuran. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Berlindung dibelakang keadaan medan yang kurang dipahami oleh para pengikut Panembahan Lebdagati, mereka berusaha melepaskan diri. Seorang diantara para cantrik dengan cepat berusaha menemui Ki Warana yang bertempur justru di bagian belakang padepokan itu. Ki Warana yang pernah mendapat peringatan dari Ki Pandi tentang kelebihan Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya, sehingga Ki Warana telah mempersiapkan diri untuk mengambil langkah-langkah tertentu. Karena itu, demikian seseorang memberitahukan kepadanya, bahwa Kiai Banyu Bening telah terbunuh, maka hilanglah beban yang menggantung di pundak Ki Warana untuk membela padepokan yang pernah dihuninya itu. Karena itu, maka ia mulai melaksanakan rencananya untuk meninggalkan padepokan yang sudah tidak mungkin dipertahankannya lagi itu. Karena itu, maka Ki Warana itu harus bergerak dengan cepat sebelum Panembahan Lebdagati mengambil langkahlangkah sepeninggal Kiai Banyu Bening.  Dengan beberapa orang yang telah mengadakan persetujuan sebelumnya, maka Ki Warana berusaha untuk mengacaukan medan. Mereka bertempur sambil berlari-lari seakan-akan tidak menentu. Mereka menyerang dan menghilang diantara bangunan yang ada. Irama pertempuran memang terasa meningkat. Justru setelah Kiai Banyu Bening terbunuh. Tetapi pada saat itu pula, beberapa orang cantrik telah membuka pintu gerbang butulan di sisi Timur. Di sisi yang justru nampak sepi, karena pertempuran yang terjadi di padepokan itu seakan-akan menghindari tempat ini. Ki Warana lah yang sengaja mengatur, agar para pengikut Kiai Banyu Bening itu memancing lawan mereka menjauhi tempat itu. Irama pertempuran yang menjadi semakin cepat itu ternyata menjadi isyarat bagi para pengikut Kiai Banyu Bening yang sependapat dengan Ki Warana. Dengan cepat mereka telah menuju ke-pintu gerbang butulan disisi Timur itu. Pada saat itu, terdengar beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati mertenakkan peringatan kepada para penghuni padepokan itu agar mereka menyerah. “Yang menyerah akan mendapat pengampunan serta kesempatan untuk mengabdi kepada Panembahan Lebdagati “ teriak beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati. Beberapa orang yang putus-asa memang telah menyerah. Tetapi mereka yang sependapat dengan Ki Warana telah berusaha melarikan diri lewat pintu butulan yang telah terbuka. Para pengikut Panembahan Lebdagati ternyata tidak mengejar mereka yang melarikan diri bercerai berai. Para pemimpinnya menganggap hal itu tidak perlu dilakukan.  Seorang diantara para pemimpin itu berkata “Biarlah mereka lari. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Kita sudah banyak kehilangan. Jangan ditambah lagi dengan melakukan hal-hal yang tidak berarti.” Meskipun demikian, beberapa ekor burung elang yang melayang-layang diudara telah mengamati orang-orang yang melarikan diri itu. Burung-burung itupun telah memencar pula sebagaimana orang-orang padepokan yang melarikan diri itu memencar. Tetapi burung-burung elang itupun akhirnya melepaskan pengawasan mereka dan kembali ke padepokan. Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang tinggal bersamanya itu mengamati pertempuran itu dengan tegang. Mereka melihat burung-burung elang itu menghambur berterbangan. Karena itu, maka merekapun telah menduga, bahwa Ki Warana dan orang-orang yang sependapat dengannya telah melarikan diri dari padepokan itu. Mudah-mudahan Ki Warana berhasil,“ berkata K i Pandi yang juga dicengkam oleh ketegangan. Manggada dan Laksana menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengurai ketegangan yang mencengkam jantungnya. “Agaknya Ki Warana sudah keluar dari padepokan lewat pintu regol butulan.” desis Manggada. “Tetapi apakah Ki Warana selamat?“ desis Laksana. “Mudah-mudahan. Ia adalah orang yang akan meniupkan udara yang jernih kepada para pengikut Kiai Banyu Bening yang sesat itu. Karena itu, aku berdoa untuk keselamatannya.“ berkata Ki Pandi.  Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara ini, mereka melihat beberapa ekor burung elang itu telah menukik dan tidak nampak naik ke udara lagi. Bahkan akhirnya burung-burung elang itu telah tidak nampak lagi berterbangan diatas padepokan itu. “Pertempuran telah selesai,“ berkata Ki Pandi. ”Ya,” suara Manggada merendah “kita tidak tahu apa yang telalr terjadi didalam padepokan itu.” Dalam pada itu, sebenarnyalah Panembahan Lebdagati telah memerintahkan para pengikutnya untuk memberi kesempatan kepada para pengikut Kiai Banyu Bening untuk menyerah. Mereka termasuk dalam rencana Panembahan Lebdagati untuk memperkuat diri. Pada saat-saat mendatang, Panembahan Lebdagati tentu akan melakukan kegiatankegiatan dan kerja keras untuk membangun kembali pengaruhnya di kaki Gunung Lawu itu. “Tetapi siapa yang mencoba menentang dan berkhianat, mereka akan dihabisi dengan cara kita,“ berkata Panembahan Lebdagati kepada para pengikutnya. Dalam pada itu, untuk beberapa saat, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang tinggal di rumahnya masih menunggu. Namun kemudian ketika mereka melihat pintu gerbang padepokan itu ditutup, maka mereka pun mulai beringsut untuk meninggalkan tempat itu. Sementara itu dengan tidak terang, matahari telah turun disisi Barat langit. Rasa-rasanya hari demikian cepatnya beredar. Ketegangan yang mencengkam agaknya membuat mereka lupa akan waktu.  Seperti yang sudah disepakati, maka merekapun mengendap-endap meninggalkan tempat mereka mengamati pertempuran yang terjadi di padepokan ini, menuju ke padukuhan kecil yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu, yang direncanakan akan menjadi landasan pertahanan kedua Ki Warana. Ketika Ki Pandi, Manggada dan Laksana sampai ke sanggar di padukuhan kecil itu, ternyata Ki Lemah Teles telah berada di tempat itu dan berbaring diatas alas yang sering dipergunakan untuk mengorbankan persembahan. “Kau sudah ada disini?“ bertanya Ki Pandi. “Malas untuk meneruskan melihat tontonan yang tidak menarik,“ berkata Ki Lemah Teles. Lalu katanya pula “aku tidak melihat apa-apa selain dinding padepokan dan burungburung elang. Dari antara daun pintu yang terbuka, aku hanya melihat orang-orang berlari-larian kacau balau tidak menentu.” “Kau tidak melihat pertunjukan terakhir?“ bertanya Ki Pandi. “Apa? Pembantaian di depanpintu gerbang?” “Tidak. “jawab Ki Pandi. “Jadi apa?“ bertanya Ki Lemah Teles pula. “Burung-burung itu mempertunjukkan permainan yang menarik. Mereka seakan-akan menari diudara mengamati orang-orang padepokan yang melarikan diri dari, udara.” “Aku sudah sering melihat burung elang memburu anak ayam. Nah, bukankah kira-kira juga hanya seperti itu?” “Tidak,“ jawab Ki Pandi “tidak sekedar menukik menyambar dan terbang kedahan sebatang pohon yang tinggi.” “Biar saja. Aku akan tidur,“ jawab Ki Lemah Teles.  Ki Pandi tidak menyahut lagi. Iapun kemudian duduk diatas rerumputan bersama Manggada dan Laksana. Sejenak kemudian, maka satu demi satu orang-orang tua yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan itu telah datang. Mereka pun kemudian telah duduk berbincang untuk menyesuaikan pengamatan mreka atas padepokan yang dalam waktu kurang dari sehari telah dihancurkan oleh Panembahan Lebdagati. Mereka sepakat untuk mengambil kesimpulan bahwa Kiai Banyu Bening tentu sudah terbunuh. “Orang seperti Kiai Banyu Bening itu tentu tidak akan mnyerah,“ berkata Ki Sambi Pitu. “Ya “ Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk “seandainya ia menyerah, maka ia tentu akan dihabisi pula oleh Panembahan Lebdagati.” “Kami menunggu Ki Warana “ berkata Ki Pandi kemudian. Ki Lemah Teles yang masih saja berbaring ditempatnya menyahut, ”Orang itu sudah mati.” “Dari mana kau tahu?” bertanya Ki Pandi. “Perang antara orang-orang berilmu hitam biasanya tidak ada yang tersisa. Yang kalah akan ditumpas sampai habis.” “Tetapi Ki Warana dan orang-orang yang sependapat dengan pendiriannya akan melarikan diri.” “Tetapi semua akan mati.” Belum lagi bibir Li Lemah Teles terkatub, dari regol sanggar itu telah muncul tiga orang yang melangkah dengan hati-hati memasuki sanggar itu. “Ki Warana “ berkata Manggada dengan serta merta.  Ki Lemah Teles yang berbaring itu tiba-tiba telah bangkit. Dilihatnya tiga orang melangkah memasuki sanggar itu dalam keadaan yang letih. Ki Warana sendiri nampaknya telah terluka meskipun tidak terlalu parah. “Inikah orang yang kita tunggu?” bertanya Ki Lemah Teles. “Ya “ jawab Ki Pandi “ternyata Ki Warana selamat” “Satu kelainan,” desis Ki Lemah Teles yang kemudian telah berbaring lagi ditempatnya sambil berdesis “aku akan tidur.” Ki Warana memandang orang yang berbaring itu dengan tajamnya. Bagaimanapun juga, ia menganggap bahwa alas penyerahan korban itu merupakan tempat yang dihormatinya selama ini. Karena itu, ketika ia melihat orang yang berbaring diatasnya, maka terasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ki Pandi yang melihat sikap Ki Warana itupun berkata “Bukankah tempat itu tidak berguna lagi bagimu dan bagi orang-orang yang telah meninggalkan padepokan?” Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa kedudukannya dalam keadaan goncang. Ia memerlukan orang-orang yang berilmu tinggi untuk menolongnya. Pada saat Ki Warana sedang termangu-mangu, maka terdengar Ki Pandi itupun berkata “Ki Warana, silahkan duduk. Aku akan memperkenalkan kawan-kawanku ini.” Ki Waranapun kemudian duduk diantara orang-orang tua itu. Dua orang yang datang bersamanya dengan ragu-ragu duduk pula bersama mereka. Ki Pandi pun kemudian telah memperkenalkan kawankawannya kepada Ki Warana, termasuk Ki Lemah Teles yang berbaring di alas penyerahan korban itu.  Ki Warana mengangguk hormat kepada mereka sambil berkata “Terima kasih atas perhatian Ki Sanak terhadap padepokan kami.” “Kami ingin melihat padepokan itu berubah,“ berkata Ki A jar Pangukan “hendaknya yang memancar dari padepokan itu bukan awan yang hitam, tetapi cahaya yang bening dalam arti yang sebenarnya. Bukan beningnya Kiai Banyu Bening.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya “Mudah-mudahan kami pun sempat mendapatkan cahaya yang bening itu.” “Kenapa tidak? “ bertanya Ki Ajar Pangukan. “Kami terusir dari padepokan itu. Perjuangan untuk mendapatkan kembali tentu akan menelan korban. Jika korban itu aku sendiri, maka aku tidak akan pernah mendapatkan apa yang Ki Ajar katakan cahaya yang bening itu.” “Tetapi bahwa kau mendambakannya, itu adalah satu langkah awal yang diperhitungkan. Jangan cemas. "Kami akan bersamamu.” Ki Warana mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Pandi pun bertanya, ”Ki Warana hanya bertiga?” “Tidak. Yang lain nanti akan menyusul. Kami melarikan diri dari padepokan dengan arah yang berbeda-beda untuk menghindari kemungkinan yang paling buruk.“ jawab Ki Warana. “Apakah mereka juga akan datang ke sanggar ini?” “Ya. Mereka akan datang ke sanggar ini sebelum kita berbicara dengan orang-drang padukuhan.” Sebenarnyalah, bahwa beberapa saat kemudian, beberapa orang telah berdatangan. Mereka nampak letih dan kotor. Beberapa orang diantara mereka terluka. Bahkan ada yang  terluka selama mereka berlari meninggalkan padepokan, karena kuku-kuku baja burung-burung elang yang menyerang mereka dari udara. Ternyata orang-orang yang sependapat dengan Ki Warana itu terhitung cukup banyak. Menjelang senja, disanggar yang tidak terlalu luas itu telah bertebaran orang-orang yang telah melarikan diri dari padepokan. Ada diantara mereka yang berbaring diatas rerumputan. Ada yang sedang merawat lukalukanya dan ada yang duduk-duduk saja sambil tepekur. Ki Waranalah yang kemudian memberitahukan kepada orang-orang yang sejalan dengan sikapnya itu siapakah orangorang yang sebelumnya tidak mereka kenal itu. “Mereka akan berjuang bersama kita untuk melawan Panembahan Lebdagati.” Tetapi seorang di antara mereka ada yang berkata, ”Apa yang dapat mereka lakukan? Sedangkan Kiai Banyu Bening saja tidak mampu melawan Panembahan Lebdagati.” Ki Lemah Teles yang berbaring itu telah bangkit sambil berkata “He, aku akan menantangnya berperang tanding.” “He, kau pembual,” geram orang yang meragukan kemampuan orang-orang tua itu “kau akan diremas menjadi abu oleh Panembahan Lebdagati.” “Iblis kau,“ Ki Lemah Teles itu segera meloncat turun “aku pilin lehermu jika kau menghina kami lagi.” “Sudahlah “ Ki Ajar Pangukan menengahi “kita belum saling mengenal, sehingga kita masih belum mengetahui tataran ilmu kita masing-masing.”  Orang itu masih akan menjawab. Tetapi Ki Warana membentaknya “Cukup. Kita harus mengucapkan terima kasih, bahwa ada orang yang memperhatikan kita sekarang ini.” Orang itu terdiam. Sementara Ki Lemah Teles pun kemudian telah duduk disebelah Ki Sambi Pitu. Ki Warana lah yang kemudian berdiri menghadap kepada orang-orang padepokan yang mengikutinya ke sanggar itu “Kita akan beristirahat disini. Aku minta kalian bersikap baik. Kita akan bersama-sama menghadapi Panembahan Lebdagati dengan para pengikutnya. Kita memang masih ragu, apakah kita dapat melakukannya. Tetapi lepas dari segalanya, kita tidak boleh kehilangan akal dan menjadi putus-asa.” Orang-orang padepokan itu terdiam. Meskipun ada diantara mereka yang meragukan kemungkinan itu, tetapi mereka masih berusaha menahan diri.” Dalam pada itu, Ki Warana pun kemudian berkata “Sebaiknya kalian tinggal disini. Aku akan pergi menemui Ki Bekel untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan lebih jauh. Aku juga ingin mengusahakan makan bagi kita semuanya.” Orang-orang padepokan itu mengangguk-angguk. Bahkan beberapa orang berdesis “Kami sudah sangat lapar.” Bersama dengan dua orang, Ki Warana telah meninggalkan sanggar itu menuju ke rumah Ki Bekel. Ki Bekel memang terkejut melihat kehadiran Ki Warana dengan dua orang kawannya yang nampaknya sangat letih itu. “Ada apa? “ bertanya Ki Bekel. Ki Warana memang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Bekel. Ia sudah sering datang untuk memberikan sesorah  kepada penghuni padukuhan itu dihari-hari tertentu. Juga sudah sering datang dalam upacara penyerahan korban binatang di' malam purnama. Ki Waranapun kemudian menceriterakan apa yang terdjadi di padepokan. Dengan nada geram ia Berkata “Kami sekarang terusir dari padepokan. Jumlah lawan terlalu banyak. Terakhir, Kiai Banyu Bening telah terbunuh di medan.” “Kiai Banyu Bening terbunuh?“ Ki Bekel terkejut. Baginya Kiai Banyu Bening adalah orang yang memiliki tataran lebih tinggi dari orang kebanyakan. Ia adalah kekasih Sang Maha Api dan mendapat tugas untuk menggelarkan kuasa Sang Maha Api itu diatas bumi. Ki Warana mengangguk sambil menjawab, ”Ya Ki Bekel. Kiai Banyu Bening berusaha melindungi para pengikutnya. Ia bertempur seperti seekor harimau yang terluka. Ia mengorbankan dirinya bagi keselamatan para pengikutnya.” “Lalu, apa yang terjadi sekarang? “ bertanya Ki Bekel. “Ada beberapa kelompok yang berhasil menyelamatkan diri. Sekarang kami berada di sanggar.” “Kenapa tidak dibanjar saja?” “Kami belum mendapat ijin Ki Bekel. Jika Ki Bekel tidak berkeberatan, kami akan pergi ke banjar dan tinggal untuk sementara dibanjar dan beberapa rumah'yang kosong lainnya, sebelum kami merebut kembali padepokan kami.” “Bagaimana Ki Warana dapat melakukannya tanpa Kiai Banyu Bening.” “Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan.” jawab Ki Warana.  “Baiklah Ki Warana. Aku persilahkan Ki Warana dan kawankawan dari padepokan tinggal di banjar. Kami akan mengatur, dimana saja kalian akan dapat bermalam.” “Tetapi sementara ini Ki Bekel. Sehari-harian kami bertempur sehingga kami belum sempat makan meskipun di padepokan kami mempunyai bahan makanan yang melimpah. Tetapi yang sekarang tentu Derada di tangan Panembahan Lebdagati.” “Baiklah Ki Warana. Jangan cemas. Berapapun jumlahnya kami akan dapat menjamunya. Tetapi sudah tentu kami mohon waktu untuk memasaknya.” “Tentu Ki Bekel. Kami tidak akan dapat makan serba mentah. Sementara itu, kami akan memindahkan kawankawan kami ke banjar padukuhan ini.” Demikianlah, maka Ki Warana pun segera kembali ke sanggar untuk mengajak kawan-kawannya pergi ke banjar, sementara Ki Bekel telah memanggil beberapa orang untuk menyiapkan makan bagi orang-orang padepokan yang untuk sementara akan berada di banjar padukuhan. Dalam pada itu ternyata pengaruh Ki Warana di padukuhan itu cukup besar. Ketika para penghuni padukuhan itu mengetahui, bahwa padepokan Kiai Banyu Bening sudah diduduki oleh Panembahan Lebdagati, maka orang-orang padukuhan itu menjadi sangat kecewa meskipun mereka tidak tahu kenapa sebenarnya mereka kecewa. Ketika malam menjadi kelam, orang-orang padepokan telah berada di banjar. Mereka merasa mendapat tempat yang lebih baik, sehingga sebagian dari mereka telah tertidur nyenyak di lantai banjar dengan alas tikar pandan. Jauh lebih baik daripada mereka berbaring di rerumputan di sanggar.  Namun Ki Pandi sempat memperingatkan Ki Warana, agar mereka tidak menjadi lengah. “Panembahan Lebdagati dapat berbuat apa saja. Karena itu, maka sebaiknya orang-orangmu bergantian mengawasi keadaan. Mungkin sekali Panembahan Lebdagati menyusul kalian malam ini.” Seperti orang yang baru sadar dari tidur yang nyenyak, Ki Warana berkata “Terima kasih, Ki Pandi. Aku akan membagi tugas bagi orang-orangku.” Ki Pandi mengangguk sambil menyahut “Bagus. Hatihatilah. Kau sudah melihat sendiri, bahwa para pengikut Panembahan Lebdagati secara pribadi mempunyai kelebihan dari orang-orangmu.” Ki Warana memang menyadari akan kelebihan para pengikut Panembahan Lebdagati dari orang-orang yang berada di padepokan. Karena itu, maka ketika Ki Warana memerintahkan orangorangnya berjaga-jaga di sudut-sudut padukuhan, iapun berpesan, agar mereka berhati-hati sekali. ”Kalian sekali-sekali harus meronda berkeliling. Tetapi jangan seorang diri. “ Namun ternyata hanya pada malam itu tidak terjadi sesuatu. Nampaknya Panembahan Lebdagati tidak tergesagesa. Orang-orang yang melarikan diri bercerai berai itu dianggapnya tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ketika matahari mulai melemparkan cahaya fajar, maka Ki Ajar Pangukan minta orang-orang dari padepokan yang berada di padukuhan itu untuk mulai dengan gerakannya, memburu orang-orang padepokan yang melarikan diri.  Tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu. Tidak nampak ada gerakan yang mendatangi padukuhan itu dari arah manapun juga. “Meskipun demikian, jangan lengah” pesan Ki Ajar Pangukan kepada Ki Warana. Hari itu, Ki Warana, Ki Bekel dan Ki Ajar Pangukan serta orang-orang tua yang tinggal bersamanya telah mengadakan pembicaraan khusus. Ki Warana telah menyampaikan kepada Ki Bekel kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di padukuhan itu. “Pada suatu saat, mungkin Panembahan Lebdagati akan datang ke padukuhan ini dengan pengikutnya.“ berkata Ki Warana. Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya “Apakah yang dapat kami lakukan? Seisi padepokan ini akan bersedia melakukan apa saja. Bahkan mungkin bukan hanya seisi padepokan ini.” “Aku tidak dapat minta bantuan kepada padukuhan yang lain. Jika hal itu diketahui oleh Panembahan Lebdagati, maka padukuhan yang memberikan bantuan itu akan dapat dihancurkan. Sedangkan kami tidak dapat memberikan bantuan apapun juga. Berbeda dengan padukuhan ini. Kami memang ada disini. Jika Panembahan Lebdagati datang kemari, maka kami akan dapat berbuat sesuatu betapapun lemahnya kami. Sementara itu, saudara-saudara kami ini akan bersedia membantu.”  Ki Bekel menganggukangguk. Katanya “Baiklah. Biarlah kami, para penghuni dari padukuhan ini bersiapsiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Kami temu tidak akan tinggal diam seandainya Panembahan Lebdagati itu benar-benar datang menyerang kalian yang saat kalian berada di padukuhan kami. Meskipun padukuhan kami bukan padukuhan yang besar, tetapi kami mempunyai lakilaki dan anak-anak muda cukup banyak. Meskipun kami tidak terbiasa mempergunakan kekerasan, tetapi kami bukanlah laki-laki dan anak-anak muda yang lemah.” “Terima kasih Ki Bekel. Mudah-mudahan kami tidak menyebabkan padukuhan ini mengalami bencana.” Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan, dan kawankawannya dan Ki Warana telah pula membicarakan kemungkinan yang dapat terjadi. Mereka mempertimbangkan, manakah yang lebih menguntungkan. Apakah mereka menyerang padepokan itu atau memancing Panembahan Lebdagati untuk datang menyerang. Namun Ki Pandi berpendapat, bahwa lebih baik mereka memancing agar Panembahan Lebdagati menyerang padukuhan itu.  “Kita akan mengalami kesulitan untuk memasuki padepokan itu,“ berkata Ki Pandi “pintu gerbang itu tentu sudah semakin diperkuat. Sementara itu, serangan senjata lontar dari atas dinding akan dapat mengurangi jumlah kita yang memang tidak begitu banyak.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku sependapat jika Ki Bekel tidak berkeberatan.” “Tidak Ki Warana. Kami sama sekali tidak berkeberatan. Kami dapat menyiapkan pertahanan sebaik-baiknya.“ jawab Ki Bekel. “Baiklah. Jika demikian, maka kita akan memancing agar Panembahan Lebdagati itu datang kemari.” berkata Ki Ajar. Dengan demikian, maka sejak hari itu, padukuhan itupun segera mempersiapkan diri. Ki Bekel telah memerintahkan kepada semua laki-laki dan anak-anak muda yang mampu turun ke medan pertempuran untuk mempersiapkan senjata apa saja yang mereka miliki. “Apakah disini banyak terdapat busur dan anak panah?” bertanya Ki Ajar Pangukan. “Ada beberapa,“ jawab Ki Bekel “ada beberapa orang penghuni padukuhan ini yang mempunyai kegemaran berburu.” “Kita harus menghimpunnya.” berkata Ki Pandi. “Aku akan melakukannya.“ jawab Ki Bekel. Hari itu juga Ki Bekel telah memanggil para bebahu. Mereka harus mempersiapkan padukuhan itu untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka harus menghubungi semua lakilaki dan anak-anak muda di padukuhan itu untuk  mempersiapkan diri membantu para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening yang terdorong keluar dari padepokannya. Hari itu juga laki-laki sepadukuhan itu telah menyatakan diri untuk ikut serta berperang jika hal itu benar-benar akan terjadi.” “Bersiap sajalah sebaik-baiknya. Siapkan senjata yang terbaik yang kalian miliki. Jika Panembahan Lebdagati itu benar-benar datang, maka kalian tidak lagi sekedar bermainmain. Tetapi kalian akan berperang. Taruhannya adalah nyawa kalian.” Dengan demikian, maka telah tersusun kekuatan di padukuhan itu. Ditataran teratas adalah Ki Ajar Pangukan dan orang-orang yang tinggal bersamanya. Kemudian Ki Warana dan para penghuni padepokan yang menyingkir ke padukuhan itu. Tataran yang terakhir adalah para penghuni padukuhan itu. Ki Ajar dan Ki Pandi telah berpesan mawanti-wanti, agar laki-laki dari padukuhan itu tidak menghadapi lawan mereka seorang melawan seorang. Mereka harus selalu berada dalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan para pengikut Panembahan Lebdagati yang memiliki ilmu yang tinggi. Setelah susunan pertahanan di pad'ikuhan itu mantap, maka Ki Warana sudah mendapat isyarat dari Ki Ajar, agar ia mulai memancing perhatian isi padepokan itu.” “Kita tidak usah pergi jauh” berkata Ki Ajar “kita manfaatkan burung-burung elang itu.” “Maksud Ki Ajar?” bertanya Ki Bekel. “Jika kita berkerumun atau berlatih berperang di tempat terbuka, maka menurut perhitunganku, burung-burung elang  itu akan dapat melihatnya. Mereka akan menuntun petugas sandi Panembahan Lebdagati untuk mengamati kita disini.” Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Kita sudah siap. Kapan saja Panembahan Lebdagati itu akan datang, akan kami sambut mereka dengan sebaik-baiknya.” “Kepada Ki Warana, Ki Ajar bertanya “Bagaimana dengan orang-orangmu Ki Warana?” “Mereka juga sudah siap,“ jawab Ki Warana. “Jika demikian, sudah tidak ada lagi yang ditunggu. Kita akan segera melakukannya.“ berkata Ki Ajar kemudian. Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di padukuhan itu justru akan memancing burung-burung elang itu agar melihat mereka dalam kelompok-kelompok yang langsung memberikan kesan kesiagaan untuk bertempur. Ki Ajar Pangukan dan kawan-kawannyalah yang kemudian mengajak orang-orang padukuhan itu serta orang-orang padepokan untuk berlatih di tempat terbuka. Mereka benarbenar melakukan latihan sekedarnya untuk memperkenalkan laki-laki dan anak-anak muda padukuhan itu dengan senjata, agar mereka yang sama sekali belum pernah memegang senjata mengerti bagaimana mempergunakannya. Namun dalam pada itu, ternyata Ki Lemah Teles yang pernah disebut pembual oleh salah seorang penghuni padepokan yang melarikan diri itu telah tersinggung lagi. Orang yang menyebutnya pembual itu lagi yang membuatnya marah. Ketika Ki Lemah Teles memberikan beberapa petunjuk kepada orang-orang padukuhan itu tentang mempergunakan tombak, maka orang itu berdesis “Pembual itu lagi. Apa yang ia ketahui tentang tombak.”  Ki Lemah Teles berpaling. Namun orang itu sama sekali tidak menyingkir. Ia sengaja maju melangkah sambil tertawa. Katanya, ”Kau marah?” Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Ia ingin mendapat saksi, bahwa bukan ia yang mendahuluinya. Karena itu, maka dipanggilnya Manggada dengan Laksana untuk datang kepadanya. Manggada dan kemudian juga Laksana telah melangkah mendekat. Dengan dahi yang berkerut Manggada bertanya “Ki Lemah Teles memanggil kami?” “Ya””jawab Ki Lemah Teles “aku ingin kalian menjadi saksi, bahwa bukan aku yang mendahului jika aku bertengkar dengan orang ini.” “Ya,“ orang Itu dengan wajah tengadah menyahut “Aku benci pada pembual ini. Ia berbaring diatas alas persembahan. Ia membual sesuka hatinya, menyombongkan diri dan tidak tahu malu.” “Kau bersungguh-sungguh?“ bertanya Manggada. “Ya. Aku bersungguh-sungguh. Aku ingin ia minta maaf kepada kami. Terutama karena ia sudah menghina tempat persembahan itu. Aku akan menunjukkan kepadanya, bahwa ia tidak perlu membual dan menyombongkan dirinya seperti itu.” “Nah, sudah cukup?“ bertanya Ki Lemah Teles. “Kau akan mengenal siapakah kami, para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening.” Manggada dan Laksana menjadi berdebar-debar, justru karena mereka mengenal Ki Lemah Teles. Tetapi saat itu, mereka menjadi heran. Ki Lemah Teles itu tidak menjadi  sangat marah dan menantang orang itu perang tanding. Tetapi ia seakan-akan sekedar ingin melayaninya saja. Dengan nada datar, Ki Lemah Teles itu berkata “Marilah. Biarlah orang-orang yang sedang berlatih ini menjadi saksi pula, siapakah yang sebenarnya pembual dan sombong.” Orang itupun segera mempersiapkan diri. Dengan wajah yang garang ia melangkah mendekati Ki Lemah Teles selangkah demi selangkah. Kemudian sambil tertawa ia berkata “Kau akan berlutut dan mohon ampun kepadaku.” Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan dan kawan-kawannya yang berlatih menebar tidak tahu apa yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles. Mereka menduga bahwa Ki Lemah Teles yang dikerumuni oleh banyak orang itu sedang memperagakan, bagaimana mereka harus mempergunakan senjata dengan cara yang benar dan baik. Ketika orang itu mulai berloncatan, Ki Lemah Teles masih saja berdiri termangu-mangu. Ia memperhatikan lawannya yang menunjukkan kemampuannya bergerak cepat dalam unsur-unsur gerak yang mendebarkan. Dengan keyakinan yang tinggi didalam dirinya, maka orang itu berkata lantang sambil meloncat menyerang “Kalau kau mati, bukan salahku.” Orang-orang yang menyaksikan menjadi berdebar-debar. Serangan itu datang dengan cepat dan deras. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu tiba-tiba tersentak. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Namun yang mereka ketahui, tiba-tiba saja orang yang menyerang Ki Lemah Teles itu terbanting jatuh ditanah. Wajah orang itu menjadi pucat. Punggungnya serasa akan patah, sementara itu nafasnya pun menjadi terengah-engah.  Jangankan orang yang menyaksikan, sedang orang yang terbanting jatuh itupun tidak tahu apa yang dilakukan oleh Ki Lemah Teles. Dalam pada itu, Ki Lemah Teles berdiri sambil tersenyum. Katanya sambil memberi isyarat dengan jari-jarinya “Bangkitlah. Bukankah kita akan menjajagi kemampuan kita? Kenapa kau malah berbaring disitu? Apakah semalam kau tidak dapat tidur?” Orang itu menyeringai menahan sakit. Ketika Ki Lemah Teles mendekat, ia berusaha beringsut sambil berkata “Jangan, jangan. “Ayo. Bangkitlah.” Orang itu berusaha untuk duduk sambil berdesah kesakitan, sementara Ki Lemah Teles berkata “Bukankah kau akan memaksa aku untuk berlutut dan mohon ampun?“ -”Tidak. Akulah yang mohon ampun.” jawab orang itu. Ki Lemah Telespun menyahut “Jangan begitu. Bukankah kau lakilaki?” ”Cukup. Sudah cukup. Sekali lagi aku kau banting seperti ini, aku tidak akan dapat bangkit kembali. Aku mohon ampun.” Ki Lemah Teles tertawa. Kalanya “Baiklah. Minggirlah, aku akan menunjukkan kepada saudara-saudara kita ini, bagaimana kita mempergunakan sebatang tombak.“ Orang itu berdiri sambil memegangi pinggangnya. Kemudian berjalan tertatih-tatih menepi. Dalam pada itu, maka Manggada dan Laksana yang berdiri termangu-mangu itupun tersenyum melihat orang itu bergeser menepi dan kemudian duduk diatas rerumputan sambil berkali-kali berdesah kesakitan.  “Apakah tugas kami sudah cukup, Ki Lemah Teles?“ bertanya Manggada. “Apakah kalian juga ingin membuktikan, apakah aku pembual atau bukan? “ Laksanalah yang tersenyum sambil menjawab, ”Lain kali Ki Lemah Teles.” Ki Lemah Teles mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata “Kembalilah ke tempat kalian.” Manggada dan Laksana itupun kemudian telah berlari-lari kembali ketempatnya. Merekapun sedang memberi petunjuk bagaimana mempergunakan senjata kepada sekelompok anak muda dari padukuhan itu. Tiga ampat hari mereka berlatih, ternyata masih belum ada seekor burung elangpun yang terbang berputaran sampai ke padukuhan kecil itu. Agaknya Panembahan Lebdagati dan orang-orangnya terlalu yakin akan kemenangannya, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mengamati keadaan. Tetapi justru karena itu, maka Ki Pandi telah mengajak Manggada dan Laksana untuk mendekati padepokan itu. “Kita harus berhati-hati,“ desis Ki Pandi. Ketika mereka menjadi semakin jauh dari padukuhan, maka mereka melihat kedua ekor harimau Ki Pandi merangkak mendekatinya sambil menggosok-gosokkan kepala mereka ke kaki Ki Pandi. Ki Pandipun kemudian membelai kedua ekor harimaunya. Namun kemudian ia memberi isyarat agar kedua ekor harimaunya itu mendahuluia mereka.  Dalam pada itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah bergerak kembali. Mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan padepokan yang telah ditinggalkan oleh Ki Warana. Tetapi ketiga orang itupun tertegun ketika dari kejauhan mereka melihat seekor burung elang yang terbang rendah mengelilingi padepokan. “Ternyata mereka cukup berhati-hati,“ berkata Ki Pandi. “Jika elang itu terbang rendah seperti itu, maka elang itu tidak akan pernah melihat sisa-sisa orang padepokan yang sedang berlatih itu.” sahut Manggada. “Kita akan menunggu sampai sepekan. Jika dalam sepekan tidak ada seekor burung elang yang terbang diatas padukuhan, maka kita yang akan memancingnya.” desis Ki Pandi. Untuk beberapa saat mereka mengamati burung elang yang berterbangan itu. Namun beberapa saat kemudian, burung itu menukik dan hilang dibalik dinding padepokan. “Biarlah kita pergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada orang-orang padukuhan mempergunakan senjata. Biarlah mereka lebih mengenali senjata mereka, karena mereka akan terjun di arena pertempuran melawan orang-orang yang sudah berpengalaman.” Ketiga orang itu tidak terlalu lama berada ditempat itu. Ketika kedua ekor harimau Ki Pandi kembali lagi menemuinya, maka Ki Pandipun telah mengajak Manggada dan Laksana kembali ke padukuhan, sementara ia memberikan isyarat kepada kedua ekor harimaunya untuk tinggal di hutan perdu  yang luas dilereng Gunung Lawu yang membatasi lingkungan persawahan dengan hutan lereng gunung. Di padukuhan, Ki Pandi pun telah memberitahukan apa yang dilihatnya kepada Ki Ajar Pangukan, Ki Warana dan Ki Bekel. Untuk sementara burung elang itu tidak akan melihat kesiagaan mereka. “Kita justru dapat memanfaatkan waktu,“ berkata Ki Pandi “dengan pengenalan yang lebih banyak tentang senjata mereka, maka orang-orangku akan dapat lebih banyak berbuat disamping mereka yang sudah berpengalaman.” “Ya. Kita akan menunggu sampai sepekan.” Tetapi meskipun tidak ada seekorpun burung elang yang sempat terbang diatas padukuhan itu, namun kabar tentang kesiagaan orang-orang padukuhan itu telah tersebar. Orangorang dari padukuhan lain yang melihat apa yang dilakukan di padukuhan itu menjadi saling bertanya. Apalagi ketika padukuhan itu kemudian telah menutup diri. Berita yang berkembang dari mulut-ke mulut itu, menyusup sampai ke pasar. Bahkan kemudian sampai ke telinga pengikut Panembahan Lebdagati yang memang sering pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari yang telah habis dalam persediaan mereka. Tetapi Panembahan Lebdagati memang sering mengirimkan orang untuk berada ditempat orang banyak agar mereka dapat mendengar jika ada berita yang berkembang menyangkut padepokannya. Ternyata bahwa orang yang berada di pasar itu telah mendengar berita tentang kegiatan sebuah padukuhan yang kemudian justru telah menutup diri. Menutup jalan-jalan yang menuju ke padukuhan itu dari segala jurusan.  Dengan demikian, maka berita itu telah menjadi laporannya pula ketika ia kembali ke padepokan. Panembahan Lebdagati ternyata tertarik pula oleh laporan itu. Karena itu, maka iapun lelah memerintahkan orang yang merawat burung-burung elangnya untuk mengamati keadaan. “Jika burung-burung itu gagal, maka aku akan mengirimkan beberapa orang langsung untuk melihat. Tetapi jika elangelang itu berhasil, maka setidak-tidaknya burung-burung elang itu akan dapat menuntun orang-orang kita untuk melihat padukuhan itu. Sebenarnyalah, hari itu juga dua ekor burung elang telah terbang tinggi. Keduanya berputaran sambil mengamati padukuhan-padukuhan disekitar padepokan yang telah diduduki oleh Panembahan Lebdagati itu. Beberapa kali kedua ekor burung itu berputaran. Mereka tidak saja berputar-putar disekitar padepokan, tetapi kedua burung elang itu berputar pada garis lingkaran yang luas. Sebenamyalah kedua ekor burung itu sempat melihat orang-orang padukuhan dan orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening yang berhasil melarikan diri itu. Mereka masih saja berlatih ditempat terbuka tanpa merasa cemas, bahwa Panembahan Lebdagati akan dapat melihat mereka. Meskipun demikian, ketika mereka melihat dua ekor burung elang terbang berputaran di udara, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. “Akhirnya burung-burung itu datang juga,“ desis Ki Pandi. “Satu isyarat bahwa kita harus benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan.“ sahut Ki A jar Pangukan.  “Kami akan melihat-lihat kegiatan di padepokan itu,“ berkata Ki Pandi, ”setelah mereka melihat kegiatan kita lewat mata burung elang itu, apakah mereka menunjukkan kegiatan tertentu.” “Tetapi berhati-hatilah. Bahwa mereka telah mengirimkan burung elang itu berarti bahwa mereka telah mulai dengan satu pengamatan khusus terhadap kita disini,“ pesan Ki Ajar Pangukan. Ki Pandi menganggukangguk. Namun ternyata ia minta agar Manggada dan Laksana tidak ikut bersamanya. “Aku akan pergi sendiri. Jika keadaan memungkinkan, kita akan pergi bersama besok.” Manggada dan Laksana mengangguk mengiakan. Mereka selalu menganggap apa yang dikatakan Ki Pandi seharusnya mereka lakukan. Kecuali mereka menganggap bahwa orang bongkok itu adalah gurunya, kedua anak muda itu juga menyadari, bahwa apa yang dikatakan oleh Ki Pandi itu pada umumnya sangat berarti bagi mereka. Demikianlah, maka Ki Pandi pun telah berangkat sendiri untuk melihat padepokan yang telah melepaskan dua ekor burung elang itu.  Seperti sebelumnya, ketika Ki Pandi memasuki padang perdu, maka kedua ekor harimaunya telah menyongsongnya, menjilat-jilat tangannya dan menggosok-gosokkan kepalanya pada kaki Ki Pandi. “Berhati-hatilah,“ desis Ki Pandi sambil mengusap kepala kedua ekor harimaunya itu. Kedua ekor harimaunya itu seakan-akan mengerti kata-kata Ki Pandi sehingga keduanya berjalan merunduk-runduk diselasela gerumbul-gerumbul perdu. Beberapa saal kemudian, Ki Pandi dan kedua ekor harimaunya telah berada tidak terlalu jauh dari padepokan. Ki Pandi tidak melihat sesuatu selain pintu gerbang yang tertutup rapat. Untuk beberapa lama Ki Pandi mengamati padepokan itu. Tetapi ia tidak melihat kegiatan apapun diluar padepokan. Sementara itu dinding padepokan itu berdiri tegak dengan angkuhnya. Membeku di panasnya sinar matahari. Namun tiba-tiba saja kedua ekor harimaunya menjadi gelisah. Mereka memandang ke arah yang jauh. Ki Pandi yang sudah mengenal sifat kedua ekor harimaunya selalu memperhatikan sikapnya. Ki Pandipun kemudian ikut pula memandang kearah yang jauh itu. Dengan ketajaman penglihatannya, maka Ki Pandi pun melihat titik-titik yang bergerak di kejauhan. Ternyata dua ekor burung elang yang melayang-layang. Tetapi tidak diatas padukuhan yang dipergunakan oleh Ki Warana menjadi pertahanan keduanya itu. Justru diarah yang berlawanan. Tentu bukan burung elang yang terbang diatas padukuhan itu,“ berkata Ki Pandi kepada kedua ekor harimaunya.  Kedua ekor harimau itu memandanginya dengan tajamnya, seakan-akan mereka ingin mengetahui apa yang dikatakan itu. Kedua ekor burung elang itu semakin lama menjadi semakin kelihatan jelas. Keduanya terbang langsung menuju ke padepokan keduanya berputaran beberapa kali. Ki Pandi lermangu-mangu sejenak. Tetapi kedua ekor harimaunya nampak semakin gelisah. Ternyata kemudian, Ki Pandi itu melihat debu yang mengepul. Beberapa orang penunggang kuda melarikan kuda mereka dijalan berdebu menuju ke padepokan. “Siapakah mereka?” bertanya Ki Pandi kepada diri sendiri, karena ia tidak akan dapat bertanya kepada kedua ekor harimaunya. Dengan sangat berhati-hati Ki Pandi beringsut mendekat. Tetapi pada jarak itu, Ki Pandi memang tidak dapat melihat wajah orang-orang berkuda itu dengan jelas. Ki Pandi menjadi berdebar-debar ketika Ki Pandi melihat pintu gerbang itu terbuka perlahan-lahan. Apalagi ketika ia melihat bahwa beberapa orang telah berdiri untuk menyambut orang-orang berkuda iiu. Seorang diantara mereka segera dapat dikenali oleh Ki Pandi meskipun dari jarak yang agak jauh, karena ia mengenal orang itu dengan sangat baik. Panembahan Lebdagati sendiri. Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang berkuda itu tentu orang yang dihormati, sehingga Panembahan Lebdagati sendiri harus menyambutnya dipintu gerbang. Untuk beberapa saat lamanya Ki Pandi menjadi tegang. Ia melihat Panembahan Lebdagati menyambut orang-orang berkuda itu. Menurut penilaian Ki Pandi, dua orang diantara  orang-orang berkuda itu termasuk orang yang penting bagi Panembahan Lebdagati. Dengan demikian, maka Ki Pandipun mengerti, bahwa burung elang yang nampak sebagai titik-titik kecil itu adalah burung elang yang mendapat tugas untuk menjemput dan menuntun tamu-tamu Panembahan Lebdagati itu sampai ke padepokan. Ketika kemudian pintu gerbang itu perlahan-lahan ditutup kembali, maka Ki Pandipun menarik nafas dalam-dalam. “Apakah mereka datang secara kebetulan, atau Panembahan Lebdagati memang memanggilnya untuk menyelesaikan orang-orang yang tersisa dari padepokan Kiai Banyu Bening yang sempat dilihat oleh burung elang itu?“ bertanya Ki Pandi kepada diri sendiri. Namun bagaimanapun juga, kehadiran beberapa orang berkuda itu harus menjadi perhatian mereka. Dengan demikian, maka Ki Pandi berkesimpulan, bahwa setiap hari sebaiknya dilakukan pengamatan atas padepokan itu. Ia tidak dapat melakukannya sendiri. Tetapi bergantian dengan orang-orang tua yang memiliki ilmu yang tinggi untuk sementara dirumah Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi terasa hari-harinya tinggal besok atau lusa. Panembahan Lebdagati tentu akan segera datang untuk menghancurkan orang-orang yang telah berani membuat persiapan-persiapan yang tentu akan menentangnya. Meskipun nemikian, ketika hal itu disampaikan kepada Ki Ajar Pangukan, maka Ki Ajar telah menyetujuinya. Bahkan Ki Ajar itu menganggap bahwa pengamatan itu harus dilakukan setiap saat.  Karena itu, maka orang-orang di padukuhan itu telah mengadakan pembicaraan khusus untuk mengatur pengamatan terhadap gerak orang-orang padukuhan. “Waktunya tentu tidak akan lama lagi,“ berkata Ki Pandi. Demikianlah, sejak saat itu, maka bergantian orang-orang dari padukuhan itu mengadakan pengamatan atas padepokan yang telah dirampas oleh Panembahan Lebdagati. Ki Warana telah menunjuk orang-orangnya yang terbaik untuk membantu melakukannya. Terutama di malam hari. Sedangkan disiang hari pengawasan itu dilakukan oleh orang-orang tua yang berilmu tinggi, karena mereka harus sangat berhati-hati. Dalam pada itu, ketika orang-orang padukuhan itu melihat beberapa ekor burung elang terbang berputar-putar diatas padukuhan itu, menjadi berdebar-debar. Tidak hanya dua ekor seperti biasanya. Tetapi lima ekor burung elang. “Apa yang akan terjadi?,“ desis Ki Ajar Pangukan. “Nampaknya mereka menganggap bahwa waktunya sudah tiba,“ sahut Ki Pandi. “Tetapi tentu bukan hari ini,“ berkata Ki Ajar. “Sudah terlalu siang untuk memulai sebuah pertempuran. Agaknya malam nanti mereka akan bergerak.“ sahut Ki Pandi. “Ketika mereka menyerang padepokan itu, mereka lakukan disiang hari. Dengan satu keyakinan untuk menang, mereka datang dengan dada tengadah. Disiang hari, maka mereka akan dapat sedikit mengatasi kesulitan medan.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya “Medan di padukuhan ini tentu lebih sulit bagi mereka. Karena itu, menurut pendapatku, mereka akan datang esok menjelang matahari terbit.”  Ketika sekali lagi Ki Warana membuat perhitungan, manakah yang lebih baik antara bertahan dan menyerang, maka Ki Ajar berkata “Kita lebih baik bertahan disini. Panembahan Lebdagati tidak akan menyerang dengan segala kekuatannya. Tentu masih ada yang akan ditinggalkan di padepokan. Jika kita yang datang ke padepokan, maka kita akan berhadapan dengan segenap kekuatan yang ada di padepokan, selain kita akan mengalami kesulitan untuk memasuki padepokan itu.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya “Baik. Kita mantapkan sikap kita. Kita akan benahan di padukuhan ini. Tetapi Ki Bekel harus dapat memecahkan persoalan perempuan dan anak-anak.” “Ada dua tempat pengungsian,“ sahut Ki Bekel “di banjar dan dirumahku. Menurut perhitunganku, kedua tempat itu akan dapat menampung semua perempuan dan anak-anak di padukuhan ini.” “Pengungsian itu harus segera dilakukan,“ berkata Ki Ajar, ”burung elang itu merupakan isyarat, bahwa mereka akan segera bergerak. Jika terlambat, maka akibatnya sangat buruk bagi mereka.” “Baiklah,“ berkata Ki Bekel “aku akan mulai hari ini juga. Mereka masih mempunyai kesempatan hari ini dan malam nanti seandainya benar besok menjelang matahari terbit, Panembahan Lebdagati akan menyerang padukuhan ini.” Sebenarnyalah, Ki Bekel telah memerintahkan para bebahu untuk mengatur pengungsian perempuan dan anak-anak ke banjar dan ke rumah Ki Bekel, tetapi Ki Bekel masih berpesan “Jangan membuat perempuan dan anak-anak menjadi sangat ketakutan. Mereka harus yakin, bahwa mereka akan mendapat perlindungan yang baik. Tidak seorangpun diantara para  pengikut Panembahan Lebdagati yang akan dapat menginjakkan kakinya di halaman banjar dan halaman rumahku itu. Demikianlah, maka pengungsian perempuan dan anak-anak pun segera berlangsung. Bagaimana pun juga para bebahu berusaha, namun perempuan dan anak-anak itu menjadi ketakutan. Sementara itu, laki-laki dan anak-anak muda padukuhan itu nampak hilir mudik membantu perempuan dan anak-anak mengungsi. Hanya kemudian mereka pun telah dihimpun dalam kelompok-kelompok yang akan menyalurkan perintahperintah sampai ke setiap telinga. Mereka pun telah membagi lingkungan tugas mereka. Kecuali dalam keadaan yang khusus. Dalam pada itu, Ki Warana pun telah menentukan tugas orang-orang yang menyertainya sampai ke padukuhan itu. Mereka juga terbagi sebagaimana orang-orang padukuhan itu, sehingga di-setiap kelompok orang-orang padukuhan terdapat beberapa orang dari padepokan Kiai Banyu Bening. Selain daripada itu, maka orang-orang padepokan Kiai Banyu Bening itupun telah berusaha mengenali medan dengan sebaik-baiknya. Seperti yang pernah mereka lakukan, maka mereka akan memanfaatkan medan itu untuk mengacaukan lawan mereka. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan telah memperingatkan agar orang-orang tua yang tinggal bersamanya itu menjadi sangat berhati-hati. “Ada orang baru di padepokan,“ berkata Ki Ajar. Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Panembahan Lebdagati sendiri bersama pengikutnya sudah merupakan  kekuatan yang sangat besar. Apalagi dengan kekuatan baru meskipun hanya beberapa orang, maka kekuatan Panembahan Lebdagati akan menjadi sangat besar. Meskipun demikian, Ki Warana sudah bertekad untuk melawannya, apapun yang terjadi. Iapun percaya kepada kemampuan orang-orang tua yang ada diantara mereka, karena Ki Warana sendiri pernah mengalami benturan kekuatan. Ki Warana itu merasa dirinya sama sekali tidak berarti dihadapan orang tua-tua itu. Dalam pada itu, burung-burung elang yang berputaran di atas padukuhan itu, ternyata telah diamati oleh beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati dari kejauhan. Mereka mendapat kesimpulan bahwa burung elang itu melihat kekuatan yang cukup besar tersimpan di padukuhan itu. Apalagi orang-orang padukuhan itu sengaja tidak menyembunyikan diri dari penglihatan burung-burung elang itu.#160b Namun para pengikut Panembahan Lebdagati itu masih juga belum dapat menterjemahkan pengertian kekuatan yang cukup besar itu dengan tepat. “Berapa banyak orang yang sempat melarikan diri itu?“ bertanya seseorang diantara mereka yang mengamati burung elang itu. “Saat itu aku berniat untuk mengejar mereka. Tetapi aku dan kawan-kawanku telah dicegah. Waktu itu kita menganggap bahwa kekuatan yang melarikan diri itu tidak seberapa.” “Sampai sekarang pun aku menganggap bahwa kekuatan mereka itu memang tidak seberapa.“ sahut yang lain “jika burung elang itu memberikan isyarat bahwa kekuatan di  padukuhan itu cukup besar, maka mungkin burung elang itu juga melihat kesibukan orang-orang padukuhan itu sendiri.” “Salah kita, bahwa kita belum pernah mengirimkan orang untuk melihat langsung apa yang mereka lakukan. Menurut kata orang di pasar itu setiap hari mereka mengadakan latihan di tempat terbuka.” “Satu cara untuk menggertak kita.“ jawab yang tahu “kita tidak usah menghiraukan kata orang. Jika kita datang ke padukuhan itu, maka padukuhan itu akan kita hancurkan. Para penghuninya yang telah membantu, apakah itu berujud pangan atau alat apapun, akan kita anggap ikut bersalah. Mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kesalahan mereka.” “Hanya ada satu macam hukuman yang dapat Kita berikan. Hukuman mati dengan cara apapun juga.” Sementara itu seorang diantara mereka berkata ”Jika saja di padukuhan itu ada sepuluh atau lima belas gadis yang bersih. Panembahan Lebdagati akan dapat menghemat kesibukannya selama limabelas bulan jika ia benar-benar ingin memulai lagi dengan menyerahkan korban bagi kerisnya.“ Namun dengan nada rendah ia melanjutkan, ”tetapi sudah berasa sebenarnya umur Panembahan.” “Apakah kau kira umur dapat menjadi patokan berapa tahun lagi ia akah hidup didunia ini? Aku yakin, bahwa Panembahan Lebdagati masih akan dapat menyelesaikan tugasnya menyerahkan korban sepanjang seratus kali purnama. Umurnya tentu masih akan mencapai seperempat abad lagi”  Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi memang tidak mustahil bahwa seseorang akan mencapai umur lebih dari seratus tahun. Beberapa saat kemudian, maka orang-orang itupun segera meninggalkan tempatnya. Mereka melangkah kembali ke padepokan sambil mencoba menemukan kesimpulan yang akan menjadi laporan mereka kepada Panembahan Lebdagati. Di padepokan, mereka langsung menyampaikah laporan pengamatan mereka kepada Panembahan Lebdagati. Sehingga Panembahan Lebdagati itupun mengambil kesimpulan, bahwa ia harus segera bertindak. “Kenapa kau pelihara kecoak-kecoak itu, Panembahan?” bertanya seorang yang bertubuh tinggi tegap, berkumis melintang. Salah seorang dari orang-orang berkuda yang datang ke padepokan itu. “Aku mengira bahwa mereka tidak akan berbuat apa-apa lagi. Tetapi ternyata mereka sudah siap untuk membunuh diri.” “Mumpung aku ada disini” berkata orang berkumis tebal itu “aku akan ikut bersamamu. Mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang menarik di padukuhan itu?” “Apa yang kau inginkan?“ bertanya Panembahan Lebdagati. Orang itu tertawa. Katanya ”Apa saja yang menarik perhatian. Tetapi memang mungkin tidak ada apa-apa.” “Kau masih saja liar” desis Panembahan Lebdagati. “Kau kira watakku dapat berubah.“ “Baiklah Ki Lembu Palang. Jika kau mau ikut bersama kami, marilah.”  ”Kapan kau akan pergi ke padukuhan itu?” “Kapan sebaiknya menurutmu?“ “Besok kita pergi.” “Kenapa besok? Besok aku sudah berjanji untuk mengadu delapan ekor ayam jantan. Aku memerlukan yang terbaik dari delapan ekor ayam jantan itu.” “Berjanji kepada siapa? “ bertanya Ki Kebo Palang. “Kepada orang-orangku. Mereka memerlukan hiburan. Hiburan yang terbaik bagi mereka adalah menonton adu ayam. Selain hiburan pertarungan itu akan dapat memberikan dorongan kejantanan mereka di medan pertempuran.” “Kenapa kau menganggap adu ayam lebih penting dari menyelesaikan kecoak-kecoak yang mengotori pinggan nasimu?” bertanya Ki Kebo Palang. Panembahan Lebdagati menarik nafas panjang. Katanya ”Baiklah, besok aku akan pergi ke padukuhan itu. Menurut orang-orang itu, mereka mempunyai kekuatan yang cukup besar.” “Bukankah orang yang menyebut dirinya Banyu Bening itu sudah kau bunuh? Yang tersisa tinggallah para pengikutnya yang berhasil melarikan diri. Itupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Bukankah kau mengatakan begitu?“ bertanya Lembu Palang. “Ya. Jumlah mereka yang melarikan diri memang tidak terlalu banyak.” “Lalu siapa lagi?” bertanya Lembu Palang. “Mungkin mereka mempengaruhi orang-orang padukuhan itu.”  “Apa artinya orang-orang padukuhan itu?” Panembahan Lebdagati tersenyum. Katanya “Besok kita pergi. Besok lusa aku akan mengadu ayam itu.” Keputusan itupun segera diberitahukan kepada para penglkutnya. Panembahan Lebdagati telah memerintahkan para pengikutnya untuk bersiap-siap. Bahkan Panembahan Lebdagati sempat berpesan “jangan terlalu merendahkan lawan kita. Kita akan dapat terjebak dalam kesulitan. Karena itu, kita bawa kekuatan secukupnya.” Lembu Palang yang mendengar pesan itu sempat tertawa. Katanya “Kau cukup berhati-hati Panembahan. Tetapi tidak ada jeleknya orang berhati-hati. Dengan demikian, maka apa yang dilakukan akan dapat berhasil dengan sempurna. “ “Beberapa kali aku terjebak dalam kesulitan karena aku menganggap lawanku terlalu kecil. Aku kehilangan kesempatan pertama untuk menjadikan kerisku keris terbaik di bumi ini. Kemudian kegagalan yang lain telah merenggut setiap kesempatanku mendapatkan pusaka terbaik.” Tetapi sekarang kau tidak sedang merebut pusaka apapun. Kau tidak lebih dari sekedar membersihkan gledeg bambumu dari kecoak-kecoak yang mengotori isinya. Karena itu, kau tidak perlu terlalupening memikirkan kesiagaan orangorangmu yang aku nilai cukup banyak dan memiliki landasan ilmu yang cukup. Terus terang, tidak ada padepokan manapun yang akan dapat menandingi kekuatan padepokanmu ini nanti jika sudah mapan.” Panembahan Lebdagati mengangguk kecil. Katanya”Terima kasih atas pujian itu. Tetapi aku merasa bahwa aku harus tetap berhati-hati.”  Lembu Palang tertawa sambil berkata “Bagus. Aku menjadi semakin kagum melihat sikap dan pendirianmu. Besok aku dan kawan-kawanku akan ikut bersama kalian.” 


JILID 5
PANEMBAHAN Lebdagati mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dengan nada datar ia berkata,”Terima kasih. Dengan demikian maka tugas kami akan semakin cepat selesai.” “Aku tahu bahwa kau tidak memerlukan kami“ berkata Lembu Palang”orang-orangmu akan dengan cepat dapat membersihkan sisa-sisa pengikut Kiai Banyu Bening itu. Jika aku ikut bersamamu sama sekali bukan untuk membantumu. Tetapi sekedar ingin melepaskan kejenuhan. Kami akan sedikit terhibur dengan pekerjaan yang menyenangkan itu.” “Kau memang gila“ sahut Panembahan Lebdagati. “Sudah beberapa lama jari-jari kami tidak menyentuh darah segar yang mengalir dari luka“ berkata Lembu Palang. “Setan kau” geram Panembahan Lebdagati. Lembu Palang tertawa. Katanya ”Anak-anak kami akan dapat kehilangan gairah perjuangan mereka jika mereka tidak mendapat kesempatan untuk membasahi senjata mereka dengan darah korbannya” berkata Lembu Palang kemudian. “Terserah kepadamu. Aku harap bahwa kau dan orangorangmu mendapatkan apa yang kalian inginkan.” berkata Panembahan Lebdagati “lusa aku akan menyabung ayam. Orangku baru saja mendapat tiga ekor ayam yang baik. Sementara itu sudah ada lima ekor ayam yang disiapkan untuk memasuki arena sabung ayam itu.” Demikianlah, maka seisi padepokan itupun telah bersiapsiap. Seperti pesan Panembahan Lebdagati, mereka tidak boleh menganggap lawan mereka kecil. Tetapi bagaimanapun juga, orang-orang padepokan itu tidak melihat seorangpun yang harus mendapat perhatian khusus dari antara mereka yang berhasil melarikan diri dari  padepokan yang waktu itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Mungkin satu dua orang padukuhan yang bersedia membantunya memiliki kelebihan. Mungkin Ki Bekel, mungkin Ki Jagabaya atau yang lain. Namun mereka tidak akan berarti apa-apa bagi para pengikut Panembahan Lebdagati itu. Meskipun demikian, menjelang malam, Panembahan Lebdagati telah memberikan peringatan-peringatan lagi, agar para pengikutnya itu berhati-hati. “Besok menjelang fajar kita berangkat. Kita akan mulai memasuki padukuhan itu setelah matahari terbit. Dengan demikian, kita tidak akan terjebak oleh keadaan medan yang belum kita kenal. Sebagaimana terjadi di padepokan ini, maka orang-orang yang melarikan diri itu pandai memanfaatkan medan, karena mereka mengenal jauh lebih baik dari kita.” Para pengikut Panembahan Lebdagati itu memang mendengarkan peringatan itu, tetapi sebagian besar diantara mereka menganggap bahwa sikap berhati-hati Panembahan Lebdagati agak berlebihan. “Beberapa kali Panembahan Lebdagati kegagalan. Bayangan yang muram itulah yang membuatnya menjadi sangat berhati-hati.” berkata salah seorang diantara para pengikutnya. “Tidak ada salahnya Panembahan menjadi sangat berhatihati. Tetapi kitapun harus ingat, bahwa penggraita Panembahan itu sangat tajam. Meskipun Panembahan secara wadag belum pernah melihat kekuatan lawan, tetapi Panembahan seakan-akan dapat mengetahuinya. Karena itu, maka peringatannyatidak boleh kita abaikan.” sahut yang lain, seorang yang janggutnya sudah mulai nampak menjadi abuabu. Dalam pada itu, maka Panembahan Lebdagati pun segera memperingatkan pula agar mereka beristirahat. sebaik baiknya. Terutama mereka yang telah ditunjuk untuk bersama Panembahan pergi ke padukuhan yang dianggap telah menantang isi padepokan itu. Lembu Palang masih saja mentertawakan sikap Panembahan Lebdagati yang terlalu berhati-hati itu. Meskipun demikian, ia tidak mengatakan apa-apa lagi tentang persiapan yang nampak ber-sungguh-sungguh itu. “Hanya untuk membunuh kecoak,“ desis Lembu Palang. Malam itu padepokan menjadi sepi. Para pengikut Panembahan Lebdagati tidak berkeliaran didalam padepokan. Seperti yang dinasehatkan oleh Panembahan, maka mereka pun telah berada di pembaringan. Hanya para petugas khusus sajalah yang justru mulai bersiap-siap untuk menyalakan perapian, karena sebelum berangkat didini hari, orang-orang yang akan pergi ke padukuhan itu akan makan lebih dahulu. Demikianlah, sedikit lewat tengah malam, maka seisi padepokan itu sudah terbangun. Mereka mulai bersiap-siap untuk pergi ke padukuhan. Orang-orang yang tidak dapat ikut serta karena harus berjaga-jaga di padepokan, merasa menyesal, kenapa mereka tidak diikut sertakan membantai sisa-sisa pengikut Kiai Banyu Bening dan orang-orang padukuhan yang dungu, yang telah berani menentang Panembahan Lebdagati. Mereka menganggap bahwa tugas yang akan dilakukan di padepokan itu adalah tugas yang ringan dan menyenangkan. Demikianlah, menjelang fajar, maka Panembahan Lebdagati telah siap untuk berangkat. Telah terdengar suara kentongan yang memberi isyarat, semua orang yang akan berangkat harus sudah bersiap dalam kelompoknya masingmasing.  Dalam pada itu, Ki Pandi serta Manggada dan Laksana yang sedang bertugas mengawasi padepokan itu sejak lewat tengah malam, dapat merasakan kegiatan yang meningkat malam itu. Ketika lewat tengah malam mereka berada ditempat yang terlindung dibalik gerumbul perdu, mereka telah melihat bahwa padepokan itu nampak lebih tenang dari biasanya. Agaknya di halaman padepokan itu terpasang obor lebih banyak dari malam-malam yang lewat. Ketika mereka bertiga melihat asap yang mengepul, maka mereka bertiga mengambil kesimpulan bahwa ada kegiatan di dapur padepokan itu. Ki Pandi pun segera memerintahkan Manggada dan Laksana kembali ke padukuhan untuk memberitahukan, bahwa kemungkinan besar, orang-orang padepokan akan menyerang pagi itu. “Biarlah padukuhan itu bersiap. Peringatan, agar api di dapur pun harus segera dinyalakan. Jika pertempuran itu menelan waktu yang panjang, tenaga kita akan cepat menjadi susut. Manggada dan Laksana pun. segera kembali ke padukuhan, sementara Ki Pandi mengawasi kegiatan di padepokan itu. Manggada dan Laksana yang memberikan laporan kepada Ki Ajar Pangukan, kepada Ki Warana dan Ki Bekel, telah menyampaikan pesan Ki Pandi, terutama kepada Ki Bekel, bahwa api di dapur pun harus segera dinyalakan pula. Padukuhan itu pun telah menjadi sibuk pula. Ki Warana telah membangunkan orang-orangnya dan menempatkan mereka sesuai dengan rencana. Sementara itu, orang-orang padukuhan pun telah dibangunkan pula tanpa isyarat sama sekali. Tidak sebuah pun kentingan yang dipukul untuk memberikan aba-aba.  Anak-anak muda yang menghadapi di banjar dan di rumah ki Bekel telah bersiaga pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga dengan demikian maka perempuan dan anak anakanak mengungsi tidak merasa sangat ketakutan. Mereka yang bertahan di padukuhan itu pun telah bersiaga sepenuhnya. Anak-anak yang membawa busur telah mempersiapkan anak panah sepenuh endong yang mereka bawa Yang lain telah mempersiapkan lembing bambu yang mereka buat sendiri dengan ujung besi yang runcing. Ketika langit menjadi merah menjelang fajar, maka Ki Pandi yang mengawasi padepokan itu melihat pintu gerbang padepokan telah terbuka. Perlahan-lahan sepasukan pengikut Panembahan Lebdagati telah berderap keluar lewat pintu gerbang padepokan. Ki Pandi pun kemudian telah bergerak perlahan-lahan. Ia harus mendapat kepastian bahwa pasukan itu memang bergerak menuju ke padukuhan. Dalam kegelapan dilandasi dengan ilmunya yang tinggi Ki Pandi mengamati gerak pasukan itu, sehingga akhirnya ia yakin, bahwa pasukan itu memang menuju ke padukuhan. Karena itu, maka Ki Pandi pun segera bergerak dengan cepat mendahului gerak pasukan yang maju dengan lamban. Dalam pada itu, langit pun menjadi semakin merah. Ketika fajar menyingsing, Ki Pandi sudah ada di padukuhan. Kepada Ki Ajar Pangukan dan orang-orang tua yang tinggal dirumahnya, kepada Ki Warana dan Ki Bekel, Ki Pandi memberikan penjelasan tentang gerakan yang telah dilihatnya. “Kita harus berhati-hati. Panembahan Lebdagati ternyata telah membawa kekuatan yang besar. Agaknya ia tidak ingin menganggap kita terlalu kecil.”  Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di padepokan itu telah meningkatkan persiapan mereka. Sebenarnyalah bahwa Panembahan Lebdagati telah membawa pasukannya menuju ke padukuhan yang telah berani melakukan persiapan untuk melawannya. Beberapa saat kemudian, maka pasukan Panembahan Lebdagati itu telah menjadi semakin dekat. Beberapa puluh langkah dari dinding padepokan pasukan itu berhenti, sementara langit menjadi semakin merah. Tiga orang, diantaranya adalah Panembahan Lebdagati sendiri telah melangkah mendekati regol padepokan. Dengan lantang Panembahan Lebdagati yang kemudian berdiri tegak menghadap ke regol padepokan itu pun berkata “He, siapakah yang memimpin orang-orang di padepokan ini untuk menentang kuasaku?” Yang melangkah kepintu regol yang kemudian dibuka adalah Ki Warana dan dua orang pengikutnya. “Aku, Warana.” “Apakah kau salah seorang pengikut Kiai Banyu Bening?” bertanya Panembahan Lebdagati. “Ya. Aku adalah salah seorang pengikut Kiai Banyu Bening. Aku dan sekelompok kawan-kawan berhasil lolos dari padepokan itu dan sempat menyusun kekuatan di padukuhan ini.” “Apakah kau tidak ingat, bahwa Kiai Banyu Bening tidak mampu melawan aku? Apalagi kau dan pengikut-pengikutmu. Bahkan seandainya para penghuni padukuhan ini seluruhnya ikut membantumu, maka dalam waktu sekejap kalian akan kami tumpas habis. Karena itu, selagi belum terjadi, aku perintahkan kalian untuk menyerah. Seperti kawan-kawanmu yang menyerah di padepokan, mereka kami beri kesempatan  untuk menunjukkan kesetiaannya jika mereka ingin hidup untuk waktu yang lebih panjang.” “Panembahan Lebdagati” sahut Ki Warana ”kami sudah bertekad untuk menuntut balas kematian Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka serahkan orang yang bertanggung jawab atas kematian Kiai Banyu Bening, agar tidak semua orangmu akan menjadi korban. Jika orang itu kau sendiri Panembahan, maka kau harus dengan ikhlas menanggung beban tanggung jawab itu.” “Setan kau” geram Panembahan Lebdagati ”kau kira kau siapa dan berbicara dengan siapa., he?” “Namaku Warana. Aku salah seorang kepercayaan Kiai Banyu Bening. Ketika kau membunuh Kiai Banyu Bening, aku tidak menungguinya. Karena itu, ketika aku mendengar kabar kematiannya, aku bawa orang-orangku menyingkir, karena aku yakin bahwa kau akan memburu kami seperti sekarang ini. Nah, dalam kesempatan inilah, maka kau akan menerima beban pertanggungan.jawabmu itu.” “Warana, bagaimana mungkin kau dapat mengalahkan aku, jika Banyu Bening itu saja tidak mampu melakukannya. Apakah kau memiliki ilmu melampaui tataran ilmu Kiai banyu Bening?” “Itu bukan soal, Panembahan. Tetapi kau telah melanggar hak orang lain. Karena itu, kau harus dihukum.” Lembu Palang ternyata tidak telaten mendengar percakapan itu. Karena itu, maka ia pun melangkah menyusul Panembahan Lebdagati. Sambil bertolak pinggang Lembu Palang itu berteriak ”Kalian menyerah atau tidak?” Ki Warana termangu-mangu sejenak. Sementara itu, Ki Lemah Teles yang berdiri dibelakang selapis pengikut Ki Warana sehingga tidak begitu jelas nampak dari tempat  Lembu Palang berdiri, telah berdesis ”Bukankah itu Lembu edan ilu?” Ki Sambi Pitu yang berdiri disebclahnya dan melihat Lembu Palang dari sela-sela kepala orang yang berdiri didepannya tertawa pendek. Kalanya ”Nah, kau akan bertemu dengan sahabatmu itu. “Menyenangkan sekali. Sudah lama aku rindukan orang itu. Sekarang aku dapat menemuinya disini.” “Tetapi berhati-hatilah. Umurmu sudah menjadi semakin tua.” pesan Ki Sambi Pitu. “Iblis kau. Kau kira umur Kebo edan itu tidak bertambah tua pula?” Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya ”Bagus. Ternyata seumurmu masih juga akan mendapat lawan yang seumur. Bukankah selama ini kau mengembara mencari musuh, agar kau tetap yakin bahwa ilmumu masih berada, dalam tataran tertinggi.” ”Jangan mengigau lagi! Ilmuku memang masih yang terbaik sekarang ini" jawab Ki Lemah Teles. Tetapi Lembu Palang sendiri tidak mengira bahwa diantara beberapa buah kepala yang berderet di belakang Ki Warana itu terdapat kepala Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu selain beberapa orang berilmu tingi yang lain. Apalagi orang bongkok yang sengaja tidak menampakkan dirinya. Dalam pada itu, Ki Warana pun berteriak pula, ”Tidak akan ada penyerahan. Kami sudah bertekad untuk melawan. Bahkan membalas dendam atas kematian Kiai Banyu Bening. Panembahan Lembdagati. Jika kau ingin para pengikutmu selamat, maka berlututlah dihadapanku.” Jantung Panembahan Lebdagati bagaikan dihentak dari tangkainya. Penghinaan itu tidak dapat dimanfaatkan. Karena  itu, maka ia pun berkata ”Bagus. Kau akan menyesal bahwa kau sudah menghina Panembahan Lebdagati. Orang yang berani menyebut namanya tanpa arti, sudah pantas untuk dihukum mati. Apalagi orang yang telah berani menghinanya.” “Apakah ada hukuman yang lebih berat dari hukuman mati?” bertanya Ki Warana. “Jangan bertanya kepadaku. Ingat, apa yang pernah dilakukan oleh Kiai Banyu Bening. Ia sering melakukannya. Menjatuhkan hukuman yang lebih berat dari hukuman mati.” “Tetapi kau tidak akan pernah dapat melakukannya atasku. Di bawah lidahku tersimpan serbuk racun yang dibalut dengan selaput lemak yang tipis. Jika aku harus jatuh ketanganmu, maka racun itu akan tertelan. Dan kau tidak akan dapat menghukumku.” “Pengecut yang licik. Jika kau ingin membunuh diri, kenapa kau ajak pengikutpengikutmu sebanyak itu?” “Mereka adalah pengikut-pengikut setia Kiai Banyu Bening. “Panembahan” potong Lembu Palang ”apakah kita hanya akan berbicara saja panjang lebar? “Aku sudah siap” sahut Panembahan itu.  “Jika demikian, berikan aba-aba. Tanganku sudah gatal. Aku ingin menebas batang ilalang di padukuhan itu dengan pedangku. Panembahan Lebdagati mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya ”Aku akan kembali ke dalam pasukanku. Aku ingin bergerak bersama-sama dengan mereka. Nampaknya orang-orang di padukuhan itu telah siap menunggu kita.” Lembu Palang tertawa. Katanya ”Orang-orang yang putus asa. Mereka sudah menyiapkan racun untuk membunuh diri mereka sendiri, sehingga kita tidak perlu melakukannya. Tetapi aku ingin membunuh mereka sebelum mereka sempat membunuh diri dengan racun dimulutnya itu.” “Jika kau sempat, jangan beri kesempatan mereka membunuh diri. Aku ingin menghukum mereka lebih berat dari hukuman mati.” Lembu Palang itu tertawa. Katanya ”Apakah kau masih seperti beberapa tahun lalu?” “Aku tidak berubah. Celakalah orang yang berani melawan aku dan kemudian jatuh ke tanganku hidup-hidup.” Lembu Palang tertawa. Katanya ”Apalagi yang kau tunggu? Panembahan Lebdagati pun kemudian melangkah menjauhi regol dan kembali kepada para pengikutnya, diikuti oleh pengawalnya dan dipaling belakang berjalan Lembu Palang dengan kepala tengadah. Ketika Lembu Palang itu berpaling, maka orang-orang yang berada di padukuhan telah menutup pintu regol dan menyelaraknya rapat-rapat. Sementara itu, para pengikut Ki Warana serta orang-orang padukuhan itu telah menebar. Mereka bersiap dibelakang dinding padukuhan yang tidak setinggi dinding padepokan.  Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan dan orang-orang tua yang tinggal bersamanya telah menempatkan diri pula. Ki Lemah Teles telah berkata kepada Ki Ajar Pangukan, bahwa ia sudah siap untuk menghadapi Lembu Palang. “Nampaknya kau menyimpan dendam kepadanya?” “Bukan dendam” jawab Ki Lemah Teles ”aku hanya ingin membuat perhitungan. Ia telah membunuh salah seorang sepupuku. Sepupuku telah dirampoknya dalam perjalanan di malam hari. Sepupuku memang bukan seorang yang berilmu setataran dengan Kebo edan itu. Dua orang kawan seperjalanannya juga dibunuh oleh kawan-kawan Lembu Palang itu. Tetapi seorang lagi yang diduga telah mati, ternyata masih hidup. Orang itulah yang mengatakan kepadaku, siapakah yang telah membunuh sepupuku itu.” “Kau tidak mencarinya waktu itu?” bertanya Ki Ajar Pangukan. ”Aku masih terikat dalam sebuah keluarga sehingga aku masih segan untuk mengembara mencarinya. Tetapi tiba-tiba saja sekarang aku dapat bertemu Lembu Palang itu.” “Seandainya kau bertemu tidak dalam keadaan seperti ini, apakah kau juga akan menantangnya berperang tanding?” bertanya Ki Ajar. “Aku akan menantangnya.” geram Ki Lemah Teles. Ki Ajar tertawa. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Demikianlah, maka orang-orang tua itu pun segera menempatkan dirinya. Tetapi mereka tidak berada terlalu jauh dari regol padukuhan. Mereka menduga, bahwa para pemimpin dari padukuhan yang telah di rampas oleh Panembahan Lebdagati itu pun akan berusaha memasuki padukuhan lewat regol yang akan dibuka dengan paksa.  Meski pun demikian, orang-orang padukuhan serta para pengikut Ki Warana telah mendapat pesan, jika perlu mereka harus segera memberikan isyarat dengan kentomgan atau dengan penghubung. “Jika kalian mengalami kesulitan dengan seseorang yang berilmu tinggi, maka kalian harus segera memukul tengara,” pesan Ki Warana kepada orang-orangnya, sebagaimana Ki Bekel juga berpesan kepada orang-orang padukuhan itu. Sementara itu, di banjar dan dirumah Ki Bekel pun ditempatkan pula orang-orang yang harus melindungi perempuan dan anak-anak. Bahkan para remaja pun telah minta untuk dipersenjatai pula. Jika perlu mereka akan ikut terjun dalam pertempuran. Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati telah memerintahkan orang-orangnya yang cukup banyak untuk bergerak. Seperti yang dipesankan mewanti-wanti, agar para pengikutnya tidak memandang rendah lawan mereka. “Seperti yang pernah terjadi, mereka tentu akan menahan gerak maju kita dengan panah dan lembing. Tetapi kita tahu, bagaimana kita menghindar, menangkis atau menahannya dengan perisai.” berkata Panembahan Lebdagati. Para pengikutnya yang telah ikut menyerang padepokan dan merebutnya dari Kiai Banyu Bening telah berpengalaman menghadapi gaya bertahan para pengikut Kiai Banyu Bening itu. Demikianlah, maka Panembahan Lebdagati pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk menyerang. Sementara itu langit nampak cerah. Cahaya matahari sudah mulai tersangkut di ujung pepohonan yang tinggi. Ketika orang-orang padukuhan dan para pengikut Ki Warana kemudian melihat pasukan Panembahan Lebdagati  yang datang seperti gelombang di bibir lautan, maka jantung mereka memang menjadi berdebar-debar. “Jumlah mereka masih cukup banyak” desis seorang pengikut Ki Warana. “Tetapi korban mereka juga cukup banyak ketika pertempuran di padepokan itu selesai.” Kawannya terdiam. Namun ia masih mempunyai keyakinan diri untuk mampu bertahan atas serangan Panembahan Lebdagati. Orang-orang padukuhan itu pun menjadi gelisah. Mereka bukan orang-orang yang terbiasa mengalami kekerasan. Tetapi mereka tidak mempunyai pilihan. Anak-anak muda itu tentu tidak akan membiarkan padukuhan mereka dihancurkan oleh Penambahan Lebdagati bersama para pengikutnya. Karena itu, maka mereka pun telah bertekad untuk mempertahankan kampung halaman. Demikianlah, seruan yang mengguntur telah diteriakkan oleh Ki Warana disambut oleh para pengikutnya untuk mulai menghambat gerak maju gerakan Panembahan Lebdagati. Dengan demikian, maka sejenak kemudian, anak panah pun telah meloncat dari busurnya. Susul menyusul seperti air hujan yang dicurahkan dari langit. Para pengikut Panembahan Lebdagati sudah memperhitungkan bahwa mereka akan menghadapi serangan seperti itu. Karena itu, maka mereka pun telah bersiap-siap untuk mengatasinya. Namun bagaimana pun juga mereka mempersiapkan diri untuk menyusup diantara semburan anak panah, namun ada juga diantara mereka yang tidak berhasil. Ada diantara para pengikut Panembahan Lebdagati itu yang terhenti ditempatnya, karena anak panah yang terhunjam di dadanya.  Tetapi ada pula yang merintih kesakitan karena anak panah itu menyambar bahunya. Dengan luka-lukanya orang itu harus merangkak menjauhi dinding padukuhan, agar anak panah berikutnya tidak melukainya lebih parah lagi. Yang menggelisahkan para pengikut Panembahan Lebdagati itu adalah serangan anak panah yang tidak tepat mengenai sasaran telah menghentikan beberapa orang yang berlari-lari menggapai dinding padukuhan. Ternyata bahwa orang-orang yang tinggal dirumah Ki Ajar Pangukan telah menggenggam busur pula. Mereka tidak sekedar melepaskan anak panah tanpa membidik lebih dahulu. Tetapi anak panah yang terlepas dari busur mereka, mampu menembus dinding dada sasarannya dan menyentuh jantung . Tetapi arus serangan itu mengalir demikian derasnya. Meski pun jumlahnya sudah menyusut sebelum mereka mencapai dinding padukuhan, tetapi jumlah mereka masih cukup banyak untuk mengguncang ketahanan hati para pengikut Ki Warana dan para penghuni padukuhan itu. Tetapi para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu pun benar-benar sudah siap. Meski pun jumlah para pengikut Panembahan Lebdagati cukup banyak, tetapi para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu yang terdiri dari bukan saja anak-anak muda, tetapi hampir semua orang laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata, ternyata masih lebih banyak lagi. Dalam pada itu, orang-orang padukuhan itu selalu mengingat pesan, agar mereka tidak bertempur seorangseorang. Mereka harus berusaha untuk bertempur dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau ampat orang untuk menghadapi lawan.  Karena itu, sejak mereka bersiap dibelakang dinding padukuhan mereka sudah mengikat diri dalam kelompokkelompok itu. Mereka telah memilih kawan mereka masingmasing. Dalam pada itu, maka para pengikut Panembahan Lebdagati yang langsung menyerang kearah regol padukuhan yang tertutup rapat itu pun telah berusaha memecah pintu. Pintu yang diselarak itu, memang tidak sekokoh pintu gerbang padepokan. Karena itu, didorong oleh beberapa orang dari luar,maka perlahan-lahan dinding itu menjadi retak. Akhirnya pecah dan terbuka. Bersamaan dengan itu, maka disebelah-menyebelah, para pengikut Panembahan Lebdagati itu pun telah berusaha meloncati dinding padukuhan. Orang-orang yang bertahan dibelakang dinding telah bersiap untuk menerima mereka dengan ujung-ujung senjata. Sehingga beberapa orang diantara mereka demikian turun dari atas dinding, langsung roboh jatuh ditanah sambil mengerang kesakitan. Bahkan ada diantara mereka yang untuk seterusnya tidak akan pernah bangkit lagi. Namun akhirnya orang-orang yang menyerang padukuhan itu telah berhasil menginjakkan kakinya didalam dinding, sehingga dengan demikian, maka pertempuran pun segera terjadi dengan sengitnya. Para pengikut Panembahan Lebdagati adalah orang-orang yang telah berpengalaman. Namun mereka menjadi heran melihat lawan mereka menyambut kedatangan mereka dengan girangnya. Dendam yang tersimpan didada para pengikut Ki Warana, serta tekad untuk mempertahankan kampung halaman yang membakar jantung para penghuni padukuhan itu, telah mendorong mereka untuk bertempur tanpa mengenal takut  Dalam pada itu, demikian pintu regol padukuhan itu pecah, maka Panembahan Lebdagati dan para pengawalnya yang terpilih telah memasuki padukuhan. Kemarahan Panembahan Lebdagati kepada Ki Warana yang telah menghinanya telah mendorongnya untuk segera menemukan orang itu. Namun Panembahan Lebdagati itu sudah berpesan, agar Ki Warana dapat ditangkap hidup-hidup. “Siapa pun diantara kalian yang menemukan orang itu, aku ingin ia tertangkap hidup-hidup. Aku masih mempunyai persoalan yang harus aku selesaikan dengan orang itu dalam keadaan hidup. Lembu Palang yang mendengar pesan itu tertawa. Katanya ”Kau akan mendapatkan permainan yang menyenangkah.” “Ia telah merendahkan namaku” geram Panembahan Lebdagati. “Aku akan ikut mencari kecoak yang satu itu” berkata Lembu Palang. Namun Lembu Palang itu terkejut ketika ia mendengar seseorang menyahut ”Apakah kau tidak mencari aku Kebo edan.” Lembu Palang berpaling. Tiba-tiba saja terasa jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Diantara mereka yang sedang bertempur itu, seseorang melangkah kearahnya. Orang itu berhenti beberapa langkah sambil bertolak pinggang ”Kau ingat kepadaku?” “Iblis kau. Kenapa kau ada disini?” geram Lembu Palang. “Aku memang menunggumu. Aku tahu beberapa hari yang lalu kau datang ke padukuhan yang telah direbut oleh Panembahan Lebdagati itu. Karena itu, aku sudah menduga  bahwa kau akan ikut datang kemari memburu sisa-sisa para pengikut Kiai Banyu Bening. Nah, ternyata dugaanku benar.” Wajah Lembu Palang ini menjadi panas. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Ki Lemah Teles di tempat itu. Sementara itu Panembahan Lebdagati sempat berkata ”Nah, kau telah menemukan permainanmu sendiri, Lembu Palang. Biarlah aku mencari orang gila itu.” Lembu Palang tidak menyahut. Tetapi ia tidak dapat lagi menganggap bahwa mereka sekedar sedang memburu kecoak di padukuhan itu. Ternyata diantara kecoak-kecoak itu terdapat seekor singa yang garang. Karena itu, maka mimpinya untuk menebus ilalang tibatiba saja telah hanyut oleh kegelisahannya menghadapi orang yang berilmu tinggi itu. Meski pun Lembu Palang sendiri juga berilmu tinggi, tetapi bahwa tiba-tiba saja ia harus berhadapan dengan Ki Lemah Teles telah mengguncang jantungnya. Tetapi Lembu Palang tidak dapat menghindar. Ia harus menghadapinya. “Sudah lama aku menunggu untuk dapat berhadapan dengan seorang yang telah membunuh saudara sepupuku.” “Salahnya sendiri” geram Lembu Palang ”ia mati karena kesombongannya. Tetapi juga karena kelemahannya. Ia tidak mampu mengimbangi ilmuku, meski pun ia menantangku.” “Jangan mengigau. Kau tidak sedang berperang tanding melawan sepupuku. Tetapi kau merampoknya. Kau samun sepupuku itu ketika ia sedang dalam perjalanan malam. Benar-benar satu perbuatan keji yang tidak dapat dimaafkan. Kau dan sepupuku telah saling berkenalan sebelumnya. Tentu saja sepupuku tidak mengira bahwa kau sampai hati melakukannya. Bahkan untuk menghilangkan jejak, kau bunuh sepupuku. Tetapi kejahatan yang kau lakukan tidak dapat kau  sembunyikan, justru karena salah seorang kawan sepupuku yang telah disangka mati, masih dapat hidup dan berceritera apa yang telah terjadi.” “Persetan semuanya itu” geram Lembu Palang ”sekarang kita berada di medan pertempuran.” Ki Lemah Teles tertawa. Katanya ”Kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan. Kita akan menyelesaikan persoalan kita sampai tuntas. Pertempuran yang terjadi di sekitar kita hendaknya tidak mengganggu perhitungan yang sedang kita buat.” Lembu Palang itu termangu-mangu sejenak Tetapi ketika ia memandang disekitarnya, ia menjadi heran. Salah seorang pengawalnya tengah bertempur melawan seorang anak muda yang ternyata mampu mengimbangi ilmunya. “Kau heran?” bertanya Ki Lemah Teles ”anak itu bernama Manggada. Anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Lawannya itu akan segera disapunya dari medan. Jangan heran jika kau melihat anak muda yang lain lagi. Laksana yang memiliki ilmu setataran dengan anak muda yang kau perhatikan itu.” “Gila. Apa saja isi padukuhan ini? Apakah kalian sengaja menjebak Panembahan Lebdagati?” geram Lembu Palang. “Kenapa kami harus menjebaknya? Kita memasuki medan yang terbuka. Bukan satu jebakan.” Lembu Palang itu menggeram. Katanya ”Jika demikian, maka aku harus dengan cepat menyelesaikanmu, agar aku dapat segera menangani orang-orang yang lain yang nampaknya telah bersembunyi di padukuhan ini pula.” Tetapi Ki Lemah Teles tertawa. Katanya ”Jangan menipu diri sendiri. Kau mengenal aku. Kebo edan. Bagaimana mungkin kau berkata begitu? Seandainya ilmumu lebih tinggi  dari ilmuku, maka kau tahu bahwa kau tidak akan dapat menyelesaikan aku dengan cepat.” “Cukup” bentak Lembu Palang ”bersiaplah untuk mati.” “Kau tidak akan membentak-bentak untuk melapisi kecemasanmu sendiri, marilah, aku sudah merindukan kesempatan seperti ini.” Lembu Palang tidak menyadari lagi. Pertemuannya yang tiba-tiba dengan Ki Lemah Teles memang membuatnya berdebar-debar. Tetapi Lembu Palang masih berdiri pada kemungkinan yang sama antara kalah dan menang. Karena itu, maka ia pun segera bersiap untuk bertempur, apa pun yang terjadi. Dalam pada itu, pertempuran pun telah berkobar di padukuhan itu. Orang-orang yang telah berhasil memasuki padukuhan itu harus mengalami perlawanan yang keras dari para pengikut Ki Warana dan para penghuni padukuhan itu. Namun bukan mereka saja yang berusaha menahan arus serangan para pengikut Panembahan Lebdagati. Ada kekuatan yang tidak terduga sebelumnya. Ternyata diantara mereka yang bertahan itu terdapat orang-orang yang berilmu tinggi. Dibelakang pintu gerbang ada dua orang anak muda yang dengan kemampuannya yang tinggi, telah menghadapi orang-orang yang datang bersama Lembu Palang. Mereka bukan sekedar pengawal, tetapi mereka adalah orang-orang yang juga berkemampuan tinggi. Bahkan untuk beberapa lama mereka masih tetap bertempur dengan garangnya melawan orang-orang yang menjadi kebanggaan Lembu Palang itu. Sementara itu, pertempuran memang telah menjalar sepanjang jalan induk, bahkan di halaman-halaman rumah di sekitarnya. Para pengikut Ki Warana yang telah mengenali medan dengan baik, sebagaimana mereka lakukan di padepokan, telah mencoba memanfaatkan medan pula.  Namun para pengikut Panembahan Lebdagati pun menjadi sangat berhati-hati. Mereka harus memperhatikan dmdingdinding halaman. Sudut-sudut rumah, dapur dan bahkan lumbung dan kandang, mereka harus memperhatikan pintu seketeng dan longkangan dirumah-rumah yang bertebar. Dalam pada itu, Panembahan Lebdagati yang sedang mencari Ki Warana itu telah memasuki padukuhan semakin dalam. Setiap kali ia mengibaskan tangannya, maka orangorang disekitarnya pun telah terlempar. Satu dua orang mengalami luka-luka dan harus segera beringsut menjauh. “Warana, he, dimana kau Warana? Kau yang telah berani menghina harus berani bertangguang jawab. Jika tidak, maka orang-orangmu akan aku bantai habis. Kau tidak akan dapat melarikan diri lagi dari tanganku.” Tiba-tiba saja orang yang bernama Ki Warana itu telah muncul dari balik dinding halaman di pinggir jalan itu. Dengan lantang ia pun menjawab” Aku disini, Panembahan.” Panembahan Lebdagati yang marah itu telah berpaling kearah suara itu. Tetapi Ki Warana itu segera menghilang lagi di balik dinding, sehingga Panembahan Lebdagati itu berteriak ”Pengecut. Jangan lari. Kau tidak akan lepas dari tanganku.” Panembahan Lebdagati itupun kemudian bagaikan terbang meloncati dinding halaman itu. Ia yakin bahwa ia akan dapat memburu Warana yang telah menghilang dibalik dinding itu. Tetapi Panembahan Lebdagati itu terkejut sekali ketika demikian ia berdiri tegak dibalik dinding, dilihatnya seorang laki-laki duduk dibawah sebatang pohon kemiri yang besar. Orang itu seakan-akan sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya. Ia masih asyik mengamati seruling ditangannya.  “Kau bongkok” geram Panembahan Lebdagati. Ki Pandi berpaling. Dipandanginya Panembahan Lebdagati itu dengan tajamnya. Perlahan-lahan Ki Pandi itu pun berdiri sambil berdesis, ”Kita bertemu lagi Panembahan.” “Kau licik sekali. Agaknya kau peralat Ki Warana untuk memancing aku datang menemuimu.” “Aku memang menunggumu, Panembahan. Tetapi hal ini tidak terjadi jika kau tidak merebut padepokan Kiai Banyu Bening. “Aku mengambil hakku” jawab Panembahan Lebdagati. “Hak apa? Apakah kau mempunyai hak atas padepokan itu? “Tentu. Kau tahu bahwa aku pernah berada di tempat ini. Aku telah terusir dari padepokanku sehingga aku harus mengembara. Tetapi tiba-tiba saja aku mendengar bahwa ada orang lain yang telah membangun padepokan di tempat ini.” “Panembahan. Sebenarnya aku dan beberapa orang kawanku berada disini untuk menghancurkan padepokan Kiai Banyu Bening yang telah menyebarkan kepercayaan yang sesat, bertolak dari perasaan dendamnya, karena anak bayinya yang terbunuh didalam api. Ia pun kemudian telah bertekad,untuk membakar bayi sebanyak-banyaknya, karena ia mendapat kepuasan jika ia mendengar bayi yang menangis menjerit-jerit di telan nyala api.” Ki Pandi berhenti sejenak. Lalu katanya ”Menurut penilaianku, dendam yang menyala dihati Kiai Banyu Bening itu harus dihentikan, karena dendam itu tidak kalah berbahayanya dengan kepercayaan sesatmu. Karena kau menginginkan sebilah keris yang mempunyai kekuatan tidak terbatas, sehingga kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan diseluruh permukaan bumi ini. Karena itu, padepokan Kiai Banyu Bening harus dihancurkan. Tetapi  ternyata kemudian kau telah datang. Karena itu, maka aku telah menunggu. Tanpa menitikkan keringat kami telah berhasil menghancurkan padepokan Kiai banyu Bening. Dan sekarang tugas kami adalah menghancurkan padepokan yang telah bersalin tangan itu. Meski pun demikian aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu, bahwa kau telah membantu aku membunuh gerakan yang ditumbuhkan oleh Kiai Banyu Bening dan bersumber pada dendam yang membara itu.” “Baiklah Bongkok. Sekarang sudah saatnya aku membunuhmu, agar kau untuk selanjutnya tidak selalu menggangguku.” “Kau kira kau dapat membunuhku dengan mudah?” Ki Pandi justru bertanya. “Kita akan melihat apa yang terjadi disini” berkata Panembahan Lebdagati ”penghuni padukuhan ini akan ditumpas habis. Orang-orang yang berhasil melarikan diri dari padepokan dan agaknya telah berada disini pula, akan dibantai sampai orang yang terakhir. Bongkok buruk, jika hal itu terjadi, maka kau lah yang bertanggung jawab, karena agaknya kau telah menggerakkan mereka untuk melakukan perbuatan bodoh itu.” “Tidak Panembahan” jawab Ki Pandi ”yang akan dibantai bukan penghuni padukuhan ini. Bukan pula orang-orang yang lolos dari padepokan itu. Tetapi justru orang-orangmu. Aku disini tidak sendiri. Ada beberapa orang tua yang datang bersamaku.” Wajah Panembahan Lebdagati menjadi tegang. Ia telah melihat seorang diantaranya telah menempatkan diri berhadapan dengan Lembu Palang. Meski pun Panembahan Lebdagati percaya akan kemampuan Lembu Palang, tetapi  orang yang menemuinya itu tentu juga bukan orang kebanyakan. “Panembahan” desis Ki Pandi ”kaunanti juga akan dapat bertemu dengan Ki Ajar Pangukan jika kau kehendaki.” “Bawa iblis itu kemari. Aku akan menghancurkannya sama sekali.” “Jangan membohongi dirimu sendiri. Kau tidak mampu mengalahkannya. Kekuatanmu menundukkan kehendak orang lain, ternyata tidak mampu mempengaruhinya.” “Tetapi aku akan membunuhnya jika aku berhasil menemuinya nanti sesudah aku membunuhmu.” “Marilah, kita akan melihat, siapakah yang lebih kuat diantara kita. Kau atau aku. Kita dibesarkan diperguruan yang sama Panembahan. Kita mendapat landasan ilmu yang sama. Tetapi perkembangan ilmu kita berlainan. Jalan hidup kita pun berselisih. Aku mencoba untuk tetap mengemban kewajiban dari perguruanku, sementara itu kau telah tersesat semakin jauh.” “Kau tidak usah menggurui aku. Minggirlah, jika kau masih ingin menghirup hangatnya sinar matahari.” Orang bongkok itu tertawa. Katanya ”Kita sudah berhadapan sekarang. Beruntunglah kita mendapat tempat yang lapang dan tidak banyak terganggu di sini.” Panembahan Lebdagati menggeram. Tetapi ia harus menghadapi orang bongkok itu. Dalam pada itu, maka para pengikut Panembahan Lebdagati ingin dengan cepat menyelesaikan lawan mereka yang disebut oleh. Lembu Palang tidak lebih dari kecoakkecoak yang mengotori geledeg tempat makanan. Karena itu, maka mereka pun telah mengerahkan kemampuan mereka. Sebelum matahari sampai ke puncak, maka mereka berharap,  orang-orang yang memberanikan diri melawan Panembahan Lebdagati itu sudah tertumpas habis. Tetapi ternyata tidak semudah itu untuk melakukannya. Dalam pertempuran yang sengit, tiba-tiba saja sesosok bayangan telah menyambar-nyambar dengan garangnya. Sosok itu seakan-akan tidak dapat disentuh oleh ujung senjata, sehingga kehadirannya telah mengacaukan medan. Sekilas bayangan itu lewat dan hilang di balik dinding halaman. Namun beberapa orang pengikut Panembahan Lebdagati telah terluka. Peristiwa itu telah membesarkan hati para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu. Mereka menjadi semakin berani. Apalagi jumlah lawan mereka pun telah susut pula. Sementara itu Ki Jagaprana berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Ia telah menunjukkan keperkasaannya. Meski pun umurnya sudah merambat melampaui pertengahan abad, namun ternyata bahwa ia masih seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ki Jagaprana menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia teringat kepada Ki Lemah Teles yang telah menantangnya untuk bertempur. Dan bahkan telah melukainya justru pada saat ia tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi. “Apakah ilmu Ki Lemah Teles memang lebih tinggi dari ilmuku?” bertanya Ki Jagaprana didalam hatinya. Namun tiba-tiba sepercik ingatan telah melonjak didalam hatinya ”Agaknya waktu itu Ki Lemah Teles sedang dihinggapi perasaan yang asing justru setelah ia merasa menjadi semakin tua. Ia merasa bahwa dirinya tidak berarti lagi, sehingga ia ingin menunjukkan, bahwa ia masih tetap Ki Lemah Teles sebagaimana Ki Lemah Teles sepuluh tahun sebelumnya.  Ki Jagaprana itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun segera menyadari, bahwa ia berada ditengah pertempuran. Sementara para pengikut Ki Warana dan orangorang padukuhan itu tidak memiliki ilmu setinggi ilmu para pengikut Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka Ki Jagaprana itu pun segera meloncat dan kembali ke arena pertempuran. Tetapi ia tertegun sejenak melihat Ki Sambi Pitu yang berhadapan dengan ampat orang yang bertempur sambil berputar-putar. Berganti-ganti keempat orang itu menyerang. Namun pada satu ketika keempatnya datang bersama-sama. Keempatnya menyambar-nyambar dari arah yang berbedabeda. Senjata mereka mematuk dengan cepat, sementara mereka selalu bergerak dalam putaran yang sekali-sekali melebar, namun kemudian menyempit. “Mereka menirukan elang yang bertempur di langit” desis Ki Jagaprana. Adalah diluar dugaan, bahwa Ki Jagaprana itu pun menengadahkan wajahnya kelangit. Ia memang melihat beberapa ekor burung elang berterbangan. Sejenak Ki Jagaprana termangu-mangu. Ternyata pengikut Panembahan Lebdagati ada juga yang harus diperhitungkan selain Lebdagati sendiri. Sambil bertempur Ki Sambi Pitu yang melihat Ki Jagaprana termangu-mangu berteriak ”He, apakah kau pernah berkenalan dengan kelompok Kukila Dahana?” Ki Jagaprana mengerutkan dahinya. Ia pernah mendengar nama sekelompok orang berilmu tinggi yang menyebut nama kelompoknya dengan Kukila Dahana. Burung api yang sangat berbahaya. Sentuhan serangannya pada kulit lawannya, akan memberikan bekas seakan-akan kulit lawannya itu terjilat oleh  api yang panasnya melampaui panasnya bara tempurung kelapa. Karena itu, maka Ki jagaprana pun menyempatkan diri untuk melihat, apakah kemampuan mereka benar-benar tinggi sebagaimana ceritera yang pernah didengarnya. Ternyata bahwa Ki Sambi Pitu seorang diri mampu mengimbangi mereka berempat. Meski pun Ki Sambi Pitu harus bertempur dengan puncak kemampuannya, namun keadaannya tidak terlalu membahayakan. Meski pun setiap kali Ki Sambi Pitu harus berloncatan mengambil jarak, namun Ki Jagaprana tidak akan mengganggunya, karena Ki Sambi Pitu akan dapat menjadi marah kepadanya. Kecuali jika Ki Sambi Pitu sendiri memanggilnya. Ternyata Ki Sambi Pitu sama sekah tidak memberi isyarat kepadanya untuk melibatkan diri. Karena itu, beberapa saat, Ki Jagaprana hanya berdiri saja termangu-mangu. Namun sekali lagi ia pun teringat bahwa para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu harus bertempur dengan mengerahkan segenap tenaga, kekuatan dan kemampuan mereka. Sementara itu orang-orang padukuhan itu sudah mulai menjadi letih. Mereka bukan orang-orang yang terlatih untuk bertempur. Sehingga ketahanan tubuh mereka tidak setinggi para pengikut Ki Warana dan apalagi para pengikut Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka Ki Jagaprana pun segera kembali menceburkan diri dalam kancah pertempuran. Dibagian lain, Manggada dan Laksana telah berganti lawan ketika lawan-lawan mereka merangkak menjauhi garangnya arena pertempuran. Baik Manggada mau pun Laksana telah berhasil melukai lawan-lawan mereka sehingga mereka harus berhenti bertempur.  Sedangkan di bagian lain lagi, Ki Ajar Pangukan membiarkan Ki Pandi menghadapi Panembahan Lebdagati. Ki Ajar sendiri harus bertempur melawan sekelompok orang diantara para pengikut Panembahan Lebdagati. Namun ternyata Ki Ajar Pangukan telah terlalu banyak menghisap lawan. Setiap kali seorang telah terlempar dari arena pertempuran. Dalam pada itu, Ki Lemah Teles masih bertempur mengadu ilmu dengan Lembu Palang. Keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Kegarangan Kebo Palang kadang-kadang mampu mendesak Ki Lemah Teles. Namun pada kesempatan lain, Ki Lemah Teles berhasil menyentuh lawannya dengan seranganserangannya. Kemarahan Lembu Palang pun menjadi semakin menjadijadi. Dikerahkannya semua kemampuan dan ilmunya untuk melawan orang yang menyebut dirinya Ki Lemah Teles itu. Benturan-benturan pun telah terjadi. Ternyata bahwa Lembu Palang telah merambah kedalam ilmu puncaknya. Ki Lemah Teles mulai merasakan hembusan-hembusan ilmu yang sangat tajam menyentuhnya. Seperti sentuhan angin yang sekali-sekali menerpa wajahnya, maka Ki Lemah Teles merasakan sesuatu masuk kedalam lubang hidungnya. Tidak berbau sama sekali. Namun ketajaman pang-graita Ki Lemah Teles telah menangkap sentuhan ilmu Lembu Palang menyusup melalui indera penciumannya. Dengan cepat Ki Lemah Teles telah mengatur indera penciumannya yang menjadi pintu bagi kekuatan ilmu lawannya.  Seandainya Ki Lemah Teles tidak menyadarinya, maka ia akan menjadi semakin lama semakin lemah dan bahkan kehilangan tenaganya sama sekali. Untuk melawan Lembu Palang, maka Ki Lemah Teles telah melepaskan ilmunya pula. Asap yang tipis tiba-tiba saja telah mengepul dari celahcelah jari tangan Ki Lemah Teles yang terjulur lurus menggapai kearah kepala Lembu Palang. Tangan Ki Lemah Teles memang tidak menyentuh kepala Lembu Palang, tetapi asap yang tipis itu berhembus ke wajahnya. Tiba-tiba saja Lembu Palang itu meloncat mengambil jarak. Matanya menjadi sangat panas. Ternyata asap yang tipis itu mengandung semacam racun yang menyakiti mata Lembu Palang. Tetapi Lembu Palang bukan orang kebanyakan. Ia pun segera mengembus asap tipis itu sehingga hanyut menebar diudara. Namun bukan berarti bahwa keduanya sudah tidak bertempur lagi. Keduanya masih saja berloncatan sambar menyambar. Bukan saja dengan kemampuan lewat ujud kewadagan, tetapi mereka telah saling membenturkan ilmu mereka yang tinggi.#177b Lembu Palang yang tidak mengira akan bertemu dengan Ki Lemah Teles di padukuhan itu, benar-benar berusaha untuk segera mengakhirinya, tetapi Ki Lemah Teles juga bukan orang kebanyakan. Bahkan setelah saling membenturkan ilmu mereka, Lembu Palang justru menjadi semakin terdesak. Ada sepercik penyesalan, bahwa ia telah ikut pergi ke padukuhan itu. Menurut perhitungannya, ia akan dapat  menghibur diri dengan berburu kecoak. Tetapi ternyata bahwa ia telah bertemu seorang raksasa dalam ilmu kanuragan. Lembu Palang memang tidak dapat mengharapkan bantuan dari siapapun. Orang-orangnya yang ikut pula bersamanya pergi ke padukuhan itu tidak mampu pula untuk melindungi dirinya. Di hadapan anak-anak yang masih terlalu muda, mereka tidak berdaya untuk bertahan. Karena itu, maka Lembu Palang pun telah mengerahkan ilmunya sampai pada ilmu pamungkasnya. Tetapi Ki Lemah Teles yang juga berilmu tinggi, tidak membiarkan dirinya digilas oleh kemampuan lawannya. Untuk beberapa lama Ki Lemah Teles sedang diganggu oleh kesadarannya bahwa ia menjadi semakin tua. Hidupnya menjadi semakin sepi dan ia merasa tidak berarti lagi. Tetapi di pertempuran itu, ia telah bertemu dengan seseorang yang telah pernah menyakiti hatinya. Karena itu, maka Ki Lemah Teles itu pun merasa bahwa ia telah mendapat kesempatan bahwa ia bukan orang yang terbuang. “Jika aku gagal, maka aku benar-benar orang yang tidak berarti lagi.” berkata Ki Lemah Teles didalam hatinya. Karena itu, maka Ki Lemah Teles pun telah meningkatkan ilmunya sampai ke puncak pula. Dengan demikian, maka kemampuan dua jenis ilmu dalam puncak kemampuannya telah saling berbenturan. Lembu Palang yang marah, kecewa dan menyesal itu harus membenturkan ilmunya melawan Ki Lemah Teles yang mendendam serta sedang berusaha untuk menegakkan kepercayaan diri, bahwa pada umurnya yang semakin tua, ia masih tetap seorang yang berilmu tinggi dan yang masih mempunyai arti dalam lingkungan orang-orang yang berkemampuan tinggi.  Ketika keduanya sampai pada batas kemampuan mereka, maka benturan ilmu yang dahsyat tidak dapat dihindarkan. Ketika Lembu Palang meloncat menyerang dengan ayunan tangan yang memuat ilmu pamungkasnya, maka Ki Lemah Teles dengan cepat menanggapinya. Ayunan tangan Lembu Palang yang mengarah ke kepala Ki Lemah Teles telah membentur kekuatan ilmu tertinggi lawannya. Ki Lemah Teles telah mengayunkan tangannya pula. Dengan demikian, maka benturan kedua ilmu tertinggi dari dua orang yang memiliki kekuatan, kemampuan dan ilmu yang sangat tinggi itu telah mengguncangkan medan. Getaran dari benturan itu seakan-akan telah mengetuk setiap dada dari pihak yang manapun. Dengan demikian, maka pertempuran itu seakan-akan telah terhenti. Setiap orang yang terlalu jauh dari kedua orang yang telah membenturkan dua ilmu puncak itu telah berpaling sehingga per-tempuran pun seakan-akan telah terhenti sesaat. Kedua orang yang telah membenturkan ilmunya itu telah terlempar beberapa langkah surut. Ki Lemah Teles terdorong beberapa langkah dan kemudian jatuh terguling. Dengan serta merta Ki Lemah Teles telah berusaha untuk bangkit.Tetapi ternyata bahwa punggungnya yang terasa bagaikan patah tidak mampu lagi menahan tubuhnya, sehingga Ki Lemah Teles itu telah terjatauh kembali. Terdengar Ki Lemah Teles itu mengerang kesakitan. Namun dalam pada itu, Lembu Palang, yang semula datang, untuk sekedar melihat pertunjukan yang baginya dianggapnya sangat menarik, karena ia menduga bahwa orang-orang Lebdagati akan membantai sisa-sisa para pengikut Ki Banyu Bening, ternyata mengalami nasib yang lebih buruk. Ketika ia harus membenturkan ilmunya melawan  ilmu Ki Lemah Teles, ternyata bahwa tingkat ilmunya berada selapis di bawah ilmu Ki Lemah Teles. Karena itu, maka isi dada Lembu Palang itu seakan-akan telah terbakar. Ki Jagaprana sempat melihat benturan kekuatan itu. Dengan serta-merta ia pun telah berlari mendekati Ki Lemah Teles yang terbaring kesakitan. Namun Ki Lemah Teles itu masih sempat bertanya ”Bagaimana keadaan Kebo Edan itu?” “Ia dalam keadaan yang sangat parah, Ki Lemah Teles.” jawab Ki Jagaprana. “Aku juga dalam keadaan parah. Tetapi siapakah menurut pendapatmu yang keadaannya lebih baik. Aku atau Lembu Palang? “Kau masih berada dalam keadaan lebih baik.” “Jangan mencoba menipu aku. Persoalan kita masih belum selesai. Kita masih akan berperang tanding.” “Sudahlah. Sekarang tenangkan hatimu. Cobalah mengatur pernafasanmu untuk mengatasi perasaan sakitmu. Jika kau berhasil mengerahkan daya tahan tubuhmu, maka kau tentu dapat mengatasi rasa sakitmu.”  Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Keadaan Lembu Palang memang lebih parah lagi. Tetapi tidak seorang pun diantara kawan-kawannya atau pengikut Panembahan Lebdagati yang sempat mendekatinya. Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus, meski pun jumlah para pengikut Panembahan Lebdagati menjadi semakin susut. Yang kemudian justru mendekati Lembu Palang yang terbaring diam adalah Ki Jagaprana setelah Manggada dan Laksana membawa Ki Lemah Teles menepi. Ki Lemah Teles yang diangkat oleh Manggada dan Laksana itu harus menahan sakit di punggungnya yang terasa semakin, menggigit. Bahkan dadanya pun mulai terasa sesak. Dalam benturan ilmu yang terjadi, maka dadanya pun terasa menjadi sakit pula. Ki Jagaprana sempat meraba dada Lembu Palang. Detak jantungnya sudah menjadi tidak teratur lagi. Semakin lama semakin perlahan. “Dimana Panembahan Lebdagati” desisnya tanpa mengetahui siapakah yang berjongkok disampingnya, karena matanya yang menjadi kabur. “Ia masih terlibat dalam pertempuran” jawab Ki Jagaprana. ”Sampaikah kepadanya. Aku memperingatkannya agar ia meninggalkan tempat ini. Panembahan Lebdagati itu telah salah membuat perhitungan atas orang-orang yang diburunya.” “Baik. Aku akan menyampaikannya jika aku berpeluang” jawab Ki Jagaprana. “Ternyata ia telah terjebak disini.” desis Lembu Palang yang menjadi semakin sendat, bahkan kemudian terdiam.  Ki Jagaprana pun meraba dadanya. Detak jantung ia sudah tidak terasa ditangannya. Dari sela-sela bibir Lembu Palang itu nampak darah, sementara matanya pun telah terpejam. Lembu Palang terbunuh justru saat ia tidak bersiap untuk mati. Ia datang karena ia ingin ikut membabat ilalang. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di padukuhan itu justru semakin menyebar. Tetapi para pengikut Panembahan Lebdagati telah semakin menyusut. Mereka yang terluka terbaring di-pinggir jalan, di sudut-sudut halaman dan bahkan di tangga-tangga pendapa. Mereka tidak dapat bertahan jika kebetulan mereka bertemu dengan Ki Jagaprana atau bahkan Ki Ajar Pangukan sendiri. Sementara itu Manggada dan Laksana pun telah mengacaukan para pengikut Panembahan Lebdagati dengan ilmu mereka yang memanjat semakin tinggi. Sementara orang-orangnya menjadi semakin kalang kabut. Panembahan Lebdagati sendiri tengah bertempur dengan Ki Pandi. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu dari sumber yang sama. Namun arah perkembangannya yang menjadi jauh berbeda, bahkan bertentangan. Dengan demikian, maka kedua-duanya seakan-akan tidak dapat menyembunyikan unsur-unsur gerak dasar mereka, meski pun kadang-kadang masing-masing menjadi terkejut karena unsur-unsur gerak baru yang tumbuh disaat ilmu mereka berkembang. Ternyata Panembahan Lebdagati itu pun telah menyesali kesalahannya sebagaimana dilakukannya beberapa kali. Ia selalu salah menilai kekuatan orang bongkok dan kawankawannya itu. Meski pun kawan orang bongkok saat ini berbeda dengan kawan-kawannya yang terdahulu, namun mereka masih juga orang-orang yang berilmu tinggi.  Dalam pertempuran itu, meski pun kedua-duanya mengerahkan kemampuan mereka, namun masing-masing merasa bahwa mereka akan terjebak dalam pertempuran tanpa akhir. Sementara itu Panembahan Lebdagati pun mengetahui, bahwa ada beberapa orang berilmu tinggi yang akan dapat membantu orang bongkok yang telah menjebaknya dalam padukuhan kecil itu. Meski pun demikian, pertempuran diantara keduanya masih berlangsung di halaman yang seakan-akan sengaja memisahkan diri dari keseluruhan pertempuran. Dalam pada itu, para pengikut Panembahan Lebdagati yang menebar, harus menghadapi perlawanan yang keras dari para pengikut Ki Warana. Sementara itu, Manggada dan Laksana telah meninggalkan Ki Lemah Teles yang sudah dirawat oleh beberapa orang padukuhan yang ikut bertempur bersama para pengikut Ki Warana. Bahkan Ki Bekel sendiri telah menunggui Ki Lemah Teles. Sedangkan Ki Jagaprana telah berada di pertempuran pula. Tanpa Manggada, Laksana, Ki Jagaprana dan Ki Ajar Pangukan, maka para pengikut Ki Warana tentu akan segera mengalami kesulitan. Ki Warana yang telah berhasil memancing Panembahan Lebdagati dan meninggalkannya setelah berhadapan dengan Ki Pandi, bersama-sama dengan Ki Bekel dan beberapa yang lain berusaha membawa Ki Lemah Teles ke rumah Ki Bekel. Ki Lemah Teles sendiri masih tetap dicengkam oleh perasaan sakit. Apalagi ketika tubuhnya diangkat oleh beberapa orang. Tetapi ia sadar, bahwa keadaan itu adalah keadaan yang terbaik bagi dirinya. Ki Warana dan Ki Bekel bersama beberapa orang berusaha menembus pertempuran yang kadang-kadang  terjadi di tengah jalan, disimpang ampat atau ditikungantikungan. Namun ternyata bahwa Ki Warana dan Ki Bekel serta beberapa orang itu mampu menembus jalan sampai kerumah Ki Bekel, sementara Manggada dan Laksana sempat mengamati sambil bertempur untuk mencegah para pengikut Panembahan Lebdagati memasuki padukuhan sampai kerumah Ki Bekel itu. Sebenarnyalah bahwa kemudian keadaan para pengikut Panembahan Lebdagati menjadi semakin sulit. Korban berjatuhan semakin banyak. Sementara mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Panembahan Lebdagati sendiri. Dalam pada itu Panembahan Lebdagati telah menjadi gelisah. Meski pun ia tidak dapat melihat pertempuran dalam keseluruhan, namun panggraita Panembahan Lebdagati yang tajam itu dapat melihat bahwa keadaan para pengikutnya menjadi sulit oleh kenyataan yang mereka hadapi di padukuhan itu. Karena itu, maka Panembahan Lebdagati itu tidak mempunyai pilihan lain. Meski pun ia masih bertempur terus dengan mengerahkan segenap kemampuannya, namun Panembahan Lebdagati sudah mulai mencoba melihat kemungkinan lain dari pertempuran itu. Dalam pada itu, maka Ki Pandi pun ternyata tidak dapat dengan cepat mengakhiri pertempuran sebagaimana Panembahan Lebdagati. Keduanya yang memiliki dasar ilmu yang sama, dalam perkembangannya ternyata yang satu juga tidak melampaui yang lain. Namun baik para pengikut Panembahan Lebdagati, mau pun para pengikut Ki Warana atau penghuni padukuhan itu, menjadi berdebar-debar dan bahkan ngeri ketika mereka melihat akibat dari benturan ilmu kedua orang itu. Karena  mereka semula tidak melihat langsung pertempuran antara orang bongkok melawan Panembahan Lebdagati itu, maka mereka agak terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat angin pusaran yang memutar seisi sebuah kebun di padukuhan itu. Namun tiba-tiba saja angin pusaran itu pun pecah diguncang oleh ledakan petir yang menggelegar. Dengan demikian, maka mereka pun segera mengetahui, bahwa dua orang raksasa dalam olah kanuragan sedang bertempur di kebun itu. Bagi para pengikut Panembahan Lebdagati, mereka pun segera mengetahui, bahwa Panembahan itu sedang bertempur di kebun itu. Pada kesempatan lain, tiba-tiba saja mereka melihat lidah api yang menyala dan menjilat-jilat. Bahkan dedaunan pun menyala terbakar pula. Namun lembaran awan yang basah telah turun menyelimuti kebun yang menjadi dingin membeku. Sebenarnyalah, Panembahan Lebdagati masih mencoba dengan tataran kemampuannya yang tertinggi untuk menghentikan perlawanan Ki Pandi. Tetapi ternyata setelah berpisah dan menempuh jalan hidup yang berbeda, Ki Pandi masih saja mampu mengimbangi ilmu Panembahan Lebdagati. Akhirnya Panembahan Lebdagati pun telah menghentakkan sejenis ilmunya yang sangat berbahaya. Panembahan itu justru berdiri tegak sambil mengacukan tangannya dengan telapak tangan menghadap kearah lawannya. Loncatan-loncatan cahaya yang berwarna kemerah-merahan tiba-tiba saja telah meluncur dari telapak tangannya itu, seakan-akan beribu-ribu petir kecil meluncur menyambar-nyambar kearah orang bongkok itu. Ki Pandi yang mengira bahwa lawannya akan mempergunakan Aji Gelap Ngampar terkejut. Rupa-rupanya  Panembahan Lebdagati mengetahui bahwa Ajinya Gelap Ngampar tidak akan berarti apa-apa bagi orang bongkok itu. Karena itu, maka Panembahan Lebdagati telah mempergunakan ilmunya yang lain. Loncatan-loncatan beribu petir yang nampaknya kecil-kecil itu seakan-akan telah membelenggu Ki Pandi dan dengan kekuatan yang sangat besar telah menarik tubuhnya mendekat Panembahan Lebdagati. Ki Pandi harus mengerahkan tenaganya untuk menahan dirinya agar tidak terhisap oleh kekuatan ilmu Panembahan Lebdagati itu. Bahkan dalam saat-saat yang paling berbahaya itu, Ki Pandi harus mampu mengambil sikap, agar ia tidak dihancurkan oleh saudara seperguruannya yang telah menempuh jalan sesat itu. Ki Pandi yang harus bertahan dari hisapan kekuatan lawannya itu pun kemudian berdiri sambil menyilangkan tangannya didadanya. Kedua kakinya melekat diatas tanah dengan kuatnya, seakan-akan telah menghunjam ke dalam bumi. Tetapi setapak demi setapak Ki Pandi masih juga beringsut semakin mendekati lawannya. Bahkan kemudian semakin dekat dan semakin dekat. Panembahan Lebdagati semakin mengerahkan kekuatan ilmunya. Ia semakin berpengharapan bahwa Ki Pandi akan menjadi semakin dekat, sehingga Panembahan Lebdagati itu akan dapat menggapai dengan kerisnya. Namun semakin dekat orang itu dari Panembahan Lebdagati, ternyata udara terasa menjadi semakin panas. Dari tubuh Ki Pandi itu telah memancar kekuatan api dan dalam dirinya, sehingga tubuh orang bongkok itu seakan-akan telah menjadi bara yang panasnya melampaui panasnya bara batok kelapa.  Panembahan Lebdagati menjadi berdebar-debar. Demikian orang bongkok itu beringsut semakin dekat, maka keringat ditubuh Panembahan Lebdagati pun menjadi semakin diperas dari dalam tubuhnya. Tetapi Panembahan Lebdagati tidak ingin melepaskan ikatan dan kekuatan ilmunya yang menghisap itu. Karena itu, maka Ki Pandi pun semakin lama menjadi semakin dekat pula. Namun Ki Pandi bukan saja membuat tubuh Panembahan Lebdagati berkeringat karena panas, tetapi tubuh Ki Pandi itu seakan-akan menjadi sangat menyilaukan. Dari kedua mata Ki Pandi yang memandang mata Panembahan Lebdagati, memancar sinar yang putih seperti pantulan cahaya matahari diwajah air yang beriak kecil. Panembahan Lebdagati ternyata sulit untuk mengatasi panas jerta matanya yang menjadi silau. Ia seakan-akan tidak dapat melihat lagi jarak antara dirinya dengan orang bongkok itu. Dengan demikian, maka ilmunya itu pun tidak mampu mengakhiri pertempuran. Meski pun orang bongkok itu tidak mudah untuk mengalahkannya, namun Panembahan Lebdagati sendiri juga merasa sangat sulit untuk mengalahkan orang bongkok itu. Karena itu, akhirnya Panembahan Lebdagati benar-benar sudah mengambil keputusan yang pasti. Dengan tiba-tiba saja Panembahan Lebdagati itu pun telah menghentikan ilmunya yang menghisap lawannya dan seakan-akan membelenggunya itu. Demikian tiba-tiba sehingga justru Ki Pandi terkejut karenanya. Demikian Ki Pandi menyadari kedudukannya, maka ia melihat Panembahan Lebdagati itu bagaikan terbang meloncati dinding kebun yang telah menjadi berserakan itu.  Ranting-ranting kayu dan dahan-dahan pepohonan berpatahan, bahkan dedaunan menjadi hangus terbakar. Dengan serta-merta Ki Pandi pun telah berusaha memburunya. Ia masih mendengar suara Panembahan itu bagaikan teriakan elang yang berterbangan di langit. Namun Ki Pandi terkejut ketika dua ekor elang telah menukik langsung menyambarnya. Hampir saja kuku-kuku elang yang tajam itu menggores wajahnya. Ki Pandi harus menyelesaikan kedua ekor elang itu lebih dahulu. Namun yang sekejap itu telah dimanfaatkan Panembahan Lebdagati dengan sebaik-baiknya. Ternyata burung-burung dilangit tidak hanya sepasang. Teriakan Panembahan Lebdagati itu telah memberikan abaaba khusus kepada beberapa ekor elang yang berterbangan. Burung-burung tu pun telah berteriak-teriak pula dengan riuhnya. Seperti Panembahan Lebdagati, maka elang-elang itu telah memberikan isyarat agar para pengikut Panembahan Lebdagati mengundurkan diri. Ki Pandi hanya dapat menggeram marah. Ia telah kehilangan buruannya., Panembahan Lebdagati memiliki kecepatan bergerak yang sangat mengagumkan. Apalagi Ki Pandi harus tertahan oleh burung-burung elang yang menyerang mengarah langsung ke wajah dari matanya. Burung-burung elang yang berusaha menahannya agar Panembahan Lebdagati sempat menghindar dari medan. Dengan demikian, maka para pengikut Panembahan Lebdagati itu pun telah berusaha dengan cepat menarik diri dari pertempuran. Para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan itu memang tidak dengan mudah berniat melepaskan para  pengikut Panembahan Lebdagati yang melarikan diri. Namun agaknya orang yang mengendalikan burung-burung elang itu tidak hanya melepas dua tiga pasang burung elang. Tetapi sekelompok burung elang telah berterbangan menyambarnyambar. Burung-burung itu telah berusaha menahan orangorang yang berusaha mengejar para pengikut Panembahan Lebdagati, sehingga dengan demikian, mereka yang melarikan diri telah mendapat peluang untuk lepas dari kejaran lawanlawan mereka. Burung-burung elang itu ternyata memang sangat berbahaya. Kuku-kuku yang ujungnya diberi baja yang tajam itu benar-benar telah menghambat gerak maju orang-orang yang sedang mengejar para pengikut Panembahan Lebdagati. Dengan demikian maka jarak diantara mereka pun menjadi semakin jauh. Beberapa orang yang lolos dari hambatan burung-burung elang itu pun akhirnya menghentikan usaha mereka mengejar lawan mereka, karena justru akan membahayakan diri mereka, karena orang-orang yang mereka kejar itu akan mampu memberikan perlawanan. Namun dalam pada itu, Ki Warana telah menemui Ki Ajar Pangukan setelah ia menyadari bahwa Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya telah melepaskan diri. Ki Pandi yang sudah lebih dahulu menemui Ki Ajar Pangukan nampak menyesali kegagalannya. “Maaf Ki Ajar. Aku telah melakukannya sendiri dan gagal. Aku mencoba untuk tidak mengganggu orang lain ketika aku masih berpengharapan untuk dapat menangkapnya.” “Bukan kau yang harus minta maaf kepadakau, Ki Bongkok. Tetapi justru aku. Kenapa aku dan orang-orang yang lain tidak tahu dan tidak sempat menghentikan Panembahan Lebdagati yang melarikan diri itu.”  Namun Ki Warana itu pun kemudian berkata ”Tetapi bagaimana dengan para cantrik Kiai Banyu Bening yang tertawan di padepokan itu. Apakah mereka tidak akan dibantai habis oleh para pengikut Panembahan Lebdagati?” Ki Ajar Pangukan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Jadi, bagaimana menurut pendapatmu?” “Apakah tidak sebaiknya kita juga pergi ke padepokan?” Ki Ajar Pangukan termanagu-mangu sejenak. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil berkata ”Aku mengerti Ki Warana.” Namun kemudian ia pun berpaling kepada Ki Pandi sambil bertanya ”Bagaimana pendapatmu?” “Aku setuju Ki Ajar. Tetapi biarlah Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berada disini. Mungkin Panembahan Lebdagati itu dengan licik kembali lagi ke padepokan ini. Ia akan dapat membantai orang-orang yang tinggal di padukuhan ini jika tidak ada orang yang dapat menghentikannya.” “Baiklah. Kita akan berbicara dengan keduanya. Ki Lemah Teles yang terluka itu juga memerlukan perlindungan.” Demikianlah dengan cepat, Ki Warana mengatur orangorangnya. Sementara Ki Bekel telah menawarkan kepada orang-orang padukuhan itu, siapakah diantara mereka yang bersedia ikut bersama Ki Warana dan orang-orangnya mengejar Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya. “Sebagian dari kalian harus tinggal” berkata Ki Bekel. Demikianlah, maka Ki Warana, orang-orangnya dan sebagian orang-orang padukuhan yang dengan suka rela ikut bersama mereka telah dengan cepat menyusul Panembahan Lebdagati dan para pengikutnya yang sudah menjadi lemah. Mereka harus meninggalkan korban cukup banyak di padukuhan. Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana, Ki Ajar Pangukan  sendiri, Manggada dan Laksana telah menghentikan banyak diantara mereka yang ternyata merasa terjebak. Bagaimana pun juga Ki Warana tidak dapat tinggal diam, karena ia menyadari sepenuhnya, bahwa dendam para pengikut Panembahan Lebdagati tentu ditujukan kepada orang-orang yang berada didalam tangan mereka. Dengan cepat iring-iringan itu pun bergerak mendekati padepokan. Namun Ki Warana menjadi sangat berdebardebar bahwa orang terakhir dari para pengikut Panembahan Lebdagati yang melarikan diri sudah tidak dapat mereka lihat lagi. Burung-burung elang pun telah berputaran diatas padepokan, seakan-akan sedang menyaksikan satu pertunjukan yang sangat mengerikan. Karena itu, maka Ki Warana menjadi semakin tergesagesa. Dibawanya orang-orangnya berlari-lari melintasi sawah, pategalan dan padang-padang perdu. Bahkan Ki Warana telah mengacu-acukan senjatanya untuk menarik perhatian burung-burung elang yang berterbangan. Jika burung-burung elang itu melihat mereka datang, burung-burung itu tentu akan memberikan isyarat. Isyarat itu akan membuat orang-orang yang berada didalam padepokan itu mempersiapkan diri dan tidak sempat membantai kawan-kawan Ki Warana yang tertawan di padepokan itu. Yang kemudian melambai-lambaikan senjatanya bukan saja Ki Warana. Tetapi para pengikutnya dan bahkan orangorang dari padukuhan yang dengan suka rela membantu mereka, telah melakukan hal yang sama pula. Sebenarnyalah bahwa burung-burung elang itu telah melihat kedatangan sebuah iring-iringan yang terhitung besar. Diantara mereka terdapat Ki ajar Pangukan, Ki Pandi,  Manggada dan Laksana yang ikut menjadi cemas akan nasib bekas para pengikut Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka burung-burung elang yang terbang berputaran itu pun telah menjadi bubar. Burung-burung itu dengan cepat melayang menyongsong iring-iringan yang berlari-larian menuju ke padepokan. Beberapa ekor diantaranya telah berterbangan hilir mudik. Dengan caranya burung-burung itu telah memberikan isyarat bahwa sekelompok orang telah berdatangan ke padepokan itu. Beberapa saat lamanya burung-burung elang itu seolaholah telah menjadi kebingungan. Mereka belum menerima aba-aba dari orang yang mengendalikannya. Namun agaknya orang yang mengendalikan burung-burung elang itu pun sedang kebingungan pula. Beberapa saat kemudian, dua ekor diantara burung elang itu telah menukik dan hilang didalam padepokan. Namun sejenak kemudian sepasang burung itu telah muncul kembali. Naik ke angkasa tinggi sekali. Melampaui kawan-kawannnya yang gelisah. Burung elang itu lelah membuat beberapa gerakan khusus. Namun kemudian burung-burung elang yang lain pun seakan-akan telah terhisap dan menukik turun kedalam padepokan. Beberapa saat kemudian sepi. Tidak seekor burung pun yang nampak terbang diatas padepokan atau disekitarnya. Ki Warana dan orang-orang yang sedang menuju ke padepokan itu justru menjadi berdebar-debar. Mereka tidak tahu, apa yang telah terjadi di padepokan.#185a “Mereka sedang mempersiapkan diri” berkata orang-orang yang sedang menuju ke padepokan itu didalam hati. Mereka menduga, bahwa burung-burung elang itu sedang mendapat  perintah-perintah khusus dari orang-orang yang mengendalikannya. Tetapi ternyata burung-burung itu tidak segera terbang lagi. Sementara itu, Ki Warana yang berjalan dipaling depan telah mendekati padepokan itu. Sejenak ia berdiri termangumangu. Beberapa orang pun kemudian berdiri disebelahnya. Namun tidak seorang pun yang menyatakan pendapatnya. Beberapa saat kemudian, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi telah berdiri pula memandangi pintu gerbang padepokan yang tertutup rapat itu. Orang-orang yang kemudian berdiri termangu-mangu itu pun mencoba membayangkan, apa yang terdapat dibelakang dinding padepokan itu. Panembahan Lebdagati dan pengikutnya yang bersiap-siap menerima kedatangannya lawan-lawannya. Atau mereka sedang sibuk membuat jebakan atau cara apa pun untuk melawan. Justru karena kekuatan mereka telah menyusut terlalu banyak. Orang-orang yang mereka tinggalkan di padepokan, yang masih segar dengan tenaga utuh, tentu akan dapat membantu mengisi kekosongan karena korban yang telah mereka tinggalkan di padukuhan. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdiri termangumangu. Namun mereka tidak melihat tanda-tanda apa pun yang dapat mereka pergunakan untuk menduga, apa saja yang telah terjadi didalam lingkungan dinding padepokan. Ki Pandi lah yang kemudian berkata kepada Laksana dan Manggada ”Lihatlah di seputar dinding padepokan ini. Berhatihatilah. Bawalah tiga ampat orang bersamamu.” Namun Ki Warana sendiri menyahut ”Aku akan pergi bersama mereka.”  “Baiklah” sahut Ki Pandi ”tetapi jangan terperangkap dalam jebakan-jebakan yanga mereka buat.” Demikianlah, Manggada, Laksana, Ki Warana dan tiga orang pengikutnya telah berjalan mendekati padepokan itu. Mereka pun kemudian berjalan dengan hati-hati mengitari padepokan yang nampak sepi itu. Dengan senjata siap ditangan, sementara seorang dari mereka telah mempersiapkan anak panah sendaren yang siap memberikan isyarat kepada Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan, mereka berjalan mengelilingi padepokan. Tidak ada seorang pun yang nampak berdiri diatas panggungan di belakang dinding. “Apakah panggungan itu memang sengaja dikosongkan?” desis Ki Warana. Manggada dan Laksana tidak menjawab. Namun mereka justru berjalan lebih dekat lagi dengan dinding padepokan. Ketika mereka sempat didepan sebuah pintu butulan, Manggada pun berkata ”tunggu. Aku akan melihat pintu butulan itu.” Ki Warana tidak sempat mencegah. Manggada itu pun segera berlari mendekati pintu butulan itu. Ternyata pintu butulan itu tertutup rapat. Bahkan diselarak dengan kuatnya. Beberapa saat Manggada berdiri didepan pintu itu. Dicobanya untuk mendengarkan sesuatu di dalam padepokan, tetapi ia juga tidak mendengar apa pun juga. Sejenak kemudian ia pun telah kembali menemui Ki Warana dan Laksana. Sambil memberitahukan apa yang dilihatnya, mereka telah berjalan lagi mengitari padepokan itu.  Tetapi dibagian belakang padepokan itu pun nampaknya sepisepi saja. Ketika mereka sampai ke pintu butulan di belakang, maka mereka bertigalah yang mendekat. Ki Warana sempat berpesan kepada ketiga orang pengikutnya, agar jika perlu, mereka jangan segan-segan melepaskan anak panah sendaren untuk memberikan isyarat kepada Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi. Ketika bertiga mereka mendekati pintu butulan itu, maka mereka memang menjadi berdebar-debar. Ketika Ki Warana menyentuh pintu itu, maka ternyata pintu itu tidak diselarak. Perlahan-lahan Ki Warana mendorong pintu itu sehingga terbuka sepenuhnya. “Pintu ini tidak diselarak.” desis Ki Warana. “Aneh” sahut Manggada. Tetapi Laksana memperingatkan” Hati-hati. Jangan terjebak.” Ki Warana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata ”Tetapi nampaknya padepokan ini memang kosong.” “Ya” Manggada mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian ”Meski pun demikian kita harus tetap mencurigai. Mungkin mereka sengaja bersembunyi di setiap bangunan. Baru kemudian mereka menjebak kita.” “Jika demikian, kita akan memasuki padepokan ini dengan kekuatan penuh.” Mereka pun kemudian telah menjauhi pintu butulan itu. Ki Warana pun kemudian berkata ”Aku akan menjemput mereka.”  Manggada dan Laksana pun berdiri beberapa puluh langkah dari pintu butulan itu, untuk mengawasi kemungkinankemungkinan yang belum dapat mereka perhitungkan. Seorang diantara pengikut Ki Warana yang membawa panah sendaren tinggal bersama mereka, sementara Ki Warana dan orang-orangnya yang lain telah kembali menemui Ki Ajar Pangukan. Ketika Ki Ajar mendengar laporan itu, maka katanya ”Baiklah. Kita akan memasuki padepokan ini dengan kesiagaan tertinggi. Mungkin kita akan menghadapi sesuatu yang tiba-tiba saja diluar perhitungan kita.” Demikianlah, maka seluruh kekuatan yang datang ke padepokan itu telah bergerak. Mereka semuanya berada disisi sebelah dan di belakang padepokan. Dengan hati-hati Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi memasuki pintu butulan itu, diikuti oleh Ki Warana, Manggada dan Laksana. Kemudian berurutan para pengikut Ki Warana dan orang-orang padukuhan yang ikut bersama mereka. Ki Ajar Pangukan pun kemudian menyarankan agar orangorang itu tidak dengan tergesa-gesa menebar. Meski pun kemudian orang-orang itu mengalir ke dalam padepokan, tetapi mereka masih tetap berada dalam jangkauan pengawasan Ki Warana. Ketika orang terakhir telah memasuki padepokan itu, maka Ki Ajar Pangukan telah membawa mereka bergerak lebih ke tengah-tengah padepokan itu. “Kau lebih mengenal tempat ini, Ki Warana” berkata Ki Ajar. “Ya, Ki Ajar.””jawab Ki Warana. “Jika demikian, kau tuntun kami, kemana kami harus pergi.”  Ki Warana pun telah membawa seluruh pasukannya menuju ke depan bangunan induk padepokan itu. Namun tibatiba saja sekelompok diantara orang-orangnya yang berjalan melalui celah-celah dua bangunan terhenti. Mereka mendengar sesuatu dari dalam bangunan itu, sehingga salah seorang dari mereka telah memberitahu kepada Ki Warana tentang suara-suara yang mencurigakan itu. Ki Warana menjadi sangat tertarik mendengar suara-suara itu. Bersama Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi, Manggada dan Laksana mereka telah mendekati pintu bangunan itu. “Ki Warana” Ki Ajar Pangukan itu pun bertanya ”bangunan ini pada saat Kiai Banyu Bening masih tinggal di padepokan ini dipergunakan untuk apa?” “Dahulu bangunan ini dipergunakan untuk tempat tinggal sebagian dari para cantrik, Ki Ajar.” Ki Ajar mengangguk-angguk. Katanya ”Kita akan melihat, apa yang ada didalam bangunan ini.” “Biarlah aku masuk lebih dahulu” berkata Ki Warana. Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dua orang pengikut Ki Warana berkata ”marilah. Kita masuk lebih dahulu.” Ki Warana mengangguk kecil. Dengan senjata telanjang, Ki Warana dan kedua orang itu pun segera berdiri didepan pintu. Seorang diantara keduanya yang bersenjata tombak telah melangkah sambil merundukkan ujung tombaknya. Dengan ujung tombaknya orang itu mendorong pintu bangunan itu. Perlahan-lahan pintu itu terbuka. Ujung tombak orang itulah yang lebih dahulu memasuki ruangan yang terhitung luas itu. Baru kemudian orang itu perlahan-lahan melangkah masuk pula diikuti oleh seorang kawannya. Demikian  keduanya meloncat kesamping pintu, maka Ki Warana telah memasuki mangan itu pula dengan ujung senjata teracu. Namun ketiga orang itu pun bagaikan membeku. Mereka melihat beberapa orang yang terbaring silang menyilang. Tubuh mereka berlumuran darah yang masih basah. “Mereka ada disini” teriak Ki Warana; “Siapa?” bertanya Ki Ajar Pangukan, “Kawan-kawan kita. Kita terlambat. Mereka benarbenar sudah membantai kawan-kawan kita.” Ki Ajar Pangukan dan Pandi pun segera berloncatan masuk. Mereka pun menarik nafas dalamdalam menyaksikan kengerian yang sangat mendalam di ruangan yang terhitung luas itu. Namun Ki Pandi itu pun kemudian berkata ”Masih ada yang hidup. Kita harus menolong mereka.” Ki Warana pun kemudian memerintahkan orangorangnya untuk mengamati kawan-kawan mereka yang menjadi tawanan Panembahan Lebdagati dan yang telah dibantai diruangan itu.  Ternyata memang masih banyak diantara mereka yang belum benar-benar mati. Agaknya para pengikut Panembahan Lebdagati itu telah melakukannya dengan tergesa-gesa. Dalam pada itu, maka beberapa orang telah melihat keadaan bangunan sebelah. Ternyata bangunan di sebelahnya benar-benar kosong. Karena itu, maka orangorang yang masih bernafas telah dipindahkan keruangan sebelah. Sementara beberapa orang mengumpulkan kawan-kawan mereka yang masih selamat, maka Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah melihat-lihat keadaan padepokan itu bersama sekelompok orang-orang padukuhan yang menyertai mereka. “Mengerikan” desis salah seorang dari orang-orang padukuhan itu. “Mereka sudah kehilangan landasan kemanusiaan mereka” desis yang lain. “Untunglah bahwa padepokan ini sudah kosong ketika kita masuk kemari. Seandainya belum, apakah kita tidak justru membeku ketakutan di tengah-tengah padepokan yang asing ini?” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Sementara mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka sempat melihat beberapa pucuk senjata yang tertinggal. Di bangunan induk padepokan itu terdapat beberapa pucuk senjata disudut. Sebuah kapak yang besar yang tergolek diantara tangkai sebuah canggah yang pada mata canggahnya terdapat gerigi menduri-pandan. Kemudian sebuah tombak berkait dan yang lain sebuah trisula disamping beberapa tombak seperti tombak kebanyakan.  Namun ternyata bahwa padepokan itu memang sudah ditinggalkan oleh panembahan Lebdagati dan para pengikutnya. Didapur perapian masih menyala. Tiga buah bakul besar berisi nasi yang masih hangat. Sayur yang masih berada didalam kuali yang masih berada diatas api. Nampaknya para pengikut Panembahan Lebdagati yang bertugas di dapur tengah menyediakan makan bagi orangorangnya yang menurut perhitungan akan segera kembali dari pertempuran. Ternyata Panembahan Lebdagati memang telah kembali. Tetapi dalam keadaan yang jauh berbeda dari yang mereka kehendaki. Sementara itu, Ki Warana telah selesai mengumpulkan kawan-kawannya yang benar-benar telah terbunuh. Namun hatinya masih juga terhibur, bahwa ternyata masih lebih banyak yang berkesempatan untuk tetap hidup daripada yang benar-benar mati. Ki Aajar Pangukan dan Ki Pandi pun kemudian telah membantu Ki Warana mengobati merawat orang-orang yang terluka parah. Dengan obat-obat yang ada, mereka mencoba untuk memperingan penderitaan orang-orang yang terluka. “Kami mempunyai tanaman yang dapat diramu menjadi obat-obatan” berkata Ki Warana. Ki Pandi agaknya tertarik pada keterangan Ki Warana i(u. Karena itu, maka ia pun bertanya ”Dimana?” Ki Warana pun kemudian memanggil seorang dari antara orang-orang yang ikut bersamanya dan yang sebelumnya pernah memelihara kebun tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat-obatan itu ”Tunjukkan Ki Pandi tanaman itu jika masih ada.”  Orang itu pun kemudian telah membawa Ki Pandi ke bagian belakang kebun padepokan itu. Ternyata kebun itu masih utuh. Kebun khusus yang dipagari disudut kebun yang ada didalam lingkungan padepokan itu. Ki Pandi yang kemudian berdiri diantara berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang dapat dipakai sebagai obat-obatan itu menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya ”Begitu lengkap. Tentu ada seorang yang mengetahui benar tentang obatobatan diantara para pengikut Kiai Banyu Bening.” Namun ketika hal itu kemudian ditanyakannya kepada Ki Warana, maka dengan nada dalam Ki Warana itu berkata ”Orang itu ada diantara mereka yang tertangkap oleh para pengikut Panembahan Lebdagati. Ia ada diantara orang-orang yang terbunuh itu.” “Sayang sekali” desis Ki Pandi ”kenapa ia tidak lari bersama Ki Warana dan sebagian dari penghuni padepokan ini?” “Ia terlalu setia kepada Kiai Banyu Bening. Karena itu, maka ia tidak akan mau meninggalkan padepokan ini.” “Tetapi bukankah Kiai Banyu Bening sudah terbunuh?” “Setianya tidak terbatas-pada masa hidup Kiai Banyu Bening. Aku yakin itu, karena aku mengenalnya dengan baik.” Ki Pandi mengangguk-anggguk. Katanya ”Sekarang yang tinggal hanyalah bekas-bekas kemampuannya. Tetapi peninggalannya itu akan sangat berharga jika kita dapat memanfaatkannya.” “Aku harap Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan dapat mempergunakannya.” “Kami akan mencoba” jawab Ki Pandi ”mudah-mudahan akan berarti bagi saudara-saudara kita yang sedang terluka itu.”  Hari itu, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan memang berusaha untuk membuat obat dari dedaunan, akar-akaran dan berbagai macam bunga yang ada di kebun yang khusus itu menurut pengenalan mereka, sebanyak-banyaknya karena orang yang terluka pun cukup banyak. Mereka telah membuat obat yang dioleskan, ditaburkan dan diminum oleh orang-orang yang terluka itu. Namun dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan telah minta agar beberapa orang pergi ke padukuhan, untuk memberitahukan apa yang telah terjadi, agar Ki Bekel tidak menjadi sangat cemas. “Kami akan berada di padepokan ini” pesan Ki Ajar Pangukan kepada orang itu ”kami harus merawat orang-orang yang terluka.” Sebenarnyalah bahwa Ki Bekel, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana serta orang-orang yang berada di padukuhan itu merasa lega bahwa tidak terjadi pertempuran yang harus merenggut korban lagi. “Mudah-mudahan untuk selanjutnya tidak akan terjadi benturan kekerasan,” berkata Ki Bekel yang harus menyerahkan beberapa orang padukuhan itu sebagai korban dalam pertempuran yang baru saja terjadi. Meski pun hal itu sudah diduga sebelumnya, namun perpisahan dengan orangorang terbaik membuat hati Ki Bekel menjadi sedih Apalagi ketika Ki Bekel melihat, bagaimana keluarga mereka yang meneteskan air mata. Hari itu, mereka yang sudah terlanjur berada di padepokan, tetap tinggal di padepokan, sedangkan yang berada di padukuhan tetap pula berada di padukuhan. Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berusaha untuk merawat Ki Lemah Teles sebaik-baiknya, sementara tabib terbaik dari padukuhan itu dibantu oleh beberapa orang, bekerja keras  untuk merawat orang-orang yang terluka. Bahkan para pengikut Panembahan Lebdagati. Namun para tawanan itu harus dijaga dengan ketat, agar mereka tidak menimbulkan kesulitan. Ketika malam kemudian menyelimuti padukuhan dan padepokan yang baru saja mengalami goncangan-goncangan karena pertempuran yang telah merenggut korban jiwa itu, para pemimpinnya masih juga mengatur penjagaan sebaikbaiknya, karena tidak mustahil masih akan terjadi sesuatu. Orang-orang yang berada di padepokan telah menempatkan beberapa orang penjaga di panggungan dibelakang dinding. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi bergantian mengelilingi padepokan itu di malam hari. Sedangkan Manggada dan Laksana berada di bangunan induk bersama orang-orang padukuhan yang masih berada di padepokan. Dalam pada itu, Ki Bekel pun telah mengatur orangorangnya pula untuk mengamati keadaan. Disetiap sudut dan lekuk padukuhan, Ki Bekel menempatkan orang-orangnya untuk berjaga-jaga. Demikian pula disetiap regol jalan yang keluar dan memasuki padukuhan. Sementara itu, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana berada di rumah Ki Bekel merawat Ki Lemah Teles yang berangsur menjadi baik. Ternyata ketahanan tubuh Ki Lemah Teles cukup tinggi, sehingga ia masih mampu mengatasi perasaan sakit yang timbul karena luka-lukanya yang parah. Demikianlah, kesiagaan yang tinggi masih terdapat baik di padepokan mau pun di padukuhan. Namun ternyata di malam itu tidak ada sesuatu yang terjadi.  Ki Pandi yang menempatkan kedua ekor harimaunya di luar padepokan juga tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, sehingga kedua ekor harimau itu tidak memberikan isyarat apapun. Di hari berikutnya, setelah semua korban di makamkan, baik yang ada di padepokan, mau pun yang ada di padukuhan, maka Ki Warana mulai membicarakan hari depan padepokan yang telah direbut kembali dari tangan Panembahan Lebdagati itu. “Bukankah Ki Warana pantas untuk menjadi pemimpin di padepokan ini menggantikan kedudukan Kiai Banyu Bening? Hanya menggantikan kedudukannya. Menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin dari padepokan ini. Bukan pemimpin dalam arti penyebaran kepercayaan sesat yang berlandaskan pada dendamnya itu.” Tetapi Ki Warana menjawab ”Mungkin aku dapat melakukannya, mengatur tumbuh dan berkembangnya padepokan ini. Tetapi sulit bagiku untuk dapat mempertahankannya. Jika Panembahan Lebdagati itu datang kembali, maka aku tentu hanya dapat menyerahkan padepokan ini kepadanya. Bahkan menyerahkan nyawaku pula.” Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan mengerti alasan itu. Karena itu, maka Ki Pandi itu pun berkata ”Ki Ajar Pangukan yang tempat tinggalnya paling dekat dari padepokan ini akan dapat memberikan petunjuknya.” “Seorang diantara kita sebaiknya memang tinggal disini.” berkata Ki Ajar Pangukan. “Bagaimana kalau Ki Ajar?” “Lalu rumahku?” bertanya Ki Ajar.  “Rumah itu dapat ditinggalkan saja. Bukankah Ki Ajar juga sendiri saja dirumah?” Ki Ajar tersenyum. Katanya ”Aku sudah tinggal cukup lama dirumah itu, sehingga ikatan antara aku dan rumah itu sudah demikian eratnya. Bagaimana jika Ki Bongkok saja yang tinggal disini? Jika Ki Bongkok tinggal disini, Panembahan Lebdagati tentu tidak akan berani datang lagi.” Ki Bongkok menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Aku tidak terbiasa tinggal disatu rumah. Aku pun masih harus mencari dan menemukan Panembahan Lebdagati itu. Karena itu, seandainya aku harus memimpin sebuah padepokan, maka aku tidak akan pernah ada ditempat.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Sementara Ki Warana berkata ”Aku mohon seseorang bersedia melindungi kami. Dendam Panembahan Lebdagati tentu tidak akan pernah padam. Persoalannya bukan sekedar padepokan ini. Tetapi kaki Gunung Lawu disebrang hutan Jatimalang ini diakunya sebagai daerah kuasa Panembahan Lebdagati itu.” Ki Pandi yang termangu-mangu itu tiba-tiba berdesis ”bagaimana dengan Ki Lemah Teles. Jika ia bersedia tinggal di padepokan ini, maka ia akan menemukan satu dunia yang lain. Ia tidak akan merasa kesepian dan tidak merasa terbuang dari lingkungan dunia kanuragan, sehingga mencari kawan untuk berkelahi.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya ”Kita akan mencoba untuk berbicara dengan orang itu. Ia sudah menjadi semakin baik.” Hari itu juga, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi telah pergi menemui Ki Lemah Teles. Sebelumnya keduanya telah berbicara pula dengan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana, tentang perrnintaan Ki Warana untuk menempatkan seseorang yang dapat dianggap sebagai pemimpin tertinggi di  padepokan itu, sementara untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan padepokan ini Ki Warana akan melakukannya.” Ternyata semuanya setuju, bahwa Ki Lemah Teles akan diminta untuk tinggal dan memimpin padepokan itu. Ketika hal itu kemudian disampaikan kepada Ki Lemah Teles, maka dengan serta-merta ia berkata ”Kalian ingin aku mengorbankan bayi setiap bulan purnama?” “Tentu tidak” jawab Ki Pangukan ”justru kau harus berusaha meyakinkan orang-orang yang sudah mulai terpengaruh oleh kepercayaan Kiai Banyu Bening yang dilandasi oleh dendam dan kebenciannya itu, bahwa apa yang dikatakan dan diajarkan oleh Kiai Banyu Bening itu adalah justru akan menjauhkan mereka dari sumber hidup mereka.” Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Sementara Ki Sambi Pitu berkata ”Jika kau memimpin padepokan itu, maka kami akan ikut merasa memiliki. Setiap kali kami merasa jenuh tinggal dirumah, kami dapat pergi ke kaki Gunung Lawu untuk tinggal beberapa hari di padepokanmu. Tentu sebuah padepokan yang lain dengan padepokan Kiai Banyu Bening dan padepokan Panembahan Lebdagati. Padepokanmu akan menjadi padepokan yang mendapat sinar terang dari Yang Maha Pencipta karena kau akan memimpin seisi padepokan untuk mengenalinya. Bukan hanya seisi padepokan, tetapi juga orang-orang yang tinggal disekitarnya.” Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Aku akan memikirkannya.” “Kau perlukan waktu berapa hari untuk menentukan jawabanmu itu?” bertanya Ki Sambi Pitu. “Tergantung pada turunnya terang dihatiku” jawab Ki Lemah Tetes.  “Baiklah” berkata Ki Ajar Pangukan ”bukankah kita masingmasing tidak tergesa-gesa? Kita akan dapat untuk beberapa lama tinggal di padepokan ini sambil menunggu keputusan Ki Lemah Teles. Tetapi menurut perhitungan kami, Ki Lemah Teles tidak akan menolaknya. Di padepokan ini Ki Lemah Teles akan menemukan apa yang terasa hilang selama ini.” “Aku juga berharap” berkata Ki Bekel ”padukuhan ini akan ikut merasa tenang, jika satu atau dua orang berilmu tinggi berada di padepokan ini. Selama ini padukuhan ini terkait dengan padepokan itu. Jika terjadi perubahan di padepokan itu, maka kami pun akan ikut pula mengalami perubahan. Sepeninggal Kiai Banyu Bening, mungkin kami akan mendapatkan petunjuk baru yang benar-benar dapat memberikan pengharapan bagi kami.” Ki Lemah Teles memang belum memberikan harapan pasti. Agaknya Ki Lemah Teles ingin menyembuhkan luka-luka dalamnya ketika ia membenturkan ilmunya melawan kekuatan ilmu Lembu Palang. Namun di hari-hari berikutnya, tatanan di padukuhan yang menjadi ajang pertempuran yang menentukan itu sudah menjadi wajar kembali. Sementara itu, Ki Lemah Teles sudah berada di padepokan. Demikian pula Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana. “Jika Ki Bekel memerlukan sesuatu, Ki Bekel dapat memberitahukan kepada kami di padepokan itu.” berkata Ki Ajar Pangukan. “Baik Ki Ajar. Kami tentu masih sangat memerlukan kehadiran Ki Ajar dan yang lain. Perubahan sikap dan tatanan kehidupan yang akan terjadi sejalan dengan perubahan yang terjadi di padepokan memerlukan tuntunan yang mapan.” “Baik, Ki Bekel. Kami tidak akan segera meninggalkan padepokan itu.”  Dengan demikian, maka gelombang pembaharuan di padepokan itu pun telah menyentuh padukuhan-padukuhan yang lain pula. Gejolak yang terjadi sejak Panembahan Lebdagati menduduki padepokan itu untuk beberapa lama, masih terasa. Namun Ki Warana sudah berjanji untuk bekerja keras. Wajah padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu harus segera berubah. Para penghuni padukuhan itu harus menjadi yakin, bahwa kepercayaan yang disebarkan oleh Kiai Banyu Bening itu, semata-mata merupakan percikan dendam pribadinya, karena anaknya yang karena sesuatu hal telah terbakar. Demikianlah dari hari ke hari kehidupan di kaki Gunung Lawu itu menjadi semakin tenang. Sedikit demi sedikit Ki Warana, yang sebelumnya sering memberikan sesorah di padukuhan-padukuhan, berubah untuk meyakinkan perubahan yang terjadi di padepokan itu justru akan dapat memberikan jalan yang terang. Manggada dan Laksana pun sudah sering berjalan-jalan keluar dari padepokan. Bersama kedua ekor harimau peliharaan Ki Pandi, mereka menyusuri padang-padang perdu melihat-lihat keadaan di lereng Gunung Lawu. Mereka pun sempat menyusup kedalam hutan yang letaknya agak lebih tinggi dari padukuhan dan padepokan yang baru saja direbut kembali dari tangan Panembahan Lebdagati itu. Ternyata hutan itu masih merupakan hutan yang lebat dan dihuni oleh berjenis-jenis binatang termasuk binatang buas. Tetapi Manggada dan Laksana sudah terbiasa berada ditengah-tengah hutan yang lebat. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi canggung. Apalagi bersama mereka, dua ekor harimau yang besar dan kuat bahkan memiliki kelebihan dari harimau kebanyakan ada bersama mereka.  Namun pada hari berikutnya, ternyata Laksana telah mempunyai rencana. Ia mengajak Manggada untuk pergi ke sebuah padukuhan yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. “Ah, kau” desis Manggada. “Apa salahnya?” bertanya Laksana. “Kau harus berbicara dengan Ki Pandi.” Laksana termangu-mangu. Katanya ”Apakah untuk itu aku harus mendapat ijin?” “Bukan ijin. Tetapi agar Ki Pandi tahu, kita berada dimana.” jawab Manggada. Laksana akhirnya menurut juga. Ia pun telah memberitahukan kepada Ki Pandi, kemana ia akan pergi bersama Manggada. Ki Warana ternyata mendengar pula pembicaraan itu. Karena itu, maka Ki Warana pun kemudian berkata ”Tolong ngger. Sampaikan salamku kepada Krawangan. Sejak peristiwa itu terjadi, ia tentu belum mendengar kabar tentang perkembangan terakhir padepokan ini. Juga tentang keselamatanku.” “Baik Ki Warana.” jawab Laksana. Berdua mereka pergi ke padukuhan tempat Ki Krawangan tinggal. Dua ekor harimau yang menyertai mereka, berhenti dan bersembunyi di semak-semak agak jauh dari padukuhan agar tidak menakut-nakuti orang yang melihatnya. Tetapi ternyata Laksana tidak langsung pergi ke padukuhan. Tetapi ia telah mengikuti jalan kecil menuju ke tanggul. “He, kita pergi ke mana?” bertanya Manggada.  “Sebentar. Aku akan melihat ke tepian.” “Untuk apa?” “Tidak apa-apa” jawab Laksana. Manggada menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa Laksana ingin melihat, apakah Delima ada di tepian atau tidak. “Belum ada yang berani mencuci ditepian” berkata Manggada. “Tetapi Delima lain. Ia lebih senang mencuci ditepian daripada di rumahnya sendiri. Bukankah keadaan sudah lebih baik sekarang ini? Pada saat yang gawat itu, Delima masih juga mencuci ditepian.” Manggada tidak menjawab lagi. Dibiarkannya Laksana berjalan menyusuri tanggul. Dan bahkan Manggada pun telah mengikutinya dibelakangnya pula. Namun keduanya tertegun. Dari kejauhan mereka melihat, bahwa yang berada di tepian bukan hanya Delima. Tetapi beberapa orang perempuan telah berada di tepian itu pula. “Nah, bukankah orang-orang dari padukuhan ini menganggap bahwa keadaan telah menjadi tenang, sehingga mereka telah berani turun ke tepian?” bertanya Laksana. “Apakah kau juga akan menemui Delima sekarang ini?” bertanya Manggada. Laksana menggeleng. Katanya ”Nanti saja.” “Kita menunggu sampai mereka selesai? Jika mereka pulang, maka Delima tentu akan pulang bersama mereka pula.” “Tidak. Kita akan berjalan lewat tanggul di seberang. Jika Delima melihat kita menyusuri tanggul itu, maka ia tentu akan tinggal lebih lama dari kawan-kawannya.”  Manggada tidak membantah Mereka pun kemudian berjalan melingkar dan menyeberangi sungai itu. Seperti dikatakan oleh Manggada dan laksana, keduanya berjalan saja diatas tanggul di-seberang. Mereka sama sekali tidak berpaling, seakan-akan mereka tidak memperhatikan sama sekali perempuan-perempuan yang sedang mencuci itu. Perempuan-perempuan yang sedang mencuci ditepian itu pun melihat mereka pula. Tetapi keduanya sama sekali tidak menarik perhatian mereka. Tanggul itu memang dilewati banyak orang. Diantara mereka adalah orang-orang yang memang belum mereka kenal. Berbeda dengan kawankawannya, Delima yang melihat dua orang anak muda itu lewat, menjadi berdebar-debar. Meski pun keduanya sama sekali tidak berpaling, tetapi Delima tahu, bahwa keduanya akan menemuinya setelah kawankawannya pulang. Tetapi selain kedua orang anak muda itu, ternyata ada dua orang laki-laki yang lain yang berjalan justru diatas tanggul disisi yang lain. Keduanya justru berhenti ketika mereka melihat beberapa orang perempuan sedang mencuci itu.  Perempuan-perempuan yang sedang mencuci itu mulai menjadi gelisah. Nampaknya keduanya menaruh perhatian terhadap mereka yang sedang mencuci itu. Delima pun menjadi gelisah pula. Ketika ia memandang ke atas tanggul di seberang, ternyata Manggada dan Laksana telah tidak nampak lagi. “Seandainya mereka masih ada” berkata Delima didalam hatinya. Meski pun demikian, Delima masih juga berharap bahwa mereka berdua masih berada disekitar tempat itu, karena Delima pun berharap untuk dapat bertemu dengan anak-anak muda itu setelah kawan-kawannya pulang. Kedua orang yang berada diatas tanggul itu masih berdiri dilemparnya. Sejenak keduanya saling berbicara perlahanlahan. Agaknya keduanya sedang membicarakan, apakah yang akan mereka lakukan. Perempuan-perempuan itu menjadi cemas, ketika kedua orang itu pun kemudian justru turun dari atas tanggul dan melangkah mendekati mereka yang sedang mencuci itu. Beberapa orang diantara perempuan itu justru telah mencebur kedalam air dengan pakaian mereka yang memang sudah basah. Wajah kedua orang itu memang kelihatan garang. Bahkan berkesan menyeramkan. “Jangan takut” berkata salah seorang dari mereka ”aku hanya ingin bertanya.” Perempuan-perempuan itu justru terdiam bagaikan membeku. Delima yang pernah didatangi orang-orang yang tidak dikenalnya, masih juga merasa takut. Jika saja ia tidak ditolong oleh pamannya, maka ia sudah menjadi korban keganasan orang-orang dari padepokan pamannya itu sendiri.  Ketika mula-mula orang bongkok itu mendatanginya, Delima pun menjadi ketakutan. Tetapi wajah orang bongkok itu nampak lembut sehingga akhirnya ia justru menjadi akrab. Bukan saja dengan orang bongkok itu sendiri, tetapi juga dengan anak-anak muda yang sering bersamanya. Sementara itu, orang yang berwajah garang itu berkata selanjutnya, ”Aku hanya ingin mengetahui, dimana letaknya padepokan Kiai Banyu Bening. Menurut pendengaranku, padepokan itu ada disekitar tempat ini.” Perempuan-perempuan itu tahu benar, dimanakah letak padepokan itu. Tetapi mereka tidak tahu perkembangan terakhir yang telah terjadi di padepokan itu. Mereka hanya tahu bahwa telah terjadi perang. Orang-orang lewat, dipasar dan di kedai-kedai berbicara tentang perang yang telah terjadi di padepokan, kemudian merambat kesekitarnya. Segala macam upacara telah terhenti. Kemudian mereka pun tahu bahwa perang telah selesai. Tetapi perkembangan keadaan masih belum mereka ketahui dengan pasti. Karena perempuan-perempuan itu tidak segera menjawab, maka laki-laki itu mengulangi pertanyaannya, ”He, kenapa kalian. diam saja? Dimana letak padepokan Kiai Banyu Bening?” Wajah orang itu nampak berkerut. Sementara itu orang itu berkata dengan nada yang merendah ”Jangan takut kepada orang-orang padepokan itu. Kami akan melindungi kalian jika mereka marah hanya karena kalian menunjukkan kepada kami, dimana letak padepokan Kiai Banyu Bening.” Dalam ketegangan itu, akhirnya Delimalah kemudian menjawab ”Tidak terlalu jauh dari padukuhan ini memang terdapat sebuah padepokan paman. Tetapi kami tidak tahu siapakah yang tinggal di padepokan itu.”  Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang diantara mereka kemudian bertanya pula ”Apakah kau tidak pernah mendengar nama pemimpin dari padepokan itu?” Delima menggeleng. Katanya ”Tidak paman. Padepokan itu nampaknya memang menutup diri.” Kedua orang itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata ”Tunjukkan arahnya.” Delima memang menunjuk kearah padepokan yang sebenarnya diketahuinya padepokan Kiai Banyu Bening. Namun Delima pun tahu serba sedikit bahwa telah terjadi pertempuran di padepokan itu. Selanjutnya, Delima memang tidak tahu, apa yang kemudian terjadi. Kedua orang itu pun kemudian telah melangkah meninggalkan tepian. Demikian orang-orang itu pergi, maka perempuanperempuan yang sedang mencuci itu sibuk mengemasi cucian mereka. Meski pun ada diantara mereka yang belum selesai, namun mereka menjadi tergesa-gesa pulang. Kedua orang yang bertanya tentang padepokan itu membuat mereka menjadi ketakutan. Tetapi ternyata Delima tidak ingin pulang bersama mereka. Ia yakin bahwa kedua anak muda yang dilihatnya lewat tanggul di seberang sungai itu masih ada di sekitar tempat itu. Ketika kawan-kawannya siap untuk meninggalkan tepian, maka Delima itu pun berkata ”Kurang sedikit. Silahkan.” “Kau tidak takut sendiri ditepian, Delima?” bertanya seorang kawannya. “Hanya kurang sedikit, sebelum kalian sampai ke tikungan, aku sudah menyusul.”  Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun sekali lagi Delima berkata ”Pulanglah. Aku tidak apa-apa disini.” Mula-mula kawan-kawannya tidak sampai hati meninggalkan Delima sendiri. Namun ketika beberapa kali Delima minta mereka mendahuluinya, maka mereka pun telah bergerak meninggalkan tepian. Sebenarnyalah Delima memang ragu-ragu. Demikian kawan-kawannya naik keatas tanggul, Delima pun segera mengemasi cuciannya pula. Jika ia tidak yakin kedua anak muda itu ada disekitarnya, maka Delima akan segera berlari menyusul mereka. Beberapa saat kemudian, kawan-kawan Delima itu sudah tidak nampak lagi. Mereka telah hilang dibalik pepohonan ketika mereka memasuki lorong sempit diujung padukuhannya. Delima mulai menjadi gelisah. Ia masih berdiri ditepian memandangi tanggul diseberang sungai. Tetapi ia tidak segera melihat kedua orang anak muda yang sering datang bersama orang yang bongkok itu. Delima terkejut sekali ketika tiba-tiba saja dua orang muncul dan berdiri diatas tanggul sungai itu. Hampir saja Delima menjerit. Namun untunglah, bahwa mulutnya masih terkatub. “Kalian mengejutkan aku” desis Delima. Keduanya tertawa pendek. Sementara Delima berkata ”Aku sudah akan pulang. Nanti kawan-kawan itu menjadi gelisah. Jika mereka menyampaikan kegelisahan mereka pada orang-orang padukuhan, maka beberapa orang akan berdatangan kemari.”  “Kenapa kau tidak pulang bersama mereka saja?” bertanya Laksana. Delima menjadi agak bingung. Tetapi kemudian ia menjawab juga ”Cucianku kurang sedikit. Dan sekarang aku sudah selesai.” Laksana pun kemudian menuruni tebing sambil bertanya "Kau takut kepada kedua orang yang menanyakan padepokan Kiai Banyu Bening itu?” “Kau melihat mereka?” bertanaya Delima. “Ketika aku melihat keduanya, aku segera mendekat. Aku sudah sejak tadi berada dibalik perdu itu.” “Karena mereka berdua maka aku justru harus segera menyusul kawan-kawanmu. Aku memang yakin bahwa kalian masih ada ditempat ini. Aku ingin mendengar kabar pamanku.” “Pamanmu tidak apa-apa. Ia mengirimkan salamnya kepada ayahmu. Pamanmu sekarang berada di padepokan.” “Bagaimana dengan Kiai Banyu Bening atau orang yang membayangi padepokan Kiai Banyu Bening itu? Apakah benar bahwa padepokan itu sudah beralih tangan?” “Ceriteranya panjang. Tetapi sampaikan saja kepada ayahmu, bahwa pamanmu tidak apa-apa dan bahkan sekarang menjadi salah seorang penentu di padepokan itu.” “Kalian dengar kedua orang yang mencari padepokan Kiai Banyu Bening tadi?” “Ya. Nampaknya masih akan ada persoalan lagi.” “Ah, terima kasih. Aku harus segera menyusul kawankawanku sebelum mereka menjadi gelisah dan memberitahukan kepada orang-orang padukuhan.”  Laksana memang menjadi sedikit kecewa. Tetapi ia mengerti, bahwa kedatangan kedua orang yang mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu telah merusak suasana. Namun Laksana tidak ingin menahan Delima lebih lama lagi. Sejenak kemudian, maka Delima itu pun sudah naik kealas tanggul. Kepada Manggada dan Laksana ia pun berkata ”Salamku kepada paman. Tolong, sampaikan pula tentang kedua orang yang mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu.” “Baik Delima,” jawab Laksana ”pada kesempatan lain, aku akan datang lagi.” “Mungkin kami tidak berada di tepian lagi besok. Kedua orang itu telah menakut-nakuti kawan-kawanku. Sendiri aku juga takut, sementara kalian belum pasti ada di tepian.” Laksana menarik nafas dalam-dalam. Suasananya benarbenar telah dirusak oleh kedua orang itu. Bukan hanya hari itu. Tetapi mungkin dalam tiga ampat hari mendatang, gadis-gadis itu masih belum berani turun ke sungai lagi. Demikianlah, maka Delima pun berlari-lari kecil menyusul kawan-kawannya. Ia tidak ingin kawan-kawannya menjadi gelisah karena ia terlalu lama tidak segera nampak. Sebenarnyalah, kawan-kawan Delima itu terhenti di simpang ampat di ujung padukuhan. Mereka memang mulai menjadi cemas. Seorang laki-laki yang berjalan sambil membawa cangkul sempat bertanya ”Ada yang kalian tunggu?” “Kami menunggu Delima paman.” “Dimana anak itu?” “Kami bersama-sama mencuci di tepian. Ketika kami naik, Delima masih tinggal untuk menyelesaikan curiannya yang tinggal sedikit.”  “Kenapa kalian tidak menunggu di tepian?” “Delima sendiri minta kami mendahului.” Laki-laki itu mengangguk-angguk. Sambil melangkah pergi ia bergumam ”Nanti ia akan pulang sendiri.” Kawan-kawan Delima yang menunggu itu menjadi semakin gelisah. Mereka membayangkan, bahwa kedua orang laki-laki itu datang kembali, menangkap Delima dan membawanya pergi. “Delima terlalu cantik untuk berada di tepian seorang diri” berkata kawan-kawannya itu didalam hatinya. Tiba-tiba serentak anak-anak itu bersorak ketika mereka melihat Delima berlari-lari kecil muncul dari balik tikunagan. Sambil melambaikan tangannya Delima bergegas menyusul kawan-kawannya itu. “Kau membuat kami cemas” berkata salah seorang dari kawan-kawannya itu. Delima yang sudah berada diantara kawan-kawannya disela-sela nafasnya yang tersengal-sengal berkata ”selembar cucianku jatuh di pasir tepian. Aku harus mencucinya kembali.” “Jangan terlalu berani Delima” desis kawannya yang sedikit lebih tua daripadanya. “Sebenarnya aku juga ketakutan. Tetapi untunglah, lakilaki itu tidak kembali.” “Besok kita tidak pergi ke tepian” berkata seorang diantara mereka. “Ya. Tentu tidak. Jika kita pergi juga ke tepian dan terjadi sesuatu, itu adalah salah kita sendiri.”  “Atau kita dapat mengajak dua tiga orang kawan laki-laki kita.” “Tetapi orang-orang yang nampaknya garang itu sangat berbahaya” sahut yang lain ”anak-anak muda padukuhan ini tidak akan dapat melawan mereka.” “Ya,” berkata Delima ”wajahnya saja sudah menakutkan.” “Marilah” seorang diantara mereka mengajak kawankawannya pulang. Ketika Delima sampai di rumah, ayahnya sudah siap pergi ke sawah. Namun Delima sempal berceritera bahwa ia bertemu dengan anak-anak muda yang sering lewat ditepian bersama Ki Pandi yang bongkok itu. “Apakah orang bongkok itu juga datang ?” “Tidak ayah. Orang bongkok itu tidak nampak. Namun kedua anak muda itu mendapat pesan dari paman, salam paman bagi ayah. Selebihnya paman memberikan pesan pula, bahwa paman tidak apa-apa. Paman baik-baik saja.” “Sokurlah” ayahnya mengangguk-angguk. Namun sebelum ayahnya bertanya lebih jauh tentang anak-anak muda itu, maka Delima pun telah menceriterakan kedatangan dua orang laki-laki yang garang, yang bertanya letak padepokan Kiai Banyu Bening. “Apalagi yang akan terjadi?” desis Kiai Krawangan. Namun orang itu pun kemudian berkata ”Baiklah. Aku akan pergi ke sawah. Berhati-hatilah jika kau turun ke tepian.” “Kawan-kawan sudah berjanji, esok kami tidak turun ke sungai ayah.” “Bagus. Kau dapat mencuci pakaian di sumur. Bukankah airnya cukup banyak dan seberapa pun kau memakainya tidak akan kering. Bahkan dimusim kemarau sekalipun?”  “Ya, ayah” jawab Delima. Dalam pada itu, Manggada dan Laksana telah melangkah meninggalkan tepian menyusuri tanggul. Namun Manggada tiba-tiba saja memperlambat langkahnya sambil berkata ”Kita harus mengambil jalan lain.” “Kenapa?”bertanya Laksana. “Mungkin kedua orang laki-laki itu juga pergi ke padepokan. Sebaiknya kita menghindar agar kita tidak bertemu dengan mereka” jawab Manggada. “Apa salahnya?” bertanya Laksana. “Mungkin akan dapat terjadi benturan.” Laksana mengerutkan dahinya. Agaknya benturan kekerasan tidak menjadi persoalan bagi Laksana. Hampir bergumam Laksana itu berkata ”Asal bukan kita yang mendahuluinya, benturan kekerasan itu bukan tanggungjawab kita.” “Kita belum tahu, apa maksud mereka mencari padepokan Kiai Banyu Bening.” “Apa pun maksudnya, jika mereka tidak bermaksud buruk, maka berselisih jalan pun tidak akan timbul persoalan.” “Tetapi sebaiknya kita hindari mereka agar tidak menimbulkan persoalan-persoalan baru, justru persoalan mereka yang sebenarnya bukan persoalan kita.” Laksana tidak menjawab. Tetapi ia mengikuti langkah Manggada yang mencoba menghindari kedua orang yang sedang mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu. Karena itu, maka keduanya telah mengambil jalan melingkar, meski pun dengan demikian perjalanan mereka menjadi lebih jauh. Namun keduanya masih harus mengajak  kedua ekor harimau Ki Pandi yang menunggu mereka di semak-semak. Ternyata kedua ekor harimau itu tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan seekor diantaranya sempat tertidur ketika Manggada dan Laksana lewat. Dengan demikian, maka kedua orang anak muda itu telah berjalan melewati padang perdu yang luas, namun yang menurut pengamatan keduanya, padang perdu itu dapat dijadikan lahan persawahan jika air sempat menggapai tempat itu. “Tinggal membuat parit. Agak di atas dapat ditemukan banyak mata air yang dapat dialirkan menjadi satu sehingga menjadi sebuah parit yang cukup deras” berkata Manggada. Laksana mengangguk-angguk. Kalanya ”Nampaknya orang-orang di daerah ini masih belum membutuhkan.” “Mereka bukan orang-orang yang terbiasa bekerja keras. Justru apa yang ada telah memberikan pangan yang cukup, mereka tidak berusaha apa-apa lagi selain menikmati apa yang sudah ada.” “Ki Warana akan dapat memanfaatkan tanah ini. Tentu saja dengan seijin lingkungannya.” Manggada mengangguk-angguk. Sementara itu keduanya berjalan terus melalui jalan setapak dan bahkan kemudian, mereka menyusuri gumuk-gumuk kecil berbatu padas. Namun tiba-tiba saja kedua ekor harimau itu menjadi gelisah. Agaknya ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Manggada dan Laksana pun menjadi semakin berhati-hati. Agaknya dibalik batu-batu itu ada sesuatu yang membuat kedua ekor harimau itu gelisah.  Manggada dan Laksana yang sudah semakin terbiasa dengan kedua ekor harimau itu telah memberi isyarat, agar keduanya menunggu sementara Manggada dan Laksana dengan sangat berhati-hati melihat keadaan dibalik batu-batu padas itu. Keduanya tertegun ketika mereka mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Manggada dan Laksana pun segera mengetahui. Bahwa yang sedang berbincang itu tentu lebih dari dua orang. Manggada pun kemudian memberi isyarat kepada Laksana untuk melangkah mundur. Agaknya Manggada tidak ingin terlibat dalam perselisihan dengan orangorang yang tidak dikenal itu. Karena itu, maka Manggada menganggap lebih baik mereka tidak bertemu dengan orang-orang itu. Namun demikian Manggada dan Laksana bergeser menjauh, tiba-tiba saja mereka mendengar seseorang berteriak ”He, berhenti. Jangan bergerak.” Manggada dan Laksana terkejut. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, maka mereka melihat seorang yang berdiri diatas batu padas yang besar dengan  tombak di tangan. Tombak yang sudah siap dilontarkan kearah Manggada atau Laksana. Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka memang tidak beringsut dari tempatnya. Orang-orang yang berada dibalik batu-batu padas itu pun mendengar teriakan itu. Karena itu, maka mereka pun berlarilarian melingkari batu padas itu. Manggada dan Laksana masih berdiri ditempatnya. Mereka sempat menghitung orang-orang yang kemudian mengerumuninya. “Ampat orang. Lima orang dengan yang diatas.” Sementara itu orang yang tertua diantara mereka dan berdiri dipaling depan bertanya dengan nada datar ”Siapakah kalian?” Manggada dan Laksana termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Manggada pun menjawab ”Kami datang dari padukuhan dipinggir sungai itu, Ki Sanak.” “Untuk apa kalian datang kemari?” bertanya orang itu. Manggada pun menjawab meski pun agak ragu ”Kami sedang melihat kemungkinan untuk memperluas lahan sawah kami, Ki Sanak. Tempat ini memang sangat memungkinkan. Sementara penghuni padukuhan kami menjadi semakin banyak, sedang sawah kami tidak cukup luas.” Orang itu mengangguk-angguk. Ternyata jawaban Manggada masuk di akal mereka. Yang kemudian bertanya adalah justru Manggada ”Siapakah Ki Sanak ini? Agaknya kami masih belum pernah bertemu dengan kalian selama ini.” “Kami datang dari jauh” jawab orang yang tertua diantara mereka ”Kami sedang mencari seseorang yang bernama Kiai  Banyu Bening. Nama yang dipakai sejak orang itu mendirikan satu padepokan di kaki Gunung Lawu ini,” “Apakah kalian termasuk murid dari padepokan itu?” bertanya Manggada. “Ternyata kau anak yang dungu” sahut orang itu ”jika aku murid dari padepokan itu, tentu aku tidak perlu mencarinya.” “Mungkin Ki Sanak murid yang sudah tuntas sehingga meninggalkan padepokan. Sementara itu padepokan itu telah berpindah tempat.” Orang itu tertawa. Katanya ”Memang mungkin,” Namun seorang yang lain tiba-tiba saja telah bertanya ”Kau melihat padepokan Kiai Banyu Bening itu?” “Kami tidak tahu Ki Sanak. Yang kami tahu, disana ada sebuah padepokan, Tetapi aku tidak tahu siapakah pemimpin dari padepokan itu.” “Ya. Ampat kawanmu sedang melihat padepokan itu. Mudah-mudahan benar bahwa padepokan itu adalah padepokan Kiai Banyu Bening.” “Untuk apa kalian mencari Kiai Banyu Bening?” bertanya Laksana tiba-tiba. Orang itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia pun menjawab ”Tidak apa-apa. Kami mempunyai kepentingan pribadi dengan Kiai Banyu Bening.” “Cobalah. Datanglah ke padepokan itu. Mungkin di padepokan itu tinggal orang yang sedang kalian cari.” “Sudah aku katakan, ampat orang kawanku sudah pergi ke-sana untuk mengetahuinya.” “Baiklah. Jika Demikian, kami minta diri” berkata Manggada.  “Kalian akan pergi kemana?” bertanya orang itu. “Kami masih akan melihat lingkungan yang luas. Bukan saja melihat kesuburan tanahnya, tetapi juga letaknya apakah mungkin kami dapat menggali sebuah parit induk melalui daerah ini, meski pun dasar sungai itu termasuk terlalu rendah, atau menanmpung air dari banyak mata air.” Orang tertua diantara mereka itu pun mengangguk sambil menjawab ”Pergilah. Tetapi kalian tidak usah berceritera tentang kehadiran kami disini. Kami tidak ingin membuat persoalan dengan orang-orang padukuhan, sasaran kami terutama adalah Kiai Banyu Bening.” Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara orang itu pun berkata selanjutnya ”Jangan membuat orangorang padukuhan ketakutan. Kami tidak mempunyai persoalan dengan mereka. Kecuali jika mereka sengaja mencampuri persoalan kami.” “Baiklah” berkata Manggada ”kami bukan orang yang sedang mencampuri persoaan orang lain.” “Bagus” sahut orang itu ”pergilah. Lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya.” Namun Laksana tiba-tiba menyahut ”Kami sekaligus sedang menggembalakan ternak kami.” “Ternak?” tiba-tiba saja seorang diantara mreka bertanya ”Ternak apa? Kambing? Atau apa? Kami sudah lama tidak makan daging kambing. Jika kau mengembalakan kambing, tinggal seekor untuk kami.” “Ternakku hanya dua ekor” Jawab Laksana. “Tidak apa. Satu untuk kami.”  Tetapi yang tertua dari antara mereka pun berkata ”Ternaknya hanya dua ekor. Jika satu kau ambil, maka ia hanya tinggal mempunyai seekor.” “Tidak apa. Ia akan dapat membeli lagi.” “Bawa ternakmu pergi” berkata orang itu. Namun agaknya yang lain berusaha memaksanya. ”Biar sajalah. Kami memerlukan seekor. Bukankah itu lebih baik daripada aku merampasnya semua.” Laksana lah yang kemudian berkata ”Biarlah aku panggil ternak yang sedang aku gembalakan.” Orang yag tertua itu menjadi heran. Agaknya anak muda itu tidak berkeberatan jika seekor ternaknya harus ditinggalkannya di padang perdu itu. Seperti yang diajarkan Ki Pandi, maka Laksana pun telah memberikan isyarat memanggil kedua ekor harimaunya yang ditinggalkannya. Meskipiun tidak memakai suara seruling, tetapi kedua ekor harimau itu pun mengerti pula isyarat itu, sehingga kedua-nya pun segera mendekati Laksana. Orang-orang itu terkejut melihat dua ekor harimau yang besar dan tegar berjalan mendekat, Dengan serta merta mereka pun segera mempersiapkan senjata mereka. Namun Laksana sambil tersenyum berkata ”Inilah ternak kami yang kami gembalakan.” “Setan kau,” geram salah seorang dari mereka. Manggada dan Laksana pun kemudian meninggalkan orang-orang yang memandanginya dengan termangu-mangu. Laksana berjalan sambil memegangi tengkuk salah seekor dari kedua harimau yang mengikutinya, sementara yang seekor lagi berjalan di depan. “Kau dapat membuat mereka curuiga” berkata Manggada.  “Mereka tidak akan berbuat apa-apa” jawab Laksana. “Tetapi sebenarnya tak perlu kau lakukan.” “Bukankah mereka benar-benar tidak berbuat apa-apa?” “Tetapi penilaian mereka terhadap kita telah berubah.” Laksana tidak menjawab. Tetapi menurut pendapatnya, sama sekali tidak terjadi akibat buruk dari kelakarnya yang mendebarkan itu. Manggada dan Laksana pun berjalan semakin menjauhi orang-orang yang berada di belakang gumuk kecil berbatubatu padas itu. Namun mereka tidak akan memilih jalan lagi. Justru ia berusaha menghindari pertemuan dengan dua orang yang tidak dikenalnya, mereka malahan bertemu dengan sekelompok orang yang lebih banyak. Untunglah orang-orang itu tidak berbuat apa-apa atas diri Manggada dan Laksana, sehingga tidak terjadi benturan kekerasan. Manggada dan Laksana pun berjalan semakin jauh. Mereka langsung berjalan menuju ke padepokan. Ketika mereka sampai di padepokan, maka Manggada dan Laksana pun segera menyampaikan apa yang mereka lihat dan dengar kepada Ki Pandi. Ki Pandi mendengarkannya dengan sungguh-sungguh Kemudian dengan serta-merta ia pun bertanya, “Dimana kedua ekor harimau itu sekarang?” “Mereka berada diluar seperti saat sebelum kami berangkat.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian memanggil kawan-kawannya serta Ki Warana untuk berbincang.  Masih ada saja persoalan yang timbul. Ki Warana pun termangu-mangu sejenak. Dengan ragu ia bertanya ”Apakah yang sebenarnya mereka inginkan?” “Ternyata banyak pihak yang mempunyai persoalan dengan Kiai Banyu Bening” desis Ki Lemah Teles. “Untunglah jika mereka mau menyelesaikan persoalan itu sekarang, sehingga yang tinggal kemudian adalah ketenangan dan tatanan kehidupan yang mantap disini.” berkata Ki Ajar Pangukan. “Kita memang sudah letih” desis Ki Warana ”meski pun demikian, jika kita dipaksa, maka kita akan mempertahankan padepokan ini dengan kekerasan.” “Kita akan menunggu. Nampaknya keempat orang yang sedang mengamati padepokan ini masih ragu-ragu untuk datang langsung kemari” berkata Ki Pandi. Sebenarnyalah dua orang yang bertemu dengan beberapa orang perempuan yang sedang mandi itu telah menemui kawan-kawannya di gumuk kecil itu. Kemudian mereka berempat berniat untuk mencari keterangan lebih jauh tentang padepokan yang memang didirikan oleh Kiai Banyu Bening itu. Akhirnya, keempat orang itu dapat meyakinkan, bahwa padepokan itu memang padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening, karena padepokan itu memang satu-satunya padepokan yang mereka jumpai didaerah itu. Seorang laki-laki tahu pasti bahwa padepokan itu adalah padepokan Kiai Banyu Bening. Hampir disetiap padukuhan telah didirikan sanggar untuk melakukan upacara. Meski pun demikian, orang-orang padukuhan itu masih kurang mengerti, bagaimana keadaan padepokan itu setelah terjadi prtempuran-pertempuran yang menggetarkan jantung itu.  “Semua orang menunggu, apakah yang sebenarnya telah terjadi di padepokan itu. Perang disusul dengan perang.” “Tetapi bukankah sekarang tidak sedang terjadi perang itu?” bertanya salah seorang dari keempat orang itu. “Tidak Ki Sanak” jawab laki-laki itu. Tetapi keempat orang itu tidak langsung pergi ke padepokan itu. Mereka masih harus menemui kawan-kawan mereka untuk meminta pertimbangan, apakah yang sebaiknya harus mereka lakukan. “Ada diantara kita yang harus datang memasuki padepokan itu” berkata orang tertua diantara mereka. “Siapa?” bertanya salah seorang kawannya. “Aku sendiri” jawab yang tertua itu. “Jangan sendiri.” “Siapa akan pergi bersamaku?” bertanya orang tertuaku. Seorang yang bertubuh sedang berkumis tebal berkata ”Aku.” Demikianlah, maka mereka berdua pun telah pergi ke padepokan yang tidak diketahui dengan jelas, siapakah yang ada di dalamnya itu. Ketika keduanya sampai ke depan regol padepokan, maka keduanya termangu-mangu sejenak Di hadapan mereka, regol padepokan itu berdiri dengan angkuhnya menantang kedatangan mereka berdua. Orang yang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ditetapkannya hatinya melangkah mendekati regol itu. Beberapa kali ia mengetuk pintu regol padepokan yang tertutup rapat itu.  Beberapa saat orang itu menunggu. Ia mengangkat wajahnya ketika dari atas panggung disebelah regol itu terdengar seseorang bertanya ”He, siapakah kalian dan siapakah yang kau cari?” “Perkenankan aku masuk. Ada sesuatu yang penting” jawab orang yang berdiri didepan regol itu. “Siapakah kalian?” bertanya orang yang ada dipanggungan. “Nanti akan kami jelaskan” jawab orang itu. Orang yang berdiri diatas panggungan itu memandang berkeliling. Ia harus memastikan bahwa tidak ada kemungkinan buruk yang dapat terjadi di saat regol padepokan itu dibuka. Baru setelah ia yakin akan hal itu, maka ia pun memberi isyarat kepada penjaga regol itu, agar regol itu dibuka. Perlahan-lahan regol padepokan itu pun terbuka. Beberapa orang yang berada dibelakang regol itu pun mempersilahkan kedua orang itu masuk. Demikian keduanya berada didalam, maka pintu regol itu pun segera tertutup kembali. “Siapakah yang kalian cari?” “Kami ingin bertemu dengan pemimpin padepokan ini” jawab orang itu. “Siapa?” “Siapa pun orang itu.” Para petugas di regol itu pun termangu-mangu sejenak. Seorang diantara mereka berkata ”tunggulah. Aku akan menyampaikannya.”  Orang itu pun segera menemui Ki Warana untuk menyampaikan keinginan kedua orang yang telah memasuki regol halaman padepokan itu. Ki Warana menjadi termang-mangu sejenak. Tetapi Ki Pandi yang mendengar pembicaraan itu berkata ”Apakah tidak sebaiknya orang itu dipersilahkan naik?” Ki Warana mengangguk sambil berkata ”Baiklah. Biarlah mereka naik.” Sejenak kemudian, maka kedua orang itu sudah duduk dipendapa, ditemui oleh Ki Warana, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan. “Siapakah yang kalian cari Ki Sanak?” bertanya Ki Warana. Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya sebuah bangunan batu yang ada di depan pendapa. Satu diantaranya menyerupai sebuah tugu. Dialasnya terdapat sebuah nisan kecil. “Kenapa nisan itu ada disana?.” bertanya orang yang tertua itu. “Nisan itu nisan seorang bayi yang mati terbakar” jawab Ki Warana. Orang itu mengangguk-angguk. Katanya dengan pasti ”Aku akan berbicara dengan Kiai Banyu Bening.” Ki Warana mengerutkan dahinya. Katanya ”Apakah kalian mempunyai kepentingan dengan Kiai Banyu Bening?” “Ya, Ki Sanak.” jawab orang itu. “Persoalan apakah yang kalian bawa?” “Aku akan menyampaikannya sendiri.”  “Tetapi setiap orang yang datang untuk menemuinya harus memastikan, persoalan apakah yang akan dibicarakannya. Jika aku menyampaikan niat kalian menemuinya tanpa menyebutkan persoalan yang kalian bawa, maka Kiai Banyu Bening tidak akan menemui kalian.” Orang itu menjadi ragu-ragu. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka katanya ”Baiklah Ki Sanak. Jika hal itu menjadi syarat untuk dapat bertemu dengan Kiai Banyu Bening,” orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya kemudian ”Kami datang untuk berbicara tentang nisan kecil itu.” Ki Warana mengerutkan dahinya. Katanya ”Tentang nisan kecil itu? Ada apa dengan nisan itu. Nisan itu adalah nisan anak Kiai Banyu Bening yang terbunuh didalam api, ketika api itu membakar rumahnya.” “Benar.” orang itu mengangguk-angguk. Ia menjadi yakin, bahwa ia telah datang ketempat yang benar. Sementara itu, orang itu berkata selanjutnya ”persoalan itulah yang akan aku bicarakan dengan Kiai Banyu Bening.” ”Ki Sanak. Jangan mengganggu ketenangan Kiai Banyu Bening. Sejak lama ia berusaha melupakan persoalan yang terjadi pada anaknya itu. Jika Ki Sanak membicarakannya lagi, maka hatinya yang luka itu akan berdarah kembali.” “Aku tidak dapat berbuat lain, Ki Sanak” jawab orang itu. Bahkan kemudian katanya ”Bukankah nisan itu selalu mengingatkannya kepada anaknya itu?” “Tetapi tugu batu itu merupakan tempat yang sangat berarti baginya. Tempat itu merupakan sumber kekuatan dan ilmu Kiai Banyu Bening.” “Sudahlah Ki Sanak” berkata orang tertua itu ”aku ingin berbicara dengan Kiai Banyu Bening. Persoalan ini hanya diketahui oleh Kiai Banyu Bening. Setelah bertahun-tahun  kami mencarinya, maka kini kami sudah menemukannya disini.” “Apakah kau pernah bertemu dengan Kiai Banyu Bening?” bertanya Ki Warana tiba-tiba. Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orangorang yang duduk di sekitamya. Dengan ragu-ragu ia berkata ”Sudah Ki Sanak. Tentu sudah.” Tetapi Ki Warana itu pun berkata ”Jika sudah, kenapa kau tidak tahu, bahwa Kiai Banyu Bening duduk diantara kita sekarang ini?”

JILID 6
KEDUA orang itu terkejut. Mereka saling berpandangan sejenak, sementara Ki Warana berkata selanjutnya ”Mungkin kalian pernah melihat sepuluh tahun yang lalu atau bahkan lebih, sehingga kalian tidak dapat mengenalinya lagi. Sepeninggal anak bayinya, perubahan itu terlalu cepat terjadi, sehingga Ki Banyu Bening menjadi cepat nampak tua.” Kedua orang itu nampak ragu-ragu. Sementara itu sambil memandang Ki Ajar Pangukan orang itu berkata ”Apakah kau dapat mengenalinya?” Kedua orang itu memandang Ki Ajar Pangukan dengan penuh keragu-raguan. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan sendiri agak terkejut mendengar pernyataan Ki Warana itu. Tetapi Ki Ajar Pangukan tidak dapat mengelak dari permainan itu. Karena itu maka iapun kemudian berkata ”Ki Sanak. Jika kalian pernah mengenal aku sebelumnya, tolong beritahu aku, siapakah kalian. Aku sudah menjadi pikun sekarang. Banyak sekali hal yang telah aku lupakan. Aku juga sudah tidak lagi dapat mengenali orang-orang yang pernah tidur dan makan bersama. Sejak anakku meninggal didalam api, segala-galanya seakan-akan telah larut dari duniaku. Yang aku ingat hanyalah tugu dan batu nisan kecil itu serta tulang-tulang yang hangus yang ada dida-lamnya.” Yang tertua diantara kedua orang itupun kemudian berkata sambil menarik nafas dalam-dalam ”Kiai Banyu Banyu Bening. Kami mohon maaf, bahwa kami mengaku telah mengenal Kiai. Sebenarnyalah kami memang belum pernah mengenal. Yang kami ketahui adalah sekedar ancar-ancar. Ternyata Kiai ………… (teks engga terbaca)  Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya ”Bagiku, apakah kalian pernah mengenal aku atau tidak, sama sekali tidak ada bedanya. Seandainya kita pernah berhubungan, maka aku tidak akan pernah ingat, siapakah kalian.” “Kenapa Kiai cepat menjadi pikun?” bertanya yang termuda diantara kedua orang itu. Ki Ajar Pangukan menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Aku tidak tahu. Tetapi sepeninggal anakku, rasa-rasanya masa laluku ikut hilang pula terkubur dibawah batu nisan kecil itu.” “Kiai sangat menyesal atas kematian anak Kiai itu?” Wajah Ki Ajar Pangukan menjadi tegang. Dengan lantang ia berkata ”Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau telah menyinggung perasaanku. Ingat, meskipun aku pikun, tetapi aku masih tetap menguasai ilmuku dengan baik. Selama tugu dan nisan itu ada disitu, maka ilmuku tidak akan pudar. Aku tinggal memerlukan beberapa hari lagi untuk mencapai puncak kejayaan ilmuku. Setelah itu, maka apapun yang terjadi, bahkan seandainya gempa mengguncang dan membuat tanah ini menganga sehingga tugu dan nisan itu tenggelam, maka ilmuku sudah tidak akan mungkin goyah lagi.” Kedua orang itu mengangguk-angguk. Sementara itu, Ki Ajar Pangukan itupun bertanya ”Nah, sekarang katakan, untuk apa kalian datang kemari?” “Kiai” berkata yang tertua diantara keduanya ”Kami datang untuk menyampaikan pesan dari pemimpin kami.” “Siapa? Apakah aku pernah mengenalnya dahulu?” “Tentu, Kiai. Kiai pernah mengenalnya dahulu. Aku tidak tahu, apakah kiai masih dapat mengingatnya atau tidak.”  “Sudah aku katakan. Masa laluku sudah terkubur bersama tulang-tulang yang hangus dibawah nisan kecil itu. Semuanya gelap sama sekali. Tetapi katakan, barangkali aku dapat mengingatnya.” ”Kiai tentu ingat. Pemimpin kami adalah Kiai Narawangsa.” “Narawangsa. Narawangsa. Aku pernah mendengar nama itu.” “Bukan hanya pernah mendengar tetapi Kiai tentu akan teringat kepada orang itu.” Ki Ajar Pangukan memandang Ki Warana sejenak, seakanakan ingin menuntutnya, bahwa ia sudah menjerumuskannya kedalam kesulitan. Namun Ki Warana lah yang kemudian menyahut ”Kiai. Mungkin Kiai telah melupakannya. Tetapi Kiai pernah berceritera kepadaku dahulu, bahwa orang yang bernama Kiai Narawangsa itu adalah orang yang pernah berhubungan dengan isteri Kiai. Perkelahian antara Kiai dan Kiai Narawangsa itulah, ini menurut ceritera Kiai yang pernah aku dengar, menyebabkan rumah Kiai terbakar. Kiai sempat menghindari api, sementara Kiai Narawangsa dan isteri Kiai melarikan diri. Tetapi bayi itu tertinggal didalam api.” “O” Ki Ajar Pangukan menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Katanya “Ya. Narawangsa. Orang gila itu.” Ki Pandi lah yang harus menahan tertawa yang seakanakan hendak meledak didalam dadanya. Untunglah bahwa ia mampu melarutkan diri kedalam permainan itu. “Terkutuklah orang itu” desis Ki Ajar Pangukan ”meskipun aku sudah pikun, aku tidak dapat melupakan nama itu. Tetapi aku tidak yakin bahwa aku masih dapat mengenali wajahnya.”  “Kiai Narawangsa mudah sekati dikenal, Kiai. Tubuhnya seperti raksasa. Kiai ingat? Ia tidak pernah mengenakan ikat kepala sewajarnya. Ikat kepalanya lebih banyak disangkutkan di lehernya daripada dipakai di kepalanya. Di wajahnya terdapat cacat karena goresan pedang.” “Aku ingat itu. Tetapi wajahnya tidak cacat pada waktu itu.” “Kiai benar” jawab yang tertua diantara kedua orang itu ”tentu Kiai tidak pernah melihat wajahnya terluka, karena luka itu terjadi pada saat Kiai Narawangsa bertempur melawan Kiai Banyu Bening saat itu. Saat api menyala dan menelan rumah beserta bayi itu.” “Kenapa aku tidak mengoyak lehernya pada waktu itu.” desis Ki Ajar Pangukan. “Ternyata usia Kiai Narawangsa masih panjang.” “Terkutuklah orang itu. Terkutuklah orang itu” berkata Ki Ajar Pangukan dengan lantang. Ki Pandi yang mendengarnya bergeser ke samping. Kemudian duduk dengan kepala menunduk sehingga dahinya hampir menyentuh tikar pandan tempatnya duduk. Ki Pandi tidak ingin wajahnya dilihat oleh kedua orang tamu yang telah dikelabui oleh Ki Warangka itu.. Dengan lantang Ki Ajar Pangukan itupun kemudian bertanya ”Sekarang, apa yang ingin kalian katakan kepadaku. Nama itu telah membuat darahku mendidih. Sebelum aku berbuat sesuatu diluar kendali nalarku. Katakan apa yang harus kalian katakan.” “Kiai” nampaknya kedua orang itu terpengaruh melihat sikap Ki Ajar Pangukan ”kami hanyalah sekedar utusan. Jika  tidak berkenan di hati Kiai, janganlah menjadi murka kepada kami.” “Katakan” geram Ki Ajar Pangukan. “Kiai” desis yang tertua diantara mereka ”Kiai Narawangsa ingin minta agar Kiai memberinya kesempatan untuk merawat dan memakamkan kembali bayi itu dengan upacara khusus.” “Gila” suara Ki Ajar Pangukan menggelegar, sehingga kedua orang itu mundur setapak ”kau menghina aku, he?” “Bukan kami Kiai, Bukan kami.” ”Mulutmulah yang mengucapkannya.” “Tetapi kami adalah sekedar utusan.” “Katakan” suara Ki Ajar Pangukan menurun. “Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari...........” “Jangan sebut nama Nyai Banyu Bening itu. Kiai Banyu Bening tidak mau mendengar lagi nama isterinya.” potong Ki Warana. “Terkutuklah semuanya, terkutuklah.” geram Ki Ajar Pangukan. Sebenarnya ia bingung mendengar nama Nyai Wiji Sari. Tetapi Ki Warana pun tangkas berpikir sehingga ia telah memberi tahukan kepada Ki Ajar Pangukan, siapakah Nyai Wiji Sari itu. “Ampun, Kiai.” desis yang tertua. “Katakan” desis Ki Ajar Pangukan ”tetapi jangan sebut nama itu. Aku telah mengutuk diriku sendiri. Jika aku melupakan masa laluku, kenapa nama itu tidak pernah dapat aku lupakan.”  “Baik, baik, Kiai.” sahut yang tertua itu ”sebenarnyalah mereka berdua ingin memakamkan kembali di halaman ini pula dan untuk selanjutnya ingin merawatnya.” “He, kau sadar apa yang kau katakan?” “Bukan aku, Kiai. Tetapi aku sekedar menyampaikan pesan Kiai Narawangsa.” “Katakan, katakan” Ki Ajar Pangukan hampir berteriak. “Keduanya ingin tinggal di padepokan ini untuk menunggui dan merawat makam bayi itu. Sementara itu mereka mohon Kiai Banyu Bening dan para cantrik yang ada disini untuk meninggalkan padepokan ini,” Mata Ki Ajar Pangukan terbelalak. Dari sorot matanya memancar api kemerahan. Dengan suara lantang Ki Ajar Pangukan itu berkata ”pergi. Pergi. Jika kalian tidak segera pergi, aku pancung kau dibawah tugu dan batu nisan itu.” “Bukan kehendak kami, Kiai.” “Pergi, kau dengar” bentak Ki Ajar Pangukan. Lalu katanya kepada Ki Warana ”antar kedua orang ini keluar dari padepokan.” Ki Waranapun segera bangkit dan berkata ”Marilah Ki Sanak. Cepatlah sedikit.” Kedua orang itupun kemudian bangkit pula sambil berdesis ”Kami mohon diri, Kiai.” “Cepat pergi. Kalian telah menyakiti mataku, telingaku dan hatiku.” “Cepat sedikit,” desis Ki Warana, “ jika darahnya naik sampai ke kepala, hati-hatilah kalian tak akan pernah keluar dari padepokan ini.”  Kedua orang iiu tiba-tiba saja kehilangan segala kegarangan dan keberanian mereka. Keduanya pun melangkah dengan cepat melintasi halaman diantar oleh Ki Warana. Para cantrik yang berada diregol pun telah membuka selarak pintu regol itu dan membukanya. Demikian keduanya keluar dari regol halaman, Ki Warangka pun berkata ”Itulah sosok orang yang kalian cari Ki Sanak. Kalian harus dapat menempatkan diri kalian, jika kalian menyampaikan jawaban Kiai Banyu Bening agar pemimpin kalian tidak terbakar hatinya.” Ketika kedua orang itu merasa sudah berada diluar padepokan, maka keberanian mereka telah menyala kembali didalam dada mereka, sehingga yang muda diantara merekapun menjawab ”Kami tidak akan mengulas keterangan Kiai Banyu Bening, Ki Sanak. Kami justru akan membakar hati Kiai Narawangsa. Dengan demikian padepokan inipun akan terbakar habis menjadi abu sebagaimana rumah Nyai Wiji Sari serta anaknya. Kau jangan mengira bahwa Nyai Wiji Sari tidak tersiksa oleh kematian anaknya itu.” “Tetapi ia tidak menjadi gila seperti Kiai Banyu Bening. Jika kau sempat mendatangi padukuhan-padukuhan, maka di padukuhan-padukuhan itu telah dibangun sanggar-sanggar khusus untuk menyerahkan korban. Mula-mula hanya buahbuahan. Kemudian anak seekor binatang yang dipersembahkan hidup-hidup, dibakar diatas lantai yang khusus dibuat untuk itu. Pada saat terakhir, Kiai Banyu Bening telah memerintahkan, yang dipersembahkan adalah bayi-bayi yang masih hidup untuk dibakar. Kiai Banyu Bening akan mendapat kepuasan batin tertinggi jika ia mendengar jerit bayi yang terbakar itu. Dendamnya karena kematian bayinya telah menjadikannya gila.”  Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia berkata ”Jadi korban yang dituntut oleh Kiai Banyu Bening itu membakar bayi hidup-hidup.” “Ya.” Keduanya saling berpandangan sejenak. Namun kemudian iapun berkata ”Semuanya akan kami katakan kepada Kiai Narawangsa. Tetapi kau harus mengatakannya kepada Kiai Banyu Bening, bahwa Kiai Narawangsa adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Demikian pula isterinya, Nyai Wiji Sari. Karena itu, jika keduanya datang kemari dan memaksakan kehendaknya, maka itu akan menjadi pertanda buruk bagi Kiai Banyu Bening.” “Terserah kepadamu. Apakah kau akan berusaha mencegah pemimpinmu agar tidak datang kemari atau tidak. Jika kau tidak mencegahnya dengan cara apapun juga, maka sepanjang hidupmu, kau akan dibebani penyesalan, karena keduanya akan mati disini.” Yang termuda diantara keduanya itu menyahut ”Jangan berusaha menakut-nakuti kami. Kami bukan pengecut.” “Baiklah. Datanglah kemari. Bawa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Kami akan segera menyiapkan batu nisan bagi mereka berdua. Mayat mereka akan dikubur disebelahmenyebelah tugu itu, karena didunia langgeng, mereka akan menjadi hamba dari bayi yang meninggal karena terbakar itu.” “Impian gila.” geram yang muda. Namun Ki Warana malah berkata ”Tetapi kematian yang paling buruk yang dapat terjadi atas Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari adalah, bahwa keduanya juga akan menjadi persembahan yang akan dibakar hidup-hidup.”  “Satu gagasan yang baik” geram yang tertua ”Kiai Narawangsa akan memperlakukan Kiai Banyu Bening seperti itu.” Ki Warana tertawa. Katanya ”Pulanglah sebelum Kiai Banyu Bening memerintahkan para cantrik menangkapmu dan menyeretmu kembali ke pendapa. Kalian tentu melihat tonggak besi yang sudah menjadi hitam di sebelah pendapa itu. Kalian tentu dapat membayangkan gunanya.” Keduanya pun kemudian meninggalkan padepokan itu. Disepanjang jalan mereka masih saja berbincang tentang orang-orang padepokan itu. Namun mereka pun mengakui, betapa besarnya wibawa Kiai Banyu Bening, sehingga dihadapannya, keduanya seakanakan telah dihadapkan pada sebuah pengadilan yang sedang mengadili mereka. “Kiai Narawangsa akan membuat Kiai Banyu Bening itu menundukkan kepalanya” berkata yang tertua diantara keduanya. Yang muda itupun mengangguk-angguk sambil berkata ”aku tidak mengira, bahwa Kiai Banyu Bening adalah seorang yang luar biasa. Gambaranku tentang Kiai Banyu Bening sebagaimana sering aku dengar dari pembicaraan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sama sekali berbeda. Aku tidak membayangkan bahwa Kiai Banyu Bening itu mempunyai wibawa yang begitu tinggi.” “Apa yang dikatakan oleh Kiai Narawangsa itu adalah Kiai Banyu Bening dimasa lampau. Demikian ia kehilangan anaknya, maka Kiai Banyu Bening nampaknya telah menghabiskan waktunya untuk memperdalam ilmunya, sehingga ia hampir lupa segala-galanya.”  Kawannya mengangguk-angguk. Bagaimana pun juga, diluar sadar, setiap kali mereka mengatakan bahwa Kiai Banyu Bening adalah seseorang yang mumpuni. Dalam pada itu, ketika kedua orang itu melangkah pergi, maka Ki Warana pun segera kembali ke pendapa. Ia termangu-mangu sejenak, melihat Ki Pandi tertawa. Bahkan kemudian katanya ”Perutku terasa sakit karena aku harus menahan tertawa. Tetapi Ki Ajar Pangukan benar-benar seorang yang mampu mengelabuhi orang lain. Ki Ajar benarbenar mampu menjadi Kiai Banyu Bening.” Ki Warana pun tertawa pula. Namun Ki Ajar itupun berkata ”Ki Warana mengejutkan aku. Tiba-tiba saja sebelum kita berbicara lebih dahulu, aku ditunjuknya langsung menjadi Kiai Banyu Bening.” “Aku sudah tidak mempunyai waktu lagi” berkata Ki Warana. “Tetapi apakah keberatannya jika kita katakan berterus-- terang tentang padepokan ini.” “Aku kira apapun alasannya, namun agaknya mereka akan tetap menuntut tanah ini, tanah yang diatasnya terdapat sebuah padepokan yang sudah berada di tangan kita.” “Jika tanah dan padepokan ini bukan lagi milik Kiai Banyu Bening, apakah mereka juga akan menuntut? Sedangkan sebelumnya kita tidak saling mengenal dengan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.” desis Ki Ajar Pangukan. “Kita masih belum tahu benar, apakah yang sebenarnya mereka kehendaki. Apakah Nyai Wiji Sari dengan jujur ingin mendapatkan kembali anaknya yang telah lama meninggal atau alasan-alasan lainnya. Karena itu, selagi Ki Ajar, Ki Pandi  dan yang lain ada disini, biarlah persoalannya diselesaikan dengan tuntas.” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Ia mengerti kecemasan yang mencengkam jantung Ki Warana yang merasa bahwa ilmunya masih belum memadai. Karena itu, maka Ki Warana memerlukan perlindungan dari beberapa orang yang berilmu tinggi. Namun dalam pada itu, maka Ki Ajar Pangukan itupun berkata ”Ki Warana, dengan pengakuan ini, maka kemungkinan terbesar, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu akan datang ke padepokan ini. Karena itu, maka Ki Warana sebaiknya mempersiapkan orang-orang yang kini masih berada di padepokan ini. Kekuatan padepokan ini telah menyusut jauh dibandingkan pada saat Kiai Banyu Bening masih berada di padepokan ini.” “Benar Ki Ajar. Tetapi yang tinggal sekarang adalah orangorang yang lebih mapan.Mereka mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas diri mereka disaat Kiai Banyu Bening masih memimpin padepokan ini. Sedangkan sekarang mereka berada disini karena satu keyakinan yang lebih dewasa.” Ki Ajar Pangukan itupun berkata ”Baiklah. Kita akan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kiai Narawangsa. Tetapi kita tidak boleh sekedar berpangku tangan.” Demikianlah, maka Ki Ajar Pangukan pun telah memanggil beberapa orang tua yang ada di padepokan itu. Dengan singkat Ki Ajar telah menceriterakan apa yang telah dibicarakan dengan kedua orang yang mengaku utusan Kiai Narawangsa dan Nyai Wijisari. “Seharusnys Ki Lemah Teles lah yang harus mengaku sebagai Kiai Banyu Bening” berkata Ki Ajar Pangukan.  “Kenapa aku?” bertanya Ki Lemah Teles. “Bukankah kita sudah sepakat, bahwa Ki Lemah Teles akan berada di padepokan ini untuk seterusnya?” Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata ”Tetapi biarlah kali ini Ki Ajar Pangukan yang akan berperan sebagai Kiai Banyu Bening.” Ki Pandi pun tertawa sambil berkata ”Ki Ajar telah memainkan peranannya dengan baik sekali. Tetapi jika Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari yang datang kemari, maka mereka akan merasa bahwa mereka telah dikelabui oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.” Dengan demikian, maka orang-orang tua itu berpendapat, bahwa padepokan itu harus mempersiapkan diri menghadapi orang yang menyebut dirinya Kiai Narawangsa dan Nyai Wijisari, yang telah bertahun-tahun mencari orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu. Dalam pada itu, Ki Ajar Pangukan pun berkata kepada Ki Warana ”Aku memerlukan pengenalan lebih jauh tentang pribadi Kiai Banyu Bening serta kehidupan yang mengelilinginya.” “Sejauh aku ketahui, Ki Ajar” jawab Ki Warana. “Tetapi darimana Ki Warana mengetahui kehidupan Kiai Banyu Bening yang tidak bening itu?” bertanya Ki Pandi. “Kiai Banyu Bening memang sering berbicara tentang dirinya. Jika ia mulai dibayangi oleh kehidupan masa lampaunya, maka ia memerlukan seseorang yang mau mendengarkan ceriteranya. Bukan hanya aku yang pernah mendengarnya, tetapi beberapa orang yang lainpun pernah mendengarnya. Ceritera-ceritera itulah yang membuat aku  semakin lama semakin ragu akan kepemimpinannya. Aku memang mendengar dan merasakan, bahwa apa yang dilakukannya itu tidak lebih dari ungkapan dendam yang mencengkam hatinya.” “Baiklah” berkata Ki Ajar ”kita tidak boleh membuang waktu. Kita siapkan apa yang ada untuk mempertahankan tanah dan padepokan ini dari siapapun juga.” Ki Warana pun kemudian telah menemui beberapa orang pemimpin kelompok di padepokannya. Mereka mendapat penjelasan tentang kemungkinan yang dapat terjadi atas padepokan itu. “Kita belum sempat menyusun padepokan ini dan membuat tatanan baru yang lebih baik, kita sudah dihadapkan pada satu persoalan baru yang lebih baik, kita sudah dihadapkan pada satu persoalan baru. Tetapi kita harus tegar menghadapinya. Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu masih tetap berada disini.Mereka bukan saja akan membimbing kita untuk mempertahankan padepokan ini, tetapi merekapun akan dapat membimbing kita menempuh jalan kehidupan yang baru. Kita akan lebih mengenali diri kita dan mengenali sumber hidup kita.” Para pemimpin kelompok orang-orang padepokan yang semula adalah pengikut Kiai Banyu Bening itu menganggukangguk. Mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan mendatang. Namun dalam pada itu, niat orang-orang tua yang berada di padepokan itu membongkar tugu dan menempatkan nisan kecil itu ke tempat yang lebih wajar, terpaksa.ditunda. Meskipun keberadaan tugu itu tidak lagi mempunyai arti sebagaimana - sebelumnya, tetapi mereka menunggu apa  yang akan dilakukan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari dengan anaknya yang telah meninggal itu. Seperti yang dikehendaki oleh Ki Warana, maka orangorang yang berada di padepokan itupun telah mulai mempersiapkan diri. Mereka telah memperbaiki panggunganpanggungan yang telah rusak di belakang dinding padepokan. Mereka pun telah mulai berlatih pula dengan sebaik-baiknya. Bahkan orang-orang tua yang berilmu tinggi, telah ikut terjun langsung didalamnya. Namun orang-orang tua yang berilmu tinggi itu mempunyai cara tersendiri. Disamping memberikan latihan-latihan kepada semua orang yang ada di padepokan, mereka telah memilih beberapa orang untuk mendapat latihanlatihan khusus. Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu masing-masing memilih ampat atau lima orang untuk ditempa menjadi orangorang terbaik di padepokan itu. Dalam benturan kekuatan mereka akan menjadi kekuatan yang harus mampu menembus pertahanan lawan dan mengoyaknya.  Sementara itu, Manggada dan Laksanapun mempunyai kawan-kawan berlatih yang khusus pula. Kelebihan Manggada dan Laksana mampu mengangkat orang-orang yang mereka pilih ke tataran yang lebih tinggi. Kedua orang anak muda itu telah mempergunakan waktu sebaik-baiknya, karena mereka mengetahui bahwa waktu memang sangat sempit. Meskipun demikian, Manggada dan Laksana sendiri tidak mengabaikan latihan-latihan untuk meningkatkan diri mereka sendiri. Dengan alat-alat yang ada di dalam sanggar di padepokan itu, keduanya dengan sungguh-sungguh telah menempa diri mereka sendiri pula. Ternyata usaha itu tidak sia-sia. Ampat atau lima orang yang ditangani langsung oleh orang-orang berilmu tinggi itu telah meningkat lebih cepat. Ki Warana sendiri telah bekerja dengan tanpa mengenal lelah untuk menyadap ilmu kanuragan. Ia merasa masih jauh ketinggalan sehingga untuk mencapai tataran yang lebih baik, maka ia harus berbuat sejauh dapat dilakukannya. Sementara itu; Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari selalu menunggu laporan dari orang-orang yang diperintahkannya mencari dan menemui Kiai Banyu Bening. Dua orang yang datang ke padepokan yang semula memang dihuni oleh Kiai Banyu Bening itu telah meninggalkan lereng Gunung Lawu bersama sekelompok kawan-kawannya. Mereka akan memberikan laporan tentang perjalanan mereka untuk mencari dan menemui Kiai Banyu Bening. Orang itu harus menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai ke sebuah padepokan yang dipimpin oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.  Sekelompok orang itu menyusuri Kali Grompol untuk beberapa lama. Kemudian mereka berbelok meninggalkan Kali Grompol menyilang sampai kesebuah tempuran. Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri Kali Regunung yang panjang. Perjalanan mereka memang bukan perjalanan yang ringan. Mereka sekali-sekali harus menyusup di lebatnya hutan belukar, sekali-sekali mereka harus menembus padang perdu yang panjang. Mereka harus melewati pegunungan gundul dan dibakar teriknya sinar matahari. Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu tidak dapat mencapai padepokan mereka dalam sehari. Mereka harus berhenti dan bermalam diperjalanan. Untuk mendapatkan makan, mereka harus berburu di hutan yang lebat sehingga dengan demikian maka perjalanan mereka menjadi semakin terhambat. Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu maju dengan sangat lamban. Karena itu, untuk mencapai padepokannya, mereka memerlukan waktu yang panjang. Bahkan ternyata mereka masih belum mencapai Kiai Narawangsa yang terletak tidak terlalu jauh dari Kademangan Susukan ditepi Kali Gandu, ketika malam turun di hari kedua. Meskipun mereka tahu, bahwa padpokan mereka sudah tidak terlalu jauh lagi, tetapi mereka tidak melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka, lalui adalah jalan pintas yang rumpil, yang kadang-kadang melewati tebing yang curam, naik lereng bukit-bukit dan menuruni lembah yang ditumbuhi belukar. Karena itu mereka lebih senang memilih untuk bermalam dipadang perdu yang tidak terlalu luas.  Bergantian orang-orang itu berjaga-jaga. Mungkin binatang buas dari hutan yang tidak terlalu jauh dari padang perdu itu sedang kelaparan karena mereka tidak berhasil menangkap kijang. Menjelang matahari terbit, mereka telah melanjutkan perjalanan mereka menuju ke padepokan mereka yang berada di tepi Kali Gandu. Sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu mendekati regol padepokan mereka sebelum matahari mencapai puncak langit. Orang tertua diantara mereka menjadi berdebar-debar. Hampir diluar sadarnya ia bertanya kepada kawan-kawannya, ”Bukankah perjalanan kita ini dapat dikatakan berhasil?” “Ya. Kita sudah berhasil melaksanakan perintah Kiai Narawangsa dengan baik. Kita sudah menemukan padepokan Kiai Banyu Bening. Kita telah menemukan pula makam anak Nyai Wiji Sari. Bukankah menemukan makam itu termasuk salah satu tugas kita yang penting?” “Untunglah bahwa makam kecil itu berada didalam padepokan, sehingga kita tidak harus mencarinya lagi. Bahkan seandainya makam itu tidak berada di padepokan, maka Kiai Banyu Bening tentu tidak akan bersedia memberitahukannya. “Karena itu, kita akan memasuki regol halaman padepokan kita dengan dada tengadah. Kita akan dapat membanggakan diri, bahwa akhirnya kitalah yang berhasil menemukan apa yang dicari Kiai Narawangsa untuk waktu yang lama itu setelah beberapa kali kelompok-kelompok yang lain mengalami kegagalan.” Namun seorang diantara mereka menjawab, ”Meskipun gagal, tetapi kelompok-kelompok yang lain telah  mengumpulkan, banyak keterangan sehingga kita dapat langsung mencari padepokan itu di kaki Gunung Lawu.” Orang tertua yang memimpin sekelompok orang itu memandanginya dengan tajamnya, Namun kemudian iapun berkata, ”Kau pernah ikut-ikut dalam kelompok-kelompok sebelum kita pergi ke Gunung Lawu.” “Ya.” jawab orang itu. Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya ”Kami tidak akan mengingkari petunjuk-petunjuk itu.” Mereka pun kemudian terdiam. Langkah mereka semakin mendekati regol padepokan. Beberapa saat kemudian maka sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu telah berdiri di depan regol. Orang yang tertua diantara mereka, yang memimpin sekelompok orang itu, telah mengetuk pintu regol padepokan. Sejenak kemudian, maka sebuah lubang persegi ampat di pintu padepokan itu terbuka. Nampak sebuah wajah di lubang segi ampat itu memandang ke luar. >> satu kalimat tidak terbaca>> ...yang memimpin kelompok itu. “He, kau kakang” terdengar orang yang menjengukkan wajahnya itu menyahut. “Buka pintunya.” “Baik, baik kakang” jawab orang yang berada didalam. Demikianlah, maka sejenak kemudian pintu regol itupun telah terbuka. Dua orang cantrik berdiri di belakang pintu itu. Dengan wajah yang cerah mereka telah mempersilahkan sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu masuk.  “Kiai ada dirumah?” bertanya orang tertua itu. “Kiai dan Nyai baru saja pergi, kakang. Tetapi tentu tidak lama.” “Kemana?” “Aku tidak tahu. Tetapi mereka akan segera kembali. Mereka hanya membawa dua orang pengiring.” Orang tertua yang memimpin kelompok itu menganggukangguk. Sementara penjaga regol itu berkata ”Sambil menunggu, kakang sempat beristirahat barang sejenak. Mungkin kakang akan mandi dan makan dahulu.” Orang tertua yang memimpin sekelompok orang untuk mencari padepokan Kiai Banyu Bening itu menganggukangguk. Katanya kepada kawan-kawannya yang menyertainya ”Marilah. Kita akan sempat beristirahat. Tetapi kita tidak wajib menceriterakan perjalanan kita sebelum kita memberikan laporan kepada Kiai Narawangsa.” Kawan-kawannya pun mengerti maksud pemimpinnya itu. Karena itu, maka mereka pun harus tetap menyimpan ceritera perjalanan mereka. Kedatangan sekelompok pengikut Kiai Narawangsa itu disambut hangat oleh kawan-kawannya. Namun tidak seorang pun diantara mereka yang mau menceriterakan pengalaman perjalanan mereka. “Kami belum memberikan laporan kepada Kiai Narawangsa” berkata salah seorang diantara mereka. “Apa salahnya? Jika kau centerakan kepada kami, bukankah laporanmu masih utuh?” desak kawannya.  Tetapi orang itu menggeleng. Katanya ”Kiai Narawangsa akan merasa dilampaui jika ia tahu, bahwa aku telah berceritera lebih dahulu tentang perjalanan kami.” Kawannya tidak memaksa. Jika Kiai Narawangsa benarbenar merasa dilampaui sehingga ia menjadi marah, maka persoalannya akan menjadi gawat. Dalam pada itu, sekelompok orang yang baru pulang dari kaki Gunung Lawu itu sempat mandi, makan dan sedikit beristirahat. Ketika matahari menjadi semakin rendah di sisi Barat, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari dan kedua pengiringnya telah kembali ke padepokan. Ketika mereka mendapat laporan tentang sekelompok orang-orangnya yang telah kembali, maka Nyai Wiji Sari dengan tergesa-gesa memerintahkan untuk memanggilnya. Beberapa saat kemudian, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari duduk di pendapa bangunan utama padepokannya dihadap oleh orang-orang yang baru pulang dari Kaki Gunung Lawu itu. “Apakah kalian dapat menemukan padepokan Lembu Wirid yang kemudian bergelar Kiai Banyu Bening itu?” “Ya, Kiai” jawab orang tertua yang memimpin kelompok itu. “Kau bertemu dengan Kiai Banyu Bening itu sendiri?” bertanya Nyai Wiji Sari: “Ya, Nyai.” jawab pemimpin kelompok itu ”dua orang diantara kami telah memasuki padepokan itu dan menemui Kiai Banyu Bening.” “Kau bertanya tentang makam anakku kepada Kiai Banyu Bening itu?” Nyai Wiji Sari agaknya segera ingin mengetahuinya.  “Ya, Nyai.” jawab orang tertua itu. “Apa kata Kiai Banyu Bening?” desak Nyai Wiji Sari. Orang tertua itupun segera menceriterakan kunjungannya di padepokan itu. Diceriterakannya pula, bahwa didepan pendapa bangunan utama padepokan itu terdapat sebuah tugu yang diatasnya terdapat sebuah nisan kecil. Makam anak itu mendapat tempat yang sangat baik didalam padepokan Kiai Banyu Bening. “Tetapi itu tidak lebih dari satu kepura-puraan”geram Nyai Wiji Sari. Orang-orang yang telah pergi ke kaki Gunung Lawu itu termangu-mangu. Mereka melihat bagaimana Kiai Banyu Bening menghormati anaknya yang telah meninggal itu. “Kalian tidak usah heran” berkata Nyai Wiji Sari ”Lembu Wirid memang seoiang pembohong yang tidak ada duanya. Tidak seorangpun dapat membedakan, yang mana yang sebenarnya dan yang mana yang sekedar pura-pura atau sekedar tipuan untuk mengelabui orang lain.” Orang tertua yang memimpin kelompok yang pergi ke kaki Gunung Lawu ifu menarik nafas dalam-dalam. Didalam hatinya ia berkata ”Itulah sebabnya, bahwa tingkah laku Kiai Banyu Bening itu nampak agak aneh. Agaknya ia hanya sekedar berpura-pura melupakan masa lalunya.” “Jadi apa yang akan kita lakukan?” bertanya Kiai Narawangsa.” “Kita datang untuk menemuinya. Aku akan memindahkan makam anakku itu. Aku akan melepaskan anakku dari cengkeraman orang yang tidak tahu diri itu.” “Kematian anakmu itu sudah berlangsung lama sekali.”  “Akhir-akhir ini aku selalu diganggu oleh mimpi-mimpi buruk. Rasa-rasanya anakku itu menangis memanggilku. Ia merasa kesepian dan sendiri. “Apakah kau menganggap banwa mimpimu itu mempunyai arti tertentu?” “Lembu Wirid tentu sudah tidak menghiraukannya lagi. “Bukan mimpi itu yang memberikan isyarat kepadamu. Tetapi karena kau selalu memikirkannya, maka kau mulai dibayangi oleh mimpi-mimpi itu.” “Mungkin sekali'. Tetapi aku ingin mengambilnya dari tangan Kiai Banyu Bening.” “Nyai” berkata orang tertua yang pergi ke kaki Gunung lawu itu ”mungkin aku dapat menceriterakan sesuai dengan keterangan salah seorang murid Kiai Banyu Bening, bahwa Kiai Banyu Bening telah melakukan satu perbuatan yang sangat gila. “Apa yang telah dilakukan?” bertanya Nyai Wiji Sari. Pemimpin kelompok itupun kemudian telah menceriterakan apa yang telah didengarnya dari Ki Warana. Rencana Kiai Banyu Bening untuk menyerahkan korban-korban bayi yang harus dibakar hidup-hidup. “Aku percaya bahwa gagasan seperti itu muncul di kepala Lembu Wirid.” sahut Nyai Wiji Sari ”tetapi itu bukan pertanda bahwa Lembu Wirid mencintai anaknya. Ia sekedar mencari kepuasan justru karena ia mendapat kepuasan ketika ia mendengar anaknya menangis melengking-lengking dipanggang panasnya api.” Orang tertua itu mengerutkan dahinya. Namun Nyai Wiji- Sari itu berkata ”Sudahlah. Aku tidak mau mendengar lagi  ceritera ngeri itu. Yang penting aku akan pergi ke padepokan Banyu Bening untuk mengambil anakku.” “Kenapa kita harus mengambil anakmu dari padepokan itu? Bukankah masih ada cara yang lebih baik?” berkata Kiai Narawangsa. “Cara yang bagaimana?” berkata Nyai Wiji Sari. “Kita tidak usah membawa anakmu, pergi. Tetapi seperti rencana kita semula, kita akan tinggal di kaki Gunung Lawu. Kita ambil padepokan itu dari tangan Banyu Bening.” ”Lalu, bagaimana dengan Banyu Bening itu sendiri?” “Kita akan membunuhnya atau mengusirnya. Bukankah begitu?” Nyai Wiji Sari termangu-mangu sejenak. Ia nampak menjadi ragu-ragu. Sementara Kiai Narawangsa berkata ”Kau" masih merasa sayang, kehilangan Banyu Bening.” Nyai Wiji Saripun berpaling. Nampak kerut yang dalam di dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata ”Kenapa kau bertanya begitu?” “Jadi kenapa kau ragu-ragu membunuhnya?” justru Kiai Narawangsa lah yang bertanya. “Tidak. Aku tidak ragu-ragu.” desisnya. Kiai Narawangsa itulah yang kemudian bertanya kepada pemimpin kelompok itu ”Menurut pendapatmu manakah yang lebih baik. Padukuhan Banyu Bening atau padukuhan kita disini?” Orang itu ragu-ragu sejenak. Katanya ”Padukuhan kita ini adalah padukuhan yang paling menyenangkan. Kita sudah lama tinggal disini.”  “Jawab yang sebenarnya” Kiai Narawangsa itupun membentak ”manakah yang lebih baik? Kita akan memilih, justru karena anak Nyai Wiji Sari itu berada disana.” “Jika aku boleh mengatakan yang sebenarnya, Kiai,” suara pemimpin kelompok itu nampak ragu ”padepokan Kiai Banyu Bening nampaknya lebih besar dari padepokan kita disini. Nampaknya padepokan itu berada diatas tanah yang subur. Sawah yang berada di seputar padepokan itu juga nampak subur. Aku kira sawah itu adalah sawah garapan para cantrik dari padepokan Kiai Banyu Bening. Hasilnya tentu cukup memadai. Tidak terlalu jauh dari padepokan itu masih terbentang hutan kaki pegunungan yang lebat. Padang perdu yang akan dapat menjadi cadangan masa depan. Bahkan padang perdu yang berbatu padas itupun selalu basah, karena ada seribu mata air yang dapat disalurkan dan ditampung menjadi parit-parit yang dapat mengaliri tanah yang luas.” “Kau sempat meneliti keadaan di sekitar padepokan itu?” bertanya Kiai Narawangsa. “Ketika aku berdua memasuki padepokan, maka kawankawan yang lain menunggu di padang yang sempat mendapat perhatian mereka.” Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Katanya kepada Nyai Wiji Sari ”Nah, bukankah menarik untuk berada di padepokan itu? Disini kita tidak dapat berkembang. Meskipun kita tinggal di tepi sungai, namun tanahnya terasa semakin sempit. Kita tidak dapat mendesak orang padukuhan yang memang sudah berdiri dijarak yang jauh. Kita juga tidak dapat menebas hutan menurut keperluan. Kita memang dapat menakut-nakuti orang-orang Susukan. Tetapi dengan demikian, maka kita menjadi orang yang hidup terpencil. Meskipun kita tidak memerlukan mereka, namun ada baiknya  kita dapat berhubungan dengan orang-orang padukuhan sekitar kita. Nyai Wiji Sari pun mengangguk-angguk pula. “Nah, kita akan datang dan menyingkirkan Kiai Banyu Bening. Kita akan berada di satu daerah yang baru dengan harapan-harapan baru.” “Tetapi kita memerlukan persiapan yang baik, Kiai” berkata pemimpin kelompok ”meskipun nampaknya tidak terlalu banyak, tetapi aku melihat kesiagaan yang tinggi dari para cantrik di padepokan Kiai Banyu Bening itu.” “Apakah kau kira selama ini kita tidak menempa diri? He, bagaimana dengan kau sendiri? Apakah kau dibayangi oleh ketakutan untuk mengambil padepokan itu?” “Tidak, Kiai. Bahkan aku telah mengatakannya kepada Kiai Banyu Bening, bahwa Kiai dan Nyai akan datang untuk merawat dan memakamkan kembali anak itu di padepokan itu pula dan mempersilahkan Kiai Banyu Bening untuk pergi.” “Kita akan membunuhnya” geram Kiai Narawangsa. “Aku tidak dapat mengatakannya seperti itu pada waktu aku menghadap Kiai Banyu Bening.” “Aku mengerti” Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Lalu katanya ”Kita akan membuat persiapan sebaik-baiknya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita akan pergi ke lereng Gunung Lawu.” “Kami menempuh perjalanan kembari dari kaki Gunung Lawu dalam dua hari lebih sedikit. Kami bermalam dua malam diperjalanan.” “Apakah perjalanan itu cukup berat?” “Ya, Kiai. Perjalanan yang berat. Apalagi jika kita berangkat dengan seluruh isi padepokan ini.”  “Kita tidak akan berangkat bersama-sama. Kita akan mengirimkan beberapa orang lebih dahulu untuk membuat landasan tidak terlalu jauh dari padepokan itu. Mungkin di pinggir hutan yang dapat memberikan dukungan persediaan makan bagi kita. Tentu ada diantara kita yang memiliki kemampuan berburu. Padukuhan-padukuhan disekitar padepokan itu tentu juga akan dapat menjadi sumber bahan makanan bagi kita.” “Dengan demikian, hubungan yang buruk akan terulang kembali di tempat yang baru itu.” potong Nyai Wiji Sari. “Kita akan dapat menyebut nama Kiai Banyu Bening.” Nyai Wiji Sari mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia pun berkata ”persiapan kita harus meyakinkan. Tetapi yang penting bagiku, aku akan mengambil dan merawat anakku yang selalu hadir didalam mimpi-mimpiku.” Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Katanya ”Aku mengerti.” Beberapa saat kemudian, maka sekelompok orang yang baru datang dari kaki Gunung Lawu itupun diperkenankan untuk beristirahat. Namun Kiai Narawangsa itupun berkata ”Mulai besok kita akan berkemas.” “Aku tidak ingin persiapan kita berkepanjangan” berkata Nyai Wiji Sari ”aku rindukan anak itu.” Perintah untuk mempersiapkan diri itupun kemudian telah sampai ke setiap telinga. Seorang yang rambutnya sudah ubanan berbisik kepada kawannya ”Langkah yang kurang bijaksana. Tempat ini merupakan tempat yang paling baik. Jika kita berada di daerah baru, apakah kita dapat dengan segera mendapatkan lahan yang subur.”  “Kawan-kawan kita sudah sempat melihat-lihat. Tanah di sekitar padepokan di kaki gunung Lawu itu sangat subur. Banyak cadangan tanah yang masih terbuka .” “Kau memang dungu” geram orang yang rambutnya sudah ubanan itu ”bukan lahan yang akan kita tanami padi dan jagung.” “Maksud paman?” “Lahan yang dapat menyediakan uang, emas dan permata. He, bukankah disamping bercocok tanam kita juga selalu menuai benda-benda berharga itu? Kita tinggal mengambilnya dan membawanya ke padepokan.” “O” orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya lagi ”Bukankah dirnana-mana ada orang kaya?” “Sudah, sudah” potong orang yang rambutnya ubanan ”kau memang dungu.” Orang yang berambut ubanan itupun kemudian telah bangkit dan melangkah pergi. Sejak hari berikutnya, maka Kiai Narawangsa telah memerintahkan orang-orangnya untuk berlatih. Disela-sela kerja mereka disawah dan pategalan, mereka telah menyelenggarakan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan mereka lebih dari biasanya. Disamping latihan-latihan yang meningkat, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari juga meningkatkan kegiatan mereka di malam hari. Sebelum mereka meninggalkan padepokan mereka, maka Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari berniat untuk mengurus benda-benda berharga yang ada di daerah jangkauan mereka.  Hampir setiap malam, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah keluar dari padepokan mereka. Sekali-sekali mereka berpacu di bulak-bulak panjang di atas punggung kuda bersama ampat atau lima orang pengikutnya. Tetapi pada kesempatan, lain, mereka berjalan menyusuri pematang dan bahkan padang-padang perdu untuk mengumpulkan bendabenda berharga. Sementara itu di siang hari beberapa orang pengikutnya berkeliaran untuk mencari sasaran serta melihat kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi pada sasaran itu. Dengan demikian, maka pada lingkungan yang terhitung luas di sekitar padepokan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu, keadaannya menjadi semakin memburuk. Seakan-akan tidak ada kekuatan yang dapat membendung perampokanperampokan yang semakin sering terjadi. Padukuhanpadukuhan besar dan kecil selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Gardu-gardu peronda justru menjadi kosong, karena para peronda berapapun jumlahnya tidak akan mampu menghentikan perampokan-perampokan itu. Ketika pada suatu saat, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari menemui sebuah gardu yang ditunggui oleh lima orang peronda. maka nasib kelima orang peronda itu menjadi sangat buruk. Bahkan mereka masih juga sempat mengncam, jika masih ada yang meronda di malam-malam mendatang, maka mereka akan dihabisi. Dengan demikian, maka ketakutan pun semakin tersebar di daerah yang luas di sekitar padepokan itu. Tetapi tidak ada yang mampu mengatasinya. Disamping kegiatan yang meningkat itu, maka latihanlatihan pun berlangsung semakin meningkat. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah menjadi semakin mantap. Daerah  perburuan benda-benda berharga di lingkungan yang terasa menjadi semakin tua itu, telah menjadi semakin kering pula. Sehingga karena itu, maka mereka mengharapkan daerah baru yang masih subur. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari juga memperhitungkan kemungkinan, bahwa daerah di sekitar kaki Gunung Lawu itu juga sudah dikuras habis oleh Kiai Banyu Bening. Namun jika mereka dapat menduduki padepokan Kiai Banyu Bening, maka benda-benda yang tersimpan di padepokan itu akan jatuh ketangan mereka pula. Namun Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari ternyata cukup berhati-hati. Mereka telah mengirimkan beberapa orang untuk mengamati padepokan itu dalam beberapa hari. “Kalian harus mengetahui, seberapa kekuatan yang tersimpan di padepokan itu, sehingga kedatangan kita tidak sekedar menyurukkan kepala kita kedalam api.” Dengan demikian, maka lima orang telah diperintahkan untuk berangkat menuju ke kaki Gunung Lawu. Dua diantara mereka adalah orang-orang yang pernah pergi ke padepokan Kiai Banyu Bening, sementara yang lain adalah urang-orang baru. Diharapkan bahwa orang-orang baru itu akan dapat memberikan pertimbangan yang lebih lengkap setelah mereka melihat padepokan Kiai Banyu Bening dan lingkungan disekitarnya. Kelima orang itu menempuh perjalanan yang jauh. Tetapi perjalanan mereka tidak banyak dibayangi bahaya, karena mereka tidak mempunyai tugas lain kecuali melihat-lihat padepokan di kaki Gunung Lawu itu. Dalam pada itu. orang-orang yang berada di padepokan di kaki Gunung Lawu itu masih saja menempa diri. Mereka  memanfaatkan waktu degan sebaik-baiknya. Mereka yang tidak pergi ke sawah, telah masuk kedalam sanggar. Mungkin sanggar tertutup, mungkin sanggar terbuka. Orang-orang yang umurnya sudah menjelang senja itu dengan tekun membimbing mereka pula. “Apa yang dapat kita lakukan harus kita lakukan pada masa-masa senja ini” berkata Ki A jar Pangukan. Ki Lemah Teles tertawa. Katanya ”Meskipun menjelang senja, kita tetap matahari.” “Ya” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. ”Sinar matahari senja masih dapat membakar langit.” Ki Pandi tertawa pula. Katanya ”Jangan takut kehilangan panas jika api kalian telah menyalakan sebukit karang sehingga membara.” “Tidak cukup” teriak Ki Lemah Teles ”panas cahaya matahari senjamu harus membuat bulan, bintang dan semua langit membara sampai saatnya terbit matahari baru.” Ki Jagaprana tertawa berkepanjangan. Katanya ”Apakah matahari-matahari kini pandai bermimpi.” “Bukan mimpi” teriak Ki Lemah Teles ”apimu lah yang akan segera padam didalam mimpi burukmu.” “Kau akan menantang berperang tanding?” bertanya Ki Pandi. “Bongkok edan” geram Ki Lemah Teles. Mereka pun tertawa. Sementara Ki Lemah Teles melangkah meninggalkan mereka. Tetapi langkahnya terhenti ketika Ki Pandi berkata ”He, kau akan kemana? Berilah perintah-perintah. Kau sekarang memimpin padepokan ini bersama Ki Warana.”  “Perintah apa yang dapat aku berikan kepada matahari yang mulai redup sebelum senja?” Ki Lemah Teles tidak menghiraukan orang-orang tua itu tertawa berkepanjangan. Ki Warana menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin dapat berbuat sebagaimana orang-orang tua itu. Sempat tertawa dan memandang kehidupan tanpa dibebani oleh berbagai macam persoalan yang menekan. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia harus bekerja keras untuk menyusun kembali tatanan kerja dan hubungan di padepokan itu. Dari hari ke hari, kesibukan di padepokan itu menjadi semakin meningkat. Beberapa orang anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu justru menyatakan diri untuk ikut menimba ilmu di padepokan itu. Mereka dan orang-orang tua mereka kemudian mengetahui, bahwa telah terjadi perubahan yang mendasar di padepokan itu. Ki Warana telah menyatakan, bahwa snggar-sanggar yang dapat di padukuhan-padukuhan tidak mempunyai arti lagi. “Jika sanggar itu ingin tetap ada di padukuhan, maka gunanya sudah berbeda sama sekali.” Perubahan-perubahan yang meyakinkan itulah, yang membuat orang-orang padukuhan mempercayakan beberapa orang anak muda mereka menyatakan diri untuk tinggal di padepokan. Mereka bukan saja ingin mendapatkan tuntunan dalam olah kanuragan. Tetapi di padepokan mereka juga ingin menyadap pengetahuan tentang bercocok tanam, berternak dan mengenali musim. Mereka juga ingin dapat membaca hurufhuruf serta menangkap maksudnya.  Tetapi Ki Warana telah memberitahukan kepada mereka dan orang tua mereka, bahwa, padepokan itu masih berada dalam keadaan bahaya. “Aku tidak ingin mereka terbakar dalam api permusuhan begitu mereka memasuki padepokan kami,” berkata Ki Warana kepada anak-anak muda itu serta orang tua mereka. Beberapa orang memang menjadi ragu-ragu. Tetapi beberapa orang yang lain berkata ”Kami siap menjalani tugas apapun juga.” Ki Warana justru menjadi terharu. Ia merasakan sambutan yang hangat dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu, setelah berhasil merombak alasnya sampai ke dasar. Ketika hal itu dibicarakannya dengan Ki Lemah Teles, maka Ki Lemah Teles pada dasarnya sejalan dengan pikiran Ki Warana. Sebaiknya anak-anak muda itu tidak memasuki padepokan justru pada saat yang gawat. “Mereka belum mempunyai bekal apa-apa” berkata Ki Lemah Teles. Tetapi ternyata beberapa orang anak muda justru bersedia mengalami akibat apapun. Terutama dari padukuhan terdekat yang telah menjadi landasan perlawanan Ki Warana terhadap Panembahan Lebdagati dan Lembu Palang. “Kami sudah mempunyai pengalaman” berkata beberapa orang anak muda itu. Ki Warana memang tidak dapat menolak mereka. Jika Ki Warana tidak mau menerima mereka, maka akan dapat terjadi salah paham, seakan-akan setelah Ki Warana merebut kembali padepokannya, maka ia telah menolak kehadiran anak-anak muda itu di padepokannya.  “Apa boleh buat” berkata Ki Lemah Teles. ”Mereka memang sudah mempunyai sedikit pengalaman.” “Tetapi dengan demikian, kita tidak akan dapat menolak kehadiran anak-anak muda dari padukuhan yang lain.” Ki Lemah Teles menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Anakanak yang baru sama sekali itu justru akan dapat menjadi beban.” “Tetapi mereka akan menganggap kita menjauhi sebuah padukuhan tetapi mendekati padukuhan yang lain.” “Ki Warana” berkata Ki Lemah Teles ”beri mereka penjelasan sekali lagi, bahwa padepokan ini masih dibayangi oleh pertentangan dan perselisihan. Sehingga dengan demikian kita dapat membagi tanggung-jawab.” Ki Warana menganggukangguk. Katanya ”Baik, Ki Lemah Teles. Aku akan menjelaskan kepada anakanak muda itu serta orang tuanya, bahwa pertentangan dan perselisihan itu akan dapat membuahkan kematian.” Dengan penjelasan itu, memang ada beberapa orang anak muda yang mengurungkan niatnya, tetapi ada pula diantara mereka yang dengan tekad  bulat bergabung dengan para cantrik dari padepokan yang telah memperbaharui pijakannya itu. “Kami akan membuka kesempatan seluas-luasnya setelah keadaan benar-benar menjadi tenang” berkata Ki Warana. Namun mereka yang tidak menunda keinginannya untuk bergabung dengan para cantrik di padepokan itu, Ki Warana telah menaruh perhatian lebih besar daripada para cantrik yang lain. “Kami serahkan mereka kepada kalian berdua ngger” berkata Ki Warana kepada Manggada dan Laksana. “Tetapi apa yang dapat kami berikan kepada mereka?” bertanya Manggada ”pengetahuan dan ilmuku masih terlalu dangkal.” “Tidak. Ilmu dan pengetahuan kalian jauh lebih baik dari ilmu dan pengetahuanku. Karena itu, aku serahkan mereka kepada angger berdua untuk dapat meletakkan dasar-dasar secara umum. Pada perkembangannya nanti, biarlah Ki Lemah Teles yang mengatur mereka.” Manggada dan Laksana tidak dapat menolak. Ketika hal itu dikatakan kepada Ki Pandi, ternyata Ki Pandi sependapat. Katanya ”Kalian tentu dapat melakukannya.” Tetapi Ki Pandi menasehatkan, agar semua latihan dilakukan didalam padepokan. “Mungkin para pengikut Kiai Narawangsa selalu mengamati padepokan ini. Karena itu, maka mereka jangan melihat persiapan-persiapan yang dilakukan di padepokan ini.” Sesuai dengan tugas yang diserahkan kepada Manggada dan Laksana, maka kedua anak muda itupun segera mulai melakukannya. Anak-anak muda yang baru memasuki  padepokan itu mendapat kesempatan terbanyak untuk melakukan latihan-latihan. Mereka tidak segera diserahi tugas untuk ikut memelihara sawah dan pategalan. Yang penting bagi mereka adalah menempa diri dalam olah kanuragan. Apalagi keadaan padepokan yang masih selalu dibayangi oleh perselisihan yang berkepanjangan Setiap hari. Manggada dan Laksana memasuki sanggar terbuka bergantian. Keduanya telah membagi anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu menjadi dua kelompok yang besar. Kemudian kelompok-kelompok itu dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Setiap hari, di dini hari, anak-anak muda itu harus sudah bangun. Setelah berbenah diri. mereka segera memasuki latihan-latihan pagi. Mereka memanasi tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang khusus. Kemudian berlari-lari memutari halaman dan kebun padepokan. Jika kelompok yang dipimpin oleh Manggada berlatih disanggar terbuka, maka Laksana melakukannya di halaman. Demikian sebaliknya. Setelah sepekan mereka melakukan latihan-latihan gerak dasar, maka Manggada dan Laksana mulai mengajari mereka cara memegang berbagai jenis senjata. Mula-mula anak-anak muda itu berlatih memegang tombak dan melakukan gerakgerak dasar. Kemudian mereka mulai berlatih memegang pedang dan perisai. Untuk memburu waktu yang sempit, maka Manggada dan Laksana menekankan kemampuan anak-anak muda yang menjadi penghuni baru dari padepokan itu bermain dengan tombak pendek dan pedang dengan perisainya. “Kalian tidak perlu menjelajahi berbagai macam senjata. Yang penting dalam waktu yang pendek ini kalian mampu mempergunakan tombak pendek dan pedang dengan  perisainya,” berkata Manggada dan Laksana kepada anak-anak muda itu. Namun anak-anak muda itu juga diajarinya mempergunakan tombak pendek dan pedang untuk melawan berbagai macam senjata. Mereka berlatih melawan orang yang bersenjata kapak. Berlatih melawan orang yang mempergunakan trisula, canggah, bindi atau cambuk. Latihan-latihan yang dilakukan oleh para penghuni padepokan itu memang tidak dapat dilihat dari luar. Baik anakanak muda yang baru memasuki padepokan itu, maupun mereka yang sudah berada di padepokan itu sejak padepokan itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Jika ada empat atau lima orang penghuni padepokan itu yang pergi keluar, mereka tentu membawa cangkul atau bajak atau garu dengan sepasang kerbau untuk dipekerjakan di sawah. atau pategalan di seputar padepokan itu. Dalam pada itu, ternyata Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari juga tidak segera mendatangi padepokan yang dipimpin oleh Ki Lemah Teles itu. Kecuali mereka juga ingin mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, mereka masih merasa sayang untuk meninggalkan lingkungannya. Rasarasanya mereka masih memerlukan waktu beberapa lama untuk menguras harta-benda yang ada di lingkungannya yang cukup luas itu. Namun dalam pada itu, orang-orang yang ditugaskan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah berada di kaki. Gunung Lawu. Mereka mencoba mengamati padepokan yang mereka sangka masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening itu. Justru karena mereka menganggap bahwa padepokan itu memang  masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening, maka mereka sama sekali tidak berusaha lagi untuk meyakinkannya lagi. Bahkan kelima orang itu sama sekali tidak mencoba berhubungan dengan orang-orang padukuhan. Jika mereka melakukannya, maka mungkin sekali kedatangan mereka akhirnya diketahui oleh orang-orang padepokan. Karena itu, maka mereka hanya sekedar melakukan pengamatan dari kejauhan. Meskipun kelima orang itu tidak melihat kekuatan padepokan itu yang sebenarnya, tetapi mereka memang melihat kesiagaan yang mantap. Mereka melihat para cantrik yang mengawasi keadaan di sekeliling padepokan dari atas panggung dibelakang dinding. Bahkan mereka juga melihat, dua orang cantrik dengan tombak ditangan mengawal sebuah pedati yang penuh berisi hasil bumi yang dipetik di pategalan. “Ternyata Kiai Banyu Bening adalah seorang yang sangat berhati-hati” berkata salah seorang diantara mereka. Setelah beberapa hari kelima orang itu mengadakan pengamatan, maka mereka mengambil kesimpulan, bahwa padepokan Kiai Banyu Bening adalah padepokan yang cukup tertib. Pemimpin kelompok itu pada hari-hari terakhir dari tugasnya ternyata atas gagasan sendiri ingin memasuki padepokan Kiai Banyu Bening itu. “Apakah tidak akan membahayakan jiwa kita?” bertanya salah seorang dari mereka. “Mungkin” jawab pemimpin kelompok itu ”tetapi dengan demikian, aku akan dapat melihat serba sedikit isi dari  padepokan itu untuk menyesuaikan laporan kawan kita terdahulu, yang juga pernah datang menghadap Kiai Banyu Bening.” “Tetapi menurut kawan kita itu, Kiai Banyu Bening adalah seorang yang tidak dapat diduga sifatnya. Namun ia adalah seorang yang mempunyai wibawa yang tinggi.” “Jika aku tidak kembali setelah matahari sampai di puncak, sebaiknya kalian menyingkir dari tempat ini.” berkata pemimpin kelompok itu. “Apa yang akan kau katakan kepada Kiai Banyu Bening?” bertanya seorang kawannya. “Aku akan memberikan peringatan, bahwa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari dalam waktu dekat akan segera datang.” “Hanya itu?” “Ya. Hanya itu. Bukankah ini penting sekali bagi mereka?” “Tetapi apakah hal itu dibenarkan oleh Kiai Narawangsa. Jika karena itu, Kiai Banyu Bening menyingkir, bukankah Kiai Narawangsa terutama, akan menjadi sangat marah, karena ia ingin membunuh saja Kiai Banyu Bening itu?” “Kiai Banyu Bening menurut perhitunganku, tidak akan melarikan diri.” Pemimpin kelompok itu kemudian memutuskan untuk benar-benar pergi ke padepokan. Ia mengajak salah seorang dari kawan-kawannya itu yang pernah datang ke tempat itu sebelumnya, meskipun orang itu juga tidak ikut memasuki padepokan pada waktu itu. Dengan kesadaran yang tinggi atas akibat yang mungkin terjadi atas diri mereka, maka pemimpin kelompok itupun telah pergi ke padepokan bersama dengan seorang kawannya.  Namun bagaimana pun juga orang itu merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Pemimpin kelompok yang orangnya berbeda dengan pemimpin kelompok yang datang terdahulu ke padepokan itu, memang seorang yang berani. Meskipun demikian, ketika ia melangkah menuju ke pintu gerbang, orang itu menjadi berdebar-debar pula. Para petugas yang berada di panggungan di sebelah pintu gerbang itu telah melihat kedatangannya. Karena itu, maka petugas itupun kemudian berteriak bertanya ”He, siapakah kalian dan untuk apa kalian datang kemari.” Pemimpin kelompok itu memandang para petugas diatas panggungan itu. Dengan lantang ia justru bertanya ”Apakah aku harus berteriak pula?” Petugas itu termangu-mangu sejenak. Nampaknya orang yang datang itu bukan orang-orang padukuhan atau orangorang yang telah terbiasa dengan padepokan itu. Karena itu, maka para petugas itupun menjadi lebih berhati-hati. Seorang dari para petugas itupun telah menjawab, ”Ya. Berteriaklah.” “Inikah cara padepokan ini menerima tamu?” “Ya” jawab petugas itu. Pemimpin kelompok nu mulai merasa tersinggung. Tetapi ia harus menahan diri. Dengan lantang pula ia berkata ”Aku ingin menghadap Kiai Banyu Bening.” Petugas itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun berkata ”tunggulah, aku akan melaporkannya. Tetapi kalian harus menjawab, siapakah kalian dan kalian datang dari mana.”  “Aku utusan dari Kiai Narawangsa” jawab orang itu tanpa ragu-ragu. Bahkan ia mengucapkan nama itu dengan kebanggaan yang melonjak didalam dadanya. Menurut pendapatnya, nama Kiai Narawangsa akan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi Kiai Banyu Bening.” Nama itu memang menggetarkan dada petugas di panggungan. Karena itu, salah seorang petugas dipanggungan itu telah turun untuk melaporkan kedatangan utusan Kiai Narawangsa itu. Sementara petugas yang lain masih bertanya ”Kau datang untuk apa?” “Aku akan bertemu dengan Kiai Banyu Bening” “Keperluanmu apa?” bertanya petugas itu pula. “Aku akan menyampaikan sendiri kepada Kiai Banyu Bening.” “Aku tidak tahu, apakah Kiai Banyu Bening dapat menerimamu atau tidak” jawab petugas itu. Ia sudah mengerti, bahwa Ki Ajar Pangukan lah yang telah berperan menjadi Kiai Banyu Bening ketika utusan Kiai Narawangsa yang terdahulu datang ke padepokan itu. Namun orang yang berada di muka regol itu berteriak “Katakan kepada Kiai Banyu Bening bahwa aku utusan Kiai Narawangsa ingin bertemu.” >> teks engga terbaca>> Petugas pinju jaga menemui Ki Warana untuk melaporkan kehadiran dua orang yang mengaku utusan dari Kiai Narawangsa. Ki Warana pun segera menemui Ki Lemah Teles dan Ki Ajar Pangukan untuk minta pertimbangan apakah yang sebaiknya dilakukan terhadap utusan itu.  “Mereka bukan orang-orang yang pernah datang kemari,” berkata Ki Warana, ”para petugas itu tentu masih dapat mengenali kedua orang utusan Kiai Narawangsa yang terdahulu, karena kebetulan waktu itu mereka melihat langsung kedatangan kedua orang utusan itu.” “Katakan, bahwa Kiai Banyu Bening baru beristirahat. Ia tidak dapat menerima kedua utusan itu. Tanyakan saja kepadanya, apakah keperluan mereka datang. Agaknya kita sudah dapat menebak, apa yang akan mereka katakan.” Ki Waranapun mengangguk-angguk. “Temuilah mereka” berkata Ki Ajar Pangukan. Ki Warana lah yang kemudian memerintahkan membuka regol depan setelah memerintahkan para penghuni padepokan yang tidak berkepentingan untuk menyingkir. Demikian pula anak-anak muda yang sedang berlatih bersama Manggada di halaman samping. “Biarlah mereka melihat padepokan ini tidak terlalu ramai.” berkata Ki Warana. Baru kemudian, setelah suasana di padepokan itu nampak lengang seperti yang dikehendaki oleh Ki Warana, para cantrik membuka pintu gerbang padepokan. Sementara itu, kedua orang yang datang dari padepokan Kiai Narawangsa itu sudah menjadi tidak sabar. “Kenapa kalian mempermainkan kami?” bertanya yang tertua diantara kedua orang itu demikian pintu terbuka. Tetapi orang yang membuka pintu itu mengerti, bahwa utusan Kiai Narawangsa itu ingin menggertaknya, sehingga karena itu, maka iapun justru bertanya ”Apakah kami mempermainkan kalian?”  “Kalian sengaja tidak segera membuka pintu dan memaksa kami menunggu di depan regol seperti pengemis yang menunggu belas kasihan.” Jawaban orang yang membuka pintu itu ternyata tidak kalah kerasnya dengan pernyataan kedua orang itu ”Jika kalian memang tidak menunggu belas kasihan, kenapa kalian tidak pergi saja?” Wajah kedua orang itu menjadi merah. Yang tertua diantara mereka berkata ”Aku utusan Kiai Narawangsa. Jika kau menghina aku, sama artinya kau telah menghina Kiai Narawangsa.” Tetapi orang yang membuka pintu itu menjawab ”Padepokan ini adalah padepokan Kiai Banyu Bening. Siapapun yang berhubungan dengan padepokan ini harus tunduk kepada tatanan yang berlaku di sini.” Kemarahan yang memuncak hampir saja membuat kedua orang itu kehilangan kendali. Tetapi mereka sadari, bahwa mereka berdiri didepan regol sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka orang yang tertua itupun berkata ”Sekarang, bawa aku bertemu dengan Kiai Banyu Bening.” Ki Warana yang melihat gelagat yang kurang baik di depan gerbang padepokan itupun telah mendekat. Ki Warana itu mendengar ketika orang yang mengaku utusan Kiai Narawangsa itu minta untuk dibawa menghadap Kiai Banyu Bening. Karena itu, justru Ki Warana lah yang menjawab ”Kiai Banyu Bening sedang beristirahat.”  Kedua orang yang mengaku utusan Kiai Narawangsa itu memandang Ki Warana yang melangkah semakin dekat. Dengan nada tinggi, yang muda diantara kedua orang itu berkata ”Kami utusan Kiai Narawangsa.” “Kenapa Kiai Narawangsa itu tidak datang sendiri?” “Pada saatnya Kiai akan datang. Sekarang, biarlah aku berbicara dengan Kiai Banyu Bening.” “Kiai Banyu Bening baru beristirahat.” “Aku utusan Kiai Narawangsa.” Ki Warana tertawa. Katanya ”Jika Kiai Narawangsa itu datang sekarang, maka Kiai Banyu Bening tentu akan menemuinya. Karena itu pergilah, katakan kepada Kiai Narawangsa, agar ia datang sendiri agar Kiai Banyu Bening bersedia menemuinya.” “Kalian akan menyesal telah mempermainkan utusan Kiai Narawangsa.” “Pergilah. Jika Kiai Narawangsa berkeberatan, kenapa tidak Nyai Wiji Sari saja yang datang kemari? Mungkin Nyai Wiji Sari akan sempat mengenang kembali masa-masa lalunya bersama Kiai Banyu Bening. He, apakah Kiai Narawangsa akan cemburu?” Orang itu menggeram. Tetapi keduanya memang tidak dapat berbuat apa-apa. Jika mereka kehilangan kendali, maka mereka justru akan terjerumus ke tangan orang-orang sepadepokan. Sebenarnyalah mereka datang ke padepokan itu sekedar untuk melihat kesibukan di padepokan itu. Serba sedikit mereka ingin mendapat gambaran, apa yang ada didalam  padepokan itu untuk kemudian disesuaikan dengan laporan pemimpin kelompok yang pernah datang terdahulu. >> teks tidak terbaca>> Dengan nada tinggi, orang yang tertua diantara kedua orang yang mengaku utusan Kiai Narawanmgsa itu berkata ”Ki Sanak. Kalian telah memperlakukan utusan Kiai Narawangsa dengan cara yang tidak baik. Pada suatu saat Kiai Narawangsa akan datang, menghukum kalian dan seisi padepokan ini. Kiai Narawangsa akan datang dengan kekuatan yang tidak akan dapat kalian bendung, melanda padepokan kalian. Tetapi selanjutnya, Kiai Narawangsa tidak akan pernah meninggalkan padepokan ini. Apalagi Nyai Wiji Sari. Ia akan tinggal disini, bersama anaknya yang telah dibunuh oleh ayahnya sendiri. Justru dibakar didalam api.” Ki Warana justru menunjuk pada tugu di depan pendapa bangunan utama dengan batu nisan kecil diatasnya. ”Itulah makam anak Kiai Banyu Bening. Makam itu sangat dihormatinya. Kiai Banyu Bening memang sangat mendendam kepada isterinya yang sudah menyebabkan anaknya terbakar sehingga meninggal.” “Itu salah Kiai Banyu Bening.” “Salah Nyai Wiji Sari.” Orang yang muda masih akan menyahut. Tetapi Ki Warana telah membentaknya ”Jika kau sebut lagi, bahwa Kiai Banyu Bening yang bersalah, maka kalian tidak akan pernah kembali ke padepokan Kiai Narawangsa. Membunuh atau tidak membunuh kalian, bagi kami sama saja. Kami harus mempertahankan padepokan ini dengan ujung senjata. Karena  itu pergilah, sebelum kalian akan dibantai disini. Aku tidak main-main. Aku dapat menjatuhkan perintah itu.” Kedua orang itu memang menjadi cemas. Karena itu, maka yang tertua diantara mereka berkata ”Aku akan pergi sekarang, tetapi dalam waktu dekat aku akan kembali lagi. Kiai Warana memandang orang itu dengan tajamnya. Katanya ”Cepat pergi, sebelum aku melepaskan sekelompok cantrik-cantrik dari padepokan ini untuk membantaimu. Kami sama sekali tidak takut kepada Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.” Kedua orang itupun kemudian beringsut meninggalkan pintu gerbang padepokan itu. Mereka ternyata tidak berhasil menggertak orang-orang padepokan itu. Merekapun tidak berhasil menemui Kiai Banyu Bening. Tetapi mereka sudah berhasil melihat serba sedikit keadaan di dalam padepokan itu. Ketika mereka berkumpul kembali dengan kawankawannya, maka orang itupun berkata ”Kita tidak melihat sesuatu yang pantas dicemaskan di dalam padepokan itu. Meskipun penjagaan di panggungan-panggungan nampaknya sangat ketat, tetapi nampaknya padepokan itu rapuh didalam. Kami tidak melihat sesuatu yang perlu mendapat perhatian khusus.” “Apakah kita akan segera kembali dan memberikan laporan kepada Kiai Narawangsa.” “Ya. Kita akan segera kembali.” Kelima orang itu tidak menunggu hari berikutnya. Di sisa hari itu mereka mulai berangkat menempuh perjalanan jauh. Tetapi seperti saat mereka berangkat, mereka tidak banyak mengalami rintangan diperjalanan pulang.  Dalam pada itu, Nyai Wiji Sari merasa sudah terlalu lama menunggu kesempatan untuk dapat pergi ke kaki Gunung Lawu. Apalagi ketika rasa-rasanya sudah tidak ada lagi rumah yang pantas diketuk pintunya. Ternyata betapa pun kerasnya jalan kehidupan yang di tempuh oleh Nyai Wiji Sari, namun kerinduan yang hampir tidak tertahankan telah mencengkam jantungnya. Namun ia tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa anaknya memang sudah meninggal, terbakar bersama rumahnya dan seisinya. Nyai Wiji Sari memang menganggap bahwa kematian anaknya itu disebabkan oleh kesalahan suaminya. Jika saja waktu itu suaminya tidak cepat dibakar oleh perasaan marahnya, maka persoalannya akan menjadi lain. Meskipun demikian, di hati kecilnya, Nyai Wiji Sari juga melihat bahwa dirinya juga bersalah. Seharusnya ia tidak membawa Narawangsa kerumahnya. Saat itu ia mengira bahwa Lembu Wirid tidak akan pulang sampai matahari terbit. Namun sebelum tengah malam suaminya sudah pulang. Karena suaminya dan Narawangsa memang memiliki ilmu yang tinggi, maka perkelahian diantara mereka tidak dapat dihindari. Nyai Wiji Sari tidak dapat menyesali peristiwa yang telah terjadi itu. Karena bagaimana pun juga ia menyesal, yang terjadi itu memang sudah terjadi. Seakan-akan terbayang kembali, apa yang telah dilakukannya. Ternyata ia telah membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Ketika Narawangsa terdesak, maka ia justru membantu laki-laki itu untuk melawan suaminya.  Ketika rumahnya terbakar, dan jerit tangis anaknya melengking, Wiji Sari tidak tahan mendengarnya, sementara ia tidak lagi dapat menerobos api untuk menolongnya. Namun dalam keadaan yang sangat bingung tangannya telah ditarik oleh Narawangsa karena api telah membakar hampir seluruh bagian rumahnya. Demikian ia bergeser, maka langit-langit pun telah runtuh. Nyai Wiji Sari tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh suaminya. Hampir diluar kesadarannva. Nyai Wiji Sari tidak menolak ketika tangannya ditarik terus menjauhi api yang menjadi semakin gemuruh menelan rumahnya dan isinya, termasuk bayinya. Namun akhirnya Nyai Wiji Sari mengetahui, bahwa dihari berikutnya suaminya telah mengambil tubuh anaknya yang hangus dan dibawanya pergi. Orang-orang yang menyaksikannya tidak dapat berbuat banyak. Menurut keterangan tetangga-tetangganya, Lembu Wirid yang juga mengalami luka bakar itu, sama sekali tidak mau berbicara sepatah kata pun. Baru kemudian, ketika ia memerintahkan beberapa orang anak buahnya menelusuri kepergian Lembu Wirid, maka orang-orangnya itupun menemukan Lembu Wirid itu di kaki Gunung Lawu dan bergelar Kiai Banyu Bening. Namun laporan dari pengikutnya yang telah pergi ke kaki Gunung Lawu yang terdahulu, mengatakan bahwa anaknya yang meninggal itu telah dibuatkan sebuah tugu dan diatasnya diletakkan batu nisan kecil oleh bekas suaminya, Lembu Wirid. Nyai Wiji Sari menarik nafas dalam-dalam. Jika hal itu benar, maka agaknya Lembu Wirid juga merasa getir karena kematian anaknya. Bahkan seperti yang dilaporkan oleh pengikutnya itu, bahwa Kiai Banyu Bening telah membuat satu  upacara yang gila. Upacara dengan mengorbankan bayi yang sebenarnya. “Ia memang, gila” desis Nyai Wiji Sari. Namun setelah peristiwa itu lama sekali terjadi, Nyai Wiji Sari itu dapat melihat dengan lebih baik dari jarak yang cukup jauh. Namun setiap kali terbersit penyesalan didalam hatinya, maka Nyai Wiji Sari tentu menghibur dirinya bahwa peristiwa yang memang akan terjadi itu tentu akan terjadi juga. Dalam pada itu, Kiai Narawangsa yang melihat Nyai Wiji Sari selalu merenung, tidak terlalu sering menegur. Namun beberapa kali ia mengatakan, bahwa mereka akan segera berangkat ke kaki Gunung Lawu untuk melihat dan sekaligus memiliki padepokan tempat anaknya itu dikuburkan. Tetapi Kiai Narawangsa tidak tahu, bahwa yang direnungkan oleh Nyai Wiji Sari tidak sekedar kerinduannya kepada anaknya yang sudah tidak ada serta keinginannya merambah daerah baru. Tetapi peristiwa yang telah terjadi itu justru selalu membayanginya. Hatinya. Lembu Wirid memang seorang yang sering membohonginya. Ia sering berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya. Tetapi bukan seharusnya Wiji Sari itu menyakiti hatinya terlalu dalam. Bahwa ia membawa Narawangsa ke rumahnya itu sama artinya bahwa ia telah menikam punggung Lembu Wirid. Ketika sekelompok orang yang ditugaskan pergi ke kaki Gunung Lawu untuk yang kedua kalinya datang, maka Nyai Wiji Sari pun segera memanggil mereka. Bersama Kiai Narawangsa maka Nyai Wiji Sari telah menerima kelima orang yang baru datang dari kaki Gunung Lawu itu.  “Apa yang kalian lihat dan apa yang telah kalian dengar?” bertanya Kiai Narawangsa. Orang tertua yang memimpin kelompok itu telah memberikan laporan tentang perjalanannya. Iapun telah melaporkan pula, bahwa ia telah melihat keadaan serta isi padepokan itu. “Kau masuk ke padepokan?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Ya Nyai. Meskipun kami berdua waktu itu tidak berhasil menemui Kiai Banyu Bening.” “Kau lihat sebuah tugu yang diatasnya terdapat batu nisan kecil?” bertanya Nyai Wiji Sari pula. “Ya, Nyai. Tugu dan nisan kecil itu masih ada di halaman.” Nyai Wiji Sari menarik nafas dalam-dalam. Setelah kematian bayinya itu, Nyai Wiji Sari tidak lagi mempunyai keturunan. “Kematian anakku itu adalah kutukan bagiku sebagai seorang perempuan” berkata Nyai Wiji Sari didalam hatinya. Namun untuk beberapa lama Nyai Wiji Sari dapat menyembunyikan kegelisahannya itu. Ia telah memasuki satu dunia yang hitam dan gelap. Berkuda di malam hari melalui jalan-jalan panjang, padang-padang rumput dan padang perdu yang luas. Jalan-jalan sempit di pinggir hutan. Sudah berapa kali ujang pedangnya menikam dada orang yang tidak mau menyerahkan harta bendanya. Sudah berapa kali tajam pedangnya menebas leher orang yang mengadakan perlawanan ketika ia merampok bersama Kiai Narawangsa yang kemudian dianggapnya sebagai suaminya. Tetapi bagaimanapun juga hidup tanpa keturunan adalah seperti sebatang pohon yang tidak berbuah. Kering.  Keterangan pemimpin kelompok yang pergi ke kaki Gunung Lawu itu seakan-akan telah mendesak Nyai Wiji sari untuk segera berangkat mengambil padepokan itu. Rasa-rasanya anaknya itu sudah terlalu lama merengek sambil menjulurkan kedua tangannya. “Baik, baik. Aku akan segera datang ngger.” Nyai Wiji Sari berkata didalam hatinya. Keterangan pemimpin kelompok pertama dan kelompok kedua yang hampir bersamaan itu, telah mendorong Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari untuk segera berangkat. Ketika segala persiapan sudah dianggap cukup, maka Kiai Narawangsa telah memerintahkan sekelompok orang untuk pergi mendahului ke kaki Gunung Lawu. Mereka harus membangunkan landasan bagi seluruh kekuatan yang akan pergi dan kemudian mengambil padepokan di kaki Gunung Lawu itu. Tetapi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tidak pergi berdua saja bersama-sama dengan para pengikutnya. Kiai Narawangsa telah mengajak adiknya serta beberapa orang saudara seperguruannya. Dua orang anak adiknya itu, yang seakan-akan telah diangkatnya menjadi anaknya, akan ikut pula bersama mereka. Dua orang anak muda yang telah ditempa dengan keras sehingga keduanya telah menjadi anak muda yang berilmu tinggi. “Gunasraba” berkata Kiai Narawangsa kepada adiknya ”jika aku sudah mendapat daerah baru, maka aku serahkan padepokan ini kepadamu. Karena itu, aku minta bantuanmu untuk menemukan daerah baru itu.” “Kenapa kakang tinggalkan padepokan yang telah mapan ini?”  “Di padepokan yang berada di kaki Gunung Lawu itu terdapat makam anak Nyai Wiji Sari. Ia merindukannya dan ingin selalu dekat dengan anaknya itu.” “Bagaimana dengan pemimpin padepokan itu?” bertanya Gunasraba. “Namanya Kiai Banyu Bening. Ia adalah bekas suami Wiji Sari, yang dahulu namanya Lembu Wirid. Kita harus merebut padepokan itu dan sekaligus membunuhnya.” Gunasraba menganggukangguk. Katanya ”Baik kakang, jika itu yang kau maui. Aku akan mengajak dua orang saudara seperguruanku. Anak-anak dan beberapa orang sahabat dan kepercayaanku. Jika kelak aku memimpin padepokan ini, maka setidak-tidaknya mereka akan dapat menompang tidur dan makan disini disela-sela petualangan mereka.” “Kau sendiri, sudah waktunya untuk menghentikan petualanganmu dan menetap di sebuah padepokan. Nah, sebentar lagi kau akan mendapat kesempatan.”  Gunasraba tertawa. Katanya ”Mudah-mudahan aku kerasan tinggal disatu tempat untuk waktu yang lama.” “Kau harus mencobanya” berkata Kiai Narawangsa. Gunasraba tertawa semakin keras. Katanya ”Padepokan ini akan menjadi sarang serigala yang ganas. Padepokan ini akan menjadi semakin menakutkan.” “Terserah saja kepadamu nanti.” sahut Kiai Narawangsa. Di hari-hari terakhir, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari menjadi semakin sibuk mempersiapkan diri. “Kita tinggal menunggu laporan dari orang-orang yang sedang membuat landasan sebelum kita menyerang padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening itu” berkata Kiai Narawangsa kepada adiknya itu. Nyai Wiji Sari hampir tidak dapat menahan diri lagi untuk menunggu laporan dari sekelompok orang-orangnya yang telah lebih dahulu pergi ke kaki Gunung Lawu. Ia mulai mendesak Kiai Narawangsa untuk berangkat tanpa menunggu lebih lama lagi. “Kita akan dapat berselisih jalan dengan orang yang akan memberikan laporan kepada kita. Selain itu, kita memang memerlukan seseorang yang akan menuntun perjalanan kita agar tidak diketahui lebih dahulu oleh orang-orang Banyu Bening.” Nyai Wiji Sari masih mencoba bersabar untuk beberapa hari. Namun akhirnya orang yang ditunggunya itupun datang juga. Dua orang diantara beberapa orang lebih dahulu. “Kami membuat landasan dipinggir hutan,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.  Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji . Sari mendengarkan laporan kedua orang itu dengan saksama. Bahkan Kiai Narawangsa minta agar adiknya ikut mendengarkannya pula, agar ia dapat memberikah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan. “Ternyata semuanya telah mendukung rencana kita” berkata Kiai Narawangsa ”keadaan padepokan Kiai Banyu Bening itu sendiri akan memberikan kesempatan kepada kita untuk dengan cepat menguasainya.” “Tetapi mereka mengawasi keadaan di seputar padepokan mereka dengan ketat.” berkata salah seorang dari kedua orang itu. “Apa arti pengawasan yang ketat jika keadaan didalam padepokan itu rapuh?” bertanya Kiai Narawangsa. “Kami tidak melihat kekuatan yang akan dapat mencegah kita,” berkata orang itu pula. “Pekan ini kita akan berangkat” berkata Kiai Narawangsa. Lalu katanya kepada adiknya ”Sebagian dari barang-barang kami akan kami tinggal. Pada kesempatan lain, kami akan mengambilnya.” Gunasraba mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Sementara kita pergi, biarlah dua orang kepercayaanku menunggui padepokan ini. Mereka akan dapat mencari kawan yang akan dapat dipercaya pula.” “Baiklah” berkata Kiai Narawangsa ”dengan demikian, maka segala persiapan sudah selesai.” “Semuanya tinggal menunggu perintah kakang.” “Aku ingin berbicara dengan kedua orang anakmu” berkata Kiai Narawangsa.  Dua orang anak muda yang bertubuh tegar telah menemui Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Dengan nada berat Kiai Narawangsa itupun berkata ”Aku dan ibumu ingin mengajakmu bertamasya ke kaki Gunung Lawu.” “Kami sudah menunggu, kapan kita akan berangkat?” “Aku juga sudah hampir tidak tahan” berkata Nyai Wiji Sari. “Tetapi aku ingin berpesan kepada kalian, bahwa kita akan memasuki daerah berbahaya di kaki Gunung Lawu itu.” Kedua orang anak muda itu tertawa. Parung Landung, yang tertua diantara mereka tertawa lebih keras. Katanya ”Bukankah kita ditempa untuk memasuki lingkaran-lingkaran yang paling berbahaya?” Sementara itu, adiknya, Paron Waja berkata lantang “Kami sudah siap paman. Apakah paman masih meragukan kami berdua?” “Tidak. Kami sama sekali tidak meragukan kalian. Kami hanya ingin memperingatkan kalian, agar kalian berhati-hati.” “Kami akan berhati-hati paman” sahut Parung Landung. Dalam pada itu maka persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah sampai ke puncaknya. Mereka tinggal menunggu saat yang terbaik untuk berangkat ke kaki Gunung Lawu. Sementara itu, anak-anak muda yang baru memasuki lingkungan padepokan yang dipimpin oleh Ki Lemah Teles dan Ki Warana itu telah berlatih semakin keras. Apalagi dua orang cantrik yang sedang berada disawah melihat dua orang yang nampak mencurigakan. Dua orang yang agaknya sedang mengamati padepokan yang sedang mengalami perubahan landasan dan tatanan itu.  Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Warana, maka Ki Warana itupun berdesis ”Tidak mustahil bahwa keduanya adalah para pengikut Kiai Narawangsa yang sedang mengamati padepokan kita.” “Kami juga menyangka demikian, Ki Warana.” “Baiklah. Kita memang harus mempersiapkan diri sebaikbaiknya. Meskipun kita tinggal menunggu, tetapi justru karena itu, kita akan selalu berada dalam ketegangan.” “Kami akan berusaha untuk mengamati orang-orang yang mencurigakan itu Ki Warana.” “Baiklah. Tetapi berhati-hatilah. Seandainya kita menemukan isyarat bahwa mereka memang para pengikut Kiai Nara: wangsa, kita tidak harus dengan serta-merta bertindak. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan cermat sehingga kita tidak justru terjebak.” “Ya, Ki Warana” jawab kedua cantrik itu. “Baiklah. Aku akan memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan kawan-kawannya itu.” Ki Lemah Teles yang mendapat laporan itupun kemudian telah membicarakannya dengan Ki Ajar Pangukan, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana dan Ki Pandi. “Kita harus mengetahui siapakah mereka itu,” berkata Ki Pandi. “Jika benar mereka adalah pengikut Kiai Nalawangsa, maka mereka tentu mempunyai tempat persembunyian di sekitar padepokan ini.” “Aku akan mencarinya,” berkata Kiai Jagaprana.  “Aku ikut” sahut Ki Sambi Pitu ”biariah aku mendapat peranan disini. Tanpa peranan yang berarti, maka aku akan menjadi matahari yang redup sebelum senja.” Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya ”Aku sudah mendapat peranan. Justru peranan terbesar di padepokan ini.” Namun dalam pertemuan itu telah disepakati, bahwa Ki Jagaprana dan Ki Sambi Pitu akan mengamati orang-orang yang mencurigakan itu. “Jangan Ki Pandi” berkata Ki Ajar Pangukan ”ketika dua orang utusan Kiai Narawangsa menemui Kiai Banyu Bening Ki Pandi duduk bersamaku.” Ki Pandi tertawa pendek. Katanya ”Orang-orang seperti aku ini tentu akan dapat dengan mudah dikenali orang.” “Kau sendiri yang mengatakannya Ki Bongkok”sahut Ki Ajar Pangukan. Sementara itu, Ki Jagaprana pun bertkata ”Nanti malam, aku akan mulai.” Tetapi keduanya tidak dapat dengan serta-merta melakukannya. Mereka harus berbicara dahulu dengan dua orang cantrik yang pernah melihat kedua orang yang mencurigakan itu ketika keduanya berada di sawah. Darimana mereka datang dan kemana mereka pergi. Dengan bahan itu, maka keduanya akan dapat memperkirakan arah yang akan mereka datangi malam nanti. Tugas-yang berbahaya itu memang tidak dapat diserahkan kepada para cantrik. Untuk mencapai hasil yang sebaikbaiknya maka tugas itu memang harus dilakukan oleh orang yang berilmu tinggi. Apalagi jika Kiai Narawangsa dan Nyai  Wiji Sari sudah berada diantara mereka. Maka untuk dapat mendekat, diperlukan kemampuan yang tinggi. Untuk mendapat hasil yang sebaik-baiknya, maka Ki Sambi Pitu dan Jagaprana tidak dengan tergesa-gesa mencari tempat persembunyian orang-orang itu. Tetapi dihari berikutnya, mereka telah ikut pergi ke sawah. Dengan memanggul cangkul serta memakai caping bambu mereka bersama dua orang cantrik telah pergi ke sawah. Dibawah panasnya matahari yang memanjat semakin tinggi, mereka berendam di air berlumpur sambil mengayunkan cangkul mereka. Sebenarnya, mereka melihat dua orang yang mencurigakan lewat meniti pematang. Mereka memang hanya berjalan melintas. Tetapi keduanya mengamati padepokan itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana memperhatikan arah kemana mereka pergi. Tidak terlalu jauh dari padepokan mereka berjalan melingkar. Juga masih meniti pematang. Mereka berjalan menjauh, kemudian memutar kembali kearah hutan kaki pegunungan. “Kita akan melihat malam nanti, apa yang ada dihutan itu,” desis Ki Jagaprana. “Kita sudah dapat menduga, dimana mereka bersembunyi” berkata Ki Sambi Pitu. “Ya. Asap itu.” “Ternyata mereka memang dungu.” “Atau kita yang dungu, jika kita begitu saja percaya, bahwa mereka memang berada disekitar perapian itu.”  Keduanya mengangguk-angguk. Ki Sambi Pitu lah yang kemudian berkata ”Baiklah. Biarlah malam nanti kita akan membuktikannya.” Seperti yang direncanakan oleh kedua orang itu, maka ketika senja turun, keduanya pun telah bersiap. Demikian gelap menyelimuti padepokan itu, maka mereka berdua telah keluar lewat regol butulan untuk melihat-lihat hutan lebat di kaki Gunung Lawu itu. Dengan hau-hati keduanya kemudian menyusuri pinggir hutan. Yang menjadi sasaran utama adalah arah asap yang mereka lihat mengepul itu. Ternyata orang-orang itu memang kurang berhati-hati. Malam itu mereka juga membuat perapian untuk melawan dingin meskipun tidak begitu besar. Mereka memang sudah berusaha untuk melindungi nyala api perapian itu dengan bebatuan. Namun warna merah yang menapak pada batangbatang pepohonan masih juga dapat dilihat oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana. “Ternyata tidak terlalu sulit” desis Ki Jagaprana. Ki Sambi Pitu tidak menjawab. Namun mereka telah merayap semakin mendekati orang-orang yang berada di sekitar perapian. Namun yang dilihat oleh kedua orang itu bukan sekedar perapian. Ternyata mereka melihat berbagai macam bahan dan peralatan yang teronggok tidak terlalu jauh dari tempat mereka membuat perapian. Ki Sambi Pitu memberi isyarat kepada Ki Jagaprana untuk melihat benda-benda yang teronggok diantara pepohonan hutan itu.  Keduanya mengangguk-angguk meskipun mereka tidak saling berbicara. Mereka melihat potongan-potongan dan anyaman bambu. Tali ijuk dan seonggok batang ilalang. Didalam hati mereka berkata ”Orang-orang ini tentu akan membuat gubug yang cukup besar.” Apalagi, mereka juga melihat sebidang tanah yang sudah dibersihkan, siap untuk membangun sebuah gubug. Beberapa saat kedua orang itu mengamati lingkungan itu. Baru kemudian, Ki Sambi Pitu telah memberikan isyarat, agar mereka meninggalkan tempat itu. Demikian keduanya menjauhi tempat itu, maka Ki Sambi Pitu pun berkata ”Nampaknya mereka akan membuat sebuan pesanggrahan.” “Ya” Ki Jagaprana mengangguk-angguk. “Tentu bagi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Sedangkan yang lain akan dapat berada disembarang tempat.” Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Katanya ”Menilik tempat yang dipersiapkan, tentu banyak orang yang akan datang.” “Tentu akan meriah” desis Ki Sambi Pitu. “Mudah-mudahan kerajaan Ki Lemah Teles tidak segera berakhir.” Demikian mereka sampai di padepokan, maka keduanya pun segera menceriterakan kepada orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang memang menunggu kedatangan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana. “Menarik sekali” desis Ki Ajar Pangukan ”karena itu, maka kita harus benar-benar bersiap untuk menyambut kehadiran mereka. Kita tidak tahu pasti, berapa besar kekuatan mereka,  sehingga karena itu, maka yang dapat kita lakukan adalah menyiapkan kekuatan penuh untuk menyambut mereka.” “Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu sudah bersiapsiap pula. Besok mereka tentu sudah akan mendirikan gubug itu. Sehingga dalam dua tiga hari lagi, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari tentu sudah akan datang.” “Baiklah” berkata Ki Lemah Teles ”kita akan bersiap untuk menyongsong kehadiran tamu-tamu Kiai Bayu Bening itu. Karena itu, sebaiknya penyambutan itu dipimpin oleh Kiai Banyu Bening sendiri.” Ki Ajar Pangukan tertawa. Katanya ”Sekarang sudah ada pimpinan baru di padepokan ini. Karena itu, biarlah pemimpin baru itu bekerja. Kita justru akan menguji, apakah pemimpin yang baru ini menjadi lebih baik atau tidak.” “Baiklah” berkata Ki Lemah Teles ”jika ternyata pimpinan yang baru ini lebih buruk, biarlah ia dicampakkan keluar dari padepokan ini.” “Jangan merajuk” desis Ki Pandi ”jika kurang baik, justru harus diperbaiki.” “Kenapa bukan kau saja yang menjadi pemimpin disini, bongkok buruk.” Ki Pandi pun tertawa pula. Demikian pula Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana. Tetapi mereka tidak menyahut lagi. Demikianlah yang dilakukan oleh para cantrik dan anakanak muda yang baru memasuki padepokan itu sehari-hari adalah menempa diri dalam olah kanuragan. Anak-anak muda yang berlatih bersama Manggada dan Laksana itupun serba sedikit telah memiliki pengetahuan,  bagaimana mereka harus bermain dengan senjata, meskipun senjata utama mereka adalah tombak pendek dan pedang. Namun dengan tombak pendek dan pedang, mereka telah berlatih mempergunakannya untuk melawan jenis-jenis senjata-senjata yang lain. Mereka telah belajar, bagaimana mereka mempergunakan senjata mereka untuk melawan yang kadang-kadang aneh. Dalam pada itu dimalam berikutnya, Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana telah kembali melihat-lihat orang-orang yang berada di hutan itu. Seperti yang diduga oleh Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana, maka orang-orang itu sudah mendirikan sebuah gubug. Tidak terlalu dekat dengan bibir hutan. Tetapi sedikit ke tengah sehingga terlindung oleh pepohonan dan pohon-pohon perdu. Bahkan Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana sempat mendengar orang-orang yang memanasi tubuh mereka dengan perapian itu berbincang dengan dua orang yang agaknya baru datang dari padepokan Kiai Narawangsa. Dari mulut mereka, Ki Sambi Pitu dan Jagaprana mendengar, bahwa Kiai Narawangsa akan segera datang. “Jika mereka sudah ada di gubug itu, maka tugas kita menjadi bertambah berat, karena Kiai Narawangsa dan Nyi Wiji Sari tentu memiliki ketajaman pendengaran dan penglihatan. “Penglihatan kita sudah cukup. Kita tinggal menghitung, berapa besar jumlah mereka, sehingga akan dapat kita pergunakan sebagai perbandingan.” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata ”Kita akan berusaha melihat sebuah iring-iringan yang memasuki hutan itu. Bukankah itu lebih mudah daripada kita  datang ketempat ini pada saat Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah berada disini?” “Siang malam kita mengamati tempat ini ?” “Di siang hari kita dapat berada dan bekerja di sawah. Tetapi di malam hari kita memang harus menyediakan waktu yang khusus.” jawab Ki Sambi Pitu. Ki Jayaraga mengangguk-augguk. Katanya ”Kita dapat melakukannya bergantian.” “Di siang hari biarlah para cantrik yang bekerja di sawah melakukannya. Tetapi Ki Warana harus memilih cantrik yang terbaik.” Ketika hal itu disampaikan kepada Ki Warana dan Ki Lemah Teles, maka mereka pun, menyepakatinya. Sejak hari itu, maka tidak semua cantrik dibenarkan pergi ke sawah didekat hutan yang menjadi landasan kekuatan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. “Jika aku yang melakukannya” berkata Ki Lemah Teles ”aku akan memilih tempat yang agak jauh. Bibir hutan itu terlalu dekat dengan sasaran mereka.” “Yang melakukan bukan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sendiri. Tetapi para cantriknya yang tentu mempunyai wawasan yang lebih sempit dari keduanya.” sahut Ki Jagaprana. Dengan demikian, maka ketegangan menjadi semakin meningkat di padepokan Ki Lemah Teles itu. Setiap orang benar-benar harus bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun. Pada hari-hari terakhir, anak-anak muda yang baru memasuki padepokan itu telah berlatih mempergunakan busur  dan anak panah. Mereka harus mempergunakan ketika orangorang yang menyerang padepokan itu mulai mendekat. Jika disiang hari para cantrik yang bekerja di sawah dipilih cantrik yang terbaik, karena mereka bertugas mengamati landasan bagi orang-orang Kiai Narawangsa, maka dimalam hari, pengawasan itu dilakukan berganti-ganti oleh orangorang tua yang berilmu tinggi di padepokan itu. Akhirnya, yang mereka tunggu-tunggu itupun datang. Justru dimalam hari ketika Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana bertugas melakukan pengawasan. “Kita pula yang mendapat kesempatan melihatnya pertama kali kehadiran orang-orang itu. Dengan tegang, dari balik gerumbul-gerumbul perdu, kedua orang itu melihat sebuah iring-iringan yang datang menuju ke hutan yang sudah dipersiapkan oleh beberapa orang yang mendahuluinya. Iring-iringan yang panjang itu berjalan menyusuri jalan setapak dalam gelapnya malam. “Nampaknya mereka hanya bergerak di malam hari” berkata Ki Sambi Pitu. “Ya. Tetapi aku yakin, mereka membagi orang-orangnya menjadi beberapa kelompok.” “Ya. Tentu tidak hanya sejumlah itu. Jika hanya sejumlah itu, maka mereka akan dapat dengan mudah kita hancurkan. Tidak usah menunggu mereka menyerang.” sahut Ki Sambi Pitu. Namun tiba-tiba iapun berbisik ”Bagaimana jika mereka kita hancurkan esok pagi. Selanjutnya kita menunggu iringiringan berikutnya dan berikutnya?”  “Begitu mudahnya?” sahut Ki Jagaprana ”seandainya hal itu kita lakukan, pada serangan terhadap kelompok pertama, belum tentu jika kita menemui Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari ada didalamnya. Sementara itu jika ada seorang saja yang lolos, maka iring-iringan berikutnya tidak akan pernah datang lagi. Tetapi Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu akan menjadi seperti api didalam sekam di waktu-waktu mendatang. Justru pada saat kita sudah tidak berada di padepokar itu, mereka datang dengan membawa orang yang lebih banyak.” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk. Dalam iring-iringan yang mereka lihat didalam gelapnya malam dari tempat yang tidak terlalu dekat itu, keduanya memang tidak dapat melihat, apakah didalam iring-iringan itu terdapat seorang perempuan. Menurut dugaan kedua orang itu, maka Nyai Wiji Sari tentu mengenakan pakaian yang sama dengan laki-laki yang ada didalam pasukannya. Kedua orang itupun kemudian telah menunggui jalan yang dilalui iring-iringan itu sampai pagi. Tetapi malam itu tidak ada lagi iring-iringan yang memasuki hutan itu.” “Biarlah malam nanti orang lain yang mengawasinya” berkata Ki Sambi Pitu. “Mungkin sebagian dari mereka akan datang siang hari.” “Mungkin” Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk ”tetapi agaknya menurut perhitungan mereka, perjalanan siang hari untuk sebuah iring-iringan yang besar akan sangat menarik perhatian.” Kedua orang itu tidak menunggu matahari -terbit agar mereka justru tidak terjebak oleh para pengamat yang tentu juga dipasang oleh orang-orang Narawangsa itu.  Selagi langit masih gelap, mereka sudah bergerak meninggalkan persembunyiannya kembali ke padepokan. Setelah berbenah diri, maka Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana segera minta Ki Warana dan orang-orang yang berilmu tinggi di padepokan itu berkumpul. Pada umumnya mereka juga bangun pagi-pagi sekali. Dengan singkat Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana telah melaporkan apa yang dapat mereka lihat malam itu. “Nanti malam harus ada orang lain yang mengawasi jalan itu, sehingga kita mempunyai gambaran yang lebih lengkap tentang mereka.” Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Kepada Ki Warana ia berkata ”Jika demikian, jangan ijinkan para cantrik pergi ke sawah. Sangat berbahaya bagi mereka. Orang-orang itu tentu akan mencari keterangan tentang padepokan ini. Jika mereka tahu bahwa sawah tidak jauh dari hutan itu adalah sawah padepokan ini, maka. mereka segera mengetahuinya, bahwa orang yang berada disawah itu adalah cantrik dari padepokan ini.”  Ki Warana mengangguk. Tetapi iapun kemudian bertanya “Apakah kita tidak perlu mengawasinya di siang hari? Aku kira mereka tidak akan tergesa-gesa membuka benturan kekerasan dengan padepokan ini. Bukankah mereka memerlukan waktu untuk bersiap-siap menghadapi benturan yang lebih besar.” “Mungkin demikian, Ki Warana. Tetapi mungkin juga tidak. Mungkin mereka sengaja menangkap cantrik itu sebagai tantangan yang terbuka. Bukankah mereka sudah dengan berterus terang menantang kita semuanya dengan mengirimkan utusan sampai dua kali berturut-turut. Aku kira mereka masih akan mengirimkan utusan lagi untuk meyakinkan, bahwa kita benar-benar menolak permintaan mereka.” Ki Warana mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Aku akan memerintahkan agar para cantrik tidak pergi ke sawah, terutama yang terdekat dengan sisi hutan yang dipergunakan sebagai landasan oleh Kiai Narawangsa itu.” Namun dalam pada itu, Ki Lemah Teles itupun berkata ”Tetapi biarlah aku sendiri yang akan pergi ke sawah itu.” “Sendiri?” bertanya Ki Warana. “Ya, kenapa?” “Aku akan pergi bersama Ki Lemah Teles. Mungkin aku tidak berarti apa-apa dalam olah kanuragan. Tetapi aku kira aku dapat berlari lebih cepat dari orang lain.” Orang-orang tua yang berilmu tinggi itu tersenyum. Ki Ajar Pangukan itupun berkata, ”Bukankah aku juga dapat pergi ke sawah itu?” “Jangan kau dan jangan si bongkok buruk. Kalian berdua sudah dikenali oleh utusan Kiai Narawangsa. Sementara itu, Ki  Warana juga sudah dikenali pula. Karena itu, biarlah aku pergi sendiri. Yakinlah, tidak akan ada persoalan apa-apa.” Tetapi Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana tidak mau membiarkan Ki Lemah Teles pergi sendiri. Karena itu, maka Ki Sambi Pitu itupun berkata ”Baiklah. Biarlah aku dan Ki Jagaprana yang ikut pergi ke sawah. Tetapi janji, tidak lebih sampai tengah hari. Semalam kami berdua semalam suntuk tidak memejamkan mata.” “Bukankah sudah terbiasa bagi kalian berdua,” desis Ki Lemah Teles. Ki Sambi Pitu tersenyum. Namun katanya, ”tetapi aku akan menolak jika di tengah sawah nanti aku ditantang berperang tanding.” “Persetan kau” geram Ki Lemah Teles ”aku tidak akan menantangmu. Tetapi aku ingin langsung menebas lehermu dengan cangkul.” Yang mendengarnya justru tertawa. “Baiklah” berkata Ki Lemah Teles ”biarlah aku berbenah diri. Disaat matahari naik, aku akan pergi ke sawah bersama Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana.” Tetapi selama ketiga orang itu bekerja di sawah, mereka tidak melihat iring-iringan yang datang dan menuju ke arah sisi hutan yang sudah dipersiapkan itu. Malam berikutnya, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan lah yang mendapat giliran untuk mengamati sisi hutan itu. Seperti malam sebelumnya, maka keduanya memang melihat sebuah iring-iringan yang berjalan menuju ke landasan bagi orang pengikut Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu.  Bahkan pada malam ketiga, masih juga datang iring-iringan berikutnya. “Mereka membawa beberapa ekor kuda tunggangan dan beberapa ekor kuda beban. Agaknya banyak barang dan barangkali persediaan makanan yang mereka bawa.” “Ya. Segala sesuatunya yang akan terjadi sebaiknya segera terjadi. Semakin cepat semakin baik” berkata Ki Ajar Pangukan ”kehadiran orang sebanyak itu akan dapat mempengaruhi tatanan kehidupan di padukuhan-padukuhan disekitar tempat ini. Jika persediaan makan mereka habis, maka mereka tentu akan lari ke padukuhan. Kecuali keadaan padukuhan itu akan menjadi resah dan bahkan lebih dari itu, maka mereka akan mendengar bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada lagi.” Ketika hal itu kemudian dibicarakan di padepokan, maka Laksana yang ikut mendengarkannya menjadi gelisah. “Kenapa kau. Laksana?” bertanya Manggada. “Kehadiran sekian banyak laki-laki di daerah ini akan sangat berbahaya bagi gadis-gadis. Mereka tidak boleh lagi mandi dan mencuci di tepian.” “Terutama Delima” desis Manggada. “Bukan hanya Delima” sahut Laksana ”juga kawankawannya. Mereka harus tahu itu.” Manggada memang berniat untuk mengganggu Laksana. Tetapi ia melihat kebenaran pendapat Laksana. Apalagi peristiwa yang tidak diinginkan itu hampir saja terjadi justru atas Delima. Karena itu, ketika Laksana mengajak Manggada menemui Delima, Manggada tidak berkeberatan.  “Tetapi berhati-hatilah” pesan Ki Pandi ketika Manggada dan Laksana itu minta diri ”ketahui sajalah, bahwa sisi hutan itu sekarang menjadi landasan para pengikut Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari.” “Arah yang akan kami tempuh justru berlawanan, Ki Pandi.” “Ya, aku tahu. Tetapi bukan berarti bahwa kalian tidak mungkin akan bertemu dengan pengikut Kiai Narawangsa yang berkeliaran disekitar padepokan ini.” “Ya, Ki Pandi.” Sementara itu Ki Lemah Teles pun berpesan ”Jangan terlalu lama. Kita masih belum tahu cara apakah yang akan mereka pergunakan. Mungkin mereka justru akan membangun perkemahan di sekitar padepokan ini antuk menutup hubungan padepokan ini dengan dunia disekitarnya. Cara ini banyak dilakukan untuk memaksa orang yang mereka kepung itu kehabisan persediaan pangan, sehingga mereka akan menyerah.” “Baik Ki Lemah Teles” jawab Manggada dan Laksana hampir bersamaan. Dengan hati-hati, maka Manggada dan Laksana itupun telah pergi menemui Delima. Kedatangan Manggada dan Laksana memang mengejutkan. Namun kedua orang anak muda itu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang gelisah. “TidaK ada apa-apa. Paman Krawangan,” berkata Manggada, “kami hanya ingin sekedar singgah.” “Kalian bawa pesan dari Warana?” “Tidak secara khusus, Ki Krawangan. Tetapi kami ingin memberitahukan persoalan yang harus mendapat perhatian dari Delima dan kawan-kawannya.”  “Delima?” bertanya Ki Krawangan. “Ya, paman. Kami membawa pesan bagi Delima.” sahut Laksana. Manggada menarik nafas panjang. Ia sudah akan membuka mulutnya untuk mengucapkan peringatan bagi Delima dan kawan-kawannya itu lewat Ki Krawangan. Tetapi agaknya Laksana ingin menyampaikannya langsung kepada Delima. Tetapi Ki Krawangan itu memang bangkit berdiri untuk memanggil Delima. Ternyata Delima pun kemudian dengan wajah yang terang bersama ayahnya, ikut menemui Manggada dan Laksana, meskipun wajah itu harus terap menunduk. Laksana lah yang kemudian menceriterakan kepada Ki Krawangan dan Delima bahwa telah datang ke lingkungan itu, sebuah gerombolan yang mungkin akan dapat membahayakan Delima dan kawan-kawannya. “Untuk sementara kalian tidak usah pergi ke tepian untuk mandi dan mencuci,” berkata Laksana selanjutnya. Delima mengangguk-angguk. Demikian pula Ki Krawangan. “Terima kasih” desis Ki Krawangan kemudian ”apakah agaknya masih akan terjadi benturan kekerasan?” “Mungkin, paman” jawab Manggada. Namun kemudian anak muda itupun berkata ”Tetapi aku mohon paman dan Delima tidak mengabarkan kepada siapapun, bahwa kami sudah mengetahui kedatangan gerombolan itu. Ki Warana sampai sekarang masih mengambil jarak dari gerombolan itu. Ki Warana masih berusaha untuk mengetahui lebih jauh tentang keadaan gerombolan itu.”  Ki Krawangan mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Aku akan memperhatikan pesan itu. Mudah-mudahan Warana dapat menempatkan dirinya dalam satu tatanan baru yang terjadi di padepokan itu.” Manggada lah yang kemudian menyampaikan kepada Ki Krawangan, bahwa sampai saat terakhir, Ki Warana masih menyatakan kepada orang-orang dari gerombolan itu bahwa Kiai Banyu Bening masih hidup. “Apakah Warana sudah berhubungan dengan mereka?” bertanya Ki Krawangan. “Mereka telah mengirimkan utusan ke padepokan. Mereka adalah orang-orang yang mendendam Kiai Banyu Bening.” “Aku tidak mengerti maksud Warana. Seandainya ia mengatakan bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada lagi, bukankah tidak akan terjadi permusuhan lagi.” “Tetapi mereka tidak hanya mendendam kepada Kiai Banyu Bening. Tetapi mereka ingin mengambil padepokan itu.” Ki Krawangan mengangguk-angguk. Sementara itu Manggada pun berkata ”Tetapi sekali lagi kami berpesan, Biarlah persoalan itu menjadi persoalan Ki Warana dengan orang-orang gerombolan itu.” Ki Krawangan masih mengangguk-angguk. Sementara Manggada merasa bahwa ia tidak akan dapat menceriterakan semuanya kepada Ki Krawangan dalam waktu yang singkat. Ketika Manggada menggamit Laksana untuk minta diri, ternyata Laksana tidak menanggapinya. Ia masih saja berbicara tentang kemungkinan buruk yang dapat terjadi, jika Delima dan kawan-kawannya turun ke tepian.  Namun dalam pada itu, Ki Krawangan pun berkata kepada Delima ”Delima. Kau dapat membuat minuman untuk tamutamumu.” “Tidak usah, paman. Tidak usah” sahut Laksana dengan serta merta ”masih ada beberapa pesan lagi buat Delima.” Ki Krawungun tersenyum. Katanya ”Biarlah nanti setelah menghidangkan minuman, Delima mendengarkan pesan-pesan itu lagi.” Ternyata Manggada dan Laksana berada di rumah Ki Krawangan untuk waktu yang agak lama. Mereka menunggu minuman menjadi dingin. Kemudian menghirupnya dengan gula kelapa, dan bahkan kemudian telah dihidangkan pula beberapa potong makanan. Namun Manggada lah yang menjadi gelisah. Ketika ia mendapat kesempatan, iapun berbisik, “Kita harus segera kembali. Kita akan masuk kedalam sanggar bersama anakanak muda itu.” Tetapi Laksana berdesis ”Sekali-sekali kita dapat melepaskan ketegangan-ketegangan yang setiap hari memburu kita. Sebelum kita benar-benar harus bertempur, sebaiknya kita beristirahat barang satu hari.” Manggada hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memaksa Laksana untuk segera kembali ke padepokan. Baru setelah beberapa kali Manggada memperingatkan, maka akhirnya Laksana pun bersedia pula meninggalkan rumah Delima itu. Di perjalanan kembali, Manggada masih saja bersungutsungut. Mereka telah kehilangan waktu beberapa lama.  Seharusnya mereka sudah berada diantara anak-anak muda yang sedang dengan bersungguh-sungguh menempa diri itu. Tetapi Laksana hanya tersenyum-senyum saja menanggapi sikap kakak sepupunya itu. Keduanya sempat menjadi berdebar-debar ketika mereka di tengah-tengah bulak bertemu dengan dua orang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Menilik sikap dan cara mereka mengenakan pakaiannya, maka keduanya tentu bukan orang yang tinggal disisi Barat kaki Gunung Lawu itu. Tetapi Manggada dan Laksana tidak ingin membuat persoalan. Karena itu, maka ketika mereka berpapasan dengan kedua orang itu, keduanya lebih baik menepi. Kedua orang yang berpapasan dengan Manggada dan Laksana itu juga masih muda sebagaimana Manggada dan Laksana. Nampaknya keduanya merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang pantas dihormati. Ketika mereka berpapasan dengan Manggada dan Laksana, keduanya sama sekali tidak mau bergeser menepi sedikitpun, sehingga Manggada dan Laksana lah yang harus minggir sehingga keduanya melipir tanggul parit yang membujur sepanjang jalan itu. “Gila” geram Laksana ”jika saja padepokan itu tidak sedang dalam ketegangan.” “Lalu, mau kau apakan mereka?” bertanya Manggada. “Aku akan memilin leher mereka.” Manggada tertawa. Katanya ”Sudahlah. Saat ini kita memang harus memusatkan perhatian kita kepada gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari itu.”  “Keduanya tentu para pengikut Kiai Narawangsa itu pula.” “Aku juga menduga demikian” sahut Manggada. “Bagaimana jika kita tantang saja mereka, mumpung tidak nampak ada orang disawah.” “Kiai Lemah Teles dan Ki Warana belum membunyikan pertanda perang. Kita harus bersabar.” “Apapun yang terjadi jika kita menantang kedua orang itu, tidak akan mempengaruhi persoalan yang tumbuh antara para pengikut Kiai Narawangsa dengan orang-orang padepokan.” “Biarlah segalanya tertimbun pada benturan yang tentu akan terjadi pada satu hari. Mungkin besok, lusa atau mungkin sepekan lagi. Tetapi tentu tidak akan terlalu lama.” Tiba-tiba saja Laksana itu berhenti. Ketika ia berpaling, punggung kedua orang anak muda itu masih nampak. “Apakah mereka akan pergi ke rumah Delima?” “Kau jangan menjadi gila seperti itu” desis Manggada. Lalu katanya ”Bahkan aku ingin memperingatkanmu, agar kau tidak terlalu dekat dengan Delima.” “Kenapa?” bertanya Manggada. “Mungkin tidak apa-apa bagimu sendiri. Tetapi sudah berapa kali terjadi kau memuji kecantikan seorang gadis. Nah, bukankah akhirnya kau terus pergi meninggalkan mereka itu?” Laksana mengerutkan dahinya. “Jika pada suatu saat tumbuh perasaan yang mendalam di hati seorang gadis, sedangkan pada satu saat kita harus melanjutkan perjalanan pengembaraan ini sebelum kita benarbenar pulang, kau dapat mengira-irakan, apa yang akan terjadi dengan gadis itu selanjutnya.”  Laksana tidak menjawab. Tetapi kata-kata Manggada itu menyentuh hatinya pula. Sementara itu, Manggada pun berkata pula ”Kecuali jika kau sudah jemu mengembara dan ingin menetap disatu tempat.” Laksana menarik nafas dalam-dalam. Memang tidak terbersit dihatinya, bahwa ia ingin segera menghentikan pengembaraannya. Namun Manggada tidak ingin memperpanjang persoalan itu. Ia menyerahkan segala sesuatunya kepada Laksana, karena ia tahu, bahwa Laksana pun sudah menjadi dewasa. Laksana mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab. Demikianlah, mereka berdua pun kemudian berjalan semakin cepat menuju ke padepokan. Ketika keduanya kemudian memasuki regol padepokan, Ki Pandi yang duduk di pendapa bangunan utama padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian bangkit berdiri menyongsong kedua orang anak muda itu. “Aku sudah berdebar-debar. Rasa-rasanya kalian pergi terlalu lama. Kami disini terpengaruh oleh ketegangan suasana dengan kedatangan para pengikut Kiai Narawangsa itu. Dan bahkan mungkin Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sendiri juga sudah ada ditempat itu.” “Maaf, Ki Pandi” Laksana lah yang menjawab ”Ki Krawangan telah menghidangkan makanan dan minuman, sehingga kami tidak dapat meninggalkannya begitu saja.” “Sudahlah. Tidak apa-apa. Hanya kecemasan seorang tua.”  Kedua orang anak muda itupun kemudian langsung pergi menemui kelompok-kelompok yang berlatih di bawah bimbingan mereka. Tetapi keduanya tertegun, karena anakanak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu sedang berlatih bersama orang-orang tua yang berilmu tinggi di padepokan itu. Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana, Ki Lemah Teles dan Ki Ajar Pangukan sedang sibuk mcnjajagi kemampuan anak-anak muda yang untuk waktu yang sangat singkat mencoba untuk menyadap ilmu kanuragan dari Manggada dan Laksana. Ternyata orang-orang tua itu merasa puas dengan kemajuan yang telah mereka capai. Dengan tombak dan pedang dengan perisai atau tidak dengan perisai, anak-anak muda itu sudah mampu mempertanankan diri melawan berbagai macam senjata. Untuk beberapa lama penjajagan itu berlangsung. Manggada dan Laksana serta Ki Pandi berdiri saja mengamatinya. “Sama sekali tidak mengecewakan” desis Ki Pandi ”jika jiwa kalian tidak dibakar oleh kemudaan kalian, mungkin anak-anak itu masih belum mampu mencapai tataran sebagaimana sekarang ini. Mereka telah bekerja dengan sangat keras untuk dapat menyesuaikan diri dengan keinginan kalian.” Manggada dan Laksana tidak menjawab.  “Manggada dan Laksana” berkata Ki Pandi kemudian ”justru menjelang hari-hari yang gawat, yang tentu akan memaksa kita semua bekerja sangat-sangat keras, maka kalian harus mengurangi beban anakanak itu. Biarlah mereka sempat beristirahat." Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Sementara Ki Pandi berkata selanjutnya ”Dari hari ke hari mereka nampak menjadi semakin kurus. Meskipun mereka tidak mengeluh, tetapi biarlah tubuh mereka menjadi semakin segar menjelang hari-hari yang mendebarkan itu.” “Baiklah, Ki Pandi” desis Manggada kemudian. “Yang harus kalian pertahankan, adalah latihanlatihan ketahanan tubuh setiap mereka bangun pagi. Kemudian latihan-latihan olah senjata, setidak-tidaknya untuk mempertahankan tataran yang telah mereka capai. Kalian harus memberikan waktu beristirahat lebih banyak. Memberi kesempatan mereka untuk berbuat sesuatu sebagaimana anak-anak muda yang lain. Tidak semuanya dapat kalian ukur sebagaimana kalian sendiri.” “Baik, Ki Pandi.” jawab Manggada dan Laksana. Dalam pada itu, maka orang-orang tua yang berilmu tinggi di padepokan  itu menganggap bahwa tingkat kemampuan anak-anak muda yang belum lama berada di padepokan itu sudah cukup memadai diukur dari waktu yang mereka pergunakan untuk belajar dan berlatih. Apalagi yang memimpin mereka juga anak muda yang umurnya tidak terpaut banyak dengan mereka. Beberapa saat kemudian; maka latihan latihan itupun berakhir. Semuanya menganggap bahwa latihan yang telah mereka lakukan sangat baik. Kemampuan mereka sudah memadai, apalagi dilihat dari sisi waktu. Namun semuanya telah memberikan saran yang sama, bahwa anak-anak muda itu harus mendapat kesempatan untuk beristirahat lebih banyak tanpa mengabaikan latihan-latihan yang harus mereka lakukan untuk mengasah tajamnya kemampuan yang telah mereka miliki. Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Orang-orang tua itu tentu memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari Manggada dan Laksana. Ketika kemudian Manggada dan Laksana berada diantara anak-anak muda itu, maka Manggada dan Laksana pun telah mengatakan kepada mereka, untuk mendapatkan tenaga yang sebesar-besarnya menjelang saat-saat yang paling gawat, maka kesempatan untuk beristirahat pun akan diberikan lebih banyak. Namun keduanya masih menambahkan, bahwa hal itu bukan berarti bahwa latihan-latihan yang berat dan kerja yang keras sudah berakhir. “Sementara itu di hutan tua, Kiai Natawangsa dan Nyai Wiji Sari telah bersiap menerkam kita.” berkata Manggada kepada anak-anak muda itu.  Sebenarnyalah saat itu Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari telah berada diantara para pengikutnya di hutan yang sebelumnya memang telah dipersiapkan. Ternyata keduanya tidak mempunyai pendirian sebagaimana orang yang berilmu tinggi di padepokan, Kiai Natawangsa dan Nyai Wiji Sari tidak menganggap landasan yang dibangun itu terlalu dekat dengan padepokan yang akan menjadi sasaran mereka. Bahkan Kiai Narawangsa berkata ”Kalian memang memiliki ketajaman penalaran. Tempat ini adalah tempat yang sangat baik untuk meloncat ke padepokan itu. Tidak terlalu jauh dan cukup terlindung dari penglihatan orang-orang padepokan.” “Bukankah kita tidak berniat untuk berlindung” berkata Nyai Wiji Sari ”kita justru akan datang ke padepokan itu dan menuntut agar padepokan itu diserahkan kepada kita.” “Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa Nyai” jawab Kiai Narawangsa ”segala sesuatunya harus diperhitungkan sebaikbaiknya, agar kita dapat mencapai hasil sebagaimana kita kehendaki.” “Apalagi yang harus diperhitungkan?” Nyai Wiji Sari memang tidak sabar lagi ”kita datangi padepokan itu. Kita hancurkan pintu-pintunya. Kemudian kita menyerbu masuk.” “Bagaimana dengan rencana kita untuk datang menemui Banyu Bening?” “Apakah ada gunanya?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Mudah-mudahan masih ada gunanya. Jika Banyu Bening dapat mencegah pertempuran, maka ia akan mendapat kesempatan untuk hidup beberapa lama lagi.”  “Apakah ukurannya waktu yang kau katakan tidak lama lagi itu?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Sampai kita menjadi jemu dan kemudjah membunuhnya,” jawab Narawangsa. “Akhirnya sama saja. Kenapa tidak kita bunuh sekarang?” “Jika ia dapat mencegah perang, bukankah orang-orang kita tidak banyak yang akan mati? Sementara itu, kita akan menangkap Banyu Bening dan terserahlah kepada kita. Tetapi para pengikutnya tentu sudah terpecah bercerai berai dan tidak akan mampu menyusun kekuatan lagi untuk melawan kita.” Nyai Wiji Sari merenung sejenak. Namun ada sesuatu yang terasa bergejolak dihatinya. Nyai Wiji Sari sendiri tidak tahu, apakah yang mengekang perasaannya untuk datang menemui Kiai Banyu Bening dan berbicara dengan laki-laki itu. Bagi Nyai Wiji Sari, datang dengan pasukan dan bertempur, akan lebih baik daripada harus datang menemuinya dan berbicara dengannya. “Aku muak melihat laki-laki itu.” geram Nyai Wiji Sari. Tetapi kata-kata yang terlontar disela-sela bibirnya itu tidak meyakinkan dirinya sendiri. Bahkan didalam lubuk hatinya telah timbul pertanyaan ”Apakah bukan karena sebab lain?” Nyai Wiji Sari menggeretakkan giginya. Ia mencoba mengusir sentuhan-sentuhan perasaan yang dianggapnya sebagai satu kelemahan justru karena ia seorang perempuan. Bagaimanapun juga Kiai Banyu Bening adalah bekas suaminya dan yang pernah memberinya seorang anak. Tetapi anak itu meninggal, justru karena terbakar.  Kiai Narawangsa melihat keragu-raguan yang sangat di wajah Nyai Wiji Sari. Tetapi menurut tanggapan Kiai Narawangsa justru karena Wiji Sari itu sangat membenci suaminya. Ketika Nyai Wiji Sari itu masih menjadi istri Lembu Wirid, ia sudah membencinya. Apalagi kemudian setelah anaknya terbunuh didalam lidah api yang menyala menelan rumahnya. “Terserah kepadamu” berkata Kiai Narawangsa ”jika kau berkeberatan, maka aku akan menurut, mana yang kau anggap lebih baik. Jika aku berniat untuk datang menemuinya, itu karena kita pernah merencanakannya.” “Tidak. Aku tidak mau menemui laki-laki keparat itu” geram Nyai Wiji Sari. Hampir berteriak iapun berkata ”Tidak. Aku muak. Muak sekali.” “Baik. Baik” berkata Kiai Narawangsa ”kita akan langsung datang ke padepokan itu dengan seluruh kekuatan kita. Kita akan membakar pintu-pintunya dan menerobos masuk kedalamnya.” “Aku sudah menyiapkan beberapa bakul biji jarak. Beberapa bakul yang lain sudah dihancurkan menjadi bubuk kasar yang dicampur dengan serat yang sudah dikeringkan.“ “Apakah serbuk dan biji jarak itu cukup banyak untuk membakar pintu gerbang dan pintu butulan?” “Tentu. Kita akan menimbun kayu-kayu kering diluar pintu itu untuk mempercepat nyala api. Jika daun pintu gerbang itu terbakar, maka kita akan segera dapat menerobos masuk.” “Baiklah. Kita harus menyiapkan gerobak-gerobak kecil untuk mengusung kayu, serbuk biji jarak dan biji jarak itu.”  “Besok kita akan melihat pintu gerbang itu,” berkata Kiai Narawangsa. Sebenarnyalah dihari berikutnya, Kiai Narawangsa dan Gunasraba berserta beberapa orang pengiringnya telah mendatangi padepokan. Berkuda mereka tanpa ragu-ragu mendekati rintu gerbang padepokan itu dari arah depan. Beberapa puluh langkah mereka menghentikan kuda mereka. Para petugas di panggungan disebelah menyebelah pintu gerbang itu melihat kedatangan beberapa orang berkuda. Namun mereka mengerti, bahwa serangan yang sebenarnya masih belum datang, karena jumlah orang berkuda itu tidak lebih dari sepuluh orang. Meskipun demikian, para petugas itu telah memberikan laporan langsung kepada Ki Lemah Teles tanpa membunyikan kentongan. Orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang ada di padepokan itu telah memanjat panggungan yang ada disebelah menyebelah pintu gerbang itu. Tetapi merekapun berpendapat, bahwa orang-orang itu masih belum akan berbuat sesuatu. “Mungkin mereka akan menemui orang yang bernama Kiai Banyu Bening itu” berkata Ki Lemah Teles. Tetapi ternyata tidak. Ternyata mereka tidak menyatakan maksudnya itu. Beberapa orang itu hanya berkeliaran hilir mudik diatas punggung kuda mereka sambil mengamat-amati pintu gerbang. “Mereka sedang memperhitungkan kemungkinan untuk merusak pintu gerbang itu” desis Ki A jar Pangukan.  “Ya. Tetapi mereka tidak dapat menghitung ketebalan daun pintu gerbang itu. Mereka juga tidak dapat menduga, seberapa besarnya selarak pintu itu.” Namun diluar, Kiai Narawangsa berkata ”Pintu itu dibuat dari kayu.” “Kita akan dapat membakarnya” berkata Gunasraba. “Kau yakin biji jarakmu itu cukup untuk menyalakan pintu gerbang itu?” “Tentu kakang” jawab Gunasraba ”pintu gerbang itu akan menjadi abu. Dan kita akan dapat dengan leluasa masuk kedalamnya. Kita bukan orang dungu yang mau membuangbuang waktu dan bahkan nyawa dengan memanggul balok kayi yang besar untuk menghantam dan merobohkan pintu gerbang itu. Selama kita hilir mudik mengambil ancangancang, maka anak panah orang-orang diatas panggungan itu sudah menghujani kita.” “Jika kita membakar pintu itu, bukankah mereka juga dapat membunuh kita dengan anak panahnya?” “Tetapi kita tidak memerlukan banyak orang. Ampat orang menaburkan serbuk yang bercampur serat itu serta biji jarak sementara lima atau enam orang melindunginya dengan perisai. Sementara itu, orang-orang kita akan melontarkan serangan anak panah pula dari tempat kita ini untuk mengurangi tekanan mereka terhadap orang-orang kita yang sedang membakar pintu gerbang itu. Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Iapun yakin bahwa rencana adiknya itu tentu akan dapat dilakukan. Biji jarak memang mengandung minyak yang dapat dipergunakan sebagai oncor di malam hari.  Sementara itu, orang-orang yang berada dipanggungan di sebelah-menyebelah pintu gerbang itu memperhatikan orangorang berkuda itu dengan saksama. Tetapi mereka tidak dapat mengerti, apa yang akan mereka lakukan. Mereka hanya melihat orang-orang itu menunjuk kearah pintu gerbang, kearah panggungan disebelah-menyebelah pintu gerbang itu serta sekali-sekali memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tetapi orang-orang itu tidak hanya memperhatikan pintu gerbang utama. Ternyata mereka juga memperhatikan pintupintu butulan. Kuda-kuda itu berlari-lari melingkari padepokan yang terhitung luas itu. >>teks tidak terbaca >> rusak pintu.” berkata Ki Ajar Pangukan. “Kita akan melayani, cara apa saja yang akan mereka pergunakan” desis Ki Sambi Pitu. Ki Lemah Teles dan Ki Warana memperhatikan orang-orang itu dengan saksama. Beberapa saat lamanya beberapa orang berkuda itu hilir mudik di sekitar padepokan. Namun akhirnya kuda-kuda itu berlari meninggalkan padepokan itu. Orang-orang tua yang berilmu tinggi, yang melihat beberapa orang berkuda itupun menyadari, bahwa Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari ternyata cukup berhati-hati. Mereka tidak langsung datang menyerang, tetapi mereka telah mencoba untuk melihat sasaran untuk membuat perhitungan yang lebih mantap. “Seorang diantara mereka itu adalah Kiai Narawangsa sendiri” desis Ki Warana.  “Ya” Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk ”menurut utusannya yang terdahulu, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi.” “Yang manakah diantara mereka yang kau maksud Ki Narawangsa itu?” bertanya Ki Lemah Teles. “Yang bertubuh raksasa. Yang tidak mengenakan ikat kepalanya, tetapi hanya disangkutkan dilehernya sedang jika kita sempat melihat lebih dekat, maka kita akan melihat segores luka diwajahnya.” Ki Lemah Teles mengangguk-angguk. Seorang diantara orang-orang berkuda itu adalah seorang yang bertubuh raksasa. Ikat kepalanya disangkutkan dibahunya, sementara itu rambutnya yang ikal dan panjang itu disanggulnya agak tinggi. Kiai Narawangsa ditilik dari ujud lahiriahnya memang sangat meyakinkan. Jika ia kemudian datang untuk menantang Kiai Banyu Bening, Kiai Narawangsa itu tentu memiliki keyakinan diri yang tinggi. Kehadiran orang-orang berkuda itu, telah memperingatkan kepada Ki Lemah Teles, Ki Warana dan orang-orang tua yang berilmu tinggi, agar mereka menjadi lebih berhati-hati menghadapi lawan yang membuat perhitungan-perhitungan yang cermat. Ketika sekelompok orang berkuda itu telah hilang dari penglihatan mereka, maka Ki Warana dan orang-orang tua yang berilmu tinggi itupun duduk di pendapa bangunan induk padepokan itu untuk berbincang tentang kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi. Seorang cantrik yang bertugas di panggungan itu bertanya kepada kawannya ”Apa kira-kira yang akan mereka lakukan?  “Mereka tentu merencanakan nntuk memecahkan pintu gerbang itu” jawab kawannya. “Aku tahu. Tetapi bagaimana caranya?” kawannya membentak. Cantrik itu tertawa. Katanya ”Kenapa kau tiba-tiba menjadi uring-uringan?” Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya bertanya lagi. Dipendapa, orang-orang berilmu tinggi itu juga mendugaduga. Cara apakah yang akan ditempuh oleh Kiai Narawangsa untuk membuka pintu gerbang padepokan itu. Tetapi yang mereka sebutkan adalah cara-cara yang sering dipergunakan untuk memecahkan pintu. Tidak seorangpun diantara mereka yang menduga, bahwa Kiai Narawangsa akan memecahkan pintu gerbang itu dengan cara yang lain. A pi. Sementara itu, di dalam hutan tempat Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari menunggu kesempatan, Gunasraba telah mempersiapkan segala-galanya. Seonggok serat kulit kayu yang kering, telah dicampur serbuk biji jarak. Selain itu telah dipersiapkan pula biji jarak yang cukup banyak. Untuk meyakinkan diri, maka Gunasraba itu pun telah menyediakan minyak kelapa yang cukup, yang akan dituang pada onggokan-onggokan serat kayu yang Kering itu. “Pintu gerbang itu tentu akan terbakar.” geram Gunasraba. “Bukankah kau akan membakar semua pintu,” bertanya Kia Narawangsa. “Ya. Semua pintu. Gerbang utama dan gerbang-gerbang butulan. Seperti yang kita ketahui, ada ampat pintu butulan.  Cara yang dipilih oleh Gunasraba itu memang tidak dapat dilakukan dengan serta-merta. Tetapi mereka harus menunggu api yang dinyalakan itu menjadi besar. Baru kemudian api itu akan membakar pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu. “Kita memang harus sedikit bersabar” berkata Gunasraba ”tetapi cara ini adalah cara yang akan menelan korban paling sedikit. Namun dalam pada itu, Nyai Wiji Sari nampaknya menjadi semakin tidak sabar. Perempuan itu menjadi semakin banyak merenung. Wajahnya nampak muram dan tingkah lakunya yang gelisah. “Aku tidak dapat duduk disini berhari-hari tanpa berbuat apa-apa berkata Nyai Wiji Sari itu. “Kami sedang mempersiapkan segala-galanya Nyai” jawab Kiai Narawangsa ”kami tidak ingin gagal.” “Apa sebenarnya yang mencemaskan kita? Kita akan menghancurkan Lembu Wirid itu. Jika orang itu mati, maka para pengikutnya tentu akan segera menyerah.” “Aku mengerti” jawab Kiai Narawangsa ”tetapi bukankah kita perlu memikirkan cara agar kita dapat masuk dan berhadapan dengan Kiai Banyu Bening?” Nyai Wiji Sari tidak menyahut lagi. Namun wajah masih saja nampak gelap. Sebenarnya semakin lama Nyai Wiji Sari berada di hutan itu, kegelisahan terasa semakin mencengkamnya. Rasarasanya ia sudah mendengar tangis anaknya yang melengking-lengking dibalik dinding padepokan itu. Tetapi  Nyai Wiji Sari rasa-rasanya juga selalu dibayangi oleh wajah Lembu Wirid. Wajah yang keras seorang laki-laki. Dalam kegelisahannya itu, kadang-kadang masih juga timbul pertanyaan, kenapa waktu itu ia telah tergelincir untuk menerima Narawangsa memasuki lingkungan dinding ruang tidurnya. “Itulah awal bencana ini” Nyai Wiji Sari merintih didalam hatinva. Tetapi hati Nyai Wiji Sari yang gelap itu tidak melihat jalan penyelesaian yang terbaik yang dapat ditempuhnya. Ketika kerinduannya ktpada seorang anak memuncak, maka perempuan itu telah menyalurkan gejolak perasaannya itu dengan caranya yang keras dan kasar, sebagaimana cara hidup yang dijalaninya. “Tetapi bukan aku yang ingin membunuh Lembu Wirid” perasaan Nyai Wiji Sari melonjak ”aku hanya ingin mengambil apa yang masih tersisa dari anakku.” Tetapi Nyai Wiji Sari tidak dapat mengatakannya kepada Kiai Narawangsa. Jika hal itu dikatakannya, maka Kiai Narawangsa akan dapat menjadi salah paham. Sementara itu, Nyai Wiji Sari tidak ingin merusak hidup kekeluargaannya sekali lagi. Meskipun selama itu ia berada dijalan kehidupan yang gelap serta membina keluarga yang kelam pula, namun Nyai Wiji Sari itu ingin mempertahankannya. Dalam pada itu, segala persiapan pun telah dilakukan. Gunasraba telah yakin, bahwa ia akan dapat membuka pintu, gerbang itu dengan caranya.

JILID 7
PARUNG Landung dan Paron Waja telah diberinya berbagai macam petunjuk sehingga usaha membakar pintu gerbang itu tidak akan gagal. Bahkan air tidak akan dapat menolong pintu gerbang itu. Kiai Narawangsa yang telah mendapat laporan Gunasraba bahwa segala sesuatunya sudah siap, telah memberikan isyarat, bahwa mereka akan segera menyerang padepokan itu. “Besok sehari kita mempersiapkan segala-galanya. Besok lusa, di dini hari, kita akan mulai membakar pintu gerbang. Menurut perhitungan, saat matahari naik, pintu gerbang dan pintu-pintu butulan tentu sudah menjadi abu.” Perintah itu pun segera menjalar ke setiap telinga. Mereka yang sudah merasa jemu berkeliaran di hutan itu justru menjadi gembira. Saat-saat berburu binatang sudah berakhir. Mereka kemudian akan berburu lawan di padepokan Kiai Banyu Bening. “Kita sudah terlalu lama tidak membasahi senjata kita,” berkata seorang yang berkepala botak ”mudah-mudahan orang-orang padepokan itu tanggap untuk bermain bersama.” “Cantrik-cantrik padepokan pada umumnya juga memiliki kemampuan olah kanuragan.” “Justru itulah yang rnenarik,“ jawab orang botak itu. Keputusan Kiai Narawangsa itu sesaat membuat wajah Nyai Wiji Sari menjadi cerah. Pertempuran akan membuatnya lupa pada kegelisahannya. Perang tidak akan memberinya kesempatan merenungi dirinya sendiri. Tetapi malam-malam menjelang gerakan yang dilakukan oleh Kiai Narawangsa itu telah dilihat oleh Ki Ajar Pangukan  dan Ki Pandi. Dengan sadar, bahwa diantara orang-orang yang berada di hutan itu terdapat orang-orang berilmu tinggi, Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi berusaha mengamati kesibukan mereka. Pada malam menjelang serangan yang akan dilakukan itu, Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi masih belum mengetahui, cara apakah yang akan dipergunakan untuk menghancurkan pintu gerbang. Kiai Narawangsa dan Gunasraba cukup berhati-hati. Mereka mempersiapkan alat-alat dan bahan yang akan mereka pergunakan untuk membakar pintu gerbang itu ditengahtengah lingkungan perkemahan mereka, sehingga Ki Ajar Pangukan dan Ki Pandi tidak dapat melihatnya. Namun yang mereka ketahui, bahwa serangan itu akan berlangsung sejak dini hari. Karena itu, maka kedua orang itupun segera kembali ke padepokan untuk memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan Ki Warana. Akhirnya saat yang mendebarkan itupun datang. Hari terakhir yang disediakan untuk mempersiapkan segala-galanya telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh para pengikut Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Sehingga dengan demikian, maka segala persiapan tidak ada lagi yang tercecer. Di malam terakhir itu, sebagian dari para pengikut sempat beristirahat sebaik-baiknya. Mereka sempat tidur nyenyak dan bahkan mendekur keras. Hanya beberapa orang yang bertugas sajalah yang sibuk mempersiapkan segala-galanya. Namun demikian, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari berusaha untuk dapat memberi kesempatan kepada orang-orangnya untuk bergantian beristirahat.  Namun lewat tengah malam, maka semua orang telah dibangunkan. Mereka harus mulai mempersiapkan diri sebaikbaiknya Mereka harus mengamati senjata mereka masing-masing, agar senjata mereka tidak mengecewakan jika mereka sudah berada di medan pertempuran. “Semua orang harus bersiap untuk melindungi diri sendiri dari hujan anak panah,“ berkata Kiai Narawangsa “yang tidak berperisai supaya bersiap sebaik-baiknya agar tidak mati sebelum memasuki pintu gerbang padepokan.” Demikianlah, setelah segala sesuatunya bersiap, maka sebuah iring-iringan yang cukup besar telah mulai bergerak menuju ke padepokan. Mereka juga sudah makan sekenyangkenyangnya agar mereka tidak kehabisan tenaga disaat-saat mereka bertempur nanti di padepokan. Sementara itu. orang-orang yang ditugaskan khusus telah menyediakan makanan pula yang dapat dimakan kapan saja menurut kebutuhan. Diantara iring-iringan itu terdapat pula beberapa ekor kuda beban yang mengangkut bahan-bahan yang akan dipergunakan untuk membakar pintu padepokan. Pada saat yang demikian Gunasraba telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bersama beberapa orang yang telah terlatih dan berpengalaman, maka Gunasraba duduk diatas punggung kuda masing-masing. Beberapa orang diantaranya memegangi kendali kuda-kuda yang menjadi kuda beban.. Pada saat yang ditentukan, maka beberapa orang berkuda itupun dengan cepat telah berpacu menuju ke pintu gerbang utama dan yang lain ke pintu butulan sebagaimana yang pernah mereka amati sebelumnya.  Semuanya berjalan dengan cepat. Para petugas yang berjaga-jaga diatas panggungan melihat beberapa ekor kuda muncul dari kegelapan. Kuda-kuda itu berlari kencang menuju ke padepokan. Bahkan ada diantaranya kuda-kuda yang tidak berpenumpang. Mula-mula para petugas itu mengira bahwa orang-orang yang datang berkuda itu, sebagaimana pernah mereka lakukan, hanya akan mengamati keadaan. Tetapi kuda-kuda itu berlari langsung mendekati pintu gerbang utama. Yang lain memencar menuju ke pintu-pintu gerbang butulan. Para petugas yang sedang berjaga-jaga itu terlambat mengambil sikap. Ketika beberapa orang menyadari keadaan itu, mereka berusaha untuk mencegahnya dengan anak panah. Tetapi para petugas itu memang terlambat memberikan tanggapan terhadap langkah-langkah yang tidak terduga ilu. Orang-orang beikuda itupun segera telah berada di pintupintu gerbang. Anak panah yang diluncurkan dari panggungan di-belakang dinding memang agak sulit untuk mencapai orang-orang yang berdiri melekat pintu gerbang yang dialasnya terdapat atap ijuk. Karena itu, maka dua orang diantara mereka pun segera berlari-lari turun untuk memberikan laporan kepada Kiai Lemah Teles yang berada di pendapa bersama Ki Warana. “Kita benar-benar sudah mulai” berkata Ki Lemah Teles. “Aku akan melihat apa yang terjadi, Ki Lemah Teles,“ berkata Ki Warana. “Aku juga akan pergi. Perintahkan memberitahukan kepada orang-orang yang malas itu.”  Ki Warana dan Ki Lemah Teles pun segera berlari-lari ke panggungan, sementara itu, Ki Warana telah memerintahkan seorang cantrik untuk memberitahukan kepada orang-orang tua yang berilmu tinggi yang sedang berada di belakang. “Bongkok buruk dan Ki Ajar Pangukan tidak mengigau dengan ceriteranya tentang serangan yang akan dilakukanmenjelang fajar hari ini.” berkata Ki Lemah Teles sambil berlari-lari ke panggungan. Demikian Ki Lemah Teles dan Ki Warana naik ke panggungan disisi kanan pintu gerbang, maka iapun segera menyadari, apa yang akan terjadi. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi pengalaman dan pengetahuan Ki Lemah Teles yang luas segera mengetahui, bahwa orang-orang itu akan membakar pintu gerbang. Sebenarnyalah Gunasraba telah meletakkan beberapa onggok serat kering di bawah pintu gerbang. Serat kering yang sudah berbaur dengan serbuk biji jarak. Kemudian untuk meyakinkan bahwa api akan berkobar, dituang pula dua bumbung minyak kelapa. Kemudian beberapa kampil biji jarak ditaburkan pula diatasnya. Beberapa saat kemudian, maka Gunasraba pun segera mempersiapkan api dengan batu titikan dan dimik-dimik belerang. Demikian matangnya persiapan yang dilakukan, sehingga segalanya itu terjadi demikian cepatnya. Gunasraba tidak mempergunakan kayu-kayu kering untuk mengobarkan api, karena serat yang disediakan sudah cukup banyak, sehingga Gunasraba itu yakin, bahwa api akan segera menelan pintu gerbang induk itu.  Sebenarnyalah serat-serat yang kering itu dengan cepat terbakar. Serbuk biji jarak yang mengandung minyak itupun cepat membuat api semakin besar. Demikian pula minyak kelapa yang dituang serta beberapa kampil biji jarak Untuk beberapa saat lamanya, Gunasraba memang masih harus melindungi apinya yang sedang membesar. Dalam pada itu, maka didalam dinding padepokan telah terdengar isyarat untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Suara kentongan-kentongan kecil telah melontarkan perintah kepada setiap orang yang ada didalam dinding padepokan. Gunasraba yang mendengar suara kentongan itu sempat mengumpat. Ternyata orang-orang padepokan itu tidak menjadi gugup dan bingung. Suara kentongan-kentongan kecil, itu tidak membayangkan kegelisahan. Tiga atau ampat kentongan yang mengisyaratkan perintah itu memperdengarkan iramanya yang mapan. Orang-orang padepokan itu memang tidak menjadi bingung. Sebelumnya mereka sudah mendapat perintah untuk berada dalam kesiagaan tertinggi. Tetapi yang terjadi memang lebih cepat dari yang mereka duga. Mereka memperhitungkan bahwa serangan itu akan datang bersamaan dengan terbitnya matahari. Tetapi ternyata di dini hari kentongan itu sudah harus memberikan isyarat agar mereka bersiap. Ternyata kentongan itu berbunyi di saat mereka sedang makan. Karena itu, maka mereka pun segera menelan nasi yang masih belum sempat mereka makan. Sedikit terhambat di kerongkongan, sehingga mereka harus minum lebih banyak.  Beberapa saat kemudian para cantrik itupun berlari-larian naik ke panggungan. Sementara yang lain, bersiap-siap ditempat yang sudah ditentukan bagi setiap kelompok. Tetapi terdengar perintah yang lain dari beberapa orang yang berada di belakang pintu gerbong ”Air. Air.” Para cantrik yang berada disekitar pintu gerbang utama dan pintu gerbang mereka. Karena itu, maka mereka pun segera berlari-lari mencari air dengan bumbung-bumbung panjang yang sering dipergunakan untuk mengusung air mengisi gentong dan tempayan didapur, atau dengan kelenting. Tetapi bumbung-bumbung yang tersedia tidak cukup banyak untuk mengatasi api yang menyala semakin besar. Pintu gerbang utama dan butulan yang terbuat dari kayu itu sudah mulai terbakar. Bahkan gawang pintunya juga sudah mulai menyala. Sementara itu, ijuk pada atap pintu gerbang itupun akan sangat mudah terbakar pula. Para pemimpin padepokan itu memang tidak mengira bahwa Kiai Narawangsa akan mempergunakan cara yang tidak banyak dipergunakan orang untuk memecahkan pintu gerbang utama dari sebuah sasaran. Kiai Narawangsa tidak memecahkan pintu gerbang dengan sebuah balok kayu yang panjang dan besar yang diusung oleh banyak orang. Tidak pula mempergunakan tali-tali yang kuat yang ditarik oleh beberapa ekor kuda. Tetapi Kiai Narawangsa telah mempergunakan api. Bukan untuk memecahkan pintu, tetapi membakar pintu itu sehingga menjadi abu. Ternyata air memang tidak banyak menolong. Apalagi air itu tidak cukup banyak dibanding dengan nyala api yang membesar. Tidak cukup banyak bumbung-bumbung besar yang dibuat dari bambu petung yang dapat dipergunakan untuk mengangkut air.  Karena itu, maka Ki Lemah Teles akhirnya memerintahkan para cantrik untuk menghentikan usaha mereka memadamkan api. Tetapi para cantrik harus segera bersiap dalam kesiagaan kedua. Mereka harus bersiap untuk bertahan di belakang pintu gerbang yang sudah dapat dipastikan akan terbuka. Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan yang berdiri di panggungan sebelah kiri itupun menyaksikan api yang menyala itu dengan termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja Ki Pandi itu berkata kepada seorang cantrik “Siapkan tali, he, kalian punya tampar ijuk?” “Ada Kiai “jawab seseorang cantrik “sisa tampar ijuk yang kemarin dipergunakan untuk memperbaiki tali-tali ijuk panggungan ini?” “Masih ada berapa gulung?” “Masih ada beberapa gulung Kiai.” Ki Pandi pun kemudian berkata kepada Ki A jar Pangukan ”Ki Ajar, marilah kita bermain-main dengan orang-orang yang sedang membakar pintu gerbang itu. Ki Ajar Pangukan pun segera tanggap. Karena itu, maka iapun segera menyahut ”Marilah. Ajak kedua cucumu itu.” Manggada dan Laksana yang ada di panggungan itu pula, segera menyahut “Marilah, Ki Ajar. Kami akan ikut bersama Ki Ajar.” Demikianlah, maka dengan cepat mereka telah mengurai tampar ijuk itu dan menjulurkannya keluar dinding. Disisi lain, diatas panggungan Ki Lemah Teles melihat Ki Pandi menjulurkan tali ijuk. Tidak hanya sehelai, tetapi beberapa helai.  Ki Lemah Teles segera mengetahui apa yang akan dilakukan. Sementara itu Ki Sambi Pitu dan Ki Jagaprana juga sudah naik ke panggungan itu pula. Tanpa menunggu, maka Ki Jagaprana dan Ki Sambi Pitu pun segera bersiap. Karena di panggungan itu tidak ada tali ijuk yang dapat mereka pergunakan, maka mereka tidak mempergunakannya. Orang-orang berilmu tinggi itu kemudian meloncat begitu saja dari atas dinding padepokan seperti seekor kucing. Sementara itu, Ki Pandi dan Ki Ajar Pangukan telah turun dengan mempergunakan tali ijuk. “Kenapa orang-orang itu mempersulit diri dengan tali-tali ijuk? “ desis Ki Sambi Pitu. “Sebenarnya tali-tali itu tidak untuk mereka” jawab Ki Jagaprana. Sebenarnyalah selain kedua orang tua berilmu tinggi itu, Manggada dan Laksana pun telah turun pula menyusuri tali ijuk itu diikuti oleh beberapa orang cantrik. Gunasraba yang berada di depan pintu menunggui api yang menyala semakin besar itupun terkejut. Ia tidak mengira bahwa ada beberapa orang yang turun dari atas dinding dan berlari-lari mendekatinya. “Cegah mereka,“ teriak Gunasraba. Beberapa orang yang datang bersamanya segera bersiap untuk menyongsong orang-orang yang berlari-lari itu. Namun Gunasraba sendiri tidak ikut bersama mereka. Dengan tangkasnya Gunasraba itu meloncat keatas punggung kudanya dan dengan cepat melarikan diri kedalam gelap.  Para pengikutnya memang termangu sejenak. Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan. Dengan geram Manggada dan Laksana telah berloncatan mendekat. Tetapi Ki Pandi tidak segera menyerang mereka. Dengan lantang iapun berkata ”Menyerahlah. Kalian tidak mempunyai pilihan lain.” Orang-orang yang datang bersama Gunasraba itu tidak menghiraukan. Jumlah orang yang turun dengan tali itu tidak banyak. Karena itu, maka mereka merasa mampu untuk bertahan sambil menunggu kawan-kawan mereka yang akan segera datang untuk menolong. Mereka meyakini bahwa Ki Gunasraba sedang menghubungi Kiai Narawangsa untuk mendapatkan bantuan. Karena itu, justru orang-orang itulah yang telah mendahului menyerang mereka yang turun dari dinding padapokan. Beberapa orang cantrik pun segera terlibat dalam pertempuran. Manggada dan Laksana juga segera terjun langsung melawan orang-orang yang telah membakar pintu gerbang itu. Namun bagaimana pun juga api yang membakar pintu gerbang itu tidak dapat dipadamkan. Pintu gerbang itu memang terbakar. Yang dilakukan oleh para cantrik kemudian adalah mencegah panggungan disebelah menyebelah pintu gerbang itu ikut terbakar. Dalam pada itu pertempuran yang terjadi di depan pintu gerbang itu tidak berlangsung lama. Ketika orang-orang tua berilmu tinggi itu melibatkan diri, maka dengan cepat orangorang yang membakar pintu gerbang itu telah dikuasai.  Bahkan ketika.orang-orang yang membakar pintu-pintu butulan ikut bergabung dengan kawan-kawan mereka, ternyata mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Dalam waktu yang singkat beberapa orang telah terkapar di depan pintu gerbang yang telah terbakar sedangkan yang lain telah menyerah. Para cantrik padepokan itu justru berhasil menguasai beberapa ekor kuda. Tetapi mereka tidak tahu, bagaimana mereka akan membawa kuda-kuda itu masuk kedalam padepokan, karena pintu gerbang utama dan pintu-pintu butulan telah dibakar. Tetapi tiba-tiba saja seorang cantrik berteriak “Masih ada satu pintu butulan yang tidak dibakar.” Ki Pandi yang mendengar teriakan cantrik dari panggungan itu bertanya “Disisi sebelah mana?” “Pintu butulan kecil yang menghadap ke Timur. Pintu yang hampir tidak pernah dipergunakan.” Ki Pandi, orang-orang tua yang berilmu tinggi serta Manggada dan Laksana pun telah membawa beberapa ekor kuda yang tertinggal serta para tawanan mengelilingi dinding padepokan menuju ke pintu gerbang yang menghadap kesebelan Timur, yang karena tidak sering dipergunakan, maka telah ditumbuhi oleh batang ilalang dan pohon-pohon perdu. Namun dalam pada itu, Gunasraba yang melarikan diri diatas punggung kudanya telah sampai ke induk pasukannya. Dengan nafas yang terangah-engah, ia telah melaporkan apa yang terjadi di pintu gerbang utama padepokan Kiai Banyu Bening.  “Orang-orang gila, yang ingin membunuh dirinya sendiri. Baiklah. Marilah kita mendekat. Bukankah sebentar lagi, pintu gerbang utama dan beberapa pintu butulan itu sudah akan menjadi abu?” “Ya. Pada saat matahari terbit. Tetapi kita harus bersabar sedikit, agar kaki kita tidak menginjak bara yang masih panas.” Orang-orang yang pertama akan memasuki pintu gerbang sudah dipersiapkan. Bukankah mereka telah mengenakan tlumpah kulit kayu?” “Aku memang sudah memberikan contoh, bagaimana membuat tlumpah kulit kayu untuk melindungi kaki mereka. Mudah-mudahan mereka telah mempersiapkannya.” “Bukankah kita dapat melihat sekarang?” sahut Nyai Wiji Sari. Gurasraba pun kemudian memerintahkan Parang Landung dan Paron Waja untuk melihat, apakah orang-orangnya mematuhi perintahnya membuat tlumpah-tlumpah kulit kayu untuk melindungi telapak kaki mereka dari bara yang masih panas. Sementara itu, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Saripun telah mempersiapkan segala-galanya. Sesaat lagi, mereka akan bergerak mendekati padepokan. “Sayang, kita kehilangan beberapa ekor kuda” desis Kiai Narawangsa. “Tidak. Sebentar lagi, kita akan mendapatkannya kembali.” jawab Gunasraba. Dalam pada itu Paning Landung dan Paron Waja pun telah melaporkan bahwa orang-orang mereka telah membuat  tiumpah kulit kayu dengan tali kedebog yang sudah dikeringkan. “Tidak ada masalah” berkata Parung Landung “mereka dapat mengabaikan panasnya bara yang tersisa. Meskipun ada yang membuat dari clumpring, tetapi cukup untuk menahan panasnya sisa-sisa gerbang yang sudah menjadi arang.” “Tetapi clumpring itu sendiri akan terbakar,“ berkata Gunasraba. “Bukankah kita tidak akan berdiri tegak diatas bara itu? “ sahut Paron Waja “bukankah kita hanya akan berlari melintas?” Kiai Narawangsa mengangguk-angguk. Tetapi Nyai Wiji Sari menyahut “Jangan merendahkan lawan. Mereka akan menahan kita diatas bara api pintu gerbang itu.” “Kita dapat mengulur waktu sebentar Nyai. Bukankah kita dapat berbicara lebih dahulu dengan Banyu Bening? Ia akan berpikir ulang jika ia melihat kekuatan lata yang besar ini.” “Aku tidak ingin berbicara dengan Banyu Bening. Aku hanya ingin anakku itu.” Kiai Narawangsa tidak menjawab lagi. Namun kemudian iapun bertanya kepada Gunasraba “Marilah. Apakah kita sudah bersiap sepenuhnya?” “Sudah kakang. Kita sudah dapat bergerak sekarang. Mudah-mudahan kita masih sempat menolong orang-orang yang terjebak saat mereka membakar pintu gerbang.” Demikianlah, maka Parung Landung dan Paron Wajapun segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak menuju ke padepokan.  Sementara itu langit telah menjadi merah. Mereka berharap ' bahwa saat matahari terbit, mereka sudah memasuki pintupintu gerbang padepokan yang mereka sangka masih dipimpin oleh Kiai Banyu Bening itu. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sarilah yang melangkah di paling depan. Kemudian Gunasraba dan dua orang saudara seperguruannya. Dua orang kakak beradik yang sebenarnya tidak kembar, tetapi wajah mereka demikian miripnya, sehingga banyak orang menyangka bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar. Sedangkan sebenarnya umur mereka terpaut dua tahun. Kren-dhawa dan Mingkara. Demikianlah, maka langkah kaki yang berderap di padang perdu itupun seakan-akan telah menggetarkan bumi. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari yang berjalan dipaling depan nampak menjadi tegang. Telah berpuluh bahkan beratus kali keduanya turun ke medan pertempuran. Bukan saja saat-saat mereka merampok dan menyamun di bulak-bulak panjang. Tetapi sudah berapa kali mereka terperosok ke dalam benturan kekuatan diantara mereka yang hidup dalam dunia yang kelam. Bertempur untuk memperebutkan pengaruh dan daerah jelajah, serta kadang-kadang tanpa sebab apa-apa. Tetapi yang dihadapi oleh Nyai Wiji Sari saat ini adalah orang yang pernah tersangkut dalam perjalanan hidupnya. Bahkan seseorang yang telah memberinya seorang anak yang sekarang dimakamkan di belakang dinding padepokan itu. Anak itulah yang setiap saat seakan-akan memanggilmanggilnya. Mengulurkan tangannya, menggapainya sambil memanggil-manggilnya “Ibu, ibu, aku kedinginan, ibu.”  Nyai Wiji Sari menggeretak-kan giginya. Langkahnya menjadi semakin cepat. Bahkan rasarasanya Nyai Wiji Sari itu ingin meloncat langsung memasuki padepokan Kiai Banyu Bening. Tetapi di samping itu, ada semacam keseganan untuk bertemu dengan Kiai Banyu Bening sendiri. Meskipun setiap kali Nyai Wiji Sari berusaha untuk mengingkarinya, tetapi di dasar hatinya, ia mengakui, betapa ia telah melakukan kesalahan sebagai seorang isteri, karena ia sudah membiarkan Narawangsa masuk ke dalam bilik tidurnya, justru saat ia menidurkan anaknya. Petaka itu tidak dapat dihindarinya. Nyai Wiji Sari itu tertegun melihat api yang sudah menjadi semakin surut. Pintu gerbang padepokan itu telah runtuh. Tidak ada lagi yang menghalangi langkah mereka memasuki padepokan itu. Tetapi yang terbuka, yang tidak menjadi penghalang lagi, adalah pintu pada gerbang utama dan butulan. Di belakang reruntuhan itu telah bersiap para cantrik dan para pengikut Kiai Banyu Bening.  Nyai Wiji Sari mengerutkan dahinya. Sementara itu, kakinya melangkah semakin panjang. Ada dua dorongan yang bertentangan didalam diri Nyai Wiji Sari. Ia memang ingin lebih cepat sampai di makam anaknya, tetapi ada keseganan di hatinya untuk bertemu dengan Kiai Banyu Bening. Nyai Wiji Sari rasa-rasanya tidak akan berani menatap wajah laki-laki itu. Laki-laki yang pernah menjadi suaminya. Namun di luar sadar, mereka telah menjadi semakin dekat dengan reruntuhan pintu gerbang utama. Api telah jauh menyusut Meskipun demikian. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari masih dapat melihat dengan jelas, beberapa sosok tubuh yang terbujur lintang. Mereka adalah orang-orang yang datang bersama Ki Gunasraba untuk membakar pintu gerbang. “Kiai Banyu Bening telah membantai mereka,“ berkata Gunasraba dengan geram. Tetapi langkah mereka terhenti. Mereka sadari, bahwa diatas panggungan itu beberapa orang cantrik telah mempersiapkan anak-panah dan lembing yang sudah siap mereka lontarkan. Dengan isyarat Kiai Narawangsa telah memanggil beberapa orang yang juga sudah mempersiapkan anak panah mereka. “Pada saatnya, lindungi kami,“ terdengar suara Kiai Narawangsa yang berat. Tetapi pasukan itu memang berhenti. “Kita memang harus bersabar” berkata Gunasraba yang melihat api di pintu gerbang itu hampir padam. Dalam pada itu, Kiai Narawangsapun segera memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap ditempat yang  telah ditentukan sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Beberapa kelompok diantara mereka telah pergi mengelilingi padepokan itu. Mereka adalah kelompokkelompok yang mendapat tugas untuk memasuki padepokan lewat pintu butulan. Kiai Narawangsa telah berpesan kepada mereka, bahwa kelompok-kelompok itu harus bergerak setelah mereka mendengar isyarat yang akan dilontarkan lewat panah sendaren dari depan pintu gerbang utama. Dalam pada itu, dari atas panggungan para cantrik mengikuti terus gerak-gerik pasukan Kiai Narawangsa. Setiap saat ada diantara para cantrik itu yang menghubungi dan memberikan laporan kepada Ki Lemah Teles dan Ki Warana. Dalam pada itu, Gunasraba telah membagi kedua orang saudara seperguruannya serta kedua orang anaknya untuk memimpin pasukan yang akan memasuki pintu gerbang butulan. Parang Landung dan Paron Waja, yang dianggapnya sudah memiliki kemampuan yang memadai, akan memasuki padepokan itu lewat pintu butulan sebelah kiri yang juga telah terbakar habis. Sementara kedua orang saudara seperguruannya, Krendhawa dan Mingkara, akan memasuki pintu butulan sebelah kanan. Mereka telah membawa masingmasing pasukan secukupnya. Dalam pada itu, langit pun menjadi bertambah terang. Manggada dan Laksana yang juga berada di panggungan melihat dua orang anak muda yang bergerak ke kiri dengan beberapa kelompok orang. “He, kau kenal kedua orang itu?” bertanya Laksana sambil menggamit Manggada.  Manggada mengerutkan dahinya. Dengan ragu ia berkata ”Kedua anak muda itulah yang telah kita lihat dijalan bulak itu.” “Ya. yang berpapasan dengan kita berdua. Mereka sama sekali tidak mau menepi, sehingga kita harus berjalan diatas tanggul parit.” Manggada mengangguk-angguk. Sementara Laksana berkata selanjutnya “Mereka akan berusaha memasuki pintu butulan sebelah kiri.” “Kita akan menemui mereka,“ sahut Manggada. Atas ijin Ki Pandi dan Ki Lemah Teles, maka Manggada dan Laksana telah pergi ke pintu butulan sebelah kiri, yang juga sudah terbakar. Mereka segera bergabung dengan para cantrik yang bertugas di tempat itu. “Aku akan berada diantara kalian “ berkata Manggada. “Bagaimana dengan pintu gerbang utama? “ bertanya seorang cantrik yang diserahi pimpinan di belakang pintu butulan itu. “Ki Lemah Teles ada disana. Diluar, dua orang anak muda yang memimpin para pengikut Kiai Narawangsa, nampaknya orang-orang berilmu. Mudah-mudahan bersama kalian, kami ber-dua dapat menahan rnereka.” Para cantrik itu mengangguk-angguk. Mereka memang menjadi mantap dengan kehadiran Manggada dan Laksana, karena para cantrik itu mengetahui, bahwa kedua orang anak muda itu telah memiliki ilmu yang tinggi. Dalam pada itu, maka Ki Jagapranapun telah diminta untuk berada di butulan sebelah kanan” karena mereka melihat dua orang yang diduga kembar, berada diantara mereka yang  akan memasuki padepokan lewat pintu gerbang sebelah kanan. “Baik” jawab Ki Jagaprana “aku akan melihat apakah orang kembar itu akan dapat mengejutkan anak-anak padepokan ini.” “Tetapi berhati-hatilah” pesan Ki Lemah Teles ”jika keduanya menunjukkan kelebihannya, biarlah beberapa orang cantrik membantumu, sementara kau panggil salah seorang dari kami. Aku tidak mau kau mati. Kita masih mempunyai persoalan.” Ki Pandi lah yang menyahut ”Jika kau masih ingin berperang tanding, kenapa tidak kau tantang saja Nyai Wiji Sari.” “Kenapa tidak kau lakukan sendiri?” bentak Ki Lemah Teles. Ki Pandi tertawa. Katanya ”Jika saja aku tidak bongkok dan tidak berpenampilan buruk.” “Apakah kau tidak ingat bahwa umurmu sudah berada di senja hari? Seandainya kau tidak bongkok dan buruk, kaupun sudah menjadi pikun.” Ki Pandi tertawa semakin keras. Orang-orang lain yang mendengarnya ikut tertawa pula. “Sudahlah pergilah” bentak Ki Lemah Teles ”orang kembar itu sudah sampai di muka pintu butulan.” “Api masih sedikit menyala” jawab Ki Jagaprana ”mereka tentu akan menunggu bara api itu padam.” “Lihat. Sebagian besar dari mereka memakai tlumpah.”  Ki Jagaprana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dengan tergesa-gesa iapun melangkah menuju ke butulan sebelah kanan. Sebagaimana Manggada dan Laksana, maka Ki Jagaprana pun disambut dengan gembira oleh para cantrik yang bertugas di pintu butulan sebelah kanan yang sudah hampir menjadi abu. Bahkan api pun mulai menjadi padam, meskipun asap masih mengepul. Diatas panggungan Ki Jagaprana melihat para cantrik siap dengan busur dan anak-apanah serta lembing-lembing bambu. Tetapi Ki Jagaprana pun kemudian telah memberitahukan beberapa orang cantrik yang bersenjata anak panah untuk bersiap menyambut para pengikut Kiai Narawangsa demikian mereka memasuki pintu butulan yang sudah terbuka itu, “Kalian harus melumpuhkan lapisan pertama dari orangorang yang memasuki pintu yang sudah menjadi abu itu. Jika mereka membawa perisai, maka bidiklah kakinya. Jika mungkin lututnya. Jika mereka tidak membawa perisai, maka sasaran kalian adalah dada mereka.” Demikianlah, maka beberapa orang yang bersenjata busur dan anak panah pun telah bersiap. Mereka telah memasang anak-panahnya pada busurnya. Dilambungnya tergantung bumbung yang berisi anak-panah pula. Beberapa saat mereka menunggu. Para cantrik yang ada didalam Beberapa saat mereka menunggu. Para cantrik yang ada didalam dinding padepokan itu rasa-rasanya tidak sabar lagi. Terutama mereka yang sudah mengetrapkan anak-panah pada busurnya dan bahkan tali busur itu sudah mulai menegang.  Di depan pintu gerbang padepokan yang sudah terbakar. Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari bersama pasukan induknya telah berhenti. Mereka memang harus menunggu api di gerbang itu agar padam sama sekali. Tetapi sisa-sisa api dan bara tidak akan dapat menahan mereka, karena orang-orang yang sudah siap memasuki padepokan itu mempergunakan alas kaki yang mereka buat dari kulit kayu. Sementara itu, para penghuni padepokan itupun sudah siap pula untuk menahan serangan yang sebentar lagi akan melanda padepokan itu, Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan dan Ki Sambi Pitu telah siap bersama para cantrik dibelakang pintu gerbang yang terbakar. Sementara Ki Lemah Teles dan Ki Warana masih berada di panggungan di sebelah pintu gerbang yang sudah terbakar itu. “He, Kiai Banyu Bening” berteriak Kiai Narawangsa ”aku masih memberi kesempatan untuk menyerah. Meskipun kami yakin akan dapat menghancurkan seluruh padepokan ini, bukan hanya pintu gerbanya saja, tetapi kami masih mempunyai belas kasihan. Karena itu, sebaiknya kau menyerah saja.” Ki Lemah Teles yang berada dipanggungan memandang pasukan yang sudah siap itu dengan jantung yang berdebardebar. Tetapi Ki Lemah Teles sudah bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya, bahwa Kiai Banyu Bening sudah tidak ada. Kawan-kawannya telah menyetujuinya pula. Jika pengakuan itu dapat mencegah pertempuran, maka tidak perlu jatuh korban dari kedua belah pihak, meskipun hal itu sudah terjadi atas sekelompok orang yang telah membakar pintu gerbang, kecuali mereka yang telah menyerah. “He. Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa pula ”jawab pernyataanku ini. Kesempatan untuk menyerah.”  Ki Lemah Teles yang ada diatas panggungan itupun menyahut ”Kiai Narawangsa, apakah kau tidak dapat melihat kami yang berada diatas panggungan. Cahaya matahari telah nampak di langit. Kami yang ada di panggungan sudah dapat melihat wajah kalian seorang demi seorang.” Kiai Narawangsa termangu-mangu sejenak. Suara itu bukan suara Kiai Banyu Bening. Meskipun sudah lama ia tidak mendengar suara Banyu Bening, tetapi Kiai Narawangsa masih akan dapat mengenali suara itu. Ketika ia berpaling kepada Nyai Wiji Sari, maka Kiai Narawangsa itupun melihat kening Nyai Wiji Sari berkerut. “Siapa kau?” tiba-tiba saja suara Nyai Wiji Sari melengking tinggi. . Kiai Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, ”Aku Ki Lemah Teles yang menunggui padepokan ini bersama Ki Warana.” “Kami ingin berbicara dengan Kiai Banyu Bening” teriak Kiai Narawangsa kemudian ”kami tidak akan berbicara dengan orang lain.” Kiai Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berteriak pula, ”Kiai Narawangsa. Ketahuilah, bahwa padepokan ini bukan lagi padepokan yang dipimpin oleh Kiai Banyu Bening. Sekarang akulah yang memimpin padepokan ini setelah padepokan ini ditinggalkan oleh Kiai Banyu Bening beberapa saat yang lalu.” Jawaban itu sangat mengejutkan. Hampir diluar sadar Nyai Wiji Sari berteriak nyaring ”Bohong. Kalian tidak usah menyembunyikan Kiai Banyu Bening. Kami datang untuk membuat perhitungan dengan orang itu.”  “Kami berkata sebenarnya Nyai. Kiai Banyu Bening sudah tidak ada. Sesuatu telah terjadi di padepokan ini. Bencana.” “Jangan melingkar-lingkar” sahut Kiai Narawangsa. ”Apakah Kiai Banyu Bening sekarang sudah menjadi seorang pengecut, sehingga tidak berani lagi menghadapi kami.” “Tidak. Kiai Banyu Bening memang bukan pengecut. Itulah sebabnya maka kalian tidak lagi dapat menjumpai Kiai Banyu Bening sekarang.” Di belakang pintu gerbang yang sudah menjadi abu, Ki Ajar Pangukan menjadi berdebar-debar. Ia pernah menerima utusan Kiai Narawangsa dan mengaku sebagai Kiai Banyu Bening. “Apa yang sebenarnya telah terjadi disini?” bertanya Nyai Wiji Sari ”penipuan? Kepura-puraan, atau sebuah permainan yang licik?” “Tidak ada penriainan yang licik. Tetapi ketahuilah, bahwa Kiai Banyu Bening memang sudah tidak ada dalam arti yang sebenarnya. Kiai Banyu Bening telah gugur saat ia mempertahankan padepokan ini.” “Bohong” teriak Nyai Wiji Sari dengan serta-merta. Betapa ia dan Kiai Banyu Bening bermusuhan karena kehadiran Kiai Narawangsa, tetapi berita kematian Kiai Banyu Bening sangat mengejutkannya. “Kami tidak berbohong Nyai” jawab Kiai Lemah Teles ”kami dapat menceriterakan urut-urutan peristiwanya.” “Siapa yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari dengan suara bergetar. “Panembahan Lebdagati,” jawab Ki Lemah Teles.  “Lebdagati. Jadi iblis itukah yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” “Ya. Panembahan Lembadagi datang ke padepokan ini dan merebutnya untuk beberapa hari, sebelum kami datang membebaskannya,” sahut Ki Lemah Teles “kami dapat mengusir Panembahan Lebdagati. Tetapi kami tidak dapat menangkapnya, apalagi membunuhnya.” Jantung Nyai Wiji Sari terasa berdegup semakin cepat. Darahnya seakan-akan bergejolak didalam dadanya. Rasarasanya ia tidak rela mendengar berita kematian Kiai Banyu Bening. Betapa ia terpisah dari orang itu, namun Kiai Banyu Bening pernah menjadi suaminya. Ketika ia mula-mula mengenal sentuhan tangan laki-laki, orang itu adalah Kiai Banyu Bening. Dalam pada itu, Kiai Narawangsalah yang berteriak, ”Apakah kau justru pengikut Panembahan Lebdagati itu?” “Tidak. Kami bukan pengikut Panembahan Lebdagati. Kami justru telah bertempur melawannya dan mengusirnya dari padepokan ini.” Sejenak Kiai Narawangsa menjadi termangu-mangu. Ia mencoba memandang wajah-wajah orang yang berada di panggungan. Sebenarnyalah bahwa tidak ada orang yang dapat diduganya Kiai Banyu Bening. Tetapi Kiai Banyu Bening memang dapat saja bersembunyi atau melarikan diri sebelumnya. Namun Kiai Banyu Bening memang bukan seorang pengecut yang dapat berbuat seperti itu. Dalam pada itu, Ki Lemah Telespun berkata ”Kiai Narawangsa, apakah sebenarnya yang kalian kehendaki dari  Kiai Banyu Bening? Jika kami dapat memenuhinya, maka kami akan mencoba memenuhinya tanpa harus mengorbankan banyak orang.” “Ki Lemah Teles” suara Nyai Wiji Sari dengan nada tinggi seakan-akan menggetarkan dinding-dinding padepokan dan bahkan panggungan di sebelah pintu gerbang yang terbakar itu. Gejolak perasaannya benar-benar telah mengguncang dadanya, sehingga getar suara yang dilontarkan bagaikan mengandung tenaga yang sangat besar ”apapun yang kau katakan tentang Kiai Banyu Bening, namun kami datang dengan niat yang tidak berubah. Kami menghendaki padepokan ini. Jika benar kau berniat menghindari penumpahan darah, maka tinggalkan padepokan ini. Tidak ada yang boleh kau bawa selain pakaian yang melekat ditubuh kalian. Aku akan tinggal di padepokan ini menunggui anakku yang telah dibawa ke padepokan ini oleh Kiai Banyu Bening.” Ki Lemah Teles termangu-mangu sebentar. Namun kemudian iapuan bertanya ”Jadi itukah niat Nyai datang kemari? Nyai akan mengambil kembali anak Nyai? Juga anak Kiai Banyu Bening? Bagaimana mungkin Nyai datang untuk menemui seorang suami dengan membawa kekuatan yang demikian besarnya? Kecuali jika Nyai akan mengambil kembali suami Nyai yang berada ditangan orang lain.” “Cukup” teriak Nyai Wiji Sari. Suaranya semakin lantang dan udara pun bergetar semakin keras. Bahkan getar suara perempuan itu telah mulai menyentuh isi dada ”jadi begitukah caramu mencari penyelesaian tanpa mengorbankan nyawa?” “Nyai “ berkata Ki Lemah Teles kemudian ”jika Nyai ingin mengambil anak Nyai itu, terserah kepada Nyai. Kami tidak akan menghalangi. Ambillah, karena itu memang anak Nyai. Tetapi jangan mengambil padepokan ini. Kami sudah  merebutnya dari tangan Panembahan Lebdagati dengan menitikkan keringat dan darah. Bagaimana mungkin kami akan melepaskannya begitu saja.” “Aku tidak peduli” sahut Kiai Narawangsa ”kami akan memberi waktu secukupnya jika kalian memang akan pergi. Kami tidak akan mengganggu kalian yang meninggalkan padepokan ini. Tetapi jika ada diantara kalian yang memilih bergabung dengan kami, kami tidak berkeberatan. Tetapi kalian harus bersedia mematuhi segala paugeran didalam lingkungan kami.” “Kiai” jawab Ki Lemah Teles “kami akan mempertahankan padepokan ini, apapun yang terjadi. Jika kalian memaksakan kehendak kalian, maka kami justru akan menutup kesempatan Nyai Wiji Sari untuk mengambil anaknya. Biarlah anak itu kesepian disini tanpa ayah dan ibunya.” “Tidak” teriak Nyai Wiji Sari ”aku akan menunggui anakku disini.” “Itu tidak mungkin, Nyai. Karena itu, maka terserah kepada Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Apakah kita harus bertempur atau tidak. Seandainya kita harus bertempur, kami pun sudah siap. Para cantrik dari padepokan ini masih menyandang kebanggaan setelah mereka berhasil mengusir Panembahan Lebdagati. Karena itu, maka dengan darah yang masih panas, kami akan menghadapi kalian. Tetapi jika kalian berniat mengambil anak itu dengan cara yang baik, kami tidak akan berkeberatan. Kami akan memberi kesempatan kepada kalian sebaik-baiknya.” “Cukup” teriak Kiai Narawangsa ”kami akan mengusir kalian dengan kekerasan.”  Ki Lemah Teles tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka iapun berkata ”Jika demikian, maka kita akan bertempur. Tetapi dengan demikian maka kalian tidak akan pernah dapat mengambil anak itu lagi dari padepokan ini.” “Jangan sentuh anak itu.” teriak Nyai Wiji Sari ”jika kalian melakukannya juga, maka nasib padepokan ini akan menjadi sangat buruk.” “Aku tidak akan memeras dengan taruhan anakmu itu Nyai, meskipun sebenarnya anakmu itu sudah tidak berarti apa-apa lagi. Kami akan mempertahankan padepokan ini dengan sikap yang wajar.” “Diam kau,“ bentak Nyai Wiji Sari ”kau anggap anakku itu sudah tidak berarti apa-apa? Aku rindukan anakku siang dan malam. Aku tidak sampai hati melepaskan anakku dalam kesepian, kedinginan dan kepanasan karena ayahnya tidak memperdulikannya.” “Ayahnya lebih peduli kepada anak itu daripada kau Nyai” tiba-tiba Ki Warana menyahut “aku melayani Kiai Banyu Bening setiap hari jika ia berada disisi anaknya. Sampai akhir hayatnya ia sama sekali tidak pernah berpaling kepada seorang perempuan yang akan dapat menyakiti hati anaknya itu. Tetapi kau, apa yang kau lakukan? Kau tinggalkan anakmu didalam api, sementara kau lari dengan seorang laki-laki saat anakmu masih bayi.” “Cukup, cukup. Diam kau iblis” teriak Nyai Wiji Sari dengan suara yang melengking-lengking. “Kenapa aku harus diam? Kau khianati kesetiaan seorang suami. Kau nodai kasih seorang ibu kepada anaknya. Dan sekarang, ketika yang tinggal hanya tulang belulang, kau datang untuk mengambilnya. Semua itu omong kosong. Kau  yang memanfaatkah anakmu yang telah kau tinggalkan didalam api yang menyala itu untuk menantang Kiai Banyu Bening dan sekaligus berusaha merebut padepokannya.” “Kau gila. Kau gila” teriak Nyai Wiji Sari semakin keras. “Aku adalah orang terdekat dengan Kiai Banyu Bening. Aku melihat bagaimana Kiai Banyu Bening menjadi gila karena tangis anaknya yang ditelan api, sehingga kegilaannya itu telah mewarnai kepercayaannya. Ia ingin seratus orang bayi mau sebagaimana anaknya, menangis didalam api yang menyala.” “Tidak. Kau bohong” Kiai Narawangsa lah yang menyahut Banyu Bening mendengar tangis anaknya bagaikan kidung yang mengalun di atas mega di langit biru. Ketika ia merindukan suara kidung itu lagi, maka ia telah memerintahkan untuk membakar seratus orang bayi demi kepuasan batinnya.” Tetapi Ki Warana menjawab ”Kau benci akan kesetiaan Kiai Banyu Bening, karena kau telah mengambil isterinya dengan cara yang tidak beradab.” “Cukup” teriak Kiai Narawangsa. Tiba-tiba saja Kiai Narawangsa itu mengangkat tangannya sambil berteriak ”Lontarkan anak panah sendaren. Kita koyak mulut-mulut yang memfitnah itu.” Ki Lemah Teles tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Diperintahkannya, para cantrik yang bersenjata anak panah untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian, maka beberapa batang anak panah sendaren telah terlepas dari busurnya. Anak panah yang memberikan isyarat kepada semua kekuatan yang dibawa oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari untuk bergerak serentak.  Ki Lemah Teles yang berada di panggungan pun tanggap akan perintah itu. Ketika ia melihat pasukan itu mulai bergerak, maka Ki Lemah Teles telah memerintahkan membunyikan isyarat dengan memukul bende diatas panggungan itu. Demikian suara bende itu meraung-raung diatas panggungan, maka para cantrik seisi padepokan itu telah bersiap. Anak-anak muda dari beberapa padukuhan yang telah berada di padepokan itupun telah mendapatkan dirinya pula. Sebagian dari mereka memang sudah mempunyai sedikit pengalaman, tetapi yang lain sama sekali belum. Namun para pemimpin padepokan itu masih sempat memberikan latihanlatihan kepada mereka meskipun baru landasannya saja sementara lawan mereka adalah orang-orang yang setiap saat selalu bercanda dengan senjata mereka. Tetapi para cantrik padepokan Kiai Banyu Bening yang mengikutii jejak Ki Warana juga cukup banyak. Merekapun memiliki pengalaman sebagaimana para pengikut Kiai Narawangsa. Demikianlah, maka sejenak kemudian, seperti arus banjir bandang, para pengikut Kiai Narawangsa telah menyerang padepokan yang telah ditinggalkan oleh Kiai Banyu Bening itu. Mereka menerobos pintu gerbang induk dan pintu-pintu gerbang butulan yang telah menjadi abu. Tetapi demikian mereka mulai bergerak, maka anak panah pun tercurah bagaikan hujan. Tetapi hal itu memang sudah diperhitungkan oleh Kiai Narawangsa dan para pengikutnya. Karena itu, merekapun tidak terkejut sama sekali. Bahkan mereka telah siap untuk menangkis serangan anak panah yang menghujan itu.  Meskipun demikian, beberapa orang telah terhenti di pintupintu gerbang. Anak panah yang menyusup dibawah perisai dan mengenai lutut, telah melumpuhkan beberapa pengikut Kiai Narawangsa. Namun ada pula anak panah yang menembus dada, sehingga orang yang dikenainya terjatuh dan terinjak-injak oleh kawan-kawannya. Mereka untuk selamanya tidak akan pernah bangkit lagi. Sejenak kemudian, maka banturan kekuatanpun telah terjadi. Tetapi demikian derasnya arus serangan yang mengalir dari luar padepokan, telah memaksa para cantrik untuk bergerak mundur. Tetapi para cantrik itu tidak melepaskan para penyerang untuk begitu saja memasuki padepokan yang telah mereka rebut dari tangan Panembahan Lebdagati itu. Pertempuran pun segera menyala dengan sengitnya. Senjata yang teracu-acu, berputaran dan terayun-ayun itu, telah saling berbenturan. Suaranya berdentang diantara teriakan-teriakan yang mengguruh dari kedua belah pihak. Di induk pasukan Kiai Narawangsa bertempur dengan garangnya. Apa saja yang ada didepannya telah disapunya tanpa ampun. Namun langkahnya terhenti ketika dihadapannya berdiri seorang yang sudah berada diusia senjanya. “Sabarlah sedikit. Kiai Narawangsa. Jangan kau sapu anakanak seperti menebas batang ilalang. Seharusnya kau mempunyai sedikit harga diri dengan mencari lawan yang seimbang, setidak-tidaknya mampu memberikan sedikit perlawanan.” “Siapa kau?” bertanya Kiai Narawangsa. “Namaku Ajar Pangukan.” jawab orang itu.  Kiai Narawangsa menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Namamu tidak dikenal. Minggirlah. Kau sudah terlalu tua untuk berada di medan pertempuran. Aku tidak akan menghancurkanmu sebagaimana orang-orang lain yang berani mendekati aku.” “Kiai Narawangsa, aku berniat untuk melawanmu apapun yang terjadi.” “Kau ternyata belum mengenal aku yang sebenarnya.” “Jika sekarang aku berdiri disini, justru karena aku .ingin mengenalmu sebaik-baiknya.” “Nampaknya kau juga orang berilmu. Tetapi belum terembat bagimu jika kau ingin menyingkir.” “Aku akan tetap mencoba menghadapimu. Marilah, aku sudah bersiap sepenuhnya.” Kiai Narawangsa menggeram. Katanya ”Apaboleh buat jika aku harus membunuhmu.” “Bukankah didalam perang dapat saja terjadi, membunuh atau dibunuh?” “Bagus. Kau benar-benar sudah siap maju ke medan pertempuran. Aku senang mendapat seorang lawan yang sedikit dapat menggelitik ilmuku.” Ki Ajar Pangukan pun kemudian telah bersiap. Kiai Narawangsa telah bergerak selangkah ke samping. Demikian pula Ki Ajar Pangukan sehingga keduanya untuk beberapa saat saling bergeser setapak-setapak.  Sesaat kemudian, maka Kiai Narawangsa yang garang itu mulai meloncat menyerang. Tetapi serangannya yang seakanakan sekedar untuk menyentuh kulit lawannya itu pun telah dielakkan oleh Ki Ajar Pangukan. Namun seranganserangan Kiai Narawangsa berikutnya justru menjadi semakin cepat dan semakin garang. Namun demikian, serangan-serangan itu tidak menyentuh sasarannya. Tetapi Kiai Narawangsa memang belum bersungguhsungguh. Ia masih ingin mengetahui serba sedikit tentang kemampuan lawannya yang sudah lewat separo baya. Ki Ajar Pangukan pun masih belum benar-benar bertempur. Seperti Kiai Narawangsa, Ki Ajar Pangukan baru sekedar ingin mengintip kemampuan lawannya. Karena itu, maka keduanya masih belum menapak pada ilmu mereka yang sebenarnya. Dalam pada itu, yang lebih kasar dari Kiai Narawangsa adalah Ki Gunasraba. Dengan senjata bindi ia menghancurkan apa saja yang ada disekitarnya.Untuk menahan geraknya, maka lima orang cantrik padepokan itu telah mengepungnya.  Namun bindi Gunasraba berputaran dengan cepat. Bindi yang besar itu memang sulit untuk ditahan. Jika terjadi benturan dengan senjata para cantrik, maka senjata-senjata itu harus digenggam erat-erat. Dua orang cantrik telah kehilangan senjata mereka dalam benturan dengan bindi Gunasraba. Untunglah, seorang diantara mereka segera mendapatkan senjata kembali. Sementara cantrik yang lain telah memungut senjata siapa pun juga yang terkapar tidak jauh daripadanya. Meskipun berlima, ternyata cantrik itu mengalami kesulitan. Yang dapat mereka lakukan adalah sekedar menahan, agar Gunasraba tidak mengacaukan pertahanan para cantrik pemula yang masih belum cukup berpengalaman. Namun diantara riuhnya geram dan teriakan-teriakan, terdengar seseorang berkata ”Minggirlah. Aku akan mencoba menghadapinya.” Para cantrik itu memang segera menyibak. Yang muncul adalah Ki Sambi Pitu. Seorang yang rambutnya sudah mulai ubanan. Beberapa lembar yang terjurai dibawah ikat kepalanya, nampak kelabu keputih-putihan. “Kau mau apa, kakek tua? “ bertanya Gunasraba. “He, aku belum tua” jawab Ki Sambi Pitu ”gigiku masih utuh.” “Tetapi rambutmu sudah mulai memutih.” sahut Gunasraba. “Aku dapat menyembunyikan rambutku dibawah ikat kepalaku.” “Kau cukur sampai gundul pun kau tidak akan dapat menyembunyikan umurmu.” Ki Sambi Pitu tertawa. Katanya ”Aku memang sudah tua.”  “Minggirlah. Jangan ganggu aku. Aku akan membinasakan orang-orang yang berani menghalangi jalanku menuju ke pendapa bangunan utama padepokan ini.” Tetapi Ki Sambi Pitu justru tertawa. Katanya ”Kau suka yang aneh-aneh, Ki Sanak. Kau kira kami akan mempersilahkan kalian naik ke pendapa dan menyuguhkan hidangan minuman hangat dan makan siang dengan memotong tiga ekor lembu?” “Setan kau orang tua yang tidak tahu diri. Sekali kau tersentuh senjataku, maka tubuhmu akan segera lumat.” Tetapi Ki Sambi Pitu tidak bergeser dari tempatnya. Dengan tangkasnya Ki Sambi Pitu telah menggerakkan pedangnya. Namun Ki Sambi Pitu itu sadar, bahwa bindi lawannya yang berat itu merupakan senjata yang berbahaya. Ia harus menghindari benturan langsung sejauh dapat dilakukannya. Gunasraba yang marah itupun kemudian berkata ”Jika demikian bersiaplah untuk mati. Tubuhmu akan segera lumat menjadi debu.” Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi ia benar-benar sudah siap untuk menghadapinya. Dengan demikian, maka sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertempuran yang sengit, mereka tidak merasa perlu untuk saling menjajagi. Apalagi tangan Gunasraba sudah terlanjur berkeringat ketika ia menghadapi kelima orang cantrik yang berusaha membatasi geraknya. Tetapi karena itu, maka Gunasraba pun segera terkejut. Orang tua itu ternyata mampu bergerak dengan tangkas. Tubuhnya bahkan seakan-akan seringan kapas. Sementara itu senjatanya berputaran dengan cepat, sehingga sebilah pedang  itu seakan-akan telah berubah menjadi dua atau tiga atau bahkan ampat. “Gila kakek tua ini” geram Gunasraba. Namun Gunasraba juga bukan orang kebanyakan. Iapun memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan kekuatan Gunasraba ternyata memang melampaui kekuatan orang kebanyakan. Namun dalam pada itu, demikian pasukan Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari memasuki halaman padepokan, maka Nyai Wiji Sari langsung dapat melihat sebuah tugu batu dan sebuah nisan kecil diatasnya sebagaimana pernah dilaporkan oleh orang-orangnya yang pernah datang ke padepokan itu. Karena itu, maka jantungnya benar-benar telah bergejolak. Demikian pasukannya sempat mendorong pertahanan para cantrik dari padepokan itu mundur, maka Nyai Wiji Sari tidak dapat menahan dirinya. Nyai Wiji Sari pun dengan garangnya telah menerobos menusuk langsung pertahanan lawan. Tiba-tiba saja perempuan itu terlepas dari medan dan berlari langsung ke tugu didepan bangunan utama padepokan itu. Dengan perasaan yang bergejolak, maka Nyai Wiji Sari pun segera berlutut didepan tugu itu. Dua orang pengawalnya tidak melepaskan Nyai Wiji Sari pergi sendiri. Karena itu, maka keduanya segera memburunya. Demikian Nyai Wiji Sari berlutut didepan tugu dengan nisan kecil diatasnya itu, maka kedua orang pengawalnya itupun telah bersiap untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi. Beberapa orang cantrik memang siap untuk mengejar mereka. Tetapi seorang yang bongkok telah menahan mereka. “Biarlah aku yang mengurusnya.”  Para cantrik itu mengurungkan niatnya. Namun karena Nyai Wiji Sari dikawal oleh dua orang pengikutnya, maka dua orang cantrik yang semula menjadi pengikut Kiai Banyu Bening telah ikut bersama Ki Pandi. Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari itu pun segera mempersiapkan diri ketika mereka melihat Ki Pandi berjalan mendekat. Namun nampaknya Ki Pandi tidak akan dengan serta merta menyerang mereka. Sebenarnyalah Ki Pandi melangkah dengan tenang mendekat. Dahi nya berkerut ketika ia melihat Nyai Wiji Sari itu mengusap matanya yang basah. “Maafkan ibumu, anakku” desisnya ”ibu tidak dapat menjagamu dengan baik, sehingga bencana itu terjadi.” “Kesalahanmu tidak terletak pada kelengahanmu menjaganya, Nyai” tiba-tiba saja Ki Pandi menyahut ”tetapi sumber kesalahan itu adalah karena kau tidak setia.” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Ia sudah siap menghadapi perempuan itu jika ia menjadi marah. Tetapi yang tidak terduga itupun terjadi. Nyai Wiji Sari yang garang itu tidak dengan serta-merta bangkit dan menyerang Ki Pandi yang bongkok itu. Tetapi ia justru menjawab “Kau benar, Ki Sanak. Ketidak-setiaan itu adalah sumber dari bencana ini.” Nyai Wyi Sari justru menangis. Isaknya telah mengguncang tubuhnya ”maafkan aku anakku. Ketidak setiaanku itu pula yang membuat Kiai Banyu Bening menjadi gila. Pada mulanya ia bukan orang yang jahat. Tetapi ketika ia melihat seorang laki-laki didalam bilik tidurnya dan bahkan membiarkan anaknya menangis, maka ia menjadi seperti orang gila. Malapetaka itu terjadi. Rumah itu terbakar dan bayi inipun terbakar. Sejak itu, Kiai Banyu Bening telah berubah. Ia menjadi seorang penjahat yang ditakuti. Bahkan menurut  pendengaranku, ia benar-benar menjadi gila disini, karena ia berniat mengorbankan bayi-bayi yang dibakar hidup-hidup didalam api. Ia ingin membalas dendam karena kematian bayinya yang terbakar itu. Ia ingin banyak orang mengalami kepahitan sebagaimana dialaminya.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Yang dilihatnya berlutut itu bukan seorang perempuan garang yang terbiasa berpacu diatas punggung kuda, menjelajahi padukuhan dan bulak-bulak panjang dimalam hari. Tetapi yang berlutut itu adalah seorang perempuan yang menyesali jalan hidupnya yang sesat. “Ki Sanak” terdengar Nyai Wiji Sari itu berdesis ”Apakah benar Kiai Banyu Bening telah meninggal?” “Ya, Nyai,” jawab Ki Pandi ”kedua orang ini adalah orang yang tinggal bersama Kiai Banyu Bening untuk waktu yang lama.” “Apakah benar, Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai Banyu Bening?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Ya, Nyai” jawab salah seorang dari kedua orang cantrik itu. ”Kiai Banyu Bening telah terbunuh oleh Panembahan Lebdagati. Padepokan ini pernah diduduki oleh Panembahan Lebdagati yang telah membunuh Kiai Banyu Bening itu.” “Kenapa Panembahan Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening?” “Menurut Panembahan Lebdagati, daerah ini, sepanjang lereng Gunung Lawu adalah daerahnya.” “Apakah itu benar?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Panembahan Lebdagati memang pernah menguasai daerah ini. Tetapi ia pernah terusir oleh beberapa orang  berilmu tinggi yang tidak dapat membiarkan kepercayaan sesatnya berkembang. Setiap purnama ia mengorbankan seorang gadis untuk membuat pusakanya menjadi pusaka terbaik di muka bumi.” Dahi Nyai Wiji Sari berkerut. “Lalu kenapa kalian kemudian dapat tinggal di padepokan ini?” bertanya Nyai Wiji Sari. “Kami mengambilnya dari tangan Panembahan Lebdagati.” “Jadi kau juga pengikut Kiai Banyu Bening? “ bertanya Nyai Wiji Sari. “Tidak, Nyai. Kebetulan tidak. Aku terlibat setelah tempat ini diduduki oleh Panembahan Lebdagati.” jawab Ki Pandi. Nyai Wiji Sari termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih tetap berlutut. Sementara sekali-sekali tangannya masih mengusap air matanya. Dalam pada itu, seorang pengawalnyalah yang berkata ”Sudahlah Nyai. Kiai Narawangsa masih terlibat dalam pertempuran yang sengit. Apakah Nyai tidak akan melibatkan diri?”- Tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari mengangkat wajahnya. Dipandanginya Ki Pandi dengan tajamnya. Ternyata wajah Nyai Wiji Sari itu berubah. Meskipun pelupuknya masih basah, tetapi mata itu bagaikan telah menyala. Ki Pandi melihat perubahan itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiap kembali untuk menghadapi segala kemungkinan. Agaknya Nyai Wiji Sari itu telah menghentakkan diri dari rintihan nuraninya, kembali ke dalam dunia petualangannya  yang garang, yang penuh dengan kekerasan dan kekelaman nalar budi. “Orang bongkok” geram Nyai Wiji Sari kemudian ”kau tentu salah satu dari orang yang telah mengacaukan segala sesuatunya. Mungkin kau justru yang telah mendalangi agar Panembahan Lebdagati membunuh Kiai Banyu Bening. Namun kemudian kau khianati Panembahan itu. Kau dengan licik telah mengadu kekuatan orang-orang berilmu tinggi. Diatas mayat mereka sekarang kau menari di padepokan ini.” Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Selangkah ia bergerak surut ketika Nyai Wiji Sari yang telah bangkit berdiri itu melangkah maju sambil memandanginya dengan mata yang membara. “Tidak, Nyai “ suara Ki Pandi masih tetap lunak ”kau kembali terbenam ke alam arus perasaanmu yang kau landasi pengalaman hidupmu yang kelam. Ketika sepercik terang bersinar di hatimu, maka kau dapat menemukan dirimu sendiri. Tetapi jika kelam itu datang menyelimuti kalbumu, maka kau menjadi seorang perempuan yang garang.” “Cukup. Siapa pun kau dan apapun yang kau katakan, namun aku datang untuk mengambil padepokan ini. A ku akan selalu berada disisi anakku. Ia sendiri disini, apalagi sepeninggal Kiai Banyu Bening.” “Kaupun harus berpikir bening, Nyai.” “Cukup. Tengadahkan wajahmu. Aku akan menebas lehermu. Kau akan dikubur disini, dibawah tugu ini. Kau akan menjadi pengawal anakku dan melakukan apa saja yang diinginkannya. Bahkan kau akan menjadi kuda tunggangan yang jinak dan penurut.”  Ki Pandi mengerutkan dahinya. Mata Nyai Wiji Sari justru menjadi liar. Tiba-tiba saja perempuan itu telah mencabut senjatanya, sebilah pedang. Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Perasaan Nyai Wiji Sari yang kacau telah mendorongnya untuk bertempur langsung pada tataran yang menentukan. Ki Pandi memang tidak dapat mengelak. Ia sadar, bahwa Nyai Wiji Sari itu tentu memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka Ki Pandi tidak ingin menjadi lengah dan kehilangan kesempatan. Demikian Nyai Wiji Sari mulai memutar pedangnya, maka Ki Pandi telah melepas ikat kepalanya dan dibalutkan pada lengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah seruling yang semula terselip di punggungnya. Betapapun gelap nalar Nyai Wiji Sari, tetapi ketika ia melihat senjata Ki Pandi, maka Nyai Wiji Sari itupun segera menyadari, bahwa orang bongkok itu bukannya orang kebanyakan. Karena itu, maka Nyai Wiji Sari itupun menjadi sangat berhati-hati menghadapinya. Kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari telah bersiap pula. Mereka bergeser di sebelah menyebelah Nyai Wiji Sari. Ki Pandi masih bergeser surut. Kedua orang cantrik yang menyertai telah bersiap pula. Mereka akan menghadapi kedua orang pengawal Nyai Wiji Sari. “Kau sadari apa yang aku lakukan, Nyai?” bertanya Ki Pandi.  “Kau mulai ketakutan bongkok. Sayang, aku tidak mempunyai perasaan belas kasihan kepada siapa pun juga. Apalagi jika aku sudah terlanjur mencabut pedangku.” Ki Pandi tidak menjawab. Sementara itu Nyai Wiji Sari telah mengangkat pedangnya sambil berkata lantang, ”Lihat pedangku yang berwarna kehitam-hitaman. Ini adalah warna darah yang membeku di daun pedangku. Aku tidak pernah membersihkannya jika pedangku berlumur darah.” Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya daun pedang Nyai Wiji Sari yang menyeramkan. Sama sekali tidak berkilat ditimpa cahaya matahari. Warna coklat kehitaman membuat tengkuk Ki Pandi meremang. Tetapi Ki Pandi tidak mempunyai banyak kesempatan untuk merenungi lawannya yang menilik senjatanya, Nyai Wiji Sari benar-benar telah terbenam terlalu dalam di lumpur yang pekat. Nampaknya dengan caranya Nyai Wiji Sari ingin melupakan kepahitan jalan hidupnya yang bernoda. Bahkan Nyai Wiji Sari juga ingin melupakan perasaan bersalah yang selalu membayanginya kemana saja ia pergi. Dalam pada itu, maka Nyai Wiji Sari pun mulai menggapai tubuh Ki Pandi dengan ujung pedangnya. Namun Ki Pandi bergeser. menghindar. Nyai Wiji Sari menyadari, bahwa kain ikat kepala Ki Pandi yang dipergunakan untuk membalut lengan kirinya, tentu bukan kebanyakan ikat kepala. Ikat kepala itu tentu selembar ikat kepala yang dibuat secara khusus. Yang liat dan seratserat benangnya tidak mudah terputus oleh tajamnya senjata. Demikian pula seruling ditangan kanan orang bongkok itu. Tentu bukan seruling yang dibelinya di pasar atau di sebuah  keramaian merti desa. Tetapi seruling itu tentu sebuah seruling yang dibuat secara khusus pula. Demikianlah, maka sejenak kemudian, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Nyai Wiji Sari ternyata memang seorang perempuan yang tangkas, yang memiliki ilmu yang tinggi. Pedangnya berputaran dengan cepat. Sambaran anginnya bagaikan menusuk-nusuk lubang kulit. Tetapi Nyai Wiji Sari harus melihat kenyataan, bahwa orang bongkok yang buruk itu ternyata benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Apapun yang dilakukan oleh Nyai Wiji Sari, Ki Pandi mampu mengindarinya atau menangkisnya dengan lengannya yang dibalut dengan ikat kepalanya atau dengan serulingnya. Dengan demikian, maka Nyai Wiji Sari harus meningkatkan ilmunya. Bahkan sampai pada tataran tertinggi. Dalam pada itu, di pintu-pintu butulan, pertempuran pun telah berlangsung dengan sengitnya. Di pintu butulan sebelah kiri, Manggada dan Laksana telah bertemu dengan dua orang yang pernah berjalan berpapasan di jalan bulak. Sebagaimana Manggada dan Laksana masih mengenali kedua . orang anak muda itu, ternyata keduanya juga masih mengenali Manggada dan Laksana. “Jadi kau penghuni padepokan ini, he?” bertanya Parung Landung. Manggada termangu-mangu sejenak. Katanya “Kita pernah bertemu Ki Sanak.” “Kalau aku tahu, kau penghuni padepokan ini, maka saat kita berpapasan, kepalamu tentu sudah aku lumatkan.”  Laksana tiba-tiba saja tertawa. Katanya ”Aku menyesal bahwa kami waktu itu memberikan jalan kepadanya, sehingga kami terpaksa berjalan diatas tanggul parit. Waktu itu, aku memang sudah merencanakan untuk mencabuti kumismu yang jarang itu. Tetapi kakakku mencegahnya.” “Tutup mulutmu” Paron Waja menggeram ”aku akan menyumbat mulutmu sekarang.” Laksana masih saja tertawa. Katanya “Kita mempunyai kesempatan yang sama sekarang. Kawan-kawanmu dan para cantrik di padepokan ini tengah bertempur. Kita pun akan bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu.” “Bagus. Kita akan bertempur tanpa orang lain yang akan mengganggu kita sampai tuntas,“ jawab Parung Landung. “Kita bertempur di medan perang. Bukan sedang berperang tanding. Karena itu, kemungkinan datangnya gangguan dapat saja terjadi. Karena itu, persetan dengan istilahnya. Sejauh kita mendapat kesempatan bertempur seorang lawan seorang, maka kita akan melakukannya. “Nah, kami silahkan kalian memilih lawan.” Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Tetapi Laksanalah yang berkata ”Kalian saja yang memilih. Aku harus melawan yang mana, dan kakang Manggada yang mana. Bagi kami siapa pun yang kami hadapi, tidak ada bedanya. Kami sudah benar-benar siap menghadapi segala kemungkinan.” Paron Waja menggeram. Katanya “Biarlah aku bungkam mulut anak ini.”  Laksana tertawa pula. Katanya “Mulut ini ada yang punya. Tentu yang punya akan berkeberatan jika mulut ini akan dibungkam.” Kemarahan Paron Waja benar-benar sudah membakar jantungnya. Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil mengayunkan tangannya ke arah wajah Laksana. Tetapi Laksana sudah bersiap sepenuhnya. Dengan tangkas ia bergeser surut, sehingga tangan Paron Waja tidak menyentuh kulitnya. Namun terasa desir angin menerpa wajah Laksana yang luput dari jangkauan tangan Paron Waja itu. Dengan demikian Laksana menyadari, bahwa kekuatan Paron Waja memang sangat besar. Sementara itu, ketika Paron Waja mulai menyerang Laksana, maka Manggada tidak menyia-nyiakan waktu. Justru Manggada lah yang lebih dahulu mengambil langkah. Dengan cepat Manggada meloncat sambil menjulurkan kakinya. Parung Landung melihat serangan itu. Tetapi demikian cepat dan tidak diduga-duga. Karena itu, maka Parung Landung tidak sempat mengelak. Yang dapat dilakukan adalah sekedar menepis serangan kaki Manggada dan kuat itu. Ternyata Parung Landung tidak berhasil sepenuhnya. Meskipun kaki Manggada itu tidak mengenai sasaran, tetapi kaki itu masih juga mengenai pundak. Tubuh Parung Landung itu terputar. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Tetapi Parung Landung justru telah bergeser beberapa langkah untuk memperbaiki kedudukannya. Manggada memang tidak memburunya. Ia tidak ingin dianggap curang dan licik. Karena itu, maka Manggada itupun  menunggu sejenak, sehingga Parung Landung berdiri tegak dan siap untuk menghadapinya. Parung Landung itupun menggeram ”Ternyata kau licik sekali.” “Tidak. Bukan aku yang licik. Tetapi kau terlalu yakin akan kemampuanmu sehingga kau abaikan aku. Aku memang tidak ingin menentukan akhir dari pertempuran diantara kita dengan serangan yang pertama itu. Aku baru sekedar memperingatkanmu, agar kau berhati-hati.” “Kau dapat saja membuat seribu macam alasan. Tetapi sekarang, marilah kita buktikan, siapakah diantara kita yang akan dapat keluar dari pertempuran ini utuh. Bukan hanya namanya.” Manggada menarik nafas dalam-dalam. Lawannya ternyata memang seorang yang sangat yakin akan kemampuannya Karena itu, maka Manggada pun telah bersiap sebaikbaiknya untuk menghadapinya. Demikianlah, Manggada dan Laksana telah terlibat dalam pertempuran yang sengit. Lawan mereka juga masih muda. Tetapi Parung Landung dan Paron Waja agaknva lebih tua dari lawan-lawan mereka. Pertempuran antara anak-anak muda itupun dengan cepatnya meningkat. Jantung mereka lebih cepat membara dan darah mereka lebih cepat mendidih. Sehingga beberapa saat kemudian, maka pertempuran itu menjadi semakin garang dan segenap kemampuannya dikerahkan. Parang Landung dan Paron Waja yang terbiasa hidup dalam petualangan, sama sekali tidak merasa canggung. Bahkan mereka pun berusaha dengan cepat untuk mengakhiri lawan lawan mereka, agar mereka segera dapat terlibat dalam pertempuran melawan para cantrik dari padepokan itu. Adalah sangat menggembirakan untuk membantai cantrik-cantrik pemula yang masih belum banyak berpengalaman. Tetapi ternyata mereka tidak dapat melakukannya semudah yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Kedua anak muda yang mereka hadapi itu ternyata adalah anak-anak muda yang berbekal ilmu sehingga untuk beberapa saat mereka masih mampu mengimbangi ilmu mereka. “Karena itu, setelah bertempur beberapa saat lamanya, Parung Landung justru mengumpat-umpat kasar. Ternyata tangan Manggada sempat menggapai keningnya. Meskipun tidak terlalu keras, namun sentuhan itu sendiri membuat kemarahan Parung Landung semakin memuncak. Karena itu, maka Parung Landung pun telah menghentakkan kemampuannya pula dengan seranganserangan beruntun yang sempat mengejutkan Manggada. Karena itu, Manggada telah terdorong surut. Namun serangan Parung Landung masih belum mampu menembus pertahanan Manggada. Parung Landung menggeram. Ia tidak mau mengalami kenyataan itu. parung Landung ingin lawannya itu segera dapat diselesaikannya, sehingga dengan wajah tengadah ia dapat menepuk dadanya ”Aku telah membunuh andalan padepokan ini.” Tetapi ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Lawannya ternyata sangat liat dan bahkan berilmu tinggi. Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit pula.  Paron Waja pun mulai menjadi gelisah, ia menyangka bahwa dalam waktu singka anak muda itu dapat segera dikalahkannya. Tetapi ternyata bahwa anak muda itu mampu mengimbanginya. Dalam pada itu, di belakang pintu butulan sebelah kanan, Ki Jagaprana telah menghentikan dua orang yang disangkanya kembar. Kedua orang yang mengamuk seperti sepasang harimau yang lerluka. “Bagus” Ki Jagaprana mengangguk-angguk ”apakah memang sudah menjadi kebiasaan kalian bertempur berpasangan?” “Siapa kau?” bertanya Krendhawa. “Pertanyaanmu aneh. Seharusnya kau tahu bahwa aku adalah salah satu dari penghuni padepokan ini.” “Maksudku, siapa namamu?” bentak Krendhawa. Ki Jagapura tersenyum. Katanya ”Namaku Jagaprana. Aku mendapat perintah untuk menghentikan kalian berdua. Nah, jika kalian memang terbiasa bertempur berpasangan karena kalian anak kembar, maka aku tidak berkeberatan.” “Kami bukan saudara kembar” geram Mingkara ”umur kami bertaut hitungan tahun.” “O” Jagaprana mengangguk-angguk ”tetapi ujud kalian tidak ubahnya dua orang kembar.” “Agaknya matamu lah yang kabur” geram Mingkara. “Aku tidak peduli, apakah kalian kembar atau tidak. Yang penting bagiku, jika kalian terbiasa bertempur berpasangan, marilah. Aku ingin menjajagi kemampuan kalian berdua.”  “Kau terlalu sombong kakek tua. Betapapun tinggi ilmumu, wadagmu sudah tidak membantu. Kau sudah terlalu tua untuk bertempur di medan yang garang menghadapi petualangan yang terbiasa dengan kekerasan. Bahkan seandainya kau matahari yang menyala di langit, kau sudah memasuki masa senjamu.” Jagaprana tertawa. Katanya “Sinar matahari senja masih akan mampu membakar bibir mega di langit. Cahaya layung di senja hari masih dapat membuat mata puluhan orang menjadi sakit. “Iblis kau” geram Krendhawa ”suaramu seperti sentuhan welat ditelingaku. Pedih. Karena itu, bersiaplah untuk mati. Kami ingin menunjukkan, betapa kami mampu bertempur berpasangan melampaui orang kembar sebenarnya.” Ki Jagaprana masih tertawa. Katanya ”Marilah, aku sudah siap.” Mingkara memang tidak sabar lagi. Dengan garangnya, ia pun meloncat menyerang Ki Jagaprana dengan ayunan tangannya. Ki Jagaprana bergeser surut. Tangan itu tidak menyentuh tubuhnya. Tetapi serangan berikutnya pun segera menyusul. Krendhawa telah menjulurkan kakinya menyerang lambung. Tetapi dengan cepat Ki Jagaprana menggeliat, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenainya. Bahkan tiba-tiba saja Ki Jagaprana yang tua itu melenting sambil berputar. Kakinya yang terayun mendatar hampir saja menyambar kening Krendhawa.  “Iblis tua” geram Krendhawa sambil meloncat menjauh. Ki Jagaprana tertawa pula. Katanya ”Jangan mengumpat. Umpatanmu tidak akan membantumu mengalahkan aku.” “Diam kau iblis tua,” teriak Mingkara. Tetapi Jagaprana tertawa semakin keras. Demikianlah pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Krendhawa dan Mingkara memang bertempur berpasangan. Tetapi ternyata bahwa Ki Jagaprana benarbenar seorang yang berilmu tinggi. Semakin lama Krendhawa dan Mingkara bertempur melawan orang tua iru, maka mereka pun semakin menyakini akan tingkat kemampuannya, sehingga kedua orang yang dianggap kembar itu harus meningkatkan ilmunya pula. Pertempuran memang menyala semakin besar. Tidak hanya di belakang pintu-pintu butulan. Tetapi juga di belakang pintu gerbang utama. Agak terpisah, Nyai Wiji Sari tengah bertempur melawan Ki Pandi yang bongkok. Pedang Nyai Wiji Sari yang kehitamhitaman itu berputar dengan cepat. Namun Ki Pandi pun telah mengimbanginya. Dengan cepat orang bongkok itu menghindari serangan-serangan Nyai Wiji Sari. Pedang yang terayun-ayun itu tidak segera dapat mengenai tubuh orang bongkok yang mampu bergerak cepat itu. Namun sebenarnya lah, bahwa serangan-serangan Nyai Wiji Sari tidak cukup membahayakan bagi Ki Pandi. Betapapun garangnya serta tingginya ilmu Nyai Wiji Sari, namun dihadapan Ki Pandi, Nyai Wiji Sari bukan seorang yang mencemaskan.  Karena itu, maka hentakan-hentakan serangan Nyai Wiji Sari tidak mampu menembus pertahanan Ki Pandi. Nyai Wiji Sari mulai menjadi gelisah. Apa pun yang dilakukan, serangan-serangannya tidak mampu menyentuh tubuh orang bongkok itu. Nyai Wiji Sari yang bangga akan kecepatan geraknya, di hadapan Ki Pandi tidak terlalu banyak berarti, karena Ki Pandi itupun mampu bergerak cepat pula meskipun nampaknya orang itu selalu berjalan terbongkok-bongkok. Semakin lama Nyai Wiji Sari semakin menyadari, bahwa orang bongkok itu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari ilmunya. Bahkan Nyai Wiji Sari itupun mulai menyadari, bahwa orang bongkok itu masih belum sampai ke puncak kemampuannya. Meskipun demikian, Nyai Wiji Sari tidak segera berputusasa. Perempuan yang garang itu mempunyai pengalaman yang luas sekali. Ia sudah pernah bertempur melawan orang yang memiliki berbagai macam ilmu. Sementara itu, Nyai Wiji Sari masih merasa mempunyai puncak ilmu yang masih belum ditrapkan. Meskipun Nyai Wiji Sari itu tidak yakin bahwa puncak ilmunya itu akan dapat mengakhiri pertempuran itu, namun ia harus mencobanya. Nyai Wiji Sari sendiri mencemaskan keragu-raguannya sendiri. Biasanya ia tidak pernah merasa ragu menghadapi lawan yang betapapun garangnya. Bahkan dalam pertempuran yang terjadi diantara mereka yang berebut daerah jelajah. Pertengkaran dan permusuhan yang terjadi diantara orangorang yang hidupnya berada di bawah permukaan. Namun dalam pada itu. Nyai Wiji Sari pun merasa heran, bahwa serangan-serangan Ki Pandi pun tidak pernah membahayakannya. Sekali-sekali seruling Ki Pandi memang  pernah menyentuh kulitnya, tetapi sama sekali tidak menyakitinya. Seakan-akan Ki Pandi hanya ingin membuktikan, betapa rapuhnya pertahanan Nyai Wiji Sari itu dihadapan Ki Pandi yang bongkok itu. Meskipun Nyai Wiji Sari masih harus berteka-teki, namun ia masih bertempur terus. Pedangnya masih berputaran dengan garangnya, meskipun serangan-serangannya tidak pernah berhasil. Dalam, keadaan yang gawat itu, maka Nyai Wiji Sari mulai mempertimbangkan untuk mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia sadar, jika ia gagal, maka orang bongkok itu tentu akan menjadi bersungguh-sungguh pula. Mungkin dengan demikian pertahanannya justru benar-benar akan dihancurkannya. Tetapi akibat yang paling buruk harus dijalaninya, karena sejak semula Nyai Wiji Sari sudah memperhitungkan kemungkinan yang demikian akan dapat terjadi atas dirinya. Tetapi Nyai Wiji Sari memang tidak dengan serta-merta mengetrapkan ilmu puncaknya. Ia masih membuat beberapa pertimbangan dan persiapan. Sementara itu, dua orang pengawalnya masih juga bertempur dengan sengitnya melawan dua orang cantrik yang datang bersama Ki Pandi. Nampaknya mereka memiliki kesempatan yang sama. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang cukup luas dengan landasan ilmu yang cukup. Sedangkan pertempuran yang terjadi di sekitar pintu-pintu bu-tulan pun telah merambat semakin lebar. Para cantrik tidak dapat membatasi pertempuran di arena yang terbatas. Tetapi para pengikut Kiai Narawangsa berusaha untuk menebar seluas-luasnya di padepokan itu.  Namun ada yang pernah terjadi sebelumnya telah terjadi pula di padepokan itu. Para cantrik dari padepokan itu telah memanfaatkan pengenalan mereka atas medan sebaikbaiknya. Diantara bangunanbangunan yang ada, para cantrik menyerang lawanlawannya dengan tiba-tiba. Mereka muncul dari balik sudut-sudut bangunan yang ada. Dari balik pintu dan dari ruang-ruang yang tersebar dalam bangunan-bangunan di padepokan itu. Para cantrik pemula, yang terdiri dari anak-anak muda yang belum lama berada di padepokan, menyerang lawanlawan mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Ketika matahari menjadi semakin tinggi menggapai puncak langit, pertempuran telah menyebar hampir di seluruh padepokan. Para cantrik sulit mengendalikan lawan mereka. Dalam pada itu, Ki Lemah Teles dan Ki Warana yang sudah turun dari panggungan, telah menghilang diantara bangunan yang ada di padepokan itu. Bersama beberapa orang cantrik pemula, mereka berusaha menemukan lawan disela-sela bangunan. Ki Lemah Teles kadang-kadang membiarkan para cantrik pemula untuk mendapatkan pengalaman. Tetapi dalam keadaan yang gawat, maka Ki Lemah Teles telah berusaha untuk mengurangi kekuatan lawan.  Seperti sosok hantu diterik cahaya matahari, Ki Lemah Teles telah berhasil menyusut lawan cukup banyak. Tetapi sebenarnyalah Ki Lemah Teles bukan seorang pembunuh. Ia selalu berusaha melumpuhkan lawan-lawannya tanpa membunuhnya. Dalam pada itu, pertempuran tidak jauh dari pintu gerbang utama masih berlangsung dengan sengitnya. Kiai Narawangsa ternyata tidak segera mengalahkan lawannya yang dianggapnya sudah terlalu tua untuk turun ke medan pertempuran. Lawannya, Ki Ajar Pangukan benar-benar seorang yang berilmu sangat tinggi, sehingga ilmunya sama sekali tidak dapat disusul oleh umurnya yang semakin tua. Sementara itu, bindi Gunasraba yang berat itu setiap kali saling berbenturan dengan pedang Ki Sambi Pitu. Kekasaran dan tenaga yang besar dari Gunasraba sama sekali tidak banyak berarti bagi Ki Sambi Pitu. Beberapa kali Gunasraba harus meloncat menjauhi lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Namun rasa-rasanya ujung pedang Ki Sambi Pitu selalu memburunya. Meskipun Gunasraba beberapa kali berusaha menjauh, namun Ki Sambi Pitu itu selalu saja lekat dihadapannya. Serangan-serangannya menjadi semakin berbahaya. Namun akhirnya batas kemampuan pertahanan Gunasraba dapat ditembus. Ujung pedang Ki Sambi Pitu mulai menyentuh kulit. Sebuah goresan menyilang di lengan Gunasraba. Gunasraba mengumpat kasar. Kemarahannya semakin membakar ubun-ubunnya. Luka di lengannya itu telah menitikkan darahnya yang hangat. Tetapi kemarahan, umpatan dan geram tidak cukup untuk menghentikan perlawanan Ki Sambi Pitu. Untuk mengalahkan lawannya diperlukan kemampuan dan ilmu yang tinggi.  Gunasraba yang gelisah itu masih memutar bindinya. Justru semakin cepat. Bindi itu terayun-ayun di seputar tubuhnya, sehingga memang sulit bagi Ki Sambi Pitu untuk mendekat. Tetapi Ki Sambi Pitu bukannya seorang cantrik yang baru mulai berlatih mengenali dasar-dasar ilmu kanuragan. Ki Sambi Pitu adalah seorang yang sudah kenyang menelan pahit manisnya dunia yang keras. Itulah sebabnya, maka putaran bindi Gunasraba yang bahkan seakan-akan merupakan gumpalan awan hitam yang mengelilingi tubuhnya, tidak mampu membentengi serangan Ki Sambi Pitu. Sebuah serangan yang cepat, menyusup diantara putaran bindi itu, langsung menyentuh pundak Gunasraba. Namun hampir saja bindi itu menghantam kening Ki Sambi Pitu. Ki Sambi Pitu bergerak dengan cepatnya. Sambil merendah, sekali lagi pedangnya terjulur. Ketika sambaran angin yang ditimbulkan oleh ayunan bindi Gunasraba itu menyambar wajahnya, maka pedang Sambi Pitu itu mematuk dengan cepatnya menyusup disela-sela tulang iga Gunasraba. Terdengar teriakan melengking tinggi. Gunasraba terhuyung-huyung surut. Demikian Ki Sambi Pitu menarik pedangnya, maka darah pun memancar dari luka di dada Gunasraba. Sejenak kemudian, maka Gunasraba itupun jatuh terbanting di tanah seperti sebatang pohon pisang yang rebah. Kematian Gunasraba menimbulkan kegelisahan yang mencengkam jantung para pengikut Kiai Narawangsa. Ki Gunasraba menurut pengertian mereka adalah seorang yang berilmu tinggi. Ia merupakan kepercayaan Kiai Narawangsa di medan pertempuran. Apalagi Ki Gunasraba adalah adik Kiai  Narawangsa yang diharapkan akan menggantikannya memimpin padepokan yang akan ditinggalkan oleh Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari. Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu sambil menggenggam hulu pedangnya yang basah oleh darah tercenung sejenak memandangi tubuh yang terbaring diam. Namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan. Beberapa orang pengikut Kiai Narawangsa itupun serentak telah menyerang Ki Sambi Pitu. Ki Sambi Pitu pun dengan cepat berloncatan menghindar. Sementara itu para cantrik pun tidak membiarkan lawan mereka bergerak leluasa. Tetapi pertanda-pertanda buruk telah nampak pada pasukan Kiai Narawangsa. Ternyata kekuatan yang mereka hadapi jauh lebih besar dari perhitungan mereka. Bahwa di padepokan itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi sebelumnya tidak pernah mereka duga. Satu-satunya orang yang mereka perhitungkan mempunyai ilmu yang tinggi adalah Kiai Banyu Bening sendiri. Tetapi justru Kiai Banyu Bening itu sudah tidak ada. Yang ada adalah beberapa orang ysng berilmu tinggi. Kematian Gunasraba merupakan satu pukulan yang berat bagi Kiai Narawangsa. Kecuali Gunasraba adalah adiknya, ia termasuk orang yang cerdik dan berilmu tinggi. Namun di padepokan itu, Gunasraba tidak mampu mempertahankan diri menghadapi lawannya yang sudah menjadi tua itu. Sementara itu, Kiai Narawangsa sendiri mengalami kesulitan menghadapi Ki Ajar Pangukan. Kiai Narawangsa yang memiliki pengalaman yang sangat luas itu harus menghadapi kenyataan, bahwa di padepokan itu terdapat seorang yang mampu mengimbangi ilmunya.Sedangkan orang yang lain lagi,  masih juga bertempur melawan Nyai Wiji Sari. Nampaknya Nyai Wiji Sari yang bertempur tidak jauh dari sebuah tugu sebagai alas sebuah nisan kecil itu, juga tidak segera dapat mengalahkan lawannya. “Darimana saja orang-orang berilmu tinggi yang berkumpul di padepokan ini?” bertanya Kiai Narawangsa didalam hatinya. Kiai Narawangsa pun bertanya-tanya pula kepada diri sendiri. Bagaimanakah dengan Parung Landung dan Paron Waja serta Krendhawa dan Mingkara. Tetapi Kiai Narawangsa tidak mempunyai banyak waktu untuk merenungi keadaan. Ki Ajar Pangukan telah melibatkan dalam pertempuran yang sengit. Hampir tidak ada waktu sekejap pun untuk memperhatikan keadaan, kecuali jika Kiai Narawangsa itu sengaja mengambil jarak. Dalam pada itu, Manggada masih bertempur melawan Parung Landung, sedangkan Laksana menghadapi Paron Waja. Mereka adalah anak-anak muda yang jantungnya masih mudah terbakar. Sementara itu mereka adalah anak-anak muda yang memiliki bekal ilmu yang tinggi. Namun Parung Landung yang bertempur melawan Manggada harus menyadari, bahwa lawannya ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Jika anak muda itu lebih baik menyingkir ketika mereka berpapasan, itu bukan karena mereka tidak mempunyai bekal untuk berkelahi, tetapi agaknya anak muda itu memang menghindari perselisihan yang tidak perlu. Tetapi ketika anak muda itu benar-benar dihadapkan pada satu pertempuran yang tidak dapat dihindari, maka ternyata ia telah menunjukkan kemampuannya yang tinggi.  Sebenarnyalah Manggada mampu bertempur dengan cepat, keras dan garang. Tubuhnya yang liat seakan-akan tidak bertulang lagi. Anak muda itu mempunyai banyak sekali cara untuk menyerang dan bertahan. Kakinya dengan tangkas berloncatan seakan-akan tidak lagi berjejak diatas tanah. Tetapi Parung Landung yang ditempa dalam lingkungan yang keras dan kasar itupun menjadi keras dan kasar pula. Ketika ia menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu yang tinggi, maka Parung Landung itupun telah meningkatkan serangan-serangannya. Dengan demikian, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Parung Landung menjadi semakin garang. Ketika kemudian ditangannya tergenggam sebuah golok yang besar, maka Manggada pun telah memegang pedangnya pula. Ternyata keduanya memiliki kemampuan bermain senjata yang tinggi. Golok yang besar di tangan Parung Landung menjadi semakin berbahaya karena kekuatan anak muda itu memang sangat besar. Tetapi tidak kalah berbahayanya pedang di tangan Manggada. Pedang itu berputaran dengan cepatnya. Terayun-ayun mendebarkan. Sementara itu, Laksana dan Paron Wajapun masih juga bertempur dengan sengitnya pula. Keduanya juga sudah menggenggam senjata. Benturan-benturan telah terjadi dengan kerasnya. Kedua-duanya memiliki kekuatan yang besar. Namun Laksana yang telah ditempa dalam kehidupan hutan bersama Manggada dan Ki Pandi itu, dengan cepat menyesuaikan diri dengan gaya permainan senjata lawannya.  Karena itu, apapun yang dilakukan oleh Mingkara, Laksana dapat mengimbanginya. Justru karena itu, kemarahan Mingkara bagaikan telah menyulut ubun-ubunnya. Dihentakkannya kemampuan dan ilmunya untuk mengatasi ketangkasan lawannya. Demikianlah, maka dentang senjata yang berbenturan itupun telah memercikkan bunga api. Senjata-senjata yang terbuat dari baja pilihan itu berputaran, menyambar, mematuk dan saling mendera. Sementara itu, pertempuran antara para pengikut Kiai Narawangsa dan para penghuni padepokan itupun menjadi semakin sengit pula. Satu-satu korban pun berjatuhan. Beberapa orang yang sempat, telah menyingkirkan kawankawan mereka yang terluka, agar mereka tidak terlanjur mati terinjak-injak kaki mereka yang sedang bertempur. Ketika matahari melewati puncaknya, maka langit pun bagaikan membara. Panasnya seakan-akan menyusup tubuh dan menghanguskan tulang. Sementara itu pertempuran masih saja berlangsung dengan sengitnya. Ki Jagaprana memang harus bekerja keras menghadapi dua orang saudara yang semula disangkanya kembar. Kedua orang itu mampu bertempur berpasangan dengan rapat. Saling mengisi dan saling melindungi. Mereka datang menyerang berganti-ganti berurutan seperti gelombang yang didera oleh prahara, bergulung-gulung menghantam tebing. Tetapi Ki Jagaprana adalah seorang yang mumpuni. Ilmunya yang tinggi benar-benar telah mapan di tempa oleh pengalaman. Meskipun umurnya menjadi semakin tua, tetapi ia masih tetap seorang yang sulit dicari tandingnya.  Sesaat demi sesaat, dua orang kakak beradik itu menjadi semakin berat. Serangan-serangan Ki Jagaprana tidak kalah garangnya dengan serangan-serangan kedua orang lawannya. Meskipun tidak terlalu sering, tetapi beberapa kali membuat kedua orang lawannya itu terkejut dan terpaksa berloncatan menjauhinya. Namun Ki Jagaprana tidak ingin pertempuran itu menjadi semakin berkepanjangan. Ia hanya seorang diri, sedangkan lawannya bertempur berpasangan. Pada saatnya, maka ia harus memeras tenaga lebih banyak dari lawannya seorangseorang. Karena, itu, selagi tenaganya masih belum susut, maka ia harus berusaha mengakhiri pertempuran itu. Dalam pada itu, pertempuran di sekitarnya masih berlangsung Bahkan semakin menebar. Para pengikut Kiai Narawangsa tidak mau terkurung dalam batasan yang sempit. Karena itu, maka mereka pun berusaha untuk menebar semakin luas. Dalam pada itu, Krendhawa yang sempat mendesak Ki Jagaprana surut berteriak ”Mati kau orang tua yang sombong.” Tetapi Ki Jagaprana tidak mati. Ia sempat mengelakkan senjata Krendhawa yang terjulur ke arah dadanya. Namun dalam waktu yang hampir bersamaan Mingkara pun berteriak ”Mati kau iblis tua.” Tetapi Jagaprana justru tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata ”Kalian tahu artinya mati?” “Tutup mulutmu” bentak Krendhawa. Ki Jagaprana merendahkan dirinya. Senjata Krendhawa terayun deras di atas kepalanya. Tetapi senjata itu tidak menyentuh kulit Ki Jagaprana.  Namun Mingkara itu berteriak ”Kau tidak akan dapat luput dari tangan kami iblis tua. Kau akan segera jatuh ke tangan kami, apapun yang kau lakukan.” “Jangan banyak sesumbar” desis Ki Jagaprana sambil menghindari serangan Krendhawa ”jika aku memerlukan kawan, maka aku tinggal berteriak saja. Beberapa orang akan segera berdatangan dan membantu aku membantai kalian berdua. Tetapi bukan itu niatku. Aku masih ingin menjajagi kemampuanku, apakah panasku, masih lebih tajam dari panasmu. Apakah panas Matahari senja masih mampu membuat air mendirih atau sekedar mengepulkan asap.” “Kau memang terlalu banyak berbicara.” geram Krendhawa. Namun kata-kata Krendhawa terputus. Ki Jagaprana memang sudah mulai merasa letih. Ia sadar, bahwa beberapa saat kemudian, maka tenaganya tentu akan menyusut. “Apakah aku memang sudah tua?” bertanya Ki Jagaprana kepada diri sendiri ”kenapa aku sekarang menjadi terlalu cepat letih?” Ki Jagaprana masih menguji dirinya sendiri. Tetapi karena ia harus bertempur melawan dua orang yang berilmu tinggi, maka Ki Jagaprana memang harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Namun dalam pada itu, meskipun Ki Jagaprana telah mulai merasa letih, tenaganya masih belum menyusut justru karena itu, maka ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu sebelum tenaganya benar-benar telah menyusut. Sementara itu, maka Krendhawa dan Mingkara pun telah berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Mereka pun ingin agar orang tua itu segera dapat diakhiri.  Karena itu, maka kedua orang itu telah mengerahkan kemampuan mereka tertinggi. Seperti Gunasraba, maka keduanya memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan mengandalkan kekuatannya itu, keduanya telah mencoba menghimpit Ki Jagaprana dari dua arah yang berlawanan. Ki Jagaprana pun mulai merasakan seakan-akan kekuatan kedua orang lawannya itu meningkat. Setiap terjadi benturan, Jagaprana memang merasakan tekanan yang kuat dari kedua orang lawannya. Namun kekuatan yang besar itu tidak menjamin kemenangan dalam pertempuran yang cepat dan keras itu. Dalam keadaan yang gawat itu, maka Ki Jagaprana telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghentikan pertempuran. Senjata yang sudah berada di tangannya itu mulai menyusup di sela-sela pertahanan senjata lawanlawannya. Di bawah teriknya sinar matahari, maka kecepatan gerak Ki Jagaprana ternyata menjadi sangat menguntungkan, justru karena lawannya mengandalkan kekuatan mereka. Ketika senjata Krendhawa terayun dengan derasnya, maka Ki Jagaprana masih sempat untuk merendah. Namun bersamaan dengan itu, Ki Jagaprana telah berputar, sementara tangannya yang menggenggam senjatanya itupun telah terentang. Putaran ujung senjata Ki Jagaprana itu ternyata berhasil menyusup dibawah pertahanan Krendhawa. Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar Krendhawa itu berteriak nyaring. Umpatan-umpatan kasar terdengar meloncat dari mulutnya. Krendhawa itupun kemudian terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Ternyata ujung senjata Ki Jagaprana itu telah mengoyak lambung.  Mingkara yang melihat saudaranya terluka, dengan sertamerta telah meloncat menyerang Ki Jagaprana. Senjata terayun dengan derasnya mengarah ke kening Ki Jagaprana. Namun Ki Jagaprana sempat melihat serangan itu. Sekali lagi ia dengan cepat merendah dengan berjongkok diatas satu lututnya, sementara ujung senjatanya terjulur lurus menggapai tubuh lawannya. Mingkara terkejut. Langkahnya terhenti. Namun ia tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Ujung senjata Ki Jagaprana itu ternyata telah menggapai jantung Mingkara. Ketika kemudian Ki Jagaprana menarik senjatanya, maka Mingkara itu telah jatuh terjerembab. Tubuhnya terbanting di tanah sementara nafasnya telah terputus. Krendhawa melihat keadaan saudara laki-lakinya itu. Karena itu dengan sisa tenaganya ia berusaha menyerang Ki Jagaprana. Ki Jagaprana melihat serangan itu. Yang dilakukannya kemudian adalah sekedar menghindar. Dengan cepat ia bangkit dan meloncat, kesamping. Serangan Krendhawa itu tidak menyentuh sasaran. Namun dengan menghentakkan tenaganya, sementara lambungnya sudah terkoyak, maka darah Krendhawa seakan-akan telah diperas keluar. Sejenak Krendhawa itu terhuyung-huyung. Namun demikian banyaknya darah yang terperas, sehingga tubuh itu menjadi sangat lemah. Perlahan-lahan Krendhawa jatuh berlutut. Namun kemudian tubuhnya itu terguling. Meskipun demikian Krendhawa itu masih sempat mengerang kesakitan.  Ki Jagaprana termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam. Beberapa langkah dari tubuh Krendhawa itu, tubuh Mingkara pun terbaring diam pula. Ki Jagaprana mengerutkan keningnya ketika ia melihat Krendhawa itu kemudian telah bergerak. Dengan sisa tenaganya, Krendhawa berusaha untuk merangkak mendekati tubuh adiknya yang telah tidak bernafas lagi “Bangkitlah Mingkara. Ayo bangkit. Kita bunuh iblis tua itu. Kita adalah orang-orang yang tidak terkalahkan. Segala kemauan kita terjadi.” Ki Jagaprana memandang tingkah laku Krendhawa itu dengan jantung yang berdebaran. Ketika ia melihat Krendhawa itu mengguncang-guncang tubuh adiknya, maka dada Ki Jagaprana itupun menjadi berdebar-debar. Ternyata Krendhawa tidak mau melihat kenyataan sampai pada saatsaat terakhirnya. Bahkan kemudian Krendhawa itu berusaha untuk bangkit. Dicobanya untuk mengangkat kepala adiknya sambil berkata dengan suara gemetar ”Bangkitlah Mingkara. Bangkitlah. Kita tidak punya banyak waktu lagi.” Tetapi Mingkara sama sekali tidak bergerak lagi. “Mingkara, Mingkara” Krendhawa itupun kemudian berte riak ”kau kenapa he?” Sementara itu darah dari luka Krendhawa itupun mengalir semakin banyak. Gerak seru teriakan-teriakannya membuat darahnya mengalir bergumpal-gumpal. Sementara itu pertempuran pun masih berlangsung di mana-mana. Tetapi tidak seorang pun yang sempat mendekati mereka. Para cantrik dari padepokan itu telah semakin  menekan para pengikut Kiai Narawangsa. Ketika ada seorang yang akan berlari kearah Krendhawa dan Mingkara, maka seorang cantrik telah menahan mereka dan melibatnya dalam pertempuran. Ki Jagaprana yang menyaksikan tingkah laku Krendhawa itu pun menjadi iba. Dengan hati-hati iapun telah mendekatinya. Tetapi Krendhawa tidak menghiraukannya. Seakan-akan ia ti dak melihat lagi orang-orang lain yang ada di sekitarnya, selain adiknya yang telah terbunuh itu. “Ki Sanak” desis Ki Jagaprana ”jangan terlalu banyak bergerak. Darahmu akan semakin terperas dari tubuhmu. Tenanglah, berbaringlah dengan baik.” Krendhawa itu mencoba memandang wajah Ki Jagaprana. Tetapi ternyata ia tidak lagi dapat mengenalinya. Selain matanya yang sudah menjadi kabur, nalarnya juga sudah tidak utuh lagi. Sementara itu, matahari di langit membuat pandangannya menjadi silau. “Siapa kau?” bertanya Krendhawa. “Siapa pun aku tidak penting bagimu. Tetapi tenanglah. Berbaringlah.” “Aku sedang membangunkan adikku. Ia sudah terlalu lama tidur. Ia harus bangkit. Perang sudah dimulai.” “Perang sudah selesai. Biarlah adikmu beristirahat. Ia sangat letih.” “Perang sudah selesai?” bertanya Krendhawa Krendhawa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi tubuhnya sudah menjadi semakin lemah. Darahnya membasahi tanah. Sementara tubuhnya sendiri juga sudah menjadi merah sebagaimana tubuh Mingkara.  “Perang memang sudah selesai. Beristirahatlah dengan sebaik-baiknya.” Krendhawa mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengamati wajah Ki Jagaprana. Tetapi segala-galanya menjadi semakin kabur. Meskipun demikian, Krendhawa itupun meletakkan kepalanya di tubuh adiknya. Seakan-akan diluar sadarnya ia berkata '“Aku akan tidur dahulu. Perang sudah selesai.” Tetapi tiba-tiba Krendhawa itu mengangkat kepalanya sambil bertanya”Apakah kita menang?” “Ya. Kita menang.” “Kiai Banyu Bening sudah dibunuh?” “Ya. Kiai Banyu Bening sudah dibunuh.” Orang itu tersenyum. Namun kemudian kepalanya itupun diletakkannya kembali. Ia masih akan berbicara lagi. Tetapi terasa pedih dilambungnya. Krendhawa masih mencoba tersenyum karena kemenangan yang telah dicapai oleh Kiai Narawangsa dengan membunuh Kiai Banyu Bening. Namun senyuman itu adalah senyumannya yang terakhir. Krendhawa pun telah mengakhiri hidupnya di medan pertempuran. Ki Jagaprana menarik nafas, dalam-dalam. Iapun Kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan tubuh dua orang kakak beradik yang semula disangkanya kembar itu. Pertempuran masih terjadi di sekitarnya. Para cantrik masih belum dapat mengusir lawan-lawannya. Bahkan pertempuran pun telah menjadi semakin meluas dimana-mana.  Ki Jagaprana yang telah kehilangan lawannya itu pun kemudian melangkah mendekati arena. Beberapa orang pengikut yang sempat melihat Ki Jagaprana membunuh Krendhawa dan Mingkara, menjadi berdebar-debar. Tengkuk mereka meremang, seolah-olah senjata Ki Jagaprana itu telah menyentuhnya. “Siapa yang akan menyerah, menyerahlah” teriak Ki Jagaprana tiba-tiba. Ternyata teriakannya itu berpengaruh. Para pengikut Kiai Narawangsa menjadi semakin gelisah. Dengan lantang Ki Jagaprana itu berkata selanjurnya ”Hanya ada dua pilihan. Menyerah atau mati.” Beberapa orang pengikut Kiai Narawangsa memang mulai memikirkan untuk menyerah. Namun seorang yang bertubuh tinggi dan besar itu berteriak ”Hanya ada dua pilihan bagi kami. Menang atau mati.” “Apakah aku tidak salah dengar?” bertanya Ki Jagaprana ”menyerah atau mati.” “Tidak. Menang atau mati.” Ki Jagaprana menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya orang itu termasuk seorang yang berpengaruh di lingkungan para pengikut Kiai Narawangsa. Sambil berteriak orang itu bertempur melawan dua orang cantrik. Katanya ”Kita sudah berada di ambang kemenangan. Tidak ada orang yang dapat menghalangi kita.” Jantung Ki Jagaprana mulai tergelitik. Karena itu, maka iapun mendekatinya sambil berkata ”Kau lihat aku membunuh kedua orang yang semula aku sangka kembar itu?”  ”Jangan mengigau. Aku tidak peduli apa yang telah kau lakukan. Tetapi kami tidak akan menyerah.” Ki Jagaprana yang mulai letih itu memang menjadi mudah tersinggung. Panasnya terik matahari, keringat yang membasahi tubuhnya serta pertempuran yang menjalar kemana-mana membuatnya cepat mengambil keputusan. Orang itu harus dihentikan. Kemudian yang lain akan mudah dikendalikan. Karena itu, maka Ki Jagaprana pun telah mendekatinya sambil berkata ”Mulutmu memang harus dibungkam.” “Mulutmu yang akan aku koyakkan jika kau berani mendekat.” Ki Jagaprana pun melangkah semakin dekat. Kemudian katanya kepada kedua orang yang bertempur melawan orang yang bertubuh tinggi besar itu ”Minggirlah. Bantu kawankawanmu, biarlah aku selesaikan orang ini.” Kedua orang cantrik yang bertempur melawan orang yang bertubuh tinggi besar itupun segera berloncatan menjauh, sementara Ki Jagaprana telah memasuki medan. Orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Ketika Ki Jagaprana melangkah semakin dekat, maka orang yang bertubuh tinggi besar itu telah meloncat menyerangnya. Kemarahan memang sudah membakar jantung Ki Jagaprana. Karena itu, maka ketika orang itu meloncat menyerang, maka Ki Jagaprana telah bergeser selangkah, sehingga serangan itu tidak mengenai sasarannya. Namun bersamaan dengan itu, senjata Ki Jagaprana telah terayun mendatar.  Segores luka telah menyilang di dada orang itu. Terhuyunghuyung ia terdorong beberapa langkah surut Orang itu masih sempat mengumpat. Tetapi tubuhnya pun segera jatuh terguling. Orang itu memang tidak terbunuh. Namun ia sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk bangkit. Sejenak Ki Jagaprana berdiri termangu-mangu. Bahwa orang bertubuh tinggi besai itu sudah tidak berdaya, ternyata pengaruhnya memang besar sekali. Para pengikut Kiai Narawangsa yang bertempur di sekitar tempat itu hatinya menjadi semakin kecut. Dalam pada itu Ki Jagaprana berteriak lagi “Siapa yang akan menyerah, akan mendapat perlakuan wajar. Tetapi siapa yang tidak menyerah, akan mengalami perlakuan yang buruk.” Tetapi masih juga ada pengikut Kiai Narawangsa yang setia. Dengan lantang ia berteriak ”Hanya pengkhianat sajalah yang akan menyerah.” Tetapi demikian mulutnya terkatub, maka ujung sepucuk tombak pendek telah mematuknya. Orang itu terkejut. Tetapi ia sudah terlambat untuk berbuat sesuatu. Ujung tombak itu telah menghunjam dalam-dalam di dadanya. Ketika orang itu rebah di tanah, maka seorang cantrik dengan tombak di tangan telah bergeser menjauhinya. Dalam pada itu, sekali lagi Ki Jagaprana berkata lantang ”Siapa yang akan menyerah? Yang keras kepala seorang demi seorang akan mati di padepokan ini.” Tidak ada seorang pun yang berani berteriak lagi. Ketika Ki Jagaprana menawarkan kesempatan sekali lagi untuk  menyerah, maka beberapa orang dengan serta-merta telah bergeser menjauhi lawan-lawannya sambil meletakkan senjata mereka ”Aku menyerah.” Pernyataan beberapa orang itu telah diikuti oleh beberapa orang yang lain lagi. Semakin lama semakin banyak, sehingga akhirnya hampir semua orang yang bertempur di sekitarnya telah menyerah pula. Tetapi mereka yang telah bergeser jauh dari pintu gerbang itu, tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi di pintu gerbang itu. Karena itu, mereka; yang tidak mendengar teriakan Ki Jagaprana dengan jelas tidak berbuat sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan mereka. Mereka masih saja bertempur dengan garangnya. Namun akhirnya mereka mengetahuinya pula, kenapa banyak kawan-kawannya yang menghentikan perlawanan. “Krendhawa dan Mingkara telah mati terbunuh.” Sementara itu, di pintu butulan yang lain, Manggada dan Laksana masih bertempur dengan sengitnya melawan Parung Landung dan Paron Waja. Anak-anak muda itu telah bertempur habis-habisan. Nampaknya pertempuran itu akan menentukan, siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati. Namun sebenarnyalah kegarangan Parung Landung dan Paron Waja tidak mampu mengimbangi kemampuan ilmu Manggada dan Laksana. Kedua orang anak muda yang sudah ditempa di sanggar oleh ayah Laksana dan yang kemudian dimatangkan oleh pengalaman. Bahkan kemudian mereka telah ditumbuh-besarkah oleh Ki Pandi dengan caranya.  Tubuh Manggada dan Laksana menjadi liat dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan yang bagaimana pun juga rumitnya. Di hutan mereka menjalani laku yang berat, namun yang sangat berarti bagi perkembangan ilmu mereka. Parung Landung yang merasa dirinya mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, semula merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya. Tetapi ternyata kemudian bahwa kemampuannya tidak dapat mengguncang ilmu Manggada. Goloknya yang besar setiap kali terayun tanpa mampu menyentuh sasarannya. Jika terjadi benturan, maka goloknya yang berat itu malah terasa sebagai beban. Di bawah teriknya matahari, maka ujung pedang Manggada mulai menyusup menembus pertahanan Parung Indung. Betapa kuatnya Parung Landung, namun ketangkasan Manggada ternyata sulit untuk diimbanginya. Demikianlah maka perlahan-lahan tetapi pasti, Manggada telah mendesak lawannya. Ayunan golok yang berat sama sekali tidak menyulitkannya. Senjata yang lebih kecil justru terasa lebih berarti. Ketika ujungnya sempat menggapai tubuh Parung Landung, maka terdengar Parung Landung itu mengeluh tertahan. Parung Landung meloncat surut. Ia sempat mengusap bahunya dengan telapak tangannya yang menjadi merah. Ketika Parung Landung dengan geram melangkah maju, terdengar tidak terlalu jauh daripadanya, Paron Waja berteriak kesakitan. Terhuyung-huyung ia melangkah surut. Namun kemudian tidak memberinya kesempatan. Dengan cepat Laksana memburunya. Pedangnya terjulur lurus mengarah ke dada.  Paron Waja masih berusaha menangkis. Tetapi karena keseimbangannya sedang goyah, maka ayunan senjatanya tidak mampu menepis ujung pedang Laksana. Karena itu, maka dalam keadaan yang goyah, ujung pedang Laksana telah terhunjam di dadanya, langsung menyentuh jantungnya. Paron Waja tidak mempunyai kesempatan lagi. Tubuhnya terdorong semakin jauh, sehingga akhirnya jatuh terbanting di tanah. Parung Landung yang melihat adiknya tertusuk di dadanya berteriak memanggil namanya sambil meloncat menjauhi lawannya, memburu kearah Paron Waja terpelanting jatuh. Tetapi langkahnya terhenti, ketika Laksana pun menghadangnya sambil mengacukan pedangnya. Parung Landung termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya Manggada maju selangkah demi selangkah mendekatinya. “Menyerahlah” berkata Manggada ”kau sudah terluka. Kau tidak akan dapat melawan kami berdua, sementara orangorangmu tidak akan sempat menyelamatkanmu, karena mereka telah terikat dengan lawannya masing-masing. Parung Landung menggeram. Ketika ia memandang pertempuran di sekitarnya, maka ia memang tidak dapat mengharapkan para pengikut Kiai Narawangsa membantunya. Setiap orang harus berjuang untuk melindungi dirinya sendiri. Sementara itu, Manggada dan Laksana telah menjadi semakin dekat. Keduanya telah mengacukan senjata mereka. Parung Landung masih berdiri tegak di tempatnya. Sementara Manggada sekali lagi berkata ”Jangan melawan lagi. Tidak akan ada gunanya”  Parung Landung berdiri termangu-mangu. Dari lukanya masih mengembun darahnya yang merah. Namun senjata Parung Landung itu seakan-akan telah terkulai. Ujungnya bahkan telah menyentuh tanah. Kepala anak muda itu tertunduk lesu. Sekali-sekali ia masih berpaling memandang tubuh adiknya yang terkapar. “Menyerahlah. Letakkan senjatamu.” berkata Manggada kemudian. Parung Landung itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun mulai membungkuk untuk meletakkan senjatanya. Nampaknya ia tidak ingin melemparkan goloknya yang telah mengawani dalam petualangannya yang panjang. Laksana melangkah mendekat. Ia berniat untuk memungut senjata itu setelah diletakkan oleh Parung Landung. Namun tiba-tiba saja Manggada berteriak “Laksana, hatihati.” Laksana terkejut. Tetapi yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. Parung Landung yang seolah-olah sudah meletakkan senjatanya itu, tiba-tiba telah meloncat menyerang Laksana dengan garangnya sambil berteriak ”Aku bunuh kau karena kau sudah membunuh saudaraku.” Laksana memang agak terlambat menangkis serangan itu. Golok yang berat itu terjulur langsung mengarah ke dada Laksana. Serangan itu terjadi demikian cepatnya. Laksana yang menepis golok lawannya itu tidak seluruhnya berhasil. Ujung golok itu ternyata masih sempat mengoyak pundaknya. Tubuh Laksana bagaikan diputar. Anak muda itu benarbenar telah kehilangan keseimbangannya. Dengan derasnya  Laksana terlempar jatuh. Pedangnya terlepas dari tangannya dan terpental beberapa langkah daripadanya. Parung Landung dengan cepat meloncat memburunya. Goloknya yang besar itupun segera terangkat Dengan geramnya ia mengayunkan goloknya untuk menghabisi anak muda yang telah membunuh saudaranya itu. Laksana tidak dapat berbuat banyak. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dahinya dengan lengannya ketika golok itu mengaiah kekepalanya. Tetapi golok itu tidak pernah memecahkan kepala Laksana atau mematahkan lengannya. Demikian golok itu terayun, maka Parung Landung itu terdorong dengan derasnya. Justru dari dadanya tersembul ujung pedang yang ditusukkan dari punggung. Parung Landung tidak sempat mengaduh. Goloknya yang terayun itu tidak mengenai sasarannya justru ketika Parung Landung itu jatuh tertelungkup. Ketika tubuhnya terdorong maju, maka kakinya sudah menyangkut tubuh Laksana yang terbaring di hadapannya. Bukan hanya Parung Landung, bahkan Manggada yang telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelamatkan Laksana telah terdorong dan seperti Parung Landung, kakinya juga terantuk tubuh Laksana. Sejenak kemudian, Manggada pun telah bangkit berdiri. Demikian pula Laksana meski pun harus terdorong tubuh Parung Landung. Demikian mereka berdiri, maka tubuh Laksana justru telah menjadi merah oleh darah. Kecuali darahnya sendiri yang mengalir dari lukanya di pundaknya, darah Parung Landung telah membasahi tubuhnya pula.  Manggada yang kemudian telah menarik pedangnya, memandangi tubuh kedua orang saudara yang terbaring diam itu. Laksana yang telah memungut senjatanya pula, kemudian berdiri tegak memandangi arena pertempuran yang semakin meluas. Tetapi kekuatan Kiai Narawangsa sudah menjadi semakin tipis. Mereka bahkan seakan-akan telah kehilangan hubungan yang satu dengan yang lain, sehingga mereka harus menentukan langkah mereka masing-masing. Manggada dan Laksana pun kemudian telah mendekati arena pertempuran itu. Beberapa sosok tubuh telah terbaring diam. Namun masih ada yang merintih dan mengaduh karena luka-lukanya. Ketika Manggada itu telah berdiri di arena, maka iapun segera berteriak ”Menyerahlah. Tidak ada gunanya lagi kalian bertempur. Lihat, kedua orang pemimpin kalian telah terbunuh.” Para pengikut Kiai Narawangsa memang menjadi ragu-ragu. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di medan yang lain. Tetapi rasa-rasanya keadaan kawan-kawannya menjadi tidak jauh berbeda. Seandainya mereka mampu mendesak para cantrik dari padepokan itu, maka aliran kemenangan mereka yang memasuki pintu gerbang utama tentu sudah sampai dan memenuhi seisi padepokan. Tetapi mereka belum melihat kelompok-kelompok yang memasuki padepokan itu dari pintu gerbang utama sampai ke tempat itu. Dalam pada itu, sekali lagi mereka mendengar suara Manggada ”Aku beri kesempatan kepada kalian untuk  menyerah. Jika kesempatan ini kalian sia-siakan, maka kalian tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.” Para pengikut Kiai Narawangsa itu memang tidak melihat kemungkinan lain. A palagi sebagian dari mereka rasa-rasanya sudah menjadi berputus-asa. Pertempuran diteriknya panas matahari tanpa melihat harapan. Pemimpin mereka telah terbunuh, sehingga dengan demikian, maka kedua orang anak muda yang telah membunuh pemimpin mereka itu akan dapat membunuh mereka pula tanpa ampun. Karena itu, selagi masih ada kesempatan, maka beberapa orang diantara mereka yang ketahanan jiwaninya lemah, telah memutuskan untuk menyerah. Tetapi sebagaimana di bagian lain dari kelompok-kelompok pengikut Kiai Narawangsa, maka di kelompok-kelompok itu pun terdapat orang-orang yang setia kepada Kiai Narawangsa. Dengan lantang orang itupun berteriak ”Jika nanti Kiai Narawangsa mengambil alih padepokan ini, maka siapa yang berkhianat akan digantung.” Keragu-raguan memang melanda para pengikut Kiai Narawangsa. Untuk meyakinkan mereka, maka Manggada dan Laksana pun benar-benar telah turun kedalam arena pertempuran. Ternyata pedang kedua orang anak muda itu benar-benar membuat bulu tengkuk para pengikut Kiai Narawangsa itu berdiri. Karena itu, maka mereka memang tidak mempunyai pilihan lain. Ketika sekali lagi Manggada meneriakkan kesempatan untuk menyerah, maka beberapa orang diantara mereka pun langsung melemparkan senjata-senjata mereka. Beberapa orang yang setia kepada Kiai Narawangsa masih berusaha untuk membakar keberanian kawan-kawan mereka  Tetapi masih saja ada diantara mereka yang melemparkan senjata mereka. Pertempuran itu pun kemudian telah mereda. Mereka yang tidak mau menyerahkan dirinya, harus menghadapi kenyataan, bahwa mereka benar-benar akan dihancurkan. Dengan demikian maka pertempuran di beberapa tcmpat pun sudah menjadi semakin mereda. Sebagian dari para pengikut Kiai Narawangsa sudah menyerah. Namun di halaman depan padepokan itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Apalagi karena Kiai Narawanagsa sendiri masih bertempur melawan Ki Ajar Pangukan. sementara Nyai Wiji Sari bertempur melawan Ki Pandi. Namun kehadiran orang-orang tua yang berilmu tinggi di arena pertempuran itu sangat membatasi gerak para pengikut Kiai Narawangsa. Ki Sambi Pitu yang telah kehilangan lawannya, telah berada diantara para cantrik pula. Sementara itu Ki Lemah Teles dan Ki Warana bersama-sama para cantrik telah membersihkan para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyusup diantara bangunan-bangunan di padepokan itu. Dalam pada itu, Kiai Narawangsa sendiri ternyata tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Bahkan Ki Ajar Pangukan itu selalu dapat mengimbangi ilmunya yang selalu ditingkatkannya. Kiai Narawangsa itu semakin lama menjadi semakin gelisah. Kematian Gunasraba telah membuat hatinya bagaikan terkoyak. Kecuali ia merasa kehilangan, menurut perhitungannya, lawan Gunasraba itu akan dapat dengan semena-mena menghancurkan para pengikutnya. Sedangkan  Nyai Wiji Sari masih juga belum dapat melepaskan diri dari lawannya yang bongkok itu. Sementara itu, Kiai Narawangsa pun mulai dapat menilai kenyataan yang dihadapinya. Para pengikutnya sudah menyusut dengan cepat. Para pemimpin kelompoknya sudah terbunuh di medan. Karena itu, maka satu-satunya harapannya adalah membinasakan lawannya, kemudian menghadapi yang lainnya yang berkeliaran di antara para cantriknya. Dalam saat-saat yang gawat itu Kiai Narawangsa telah mengerahkan ilmu pamungkasnya. Sejenak ia sempat memusatkan nalar budinya. Kemudian disebutnya sumbersumber kekuatan dan daerah kelam. Kiai Narawangsa memang mengandalkan ilmunya berdasarkan kekuatan dari kerajaan hitam. Ketika kemudian Kiai Narawangsa itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, maka rasa-rasanya tubuhnya telah bergetar. Semacam awan yang hitam mulai mengabut di sekitarnya. Semakin lama semakin tebal. Awan itu mulai berputar perlahan-lahan. Tetapi semakin lama menjadi semakin cepat. Ki Ajar Pangukan yang berpengalaman itupun segera menyadari, bahwa lawannya telah mengetrapkan ilmunya yang sangat berbahaya. Awan yang kehitam-hitaman itu akan dapat melibatnya, mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian membantingnya ke tanah. Karena itulah, maka Ki Ajar Pangukan harus menanggapinya. Ia tidak ingin dilibat oleh awan yang akan menjadi semacam angin pusaran itu.  Dengan cepat, Ki Ajar Pangukan telah mengambil jarak untuk mendapat kesempatan melawan awan yang berputar itu. Para cantrik dan bahkan para pengikut Kiai Narawangsa sendiri yang sedang bertempur telah menyibak. Tidak seorang pun yang dapat bertahan jika awan yang kehitam-hitaman itu melibat mereka dan mengangkatnya ke udara. Kemudian membantingnya jatuh di atas tanah. Tubuh mereka tentu akan lumat dan mereka akan kehilangan nyawa mereka. Ki Ajar Pangukan memperhatikan awan itu dengan dahi yang berkerut. Sementara itu, Ki Sambi Pitu, Ki Lemah Teles serta para cantrik menyaksikan ungkapan ilmu Kiai Narawangsa itu dengan jantung yang berdebar-debar. Ki Pandi yang sedang bertempur melawan Nyai Wiji Saripun sempat melihat awan yang berputaran itu sejenak. Sementara itu Nyai Wiji Sari yang melihat kerut di dahi Ki Pandi berkata, ”Nah, bongkok buruk. Apa yang dapat dilakukan oleh kawankawanmu untuk melawan kemampuan Kiai Narawangsa. Ilmu itu adalah ilmu yang jarang sekali dipergunakan. Tetapi karena kalian membuatnya sangat marah, maka tidak ada pilihan lain dari Kiai Narawangsa kecuali membinasakan kalian dengan ilmunya.” Ki Pandi mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap memelihara jarak dengan Nyai Wiji Sari, agar tidak terjadi serangan yang tiba-tiba. “Bongkok buruk. Kenapa kau tidak menghentikan saja perlawananmu? Menyerahlah. Kau akan mendapat hukuman yang ringan.”  “Apakah pengertian hukuman yang ringan itu didalam lingkunganmu?” bertanya Ki Pandi ”dipenjara setahun, dua tahun atau harus bekerja paksa di kebun-kebun di bawah teriknya matahari atau justru digantung?” “Apapun ujudnya, tetapi tentu lebih baik daripada disambar angin pusaran itu.” Tetapi sikap Ki Pandi itu mengejutkan sekali. Orang bongkok itu justru tersenyum sambil berkata ”Aku tidak mengira bahwa didalam kalutnya pertempuran yang menentukan ini. Kiai Narawangsa sempat mengajak bermainmain.” “Gila kau. Ia tidak sedang bermain-main. Ilmu itu benarbenar dapat membunuhmu.” Tetapi Ki Pandi menggeleng. Katanya sambil tertawa ”Bagi Ki Ajar Pangukan, maka asap-asapan itu hanya dapat membuatnya sedikit terbatuk-batuk.” “Tidak” Nyai Wiji Sari hampir berteriak ”lihat. Kawanmu itu akan mati dilibat, diangkat dan kemudian dihempaskan diatas batu padas.” “Nyai keliru” sahut Ki Pandi ”penriainan itu adalah permainan Ki Ajar Pangukan dimasa kanak-kanaknya.” “Iblis bongkok. Kau akan melihat, bagaimana tubuh kawanmu itu hancur nanti”. “Marilah kita bertaruh, Nyai” desis Ki Pandi. Nyai Wiji Sari tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak menjadi tegang. Dalam pada itu, asap yang kehitam-hitaman serta berputar semakin cepat itu telah dilihat pula oleh para pengikut Kiai Narawangsa yang berada di bagian belakang padepokan.  Bahkan mereka yang telah menyerah pun menyesali keputusannya yang tergesa. Ilmu yang nggegirisi itu tentu akan sanggup menyelesaikan pekerjaan Kiai Narawangsa yang berat itu. “Kenapa kita demikian tergesa-gesa menyerah” desis salah seorang pengikut Kiai Narawangsa. “Bukan salah kita. Kenapa baru sekarang Kiai Narawangsa melepaskan ilmunya? Kenapa tidak tadi sebelum kita menyerah?” “Awan yang kehitam-hitaman itu akan dapat menghancurkan kawan-kawan kita sendiri. Agaknya kawankawan kita sekarang telah berpencar, sehingga Kiai Narawangsa mendapat kesempatan untuk melepaskan ilmunya itu.” “Alangkah bobohnya kita disini.” Tetapi para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyerah itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Senjata mereka telah dirampas. Di sekelilingnya para cantrik siap berjaga-jaga dengan senjata telanjang. Namun seorang diantara para pengikut Kiai Narawangsa yang sudah terlanjur menyerah itu bangkit berdiri sambil berteriak ”Itulah akhir dari segala-galanya. Padepokan ini akan hanyut diterbangkan oleh angin pusaran itu. Kita semuanya pun akan hanyut pula. Kemudian dilepaskan di udara sehingga kita akan mati terbanting di atas tanah ini. Tetapi itu lebih baik bagi kita daripada menjadi tawanan” Mulutnya terkatup ketika tiba-tiba saja pangkal landean tombak menyambar mulutnya. Dua giginya tanggal dan mulutnya pun mulai berdarah.  Dalam pada itu, maka angin pusaran itu mulai merayap menuju ke tempat Ki Ajar Pangukan berdiri. Ki Ajar Pangukan menyadari, apa yang sedang dihadapinya itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiap sebaik-baiknya. Ki Ajar Pangukan sudah bertekad untuk beradu ilmu, apapun yang akan terjadi atas dirinya. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan itupun segera mempersiapkan dirinya. Dipusatkannya nalar budinya menghadapi ilmu lawannya itu. Ketika pusaran asap yang kehitam-hitaman itu mendekatinya, maka Ki Ajar Pangukan itupun telah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dilandasi dengan segenap kekuatan ilmu dan kemampuannya, maka Ki Ajar Pangukan itu telah meloncat dan mengayunkan tangannya menghantam pusaran kabut yang kehitam-hitaman itu. Satu benturan ilmu telah terjadi. Kabut yang kehitamhitaman dan berputar menghampiri Ki Ajar Pangukan itu tibatiba telah pecah. Angin pusaran itu bagaikan telah tertiup eleh prahara sehingga pecah bercerai berai. Kiai Narawangsa terkejut melihat akibat dari benturan ilmu itu. Selangkah ia mundur. Ia hampir tidak percaya, bahwa ilmunya itu telah dipecahkan sehingga tidak berdaya sama sekali. Dalam pada itu, selagi Kiai Narawangsa itu termangumangu, maka Ki Ajar Pangukan telah menghentakkan tangannya sekali lagi mengarah langsung kepada Kiai, Narawangsa. Tangannya sama sekali tidak menyentuh Kiai Narawangsa yang masih berdiri termangu-mangu karena ungkapan ilmunya itu hancur dan kemudian hanyut tidak berbekas.  Namun selagi kabut yang kehitam-hitaman itu menjadi semakin tipis, maka Kiai Narawangsa itu terkejut sekali. Ayunan tangan Ki Ajar Pangukan yang mengarah kepadanya itu, telah menghentakkan kekuatan dan ilmu yang dahsyat sekali. Tetapi Kiai Narawangsa itu terlambat. Kekuatan ilmu Ki Ajar Pangukan itu menghantam tubuhnya dengan kekuatan yang tidak terlawan. Tubuh Kiai Narawangsa itupun telah terlempar beberapa langkah surut. Kemudian jatuh terbanting di atas tanah. Sekali Kiai Narawangsa itu menggeliat. Namun kemudian tubuhnya menjadi tidak berdaya sama sekali. Ketika ia berusaha untuk bangkit, maka tidak ada lagi kekuatan yang dapat menggerakkan tubuhnya. Nyai Wiji Sari pun terkejut pula menyaksikan peristiwa itu. Di luar sadarnya, maka ia pun segera berlari ke arah tubuh Kiai Narawangsa terbaring. Dengan serta-merta Nyai Wiji Sari pun berlutut di sisi tubuh yang menjadi sangat lemah itu. “Kiai” suara Nyai Wiji Sari bagaikan tersangkut di kerongkongan. Kiai Narawangsa masih membuka matanya. Dilihatnya Nyai Wiji Sari yang berlutut di sebelahnya. “Nyai” suaranya lemah sekali ”aku tidak dapat lagi membantumu mengambil anakmu.” “Kiai” desis Nyai Wiji Sari ”bangkitlah. Jangan tinggalkan aku sendiri disarang serigala ini.” Wajah Kiai Narawangsa menjadi merah sesaat. Namun kemudian wajah itu menjadi pucat kembali. Nafasnya menjadi tersengal-sengal.  “Nyai, aku tidak kuasa menyeberangi batas ini.” “Tidak. Kau adalah seorang yang tidak terkalahkan. Kau mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Alasi kesulitan bagian dalam tabuhmu, Kiai.” Kiai Narawangsa menggeleng lemah. Katanya ”Siapa pun aku Nyai, ternyata aku juga mempunyai keterbatasan. Hatihatilah membawa diri Nyai. Kau memang berada di sarang serigala-serigala yang lapar.” “Kiai, Kiai.”Nyai Wiji Sari menggungcang-guncang tubuh itu. Namun Kiai Narawangsa telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Nyai Wiji Sari yang garang itu menangis. Kepergian Kiai Narawangsa benar-benar tidak diduganya. Ketika mereka berangkat dari padepokan mereka, Kiai Narawangsa dan Nyai Wiji Sari sudah demikian yakin akan keberhasilan mereka. Tetapi ternyata mereka harus menghadapi kekuatan yang tidak mereka duga sebelumnya. Ternyata bahwa Kiai Narawangsa itu telah terbunuh. Ki Ajar Pangukan berdiri termangu-mangu. Di sebelahnya Ki Pandi mengangguk-angguk kecil. Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan Manggada dan Laksana pun telah berdiri di sekitar tubuh yang terbaring itu. Pertempuran yang terjadi di halaman itupun dengan cepat menyusut. Tanpa ada yang memberi peringatan atau mengancam, para pengikut Kiai Narawangsa itu telah menyerah. Namun berbeda dengan mereka, Nyai Wiji Sari itu tiba-tiba telah bangkit. Pedangnya masih berada di tangannya. Bahkan pedang itu pun kemudian telah berputar dengan cepatnya.  Orang-orang yang berdiri di seputarnya berloncatan surut. Mereka tidak menduga bahwa tiba-tiba saja Nyai Wiji Sari telah mengamuk seperti seseorang yang kerasukan iblis. Yang terutama menjadi sasaran serangan-serangannya adalah Ki Pandi, sehingga Ki Pandi itupun berloncatan surut beberapa langkah. “Nyai” Ki Pandi mencoba untuk mencegahnya “jangan Nyai. Jangan kehilangan akal seperti itu.” Tetapi Nyai Wiji Sari tidak mendengarnya. Seranganserangannya datang beruntun. Bahkan kemudian dengan membabi buta. Kiai Pandi terpaksa setiap kali berloncatan menghindar, menangkis dan bahkan sekali-sekali membentur senjata Nyai Wiji Sari. Tetapi Ki Pandi sendiri tidak pernah membalas seranganserangan itu. Nyai Wiji Sari yang mengetahui bahwa lawannya tidak pemah membalasnya menyerang, berkata lantang ”Kenapa kau hanya berloncatan menghindar? Kenapa kau tidak membalas menyerang.” ”Sabarlah Nyai. Sebenarnya apa yang kau cari. Jika kau ingin mendapatkan anakmu, itulah anakmu. Tidak seorang pun yang akan menghalangimu. Ambil anakmu dan bawa kemana kau mau.” “Kau berusaha untuk melemahkan tekadku untuk membunuhmu dan membunuh kawan-kawanmu. Ayo, katakan kepada kawan-kawanmu itu. Kita akan bertempur sampai tuntas. Aku sanggup membunuh semua penghuni padepokan ini.”  “Nyai” berkata Ki Pandi sambil menghindari seranganserangannya. ”Cobalah kau pergunakan nalarmu. Berpikirlah dengan tenang. Jangan kau biarkan gejolak perasaanmu itu membakar dadamu.” Nyai Wiji Sari tidak mendengarkannya sama sekali. Perempuan itu masih saja menyerang Ki Pandi dengan garangnya. Tetapi akhirnya Ki Pandi tidak mencegahnya lagi. Dibiarkannya perempuan itu mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Bahkan Ki Pandi itu justru sekali-sekali mulai menyerang, menyentuh tubuh lawannya dengan serulingnya meskipun tidak menimbulkan akibat apapun juga. Tetapi sentuhan-sentuhan itu telah memancing Nyai Wiji Sari untuk mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Ki Ajar Pangukan, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana dan Ki Lemah Teles dan beberapa orang yang lain memang dapat mengetahui maksud Ki Pandi. Karena itu, mereka sama sekali tidak mencegahnya. Selangkah demi selangkah Ki Pandi memancing lawannya mendekati tugu kecil di depan pendapa bangunan utama padepokan itu, sehingga akhirnya keduanya telah bertempur hanya beberapa langkah saja dari tugu kecil itu. Namun betapapun Nyai Wiji Sari mengerahkan kemampuannya, namun ia sama sekali tidak pernah mampu menyentuh tubuh lawannya dengan ujung pedangnya. Tetapi Ki Pandi pun tidak pula pernah menyakiti Nyai Wiji Sari. Betapapun tinggi daya tahan tubuh Nyai Wiji Sari, akhirnya iapun telah sampai pada batas ketahanannya. Semakin bernafsu ia ingin membunuh lawannya, maka tenaganyapun menjadi semakin terperas habis.  Akhirnya, Nyai Wiji Sari itu tidak dapat mengingkari bahwa tenaganya justru mulai menyusut. Kenyataan itulah yang kemudian dihadapi oleh Nyai Wiji Sari. Ketika tenaganya benar-benar sudah terkuras habis, maka serangan-serangannya menjadi tidak berarti lagi. Nyai Wiji Sari setiap kali justru terhuyung-huyung terseret oleh ayunan pedang sendiri. Akhirnya, Nyai Wiji Sari itu pun justru telah terjatuh di sisi tugu kecil itu. Ki Pandi berdiri termangu-mangu sejenak. Nyai Wiji Sari masih menggenggam pedangnya yang kehitam-hitaman. Meskipun pedangnya tidak mengkilap, tetapi pedang itu tentu tajam sekali. “Nyai” suara Ki Pandi lunak ”sudahlah. Bukankah tidak ada artinya lagi jika Nyai masih saja membiarkan perasaan Nyai bergejolak.” Nyai Wiji Sari tidak menyahut. “Nyai, anakmu sudah tidak ada lagi. Kiai Banyu Bening juga sudah tidak ada. Aku tidak tahu, apa yang akan kau lakukan terhadap Kiai Banyu Bening seandainya ia masih ada.” Nyai Wiji Sari tidak segera menjawab. ”Terakhir, Kiai Narawangsa pun sudah tidak ada pula Nyai.” Nyai Wiji Sari tidak menjawab. Tetapi yang terdengar kemudian adalah isak tangisnya. Bahkan tiba-tiba dipeluknya tugu itu, seperti ia sedang memeluk anaknya. Pertempuran pun benar-benar telah selesai, tidak ada perlawanan lagi di seluruh padepokan itu. Semua pengikut Kiai Narawangsa sudah menyerah.
 Ketika matahari kemudian turun menjelang senja, maka Nyai Wiji Sari itu berdiri di pintu gerbang padepokan. Ki Ajar Pangukan, Ki Pandi, Ki Lemah Teles, Ki Sambi Pitu, Ki Jagaprana bahkan Manggada dan Laksana mengantarnya sampai keluar pintu gerbang. “Aku akan melihat dunia dari sisi yang lain” berkata Nyai Wiji Sari ”aku titip anakku. Aku yakin bahwa ia tidak akan tersia-sia di sini. Aku akan mencari jalan untuk dapat menebus segala dosa dan kesalahanku. Semuanya itu bersumber dari ketidak-setiaanku.” Ki Ajar Pangukan mengangguk kecil sambil berdesis ”Hatihatilah Nyai.” Nyai Wiji Sari itupun kemudian berjalan meninggalkan padepokan itu sambil berdesis ”Terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan kepadaku.” Perempuan itupun kemudian melangkah dengan langkah yang tetap menjauhi padepokan itu. Tetapi ia tidak lagi mengenakan pakaian khususnya. Ia mengenakan pakaian sebagaimana seorang perempuan tanpa senjata dilambungnya. Matahari masih bersinar. Sinarnya tidak lagi menggigit. Tetapi matahari senja itu masih memberikan cahaya kepada Nyai Wiji Sari yang berjalan menjauh. Ia tidak tau kemana ia harus memilih jalan yang lain dari jalan yang pernah ditempuhnya bersama Kiai Narawangsa. Meskipun kemudian langit menjadi semakin suram, tetapi di-hati Nyai Wiji Sari, matahari justru memancarkan cahayanya yang terang.

“TAMAT”

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.